Komisi Yudisal dan Reformasi Peradilan

i

ii

Kata Pengantar Ketua Komisi Yudisial Republik Indonesia
Pendekatan transdisipliner dalam pelaksanaan pembangunan di Indonesia dipandang penting dan relevan oleh ekonom berkarakter kerakyatan dan egaliter, Prof. Dr. Mubyarto. Dalam pandangannya, koperasi merupakan pilar dan sistem ekonomi yang kompatibel untuk pendemokratisasian ekonomi bangsa yang berpihak pada rakyat sebagai pemegang tunggal kedaulatan rakyat. Jauh sebelumnya, Bung Hatta salah satu penyusun UUD Tahun 1945 adalah Negarawan yang telah berjuang keras memasukkan ekonomi kerakyatan sebagai prinsip dasar penyelenggaraan perekonomian Indonesia. Dalam tulisannya yang berjudul Demokrasi Kita, ia menegaskan pentingnya peranan ekonomi kerakyatan atau demokrasi ekonomi dalam mewujudkan keadilan sosial di Indonesia. Dikatakan selanjutnya, bahwa demokrasi politik saja tidak dapat mewujudkan persamaan dan persaudaraan, maka harus ada demokrasi ekonomi. Jika tidak, manusia belum merdeka dan persamaan serta persaudaraan belum ada. Maka, cita-cita demokrasi Indonesia adalah demokrasi sosial, yang melingkupi seluruh tatanan hidup yang akan menentukan nasib manusia. Dua di antara ekonom langka yang kini amat sulit ditemukan kader penerusnya dengan kepribadian ilmu dan kejelasan serta ketegasan secara lugas dalam sikap pembelaannya terhadap rakyat, memiliki spirit keadilan sosial yang dikaitkan dengan demokrasi sosial. Suatu pandangan kalangan ekonom yang berfikir transdisipliner. Secara elaboratif, kedua almarhum yang kini telah tenang (muthmainnah) di alam kubur karena kesalehan akademiknya menegaskan suatu ”ideologi ekonomi kerakyatan”. Dan keyakinan ideologis inilah yang melekat hingga akhir jabatan dan hayatnya.

iii

Di negeri dengan ribuan kampus yang tersebar di berbagai daerah ini, rasanya, lebih sulit ditemukan akademisi yang beruntung dengan memiliki watak dan kepribadian yang jelas, yang clean dan clear. Entah karena begitu kuatnya main stream pragmatisme dan hedonisme yang sudah mengideologis, atau bahkan sudah setingkat menjadi falsafahnya, teramat langka terdengar suara nyaring, lugas dan kritis dari lembaga kampus ”pencetak” SDM Pemimpin yang iImuan, dalam mengkritisi situasi bangsa yang mengitarinya. Apakah untuk ”mengkloning” frame of thinking konstruksi dan kepribadian ilmiah kedua ekonom kerakyatan di atas, kita harus set back ke masa lalu yang jelas bertentangan dengan watak sejarah itu? Jelas mustahil. Karena, salah satu dimensi sejarah ialah suatu kesadaran untuk melakukan gerakan-gerakan serius dengan misi ”transformation to the future”. Yang pantas diteladani adalah, bahwa keadilan sosial dipandang dan diletakkan sebagai cara pandang untuk menata perekonomian bangsa, untuk mewujudkan persamaan dan persaudaraan antar anak bangsa dan bahkan menentukan nasib manusia Indonesia. Demokrasi ekonomi dipandang penting yang dikaitkan dengan demokrasi sosial. Suatu cara pandang yang begitu luhur, jelas keberpihakannya kepada rakyat dan merefleksikan spirit Pembukaan UUD Tahun 1945. Namun sejarah kehidupan ketatanegaraan dalam era orla dan orba telah tidak menghargai pemikiran di atas. Tentu hal inilah yang kemudian telah melahirkan suatu bencana ketidakadilan ekonomi yang berdampak luas dalam kehidupan sosial budaya lainnya, termasuk dalam bidang hukum dan law enforcement. Politik dan ekonomi sebagai panglima pembangunan pada era rezim-rezim yang lalu, tidak apresiatif dan artikulatif terhadap posisi dasar rakyat sebagai yang paling berhak atas seluruh kekayaan bangsa sebagai anugerah Allah. Mainstream pemikiran ekonomi yang jelas pro rakyat diabaikan dengan kebijakan ekonomi neoliberal yang telah melahirkan birokrasi korup yang ditandai dengan KKN. Di penghujung kejatuhan Soeharto, Indonesia telah dikenal oleh masyarakat internasional sebagai salah satu negara terkorup di level dunia. Anggaran negara Indonesia telah dibocorkan hingga mencapai angka rata-rata 30% pertahun, sebagaima-

iv

na diungkap oleh Prof Sumitro. Meminjam teori korupsi oleh Syed Hussein Alatas, dikenal ada tiga lapis korupsi. Lapis pertama, yang melibatkan warga dengan aparatur negara, berupa suap (bribery) yang prakarsanya datang dari warga, dan pemerasan (extorsion) yang diperankan olah aparatur negara. Lapis kedua, korupsi dalam lingkaran dalam (inner circle) di pusat pemerintahan dalam ketegori nepotisme, dimana ada hubungan darah antara pelayan publik dengan pemangku kepentingan yang menerima berbagai kemudahan; kronis-isme, yang tidak ada hubungan darah antara para pelaku korupsi dan yang diuntungkannya, dan kelas baru, dimana antara pengambil kebijakan dengan yang menerima kemudahan telah menjadi satu kesatuan organik. Meminjam George J Aditjondro, korupsi di Indonesia dibedakan antara korupsi yang didorong oleh faktor kemiskinan (corruption driven by poverty) dan yang di dorong oleh kerakusan (corruption driven by greed). Yang pertama disebut ”korupsi kerah biru” yakni pelakunya mereka yang berseragam dan yang kedua disebut ”korupsi kerah putih” yakni mereka yang berdasi. Apapun kategorisasinya, kita ”berbahagia”, bahwa secara alamiah di negeri ini, kita memperoleh pengayaan tentang puluhan modus dan pelaku korup. Terakhir kita membaca terdapatnya executive corruption, legislative corruption dan judicial corruption. Masing-masing telah memberikan ragaan dan contoh sempurna tentang kualitas dan sejumlah modus kejahatannya yang pasti telah, sedang dan akan terus menerus secara berkesinambungan (sustainable) menciptakan mesin korupsi yang berjalan secara mekanis dan organik. Keganasan dan kekejaman terus berjalan dengan pasti di atas kepatuhan ideologi korupsi para koruptor di negeri yang masih dihuni oleh sekitar 37 juta rakyat miskin, dan puluhan juta mereka yang terbatas mampu memenuhi hajat makan yang tak mampu berpikir masa depan pendidikan para pewarisnya. Dalam situasi mengenaskan dan menyayat ulu hati rakyat miskin inilah, kalangan ahli hukum dan penegak hukum, telah disapa dan diundang oleh kedua ekonom di atas, untuk berbicara dan melangkah atas nama dan untuk keadilan sosial, demokrasi ekonomi dan demokrasi sosial. Suatu ajakan luhur, yang menjadi ranah dan agenda mereka yang terpanggil nurani dan akal budinya untuk agenda ”re-

v

formasi peradilan”. Suatu agenda yang menuntut kesadaran sejarah untuk bersama-sama dalam ketulusan dan kejiwabesaran merintis proses penegakan hukum yang benar, adil, jujur, transparan dan profesional. Kendatipun berdasarkan survey dari Partnership for Governance Reform tahun 2002, terdapat persepsi masyarakat bahwa badan peradilan merupakan badan terkorup dibandingkan badan-badan lainnya, demikian halnya survey dari Transparansi Internasional Indonesia (TII) tahun 2006 yang mengungkapkan bahwa inisiasi dari badan peradilan untuk melakukan praktik suap lebih tinggi daripada lembaga publik lainnya dan laporan dari Global 2007 Transparency International (TI) yang bermarkas di Jerman telah menempatkan badan peradilan Indonesia dalam kategori badan paling korup di antara badan peradilan di beberapa negara (Yunani, Albania, Meksiko, Moldova, Maroko, Peru, Taiwan dan Venezuela), hingga muncul penilaian Syahrir, bahwa badan peradilan telah menjadi black market of justice, namun, di atas semua penilaian ini, kita sebagai bangsa besar, tentu memiliki jiwa besar, dada lebar dan nafas panjang serta emosi yang menep untuk melakukan self correction. Dalam kerangka untuk mendorong terwujudnya hakekat kemerdekaan bangsa dalam usia kemerdekaan ke-62, patut kita memulai lembaran putih baru. Yakni niat dan kesadaran baru untuk menjadikan proses-proses peradilan sebagai pilar moral menuju terdorongnya tatanan kehidupan hukum yang benar-benar berkeadilan, dan membawa dampak konstrukrif bagi terwujudnya persamaan dan persaudaraan antar anak bangsa, terutama yang berkaitan dengan pemenuhan dan perlindungan hukum atas hajat hidup dan hak-hak asasi rakyat. Siapapun, semuanya, sudah saatnya untuk kembali kepada otentisitas diri (fitrah), yang menyadari dan memerlukan pemenuhan hak-hak fitrah sesama. Hak itu antara lain, pada satu sisi memperoleh perlindungan hukum dan keadilan sehingga tidak lagi terdapat kesenjangan yang mencolok di antara sesama, dan pada sisi lain, kita bisa memperoleh hak yang berasal dari dipenuhinya kewajiban dari orang lain karena kita telah memberikan hak kepada mereka. Penegakan hukum adalah proses mewujudkan hak menjadi suatu hukum positif, atau mengurangi dan meniadakan sesuatu yang bukan hak menjadi hukum posi-

vi

Namun. bahwa Amerika Serikat adalah merupakan ”a society designed by the judiciary”. Penormaan moral menjadi hukum positif bukan saja masih terkendala dari berbagai faktor penyebabnya. bisa dielaborasikan dalam pandangan yang sedikit filsafati. gajah mati meninggalkan gading. Suatu putusan hakim yang merupakan produk bersama secara etis-profesional dari pemberfungsian suara nurani yang bening dan akal budi yang sehat oleh empat profesi terpuji di atas dalam keseluruhan proses peradilan. agar dengan putusan hakim dapat diperoleh suatu tatanan baru dimana proses vii . Yang oleh Prof. memang harus dimulai dari sekarang. moral adalah esensi dan ruh dari hukum. yang merupakan nilai (value) yang membedakan apa yang benar dan salah yang haq dan bathil. seperti ditulis oleh Prof. akan haknya di Amerika Serikat. untuk kedepan. Di Indonesia. yaitu moral. masih memerlukan pembenahan yang tidak sederhana. dimana pengadilan melahirkan putusan-putusan sedemikian rupa sehingga terjadi perubahan-perubahan penting dalam masyarakat. Ini lumrah secara sosiologis dalam masyarakat kita yang untuk sebagian telah terwarisi budaya suap menyuap dalam bentuk dan dalih apapun juga. Polisi. Putusan semacam inilah yang memenuhi kriteria ranah-ranah ”demi keadilan berdasarkan ke-Tuhanan Yang Maha Esa”. Senoadji disempurnakan menjadi there is no morality without religion. untuk menuju pada putusan hakim yang mengkarakterkan sebagaian instrument of social engineering atau social reconstruction. Maka. Mendesain putusan yang memenuhi ajakan kedua ekonomi kerakyatan di atas. Pepatah klasik harimau mati meninggalkan belang. Jaksa. Satjip-to Rahardjo mengutip penelitian Dirk dan Bridwell. terdapat pepatah there is no law without morality. Di antara keduanya terdapat ukuran sebagai patokan. Hakim dan Lawyer mati meninggalkan contoh penegakan hukum yang berkeadaban. Putusan yang teruji secara moral dan hukum disertai asupan yurisprudensi dan doktrin hukum yang selektif yang kemudian melahirkan situasi hukum yaitu menyelesaikan sengketa dan tegaknya hukum dan keadilan terhadap siapapun. Tentu. untuk menuju kearah mimpi indah itu. selalu saja ada pihak-pihak yang melakukan perlawanan.tif. Tak salah jika kita berobsesi. Yaitu. Disini.

tapi juga memerlukan kondisi psikologis dimana para penegak hukum memiliki dan merasakan makna dari hakekat diri yang fitri. Yaitu terwujudnya proses penguatan dan sekaligus pengawasan terhadap badan peradilan melalui mekanisme undang-undang yang akan diiringi dengan pemeranan seluruh elemen masyarakat madani sebagai bagian terpenting bagi terwujudnya peradilan yang Jujur. Dimintakannya para penulis dari berbagai latar belakang akademisi.pendemokratisasian hukum bisa berdampak konstruktif pada terciptanya keadilan sosial. langkah untuk mendemokratiskan secara berkeadaban proses-proses peradilan. para pengamat dan aktivis NGO dalam Buku Bunga Rampai Komisi Yudisial edisi kedua ini. Bersih dan Profesional. adalah merupakan misi Komisi Yudisial. Ia memerlukan pendekatan kemampuan intelektualitas tinggi. yang salah satu penyebabnya bisa datang dari produk legislasi dan kebijakan nasional maupun putusan hakim yang tercerabut dari kesadaran nurani dan akal sehat serta rasa keadilan masyarakat. yang memerlukan asupan spiritualitas dosis tinggi serta lingkungan keluarga dan budaya organisasi di instansi dimana ia berhikmat dengan profesi luhurnya itu. berbagai himpunan pemikiran yang menuju pada bagaimana agenda reformasi peradilan dapat dipersepsi dan diusung bersama. Kita amat memerlukan kontribusi pemikiran dan aktualisasi komitmen moral bersama menuju kearah terdorongnya proses pencapaian lahirnya putusan hakim yang memiliki utilitas atau kemaslahatan bagi pemerdekaan anak bangsa ini dari himpitan kemiskinan masif. anggota DPR. dikandung maksud untuk memperoleh pandangan-pandangan yang komprehensif dan komplementer untuk memperoleh pandangan mengenai gagasan dan langkah menuju bagaimana proses reformasi peradilan bisa segera dimulai dengan pemeranan elemen masyarakat madani. pengefektifan pengawasan yang lebih proporsional viii . semua pihak yang pro pembebasan rakyat dari lilitan kemiskinan masif tentu berharap lahirnya revisi Undang-Undang Komisi Yudisial. tokoh agama dan masyarakat. Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi dalam satu nafas baru. Dalam kerangka demikian. Maka. dalam dan komprehensif serta transdisipliner. hendaknya menjadi komitmen dan agenda sistemik dan simultan. Dari sisi legislasi di DPR. bukan perkara mudah.

baik oleh Komisi Yudisial sebagai wujud amanat reformasi bersama-sama dengan seluruh elemen masyarakat madani. Semoga tulisan dalam Buku Bunga Rampai ini memberikan wacana yang lebih luas kearah pembenahan peradilan kita kedepan. yang mencerminkan suara dan hakekat keadilan bagi terwujudnya perlindungan hukum terhadap para pencari keadilan tetapi juga sekaligus dalam rangka perubahan tatanan kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih berkeadilan. 2 Agustus 2007 M. Kita berkepentingan akan lahirnya putusan-putusan hakim yang berkeadaban. Busyro Muqoddas ix . Jakarta.

x .

John Pieris. Bapak Prof.H. S.H. diucapkan terima kasih kepada: Bapak Prof.H.H. Hatta Ali. M. Satjipto Rahardjo. Dr. S. M. M.H.U.. DR. Ucapan terima kasih kepada Bapak M.X. Ibu Prof. Untuk itu.. Bapak Prof. Bapak M. MS. Bapak Dr. M. S. Dr. Ketua Komisi Yudisial Republik Indonesia yang telah memberikan kontribusi pemikiran. Busyro Muqoddas.. H.H.. S. S. Andi Djalal Latief. S. Din Syamsuddin. Bapak Dr...H.. Soekarno. M.H. Bapak Arbab Paproeka. dan Bapak Ir.. Bapak Asep Rahmat Fajar. M. Bapak Prof.... DR. Bismar Nasution. Secara khusus..H. LL.. yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu.H. S. S.. M.. Bapak Trimedya Panjaitan. para Tenaga Ahli dan xi .H.. Banyak pihak yang telah memberikan kontribusi yang sangat berharga dalam proses penyusunan buku ini.M... juga disampaikan kepada Bapak Wakil Ketua. Sp.H.H.Penghargaan dan Ucapan Terima Kasih Program penyusunan buku Bunga Rampai Dua Tahun Komisi Yudisial Republik Indonesia ini adalah salah satu program yang diamanatkan oleh Rapat Kerja Komisi Yudisial Republik Indonesia pada bulan Februari 2007 di Bandung. Penghargaan yang tinggi.H..H.. S. S.H..H. MA. Ermaya Suradinata. Bapak Firmansyah Arifin. MS. dukungan dan motivasi.H. S. Ali Zaidan. Komariah Emong Sapardjaja. Bapak Prof...Hum..H. M. Bapak A. S. S. Marwan Mas. S.H. Bapak M..H. Bapak Dr. kami menghaturkan terima kasih yang tak terhingga kepada para penulis (kontributor) yang telah memberikan artikel untuk materi buku ini. Dr. Bapak F. serta membuat kata pengantar dalam buku ini. Pandupraja. Bapak-bapak Anggota Komisi Yudisial Republik Indonesia. Mahfud MD. S. atas dukungan dan kontribusi pemikiran dalam proses penyusunan buku ini. S.. Hidayat Nur Wahid. S. Dr. Moh.N.

2 Agustus 2007 Hermansyah Redaktur xii .Bapak Sekretaris Jenderal Komisi Yudisial Republik Indonesia. Buku Bunga Rampai ini dapat diselesaikan adalah tidak terlepas dari dukungan dan dedikasi yang sangat tinggi dari Sekretariat Tim Penyusun Buku Bunga Rampai. serta dukungan Sekretariat Jenderal Komisi Yudisial. Jakarta. Semoga dengan hadirnya buku ini dapat memberi manfaat bagi kita semua.

7.. S..Daftar Isi Prakata Ketua Komisi Yudisial M. S.H. Komisi Yudisial Pengawal Reformasi Pengadilan Mendayung diantara Simpati dan Resistensi Firmansyah Arifin. Sp.H. S. Satjipto Rahardjo.H. Kontribusi Komisi Kepolisian Nasional Dalam Mempercepat Reformasi Peradilan A. Hakim Agung dan Penemuan Hukum (Rechtsvinding) Pada Era Reformasi dan Transformasi Hukum Prof. Penghargaan dan Ucapan Terima Kasih Daftar Isi iii xi xiii Bagian Kesatu Reformasi Peradilan 1.H.N.H...H. Hatta Ali. 3. 83 6. Dr. 4.M.U. S. S. Kontribusi Lembaga Sosial Mendorong Reformasi Peradialn Prof. Pandupraja. 2. M. DR. Peran Hakim Agung Dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding) dan Penciptaan Hukum (Rechtsschepping) Pada Era Reformasi dan Transformasi M. 8.H. Moh. Dr. Perubahan Bidang Politik dan Pengaruhnya Terhadap Reformasi Peradilan Arbab Paproeka.H. Komisi Yudisial Dalam Mosaik Ketatanegaraan Kita Prof. Kontribusi Lembaga Kejaksaan Dalam Mempercepat Reformasi Peradilan M. M.H. Ali Zaidan. S. S. S. 95 107 135 xiii . S.Hum. Mahfud MD. S. Busyro Muqoddas..H. 1 21 43 65 5. Komariah Emong Sapardjaja. M..H. LL.

M. S. M. 5. Memulihkan Kewenangan Komisi Yudisial Dengan Melibatkan Kemitraan (Jejaring) di Daerah Dr. 155 165 Bagian Kedua Penguatan Kelembagaan 1. Urgensi dan Fungsi Pembentukan Jejaring di Daerah Oleh Komisi Yudisial Asep Rahmat Fajar. Dr. Peran Serta Elemen Masyarakat Sipil Dalam Mendorong Proses Reformasi Peradilan dan Penegakan Hukum Prof. M.. Pentingnya Peran Komisi Yudisial Berdasarkan Pendekatan Geopolitik dan Geostrategi Indonesia Prof.H. Ermaya Suradinata. Urgensi Pembuatan Data Base Hakim Sebagai Media Penunjang Pelaksanaan Wewenang dan Tugas Komisi Yudisial Ir. MA. S.H. DPR dan Perubahan Atas Undang-Undang Komisi Yudisial F. John Pieris. Marwan Mas. DR. M. Hidayat Nur Wahid. 2. S.H. Dr. Reformasi Pendidikan Hukum Untuk Menghasilkan SDM Penegak Hukum Yang Kompeten dan Profesional Prof. 3.. Andi Djalal Latief. Soekarno. Komisi Yudisial Yang dicita-citakan Oleh Masyarakat dan Pencari Keadilan Dr..H. MS. H. 7.H.9.H.H. 4.H.. Din Syamsuddin 10. Gerak dan Langkah Nyata Komisi Yudisial Dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Dr.X. S. Redaksi 185 197 221 249 259 275 287 301 319 xiv . M. Bismar Nasution.H. 8. S. S. Sinkronisasi Sistem Perundang-undangan Lembaga Peradilan Dalam Menciptakan Peradilan Yang Lebih Baik Trimedya Panjaitan. 6. S.S. M.H.

Bagian Kesatu Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan xv .

xvi .

Kontroversi sambutan atas kehadiran KY dapat ditelusuri dari latar belakang kehadirannya di dalam sistem Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 1 . penulis diminta mengelaborasi lebih lanjut optik politik hukum tentang KY tersebut berkenaan dengan perkembangan-perkembangan baru menyusul putusan MK pada akhir Agustus 2006 yang memangkas hampir seluruh kewenangan KY yang semula diberikan oleh UU No. pengayaan mana dibangun oleh banyaknya kontroversi atas langkah-langkah KY yang begitu dibentuk langsung tancap gas tinggi untuk mengawasi perilaku dan moralitas hakim.Komisi Yudisial dalam Mosaik Ketatanegaraan Kita Moh. salah seorang anggotanya. Mahfud MD Pujian dan cercaan Kehadiran Komisi Yudisial (KY) di Indonesia telah memperkaya khazanah kita tentang pembangun hukum. Pujian dan cercaan terus bermunculan yang sampai saat ini (Juli 2007) menyebabkan KY berada pada posisi yang menggantung karena setelah wewenangnya untuk melaksanakan fungsi pengawasan dipangkas melalui putusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada Agustus 2006. praktis pekerjaannya hanya menyeleksi calon hakim agung. Itu pun masih menimbulkan kontroversi karena produknya tentang calon hakim agung tahun 2007 banyak yang menilainya tidak berkualitas apalagi Irawady Joenoes. memprotes karena keputusan KY ditetapkan dalam rapat yang. 22 Tahun 2004 berdasar atribusi kewenangan legislasi yang sah. Meskipun sudah pernah menulis tentang KY dari aspek politik hukum untuk buku peringatan Satu Tahun Komisi Yudisial (2006). katanya. sengaja dilakukan tanpa kehadirannya.

ketatanegaraan kita. Gagasan tentang kedua lembaga ini mendapat sambutan posistif baik dari kampus-kampus dan LSM maupun dari parpol dan Fraksi-fraksi di DPR dan MPR. Perubahan Positif Ketika gagasan tentang pembentukan KY dan MK ini diproses secara legislasi di DPR kewewenangan yang diberikan kepada keduanya ternyata berkembang secara lebih baik. KY diberi tugas melakukan pengawasan terhadap hakim baik secara preventif maupun represif. Pada saat yang sama dirasakan juga bahwa banyak produk UU yang secara substantif bertentangan dengan UUD 1945 sehingga isinya banyak yang lahir dari korupsi politik tetapi tidak ada instrumen hukum dan lembaga yang dapat mengoreksinya melalui pengujian kecuali pengujian legislatif (legislative review) yang sudah pasti sangat bergantung pada kehendak lembaga-lembaga poltik yang korup. pada waktu itu memberi dukungan kuat dengan argumen-argumennya yang sangat meyakinkan tentang KY dan segala kewenangannya yang kemudian dituangkan di dalam UU No. Pertama. Itulah sebabnya dua hal untuk memmperbaiki kinerja hukum kita segera menyeruak ke dalam wacana yang kemudian diterima dengan baik di dalam proses politik yang lahir di awal reformasi. Mafia peradilan (judicial corruption) yang melibatkan hakim-hakim terasa menyengat tetapi tak dapat terlihat atau dibuktikan secara formal karena pelaku-pelakunya terdiri dari orangorang yang pandai memanipulasi hukum untuk saling melindungi. Bahkan orang-orang yang sekarang duduk di MA maupun MK yang “terkesan” ikut menghantam KY. untuk menguji UU terhadap UUD dibentuk Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai lembaga negara baru pemegang kekuasaan kehakiman di samping Mahkamah Agung (MA). 22 Tahun 2004. Saat kita melakukan reformasi pada tahun 1998 bermunculan wacana untuk memperbaiki penegakan hukum kita dengan asumsi bahwa terjerumusnya Indonesia ke dalam krisis multidimensi yang sulit disembuhkan disebabkan oleh bobroknya dunia peradilan. Kedua. untuk mengawasi perilaku hakim agar tidak melakukan judicial corruption harus dibentuk Komisi Yudisial (KY). Secara preventif KY dapat mengusulkan calon hakim agung agar tampil hakim agung- 2 Bunga Rampai .

Kemajuan nyata Harus diakui secara jujur bahwa mosaik lembaga peradilan. 1998. Begitu pun dengan MK. memutus sengketa hasil pemilu. sedangkan secara represif KY dapat mengawasi perilaku hakim dalam pelaksanaan tugas-tugasnya sekaligus memutuskan tindakan yang dapat direkomendasikan kepada MA.1 Itulah sebabnya ketentuan tentang itu ditegaskan di dalam UUD hasil amandemen sehingga pengaturan operasionalnya dengan atribusi kewenangan legislasi menjadi jelas dan dapat diimplementasikan. terutama kekuasaan kehakiman. Jakarta. menjadi lebih baik setelah perubahan UUD 1945 yang menegaskan fungsi-fungsi konstitusional dengan proliferasi kelembagaan dalam bidang ini. dan memutus pembubaran partai politik. Terlepas dari soal. lembaga kekuasaan kehakiman yang baru ini bukan hanya diberi wewenang melakukan pengujian UU terhadap UUD tetapi juga diberi wewenangwewenang lain yakni memutus sengketa antar lembaga negara yang wewenangnya ditentukan di dalam UUD. apakah kita setuju atau tidak setu- 1 Bahasan meluas tentang ini lihat dalam buku saya. Sebelum reformasi ketentuan ini oleh beberapa peraturan perundang-undangan memang sudah dijadikan wewenang MA tetapi karena pengaturannya kacau secara teoretis maka ketentuan itu tak pernah dapat diimplementasikan. Kita mencatat sampai sekarang MK sudah memeriksa dan memutus lebih dari 100 kasus pengujian UU terhadap UUD.hakim agung yang baik melalui seleksi yang ketat dan obyektif. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 3 . memutus pendapat atau dakwaan (impeachment) DPR bahwa Presiden telah melakukan salah satu atau lebih dari lima hal yang ditentukan di dalam UUD yang dapat dijadikan alasan untuk memberhentikan Presiden/Wapres dalam masa jabatannya. memutus pendapat DPR bahwa Presiden/Wapres tak lagi menuhi syarat. Dalam pada itu pembuat Konstitusi menetapkan juga bahwa pengujian peraturan perundang-undangan di bawah UU terhadap peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dilakukan oleh MA. Politik Hukum di Indonesia. LP3ES.

4 Bunga Rampai . Kebenaran relatif putusan MK Tetapi langkah-langkah KY yang cukup memberi harapan ternyata telah menjadi bumerang yang sama sekali tidak diharapkan baik oleh KY sendiri maupun oleh masyarakat. MA yang merasa kewibawaannya diobrak-abrik merasa tersinggung.2 Banyak hakim yang kemudian lebih berhati-hati dalam melaksanakan tugasnya. terbukti sekarang MA telah menguji dan membatalkan beberapa peraturan perundang-undangan yang dinilai bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. terlepas dari kritik dan kontroversi atas produknya. ini harus dicatat sebagai kemajuan karena membuktikan bahwa memang benar banyak UU yang dapat dipermasalahkan konstitusionalitasnya dan MK telah menjadi lembaga yang tepat untuk melakukan itu. terutama ketika KY mengundang ketua 2 Denny Indrayana. Benar juga ketika kita menguatkan wewenang MA untuk melakukan pengujian peraturan perundang-undangan di bawah UU terhadap peraturan perundang-undangan yang derajatnya lebih tinggi. Langkah KY pun sudah mendorong ke arah kemajuan. seorang ahli Hukum Tata Negara dari UGM.ju dengan sebagian putusan MK. sebab dengan gebrakannya menyorot dan memeriksa hakimhakim yang dilaporkan dan diduga nakal. KY sudah memberi sumbangan yang cukup baik terutama untuk memilih yang terbaik dari jelek-jelek serta dalam membuat kontrak moral agar kalau sudah menjadi hakim agung seseorang dapat melaksanakan tugasnya dengan penuh integritas. mulai dari hakim pengadilan negeri sampai ke hakim agung ternyata meningkatkan gairah masyarakat untuk menyorot dan melaporkan hakim-hakim nakal. meski tak semua laporan itu benar adanya. Ini sudah tentu jauh berbeda dengan zaman sebelumnya di mana hakim agung diangkat berdasar kontrak politik dan ditengarai kuat hanya berdasar kedekatan dengan pimpinan MA. menyatakan bahwa maraknya kontroversi yang muncul dari konflik antara MA dan KY yang disusul dengan putusan MK yang sangat kontroversial yang memangkas wewenang-wewenang KY justru menunjukkan adanya kemajuan dalam sistem ketatanegaraan kita sebab kegiatan saling kontrol menjadi tumbuh. Dalam melakukan seleksi terhadap calon hakim agung pun.

3 Argumennya. 22 Tahun 2004 yang menyamakan keduanya harus dinyatakan bertentangan dengan konstitusi. Ketiga. Kalangan hakim banyak yang mengatakan bahwa KY bukannya menjaga martabat hakim melainkan justru menjatuhkan martabat hakim. ketika KY ditentukan di dalam UUD belum ada gagasan tentang hakim konstitusi. meminta MK memutus bahwa hakim agung bukanlah bagian dari hakim yang dapat diawasi oleh KY sebab menurut pasal 24B ayat (1) untuk hakim agung sudah disebutkan KY hanya mengusulkan pencalonannya. Kedua. sebab jika dilihat dari suasana dan sikap-sikap petinggi MA tampak jelas bahwa MA memang merasa gerah dengan sepak terjang KY. 22 Tahun 2004 tentang KY terhadap UUD. para penggugat meminta agar hakim konstitusi tidak dijadikan bagian dari pengertian hakim yang dapat diawasi oleh KY karena hakim konstitusi berbeda dari hakim lain dan baru dimasukkan di dalam UUD lebih belakang dari pengaturan tentang KY. sehingga tak mungkin ketika KY dibentuk sudah terpikir untuk mengawasi hakim konstitusi. bahkan mengintervensi kemandirian hakim. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 5 . 30 orang hakim agung kemudian menggugat judicial review UU No. Jadi bagi para penggugat harus dibedakan pengertian antara hakim agung dan hakim sehingga isi UU No. Bahwa yang menggugat adalah pribadi-pribadi hakim agung itu hanyalah taktik saja. Pertama.MA untuk dimintai keterangan dan ketika KY mengundang beberapa hakim agung untuk diperiksa berkenaan dengan masuknya beberapa laporan dari masyarakat. Isi gugatan itu pada pokoknya berkisar pada tiga hal. wewenang-wewenang KY untuk mengawasi para hakim harus dinyatakan bertentangan dengan UUD karena kriterianya tidak jelas dan bersifat eksesif apalagi dalam prakteknya 3 Seperti diketahui pengaturan tentang KY dicantumkan di dalam pasal 24B sedangkan pengaturan tentang MK dicantumkan dalam pasal 24C. hanya saja karena MA secara institusi tidak mempunyai legal standing atau tidak dapat menjadi pihak dalam sengketa di MK maka yang dimajukan (sekurang-kurangnya dibiarkan dan didorong maju) adalah para hakim agung secara perseorangan. sedangkan untuk mengawasi perilaku disebutkan berlaku untuk hakim.

namun hampir semua pedoman pengawasan untuk mengawasi para hakim sebagaimana diatur di dalam UU No. dinilai ultra petita dan bias karena salah satu dasar pertimbangan pemangkasan wewenang-wewenang KY itu didasarkan pada pertentangan (tidak sinkronnya) ketentuan yang ada antar UU yakni pertentangan UU KY (yang dapat merekomendasikan pemberian sanksi pada hakim) dengan UU lain seperti UU No. 2 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 22 Tahun 2004 itu memang agak kompromistis tetapi juga dapat dipersoalkan karena selain dianggap mengandung ultra petita5 juga bertentangan dengan asas nemo judex in causa sua sekaligus juga tidak sesuai dengan konsepsi hakim yang dimaksud dalam UUD.KY sering memeriksa hakim dengan mempersoalkan isi putusan. Kedua. Tentang ini dapat dibaca secara lebih rinci di dalam buku saya. Bias terjadi dan dapat dianggap ultra petita di sini karena MK hanya boleh menguji UU terhadap UUD bukan UU terhadap UU lainnya. Perdebatan Hukum Tata Negara Pasca Amandemen UUD 1945.4 Putusan judicial review MK pada Agustus 2006 tentang UU No. Lagi pula jika UU tentang KY bertentangan dengan UU lain mengapa isi 4 5 KY sendiri memberikan argumen yang dapat dipahami ketika menyatakan bahwa sulit untuk tidak membaca dan menilai putusan hakim sebab pengaduan yang masuk pada umumnya menyangkut kejanggalan dalam pemeriksaan perkara dan putusan hakim. 6 Bunga Rampai . 8 Tahun 2004 tentang Peradilan Umum yang menentukan bahwa pemberhentian hakim agung dan hakim dilakukan setelah melalui Majelis Kehormatan Mahkamah Agung dan Majelis Kehormatan Hakim. Pertama. Persoalan belum adanya ketentuan tentang kriteria pelanggaran moral oleh hakim mestinya tidak dapat dijadikan alasan untuk membatalkan kewenangan KY sebab masalah tersebut merupakan ranah legislatif. LP3ES. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung dan UU No. 2007. Jakarta. 22 Tahun 2004 dipangkas sehingga meskipun boleh mengawasi tetapi terjadi kekosongan hukum dalam operasionalisasi pengawasan itu sendiri. dinilai kompromistis karena karena menolak gugatan bahwa hakim agung berada di luar subyek yang dapat diawasi oleh KY.

artinya sebuah putusan MK bisa salah jika yang dipakai untuk memutus adalah perspektif. menurut pasal 24C ayat (1) putusan MK itu bersifat mengikat. final and binding. atau pasal-pasal yang dipergunakan untuk memutus. tergantung pada pilihan perspektif. tak dapat dilawan lagi secara hukum. Dengan kata lain. 8 Tahun 2004 tentang Peradilan Umum sesuai dengan asas lex posteriori derogat lex anteriori? Ketiga. Putusan MK. Putusan MK menyatakan bahwa MK boleh menguji semua UU termasuk semua UU yang sudah ada sebelum terbentuknya MK. seandainya yang menjadi hakim pada Mahkamah Konstitusi itu adalah hakim lain yang menggunakan atau mengikuti paradigma. dalil. tetapi sudah pasti mengikat. Tegasnya. dalil. dan pasal-pasal lain. putusan MK tersebut agak berbenturan juga dengan asas nemo judex in causa sua karena MK memutus hal-hal yang menyangkut kepentingannya sendiri yakni meletakkan hakim konstitusi sebagai subyek yang berada di luar pengawasan KY . Selain berbenturan dengan asas nemo judex in causa sua bias putusan MK tidak sesuai dengan ide dan konsep tentang hakim di dalam konstitusi dan tata hukum kita sebab ide dan konsep dasar hakim adalah semua pejabat yang melaksanakan kekuasaan kehakiman. putusan MK itu belum tentu benar. 2 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung dan UU No. Di dalam asas ini ditentukan bahwa hakim tidak boleh memutus perkara yang menyangkut diri-nya sendiri. 14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 22 Tahun 2004) menghapus hukum yang terdahulu yakni UU No. terlepas dari soal benar atau salah. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 7 . Kebenaran putusan MK itu bersifat relatif. belum tentu benar tapi mengikat Meskipun begitu harus diingat bahwa.UU KY yang dibatalkan? Mengapa tidak diberlakukan ketentuan bahwa hukum yang datang kemudian (UU No. Selain memutus bahwa hakim konstitusi bukanlah bagian dari hakim yang dapat diawasi KY. MK juga pernah membatalkan ketentuan UU tentang MK yang menentukan bahwa MK hanya boleh melakukan pengujian atas UU yang lahir setelah terbentuknya MK. Dalam saya catatan sudah dua kali MK memutus hal-hal yang menyangkut dirinya sendiri.

Tetapi dari segi lain bisa ditegaskan bahwa tak ada satu pun ketentuan UUD kita maupun dalam sejarah pembahasan ketika membentuk KY bahwa KY adalah lembaga penunjang. Sebagai lembaga negara pengawas eksternal ia bukan penunjang. Dalam bahasa sehari-hari dapatlah dikatakan bahwa putusan MK itu bisa “sesuka-suka MK” dengan kebenaran yang relatif karena logikanya hanya dibangun dari perspektif tertentu yang hanya bisa logis dari perspektif itu sendiri. Kalau soal rasionalitas. Dengan demikian jika dilihat dari perspektif lain maka KY bukanlah lembaga penunjang lembaga lain. Begitu juga putusan MK bahwa hakim MK tak bisa diawasi oleh KY karena KY lahir lebih dulu dari MK itu bisa benar dari perspektif tertentu sebab tak mungkin sesuatu yang dipikirkan dan lahir kemudian sudah dicakup untuk diawasi oleh lembaga yang ada lebih dulu. Tim Hukum KY misalnya. dan dalil-dalil lain maka putusan bisa berbeda. Ia adalah lembaga negara yang otonom sebagai lembaga pengawas eksternal. dalil. tetapi bidang tugasnya memang berkaitan dengan kekuasaan lembaga negara yang lain yakni kekuasaan kehakiman. Menurut UUD sendiri dan berdasar latar belakang pembahasannya di PAH I MPR tak pernah ada gagasan KY dijadikan sebagai lembaga penunjang. Tetapi jika konsep hakim dilihat dari teori tentang tugas-tugas untuk mengadili. Tidak sulit untuk mencontohkan ini. Dari perspektif teori tertentu misalnya. maka semua dalil yang dipergunakan oleh MK bisa salah. dan teori yang dipergunakan oleh pihak termohon atau pihak terkait langsung. Dalam kasus putusan MK yang memangkas hampir semua kewenangan KY seandainya kita memakai perspektif. paradigma apa pun yang dipergunakan pasti bisa dibangun rasionalitas untuk membenarkan pilihan perpspektif dan paradigma. 8 Bunga Rampai . Itu hanya pendapat MK berdasar teori yang dipilihnya sendiri untuk kemudian dijadikan bahan pertimbangan vonis. siapa pun yang melakukan dan kapan pun dibentuk.perspektif teori. bisa benar ketika MK mengatakan bahwa KY adalah auxiliary agent (lembaga negara penunjang) karena ia merupakan lembaga negara yang bukan pemegang kekuasaan kehakiman tetapi memiliki tugas yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman dan karenanya KY tidak bisa dijadikan bandul checks and balances dengan MK maupun MA.

setidak-tidaknya menurut penulis. tetapi karena hal itu sudah diputuskan oleh lembaga yang diberi wewenang oleh konstitusi untuk memutus sengketa tentang itu. Di sini berlaku prinsip “hukmul haakim yarfa’ul khilaaf. Pilihan politik. tepatnya pada formal dan prosedural semata. Untuk banyak pihak putusan MK tentang KY itu memang mengikat tetapi tidak sejalan dengan latar belakang sejarah politik hukum. salah satu pertimbangan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 9 .” putusan hakim menyelesaikan semua pertentangan. rasa keadilan. Berdasar ini. Oleh sebab itu di dalam konstitusi kita juga dianut asas keadilan dan kemanfaatan yang harus bersumber dari jeritan hati nurani masyarakat serta manfaat bagi masyarakat. tak terikat teori Seperti dikemukakan di atas. Jadi tampak jelas bahwa ini tinggal pilihan paradigma dan perspektif teorianya serta tergantung pada siapa. terlepas dari soal kita senang atau tidak senang. maka putusan MK tentang KY lebih merupakan pilihan selera hakim konstitusi yang tentu bisa lain putusannya kalau hakim-hakim dan pilihan perspektifnya juga lain dengan argumen yang juga bisa kuat. Jika hanya mendasarkan pada asas kepastian hukum. seperti dikemukakan di atas. dan apa yang dimainkan hakim-hakim yang memeriksa dan memutus. dan manfaat bagi masyarakat sebagaimana digagas ketika KY akan dijadikan bagian di dalam mosaik ketatanegaraan kita.maka hakim konstitusi pun harus dipandang sebagai hakim yang juga harus diawasi oleh KY. Namun agar putusan hakim dapat diterima dan tidak menimbulkan persoalan baru di dalam sistem hukum kita sebenarnya sudah ada penggarisan bahwa penegakan hukum di Indonesia haruslah mengintegrasikan secara padu tiga asas yakni asas kepastian hukum dan asas keadilan sesuai dengan ketentuan pasal 24 ayat (1) dan pasal 28D ayat (1) dan asas kemanfaatan sesuai dengan ketentuan pasal 28H ayat (2). Bukan karena benar. maka manipulasi bisa dilakukan oleh pihak yang punya otoritas untuk memutus dengan cara memilih perspektif dan teori serta dalil-dalil sesuai dengan selera dan kehendaknya sendiri. Meskipun begitu. putusan MK bersifat final dan mengikat dan harus dilaksanakan.

konstitusi adalah resultante atau kesepakatan yang dibuat oleh bangsa yang bersangkutan sesuai dengan kebutuhan tempat dan waktu serta situasi. Pandangan seperti ini dapat dipertanyakan. bukan lembaga negara utama seperti MA dan MK melainkan hanya lembaga pembantu atau penunjang. Memang dapat diterima pandangan bahwa KY bukan lembaga pemegang kekuasaan kehakiman yang mempunyai tugas yang berkaitan dengan kekuasaan tersebut.putusan MK ketika memangkas hampir semua wewenang pengawasan KY terhadap hakim adalah karena KY bukan main organ melainkan hanya auxiliary organ. tetapi jika dilihat dari tugasnya yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman maka bidang tugas KY memang hanya menunjang lembaga yudikatif dalam pelaksanaan kekuasaan kehakiman. Harus juga diingat bahwa dalam kenyataannya tidak ada satu sistem ketatanegaraan yang benar-benar asli dan tidak ada satu sistem ketatanegaraan yang secara persis dianut oleh lebih dari satu negara karena setiap negara memberikan sentuhan-sentuhan atau warna khusus sesuai dengan kebutuhan dan pilihan politiknya. sebab di dalam UUD sendiri tidak disebutkan tentang itu. bukan apa yang ada di dalam teori atau yang berlaku di negara lain betapa pun dianggap sudah mapan. Jadi jika dilihat dari sudut lembaga negara maka KY ini tidak pernah dimaksudkan sebagai lembaga pembantu atau penunjang lembaga lain. melainkan merupakan lembaga pengawas eksternal yang berdiri sendiri. Selain itu harus diingat bahwa Hukum Tata Negara itu bukanlah apa yang ada di dalam teori atau yang berlaku di negara lain. Jadi Hukum Tata Negara itu adalah apa yang diperdebatkan dan ditulis sebagai pilihan politik di dalam konstitusi. Hukum Tata Negara adalah apa yang digagas dan kemudian ditulis di dalam konstitusi oleh bangsa suatu negara. the Modern Constitution. Meminjam ungkapan KC Wheare di dalam bukunya. Namun sebagai lembaga pengawas eksternal lembaga ini dapat dipandang sebagai lemabaga negara yang sejajar dengan MK maupun MA meski pun kompetensi tugas-tugasnya membantu kekuasaan kedua lembaga tersebut. Tidak ada teori Trias Politika asli dan tidak ada sistem pemerintahan yang murni karena hampir semua negara membuat sistem dengan sentuhan 10 Bunga Rampai .

Trias Politika yang “dikira” berasal dari Montesquieu itu pun kemudian melahirkan sistem pemerintahan yang berbeda-beda yang juga dapat dipertanyakan keasliannya. Tampak jelas bahwa sistem ketatanegaraan yang asli atau murni itu tidak ada karena semuanya merupakan penafsiran dan modifikasi sendiri-sendiri.dan modifikasinya sendiri-sendiri sesuai dengan kebutuhan domistiknya. Uniknya di negara Montesquieu sendiri. sedangkan nama dan uraian teoresasi tentang Trias Politika itu selanjutnya diberikan oleh Emmanuel Kant. sebenarnya berasal dari John Locke ketika mengajarkan pemisahan kekuasaan atas legislatif. dianut hybrid parliamentary-presidential system. dan yudikatif. dan federatif namun kemudian dimodifikasi oleh Montesquieu menjadi legislatif. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 11 . Perancis. 2 Mei 2007. Tak Ada Sistem Ketatanegaraan Asli. sedangkan di Swiss lahir sistem badan pekerja. Inggris melahirkan sistem Parlementer yang menganut supremasi parlemen. Perancis. Swiss. Berbagai contoh kasus6 Antara April dan Juli tahun 2007 ini penulis mengunjungi beberapa negara “demokrasi” di Asia dan Eropa yang ternyata mengatur sistem ketatanegaraannya secara berbeda-beda meskipun mengatakan menganut sistem terten- 6 Lihat dalam tulisan saya. Hasil modifikasi oleh Montesquieu inilah yang umumnya dianggap sebagai dasar teori Trias Politika padahal Montesquieu sendiri mengambilnya dari John Locke. Inggris. Mencontoh Kehidupan Beragama di Lebanon. 2 Mei 2007. Teori Trias Politika yang selalu dikaitkan dengan Montesquieu misalnya. eksekutif. Amerika Serikat melahirkan sistem Presidensial yang memisahkan secara tegas antara legislatif dan eksekutif dengan mekanisme checks and balances antar poros-porosnya. Juga tulisan saya. eksekutif. Harian Seputar Indonesia. Montesquieu sendiri mengatakan. penerapan yang benar adalah sistem parlementer seperti yang berlaku di Inggris. dan lain-lain membuat sistem ketatanegaraan berdasar pilihan politiknya sendiri. Amerika. dalam Jawa Pos.

Di Yordania juga dianut sistem parlementer tetapi yang sangat menentukan jabatan perdana menteri adalah raja. Di Republik Rakyat Cina (RRC) yang menganut sistem yang agak unik. Polandia juga menganut sistem parlementer tetapi uniknya Presiden dapat membubarkan parlemen dengan dua alasan yakni jika sampai waktu tertentu parlemen tidak mensahkan anggaran yang diajukan oleh pemerintah atau jika parlemen tidak menyetujui susunan kabinet yang diajukan oleh pemerintah dan sampai waktu tertentu parlemen tidak mengajukan alternatif untuk menggantikan penolakannya itu. Di Suriah pemilu untuk 250 kursi parlemen hanya dilakukan untuk memperebutkan 70 kursi karena nama wakil rakyat yang untuk 180 kursi sudah ditentukan lebih dulu oleh pemerintah dari partai yang berkuasa. Yang juga menarik di Polandia adalah kewenangan Mahkamah Konstitusi (MK) untuk melakukan judicial preview atau menilai satu RUU sebelum disahkan oleh (dan atas permintaan) Presiden. Libanon yang secara resmi menganut sistem Parlementer ternyata menyerahkan kekuasaan tertentu kepada Presiden yakni kekuasaan bidang pertahanan dan intelijen. Sistem presidensial di Indonesia juga tidak mengikuti pola yang umum meski pola umum itu tidak murni juga. Sistem Presidensial seperti yang dianut di Indonesia ini hanya dipakai oleh satu negara lain di dunia. jadi pemerintahan dilakukan oleh kabinet yang dipimpin oleh perdana menteri tetapi untuk masalah pemerintahan tertentu dilakukan oleh Presiden. Tapi itulah sistem yang dipilih oleh Polandia. Socialist Democratic 12 Bunga Rampai . termasuk UU yang sudah dimintakan judicial preview sebelum diundangkan. bukan parlemen. Ini unik karena berarti MK dapat menilai kembali UU yang telah dinyatakan konstitusional oleh MK sendiri sebelum UU itu disahkan. Namun di Indonesia Presiden mempunyai hak bersama DPR untuk membentuk UU. Pada umumnya di dalam sistem presidensial kekuasaan membentuk UU hanya ada di parlemen tetapi Presiden mempunyai hak veto (hak menolak) yang kemudian dapat diuji kembali melalui sejumlah dukungan minimal tertentu di parlemen. tetapi MK juga dapat melakukan judicial review atas UU yang sudah disahkan oleh Presiden jika ada gugatan. yakni Puerto Rico.tu dari Trias Politika.

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 13 . bukan sistem yang harus dipaksakan untuk sama atau menganut teori atau sistem yang berlaku di negara lain. tergantung pada kebutuhan masing-masing. siapa pun harus tunduk kepada hukum. Di Polandia. bahkan ada negara yang menempatkan KY sebagai lembaga yang bukan di ranah yuridis melainkan bersifat politis. Itu pun merupakan pilihan politik atau resultante bangsa Cina dalam membuat konstitusinya. Dewan Yudisial Nasional atau “the National Council of the Judiciary” berfungsi untuk 7 Bagi penulis konsep ini terasa unik. juga agak sulit memahami demokrasi yang dikatatorship. Sebagai pilihan politik penempatan posisi KY yang seperti itu sah saja dan mengikat secara konstitusional. Ternyata konsep ini berjalan efektif karena dictatorship di sana diartikan kekuasan hukum (dikatatorial hukum) secara mutlak.7 Kejaksaan Agung dijadikan lembaga yang sejajar dengan Mahkamah Agung dan lembaga negara yang lainnya. Desain Komisi Yudisial Uraian di atas bermaksud meyakinkan kita bahwa sistem ketatanegaraan kita pun adalah sistem yang dapat kita buat sendiri. sebab seperti dikemukakan di atas setiap konstitusi dapat menentukan pilihannya sendiri-sendiri. Di berbagai negara pun pemosisian KY bervariasi. Yang menonjol ketika itu adalah pemikiran tentang perlunya lembaga pengawas eksternal yang dapat menyeleksi hakim agung dan mengawasi perilaku hakim sebab lembaga pengawas internal yang ada di lembaga yudikatif sampai saat itu sama sekali tidak efektif. Jadi di RRC kejaksaan bukan bagian dari Pemerintah dan bukan bagian dari Mahkamah Agung melainkan dijadikan lembaga yang sejajar dengan kedua lembaga negara itu.Dictatorship. misalnya. Namun seperti dikenal luas penegakan hukum dan pemerintahan di RRC berjalan sangat efektif. termasuk ketika kita menempatkan KY di dalam mosaik ketatanegaraan kita. Dalam kaitan dengan KY ini penulis dapat mengatakan bahwa menurut risalah persidangan-persidangan MPR yang merancang perubahan UUD 1945 tidak muncul sama sekali pemikiran untuk menjadikan KY sebagai supporting atau auxiliary organ. sebab pada umumnya agak sulit menyatukan sosialis-komunis dengan demokrasi.

Menteri Kehakiman. Pada saat itu ada semangat bahwa KY dibentuk un- 14 Bunga Rampai . kita suka atau tak suka. dan seorang lain yang ditunjuk oleh Presiden. tak ada hal-hal yang bertentangan dengan UUD baik secara semantik maupun secara historik dalam garis politik hukum kita. bukan bertentangan dengan UU lain yang sejajar. padahal MK hanya boleh memutus atau membatalkan isi UU jika bertentangan dengan isi UUD. Lembaga ini lebih bersifat politis karena keanggotaannya terdiri dari Ketua I Mahkamah Agung. terlepas dari soal benar atau salah. putusan MK itu bersifat final dan mengikat yang karenanya harus diterima dan dilaksanakan. Jadi posisi konstitusional KY dengan berbagai kewenangan yang kemudian dituangkan ke dalam UU No. Namun seperti dikemukakan di atas. 6 orang anggota Parlemen yang masing-masing 4 orang dari Majelis Rendah dan 2 orang dari Majelis Tinggi.menjaga dan melindungi kebebasan/kemandirian pengadilan dan hakim. 22 Tahun 2004 sebagai pilihan politik yang khas Indonesia sebenarnya sudah cukup baik. Yang harus diperhatikan dalam pembentukan UU baru ini adalah bahwa kita harus kembali ke semangat atau garis politik hukum tentang KY itu sebagaimana diperdebatkan di MPR pada saat masalah KY itu dibicarakan dan diputuskan. MK juga menyatakan bahwa ketentuan kewenangan KY untuk mengawasi tingkah laku hakim tumpang tindih dengan berbagai UU lain yang terkait dengan kekuasaan kehakiman sehingga karena itu MK membatalkan berbagai kewenangan KY. MK mengatakan bahwa KY hanyalah supporting atau auxiliary organ sehingga tak bisa melakukan peran checks and balances padahal tak ada sama sekali pemosisian yang seperti itu ketika MPR membahas dan merumuskan fungsi KY di dalam konstitusi kita. Setelah terjadi kekosongan hukum dalam bidang pengawasan perilaku hakim oleh KY kini kita dituntut untuk segera membentuk UU baru yang memuat dan mengatur kewenangan KY ini. MK menyatakan bahwa KY bukan lembaga negara utama padahal ketentuan yang seperti itu hanyalah tafsir teoretis dari MK yang bisa dibantah dengan tafsir teoretis lain. 15 orang hakim. Tetapi MK dengan pilihan paradigma dan dalil serta pasal-pasal yang dipilihnya sendiri telah memangkas hampir semua kewenangan KY. Ketua I Mahkamah Tinggi Tata Usaha Negara.

RUU tentang MK. Berdasar diskusi-diskusi di Badan Legislasi (Baleg) DPRRI8 yang kini sedang menyiapkan RUU tentang KY yang baru ada beberapa hal yang sudah dimasukkan di dalam buram (draft mentah) berkaitan dengan lingkup kewenangan KY di masa depan yang beberapa hal di antaranya dapat dikemukakan seperti di bawah ini: 1. Hakim tetap bebas memeriksa dan memutus perkara dan putusannya tetap mengikat. Adalah sulit untuk tidak membolehkan KY membaca dan menilai suatu kasus pengaduan tentang pelanggaran perilaku oleh hakim sebab pada umumnya pengaduan perilaku hakim itu terkait dengan perkara yang kemudian diputus oleh hakim. baik di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 15 . Di sini meskipun KY boleh membaca putusan hakim tidaklah dapat diartikan bahwa KY boleh melanggar independensi hakim sebab KY tetap tidak boleh mempengaruhi apalagi mengubah putusan hakim. 8 Penulis adalah anggota Badan Legislasi DPR-RI yang saat tulisan ini dibuat sedang menyiapkan tiga RUU yang terkait dengan kekuasaan kehakiman yakni RUU tentang MA. Istilah “menjaga dan menegakkan kehormatan. dan RUU tentang KY. Dalam cakupan pengertian yang seperti ini maka pengawasan atas hakim mencakup pengawasan preventif (misalnya dalam hal seleksi hakim) dan pengawasan represif (misalnya pemeriksaan dan penindakan atau penjatuhan sanksi). KY hanya boleh membaca dan menilai putusan setelah ada vonis tanpa boleh mengubah putusan hakim. keluhuran martabat serta perilaku hakim” (pasal 1 butir 6 draft Juli 2007) diartikan sebagai upaya yang meliputi pencegahan dan penindakan atas perbuatan hakim.tuk memenuhi kebutuhan akan lembaga pengawas ekternal yang mandiri untuk mengawasi perilaku hakim dan hakim yang dimaksud ketika itu adalah semua hakim yang bekerja di lembaga kekuasaan kehakiman. Terkait dengan ini maka di dalam disain baru nanti harus tetap dibuka kemungkinan KY membaca dan mendalami putusan hakim jika terkait dengan dugaan penyimpangan perilaku hakim.

bukan dibuat di rumah atau diserahkan beberapa hari sebelumnya. Mungkin perlu ditekankan agar pembuatan karya ilmiah tersebut dilakukan seketika di tempat seleksi. Selain itu perlu juga diperhatikan dalam kaitan ini tentang pemberian peluang bagi KY untuk membaca dan menilai putusan hakim yang diadukan atau dilaporkan oleh masyarakat dengan penekanan bahwa hal itu tak boleh bertendensi intervensif yang dapat mempengaruhi putusan berikutnya apalagi sampai mengubah putusan hakim. Untuk tugas ini KY dapat “melakukan pengawasan” atas perilaku hakim serta “memeriksa dan memutus” terhadap dugaan pelanggaran kode etik dan keharusan perilaku baik atas pengaduan masyarakat maupun atas temuan KY sendiri.2. sebab konsep dasar yang dianut adalah “sikap pasif” bagi KY dalam arti KY hanya memproses laporan dari masyarakat tanpa boleh mencari-cari kasus sendiri. Memang di dalam pasal 22 ayat (2) draft Juli 2007 sudah dicantumkan ketentuan bahwa dalam melaksanakan tugas KY tidak boleh mengurangi kebebasan hakim dalam memeriksa dan memutus perkara. dapat mewajibkan calon hakim agung menyusun karya ilmiah dengan topik yang telah ditentukan (pasal 18 ayat (2) draft Juli 2007). antara lain. tetapi ketentuan pasal 22 ayat (2) ini tidak terkait secara spesifik bagi kemungkinan pembacaan dan penilaian putusan hakim oleh KY. serta perilaku hakim. Selain itu perlu juga ditentukan pembacaan rekam jejak (track record) melalui telaah atas semua putusan yang pernah dibuat disertai investigasi secara diam-diam tetapi dapat dipertanggungjawabkan. Dalam upaya melakukan seleksi atas kualitas dan kepribadian calon hakim agung KY. sebagaimana dimuat Bunga Rampai 16 . Ini dimaksudkan untuk menjaga orisinalitas dan menyaring kemampuan artikulatif setiap calon hakim agung. 4. Dalam kaitan ini perlu dipertimbangkan atau ditegaskan tentang apa yang dimaksud “hasil temuan” KY sendiri. Tentang sifat putusan KY yang berupa penjatuhan sanksi tertentu seperti pemberhentian. 3. keluhuran martabat. Untuk melaksanakan wewenang konstitusional (menurut pasal 20 ayat (1) sampai dengan ayat (3) draft Juli 2007) KY mempunyai tugas “menjaga” dan “menegakkan” kehormatan.

tetapi tidak tercantum larangan bagi hakim untuk memeriksa dan memutus perkara yang berkaitan dengan dirinya (asas nemo judex in causa sua). termasuk semua hakim konstitusi. dan pimpinan badan peradilan dimana hakim yang bersangkutan bertugas. Mungkin juga dapat diatur bahwa keputusan KY tentang pemberhentian dapat dilaksanakan tanpa pemeriksaan ulang di Majelis Kehormatan Mahkamah Agung dan Majelis Kehormatan Hakim. Pengawasan atas MK Sebenarnya garis politik hukum tentang pembentukan KY menginginkan pengawasan atas perilaku hakim oleh KY mencakup semua hakim yang mempunyai fungsi kehakiman.5. Tetapi ketentuan ini harus disertai dengan pemosisian ketentuan di dalam UU lain yang menyatakan bahwa pemberhentian dilakukan setelah melalui pembelaan dan keputusan Majelis Kehormatan Mahkamah Agung dan Majelis Kehormatan Hakim. Ini penting juga karena dalam praktik selama ini masih banyak hakim yang menangani perkara yang ada kaitan dengan kepentingan dirinya. di dalam pasal 22B ayat (4) draft Juli 2007. Ketentuan ini sangat penting agar maksud keberadaan KY untuk mengawasi dan menentukan sanksi dan tindakan dapat terpenuhi. Dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Mungkin dapat diatur bahwa dengan adanya KY tidak diperlukan lagi pemberian kompetensi bagi Majelis Kehormatan Mahkamah Agung dan Majelis Kehormatan Hakim untuk memutus/merekomendasikan pemberhentian hakim. pimpinan DPR. keluhuran martabat. Meskipun ini sudah menjadi asas di dalam hukum tetapi perlu juga dicantumkan di dalam bagian ketentuan tentang kode etik bahwa hakim tidak boleh atau harus mengundurkan diri dari (penanganan) perkara yang ada kaitan dengan dirinya. dinyatakan mengikat dan disampaikan oleh KY kepada Presiden dengan tembusan kepada pimpinan MA. sedangkan pemberhentian hakim berdasar hasil pengawasan internal MA sendiri tetap harus melalui Majelis Kehormatan Hakim. Tetapi ketentuan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 17 . serta perilaku hakim (pasal 25B ayat (2) draft Juli 2007) ditentukan beberapa larangan bagi hakim.

juga menimbulkan komplikasi berkait dengan wewenangnya dalam memutus yang harus diterima secara final dan mengikat. sesuai dengan ketentuan pasal 24C UUD 1945. bersifat final dan mengikat sehingga tak bisa dimasukkan lagi di dalam UU tentang KY yang baru nanti. Contohnya. Memang setelah empat tahun perjalanan MK. ada yang ingin partial dan ada yang ingin komprehensif. Itulah sebabnya dalam Amandemen UUD 1945 berikutnya9 kita harus merumuskan dengan cermat tentang pengawasan terhadap hakim konstitusi dan tentang cara mengatasi jika putusan MK yang bersifat final dan mengikat itu ternyata tidak sesuai dengan politik hukum di dalam konstitusi dan bertentangan dengan fakta hukum yang kemudian muncul. 18 Bunga Rampai . padahal selain sering berdasar pilihan perspektif sepihak putusan MK itu bisa berlawanan dengan fakta hukum lain yang diputus oleh pengadilan. ada yang ingin segera dan ada yang menghendaki ditunda dulu.tentang ini yang sudah dimuat dengan tegas di dalam UU tentang KY dibatalkan oleh putusan MK yang menyatakan bahwa hakim dalam pengertian pasal 24B UUD 1945 tidak mencakup hakim konstitusi karena selain konteksnya hanya dengan hakim agung pasal 24B yang menentukan pembentukan KY itu lahir lebih dulu daripada pasal 24C yang menentukan pembentukan MK sebagai lembaga negara. sebab kita tak bisa membiarkan MK dan hakim-hakimnya menjadi lembaga super yang tak bisa diawasi. Karena putusan MK bersifat final dan mengikat maka fakta hukum di pengadilan umum itu tidak dapat mengubah lagi putusan MK yang secara substantif nyata-nyata salah. selain banyak memberi angin segar bagi kehidupan ketatanegaraan yang lebih sehat. namun di dalam peradilan umum kecurangan itu terbukti dan pelakunya dijatuhi hukuman pidana. 9 Wacana untuk melakukan amandemen kelima atas UUD 1945 pada saat ini sedang gencar. Satu-satunya jalan untuk mengembalikan masalah ini ke garis politik hukum yang benar hanyalah melalui amandemen konstitusi yang harus menegaskan tentang itu secara eksplisit. Putusan MK tentang cakupan pengertian hakim ini. MK pernah menyatakan menolak gugatan permohonan pembatalan hasil perhitungan suara dalam pemilu di suatu daerah karena terjadi kecurangan.

Bahan Pustaka AV Dicey, An Introduction to Study of the Law of the Constitution, 10th edition, English Language Book Society and Mac Millan, London, 1971. Carl J. Friedrich, Constitutional Government and Democracy: Theory and Practice in Europe and America, Weldham, Mass: Blaisdell Publishing Company, 5th edition, 1967. David Kairys, The Politics of Law, a Progressive Critique, Pantheon Books, New York, 1982. C.F. Strong, Modern Political Constitution, The English Language Book Society, Sidgwick and Jackson Limited, London, 1966. Erwin Chemerinsky, Constitutional Law, Principles and Policies, Aspen Law and Business, New York, 1997. Hans Kelsen, General Theory of Law and State, Russell and Russell, New York, 1973. Jimly Asshiddiqie, ”Telaah Akademis Perubahan Undang-Undang Dasar 1945,” dalam Jurnal Demokrasi dan HAM, Volume 1 No.4 Tahun 2001. K.C. Wheare, the Modern Constitutions, Oxford University Press, London-New York-Toronto, 3rd Impression, 1975. Moh. Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia, LP3ES, Jakarta, 1998. Moh. Mahfud MD, Pergulatan Politik dan Hukum, Gama Media-Ford Foundation, Yogyakarta dan Jakarta, 1999. Moh. Mahfud MD, Hukum dan Pilar-pilar Demokrasi, Gama Media- the Ford Foundation, Yogyakarta dan Jakarta, 1999. Moh. Mahfud MD, Amandemen Konstitusi dalam Rangka ReformasiTata Negara, UII Press, Yogyakarta, 1999. Moh. Mahfud MD, Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia, PT Rinneke Cipta, Jakarta, 2000. Moh. Mahfud MD, Dasar dan Struktur Ketatanegaraan Indonesia, PT Rinneke Cipta, Jakarta, 2001. Moh. Mahfud MD, Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi, LP3ES, Jakarta, 2006. Moh. Mahfud MD, Perdebatan Hukum Tata Negara Pasca Amandemen UUD 1945, LP3ES, Jakarta, 2007.

-

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

19

-

Moh. Mahfud MD, Hukum Tak Kunjung Tegak, PT Citra Aditya Bhakti, Bandung. 2007. RM AB Kusuma, Lahirnya Undang Undang Dasar 1945, Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 2004. Sri Soemantri M, ”Undang-Undang Dasar 1945, Kedudukan dan Artinya dalam Kehidupan Bernegara,” dalam Jurnal Demokrasi dan HAM, Vol. 1 No. 4 Tahun 2001. Sri Soemantri, Prosedur dan Sistem Perubahan Konstitusi, PT Alumni, Bandung, Edisi Kedua, Cetakan Kesatu, 2006.

20

Bunga Rampai

Perubahan Bidang Politik dan Pengaruhnya Terhadap Reformasi Peradilan
Arbab Paproeka, S.H.
1

Pengantar Semangat egalitarian warga negara – bangsa berdampak signifikan terhadap diskursus-diskursus intelektual dan pembentukan sistem politik Indonesia ketika euforia reformasi dan demokrasi mulai mengemuka di semua ruang publik. Kesadaran diskursif seperti itu menjadi konsensus bersama bagi perwujudan res publica (kepentingan bersama) dalam menata tata kehidupan sosial, politik, ekonomi dan hukum. Atas semua itu, reformasi dan demokrasi dengan ragam pemaknaannya dinilai sebagai tujuan yang harus dicapai ketimbang sekadar menjadi sebuah sarana merebut hasrat kuasa. Dalam banyak pandangan, reformasi dan demokrasi, sejatinya dipahami sebagai imaji ideal kebangsaan yang akan menggiring negara bangsa ke dalam kebajikan dan keadaban. Reformasi dan demokrasi kadang juga diletakkan sebagai nonstrum - obat bagi segala masalah kebangsaan. Kondisi ini memiliki implikasi pada tindakan yang mengarah pada cita ideal tata hidup kebangsaan yang dipandang sebagai ekspresi reformasi dan demokrasi. Namun, dalam sisi yang berbeda, reformasi dan demokrasi sering juga diperspepsikan sebagai imaji yang justru memunculkan sinisme yang tinggi dari entitas negara bangsa. Kondisi ini adalah sebuah refleksi dimana cita ideal mengalami kontradiksi

*

Anggota Komisi III DPR RI

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

21

dengan ekspektasi pada situasi faktualnya. Tuntutan untuk melakukan pendalaman demokrasi (a deepening democracy) terhadap negara bangsa yang sementara mengalami masa transisi memang pelik. Terlebih pada sebuah komunitas yang karakter bangsanya cukup heterogen atau plural semisal Indonesia. Sebagaimana Snyder (2000), menjelaskan bahwa sentimen nasionalisme menjadi salah satu faktor yang bisa mengganggu proses demokratisasi. Tesis ini cukup mudah dikenali. Bahwa demokrasi tidak selamanya akan menguntungkan semua kelompok elit politik. Ia bergerak seperti pendulum. Namun biasanya, kelompok elit yang senantiasa berupaya mencegah berlangsungnya proses demokratisasi adalah kelompok elit yang merasa dirugikan dari proses demokratisasi. Modus yang sering digunakan adalah show power melalui pengumpulan kekuat-an inti dengan penguatan isu sentimen nasionalisme. Sentimen nasionalisme ini setidaknya dapat dijelaskan lewat pengkultusan nilai tatanan dalam sebuah komunitas. Atau mungkin juga bisa dijelaskan dalam gugusan negara bangsa. Sentimen nasionalisme dalam gugusan komunitas terpola melalui penuturan klasik, dimana ia terjelma menjadi suatu nilai (value) sebagai suatu bentuk kebaikan umum dalam makna totalitasnya. Lain halnya dengan, Arend Lijphart dalam Latif (2006), justru memberikan ulasan yang optimistik bahwa adalah mungkin untuk mempertahankan pemerintahan demokratis yang stabil dalam sebuah masyarakat plural sepanjang elit-elitnya bersedia bekerja sama. Namun, kerja sama itu tidak akan tercipta dengan sendirinya. Dibutuhkan sebuah kerangka solidaritas bersama yang baru, yang bergantung secara inter alia pada nasionalisme kewargaan (civic nasionalisme). Perspektif ini memang cukup relevan dalam merepresentasikan bahwa demokrasi tidak jatuh dari langit, tetapi melakukan pendalaman demokrasi dibutuhkan konsensus politik dari semua entitas kewargaan untuk membangun komitmen intelektual bagi keberlanjutannya. Nasionalisme yang berakar dari ikatan nation, pada akhirnya begitu untuk didefenisikan. Namun dalam rangka jelajah pemaknaan tentangnya, mungkin dapat dirunut bahwa nation adalah sesuatu yang direkayabayangkan (imagined). Sebagai bentuk direkayabayangkan, maka variannya

22

Bunga Rampai

pun menjadi sangat beragam. Snyder, menyebut ada empat bentuk utama nasionalisme; nasionalisme sipil, nasionalisme SARA, nasionalisme revolusioner dan nasionalisme kontra – revolusioner. Nasionalisme sipil terbentuk jika elite politik yang ada tidak merasa terancam oleh proses demokratisasi, dan kelembagaan negara yang ada cukup kuat untuk menampung proses ini. Ia mendasarkan pada usahanya mempertahankan proses demokratisasi karena dianggap bisa memberikan keadilan. Pada sisi ini, negara menganut prinsip kesetaraan warga negara tanpa memandang suku, warna kulit, agama dan keturunannya. Nasionalisme SARA sebuah solidalitas yang dibangkitkan berdasarkan budaya, agama, bahasa, sejarah dan yang sejenisnya. Nasionalisme SARA terbentuk jika elite politik yang ada merasa terancam oleh proses demokratisasi, dan kelembagaan negara juga masih lemah. Jika terdapat kelompok dominan lebih dari satu maka proses demokratisasi mungkin akan mengakibatkan terjadinya perpecahan di negara tersebut, dan sebagai gantinya akan muncul satu negara federal, atau bahkan beberapa negara baru. Nasionalisme revolusioner merupakan usaha untuk mempertahankan suatu perubahan politik yang melahirkan rezim baru yang dinilai lebih baik dari rezim sebelumnya. Disini terdapat kecenderungan bahwa kekuatan baru mempertahankan perubahan senantiasa menggunakan nasionalisme revolusioner. Nasionalisme terjadi kalau elit politik yang ada tidak dirugikan oleh proses demokratisasi, dan lembaga-lembaga negara yang mau mempertahankan rezim lama lemah. Sedangkan nasionalisme kontra – revolusioner merupakan upaya membangun solidaritas untuk mempertahankan kelembagaan negara yang ada terhadap perubahan. Biasanya nasionalisme kontra – revolusioner digunakan sebagai instrumen untuk mengembalikan militer ke pentas politik dengan mengatakan bahwa di bawah rezim sebelumnya jauh lebih baik dibanding rezim yang ada sekarang. Masalahnya adalah civil society yang dijadikan sebagai gugus konsep paling mondial belakangan bagi pembelajaran sosial secara kolektif dan produksi simbol-simbol politik secara dominan justru disuplai oleh kelompok komunal. Sehingga demikian, Indonesia pada kurun waktu ini masih merupakan sebuah masyarakat komunal, bukan asosiasio-

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

23

nal. Padahal ekspektasi mengenai civil society adalah ketika asosiasi-asosiasi ini terbentuk menjadi sebuah komunitas produktif sebagai katalis bagi proses transformasi masyarakat dari semangat komunalisme menuju kewarganegaraan yang lebih beradab. Di sisi lain, intelegensia-politisi yang diharapkan membimbing komunitas politik ke arah keadaban politik (political civility) dalam kenyataannya justru menyuburkan tradisi komunalisme. Kondisi ini kian diperparah dengan eksistensi kaum komunitas epistemik sebagai penyangga dalam melahirkan gagasan orisinalitas tampaknya juga harus terjebak dengan gugusan pragmatisme yang luar biasa. Penuturan Gunawan (2006) mungkin benar bahwa pragmatisme sendiri memang lahir sebagai anak haram dari sebuah pergulatan panjang, untuk menjawab berbagai persoalan yang terjadi di abad lalu. Fundamen pemikirannya yang meletakkan pada benar tidaknya suatu dalil tergantung pada manfaatnya bagi manusia, dan tentu saja manfaat pertama yang menikmatinya adalah diri sendiri. Sebetulnya, pragmatisme tidak memiliki perbedaan yang cukup jauh dengan patron Machiavelli, “the end justifies the means”. Keduanya memiliki konsekuensi bagi lahirnya keserakahan dan pengkhianatan terhadap nilai-nilai moralitas. Bahkan oleh Juliean Benda dalam Gunawan (2006) justru memandang pragmatis lebih radikal. Bahwa pragmatisme merupakan bentuk pengingkaran terhadap nilai-nilai moral yang universal. Pragmatisme dituding sebagai pabrik nilainilai moral yang semu dan artifisial, yang diproduksi sesuai dengan keadaan dan kebutuhan akan kekuasaan. Tak heran juga bila “pelacur-pelacur intelektual” kian marak bermunculan, yang bekerja berdasarkan permintaan pasar. Praktek ini seolah mirip “panggadaian intelektual”, yang menularkan efek cukup luar biasa. Efek yang patut dipelajari tradisi pencerahan yang melekat pada komunitas epistemik sebagai karakter pokoknya pada gilirannya makin absurd. Padahal dalam tataran normatif-etis, masa transisi seperti ini, justru keberadaan komunitas epistemik diharapkan menjadi avantgarde bagi terciptanya tatanan bangsa yang lebih beradab, bukannya harus ikut dengan permainan “kuasa politik”, yang senantiasa berada dalam pusaran seni merekayasa. Kegundahan lain yang kerap juga menjadi mo-

24

Bunga Rampai

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 25 . Kekuasaan menjadi cukup penting bagi kelompok-kelompok intelektual sebagai medium transformasi dalam membentuk komitmen-komitmen baru bagi kepentingan negara bangsa. Pada perspektif yang berbeda. sekadar mendengungkan kebenaran dari pucuk menara gading. adalah para pengkhianat intelektual (La Trahison de la Trahison de clercs). Dua mashab. menjadi pelumas dalam mesin pemerintahan. Bahkan Ivan Illich dalam Gunawan (2006) menyebut Deschooling Society. Keduanya adalah dualitas yang saling membentuk.mok bagi komunitas epistemik ini adalah ketika tidak mampu menempatkan dirinya sebagai medium perekat bangsa. Malah yang muncul justru memperlihatkan gejala sebagai kekuatan yang sangat pasif terhadap isu-isu kebangsaan. pada gilirannya juga menggiring kita untuk berpikir dan bertindak secara pragmatis. tetapi kepicikan. Dalam Gunawan (2006) antara sisi intelektualitas dengan kekuasaan memang memiliki korelasi. Mashab bendaian menilai bahwa intelektual harus merentangkan jarak dengan kekuasaan. antara intelektualitas dan kekuasaan sebetulnya bukanlah dualisme yang harus dipandang sebagai sesuatu yang berlawanan. Yang mungkin dipersalahkan ketika kekuasaan dan intelektual diintegrasikan sebagai perusak nilai tatanan. Persekutuan ini dinilai mengkhianati jati diri intelektual (La Trahison Des Clercs). Sehingga yang terjadi bukan lagi kadar pragmatisme. keduanya melihatnya dalam sisi yang berlawanan. Padahal salah satu prasyarat lahirnya konsolidasi demokrasi adalah perlunya masyarakat sipil yang bebas dan aktif dalam mengontrol tata kerja demokrasi. Pergulatan panjang ini tentu saja bukan menjadi sebuah jebakan untuk harus memihak. dosa terbesar yang tak terampunkan dari seorang cendekiawan adalah bila yang bersangkutan turut berputar. Sehingga demikian. sementara mashab Gramscian malah melihat dalam sisi yang terbalik. Baginya justru menuding ilmuwan yang steril dari persoalan aktual di masyarakat. yang memberikan sindiran halus bahwa “buat apa sekolah kalau hanya untuk mengeruk uang”. Walau dalam banyak pemikiran. yakni mashab Bendaian dan mashab Gramscian membedahnya seperti berikut. Justru soal seperti ini. Baginya cendekiawan harus memihak pada kelas tertentu.

Ia kemudian menjelma menjadi leviathan yang teramat beringas karena meleburnya nilai-nilai intelektualitas dalam kekuasaan. maka isu demokratisasi kian marak dibicarakan dan tampil sebagai euphoria politik yang tak tertandingi. ketika mengatakan bahwa “pengkhianatan merupakan esensi dari politikus yang sukses. oleh banyak pemikiran menjelaskan dua rumus yang bisa diklasifikasi. sehingga semakin menjauhkan sisi keadaban publik. Celakanya. Transformasi Politik: Sebagai Pelatuk Perubahan Ketika tembok Berlin runtuh pada tahun 1989. tuturan bahasa ini tidak berlabuh dalam tradisi politisi kita untuk menggiring reformasi peradilan ke dalam laboratorium kehancuran. rute perjalanan transisi. Namun. Sisi lainnya adalah kesetiaan. kapan suatu negara dikatakan sudah terkonsolidasi? Beberapa sarjana bersepakat bahwa untuk menandai demokrasi telah terkonsolidasi. Tetapi semoga saja. ketika terjadi dua kali pergantian kekuasaan (two turnover 26 Bunga Rampai . Pendulum ke arah demokratisasi terjadi pasca isu reformasi meledak tahun 1998. kadang dipahami sebagai fase yang serba “memungkinkan”. Isu konsolidasi demokrasi berakar dari sebuah konsep transisi antara berakhirnya rezim otoritarianisme ke demokratisasi. karakter picik bagi seorang politisi kadang ditemukan. sesuatu kualitas yang sangat mulia namun tak menjadikan dirimu apa-apa”. Imperium dan kediktatoran telah runtuh. Dalam menjelaskan gejala ini. Dalam satu sisi. Gagasan demokratisasi senantitasa terikut dengan wacana berkembangnya konsep konsolidasi demokrasi. transisi boleh juga mengarah pada lahirnya konsolidasi demokrasi. Ketika rezim otoritarianisme Orde Baru runtuh. Demokrasi dianggap sebagai pemenang karena berhasil melumpuhkan lawan tangguhnya otoritarianisme. Segera setelah itu.Dalam belantara politik. Liberalisme telah mengalahkan dua lawan tangguhnya: komunisme dan nasionalisme fasis. bayangan indah sempat memukau imajinasi orang Amerika. ketika politik ditempatkan sebagai sarana agregasi kepentingan personal. transisi boleh jadi mengarah pada otoritarianisme baru (re-otoritarianisme). sementara di sisi lain. karakteristik politisi seperti ini malah mendapat pembenaran oleh Richard Smith dalam Gunawan (2006). demokrasi pun tampil sebagai pemenang.

Praktek demokrasi yang sementara berlangsung. Tahap konsolidasi menghendaki perhatian pada segi-segi substantif.rule). Penuturan Latif (2006) meneragkan secara memadai bahwa dari sisi prosedur demokrasi. Kontrol demokratis yang sejatinya menjadi kunci dalam penerapan demokrasi substantif. mereka menilai bahwa demokrasi dianggap sudah terkonsolidasi apabila kekuasaan sudah dua kali pindah tangan melalui proses pemilihan umum yang luber-jurdil. Indikatornya adalah rule of law sebagai syarat mestinya belum dapat diapresiasi secara memadai dalam mengartikulasikan prinsip-prinsip demokrasi dalam melakukan penataan kelembagaan. Bila menggunakan ukuran pertama. ada pula yang menyebut bahwa demokrasi sudah terkonsolidasi jika ia merupakan permainan satu-satunya (the only game in town) untuk memilih pejabat publik. Alasan lain juga yang relevan dengan itu adalah kualitas partisipasi publik dalam mengakses lembaga politik formal maupun institusi hukum masih terbilang sangat lemah. Bagi yang menganut rumus ini. maka fase transisi demokrasi dapat dikualifikasi telah terkonsolidasi karena sirkulasi kekuasaan melalui pemilu sudah berlangsung sejak pemerintahan Abdurrachman Wahid – walau dalam perjalanan pemerintahannya berhenti ditengah jalan setelah impeacht oleh MPR – yang kemudian digantikan Megawati Soekarno Putri untuk melanjutkan episode pemerintahan yang tersisa hingga pemilu 2004. memang baru sebatas belajar merangkak. Demokrasi bukan hanya sekadar menjadi medium penghapusan institusi – institusi politik yang represif dan sarana pergantian regime yang otoriter. transisi demokrasi Indonesia telah siap untuk dikonsolidasikan. maka fase transisi belum dapat disebut telah terkonsolidasi karena prasyarat-prasyarat tersebut belum memenuhi secara memadai. Fase perjalanannya baru mencapai pada pemenuhan prosedur-prosedur demokrasi formal. perkembangan ini hanyalah tahap awal dari proses panjang menuju konsolidasi demokrasi. tetapi demokrasi men- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 27 . Namun. pada kadar tertentu bahkan belum menunjukkan suatu perubahan yang signifikan. Lain halnya bila menggunakan ukuran kedua. Tetapi. sehingga demokrasi substantif yang sejatinya menjadi “buruan” kaum demokratik masih jauh dari memadai.

tentu juga menjadi penting untuk mencegah terjadinya sentralisasi kekuasaan pada institusi negara-negara tertentu. konsolidasi demokrasi mempersyaratkan perlunya dilakukan transformasi struktural dan kultural secara mendasar. Konsensus tersebut kemudian diwujudkan melalui sebuah kesepakatan untuk melakukan amandemen konstitusi secara mendasar. 2006). Pertama. yaitu legislatif. eksekutif dan yudikatif. paling tidak menjadi momentum penting dalam memulai babakan baru dalam menata negara bangsa. Gelombang demokratisasi ini kian menunjukkan perkembangan yang cukup positif dari semua entitas bangsa untuk membangun konsensus-konsensus baru. Sebagai pemantiknya. Ini adalah sebuah fase sejarah yang patut direkam sebagai memoar penyegaran kembali dalam tata hidup berbangsa dan bernegara. menghendaki adanya proses checks and balances terhadap tiga lembaga negara. Rentetan peristiwa ini tentu menjadi kisah menarik untuk dipelajari karena memiliki pesan mulia untuk segera diartikulasikan ke ruang publik. kini menjadi pelatuk perubahan dalam menata pola hubungan kelembagaan negara. demokrasi harus menjadi jaminan bagi terwujudnya esensi pemberdayaan rakyat (popular empowerment) dan pertanggungjawaban sistemik (systemic responsiveness) (Latif. Kepenatan dan kegelisahan yang selama ini hidup dengan belenggu otoritarianisme. babakan baru ini patut menjadi referensi awal untuk tidak terjebak pada kepongahan sejarah. Amendemen konstitusi yang dilakukan. seolah kembali memberi energi baru. yakni adanya transformasi struktural dan kultural dalam sistem ketatanegaraan di republik ini yang harus segera dikomunikasikan. yang kerap menjadi virus – bila tidak ingin 28 Bunga Rampai . Namun disisi yang berbeda. Sehingga demikian. tugas dan wewenang yang berbeda.coba merepresentasikan momentum bagi perbaikan kualitas bangsa yang lebih adil dan beradab. amendemen konstitusi telah meletakkan sebuah kerangka pikir untuk beberapa hal. Dan setidaknya. Begitulah titahnya bahwa amendemen konstitusi. tentu memiliki karakter fungsi. Distribusi kekuasaan (distribution of power) yang disangga oleh tiga lembaga negara berbeda. Prinsip checks and balances ini. Sehingga praktek abuse of power.

yang memiliki kerangka kerja secara berbeda. Rentetan perubahan ini.disebut penyakit – tidak menggerogoti praktek penyelenggaraan negara secara bar barian. adanya transformasi sistemik. dan didukung oleh adanya masyarakat madani yang berdaya. walaupun keberadaannya belum dapat dikualifikasi memiliki hubungan yang sifatnya joint session. munculnya lembagalembaga baru (new institutions) dalam lingkungan kekuasaan kehakiman. penciptaan pertanggungjawaban publik yang akuntabel dan transparan serta menghapus segala keserakahan dalam penyelenggaraan tata negara bangsa. baru dapat mencapai titik maksimun ketika infrastruktur institusional demokrasi eksis. Ketiga. Kedua. Prasyarat dalam memapankan institusi demokrasi. mewujudkan cita ideal ini tentu saja mesti dibarengi dengan pemapanan institusi-institusi demokrasi. 2006). Derajat pemapanan institusi demokrasi dan sekaligus menjadikan institusi demokrasi lebih berwibawa adalah ketika pejabat publik menempatkan rule of law sebagai dasar pijakannya. Kelima. yang dari sistem pemerintahan sentralistik ke sistem pemerintahan desentralistik. Bila Mahkamah Konstitusi dibentuk dengan filosofi “penjaga konstitusi”. tentu saja muaranya adalah penghormatan nilai-nilai keadilan (justice). dalam hal ini Mahkamah Konstitusi dan Komisi Yudisial. prinsip rule of law harus terinternalisasi ke dalam institusi-institusi negara sebagai Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 29 . partai politik yang berfungsi. maka Komisi Yudisial dihadirkan sebagai “penjaga mafia peradilan” dengan menyandang predikat sebagai lembaga yang hanya sifatnya auxiliary. yang konsekuensi logisnya berimplikasi pada perubahan pola hubungan kelembagaan pusat – daerah. pemerintahan yang menjunjung tinggi hukum dan ekonomi yang efisien (Latif. dalam wilayah legislatif dimunculkannya Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai perwakilan perseorangan yang dipilih berdasarkan region. memburu keberadaban publik. Ini pun juga dapat dikonsolidasikan bila transisi demokrasi bertransformasi menjadi satu kerangka institusional mapan yang terinternalisasi mendalam pada para aktor sosial dan politik. Bagaimanapun juga. budaya politik yang independen. memungkinkan adanya aksesibilitas publik yang tinggi dalam pencapaianpencapaian demokrasi substantif. Keempat. Namun demikian.

