Komisi Yudisal dan Reformasi Peradilan

i

ii

Kata Pengantar Ketua Komisi Yudisial Republik Indonesia
Pendekatan transdisipliner dalam pelaksanaan pembangunan di Indonesia dipandang penting dan relevan oleh ekonom berkarakter kerakyatan dan egaliter, Prof. Dr. Mubyarto. Dalam pandangannya, koperasi merupakan pilar dan sistem ekonomi yang kompatibel untuk pendemokratisasian ekonomi bangsa yang berpihak pada rakyat sebagai pemegang tunggal kedaulatan rakyat. Jauh sebelumnya, Bung Hatta salah satu penyusun UUD Tahun 1945 adalah Negarawan yang telah berjuang keras memasukkan ekonomi kerakyatan sebagai prinsip dasar penyelenggaraan perekonomian Indonesia. Dalam tulisannya yang berjudul Demokrasi Kita, ia menegaskan pentingnya peranan ekonomi kerakyatan atau demokrasi ekonomi dalam mewujudkan keadilan sosial di Indonesia. Dikatakan selanjutnya, bahwa demokrasi politik saja tidak dapat mewujudkan persamaan dan persaudaraan, maka harus ada demokrasi ekonomi. Jika tidak, manusia belum merdeka dan persamaan serta persaudaraan belum ada. Maka, cita-cita demokrasi Indonesia adalah demokrasi sosial, yang melingkupi seluruh tatanan hidup yang akan menentukan nasib manusia. Dua di antara ekonom langka yang kini amat sulit ditemukan kader penerusnya dengan kepribadian ilmu dan kejelasan serta ketegasan secara lugas dalam sikap pembelaannya terhadap rakyat, memiliki spirit keadilan sosial yang dikaitkan dengan demokrasi sosial. Suatu pandangan kalangan ekonom yang berfikir transdisipliner. Secara elaboratif, kedua almarhum yang kini telah tenang (muthmainnah) di alam kubur karena kesalehan akademiknya menegaskan suatu ”ideologi ekonomi kerakyatan”. Dan keyakinan ideologis inilah yang melekat hingga akhir jabatan dan hayatnya.

iii

Di negeri dengan ribuan kampus yang tersebar di berbagai daerah ini, rasanya, lebih sulit ditemukan akademisi yang beruntung dengan memiliki watak dan kepribadian yang jelas, yang clean dan clear. Entah karena begitu kuatnya main stream pragmatisme dan hedonisme yang sudah mengideologis, atau bahkan sudah setingkat menjadi falsafahnya, teramat langka terdengar suara nyaring, lugas dan kritis dari lembaga kampus ”pencetak” SDM Pemimpin yang iImuan, dalam mengkritisi situasi bangsa yang mengitarinya. Apakah untuk ”mengkloning” frame of thinking konstruksi dan kepribadian ilmiah kedua ekonom kerakyatan di atas, kita harus set back ke masa lalu yang jelas bertentangan dengan watak sejarah itu? Jelas mustahil. Karena, salah satu dimensi sejarah ialah suatu kesadaran untuk melakukan gerakan-gerakan serius dengan misi ”transformation to the future”. Yang pantas diteladani adalah, bahwa keadilan sosial dipandang dan diletakkan sebagai cara pandang untuk menata perekonomian bangsa, untuk mewujudkan persamaan dan persaudaraan antar anak bangsa dan bahkan menentukan nasib manusia Indonesia. Demokrasi ekonomi dipandang penting yang dikaitkan dengan demokrasi sosial. Suatu cara pandang yang begitu luhur, jelas keberpihakannya kepada rakyat dan merefleksikan spirit Pembukaan UUD Tahun 1945. Namun sejarah kehidupan ketatanegaraan dalam era orla dan orba telah tidak menghargai pemikiran di atas. Tentu hal inilah yang kemudian telah melahirkan suatu bencana ketidakadilan ekonomi yang berdampak luas dalam kehidupan sosial budaya lainnya, termasuk dalam bidang hukum dan law enforcement. Politik dan ekonomi sebagai panglima pembangunan pada era rezim-rezim yang lalu, tidak apresiatif dan artikulatif terhadap posisi dasar rakyat sebagai yang paling berhak atas seluruh kekayaan bangsa sebagai anugerah Allah. Mainstream pemikiran ekonomi yang jelas pro rakyat diabaikan dengan kebijakan ekonomi neoliberal yang telah melahirkan birokrasi korup yang ditandai dengan KKN. Di penghujung kejatuhan Soeharto, Indonesia telah dikenal oleh masyarakat internasional sebagai salah satu negara terkorup di level dunia. Anggaran negara Indonesia telah dibocorkan hingga mencapai angka rata-rata 30% pertahun, sebagaima-

iv

na diungkap oleh Prof Sumitro. Meminjam teori korupsi oleh Syed Hussein Alatas, dikenal ada tiga lapis korupsi. Lapis pertama, yang melibatkan warga dengan aparatur negara, berupa suap (bribery) yang prakarsanya datang dari warga, dan pemerasan (extorsion) yang diperankan olah aparatur negara. Lapis kedua, korupsi dalam lingkaran dalam (inner circle) di pusat pemerintahan dalam ketegori nepotisme, dimana ada hubungan darah antara pelayan publik dengan pemangku kepentingan yang menerima berbagai kemudahan; kronis-isme, yang tidak ada hubungan darah antara para pelaku korupsi dan yang diuntungkannya, dan kelas baru, dimana antara pengambil kebijakan dengan yang menerima kemudahan telah menjadi satu kesatuan organik. Meminjam George J Aditjondro, korupsi di Indonesia dibedakan antara korupsi yang didorong oleh faktor kemiskinan (corruption driven by poverty) dan yang di dorong oleh kerakusan (corruption driven by greed). Yang pertama disebut ”korupsi kerah biru” yakni pelakunya mereka yang berseragam dan yang kedua disebut ”korupsi kerah putih” yakni mereka yang berdasi. Apapun kategorisasinya, kita ”berbahagia”, bahwa secara alamiah di negeri ini, kita memperoleh pengayaan tentang puluhan modus dan pelaku korup. Terakhir kita membaca terdapatnya executive corruption, legislative corruption dan judicial corruption. Masing-masing telah memberikan ragaan dan contoh sempurna tentang kualitas dan sejumlah modus kejahatannya yang pasti telah, sedang dan akan terus menerus secara berkesinambungan (sustainable) menciptakan mesin korupsi yang berjalan secara mekanis dan organik. Keganasan dan kekejaman terus berjalan dengan pasti di atas kepatuhan ideologi korupsi para koruptor di negeri yang masih dihuni oleh sekitar 37 juta rakyat miskin, dan puluhan juta mereka yang terbatas mampu memenuhi hajat makan yang tak mampu berpikir masa depan pendidikan para pewarisnya. Dalam situasi mengenaskan dan menyayat ulu hati rakyat miskin inilah, kalangan ahli hukum dan penegak hukum, telah disapa dan diundang oleh kedua ekonom di atas, untuk berbicara dan melangkah atas nama dan untuk keadilan sosial, demokrasi ekonomi dan demokrasi sosial. Suatu ajakan luhur, yang menjadi ranah dan agenda mereka yang terpanggil nurani dan akal budinya untuk agenda ”re-

v

formasi peradilan”. Suatu agenda yang menuntut kesadaran sejarah untuk bersama-sama dalam ketulusan dan kejiwabesaran merintis proses penegakan hukum yang benar, adil, jujur, transparan dan profesional. Kendatipun berdasarkan survey dari Partnership for Governance Reform tahun 2002, terdapat persepsi masyarakat bahwa badan peradilan merupakan badan terkorup dibandingkan badan-badan lainnya, demikian halnya survey dari Transparansi Internasional Indonesia (TII) tahun 2006 yang mengungkapkan bahwa inisiasi dari badan peradilan untuk melakukan praktik suap lebih tinggi daripada lembaga publik lainnya dan laporan dari Global 2007 Transparency International (TI) yang bermarkas di Jerman telah menempatkan badan peradilan Indonesia dalam kategori badan paling korup di antara badan peradilan di beberapa negara (Yunani, Albania, Meksiko, Moldova, Maroko, Peru, Taiwan dan Venezuela), hingga muncul penilaian Syahrir, bahwa badan peradilan telah menjadi black market of justice, namun, di atas semua penilaian ini, kita sebagai bangsa besar, tentu memiliki jiwa besar, dada lebar dan nafas panjang serta emosi yang menep untuk melakukan self correction. Dalam kerangka untuk mendorong terwujudnya hakekat kemerdekaan bangsa dalam usia kemerdekaan ke-62, patut kita memulai lembaran putih baru. Yakni niat dan kesadaran baru untuk menjadikan proses-proses peradilan sebagai pilar moral menuju terdorongnya tatanan kehidupan hukum yang benar-benar berkeadilan, dan membawa dampak konstrukrif bagi terwujudnya persamaan dan persaudaraan antar anak bangsa, terutama yang berkaitan dengan pemenuhan dan perlindungan hukum atas hajat hidup dan hak-hak asasi rakyat. Siapapun, semuanya, sudah saatnya untuk kembali kepada otentisitas diri (fitrah), yang menyadari dan memerlukan pemenuhan hak-hak fitrah sesama. Hak itu antara lain, pada satu sisi memperoleh perlindungan hukum dan keadilan sehingga tidak lagi terdapat kesenjangan yang mencolok di antara sesama, dan pada sisi lain, kita bisa memperoleh hak yang berasal dari dipenuhinya kewajiban dari orang lain karena kita telah memberikan hak kepada mereka. Penegakan hukum adalah proses mewujudkan hak menjadi suatu hukum positif, atau mengurangi dan meniadakan sesuatu yang bukan hak menjadi hukum posi-

vi

gajah mati meninggalkan gading. yaitu moral. bisa dielaborasikan dalam pandangan yang sedikit filsafati. bahwa Amerika Serikat adalah merupakan ”a society designed by the judiciary”. Putusan yang teruji secara moral dan hukum disertai asupan yurisprudensi dan doktrin hukum yang selektif yang kemudian melahirkan situasi hukum yaitu menyelesaikan sengketa dan tegaknya hukum dan keadilan terhadap siapapun. Mendesain putusan yang memenuhi ajakan kedua ekonomi kerakyatan di atas. Di Indonesia. moral adalah esensi dan ruh dari hukum. Suatu putusan hakim yang merupakan produk bersama secara etis-profesional dari pemberfungsian suara nurani yang bening dan akal budi yang sehat oleh empat profesi terpuji di atas dalam keseluruhan proses peradilan. Namun. agar dengan putusan hakim dapat diperoleh suatu tatanan baru dimana proses vii . dimana pengadilan melahirkan putusan-putusan sedemikian rupa sehingga terjadi perubahan-perubahan penting dalam masyarakat. Ini lumrah secara sosiologis dalam masyarakat kita yang untuk sebagian telah terwarisi budaya suap menyuap dalam bentuk dan dalih apapun juga. Yang oleh Prof. Polisi. Satjip-to Rahardjo mengutip penelitian Dirk dan Bridwell. memang harus dimulai dari sekarang. Disini. Hakim dan Lawyer mati meninggalkan contoh penegakan hukum yang berkeadaban. yang merupakan nilai (value) yang membedakan apa yang benar dan salah yang haq dan bathil. Penormaan moral menjadi hukum positif bukan saja masih terkendala dari berbagai faktor penyebabnya. Maka. masih memerlukan pembenahan yang tidak sederhana. Pepatah klasik harimau mati meninggalkan belang. selalu saja ada pihak-pihak yang melakukan perlawanan. untuk menuju kearah mimpi indah itu. Tentu. akan haknya di Amerika Serikat. Putusan semacam inilah yang memenuhi kriteria ranah-ranah ”demi keadilan berdasarkan ke-Tuhanan Yang Maha Esa”. Tak salah jika kita berobsesi. terdapat pepatah there is no law without morality. Yaitu. untuk kedepan.tif. untuk menuju pada putusan hakim yang mengkarakterkan sebagaian instrument of social engineering atau social reconstruction. seperti ditulis oleh Prof. Senoadji disempurnakan menjadi there is no morality without religion. Di antara keduanya terdapat ukuran sebagai patokan. Jaksa.

tokoh agama dan masyarakat. Yaitu terwujudnya proses penguatan dan sekaligus pengawasan terhadap badan peradilan melalui mekanisme undang-undang yang akan diiringi dengan pemeranan seluruh elemen masyarakat madani sebagai bagian terpenting bagi terwujudnya peradilan yang Jujur. tapi juga memerlukan kondisi psikologis dimana para penegak hukum memiliki dan merasakan makna dari hakekat diri yang fitri. yang memerlukan asupan spiritualitas dosis tinggi serta lingkungan keluarga dan budaya organisasi di instansi dimana ia berhikmat dengan profesi luhurnya itu. para pengamat dan aktivis NGO dalam Buku Bunga Rampai Komisi Yudisial edisi kedua ini. dikandung maksud untuk memperoleh pandangan-pandangan yang komprehensif dan komplementer untuk memperoleh pandangan mengenai gagasan dan langkah menuju bagaimana proses reformasi peradilan bisa segera dimulai dengan pemeranan elemen masyarakat madani. berbagai himpunan pemikiran yang menuju pada bagaimana agenda reformasi peradilan dapat dipersepsi dan diusung bersama. Ia memerlukan pendekatan kemampuan intelektualitas tinggi. pengefektifan pengawasan yang lebih proporsional viii . anggota DPR. Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi dalam satu nafas baru. Dari sisi legislasi di DPR. yang salah satu penyebabnya bisa datang dari produk legislasi dan kebijakan nasional maupun putusan hakim yang tercerabut dari kesadaran nurani dan akal sehat serta rasa keadilan masyarakat. bukan perkara mudah. Bersih dan Profesional. semua pihak yang pro pembebasan rakyat dari lilitan kemiskinan masif tentu berharap lahirnya revisi Undang-Undang Komisi Yudisial. Kita amat memerlukan kontribusi pemikiran dan aktualisasi komitmen moral bersama menuju kearah terdorongnya proses pencapaian lahirnya putusan hakim yang memiliki utilitas atau kemaslahatan bagi pemerdekaan anak bangsa ini dari himpitan kemiskinan masif.pendemokratisasian hukum bisa berdampak konstruktif pada terciptanya keadilan sosial. adalah merupakan misi Komisi Yudisial. Dalam kerangka demikian. dalam dan komprehensif serta transdisipliner. Maka. Dimintakannya para penulis dari berbagai latar belakang akademisi. langkah untuk mendemokratiskan secara berkeadaban proses-proses peradilan. hendaknya menjadi komitmen dan agenda sistemik dan simultan.

Kita berkepentingan akan lahirnya putusan-putusan hakim yang berkeadaban. Semoga tulisan dalam Buku Bunga Rampai ini memberikan wacana yang lebih luas kearah pembenahan peradilan kita kedepan. Jakarta. yang mencerminkan suara dan hakekat keadilan bagi terwujudnya perlindungan hukum terhadap para pencari keadilan tetapi juga sekaligus dalam rangka perubahan tatanan kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih berkeadilan. 2 Agustus 2007 M. Busyro Muqoddas ix .baik oleh Komisi Yudisial sebagai wujud amanat reformasi bersama-sama dengan seluruh elemen masyarakat madani.

x .

dukungan dan motivasi. Dr. S. M.. Bapak-bapak Anggota Komisi Yudisial Republik Indonesia. MA.H. Ali Zaidan. Bapak F... DR.M. M. Bapak Dr.H. DR... juga disampaikan kepada Bapak Wakil Ketua.. M. M. Dr. Din Syamsuddin. Komariah Emong Sapardjaja.H.. S. M..... Bapak M. Ermaya Suradinata. yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu.H. Bapak Prof. Soekarno.H. Bapak Prof. S. Dr. Untuk itu. kami menghaturkan terima kasih yang tak terhingga kepada para penulis (kontributor) yang telah memberikan artikel untuk materi buku ini. atas dukungan dan kontribusi pemikiran dalam proses penyusunan buku ini.H.H.H. para Tenaga Ahli dan xi . Sp. Moh. MS.H. Dr. H. John Pieris. Hatta Ali.. S.H. Bapak Prof. S. Secara khusus.H. Mahfud MD.. Bapak Prof.H. Ibu Prof.H. S. S. Busyro Muqoddas. Banyak pihak yang telah memberikan kontribusi yang sangat berharga dalam proses penyusunan buku ini.H. S.. M. serta membuat kata pengantar dalam buku ini. Bapak M.. Ucapan terima kasih kepada Bapak M. Bapak Arbab Paproeka.N. Bapak Firmansyah Arifin... M. Ketua Komisi Yudisial Republik Indonesia yang telah memberikan kontribusi pemikiran. S.Hum. dan Bapak Ir. S. LL. Penghargaan yang tinggi. S.H. S. Bapak Asep Rahmat Fajar.X. M... Andi Djalal Latief...H.H.U. S... S. diucapkan terima kasih kepada: Bapak Prof. Bapak Trimedya Panjaitan.H.. MS. Bapak Dr. Bapak Dr.H.. S.H. S.Penghargaan dan Ucapan Terima Kasih Program penyusunan buku Bunga Rampai Dua Tahun Komisi Yudisial Republik Indonesia ini adalah salah satu program yang diamanatkan oleh Rapat Kerja Komisi Yudisial Republik Indonesia pada bulan Februari 2007 di Bandung. Hidayat Nur Wahid. Satjipto Rahardjo. Bismar Nasution.H. Bapak A.. Marwan Mas. Pandupraja. S.

2 Agustus 2007 Hermansyah Redaktur xii . Jakarta. Buku Bunga Rampai ini dapat diselesaikan adalah tidak terlepas dari dukungan dan dedikasi yang sangat tinggi dari Sekretariat Tim Penyusun Buku Bunga Rampai. Semoga dengan hadirnya buku ini dapat memberi manfaat bagi kita semua. serta dukungan Sekretariat Jenderal Komisi Yudisial.Bapak Sekretaris Jenderal Komisi Yudisial Republik Indonesia.

3. S.H. S.M. S. 4.H. Pandupraja. M.N. 1 21 43 65 5. Ali Zaidan.H. S. Hakim Agung dan Penemuan Hukum (Rechtsvinding) Pada Era Reformasi dan Transformasi Hukum Prof. Dr. Kontribusi Lembaga Sosial Mendorong Reformasi Peradialn Prof. M. Satjipto Rahardjo. S. Perubahan Bidang Politik dan Pengaruhnya Terhadap Reformasi Peradilan Arbab Paproeka. LL.H. 95 107 135 xiii .H. S.H.H.U.H.H. 7.Daftar Isi Prakata Ketua Komisi Yudisial M. Hatta Ali. 8. S. M.. Busyro Muqoddas. S.. Penghargaan dan Ucapan Terima Kasih Daftar Isi iii xi xiii Bagian Kesatu Reformasi Peradilan 1. 83 6. Kontribusi Komisi Kepolisian Nasional Dalam Mempercepat Reformasi Peradilan A. Peran Hakim Agung Dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding) dan Penciptaan Hukum (Rechtsschepping) Pada Era Reformasi dan Transformasi M.. S. S. Moh. 2. Dr.H.. Komisi Yudisial Dalam Mosaik Ketatanegaraan Kita Prof. DR. Komisi Yudisial Pengawal Reformasi Pengadilan Mendayung diantara Simpati dan Resistensi Firmansyah Arifin. Kontribusi Lembaga Kejaksaan Dalam Mempercepat Reformasi Peradilan M.. Komariah Emong Sapardjaja. Sp. Mahfud MD..Hum.H.

Peran Serta Elemen Masyarakat Sipil Dalam Mendorong Proses Reformasi Peradilan dan Penegakan Hukum Prof. 2. Urgensi dan Fungsi Pembentukan Jejaring di Daerah Oleh Komisi Yudisial Asep Rahmat Fajar. Soekarno. M. Dr. Sinkronisasi Sistem Perundang-undangan Lembaga Peradilan Dalam Menciptakan Peradilan Yang Lebih Baik Trimedya Panjaitan. MS. John Pieris.H. Dr. S.. Reformasi Pendidikan Hukum Untuk Menghasilkan SDM Penegak Hukum Yang Kompeten dan Profesional Prof.. Memulihkan Kewenangan Komisi Yudisial Dengan Melibatkan Kemitraan (Jejaring) di Daerah Dr. 8. S.H.H. DR.. S.H.H. Ermaya Suradinata. S.H. Marwan Mas.H. MA. Pentingnya Peran Komisi Yudisial Berdasarkan Pendekatan Geopolitik dan Geostrategi Indonesia Prof. Bismar Nasution.H.H. DPR dan Perubahan Atas Undang-Undang Komisi Yudisial F. Urgensi Pembuatan Data Base Hakim Sebagai Media Penunjang Pelaksanaan Wewenang dan Tugas Komisi Yudisial Ir.S. 7. 4. 155 165 Bagian Kedua Penguatan Kelembagaan 1. Din Syamsuddin 10. S. Komisi Yudisial Yang dicita-citakan Oleh Masyarakat dan Pencari Keadilan Dr. S.. 5. M. H. S.H. M. M. 3. M. M. Redaksi 185 197 221 249 259 275 287 301 319 xiv .X.9. Gerak dan Langkah Nyata Komisi Yudisial Dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Dr. Andi Djalal Latief. 6. Hidayat Nur Wahid.

Bagian Kesatu Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan xv .

xvi .

pengayaan mana dibangun oleh banyaknya kontroversi atas langkah-langkah KY yang begitu dibentuk langsung tancap gas tinggi untuk mengawasi perilaku dan moralitas hakim. memprotes karena keputusan KY ditetapkan dalam rapat yang.Komisi Yudisial dalam Mosaik Ketatanegaraan Kita Moh. sengaja dilakukan tanpa kehadirannya. praktis pekerjaannya hanya menyeleksi calon hakim agung. Mahfud MD Pujian dan cercaan Kehadiran Komisi Yudisial (KY) di Indonesia telah memperkaya khazanah kita tentang pembangun hukum. salah seorang anggotanya. Itu pun masih menimbulkan kontroversi karena produknya tentang calon hakim agung tahun 2007 banyak yang menilainya tidak berkualitas apalagi Irawady Joenoes. Meskipun sudah pernah menulis tentang KY dari aspek politik hukum untuk buku peringatan Satu Tahun Komisi Yudisial (2006). Pujian dan cercaan terus bermunculan yang sampai saat ini (Juli 2007) menyebabkan KY berada pada posisi yang menggantung karena setelah wewenangnya untuk melaksanakan fungsi pengawasan dipangkas melalui putusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada Agustus 2006. katanya. Kontroversi sambutan atas kehadiran KY dapat ditelusuri dari latar belakang kehadirannya di dalam sistem Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 1 . 22 Tahun 2004 berdasar atribusi kewenangan legislasi yang sah. penulis diminta mengelaborasi lebih lanjut optik politik hukum tentang KY tersebut berkenaan dengan perkembangan-perkembangan baru menyusul putusan MK pada akhir Agustus 2006 yang memangkas hampir seluruh kewenangan KY yang semula diberikan oleh UU No.

ketatanegaraan kita. Kedua. Mafia peradilan (judicial corruption) yang melibatkan hakim-hakim terasa menyengat tetapi tak dapat terlihat atau dibuktikan secara formal karena pelaku-pelakunya terdiri dari orangorang yang pandai memanipulasi hukum untuk saling melindungi. Saat kita melakukan reformasi pada tahun 1998 bermunculan wacana untuk memperbaiki penegakan hukum kita dengan asumsi bahwa terjerumusnya Indonesia ke dalam krisis multidimensi yang sulit disembuhkan disebabkan oleh bobroknya dunia peradilan. pada waktu itu memberi dukungan kuat dengan argumen-argumennya yang sangat meyakinkan tentang KY dan segala kewenangannya yang kemudian dituangkan di dalam UU No. 22 Tahun 2004. Bahkan orang-orang yang sekarang duduk di MA maupun MK yang “terkesan” ikut menghantam KY. untuk menguji UU terhadap UUD dibentuk Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai lembaga negara baru pemegang kekuasaan kehakiman di samping Mahkamah Agung (MA). Pertama. Gagasan tentang kedua lembaga ini mendapat sambutan posistif baik dari kampus-kampus dan LSM maupun dari parpol dan Fraksi-fraksi di DPR dan MPR. Perubahan Positif Ketika gagasan tentang pembentukan KY dan MK ini diproses secara legislasi di DPR kewewenangan yang diberikan kepada keduanya ternyata berkembang secara lebih baik. Itulah sebabnya dua hal untuk memmperbaiki kinerja hukum kita segera menyeruak ke dalam wacana yang kemudian diterima dengan baik di dalam proses politik yang lahir di awal reformasi. KY diberi tugas melakukan pengawasan terhadap hakim baik secara preventif maupun represif. Pada saat yang sama dirasakan juga bahwa banyak produk UU yang secara substantif bertentangan dengan UUD 1945 sehingga isinya banyak yang lahir dari korupsi politik tetapi tidak ada instrumen hukum dan lembaga yang dapat mengoreksinya melalui pengujian kecuali pengujian legislatif (legislative review) yang sudah pasti sangat bergantung pada kehendak lembaga-lembaga poltik yang korup. Secara preventif KY dapat mengusulkan calon hakim agung agar tampil hakim agung- 2 Bunga Rampai . untuk mengawasi perilaku hakim agar tidak melakukan judicial corruption harus dibentuk Komisi Yudisial (KY).

LP3ES. Kemajuan nyata Harus diakui secara jujur bahwa mosaik lembaga peradilan. terutama kekuasaan kehakiman. 1998. apakah kita setuju atau tidak setu- 1 Bahasan meluas tentang ini lihat dalam buku saya. memutus pendapat DPR bahwa Presiden/Wapres tak lagi menuhi syarat. memutus sengketa hasil pemilu.1 Itulah sebabnya ketentuan tentang itu ditegaskan di dalam UUD hasil amandemen sehingga pengaturan operasionalnya dengan atribusi kewenangan legislasi menjadi jelas dan dapat diimplementasikan. Begitu pun dengan MK. Jakarta. Terlepas dari soal. memutus pendapat atau dakwaan (impeachment) DPR bahwa Presiden telah melakukan salah satu atau lebih dari lima hal yang ditentukan di dalam UUD yang dapat dijadikan alasan untuk memberhentikan Presiden/Wapres dalam masa jabatannya.hakim agung yang baik melalui seleksi yang ketat dan obyektif. lembaga kekuasaan kehakiman yang baru ini bukan hanya diberi wewenang melakukan pengujian UU terhadap UUD tetapi juga diberi wewenangwewenang lain yakni memutus sengketa antar lembaga negara yang wewenangnya ditentukan di dalam UUD. Kita mencatat sampai sekarang MK sudah memeriksa dan memutus lebih dari 100 kasus pengujian UU terhadap UUD. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 3 . Dalam pada itu pembuat Konstitusi menetapkan juga bahwa pengujian peraturan perundang-undangan di bawah UU terhadap peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dilakukan oleh MA. Sebelum reformasi ketentuan ini oleh beberapa peraturan perundang-undangan memang sudah dijadikan wewenang MA tetapi karena pengaturannya kacau secara teoretis maka ketentuan itu tak pernah dapat diimplementasikan. dan memutus pembubaran partai politik. Politik Hukum di Indonesia. menjadi lebih baik setelah perubahan UUD 1945 yang menegaskan fungsi-fungsi konstitusional dengan proliferasi kelembagaan dalam bidang ini. sedangkan secara represif KY dapat mengawasi perilaku hakim dalam pelaksanaan tugas-tugasnya sekaligus memutuskan tindakan yang dapat direkomendasikan kepada MA.

ini harus dicatat sebagai kemajuan karena membuktikan bahwa memang benar banyak UU yang dapat dipermasalahkan konstitusionalitasnya dan MK telah menjadi lembaga yang tepat untuk melakukan itu. Langkah KY pun sudah mendorong ke arah kemajuan. seorang ahli Hukum Tata Negara dari UGM. meski tak semua laporan itu benar adanya. mulai dari hakim pengadilan negeri sampai ke hakim agung ternyata meningkatkan gairah masyarakat untuk menyorot dan melaporkan hakim-hakim nakal.2 Banyak hakim yang kemudian lebih berhati-hati dalam melaksanakan tugasnya. Kebenaran relatif putusan MK Tetapi langkah-langkah KY yang cukup memberi harapan ternyata telah menjadi bumerang yang sama sekali tidak diharapkan baik oleh KY sendiri maupun oleh masyarakat.ju dengan sebagian putusan MK. Dalam melakukan seleksi terhadap calon hakim agung pun. sebab dengan gebrakannya menyorot dan memeriksa hakimhakim yang dilaporkan dan diduga nakal. 4 Bunga Rampai . terbukti sekarang MA telah menguji dan membatalkan beberapa peraturan perundang-undangan yang dinilai bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Ini sudah tentu jauh berbeda dengan zaman sebelumnya di mana hakim agung diangkat berdasar kontrak politik dan ditengarai kuat hanya berdasar kedekatan dengan pimpinan MA. Benar juga ketika kita menguatkan wewenang MA untuk melakukan pengujian peraturan perundang-undangan di bawah UU terhadap peraturan perundang-undangan yang derajatnya lebih tinggi. MA yang merasa kewibawaannya diobrak-abrik merasa tersinggung. terutama ketika KY mengundang ketua 2 Denny Indrayana. KY sudah memberi sumbangan yang cukup baik terutama untuk memilih yang terbaik dari jelek-jelek serta dalam membuat kontrak moral agar kalau sudah menjadi hakim agung seseorang dapat melaksanakan tugasnya dengan penuh integritas. menyatakan bahwa maraknya kontroversi yang muncul dari konflik antara MA dan KY yang disusul dengan putusan MK yang sangat kontroversial yang memangkas wewenang-wewenang KY justru menunjukkan adanya kemajuan dalam sistem ketatanegaraan kita sebab kegiatan saling kontrol menjadi tumbuh. terlepas dari kritik dan kontroversi atas produknya.

ketika KY ditentukan di dalam UUD belum ada gagasan tentang hakim konstitusi. sedangkan untuk mengawasi perilaku disebutkan berlaku untuk hakim. Bahwa yang menggugat adalah pribadi-pribadi hakim agung itu hanyalah taktik saja. para penggugat meminta agar hakim konstitusi tidak dijadikan bagian dari pengertian hakim yang dapat diawasi oleh KY karena hakim konstitusi berbeda dari hakim lain dan baru dimasukkan di dalam UUD lebih belakang dari pengaturan tentang KY. sebab jika dilihat dari suasana dan sikap-sikap petinggi MA tampak jelas bahwa MA memang merasa gerah dengan sepak terjang KY. hanya saja karena MA secara institusi tidak mempunyai legal standing atau tidak dapat menjadi pihak dalam sengketa di MK maka yang dimajukan (sekurang-kurangnya dibiarkan dan didorong maju) adalah para hakim agung secara perseorangan. Kedua. sehingga tak mungkin ketika KY dibentuk sudah terpikir untuk mengawasi hakim konstitusi.MA untuk dimintai keterangan dan ketika KY mengundang beberapa hakim agung untuk diperiksa berkenaan dengan masuknya beberapa laporan dari masyarakat. wewenang-wewenang KY untuk mengawasi para hakim harus dinyatakan bertentangan dengan UUD karena kriterianya tidak jelas dan bersifat eksesif apalagi dalam prakteknya 3 Seperti diketahui pengaturan tentang KY dicantumkan di dalam pasal 24B sedangkan pengaturan tentang MK dicantumkan dalam pasal 24C. 22 Tahun 2004 tentang KY terhadap UUD. 22 Tahun 2004 yang menyamakan keduanya harus dinyatakan bertentangan dengan konstitusi. Kalangan hakim banyak yang mengatakan bahwa KY bukannya menjaga martabat hakim melainkan justru menjatuhkan martabat hakim. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 5 . meminta MK memutus bahwa hakim agung bukanlah bagian dari hakim yang dapat diawasi oleh KY sebab menurut pasal 24B ayat (1) untuk hakim agung sudah disebutkan KY hanya mengusulkan pencalonannya.3 Argumennya. bahkan mengintervensi kemandirian hakim. Isi gugatan itu pada pokoknya berkisar pada tiga hal. Ketiga. Pertama. Jadi bagi para penggugat harus dibedakan pengertian antara hakim agung dan hakim sehingga isi UU No. 30 orang hakim agung kemudian menggugat judicial review UU No.

Jakarta. dinilai kompromistis karena karena menolak gugatan bahwa hakim agung berada di luar subyek yang dapat diawasi oleh KY. dinilai ultra petita dan bias karena salah satu dasar pertimbangan pemangkasan wewenang-wewenang KY itu didasarkan pada pertentangan (tidak sinkronnya) ketentuan yang ada antar UU yakni pertentangan UU KY (yang dapat merekomendasikan pemberian sanksi pada hakim) dengan UU lain seperti UU No. LP3ES. 2007. Persoalan belum adanya ketentuan tentang kriteria pelanggaran moral oleh hakim mestinya tidak dapat dijadikan alasan untuk membatalkan kewenangan KY sebab masalah tersebut merupakan ranah legislatif. Pertama. 22 Tahun 2004 itu memang agak kompromistis tetapi juga dapat dipersoalkan karena selain dianggap mengandung ultra petita5 juga bertentangan dengan asas nemo judex in causa sua sekaligus juga tidak sesuai dengan konsepsi hakim yang dimaksud dalam UUD. Tentang ini dapat dibaca secara lebih rinci di dalam buku saya. namun hampir semua pedoman pengawasan untuk mengawasi para hakim sebagaimana diatur di dalam UU No. Kedua. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung dan UU No. 14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan UU No.KY sering memeriksa hakim dengan mempersoalkan isi putusan. Lagi pula jika UU tentang KY bertentangan dengan UU lain mengapa isi 4 5 KY sendiri memberikan argumen yang dapat dipahami ketika menyatakan bahwa sulit untuk tidak membaca dan menilai putusan hakim sebab pengaduan yang masuk pada umumnya menyangkut kejanggalan dalam pemeriksaan perkara dan putusan hakim. 2 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah dengan UU No. Bias terjadi dan dapat dianggap ultra petita di sini karena MK hanya boleh menguji UU terhadap UUD bukan UU terhadap UU lainnya. 22 Tahun 2004 dipangkas sehingga meskipun boleh mengawasi tetapi terjadi kekosongan hukum dalam operasionalisasi pengawasan itu sendiri. 8 Tahun 2004 tentang Peradilan Umum yang menentukan bahwa pemberhentian hakim agung dan hakim dilakukan setelah melalui Majelis Kehormatan Mahkamah Agung dan Majelis Kehormatan Hakim. 6 Bunga Rampai . Perdebatan Hukum Tata Negara Pasca Amandemen UUD 1945.4 Putusan judicial review MK pada Agustus 2006 tentang UU No.

atau pasal-pasal yang dipergunakan untuk memutus. tak dapat dilawan lagi secara hukum. Dengan kata lain. final and binding. Selain berbenturan dengan asas nemo judex in causa sua bias putusan MK tidak sesuai dengan ide dan konsep tentang hakim di dalam konstitusi dan tata hukum kita sebab ide dan konsep dasar hakim adalah semua pejabat yang melaksanakan kekuasaan kehakiman. seandainya yang menjadi hakim pada Mahkamah Konstitusi itu adalah hakim lain yang menggunakan atau mengikuti paradigma. dan pasal-pasal lain. dalil. artinya sebuah putusan MK bisa salah jika yang dipakai untuk memutus adalah perspektif. dalil. Tegasnya. Putusan MK. Kebenaran putusan MK itu bersifat relatif. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung dan UU No. 22 Tahun 2004) menghapus hukum yang terdahulu yakni UU No. 8 Tahun 2004 tentang Peradilan Umum sesuai dengan asas lex posteriori derogat lex anteriori? Ketiga. putusan MK tersebut agak berbenturan juga dengan asas nemo judex in causa sua karena MK memutus hal-hal yang menyangkut kepentingannya sendiri yakni meletakkan hakim konstitusi sebagai subyek yang berada di luar pengawasan KY . menurut pasal 24C ayat (1) putusan MK itu bersifat mengikat. Selain memutus bahwa hakim konstitusi bukanlah bagian dari hakim yang dapat diawasi KY. putusan MK itu belum tentu benar. Dalam saya catatan sudah dua kali MK memutus hal-hal yang menyangkut dirinya sendiri. belum tentu benar tapi mengikat Meskipun begitu harus diingat bahwa. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 7 . terlepas dari soal benar atau salah. 2 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah dengan UU No. Di dalam asas ini ditentukan bahwa hakim tidak boleh memutus perkara yang menyangkut diri-nya sendiri. Putusan MK menyatakan bahwa MK boleh menguji semua UU termasuk semua UU yang sudah ada sebelum terbentuknya MK. MK juga pernah membatalkan ketentuan UU tentang MK yang menentukan bahwa MK hanya boleh melakukan pengujian atas UU yang lahir setelah terbentuknya MK. 14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan UU No.UU KY yang dibatalkan? Mengapa tidak diberlakukan ketentuan bahwa hukum yang datang kemudian (UU No. tergantung pada pilihan perspektif. tetapi sudah pasti mengikat.

Dengan demikian jika dilihat dari perspektif lain maka KY bukanlah lembaga penunjang lembaga lain. Dalam kasus putusan MK yang memangkas hampir semua kewenangan KY seandainya kita memakai perspektif. dan teori yang dipergunakan oleh pihak termohon atau pihak terkait langsung. Tetapi dari segi lain bisa ditegaskan bahwa tak ada satu pun ketentuan UUD kita maupun dalam sejarah pembahasan ketika membentuk KY bahwa KY adalah lembaga penunjang. Dari perspektif teori tertentu misalnya. Tidak sulit untuk mencontohkan ini.perspektif teori. dalil. Kalau soal rasionalitas. Dalam bahasa sehari-hari dapatlah dikatakan bahwa putusan MK itu bisa “sesuka-suka MK” dengan kebenaran yang relatif karena logikanya hanya dibangun dari perspektif tertentu yang hanya bisa logis dari perspektif itu sendiri. siapa pun yang melakukan dan kapan pun dibentuk. Tim Hukum KY misalnya. Ia adalah lembaga negara yang otonom sebagai lembaga pengawas eksternal. Itu hanya pendapat MK berdasar teori yang dipilihnya sendiri untuk kemudian dijadikan bahan pertimbangan vonis. Begitu juga putusan MK bahwa hakim MK tak bisa diawasi oleh KY karena KY lahir lebih dulu dari MK itu bisa benar dari perspektif tertentu sebab tak mungkin sesuatu yang dipikirkan dan lahir kemudian sudah dicakup untuk diawasi oleh lembaga yang ada lebih dulu. Tetapi jika konsep hakim dilihat dari teori tentang tugas-tugas untuk mengadili. 8 Bunga Rampai . dan dalil-dalil lain maka putusan bisa berbeda. Sebagai lembaga negara pengawas eksternal ia bukan penunjang. Menurut UUD sendiri dan berdasar latar belakang pembahasannya di PAH I MPR tak pernah ada gagasan KY dijadikan sebagai lembaga penunjang. bisa benar ketika MK mengatakan bahwa KY adalah auxiliary agent (lembaga negara penunjang) karena ia merupakan lembaga negara yang bukan pemegang kekuasaan kehakiman tetapi memiliki tugas yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman dan karenanya KY tidak bisa dijadikan bandul checks and balances dengan MK maupun MA. tetapi bidang tugasnya memang berkaitan dengan kekuasaan lembaga negara yang lain yakni kekuasaan kehakiman. paradigma apa pun yang dipergunakan pasti bisa dibangun rasionalitas untuk membenarkan pilihan perpspektif dan paradigma. maka semua dalil yang dipergunakan oleh MK bisa salah.

Di sini berlaku prinsip “hukmul haakim yarfa’ul khilaaf. putusan MK bersifat final dan mengikat dan harus dilaksanakan.maka hakim konstitusi pun harus dipandang sebagai hakim yang juga harus diawasi oleh KY. dan apa yang dimainkan hakim-hakim yang memeriksa dan memutus. setidak-tidaknya menurut penulis. Bukan karena benar. tak terikat teori Seperti dikemukakan di atas. tepatnya pada formal dan prosedural semata. terlepas dari soal kita senang atau tidak senang. Jika hanya mendasarkan pada asas kepastian hukum. seperti dikemukakan di atas. dan manfaat bagi masyarakat sebagaimana digagas ketika KY akan dijadikan bagian di dalam mosaik ketatanegaraan kita. maka manipulasi bisa dilakukan oleh pihak yang punya otoritas untuk memutus dengan cara memilih perspektif dan teori serta dalil-dalil sesuai dengan selera dan kehendaknya sendiri. Pilihan politik. salah satu pertimbangan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 9 . tetapi karena hal itu sudah diputuskan oleh lembaga yang diberi wewenang oleh konstitusi untuk memutus sengketa tentang itu. Berdasar ini. Namun agar putusan hakim dapat diterima dan tidak menimbulkan persoalan baru di dalam sistem hukum kita sebenarnya sudah ada penggarisan bahwa penegakan hukum di Indonesia haruslah mengintegrasikan secara padu tiga asas yakni asas kepastian hukum dan asas keadilan sesuai dengan ketentuan pasal 24 ayat (1) dan pasal 28D ayat (1) dan asas kemanfaatan sesuai dengan ketentuan pasal 28H ayat (2). Untuk banyak pihak putusan MK tentang KY itu memang mengikat tetapi tidak sejalan dengan latar belakang sejarah politik hukum. Jadi tampak jelas bahwa ini tinggal pilihan paradigma dan perspektif teorianya serta tergantung pada siapa.” putusan hakim menyelesaikan semua pertentangan. Oleh sebab itu di dalam konstitusi kita juga dianut asas keadilan dan kemanfaatan yang harus bersumber dari jeritan hati nurani masyarakat serta manfaat bagi masyarakat. Meskipun begitu. maka putusan MK tentang KY lebih merupakan pilihan selera hakim konstitusi yang tentu bisa lain putusannya kalau hakim-hakim dan pilihan perspektifnya juga lain dengan argumen yang juga bisa kuat. rasa keadilan.

bukan lembaga negara utama seperti MA dan MK melainkan hanya lembaga pembantu atau penunjang. tetapi jika dilihat dari tugasnya yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman maka bidang tugas KY memang hanya menunjang lembaga yudikatif dalam pelaksanaan kekuasaan kehakiman. Hukum Tata Negara adalah apa yang digagas dan kemudian ditulis di dalam konstitusi oleh bangsa suatu negara. bukan apa yang ada di dalam teori atau yang berlaku di negara lain betapa pun dianggap sudah mapan. Harus juga diingat bahwa dalam kenyataannya tidak ada satu sistem ketatanegaraan yang benar-benar asli dan tidak ada satu sistem ketatanegaraan yang secara persis dianut oleh lebih dari satu negara karena setiap negara memberikan sentuhan-sentuhan atau warna khusus sesuai dengan kebutuhan dan pilihan politiknya. Jadi Hukum Tata Negara itu adalah apa yang diperdebatkan dan ditulis sebagai pilihan politik di dalam konstitusi. sebab di dalam UUD sendiri tidak disebutkan tentang itu. Namun sebagai lembaga pengawas eksternal lembaga ini dapat dipandang sebagai lemabaga negara yang sejajar dengan MK maupun MA meski pun kompetensi tugas-tugasnya membantu kekuasaan kedua lembaga tersebut. Tidak ada teori Trias Politika asli dan tidak ada sistem pemerintahan yang murni karena hampir semua negara membuat sistem dengan sentuhan 10 Bunga Rampai . the Modern Constitution. Memang dapat diterima pandangan bahwa KY bukan lembaga pemegang kekuasaan kehakiman yang mempunyai tugas yang berkaitan dengan kekuasaan tersebut.putusan MK ketika memangkas hampir semua wewenang pengawasan KY terhadap hakim adalah karena KY bukan main organ melainkan hanya auxiliary organ. Meminjam ungkapan KC Wheare di dalam bukunya. melainkan merupakan lembaga pengawas eksternal yang berdiri sendiri. konstitusi adalah resultante atau kesepakatan yang dibuat oleh bangsa yang bersangkutan sesuai dengan kebutuhan tempat dan waktu serta situasi. Pandangan seperti ini dapat dipertanyakan. Jadi jika dilihat dari sudut lembaga negara maka KY ini tidak pernah dimaksudkan sebagai lembaga pembantu atau penunjang lembaga lain. Selain itu harus diingat bahwa Hukum Tata Negara itu bukanlah apa yang ada di dalam teori atau yang berlaku di negara lain.

Harian Seputar Indonesia. sedangkan nama dan uraian teoresasi tentang Trias Politika itu selanjutnya diberikan oleh Emmanuel Kant. dan federatif namun kemudian dimodifikasi oleh Montesquieu menjadi legislatif. Teori Trias Politika yang selalu dikaitkan dengan Montesquieu misalnya. Berbagai contoh kasus6 Antara April dan Juli tahun 2007 ini penulis mengunjungi beberapa negara “demokrasi” di Asia dan Eropa yang ternyata mengatur sistem ketatanegaraannya secara berbeda-beda meskipun mengatakan menganut sistem terten- 6 Lihat dalam tulisan saya.dan modifikasinya sendiri-sendiri sesuai dengan kebutuhan domistiknya. Perancis. sebenarnya berasal dari John Locke ketika mengajarkan pemisahan kekuasaan atas legislatif. 2 Mei 2007. Juga tulisan saya. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 11 . dan yudikatif. Inggris. Swiss. Amerika Serikat melahirkan sistem Presidensial yang memisahkan secara tegas antara legislatif dan eksekutif dengan mekanisme checks and balances antar poros-porosnya. eksekutif. sedangkan di Swiss lahir sistem badan pekerja. eksekutif. Mencontoh Kehidupan Beragama di Lebanon. dan lain-lain membuat sistem ketatanegaraan berdasar pilihan politiknya sendiri. Trias Politika yang “dikira” berasal dari Montesquieu itu pun kemudian melahirkan sistem pemerintahan yang berbeda-beda yang juga dapat dipertanyakan keasliannya. Hasil modifikasi oleh Montesquieu inilah yang umumnya dianggap sebagai dasar teori Trias Politika padahal Montesquieu sendiri mengambilnya dari John Locke. Uniknya di negara Montesquieu sendiri. dianut hybrid parliamentary-presidential system. Amerika. Inggris melahirkan sistem Parlementer yang menganut supremasi parlemen. Perancis. 2 Mei 2007. Tampak jelas bahwa sistem ketatanegaraan yang asli atau murni itu tidak ada karena semuanya merupakan penafsiran dan modifikasi sendiri-sendiri. penerapan yang benar adalah sistem parlementer seperti yang berlaku di Inggris. Tak Ada Sistem Ketatanegaraan Asli. dalam Jawa Pos. Montesquieu sendiri mengatakan.

Tapi itulah sistem yang dipilih oleh Polandia. tetapi MK juga dapat melakukan judicial review atas UU yang sudah disahkan oleh Presiden jika ada gugatan. Yang juga menarik di Polandia adalah kewenangan Mahkamah Konstitusi (MK) untuk melakukan judicial preview atau menilai satu RUU sebelum disahkan oleh (dan atas permintaan) Presiden. Di Yordania juga dianut sistem parlementer tetapi yang sangat menentukan jabatan perdana menteri adalah raja. termasuk UU yang sudah dimintakan judicial preview sebelum diundangkan. jadi pemerintahan dilakukan oleh kabinet yang dipimpin oleh perdana menteri tetapi untuk masalah pemerintahan tertentu dilakukan oleh Presiden. Libanon yang secara resmi menganut sistem Parlementer ternyata menyerahkan kekuasaan tertentu kepada Presiden yakni kekuasaan bidang pertahanan dan intelijen. Namun di Indonesia Presiden mempunyai hak bersama DPR untuk membentuk UU. Di Suriah pemilu untuk 250 kursi parlemen hanya dilakukan untuk memperebutkan 70 kursi karena nama wakil rakyat yang untuk 180 kursi sudah ditentukan lebih dulu oleh pemerintah dari partai yang berkuasa. yakni Puerto Rico. Socialist Democratic 12 Bunga Rampai . Ini unik karena berarti MK dapat menilai kembali UU yang telah dinyatakan konstitusional oleh MK sendiri sebelum UU itu disahkan.tu dari Trias Politika. Pada umumnya di dalam sistem presidensial kekuasaan membentuk UU hanya ada di parlemen tetapi Presiden mempunyai hak veto (hak menolak) yang kemudian dapat diuji kembali melalui sejumlah dukungan minimal tertentu di parlemen. bukan parlemen. Di Republik Rakyat Cina (RRC) yang menganut sistem yang agak unik. Polandia juga menganut sistem parlementer tetapi uniknya Presiden dapat membubarkan parlemen dengan dua alasan yakni jika sampai waktu tertentu parlemen tidak mensahkan anggaran yang diajukan oleh pemerintah atau jika parlemen tidak menyetujui susunan kabinet yang diajukan oleh pemerintah dan sampai waktu tertentu parlemen tidak mengajukan alternatif untuk menggantikan penolakannya itu. Sistem presidensial di Indonesia juga tidak mengikuti pola yang umum meski pola umum itu tidak murni juga. Sistem Presidensial seperti yang dianut di Indonesia ini hanya dipakai oleh satu negara lain di dunia.

Yang menonjol ketika itu adalah pemikiran tentang perlunya lembaga pengawas eksternal yang dapat menyeleksi hakim agung dan mengawasi perilaku hakim sebab lembaga pengawas internal yang ada di lembaga yudikatif sampai saat itu sama sekali tidak efektif. Di berbagai negara pun pemosisian KY bervariasi. Desain Komisi Yudisial Uraian di atas bermaksud meyakinkan kita bahwa sistem ketatanegaraan kita pun adalah sistem yang dapat kita buat sendiri. Sebagai pilihan politik penempatan posisi KY yang seperti itu sah saja dan mengikat secara konstitusional.Dictatorship. siapa pun harus tunduk kepada hukum. misalnya. termasuk ketika kita menempatkan KY di dalam mosaik ketatanegaraan kita. Jadi di RRC kejaksaan bukan bagian dari Pemerintah dan bukan bagian dari Mahkamah Agung melainkan dijadikan lembaga yang sejajar dengan kedua lembaga negara itu. Ternyata konsep ini berjalan efektif karena dictatorship di sana diartikan kekuasan hukum (dikatatorial hukum) secara mutlak.7 Kejaksaan Agung dijadikan lembaga yang sejajar dengan Mahkamah Agung dan lembaga negara yang lainnya. Itu pun merupakan pilihan politik atau resultante bangsa Cina dalam membuat konstitusinya. sebab pada umumnya agak sulit menyatukan sosialis-komunis dengan demokrasi. sebab seperti dikemukakan di atas setiap konstitusi dapat menentukan pilihannya sendiri-sendiri. bukan sistem yang harus dipaksakan untuk sama atau menganut teori atau sistem yang berlaku di negara lain. Di Polandia. Dewan Yudisial Nasional atau “the National Council of the Judiciary” berfungsi untuk 7 Bagi penulis konsep ini terasa unik. Namun seperti dikenal luas penegakan hukum dan pemerintahan di RRC berjalan sangat efektif. tergantung pada kebutuhan masing-masing. bahkan ada negara yang menempatkan KY sebagai lembaga yang bukan di ranah yuridis melainkan bersifat politis. juga agak sulit memahami demokrasi yang dikatatorship. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 13 . Dalam kaitan dengan KY ini penulis dapat mengatakan bahwa menurut risalah persidangan-persidangan MPR yang merancang perubahan UUD 1945 tidak muncul sama sekali pemikiran untuk menjadikan KY sebagai supporting atau auxiliary organ.

Pada saat itu ada semangat bahwa KY dibentuk un- 14 Bunga Rampai . 15 orang hakim. Namun seperti dikemukakan di atas. tak ada hal-hal yang bertentangan dengan UUD baik secara semantik maupun secara historik dalam garis politik hukum kita. Tetapi MK dengan pilihan paradigma dan dalil serta pasal-pasal yang dipilihnya sendiri telah memangkas hampir semua kewenangan KY. padahal MK hanya boleh memutus atau membatalkan isi UU jika bertentangan dengan isi UUD. Lembaga ini lebih bersifat politis karena keanggotaannya terdiri dari Ketua I Mahkamah Agung. terlepas dari soal benar atau salah. MK menyatakan bahwa KY bukan lembaga negara utama padahal ketentuan yang seperti itu hanyalah tafsir teoretis dari MK yang bisa dibantah dengan tafsir teoretis lain. Ketua I Mahkamah Tinggi Tata Usaha Negara.menjaga dan melindungi kebebasan/kemandirian pengadilan dan hakim. bukan bertentangan dengan UU lain yang sejajar. Jadi posisi konstitusional KY dengan berbagai kewenangan yang kemudian dituangkan ke dalam UU No. 6 orang anggota Parlemen yang masing-masing 4 orang dari Majelis Rendah dan 2 orang dari Majelis Tinggi. Setelah terjadi kekosongan hukum dalam bidang pengawasan perilaku hakim oleh KY kini kita dituntut untuk segera membentuk UU baru yang memuat dan mengatur kewenangan KY ini. Menteri Kehakiman. MK mengatakan bahwa KY hanyalah supporting atau auxiliary organ sehingga tak bisa melakukan peran checks and balances padahal tak ada sama sekali pemosisian yang seperti itu ketika MPR membahas dan merumuskan fungsi KY di dalam konstitusi kita. 22 Tahun 2004 sebagai pilihan politik yang khas Indonesia sebenarnya sudah cukup baik. kita suka atau tak suka. MK juga menyatakan bahwa ketentuan kewenangan KY untuk mengawasi tingkah laku hakim tumpang tindih dengan berbagai UU lain yang terkait dengan kekuasaan kehakiman sehingga karena itu MK membatalkan berbagai kewenangan KY. putusan MK itu bersifat final dan mengikat yang karenanya harus diterima dan dilaksanakan. Yang harus diperhatikan dalam pembentukan UU baru ini adalah bahwa kita harus kembali ke semangat atau garis politik hukum tentang KY itu sebagaimana diperdebatkan di MPR pada saat masalah KY itu dibicarakan dan diputuskan. dan seorang lain yang ditunjuk oleh Presiden.

dan RUU tentang KY. Hakim tetap bebas memeriksa dan memutus perkara dan putusannya tetap mengikat. Berdasar diskusi-diskusi di Badan Legislasi (Baleg) DPRRI8 yang kini sedang menyiapkan RUU tentang KY yang baru ada beberapa hal yang sudah dimasukkan di dalam buram (draft mentah) berkaitan dengan lingkup kewenangan KY di masa depan yang beberapa hal di antaranya dapat dikemukakan seperti di bawah ini: 1. Adalah sulit untuk tidak membolehkan KY membaca dan menilai suatu kasus pengaduan tentang pelanggaran perilaku oleh hakim sebab pada umumnya pengaduan perilaku hakim itu terkait dengan perkara yang kemudian diputus oleh hakim. Di sini meskipun KY boleh membaca putusan hakim tidaklah dapat diartikan bahwa KY boleh melanggar independensi hakim sebab KY tetap tidak boleh mempengaruhi apalagi mengubah putusan hakim. RUU tentang MK. Istilah “menjaga dan menegakkan kehormatan. 8 Penulis adalah anggota Badan Legislasi DPR-RI yang saat tulisan ini dibuat sedang menyiapkan tiga RUU yang terkait dengan kekuasaan kehakiman yakni RUU tentang MA. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 15 . KY hanya boleh membaca dan menilai putusan setelah ada vonis tanpa boleh mengubah putusan hakim. Dalam cakupan pengertian yang seperti ini maka pengawasan atas hakim mencakup pengawasan preventif (misalnya dalam hal seleksi hakim) dan pengawasan represif (misalnya pemeriksaan dan penindakan atau penjatuhan sanksi). Terkait dengan ini maka di dalam disain baru nanti harus tetap dibuka kemungkinan KY membaca dan mendalami putusan hakim jika terkait dengan dugaan penyimpangan perilaku hakim.tuk memenuhi kebutuhan akan lembaga pengawas ekternal yang mandiri untuk mengawasi perilaku hakim dan hakim yang dimaksud ketika itu adalah semua hakim yang bekerja di lembaga kekuasaan kehakiman. keluhuran martabat serta perilaku hakim” (pasal 1 butir 6 draft Juli 2007) diartikan sebagai upaya yang meliputi pencegahan dan penindakan atas perbuatan hakim. baik di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan.

keluhuran martabat. bukan dibuat di rumah atau diserahkan beberapa hari sebelumnya. Dalam upaya melakukan seleksi atas kualitas dan kepribadian calon hakim agung KY. Dalam kaitan ini perlu dipertimbangkan atau ditegaskan tentang apa yang dimaksud “hasil temuan” KY sendiri. tetapi ketentuan pasal 22 ayat (2) ini tidak terkait secara spesifik bagi kemungkinan pembacaan dan penilaian putusan hakim oleh KY. 4. 3.2. Selain itu perlu juga ditentukan pembacaan rekam jejak (track record) melalui telaah atas semua putusan yang pernah dibuat disertai investigasi secara diam-diam tetapi dapat dipertanggungjawabkan. sebab konsep dasar yang dianut adalah “sikap pasif” bagi KY dalam arti KY hanya memproses laporan dari masyarakat tanpa boleh mencari-cari kasus sendiri. dapat mewajibkan calon hakim agung menyusun karya ilmiah dengan topik yang telah ditentukan (pasal 18 ayat (2) draft Juli 2007). serta perilaku hakim. Ini dimaksudkan untuk menjaga orisinalitas dan menyaring kemampuan artikulatif setiap calon hakim agung. Memang di dalam pasal 22 ayat (2) draft Juli 2007 sudah dicantumkan ketentuan bahwa dalam melaksanakan tugas KY tidak boleh mengurangi kebebasan hakim dalam memeriksa dan memutus perkara. Selain itu perlu juga diperhatikan dalam kaitan ini tentang pemberian peluang bagi KY untuk membaca dan menilai putusan hakim yang diadukan atau dilaporkan oleh masyarakat dengan penekanan bahwa hal itu tak boleh bertendensi intervensif yang dapat mempengaruhi putusan berikutnya apalagi sampai mengubah putusan hakim. antara lain. Untuk melaksanakan wewenang konstitusional (menurut pasal 20 ayat (1) sampai dengan ayat (3) draft Juli 2007) KY mempunyai tugas “menjaga” dan “menegakkan” kehormatan. Untuk tugas ini KY dapat “melakukan pengawasan” atas perilaku hakim serta “memeriksa dan memutus” terhadap dugaan pelanggaran kode etik dan keharusan perilaku baik atas pengaduan masyarakat maupun atas temuan KY sendiri. Tentang sifat putusan KY yang berupa penjatuhan sanksi tertentu seperti pemberhentian. Mungkin perlu ditekankan agar pembuatan karya ilmiah tersebut dilakukan seketika di tempat seleksi. sebagaimana dimuat Bunga Rampai 16 .

Mungkin dapat diatur bahwa dengan adanya KY tidak diperlukan lagi pemberian kompetensi bagi Majelis Kehormatan Mahkamah Agung dan Majelis Kehormatan Hakim untuk memutus/merekomendasikan pemberhentian hakim. serta perilaku hakim (pasal 25B ayat (2) draft Juli 2007) ditentukan beberapa larangan bagi hakim. dinyatakan mengikat dan disampaikan oleh KY kepada Presiden dengan tembusan kepada pimpinan MA. di dalam pasal 22B ayat (4) draft Juli 2007. dan pimpinan badan peradilan dimana hakim yang bersangkutan bertugas. sedangkan pemberhentian hakim berdasar hasil pengawasan internal MA sendiri tetap harus melalui Majelis Kehormatan Hakim. Ini penting juga karena dalam praktik selama ini masih banyak hakim yang menangani perkara yang ada kaitan dengan kepentingan dirinya. Meskipun ini sudah menjadi asas di dalam hukum tetapi perlu juga dicantumkan di dalam bagian ketentuan tentang kode etik bahwa hakim tidak boleh atau harus mengundurkan diri dari (penanganan) perkara yang ada kaitan dengan dirinya. Dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan.5. Pengawasan atas MK Sebenarnya garis politik hukum tentang pembentukan KY menginginkan pengawasan atas perilaku hakim oleh KY mencakup semua hakim yang mempunyai fungsi kehakiman. Ketentuan ini sangat penting agar maksud keberadaan KY untuk mengawasi dan menentukan sanksi dan tindakan dapat terpenuhi. keluhuran martabat. Tetapi ketentuan ini harus disertai dengan pemosisian ketentuan di dalam UU lain yang menyatakan bahwa pemberhentian dilakukan setelah melalui pembelaan dan keputusan Majelis Kehormatan Mahkamah Agung dan Majelis Kehormatan Hakim. tetapi tidak tercantum larangan bagi hakim untuk memeriksa dan memutus perkara yang berkaitan dengan dirinya (asas nemo judex in causa sua). Tetapi ketentuan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 17 . termasuk semua hakim konstitusi. pimpinan DPR. Mungkin juga dapat diatur bahwa keputusan KY tentang pemberhentian dapat dilaksanakan tanpa pemeriksaan ulang di Majelis Kehormatan Mahkamah Agung dan Majelis Kehormatan Hakim.