Padahal kegagalan menegakkan prinsip rule of law dalam penegakan hukum dengan gilirannya akan menjadi kerikil-kerikil tajam dalam memapankan institusi – institusi demokrasi. Ketika para hakim harus menjelma dan bertindak sebagai “mahluk yang suci” karena menjadi wali Tuhan di muka bumi ini. Di negara manapun yang menerapkan prinsip-prinsip demokrasi modern. juga harus dipandang sebagai sebuah kebutuhan dalam mengatur tata laku pejabat publik untuk membedakannya dengan negara bar barian. akuntabel dan responsif di mata publik. Aparatur penegak hukum yang terintegrasi dalam konsep criminal justice system (kepolisian. Sayangnya. Beban moral ini memang cukup berat karena pertanggungjawabannya bukan hanya bersifat horizontal tetapi yang jauh lebih dalam adalah tanggung jawab vertikal kepada Tuhan. berwibawa dan tempat bersemayamnya prinsip – prinsip ke-tauhidan sebagai asas universal yang suci. pengacara dan lembaga pemasyarakatan) belum menunjukkan suatu kinerja yang menggembirakan. Bahwa pengadilan adalah “nec curia deficeret in justitia exhibenda” (pengadilan adalah istana di mana dewi keadilan bersemayam untuk menyemburkan aroma keadilan tiada henti). Inilah sisi lain yang harus dipertaruhkan sebagai seorang hakim. hakim. mungkin cukup relevan menggambarkan mengenai mulianya sebuah lembaga peradilan. tampaknya masih jauh dari memadai. Adanya praktek diskriminasi atau tebang pilih dan tebang pesanan serta maraknya praktek mafia peradilan di tubuh kekuasaan kehakiman adalah contoh kecil dari sekian banyak kisah yang dapat disajikan. Tersimpan sejuta harap dari masyara- 30 Bunga Rampai . Prinsip rule of law. pada konteks kekinian penerapan rule of law sebagai aturan main (rule game) dalam berbangsa dan bernegara. Pepatah ini sejatinya mencoba merefleksikan eksistensi dunia peradilan yang teramat mulia.kerangka menghadirkan institusi negara yang kuat. Judicative Power: Sebuah Cermin yang Retak Sebuah pepatah latin kuno. kejaksaan. rule of law selalu menjadi instrumen khusus dan menjadi indikator utama dalam menilai demokrasi telah dikonsolidasikan. transparan. demokratis. Kekuasaan kehakiman (judicative power) memang asa bagi pencari keadilan.

menuliskan bahwa kebengkokan itu sudah dimulai dari segi hukumnya. Chamblis dan Robert B. Bahkan para pakar kriminolog pernah melakukan penelitian mengenai penyimpangan dalam dunia peradilan. 2006) ketika mengatakan bahwa para aparat penegak hukum adalah segerombolan orang yang dapat mengangkangi hukum tanpa konsekuensi hukum.kat agar keadilan melebur dan menyatu dengan dambaannya. ekspektasi ini tampaknya akan terkikis dengan sendirinya ketika menyaksikan drama peradilan yang terlalu bobrok. ada celah yang menganga di insitusi peradilan yang bisa disusupi. and Power”. Sisi lain yang paling potensial melahirkan kejahatan (judicial crime). kehakiman yang seharusnya menjadi corong bagi terciptanya keadilan bagi semua. Kegelisahan mengenai tata kerja kekuasaan kehakiman (judicative power) di Indonesia sebetulnya bukan cerita baru. Order. Bahkan keduanya mempertegas bahwa penyimpangan dalam dunia peradilan terjadi karena “judges must rely on their personal values when they make decisions in trouble cases”. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 31 . William J. Celakanya. Seidman dalam Gunawan (2006) dalam bukunya yang berjudul “Law. Keprihatinan terhadap sisi gelap penegakan hukum pada ruang publik sudah menjadi momok yang senantiasa terus dipersoalkan. Kegundahan ini sebetulnya sudah lama berlangsung. moralitas yang selalu diperdengarkan dengan nyaring oleh penegak hukum dan dipandang cukup mulia. Sayangnya. kejaksaan. gilirannya pun tak bisa berbuat banyak menghadapi derasnya “permainan kotor” di dunia institusi hukum. Institusi kepolisian. Mereka lupa bahwa disisi lain. Pada konteks ini. Pada sisi inilah kekuasaan kehakiman tampil sebagai sebuah cermin yang retak karena belum mampu merekatkan nilai-nilai keadilan masyarakat yang masih berserak. yakni karena adanya hukum yang menjadi refleksi dari kepentingan kelompok elite yang berkuasa (the higher a group’s political and economic position). malah berubah bentuk menjadi sesuatu yang utopis. Sisi keadilan (justice) masyarakat yang terus terbelenggu dengan maraknya praktek mafia yang berlangsung disekitar proses penegakan hukum. Moralitas hanya diperlakukan bak jubah untuk melakukan penyusupan dan sekaligus sebagai pembenaran atas putusan-putusannya. mungkin ada benarnya apa yang dikatakan oleh Jeremy Bentham (Gunawan.

Militer dll) masih dipersepsikan sangat korup. Sejalan dengan itu. Imigrasi 90%. Hal ini sangat relevan dengan hasil Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia 2006 yang dirilis oleh Transparency International (TI) Indonesia. hasil survei nasional tentang korupsi yang dilakukan Partnership for Governance Reform pada 2002 juga menempatkan lembaga peradilan di peringkat lembaga terkorup menurut persepsi masyarakat.or. Daniel Kaufman dalam laporan Bureaucarti Judiciary Bribery tahun 1998 menyebutkan. mereka yang berada di pihak yang benar kehilangan hak didengar sedangkan yang bersalah tidak tersentuh hukum. Pengadilan dilaporkan merupakan lembaga yang paling tinggi tingkat inisiatif meminta suap hingga 100%. Yordania. mereka yang miskin tidak dapat berkompetisi (http://www. “Jika uang dan pengaruh politik menjadi dasar keadilan. Polisi 78%. Korupsi dianggap melumpuhkan sistem yudisial di seluruh dunia serta menghalangi hak asasi manusia akan peradilan yang adil dan tidak berpihak.id). disusul Bea dan cukai 95%. pada sisi lain bagi si miskin. sebuah koalisi global antikorupsi memilih tema Corruption in Judicial Systems.yakni adanya kecenderungan serta upaya hakim meraup kekayaan dan kekuasaan dari pekerjaan yang diembannya. Dua katagori korupsi peradilan yakni campur tangan politik dan penyuapan juga sangat jelas terlihat. dan seterusnya.id). Pajak. Uang serta pengaruh politik dalam hukum memecah sistem keadilan sosial: satu sistem bagi si kaya. Relevansi Indonesia yang dilaporkan Global Corruption Report 2007 telah menunjukkan bahwa sistem peradilan di Indonesia masih sangat korup dan bobrok.ti. hal ini dikonfirmasikan oleh laporan para pelaku usaha bahwa inisiatif suap lebih banyak dilakukan oleh aparat. (http:// www. korupsi di peradilan Indonesia memiliki ranking paling tinggi di antara negara-negara seperti Ukraina. Lebih memalukan lagi. Turki. Peradilan. Survey IPK itu menemukan bahwa lembaga vertikal (Polisi. Venezeula. Huguette Labelle. Bea & Cukai. Global Corruption Report 2007 yang diluncurkan oleh Transparency International. ketua Transparency International menegaskan dengan adanya korupsi lembaga peradilan. mereka tidak canggung-canggung dalam meminta suap. BPN 84%. Bahkan. dan Pajak 76%. Mesir. Kolombia. BPN.or. Imigrasi.ti. 32 Bunga Rampai . Rusia.

yang pada akhirnya membuat praktek hukum diwarnai judicial corruption. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 33 . http://ahmadirfan. tidak serta merta harus dilakukan pembiaran. setidaknya menjadi unsur korektif bagi Mahkamah Agung untuk menata kembali berbagai sisi gelap yang menyelimuti institusi peradilan. sejatinya mampu menempatkan posisinya pada kerangka yang lebih intensif melakukan pengawasan internal terhadap perilaku koruptif dalam dunia peradilan. Mahkamah Agung sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam dunia peradilan. Sehingga demikian. 57% sistem hukum masih tetap korup (the legal system is just as corrupt as it has always been problem).440 hakim atau sekitar 40 persen dari total 6. yakni 45% dibandingkan lembaga lainnya. Fakta-fakta faktual yang telah dibeberkan seperti di atas. walau butuh energi banyak untuk menafasinya. Bahkan data terakhir yang dilansir Komisi Yudisial menyebutkan bahwa 2. upaya sistemik mesti dilakukan.100 hakim dikategorikan bermasalah. Di tengah buruknya kinerja peradilan saat ini. Upaya pembenahan dan penataan ini dilakukan. Realita sistem hukum dan peradilan di negeri ini. nampaknya tergambarkan dalam penelitian yang dilakukan oleh The Asia Foundation & AC Nielsen yang antara lain menyatakan: 49% sistem hukum tidak melindungi mereka (the legal system does not protect them). 38% tidak ada persamaan di muka hukum (there is no such thing as equality before the law). wordpress.com/ Kondisi ini tentu saja tidak dapat dijadikan sebagai pembenaran dalam menjustifikasi dan terus membiarkan maraknya praktek korupsi dalam dunia peradilan. terutama dalam kaitan melakukan reformasi peradilan secara komprehensif sebagai upaya mengembalikan keprcayaan masyarakat terhadap sistem peradilan yang sekarang mengalami keterpurukan. Episode waktu yang tersisa masih terlalu panjang untuk memperbaikinya. bahwa berdasarkan pengaduan masyarakat menyebutkan penyimpangan di lembaga peradilan menempati urutan tertinggi.Hal tersebut diperkuat dengan laporan Komisi Ombudsman Nasional (KON) tahun 2002. terutama dalam kerangka melakukan harmonisasi dan pembenahan sistem hukum kekuasaan kehakiman menjadi mutlak diprioritaskan.

UU Peradilan Agama dan sementara berjalan adalah perbaikan UU Peradilan Militer. Sebut saja perubahan berbagai kebijakan yang terkait dengan kekuasaan kehakiman. UU Mahkamah Agung. Sebaliknya sepanjang periode tahun 2005-2006 ada kurang lebih 203 perkara yang telah diperiksa dan diputus oleh pengadilan. Timtas Tipikor dengan resmi harus dibubarkan karena masa pembentukannya sudah berakhir hanya dua tahun. Padahal kinerja lembaga ad hoc dinilai cukup memberi nilai lebih bagi kembalinya kepercayaan masyarakat terhadap pemberantasan tindak pidana korupsi. Sebagaimana Andi Hamzah berpendapat bahwa korupsi bukanlah extra-ordinary crime artinya. Tapi sayangnya. 72 perkara korupsi dengan 171 terdakwa korupsi (36%) telah divonis bebas oleh pengadilan. Perubahan UU pokok-pokok kekuasaan kehakiman. Pertama. Dalam laporan korupsi global tahun 2007. dibentuklah Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi melalui UU Nomor 30 Tahun 2002 dan Pembentukan Timtas Tipikor melalui Keppres Nomor 11 Tahun 2005. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-Undang Komisi Yudisial. eksistensi Pengadilan ad hoc Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) perlu diperkuat. Perjalanan panjang untuk memberantas tindak pidana korupsi pada gilirannya pupus sudah. Celakanya. arah untuk melakukan perbaikan sudah mulai ditunjukkan. mengenai kehadiran pengadilan tindak pidana korupsi harus dicabut oleh Putusan Mahkamah Konstitusi karena dinilai bertentangan dengan konstitusi. walaupun belum terlalu memadai. Pasal 53 UU Nomor 30 Tahun 2002.Pada sisi regulasi. setidaknya karena beberapa hal. korupsi hanya kejahatan biasa saja. Seluruh kasus korupsi divonis bersalah dan tidak ada satupun yang vonis bebas. pembentukan kedua lembaga ini seperti harus bergerak tanpa amunisi. putusan Mahkamah Konstitusi ini justru diinterpretasi lain oleh pihak-pihak tertentu. dan sele- 34 Bunga Rampai . yang menginginkan agar pengadilan tindak pidana korupsi sebaiknya dihilangkan. Kemudian pada aspek kelembagaan. Kedua. UU Peradilan Tata Usaha Negara. yang sama kelasnya dengan pencurian. Sebab selama dua tahun terakhir (2005-2006) sedikitnya 29 perkara telah diperiksa dan diputus oleh pengadilan tipikor secara lebih cepat.

juga ditemukan adanya struktur lembaga baru dalam konstitusi. dimana dihadirkannya sebuah institusi baru yang populer dengan Komisi Yudisial. Komisi Yudisial: The Musketter Kekuasaan Kehakiman The musketter sebetulnya sebuah istilah yang digunakan dalam menjelaskan keterkaitan antara keberadaan Komisi Yudisial dengan pelaksanaan kekuasaan kehakiman. 2007) Dalam sisi yang berbeda. tetapi pada konteks ini lebih menggambarkan adanya instrumen kelembagaan yang memiliki spirit untuk berbuat kebajikan. Perumpamaan ini bukan ditujukan untuk menyebut Komisi Yudisial “sejenis tentara”. termasuk oleh raja sendiri. The musketter adalah “sejenis tentara” sebagai pasukan khusus istana kerajaan yang bertugas untuk mencegah adanya bahaya laten dalam kerajaan Perancis di saat itu. sudah tentu diperlukan dalam memberikan assessment yang lebih obyektif sebagai kerangka mengembalikan kepercayaan publik terhadap dunia kekuasaan kehakiman yang telah kehilangan wibawa. setidaknya membawa spirit baru dalam menyingkap sisi gelap dunia peradilan saat ini. Orang-orang yang terpilih menjadi the musketter adalah mereka yang memiliki keterampilan (skill) khusus. Bahasa semantik ini terinspirasi dari sebuah ilustrasi film. Kehadiran Komisi Yudisial dalam struktur ketatanegaraan di Indonesia. Fakta tersebut menunjukan koruptor lebih banyak dapat dibuktikan kesalahannya di pengadilan ad hoc Tipikor daripada di pengadilan negeri biasa (Lubis. pada sisi normatif sudah diamini dalam Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 35 . dimana the musketter ini memiliki tugas pokok dalam menjaga wibawa kekuasaan. terutama perilaku pejabat kekuasaan kehakiman yang dinilai menyimpang. Secara imperatif etis. Kehadiran Komisi Yudisial dalam lingkaran kekuasaan kehakiman. yang pola kerjanya seolah bertindak seperti spionase dan penjaga raja untuk mencegah terjadinya penyimpangan oleh pejabat-pejabat istana. Komisi Yudisial berfungsi sebagai the musketter yang bertugas menjaga kehormatan dan kewibawaan kekuasaan kehakiman.bihnya lebih banyak divonis ringan. Sebagai institusi yang memiliki sifat khas state auxiliary. Posisinya cukup mulia dan tidak mudah diintervensi oleh pihak mana pun.

konstitusi. karena setiap putusan memperoleh penilaian dan pengawasan yang ketat dari sebuah lembaga khusus (Komisi Yudisial). Dalam makna ketat walaupun Komisi Yudisial bukan pelaku kekuasaan kehakiman namun fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman. karena politisasi terhadap perekrutan hakim agung dapat diminimalisasi dengan adanya Komisi Yudisial yang bukan merupakan lembaga politik. Menurut Ahsin Thohari (2004). (3) dengan adanya Komisi Yudisial. yaitu fungsi pengawasan. tingkat efisiensi dan efektivitas kekuasaan kehakiman (judicial power) akan semakin tinggi dalam banyak hal. menjadi landasan hukum yang kuat bagi reformasi bidang hukum dengan memberikan kewenangan kepada Komisi Yudisial untuk mewujudkan checks and balances. sehingga diasumsikan tidak mempunyai kepentingan politik. Dalam ketentuan Pasal 24B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan UndangUndang No. Jadi jelaslah bahwa Komisi Yudisial adalah lembaga negara sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang salah satu wewenangnya adalah melakukan pengawasan terhadap hakim. adalah: (1) Komisi Yudisial dibentuk agar dapat melakukan monitoring yang intensif terhadap kekuasaan kehakiman dengan melibatkan unsur-unsur masyarakat dalam spektrum yang seluas-luasnya dan bukan hanya monitoring secara internal. baik yang menyangkut rekruitmen dan monitoring hakim agung maupun pengelolaan keuangan kekuasaan kehakiman. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Kehadiran Komisi Yudisial sebetulnya menjadi salah satu jawaban atas gagalnya institusi Mahkamah Agung dalam menjadikan kekuasaan kehakiman lebih berwibawa dan in- 36 Bunga Rampai . kemandirian kekuasaan kehakiman (judicial power) dapat terus terjaga. argumen utama bagi terwujudnya (raison d’atre) Komisi Yudisial di dalam suatu negara hukum. (4) terjaganya konsistensi putusan lembaga peradilan. (2) Komisi Yudisial menjadi perantara (mediator) atau penghubung antara kekuasaan pemerintah (executive power) dan kekuasaan kehakiman (judicial power) yang tujuan utamanya adalah untuk menjamin kemandirian kekuasaan kehakiman dari pengaruh kekuasaan apapun juga khususnya kekuasaan pemerintah. dan (5) dengan adanya Komisi Yudisial.

bahwa lemahnya pengawasan internal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. jabatan ketua Komisi Yudisial memang dijabat secara ex officio oleh Ketua Mahkamah Agung. Sayangnya. dalam faktanya tidak serta merta dapat diterima oleh pihak-pihak tertentu. (4) semangat membela sesama korps (esprit de corps) yang mengakibatkan penjatuhan hukuman tidak seimbang dengan perbuatan. Sebut saja Mahkamah Agung dalam banyak kisah belakangan ini. antara lain: (1) kualitas dan integritas pengawas yang tidak memadai. Masalah pokok hilangnya wibawa kekuasaan kehakiman adalah terutama tidak efektifnya pengawasan internal (fungsional) yang ada di badan peradilan. dan (5) tidak terdapat kehendak yang kuat dari pimpinan lembaga penegak hukum untuk menindak-lanjuti hasil pengawasan. kehadiran Komisi Yudisial. kedua lembaga ini saling berebut terhadap siapa yang lebih berwenang untuk menyusunnya. ketika Komisi Yudisial meminta perluasan kewenangan untuk menjatuhkan sanksi terhadap hakim yang dinilai bermasalah.or. Setiap upaya untuk memperbaiki suatu kondisi yang buruk pasti akan mendapat reaksi dari pihak yang selama ini mendapatkan keuntungan dari kondisi yang buruk itu. bahwa pembentukan Komisi Yudisial sebagai lembaga pengawas eksternal didasarkan pada lemahnya pengawasan internal tersebut. Terutama ketika Komisi Yudisial meminta agar putusan pengadilan menjadi objek pengawasannya.id Namun demikian. Di beberapa negara yang mengakui keberadaan adanya Komisi Yudisial.dependen. www.transparansi. soal seperti ini tidak serta Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 37 . secara terbuka mempublikasikan dirinya untuk menjabat ketua Komisi Yudisial secara ex officio. justru menunjukkan sikap yang sangat resisten terhadap keberadaan Komisi Yudisial. (3) belum adanya kemudahan bagi masyarakat yang dirugikan untuk menyampaikan pengaduan. Begitu juga disaat munculnya isu penyusunan kode etik hakim. Pergulatan ini semakin diperparah. memantau proses serta hasilnya (ketiadaan akses). Sehingga tidak terbantahkan. (2) proses pemeriksaan disiplin yang tidak transparan. Menurut Mas Achmad Santosa. Cukup aneh juga ketika Ketua Mahkamah Agung. Umumnya perspektif mereka malah memandang Komisi Yudisial sebagai lembaga yang akan menggerogoti dan mengintervensi institusi peradilan.

instrumen apa yang digunakan. Perumusan Pasal 13 huruf b juncto Pasal 20 UUKY mengenai wewenang lain sebagai penjabaran dari Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 menggunakan rumusan kalimat yang berbeda sehingga menimbulkan masalah dalam penormaannya dalam UUKY yang menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). sehingga menimbul- 2. punya tradisi cukup buruk dalam soal penyalahgunaan wewenang (abuse of power). justru mengaburkan makna pengawasan secara subtil. terutama dalam soal antara yang mengawasi dan diawasi. memakai logika kuasa. dengan sejenak terhenti ketika Mahkamah Konstitusi melalui putusannya Nomor 005/PUU-IV/2006 terhadap judicial review atas Pasal 13 jo Pasal 20 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial dinyatakan bertentangan dengan UndangUndang Dasar 1945. Ketiga. Konsepsi pengawasan yang terkandung dalam UUKY didasarkan atas paradigma konseptual yang tidak tepat. 3. sangat mencenderai makna demokrasi substantif. karakteristik pejabat negara kita. Dan biasanya kekuasaan lembaga yang tersentralisasi sangat rentan mencipta oligarki kekuasaan. Pertama. dimana aspek kontestasi justru dikebiri sebagai salah satu indikator demokrasi. yaitu seolah-olah hubungan antara MA dan KY berada dalam pola hubungan “checks and balances” antarcabang kekuasaan dalam konteks ajaran pemisahan kekuasaan (separation of powers). serta bagaimana proses pengawasan itu dilaksanakan. 38 Bunga Rampai . Kedua.merta harus diadopsi secara mentah-mentah mengingat dalam beberapa hal. Di tengah pergulatan panjang ini. UUKY terbukti tidak rinci mengatur mengenai prosedur pengawasan. tidak jelas dan tegas menentukan siapa subjek yang mengawasi. Hal tidak jelas dan tidak rincinya pengaturan mengenai pengawasan dalam UUKY serta perbedaan dalam rumusan kalimat seperti dimaksud pada butir (i) menyebabkan semua ketentuan UUKY tentang pengawasan menjadi kabur (obscuur) dan menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid) dalam pelaksanaannya. apa objek yang diawasi. Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa: 1.

Jika hal ini dibiarkan tanpa penyelesaian. ketegangan dan kekisruhan dalam pola hubungan antara KY dan MA akan terus berlangsung dan kebingungan dalam masyarakat pencari keadilan akan terus meningkat. KY. dan undang-undang lain yang terkait dengan sistem peradilan terpadu.mahkamahkonstitusi. segala ketentuan Undang-Undang Komisi Yudisial yang menyangkut pengawasan harus dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat karena terbukti menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). Oleh karena itu. MA. DPR dan Presiden dianjurkan pula untuk melakukan perbaikan-perbaikan yang bersifat integral dengan juga mengadakan perubahan dalam rangka harmonisasi dan sinkronisasi atas UUKK. tentu saja merupakan sesuatu yang logis dan tepat.id Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 39 . yang pada gilirannya juga dapat mendelegitimasi kekuasaan kehakiman yang akan dapat menjadikannya semakin tidak dipercaya. www. Tugas legislasi ini adalah tugas DPR bersama dengan pemerintah.kan penafsiran yang juga tidak tepat. khususnya yang berkaitan dengan ketentuan mengenai pengawasan perilaku hakim. KY. Untuk mengatasi akibat kekosongan hukum yang terlalu lama berkaitan dengan tugas KY. sehingga oleh karenanya harus menyerahkan segala urusan legislasi itu kepada pembentuk undang-undang. Karena itu. UUMK. KY. terutama dalam pelaksanaannya. Setiap lembaga negara sudah seharusnya membatasi dirinya masing-masing untuk tidak mengerjakan pekerjaan yang bukan menjadi tugas pokoknya. Akan tetapi. Bahwa MA. dan juga MK untuk mengambil prakarsa yang bersifat terbuka untuk mengadakan perubahan undang-undang seperti dimaksud.go. Undang-Undang Komisi Yudisial segera harus disempurnakan melalui proses perubahan undang-undang sebagaimana mestinya. dan juga MK merupakan lembaga pelaksana undang-undang. kecuali apabila hal itu dimaksudkan hanya sebagai pendukung. Bahkan. dan juga MK dapat diikutsertakan dalam proses pembuatan sesuatu undangundang yang akan mengatur dirinya. bukanlah tugas konstitusional MA. Mahkamah Konstitusi juga merekomendasikan kepada DPR dan Presiden untuk segera mengambil langkah-langkah penyempurnaan Undang-Undang Komisi Yudisial. UUMA.

Nasib Komisi Yudisial memang tengah dipertaruhkan. tetapi perlunya 40 Bunga Rampai . antara menguatkan atau memperlemah. Menempatkan Komisi Yudisial pada kerangka yang tepat sebagai lembaga pengawas eksternal setidaknya memberi jaminan adanya sisi obyektifitas dan memiliki makna yang subtil bagi reformasi peradilan. Penyempurnaan terhadap ketentuan ini setidaknya diharapkan dapat memberikan penguatan kelembagaan terhadap Komisi Yudisial sebagai the musketter kekuasaan kehakiman di Indonesia. Menguatkan berarti mencipta “oase” untuk menghidupi kekinian dan masa depan. Dalam makna ketat bahwa pilihan memperkuat atau memperlemah posisi Komisi Yudisial dalam struktur ketatanegaraan bukan hanya harus mengandalkan perlunya transformasi politik dalam tubuh legislatif maupun eksekutif.Rekomendasi Mahkamah Konstitusi ini tentu saja menjadi pegangan bagi legislatif maupun eksekutif agar melakukan upaya konkret untuk segera merevisi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial. Menguatkan Komisi Yudisial melalui perluasan wewenang. Sementara. pengawasannya terhadap putusan hakim pengadilan justru diinterpretasi atau dipelintir sebagai tindakan intervensi terhadap kemerdekaan hakim. apalagi bila objek pengawasannya adalah putusan hakim pengadilan. memperlemah keberadaan Komisi Yudisial. tetapi melemahkan berarti memberi gerak lahirnya “preman tribal atau mafia berdasi” yang akan melahirkan bangsa barbarism atau manusia penghancur dalam dunia kekuasaan kehakiman. justru dikhawatirkan akan menggerogoti independensi kekuasaan kehakiman. Boleh jadi. Dengan penuh harap semoga gagasan dan bahasa undang-undang dapat menyibakkan tabirnya untuk suatu keadaban dan keadilan bagi semuanya. Premis di atas kesannya memang sangat dilematis. Semua ini akan ditentukan dalam tuturan semantik dari legislatif maupun pemerintah lewat regulasinya. Sehingga demikian. Semua ini tentu harus disikapi secara simultan. Ini sangat berpotensial. dikhawatirkan justru semakin memperburuk citra dan menghilangkan wibawa kekuasaan kehakiman di mata publik. ke depan Komisi Yudisial bukan lagi menjadi sebuah institusi yang sifatnya auxiliary tetapi harus diletakkan sebagai kekuatan inti dalam penyelenggaraan kekuasan kehakiman.

Sisi penjelahan akan konsep Komisi Yudisial yang ideal mesti terus diusung. Dengan demikian. isu reformasi peradilan sangat relevan kiranya memperhatikan sisi keterkaitan antara transformasi politik dengan tingkat kinerja pelaksana kekuasaan kehakiman selama ini. tentu saja tidak dilakukan dengan amburadul. Penuturan ini bukan untuk menggiring kedua institusi negara tersebut ke labirin arogansi institusional. tetapi yang lebih mendasar adalah perlunya melihat kinerja (performance) kedua institusi negara tersebut. justru tidak melahirkan ”kacung-kacung baru” dalam dunia kekuasaan kehakiman. Walau. yang sekadar melakukan revisi terhadap sejumlah regulasi terkait dengan kekuasaan kehakiman. Atau menjebaknya ke dalam perebutan kredit point terhadap mana yang lebih baik.sinergitas hubungan antara Komisi Yudisial dan Mahkamah Agung dalam memperbaiki kinerjanya. sejatinya cukup penting digunakan untuk membangun ruang-ruang dialogis dalam menemukan makna perubahan yang signifikan dalam dunia kekuasaan kehakiman. semoga rute perubahan ini. Transformasi politik yang berlangsung di legislatif maupun eksekutif. Dengan segala harap. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 41 . Pelintasan ruang dan waktu yang terus terbentang. butuh energi banyak untuk selalu menafasinya. Rentetan pemikiran ini. sudah tentu bukanlah jalan terakhir bagi sebuah perjuangan. tetapi setidaknya sebagai kerangka untuk evaluasi akan ”makna keberadaannya”di mata publik.

Kumpulan Analisis di Majalah Forum. Budi. Jhon Hopkins University Press.wordpress. Ahsin.id www.id - 42 Bunga Rampai . Komisi Yudisial & Reformasi Peradilan.id). Forum Media Utama. Problems of Democratic Transition and Consolidation. 1996. 6. 2006. New Haven Gunawan. http://ahmadirfan. Yudi. (http://www.Visi Volume V. Koloni Keadilan. Baltimore Thohari. A. Stepan Alfred. Yale University Press. 1961.com www. No.or. XIII – XIV. Juan.go. 2006 Linz.Daftar Pustaka Dahl Robert. Demokrasi Minus. Who Governs? Democracy and Power in an American City.ti.transparansi. hlm.mahkamahkonstitusi. Jakarta Latif. 2006.or.

meninggalkan reformasi peradilan mengakibatkan proses demokrasi berjalan tanpa arah. Pada titik ini. Sejauh ini reformasi peradilan memang telah menghasilkan berbagai perubahan. Reformasi peradilan menjadi bagian penting yang tidak bisa diabaikan dalam proses demokrasi dan gerakan sosial (social movement) yang lebih luas. Karena reformasi peradilan menghendaki lembaga peradilan idealnya dapat dimanfaatkan untuk menjamin perlindungan terhadap kebebasan sipil-politik serta perlindungan sosial-ekonomi rakyat. Ia bukan lagi sebuah momentum. Bisa jadi. reformasi peradilan akan kehilangan moralitas dan legitimasinya jika mengabaikan issue dan kepentingan hak-hak masyarakat.Komisi Yudisial Pengawal Reformasi Peradilan Mendayung Diantara Simpati dan Resistensi Firmansyah Arifin* Pengantar Reformasi peradilan merupakan sebuah keniscayaan. reformasi peradilan perlu diupayakan agar mampu bersinergi dengan kekuatan/kelompok sosial-politik dalam masyarakat. dan gerakan sosial menjadi tertatih-tatih. tetapi spirit yang terus menggelora ditengah kegalauan publik yang senantiasa mendambakan rasa keadilan. khususnya masyarakat yang pro-reformasi peradilan. Sebaliknya. baik pada tataran kebijakan * Penulis adalah: Ketua Badan Pengurus Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN) Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 43 .

Dalam pengertian yang sederhana. Dengan harapan resistensi dapat dieliminir. mencoba merumuskan kembali peranan dan langkah strategis KY kedepan. dan simpati dapat terus diraih dan dikembangkan dalam mengawal reformasi peradilan menuju Negara demokrasi dan rule of law yang dicita-citakan. atau malah sebaliknya. Selanjutnya. hingga membubarkan KY. apakah cukup efektif untuk mendorong dan memperkuat reformasi peradilan. Hal itu dapat dilihat pada Komisi Yudisial ketika menjalankan tugas dan kewenangannya.sampai pembentukan mekanisme dan institusi baru. Termasuk dalam hal ini adalah Komisi Yudisial (KY) yang diperlukan untuk mengawal reformasi peradilan. Sebagai sebuah sistem politik dan pemerintahan. Gagasan negara hukum mempunyai akar historis dalam perjuangan menegakkan demokrasi. Sejauh mana upaya yang telah dilakukan. Hukum itu sendiri harus ditentukan oleh warga negara yang tidak lain merupakan pengaturan hubungan di antara sesama warga negara melalui cara dan mekanisme demokrasi (parlemen). reformasi peradilan (judicial) berjalan lambat jika dibandingkan proses reformasi pada ranah legislatif dan eksekutif. di negara hukum tidak ada warga negara yang berada di atas hukum dan karenanya semua warga negara harus patuh pada hukum. Tulisan ini mencoba merefleksikan kembali peranan KY dalam konteks reformasi peradilan. muncul pula resistensi terhadap KY yang hendak mendelegitimasi posisi dan peranan KY. serta bebas dari mafia peradilan (judicial corruption). gagasan demokrasi dan negara hukum dalam perkembangannya 44 Bunga Rampai . khususnya yang berkenaan dengan hakim. Namun bersamaan dengan itu. Kehadiran KY memang memberikan harapan akan institusi peradilan yang bersih dan berwibawa. Misi Penting Reformasi Peradilan Reformasi peradilan mempunyai tujuan dan tugas utama untuk menjamin dan mempertahankan prinsip-prinsip negara hukum yang demokratis. Sepak terjang KY selama 2 tahun terakhir. Bahkan dalam beberapa hal mengalami proses maju mundur (back-forward). Namun hampir satu dasawarsa. setidaknya mampu menuai simpati ketika mengusik eksistensi dan kemapanan para hakim.

Independensi atau kebebasan tersebut dimaksudkan tidak adanya campur tangan dari kekuasaan eksekutif dan legislatif terhadap pelaksanaan fungsi peradilan. Hukum dibutuhkan untuk memastikan adanya jaminan kapasitas kontrol rakyat terhadap berbagai urusan publik. Independensi di sini sekaligus merupakan independensi personal setiap hakim untuk menjalankan tugasnya tanpa ketakutan dan keberpihakan. tak bermakna. dan kehilangan esensi keberadaannya. maka demokrasi hanya akan menjadi sekadar proyek liberalisasi politik. tetapi mutlak mensyaratkan adanya rule of law. Dengan pengertian lain. Prosedur yang dimaksudkan salah satunya adalah melalui kewenangan judicial review/constitutional review oleh kekuasaan kehakiman. Independensi kekuasaan kehakiman sebagai sesuatu hal yang prinsipil di dalam negara hukum yang demokratis. Dalam pelaksanaannya. maka tidak ada demokrasi dan negara berdasarkan atas hukum (demokratische rechsstaat). Lebih dari itu. demokrasi juga mensyaratkan adanya praktek penegakan hukum yang jelas dan tegas. Gagasan negara hukum demokratis tidak hanya menegaskan bahwa kekuasaan kehakiman (judicial power) adalah kekuasaan yang merdeka (independent) dan tidak memihak (impartial).didasari gerakan atau dorongan masalah bagaimana melindungi kebebasan individual atau hak asasi manusia dari tindakan sewenang-wenang para penguasa. Tanpa kedua hal tersebut. Melalui peranan para hakim sebagai pelaksana utama dari kekuasaan kehakiman. Termasuk pula campur tangan dari unsur-unsur kekuasaan kehakiman itu sendiri serta kekuasaan ekonomi dan politik di luar sistem kekuasaan negara. Tanpa kehadiran kekuasaan kehakiman yang independen. Sebab kelengkapan pertama Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 45 . demokrasi bukan hanya soal kebebasan sipil dan politik. Tetapi juga ditambah dengan perlunya prosedur perlindungan terhadap hak-hak yang telah dijamin dalam konstitusi. menjadi fungsi utama dari pemerintahan demokratis dan pemerintahan berdasarkan atas hukum untuk menjamin dan melindungi hak asasi manusia. Fokus pada hak asasi itu menjadi dasar normatif bagi gagasan demokrasi dan negara hukum. keadilan yang paling esensiil dapat disentuh berdasarkan atas hak asasi dari warga negara.

misi penting bagi reformasi peradilan tidak hanya sebatas menegakkan independensi dan impar- 46 Bunga Rampai . 2000). Sedangkan akuntabilitas diperlukan sebagai mekanisme kontrol setelah suatu tindakan yudisial diambil. justru saling menunjang dan memperkuat. Kedua prinsip tersebut tidaklah bertentangan secara diametral. tetapi juga cara-cara penunjukkan atau pengangkatan hakim dan jaminan keberlangsungan mereka dalam melaksanakan jabatannya (Beetham & Boyle. dikontrol oleh prinsip-prinsip hukum. seorang hakim harus didasarkan pada intelenjensi dan kemauan belajar. Karena mengingat belum semuanya para hakim mempraktikkan judicial discretion. maka akuntabilitas dan legitimasinya menurun. sebaliknya kewajiban lembaga peradilan untuk mempertanggungjawabkan segala tindakannya kepada publik akan dapat mengurangi kerentanan lembaga peradilan dari tekanan pihak luar. didukung keberanian dan pikiran yang dingin dan bebas dari pengaruh luar dan tidak goyah karena simpati dan prasangka. Akuntabilitas diperlukan untuk memperkuat independensi. Hanya saja sebagaimana mulai dirasakan. dan pada akhirnya bisa menimbulkan masalah-masalah baru. diperlukan untuk mencapai independensi dan impartialitas peradilan. Bahwa lembaga peradilan wajib mempertanggungjawabkan baik pelaksanaan fungsi yudisial maupun penyelenggaraan administrasinya. Dalam hal ini dapat dibedakan bahwa independensi merupakan mekanisme kontrol sebelum suatu tindakan yudisial dilakukan yaitu meminimalisir masuknya pengaruh pihak luar terhadap proses pengambilan putusan yang imparsial oleh pengadilan. independensi tanpa akuntabilitas bisa melangkah terlalu jauh. kecuali keinginan besar untuk menegakkan keadilan (Felix Frankfurter. yaitu sikap independen dan imparsial dalam memutus suatu perkara.dan utama untuk menegakkan kekuasaan kehakiman yang independen ada pada hakim. Dalam memutus perkara. Pengawasan sebagai wujud dari akuntabilitas dan bagian dari checks and balances. Kedua jenis independensi ini tidak sekedar menuntut jaminan-jaminan konstitusional formal. Sebab bukan mustahil ketika independensi kekuasaan kehakiman meningkat. 1993) Oleh karena itu.

Belakangan disadari bahwa intervensi yang bersifat ekonomi juga menjadi salah satu faktor penyebabnya. Pengadilan hanya menjadi abdi kekuasaan ketimbang berpihak pada rakyat. Sedangkan lembaga peradilan hanya menjadi alat untuk menjustifikasi dan melegitimasi perilaku kekuasaan eksekutif. 1997. Beberapa studi (Lev. managemen dan administrasi peradilan yang tidak transparan. 2004. Tidak adanya jaminan independensi dalam konstitusi. Intervensi politik. penumpukan perkara. Pompe. segi sosial/publik. tidak lepas dari praktek sistem pemerintahan otoritarian yang diterapkan. Yang ada adalah cerita sukses intervensi politik yang dimulai ketika urusan organisasi. Setidaknya akuntabilitas dari segi politik. Disamping problem lainnya seperti. Karakter dalam sistem pemerintahan otoritarian selalu menolak adanya checks and balances dan tidak mau mengakui adanya hak asasi manusia. 1990. minimnya hakim yang berkualitas dan berintegritas. 1989).tialitas peradilan sebagai suatu prinsip dalam Negara hukum yang demokratis. Asrun. bobroknya institusi peradilan sebagai akibat dari intervensi politik yang begitu panjang yang telah mereduksi independensi dan impartialitas peradilan. serta putusan yang janggal dan mencederai rasa keadilan. 2001. ICW. Pada masa-masa itu jangan berharap ada banyak putusan-putusan pengadilan yang progresif dan memberi rasa keadilan. Tetapi penting juga bagaimana membangun dan menjaga sistem akuntabilitas dan mekanisme kontrol bagi para hakim agar peradilan tidak memunculkan abuse of power baru atau tyrani judicial. semakin memudahkan intervensi politik yang membuat lemah kekuasaan peradilan ketika harus vis a vis dengan kekuasaan eksekutif. kebenaran dan keadilan. segi hukum bagi hakim baik pejabat negara maupun secara personal (Mauro Cappeletti. terutama dari eksekutif. administrasi Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 47 . Sangat jarang pula hakim yang punya keberanian untuk melawan setiap kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan rakyat. BK Harman. 1999. Peradilan Yang Belum Berubah Mafia peradilan (judicial corruption) menjadi problem besar yang menimbulkan bobroknya institusi peradilan. KRHN-Leip. 2005) telah mendiagnosis.

yang telah memberikan jaminan konstitusional prinsip kemerdekaan bagi kekuasaan kehakiman. dan para hakim yang lebih disibukkan dengan urusan kesejahteraan dan kepentingan sendiri. Korupsi. serta Mahkamah Konstitusi. pengadilan menjadi institusi yang tertutup. korup dan tidak berwibawa. juga dibentuk melalui undang-undang. MA pun kemudian membuat dan merumuskan sejumlah paket rencana pembaruan yang akan dilakukannya (Blue Print MA. Seperti kasus panitera pengganti dan hakim PN Jakarta Selatan yang memeras saksi dalam kasus korupsi PT Jamsostek. Perlahan tapi pasti. mulai dari pengadilan negeri (PN). sejumlah hakim agung non karier yang berasal dari kalangan akademi dan praktisi hukum dipilih dan ditetapkan. Revisi terakhir ini dipengaruhi oleh hasil Amandemen UUD 1945.2003. Bersamaan dengan revisi kebijakan. Dalam seleksi ini. Tujuannya bukan hanya sekedar mengisi kekosongan kursi hakim agung. fakta lain memperlihatkan kondisi lembaga peradilan masih ditengarai berbagai persoalan yang sangat kontras dengan spirit dan agenda perubahan. Revisi tersebut selanjutnya dipertegas.dan finansial peradilan berada dalam kekuasaan eksekutif. 14/1970) yang menempatkan urusan organisasi. Anak. sampai MA. Sejumlah pengadilan khusus untuk mengadili perkara-perkara seperti pelanggaran HAM. administrasi dan financial menjadi urusan Mahkamah Agung. pengadilan tinggi (PT). UU MA. dan kasus advo- 48 Bunga Rampai . Ketika momentum perubahan datang. reformasi peradilan dimulai dengan revisi kebijakan satu atap (UU No. seleksi hakim agung dan Ketua Mahkamah Agung yang sebelumnya sangat tertutup. mulai dilakukan secara terbuka oleh DPR pada 2000 . Meski berbagai perubahan telah terjadi. Beberapa kasus hanya sebagian kecil yang berhasil terungkap. 2003). UU Pengadilan Umum) pada tahun 2004. Praktik-praktik mafia peradilan disinyalir masih berjalan di setiap tahapan. dilengkapi dan diimplementasikan melalui revisi paket UU Bidang Hukum (UU Kekuasaan Kehakiman. Seakan tidak mau ketinggalan. Selanjutnya putusan-putusan pengadilan mesti mengikuti langgam pembangunan pemerintah. Selain itu lewat amandemen konstitusi dibentuk lembaga Komisi Yudisial untuk rekruitmen hakim agung dan pengawasan hakim. tetapi untuk mendorong perubahan di tubuh internal MA.

Fakta-fakta tersebut semakin membuat institusi peradilan terperosok dalam lubang kegelapan yang seakan-akan sulit untuk keluar. Dari sejumlah kasus yang terungkap nampaknya belum membuat kapok para Mafioso peradilan. keluhuran martabat. pengadilan menempati urutan teratas untuk inisiatif melakukan suap. Posisi ini nampaknya tidak beranjak jauh dari hasil survey TII sebelumnya. Hasil survey ini melengkapi sejumlah survey atau polling yang telah dilakukan berbagai pihak. Dari survey tersebut. Ramdhan Rizal dan M. apalagi dilakukan secara tidak transparan. Malah dalam kasus-kasus pelanggaran HAM. Sholeh. dengan tersangka Harini Wijoso dan beberapa pegawai MA. Memaknai Kehadiran Komisi Yudisial Komisi Yudisial (KY) lahir dan dibentuk berdasarkan konstitusi. Putusan-putusan pengadilan.kat Syaifudin Popon. meski berbagai upaya perubahan telah dilakukan sejak reformasi 1998. serta perilaku hakim. Ketentuan ini menjadi landasan hukum yang kuat bagi KY untuk memainkan peranan yang sangat penting dan strategis dalam usaha mewujudkan kekuasaan kehakiman yang merdeka didalam Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 49 . dan memiliki kewenangan mengusulkan calon hakim agung serta kewenangan lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Masih terjadi krisis kepercayaan. Pada Mei 2007. Sementara pengawasan internal oleh MA sudah terbukti tidak efektif memberikan efek jera bagi para hakim dan pegawai pengadilan. hampir semua terdakwanya kemudian diputus bebas oleh MA. yang masih menunjukkan bobroknya institusi peradilan. dua panitera PT Jakarta. belum bisa memberikan rasa keadilan karena seringkali dengan mudah memberikan putusan bebas bagi para pelakunya. terutama dalam kasus korupsi dan HAM. yang dilakukan secara rutin setiap tahun. Pasal 24B UUD 1945 menempatkan KY sebagai Lembaga Negara yang bersifat mandiri. Serta kasus Probosutedjo yang mencoba menyuap majelis hakim di MA dengan uang milyaran rupiah. Transparancy International Indonesia (TII) mengeluarkan hasil survey tentang korupsi yang terjadi di lembaga-lembaga pemerintahan. Dan itu berarti bahwa lembaga peradilan memang belum mengalami perubahan yang signifikan.

2003. UU No. kebutuhan KY dilandasi oleh spirit untuk mendorong dan membangun sistem dan pelaksana kekuasaan kehakiman lebih bersih. Faktor lain yang mendorong kelahiran KY adalah kebutuhan untuk membangun sistem seleksi hakim agung yang lebih obyektif. 2004). Dalam sistem seleksi semacam ini diharapkan dapat dieliminir politisasi dalam penentuan calon hakim agung. Dapat dikatakan bahwa fungsi pengawasan inilah yang paling sering akan dilakukan oleh KY. tidak accountable. mekanisme pengawasan hakim yang ada mengandung sejumlah kelemahan. serta hakim Mahkamah Konstitusi. Pengawasan hakim yang dijalankan MA sangat tertutup. obyek pengawasan KY terhadap hakim meliputi hakim agung dan hakim pada badan peradilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung. Naskah Akademis RUU Komisi Yudisial. kredible dan dapat memegang teguh prinsip independensi dan imparsial dalam membuat putusan (Blue Print MA. Kondisi pengawasan seperti itu diakui sendiri oleh MA. dan memberikan usul pemberian sanksi (punishment) dan penghargaan (reward). melakukan pemanggilan dan pemeriksaan terhadap hakim. Meski KY bukan pelaku kekuasaan kehakiman. Lahirnya KY dari rahim konstitusi dilatarbelakangi oleh adanya kebutuhan untuk membangun sistem pengawasan hakim yang lebih efektif dan konstruktif. Jika memperhatikan alasan-alasan pembentukan Komisi Yudisial tersebut di atas. Intinya. KY dapat menerima laporan dari masyarakat.konteks negara hukum. meminta laporan tentang perilaku hakim. jelas bahwa Komisi Yudisial memi- 50 Bunga Rampai . Selain itu dalam konteks wewenang pengawasan. 22/2004 tentang KY kemudian menambahkan bahwa. Alasannya. dan cenderung mengedepankan esprit de’corps. Sehingga hakim agung yang dihasilkan memiliki integritas. transparan dan partisipatif. yang pada gilirannya menyuburkan judicial corruption di tubuh institusi pengadilan. independen dan bertanggungjawab (accountable). Masyarakat pun dapat terlibat secara aktif untuk memantau dan menilai secara kritis terhadap proses serta track record para calon hakim agung. namun fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman yaitu fungsi pengawasan.

Tidak ada lagi lembaga tertinggi dan tinggi negara. Yang dilihat adalah fungsi dan kewenangan yang telah diberikan. sang ujung tombak penegakan hukum di lembaga peradilan (A. bersama-sama dengan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. yang tercermin dari sumpah jabatan dan representasi suara rakyat yang telah memilih secara langsung. Dalam hal itu. KY sesungguhnya merupakan mitra strategis dari DPR dan Presiden untuk melakukan dan mem- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 51 . Perubahan paradigma konstitusi tersebut. Komisi Yudisial diberi tanggung jawab konstitusional untuk mengontrol kinerja dan perilaku para hakim. Mengembalikan rasa percaya publik pada kemampuan lembaga peradilan sebagai benteng terakhir penegakan hukum dan keadilan. haruslah senantiasa hadir ketika citacita atau ideologi independensi dan imparsialitas peradilan tidak bisa dijaga dan ditegakkan sendiri oleh MA dan MK. Ini adalah sebuah moralitas konstitusi dari kedua lembaga tersebut. Pembentukan KY ini sejalan dengan spirit dari perubahan (amandemen) UUD 1945. Nababan. eksekutif dan yudikatif). dan diperlukan dalam menjalankan checks and balances. Tugas dan tanggungjawab tersebut tidaklah berakhir ketika DPR bersama Presiden telah memilih dan menetapkan calon hakim agung. 2006). Akan tetapi tugas dan tanggungjawab itu.liki dua fungsi penting dalam upaya penegakan hukum dan keadilan di Indonesia: pertama. telah mendudukan posisi dan kekuasaan lembaga-lembaga negara menjadi setara dan seimbang. Komisi Yudisial berfungsi untuk merepresentasikan kontrol publik ke dalam lembaga peradilan. kewajiban untuk menjaga dan menegakkan kekuasaan kehakiman yang merdeka (independency of judiciary) bukanlah semata-mata menjadi tugas dan tanggungjawab MA dan MK. Kedua. Komisi Yudisial berperan untuk ‘membentuk’ (reshaping) peradilan di Indonesia. ataupun keduanya telah membuat UU yang mendukung independensi peradilan. Tugas dan tanggungjawab itu juga menjadi kewajiban DPR bersama Presiden. Spirit perubahan yang hendak memperkuat checks and balances antara cabang-cabang kekuasaan negara (legislatif. Spirit perubahan ini mengubah paradigma dan praktek kekuasaan negara yang selama ini cenderung executive heavy atau legislative heavy. Dalam kerangka perubahan itu.

professional dan terpuji. Jika dijabarkan ‘mosi tidak percaya’ itu. membangun akuntabilitas dan memperluas partisipasi masyarakat. Dalam pengertian lain. KY dimaksudkan untuk memperkuat checks and balances bagi kekuasaan kehakiman. kehadiran dan wewenang yang diberikan kepada KY merupakan ‘mosi tidak percaya’ terhadap institusi pelaksana kekuasaan kehakiman. KY punya peran sinergis bersama DPR dan Presiden untuk mendapatkan calon hakim agung yang kredibel dan berintegritas. Dengan berpijak pada kerangka konstitusional di atas. pengawasan dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. mosi tidak percaya itu dapat dilihat bahwa pemberian wewenang KY merupakan atribusi kewenangan dari kekuasaan eksekutif dan legislatif dalam menjalankan fungsi kontrol atau checks and balances terhadap kekuasaan yudikatif. janji- 52 Bunga Rampai . harkat martabat dan perilaku hakim oleh KY merupakan bentuk penolakan terhadap pengawasan internal yang sebelumnya dinilai tidak efektif. Dalam hal ini KY menjadi lembaga eksternal yang selalu melakukan pengawasan para hakim. KY harus menjamin judicial discretion bahwa hakim dalam mengambil keputusan harus bebas dari intervensi baik berupa ancaman. hanya KY satu-satunya lembaga yang diberi mandat oleh konstitusi untuk melakukan pengawasan terhadap hakim. Fungsinya adalah untuk memperkuat checks and balances. Pembentukan KY dan juga Komisi-Komisi independen lainnya adalah dimaksudkan sebagai Institutional Watchdog. selain rekruitmen bagi hakim agung. khususnya MA.perkuat kontrol (checks and balances) terhadap MA dan MK. martabat dan perilaku para hakim dapat terjaga. Fungsi kontrol yang sedapat mungkin bisa menyeimbangkan terjaganya independensi hakim dengan akuntabilitas yang mesti dibangun. tekanan. Mosi tidak percaya itu dapat ditunjukkan pula dari posisi Ketua MA yang bukan sekaligus ex officio Ketua KY sebagaimana Judisial Commission di berbagai negara. Melalui kewenangannya. Melalui KY diharapkan pula harkat. Dalam batas-batas tertentu. guna mencegah penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) oleh institusi peradilan. Jelas terlihat bahwa KY memiliki peranan penting untuk mendorong para hakim menjadi lebih bermartabat.

diantaranya menyusun visi-misi organisasi. praktisi hukum. (2) Melaksanakan pengawasan peradilan yang efektif. (1) Menyiapkan Hakim Agung yang berakhlak mulia. dan simpati. berwibawa dan memberikan rasa keadilan dengan hakim yang berintegritas dan progressif. Dan untuk pertama kali. Sedangkan misinya. KY Menuai Simpati dan Resistensi Komisi Yudisial terbentuk pada 2 Agustus 2005. bahwa tugas pokok yang akan dijalankan secara rutin oleh KY adalah melakukan pengawasan atau kontrol bagi hakim. Namun demikian. KY merumuskan visinya “Menjadikan hakim sebagai insan pengabdi dan penegak keadilan”. KY mulai membangun perangkat-perangkat organisasi. Keanggotaan KY terdiri atas unsur akademisi.janji. terbuka dan dapat dipercaya. Setelah sekian lama institusi peradilan mengalami krisis kepercayaan sebagai akibat penyakit judicial corruption yang sudah demikian akut. Intinya. berani dan kompeten. KY sudah mulai membangun capacity building yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas dan kewenangannya. Semua itu bertujuan untuk menegakkan keadilan. Visi-misi itu nampaknya sejalan dengan mandat yang diberikan konstitusi. jujur. Keberadaan dan kehadiran KY memberikan harapan kembali akan peradilan yang bersih. KY memiliki peranan strategis untuk memperkuat proses reformasi peradilan yang belum selesai. serta pembentukan sekretariat jenderal beserta struktur organisasi maupun personalianya. pembentukan peraturan yang diperlukan sebagai landasan. (3) Mengembangkan sumber daya hakim menjadi insan yang mengabdi dan menegakkan keadilan. Setelah terbentuk. Busyro Muqoddas seorang akademisi sekaligus advokat yang mendapat suara terbanyak dalam proses pemilihan di DPR. bukan suatu hal yang mudah bagi KY ketika menjalankan fungsi dan kewenangannya ataupun mewujudkan visi-misinya. Dengan legitimasi dari konstitusi. Sebagai landasan bagi pelaksanaan kewenangan dan pengembangan organisasi. KY dipimpin oleh M. sejak tujuh (7) orang anggotanya diangkat dan disahkan oleh Presiden. mantan hakim dan jaksa serta masyarakat. Disatu sisi langkah-langkah dan kebijakan yang diambil KY dapat memberikan inspirasi dan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 53 .

simpati yang mendapat dukungan dari berbagai kalangan. Atau dengan kata lain. sebagai bagian dari checks and balances terhadap kekuasaan yudisial. dan mempertanyakan apa alasannya bahwa hakim agung yang ada sekarang ini harus diseleksi ulang. Seakan gayung bersambut. meski para pemimpin ataupun Ketua MA merupakan buah dari proses reformasi. Bisa 54 Bunga Rampai . baik yang bersifat individual maupun organisasional. leadership di MA sangat lemah. 1. karena setidaknya ini merupakan terobosan yang harus dilakukan Presiden kemudian disahkan oleh DPR. KY melontarkan ide seleksi ulang (kocok ulang) hakim agung. NGO dan sebagian anggota DPR. Dan menyerahkan proses seleksi ulang hakim agung ini melalui Perpu. Ide kocok ulang ini sempat disampaikan kepada Presiden SBY. Tentu saja ide kocok ulang ini mengundang pro-kontra. terutama dari kalangan akademisi. Sebagian publik. Issue “Kocok Ulang” Hakim Agung Pada awal Januari 2006. solusinya adalah perlu ada penguatan kepemimpinan di MA melalui seleksi ulang hakim agung. Tetapi bersamaan dengan itu. menilai bahwa ide ini sangat progressif. Sebagian yang kontra menilai bahwa ide ini tidak mendasar. Simpati dan resistensi ini dapat tergambar dari sejumlah issue atau masalah yang muncul ke publik selama kurang lebih 2 tahun belakangan ini. akan mendorong presiden menjadi otoriter. Melalui kocok ulang hakim agung ini diharapkan akan ada regenerasi dan refresh kepemimpinan MA. Ide ini berangkat dari pemikiran KY yang melihat bahwa problem riil mafia peradilan yang menjadi penyebab keterpurukan lembaga peradilan adalah tidak berjalannya managemen kepemimpinan di MA. Dan melalui Perpu. KY pun menyiapkan pula draft Perpu untuk Seleksi Ulang Hakim Agung. muncul resistensi yang tidak bisa dihindarkan. Tidak ada dasar hukum yang cukup kuat untuk melakukan itu. Karena memang sama-sama disadari bahwa tidak ada perubahan yang signifikan dari kepemimpinan MA terhadap problem-problem peradilan. Oleh karena itu. termasuk penulis. Dikabarkan presiden menyetujui dan telah memerintahkan Mentri Hukum dan HAM (Menhuk-HAM) Hamid Awaluddin untuk membuatkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) nya sebagai payung hukumnya.

Dari 754 laporan tersebut. 2. Sedangkan sampai Desember 2006 (pascaputusan MK). masyarakat dengan antusias melaporkan hakim-hakim yang dinilai menyimpang dan tidak sensitif terhadap rasa keadilan. diinformasikan bahwa KY telah menerima 28 laporan. dan ada yang dicabut kembali. Meski KY telah menyerahkan draft Perpu ke tangan pemerintah. Dari 333 laporan tersebut. KY telah memeriksa dan memproses 333 laporan atau pengaduan hakim.jadi ide kocok ulang ini menjadi bibit awal permusuhan atau resistensi dari kalangan hakim agung. KY telah menerima 754 laporan dari berbagai kalangan masyarakat. 18 hakim telah direkomendasikan KY kepada Pimpinan/Ketua MA (Laporan Tahunan KY. Ide ini pada akhirnya tidak sempat direalisasikan.Juni 2006 (sebelum putusan MK). Dari Agustus 2005 . 2006). KY secara proaktif melakukan penanganan beberapa kasus dugaan pelanggaran perilaku hakim. Issue Pengawasan Hakim Sejak KY terbentuk. sedang dalam proses. antara lain: • Pemeriksaan terhadap hakim yang mengadili kasus Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 55 . Sebagian lainnya tidak ditindaklanjuti. Ide kocok ulang hakim agung memang sempat membuat kejutan banyak pihak. Jumlah Hakim 4 3 1 3 2 2 Asal Pengadilan PN Bogor PT Banten PN Stabat PN Jakarta Selatan PN Jakarta Pusat PT Bandung Tabel: Jumlah Hakim Yang Mendapat Rekomendasi Selain laporan tersebut. Presiden tidak jelas sikapnya dan Menhuk-HAM belakangan membantah bahwa dirinya telah diminta presiden untuk membuat Perpu Seleksi Ulang Hakim Agung. termasuk para hakim agung yang jelas dan pasti menolak.

Banyuwangi) Pemeriksaan terhadap majelis hakim Pengadilan Tinggi Banten yang mengadili kasus korupsi di Lingkungan DPRD Propinsi Banten Pemeriksaan terhadap majelis hakim Pengadilan Negeri Denpasar yang mengadili kasus narkoba dengan terdakwa Michellle Leslie. Sudah menjadi rahasia umum kalau putusan itu dapat disesuaikan dengan keinginan “yang memesan”. karena setidaknya bisa menimbulkan shock therapy dikalangan hakim. Musi Rawas. Para hakim berpendapat bahwa putusan tidak bisa menjadi obyek pengawasan KY. Sepak terjang KY dalam melakukan pengawasan. Pemeriksaan terhadap majelis hakim PN Semarang yang mengadili kasus korupsi. KY dinilai telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan dan mencemarkan nama baik hakim. Bandung.• • • • • • sengketa Pilkada (Depok. Pemeriksaan terhadap majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang mengadili kasus korupsi dengan terdakwa ECW Neloe. Dalam hal ini KY cukup berhasil meraih simpati dari publik. dan mengajak publik untuk senantiasa memusuhi hakim yang berperilaku menyimpang. Pemeriksaan terhadap majelis hakim Pengadilan Tipikor yang mengadili kasus korupsi dengan terdakwa Harini Wijoso Pemeriksaan terhadap hakim Pengadilan Negeri Stabat yang mengadili kasus anak dengan terdakwa Raju. terutama hakim agung. bisa dikatakan sangat positif. yang menjatuhkan hukuman di bawah hukuman minimal. Sedangkan KY bersikap sebaliknya. Kendati demikian. Selayar. Karena 56 Bunga Rampai . Setidaknya ada 2 hal yang selalu dipersoalkan para hakim kepada KY dalam melakukan pengawasan ini. Sumbawa. yaitu obyek yang diperiksa dan cara pemeriksaan yang dilakukan. simpati dari berbagai kalangan juga dibarengi dengan sikap sebaliknya yang secara terang-terangan diperlihakan oleh kalangan hakim. dengan memainkan norma-norma hukum dan penafsiran hukum. bahwa putusan itu dapat menjadi pintu masuk (entry point) untuk melihat ada tidaknya penyimpangan atau tidak. Sukabumi. Sedangkan dalam hal cara. KY tidak berwenang memeriksa putusan hakim.

MK juga menolak hakim konstitusi menjadi bagian dari pengawasan KY. tidak ada satupun yang ditindaklanjuti oleh MA. sempat mengadukan anggota KY ke Kepolisian. Termasuk dalam putusan ini. Para hakim agung itu dengan didampingi sejumlah advokat (OC Kaligis. ICW. Sayangnya putusan MK berbicara lain. putusan MK ini mendorong simpati publik terhadap KY. KY se- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 57 . Pengajuan judicial review ini dikhawatirkan meniadakan fungsi pengawasan hakim dan jelas menghambat upaya pemberantasan mafia peradilan. KY untuk sementara tidak bisa lagi melakukan usul penjatuhan sanksi. Setidaknya pasca putusan MK. Putusan MK itu tidak hanya menghambat kerja-kerja KY dalam pengawasan hakim. LBH Jakarta dan Kontras) mengajukan permohonan menjadi pihak terkait tidak langsung. sejumlah hakim agung yang merasa nama baiknya tercemar oleh KY. Untuk mencari titik temu dalam soal obyek dan metode pengawasan. dan puncaknya adalah ketika 31 hakim agung mengajukan judicial review terhadap UU KY ke Mahkamah Konstitusi. dilakukan pertemuan antara KY dengan MA. Semua rekomendasi yang disampaikan KY kepada MA. Indriyanto Seno Adji. Akibatnya. Namun gesekan antara MA-KY tetap berlanjut.kerapkali nama-nama hakim yang dilaporkan dan sedang dalam proses pemeriksaan terpublikasikan ke media massa. usul pemberhentian hakim kepada presiden sejak pembelaan diri ditolak oleh Majelis Kehormatan Hakim. Kekhawatiran ini mengundang sejumlah lembaga swadaya masyarakat (KRHN. Tidak cukup dengan hal itu. Namun nampaknya tidak membawa hasil. dll) meminta MK membatalkan sejumlah pasal dalam UU KY terkait dengan fungsi pengawasan hakim karena dianggap bertentangan dengan konstitusi. Yang terjadi malah konflik terbuka antara MA-KY. tapi juga merugikan para pencari keadilan. memaksa badan peradilan lain atau hakim untuk memberikan keterangan atau data yang diminta. Meski demikian. membuat laporan hasil pemeriksaan. MK dalam putusannya mengabulkan hampir semua permohonan. KY kehilangan kekuatan untuk melakukan pengawasan hakim. Bahkan secara terang-terangan pimpinan MA menolak dan mengabaikan rekomendasi dari KY. meski pada akhirnya bisa “berdamai”.

ormas. putusan dapat ditelaah oleh KY sebagai entry point ada tidaknya pelanggaran hakim. Setidaknya itu bisa menjadi kekuatan potensial untuk memperkuat peranan KY.perti mendapat energi baru untuk menggalang berbagai potensi kekuatan dalam masyarakat. Vol I No. KY terlihat begitu rajin membuat kegiatan dan perjanjian kerjasama (MoU) dengan berbagai pihak (akademisi/PT. sanksi dari KY bersifat mengikat dan disampaikan langsung kepada Presiden. MA sempat beberapa kali mengeluarkan statement atau pernyataan lewat media masa. dan pengawasan KY diintegrasikan dalam pengawasan internal di MA. lembaga keagamaan. KY sendiri telah menyiapkan usulan pasal-pasal yang harus direvisi. padahal putusan MK telah dijatuhkan sejak Agustus 2006. Sayangnya sampai saat ini tidak jelas kapan revisi UU KY akan diproses. Dalam konteks ini dukungan juga bermunculan. meminta pembentukan KY di daerah-daerah untuk mempercepat reformasi peradilan dan mendukung sepenuhnya percepatan revisi UU No. lengkap dengan naskah akademisnya. Namun bisa jadi kemungkinan itu 3. terutama dalam mengawal revisi UU KY. Revisi UU KY ini bisa menjadi peluang untuk memperbaiki dan memperkuat kembali wewenang pengawasan KY. usul tentang sebaiknya pengawasan KY hanya untuk hakim dan tidak untuk mengawasi hakim agung. Butir-butir penting dari rekomendasi itu yang dapat memperkuat peranan KY diantaranya adalah. Atau Ketua MA sebaiknya ex officio sebagai Ketua KY. Misalnya. UU KY bersama sejumlah UU lain yang terkait (UU MA. UU Kekuasaan Kehakiman. Usul atau pandangan ini memang terkesan hendak memdelegitimasi posisi dan peranan KY. 5. Setidaknya perintah langsung putusan MK adalah meminta DPR dan Pemerintah untuk melakukan sinkronisasi dan harmonisasi undang-undang tersebut. April 2007) Disisi lain. dan hal ini posititif. 58 Bunga Rampai . Tercatat sudah lebih dari 100 perjanjian kerjasama yang ditandatangani. organisasi profesi). NGO. dan UU MK) mesti direvisi. lembaga Negara. seperti rekomendasi dari Lokakarya Dosen HTN Indonesia Wilayah Barat pada 22 Maret 2007. 22/2004 tentang KY (Buletin KY. Issue Revisi UU KY Sebagai akibat dari putusan MK.

berhasil jika tidak ada pengawalan yang baik terhadap revisi UU KY, mengingat tidak semua anggota DPR pro terhadap reformasi peradilan. Sebagaimana pernah diakui sendiri oleh seorang anggota DPR yang menyatakan hampir 80% anggota DPR tidak pro-reformasi peradilan, lainnya menyatakan hanya 50%. (F. Arifin, makalah, 2006). 4. Issue Seleksi Hakim Agung Proses seleksi Hakim Agung diawali dengan surat dari MA yang memberitahukan tentang Hakim Agung yang akan pensiun pada tahun 2006. Dan selanjutnya sesuai kesepakatan dengan pimpinan MA, akan diusulkan sejumlah calon Hakim Agung untuk mengisi formasi 6 orang Hakim Agung. KY harus mengusulkan 3 kali lipatnya kepada DPR, sebagaimana ditentukan dalam UU KY. Kemudian DPR memilih dan memutuskan 6 dari 18 calon hakim agung, dan selanjutnya diserahkan kepada Presiden untuk ditetapkan. Kewenangan dalam menyeleksi Hakim Agung ini merupakan kali pertama dilakukan lewat KY, yang diharapkan dapat lebih baik dari proses seleksi yang sebelumnya dilakukan oleh DPR. Ini tentu saja taruhan besar bagi KY. Jika hasil seleksi hakim agung KY lebih baik, KY tentunya mendapat appreciate yang tinggi. Jika sebaliknya, bisa jadi performance dan kredibilitas KY akan diragukan publik. Berbeda dengan proses sebelumnya, seleksi hakim agung kali ini terdiri dari beberapa tahapan; seleksi administratif, penilaian karya ilmiah, dan kesehatan, seleksi kepribadian/profile assessment, dan seleksi kualitas/wawancara. Kecuali tahap seleksi wawancara, dalam setiap tahapan lainnya, KY melibatkan sejumlah pihak yang dianggap kompeten untuk menangani hal itu. Termasuk dalam hal ini usul dan laporan dari masyarakat tentang track record masing-masing calon. Dengan mengedepankan soal integritas dan kualitas, KY kemudian mengabaikan soal kuantitas dalam menentukan hasilnya. Dari 130 bakal calon yang mendaftar, pada akhirnya KY memutus 6 orang calon yang dinilai layak untuk disampaikan kepada DPR. Hasil ini mengundang kontroversi, karena KY meloloskan Ahmad Ali seorang calon yang dianggap berperilaku tidak terpuji dan diduga kuat terlibat dalam kasus korupsi. Apalagi keputusan meloloskan Ahmad Ali ini dilakukan dengan cara voting, 2 menolak dan 5 meloloskan. Akibatnya KY mendapat banyak kritik yang memperKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

59

tanyakan metode dan keputusan dalam seleksi hakim agung ini. Hasil itu juga tidak sepenuhnya diterima oleh DPR. DPR meminta KY untuk melengkapi kekurangannya bahwa KY harus mengusulkan 3 kali lipat dari yang dibutuhkan. DPR tidak akan memilih dan memutuskan hasil dari KY sebelum KY melengkapinya. Sikap DPR ini memaksa KY untuk melakukan seleksi hakim agung tahap kedua. Walaupun kemudian KY telah melengkapi jumlah kekurangannya, namun nampaknya DPR tidak cukup puas dengan calon hakim yang dihasilkan KY. Sejumlah anggota komisi hukum DPR yang melakukan fit and proper test calon hakim agung, beranggapan calon hakim agung yang dihasilkan KY tidak berkualitas. Kritik juga terlontar terhadap anggaran sebesar + Rp. 4 miliar yang digunakan dalam seluruh proses seleksi hakim agung. Issue anggaran ini menjadi bola panas, dan menuai kritik dari sejumlah pihak (DPR dan MA). Mereka mempertanyakan besarnya anggaran yang digunakan, dan mengganggap tidak sebanding dengan hasilnya. Meski telah dijelaskan secara terbuka, dan pada seleksi kedua terjadi perubahan metode/tahapan agar bisa mengurangi anggaran yang digunakan, tapi nampaknya tidak cukup berhasil untuk menepis issue anggaran yang dianggap terlalu boros. Bagi sejumlah kalangan, peranan KY dalam melakukan seleksi hakim agung ini memang diluar harapan. Ada sejumlah persoalan yang tidak bisa dijelaskan dan dijawab dengan baik, terutama menyangkut soal konsistensi antara tujuan dengan hasil seleksi. Dalam hal ini KY selalu menyatakan lebih mengedepankan integritas dan kualitas. Namun ternyata, ada beberapa calon Hakim Agung yang kemudian diragukan kapasitas dan integritasnya. Nampaknya peranan KY dalam seleksi Hakim Agung ini, ‘menggoyahkan’ simpati terhadap KY yang sudah terbangun. Mengelola Simpati, Meminimalisir Resistensi Keberadaan dan kehadiran KY dalam sistem hukum dan ketatanegaraan Indonesia, memang memberikan harapan akan perbaikan sistem peradilan. Dalam dua tahun KY menjalankan fungsi, tugas dan kewenangannya, menunjukkan bahwa KY memiliki peranan yang signifikan dan strate-

60

Bunga Rampai

gis untuk mendorong dan memperkuat reformasi peradilan. Dengan kata lain, KY akan menjadi “pengawal setia” reformasi peradilan, khususnya dalam mencari dan memperbaiki kualitas dan integritas para hakim. Meski terbatas, selama ini KY cukup berhasil untuk “meng-entertaint” fungsi dan kewenangannya. Setidaknya hal itu dapat terlihat dari pemberitaan yang muncul mengenai sepak terjang KY lengkap dengan konflik yang terjadi diseputarnya. Ini suatu hal yang positif bagi sebuah lembaga baru, sehingga publik banyak mengenal dan mengetahui tentang KY. Ditambah upaya dari KY sendiri yang memperluas jejaring kelembagaannya dengan banyak lembaga/organisasi. Sehingga KY tidak hanya menuai simpati, tetapi juga dukungan riil dari berbagai kalangan. Simpati dan dukungan itu setidaknya dapat terlihat dari NGO, akademisi, kampus, praktisi/pengamat hukum, tokoh masyarakat/agama, ormas, sebagian anggota DPR, lembaga Negara/pemerintah, organisasi profesi serta pers. Pada saat yang bersamaan upaya perlawanan atau resistensi terhadap KY juga bermunculan. Resistensi muncul terutama dari kalangan hakim dan unsur/pihak MA, yang merasa eksistensi dan “kemapanan”nya terusik dengan kehadiran KY. Sebagaimana tergambar di atas, upaya perlawanan itu dilakukan dalam berbagai bentuk, mulai dari membangun opini, penolakan rekomendasi sampai langkah dan upaya hukum untuk mendelegitimasi keberadaan KY. Dalam hal-hal tertentu, resistensi juga muncul dari sebagian anggota legislatif dan kalangan advokat, yang khawatir dengan peranan KY dapat mengganggu kepentingan mereka. Resistensi dari sejumlah pihak dengan berbagai bentuknya itu, nampaknya sudah menunjukkan watak sesungguhnya yang anti terhadap perubahan. Terhadap resistensi itu, nampaknya KY belum bisa sepenuhnya meng-counter dan menjadikan hal itu menjadi issue publik. Misalnya, penolakan terhadap rekomendasi KY dapat dijadikan issue pejabat Negara yang tidak patuh pada aturan hukum. Lambannya revisi UU KY dapat dikemas menjadi issue hambatan dalam pemberantasan mafia peradilan. Juga terhadap issue anggaran seleksi Hakim Agung, dapat dilawan dengan minimnya anggaran untuk bidang hukum atau peradilan. Karena selama ini terjadi diskriminasi angga-

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

61

ran untuk kekuasaan yudisial jika dibandingkan anggaran untuk legislatif dan eksekutif. Pada sejumlah issue-issue tersebut di atas, KY juga tidak memaksimalkan simpati dan jejaring yang telah didapat untuk memberikan dukungan yang diperlukan. Entah dikemanakan banyak pihak yang telah mengikat kerjasama dengan KY. KY belum cukup berhasil mengelola simpati dan jejaring untuk melegitimasi dan memperkuat peranan KY. Disamping itu, nampaknya kondisi internal KY belum cukup kuat dan solid untuk memanage potensi kekuatan dengan tantangan yang ada, dan menjadikannya sebuah peluang yang dapat diambil. Termasuk dalam hal ini dalam memanage potensi konflik, membangun opini publik dan memaksimalkan kapasitas sumber daya manusia yang ada. Sebagai lembaga komisi independen yang baru terbentuk, memang tidak mudah untuk menjalankan fungsi dan kewenangannya. Umumnya hal ini terjadi pada lembagalembaga komisi independen yang telah terbentuk. Apalagi dengan kewenangan yang terbatas, lemahnya komitmen dan political will, serta arus balik anti reformasi yang sudah mulai melakukan konsolidasi dan menguat. Kebanyakan tidak cukup berhasil untuk mengelola kewenangannya dengan baik, bahkan ada beberapa diantaranya mengalami krisis kelembagaan dan terancam bubar. Tetapi hal itu nampaknya tidak demikian bagi KY. Perlu diingat, bahwa KY memiliki legitimasi yang kuat sebagai satu-satunya lembaga komisi independen yang diatur tegas dalam konstitusi. Pengaturan dalam konstitusi membuat keberadaan KY lebih terjamin. Karena itu kecil kemungkinan KY dapat mengalami seperti halnya lembaga komisi independen lainnya. KY harus menghindari itu, dan menjadi lembaga yang “seolah-olah ada”, serta cenderung birokratis. Kedepan KY perlu mengelola simpati lebih baik lagi agar menjadi lebih produktif dan mendukung kerja-kerja KY. Sejalan dengan hal itu, perlu diminimalisir hal-hal yang dapat menuai resistensi dari berbagai kalangan terutama para hakim. Sekalipun terjadi, sedapat mungkin dieliminasi agar tidak mendelegitimasi posisi dan peranan KY Usaha tersebut mengharuskan peran serta dari sejumlah pihak yang punya kewajiban dan kewenangan memperbaiki dan men-support peranan KY. Tidak bisa dilakukan oleh KY

62

Bunga Rampai

sendiri. Oleh karena itu, agar performance KY lebih baik lagi, yang perlu dilakukan kedepan adalah sebagai berikut; 1. 2. mendorong dan menjadikan issue/masalah KY menjadi issue publik, sehingga simpati yang telah diraih dapat lebih konkrit dan diperluas. memaksimalkan peranan jejaring yang telah ada dengan men-desentralisasi kewenangan KY terutama kewenangan mengawasi hakim. Untuk hal ini setidaknya dapat dibentuk segera perwakilan KY di sejumlah daerah yang rawan mafia peradilan, serta terdapat jejaring yang cukup potensial dan mampu menjalankan desentralisasi kewenangan itu. menyiapkan perangkat-perangkat organisasi, terutama regulasi internal yang diperlukan untuk memperlancar pelaksanaan tugas dan kewenangan KY, terlebih penting dapat membuat KY lebih transparan, akuntable dan legitimate dimata publik. menyusun code of conduct yang dapat dijadikan sebagai pedoman dan indikator dalam hal pengawasan hakim. Untuk hal ini ada baiknya disusun secara bersama dengan MA. memperkuat fungsi dan peranan KY di dalam revisi UU KY, terutama menyangkut soal pengawasan hakim dapat dilakukan secara efektif. Dalam hal ini setidaknya KY dapat memberikan sanksi yang bersifat mengikat kepada Presiden tentang hakim yang terbukti melanggar perilaku. melakukan kampaye dan pendidikan kepada publik untuk terus-menerus secara konsisten memerangi dan melawan mafia peradilan. Termasuk dalam hal ini meminta kepada DPR dan Presiden agar sungguh-sungguh melakukan pemberantasan mafia peradilan sebagai bagian dari upaya memberantas korupsi.

3.

4.

5.

6.

Epilog Sungguhpun disadari dan dirasakan bahwa membangun sistem peradilan yang baik dan bersih dengan melawan judicial corruption yang telah berurat akar didalamnya, tidak semudah membalik telapan tangan. Tidak segampang yang telah dibayangkan dan direncanakan, akan tetapi upaya ini harus tetap terus dilakukan. Keberadaan dan kehadiran
Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

63

Komisi Yudisial memberikan harapan dan arti penting untuk tetap menjaga dan merawat upaya reformasi peradilan. Upaya yang barangkali tidak pernah diketahui kapan akan berhenti, demi tujuan mulia menegakkan kebenaran dan keadilan. Sejauh ini peranan Komisi Yudisial dapat menjadi spirit dan inspirasi dalam melanjutkan reformasi peradilan. Setidaknya melalui pengawasan para hakim dan menyiapkan hakim agar lebih berkualitas, professional, terpuji dan berpihak pada keadilan. Betapapun kemudian upaya yang dilakukan KY tidak mulus, karena adanya resistensi yang menghambat kerja-kerja KY sekalipun simpati dan dukungan juga bermunculan. Terlihat tidak mudah bagi KY untuk mendayung diantara simpati dan resistensi dalam mengawal reformasi peradilan. Namun yang jelas dan pasti para pencari keadilan masih tertindas dan merasakan ketidakadilan. Suatu kondisi yang tidak bisa dibiarkan berlarut-larut dan harus dihentikan. Mengingat KY memiliki peranan strategis dalam mengawal reformasi peradilan, maka sudah sepatutnya peranan KY perlu diperkuat kedepan. Langkah-langkah yang perlu dilakukan tidak hanya ditujukan kepada KY, tetapi juga DPR dan Presiden sebagai penerima langsung mandat rakyat yang sudah rindu akan penegakan hukum dan keadilan. Semoga tidak menjadi sebatas harapan.

64

Bunga Rampai

Terdapat interaksi antara institut dan publik. Interaksi ada secara laten (latent). Kecuali alasan empirik. seperti produk. Ini dinamakan standar internal. Sekalian institut dalam peradilan memiliki standar masing-masing yang digunakan untuk melakukan penilaian. menemukan banyak kekurangan dan hal-hal negatif di peradilan. Tuntutan transparansi tersebut membuka keKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 65 . kejaksaan dan advokat. sehingga hampir tidak ada putusan publik yang tidak didemo. Sejak suatu institut tidak ada untuk dirinya sendiri. Alasan empirik yang didorong oleh keterbukaan tersebut. serta tingkat kepuasan publik. maka penilaian berdasar standar internal saja tidaklah cukup. melainkan berada dalam jagat yang lebih luas. Sejak peradilan itu memiliki beberapa komponen. reformasi juga terkait pada masalah sistem. maka reformasi tentunya akan menyangkut pula sekalian komponen dari peradilan. Di sini peranan publik makin mendapat angin dan terus merangsek maju. seperti pengadilan sendiri. kinerja (performance). Tetapi ia menjadi lebih intensif sejak kelahiran apa yang dinamakan Orde Reformasi dengan kredo demokratisasi. serta transparansi. desentralisasi kekuasaan.Kontribusi Lembaga Sosial Mendorong Reformasi Peradilan Oleh Satjipto Rahardjo Latar Belakang Reformasi Reformasi suatu peradilan tentu memiliki alasan mengapa peradilan harus direformasi. oleh karena institut itu ada untuk melayani publik. kapanpun juga. Alasan empirik bergerak pada ranah praksis peradilan sehari-hari.

Tidak semua berlangsung secara ideal. peran masyarakat atau publik ke dalam urusan kenegaraan dan pemerintahan. sekarang bertambah besar dan kuat. Indonesia pelan-pelan bergerak menuju. akibat demokratisasi. untuk kemudian berubah menuju pemerintahan yang lebih bersifat kerakyatan. Pada ranah dan aras sistem. melainkan banyak juga para “preman”. melainkan ”opstand der horden” (bangkitnya massa. yaitu suatu tipe pemerintahan yang berbasis kekuasaan hampir-mutlak. bahkan mungkin untuk sementara secara jujur harus dikatakan. melainkan 66 Bunga Rampai . Dari suatu ”state-based society”. Bukan pemilihan oleh rakyat yang jujur yang terjadi. sehingga tidak ada borok yang bagaimana kecilpun yang tidak menerima sorotan dari masyarakat. Undang-Undang Dasar memiliki otoritas tertinggi untuk menentukan bagaimana sistem peradilan di negeri ini akan dibangun. bukan ”de opstand der democratie”. 1957). Sejumlah besar kejadian telah berhasil dihimpun oleh institut-institut independen. Bukan demokrat-demokrat sejati yang muncul. maka reformasi dikaitkan kepada rancangan sistem atau bangunan peradilan yang berawal dari Undang-Undang Dasar 1945. bahwa tampilan yang buruk dan negatif lebih menonjol daripada yang diidam-idamkan oleh perubahan tersebut. apa yang dikenal sebagai. yang memberi alasan kuat untuk melakukan reformasi peradilan. seperti ICW. berbagai tembok atau bastion dari orde pemerintah lama telah diruntuhkan. Momentum reformasi peradilan memberi kesempatan kepada kita untuk memikirkan kembali tentang rancangan peradilan menurut Undang-Undang Dasar dan apakah pesan serta amanat dalam Konstitusi itu sudah diselesaikan dengan baik. Meminjam istilah Jose Ortega y Gasset (y Gasset. Lembaga Sosial Sebagaimana diuraikan di atas. “civil society”. Sejak jatuhnya pemerintahan Presiden Soeharto. Otonomi kekuatankekuatan dalam masyarakat tampil menjadi semakin perkasa. masyarakat madani.sempatan yang luas untuk melakukan eksaminasi terhadap praksis dan jalannya peradilan. para ”preman”). atau dalam istilah Indonesia. Lembaga Pemantau Peradilan dan Transparensi Internasional.

yaitu lembaga yang disponsori oleh pemerintah. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas) generasi pertama (1993-2001) sering mendapat sebutan yang demikian itu. Otonomi daerah tidak menyumbang kepada kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. penembakan di Irian. Memang rupa-rupanya tidak sekalian lembaga sosial itu baik dan jujur serta beramanah. Tetapi keadaan seperti itu tak perlu terlalu dirisaukan. turun ke lapangan dan membuat simpulan serta pernyataan yang cukup berani. sehingga Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 67 . melainkan lebih merupakan suatu otonomi yang didasarkan pada penalaran ”apa yang kelompok saya bisa dapat”. sebagai Sekretaris Jenderal. Ia cukup cepat merespons setiap kejadian dugaan pelanggaran HAM. Sebagai Direktur Jenderal Pemasyarakatan pada waktu itu. melainkan harus berani menghadapi berbagai eksaminasi yang dilakukan oleh masyarakat melalui lembaga sosial yang makin menjamur itu. ia justru memanfaatkan jabatannya itu. Lembaga sosial boleh disebut sebagai presentasi persepsi masyarakat yang relatif jujur atau tidak terkooptasi oleh kepentingan penguasa. sehingga lembaga yang benar-benar berkualitas saja yang akan bertahan. Bukan penalaran nurani rakyat. melainkan penalaran oleh uang atau kapital.pemilihan berdasarkan ”kekuatan uang”. oleh karena dapat merusak reputasi lembaga sosial yang memang bersungguh-sungguh ingin menjadikan rakyat sebagai raja. Hal itu memang memprihatinkan. melainkan tercatat pula lembaga yang tidak demikan. Selama keberadaannya. oleh karena pada akhirnya akan terjadi seleksi alami. Komnas belum pernah sekalipun bertemu dan menerima ”pesan” dari Presiden Soeharto. Baharudin Lopa. berperan besar dalam memotori gerakan-gerakan Komnas. seperti dalam Kasus Marsinah. namun secara cukup mengejutkan ternyata mampu menjaga independensi dan integritas serta mengambil jarak dari pemerintah. Karena reputasinya itu maka di tengah-tengah kuatnya cengkeraman pemerintah. Komnas sempat menjadi ikon dan tumpuan harapan masyarakat. seperti di jaman pemerintahan Soeharto. Peradilan sekarang tidak dapat lebih lama berlindung di bawah wibawa pemerintah. Terkadang ada seloroh mengenai adanya lembaga sosial ”pelat merah”. dan penyerbuan terhadap Kantor Pusat PDI-P.

bangsa dan negara. Komunitas akademi memiliki sekalian persyaratan untuk dimasukkan juga ke dalam barisan lembaga sosial. Itu meru- 68 Bunga Rampai . apabila diminta sebagai pembicara dalam seminar. Komunitas akademi yang ideal adalah independen. Di Indonesia. dengan begitu ia tetap merupakan aset bangsa yang belum dapat memberikan kontribusi secara optimal terhadap penyelesaian permasalahan masyarakat. Sesekali mereka ”turun dari gunung”. yang terdiri dari para scholar dan peneliti. tetapi ia tetap memiliki watak untuk disebut sebagai lembaga mandiri dan karena itu dapat digolongkan ke dalam lembaga sosial. kekuatan tersebut belum benar-benar tampil sebagai suatu kekuatan sosial aset bangsa. tak dapat disetir dan dikooptasi oleh pemerintah. Universitas yang sarat dengan watak keilmuan. Selebihnya mereka sangat disibukkan oleh kegiatan mengajar. menjadi konsultan dan lain-lain. Penampilan yang lebih maju dilakukan melalui pembentukan pusat-pusat kajian. seperti Pusat Studi Anti Korupsi pada Universitas Gajah Mada. menguji dan meneliti. Namun demikian. Kendati suatu universitas negeri dibiayai dari anggaran belanja negara. Rupa-rupanya kalangan pemerintahan belum dapat membedakan secara baik antara Lopa sebagai Dirjen dan sebagai anggota Komnas yang mandiri.Komnas sering dengan relatif mudah dapat memasuki ranah yang ”dikuasai” pemerintah. tetapi masih lebih berada dalam apa yang sering disebut sebagai sebuah ”menara gading”. Komunitas Akademi Satu kekuatan sosial yang belum termanfaatkan dengan baik adalah dunia akademi. Peluang ini digunakan oleh Komnas untuk ”menggedor” jajaran pemerintah dan ABRI yang melakukan pelanggaran HAM. Dengan mempertahankan posisi yang demikian itu memang komunitas akademi dapat mempertahankan kejujurannya dalam menelaah berbagai permasalahan dan kalau perlu membuat solusi tindakan. jujur dan membuat simpulannya sendiri yang secara relatif tidak dicemari oleh kepentingan tertentu. Komunitas ini melakukan pengamatan (observe) terhadap sekalian hal yang terjadi di masyarakat. didasarkan pada kaidah keilmuan yang obyektif.

fungsi pengadilan. organisasi pengadilan. baik dokumen maupun catatan-catatan wawancara (fact-based research). negeri Belanda. A Study of Institutional Collapse” (Pompe. Dengan data yang kaya. Oleh karena ketiadaan keterbukaan. menurunnya perbandingan penge- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 69 .” Kelemahan dan kekurangan tersebut muncul dari proses penerimaan (recruitment) hakim yang terlalu melihat kepada kedekatan seseorang calon dengan eksekutif. 2005). Dikatakan oleh Pompe. as a number of chairmen have failed to impose institutional values on the Court’s environment and have also failed to enhance internal cohesion and morale. maka banyak peluang bagi terjadinya hal-hal yang tidak baik (improprieties). “This lack of transparency is an important factor in obscuring the personalities of the judges who are recruited and the views which they hold. Dikatakan oleh Pompe. Penelitian tersebut selesai ditulis sebagai disertasi yang dipertahankan di Universitas Leiden..pakan kemubaziran yang disayangkan. which has been largerly directed toward recruiting leaders who have either strong ties to the executive branch of the government or accomodating dispositions. “The leadership standards of many Supreme Court Chairmen have fallen far short of the ideal.. 1996) kemudian diterbitkan sebagai buku pada tahun 2005 berjudul “The Indonesian Supreme Court. Disertasi tersebut (Fifty Years Indonesian Supreme Court. characterized by weak leadership. Penelitian Sebastiaan Pompe Sebastiaan Pompe telah melakukan penelitian yang sangat intensif terhadap dunia pengadilan di Indonesia. pada tahun 1996. . Metode yang digunakan sangat kuat berdasarkan fakta. serta kualitas para hakim.” Banyak Ketua Mahkamah yang tidak menjalankan kepemimpinannya dengan ideal. makin menurunnya pengetahuan dan kesepakatan mengenai hukum yang berlaku. Pompe menuliskan seluk beluk perjalanan sejarah Mahkamah Agung yang menyoroti aspek-aspek pengaruh dan intervensi politik terhadap Mahkamah. “This condition.” Komentarnya terhadap standar profesionalitas adalah. tidak terdapat keterbukaan dan peranan birokrasi sangat kuat (effectively controlled by the bureaucracy). khususnya Mahkamah Agung Republik Indonesia. Dalam hal perekrutan hakim. sprang naturally from the nature of recruitment process.

Barangkali pembubaran Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTK) merupakan contoh tentang usaha untuk mempertahankan Iembaga sendiri. bahwa mereka akan mampu menyelesaikan persoalan-persoalannya sendiri. integrity to structural corruption. Para hakim diumpamakan isi dari sebuah kantong yang bermacam-macam.tahuan mengenai hukum (comparative legal knowledge) serta menurunnya kedisiplinan pribadi (personal strictness). ke dalam kata-kata yang padat. Ada semacam resistensi terhadap ”penyerbuan dari luar” yang akan mengguncang kenyamanan kelangsungan hidup lembaga dan para anggota di dalamnya. Pompe. Pada waktu TGPTPK. pada tahun 2000. bahwa lembaga itu mempunyai kecenderungan kuat untuk berusaha mempertahankan eksistensinya dan dengan demikian juga menyimpan keinginan kuat untuk dengan berbagai cara memberikan legitimasi terhadap eksistensinya itu. tetapi sebagian lain terdiri dari orangorang yang serius ingin melakukan pembaruan. Sebagian hanya ingin mempertahankan keadaan sekarang. and respect to contempt. ingin membawa beberapa Ha- 70 Bunga Rampai . bukan karena tidak ada orang luar yang mampu duduk di kursi hakim. melainkan karena rekrutmen secara terbuka itu akan membawa persoalan politik masuk ke pengadilan (cut across the political spectrum). sedang yang lain menerima gagasan untuk merekrut orang-orang dari luar menjadi hakim. yaitu ”courage turn to cowardice. Sindrom ketertutupan itu menghinggapi setiap lembaga apapun. capability to incompetence. dimana telah terjadi sejumlah kemerosotan. yang satu menutup pintu bagi masuknya orang luar. ini dinamakan kesadaran atau perasaan ”in-group” yang membedakan dan mengambil jarak terhadap ”out-group”. Dalam sosiologi. Dunia pengadilan percaya. menyelamatkan keadaan dan menuju masa depan yang lebih baik. Mereka yang menolak pembukaan pintu bagi hakimhakim (opening up recruitment) yang direkrut dari luar pengadilan beralasan. Dalam dunia pengadilan ada dua kubu. menyimpulkan limapuluh tahun sejarah Mahkamah Agung R.” Melihat Pengadilan Dari Luar Optik sosiologi akan mengatakan. Pada bagian akhir dari analisisnya mengenai para hakim.I.

seperti pengadilan dan kepolisian. pada waktu Kepolisian Daerah Jawa Barat. maka. menahan. yang bersemangat tinggi untuk memberantas korupsi. justru dibubarkan. misalnya. menginterogasi dan akhirnya menyerahkannya kepada jaksa untuk diajukan ke pengadilan. Kendati demikian.kim Agung ke pengadilan. Ini memang satu kekecualian. Tidak ada lembaga yang diberi kekuasaan seperti itu. apakah hakim dan polisi tidak dapat melakukan kesalahan? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut cenderung memastikan. Pertanyaan mendasar selanjutnya adalah. Alasan bagi kehadiran tim-tim yang disebut ”independen” di negeri kita dewasa ini. melalui data yang ditemukan di lapangan. dengan dakwaan korupsi. maka melalui sebuah judicial review. Banyak kekuasaan diberikan kepada lembaga-Iembaga. masih dipegang oleh pejabat tinggi dalam pemerintahan. Ini merupakan cacat yang tidak kecil. melihat komposisi keanggotaannya. pada tahun 80-an (?). merupakan suatu peristiwa yang cukup luar biasa. jawaban itu diberikan dengan membentuk Komisi Yudisial dan Komisi Kepolisian Nasional. Dalam konteks itu. karena ditentukan oleh pikiran atau mindset sang hakim. berupa kekuasaan eksklusif tertentu. Wakil Ketua. Hakim yang memiliki kecenderungan legalistik akan memutus berdasarkan kacamaKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 71 . mengadakan satu seminar yang menyoroti pungutan liar poIisi di jalan-jalan. sedang polisi untuk menangkap. TGPTPK. Pengadilan diberi kekuasaan untuk memutus suatu perkara. Oleh sebab itu diperlukan suatu ”kekuatan-dari-luar” untuk dapat memberikan penilaian yang lebih jujur. untuk sebagian dapat dijelaskan dari hal-hal yang diuraikan di atas. karena adanya berbagai sindrom tersebut di atas. Polri bagaikan membuka boroknya sendiri. komisi-komisi tersebut beIum mandiri benar. Kediktatoran Pengadilan Putusan hakim menjadi krusial. Dalam seminar tersebut. karena umumnya lembaga-lembaga publik lebih suka melegitimasi diri sendiri. Pimpinan Komisi Kepolisian Nasional (Ketua. Sekretaris). Di Indonesia. Tidak mudah untuk melakukan penilaian yang jujur terhadap lembaga sendiri. Kalau demikian lalu ”siapa mengawasi pengadilan?” dan ”siapa mengawasi polisi?”.

Andaikata kami yang menang. Pada waktu Herman Goring melakukan pembelaan. Itulah esensi ”Victor’s Justice”. ”Anda mengadili kami. maka andalah yang akan diadili”. Situasi yang demikian itu terjadi. sehingga (putusan) hukum itu berbanding lurus dengan status sosial (law varies directly with social status) (Black. Sekalian penyebutan itu menggambarkan semacam protes terhadap kekuasaan hakim untuk menentukan siapa salah dan benar. bahwa pengadilan itu melakukan diskriminasi sosial. maka perkaranya akan ditangani dengan keras dan demikian sebaliknya. “substantial justice”. pengadilan yang demikian itu dapat juga ditarik ke arah yang lebih tinggi dan menjadi suatu masalah yang bersifat akademis. Maka terjadilah suatu pengadilan. Apabila seseorang dengan status sosial rendah menyerang orang dengan status sosial tinggi. di atas 30% lebih tinggi. Di Georgia. atau sosiologi pengadilan. risiko itu adalah 15% lebih tinggi daripada baku bunuh antara sesama kulit hitam. hakim memiliki kekuasaan besar untuk memonopoli pembuatan putusan. Konflik yang demikian itu dapat juga dilihat dari perspektif sosiologis. Dengan demikian. yang kalah perang. dimana alam pikiran yang satu mengadili alam pikiran yang lain. manakala pikiran hukum hakim berbeda dengan terdakwa. Potret yang demikian itu memancing pendapat. “street justice” dan lain-lain. orang kedua sesudah Hitler itu mengatakan. 72 Bunga Rampai . ‘’police justice”. maka saat seorang kulit hitam diadili karena membunuh kulit putih di Amerika Serikat. betapa medan pengadilan menjadi ajang pertemuan antara dua alam pikiran. Penamaan pengadilan dan peradilan yang demikian itu dapat digunakan untuk menggambarkan. Oleh sebab itu muncul sebutan-sebutan ’’formal justice”. Sebutan pengadilan tersebut diberikan kepada pengadilan Negara-negara Sekutu yang memenangkan Perang Dunia II terhadap para pemimpin Nazi Jerman. Di Ohio. Penelitian Donald Black di Amerika Serikat menemukan.ta yang digunakannya itu. 1989). maka risiko untuk dijatuhi hukuman mati melonjak tinggi. di Florida 40% dan di Texas hampir 90% lebih tinggi. Apapun kacamata yang dipakainya. Bukan jaksa atau polisi. karena kalah perang. di Nuremberg. Saya kira. Menarik untuk membicarakan kediktatoran pengadilan dalam kaitan dengan “Victor’s Justice”.

doktrin dan tidak berselera untuk melihat kenyataan. karena. Jaksa: Gadis itu sudah mati. Pengadilan dan hakim sering dianggap diktator. Diceritakan adegan menarik dari sebuah film yang didasari oleh semangat menggugat kediktatoran hakim tersebut. hanya hakimlah yang boleh memutus dan yang lain harus diam. Semua bukti mengenai gadis itu. pada saat kita berpikir untuk melakukan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 73 . dan mungkin ke-6 dan ke14 telah dilanggar. tetapi tidak ada alasan untuk membenarkan kekerasan hukum yang telah dilakukan oleh polisi. maaf saja. sang hakim berpegangan kepada peraturan. Kekuasaan itu dapat mematahkan usahausaha untuk mencari kebenaran. 1997). Hakim: Pengadilan mengakui kepedulian polisi terhadap nyawa gadis itu. penggeledahan terhadap rumah tersangka adalah tidak sah. segalanya sebetulnya sederhana saja. Polisi: Surat penggeledahan? Pada waktu itu saya dihadapkan kepada seorang anak perempuan yang tengah sekarat. melalui dialog antara polisi dan hakim (Quirk & Bridwell.bahwa yang terjadi di Amerika Serikat adalah ”white’s justice”. sehingga bukti yang diperoleh dari situ. Polisi: Tapi saya tidak tahu hal itu. Anda seharusnya berusaha lebih dulu untuk mendapat hak untuk menggeledah (search warrant). Namun bagaimanapun. menurut laporan ahli. Ya. Hakim: Pada hemat saya. melainkan juga pergulatan kemanusiaan dan dengan demikian. Ilmu Hukum yang Terintegrasi llmu hukum niscaya merupakan sumber penting yang perlu ditengok. Hak tersangka yang dijamin oleh Amandemen ke-4 dan ke. harus dikesampingkan. Ilustrasi dari film tersebut menggambarkan betapa pengadilan itu tidak hanya menjadi medan pergulatan hukum. tidak dapat dibawa ke pengadilan. misalnya. juga pergulatan ideologi.5. pengakuan terdakwa. semua bukti fisik. karena memiliki kekuasaan besar untuk menentukan siapa salah dan siapa benar.

perdagangan. des etres inanimes. Ilmu hukum merespons perkembangan tersebut dengan melakukan konsolidasi untuk mengamankan prestasi yang telah dicapai. qui peuvent moderer ni la force ni la rigeur”. melainkan berkembang dan bergerak dinamis. Dalam atmosfer seperti itu. Pengadilan atau hakimpun tidak boleh berbuat lain. Ia tidak boleh keluar dari medan perundang-undangan. Ilmu hukum menjadi identik dengan ”analytical jurisprudence” atau ”rechtsdogmatiek”. Ilmu hukum memusatkan perhatiannya terhadap hukum positif. Abad ke-19 menampilkan dinamika luar biasa dalam perkembangan hukum positif. Perkembangan dalam hukum positif akhirnya memacu pengusaan ilmu hukum. transportasi berkembang dengan cepat yang membutuhkan dukungan hukum. Industri. Hakim sama sekali tidak memiliki kekuasaan apapun untuk mengubah dan menafsirkan undang-undang. Langkah dan tindakan konkret dalam hukum memerlukan pencerahan yang datang dari ”the state of the art” dalam ilmu hukum. Kepastian hukum pun muncul sebagai suatu barang yang nyata dan menjadi ikon. ilmu hukum tidak boleh keluar dari batas perundangundangan (alles binnen de kader van de wet). llmu hukum abad ke-21 niscaya jauh berbeda daripada abad ke-19. Persoalan besar pertama yang dihadapi adalah ”apa sesudah kodifikasi?”. Maka abad ke-19 pun dikenal sebagai Era Kodifikasi. qui prononcent les paroles de la loi. maka 74 Bunga Rampai . kecuali menjadi corong dari undang-undang (”Les juges de la nation ne sont que les bouches. demikian Montesquieu). Berbicara hukum adalah berbicara mengenai suatu kepastian. dengan catatan penting. Puncaknya adalah pada saat sekalian massa perundang-undangan tersebut dihimpun dalam kitab-kitab hukum.reformasi peradilan. Hal tersebut dilakukan dengan pengorganisasian dan sistematisasi bahan hukum yang tersedia. Ilmu hukum menjadi terfokus ke dalam. llmu hukum merupakan pundi-pundi yang menghimpun sekalian pemikiran dan perkembangan baru dalam pemikiran hukum. Bidang-bidang hukum baru muncul sebagai bagian dari perkembangan masyarakat yang berkembang cepat pada masa itu. Siasat tersebut dilakukan dengan mengintensifkan pemahaman terhadap jagat hukum yang telah menjadi demikian luas. Ilmu hukum tidak berhenti.

Salah satu artikel. dat rechtsvinding is wetstoepassing. Belanda. Seorang insinyur geologi telah menganalisis kerusuhan sosial dengan menggunakan disiplin ke-insinyuran-nya. sejak mulai rekrutmen para calon doktor (Program doktor. Buku yang berisi kumpulan karangan tersebut menggugat kemapanan pembagian ke dalam berbagai sub disiplin hukum dan menyebutnya sebagai ketinggalan zaman. telah menyelesaikan disertasinya pada program tersebut.” (Kepastian. Dikatakan oleh Scholten. mengakhiri ilmu hukum abad ke-19. misalnya menggugat. telah menerbitkan sebuah buku berjudul ”Geintegreerde rchtswetenschap” (”Ilmu hukum yang terintegrasi”. administrasi negara dan lain-lain). Paul Scholten mengatakan tentang cara berhukum seperti itu. Perubahan penting terjadi. Memasuki abad ke-20. Perubahan penting juga terjadi di bidang peradilan yang semula dianggap sekedar sebagai mesin otomat yang menerapkan undang-undang. Fakultas hukum Erasmus. insinyur dan sarjana dari ilmu-ilmu sosial. sebagai ”het hanteren van logische jiguren” (Scholten. tata negara. Suasana kepastian dan kekakuan abad ke-19 tidak dapat dipertahankan 1ebih lama 1agi. seperti diterima banyak orang di abad ke-19. bukan sebaliknya (Rahardjo. is niet zo heel veel overgebleven. Foque et al. ”Van de rustige verzekerdheid van velen in de 19 de eeuw. Program doktor tersebut menuangkannya ke dalam paradigma ”Hukum untuk Manusia”. Sejumlah dokter. Rotterdam. bahwa penemuan hukum adalah penerapan hukum. Ilmu hukum juga sibuk untuk membangun struktur dan dari situ disusun bangunan hukum yang didasarkan pada pemisahan sub-disiplin secara ketat (hukum-hukum perdata. bahwa pengkotakan hukum se- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 75 . 2004).cara berhukum pun sudah seperti mesin dan tidak berbeda daripada mengerjakan soal matematika. dalam memperingati 30 tahun usianya (1993). tidak banyak lagi sisanya). 1954). 1995). pidana. Hukum harus mengikuti masyarakat dan perkembangannya. 1993). Program doktor ilmu hukum Universitas Diponegoro telah mencoba untuk mencairkan batas-batas yang demikian itu. Perkembangan terakhir dalam ilmu hukum menunjukkan kecenderungan ke arah struktur yang tidak lagi terkotak-kotak secara ketat. ilmu hukum pun mengalami perkembangan dan perubahan penting.

mau tidak mau. Pembelahan tersebut didasarkan pada kosmologi yang berbeda dan yang pada 76 Bunga Rampai . Dengan mengutip ”implicit philosophy” Ronald Dworkin. pikiran-pikiran tentang ilmu hukum yang terintegrasi itu menolak “rule-book-model of society”. sehingga untuk menghadapinya. Sejak konstitusi kehidupan kita didasarkan pada visi dan kosmologi yang berbeda dengan yang menjadi dasar bagi penataan peradilan selama ini. Indonesia Memilih Sejak pengadilan dan peradilan itu tidak kedap ideologi. tidak ada tempat bagi pemisahan klasik ke dalam hukum publik dan privat abad ke-19.cara klasik ke dalam hukum publik dan hukum privat telah kehilangan legitimasinya. Secara garis besar. baik terhadap orang lain. Pengkotak-kotakan ke dalam hukum perdata dan hukum pidana. maupun terhadap masyarakat sebagai keseluruhan. Kehidupan masyarakat tidak berjalan karena mematuhi hukum yang datang dari perintah penguasa. tidak dapat lagi dilayani oleh pembidangan hukum secara klasik demikian itu. maka perombakan bukan sesuatu yang ditabukan. Perkembangan dalam ilmu pengetahuan dan ilmu hukum pada khususnya yang demikian itu. memberi ilham kepada kita pada waktu berpikir untuk melakukan reformasi peradilan. dunia kita dibelah oleh dua ideologi. bukan suatu kebenaran absolut yang harus diterima dan dijalankan begitu saja. Suatu kehidupan bersama yang benarbenar bertahan lama (duurzame samenleving) hanyalah ada manakala didasarkan pada kesadaran para anggota masyarakat terhadap asas-asas dasar dalam kehidupan bersama itu. maka di tengah-tengah lalu lintas ideologi hukum di dunia ini. Kehidupan sosial dan hubungan-hubungan dalam masyarakat dewasa ini sudah demikian rumit atau kompleksnya. tidak mampu memberikan pelayanan yang baik terhadap masyarakat yang demkian kompleks itu. Cara berhukum dalam peradilan yang lama bukan sesuatu yang tak dapat dirombak. 2006). yaitu liberal-individual di satu pihak dan kolektif-kontekstual di pihak yang lain (Rahardjo. Dalam ”implicit philosophy” seperti itu. Indonesia harus membuat pilihan.

bahwa kendatipun Jepang menerima hukum kontrak modern.akhirnya memunculkan cara berhukum yang beda puIa. “medievalization of modern institutions of the West”. Hal yang demikian itu menyebabkan bahwa bangsa-bangsa dengan kosmologi dan cara berhukum yang beda. yaitu pada dasamya menolak liberalisme-individual dan menerima cara kolektif-kontekstual. 1972). di Tokyo. Indonesia telah memilih dan pilihan itu tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa di kawasan Asia Timur. 1984). merupakan contoh yang baik tentang bagaimana kesulitan yang harus dihadapi tersebut. juga dirancang untuk menjaga dan mempertahankan ideologi tersebut. “Any institution that leaves its indigenous habitat and gets transplanted to an alien culture invariably undergoes a fundamental change in the process of transplantation. Lev. asas dan doktrin.” (Pyong-Choon. bangsa itu lebih mendahulukan penyelesaian secara Jepang. Baru kalau cara ini gagal. menyebar ke seluruh penjuru dunia. Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 juga Reformasi Peradilan: Harapan dan Kenyataan 77 . Cara pembengkokan oleh Jepang ini disebut “the Japanese twist” (Ozak. memastikan pilihan tersebut (Lev. Jepang adalah salah satu bangsa di Asia Timur yang sangat siap untuk menerima penggunaan hukum modern (dan lain-lain) dari Barat. 1978). Sebuah survai mengenai penggunaan hukum kontrak modern di Jepang pada tahun 1970. pada waktu menggunakan hukum modern tersebut. Hahm Pyong-Choon. yaitu yang mengedepankan musyawarah (“the contract could be abrogated by simply renegotiating with the other party when circumstances dictated”). digunakanlah kontrak yang sudah dibuat (Parker. Daniel S. Dengan demikian. misalnya mengatakan sebagai berikut. dengan tetap mempertahankan keJepang-annya. yang melakukan penelitian tentang cara berhukum bangsa Indonesia di pengadilan. mengalami banyak kesulitan. Hukum modern yang melalui berbagai jalan. An institution that originally served one purpose may find itself twisted around to serve a host of totally different purposes in the adopting culture. Penggunaan hukum modern di Korea. tetapi pada penerapannya. disebut oleh PyongChoon sebagai. pada dasarnya berwatak liberalindividual. menemukan. Bangsa-bangsa di kawasan Asia Timur. maka sekalian struktur. 1971).

Selama ini kita hampir tidak merisaukan amanat yang dipesankan oleh Undang-Undang Dasar kepada kita. yaitu agar berakar pada kosmologi dan habitat Indonesia. seperti ”peradilan rekonsiliatif’. maka pengadilan dan peradilan kita memang membutuhkan reformasi. Kalau kita melihat kepada pembelajaran hukum kita. pandangan ke Timur lebih diutamakan. Diponegoro memang sedikit banyak telah meyakinkan. karena memang itulah amanat Undang-Undang Dasar 1945. Reformasi Peradilan Berdasarkan uraian di atas. Beberapa penelitian dan disertasi yang ditulis pada Program Doktor Ilmu Hukum Univ. Di waktu-waktu mendatang. Maka dihadapkan kepada amanat UndangUndang Dasar. Selama ini kita terlalu berpaling ke Barat. bahkan di waktu seperti sekarang ini. khususnya bagian Pembukaan. tetapi hampir tidak pernah ke Jepang. Fakultas-fakultas hukum kita belum dapat diandalkan untuk menjadi ”avant-garde”. maka fakultas-fakultas hukum kita masih belum memiliki kesadaran untuk berubah menuju cara berhukum di pengadilan berdasarkan pembacaan terhadap Undang-Undang Dasar kita. penataan yang demikian itu perlu dirombak secara mendasar. bahwa suatu perubahan mendasar hendaknya dilakukan. Sebagaimana diuraikan di muka penataan peradilan kita sekarang masih didasarkan pada ideologi liberal-individual. menunjukkan. Pera- 78 Bunga Rampai . ”peradilan restoratif’. sebaiknya orientasi kita lebih seimbang. Kata-kata yang dilontarkan. Kesenjangan tersebut menimbulkan berbagai komplikasi sewaktu hukum modern itu diterapkan. Dengan demikan kita kurang mendapat ilham untuk melakukan reformasi hukum. bahwa ”dibuat Undang-Undang Dasar yang bersifat kekeluargaan”. Sampai hari ini. atau yang lain. Reformasi peradilan sebaiknya dilakukan dengan cukup mendasar.dikatakan. bahwa memang dirasakan keperluan untuk membangun satu model peradilan lain yang lebih berakar pada kosmologi Indonesia. baik Leiden. yang berbasis nilai dan kosmologi Timur. Harvard. watak liberal-individual dari peradilan kita masih kuat. khususnya peradilan.

yang notabene adalah hukum modern. karena masyarakat harus ’belajar’ lagi mengenal dan memahaminya. ”Uku merangkum semua lapangan kehidupan. maka kita belum dapat menghargai apa yang dilakukan oleh masyarakat tersebut. setidaknya kita tidak menghambat penyelenggaraan peradilan yang berbasis kearifan lokal Indonesia itu. Praksis yang beda tersebut mencerminkan ”perlawanan” dari suatu pikiran yang lebih mengakar pada habitat sosial asli. Di Sabu. sebagaimana ditulis oleh Bernard L. ”Realitas obyektif komunitas masyarakat lokal di Sabu yang masih terbilang sederhana. Perkembangan ilmu hukum yang baru. kita memiliki alasan lebih kuat untuk membangun suatu tatanan peradilan yang baru. Padahal pemerintah kolonial Belanda sejak semula sudah melihat risiko penggunaan peradilan modern itu bagi banyak komunitas lokal di Indonesia. lebih menuju kepada integrasi dan dengan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 79 . membuat kehadiran hukum negara sebagai sebuah inovasi terasa kian bermasalah. seperti ditulis oleh Bernard L.. yang memiliki struktur dan watak sosial beda. Tanya. karena tidak lain harus didasarkan pada asas kekeluargaan. 2006). tetap bekerja. sewaktu dihadapkan pada penggunaan hukum modern. kehidupan. Padahal. dalam arti sesuatu yang didatangkan dari luar. yang beda sekali dari pikiran sosial atau ideologi yang mendasari peradilan modern. Dikatakan oleh Tanya. pranata asli Sabu yang bersifat religius. ”Sebagai sesuatu yang ’baru’. sampai kepada kematian. Tanya sudah ada pranata uku. religi. Dalam proses belajar ini mereka menghadapi masalah yang kompleks . peristiwa hubungan-hubungan keluarga. Sejak tahun 1945.” Pranata yang demikan itu kemudian harus berhadapan dengan hukum nasional. penggunaan hukum modern itu merupakan suatu beban bagi komunitas lokal (Tanya. seolah-olah segala sesuatunya memang harus berjalan seperti itu. Setiap kali masyarakat setempat menjalankan praksis yang beda. daya tarik dan manfaat yang ditawarkan lembaga/hukum negara tidak segera diterima.dilan di Indonesia. sebagaimana diuraikan di muka.” Lebih lanjut Tanya menulis.. ” Apabila kita belum mampu menata peradilan kita berdasarkan amanat Undang-Undang Dasar secara benar-benar terstruktur. selama enampuluh tahun lebih..

advokat. melainkan menjadi hajat seluruh bangsa. polisi. maka pikiran kita untuk mereformasi peradilan di Indonesia memiliki legitimasi yang tinggi. tidak menggambarkan arsitektur kekeluargaan yang dikehendaki. jaksa. Dengan demikian.demikian mengurangi pengkotak-kotakan dalam displin dan sub-disiplin. mewarisi suatu sistem yang hakekatnya bersifat liberal-individual. posisi hakim. penyiapan doktrin dan asas. juga dikehendaki untuk diubah. Disinilah masyarakat ikut serta. seperti dalam arsitektur peradilan sekarang. Sekalian pekerjaan tersebut tidak dapat hanya dibebankan kepada pengemban kekuasaan formal saja. komponen-komponen sistem peradilan. Lebih daripada itu pembagian. Ideologi kekeluargaan menjadi penentu arah kemana tujuan reformasi peradilan negeri ini. Undang-Undang Dasar 1945 tidak mengikuti ideologi tersebut. Perlindungan dan penyelamatan individu serta kemerdekaan indvidu menjadi ideologi. Ia dimulai dari perubahan paradigma. bahwa sistem peradilan kita dan umumnya negara-negara di dunia. Pembangunan suatu sistem peradilan baru tersebut merupakan pekerjaan raksasa. dalam sistem peradilan memerlukan penataan kembali. yang antara lain diwakili oleh 1embaga-lembaga sosial. melainkan menghendaki sistem peradilan didasarkan pada asas kekeluargaan. penggolongan dan nomenklatur lama juga digugat. sampai ke pengaturan baru dalam beracara. Posisi komponen-komponen peradilan yang berhadaphadapan. Dengan demikian. Sudah diuraikan. Pembagian ke dalam hukum publik dan privat yang selama beratus-ratus tahun diterima sebagai sesuatu yang absolut dan sakral. 80 Bunga Rampai .

Lev. 1957. 1984. R. The Korean Political Tradition and Law. Komisi Yudisial RI. Tjeenk Willink..).Y. Tuttle. Ladan.Norton.J. Pembebasan dan Pencerahan. dalam Culture and Politics in Indonesia (Claire Holt ed. Parker.. Kodansha International. dalam Bunga Rampai Refleksi Satu Tahun Komisi Yudisial Republik Indonesia. 1972.Y. 297-328. New Brunswick. Diponegoro.Daftar Pustaka Black. E. Muhammadiyah University Press. Pyong-Choon. Seoul Hollym Corporation. N. L. Paul. W. Jakarta.Pencarian.. Ilmu Hukum . Hahm. Craig. pp.E. Jr. & Bridwell. Ithaca. Surakarta. 2005.. Program Doktor Ilmu Hukum Univ. Penerbit Srikandi.Randall. Program Doktor Ilmu Hukum. Robert S. Surabaya. Tanya. A. 1971. Pompe. Rood Pijpers.W. Satjipto. Merintis Visi Program Doktor Hukum.. 1978. ----------------------. Rahardjo. A Cultural Portrait. Arnhem.). Sebatiaan.. N. An American Perspective.. Gouda Quint. 1989. 1997. Charles E. The Indonesian Supreme Court. Zijderveld (red. 2006. 2006. - - Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 81 . W. Cornell University. “Algemeen deer” dari Mr. Oxford University Press. Sociological Justice. Transaction Publishers. Geintegreerde rechtswetenschap. Tokyo. 1994. Cornell University Press. Foque. Rene. 246-316. R. Vermont. The Japanese Police System Today. The Japanese. Y Gasset. Bernard L. Asser’s Handleiding tot de beoefening van het Nederlandsch burgerlijk recht. Judicial Dictatorship. Ozaki. Hukum dalam Ruang Sosial. Ithaca. Zwolle. A Study of Institutional Collapse. Jose Ortega.Y. William J. “Komisi Yudisial untuk Hakim dan Pengadilan Progresif”. N. Semarang.C. 1995. 2004.. The Revolt of the Masses. Scholten. “Judicial Institutions and Legal Culture in Indonesia”. Daniel S. 1954. hlm. Rutland. Donald. Quirk.

82 Bunga Rampai .

Oleh karena itu Komisi Yudisial berwenang untuk mengusulkan pengangkatan Hakim Agung (Pasal 24B ayat (1)). Sesuai Undang-undang No. Pendahuluan Dalam suatu negara hukum maka setiap sengketa hukum atau perkara diadili dan diputus oleh suatu Badan Kekuasaan Kehakiman. Tugas hakim/badan peradilan sebagai penyelenggara kekuasaan Kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan Badan Peradilan yang berada dibawahnya dan sebuah Mahkamah Konstitusi. Dengan demikian Badan ini turut mempersiapkan Calon Hakim Agung yang berkualitas. Institusi yang bersifat mandiri.H. M. Pada perubahan ketiga Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa Calon Hakim Agung diusulkan oleh Komisi Yudisial kepada DPR untuk mendapat persetujuan guna ditetapkan sebagai Hakim Agung oleh Presiden. merdeka serta netral yang diberi otoritas dan kewibawaan untuk secara bebas mempertimbangkan segala sesuatunya secara adil dan obyektif serta tidak memihak. 4 Tahun 2004 ditentukan bahwa kekuasaan Kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila demi terselenggaranya Negara Hukum RI.H.Peran Hakim Agung Dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding) dan Penciptaan Hukum (Rechtsschepping) Pada Era Reformasi dan Transformasi M. 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-undang No. S. 14 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 83 . Putusannya bersifat mengikat apabila telah berkekuatan hukum tetap. Dalam pasal 1 UU No.. Hatta Ali.

yaitu mengelola administrasi. Produk peraturan perundang-undangan selalu tertinggal dengan dinamika perubahan yang terjadi. hakim sering dihadapkan kepada suatu ketentuan yang belum diatur. yaitu memberikan nasehat hukum kepada Presiden dalam hal permohonan grasi dan rehabilitasi serta memberi pertimbangan hukum ke lembaga tinggi negara lain. Banyak peraturan perundang-undangan warisan kolonial maupun yang baru tidak sesuai dengan perkembangan masyarakat yang penuh dengan dinamika perubahan dan semakin kompleks. yang menyebabkan terhambatnya upaya mewujudkan penegakan hukum. Dalam menjalankan fungsi tersebut. Pokok Masalah Dasar hukum peran hakim dapat dilihat pada pasal 28 84 Bunga Rampai . yaitu: 1) 2) Fungsi mengadili. keuangan dan organisasinya sendiri. Dalam fungsi mengadili. Fungsi memberi nasehat dan pertimbangan hukum. Fungsi pengaturan. Fungsi menguji peraturan perundang-undangan. Fungsi membina dan mengawasi. disebabkan karena terhambatnya upaya mewujudkan sistem hukum nasional yang mantap. 3) 4) 5) 6) Fungsi administrasi. hakim wajib menggali hukum tidak tertulis untuk memutus berdasar hukum. Mahkamah Agung memiliki beberapa fungsi. yaitu untuk mengisi kekosongan hukum. hakim sering dihadapkan pada suatu ketentuan yang belum diatur. Maksudnya adalah jika tidak ditemukan hukum tertulis. yaitu membina dan mengawasi peradilan dan hakim dibawahnya. Di lain pihak hakim/badan peradilan tidak boleh menolak untuk memeriksa. mengadili dan memutuskan suatu perkara yang diajukan kepadanya dengan dalih bahwa hukumnya tidak ada atau kurang jelas. yaitu untuk menilai apakah suatu peraturan perundang-undangan bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.Tahun 1985 Tentang Mahkamah Agung. yaitu memeriksa dan memutus perkara permohonan kasasi dan peninjauan kembali.

Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana cara Hakim Agung menggali dan menemukan sesuatu yang dapat menjadi hukum? Institusi Mahkamah Agung yang merupakan instrumen dalam upaya menegakkan hukum dan kebenaran agar tidak terpaku pada peraturan perundang-un- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 85 . Yang kedua hukum harus berperan sebagai titik tolak kegiatan (center of action). Yang berarti bahwa perbuatan hukum oleh penguasa atau individu harus dapat dikembalikan kepada hukum yang berlaku. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman menyatakan “Hakim wajib menggali. Jika tidak dapat dijalankan menurut arti katanya. Supremasi Hukum di dalam negara hukum mempunyai 3 (tiga) ciri (menurut Muchsan . Seluruh komponen masyarakat sampai kepada penguasa tunduk sepenuhnya kepada hukum. Maksudnya adalah supremasi hukum merupakan pilar negara hukum. Dengan kata lain. mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat”. hakim wajib menafsirkan sehingga dibuat suatu putusan yang adil dan sesuai dengan maksud hukum yaitu adanya kepastian hukum.ayat (l) Undang-undang No. P 2002:12). merasakan dan mampu menyelami perasaan hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. Sebagai institusi. sehingga penegakan hukum (law enforcement) dapat diwujudkan tanpa memandang suku/agama/ ras/golongan. Pertama adalah hukum harus berperan sebagai panglima. Mahkamah Agung tidak boleh berhenti melakukan inovasi terhadap berbagai ketertinggalan peraturan perundang-undangan yang tidak sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Henry. tugas penting dari hakim adalah menyesuaikan undangundang dengan perkembangan yang hidup di dalam masyarakat.dikutip dari Panggabean. “Menggali” berarti hakim harus terjun ketengah-tengah masyarakat untuk mengenal. Namun agar hakim agung dalam melaksanakan perannya sebagai benteng terakhir penegakan hukum harus didukung pula adanya kemauan politik negara untuk menegakkan supremasi hukum yang berarti bahwa hukum bertindak sebagai panglima. Lalu yang terakhir bahwa perlakuan kepada semua orang adalah sama dimuka hukum (equality before the law).

Oleh karena hakim (secara general) merupakan perumus dan penggali dari nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat. mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat. Juga sebagai pengadilan tingkat terakhir diharapkan mampu melahirkan putusan-putusan (yurisprudensi) yang inovatif yang sesuai dengan rasa keadilan masyarakat. mengadili dan memutuskan suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas. Pembahasan Bertitik tolak dari pandangan bahwa “Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa. hakim harus bertindak berdasar inisiatifnya untuk menyelesaikan perkara. Jadi dalam penemuan hukum yang penting adalah bagaimana mencari atau menemukan hukumnya untuk peristiwa konkrit. maka seharusnya dapat mengenal. Konflik atau kasus yang harus diselesaikan atau dipecahkan dan untuk itu perlu dicarikan landasan hukumnya. Oleh karena hukumnya tidak lengkap dan tidak jelas. 86 Bunga Rampai . maka Hakim Agung harus memahami jalan keluar melalui penemuan hukum (Rechtsvinding). merasakan dan mampu menyelami perasaan hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. Apabila peraturan perundang-undangan yang belum jelas atau belum mengatur. Sehingga dapat memberi putusan yang sesuai dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat. Hakim selalu dihadapkan pada peristiwa konkrit. sekalipun peraturan perundangundangan tidak dapat membantunya. hasil penemuan hukum oleh hakim merupakan sumber hukum juga (yurisprudensi). Disamping itu.dangan yang telah usang. Tidak ada peraturan perundang-undangan yang lengkap dan jelas. melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadili” merupakan antisipasi bahwa tidak ada peraturan perundang-undangan yang dapat mencakup keseluruhan kehidupan manusia. Hakim Agung sebagai penegak hukum dan keadilan wajib menggali. Hasil penemuan hukum oleh hakim merupakan hukum karena mempunyai kekuatan mengikat sebagai hukum karena dituangkan dalam bentuk putusan. Sistem hukum Indonesia tidak menentukan jenis klasifikasi yurisprudensi tertentu untuk dijadikan sumber hukum. Dalam arti menentukan apa yang merupakan hukum.

Penafsiran atau interpretasi adalah usaha memberi makna suatu atau sejumlah kaidah hukum agar dapat diterapkan secara wajar dalam memecahkan suatu persoalan hukum. kaidah hukum atau ketentuan dalam suatu keputusan kemudian diikuti secara konstan atau tetap oleh para hakim dalam putusannya dan dapat dianggap menjadi bagian dari keyakinan hukum yang umum. 2.tetapi dalam praktek peradilan dikenal adanya klasifikasi yurisprudensi biasa dan yurisprudensi tetap. penafsiran antisipatif dan penafsiran dinamika-evolutif). Kedua klasifikasi yurisprudensi itu memerlukan kriteria sendiri agar dengan cara itu dapat ditelusuri sejauh mana hubungan kedua klasifikasi yurisprudensi itu dalam proses penegakan hukum. Yang kedua adalah konstruksi hukum. Sebagai Hakim Agung. Artinya adalah. juga tidak ada ketentuan dalam hukum kebiasaan dan hukum adat yang dapat diterapkan. penafsiran berdasarkan sejarah peraturan perundang-undangan yang bersangkutan.landmark decision karena kaidah hukum itu diterima masyarakat luas sebagai terobosan yang nyata atas suatu konflik hukum yang sudah lama berlangsung. sekalipun hakim dapat menafsirkan. maka keadaan ini Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 87 . didalam suatu perkara di pengadilan. sebagai yurisprudensi tetap. penafsiran berdasarkan sejarah hukum. sehingga yurisprudensi tetap tersebut telah melakukan penciptaan hukum (rechtsschepping).A. yaitu melalui penerapan hukum penafsiran dan konstruksi hukum. Mengikuti sistematika J. penafsiran teleologis. yaitu: 1. namun tidak ada ketentuan perundang-undangan yang berlaku yang dapat diterapkan. Pontier (dikutip dari Bagir Manan 2004:73). didapat bermacam-macam metode penafsiran (penafsiran berdasarkan tata bahasa atau ilmu bahasa. bahwa dalam putusan hakim ditemukan adanya kaedah hukum yang dapat dianggap sebagai . Dengan uraian di atas dapat dikatakan bahwa kriteria yurisprudensi tetap adalah telah mentransformasi secara konstan hukum yang hidup dalam suatu masyarakat dan telah diikuti oleh berbagai putusan sebelumnya. harus menguasai metode yang dapat dipergunakan. penafsiran sistematik. Sudikno Martokusumo (2001:52) memberikan 2 (dua) kategori.

hakim atau siapapun juga yang menerapkan 88 Bunga Rampai . menurut pendapat hakim yang bersangkutan bahwa pengertian hukum itulah yang menjadi dasar. keadilan. Termasuk dalam perkara-perkara perdata. Hakim adalah mulut kepatutan.mulai menyangkut pada keadaan kekosongan hukum dalam sistem formil hukum. Konstruksi hukum ini terdiri dari analogi (hakim memperluas penerapan hukum pada keadaan atau peristiwa yang tidak secara eksplisit disebut dalam ketentuan yang berlaku). hakim wajib memilih kepatutan. sehingga memerlukan penghalusan agar tetap terasa adil. hakim harus mencari dan menemukan kebenaran materiil.(dikutip dari Bagir Manan 2004:64) adalah “masyarakat konkrit”. hakim membuat suatu pengertian hukum (rechtsbegrip). Demikian pula hakim tidak sekedar menerapkan bunyi suatu perjanjian yang merupakan undang-undang bagi pihak-pihak yang membuatnya. Hakim bukanlah mulut undang-undang atau mulut hukum positif pada umumnya. kepentingan umum dan ketertiban umum. keadilan. apabila bertahun-tahun akan diakui telah menimbulkan hubungan hak atas tanah tersebut. Dengan kata lain. penghalusan hukum Rechtsvervijning (suatu kaedah hukum dapat dirasakan terlalu keras pada saat diterapkan pada keadaan konkrit tertentu. Berdasar beberapa ketentuan yang mempunyai persamaan. Segala hubungan dan peristiwa hukum dinyatakan dalam wujud yang nyata. Masyarakat Indonesia meminjam pendapat Holleman . kepentingan umum dan ketertiban umum. Seseorang memiliki sebidang tanah. Hingga saat ini sebagian masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat formalistik. serta Argumentum a contrario (mempersempit jangkauan berlaku suatu peraturan perundang-undangan). Walaupun demikian apabila hakim dihadapkan pada pilihan antara ketentuan hukum tertulis dengan hukum tidak tertulis. Asas ini menunjukkan bahwa sebagai Hakim Agung tidak boleh semata-mata mencari dan menemukan kebenaran formal. wajar dan tidak berlebihan). Kenyataan yang bersangkutan menempati sebidang tanah dengan cara-cara yang dibenarkan oleh tradisi yang berlaku disekelilingnya. dibuktikan dengan pohon-pohon yang ditanam oleh orang tuanya dan seterusnya. Apabila penerapan aturan hukum akan bertentangan.

Juga hubungan kelamin diluar nikah laki-Iaki dewasa dan perempuan dewasa atas dasar suka sama suka. Namun penerapan ini harus mempertimbangkan hal-hal berikut: a. Mengutamakan atau mendahulukan hukum tertulis apabila diketahui atau secara rasional dipahami bahwa ketentuan hukum tertulis merupakan pembaharuan terhadap hukum tidak tertulis atau terjadi transformasi ketentuan hukum tidak tertulis menjadi hukum tertulis. tetapi berdasar hukum Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan b. dimana laki-Iaki si pelaku tidak mau bertanggung jawab ketika perempuan tersebut hamil. Koreksi merupakan kenyataan hukum yang hidup dalam masyarakat dan dapat terjadi karena hukum tertulis telah usang atau ada kekosongan tertentu dalam ketentuan hukum tertulis. dan lain-lain bentuk pengasingan. Kemudian makin banyak putusan Mahkamah Agung yang menerima permohonan kasasi praperadilan. Lalu pengertian “Onrechtmatigedaad” hanya dapat dipahami setelah mempelajari yurisprudensi (Arrest H. Program reformasi hukum harus digulirkan secara bersama-sama oleh seluruh anggota masyarakat. harus mengutamakan atau mendahulukan ketentuan hukum tertulis. yang oleh yurisprudensi diperluas menjadi asas pengasingan (vervreending) tidak memutuskan sewa-menyewa.hukum. Pada era reformasi mengandung arti perubahan untuk perbaikan. 89 . pewarisan. Mengutamakan atau mendahulukan hukum tidak tertulis dilakukan apabila ketentuan hukum tidak tertulis merupakan suatu yang tumbuh kemudian sebagai koreksi atau penafsiran terhadap suatu ketentuan hukum tertulis. 1919). ekonomi dan hukum.R. Serta ketentuan “Jual beli tidak memutuskan hubungan sewa-menyewa”. yang berhadapan dengan ketentuan hukum positif yang menyatakan tidak ada kasasi untuk praperadilan. Hakim Agung harus mampu menghasilkan putusan-putusan yang mengarah kepada pembaharuan penemuan hukum berupa yurisprudensi. Pada situasi ini. sehingga termasuk hibah. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tidak mengatur. Jadi reformasi itu timbul secara simultan mencakup aspek kehidupan bernegara di bidang politik. Contoh kasus adalah pengertian “barang” dalam pidana pencurian termasuk pencurian listrik.

Sedangkan dalam kasus Pilkada Depok apabila menoleh pada pasal 106 ayat(7) Undang-undang No.adat merupakan perbuatan yang tidak patut untuk dilakukan dan harus diberi sanksi. ditafsirkan putusan Pengadilan Tinggi bersifat final dan mengikat. sehingga mestinya tidak ada upaya hukum lagi yang dapat digunakan. Tetapi sayangnya putusan Mahkamah Agung tersebut pada tingkat peninjauan kembali telah dikoreksi/ diperbaiki. terutama antara unsur keadilan dengan kepastian hukum yang bisa saja saling bertentangan. tetapi hakim dilarang menjatuhkan putusan atas hal-hal yang tidak dituntut atau mengabulkan putusan lebih dari pada yang dituntut”. kepastian hukum (rechtsicherheit) dan kemanfaatan (zwechtmassigkeit). 6 Tahun 2004. Paparan kedua kasus di atas. padahal pasal 178 ayat (3) HIR berbunyi: “Hakim wajib mengadili seluruh bagian gugatan. Putusan Mahkamah Agung dalam kasus Kedung Ombo pada pokoknya melebihi daripada ganti rugi yang dimohon para penggugat. Kasus yang relevan untuk menggambarkan adanya kemungkinan benturan antara aspek keadilan dan kepastian hukum. Dalam implementasinya terkadang tidak mudah untuk mensinergikan ketiga unsur tersebut. sehingga pada gilirannya dapat dihasilkan putusan yang berkualitas dan memenuhi harapan para pencari keadilan. Menurut Gustav Radbruch (dikutip dari Bambang Sutiyoso 2006: 6) idealnya putusan harus memuat idee des recht. tetapi ketika KPUD Depok mengajukan permohonan peninjauan kembali (PK) ke Mahkamah Agung terhadap putusan Pengadilan Tinggi Bandung tersebut pada akhirnya Mahkamah Agung dalam putusannya mengabulkan permohonan Peninjauan Kembali dari KPUD Depok dan membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Bandung. yang meliputi 3 (tiga) unsur yaitu: keadilan (gerechtigkeit). yaitu dalam kasus “Kedung Ombo” di Jawa Tengah dan kasus sengketa pemilihan kepala daerah (Pilkada) Depok. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah No. sangat relevan menggambarkan adanya benturan-benturan antara aspek kepastian hukum dengan keadilan. Mahkamah Agung sendiri dalam instruksinya Nomor KMA/015/lnst/VI/1998 tanggal 1 Juni 90 Bunga Rampai . Ketiga unsur ini harus dipertimbangkan Hakim dan diterapkan secara proporsional.

Fungsi pengaturan ini ternyata sangat efektif memperlancar jalannya peradilan. serta logos (dapat diterima akal sehat). Dengan akses ini mendorong para hakim membuat putusan yang berkualitas dan diterima oleh masyarakat sebagai hukum yang hidup dalam masyarakat. keseluruh jajaran peradilan yang isinya merupakan bimbingan dalam penyelenggaraan peradilan yang lebih bersifat administrasi. Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) yaitu suatu bentuk peraturan dari Mahkamah Agung ke seluruh jajaran peradilan tertentu yang isinya merupakan ketentuan bersifat hukum beracara.1998 menginstruksikan agar para hakim memantapkan profesionalisme dalam mewujudkan peradilan yang berkualitas. filosofis (berintikan rasa keadilan dan kebenaran). Dalam setiap penemuan hukum seyogyanya putusanputusan badan peradilan disosialisasikan dengan memberi kesempatan kepada publik untuk mengakses putusan-putusan tersebut. 1 Tahun 1977 (tentang permohonan kasasi) telah menjadi sarana hukum yang menentukan masuknya perkara peradilan agama dan militer ke tingkat perkara kasasi oleh Mahkamah Agung. 2. 14 Tahun 1970 tentang Undang-undang Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 91 . sosiologis (sesuai dengan tata nilai budaya yang berlaku dalam masyarakat). terutama dalam hukum acara sebagai pelengkap untuk mengisi kekurangan dan kekosongan tadi. Selain itu fungsi Pengaturan Mahkamah Agung diperlukan bagi kelancaran penyelenggaraan peradilan apabila terdapat hal-hal yang belum cukup diatur dalam undang-undang atau terdapat kekurangan. PERMA No. Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) yaitu satu bentuk edaran dari pimpinan Mahkamah Agung. pathos (pertimbangan yuridis yang utama). demi terciptanya kemandirian para penyelenggara kekuasaan kehakiman. Bentuk pengaturan itu dikenal dalam 2 (dua) bentuk produk yaitu: 1. 1 Tahun 1980 telah digunakan menampung perkara peninjauan kembali karena pada saat itu belum ada peraturan pasal 21 UU No. atau kekosongan hukum dengan menerbitkan Surat Edaran atau Peraturan Mahkamah Agung. Sebelum ada ketentuan KUHAP dan Undang-undang. dengan menghasilkan putusan hakim yang eksekutable berisikan ethos (integritas). PERMA No.

moral dan karakter yang baik. Pada dasarnya Hakim Agung yang baik bukan sekedar menguasai hukum positif melainkan mengusai pula dengan baik berbagai teori dan doktrin hukum. Meningkatkan kualitas hakim dalam melakukan penemuan hukum baru melalui putusan-putusan pengadilan (yurisprudensi) yang digunakan sebagai dasar pertimbangan hukum. pengalaman yang memadai. yang dapat digunakan oleh aparat penegak hukum di lingkungan peradilan. 92 . 1 Tahun 2000 tentang paksa badan dapat dijadikan contoh tentang efektifitas Fungsi Pengaturan Mahkamah Agung mendukung penegakan hukum khususnya untuk mengatasi kebutuhan hukum acara yang saat ini sangat diperlukan menghadapi perilaku para debitur nakal yang sengaja menghindar dari kewajiban melunasi hutang-hutangnya. Yang tidak kalah pentingnya suatu hal yang perlu diperhatikan fungsi pembentukan hukum itu sendiri harus memperhatikan kesadaran hukum masyarakat dan tidak tertutup kemungkinan bahwa hukum menciptakan pola-pola baru di dalam masyarakat sehingga pada akhirnya menciptakan kesadaran hukum baru sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan. Bahwa setiap putusan pengadilan harus mengandung unsur kemanfaatan bahwa isi putusan itu tidak hanya bermanfaat bagi pihak berperkara tapi juga bagi masyarakat luas.Pokok Kekuasaan Kehakiman. PERMA No. 3. 5. 6. Hakim Agung harus mengisi kekosongan hukum atau hukumnya tidak jelas dengan melakukan penemuan hukum (Rechtsvinding) yang pada gilirannya akan menjadi yurisprudensi tetap menuju penciptaan hukum Bunga Rampai 2. Kesimpulan 1. memiliki integritas. 4. Perekrutan Hakim Agung harus memiliki kemampuan di bidang hukum. Masyarakat berkepentingan atas keputusan hakim itu karena masyarakat menginginkan adanya keseimbangan tatanan dalam masyarakat. Dalam melakukan penemuan hukum hakim menggunakan metode penafsiran dan konstruksi hukum.

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 93 .(Rechtsschepping). Fungsi Pengaturan Mahkamah Agung berupa Surat Edaran dan Peraturan Mahkamah Agung masih diperlukan guna mengisi kekosongan hukum khususnya hukum acara. 7. Meningkatkan mekanisme pertanggung jawaban lembaga pengadilan kepada publik dengan kemudahan akses masyarakat untuk memperoleh putusan pengadilan dan publikasi terhadap setiap pengambilan putusan. 8.

1993.. edisi kedua cetakan kedua. 1957. cetakan kedua. 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman Undang-undang No. Henry P -. 2004. Bambang-. Hukum Positif Indonesia. Transisi Di Bawah Bayang-Bayang Negara Manan.V Mertokusumo.J . Noordhoff . Sudikno dan Pitlo. cetakan pertama. Fungsi Mahkamah Agung Bersifat Pengaturan (Rule Making Power) Tahun 19662003. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung Undang-undang No. Bagir -. Citra Aditya Bakti Mertokusumo. Metode Penemuan Hukum. Pustaka Sinar Harapan Komisi Hukum Nasional -. PT Alumni Panggabean. UH Press Yogyakarta Ketentuan Peraturan Perundang-undangan Undangundang Dasar 1945 dan Perubahannya Kitab Undangundang Hukum Pidana Kitab Undang-undang Hukum Perdata Undang-undang No. Beberapa aspek Sosiologi Hukum. Penemuan Hukum Sebuah Pengantar. 22 tahun 2004 tentang Komisi Yudisial - - 94 Bunga Rampai . 1 tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana Undang-undang No. 2002. 2001.cetakan pertama. cetakan kesatu. Anton . 2006. Henry P-. L. Sudikno -. Fungsi Mahkamah Agung Dalam Praktik Sehari-hari. Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum. Otje dan Susantho.Daftar Pustaka Van Apeldoorn. 2005. FH UH Press Salman. Pengantar Ilmu Hukum. 2002.Kolff N. A . Liberty Yogyakarta Panggabean.cetakan kedua. 8 tahun 2004 tentang Peradilan Umum Undang-undang No. PT. Liberty Yogyakarta Sutiyoso. edisi pertama. 5 tahun 2004 tentang Perubahan terhadap Undang-undang No. 2004. edisi pertama cetakan pertama.

Di dalam era transformasi dan informasi. seperti itu permasalahan-permasalahan di dalam masyarakat menjadi lebih rumit dan kompleks. Peranan hukum * Guru Besar Hukum Pidana Universitas Padjadjaran Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 95 . Perjanjian-perjanjian internasional dan dampak ratifikasi konvensi internasional. lebih mengentalkan kenyataan bahwa hukum nasional suatu negara tidak dapat secara mutlak berdiri sendiri tanpa menghiraukan perkembangan-perkembangan yang terjadi di dunia internasional. Komariah Emong Sapardjaja. Suatu negara bahkan tidak dapat mengisolasi dirinya dari pergaulan internasionnal. terlebih lagi ketika perkembangan teknologi yang semakin canggih. DR.* Latar Belakang Pernyataan-pernyataan bahwa dunia seakan-akan tidak lagi mengenal batas-batas wilayah Negara. khususnya di dalam suatu masyarakat yang sedang membangun.Hakim Agung dan Penemuan Hukum (Rechtsvinding) Pada Era Reformasi dan Transformasi Hukum Prof.H. Arus informasi menyebabkan permasalahan di dalam suatu negara dapat dibaca bagaikan dalam buku terbuka. Perkembangan di dalam masyarakat ini juga mempengaruhi perkembangan hukum di suatu negara. telah menjadi kenyataan. “Apabila kita teliti maka semua masyarakat yang sedang membangun dicirikan oleh perubahan bagaimanapun kita mendefinisikan pembangunan itu dan apapun yang kita pergunakan bagi “masyarakat dalam pembangunan. S.

kloning. Lcmbaga Penelitian Hukum dan Kriminologi Universitas Padjadjaran. 2. hlm.3. dan mungkin banyak lagi masalah-masalah di dalam masyarakat yang perlu mendapat pemecahan hukumnya. Pokok Masalah 1. dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas. mengadili. Bagaimanakah syarat-syarat suatu penemuan hukum (rechtsvinding) dan pembentukan hukum (rechtsschepping)? Sejauh manakah hakim. 4 tahun 2004 Tentang Kckuasaan Kehakiman 96 Bunga Rampai . Bandung.3 (psl.2 Tetapi selalu saja terjadi bahwa ‘undang-undang ketinggalan dari kenyataan-kenyataan masyarakat’ (het recht hink achter de feiten aan‘). 6 UUPK) Disinilah letak peran hakim (Agung) dalam penemuan hukum (rechtsvinding) dan pembentukan hukum (rechtsschepping). kejahatan terhadap kemanusiaan. dalam kebebasannya. melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya”. Beberapa contoh mengemuka yang menjadi pemikiran dari para ahli hukum sekarang.dalam pembangunan adalah menjamin bahwa perubahan itu terjadi dengan cara yang teratur”1 Selanjutnya dikatakan juga oleh Mochtar Kusumaatmadja bahwa: “Ada anggapan yang boleh dikatakan hampir merupakan keyakinan bahwa perubahan yang teratur demikian dapat dibantu oleh perundang-undangan atau keputusan pengadilan atau kombinasi dari kedua-duanya”. kejahatan cyber. melakukan penemuan hukum sehingga tidak melakukan kesewenang-wenangan hukum yang pada akhirnya justru 1 2 3 Mochtar Kusumaatmaja. misalnya. dalam kasus-kasus yang terjadi dalam masyarakat yang sedang bereformasi dan transformasi. Khususnya bagi persoalan-persoalan yang menjadi kasus konkrit yang dihadapkan kepada seorang hakim untuk mendapatkan penyelesaian. 1976. Pembinaan Hukum Dalam Rangka Pembangunan Hukum Nasional. maka seorang hakim “tidak boleh menolak untuk memeriksa. Ibid Lihat pasal 16 Undang-undang Republik Indonesia No. bayi tabung.

Yogyakarta. Pontier mendefinisikan penemuan hukum sebagai ‘sebuah reaksi terhadap situasi-situasi problematikal yang dipaparkan orang dalam peristilahan hukum’. Rechtsvinding. Ibid. J. hlm. hlm. atau ketidakmanfatan? Pembahasan Masalah 1. dan pertanyaan-pertanyaan tentang makna dari fakta-fakta yang terhadapnya hukum harus diterapkan. 2001.6 Asumsi dasar yang melandasi penemuan hukum tersebut adalah berkaitan dengan pengakuan bahwa tidak semua hukum dapat ditemukan dalam undang-undang.16 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 97 . Terkait padanya antara lain diajukan pertanyaan-pertanyaaan tentang penjelasan (tafsiran) dan penerapan aturan-aturan hukum.7 4 5 6 7 J. 1. Arti penemuan hukum dan mengapa (seringkali) diperlukan Rechtsvinding menjadi sangat terkenal terutama setelah perang dunia kedua. Pontier. 37. op cit. Liberty. Ia berkenaan dengan pertanyaan-pertanyaan hukum.A.A.5 J. konflik-konflik hukum atau sengketa-sengketa yuridis. 95 Sudikno Mertokusumo.4 Sudikno Mertokusumo mengatakan “Apa yang dimaksud dengan penemuan hukum lazimnya adalah proses pembentukan hukum oleh hakim.Pontier.menimbulkan ketidakadilan. Penemuan hukum. atau aparat hukum lainnya yang ditugaskan untuk penerapan peraturan hukum umum pada peristiwa hukum konkrit”. yang lebih atau kurang. pandangan tentang penemuan hukum yang dikemukakan oleh Paul Scholten memperoleh banyak pengikut. hlm. hlm.Arief Sidharta. secara cermat dan teliti mengemukakan bagaimana terhadap situasi-situasi problematik tertentu seyogyanya harus diberikan reaksi. diterjemahkan oleh B. Bandung.A. ketidakpastian. 2001. Labotatorium Hukum Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan. Penemuan Hukum. berkenaan dengan hal menemukan penyelesaian dan jawaban berdasarkan kaidah-kaidah hukum. Penemuan hukum diarahkan pada pemberian jawaban terhadap pertanyaanpertanyaan tentang hukum dan hal pencarian penye1esaianpenyelesaian terhadap sengketa-sengketa konkrit.

[Pembuat undang-undang melahirkan kehendaknya dengan kata-kata. hlm. de dode teksten. De delictsomscrijvingen vormen ten opzichte van de gedragsnormen veeler deelstukken van het geheel. Kehidupan sosial yang mereaksi kata-kata ini. geeft er aan hun zin. Het strafrecht handhaaft de materiele norm jragmentarisch” [Norma-norma perilaku yang tersirat dalam perumusan delik bukan pencerminan yang mencakup seluruh noma-norma materiel. [. 16 Ibid. hlm. tot leven. dan karena itu selalu menyelenggarakan keadilan. hlm. Het maatschappelijk leven. Slechts die woorden hebben aanspraak op absoluut gezag.Bregstein.. Perumusan delik lebih banyak membentuk bagian-bagian daripada merumuskan keseluruhan norma perilaku.Hal tersebut telah mengemuka sejak lama. hakim harus melengkapi undang-undang yang dirumuskan secara abstrak dengan ketentuan-ketentuan dari moral rakyat.H. 8 9 10 M. membuat kata-kata ini. memberikan pada kata-kata itu arti]. welke de wet in vereneging met de volksmoraal aan de Justitiabelen waarborgt”. Dalam hukum pidana yang sangat legistis karena secara fundamental didasarkan pada prinsip legalitas. Ibid. Hanya katakata itulah yang berhak atas wibawa yang mutlak. dalam Komariah Emong Sapardjaja. tanda-tanda mati itu menjadi hidup. 17. Bandung.. Ajaran Sifat Melawan Hukum Materiel dalam Hukum Pidana Indonesia. Hukum pidana mempertahankan norma-norma secara fragmentaris]. di mana sangat ditentukan oleh unsur-unsur yang terdapat di dalam perumusan deliknya. Alumni. dat op deze woorden reageert. Schaffmeister10 menyatakan: “De in delictsomschrijvingen geimpliceerde gedragsnormen zijn geen omvattende weersplegelingen van de gehele materiele norm. seperti dikatakan oleh Bregstein8 yang berpendapat: “In woorden belichaamt de wetgever zijn will. yang adanya dijamin oleh undang-undang bersama dengan moral rakyat untuk melindungi para pencari keadilan. 22 98 Bunga Rampai . dan apabila dilanjutkan dengan kata-kata dan Suijling:9 “… behoort hij de abstract geredigeerde wet met de prescripten der volksmoraal aan te vullen en dus altijd de gerechtigheid te oefenen. brengt deze woorden.

Hij is dus niet ‘la bouche de la loi’. di dalam situasi masyarakat dengan tingkat perkembangan di segala bidangnya sangat tinggi dan kompleks. Teknik/metode penemuan hukum dan kebebasan hakim Penemuan hukum dapat dilakukan melalui beberapa cara/teknik/metode. Oleh karena itu Bregstein11 pernah mengatakan: “Tegenover de worden der wet komt hem echter een vrijheid toe. (penulis tidak akan menguraikan secara mendalam tentang metode interpretasi karena dalam pelajaran tentang Pengantar Ilmu Hukum telah diperkenalkan metode penafsiran berupa penafsiran gramatikal. penerapan atau penafsiran undang-undang secara rasional ii. sejarah undang-undang. metode interpretasi. hlm. antara lain: a. Jadi dia bukanlah ‘mulut undang-undang’ tetapi ‘mulut jiwa undang-undang’]. penalaran hukum d. tenzij men daaronder verstaat ‘la bouche de l’esprit de la loi’ [Terhadap kata-kata undang-undang penerap undang-undang memiliki suatu kebebasan yang luas. penimbangan kepentingan e.cit. antisipatif.Dengan demikian. evolutif dinamikal) b. seringkali undang-undang tidak dapat lagi mengantisipasi perkembangan itu. penghalusan hukum. interpretasi restriktif dan interpretasi ekstensif c. op. sistematis. penemuan hukum dapat dilakukan melalui metode. tetapi disinilah letak peranan hakim selaku penjaga hukum dan keadilan memainkan peranannya. Menurut Pontier12. teleologis. Motivering vonnis Walaupun demikian hakim tidaklah sebebas-bebasnya dapat menggunakan seluruh metode penemuan hukum 11 12 Ibid. teknik penemuan hukum lain berupa: i. sejarah hukum. 34 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 99 . hlm. 16 Pontier. 2.

terjemahan oleh Tristam Moeliono dan DR. Jakarta. Demikian juga dalam kasus BNI 46 New York.van der Veen.Marjanne Termorshuizen. yang biasanya diperoleh dari fakta yang terungkap di muka persidangan. sedangkan dalam perkara tata usaha negara dapat dilihat dari permohonan pemohon). Selain itu harus diperhatikan pula fakta konkrit yang diperoleh dari dasar penyelidikannya. Barulah apabila undang-undang yang menjadi dasar kasus tersebut tidak jelas. Penemuan hukum dengan menggunakan metode seperti itu ditemukan dalam kasus Mochtar Pakpahan. dalam Jan Remmelink. padahal tujuan akhir dari setiap aturan hukum pidana adalah perlindungan tertib hukum. 47 Ibid.J. Hukum Pidana.M. 13 14 J. Dengan menggunakan penafsiran sosiologis dan teleologis. apabila melihat kepada kecanggihan alat-alat yang digunakannya. Pertama-tama hendaknya digunakan penafsiran gramatikal. di mana dijelaskan bahwa hatzaai artikelen yang menjadi dasar dakwaan sudah tidak sesuai lagi dengan semangat reformasi. hakim dapat melakukan penafsiran. Gramedia. barulah hakim dapat menemukan hukum yang harus dikemukakan dalam putusan yang definitif. Pertama hendaknya diperhatikan landasan/ norma hukum yang menjadi dasar kasus tersebut (dalam perkara perdata biasanya dapat dilihat dari dasar-dasar gugatan yang diajukan oleh pihak penggugat sedangkan dalam perkara pidana dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum. hlm. Di bidang hukum pidana. van der Veen.M. dan dilanjutkan dengan penelusuran sejarah perundang-undangan untuk mengetahui maksud dari pembuat undang-undang tentang diterbitkannya undang-undang tersebut. telah memperingatkan bahaya penggunaan logika secara berlebihIebihan dalam upaya menerangkan undang-undang. hIm. 54 100 Bunga Rampai . 2003.J. J.tersebut untuk menyelesaikan kasus konkrit yang dihadapkan kepadanya. pasal 362 KUHP tidak mungkin dapat diterapkan.13 Juga Jescheck14 mengingatkan bahwa penafsiran bisa jadi akan sangat melebar. Khususnya penemuan hukum yang hanya didasarkan pada nalar hakim saja dapat menimbulkan kesewenangwenangan terhadap undang-undang itu sendiri.

Putusan tentang kesalahan seseorang didasarkan pada keyakinan hakim dengan alat pembuktian yang sah menurut Undang-undang . bahwa hakim adalah pejabat yang melakukan kekuasaan kehakiman yang diatur dalam Undang-undang (pasal 31).pasal 4 ayat (3). dan biaya ringan . 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. telah ditetapkan dalam undang-undang tersebut. Dilaksanakan sesuai dengan prinsip ne bis in idem – pasal 6 ayat (1). 7. 3.3.pasal 8. Prinsip legalitas .pasal 4 ayat (2). profesional. 8. cepat. dengan syarat-syarat bahwa seorang hakim harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela. non. Prinsip presumption of innocence . menetapkankan bahwa: Kekuasaan Mahkamah Agung sebagaimana ditetapkan dalam Undang-undang tersebut adalah: Pasal 28: “Mahkamah Agung bertugas dan berwenang memeriksa Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 101 .pasal 7.pasal 6 ayat (2). Dilakukan “Demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” .pasal 4 ayat (1). adil. 9. 10. dan berpengalaman di bidang hukum (pasal 32). Prinsip-prinsip penyelenggaraan peradilan dan Kedudukan serta Peranan Hakim Agung Prinsip penyelenggaraan peradilan telah ditetapkan dalam Undang-undang Republik Indonesia No. Prinsip-prinsip tersebut adalah: 1. 4. 2. Jujur.diskriminasi dan imparsial .pasal 5 ayat (1). 5. Independent . dan wajib menjaga kemandirian peradilan (pasal 33) Khusus berkenaan dengan Mahkamah Agung. Terbuka untuk umum .pasal 20 Demikian pula dengan kedudukan hakim. 5 tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-undang No.pasal 9. 6. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. Hak untuk memperoleh ganti rugi dan rehabilitasi . Dilakukan dengan sederhana.

lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan. seperti dimuat dalam pasal 2: “Mahkamah Agung adalah Pengadilan Negara Tertinggi dari semua Lingkungan Peradilan. menguji peraturan perundang-undangan di bawah Undang-Undang terhadap Undang-undang . karena: a. Terlebih-lebih apabila dikaitkan dengan Kedudukan Mahkamah Agung. b. memberikan pertimbangan hukum kepada Presiden dalam permohonan grasi dan rehabilitasi” Pasal 37: “ .. memutus: permohonan kasasi.. Hal tersebut mengisyaratkan pula bahwa putusan Mahkamah Agung adalah putusan yang memberikan penyelesaian definitif sesuai dengan asas lites finiri oportet.. sekaligus pedoman perilaku bagi mereka. Pasal 30: (1) Mahkamah Agung dalam tingkat kasasi membatalkan putusan atau penetapan pengadilan-pengadilan dari semua lingkungan peradilan. salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku. b. yang berarti tidak membiarkan sengketa hukum berlarut- 102 Bunga Rampai . Pasal 31: (1) ..dan a.. c. permohonan peninjauan kembali putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. maka peraturan perundang-undangan yang disebutkan di atas memberikan tugas-tugas mulia yang diembankan kepadanya. Pasal 35: “ .. tidak berwenang atau melampaui batas wewenang. yang dalam melaksanakan tugasnya terlepas dari pengaruh pemerintah dan pengaruhpengaruh lain”. c. sengketa tentang kewenangan mengadili. dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan dalam bidang hukum baik diminta maupun tidak kepada Lembaga Tinggi Negara yang lain” Melihat kepada peraturan perundang-undangan yang memberikan kedudukan istimewa kepada seorang Hakim Agung.

4. Oemar Seno Adji. Prof. antara lain: 1. sekalipun harus menemukan hukum. him. Dikukuhkannya janda sebagai ahli waris. Bebas berarti tidak ada campur tangan dari kekuasaan eksekutif dan legislati dalam menjalankan fungsi yudiciair. Putusan Mahkamah Agung RI No.larut tanpa akhir. Pcnerbit Erlangga. yang memberi arti terhadap kata “perbuatan tidak 4. tidak diperbolehkan . 275K/Pid/1982. Dalam bidang hukum perdata. (alm. mantan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia. tetapi menyatakannya sebagai perwujudan kebebasan pers.)15 pernah mengatakan: “Suatu pengadilan yang bebas dan tidak dipengaruhi merupakan syarat yang ‘indipensable’ bagi negara hukum. dan menjadikannya suatu pembentukan hukum baru melalui yurisprudensi yang terkenal. Peradilan Bebas Negara Hukum..Cctakan Kedua. Francis Bacon pemah menyatakan: ”there is no worse torture than the torture of laws” Penemuan hukum dan pembentukan hukum Indonesia yang mengemuka. Ia tidak berarti bahwa ia berhak untuk bertindak sewenang-wenang dalam menjalankan tugasnya. ia ‘sub-ordinated’. 3. 46 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 103 . Dalam bidang hukum pidana. Beberapa penemuan hukum yang pernah ada. Jakarta.H. 1985. Dengan demikian Hakim Agung dalam menjalankan tugasnya telah memberikan kepastian hukum dari kasus tersebut. terikat pada hukum”. Mahkamah Agung menolak gugatan Presiden Suharto atas pencemaran nama baik yang dilakukan oleh New York Times dengan pemuatan gambar presiden sebagai joker dalam kartu ‘remi’. Oleh karena itu. Kesewenang-wenangan seorang Hakim Agung. S. Diperkenankannya seorang wanita yang belum menikah mengangkat anak melalui adopsi. antara lain: a. antara lain: 1. Anak angkat yang memperoleh bagian waris yang sama dengan anak kandung. 2. b. 15 Oemar Seno Adji.

Penemuan hukum pada dasarnya merupakan kegiatan sehari-hari para yuris. bahkan ilmuwan hukum. penemuan hukum oleh hakim harus selalu dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip penyelenggaraan peradiBunga Rampai 2. 104 . yang bersifat teoritis terhadap suatu masalah hukum tertentu serta tidak terikat dalam batas-batas waktu. patut dan terce1a dari suatu tindak pidana korupsi”. Penemuan hukum adalah sebuah aspek penting dari ilmu hukum (teori hukum) dan praktek hukum.2. Dalam kasus “Mochtar Pakpahan” hakim menyatakan bahwa demonstrasi (waktu itu sedang terjadi era reformasi) bukanlah sebagai pemyataan permusuhan terhadap negara sebagaimana terdapat dalam unsur pasal 154 KUHP yang terkenal dengan haatzaai artikelen. Agar tidak menjadi suatu kesewenang-wenangan hukum dan tertibnya pembentukan hukum yang dciptakan karena penemuan hukum. hakim memberikan penafsiran luas terhadap unsur “mengambil” dalam tindak pidana pencurian. dan terjadi pada semua bidang hukum baik oleh hakim. dan “Adam Damiri di Pengadilan HAM” hakim menerima teleconference sebagai cara yang sah dari kehadiran saksi. sehingga penggunaan alat komputer (dengan menekan satu panel/tombol pada key board komputer) disamakan dengan lichamelijk gedraging. Dalam kasus pembobolan dana Bank BNI New York. 4. dalam praktek hukum hakim harus memberikannya di dalam putusannya dalam jangka waktu yang masuk akal. Tetapi berbeda dengan penemuan hukum oleh para ilmuwan hukum sebagai hasil dari penelitiannya. 40/1998 tentang Pers adalah lex speciali dan karenanya dalam kasus tersebut tidak dapat digunakan pasal 310 KUHP tentang penghinaan. Dalam kasus “Bambang Harymurti Tempo” Mahkamah Agung menyatakan bahwa UU No. Simpulan 1. pembentuk undang-undang. 3. 5. dalam kebebasannya. Dalam kasus “Rahardi Ramelan”.

kaidah hukum yang menjadi dasar kasus konkrit yang dihadapkan kepadanya.lan yang baik. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 105 . serta mengabstrasikannya. dasar-dasar/norma. tetap memperhatikan fakta hukumnya. mengharmonisasikan antara fakta dan kaidah hukum tersebut dengan menggunakan metode yang diperkenankan.

Rechtsvinding. Penemuan Hukum. Panel Diskusi V yang diselenggarakan oleh MAHINDO di Jakarta -bulan Maret 1972. Jan. Bandung. 2003 Sudikno Mertokusumo. Remmelink. dan Widati Wulandari.Arief Sidharta. Marjanne . cetakan kedua. J. Binacipta. 2001 - - - 106 Bunga Rampai . Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Yogyakarta. Bandung. diterjemahkan oleh B. Penemuan Hukum. Komentar atas Pasal-pasal Terpenting dari Kitab Undang-undang Pidana Belanda dan Padanannya dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia.Termorshuizen. Studi Kasus tentang Penerapan dan Perkembangannya dalam Yurisprudensi. Jakarta..Daftar Pustaka Komariah Emong Sapardjaja. Penerbit Erlangga. diterjemahkan oleh Tristam P.Moeliono. 1985. Universitas Parahyangan. Pembinaan Hukum Dalam Rangka Pembangunan Nasional. Hukum Pidana. Ajaran Sifat Melawan Hukum Dalam Hukum Pidana Indonesia. Pontier. Bandung. 1972 Oemar Seno Adji. Peradilan Bebas Negara Hukum. eetakan kedua.A. tanpa tahun. 2002 Moehtar Kusumaatmadja. Liberty. Alumni.

Pada sisi lain. Ali Zaidan. S. Tugas-tugas penyidikan dan penuntutan bermuara pada pengadilan. kejaksaan (yang melaksanakan tugas penuntutan dan eksekusi putusan pengadilan) dan Pengadilan (yang mengadili) sehingga membentuk jaringan kerja terpadu yang dikenal dengan integreted criminal justice system. Dalam hal ini muncullah pandangan bahwa pengadilan sebagai benteng terakhir pencari keadilan. institusi pengadilan melakukan pengawasan (kontrol) terhadap pelaksanaan tugas dan wewenang instansi sebelumnya seperti penyidikan dan penuntutan. 1981 halaman 120 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 107 . Pengadilanlah yang mengkonkritkan hukum. Penerbit Alumni Bandung. Dalam pandangan ini. Semua sub-sistem diarahkan kepada tujuan untuk menegakkan tata hukum pidana. Putusan pengadilan merupakan produk badan peradilan yang dimulai dari input 1 2 Anggota Komisi Kejaksaan Republik Indonesia Soedarto. pengadilan merupakan institusi penting dalam mengkonkritkan hukum melalui putusan-putusan yang ditetapkannya.2 Menurut pandangan ini. Kapita Selekta Hukum Pidana. Sistem Peradilan Pidana (SPP) terdiri atas sub-sistem yang saling berhubungan antar sub-sistem kepolisian (yang melaksanakan tugas-tugas penyidikan). 1 SPP – Bejana Berhubungan Secara dogmatik..Kontribusi Lembaga Kejaksaan Dalam Mempercepat Reformasi Peradilan M.H. MH. penyelenggaraan tata hukum pidana berpusat dan berpuncak pada pengadilan.

(yakni kasus hukum). Putusan pengadilan merupakan hasil akhir (product) proses hukum sebelumnya. sub-sub sistem peradilan itu akan menentukan sendiri hukum dalam bidang dan tugasnya masing-masing dalam mengejar tujuannya. sub-sub sistem peradilan pidana itu sendiri merupakan sub-sistem yang diikat oleh ketentuan perundang-undangannya masingmasing. Sebaliknya. penuntutan dan pengadilan) dan berakhir pada out put yakni putusan pengadilan. Tanpa keterpaduan dalam sistem akan diperoleh kesulitan dalam mengukur tingkat keberhasilan maupun kegagalan sistem sebelumnya. Kumpulan Karangan buku Ketiga. menurut pandangan sosiologis.4 Konsekuensi pernyataan di atas bahwa rumusan-rumusan abstrak dalam undang-undang hanya dipakai seb- 3 4 B. Oleh karena itu. Penegakan hukum tidak lagi dilihat sebagai penegakan undang-undang an-sich. Akibat pengaturan demikian. Sistem Peradilan Pidana hendaklah dipandang sebagai bagian dari sistem yang lebih besar yakni Sistem Sosial yang lebih rumit dan canggih. Akan tetapi sebagai proses sosial yang melibatkan lingkungannya. Suatu Tinjauan Sosiologis. Kegagalan suatu sub-sistem akan mempengaruhi subsistem lainnya.3 Hubungan antar sub-sistem peradilan tersebut membentuk suatu jaringan laksana bejana berhubungan. Mardjono Reksodiputro. Hak Asasi Manusia dalam Sistem Peradilan Pidana. Oleh karena itu kegiatan penegakan hukum tidak dapat hanya dilihat sebagaimana tertera dalam perundangundangan. processing (penyidikan. penegakan hukum hendaklah dipahami sebagai kegiatan yang dilakukan oleh institusi hukum dalam keseluruhan kerangka sosial yang lebih besar. antar subsistem peradilan terdapat hubungan saling berhubungan. Jakarta. akan tetapi hendaklah dilihat dari persepektif yang lebih luas. Masalah Penegakan Hukum. Jakarta. Keterpaduan antar sub-sistem menjadi jaminan bahwa produk yang dihasilkan akan dijamin obyektifitasnya. tanpa tahun. Pusat Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum (d/h Lembaga Kriminologi) Universitas Indonesia. Penerbit Badan Pembinaan Hukum Nasional. hasil yang diperoleh tidak akan selalu selaras dengan tujuan sistem secara keseluruhan. Konsekuensinya. 1994 halaman 85 Satjipto Rahardjo. halaman 15 108 Bunga Rampai .

Keterpaduan sistem itu sendiri akan tercipta manakala semua pihak yang menjadi bagian dari sistem itu bekerja untuk mencapai tujuan tertentu dalam kenyataan. digambarkan oleh La Patra sebagai berikut:7 Level 1: Masyarakat (society) Level 2: ekonomi. substansial maupun kultural. pendidikan dan politik Level 3: sub-sistem Peradilan Pidana.agai petunjuk saja. An Introduction to the Criminal Justice System and Process. 1978. 5 6 7 Alan Coffey et al. Tanpa memperhatikan interrelationship antara sub-sistem di atas.6 Pemahaman terhadap ketiga sinkronisasi ini penting. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. tidak mungkin Sistem Peradilan Pidana tidak terpengaruh atau kedap terhadap pengaruh sub-sistem sosial di luarnya. tingkah laku yang menjadi latar belakang penegakan hukum dan sejenisnya. Semarang. kepengacaraan dan dengan hukum itu sendiri. Englewood Cliffs. Dengan demikian. Bahkan pengaruh luar itu sendiri akan menjadikan Sistem Peradilan Pidana menjadi unik. antara kejaksaan dengan pengadilan. teknologi. disebabkan karena apa yang dikatakan sistem Peradilan Pidana pada hakikatnya merupakan sistem yang terbuka (open system).5 Dengan demikian menurut pandangan ini terlihat bahwa adanya undang-undang tidak menjadi jaminan bahwa sistem itu akan berjalan dengan baik. Terlalu banyak faktor yang tidak terungkap jika hanya membaca peraturan hukum tertulis semata. Keterpaduan atau sinkronisasi itu sendiri meliputi sinkronisasi struktural. 1974 halaman 5 Muladi. Begitu juga hendaknya dilihat kenyataan faktual hubungan interdependensi antara kepolisian dengan kejaksaan. Adanya independensi antara sistem peradilan pidana dengan sistem sosial. New Jersey. dengan lembaga pemasyarakatan. halaman 86 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 109 . hal ini ditimbulkan karena besarnya pengaruh lingkungan sosial terhadap pencapaian tujuan Sistem Peradilan Pidana tersebut. yang ingin diketahui lebih jauh adalah bagaimana hukum itu dijalankan. Lexington Books. Analizing the Criminal Justice System. Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana. Prentice Hall Inc. 1995 halaman 1 La Patra. akan mengakibatkan kerawanan yang mengarah kepada fragmentasi dan ketidakefektifan sistem peradilan pidana itu sendiri.

akan tetapi dilihat sebagai kegiatan untuk mewujudkan keinginan-keinginan hukum menjadi kenyataan. 1985 halaman 26 9 op cit halaman 113 10 Satjipto Rahardjo. lihat buku Beberapa Pemikiran tentang Ancangan antardisiplin dalam Pembinaan Hukum Nasional. Penerbit CV Sinar Baru.8 Dengan tepat Soedarto mengemukakan bahwa membicarakan masalah penegakan hukum di sini tidak membicarakan bagaimana hukumnya. Nilai-nilai dasar ini merupakan fundamental hukum yang esensiil. kepastian hukum dan kemanfaatan. Politics and the Administration of Justice.10 Mewujudkan keinginan-keinginan hukum dalam kenyataan dapat diartikan sebagai usaha untuk mewujudkan nilai-nilai dasar di dalam hukum seperti keadilan. Di lain pihak. op cit halaman 14 8 110 Bunga Rampai . Sage Publications. ekonomi dan budaya tidak dapat diabaikannya ketika proses penegakan hukum itu dijalankan. maupun yang harus menerima pembatasan-pembatasan dalam bekerjanya disebabkan oleh faktor lingkungan. khususnya dalam hubungan dengan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan untuk dikejar oleh masyarakat. Dalam perspektif ini. Cole. London halaman 20. dalam pengertian bahwa penegakan hukum sebagai kegiatan yang menarik lingkungan ke dalam proses tersebut. Kita tidak dapat berbicara penegakan hukum apabila keadilan tiGeorge F.Suatu contoh pengaruh sub-sistem politik terhadap bekerjanya Sistem Peradilan Pidana. dengan penerimaan oleh pengadilan. dapat diasumsikan bahwa proses peradilan merupakan suatu sub-sistem dari sistem politik yang lebih luas.9 Faktor-faktor eksternal seperti politik.pengadilan menerima masukan dari sektor politik ini dalam bentuk petunjuk tentang apa dan bagaimana ia harus menjalankan fungsinya. dalam hal mana konflik diselesaikan. penegakan hukum hendaklah dilihat sebagai suatu proses sosial yang melibatkan lingkungannya. Bandung. maka keputusan-keputusan politik itupun menjadi sah atau memperoleh legitimasinya. Penegakan hukum tidak lagi didefinisikan sebagai penegakan undang-undang belaka. melainkan apa yang dilakukan oleh aparatur penegak hukum dalam menghadapi masalah-masalah dalam penegakan hukum. Sejalan dengan pernyataan ini dikemukakan oleh Satjipto Rahardjo bahwa subsistem politik menggarap masalah penentuan tujuantujuan yang harus dicapai oleh masyarakat serta bagaimana mengorganisasikan dan memobilisasikan sumber daya-sumber daya yang ada untuk mencapainya keputusan-keputusan politik sering dimasukkan atau dirumuskan ke dalam hukum positif. Pertimbangan-pertimbangan politik merupakan faktor dalam pengambilan keputusannya. Beverly Hill.