Contohnya. padahal selain sering berdasar pilihan perspektif sepihak putusan MK itu bisa berlawanan dengan fakta hukum lain yang diputus oleh pengadilan. juga menimbulkan komplikasi berkait dengan wewenangnya dalam memutus yang harus diterima secara final dan mengikat.tentang ini yang sudah dimuat dengan tegas di dalam UU tentang KY dibatalkan oleh putusan MK yang menyatakan bahwa hakim dalam pengertian pasal 24B UUD 1945 tidak mencakup hakim konstitusi karena selain konteksnya hanya dengan hakim agung pasal 24B yang menentukan pembentukan KY itu lahir lebih dulu daripada pasal 24C yang menentukan pembentukan MK sebagai lembaga negara. Itulah sebabnya dalam Amandemen UUD 1945 berikutnya9 kita harus merumuskan dengan cermat tentang pengawasan terhadap hakim konstitusi dan tentang cara mengatasi jika putusan MK yang bersifat final dan mengikat itu ternyata tidak sesuai dengan politik hukum di dalam konstitusi dan bertentangan dengan fakta hukum yang kemudian muncul. namun di dalam peradilan umum kecurangan itu terbukti dan pelakunya dijatuhi hukuman pidana. ada yang ingin segera dan ada yang menghendaki ditunda dulu. selain banyak memberi angin segar bagi kehidupan ketatanegaraan yang lebih sehat. ada yang ingin partial dan ada yang ingin komprehensif. Satu-satunya jalan untuk mengembalikan masalah ini ke garis politik hukum yang benar hanyalah melalui amandemen konstitusi yang harus menegaskan tentang itu secara eksplisit. 9 Wacana untuk melakukan amandemen kelima atas UUD 1945 pada saat ini sedang gencar. Karena putusan MK bersifat final dan mengikat maka fakta hukum di pengadilan umum itu tidak dapat mengubah lagi putusan MK yang secara substantif nyata-nyata salah. Putusan MK tentang cakupan pengertian hakim ini. sesuai dengan ketentuan pasal 24C UUD 1945. Memang setelah empat tahun perjalanan MK. 18 Bunga Rampai . sebab kita tak bisa membiarkan MK dan hakim-hakimnya menjadi lembaga super yang tak bisa diawasi. bersifat final dan mengikat sehingga tak bisa dimasukkan lagi di dalam UU tentang KY yang baru nanti. MK pernah menyatakan menolak gugatan permohonan pembatalan hasil perhitungan suara dalam pemilu di suatu daerah karena terjadi kecurangan.

Bahan Pustaka AV Dicey, An Introduction to Study of the Law of the Constitution, 10th edition, English Language Book Society and Mac Millan, London, 1971. Carl J. Friedrich, Constitutional Government and Democracy: Theory and Practice in Europe and America, Weldham, Mass: Blaisdell Publishing Company, 5th edition, 1967. David Kairys, The Politics of Law, a Progressive Critique, Pantheon Books, New York, 1982. C.F. Strong, Modern Political Constitution, The English Language Book Society, Sidgwick and Jackson Limited, London, 1966. Erwin Chemerinsky, Constitutional Law, Principles and Policies, Aspen Law and Business, New York, 1997. Hans Kelsen, General Theory of Law and State, Russell and Russell, New York, 1973. Jimly Asshiddiqie, ”Telaah Akademis Perubahan Undang-Undang Dasar 1945,” dalam Jurnal Demokrasi dan HAM, Volume 1 No.4 Tahun 2001. K.C. Wheare, the Modern Constitutions, Oxford University Press, London-New York-Toronto, 3rd Impression, 1975. Moh. Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia, LP3ES, Jakarta, 1998. Moh. Mahfud MD, Pergulatan Politik dan Hukum, Gama Media-Ford Foundation, Yogyakarta dan Jakarta, 1999. Moh. Mahfud MD, Hukum dan Pilar-pilar Demokrasi, Gama Media- the Ford Foundation, Yogyakarta dan Jakarta, 1999. Moh. Mahfud MD, Amandemen Konstitusi dalam Rangka ReformasiTata Negara, UII Press, Yogyakarta, 1999. Moh. Mahfud MD, Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia, PT Rinneke Cipta, Jakarta, 2000. Moh. Mahfud MD, Dasar dan Struktur Ketatanegaraan Indonesia, PT Rinneke Cipta, Jakarta, 2001. Moh. Mahfud MD, Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi, LP3ES, Jakarta, 2006. Moh. Mahfud MD, Perdebatan Hukum Tata Negara Pasca Amandemen UUD 1945, LP3ES, Jakarta, 2007.

-

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

19

-

Moh. Mahfud MD, Hukum Tak Kunjung Tegak, PT Citra Aditya Bhakti, Bandung. 2007. RM AB Kusuma, Lahirnya Undang Undang Dasar 1945, Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 2004. Sri Soemantri M, ”Undang-Undang Dasar 1945, Kedudukan dan Artinya dalam Kehidupan Bernegara,” dalam Jurnal Demokrasi dan HAM, Vol. 1 No. 4 Tahun 2001. Sri Soemantri, Prosedur dan Sistem Perubahan Konstitusi, PT Alumni, Bandung, Edisi Kedua, Cetakan Kesatu, 2006.

20

Bunga Rampai

Perubahan Bidang Politik dan Pengaruhnya Terhadap Reformasi Peradilan
Arbab Paproeka, S.H.
1

Pengantar Semangat egalitarian warga negara – bangsa berdampak signifikan terhadap diskursus-diskursus intelektual dan pembentukan sistem politik Indonesia ketika euforia reformasi dan demokrasi mulai mengemuka di semua ruang publik. Kesadaran diskursif seperti itu menjadi konsensus bersama bagi perwujudan res publica (kepentingan bersama) dalam menata tata kehidupan sosial, politik, ekonomi dan hukum. Atas semua itu, reformasi dan demokrasi dengan ragam pemaknaannya dinilai sebagai tujuan yang harus dicapai ketimbang sekadar menjadi sebuah sarana merebut hasrat kuasa. Dalam banyak pandangan, reformasi dan demokrasi, sejatinya dipahami sebagai imaji ideal kebangsaan yang akan menggiring negara bangsa ke dalam kebajikan dan keadaban. Reformasi dan demokrasi kadang juga diletakkan sebagai nonstrum - obat bagi segala masalah kebangsaan. Kondisi ini memiliki implikasi pada tindakan yang mengarah pada cita ideal tata hidup kebangsaan yang dipandang sebagai ekspresi reformasi dan demokrasi. Namun, dalam sisi yang berbeda, reformasi dan demokrasi sering juga diperspepsikan sebagai imaji yang justru memunculkan sinisme yang tinggi dari entitas negara bangsa. Kondisi ini adalah sebuah refleksi dimana cita ideal mengalami kontradiksi

*

Anggota Komisi III DPR RI

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

21

dengan ekspektasi pada situasi faktualnya. Tuntutan untuk melakukan pendalaman demokrasi (a deepening democracy) terhadap negara bangsa yang sementara mengalami masa transisi memang pelik. Terlebih pada sebuah komunitas yang karakter bangsanya cukup heterogen atau plural semisal Indonesia. Sebagaimana Snyder (2000), menjelaskan bahwa sentimen nasionalisme menjadi salah satu faktor yang bisa mengganggu proses demokratisasi. Tesis ini cukup mudah dikenali. Bahwa demokrasi tidak selamanya akan menguntungkan semua kelompok elit politik. Ia bergerak seperti pendulum. Namun biasanya, kelompok elit yang senantiasa berupaya mencegah berlangsungnya proses demokratisasi adalah kelompok elit yang merasa dirugikan dari proses demokratisasi. Modus yang sering digunakan adalah show power melalui pengumpulan kekuat-an inti dengan penguatan isu sentimen nasionalisme. Sentimen nasionalisme ini setidaknya dapat dijelaskan lewat pengkultusan nilai tatanan dalam sebuah komunitas. Atau mungkin juga bisa dijelaskan dalam gugusan negara bangsa. Sentimen nasionalisme dalam gugusan komunitas terpola melalui penuturan klasik, dimana ia terjelma menjadi suatu nilai (value) sebagai suatu bentuk kebaikan umum dalam makna totalitasnya. Lain halnya dengan, Arend Lijphart dalam Latif (2006), justru memberikan ulasan yang optimistik bahwa adalah mungkin untuk mempertahankan pemerintahan demokratis yang stabil dalam sebuah masyarakat plural sepanjang elit-elitnya bersedia bekerja sama. Namun, kerja sama itu tidak akan tercipta dengan sendirinya. Dibutuhkan sebuah kerangka solidaritas bersama yang baru, yang bergantung secara inter alia pada nasionalisme kewargaan (civic nasionalisme). Perspektif ini memang cukup relevan dalam merepresentasikan bahwa demokrasi tidak jatuh dari langit, tetapi melakukan pendalaman demokrasi dibutuhkan konsensus politik dari semua entitas kewargaan untuk membangun komitmen intelektual bagi keberlanjutannya. Nasionalisme yang berakar dari ikatan nation, pada akhirnya begitu untuk didefenisikan. Namun dalam rangka jelajah pemaknaan tentangnya, mungkin dapat dirunut bahwa nation adalah sesuatu yang direkayabayangkan (imagined). Sebagai bentuk direkayabayangkan, maka variannya

22

Bunga Rampai

pun menjadi sangat beragam. Snyder, menyebut ada empat bentuk utama nasionalisme; nasionalisme sipil, nasionalisme SARA, nasionalisme revolusioner dan nasionalisme kontra – revolusioner. Nasionalisme sipil terbentuk jika elite politik yang ada tidak merasa terancam oleh proses demokratisasi, dan kelembagaan negara yang ada cukup kuat untuk menampung proses ini. Ia mendasarkan pada usahanya mempertahankan proses demokratisasi karena dianggap bisa memberikan keadilan. Pada sisi ini, negara menganut prinsip kesetaraan warga negara tanpa memandang suku, warna kulit, agama dan keturunannya. Nasionalisme SARA sebuah solidalitas yang dibangkitkan berdasarkan budaya, agama, bahasa, sejarah dan yang sejenisnya. Nasionalisme SARA terbentuk jika elite politik yang ada merasa terancam oleh proses demokratisasi, dan kelembagaan negara juga masih lemah. Jika terdapat kelompok dominan lebih dari satu maka proses demokratisasi mungkin akan mengakibatkan terjadinya perpecahan di negara tersebut, dan sebagai gantinya akan muncul satu negara federal, atau bahkan beberapa negara baru. Nasionalisme revolusioner merupakan usaha untuk mempertahankan suatu perubahan politik yang melahirkan rezim baru yang dinilai lebih baik dari rezim sebelumnya. Disini terdapat kecenderungan bahwa kekuatan baru mempertahankan perubahan senantiasa menggunakan nasionalisme revolusioner. Nasionalisme terjadi kalau elit politik yang ada tidak dirugikan oleh proses demokratisasi, dan lembaga-lembaga negara yang mau mempertahankan rezim lama lemah. Sedangkan nasionalisme kontra – revolusioner merupakan upaya membangun solidaritas untuk mempertahankan kelembagaan negara yang ada terhadap perubahan. Biasanya nasionalisme kontra – revolusioner digunakan sebagai instrumen untuk mengembalikan militer ke pentas politik dengan mengatakan bahwa di bawah rezim sebelumnya jauh lebih baik dibanding rezim yang ada sekarang. Masalahnya adalah civil society yang dijadikan sebagai gugus konsep paling mondial belakangan bagi pembelajaran sosial secara kolektif dan produksi simbol-simbol politik secara dominan justru disuplai oleh kelompok komunal. Sehingga demikian, Indonesia pada kurun waktu ini masih merupakan sebuah masyarakat komunal, bukan asosiasio-

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

23

nal. Padahal ekspektasi mengenai civil society adalah ketika asosiasi-asosiasi ini terbentuk menjadi sebuah komunitas produktif sebagai katalis bagi proses transformasi masyarakat dari semangat komunalisme menuju kewarganegaraan yang lebih beradab. Di sisi lain, intelegensia-politisi yang diharapkan membimbing komunitas politik ke arah keadaban politik (political civility) dalam kenyataannya justru menyuburkan tradisi komunalisme. Kondisi ini kian diperparah dengan eksistensi kaum komunitas epistemik sebagai penyangga dalam melahirkan gagasan orisinalitas tampaknya juga harus terjebak dengan gugusan pragmatisme yang luar biasa. Penuturan Gunawan (2006) mungkin benar bahwa pragmatisme sendiri memang lahir sebagai anak haram dari sebuah pergulatan panjang, untuk menjawab berbagai persoalan yang terjadi di abad lalu. Fundamen pemikirannya yang meletakkan pada benar tidaknya suatu dalil tergantung pada manfaatnya bagi manusia, dan tentu saja manfaat pertama yang menikmatinya adalah diri sendiri. Sebetulnya, pragmatisme tidak memiliki perbedaan yang cukup jauh dengan patron Machiavelli, “the end justifies the means”. Keduanya memiliki konsekuensi bagi lahirnya keserakahan dan pengkhianatan terhadap nilai-nilai moralitas. Bahkan oleh Juliean Benda dalam Gunawan (2006) justru memandang pragmatis lebih radikal. Bahwa pragmatisme merupakan bentuk pengingkaran terhadap nilai-nilai moral yang universal. Pragmatisme dituding sebagai pabrik nilainilai moral yang semu dan artifisial, yang diproduksi sesuai dengan keadaan dan kebutuhan akan kekuasaan. Tak heran juga bila “pelacur-pelacur intelektual” kian marak bermunculan, yang bekerja berdasarkan permintaan pasar. Praktek ini seolah mirip “panggadaian intelektual”, yang menularkan efek cukup luar biasa. Efek yang patut dipelajari tradisi pencerahan yang melekat pada komunitas epistemik sebagai karakter pokoknya pada gilirannya makin absurd. Padahal dalam tataran normatif-etis, masa transisi seperti ini, justru keberadaan komunitas epistemik diharapkan menjadi avantgarde bagi terciptanya tatanan bangsa yang lebih beradab, bukannya harus ikut dengan permainan “kuasa politik”, yang senantiasa berada dalam pusaran seni merekayasa. Kegundahan lain yang kerap juga menjadi mo-

24

Bunga Rampai

Padahal salah satu prasyarat lahirnya konsolidasi demokrasi adalah perlunya masyarakat sipil yang bebas dan aktif dalam mengontrol tata kerja demokrasi. antara intelektualitas dan kekuasaan sebetulnya bukanlah dualisme yang harus dipandang sebagai sesuatu yang berlawanan. Justru soal seperti ini. sekadar mendengungkan kebenaran dari pucuk menara gading. yang memberikan sindiran halus bahwa “buat apa sekolah kalau hanya untuk mengeruk uang”. Keduanya adalah dualitas yang saling membentuk. sementara mashab Gramscian malah melihat dalam sisi yang terbalik. Dua mashab. Baginya cendekiawan harus memihak pada kelas tertentu. Bahkan Ivan Illich dalam Gunawan (2006) menyebut Deschooling Society. Kekuasaan menjadi cukup penting bagi kelompok-kelompok intelektual sebagai medium transformasi dalam membentuk komitmen-komitmen baru bagi kepentingan negara bangsa. pada gilirannya juga menggiring kita untuk berpikir dan bertindak secara pragmatis. tetapi kepicikan. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 25 . keduanya melihatnya dalam sisi yang berlawanan. Dalam Gunawan (2006) antara sisi intelektualitas dengan kekuasaan memang memiliki korelasi. Sehingga demikian. Baginya justru menuding ilmuwan yang steril dari persoalan aktual di masyarakat. Mashab bendaian menilai bahwa intelektual harus merentangkan jarak dengan kekuasaan. Persekutuan ini dinilai mengkhianati jati diri intelektual (La Trahison Des Clercs). dosa terbesar yang tak terampunkan dari seorang cendekiawan adalah bila yang bersangkutan turut berputar. Sehingga yang terjadi bukan lagi kadar pragmatisme. adalah para pengkhianat intelektual (La Trahison de la Trahison de clercs). Yang mungkin dipersalahkan ketika kekuasaan dan intelektual diintegrasikan sebagai perusak nilai tatanan. Pergulatan panjang ini tentu saja bukan menjadi sebuah jebakan untuk harus memihak. Pada perspektif yang berbeda. Walau dalam banyak pemikiran.mok bagi komunitas epistemik ini adalah ketika tidak mampu menempatkan dirinya sebagai medium perekat bangsa. yakni mashab Bendaian dan mashab Gramscian membedahnya seperti berikut. Malah yang muncul justru memperlihatkan gejala sebagai kekuatan yang sangat pasif terhadap isu-isu kebangsaan. menjadi pelumas dalam mesin pemerintahan.

Dalam menjelaskan gejala ini. Ketika rezim otoritarianisme Orde Baru runtuh. Liberalisme telah mengalahkan dua lawan tangguhnya: komunisme dan nasionalisme fasis. transisi boleh jadi mengarah pada otoritarianisme baru (re-otoritarianisme). kadang dipahami sebagai fase yang serba “memungkinkan”. sesuatu kualitas yang sangat mulia namun tak menjadikan dirimu apa-apa”. Imperium dan kediktatoran telah runtuh. Demokrasi dianggap sebagai pemenang karena berhasil melumpuhkan lawan tangguhnya otoritarianisme. Celakanya.Dalam belantara politik. karakter picik bagi seorang politisi kadang ditemukan. Dalam satu sisi. Transformasi Politik: Sebagai Pelatuk Perubahan Ketika tembok Berlin runtuh pada tahun 1989. oleh banyak pemikiran menjelaskan dua rumus yang bisa diklasifikasi. sementara di sisi lain. maka isu demokratisasi kian marak dibicarakan dan tampil sebagai euphoria politik yang tak tertandingi. Segera setelah itu. Tetapi semoga saja. Isu konsolidasi demokrasi berakar dari sebuah konsep transisi antara berakhirnya rezim otoritarianisme ke demokratisasi. tuturan bahasa ini tidak berlabuh dalam tradisi politisi kita untuk menggiring reformasi peradilan ke dalam laboratorium kehancuran. sehingga semakin menjauhkan sisi keadaban publik. Namun. bayangan indah sempat memukau imajinasi orang Amerika. ketika mengatakan bahwa “pengkhianatan merupakan esensi dari politikus yang sukses. ketika politik ditempatkan sebagai sarana agregasi kepentingan personal. Gagasan demokratisasi senantitasa terikut dengan wacana berkembangnya konsep konsolidasi demokrasi. ketika terjadi dua kali pergantian kekuasaan (two turnover 26 Bunga Rampai . transisi boleh juga mengarah pada lahirnya konsolidasi demokrasi. karakteristik politisi seperti ini malah mendapat pembenaran oleh Richard Smith dalam Gunawan (2006). demokrasi pun tampil sebagai pemenang. Sisi lainnya adalah kesetiaan. Ia kemudian menjelma menjadi leviathan yang teramat beringas karena meleburnya nilai-nilai intelektualitas dalam kekuasaan. rute perjalanan transisi. Pendulum ke arah demokratisasi terjadi pasca isu reformasi meledak tahun 1998. kapan suatu negara dikatakan sudah terkonsolidasi? Beberapa sarjana bersepakat bahwa untuk menandai demokrasi telah terkonsolidasi.

pada kadar tertentu bahkan belum menunjukkan suatu perubahan yang signifikan. Praktek demokrasi yang sementara berlangsung. sehingga demokrasi substantif yang sejatinya menjadi “buruan” kaum demokratik masih jauh dari memadai. Penuturan Latif (2006) meneragkan secara memadai bahwa dari sisi prosedur demokrasi. Fase perjalanannya baru mencapai pada pemenuhan prosedur-prosedur demokrasi formal. ada pula yang menyebut bahwa demokrasi sudah terkonsolidasi jika ia merupakan permainan satu-satunya (the only game in town) untuk memilih pejabat publik. transisi demokrasi Indonesia telah siap untuk dikonsolidasikan. Tetapi. tetapi demokrasi men- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 27 . maka fase transisi demokrasi dapat dikualifikasi telah terkonsolidasi karena sirkulasi kekuasaan melalui pemilu sudah berlangsung sejak pemerintahan Abdurrachman Wahid – walau dalam perjalanan pemerintahannya berhenti ditengah jalan setelah impeacht oleh MPR – yang kemudian digantikan Megawati Soekarno Putri untuk melanjutkan episode pemerintahan yang tersisa hingga pemilu 2004.rule). Lain halnya bila menggunakan ukuran kedua. Namun. Bagi yang menganut rumus ini. Tahap konsolidasi menghendaki perhatian pada segi-segi substantif. Indikatornya adalah rule of law sebagai syarat mestinya belum dapat diapresiasi secara memadai dalam mengartikulasikan prinsip-prinsip demokrasi dalam melakukan penataan kelembagaan. perkembangan ini hanyalah tahap awal dari proses panjang menuju konsolidasi demokrasi. Demokrasi bukan hanya sekadar menjadi medium penghapusan institusi – institusi politik yang represif dan sarana pergantian regime yang otoriter. Bila menggunakan ukuran pertama. maka fase transisi belum dapat disebut telah terkonsolidasi karena prasyarat-prasyarat tersebut belum memenuhi secara memadai. Kontrol demokratis yang sejatinya menjadi kunci dalam penerapan demokrasi substantif. Alasan lain juga yang relevan dengan itu adalah kualitas partisipasi publik dalam mengakses lembaga politik formal maupun institusi hukum masih terbilang sangat lemah. mereka menilai bahwa demokrasi dianggap sudah terkonsolidasi apabila kekuasaan sudah dua kali pindah tangan melalui proses pemilihan umum yang luber-jurdil. memang baru sebatas belajar merangkak.

Kepenatan dan kegelisahan yang selama ini hidup dengan belenggu otoritarianisme. Ini adalah sebuah fase sejarah yang patut direkam sebagai memoar penyegaran kembali dalam tata hidup berbangsa dan bernegara. Pertama. Begitulah titahnya bahwa amendemen konstitusi. paling tidak menjadi momentum penting dalam memulai babakan baru dalam menata negara bangsa. menghendaki adanya proses checks and balances terhadap tiga lembaga negara. 2006). konsolidasi demokrasi mempersyaratkan perlunya dilakukan transformasi struktural dan kultural secara mendasar. yaitu legislatif. amendemen konstitusi telah meletakkan sebuah kerangka pikir untuk beberapa hal. Sehingga demikian. babakan baru ini patut menjadi referensi awal untuk tidak terjebak pada kepongahan sejarah. Distribusi kekuasaan (distribution of power) yang disangga oleh tiga lembaga negara berbeda. Rentetan peristiwa ini tentu menjadi kisah menarik untuk dipelajari karena memiliki pesan mulia untuk segera diartikulasikan ke ruang publik. Amendemen konstitusi yang dilakukan. kini menjadi pelatuk perubahan dalam menata pola hubungan kelembagaan negara. Konsensus tersebut kemudian diwujudkan melalui sebuah kesepakatan untuk melakukan amandemen konstitusi secara mendasar. Prinsip checks and balances ini. Sebagai pemantiknya. tugas dan wewenang yang berbeda.coba merepresentasikan momentum bagi perbaikan kualitas bangsa yang lebih adil dan beradab. yang kerap menjadi virus – bila tidak ingin 28 Bunga Rampai . Namun disisi yang berbeda. demokrasi harus menjadi jaminan bagi terwujudnya esensi pemberdayaan rakyat (popular empowerment) dan pertanggungjawaban sistemik (systemic responsiveness) (Latif. seolah kembali memberi energi baru. Dan setidaknya. Gelombang demokratisasi ini kian menunjukkan perkembangan yang cukup positif dari semua entitas bangsa untuk membangun konsensus-konsensus baru. yakni adanya transformasi struktural dan kultural dalam sistem ketatanegaraan di republik ini yang harus segera dikomunikasikan. tentu juga menjadi penting untuk mencegah terjadinya sentralisasi kekuasaan pada institusi negara-negara tertentu. eksekutif dan yudikatif. Sehingga praktek abuse of power. tentu memiliki karakter fungsi.

Ini pun juga dapat dikonsolidasikan bila transisi demokrasi bertransformasi menjadi satu kerangka institusional mapan yang terinternalisasi mendalam pada para aktor sosial dan politik. Rentetan perubahan ini. yang memiliki kerangka kerja secara berbeda. budaya politik yang independen. tentu saja muaranya adalah penghormatan nilai-nilai keadilan (justice). dalam hal ini Mahkamah Konstitusi dan Komisi Yudisial. Ketiga. walaupun keberadaannya belum dapat dikualifikasi memiliki hubungan yang sifatnya joint session. memungkinkan adanya aksesibilitas publik yang tinggi dalam pencapaianpencapaian demokrasi substantif. munculnya lembagalembaga baru (new institutions) dalam lingkungan kekuasaan kehakiman. dan didukung oleh adanya masyarakat madani yang berdaya. Namun demikian. Prasyarat dalam memapankan institusi demokrasi. dalam wilayah legislatif dimunculkannya Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai perwakilan perseorangan yang dipilih berdasarkan region. yang konsekuensi logisnya berimplikasi pada perubahan pola hubungan kelembagaan pusat – daerah. penciptaan pertanggungjawaban publik yang akuntabel dan transparan serta menghapus segala keserakahan dalam penyelenggaraan tata negara bangsa. pemerintahan yang menjunjung tinggi hukum dan ekonomi yang efisien (Latif. Bagaimanapun juga. Kelima. prinsip rule of law harus terinternalisasi ke dalam institusi-institusi negara sebagai Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 29 . adanya transformasi sistemik. yang dari sistem pemerintahan sentralistik ke sistem pemerintahan desentralistik. memburu keberadaban publik. 2006). Derajat pemapanan institusi demokrasi dan sekaligus menjadikan institusi demokrasi lebih berwibawa adalah ketika pejabat publik menempatkan rule of law sebagai dasar pijakannya. partai politik yang berfungsi. Keempat.disebut penyakit – tidak menggerogoti praktek penyelenggaraan negara secara bar barian. Bila Mahkamah Konstitusi dibentuk dengan filosofi “penjaga konstitusi”. maka Komisi Yudisial dihadirkan sebagai “penjaga mafia peradilan” dengan menyandang predikat sebagai lembaga yang hanya sifatnya auxiliary. mewujudkan cita ideal ini tentu saja mesti dibarengi dengan pemapanan institusi-institusi demokrasi. Kedua. baru dapat mencapai titik maksimun ketika infrastruktur institusional demokrasi eksis.

transparan. Padahal kegagalan menegakkan prinsip rule of law dalam penegakan hukum dengan gilirannya akan menjadi kerikil-kerikil tajam dalam memapankan institusi – institusi demokrasi. Pepatah ini sejatinya mencoba merefleksikan eksistensi dunia peradilan yang teramat mulia. akuntabel dan responsif di mata publik. Kekuasaan kehakiman (judicative power) memang asa bagi pencari keadilan. mungkin cukup relevan menggambarkan mengenai mulianya sebuah lembaga peradilan. hakim. kejaksaan. tampaknya masih jauh dari memadai. pada konteks kekinian penerapan rule of law sebagai aturan main (rule game) dalam berbangsa dan bernegara. Inilah sisi lain yang harus dipertaruhkan sebagai seorang hakim.kerangka menghadirkan institusi negara yang kuat. Aparatur penegak hukum yang terintegrasi dalam konsep criminal justice system (kepolisian. Judicative Power: Sebuah Cermin yang Retak Sebuah pepatah latin kuno. pengacara dan lembaga pemasyarakatan) belum menunjukkan suatu kinerja yang menggembirakan. Tersimpan sejuta harap dari masyara- 30 Bunga Rampai . juga harus dipandang sebagai sebuah kebutuhan dalam mengatur tata laku pejabat publik untuk membedakannya dengan negara bar barian. Sayangnya. rule of law selalu menjadi instrumen khusus dan menjadi indikator utama dalam menilai demokrasi telah dikonsolidasikan. demokratis. Adanya praktek diskriminasi atau tebang pilih dan tebang pesanan serta maraknya praktek mafia peradilan di tubuh kekuasaan kehakiman adalah contoh kecil dari sekian banyak kisah yang dapat disajikan. Di negara manapun yang menerapkan prinsip-prinsip demokrasi modern. Ketika para hakim harus menjelma dan bertindak sebagai “mahluk yang suci” karena menjadi wali Tuhan di muka bumi ini. Beban moral ini memang cukup berat karena pertanggungjawabannya bukan hanya bersifat horizontal tetapi yang jauh lebih dalam adalah tanggung jawab vertikal kepada Tuhan. Prinsip rule of law. Bahwa pengadilan adalah “nec curia deficeret in justitia exhibenda” (pengadilan adalah istana di mana dewi keadilan bersemayam untuk menyemburkan aroma keadilan tiada henti). berwibawa dan tempat bersemayamnya prinsip – prinsip ke-tauhidan sebagai asas universal yang suci.

menuliskan bahwa kebengkokan itu sudah dimulai dari segi hukumnya. 2006) ketika mengatakan bahwa para aparat penegak hukum adalah segerombolan orang yang dapat mengangkangi hukum tanpa konsekuensi hukum. Pada sisi inilah kekuasaan kehakiman tampil sebagai sebuah cermin yang retak karena belum mampu merekatkan nilai-nilai keadilan masyarakat yang masih berserak. Chamblis dan Robert B. Bahkan keduanya mempertegas bahwa penyimpangan dalam dunia peradilan terjadi karena “judges must rely on their personal values when they make decisions in trouble cases”. Kegelisahan mengenai tata kerja kekuasaan kehakiman (judicative power) di Indonesia sebetulnya bukan cerita baru. Institusi kepolisian.kat agar keadilan melebur dan menyatu dengan dambaannya. Order. ada celah yang menganga di insitusi peradilan yang bisa disusupi. yakni karena adanya hukum yang menjadi refleksi dari kepentingan kelompok elite yang berkuasa (the higher a group’s political and economic position). kehakiman yang seharusnya menjadi corong bagi terciptanya keadilan bagi semua. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 31 . Celakanya. Sayangnya. moralitas yang selalu diperdengarkan dengan nyaring oleh penegak hukum dan dipandang cukup mulia. Kegundahan ini sebetulnya sudah lama berlangsung. Bahkan para pakar kriminolog pernah melakukan penelitian mengenai penyimpangan dalam dunia peradilan. Keprihatinan terhadap sisi gelap penegakan hukum pada ruang publik sudah menjadi momok yang senantiasa terus dipersoalkan. William J. Seidman dalam Gunawan (2006) dalam bukunya yang berjudul “Law. kejaksaan. malah berubah bentuk menjadi sesuatu yang utopis. Pada konteks ini. ekspektasi ini tampaknya akan terkikis dengan sendirinya ketika menyaksikan drama peradilan yang terlalu bobrok. Sisi lain yang paling potensial melahirkan kejahatan (judicial crime). gilirannya pun tak bisa berbuat banyak menghadapi derasnya “permainan kotor” di dunia institusi hukum. Moralitas hanya diperlakukan bak jubah untuk melakukan penyusupan dan sekaligus sebagai pembenaran atas putusan-putusannya. Mereka lupa bahwa disisi lain. Sisi keadilan (justice) masyarakat yang terus terbelenggu dengan maraknya praktek mafia yang berlangsung disekitar proses penegakan hukum. and Power”. mungkin ada benarnya apa yang dikatakan oleh Jeremy Bentham (Gunawan.

Imigrasi. Polisi 78%. korupsi di peradilan Indonesia memiliki ranking paling tinggi di antara negara-negara seperti Ukraina. 32 Bunga Rampai .id). mereka yang miskin tidak dapat berkompetisi (http://www. Mesir.ti. dan Pajak 76%. Huguette Labelle. ketua Transparency International menegaskan dengan adanya korupsi lembaga peradilan. Peradilan. Relevansi Indonesia yang dilaporkan Global Corruption Report 2007 telah menunjukkan bahwa sistem peradilan di Indonesia masih sangat korup dan bobrok. Kolombia. Uang serta pengaruh politik dalam hukum memecah sistem keadilan sosial: satu sistem bagi si kaya. Rusia. Sejalan dengan itu. dan seterusnya.yakni adanya kecenderungan serta upaya hakim meraup kekayaan dan kekuasaan dari pekerjaan yang diembannya. Hal ini sangat relevan dengan hasil Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia 2006 yang dirilis oleh Transparency International (TI) Indonesia. Survey IPK itu menemukan bahwa lembaga vertikal (Polisi. hasil survei nasional tentang korupsi yang dilakukan Partnership for Governance Reform pada 2002 juga menempatkan lembaga peradilan di peringkat lembaga terkorup menurut persepsi masyarakat. hal ini dikonfirmasikan oleh laporan para pelaku usaha bahwa inisiatif suap lebih banyak dilakukan oleh aparat. Korupsi dianggap melumpuhkan sistem yudisial di seluruh dunia serta menghalangi hak asasi manusia akan peradilan yang adil dan tidak berpihak.id). Global Corruption Report 2007 yang diluncurkan oleh Transparency International. Bea & Cukai. Daniel Kaufman dalam laporan Bureaucarti Judiciary Bribery tahun 1998 menyebutkan. Bahkan. BPN.ti. mereka tidak canggung-canggung dalam meminta suap. Dua katagori korupsi peradilan yakni campur tangan politik dan penyuapan juga sangat jelas terlihat. Militer dll) masih dipersepsikan sangat korup. Pajak.or. “Jika uang dan pengaruh politik menjadi dasar keadilan. Lebih memalukan lagi. Pengadilan dilaporkan merupakan lembaga yang paling tinggi tingkat inisiatif meminta suap hingga 100%. Imigrasi 90%. pada sisi lain bagi si miskin. Yordania. (http:// www. Venezeula. disusul Bea dan cukai 95%. mereka yang berada di pihak yang benar kehilangan hak didengar sedangkan yang bersalah tidak tersentuh hukum. sebuah koalisi global antikorupsi memilih tema Corruption in Judicial Systems.or. Turki. BPN 84%.

nampaknya tergambarkan dalam penelitian yang dilakukan oleh The Asia Foundation & AC Nielsen yang antara lain menyatakan: 49% sistem hukum tidak melindungi mereka (the legal system does not protect them). Bahkan data terakhir yang dilansir Komisi Yudisial menyebutkan bahwa 2. terutama dalam kaitan melakukan reformasi peradilan secara komprehensif sebagai upaya mengembalikan keprcayaan masyarakat terhadap sistem peradilan yang sekarang mengalami keterpurukan. wordpress. Mahkamah Agung sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam dunia peradilan. upaya sistemik mesti dilakukan.100 hakim dikategorikan bermasalah. tidak serta merta harus dilakukan pembiaran. Episode waktu yang tersisa masih terlalu panjang untuk memperbaikinya.440 hakim atau sekitar 40 persen dari total 6.com/ Kondisi ini tentu saja tidak dapat dijadikan sebagai pembenaran dalam menjustifikasi dan terus membiarkan maraknya praktek korupsi dalam dunia peradilan. sejatinya mampu menempatkan posisinya pada kerangka yang lebih intensif melakukan pengawasan internal terhadap perilaku koruptif dalam dunia peradilan. walau butuh energi banyak untuk menafasinya. setidaknya menjadi unsur korektif bagi Mahkamah Agung untuk menata kembali berbagai sisi gelap yang menyelimuti institusi peradilan. 57% sistem hukum masih tetap korup (the legal system is just as corrupt as it has always been problem). bahwa berdasarkan pengaduan masyarakat menyebutkan penyimpangan di lembaga peradilan menempati urutan tertinggi. 38% tidak ada persamaan di muka hukum (there is no such thing as equality before the law). Upaya pembenahan dan penataan ini dilakukan. Fakta-fakta faktual yang telah dibeberkan seperti di atas. Realita sistem hukum dan peradilan di negeri ini.Hal tersebut diperkuat dengan laporan Komisi Ombudsman Nasional (KON) tahun 2002. yang pada akhirnya membuat praktek hukum diwarnai judicial corruption. Sehingga demikian. yakni 45% dibandingkan lembaga lainnya. Di tengah buruknya kinerja peradilan saat ini. terutama dalam kerangka melakukan harmonisasi dan pembenahan sistem hukum kekuasaan kehakiman menjadi mutlak diprioritaskan. http://ahmadirfan. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 33 .

Dalam laporan korupsi global tahun 2007. Seluruh kasus korupsi divonis bersalah dan tidak ada satupun yang vonis bebas. UU Peradilan Agama dan sementara berjalan adalah perbaikan UU Peradilan Militer. Sebagaimana Andi Hamzah berpendapat bahwa korupsi bukanlah extra-ordinary crime artinya. Pasal 53 UU Nomor 30 Tahun 2002. Kedua. Perubahan UU pokok-pokok kekuasaan kehakiman. Celakanya. UU Mahkamah Agung. Tapi sayangnya. Padahal kinerja lembaga ad hoc dinilai cukup memberi nilai lebih bagi kembalinya kepercayaan masyarakat terhadap pemberantasan tindak pidana korupsi. walaupun belum terlalu memadai. eksistensi Pengadilan ad hoc Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) perlu diperkuat. setidaknya karena beberapa hal. Perjalanan panjang untuk memberantas tindak pidana korupsi pada gilirannya pupus sudah. putusan Mahkamah Konstitusi ini justru diinterpretasi lain oleh pihak-pihak tertentu. yang sama kelasnya dengan pencurian. yang menginginkan agar pengadilan tindak pidana korupsi sebaiknya dihilangkan.Pada sisi regulasi. Kemudian pada aspek kelembagaan. Sebut saja perubahan berbagai kebijakan yang terkait dengan kekuasaan kehakiman. UU Peradilan Tata Usaha Negara. Pertama. dan sele- 34 Bunga Rampai . Sebab selama dua tahun terakhir (2005-2006) sedikitnya 29 perkara telah diperiksa dan diputus oleh pengadilan tipikor secara lebih cepat. Timtas Tipikor dengan resmi harus dibubarkan karena masa pembentukannya sudah berakhir hanya dua tahun. pembentukan kedua lembaga ini seperti harus bergerak tanpa amunisi. 72 perkara korupsi dengan 171 terdakwa korupsi (36%) telah divonis bebas oleh pengadilan. arah untuk melakukan perbaikan sudah mulai ditunjukkan. dibentuklah Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi melalui UU Nomor 30 Tahun 2002 dan Pembentukan Timtas Tipikor melalui Keppres Nomor 11 Tahun 2005. mengenai kehadiran pengadilan tindak pidana korupsi harus dicabut oleh Putusan Mahkamah Konstitusi karena dinilai bertentangan dengan konstitusi. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-Undang Komisi Yudisial. korupsi hanya kejahatan biasa saja. Sebaliknya sepanjang periode tahun 2005-2006 ada kurang lebih 203 perkara yang telah diperiksa dan diputus oleh pengadilan.

Bahasa semantik ini terinspirasi dari sebuah ilustrasi film. terutama perilaku pejabat kekuasaan kehakiman yang dinilai menyimpang. Secara imperatif etis. Fakta tersebut menunjukan koruptor lebih banyak dapat dibuktikan kesalahannya di pengadilan ad hoc Tipikor daripada di pengadilan negeri biasa (Lubis. Komisi Yudisial berfungsi sebagai the musketter yang bertugas menjaga kehormatan dan kewibawaan kekuasaan kehakiman. dimana the musketter ini memiliki tugas pokok dalam menjaga wibawa kekuasaan. sudah tentu diperlukan dalam memberikan assessment yang lebih obyektif sebagai kerangka mengembalikan kepercayaan publik terhadap dunia kekuasaan kehakiman yang telah kehilangan wibawa. juga ditemukan adanya struktur lembaga baru dalam konstitusi.bihnya lebih banyak divonis ringan. dimana dihadirkannya sebuah institusi baru yang populer dengan Komisi Yudisial. Posisinya cukup mulia dan tidak mudah diintervensi oleh pihak mana pun. 2007) Dalam sisi yang berbeda. tetapi pada konteks ini lebih menggambarkan adanya instrumen kelembagaan yang memiliki spirit untuk berbuat kebajikan. Kehadiran Komisi Yudisial dalam struktur ketatanegaraan di Indonesia. Komisi Yudisial: The Musketter Kekuasaan Kehakiman The musketter sebetulnya sebuah istilah yang digunakan dalam menjelaskan keterkaitan antara keberadaan Komisi Yudisial dengan pelaksanaan kekuasaan kehakiman. Perumpamaan ini bukan ditujukan untuk menyebut Komisi Yudisial “sejenis tentara”. The musketter adalah “sejenis tentara” sebagai pasukan khusus istana kerajaan yang bertugas untuk mencegah adanya bahaya laten dalam kerajaan Perancis di saat itu. Kehadiran Komisi Yudisial dalam lingkaran kekuasaan kehakiman. yang pola kerjanya seolah bertindak seperti spionase dan penjaga raja untuk mencegah terjadinya penyimpangan oleh pejabat-pejabat istana. setidaknya membawa spirit baru dalam menyingkap sisi gelap dunia peradilan saat ini. Sebagai institusi yang memiliki sifat khas state auxiliary. Orang-orang yang terpilih menjadi the musketter adalah mereka yang memiliki keterampilan (skill) khusus. pada sisi normatif sudah diamini dalam Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 35 . termasuk oleh raja sendiri.

kemandirian kekuasaan kehakiman (judicial power) dapat terus terjaga. sehingga diasumsikan tidak mempunyai kepentingan politik. baik yang menyangkut rekruitmen dan monitoring hakim agung maupun pengelolaan keuangan kekuasaan kehakiman. yaitu fungsi pengawasan. menjadi landasan hukum yang kuat bagi reformasi bidang hukum dengan memberikan kewenangan kepada Komisi Yudisial untuk mewujudkan checks and balances. dan (5) dengan adanya Komisi Yudisial. (3) dengan adanya Komisi Yudisial. (4) terjaganya konsistensi putusan lembaga peradilan. argumen utama bagi terwujudnya (raison d’atre) Komisi Yudisial di dalam suatu negara hukum. karena politisasi terhadap perekrutan hakim agung dapat diminimalisasi dengan adanya Komisi Yudisial yang bukan merupakan lembaga politik. Menurut Ahsin Thohari (2004). 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Dalam makna ketat walaupun Komisi Yudisial bukan pelaku kekuasaan kehakiman namun fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman. Dalam ketentuan Pasal 24B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan UndangUndang No. (2) Komisi Yudisial menjadi perantara (mediator) atau penghubung antara kekuasaan pemerintah (executive power) dan kekuasaan kehakiman (judicial power) yang tujuan utamanya adalah untuk menjamin kemandirian kekuasaan kehakiman dari pengaruh kekuasaan apapun juga khususnya kekuasaan pemerintah.konstitusi. adalah: (1) Komisi Yudisial dibentuk agar dapat melakukan monitoring yang intensif terhadap kekuasaan kehakiman dengan melibatkan unsur-unsur masyarakat dalam spektrum yang seluas-luasnya dan bukan hanya monitoring secara internal. karena setiap putusan memperoleh penilaian dan pengawasan yang ketat dari sebuah lembaga khusus (Komisi Yudisial). Jadi jelaslah bahwa Komisi Yudisial adalah lembaga negara sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang salah satu wewenangnya adalah melakukan pengawasan terhadap hakim. tingkat efisiensi dan efektivitas kekuasaan kehakiman (judicial power) akan semakin tinggi dalam banyak hal. Kehadiran Komisi Yudisial sebetulnya menjadi salah satu jawaban atas gagalnya institusi Mahkamah Agung dalam menjadikan kekuasaan kehakiman lebih berwibawa dan in- 36 Bunga Rampai .

ketika Komisi Yudisial meminta perluasan kewenangan untuk menjatuhkan sanksi terhadap hakim yang dinilai bermasalah. Menurut Mas Achmad Santosa. kehadiran Komisi Yudisial. bahwa pembentukan Komisi Yudisial sebagai lembaga pengawas eksternal didasarkan pada lemahnya pengawasan internal tersebut. soal seperti ini tidak serta Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 37 . dalam faktanya tidak serta merta dapat diterima oleh pihak-pihak tertentu. Di beberapa negara yang mengakui keberadaan adanya Komisi Yudisial. memantau proses serta hasilnya (ketiadaan akses). (3) belum adanya kemudahan bagi masyarakat yang dirugikan untuk menyampaikan pengaduan. jabatan ketua Komisi Yudisial memang dijabat secara ex officio oleh Ketua Mahkamah Agung.transparansi. Begitu juga disaat munculnya isu penyusunan kode etik hakim. bahwa lemahnya pengawasan internal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Pergulatan ini semakin diperparah. www.or. justru menunjukkan sikap yang sangat resisten terhadap keberadaan Komisi Yudisial. Sebut saja Mahkamah Agung dalam banyak kisah belakangan ini. secara terbuka mempublikasikan dirinya untuk menjabat ketua Komisi Yudisial secara ex officio. dan (5) tidak terdapat kehendak yang kuat dari pimpinan lembaga penegak hukum untuk menindak-lanjuti hasil pengawasan. (2) proses pemeriksaan disiplin yang tidak transparan. Sayangnya. Sehingga tidak terbantahkan. Setiap upaya untuk memperbaiki suatu kondisi yang buruk pasti akan mendapat reaksi dari pihak yang selama ini mendapatkan keuntungan dari kondisi yang buruk itu. Umumnya perspektif mereka malah memandang Komisi Yudisial sebagai lembaga yang akan menggerogoti dan mengintervensi institusi peradilan. kedua lembaga ini saling berebut terhadap siapa yang lebih berwenang untuk menyusunnya.id Namun demikian. Cukup aneh juga ketika Ketua Mahkamah Agung. Terutama ketika Komisi Yudisial meminta agar putusan pengadilan menjadi objek pengawasannya. Masalah pokok hilangnya wibawa kekuasaan kehakiman adalah terutama tidak efektifnya pengawasan internal (fungsional) yang ada di badan peradilan.dependen. (4) semangat membela sesama korps (esprit de corps) yang mengakibatkan penjatuhan hukuman tidak seimbang dengan perbuatan. antara lain: (1) kualitas dan integritas pengawas yang tidak memadai.

serta bagaimana proses pengawasan itu dilaksanakan. tidak jelas dan tegas menentukan siapa subjek yang mengawasi. yaitu seolah-olah hubungan antara MA dan KY berada dalam pola hubungan “checks and balances” antarcabang kekuasaan dalam konteks ajaran pemisahan kekuasaan (separation of powers). sehingga menimbul- 2.merta harus diadopsi secara mentah-mentah mengingat dalam beberapa hal. Ketiga. 3. apa objek yang diawasi. dengan sejenak terhenti ketika Mahkamah Konstitusi melalui putusannya Nomor 005/PUU-IV/2006 terhadap judicial review atas Pasal 13 jo Pasal 20 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial dinyatakan bertentangan dengan UndangUndang Dasar 1945. karakteristik pejabat negara kita. instrumen apa yang digunakan. UUKY terbukti tidak rinci mengatur mengenai prosedur pengawasan. Kedua. dimana aspek kontestasi justru dikebiri sebagai salah satu indikator demokrasi. 38 Bunga Rampai . Hal tidak jelas dan tidak rincinya pengaturan mengenai pengawasan dalam UUKY serta perbedaan dalam rumusan kalimat seperti dimaksud pada butir (i) menyebabkan semua ketentuan UUKY tentang pengawasan menjadi kabur (obscuur) dan menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid) dalam pelaksanaannya. punya tradisi cukup buruk dalam soal penyalahgunaan wewenang (abuse of power). sangat mencenderai makna demokrasi substantif. Dan biasanya kekuasaan lembaga yang tersentralisasi sangat rentan mencipta oligarki kekuasaan. terutama dalam soal antara yang mengawasi dan diawasi. justru mengaburkan makna pengawasan secara subtil. Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa: 1. memakai logika kuasa. Perumusan Pasal 13 huruf b juncto Pasal 20 UUKY mengenai wewenang lain sebagai penjabaran dari Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 menggunakan rumusan kalimat yang berbeda sehingga menimbulkan masalah dalam penormaannya dalam UUKY yang menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). Pertama. Konsepsi pengawasan yang terkandung dalam UUKY didasarkan atas paradigma konseptual yang tidak tepat. Di tengah pergulatan panjang ini.

dan juga MK dapat diikutsertakan dalam proses pembuatan sesuatu undangundang yang akan mengatur dirinya.id Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 39 . Bahkan. Jika hal ini dibiarkan tanpa penyelesaian. Bahwa MA. www. Oleh karena itu. Tugas legislasi ini adalah tugas DPR bersama dengan pemerintah. Karena itu. Akan tetapi. dan undang-undang lain yang terkait dengan sistem peradilan terpadu. bukanlah tugas konstitusional MA.go.kan penafsiran yang juga tidak tepat. khususnya yang berkaitan dengan ketentuan mengenai pengawasan perilaku hakim. Untuk mengatasi akibat kekosongan hukum yang terlalu lama berkaitan dengan tugas KY. UUMA. UUMK. Undang-Undang Komisi Yudisial segera harus disempurnakan melalui proses perubahan undang-undang sebagaimana mestinya. Setiap lembaga negara sudah seharusnya membatasi dirinya masing-masing untuk tidak mengerjakan pekerjaan yang bukan menjadi tugas pokoknya. KY. yang pada gilirannya juga dapat mendelegitimasi kekuasaan kehakiman yang akan dapat menjadikannya semakin tidak dipercaya. tentu saja merupakan sesuatu yang logis dan tepat. sehingga oleh karenanya harus menyerahkan segala urusan legislasi itu kepada pembentuk undang-undang. segala ketentuan Undang-Undang Komisi Yudisial yang menyangkut pengawasan harus dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat karena terbukti menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). kecuali apabila hal itu dimaksudkan hanya sebagai pendukung. dan juga MK merupakan lembaga pelaksana undang-undang. ketegangan dan kekisruhan dalam pola hubungan antara KY dan MA akan terus berlangsung dan kebingungan dalam masyarakat pencari keadilan akan terus meningkat.mahkamahkonstitusi. Mahkamah Konstitusi juga merekomendasikan kepada DPR dan Presiden untuk segera mengambil langkah-langkah penyempurnaan Undang-Undang Komisi Yudisial. dan juga MK untuk mengambil prakarsa yang bersifat terbuka untuk mengadakan perubahan undang-undang seperti dimaksud. KY. KY. DPR dan Presiden dianjurkan pula untuk melakukan perbaikan-perbaikan yang bersifat integral dengan juga mengadakan perubahan dalam rangka harmonisasi dan sinkronisasi atas UUKK. MA. terutama dalam pelaksanaannya.

Rekomendasi Mahkamah Konstitusi ini tentu saja menjadi pegangan bagi legislatif maupun eksekutif agar melakukan upaya konkret untuk segera merevisi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial. Dalam makna ketat bahwa pilihan memperkuat atau memperlemah posisi Komisi Yudisial dalam struktur ketatanegaraan bukan hanya harus mengandalkan perlunya transformasi politik dalam tubuh legislatif maupun eksekutif. Sehingga demikian. Menguatkan berarti mencipta “oase” untuk menghidupi kekinian dan masa depan. Boleh jadi. tetapi perlunya 40 Bunga Rampai . memperlemah keberadaan Komisi Yudisial. Ini sangat berpotensial. apalagi bila objek pengawasannya adalah putusan hakim pengadilan. Premis di atas kesannya memang sangat dilematis. Penyempurnaan terhadap ketentuan ini setidaknya diharapkan dapat memberikan penguatan kelembagaan terhadap Komisi Yudisial sebagai the musketter kekuasaan kehakiman di Indonesia. Nasib Komisi Yudisial memang tengah dipertaruhkan. Dengan penuh harap semoga gagasan dan bahasa undang-undang dapat menyibakkan tabirnya untuk suatu keadaban dan keadilan bagi semuanya. Sementara. tetapi melemahkan berarti memberi gerak lahirnya “preman tribal atau mafia berdasi” yang akan melahirkan bangsa barbarism atau manusia penghancur dalam dunia kekuasaan kehakiman. Semua ini tentu harus disikapi secara simultan. dikhawatirkan justru semakin memperburuk citra dan menghilangkan wibawa kekuasaan kehakiman di mata publik. Semua ini akan ditentukan dalam tuturan semantik dari legislatif maupun pemerintah lewat regulasinya. ke depan Komisi Yudisial bukan lagi menjadi sebuah institusi yang sifatnya auxiliary tetapi harus diletakkan sebagai kekuatan inti dalam penyelenggaraan kekuasan kehakiman. pengawasannya terhadap putusan hakim pengadilan justru diinterpretasi atau dipelintir sebagai tindakan intervensi terhadap kemerdekaan hakim. justru dikhawatirkan akan menggerogoti independensi kekuasaan kehakiman. Menguatkan Komisi Yudisial melalui perluasan wewenang. Menempatkan Komisi Yudisial pada kerangka yang tepat sebagai lembaga pengawas eksternal setidaknya memberi jaminan adanya sisi obyektifitas dan memiliki makna yang subtil bagi reformasi peradilan. antara menguatkan atau memperlemah.

sinergitas hubungan antara Komisi Yudisial dan Mahkamah Agung dalam memperbaiki kinerjanya. Atau menjebaknya ke dalam perebutan kredit point terhadap mana yang lebih baik. Dengan segala harap. sudah tentu bukanlah jalan terakhir bagi sebuah perjuangan. sejatinya cukup penting digunakan untuk membangun ruang-ruang dialogis dalam menemukan makna perubahan yang signifikan dalam dunia kekuasaan kehakiman. justru tidak melahirkan ”kacung-kacung baru” dalam dunia kekuasaan kehakiman. tetapi setidaknya sebagai kerangka untuk evaluasi akan ”makna keberadaannya”di mata publik. butuh energi banyak untuk selalu menafasinya. Rentetan pemikiran ini. Sisi penjelahan akan konsep Komisi Yudisial yang ideal mesti terus diusung. Transformasi politik yang berlangsung di legislatif maupun eksekutif. Dengan demikian. semoga rute perubahan ini. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 41 . tentu saja tidak dilakukan dengan amburadul. Pelintasan ruang dan waktu yang terus terbentang. tetapi yang lebih mendasar adalah perlunya melihat kinerja (performance) kedua institusi negara tersebut. Penuturan ini bukan untuk menggiring kedua institusi negara tersebut ke labirin arogansi institusional. yang sekadar melakukan revisi terhadap sejumlah regulasi terkait dengan kekuasaan kehakiman. isu reformasi peradilan sangat relevan kiranya memperhatikan sisi keterkaitan antara transformasi politik dengan tingkat kinerja pelaksana kekuasaan kehakiman selama ini. Walau.

6.com www. Yale University Press.id). Ahsin. Juan. A. Baltimore Thohari. Jhon Hopkins University Press.transparansi. New Haven Gunawan. Stepan Alfred. Koloni Keadilan.go. Komisi Yudisial & Reformasi Peradilan.id www. No. Yudi.wordpress.id - 42 Bunga Rampai . hlm. 1996.or. 2006. 2006.Daftar Pustaka Dahl Robert. Kumpulan Analisis di Majalah Forum. XIII – XIV. Demokrasi Minus. http://ahmadirfan. 2006 Linz. Budi.ti. Jakarta Latif. 1961.Visi Volume V. Who Governs? Democracy and Power in an American City. Problems of Democratic Transition and Consolidation.mahkamahkonstitusi.or. (http://www. Forum Media Utama.

meninggalkan reformasi peradilan mengakibatkan proses demokrasi berjalan tanpa arah. Ia bukan lagi sebuah momentum. Sejauh ini reformasi peradilan memang telah menghasilkan berbagai perubahan. Bisa jadi. reformasi peradilan perlu diupayakan agar mampu bersinergi dengan kekuatan/kelompok sosial-politik dalam masyarakat. Karena reformasi peradilan menghendaki lembaga peradilan idealnya dapat dimanfaatkan untuk menjamin perlindungan terhadap kebebasan sipil-politik serta perlindungan sosial-ekonomi rakyat. tetapi spirit yang terus menggelora ditengah kegalauan publik yang senantiasa mendambakan rasa keadilan. Sebaliknya. Reformasi peradilan menjadi bagian penting yang tidak bisa diabaikan dalam proses demokrasi dan gerakan sosial (social movement) yang lebih luas. khususnya masyarakat yang pro-reformasi peradilan. Pada titik ini. dan gerakan sosial menjadi tertatih-tatih. reformasi peradilan akan kehilangan moralitas dan legitimasinya jika mengabaikan issue dan kepentingan hak-hak masyarakat. baik pada tataran kebijakan * Penulis adalah: Ketua Badan Pengurus Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN) Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 43 .Komisi Yudisial Pengawal Reformasi Peradilan Mendayung Diantara Simpati dan Resistensi Firmansyah Arifin* Pengantar Reformasi peradilan merupakan sebuah keniscayaan.

atau malah sebaliknya. gagasan demokrasi dan negara hukum dalam perkembangannya 44 Bunga Rampai . Namun hampir satu dasawarsa. di negara hukum tidak ada warga negara yang berada di atas hukum dan karenanya semua warga negara harus patuh pada hukum. Termasuk dalam hal ini adalah Komisi Yudisial (KY) yang diperlukan untuk mengawal reformasi peradilan. setidaknya mampu menuai simpati ketika mengusik eksistensi dan kemapanan para hakim. Bahkan dalam beberapa hal mengalami proses maju mundur (back-forward). khususnya yang berkenaan dengan hakim. Namun bersamaan dengan itu. Gagasan negara hukum mempunyai akar historis dalam perjuangan menegakkan demokrasi.sampai pembentukan mekanisme dan institusi baru. Hal itu dapat dilihat pada Komisi Yudisial ketika menjalankan tugas dan kewenangannya. Selanjutnya. Sepak terjang KY selama 2 tahun terakhir. mencoba merumuskan kembali peranan dan langkah strategis KY kedepan. muncul pula resistensi terhadap KY yang hendak mendelegitimasi posisi dan peranan KY. Kehadiran KY memang memberikan harapan akan institusi peradilan yang bersih dan berwibawa. reformasi peradilan (judicial) berjalan lambat jika dibandingkan proses reformasi pada ranah legislatif dan eksekutif. apakah cukup efektif untuk mendorong dan memperkuat reformasi peradilan. hingga membubarkan KY. Hukum itu sendiri harus ditentukan oleh warga negara yang tidak lain merupakan pengaturan hubungan di antara sesama warga negara melalui cara dan mekanisme demokrasi (parlemen). Sebagai sebuah sistem politik dan pemerintahan. Misi Penting Reformasi Peradilan Reformasi peradilan mempunyai tujuan dan tugas utama untuk menjamin dan mempertahankan prinsip-prinsip negara hukum yang demokratis. Tulisan ini mencoba merefleksikan kembali peranan KY dalam konteks reformasi peradilan. dan simpati dapat terus diraih dan dikembangkan dalam mengawal reformasi peradilan menuju Negara demokrasi dan rule of law yang dicita-citakan. serta bebas dari mafia peradilan (judicial corruption). Dengan harapan resistensi dapat dieliminir. Dalam pengertian yang sederhana. Sejauh mana upaya yang telah dilakukan.

keadilan yang paling esensiil dapat disentuh berdasarkan atas hak asasi dari warga negara. tak bermakna. Dalam pelaksanaannya. demokrasi juga mensyaratkan adanya praktek penegakan hukum yang jelas dan tegas.didasari gerakan atau dorongan masalah bagaimana melindungi kebebasan individual atau hak asasi manusia dari tindakan sewenang-wenang para penguasa. menjadi fungsi utama dari pemerintahan demokratis dan pemerintahan berdasarkan atas hukum untuk menjamin dan melindungi hak asasi manusia. Independensi kekuasaan kehakiman sebagai sesuatu hal yang prinsipil di dalam negara hukum yang demokratis. Fokus pada hak asasi itu menjadi dasar normatif bagi gagasan demokrasi dan negara hukum. maka tidak ada demokrasi dan negara berdasarkan atas hukum (demokratische rechsstaat). Melalui peranan para hakim sebagai pelaksana utama dari kekuasaan kehakiman. dan kehilangan esensi keberadaannya. tetapi mutlak mensyaratkan adanya rule of law. Tanpa kedua hal tersebut. demokrasi bukan hanya soal kebebasan sipil dan politik. Dengan pengertian lain. Independensi atau kebebasan tersebut dimaksudkan tidak adanya campur tangan dari kekuasaan eksekutif dan legislatif terhadap pelaksanaan fungsi peradilan. maka demokrasi hanya akan menjadi sekadar proyek liberalisasi politik. Tanpa kehadiran kekuasaan kehakiman yang independen. Lebih dari itu. Independensi di sini sekaligus merupakan independensi personal setiap hakim untuk menjalankan tugasnya tanpa ketakutan dan keberpihakan. Prosedur yang dimaksudkan salah satunya adalah melalui kewenangan judicial review/constitutional review oleh kekuasaan kehakiman. Sebab kelengkapan pertama Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 45 . Termasuk pula campur tangan dari unsur-unsur kekuasaan kehakiman itu sendiri serta kekuasaan ekonomi dan politik di luar sistem kekuasaan negara. Tetapi juga ditambah dengan perlunya prosedur perlindungan terhadap hak-hak yang telah dijamin dalam konstitusi. Gagasan negara hukum demokratis tidak hanya menegaskan bahwa kekuasaan kehakiman (judicial power) adalah kekuasaan yang merdeka (independent) dan tidak memihak (impartial). Hukum dibutuhkan untuk memastikan adanya jaminan kapasitas kontrol rakyat terhadap berbagai urusan publik.