Diantaranya SPP menimbulkan penderitaan. hlm 8 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 111 . Kepastian hukum --. Louk Hulsman. sebaliknya untuk mewujudkan keadilan terkadang kepastian hukum diabaikan. The Criminal Justice System as a social problem : an abolitionist persepective. Sistem Peradilan Pidana hendaklah dilihat dalam bingkai yang lebih luas sebagaimana disebutkan di atas. akan tetapi dalam waktu tertentu nilai kepastian dapat dikorbankan demi mencapai tujuan keadilan. apabila demi menjaga suatu kepastian hukum. nilai kepastian hukum itu sendiri mengandung masalah yang substansial. Pernyataan ini tentu akan mendapat sanggahan dari mereka yang berpendirian normatif. tidak dapat bekerja menurut tujuan yang dicita-citakannya dan SPP memiliki cacat yang 11 L. nilai keadilan harus dikorbankan. Sebagai suatu sistem sosial yang lebih besar. Makna menanggulangi di sini diartikan sebagai usaha untuk mengendalikan kejahatan agar berada dalam batas-batas toleransi masyarakat. Undang-undang dibuat untuk menjaga nilai-nilai keadilan dan kemanfaatan.A. bahkan dalam batas tertentu nilai-nilai dasar tersebut hendaklah dilihat sebagai nilai antinomik. Kita tidak dapat berbicara penegakan hukum tanpa melibatkan sub-sub SPP secara keseluruhan. SPP terkadang menimbulkan faktor kriminogen. Dengan demikian nilai daya guna hendaknya menjadi perhatian dalam setiap upaya law enforcement.dak terwujud. SPP itu sendiri diartikan sebagai sistem dalam suatu masyarakat untuk menanggulangi masalah kejahatan. John R Blad (ed) Erasmus Universiteit Rotterdam. Part One.yang menjadi tujuan dibuatnya undang-undang. Sungguh suatu ironi. Demi sebuah kepastian hukum terkadang keadilan dikorbankan.tidak dapat dipandang sebagai kepastian yang hakiki. bahwa keadilan dan kemanfaatan itu harus dicapai melalui kepastian hukum. Pendekatan sistemik harus menjadi acuan bekerjanya sistem itu dalam rangka penanggulangan kejahatan. Padahal dalam bingkai sosiologis. Hukum dengan berbagai pranatanya dibuat untuk memaslahatkan umat manusia dan perlindungan terhadap hak-hak fundamental manusia pula. akan tetapi tidak lain dari kepastian akan peraturan belaka. begitu juga nilai kemanfaatan.

akan tetapi dilakukan melalui sistem birokrasi yang rumit dan canggih. Law enforcement yang dilakukan melalui SPP melibatkan sistem birokrasi yang rumit dan canggih.mendasar. kelambanan menjadi faktor yang mempengaruhi penegakan hukum itu sendiri. kekakuan. Tugas SPP adalah meramu atau melakukan sintesis antara kedua nilai yang antinomi tersebut. konsep. Sebuah pekerjaan besar yang membutuhkan dedikasi dan determinasi. hal ini disebabkan karena usaha pemberian keadilan kepada warga tidak dapat dilakukan oleh warga masyarakat dengan cara-caranya sendiri. Akan tetapi tindakan untuk merealisasikan nilai-nilai yang terkandung atau yang berada di belakang norma hukum yang hendak ditegakkan itu. Oleh karena itu pekerjaan penegakan hukum yang dilakukan melalui SPP bukanlah pekerjaan subsumptie otomat alias teknologi pencet tombol. kepentingan pribadi dengan kepentingan umum dan sebagainya.11 Faktor kriminogen ini hendaknya menjadi perhatian semua pihak yang terlibat dalam sub-SPP kita apabila tujuan akhir penegakan hukum (pidana) adalah untuk mewujudkan kesejahteraan sosial (social welfare). Birokrasi lebih berpegang kepada normanorma yang bersifat formal sehingga terkadang terbelenggu oleh prosedur. Diantara karakteristik birokrasi (peradilan) misalnya sifat yang non personal. tidak tanggap dan tidak cepat. Keadilan birokratik ini terkadang terlalu prosedural sehingga dalam hal-hal tertentu tidak sejalan dengan keadilan substantif. Pada sisi yang lain terdapat ungkapan “tegakkan hukum dengan cara-cara menurut hukum” terkadang dalam hal-hal tertentu justru membawa dampak yang tidak produktif. doktrin adagium dan sejenisnya. Dengan tepat Roeslan Saleh mengemukakan bahwa pekerjaan mengadili (dalam perkara pidana) merupakan pekerjaan pergulatan 112 Bunga Rampai . Nilainilai yang menjadi dasar masing-masing pihak terkadang merupakan nilai-nilai antinomik. Pembicaraan tentang hal ini akan membawa kepada wacana keadilan yang birokratik. seperti nilai keadilan dan kepastian hukum. sehingga terkadang kepentingan justisiabelen diabaikan. Misalnya kelambanan dalam salah satu sub-sistem peradilan disebabkan beban kerja yang berat dan sumberdaya yang terbatas merupakan penyebab pelayanan kepada pencari keadilan menjadi tidak optimal.

Laksana bejana berhubungan. akan tetapi merupakan lembaga sosial yang bermakna. di dalam tarik menarik berbagai faktor internal maupun eksternal itulah hakim harus memberikan putusan yang seadil-adilnya. Kesadaran seperti inilah hendaknya menjadi semangat aparatur yang mengemban tugas penegakan hukum dalam tiap sub Sistem Peradilan Pidana kita. Mereka tidak bekerja dalam ruangan yang hampa. Di samping itu dapat digunakan untuk meminimalisasi berbagai conflict of interest yang mungkin timbul yang disebabkan oleh egoisme sektoral yang berlebihan. keterpaduan tersebut tidak hanya meliputi hubungan antar sub-sistem dalam SPP tersebut secara tertutup. akan tetapi membentuk hubungan yang dinamis dengan sistem sosial yang lebih besar yang berada di luarnya. Aparat penyidik. Forum yang demikian itu untuk melakukan koreksi dan pengayaan terhadap segala sesuatu yang telah dan akan dilaksanakan ke depan.kemanusiaan. populis dan holistik. penuntut umum maupun hakim bekerja dalam suatu keterpaduan yang harmonis. Meskipun unsur keyakinan hakim menjadi faktor yang determinan dalam pembuatan putusan akan tetapi ketentuan hukum acara dan hal hal lain yang relevan hendaklah pula diindahkan. Semua faktor internal (pribadi hakim) dan faktor eksternal (yang diadili) berbaur menjadi satu. integritas dan komitmen untuk menegakkan hukum seadil-adilnya. Dalam hal ini gagasan untuk tetap menghidupkan forum-forum seperti Makehjapol di tingkat pusat maupun Diljapol di tingkat daerah perlu didukung secara proporsional. Pertemuan dalam forum tersebut dilandasi oleh semangat profesionalisme. Pembagian tradisionil dalam sistem ketatanegaraan legislatif. perlindungan hak-hak warganegara dan kerjasama yang produktif. Diharapkan dengan cara demikian SPP tidak menjadi lembaga yang terasing dalam lingkungan sosialnya. eksekutif dan yudiKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 113 . Kejaksaan – Kekuasaan Eksekutif Penegasan bahwa Kejaksaan Republik Indonesia merupakan bagian eksekutif power di negeri ini tidak perlu diragukan lagi. Hal ini disebabkan karena kekuasaan untuk menuntut dan mengeksekusi putusan pengadilan merupakan wewenang absolut kejaksaan.

Kebijakan demikian membawa kesan bahwa kejaksaan melakukan tebang pilih dalam melakukan tuntutan dalam kasus-kasus tertentu. Sehingga kesan ketidakmandirian 12 13 Pengaturan ini dapat dilihat dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia. Untuk hal itu. melainkan lebih karena terjadinya pemasungan kewenangan”. dapat menempatkan kejaksaan dalam posisi yang dilematik dan vulnerable. Ketika itu kesan tebang pilih yang muncul di masyarakat tidak dapat dihindarkan. Pengaturan seperti ini terkadang menimbulkan indikasi ketidakmandirian kejaksaan di tengah-tengah arus pusaran kepentingan eksekutif. Dalam dilematik itu kejaksaan harus menentukan sikapnya. Kejaksaan RI. Hal ini disebabkan karena selama kejaksaan berada di bawah bayang-bayang pemerintah. Penerbit PT Gramedia. Posisi dan Fungsinya dari Perspektif Hukum. Dalam penanganan kasus korupsi maupun illegal logging misalnya.12 Meskipun dapat dipahami bahwa kedudukan institusi dalam posisi yang demikian itu. Lihat Marwan Effendi. Jakarta. Sebagai bagian dari kekuasaan eksekutif kejaksaan harus mampu mengambil sikap dalam posisi yang sulit sekalipun. yang menjadi sorotan negatif akhir-akhir ini. munculnya lembaga-lembaga lain dengan kewenangan yang berpotensi mereduksi tugas dan wewenang kejaksaan.13 Landasan perundang-undangan dalam tataran konsepsional tadi. menjadi realitas dalam tataran aplikasinya di lapangan. Dengan demikian terjadi hubungan interdependensi antara kebijakan pemerintah dengan tugas-tugas kejaksaan. begitu pula dalam undang-undang kejaksaan sebelumnya. 2005 halaman 50 114 Bunga Rampai . “Secara jujur harus dikatakan bahwa kebijakan yang berkaitan dengan penegakan hukum. Ketidakmandirian kejaksaan dalam melaksanakan tugas penuntutan lebih disebabkan karena faktor perundang-undangan yang dijadikan landasannya. selama itu pula obyektifitas kejaksaan terus menerus dipertanyakan. bukan semata-mata karena perilaku aparatur kejaksaan. wacana agar Kejaksaan dilepaskan dari kekuasaan pemerintahan sepatutnya diperhatikan. Di lain pihak. merupakan faktor yang menyebabkan tidak optimalnya pelaksanaan tugas dan wewenang kejaksaan dalam rangka penegakan hukum. di mana melibatkan orang-orang yang mempunyai kuasa politik atau ekonomi terkadang menjadikan kejaksaan sebagai sasaran kritik.katif telah menempatkan kejaksaan dalam hal ini sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan.

Semuanya tergantung kepada niat. Bahkan Lopa berhasil membebaskan kejaksaan dari belenggu formalisme ketika ia mengatakan bahwa “untuk menyeret seorang tersangka korupsi. cukup dengan beberapa lembar kertas saya sudah dapat menjadikan seseorang sebagai terdakwa. Selama ini kesan bahwa kejaksaan dapat diintervensi oleh kekuasaan atau partai politik sulit dihindarkan. Pada pihak lain pengaruh sosial politik hendaknya memberikan ruang gerak yang luas kepada kejaksaan untuk melaksanakan tugas dan wewenangnya secara mandiri. jaminan undang-undang yang memberi kemandirian jaksa dalam melaksanakan tugasnya di lapangan tidak berarti banyak jika tidak diikuti dengan semangat mengabdikan segenap jiwa raganya untuk kepentingan tugas penegakan hukum yang diembannya. Institusi ini pernah dipimpin oleh Jaksa Agung Soeprapto yang menunjukkan kemandirian dan keberaniannya menegakkan hukum. Oleh karena itu pengangkatan jabatan strategis di lingkungan kejaksaan – bahkan Jaksa Agung – haruslah bersandarkan kepada merit system. tentu bukanlah alasan pembenar bagi pemerintah untuk mengintervensi pengisian jabatan-jabatan strategis di tubuh kejaksaan. tidak perlu setumpuk bukti yang saya butuhkan.tidak dapat dielakkan. Oleh sebab itu terwujudnya due process of law sulit direalisasikan. Sebagai lembaga yang mengemban tugas penegakan hukum. Begitu juga dengan Alm Baharuddin Lopa yang dengan keberaniannya menyeret pelanggar hukum ke pengadilan dan mengeksekusi terpidana secara cepat. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 115 . karena apabila campur tangan itu dilakukan berarti menjadikan lembaga ini berada di bawah bayang-bayang pemerintah. Meskipun bukan alasan untuk menjustifikasi kedudukan yang demikian untuk menjadikan kejaksaan tidak independen. tekad dan keberanian pimpinan kejaksaan untuk keluar dari kungkungan kekuasaan eksekutif yang mempengaruhi netralitasnya. kewajiban bagi jaksa dan aparat kejaksaan dalam 14 Kita tentu masih ingat dengan kebijakan alm Baharuddin Lopa yang “menusakambangankan” terpidana korupsi.14 Kesemuanya tergantung tekad dan keberanian jaksa dalam menjalankan tugasnya secara mandiri.” demikan katanya pada suatu waktu. Kebijakan demikian mengundang simpati publik. Sebagai bagian kekuasaan eksekutif.

Dengan adanya jaminan demikian diharapkan jaksa dan kejaksaan pada umumnya dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.15 Pada sisi lain jaksa tidak dapat melaksanakan tugas-tugas profesionalismenya secara optimal. Begitu juga sistem keamanan dirinya hendaknya dijamin. Bandung. Penerbit Citra Aditya Bakti. Dalam “Guidelines on the Role of Prosecutor” terdapat ketentuan mengenai hal ini. Di samping itu. “Petunjuk-petunjuk atasan”. kesusilaan dan keharusan menjaga kehormatan dan martabat profesinya di samping terus menerus menggali nilai-nilai hukum yang berkembang merupakan suatu keniscayaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tugas penegakan hukum tidak tergantung kepada kepentingan penguasa atau kepentingan apapun. Oleh karena itu penetapan kebijakan yang menyangkut institusi kejaksaan hendaklah selain mengacu kepada tuntutan nasional juga harus mengindahkan aspirasi masyarakat yang berkembang secara universal. hlm 121. hal mendesak untuk dilakukan saat ini misalnya sistem pertanggung jawaban yang berlaku di kejaksaan perlu dilakukan peninjauan kembali. 116 Bunga Rampai . Kewajiban demikian akan mengontrol kejaksaan agar tidak terjebak kepada pertarungan kepentingan yang sempit dan sesaat. Lihat Yudi Kristiana. seperti 15 Doktrin Kejaksaan adalah satu dan tidak terpisah-pisahkan (‘een an ondelbaar’) layak untuk dipertimbangkan karena mempengaruhi independensi jaksa ketika menjalankan tugas-tugas penuntutan. 2006.melaksanakan tugasnya mengindahkan norma-norma kesopanan. Independensi Kejaksaan dalam Penyidikan Korupsi. antara lain jaksa adalah unsur utama dari “agent of the administration of justice” yang harus menjaga martabat profesinya. instruksi dan sejenisnya merupakan hambatan nyata bagi jaksa dalam melaksanakan tugas-tugas penuntutan. Sistem demikian dapat menyebabkan kejaksaan akan dengan mudah diintervensi oleh kekuasaan. kecuali kepentingan keadilan. Doktrin demikian tidak selaras dengan tuntutan kemandirian dan profesionalisme kejaksaan dalam melaksanakan tugas-tugas penuntutan. kemanusiaan dan kesejahteraan. negara harus menjamin keamanan jaksa agar bebas dari pelbagai gangguan dalam melaksanakan tugas profesinya. Oleh karena itu. Di samping itu kemandirian jaksa dalam melaksanakan tugas penuntutan hendaklah dijamin secara utuh.

perdata dan tata usaha negara begitu juga tugas dalam bidang ketertiban dan ketenteraman umum. Keadaan sarana dan prasarana yang masih minim begitu juga dukungan sumber daya manusia yang tidak proporsional membuat kejaksaan sebagai lembaga yang rentan. prasarana dan faktor finansial ini menyebabkan kejaksaan kalah berpacu dengan tuntutan perkembangan zaman. Anggaran operasional dan anggaran pembangunan yang masih terbatas merupakan kendala yang serius dan hendaknya menjadi prioritas ke depan untuk segera diantisipasi. wewenang kejaksaan untuk juga mengemban tugas-tugas lain jika ditetapkan dengan undang-undang terkait kedudukan sebagai lembaga pemerintahan layak dipertimbangkan. sehingga dapat melaksanakan tugasnya secara independen. di sisi lain keterbatasan-keterbatasan sebagaimana disebutkan 16 Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 15 Tahun 1961 ini bisa jadi merupakan faktor yang menimbulkan kemandirian kejaksaan pada waktu itu. terkadang didasarkan kepada pengamatan yang tidak cermat.16 Akan tetapi dalam undang-undang yang menggantikannya ditegaskan bahwa Kejaksaan adalah lembaga pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan serta kewenangan lain berdasarkan undang-undang. Sebagai lembaga pemerintahan yang memiliki wewenang yang luas dalam perkara pidana. Di samping masalah yang bersifat struktural tersebut. besarnya tuntutan pidana dan cara bagaimana putusan hakim dijalankan menjadi tanggung jawab kejaksaan sepenuhnya. Keterbatasan sarana.penetapan standar minimum tugas profesi jaksa atau penyusunan kode perilaku jaksa mendesak untuk direalisasikan dengan mengacu pada Guidlines di atas. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 117 . Kritik yang dialamatkan kepada institusi kejaksaan. Dalam undang-undang sebelumnya di sebutkan bahwa Kejaksaan ialah alat negara penegak hukum yang terutama bertugas sebagai penuntut umum. Kedudukan yang strategis yakni menentukan perkaraperkara apa yang akan dilimpahkan ke pengadilan. faktor finansial juga menentukan tingkat capaian-capaian yang diperoleh instansi ini. Kedudukan sebagai lembaga pemerintahan ini mengakibatkan pelaksanaan tugas dan wewenang kejaksaan berbeda dengan sebelumnya.

diantaranya terdapat instruksi agar kebijakan untuk memberikan dukungan maksimal terhadap upaya-upaya penindakan korupsi yang dilakukan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia. Sage Publications. 1973 halaman 112 Kebijakan seperti ini dapat kita lihat misalnya dalam Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 Tentang Percepatan Pemberatasan Korupsi. kejaksaan memiliki kekuasaan dan tanggung jawab untuk membuat kebijakan-kebijakan politik. Sistem reward dan punisment tentu harus dilakukan secara transparan dan konsisten. Kekurangan dan kesalahan di sana-sini tentu tidak akan diabaikan. kejaksaan tidak dapat lepas dari pengaruh-pengaruh sekelilingnya. kejaksaan dapat menentukan perkara-perkara mana yang akan dituntut. Cole. Konsistensi ini akan menimbulkan gairah kerja jaksa dan pegawai kejaksaan untuk memberikan darma bakti yang sebaik-baiknya kepada bangsa melalui institusi kejaksaan ini. Selama ini sistem reward dan punisment belum terpolakan secara jelas. akan tetapi hendaknya menjadikan institusi ini berdaya. Beverly Hills/London. Sebagaimana legislator dan hakim. Masyarakat tidak boleh membiarkan atau menjadikan kejaksaan sebagai bulan-bulanan ketidakpuasan. Kedudukan sebagai lembaga pemerintahan tersebut. sehingga kesan subyektif tidak dapat dihindarkan. Kondisi yang lebih trasparan dan obyektif harus diciptakan dan dibakukan secara konkrit.di atas memerlukan tindakan konkrit untuk dilakukan pembenahan sesuai dengan tuntutan yang berkembang saat ini.18 Jaksa memiliki kekuasaan diskresioner yang berpengaruh dalam usaha penegakan hukum. dapat menyebabkan kejaksaan berada dalam ranah politik. op cit halaman 3 George F. Kejaksaan Republik Indonesia dan Komisi Pemberantasan Korupsi dengan cara mempercepat pemberian informasi yang berkaitan dengan perkara tindak pidana korupsi dan mempercepat pemberian izin pemeriksaan terhadap saksi/tersangka. Kondisi demikian tidak hanya terjadi di negeri kita sebagaimana dikemukakan oleh Cole bahwa SPP dalam hal ini juga kejaksaan merupakan lembaga politik.17 Melalui kewenangan yang dimilikinya. Politics and the Administration of Justice. Kebijakan yang ditetapkan oleh kejaksaan merupakan refleksi prioritas nilai-nilai politik yang 17 18 19 George F. 118 Bunga Rampai . Cole. Sebagai suatu institusi sosial. sehingga merit system dapat berjalan dengan baik.

Dibutuhkan keberanian untuk melaksanakan tugas di tengah-tengah tarik menarik berbagai kepentingan yang dominan pada waktu itu. apabila kemandirian personal ini terwujud seorang jaksa akan memiliki kemandirian yang sepenuhnya tanpa ada intervensi atasan atau pihak-pihak yang berkepentingan lainnya. manakala institusi kejaksaan menjadi lembaga negara. perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia dan keadilan akan terabaikan. Begitu juga harus ada jaminan bagi jaksa terhadap keselamatan diri dan keluarganya dari berbagai ancaman yang mengganggu kemandiriannya sebagai aparatur penegak hukum. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 119 . Untuk itu. Di samping kemandirian organisasi/institusional. sehingga keberanian dan integritas seorang pimpinan kejaksaan menjadi syarat mutlak di samping keahlian tehnis yuridis yang dimiliki jaksa pada umumnya. Karena apabila kebijakan tersebut tidak diindahkan dapat mengakibatkan kejaksaan terperosok dalam kepentingan kekuasaan yang sempit. Begitu pentingnya tujuan tersebut. Di sinilah pengangkatan dan pemberhentian Jaksa Agung hendaknya dilepaskan dari berbagai kepentingan politik sesaat. Dalam melaksanakan tugas penuntutan. yang perlu dilakukan saat ini adalah bagaimana membuat lembaga kejaksaan harus selalu memiliki komitmen pada hukum dan keadilan. Itu semua diharapkan akan terwujud.ditetapkan ketika itu.19 Di sinilah kejaksaan ternyata tidak cukup bekerja dengan menggunakan norma-norma hukum yang ditetapkan sebelumnya. Kedudukan sebagai lembaga negara itu akan menciptakan kemandirian yang sesungguhnya bagi kejaksaan untuk melakukan tugas dan wewenangnya tanpa intervensi kekuasaan eksekutif. kemandirian personal/individual dapat pula ditumbuhkan. Oleh karena itu menurut Harkristuti Harkrisnowo. di samping untuk mengisi jabatan sesuai dengan kebutuhan. Kepentingan untuk menegakkan hukum. akuntabilitas kejaksaan harus lebih banyak ditekankan kepada kepentingan publik. bukan kepentingan politik kelompok tertentu. Pengangkatan Jaksa Agung begitu pula pengisian jabatan-jabatan strategis di lingkungan kejaksaan haruslah didasarkan kepada kepentingan untuk menegakkan nilainilai keadilan dan kemanusiaan yang hakiki.

Penguatan masyarakat sipil saat ini dapat digunakan untuk meningkatkan harkat dan martabat kejaksaan ke arah kemandirian yang sesungguhnya. Pemberdayaan sektor publik dan sektor privat yang tengah berlangsung saat ini hendak-lah dimanfaatkan sebaik-baiknya guna menuju tegaknya supremasi hukum. Perubahan politik apapun yang terjadi tidak akan membawa arti yang signifikan. Sebagai benteng terakhir keadilan. KKN sebagai virus yang menggerogoti pembangunan merupakan musuh nyata masyarakat yang harus diberantas hingga ke akarakarnya. penguatan civil society saat ini merupakan momentum yang bagus untuk mewujudkan ide-ide tersebut menjadi kenyataan.Masalah di atas merupakan salah satu diantara sekian masalah yang dihadapi oleh jaksa dan kejaksaan pada umumnya pada waktu menjalankan tugas penuntutan dan tugas-tugas lainnya yang membutuhkan integritas. Akan tetapi kenyataan yang berkembang sesudahnya menunjukkan lembaga ini belum dapat menjawab tuntutan reformasi 120 Bunga Rampai . Untuk itu perhatian atas semua ini harus dipusatkan agar kemandirian jaksa terwujud. kita dapat melihat bahwa salah satu tuntutan reformasi yang bergulir hampir satu dasawarsa yang lalu yakni kemandirian badan-badan peradilan yang puncaknya pada Mahkamah Agung (MA). kolusi dan nepotisme (KKN). MA diharapkan dapat mengemban amanah reformasi yang merupakan tuntutan publik yang disuarakan oleh mahasiswa dan segenap lapisan masyarakat yang menginginkan hukum ditegakkan seadil-adilnya. Ekspektasi masyarakat yang begitu kuat selayaknya direspon oleh lembaga ini secara konsisten. apabila tidak diikuti dengan usahausaha untuk memandirikan kejaksaan sebagai bagian dalam Sistem Peradilan Pidana pada umumnya sehingga menjadi institusi penegak hukum yang terpercaya. Reformasi Peradilan. MA sebagai puncak tertinggi dalam peradilan kita menjadi tumpuan harapan publik terutama dalam penanganan perkara korupsi. Kita tidak dapat menunggu perubahan undang-undang kejaksaan untuk menciptakan kemandirian demikian. Tuntutan Publik Jika kita mempersempit makna peradilan dengan pengadilan.

Di bawah rezim demokrasi terpimpin. terungkapnya isu suap di kalangan hakim agung. Pengalaman dalam dua sistem pemerintahan yang pernah dianut oleh Indonesia. kekuasaan kehakiman ditempatkan sebagai bagian dari eksekutif. Alih-alih melaksanakan reformasi di tubuh dunia peradilan. Bahkan terkesan justru counter produktive maupun over protective terhadap tuntutan publik bagi reformasi peradilan. fakta menunjukkan bahwa lembaga peradilan tidak dapat melepaskan diri dari konfigurasi politik yang terus menerus berkembang.20 Meskipun reformasi yang dalam hakikatnya menghendaki perbaikan di semua bidang kehidupan. Berbagai kritik dan saran telah disampaikan. Dalam beberapa dasawarsa terakhir. wajah peradilan melalui MA seakan tidak tersentuh reformasi. begitu juga di era Orde Baru kekuasaan kehakiman justu dikukuhkan dengan undang-undang sehingga menjadi bagian dari mesin kekuasaan politik Orde 20 Banyak fakta yang menunjukkan bahwa MA merupakan lembaga yang tidak responsif terhadap tuntutan publik demikian. hal ini terlihat dari putusan-putusannya yang kontroversial. perpanjangan usia pensiun Ketua MA sampai kepada perseteruannya dengan Komisi Yudisial. Realitas menunjukkan bahwa konfigurasi kekuasaan kehakiman tidak dapat dilepaskan dari bayang-bayang pemerintah yang tengah berkuasa. MA justru menjadi lembaga yang menghambat tuntutan publik untuk tegaknya supremasi hukum. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 121 . Fenomena ini jelas menunjukkan resistensi lembaga peradilan terhadap tuntutan reformasi. Kesemua itu menunjukkan betapa masyarakat mempunyai kepedulian yang besar terhadap lembaga ini. Kekuasaan kehakiman tidak otonom dari pengaruh rezim yang berkuasa ketika itu. baik ketika Orde Lama dengan demokrasi terpimpin juga Orde Baru dengan demokrasi Pancasila mempunyai standar-standar yang dapat diperbandingkan. lembaga-lembaga peradilan masih asik dengan masalahnya sendiri.yang begitu kuat. Kedua rezim memiliki kesamaan-kesamaan dalam memberdayakan kekuasaan kehakiman. Oleh karena itu ungkapan yang dialamatkan kepada mereka yang kritis terhadap peradilan seperti melakukan contempt of court layak dipertanyakan.

23 Begitu juga penelitian A Mohammad Asrun yang mengkritisi peranan badan peradilan di bawah bayang-bayang rezim Orde Baru. para hakim sangat legalistis/positivisme dalam memutus perkara dan para hakim akan mendukung serta terikat pada visi dan kepentingan politik pemerintah. memiliki wewenang judicial review yang terbatas. MA menganulir putusannya melalui surat sakti Ketua MA yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan di Jayapura untuk menunda eksekusi putusan yang telah in kracht van gewijsde. Lembaga peradilan dilumpuhkan sedemikian rupa sehingga tidak mampu mengurus dirinya sendiri dan terlena di bawah bayang-bayang kekuasaan pemerintahan.Baru. Malahan diciptakan dualisme ditubuh badan peradilan. pemerintahan di era ini telah menghambat independensi kekuasaan kehakiman yang mandiri. Penerbit Elsam. menurut beliau. maka kekuasaan kehakiman cenderung memiliki karakter tidak independen.24 Undang-undang Pokok Kekuasaan Kehakiman merupakan kekalahan kaum reformis yang ketika 21 22 23 24 Hal ini dapat dilihat dari penelitian Benny K Harman. halaman 4 122 Bunga Rampai . kolusi dan nepotisme. melaksanakan cita hukum. dengan menempatkan sisi teknis peradilan di bahwa MA. Sebaliknya jika konfigurasi politiknya otoriter. tidak memiliki kewajiban untuk tunduk pada visi dan kepentingan politik pemerintah. Menyoal Kolusi di Mahkamah Agung. halaman 450 Salah satu ulasan yang menarik tentang KKN dilingkungan badan Peradilan kita lihatlah buku Menyingkap Kabut Peradilan Kita.22 Dalam kasus Hanoch Abee Ohee. memiliki wewenang judicial review. Ibid. Konfigurasi Politik & Kekuasaan Kehakiman di Indonesia. hingga isu suap yang melanda badan peradilan tertinggi ini merupakan contoh bahwa lembaga yang disebut sebagai benteng terakhir keadilan ini tidak steril dari korupsi. Begitu juga dalam kasus Gandhi Memorial School. Krisis Peradilan. pemalsuan vonis. 1996 A Muhammad Asrun. Penerbit Pustaka Forum Adil Sejahtera. Menurut Asrun. 2004. penerbit Elsam. Mahkamah Agung di Bawah Soeharto. tetapi sisi administratif dan finansial di bawah eksekutif. Jakarta 1997. Aldentua Siringoringo dan Tumpal Sihite (Penyunting). tidak legalistis. Jakarta.21 Secara khusus Benny K Harman menyatakan bahwa konfigurasi politik yang demokratis akan melahirkan kekuasaan kehakiman yang independen. Jakarta.

Reformasi dalam tubuh peradilan menjadi conditio sine qua non untuk memenuhi tuntutan publik tersebut. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 123 . 2006. manajemen keuangan. Halaman 199 – 200. 2007 halaman 57 Rusli Muhammad. sehingga lembaga peradilan 25 26 Lihat Adnan Buyung Nasution. akan tetapi dalam menentukan personalianya tergantung kepada presiden. Hukum & Peradilan. pendidikan. Tak terkecuali pula dengan MA. Penerbit Kata Hasta Pustaka. Usaha reformasi di dunia peradilan diantaranya mencakup reformasi di MA. Potret Lembaga Pengadilan Indonesia. kontrak sosial dan reformasi manajemen instrumental. Jakarta. para hakim di pengadilan negeri dan pengadilan tinggi tergantung sepenuhnya pada Departemen Kehakiman ketika itu. Penerbit RajaGrafindo Persada. Arus Pemikiran Konstitusionalisme. bahwa:”kebebasan yang dimiliki lembaga pengadilan tidak lain merupakan suatu kemandirian yang sangat diperlukan (indispenseble) dan “Conditio Sine Quanon” (harus tidak boleh tidak adanya) karena selain menunjukkan bahwa negara ini adalah Rechtsstaat juga menunjukkan akan adanya jaminan terselengaranya peradilan yang independen guna menegakkan hukum yang berintikan keadilan”. komisi yudisial. Sebastian Pompe mengemukakan bahwa untuk mereformasi dunia peradilan di Indonesia tidak dapat dilakukan secara fragmentaris akan tetapi meliputi reformasi kebijakan yang bersifat institusional. Keterpurukan dunia peradilan disebabkan karena sistem sosial yang karut marut. Jakarta. peradilan niaga dan peradilan hak asasi manusia. Dengan adanya kenyataan tentang masalah organisasi.itu bekerja keras untuk mencegah terulangnya pengebirian kekuasaan di masa rezim Demokrasi Terpimpin.26 Tindakan demikian jelas melukai perasaan keadilan masyarakat. meskipun lembaga ini tidak seratus persen berada di bawah pemerintahan.25 Penentuan Ketua dan Wakil Ketua MA merupakan kewenangan presiden dalam kedudukannya sebagai kepala negara. Karut marut wajah peradilan memperoleh bentuknya yang sempurna manakala kekuasaan eksekutif berhasil merasuki wilayah yudikatif dengan menodai kemandiriannya. administrasi dan keuangan. akibatnya akan sulit diharapkan kemandirian mereka ketika menjalankan tugas-tugas yudisial mereka. Walaupun kedudukan sebagai kepala pemerintahan dalam hal ini sukar untuk diabaikan. personel.

ketidak adilan dan kesewenangwenangan. Saat ini kita membutuhkan suatu penegakan hukum yang progresif. 18 September 1998 dapat dijadikan referensi untuk merintis sistem peradilan progresif itu. Pendekatan tradisional yang selama ini dipraktikkan hendaklah ditinggalkan. Lembaga-lembaga hukum seperti pengadilan hendaklah membantu manusia untuk menyelesaikan konfliknya sendiri 27 28 Sebastian Pompe. bukan penegakan undang-undang yang secara linear diartikan sebagai penegakan hukum. Jum’at.ikut menjadi korbannya. Understanding the Indonesian Blueprints for Court Reform” dalam Jentera. Penegakan hukum hendaklah berpijak kepada kepentingan nilai-nilai kemanusiaan. Fungsi Mahkamah Agung dalam Praktik Sehari-hari. Keterlibatan semua komponen sosial agar menjadikan lembaga peradilan menghasilkan daya guna dan hasil guna yang maksimal untuk mewujudkan prinsip negara hukum merupakan sebuah keniscayaan. prosedur dan sekalian doktrin konvensional hendaklah ditanggalkan karena akan menimbulkan kesengsaraan. Penerbit Sinar Harapan. tentang peranan MA dan urgensi reformasi di tubuh MA dapat dibaca buku Henry P Panggabean. Tentang gagasan ini dapat dibaca tulisan-tulisan Satjipto Rahardjo. meskipun kajian terbatas kepada fungsi MA dalam upaya penanggulangan tunggakan perkara dan pemberdayaan fungsi Pengawasan Mahkamah Agung akan tetapi buku ini dapat memberikan kontribusi positif bagi reformasi peradilan. Oleh karena itu. 2001. Di era reformasi ini kita membutuhkan lembaga-lembaga peradilan yang reformis pula. Sebastian Pompe mengingatkan bahwa reformasi lembaga peradilan ini hendaknya menjadi keprihatinan kita semua. 124 Bunga Rampai .27 Keterpurukan peradilan haruslah menjadi concern masyarakat seluruhnya. juga “Mahkamah Agung Reformasi” harian Kompas. diantaranya “Indonesia Inginkan Penegakan Hukum Progresif” harian Kompas. upaya pembenahan ditubuh peradilan harus dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan semua komponen masyarakat. “ Managing Court Reform. Peradilan yang progresif ditandai dengan cara-cara yang progresif dalam memandang hukum. oleh karena itu belenggu formalisme.28 Gagasan peradilan progresif sebagaimana dilontarkan oleh Satjipto Rahardjo hendaklah dilihat sebagai eksemplar atau alternatif keluar dari krisis peradilan saat ini. halaman 60. Edisi 15 Tahun IV Januari – Maret 2007. Jakarta.

tindakan reformis itu akan diikuti juga oleh kepolisian dan kejaksaan secara berkesinambungan. Keterpurukan Hukum di Indonesia. Prinsip kemandirian kekuasaan kehakiman ini merupakan prinsip yang diakui secara universil. elemen substansial (hukum positif yang mendasari jalannya sistem tersebut) dan elemen kultural (pandangan. Dalam rangka menciptakan independensi peradilan beberapa hal hendaklah menjadi perhatian. hendaklah memulai langkah-langkah progresif ini. Peranan hakim menjadi sentral dalam hubungan kemanusiaan ini. melakukan promosi dan perlindungan hak asasi manusia. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 125 . halaman 27. konsep kesadaran hukum yang terpadu antara kesadaran hukum penguasa dan perasaan hukum masyarakat. sehingga pengadilan di bawahnya akan melakukan hal yang sama. reformasi di badan peradilan harus dilakukan secara menyeluruh dan integral. Oleh karena itu. Penyebab dan Solusinya. Oleh karena itu. mengutamakan kebenaran dan keadilan. Secara keseluruhan. reformasi di jajaran kekuasaan kehakiman yang dimulai dari MA hendaklah mengikuti skala prioritas yang telah ditetapkan sebelumnya. akar kulturalnya dan akar religiusnya. hukum tidak mengabdi kepada kepentingan kekuasaan politik. sistem hukum yang kondusif untuk terciptanya supremasi hukum. Penerbit Ghalia Indonesia. Kepatuhan hukum yang bersandarkan kepada kesadaran hukum yang hakiki. sikap.dengan menggunakan seluruh kapasitas kemanusiaannya. diharapkan kepatuhan masyarakat terhadap hukum akan terwujud. Untuk mencapai tujuan yang demikian luas itu. Dalam jangka pendek. Jakarta. antara lain: menjauhi hal-hal yang bersifat fragmentaris dan mengedepankan pendekatan sistemik. bahkan filosofi yang mendukung efektivitas sistem tersebut). 2002. semua pihak harus berjuang untuk mengembalikan hukum kepada akar moralitasnya.29 Dengan cara demikian. Reformasi itu meliputi elemen struktural (kelembagaan yang terkait pada sistem). seperti UN Basic Principles on the Independence of Judiciary (1985). MA sebagai lembaga peradilan yang tertinggi di Republik ini. reformasi struktural dan 29 Achmad Ali.

halaman 10 126 Bunga Rampai . Untuk memenuhi harapan itu dibutuhkan kemampuan hakim dalam memahami hukum melampaui batas-batas teks perundang-undangan. Begitu pula pendekatan legalistik selama ini harus ditinggalkan. Sinkronisasi atau harmonisasi antar sub-sistem secara keseluruhan akan tercipta. kejaksaan dan juga wilayah legislatif seperti Dewan Perwakilan Rakyat. Demokratisasi. Reformasi struktural tersebut meliputi reformasi kelembagaan di wilayah eksekutif seperti kepolisian. Untuk itu pula. tugas hakim tidak hanya menerapkan undang-undang terhadap perkara yang tengah diadilinya. Jakarta 2002. konsekuensinya akuntabilitas hakim tidak hanya sebatas undang-undang akan tetapi secara moral dan sosial. Apabila lembaga peradilan diartikan secara luas. keadilan yang dapat diterima semua pihak karena didasari oleh tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagaimana kepala putusan yang dibacakannya. Kekuasaan kehakiman dalam arti ini hendaklah dilihat sebagai suatu bagian yang integral antar sub-sistem peradilan pidana terpadu (integrated criminal justice system) sebagaimana disebutkan di muka yang meliputi subsistem penyidikan. Hak Asasi Manusia.substansial harus diprioritaskan dan dalam jangka panjang melakukan reformasi kultural. reformasi hukum dan peradilan akan memperoleh bentuk yang sesungguhnya. Moral and social accountability ini merupakan salah satu karakteristik peradilan yang reformis. Hakekat kekuasaan kehakiman yang merdeka dan mandiri. hendaklah dilihat dalam perspektif yang luas. Penerbit The Habibie Center. Dengan demikian terjadinya conflict of interest antar sub-sistem dapat dihindari.30 Melalui pendekatan sistemik ini. akan tetapi suatu kegiatan yang merupakan proyek besar untuk menciptakan keadilan (sosial). peradilan dan pema- 30 Muladi. penuntutan. maka meliputi juga kekuasaan penyidikan dan penuntutan. Kecerdasan intelektual harus diimbangi pula dengan kematangan spritual. Pendekatan fragmentaris dan sektoral akan diminimalisasikan. dan Reformasi Hukum di Indonesia. Dengan demikian semangat itu harus menjiwai semua lingkungan badan peradilan di atas.

2007 halaman 35 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 127 . jika tidak. Kemandirian dan kemerdekaan itu tidak akan berarti banyak apabila hanya dimiliki oleh salah satu subsistem dalam SPP di atas. Jakarta. Walaupun harus tetap dipahami bahwa kebijakan legislatif ini tidak secara taken for granted terwujud di lapangan. maka dengan undang-undang yang paling burukpun. 31 Barda Nawawi Arief. kebijakan legislatif atau perundang-undangan merupakan tahap awal untuk menentukan kemandirian lembaga ini yang nantinya diikuti oleh taraf aplikatif di lapangan ketika wilayah penegakan hukum in concreto dijalankan. Penegakan hukum bukanlah pekerjaan penerapan peraturan dan logika yang secara tradisionil sebagaimana diterapkan selama ini. berikan saya seorang hakim yang jujur dan cerdas. Pengadilan dalam arti luas. Reformasi peradilan sesungguhnya tergantung kepada predisposisi subyek yang melakukan penegakan hukum (pidana) mulai penyidik. ungkapan Immanuel Kant layak dikemukakan di sini: ”If justice is gone.syarakatan. nurani dan sebagainya. Penerbit Kencana Predana Media Group. determinasi.31 Dalam ide ini. Apakah makna semuanya ini? tidak lain predisposisi subyek akan menentukan kemandirian badan peradilan. Ungkapan Taverne layak dikemukakan di sini ketika ia mengatakan: ”berikan saya seorang jaksa yang jujur dan cerdas. berupaya untuk mewujudkan peradilan progresif di mana kegiatan tersebut hendaklah dilihat sebagai suatu proses yang sarat dengan compassion yang memuat empati. Ketika yang menjalankan kekuasaan kehakiman itu terdiri atas manusia. penuntut umum dan hakim. maka predisposisi sebagai subyek untuk menentukan pilihan dalam berbagai alternatif tidak dapat diabaikan. Keadilan menjadi tujuan akhir penegakan hukum. saya akan menghasilkan putusan yang adil”. Masalah Penegakah Hukum dan Kebijakan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Kejahatan. there is no reason for a man to live longer on earth” oleh karena itu keadilan hendaklah menjadi roh penegakan hukum yang sesungguhnya. lepas dari kungkungan pemikiran yang legalistik. Kebijakan legislatif atau perundang-undang merupakan wilayah yang strategis untuk menentukan kemandirian kekuasaan kehakiman dalam tataran aplikatif di semua lingkungan peradilan nantinya.

Di atas telah dikemukakan bahwa independensi kekuasaan kehakiman meliputi independensi kelembagaan dan independensi personal/individual. … yang memberi teladan dan menjaga nurani hukum & politik. Jakarta 2007 halaman 29 128 Bunga Rampai . merupakan ungkapan tepat untuk menggambarkan bahwa perilaku kelembagaan dimanifestasi melalui perilaku individu. di sisi lain independensi personal/individual terkadang diidentikkan dengan independensi kelembagaan. Dan pada akhirnya keterpurukan dunia peradilan menjadi fenomena yang tidak terelakkan. karena menyangkut kompetensi dan independensi. halaman 9 J.33 Keadaan deformasi hukum itu merupakan bentuk kesewenang-wenangan secara telanjang. paling tidak harus dipenuhi beberapa syarat misalnya: pertama. Kedua. Kedua independensi ini harus dilihat sebagai hubungan dialektik. Komisi Hukum Nasional. pelaku penegakan hukum yang merupakan kunci utama untuk terwujudnya substantive justice. perlindungan hak asasi manusia dan asas praduga tidak bersalah. Sistem Peradilan Berwibawa (suatu Pencarian) FH UII Press Yogyakarta. Suatu aturan hukum akan tidak benar dan tidak adil apabila hanya dibuat untuk kepentingan kekuasaan belaka dan mengandung kesewenang-wenangan. Ibarat nila setitik rusaklah susu sebelanga. penyalahgunaan kekuasaan dipraktikkan secara terang-terangan bahkan dibungkus secara rapi melalui slogan hukum seperti asas legalitas. Keadaan itu tidak dapat dibiarkan berlarut-larut. 2005. kalau tidak dikelola secara rasional dapat berbalik menjadi deformasi hukum. Reformasi yang sejatinya menjadikan segala sesuatu menjadi lebih baik daripada sebelumnya.E Sahetapy. Penyimpangan yang dilakukan oleh oknum peradilan dapat menjadi cermin korupnya lembaga itu secara keseluruhan. karena 32 33 Bagir Manan. Unsur pelaku penegakan hukum ini tidak bisa diabaikan.Untuk menegakkan hukum secara adil. Karena di satu pihak independensi atau impartially kelembagaan hanya dapat terwujud melalui perilaku nyata personal/individu penegakan hukum.32 hukum yang akan ditegakkan haruslah benar dan adil.

Kekuasaan harus ditundukkan kepada hukum bukan sebaliknya. Polisi. Politisasi lembaga kejaksaan dalam melakukan penuntutan perkara pidana hendaklah dihindarkan oleh siapapun juga dengan motivasi apapun. Kontribusi Kejaksaan Dari paparan di atas. Upaya untuk memproses secara hukum tersangka korupsi dalam skala yang besar membutuhkan dukungan dari sub-sistem politik dan sosial keseluruhan. Jaksa dan Hakim harus diisi oleh orang-orang yang memiliki integritas pribadi yang kokoh dalam pengabdian tugas-tugasnya demi bangsa. Dalam kedudukan sebagai lembaga pemerintahan. sebab jika tidak Kejaksaan Agung hanya bekerja untuk dirinya sendiri alias tidak membawa daya guna dan hasil guna. iklim politik yang tengah berkembang janganlah justru menjadikan kejaksaan kehilangan independensinya. secara implisit dapat disimpulkan bahwa independensi kekuasaan kehakiman/peradilan merupakan suatu sistem yang integral. Kemandirian suatu sub-sistem peradilan tidak akan berarti banyak jika tidak diikuti kemandirian sub-sistem lain secara menyeluruh. Penegak hukum harus mengabdikan dirinya untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan kebenaran dengan resiko terberat sekalipun. negara dan darma sejarahnya disamping kemampuan intelektual yang mumpuni. Supremasi hukum akan tumbang dan kesewenang-wenangan akan terjadi dimanamana. kontribusi lembaga kejaksaan untuk mempercepat reformasi peradilan dimulai dengan kebijakan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 129 . ketangguhan moral yang tahan uji dan semangat pengabdian yang tinggi. akan tetapi dapat dikemukakan bahwa apa yang telah dirintis oleh Hendarman Supandji merupakan langkah yang terbilang berani.prinsip negara hukum akan runtuh. Lembaga politik seperti lembaga perwakilan dan juga partai-partai politik harus memberi dukungan yang setulus-tulusnya terhadap langkah-langkah yang telah diayunkan oleh kejaksaan hatta menyangkut dirinya sendiri sekalipun. Masih terlalu dini untuk menilai kinerja Jaksa Agung saat ini. Secara konseptual. struktural dan kultural penegakan hukum ke arah yang lebih baik. Reformasi hendaknya dijadikan pintu masuk ke arah pembenahan komponen substantif.

Kebijakan undang-undang yang menentukan jaksa adalah satu dan tidak terpisah-pisahkan dalam melakukan tugas-tugas penuntutan. Mereka. Mereka yang mengabdikan segenap kemampuannya bagi kejayaan bangsa ini. Hal ini disebabkan karena. Independensi itu tidak dalam tataran konsepsi akan tetapi hingga tataran realitas atau operasional di lapangan harus diwujudkan. Terjadinya ketidakmandirian itu dapat dihindarkan manakala kejaksaan mampu mengambil jarak dengan pihak-pihak yang mempunyai kepentingan dalam penyelesaian suatu perkara. Untuk itulah kemandirian personal harus dilindungi sebaik-baiknya oleh pimpinan kejaksaan. walaupun dalam tataran empiris menimbulkan permasalahan. oleh karena itu pimpinan kejaksaan hendaklah memberikan perhatian yang besar baik menyangkut promosi maupun kompensasi-kompensasi lainnya. Mereka jauh dari tindakantindakan yang bertujuan mencari sensasi atau popularitas untuk dirinya sendiri. Untuk itu sikap vigilantisme hukum harus ditumbuhkan. 130 Bunga Rampai . Melakukan penataan terhadap lembaga hukum yang lain secara sistemik termasuk juga lembaga kepengacaraan sehingga tercapai integrated criminal justice system yang sesungguhnya. akan tetapi mengandung nilai yang positif apabila dikelola. Penguatan masyarakat madani (“Civil Society”) harus diikuti dengan penguatan sistem kelembagaan penegakan hukum ke arah pembentukan kultur hukum yang lebih baik. karena itu semua pihak harus melepaskan kepentingannya. mereka yang mempunyai kekuasaan akan berusaha sekuat mungkin untuk menghambat dan atau mempengaruhi kinerja kejaksaan dalam melaksanakan penegakan hukum secara konsisten.dalam tataran legislatif atau perundang-undangan dengan menempatkan kejaksaan sebagai lembaga yang independen dari pengaruh kekuasaan apapun. Penggarapan komponen substantif dan struktural hendaklah diarahkan kepada pembentukan kultur hukum yang bertujuan untuk menegakkan substantive justice bersandarkan kepada profesionalisme dan integritas yang teruji. para jaksa yang bertugas di daerah terpencil jauh dari sorotan media massa dan dengan penuh dedikasi dalam tugasnya merupakan vigilantee yang berjuang untuk kejayaan dan kehormatan profesinya. Mereka-mereka inilah pendekar hukum yang sesungguhnya.

akan tetapi bukan suatu alasan pembenar bagi jaksa atau pegawai kejaksaan untuk melakukan penyimpangan. Mempertimbangkan tingkat kesulitan dan kompleksitas masalah yang ditangani. di samping kerja sama lintas sektoral. alokasi anggaran untuk menyelesaikan kejahatan-kejahatan di atas. Penanganan perkara-perkara yang tergolong perkara penting seperti korupsi. money loundering. hendaknya dilakukan secara proporsional dan bijaksana.maupun pemerintah dan negara pada umumnya. illegal logging/ fishing. Tidak ada hubungan yang liner antara perbaikan penghasilan dengan integritas jaksa ketika melakukan tugas-tugasnya di lapangan. Optimalisasi tersebut membutuhkan dukungan finansial dan sarana serta prasarana yang tidak sedikit serta sumber daya manusia yang baik. tanggung jawab dan dukungan sarana dan prasarana yang memadai. Di samping kejahatan konvensional yang terus menerus meningkat membutuhkan penanganan oleh kejaksaan secara optimal. Meskipun harus diakui pula bahwa sistem renumerasi di lingkungan kejaksaan masih membutuhkan perbaikan. Kebijakan anggaran keuangan yang berbasiskan kinerja hendaklah pula dilihat secara proporsionil dengan mempertimbangkan beban kerja dan tuntutan-tuntutan publik serta besarnya tanggung jawab yang diemban. membutuhkan kinerja. Begitu juga aspek struktural perlu mendapat perhatian Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 131 . Permasalahan yang bersifat substantif seperti pembenahan peraturan perundang-undangan yang selaras dengan jiwa/semangat undang-undang kejaksaan yang baru baik menyangkut struktur kelembagaan kejaksaan maupun pelaksanaan tugas dan wewenangnya hendaklah dilakukan secara simultan. Begitu juga penyusunan rule of conduct seperti Code Perilaku Jaksa mendesak untuk dilakukan saat ini untuk memenuhi tuntutan profesionalisme sebaik-baiknya. cyber crime yang terkadang melintasi batas-batas negara. Di samping kelemahan-kelemahan yang masih ada. Oleh sebab itu. Semuanya berpulang kepada niat dan ketulusan masing-masing. keberhasilan-keberhasilan kejaksaan dalam menuntaskan berbagai kasus hendaknya menjadi perhatian semua pihak sehingga penilaian atas kinerja kejaksaan menjadi obyektif. regional dan global.

Apabila sebagian kecil permasalahan ini telah dituntaskan. Begitu juga dalam pengelolaan sumber daya manusia harus dilakukan perencanaan dan perhitungan yang matang. kinerja. Kesederhanaan dan efisiensi tersebut tidak boleh mengurangi produktivitas kerja yang optimal. struktur organisasi. kebijakan pembinaan karier. Optimalisasi produktivitas itu merupakan tuntutan publik yang harus direspon oleh kejaksaan secara bijaksana. mulai sistem rekruitmen pegawai kejaksaan. Meskipun kejaksaan tidak dapat dilepaskan sebagai lembaga publik yang harus mengakomodasi prinsip-prinsip good government juga harus memperhatikan kebutuhan yang spesifik sebagai suatu lembaga penegakan hukum yang mengemban tugas-tugas yang khusus (legal professional organization). Kultur yang dibangun itu hendaklah berangkat dari kesadaran untuk melaksanakan tugas secara profesional. sistem penggajian dan tunjangan jabatan harus dilakukan sejalan dengan kebutuhan yang berkembang dan dilakukan secara cermat. Semua pihak harus dilibatkan guna menumbuhkan sense of belonging terhadap institusi kejaksaan. sistem pendidikan yang menunjang tugas-tugas profesional jaksa. Komisi Kejaksaan sebagai state auxiliary institution hendaklah dilihat sebagai mitra guna membenahi institusi kejaksaan baik di dalam pengawasan perilaku. maka pengawasan terhadap jalannya program-program yang telah digariskan harus dilakukan pula secara transparan dan akuntabel. efisien dan simultan. mutasi dan promosi. Dan pembentukan kultur di lingkungan kejaksaan harus dibangun secara utuh sehingga kejaksaan menjadi lembaga yang solid. Pembenahan yang bersifat struktural meliputi organisasi dan tata kerja kejaksaan diarahkan kepada upaya untuk mewujudkan lembaga kejaksaan sebagai institusi yang sederhana dan efisien. transparan dan akuntabel sesuai dengan visi dan misi kejaksaan. kelengkapan sarana dan prasarana serta sumber 132 Bunga Rampai . Oleh sebab itu fungsi pengawasan internal baik meliputi pengawasan melekat maupun pengawasan fungsional dengan pengawasan eksternal dalam hal ini Komisi Kejaksaan perlu dilakukan secara sinergis.yang sungguh-sungguh. Keunikan ini hendaknya menjadi perhatian pemerintah yang membidangi penataan aparatur negara.

Kemandirian dan akuntabilitas itu menjadi standar bagi keberhasilan kejaksaan dalam memenuhi harapan publik dan pelaksanaan tugas dan wewenangnya secara baik. Optimisme itu harus menjadi komitmen nyata kita semua. Penutup Usaha untuk melakukan reformasi di tubuh peradilan sesungguhnya merupakan perjuangan yang tiada mengenal kata berhenti. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 133 . Kejaksaan tidak hanya dituntut untuk merespon tuntutan publik secara cepat tepat dan independen. Reformasi merupakan sebuah ideologi untuk membangun seluruh komponen bangsa ke arah yang lebih baik. Politisasi lembaga peradilan mutlak harus diakhiri. faktor-faktor itu merupakan variabel yang mempengaruhi kinerja dan hasil yang akan dicapai oleh kejaksaan guna memenuhi ekspektasi publik Dukungan publik terhadap upaya yang dilakukan oleh kejaksaan haruslah diarahkan kepada upaya untuk memberdayakan kejaksaan agar menjadi sub-sistem peradilan yang mandiri dan akuntabel.daya manusia di lingkungan kejaksaan. Akan tetapi kondisi-kondisi internal dan eksternalnya sendiri harus pula diperhitungkan. maka usaha perbaikan di dalam sistem peradilan kita secara keseluruhan akan pula menjadi kenyataan. sebab jika tidak. Pembenahan yang tengah dilakukan oleh kejaksaan diarahkan kepada tujuan untuk mencapai sasaran tuntutan reformasi itu. reformasi peradilan menjadi sekedar wacana yang tak bermakna. Jika reformasi di tubuh kejaksaan telah terwujud. oleh karena itu independensi kekuasaan kehakiman tergantung kepada faktor-faktor internal lembaga peradilan dan political sphare di sekelilingnya. Dukungan publik untuk menciptakan kemandirian lembaga peradilan merupakan qonditio sine qua non.

134 Bunga Rampai .

M. Sikap pengadilan tersebut dianggap men- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 135 . Saat ini kehadiran forum tersebut sangat dibutuhkan khususnya pada saat KUHAP sedang dalam revisi karena dinilai sudah tidak sesuai dengan tuntutan pencari keadilan pasca reformasi.. Efek yang kurang menguntungkan adalah hilangnya forum koordinasi Sistem Peradilan Pidana (SPP) untuk mengefisienkan kinerja antar instansi penegak hukum.Kontribusi Komisi Kepolisian Nasional Dalam Mempercepat Reformasi Peradilan A. tetapi kemudian dibebaskan oleh Pengadilan. Terputusnya koordinasi di antara para penegak hukum lebih disebabkan karena trauma oleh intervensi pihak yang tidak bertanggung jawab dimasa lalu. sehingga mengganggu independensi instansi peradilan. Bukti terputusnya koordinasi SPP dapat digambarkan dari permintaan petinggi Polri kepada Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) untuk mengkritisi kinerja peradilan terhadap kasus pembalakan liar (illegal logging) yang cenderung mengabaikan kinerja Polri. atas nama koordinasi tidak jarang keadilan dikebiri untuk mendukung kepentingan pemerintah atau yang mengatas namakan kepentingan pemerintah.N. Sp.* Pendahuluan Salah satu wujud reformasi di bidang penegakan hukum yang cukup signifikan adalah terputusnya hubungan eksekutif dan yudikatif dengan kembalinya pembinaan dan pengawasan hakim di bawah Mahkamah Agung. LL. Lebih dari itu. Dengan biaya yang tidak sedikit Polri telah bersusah payah menangkap dan memeriksa tersangka pembalakan liar. Pandupraja S.H..

Komisi Kejaksaan dan Komisi Yudisial. problem kinerja pada instansi Polri akan berdampak pada kinerja instansi kejaksaan dan instansi peradilan. Ketiganya. Pada bagian akhir dari tulisan ini akan menekankan pada upaya strategis yang dapat diperankan oleh Community Policing untuk mereduksi gelombang perkara yang melanda lembaga peradilan. Polri terkesan sembrono dan tidak profesional dalam melaksanakan Inpres No. Kondisi tersebut dinilai oleh banyak kalangan menjadi latar belakang mengapa Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tidak memiliki kesamaan visi mengenai reformasi SPP melalui komisi-komisi. yang sama-sama menjalankan fungsi pengawasan diharapkan dapat bersinergi untuk turut mereformasi SPP dengan tetap memperhatikan independensi masing-masing. 4 Tahun 2005 tentang Pemberantasan Penebangan Kayu Secara Illegal di Kawasan Hutan dan Percepatannya di Seluruh Indonesia. Sebagai sebuah sistem. Eksistensi Kompolnas Sejarah lahirnya Kompolnas didominasi oleh isu keluarnya Polri dari ABRI yang tercermin pada Instruksi Presiden No. Sebaliknya problem di instansi peradilan tidak lepas dari problem masukan yang diterima dari instansi Kejaksaan dan Polri. Sebuah mata rantai yang saling terkait satu sama lain (garbage in garbage out).jatuhkan wibawa Polri dalam memberantas pembalakan liar.2/1999 tentang pemisahan TNI-Polri. namun dapat menginisiasi pembentukan forum antar tiga komisi negara di bidang SPP. Tulisan ini akan menguraikan tentang Kompolnas dan peran strategisnya dalam turut membangun Polri yang professional dan mandiri sebagai bagian dari SPP. Padahal kewenangan tersebut sangatlah mendasar dan sekaligus penting untuk menun- 136 Bunga Rampai . Kompolnas tidak memiliki hubungan langsung dengan institusi peradilan. Ketidaksamaan visi ini nampak dari perbedaan mendasar pada kewenangan memeriksa (subpoena power) yang tidak dimiliki oleh Kompolnas tetapi dimiliki oleh Komisi Yudisial dan Komisi Kejaksaan. Pemisahan yang ingin mengembalikan Polri ke khittah-nya adalah sebagai akibat dari ketidakpercayaan masyarakat terhadap TNI-Polri yang telah disalahgunakan oleh rezim Orde Baru. yaitu Kompolnas.

Jawabannya Polri disubordinasikan oleh Kompolnas dengan keberadaan tiga menteri ex officio sebagai anggota yaitu. muncul persoalan subordinasi mengapa Polri ditempatkan di bawah Presiden berdasarkan Keputusan Presiden No. seyogyanya masukan menteri ex officio meliputi pula portofolio departemen yang menjadi kompetensinya masing-masing. ditambah tiga pakar kepolisian dan tiga wakil masyarakat. Rumusan tersebut lebih diarahkan untuk mendudukan secara Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 137 . Atau persoalan yang menghambat sinergi antara Polri dengan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS). tetapi lebih ditujukan untuk memperkaya masukan sebagai pertimbangan Kompolnas dalam merumuskan arah kebijakan Polri (policy maker) bersama-sama dengan pakar kepolisian dan wakil masyarakat (tidak satu pun anggota Kompolnas berasal dari unsur Polri). Misalnya. dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkum dan HAM). persoalan persoalan yang menghambat sinergi kelambagaan antara Polri dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang dilatarbelakangi oleh perbedaan asas.jang kewibawaan lembaga pengawas eksternal. Setelah Polri dipisahkan dari TNI. Hasil evaluasi kinerja Polri terkait relasi kelembagaan sesuai portofolio masing-masing departemen tersebut dapat menjadi masukan dalam menyusun arah kebijakan Polri yang menjadi kewenangan Kompolnas untuk diajukan kepada Presiden dalam rangka membangun Polri yang profesional dan mandiri (Pasal 39 UU No. Berbagai spekulasi sempat mencuat ke permukaan bersamaan dengan pembahasan RUU Polri. Dalam merumuskan arah kebijakan Polri. Arah kebijakan yang telah dirumuskan agar tidak diarahkan untuk memberi peluang kooptasi satu lembaga terhadap lembaga lain. 2 Tahun 2002). Keberadaan menteri ex officio tersebut tentu bukan dimaksudkan untuk menjawab persoalan subordinasi semata. Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam). seperti Polisi Khusus Kehutanan (Polsus Kehutanan) yang izinnya dikeluarkan oleh Menteri Hukum dan HAM.89/2000. Menteri Dalam Negeri (Mendagri). sedangkan TNI berada di bawah Depertemen Pertahanan. Polri menggunakan asas dekonsentrasi sementara Satpol PP yang berinduk kepada Pemerintah Daerah menggunakan asas desentralisasi.

1. Beberapa ketentuan penting yang diatur dalam OTK. Ada 5 jenis keluhan masyarakat yang diatur secara limitative oleh UU Polri: 1) Penyalahgunaan wewenang 2) Dugaan korupsi 3) Pelayanan yang buruk.proporsional peranan Polri selaku penjuru dan pengendali urusan keamanan dan mengeliminasi potensi arogansi sektoral yang dapat memposisikan Polri sebagai lembaga superbody. maka ia akan menjadi pedoman bagi Polri dalam membuat kebijakan teknis kepolisian (Pasal 38 ayat (1) UU No. 5) Penggunaan diskresi yang keliru. Peraturan Kompolnas Dalam menjalankan mandatnya. Peran policy maker bagi Kompolnas tersebut tentu bukan persoalan yang bisa dianggap sepele oleh Polri. Sejak arah kebijakan Polri yang dipersiapkan oleh Kompolnas berubah bentuk menjadi Peraturan Presiden (atau Instruksi Presiden). Termasuk menteri terkait lain sesuai dengan materi muatan kebijakan Presiden tersebut. Misalnya mengandung materi muatan yang menginstruksikan pemerintah daerah untuk mendukung kinerja Polri dalam mengamankan Pilkada. 2 Tahun 2002). atau menginstruksikan pemerintah daerah untuk mendukung program program community policing (Polmas). Posisi strategis Kompolnas sebagai policy maker tersebut diharapkan dapat menjawab persoalan subordinasi posisi TNI di bawah Departemen Pertahanan. Kesetaraan posisi sesama anggota Kompolnas. karena berbagai kepentingan dapat berpotensi untuk menunggangi Kompolnas (atau dianggap menunggangi Kompolnas) dalam membuat disain strategis Polri masa datang. Dan Polri tidak memilliki pilihan lain selain menjabarkannya pada level kebijakan teknis. Karena setidaknya ada dua departemen dengan portofolionya masingmasing turut merumuskan arah kebijakan Polri yang akan menjadi panduan pimpinan Polri dalam membuat kebijakan teknis kepolisian. Kompolnas telah mengeluarkan beberapa peraturan tentang: i) Organisasi dan tata kerja (OTK) ii) Kode Etik iii) Tata Cara Penanganan Saran dan Keluhan Masyarakat (SKM). 138 Bunga Rampai . 4) Perlakuan diskriminatif.

2. . Kesenjangan tersebut telah dijembatani pada pasal 25 ayat 2 OTK yang berbunyi “Saran dan Keluhan Masyarakat yang diterima oleh Kompolnas disampaikan kepada satuan Polri terkait untuk ditindaklanjuti dan hasilnya disampaikan kepada Kompolnas”. Pasal 38 ayat (2) c UU Polri mengatur bahwa Kompolnas menyampaikan Saran dan Keluhan Masyarakat (SKM) kepada Presiden. UU tidak mengatur hubungan kelembagaan Kompolnas dengan Polri sebelum SKM disampaikan kepada Presiden. Pasal tersebut menggambarkan bahwa Kompolnas sangat bergantung dari hasil pemeriksaan internal Polri terhadap SKM yang diterima oleh Kompolnas. maka Kompolnas dapat meminta “gelar perkara“ sesuai ketentuan pasal 25 ayat 3 OTK yang menyatakan “Kompolnas dapat meminta Polri untuk memberikan penjelasan yang berkaitan dengan keluhan masyarakat dalam pertemuan Kompolnas”.pasal 33 ayat 2 OTK: “Pertemuan Anggota Kompolnas dinyatakan sah apabila dihadiri oleh sekurangkurangnya 5 (lima) orang anggota Kompolnas termasuk Pejabat Penghubung liaison officer/LO” (L. namun forum tertinggi yang dapat mengambil keputusan penting Kompolnas adalah Pertemuan Anggota Kompolnas. adalah pejabat yang ditunjuk untuk mewakili menteri manakala yang bersangkutan berhalangan hadir). Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 139 . Ketentuan di atas menggambarkan bahwa sebagai sesama anggota komisi. Apabila Kompolnas tidak dapat menerima atau keberatan terhadap hasil tindak lanjut SKM oleh satuan Polri terkait.Meskipun Ketua Kompolnas adalah Eks Officio Menkopolhukam dan Wakil Ketua Kompolnas adalah Eks Officio Mendagri. kedudukan menteri tidak lebih tinggi dari anggota non menteri dalam pengambilan keputusan pada Rapat Anggota Kompolnas. Kompolnas dapat berhubungan langsung dengan satuan Polri terkait.O. .pasal 33 ayat 3 OTK: “Pengambilan keputusan dalam pertemuan anggota Kompolnas dinyatakan sah apabila disetujui oleh sekurang kurangnya 5 (lima) orang anggota Kompolnas”.

Yaitu: 1. Penyimpangan prosedur penangguhan penahanan. (ii) Terabaikannya prosedur penanganan perkara dengan berkoordinasi dengan instansi Kejaksaan. mengubah posisi pelapor menjadi tersangka dan lain-lain. Laporan penelitian mahasiswa PTIK angkatan XXXIX-A telah menemukan 11 jenis KKN pada Satuan Organisasi Reserse Kriminal (Reskrim) Polri. Bunga Rampai 140 . 3.Pasal tersebut menunjukan bahwa Polri sudah kooperatif dalam mendukung eksistensi Kompolnas. (iii) Akuntabilitas penyidikan sangat rendah sehingga memungkinkan terjadinya diskriminasi terhadap tersangka. 4. Manakala tidak hadir setelah dipanggil dengan cukup. tetapi ditangani oleh beberapa instansi di lingkungan Polri dengan alasan karena dilaporkan oleh orang yang berbeda sehingga tersangkanya menjadi berbeda pula. Penyimpangan prosedur pinjam pakai barang bukti. Sebuah penerapan prinsip kemandirian yang keliru dan cenderung mencederai asas dekonsentrasi. Hal ini disebabkan karena buruknya manajemen penyidikan dan dapat dilihat dari. korban didaftarkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Sebagian pengaduan masyarakat yang berjenis penyalahgunaan wewenang oleh aparat penyidik berupa kriminalisasi masalah perdata. aparat merasa punya cukup alasan untuk menjebloskan korban dalam tahanan. Penyalahgunaan wewenang dapat dibuktikan dengan dibebaskannya tahanan setelah menjalani hukuman selama 60 hari dalam tahanan Contoh kasus DR Chairuddin. Dengan dua bukti tersebut. namun belum dijembatani dengan MoU atau Skep Kapolri untuk menindaklanjuti permintaan Kompolnas kepada satuan Polri terkait. Potensi penyalahgunaan wewenang oleh aparat Penyidik Polri sangat besar. Kolusi dalam penyelenggaraan perjudian. 2. (i) Tidak jarang objek perkara yang sama. Modus operandi yang digemari aparat dalam menakut-nakuti korban adalah ancaman penahanan. Pengaduan Masyarakat Kompolnas memiliki kewenangan untuk menerima pengaduan dari masyarakat mengenai kinerja aparat Polri. Rekayasa penanganan/penindakan kasus pembalakan liar.

(i) menunda-nunda acara persidangan praperadilan.5. Ibarat dokter yang sedang mendiagnose penyakit polisi. Penyimpangan dalam penanganan kasus depo bahan bakar minyak (BBM) illegal. Gugatan praperadilan bertujuan untuk menguji: 1. Penyimpangan penerbitan surat keterangan kehilangan kendaraan bermotor untuk persyaratan klaim asuransi. Penyimpangan dalam penyelidikan dan penyidikan perdaran VCD bajakan. Penyimpangan proses penyelidikan kasus pidana. tentu akan berakibat buruk bagi masa depan karir Penyidik. 7. Sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan. Terjadinya sindikat tindak pidana bidang pertanahan. Sah atau tidaknya suatu upaya paksa berupa penangkapan atau penahanan. Contohnya adalah persidangan kasus Nurhadi di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Upaya yang dapat dilakukan oleh Penyidik adalah. Potensi KKN polisi di lembaga peradilan Upaya hukum untuk melindungi tegaknya hukum dan perlindungan hak asasi tersangka dalam pemeriksaan penyidikan terhadap dugaan penyalahgunaan wewenang oleh aparat penyidik Polri adalah melalui gugatan praperadilan (pasal 77 KUHAP). Penyimpangan dalam penanganan kasus-kasus narkoba. Karena itu Penyidik akan berupaya keras agar gugatan praperadilan gugur. 10. 9. 11. 8. Apabila gugatan praperadilan diterima oleh pengadilan. temuan berharga tersebut dapat diibaratkan sebagai jenis penyakit polisi yang harus disembuhkan atau dieliminasi oleh Kompolnas ketika merumuskan arah kebijakan Polri untuk disampaikan kepada Presiden. 2. 6. dalam rangka menunggu agar persidangan pokok perkara dapat segera dimulai sebelum acara putusan gugatan praperadilan. Kolusi pengelolaan kegiatan prostitusi. atau (ii) mempercepat mulainya proses pemeriksaan pokok perkara sebelum selesainya pemeriksaan gugatan praperadilan (pasal 82 ayat 1 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 141 .

Lalu mempercepat penunjukan hakim dan selanjutnya mempercepat mulainya proses pemeriksaan pokok perkara. lembaga departemen seperti Menteri Penertiban Aparatur Negara maupun non departemen seperti Kejaksaan. seperti yang terjadi di Medan dan Jakarta beberapa waktu lalu. Cara lain yang relatif lebih ringan adalah. Yang membedakan di antara seluruh lembaga pengaduan tersebut adalah kewenangannya untuk menyelidik dan menyidik (subpoena power). Selain itu. Untuk upaya yang kedua Penyidik harus berkolaborasi dengan Jaksa Penuntut. (iii) Tidak segera mengamankan pengadilan manakala dibutuhkan pada saat pengadilan menghadapi demonstran yang brutal. kasus penembak tersangka yang sedang ditangkap oleh aparat Polri. menuntut dan mengadili.KUHAP). lembaga pengaduan eksternal yang menangani masalah-masalah khusus terdapat pada berbagai komisi negara seperti KPK dan Komnas HAM. untuk masalah dugaan korupsi. (i) melobi hakim agar berpihak pada kepentingan penyidik yang mendapat dukungan dari tokoh masyarakat dan LSM. Cara di atas agak berbelit-belit dan melibatkan beberapa pihak yang belum tentu berpihak pada kepentingan penyidik. (ii) membuat gaduh suasana persidangan seolah-oleh akan terjadi keributan dengan tujuan agar hakim yang mengadili gugatan praperadilan menjadi terprovokasi atau ketakutan. Contohnya adalah sidang gugatan praperadilan kasus Nurhadi di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. rekomendasi pengaduan masyarakat yang diberikan Kompolnas kepada Polri untuk ditindaklanjuti berpotensi untuk diabaikan. Upaya hukum yang dilakukan oleh kedua keluarga korban yang telah diatur dalam KUHAP adalah melakukan gugatan praperadilan perihal prosedur 142 Bunga Rampai . Kompolnas tidak memiliki salah satu dari kewenangan tersebut. Kerjasama dengan Komisi Negara Lembaga pengaduan eksternal terhadap kinerja Polri sudah ada dan tersebar di beberapa instansi pemerintah maupun di lembaga kepresidenan. Misalnya. Oleh karenanya. Contohnya adalah kasus Suherman di Pengadilan Negeri Medan. Semakin banyak kewenangan yang dimilikinya akan semakin berperan dalam merespon keluhan masyarakat sehingga akan sangat disegani oleh pihak yang diadukan.

Selanjutnya. Ketika kedua lembaga tersebut sama-sama meneri- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 143 .penangkapan. Penolakan ini seolah-olah turut mengubur akuntabilitas aparat yang menembak korban. Karena keterbatasan kewenangan. Namun. keluarga korban mengadukan hal itu kepada Kompolnas guna meminta akuntabilitas aparat Polri yang menembak korban. Contoh lain. KPK menjadi penjuru yang merancang secara bertahap reformasi birokrasi yang menghambat pemberantasan korupsi. Kerjasama dengan KPK layak ditingkatkan manakala Kompolnas diabaikan atau bahkan tidak dihargai sebagai lembaga pengawas ekternal. sesuai kewenangan Kompolnas dalam menerima saran dan keluhan masyarakat. Kompolnas tidak dapat memanggil paksa aparat tersebut untuk diperiksa. perihal pengaduan dugaan korupsi oleh anggota Polri yang disampaikan kepada Kompolnas. Kompolnas telah meminta agar Polri memeriksa aparat yang bertanggung jawab terhadap pengaduan tersebut. Kompolnas seyogyanya mendahulukan untuk berkoordinasi dengan KPK untuk dapat mengetahui tingkat keseriusan masalah korupsi di tubuh Polri sebagai salah satu penegak hukum. upaya ini ditolak oleh Pengadilan Negeri di masing-masing wilayah. Apakah akan berkoordinasi dengan instansi Polri. Kejaksaan atau KPK. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia). Dalam pemberantasan korupsi. Yang terpenting dalam menempatkan KPK sebagai mitra kerja Kompolnas adalah saran KPK dalam membangun Polri yang bebas dari korupsi. Kalau mencermati kesetaraan posisi sebagai komisi negara. Misal lain adalah pengaduan yang terkait dengan pelanggaran administrasi anggota Polri yang merupakan wewenangan Kompolnas dan Komisi Ombudsman Nasional (KON). Kompolnas memiliki beberapa pilihan untuk menindaklanjuti pengaduan tersebut. Padahal antara masalah prosedur penangkapan dan masalah akuntabilitas penembakan korban adalah dua persoalan yang berbeda secara substansi. Menanggapi pengaduan tersebut. Manakala diperlukan Kompolnas layak untuk bersinergi dengan Komnas HAM berkaitan dengan kewenangannya untuk memanggil dan memeriksa pihak yang diadukan (Pasal 89 ayat (3) UU No. Tindak lanjut dari permintaan ini tentu sangat tergantung dari kemauan Polri.

peraturan pemerintah. dituntut. Koordinasi antar komisi negara mendesak untuk dilaksanakan dalam rangka mengefisienkan kinerja komisi-komisi negara dalam mengoptimalkan sinergi di antara mereka. 4 Tahun 2004 tentang Kehakiman Pasal 9 ayat 1 dan 2 berbunyi sebagai berikut: (1) Setiap orang yang ditangkap. Sebagian dari peraturan tersebut sayangnya sangat jarang digunakan secara benar. Di samping alasan pemborosan anggaran juga masalah efektifitas penyidikan. berhak menuntut ganti rugi kerugian dan rehabilitasi. Beberapa pasal menarik Cukup banyak peraturan dalam rangka mengkoreksi kinerja penegak hukum. Desakan dan kritik masyarakat untuk merestrukturisasi komisi negara agar penjadi perhatian kita semua.ma pengaduan. Kompolnas sangat perlu belajar banyak dari KON dalam menangani pengaduan masyarakat. ditahan. Koordinasi juga penting untuk menghindari tumpang tindih kewenangan dalam menerima dan menangani pengaduan. atau diadili tanpa alasan berdasarkan undang-undang atau karena kekeliruan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkannya. Jangan sampai polisi terlapor akan diperiksa berkali-kali untuk materi pengaduan yang sama oleh instansi yang berbeda-beda. Persoalan yang harus disikapi sejak dini oleh para lembaga penerima pengaduan tersebut. Pasal 9 UU No. peraturan menteri maupun peraturan yang dikeluarkan oleh pimpinan instansi masingmasing. karena telah dinilai sukses oleh masyarakat meski memiliki wewenang yang terbatas seperti Kompolnas. maka selayaknya mereka perlu untuk saling berkoordinasi. baik dalam bentuk undang-undang. Juga untuk menegakkan asas nebis in idem. Kewenangan memeriksa (subpoena power) yang dimiliki oleh beberapa komisi negara seperti Komnas HAM dan KPK sangat penting untuk disinergikan oleh komisi negara yang membutuhkan kewenangan tersebut. Karena pada umumnya pengaduan dikirim kepada hampir seluruh lembaga terkait. (2) Pejabat yang dengan sengaja melakukan perbuatan Bunga Rampai 144 . 1. Kata kunci pemborosan seyogyanya menjadi momok bersama.

pada umumnya Jaksa Penuntut kasus tersebut langsung dieksaminasi atau diperiksa oleh Asisten Pengawasan Kejaksaan Tinggi. keterampilan dan sikap emosional yang matang. yaitu mencintai bidang tugas yang dilakukan. Menurut buku panduan HAM untuk anggota Polri. Apabila dakwaan jaksa dinyatakan tidak dapat diterima oleh majelis hakim. 2. Kata profesional. Ketentuan yang umum digunakan adalah PP 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. 145 . sikap. Profesional merupakan kemahiran dan kemampuan tinggi yang didukung oleh pengetahuan. Bagaimana dengan akuntabilitas aparat polisi apabila yang bersangkutan telah ditangkap dan ditahan? Apakah polisi yang menangkap dan menahan tidak perlu turut bertanggung jawab. ada 4 (empat) indikator kapan seorang polisi disebut profesional: Kompeten (compentence). yaitu satu kata dengan perbuatan secara berkesinambungan. Konsisten (consistence). 3. yaitu keterkaitan antara pengetahuan. mudah diucapkan tetapi sulit dilaksanakan karena belum ada kesamaan visi mengenai apa yang dimaksud dengan profesional. Komitmen (commitment). yaitu memiliki pengetahuan. pidana maupun administratif harus siap dihadapi Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 1. Pasal di atas sepertinya belum pernah diterapkan secara utuh terhadap aparat penegak hukum. sikap dan keterampilan dengan pekerjaan yang dilakukan.sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana. Keterkaitan (connection). 4. Instansi yang konsisten dalam menerapkan aturan PP 30 Tahun 1980 tersebut adalah kejaksaan. keterampilan dan kematangan emosional dalam melaksanakan tugas di bidang masing-masing sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku dan standard pekerjaannya (SOP). Konsekuensi logis bagi seorang notaris/PPAT yang membuat akta adalah yang bersangkutan harus bisa mempertanggungjawabkan setiap kata atau kalimat yang terdapat pada akta notaril yang telah dibuatnya. Konsekuensi apapun baik perdata. sementara Jaksa Penuntut diperiksa? Jawaban atas persoalan tersebut bergantung pemahaman Polri terhadap profesionalisme penyidikan dan konsekuensi logis dari sebuah profesi.

Sungguh menjadi dambaan masyarakat madani apabila prinsip partisipasi yang ada pada Konsil Kedokteran juga diadopsi oleh Polri dalam menangani pengaduan masyarakat terhadap anggotanya. Konsil Kedokteran akan memeriksa pengaduan tersebut apakah terjadi pelanggaran hukum. atau pendapat dari masyarakat harus diklarifikasi dengan gelar perkara oleh penegak hukum. Selanjutnya pasal 4 dari peraturan tersebut memberi batas waktu bagi aparat untuk memproses sebelum klarifikasi selama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal informasi. saran atau pendapat dari masyarakat … harus disampaikan secara tertulis …. pemerintah dan konsumen. Setiap tindakan medis yang dilakukan oleh seorang dokter juga membawa konsekuensi baik perdata. pidana maupun administratif.oleh yang bersangkutan. 146 Bunga Rampai . Begitu pula dengan profesi dokter. Ketika seorang dokter diduga melakukan mal praktek. komposisi Konsil Kedokteran terdiri dari perwakilan stakeholder: akademisi.17 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat dan Pemberian Penghargaan Dalam Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. saran atau pendapat diterima. Prinsip partisipasi sebagai salah satu unsur masyarakat madani telah berlaku bagi dunia kedokteran. Sayangnya pada saat bersamaan penyidik Polri tidak berpikir bahwa sebagai sesama profesi dirinya juga harus dapat mempertanggungjawabkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang dibuatnya. pelanggaran disiplin atau pelanggaran etika. saran. Pasal 3 PP 71/2000 berbunyi sebagai berikut: (1) Informasi. Kalangan penyidikpenyidik Polri sangat paham bagaimana menginterogasi notaris/PPAT dalam meminta pertanggungjawaban sebagai notaris/PPAT. dokter. Pasal 3 dan 4 Peraturan Pemeritah No. Community Justice melalui Community Policing Sampai saat ini masyarakat yang tinggal di Meruya masih tetap siaga melakukan perlawanan terhadap segala upa2. (2) Setiap informasi. Yang menarik. Meskipun uang yang didapat tidak sebanding dengan tanggung jawabnya.

Meskipun demikian. Faham ini berpendapat bahwa hukum sebagai sistem yang otonom alias lebih superior dibanding dengan sistem lain seperti ekonomi. Hukum harus ditegakkan sekalipun langit akan runtuh. Bahkan ia akan tergulung oleh ganasnya ombak samudra peradilan. sosial dan politik. Tiba-tiba muncul putusan Mahkamah Agung yang membatalkan kepemilikan tanah mereka. jumlah perkara yang masuk ke pengadilan setiap tahun selalu meningkat sejalan dengan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 147 . Kasus Meruya hanya salah satu dari segudang putusan Mahkamah Agung pasca reformasi yang jauh dari rasa keadilan yang menjadi tujuan dari kekuasaan kehakiman seperti yang diamanatkan oleh UU No. Hukum di atas segalanya. Cara pandang hakim dalam memutuskan kasus tersebut disebut legalisme yang dikomandani oleh Hans Kelsen dan Jhon Austin. Segala daya upaya dikerahkan agar putusan tersebut tidak dapat dilaksanakan. karena mereka merasa telah membeli secara sah tanah mereka dihadapan pejabat yang sah dan mendapat bukti kepemilikan berupa sertifikat tanah yang dikeluarkan oleh BPN. Hukum dianggap selalu benar dan adil. Stigma yang melekat terhadap dunia peradilan. maksudnya mengurus perkara senilai anak kambing tapi biaya yang harus dikeluarkan senilai sapi. Pencari keadilan yang memasuki arena peradilan diibaratkan menceburkan diri dalam gelombang samudra yang menafikan eksistensi kemanusiaan pencari keadilan. Bahkan tidak satupun responden yang berpendapat penegakan hukum di Indonesia sudah berjalan baik. kasus yang masuk pengadilan dianggap sebagai komoditas. Untuk mensakralkan putusan hakim. setiap putusan menggunakan irah-irah Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Ia akan kehilangan arah mengadu nasib diantara badai ombak samudra. tidak jelas mana Utara mana Selatan. Tidak heran kalau kemudian ada peribahasa Jawa yang berbunyi.6% responden tidak percaya terhadap kinerja penegakan hukum.ya untuk menangkal eksekusi Putusan Mahkamah Agung. Pandangan seperti itu tercermin pula dari hasil penelitian Kompas tanggal 17 Maret 2003 bahwa 86. 4 Tahun 2004. “ngurus cempe kelangan sapi”. Mereka telah tinggal berpuluh tahun di Meruya tanpa ada gangguan dan teguran perihal status hukum kepemilikan tanah mereka.

Mahkamah Agung telah menerbitkan Surat Edaran Mahkamah Agung No. 1 Tahun 2002 dengan judul “Pemberdayaan Pengadilan Tingkat Pertama Dalam Menerapkan Lembaga Damai”. Karena itu Mahkamah Agung lalu merubah Surat Edaran tersebut menjadi Peraturan Mahkamah Agung No. Mediasi sengketa perdata lebih dikenal dengan istilah Alternatif Dispute Resolution (ADR). Upaya tersebut ternyata tidak berhasil menyurutkan gelombang perkara ditingkat banding dan Kasasi. Polmas antara lain bertujuan menyelesaikan pertikaian antar warga dengan difasilitasi oleh petugas kepolisian yang menggunakan mekanisme informal dengan berpegang pada norma-norma sosial setempat dan kesepakatan-kesepakatan lokal oleh masyarakat sekitar (community justice). Pol: SKEP/737/ X/2005 tentang Kebijakan dan Strategi Penerapan Modal Perpolisian Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Tugas Polri. negara sejak lama telah mengakomodir melalui UU No. PERMA tersebut dimaksudkan memberi peluang terakhir (meskipun bukan yang paling akhir) bagi para pihak yang bersengketa untuk damai. Upaya untuk mengurangi volume perkara di luar pengadilan. Namun kenyataannya tetap saja mekanisme tersebut tidak berhasil mengurangi secara berarti volume perkara di pengadilan. Untuk menanggulangi penumpukan perkara di lembaga peradilan. 2 tahun 2003 dengan judul “Prosedur Mediasi di Pengadilan” (PERMA). sehingga jumlah kasus di Mahkamah Agung sudah menggunung. Pol: SKEP/432/VII/2006 tentang Panduan Fungsi Samapta Dengan Pendekatan Perpolisian Masyarakat (Polmas). Ketentuan tersebut diperkuat lagi dengan Keputusan Kapolri No.peningkatan kesadaran hukum masyarakat. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Penyelesaian Sengketa. Dengan harapan agar para pihak yang berperkara akan mencabut gugatannya. 148 Bunga Rampai . Lembaga yang dimaksud adalah Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) untuk urusan arbitrase dan Pusat Mediasi Nasional (PMN) untuk urusan mediasi sengketa perdata. Upaya terbaru yang dilansir pemerintah untuk mengurangi volume perkara di pengadilan adalah lembaga community policing yang disebut dengan Perpolisian Masyarakat (Polmas) melalui Keputusan Kapolri No.

Keterbatasan jumlah. Posisi Satpol PP menjadi semakin kuat mendukung kewibawaan pemerintah lokal. Disamping itu. Kekosongan penegakan hukum ditingkat pemerintah lokal kabupaten/kota telah diisi dengan keberadaan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Akibatnya terjadi kekosongan penegakan hukum ditingkat pemerintah lokal.41 Tahun 1999. Derasnya arus modernisasi mendorong masyarakat dimanapun untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama yang telah mengakar kuat dalam satu komunitas. mengakibatkan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 149 . aparat Bea Cukai telah mengambil alih posisi Polri sesuai UU Bea Cukai. tolong menolong. Hasil penyidikan aparat Bea Cukai langsung diserahkan kepada Jaksa Penuntut Umum tanpa koordinasi dengan Polri.Community Policing Kata community atau masyarakat tidak dapat didefinisikan secara sederhana karena memiliki makna yang berbeda beda dan lingkup yang berbeda-beda untuk setiap orang yang mendefinisikannya. Teknologi media komunikasi. mengakibatkan pudarnya norma moral dan sosial. namun tetap saja belum dapat memenuhi harapan masyarakat. gotong royong. Meskipun UU Otonomi Daerah telah memberi peluang bagi Satpol PP untuk mengambil peran dalam penegakkan hukum lokal. penerapan asas dekonsentrasi secara rigid mendominasi alasan mengapa Polri terisolasi dari masyarakatnya. Setiap masyarakat memiliki karakteristik yang berbeda-beda antara budaya. Kondisi yang sama juga terjadi ditingkat teknis departemental. Dalam rangka mengamankan UU Kehutanan No. Misalnya nilai nilai kebersamaan. Masyarakat cenderung keluar dari norma-norma sosial yang selama ini dijunjung tinggi. Polri sudah sangat disibukkan dengan urusan penegakan hukum ditingkat nasional dalam rangka mempertahankan negara kesatuan Republik Indonesia. Profesionalisasi juga memiliki andil dalam memisahkan masyarakat dari tatanan sosialnya. Reformasi tata pemerintahan telah membagi kewenangan antara pusat dan daerah. Polisi Khusus Kehutanan menggantikan posisi Polri untuk urusan teknis kehutanan. nilai dan masalah yang beraneka ragam di suatu lingkungan pada suatu wilayah tertentu. Bahkan. khususnya televisi sebagai penyumbang terbesar dalam perubahan norma sosial. untuk urusan penegakkan hukum di pelabuhan.

Mereka aktif membersihkan papan reklame yang melanggar aturan apabila tidak membayar pajak papan reklame. Kelompok Mitra Pengaman Hutan (KMPH) di Desa Sesaot. program Police Goes To Kampung. Situasi tersebut cukup bisa dipahami karena Polmas baru dihidupkan kembali. tertib dan bersih. Lombok Barat telah merumuskan pelanggaran dan sanksi bagi perambah hutan lindung sebagai berikut: 150 Bunga Rampai . Seperti misalnya. Legitimasi sangat diperlukan dalam rangka membangun kepercayaan masyarakat lokal. Penelitian LP3ES telah mengangkat temuan bagaimana masyarakat lokal telah berhasil menindak pelanggaran pidana dengan menggunakan kearifan lokal melalui mekanisme Alternatif Dispute Resolution (ADR). Misalnya terhadap penebangan liar di kawasan hutan lindung. Program Polisi Simpatik. Dukungan dapat berupa anggaran maupun legitimasi program dalam bentuk Peraturan Daerah. Saat ini Polmas sedang mencari legitimasi politik dan dukungan pendanaan dari pemerintah daerah.Satpol PP hanya bisa menjaga areal pertokoan dan fasilitas Pemda. bangunan liar dan lain lain yang tidak kalah penting daripada urusan menertibkan papan reklame. Belum terlihat orientasi program ke arah penegakkan peraturan daerah dalam rangka membantu kinerja Satpol PP. Program serupa dulu dikenal dengan nama Siskamling. Dukungan pemerintah lokal sangat diperlukan dalam rangka menjaga kesinambungan maupun keberlanjutan program Polmas. Kinerja Satpol PP sarat dengan kepentingan Pemda. Padahal berbagai peraturan daerah membutuhkan penegak hukum untuk menciptakan lingkungan yang aman. Patroli Komunitas (Ronda). merokok di sembarang tempat. Hasil Evaluasi Polmas 2005 oleh Polri telah merekomendasikan agar dukungan pemerintah setempat menjadi variable penting dalam perumusan maupun pengembangan program Polmas. Seperti masalah membuang sampah sembarangan. Pelanggaran hukum dan Perda Penegakan hukum oleh komunitas telah dapat diselesaikan dengan menggunakan kearifan lokal sesuai kondisi (baca: kebutuhan) masyarakat sekitar. Polmas melalui Forum Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM) baru sebatas memecahkan konflik antar warga maupun antar warga dengan polisi/pejabat setempat.

maka dikeluarkan dari tempat tinggalnya di desa. pelanggaran pidana tidak harus diselesaikan dengan ancaman pidana berupa penahanan. Pasal ini selalu bertengger di lembar panggilan yang dikeluarkan oleh polisi. dengan jumlah dan volume sesuai kondisi ketika kasus tersebut terjadi. Pasal 216 KUHP berbunyi sebagai berikut “barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang undang oleh Pegawai Negeri berdasarkan tugasnya … diancam dengan pidana penjara paling lama 4 bulan 2 minggu atau denda paling banyak Rp. Masyarakat telah melakukan dekriminalisasi kejahatan pidana menjadi denda. Hal tersebut juga tercermin dalam draft RUU KUHAP Baru.9. sanksinya cukup meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi di depan warga masyarakat. Pelajaran dari kasus-kasus di atas. Padahal upaya paksa pada pasal 216 KUHP menjadi andalan polisi dalam memanggil seseorang (baca.- Bila menebang (mencuri kayu) sekali karena alasan pemenuhan ekonomi keluarga.25. bahwa upaya paksa berupa penahanan cenderung dikesampingkan. Bila menebang (mencuri) lebih dari sekali karena alasan pemenuhan ekonomi keluarga. Penahanan bukan lagi cara efektif dalam menegakkan hukum. Pada dasarnya penangkapan dan penahan yang tidak berdasarkan hukum Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 151 . kasus perselingkuhan diselesaikan dengan “grosok”. - - Bila menebang (mencuri) lebih dari 3 (tiga) kali dengan motif komersial. telah diubah menjadi denda satak sekat kurang sekek kepeng bolong (Saat ini uang Cina telah dikonversi menjadi Rp. yaitu keharusan membeli tanah grosok untuk pengerasan jalan. Demikian halnya dengan perzinahan yang diatur dalam pasal 284 KUHP dengan ancaman hukuman selama-lamanya 9 bulan penjara. Kasus pencemaran nama baik (gila bibir) yang diancam hukum pidana penjara 9 bulan berdasarkan pasal 310 KUHP.000). Sanksi pidana perzinahan oleh masyarakat adat di Lombok telah diubah menjadi denda seket kurang sekek kepeng bolong (uang Cina). maka didenda menanam pohon 50 kali lipat dari jumlah pohon yang ditebang.000 Rupiah”. terlepas dari apakah panggilan tersebut baru panggilan pertama atau bukan. menakut-nakuti). Di desa Munggut.

(pasal 32 ayat 1 dan 3. Contoh peraturan di atas menggambarkan bahwa Pemda telah membuat aturan masalah perparkiran dengan sanksi pidana. Ketika polisi melakukan pelanggaran HAM dan hukum. tanda masuk parkir…. Polisi menjadi tidak professional karena mereka menjadi pelaku kejahatan dan tidak lagi sebagai petugas penegak hukum.000 dan sanksi adminstratif bagi pengemudi yang parkir sembarangan yaitu 5 kali biaya parkir. jauh dari yang didambakan masyarakat pengguna jalan di Jakarta.000. Sebagai contoh Peraturan Daerah DKI No.5. usaha penyelenggaraan perparkiran. Namun karena petugas Satpol PP sangat terbatas. seketika itu juga kepercayaan masyarakat langsung sirna. merokok di sembarang tempat. marka parkir.alias mengada-ada adalah melanggar HAM. Polmas diharapkan merambah ke ranah Perda yang menjadi domain pemerintah daerah.). (tanpa memperoleh izin dari Gubernur Kepala Daerah. denda dan adminstratif. Hampir bisa dipastikan tiap daerah telah mengatur dan memberi sanksi bagi warganya yang membuang sampah sembarangan. melakukan antara lain. Perda Perpakiran DKI No. perubahan terhadap rambu. Kasus semrawutnya kondisi parkir di Jakarta tersebut menjadi salah satu contoh betapa perlunya keberadaan penegak hukum dengan nama apapun baik polisi. Ancamannya sanksi pidana kurungan selama lamanya 3 bulan atau denda maksimal Rp. Satpol PP atau FKMP. membangun bangunan liar atau membangun tanpa mengindahkan aturan sempadan jalan sehingga mengganggu jalan dan pemandangan. 5 tahun 1999). Berbagai studi kasus di Lombok tersebut di atas diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi FKPM atau lembaga apapun namanya untuk mencari formula penyelesaian masalah di perkotaan meskipun harus 152 Bunga Rampai .5 Tahun 1999 tentang Perparkiran. Pasal 30 ayat (1) sebagai berikut: “Dilarang dengan cara dan bentuk apapun. agar tercipta ketertiban masyarakat sehingga warga masyarakat merasa nyaman tinggal di Jakarta. maka ketertiban dan rasa nyaman tinggal di Jakarta sesuai maksud dari pembuat Perda tersebut. Kondisi perparkiran semrawut dan premanisme di tempat-tempat parkir merajalela.

Kepala Desa menjadi tumpuan apabila terjadi konflik atau sengketa antar warga.merubah ancaman sanksi yang diatur oleh Perda. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 153 . Namun terhadap pelanggaran hukum atau norma masyarakat (falk law). karena Kepala Desa yang dipilih langsung sudah tidak ada dalam struktur pemerintahan di perkotaan. Tokoh kunci dalam proses penegakan hukum sangat penting dalam menentukan keberhasilannya. Community Justice Konflik antar warga masyarakat diselesaikan dengan cara win win solution. Masyarakat perkotaan akan memandang lembaga yang merepresentasi banyak kepentingan lebih memiliki legitimasi. Mereka akan mendatangi rumah Kepala Desa kapan saja walau sampai tengah malam. Kalangan akademisi. Pelanggar hukum harus bersedia menjalankan sanksi denda yang telah ditetapkan berdasarkan kesapakatan masyarakat sekitar. tokoh masyarakat dan LSM yang kinerjanya masih dapat diterima oleh publik. Hasil survey di Kabupaten Ngawi Jawa Timur (2005) disimpulkan bahwa hampir 80% responden (dari 75 responden) menyerahkan penyelesaian konflik kepada figur Kepala Desa. Kombinasi representasi berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) menjadi penting dalam mengatur komposisi lembaga yang memiliki wewenang untuk menyelesaikan konflik di masyarakat (community justice). menggunakan pendekatan yang berbeda. Kepala Desa sebagai Hakim Perdamaian. dipersepsikan tidak memiliki interest dibanding kelompok partisan lain. Kepala Desa dituntut untuk memiliki pengetahuan yang lebih dan kearifan sikap agar keputusan yang diambil tidak berat sebelah dan dapat diterima para pihak yang bersengketa sehingga tidak menimbulkan masalah dikemudian hari. Kompolnas memiliki posisi strategis untuk menginisisasi kerjasama antar komisi negara bidang penegakan hukum seperti Komisi Kejaksaan dan Komisi Yudisial. Kesimpulan 1. dianggap lebih memiliki legitimasi dibandingkan dengan tokoh informal seperti Kyai. Demikan halnya di Desa Munggut Lombok (2005). tokoh agama. Penyelesaian konflik di masyarakat perkotaan tidak dapat mengandalkan kharisma seorang Kepala Desa.

Termasuk dalam mengisi ruang kosong dalam masalah penegakan peraturan daerah. Kompolnas dapat berperan penting dalam memperkuat peranan Polmas dalam bersinergi dengan unsur-unsur Pemerintah Daerah untuk turut menyelesaikan atau mencegah penumpukan perkara di lembaga peradilan. Yaitu lembaga yang menyelesaikan konfik pada masyarakat perkotaan yang merupakan representasi dari berbagai stakeholders. 4. Salah satu lembaga yang dapat dipromosikan oleh Kompolnas adalah Community Justice sebagai bagian dari Polmas. Dengan keberadaan Menteri Dalam Negeri sebagai anggota Kompolnas. Dengan menurunkan jumlah perkara di lembaga peradilan diharapkan peradilan dapat berbenah diri dalam mereformasi dirinya dan dapat berkonsentrasi untuk menghasilkan putusan yang sesuai dengan rasa keadilan masyarakat.2. 3. 154 Bunga Rampai . Kurang lebih setara dengan fungsi jury di negara negara yang menganut sistim common law.

Lahirnya lembaga yang memiliki kewenangan mengusulkan pengangkatan hakim agung dan pengawasan hakim pemegang kekuasaan kehakiman. hukum sepanjang pemerintahan Orde Baru telah menjadi instrumen yang melegitimasi setiap tindakan penguasa. Inisiasi lahirnya lembaga ini tidak lepas dari sejarah peradilan Indonesia yang semakin jauh dari visi dasarnya untuk menegakkan keadilan bagi pihak-pihak yang berperkara atau bagi mereka yang terenggut hak asasinya. dibentuk sebagai mandat konstitusional Undang-Undang Dasar 1945 hasil amandemen.Peran Serta Elemen Masyarakat Sipil dalam Mendorong Proses Reformasi Peradilan dan Penegakan Hukum Prof. Berbagai pengalaman yang melatari bergulirnya reformasi. Peradilan juga telah menjadi alat bagi pembungkaman suara kritis masyarakat yang menyatakan keberbedaannya dengan negara. telah memperkuat sumber legitimasi kehadiran * Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Guru Besar Politik Islam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 155 . Din Syamsuddin * Kelembagaan Komisi Yudisial Republik Indonesia di tahun 2007 ini memasuki usia ke-2 sejak dibentuk pada Agustus 2005. Dalil kehadiran Komisi Yudisial di atas sangat relevan dengan refleksi bangsa Indonesia terhadap perjalanan peradilan sebelum adanya Komisi Yudisial. meski tindakan itu bertentangan dengan hukum. Dr. di masa itu tidak demikian adanya. Desain pengadilan yang semestinya menempatkan semua orang setara di muka hukum. Sebagaimana diketahui. M.

Dengan kehormatan dan keluhuran martabatnya. dan kemungkinan pemberhentian hakim. keluhuran martabat. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga dan menegakkan kehormatan. Masyarakat yang terhimpun dalam berbagai organisasi keagamaan. Secara eksplisit. tidak bisa disangkal bahwa Komisi Yudisial memainkan peranan penting dalam rangka reformasi peradilan dan penegakan hukum dalam sistem kenegaraan Indonesia. dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat selama ini telah menunjukkan peran sertanya dalam berbagai upaya reformasi peradilan dan penegakan hukum. Dengan demikian. Keberadaan Komisi Yudisial sebagai lembaga pengawas eksternal terhadap hakim. Komisi Yudisial menempatkan masyarakat sebagai mitra utama dalam menjalankan kerja-kerjanya. organisasi masa. Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama bekerja sama 156 Bunga Rampai . Keberadaan masyarakat sebagai mitra utama bukan hanya dibutuhkan oleh Komisi Yudisial melainkan juga tuntutan reformasi di mana telah menempatkan masyarakat sebagai kelompok strategis dalam memantau peradilan dan penegakan hukum. dalam menjalankan fungsinya sangat bergantung pada laporanlaporan masyarakat. penilaian kinerja. Argumen kehadiran dan karakter kelembagaan Komisi Yudisial sebagaimana dipaparkan di atas. Komisi Yudisial misalnya. Tanpa partisipasi masyarakat. sulit bagi Komisi Yudisial memaksimalkan fungsinya. Peran Serta Masyarakat Peran serta masyarakat jelas sangat menentukan keberhasilan reformasi peradilan. serta perilaku hakim dalam rangka mewujudkan kebenaran dan keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. kekuasaan kehakiman yang merdeka dan imparsial (independent and impartial judiciary) diharapkan dapat diwujudkan baik dari segi hukum maupun segi etika. jelas menuntut adanya keterlibatan masyarakat dalam menjalankan perannya sebagai lembaga negara yang bertugas melakukan pengawasan.lembaga pengawas para hakim ini. Bahkan masyarakat jauh lebih utama menjadi mitra dibanding hakim-hakim yang menjadi obyek pengawasan. dimaksudkan agar warga masyarakat di luar struktur resmi lembaga parlemen dapat dilibatkan dalam proses pengangkatan.

Pemantauan memiliki arti penting dalam rangka memastikan agar setiap kehendak politik yang terakumulasi dalam suatu kebijakan negara diorientasikan sepenuh-penuhnya untuk memberikan keadilan bagi semua orang. Peran serta masyarakat yang paling banyak dilakukan pertama. Elemen-elemen masyarakat sipil yang berhimpun dalam lembaga swadaya masyarakat diakui memang memiliki peran yang lebih fokus. hampir di semua lembaga-lembaga tersebut terdapat bidang atau departemen yang secara khusus menangani soal reformasi peradilan dan penegakan hukum. termasuk di dunia peradilan. Dalam tubuh lembaga-lembaga keagamaan. Kelompok masyarakat sipil lainnya adalah kalangan perguruan tinggi. secara terus menerus memberikan perhatian pada upaya reformasi peradilan dan penegakan hukum. terdapat juga pusatpusat kajian yang secara ilmiah memberikan inisiatif-inisiatif untuk menjadikan dunia peradilan lebih baik. Terakhir Muhammadiyah beserta ormas-ormas Islam kembali menggerakkan Jihad Melawan Koruptor Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Ada juga yang berkonsentrasi dalam pemantauan pembentukan perundang-undangan. Mereka yang tergabung dalam Lembaga-lembaga Bantuan Hukum misalnya. Independensi para ilmuwan dan aktivis yang berhimpun dalam pusat-pusat studi telah secara nyata memberikan kontribusi bagi dunia peradilan dan penegakan hukum. adalah melalui kerja-kerja pemantauan dibidang peradilan dan penegakan hukum. Bahkan peran serta itu belakangan telah diakui urgensi dan signifikasinya. karena lembaga-lembaga itu didesain khusus untuk memainkan peran-peran tertentu. karena dunia peradilan dan penegakan hukum merupakan sektor yang sangat berhubungan dengan kepentingan umat dan publik secara umum. Kerja pemantauan diharapkan mampu Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 157 . pemberantasan korupsi dan lain-lain. sejak tahun 2004 telah memprakarsai gerakan melawan korupsi di semua lini pemerintahan. Inisiatif-inisiatif seperti ini jelas dibutuhkan dalam reformasi peradilan dan penegakan hukum. Bahkan banyak diantara mereka yang kemudian membangun kemitraan strategis sebagai partner atau bahkan mengasistensi lembaga-lembaga peradilan. Di samping lembaga bantuan hukum.dengan Kemitraan untuk Pembaruan Tata Pemerintahan yang baik misalnya.

dapat dijalankan. Peran ini biasanya banyak dilakukan oleh kalangan perguruan tinggi atau lembaga-lembaga studi yang mengkonsentrasikan diri pada upaya penyediaan konsep-konsep alternatif reformasi peradilan dan penegakan hukum. dan lain sebagainya merupakan gagasan-gagasan kelompok kritis masyarakat sipil yang kemudian diadopsi oleh negara. peran serta lainnya adalah dalam bentuk kam- 158 Bunga Rampai . Beberapa capaian yang telah diperoleh adalah kemungkinan justiciability yang bisa diperoleh para pihak yang dirugikan akibat lahirnya sebuah kebijakan negara yang tidak menguntungkannya. kepercayaan publik belum sepenuhnya bisa tumbuh akibat minusnya penindakan jika pengawasan menemukan abuses yang dilakukan oleh para penegak hukum. kerja pemantauan juga merupakan bentuk kontrol publik untuk menyeimbangkan kekuatan antara penyelenggara negara atau pemerintahan dengan publik di daerah itu. pelaksanaan dan penegakan maupun dampak dari berbagai prosesproses peradilan dan penegakan hukum. Komisi Kejaksaan. Pemantauan yang dilakukan oleh elemen masyarakat sipil ini merupakan jawaban atas tidak adanya akuntabilitas yang terlembagakan pada lembaga-lembaga peradilan. Kedua. citizen lawsuit. adalah sejumlah contoh terobosan yang didorong oleh masyarakat sipil dalam rangka reformasi peradilan dan penegakan hukum. peran serta dibidang pengkajian. Komnas Perempuan.menghimpun fakta-fakta yang baik maupun yang kurang baik dari segi proses penyusunan. penetapan indikator-indikator pembangunan berbasis hak asasi manusia dan kesetaraan gender. Komisi Kepolisian. substansi. Dalam sistem demokrasi. Bahkan inisiatif lahirnya Mahkamah Konstitusi. Mekanisme class action. Serangkaian exercise yang menerabas tradisi praktik hukum di Indonesia ditawarkan dan diujicobakan. Ketiga. Sekalipun pengawasan internal di tubuh lembaga peradilan sudah tersedia. Komnas HAM. sebagai salah satu prinsip demokrasi. Komisi Yudisial. Mereka berhimpun dan mengkonsentrasikan diri pada upaya-upaya memastikan proses peradilan berjalan fair. Dengan demikian prinsip checks and balances. Kerja-kerja pemantauan selama ini banyak dilakukan oleh kelompok elemen sipil yang tergabung di dalam lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Komisi Penyiaran.

Eksaminasi atau dalam bahasa Inggris disebut dengan “examination” diartikan sebagai an investigation. atau yang dalam kamus bahasa Inggris-Indonesia sebagai ujian atau pemeriksaan. search. interrogation. dalam praktiknya. Keteladanan para pemimpin organisasi dan interaksi langsung yang para pemimpin dengan jamaahnya. Sejak lahirnya Komisi Yudisial. Eksaminasi publik dilakukan terutama untuk melakukan penilaian apakah keputusan-keputusan yang dikeluarkan oleh lembaga peradilan telah memenuhi standar profesional dan prinsip-prinsip penegakan hukum dan hak asasi manusia. Namun demikian. Kebanyakan jenis peran serta ini dilakukan oleh organisasi masyarakat sipil yang memiliki basis masa yang besar. Ormas-ormas keagamaan misalnya.panye penyadaran hukum. adalah elemen yang sangat berpotensi melakukan kampanye penyadaran hukum dalam rangka memperkuat kultur hukum masyarakat. sulit sekali memeriksa profesionalisme hakim dalam sebuah Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 159 . Berangkat dari fakta bahwa judicial corruption belum sepenuhnya teratasi. inspection. akan tetapi temuan pandangan hukum kelompok di luar mejelis hakim ini akan menjadi pembelajaran yang sangat berarti bagi perkara-perkara lain yang sama. sebenarnya fungsi eksaminasi atas putusan hakim. lemahnya mekanisme kontrol internal lembaga-lembaga peradilan. eksaminasi publik atas putusan-putusan hakim. secara konstitusional diperankan oleh Komisi Yudisial. Akan tetapi Komisi Yudisial hanya memiliki kewenangan mengeksaminasi terkait profesionalisme hukum dan tidak masuk pada substansi perkara yang dipersoalkan. bisa dilakukan oleh lembaga peradilan yang ada pada level di atasnya sebagai bentuk pengawasan internal atau dilakukan oleh publik sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam memantau dunia peradilan. merupakan media dan instrumen kampanye mengubah paradigma berpikir dan tata tindak yang konstruktif pada upaya-upaya penegakan hukum. di samping dilakukan oleh Mahkamah Agung. Meskipun kegiatan eksaminasi publik ini tidak memberikan dampak langsung terhadap perkara yang telah divonis. Keempat. sejumlah lembaga swadaya masyarakat dan perguruan tinggi saat ini mempelopori praktik uji putusan hakim maupun produk kerja lembaga peradilan. di samping juga melakukan pemantauan dan pengkajian.

Dunia peradilan yang menjadi obyek peran serta juga sudah semestinya menyadari betapa membangun aliansi strategis dengan elemen masyarakat sipil adalah hal yang pokok dalam men-delivery keadilan segera sampai ke tengah masyarakat. sehingga meskipun dengan pendekatan dan strategi yang berbeda. Peran serta kemudian menjadi bagian yang dianggap tidak menarik sebagian elemen masyarakat sipil. Sasaran utama dari kegiatan eksaminasi ini adalah mendorong para hakim agar membuat putusan dengan pertimbangan yang baik dan profesional. Karena itu produk Komisi Yudisial sering diabaikan. Keberbedaan pendekatan antar elemen juga sering menjadikan pilihan strategi yang berbeda. Jaminan akomodasi peran serta masyarakat sekalipun secara yuridis tidak diatur. Untuk memaksimalkan upaya reformasi peradilan itulah maka publik menginisiasi praktik-praktik eksaminasi yang disebut dengan eksaminasi publik. yakni perbaikan peradilan dan penegakan hukum. Catatan yang dapat diajukan dalam memandang peran serta masyarakat sipil dalam reformasi peradilan dan penegakan hukum ini. seringkali ekpektasi publik tidak terpenuhi oleh lembaga-lembaga peradilan. sejauh mana pertimbangan hukum dari hakim yang memutus perkara tersebut berkesesuaian dengan prinsip-prinsip hukum dan prosedur hukum acara dengan benar. Tujuan eksaminasi secara umum adalah untuk mengetahui. serta menakar sejauh mana sebuah putusan telah menyentuh rasa keadilan masyarakat. maka para anggota legislatif 160 Bunga Rampai . Reformasi yang digulirkan sejak 1998 telah membuktikan bahwa pengabaian terhadap aspirasi masyarakat telah meminggirkan kekuasaan yang selama ini dianggap kokoh.putusan tanpa menyoal substansinya. Jika eksistensi publik dalam dunia peradilan sudah disadari urgensinya. Semestinya sinergi harus bisa dibangun. tetap bisa mengarah sasaran yang sama. Menuntaskan kerja reformasi (termasuk di sektor peradilan) jelas tidak bisa lepas dan mengabaikan peran serta masyarakat. secara sosio-politik peran serta masyarakat berimplikasi besar terhadap perubahan dunia peradilan. Sikap a priori dan konfrontatif lembaga-lembaga peradilan hanya akan memperburuk citra lembaga peradilan itu sendiri.

Diseminasi tentang pentingnya peran serta masyarakat sipil yang meluas akan mampu melahirkan kekuatan kritis dan membangun kesadaran kolektif bangsa.juga dituntut untuk bisa mengakomodasi berbagai aspirasi publik dalam setiap penyusunan perundang-undangan. Karena itu. diskursus dan praksis peradilan dan penegakan hukum hingga saat ini masih menjadi isu yang elitis. Jika mau diakui. Harus diakui. tapi telah menjalar kepada sebagian besar masyarakat Indonesia. membuat advokasi penegakan hukum seolah-olah hanya menjadi urusan LSM. Jika kondisi yang demikian ti- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 161 . meskipun di beberapa perguruan tinggi telah tumbuh pusat-pusat studi. dan berkelanjutan. Tak jarang kemudian. sebagai salah satu kesadaran evaluatif atas ketersumbatan arus reformasi peradilan patut dipertimbangkan. Refleksi atas keberadaan lembaga-lembaga kemasyarakatan dan keagamaan dalam memaksimalkan peranannya mendorong reformasi peradilan dan penegakan hukum telah menjadi memicu semua pihak untuk segera berbenah diri secara lebih serius. pilihan diseminasi dan edukasi pentingnya peran serta masyarakat dalam reformasi peradilan dan penegakan hukum. yang akan menjadi alat efektif untuk melakukan kontrol dan pressure terhadap negara untuk berkomitmen menegakkan hukum. mayoritas masyarakat Indonesia justru balik menuduh LSM yang melakukan provokasi untuk membuat berang sebuah rezim. Minusnya dukungan sosial. dedikasi dan kesungguhannya masih belum optimal. organisasi masyarakat. sistematis. penegakan hukum hak asasi manusia di Indonesia adalah minusnya kerja-kerja diseminasi publik yang menyadarkan warga tentang pentingnya kerja bersama membangun kelembagaan peradilan yang independen dan akutabel. Tuduhan ini tidak hanya monopoli aparat negara semata. baik di kalangan perguruan tinggi. Bahkan sebagian besar perguruan tinggi. organisasi keagamaan dan komunitas-komunitas lainnya. salah satu penyebab tidak maksimalnya reformasi peradilan. Masyarakat sipil dituntut untuk menata kerja-kerja ini bukan lagi sebagai seremonial yang berulang akan tetapi lebih implementatif. Hanya menjadi urusan lembaga swadaya masyarakat dan beberapa kelompok sosial kritis lainnya.

lembaga-lembaga keagamaan sebenarnya bisa menjadi kekuatan pengubah sosial yang luar biasa. Sektor lain yang perlu mendapat perhatian adalah lembaga-lembaga keagamaan. Salah satu kapasitas dan kompetensi itu adalah menciptakan generasi terdidik yang peduli dan tergugah untuk melakukan advokasi. dan berkeadilan tanpa diminta dan ditekan. Kalangan perguruan tinggi. Memang. Melalui kerja pemberdayaan dan pendampingan. peradilan yang murah. Karena itu signifikansi perluasan basis sosial terletak pada perolehan dukungan besar masyarakat Indonesia.dak segera mendapat respon dan penanganan cepat. Gagasan mendidik pendakwah atau misionaris dalam berbagai agama untuk menjadi pembawa suara keadilan bisa menjadi pilihan kerja yang potensial mampu menghimpun dukungan sosial reformasi peradilan dan penegakan hukum. Meskipun predikat ini tidak sepenuhnya genuine. tidak ada negara yang dengan cumacuma memberikan hak-hak rakyat untuk menikmati kemajuan. tidak hanya pressure group yang semakin terkikis tapi sinisme masyarakat akibat “instabilitas” yang diciptakan oleh kalangan LSM akan semakin menguat. pendidikan kesadaran hukum dapat disodorkan sebagai jalan merengkuh dukungan sosial itu. secara formal perguruan tinggi memiliki kapasitas untuk memproduksi sumber daya manusia yang bisa didesain memiliki kapasitas dan kompetensi tertentu. kompeten. Salah satu sektor yang harus mendapatkan prioritas dalam proses transformatif ini adalah kalangan perguruan tinggi dan dunia pendidikan. penegakan hukum menjadi tugas dan kewajiban negara. Dengan jamaah dan umat yang begitu besar. tapi paling tidak. Membangun kesadaran kolektif dapat dilakukan dengan melakukan transformasi simultan atas gagasan dan praksis penegakan hukum di lapangan. dikhawatirkan LSM akan kehabisan energi dalam melakukan kerja-kerja advokasinya. mendorong hukum progresif yang berkeadilan. sering disebut sebagai salah satu agen perubahan. Jika kerja ini tidak dilakukan. Memperluas basis sosial untuk memperbesar dukungan reformasi peradilan dan penegakan hukum berarti membangun kesadaran kolektif bangsa akan pentingnya reformasi peradilan di Indonesia. tapi pengalaman di beberapa negara menunjukkan. Kedekat- 162 Bunga Rampai .

an tokoh-tokoh agama dengan umatnya. Karena itu tidak ada pilihan lain bagi Komisi Yudisal untuk terus meningkatkan intensitasnya melibatkan publik dalam memantau dan memastikan keadilan dapat terberikan. Diseminasi merupakan kerja jangka panjang dan investasi kemanusiaan yang akan menjadikan kerja advokasi berkelanjutan. Catatan Penutup Keberadaan Komisi Yudisial di dalam ranah kekuasaan kehakiman secara langsung telah menjawab kebutuhan akses publik terhadap dunia peradilan. kecuali membangun kemitraan strategis dengan elemen masyarakat sipil. yang dengan mudah mendongkrak popularitas seorang aktivis. dan lembaga-lembaga penyelidik independen lainnya) juga sudah semestinya menyadari pentingnya kehadiran masyarakat di tengah-tengah peran dan fungsi institusinya sebagai stakeholders yang tidak bisa ditinggalkan. tapi juga terjustifikasi oleh semua agama dan kepercayaan di dunia ini. Tidak semata-mata karena peradilan yang baik sebagai sesuatu yang dibutuhkan. Perlu disadari bahwa keberadaan ormas-ormas baik yang berbasis keagamaan maupun kemasyarakatan memiliki posisi strategis di dalam proses rekayasa sosial untuk melahirkan suatu gerakan sosial dan gerakan moral dalam membangun bangsa. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 163 . kepolisian. akan membuat bahasa hukum dan peradilan menjadi mudah dipahami dan diterima sebagai sebuah keyakinan yang harus diperjuangkan. Karena itu tidak ada pilihan lain. Pilihan kerja diseminasi wacana reformasi peradilan dan penegakan hukum memang tidak memiliki daya tarik sebagaimana kerja advokasi (litigasi). Lembaga-lembaga peradilan (kejaksaan. Komisi Yudisial telah menjadi jembatan ketidakpuasan publik atas ketidakadilan yang tercabik akibat ulah para mafia peradilan. Bagaimanapun kepercayaan publik terhadap keberhasilan reformasi peradilan dan penegakan hukum adalah indikator utama keberhasilan reformasi peradilan dan penegakan hukum. selama bumi ini masih dipijak. proses-proses reformasi peradilan dan penegakan hukum.

1991. Ahsin Thohari. Budiarjo. Chicago University Press. Wiley and Sons. Miriam. Budiarjo. Komisi Yudisial & Reformasi Peradilan. New York. Neuman. PT. 2004. 1963. Caucus and Branch. PT. Dr. Jakarta. Toward a Comparative Study of Political Parties. Cadre Party and Mass Party. Penerbit Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam). Dasar-Dasar Ilmu Politik. 164 Bunga Rampai .Daftar Bacaan Samuel P. Gramedia Pustaka Utama. Prof. The Third Wave: Democratization in the Late Twentieth Century. Chicago. Jakarta. Duverger. Sigmund. 1963. Huntington. 1996. Prof. Norman and London: University of Oklahoma Press A. Gramedia Pustaka Utama. Miriam. Dasar-Dasar Ilmu Politik.Dr. Maurice. 1996. Political Parties. Jakarta.

tahun 2002-sekarang. Tahun 2006-sekarang. Jakarta. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Univ. Legal Change Essay in Honor of Julius Stone. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Universitas Nasional. Magister Hukum dari Universitas Indonesia (1994). F. Jeremy Bentham yang kemudian didukung oleh John Austin menganggap bahwa sistem common law mengandung ketidakpastian dan menyebutnya sebagai “law of the dog”. tahun 2002. tahun 2001–sekarang. Krisnadwipayana Jakarta. Dosen Magister Manajemen Pascasarjana USU Medan. dalam A. ed. Dosen Pascasarjana Hukum USU Medan. tahun 2001–2002. Ketua Program Studi Ilmu Hukum dan Ketua Program Doktor Ilmu Hukum Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. “Legal Ontology and Legal Reasoning”. Magister Hukum Pascasarjana Universitas Islam. tahun 1987– sekarang. hal 6.V Hayek mengatakan bahwa sistem common law lebih baik dari pada civil law karena jaminannya * 1 Mendapat Sarjana Hukum dari USU (1983). Pancasila Jakarta. Pendukung civil law. Pengadilan dalam sistem hukum common law. Dosen Fakultas Hukum USU Medan. tahun 1999–sekarang. Doktor dari Universitas Indonesia (2001). Jakarta. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 165 . 1983). tahun 2003-sekarang. Blackshield. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Univ. tidak memberikan petunjuk bagi manusia bagaimana dia harus bertindak. Dosen Penguji dan Pembimbing Disertasi Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Indonesia.Reformasi Pendidikan Hukum. Chaim Perelman. Untuk Menghasilkan SDM Penegak Hukum Yang Kompeten dan Profesional Bismar Nasution* Knowledge is power but character is more Perdebatan mengenai sistem mana yang terbaik antara civil law dan common law telah berlangsung selama berabadabad. Dosen Magister Kenotariatan Pascasarjana USU Medan. tahun 2002-sekarang. tetapi jika manusia itu berbuat kesalahan maka pengadilan langsung menghukumnya. Guru Besar Hukum Ekonomi Fakultas Hukum USU (2004). 2005. Jakarta.R. (Sidney: Butterworth. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Sekolah Tinggi Hukum Militer (STHM).1 Sebaliknya salah satu pendukung sistem common law. tahun 2004-sekarang.

Paul. “The Common Law and Economic Growth: Hayek Might Be Right”. 1969). Bellace. adanya independensi hakim atau berada di bawah Mahkamah Agung. hal. David B.. sedangkan sistem common law menggunakan putusan hakim sebelumnya sebagai sumber hukum atau yang lebih dikenal dengan doktrin stare decisis. (New Jersey: Prentice-Hall Inc. sedangkan dalam Black’s Law Dictionary diartikan “to adhere to precedents. 1962). Mahoney. (California: Stanford University Press. Journal of Legal Studies.4 Akar perbedaan yang substansial diantara kedua sistem hukum itu terletak pada sumber hukum yang digunakan oleh Pengadilan dalam memutus sebuah perkara. sedangkan model kebebasan Perancis berasal dari ajaran Hobbes dan Rousseau yang menekankan pada kebebasan pemerintah untuk mencapai tujuan bersama lihat Paul G. 89 Lihat John Henry Merryman.” lihat W. Cohen dan Arnold J. Janice R. Minn: West Publishing Co. The Nature of The Judicial Process.6 Hal ini tidak terlepas dari sejarah 2 3 4 5 6 Lebih lanjut Hayek menyatakan bahwa sistem kebebasan di Inggris berasal dari ajaran Locke dan Humme yang menekankan kepada kebebasan individu untuk mencapai tujuan masing-masing. Kehakiman terjadi sejak tahun 2004 166 Bunga Rampai . hal 1406. Di negara civil law hakim merupakan bagian dari pemerintah. Lihat Henry Campbell Black. hal 4-7. Cardozo. and not to unsettle things which are established. 1990). (London : Yale University Press. hal.“3 Menurut catatan. (ST. pindah dari naungan Departemen. Sistem civil law menggunakan kodifikasi sebagai sumber hukum. Istilah stare decisis berasal dari istilah stare decisis et non quieta movere. (Vol. University of Chicago.1999). 2001). 40. yaitu “stand by the decision and do not disturb what is settled.5 Perbedaan menonjol lainnya menyangkut peran pengadilan. Business and Its Legal Environment. sehingga dalam menerangi masa sekarang dia menerangi masa depan. tahun 1066 dianggap sebagai tahun kelahiran tradisi common law ketika bangsa Norman mengalahkan dan menaklukkan kaum asli (Anglo Saxon) di Inggris. hal 504-511 Benjamin N. The Civil Law Tradition: An Introduction to the Legal System of Western Europe and Latin America.2 Untuk lebih memahami pemicu perdebatan di atas cara terbaik adalah dengan menghampirinya dari aspek historis sebagaimana dikatakan Benjamin N.XXX. Black’s Law Dictionary. Cordozo “sejarah dalam menerangi masa lalu menerangi masa sekarang. Di Indonesia. Dunfee.pada kebebasan individu dan membatasi kekuasaan pemerintah. Sedangkan civil law lahir terlebih dahulu ketika Corpus Juris Civilis of Justinian diterbitkan di Constatinopel pada tahun 533 yang sangat dipengaruhi oleh hukum Romawi. Rosoff.

H. Farrar dan Anthony M. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 167 . Hal ini membuat kekuasaan pemerintah di negara civil law menjadi sangat dominan. Smith & Bailey on The Modern English Legal System. hal 508-509 S. Paul G.7 Posisi ini membuat pengadilan biasa di Perancis secara prosedural tidak mempunyai wewenang untuk mengkaji kebijakan pemerintah.8 Sebaliknya.Gunn. 1996). negara common law yang berasal dari tradisi Inggris memiliki lembaga pengadilan yang independen. Introduction to Legal Method. Raja Stuart kemudian membentuk sebuah pengadilan baru bernama Stuart Chamber yang berada di bawah Kerajaan dan merupakan kepanjangan tangan dari Kerajaan Inggris.9 Oleh karenanya kekuasaan untuk menentukan hukum berada pada Mahkamah Agung sebagai pengadilan tertinggi. Sistem Hukum Romawi menggambarkan dengan jelas perbedaan antara hukum privat yang mengatur hubungan antara warga negara dan hukum publik yang mengatur hubungan antara warga negara dengan pemerintah. Mahoney. namun demikian Pengadilan ini berada dibawah pengawasan Eksekutif. Op. para hakim Perancis menjadi musuh masyarakat daripada pembela kepentingan masyarakat karena lebih mendukung kepentingan Raja. Mahoney. 1984). Para hakimnya juga didik pada administrative school bersama-sama dengan pegawai negeri lainnya yang nantinya keputusan mereka akan diawasi oleh hakim tersebut. (London: Sweet & Maxwell. Dugdale. hal 39.Cit. Op. Di Perancis misalnya.Bailey dan M.10 7 8 9 10 John H. . pengadilan membedakan antara kasuskasus yang berhubungan dengan pemerintah dan memberlakukan hukum yang berbeda dengan hukum yang mengatur hubungan sektor privat. Kondisi inilah yang kemudian memicu revolusi Perancis yang dipimpin oleh Napoleon. Perbedaan ini tetap dipertahankan dalam sistem civil law di daerah continental yang mewarisi tradisi Hukum Romawi.yang melandasi terciptanya perbedaan itu. hal 503 – 512. (London: Sweet & Maxwell. hal 413. Lihat Paul G. Independensi pengadilan ini apabila ditelusuri berawal dari pertentangan antara Hakim Coke dengan King Stuart ketika Kerajaan yang memaksakan kehendaknya untuk mengubah hak properti yang merugikan rakyat. Sebelum revolusi.J. Pengalaman sebelum masa revolusi tersebut menjadi inspirasi bagi Napoleon dalam meletakkan hakim di bawah pengawasan pemerintahan untuk mencegah “pemerintahan oleh hakim” seperti yang pernah terjadi sebelum revolusi. Perancis memang telah mengembangkan suatu Pengadilan Tata Usaha Negara yang berwenang men-review Keputusan Pemerintah. Cit. Setelah revolusi Stuart Chamber ini dibubarkan.

Sistem hukum yang 11 12 Paul G. Perdebatan dan diskusi jarang dilakukan karena selama perkuliahan berlangsung dosen biasanya hanya memberikan penjelasan mengenai teori. Para mahasiswa bersifat pasif dan umumnya diajarkan untuk menghapal perundang-undangan. hal 508.12 Arah Pendidikan Hukum Perbedaan penerapan hukum di atas berimplikasi terhadap sistem pendidikan hukum di negara-negara penganut kedua sistem hukum tersebut.11 Terlepas dari perdebatan di atas. dengan metode pengajaran monolog. Mahoney. Op. karena umumnya negara-negara civil law berpaham positivisme. pengalaman menunjukan bahwa negara-negara dengan sistem common law ternyata relatif lebih makmur secara ekonomi dibanding negara dengan sistem civil law. Sistem pendidikan hukum di negara civil law lebih menekankan kepada metode pengajaran yang bersifat doktrinal. yaitu sistem civil law dan sistem common law. dan sangat jarang perkuliahan dilakukan untuk membahas suatu kasus. Sebaliknya. 2001. isi pasal serta pendapat para sarjana. dosen berfungsi sebagai narasumber. Hal ini menyebabkan perbandingan hukum dengan negara lain dianggap kurang penting dan kurang mempunyai kekuatan hukum apabila dijadikan landasan pembelaan dalam sebuah peradilan. Materi yang diberikan adalah isi pasal-pasal dari perundangan-undangan. hal. hal 253 168 Bunga Rampai . sehingga landasan maupun pemikiran tentang hukum hanya berpedoman kepada perundangundangan yang telah terkodifikasi. sistem pendidikan di negara common law lebih menekankan kepada practical use. Perbandingan suatu teori atau hukum juga jarang dilakukan. Ibid. kombinasi antara konsep Hukum Romawi dan praktik-praktik di lapangan telah membentuk dasar-dasar hukum yang dianut oleh sebagian besar negara di dunia ini.Dalam perjalanannya. Peranan dosen sangat sentral dalam memberikan pemahaman tentang hukum. pembimbing dan legal solver terhadap pertanyaan para mahasiswa. Cit.

Adanya perbedaan dalam sistem pendidikan hukum di atas telah menyebabkan perbedaan besar dalam memahami dan menyelesaikan permasalahan hukum. Inilah yang membuat para SDM penegak hukum common law selalu melaku- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 169 . Pemahaman terhadap teori hanya diberikan di awal perkuliahan dengan metode self learning. Sedangkan sisa perkuliahan dilakukan dengan diskusi. sehingga sering sekali putusan hakim dijadikan parameter untuk menilai apakah suatu peraturan dapat diterapkan di masyarakat. presentasi dan pemaparan para mahasiswa mengenai suatu kasus. apabila seorang hakim menganggap suatu putusan tidak sesuai lagi dengan perkembangan masyarakat. Perundang-undangan bukan harga mati bagi sebuah keadilan. konsultasi mengenai suatu permasalahan hukum dilakukan secara individual antara dosen dan mahasiswanya. Mereka hanya memandang suatu permasalahan dengan parameter perundang-undangan. Hal ini membuat peran mahasiswa lebih dominan daripada peran dosen. dan tidak jarang mereka menjadi sahabat dalam kehidupan pribadi. karena adanya doktrin kalau suatu putusan pengadilan tidak boleh bertentangan dengan putusan pengadilan di atasnya.menekankan kepada putusan hakim. sedangkan isi perkuliahan lebih banyak diisi oleh perdebatan dan pendapat dari masing-masing mahasiswa mengenai kasus-kasus yang diberikan oleh dosen. dimana para dosen hanya memberikan pengantar dan referensi buku yang harus dipelajari serta dirangkum oleh para mahasiswa. Sehingga penyelesaian suatu permasalahan hukum dilakukan dengan pendekatan doktrinal. dia dapat membuat putusan baru tentu dengan argumentasi yang kuat. SDM penegak hukum dari negara civil law cenderung bersifat positifis dan rigid dalam menyelesaikan permasalahan hukum. membuat perkuliahan difokuskan kepada pembahasan kasus hukum dan putusan pengadilan. Putusan ini akhirnya akan diuji oleh Mahkamah Agung apakah diterima atau ditolak. Dosen hanya berperan sebagai pembimbing dan pengarah diskusi. Putusan pengadilan itu juga bukan hal yang mutlak harus diikuti. Sehingga perkuliahan bersifat terbuka. Sehingga hubungan antara dosen dan mahasiswa di negara common law umumnya sangat dekat. Sebaliknya SDM penegak hukum dari negara common law selalu bersifat kritis dan analistis.

Pandangan yang bersifat doktrinal dan positivisme mutlak harus segera diminimalkan untuk membentuk SDM penegak hukum yang kritis. dimana perundang-undangan yang mengaturnya sudah tidak relevan lagi dengan kondisi masyarakat. Dalam menghadapi persaingan global. sehingga kepercayaan masyarakat terhadap hukum dapat dipulihkan kembali. Sebagai lembaga yang menghasilkan SDM penegak hukum. Gambaran mengenai sistem pendidikan hukum di Indonesia tidak berbeda jauh dengan apa yang telah diuraikan mengenai sistem pendidikan hukum civil law di atas. para SDM penegak hukum akan gagal mengimplementasikan rasa keadilan masyarakat dalam solusi hukumnya. Sehingga apabila terjadi suatu permasalahan hukum. Sedangkan kelemahannya adalah metode ini menghasilkan SDM penegak hukum yang lemah akan analisis dan kurang kritis terhadap hukum. Sehingga metode ini mempunyai kelebihan dalam menghasilkan para SDM penegak hukum yang kritis dalam menghadapi perubahan di masyarakat. analistis dan responsif terhadap permasalahan hukum. Hal ini terjadi karena pembelajaran terfokus pada kodifikasi. Sebaliknya. metode pendidikan seperti ini harus diperbaiki terutama pada negara berkembang seperti Indonesia. Pengajaran yang bersifat doktrinal masih mewarnai pembelajaran hukum di Indonesia. dimana perekonomiannya belum stabil dan tingkat penyelewengan hukum masih tinggi dan perundang-undangan belum berfungsi maksimal dalam mengikuti dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Tidak jarang mereka melakukan perbandingan hukum untuk menjustifikasi argumen mereka bahwa hukum yang berlaku tidak sesuai lagi diterapkan di masyarakat. Dari deskripsi di atas tentu kita dapat menyimpulkan bahwa metode pengajaran civil law membuat para SDM penegak hukum berpikir doktrinal. peran Fakultas 170 Bunga Rampai .kan analisis dan kritis terhadap hukum. sehingga pembelajaran relatif lebih terarah. Kelebihan dari metode ini adalah adanya kepastian dalam pemahaman hukum. metode pengajaran common law menekankan kepada analisis kasus dan diskusi serta untuk selalu bersikap kritis dalam menghadapi permasalahan hukum. sehingga penggalian nilai-nilai keadilan juga harus dilakukan disamping pemahaman terhadap peraturan tersebut.

SDM Penegak Hukum Yang Kompeten dan Profesional Jurang antara dunia akademis dan praktis di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir abad ke-20 semakin melebar. Dalam sistem common law. Hal ini disebabkan SDM penegak hukum yang berperan menjalankan hukum bukan hanya berdasarkan cara berpikirnya sendiri. sedangkan sistem civil law peran pemerintah sangat dominan. Michael Hagger menggambarkan. Kondisi ini bermula sebagai konsekuensi pendekatan pembangunan yang diterapkan pemerintah. It administers justice among men who conduct their own affairs”. Padahal L. diperlukan political will yang kuat bagi para petinggi universitas dan pemerintah untuk melakukan pembenahan yang sistematis dalam memperbaiki pendidikan hukum di Indonesia. Pembenahan menyeluruh terhadap pendidikan hukum harus segera dilakukan. tetapi berasal dari pendidikan yang diperolehnya dari kuliah semasa di Fakultas Hukum. metode pengajaran. Sementara itu.Hukum sangatlah penting di sini. seperti SDM penegak hukum. baik dari peningkatan kualitas SDM. metode pengajaran di kampus-kampus masih berorientasi kepada sistem civil law. Dalam upaya mempercepat pertumbuhan ekonomi. Metodemetode ekonomi pro pasar umumnya diimpor dari negaranegara common law dan juga sistem ekonomi pro pasar lebih kondusif bila didekati dengan institusi hukum yang berasal dari sistem common law. Pembenahan tersebut harus dilakukan secara serentak. yaitu sebagai professional school yang harus dapat menggabungkan unsur profesionalisme dan pendidikan hukum dalam pengajarannya. pasarlah yang menjadi panglima. teaching material atau kurikulum dan kesejahteraan para pengajar. Konsekuensinya tamatan Fakultas Hukum seolah terlempar ke dunia lain. Dalam bahasanya Walter Lippmann “in a free society the states does not administer the affairs of men. pemerintah menerapkan sistem pembangunan ekonomi pro pasar. Fakultas hukum di Indonesia harus kembali kepada khitahnya. bahwa jalannya suatu sistem hukum tidak akan pernah lebih baik dari mereka yang menjalankannya. Seharusnya pendidikan itu pulalah yang memperluas ruang lingkup cara berKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 171 . Hal ini tentu tidaklah mudah.

kegiatannya dan kesiapannya yang membedakannya pula dengan kalangan lainnya. Foundation of Equity and the Law of Trust. hal. Untuk perbandingan. dimana terdapat syarat yang sangat ketat dalam penerimaan SDM penegak hukum yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan profesi yang lebih tinggi. Jalan yang harus ditempuh adalah bagaimana menepis kekhawatiran bahwa apa yang diberikan dalam kuliah berbeda dengan hukum dalam kenyataan.(Cambridge: Harvard University Press. Foundation of Property Law. Terlepas setuju atau tidak setuju dengan gerakan ini. The Lost Lawyer Failing Ideals of the Legal Profession. obligations 2.Gunn. Lihat S. Kriteria yang ditekankan disini bukanlah metode penilaian terhadap tugas atau lamanya pengajaran tetapi yang dituntut adalah proposi beban kerja mahasiswa dan setidak-tidaknya harus menguasai tujuh dasar pengetahuan 13 14 15 L. (Vol.Cit.14 Memperkenalkan hukum sesuai dengan kenyataan dibutuhkan mengingat Fakultas Hukum sebagai professional school diwajibkan untuk mempersiapkan keterampilan para lulusannya.pikirnya.166-239.” ABA Journal. hal. Penggunaan pendekatan ekonomi terhadap hukum (law and economic) dalam pendidikan hukum di Amerika Serikat bersifat permanen yang dimulai sejak tahun 1960an. tetapi harus pula mengajarkan keterampilan menggunakan sains (science) untuk memahami hukum disamping dan memperkenalkan hukum sesuai dengan kenyataan.13 Kondisi di atas memaksa kita memikirkan bagaimana Fakultas Hukum dapat melahirkan SDM penegak hukum yang berpengetahuan luas dan memiliki keterampilan hukum yang sesuai dengan sistem ekonomi pro pasar yang dijalankan pemerintah tersebut. Bailey dan M. 1972). Michael Hagger. hal 182-183 172 Bunga Rampai . Lihat Antony T. 33. 1993). “The role of Lawyer of development country. Fakultas Hukum di Inggris dituntut untuk memberikan pemahaman hukum yang komprehensif untuk menyediakan seorang SDM penegak hukum yang kompeten dan profesional. Kronman. Untuk itu. tentunya staf pengajar di Fakultas Hukum tidak hanya mengajarkan teori atau hal-hal yang normatif sifatnya. Foundation of the Law of the European Union.J.H. kita dapat melihat sistem pendidikan hukum di Inggris. Gerakan Law and Economic telah mengubah metode dosen mengajar dan hampir di seluruh subjek hukum pengetahuan praktis ilmu ekonomi merupakan persyaratan. Foundation of Criminal Law. dan Foundation of Public Law serta Legal Research. doktrinal dan deskriptif. 58. Ketujuh dasar pengetahuan hukum tersebut adalah: obligations 1. Op.

Syarat pertama yaitu syarat akademik sama seperti persyaratan untuk menjadi Pengacara. seorang calon dua tahap sama seperti syarat menjadi Pengacara. Bailey dan M. Tujuan dari pelatihan ini adalah supaya para lulusannya dapat menguasai pembuatan kontrak dengan kemampuan dan pengetahuan yang cukup untuk mengatasi masalah dan tantangan dengan diawasi oleh instruktur pelatihan. hal 184-185 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 173 . Di sinilah esensi sebenarnya dari profesional school. Pendidikan 16 Seorang calon masih harus mempunyai pengalaman selama 12 bulan dengan Pengacara yang mempunyai pengalaman selama 5 tahun. Op. Syarat kedua menuntut calon harus merupakan anggota dari the Law Society dan harus mengikuti dan lulus pelatihan Legal Practice Course Board yang diselenggarakan the Law Society.16 Gambaran di atas menunjukkan bahwa Fakultas Hukum sebagai profesional school harus mempunyai suatu sistem pendidikan atau metode pengajaran yang mempunyai suatu kurikulum yang tepat untuk menghasilkan SDM penegak hukum yang kompeten dan mempunyai kemampuan profesional yaitu kemampuan praktik. SDM penegak hukum haruslah menguasai ilmu hukum dan praktik-praktik dasar secara keseluruhan untuk dapat disebut sebagai kompeten dan profesional. Tahap kedua adalah “tahapan pendidikan spesialis atau kejuruan” yang dilakukan dengan mengikuti program the Bar Vocational Course yang diselenggarakan oleh Court School of Law. Kemampuan akademis merupakan dasar pengajaran sedangkan kemampuan profesional adalah pengembangan teori secara praktik. Kedua tahap ini menyarankan syarat untuk dapat mendaftar menjadi pengacara. Lihat S. dimana tidak ada pembedaan antara akademisi dan profesional. seorang calon harus ikut dalam salah satu Inns of Court dan harus memenuhi dan menyelesaikan dua tahap pendidikan.hukum. Tahap pertama adalah “tahap akademik” dimana calon harus mempunyai gelar SDM penegak hukum atau sertifikat lulus dari Common Professional Examination (CPE). Sedangkan untuk menjadi konsultan hukum (solicitor). Adanya anggapan bahwa seorang SDM penegak hukum cukup dibekali kemampuan hukum di bidang tertentu saja harus ditentang.Gunn.15 Selain itu Sistem Pendidikan Hukum Lanjutan di Inggris juga dibedakan antara Pengacara (Barrister) dan Konsultan Hukum (Solicitor). dimana selama 6 bulan pertama mereka tidak boleh menerima instruksi.Cit.J. sehingga menimbulkan perbedaan persyaratan untuk dapat menekuni kedua profesi ini. Untuk dapat menjadi pengacara (Bar).H.

Sisa perkuliahan dilakukan dengan pemahaman suatu peraturan perundangan-undangan yang diikuti dengan pembahasan kasus-kasus yang berkaitan dengan peraturan tersebut. Arthur yang menyatakan bahwa. Pemahaman terhadap doktrin. Medan. dimana para pengajarnya juga melakukan praktik.lanjutan hanyalah memberikan suatu spesialisasi terhadap sebuah bidang yang ingin ditekuni oleh SDM penegak hukum tersebut.” Pidato pada Dies Natalis USU Ke-44. “Globalisasi Hukum dan Kemajuan Teknologi: Implikasinya Bagi Pendidikan Hukum dan Pembangunan Hukum Indonesia. teori dan filsafat hukum dapat dilakukan di awal perkuliahan. 20 Nopember 2001. Dosen Fakultas Hukum disamping berkewajiban mengajar dan menulis. “Access and Specialization in Legal Education and Practice. hal.” Dalhousie Journal of Legal Studies. maka pembenahan metode pendidikan harus dilakukan secara komprehensif dimulai dari perubahan sistem pengajaran yang selama ini bersifat doktrinal. 286. Mempersiapkan keterampilan praktis dapat dilakukan dengan menggunakan metode 17 18 H. karena hal itu akan menghilangkan unsur profesionalisme dalam diri dosen yang pada gilirannya akan menghilangkan unsur esensial Fakultas Hukum sebagai pendidikan profesional. filsafat hukum dan case analysis. Kasus yang dipilih tidak hanya berasal dari dalam negeri tetapi juga diberikan kasus-kasus yang berasal dari luar negeri. karena mustahil bagi sebuah profesional school mengajarkan pendidikannya jika dosennya tidak mempunyai kemampuan dalam bidang praktik seperti yang telah digambarkan oleh sistem pendidikan hukum di Inggris. dimana mahasiswa harus bersifat aktif dengan didampingi dan diarahkan oleh dosen agar lebih terarah. Untuk membentuk Fakultas Hukum sebagai profesional school. 13.17 Oleh karena itu adalah suatu kesalahan besar untuk melarang dosen melakukan praktik hukum. Kekhawatiran akan diabaikannya tugas-tugas pendidikan dapat diatasi dengan dibuatnya sebuah rule of the game dengan sanksisanksi yang jelas.Arthurs. Hal ini sejalan dengan H.W. yaitu Fakultas Kedokteran. “A lot of Knowledge is a Dangerous Thing: Will the Legal Profession Survive the knowledge Explosion? dalam Michael Feindel dan Oliver Fuldaner. sehingga mereka dapat membandingkan dan memperluas pandangan mereka terhadap hukum diluar Indonesia. Kita harus melihat pada profesional school sejenis. hal. juga wajib melatih mahasiswanya dengan keterampilan praktis. lihat dalam Erman Rajagukguk. 174 Bunga Rampai . Hal ini dilakukan agar para mahasiswa dapat memahami akibat dan konsekwensi hukum yang timbul akibat isi suatu pasal. W. “lawyers must become expert in some field of knowledge and know little about others”. Hal ini dilakukan agar mahasiswa mendapat gambaran mengenai hukum di luar Indonesia. Pengajaran dapat dilakukan dengan menggabungkan pemahaman terhadap isi pasal.

Cit.Cit. Op.20 Oleh sebab itu metode case law ini sangat relevan untuk diajarkan kepada para mahasiswa. Mereka menganggap tugas hakim adalah menerapkan sebuah ketentuan atau prinsip hukum terhadap sebuah situasi fakta tertentu dan berbuat yang benar terhadap situasi tersebut. Seperti yang dikatakan oleh C. Hukum sebagai sumber pengambil keputusan merupakan hal yang mosaic dimana polanya berkembang dengan perkembangan masyarakat. karena metode ini dapat mengevaluasi sebuah hukum melebihi dari isi hukum itu sendiri. 1984. Hal ini penting mengingat isi pasal sebuah perundang-undangan hanyalah “sebuah kata-kata dalam bahasa Indonesia”.18 Metode case law pertama sekali digunakan di Harvard Law School yang kemudian diikuti oleh seluruh Fakultas Hukum di AS.19 Metode ini merupakan hasil dari judicial reasoning dalam menentukan sebuah kasus dalam sebuah situasi fakta tertentu.pengajaran berbasis pembahasan kasus (case law). untuk dapat “menghidupkannya” maka perlu dikaitkan dengan fakta-fakta yang timbul dari berbagai kasus yang terjadi di masyarakat. 170. Hakim-hakim di Inggris menganggap bahwa fungsi seorang hakim bukanlah menghasilkan sebuah sistem hukum atau sebuah perkerjaan institusional yang menggunakan simetri logika. Kronman. hal. Farrar dan Anthony M. Hal ini dengan tepat digambarkan oleh seorang Hakim Agung Amerika yang sangat terkenal. Weeramantry dalam tulisannya “Legal Education for the Age of technology: A Plea for an Interdisciplinary Perspec19 20 Antony T. Sehingga para mahasiswa dapat memahami “law behind law” dan dapat memahami hukum yang mendasari isi sebuah putusan bukan hanya memahami isi putusan saja. hal 81. Sehingga para mahasiswa dapat terhindar dari pemikiran yang positivis dan doktrinal. Dugdale. Diharapkan dengan metode ini mahasiswa dapat mempunyai kemampuan untuk menganalisis dan bersikap kritis dalam menghadapi hukum. mereka dapat melihat hukum sebagai hukum yang hidup bukan sebagai “black letter rules”. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 175 . John H.G. Oliver Wendell Holmes bahwa “The life of the Law has not been logic. Op. it has been experience” (kelangsungan hidup dari hukum bukanlah melalui logika tetapi melalui pengalaman).

(Vol. tetapi juga dilakukan melalui kuliah bersama dengan para mahasiswa di negara lain. hal. Sidney: Butterworth. tim pengajar di Fakultas Hukum sekarang ini perlu pula menekankan proses belajar mengajar dengan metode legal reasoning yang didasarkan pada penelitian. Robert R. Educating Lawyers for the Global Economy. Michigan Journal of International Law. 746. budaya dan tradisi. Lihat. Op.tive”. Lihat juga.” Wake Forest Law Review.”22 yang nantinya mengalihkan keahlian hukum dalam kenyataan itu kepada mahasiswa. 25. mengingat SDM penegak hukum masa kini dalam era globalisasi. Spring 1996). maka putusannya akan dengan cepat tidak relevan dengan zaman yang didominasi oleh sains dan tekhnologi”. 1983.” Pidato Upacara Pengukuhan Sebagai Guru Besar Pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Pesatnya pertumbuhan teknologi. perlu mengetahui berbagai peraturan hukum negara lain dan bagaimana ia berjalan dalam perbedaan sistem hukum. (Vol. Depok. 22. baik karena kebutuhan praktik maupun kesamaan model institusi-institusi hukum dan peraturan-peraturannya. “Legal Education for the Age of technology: A Plea for an Interdisciplinary Perspective” Legal Change. O. 30. hal. (Vol. Cit. Merhige Jr. “Hukum Internasional Dalam Konflik Kepentingan Ekonomi Negara Berkembang dan Negara Maju.1995). Op. 176 Bunga Rampai . Erman Rajagukguk. Craig Allen Nard. 24. Tidak kalah pentingnya.24 Perbandingan hukum tidak hanya dapat dilakukan dengan melakukan studi kepustakaan mengenai hukum di negara lain.G. hal 158. Lihat. hal. telah memungkinkan kita untuk melakukan kuliah bersama jarak jauh melalui teleconference dengan mahasiswa di negara lain. Erman Rajagukguk. “selama pengadilan kita dipenuhi dengan hakim dan pengacara yang dilatih untuk melihat hukum sebagai “black letter rule”. 30. “Legal Education: Observation and Perception From the Bench. Bandingkan. 10 Nopember 2001. 17. hal. 1995). Haley. Hal ini dapat memperluas pengetahuan hukum mahasiswa mengenai hukum di negara lain dengan 21 22 23 24 C. tetapi juga dalam ruanganruangan kelas dalam perkuliahan di Fakultas Hukum. hal. 347-368. 275.” Wake Forest Law Review. Hikmahanto Juwana. Tepat pula di sini diusulkan agar staf pengajar melakukan “empirical research. hal. Weeramantry.21 Oleh karena itu metode ini sangat penting untuk dapat membuat hukum “hidup” tidak hanya di pengadilan seperti yang selama ini terlihat. Cit.23 Penting pula memperkuat muatan pengajaran perbandingan hukum dalam perkuliahan. “Empirical Legal Scholarship: Reestablishing a Dialoque Between the Academy and Profession.

legal analysis and reasoning. 6. Robert Mac reate. Dalam menyusun kurikulum penting kiranya kita memperhatikan apa yang diungkapkan oleh Robert Mac Create. dan recognizing and resolving ethical dillemas. tanggal 24 April 1991. hal.Create untuk menghasilkan SDM penegak hukum yang kompeten. 2 (1995).26 Oleh karena itu kurikulum pendidikan di Fakultas Hukum harus dirancang untuk dapat mempersiapkan mahasiswa dengan bekal yang cukup untuk tampil di masyarakat sesuai dengan tuntutan masa kini. Fasilitas dan peralatan untuk teleconference ini sendiri sudah tersedia di Universitas Sumatera Utara. dimana nantinya lahir SDM penegak hukum yang kompeten dan profesional. Charles Himawan. Namun demikian bukanlah tidak mungkin untuk mengumandangkan irama yang satu dengan menggunakan alat musik yang lain. terutama dalam ketatnya persaingan di dunia global dan tingginya aktivitas perdagangan internasional.25 Selain itu kita juga harus menyadari bahwa bidang hukum yang semakin hari semakin luas sehingga tidak dapat dihindarkan perlunya pendekatan dengan disiplin ilmu lain. Hal ini sangat penting karena banyak sekali isu-isu baru tentang hukum di tulis dalam jurnal yang berbahasa inggris.berdikusi langsung mengenai teori maupun praktik hukum dengan mahasiswa atau para pengajar di negara tersebut. oral and written comunicattion. “Lecture on Legal Education . setidaknya ada 10 keahlian generik 25 26 27 Selain itu yang tidak kalah penting adalah penguasaan bahasa inggris oleh para dosen dan mahasiswa/i. Kesepuluh keahlian tersebut adalah problem solving. negotiation. factual investigation. understanding of the procedures of litigation and alternative dispute resolution. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 177 . Dalam kaitannya dengan pendekatan disiplin ilmu ekonomi misalnya. mengumandangkan Symphony Nomor 5 karya Betthoven. Kemampuan untuk mengikuti perkembangan dalam hukum di dunia internasional akan memberikan pemahaman tentang hukum lebih komprehensif.” Wake Forest Law Review. Wake Forest School of Law”. hal. Jakarta. “Pendekatan Ekonomi Terhadap Hukum Sebagai Sarana Pengembalian Wibawa Hukum. 30 No. legal research. 262-263. organizing ang managing legal work. Perbedaan irama ini serupa dengan perbedaan antara gamelan Bali yang mengumandangkan tari Baris dan New York Philharmonic Orchestra yang. dalam tulisannya “Lecture on Legal Education. Menurut Mc. Hal ini ditandai sudah sejak lama pendidikan ilmu hukum mengumandangkan irama yang berbeda dengan pendidikan ilmu ekonomi. counseling. Vol. terasa dalam pendidikan ilmu hukum belum menjadi kebutuhan.” Pidato Pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Wake Forest School of Law.

SDM penegak hukum yang lulus dari Fakultas-Fakultas Hukum sekarang ini menghadapi dunia baru. Op. Untuk mengatasi kesulitan dalam mengajarkan mata kuliah ini. termasuk bidang hukum ekonomi. Kemudian menambahkan mata kuliah khusus yang membahas kaitan antara sains dan hukum. Apalagi dari sekarang kita sedang melakukan pembangunan ekonomi. Ada sebuah pepatah yang menggambarkan pentingnya perpustakaan di luar negeri yaitu. biologi.28 Hal lain yang tidak kalah penting adalah perpustakaan. hal 163-165 John H. 27 Oleh karena itu kurikulum pendidikan hukum harus benar-benar disusun untuk mendukung hal ini. Dugdale. Fakultas dapat juga mengadakan sebuah program khusus dimana kita mengundang pakar-pakar dari fakultas lain untuk bersama-sama melakukan sebuah research atau program tertentu yang mengaitkan hukum dengan bidang tersebut.G. dan lain sebagainya. Hal ini dapat dilakukan dengan menambah mata kuliah ini yang menggabungkan kedua disiplin ilmu di Fakultas hukum. Selain bidang ekonomi. Op. Misalnya dalam bidang teknologi kita dapat menambahkan mata kuliah wajib pengenalan dalam bidang sains dan society. termasuk hubungan yang baru di bidang ekonomi. hal 274 178 Bunga Rampai . fakultas dapat mengundang dosen-dosen tamu dari bidang disiplin ilmu yang berbeda. Wereemantry. “a good lawyer is one who knows where to look for the law. Metode self learning tidak dapat berjalan dengan baik apabila tidak didukung oleh fasilitas perpustakaan yang memadai. bidang teknologi yang saat ini sedang mengalami perkembangannya juga harus diperhatikan dalam menyusun kurikulum. Fakultas Hukum idealnya ha- 28 29 Lihat C. Perpustakaan merupakan sentral dari aktivitas di sebuah institusi pendidikan di luar kelas.”29 Oleh karena itu.Cit. Mata kuliah ini mengajarkan tidak hanya tentang hukum tetapi juga dasar-dasar sains seperti fisika.yang harus dimiliki.Cit. Inilah sebabnya mengapa Law School di luar negeri menyebut perpustakaan sebagai “jantungnya” sebuah institusi pendidikan. yang menjadikan kebutuhan untuk adanya spesialisasi di bidang hukum tidak dapat dielakkan. Farrar dan Anthony M.

Adanya pelatihan ini akan memberikan kemampuan praktik langsung dari para praktisi di lapangan kepada para dosen yang belum mempunyai kemampuan tersebut. misalnya melalui kursus atau pembelian buku-buku baru. Untuk mencapai pada tingkat pendidikan hukum yang ideal seperti yang digambarkan di atas tentu tidak mudah pula.rus mempunyai sebuah perpustakaan sendiri untuk membantu para mahasiswa dan pengajar untuk lebih memahami hukum. Peningkatan tersebut bukan hanya akan membantu para dosen untuk meningkatkan pengetahuannya. Selain itu perlu juga diadakan sebuah trainer for trainee untuk para dosen secara rutin dan berkala. karena Fakultas Hukum dapat meminta bantuan para alumninya yang telah menjadi praktisi di lapangan untuk menjadi trainer secara sukarela. Dosen tamu yang didampingi oleh dosen tetap dapat membantu para mahasiswa untuk dapat lebih memahami hal-hal yang bersifat praktis di lapangan dan sekaligus berfungsi sebagai “alih pengetahuan. sangat ditentukan oleh kualitas dosen. mengingat hukum bukanlah ilmu pasti yang Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 179 . namun dari segi substansi isinya masih sangat relevan. peningkatan kualitas dosen baru dapat tercapai apabila kesejahteraannya dapat terjamin. Selain efektif untuk meningkatkan kualitas pengajar hal ini juga relatif tidak membutuhkan banyak dana. tetapi juga penting untuk keberlangsungan suatu institusi pedidikan. fakultas dapat mengundang para praktisi sebagai dosen tamu di dalam perkuliahan. Perlu diingat bahwa walaupun buku tersebut bukan edisi terbaru. Sementara itu. Inilah yang biasanya mereka sumbangkan kepada Fakultas-Fakultas hukum di negara lain.” Sedangkan untuk meningkatkan fasilitas perpustakaan. Sedangkan untuk mengatasi ketimpangan para tenaga pengajar. fakultas selain harus menyediakan dana khusus untuk ini. Perlu diketahui bahwa tiap tahun banyak Fakultas Hukum di luar negeri mengalami over stock karena masuknya edisi-edisi baru dari koleksi buku yang mereka punyai. juga dapat meminta bantuan kepada para institusi pendidikan di luar negeri untuk memberikan sumbangan berupa buku-buku ataupun jurnal-jurnal ilmiah baik yang baru maupun yang tidak lagi mereka butuhkan. terutama dalam pengajaran hal-hal yang bersifat praktik.

Sehingga harapan-harapan dalam reformasi pendidikan hukum untuk melahirkan SDM penegak hukum yang kompeten dan profesional di masa datang ini dapat terwujud.apabila berubah teori-teori yang lama tidak lagi dapat digunakan. 180 Bunga Rampai . Di sinilah diperlukan jaringan atau koneksi dengan Fakultas Hukum di luar negeri. Jaringan dapat dibangun langsung oleh universitas maupun secara individu melalui para dosen-dosen yang sedang melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Penutup Momentum untuk merealisasikan gagasan-gagasan yang telah dikemukakan di muka dapat dibuat sebagai pemikiran reformasi sistem pendidikan dan metode pengajaran. Semoga.

Jakarta. tanggal 24 April 1991. New Jersey: Prentice-Hall. et. John Henry. 1996.” Pidato Upacara Pengukuhan Sebagai Guru Besar Pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. (Vol. O. “The role of Lawyer of development country. Black. Michigan Journal of International Law. Haley. ST. Juwana. “Pendekatan Ekonomi Terhadap Hukum Sebagai Sarana Pengembalian Wibawa Hukum. London: Yale University Press.all . The Lost Lawyer Failing Ideals of the Legal Profession.1995) Merryman. L. Introduction to Legal Method. Henry Campbell. Paul. Cambridge: Harvard University Press. dan Anthony M.” ABA Journal. 30. 1993.. “Lecture on Legal Education .. The Civil Law Tradition: An Introduction to the Legal System of Western Europe and Latin America.. Business and Its Legal Environment. University of Chicago. 58. John H. Robert. (Vol.H. Merhige Jr. Depok. Dugdale. “Hukum Internasional Dalam Konflik Kepentingan Ekonomi Negara Berkembang dan Negara Maju. Wake Forest School of Law. Himawan.” Wake Forest Law Review. Michael. Minn: West Publishing Co. Charles. Robert R. “The Common Law and Economic Growth: Hayek Might Be right”. Inc. 10 Nopember 2001. The Nature of The Judicial Process. Kronman. Hikmahanto. California: Stanford University Press. 1995). 1999. (Vol. XXX. dan M. Antony T. 2 .. S. Dunfee W. Hagger. 30 No.Daftar Pustaka Bailey. Paul G.Gunn. 17.( Vol. Black’s Law Dictionary. Mahoney. Cardozo. Smith & Bailey on The Modern English Legal System. Benjamin N.reate. Educating Lawyers for the Global Economy.J. (Vol. 2001) Mc. Farrar. London: Sweet & Maxwell. 1962. Spring 1996). 1990. “Legal Education: Observation and Perception From the Bench. 1984.” Wake Forest Law Review. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 181 ..” Pidato Pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. 1972). London: Sweet & Maxwell. Journal of Legal Studies.

Erman. Nard. Craig Allen. 1995). Chaim. Sidney: Butterworth. Medan.(Vol. “Legal Ontology and Legal Reasoning”. Weeramantry. Sidney: Butterworth. 20 Nopember 2001. Rajagukguk. “Legal Education for the Age of technology: A Plea for an Interdisciplinary Perspective”.R. 1983.- - 1969. dalam A.” Pidato pada Dies Natalis USU Ke-44. Perelman. Blackshield. “Globalisasi Hukum dan Kemajuan Teknologi: Implikasinya Bagi Pendidikan Hukum dan Pembangunan Hukum Indonesia.. 182 Bunga Rampai . C. Legal Change Essay in Honor of Julius Stone. 1983. Legal Change. 30.G.” Wake Forest Law Review. “Empirical Legal Scholarship: Reestablishing a Dialoque Between the Academy and Profession. ed.

Bagian Kedua Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 183 .

184 Bunga Rampai .

dan historis perumusan juridis perlu dipahami secara mendalam dan seksama sehingga dapat dipahami dan dimengerti dengan sebaik-baiknya ketentuan yang terdapat dalam pasal-pasal UUD. UUD tidak dapat dipahami hanya melalui teksnya saja. kekuasaan lembaga negara. sosiologis. Secara teoritis. baik dari sudut pandang filosofis. MA.Komisi Yudisial Yang Dicita-citakan Oleh Masyarakat dan Pencari Keadilan Dr. tetapi harus memahami konteks dan suasana kebathinan yang mempengaruhi perumusannya. hubungan lembaga negara dengan warga negara. suasana kebathinan yang menjadi latar belakang filosofis. nilai-nilai dan norma dasar yang hidup dalam masyarakat dan dalam praktek penyelenggaraan negara turut mempengaruhi perumusan suatu norma ke dalam naskah UUD. sosiologis. politis. maupun yuridis. Undang-Undang Dasar (UUD) adalah dokumen hukum dan politik (political and legal document) resmi suatu negara. mengatur mengenai organisasi negara. politis. Hidayat Nur Wahid. Dengan demikian. yang berisi kesepakatan pokok tentang negara. sejarah mencatat bahwa dalam implementasinya banyak ditemukan kelemahan-kelemahan yang mengakibatkan munculnya ide untuk melakukan perubahan terhadap ketentuan UUD 1945 guna menutupi kelemahan tersebut. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 185 . H.M. Dalam penyusunan suatu UUD. Namun demikian. Penetapan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) sejak tahun 1945 telah memungkinkan penyelenggaraan negara yang sejauh mungkin mengedepankan kemakmuran masyarakat. dan perlindungan terhadap hak asasi manusia. UUD dapat diubah. hubungan antar lembaga.

dan penegakan hukum dengan cara yang tidak bertentangan dengan hukum (due process of law). Ketentuan itu sekaligus dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kesewenangwenangan dan arogansi kekuasaan. dalam setiap negara yang menganut paham negara hukum. Masuknya rumusan Negara Indonesia adalah negara hukum mempertegas paham bahwa Indonesia adalah negara hukum. Salah satu perubahan penting setelah dilakukannya perubahan terhadap UUD 1945 adalah masuknya ketentuan pasal 1 ayat (3) tentang penegasan negara Indonesia adalah negara hukum dan dimuatnya rumusan tentang Hak Asasi Manusia (HAM) pada Bab XA. kebijakan. kita melihat bekerjanya tiga prinsip dasar. hal ini ditempuh MPR setelah mempertimbangkan secara seksama berbagai aliran paham dan pemikiran masyarakat tersebut. Konsekuensi ketentuan itu adalah bahwa setiap sikap.Seiring dengan bergulirnya reformasi. kesetaraan di hadapan hukum (equality before the law). Perubahan tersebut dilakukan karena MPR-lah berdasarkan UUD 1945 berwenang untuk melakukan perubahan. dan bernegara. MPR memandang bahwa UUD 1945 sudah cukup untuk mengatur pelaksanaan kehidupan berbangsa. Secara umum. Apabila hasil perubahan yang dilakukan MPR terwujud dalam bentuk seperti saat ini. Paham negara hukum sebagaimana tercantum dalam 186 Bunga Rampai . bermasyarakat. Perubahan UUD 1945 tersebut dilakukan MPR untuk jangka waktu yang panjang guna menyempurnakan ketentuan fundamental ketatanegaraan Indonesia sebagai pedoman utama dalam mengisi tuntutan reformasi dan memandu arah perjalanan bangsa dan negara pada masa yang akan datang. Dengan pertimbangan dan proses pembahasan tersebut. MPR hasil Pemilu 1999 telah melakukan suatu rangkaian perubahan UUD 1945 dalam empat tahapan yang berkesinambungan. yaitu supremasi hukum (supremacy of law). baik dalam penyelenggaraan negara maupun kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. dan perilaku alat negara dan penduduk (warga negara dan orang asing) harus berdasarkan dan sesuai dengan hukum. yang diputuskan pada Sidang Umum MPR tahun 1999 sampai dengan Sidang Tahunan MPR tahun 2002. baik yang dilakukan oleh alat negara maupun oleh penduduk.

Dalam UUD 1945 dikatakan bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum. adanya jaminan-jaminan hak asasi manusia.ketentuan Pasal 1 ayat (3) terkait erat dengan negara kesejahteraan (welfare state) atau paham negara hukum materiil sesuai dengan bunyi alinea keempat Pembukaan dan ketentuan Pasal 34 UUD 1945. hukumlah yang memegang komando tertinggi dalam penyelenggaraan negara. Untuk menjamin peradaban bangsa di masa yang akan datang perlu dikembangkan keberdayaan dalam hubungan antara negara. di dalamnya terkandung pengertian pengakuan terhadap prinsip supremasi hukum dan konstitusi. serta menjamin keadilan bagi setiap orang. adanya prinsip peradilan yang bebas dan tidak memihak yang menjamin persamaan setiap warga negara dalam hukum. Institusi negara dibentuk dengan maksud untuk Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 187 . hukum ditegakkan menurut prinsip-prinsip demokrasi karena kedaulatan hukum pada pokoknya berasal dari kedaulatan rakyat. masyarakat. oleh karenanya prinsip negara hukum tidak boleh ditegakkan dengan mengabaikan prinsip-prinsip demokrasi yang diatur dalam UUD. Dalam masyarakat madani. dianutnya prinsip pemisahan dan pembatasan kekuasaan menurut sistem konstitusional yang diatur dalam UUD. Institusi negara dibentuk tidak dengan maksud untuk mengambil alih fungsi-fungsi yang secara alamiah dapat dikerjakan sendiri secara lebih efektif dan efisien oleh institusi masyarakat. dan seimbang. Untuk pencapaian tersebut diperlukan adanya suatu kesadaran kolektif rakyat yang tercermin dalam upaya pembentukan masyarakat madani. Pelaksanaan paham negara hukum materiil akan mendukung dan mempercepat terwujudnya negara kesejahteraan di Indonesia. Dalam paham negara hukum. dan penyelenggara negara dalam hubungan yang fungsional. rakyat diberi kebebasan untuk berkiprah sesuai dengan peradaban yang sesuai dengan nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Dalam UUD 1945 terdapat cakupan dasar-dasar normatif yang berfungsi sebagai sarana pengendali terhadap seluruh penyelenggaraan negara menuju arah dan perwujudan cita-cita kolektif bangsa sesuai dengan nilai yang terkandung dalam Pembukaan. sinergis. Dalam paham negara hukum.

ikut melibatkan diri dalam usaha bersama mencari jalan keluar memperbaiki permasalahan secara menyeluruh. Sejak keberhasilan gerakan reformasi melanda bangsa Indonesia. Inilah yang dinamakan supremasi hukum.makin mendorong tumbuh dan berkembangnya peradaban bangsa Indonesia sesuai dengan cita dan citra masyarakat madani yang maju. demokratis dan berkeadilan. melalui kiprah nyata dan berkesinambungan dalam upaya mewujudkan supremasi hukum yang kita inginkan. Hukum sebagai aturan. Jika kita telaah. dimasukkan ke dalam pasal-pasal. sejak Indonesia merdeka tahun 1945 para pendiri bangsa dan rakyat telah sepakat bahwa negara dibentuk berdasarkan hukum (rechtsstaat). Negara Indonesia adalah negara hukum. Istilah ini akan selalu menjadi obyek kajian yang menarik dan tidak ada habis-habisnya. norma. Keadilan bagi semua orang harus diperoleh agar masyarakat demokratis dapat mencapai kehidupan yang adil dan damai melalui penegakan hukum. Rumusan Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 ini merupakan hasil perubahan ketiga. Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan. Hukum berada di atas segalanya termasuk negara. dan kaidah akan selalu mempunyai posisi yang khas. Tujuannya untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan (abus de pouvoir) dan penggunaan kekuasaan negara secara sewenang-wenang (detournement de pouvoir). tidak berdasarkan kekuasaan belaka (machtsstaat). Sudah sepatutnya kita semua. kekuasaan yang tidak di- 188 Bunga Rampai . Keberagaman cita rasa masyarakat yang terkemas dalam budaya tradisional dan modern akan menyatu dalam suatu dimensi hukum. mandiri. sejahtera lahir dan bathin. Hal tersebut disebabkan karena masalah supremasi hukum adalah bukti nyata proses penegakan hukum suatu bangsa. individu dan negara berdiri sejajar. Negara diatur oleh konstitusi dan undang-undang. Karena. ia langsung berada dan bekerja di tengah-tengah masyarakat. Penegasan Indonesia sebagai negara hukum semula tercantum pada Penjelasan UUD 1945. Dalam negara hukum. sebutan supremasi hukum menjadi kata yang paling sering diucapkan dan didengar. tanpa terkecuali. maka hal-hal yang bersifat normatif yang terdapat dalam Penjelasan. Mengingat Penjelasan UUD 1945 ditiadakan.