Sedangkan akuntabilitas diperlukan sebagai mekanisme kontrol setelah suatu tindakan yudisial diambil. Dalam memutus perkara. Kedua jenis independensi ini tidak sekedar menuntut jaminan-jaminan konstitusional formal. seorang hakim harus didasarkan pada intelenjensi dan kemauan belajar. dan pada akhirnya bisa menimbulkan masalah-masalah baru. tetapi juga cara-cara penunjukkan atau pengangkatan hakim dan jaminan keberlangsungan mereka dalam melaksanakan jabatannya (Beetham & Boyle. Pengawasan sebagai wujud dari akuntabilitas dan bagian dari checks and balances. Sebab bukan mustahil ketika independensi kekuasaan kehakiman meningkat. sebaliknya kewajiban lembaga peradilan untuk mempertanggungjawabkan segala tindakannya kepada publik akan dapat mengurangi kerentanan lembaga peradilan dari tekanan pihak luar. diperlukan untuk mencapai independensi dan impartialitas peradilan. Karena mengingat belum semuanya para hakim mempraktikkan judicial discretion. kecuali keinginan besar untuk menegakkan keadilan (Felix Frankfurter. Bahwa lembaga peradilan wajib mempertanggungjawabkan baik pelaksanaan fungsi yudisial maupun penyelenggaraan administrasinya. dikontrol oleh prinsip-prinsip hukum. independensi tanpa akuntabilitas bisa melangkah terlalu jauh. maka akuntabilitas dan legitimasinya menurun. Dalam hal ini dapat dibedakan bahwa independensi merupakan mekanisme kontrol sebelum suatu tindakan yudisial dilakukan yaitu meminimalisir masuknya pengaruh pihak luar terhadap proses pengambilan putusan yang imparsial oleh pengadilan. justru saling menunjang dan memperkuat. 2000). Kedua prinsip tersebut tidaklah bertentangan secara diametral. Akuntabilitas diperlukan untuk memperkuat independensi. didukung keberanian dan pikiran yang dingin dan bebas dari pengaruh luar dan tidak goyah karena simpati dan prasangka. yaitu sikap independen dan imparsial dalam memutus suatu perkara. Hanya saja sebagaimana mulai dirasakan. misi penting bagi reformasi peradilan tidak hanya sebatas menegakkan independensi dan impar- 46 Bunga Rampai . 1993) Oleh karena itu.dan utama untuk menegakkan kekuasaan kehakiman yang independen ada pada hakim.

managemen dan administrasi peradilan yang tidak transparan. Yang ada adalah cerita sukses intervensi politik yang dimulai ketika urusan organisasi. Peradilan Yang Belum Berubah Mafia peradilan (judicial corruption) menjadi problem besar yang menimbulkan bobroknya institusi peradilan. ICW. semakin memudahkan intervensi politik yang membuat lemah kekuasaan peradilan ketika harus vis a vis dengan kekuasaan eksekutif. 2005) telah mendiagnosis. KRHN-Leip. Tidak adanya jaminan independensi dalam konstitusi. segi sosial/publik. Disamping problem lainnya seperti. segi hukum bagi hakim baik pejabat negara maupun secara personal (Mauro Cappeletti. terutama dari eksekutif. Sangat jarang pula hakim yang punya keberanian untuk melawan setiap kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan rakyat. 1997. Pada masa-masa itu jangan berharap ada banyak putusan-putusan pengadilan yang progresif dan memberi rasa keadilan. Setidaknya akuntabilitas dari segi politik. tidak lepas dari praktek sistem pemerintahan otoritarian yang diterapkan. Tetapi penting juga bagaimana membangun dan menjaga sistem akuntabilitas dan mekanisme kontrol bagi para hakim agar peradilan tidak memunculkan abuse of power baru atau tyrani judicial. Karakter dalam sistem pemerintahan otoritarian selalu menolak adanya checks and balances dan tidak mau mengakui adanya hak asasi manusia. bobroknya institusi peradilan sebagai akibat dari intervensi politik yang begitu panjang yang telah mereduksi independensi dan impartialitas peradilan. 2001. minimnya hakim yang berkualitas dan berintegritas. Pompe.tialitas peradilan sebagai suatu prinsip dalam Negara hukum yang demokratis. 2004. penumpukan perkara. Beberapa studi (Lev. 1990. Sedangkan lembaga peradilan hanya menjadi alat untuk menjustifikasi dan melegitimasi perilaku kekuasaan eksekutif. Asrun. 1989). Belakangan disadari bahwa intervensi yang bersifat ekonomi juga menjadi salah satu faktor penyebabnya. kebenaran dan keadilan. administrasi Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 47 . Intervensi politik. Pengadilan hanya menjadi abdi kekuasaan ketimbang berpihak pada rakyat. BK Harman. 1999. serta putusan yang janggal dan mencederai rasa keadilan.

yang telah memberikan jaminan konstitusional prinsip kemerdekaan bagi kekuasaan kehakiman. UU MA. Revisi terakhir ini dipengaruhi oleh hasil Amandemen UUD 1945. sampai MA. Ketika momentum perubahan datang. Seperti kasus panitera pengganti dan hakim PN Jakarta Selatan yang memeras saksi dalam kasus korupsi PT Jamsostek. Perlahan tapi pasti. dan para hakim yang lebih disibukkan dengan urusan kesejahteraan dan kepentingan sendiri. Tujuannya bukan hanya sekedar mengisi kekosongan kursi hakim agung. 2003). pengadilan tinggi (PT). Selanjutnya putusan-putusan pengadilan mesti mengikuti langgam pembangunan pemerintah.dan finansial peradilan berada dalam kekuasaan eksekutif. dan kasus advo- 48 Bunga Rampai . Sejumlah pengadilan khusus untuk mengadili perkara-perkara seperti pelanggaran HAM. juga dibentuk melalui undang-undang. Selain itu lewat amandemen konstitusi dibentuk lembaga Komisi Yudisial untuk rekruitmen hakim agung dan pengawasan hakim. tetapi untuk mendorong perubahan di tubuh internal MA. Dalam seleksi ini. korup dan tidak berwibawa. mulai dilakukan secara terbuka oleh DPR pada 2000 . Revisi tersebut selanjutnya dipertegas. seleksi hakim agung dan Ketua Mahkamah Agung yang sebelumnya sangat tertutup. administrasi dan financial menjadi urusan Mahkamah Agung. sejumlah hakim agung non karier yang berasal dari kalangan akademi dan praktisi hukum dipilih dan ditetapkan. mulai dari pengadilan negeri (PN). Praktik-praktik mafia peradilan disinyalir masih berjalan di setiap tahapan. serta Mahkamah Konstitusi. MA pun kemudian membuat dan merumuskan sejumlah paket rencana pembaruan yang akan dilakukannya (Blue Print MA. Meski berbagai perubahan telah terjadi. UU Pengadilan Umum) pada tahun 2004. Beberapa kasus hanya sebagian kecil yang berhasil terungkap. fakta lain memperlihatkan kondisi lembaga peradilan masih ditengarai berbagai persoalan yang sangat kontras dengan spirit dan agenda perubahan. dilengkapi dan diimplementasikan melalui revisi paket UU Bidang Hukum (UU Kekuasaan Kehakiman. pengadilan menjadi institusi yang tertutup. 14/1970) yang menempatkan urusan organisasi. Korupsi. Seakan tidak mau ketinggalan. Anak. Bersamaan dengan revisi kebijakan.2003. reformasi peradilan dimulai dengan revisi kebijakan satu atap (UU No.

Serta kasus Probosutedjo yang mencoba menyuap majelis hakim di MA dengan uang milyaran rupiah. Dan itu berarti bahwa lembaga peradilan memang belum mengalami perubahan yang signifikan. Dari sejumlah kasus yang terungkap nampaknya belum membuat kapok para Mafioso peradilan. Masih terjadi krisis kepercayaan. yang masih menunjukkan bobroknya institusi peradilan. Posisi ini nampaknya tidak beranjak jauh dari hasil survey TII sebelumnya. Transparancy International Indonesia (TII) mengeluarkan hasil survey tentang korupsi yang terjadi di lembaga-lembaga pemerintahan. pengadilan menempati urutan teratas untuk inisiatif melakukan suap. Sementara pengawasan internal oleh MA sudah terbukti tidak efektif memberikan efek jera bagi para hakim dan pegawai pengadilan. yang dilakukan secara rutin setiap tahun. keluhuran martabat. serta perilaku hakim. apalagi dilakukan secara tidak transparan. Dari survey tersebut. Pada Mei 2007. Memaknai Kehadiran Komisi Yudisial Komisi Yudisial (KY) lahir dan dibentuk berdasarkan konstitusi. Fakta-fakta tersebut semakin membuat institusi peradilan terperosok dalam lubang kegelapan yang seakan-akan sulit untuk keluar. Ketentuan ini menjadi landasan hukum yang kuat bagi KY untuk memainkan peranan yang sangat penting dan strategis dalam usaha mewujudkan kekuasaan kehakiman yang merdeka didalam Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 49 . Putusan-putusan pengadilan. hampir semua terdakwanya kemudian diputus bebas oleh MA. terutama dalam kasus korupsi dan HAM. dan memiliki kewenangan mengusulkan calon hakim agung serta kewenangan lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Hasil survey ini melengkapi sejumlah survey atau polling yang telah dilakukan berbagai pihak. meski berbagai upaya perubahan telah dilakukan sejak reformasi 1998. dengan tersangka Harini Wijoso dan beberapa pegawai MA. belum bisa memberikan rasa keadilan karena seringkali dengan mudah memberikan putusan bebas bagi para pelakunya. Ramdhan Rizal dan M. Malah dalam kasus-kasus pelanggaran HAM. Sholeh. dua panitera PT Jakarta.kat Syaifudin Popon. Pasal 24B UUD 1945 menempatkan KY sebagai Lembaga Negara yang bersifat mandiri.

Masyarakat pun dapat terlibat secara aktif untuk memantau dan menilai secara kritis terhadap proses serta track record para calon hakim agung. Naskah Akademis RUU Komisi Yudisial. melakukan pemanggilan dan pemeriksaan terhadap hakim. namun fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman yaitu fungsi pengawasan. serta hakim Mahkamah Konstitusi. Dapat dikatakan bahwa fungsi pengawasan inilah yang paling sering akan dilakukan oleh KY. 2004). Faktor lain yang mendorong kelahiran KY adalah kebutuhan untuk membangun sistem seleksi hakim agung yang lebih obyektif. Meski KY bukan pelaku kekuasaan kehakiman. Kondisi pengawasan seperti itu diakui sendiri oleh MA. 2003. Pengawasan hakim yang dijalankan MA sangat tertutup. independen dan bertanggungjawab (accountable). yang pada gilirannya menyuburkan judicial corruption di tubuh institusi pengadilan. transparan dan partisipatif. Lahirnya KY dari rahim konstitusi dilatarbelakangi oleh adanya kebutuhan untuk membangun sistem pengawasan hakim yang lebih efektif dan konstruktif.konteks negara hukum. jelas bahwa Komisi Yudisial memi- 50 Bunga Rampai . tidak accountable. Alasannya. Dalam sistem seleksi semacam ini diharapkan dapat dieliminir politisasi dalam penentuan calon hakim agung. meminta laporan tentang perilaku hakim. kebutuhan KY dilandasi oleh spirit untuk mendorong dan membangun sistem dan pelaksana kekuasaan kehakiman lebih bersih. Sehingga hakim agung yang dihasilkan memiliki integritas. 22/2004 tentang KY kemudian menambahkan bahwa. mekanisme pengawasan hakim yang ada mengandung sejumlah kelemahan. dan memberikan usul pemberian sanksi (punishment) dan penghargaan (reward). Selain itu dalam konteks wewenang pengawasan. UU No. Jika memperhatikan alasan-alasan pembentukan Komisi Yudisial tersebut di atas. KY dapat menerima laporan dari masyarakat. kredible dan dapat memegang teguh prinsip independensi dan imparsial dalam membuat putusan (Blue Print MA. Intinya. dan cenderung mengedepankan esprit de’corps. obyek pengawasan KY terhadap hakim meliputi hakim agung dan hakim pada badan peradilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung.

Komisi Yudisial berfungsi untuk merepresentasikan kontrol publik ke dalam lembaga peradilan. Yang dilihat adalah fungsi dan kewenangan yang telah diberikan. telah mendudukan posisi dan kekuasaan lembaga-lembaga negara menjadi setara dan seimbang. yang tercermin dari sumpah jabatan dan representasi suara rakyat yang telah memilih secara langsung. 2006). bersama-sama dengan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. Komisi Yudisial diberi tanggung jawab konstitusional untuk mengontrol kinerja dan perilaku para hakim. sang ujung tombak penegakan hukum di lembaga peradilan (A. Perubahan paradigma konstitusi tersebut. kewajiban untuk menjaga dan menegakkan kekuasaan kehakiman yang merdeka (independency of judiciary) bukanlah semata-mata menjadi tugas dan tanggungjawab MA dan MK. Akan tetapi tugas dan tanggungjawab itu. Mengembalikan rasa percaya publik pada kemampuan lembaga peradilan sebagai benteng terakhir penegakan hukum dan keadilan. haruslah senantiasa hadir ketika citacita atau ideologi independensi dan imparsialitas peradilan tidak bisa dijaga dan ditegakkan sendiri oleh MA dan MK. Tugas dan tanggungjawab itu juga menjadi kewajiban DPR bersama Presiden. Pembentukan KY ini sejalan dengan spirit dari perubahan (amandemen) UUD 1945. Tidak ada lagi lembaga tertinggi dan tinggi negara. Dalam kerangka perubahan itu. dan diperlukan dalam menjalankan checks and balances. eksekutif dan yudikatif). Tugas dan tanggungjawab tersebut tidaklah berakhir ketika DPR bersama Presiden telah memilih dan menetapkan calon hakim agung. KY sesungguhnya merupakan mitra strategis dari DPR dan Presiden untuk melakukan dan mem- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 51 . Komisi Yudisial berperan untuk ‘membentuk’ (reshaping) peradilan di Indonesia. ataupun keduanya telah membuat UU yang mendukung independensi peradilan. Spirit perubahan yang hendak memperkuat checks and balances antara cabang-cabang kekuasaan negara (legislatif. Kedua.liki dua fungsi penting dalam upaya penegakan hukum dan keadilan di Indonesia: pertama. Ini adalah sebuah moralitas konstitusi dari kedua lembaga tersebut. Nababan. Spirit perubahan ini mengubah paradigma dan praktek kekuasaan negara yang selama ini cenderung executive heavy atau legislative heavy. Dalam hal itu.

pengawasan dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. KY harus menjamin judicial discretion bahwa hakim dalam mengambil keputusan harus bebas dari intervensi baik berupa ancaman. professional dan terpuji. mosi tidak percaya itu dapat dilihat bahwa pemberian wewenang KY merupakan atribusi kewenangan dari kekuasaan eksekutif dan legislatif dalam menjalankan fungsi kontrol atau checks and balances terhadap kekuasaan yudikatif. selain rekruitmen bagi hakim agung. Jelas terlihat bahwa KY memiliki peranan penting untuk mendorong para hakim menjadi lebih bermartabat. Dengan berpijak pada kerangka konstitusional di atas. Fungsinya adalah untuk memperkuat checks and balances. Pembentukan KY dan juga Komisi-Komisi independen lainnya adalah dimaksudkan sebagai Institutional Watchdog. Melalui kewenangannya. harkat martabat dan perilaku hakim oleh KY merupakan bentuk penolakan terhadap pengawasan internal yang sebelumnya dinilai tidak efektif. Fungsi kontrol yang sedapat mungkin bisa menyeimbangkan terjaganya independensi hakim dengan akuntabilitas yang mesti dibangun. Mosi tidak percaya itu dapat ditunjukkan pula dari posisi Ketua MA yang bukan sekaligus ex officio Ketua KY sebagaimana Judisial Commission di berbagai negara.perkuat kontrol (checks and balances) terhadap MA dan MK. guna mencegah penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) oleh institusi peradilan. kehadiran dan wewenang yang diberikan kepada KY merupakan ‘mosi tidak percaya’ terhadap institusi pelaksana kekuasaan kehakiman. membangun akuntabilitas dan memperluas partisipasi masyarakat. KY dimaksudkan untuk memperkuat checks and balances bagi kekuasaan kehakiman. KY punya peran sinergis bersama DPR dan Presiden untuk mendapatkan calon hakim agung yang kredibel dan berintegritas. janji- 52 Bunga Rampai . Dalam hal ini KY menjadi lembaga eksternal yang selalu melakukan pengawasan para hakim. Dalam pengertian lain. martabat dan perilaku para hakim dapat terjaga. Melalui KY diharapkan pula harkat. Dalam batas-batas tertentu. tekanan. khususnya MA. Jika dijabarkan ‘mosi tidak percaya’ itu. hanya KY satu-satunya lembaga yang diberi mandat oleh konstitusi untuk melakukan pengawasan terhadap hakim.

Semua itu bertujuan untuk menegakkan keadilan. (2) Melaksanakan pengawasan peradilan yang efektif. pembentukan peraturan yang diperlukan sebagai landasan. Busyro Muqoddas seorang akademisi sekaligus advokat yang mendapat suara terbanyak dalam proses pemilihan di DPR. dan simpati. Sedangkan misinya. praktisi hukum. KY Menuai Simpati dan Resistensi Komisi Yudisial terbentuk pada 2 Agustus 2005. Dengan legitimasi dari konstitusi. (3) Mengembangkan sumber daya hakim menjadi insan yang mengabdi dan menegakkan keadilan. KY merumuskan visinya “Menjadikan hakim sebagai insan pengabdi dan penegak keadilan”. KY memiliki peranan strategis untuk memperkuat proses reformasi peradilan yang belum selesai. Visi-misi itu nampaknya sejalan dengan mandat yang diberikan konstitusi. (1) Menyiapkan Hakim Agung yang berakhlak mulia. Setelah sekian lama institusi peradilan mengalami krisis kepercayaan sebagai akibat penyakit judicial corruption yang sudah demikian akut. Setelah terbentuk. Sebagai landasan bagi pelaksanaan kewenangan dan pengembangan organisasi. KY dipimpin oleh M. KY mulai membangun perangkat-perangkat organisasi. berwibawa dan memberikan rasa keadilan dengan hakim yang berintegritas dan progressif. Intinya. mantan hakim dan jaksa serta masyarakat. Dan untuk pertama kali. jujur. berani dan kompeten. bukan suatu hal yang mudah bagi KY ketika menjalankan fungsi dan kewenangannya ataupun mewujudkan visi-misinya. sejak tujuh (7) orang anggotanya diangkat dan disahkan oleh Presiden. Keanggotaan KY terdiri atas unsur akademisi. diantaranya menyusun visi-misi organisasi. terbuka dan dapat dipercaya. KY sudah mulai membangun capacity building yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas dan kewenangannya. Disatu sisi langkah-langkah dan kebijakan yang diambil KY dapat memberikan inspirasi dan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 53 . bahwa tugas pokok yang akan dijalankan secara rutin oleh KY adalah melakukan pengawasan atau kontrol bagi hakim. serta pembentukan sekretariat jenderal beserta struktur organisasi maupun personalianya. Keberadaan dan kehadiran KY memberikan harapan kembali akan peradilan yang bersih. Namun demikian.janji.

solusinya adalah perlu ada penguatan kepemimpinan di MA melalui seleksi ulang hakim agung. sebagai bagian dari checks and balances terhadap kekuasaan yudisial. NGO dan sebagian anggota DPR. meski para pemimpin ataupun Ketua MA merupakan buah dari proses reformasi. Tentu saja ide kocok ulang ini mengundang pro-kontra. Dan menyerahkan proses seleksi ulang hakim agung ini melalui Perpu. KY melontarkan ide seleksi ulang (kocok ulang) hakim agung. Tidak ada dasar hukum yang cukup kuat untuk melakukan itu. Ide ini berangkat dari pemikiran KY yang melihat bahwa problem riil mafia peradilan yang menjadi penyebab keterpurukan lembaga peradilan adalah tidak berjalannya managemen kepemimpinan di MA. karena setidaknya ini merupakan terobosan yang harus dilakukan Presiden kemudian disahkan oleh DPR. Issue “Kocok Ulang” Hakim Agung Pada awal Januari 2006. Oleh karena itu. Atau dengan kata lain. KY pun menyiapkan pula draft Perpu untuk Seleksi Ulang Hakim Agung. dan mempertanyakan apa alasannya bahwa hakim agung yang ada sekarang ini harus diseleksi ulang. muncul resistensi yang tidak bisa dihindarkan. Sebagian publik. 1. Dikabarkan presiden menyetujui dan telah memerintahkan Mentri Hukum dan HAM (Menhuk-HAM) Hamid Awaluddin untuk membuatkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) nya sebagai payung hukumnya.simpati yang mendapat dukungan dari berbagai kalangan. terutama dari kalangan akademisi. leadership di MA sangat lemah. Karena memang sama-sama disadari bahwa tidak ada perubahan yang signifikan dari kepemimpinan MA terhadap problem-problem peradilan. akan mendorong presiden menjadi otoriter. Dan melalui Perpu. termasuk penulis. Melalui kocok ulang hakim agung ini diharapkan akan ada regenerasi dan refresh kepemimpinan MA. Tetapi bersamaan dengan itu. Ide kocok ulang ini sempat disampaikan kepada Presiden SBY. menilai bahwa ide ini sangat progressif. Bisa 54 Bunga Rampai . Seakan gayung bersambut. Simpati dan resistensi ini dapat tergambar dari sejumlah issue atau masalah yang muncul ke publik selama kurang lebih 2 tahun belakangan ini. baik yang bersifat individual maupun organisasional. Sebagian yang kontra menilai bahwa ide ini tidak mendasar.

2006). Sebagian lainnya tidak ditindaklanjuti. antara lain: • Pemeriksaan terhadap hakim yang mengadili kasus Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 55 . KY secara proaktif melakukan penanganan beberapa kasus dugaan pelanggaran perilaku hakim. termasuk para hakim agung yang jelas dan pasti menolak. dan ada yang dicabut kembali. Meski KY telah menyerahkan draft Perpu ke tangan pemerintah. sedang dalam proses. Dari 754 laporan tersebut. Jumlah Hakim 4 3 1 3 2 2 Asal Pengadilan PN Bogor PT Banten PN Stabat PN Jakarta Selatan PN Jakarta Pusat PT Bandung Tabel: Jumlah Hakim Yang Mendapat Rekomendasi Selain laporan tersebut. KY telah menerima 754 laporan dari berbagai kalangan masyarakat. Sedangkan sampai Desember 2006 (pascaputusan MK).Juni 2006 (sebelum putusan MK). Presiden tidak jelas sikapnya dan Menhuk-HAM belakangan membantah bahwa dirinya telah diminta presiden untuk membuat Perpu Seleksi Ulang Hakim Agung. Ide ini pada akhirnya tidak sempat direalisasikan.jadi ide kocok ulang ini menjadi bibit awal permusuhan atau resistensi dari kalangan hakim agung. Dari 333 laporan tersebut. 18 hakim telah direkomendasikan KY kepada Pimpinan/Ketua MA (Laporan Tahunan KY. Ide kocok ulang hakim agung memang sempat membuat kejutan banyak pihak. diinformasikan bahwa KY telah menerima 28 laporan. Issue Pengawasan Hakim Sejak KY terbentuk. 2. KY telah memeriksa dan memproses 333 laporan atau pengaduan hakim. masyarakat dengan antusias melaporkan hakim-hakim yang dinilai menyimpang dan tidak sensitif terhadap rasa keadilan. Dari Agustus 2005 .

Dalam hal ini KY cukup berhasil meraih simpati dari publik. Pemeriksaan terhadap majelis hakim Pengadilan Tipikor yang mengadili kasus korupsi dengan terdakwa Harini Wijoso Pemeriksaan terhadap hakim Pengadilan Negeri Stabat yang mengadili kasus anak dengan terdakwa Raju. Selayar. Pemeriksaan terhadap majelis hakim PN Semarang yang mengadili kasus korupsi. Sudah menjadi rahasia umum kalau putusan itu dapat disesuaikan dengan keinginan “yang memesan”. bahwa putusan itu dapat menjadi pintu masuk (entry point) untuk melihat ada tidaknya penyimpangan atau tidak. Musi Rawas. bisa dikatakan sangat positif. Karena 56 Bunga Rampai . Sumbawa. KY tidak berwenang memeriksa putusan hakim. yang menjatuhkan hukuman di bawah hukuman minimal. karena setidaknya bisa menimbulkan shock therapy dikalangan hakim. terutama hakim agung. Banyuwangi) Pemeriksaan terhadap majelis hakim Pengadilan Tinggi Banten yang mengadili kasus korupsi di Lingkungan DPRD Propinsi Banten Pemeriksaan terhadap majelis hakim Pengadilan Negeri Denpasar yang mengadili kasus narkoba dengan terdakwa Michellle Leslie. Sedangkan KY bersikap sebaliknya. dengan memainkan norma-norma hukum dan penafsiran hukum. Sukabumi. simpati dari berbagai kalangan juga dibarengi dengan sikap sebaliknya yang secara terang-terangan diperlihakan oleh kalangan hakim. yaitu obyek yang diperiksa dan cara pemeriksaan yang dilakukan. dan mengajak publik untuk senantiasa memusuhi hakim yang berperilaku menyimpang. KY dinilai telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan dan mencemarkan nama baik hakim. Sepak terjang KY dalam melakukan pengawasan. Setidaknya ada 2 hal yang selalu dipersoalkan para hakim kepada KY dalam melakukan pengawasan ini. Kendati demikian. Pemeriksaan terhadap majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang mengadili kasus korupsi dengan terdakwa ECW Neloe. Sedangkan dalam hal cara. Bandung.• • • • • • sengketa Pilkada (Depok. Para hakim berpendapat bahwa putusan tidak bisa menjadi obyek pengawasan KY.

meski pada akhirnya bisa “berdamai”. dll) meminta MK membatalkan sejumlah pasal dalam UU KY terkait dengan fungsi pengawasan hakim karena dianggap bertentangan dengan konstitusi. Pengajuan judicial review ini dikhawatirkan meniadakan fungsi pengawasan hakim dan jelas menghambat upaya pemberantasan mafia peradilan. usul pemberhentian hakim kepada presiden sejak pembelaan diri ditolak oleh Majelis Kehormatan Hakim. Meski demikian. Para hakim agung itu dengan didampingi sejumlah advokat (OC Kaligis. Namun gesekan antara MA-KY tetap berlanjut. Untuk mencari titik temu dalam soal obyek dan metode pengawasan. Setidaknya pasca putusan MK. tidak ada satupun yang ditindaklanjuti oleh MA. membuat laporan hasil pemeriksaan. Akibatnya. KY kehilangan kekuatan untuk melakukan pengawasan hakim. ICW. KY untuk sementara tidak bisa lagi melakukan usul penjatuhan sanksi. Putusan MK itu tidak hanya menghambat kerja-kerja KY dalam pengawasan hakim. Indriyanto Seno Adji. Sayangnya putusan MK berbicara lain. memaksa badan peradilan lain atau hakim untuk memberikan keterangan atau data yang diminta.kerapkali nama-nama hakim yang dilaporkan dan sedang dalam proses pemeriksaan terpublikasikan ke media massa. dan puncaknya adalah ketika 31 hakim agung mengajukan judicial review terhadap UU KY ke Mahkamah Konstitusi. Semua rekomendasi yang disampaikan KY kepada MA. sempat mengadukan anggota KY ke Kepolisian. KY se- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 57 . Termasuk dalam putusan ini. LBH Jakarta dan Kontras) mengajukan permohonan menjadi pihak terkait tidak langsung. Namun nampaknya tidak membawa hasil. tapi juga merugikan para pencari keadilan. Kekhawatiran ini mengundang sejumlah lembaga swadaya masyarakat (KRHN. Bahkan secara terang-terangan pimpinan MA menolak dan mengabaikan rekomendasi dari KY. MK dalam putusannya mengabulkan hampir semua permohonan. putusan MK ini mendorong simpati publik terhadap KY. MK juga menolak hakim konstitusi menjadi bagian dari pengawasan KY. dilakukan pertemuan antara KY dengan MA. Tidak cukup dengan hal itu. sejumlah hakim agung yang merasa nama baiknya tercemar oleh KY. Yang terjadi malah konflik terbuka antara MA-KY.

MA sempat beberapa kali mengeluarkan statement atau pernyataan lewat media masa. Issue Revisi UU KY Sebagai akibat dari putusan MK. ormas. Revisi UU KY ini bisa menjadi peluang untuk memperbaiki dan memperkuat kembali wewenang pengawasan KY. usul tentang sebaiknya pengawasan KY hanya untuk hakim dan tidak untuk mengawasi hakim agung. Setidaknya itu bisa menjadi kekuatan potensial untuk memperkuat peranan KY. 5. Tercatat sudah lebih dari 100 perjanjian kerjasama yang ditandatangani. padahal putusan MK telah dijatuhkan sejak Agustus 2006. lembaga keagamaan. Sayangnya sampai saat ini tidak jelas kapan revisi UU KY akan diproses. 58 Bunga Rampai . Vol I No. dan pengawasan KY diintegrasikan dalam pengawasan internal di MA. Misalnya. UU Kekuasaan Kehakiman. dan hal ini posititif. UU KY bersama sejumlah UU lain yang terkait (UU MA. NGO. Dalam konteks ini dukungan juga bermunculan. lembaga Negara. dan UU MK) mesti direvisi. Namun bisa jadi kemungkinan itu 3. KY terlihat begitu rajin membuat kegiatan dan perjanjian kerjasama (MoU) dengan berbagai pihak (akademisi/PT. sanksi dari KY bersifat mengikat dan disampaikan langsung kepada Presiden. seperti rekomendasi dari Lokakarya Dosen HTN Indonesia Wilayah Barat pada 22 Maret 2007. 22/2004 tentang KY (Buletin KY.perti mendapat energi baru untuk menggalang berbagai potensi kekuatan dalam masyarakat. Usul atau pandangan ini memang terkesan hendak memdelegitimasi posisi dan peranan KY. organisasi profesi). Butir-butir penting dari rekomendasi itu yang dapat memperkuat peranan KY diantaranya adalah. lengkap dengan naskah akademisnya. terutama dalam mengawal revisi UU KY. April 2007) Disisi lain. meminta pembentukan KY di daerah-daerah untuk mempercepat reformasi peradilan dan mendukung sepenuhnya percepatan revisi UU No. KY sendiri telah menyiapkan usulan pasal-pasal yang harus direvisi. Atau Ketua MA sebaiknya ex officio sebagai Ketua KY. putusan dapat ditelaah oleh KY sebagai entry point ada tidaknya pelanggaran hakim. Setidaknya perintah langsung putusan MK adalah meminta DPR dan Pemerintah untuk melakukan sinkronisasi dan harmonisasi undang-undang tersebut.

berhasil jika tidak ada pengawalan yang baik terhadap revisi UU KY, mengingat tidak semua anggota DPR pro terhadap reformasi peradilan. Sebagaimana pernah diakui sendiri oleh seorang anggota DPR yang menyatakan hampir 80% anggota DPR tidak pro-reformasi peradilan, lainnya menyatakan hanya 50%. (F. Arifin, makalah, 2006). 4. Issue Seleksi Hakim Agung Proses seleksi Hakim Agung diawali dengan surat dari MA yang memberitahukan tentang Hakim Agung yang akan pensiun pada tahun 2006. Dan selanjutnya sesuai kesepakatan dengan pimpinan MA, akan diusulkan sejumlah calon Hakim Agung untuk mengisi formasi 6 orang Hakim Agung. KY harus mengusulkan 3 kali lipatnya kepada DPR, sebagaimana ditentukan dalam UU KY. Kemudian DPR memilih dan memutuskan 6 dari 18 calon hakim agung, dan selanjutnya diserahkan kepada Presiden untuk ditetapkan. Kewenangan dalam menyeleksi Hakim Agung ini merupakan kali pertama dilakukan lewat KY, yang diharapkan dapat lebih baik dari proses seleksi yang sebelumnya dilakukan oleh DPR. Ini tentu saja taruhan besar bagi KY. Jika hasil seleksi hakim agung KY lebih baik, KY tentunya mendapat appreciate yang tinggi. Jika sebaliknya, bisa jadi performance dan kredibilitas KY akan diragukan publik. Berbeda dengan proses sebelumnya, seleksi hakim agung kali ini terdiri dari beberapa tahapan; seleksi administratif, penilaian karya ilmiah, dan kesehatan, seleksi kepribadian/profile assessment, dan seleksi kualitas/wawancara. Kecuali tahap seleksi wawancara, dalam setiap tahapan lainnya, KY melibatkan sejumlah pihak yang dianggap kompeten untuk menangani hal itu. Termasuk dalam hal ini usul dan laporan dari masyarakat tentang track record masing-masing calon. Dengan mengedepankan soal integritas dan kualitas, KY kemudian mengabaikan soal kuantitas dalam menentukan hasilnya. Dari 130 bakal calon yang mendaftar, pada akhirnya KY memutus 6 orang calon yang dinilai layak untuk disampaikan kepada DPR. Hasil ini mengundang kontroversi, karena KY meloloskan Ahmad Ali seorang calon yang dianggap berperilaku tidak terpuji dan diduga kuat terlibat dalam kasus korupsi. Apalagi keputusan meloloskan Ahmad Ali ini dilakukan dengan cara voting, 2 menolak dan 5 meloloskan. Akibatnya KY mendapat banyak kritik yang memperKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

59

tanyakan metode dan keputusan dalam seleksi hakim agung ini. Hasil itu juga tidak sepenuhnya diterima oleh DPR. DPR meminta KY untuk melengkapi kekurangannya bahwa KY harus mengusulkan 3 kali lipat dari yang dibutuhkan. DPR tidak akan memilih dan memutuskan hasil dari KY sebelum KY melengkapinya. Sikap DPR ini memaksa KY untuk melakukan seleksi hakim agung tahap kedua. Walaupun kemudian KY telah melengkapi jumlah kekurangannya, namun nampaknya DPR tidak cukup puas dengan calon hakim yang dihasilkan KY. Sejumlah anggota komisi hukum DPR yang melakukan fit and proper test calon hakim agung, beranggapan calon hakim agung yang dihasilkan KY tidak berkualitas. Kritik juga terlontar terhadap anggaran sebesar + Rp. 4 miliar yang digunakan dalam seluruh proses seleksi hakim agung. Issue anggaran ini menjadi bola panas, dan menuai kritik dari sejumlah pihak (DPR dan MA). Mereka mempertanyakan besarnya anggaran yang digunakan, dan mengganggap tidak sebanding dengan hasilnya. Meski telah dijelaskan secara terbuka, dan pada seleksi kedua terjadi perubahan metode/tahapan agar bisa mengurangi anggaran yang digunakan, tapi nampaknya tidak cukup berhasil untuk menepis issue anggaran yang dianggap terlalu boros. Bagi sejumlah kalangan, peranan KY dalam melakukan seleksi hakim agung ini memang diluar harapan. Ada sejumlah persoalan yang tidak bisa dijelaskan dan dijawab dengan baik, terutama menyangkut soal konsistensi antara tujuan dengan hasil seleksi. Dalam hal ini KY selalu menyatakan lebih mengedepankan integritas dan kualitas. Namun ternyata, ada beberapa calon Hakim Agung yang kemudian diragukan kapasitas dan integritasnya. Nampaknya peranan KY dalam seleksi Hakim Agung ini, ‘menggoyahkan’ simpati terhadap KY yang sudah terbangun. Mengelola Simpati, Meminimalisir Resistensi Keberadaan dan kehadiran KY dalam sistem hukum dan ketatanegaraan Indonesia, memang memberikan harapan akan perbaikan sistem peradilan. Dalam dua tahun KY menjalankan fungsi, tugas dan kewenangannya, menunjukkan bahwa KY memiliki peranan yang signifikan dan strate-

60

Bunga Rampai

gis untuk mendorong dan memperkuat reformasi peradilan. Dengan kata lain, KY akan menjadi “pengawal setia” reformasi peradilan, khususnya dalam mencari dan memperbaiki kualitas dan integritas para hakim. Meski terbatas, selama ini KY cukup berhasil untuk “meng-entertaint” fungsi dan kewenangannya. Setidaknya hal itu dapat terlihat dari pemberitaan yang muncul mengenai sepak terjang KY lengkap dengan konflik yang terjadi diseputarnya. Ini suatu hal yang positif bagi sebuah lembaga baru, sehingga publik banyak mengenal dan mengetahui tentang KY. Ditambah upaya dari KY sendiri yang memperluas jejaring kelembagaannya dengan banyak lembaga/organisasi. Sehingga KY tidak hanya menuai simpati, tetapi juga dukungan riil dari berbagai kalangan. Simpati dan dukungan itu setidaknya dapat terlihat dari NGO, akademisi, kampus, praktisi/pengamat hukum, tokoh masyarakat/agama, ormas, sebagian anggota DPR, lembaga Negara/pemerintah, organisasi profesi serta pers. Pada saat yang bersamaan upaya perlawanan atau resistensi terhadap KY juga bermunculan. Resistensi muncul terutama dari kalangan hakim dan unsur/pihak MA, yang merasa eksistensi dan “kemapanan”nya terusik dengan kehadiran KY. Sebagaimana tergambar di atas, upaya perlawanan itu dilakukan dalam berbagai bentuk, mulai dari membangun opini, penolakan rekomendasi sampai langkah dan upaya hukum untuk mendelegitimasi keberadaan KY. Dalam hal-hal tertentu, resistensi juga muncul dari sebagian anggota legislatif dan kalangan advokat, yang khawatir dengan peranan KY dapat mengganggu kepentingan mereka. Resistensi dari sejumlah pihak dengan berbagai bentuknya itu, nampaknya sudah menunjukkan watak sesungguhnya yang anti terhadap perubahan. Terhadap resistensi itu, nampaknya KY belum bisa sepenuhnya meng-counter dan menjadikan hal itu menjadi issue publik. Misalnya, penolakan terhadap rekomendasi KY dapat dijadikan issue pejabat Negara yang tidak patuh pada aturan hukum. Lambannya revisi UU KY dapat dikemas menjadi issue hambatan dalam pemberantasan mafia peradilan. Juga terhadap issue anggaran seleksi Hakim Agung, dapat dilawan dengan minimnya anggaran untuk bidang hukum atau peradilan. Karena selama ini terjadi diskriminasi angga-

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

61

ran untuk kekuasaan yudisial jika dibandingkan anggaran untuk legislatif dan eksekutif. Pada sejumlah issue-issue tersebut di atas, KY juga tidak memaksimalkan simpati dan jejaring yang telah didapat untuk memberikan dukungan yang diperlukan. Entah dikemanakan banyak pihak yang telah mengikat kerjasama dengan KY. KY belum cukup berhasil mengelola simpati dan jejaring untuk melegitimasi dan memperkuat peranan KY. Disamping itu, nampaknya kondisi internal KY belum cukup kuat dan solid untuk memanage potensi kekuatan dengan tantangan yang ada, dan menjadikannya sebuah peluang yang dapat diambil. Termasuk dalam hal ini dalam memanage potensi konflik, membangun opini publik dan memaksimalkan kapasitas sumber daya manusia yang ada. Sebagai lembaga komisi independen yang baru terbentuk, memang tidak mudah untuk menjalankan fungsi dan kewenangannya. Umumnya hal ini terjadi pada lembagalembaga komisi independen yang telah terbentuk. Apalagi dengan kewenangan yang terbatas, lemahnya komitmen dan political will, serta arus balik anti reformasi yang sudah mulai melakukan konsolidasi dan menguat. Kebanyakan tidak cukup berhasil untuk mengelola kewenangannya dengan baik, bahkan ada beberapa diantaranya mengalami krisis kelembagaan dan terancam bubar. Tetapi hal itu nampaknya tidak demikian bagi KY. Perlu diingat, bahwa KY memiliki legitimasi yang kuat sebagai satu-satunya lembaga komisi independen yang diatur tegas dalam konstitusi. Pengaturan dalam konstitusi membuat keberadaan KY lebih terjamin. Karena itu kecil kemungkinan KY dapat mengalami seperti halnya lembaga komisi independen lainnya. KY harus menghindari itu, dan menjadi lembaga yang “seolah-olah ada”, serta cenderung birokratis. Kedepan KY perlu mengelola simpati lebih baik lagi agar menjadi lebih produktif dan mendukung kerja-kerja KY. Sejalan dengan hal itu, perlu diminimalisir hal-hal yang dapat menuai resistensi dari berbagai kalangan terutama para hakim. Sekalipun terjadi, sedapat mungkin dieliminasi agar tidak mendelegitimasi posisi dan peranan KY Usaha tersebut mengharuskan peran serta dari sejumlah pihak yang punya kewajiban dan kewenangan memperbaiki dan men-support peranan KY. Tidak bisa dilakukan oleh KY

62

Bunga Rampai

sendiri. Oleh karena itu, agar performance KY lebih baik lagi, yang perlu dilakukan kedepan adalah sebagai berikut; 1. 2. mendorong dan menjadikan issue/masalah KY menjadi issue publik, sehingga simpati yang telah diraih dapat lebih konkrit dan diperluas. memaksimalkan peranan jejaring yang telah ada dengan men-desentralisasi kewenangan KY terutama kewenangan mengawasi hakim. Untuk hal ini setidaknya dapat dibentuk segera perwakilan KY di sejumlah daerah yang rawan mafia peradilan, serta terdapat jejaring yang cukup potensial dan mampu menjalankan desentralisasi kewenangan itu. menyiapkan perangkat-perangkat organisasi, terutama regulasi internal yang diperlukan untuk memperlancar pelaksanaan tugas dan kewenangan KY, terlebih penting dapat membuat KY lebih transparan, akuntable dan legitimate dimata publik. menyusun code of conduct yang dapat dijadikan sebagai pedoman dan indikator dalam hal pengawasan hakim. Untuk hal ini ada baiknya disusun secara bersama dengan MA. memperkuat fungsi dan peranan KY di dalam revisi UU KY, terutama menyangkut soal pengawasan hakim dapat dilakukan secara efektif. Dalam hal ini setidaknya KY dapat memberikan sanksi yang bersifat mengikat kepada Presiden tentang hakim yang terbukti melanggar perilaku. melakukan kampaye dan pendidikan kepada publik untuk terus-menerus secara konsisten memerangi dan melawan mafia peradilan. Termasuk dalam hal ini meminta kepada DPR dan Presiden agar sungguh-sungguh melakukan pemberantasan mafia peradilan sebagai bagian dari upaya memberantas korupsi.

3.

4.

5.

6.

Epilog Sungguhpun disadari dan dirasakan bahwa membangun sistem peradilan yang baik dan bersih dengan melawan judicial corruption yang telah berurat akar didalamnya, tidak semudah membalik telapan tangan. Tidak segampang yang telah dibayangkan dan direncanakan, akan tetapi upaya ini harus tetap terus dilakukan. Keberadaan dan kehadiran
Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

63

Komisi Yudisial memberikan harapan dan arti penting untuk tetap menjaga dan merawat upaya reformasi peradilan. Upaya yang barangkali tidak pernah diketahui kapan akan berhenti, demi tujuan mulia menegakkan kebenaran dan keadilan. Sejauh ini peranan Komisi Yudisial dapat menjadi spirit dan inspirasi dalam melanjutkan reformasi peradilan. Setidaknya melalui pengawasan para hakim dan menyiapkan hakim agar lebih berkualitas, professional, terpuji dan berpihak pada keadilan. Betapapun kemudian upaya yang dilakukan KY tidak mulus, karena adanya resistensi yang menghambat kerja-kerja KY sekalipun simpati dan dukungan juga bermunculan. Terlihat tidak mudah bagi KY untuk mendayung diantara simpati dan resistensi dalam mengawal reformasi peradilan. Namun yang jelas dan pasti para pencari keadilan masih tertindas dan merasakan ketidakadilan. Suatu kondisi yang tidak bisa dibiarkan berlarut-larut dan harus dihentikan. Mengingat KY memiliki peranan strategis dalam mengawal reformasi peradilan, maka sudah sepatutnya peranan KY perlu diperkuat kedepan. Langkah-langkah yang perlu dilakukan tidak hanya ditujukan kepada KY, tetapi juga DPR dan Presiden sebagai penerima langsung mandat rakyat yang sudah rindu akan penegakan hukum dan keadilan. Semoga tidak menjadi sebatas harapan.

64

Bunga Rampai

menemukan banyak kekurangan dan hal-hal negatif di peradilan. Sejak peradilan itu memiliki beberapa komponen. Tuntutan transparansi tersebut membuka keKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 65 . maka penilaian berdasar standar internal saja tidaklah cukup. seperti pengadilan sendiri. serta transparansi. desentralisasi kekuasaan. Tetapi ia menjadi lebih intensif sejak kelahiran apa yang dinamakan Orde Reformasi dengan kredo demokratisasi. Ini dinamakan standar internal.Kontribusi Lembaga Sosial Mendorong Reformasi Peradilan Oleh Satjipto Rahardjo Latar Belakang Reformasi Reformasi suatu peradilan tentu memiliki alasan mengapa peradilan harus direformasi. Terdapat interaksi antara institut dan publik. seperti produk. kinerja (performance). serta tingkat kepuasan publik. Kecuali alasan empirik. kapanpun juga. maka reformasi tentunya akan menyangkut pula sekalian komponen dari peradilan. melainkan berada dalam jagat yang lebih luas. kejaksaan dan advokat. oleh karena institut itu ada untuk melayani publik. reformasi juga terkait pada masalah sistem. Interaksi ada secara laten (latent). Alasan empirik yang didorong oleh keterbukaan tersebut. sehingga hampir tidak ada putusan publik yang tidak didemo. Alasan empirik bergerak pada ranah praksis peradilan sehari-hari. Sejak suatu institut tidak ada untuk dirinya sendiri. Sekalian institut dalam peradilan memiliki standar masing-masing yang digunakan untuk melakukan penilaian. Di sini peranan publik makin mendapat angin dan terus merangsek maju.

Lembaga Pemantau Peradilan dan Transparensi Internasional. masyarakat madani.sempatan yang luas untuk melakukan eksaminasi terhadap praksis dan jalannya peradilan. Sejak jatuhnya pemerintahan Presiden Soeharto. seperti ICW. melainkan ”opstand der horden” (bangkitnya massa. “civil society”. untuk kemudian berubah menuju pemerintahan yang lebih bersifat kerakyatan. sekarang bertambah besar dan kuat. Meminjam istilah Jose Ortega y Gasset (y Gasset. sehingga tidak ada borok yang bagaimana kecilpun yang tidak menerima sorotan dari masyarakat. bukan ”de opstand der democratie”. Bukan demokrat-demokrat sejati yang muncul. maka reformasi dikaitkan kepada rancangan sistem atau bangunan peradilan yang berawal dari Undang-Undang Dasar 1945. akibat demokratisasi. para ”preman”). Sejumlah besar kejadian telah berhasil dihimpun oleh institut-institut independen. peran masyarakat atau publik ke dalam urusan kenegaraan dan pemerintahan. bahwa tampilan yang buruk dan negatif lebih menonjol daripada yang diidam-idamkan oleh perubahan tersebut. melainkan banyak juga para “preman”. melainkan 66 Bunga Rampai . bahkan mungkin untuk sementara secara jujur harus dikatakan. Pada ranah dan aras sistem. Tidak semua berlangsung secara ideal. apa yang dikenal sebagai. Bukan pemilihan oleh rakyat yang jujur yang terjadi. Otonomi kekuatankekuatan dalam masyarakat tampil menjadi semakin perkasa. Dari suatu ”state-based society”. 1957). yang memberi alasan kuat untuk melakukan reformasi peradilan. Indonesia pelan-pelan bergerak menuju. Lembaga Sosial Sebagaimana diuraikan di atas. Undang-Undang Dasar memiliki otoritas tertinggi untuk menentukan bagaimana sistem peradilan di negeri ini akan dibangun. Momentum reformasi peradilan memberi kesempatan kepada kita untuk memikirkan kembali tentang rancangan peradilan menurut Undang-Undang Dasar dan apakah pesan serta amanat dalam Konstitusi itu sudah diselesaikan dengan baik. yaitu suatu tipe pemerintahan yang berbasis kekuasaan hampir-mutlak. berbagai tembok atau bastion dari orde pemerintah lama telah diruntuhkan. atau dalam istilah Indonesia.

Sebagai Direktur Jenderal Pemasyarakatan pada waktu itu. Hal itu memang memprihatinkan. berperan besar dalam memotori gerakan-gerakan Komnas. ia justru memanfaatkan jabatannya itu. turun ke lapangan dan membuat simpulan serta pernyataan yang cukup berani. Lembaga sosial boleh disebut sebagai presentasi persepsi masyarakat yang relatif jujur atau tidak terkooptasi oleh kepentingan penguasa. yaitu lembaga yang disponsori oleh pemerintah. Ia cukup cepat merespons setiap kejadian dugaan pelanggaran HAM. Selama keberadaannya. sehingga lembaga yang benar-benar berkualitas saja yang akan bertahan. melainkan penalaran oleh uang atau kapital. oleh karena dapat merusak reputasi lembaga sosial yang memang bersungguh-sungguh ingin menjadikan rakyat sebagai raja. melainkan harus berani menghadapi berbagai eksaminasi yang dilakukan oleh masyarakat melalui lembaga sosial yang makin menjamur itu. seperti di jaman pemerintahan Soeharto. Terkadang ada seloroh mengenai adanya lembaga sosial ”pelat merah”. Otonomi daerah tidak menyumbang kepada kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Bukan penalaran nurani rakyat. Baharudin Lopa. penembakan di Irian. Memang rupa-rupanya tidak sekalian lembaga sosial itu baik dan jujur serta beramanah. oleh karena pada akhirnya akan terjadi seleksi alami.pemilihan berdasarkan ”kekuatan uang”. Komnas belum pernah sekalipun bertemu dan menerima ”pesan” dari Presiden Soeharto. Peradilan sekarang tidak dapat lebih lama berlindung di bawah wibawa pemerintah. namun secara cukup mengejutkan ternyata mampu menjaga independensi dan integritas serta mengambil jarak dari pemerintah. melainkan lebih merupakan suatu otonomi yang didasarkan pada penalaran ”apa yang kelompok saya bisa dapat”. seperti dalam Kasus Marsinah. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas) generasi pertama (1993-2001) sering mendapat sebutan yang demikian itu. Tetapi keadaan seperti itu tak perlu terlalu dirisaukan. sebagai Sekretaris Jenderal. sehingga Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 67 . melainkan tercatat pula lembaga yang tidak demikan. dan penyerbuan terhadap Kantor Pusat PDI-P. Komnas sempat menjadi ikon dan tumpuan harapan masyarakat. Karena reputasinya itu maka di tengah-tengah kuatnya cengkeraman pemerintah.

apabila diminta sebagai pembicara dalam seminar. Rupa-rupanya kalangan pemerintahan belum dapat membedakan secara baik antara Lopa sebagai Dirjen dan sebagai anggota Komnas yang mandiri. Komunitas akademi memiliki sekalian persyaratan untuk dimasukkan juga ke dalam barisan lembaga sosial. didasarkan pada kaidah keilmuan yang obyektif. Peluang ini digunakan oleh Komnas untuk ”menggedor” jajaran pemerintah dan ABRI yang melakukan pelanggaran HAM. Komunitas ini melakukan pengamatan (observe) terhadap sekalian hal yang terjadi di masyarakat. bangsa dan negara. Sesekali mereka ”turun dari gunung”. menguji dan meneliti. Kendati suatu universitas negeri dibiayai dari anggaran belanja negara. dengan begitu ia tetap merupakan aset bangsa yang belum dapat memberikan kontribusi secara optimal terhadap penyelesaian permasalahan masyarakat. Dengan mempertahankan posisi yang demikian itu memang komunitas akademi dapat mempertahankan kejujurannya dalam menelaah berbagai permasalahan dan kalau perlu membuat solusi tindakan. tetapi masih lebih berada dalam apa yang sering disebut sebagai sebuah ”menara gading”. jujur dan membuat simpulannya sendiri yang secara relatif tidak dicemari oleh kepentingan tertentu. yang terdiri dari para scholar dan peneliti. Namun demikian. Di Indonesia. Selebihnya mereka sangat disibukkan oleh kegiatan mengajar. seperti Pusat Studi Anti Korupsi pada Universitas Gajah Mada. tak dapat disetir dan dikooptasi oleh pemerintah. tetapi ia tetap memiliki watak untuk disebut sebagai lembaga mandiri dan karena itu dapat digolongkan ke dalam lembaga sosial.Komnas sering dengan relatif mudah dapat memasuki ranah yang ”dikuasai” pemerintah. Komunitas akademi yang ideal adalah independen. Komunitas Akademi Satu kekuatan sosial yang belum termanfaatkan dengan baik adalah dunia akademi. Universitas yang sarat dengan watak keilmuan. Penampilan yang lebih maju dilakukan melalui pembentukan pusat-pusat kajian. menjadi konsultan dan lain-lain. Itu meru- 68 Bunga Rampai . kekuatan tersebut belum benar-benar tampil sebagai suatu kekuatan sosial aset bangsa.

fungsi pengadilan. Dalam hal perekrutan hakim. Penelitian Sebastiaan Pompe Sebastiaan Pompe telah melakukan penelitian yang sangat intensif terhadap dunia pengadilan di Indonesia.” Komentarnya terhadap standar profesionalitas adalah.pakan kemubaziran yang disayangkan. “The leadership standards of many Supreme Court Chairmen have fallen far short of the ideal. characterized by weak leadership.” Kelemahan dan kekurangan tersebut muncul dari proses penerimaan (recruitment) hakim yang terlalu melihat kepada kedekatan seseorang calon dengan eksekutif. which has been largerly directed toward recruiting leaders who have either strong ties to the executive branch of the government or accomodating dispositions. . 1996) kemudian diterbitkan sebagai buku pada tahun 2005 berjudul “The Indonesian Supreme Court. pada tahun 1996. Dengan data yang kaya. serta kualitas para hakim.” Banyak Ketua Mahkamah yang tidak menjalankan kepemimpinannya dengan ideal. negeri Belanda. Disertasi tersebut (Fifty Years Indonesian Supreme Court. Pompe menuliskan seluk beluk perjalanan sejarah Mahkamah Agung yang menyoroti aspek-aspek pengaruh dan intervensi politik terhadap Mahkamah. sprang naturally from the nature of recruitment process. 2005). A Study of Institutional Collapse” (Pompe. menurunnya perbandingan penge- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 69 . Metode yang digunakan sangat kuat berdasarkan fakta.. makin menurunnya pengetahuan dan kesepakatan mengenai hukum yang berlaku.. organisasi pengadilan. tidak terdapat keterbukaan dan peranan birokrasi sangat kuat (effectively controlled by the bureaucracy). Dikatakan oleh Pompe. Oleh karena ketiadaan keterbukaan. “This condition. maka banyak peluang bagi terjadinya hal-hal yang tidak baik (improprieties). khususnya Mahkamah Agung Republik Indonesia. baik dokumen maupun catatan-catatan wawancara (fact-based research). “This lack of transparency is an important factor in obscuring the personalities of the judges who are recruited and the views which they hold. Dikatakan oleh Pompe. as a number of chairmen have failed to impose institutional values on the Court’s environment and have also failed to enhance internal cohesion and morale. Penelitian tersebut selesai ditulis sebagai disertasi yang dipertahankan di Universitas Leiden.

menyimpulkan limapuluh tahun sejarah Mahkamah Agung R.I. Ada semacam resistensi terhadap ”penyerbuan dari luar” yang akan mengguncang kenyamanan kelangsungan hidup lembaga dan para anggota di dalamnya.” Melihat Pengadilan Dari Luar Optik sosiologi akan mengatakan. Dunia pengadilan percaya. menyelamatkan keadaan dan menuju masa depan yang lebih baik. Mereka yang menolak pembukaan pintu bagi hakimhakim (opening up recruitment) yang direkrut dari luar pengadilan beralasan. ini dinamakan kesadaran atau perasaan ”in-group” yang membedakan dan mengambil jarak terhadap ”out-group”. Pada bagian akhir dari analisisnya mengenai para hakim. bahwa lembaga itu mempunyai kecenderungan kuat untuk berusaha mempertahankan eksistensinya dan dengan demikian juga menyimpan keinginan kuat untuk dengan berbagai cara memberikan legitimasi terhadap eksistensinya itu. Pada waktu TGPTPK. Sindrom ketertutupan itu menghinggapi setiap lembaga apapun. Dalam dunia pengadilan ada dua kubu. dimana telah terjadi sejumlah kemerosotan. Barangkali pembubaran Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTK) merupakan contoh tentang usaha untuk mempertahankan Iembaga sendiri. integrity to structural corruption. Para hakim diumpamakan isi dari sebuah kantong yang bermacam-macam. Pompe.tahuan mengenai hukum (comparative legal knowledge) serta menurunnya kedisiplinan pribadi (personal strictness). Sebagian hanya ingin mempertahankan keadaan sekarang. capability to incompetence. pada tahun 2000. yang satu menutup pintu bagi masuknya orang luar. sedang yang lain menerima gagasan untuk merekrut orang-orang dari luar menjadi hakim. ingin membawa beberapa Ha- 70 Bunga Rampai . Dalam sosiologi. melainkan karena rekrutmen secara terbuka itu akan membawa persoalan politik masuk ke pengadilan (cut across the political spectrum). bukan karena tidak ada orang luar yang mampu duduk di kursi hakim. bahwa mereka akan mampu menyelesaikan persoalan-persoalannya sendiri. tetapi sebagian lain terdiri dari orangorang yang serius ingin melakukan pembaruan. and respect to contempt. ke dalam kata-kata yang padat. yaitu ”courage turn to cowardice.

sedang polisi untuk menangkap. Dalam seminar tersebut. mengadakan satu seminar yang menyoroti pungutan liar poIisi di jalan-jalan. yang bersemangat tinggi untuk memberantas korupsi.kim Agung ke pengadilan. Banyak kekuasaan diberikan kepada lembaga-Iembaga. Sekretaris). merupakan suatu peristiwa yang cukup luar biasa. Wakil Ketua. TGPTPK. Tidak mudah untuk melakukan penilaian yang jujur terhadap lembaga sendiri. justru dibubarkan. Kalau demikian lalu ”siapa mengawasi pengadilan?” dan ”siapa mengawasi polisi?”. karena ditentukan oleh pikiran atau mindset sang hakim. Pengadilan diberi kekuasaan untuk memutus suatu perkara. Polri bagaikan membuka boroknya sendiri. misalnya. karena umumnya lembaga-lembaga publik lebih suka melegitimasi diri sendiri. pada waktu Kepolisian Daerah Jawa Barat. Di Indonesia. menginterogasi dan akhirnya menyerahkannya kepada jaksa untuk diajukan ke pengadilan. untuk sebagian dapat dijelaskan dari hal-hal yang diuraikan di atas. karena adanya berbagai sindrom tersebut di atas. Ini memang satu kekecualian. Ini merupakan cacat yang tidak kecil. Kendati demikian. berupa kekuasaan eksklusif tertentu. melalui data yang ditemukan di lapangan. dengan dakwaan korupsi. Oleh sebab itu diperlukan suatu ”kekuatan-dari-luar” untuk dapat memberikan penilaian yang lebih jujur. melihat komposisi keanggotaannya. menahan. Alasan bagi kehadiran tim-tim yang disebut ”independen” di negeri kita dewasa ini. Hakim yang memiliki kecenderungan legalistik akan memutus berdasarkan kacamaKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 71 . apakah hakim dan polisi tidak dapat melakukan kesalahan? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut cenderung memastikan. Dalam konteks itu. komisi-komisi tersebut beIum mandiri benar. maka. maka melalui sebuah judicial review. Kediktatoran Pengadilan Putusan hakim menjadi krusial. seperti pengadilan dan kepolisian. jawaban itu diberikan dengan membentuk Komisi Yudisial dan Komisi Kepolisian Nasional. masih dipegang oleh pejabat tinggi dalam pemerintahan. Tidak ada lembaga yang diberi kekuasaan seperti itu. Pertanyaan mendasar selanjutnya adalah. pada tahun 80-an (?). Pimpinan Komisi Kepolisian Nasional (Ketua.

“street justice” dan lain-lain. betapa medan pengadilan menjadi ajang pertemuan antara dua alam pikiran. maka perkaranya akan ditangani dengan keras dan demikian sebaliknya. Apapun kacamata yang dipakainya. bahwa pengadilan itu melakukan diskriminasi sosial. Sebutan pengadilan tersebut diberikan kepada pengadilan Negara-negara Sekutu yang memenangkan Perang Dunia II terhadap para pemimpin Nazi Jerman. Maka terjadilah suatu pengadilan. Situasi yang demikian itu terjadi. Oleh sebab itu muncul sebutan-sebutan ’’formal justice”. karena kalah perang. ‘’police justice”. maka andalah yang akan diadili”. Bukan jaksa atau polisi.ta yang digunakannya itu. atau sosiologi pengadilan. pengadilan yang demikian itu dapat juga ditarik ke arah yang lebih tinggi dan menjadi suatu masalah yang bersifat akademis. di atas 30% lebih tinggi. yang kalah perang. ”Anda mengadili kami. Dengan demikian. Di Ohio. dimana alam pikiran yang satu mengadili alam pikiran yang lain. Sekalian penyebutan itu menggambarkan semacam protes terhadap kekuasaan hakim untuk menentukan siapa salah dan benar. 1989). “substantial justice”. Menarik untuk membicarakan kediktatoran pengadilan dalam kaitan dengan “Victor’s Justice”. Konflik yang demikian itu dapat juga dilihat dari perspektif sosiologis. orang kedua sesudah Hitler itu mengatakan. di Florida 40% dan di Texas hampir 90% lebih tinggi. Andaikata kami yang menang. maka risiko untuk dijatuhi hukuman mati melonjak tinggi. Penelitian Donald Black di Amerika Serikat menemukan. hakim memiliki kekuasaan besar untuk memonopoli pembuatan putusan. di Nuremberg. 72 Bunga Rampai . Pada waktu Herman Goring melakukan pembelaan. sehingga (putusan) hukum itu berbanding lurus dengan status sosial (law varies directly with social status) (Black. Potret yang demikian itu memancing pendapat. Itulah esensi ”Victor’s Justice”. Apabila seseorang dengan status sosial rendah menyerang orang dengan status sosial tinggi. risiko itu adalah 15% lebih tinggi daripada baku bunuh antara sesama kulit hitam. Penamaan pengadilan dan peradilan yang demikian itu dapat digunakan untuk menggambarkan. maka saat seorang kulit hitam diadili karena membunuh kulit putih di Amerika Serikat. Saya kira. Di Georgia. manakala pikiran hukum hakim berbeda dengan terdakwa.

Kekuasaan itu dapat mematahkan usahausaha untuk mencari kebenaran. Anda seharusnya berusaha lebih dulu untuk mendapat hak untuk menggeledah (search warrant).5. pada saat kita berpikir untuk melakukan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 73 . penggeledahan terhadap rumah tersangka adalah tidak sah. dan mungkin ke-6 dan ke14 telah dilanggar. maaf saja. segalanya sebetulnya sederhana saja. melainkan juga pergulatan kemanusiaan dan dengan demikian. Namun bagaimanapun. Jaksa: Gadis itu sudah mati. tetapi tidak ada alasan untuk membenarkan kekerasan hukum yang telah dilakukan oleh polisi. Hak tersangka yang dijamin oleh Amandemen ke-4 dan ke. misalnya. melalui dialog antara polisi dan hakim (Quirk & Bridwell. Pengadilan dan hakim sering dianggap diktator. Ilmu Hukum yang Terintegrasi llmu hukum niscaya merupakan sumber penting yang perlu ditengok. doktrin dan tidak berselera untuk melihat kenyataan. karena memiliki kekuasaan besar untuk menentukan siapa salah dan siapa benar. Polisi: Tapi saya tidak tahu hal itu. sehingga bukti yang diperoleh dari situ. Ilustrasi dari film tersebut menggambarkan betapa pengadilan itu tidak hanya menjadi medan pergulatan hukum. menurut laporan ahli. harus dikesampingkan. Hakim: Pada hemat saya. juga pergulatan ideologi. semua bukti fisik. Polisi: Surat penggeledahan? Pada waktu itu saya dihadapkan kepada seorang anak perempuan yang tengah sekarat. karena. Ya. Semua bukti mengenai gadis itu. 1997).bahwa yang terjadi di Amerika Serikat adalah ”white’s justice”. sang hakim berpegangan kepada peraturan. tidak dapat dibawa ke pengadilan. Diceritakan adegan menarik dari sebuah film yang didasari oleh semangat menggugat kediktatoran hakim tersebut. Hakim: Pengadilan mengakui kepedulian polisi terhadap nyawa gadis itu. pengakuan terdakwa. hanya hakimlah yang boleh memutus dan yang lain harus diam.

llmu hukum abad ke-21 niscaya jauh berbeda daripada abad ke-19. Pengadilan atau hakimpun tidak boleh berbuat lain. Berbicara hukum adalah berbicara mengenai suatu kepastian. Ia tidak boleh keluar dari medan perundang-undangan. Siasat tersebut dilakukan dengan mengintensifkan pemahaman terhadap jagat hukum yang telah menjadi demikian luas. Dalam atmosfer seperti itu. melainkan berkembang dan bergerak dinamis. Perkembangan dalam hukum positif akhirnya memacu pengusaan ilmu hukum. dengan catatan penting. transportasi berkembang dengan cepat yang membutuhkan dukungan hukum. Ilmu hukum menjadi identik dengan ”analytical jurisprudence” atau ”rechtsdogmatiek”. Persoalan besar pertama yang dihadapi adalah ”apa sesudah kodifikasi?”. qui prononcent les paroles de la loi. Ilmu hukum merespons perkembangan tersebut dengan melakukan konsolidasi untuk mengamankan prestasi yang telah dicapai. maka 74 Bunga Rampai . des etres inanimes. Hal tersebut dilakukan dengan pengorganisasian dan sistematisasi bahan hukum yang tersedia. Ilmu hukum menjadi terfokus ke dalam. demikian Montesquieu). qui peuvent moderer ni la force ni la rigeur”. Puncaknya adalah pada saat sekalian massa perundang-undangan tersebut dihimpun dalam kitab-kitab hukum. kecuali menjadi corong dari undang-undang (”Les juges de la nation ne sont que les bouches. Kepastian hukum pun muncul sebagai suatu barang yang nyata dan menjadi ikon.reformasi peradilan. Abad ke-19 menampilkan dinamika luar biasa dalam perkembangan hukum positif. Industri. ilmu hukum tidak boleh keluar dari batas perundangundangan (alles binnen de kader van de wet). Hakim sama sekali tidak memiliki kekuasaan apapun untuk mengubah dan menafsirkan undang-undang. Bidang-bidang hukum baru muncul sebagai bagian dari perkembangan masyarakat yang berkembang cepat pada masa itu. llmu hukum merupakan pundi-pundi yang menghimpun sekalian pemikiran dan perkembangan baru dalam pemikiran hukum. Maka abad ke-19 pun dikenal sebagai Era Kodifikasi. Ilmu hukum tidak berhenti. Langkah dan tindakan konkret dalam hukum memerlukan pencerahan yang datang dari ”the state of the art” dalam ilmu hukum. perdagangan. Ilmu hukum memusatkan perhatiannya terhadap hukum positif.

Ilmu hukum juga sibuk untuk membangun struktur dan dari situ disusun bangunan hukum yang didasarkan pada pemisahan sub-disiplin secara ketat (hukum-hukum perdata. tidak banyak lagi sisanya). insinyur dan sarjana dari ilmu-ilmu sosial. Suasana kepastian dan kekakuan abad ke-19 tidak dapat dipertahankan 1ebih lama 1agi. Memasuki abad ke-20. Foque et al.cara berhukum pun sudah seperti mesin dan tidak berbeda daripada mengerjakan soal matematika. Rotterdam. ”Van de rustige verzekerdheid van velen in de 19 de eeuw. bukan sebaliknya (Rahardjo. Dikatakan oleh Scholten. mengakhiri ilmu hukum abad ke-19. pidana. Perubahan penting terjadi. seperti diterima banyak orang di abad ke-19. Program doktor tersebut menuangkannya ke dalam paradigma ”Hukum untuk Manusia”. bahwa pengkotakan hukum se- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 75 . Fakultas hukum Erasmus. Program doktor ilmu hukum Universitas Diponegoro telah mencoba untuk mencairkan batas-batas yang demikian itu. Salah satu artikel. telah menyelesaikan disertasinya pada program tersebut. tata negara. Buku yang berisi kumpulan karangan tersebut menggugat kemapanan pembagian ke dalam berbagai sub disiplin hukum dan menyebutnya sebagai ketinggalan zaman. misalnya menggugat. sejak mulai rekrutmen para calon doktor (Program doktor. telah menerbitkan sebuah buku berjudul ”Geintegreerde rchtswetenschap” (”Ilmu hukum yang terintegrasi”. 2004). Seorang insinyur geologi telah menganalisis kerusuhan sosial dengan menggunakan disiplin ke-insinyuran-nya. Hukum harus mengikuti masyarakat dan perkembangannya. Paul Scholten mengatakan tentang cara berhukum seperti itu. is niet zo heel veel overgebleven. ilmu hukum pun mengalami perkembangan dan perubahan penting. 1993).” (Kepastian. Perubahan penting juga terjadi di bidang peradilan yang semula dianggap sekedar sebagai mesin otomat yang menerapkan undang-undang. Sejumlah dokter. dalam memperingati 30 tahun usianya (1993). dat rechtsvinding is wetstoepassing. administrasi negara dan lain-lain). bahwa penemuan hukum adalah penerapan hukum. sebagai ”het hanteren van logische jiguren” (Scholten. Perkembangan terakhir dalam ilmu hukum menunjukkan kecenderungan ke arah struktur yang tidak lagi terkotak-kotak secara ketat. 1954). 1995). Belanda.

maka di tengah-tengah lalu lintas ideologi hukum di dunia ini. Kehidupan masyarakat tidak berjalan karena mematuhi hukum yang datang dari perintah penguasa.cara klasik ke dalam hukum publik dan hukum privat telah kehilangan legitimasinya. tidak ada tempat bagi pemisahan klasik ke dalam hukum publik dan privat abad ke-19. Cara berhukum dalam peradilan yang lama bukan sesuatu yang tak dapat dirombak. baik terhadap orang lain. yaitu liberal-individual di satu pihak dan kolektif-kontekstual di pihak yang lain (Rahardjo. 2006). mau tidak mau. Indonesia harus membuat pilihan. Pengkotak-kotakan ke dalam hukum perdata dan hukum pidana. memberi ilham kepada kita pada waktu berpikir untuk melakukan reformasi peradilan. tidak dapat lagi dilayani oleh pembidangan hukum secara klasik demikian itu. Suatu kehidupan bersama yang benarbenar bertahan lama (duurzame samenleving) hanyalah ada manakala didasarkan pada kesadaran para anggota masyarakat terhadap asas-asas dasar dalam kehidupan bersama itu. pikiran-pikiran tentang ilmu hukum yang terintegrasi itu menolak “rule-book-model of society”. maka perombakan bukan sesuatu yang ditabukan. Dalam ”implicit philosophy” seperti itu. Indonesia Memilih Sejak pengadilan dan peradilan itu tidak kedap ideologi. Secara garis besar. sehingga untuk menghadapinya. tidak mampu memberikan pelayanan yang baik terhadap masyarakat yang demkian kompleks itu. dunia kita dibelah oleh dua ideologi. Sejak konstitusi kehidupan kita didasarkan pada visi dan kosmologi yang berbeda dengan yang menjadi dasar bagi penataan peradilan selama ini. Pembelahan tersebut didasarkan pada kosmologi yang berbeda dan yang pada 76 Bunga Rampai . bukan suatu kebenaran absolut yang harus diterima dan dijalankan begitu saja. maupun terhadap masyarakat sebagai keseluruhan. Perkembangan dalam ilmu pengetahuan dan ilmu hukum pada khususnya yang demikian itu. Dengan mengutip ”implicit philosophy” Ronald Dworkin. Kehidupan sosial dan hubungan-hubungan dalam masyarakat dewasa ini sudah demikian rumit atau kompleksnya.

memastikan pilihan tersebut (Lev. Baru kalau cara ini gagal. pada dasarnya berwatak liberalindividual. yang melakukan penelitian tentang cara berhukum bangsa Indonesia di pengadilan. dengan tetap mempertahankan keJepang-annya. disebut oleh PyongChoon sebagai. “Any institution that leaves its indigenous habitat and gets transplanted to an alien culture invariably undergoes a fundamental change in the process of transplantation. yaitu pada dasamya menolak liberalisme-individual dan menerima cara kolektif-kontekstual. Daniel S. 1978). Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 juga Reformasi Peradilan: Harapan dan Kenyataan 77 . menyebar ke seluruh penjuru dunia. merupakan contoh yang baik tentang bagaimana kesulitan yang harus dihadapi tersebut. pada waktu menggunakan hukum modern tersebut. Bangsa-bangsa di kawasan Asia Timur. bahwa kendatipun Jepang menerima hukum kontrak modern. Dengan demikian. Jepang adalah salah satu bangsa di Asia Timur yang sangat siap untuk menerima penggunaan hukum modern (dan lain-lain) dari Barat. Cara pembengkokan oleh Jepang ini disebut “the Japanese twist” (Ozak. yaitu yang mengedepankan musyawarah (“the contract could be abrogated by simply renegotiating with the other party when circumstances dictated”). Sebuah survai mengenai penggunaan hukum kontrak modern di Jepang pada tahun 1970. 1984). “medievalization of modern institutions of the West”. menemukan. asas dan doktrin.akhirnya memunculkan cara berhukum yang beda puIa. di Tokyo. 1971). Hukum modern yang melalui berbagai jalan. tetapi pada penerapannya. juga dirancang untuk menjaga dan mempertahankan ideologi tersebut. digunakanlah kontrak yang sudah dibuat (Parker. mengalami banyak kesulitan. Penggunaan hukum modern di Korea. bangsa itu lebih mendahulukan penyelesaian secara Jepang. maka sekalian struktur.” (Pyong-Choon. misalnya mengatakan sebagai berikut. An institution that originally served one purpose may find itself twisted around to serve a host of totally different purposes in the adopting culture. Lev. Indonesia telah memilih dan pilihan itu tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa di kawasan Asia Timur. Hal yang demikian itu menyebabkan bahwa bangsa-bangsa dengan kosmologi dan cara berhukum yang beda. 1972). Hahm Pyong-Choon.

Fakultas-fakultas hukum kita belum dapat diandalkan untuk menjadi ”avant-garde”. khususnya peradilan. Sebagaimana diuraikan di muka penataan peradilan kita sekarang masih didasarkan pada ideologi liberal-individual. pandangan ke Timur lebih diutamakan. atau yang lain. Maka dihadapkan kepada amanat UndangUndang Dasar. bahwa ”dibuat Undang-Undang Dasar yang bersifat kekeluargaan”. Kesenjangan tersebut menimbulkan berbagai komplikasi sewaktu hukum modern itu diterapkan. seperti ”peradilan rekonsiliatif’. bahwa suatu perubahan mendasar hendaknya dilakukan. Selama ini kita terlalu berpaling ke Barat. yaitu agar berakar pada kosmologi dan habitat Indonesia. Reformasi peradilan sebaiknya dilakukan dengan cukup mendasar. bahwa memang dirasakan keperluan untuk membangun satu model peradilan lain yang lebih berakar pada kosmologi Indonesia. Dengan demikan kita kurang mendapat ilham untuk melakukan reformasi hukum. ”peradilan restoratif’. bahkan di waktu seperti sekarang ini. yang berbasis nilai dan kosmologi Timur. tetapi hampir tidak pernah ke Jepang. karena memang itulah amanat Undang-Undang Dasar 1945.dikatakan. menunjukkan. Beberapa penelitian dan disertasi yang ditulis pada Program Doktor Ilmu Hukum Univ. maka pengadilan dan peradilan kita memang membutuhkan reformasi. Kata-kata yang dilontarkan. Selama ini kita hampir tidak merisaukan amanat yang dipesankan oleh Undang-Undang Dasar kepada kita. Sampai hari ini. Pera- 78 Bunga Rampai . watak liberal-individual dari peradilan kita masih kuat. Kalau kita melihat kepada pembelajaran hukum kita. baik Leiden. khususnya bagian Pembukaan. Di waktu-waktu mendatang. Reformasi Peradilan Berdasarkan uraian di atas. Harvard. maka fakultas-fakultas hukum kita masih belum memiliki kesadaran untuk berubah menuju cara berhukum di pengadilan berdasarkan pembacaan terhadap Undang-Undang Dasar kita. penataan yang demikian itu perlu dirombak secara mendasar. Diponegoro memang sedikit banyak telah meyakinkan. sebaiknya orientasi kita lebih seimbang.

Padahal pemerintah kolonial Belanda sejak semula sudah melihat risiko penggunaan peradilan modern itu bagi banyak komunitas lokal di Indonesia.. sebagaimana ditulis oleh Bernard L.dilan di Indonesia.. Padahal. pranata asli Sabu yang bersifat religius. penggunaan hukum modern itu merupakan suatu beban bagi komunitas lokal (Tanya. 2006). religi. lebih menuju kepada integrasi dan dengan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 79 .” Pranata yang demikan itu kemudian harus berhadapan dengan hukum nasional. seolah-olah segala sesuatunya memang harus berjalan seperti itu. Di Sabu. karena masyarakat harus ’belajar’ lagi mengenal dan memahaminya. dalam arti sesuatu yang didatangkan dari luar. seperti ditulis oleh Bernard L. yang notabene adalah hukum modern. kita memiliki alasan lebih kuat untuk membangun suatu tatanan peradilan yang baru. Dalam proses belajar ini mereka menghadapi masalah yang kompleks . sampai kepada kematian. maka kita belum dapat menghargai apa yang dilakukan oleh masyarakat tersebut. setidaknya kita tidak menghambat penyelenggaraan peradilan yang berbasis kearifan lokal Indonesia itu. Dikatakan oleh Tanya. membuat kehadiran hukum negara sebagai sebuah inovasi terasa kian bermasalah. daya tarik dan manfaat yang ditawarkan lembaga/hukum negara tidak segera diterima. sebagaimana diuraikan di muka. sewaktu dihadapkan pada penggunaan hukum modern. Sejak tahun 1945.” Lebih lanjut Tanya menulis. peristiwa hubungan-hubungan keluarga.. ” Apabila kita belum mampu menata peradilan kita berdasarkan amanat Undang-Undang Dasar secara benar-benar terstruktur. yang beda sekali dari pikiran sosial atau ideologi yang mendasari peradilan modern. karena tidak lain harus didasarkan pada asas kekeluargaan. ”Uku merangkum semua lapangan kehidupan. Praksis yang beda tersebut mencerminkan ”perlawanan” dari suatu pikiran yang lebih mengakar pada habitat sosial asli. kehidupan. Tanya. tetap bekerja. yang memiliki struktur dan watak sosial beda. selama enampuluh tahun lebih. Setiap kali masyarakat setempat menjalankan praksis yang beda. ”Realitas obyektif komunitas masyarakat lokal di Sabu yang masih terbilang sederhana. Perkembangan ilmu hukum yang baru. ”Sebagai sesuatu yang ’baru’. Tanya sudah ada pranata uku.

juga dikehendaki untuk diubah. sampai ke pengaturan baru dalam beracara. Sekalian pekerjaan tersebut tidak dapat hanya dibebankan kepada pengemban kekuasaan formal saja. Undang-Undang Dasar 1945 tidak mengikuti ideologi tersebut. melainkan menghendaki sistem peradilan didasarkan pada asas kekeluargaan. Sudah diuraikan. mewarisi suatu sistem yang hakekatnya bersifat liberal-individual. bahwa sistem peradilan kita dan umumnya negara-negara di dunia. dalam sistem peradilan memerlukan penataan kembali. jaksa. Pembangunan suatu sistem peradilan baru tersebut merupakan pekerjaan raksasa. penggolongan dan nomenklatur lama juga digugat. Pembagian ke dalam hukum publik dan privat yang selama beratus-ratus tahun diterima sebagai sesuatu yang absolut dan sakral. melainkan menjadi hajat seluruh bangsa. polisi. advokat. yang antara lain diwakili oleh 1embaga-lembaga sosial. Posisi komponen-komponen peradilan yang berhadaphadapan. 80 Bunga Rampai . Ia dimulai dari perubahan paradigma. maka pikiran kita untuk mereformasi peradilan di Indonesia memiliki legitimasi yang tinggi. komponen-komponen sistem peradilan. Perlindungan dan penyelamatan individu serta kemerdekaan indvidu menjadi ideologi. Dengan demikian. tidak menggambarkan arsitektur kekeluargaan yang dikehendaki.demikian mengurangi pengkotak-kotakan dalam displin dan sub-disiplin. seperti dalam arsitektur peradilan sekarang. Ideologi kekeluargaan menjadi penentu arah kemana tujuan reformasi peradilan negeri ini. Lebih daripada itu pembagian. Disinilah masyarakat ikut serta. posisi hakim. penyiapan doktrin dan asas. Dengan demikian.

Zijderveld (red. Gouda Quint. Lev.. Pompe. A Cultural Portrait. “Komisi Yudisial untuk Hakim dan Pengadilan Progresif”. Muhammadiyah University Press.Pencarian. Pembebasan dan Pencerahan. Ithaca. Program Doktor Ilmu Hukum. “Judicial Institutions and Legal Culture in Indonesia”. Tokyo. E. - - Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 81 . Tjeenk Willink. Robert S. Diponegoro. W. Craig. Tanya. R.. Rutland.Norton.C. Zwolle. Parker. Rahardjo.Y.. New Brunswick. Tuttle.. Bernard L. Satjipto. Y Gasset. Geintegreerde rechtswetenschap. 2006. 2005. Asser’s Handleiding tot de beoefening van het Nederlandsch burgerlijk recht. Rene. A. 1997. Merintis Visi Program Doktor Hukum.Randall. Ladan.. 1972. Scholten. Cornell University Press. 1971. Transaction Publishers.Daftar Pustaka Black. Oxford University Press. Quirk. Daniel S. Surakarta. A Study of Institutional Collapse. Paul. 1957. Pyong-Choon. The Korean Political Tradition and Law.W. 1995.E. Semarang. & Bridwell. pp.. Komisi Yudisial RI. W.Y. The Japanese Police System Today. “Algemeen deer” dari Mr. 246-316. Jakarta. Penerbit Srikandi. Sociological Justice. Sebatiaan. 1984.Y. Donald. Seoul Hollym Corporation. R. Foque. 2004. Judicial Dictatorship.). L. Jose Ortega.J. The Indonesian Supreme Court. 1989. N. N. N. dalam Culture and Politics in Indonesia (Claire Holt ed. Jr. 1994. Charles E. Ozaki. The Japanese. Surabaya. hlm. Vermont.). William J. Ithaca. dalam Bunga Rampai Refleksi Satu Tahun Komisi Yudisial Republik Indonesia.. The Revolt of the Masses. Cornell University. An American Perspective. Hukum dalam Ruang Sosial. ----------------------. Program Doktor Ilmu Hukum Univ.. 1954. 2006. Rood Pijpers. Kodansha International. Hahm. 297-328. Ilmu Hukum . Arnhem. 1978.

82 Bunga Rampai .

M. 14 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 83 .H. Oleh karena itu Komisi Yudisial berwenang untuk mengusulkan pengangkatan Hakim Agung (Pasal 24B ayat (1)). Institusi yang bersifat mandiri. Sesuai Undang-undang No. Tugas hakim/badan peradilan sebagai penyelenggara kekuasaan Kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan Badan Peradilan yang berada dibawahnya dan sebuah Mahkamah Konstitusi. Putusannya bersifat mengikat apabila telah berkekuatan hukum tetap.Peran Hakim Agung Dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding) dan Penciptaan Hukum (Rechtsschepping) Pada Era Reformasi dan Transformasi M. 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-undang No.. 4 Tahun 2004 ditentukan bahwa kekuasaan Kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila demi terselenggaranya Negara Hukum RI. merdeka serta netral yang diberi otoritas dan kewibawaan untuk secara bebas mempertimbangkan segala sesuatunya secara adil dan obyektif serta tidak memihak. Pada perubahan ketiga Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa Calon Hakim Agung diusulkan oleh Komisi Yudisial kepada DPR untuk mendapat persetujuan guna ditetapkan sebagai Hakim Agung oleh Presiden. Dengan demikian Badan ini turut mempersiapkan Calon Hakim Agung yang berkualitas. Pendahuluan Dalam suatu negara hukum maka setiap sengketa hukum atau perkara diadili dan diputus oleh suatu Badan Kekuasaan Kehakiman. Dalam pasal 1 UU No.H. S. Hatta Ali.

yaitu untuk menilai apakah suatu peraturan perundang-undangan bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Dalam fungsi mengadili. mengadili dan memutuskan suatu perkara yang diajukan kepadanya dengan dalih bahwa hukumnya tidak ada atau kurang jelas. yaitu: 1) 2) Fungsi mengadili. Dalam menjalankan fungsi tersebut. Fungsi pengaturan. hakim sering dihadapkan pada suatu ketentuan yang belum diatur. Banyak peraturan perundang-undangan warisan kolonial maupun yang baru tidak sesuai dengan perkembangan masyarakat yang penuh dengan dinamika perubahan dan semakin kompleks. Maksudnya adalah jika tidak ditemukan hukum tertulis. yaitu mengelola administrasi. hakim sering dihadapkan kepada suatu ketentuan yang belum diatur. yaitu memeriksa dan memutus perkara permohonan kasasi dan peninjauan kembali. Pokok Masalah Dasar hukum peran hakim dapat dilihat pada pasal 28 84 Bunga Rampai . keuangan dan organisasinya sendiri. Di lain pihak hakim/badan peradilan tidak boleh menolak untuk memeriksa. hakim wajib menggali hukum tidak tertulis untuk memutus berdasar hukum. Fungsi memberi nasehat dan pertimbangan hukum. yaitu membina dan mengawasi peradilan dan hakim dibawahnya.Tahun 1985 Tentang Mahkamah Agung. Mahkamah Agung memiliki beberapa fungsi. yaitu memberikan nasehat hukum kepada Presiden dalam hal permohonan grasi dan rehabilitasi serta memberi pertimbangan hukum ke lembaga tinggi negara lain. yang menyebabkan terhambatnya upaya mewujudkan penegakan hukum. disebabkan karena terhambatnya upaya mewujudkan sistem hukum nasional yang mantap. Produk peraturan perundang-undangan selalu tertinggal dengan dinamika perubahan yang terjadi. Fungsi menguji peraturan perundang-undangan. 3) 4) 5) 6) Fungsi administrasi. yaitu untuk mengisi kekosongan hukum. Fungsi membina dan mengawasi.

“Menggali” berarti hakim harus terjun ketengah-tengah masyarakat untuk mengenal. Lalu yang terakhir bahwa perlakuan kepada semua orang adalah sama dimuka hukum (equality before the law). Henry.ayat (l) Undang-undang No. hakim wajib menafsirkan sehingga dibuat suatu putusan yang adil dan sesuai dengan maksud hukum yaitu adanya kepastian hukum. Jika tidak dapat dijalankan menurut arti katanya. tugas penting dari hakim adalah menyesuaikan undangundang dengan perkembangan yang hidup di dalam masyarakat. Seluruh komponen masyarakat sampai kepada penguasa tunduk sepenuhnya kepada hukum. Maksudnya adalah supremasi hukum merupakan pilar negara hukum. Mahkamah Agung tidak boleh berhenti melakukan inovasi terhadap berbagai ketertinggalan peraturan perundang-undangan yang tidak sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana cara Hakim Agung menggali dan menemukan sesuatu yang dapat menjadi hukum? Institusi Mahkamah Agung yang merupakan instrumen dalam upaya menegakkan hukum dan kebenaran agar tidak terpaku pada peraturan perundang-un- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 85 . Dengan kata lain. Namun agar hakim agung dalam melaksanakan perannya sebagai benteng terakhir penegakan hukum harus didukung pula adanya kemauan politik negara untuk menegakkan supremasi hukum yang berarti bahwa hukum bertindak sebagai panglima. sehingga penegakan hukum (law enforcement) dapat diwujudkan tanpa memandang suku/agama/ ras/golongan. Supremasi Hukum di dalam negara hukum mempunyai 3 (tiga) ciri (menurut Muchsan . mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat”. merasakan dan mampu menyelami perasaan hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. Yang berarti bahwa perbuatan hukum oleh penguasa atau individu harus dapat dikembalikan kepada hukum yang berlaku. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman menyatakan “Hakim wajib menggali. Pertama adalah hukum harus berperan sebagai panglima. Yang kedua hukum harus berperan sebagai titik tolak kegiatan (center of action). P 2002:12).dikutip dari Panggabean. Sebagai institusi.

Konflik atau kasus yang harus diselesaikan atau dipecahkan dan untuk itu perlu dicarikan landasan hukumnya. Jadi dalam penemuan hukum yang penting adalah bagaimana mencari atau menemukan hukumnya untuk peristiwa konkrit. 86 Bunga Rampai . Hakim selalu dihadapkan pada peristiwa konkrit. Sehingga dapat memberi putusan yang sesuai dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat. Disamping itu. sekalipun peraturan perundangundangan tidak dapat membantunya. melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadili” merupakan antisipasi bahwa tidak ada peraturan perundang-undangan yang dapat mencakup keseluruhan kehidupan manusia. maka seharusnya dapat mengenal. Oleh karena hakim (secara general) merupakan perumus dan penggali dari nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat. Apabila peraturan perundang-undangan yang belum jelas atau belum mengatur. hasil penemuan hukum oleh hakim merupakan sumber hukum juga (yurisprudensi). Sistem hukum Indonesia tidak menentukan jenis klasifikasi yurisprudensi tertentu untuk dijadikan sumber hukum.dangan yang telah usang. Juga sebagai pengadilan tingkat terakhir diharapkan mampu melahirkan putusan-putusan (yurisprudensi) yang inovatif yang sesuai dengan rasa keadilan masyarakat. Hasil penemuan hukum oleh hakim merupakan hukum karena mempunyai kekuatan mengikat sebagai hukum karena dituangkan dalam bentuk putusan. hakim harus bertindak berdasar inisiatifnya untuk menyelesaikan perkara. merasakan dan mampu menyelami perasaan hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. mengadili dan memutuskan suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas. Oleh karena hukumnya tidak lengkap dan tidak jelas. Dalam arti menentukan apa yang merupakan hukum. mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat. Tidak ada peraturan perundang-undangan yang lengkap dan jelas. Pembahasan Bertitik tolak dari pandangan bahwa “Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa. maka Hakim Agung harus memahami jalan keluar melalui penemuan hukum (Rechtsvinding). Hakim Agung sebagai penegak hukum dan keadilan wajib menggali.

Mengikuti sistematika J. sehingga yurisprudensi tetap tersebut telah melakukan penciptaan hukum (rechtsschepping). penafsiran sistematik. kaidah hukum atau ketentuan dalam suatu keputusan kemudian diikuti secara konstan atau tetap oleh para hakim dalam putusannya dan dapat dianggap menjadi bagian dari keyakinan hukum yang umum. Kedua klasifikasi yurisprudensi itu memerlukan kriteria sendiri agar dengan cara itu dapat ditelusuri sejauh mana hubungan kedua klasifikasi yurisprudensi itu dalam proses penegakan hukum. harus menguasai metode yang dapat dipergunakan.landmark decision karena kaidah hukum itu diterima masyarakat luas sebagai terobosan yang nyata atas suatu konflik hukum yang sudah lama berlangsung. penafsiran antisipatif dan penafsiran dinamika-evolutif).A. Sudikno Martokusumo (2001:52) memberikan 2 (dua) kategori. Sebagai Hakim Agung. sebagai yurisprudensi tetap. Dengan uraian di atas dapat dikatakan bahwa kriteria yurisprudensi tetap adalah telah mentransformasi secara konstan hukum yang hidup dalam suatu masyarakat dan telah diikuti oleh berbagai putusan sebelumnya. bahwa dalam putusan hakim ditemukan adanya kaedah hukum yang dapat dianggap sebagai . namun tidak ada ketentuan perundang-undangan yang berlaku yang dapat diterapkan. Penafsiran atau interpretasi adalah usaha memberi makna suatu atau sejumlah kaidah hukum agar dapat diterapkan secara wajar dalam memecahkan suatu persoalan hukum. penafsiran berdasarkan sejarah peraturan perundang-undangan yang bersangkutan. penafsiran teleologis. didapat bermacam-macam metode penafsiran (penafsiran berdasarkan tata bahasa atau ilmu bahasa. Pontier (dikutip dari Bagir Manan 2004:73). maka keadaan ini Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 87 . yaitu: 1. 2. Artinya adalah. juga tidak ada ketentuan dalam hukum kebiasaan dan hukum adat yang dapat diterapkan. yaitu melalui penerapan hukum penafsiran dan konstruksi hukum.tetapi dalam praktek peradilan dikenal adanya klasifikasi yurisprudensi biasa dan yurisprudensi tetap. sekalipun hakim dapat menafsirkan. penafsiran berdasarkan sejarah hukum. Yang kedua adalah konstruksi hukum. didalam suatu perkara di pengadilan.

Kenyataan yang bersangkutan menempati sebidang tanah dengan cara-cara yang dibenarkan oleh tradisi yang berlaku disekelilingnya. Apabila penerapan aturan hukum akan bertentangan. hakim atau siapapun juga yang menerapkan 88 Bunga Rampai . serta Argumentum a contrario (mempersempit jangkauan berlaku suatu peraturan perundang-undangan). Dengan kata lain. Termasuk dalam perkara-perkara perdata.(dikutip dari Bagir Manan 2004:64) adalah “masyarakat konkrit”. hakim membuat suatu pengertian hukum (rechtsbegrip). keadilan. Hakim adalah mulut kepatutan. dibuktikan dengan pohon-pohon yang ditanam oleh orang tuanya dan seterusnya. Walaupun demikian apabila hakim dihadapkan pada pilihan antara ketentuan hukum tertulis dengan hukum tidak tertulis. Hingga saat ini sebagian masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat formalistik. kepentingan umum dan ketertiban umum. kepentingan umum dan ketertiban umum. Asas ini menunjukkan bahwa sebagai Hakim Agung tidak boleh semata-mata mencari dan menemukan kebenaran formal. Seseorang memiliki sebidang tanah. apabila bertahun-tahun akan diakui telah menimbulkan hubungan hak atas tanah tersebut. Masyarakat Indonesia meminjam pendapat Holleman .mulai menyangkut pada keadaan kekosongan hukum dalam sistem formil hukum. menurut pendapat hakim yang bersangkutan bahwa pengertian hukum itulah yang menjadi dasar. Hakim bukanlah mulut undang-undang atau mulut hukum positif pada umumnya. hakim wajib memilih kepatutan. penghalusan hukum Rechtsvervijning (suatu kaedah hukum dapat dirasakan terlalu keras pada saat diterapkan pada keadaan konkrit tertentu. Berdasar beberapa ketentuan yang mempunyai persamaan. Segala hubungan dan peristiwa hukum dinyatakan dalam wujud yang nyata. Demikian pula hakim tidak sekedar menerapkan bunyi suatu perjanjian yang merupakan undang-undang bagi pihak-pihak yang membuatnya. keadilan. sehingga memerlukan penghalusan agar tetap terasa adil. Konstruksi hukum ini terdiri dari analogi (hakim memperluas penerapan hukum pada keadaan atau peristiwa yang tidak secara eksplisit disebut dalam ketentuan yang berlaku). wajar dan tidak berlebihan). hakim harus mencari dan menemukan kebenaran materiil.

Lalu pengertian “Onrechtmatigedaad” hanya dapat dipahami setelah mempelajari yurisprudensi (Arrest H. Juga hubungan kelamin diluar nikah laki-Iaki dewasa dan perempuan dewasa atas dasar suka sama suka. dimana laki-Iaki si pelaku tidak mau bertanggung jawab ketika perempuan tersebut hamil. 1919). Program reformasi hukum harus digulirkan secara bersama-sama oleh seluruh anggota masyarakat.hukum. Kemudian makin banyak putusan Mahkamah Agung yang menerima permohonan kasasi praperadilan. dan lain-lain bentuk pengasingan. Hakim Agung harus mampu menghasilkan putusan-putusan yang mengarah kepada pembaharuan penemuan hukum berupa yurisprudensi. Pada situasi ini. ekonomi dan hukum.R. pewarisan. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tidak mengatur. Koreksi merupakan kenyataan hukum yang hidup dalam masyarakat dan dapat terjadi karena hukum tertulis telah usang atau ada kekosongan tertentu dalam ketentuan hukum tertulis. Serta ketentuan “Jual beli tidak memutuskan hubungan sewa-menyewa”. Mengutamakan atau mendahulukan hukum tidak tertulis dilakukan apabila ketentuan hukum tidak tertulis merupakan suatu yang tumbuh kemudian sebagai koreksi atau penafsiran terhadap suatu ketentuan hukum tertulis. tetapi berdasar hukum Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan b. Jadi reformasi itu timbul secara simultan mencakup aspek kehidupan bernegara di bidang politik. harus mengutamakan atau mendahulukan ketentuan hukum tertulis. Pada era reformasi mengandung arti perubahan untuk perbaikan. Namun penerapan ini harus mempertimbangkan hal-hal berikut: a. Contoh kasus adalah pengertian “barang” dalam pidana pencurian termasuk pencurian listrik. sehingga termasuk hibah. yang berhadapan dengan ketentuan hukum positif yang menyatakan tidak ada kasasi untuk praperadilan. Mengutamakan atau mendahulukan hukum tertulis apabila diketahui atau secara rasional dipahami bahwa ketentuan hukum tertulis merupakan pembaharuan terhadap hukum tidak tertulis atau terjadi transformasi ketentuan hukum tidak tertulis menjadi hukum tertulis. yang oleh yurisprudensi diperluas menjadi asas pengasingan (vervreending) tidak memutuskan sewa-menyewa. 89 .

Putusan Mahkamah Agung dalam kasus Kedung Ombo pada pokoknya melebihi daripada ganti rugi yang dimohon para penggugat. ditafsirkan putusan Pengadilan Tinggi bersifat final dan mengikat. sangat relevan menggambarkan adanya benturan-benturan antara aspek kepastian hukum dengan keadilan. Tetapi sayangnya putusan Mahkamah Agung tersebut pada tingkat peninjauan kembali telah dikoreksi/ diperbaiki. sehingga pada gilirannya dapat dihasilkan putusan yang berkualitas dan memenuhi harapan para pencari keadilan. tetapi hakim dilarang menjatuhkan putusan atas hal-hal yang tidak dituntut atau mengabulkan putusan lebih dari pada yang dituntut”. 6 Tahun 2004. Paparan kedua kasus di atas. Ketiga unsur ini harus dipertimbangkan Hakim dan diterapkan secara proporsional. yaitu dalam kasus “Kedung Ombo” di Jawa Tengah dan kasus sengketa pemilihan kepala daerah (Pilkada) Depok. Dalam implementasinya terkadang tidak mudah untuk mensinergikan ketiga unsur tersebut. Menurut Gustav Radbruch (dikutip dari Bambang Sutiyoso 2006: 6) idealnya putusan harus memuat idee des recht. kepastian hukum (rechtsicherheit) dan kemanfaatan (zwechtmassigkeit).adat merupakan perbuatan yang tidak patut untuk dilakukan dan harus diberi sanksi. Kasus yang relevan untuk menggambarkan adanya kemungkinan benturan antara aspek keadilan dan kepastian hukum. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah No. tetapi ketika KPUD Depok mengajukan permohonan peninjauan kembali (PK) ke Mahkamah Agung terhadap putusan Pengadilan Tinggi Bandung tersebut pada akhirnya Mahkamah Agung dalam putusannya mengabulkan permohonan Peninjauan Kembali dari KPUD Depok dan membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Bandung. sehingga mestinya tidak ada upaya hukum lagi yang dapat digunakan. Mahkamah Agung sendiri dalam instruksinya Nomor KMA/015/lnst/VI/1998 tanggal 1 Juni 90 Bunga Rampai . Sedangkan dalam kasus Pilkada Depok apabila menoleh pada pasal 106 ayat(7) Undang-undang No. terutama antara unsur keadilan dengan kepastian hukum yang bisa saja saling bertentangan. padahal pasal 178 ayat (3) HIR berbunyi: “Hakim wajib mengadili seluruh bagian gugatan. yang meliputi 3 (tiga) unsur yaitu: keadilan (gerechtigkeit).

Dalam setiap penemuan hukum seyogyanya putusanputusan badan peradilan disosialisasikan dengan memberi kesempatan kepada publik untuk mengakses putusan-putusan tersebut. Bentuk pengaturan itu dikenal dalam 2 (dua) bentuk produk yaitu: 1. atau kekosongan hukum dengan menerbitkan Surat Edaran atau Peraturan Mahkamah Agung. terutama dalam hukum acara sebagai pelengkap untuk mengisi kekurangan dan kekosongan tadi. Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) yaitu satu bentuk edaran dari pimpinan Mahkamah Agung. keseluruh jajaran peradilan yang isinya merupakan bimbingan dalam penyelenggaraan peradilan yang lebih bersifat administrasi. Sebelum ada ketentuan KUHAP dan Undang-undang.1998 menginstruksikan agar para hakim memantapkan profesionalisme dalam mewujudkan peradilan yang berkualitas. Fungsi pengaturan ini ternyata sangat efektif memperlancar jalannya peradilan. 14 Tahun 1970 tentang Undang-undang Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 91 . pathos (pertimbangan yuridis yang utama). filosofis (berintikan rasa keadilan dan kebenaran). Selain itu fungsi Pengaturan Mahkamah Agung diperlukan bagi kelancaran penyelenggaraan peradilan apabila terdapat hal-hal yang belum cukup diatur dalam undang-undang atau terdapat kekurangan. sosiologis (sesuai dengan tata nilai budaya yang berlaku dalam masyarakat). PERMA No. demi terciptanya kemandirian para penyelenggara kekuasaan kehakiman. 2. Dengan akses ini mendorong para hakim membuat putusan yang berkualitas dan diterima oleh masyarakat sebagai hukum yang hidup dalam masyarakat. 1 Tahun 1980 telah digunakan menampung perkara peninjauan kembali karena pada saat itu belum ada peraturan pasal 21 UU No. dengan menghasilkan putusan hakim yang eksekutable berisikan ethos (integritas). PERMA No. Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) yaitu suatu bentuk peraturan dari Mahkamah Agung ke seluruh jajaran peradilan tertentu yang isinya merupakan ketentuan bersifat hukum beracara. 1 Tahun 1977 (tentang permohonan kasasi) telah menjadi sarana hukum yang menentukan masuknya perkara peradilan agama dan militer ke tingkat perkara kasasi oleh Mahkamah Agung. serta logos (dapat diterima akal sehat).

PERMA No. Hakim Agung harus mengisi kekosongan hukum atau hukumnya tidak jelas dengan melakukan penemuan hukum (Rechtsvinding) yang pada gilirannya akan menjadi yurisprudensi tetap menuju penciptaan hukum Bunga Rampai 2. Masyarakat berkepentingan atas keputusan hakim itu karena masyarakat menginginkan adanya keseimbangan tatanan dalam masyarakat. memiliki integritas. Pada dasarnya Hakim Agung yang baik bukan sekedar menguasai hukum positif melainkan mengusai pula dengan baik berbagai teori dan doktrin hukum. pengalaman yang memadai. 3. Kesimpulan 1. Perekrutan Hakim Agung harus memiliki kemampuan di bidang hukum. Yang tidak kalah pentingnya suatu hal yang perlu diperhatikan fungsi pembentukan hukum itu sendiri harus memperhatikan kesadaran hukum masyarakat dan tidak tertutup kemungkinan bahwa hukum menciptakan pola-pola baru di dalam masyarakat sehingga pada akhirnya menciptakan kesadaran hukum baru sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan. Bahwa setiap putusan pengadilan harus mengandung unsur kemanfaatan bahwa isi putusan itu tidak hanya bermanfaat bagi pihak berperkara tapi juga bagi masyarakat luas. 1 Tahun 2000 tentang paksa badan dapat dijadikan contoh tentang efektifitas Fungsi Pengaturan Mahkamah Agung mendukung penegakan hukum khususnya untuk mengatasi kebutuhan hukum acara yang saat ini sangat diperlukan menghadapi perilaku para debitur nakal yang sengaja menghindar dari kewajiban melunasi hutang-hutangnya.Pokok Kekuasaan Kehakiman. 92 . moral dan karakter yang baik. 5. 4. yang dapat digunakan oleh aparat penegak hukum di lingkungan peradilan. 6. Meningkatkan kualitas hakim dalam melakukan penemuan hukum baru melalui putusan-putusan pengadilan (yurisprudensi) yang digunakan sebagai dasar pertimbangan hukum. Dalam melakukan penemuan hukum hakim menggunakan metode penafsiran dan konstruksi hukum.

(Rechtsschepping). 8. Meningkatkan mekanisme pertanggung jawaban lembaga pengadilan kepada publik dengan kemudahan akses masyarakat untuk memperoleh putusan pengadilan dan publikasi terhadap setiap pengambilan putusan. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 93 . 7. Fungsi Pengaturan Mahkamah Agung berupa Surat Edaran dan Peraturan Mahkamah Agung masih diperlukan guna mengisi kekosongan hukum khususnya hukum acara.

A . Fungsi Mahkamah Agung Bersifat Pengaturan (Rule Making Power) Tahun 19662003. Sudikno dan Pitlo. edisi pertama. Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum.V Mertokusumo.J . 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman Undang-undang No. Pustaka Sinar Harapan Komisi Hukum Nasional -. 2004. UH Press Yogyakarta Ketentuan Peraturan Perundang-undangan Undangundang Dasar 1945 dan Perubahannya Kitab Undangundang Hukum Pidana Kitab Undang-undang Hukum Perdata Undang-undang No.cetakan kedua. 22 tahun 2004 tentang Komisi Yudisial - - 94 Bunga Rampai . 2001. Liberty Yogyakarta Panggabean. Transisi Di Bawah Bayang-Bayang Negara Manan. Bagir -. Citra Aditya Bakti Mertokusumo. Penemuan Hukum Sebuah Pengantar. edisi kedua cetakan kedua. PT Alumni Panggabean. 2005. cetakan pertama. edisi pertama cetakan pertama. Beberapa aspek Sosiologi Hukum. Fungsi Mahkamah Agung Dalam Praktik Sehari-hari. FH UH Press Salman. 1 tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana Undang-undang No. Metode Penemuan Hukum. 2006. 2002. 2002. PT. Liberty Yogyakarta Sutiyoso. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung Undang-undang No. L. Pengantar Ilmu Hukum. cetakan kesatu.Kolff N.Daftar Pustaka Van Apeldoorn. Hukum Positif Indonesia. 1957.. Henry P -. cetakan kedua. Noordhoff . Anton . 2004. 8 tahun 2004 tentang Peradilan Umum Undang-undang No. 5 tahun 2004 tentang Perubahan terhadap Undang-undang No. Henry P-. Bambang-. Otje dan Susantho.cetakan pertama. 1993. Sudikno -.

khususnya di dalam suatu masyarakat yang sedang membangun. Arus informasi menyebabkan permasalahan di dalam suatu negara dapat dibaca bagaikan dalam buku terbuka.H. Di dalam era transformasi dan informasi. telah menjadi kenyataan. lebih mengentalkan kenyataan bahwa hukum nasional suatu negara tidak dapat secara mutlak berdiri sendiri tanpa menghiraukan perkembangan-perkembangan yang terjadi di dunia internasional. terlebih lagi ketika perkembangan teknologi yang semakin canggih. Perjanjian-perjanjian internasional dan dampak ratifikasi konvensi internasional. seperti itu permasalahan-permasalahan di dalam masyarakat menjadi lebih rumit dan kompleks. DR. Perkembangan di dalam masyarakat ini juga mempengaruhi perkembangan hukum di suatu negara. “Apabila kita teliti maka semua masyarakat yang sedang membangun dicirikan oleh perubahan bagaimanapun kita mendefinisikan pembangunan itu dan apapun yang kita pergunakan bagi “masyarakat dalam pembangunan.* Latar Belakang Pernyataan-pernyataan bahwa dunia seakan-akan tidak lagi mengenal batas-batas wilayah Negara. S. Peranan hukum * Guru Besar Hukum Pidana Universitas Padjadjaran Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 95 .Hakim Agung dan Penemuan Hukum (Rechtsvinding) Pada Era Reformasi dan Transformasi Hukum Prof. Suatu negara bahkan tidak dapat mengisolasi dirinya dari pergaulan internasionnal. Komariah Emong Sapardjaja.

kejahatan terhadap kemanusiaan. Bandung. hlm. dalam kasus-kasus yang terjadi dalam masyarakat yang sedang bereformasi dan transformasi. Khususnya bagi persoalan-persoalan yang menjadi kasus konkrit yang dihadapkan kepada seorang hakim untuk mendapatkan penyelesaian. kloning. melakukan penemuan hukum sehingga tidak melakukan kesewenang-wenangan hukum yang pada akhirnya justru 1 2 3 Mochtar Kusumaatmaja. dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas.2 Tetapi selalu saja terjadi bahwa ‘undang-undang ketinggalan dari kenyataan-kenyataan masyarakat’ (het recht hink achter de feiten aan‘). Bagaimanakah syarat-syarat suatu penemuan hukum (rechtsvinding) dan pembentukan hukum (rechtsschepping)? Sejauh manakah hakim. dan mungkin banyak lagi masalah-masalah di dalam masyarakat yang perlu mendapat pemecahan hukumnya. 1976. Pokok Masalah 1. 4 tahun 2004 Tentang Kckuasaan Kehakiman 96 Bunga Rampai .3. 6 UUPK) Disinilah letak peran hakim (Agung) dalam penemuan hukum (rechtsvinding) dan pembentukan hukum (rechtsschepping). Beberapa contoh mengemuka yang menjadi pemikiran dari para ahli hukum sekarang. dalam kebebasannya. Lcmbaga Penelitian Hukum dan Kriminologi Universitas Padjadjaran. Pembinaan Hukum Dalam Rangka Pembangunan Hukum Nasional.3 (psl. kejahatan cyber. melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya”. mengadili.dalam pembangunan adalah menjamin bahwa perubahan itu terjadi dengan cara yang teratur”1 Selanjutnya dikatakan juga oleh Mochtar Kusumaatmadja bahwa: “Ada anggapan yang boleh dikatakan hampir merupakan keyakinan bahwa perubahan yang teratur demikian dapat dibantu oleh perundang-undangan atau keputusan pengadilan atau kombinasi dari kedua-duanya”. bayi tabung. misalnya. 2. maka seorang hakim “tidak boleh menolak untuk memeriksa. Ibid Lihat pasal 16 Undang-undang Republik Indonesia No.

pandangan tentang penemuan hukum yang dikemukakan oleh Paul Scholten memperoleh banyak pengikut. Penemuan hukum.Pontier. J. ketidakpastian.A. Penemuan hukum diarahkan pada pemberian jawaban terhadap pertanyaanpertanyaan tentang hukum dan hal pencarian penye1esaianpenyelesaian terhadap sengketa-sengketa konkrit.A. diterjemahkan oleh B. Terkait padanya antara lain diajukan pertanyaan-pertanyaaan tentang penjelasan (tafsiran) dan penerapan aturan-aturan hukum. yang lebih atau kurang. hlm. 1. Rechtsvinding. Ibid. dan pertanyaan-pertanyaan tentang makna dari fakta-fakta yang terhadapnya hukum harus diterapkan.5 J. hlm.A. Labotatorium Hukum Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan. Arti penemuan hukum dan mengapa (seringkali) diperlukan Rechtsvinding menjadi sangat terkenal terutama setelah perang dunia kedua.16 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 97 . Liberty. hlm.4 Sudikno Mertokusumo mengatakan “Apa yang dimaksud dengan penemuan hukum lazimnya adalah proses pembentukan hukum oleh hakim. hlm. 37. konflik-konflik hukum atau sengketa-sengketa yuridis. Yogyakarta. atau aparat hukum lainnya yang ditugaskan untuk penerapan peraturan hukum umum pada peristiwa hukum konkrit”.7 4 5 6 7 J. Pontier. Penemuan Hukum.6 Asumsi dasar yang melandasi penemuan hukum tersebut adalah berkaitan dengan pengakuan bahwa tidak semua hukum dapat ditemukan dalam undang-undang. op cit. secara cermat dan teliti mengemukakan bagaimana terhadap situasi-situasi problematik tertentu seyogyanya harus diberikan reaksi. Ia berkenaan dengan pertanyaan-pertanyaan hukum. Pontier mendefinisikan penemuan hukum sebagai ‘sebuah reaksi terhadap situasi-situasi problematikal yang dipaparkan orang dalam peristilahan hukum’.menimbulkan ketidakadilan.Arief Sidharta. 2001. atau ketidakmanfatan? Pembahasan Masalah 1. Bandung. 95 Sudikno Mertokusumo. berkenaan dengan hal menemukan penyelesaian dan jawaban berdasarkan kaidah-kaidah hukum. 2001.

Ibid. hlm. De delictsomscrijvingen vormen ten opzichte van de gedragsnormen veeler deelstukken van het geheel. Dalam hukum pidana yang sangat legistis karena secara fundamental didasarkan pada prinsip legalitas. Perumusan delik lebih banyak membentuk bagian-bagian daripada merumuskan keseluruhan norma perilaku.. di mana sangat ditentukan oleh unsur-unsur yang terdapat di dalam perumusan deliknya. Bandung. Het strafrecht handhaaft de materiele norm jragmentarisch” [Norma-norma perilaku yang tersirat dalam perumusan delik bukan pencerminan yang mencakup seluruh noma-norma materiel. brengt deze woorden. de dode teksten.H. Alumni. Hukum pidana mempertahankan norma-norma secara fragmentaris]. Hanya katakata itulah yang berhak atas wibawa yang mutlak. yang adanya dijamin oleh undang-undang bersama dengan moral rakyat untuk melindungi para pencari keadilan. Het maatschappelijk leven. tanda-tanda mati itu menjadi hidup. memberikan pada kata-kata itu arti]. hlm. 22 98 Bunga Rampai . seperti dikatakan oleh Bregstein8 yang berpendapat: “In woorden belichaamt de wetgever zijn will. [Pembuat undang-undang melahirkan kehendaknya dengan kata-kata. Slechts die woorden hebben aanspraak op absoluut gezag.Hal tersebut telah mengemuka sejak lama. 8 9 10 M. [.. geeft er aan hun zin. Schaffmeister10 menyatakan: “De in delictsomschrijvingen geimpliceerde gedragsnormen zijn geen omvattende weersplegelingen van de gehele materiele norm. Kehidupan sosial yang mereaksi kata-kata ini. 16 Ibid. dan apabila dilanjutkan dengan kata-kata dan Suijling:9 “… behoort hij de abstract geredigeerde wet met de prescripten der volksmoraal aan te vullen en dus altijd de gerechtigheid te oefenen. Ajaran Sifat Melawan Hukum Materiel dalam Hukum Pidana Indonesia. dalam Komariah Emong Sapardjaja. membuat kata-kata ini. 17. welke de wet in vereneging met de volksmoraal aan de Justitiabelen waarborgt”. hakim harus melengkapi undang-undang yang dirumuskan secara abstrak dengan ketentuan-ketentuan dari moral rakyat. hlm. tot leven. dan karena itu selalu menyelenggarakan keadilan.Bregstein. dat op deze woorden reageert.

tetapi disinilah letak peranan hakim selaku penjaga hukum dan keadilan memainkan peranannya. metode interpretasi. penimbangan kepentingan e. Menurut Pontier12. teknik penemuan hukum lain berupa: i. Motivering vonnis Walaupun demikian hakim tidaklah sebebas-bebasnya dapat menggunakan seluruh metode penemuan hukum 11 12 Ibid. hlm. hlm. di dalam situasi masyarakat dengan tingkat perkembangan di segala bidangnya sangat tinggi dan kompleks. sistematis. 16 Pontier. teleologis.cit. penalaran hukum d. 34 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 99 . op. antisipatif. sejarah undang-undang. Oleh karena itu Bregstein11 pernah mengatakan: “Tegenover de worden der wet komt hem echter een vrijheid toe. penghalusan hukum. Jadi dia bukanlah ‘mulut undang-undang’ tetapi ‘mulut jiwa undang-undang’]. seringkali undang-undang tidak dapat lagi mengantisipasi perkembangan itu. penemuan hukum dapat dilakukan melalui metode. sejarah hukum. antara lain: a.Dengan demikian. evolutif dinamikal) b. Hij is dus niet ‘la bouche de la loi’. Teknik/metode penemuan hukum dan kebebasan hakim Penemuan hukum dapat dilakukan melalui beberapa cara/teknik/metode. 2. penerapan atau penafsiran undang-undang secara rasional ii. interpretasi restriktif dan interpretasi ekstensif c. (penulis tidak akan menguraikan secara mendalam tentang metode interpretasi karena dalam pelajaran tentang Pengantar Ilmu Hukum telah diperkenalkan metode penafsiran berupa penafsiran gramatikal. tenzij men daaronder verstaat ‘la bouche de l’esprit de la loi’ [Terhadap kata-kata undang-undang penerap undang-undang memiliki suatu kebebasan yang luas.

Di bidang hukum pidana. Gramedia. pasal 362 KUHP tidak mungkin dapat diterapkan. Jakarta.M. 54 100 Bunga Rampai . Demikian juga dalam kasus BNI 46 New York. Dengan menggunakan penafsiran sosiologis dan teleologis. apabila melihat kepada kecanggihan alat-alat yang digunakannya. Selain itu harus diperhatikan pula fakta konkrit yang diperoleh dari dasar penyelidikannya. yang biasanya diperoleh dari fakta yang terungkap di muka persidangan.Marjanne Termorshuizen. terjemahan oleh Tristam Moeliono dan DR. dan dilanjutkan dengan penelusuran sejarah perundang-undangan untuk mengetahui maksud dari pembuat undang-undang tentang diterbitkannya undang-undang tersebut. hakim dapat melakukan penafsiran.van der Veen. Hukum Pidana. 2003.J. padahal tujuan akhir dari setiap aturan hukum pidana adalah perlindungan tertib hukum. Pertama hendaknya diperhatikan landasan/ norma hukum yang menjadi dasar kasus tersebut (dalam perkara perdata biasanya dapat dilihat dari dasar-dasar gugatan yang diajukan oleh pihak penggugat sedangkan dalam perkara pidana dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum. Barulah apabila undang-undang yang menjadi dasar kasus tersebut tidak jelas. telah memperingatkan bahaya penggunaan logika secara berlebihIebihan dalam upaya menerangkan undang-undang. Penemuan hukum dengan menggunakan metode seperti itu ditemukan dalam kasus Mochtar Pakpahan.M. Pertama-tama hendaknya digunakan penafsiran gramatikal. J. hIm.13 Juga Jescheck14 mengingatkan bahwa penafsiran bisa jadi akan sangat melebar. Khususnya penemuan hukum yang hanya didasarkan pada nalar hakim saja dapat menimbulkan kesewenangwenangan terhadap undang-undang itu sendiri. dalam Jan Remmelink. 13 14 J. hlm. sedangkan dalam perkara tata usaha negara dapat dilihat dari permohonan pemohon).tersebut untuk menyelesaikan kasus konkrit yang dihadapkan kepadanya. barulah hakim dapat menemukan hukum yang harus dikemukakan dalam putusan yang definitif.J. 47 Ibid. van der Veen. di mana dijelaskan bahwa hatzaai artikelen yang menjadi dasar dakwaan sudah tidak sesuai lagi dengan semangat reformasi.

Hak untuk memperoleh ganti rugi dan rehabilitasi .pasal 9. dan berpengalaman di bidang hukum (pasal 32).pasal 4 ayat (2). Prinsip legalitas . Dilakukan “Demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” . telah ditetapkan dalam undang-undang tersebut. bahwa hakim adalah pejabat yang melakukan kekuasaan kehakiman yang diatur dalam Undang-undang (pasal 31). profesional. 4. Dilaksanakan sesuai dengan prinsip ne bis in idem – pasal 6 ayat (1). 5 tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-undang No.pasal 4 ayat (1).pasal 6 ayat (2).pasal 4 ayat (3). dengan syarat-syarat bahwa seorang hakim harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela. Terbuka untuk umum . Prinsip-prinsip penyelenggaraan peradilan dan Kedudukan serta Peranan Hakim Agung Prinsip penyelenggaraan peradilan telah ditetapkan dalam Undang-undang Republik Indonesia No. yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.pasal 8. non. 10. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman.pasal 20 Demikian pula dengan kedudukan hakim. Prinsip presumption of innocence .3. Dilakukan dengan sederhana. 6.pasal 5 ayat (1). 8. 5. 7. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. 9. Prinsip-prinsip tersebut adalah: 1.diskriminasi dan imparsial . menetapkankan bahwa: Kekuasaan Mahkamah Agung sebagaimana ditetapkan dalam Undang-undang tersebut adalah: Pasal 28: “Mahkamah Agung bertugas dan berwenang memeriksa Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 101 . 3. 2. cepat. Jujur. adil. dan wajib menjaga kemandirian peradilan (pasal 33) Khusus berkenaan dengan Mahkamah Agung.pasal 7. Putusan tentang kesalahan seseorang didasarkan pada keyakinan hakim dengan alat pembuktian yang sah menurut Undang-undang . Independent . dan biaya ringan .

Terlebih-lebih apabila dikaitkan dengan Kedudukan Mahkamah Agung.. Pasal 35: “ . Pasal 31: (1) .. yang berarti tidak membiarkan sengketa hukum berlarut- 102 Bunga Rampai .dan a. memberikan pertimbangan hukum kepada Presiden dalam permohonan grasi dan rehabilitasi” Pasal 37: “ . dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan dalam bidang hukum baik diminta maupun tidak kepada Lembaga Tinggi Negara yang lain” Melihat kepada peraturan perundang-undangan yang memberikan kedudukan istimewa kepada seorang Hakim Agung. seperti dimuat dalam pasal 2: “Mahkamah Agung adalah Pengadilan Negara Tertinggi dari semua Lingkungan Peradilan. Hal tersebut mengisyaratkan pula bahwa putusan Mahkamah Agung adalah putusan yang memberikan penyelesaian definitif sesuai dengan asas lites finiri oportet. salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku. c. yang dalam melaksanakan tugasnya terlepas dari pengaruh pemerintah dan pengaruhpengaruh lain”. tidak berwenang atau melampaui batas wewenang. maka peraturan perundang-undangan yang disebutkan di atas memberikan tugas-tugas mulia yang diembankan kepadanya.. sengketa tentang kewenangan mengadili. permohonan peninjauan kembali putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.. memutus: permohonan kasasi. b.. lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan. b. Pasal 30: (1) Mahkamah Agung dalam tingkat kasasi membatalkan putusan atau penetapan pengadilan-pengadilan dari semua lingkungan peradilan. karena: a.. c. menguji peraturan perundang-undangan di bawah Undang-Undang terhadap Undang-undang . sekaligus pedoman perilaku bagi mereka.

2. tetapi menyatakannya sebagai perwujudan kebebasan pers.)15 pernah mengatakan: “Suatu pengadilan yang bebas dan tidak dipengaruhi merupakan syarat yang ‘indipensable’ bagi negara hukum. Dengan demikian Hakim Agung dalam menjalankan tugasnya telah memberikan kepastian hukum dari kasus tersebut. ia ‘sub-ordinated’. Beberapa penemuan hukum yang pernah ada. Bebas berarti tidak ada campur tangan dari kekuasaan eksekutif dan legislati dalam menjalankan fungsi yudiciair. antara lain: a. yang memberi arti terhadap kata “perbuatan tidak 4. Oleh karena itu. him. 275K/Pid/1982. Putusan Mahkamah Agung RI No. terikat pada hukum”. 15 Oemar Seno Adji. Francis Bacon pemah menyatakan: ”there is no worse torture than the torture of laws” Penemuan hukum dan pembentukan hukum Indonesia yang mengemuka. S. Diperkenankannya seorang wanita yang belum menikah mengangkat anak melalui adopsi.Cctakan Kedua. Oemar Seno Adji. sekalipun harus menemukan hukum. 1985. mantan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia. Peradilan Bebas Negara Hukum. tidak diperbolehkan . Pcnerbit Erlangga. b. 46 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 103 . 3. (alm.larut tanpa akhir. Anak angkat yang memperoleh bagian waris yang sama dengan anak kandung. 4..H. Jakarta. Dalam bidang hukum perdata. Dalam bidang hukum pidana. Ia tidak berarti bahwa ia berhak untuk bertindak sewenang-wenang dalam menjalankan tugasnya. Dikukuhkannya janda sebagai ahli waris. dan menjadikannya suatu pembentukan hukum baru melalui yurisprudensi yang terkenal. Mahkamah Agung menolak gugatan Presiden Suharto atas pencemaran nama baik yang dilakukan oleh New York Times dengan pemuatan gambar presiden sebagai joker dalam kartu ‘remi’. antara lain: 1. antara lain: 1. Kesewenang-wenangan seorang Hakim Agung. Prof.

Tetapi berbeda dengan penemuan hukum oleh para ilmuwan hukum sebagai hasil dari penelitiannya. pembentuk undang-undang. Dalam kasus pembobolan dana Bank BNI New York. Penemuan hukum pada dasarnya merupakan kegiatan sehari-hari para yuris. sehingga penggunaan alat komputer (dengan menekan satu panel/tombol pada key board komputer) disamakan dengan lichamelijk gedraging. yang bersifat teoritis terhadap suatu masalah hukum tertentu serta tidak terikat dalam batas-batas waktu. Simpulan 1. Dalam kasus “Rahardi Ramelan”. Penemuan hukum adalah sebuah aspek penting dari ilmu hukum (teori hukum) dan praktek hukum. hakim memberikan penafsiran luas terhadap unsur “mengambil” dalam tindak pidana pencurian. bahkan ilmuwan hukum. Agar tidak menjadi suatu kesewenang-wenangan hukum dan tertibnya pembentukan hukum yang dciptakan karena penemuan hukum. Dalam kasus “Mochtar Pakpahan” hakim menyatakan bahwa demonstrasi (waktu itu sedang terjadi era reformasi) bukanlah sebagai pemyataan permusuhan terhadap negara sebagaimana terdapat dalam unsur pasal 154 KUHP yang terkenal dengan haatzaai artikelen. dalam praktek hukum hakim harus memberikannya di dalam putusannya dalam jangka waktu yang masuk akal. Dalam kasus “Bambang Harymurti Tempo” Mahkamah Agung menyatakan bahwa UU No. 4. 104 . 5. 40/1998 tentang Pers adalah lex speciali dan karenanya dalam kasus tersebut tidak dapat digunakan pasal 310 KUHP tentang penghinaan. patut dan terce1a dari suatu tindak pidana korupsi”. 3. dan “Adam Damiri di Pengadilan HAM” hakim menerima teleconference sebagai cara yang sah dari kehadiran saksi. penemuan hukum oleh hakim harus selalu dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip penyelenggaraan peradiBunga Rampai 2. dan terjadi pada semua bidang hukum baik oleh hakim. dalam kebebasannya.2.

dasar-dasar/norma. mengharmonisasikan antara fakta dan kaidah hukum tersebut dengan menggunakan metode yang diperkenankan. kaidah hukum yang menjadi dasar kasus konkrit yang dihadapkan kepadanya. serta mengabstrasikannya. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 105 . tetap memperhatikan fakta hukumnya.lan yang baik.

Jan. Gramedia Pustaka Utama. Pembinaan Hukum Dalam Rangka Pembangunan Nasional. J.Daftar Pustaka Komariah Emong Sapardjaja. Universitas Parahyangan. diterjemahkan oleh Tristam P.A.Termorshuizen.Arief Sidharta. dan Widati Wulandari. Jakarta. Ajaran Sifat Melawan Hukum Dalam Hukum Pidana Indonesia. tanpa tahun. 2003 Sudikno Mertokusumo. Penemuan Hukum. Pontier. eetakan kedua. 1972 Oemar Seno Adji. 1985. diterjemahkan oleh B. Penerbit Erlangga. 2001 - - - 106 Bunga Rampai . Rechtsvinding. Studi Kasus tentang Penerapan dan Perkembangannya dalam Yurisprudensi. Bandung. cetakan kedua. Bandung. Jakarta. Yogyakarta. Bandung. Peradilan Bebas Negara Hukum. Remmelink. Marjanne . Komentar atas Pasal-pasal Terpenting dari Kitab Undang-undang Pidana Belanda dan Padanannya dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia. Panel Diskusi V yang diselenggarakan oleh MAHINDO di Jakarta -bulan Maret 1972. Alumni. Liberty. Binacipta. 2002 Moehtar Kusumaatmadja. Hukum Pidana.. Penemuan Hukum.Moeliono.

Dalam hal ini muncullah pandangan bahwa pengadilan sebagai benteng terakhir pencari keadilan. Kapita Selekta Hukum Pidana. pengadilan merupakan institusi penting dalam mengkonkritkan hukum melalui putusan-putusan yang ditetapkannya. Pengadilanlah yang mengkonkritkan hukum. Penerbit Alumni Bandung. 1981 halaman 120 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 107 . Dalam pandangan ini. penyelenggaraan tata hukum pidana berpusat dan berpuncak pada pengadilan.H..Kontribusi Lembaga Kejaksaan Dalam Mempercepat Reformasi Peradilan M. Pada sisi lain. Tugas-tugas penyidikan dan penuntutan bermuara pada pengadilan. institusi pengadilan melakukan pengawasan (kontrol) terhadap pelaksanaan tugas dan wewenang instansi sebelumnya seperti penyidikan dan penuntutan. S. Semua sub-sistem diarahkan kepada tujuan untuk menegakkan tata hukum pidana.2 Menurut pandangan ini. MH. 1 SPP – Bejana Berhubungan Secara dogmatik. Ali Zaidan. kejaksaan (yang melaksanakan tugas penuntutan dan eksekusi putusan pengadilan) dan Pengadilan (yang mengadili) sehingga membentuk jaringan kerja terpadu yang dikenal dengan integreted criminal justice system. Sistem Peradilan Pidana (SPP) terdiri atas sub-sistem yang saling berhubungan antar sub-sistem kepolisian (yang melaksanakan tugas-tugas penyidikan). Putusan pengadilan merupakan produk badan peradilan yang dimulai dari input 1 2 Anggota Komisi Kejaksaan Republik Indonesia Soedarto.

Keterpaduan antar sub-sistem menjadi jaminan bahwa produk yang dihasilkan akan dijamin obyektifitasnya. Tanpa keterpaduan dalam sistem akan diperoleh kesulitan dalam mengukur tingkat keberhasilan maupun kegagalan sistem sebelumnya. Kumpulan Karangan buku Ketiga. processing (penyidikan. akan tetapi hendaklah dilihat dari persepektif yang lebih luas. Masalah Penegakan Hukum. Jakarta. hasil yang diperoleh tidak akan selalu selaras dengan tujuan sistem secara keseluruhan. Akibat pengaturan demikian. penuntutan dan pengadilan) dan berakhir pada out put yakni putusan pengadilan. sub-sub sistem peradilan pidana itu sendiri merupakan sub-sistem yang diikat oleh ketentuan perundang-undangannya masingmasing. Jakarta.3 Hubungan antar sub-sistem peradilan tersebut membentuk suatu jaringan laksana bejana berhubungan. Putusan pengadilan merupakan hasil akhir (product) proses hukum sebelumnya. Mardjono Reksodiputro. Penerbit Badan Pembinaan Hukum Nasional. Suatu Tinjauan Sosiologis. Penegakan hukum tidak lagi dilihat sebagai penegakan undang-undang an-sich.4 Konsekuensi pernyataan di atas bahwa rumusan-rumusan abstrak dalam undang-undang hanya dipakai seb- 3 4 B. Sebaliknya. tanpa tahun. penegakan hukum hendaklah dipahami sebagai kegiatan yang dilakukan oleh institusi hukum dalam keseluruhan kerangka sosial yang lebih besar. halaman 15 108 Bunga Rampai . Hak Asasi Manusia dalam Sistem Peradilan Pidana. sub-sub sistem peradilan itu akan menentukan sendiri hukum dalam bidang dan tugasnya masing-masing dalam mengejar tujuannya. Sistem Peradilan Pidana hendaklah dipandang sebagai bagian dari sistem yang lebih besar yakni Sistem Sosial yang lebih rumit dan canggih. antar subsistem peradilan terdapat hubungan saling berhubungan. Akan tetapi sebagai proses sosial yang melibatkan lingkungannya. Kegagalan suatu sub-sistem akan mempengaruhi subsistem lainnya. Oleh karena itu kegiatan penegakan hukum tidak dapat hanya dilihat sebagaimana tertera dalam perundangundangan. Konsekuensinya. Pusat Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum (d/h Lembaga Kriminologi) Universitas Indonesia. 1994 halaman 85 Satjipto Rahardjo.(yakni kasus hukum). menurut pandangan sosiologis. Oleh karena itu.

Begitu juga hendaknya dilihat kenyataan faktual hubungan interdependensi antara kepolisian dengan kejaksaan. Dengan demikian. hal ini ditimbulkan karena besarnya pengaruh lingkungan sosial terhadap pencapaian tujuan Sistem Peradilan Pidana tersebut. 5 6 7 Alan Coffey et al.6 Pemahaman terhadap ketiga sinkronisasi ini penting. Keterpaduan sistem itu sendiri akan tercipta manakala semua pihak yang menjadi bagian dari sistem itu bekerja untuk mencapai tujuan tertentu dalam kenyataan. 1978. kepengacaraan dan dengan hukum itu sendiri. Analizing the Criminal Justice System. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. An Introduction to the Criminal Justice System and Process. Tanpa memperhatikan interrelationship antara sub-sistem di atas. yang ingin diketahui lebih jauh adalah bagaimana hukum itu dijalankan. substansial maupun kultural. disebabkan karena apa yang dikatakan sistem Peradilan Pidana pada hakikatnya merupakan sistem yang terbuka (open system).5 Dengan demikian menurut pandangan ini terlihat bahwa adanya undang-undang tidak menjadi jaminan bahwa sistem itu akan berjalan dengan baik. Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana.agai petunjuk saja. Prentice Hall Inc. halaman 86 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 109 . Semarang. teknologi. New Jersey. Lexington Books. akan mengakibatkan kerawanan yang mengarah kepada fragmentasi dan ketidakefektifan sistem peradilan pidana itu sendiri. 1974 halaman 5 Muladi. Keterpaduan atau sinkronisasi itu sendiri meliputi sinkronisasi struktural. Terlalu banyak faktor yang tidak terungkap jika hanya membaca peraturan hukum tertulis semata. dengan lembaga pemasyarakatan. digambarkan oleh La Patra sebagai berikut:7 Level 1: Masyarakat (society) Level 2: ekonomi. Bahkan pengaruh luar itu sendiri akan menjadikan Sistem Peradilan Pidana menjadi unik. 1995 halaman 1 La Patra. Adanya independensi antara sistem peradilan pidana dengan sistem sosial. tingkah laku yang menjadi latar belakang penegakan hukum dan sejenisnya. tidak mungkin Sistem Peradilan Pidana tidak terpengaruh atau kedap terhadap pengaruh sub-sistem sosial di luarnya. Englewood Cliffs. pendidikan dan politik Level 3: sub-sistem Peradilan Pidana. antara kejaksaan dengan pengadilan.

maupun yang harus menerima pembatasan-pembatasan dalam bekerjanya disebabkan oleh faktor lingkungan. Dalam perspektif ini. op cit halaman 14 8 110 Bunga Rampai . dalam pengertian bahwa penegakan hukum sebagai kegiatan yang menarik lingkungan ke dalam proses tersebut. Kita tidak dapat berbicara penegakan hukum apabila keadilan tiGeorge F.Suatu contoh pengaruh sub-sistem politik terhadap bekerjanya Sistem Peradilan Pidana. dengan penerimaan oleh pengadilan.10 Mewujudkan keinginan-keinginan hukum dalam kenyataan dapat diartikan sebagai usaha untuk mewujudkan nilai-nilai dasar di dalam hukum seperti keadilan. Penegakan hukum tidak lagi didefinisikan sebagai penegakan undang-undang belaka. penegakan hukum hendaklah dilihat sebagai suatu proses sosial yang melibatkan lingkungannya. melainkan apa yang dilakukan oleh aparatur penegak hukum dalam menghadapi masalah-masalah dalam penegakan hukum. maka keputusan-keputusan politik itupun menjadi sah atau memperoleh legitimasinya. London halaman 20.9 Faktor-faktor eksternal seperti politik.pengadilan menerima masukan dari sektor politik ini dalam bentuk petunjuk tentang apa dan bagaimana ia harus menjalankan fungsinya.8 Dengan tepat Soedarto mengemukakan bahwa membicarakan masalah penegakan hukum di sini tidak membicarakan bagaimana hukumnya. dalam hal mana konflik diselesaikan. khususnya dalam hubungan dengan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan untuk dikejar oleh masyarakat. Pertimbangan-pertimbangan politik merupakan faktor dalam pengambilan keputusannya. Sejalan dengan pernyataan ini dikemukakan oleh Satjipto Rahardjo bahwa subsistem politik menggarap masalah penentuan tujuantujuan yang harus dicapai oleh masyarakat serta bagaimana mengorganisasikan dan memobilisasikan sumber daya-sumber daya yang ada untuk mencapainya keputusan-keputusan politik sering dimasukkan atau dirumuskan ke dalam hukum positif. 1985 halaman 26 9 op cit halaman 113 10 Satjipto Rahardjo. Politics and the Administration of Justice. Sage Publications. Penerbit CV Sinar Baru. ekonomi dan budaya tidak dapat diabaikannya ketika proses penegakan hukum itu dijalankan. akan tetapi dilihat sebagai kegiatan untuk mewujudkan keinginan-keinginan hukum menjadi kenyataan. dapat diasumsikan bahwa proses peradilan merupakan suatu sub-sistem dari sistem politik yang lebih luas. lihat buku Beberapa Pemikiran tentang Ancangan antardisiplin dalam Pembinaan Hukum Nasional. Cole. Beverly Hill. Bandung. kepastian hukum dan kemanfaatan. Di lain pihak. Nilai-nilai dasar ini merupakan fundamental hukum yang esensiil.

Makna menanggulangi di sini diartikan sebagai usaha untuk mengendalikan kejahatan agar berada dalam batas-batas toleransi masyarakat. The Criminal Justice System as a social problem : an abolitionist persepective. apabila demi menjaga suatu kepastian hukum.A. Hukum dengan berbagai pranatanya dibuat untuk memaslahatkan umat manusia dan perlindungan terhadap hak-hak fundamental manusia pula. John R Blad (ed) Erasmus Universiteit Rotterdam. akan tetapi dalam waktu tertentu nilai kepastian dapat dikorbankan demi mencapai tujuan keadilan. Sistem Peradilan Pidana hendaklah dilihat dalam bingkai yang lebih luas sebagaimana disebutkan di atas. Pernyataan ini tentu akan mendapat sanggahan dari mereka yang berpendirian normatif. Demi sebuah kepastian hukum terkadang keadilan dikorbankan.tidak dapat dipandang sebagai kepastian yang hakiki. bahkan dalam batas tertentu nilai-nilai dasar tersebut hendaklah dilihat sebagai nilai antinomik. nilai keadilan harus dikorbankan. Sungguh suatu ironi.dak terwujud. Louk Hulsman. Pendekatan sistemik harus menjadi acuan bekerjanya sistem itu dalam rangka penanggulangan kejahatan.yang menjadi tujuan dibuatnya undang-undang. Dengan demikian nilai daya guna hendaknya menjadi perhatian dalam setiap upaya law enforcement. Sebagai suatu sistem sosial yang lebih besar. hlm 8 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 111 . Kita tidak dapat berbicara penegakan hukum tanpa melibatkan sub-sub SPP secara keseluruhan. nilai kepastian hukum itu sendiri mengandung masalah yang substansial. Undang-undang dibuat untuk menjaga nilai-nilai keadilan dan kemanfaatan. begitu juga nilai kemanfaatan. tidak dapat bekerja menurut tujuan yang dicita-citakannya dan SPP memiliki cacat yang 11 L. akan tetapi tidak lain dari kepastian akan peraturan belaka. sebaliknya untuk mewujudkan keadilan terkadang kepastian hukum diabaikan. SPP itu sendiri diartikan sebagai sistem dalam suatu masyarakat untuk menanggulangi masalah kejahatan. Kepastian hukum --. Diantaranya SPP menimbulkan penderitaan. Padahal dalam bingkai sosiologis. SPP terkadang menimbulkan faktor kriminogen. bahwa keadilan dan kemanfaatan itu harus dicapai melalui kepastian hukum. Part One.

Birokrasi lebih berpegang kepada normanorma yang bersifat formal sehingga terkadang terbelenggu oleh prosedur. Tugas SPP adalah meramu atau melakukan sintesis antara kedua nilai yang antinomi tersebut. kelambanan menjadi faktor yang mempengaruhi penegakan hukum itu sendiri.11 Faktor kriminogen ini hendaknya menjadi perhatian semua pihak yang terlibat dalam sub-SPP kita apabila tujuan akhir penegakan hukum (pidana) adalah untuk mewujudkan kesejahteraan sosial (social welfare). Keadilan birokratik ini terkadang terlalu prosedural sehingga dalam hal-hal tertentu tidak sejalan dengan keadilan substantif. Sebuah pekerjaan besar yang membutuhkan dedikasi dan determinasi. sehingga terkadang kepentingan justisiabelen diabaikan. Pada sisi yang lain terdapat ungkapan “tegakkan hukum dengan cara-cara menurut hukum” terkadang dalam hal-hal tertentu justru membawa dampak yang tidak produktif. tidak tanggap dan tidak cepat. kepentingan pribadi dengan kepentingan umum dan sebagainya.mendasar. Akan tetapi tindakan untuk merealisasikan nilai-nilai yang terkandung atau yang berada di belakang norma hukum yang hendak ditegakkan itu. konsep. Law enforcement yang dilakukan melalui SPP melibatkan sistem birokrasi yang rumit dan canggih. hal ini disebabkan karena usaha pemberian keadilan kepada warga tidak dapat dilakukan oleh warga masyarakat dengan cara-caranya sendiri. akan tetapi dilakukan melalui sistem birokrasi yang rumit dan canggih. seperti nilai keadilan dan kepastian hukum. Misalnya kelambanan dalam salah satu sub-sistem peradilan disebabkan beban kerja yang berat dan sumberdaya yang terbatas merupakan penyebab pelayanan kepada pencari keadilan menjadi tidak optimal. Diantara karakteristik birokrasi (peradilan) misalnya sifat yang non personal. Oleh karena itu pekerjaan penegakan hukum yang dilakukan melalui SPP bukanlah pekerjaan subsumptie otomat alias teknologi pencet tombol. Dengan tepat Roeslan Saleh mengemukakan bahwa pekerjaan mengadili (dalam perkara pidana) merupakan pekerjaan pergulatan 112 Bunga Rampai . Nilainilai yang menjadi dasar masing-masing pihak terkadang merupakan nilai-nilai antinomik. doktrin adagium dan sejenisnya. kekakuan. Pembicaraan tentang hal ini akan membawa kepada wacana keadilan yang birokratik.

Semua faktor internal (pribadi hakim) dan faktor eksternal (yang diadili) berbaur menjadi satu. Pembagian tradisionil dalam sistem ketatanegaraan legislatif. keterpaduan tersebut tidak hanya meliputi hubungan antar sub-sistem dalam SPP tersebut secara tertutup. Forum yang demikian itu untuk melakukan koreksi dan pengayaan terhadap segala sesuatu yang telah dan akan dilaksanakan ke depan. Pertemuan dalam forum tersebut dilandasi oleh semangat profesionalisme. Dalam hal ini gagasan untuk tetap menghidupkan forum-forum seperti Makehjapol di tingkat pusat maupun Diljapol di tingkat daerah perlu didukung secara proporsional. Laksana bejana berhubungan. akan tetapi merupakan lembaga sosial yang bermakna. Aparat penyidik. Di samping itu dapat digunakan untuk meminimalisasi berbagai conflict of interest yang mungkin timbul yang disebabkan oleh egoisme sektoral yang berlebihan. perlindungan hak-hak warganegara dan kerjasama yang produktif. Kesadaran seperti inilah hendaknya menjadi semangat aparatur yang mengemban tugas penegakan hukum dalam tiap sub Sistem Peradilan Pidana kita. integritas dan komitmen untuk menegakkan hukum seadil-adilnya.kemanusiaan. di dalam tarik menarik berbagai faktor internal maupun eksternal itulah hakim harus memberikan putusan yang seadil-adilnya. Hal ini disebabkan karena kekuasaan untuk menuntut dan mengeksekusi putusan pengadilan merupakan wewenang absolut kejaksaan. populis dan holistik. Meskipun unsur keyakinan hakim menjadi faktor yang determinan dalam pembuatan putusan akan tetapi ketentuan hukum acara dan hal hal lain yang relevan hendaklah pula diindahkan. Mereka tidak bekerja dalam ruangan yang hampa. penuntut umum maupun hakim bekerja dalam suatu keterpaduan yang harmonis. akan tetapi membentuk hubungan yang dinamis dengan sistem sosial yang lebih besar yang berada di luarnya. Kejaksaan – Kekuasaan Eksekutif Penegasan bahwa Kejaksaan Republik Indonesia merupakan bagian eksekutif power di negeri ini tidak perlu diragukan lagi. Diharapkan dengan cara demikian SPP tidak menjadi lembaga yang terasing dalam lingkungan sosialnya. eksekutif dan yudiKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 113 .

Sebagai bagian dari kekuasaan eksekutif kejaksaan harus mampu mengambil sikap dalam posisi yang sulit sekalipun. dapat menempatkan kejaksaan dalam posisi yang dilematik dan vulnerable. melainkan lebih karena terjadinya pemasungan kewenangan”. Dalam dilematik itu kejaksaan harus menentukan sikapnya. Jakarta. begitu pula dalam undang-undang kejaksaan sebelumnya. Lihat Marwan Effendi. Untuk hal itu. Kejaksaan RI. Ketidakmandirian kejaksaan dalam melaksanakan tugas penuntutan lebih disebabkan karena faktor perundang-undangan yang dijadikan landasannya. Penerbit PT Gramedia. 2005 halaman 50 114 Bunga Rampai . yang menjadi sorotan negatif akhir-akhir ini. Dengan demikian terjadi hubungan interdependensi antara kebijakan pemerintah dengan tugas-tugas kejaksaan. Di lain pihak. merupakan faktor yang menyebabkan tidak optimalnya pelaksanaan tugas dan wewenang kejaksaan dalam rangka penegakan hukum. Kebijakan demikian membawa kesan bahwa kejaksaan melakukan tebang pilih dalam melakukan tuntutan dalam kasus-kasus tertentu. Hal ini disebabkan karena selama kejaksaan berada di bawah bayang-bayang pemerintah. Sehingga kesan ketidakmandirian 12 13 Pengaturan ini dapat dilihat dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia.12 Meskipun dapat dipahami bahwa kedudukan institusi dalam posisi yang demikian itu.katif telah menempatkan kejaksaan dalam hal ini sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan. menjadi realitas dalam tataran aplikasinya di lapangan. Dalam penanganan kasus korupsi maupun illegal logging misalnya. bukan semata-mata karena perilaku aparatur kejaksaan. di mana melibatkan orang-orang yang mempunyai kuasa politik atau ekonomi terkadang menjadikan kejaksaan sebagai sasaran kritik. selama itu pula obyektifitas kejaksaan terus menerus dipertanyakan. “Secara jujur harus dikatakan bahwa kebijakan yang berkaitan dengan penegakan hukum. wacana agar Kejaksaan dilepaskan dari kekuasaan pemerintahan sepatutnya diperhatikan. munculnya lembaga-lembaga lain dengan kewenangan yang berpotensi mereduksi tugas dan wewenang kejaksaan. Ketika itu kesan tebang pilih yang muncul di masyarakat tidak dapat dihindarkan.13 Landasan perundang-undangan dalam tataran konsepsional tadi. Posisi dan Fungsinya dari Perspektif Hukum. Pengaturan seperti ini terkadang menimbulkan indikasi ketidakmandirian kejaksaan di tengah-tengah arus pusaran kepentingan eksekutif.

tentu bukanlah alasan pembenar bagi pemerintah untuk mengintervensi pengisian jabatan-jabatan strategis di tubuh kejaksaan. kewajiban bagi jaksa dan aparat kejaksaan dalam 14 Kita tentu masih ingat dengan kebijakan alm Baharuddin Lopa yang “menusakambangankan” terpidana korupsi. Sebagai lembaga yang mengemban tugas penegakan hukum. cukup dengan beberapa lembar kertas saya sudah dapat menjadikan seseorang sebagai terdakwa. Oleh karena itu pengangkatan jabatan strategis di lingkungan kejaksaan – bahkan Jaksa Agung – haruslah bersandarkan kepada merit system.” demikan katanya pada suatu waktu.tidak dapat dielakkan. Begitu juga dengan Alm Baharuddin Lopa yang dengan keberaniannya menyeret pelanggar hukum ke pengadilan dan mengeksekusi terpidana secara cepat. Sebagai bagian kekuasaan eksekutif. Bahkan Lopa berhasil membebaskan kejaksaan dari belenggu formalisme ketika ia mengatakan bahwa “untuk menyeret seorang tersangka korupsi. Meskipun bukan alasan untuk menjustifikasi kedudukan yang demikian untuk menjadikan kejaksaan tidak independen. Semuanya tergantung kepada niat. Selama ini kesan bahwa kejaksaan dapat diintervensi oleh kekuasaan atau partai politik sulit dihindarkan. Institusi ini pernah dipimpin oleh Jaksa Agung Soeprapto yang menunjukkan kemandirian dan keberaniannya menegakkan hukum. Pada pihak lain pengaruh sosial politik hendaknya memberikan ruang gerak yang luas kepada kejaksaan untuk melaksanakan tugas dan wewenangnya secara mandiri. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 115 . tidak perlu setumpuk bukti yang saya butuhkan. tekad dan keberanian pimpinan kejaksaan untuk keluar dari kungkungan kekuasaan eksekutif yang mempengaruhi netralitasnya.14 Kesemuanya tergantung tekad dan keberanian jaksa dalam menjalankan tugasnya secara mandiri. karena apabila campur tangan itu dilakukan berarti menjadikan lembaga ini berada di bawah bayang-bayang pemerintah. Kebijakan demikian mengundang simpati publik. Oleh sebab itu terwujudnya due process of law sulit direalisasikan. jaminan undang-undang yang memberi kemandirian jaksa dalam melaksanakan tugasnya di lapangan tidak berarti banyak jika tidak diikuti dengan semangat mengabdikan segenap jiwa raganya untuk kepentingan tugas penegakan hukum yang diembannya.

Begitu juga sistem keamanan dirinya hendaknya dijamin.15 Pada sisi lain jaksa tidak dapat melaksanakan tugas-tugas profesionalismenya secara optimal. kecuali kepentingan keadilan. Sistem demikian dapat menyebabkan kejaksaan akan dengan mudah diintervensi oleh kekuasaan. Oleh karena itu penetapan kebijakan yang menyangkut institusi kejaksaan hendaklah selain mengacu kepada tuntutan nasional juga harus mengindahkan aspirasi masyarakat yang berkembang secara universal. Kewajiban demikian akan mengontrol kejaksaan agar tidak terjebak kepada pertarungan kepentingan yang sempit dan sesaat. Penerbit Citra Aditya Bakti. Dengan adanya jaminan demikian diharapkan jaksa dan kejaksaan pada umumnya dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Doktrin demikian tidak selaras dengan tuntutan kemandirian dan profesionalisme kejaksaan dalam melaksanakan tugas-tugas penuntutan. Independensi Kejaksaan dalam Penyidikan Korupsi. 2006. hlm 121. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tugas penegakan hukum tidak tergantung kepada kepentingan penguasa atau kepentingan apapun. “Petunjuk-petunjuk atasan”. Lihat Yudi Kristiana. Di samping itu kemandirian jaksa dalam melaksanakan tugas penuntutan hendaklah dijamin secara utuh. Dalam “Guidelines on the Role of Prosecutor” terdapat ketentuan mengenai hal ini. instruksi dan sejenisnya merupakan hambatan nyata bagi jaksa dalam melaksanakan tugas-tugas penuntutan. hal mendesak untuk dilakukan saat ini misalnya sistem pertanggung jawaban yang berlaku di kejaksaan perlu dilakukan peninjauan kembali. Bandung. kesusilaan dan keharusan menjaga kehormatan dan martabat profesinya di samping terus menerus menggali nilai-nilai hukum yang berkembang merupakan suatu keniscayaan. kemanusiaan dan kesejahteraan. negara harus menjamin keamanan jaksa agar bebas dari pelbagai gangguan dalam melaksanakan tugas profesinya. seperti 15 Doktrin Kejaksaan adalah satu dan tidak terpisah-pisahkan (‘een an ondelbaar’) layak untuk dipertimbangkan karena mempengaruhi independensi jaksa ketika menjalankan tugas-tugas penuntutan. Oleh karena itu. 116 Bunga Rampai .melaksanakan tugasnya mengindahkan norma-norma kesopanan. Di samping itu. antara lain jaksa adalah unsur utama dari “agent of the administration of justice” yang harus menjaga martabat profesinya.

Keadaan sarana dan prasarana yang masih minim begitu juga dukungan sumber daya manusia yang tidak proporsional membuat kejaksaan sebagai lembaga yang rentan. Anggaran operasional dan anggaran pembangunan yang masih terbatas merupakan kendala yang serius dan hendaknya menjadi prioritas ke depan untuk segera diantisipasi. prasarana dan faktor finansial ini menyebabkan kejaksaan kalah berpacu dengan tuntutan perkembangan zaman. wewenang kejaksaan untuk juga mengemban tugas-tugas lain jika ditetapkan dengan undang-undang terkait kedudukan sebagai lembaga pemerintahan layak dipertimbangkan. di sisi lain keterbatasan-keterbatasan sebagaimana disebutkan 16 Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 15 Tahun 1961 ini bisa jadi merupakan faktor yang menimbulkan kemandirian kejaksaan pada waktu itu. Kedudukan yang strategis yakni menentukan perkaraperkara apa yang akan dilimpahkan ke pengadilan. sehingga dapat melaksanakan tugasnya secara independen. Kedudukan sebagai lembaga pemerintahan ini mengakibatkan pelaksanaan tugas dan wewenang kejaksaan berbeda dengan sebelumnya. Kritik yang dialamatkan kepada institusi kejaksaan. Di samping masalah yang bersifat struktural tersebut. faktor finansial juga menentukan tingkat capaian-capaian yang diperoleh instansi ini.penetapan standar minimum tugas profesi jaksa atau penyusunan kode perilaku jaksa mendesak untuk direalisasikan dengan mengacu pada Guidlines di atas. terkadang didasarkan kepada pengamatan yang tidak cermat.16 Akan tetapi dalam undang-undang yang menggantikannya ditegaskan bahwa Kejaksaan adalah lembaga pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan serta kewenangan lain berdasarkan undang-undang. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 117 . Dalam undang-undang sebelumnya di sebutkan bahwa Kejaksaan ialah alat negara penegak hukum yang terutama bertugas sebagai penuntut umum. Sebagai lembaga pemerintahan yang memiliki wewenang yang luas dalam perkara pidana. Keterbatasan sarana. besarnya tuntutan pidana dan cara bagaimana putusan hakim dijalankan menjadi tanggung jawab kejaksaan sepenuhnya. perdata dan tata usaha negara begitu juga tugas dalam bidang ketertiban dan ketenteraman umum.

Sebagaimana legislator dan hakim. Kondisi yang lebih trasparan dan obyektif harus diciptakan dan dibakukan secara konkrit. Kondisi demikian tidak hanya terjadi di negeri kita sebagaimana dikemukakan oleh Cole bahwa SPP dalam hal ini juga kejaksaan merupakan lembaga politik. Kejaksaan Republik Indonesia dan Komisi Pemberantasan Korupsi dengan cara mempercepat pemberian informasi yang berkaitan dengan perkara tindak pidana korupsi dan mempercepat pemberian izin pemeriksaan terhadap saksi/tersangka. kejaksaan memiliki kekuasaan dan tanggung jawab untuk membuat kebijakan-kebijakan politik. diantaranya terdapat instruksi agar kebijakan untuk memberikan dukungan maksimal terhadap upaya-upaya penindakan korupsi yang dilakukan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia. Beverly Hills/London. Kedudukan sebagai lembaga pemerintahan tersebut. kejaksaan dapat menentukan perkara-perkara mana yang akan dituntut. op cit halaman 3 George F. dapat menyebabkan kejaksaan berada dalam ranah politik. Kebijakan yang ditetapkan oleh kejaksaan merupakan refleksi prioritas nilai-nilai politik yang 17 18 19 George F. Cole.di atas memerlukan tindakan konkrit untuk dilakukan pembenahan sesuai dengan tuntutan yang berkembang saat ini. sehingga merit system dapat berjalan dengan baik. Sebagai suatu institusi sosial. Masyarakat tidak boleh membiarkan atau menjadikan kejaksaan sebagai bulan-bulanan ketidakpuasan. Politics and the Administration of Justice. Cole. Konsistensi ini akan menimbulkan gairah kerja jaksa dan pegawai kejaksaan untuk memberikan darma bakti yang sebaik-baiknya kepada bangsa melalui institusi kejaksaan ini. 118 Bunga Rampai . Sistem reward dan punisment tentu harus dilakukan secara transparan dan konsisten.18 Jaksa memiliki kekuasaan diskresioner yang berpengaruh dalam usaha penegakan hukum. 1973 halaman 112 Kebijakan seperti ini dapat kita lihat misalnya dalam Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 Tentang Percepatan Pemberatasan Korupsi. Sage Publications. kejaksaan tidak dapat lepas dari pengaruh-pengaruh sekelilingnya. Selama ini sistem reward dan punisment belum terpolakan secara jelas. Kekurangan dan kesalahan di sana-sini tentu tidak akan diabaikan. akan tetapi hendaknya menjadikan institusi ini berdaya.17 Melalui kewenangan yang dimilikinya. sehingga kesan subyektif tidak dapat dihindarkan.

Dibutuhkan keberanian untuk melaksanakan tugas di tengah-tengah tarik menarik berbagai kepentingan yang dominan pada waktu itu.19 Di sinilah kejaksaan ternyata tidak cukup bekerja dengan menggunakan norma-norma hukum yang ditetapkan sebelumnya. Begitu juga harus ada jaminan bagi jaksa terhadap keselamatan diri dan keluarganya dari berbagai ancaman yang mengganggu kemandiriannya sebagai aparatur penegak hukum. yang perlu dilakukan saat ini adalah bagaimana membuat lembaga kejaksaan harus selalu memiliki komitmen pada hukum dan keadilan. sehingga keberanian dan integritas seorang pimpinan kejaksaan menjadi syarat mutlak di samping keahlian tehnis yuridis yang dimiliki jaksa pada umumnya. apabila kemandirian personal ini terwujud seorang jaksa akan memiliki kemandirian yang sepenuhnya tanpa ada intervensi atasan atau pihak-pihak yang berkepentingan lainnya. Oleh karena itu menurut Harkristuti Harkrisnowo. Karena apabila kebijakan tersebut tidak diindahkan dapat mengakibatkan kejaksaan terperosok dalam kepentingan kekuasaan yang sempit. Dalam melaksanakan tugas penuntutan. Untuk itu. Pengangkatan Jaksa Agung begitu pula pengisian jabatan-jabatan strategis di lingkungan kejaksaan haruslah didasarkan kepada kepentingan untuk menegakkan nilainilai keadilan dan kemanusiaan yang hakiki. Begitu pentingnya tujuan tersebut. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 119 . Di sinilah pengangkatan dan pemberhentian Jaksa Agung hendaknya dilepaskan dari berbagai kepentingan politik sesaat. Kedudukan sebagai lembaga negara itu akan menciptakan kemandirian yang sesungguhnya bagi kejaksaan untuk melakukan tugas dan wewenangnya tanpa intervensi kekuasaan eksekutif. Itu semua diharapkan akan terwujud. perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia dan keadilan akan terabaikan. manakala institusi kejaksaan menjadi lembaga negara.ditetapkan ketika itu. di samping untuk mengisi jabatan sesuai dengan kebutuhan. Di samping kemandirian organisasi/institusional. akuntabilitas kejaksaan harus lebih banyak ditekankan kepada kepentingan publik. bukan kepentingan politik kelompok tertentu. kemandirian personal/individual dapat pula ditumbuhkan. Kepentingan untuk menegakkan hukum.

apabila tidak diikuti dengan usahausaha untuk memandirikan kejaksaan sebagai bagian dalam Sistem Peradilan Pidana pada umumnya sehingga menjadi institusi penegak hukum yang terpercaya. penguatan civil society saat ini merupakan momentum yang bagus untuk mewujudkan ide-ide tersebut menjadi kenyataan. Tuntutan Publik Jika kita mempersempit makna peradilan dengan pengadilan. Penguatan masyarakat sipil saat ini dapat digunakan untuk meningkatkan harkat dan martabat kejaksaan ke arah kemandirian yang sesungguhnya. kolusi dan nepotisme (KKN). MA sebagai puncak tertinggi dalam peradilan kita menjadi tumpuan harapan publik terutama dalam penanganan perkara korupsi.Masalah di atas merupakan salah satu diantara sekian masalah yang dihadapi oleh jaksa dan kejaksaan pada umumnya pada waktu menjalankan tugas penuntutan dan tugas-tugas lainnya yang membutuhkan integritas. KKN sebagai virus yang menggerogoti pembangunan merupakan musuh nyata masyarakat yang harus diberantas hingga ke akarakarnya. Ekspektasi masyarakat yang begitu kuat selayaknya direspon oleh lembaga ini secara konsisten. Pemberdayaan sektor publik dan sektor privat yang tengah berlangsung saat ini hendak-lah dimanfaatkan sebaik-baiknya guna menuju tegaknya supremasi hukum. MA diharapkan dapat mengemban amanah reformasi yang merupakan tuntutan publik yang disuarakan oleh mahasiswa dan segenap lapisan masyarakat yang menginginkan hukum ditegakkan seadil-adilnya. Sebagai benteng terakhir keadilan. kita dapat melihat bahwa salah satu tuntutan reformasi yang bergulir hampir satu dasawarsa yang lalu yakni kemandirian badan-badan peradilan yang puncaknya pada Mahkamah Agung (MA). Untuk itu perhatian atas semua ini harus dipusatkan agar kemandirian jaksa terwujud. Kita tidak dapat menunggu perubahan undang-undang kejaksaan untuk menciptakan kemandirian demikian. Reformasi Peradilan. Perubahan politik apapun yang terjadi tidak akan membawa arti yang signifikan. Akan tetapi kenyataan yang berkembang sesudahnya menunjukkan lembaga ini belum dapat menjawab tuntutan reformasi 120 Bunga Rampai .

lembaga-lembaga peradilan masih asik dengan masalahnya sendiri. kekuasaan kehakiman ditempatkan sebagai bagian dari eksekutif. Kesemua itu menunjukkan betapa masyarakat mempunyai kepedulian yang besar terhadap lembaga ini. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 121 . fakta menunjukkan bahwa lembaga peradilan tidak dapat melepaskan diri dari konfigurasi politik yang terus menerus berkembang. Fenomena ini jelas menunjukkan resistensi lembaga peradilan terhadap tuntutan reformasi.yang begitu kuat. Alih-alih melaksanakan reformasi di tubuh dunia peradilan. Berbagai kritik dan saran telah disampaikan. baik ketika Orde Lama dengan demokrasi terpimpin juga Orde Baru dengan demokrasi Pancasila mempunyai standar-standar yang dapat diperbandingkan. Kekuasaan kehakiman tidak otonom dari pengaruh rezim yang berkuasa ketika itu. Di bawah rezim demokrasi terpimpin. Dalam beberapa dasawarsa terakhir. Pengalaman dalam dua sistem pemerintahan yang pernah dianut oleh Indonesia. Oleh karena itu ungkapan yang dialamatkan kepada mereka yang kritis terhadap peradilan seperti melakukan contempt of court layak dipertanyakan. MA justru menjadi lembaga yang menghambat tuntutan publik untuk tegaknya supremasi hukum. wajah peradilan melalui MA seakan tidak tersentuh reformasi. perpanjangan usia pensiun Ketua MA sampai kepada perseteruannya dengan Komisi Yudisial. Bahkan terkesan justru counter produktive maupun over protective terhadap tuntutan publik bagi reformasi peradilan. terungkapnya isu suap di kalangan hakim agung. Realitas menunjukkan bahwa konfigurasi kekuasaan kehakiman tidak dapat dilepaskan dari bayang-bayang pemerintah yang tengah berkuasa. begitu juga di era Orde Baru kekuasaan kehakiman justu dikukuhkan dengan undang-undang sehingga menjadi bagian dari mesin kekuasaan politik Orde 20 Banyak fakta yang menunjukkan bahwa MA merupakan lembaga yang tidak responsif terhadap tuntutan publik demikian.20 Meskipun reformasi yang dalam hakikatnya menghendaki perbaikan di semua bidang kehidupan. hal ini terlihat dari putusan-putusannya yang kontroversial. Kedua rezim memiliki kesamaan-kesamaan dalam memberdayakan kekuasaan kehakiman.

Jakarta 1997. dengan menempatkan sisi teknis peradilan di bahwa MA. para hakim sangat legalistis/positivisme dalam memutus perkara dan para hakim akan mendukung serta terikat pada visi dan kepentingan politik pemerintah. Lembaga peradilan dilumpuhkan sedemikian rupa sehingga tidak mampu mengurus dirinya sendiri dan terlena di bawah bayang-bayang kekuasaan pemerintahan. tidak legalistis. Menyoal Kolusi di Mahkamah Agung.23 Begitu juga penelitian A Mohammad Asrun yang mengkritisi peranan badan peradilan di bawah bayang-bayang rezim Orde Baru. 2004. Jakarta. Ibid. pemerintahan di era ini telah menghambat independensi kekuasaan kehakiman yang mandiri. penerbit Elsam. pemalsuan vonis. Sebaliknya jika konfigurasi politiknya otoriter. Konfigurasi Politik & Kekuasaan Kehakiman di Indonesia. Begitu juga dalam kasus Gandhi Memorial School. kolusi dan nepotisme. Mahkamah Agung di Bawah Soeharto. MA menganulir putusannya melalui surat sakti Ketua MA yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan di Jayapura untuk menunda eksekusi putusan yang telah in kracht van gewijsde. tetapi sisi administratif dan finansial di bawah eksekutif. Jakarta. Penerbit Pustaka Forum Adil Sejahtera.21 Secara khusus Benny K Harman menyatakan bahwa konfigurasi politik yang demokratis akan melahirkan kekuasaan kehakiman yang independen.22 Dalam kasus Hanoch Abee Ohee. Krisis Peradilan. memiliki wewenang judicial review yang terbatas. halaman 450 Salah satu ulasan yang menarik tentang KKN dilingkungan badan Peradilan kita lihatlah buku Menyingkap Kabut Peradilan Kita. menurut beliau. Aldentua Siringoringo dan Tumpal Sihite (Penyunting). 1996 A Muhammad Asrun. melaksanakan cita hukum. Malahan diciptakan dualisme ditubuh badan peradilan.24 Undang-undang Pokok Kekuasaan Kehakiman merupakan kekalahan kaum reformis yang ketika 21 22 23 24 Hal ini dapat dilihat dari penelitian Benny K Harman.Baru. maka kekuasaan kehakiman cenderung memiliki karakter tidak independen. Menurut Asrun. halaman 4 122 Bunga Rampai . Penerbit Elsam. hingga isu suap yang melanda badan peradilan tertinggi ini merupakan contoh bahwa lembaga yang disebut sebagai benteng terakhir keadilan ini tidak steril dari korupsi. memiliki wewenang judicial review. tidak memiliki kewajiban untuk tunduk pada visi dan kepentingan politik pemerintah.

Arus Pemikiran Konstitusionalisme. komisi yudisial. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 123 . sehingga lembaga peradilan 25 26 Lihat Adnan Buyung Nasution. kontrak sosial dan reformasi manajemen instrumental. Penerbit Kata Hasta Pustaka.25 Penentuan Ketua dan Wakil Ketua MA merupakan kewenangan presiden dalam kedudukannya sebagai kepala negara. 2006.itu bekerja keras untuk mencegah terulangnya pengebirian kekuasaan di masa rezim Demokrasi Terpimpin. Keterpurukan dunia peradilan disebabkan karena sistem sosial yang karut marut. akan tetapi dalam menentukan personalianya tergantung kepada presiden. akibatnya akan sulit diharapkan kemandirian mereka ketika menjalankan tugas-tugas yudisial mereka. meskipun lembaga ini tidak seratus persen berada di bawah pemerintahan. bahwa:”kebebasan yang dimiliki lembaga pengadilan tidak lain merupakan suatu kemandirian yang sangat diperlukan (indispenseble) dan “Conditio Sine Quanon” (harus tidak boleh tidak adanya) karena selain menunjukkan bahwa negara ini adalah Rechtsstaat juga menunjukkan akan adanya jaminan terselengaranya peradilan yang independen guna menegakkan hukum yang berintikan keadilan”. manajemen keuangan. peradilan niaga dan peradilan hak asasi manusia. personel. 2007 halaman 57 Rusli Muhammad. para hakim di pengadilan negeri dan pengadilan tinggi tergantung sepenuhnya pada Departemen Kehakiman ketika itu. administrasi dan keuangan. Jakarta. Penerbit RajaGrafindo Persada. Sebastian Pompe mengemukakan bahwa untuk mereformasi dunia peradilan di Indonesia tidak dapat dilakukan secara fragmentaris akan tetapi meliputi reformasi kebijakan yang bersifat institusional. Halaman 199 – 200. Walaupun kedudukan sebagai kepala pemerintahan dalam hal ini sukar untuk diabaikan.26 Tindakan demikian jelas melukai perasaan keadilan masyarakat. Reformasi dalam tubuh peradilan menjadi conditio sine qua non untuk memenuhi tuntutan publik tersebut. Hukum & Peradilan. Dengan adanya kenyataan tentang masalah organisasi. Usaha reformasi di dunia peradilan diantaranya mencakup reformasi di MA. Karut marut wajah peradilan memperoleh bentuknya yang sempurna manakala kekuasaan eksekutif berhasil merasuki wilayah yudikatif dengan menodai kemandiriannya. Jakarta. Potret Lembaga Pengadilan Indonesia. Tak terkecuali pula dengan MA. pendidikan.

Saat ini kita membutuhkan suatu penegakan hukum yang progresif. oleh karena itu belenggu formalisme.28 Gagasan peradilan progresif sebagaimana dilontarkan oleh Satjipto Rahardjo hendaklah dilihat sebagai eksemplar atau alternatif keluar dari krisis peradilan saat ini.ikut menjadi korbannya. Fungsi Mahkamah Agung dalam Praktik Sehari-hari. Penegakan hukum hendaklah berpijak kepada kepentingan nilai-nilai kemanusiaan. 2001. Edisi 15 Tahun IV Januari – Maret 2007. halaman 60. Understanding the Indonesian Blueprints for Court Reform” dalam Jentera. Jum’at. “ Managing Court Reform. tentang peranan MA dan urgensi reformasi di tubuh MA dapat dibaca buku Henry P Panggabean. diantaranya “Indonesia Inginkan Penegakan Hukum Progresif” harian Kompas. upaya pembenahan ditubuh peradilan harus dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan semua komponen masyarakat. 124 Bunga Rampai . Sebastian Pompe mengingatkan bahwa reformasi lembaga peradilan ini hendaknya menjadi keprihatinan kita semua. prosedur dan sekalian doktrin konvensional hendaklah ditanggalkan karena akan menimbulkan kesengsaraan. Di era reformasi ini kita membutuhkan lembaga-lembaga peradilan yang reformis pula. Pendekatan tradisional yang selama ini dipraktikkan hendaklah ditinggalkan. Keterlibatan semua komponen sosial agar menjadikan lembaga peradilan menghasilkan daya guna dan hasil guna yang maksimal untuk mewujudkan prinsip negara hukum merupakan sebuah keniscayaan. juga “Mahkamah Agung Reformasi” harian Kompas. Oleh karena itu. ketidak adilan dan kesewenangwenangan. bukan penegakan undang-undang yang secara linear diartikan sebagai penegakan hukum.27 Keterpurukan peradilan haruslah menjadi concern masyarakat seluruhnya. 18 September 1998 dapat dijadikan referensi untuk merintis sistem peradilan progresif itu. Lembaga-lembaga hukum seperti pengadilan hendaklah membantu manusia untuk menyelesaikan konfliknya sendiri 27 28 Sebastian Pompe. Peradilan yang progresif ditandai dengan cara-cara yang progresif dalam memandang hukum. Tentang gagasan ini dapat dibaca tulisan-tulisan Satjipto Rahardjo. Jakarta. Penerbit Sinar Harapan. meskipun kajian terbatas kepada fungsi MA dalam upaya penanggulangan tunggakan perkara dan pemberdayaan fungsi Pengawasan Mahkamah Agung akan tetapi buku ini dapat memberikan kontribusi positif bagi reformasi peradilan.

hukum tidak mengabdi kepada kepentingan kekuasaan politik. hendaklah memulai langkah-langkah progresif ini. halaman 27.29 Dengan cara demikian. Reformasi itu meliputi elemen struktural (kelembagaan yang terkait pada sistem). tindakan reformis itu akan diikuti juga oleh kepolisian dan kejaksaan secara berkesinambungan. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 125 . Oleh karena itu. Dalam jangka pendek. 2002. Prinsip kemandirian kekuasaan kehakiman ini merupakan prinsip yang diakui secara universil. akar kulturalnya dan akar religiusnya. Untuk mencapai tujuan yang demikian luas itu. reformasi di jajaran kekuasaan kehakiman yang dimulai dari MA hendaklah mengikuti skala prioritas yang telah ditetapkan sebelumnya. reformasi di badan peradilan harus dilakukan secara menyeluruh dan integral. antara lain: menjauhi hal-hal yang bersifat fragmentaris dan mengedepankan pendekatan sistemik. reformasi struktural dan 29 Achmad Ali. elemen substansial (hukum positif yang mendasari jalannya sistem tersebut) dan elemen kultural (pandangan. diharapkan kepatuhan masyarakat terhadap hukum akan terwujud. seperti UN Basic Principles on the Independence of Judiciary (1985).dengan menggunakan seluruh kapasitas kemanusiaannya. melakukan promosi dan perlindungan hak asasi manusia. sehingga pengadilan di bawahnya akan melakukan hal yang sama. bahkan filosofi yang mendukung efektivitas sistem tersebut). mengutamakan kebenaran dan keadilan. Secara keseluruhan. semua pihak harus berjuang untuk mengembalikan hukum kepada akar moralitasnya. Kepatuhan hukum yang bersandarkan kepada kesadaran hukum yang hakiki. Keterpurukan Hukum di Indonesia. sikap. Peranan hakim menjadi sentral dalam hubungan kemanusiaan ini. konsep kesadaran hukum yang terpadu antara kesadaran hukum penguasa dan perasaan hukum masyarakat. Jakarta. Penyebab dan Solusinya. MA sebagai lembaga peradilan yang tertinggi di Republik ini. Penerbit Ghalia Indonesia. Dalam rangka menciptakan independensi peradilan beberapa hal hendaklah menjadi perhatian. sistem hukum yang kondusif untuk terciptanya supremasi hukum. Oleh karena itu.

penuntutan. akan tetapi suatu kegiatan yang merupakan proyek besar untuk menciptakan keadilan (sosial). Sinkronisasi atau harmonisasi antar sub-sistem secara keseluruhan akan tercipta. peradilan dan pema- 30 Muladi. halaman 10 126 Bunga Rampai . Hak Asasi Manusia. dan Reformasi Hukum di Indonesia.substansial harus diprioritaskan dan dalam jangka panjang melakukan reformasi kultural. keadilan yang dapat diterima semua pihak karena didasari oleh tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagaimana kepala putusan yang dibacakannya. Jakarta 2002. Pendekatan fragmentaris dan sektoral akan diminimalisasikan. Kecerdasan intelektual harus diimbangi pula dengan kematangan spritual. Begitu pula pendekatan legalistik selama ini harus ditinggalkan. tugas hakim tidak hanya menerapkan undang-undang terhadap perkara yang tengah diadilinya. Untuk itu pula. konsekuensinya akuntabilitas hakim tidak hanya sebatas undang-undang akan tetapi secara moral dan sosial. Demokratisasi. kejaksaan dan juga wilayah legislatif seperti Dewan Perwakilan Rakyat. maka meliputi juga kekuasaan penyidikan dan penuntutan. Penerbit The Habibie Center. hendaklah dilihat dalam perspektif yang luas.30 Melalui pendekatan sistemik ini. Apabila lembaga peradilan diartikan secara luas. Kekuasaan kehakiman dalam arti ini hendaklah dilihat sebagai suatu bagian yang integral antar sub-sistem peradilan pidana terpadu (integrated criminal justice system) sebagaimana disebutkan di muka yang meliputi subsistem penyidikan. Dengan demikian semangat itu harus menjiwai semua lingkungan badan peradilan di atas. Hakekat kekuasaan kehakiman yang merdeka dan mandiri. Moral and social accountability ini merupakan salah satu karakteristik peradilan yang reformis. Untuk memenuhi harapan itu dibutuhkan kemampuan hakim dalam memahami hukum melampaui batas-batas teks perundang-undangan. reformasi hukum dan peradilan akan memperoleh bentuk yang sesungguhnya. Reformasi struktural tersebut meliputi reformasi kelembagaan di wilayah eksekutif seperti kepolisian. Dengan demikian terjadinya conflict of interest antar sub-sistem dapat dihindari.

determinasi. nurani dan sebagainya. saya akan menghasilkan putusan yang adil”. lepas dari kungkungan pemikiran yang legalistik.31 Dalam ide ini. Masalah Penegakah Hukum dan Kebijakan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Kejahatan. Penegakan hukum bukanlah pekerjaan penerapan peraturan dan logika yang secara tradisionil sebagaimana diterapkan selama ini. 31 Barda Nawawi Arief. Ketika yang menjalankan kekuasaan kehakiman itu terdiri atas manusia. berikan saya seorang hakim yang jujur dan cerdas. jika tidak. Walaupun harus tetap dipahami bahwa kebijakan legislatif ini tidak secara taken for granted terwujud di lapangan. Kebijakan legislatif atau perundang-undang merupakan wilayah yang strategis untuk menentukan kemandirian kekuasaan kehakiman dalam tataran aplikatif di semua lingkungan peradilan nantinya. berupaya untuk mewujudkan peradilan progresif di mana kegiatan tersebut hendaklah dilihat sebagai suatu proses yang sarat dengan compassion yang memuat empati. Reformasi peradilan sesungguhnya tergantung kepada predisposisi subyek yang melakukan penegakan hukum (pidana) mulai penyidik. there is no reason for a man to live longer on earth” oleh karena itu keadilan hendaklah menjadi roh penegakan hukum yang sesungguhnya. Jakarta. kebijakan legislatif atau perundang-undangan merupakan tahap awal untuk menentukan kemandirian lembaga ini yang nantinya diikuti oleh taraf aplikatif di lapangan ketika wilayah penegakan hukum in concreto dijalankan.syarakatan. 2007 halaman 35 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 127 . Keadilan menjadi tujuan akhir penegakan hukum. penuntut umum dan hakim. Ungkapan Taverne layak dikemukakan di sini ketika ia mengatakan: ”berikan saya seorang jaksa yang jujur dan cerdas. maka predisposisi sebagai subyek untuk menentukan pilihan dalam berbagai alternatif tidak dapat diabaikan. Pengadilan dalam arti luas. ungkapan Immanuel Kant layak dikemukakan di sini: ”If justice is gone. Apakah makna semuanya ini? tidak lain predisposisi subyek akan menentukan kemandirian badan peradilan. Penerbit Kencana Predana Media Group. Kemandirian dan kemerdekaan itu tidak akan berarti banyak apabila hanya dimiliki oleh salah satu subsistem dalam SPP di atas. maka dengan undang-undang yang paling burukpun.

32 hukum yang akan ditegakkan haruslah benar dan adil. Kedua independensi ini harus dilihat sebagai hubungan dialektik. paling tidak harus dipenuhi beberapa syarat misalnya: pertama. merupakan ungkapan tepat untuk menggambarkan bahwa perilaku kelembagaan dimanifestasi melalui perilaku individu. perlindungan hak asasi manusia dan asas praduga tidak bersalah. Keadaan itu tidak dapat dibiarkan berlarut-larut. penyalahgunaan kekuasaan dipraktikkan secara terang-terangan bahkan dibungkus secara rapi melalui slogan hukum seperti asas legalitas. Penyimpangan yang dilakukan oleh oknum peradilan dapat menjadi cermin korupnya lembaga itu secara keseluruhan. Jakarta 2007 halaman 29 128 Bunga Rampai . pelaku penegakan hukum yang merupakan kunci utama untuk terwujudnya substantive justice.Untuk menegakkan hukum secara adil. Di atas telah dikemukakan bahwa independensi kekuasaan kehakiman meliputi independensi kelembagaan dan independensi personal/individual. Suatu aturan hukum akan tidak benar dan tidak adil apabila hanya dibuat untuk kepentingan kekuasaan belaka dan mengandung kesewenang-wenangan. di sisi lain independensi personal/individual terkadang diidentikkan dengan independensi kelembagaan. Dan pada akhirnya keterpurukan dunia peradilan menjadi fenomena yang tidak terelakkan. kalau tidak dikelola secara rasional dapat berbalik menjadi deformasi hukum.E Sahetapy. 2005.33 Keadaan deformasi hukum itu merupakan bentuk kesewenang-wenangan secara telanjang. halaman 9 J. Reformasi yang sejatinya menjadikan segala sesuatu menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Karena di satu pihak independensi atau impartially kelembagaan hanya dapat terwujud melalui perilaku nyata personal/individu penegakan hukum. Kedua. karena menyangkut kompetensi dan independensi. Komisi Hukum Nasional. Unsur pelaku penegakan hukum ini tidak bisa diabaikan. karena 32 33 Bagir Manan. Ibarat nila setitik rusaklah susu sebelanga. Sistem Peradilan Berwibawa (suatu Pencarian) FH UII Press Yogyakarta. … yang memberi teladan dan menjaga nurani hukum & politik.

Polisi. Kontribusi Kejaksaan Dari paparan di atas. sebab jika tidak Kejaksaan Agung hanya bekerja untuk dirinya sendiri alias tidak membawa daya guna dan hasil guna. Lembaga politik seperti lembaga perwakilan dan juga partai-partai politik harus memberi dukungan yang setulus-tulusnya terhadap langkah-langkah yang telah diayunkan oleh kejaksaan hatta menyangkut dirinya sendiri sekalipun. Secara konseptual.prinsip negara hukum akan runtuh. Kekuasaan harus ditundukkan kepada hukum bukan sebaliknya. secara implisit dapat disimpulkan bahwa independensi kekuasaan kehakiman/peradilan merupakan suatu sistem yang integral. Reformasi hendaknya dijadikan pintu masuk ke arah pembenahan komponen substantif. kontribusi lembaga kejaksaan untuk mempercepat reformasi peradilan dimulai dengan kebijakan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 129 . ketangguhan moral yang tahan uji dan semangat pengabdian yang tinggi. struktural dan kultural penegakan hukum ke arah yang lebih baik. Dalam kedudukan sebagai lembaga pemerintahan. Masih terlalu dini untuk menilai kinerja Jaksa Agung saat ini. negara dan darma sejarahnya disamping kemampuan intelektual yang mumpuni. Jaksa dan Hakim harus diisi oleh orang-orang yang memiliki integritas pribadi yang kokoh dalam pengabdian tugas-tugasnya demi bangsa. Kemandirian suatu sub-sistem peradilan tidak akan berarti banyak jika tidak diikuti kemandirian sub-sistem lain secara menyeluruh. iklim politik yang tengah berkembang janganlah justru menjadikan kejaksaan kehilangan independensinya. Penegak hukum harus mengabdikan dirinya untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan kebenaran dengan resiko terberat sekalipun. Supremasi hukum akan tumbang dan kesewenang-wenangan akan terjadi dimanamana. Upaya untuk memproses secara hukum tersangka korupsi dalam skala yang besar membutuhkan dukungan dari sub-sistem politik dan sosial keseluruhan. akan tetapi dapat dikemukakan bahwa apa yang telah dirintis oleh Hendarman Supandji merupakan langkah yang terbilang berani. Politisasi lembaga kejaksaan dalam melakukan penuntutan perkara pidana hendaklah dihindarkan oleh siapapun juga dengan motivasi apapun.

Kebijakan undang-undang yang menentukan jaksa adalah satu dan tidak terpisah-pisahkan dalam melakukan tugas-tugas penuntutan. Melakukan penataan terhadap lembaga hukum yang lain secara sistemik termasuk juga lembaga kepengacaraan sehingga tercapai integrated criminal justice system yang sesungguhnya. oleh karena itu pimpinan kejaksaan hendaklah memberikan perhatian yang besar baik menyangkut promosi maupun kompensasi-kompensasi lainnya. para jaksa yang bertugas di daerah terpencil jauh dari sorotan media massa dan dengan penuh dedikasi dalam tugasnya merupakan vigilantee yang berjuang untuk kejayaan dan kehormatan profesinya. Untuk itulah kemandirian personal harus dilindungi sebaik-baiknya oleh pimpinan kejaksaan. Penggarapan komponen substantif dan struktural hendaklah diarahkan kepada pembentukan kultur hukum yang bertujuan untuk menegakkan substantive justice bersandarkan kepada profesionalisme dan integritas yang teruji. 130 Bunga Rampai . mereka yang mempunyai kekuasaan akan berusaha sekuat mungkin untuk menghambat dan atau mempengaruhi kinerja kejaksaan dalam melaksanakan penegakan hukum secara konsisten. karena itu semua pihak harus melepaskan kepentingannya. walaupun dalam tataran empiris menimbulkan permasalahan.dalam tataran legislatif atau perundang-undangan dengan menempatkan kejaksaan sebagai lembaga yang independen dari pengaruh kekuasaan apapun. Penguatan masyarakat madani (“Civil Society”) harus diikuti dengan penguatan sistem kelembagaan penegakan hukum ke arah pembentukan kultur hukum yang lebih baik. Hal ini disebabkan karena. Mereka-mereka inilah pendekar hukum yang sesungguhnya. Independensi itu tidak dalam tataran konsepsi akan tetapi hingga tataran realitas atau operasional di lapangan harus diwujudkan. Untuk itu sikap vigilantisme hukum harus ditumbuhkan. Terjadinya ketidakmandirian itu dapat dihindarkan manakala kejaksaan mampu mengambil jarak dengan pihak-pihak yang mempunyai kepentingan dalam penyelesaian suatu perkara. Mereka jauh dari tindakantindakan yang bertujuan mencari sensasi atau popularitas untuk dirinya sendiri. Mereka yang mengabdikan segenap kemampuannya bagi kejayaan bangsa ini. akan tetapi mengandung nilai yang positif apabila dikelola. Mereka.

hendaknya dilakukan secara proporsional dan bijaksana. membutuhkan kinerja. Permasalahan yang bersifat substantif seperti pembenahan peraturan perundang-undangan yang selaras dengan jiwa/semangat undang-undang kejaksaan yang baru baik menyangkut struktur kelembagaan kejaksaan maupun pelaksanaan tugas dan wewenangnya hendaklah dilakukan secara simultan. Oleh sebab itu. Di samping kejahatan konvensional yang terus menerus meningkat membutuhkan penanganan oleh kejaksaan secara optimal. cyber crime yang terkadang melintasi batas-batas negara. tanggung jawab dan dukungan sarana dan prasarana yang memadai. akan tetapi bukan suatu alasan pembenar bagi jaksa atau pegawai kejaksaan untuk melakukan penyimpangan. Di samping kelemahan-kelemahan yang masih ada. regional dan global. Begitu juga aspek struktural perlu mendapat perhatian Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 131 . Begitu juga penyusunan rule of conduct seperti Code Perilaku Jaksa mendesak untuk dilakukan saat ini untuk memenuhi tuntutan profesionalisme sebaik-baiknya. Penanganan perkara-perkara yang tergolong perkara penting seperti korupsi. Optimalisasi tersebut membutuhkan dukungan finansial dan sarana serta prasarana yang tidak sedikit serta sumber daya manusia yang baik. Mempertimbangkan tingkat kesulitan dan kompleksitas masalah yang ditangani.maupun pemerintah dan negara pada umumnya. Meskipun harus diakui pula bahwa sistem renumerasi di lingkungan kejaksaan masih membutuhkan perbaikan. di samping kerja sama lintas sektoral. Tidak ada hubungan yang liner antara perbaikan penghasilan dengan integritas jaksa ketika melakukan tugas-tugasnya di lapangan. keberhasilan-keberhasilan kejaksaan dalam menuntaskan berbagai kasus hendaknya menjadi perhatian semua pihak sehingga penilaian atas kinerja kejaksaan menjadi obyektif. Kebijakan anggaran keuangan yang berbasiskan kinerja hendaklah pula dilihat secara proporsionil dengan mempertimbangkan beban kerja dan tuntutan-tuntutan publik serta besarnya tanggung jawab yang diemban. Semuanya berpulang kepada niat dan ketulusan masing-masing. alokasi anggaran untuk menyelesaikan kejahatan-kejahatan di atas. money loundering. illegal logging/ fishing.

Dan pembentukan kultur di lingkungan kejaksaan harus dibangun secara utuh sehingga kejaksaan menjadi lembaga yang solid.yang sungguh-sungguh. Meskipun kejaksaan tidak dapat dilepaskan sebagai lembaga publik yang harus mengakomodasi prinsip-prinsip good government juga harus memperhatikan kebutuhan yang spesifik sebagai suatu lembaga penegakan hukum yang mengemban tugas-tugas yang khusus (legal professional organization). Oleh sebab itu fungsi pengawasan internal baik meliputi pengawasan melekat maupun pengawasan fungsional dengan pengawasan eksternal dalam hal ini Komisi Kejaksaan perlu dilakukan secara sinergis. kinerja. efisien dan simultan. Apabila sebagian kecil permasalahan ini telah dituntaskan. mulai sistem rekruitmen pegawai kejaksaan. kelengkapan sarana dan prasarana serta sumber 132 Bunga Rampai . Optimalisasi produktivitas itu merupakan tuntutan publik yang harus direspon oleh kejaksaan secara bijaksana. Komisi Kejaksaan sebagai state auxiliary institution hendaklah dilihat sebagai mitra guna membenahi institusi kejaksaan baik di dalam pengawasan perilaku. Pembenahan yang bersifat struktural meliputi organisasi dan tata kerja kejaksaan diarahkan kepada upaya untuk mewujudkan lembaga kejaksaan sebagai institusi yang sederhana dan efisien. Begitu juga dalam pengelolaan sumber daya manusia harus dilakukan perencanaan dan perhitungan yang matang. Keunikan ini hendaknya menjadi perhatian pemerintah yang membidangi penataan aparatur negara. mutasi dan promosi. transparan dan akuntabel sesuai dengan visi dan misi kejaksaan. sistem pendidikan yang menunjang tugas-tugas profesional jaksa. Kesederhanaan dan efisiensi tersebut tidak boleh mengurangi produktivitas kerja yang optimal. maka pengawasan terhadap jalannya program-program yang telah digariskan harus dilakukan pula secara transparan dan akuntabel. kebijakan pembinaan karier. Semua pihak harus dilibatkan guna menumbuhkan sense of belonging terhadap institusi kejaksaan. sistem penggajian dan tunjangan jabatan harus dilakukan sejalan dengan kebutuhan yang berkembang dan dilakukan secara cermat. struktur organisasi. Kultur yang dibangun itu hendaklah berangkat dari kesadaran untuk melaksanakan tugas secara profesional.

sebab jika tidak. faktor-faktor itu merupakan variabel yang mempengaruhi kinerja dan hasil yang akan dicapai oleh kejaksaan guna memenuhi ekspektasi publik Dukungan publik terhadap upaya yang dilakukan oleh kejaksaan haruslah diarahkan kepada upaya untuk memberdayakan kejaksaan agar menjadi sub-sistem peradilan yang mandiri dan akuntabel. Jika reformasi di tubuh kejaksaan telah terwujud. maka usaha perbaikan di dalam sistem peradilan kita secara keseluruhan akan pula menjadi kenyataan. Pembenahan yang tengah dilakukan oleh kejaksaan diarahkan kepada tujuan untuk mencapai sasaran tuntutan reformasi itu. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 133 . Politisasi lembaga peradilan mutlak harus diakhiri. Optimisme itu harus menjadi komitmen nyata kita semua. Dukungan publik untuk menciptakan kemandirian lembaga peradilan merupakan qonditio sine qua non. Kejaksaan tidak hanya dituntut untuk merespon tuntutan publik secara cepat tepat dan independen. oleh karena itu independensi kekuasaan kehakiman tergantung kepada faktor-faktor internal lembaga peradilan dan political sphare di sekelilingnya.daya manusia di lingkungan kejaksaan. Reformasi merupakan sebuah ideologi untuk membangun seluruh komponen bangsa ke arah yang lebih baik. reformasi peradilan menjadi sekedar wacana yang tak bermakna. Akan tetapi kondisi-kondisi internal dan eksternalnya sendiri harus pula diperhitungkan. Penutup Usaha untuk melakukan reformasi di tubuh peradilan sesungguhnya merupakan perjuangan yang tiada mengenal kata berhenti. Kemandirian dan akuntabilitas itu menjadi standar bagi keberhasilan kejaksaan dalam memenuhi harapan publik dan pelaksanaan tugas dan wewenangnya secara baik.

134 Bunga Rampai .

Kontribusi Komisi Kepolisian Nasional Dalam Mempercepat Reformasi Peradilan A. Terputusnya koordinasi di antara para penegak hukum lebih disebabkan karena trauma oleh intervensi pihak yang tidak bertanggung jawab dimasa lalu.* Pendahuluan Salah satu wujud reformasi di bidang penegakan hukum yang cukup signifikan adalah terputusnya hubungan eksekutif dan yudikatif dengan kembalinya pembinaan dan pengawasan hakim di bawah Mahkamah Agung. Lebih dari itu.H. Dengan biaya yang tidak sedikit Polri telah bersusah payah menangkap dan memeriksa tersangka pembalakan liar.. Pandupraja S.. LL. atas nama koordinasi tidak jarang keadilan dikebiri untuk mendukung kepentingan pemerintah atau yang mengatas namakan kepentingan pemerintah. Efek yang kurang menguntungkan adalah hilangnya forum koordinasi Sistem Peradilan Pidana (SPP) untuk mengefisienkan kinerja antar instansi penegak hukum. Saat ini kehadiran forum tersebut sangat dibutuhkan khususnya pada saat KUHAP sedang dalam revisi karena dinilai sudah tidak sesuai dengan tuntutan pencari keadilan pasca reformasi. Bukti terputusnya koordinasi SPP dapat digambarkan dari permintaan petinggi Polri kepada Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) untuk mengkritisi kinerja peradilan terhadap kasus pembalakan liar (illegal logging) yang cenderung mengabaikan kinerja Polri. Sikap pengadilan tersebut dianggap men- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 135 .N. tetapi kemudian dibebaskan oleh Pengadilan. Sp.M. sehingga mengganggu independensi instansi peradilan.

Kondisi tersebut dinilai oleh banyak kalangan menjadi latar belakang mengapa Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tidak memiliki kesamaan visi mengenai reformasi SPP melalui komisi-komisi. Eksistensi Kompolnas Sejarah lahirnya Kompolnas didominasi oleh isu keluarnya Polri dari ABRI yang tercermin pada Instruksi Presiden No.jatuhkan wibawa Polri dalam memberantas pembalakan liar. Pemisahan yang ingin mengembalikan Polri ke khittah-nya adalah sebagai akibat dari ketidakpercayaan masyarakat terhadap TNI-Polri yang telah disalahgunakan oleh rezim Orde Baru. Pada bagian akhir dari tulisan ini akan menekankan pada upaya strategis yang dapat diperankan oleh Community Policing untuk mereduksi gelombang perkara yang melanda lembaga peradilan. yaitu Kompolnas. Sebaliknya problem di instansi peradilan tidak lepas dari problem masukan yang diterima dari instansi Kejaksaan dan Polri. Ketiganya. 4 Tahun 2005 tentang Pemberantasan Penebangan Kayu Secara Illegal di Kawasan Hutan dan Percepatannya di Seluruh Indonesia. Sebuah mata rantai yang saling terkait satu sama lain (garbage in garbage out).2/1999 tentang pemisahan TNI-Polri. Padahal kewenangan tersebut sangatlah mendasar dan sekaligus penting untuk menun- 136 Bunga Rampai . Kompolnas tidak memiliki hubungan langsung dengan institusi peradilan. yang sama-sama menjalankan fungsi pengawasan diharapkan dapat bersinergi untuk turut mereformasi SPP dengan tetap memperhatikan independensi masing-masing. Sebagai sebuah sistem. namun dapat menginisiasi pembentukan forum antar tiga komisi negara di bidang SPP. problem kinerja pada instansi Polri akan berdampak pada kinerja instansi kejaksaan dan instansi peradilan. Komisi Kejaksaan dan Komisi Yudisial. Tulisan ini akan menguraikan tentang Kompolnas dan peran strategisnya dalam turut membangun Polri yang professional dan mandiri sebagai bagian dari SPP. Ketidaksamaan visi ini nampak dari perbedaan mendasar pada kewenangan memeriksa (subpoena power) yang tidak dimiliki oleh Kompolnas tetapi dimiliki oleh Komisi Yudisial dan Komisi Kejaksaan. Polri terkesan sembrono dan tidak profesional dalam melaksanakan Inpres No.

Keberadaan menteri ex officio tersebut tentu bukan dimaksudkan untuk menjawab persoalan subordinasi semata. Misalnya. Arah kebijakan yang telah dirumuskan agar tidak diarahkan untuk memberi peluang kooptasi satu lembaga terhadap lembaga lain. Hasil evaluasi kinerja Polri terkait relasi kelembagaan sesuai portofolio masing-masing departemen tersebut dapat menjadi masukan dalam menyusun arah kebijakan Polri yang menjadi kewenangan Kompolnas untuk diajukan kepada Presiden dalam rangka membangun Polri yang profesional dan mandiri (Pasal 39 UU No.89/2000. persoalan persoalan yang menghambat sinergi kelambagaan antara Polri dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang dilatarbelakangi oleh perbedaan asas. Atau persoalan yang menghambat sinergi antara Polri dengan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS). Berbagai spekulasi sempat mencuat ke permukaan bersamaan dengan pembahasan RUU Polri. 2 Tahun 2002). tetapi lebih ditujukan untuk memperkaya masukan sebagai pertimbangan Kompolnas dalam merumuskan arah kebijakan Polri (policy maker) bersama-sama dengan pakar kepolisian dan wakil masyarakat (tidak satu pun anggota Kompolnas berasal dari unsur Polri). muncul persoalan subordinasi mengapa Polri ditempatkan di bawah Presiden berdasarkan Keputusan Presiden No. Setelah Polri dipisahkan dari TNI. ditambah tiga pakar kepolisian dan tiga wakil masyarakat. sedangkan TNI berada di bawah Depertemen Pertahanan. seyogyanya masukan menteri ex officio meliputi pula portofolio departemen yang menjadi kompetensinya masing-masing. seperti Polisi Khusus Kehutanan (Polsus Kehutanan) yang izinnya dikeluarkan oleh Menteri Hukum dan HAM. dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkum dan HAM). Dalam merumuskan arah kebijakan Polri. Rumusan tersebut lebih diarahkan untuk mendudukan secara Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 137 . Polri menggunakan asas dekonsentrasi sementara Satpol PP yang berinduk kepada Pemerintah Daerah menggunakan asas desentralisasi. Menteri Dalam Negeri (Mendagri). Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam).jang kewibawaan lembaga pengawas eksternal. Jawabannya Polri disubordinasikan oleh Kompolnas dengan keberadaan tiga menteri ex officio sebagai anggota yaitu.

Dan Polri tidak memilliki pilihan lain selain menjabarkannya pada level kebijakan teknis. atau menginstruksikan pemerintah daerah untuk mendukung program program community policing (Polmas). Kompolnas telah mengeluarkan beberapa peraturan tentang: i) Organisasi dan tata kerja (OTK) ii) Kode Etik iii) Tata Cara Penanganan Saran dan Keluhan Masyarakat (SKM). 2 Tahun 2002). Kesetaraan posisi sesama anggota Kompolnas. Termasuk menteri terkait lain sesuai dengan materi muatan kebijakan Presiden tersebut. Ada 5 jenis keluhan masyarakat yang diatur secara limitative oleh UU Polri: 1) Penyalahgunaan wewenang 2) Dugaan korupsi 3) Pelayanan yang buruk. Posisi strategis Kompolnas sebagai policy maker tersebut diharapkan dapat menjawab persoalan subordinasi posisi TNI di bawah Departemen Pertahanan. 1. Peran policy maker bagi Kompolnas tersebut tentu bukan persoalan yang bisa dianggap sepele oleh Polri. 138 Bunga Rampai . 5) Penggunaan diskresi yang keliru. Sejak arah kebijakan Polri yang dipersiapkan oleh Kompolnas berubah bentuk menjadi Peraturan Presiden (atau Instruksi Presiden).proporsional peranan Polri selaku penjuru dan pengendali urusan keamanan dan mengeliminasi potensi arogansi sektoral yang dapat memposisikan Polri sebagai lembaga superbody. Misalnya mengandung materi muatan yang menginstruksikan pemerintah daerah untuk mendukung kinerja Polri dalam mengamankan Pilkada. Karena setidaknya ada dua departemen dengan portofolionya masingmasing turut merumuskan arah kebijakan Polri yang akan menjadi panduan pimpinan Polri dalam membuat kebijakan teknis kepolisian. Beberapa ketentuan penting yang diatur dalam OTK. karena berbagai kepentingan dapat berpotensi untuk menunggangi Kompolnas (atau dianggap menunggangi Kompolnas) dalam membuat disain strategis Polri masa datang. Peraturan Kompolnas Dalam menjalankan mandatnya. 4) Perlakuan diskriminatif. maka ia akan menjadi pedoman bagi Polri dalam membuat kebijakan teknis kepolisian (Pasal 38 ayat (1) UU No.

.pasal 33 ayat 3 OTK: “Pengambilan keputusan dalam pertemuan anggota Kompolnas dinyatakan sah apabila disetujui oleh sekurang kurangnya 5 (lima) orang anggota Kompolnas”. adalah pejabat yang ditunjuk untuk mewakili menteri manakala yang bersangkutan berhalangan hadir). maka Kompolnas dapat meminta “gelar perkara“ sesuai ketentuan pasal 25 ayat 3 OTK yang menyatakan “Kompolnas dapat meminta Polri untuk memberikan penjelasan yang berkaitan dengan keluhan masyarakat dalam pertemuan Kompolnas”. Ketentuan di atas menggambarkan bahwa sebagai sesama anggota komisi. kedudukan menteri tidak lebih tinggi dari anggota non menteri dalam pengambilan keputusan pada Rapat Anggota Kompolnas. Kompolnas dapat berhubungan langsung dengan satuan Polri terkait. namun forum tertinggi yang dapat mengambil keputusan penting Kompolnas adalah Pertemuan Anggota Kompolnas.Meskipun Ketua Kompolnas adalah Eks Officio Menkopolhukam dan Wakil Ketua Kompolnas adalah Eks Officio Mendagri. UU tidak mengatur hubungan kelembagaan Kompolnas dengan Polri sebelum SKM disampaikan kepada Presiden. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 139 . 2. Kesenjangan tersebut telah dijembatani pada pasal 25 ayat 2 OTK yang berbunyi “Saran dan Keluhan Masyarakat yang diterima oleh Kompolnas disampaikan kepada satuan Polri terkait untuk ditindaklanjuti dan hasilnya disampaikan kepada Kompolnas”. .pasal 33 ayat 2 OTK: “Pertemuan Anggota Kompolnas dinyatakan sah apabila dihadiri oleh sekurangkurangnya 5 (lima) orang anggota Kompolnas termasuk Pejabat Penghubung liaison officer/LO” (L. Pasal tersebut menggambarkan bahwa Kompolnas sangat bergantung dari hasil pemeriksaan internal Polri terhadap SKM yang diterima oleh Kompolnas. Pasal 38 ayat (2) c UU Polri mengatur bahwa Kompolnas menyampaikan Saran dan Keluhan Masyarakat (SKM) kepada Presiden. Apabila Kompolnas tidak dapat menerima atau keberatan terhadap hasil tindak lanjut SKM oleh satuan Polri terkait.O.

mengubah posisi pelapor menjadi tersangka dan lain-lain. tetapi ditangani oleh beberapa instansi di lingkungan Polri dengan alasan karena dilaporkan oleh orang yang berbeda sehingga tersangkanya menjadi berbeda pula. (ii) Terabaikannya prosedur penanganan perkara dengan berkoordinasi dengan instansi Kejaksaan. Dengan dua bukti tersebut. Rekayasa penanganan/penindakan kasus pembalakan liar. Manakala tidak hadir setelah dipanggil dengan cukup. Pengaduan Masyarakat Kompolnas memiliki kewenangan untuk menerima pengaduan dari masyarakat mengenai kinerja aparat Polri. Sebagian pengaduan masyarakat yang berjenis penyalahgunaan wewenang oleh aparat penyidik berupa kriminalisasi masalah perdata. namun belum dijembatani dengan MoU atau Skep Kapolri untuk menindaklanjuti permintaan Kompolnas kepada satuan Polri terkait.Pasal tersebut menunjukan bahwa Polri sudah kooperatif dalam mendukung eksistensi Kompolnas. Penyimpangan prosedur penangguhan penahanan. Penyalahgunaan wewenang dapat dibuktikan dengan dibebaskannya tahanan setelah menjalani hukuman selama 60 hari dalam tahanan Contoh kasus DR Chairuddin. Laporan penelitian mahasiswa PTIK angkatan XXXIX-A telah menemukan 11 jenis KKN pada Satuan Organisasi Reserse Kriminal (Reskrim) Polri. 2. 4. aparat merasa punya cukup alasan untuk menjebloskan korban dalam tahanan. korban didaftarkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Potensi penyalahgunaan wewenang oleh aparat Penyidik Polri sangat besar. Sebuah penerapan prinsip kemandirian yang keliru dan cenderung mencederai asas dekonsentrasi. Modus operandi yang digemari aparat dalam menakut-nakuti korban adalah ancaman penahanan. Penyimpangan prosedur pinjam pakai barang bukti. Bunga Rampai 140 . Yaitu: 1. 3. (iii) Akuntabilitas penyidikan sangat rendah sehingga memungkinkan terjadinya diskriminasi terhadap tersangka. (i) Tidak jarang objek perkara yang sama. Hal ini disebabkan karena buruknya manajemen penyidikan dan dapat dilihat dari. Kolusi dalam penyelenggaraan perjudian.

Karena itu Penyidik akan berupaya keras agar gugatan praperadilan gugur. Ibarat dokter yang sedang mendiagnose penyakit polisi. Terjadinya sindikat tindak pidana bidang pertanahan. Sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan. Apabila gugatan praperadilan diterima oleh pengadilan. Gugatan praperadilan bertujuan untuk menguji: 1.5. Sah atau tidaknya suatu upaya paksa berupa penangkapan atau penahanan. 2. Penyimpangan dalam penanganan kasus depo bahan bakar minyak (BBM) illegal. 11. 9. Penyimpangan proses penyelidikan kasus pidana. 10. Penyimpangan dalam penanganan kasus-kasus narkoba. temuan berharga tersebut dapat diibaratkan sebagai jenis penyakit polisi yang harus disembuhkan atau dieliminasi oleh Kompolnas ketika merumuskan arah kebijakan Polri untuk disampaikan kepada Presiden. Upaya yang dapat dilakukan oleh Penyidik adalah. 6. Contohnya adalah persidangan kasus Nurhadi di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. 7. (i) menunda-nunda acara persidangan praperadilan. atau (ii) mempercepat mulainya proses pemeriksaan pokok perkara sebelum selesainya pemeriksaan gugatan praperadilan (pasal 82 ayat 1 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 141 . Kolusi pengelolaan kegiatan prostitusi. 8. tentu akan berakibat buruk bagi masa depan karir Penyidik. dalam rangka menunggu agar persidangan pokok perkara dapat segera dimulai sebelum acara putusan gugatan praperadilan. Potensi KKN polisi di lembaga peradilan Upaya hukum untuk melindungi tegaknya hukum dan perlindungan hak asasi tersangka dalam pemeriksaan penyidikan terhadap dugaan penyalahgunaan wewenang oleh aparat penyidik Polri adalah melalui gugatan praperadilan (pasal 77 KUHAP). Penyimpangan penerbitan surat keterangan kehilangan kendaraan bermotor untuk persyaratan klaim asuransi. Penyimpangan dalam penyelidikan dan penyidikan perdaran VCD bajakan.

Upaya hukum yang dilakukan oleh kedua keluarga korban yang telah diatur dalam KUHAP adalah melakukan gugatan praperadilan perihal prosedur 142 Bunga Rampai . (ii) membuat gaduh suasana persidangan seolah-oleh akan terjadi keributan dengan tujuan agar hakim yang mengadili gugatan praperadilan menjadi terprovokasi atau ketakutan. seperti yang terjadi di Medan dan Jakarta beberapa waktu lalu. kasus penembak tersangka yang sedang ditangkap oleh aparat Polri. (i) melobi hakim agar berpihak pada kepentingan penyidik yang mendapat dukungan dari tokoh masyarakat dan LSM. Oleh karenanya. Untuk upaya yang kedua Penyidik harus berkolaborasi dengan Jaksa Penuntut. Cara di atas agak berbelit-belit dan melibatkan beberapa pihak yang belum tentu berpihak pada kepentingan penyidik. Misalnya. (iii) Tidak segera mengamankan pengadilan manakala dibutuhkan pada saat pengadilan menghadapi demonstran yang brutal. Contohnya adalah kasus Suherman di Pengadilan Negeri Medan. Semakin banyak kewenangan yang dimilikinya akan semakin berperan dalam merespon keluhan masyarakat sehingga akan sangat disegani oleh pihak yang diadukan. rekomendasi pengaduan masyarakat yang diberikan Kompolnas kepada Polri untuk ditindaklanjuti berpotensi untuk diabaikan. lembaga pengaduan eksternal yang menangani masalah-masalah khusus terdapat pada berbagai komisi negara seperti KPK dan Komnas HAM. Kerjasama dengan Komisi Negara Lembaga pengaduan eksternal terhadap kinerja Polri sudah ada dan tersebar di beberapa instansi pemerintah maupun di lembaga kepresidenan. Yang membedakan di antara seluruh lembaga pengaduan tersebut adalah kewenangannya untuk menyelidik dan menyidik (subpoena power). untuk masalah dugaan korupsi. menuntut dan mengadili. Kompolnas tidak memiliki salah satu dari kewenangan tersebut. Cara lain yang relatif lebih ringan adalah. Contohnya adalah sidang gugatan praperadilan kasus Nurhadi di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. lembaga departemen seperti Menteri Penertiban Aparatur Negara maupun non departemen seperti Kejaksaan. Selain itu. Lalu mempercepat penunjukan hakim dan selanjutnya mempercepat mulainya proses pemeriksaan pokok perkara.KUHAP).

Manakala diperlukan Kompolnas layak untuk bersinergi dengan Komnas HAM berkaitan dengan kewenangannya untuk memanggil dan memeriksa pihak yang diadukan (Pasal 89 ayat (3) UU No. Kerjasama dengan KPK layak ditingkatkan manakala Kompolnas diabaikan atau bahkan tidak dihargai sebagai lembaga pengawas ekternal. Kejaksaan atau KPK. Misal lain adalah pengaduan yang terkait dengan pelanggaran administrasi anggota Polri yang merupakan wewenangan Kompolnas dan Komisi Ombudsman Nasional (KON). Ketika kedua lembaga tersebut sama-sama meneri- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 143 . Penolakan ini seolah-olah turut mengubur akuntabilitas aparat yang menembak korban. Yang terpenting dalam menempatkan KPK sebagai mitra kerja Kompolnas adalah saran KPK dalam membangun Polri yang bebas dari korupsi. Kompolnas telah meminta agar Polri memeriksa aparat yang bertanggung jawab terhadap pengaduan tersebut.penangkapan. Dalam pemberantasan korupsi. keluarga korban mengadukan hal itu kepada Kompolnas guna meminta akuntabilitas aparat Polri yang menembak korban. Selanjutnya. KPK menjadi penjuru yang merancang secara bertahap reformasi birokrasi yang menghambat pemberantasan korupsi. Tindak lanjut dari permintaan ini tentu sangat tergantung dari kemauan Polri. upaya ini ditolak oleh Pengadilan Negeri di masing-masing wilayah. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia). Padahal antara masalah prosedur penangkapan dan masalah akuntabilitas penembakan korban adalah dua persoalan yang berbeda secara substansi. Karena keterbatasan kewenangan. Kalau mencermati kesetaraan posisi sebagai komisi negara. Apakah akan berkoordinasi dengan instansi Polri. sesuai kewenangan Kompolnas dalam menerima saran dan keluhan masyarakat. perihal pengaduan dugaan korupsi oleh anggota Polri yang disampaikan kepada Kompolnas. Kompolnas memiliki beberapa pilihan untuk menindaklanjuti pengaduan tersebut. Contoh lain. Namun. Menanggapi pengaduan tersebut. Kompolnas seyogyanya mendahulukan untuk berkoordinasi dengan KPK untuk dapat mengetahui tingkat keseriusan masalah korupsi di tubuh Polri sebagai salah satu penegak hukum. Kompolnas tidak dapat memanggil paksa aparat tersebut untuk diperiksa.

dituntut.ma pengaduan. Kata kunci pemborosan seyogyanya menjadi momok bersama. ditahan. Sebagian dari peraturan tersebut sayangnya sangat jarang digunakan secara benar. Desakan dan kritik masyarakat untuk merestrukturisasi komisi negara agar penjadi perhatian kita semua. karena telah dinilai sukses oleh masyarakat meski memiliki wewenang yang terbatas seperti Kompolnas. Juga untuk menegakkan asas nebis in idem. Persoalan yang harus disikapi sejak dini oleh para lembaga penerima pengaduan tersebut. Koordinasi antar komisi negara mendesak untuk dilaksanakan dalam rangka mengefisienkan kinerja komisi-komisi negara dalam mengoptimalkan sinergi di antara mereka. Kompolnas sangat perlu belajar banyak dari KON dalam menangani pengaduan masyarakat. baik dalam bentuk undang-undang. Jangan sampai polisi terlapor akan diperiksa berkali-kali untuk materi pengaduan yang sama oleh instansi yang berbeda-beda. peraturan pemerintah. Karena pada umumnya pengaduan dikirim kepada hampir seluruh lembaga terkait. Di samping alasan pemborosan anggaran juga masalah efektifitas penyidikan. peraturan menteri maupun peraturan yang dikeluarkan oleh pimpinan instansi masingmasing. berhak menuntut ganti rugi kerugian dan rehabilitasi. Pasal 9 UU No. 1. 4 Tahun 2004 tentang Kehakiman Pasal 9 ayat 1 dan 2 berbunyi sebagai berikut: (1) Setiap orang yang ditangkap. Koordinasi juga penting untuk menghindari tumpang tindih kewenangan dalam menerima dan menangani pengaduan. maka selayaknya mereka perlu untuk saling berkoordinasi. Kewenangan memeriksa (subpoena power) yang dimiliki oleh beberapa komisi negara seperti Komnas HAM dan KPK sangat penting untuk disinergikan oleh komisi negara yang membutuhkan kewenangan tersebut. Beberapa pasal menarik Cukup banyak peraturan dalam rangka mengkoreksi kinerja penegak hukum. (2) Pejabat yang dengan sengaja melakukan perbuatan Bunga Rampai 144 . atau diadili tanpa alasan berdasarkan undang-undang atau karena kekeliruan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkannya.

keterampilan dan sikap emosional yang matang. Bagaimana dengan akuntabilitas aparat polisi apabila yang bersangkutan telah ditangkap dan ditahan? Apakah polisi yang menangkap dan menahan tidak perlu turut bertanggung jawab. 2. sikap. Ketentuan yang umum digunakan adalah PP 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. sikap dan keterampilan dengan pekerjaan yang dilakukan. Instansi yang konsisten dalam menerapkan aturan PP 30 Tahun 1980 tersebut adalah kejaksaan.sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana. keterampilan dan kematangan emosional dalam melaksanakan tugas di bidang masing-masing sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku dan standard pekerjaannya (SOP). yaitu keterkaitan antara pengetahuan. Komitmen (commitment). Keterkaitan (connection). ada 4 (empat) indikator kapan seorang polisi disebut profesional: Kompeten (compentence). 3. Menurut buku panduan HAM untuk anggota Polri. yaitu memiliki pengetahuan. mudah diucapkan tetapi sulit dilaksanakan karena belum ada kesamaan visi mengenai apa yang dimaksud dengan profesional. Konsekuensi logis bagi seorang notaris/PPAT yang membuat akta adalah yang bersangkutan harus bisa mempertanggungjawabkan setiap kata atau kalimat yang terdapat pada akta notaril yang telah dibuatnya. yaitu mencintai bidang tugas yang dilakukan. Apabila dakwaan jaksa dinyatakan tidak dapat diterima oleh majelis hakim. pidana maupun administratif harus siap dihadapi Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 1. yaitu satu kata dengan perbuatan secara berkesinambungan. Konsekuensi apapun baik perdata. 145 . 4. sementara Jaksa Penuntut diperiksa? Jawaban atas persoalan tersebut bergantung pemahaman Polri terhadap profesionalisme penyidikan dan konsekuensi logis dari sebuah profesi. Konsisten (consistence). pada umumnya Jaksa Penuntut kasus tersebut langsung dieksaminasi atau diperiksa oleh Asisten Pengawasan Kejaksaan Tinggi. Kata profesional. Profesional merupakan kemahiran dan kemampuan tinggi yang didukung oleh pengetahuan. Pasal di atas sepertinya belum pernah diterapkan secara utuh terhadap aparat penegak hukum.

146 Bunga Rampai . saran atau pendapat dari masyarakat … harus disampaikan secara tertulis …. Selanjutnya pasal 4 dari peraturan tersebut memberi batas waktu bagi aparat untuk memproses sebelum klarifikasi selama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal informasi. Kalangan penyidikpenyidik Polri sangat paham bagaimana menginterogasi notaris/PPAT dalam meminta pertanggungjawaban sebagai notaris/PPAT. saran. saran atau pendapat diterima. Sayangnya pada saat bersamaan penyidik Polri tidak berpikir bahwa sebagai sesama profesi dirinya juga harus dapat mempertanggungjawabkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang dibuatnya. atau pendapat dari masyarakat harus diklarifikasi dengan gelar perkara oleh penegak hukum.oleh yang bersangkutan. dokter.17 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat dan Pemberian Penghargaan Dalam Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. pemerintah dan konsumen. Yang menarik. Setiap tindakan medis yang dilakukan oleh seorang dokter juga membawa konsekuensi baik perdata. Meskipun uang yang didapat tidak sebanding dengan tanggung jawabnya. Pasal 3 PP 71/2000 berbunyi sebagai berikut: (1) Informasi. Konsil Kedokteran akan memeriksa pengaduan tersebut apakah terjadi pelanggaran hukum. Community Justice melalui Community Policing Sampai saat ini masyarakat yang tinggal di Meruya masih tetap siaga melakukan perlawanan terhadap segala upa2. pidana maupun administratif. Begitu pula dengan profesi dokter. komposisi Konsil Kedokteran terdiri dari perwakilan stakeholder: akademisi. pelanggaran disiplin atau pelanggaran etika. Ketika seorang dokter diduga melakukan mal praktek. Prinsip partisipasi sebagai salah satu unsur masyarakat madani telah berlaku bagi dunia kedokteran. Pasal 3 dan 4 Peraturan Pemeritah No. (2) Setiap informasi. Sungguh menjadi dambaan masyarakat madani apabila prinsip partisipasi yang ada pada Konsil Kedokteran juga diadopsi oleh Polri dalam menangani pengaduan masyarakat terhadap anggotanya.

Cara pandang hakim dalam memutuskan kasus tersebut disebut legalisme yang dikomandani oleh Hans Kelsen dan Jhon Austin. karena mereka merasa telah membeli secara sah tanah mereka dihadapan pejabat yang sah dan mendapat bukti kepemilikan berupa sertifikat tanah yang dikeluarkan oleh BPN. kasus yang masuk pengadilan dianggap sebagai komoditas. Faham ini berpendapat bahwa hukum sebagai sistem yang otonom alias lebih superior dibanding dengan sistem lain seperti ekonomi. Stigma yang melekat terhadap dunia peradilan. Untuk mensakralkan putusan hakim. jumlah perkara yang masuk ke pengadilan setiap tahun selalu meningkat sejalan dengan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 147 . tidak jelas mana Utara mana Selatan. Tiba-tiba muncul putusan Mahkamah Agung yang membatalkan kepemilikan tanah mereka. Tidak heran kalau kemudian ada peribahasa Jawa yang berbunyi. Segala daya upaya dikerahkan agar putusan tersebut tidak dapat dilaksanakan. 4 Tahun 2004. Hukum di atas segalanya. “ngurus cempe kelangan sapi”. Mereka telah tinggal berpuluh tahun di Meruya tanpa ada gangguan dan teguran perihal status hukum kepemilikan tanah mereka. setiap putusan menggunakan irah-irah Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Bahkan tidak satupun responden yang berpendapat penegakan hukum di Indonesia sudah berjalan baik. Kasus Meruya hanya salah satu dari segudang putusan Mahkamah Agung pasca reformasi yang jauh dari rasa keadilan yang menjadi tujuan dari kekuasaan kehakiman seperti yang diamanatkan oleh UU No.6% responden tidak percaya terhadap kinerja penegakan hukum. sosial dan politik. Hukum harus ditegakkan sekalipun langit akan runtuh.ya untuk menangkal eksekusi Putusan Mahkamah Agung. Pandangan seperti itu tercermin pula dari hasil penelitian Kompas tanggal 17 Maret 2003 bahwa 86. Hukum dianggap selalu benar dan adil. Ia akan kehilangan arah mengadu nasib diantara badai ombak samudra. Bahkan ia akan tergulung oleh ganasnya ombak samudra peradilan. Meskipun demikian. maksudnya mengurus perkara senilai anak kambing tapi biaya yang harus dikeluarkan senilai sapi. Pencari keadilan yang memasuki arena peradilan diibaratkan menceburkan diri dalam gelombang samudra yang menafikan eksistensi kemanusiaan pencari keadilan.

Upaya untuk mengurangi volume perkara di luar pengadilan. Lembaga yang dimaksud adalah Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) untuk urusan arbitrase dan Pusat Mediasi Nasional (PMN) untuk urusan mediasi sengketa perdata. Namun kenyataannya tetap saja mekanisme tersebut tidak berhasil mengurangi secara berarti volume perkara di pengadilan. 2 tahun 2003 dengan judul “Prosedur Mediasi di Pengadilan” (PERMA). Karena itu Mahkamah Agung lalu merubah Surat Edaran tersebut menjadi Peraturan Mahkamah Agung No. Mediasi sengketa perdata lebih dikenal dengan istilah Alternatif Dispute Resolution (ADR). negara sejak lama telah mengakomodir melalui UU No. sehingga jumlah kasus di Mahkamah Agung sudah menggunung. 1 Tahun 2002 dengan judul “Pemberdayaan Pengadilan Tingkat Pertama Dalam Menerapkan Lembaga Damai”. Dengan harapan agar para pihak yang berperkara akan mencabut gugatannya. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Penyelesaian Sengketa. Mahkamah Agung telah menerbitkan Surat Edaran Mahkamah Agung No. Upaya terbaru yang dilansir pemerintah untuk mengurangi volume perkara di pengadilan adalah lembaga community policing yang disebut dengan Perpolisian Masyarakat (Polmas) melalui Keputusan Kapolri No. 148 Bunga Rampai . Pol: SKEP/737/ X/2005 tentang Kebijakan dan Strategi Penerapan Modal Perpolisian Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Tugas Polri. Pol: SKEP/432/VII/2006 tentang Panduan Fungsi Samapta Dengan Pendekatan Perpolisian Masyarakat (Polmas). Polmas antara lain bertujuan menyelesaikan pertikaian antar warga dengan difasilitasi oleh petugas kepolisian yang menggunakan mekanisme informal dengan berpegang pada norma-norma sosial setempat dan kesepakatan-kesepakatan lokal oleh masyarakat sekitar (community justice). Upaya tersebut ternyata tidak berhasil menyurutkan gelombang perkara ditingkat banding dan Kasasi. Untuk menanggulangi penumpukan perkara di lembaga peradilan.peningkatan kesadaran hukum masyarakat. PERMA tersebut dimaksudkan memberi peluang terakhir (meskipun bukan yang paling akhir) bagi para pihak yang bersengketa untuk damai. Ketentuan tersebut diperkuat lagi dengan Keputusan Kapolri No.

gotong royong. namun tetap saja belum dapat memenuhi harapan masyarakat. Reformasi tata pemerintahan telah membagi kewenangan antara pusat dan daerah.Community Policing Kata community atau masyarakat tidak dapat didefinisikan secara sederhana karena memiliki makna yang berbeda beda dan lingkup yang berbeda-beda untuk setiap orang yang mendefinisikannya. Polisi Khusus Kehutanan menggantikan posisi Polri untuk urusan teknis kehutanan. Akibatnya terjadi kekosongan penegakan hukum ditingkat pemerintah lokal. Polri sudah sangat disibukkan dengan urusan penegakan hukum ditingkat nasional dalam rangka mempertahankan negara kesatuan Republik Indonesia. Kondisi yang sama juga terjadi ditingkat teknis departemental. untuk urusan penegakkan hukum di pelabuhan. nilai dan masalah yang beraneka ragam di suatu lingkungan pada suatu wilayah tertentu. Teknologi media komunikasi. penerapan asas dekonsentrasi secara rigid mendominasi alasan mengapa Polri terisolasi dari masyarakatnya. mengakibatkan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 149 . tolong menolong. khususnya televisi sebagai penyumbang terbesar dalam perubahan norma sosial. Misalnya nilai nilai kebersamaan. Posisi Satpol PP menjadi semakin kuat mendukung kewibawaan pemerintah lokal. Hasil penyidikan aparat Bea Cukai langsung diserahkan kepada Jaksa Penuntut Umum tanpa koordinasi dengan Polri. Meskipun UU Otonomi Daerah telah memberi peluang bagi Satpol PP untuk mengambil peran dalam penegakkan hukum lokal. Bahkan. Disamping itu. Derasnya arus modernisasi mendorong masyarakat dimanapun untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama yang telah mengakar kuat dalam satu komunitas. Kekosongan penegakan hukum ditingkat pemerintah lokal kabupaten/kota telah diisi dengan keberadaan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).41 Tahun 1999. Keterbatasan jumlah. Profesionalisasi juga memiliki andil dalam memisahkan masyarakat dari tatanan sosialnya. Setiap masyarakat memiliki karakteristik yang berbeda-beda antara budaya. mengakibatkan pudarnya norma moral dan sosial. Masyarakat cenderung keluar dari norma-norma sosial yang selama ini dijunjung tinggi. Dalam rangka mengamankan UU Kehutanan No. aparat Bea Cukai telah mengambil alih posisi Polri sesuai UU Bea Cukai.

Misalnya terhadap penebangan liar di kawasan hutan lindung. Belum terlihat orientasi program ke arah penegakkan peraturan daerah dalam rangka membantu kinerja Satpol PP. Patroli Komunitas (Ronda). Kinerja Satpol PP sarat dengan kepentingan Pemda. program Police Goes To Kampung. tertib dan bersih. Pelanggaran hukum dan Perda Penegakan hukum oleh komunitas telah dapat diselesaikan dengan menggunakan kearifan lokal sesuai kondisi (baca: kebutuhan) masyarakat sekitar. Polmas melalui Forum Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM) baru sebatas memecahkan konflik antar warga maupun antar warga dengan polisi/pejabat setempat. Dukungan dapat berupa anggaran maupun legitimasi program dalam bentuk Peraturan Daerah. merokok di sembarang tempat. Penelitian LP3ES telah mengangkat temuan bagaimana masyarakat lokal telah berhasil menindak pelanggaran pidana dengan menggunakan kearifan lokal melalui mekanisme Alternatif Dispute Resolution (ADR).Satpol PP hanya bisa menjaga areal pertokoan dan fasilitas Pemda. Program Polisi Simpatik. Saat ini Polmas sedang mencari legitimasi politik dan dukungan pendanaan dari pemerintah daerah. Program serupa dulu dikenal dengan nama Siskamling. Lombok Barat telah merumuskan pelanggaran dan sanksi bagi perambah hutan lindung sebagai berikut: 150 Bunga Rampai . Seperti misalnya. Legitimasi sangat diperlukan dalam rangka membangun kepercayaan masyarakat lokal. Hasil Evaluasi Polmas 2005 oleh Polri telah merekomendasikan agar dukungan pemerintah setempat menjadi variable penting dalam perumusan maupun pengembangan program Polmas. Seperti masalah membuang sampah sembarangan. Dukungan pemerintah lokal sangat diperlukan dalam rangka menjaga kesinambungan maupun keberlanjutan program Polmas. bangunan liar dan lain lain yang tidak kalah penting daripada urusan menertibkan papan reklame. Padahal berbagai peraturan daerah membutuhkan penegak hukum untuk menciptakan lingkungan yang aman. Mereka aktif membersihkan papan reklame yang melanggar aturan apabila tidak membayar pajak papan reklame. Situasi tersebut cukup bisa dipahami karena Polmas baru dihidupkan kembali. Kelompok Mitra Pengaman Hutan (KMPH) di Desa Sesaot.

9. maka dikeluarkan dari tempat tinggalnya di desa. Masyarakat telah melakukan dekriminalisasi kejahatan pidana menjadi denda. Padahal upaya paksa pada pasal 216 KUHP menjadi andalan polisi dalam memanggil seseorang (baca. Pasal 216 KUHP berbunyi sebagai berikut “barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang undang oleh Pegawai Negeri berdasarkan tugasnya … diancam dengan pidana penjara paling lama 4 bulan 2 minggu atau denda paling banyak Rp. yaitu keharusan membeli tanah grosok untuk pengerasan jalan. Pada dasarnya penangkapan dan penahan yang tidak berdasarkan hukum Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 151 . Di desa Munggut. bahwa upaya paksa berupa penahanan cenderung dikesampingkan. Demikian halnya dengan perzinahan yang diatur dalam pasal 284 KUHP dengan ancaman hukuman selama-lamanya 9 bulan penjara.000).- Bila menebang (mencuri kayu) sekali karena alasan pemenuhan ekonomi keluarga. maka didenda menanam pohon 50 kali lipat dari jumlah pohon yang ditebang. sanksinya cukup meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi di depan warga masyarakat. menakut-nakuti). Penahanan bukan lagi cara efektif dalam menegakkan hukum. telah diubah menjadi denda satak sekat kurang sekek kepeng bolong (Saat ini uang Cina telah dikonversi menjadi Rp.000 Rupiah”. Pasal ini selalu bertengger di lembar panggilan yang dikeluarkan oleh polisi. Bila menebang (mencuri) lebih dari sekali karena alasan pemenuhan ekonomi keluarga. Pelajaran dari kasus-kasus di atas. - - Bila menebang (mencuri) lebih dari 3 (tiga) kali dengan motif komersial. terlepas dari apakah panggilan tersebut baru panggilan pertama atau bukan. kasus perselingkuhan diselesaikan dengan “grosok”. dengan jumlah dan volume sesuai kondisi ketika kasus tersebut terjadi. Kasus pencemaran nama baik (gila bibir) yang diancam hukum pidana penjara 9 bulan berdasarkan pasal 310 KUHP. Sanksi pidana perzinahan oleh masyarakat adat di Lombok telah diubah menjadi denda seket kurang sekek kepeng bolong (uang Cina). Hal tersebut juga tercermin dalam draft RUU KUHAP Baru.25. pelanggaran pidana tidak harus diselesaikan dengan ancaman pidana berupa penahanan.

marka parkir. perubahan terhadap rambu. usaha penyelenggaraan perparkiran. merokok di sembarang tempat. membangun bangunan liar atau membangun tanpa mengindahkan aturan sempadan jalan sehingga mengganggu jalan dan pemandangan.000 dan sanksi adminstratif bagi pengemudi yang parkir sembarangan yaitu 5 kali biaya parkir. Berbagai studi kasus di Lombok tersebut di atas diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi FKPM atau lembaga apapun namanya untuk mencari formula penyelesaian masalah di perkotaan meskipun harus 152 Bunga Rampai . Sebagai contoh Peraturan Daerah DKI No. agar tercipta ketertiban masyarakat sehingga warga masyarakat merasa nyaman tinggal di Jakarta. Ancamannya sanksi pidana kurungan selama lamanya 3 bulan atau denda maksimal Rp. denda dan adminstratif.alias mengada-ada adalah melanggar HAM. Perda Perpakiran DKI No. Polisi menjadi tidak professional karena mereka menjadi pelaku kejahatan dan tidak lagi sebagai petugas penegak hukum. jauh dari yang didambakan masyarakat pengguna jalan di Jakarta. Polmas diharapkan merambah ke ranah Perda yang menjadi domain pemerintah daerah. (tanpa memperoleh izin dari Gubernur Kepala Daerah.000. Kasus semrawutnya kondisi parkir di Jakarta tersebut menjadi salah satu contoh betapa perlunya keberadaan penegak hukum dengan nama apapun baik polisi. 5 tahun 1999). Ketika polisi melakukan pelanggaran HAM dan hukum.5. Namun karena petugas Satpol PP sangat terbatas. seketika itu juga kepercayaan masyarakat langsung sirna.5 Tahun 1999 tentang Perparkiran.). (pasal 32 ayat 1 dan 3. Satpol PP atau FKMP. tanda masuk parkir…. melakukan antara lain. Kondisi perparkiran semrawut dan premanisme di tempat-tempat parkir merajalela. Hampir bisa dipastikan tiap daerah telah mengatur dan memberi sanksi bagi warganya yang membuang sampah sembarangan. maka ketertiban dan rasa nyaman tinggal di Jakarta sesuai maksud dari pembuat Perda tersebut. Pasal 30 ayat (1) sebagai berikut: “Dilarang dengan cara dan bentuk apapun. Contoh peraturan di atas menggambarkan bahwa Pemda telah membuat aturan masalah perparkiran dengan sanksi pidana.

Namun terhadap pelanggaran hukum atau norma masyarakat (falk law). dipersepsikan tidak memiliki interest dibanding kelompok partisan lain. Penyelesaian konflik di masyarakat perkotaan tidak dapat mengandalkan kharisma seorang Kepala Desa. Tokoh kunci dalam proses penegakan hukum sangat penting dalam menentukan keberhasilannya. tokoh agama. Kesimpulan 1. Kombinasi representasi berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) menjadi penting dalam mengatur komposisi lembaga yang memiliki wewenang untuk menyelesaikan konflik di masyarakat (community justice). Kalangan akademisi. Kepala Desa sebagai Hakim Perdamaian. tokoh masyarakat dan LSM yang kinerjanya masih dapat diterima oleh publik. karena Kepala Desa yang dipilih langsung sudah tidak ada dalam struktur pemerintahan di perkotaan. Masyarakat perkotaan akan memandang lembaga yang merepresentasi banyak kepentingan lebih memiliki legitimasi. Kepala Desa menjadi tumpuan apabila terjadi konflik atau sengketa antar warga. Demikan halnya di Desa Munggut Lombok (2005).merubah ancaman sanksi yang diatur oleh Perda. Kompolnas memiliki posisi strategis untuk menginisisasi kerjasama antar komisi negara bidang penegakan hukum seperti Komisi Kejaksaan dan Komisi Yudisial. Hasil survey di Kabupaten Ngawi Jawa Timur (2005) disimpulkan bahwa hampir 80% responden (dari 75 responden) menyerahkan penyelesaian konflik kepada figur Kepala Desa. Mereka akan mendatangi rumah Kepala Desa kapan saja walau sampai tengah malam. menggunakan pendekatan yang berbeda. Pelanggar hukum harus bersedia menjalankan sanksi denda yang telah ditetapkan berdasarkan kesapakatan masyarakat sekitar. Kepala Desa dituntut untuk memiliki pengetahuan yang lebih dan kearifan sikap agar keputusan yang diambil tidak berat sebelah dan dapat diterima para pihak yang bersengketa sehingga tidak menimbulkan masalah dikemudian hari. dianggap lebih memiliki legitimasi dibandingkan dengan tokoh informal seperti Kyai. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 153 . Community Justice Konflik antar warga masyarakat diselesaikan dengan cara win win solution.

Kurang lebih setara dengan fungsi jury di negara negara yang menganut sistim common law. Yaitu lembaga yang menyelesaikan konfik pada masyarakat perkotaan yang merupakan representasi dari berbagai stakeholders. Dengan menurunkan jumlah perkara di lembaga peradilan diharapkan peradilan dapat berbenah diri dalam mereformasi dirinya dan dapat berkonsentrasi untuk menghasilkan putusan yang sesuai dengan rasa keadilan masyarakat.2. 4. 3. Salah satu lembaga yang dapat dipromosikan oleh Kompolnas adalah Community Justice sebagai bagian dari Polmas. Dengan keberadaan Menteri Dalam Negeri sebagai anggota Kompolnas. Termasuk dalam mengisi ruang kosong dalam masalah penegakan peraturan daerah. Kompolnas dapat berperan penting dalam memperkuat peranan Polmas dalam bersinergi dengan unsur-unsur Pemerintah Daerah untuk turut menyelesaikan atau mencegah penumpukan perkara di lembaga peradilan. 154 Bunga Rampai .

di masa itu tidak demikian adanya. Sebagaimana diketahui. Lahirnya lembaga yang memiliki kewenangan mengusulkan pengangkatan hakim agung dan pengawasan hakim pemegang kekuasaan kehakiman. hukum sepanjang pemerintahan Orde Baru telah menjadi instrumen yang melegitimasi setiap tindakan penguasa. meski tindakan itu bertentangan dengan hukum. Din Syamsuddin * Kelembagaan Komisi Yudisial Republik Indonesia di tahun 2007 ini memasuki usia ke-2 sejak dibentuk pada Agustus 2005. dibentuk sebagai mandat konstitusional Undang-Undang Dasar 1945 hasil amandemen.Peran Serta Elemen Masyarakat Sipil dalam Mendorong Proses Reformasi Peradilan dan Penegakan Hukum Prof. Dalil kehadiran Komisi Yudisial di atas sangat relevan dengan refleksi bangsa Indonesia terhadap perjalanan peradilan sebelum adanya Komisi Yudisial. Inisiasi lahirnya lembaga ini tidak lepas dari sejarah peradilan Indonesia yang semakin jauh dari visi dasarnya untuk menegakkan keadilan bagi pihak-pihak yang berperkara atau bagi mereka yang terenggut hak asasinya. Peradilan juga telah menjadi alat bagi pembungkaman suara kritis masyarakat yang menyatakan keberbedaannya dengan negara. Dr. Desain pengadilan yang semestinya menempatkan semua orang setara di muka hukum. Berbagai pengalaman yang melatari bergulirnya reformasi. M. telah memperkuat sumber legitimasi kehadiran * Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Guru Besar Politik Islam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 155 .

tidak bisa disangkal bahwa Komisi Yudisial memainkan peranan penting dalam rangka reformasi peradilan dan penegakan hukum dalam sistem kenegaraan Indonesia. Dengan demikian. Dengan kehormatan dan keluhuran martabatnya. jelas menuntut adanya keterlibatan masyarakat dalam menjalankan perannya sebagai lembaga negara yang bertugas melakukan pengawasan. serta perilaku hakim dalam rangka mewujudkan kebenaran dan keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.lembaga pengawas para hakim ini. organisasi masa. Komisi Yudisial misalnya. Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama bekerja sama 156 Bunga Rampai . Keberadaan Komisi Yudisial sebagai lembaga pengawas eksternal terhadap hakim. Bahkan masyarakat jauh lebih utama menjadi mitra dibanding hakim-hakim yang menjadi obyek pengawasan. Tanpa partisipasi masyarakat. dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat selama ini telah menunjukkan peran sertanya dalam berbagai upaya reformasi peradilan dan penegakan hukum. sulit bagi Komisi Yudisial memaksimalkan fungsinya. kekuasaan kehakiman yang merdeka dan imparsial (independent and impartial judiciary) diharapkan dapat diwujudkan baik dari segi hukum maupun segi etika. penilaian kinerja. dimaksudkan agar warga masyarakat di luar struktur resmi lembaga parlemen dapat dilibatkan dalam proses pengangkatan. Secara eksplisit. Argumen kehadiran dan karakter kelembagaan Komisi Yudisial sebagaimana dipaparkan di atas. dalam menjalankan fungsinya sangat bergantung pada laporanlaporan masyarakat. Masyarakat yang terhimpun dalam berbagai organisasi keagamaan. keluhuran martabat. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga dan menegakkan kehormatan. Peran Serta Masyarakat Peran serta masyarakat jelas sangat menentukan keberhasilan reformasi peradilan. dan kemungkinan pemberhentian hakim. Komisi Yudisial menempatkan masyarakat sebagai mitra utama dalam menjalankan kerja-kerjanya. Keberadaan masyarakat sebagai mitra utama bukan hanya dibutuhkan oleh Komisi Yudisial melainkan juga tuntutan reformasi di mana telah menempatkan masyarakat sebagai kelompok strategis dalam memantau peradilan dan penegakan hukum.

Pemantauan memiliki arti penting dalam rangka memastikan agar setiap kehendak politik yang terakumulasi dalam suatu kebijakan negara diorientasikan sepenuh-penuhnya untuk memberikan keadilan bagi semua orang. Dalam tubuh lembaga-lembaga keagamaan. Peran serta masyarakat yang paling banyak dilakukan pertama.dengan Kemitraan untuk Pembaruan Tata Pemerintahan yang baik misalnya. Independensi para ilmuwan dan aktivis yang berhimpun dalam pusat-pusat studi telah secara nyata memberikan kontribusi bagi dunia peradilan dan penegakan hukum. Kelompok masyarakat sipil lainnya adalah kalangan perguruan tinggi. karena lembaga-lembaga itu didesain khusus untuk memainkan peran-peran tertentu. Di samping lembaga bantuan hukum. Elemen-elemen masyarakat sipil yang berhimpun dalam lembaga swadaya masyarakat diakui memang memiliki peran yang lebih fokus. terdapat juga pusatpusat kajian yang secara ilmiah memberikan inisiatif-inisiatif untuk menjadikan dunia peradilan lebih baik. termasuk di dunia peradilan. Inisiatif-inisiatif seperti ini jelas dibutuhkan dalam reformasi peradilan dan penegakan hukum. Mereka yang tergabung dalam Lembaga-lembaga Bantuan Hukum misalnya. pemberantasan korupsi dan lain-lain. Terakhir Muhammadiyah beserta ormas-ormas Islam kembali menggerakkan Jihad Melawan Koruptor Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). hampir di semua lembaga-lembaga tersebut terdapat bidang atau departemen yang secara khusus menangani soal reformasi peradilan dan penegakan hukum. adalah melalui kerja-kerja pemantauan dibidang peradilan dan penegakan hukum. Ada juga yang berkonsentrasi dalam pemantauan pembentukan perundang-undangan. sejak tahun 2004 telah memprakarsai gerakan melawan korupsi di semua lini pemerintahan. Bahkan banyak diantara mereka yang kemudian membangun kemitraan strategis sebagai partner atau bahkan mengasistensi lembaga-lembaga peradilan. secara terus menerus memberikan perhatian pada upaya reformasi peradilan dan penegakan hukum. karena dunia peradilan dan penegakan hukum merupakan sektor yang sangat berhubungan dengan kepentingan umat dan publik secara umum. Bahkan peran serta itu belakangan telah diakui urgensi dan signifikasinya. Kerja pemantauan diharapkan mampu Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 157 .

Peran ini biasanya banyak dilakukan oleh kalangan perguruan tinggi atau lembaga-lembaga studi yang mengkonsentrasikan diri pada upaya penyediaan konsep-konsep alternatif reformasi peradilan dan penegakan hukum. citizen lawsuit. Komnas HAM. Kedua. Bahkan inisiatif lahirnya Mahkamah Konstitusi. Komisi Yudisial. Serangkaian exercise yang menerabas tradisi praktik hukum di Indonesia ditawarkan dan diujicobakan. Komisi Kejaksaan. adalah sejumlah contoh terobosan yang didorong oleh masyarakat sipil dalam rangka reformasi peradilan dan penegakan hukum. Mekanisme class action. kepercayaan publik belum sepenuhnya bisa tumbuh akibat minusnya penindakan jika pengawasan menemukan abuses yang dilakukan oleh para penegak hukum. Beberapa capaian yang telah diperoleh adalah kemungkinan justiciability yang bisa diperoleh para pihak yang dirugikan akibat lahirnya sebuah kebijakan negara yang tidak menguntungkannya. Kerja-kerja pemantauan selama ini banyak dilakukan oleh kelompok elemen sipil yang tergabung di dalam lembaga-lembaga swadaya masyarakat. peran serta lainnya adalah dalam bentuk kam- 158 Bunga Rampai . dan lain sebagainya merupakan gagasan-gagasan kelompok kritis masyarakat sipil yang kemudian diadopsi oleh negara. Komisi Penyiaran. penetapan indikator-indikator pembangunan berbasis hak asasi manusia dan kesetaraan gender. Dalam sistem demokrasi. peran serta dibidang pengkajian. Komnas Perempuan. kerja pemantauan juga merupakan bentuk kontrol publik untuk menyeimbangkan kekuatan antara penyelenggara negara atau pemerintahan dengan publik di daerah itu. Pemantauan yang dilakukan oleh elemen masyarakat sipil ini merupakan jawaban atas tidak adanya akuntabilitas yang terlembagakan pada lembaga-lembaga peradilan. Komisi Kepolisian. Sekalipun pengawasan internal di tubuh lembaga peradilan sudah tersedia. pelaksanaan dan penegakan maupun dampak dari berbagai prosesproses peradilan dan penegakan hukum. substansi. sebagai salah satu prinsip demokrasi. dapat dijalankan. Dengan demikian prinsip checks and balances. Mereka berhimpun dan mengkonsentrasikan diri pada upaya-upaya memastikan proses peradilan berjalan fair.menghimpun fakta-fakta yang baik maupun yang kurang baik dari segi proses penyusunan. Ketiga.

interrogation. Sejak lahirnya Komisi Yudisial. lemahnya mekanisme kontrol internal lembaga-lembaga peradilan. sebenarnya fungsi eksaminasi atas putusan hakim. Namun demikian. merupakan media dan instrumen kampanye mengubah paradigma berpikir dan tata tindak yang konstruktif pada upaya-upaya penegakan hukum. secara konstitusional diperankan oleh Komisi Yudisial. adalah elemen yang sangat berpotensi melakukan kampanye penyadaran hukum dalam rangka memperkuat kultur hukum masyarakat. Kebanyakan jenis peran serta ini dilakukan oleh organisasi masyarakat sipil yang memiliki basis masa yang besar. sejumlah lembaga swadaya masyarakat dan perguruan tinggi saat ini mempelopori praktik uji putusan hakim maupun produk kerja lembaga peradilan. Berangkat dari fakta bahwa judicial corruption belum sepenuhnya teratasi. Meskipun kegiatan eksaminasi publik ini tidak memberikan dampak langsung terhadap perkara yang telah divonis. inspection. Akan tetapi Komisi Yudisial hanya memiliki kewenangan mengeksaminasi terkait profesionalisme hukum dan tidak masuk pada substansi perkara yang dipersoalkan. Eksaminasi publik dilakukan terutama untuk melakukan penilaian apakah keputusan-keputusan yang dikeluarkan oleh lembaga peradilan telah memenuhi standar profesional dan prinsip-prinsip penegakan hukum dan hak asasi manusia. Keempat. dalam praktiknya. Eksaminasi atau dalam bahasa Inggris disebut dengan “examination” diartikan sebagai an investigation. atau yang dalam kamus bahasa Inggris-Indonesia sebagai ujian atau pemeriksaan. akan tetapi temuan pandangan hukum kelompok di luar mejelis hakim ini akan menjadi pembelajaran yang sangat berarti bagi perkara-perkara lain yang sama. Keteladanan para pemimpin organisasi dan interaksi langsung yang para pemimpin dengan jamaahnya. sulit sekali memeriksa profesionalisme hakim dalam sebuah Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 159 . di samping dilakukan oleh Mahkamah Agung. eksaminasi publik atas putusan-putusan hakim. di samping juga melakukan pemantauan dan pengkajian. search.panye penyadaran hukum. Ormas-ormas keagamaan misalnya. bisa dilakukan oleh lembaga peradilan yang ada pada level di atasnya sebagai bentuk pengawasan internal atau dilakukan oleh publik sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam memantau dunia peradilan.

Jika eksistensi publik dalam dunia peradilan sudah disadari urgensinya. yakni perbaikan peradilan dan penegakan hukum. Sikap a priori dan konfrontatif lembaga-lembaga peradilan hanya akan memperburuk citra lembaga peradilan itu sendiri. Menuntaskan kerja reformasi (termasuk di sektor peradilan) jelas tidak bisa lepas dan mengabaikan peran serta masyarakat. sehingga meskipun dengan pendekatan dan strategi yang berbeda. serta menakar sejauh mana sebuah putusan telah menyentuh rasa keadilan masyarakat. Semestinya sinergi harus bisa dibangun. sejauh mana pertimbangan hukum dari hakim yang memutus perkara tersebut berkesesuaian dengan prinsip-prinsip hukum dan prosedur hukum acara dengan benar. Karena itu produk Komisi Yudisial sering diabaikan. maka para anggota legislatif 160 Bunga Rampai . Catatan yang dapat diajukan dalam memandang peran serta masyarakat sipil dalam reformasi peradilan dan penegakan hukum ini.putusan tanpa menyoal substansinya. Sasaran utama dari kegiatan eksaminasi ini adalah mendorong para hakim agar membuat putusan dengan pertimbangan yang baik dan profesional. Keberbedaan pendekatan antar elemen juga sering menjadikan pilihan strategi yang berbeda. Peran serta kemudian menjadi bagian yang dianggap tidak menarik sebagian elemen masyarakat sipil. secara sosio-politik peran serta masyarakat berimplikasi besar terhadap perubahan dunia peradilan. tetap bisa mengarah sasaran yang sama. Reformasi yang digulirkan sejak 1998 telah membuktikan bahwa pengabaian terhadap aspirasi masyarakat telah meminggirkan kekuasaan yang selama ini dianggap kokoh. Untuk memaksimalkan upaya reformasi peradilan itulah maka publik menginisiasi praktik-praktik eksaminasi yang disebut dengan eksaminasi publik. seringkali ekpektasi publik tidak terpenuhi oleh lembaga-lembaga peradilan. Jaminan akomodasi peran serta masyarakat sekalipun secara yuridis tidak diatur. Tujuan eksaminasi secara umum adalah untuk mengetahui. Dunia peradilan yang menjadi obyek peran serta juga sudah semestinya menyadari betapa membangun aliansi strategis dengan elemen masyarakat sipil adalah hal yang pokok dalam men-delivery keadilan segera sampai ke tengah masyarakat.

penegakan hukum hak asasi manusia di Indonesia adalah minusnya kerja-kerja diseminasi publik yang menyadarkan warga tentang pentingnya kerja bersama membangun kelembagaan peradilan yang independen dan akutabel. meskipun di beberapa perguruan tinggi telah tumbuh pusat-pusat studi. Tak jarang kemudian. Refleksi atas keberadaan lembaga-lembaga kemasyarakatan dan keagamaan dalam memaksimalkan peranannya mendorong reformasi peradilan dan penegakan hukum telah menjadi memicu semua pihak untuk segera berbenah diri secara lebih serius. dan berkelanjutan. mayoritas masyarakat Indonesia justru balik menuduh LSM yang melakukan provokasi untuk membuat berang sebuah rezim. diskursus dan praksis peradilan dan penegakan hukum hingga saat ini masih menjadi isu yang elitis. salah satu penyebab tidak maksimalnya reformasi peradilan. Hanya menjadi urusan lembaga swadaya masyarakat dan beberapa kelompok sosial kritis lainnya. sebagai salah satu kesadaran evaluatif atas ketersumbatan arus reformasi peradilan patut dipertimbangkan. yang akan menjadi alat efektif untuk melakukan kontrol dan pressure terhadap negara untuk berkomitmen menegakkan hukum. Tuduhan ini tidak hanya monopoli aparat negara semata. Masyarakat sipil dituntut untuk menata kerja-kerja ini bukan lagi sebagai seremonial yang berulang akan tetapi lebih implementatif. Bahkan sebagian besar perguruan tinggi. organisasi keagamaan dan komunitas-komunitas lainnya. baik di kalangan perguruan tinggi. membuat advokasi penegakan hukum seolah-olah hanya menjadi urusan LSM. Karena itu. Jika kondisi yang demikian ti- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 161 .juga dituntut untuk bisa mengakomodasi berbagai aspirasi publik dalam setiap penyusunan perundang-undangan. tapi telah menjalar kepada sebagian besar masyarakat Indonesia. Harus diakui. Jika mau diakui. Diseminasi tentang pentingnya peran serta masyarakat sipil yang meluas akan mampu melahirkan kekuatan kritis dan membangun kesadaran kolektif bangsa. sistematis. Minusnya dukungan sosial. organisasi masyarakat. pilihan diseminasi dan edukasi pentingnya peran serta masyarakat dalam reformasi peradilan dan penegakan hukum. dedikasi dan kesungguhannya masih belum optimal.

dan berkeadilan tanpa diminta dan ditekan. secara formal perguruan tinggi memiliki kapasitas untuk memproduksi sumber daya manusia yang bisa didesain memiliki kapasitas dan kompetensi tertentu. tidak hanya pressure group yang semakin terkikis tapi sinisme masyarakat akibat “instabilitas” yang diciptakan oleh kalangan LSM akan semakin menguat. penegakan hukum menjadi tugas dan kewajiban negara. tidak ada negara yang dengan cumacuma memberikan hak-hak rakyat untuk menikmati kemajuan. Memperluas basis sosial untuk memperbesar dukungan reformasi peradilan dan penegakan hukum berarti membangun kesadaran kolektif bangsa akan pentingnya reformasi peradilan di Indonesia. Salah satu sektor yang harus mendapatkan prioritas dalam proses transformatif ini adalah kalangan perguruan tinggi dan dunia pendidikan. Meskipun predikat ini tidak sepenuhnya genuine. Memang. Gagasan mendidik pendakwah atau misionaris dalam berbagai agama untuk menjadi pembawa suara keadilan bisa menjadi pilihan kerja yang potensial mampu menghimpun dukungan sosial reformasi peradilan dan penegakan hukum. Jika kerja ini tidak dilakukan. Kedekat- 162 Bunga Rampai . mendorong hukum progresif yang berkeadilan. peradilan yang murah.dak segera mendapat respon dan penanganan cepat. Kalangan perguruan tinggi. Karena itu signifikansi perluasan basis sosial terletak pada perolehan dukungan besar masyarakat Indonesia. dikhawatirkan LSM akan kehabisan energi dalam melakukan kerja-kerja advokasinya. Membangun kesadaran kolektif dapat dilakukan dengan melakukan transformasi simultan atas gagasan dan praksis penegakan hukum di lapangan. kompeten. tapi paling tidak. sering disebut sebagai salah satu agen perubahan. Sektor lain yang perlu mendapat perhatian adalah lembaga-lembaga keagamaan. Melalui kerja pemberdayaan dan pendampingan. lembaga-lembaga keagamaan sebenarnya bisa menjadi kekuatan pengubah sosial yang luar biasa. Dengan jamaah dan umat yang begitu besar. tapi pengalaman di beberapa negara menunjukkan. Salah satu kapasitas dan kompetensi itu adalah menciptakan generasi terdidik yang peduli dan tergugah untuk melakukan advokasi. pendidikan kesadaran hukum dapat disodorkan sebagai jalan merengkuh dukungan sosial itu.

tapi juga terjustifikasi oleh semua agama dan kepercayaan di dunia ini. Lembaga-lembaga peradilan (kejaksaan. dan lembaga-lembaga penyelidik independen lainnya) juga sudah semestinya menyadari pentingnya kehadiran masyarakat di tengah-tengah peran dan fungsi institusinya sebagai stakeholders yang tidak bisa ditinggalkan. akan membuat bahasa hukum dan peradilan menjadi mudah dipahami dan diterima sebagai sebuah keyakinan yang harus diperjuangkan. Karena itu tidak ada pilihan lain. Komisi Yudisial telah menjadi jembatan ketidakpuasan publik atas ketidakadilan yang tercabik akibat ulah para mafia peradilan. Perlu disadari bahwa keberadaan ormas-ormas baik yang berbasis keagamaan maupun kemasyarakatan memiliki posisi strategis di dalam proses rekayasa sosial untuk melahirkan suatu gerakan sosial dan gerakan moral dalam membangun bangsa. Pilihan kerja diseminasi wacana reformasi peradilan dan penegakan hukum memang tidak memiliki daya tarik sebagaimana kerja advokasi (litigasi). Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 163 . selama bumi ini masih dipijak. Karena itu tidak ada pilihan lain bagi Komisi Yudisal untuk terus meningkatkan intensitasnya melibatkan publik dalam memantau dan memastikan keadilan dapat terberikan.an tokoh-tokoh agama dengan umatnya. kecuali membangun kemitraan strategis dengan elemen masyarakat sipil. kepolisian. Diseminasi merupakan kerja jangka panjang dan investasi kemanusiaan yang akan menjadikan kerja advokasi berkelanjutan. Bagaimanapun kepercayaan publik terhadap keberhasilan reformasi peradilan dan penegakan hukum adalah indikator utama keberhasilan reformasi peradilan dan penegakan hukum. Catatan Penutup Keberadaan Komisi Yudisial di dalam ranah kekuasaan kehakiman secara langsung telah menjawab kebutuhan akses publik terhadap dunia peradilan. yang dengan mudah mendongkrak popularitas seorang aktivis. proses-proses reformasi peradilan dan penegakan hukum. Tidak semata-mata karena peradilan yang baik sebagai sesuatu yang dibutuhkan.

Chicago University Press. 2004. Chicago. Komisi Yudisial & Reformasi Peradilan. Neuman. Sigmund. 1991. Jakarta. Cadre Party and Mass Party. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Gramedia Pustaka Utama. Prof. Political Parties. Miriam. Penerbit Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam). Caucus and Branch. New York. Jakarta. Maurice. Budiarjo.Dr. 1963. Wiley and Sons. Norman and London: University of Oklahoma Press A. Gramedia Pustaka Utama. Prof. Jakarta. 1996. 1996.Daftar Bacaan Samuel P. Duverger. PT. PT. Dr. 1963. Miriam. Ahsin Thohari. Budiarjo. Toward a Comparative Study of Political Parties. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Huntington. 164 Bunga Rampai . The Third Wave: Democratization in the Late Twentieth Century.

tahun 1999–sekarang. Pengadilan dalam sistem hukum common law. Pancasila Jakarta. dalam A. Legal Change Essay in Honor of Julius Stone.V Hayek mengatakan bahwa sistem common law lebih baik dari pada civil law karena jaminannya * 1 Mendapat Sarjana Hukum dari USU (1983). Magister Hukum dari Universitas Indonesia (1994). 1983). Ketua Program Studi Ilmu Hukum dan Ketua Program Doktor Ilmu Hukum Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. tetapi jika manusia itu berbuat kesalahan maka pengadilan langsung menghukumnya. Dosen Pascasarjana Hukum USU Medan. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Univ. Tahun 2006-sekarang. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Sekolah Tinggi Hukum Militer (STHM). Untuk Menghasilkan SDM Penegak Hukum Yang Kompeten dan Profesional Bismar Nasution* Knowledge is power but character is more Perdebatan mengenai sistem mana yang terbaik antara civil law dan common law telah berlangsung selama berabadabad.Reformasi Pendidikan Hukum.1 Sebaliknya salah satu pendukung sistem common law. tahun 2004-sekarang. F. ed. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Universitas Nasional. Dosen Magister Kenotariatan Pascasarjana USU Medan. tahun 2002. Pendukung civil law. Jakarta. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Univ. Chaim Perelman. tahun 1987– sekarang. hal 6. Jakarta. Guru Besar Hukum Ekonomi Fakultas Hukum USU (2004). Magister Hukum Pascasarjana Universitas Islam. Blackshield. tahun 2001–sekarang. 2005. tahun 2002-sekarang. Dosen Penguji dan Pembimbing Disertasi Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Indonesia. Jeremy Bentham yang kemudian didukung oleh John Austin menganggap bahwa sistem common law mengandung ketidakpastian dan menyebutnya sebagai “law of the dog”. Krisnadwipayana Jakarta. “Legal Ontology and Legal Reasoning”. tahun 2002-sekarang. Dosen Fakultas Hukum USU Medan. Jakarta. Dosen Magister Manajemen Pascasarjana USU Medan. tahun 2003-sekarang. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 165 . (Sidney: Butterworth.R. tidak memberikan petunjuk bagi manusia bagaimana dia harus bertindak. tahun 2001–2002. Doktor dari Universitas Indonesia (2001).

hal. Sistem civil law menggunakan kodifikasi sebagai sumber hukum. Cardozo. Rosoff. Sedangkan civil law lahir terlebih dahulu ketika Corpus Juris Civilis of Justinian diterbitkan di Constatinopel pada tahun 533 yang sangat dipengaruhi oleh hukum Romawi.XXX. 40. Kehakiman terjadi sejak tahun 2004 166 Bunga Rampai . pindah dari naungan Departemen. hal 4-7. and not to unsettle things which are established. hal. Journal of Legal Studies. The Nature of The Judicial Process. (Vol. sedangkan sistem common law menggunakan putusan hakim sebelumnya sebagai sumber hukum atau yang lebih dikenal dengan doktrin stare decisis. sedangkan model kebebasan Perancis berasal dari ajaran Hobbes dan Rousseau yang menekankan pada kebebasan pemerintah untuk mencapai tujuan bersama lihat Paul G. Mahoney. Istilah stare decisis berasal dari istilah stare decisis et non quieta movere. Bellace. (London : Yale University Press. (New Jersey: Prentice-Hall Inc. sedangkan dalam Black’s Law Dictionary diartikan “to adhere to precedents. Minn: West Publishing Co. Janice R. hal 1406.“3 Menurut catatan.5 Perbedaan menonjol lainnya menyangkut peran pengadilan. (California: Stanford University Press. David B. Di negara civil law hakim merupakan bagian dari pemerintah.pada kebebasan individu dan membatasi kekuasaan pemerintah.1999). Paul. hal 504-511 Benjamin N. adanya independensi hakim atau berada di bawah Mahkamah Agung.6 Hal ini tidak terlepas dari sejarah 2 3 4 5 6 Lebih lanjut Hayek menyatakan bahwa sistem kebebasan di Inggris berasal dari ajaran Locke dan Humme yang menekankan kepada kebebasan individu untuk mencapai tujuan masing-masing. Lihat Henry Campbell Black.” lihat W. yaitu “stand by the decision and do not disturb what is settled. Dunfee.4 Akar perbedaan yang substansial diantara kedua sistem hukum itu terletak pada sumber hukum yang digunakan oleh Pengadilan dalam memutus sebuah perkara.. sehingga dalam menerangi masa sekarang dia menerangi masa depan.2 Untuk lebih memahami pemicu perdebatan di atas cara terbaik adalah dengan menghampirinya dari aspek historis sebagaimana dikatakan Benjamin N. 89 Lihat John Henry Merryman. Black’s Law Dictionary. (ST. The Civil Law Tradition: An Introduction to the Legal System of Western Europe and Latin America. tahun 1066 dianggap sebagai tahun kelahiran tradisi common law ketika bangsa Norman mengalahkan dan menaklukkan kaum asli (Anglo Saxon) di Inggris. 2001). 1990). University of Chicago. 1969). Cordozo “sejarah dalam menerangi masa lalu menerangi masa sekarang. “The Common Law and Economic Growth: Hayek Might Be Right”. Business and Its Legal Environment. Di Indonesia. Cohen dan Arnold J. 1962).

H. 1996).10 7 8 9 10 John H. Pengalaman sebelum masa revolusi tersebut menjadi inspirasi bagi Napoleon dalam meletakkan hakim di bawah pengawasan pemerintahan untuk mencegah “pemerintahan oleh hakim” seperti yang pernah terjadi sebelum revolusi. Hal ini membuat kekuasaan pemerintah di negara civil law menjadi sangat dominan. Perancis memang telah mengembangkan suatu Pengadilan Tata Usaha Negara yang berwenang men-review Keputusan Pemerintah. 1984).9 Oleh karenanya kekuasaan untuk menentukan hukum berada pada Mahkamah Agung sebagai pengadilan tertinggi. Perbedaan ini tetap dipertahankan dalam sistem civil law di daerah continental yang mewarisi tradisi Hukum Romawi.J. Smith & Bailey on The Modern English Legal System. para hakim Perancis menjadi musuh masyarakat daripada pembela kepentingan masyarakat karena lebih mendukung kepentingan Raja. Mahoney.8 Sebaliknya. namun demikian Pengadilan ini berada dibawah pengawasan Eksekutif. hal 503 – 512. Lihat Paul G. Setelah revolusi Stuart Chamber ini dibubarkan. Para hakimnya juga didik pada administrative school bersama-sama dengan pegawai negeri lainnya yang nantinya keputusan mereka akan diawasi oleh hakim tersebut. Di Perancis misalnya. Farrar dan Anthony M. Raja Stuart kemudian membentuk sebuah pengadilan baru bernama Stuart Chamber yang berada di bawah Kerajaan dan merupakan kepanjangan tangan dari Kerajaan Inggris. Independensi pengadilan ini apabila ditelusuri berawal dari pertentangan antara Hakim Coke dengan King Stuart ketika Kerajaan yang memaksakan kehendaknya untuk mengubah hak properti yang merugikan rakyat.Bailey dan M.7 Posisi ini membuat pengadilan biasa di Perancis secara prosedural tidak mempunyai wewenang untuk mengkaji kebijakan pemerintah. Cit. negara common law yang berasal dari tradisi Inggris memiliki lembaga pengadilan yang independen. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 167 . Kondisi inilah yang kemudian memicu revolusi Perancis yang dipimpin oleh Napoleon. hal 508-509 S.Gunn.Cit. Dugdale. pengadilan membedakan antara kasuskasus yang berhubungan dengan pemerintah dan memberlakukan hukum yang berbeda dengan hukum yang mengatur hubungan sektor privat. Op. hal 413. (London: Sweet & Maxwell. Paul G. (London: Sweet & Maxwell. . Op. hal 39.yang melandasi terciptanya perbedaan itu. Sistem Hukum Romawi menggambarkan dengan jelas perbedaan antara hukum privat yang mengatur hubungan antara warga negara dan hukum publik yang mengatur hubungan antara warga negara dengan pemerintah. Sebelum revolusi. Mahoney. Introduction to Legal Method.

dan sangat jarang perkuliahan dilakukan untuk membahas suatu kasus. Op. pengalaman menunjukan bahwa negara-negara dengan sistem common law ternyata relatif lebih makmur secara ekonomi dibanding negara dengan sistem civil law. dengan metode pengajaran monolog. hal 253 168 Bunga Rampai . Sistem hukum yang 11 12 Paul G. kombinasi antara konsep Hukum Romawi dan praktik-praktik di lapangan telah membentuk dasar-dasar hukum yang dianut oleh sebagian besar negara di dunia ini. Perbandingan suatu teori atau hukum juga jarang dilakukan. pembimbing dan legal solver terhadap pertanyaan para mahasiswa. isi pasal serta pendapat para sarjana. 2001. Ibid. hal. Sebaliknya. Materi yang diberikan adalah isi pasal-pasal dari perundangan-undangan. yaitu sistem civil law dan sistem common law. Peranan dosen sangat sentral dalam memberikan pemahaman tentang hukum.12 Arah Pendidikan Hukum Perbedaan penerapan hukum di atas berimplikasi terhadap sistem pendidikan hukum di negara-negara penganut kedua sistem hukum tersebut. Cit.11 Terlepas dari perdebatan di atas. Mahoney. karena umumnya negara-negara civil law berpaham positivisme. Perdebatan dan diskusi jarang dilakukan karena selama perkuliahan berlangsung dosen biasanya hanya memberikan penjelasan mengenai teori.Dalam perjalanannya. dosen berfungsi sebagai narasumber. Sistem pendidikan hukum di negara civil law lebih menekankan kepada metode pengajaran yang bersifat doktrinal. Hal ini menyebabkan perbandingan hukum dengan negara lain dianggap kurang penting dan kurang mempunyai kekuatan hukum apabila dijadikan landasan pembelaan dalam sebuah peradilan. Para mahasiswa bersifat pasif dan umumnya diajarkan untuk menghapal perundang-undangan. sehingga landasan maupun pemikiran tentang hukum hanya berpedoman kepada perundangundangan yang telah terkodifikasi. hal 508. sistem pendidikan di negara common law lebih menekankan kepada practical use.

Sedangkan sisa perkuliahan dilakukan dengan diskusi. Mereka hanya memandang suatu permasalahan dengan parameter perundang-undangan. karena adanya doktrin kalau suatu putusan pengadilan tidak boleh bertentangan dengan putusan pengadilan di atasnya. Sebaliknya SDM penegak hukum dari negara common law selalu bersifat kritis dan analistis. sehingga sering sekali putusan hakim dijadikan parameter untuk menilai apakah suatu peraturan dapat diterapkan di masyarakat. Sehingga penyelesaian suatu permasalahan hukum dilakukan dengan pendekatan doktrinal. dimana para dosen hanya memberikan pengantar dan referensi buku yang harus dipelajari serta dirangkum oleh para mahasiswa. Adanya perbedaan dalam sistem pendidikan hukum di atas telah menyebabkan perbedaan besar dalam memahami dan menyelesaikan permasalahan hukum. apabila seorang hakim menganggap suatu putusan tidak sesuai lagi dengan perkembangan masyarakat. Hal ini membuat peran mahasiswa lebih dominan daripada peran dosen. Putusan pengadilan itu juga bukan hal yang mutlak harus diikuti. membuat perkuliahan difokuskan kepada pembahasan kasus hukum dan putusan pengadilan. Inilah yang membuat para SDM penegak hukum common law selalu melaku- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 169 . presentasi dan pemaparan para mahasiswa mengenai suatu kasus.menekankan kepada putusan hakim. dan tidak jarang mereka menjadi sahabat dalam kehidupan pribadi. Sehingga perkuliahan bersifat terbuka. Sehingga hubungan antara dosen dan mahasiswa di negara common law umumnya sangat dekat. Dosen hanya berperan sebagai pembimbing dan pengarah diskusi. SDM penegak hukum dari negara civil law cenderung bersifat positifis dan rigid dalam menyelesaikan permasalahan hukum. konsultasi mengenai suatu permasalahan hukum dilakukan secara individual antara dosen dan mahasiswanya. Putusan ini akhirnya akan diuji oleh Mahkamah Agung apakah diterima atau ditolak. sedangkan isi perkuliahan lebih banyak diisi oleh perdebatan dan pendapat dari masing-masing mahasiswa mengenai kasus-kasus yang diberikan oleh dosen. Pemahaman terhadap teori hanya diberikan di awal perkuliahan dengan metode self learning. Perundang-undangan bukan harga mati bagi sebuah keadilan. dia dapat membuat putusan baru tentu dengan argumentasi yang kuat.

Gambaran mengenai sistem pendidikan hukum di Indonesia tidak berbeda jauh dengan apa yang telah diuraikan mengenai sistem pendidikan hukum civil law di atas. Sehingga metode ini mempunyai kelebihan dalam menghasilkan para SDM penegak hukum yang kritis dalam menghadapi perubahan di masyarakat. Pandangan yang bersifat doktrinal dan positivisme mutlak harus segera diminimalkan untuk membentuk SDM penegak hukum yang kritis. Dalam menghadapi persaingan global. Sedangkan kelemahannya adalah metode ini menghasilkan SDM penegak hukum yang lemah akan analisis dan kurang kritis terhadap hukum. para SDM penegak hukum akan gagal mengimplementasikan rasa keadilan masyarakat dalam solusi hukumnya. peran Fakultas 170 Bunga Rampai . Tidak jarang mereka melakukan perbandingan hukum untuk menjustifikasi argumen mereka bahwa hukum yang berlaku tidak sesuai lagi diterapkan di masyarakat. sehingga penggalian nilai-nilai keadilan juga harus dilakukan disamping pemahaman terhadap peraturan tersebut. Kelebihan dari metode ini adalah adanya kepastian dalam pemahaman hukum. metode pengajaran common law menekankan kepada analisis kasus dan diskusi serta untuk selalu bersikap kritis dalam menghadapi permasalahan hukum. sehingga kepercayaan masyarakat terhadap hukum dapat dipulihkan kembali. dimana perundang-undangan yang mengaturnya sudah tidak relevan lagi dengan kondisi masyarakat. Dari deskripsi di atas tentu kita dapat menyimpulkan bahwa metode pengajaran civil law membuat para SDM penegak hukum berpikir doktrinal. Pengajaran yang bersifat doktrinal masih mewarnai pembelajaran hukum di Indonesia. Sehingga apabila terjadi suatu permasalahan hukum. Sebaliknya.kan analisis dan kritis terhadap hukum. analistis dan responsif terhadap permasalahan hukum. dimana perekonomiannya belum stabil dan tingkat penyelewengan hukum masih tinggi dan perundang-undangan belum berfungsi maksimal dalam mengikuti dan memenuhi kebutuhan masyarakat. sehingga pembelajaran relatif lebih terarah. Hal ini terjadi karena pembelajaran terfokus pada kodifikasi. metode pendidikan seperti ini harus diperbaiki terutama pada negara berkembang seperti Indonesia. Sebagai lembaga yang menghasilkan SDM penegak hukum.

Hal ini disebabkan SDM penegak hukum yang berperan menjalankan hukum bukan hanya berdasarkan cara berpikirnya sendiri. Kondisi ini bermula sebagai konsekuensi pendekatan pembangunan yang diterapkan pemerintah. SDM Penegak Hukum Yang Kompeten dan Profesional Jurang antara dunia akademis dan praktis di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir abad ke-20 semakin melebar. seperti SDM penegak hukum. Seharusnya pendidikan itu pulalah yang memperluas ruang lingkup cara berKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 171 . Sementara itu. metode pengajaran di kampus-kampus masih berorientasi kepada sistem civil law. metode pengajaran. Dalam upaya mempercepat pertumbuhan ekonomi. Fakultas hukum di Indonesia harus kembali kepada khitahnya. pasarlah yang menjadi panglima. It administers justice among men who conduct their own affairs”. yaitu sebagai professional school yang harus dapat menggabungkan unsur profesionalisme dan pendidikan hukum dalam pengajarannya. Michael Hagger menggambarkan. baik dari peningkatan kualitas SDM. Konsekuensinya tamatan Fakultas Hukum seolah terlempar ke dunia lain. bahwa jalannya suatu sistem hukum tidak akan pernah lebih baik dari mereka yang menjalankannya.Hukum sangatlah penting di sini. diperlukan political will yang kuat bagi para petinggi universitas dan pemerintah untuk melakukan pembenahan yang sistematis dalam memperbaiki pendidikan hukum di Indonesia. Hal ini tentu tidaklah mudah. Metodemetode ekonomi pro pasar umumnya diimpor dari negaranegara common law dan juga sistem ekonomi pro pasar lebih kondusif bila didekati dengan institusi hukum yang berasal dari sistem common law. tetapi berasal dari pendidikan yang diperolehnya dari kuliah semasa di Fakultas Hukum. Dalam sistem common law. Pembenahan menyeluruh terhadap pendidikan hukum harus segera dilakukan. teaching material atau kurikulum dan kesejahteraan para pengajar. Dalam bahasanya Walter Lippmann “in a free society the states does not administer the affairs of men. Pembenahan tersebut harus dilakukan secara serentak. Padahal L. sedangkan sistem civil law peran pemerintah sangat dominan. pemerintah menerapkan sistem pembangunan ekonomi pro pasar.

(Vol.Gunn. obligations 2. The Lost Lawyer Failing Ideals of the Legal Profession. Foundation of the Law of the European Union. dan Foundation of Public Law serta Legal Research. Kriteria yang ditekankan disini bukanlah metode penilaian terhadap tugas atau lamanya pengajaran tetapi yang dituntut adalah proposi beban kerja mahasiswa dan setidak-tidaknya harus menguasai tujuh dasar pengetahuan 13 14 15 L.pikirnya. Ketujuh dasar pengetahuan hukum tersebut adalah: obligations 1. hal. Untuk itu. hal. kita dapat melihat sistem pendidikan hukum di Inggris. tentunya staf pengajar di Fakultas Hukum tidak hanya mengajarkan teori atau hal-hal yang normatif sifatnya. 1972). Op. 1993).13 Kondisi di atas memaksa kita memikirkan bagaimana Fakultas Hukum dapat melahirkan SDM penegak hukum yang berpengetahuan luas dan memiliki keterampilan hukum yang sesuai dengan sistem ekonomi pro pasar yang dijalankan pemerintah tersebut. Foundation of Criminal Law. Terlepas setuju atau tidak setuju dengan gerakan ini.H.166-239.” ABA Journal. 33. tetapi harus pula mengajarkan keterampilan menggunakan sains (science) untuk memahami hukum disamping dan memperkenalkan hukum sesuai dengan kenyataan. Foundation of Property Law.14 Memperkenalkan hukum sesuai dengan kenyataan dibutuhkan mengingat Fakultas Hukum sebagai professional school diwajibkan untuk mempersiapkan keterampilan para lulusannya. Penggunaan pendekatan ekonomi terhadap hukum (law and economic) dalam pendidikan hukum di Amerika Serikat bersifat permanen yang dimulai sejak tahun 1960an. Lihat Antony T. Bailey dan M. Untuk perbandingan.J. Gerakan Law and Economic telah mengubah metode dosen mengajar dan hampir di seluruh subjek hukum pengetahuan praktis ilmu ekonomi merupakan persyaratan. Lihat S. hal 182-183 172 Bunga Rampai . kegiatannya dan kesiapannya yang membedakannya pula dengan kalangan lainnya. Kronman. doktrinal dan deskriptif. dimana terdapat syarat yang sangat ketat dalam penerimaan SDM penegak hukum yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan profesi yang lebih tinggi. Fakultas Hukum di Inggris dituntut untuk memberikan pemahaman hukum yang komprehensif untuk menyediakan seorang SDM penegak hukum yang kompeten dan profesional. “The role of Lawyer of development country. Foundation of Equity and the Law of Trust. Jalan yang harus ditempuh adalah bagaimana menepis kekhawatiran bahwa apa yang diberikan dalam kuliah berbeda dengan hukum dalam kenyataan. 58.Cit.(Cambridge: Harvard University Press. Michael Hagger.

Pendidikan 16 Seorang calon masih harus mempunyai pengalaman selama 12 bulan dengan Pengacara yang mempunyai pengalaman selama 5 tahun. Tujuan dari pelatihan ini adalah supaya para lulusannya dapat menguasai pembuatan kontrak dengan kemampuan dan pengetahuan yang cukup untuk mengatasi masalah dan tantangan dengan diawasi oleh instruktur pelatihan. sehingga menimbulkan perbedaan persyaratan untuk dapat menekuni kedua profesi ini.J. seorang calon dua tahap sama seperti syarat menjadi Pengacara. hal 184-185 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 173 .Cit. Syarat kedua menuntut calon harus merupakan anggota dari the Law Society dan harus mengikuti dan lulus pelatihan Legal Practice Course Board yang diselenggarakan the Law Society. seorang calon harus ikut dalam salah satu Inns of Court dan harus memenuhi dan menyelesaikan dua tahap pendidikan. Syarat pertama yaitu syarat akademik sama seperti persyaratan untuk menjadi Pengacara.hukum. Adanya anggapan bahwa seorang SDM penegak hukum cukup dibekali kemampuan hukum di bidang tertentu saja harus ditentang. Op. Kedua tahap ini menyarankan syarat untuk dapat mendaftar menjadi pengacara. Di sinilah esensi sebenarnya dari profesional school. dimana tidak ada pembedaan antara akademisi dan profesional. Tahap kedua adalah “tahapan pendidikan spesialis atau kejuruan” yang dilakukan dengan mengikuti program the Bar Vocational Course yang diselenggarakan oleh Court School of Law.Gunn. Untuk dapat menjadi pengacara (Bar). Kemampuan akademis merupakan dasar pengajaran sedangkan kemampuan profesional adalah pengembangan teori secara praktik. Lihat S. SDM penegak hukum haruslah menguasai ilmu hukum dan praktik-praktik dasar secara keseluruhan untuk dapat disebut sebagai kompeten dan profesional.16 Gambaran di atas menunjukkan bahwa Fakultas Hukum sebagai profesional school harus mempunyai suatu sistem pendidikan atau metode pengajaran yang mempunyai suatu kurikulum yang tepat untuk menghasilkan SDM penegak hukum yang kompeten dan mempunyai kemampuan profesional yaitu kemampuan praktik.15 Selain itu Sistem Pendidikan Hukum Lanjutan di Inggris juga dibedakan antara Pengacara (Barrister) dan Konsultan Hukum (Solicitor).H. dimana selama 6 bulan pertama mereka tidak boleh menerima instruksi. Sedangkan untuk menjadi konsultan hukum (solicitor). Bailey dan M. Tahap pertama adalah “tahap akademik” dimana calon harus mempunyai gelar SDM penegak hukum atau sertifikat lulus dari Common Professional Examination (CPE).

Pemahaman terhadap doktrin. juga wajib melatih mahasiswanya dengan keterampilan praktis. karena hal itu akan menghilangkan unsur profesionalisme dalam diri dosen yang pada gilirannya akan menghilangkan unsur esensial Fakultas Hukum sebagai pendidikan profesional. W. Kasus yang dipilih tidak hanya berasal dari dalam negeri tetapi juga diberikan kasus-kasus yang berasal dari luar negeri. 13. hal.17 Oleh karena itu adalah suatu kesalahan besar untuk melarang dosen melakukan praktik hukum.” Dalhousie Journal of Legal Studies. 174 Bunga Rampai . Hal ini dilakukan agar mahasiswa mendapat gambaran mengenai hukum di luar Indonesia. hal. Pengajaran dapat dilakukan dengan menggabungkan pemahaman terhadap isi pasal. “A lot of Knowledge is a Dangerous Thing: Will the Legal Profession Survive the knowledge Explosion? dalam Michael Feindel dan Oliver Fuldaner. karena mustahil bagi sebuah profesional school mengajarkan pendidikannya jika dosennya tidak mempunyai kemampuan dalam bidang praktik seperti yang telah digambarkan oleh sistem pendidikan hukum di Inggris. Untuk membentuk Fakultas Hukum sebagai profesional school. dimana mahasiswa harus bersifat aktif dengan didampingi dan diarahkan oleh dosen agar lebih terarah. “Access and Specialization in Legal Education and Practice. Kita harus melihat pada profesional school sejenis. Sisa perkuliahan dilakukan dengan pemahaman suatu peraturan perundangan-undangan yang diikuti dengan pembahasan kasus-kasus yang berkaitan dengan peraturan tersebut. Kekhawatiran akan diabaikannya tugas-tugas pendidikan dapat diatasi dengan dibuatnya sebuah rule of the game dengan sanksisanksi yang jelas. Dosen Fakultas Hukum disamping berkewajiban mengajar dan menulis.W. “Globalisasi Hukum dan Kemajuan Teknologi: Implikasinya Bagi Pendidikan Hukum dan Pembangunan Hukum Indonesia. filsafat hukum dan case analysis. Hal ini sejalan dengan H. Medan. Arthur yang menyatakan bahwa. yaitu Fakultas Kedokteran. teori dan filsafat hukum dapat dilakukan di awal perkuliahan. 286.Arthurs.” Pidato pada Dies Natalis USU Ke-44. lihat dalam Erman Rajagukguk. sehingga mereka dapat membandingkan dan memperluas pandangan mereka terhadap hukum diluar Indonesia. Mempersiapkan keterampilan praktis dapat dilakukan dengan menggunakan metode 17 18 H.lanjutan hanyalah memberikan suatu spesialisasi terhadap sebuah bidang yang ingin ditekuni oleh SDM penegak hukum tersebut. “lawyers must become expert in some field of knowledge and know little about others”. dimana para pengajarnya juga melakukan praktik. maka pembenahan metode pendidikan harus dilakukan secara komprehensif dimulai dari perubahan sistem pengajaran yang selama ini bersifat doktrinal. Hal ini dilakukan agar para mahasiswa dapat memahami akibat dan konsekwensi hukum yang timbul akibat isi suatu pasal. 20 Nopember 2001.

karena metode ini dapat mengevaluasi sebuah hukum melebihi dari isi hukum itu sendiri. Weeramantry dalam tulisannya “Legal Education for the Age of technology: A Plea for an Interdisciplinary Perspec19 20 Antony T. Mereka menganggap tugas hakim adalah menerapkan sebuah ketentuan atau prinsip hukum terhadap sebuah situasi fakta tertentu dan berbuat yang benar terhadap situasi tersebut.18 Metode case law pertama sekali digunakan di Harvard Law School yang kemudian diikuti oleh seluruh Fakultas Hukum di AS. mereka dapat melihat hukum sebagai hukum yang hidup bukan sebagai “black letter rules”. Farrar dan Anthony M. Kronman. Sehingga para mahasiswa dapat memahami “law behind law” dan dapat memahami hukum yang mendasari isi sebuah putusan bukan hanya memahami isi putusan saja. Diharapkan dengan metode ini mahasiswa dapat mempunyai kemampuan untuk menganalisis dan bersikap kritis dalam menghadapi hukum.20 Oleh sebab itu metode case law ini sangat relevan untuk diajarkan kepada para mahasiswa. Hal ini dengan tepat digambarkan oleh seorang Hakim Agung Amerika yang sangat terkenal. Hukum sebagai sumber pengambil keputusan merupakan hal yang mosaic dimana polanya berkembang dengan perkembangan masyarakat. Dugdale. Op. hal 81. Oliver Wendell Holmes bahwa “The life of the Law has not been logic. it has been experience” (kelangsungan hidup dari hukum bukanlah melalui logika tetapi melalui pengalaman).19 Metode ini merupakan hasil dari judicial reasoning dalam menentukan sebuah kasus dalam sebuah situasi fakta tertentu. Sehingga para mahasiswa dapat terhindar dari pemikiran yang positivis dan doktrinal. untuk dapat “menghidupkannya” maka perlu dikaitkan dengan fakta-fakta yang timbul dari berbagai kasus yang terjadi di masyarakat. Hal ini penting mengingat isi pasal sebuah perundang-undangan hanyalah “sebuah kata-kata dalam bahasa Indonesia”. Seperti yang dikatakan oleh C. John H.G. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 175 .Cit.pengajaran berbasis pembahasan kasus (case law). Hakim-hakim di Inggris menganggap bahwa fungsi seorang hakim bukanlah menghasilkan sebuah sistem hukum atau sebuah perkerjaan institusional yang menggunakan simetri logika. 170. Op. Cit. hal. 1984.

hal. tetapi juga dalam ruanganruangan kelas dalam perkuliahan di Fakultas Hukum. 176 Bunga Rampai . Hal ini dapat memperluas pengetahuan hukum mahasiswa mengenai hukum di negara lain dengan 21 22 23 24 C. “Legal Education for the Age of technology: A Plea for an Interdisciplinary Perspective” Legal Change. tetapi juga dilakukan melalui kuliah bersama dengan para mahasiswa di negara lain. Pesatnya pertumbuhan teknologi. Haley. hal.G. 25. budaya dan tradisi. Sidney: Butterworth. Cit. “Hukum Internasional Dalam Konflik Kepentingan Ekonomi Negara Berkembang dan Negara Maju. “Legal Education: Observation and Perception From the Bench. Tidak kalah pentingnya. Hikmahanto Juwana. 347-368. maka putusannya akan dengan cepat tidak relevan dengan zaman yang didominasi oleh sains dan tekhnologi”. hal. 1983. O. Op.” Pidato Upacara Pengukuhan Sebagai Guru Besar Pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Lihat juga. 30.1995).23 Penting pula memperkuat muatan pengajaran perbandingan hukum dalam perkuliahan. Op. 17. hal 158. Depok. Erman Rajagukguk. Cit.” Wake Forest Law Review. hal. perlu mengetahui berbagai peraturan hukum negara lain dan bagaimana ia berjalan dalam perbedaan sistem hukum.”22 yang nantinya mengalihkan keahlian hukum dalam kenyataan itu kepada mahasiswa. Lihat.tive”. 746. “selama pengadilan kita dipenuhi dengan hakim dan pengacara yang dilatih untuk melihat hukum sebagai “black letter rule”. Craig Allen Nard. baik karena kebutuhan praktik maupun kesamaan model institusi-institusi hukum dan peraturan-peraturannya. Merhige Jr. “Empirical Legal Scholarship: Reestablishing a Dialoque Between the Academy and Profession. mengingat SDM penegak hukum masa kini dalam era globalisasi.24 Perbandingan hukum tidak hanya dapat dilakukan dengan melakukan studi kepustakaan mengenai hukum di negara lain. (Vol.21 Oleh karena itu metode ini sangat penting untuk dapat membuat hukum “hidup” tidak hanya di pengadilan seperti yang selama ini terlihat. Spring 1996). telah memungkinkan kita untuk melakukan kuliah bersama jarak jauh melalui teleconference dengan mahasiswa di negara lain. Michigan Journal of International Law. Robert R. hal. Educating Lawyers for the Global Economy. Erman Rajagukguk. Lihat. hal. 275. (Vol. 10 Nopember 2001.” Wake Forest Law Review. tim pengajar di Fakultas Hukum sekarang ini perlu pula menekankan proses belajar mengajar dengan metode legal reasoning yang didasarkan pada penelitian. 30. 1995). Weeramantry. (Vol. 22. Tepat pula di sini diusulkan agar staf pengajar melakukan “empirical research. 24. Bandingkan.

Dalam menyusun kurikulum penting kiranya kita memperhatikan apa yang diungkapkan oleh Robert Mac Create. Menurut Mc.Create untuk menghasilkan SDM penegak hukum yang kompeten. counseling. dimana nantinya lahir SDM penegak hukum yang kompeten dan profesional. Kemampuan untuk mengikuti perkembangan dalam hukum di dunia internasional akan memberikan pemahaman tentang hukum lebih komprehensif. organizing ang managing legal work. Fasilitas dan peralatan untuk teleconference ini sendiri sudah tersedia di Universitas Sumatera Utara. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 177 . Namun demikian bukanlah tidak mungkin untuk mengumandangkan irama yang satu dengan menggunakan alat musik yang lain. legal analysis and reasoning. hal. 6. dalam tulisannya “Lecture on Legal Education. factual investigation.” Wake Forest Law Review. legal research. terasa dalam pendidikan ilmu hukum belum menjadi kebutuhan. “Pendekatan Ekonomi Terhadap Hukum Sebagai Sarana Pengembalian Wibawa Hukum. Charles Himawan. hal. Perbedaan irama ini serupa dengan perbedaan antara gamelan Bali yang mengumandangkan tari Baris dan New York Philharmonic Orchestra yang. Hal ini sangat penting karena banyak sekali isu-isu baru tentang hukum di tulis dalam jurnal yang berbahasa inggris. Jakarta. Wake Forest School of Law. Kesepuluh keahlian tersebut adalah problem solving.26 Oleh karena itu kurikulum pendidikan di Fakultas Hukum harus dirancang untuk dapat mempersiapkan mahasiswa dengan bekal yang cukup untuk tampil di masyarakat sesuai dengan tuntutan masa kini. tanggal 24 April 1991. 2 (1995).25 Selain itu kita juga harus menyadari bahwa bidang hukum yang semakin hari semakin luas sehingga tidak dapat dihindarkan perlunya pendekatan dengan disiplin ilmu lain. negotiation. mengumandangkan Symphony Nomor 5 karya Betthoven. Vol. dan recognizing and resolving ethical dillemas. oral and written comunicattion. Hal ini ditandai sudah sejak lama pendidikan ilmu hukum mengumandangkan irama yang berbeda dengan pendidikan ilmu ekonomi. Dalam kaitannya dengan pendekatan disiplin ilmu ekonomi misalnya. 262-263. understanding of the procedures of litigation and alternative dispute resolution. “Lecture on Legal Education .” Pidato Pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia.berdikusi langsung mengenai teori maupun praktik hukum dengan mahasiswa atau para pengajar di negara tersebut. 30 No. Wake Forest School of Law”. setidaknya ada 10 keahlian generik 25 26 27 Selain itu yang tidak kalah penting adalah penguasaan bahasa inggris oleh para dosen dan mahasiswa/i. Robert Mac reate. terutama dalam ketatnya persaingan di dunia global dan tingginya aktivitas perdagangan internasional.

Farrar dan Anthony M. termasuk hubungan yang baru di bidang ekonomi. Apalagi dari sekarang kita sedang melakukan pembangunan ekonomi. “a good lawyer is one who knows where to look for the law. Selain bidang ekonomi. Kemudian menambahkan mata kuliah khusus yang membahas kaitan antara sains dan hukum. Mata kuliah ini mengajarkan tidak hanya tentang hukum tetapi juga dasar-dasar sains seperti fisika. Perpustakaan merupakan sentral dari aktivitas di sebuah institusi pendidikan di luar kelas. Untuk mengatasi kesulitan dalam mengajarkan mata kuliah ini. Op.Cit. bidang teknologi yang saat ini sedang mengalami perkembangannya juga harus diperhatikan dalam menyusun kurikulum. Fakultas dapat juga mengadakan sebuah program khusus dimana kita mengundang pakar-pakar dari fakultas lain untuk bersama-sama melakukan sebuah research atau program tertentu yang mengaitkan hukum dengan bidang tersebut.Cit. Inilah sebabnya mengapa Law School di luar negeri menyebut perpustakaan sebagai “jantungnya” sebuah institusi pendidikan. biologi. Metode self learning tidak dapat berjalan dengan baik apabila tidak didukung oleh fasilitas perpustakaan yang memadai. Misalnya dalam bidang teknologi kita dapat menambahkan mata kuliah wajib pengenalan dalam bidang sains dan society. Hal ini dapat dilakukan dengan menambah mata kuliah ini yang menggabungkan kedua disiplin ilmu di Fakultas hukum. Fakultas Hukum idealnya ha- 28 29 Lihat C. termasuk bidang hukum ekonomi. yang menjadikan kebutuhan untuk adanya spesialisasi di bidang hukum tidak dapat dielakkan. SDM penegak hukum yang lulus dari Fakultas-Fakultas Hukum sekarang ini menghadapi dunia baru.yang harus dimiliki. hal 274 178 Bunga Rampai . 27 Oleh karena itu kurikulum pendidikan hukum harus benar-benar disusun untuk mendukung hal ini.G. Dugdale. fakultas dapat mengundang dosen-dosen tamu dari bidang disiplin ilmu yang berbeda. Ada sebuah pepatah yang menggambarkan pentingnya perpustakaan di luar negeri yaitu. Wereemantry. Op. hal 163-165 John H.”29 Oleh karena itu. dan lain sebagainya.28 Hal lain yang tidak kalah penting adalah perpustakaan.

mengingat hukum bukanlah ilmu pasti yang Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 179 . namun dari segi substansi isinya masih sangat relevan. Sedangkan untuk mengatasi ketimpangan para tenaga pengajar. peningkatan kualitas dosen baru dapat tercapai apabila kesejahteraannya dapat terjamin. sangat ditentukan oleh kualitas dosen. Untuk mencapai pada tingkat pendidikan hukum yang ideal seperti yang digambarkan di atas tentu tidak mudah pula. Perlu diketahui bahwa tiap tahun banyak Fakultas Hukum di luar negeri mengalami over stock karena masuknya edisi-edisi baru dari koleksi buku yang mereka punyai.rus mempunyai sebuah perpustakaan sendiri untuk membantu para mahasiswa dan pengajar untuk lebih memahami hukum. Adanya pelatihan ini akan memberikan kemampuan praktik langsung dari para praktisi di lapangan kepada para dosen yang belum mempunyai kemampuan tersebut. Dosen tamu yang didampingi oleh dosen tetap dapat membantu para mahasiswa untuk dapat lebih memahami hal-hal yang bersifat praktis di lapangan dan sekaligus berfungsi sebagai “alih pengetahuan.” Sedangkan untuk meningkatkan fasilitas perpustakaan. misalnya melalui kursus atau pembelian buku-buku baru. terutama dalam pengajaran hal-hal yang bersifat praktik. juga dapat meminta bantuan kepada para institusi pendidikan di luar negeri untuk memberikan sumbangan berupa buku-buku ataupun jurnal-jurnal ilmiah baik yang baru maupun yang tidak lagi mereka butuhkan. Inilah yang biasanya mereka sumbangkan kepada Fakultas-Fakultas hukum di negara lain. Selain efektif untuk meningkatkan kualitas pengajar hal ini juga relatif tidak membutuhkan banyak dana. fakultas dapat mengundang para praktisi sebagai dosen tamu di dalam perkuliahan. Selain itu perlu juga diadakan sebuah trainer for trainee untuk para dosen secara rutin dan berkala. karena Fakultas Hukum dapat meminta bantuan para alumninya yang telah menjadi praktisi di lapangan untuk menjadi trainer secara sukarela. Sementara itu. tetapi juga penting untuk keberlangsungan suatu institusi pedidikan. Perlu diingat bahwa walaupun buku tersebut bukan edisi terbaru. fakultas selain harus menyediakan dana khusus untuk ini. Peningkatan tersebut bukan hanya akan membantu para dosen untuk meningkatkan pengetahuannya.

Jaringan dapat dibangun langsung oleh universitas maupun secara individu melalui para dosen-dosen yang sedang melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Semoga. Penutup Momentum untuk merealisasikan gagasan-gagasan yang telah dikemukakan di muka dapat dibuat sebagai pemikiran reformasi sistem pendidikan dan metode pengajaran. Sehingga harapan-harapan dalam reformasi pendidikan hukum untuk melahirkan SDM penegak hukum yang kompeten dan profesional di masa datang ini dapat terwujud. Di sinilah diperlukan jaringan atau koneksi dengan Fakultas Hukum di luar negeri.apabila berubah teori-teori yang lama tidak lagi dapat digunakan. 180 Bunga Rampai .

London: Sweet & Maxwell. Black’s Law Dictionary.. Hikmahanto. Introduction to Legal Method.” Wake Forest Law Review. Journal of Legal Studies. Inc. et. Merhige Jr. The Nature of The Judicial Process. Dunfee W. The Lost Lawyer Failing Ideals of the Legal Profession. Jakarta. 30 No.” Pidato Upacara Pengukuhan Sebagai Guru Besar Pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. “The role of Lawyer of development country. Robert..Gunn. Michigan Journal of International Law. dan M.” Pidato Pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. L. Black. 1999. 1993.Daftar Pustaka Bailey. Juwana. Educating Lawyers for the Global Economy. Spring 1996). XXX.” Wake Forest Law Review. Minn: West Publishing Co. 17. Paul. “Legal Education: Observation and Perception From the Bench. John H. New Jersey: Prentice-Hall. Smith & Bailey on The Modern English Legal System. Kronman. (Vol.. 10 Nopember 2001. 1996. Henry Campbell. The Civil Law Tradition: An Introduction to the Legal System of Western Europe and Latin America. (Vol. “The Common Law and Economic Growth: Hayek Might Be right”. Michael. 1962. Dugdale. Haley. Depok. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 181 . Benjamin N. Wake Forest School of Law.( Vol. Cambridge: Harvard University Press. Antony T. S. 2 . “Hukum Internasional Dalam Konflik Kepentingan Ekonomi Negara Berkembang dan Negara Maju. “Pendekatan Ekonomi Terhadap Hukum Sebagai Sarana Pengembalian Wibawa Hukum.. Farrar.reate. California: Stanford University Press. 1972). Robert R.. University of Chicago. Himawan. 58. Mahoney. London: Yale University Press. Cardozo. 30. 2001) Mc. (Vol.all .H. London: Sweet & Maxwell. O. Business and Its Legal Environment. 1984. John Henry. 1990. Paul G. Charles. dan Anthony M. tanggal 24 April 1991.J. 1995). “Lecture on Legal Education .” ABA Journal.1995) Merryman. (Vol. ST. Hagger.

Legal Change. Chaim. Weeramantry. Nard. Perelman.G.R.. 1983. 182 Bunga Rampai . Erman. Blackshield. 20 Nopember 2001. “Empirical Legal Scholarship: Reestablishing a Dialoque Between the Academy and Profession. Sidney: Butterworth.” Pidato pada Dies Natalis USU Ke-44. dalam A. Medan.- - 1969. 1995). 1983.(Vol. Rajagukguk. ed. Craig Allen. “Globalisasi Hukum dan Kemajuan Teknologi: Implikasinya Bagi Pendidikan Hukum dan Pembangunan Hukum Indonesia. “Legal Education for the Age of technology: A Plea for an Interdisciplinary Perspective”. Legal Change Essay in Honor of Julius Stone.” Wake Forest Law Review. Sidney: Butterworth. 30. “Legal Ontology and Legal Reasoning”. C.

Bagian Kedua Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 183 .

184 Bunga Rampai .

dan perlindungan terhadap hak asasi manusia. suasana kebathinan yang menjadi latar belakang filosofis. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 185 . politis. MA.M.Komisi Yudisial Yang Dicita-citakan Oleh Masyarakat dan Pencari Keadilan Dr. H. politis. Namun demikian. tetapi harus memahami konteks dan suasana kebathinan yang mempengaruhi perumusannya. sosiologis. UUD tidak dapat dipahami hanya melalui teksnya saja. Hidayat Nur Wahid. nilai-nilai dan norma dasar yang hidup dalam masyarakat dan dalam praktek penyelenggaraan negara turut mempengaruhi perumusan suatu norma ke dalam naskah UUD. Secara teoritis. maupun yuridis. mengatur mengenai organisasi negara. UUD dapat diubah. Dalam penyusunan suatu UUD. Dengan demikian. sejarah mencatat bahwa dalam implementasinya banyak ditemukan kelemahan-kelemahan yang mengakibatkan munculnya ide untuk melakukan perubahan terhadap ketentuan UUD 1945 guna menutupi kelemahan tersebut. Undang-Undang Dasar (UUD) adalah dokumen hukum dan politik (political and legal document) resmi suatu negara. sosiologis. baik dari sudut pandang filosofis. hubungan lembaga negara dengan warga negara. kekuasaan lembaga negara. dan historis perumusan juridis perlu dipahami secara mendalam dan seksama sehingga dapat dipahami dan dimengerti dengan sebaik-baiknya ketentuan yang terdapat dalam pasal-pasal UUD. Penetapan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) sejak tahun 1945 telah memungkinkan penyelenggaraan negara yang sejauh mungkin mengedepankan kemakmuran masyarakat. hubungan antar lembaga. yang berisi kesepakatan pokok tentang negara.

Perubahan tersebut dilakukan karena MPR-lah berdasarkan UUD 1945 berwenang untuk melakukan perubahan. yang diputuskan pada Sidang Umum MPR tahun 1999 sampai dengan Sidang Tahunan MPR tahun 2002. Perubahan UUD 1945 tersebut dilakukan MPR untuk jangka waktu yang panjang guna menyempurnakan ketentuan fundamental ketatanegaraan Indonesia sebagai pedoman utama dalam mengisi tuntutan reformasi dan memandu arah perjalanan bangsa dan negara pada masa yang akan datang. MPR hasil Pemilu 1999 telah melakukan suatu rangkaian perubahan UUD 1945 dalam empat tahapan yang berkesinambungan. dan penegakan hukum dengan cara yang tidak bertentangan dengan hukum (due process of law). hal ini ditempuh MPR setelah mempertimbangkan secara seksama berbagai aliran paham dan pemikiran masyarakat tersebut. MPR memandang bahwa UUD 1945 sudah cukup untuk mengatur pelaksanaan kehidupan berbangsa. kita melihat bekerjanya tiga prinsip dasar. Dengan pertimbangan dan proses pembahasan tersebut. baik dalam penyelenggaraan negara maupun kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.Seiring dengan bergulirnya reformasi. Paham negara hukum sebagaimana tercantum dalam 186 Bunga Rampai . yaitu supremasi hukum (supremacy of law). Apabila hasil perubahan yang dilakukan MPR terwujud dalam bentuk seperti saat ini. dan perilaku alat negara dan penduduk (warga negara dan orang asing) harus berdasarkan dan sesuai dengan hukum. Secara umum. dan bernegara. Masuknya rumusan Negara Indonesia adalah negara hukum mempertegas paham bahwa Indonesia adalah negara hukum. Salah satu perubahan penting setelah dilakukannya perubahan terhadap UUD 1945 adalah masuknya ketentuan pasal 1 ayat (3) tentang penegasan negara Indonesia adalah negara hukum dan dimuatnya rumusan tentang Hak Asasi Manusia (HAM) pada Bab XA. Konsekuensi ketentuan itu adalah bahwa setiap sikap. kebijakan. baik yang dilakukan oleh alat negara maupun oleh penduduk. kesetaraan di hadapan hukum (equality before the law). Ketentuan itu sekaligus dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kesewenangwenangan dan arogansi kekuasaan. bermasyarakat. dalam setiap negara yang menganut paham negara hukum.

adanya prinsip peradilan yang bebas dan tidak memihak yang menjamin persamaan setiap warga negara dalam hukum. Untuk menjamin peradaban bangsa di masa yang akan datang perlu dikembangkan keberdayaan dalam hubungan antara negara. Institusi negara dibentuk dengan maksud untuk Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 187 . Pelaksanaan paham negara hukum materiil akan mendukung dan mempercepat terwujudnya negara kesejahteraan di Indonesia. dan seimbang. Dalam masyarakat madani. hukum ditegakkan menurut prinsip-prinsip demokrasi karena kedaulatan hukum pada pokoknya berasal dari kedaulatan rakyat. sinergis.ketentuan Pasal 1 ayat (3) terkait erat dengan negara kesejahteraan (welfare state) atau paham negara hukum materiil sesuai dengan bunyi alinea keempat Pembukaan dan ketentuan Pasal 34 UUD 1945. hukumlah yang memegang komando tertinggi dalam penyelenggaraan negara. adanya jaminan-jaminan hak asasi manusia. Dalam UUD 1945 terdapat cakupan dasar-dasar normatif yang berfungsi sebagai sarana pengendali terhadap seluruh penyelenggaraan negara menuju arah dan perwujudan cita-cita kolektif bangsa sesuai dengan nilai yang terkandung dalam Pembukaan. Dalam paham negara hukum. di dalamnya terkandung pengertian pengakuan terhadap prinsip supremasi hukum dan konstitusi. Dalam paham negara hukum. Institusi negara dibentuk tidak dengan maksud untuk mengambil alih fungsi-fungsi yang secara alamiah dapat dikerjakan sendiri secara lebih efektif dan efisien oleh institusi masyarakat. masyarakat. Dalam UUD 1945 dikatakan bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum. dan penyelenggara negara dalam hubungan yang fungsional. Untuk pencapaian tersebut diperlukan adanya suatu kesadaran kolektif rakyat yang tercermin dalam upaya pembentukan masyarakat madani. dianutnya prinsip pemisahan dan pembatasan kekuasaan menurut sistem konstitusional yang diatur dalam UUD. rakyat diberi kebebasan untuk berkiprah sesuai dengan peradaban yang sesuai dengan nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. oleh karenanya prinsip negara hukum tidak boleh ditegakkan dengan mengabaikan prinsip-prinsip demokrasi yang diatur dalam UUD. serta menjamin keadilan bagi setiap orang.

Rumusan Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 ini merupakan hasil perubahan ketiga. sejak Indonesia merdeka tahun 1945 para pendiri bangsa dan rakyat telah sepakat bahwa negara dibentuk berdasarkan hukum (rechtsstaat). Hal tersebut disebabkan karena masalah supremasi hukum adalah bukti nyata proses penegakan hukum suatu bangsa. individu dan negara berdiri sejajar. Negara Indonesia adalah negara hukum. Karena. Keadilan bagi semua orang harus diperoleh agar masyarakat demokratis dapat mencapai kehidupan yang adil dan damai melalui penegakan hukum. Istilah ini akan selalu menjadi obyek kajian yang menarik dan tidak ada habis-habisnya. tidak berdasarkan kekuasaan belaka (machtsstaat). Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan. dimasukkan ke dalam pasal-pasal. tanpa terkecuali. Hukum berada di atas segalanya termasuk negara. dan kaidah akan selalu mempunyai posisi yang khas. Sudah sepatutnya kita semua. ikut melibatkan diri dalam usaha bersama mencari jalan keluar memperbaiki permasalahan secara menyeluruh. Tujuannya untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan (abus de pouvoir) dan penggunaan kekuasaan negara secara sewenang-wenang (detournement de pouvoir). Negara diatur oleh konstitusi dan undang-undang. kekuasaan yang tidak di- 188 Bunga Rampai . mandiri. Sejak keberhasilan gerakan reformasi melanda bangsa Indonesia. sejahtera lahir dan bathin. Mengingat Penjelasan UUD 1945 ditiadakan. demokratis dan berkeadilan. maka hal-hal yang bersifat normatif yang terdapat dalam Penjelasan.makin mendorong tumbuh dan berkembangnya peradaban bangsa Indonesia sesuai dengan cita dan citra masyarakat madani yang maju. Penegasan Indonesia sebagai negara hukum semula tercantum pada Penjelasan UUD 1945. Keberagaman cita rasa masyarakat yang terkemas dalam budaya tradisional dan modern akan menyatu dalam suatu dimensi hukum. norma. Jika kita telaah. sebutan supremasi hukum menjadi kata yang paling sering diucapkan dan didengar. Dalam negara hukum. Inilah yang dinamakan supremasi hukum. ia langsung berada dan bekerja di tengah-tengah masyarakat. Hukum sebagai aturan. melalui kiprah nyata dan berkesinambungan dalam upaya mewujudkan supremasi hukum yang kita inginkan.

” Dalam penjabaran selanjutnya. Supremasi hukum tidak hanya berlaku bagi yang lemah tetapi bagi seluruh komponen bangsa termasuk negara (pejabat negara). ”Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Pasal 24C. Sebagaimana diungkapkan oleh Lord Acton. Bab tentang Kekuasaan Kehakiman menjadi lima pasal sehingga lebih rinci dan lebih lengkap. Pasal 24B. Sebelum perubahan. pada setiap negara hukum akan terlihat ciri-ciri adanya: 1) 2) 3) jaminan perlindungan hak-hak asasi manusia. kekuasaan kehakiman atau peradilan yang merdeka. guna menegakkan hukum dan keadilan. Setelah diubah. legalitas dalam arti hukum. persamaan di depan hukum (equality before the law). Ketentuan ini merupakan perwujudan prinsip Indonesia sebagai negara hukum sebagaimana ditegaskan dalam Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 189 . Pasal 24B. dan proses hukum yang adil (due process of law) adalah merupakan prinsip-prinsip negara hukum. yaitu Pasal 24. bebas dari intervensi pihak mana pun. Pasal 24A. Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 itu dimaksudkan untuk mempertegas bahwa tugas kekuasaan kehakiman dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yakni untuk menyelenggarakan peradilan yang merdeka. Pasal 24C. Bab tentang Kekuasaan Kehakiman terdiri atas dua pasal. dan Pasal 25.batasi oleh hukum implikasinya adalah korup. sedangkan Pasal 25 tetap. Khusus yang menyangkut kekuasaan kehakiman atau peradilan yang merdeka. and absolute power corrupts absolutely”. “power tends to corrupt. yaitu bahwa baik pemerintah/negara maupun warga negara dalam bertindak harus berdasar atas dan melalui hukum. Pasal 24A. tidak diubah. Pada Perubahan Ketiga (tahun 2001) diputus Pasal 24 [kecuali ayat (3)]. yaitu Pasal 24 dan Pasal 25. Karenanya. pemberian jasa hukum/penasehat hukum (access to legal counsel). Undang-Undang Dasar 1945 telah mengakomodasikannya di dalam Bab tentang Kekuasaan Kehakiman. sebagaimana tercermin dari bunyi Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan bahwa. Pasal 24 ayat (3) diputus pada Perubahan Keempat (tahun 2002).

Hal itu sesuai dengan penegasan bahwa Undang-Undang Dasar sebagai puncak dalam tata urutan peraturan perundang-undangan di Indonesia. Hal-hal mengenai badan lain itu diatur dalam undang-undang. selain badan kekuasaan kehakiman yang telah ada. yaitu Mahkamah Agung. Sesuai dengan ketentuan Pasal 24A ayat (1). ada pula konstitusi negara yang memisahkannya sehingga dibentuk dua badan kekuasaan kehakiman. Pembentukan Mahkamah Konstitusi adalah sejalan dengan dianutnya paham negara hukum dalam Undang-Undang Dasar 1945. dan badan peradilan yang berada di bawahnya. Pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar 1945 membutuhkan sebuah mahkamah dalam rangka menjaga prinsip konstitusionalitas hukum. antara lain lembaga penyidik dan lembaga penuntut. 2) menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang. yaitu Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. Ketentuan Pasal 24 ayat (3) menjadi dasar hukum keberadaan berbagai badan lain yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman. tidak boleh ada undang-undang dan peraturan perundang-undangan lainnya yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar. Wewenang dan hal lain yang terkait dengan MK diatur dalam Pasal 24C. Perubahan ketentuan mengenai Mahkamah Agung dilakukan atas pertimbangan untuk memberikan jaminan konstitusional yang lebih kuat terhadap kewenangan dan kinerja Mahkamah Agung. Ada konstitusi negara yang menyatukan fungsi Mahkamah Konstitusi ke dalam Mahkamah Agung. Mahkamah Konstitusi-lah yang bertugas menjaga konstitusionalitas hukum tersebut. Indonesia menganut paham yang 190 Bunga Rampai .Pasal 1 ayat (3). Dalam negara hukum harus dijaga paham konstitusional. Pada Pasal 24 ayat (2) dibentuk satu lembaga peradilan baru yaitu Mahkamah Konstitusi. Dalam praktik tidak ada keseragaman di negara-negara di dunia ini mengenai kewenangan Mahkamah Konstitusi. Mahkamah Agung mempunyai wewenang: 1) mengadili pada tingkat kasasi. Artinya. 3) wewenang lainnya yang diberikan oleh undang-undang. semula disesuaikan dengan sejarah dan kebutuhan setiap negara.

antara lain lembaga penyidik dan lembaga penuntut. Pengaturan dalam undang-undang mengenai badan lain yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman membuPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 191 . dan tiga orang yang diajukan oleh Mahkamah Agung. proses dan putusan yang diambil terhadap perkara-perkara yang menjadi wewenangnya dapat dilakukan secara lebih baik karena ditangani oleh badan peradilan yang memang khusus dibentuk untuk menangani perkara yang berkaitan dengan pelaksanaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Masih berkaitan dengan kewenangan Mahkamah Konstitusi. DPR. Komposisi hakim konstitusi di Mahkamah Konstitusi merupakan perwujudan tiga cabang kekuasaan negara. Pada sisi lain adanya Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi dalam kekuasaan kehakiman lebih mempertegas bahwa praktik pemerintahan selama ini yang membedakan adanya lembaga tertinggi negara dan tinggi negara sudah ditinggalkan karena setiap lembaga menjalankan tugas sesuai dengan fungsi yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar. MPR. dan yudikatif. Dengan pembentukan Mahkamah Konstitusi tersebut. yakni dari sembilan anggota hakim konstitusi terdiri atas tiga orang yang diajukan oleh DPR. tiga orang yang diajukan oleh Presiden. yakni legislatif. lembaga negara ini juga berwenang memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar 1945. Hal-hal mengenai badan lain itu diatur dalam undang-undang. Mahkamah Agung.kedua. eksekutif. Perbedaan pendapat di dalam Mahkamah Konstitusi sendiri diputuskan melalui mekanisme internal Mahkamah Konstitusi. Lembaga negara yang kewenangannya diberikan langsung oleh Undang-Undang Dasar 1945. DPD. antara lain Presiden. dan BPK. Ketentuan Pasal 24 ayat (3) menjadi dasar hukum keberadaan berbagai badan lain yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman. Putusan Mahkamah Konstitusi untuk menyelesaikan perbedaan pendapat di tubuh Mahkamah Konstitusi berdasarkan pertimbangan komposisi keanggotaan hakim konstitusi di Mahkamah Konstitusi yang diharapkan dapat menerapkan prinsip saling mengawasi dan saling mengimbangi.

ka partisipasi rakyat melalui wakil-wakilnya di DPR untuk memperjuangkan agar aspirasi dan kepentingannya diakomodasi dalam pembentukan undang-undang tersebut. Adanya ketentuan pengaturan dalam undang-undang tersebut merupakan salah satu wujud saling mengawasi dan saling mengimbangi antara kekuasaan yudikatif, Mahkamah Agung dan badan peradilan di bawahnya serta Mahkamah Konstitusi dengan kekuasaan legislatif DPR dan dengan kekuasaan eksekutif lembaga penyidik dan lembaga penuntut. Selain itu, ketentuan itu dimaksudkan untuk mewujudkan sistem peradilan terpadu (integrated judiciary system) di Indonesia. Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 juga membentuk lembaga baru yang berada di lingkungan Kekuasaan Kehakiman, yaitu Komisi Yudisial. Pembentukan Komisi Yudisial ini didasari pemikiran bahwa hakim agung yang duduk di Mahkamah Agung dan para hakim merupakan figur yang sangat menentukan dalam perjuangan menegakkan hukum dan keadilan. Apalagi hakim agung duduk pada tingkat peradilan tertinggi (puncak) dalam susunan peradilan di Indonesia sehingga ia menjadi tumpuan harapan bagi pencari keadilan. Sebagai negara hukum, masalah kehormatan dan keluhuran martabat, serta perilaku hakim merupakan hal yang sangat strategis untuk mendukung upaya menegakkan peradilan yang handal dan realisasi paham Indonesia adalah negara hukum. Untuk itu, perubahan Undang-Undang Dasar 1945 memuat ketentuan mengenai pembentukan lembaga di bidang kekuasaan kehakiman bernama Komisi Yudisial yang merupakan lembaga bersifat mandiri. Menurut ketentuan Pasal 24B ayat (1), Komisi Yudisial berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim. Melalui lembaga Komisi Yudisial itu diharapkan dapat diwujudkan lembaga peradilan yang sesuai dengan harapan rakyat sekaligus dapat diwujudkan penegakan hukum dan pencapaian keadilan yang diputus oleh hakim yang terjaga kehormatan dan keluhuran martabat serta perilakunya. Penegakan hukum dan supremasi hukum antara lain dapat dilihat dari kemandirian kekuasaan kehakiman dan dibersihkannya lembaga peradilan dari korupsi, kolusi, dan

192

Bunga Rampai

nepotisme. Sebagai esensi dalam penegakan hukum, kekuasaan kehakiman sebagai salah satu kekuasaan dalam negara memiliki hubungan yang sangat erat dengan cabang kekuasaan lainnya. Kekuasaan kehakiman berfungsi memutus sengketa hukum yang timbul antara anggota masyarakat satu sama lain dan antara anggota masyarakat dengan pemerintah. Wewenang untuk memutus perkara, tujuan akhirnya adalah untuk mewujudkan ketertiban umum di masyarakat melalui putusan yang adil. Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 itu dimaksudkan untuk mempertegas bahwa tugas kekuasaan kehakiman dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yakni untuk menyelenggarakan peradilan yang merdeka, bebas dari intervensi pihak mana pun, guna menegakkan hukum dan keadilan. Perubahan Undang-Undang Dasar telah menjamin adanya kemandirian kekuasaan kehakiman. Dengan kekuasaan kehakiman yang merdeka dan mandiri, lembaga-lembaga negara pemegang kekuasaan tersebut dapat bertindak sesuai dengan koridor hukum yang berlaku sehingga pengalaman buruk implementasi kekuasaan kehakiman sebelum reformasi yang penuh dengan rekayasa penguasa dapat dihilangkan. Keadilan tidak boleh dibedakan atas dasar latar belakang (sosial, ekonomi, politik, ideologi, etnisitas, ras, warna kulit, agama, gender, keyakinan politik, dan apapun). Keadilan harus dapat diraih oleh semua orang (kaya,miskin, sipil,militer, swasta, negeri, rakyat, pemimpin, tua dan muda). Artinya, jika pejabat bersalah dapat dihukum oleh pengadilan dan dituntut ganti rugi. Begitu juga jika masyarakat biasa yang bersalah dapat dituntut dan diproses secara hukum sehingga tercapai tujuan hukum yaitu kepastian hukum dan keadilan. Terkait dengan lembaga peradilan, terdapat dua aspek wewenang pokok mengadili dari kekuasaan kehakiman, yaitu aspek institusional berupa jenis-jenis kelembagaan peradilan yang diserahi kekuasaan kehakiman dan aspek fungsional berupa ragam fungsi yang diserahkan oleh undang-undang kepada badan-badan kekuasaan kehakiman. Melalui reposisi fungsi kedudukan lembaga peradilan dalam undang-undang, saat ini terdapat kemajuan yang menggembirakan dimana seluruh kelembagaan tersebut se-

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

193

cara bersama-sama telah berkomitmen untuk melakukan pembinaan sumber daya manusia aparatur hukum. Wujud dari upaya tersebut, penyelenggaraan peradilan yang bersih dan bebas sudah menjadi pedoman dalam berperkara. Pasal 24A ayat (3) dan Pasal 24B ayat (1) menegaskan bahwa calon hakim agung diusulkan Komisi Yudisial kepada DPR untuk mendapat persetujuan. Keberadaan Komisi Yudisial tidak bisa dipisahkan dari kekuasaan kehakiman. Dari ketentuan ini ditegaskan bahwa jabatan hakim merupakan jabatan kehormatan yang harus dihormati, dijaga, dan ditegakkan kehormatannya oleh suatu lembaga yang juga bersifat mandiri. Dalam hubungannya dengan Mahkamah Agung, tugas Komisi Yudisial hanya dikaitkan dengan fungsi pengusulan pengangkatan Hakim Agung, sedangkan pengusulan pengangkatan hakim lainnya, seperti hakim Mahkamah Konstitusi tidak dikaitkan dengan Komisi Yudisial. Aparatur penegak hukum yang berperan dalam upaya penegakkan hukum penting dikedepankan independensinya dari pengaruh kekuasaan politik Presiden atau pengaruh dari intitusi manapun juga. Independensi dalam melaksanakan tugas pro-yustisia diperlukan karena jabatan pemerintahan sangat dipengaruhi oleh dinamika politik lima tahunan. Komisi Yudisial sebagai lembaga yang berwenang mengusulkan dan mengawasi pengangkatan hakim agung, kedudukannya sangat penting. Kehormatan dan martabat hakim sebagai penentu dalam proses peradilan patut dijaga mengingat putusan hakim adalah mutlak dan mengikat sebagai dasar aparat penegak hukum bertindak. Komisi Yudisial diharapkan dapat membantu mengatasi berbagai bentuk penyalahgunaan wewenang yang terjadi pada lembaga peradilan melalui pencitraan hakim, dengan demikian dapat mendorong terwujudnya peradilan yang bersih dan berwibawa. Upaya pemilihan hakim yang kompeten melalui seleksi calon hakim agung secara ketat disertai dengan pengawasan perilaku hakim agar senantiasa menjunjung tinggi kehormatan, keluhuran martabat, serta perilakunya. Komisi Yudisial sebagai salah satu institusi dalam menjalankan fungsi kehakiman harus dapat menunjukkan kinerja yang profesional dan mengedepankan komitmen untuk mendorong terbangunnya komitmen dan integritas para

194

Bunga Rampai

hakim sehingga para hakim dalam semua tingkat peradilan dapat menjalankan wewenang dan tugasnya secara sungguh-sungguh dengan berdasarkan kebenaran, rasa keadilan, mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku serta bebas dari intervensi kekuasaan dan menjunjung tinggi kode etik. Dengan kewenangan yang dimiliki Komisi Yudisial, diharapkan dapat mewujudkan mekanisme checks and balances dalam lembaga pemegang kekuasaan kehakiman, sehingga akan membantu terwujudnya peradilan Indonesia yang menegakkan supremasi hukum. Upaya mewujudkan peradilan Indonesia yang profesional dan adil perlu dikedepankan mengingat saat ini terdapat kecenderungan berkurangnya kepercayaan masyarakat dan pencari keadilan terhadap badan peradilan yang disebabkan karena proses peradilan yang dilaksanakan kurang transparan dan kurang berfungsinya organ yang bertugas dalam mengawasi perilaku hakim. Dengan kondisi demikian, melalui tugas dan fungsi, diharapkan Komisi Yudisial dapat mempelopori untuk menciptakan kondisi yang dapat membantu mengoptimalkan peran peradilan sehingga dapat mewujudkan lembaga peradilan yang bersih, bermartabat, dan berwibawa serta menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan. Adanya pengawasan melekat pada perilaku hakim dalam menjalankan tugasnya akan memberikan kontrol yang effektif dalam upaya menegakkan keadilan. Komisi Yudisial harus dapat menjalankan tugasnya untuk merekrut dan mengawasi perilaku hakim agar hakim dalam lembaga peradilan benar-benar memiliki integritas, memiliki kemampuan dalam menyelesaikan kasus, serta dapat mengambil putusan yang sesuai dengan peraturan yang berlaku dan mandiri. Dengan fungsinya tersebut, Komisi Yudisial menjadi pengawal dalam mengoreksi semua penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh hakim, Komisi Yudisial dapat menjadi pelopor utama guna menegakkan keluhuran martabat dan perilaku hakim. Dengan adanya pengawasan yang optimal oleh Komisi Yudisial, maka akan membantu pencitraan hakim dalam penyelenggaraan peradilan. Akhirnya saya ingin menegaskan bahwa pencitraan peradilan melalui itikad dan kesungguhan dari penyeleng-

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

195

gara negara dalam mengimplementasikan seluruh peraturan secara konsekuen akan mendukung pelaksanaan seluruh ketentuan UUD 1945. Peran lembaga peradilan yang menjunjung tinggi hukum dan kesetaraan dalam hukum akan membantu memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap proses hukum dalam lembaga peradilan. Pencitraan hakim melalui seleksi yang ketat oleh lembaga yang berwenang serta pengawasan yang intensif oleh institusi diluar pengadilan akan mendukung terwujudnya netralitas putusan hakim dan membentuk pencitraan hakim yang profesional dan berwibawa.

196

Bunga Rampai

Sinkronisasi Sistem Perundang-undangan Lembaga Peradilan Dalam Menciptakan Peradilan yang Lebih Baik
Trimedya Panjaitan, SH*

INDONESIA adalah negara hukum. Salah satu prinsip penting bagi Indonesia sebagai negara hukum adalah kekuasaan kehakiman yang merdeka. Prinsip ini menghendaki kekuasaan kehakiman yang bebas dari campur tangan pihak manapun dan dalam bentuk apapun, sehingga dalam menjalankan tugas dan kewajibannya ada jaminan ketidakberpihakan kekuasaan kehakiman kecuali terhadap hukum dan keadilan. Prinsip kekuasaan kehakiman yang merdeka telah ditegaskan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yakni dalam Perubahan (Amandemen) Ketiga UUD 1945. Dalam Pasal 24 ayat (1) dinyatakan kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Sebelumnya, dalam UUD 1945 praamandemen, prinsip ini diatur dalam Pasal 24 UUD 1945, dan diuraikan lebih lanjut dalam penjelasan Pasal 24 yang berbunyi: “Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan yang merdeka, artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah. Berhubung dengan itu harus diadakan jaminan dalam undang-undang tentang kedudukan para hakim”.1

*
1

Penulis adalah Ketua Komisi III DPR RI, Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Kutipan dari penjelasan UUD 1945 sebelum amandemen ini untuk menunjukkan bahwa sejak awal, yaitu oleh para pendiri bangsa, telah diterima gagasan adanya lembaga yudikatif yang mandiri dan bebas dari pengaruh kekuasaan lain.

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

197

Menegakkan Konstitusi. Dengan demikian Mahkamah Konstitusi dimunculkan sebagai lembaga negara dengan tugas melakukan uji materi (judicial review. dinyatakan bahwa kekuasaan kehakiman itu dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum. Bunga Rampai Hukum Tata Negara Indonesia. 2006. Membangun Politik Hukum. Mahkamah Konstitusi juga mempunyai tugas khusus lain yaitu memutus pendapat DPR bahwa Presiden/Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat. memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar. 198 Bunga Rampai .2 Kekuasaan kehakiman di Indonesia dilaksanakan oleh Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi dengan kompentensi yang berbeda. dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh undang-undang (pasal 24A ayat 1). menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang. Pada Pasal 24 ayat (2) UUD 1945. Mahkamah Agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi. memutus pendapat DPR bahwa Presiden telah melanggar hal-hal 2 Lihat Sri Soemantri. atau secara lebih spesifik melakukan constitutional review) atas undang-undang terhadap UndangUndang Dasar. memutus pembubaran partai politik.Negara Indonesia berdasarkan UUD 1945 tidak menganut secara penuh paham Trias Politica dan pemisahan kekuasaan. lingkungan peradilan militer. Namun pelembagaan berbagai kekuasaan negara di Indonesia jelas menunjukkan adanya keterpengaruhan pada paham Trias Politica. Sedangkan Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar. dan Mahfud MD. dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum (pasal 24C ayat 1). dinyatakan secara tegas oleh UUD 1945 sebagai kekuasaan negara yang terpisah dari kekuasaan-kekuasaan negara lainnya. dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. 1978. lingkungan peradilan tata usaha negara. Dan khusus untuk kekuasaan kehakiman. lingkungan peradilan agama.

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 199 . Dengan demikian konstitusi telah memberikan landasan hukum yang kuat bagi reformasi di bidang hukum dengan memberikan kewenangan kepada Komisi Yudisial. dan peradilan tata usaha negara). Komisi Yudisial bukan merupakan pemegang kekuasaan kehakiman.3 Hasilnya adalah pengaturan Komisi Yudisial dalam Pasal 24B Perubahan Ketiga UUD 1945 yang ditetap- 3 Lihat keterangan para saksi dari mantan Anggota Panitia Ad Hoc (PAH) I Badan Pekerja MPR dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 005/PUU-IV/2006 dalam perkara permohonan uji materi terhadap UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Sedangkan Mahkamah Agung mengadili perkara-perkara konvensional (perkara-perkara di lingkungan peradilan umum. Pada awalnya ide dasar pembentukan Komisi Yudisial dilatarbelakangi kekhawatiran akan timbulnya tirani yudisial pasca pemberlakuan sistem satu atap di Mahkamah Agung dan pemberian kemandirian dan kemerdekaan kepada institusi pemegang kekuasaan kehakiman ini.tertentu yang disebutkan di dalam Undang-Undang Dasar sehingga mereka dapat diproses untuk diberhentikan. sebagai supporting elemen dalam kekuasan kehakiman. serta perilaku hakim (pasal 24B ayat 1). namun sebagai lembaga pembantu (state auxiliary organ). peradilan agama. Dalam Konstitusi diatur bahwa Komisi Yudisial merupakan lembaga yang bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. keluhuran martabat. peradilan militer. ditambah dengan kewenangan menguji materi perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. memutus sengketa kewenangan antar lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar. untuk melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim. Sehingga para anggota DPR/MPR RI sebagai representasi dari rakyat menilai perlunya dibentuk Komisi Yudisial (judicial committee) sebagai lembaga pengawas eksternal terhadap kekuasaan kehakiman. yakni Komisi Yudisial. serta memutus pembubaran partai politik dan memutus sengketa hasil pemilu. Konstitusi juga memperkenalkan lembaga baru di dalam rumpun kekuasaan kehakiman.

kan dalam Sidang Tahunan MPR Tahun 2001. dan keuangan lembaga peradilan ditangani sendiri oleh institusi pemegang kekuasaan kehakiman. Secara konseptual. peralihan harus se- 200 Bunga Rampai . peralihan sudah selesai paling lambat 31 Maret 2004 (pasal 42 ayat 1). Untuk lingkungan peradilan umum dan peradilan tata usaha negara. dan Finansial Lembaga Peradilan dari Departemen Kehakiman ke Mahkamah Agung. dan finansial yang sebelumnya diatur oleh eksekutif (Departemen Kehakiman). administrasi. sebagaimana telah diubah dan dicabut dengan UU Nomor 4 Tahun 2004 tetang Kekuasaan Kehakiman. Perlu digarisbawahi. tetapi juga menangani organisasi. administrasi. Untuk peradilan agama. urusan teknis yudisial dan kepegawaian korps hakim di negeri ini sekarang berada di satu tangan. Selanjutnya. Mahkamah Agung tidak hanya mengurusi pembinaan para hakim. Kebijakan atap tunggal atau one roof system diawali dengan pembuatan Ketetapan MPR Nomor X/MPR/1998 tentang Pokok-pokok Reformasi Pembangunan yang menetapkan kekuasaan kehakiman bebas dan terpisah dari kekuasaan eksekutif. Dengan kata lain. Selanjutnya sistem satu atap diatur dan dijabarkan dalam Undang-undang (UU) Nomor 35 Tahun 1999 tentang Perubahan UU Nomor 14 Tahun 1970. dan finansial Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya berada di bawah kekuasaan Mahkamah Agung (pasal 13 ayat 1). Dalam UU Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman ditegaskan bahwa organisasi. dan peradilan militer. Administrasi. yang dilaksanakan sejak 31 Maret Tahun 2004. administrasi. Adapun tentang Mahkamah Agung diatur dalam UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU Nomor 14 Tahun 1985. sistem satu atap kekuasan kehakiman merupakan unsur penting dari kemandirian kekuasaan kehakiman (judicial independence). sepenuhnya menjadi tanggung jawab Mahkamah Agung. Dengan konsep satu atap kekuasaan kehakiman. administrasi. di tingkat pelaksanaan. kemandirian kekuasaan kehakiman dapat tercapai jika organisasi. diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 21 Tahun 2004 tentang Pelaksanaan Pengalihan Urusan Organisasi. dan finansial Mahkamah Konstitusi berada di bawah kekuasaan dan kewenangan Mahkamah Konstitusi. Sedangkan dalam pasal 13 ayat (2) disebutkan bahwa organisasi.

Selama Orde Baru. selain karena tekanan rezim yang begitu kuat. realisasinya terlambat. Ketiadaan independensi kekuasaan kehakiman. Pengadilan agama baru diserahkan oleh Departemen Agama pada 30 Juni 2004. Wakil ketua bidang yudisial membawahi ketua muda perdata. kekuasaan negara didominasi oleh kekuasaan eksekutif.lesai paling lambat 30 Juni 2004 (pasal 42 ayat 2 dan ayat 3). ketua muda agama. dan finansial. ketua muda militer. Komisi Yudisial mempunyai tugas mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kePenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 201 . Selanjutnya pada sekretariat Mahkamah Agung dibentuk beberapa direktorat jenderal dan kepala badan. ketua muda pidana. Diharapkan. administratif. Sistem satu atap kekuasaan kehakiman ini sesuai dengan tuntutan reformasi. yakni ada dua wakil ketua dari sebelumnya hanya satu. hal tersebut menjadi sulit dilakukan karena adanya dualisme kendali. Sedangkan soal administrasi umum termasuk pengawasan. dan mutasi hakim. dan diharapkan akan memudahkan pengawasan terhadap para hakim. diserahkan kepada wakil ketua nonyudisial yang membawahi ketua muda pembinaan dan ketua muda pengawasan. juga berakar pada sistem pengelolaannya. yakni masih dijalankannya sistem pengelolaan kekuasaan kehakiman oleh pemerintah mengenai bidang-bidang organisasi. sedangkan pengadilan militer baru diserahkan oleh Panglima TNI pada 1 September 2004. struktur Mahkamah Agung mengalami perubahan. struktur baru ini bisa memikul beban yang dialihkan dari Departemen Kehakiman ke Mahkamah Agung. dan ketua muda tata usaha negara. Selama ini. Jabatan panitera dan sekretaris Mahkamah Agung juga dipisahkan. Putusan MK. promosi. Sinkronisasi UU Pengaturan lebih lanjut tentang Komisi Yudisial terdapat dalam UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. serta menangani urusan administratif yang terkait dengan teknis peradilan seperti pembagian perkara. Dalam undang-undang ini diatur secara rinci mengenai wewenang dan tugas Komisi Yudisial. Namun. Sementara dengan UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung.

yakni Hakim Agung dan hakim pada badan peradilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung serta hakim Mahkamah Konstitusi. sedang Hakim Agung tidak dikecualikan dari objek pengawasan Untuk mengatasi akibat kekosongan hukum yang terlalu lama berkaitan dengan tugas Komisi Yudisial. Ini merupakan buntut dari konflik antara Komisi Yudisial dengan Mahkamah Agung. kemudian Komisi Yudisial menggagas kocok ulang Hakim Agung. Konflik berkembang sedemikian rupa hingga berpuncak pada pengajuan uji materi atau judicial review terhadap UU Nomor 22 Tahun 2004 oleh 31 orang Hakim Agung. keluhuran martabat.hormatan. yang diputuskan adalah fungsi atau kewenangan pengawasan terhadap hakim oleh Komisi Yudisial yang sama sekali tidak dimohonkan oleh para pemohon. Amar putusan Mahkamah Konstitusi ini sebenarnya telah memutuskan halhal yang tidak diajukan dalam permohonan judicial review. Dalam putusannya Mahkamah Konstitusi membatalkan fungsi pengawasan Komisi Yudisial karena bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat karena terbukti menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). Terhadap permohonan terkait objek pengawasan oleh Komisi Yudisial itu Mahkamah Konstitusi hanya mengecualikan dirinya sendiri dari objek pengawasan. Awalnya Komisi Yudisial merasa adanya kesulitan untuk meminta keterangan dari Ketua Mahkamah Agung dalam suatu kasus yang menarik perhatian masyarakat. khususnya yang berkaitan dengan ketentuan mengenai fungsi pengawasan terhadap perilaku hakim. Para Hakim Agung tersebut meminta agar pasal-pasal dalam UU Nomor 22 Tahun 2004 yang menyangkut kewenangan Komisi Yudisial mengawasi Hakim Agung dan hakim Mahkamah Konstitusi dibatalkan. Permohonan judicial review ini dikabulkan sebagian oleh Mahkamah Konstitusi. Dalam perkembangannya pelaksanaan pengawasan terhadap hakim oleh Komisi Yudisial yang didasarkan pada UU Nomor 22 Tahun 2004 dipersoalkan oleh para Hakim Agung. sebab yang dipermasalahkan oleh pemohon adalah tentang objek pengawasan Komisi Yudisial yaitu para Hakim Agung dan hakim Mahkamah Konstitusi bukan fungsi pengawasannya itu sendiri. Mahkamah Konstitusi me- 202 Bunga Rampai . serta perilaku hakim.

termasuk dari Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial. revisi UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial sebaiknya memang tidak secara sepotong-sepotong tapi dilakukan secara komprehensif dalam satu paket dengan revisi seluruh undang-undang di bidang kekuasaan kehakiman. Perlu Sinkronisasi Semua UU agar Tak Simpang Siur. Mahkamah Konstitusi juga menyarankan kepada DPR dan Presiden untuk melakukan perbaikan-perbaikan yang bersifat integral dengan juga mengadakan perubahan dalam rangka harmonisasi dan sinkronisasi atas UU Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Sebab urusan atau kewenangan pembentukan undang-undang.4 4 Kompas. Mahkamah Agung sedang mengkaji hal-hal yang perlu disinkronkan dari delapan undang-undang tentang kekuasaan kehakiman. dari segi substansi tidak ada masalah dengan saran Mahkamah Konstitusi itu karena sebenarnya wacana atau keinginan melakukan penyempurnaan. Menurut Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan. UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. termasuk UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. Untuk itu. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 203 . yang menyarankan DPR dan Presiden (yang secara bersama-sama memegang kekuasaan membentuk undang-undang) untuk melakukan perubahan terhadap berbagai peraturan perundanganundangan di bidang kekuasaan kehakiman ini sebenarnya tidak lazim. Namun demikian. dan undang-undang lain yang terkait dengan sistem peradilan terpadu. Menurut Bagir. MA: Revisi UU KY agar Dilakukan secara Integral. Mahkamah Agung telah menugasi sejumlah Hakim Agung dan Ikatan Hakim Indonesia untuk melakukan kajian secara mendalam. 28 September 2006. UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. baik pembentukan undang-undang baru atau undang-undang perubahan/amandemen. harmonisasi. Putusan Mahkamah Konstitusi. adalah wilayah legislatif.nyatakan UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial harus segera disempurnakan melalui proses perubahan undang-undang sebagaimana mestinya. serta sinkronisasi terhadap berbagai peraturan perundangan-undangan di bidang kekuasaan kehakiman sudah mengemuka di berbagai kalangan.

yaitu UU Kekuasaan Kehakiman. dan kini sedang dalam tahap penyempurnaan setelah menerima masukan dari berbagai pihak terkait seperti Ikatan Hakim Indonesia (Ikahi) dan pakar hukum. dan RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Badan Legislatif DPR sedang menyiapkan paket Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan atas UU Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana sudah diubah dengan UU Nomor 5 Tahun 2004. UU Peradilan Umum. 204 Bunga Rampai . dan karenanya perlu didorong agar juga masuk dalam kategori prioritas. Menyikapi putusan Mahkamah Konstitusi di atas. UU Komisi Yudisial. UU Peradilan Agama. yaitu UU Peradilan Agama. belum lama direvisi oleh DPR bersama pemerintah. Draf pertama dari ketiga RUU inisiatif DPR itu sudah selesai disusun. Sementara satu undang-undang lainnya yang masuk rumpun kekuasaan kehakiman. dan UU tentang Peradilan Tata Usaha Negara. RUU tentang Perubahan atas UU Komisi Yudisial dan RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Konstitusi sudah masuk dalam Prioritas Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Tahun 2007. Terhadap UU Mahkamah Konstitusi. RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. antara lain dengan memberikan batasan tentang materi undang-undang yang dapat diajukan permohonan judicial review.Pendapat atau keinginan yang sama diungkapkan oleh Komisi Yudisial. secara keseluruhan Komisi Yudisial membahas delapan undang-undang di bidang kekuasaan kehakiman. misalnya. diusulkan tentang perlunya beberapa perbaikan.5 Ketika membuat revisi atas UU Komisi Yudisial. Lihat Prioritas Program Legislasi Nasional 2007 sesuai dengan Keputusan DPR RI Nomor: 07A/DPR RI-RI/I/2006-2007. Alasannya karena kita masih menghadapi masalah sinkronisasi hukum baik secara horisontal maupun vertikal. yakni 5 6 Disampaikan Pimpinan Komisi Yudisial dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi III DPR RI. UU Mahkamah Konstitusi. UU Mahkamah Agung. UU Peradilan Militer.6 Dengan demikian tinggal RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Agung dan RUU tentang Perubahan atas UU Kekuasaan Kehakiman yang belum masuk dalam Prioritas Prolegnas 2007. 19 September 2006.

Sedangkan RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 31 tahun 1997 tentang Peradilan Militer saat ini sedang dibahas di DPR. Keputusan tersebut merupakan hasil dari pelaksanaan tugas Komisi Yudisial dalam menjaga dan menegakkan kehormatan. harmonisasi. pemberhentian. Ketentuan ini juga diatur dalam pasal 32A draf pertama RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Agung (posisi draft pada 27 Desember 2006). disampaikan oleh Komisi Yudisial kepada pimpinan Mahkamah Agung dan tembusannya disampaikan kepada Presiden dan DPR. Dengan demikian revisi. Untuk jelasnya kita lihat bunyi rumusan Pasal 22C ayat (2) draf pertama RUU tentang Perubahan atas UU Komisi Yudisial (selanjutnya disingkat RUU Komisi Yudisial): Dalam hal pelanggaran aturan perilaku hakim dinyatakan terbukti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. dan RUU MA Dalam draft pertama RUU tentang Perubahan atas UU Komisi Yudisial yang disusun oleh Badan Legislatif DPR (posisi draft pada 27 Desember 2006).melalui UU Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas UU Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. atau c. dan sinkronisasi UU Peradilan Militer terhadap berbagai undang-undang di bidang kekuasaan kehakiman lainnya dapat dilakukan melalui pembahasan RUU yang sedang berlangsung di DPR. kedudukan Komisi Yudisial diperkuat. pemberhentian sementara. Penguatan terhadap kedudukan Komisi Yudisial diatur dalam pasal 22C draft RUU yang menyebutkan bahwa Komisi Yudisial dapat membuat keputusan atas dugaan pelanggaran perilaku hakim dengan memberikan teguran tertulis. keluhuran martabat dan perilaku hakim yang tata caranya diatur dalam pasal 22A dan 22B. Kemudian dalam ayat (3) diatur: Putusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bersifat mengikat. teguran tertulis. sehingga menurut hemat penulis belum prioritas untuk direvisi. b. keputusan dapat berupa: a. pemberhentian sementara. RUU MK. atau pemberhentian permanen. atau disisipkan di antara pasal 32 dan 33 UU MahkaPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 205 . RUU KY. Dalam draft RUU Komisi Yudisial juga dipertegas bahwa Hakim Agung termasuk objek pengawasan Komisi Yudisial bersama hakim pada semua badan peradilan di bawah Mahkamah Agung (pasal 1 angka 4).

Ini merupakan upaya sinkronisasi tentang kewenangan pengawasan terhadap hakim dalam peraturan-peraturan perundang-undangan di bidang kekuasaan kehakiman. perlu dikaji ulang secara mendalam. Namun. hakim Mahkamah Konstitusi dikecualikan dari pengawasan Komisi Yudisial dan semua ketentuan yang menyangkut hakim Mahkamah Konstitusi dihapus dalam draft RUU Komisi Yudisial. Perubahan terpenting adalah menghilangkan ketentuan pasal 32 ayat (2) yang mengatur kewenangan Mahkamah Agung untuk mengawasi tingkah laku dan perbuatan para hakim di semua lingkungan peradilan dalam menjalankan tugasnya.mah Agung yang berlaku saat ini. sesuai putusan Mahkamah Konstitusi. Sedangkan pencantuman pengaturan kewenangan Komisi Yudisial melakukan pengawasan terhadap Hakim Agung dalam draft RUU Mahkamah Agung merupakan upaya sinkronisasi UU Mahkamah Agung terhadap UU Komisi Yudisial dan UU Kekuasaan Kehakiman. pengawasan dilakukan oleh Komisi Yudisial yang diatur dalam undang-undang. yang menyatakan bahwa pengawasan atas perilaku Hakim Agung dilakukan oleh Komisi Yudisial. keluhuran martabat serta perilaku hakim agung dan hakim. penyusun draft RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Agung (selanjutnya disingkat RUU Mahkamah Agung) juga telah mengubah bunyi pasal 32 UU Mahkamah Agung dari semula terdiri dari lima ayat menjadi tiga ayat. sebab pengawasan terhadap perilaku hakim merupakan kewenangan Komisi Yudisial. Sebab sikap Mahkamah Konstitusi 206 Bunga Rampai . Untuk diketahui. Ketentuan seperti ini. yakni dalam pasal 34 ayat 3 yang berbunyi: Dalam rangka menjaga kehormatan. Sementara itu. Oleh karena itu ketentuan mengenai pelaksanaan kewenangan Komisi Yudisial untuk menjatuhkan sanksi kepada hakim ini termasuk yang masih perlu disinkronisasikan dan diatur teknis pelaksanaannya dalam RUU Mahkamah Agung dan RUU Kekuasaan Kehakiman. UU Kekuasaan Kehakiman juga sudah mencantumkan tentang kedudukan Hakim Agung sebagai objek pengawasan Komisi Yudisial. dalam RUU Komisi Yudisial memang belum diatur tentang mekanisme pelaksanaan putusan Komisi Yudisial tersebut oleh Mahkamah Agung. menurut penulis. Sejalan dengan itu. selain UU Komisi Yudisial.

Sedangkan dalam ayat (2) disebutkan bahwa hakim Mahkamah Konstitusi tidak berwenang melakukan pengujian atas undang-undang yang berkaitan dengan tugas dan wewenang Mahkamah Konstitusi. antara lain. bersih. Apapun hasil pengkajian itu penting dicatat bahwa pengawasan oleh Komisi Yudisial yang dimaksud di sini adalah sebagai supporting element dalam rangka mendukung kekuasaan kehakiman yang merdeka. Perlu dikaji. lihat pertimbangan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 005/PUU-IV/2006 dalam perkara permohonan uji materi terhadap UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. antara lain dalam kasus permohonan uji materi terhadap UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial seperti sudah disinggung di atas. yakni hanya meliputi undang-undang yang diundangkan setelah perubahan UUD 1945 (pasal 50 ayat 1 RUU Mahkamah Konstitusi). Pengaturan dalam pasal 50 RUU Mahkamah Konstitusi ini lebih rinci dan tegas dibandingkan pasal 50 dalam UU Mahkamah Konstitusi yang sudah dicabut atau dibatalkan Mahkamah Konstitusi. apakah pengecualian hakim Mahkamah Konstitusi dari objek pengawasan Komisi Yudisial sudah tepat. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 207 . dan bukan dalam kerangka hubungan checks and balances. Pasal substantif lainnya adalah pembatasan kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam memeriksa. Pembatalan itu dilakukan Mahka- 7 Tentang kenapa fungsi pengawasan Komisi Yudisial harus dimaksudkan dalam posisi sebagai suppoting element dan bukan check and balances. Larangan seperti ini dilatarbelakangi adanya putusan Mahkamah Konstitusi yang melebihi permohonan.7 Ketentuan penting dalam draf pertama RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disingkat RUU Mahkamah Konstitusi) yang disusun Badan Legislatif DPR (posisi draft pada 27 Desember 2006). dan memutus permohonan pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar. dan berwibawa.yang mengecualikan dirinya sendiri dari objek pengawasan Komisi Yudisial ini termasuk kontroversial dan mendapatkan kritikan dari berbagai kalangan. mengadili. terdapat dalam pasal 45A yang mengatur bahwa Mahkamah Konstitusi tidak boleh memutus perkara melebihi daripada yang diminta sebagaimana dalam surat permohonanannya (ultra petita).

Dalam penjelasan pasal 50 ayat 2 disebutkan. mengadili. Perlu dikaji tentang perlunya pembedaan antara judicial review dan legislative review. Judicial review merupakan wilayah kewenangan Mahkamah Konstitusi. tanpa batasan waktu. Dengan membatalkan Pasal 50 yang menganut asas tidak berlaku surut tersebut juga berarti Mahkamah Konstitusi telah memberikan kewenangan kepada dirinya sendiri untuk untuk menguji seluruh undang-undang yang berlaku di Indonesia. 27 Agustus 2006. 208 Bunga Rampai . sedangkan legislative review masuk dalam wilayah kewenangan legislatif atau pembentuk undang-undang. sekaligus menutup celah bagi Mahkamah Konstitusi untuk mengatur dirinya sendiri melalui putusan uji materi terhadap undang-undang yang terkait Mahkamah Konstitusi. Dari ketentuan pasal 50 draft RUU Mahkamah Konstitusi tersebut dapat diketahui bahwa DPR. dengan tambahan adanya ayat (2). telah membatasi Mahkamah Konstitusi untuk menguji undangundang yang diundangkan sebelum amandemen UUD 1945. Pasca Putusan MK (1): Selamat Datang Kembali Mafia Peradilan.8 Sebab jika 8 Lihat Mahfud MD. Pembatalan pasal 50 itu dilakukan Mahkamah Konstitusi sebagai pintu masuk untuk dapat memeriksa uji materi terhadap undang-undang yang diundangkan sebelum perubahan atau amandemen UUD 1945 tersebut. Namun belum diatur pembatasan dari segi rationne materiae (materi pengujian) yang masuk dalam kewenangan Mahkamah Konstitusi. telah mengatur pembatasan undang-undang yang dapat dilakukan uji materi oleh Mahkamah Konstitusi dari segi rationne temporis (keberlakuan waktu). Dihidupkannya kembali pasal 50 dalam draft RUU Mahkamah Konstitusi. Termasuk dalam wilayah legislative review adalah review atau penilaian apabila tidak ada kepastian hukum karena adanya undang-undang yang saling bertentangan dengan undang-undang lain. dalam hal ini Badan Legislatif.mah Konstitusi saat memeriksa permohonan uji materi UU Nomor 1 Tahun 1987 tentang Kamar Dagang dan Industri. dan memutus suatu perkara di mana ia sendiri terlibat (ikut menjadi pihak) di dalamnya”. “Hal ini sesuai asas bahwa seorang hakim tidak dapat berlaku adil dalam memeriksa. Hukum Online.

Sikap DPR ini merujuk pada Ketetapan MPR Nomor VII/ MPR/2000 tentang Peran TNI dan Peran Polri dan UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI yang menegaskan bahwa Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 209 . yang perlu segera dilakukan revisi. dan sinkronisasi terhadap undang-undang yang mengatur lembaga pemegang kekuasaan kehakiman (yakni Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi sebagai principal organ) dan Komisi Yudisial (sebagai auxiliary organ dalam kekuasaan kehakiman). adalah UU Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer. Dari berbagai undangundang di bidang kekuasaan kehakiman. dan Tipikor Selain revisi. RUU Peradilan Militer. upaya yang sama juga harus dilakukan terhadap berbagai undang-undang yang mengatur tentang badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung. dan sinkronisasi. harmonisasi. antara lain. pembahasan RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 31 tahun 1997 tentang Peradilan Militer (selanjutnya disingkat RUU Peradilan Militer) saat ini sedang dilakukan oleh DPR bersama pemerintah. UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM). Sebagaimana telah disinggung di atas. Sementara Panitia Khusus (Pansus) DPR untuk RUU Peradilan Militer menghendaki agar jurisdiksi peradilan militer dibatasi pada tindak pidana militer. harmonisasi. sedangkan tindak pidana umum yang dilakukan militer masuk jurisdiksi peradilan umum. HAM. dan yang berwenang melakukannya adalah lembaga legislatif. Semula Departemen Pertahanan menghendaki agar semua tindak pidana yang dilakukan militer diadili di peradilan militer. dan UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang di dalamnya diatur dasar hukum tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Pembahasan terhadap RUU Peradilan Militer yang merupakan amanat reformasi ini sempat mengalami kebuntuan karena adanya perbedaan pendapat mengenai yurisdiksi peradilan militer yang diatur dalam pasal 9 RUU Peradilan Militer.terjadi pertentangan antara satu undang-undang dengan undang-undang lainnya maka perlu dilakukan harmonisasi atau sinkronisasi antara undang-undang yang saling bertentangan itu melalui revisi atau perubahan terhadap undang-undang dimaksud.

Pasal 65 UU No 34 Tahun 2004 itu adalah substansi yang dipaksakan. sedangkan apabila melanggar tindak pidana militer akan diadili di peradilan militer. Menurut pemerintah. Dalam Pasal 3 ayat (4b) Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2000 disebutkan: “Prajurit Tentara Nasional Indonesia tunduk kepada kekuasaan peradilan militer dalam hal pelanggaran hukum militer dan tunduk kepada kekuasaan peradilan umum dalam hal pelanggaran hukum pidana umum”. Sementara resistensi TNI (sebagaimana tergambar dalam sikap Menteri Pertahanan) untuk tunduk pada jurisdiksi peradilan sipil memiliki alasan yang lemah. Setelah melalui perdebatan panjang lebih dari satu tahun. Hal ini juga sesuai dengan semangat reformasi. ”Prajurit tunduk kepada kekuasaan peradilan militer dalam hal pelanggaran hukum pidana militer dan tunduk pada kekuasaan peradilan umum dalam hal pelanggaran hukum pidana umum yang diatur dengan undang-undang”. pemerintah akhirnya sependapat dengan DPR bahwa militer akan diadili di peradilan umum apabila melakukan tindak pidana umum. Akan tetapi. Kemudian dalam Pasal 74 undang-undang yang sama disebutkan Pasal 65 ayat 2 bisa berlaku setelah undang-undang yang baru tentang Peradilan Militer diberlakukan. Persetujuan itu disampaikan dalam Surat Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono kepada pimpinan DPR tanggal 30 Januari 2007. khususnya semangat menegakkan prinsip demokrasi dan adanya kontrol sipil pada militer. yaitu ketidakrelaan militer untuk tunduk pada peradilan umum dan disidik oleh polisi. Merujuk pada argumen masing-masing pihak. dan ditegaskan lagi oleh Menteri Pertahanan dalam Rapat 210 Bunga Rampai .TNI selain tunduk pada peradilan militer juga patuh pada peradilan umum. DPR memiliki landasan hukum yang lebih kuat karena merujuk pada Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2000 dan UU Nomor 34 Tahun 2004. pemerintah (dalam hal ini Menteri Pertahanan) memberikan jawaban yang mengejutkan. dan tampaknya lebih karena persoalan kultur. Sedangkan Pasal 65 ayat 2 UU Nomor 34 Tahun 2004 menyebutkan. atas argumen tersebut. Selanjutnya dinyatakan bahwa Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2000 maupun Pasal 65 jo Pasal 74 UU Nomor 34 Tahun 2004 tidak bisa dijadikan dasar penyusunan RUU Peradilan Militer.

jika revisi tersebut tidak mempertimbangkan UU Pengadilan HAM. Hal ini bisa mengakibatkan munculnya usulan pembentukan pengadilan internasional dalam kasus kejahatan perang atau kemanusiaan. bukan ke arah individu yang melakukan tindak pidana. Dalam DIM itu banyak istilah ’Prajurit’ yang kemudian diubah menjadi ’Militer’. kelompok 9 Lihat Republika. tercapainya kesepakatan DPR dengan pemerintah tentang jurisdiksi peradilan militer tidak berarti pembahasan RUU Peradilan Militer akan berjalan mulus. Perubahan istilah ’Prajurit’ ke ’Militer’ itu dikhawatirkan mengarah ke institusi. 8 Februari 2007. Dalam UU Pengadilan HAM. Tapi.Pansus RUU Peradilan Militer. diatur bahwa “setiap orang adalah orang perseorangan. Pansus RUU Peradilan Militer Khawatirkan Isi DIM Baru Pemerintah. Indonesia dapat dicurigai tidak mau menyesuaikan diri dengan standar internasional. pemerintah dan DPR secara simultan akan merevisi undangundang terkait. Jika prajurit melakukan tindak pidana umum maka diadili di peradilan umum. terutama terfokus pada UU Nomor 39 Tahun 1947 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana Militer berikut hukum acaranya. 28 Juni 2007 Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 211 . Kata ’Prajurit’ itu berkonotasi pada individu. Perubahan istilah ini dianggap mengandung jebakan. sedangkan ’Militer’ mengarah pada institusinya. bukan institusinya. Saat ini ada persoalan baru berkaitan dengan isi Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) tambahan dari pemerintah. Dalam kurun waktu tersebut. antara lain. Dalam rapat tersebut Pansus DPR dan pemerintah juga mulai menyepakati adanya masa transisi pemberlakuan UU Peradilan Militer selama dua sampai tiga tahun.9 Selanjutnya. yang perlu diperhatikan adalah bahwa revisi UU Peradilan Militer harus mempertimbangkan UU Nomor 26 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM). Pasalnya. Revisi UU Peradilan Militer perlu mempertimbangkan UU Pengadilan HAM mengingat prajurit TNI merupakan salah satu subjek hukum dari jurisdiksi Pengadilan HAM. Sehingga dikhawatirkan bisa terjadi kesulitan untuk mengadili individu prajurit yang melakukan tindak pidana umum itu ke peradilan umum.

Dalam kasus tersebut Kejaksaan Agung menolak menindaklanjuti hasil penyelidikan Komnas HAM dengan alasan penyidikan tidak bisa dilakukan tanpa didahului pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. militer. Pendapat ini didukung sebagian besar anggota Komisi III DPR. Revisi ini khususnya terhadap. Selama ini terdapat perbedaan penafsiran antara DPR dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) di satu pihak. Terhadap UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM sendiri juga perlu dilakukan revisi atau penyempurnaan. Perbedaan pendapat ini telah menyebabkan terjadinya kebuntuan dalam penindaklanjutan proses hukum kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum adanya UU Nomor 26 Tahun 2000.orang. ketentuan pasal 43 UU Pengadilan HAM yang mengatur tentang rekomendasi DPR untuk pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. mengenai dalam tahap mana dalam proses hukum kasus pelanggaran HAM berat diperlukan rekomendasi DPR sebagai syarat untuk pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. di mana Pengadilan HAM Ad Hoc dibentuk dengan Keputusan Presiden RI berdasarkan rekomendasi DPR RI. komisi yang membidangi hukum dan menjadi pasangan kerja Jaksa Agung RI dan Komnas HAM. antara lain dalam kasus penghilangan orang secara paksa periode 1997-1998. namun tidak terbatas pada. Kemudian dalam pasal 49 (masuk dalam Bab X tentang Ketentuan Penutup) dinyatakan bahwa ketentuan mengenai kewenangan Atasan Yang Berhak Menghukum dan Perwira Penyerah Perkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 dan Pasal 123 Undangundang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer dinyatakan tidak berlaku dalam pemeriksaan pelanggaran hak asasi manusia yang berat menurut undang-undang ini. baik sipil. dan Kejaksaan Agung di pihak lain. yang menyatakan rekomendasi DPR RI adalah untuk pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. maupun polisi yang bertanggung jawab secara individual” (pasal 1 ayat 3). Secara hubungan pasal tidak ada hubungan penyelidikan dan penyidikan dengan pembentukan pengadilan Ad Hoc tersebut sehingga tidak beralasan jika Kejaksaan mengatakan harus 212 Bunga Rampai . Sementara Komnas HAM berpendapat Jaksa Agung dapat menindaklanjuti hasil penyelidikan Komnas HAM dengan melakukan penyidikan tanpa didahului pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc.

melalui amandemen atau revisi terhadap UU Nomor 26 Tahun 2000. Sementara pengaturan tentang pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc diatur dalam pasal 43 yang menyatakan Pengadilan HAM Ad Hoc dibentuk atas usul DPR RI. dan kewenangan DPR untuk mengusulkan. serta pasal 23 dan 24 (penuntutan). mengeluarkan rekomendasi. Mahkamah Konstitusi menyatakan Pasal 53 UU Nomor 30 Tahun 2002 bertentangan dengan UUD 1945. dan pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. yakni pada pasal 21 dan 22 (penyidikan). penyidikan.ada keputusan politik dari DPR lebih dulu untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan. Keputusan politik DPR baru diperlukan jika hasil penyidikan akan dilanjutkan dengan proses penuntutan di pengadilan dan karena itu harus dibentuk Pengadilan HAM Ad Hoc. Namun atas argumen tersebut Kejaksaan Agung tetap pada sikapnya yang menolak menindaklanjuti hasil penyelidikan Komnas HAM dalam kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum adanya UU Nomor 26 Tahun 2000 tanpa didahului oleh keluarnya rekomendasi DPR untuk pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. Sementara revisi terhadap UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendesak untuk dilakukan karena adanya putusan judicial review Mahkamah Konstitusi yang membatalkan pasal 53 UU Nomor 30 Tahun 2002 yang menjadi dasar hukum Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Terkait argumen Komnas HAM yang didukung DPR di atas. namun tetap memiliki kekuatan hukum mengi- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 213 . Dari materi pasal-pasal tersebut diketahui kewenangan Komnas HAM ada di bidang penyelidikan. Terhadap perbedaan penafsiran yang meruncing dan menimbulkan kebuntuan hukum ini tentu perlu dicarikan jalan keluar dengan membuat rumusan undang-undang yang lebih tegas dan jelas. Kewenangan penyelidikan kasus pelanggaran HAM berat berada di Komnas HAM. dapat kita lihat pasal-pasal yang mengatur tentang penyelidikan. Kewenangan penyidikan dan penuntutan ada di tangan Kejaksaan Agung. Kejaksaan Agung di bidang penyidikan dan penuntutan. dan diatur pada pasal 19 dan 20 UU Nomor 26 Tahun 2000. khususnya menyangkut pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc.

Putusan ini sesuai dengan Pasal 24A UUD 1945 yang ditafsirkan Mahkamah Konstitusi bahwa pembentukan badan peradilan di bawah Mahkamah Agung harus dilakukan dengan undang-undang. Karena itu. ketiga. agar tidak menyebabkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid) yang dapat mengacaukan penanganan perkara tipikor. Asas manfaat dimaksud adalah dapat dilihat dari empat alasan yang dikemukakan oleh Mahkamah Konstitusi. Sementara putusan yang menyatakan Pasal 53 UU KPK tetap mempunyai kekuatan hukum mengikat sampai diadakan perubahan paling lambat tiga tahun terhitung sejak putusan diucapkan. putusan Mahkamah Konstitusi tersebut dapat dilihat sebagai putusan yang bertujuan memberikan kepastian hukum. Sementara dalam konteks sidang perkara korupsi yang berlaku pada