Bab tentang Kekuasaan Kehakiman menjadi lima pasal sehingga lebih rinci dan lebih lengkap. Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 itu dimaksudkan untuk mempertegas bahwa tugas kekuasaan kehakiman dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yakni untuk menyelenggarakan peradilan yang merdeka. kekuasaan kehakiman atau peradilan yang merdeka. Karenanya. Sebelum perubahan. Pasal 24C. dan Pasal 25. Pasal 24B. Pasal 24A. Ketentuan ini merupakan perwujudan prinsip Indonesia sebagai negara hukum sebagaimana ditegaskan dalam Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 189 . yaitu Pasal 24. Khusus yang menyangkut kekuasaan kehakiman atau peradilan yang merdeka. Supremasi hukum tidak hanya berlaku bagi yang lemah tetapi bagi seluruh komponen bangsa termasuk negara (pejabat negara). pemberian jasa hukum/penasehat hukum (access to legal counsel). Pasal 24A. bebas dari intervensi pihak mana pun. Sebagaimana diungkapkan oleh Lord Acton. dan proses hukum yang adil (due process of law) adalah merupakan prinsip-prinsip negara hukum. sebagaimana tercermin dari bunyi Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan bahwa. yaitu Pasal 24 dan Pasal 25. Pasal 24 ayat (3) diputus pada Perubahan Keempat (tahun 2002). persamaan di depan hukum (equality before the law). Undang-Undang Dasar 1945 telah mengakomodasikannya di dalam Bab tentang Kekuasaan Kehakiman. tidak diubah. legalitas dalam arti hukum. Setelah diubah. Pasal 24B. sedangkan Pasal 25 tetap. “power tends to corrupt. pada setiap negara hukum akan terlihat ciri-ciri adanya: 1) 2) 3) jaminan perlindungan hak-hak asasi manusia. and absolute power corrupts absolutely”. Pada Perubahan Ketiga (tahun 2001) diputus Pasal 24 [kecuali ayat (3)]. ”Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.batasi oleh hukum implikasinya adalah korup. Pasal 24C.” Dalam penjabaran selanjutnya. guna menegakkan hukum dan keadilan. yaitu bahwa baik pemerintah/negara maupun warga negara dalam bertindak harus berdasar atas dan melalui hukum. Bab tentang Kekuasaan Kehakiman terdiri atas dua pasal.

ada pula konstitusi negara yang memisahkannya sehingga dibentuk dua badan kekuasaan kehakiman. 3) wewenang lainnya yang diberikan oleh undang-undang. Perubahan ketentuan mengenai Mahkamah Agung dilakukan atas pertimbangan untuk memberikan jaminan konstitusional yang lebih kuat terhadap kewenangan dan kinerja Mahkamah Agung. Hal itu sesuai dengan penegasan bahwa Undang-Undang Dasar sebagai puncak dalam tata urutan peraturan perundang-undangan di Indonesia. antara lain lembaga penyidik dan lembaga penuntut. semula disesuaikan dengan sejarah dan kebutuhan setiap negara. Wewenang dan hal lain yang terkait dengan MK diatur dalam Pasal 24C. Ada konstitusi negara yang menyatukan fungsi Mahkamah Konstitusi ke dalam Mahkamah Agung. selain badan kekuasaan kehakiman yang telah ada. Hal-hal mengenai badan lain itu diatur dalam undang-undang. Dalam negara hukum harus dijaga paham konstitusional. Indonesia menganut paham yang 190 Bunga Rampai . Sesuai dengan ketentuan Pasal 24A ayat (1). yaitu Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. Mahkamah Agung mempunyai wewenang: 1) mengadili pada tingkat kasasi.Pasal 1 ayat (3). tidak boleh ada undang-undang dan peraturan perundang-undangan lainnya yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar. Artinya. Pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar 1945 membutuhkan sebuah mahkamah dalam rangka menjaga prinsip konstitusionalitas hukum. yaitu Mahkamah Agung. Ketentuan Pasal 24 ayat (3) menjadi dasar hukum keberadaan berbagai badan lain yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman. dan badan peradilan yang berada di bawahnya. Mahkamah Konstitusi-lah yang bertugas menjaga konstitusionalitas hukum tersebut. 2) menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang. Dalam praktik tidak ada keseragaman di negara-negara di dunia ini mengenai kewenangan Mahkamah Konstitusi. Pada Pasal 24 ayat (2) dibentuk satu lembaga peradilan baru yaitu Mahkamah Konstitusi. Pembentukan Mahkamah Konstitusi adalah sejalan dengan dianutnya paham negara hukum dalam Undang-Undang Dasar 1945.

proses dan putusan yang diambil terhadap perkara-perkara yang menjadi wewenangnya dapat dilakukan secara lebih baik karena ditangani oleh badan peradilan yang memang khusus dibentuk untuk menangani perkara yang berkaitan dengan pelaksanaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. DPR. antara lain lembaga penyidik dan lembaga penuntut. dan tiga orang yang diajukan oleh Mahkamah Agung. Pengaturan dalam undang-undang mengenai badan lain yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman membuPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 191 . Dengan pembentukan Mahkamah Konstitusi tersebut. Masih berkaitan dengan kewenangan Mahkamah Konstitusi. yakni dari sembilan anggota hakim konstitusi terdiri atas tiga orang yang diajukan oleh DPR. dan BPK. Ketentuan Pasal 24 ayat (3) menjadi dasar hukum keberadaan berbagai badan lain yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman. DPD. Perbedaan pendapat di dalam Mahkamah Konstitusi sendiri diputuskan melalui mekanisme internal Mahkamah Konstitusi. Lembaga negara yang kewenangannya diberikan langsung oleh Undang-Undang Dasar 1945. eksekutif. Hal-hal mengenai badan lain itu diatur dalam undang-undang. dan yudikatif. antara lain Presiden. tiga orang yang diajukan oleh Presiden. Komposisi hakim konstitusi di Mahkamah Konstitusi merupakan perwujudan tiga cabang kekuasaan negara.kedua. Mahkamah Agung. lembaga negara ini juga berwenang memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar 1945. yakni legislatif. Pada sisi lain adanya Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi dalam kekuasaan kehakiman lebih mempertegas bahwa praktik pemerintahan selama ini yang membedakan adanya lembaga tertinggi negara dan tinggi negara sudah ditinggalkan karena setiap lembaga menjalankan tugas sesuai dengan fungsi yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar. Putusan Mahkamah Konstitusi untuk menyelesaikan perbedaan pendapat di tubuh Mahkamah Konstitusi berdasarkan pertimbangan komposisi keanggotaan hakim konstitusi di Mahkamah Konstitusi yang diharapkan dapat menerapkan prinsip saling mengawasi dan saling mengimbangi. MPR.

ka partisipasi rakyat melalui wakil-wakilnya di DPR untuk memperjuangkan agar aspirasi dan kepentingannya diakomodasi dalam pembentukan undang-undang tersebut. Adanya ketentuan pengaturan dalam undang-undang tersebut merupakan salah satu wujud saling mengawasi dan saling mengimbangi antara kekuasaan yudikatif, Mahkamah Agung dan badan peradilan di bawahnya serta Mahkamah Konstitusi dengan kekuasaan legislatif DPR dan dengan kekuasaan eksekutif lembaga penyidik dan lembaga penuntut. Selain itu, ketentuan itu dimaksudkan untuk mewujudkan sistem peradilan terpadu (integrated judiciary system) di Indonesia. Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 juga membentuk lembaga baru yang berada di lingkungan Kekuasaan Kehakiman, yaitu Komisi Yudisial. Pembentukan Komisi Yudisial ini didasari pemikiran bahwa hakim agung yang duduk di Mahkamah Agung dan para hakim merupakan figur yang sangat menentukan dalam perjuangan menegakkan hukum dan keadilan. Apalagi hakim agung duduk pada tingkat peradilan tertinggi (puncak) dalam susunan peradilan di Indonesia sehingga ia menjadi tumpuan harapan bagi pencari keadilan. Sebagai negara hukum, masalah kehormatan dan keluhuran martabat, serta perilaku hakim merupakan hal yang sangat strategis untuk mendukung upaya menegakkan peradilan yang handal dan realisasi paham Indonesia adalah negara hukum. Untuk itu, perubahan Undang-Undang Dasar 1945 memuat ketentuan mengenai pembentukan lembaga di bidang kekuasaan kehakiman bernama Komisi Yudisial yang merupakan lembaga bersifat mandiri. Menurut ketentuan Pasal 24B ayat (1), Komisi Yudisial berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim. Melalui lembaga Komisi Yudisial itu diharapkan dapat diwujudkan lembaga peradilan yang sesuai dengan harapan rakyat sekaligus dapat diwujudkan penegakan hukum dan pencapaian keadilan yang diputus oleh hakim yang terjaga kehormatan dan keluhuran martabat serta perilakunya. Penegakan hukum dan supremasi hukum antara lain dapat dilihat dari kemandirian kekuasaan kehakiman dan dibersihkannya lembaga peradilan dari korupsi, kolusi, dan

192

Bunga Rampai

nepotisme. Sebagai esensi dalam penegakan hukum, kekuasaan kehakiman sebagai salah satu kekuasaan dalam negara memiliki hubungan yang sangat erat dengan cabang kekuasaan lainnya. Kekuasaan kehakiman berfungsi memutus sengketa hukum yang timbul antara anggota masyarakat satu sama lain dan antara anggota masyarakat dengan pemerintah. Wewenang untuk memutus perkara, tujuan akhirnya adalah untuk mewujudkan ketertiban umum di masyarakat melalui putusan yang adil. Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 itu dimaksudkan untuk mempertegas bahwa tugas kekuasaan kehakiman dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yakni untuk menyelenggarakan peradilan yang merdeka, bebas dari intervensi pihak mana pun, guna menegakkan hukum dan keadilan. Perubahan Undang-Undang Dasar telah menjamin adanya kemandirian kekuasaan kehakiman. Dengan kekuasaan kehakiman yang merdeka dan mandiri, lembaga-lembaga negara pemegang kekuasaan tersebut dapat bertindak sesuai dengan koridor hukum yang berlaku sehingga pengalaman buruk implementasi kekuasaan kehakiman sebelum reformasi yang penuh dengan rekayasa penguasa dapat dihilangkan. Keadilan tidak boleh dibedakan atas dasar latar belakang (sosial, ekonomi, politik, ideologi, etnisitas, ras, warna kulit, agama, gender, keyakinan politik, dan apapun). Keadilan harus dapat diraih oleh semua orang (kaya,miskin, sipil,militer, swasta, negeri, rakyat, pemimpin, tua dan muda). Artinya, jika pejabat bersalah dapat dihukum oleh pengadilan dan dituntut ganti rugi. Begitu juga jika masyarakat biasa yang bersalah dapat dituntut dan diproses secara hukum sehingga tercapai tujuan hukum yaitu kepastian hukum dan keadilan. Terkait dengan lembaga peradilan, terdapat dua aspek wewenang pokok mengadili dari kekuasaan kehakiman, yaitu aspek institusional berupa jenis-jenis kelembagaan peradilan yang diserahi kekuasaan kehakiman dan aspek fungsional berupa ragam fungsi yang diserahkan oleh undang-undang kepada badan-badan kekuasaan kehakiman. Melalui reposisi fungsi kedudukan lembaga peradilan dalam undang-undang, saat ini terdapat kemajuan yang menggembirakan dimana seluruh kelembagaan tersebut se-

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

193

cara bersama-sama telah berkomitmen untuk melakukan pembinaan sumber daya manusia aparatur hukum. Wujud dari upaya tersebut, penyelenggaraan peradilan yang bersih dan bebas sudah menjadi pedoman dalam berperkara. Pasal 24A ayat (3) dan Pasal 24B ayat (1) menegaskan bahwa calon hakim agung diusulkan Komisi Yudisial kepada DPR untuk mendapat persetujuan. Keberadaan Komisi Yudisial tidak bisa dipisahkan dari kekuasaan kehakiman. Dari ketentuan ini ditegaskan bahwa jabatan hakim merupakan jabatan kehormatan yang harus dihormati, dijaga, dan ditegakkan kehormatannya oleh suatu lembaga yang juga bersifat mandiri. Dalam hubungannya dengan Mahkamah Agung, tugas Komisi Yudisial hanya dikaitkan dengan fungsi pengusulan pengangkatan Hakim Agung, sedangkan pengusulan pengangkatan hakim lainnya, seperti hakim Mahkamah Konstitusi tidak dikaitkan dengan Komisi Yudisial. Aparatur penegak hukum yang berperan dalam upaya penegakkan hukum penting dikedepankan independensinya dari pengaruh kekuasaan politik Presiden atau pengaruh dari intitusi manapun juga. Independensi dalam melaksanakan tugas pro-yustisia diperlukan karena jabatan pemerintahan sangat dipengaruhi oleh dinamika politik lima tahunan. Komisi Yudisial sebagai lembaga yang berwenang mengusulkan dan mengawasi pengangkatan hakim agung, kedudukannya sangat penting. Kehormatan dan martabat hakim sebagai penentu dalam proses peradilan patut dijaga mengingat putusan hakim adalah mutlak dan mengikat sebagai dasar aparat penegak hukum bertindak. Komisi Yudisial diharapkan dapat membantu mengatasi berbagai bentuk penyalahgunaan wewenang yang terjadi pada lembaga peradilan melalui pencitraan hakim, dengan demikian dapat mendorong terwujudnya peradilan yang bersih dan berwibawa. Upaya pemilihan hakim yang kompeten melalui seleksi calon hakim agung secara ketat disertai dengan pengawasan perilaku hakim agar senantiasa menjunjung tinggi kehormatan, keluhuran martabat, serta perilakunya. Komisi Yudisial sebagai salah satu institusi dalam menjalankan fungsi kehakiman harus dapat menunjukkan kinerja yang profesional dan mengedepankan komitmen untuk mendorong terbangunnya komitmen dan integritas para

194

Bunga Rampai

hakim sehingga para hakim dalam semua tingkat peradilan dapat menjalankan wewenang dan tugasnya secara sungguh-sungguh dengan berdasarkan kebenaran, rasa keadilan, mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku serta bebas dari intervensi kekuasaan dan menjunjung tinggi kode etik. Dengan kewenangan yang dimiliki Komisi Yudisial, diharapkan dapat mewujudkan mekanisme checks and balances dalam lembaga pemegang kekuasaan kehakiman, sehingga akan membantu terwujudnya peradilan Indonesia yang menegakkan supremasi hukum. Upaya mewujudkan peradilan Indonesia yang profesional dan adil perlu dikedepankan mengingat saat ini terdapat kecenderungan berkurangnya kepercayaan masyarakat dan pencari keadilan terhadap badan peradilan yang disebabkan karena proses peradilan yang dilaksanakan kurang transparan dan kurang berfungsinya organ yang bertugas dalam mengawasi perilaku hakim. Dengan kondisi demikian, melalui tugas dan fungsi, diharapkan Komisi Yudisial dapat mempelopori untuk menciptakan kondisi yang dapat membantu mengoptimalkan peran peradilan sehingga dapat mewujudkan lembaga peradilan yang bersih, bermartabat, dan berwibawa serta menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan. Adanya pengawasan melekat pada perilaku hakim dalam menjalankan tugasnya akan memberikan kontrol yang effektif dalam upaya menegakkan keadilan. Komisi Yudisial harus dapat menjalankan tugasnya untuk merekrut dan mengawasi perilaku hakim agar hakim dalam lembaga peradilan benar-benar memiliki integritas, memiliki kemampuan dalam menyelesaikan kasus, serta dapat mengambil putusan yang sesuai dengan peraturan yang berlaku dan mandiri. Dengan fungsinya tersebut, Komisi Yudisial menjadi pengawal dalam mengoreksi semua penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh hakim, Komisi Yudisial dapat menjadi pelopor utama guna menegakkan keluhuran martabat dan perilaku hakim. Dengan adanya pengawasan yang optimal oleh Komisi Yudisial, maka akan membantu pencitraan hakim dalam penyelenggaraan peradilan. Akhirnya saya ingin menegaskan bahwa pencitraan peradilan melalui itikad dan kesungguhan dari penyeleng-

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

195

gara negara dalam mengimplementasikan seluruh peraturan secara konsekuen akan mendukung pelaksanaan seluruh ketentuan UUD 1945. Peran lembaga peradilan yang menjunjung tinggi hukum dan kesetaraan dalam hukum akan membantu memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap proses hukum dalam lembaga peradilan. Pencitraan hakim melalui seleksi yang ketat oleh lembaga yang berwenang serta pengawasan yang intensif oleh institusi diluar pengadilan akan mendukung terwujudnya netralitas putusan hakim dan membentuk pencitraan hakim yang profesional dan berwibawa.

196

Bunga Rampai

Sinkronisasi Sistem Perundang-undangan Lembaga Peradilan Dalam Menciptakan Peradilan yang Lebih Baik
Trimedya Panjaitan, SH*

INDONESIA adalah negara hukum. Salah satu prinsip penting bagi Indonesia sebagai negara hukum adalah kekuasaan kehakiman yang merdeka. Prinsip ini menghendaki kekuasaan kehakiman yang bebas dari campur tangan pihak manapun dan dalam bentuk apapun, sehingga dalam menjalankan tugas dan kewajibannya ada jaminan ketidakberpihakan kekuasaan kehakiman kecuali terhadap hukum dan keadilan. Prinsip kekuasaan kehakiman yang merdeka telah ditegaskan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yakni dalam Perubahan (Amandemen) Ketiga UUD 1945. Dalam Pasal 24 ayat (1) dinyatakan kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Sebelumnya, dalam UUD 1945 praamandemen, prinsip ini diatur dalam Pasal 24 UUD 1945, dan diuraikan lebih lanjut dalam penjelasan Pasal 24 yang berbunyi: “Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan yang merdeka, artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah. Berhubung dengan itu harus diadakan jaminan dalam undang-undang tentang kedudukan para hakim”.1

*
1

Penulis adalah Ketua Komisi III DPR RI, Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Kutipan dari penjelasan UUD 1945 sebelum amandemen ini untuk menunjukkan bahwa sejak awal, yaitu oleh para pendiri bangsa, telah diterima gagasan adanya lembaga yudikatif yang mandiri dan bebas dari pengaruh kekuasaan lain.

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

197

menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang. Menegakkan Konstitusi. Sedangkan Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar. 2006. Namun pelembagaan berbagai kekuasaan negara di Indonesia jelas menunjukkan adanya keterpengaruhan pada paham Trias Politica. lingkungan peradilan tata usaha negara. Pada Pasal 24 ayat (2) UUD 1945. Mahkamah Konstitusi juga mempunyai tugas khusus lain yaitu memutus pendapat DPR bahwa Presiden/Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat. memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar. dinyatakan bahwa kekuasaan kehakiman itu dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum. Dan khusus untuk kekuasaan kehakiman. dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. 198 Bunga Rampai . memutus pembubaran partai politik. Mahkamah Agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi. dinyatakan secara tegas oleh UUD 1945 sebagai kekuasaan negara yang terpisah dari kekuasaan-kekuasaan negara lainnya. dan Mahfud MD. memutus pendapat DPR bahwa Presiden telah melanggar hal-hal 2 Lihat Sri Soemantri. Dengan demikian Mahkamah Konstitusi dimunculkan sebagai lembaga negara dengan tugas melakukan uji materi (judicial review.Negara Indonesia berdasarkan UUD 1945 tidak menganut secara penuh paham Trias Politica dan pemisahan kekuasaan. 1978. dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum (pasal 24C ayat 1). dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh undang-undang (pasal 24A ayat 1).2 Kekuasaan kehakiman di Indonesia dilaksanakan oleh Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi dengan kompentensi yang berbeda. lingkungan peradilan agama. lingkungan peradilan militer. Membangun Politik Hukum. Bunga Rampai Hukum Tata Negara Indonesia. atau secara lebih spesifik melakukan constitutional review) atas undang-undang terhadap UndangUndang Dasar.

untuk melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim. keluhuran martabat. memutus sengketa kewenangan antar lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar. namun sebagai lembaga pembantu (state auxiliary organ). Dengan demikian konstitusi telah memberikan landasan hukum yang kuat bagi reformasi di bidang hukum dengan memberikan kewenangan kepada Komisi Yudisial. Komisi Yudisial bukan merupakan pemegang kekuasaan kehakiman. Dalam Konstitusi diatur bahwa Komisi Yudisial merupakan lembaga yang bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan.tertentu yang disebutkan di dalam Undang-Undang Dasar sehingga mereka dapat diproses untuk diberhentikan. Konstitusi juga memperkenalkan lembaga baru di dalam rumpun kekuasaan kehakiman. peradilan militer. Sedangkan Mahkamah Agung mengadili perkara-perkara konvensional (perkara-perkara di lingkungan peradilan umum.3 Hasilnya adalah pengaturan Komisi Yudisial dalam Pasal 24B Perubahan Ketiga UUD 1945 yang ditetap- 3 Lihat keterangan para saksi dari mantan Anggota Panitia Ad Hoc (PAH) I Badan Pekerja MPR dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 005/PUU-IV/2006 dalam perkara permohonan uji materi terhadap UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. ditambah dengan kewenangan menguji materi perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. dan peradilan tata usaha negara). Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 199 . sebagai supporting elemen dalam kekuasan kehakiman. serta perilaku hakim (pasal 24B ayat 1). serta memutus pembubaran partai politik dan memutus sengketa hasil pemilu. yakni Komisi Yudisial. peradilan agama. Pada awalnya ide dasar pembentukan Komisi Yudisial dilatarbelakangi kekhawatiran akan timbulnya tirani yudisial pasca pemberlakuan sistem satu atap di Mahkamah Agung dan pemberian kemandirian dan kemerdekaan kepada institusi pemegang kekuasaan kehakiman ini. Sehingga para anggota DPR/MPR RI sebagai representasi dari rakyat menilai perlunya dibentuk Komisi Yudisial (judicial committee) sebagai lembaga pengawas eksternal terhadap kekuasaan kehakiman.

sepenuhnya menjadi tanggung jawab Mahkamah Agung.kan dalam Sidang Tahunan MPR Tahun 2001. Kebijakan atap tunggal atau one roof system diawali dengan pembuatan Ketetapan MPR Nomor X/MPR/1998 tentang Pokok-pokok Reformasi Pembangunan yang menetapkan kekuasaan kehakiman bebas dan terpisah dari kekuasaan eksekutif. Perlu digarisbawahi. Untuk lingkungan peradilan umum dan peradilan tata usaha negara. Untuk peradilan agama. dan Finansial Lembaga Peradilan dari Departemen Kehakiman ke Mahkamah Agung. Administrasi. di tingkat pelaksanaan. Dalam UU Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman ditegaskan bahwa organisasi. sebagaimana telah diubah dan dicabut dengan UU Nomor 4 Tahun 2004 tetang Kekuasaan Kehakiman. administrasi. Dengan kata lain. administrasi. Selanjutnya. Mahkamah Agung tidak hanya mengurusi pembinaan para hakim. dan finansial Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya berada di bawah kekuasaan Mahkamah Agung (pasal 13 ayat 1). Sedangkan dalam pasal 13 ayat (2) disebutkan bahwa organisasi. Selanjutnya sistem satu atap diatur dan dijabarkan dalam Undang-undang (UU) Nomor 35 Tahun 1999 tentang Perubahan UU Nomor 14 Tahun 1970. dan finansial yang sebelumnya diatur oleh eksekutif (Departemen Kehakiman). peralihan sudah selesai paling lambat 31 Maret 2004 (pasal 42 ayat 1). Adapun tentang Mahkamah Agung diatur dalam UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU Nomor 14 Tahun 1985. diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 21 Tahun 2004 tentang Pelaksanaan Pengalihan Urusan Organisasi. urusan teknis yudisial dan kepegawaian korps hakim di negeri ini sekarang berada di satu tangan. administrasi. administrasi. yang dilaksanakan sejak 31 Maret Tahun 2004. tetapi juga menangani organisasi. Secara konseptual. peralihan harus se- 200 Bunga Rampai . Dengan konsep satu atap kekuasaan kehakiman. sistem satu atap kekuasan kehakiman merupakan unsur penting dari kemandirian kekuasaan kehakiman (judicial independence). dan finansial Mahkamah Konstitusi berada di bawah kekuasaan dan kewenangan Mahkamah Konstitusi. dan peradilan militer. kemandirian kekuasaan kehakiman dapat tercapai jika organisasi. dan keuangan lembaga peradilan ditangani sendiri oleh institusi pemegang kekuasaan kehakiman.

struktur baru ini bisa memikul beban yang dialihkan dari Departemen Kehakiman ke Mahkamah Agung. serta menangani urusan administratif yang terkait dengan teknis peradilan seperti pembagian perkara. juga berakar pada sistem pengelolaannya. yakni ada dua wakil ketua dari sebelumnya hanya satu. Jabatan panitera dan sekretaris Mahkamah Agung juga dipisahkan. Ketiadaan independensi kekuasaan kehakiman. yakni masih dijalankannya sistem pengelolaan kekuasaan kehakiman oleh pemerintah mengenai bidang-bidang organisasi. hal tersebut menjadi sulit dilakukan karena adanya dualisme kendali. dan ketua muda tata usaha negara. sedangkan pengadilan militer baru diserahkan oleh Panglima TNI pada 1 September 2004. Namun. realisasinya terlambat. selain karena tekanan rezim yang begitu kuat. ketua muda agama. Sedangkan soal administrasi umum termasuk pengawasan. dan diharapkan akan memudahkan pengawasan terhadap para hakim. Sinkronisasi UU Pengaturan lebih lanjut tentang Komisi Yudisial terdapat dalam UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. ketua muda pidana. Komisi Yudisial mempunyai tugas mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kePenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 201 . struktur Mahkamah Agung mengalami perubahan.lesai paling lambat 30 Juni 2004 (pasal 42 ayat 2 dan ayat 3). promosi. diserahkan kepada wakil ketua nonyudisial yang membawahi ketua muda pembinaan dan ketua muda pengawasan. kekuasaan negara didominasi oleh kekuasaan eksekutif. administratif. Selama Orde Baru. Wakil ketua bidang yudisial membawahi ketua muda perdata. Dalam undang-undang ini diatur secara rinci mengenai wewenang dan tugas Komisi Yudisial. Diharapkan. Selama ini. dan mutasi hakim. Sementara dengan UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. Sistem satu atap kekuasaan kehakiman ini sesuai dengan tuntutan reformasi. Selanjutnya pada sekretariat Mahkamah Agung dibentuk beberapa direktorat jenderal dan kepala badan. ketua muda militer. dan finansial. Putusan MK. Pengadilan agama baru diserahkan oleh Departemen Agama pada 30 Juni 2004.

Konflik berkembang sedemikian rupa hingga berpuncak pada pengajuan uji materi atau judicial review terhadap UU Nomor 22 Tahun 2004 oleh 31 orang Hakim Agung. Permohonan judicial review ini dikabulkan sebagian oleh Mahkamah Konstitusi. yakni Hakim Agung dan hakim pada badan peradilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung serta hakim Mahkamah Konstitusi. kemudian Komisi Yudisial menggagas kocok ulang Hakim Agung. serta perilaku hakim. keluhuran martabat. Mahkamah Konstitusi me- 202 Bunga Rampai . Awalnya Komisi Yudisial merasa adanya kesulitan untuk meminta keterangan dari Ketua Mahkamah Agung dalam suatu kasus yang menarik perhatian masyarakat. Dalam perkembangannya pelaksanaan pengawasan terhadap hakim oleh Komisi Yudisial yang didasarkan pada UU Nomor 22 Tahun 2004 dipersoalkan oleh para Hakim Agung. Ini merupakan buntut dari konflik antara Komisi Yudisial dengan Mahkamah Agung. sebab yang dipermasalahkan oleh pemohon adalah tentang objek pengawasan Komisi Yudisial yaitu para Hakim Agung dan hakim Mahkamah Konstitusi bukan fungsi pengawasannya itu sendiri. Dalam putusannya Mahkamah Konstitusi membatalkan fungsi pengawasan Komisi Yudisial karena bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat karena terbukti menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). Terhadap permohonan terkait objek pengawasan oleh Komisi Yudisial itu Mahkamah Konstitusi hanya mengecualikan dirinya sendiri dari objek pengawasan.hormatan. khususnya yang berkaitan dengan ketentuan mengenai fungsi pengawasan terhadap perilaku hakim. Amar putusan Mahkamah Konstitusi ini sebenarnya telah memutuskan halhal yang tidak diajukan dalam permohonan judicial review. yang diputuskan adalah fungsi atau kewenangan pengawasan terhadap hakim oleh Komisi Yudisial yang sama sekali tidak dimohonkan oleh para pemohon. Para Hakim Agung tersebut meminta agar pasal-pasal dalam UU Nomor 22 Tahun 2004 yang menyangkut kewenangan Komisi Yudisial mengawasi Hakim Agung dan hakim Mahkamah Konstitusi dibatalkan. sedang Hakim Agung tidak dikecualikan dari objek pengawasan Untuk mengatasi akibat kekosongan hukum yang terlalu lama berkaitan dengan tugas Komisi Yudisial.

Mahkamah Agung sedang mengkaji hal-hal yang perlu disinkronkan dari delapan undang-undang tentang kekuasaan kehakiman. yang menyarankan DPR dan Presiden (yang secara bersama-sama memegang kekuasaan membentuk undang-undang) untuk melakukan perubahan terhadap berbagai peraturan perundanganundangan di bidang kekuasaan kehakiman ini sebenarnya tidak lazim. UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. 28 September 2006. dari segi substansi tidak ada masalah dengan saran Mahkamah Konstitusi itu karena sebenarnya wacana atau keinginan melakukan penyempurnaan. termasuk UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung.nyatakan UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial harus segera disempurnakan melalui proses perubahan undang-undang sebagaimana mestinya. termasuk dari Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial. serta sinkronisasi terhadap berbagai peraturan perundangan-undangan di bidang kekuasaan kehakiman sudah mengemuka di berbagai kalangan. harmonisasi. MA: Revisi UU KY agar Dilakukan secara Integral. revisi UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial sebaiknya memang tidak secara sepotong-sepotong tapi dilakukan secara komprehensif dalam satu paket dengan revisi seluruh undang-undang di bidang kekuasaan kehakiman. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 203 .4 4 Kompas. Mahkamah Konstitusi juga menyarankan kepada DPR dan Presiden untuk melakukan perbaikan-perbaikan yang bersifat integral dengan juga mengadakan perubahan dalam rangka harmonisasi dan sinkronisasi atas UU Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Mahkamah Agung telah menugasi sejumlah Hakim Agung dan Ikatan Hakim Indonesia untuk melakukan kajian secara mendalam. baik pembentukan undang-undang baru atau undang-undang perubahan/amandemen. Menurut Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan. dan undang-undang lain yang terkait dengan sistem peradilan terpadu. Putusan Mahkamah Konstitusi. Perlu Sinkronisasi Semua UU agar Tak Simpang Siur. Namun demikian. Menurut Bagir. adalah wilayah legislatif. Untuk itu. Sebab urusan atau kewenangan pembentukan undang-undang. UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi.

Pendapat atau keinginan yang sama diungkapkan oleh Komisi Yudisial. Sementara satu undang-undang lainnya yang masuk rumpun kekuasaan kehakiman. UU Mahkamah Agung. 204 Bunga Rampai . Alasannya karena kita masih menghadapi masalah sinkronisasi hukum baik secara horisontal maupun vertikal. RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi.5 Ketika membuat revisi atas UU Komisi Yudisial. UU Peradilan Umum. Terhadap UU Mahkamah Konstitusi. Draf pertama dari ketiga RUU inisiatif DPR itu sudah selesai disusun.6 Dengan demikian tinggal RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Agung dan RUU tentang Perubahan atas UU Kekuasaan Kehakiman yang belum masuk dalam Prioritas Prolegnas 2007. UU Mahkamah Konstitusi. UU Peradilan Agama. antara lain dengan memberikan batasan tentang materi undang-undang yang dapat diajukan permohonan judicial review. yaitu UU Kekuasaan Kehakiman. diusulkan tentang perlunya beberapa perbaikan. dan UU tentang Peradilan Tata Usaha Negara. belum lama direvisi oleh DPR bersama pemerintah. Badan Legislatif DPR sedang menyiapkan paket Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan atas UU Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana sudah diubah dengan UU Nomor 5 Tahun 2004. dan kini sedang dalam tahap penyempurnaan setelah menerima masukan dari berbagai pihak terkait seperti Ikatan Hakim Indonesia (Ikahi) dan pakar hukum. misalnya. Lihat Prioritas Program Legislasi Nasional 2007 sesuai dengan Keputusan DPR RI Nomor: 07A/DPR RI-RI/I/2006-2007. secara keseluruhan Komisi Yudisial membahas delapan undang-undang di bidang kekuasaan kehakiman. UU Peradilan Militer. dan RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. UU Komisi Yudisial. yaitu UU Peradilan Agama. RUU tentang Perubahan atas UU Komisi Yudisial dan RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Konstitusi sudah masuk dalam Prioritas Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Tahun 2007. yakni 5 6 Disampaikan Pimpinan Komisi Yudisial dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi III DPR RI. dan karenanya perlu didorong agar juga masuk dalam kategori prioritas. 19 September 2006. Menyikapi putusan Mahkamah Konstitusi di atas.

Dengan demikian revisi. keluhuran martabat dan perilaku hakim yang tata caranya diatur dalam pasal 22A dan 22B. Dalam draft RUU Komisi Yudisial juga dipertegas bahwa Hakim Agung termasuk objek pengawasan Komisi Yudisial bersama hakim pada semua badan peradilan di bawah Mahkamah Agung (pasal 1 angka 4). Sedangkan RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 31 tahun 1997 tentang Peradilan Militer saat ini sedang dibahas di DPR. harmonisasi. b. pemberhentian. keputusan dapat berupa: a. RUU MK. atau disisipkan di antara pasal 32 dan 33 UU MahkaPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 205 . dan RUU MA Dalam draft pertama RUU tentang Perubahan atas UU Komisi Yudisial yang disusun oleh Badan Legislatif DPR (posisi draft pada 27 Desember 2006). atau pemberhentian permanen. teguran tertulis. Kemudian dalam ayat (3) diatur: Putusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bersifat mengikat. Penguatan terhadap kedudukan Komisi Yudisial diatur dalam pasal 22C draft RUU yang menyebutkan bahwa Komisi Yudisial dapat membuat keputusan atas dugaan pelanggaran perilaku hakim dengan memberikan teguran tertulis. pemberhentian sementara. atau c. dan sinkronisasi UU Peradilan Militer terhadap berbagai undang-undang di bidang kekuasaan kehakiman lainnya dapat dilakukan melalui pembahasan RUU yang sedang berlangsung di DPR. pemberhentian sementara. Keputusan tersebut merupakan hasil dari pelaksanaan tugas Komisi Yudisial dalam menjaga dan menegakkan kehormatan. RUU KY. Untuk jelasnya kita lihat bunyi rumusan Pasal 22C ayat (2) draf pertama RUU tentang Perubahan atas UU Komisi Yudisial (selanjutnya disingkat RUU Komisi Yudisial): Dalam hal pelanggaran aturan perilaku hakim dinyatakan terbukti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. disampaikan oleh Komisi Yudisial kepada pimpinan Mahkamah Agung dan tembusannya disampaikan kepada Presiden dan DPR. sehingga menurut hemat penulis belum prioritas untuk direvisi.melalui UU Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas UU Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. kedudukan Komisi Yudisial diperkuat. Ketentuan ini juga diatur dalam pasal 32A draf pertama RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Agung (posisi draft pada 27 Desember 2006).

pengawasan dilakukan oleh Komisi Yudisial yang diatur dalam undang-undang. Sedangkan pencantuman pengaturan kewenangan Komisi Yudisial melakukan pengawasan terhadap Hakim Agung dalam draft RUU Mahkamah Agung merupakan upaya sinkronisasi UU Mahkamah Agung terhadap UU Komisi Yudisial dan UU Kekuasaan Kehakiman. UU Kekuasaan Kehakiman juga sudah mencantumkan tentang kedudukan Hakim Agung sebagai objek pengawasan Komisi Yudisial. Namun. keluhuran martabat serta perilaku hakim agung dan hakim. sebab pengawasan terhadap perilaku hakim merupakan kewenangan Komisi Yudisial. selain UU Komisi Yudisial. Perubahan terpenting adalah menghilangkan ketentuan pasal 32 ayat (2) yang mengatur kewenangan Mahkamah Agung untuk mengawasi tingkah laku dan perbuatan para hakim di semua lingkungan peradilan dalam menjalankan tugasnya.mah Agung yang berlaku saat ini. Sejalan dengan itu. menurut penulis. Ketentuan seperti ini. Untuk diketahui. sesuai putusan Mahkamah Konstitusi. dalam RUU Komisi Yudisial memang belum diatur tentang mekanisme pelaksanaan putusan Komisi Yudisial tersebut oleh Mahkamah Agung. perlu dikaji ulang secara mendalam. penyusun draft RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Agung (selanjutnya disingkat RUU Mahkamah Agung) juga telah mengubah bunyi pasal 32 UU Mahkamah Agung dari semula terdiri dari lima ayat menjadi tiga ayat. yakni dalam pasal 34 ayat 3 yang berbunyi: Dalam rangka menjaga kehormatan. Sementara itu. Oleh karena itu ketentuan mengenai pelaksanaan kewenangan Komisi Yudisial untuk menjatuhkan sanksi kepada hakim ini termasuk yang masih perlu disinkronisasikan dan diatur teknis pelaksanaannya dalam RUU Mahkamah Agung dan RUU Kekuasaan Kehakiman. hakim Mahkamah Konstitusi dikecualikan dari pengawasan Komisi Yudisial dan semua ketentuan yang menyangkut hakim Mahkamah Konstitusi dihapus dalam draft RUU Komisi Yudisial. yang menyatakan bahwa pengawasan atas perilaku Hakim Agung dilakukan oleh Komisi Yudisial. Sebab sikap Mahkamah Konstitusi 206 Bunga Rampai . Ini merupakan upaya sinkronisasi tentang kewenangan pengawasan terhadap hakim dalam peraturan-peraturan perundang-undangan di bidang kekuasaan kehakiman.

Sedangkan dalam ayat (2) disebutkan bahwa hakim Mahkamah Konstitusi tidak berwenang melakukan pengujian atas undang-undang yang berkaitan dengan tugas dan wewenang Mahkamah Konstitusi. Pengaturan dalam pasal 50 RUU Mahkamah Konstitusi ini lebih rinci dan tegas dibandingkan pasal 50 dalam UU Mahkamah Konstitusi yang sudah dicabut atau dibatalkan Mahkamah Konstitusi. terdapat dalam pasal 45A yang mengatur bahwa Mahkamah Konstitusi tidak boleh memutus perkara melebihi daripada yang diminta sebagaimana dalam surat permohonanannya (ultra petita). Larangan seperti ini dilatarbelakangi adanya putusan Mahkamah Konstitusi yang melebihi permohonan. antara lain dalam kasus permohonan uji materi terhadap UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial seperti sudah disinggung di atas. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 207 .yang mengecualikan dirinya sendiri dari objek pengawasan Komisi Yudisial ini termasuk kontroversial dan mendapatkan kritikan dari berbagai kalangan. Pasal substantif lainnya adalah pembatasan kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam memeriksa. bersih. mengadili.7 Ketentuan penting dalam draf pertama RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disingkat RUU Mahkamah Konstitusi) yang disusun Badan Legislatif DPR (posisi draft pada 27 Desember 2006). Pembatalan itu dilakukan Mahka- 7 Tentang kenapa fungsi pengawasan Komisi Yudisial harus dimaksudkan dalam posisi sebagai suppoting element dan bukan check and balances. yakni hanya meliputi undang-undang yang diundangkan setelah perubahan UUD 1945 (pasal 50 ayat 1 RUU Mahkamah Konstitusi). dan berwibawa. apakah pengecualian hakim Mahkamah Konstitusi dari objek pengawasan Komisi Yudisial sudah tepat. Perlu dikaji. lihat pertimbangan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 005/PUU-IV/2006 dalam perkara permohonan uji materi terhadap UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. dan memutus permohonan pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar. antara lain. Apapun hasil pengkajian itu penting dicatat bahwa pengawasan oleh Komisi Yudisial yang dimaksud di sini adalah sebagai supporting element dalam rangka mendukung kekuasaan kehakiman yang merdeka. dan bukan dalam kerangka hubungan checks and balances.

Pasca Putusan MK (1): Selamat Datang Kembali Mafia Peradilan. Pembatalan pasal 50 itu dilakukan Mahkamah Konstitusi sebagai pintu masuk untuk dapat memeriksa uji materi terhadap undang-undang yang diundangkan sebelum perubahan atau amandemen UUD 1945 tersebut.8 Sebab jika 8 Lihat Mahfud MD. telah mengatur pembatasan undang-undang yang dapat dilakukan uji materi oleh Mahkamah Konstitusi dari segi rationne temporis (keberlakuan waktu). Termasuk dalam wilayah legislative review adalah review atau penilaian apabila tidak ada kepastian hukum karena adanya undang-undang yang saling bertentangan dengan undang-undang lain. dengan tambahan adanya ayat (2). Judicial review merupakan wilayah kewenangan Mahkamah Konstitusi. Dari ketentuan pasal 50 draft RUU Mahkamah Konstitusi tersebut dapat diketahui bahwa DPR.mah Konstitusi saat memeriksa permohonan uji materi UU Nomor 1 Tahun 1987 tentang Kamar Dagang dan Industri. Hukum Online. 27 Agustus 2006. Dihidupkannya kembali pasal 50 dalam draft RUU Mahkamah Konstitusi. dan memutus suatu perkara di mana ia sendiri terlibat (ikut menjadi pihak) di dalamnya”. telah membatasi Mahkamah Konstitusi untuk menguji undangundang yang diundangkan sebelum amandemen UUD 1945. Namun belum diatur pembatasan dari segi rationne materiae (materi pengujian) yang masuk dalam kewenangan Mahkamah Konstitusi. sekaligus menutup celah bagi Mahkamah Konstitusi untuk mengatur dirinya sendiri melalui putusan uji materi terhadap undang-undang yang terkait Mahkamah Konstitusi. Dalam penjelasan pasal 50 ayat 2 disebutkan. tanpa batasan waktu. mengadili. Dengan membatalkan Pasal 50 yang menganut asas tidak berlaku surut tersebut juga berarti Mahkamah Konstitusi telah memberikan kewenangan kepada dirinya sendiri untuk untuk menguji seluruh undang-undang yang berlaku di Indonesia. Perlu dikaji tentang perlunya pembedaan antara judicial review dan legislative review. sedangkan legislative review masuk dalam wilayah kewenangan legislatif atau pembentuk undang-undang. “Hal ini sesuai asas bahwa seorang hakim tidak dapat berlaku adil dalam memeriksa. 208 Bunga Rampai . dalam hal ini Badan Legislatif.

Pembahasan terhadap RUU Peradilan Militer yang merupakan amanat reformasi ini sempat mengalami kebuntuan karena adanya perbedaan pendapat mengenai yurisdiksi peradilan militer yang diatur dalam pasal 9 RUU Peradilan Militer. Dari berbagai undangundang di bidang kekuasaan kehakiman. yang perlu segera dilakukan revisi. dan sinkronisasi. upaya yang sama juga harus dilakukan terhadap berbagai undang-undang yang mengatur tentang badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung. dan yang berwenang melakukannya adalah lembaga legislatif. pembahasan RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 31 tahun 1997 tentang Peradilan Militer (selanjutnya disingkat RUU Peradilan Militer) saat ini sedang dilakukan oleh DPR bersama pemerintah. adalah UU Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer. RUU Peradilan Militer. dan sinkronisasi terhadap undang-undang yang mengatur lembaga pemegang kekuasaan kehakiman (yakni Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi sebagai principal organ) dan Komisi Yudisial (sebagai auxiliary organ dalam kekuasaan kehakiman). HAM. sedangkan tindak pidana umum yang dilakukan militer masuk jurisdiksi peradilan umum. harmonisasi. Sikap DPR ini merujuk pada Ketetapan MPR Nomor VII/ MPR/2000 tentang Peran TNI dan Peran Polri dan UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI yang menegaskan bahwa Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 209 . Semula Departemen Pertahanan menghendaki agar semua tindak pidana yang dilakukan militer diadili di peradilan militer. Sebagaimana telah disinggung di atas. antara lain. harmonisasi.terjadi pertentangan antara satu undang-undang dengan undang-undang lainnya maka perlu dilakukan harmonisasi atau sinkronisasi antara undang-undang yang saling bertentangan itu melalui revisi atau perubahan terhadap undang-undang dimaksud. dan UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang di dalamnya diatur dasar hukum tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. dan Tipikor Selain revisi. UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM). Sementara Panitia Khusus (Pansus) DPR untuk RUU Peradilan Militer menghendaki agar jurisdiksi peradilan militer dibatasi pada tindak pidana militer.

Sementara resistensi TNI (sebagaimana tergambar dalam sikap Menteri Pertahanan) untuk tunduk pada jurisdiksi peradilan sipil memiliki alasan yang lemah. DPR memiliki landasan hukum yang lebih kuat karena merujuk pada Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2000 dan UU Nomor 34 Tahun 2004. dan ditegaskan lagi oleh Menteri Pertahanan dalam Rapat 210 Bunga Rampai . Selanjutnya dinyatakan bahwa Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2000 maupun Pasal 65 jo Pasal 74 UU Nomor 34 Tahun 2004 tidak bisa dijadikan dasar penyusunan RUU Peradilan Militer.TNI selain tunduk pada peradilan militer juga patuh pada peradilan umum. yaitu ketidakrelaan militer untuk tunduk pada peradilan umum dan disidik oleh polisi. Setelah melalui perdebatan panjang lebih dari satu tahun. Persetujuan itu disampaikan dalam Surat Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono kepada pimpinan DPR tanggal 30 Januari 2007. sedangkan apabila melanggar tindak pidana militer akan diadili di peradilan militer. pemerintah akhirnya sependapat dengan DPR bahwa militer akan diadili di peradilan umum apabila melakukan tindak pidana umum. Sedangkan Pasal 65 ayat 2 UU Nomor 34 Tahun 2004 menyebutkan. Dalam Pasal 3 ayat (4b) Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2000 disebutkan: “Prajurit Tentara Nasional Indonesia tunduk kepada kekuasaan peradilan militer dalam hal pelanggaran hukum militer dan tunduk kepada kekuasaan peradilan umum dalam hal pelanggaran hukum pidana umum”. pemerintah (dalam hal ini Menteri Pertahanan) memberikan jawaban yang mengejutkan. Menurut pemerintah. Pasal 65 UU No 34 Tahun 2004 itu adalah substansi yang dipaksakan. ”Prajurit tunduk kepada kekuasaan peradilan militer dalam hal pelanggaran hukum pidana militer dan tunduk pada kekuasaan peradilan umum dalam hal pelanggaran hukum pidana umum yang diatur dengan undang-undang”. Kemudian dalam Pasal 74 undang-undang yang sama disebutkan Pasal 65 ayat 2 bisa berlaku setelah undang-undang yang baru tentang Peradilan Militer diberlakukan. atas argumen tersebut. Hal ini juga sesuai dengan semangat reformasi. dan tampaknya lebih karena persoalan kultur. Merujuk pada argumen masing-masing pihak. khususnya semangat menegakkan prinsip demokrasi dan adanya kontrol sipil pada militer. Akan tetapi.

8 Februari 2007. antara lain. Kata ’Prajurit’ itu berkonotasi pada individu. Pasalnya. Saat ini ada persoalan baru berkaitan dengan isi Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) tambahan dari pemerintah. Jika prajurit melakukan tindak pidana umum maka diadili di peradilan umum. terutama terfokus pada UU Nomor 39 Tahun 1947 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana Militer berikut hukum acaranya. Dalam UU Pengadilan HAM. Hal ini bisa mengakibatkan munculnya usulan pembentukan pengadilan internasional dalam kasus kejahatan perang atau kemanusiaan. jika revisi tersebut tidak mempertimbangkan UU Pengadilan HAM. Dalam kurun waktu tersebut. Revisi UU Peradilan Militer perlu mempertimbangkan UU Pengadilan HAM mengingat prajurit TNI merupakan salah satu subjek hukum dari jurisdiksi Pengadilan HAM. bukan institusinya. Perubahan istilah ini dianggap mengandung jebakan. Pansus RUU Peradilan Militer Khawatirkan Isi DIM Baru Pemerintah. Perubahan istilah ’Prajurit’ ke ’Militer’ itu dikhawatirkan mengarah ke institusi. sedangkan ’Militer’ mengarah pada institusinya. Sehingga dikhawatirkan bisa terjadi kesulitan untuk mengadili individu prajurit yang melakukan tindak pidana umum itu ke peradilan umum. diatur bahwa “setiap orang adalah orang perseorangan.9 Selanjutnya. 28 Juni 2007 Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 211 .Pansus RUU Peradilan Militer. kelompok 9 Lihat Republika. Dalam DIM itu banyak istilah ’Prajurit’ yang kemudian diubah menjadi ’Militer’. Tapi. pemerintah dan DPR secara simultan akan merevisi undangundang terkait. Indonesia dapat dicurigai tidak mau menyesuaikan diri dengan standar internasional. bukan ke arah individu yang melakukan tindak pidana. tercapainya kesepakatan DPR dengan pemerintah tentang jurisdiksi peradilan militer tidak berarti pembahasan RUU Peradilan Militer akan berjalan mulus. Dalam rapat tersebut Pansus DPR dan pemerintah juga mulai menyepakati adanya masa transisi pemberlakuan UU Peradilan Militer selama dua sampai tiga tahun. yang perlu diperhatikan adalah bahwa revisi UU Peradilan Militer harus mempertimbangkan UU Nomor 26 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM).

di mana Pengadilan HAM Ad Hoc dibentuk dengan Keputusan Presiden RI berdasarkan rekomendasi DPR RI. militer. maupun polisi yang bertanggung jawab secara individual” (pasal 1 ayat 3). komisi yang membidangi hukum dan menjadi pasangan kerja Jaksa Agung RI dan Komnas HAM. Terhadap UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM sendiri juga perlu dilakukan revisi atau penyempurnaan.orang. Sementara Komnas HAM berpendapat Jaksa Agung dapat menindaklanjuti hasil penyelidikan Komnas HAM dengan melakukan penyidikan tanpa didahului pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. Perbedaan pendapat ini telah menyebabkan terjadinya kebuntuan dalam penindaklanjutan proses hukum kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum adanya UU Nomor 26 Tahun 2000. Revisi ini khususnya terhadap. Kemudian dalam pasal 49 (masuk dalam Bab X tentang Ketentuan Penutup) dinyatakan bahwa ketentuan mengenai kewenangan Atasan Yang Berhak Menghukum dan Perwira Penyerah Perkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 dan Pasal 123 Undangundang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer dinyatakan tidak berlaku dalam pemeriksaan pelanggaran hak asasi manusia yang berat menurut undang-undang ini. namun tidak terbatas pada. mengenai dalam tahap mana dalam proses hukum kasus pelanggaran HAM berat diperlukan rekomendasi DPR sebagai syarat untuk pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. Secara hubungan pasal tidak ada hubungan penyelidikan dan penyidikan dengan pembentukan pengadilan Ad Hoc tersebut sehingga tidak beralasan jika Kejaksaan mengatakan harus 212 Bunga Rampai . Selama ini terdapat perbedaan penafsiran antara DPR dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) di satu pihak. yang menyatakan rekomendasi DPR RI adalah untuk pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. ketentuan pasal 43 UU Pengadilan HAM yang mengatur tentang rekomendasi DPR untuk pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. dan Kejaksaan Agung di pihak lain. Pendapat ini didukung sebagian besar anggota Komisi III DPR. antara lain dalam kasus penghilangan orang secara paksa periode 1997-1998. baik sipil. Dalam kasus tersebut Kejaksaan Agung menolak menindaklanjuti hasil penyelidikan Komnas HAM dengan alasan penyidikan tidak bisa dilakukan tanpa didahului pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc.

Kewenangan penyelidikan kasus pelanggaran HAM berat berada di Komnas HAM. Kewenangan penyidikan dan penuntutan ada di tangan Kejaksaan Agung. Dari materi pasal-pasal tersebut diketahui kewenangan Komnas HAM ada di bidang penyelidikan.ada keputusan politik dari DPR lebih dulu untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan. dan diatur pada pasal 19 dan 20 UU Nomor 26 Tahun 2000. Keputusan politik DPR baru diperlukan jika hasil penyidikan akan dilanjutkan dengan proses penuntutan di pengadilan dan karena itu harus dibentuk Pengadilan HAM Ad Hoc. Kejaksaan Agung di bidang penyidikan dan penuntutan. Sementara revisi terhadap UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendesak untuk dilakukan karena adanya putusan judicial review Mahkamah Konstitusi yang membatalkan pasal 53 UU Nomor 30 Tahun 2002 yang menjadi dasar hukum Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). melalui amandemen atau revisi terhadap UU Nomor 26 Tahun 2000. penyidikan. Terhadap perbedaan penafsiran yang meruncing dan menimbulkan kebuntuan hukum ini tentu perlu dicarikan jalan keluar dengan membuat rumusan undang-undang yang lebih tegas dan jelas. Namun atas argumen tersebut Kejaksaan Agung tetap pada sikapnya yang menolak menindaklanjuti hasil penyelidikan Komnas HAM dalam kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum adanya UU Nomor 26 Tahun 2000 tanpa didahului oleh keluarnya rekomendasi DPR untuk pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. dapat kita lihat pasal-pasal yang mengatur tentang penyelidikan. namun tetap memiliki kekuatan hukum mengi- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 213 . serta pasal 23 dan 24 (penuntutan). dan kewenangan DPR untuk mengusulkan. pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. dan pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. Sementara pengaturan tentang pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc diatur dalam pasal 43 yang menyatakan Pengadilan HAM Ad Hoc dibentuk atas usul DPR RI. mengeluarkan rekomendasi. Terkait argumen Komnas HAM yang didukung DPR di atas. yakni pada pasal 21 dan 22 (penyidikan). khususnya menyangkut pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. Mahkamah Konstitusi menyatakan Pasal 53 UU Nomor 30 Tahun 2002 bertentangan dengan UUD 1945.

Untuk meniadakan dualisme yang selama ini terjadi dalam sidang perkara-perkara korupsi. Namun.kat sampai diadakan perubahan paling lambat tiga tahun setelah sejak putusan diucapkan. pertama. 214 Bunga Rampai . kedua. dan. Pengadilan Tipikor harus dibentuk dengan undang-undang tersendiri. ketiga. dinyatakan tidak boleh ada dualisme hukum. Putusan ini sesuai dengan Pasal 24A UUD 1945 yang ditafsirkan Mahkamah Konstitusi bahwa pembentukan badan peradilan di bawah Mahkamah Agung harus dilakukan dengan undang-undang. maka seharusnya hanya ada satu pengadilan. Sebab dalam prinsip kepastian hukum. bukan di dalam UU KPK seperti saat ini. agar tidak memperlemah semangat (disinsentive) pemberantasan korupsi. Asas manfaat dimaksud adalah dapat dilihat dari empat alasan yang dikemukakan oleh Mahkamah Konstitusi. perkara korupsi dapat disidangkan di dua pengadilan yang berbeda yaitu Peradilan Umum dan Pengadilan Tipikor. keputusan Mahkamah Konstitusi ini sebenarnya dapat dijadikan momentum untuk menguatkan eksistensi Pengadilan Tipikor melalui dukungan terhadap terbentuknya undang-undang yang khusus mengatur mengenai Pengadilan Tipikor. Sementara dalam konteks sidang perkara korupsi yang berlaku pada saat ini. putusan Mahkamah Konstitusi tersebut dapat dilihat sebagai putusan yang bertujuan memberikan kepastian hukum. agar tidak menyebabkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid) yang dapat mengacaukan penanganan perkara tipikor. keempat.10 Terlepas dari pro dan kontra mengenai putusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan dasar hukum Pengadilan Tipikor. untuk melakukan penyempurnaan UU KPK dan penataan kelembagaan pengadilan khusus. Artinya. Sementara putusan yang menyatakan Pasal 53 UU KPK tetap mempunyai kekuatan hukum mengikat sampai diadakan perubahan paling lambat tiga tahun terhitung sejak putusan diucapkan. merupakan terobosan yang didasarkan pada aspek manfaat. Karena itu. untuk meniadakan 10 Lihat Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 012-016-019/PUU-IV/2006 tentang permohonan uji materi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. yakni. agar proses peradilan Tipikor tidak terganggu atau tidak macet.

Andi Hamzah menganut pendapat yang pertama. Tim Perumus Draft RUU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang dipimpin Prof. Jika ditinjau putusan Mahkamah Konstitusi dan apa yang sedang digodok oleh Tim Perumus RUU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Kejaksaan. Hal ini tercermin pada pasal 36 draf RUU Tipikor11 yang berbunyi. (2) Perkara tindak pidana korupsi yang diterima oleh Jaksa sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dilimpahkan ke pengadilan negeri setempat untuk diperiksa dan diputus oleh majelis hakim khusus tindak pidana korupsi. sebenarnya tidak ada pertentangan antara keduanya. keberadaan Pengadilan Tipikor bertentangan dengan konstitusi karena kriteria kekhususan Pengadilan Tipikor menyebabkan terdapat dua pengadilan yang berbeda dalam lingkup yang sama. Menurut Andi Hamzah. yakni Pengadilan Tipikor dileburkan ke pengadilan umum. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 215 .dualisme tersebut ada dua pilihan. dan penyidik pada Komisi Pemberantasan tindak Pidana Korupsi. pada posisi 30 Januari 2007. dinyatakan bahwa: Dalam waktu paling lambat 1 (satu) tahun setelah UU ini diundangkan ditunjuk hakim khusus untuk tindak pidana korupsi pada setiap pengadilan negeri. Isi draf RUU yang disusun tim yang dibentuk Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) ini memang cenderung membubarkan Pengadilan Tipikor. Kemudian pada pasal yang terletak setelah pasal 36 tapi belum diberi nomor disebutkan bahwa: (1) Hasil penyidikan yang dilakukan oleh penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 diserahkan kepada Jaksa Penuntut Umum. ”Penyidikan dalam undang-undang ini dilakukan oleh Kepolisian. atau kedua. Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. sehingga eksistensi Pengadilan Tipikor beserta hakim Ad Hocnya harus ditiadakan. Kemudian dalam pasal berikutnya (juga belum diberi nomor). Mahkamah Konstitusi tidak secara tegas memerintahkan dibentuknya Pengadilan Khusus 11 Periksa Draft RUU mengenai Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Sehingga selanjutnya seluruh perkara korupsi disidangkan oleh hakim karier yang dididik khusus untuk menangani perkara korupsi di pengadilan umum. jika Pengadilan Tipikor masih dikehendaki eksistensinya. maka harus disertai dengan undang-undang yang khusus mengaturnya. Pasalnya.

Pengadilan yang Lebih Baik Pembenahan lembaga peradilan sangat penting karena saat ini pelayanan lembaga peradilan dianggap sebagian besar masyarakat tidak optimal. 216 Bunga Rampai . banyaknya persyaratan administratif yang harus ditempuh saat pendaftaran perkara di pengadilan. Terhadap kritik dari para pengamat dan akademisi hukum serta kalangan LSM ini tentu pemerintah harus membuka diri. Lagipula. banyaknya pungutan di luar biaya administrasi resmi. antara lain dari pakar hukum pidana Romli Atmasasmita dan para aktivis lembaga swadaya masyarakat di bidang gerakan antikorupsi.Tipikor. harus dengan payung hukum atau undang-undang tersendiri. melainkan memerintahkan pembentuk undang-undang untuk segera membuat UU Pengadilan Khusus Tipikor. Mereka menilai Tim Perumus RUU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi telah keliru memahami putusan Mahkamah Konstitusi. antara lain. Mahkamah Konstitusi hanya menyatakan. Harus dilakukan kajian mendalam tentang pilihan yang akan diambil untuk meniadakan dualisme yang selama ini terjadi dalam sidang perkara-perkara korupsi. Putusan Mahkamah Konstitusi tidak menghapus keberadaan Pengadilan Khusus Tipikor. lambatnya proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh kepolisian dan kejaksaan. apakah disatukan melalui pengadilan khusus. draft versi pemerintah yang mengarah pada pembubaran Pengadilan Tipikor ini mendapat kritikan dari berbagai kalangan. Mahkamah Konstitusi memberikan waktu tiga tahun bagi pembentuk undang-undang untuk membuat undang-undang tersendiri itu. Apapun pilihan yang diambil harus dalam kerangka untuk mengefektifkan pemberantasan tindak pidana korupsi. Dipastikan dalam draf itu terdapat klausul tentang pembentukan Pengadilan Tipikor. kalau tidak maka akan kembali ke pengadilan umum. kalau dibentuk Pengadilan Khusus. Pelayanan yang tidak optimal tersebut. Karena itu Romli dan beberapa akademisi hukum serta sejumlah LSM membuat tim untuk menyusun draf RUU Pemberantasan Korupsi tandingan. atau melalui peradilan umum. dan banyaknya perkara kasasi yang menumpuk di Mahkamah Agung. Tapi.

Transparency International Indonesia mengeluarkan tujuh rekomendasi yaitu reformasi sistem peradilan yang mencegah campur tangan eksekutif atau legislatif. seperti polisi. Moldova. Dalam IPK itu. imigrasi 90 persen. dan Venezuela. empat lebih di antara sepuluh keluarga Indonesia mengaku harus menyuap demi mendapatkan keadilan. peradilan. Peru.id/news/11/tahun/2007/bulan/05/ tanggal/25/id/1125/. Hasil survei ini oleh berbagai kalangan.or. penetapan gaji yang berdasarkan pengalaman dan kemampuan. Temuan itu juga sesuai dengan hasil Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia 2006 yang dirilis Transparency International Indonesia pada Februari 2007. http://www. Yunani. Berdasarkan laporan tersebut. Rekomendasi berikutnya adalah memperkuat seleksi Hakim Agung oleh Komisi Yudisial. Badan Pertanahan Nasional. BPN 84 persen. Menurut hasil survei Global Corruption Report 2007. The Global Corruption Report 2007: Corruption in Judicial Systems. dan pajak 76 persen. pengadilan dipersepsikan meminta suap hingga 100 persen. yaitu hasil survei Global Corruption Report 200712 yang diluncurkan oleh Transparency International Indonesia. serta militer. mengembalikan kewenangan Komisi Yudisial untuk memperkuat fungsi pengawasan hakim. Taiwan. Meksiko. yang menyatakan bahwa tingkat inisiatif lembaga peradilan dalam meminta suap secara langsung mencapai 100 persen dari seluruh interaksi. Hasil survei itu paling tidak merupakan indikasi bahwa praktik suap memang terjadi di lembaga peradilan. survei menemukan bahwa lembaga vertikal. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 217 . Saat itu. dan proses peradilan yang harus dilakukan secara terbuka. disusul bea dan cukai 95 persen. Kondisi itu menempatkan peradilan Indonesia sejajar dengan Albania. sekaligus seolah mengkonfirmasikan kebenaran rahasia umum tentang adanya lingkaran penyalahgunaan wewenang di lembaga peradilan yang dikenal dengan istilah mafia peradilan.ti. polisi 78 persen. dan memperkuat eksistensi pengadilan Tipikor. bea dan cukai. pajak. imigrasi. masih korup. Maroko. kebebasan memperoleh akses informasi.Masih buruknya wajah lembaga peradilan ini dapat dilihat dari hasil survei terkini. khususnya 12 Periksa Tranparency International Indonesia.

dan advokat harus mempunyai komitmen dan visi yang sama tentang bagaimana mengakhiri praktik suap dan atau praktek mafia peradilan lainnya di pengadilan. Karena itu hakim. praktik korupsi tampaknya masih merupakan kebiasaan yang terus saja terjadi dan kemudian dipotret oleh Transparency International. 218 Bunga Rampai . polisi. menerima atau menolak permintaan banding. jaksa. dan advokat sebagai catur wangsa penegak hukum untuk membersihkan korupsi di dunia peradilan. dianggap mencerminkan gagalnya reformasi peradilan di Indonesia. termuat dalam buku Sisi-sisi Lain dari Hukum di Indonesia. diungkapkan pakar hukum senior Satjipto Rahardjo dengan mengutip temuan mantan Hakim Agung Asikin Kusumah Atmaja dan Adi Andojo. Sebab hakim di Indonesia dapat disuap untuk memperlambat atau mempercepat proses hukum di pengadilan. harmonisasi. Namun. mempengaruhi rekannya sesama hakim. atau menjatuhkan putusan tertentu.pengamat hukum dan aktivis lembaga swadaya masyarakat. Penerbit Buku Kompas.13 Asikin pernah memaparkan angka yang mengejutkan. pendapat. yaitu hampir separuh dari tiga ribu hakim di Indonesia berbuat tidak benar. dan sinkronisasi berbagai perundang-undangan yang terkait dengan kekuasaan kehakiman yang memiliki tujuan 13 Lihat artikel Satjipto Rahardjo berjudul Mafia Pengadilan. 2006. dibutuhkan komitmen bersama dari hakim. Penulis sendiri berpandangan bahwa hasil survei Transparency International Indonesia harus diterima sebagai otokritik. jaksa. antara lain. Sementara kalangan lain ada yang mempertanyakan akurasi dari metode survei yang dilakukan Transparency International Indonesia. Sedangkan Adi Andojo pernah membeberkan secara rinci praktek negatif di Mahkamah Agung. Komitmen dari para aparat penegak hukum ini mendukung atau seiring dengan proses revisi. sinyalemen. Adanya praktek suap di lembaga peradilan ini. Kita harus mengakui bahwa secara institusional memang telah terjadi perubahan dalam dunia peradilan. Kompas edisi 5 Januari 1995. atau persepsi tentang buruknya kondisi peradilan sebenarnya bukan hal baru karena sudah mengemuka sejak lama. Polri. Apalagi temuan. Berangkat dari titik itu.

khususnya dalam rangka penegakan hukum di Indonesia. peningkatan kualitas moral dan integritas hakim dan aparat penegak hukum lainnya. dan berwibawa. Adanya upaya untuk melakukan reformasi di lingkungan lembaga peradilan diharapkan akan dapat memberikan hasil yang positif. peningkatan peran masyarakat dan lembaga legislatif dalam bentuk pengawasan dan kontrol yang ketat terhadap perilaku hakim dan aparat penegak hukum lainnya. bersih. penyediaan sarana dan prasarana hukum yang mendukung penyelenggaraan proses peradilan yang adil dan transparan. terwujudnya lembaga peradilan yang transparan dan akuntabel dengan didukung oleh aparat penegak hukum yang bersih akan mendorong tercapainya penyelenggaraan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. dan komitmen dari aparat penegak hukum itu sendiri dalam mewujudkan lembaga peradilan yang merdeka. penerapan sistem rekruitmen hakim dan Hakim Agung yang lebih transparan melalui uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test).Artikel ini disusun untuk memenuhi permintaan Komisi Yudisial terkait penerbitan Buku Bunga Rampai Volume Dua. Sebab untuk mewujudkan sistem peradilan yang transparan dan adil dapat dilakukan melalui pembenahan sistem peradilan untuk mewujudkan sistem peradilan terpadu (integrated criminal justice system). Catatan: . Dan.akhir untuk mewujudkan peradilan yang lebih baik. Keberadaan Komisi Yudisial dan beberapa lembaga independen lainnya yang mempunyai fungsi sebagai pengawas terhadap lembaga pengadilan dan lembaga penegak hukum lainnya diharapkan dapat menciptakan lembaga peradilan yang lebih akuntabel dan bersih. termasuk dalam bidang pemberantasan tindak pidana korupsi. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 219 .

220 Bunga Rampai .

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 221 . kedudukan. keluhuran martabat serta perilaku hakim. Pasal 24B ayat (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pendahuluan Amandemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) membawa konsekuensi terhadap perubahan sistem ketatanegaraan Republik Indonesia. Hakim yang dimaksud disini adalah Hakim Agung dan hakim pada badan peradilan disemua lingkungan 1 2 3 Ketua Badan Legislasi DPR RI RI Pasal 24B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. menginternalisasi kelembagaan baru di dalam Bab IX (Kekuasaan Kehakiman). keluhuran martabat serta perilaku hakim.X.DPR dan Perubahan Atas Undang-Undang Komisi Yudisial Oleh : F.H.2 Adapun susunan. Soekarno. yang salah satunya adalah dalam bidang kekuasaan kehakiman. yaitu mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. dan keanggotaan Komisi Yudisial diatur dengan undang-undang. Dalam Amandemen ketiga. Komisi ini oleh konstitusi diberi kewenangan mengusulkan pengangkatan hakim agung dan kewenangan lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan.3 Amanat konstitusi tersebut ditindaklanjuti dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. tepatnya pada Pasal 24B yaitu adanya Komisi Yudisial. 1 A. Undang-undang ini mengatur tugas dan wewenang Komisi Yudisial. S.

dan e) membuat laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi dan disampaikan kepada Mahkamah Agung dan/ atau Mahkamah Konstitusi serta tindasannya disampaikan kepada Presiden dan DPR. Namun dalam perjalanannya Undang-undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial dimohonkan judicial review oleh 31 Hakim Agung yang menganggap hak dan kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya UU No. Adapun kewenangan lain yang berkaitan dengan menjaga dan menegakkan kehormatan.4 Dalam melaksanakan kewenangan mengusulkan pengangkatan Hakim Agung. dan mengajukan calon Hakim Agung ke DPR. b) melakukan seleksi terhadap calon Hakim Agung. b) meminta laporan secara berkala kepada badan peradilan berkaitan dengan perilaku hakim. Dalam melaksanakan tugas pengawasan tersebut. khususnya yang berkaitan dengan ”pengawasan hakim” yang diatur dalam Bab III. 222 Bunga Rampai . Usul penjatuhan sanksi sesuai dengan ketentuan Pasal 23 UU No. Komisi Yudisial wajib menaati norma hukum dan ketentuan peraturan perundang-undangan. pemberhentian sementara atau pemberhentian. 22 Tahun 2004. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial.5 Dalam melaksanakan pengawasan tersebut. c) melakukan pemeriksaan terhadap dugaan pelanggaran perilaku hakim. menjaga kerahasiaan keterangan yang karena sifatnya merupakan rahasia Komisi Yudisial dan tidak boleh mengurangi kebebasan hakim dalam memeriksa dan memutus perkara. Pasal 20 dan 4 5 Lihat pengertian hakim pada Pasal 1 angka 5 UU No. keluhuran martabat serta perilaku hakim. dapat berupa teguran tertulis.peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung serta hakim Mahkamah Konstitusi. Komisi Yudisial mempunyai tugas: a) melakukan pendaftaran calon Hakim Agung. Komisi Yudisial dapat: a) menerima laporan masyarakat tentang perilaku hakim. Komisi Yudisial mempunyai tugas pengawasan dan pengusulan penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada Pimpinan Mahkamah Agung atau Mahkamah Konstitusi. c) menetapkan calon Hakim Agung. d) memanggil dan meminta keterangan dari hakim yang diduga melanggar kode etik perilaku hakim. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial.

Pasal 24 ayat (1) sepanjang mengenai kata-kata ”dan/atau Mahkamah Konstitusi”. bertentangan dengan Undangundang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. serta yang berkaitan dengan ”usul penjatuhan sanksi” yang diatur dalam Pasal 21. juga berkaitan dengan pengaturan prosedur pengawasan hakim. hakim pada badan peradilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung dan Hakim Mahkamah Konstitusi sebagaimana yang dimaksud pada Pasal 1 angka 5 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Pasal 20. Pasal 23 ayat (5).Pasal 22 ayat (1) huruf e dan ayat (5). Pasal 24 ayat (1) dan Pasal 25 ayat (3) dan ayat (4) dihubungkan dengan Pasal 1 angka 5 undang-undang tersebut. Hakim sebagai obyek pengawasan Komisi Yudisial yang menyangkut Hakim Agung. Pasal 22 ayat (1) huruf e. Pasal 21. Pasal 23 ayat (2) dan ayat (3) serta ayat (4). dan Pasal 25 ayat (4) sepanjang mengenai kata-kata ”dan/ atau Mahkamah Konstitusi”. Pasal 25 ayat (3) sepanjang mengenai kata-kata ”dan/atau Mahkamah Konstitusi”. Pasal 23 ayat (3). B. khusus yang menyangkut hakim Mahkamah Konstitusi dinyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Mahkamah Konstitusi dengan Putusan Nomor 005/PUU-IV/2006. Putusan Mahkamah Konstitusi tersebut selain menandaskan obyek pengawasan Komisi Yudisial. Pasal 22 ayat (5). Pengawasan terhadap pelaksanaan kode etik hakim konstitusi dilakukan oleh Majelis Kehormatan yang tersendiri sesuai dengan ketentuan Pasal 23 Undangundang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. menyatakan Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata ”Hakim Mahkamah Konstitusi”. Berdasarkan permohonan tersebut. sehingga tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Pasal 23 ayat (2). Kekosongan Hukum Jika dilihat lebih lanjut. sebagai pelaksanaan Pasal 24C ayat (6) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 223 . Alasan yang dikemukakan oleh Mahkamah Konstitusi adalah: a.

secara tegas telah menyatakan keberlakuan Pasal 1 angka 5 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2004 sepanjang mengenai kata-kata ”hakim Mahkamah Konstitusi”. Terlepas pro dan kontra terhadap hakim Mahkamah Konstitusi dan Hakim Agung sebagai obyek pengawasan Komisi Yudisial. Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa hal ini tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 6 Jimly Asshiddiqie. Hal ini tidak sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Jimly Asshiddiqie dalam bukunya ”Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia”. hlm. tidaklah ditemukan dasar-dasar konstitusional yang meyakinkan. tidak lagi terganggu sebagai akibat dimasukkannya hakim konstitusi sebagai obyek pengawasan Komisi Yudisial. Dengan demikian hakim yang harus dijaga dan ditegakkan kehormatannya. 254.. Pengadilan Tata Usaha Negara. keluhuran martabat serta perilaku semua hakim di Indonesia. 224 Bunga Rampai . Persoalan yang berkaitan dengan pertanyaan apakah ”hakim” menurut Pasal 24B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI. dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 005/PPU-IV/2006. dan Pengadilan Militer serta termasuk Hakim Konstitusi”. Dapat saja pembentuk undang-undang menentukan bahwa hakim agung termasuk ke dalam pengertian hakim yang perilaku etiknya diawasi oleh Komisi Yudisial secara eksternal.6 Berkaitan Hakim Agung sebagai obyek pengawasan Komisi Yudisial. Pengadilan Agama.b.Komisi Yudisial bertugas menjaga (preventif) dan menegakkan (korektif dan represif) kehormatan. Kedudukan Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga pemutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh undang-undang dasar. meliputi pengertian hakim agung atau tidak. Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia. Jakarta. Beliau menyatakan bahwa ”. Hakim Pengadilan Umum. keluhuran martabat dan perilakunya mencakup Hakim Agung.. 2006.

tidak jelas dan tegas menentukan siapa subjek yang mengawasi. Adapun yang berkaitan dengan pengaturan prosedur pengawasan hakim. Perumusan Pasal 13 huruf b juncto Pasal 20 UndangUndang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial mengenai wewenang lain sebagai penjabaran dari Pasal 24B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menggunakan rumusan kalimat yang berbeda sehingga menimbulkan masalah dalam penormaannya dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial yang menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). Untuk hal yang terakhir ini. Mahkamah Konstitusi menyatakan: a. dalam kesimpulan putusannya.Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. b. serta bagaimana proses pengawasan itu dilaksanakan. apa objek yang diawasi. terutama dalam pelaksanaannya. Hal tidak jelas dan tidak rincinya pengaturan mengenai pengawasan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial serta perbedaan dalam rumusan kalimat seperti dimaksud pada butir a di atas. instrumen apa yang digunakan. menyebabkan semua ketentuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang pengawasan menjadi kabur (obscuur) dan menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid) dalam pelaksanaannya. secara struktural kedudukan Komisi Yudisial memang diposisikan sederajat dengan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. Konsepsi pengawasan yang terkandung dalam UndangUndang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial didasarkan atas paradigma konseptual yang tidak tepat. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 225 . yaitu seolah-olah hubungan antara MA dan KY berada dalam pola hubungan “checks and balances” antarcabang kekuasaan dalam konteks ajaran pemisahan kekuasaan (separation of powers). Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial terbukti tidak rinci mengatur mengenai prosedur pengawasan. Na- c. sehingga menimbulkan penafsiran yang juga tidak tepat.

khususnya yang berkaitan dengan ketentuan mengenai pengawasan perilaku hakim. Inisiasi Legislasi Untuk mengatasi permasalahan tersebut (adanya kekosongan hukum). Jimly Asshiddiqie. melainkan lembaga penegak etika kehakiman (the enforcer of the rule of judicial ethics and good conduct). bukan dengan lembaga peradilan atau lembaga kekuasaan kehakiman secara institusional. 187-188. Berdasarkan apa yang dinyatakan dalam kesimpulan putusan Mahkamah Konstitusi sebagaimana tersebut di atas. Komisi Yudisial meskipun fungsinya terkait dengan kekuasaan kehakiman. C. Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi. melainkan lembaga penegak norma etik (code of ethics).7 Komisi Yudisial bukan merupakan lembaga penegak hukum (the enforcer of the rule of law). Jakarta. 2006. tetapi tidak menjalankan fungsi kekuasaan kehakiman. Lembaga negara yang mempunyai fungsi kehakiman atau menjalankan fungsi peradilan tertinggi adalah Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. tetapi secara fungsional peranannya bersifat penunjang (auxiliary) terhadap lembaga kekuasaan kehakiman. Dengan demikian terjadi kekosongan hukum yang berkaitan dengan tugas Komisi Yudisial. Lagi pula komisi ini berurusan dengan soal kehormatan. Komisi Yudisial bersifat penunjang (supporting system) terhadap dan dalam cabang kekuasaan kehakiman. Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) sebagai institusi yang mempunyai kewenangan 7 Lihat. Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI. 226 Bunga Rampai . Komisi Yudisial lebih merupakan lembaga etika daripada lembaga hukum. meskipun secara struktural kedudukannya sederajat dengan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. Terhadap fungsi kekuasaan kehakiman. Komisi Yudisial bukanlah lembaga penegak norma hukum (code of law). keluhuran martabat dan perilaku hakim.mun demikian. segala ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial yang menyangkut pengawasan dinyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat karena terbukti menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). hlm.

Pengawasan internal yang dilakukan oleh majelis kehormatan hakim di Mahkamah Agung tersebut dirasakan kurang efektif. keluhuran martabat dan perilaku hakim hanya dilakukan secara internal oleh para hakim sendiri. yaitu para hakim tanpa adanya intervensi dari pimpinan Mahkamah Agung. RUU tentang Perubahan UU Komisi Yudisial dan RUU Perubahan UU Mahkamah Konstitusi menjadi prioritas pembahasan Tahun 2007. ide pembentukan Komisi Yudisial dalam rangka pengawasan eksternal dimunculkan.10 Independen disini dimaknai: a) independensi terhadap subyek yang ia awasi. yang menyatakan : (1) Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 227 . Lihat ketentuan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945. upaya menjaga dan menegakkan kehormatan. Dalam Keputusan DPR RI Nomor 07 A/DPR-RI/I/2006-2007. (2) Setiap Rancangan Undang-undang dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden untuk mendapatkan persetujuan bersama. keluhuran martabat dan perilaku hakim. Oleh karena itu. Kehormatan.9 Perubahan tersebut diharapkan dapat mendudukkan fungsi. Selama ini (sebelum Amandemen III UUD 1945 dan lahirnya UU Komisi Yudisial).8 berinisiasi melakukan pembenahan dan perbaikan terhadap Undangundang Komisi Yudisial dimaksud. keluhuran martabat dan perilaku hakim menjadi syarat mutlak yang diperlukan dalam sistem demokrasi konstitusional. b) independen dalam menjalankan tugas yang tidak boleh diintervensi oleh lembaga-lembaga lain yang mempunyai kepentingan 8 9 10 Lihat ketentuan Pasal 20 ayat (1) dan ayat (2) UUD 1945.dan kekuasaan membentuk undang-undang. maka inisiasi perubahan terhadap Undang-undang Komisi Yudisial tersebut diikuti dengan Perubahan Undang-undang Mahkamah Agung (Undang-undang Nomor 14 Tahun 1985 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 2004) dan Undang-undang Mahkamah Konstitusi (Undangundang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi). Agar perubahan ini dapat terintegrasi dengan baik terhadap undang-undang lain khususnya di lingkungan kekuasaan kehakiman. Kelembagaan ini bersifat mandiri atau independen untuk menjamin efektifitas kerjanya. tugas dan kewenangan Komisi Yudisial dalam menjaga dan menegakkan kehormatan.

Komisi Yudisial adalah mitra bagi Mahkamah Agung dalam menjaga dan menegakkan kehormatan. diharapkan pengawasan menjadi efektif. Karena pada prinsipnya. eksekutif ataupun kekuatan partai politik untuk mempengaruhi kinerja kekuasaan kehakiman yang merdeka. Bagi Mahkamah Agung. tidak seperti sebelumnya dimana diantara sesama hakim justru terjadi hubungan saling membela dan melindungi yang menyebabkan pengawasan tidak efektif. antara lain sebagai berikut: 1.000 orang dapat dijaga dan ditegakkan sebagaimana mestinya. keluhuran martabat dan perilaku hakim. ada beberapa pilihan-pilihan atau alternatif konsepsi maupun paradigmatig yang nantinya akan menjadi pilihan politis maupun yuridis. Oleh karena itu jangan sampai Komisi Yudisial sebagai lembaga pengawas perilaku hakim dipergunakan atau membiarkan dirinya dipakai oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengganggu kemerdekaan hakim. Dengan dijadikannya Komisi Yudisial sebagai external auditor. Mengenai independensi Komisi Yudisial terhadap pihak lain (yang mempunyai kepentingan tertentu). juga harus dipertahankan. sangatlah penting karena para hakimlah yang harus diawasi perilakunya oleh Komisi Yudisial. Pilihanpilihan dimaksud merupakan jawaban dari permasalahanpermasalahan yang muncul dan berkembang. keberadaan Komisi Yudisial justru sangat penting artinya agar kehormatan. Sejalan dengan perkembangan yang ada dan sekaligus sebagai pengayaan materi yang akan menjadi bahan kajian yang selanjutnya akan disarikan dalam norma.tertentu. Dari pemikiran inilah konstruksi perubahan Undangundang Komisi Yudisial akan dilakukan. Namun demikian tidak berarti dengan menjadi external auditor Komisi Yudisial menjadi lawan atau musuh para hakim. keluhuran martabat dan perilaku para hakim diseluruh Indonesia yang berjumlah lebih dari 6. Siapakah yang dimaksud dengan “hakim” dalam konstiBunga Rampai 228 . Mengenai independensi dari dan terhadap para hakim dan lembaga Mahkamah Agung. eksistensi hakim dan lembaga kekuasaan kehakiman terletak antara lain pada independensi dan imparsialitasnya. Komisi Yudisial tidak boleh menjadikan dirinya alat politik bagi lembaga legislatif.

8. 7. 5. Bagaimana seharusnya hubungan antara Mahkamah Agung dengan Komisi Yudisial? 13. Namun saya menyadari hal ini Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 229 . 4. berarti kewenangan untuk menjatuhkan sanksi? 12. keluhuran martabat.tusi yang menjadi obyek pengawasan Komisi Yudisial? 2. baik oleh Mahkamah Agung maupun oleh Komisi Yudisial. yang sedikit banyak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagaimana tersebut di atas. Siapa yang melakukan pengawasan terhadap (perilaku anggota) Komisi Yudisial? D. 6. serta perilaku hakim? Bagaimana pelaksanaan wewenang Komisi Yudisial dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. 10. Pokok-Pokok Pikiran Perubahan Undang-Undang KY Di bawah ini akan diuraikan pokok-pokok pikiran yang dapat memperkaya pemahaman dalam perubahan Undangundang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. keluhuran martabat. Apakah arti kewenangan Komisi Yudisial dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Apakah kewenangan melakukan pengawasan terhadap hakim. 9. serta perilaku hakim? Siapa yang menetapkan dan menegakkan kode etik dan perilaku hakim? Apa saja ruang lingkup pengawasan terhadap hakim? Bagaimana pelaksanaan pengawasan terhadap hakim yang tidak bertentangan dengan prinsip independensi peradilan? Bagaimana penerapan prinsip akuntabilitas dan transparansi dalam pengawasan terhadap hakim? Apa pengertian dan ruang lingkup “perilaku hakim”? Apakah perilaku tersebut mencakup baik di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan? Apa yang dijadikan pedoman dalam melakukan pengawasan atas perilaku hakim? 3. Apakah pengawasan terhadap perilaku hakim dapat dilakukan dengan cara mengkaji putusan Pengadilan? 11.

sudah dapat dipahami bahwa ketentuan mengenai Komisi Yudisial pada Pasal 24B UUD 1945 itu memang tidak dimaksudkan untuk mencakup pula objek perilaku hakim konstitusi sebagaimana diatur dalam Pasal 24C UUD 1945. ketentuan mengenai KY dalam Pasal 24B UUD 1945 memang tidak berkaitan dengan ketentuan mengenai MK yang diatur dalam Pasal 24C UUD 1945. untuk fungsi pengawasan terhadap perilaku Hakim Konstitusi ditentukan adanya lembaga Majelis Kehormatan yang diatur secara tersendiri dalam Pasal 23 UU 230 Bunga Rampai . berdasarkan masukan dan pemikiran dari semua pihak. Hal ini didasari pada pemikiran: Jika ditinjau secara sistematis dan dari penafsiran berdasarkan “original intent” perumusan ketentuan UUD 1945. 1 Siapakah yang dimaksud dengan “hakim” dalam konstitusi yang menjadi obyek pengawasan Komisi Yudisial? Sementara ini saya sependapat dengan apa yang diputus oleh Mahkamah Konstitusi bahwa hakim konstitusi tidak termasuk obyek pengawasan Komisi Yudisial. Dalam UU MK. Hal ini dapat dipastikan dengan bukti risalah-risalah rapat-rapat Panitia Ad Hoc I Badan Pekerja MPR maupun dari keterangan para mantan anggota Panitia Ad Hoc tersebut dalam persidangan bahwa perumusan ketentuan mengenai KY dalam Pasal 24B UUD 1945 memang tidak pernah dimaksudkan untuk mencakup pengertian hakim konstitusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24C UUD 1945. Dari sistimatika penempatan ketentuan mengenai Komisi Yudisial sesudah pasal yang mengatur tentang Mahkamah Agung yaitu Pasal 24A dan sebelum pasal yang mengatur tentang Mahkamah Konstitusi yaitu Pasal 24C. Adapun Hakim Agung dan hakim pada badan peradilan disemua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung merupakan obyek pengawasan Komisi Yudisial. Hal tidak tercakupnya pengertian perilaku hakim konstitusi dalam apa yang dimaksud dengan perilaku hakim menurut Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 tersebut juga terdapat dalam ketentuan UU MK dan UU KK yang dibentuk sebelum pembentukan UU KY.mungkin belum terlalu komprehensif dan tentunya terus akan dilakukannya pengayaan kajian dan pemutakhiran.

Demikian pula Pasal 34 ayat (3) UU KK sama sekali tidak menentukan bahwa Hakim Konstitusi menjadi objek pengawasan oleh KY.. melainkan hakim karena jabatannya. menurut Prof. Hakim Konstitusi hanya diangkat untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan setelah tidak lagi menduduki jabatan Hakim Konstitusi. Hakim Konstitusi pada dasarnya bukanlah hakim sebagai profesi tetap. dan Denny Indrayana. Berkaitan dengan Hakim Agung. Dalam keseluruhan mekanisme pemilihan dan pengangkatan para Hakim Konstitusi yang diatur dalam UUD 1945 juga tidak terdapat keterlibatan peran KY sama sekali.H.M. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 231 . termasuk dalam konteks hubungan-hubungan konstitusional antarlembaga negara. Dr. LL. berbeda halnya dengan hakim biasa.H. Oleh karena itu. adalah untuk memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945. yang bersangkutan masing-masing kembali lagi kepada status profesinya yang semula. maka kewenangan Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga pemutus sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara menjadi terganggu dan terjebak ke dalam anggapan sebagai pihak yang tidak dapat bersikap imparsial.. khususnya apabila dalam praktik timbul persengketaan kewenangan antara KY dengan lembaga lain. Ph. Padahal. S.. Mahfud M. baik dari segi legal policy pembuat UU maupun dari segi constitutional morality. Dengan demikian.D.. Dengan menjadikan Hakim Konstitusi sebagai objek pengawasan oleh KY. Selain itu. salah satu kewenangan yang diberikan kepada Mahkamah Konstitusi sebagaimana dimaksud oleh Pasal 24C ayat (1) UUD 1945. dibentuknya Mahkamah Konstitusi berdasarkan UUD 1945 adalah dalam rangka menjamin agar UUD 1945 dilaksanakan dengan sebaikbaiknya.D. bahwa Hakim Agung. S.MK. ketentuan yang memperluas pengertian perilaku hakim dalam Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 mencakup perilaku Hakim Konstitusi dapat mengebiri kewenangan dan menghalang-halangi pemenuhan tanggungjawab Mahkamah Konstitusi dalam menjaga konstitusionalitas mekanisme hubungan antarlembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945.

serta ketentuan yang mengaturnya berbeda. tidak pernah dipersoalkan. Independensi harus berjalan seiring dengan akuntabilitas. tetapi bukan berarti hakim agung terbebas dari pengawasan dalam rangka mendukung terciptanya 232 Bunga Rampai . faktanya Hakim Agung sendiri merupakan anggota Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI) dan bahwa hakim agung adalah hakim. tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak menjadikan Hakim Agung termasuk ke dalam objek pengawasan. Prinsip persamaan di depan hukum (equality before the law) dan non-diskriminasi tidak mendukung pendirian tersebut. akan menghasilkan Hakim Agung yang juga mempunyai martabat dan perilaku yang tidak tercela sehingga secara moral memiliki legitimasi untuk tidak diawasi lagi dan bahkan menjadi pengawas hakim di bawahnya. maka penafsiran apakah hal itu bertentangan dengan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 bukanlah hanya dari teks maupun konteksnya secara gramatikal melainkan juga dari konteks sosial yang lebih luas. Tambahan pula. Jika kewenangan KY untuk mengusulkan Hakim Agung yang berkualitas dengan integritas yang tinggi dan perilaku tidak tercela.termasuk pengertian hakim yang menjadi objek pengawasan KY. dalam perjalanan karier selanjutnya bisa saja berubah. Dari segi kewenangan pengawasan apakah hakim agung itu diawasi. Bagaimanapun tafsiran secara tekstual. pengertian umum. kontekstual. Akan menjadi ganjil untuk menafsirkan bahwa Hakim Agung tidak masuk dalam kategori Hakim dan karena posisinya yang berada di puncak hierarki peradilan lalu menjadi tidak tunduk pada pengawasan. seseorang yang pada saat diangkat sebagai Hakim Agung memiliki integritas yang tinggi. dan kategoris dilakukan. Secara universal hal demikian telah menjadi norma. Jika dimaksudkan karena MA sebagai pengawas tertinggi peradilan maupun tingkah laku dan perbuatan hakim. Oleh karena itu. teleologis. tidak cukup beralasan untuk mengecualikan hakim agung. adalah sesuatu yang ideal jika hakim agung memiliki integritas dan kualitas yang sedemikian rupa sesuai dengan Pasal 24A ayat (2) UUD 1945. sesuai dengan prinsip akuntabilitas. demikian pula Hakim Agung tidak selalu berasal dari hakim. dan terutama prinsip konstitusi itu sendiri. Hakim Agung adalah Hakim. Di samping itu.

keluhuran martabat. 2. Sehingga. khususnya para ahli hukum. melainkan terhadap individu fungsionaris hakim. agar hakim memiliki kehormatan. Penilaian terhadap putusan hakim yang dimaksudkan sebagai pengawasan di luar mekanisme hukum acara yang tersedia adalah bertentangan dengan prinsip res judicata pro veritate habetur yang berarti apa yang telah diputus oleh hakim harus dianggap sebagai benar (de inhoud van het vonnis geld als waard). keluhuran martabat. mempunyai kewenangan pokok mengusulkan pengangkatan Hakim Agung. Norma pengawasan yang berlaku universal di semua sistem hukum yang dikenal di dunia terhadap putusan pengadilan adalah bahwa putusan pengadilan tidak boleh dinilai oleh lembaga lain kecuali melalui proses upaya hukum (rechtsmidellen) sesuai dengan hukum acara. untuk menilai putusan hakim melalui kegiatan ilmiah dalam forum atau media ilmiah. seperti seminar. atau kegiatan ilmiah lainnya. Prinsip sebagaimana diuraikan di atas tidak mengurangi hak warga negara. Kewenangan tersebut. walaupun dalam batas-batas tertentu dapat diartikan sebagai pengawasan. Hakim dimaksud adalah dalam pengertian sebagai individu di luar maupun di dalam kedinasan. bukanlah kewenangan untuk melakukan pengawasan terhadap lembaga peradilan dan teknis justisial. juga memiliki wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan.peradilan yang bersih dan berwibawa bagi terwujudnya rule of law. serta perilaku yang baik. ulasan dalam jurnal hukum (law review). Berkaitan dengan Kewenangan Komisi Yudisial dapat diinternalisasi pemikiran-pemikiran sebagai berikut: Berdasarkan ketentuan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 dinyatakan bahwa Komisi Yudisial bersifat mandiri. Dalam UU Komisi Yudisial yang di-judicial review kemarin memang penjabaran konsep pengawasan menimPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 233 . 3. serta perilaku hakim. apabila suatu putusan hakim dianggap mengandung sesuatu kekeliruan maka pengawasan yang dilakukan dengan cara penilaian atau pun koreksi terhadap hal itu harus melalui upaya hukum (rechtsmidellen) menurut ketentuan hukum acara yang berlaku.

234 . bukan kemandirian yang Bunga Rampai 5. legislatif. Untuk itu dalam Perubahan UU Komisi Yudisial akan dirumuskan ukuran untuk menilai kehormatan. melainkan hanya meliputi penegakan kehormatan dan keluhuran martabat serta perilaku hakim. akan menimbulkan kerancuan dan lebih jauh akan menimbulkan ketidakpastian hukum yang dapat berimplikasi lumpuhnya sistem peradilan. sehingga terdapat batasan yang jelas yang dapat dijadikan pegangan yang pasti. Hal ini harus dimaknai sebagai kemandirian kelembagaan dalam mengambil keputusan. Ketiadaan rumusan yang jelas tentang kehormatan. Dalam ketentuan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 ditegaskan bahwa “Komisi Yudisial bersifat mandiri. dan terutama perilaku hakim. keluhuran martabat. dan perilaku hakim. dan yudikatif).bulkan ketidakpastian karena yang seharusnya menjadi objek dari ”wewenang lain” Komisi Yudisial menurut Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 adalah pelaksanaan kode etik dan kode perilaku hakim dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Berkaitan dengan hubungan antara Komisi Yudisial dan Mahkamah Agung bukan merupakan hubungan dalam konsepsi checks and balances seperti layaknya hubungan antar cabang-cabang kekuasaan negara (eksekutif. dan dengan demikian dapat dihindari adanya kerancuan. keluhuran martabat. dan perilaku hakim. melainkan hanya sebagai supporting organ.. termasuk kepastian siapa yang membuat kode etik dan perilaku dimaksud. yang secara tegas tidak berwenang melakukan pengawasan yang menyangkut hal-hal yang bersifat teknis yustisial dan teknis administratif. 4.. terutama yang menyangkut kaidah-kaidah materiilnya.” dan dalam Pasal 2 UU Komisi Yudisial diartikan bahwa Komisi Yudisial dalam pelaksanaan wewenangnya bebas dari campur tangan atau pengaruh kekuasaan lain. Karena Komisi Yudisial bukan merupakan pelaksana kekuasaan kehakiman. baik oleh pihak yang mengawasi maupun yang diawasi. Untuk itu dalam konsep perubahan UU KY seharusnya dijelaskan norma yang mengatur tentang pengertian dan ruang lingkup perilaku hakim.. keluhuran martabat.

dikatakan bahwa suatu code of conduct menetapkan tingkah laku atau perilaku hakim yang bagaimana yang tidak dapat diterima dan mana yang dapat diterima. Sehingga tidak salah jika ada hubungan kerjasama yang baik dalam menjaga dan menegakkan kehormatan. Etik berkenaan dengan harapan atau cita-cita. Tetapi ada pertimbangan-pertimbangan etik yang mendorong tercapainya cita-cita atau harapan tersebut. 6. keluhuran martabat. apakah ada perbedaan antara kode etik dan kode perilaku. Kewenangan Komisi Yudisial dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. akan dimungkinkan bagi hakim maupun masyarakat untuk Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 235 . Dengan suatu code of conduct. keluhuran martabat serta perilaku hakim antara Komisi Yudisial dengan Mahkamah Agung. Etik adalah tujuan ideal yang dicoba untuk dicapai yaitu untuk sedapat mungkin menjadi hakim yang terbaik. Dengan demikian. Code of conduct akan mengingatkan Hakim mengenai perilaku apa yang dilarang dan bahwa tiap pelanggaran code of conduct mungkin akan menimbulkan sanksi. Oleh karena itu. Tetapi perlu terlebih dahulu dijawab pertanyaan.bersifat perorangan anggota Komisi Yudisial. Setiap hakim harus mengetahui bahwa ia tidak dapat berperilaku di bawah standar yang ditetapkan. serta perilaku hakim harus merujuk kepada code of ethics dan/atau code of conduct. berarti merujuk pada Kode Etik Hakim Indonesia. dalam hubungan dengan permohonan a quo. Etik berbeda dari perilaku yang dilarang. kemandirian Komisi Yudisial harus dimaknai sebagai kebebasan dari campur tangan dan pengaruh kekuasaan lain dalam pengambilan keputusan dalam pelaksanaan wewenang pengusulan calon hakim agung maupun dalam rangka pelaksanaan wewenang lain menurut UUD 1945. Secara umum. atau dengan kata lain terdapat campur tangan dari pihak luar atau kekuasaan lain. Artinya. Komisi Yudisial tidak dapat dikatakan tidak mandiri. hanya karena alasan bahwa pengambilan keputusan didasarkan pada fakta-fakta yang diperoleh melalui kerjasama atau koordinasi dengan pelaku kekuasaan kehakiman sendiri (dalam hal ini adalah Mahkamah Agung). Code of conduct merupakan satu standar.

tetapi oleh beberapa macam norma secara bersamaan. menambah urgensi tentang perlunya pengaturan mengenai etik dan tingkah laku (ethics and conduct) hakim dan tata cara penjagaan dan penegakannya dalam suatu Kode Etik dan Tingkah Laku Hakim sebagai tolak ukur pengawasan. akan tetapi menurut pemahaman saya. Langkah berikutnya adalah mengembangkan suatu kode etik yang akan memberi motivasi bagi hakim meningkat ke jenjang yang lebih tinggi. bukan oleh Komisi Yudisial. pencegah campur tangan ekstra judicial dan pencegahan timbulnya kesalahpahaman antar sesama anggota dengan masyarakat. Jadi setelah dibentuk suatu code of conduct. lebih efektif dalam melayani masyarakat.dapat mengatakan bahwa mereka mengetahui apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan hakim. sebagaimana kemudian dijabarkan ke dalam code of conduct. 7. di mana suatu perbuatan tercela dilarang baik oleh norma hukum. Penindakan atau pemberian sanksi atas pelanggaran Kode Etik dan 236 Bunga Rampai . Seringkali suatu perbuatan diatur tidak hanya dengan satu macam norma. Tujuan adanya kode etik ini adalah: a) sebagai alat pembinaan dan pembentukan karakter hakim serta pengawasan tingkah laku hakim. maupun menegakkan rule of law. c) memberikan jaminan peningkatan moralitas hakim dan kemandirian fungsional hakim. in casu oleh organisasi profesi hakim baik oleh Mahkamah Agung ataupun oleh IKAHI. mungkin diinginkan untuk membentuk satu kode etik. norma etik. dan d) menumbuhkan kepercayaan masyarakat pada lembaga peradilan. maka untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi. Kode etik itu dalam lingkungan profesi dibuat dan disahkan oleh organisasi profesi itu sendiri. lebih baik. Berlakunya norma secara bersamaan demikian. bukan oleh lembaga lain. dan norma agama. Dari kode etik kemudian dirumuskan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh atau tidak layak dilakukan oleh hakim di dalam maupun di luar dinas. b) sebagai sarana kontrol sosial. code of ethics merupakan sumber nilai dan moralitas yang akan membimbing hakim menjadi hakim yang baik. Meskipun benar bahwa code of conduct berbeda dari code of ethics.

Perilaku juga dilakukan oleh organisasi profesi. yang berakhir dengan saran (rekomendasi) kepada organisasi profesi. dan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak pada umumnya. Untuk itu saya sangat menyadari. penilaian. juga dapat dilakukan oleh pihak di luar profesi. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 237 . namun lebih merupakan hasil telaahan dan pemikiran pribadi penulis. mungkin tulisan ini belum begitu komprehensif. pengawasan atas pelaksanaan Kode Etik dan Perilaku selain dapat dilakukan oleh organisasi profesi. yang merupakan salah satu unsur dari profesionalisme. dalam hal ini Mahkamah Agung. melalui transparansi dan akuntabilitas. Hal ini dimaksudkan dalam rangka memenuhi tanggung jawab sosial (social responsibility). E. Namun mudah-mudahan dapat memberikan kontribusi dalam rangka pengayaan dan pendalaman materi untuk perubahan Undang-undang Komisi Yudisial pada khususnya. pemeriksaan. Pengawasan dapat dirinci dalam beberapa kegiatan. Sementara itu. Namun perlu saya sampaikan bahwa pokok-pokok pikiran ini bukan merupakan representasi pemikiran dan sikap Badan Legislasi DPR RI dalam arti kelembagaan. Penutup Demikian pokok-pokok pikiran yang dapat saya sampaikan dalam melihat dan mencermati Perubahan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial yang saat ini sedang diagendakan pembahasannya oleh Badan Legislasi Dewan Perwakilan Republik Indonesia yang masuk dalam Program Legislasi Nasional Prioritas Tahun 2007. misalnya pemanggilan.

238 Bunga Rampai .

hukum konstitusi merupakan basis atau landasan dari sistem hukum negara yang bersangkutan. Selain itu. konstitusi adalah semua asas hukum. Dijelaskan kemudian. konstitusi adalah aturan hukum yang menetapkan kerangka dasar dari suatu negara dan mengatur tentang susunan pemerintahan. maka sebenarnya UUD 1945 sebagai konstitusi (hukum dasar) telah mengatur halhal penting mengenai semua lembaga negara khususnya tentang kewenangannya. Yang menjadi Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 239 . Jika K.Gerak dan Langkah Nyata Komisi Yudisial Dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi John Pieris Sebuah tulisan yang bersifat kajian kritis mengenai suatu lembaga negara yang terkait dengan UUD 1945 sebenarnya tidak terlalu sulit. S. Wheare menjelaskan. serta Ivor Jenning mengemukakan. C. Hal ini dapat disimak dari beberapa pendapat pakar yang secara tepat melahirkan beberapa perspektif penting tentang fungsi konstitusi. Yang sulit adalah ketika tulisan itu dikaitkan dengan suatu masalah hukum dan politik yang dialami oleh satu atau beberapa lembaga negara. konstitusi berfungsi mengawasi pelaksanaan pemerintahan (pengawasan konstitusional). bahwa konstitusi berfungsi menetapkan lembaga-lembaga negara dan mengatur fungsi dan batas haknya. aturan hukum dan lembaga-lembaga yang berhubungan dengan susunan dan arah perkembangan kehidupan bersama yang terorganisasikan secara kenegaraan. dan James Bryce menyatakan. sebab pada dasarnya UUD 1945 (konstitusi) telah menggariskan tugas-tugas pokok semua lembaga negara. W. Dari berbagai perspektif itu. Couwenberg mengatakan.

agar terhindar dari penyalahgunaan kekuasaan. apa yang diamanatkan oleh konstitusi. Pandangan Friedrich cukup menarik.soal adalah. Hal itu diperlukan sebagai jaminan bahwa kekuasaan yang diperlukan untuk pemerintahan tersebut tidak disalahgunakan oleh mereka yang mendapat tugas untuk memerintah. belum tentu dapat dilaksanakan dengan baik. sebab sekali pun pemerintah mendapat mandat dari rakyat dan bertindak atas nama rakyat. maka tidak dapat dihindari. Jika berpegang pada asas legalitas dan gagasan konstitusionalitas. Terlepas dari asumsi demikian. Itulah faham legalisme dan konstitusionalisme yang dianut sampai sekarang. antara lain asas pembatasan kekuasaan pemerintah dan hak-hak asasi. Pertama. adanya pengawasan pengadilan terhadap pelaksanaan kekuasaan yang dijalankan oleh pemerintah. Mahkamah Agung (MA) dan Mahkamah Konstitusi (MK). yaitu Gerak dan Langkah Nyata KY dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi. terkesan ada tiga hal krusial yang menonjol. di satu pihak UUD 1945 telah menggariskan kewenangan KY 240 Bunga Rampai . Carl J. Sejalan dengan itu. pemberian wewenang kepada pemerintah. Seperti yang dikatakan Lunshof (1989:7). Mungkin juga konstitusi tidak secara jelas merumuskan ketentuan mengenai kewenangan sebuah lembaga negara. walaupun ketentuan tersebut dianggap tidak sempurna. Juga dikatakannya. semua ketentuan yang telah dirumuskan di dalam UUD 1945 harus dijalankan. konstitusionalisme adalah sebuah gagasan yang menganggap pemerintah sebagai suatu kumpulan aktivitas yang diselenggarakan atas nama rakyat. dan perlindungan hukum terhadap yang berkuasa. yang tunduk pada pembatasan konstitusional. khususnya Komisi Yudisial (KY). Friedrich (1967) menjelaskan. dengan segala keterbatasannya. asas legalitas adalah asas yang dipakai untuk menjamin asas-asas lainnya. Menyimak judul tulisan yang diminta oleh KY kepada penulis. sebaiknya pemerintah itu juga harus tunduk pada pembatasan konstitusional. UUD 1945 sebagai konstitusi tertulis (written constitution) atau sebagai hukum yang tertinggi (Grundgesetz) yang kekuatan mengikatnya melebihi undang-undang biasa. sebenarnya telah mengatur fungsi-fungsi serta pembatasan kekuasan dari semua lembaga negara.

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 241 . Ketiga. Mahkamah Konstitusi telah memutuskan: Menyatakan permohonan para Pemohon dikabulkan untuk sebagian: Menyatakan: Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata “hakim Mahkamah Konstitusi”. Kedua. pihak KY tetap bergerak mengayunkan langkah nyata. terutama mengenai pengawasan hakim agung oleh KY telah membuktikan. bahwa terjadi pertentangan dan perbedaan signifikan antara norma hukum pengawasan hakim agung antara KY dengan MA. tanggal 23 Agustus 2006. bahwa kewenangan yang dimiliki KY untuk mengawasi hakim-hakim. MK berpendapat seperti itu karena. pengawasan terhadap hakim MK tidak diamanatkan oleh UUD 1945 (Pasal 24B ayat (1)). ternyata MK telah memutuskan. yang berbunyi. Hal inilah yang melatarbelakangi diajukannya permohonan Penguijian UndangUndang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial dan Pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ke Mahkamah Konstitusi. tentunya dengan segala resiko (perlawanan) yang dihadapi untuk mengemban amanat UUD 1945. dan Mahkamah Konstitusi telah memutus permohonan tersebut dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 005/PUUIV/2006 yang diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi yang terbuka untuk umum pada hari Rabu. Ketidaksetujuan dan penolakan MA atas beberapa ketentuan. Seperti diketahui. Pasal 20. tidak termasuk mengawasi hakim MK. “Dalam melaksanakan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b Komisi Yudisial mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim dalam rangka menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim”. dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 005/PUU-IV/2006 tersebut.walaupun ketentuan yang mengatur kewenangan KY untuk mengawasi semua hakim (di MA dan MK) tidak maksimal.

Pasal 22 ayat (1) huruf e. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 89. yang berbunyi. yang berbunyi. “Usul penjatuhan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c diserahkan oleh Komisi Yudisial kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi”. “Dalam hal pembelaan diri ditolak. Pasal 22 ayat (5). sepanjang mengenai kata-kata “dan/atau Mahkamah Konstitusi”. “Dalam melaksanakan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20. dan Pasal 25 ayat (4). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4415). Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi wajib memberikan penetapan berupa paksaan kepada badan peradilan atau hakim untuk memberikan keterangan atau data yang diminta”. Pasal 23 ayat (5). bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. yang berbunyi. Pasal 25 ayat (3).- Pasal 21. Pasal 34 ayat (3). Pasal 23 ayat (3). Pasal 24 ayat (1). yang berbunyi. “Untuk kepentingan pelaksanaan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b. usul pemberhentian hakim diajukan oleh Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi kepada Presiden paling lambat 14 (empat belas) hari sejak pembelaan diri ditolak oleh Majelis Kehormatan Hakim”. “Dalam hal badan peradilan atau hakim tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (4). yang berbunyi. yang berbunyi. Komisi Yudisial bertugas mengajukan usul penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada pimpinan Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi”. Komisi Yudisial: e. membuat laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi dan disampaikan kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi. serta tindasannya disampaikan kepada Presiden dan DPR”. “Dalam rangka menjaga Bunga Rampai - - - - - - - 242 .

Hal tidak tercakupnya pengertian perilaku hakim konstitusi dalam apa yang dimaksud dengan perilaku hakim menurut Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 tersebut juga terdapat dalam ketentuan UUMK dan UUKK yang dibentuk sebelum Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 243 . bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 23 ayat (2). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4415). ketentuan mengenai KY dalam Pasal 24B UUD 1945 memang tidak berkaitan dengan ketentuan mengenai MK yang diatur dalam Pasal 24C UUD 1945. Mahkamah Konstitusi dalam Putusannya menyatakan bahwa Hakim Konstitusi tidak diawasi oleh Komisi Yudisial. Pasal 25 ayat (3). 22 ayat (1) huruf e. tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Undang-Undang Republik Indonesia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 89. Menyatakan: Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata “hakim Mahkamah Konstitusi”. antara lain. 23 ayat (3).kehormatan. pengawasan dilakukan oleh Komisi Yudisial yang diatur dalam undang-undang”. dan Pasal 25 ayat (4). sepanjang mengenai kata-kata “dan/atau Mahkamah Konstitusi”. UndangUndang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8. sebagai berikut. - Amar putusan tersebut di atas didasarkan pada pertimbangan. 23 ayat (5). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358). 21. dengan pertimbangan: Bahwa apabila ditinjau secara sistematis dan dari penafsiran berdasarkan “original intent” perumusan ketentuan UUD 1945. tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Pasal 20. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358). Pasal 24 ayat (1). 22 ayat (5). Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8. keluhuran martabat serta perilaku hakim agung dan hakim.

4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. maka tidak akan terjadi konflik antara KY dan MA. sekiranya kalau ada pasal khusus di dalam UU No. MA dan KY mengenai pengawasan terhadap hakim-hakim pada semua lingkungan dan strata lembaga peradilan. yang mengatur pengawasan tentang Hakim Konstitusi. serta UU No. berbeda halnya dengan hakim biasa.pembentukan UUKY. Itulah sebabnya. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman tidak begitu cermat merumuskan norma-norma hukum yang terkait secara tepat tentang pengawasan hakim. maka konflik (pertentangan) antara MK dan KY tidak perlu terjadi. maka diperlukan keterpaduan (integrasi) dalam merumuskan norma-norma hukum yang sama pada beberapa undang-undang yang saling terkait. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi dan UU No. Dalam keseluruhan mekanisme pemilihan dan pengangkatan para Hakim Konstitusi yang diatur dalam UUD 1945 juga tidak terdapat keterlibatan peran KY sama sekali. yang bersangkutan masing-masing kembali lagi kepada status profesinya yang semula. Hakim Konstitusi hanya diangkat untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan setelah tidak lagi menduduki jabatan Hakim Konstitusi. Demikian pula Pasal 34 ayat (3) UU Kekuasaan Kehakiman sama sekali tidak menentukan bahwa Hakim Konstitusi menjadi objek pengawasan oleh KY. untuk fungsi pengawasan terhadap perilaku Hakim Konstitusi ditentukan adanya lembaga Majelis Kehormatan yang diatur secara tersendiri dalam Pasal 23 UUMK. melainkan hakim karena jabatannya. Atau. 244 Bunga Rampai . Dalam UUMK. MK. Selain itu. maka proses penegakan hukum secara terpadu (integrated law enforcement process) mengenai pengawasan terhadap perilaku hakim-hakim juga akan terlaksana dengan baik. DPR dan Presiden sebagai pembentuk UU No. Hakim Konstitusi pada dasarnya bukanlah hakim sebagai profesi tetap. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Dengan begitu. Karena itu Indonesia memang harus memiliki sebuah sistem pembuatan hukum terpadu (integrated law making system). jika ada ketentuan pengawasan hakim agung dan hakim-hakim lain di dalam lingkungan kekuasaan kehakiman yang diatur secara jelas di dalam UU No. Tidak berlebihan jika dikatakan. misalnya keterpaduan di dalam pembuatan UU tentang KK. Sebagai misal. 24 Tahun 2003.

jika hakim agung diawasi oleh institusi di mana ia berada di dalamnya. 14 Tahun 1985 sesungguhnya adalah pengawasan yang bersifat internal. sekalipun pihakpihak itu terbukti melakukan perbuatan melawan hukum. Mekanisme upaya hukum (rechtsmiddlen) terkendala oleh perilakuperilaku hakim yang tidak cukup memiliki kemampuan etik. atau tidak memiliki akhlak mulia untuk mewujudkan keadilan bagi masyarakat.Pengawasan hakim sebagaimana dirumuskan di dalam Pasal 32 UU No. korupsi. karena budaya korupsi dan penyelewengan atau perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad) sudah sangat sulit diperbaiki. manipulasi penyalahgunaan jabatan yang merugikan negara dan rakyat. khususnya peradilan umum yang selama ini tidak menjalankan fungsinya secara benar. moral dan spiritual. salah satu faktor rendahnya mentalitas dan moralitas hakim karena para hakim terbebas dari pengawasan yang efektif. Haruslah dipahami. tidak bisa disangkal. Artinya hakim agung diawasi oleh lembaga MA. Hakim dan hukum lalu berpihak secara ekstrim dan arogan kepada kaum bor- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 245 . Karena itu kejahatan yudisial sulit dihindari. Banyak hakim (tidak semua) memihak kepada merekamereka yang berkedudukan penting atau orang-orang yang memiliki uang dalam jumlah yang besar. Dapat diduga. adalah untuk menjaga dan menegakkan kehormatan. apalagi yang menguntungkan dirinya. Penjahat-penjahat korporasi dan ekonomi yang merampok uang negara acap kali dilindungi dan diberikan perlakuan khusus. Ini merupakan sebuah upaya mendesak dan sistematik untuk mereformasi kekuasaan peradilan. keluhuran martabat serta perilaku hakim. banyak mendatangkan ketidakadilan bagi pencari keadilan (justice seekers). Dengan kata lain. Agak sulit memang. Banyak kasus (perkara) yang ditangani hakim PN. bukan rahasia lagi. sebab. sementara terpidana dari kelas bawah tidak dihargai hak asasinya. bahwa alasan pembentukan KY di dalam UUD 1945. lemahnya pengawasan terhadap hakim dapat mendorong hakim bisa berbuat apapun. pengawasan internal tidak bisa diharapkan mampu membongkar mafia peradilan selama ini. PT dan MA. Mentalitas birokrasi pemerintah dan lembaga-lembaga negara yang lain juga sulit melakukan pengawaan internal.

14 Tahun 1985 tentang MA melegitimasi kekuasaan MA sebagai kekuasaan terpusat dan personal. maupun eksternal. perlu ada sebuah mekanisme untuk mengawasi hakim seperti itu. Kalau ada pilihan di antara kedua jenis pengawasan itu. terutama pada lembaga-lembaga peradilan. bahwa Ketua MA dapat merangkap menjadi Ketua KY. dan ini sangat sulit diawasi. Prinsip res judicate pra veritate habetur (apa yang telah diputuskan oleh hakim harus dianggap sebagai benar) yang dipegang para hakim cukup berbahaya. UU No. bahwa kekuasaan cenderung terpusat di tangan seseorang atau sekelompok orang. karena kolusi juga bisa terjadi antar hakim dengan pimpinan MA. jika kekuasaan yang dipegang dan dikendalikan oleh seorang atau sekelompok orang dalam tubuh birokrasi di Indonesia memang sulit diawasi. Keberpihakan hukum bisa saja dilakukan dengan cara menyalahi teknis yudisial dan administratif yang menguntungkan orang-orang tertentu dan merugikan pihak lain yang tidak berdaya.juasi dan mencampakkan rakyat kecil yang miskin. Sistem politik birokratik telah merasuk jauh menusuk sampai ke pusat-pusat kekuasaan (termasuk yudikatif). karena dipastikan tidak akan efektif. bahwa MA tidak mau diawasi oleh lembaga negara apa- 246 Bunga Rampai . Tulisnya lebih lanjut. Bahkan ada wacana dari Bagir Manan sebagai Ketua MA. Hampir sama dengan Anderson. mungkin ada sedikit harapan. bahwa kekuasaan eksternal bisa diandalkan untuk mengawasi birokrasi. sulit juga diawasi oleh Komisi Yudisial. bahwa sistem politik birokratik terpusat pada mereka yang memegang kekuasaan negara sebagai majikan. Ini merupakan sebuah indikasi. Tidak bisa diharapkan. Dengan begitu agak sulit untuk mengawasi birokrasi kekuasaan kehakiman. “bukan masalah bagaimana menggunakan kekuasaan. Maka berdasarkan teori tersebut tidak dapat dielakkan. Kesulitannya adalah. Seperti apa yang dikatakan Benedict Anderson. baik secara internal. seorang ilmuwan politik Amerika Serikat yang menulis “Bureaucratic Polity” tentang Indonesia berpendapat. Karena itu. sebab prinsip ini berpotensi melindungi kesalahan hakim dan ada alasan menolak untuk diawasi. yang sulit diawasi dari luar (eksekutif dan legislatif). tapi bagaimana menghimpunnya”. hanya pengawasan internal oleh MA. Karl Jackson.

pun. Masalahnya sebenarnya tidak terlalu pelik, jika Pasal 24B UUD 1945 dapat diamandemen agar KY bisa mengawasi perilaku hakim pada semua lingkungan peradilan. Tidak bisa dihindari, bahwa ada masalah-masalah teknis yudisial dan administratif yang dapat merugikan pencari keadilan. Jika ada kesalahan substansial dan mungkin prosedural yang dirancang secara sistematis oleh seorang hakim, maka dapat disimpulkan, hakim tersebut tidak memiliki perilaku yang terpuji. Hakim tersebut tidak boleh tidak, harus diperiksa. Jadi sebenarnya tidak salah seluruhnya jika KY dapat masuk pada hal-hal yang bersifat teknis administratif dalam memeriksa hakim. Jika ada komitmen seperti itu, mengapa tidak dicoba untuk dibuat norma hukumnya? Bukankah teori, sistem dan doktrin hukum bisa berubah atau diubah untuk bisa merakit sebuah kebenaran dalam mewujudkan keadilan yang sejati, supaya hakim-hakim bisa menjadi Law Prophets. Untuk itu dapat dibenarkan dan sebaiknya demikian, KY harus mengusulkan amandemen terhadap Pasal 24B UUD 1945. Usul perubahan dari KY sebaiknya menyangkut tidak saja pengangkatan hakim agung, tetapi juga mengusulkan pemberhentian hakim agung. Hal (kewenangan) yang sama juga harus dilakukan terhadap pengangkatan dan pemberhentian hakim konstitusi. Artinya adalah, bahwa kewenangan KY itu harus dilihat dalam perspektif penguatan wibawa lembaga peradilan atau perwujudan supremasi kekuasaan kehakiman. Selain itu, perlu diperluas struktur organisasi KY sampai ke daerah-daerah, agar KY daerah dapat menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim pengadilan negeri dan pengadilan tinggi. Ini tidak bertentangan dengan UUD 1945, sebab sesuai dengan Pasal 24B ayat (4), dijelaskan, bahwa susunan, kedudukan, dan keanggotaan KY diatur dengan undang-undang. Jadi undang-undang tentang KY yang baru harus mengatur hal ini. KY juga harus diberikan peran untuk mengawasi panitera-panitera pada semua jenjang organisasi kekuasaan kehakiman. Hal ini penting, sebab bukan rahasia lagi, mafia peradilan sulit diberantas, karena para panitera sering menjadi calo (broker) dan penagih uang dari pihak-pihak yang berperkara.

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

247

Sambil menunggu amandemen terhadap UUD 1945 dan revisi UU tentang KY, MK dan MA, gerak dan langkah nyata KY dalam mengemban amanat UUD 1945 pasca putusan MK harus lebih ditingkatkan lagi. Putusan MK tidak boleh membuat KY menyurutkan peran historisnya untuk menegakkan supremasi hukum, keadilan, kebenaran serta mewujudkan supremasi kekuasaan kehakiman di Indonesia. Pada saatnya nanti KY akan tampil sebagai sosok yang lebih berwibawa untuk menegakkan wibawa negara hukum yang berkarakter.

Penulis adalah Dosen dan Ketua Program Pascasarjana FH-UKI Mantan Anggota Komisi Konstitusi

248

Bunga Rampai

Gerak dan Langkah Nyata Komisi Yudisia Dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi
John Pieris

Sebuah tulisan yang bersifat kajian kritis mengenai suatu lembaga negara yang terkait dengan UUD 1945 sebenarnya tidak terlalu sulit, sebab pada dasarnya UUD 1945 (konstitusi) telah menggariskan tugas-tugas pokok semua lembaga negara. Hal ini dapat disimak dari beberapa pendapat pakar yang secara tepat melahirkan beberapa perspektif penting tentang fungsi konstitusi. Jika K. C. Wheare menjelaskan, konstitusi adalah aturan hukum yang menetapkan kerangka dasar dari suatu negara dan mengatur tentang susunan pemerintahan, dan James Bryce menyatakan, bahwa konstitusi berfungsi menetapkan lembaga-lembaga negara dan mengatur fungsi dan batas haknya, serta Ivor Jenning mengemukakan, konstitusi berfungsi mengawasi pelaksanaan pemerintahan (pengawasan konstitusional). Selain itu, S. W. Couwenberg mengatakan, konstitusi adalah semua asas hukum, aturan hukum dan lembaga-lembaga yang berhubungan dengan susunan dan arah perkembangan kehidupan bersama yang terorganisasikan secara kenegaraan. Dijelaskan kemudian, hukum konstitusi merupakan basis atau landasan dari sistem hukum negara yang bersangkutan.

Penulis adalah, Dosen dan Ketua Program Pascasarjana FH-UKI Mantan Anggota Komisi Konstitusi

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

249

Dari berbagai perspektif itu, maka sebenarnya UUD 1945 sebagai konstitusi (hukum dasar) telah mengatur halhal penting mengenai semua lembaga negara khususnya tentang kewenangannya. Yang sulit adalah ketika tulisan itu dikaitkan dengan suatu masalah hukum dan politik yang dialami oleh satu atau beberapa lembaga negara. Yang menjadi soal adalah, apa yang diamanatkan oleh konstitusi, belum tentu dapat dilaksanakan dengan baik. Mungkin juga konstitusi tidak secara jelas merumuskan ketentuan mengenai kewenangan sebuah lembaga negara. Terlepas dari asumsi demikian, UUD 1945 sebagai konstitusi tertulis (written constitution) atau sebagai hukum yang tertinggi (Grundgesetz) yang kekuatan mengikatnya melebihi undang-undang biasa, dengan segala keterbatasannya, sebenarnya telah mengatur fungsi-fungsi serta pembatasan kekuasan dari semua lembaga negara, khususnya Komisi Yudisial (KY), Mahkamah Agung (MA) dan Mahkamah Konstitusi (MK). Jika berpegang pada asas legalitas dan gagasan konstitusionalitas, maka tidak dapat dihindari, semua ketentuan yang telah dirumuskan di dalam UUD 1945 harus dijalankan, walaupun ketentuan tersebut dianggap tidak sempurna. Itulah faham legalisme dan konstitusionalisme yang dianut sampai sekarang. Seperti yang dikatakan Lunshof (1989:7), asas legalitas adalah asas yang dipakai untuk menjamin asas-asas lainnya, antara lain asas pembatasan kekuasaan pemerintah dan hak-hak asasi. Juga dikatakannya, adanya pengawasan pengadil-an terhadap pelaksanaan kekuasaan yang dijalankan oleh pemerintah, pemberian wewenang kepada pemerintah, dan perlindungan hukum terhadap yang berkuasa. Sejalan dengan itu, Carl J. Friedrich (1967) menjelaskan, konstitusionalisme adalah sebuah gagasan yang menganggap pemerintah sebagai suatu kumpulan aktivitas yang diselenggarakan atas nama rakyat, yang tunduk pada pembatasan konstitusional. Hal itu diperlukan sebagai jaminan bahwa kekuasaan yang diperlukan untuk pemerintahan tersebut tidak disalahgunakan oleh mereka yang mendapat tugas untuk memerintah. Pandangan Friedrich cukup menarik, sebab sekali pun pemerintah mendapat mandat dari rakyat dan bertindak atas nama rakyat, sebaiknya pemerintah itu juga harus tunduk pada pembatasan konstitusional,

250

Bunga Rampai

agar terhindar dari penyalahgunaan kekuasaan. Menyimak judul tulisan yang diminta oleh KY kepada penulis, yaitu Gerak dan Langkah Nyata KY dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi, terkesan ada tiga hal krusial yang menonjol. Pertama, di satu pihak UUD 1945 telah menggariskan kewenangan KY walaupun ketentuan yang mengatur kewenangan KY untuk mengawasi semua hakim (di MA dan MK) tidak maksimal. Kedua, pihak KY tetap bergerak mengayunkan langkah nyata, tentunya dengan segala resiko (perlawanan) yang dihadapi untuk mengemban amanat UUD 1945. Ketiga, ternyata MK telah memutuskan, bahwa kewenangan yang dimiliki KY untuk mengawasi hakim-hakim, tidak termasuk mengawasi hakim MK. MK berpendapat seperti itu karena, pengawasan terhadap hakim MK tidak diamanatkan oleh UUD 1945 (Pasal 24B ayat (1)). Ketidaksetujuan dan penolakan MA atas beberapa ketentuan, terutama mengenai pengawasan hakim agung oleh KY telah membuktikan, bahwa terjadi pertentangan dan perbedaan signifikan antara norma hukum pengawasan hakim agung antara KY dengan MA. Hal inilah yang melatarbelakangi diajukannya permohonan Penguijian UndangUndang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial dan Pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ke Mahkamah Konstitusi, dan Mahkamah Konstitusi telah memutus permohonan tersebut dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 005/PUUIV/2006 yang diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi yang terbuka untuk umum pada hari Rabu, tanggal 23 Agustus 2006. Seperti diketahui, dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 005/PUU-IV/2006 tersebut, Mahkamah Konstitusi telah memutuskan: Menyatakan permohonan para Pemohon dikabulkan untuk sebagian: Menyatakan : Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata “hakim Mahkamah Konstitusi”; Pasal 20, yang berbunyi, “Dalam melaksanakan wePenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

251

-

-

-

-

-

-

wenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b Komisi Yudisial mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim dalam rangka menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim”; Pasal 21, yang berbunyi, “Untuk kepentingan pelaksanaan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b, Komisi Yudisial bertugas mengajukan usul penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada pimpinan Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi”; Pasal 22 ayat (1) huruf e, yang berbunyi, “Dalam melaksanakan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20, Komisi Yudisial: e, membuat laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi dan disampaikan kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi, serta tindasannya disampaikan kepada Presiden dan DPR”; Pasal 22 ayat (5), yang berbunyi, “Dalam hal badan peradilan atau hakim tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (4), Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi wajib memberikan penetapan berupa paksaan kepada badan peradilan atau hakim untuk memberikan keterangan atau data yang diminta”; Pasal 23 ayat (3), yang berbunyi, “Usul penjatuhan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c diserahkan oleh Komisi Yudisial kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi”; Pasal 23 ayat (5), yang berbunyi, “Dalam hal pembelaan diri ditolak, usul pemberhentian hakim diajukan oleh Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi kepada Presiden paling lambat 14 (empat belas) hari sejak pembelaan diri ditolak oleh Majelis Kehormatan Hakim”; Pasal 24 ayat (1), Pasal 25 ayat (3), dan Pasal 25 ayat (4), sepanjang mengenai kata-kata “dan/atau Mahkamah Konstitusi”; Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 89. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4415), bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik IndoneBunga Rampai

252

ketentuan mengenai KY dalam Pasal 24B UUD 1945 memang tidak berkaitan dengan ketentuan mengenai MK yang diatur dalam Pasal 24C UUD 1945. antara lain. Pasal 20.- - - sia Tahun 1945. dan Pasal 25 ayat (4). Pasal 34 ayat (3). dengan pertimbangan: Bahwa apabila ditinjau secara sistematis dan dari penafsiran berdasarkan “original intent” perumusan ketentuan UUD 1945. tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Mahkamah Konstitusi dalam Putusannya menyatakan bahwa Hakim Konstitusi tidak diawasi oleh Komisi Yudisial. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4415). pengawasan dilakukan oleh Komisi Yudisial yang diatur dalam undang-undang”. “Dalam rangka menjaga kehormatan. 23 ayat (5). 21. 22 ayat (1) huruf e. UndangUndang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8. 23 ayat (2). 22 ayat (5). keluhuran martabat serta perilaku hakim agung dan hakim. sebagai berikut. tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Hal tidak tercakupnya pengertian perilaku hakim konstitusi dalam apa yang dimaksud dengan perilaku hakim Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 253 . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358). Undang-Undang Republik Indonesia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 89. yang berbunyi. sepanjang mengenai kata-kata “dan/atau Mahkamah Konstitusi”. Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8. 23 ayat (3). Pasal 24 ayat (1). Menyatakan: Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata “hakim Mahkamah Konstitusi”. Amar putusan tersebut di atas didasarkan pada pertimbangan. Pasal 25 ayat (3).

Hakim Konstitusi pada dasarnya bukanlah hakim sebagai profesi tetap. Dalam keseluruhan mekanisme pemilihan dan pengangkatan para Hakim Konstitusi yang diatur dalam UUD 1945 juga tidak terdapat keterlibatan peran KY sama sekali. Demikian pula Pasal 34 ayat (3) UU Kekuasaan Kehakiman sama sekali tidak menentukan bahwa Hakim Konstitusi menjadi objek pengawasan oleh KY. Atau. berbeda halnya dengan hakim biasa. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi dan UU No. Dengan begitu. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman tidak begitu cermat merumuskan norma-norma hukum yang terkait secara tepat tentang pengawasan hakim. Hakim Konstitusi hanya diangkat untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan setelah tidak lagi menduduki jabatan Hakim Konstitusi. untuk fungsi pengawasan terhadap perilaku Hakim Konstitusi ditentukan adanya lembaga Majelis Kehormatan yang diatur secara tersendiri dalam Pasal 23 UUMK. 24 Tahun 2003. yang bersangkutan masing-masing kembali lagi kepada status profesinya yang semula. sekiranya kalau ada pasal khusus di dalam UU No. MK. maka diperlukan keterpaduan (integrasi) dalam merumuskan norma-norma hukum yang sama pada beberapa undang-undang yang saling terkait. jika ada ketentuan pengawasan hakim agung dan hakim-hakim lain di dalam lingkungan kekuasaan kehakiman yang diatur secara jelas di dalam UU No. maka tidak akan terjadi konflik antara KY dan MA. serta UU No. melainkan hakim karena jabatannya. Karena itu Indonesia memang harus memiliki sebuah sistem pembuatan hukum terpadu (integrated law making system). Tidak berlebihan jika dikatakan. Sebagai misal. yang mengatur pengawasan tentang Hakim Konstitusi. DPR dan Presiden sebagai pembentuk UU No. Itulah sebabnya. MA dan KY mengenai pengawasan terhadap hakim-hakim pada semua lingkungan dan strata lembaga peradilan. Dalam UUMK. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. maka konflik (pertentangan) antara MK dan KY tidak perlu terjadi.menurut Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 tersebut juga terdapat dalam ketentuan UUMK dan UUKK yang dibentuk sebelum pembentukan UUKY. misalnya keterpaduan di dalam pembuatan UU tentang KK. maka proses penegakan hukum secara ter- 254 Bunga Rampai . Selain itu.

sementara terpidana dari Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 255 . pengawasan internal tidak bisa diharapkan mampu membongkar mafia peradilan selama ini. Mentalitas birokrasi pemerintah dan lembaga-lembaga negara yang lain juga sulit melakukan pengawaan internal. Banyak hakim (tidak semua) memihak kepada merekamereka yang berkedudukan penting atau orang-orang yang memiliki uang dalam jumlah yang besar. Mekanisme upaya hukum (rechtsmiddlen) terkendala oleh perilakuperilaku hakim yang tidak cukup memiliki kemampuan etik. khususnya peradilan umum yang selama ini tidak menjalankan fungsinya secara benar. 14 Tahun 1985 sesungguhnya adalah pengawasan yang bersifat internal. atau tidak memiliki akhlak mulia untuk mewujudkan keadilan bagi masyarakat. lemahnya pengawasan terhadap hakim dapat mendorong hakim bisa berbuat apapun. adalah untuk menjaga dan menegakkan kehormatan. Penjahat-penjahat korporasi dan ekonomi yang merampok uang negara acap kali dilindungi dan diberikan perlakuan khusus. Haruslah dipahami. sekalipun pihakpihak itu terbukti melakukan perbuatan melawan hukum.padu (integrated law enforcement process) mengenai pengawasan terhadap perilaku hakim-hakim juga akan terlaksana dengan baik. Ini merupakan sebuah upaya mendesak dan sistematik untuk mereformasi kekuasaan peradilan. banyak mendatangkan ketidakadilan bagi pencari keadilan (justice seekers). sebab. bukan rahasia lagi. korupsi. keluhuran martabat serta perilaku hakim. Artinya hakim agung diawasi oleh lembaga MA. salah satu faktor rendahnya mentalitas dan moralitas hakim karena para hakim terbebas dari pengawasan yang efektif. Agak sulit memang. moral dan spiritual. apalagi yang menguntungkan dirinya. karena budaya korupsi dan penyelewengan atau perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad) sudah sangat sulit diperbaiki. Karena itu kejahatan yudisial sulit dihindari. jika hakim agung diawasi oleh institusi di mana ia berada di dalamnya. manipulasi penyalahgunaan jabatan yang merugikan negara dan rakyat. bahwa alasan pembentukan KY di dalam UUD 1945. Banyak kasus (perkara) yang ditangani hakim PN. Pengawasan hakim sebagaimana dirumuskan di dalam Pasal 32 UU No. tidak bisa disangkal. PT dan MA. Dapat diduga. Dengan kata lain.

mungkin ada sedikit harapan. Karl Jackson. 14 Tahun 1985 tentang MA melegitimasi kekuasaan MA sebagai kekuasaan terpusat dan personal. sulit juga diawasi oleh Komisi Yudisial. bahwa kekuasaan cenderung terpusat di tangan seseorang atau sekelompok orang. hanya pengawasan internal oleh MA. karena dipastikan tidak akan efektif. jika kekuasaan yang dipegang dan dikendalikan oleh seorang atau sekelompok orang dalam tubuh birokrasi di Indonesia memang sulit diawasi. Tidak bisa diharapkan. Karena itu. Dengan begitu agak sulit untuk mengawasi birokrasi kekuasaan kehakiman. maupun eksternal. baik secara internal. Maka berdasarkan teori tersebut tidak dapat dielakkan. seorang ilmuwan politik Amerika Serikat yang menulis “Bureaucratic Polity” tentang Indonesia berpendapat. dan ini sangat sulit diawasi. Prinsip res judicate pra veritate habetur (apa yang telah diputuskan oleh hakim harus dianggap sebagai benar) yang dipegang para hakim cukup berbahaya.kelas bawah tidak dihargai hak asasinya. Bahkan ada wacana dari Bagir Manan sebagai Ketua MA. bahwa Ketua MA dapat 256 Bunga Rampai . Kalau ada pilihan di antara kedua jenis pengawasan itu. Keberpihakan hukum bisa saja dilakukan dengan cara menyalahi teknis yudisial dan administratif yang menguntungkan orang-orang tertentu dan merugikan pihak lain yang tidak berdaya. bahwa sistem politik birokratik terpusat pada mereka yang memegang kekuasaan negara sebagai majikan. Hampir sama dengan Anderson. Kesulitannya adalah. bahwa kekuasaan eksternal bisa diandalkan untuk mengawasi birokrasi. karena kolusi juga bisa terjadi antar hakim dengan pimpinan MA. tapi bagaimana menghimpunnya”. UU No. Tulisnya lebih lanjut. “bukan masalah bagaimana menggunakan kekuasaan. sebab prinsip ini berpotensi melindungi kesalahan hakim dan ada alasan menolak untuk diawasi. yang sulit diawasi dari luar (eksekutif dan legislatif). perlu ada sebuah mekanisme untuk mengawasi hakim seperti itu. Seperti apa yang dikatakan Benedict Anderson. Hakim dan hukum lalu berpihak secara ekstrim dan arogan kepada kaum borjuasi dan mencampakkan rakyat kecil yang miskin. Sistem politik birokratik telah merasuk jauh menusuk sampai ke pusat-pusat kekuasaan (termasuk yudikatif). terutama pada lembaga-lembaga peradilan.

dan keanggotaan KY diatur dengan undang-undang. serta perilaku hakim pengadilan negeri dan pengadilan tinggi. bahwa MA tidak mau diawasi oleh lembaga negara apapun.merangkap menjadi Ketua KY. Masalahnya sebenarnya tidak terlalu pelik. jika Pasal 24B UUD 1945 dapat diamandemen agar KY bisa mengawasi perilaku hakim pada semua lingkungan peradilan. Usul perubahan dari KY sebaiknya menyangkut tidak saja pengangkatan hakim agung. Artinya adalah. Jika ada komitmen seperti itu. mengapa tidak dicoba untuk dibuat norma hukumnya? Bukankah teori. KY juga harus diberikan peran untuk mengawasi panitera-panitera pada semua jenjang organisasi kekuasaan kehakiman. Jika ada kesalahan substansial dan mungkin prosedural yang dirancang secara sistematis oleh seorang hakim. tetapi juga mengusulkan pemberhentian hakim agung. sistem dan doktrin hukum bisa berubah atau diubah untuk bisa merakit sebuah kebenaran dalam mewujudkan keadilan yang sejati. Ini tidak bertentangan dengan UUD 1945. bahwa ada masalah-masalah teknis yudisial dan administratif yang dapat merugikan pencari keadilan. Hal ini penting. Jadi sebenarnya tidak salah seluruhnya jika KY dapat masuk pada hal-hal yang bersifat teknis administratif dalam memeriksa hakim. hakim tersebut tidak memiliki perilaku yang terpuji. supaya hakim-hakim bisa menjadi Law Prophets. Selain itu. Hal (kewenangan) yang sama juga harus dilakukan terhadap pengangkatan dan pemberhentian hakim konstitusi. Hakim tersebut tidak boleh tidak. Untuk itu dapat dibenarkan dan sebaiknya demikian. dijelaskan. sebab sesuai dengan Pasal 24B ayat (4). Ini merupakan sebuah indikasi. KY harus mengusulkan amandemen terhadap Pasal 24B UUD 1945. bahwa susunan. Jadi undang-undang tentang KY yang baru harus mengatur hal ini. keluhuran martabat. Tidak bisa dihindari. agar KY daerah dapat menjaga dan menegakkan kehormatan. maka dapat disimpulkan. perlu diperluas struktur organisasi KY sampai ke daerah-daerah. mafia peradilan sulit Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 257 . sebab bukan rahasia lagi. harus diperiksa. kedudukan. bahwa kewenangan KY itu harus dilihat dalam perspektif penguatan wibawa lembaga peradilan atau perwujudan supremasi kekuasaan kehakiman.

MK dan MA. Putusan MK tidak boleh membuat KY menyurutkan peran historisnya untuk menegakkan supremasi hukum. Pada saatnya nanti KY akan tampil sebagai sosok yang lebih berwibawa untuk menegakkan wibawa negara hukum yang berkarakter. Sambil menunggu amandemen terhadap UUD 1945 dan revisi UU tentang KY. gerak dan langkah nyata KY dalam mengemban amanat UUD 1945 pasca putusan MK harus lebih ditingkatkan lagi.diberantas. 258 Bunga Rampai . kebenaran serta mewujudkan supremasi kekuasaan kehakiman di Indonesia. karena para panitera sering menjadi calo (broker) dan penagih uang dari pihak-pihak yang berperkara. keadilan.

. Latar Belakang. adalah menetapkan suatu prinsip dasar bagi berdirinya pemerintahan negara yang demokratis. Rumusan kebebasan yang dikemukakan oleh para filsuf zaman pencerahan abad ke-17 dan ke-18. kebebasan berserikat. yaitu pemerintahan diciptakan untuk melindungi kebebasan yang dimiliki oleh individu berdasarkan eksistensi individu itu. DR.H. Sedangkan landasan intelektual demokrasi konstitusional modern dalam geopolitik diletakan selama zaman Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 259 . S. Deklarasi Kemerdekaan yang dikemukakan oleh Thomas Jefferson. Hak-hak ini tidak hancur ketika masyarakat sipil diciptakan. Contoh hak-hak yang tidak dapat dicabut meliputi kebebasan berbicara dan berpendapat. pemerintahan dalam suatu demokrasi tidak memberikan kebebasan dasar yang disebut Jefferson. MH. Dalam masyarakat demokratis juga menyatakan hak-hak sipil seperti hak untuk mendapatkan pengadilan yang jujur. untuk menjalankan pemerintahan negara yang baik tariklah hukum yang bermoral. dan baik masyarakat maupun pemerintahan tidak dapat mencabutnya. dan hak untuk mendapatkan perlindungan yang sama di depan hukum. Sedangkan Soekarno Presiden pertama Republik Indonesia.Pentingnya Peran Komisi Yudisial Berdasarkan Pendekatan Geopolitik dan Geostrategi Indonesia Prof. hak-hak alamiah yang tidak dapat dicabut adalah karunia Tuhan. MS. kebebasan beragama dan keyakinan. Ermaya Suradinata.

Locke juga menyatakan jika suatu pemerintahan menjadi tanpa hukum dan sewenang-wenang. Dalam pernyataannya tentang hukum alam itu. Emmanuel Kant di Jerman dan Thomas Jefferson serta Benjamin Franklin di negeri yang kemudian bernama Amerika Serikat. percaya pada pemerintahah Republik berdasarkan pada persetujuan dari yang diperintah. ujar Locke. John Locke. Pada tahun 1690 Locke menerbitkan bukunya yang sangat berpengaruh Two Treaties of Government (Dua Risalah Tentang Pemerintahan). adalah suatu aspek rangkaian takdir Ilahi.Pencerahan Eropa. yang terbit pada tahun 1748. Dalam teori hukum alam Locke mengilhami satu generasi filsuf zaman Pencerahan di Eropa dan dunia baru. dan politik yang tradisional yang penekanannya pada rasionalisme. Dua pemikiran yang berpengaruh adalah filosuf Inggris. agama. dan menjamin hak-hak dasar semua orang. tapi bukan pada demokrasi yang didirikan atas kekuasaan mayoritas. Hukum alam identik dengan hukum Tuhan. Tapi penerusnya yang paling terkemuka adalah Montesquieu. warganya berhak menggulingkan rezim itu dan membentuk suatu pemerintahan baru. Warga negara wajib patuh pada undang-undang dan mempertahankan kesejahteraan umum dari pelanggaran asing semuanya demi kebaikan bersama. mengubah secara besar-besaran pembahasan mengenai teori politik dan mendorong perkembangan lembaga-lembaga demokrasi. Untuk mengamankan hak-hak ini. dan yudikatif. dalam pernyataannya bahwa semua pemerintahan yang sah bertumpu pada persetujuan dari yang diperintah. dan termasuk hak untuk memiliki harta benda serta menikmati hasil kerja sendiri. John Locke. Dalam L’Esprit des Lois (Semangat hukum). suatu gerakkan filosofis abad 18 yang ditandai dengan penolakan terhadap gagasan-gagasan sosial. manusia dalam masyarakat sipil mengadakan kontrak dengan pemerintah mereka. yang seperti halnya Locke. dalam 260 Bunga Rampai . John Locke membantah pengakuan bahwa pemerintah teristimewa monarki. Montesquieu.dari Jean Jacques Rousseau di Perancis sampai David Hume di Skotlandia. Montesquieu. kata Locke. termasuk hak atas hidup. kebebasan tertentu. mendukung pemisahan dan penyeimbangan kekuasaan antara cabang-cabang eksekutif. dan ahli hukum dan filsuf Perancis. legislatif.

bukan sesuatu yang dipaksakan kepada mereka. sekutu politik negara atau lawan. mereka yang menjalankan sistem peradilan pidana mempunyai kekuasaan yang berpotensi melakukan penyalahgunaan dan menjadi tirani. Warga negara suatu demokrasi tunduk pada hukum karena mereka mengakui bahwa. adalah landasan pokok bagi masyarakat yang adil dan demokratis manapun. Kaya atau miskin. Setiap masyarakat sepanjang sejarah.pemerintahan sebagai cara untuk menjamin kebebasan individu. atau minoritas agama.” Tak seorangpun berada di atas hukum yang bagaimanapun. harta mereka dirampas. Persamaan hak di depan hukum. dengan pembagian kekuasaan antara Presiden. Frank menulis. Kongres. Dalam kehidupan negara yang demokratis tidak dapat menjamin bahwa kehidupan akan memperlakukan setiap orang dengan sama. mayoritas etnik. tapi aturan prosedur yang digunakan negara untuk melaksanakan undang-undangnya harus terbuka dan jelas. dan mereka disiksa. dan ia tidak mempunyai tanggung jawab untuk melakukan hal itu. Namun ahli hukum konstitusi John P. Atas nama negara. merupakan ciptaan rakyat. negara wajib melayani secara rata dan sama seluruh rakyatnya. ”Dalam keadaan apapun negara tidak boleh memaksakan ketidaksamaan tambahan. Apakah syarat pokok bagi proses hukum Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 261 . Holden). banyak individu. dan Kehakiman (dalam Jeannes s. Doktrin ini juga membantu membentuk landasan filosofis bagi konstitusi AS. dipenjarakan. Frank menjelaskan. Jika undang-undang ditetapkan oleh rakyat yang selanjutnya harus mematuhinya. sekalipun tidak langsung. sewenang-wenang atau tunduk pada manipulasi politik oleh negara. Masyarakat demokratis tidak dapat menerima penyalahgunaan seperti ini. mereka menyerahkan diri sebagai pembuat undang-undang itu. atau perlindungan yang sama oleh hukum sebagaimana sering disebut. diasingkan dan dihukum mati tanpa dasar hukum. baik undangundang maupun demokrasi terlayani. tidak rahasia. dan sering tanpa pernah dikenai tuduhan resmi. semuanya berhak atas perlindungan yang sama di depan hukum. Setiap negara harus mempunyai kekuasaan untuk memelihara ketertiban dan menghukum tindak pidana.

melahirkan perilaku politik yang juga liberal. menunjukkan adanya pasang surut. sejak lengsernya Soeharto sebagai Presiden dari panggung politik. yang bergulir bagaikan bola salju. DPRD Provinsi.yang wajar dalam demokrasi? Rumah siapa saja tidak boleh dimasuki dan digeledah oleh polisi tanpa perintah pengadilan yang menunjukkan adanya alasan kuat untuk menggeledah itu. Ketukan tengah malam oleh polisi rahasia tidak mempunyai tempat dalam demokrasi. berkembangnya kehidupan politik yang liberal. Reformasi politik yang terjadi sejak tahun 1997. berdasarkan doktrin yang disebut Habeas corpus. implementasi ideologi dan konstitusi negara sebagaimana termuat dalam sejarah. Hal tersebut dapat kita lihat (DPR. Tak seorangpun boleh ditahan tanpa tuduhan yang jelas dan tertulis. Kedua. dan konstitusi negara akan memberikan model terhadap implementasi ideo-logi dalam birokrasi pemerintahan dalam penyelenggaraan negara terutama penyelenggaraan fungsi lembaga negara. Dalam perjalanan sebagai bangsa yang berdaulat. Berkaitan dengan perkembangan ini ruang pemerintah muncul kekuatan-kekuatan baru yang dapat menggeser kedudukan seorang Presiden. Bukan saja orang berhak mengetahui hakikat sebenarnya tuduhan itu. mereka juga harus segera dilepaskan. MPR. begitu pengadilan mendapati bahwa tuduhan itu tanpa dasar atau penahanannya tidak sah. membawa berbagai perubahan yang mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Perubahan-perubahan ini jelas apabila diamati kenyataan di lapangan: Pertama. dan merinci tuduhan pelanggaran itu. kita tidak lagi memiliki seorang pemimpin yang sentralistik sekaligus sangat menentukan. merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. DPRD Kabupaten/Kota) yang berdampak sulitnya untuk membangun kesamaan visi dan misi Nasional antar politisi dalam me- 262 Bunga Rampai . DPD. Pasang surut ini diwarnai oleh perubahan-perubahan sesuai tuntut-an politik. dikatakan demikian karena ideologi akan memberikan warna terhadap bentukbentuk yang ada dalam konstitusi negara. Ideologi dan konstitusi negara bagi suatu negara yang berdaulat seperti Negara Republik Indonesia ini.

seiring dengan perkembangan politik tersebut. berkaitan dengan realitas dan eksistensi bangsa kita. Ketiga. berperan sebagai citra jati diri bangsa. namun bagi bangsa Indonesia dengan kemajemukannya sangat berbeda seperti kita tahu tentang perbedaan budaya. keanekaragaman itulah ciri jati diri bangsa Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa Malaysia. Karena mempunyai landasan: Pertama. jelas mengindikasikan bahwa para Pendiri RI (Founding Fathers). Bunyi dan Pasal 37 ayat (1) dan (2). Memperhatikan perkembangan politik era reformasi yang berkaitan dengan perubahan UUD NRI Tahun 1945. Pasal 37 ayat (1) tidak bertentangan. Memperhatikan peranan tersebut di atas.” Peranan Ideologi dan Konstitusi Negara dalam Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. organisasi bangsa mempunyai kebutuhan untuk memiliki citra jati dirinya. Selanjutnya pada ayat (2) dinyatakan bahwa ”putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota yang hadir”. sejak awal telah mengisaratkan adanya penyesuaian pasal-pasal yang ada dalam UUD 1945 dengan perkembangan yang ada. Dengan citra jati diri inilah suatu bangsa dapat memberikan ciri yang khas yang dapat dibedakan dengan negara lainnya. Sebagai kelompok sosial yang besar. maka ideologi dan konstitusi negara bagi bangsa Indonesia mempunyai peranan yang sangat penting. dan 2002). 2000. Dikatakan demikian karena dalam Pasal 37 tersebut secara tegas dinyatakan bahwa ”untuk mengubah UUD sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota harus hadir. adat maupun bahasa yang berbeda dari mulai Sabang sampai Merauke. dengan kata lain ada amanat pada penerus bangsa ini untuk tidak mempermasalahkan konstitusi yang mereka buat. apabila merujuk pada UUD NRI tahun 1945. seperti bangsa Indonesia dan Malaysia. 2001. berkembang pula keinginan sebagian elit politik yang berpengaruh dengan cara yang sistemik dan damai melakukan perubahan terhadap UUD NRI Tahun 1945. oleh karena itu dapat dikatakan bahwa ideologi dan konstiPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 263 . walaupun berasal dari satu rumpun. yang sampai saat ini sudah empat kali perubahan (Tahun 1999.nangani dan memahami makna NKRI.

Karena itu keberadaan ideologi dan konstitusi yang berdaulat merupakan sesuatu yang mutlak. jika negara mempunyai kedaulatan yang utuh dalam menjaga eksistensinya dan mewujudkan reformasi birokrasi pemerintahan khususnya reformasi peradilan. Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dalam menyelenggarakan fungsi kenegaraan merupakan hal yang sangat pen- 264 Bunga Rampai . Oleh karena senantiasa berupaya untuk merealisasikan dalam kehidupan bersama. Keempat. sehingga dapat diharapkan generasi muda akan terus melanjutkan perjuangan generasi pendahulunya untuk mencapai cita-cita dan tujuan nasional bangsa Indonesia. berperan sebagai hukum dasar yakni sebagai pedoman utama dalam pembuatan peraturan perundangundangan yang akan diperlakukan kepada segenap komponen bangsa.tusinya melekat pada jati diri bangsa. Hal tersebut diperlukan sebagai peraturan yang tertinggi karena beragamnya komponen yang juga mempunyai adat istiadat tersendiri. Ketiga. berperan sebagai jembatan penghubung antara generasi tua sebagai pendiri bangsa (fouding fathers) dengan generasi penerus. Di sini ideologi dan konstitusi menjadi sumber inspirasi dan cita-cita hidup bersama. Generasi muda yang telah mengalami masamasa perjuangan untuk mendirikan bangsa dengan negara. dan dipandang sebagai suatu kebesaran dan kemuliaan bersama dengan ideologi manusia mengejar keluhuran. maka dapat diantisipasi sedemikian adanya persepsi yang berbeda terhadap suatu peraturan perundang-undangan. maka dibutuhkan suatu pedoman yang dapat memayungi dan berlaku untuk keseluruhan komponen bangsa yang ada. Dengan adanya ideologi dan konstitusi sebagai hukum dasar. yang akan dijadikan dasar pengambilan keputusan bagi para hakim. dan mematuhi segala ketentuan yang diatur dalam konstitusi. Kedua. sebagaimana telah dirumuskan dalam Ideologi dan Konstitusi (UUD Tahun 1945). dengan ideologi dan konstitusi dapat menjembatani hubungan antara keduanya. Merupakan suatu hal yang alami terjadi pergantian generasi antara generasi terdahulu dengan generasi muda. berperan untuk menemukan keyakinan akan kebenaran perjuangan bersama akan satu kesatuan yang berpegang teguh pada ideologi dan konstitusi tersebut.

Pengaturan tentang hak asasi manusia. kepentingan yang merasa dirugikan. sejak perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.ting dan mendasar. mengalami perubahan yang sangat fundamental. karena dapat menyuarakan persoalannya dan sanggup mengumpulkan kekuatan dengan mempengaruhi para pemilih dengan berbagai cara yang diakui dan absah. Pada akhirnya mungkin dapat dikatakan bahwa orang-orang yang merasa diperlakukan tidak adil dalam suatu sistem demokrasi maka akan terhibur kalau mereka memperhatikan sistem-sistem politik lain. integral. serta negara hukum yang demokratis. pada empat sidang MPR sejak Tahun 1999. dan ini jarang sekali dikesampingkan pada saat kebijaksanaan dibuat. 3. Demokrasi juga menyangkut kompromi atau harmoni politik dengan jalan menyelesaikan tuntutan-tuntutan atau suara-suara yang saling bertentangan. dan mempertahankan demokrasi atas dasar ini bermakna bahwa demokrasi adalah sistem terbaik untuk menegakkan keadilan. Menegakkan keadilan sering dianggap sebagai inti moralitas politik. Demokrasi memberikan kesempatan kepada setiap kelompok dan kepentingan yang cukup besar mengajukan wakilnya. 2. dan sistematis dalam empat kali perubahan UUD NRI Tahun 1945. dan keadilan. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 265 . Reformasi sesungguhnya memberikan ruang yang besar untuk terjadinya perubahan menuju penyelenggaraan negara yang lebih demokratis. Perkembangan Hukum Dasar Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. Pengaturan tentang susunan ketatanegaraan yang bersifat fundamental. Dalam konstitusi biasanya memuat aturan minimal materi yang mencakup: 1. sampai dengan 2002. bertahap. keterbukaan. selanjutnya perubahan itu diwujudkan secara komprehensif. dan juga akuntabilitas tinggi serta diharapkan terwujudnya Good Governance. Pengaturan tentang pembagian dan pembatasan tugastugas ketatanegaraan yang juga bersifat fundamental. Sedangkan kemungkinan terjadinya ketidak-adilan dalam negara demokrasi jauh lebih kecil dibanding pada negara dimana kebebasan politik ditindas dan tidak ada satupun jaminan politik. yang menciptakan keadilan yang relatif.

yang mempunyai kewenangan mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar. Selanjutnya terbangun adanya 2 lembaga negara baru yaitu Mahkamah Konstitusi. serta untuk memberantas maraknya praktek mafia peradilan. yaitu pasal 28A. serta perilaku hakim. setelah perubahan bab IX menjadi 5 pasal dan 19 ayat. yaitu: dihapuskannya lembaga negara Dewan Pertimbangan Agung. Diubahnya kedudukan dan kewenangan Majelis Permusyawaratan Rakyat. 28C. dalam kehidupan sistem kekuasaan kehakiman. dan 28J. sehingga sebagai lembaga negara baru Komisi Yudisial masih harus menghadapi resistensi yang berat terutama dalam menghadapi hakim agung.Contoh pengaturan hak asasi manusia telah ditambahkannya pasal hak asasi manusia. dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. 28F. Paradigma lama sistem paradilan kita masih kental. Sedangkan lembaga baru yang kedua adalah Komisi Yudisial yang merupakan pilar kehidupan untuk menentukan roh moral para hakim agung. dan Komisi Yudisial (KY). 28B. Awalnya dalam Bab IX hanya terdiri 2 pasal dan 3 ayat. hal tersebut sebagaimana dalam perubahan ketiga UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. merupakan hasil reformasi khususnya di bidang peradilan. untuk menegakkan hukum dan keadilan. keluhuran martabat. yaitu Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Sedangkan perubahan pada materi yang kedua dan ketiga. memutus pembubaran partai politik. Perubahan yang sangat mendasar dalam hukum dasar Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. antara lain perubahan pada Bab IX yang mengatur Kekuasaan Kehakiman. 28G. 28E. Keberadaan Komisi Yudisial. 28I. memutus sengketa kewenangan Lembaga Negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar. 28D. menegakkan kehormatan. Mahkamah Konstitusi (MK). dan dibentuknya lembaga negara baru. hakim di bawah Mahkamah 266 Bunga Rampai . 29H. Menelaah Komisi Yudisial dari satu sudut pandang Geopolitik dan Geostrategi Indonesia tidak terlepas dengan pemahaman kita tentang politik dan strategi dalam melakukan reformasi hukum/peradilan.

toleransi dan hukum. sistem ketatanegaraan maupun sistem pemerintahan. dan bernegara secara universal dituangkan ke Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 267 . maka hal ini sangat terkait dengan tesis Harbermas. Jika kita kaitkan fenomena tersebut dalam sistem kemasyarakatan dan pemerintahan. oleh karena itu harus solid dan dapat mendorong proses akselarasi reformasi peradilan pada tataran fungsi dan tugas serta tingkatan para hakim. yang diucapkan oleh Mahatma Gandhi. melainkan selalu harus selalu berorientasi terhadap masalah-masalah rasional baik ideal maupun riil. tetapi kebangsaan saya adalah peri-kemanusiaan” (My nationalism is humanity). ”Saya seorang nasionalis. Atas dasar hal tersebut. pemahaman civic morality harus dituangkan dalam bentuk kewajiban lembaga Komisi Yudisial. jika kita melibatkan budaya. untuk menjaga kedaulatan dirinya. Komisi Yudisial dalam Sistem Geopolitik dan Geostrategi Indonesia.Agung. tanpa harus menjadi lembaga yang menyendiri. maupun hakim konstitusi. mengusulkan formula untuk menghilangkan ambivalensi dengan konsep aturan etika global yang merupakan rumusan seni politik sejati dengan menggabungkan politik riil dengan politik kontemporer dalam pembentukan civic morality suatu bangsa. Keduanya dikembangkan sebagai suatu konsepsi maupun sebagai realisme atas dasar perkembangan politik nasional. yang menyatakan bahwa terdapat ambivalensi dalam hukum dan demokrasi. Mengacu pada prinsip tersebut penerapan hukum yang didasarkan pada civic morality dalam kehidupan bermasyarakat. dalam arti demokrasi dan kebebasan tidak selalu berjalan beriringan. dan sesama bangsa di dunia. Hal tersebut sejalan dengan prinsip civic morality. untuk secara antisipatif mengawal negara sebagai negara hukum dengan segala sumber daya yang kita miliki. serta dengan cermat menyikapi karakter dan perubahan pola interaksi peradaban manusia dalam rangka menjaga martabat kemanusiaan. Menjawab hal ini Hans Kung. yang hidup dan tidak berada dalam ruang hampa. Yang dimaksud dengan sistem Geopolitik dan Geostrategi Indonesia adalah Wawasan Nusantara sebagai Geopolitik Indonesia dan Ketahanan Nasional sebagai Geostrategi Indonesia.

sesuai dengan tesisnya Donovan yang merujuk filsafat kata rekonsiliasi dalam kitab Vulgata. dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. spiritual. J. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Lahirnya sistem pemerintahan parlementer dan sistem pemerintahan presidensiil. Dalam sistem ketatanegaran terbentuk sistem hubungan antar lembaga-lembaga negara. Berdasarkan Pasal 24C Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. tersebut adalah basis geopolitik dan geostrategi suatu bangsa yang bermakna sebagai suatu upaya untuk memperoleh kekuatan bangsa dalam menjaga nasionalisme dan penegakkan hukum secara berkelanjutan. didasarkan pada Pasal 24C ayat (1) yaitu menyatakan: Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar.Wuest. memutus pembubaran partai politik. Mahkamah Agung (MA). yang dimaksud dengan lembaga negara pada pasal tersebut yaitu. lembaga negara adalah institusi yang diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945. yaitu rasionalitas. sebagaimana dikemukakan oleh C. Berdasarkan sumber tersebut.dalam bentuk empat pola tindak. Institusi lembagalembaga negara tersebut. 268 Bunga Rampai . F Strong dan S. yang mencakup keseluruhan lembaga-lembaga negara termasuk eksekutif. Dewan Perwakilan Daerah (DPD). dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). serta berpartisipasi aktif dalam hubungan kerja antar lembaga negara sebagai upaya mencapai cita-cita nasional. memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UndangUndang Dasar. maupun yudikatif. Mahkamah Konstitusi (MK). Presiden dan Wakil Presiden. kecuali dalam sistem pemerintahan negara. Witman & J. legislatif. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Sistem ketatanegaran mempunyai cakupan yang lebih luas dibanding dengan sistem pemerintahan. L. Civic morality. Komisi Yudisial (KY). budi pekerti dan toleransi dalam semangat rekonsiliasi. dan dikenal dalam bahasa Inggris disebut ”Cabinet Government” dan sistem ”Presidential Government” atau juga ”The fixed executive system”. Dalam sistem pemerintahan selalu terkait dengan hubungan antara lembaga eksekutif dan lembaga legislatif.

Pasal 1 ayat (2) diubah. dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (Pasal 1 ayat (2).yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar 1945. Sedangkan sebutan lembaga negara tertinggi sebelum perubahan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu Majelis Permusyawaratan Rakyat. khususnya perubahan ketiga. dan begitu seterusnya bahwa eksistensi negara hukum tergantung pada keberadaan bentuk negara republik. Demikian juga Komisi Yudisial dan ketujuh lembaga negara lainnya berkedudukan sama setingkat/sederajat. Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat dengan suara yang terbanyak (Pasal 6 ayat (2). Kekuasaan Negara yang tertinggi di tangan Majelis Permusyawaratan Rakyat (Penjelasan Umum tentang sistem Pemerintahan Negara). dan kekuasaan kehakiman juga terkait pada keberadaan cita negara hukum/Rechstaat. dan bentuk negara amat sangat tergantung oleh paham atau sistem Kedaulatan Rakyat/Volkssouvereineteit (sumber Sutjipno). Dengan demikian. Selanjutnya setelah reformasi berjalan terjadilah perubahan Undang-Undang Dasar 1945. kedelapan lembaga negara tersebut berkedudukan setingkat sama. Dengan demikian juga setelah perubahan terhadap Undang-Undang Dasar selain tidak ada lembaga negara tertinggi juga tidak ada lagi lembaga tinggi negara. Kedudukan lembaga-lembaga negara didasarkan atas tugas dan kewenangannya. didasarkan pada: Kedaulatan adalah di tangan rakyat. Majelis Permusyawaratan Rakyat adalah penjelmaan seluruh rakyat Indonesia. Berdasarkan perubahan terhadap Pasal 1 ayat (2). Sehubungan prinsip tersebut bagaimana keterkaitannya dengan geopolitik dan geostrategi Indonesia khususnya diimplementasikan dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945. yang tentunya Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 269 . selaku hukum tata negara Indonesia. Keberadaan kekuasan kehakiman. sehingga berbunyi: Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UndangUndang Dasar”. Majelis Permusyawaratan Rakyat tidak lagi menjadi lembaga negara tertinggi. Ditarik dari keberadaan hakim juga terkait dengan keberadaan kekuasaan kehakiman. atau kekuasaan yudikatif mempunyai konsekuensi logis menentukan adanya hakim sebagai subyek pelaksana dari kekuasaan kehakiman. atau kekuasaan yudikatif.

Ini menunjukkan peran politik begitu dominan. Apalagi hakim agung duduk pada tingkat peradilan tertinggi (puncak) dalam susunan peradilan di Indonesia sehingga ia menjadi tumpuan harapan bagi pencari keadilan. dan ayat (4). (2) Anggota Komisi Yudisial harus mempunyai pengetahuan dan pengalaman di bidang hukum serta memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela. (4) Susunan. namun lolosnya calon hakim agung yang diseleksi oleh Komisi Yudisial belum mendapat jaminan untuk seluruhnya diterima oleh DPR-RI terutama Komisi III. serta perilaku hakim. Ketentuan ini didasarkan pemikiran bahwa hakim agung yang duduk di MA dan para hakim merupakan figur yang sangat menentukan dalam perjuangan menegakkan hukum dan keadilan. dan merupakan tantangan berat bagi Komisi Yudisial untuk menunjukkan bahwa calon hakim agung yang diusulkan betul-betul dapat dipertanggungjawabkan dan diterima sebagai calon yang telah memenuhi persyaratan termasuk persyaratan dari sisi politis. hasil perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. masalah kehormatan dan 270 Bunga Rampai .mengalami perubahan yang sangat fundamental terutama pada pasal-pasal dan ayat-ayatnya. sangat menentukan manusia sebagai hakim yang mempunyai hati nurani tinggi. (3) Anggota Komisi Yudisial diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. ayat (3). Selanjutnya Kewenangan Komisi Yudisial. ayat (2). dan keanggotaan Komisi Yudisial diatur dengan undang-undang. kedudukan. Sebagai negara hukum. keluhuran martabat. rumusan kewenangan Komisi Yudisial (KY) sebagaimana tercantum dalam Pasal 24B ayat (1). Rumusan sebagai berikut: Pasal 24B (1) Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

”sebelum Komisi Yudisial terbentuk. sebelumnya merupakan wewenang Mahkamah Agung.keluhuran martabat. Melalui Komisi Yudisial diharapkan dapat diwujudkan lembaga peradilan yang sesuai dengan harapan rakyat sekaligus dapat diwujudkan penegakkan hukum dan pencapaian keadilan yang diputus oleh hakim yang terjaga kehormatan dan keluhuram martabat serta perilakunya. perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. memuat ketentuan mengenai pembentukan lembaga di bidang kekuasaan kehakiman bernama Komisi Yudisial (KY) yang merupakan lembaga yang bersifat mandiri. Menurut ketentuan Pasal 24B ayat (1). Untuk itu. Outsourcing kinerja Komisi Yudisial ini dapat terwujud manakala semua anggota Komisi Yudisial solid. ”calon hakim agung diusulkan Komisi Yudisial kepada DPR untuk mendapatkan persetujuan dan selanjutnya ditetapkan sebagai hakim agung oleh Presiden”. profesional. Kewenangan yang sangat besar yang diberikan kepada Komisi Yudisial merupakan tantangan besar untuk dapat mewujudkan hakim agung yang profesional dan proporsional. pengajuan calon hakim agung dilakukan Mahkamah Agung untuk mendapatkan persetujuan DPR dan selanjutnya ditetapkan sebagai hakim agung oleh Presiden”. Sedangkan pada Pasal 20A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menentukan. serta perilaku hakim merupakan hal yang sangat strategis untuk mendukung upaya menegakkan peradilan yang handal dan realisasi paham Indonesia adalah negara hukum. tentang Kekuasaan Kehakiman. Ujian berat bagi Komisi Yudisial saat ini adalah untuk pertama kalinya bangsa Indonesia memberikan kewenangan penuh untuk menjaring para calon hakim agung yang diselenggarakan oleh Komisi Yudisial. Komisi Yudisial berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai kwenangan lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta perilaku hakim. reformis. Menurut ketentuan tersebut. dan berpikir jernih untuk memutuskan calon hakim agung yang bermoral. memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela adil. proporsional. komitmen untuk Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 271 . berdasarkan Pasal 80A Undang-Undang nomor 5 Tahun 2004 Tentang perubahan Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985.

berwa- 272 Bunga Rampai . Tentu kita sebagai bangsa Indonesia yang berdaulat dan mempunyai jati diri Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. agar kita dapat membangun sistem peradilan yang mandiri dan dilandasi pada jati diri bangsa kita sendiri. agar kita dapat memberikan rasa adil dan sejahtera pada seluruh komponen bangsa Indonesia. karena bangsa Indonesia ini penuh dengan keanekaragaman.memberantas mafia peradilan. melainkan bisa menjadi milik siapa saja. harus dijunjung tinggi norma-norma lokal sebagai pondasi kehidupan sistem peradilan Indonesia. Bukan hanya pemimpin tingkat nasional sampai pada terendah. saat ini masih dalam proses transisi dibutuhkan orientasi-orientasi baru terutama pemahaman tentang geopolitik dan geostrategi Indonesia yang begitu cepat perubahannya. Dalam hubungannya dengan budaya. sehingga diperlukan suatu tolak ukur apakah seseorang tadi didalam menjalankan tugasnya telah memiliki wawasan yang luas dan jauh menjangkau rasa cinta tanah air. (hal tersebut perlu dikaji lebih mendalam). tidak heran kalau masih terjadi kendala dalam sistem peradilan kita yang tentunya harus dapat diselesaikan oleh kita. Profesionalitas tidak hanya dimiliki oleh kelompok tertentu saja. sehingga kerja sama dengan lembaga-lembaga yang mempunyai fungsi yudikatif sangat dibutuhkan. dan mempunyai budi pekerti luhur. sangat diperlukan karena selama ini telah terjadi dan terbentuk di Indonesia sistem hukum modern yang melahirkan watak liberal. untuk memperkuat kemandirian Komisi Yudisial. proses pembangunan budaya berhukum yang baru (paradigma baru budaya berhukum) yang diciptakan oleh Komisi Yudisial. maka peran budaya juga tidak bisa dilepaskan sebagai pilar kekuatan Komisi Yudisial. Negara hukum Indonesia sampai saat ini masih diwarnai oleh pengaruh budaya liberal. dan perlu dipikirkan wadah konsultasi lembaga yudisial tanpa mengurangi kemandirian dari tugas dan fungsi serta tanggung jawab masing-masing lembaga. dan menjadikan pondasi dalam sistem peradilan di Indonesia. dalam memperkuat Negara Indonesia adalah Negara Hukum. dan memahami serta mengerti betul tentang cara kerja dan kultur peradilan yang lama. Komisi Yudisial lahir dari hasil reformasi.

Demikian juga para anggota Komisi Yudisial. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 273 . maksudnya antara lain memiliki kandungan kecintaan terhadap tanah air bangsa Indonesia yang sangat kuat. keluhuran martabat. sebagai wujud nyata sifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Penutup Hasil reformasi dan demokrasi. Fungsi pengawasan yang dilakukam oleh Komisi Yudisial sebagai lembaga negara yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. serta perilaku hakim. di bidang peradilan memberikan peluang yang besar bagi bangsa Indonesia. keluhuran martabat.wasan kebangsaan. selain tentu moral dan etika profesinya yang harus dijunjung. Semua elemen bangsa harus dapat memahami dan mengerti serta melaksanakan apa yang menjadi wewenang Komisi Yudisial sebagai lembaga negara baru yang telah diberikan wewenang berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. yaitu melakukan revitalisasi yang sebelumnya wewenang tersebut menjadi wewenang lembaga Mahkamah Agung. Dalam rangka untuk mewujudkannya diperlukan orientasi baru. Wawasan kebangsaan dan kenegarawanan. untuk melakukan perbaikan dan langkah strategis untuk memberantas mafia peradilan yang bertentangan dengan norma dan etika peradilan. dari mulai hakim agung sampai pada hakim pengadilan negeri. kenegarawanan. dan merupakan lembaga negara baru yang masih belum tersosialisasikan kepada seluruh elemen bangsa baik yang berada di dalam lembaga negara lainnya maupun di dalam masyarakat luas. mempunyai peran yang sangat vital di bidang peradilan. serta perilaku hakim. dan mempunyai komitmen tinggi terhadap keutuhan wilayah kedaulatan negara Republik Indonesia. yang akan menentukan calon-calon hakim agung. Komisi Yudisial harus dapat membangun ideologinya sendiri. diperlukan suatu sharing pengalaman dan mensinergikan menjadi kekuatan wewenang Komisi Yudisial.

Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia. Global Geostrategy. 2006. Vol. Jakarta. Bandung. Jakarta. Crane.2000.1961. Jakarta. Coins s. Prentice Hall. Sekretariat Jenderal MPR RI. 274 Bunga Rampai . PT Alumni. Cal Stanford University Press. Moh. Blout. Demokrasi. 1 No. PT Rinneke Cipta. NY. Gray. Wasserstrom. Mahfud MD. Lemhannas RI Jakarta. Taylor & Prancis. Jakarta. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. ”Menjaga Jarum Sejarah Amandemen UUD. 1966. 1996. B. Stanford.W. Hukum Dasar Geopolitik dan Geostrategi Dalam Kerangka Keutuhan NKRI. New York University Press.Daftar Pustaka Abraham. Cooper Phillip. Modern Political Constitution. NY. The English Language Book Society. Program Pascasarjana Universitas Jayabaya. London. The Judiciary. “Hukum Progresif. 2006. Permasalahan Aktual dan pentingnya Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. Sri Soemantri. Howars. Bunga Rampai Refleksi Satu Tahun. Henry J. “Hukum yang Membebaskan”. New Jersey. 2005. 2005.. Moh. Strong. Penerbit suara Bebas. 2005. The Supreme Court in The Govermental Process.” tulisan disiapkan untuk buku HUT Mahkamah Konstitusi Tahun 2006. Mahfud MD. The United States Supreme Court.F. The Geopolitics Of The Nuclear Era New York. Richard A. Toword a Theory of Legal Justification. Rahardjo. Ermaya suradinata. Saragih. Mackinder and The Defence of The West. dalam Jurnal hokum Progresif. 2007. Russak & Company. Bintan Regen. dan Ball. 1996. The Judicial Decision. 1997. Sdigwick and Jackson Limited.1. Inc. Prosudur dan system Perubahan Konstitusi. 2005. Ermaya suradinata. C. 2006. Satjipto. Komisi Yudisial Republik Indonesia.

melainkan juga rekomendasi KY untuk memberi sanksi hakim-hakim nakal dapat menimbulkan efek jera. Pendahuluan Pasal 22B Ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 (UUD) menegaskan eksistensi Komisi Yudisial (KY) yang bersifat mandiri dan berwenang mengusulkan hakim agung. Padahal. yang justru berasal dari lembaga yang seharusnya secara bersama menegakkan harkat dan martabat peradilan. Sayang. dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Kehadiran KY pada hakikatnya dimaksudkan menjawab tuntutan masyarakat agar prinsip-prinsip demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan terakomodasi melalui lembaga yang akuntabel dan independen. merupakan kewenangan KY yang amat krusial. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 275 . Dalam melakukan pengawasan terhadap hakim. sebetulnya KY telah berhasil membangun budaya kontrol yang membuat para hakim lebih berhati-hati. harapan masyarakat pada KY bukan hanya mencari dan menemukan sosok calon hakim agung yang kredibel atau menjaga perilaku hakim dari perbuatan tercela. keluhuran martabat. serta perilaku hakim.Memulihkan Kewenangan Komisi Yudisial Dengan Melibatkan Kemitraan (Jejaring) di Daerah Marwan Mas A. Kehadiran berbagai lembaga negara baru seperti KY telah menandai berjalannya proses transisi menuju demokratisasi yang sesungguhnya. Mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan menegakkan kehormatan hakim. dalam perjalanan pelaksanaan tugas dan wewenang KY mendapat hambatan.

mutasi. Pemilahan dan penentuan prioritas pembenahan menjadi sangat penting dipahami oleh mitra yang dibangun. tetapi juga panitera dan administrasi. Sebab sudah menjadi rahasia umum. paling tidak diharapkan memberikan dampak positif dalam mengefektifkan pelaksanaan tugas dan wewenang KY. Untuk menunjang proses peradilan yang lebih bermartabat. dan memberikan masukan dalam pengangkatan ketua/wakil ketua MK. mulai dari sumber daya manusia. 276 Bunga Rampai . Italia. Kompleksitas permasalahan yang melingkupi pengadilan Indonesia. keberadaan komisi semacam ini sudah merupakan hal yang jamak dan dibutuhkan. Proses tersebut berawal dari panitera yang meregister dan membagikan perkara kepada hakim. soal penyimpangan hakim tidak berdiri sendiri tetapi terdesain dalam suatu mafia yang amat sulit dibuktikan. Salah satu cara untuk mengawasi perilaku hakim. maka tugas dan wewenang KY perlu ditunjang oleh mitra di daerah. meskipun berbeda pada pelaksanaan fungsi dan perannya. serta perilaku hakim. pengawasan. Peran mitra di daerah. Di Afrika Selatan.Kiranya perlu dipahami bahwa pembentukan KY selain diarahkan untuk menciptakan sebuah lembaga pengawas dalam kekuasaan yudikatif. mestinya objek pengawasan KY tidak hanya hakim. Di negara-negara Eropa Selatan seperti Perancis. dan pendisiplinan hakim. mengajukan calon ketua MA. dan berakhir pada hakim yang memeriksa dan menjatuhkan putusan. managemen organisasi. termasuk bagaimana peran mitra KY memberikan informasi dalam mendukung pelaksanan tugas dan wewenang KY. dan Spanyol. kewenangan komisi ini jauh lebih signifikan karena memiliki kewenangan yang cukup luas seperti rekrutmen hakim. Berbagai kasus yang terungkap ke publik. Di sejumlah negara. tetapi juga panitera yang mendaftar perkara. penyimpangan di lingkungan peradilan yang merugikan masyarakat tidak hanya menyangkut hakim. promosi. keluhuran martabat. KY memberikan rekomendasi untuk pemberhentian hakim. KY telah membangun kemitraan (jejaring) di daerah-daerah. juga bermakna untuk menjaga dan menegakkan kehormatan. peran pegawai peradilan yang mengontak pengacara atau pencari keadilan. sumber daya penunjang dan sebagainya.

perlu pemulihan kewenangan KY untuk mengungkapkan modus operandi dan upaya pemberantasan mafia peradilan. Begitu juga terhadap penanganan administrasi peradilan. akuntabel dan berwibawa. Para pencari keadilan begitu sulit mendapatkan pelayanan peradilan yang jujur. penyusunan berita acara pemeriksaan (BAP). karena dalam realitasnya telah menghilangkan akses keadilan bagi masyarakat dan pencari keadilan.B. Desain ini mirip dengan fungsi yang diberikan kepada Judicial Commission di New South Wales. Sementara keputusan KY berkaitan dengan pelanggaran perilaku hakim hanya berupa rekomendasi yang intinya mengusulkan penjatuhan sanksi. pembuatan laporan Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 277 . Memulihkan Kewenangan KY Dalam menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat. Memang secara legalistik. seperti prosedur penerimaan perkara dan registrasi perkara. Australia. pembuatan daftar persidangan. kearsipan perkara. pembukuan keuangan perkara. dan eksekusi. Oleh karena itu. Sayang. KY tidak berwenang memeriksa aspek teknis yudisial seperti kemampuan hakim menangani perkara. Dalam kondisi demikian. termasuk proses persidangan yang murah. Pentingnya pengawasan hakim dari pengaruh mafia peradilan. kualitas putusan. rekomendasi KY tidak mendapat respon positif MA sehingga ide awal pembentukan KY dalam UUD tidak berjalan sebagaimana mestinya. serta perilaku hakim. sehingga memerlukan jaringan kerjasama dalam rekrutmen calon hakim agung dan pengawasan terhadap para hakim. sederhana dan cepat. Salah satu upaya tersebut adalah perlunya penguatan pengawasan dan peran serta masyarakat dalam mengontrol praktek peradilan. KY dipersepsikan dalam UUKY untuk tidak mencampuri teknik yudisial. KY sebagai lembaga negara yang mandiri berkepentingan dan berkomitmen untuk terus menjalin kerjasama dengan berbagai elemen masyarakat. tenggang waktu penyelesaian perkara. dibutuhkan peran masyarakat melalui mitra yang dibentuk KY untuk terlibat langsung dalam mendukung pelaksanaan tugas dan wewenang KY. terutama yang concern terhadap proses reformasi peradilan demi terciptanya sistem peradilan yang bersih. Reformasi peradilan sebagai agenda utama KY tidak akan berhasil seperti yang diharapkan.

khususnya eksekutif dan legislatif untuk mempengaruhi putusan hakim. Sukses atau tidaknya pengawasan KY. dan eksekusi peraturan. Penilaian atas perilaku hakim dalam menangani perkara yang ternyata menuai keberatan pencari keadilan merupakan bagian dari tanggung jawab hakim. Kedua aspek ini tetap dipegang oleh pengawas internal MA. Namun. Wewenang KY mengawasi perilaku hakim demi menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat hakim. Penyebab maraknya korupsi di lembaga peradilan (judicial corruption) yang mesti jadi perhatian mitra KY di daerah. Kedua.perkara. berkas perkara dapat saja diperiksa KY. Mitra atau jejaring yang ada di masyarakat dapat menjadi mata dan telinga KY. Mitra (jejaring) KY yang ada di daerah merupakan representasi pengawasan masyarakat. Kesemuanya diarahkan untuk meningkatkan prestasi kerja hakim dalam menyelesaikan perkara dengan cepat. dan kualitas putusan harus dapat dirasakan oleh pencari keadilan. sebab memeriksa dan memutus perkara merupakan sebuah tanggung jawab seperti “kemampuan menangani perkara” yang memberikan keadilan. hakim bisa berkolusi dengan kekuasaan untuk memenangkan suatu perkara. jujur. memang tidak sampai pada soal “teknis yudisial” karena terkait independensi hakim (independence of judiciary) dalam memeriksa dan memutus perkara. Pertama. Berdasarkan laporan 32 negara yang dimuat 278 Bunga Rampai . Pemeriksaan KY terletak pada penilaian hakim terhadap fakta-fakta persidangan yang dituangkan dalam putusan dengan menelusuri apakah terjadi penyimpangan perilaku hakim. adanya intervensi atau campur tangan dari pihak luar. menjadi taruhan kepercayaan masyarakat pada lembaga peradilan. penyuapan yang dapat terjadi sepanjang proses peradilan. Pada aspek ini. Intervensi model ini telah membudaya melalui forum musyawarah pimpinan daerah (Muspida) yang memberi ruang bagi eksekutif dan legislatif untuk mempengaruhi lembaga peradilan. dapat dilihat pada dua aspek. sebagai bagian dari pengawasan masyarakat terhadap hakim. jika ada fakta-fakta perilaku hakim yang tercela dalam berkas perkara yang berakibat dikeluarkannya putusan. KY dapat mengapresiasi perilaku hakim yang menyimpang dengan melakukan interpretasi.

sedangkan KY melakukan pengawasan eksternal untuk menumbuhkan tanggung jawab hakim sebagai benteng terakhir penegakan supremasi hukum dengan memeriksa dan memutus perkara secara benar dan adil. Posisi KY sebagai pengawas eksternal yang bersifat independen. Pemulihan kewenangan KY dalam menjaga dan mengawasi perilaku hakim harus terakomodasi dalam perubahan UUMA dan UUMK. Justru MA dapat memanfaatkan KY untuk membantu menegakkan martabat hakim. Fungsi pengawasan MA bersifat internal. sebagian hakim dapat disuap untuk memperlambat atau mempercepat proses pengadilan. Kewenangan KY mengawasi hakim dan hakim konstitusi sebagaimana dimaksud dalam UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (UUKY). kehadiran KY tidak perlu dianggap sebagai rival. menerima atau menolak permintaan banding. seharusnya direspons positif. Sinkronisasi ketiga UU selain dimaksudkan memulihkan ke- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 279 . Jika yang menjadi tujuan adalah tegaknya martabat hakim. Temuan KY dalam memeriksa perilaku hakim yang menyimpang yang kemudian direkomendasikan kepada MA. dan UU Nomor 24 Tahun 2002 tentang Mahkamah Konstitusi (UUMK). mempengaruhi rekan sesama hakim atau sekedar menjatuhkan putusan tertentu. Padahal. UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung (UUMA). bertujuan untuk menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat hakim. Sayang.dalam Global Corruption Report 2007. kewenangan KY untuk menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat hakim telah diamputasi oleh putusan MK Nomor: 005/PUU-IV/2006 tanggal 23 Agustus 2006. pengawasan dari aspek administrasif berkaitan dengan proses peradilan tetap ada pada MA. termasuk pengawasan fungsional oleh Dewan Kehormatan Hakim Agung. terkesan telah membonsai kewenangan KY sehingga perlu dipulihkan dengan mensinkronkan UUKY. “Faktor kedua inilah yang paling krusial. Efektivitas pengawasan hakim seharusnya berjalan sinergis. Salah satu yang menghambat efektivitas pelaksanaan tugas dan wewenang KY adalah timbulnya sikap MA yang merasa kewenangan pengawasannya diambil alih KY.” tandasnya. yang mengakibatkan maraknya korupsi di pengadilan.

bahwa penilaian perilaku dilakukan dengan penilaian putusan. 280 Bunga Rampai . Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 menyiratkan bahwa KY hanya dapat mengawasi pelaksanaan kode etik dan kode perilaku hakim dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan hakim. Putusan MK yang mencabut pengawasan KY terhadap dirinya (hakim konstitusi) merupakan tindakan yang berlebihan. Menurut MK.wenangan KY. MK adalah lembaga negara yang paling steril dari sentuhan pengawasan dari luar dirinya (pengawasan ekstern). Pertama. yaitu mengenai putusan hakim atas suatu perkara. MK menilai. juga menambal kekosongan hukum di bidang pengawasan terhadap badan peradilan dan hakim yang dilakukan KY seperti diperintahkan Pasal 24B Ayat (1) UUD. hal tersebut menyebabkan adanya penafsiran yang tidak tepat. Para hakim Konstitusi tidak digolongkan sebagai hakim seperti hakim MA dengan alasan demi independensi dalam memeriksa dan menjatuhkan putusan. Praktik mafia peradilan diperkirakan akan semakin menjadi-jadi karena perilaku hakim tidak lagi diawasi dan dikontrol oleh lembaga lain (KY). Dalam pertimbangan hukumnya. MK secara sistematis melemahkan fungsi dan peran KY dengan cara ”membonsai” kewenangan KY dalam mengawasi perilaku hakim. KY tidak berwenang mengawasi hakim yang berkaitan dengan teknis yudisial. Saat ini. pengawasan dari dalam tidak maksimal. Padahal. KY tidak berwenang mengawasi hakim MK. Kedua. tetapi hanya diawasi sendiri oleh temannya sesama hakim. MK secara arogan telah mengabaikan prinsip checks and ba-lances yang menjadi roh bangunan kelembagaan negara dengan tidak rela diawasi dan dijaga kehormatan dan perilakunya oleh lembaga lain. Putusan MK yang perlu diapresiasi menyangkut kewenangan KY pada Kamis 23 Agustus 2006 terdiri dari dua bagian. Keberadaan hakim konstitusi yang tidak termasuk dalam pengertian hakim yang dapat diawasi perilaku etiknya oleh KY merupakan putusan diskriminatif. pengawasan atas pelaksanaan kode etik hakim konstitusi dilakukan Majelis Kehormatan sesuai dengan ketentuan Pasal 23 UU MK sebagai pelaksanaan Pasal 24C Ayat (6) UUD.

tetapi lagi-lagi diabaikan MA. KY mempunyai wewenang menjaga dan mengawasi perilaku hakim. tidak sedikit oknum hakim yang menerima suap dalam menangani perkara seperti terungkap di media. Malahan tiga anggota hakim non-karir diganti dan kini diperiksa Pengadilan Tinggi Jakarta karena walk out dalam lima kali Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 281 . dan realitas menunjukkan terciptanya potensi rivalitas yang mengarah pada krisis kelembagaan. UUMA juga mengatur bahwa MA berwenang pula melakukan pengawasan terhadap kecakapan hakim dan perbuatan tercela dari hakim. Penolakan Ketua MA bersaksi ternyata disikapi KY dengan memeriksa ketua majelis hakim. tetapi tak satupun dari enam rekomendasi KY yang direspon MA. Adanya dua versi pedoman perilaku hakim. Satu Pedoman Perilaku Hakim Pasal 14 UU Nomor 22/2004 tentang Komisi Yudisial sebagai derivasi Pasal 24B UUD 1945 menegaskan. tidak menutup kemungkinan ada hakim yang akan mencari peluang untuk keuntungan sendiri dengan melanggar salah satu pedoman perilaku hakim. seperti pada soal rekrutmen hakim agung atau saat Ketua MA mengabaikan enam rekomendasi KY untuk menghukum hakim yang telah diperiksa karena melakukan penyelewengan. Di lain pihak. Apalagi perseteruan MA-KY selama ini cukup memprihatinkan. Sedangkan tidak diberi peluang menerima hadiah sesuai “sumpah hakim”. Hadiah sebagai penghalusan suap (gratifikasi) dalam kode etik yang dibuat MA. Alih-alih menjaga harkat dan martabat hakim. Bila hakim terpaksa harus menaati dua versi pedoman perilaku hakim (Code of Conduct). Harini Wijoso. bahkan ada yang diproses di pengadilan. apalagi kalau memang diberi peluang. kalau pada aspek lain ada ketentuan yang membolehkan hakim menerima hadiah yang berlawanan dengan sumpahnya. Termasuk saat Ketua MA dihambat ketua majelis hakim Pengadilan Khusus Korupsi untuk hadir bersaksi dalam sidang perkara suap pegawai MA oleh pengacara Probosutedjo. tak pelak akan semakin menjadi-jadi di kalangan hakim. Kresna Menon dan hasilnya direkomendasikan kepada MA agar yang bersangkutan diberhentikan sementara selama satu tahun untuk tidak menangani perkara. maka rivalitas kewenangan akan kontra-produktif. Keduanya diberi wewenang hal yang sama.C.

Penyatuan dalam satu atap korps hakim (tidak lagi secara administrasi berada di bawah Menteri Kehakiman dan HAM).perlu duduk bersama merancang dan menetapkan satu pedoman perilaku hakim. Perlu kesadaran dan keprihatinan bersama antara MA dengan KY dalam melihat dan menyikapi persoalan penegakan hukum. padahal konstitusi dan UUKY memberi kewenangan untuk mengawasi dan memeriksa hakim-hakim nakal. Padahal. Tentu saja para hakim akan mengikuti kode etik yang dibuat MA sebagai lembaga yang menaunginya.sidang yang bersikukuh agar Ketua MA dihadirkan bersaksi. Kalau pedoman perilaku hakim versi MA membolehkan 282 Bunga Rampai . dan MK --yang hakimnya mestinya juga diawasi KY. Dalam kondisi demikian. Demi independensi. karena selain membingungkan hakim. MA. Sebaliknya. Penerapan dua pedoman perilaku hakim sudah pasti akan menimbulkan implikasi hukum yang pada akhirnya mengancam kewibawaan MA-KY. terlebih adanya tudingan mafia peradilan. Resistensi MA terhadap rekomendasi KY. termasuk nantinya pada pedoman perilaku hakim yang dibuat KY. tidak lebih dari sikap “arogansi” MA yang selalu berlindung di balik jubah independensi. MA seakan lembaga yang kebal dari sentuhan pengawasan lembaga lain atau pengawasan masyarakat dengan mengabaikan konstitusi. kode etik versi KY akan diabaikan. Tetapi para hakim juga sudah maklum kalau rekomendasi KY akan diabaikan MA seperti nasib enam rekomendasi KY. KY. Mestinya Ketua MA lebih peka atas berbagai keborokan di lingkungan peradilan. Rivalitas kewenangan dalam mengawasi perilaku hakim akan semakin memperpuruk citra lembaga peradilan Indonesia. meskipun nantinya bisa dipanggil untuk diperiksa KY dan kemungkinan akan direkomendasikan ke MA agar diberi sanksi. baiknya dijadikan momentum oleh MA untuk memperbaiki institusi peradilan yang selama ini disoroti publik. wibawa KY akan jatuh dan tidak lebih dari “macan kertas” yang tidak bergigi. kedua lembaga negara dalam lingkungan peradilan ini diharapkan berperan aktif dalam menjaga keluhuran peradilan. Tidak akan efektif kalau masingmasing membuat pedoman perilaku hakim. juga akan memberi peluang untuk dimanipulasi.

akan semakin memperlebar jurang perbedaan yang pada akhirnya hanya akan merugikan penegakan hukum yang bersandar pada rasa keadilan masyarakat. Ketua MA. Alasan membolehkan hakim menerima hadiah terkesan dibuat-buat dan menggelikan.. Pernyataan ini telah mereduksi harapan publik agar hakim memiliki integritas yang tinggi. Ketua MA boleh saja beralasan tidak akan berpengaruh pada independensi hakim. ternyata menoleransi hakim menerima hadiah dari orang yang berperkara. apalagi dari pihak yang berperkara. tidak menerima apa pun yang patut diduga berkaitan dengan jabatan .” Olehnya itu. MA mengabaikan sumpah hakim. dan aparat hukum menerima gratifikasi. Pedoman perilaku hakim versi MA dikecam berbagai kalangan karena memuat ketentuan yang membolehkan seorang hakim menerima hadiah dari pihak lain. karena akan menghambat pemberantasan judicial corruption yang terstruktur dan institusional. yaitu untuk menghindari kekecewaan orang dan tidak tega menolak pembe- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 283 . hakim yang menerima sesuatu atau hadiah selain termasuk gratifikasi juga dinilai sebagai unprofessional conduct. pegawai negara. Bahkan. Bagir Manan (Media Indonesia. Di sinilah dituntut kesadaran keduanya (termasuk MK) untuk secara bersama membuat satu pedoman perilaku hakim. bertentangan dengan Pasal 12B UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang melarang penyelenggara negara. Sebab. Pedoman perilaku hakim versi MA menetapkan 10 pedoman perilaku hakim.. juga mewujudkan sinergi dan saling menghormati wewenang. memberi peluang bagi hakim menerima hadiah (gratifikasi) sangat riskan dan berbahaya.. Jika masing-masing membuat pedoman perilaku hakim dengan subjek yang sama. untuk ”. hakim boleh saja menerima hadiah asalkan jumlahnya wajar dan tidak ada tendensi mempengaruhi hakim dalam memeriksa dan menjatuhkan putusan. tetapi alasan yang diberikan tidak sesederhana itu. tentu tidak lagi proporsional di tengah upaya merebut kembali citra peradilan Indonesia. karena selain menghindari rivalitas dan krisis kelembagaan.. 27/6/2006) menyatakan. misalnya sekotak kue atau sepotong kain batik biasa. dan pada sub-bagian berperilaku jujur..hakim menerima hadiah.

bahkan pada 6 Juli 2007. memotivasinya untuk berani melaporkan rekam jejak para calon hakim agung yang sedang diseleksi KY dan DPR. juga perlu perhatian KY. perlu menyimak kritikan Charles Sampford (1998) dalam teori ”the disorder theory of law” yang memandang hukum tidak identik dengan bangunan yang penuh keteraturan logis-rasional. mana yang harus dipatuhi para hakim? Apakah pedoman perilaku hakim yang dibuat lembaganya (MA) atau pedoman perilaku hakim yang dibuat KY sebagai lembaga yang memang diberi wewenang oleh konstitusi untuk mengawasi perilaku hakim? D. hakim-hakim di republik ini sering hanya mendahulukan kepentingan perutnya ketimbang mengimplementasikan rasa keadilan masyarakat. Paling tidak. serta perilaku hakim yang menyimpang. tetapi sesuatu yang bersifat cair yang perlu dihidupkan oleh pelaksana hukum. Rivalitas dan perseteruan MA-KY mestinya sudah harus berakhir dengan duduk bersama merancang satu pedoman perilaku hakim. Timbul pertanyaan. Penutup Untuk lebih memaknai tugas dan wewenang KY. Berbagai survei dan pengaduan masyarakat yang terungkap di media massa menyebutkan. Hukum tidak selalu dimaknakan “machine justice” sehingga hakim harus menjaga hak-hak komunitas dan konstitusionalitas rakyat. Untuk mengefektifkan pelaksanaan tugas dan wewenang KY. Hanya dengan cara itu. DPR telah memilih enam hakim agung dari 18 284 Bunga Rampai . Munculnya polemik atas hasil rekrutmen KY terhadap calon hakim agung. hanya akan menambah kekisruhan dalam mengawasi perilaku hakim. Kendati proses seleksi calon hakim agung telah dilakukan KY. maka mitra (jejaring) KY yang ada di daerah harus dilibatkan secara maksimal. calon hakim agung dan para hakim dapat terjaga integritas dan kredibilitasnya dalam menyelenggarakan peradilan yang memihak pada rasa keadilan masyarakat. Pedoman perilaku hakim yang masing-masing dibuat oleh KY dan MA. Di dalamnya selalu ada ruang ekstra (leeway) yang dapat digunakan untuk menghidupkan nilai-nilai kehidupan sosial dan rasa keadilan masyarakat.rian yang dapat menyakiti hati orang yang memberi.

calon yang diajukan KY. seyogyanya diapresiasi agar tidak terulang di kemudian hari. Keberatan salah seorang anggota KY atas penetapan 12 calon hakim agung yang merasa tidak dilibatkan dalam rapat pleno. serta keluhan sejumlah calon hakim agung yang berasal dari hakim karir yang mengikuti tes. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 285 . tidak berarti KY harus berpuas diri. Termasuk jumlah dana yang amat besar digunakan dalam seleksi. bahwa mereka direndahkan oleh tim seleksi KY dari cara bertanya yang terkesan menyudutkan.

286 Bunga Rampai .

berbagai kontroversi tersebut dapat dilihat mulai dari lambatnya proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh kepolisian dan kejaksaan dalam penanganan suatu kasus. proses penundaan persidangan tanpa alasan yang jelas sampai kepada pelaksanaan putusan pengadilan yang kadang kala tidak jelas waktunya. sipir penjara dan advokat). pegawai administrasi dengan pangkat tertinggi sampai dengan pangkat terendah di lembaga penegakan hukum. 1 Pendahuluan Peradilan Indonesia saat ini dipenuhi kontroversi demi kontroversi. hakim. Selain itu dari berbagai penelitian yang dilakukan oleh berbagai lembaga swadaya masyarakat diperoleh data bahwa aktor-aktor yang terlibat pun sudah demikian luas.H. jaksa. banyaknya pungutan di luar biaya administrasi resmi saat kasus telah masuk ke pengadilan. Semua hal tersebut diperparah dengan sering munculnya putusan pengadilan yang tidak mencerminkan rasa keadilan masyarakat.Urgensi dan Fungsi Pembentukan Jejaring di Daerah Oleh Komisi Yudisial Asep Rahmat Fajar. S. yaitu dimulai dari seluruh aparat penegak hukum (polisi. Apabila dirangkum dalam suatu kesimpulan umum. sehingga tidak heran apabila dalam sebuah media nasional pernah disebutkan bahwa seorang koruptor yang “merampok” uang negara milyaran rupiah hukumannya tidak beda jauh dengan seorang yang maling 4 karung bawang merah di pasar. sampai dengan kalangan in- 1 Tenaga Ahli Komisi Yudisial Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 287 .

conflict of interest. nepotisme. penghilangan data atau berkas pengadilan. Praktek-praktek judicial corruption ini secara kolektif dikenal dengan sebutan mafia peradilan. Fakta yang secara selintas disebutkan di atas menyebabkan berbagai laporan lembaga di dalam maupun luar negeri yang menyebutkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat korupsi tertinggi di dunia menjadi cukup valid dan tidak dapat disanggah sama sekali. sikap tunduk kepada campur tangan luar/dalam pada saat memutus perkara karena adanya tekanan. hakim dan advokat). Sedangkan secara khusus dapat dilakukan dalam bentuk mencari atau menerima berbagai macam keuntungan atau janji berdasarkan penyalahgunaan kekuasaan kehakiman atau perbuatan lainnya. 288 Bunga Rampai . ancaman. kinerja aparat penegak hukum sekarang ini memang berada pada titik nadir yang cukup mengkhawatirkan.telektual yang menjadi saksi ahli. Bahkan Daniel Kauffmann yang secara khusus menyoroti praktek korupsi di lembaga peradilan. perubahan dengan sengaja berkas pengadilan. seperti suap. Sebagai suatu sistem. pemanfaatan kepentingan umum untuk kepentingan pribadi. pemalsuan. 2 Komite Penyelidikan dan Pemberantasan Korupsi. jaksa. Kolusi dan Nepotisme (KP2KKN) Jawa Tengah.2 Bentuk-bentuk korupsi di lembaga peradilan sendiri menurut deklarasi International Bar Association (IBA). kompromi dengan advokat serta tunduk kepada kemauan pemerintah dan partai politik. Panduan Melawan Mafia Peradilan”. favoritisme. secara umum adalah tindakan-tindakan yang menyebabkan ketidakmandirian lembaga peradilan dan institusi hukum (polisi. Berbagai keluhan baik dari masyarakat dan para pencari keadilan seolah-olah sudah tidak dapat lagi menjadi media kontrol bagi para penegak hukum tersebut untuk kemudian melakukan berbagai perbaikan yang signifikan bagi terciptanya suatu kinerja yang ideal dan sesuai dengan harapan masyarakat. pertimbangan yang keliru. memperlambat proses pengadilan. “Katakan Tidak. dalam laporannya menunjukkan bahwa Indonesia termasuk negara yang berada pada posisi yang cukup memprihatinkan berkaitan dengan kinerja aparat pada lembaga penegakan hukumnya.

4.Secara praktek. kebijakan dan ketentuan atau peraturan (dasar dilakukanya pengawasan berikut aturan mainnya). penggunaan anggaran. transparan dan mengedepankan nilai-nilai keadilan di sisi lain terlihat sudah sangat sulit untuk diterapkan dan ditemui dalam lembaga dan aparat penegak hukum yang ada saat ini. maka makna yang terkandung di dalam pengertian pengawasan tersebut berhubungan erat dengan kesatuan tanggung jaPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 289 . Juga dimaksudkan untuk mengetahui kelemahan dan kesalahan agar dapat dihindari kejadiannya di kemudian hari. obyek (orang yang diawasi). Sebagian kalangan menganggap bahwa permasalahan tersebut tidak dapat dilepaskan dari lemahnya sistem pengawasan. Pengawasan: Prinsip dan Aktor Yang Terlibat Menurut Fayol (salah seorang perintis ilmu manajemen) pengawasan adalah upaya memeriksa apakah semua terjadi sesuai dengan rencana yang ditetapkan. 3. 5. dan sebagainya). ruang lingkup pengawasan (hal-hal yang diawasi seperti kinerja pegawai. teori pengadilan yang mempunyai asas sederhana. 2. Selain itu Sujamto (ahli manajemen lainnya) mendefinisikan pengawasan sebagai segala usaha dan kegiatan untuk mengetahui dan menilai kenyataan yang sebenarnya mengenai pelaksanaan tugas atau kegiatan apakah sesuai dengan yang semestinya atau tidak. Adapun unsur-unsur dari pengawasan tersebut setidaknya meliputi enam hal. dan prinsip yang dianut. yaitu: 1. tata cara atau prosedur dalam melakukan pengawasan) dan 6. subyek (pengawas atau orang yang mengawasi). apabila dikaitkan dengan aparat penegak hukum. cepat. perintah yang dikeluarkan. Kelemahan sistem tersebut pada gilirannya mengakibatkan pola manajemen sumber daya manusia dan manajemen administrasi di lembaga-lembaga penegak hukum tersebut menjadi berjalan tidak optimal/ obyektif. tujuan (untuk memastikan bahwa pelaksanaan suatu tugas maupun hasilnya sesuai dengan perencanaan) Sehubungan dengan berbagai teori pengawasan tersebut. dan biaya ringan di satu sisi dan terciptanya suatu peradilan yang bersih. mekanisme (urutan.

3. tanggung jawab prosedural (procedural responsibility) yang menuntut ketelitian atau akurasi hukum acara yang dipergunakan dan tanggung jawab substansi (substantif responsibility) yang berhubungan dengan ketepatan pengkaitan antara fakta dan hukum yang berlaku. yaitu:3 1. 4. mekanisme pengawasan tidak transparan dan akuntabel sehingga masyarakat yang mengajukan laporan/ pengaduan tidak mengetahui tindak lanjut dari laporan/pengaduan mereka. 3. baik perilaku di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan. 290 Bunga Rampai . 3 Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia (Mappi). 2. Berdasarkan teori di atas terdapat beberapa permasalahan dalam sistem pengawasan bagi aparat penegak hukum di Indonesia. Melihat permasalahan yang masih ada sampai saat ini dalam sistem pengawasan aparat penegak hukum kita. yang mengakibatkan proses pencarian data dan informasi pendukung menjadi cukup terhambat. esprit de corps) dari obyek pengawasan. diperlukan suatu sistem pengawasan agar dapat mendeteksi dan memeriksa pelanggaran. “Administrasi Peradilan : Lembaga Pengawasan Sistem Peradilan Terpadu”. 2. sehingga tidak berjalan dengan efektif. merespon laporan atau pengaduan masyarakat dan menindaklanjuti dengan obyektif hasil pemeriksaan dan laporan masyarakat tersebut. Mekanisme pengawasan melalui proses yang sangat panjang. tanggung jawab administrasi (administrative responsibility).wab yudisial (judicial responsibility) yang mengandung tiga dimensi pertanggungjawaban. antara lain adalah: 1. solidaritas (in group feeling. Pada beberapa lembaga penegak hukum belum ada ketentuan yang memadai yang mengatur pedoman bagaimana seorang aparat penegak hukum seharusnya berperilaku (code of conduct).

konsistensi maupun kelayakan dari target operasional yang telah ditetapkan maupun prioritas dalam mencapai target tersebut. Selanjutnya untuk akuntabilitas indikator dan parameter yang dapat menjadi acuan pada tahap proses pembuatan adalah pembuatan sebuah keputusan harus dibuat secara tertulis dan tersedia bagi setiap masyarakat yang membutuhkan. melalui media massa. beberapa indikator untuk menjamin akuntabilitas publik adalah penyebarluasan informasi mengenai suatu keputusan. serta standar yang berlaku. Dalam hal ini prinsip transparansi ini hanya akan menjadi wacana semata jika tidak didukung oleh adanya perlindungan hukum terutama bagi publik yang tertuang dalam suatu Undang-undang tentang Kebebasan Memperoleh Informasi dan Perlindungan Saksi. Sedangkan pada tahap sosialisasi kebijakan. maupun media komunikasi personal. akurasi dan kelengkapan informasi yang berhubungan dengan caracara mencapai sasaran suatu program. Parameter yang dapat digunakan untuk mengukur prinsip transparasi terdiri dari mekanisme yang menjamin sistem keterbukaan dan standarisasi dari semua prosesproses pelayanan publik. artinya sesuai dengan prinsip-prinsip administrasi yang benar maupun nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Terdapat beberapa hal penting yang harus dijadikan sebagai prinsip. adanya mekanisme untuk menjamin bahwa standar telah terpenuhi. dengan konsekuensi mekanisme pertanggungjawaban jika standar tersebut tidak terpenuhi. akuntabilitas dan partisipatif. akses publik pada informasi atas suatu keputusan setelah keputusan dibuat Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 291 . pembuatan keputusan sudah memenuhi standar etika dan nilai-nilai yang berlaku. maupun proses-proses di dalam sektor publik. adanya kejelasan dari sasaran kebijakan yang diambil. dan sudah sesuai dengan visi dan misi organisasi. salah satu hal yang paling utama adalah partisipasi publik. mekanisme yang memfasilitasi pelaporan maupun penyebaran informasi maupun penyimpangan tindakan aparat publik di dalam kegiatan pelayanan publik.Untuk mengoptimalkan sistem pengawasan aparat penegak hukum tersebut. yaitu transparansi. mekanisme yang memfasilitasi pertanyaan-pertanyaan publik tentang berbagai kebijakan dan pelayanan publik.

kemampuan publik untuk terlibat dalam penegakan hukum. maka masyarakat tidak memiliki ‘amunisi’ untuk berargumentasi. 2002). adanya wadah dan saluran untuk menampung partisipasi publik yang representatif. Sedangkan tolak ukur penilaian pelaksanaan dari prinsip partisipatif yang dapat digunakan adalah keterlibatan publik melalui terciptanya nilai dan komitmen para aparat. berpendapat atau memutuskan sikap secara menyakinkan dan tepat. ketersediaan sistem informasi manajemen dan monitoring hasil yang telah dicapai oleh pemerintah. dan perhatian pemerintah pada pengarahan dan ajakan pada publik untuk berpartisipasi. menyelenggarakan proses konsultasi untuk menggali dan mengumpulkan masukan-masukan dari publik dalam kegiatan publik. eds. apabila kita menginginkan suatu sistem pengawasan yang cukup optimal. Oleh karenanya. Adapun untuk prinsip partisipasi agar dapat terlaksana dibutuhkan beberapa langkah awal sebagai inisiatif dari lembaga penegak hukum yakni mengeluarkan informasi yang dapat diakses oleh publik. Lucas and Pring. “Public Participation. Dalam hal ini partisipasi publik dalam pengambilan keputusan hanya dapat efektif dan berarti (meaningful) jika masyarakat memiliki informasi yang memadai. 157. Tanpa informasi. by Zillman. the Aarhus Convention and the European Union” dalam Human Rights in Natural Resources Development. (Oxford: Oxford University Press. hal. yang bersifat terbuka dan inklusif sebagai tempat publik menyampaikan keinginannya. mendelegasikan otoritas tertentu kepada pengguna jasa layanan publik seperti proses perencanaan dan penyediaan panduan bagi kegiatan masyarakat dan layanan publik.dan mekanisme pengaduan masyarakat.4 Logikanya cukup sederhana. maka salah satu titik lemah dalam pengawasan yaitu tidak adanya parameter dan koridor yang jelas untuk melakukan pengawasan dan tidak diterapkannya prinsip-prinsip dasar good governance harus 4 Peter Davies. Dan tanpa jaminan hak memperoleh informasi. keterlibatan publik dalam merancang dan melaksanakan penegakan hukum. terarah dan dapat terkontrol. masyarakat tidak dapat mengakses informasi-informasi tertentu yang penting untuk menjalankan peran di atas. 292 Bunga Rampai .

Namun di sini perlu disadari bahwa pengawasan berbasis masyarakat bukanlah pengawasan yang langsung jadi dan berjalan dengan sistemik. meningkatkan peran serta masyarakat dalam sistem pengawasan menjadi tidak dapat ditawar-tawar lagi. melainkan melalui proses bertahap yang mencakup pendidikan. Sebab saat ini sering kali karena tidak jelasnya kedua hal tersebut para pelaku mafia peradilan senantiasa berlindung di balik klaim otoritas independensi lembaganya. prinsip ini paling sering dibicarakan. “ Membuka Ketertutupan Pengadilan”. Padahal kita menyadari betul bahwa independensi tanpa akuntabilitas dapat kita umpamakan sebagai “cek kosong yang bisa diisi apa saja”. penyadaran. prinsip ini sepertinya dianggap lebih penting dibandingkan prinsip pengadilan yang terbuka (prinsip yang mendorong lahirnya akuntabilitas pengadilan). Tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa memang prinsip independensi peradilan adalah salah satu prinsip penting untuk melahirnya proses peradilan yang fair. Assegaf dan Josi Khatarina. hakim menganggap ia dapat melakukan apa saja tanpa perlu mempertanggungjawabkannya kepada publik dan pada akhirnya menjalankan proses peradilan yang sesat. Prinsip ini pula yang sepertinya paling fasih dikuasai oleh para hakim. maupun karena mungkin prinsip ini menguntungkan para hakim. Jangan sampai dengan alasan independensi. pengawasan yang dilakukan haruslah pengawasan yang berbasis masyarakat. Dalam hal ini basis masyarakat yang dimaksud adalah mereka yang berkepentingan langsung yaitu korban (termasuk didalamnya kelompok masyarakat yang peduli dengan isyu ini). 31 tahun 1999 sendiri. Hal ini diakui dalam Konvensi PBB melawan korupsi 2003 (UN Convention Against Coruption. Undang-undang ini memberi kebebasan kepada masyarakat untuk mencari.2003) dan dalam Undang-undang No. Di berbagai forum yang membahas lembaga peradilan. baik di dalam maupun di luar negeri. sebagai wujud dari berbagai teori yang telah dipaparkan di atas. Peran serta masyarakat diakui memiliki peran penting dalam upaya pencegahan dan penegakan hukum terhadap tindak pidana korupsi. memperoleh dan memberikan informasi bahwa di suatu daerah atau instansi telah terjadi praktek korupsi.secepatnya diperbaharui. baik karena merupakan prinsip yang dianggap penting di dunia.5 Selain itu. dan perubahan budaya hukum. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 293 . Namun permasalahannya. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal.6 5 6 Rifqi S.

adalah beberapa ilustrasi lain permasalahan yang harus menjadi agenda pembenahan. Sedangkan UU No.23. minimnya gaji hakim (pegawai) serta anggaran pengadilan. Namun usaha ini dipandang belum tentu mampu menyelesaikan masalah yang ada dan bahkan dipandang dapat menimbulkan monopoli kekuasaan di lembaga tersebut. Usaha ke arah peradilan yang lebih baik tersebut sebelumnya juga dilakukan dengan menciptakan sistem satu atap (One Roof System) yaitu memberikan kewenangan di bidang administrasi. struktur organisasi. Naskah Akademik dan Rancangan UndangUndang Tentang Komisi Yudisial. Sebagai salah satu upaya menjawab sebagian permasalahan di atas. keuangan dan organisasi kepada Mahkamah Agung. Kualitas sebagian hakim yang rendah (salah satunya disebabkan karena kelemahan proses rekrutmen dan promosi hakim). MPR (dengan dorongan kelompok masyarakat sipil) pada tahun 2002 menetapkan perlunya pembentukan Komisi Yudisial dalam konstitusi yang kemudian disusul dengan pengundangan UU No. 2003. 22 tahun 2004 tentang Komisi Yudisial oleh Pemerintah dan DPR. h. aksesibilitas pengadilan.7 Situasi dan kekhawatiran tersebut mendorong terbentuknya gagasan ke arah pembentukan lembaga independen 7 Mahkamah Agung Republik Indonesia. Dibentuknya Komisi Yudisial pada perubahan ke-3 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan reaksi terhadap kegagalan sistem peradilan yang ada untuk menciptakan peradilan yang lebih baik. Konstitusi tepatnya pasal 24B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 memberikan landasan hukum yang kuat bagi reformasi bidang hukum yakni dengan memberikan kewenangan pada Komisi Yudisial untuk mewujudkan cheks and balances.Jejaring: Mitra Komisi Yudisial Dalam Pengawasan Rendahnya integritas sebagian hakim hanyalah sebagian dari masalah yang menyelimuti lembaga peradilan. 22 tahun 2004 memberikan wewenang bagi Komisi Yudisial untuk mengusulkan pengangkatan Hakim Agung pada DPR dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim. 294 Bunga Rampai .

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak mengenal istilah lembaga negara utama (main) dan lembaga negara penunjang (supporting). Komisi Yudisial diberi wewenang oleh Undang-Undang Dasar untuk mengawasi perilaku hakim. Upaya untuk memperbaiki dunia peradilan yang merupakan salah satu semangat kelahiran Komisi Yudisial tentu memerlukan dukungan penuh dari elemen-elemen civil society. tidak ada lagi pembagian lembaga negara tertinggi dan lembaga tinggi negara. Kehadiran peradilan yang bersih dengan putusannya yang adil merupakan kebutuhan bersama baik masyarakat maupun pemerintah. Sebagaimana diketahui sejak perubahan ke-3 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. informasi. Buruknya dunia peradilan tentu juga terkait dengan proses rekrutmen dan peningkatan karir hakim yang lemah (yang tidak didasarkan pada basis data dan analisis kinerja/ putusan) serta tidak terlacaknya perilaku hakim. komitmen dan program aksi bersama dalam menciptakan peradilan yang bersih (clean judiciary).yang berada di luar Mahkamah Agung yang dapat mengimbangi agar tidak terjadi monopoli kekuasaan pada lembaga tersebut. Diaturnya Komisi Yudisial dalam Pasal 24B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menunjukkan bahwa lembaga ini merupakan lembaga negara yang mendapat atribusi kekuasaan langsung dari Undang-Undang Dasar. yang membedakan satu sama lain adalah kewenangannya. Dalam kaitan ini Komisi Yudisial telah menegaskan pentingnya peranan elemen-elemen masyarakat tersebut untuk memiliki pengetahuan. Sebagai lembaga negara yang mandiri. hakim agung dan hakim konstitusi. Semua lembaga negara adalah sederajat. Komisi Yudisial dan Mahkamah Konstitusi adalah sama yaitu sama-sama mendapat kewenangan atribusi dari Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dengan demikian kedudukan Mahkamah Agung. Dalam rangka merealisasikan gagasan tersebut dibentuklah Komisi Yudisial yang diharapkan dapat mengawasi serta mengimbangi (checks and balances) pelaksana kekuasaan kehakiman sehingga dapat mendorong terciptanya peradilan yang lebih baik di masa mendatang. Hakim- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 295 .

semestinya bebas dari putusan-putusan bermasalah.hakim yang putusannya tidak baik bahkan diindikasi kuat ada pengaruh pihak berperkara tentu perlu diketahui sejak dini baik untuk keperluan pembinaan ataupun penjatuhan sanksi. dan memperkuat upaya di atas. kehadiran elemen masyarakat berbasis perguruan tinggi. keluhuran martabat.adalah kurangnya partisipasi publik dalam menjaga dan menegakan kehormatan. serta perilaku hakim bertolak dari dua pemikiran dasar. namun dengan keterbatasan lembaga Komisi Yudisial yang hanya ada di tingkat nasional. Oleh sebab itu. Ketersediaan basis data hakim akan sangat membantu dalam peningkatan kinerja dan karir hakim. keluhuran martabat serta perilaku hakim (di semua lingkungan dan jenjang pengadilan).8 tentu mencari data di atas sangat sulit dicapai. hasil dari program perbaikan dunia peradilan pada akhirnya akan dan harus dirasakan secara luas dan nyata oleh seluruh masyarakat. sementara lembaga-lembaga peradilan berada di setiap provinsi dan kabupaten dengan lebih dari 6000 orang hakim yang tersebar di lebih dari 300 kabupaten/kota. dan ormas keagamaan akan dapat mendukung. Hal itu hanya bisa dilakukan melalui suatu proses yang sistematis dengan metodologi yang jelas. Kesadaran terhadap pentingnya optimalisasi publik dalam menjaga dan menegakan kehormatan. Pembentukan jejaring berangkat dari berbagai permasalahan di atas dan pemikiran bahwa salah satu faktor penyebab terjadinya “penyimpangan” peradilan –yang muncul dalam bentuk “mafia peradilan”. mengefektifkan. bahwa di satu sisi “penyimpangan” peradilan pada akhirnya akan menempatkan masyarakat sebagai “korban –dengan harga yang sangat mahal. Komisi Yudisial mungkin dapat menyusun strategi dan metode untuk melakukan riset putusan hakim atau melakukan investigasi perilaku hakim guna memperoleh basis data di atas.sementara di sisi lain terwujudnya peradilan yang “bersih dan “berwibawa” serta yang memungkinkan perlakuan yang sama bagi 8 Data terakhir yang dimiliki penulis adalah jumlah hakim sebanyak 6178 orang yang tersebar di 341 kabupaten/kota. LSM. 296 Bunga Rampai . Terlebih lagi hakim-hakim yang akan direkrut menjadi hakim agung. Apalagi.

semua pihak di muka hukum (equality before the law) juga menuntut adanya peran publik yang optimal. dan cukup lengkap. Jateng. 2. Komisi Yudisial telah berhasil membentuk jejaring di seluruh Indonesia yang pada saatnya akan merupakan elemen terdepan dalam melakukan kajian putusan hakim (untuk melihat kualitas) dan melakukan investigasi perilaku hakim (untuk melihat integritas) di seluruh Indonesia. dan Jatim) Mataram (mencakup wilayah NTB. Medan (mencakup wilayah Aceh. Sulteng. Sumut. memang telah ada majalah yang berisi putusan pengadilan tetapi sangat deskriptif dan kurang analitis. Sulbar. Jambi. Berdasarkan jaringan yang ada ini maka upaya yang dilakukan akan sistematis. Riau dan Kepulauan Riau) Palembang (mencakup wilayah Sumsel. Selama ini. Dalam hal ini penyusunan nota kesepahaman tersebut diawali dengan lokakarya pembentukan jejaring Komisi Yudisial di 7 regional. Pada saat ini. DIY Yogyakarta. 4. Sementara itu ada juga majalah yang berisi analisis putusan tetapi karena dilahirkan bukan dari lembaga negara resmi maka kurang menjadi rujukan bagi para hakim. Kaltim) Kendari (mencakup wilayan Sulsel. Bengkulu. tidak tumpang tindih. Berdasarkan telaah putusan hakim yang akan dijalankan. Sulut) 9 Laporan Tahunan Komisi Yudisial Republik Indonesia tahun 2006 Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 297 . Pada kesempatan ini mungkin perlu disampaikan juga bahwa sampai saat ini telah dilakukan penyusunan nota kesepahaman dengan beberapa lembaga negara dan kalangan masyarakat yang berasal dari elemen Perguruan Tinggi. Lampung) Malang (mencakup wilayah Banten. yaitu:9 1. 3. NTT dan Bali) Pontianak (mencakup wilayah Kalsel. DKI Jakarta. Kalbar. Sumbar. 6. Gorontalo. Jabar. 5. Bangka Belitung. Organisasi Masyarakat serta Lembaga Swadaya Masyarakat. Sultra. maka dapat dihasilkan analisis atas putusan-putusan yang baik yang dapat menjadi literatur penting dalam peningkatan kemampuan para hakim dalam menangani perkara. Kalteng.

Investigasi perilaku hakim di masing-masing daerah. 4. Penelitian putusan hakim di masing-masing daerah. c. Ambon (mencakup wilayah Maluku. Komisi Yudisial dengan jejaring dae- 298 Bunga Rampai . Terintegrasinya gerakan antara negara dan kalangan masyarakat sipil yang mempunyai tujuan untuk melakukan reformasi peradilan dan pemberantasan mafia peradilan. 2. Dengan nota kesepahaman yang telah disepakati adalah: 1. b. 39 Fakultas Hukum PTN dan PTS. Pengawasan perilaku hakim. Pemberian penghargaan bagi hakim yang berprestasi. 6. Pembangunan jaringan advokasi masyarakat. Seleksi calon hakim agung. 3. Teradvokasinya masyarakat pencari keadilan (terutama masyarakat korban) untuk dapat memperjuangkan hakhaknya. 3. antara lain meliputi bidang: 1. Sedangkan hasil yang diharapkan dengan adanya jejaring dan program-programnya adalah: 1. Maluku Utara. 2. Tersusun dan tersedianya data base hakim (baik dalam hal kualitas maupun integritas) yang selanjutnya dapat dijadikan sebagai informasi awal bagi Komisi Yudisial pada saat melaksanakan: a. 11 Organisasi Masyarakat. 3. Pertukaran informasi yang dilakukan atas dasar kesepakatan kedua pihak. 55 Lembaga Swadaya Masyarakat. 2. Penelitian sesuai dengan tema/topik yang telah disepakati oleh kedua pihak. Adapun ruang lingkup kerjasama yang berhasil disepakati antara Komisi Yudisial dengan elemen-elemen tersebut di atas. Sebagai tindak lanjut dari disusunnya berbagai nota kesepahaman tersebut. 5.7. Bidang-bidang lain yang dianggap perlu dan disepakati oleh masing-masing pihak. Papua dan Irjabar).

Komisi Yudisial sebagai lembaga yang diberi amanat oleh konstitusi Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 299 . Sebagai aktor utama lembaga peradilan. Oleh sebab itu. sampai dengan memerintahkan penghilangan hak hidup seseorang. Melalui putusannya. profesional. dan secara vertikal dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. di mana setiap orang sama kedudukannya di depan hukum dan hakim. sehingga putusan pengadilan yang diucapkan dengan irah-irah “Demi Keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” mengandung arti bahwa kewajiban menegakkan hukum. Sebagai salah satu langkah untuk mewujudkan lembaga peradilan dan hakim seperti disebutkan di atas. Penutup Pengadilan yang mandiri. Kewenangan hakim yang sangat besar itu menuntut tanggungjawab yang tinggi. menyatakan tidak sah tindakan sewenang-wenang pemerintah terhadap masyarakat. netral (tidak berpihak). berwibawa. kebenaran dan keadilan tanpa pandang bulu dengan tidak membeda-bedakan orang seperti diatur dalam lafal sumpah seorang hakim. sebagai bentuk penguatan kelembagaan yang lain. Selain itu. dan peran hakim menjadi sangat penting.rah sampai saat ini telah melakukan berbagai acara untuk proses penyamaan persepsi dan penyamaan metodologi guna menyongsong berbagai program yang akan dan sekarang sedang dilaksanakan. semua kewenangan yang dimiliki oleh hakim harus dilaksanakan dalam rangka menegakkan hukum. mampu menegakkan hukum serta dapat memberikan kepastian hukum dan keadilan merupakan conditio sine qua non atau persyaratan mutlak dalam sebuah negara yang berdasarkan hukum. Komisi Yudisial juga telah melakukan penyusunan nota kesepahaman dengan beberapa lembaga negara yang wilayah tugasnya cukup terkait dengan tugas dan wewenang Komisi Yudisial. kebenaran dan keadilan itu wajib dipertanggungjawabkan secara horizontal kepada semua manusia. seorang hakim dapat mengalihkan hak kepemilikan seseorang. terlebih dengan segala kewenangan yang dimilikinya. posisi. Sebab hanya pengadilan yang memiliki semua kriteria tersebut di ataslah yang dapat menjamin pemenuhan hak asasi manusia. mencabut kebebasan warga negara.

untuk menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim menempatkan diri sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari komunitas negara dan masyarakat sipil yang mempunyai agenda melakukan reformasi peradilan dan pemberantasan mafia peradilan. gerakan bahu membahu secara sistematis dan berkesinambungan antar JEJARING dalam suatu JARINGAN kerja menjadi hal yang tidak dapat ditawar dan ditunda-tunda lagi. juga disebabkan pemahaman bahwa mafia peradilan adalah merupakan musuh bersama yang telah memberikan dampak negatif yang luar biasa besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. 300 Bunga Rampai . Oleh karenanya. Hal tersebut selain dilandasi oleh kesadaran bahwa dua pekerjaan tersebut adalah bukan pekerjaan yang ringan.

“Ilmu Negara”. Walau menuai pro dan kontra serta mendapatkan resistensi dari Mahkamah Agung (MA). * Pendahuluan Ditengah maraknya praktek “mafia peradilan” di Bumi Pertiwi ini. Andi Djalal Latief. S. C. Kandidat Pilkada kota Depok (Nur Mahmudi Ismail) adalah orang pertama yang datang untuk melaporkan buruknya kerja dan kinerja lembaga pengadilan.Urgensi Pembuatan Database Hakim Sebagai Media Penunjang Pelaksanaan Wewenang dan Tugas Komisi Yudisial Ir. Komisi Yudisial sudah langsung menerima pengaduan dari masyarakat. 2004.. S. Drs. Untuk sampai pada pemahaman betapa pentingnya keberadaan Komisi Yudisial Republik Indonesia (KYRI) beserta kewenangannya dalam struktur ketatanegaraan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam menjamin hak warga Negara. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 301 . Christine S. PT Pradnya Paramita Jakarta.H. Hal ini terbukti beberapa saat setelah anggota Komisi Yudisial mengucapkan sumpah dihadapan Presiden sebagai Kepala Negara. haruslah dipahami arti dari definisi “Negara” serta tujuan dibentuknya negara itu sendiri. M. tidaklah dapat dipungkiri bahwa lembaga ini ternyata memberikan secercah harapan bagi para pencari keadilan. * 1 Penulis adalah Kepala Pusat Data dan Pelayanan Informasi Komisi Yudisial Republik Indonesia Prof.T Kansil.S. lahirlah sebuah lembaga Negara baru yaitu Komisi Yudisial. MS.. Kansil.T..H.H. hlm 9. Cetakan kedua.

hlm 225.. S. Dr. menurut Hans Kelsen terkadang definisi “Negara” dibuat sangat sulit oleh aneka ragam objek yang biasa dinyatakan secara tegas oleh istilah negara itu sendiri.. Istilah “negara” kadang-kadang digunakan dalam pengertian yang sangat luas untuk menunjuk “masyarakat” atau bentuk khusus dari masyarakat. C. dan itulah salah satu sebab mengapa negara sebagai persekutuan hidup menempati jenjang yang paling tinggi. atau para subyek pemerintah. 302 Bunga Rampai . mengatakan: Negara ialah suatu organisasi manusia atau kumpulan manusiamanusia yang berada di bawah suatu pemerintahan yang sama. Drs.S. Christine S. S. Bee Media Indonesia.H. PT Pradnya Paramita. R. sedangkan menurut Prof. Prof. S. atau wilayah yang mereka diami. misalnya pemerintah. Augustinus menyatakan. Tetapi istilah itu pun sangat sering digunakan dalam pengertian yang sangat sempit untuk menunjuk suatu organ khusus masyarakat. “lmu Negara”.T. 2007. Kansil. tujuan Negara adalah dihubungkan dengan cita-cita manusia hidup di alam kekal yaitu sesuai yang diinginkannya.H.1 Masih terdapat banyak definisi terhadap istilah “Negara” sehingga. Jakarta. M. hlm 36. Edisi revisi.H.H.“Negara” menurut pandangan Prof. Cetakan kedua. alih bahasa-Drs. karena negara mempunyai tugas yang paling mulia yaitu memanusiakan manusia. J.H.T Kansil. Djokosutono. Oleh kodrat.. Somardi “General Theory of Law and State”. Hal ini banyak disebabkan oleh fakta bahwa para penulis yang berbeda membahas masalahmasalah yang sangat berbeda di bawah satu nama yang sama dan bahkan penulis yang sama pun tanpa disadari menggunakan istilah yang sama dengan pengertian yang berbedabeda. 2004.A Logemann adalah: De Staats is een gezags organizatie (Negara ialah. negara 2 3 Hans Kelsen. suatu organisasi kekuasaan/kewibawaan).2 Setelah sedikit diketahui apa yang dimaksud dengan istilah “Negara” maka selanjutnya dalam konteks pentingnya keberadaan Komisi Yudisial dalam sebuah negara hukum. “bangsa”. maka haruslah pula dipahami tujuan dibentuknya sebuah “Negara” itu sendiri.3 sedangkan menurut Aristoteles negara yang ideal itu adalah negara yang memanusiakan manusia.

. 2) Ada prinsip-prinsip lain yang berkaitan dengan prinsip pokok di atas. sebenarnya terbentuknya sebuah negara itu seharusnya dan seyogyanya adalah bertujuan untuk mensejahterakan rakyat atau manusia yang menjadi warga dari sebuah negara itu sendiri.V. Di dalam dan lewat hidup bernegara.. Ini dapat berarti bahwa Negara Republik Indonesia adalah Negara yang berdasarkan atas hukum yang demokratis berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945. moralitaslah yang memberi kualitas khusus bagi manusia sehingga manusia itu adalah manusia yang tidak sama dengan makhluk yang lain. Rapar. Salah satu yang terpenting adalah 4 DR. Manusia yang benar-benar bermoral dan yang berarti pula benar-benar berkualitas akan senantiasa siap sedia melakukan segala sesuatu yang terbaik dan mulia. dan kekuasaan harus tunduk pada hukum. Keberhasilan manusia mencapai tingkat kebajikan tertinggi itu haruslah terlihat lewat moralitas yang terpuji.4 Menjadi jelas bahwa apapun definisi dari negara itu. Th. Negara Indonesia berdasarkan atas hukum bukan berdasarkan atas kekuasaan belaka. artinya kekuasaan itu tunduk pada hukum. S. Mochtar Kusumaatmadja. Seperti kita ketahui bersama dan dinyatakan secara tegas dalam UUD 1945 adalah bahwa. Secara popular dikatakan bahwa Negara hukum adalah Negara berdasarkan hukum. Dengan kata lain.H.H.ada dan terbentuk bukan sekedar agar manusia dapat hidup didalamnya. karena hanya moralitas yang demikian itulah yang membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. manusia dimampukan untuk mencapai tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang semaksimal mungkin.D. “Filsafat Politik Aristoles” C. menurut Prof.M cita Negara hukum Indonesia adalah: 1) bahwa dalam Negara hukum. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 303 . Jakarta. tetapi agar manusia itu benar-benar memanusia di dalam negara dan lewat hidup dan bernegara. Lalu kemudian timbul pertanyaan apakah ciri-ciri dari cita Negara hukum Indonesia. Dr. kekuasaan itu tidak tanpa batas. hlm 43. Cetakan Pertama. LL.D. Itu berarti bahwa di dalam negara manusia seyogyanya dapat mencapai tingkat kebajikan yang tertinggi. 1988. J. Ph. Rajawali.

bahwa dalam Negara hukum semua orang sama di hadapan hukum. Masih ada di antara kita yang secara sadar telah melakukan penjajahan dalam bentuk yang lebih hina “jual-beli putusan” dan mengingkari hak sesama anak bangsa. S. Kehadiran Komisi Yudisial di Bumi Pertiwi yang berfungsi sebagai lembaga checks and balances terhadap lembaga peradilan merupakan langkah tepat dalam rangka untuk menjamin terpenuhinya rasa keadilan bagi sebanyak-banyak warga negara. LL. 304 Bunga Rampai . Mochtar Kusumaatmadja. pengamalan serta pelaksanaan hak dan kewajiban Negara Indonesia haruslah menjamin hak asasi setiap warga negara melalui penyelenggara Negara dan lembaga negaranya.5 Dari pernyataan Prof. hlm 180. agama. Keadaan 5 Dr. penghayatan. namun nampaknya bangsa ini belum juga beranjak dewasa dan menyadari arti dari kata merdeka itu sendiri. Mochtar Kusumaatmadja itu terlihat bahwa. Terungkapnya kasus-kasus penyalahgunaan wewenang (abuse of power) oleh hakim serta pejabat peradilan lain yang banyak dipublikasikan oleh berbagai media massa seolah menjadi cerminan dari lemahnya integritas moral dan perilaku hakim serta pegawai lembaga peradilan.. Hukum sebagai salah satu pilar berbangsa dan bernegara yang mendasari UUD 1945 telah mereka abaikan demi kepentingannya sendiri. Hari memang telah silih berganti sejak kemerdekaan. Cetakan kedua. “Konsep-Konsep Hukum Dalam Pembangunan”.M. Dikatakan secara lain. kedudukan sosial dan kekayaan. 2006. berarti bahwa hukum memperlakukan semua orang sama tanpa perbedaan yang didasarkan atas ras (keturunan). Terbentuknya Komisi Yudisial RI Perjalanan Bangsa Indonesia dimulai pada saat dikumandangkannya lagu Indonesia Raya serta berkibarnya Sang Saka Merah-Putih pada tanggal 17 Agustus 1945 serta dengan disahkannya UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI menjadi dasar Negara kita. PT Alumni. Bandung.H.

pada tahun 1968 muncul ide pembentukan Majelis Pertimbangan Penelitian Hakim (MPPH) yang berfungsi untuk memberikan pertimbangan dalam mengambil keputusan akhir mengenai saran-saran dan atau usul-usul yang berkenaan dengan pengangkatan. Kelemahan ini dapat terlihat dengan singkatnya UUD Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 305 . Jika diperhatikan salah satu kesalahan pemerintahan Orde Baru saat itu adalah dengan ditabukan dan disakralkannya UUD 1945 untuk dirubah. itu tuntutan mereka. Akhirnya pada tahun 1998 setelah sekian lama bungkam. Reformasi total. “Demokrasi Terpimpin” serta “Demokrasi Pancasila”. pemberhentian dan tindakan/hukuman jabatan para hakim. Keadaan ini membuat masyarakat pencari keadilan menjadi patah arang dan bosan menggantungkan harapannya kepada pemerintah dan lembaga peradilan. promosi. Oleh karena itu.ini tidak saja terjadi di lingkungan pengadilan negeri dan pengadilan tinggi. seolah-olah UUD 1945 adalah sebuah karya agung tanpa kelemahan. tetapi juga telah terjadi di lingkungan Mahkamah Agung sebagai penyelenggara kekuasaan kehakiman yang tertinggi. yang dinyatakan secara tegas dalam UUD 1945 itu sendiri. Namun ide tersebut tidak berhasil dimasukkan dalam undang-undang tentang Kekuasaan Kehakiman. apakah ada kepastian hukum dari UUD seperti itu? Apalagi bila pertanyaan itu dikaitkan dengan pernyataan bahwa Negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum bukan berdasarkan atas kekuasaan belaka. singkat dan fleksibel” memang membuatnya mudah mengikuti perkembangan jaman. Keadaan ini membuat masyarakat pencari keadilan memandang bahwa lembaga peradilan sebagai suatu sistem dianggap sudah tidak bersih dan kurang berwibawa. Perlahan namun pasti keinginan untuk melakukan perubahan semakin memuncak. Kenyataan ini menimbulkan sebuah pertanyaan yang amat mendasar terhadap UUD 1945. akan tetapi hal ini juga membuat UUD 1945 dapat diinterpretasikan dan diimplementasikan ke dalam berbagai struktur politikpemerintahan yang berbeda-beda: “Demokrasi Parlementer. rakyat bicara. kepindahan. Akhirnya karena desakan yang begitu kuat Orde Baru yang menjalankan roda pemerintahan saat itu pun tumbang. Dengan sifat UUD 1945 yang “supel.

sekalipun di dalam penjelasan 6 7 Dr. yaitu: Pertama. 4 Aturan Peralihan dan 2 Aturan Tambahan) dan menurut penjelasan resminya. Kalau boleh saya memakai perkataan: ini adalah UUD kilat! Nanti kalau kita telah bernegara dalam suasana yang lebih tenteram. bahwa barangkali boleh dikatakan pula. Jakarta. Nanti kita membuat UUD yang lebih sempurna dan lengkap…. MPR harus dibentuk. Soekarno sebagai Ketua PPKI memberikan kata sambutannya. Adnan Buyung Nasution. Beliau mengemukakan beberapa alasan. memberikan porsi kekuasaan yang begitu besar kepada presiden. pada saat pengesahan UUD 1945 oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945. kita tentu akan mengumpulkan kembali MPR yang dapat membuat UUD yang lebih lengkap dan sempurna… Tuan-tuan tentu mengerti. Buku I. UUD Kilat. kelompok kepentingan dan penekan) Kedua. Iur. di dalam rumusannya. bahwa UUD ini adalah UUD Sementara. tidak memberikan tempat bagi keberadaan infrastruktur demokrasi (seperti partai politik. S.1945 (hanya terdiri dari 37 pasal.7 Kelemahan yang terdapat pada UUD 1945 ini dikatakan oleh Adnan Buyung Nasution sebagai loop hole. bahwa UUD yang kita buat sekarang ini adalah UUD sementara.”6 Terlihat jelas dalam rumusan itu bahwa sejak awal memang para penyusun UUD 1945 sudah menyadari bahwa UUD yang mereka buat secara kilat itu (hanya dalam tempo dua hari) belumlah sempurna dan harus diperbaiki. Kurang sempurnanya UUD 1945 ini sebenarnya juga dikuatkan dalam rumusan Aturan tambahan UUD 1945 itu sendiri yang berbunyi: “Enam bulan sesudah berakhirnya perang Asia Timur Raya. “…Tuan-tuan semuanya tentu mengerti. dan enam bulan sesudah dibentuk.H. UUD memang hanya dimaksudkan untuk mengatur hal yang pokok-pokok saja dan hanya berlaku sementara. “Arus Pemikiran Konstitusionalisme. inilah revolutie grondwet. Keadaan ini tergambarkan pula ketika Ir. MPR harus bersidang untuk menetapkan UUD baru”. UUD 1945 306 Bunga Rampai . Tata Negara”. Kata Hasta Pustaka. Akibatnya..

Tata Negara”.5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Kata Hasta Pustaka. Adnan Buyung Nasution. UU No.8 Namun pada kenyataannya UUD 1945 dalam keadaan seperti inilah yang dipertahankan oleh pemerintahan Orde Baru untuk melanggengkan kekuasaannya.H. Buku I. begitu banyak loop holes yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal UUD 1945..14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. rumusan seperti ini memungkinkan dominasi eksekutif dalam pembentukan dan pelaksanaan UU. S. Sebenarnya setelah terjadinya “revolusi” oleh mahasiswa pada tahun 1998 yang mengakibatkan tumbangnya pemerintahan Orde Baru. Seiring dengan itu untuk memberantas “mafia peradilan” dan menjamin terpenuhinya hak rakyat dan agar beberapa kesalahan para pemimpin terdahulu tidak terulang. maka para pemimpin negeri ini berusaha melakukan perbaikan dengan melakukan perubahan terhadap beberapa UndangUndang yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman seperti: UU No. Melalui UU No. Inilah karakteristik penting lainnya dari UUD 1945. Ini terlihat dari rumusan yang berbunyi: “… ditetapkan dengan UU” di akhir sejumlah pasal UUD 1945. yakni memusatkan kekuasaan di tangan presiden (concentration of power upon the president) sebagai kepala pemerintahan sekaligus kepala negara. arah menuju perbaikan struktur ketatanegaraan Indonesia sudah mulai tampak dengan diperbaikinya UUD 1945 melalui empat tahapan amandemen. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 307 . Dalam kondisi kekuasaan Lembaga Kepresidenan yang begitu besar. Jakarta. 2 tahun 1986 tentang Peradilan Umum serta UU No. 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman diterapkanlah sistem satu atap (one roof system) pada dunia 8 Dr.UUD 1945 dikatakan bahwa pemerintahan tidak bersifat absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas) dan negara Indonesia tidak berdasar kekuasaan belaka. Iur. Ketiga. niscaya sangat sulit tercipta balance of power apalagi checks and balances diantara cabang-cabang pemerintahan. namun dengan begitu besarnya kekuasaan Lembaga Kepresidenan. “Arus Pemikiran Konstitusionalisme.

Berdasarkan pada amandemen ketiga itulah dibentuk Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial yang disahkah di Jakarta pada tanggal 13 Agustus 2004. Keadilan serta Hakim Banyak sarjana yang mencoba untuk mendefinisikan apa itu hukum dan mungkin definisi hukum itu sebanyak para pemikirnya. Hukum.H. Oleh karena itu.. dan profesional dapat tercapai. disepakati beberapa perubahan dan penambahan pasal yang berkenaan dengan kekuasaan kehakiman.A. personalia dan keuangan yang tadinya dipegang oleh eksekutif melalui Menteri Hukum dan HAM diserahkan sepenuhnya kepada Mahkamah Agung melalui Undang-Undang Pokok Kekuasaan Kehakiman. M. tentang hukum.. untuk membentuk lembaga mandiri sebagai pengawas eksternal terhadap lembaga pengadilan. Kewenangan manajemen administrasi. jika dikaitkan dengan pendapat masyarakat. 2) Hukum sebagai disiplin. yakni pedoman atau patokan sikap 308 Bunga Rampai . Soerjono Soekanto. namun ada baiknya disimak pendapat Prof Dr. Sehingga pada tahun 1998-an muncul kembali dan menjadi wacana yang semakin kuat dan solid. keluhuran martabat. pada Sidang Tahunan MPR tahun 2001 yang membahas amandeman ketiga Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.peradilan. termasuk di dalamnya dibentuk Komisi Yudisial yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. karena dunia pengadilan kita menjadi tidak dapat tersentuh oleh lembaga lain. agar cita-cita untuk mewujudkan pengadilan yang jujur. bersih. Namun penerapan sistem satu atap sebagai salah satu upaya menciptakan independensi pengadilan dan imparsial hakim agar terhindar dari campur tangan penguasa tidak mengurangi ruang gerak “mafia peradilan” serta tidak juga dapat meningkatkan integritas moral serta profesionalitas hakim. yakni pengetahuan yang tersusun secara sistematis atas dasar kekuatan pemikiran. transparan. 3) Hukum sebagai kaedah. S. serta perilaku hakim. Beliau berpendapat: 1) Hukum sebagai ilmu pengetahuan. Malah memperparah. yakni suatu sistem ajaran tentang kenyataan atau gejala-gejala yang dihadapi.

Memang tidaklah mungkin menjadikan suatu tata aturan tertentu menjadi adil dan membahagiakan bagi semua pihak. Dr. Sedangkan Hans Kelsen berpendapat. S. apalagi di Indonesia yang terdiri dari begitu banyak suku bangsa. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 309 . Dapat kita ambil contoh masyarakat pedalaman Papua. Hanya atas dasar pemahaman yang jelas tentang hubungan-hubungan yang membentuk tata hukum tersebut bahwa hakikat hukum dapat dipahami dengan sempurna. Tidak mungkin untuk memahami hakikat hukum hanya dengan memperhatikan satu peraturan saja.10 Sementara itu kata keadilan berasal dari kata adil yang dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti: sama berat. hlm.”Sendi-Sendi Ilmu Hukum dan Tata Hukum”. Balai Pustaka. Somardi “General Theory of Law and State”. hukum adalah suatu tata perbuatan manusia. “Tata Perbuatan” mengandung arti suatu sistem aturan. Hans Kelsen.A.11 Kedua kata itu. Hukum adalah seperangkat peraturan yang harus kita pahami dalam satu kesatuan yang sistemik. dan Prof. Namun hukum bukan satu peraturan semata. Cetakan kedua.H. Purnadi Purbacaraka. hukum dan keadilan tidak dapat dicampur-adukan jadi satu dengan yang lainnya.. 2007. cetakan VI.9 dll.tindak atau perikelakuan yang pantas atau diharapkan. 1993. 2002. budaya. tidak berat sebelah atau tidak memihak. agama. latar belakang pendidikan dsb.H. hal ini terjadi karena dengan dijebloskan ke penjara. S. “Kamus Besar Bahasa Indonesia”. seperti kadang-kadang dikatakan demikian. hlm 8. 3. karena bila kedua kata itu dicampur-adukan maka ia akan menjadi suatu kecenderungan ideologi serta politik. M.. mereka akan merasakan tempat tinggal 9 10 11 Prof. Namun demikian kedua kata itu juga tidak dapat dipisahkan karena hukum tidak dapat dipisahkan dari konsep keadilan itu sendiri. keduanya haruslah dilihat dari sudut ilmiah. Soerjono Soekanto. hlm 2. alih bahasa-Drs. Edisi revisi.. Bee Media Indonesia. Hubungan yang mempersatukan berbagai peraturan khusus dari suatu tata hukum perlu dimaknai agar hakikat hukum dapat dipahami. PT Citra Aditya Bakti. sehingga hukum itu akan tampak adil namun hanyalah bagi golongan tertentu saja. disana mereka akan menjadi amat bahagia bila dijebloskan ke penjara.

sehingga ia dapat memberikan keadilan yang sebesar-besarnya kepada sebanyak-banyaknya pencari keadilan berdasarkan hati nuraninya. Dr. Dalam kaitan itu ada baiknya pula dicermati pendapat Prof. Oleh karenanya hakim dikatakan sebagai “perpanjangan tangan Tuhan di dunia”. serta penciptaan hukum (rechtsschepping) bila tidak terdapat peraturan perundangan-undang terhadap setiap perkara yang sedang ditanganinya. Selain itu seorang hakim juga harus memiliki integritas moral yang baik. tentang jabatan hakim. yang beranggapan bahwa penjeblosan ke dalam penjara adalah bentuk perampasan hak asasi manusia yang dibenarkan oleh Undang-Undang. Demikian pula dengan delik pembunuhan. tidak sama dengan seorang yang merampok dan membunuh hanya untuk kesenangan belaka. setiap manusia atau pencari keadilan akan mempunyai nilai sendiri tentang keadilan dan kebahagiaan. maka seorang hakim dituntut untuk memiliki pengetahuan luas. Jimly Asshiddiqie. Seekor babi pada pedalaman Papua amatlah tinggi nilai ekonomisnya. Seorang yang merampok dan membunuh karena harus membayar biaya rumah sakit anaknya. Menjadi bertolak belakang bila penjeblosan ke penjara ini diterapkan pada masyarakat kota besar. karena pembunuhan sebagai suatu tindakan penghilangan nyawa orang lain itu amat dipengaruhi sebuah peristiwa yang melatar-belakanginya. Nilai keadilan itu amat bergantung pada latar belakang diri masing-masing pencari keadilan. karena pada jabatan hakim melekat status sebagai seorang penegak hukum dan pemberi keadilan di dunia. sehingga ia dapat melakukan penemuan hukum (rechtsvinding). dan mereka pun tidak perlu bersusah payah untuk mencari makan. Jadi. Bagi penduduk pedalaman Papua akan lebih menyakitkan bila mereka diharuskan mengganti kerugian akibat perbuatannya dengan seekor babi.yang lebih layak dari pada tempat tinggalnya. S. Oleh karena itu berkenaan dengan tugas hakim untuk menerapkan hukum secara benar serta memberikan keadilan yang sebesar-besarnya kepada sebanyak-banyaknya individu. Jadi jelaslah bahwa jabatan hakim tidak dapat dipisahkan dari konsep hukum dan keadilan.H. 310 Bunga Rampai . tidak akan mungkin semua pembunuh dihukum dengan hukuman yang sama.

keluhuran martabat. sebagaimana tercantum dalam Undang Undang Nomor 22 tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial. Wewenang dan Tugas Komisi Yudisial Dalam UUD 1945 dengan jelas dinyatakan bahwa Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Hal ini jelas mengindikasikan bahwa wewenang Komisi Yudisial ada dua. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 311 . Yang menjadi hakim bukanlah orang yang mencaricari kerja. hlm. tetapi sebagai institusi. yaitu: 1) Kurangnya pengetahuan hakim yang bersangkutan. S. Cetakan Pertama. “Konstitusi dan Ketatanegaraan Indonesia Kontemporer”.. serta perilaku hakim. Bekasi. pengetahuan.12 Dari pendapat Prof. 85. Jimly Asshiddiqie. dan pengalaman seperti orang yang sudah menjadi dosen atau advokat terkenal yang bekerja sungguh-sungguh dengan segala kehormatan jabatan ini. The 13 Biography Institute. Jimly tersebut dapatlah ditarik kesimpulan bahwa bila terdapat hakim yang melakukan penyimpangan terhadap hukum dan rasa keadilan maka terdapat dua kemungkinan yang mendasarinya. Pegawai negeri adalah pelayan sedangkan hakim itu bukan pelayan tetapi jabatan kehormatan. 2007. Dr. Dan oleh karena itu gajinya lebih tinggi dari eksekutif dan legislatif. Karena itu hakim selayaknya bukan pegawai negeri. dan yang kedua: Menjaga dan menegakkan kehormatan. dan perilaku hakim. yaitu pertama: Mengusulkan pengangkatan hakim agung. Yang dapat diangkat menjadi hakim adalah orang yang memiliki kehormatan.hakim melaksanakan tugas bukan lagi sebagai individu. maka orang yang diangkat menjadi hakim adalah paling terhormat. bukan orang mencari kerja. Agar Komisi Yudisial dapat menjalankan tugasnya maka disusunlah dengan rinci wewenang dan tugas Komisi Yudisial.H. yang disahkan di Ja- 12 Pemikiran Prof. Sehingga seharusnya hakim tidak direkrut dengan proses seperti penerimaan pegawai negeri. dan 2) Belum memuaskannya tingkat kesejahteraan hakim yang bersangkutan. keluhuran martabat.

Mengajukan usul penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada pimpinan Mahkamah Agung. Seleksi yang dimaksudkan disini adalah seleksi administratif. Berdasarkan pasal 20 dan pasal 23 UU No. Melakukan seleksi terhadap calon hakim agung. termasuk riwayat pekerjaan. Sedangkan seleksi kualitas dan kepribadian menyangkut penilaian karya 2 tahun terakhir. seleksi kualitas dan kepribadian. Menjaga dan menegakkan kehormatan. Mengajukan calon hakim agung kepada DPR. serta pemeriksaan kesehatan untuk melihat keadaan kesehatan yang dapat menghambat atau meniadakan kemampuan (disability) dalam menjalankan tugas sebagai Hakim Agung. serta perilaku hakim. karya ilmiah dan legal case problem solving yang topiknya ditentukan oleh Komisi Yudisial.13 Dalam kaitan dengan mengusulkan pengangkatan hakim agung. ijazah asli atau yang telah dilegalisir. diwujudkan dalam bentuk: penerimaan laporan pengaduan masyarakat tentang perilaku hakim. Komisi Yudisial mempunyai tugas: Melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim. daftar harta kekayaan serta sumber penghasilan. Seleksi administratif menyangkut kelengkapan persyaratan administrasi. dan Nomor Pokok Wajib Pajak. Pelaksanaan pengawasan terhadap perilaku hakim.22 Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial. permintaan laporan secara 13 “Undang-Undang No. surat keterangan sehat jasmani dan rohani dari dokter rumah sakit pemerintah. Komisi Yudisial mempunyai tugas: Melakukan pendaftaran calon hakim agung. Menetapkan calon hakim agung. keluhuran martabat. keluhuran martabat serta perilaku hakim.karta pada tanggal 13 Agustus 2004 oleh Presiden Republik Indonesia serta dicatatkan pada lembaran negara Republik Indonesia tahun 2004 nomor 89 dan tambahan lembaran negara Republik Indonesia nomor 4415. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial maka kewenangan Komisi Yudisial meliputi: Mengusulkan pengangkatan Hakim Agung kepada DPR RI. Dalam kaitan dengan menjaga dan menegakkan kehormatan.” 312 Bunga Rampai . sekurang-kurangnya: daftar riwayat hidup.

Disamping upaya pengawasan yang dikemukakan di atas yang lebih merupakan upaya represif. profesionalitas dan integritas hakim serta pengajuan usul pemberian penghargaan terhadap hakim berprestasi. Komisi Yudisial juga diharapkan dapat melakukan upaya preventif agar tidak terjadi penyimpangan perilaku hakim dengan mengusulkan pemberian penghargaan bagi hakim berprestasi kepada Mahkamah Agung. lembaga Negara ini perlu didukung oleh database hakim yang dapat menyajikan informasi secara cepat dan akurat. dan tindasannya kepada Presiden dan DPR. Database Hakim sebagai Elemen Pendukung Penting Dalam rangka melaksanakan tugas serta wewenang yang diamanatkan oleh UUD 1945 yang penjabarannya di dalam UU Nomor 22 tahun 2004 tentang Komisi Yudisial.berkala kepada badan peradilan berkaitan dengan perilaku hakim. dapat berupa: Teguran tertulis. keluhuran martabat dan perilakunya. pembuatan laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi disampaikan kepada Mahkamah Agung. pemanggilan dan permintaan keterangan dari hakim yang diduga melanggar kode etik perilaku hakim. Disinilah pentingnya dukungan data base hakim yang akurat. Dengan demikian Komisi Yudisial dapat memberikan dukungan untuk melakukan pembinaan dalam rangka peningkatan pengetahuan. sehingga dapat diketahui secara pasti tingkat pengetahuan (skill) dan profesionalitas serta integritas dari setiap hakim. Tidak hanya untuk kepentingan melakukan pembinaan dalam rangka peningkatan pengetahuan. juga sangat bermanfaat dalam melakukan seleksi calon hakim agung. Sedangkan Usul Penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada Mahkamah Agung disesuaikan dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan. dan Pemberhentian. profesionalitas dan integritas hakim serta pengajuan usul pemberian penghargaan atau promosi terhadap hakim berprestasi saja. agar Komisi Yudisial dapat melakukan pemetaan terhadap hakim. pemeriksaan terhadap dugaan pelanggaran perilaku hakim. Disamping itu. Pemberhentian sementara. sehingga rasa keadilan yang didambakan masyarakat dapat lebih terpenuhi. tetapi juga untuk mePenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 313 . Pemberian penghargaan maupun sanksi dimaksudkan untuk memotivasi hakim agar mempunyai kinerja lebih baik serta mampu menjaga kehormatan.

dan data serta informasi lainnya yang terkait isteri atau suami dan anak. Data primer mengenai pribadi hakim Adalah data dan informasi yang ada hubungan langsung dengan diri hakim tersebut. anak. Data Keluarga. Data Keluarga Adalah data dan informasi yang ada kaitannya dengan keluarga hakim. pekerjaan isteri atau suami. Selain itu informasi tentang keluarga ini sangat penting untuk melihat kondisi sesungguhnya dari kehidupan keluarga hakim yang bersangkutan.lihat rekam jejak hakim dalam rangka seleksi calon hakim agung. Oleh karena itu. yaitu: Data primer mengenai pribadi hakim. Hakim-hakim yang memiliki track record baik. menjadi program komisi ini untuk mempromosikan hakim tersebut. profesionalitas dan integritas. Data dan informasi tersebut meliputi suami atau isteri. Sesuai dengan pepatah. Dari database inilah akan mudah kita telusuri hakimhakim mana yang layak berdasarkan kemampuan pengetahuan (skill). untuk menggambarkan keadaan hakim secara utuh sangat diperlukan. pekerjaan anak. dari rekam jejak (track record) yang ada pada dirinya. riwayat pendidikan dan pekerjaan kedinasannya. minimal dapat dibagi dalam 5 kategori. Informasi tentang aktivitas hakim dan keluarga. Data Kekayaan. Data dan informasi mengenai integritas. seperti biodata. baik mengenai jati dirinya maupun yang terkait dengan data kedinasan hakim. Data Kekayaan Adalah data kekayaan hakim ditujukan untuk mengetahui besaran kekayaan yang dimiliki oleh hakim yang 314 Bunga Rampai . Dalam hal ini keluarga memegang peranan penting untuk membentuk karakter jiwa maupun perilaku termasuk pribadi hakim. skill dan profesionalitas. bahwa untuk melihat perilaku seseorang maka dapat dilihat bagaimana ia berperilaku di dalam keluarga dan masyarakat. Data base hakim yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan wewenang dan tugas Komisi Yudisial. penentuan data item yang membentuk database rekam jejak hakim harus dibuat memenuhi kebutuhan di atas.

Hal ini secara tidak langsung dapat mencerminkan integritas yang dimiliki oleh Hakim. Unjuk kekayaan menjadi sebuah gaya hidup tersendiri untuk memperlihatkan gengsi seseorang. Data atau informasi yang perlu direkam dalam database antara lain meliputi: • • • • • kebiasaan yang sering dilakukan oleh hakim maupun keluarga (orang tua.bersangkutan. Namun demikian. Kebiasaan keluarga ini ada kemungkinan mempunyai kaitan dengan pembentukan sifat dan karakter hakim tersebut. Bila hakim memiliki kekayaan yang besar. istri mapun anak). meskipun terkadang kekayaan tersebut didapat dengan cara yang tidak halal. jika ada jaringan bisnis dan keterlibatan hakim dalam jaringan bisnis tersebut Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 315 . Data atau informasi yang perlu direkam dalam hal ini adalah terkait dengan harta hakim. istri. Ketidaktaatan dalam membayar pajak merupakan cermin kelalaian dari warganegara untuk menyumbangkan kekayaannya bagi pembangunan bangsa. acap kali orang tersebut lupa akan kewajiban sebagai warga negara dalam mengelola kekayaan yang dimilikinya. maka perlu diketahui darimana dan dengan cara bagaimana kekayaan tersebut diperoleh? Selain itu. Dengan memiliki informasi aktifitas ini setidaknya dapat diperoleh gambaran mengenai perilaku yang bersangkutan dan keluarganya (orang tua. anak) kesenangan terhadap mahluk hidup atau benda-benda tertentu gaya hidup hakim atau keluarga kedekatan (afiliasi) dan bentuk keterlibatannya pada sebuah organisasi politik tertentu. untuk mengetahui bagaimana kekayaan dan sumber-sumber kekayaan yang dimiliki oleh hakim. apakah Hakim juga memiliki kesadaran/ ketaatan untuk membayar pajak dari kekayaan yang dimilikinya? Informasi tentang aktivitas hakim dan keluarga Adalah informasi mengenai aktivitas di luar kedinasan yang biasa dilakukan oleh hakim dan keluarganya baik yang positif maupun yang negatif. Adagium bahwa “kekayaan seseorang dapat mempengaruhi gaya hidup (life style) dari orang tersebut” agaknya sangat melekat dalam budaya hidup di Indonesia.

hakim yang profesional senantiasa taat azas baik di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan. maka salah satunya bisa dilihat dari pengalaman dari hakim pada saat menangani perkara. Kualitas berhubungan dengan kemampuan (capability) teknis yudisial maupun manajerial hakim tersebut dalam menangani persoalan. khususnya perkara hukum. pengalaman hakim terhadap penanganan 316 Bunga Rampai . skill dan profesionalitas Kualitas dan integritas (moral) adalah materi paling penting untuk menilai bagaimana pribadi seorang hakim. Sedangkan untuk menilai bagaimana integritas hakim. melainkan juga dilihat bagaimana hakim pada saat di luar kedinasan. kurang lebih alat (instrument) untuk menilainya adalah apakah hakim pernah terlibat kasus (skandal) yang melanggar norma baik norma hukum maupun kesusilaan? Selain persoalan kualitas dan integritas. Keduanya menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi dan menjadi prasyarat utama yang harus dimiliki oleh hakim.Data dan informasi mengenai integritas. Untuk mengukur tingkat kualitas dan integritas seseorang bukan hal yang mudah. sedangkan integritas tanpa kualitas tidak akan terlalu banyak memberi perubahan dalam memperbaiki kondisi lingkungan (peradilan). Kualitas tanpa integritas bisa membuahkan kerusakan. khususnya dalam penanganan perkara hukum. informasi penting lain yang perlu di dapat dari seorang hakim adalah mengenai profesionalitasnya selama menjalankan pekerjaan di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan. Informasi lain yang berkaitan dengan hakim. antara lain meliputi: informasi mengenai pernah tidaknya hakim terlibat sebuah kasus (hukum maupun kesusilaan). Prinsipnya. Sedangkan integritas berkaitan dengan erat dengan karakter kejiwaan (perilaku) yang diterjemahkan dalam perilaku hidup sehari-hari. Bila kualitas berkenaan dengan masalah kemampuan. Profesionalitas hakim tidak hanya diukur pada saat hakim mengemban pekerjaannya di dalam kedinasan. Meski demikian keduanya bukan sesuatu yang tidak dapat dinilai. Data atau informasi yang perlu direkam dalam data base rekam jejak hakim terkait dengan hal di atas. baik yang bersumber dari media maupun dari lingkungan kerja mengenai sepak terjang si hakim.

kasus. kehadiran hakim di kantor. dalam hal tingkat pengetahuan (skill) dan profesionalitas serta integritas moral dari setiap hakim. kebiasaan hakim dalam memanfaatkan barang-barang inventarisasi kantor (misalnya apakah kendaraan dinas/jabatan sering digunakan untuk keperluan di luar kantor: arisan. penentuan data item perlu dilakukan dengan sangat cermat. Penutup Akhir kata ada beberapa catatan penting yang harus diperhatikan berkenaan dengan pembangunan database (rekam jejak) hakim. profesionalisme dan integritas hakim. Pertama. Selain itu. memang merupakan data atau Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 317 . agar data atau informasi yang disimpan dalam database tersebut. kepatuhan hakim dalam melaksanakan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Urgensi pembangunan Database (rekam jejak) hakim Kebutuhan akan database ini sangat penting sifatnya. khususnya di dalam pembuatan putusan. keluhuran martabat serta perilaku hakim. pengajuan usul pemberian penghargaan terhadap hakim berprestasi dan lain sebagainya. karena dengan tersedianya database hakim. database ini juga dapat menjadi sumber informasi rekam jejak hakim yang sangat bermanfaat di dalam mendukung pelaksanaan kewenangan dan tugas-tugas Komisi Yudisial yaitu. melakukan seleksi calon hakim agung dan pengawasan terhadap hakim guna menjaga dan menegakkan kehormatan. Bentuk dukungan yang bisa diberikan dapat berupa pelatihan. prestasi kerja atau penghargaan yang pernah diperoleh. profesionalitas dan integritas hakim. dsb). Dengan terbangunnya database hakim ini. jalan-jalan. buku bacaan. disiplin dalam sidang (apakah hakim tersebut tepat waktu dalam melaksanakan sidang atau sebaliknya. hakim lebih sering mengulur-ulur jadwal sidang?). belanja. Komisi Yudisial dapat melakukan pemetaan terhadap hakim. guna meningkatkan kualitas atau pengetahuan. hasil karya ilmiah yang pernah dihasilkan. Komisi Yudisial dapat dengan secara akurat menentukan bentuk dukungan yang perlu diberikan kepada hakim untuk melakukan pembinaan dalam rangka peningkatan pengetahuan.

data dan/atau informasi yang simpan di dalam database harus betul-betul diperhatikan tingkat akurasinya. Ketiga. keamanan data dan informasi yang tersimpan dalam database merupakan hal yang sangat penting diperhatikan. Kedua. tetapi juga pengaman secara fisik perlu diperhatikan. Dengan demikian data atau informasi yang tersimpan dapat dijamin akurasi dan integritasnya. Pengamanan yang diterapkan tidak hanya di level aplikasi atau perangkat lunak dan jaringannya.informasi yang penting dan diperlukan di dalam mendukung pelaksanaan kewenangan dan tugas Komisi Yudisial. sesuai dengan tingkat kewenangannya. 318 Bunga Rampai . agar data atau informasi hanya dapat diakses oleh orang yang berhak. agar informasi yang disajikan terpercaya.

S. 3. S.H. Wakil Redaksi Pelaksana : Tatang Suryaman Sekretariat : 1. Ak 9. M.H.H. Drs. 2. Si. 7.H. S. S. Abdy Koro. 2.. S. Berthine Sumarah Sudiono. S. Arnoldus Johannis Day. IP.E. Achmad Dardiri.H. Drs. Kom 5. H. 4. S.E. M. Editor/Penyunting : 1..H. M. Muzayyin Mahbub. Hendro Sukmono. 5.H. Eddy Hary Susanto. Redaktur : Hermansyah. H. S. Amir Syarifudin. S. Arif Budiman. Ir. Redaktur Pelaksana : M. S. Niniek Ariyani. S.S.H. Si. H. Sos 9. 3. Arnis Duwita Purnama. S. 4. M. M. S. S.. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 319 . 8. Saiful Rachman.Redaksi Penanggung Jawab : Drs. S. 8.M.H. Romlah Pelupessy. Asep Rachmat Fajar. 6. M. Danardono. S.H. Hasyim. Frida Aprilia.H. Sulasman. S. Anna Suhanah 7. Ak. Kom. Andi Djalal Latief. 6.. M.E.

320 Bunga Rampai .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful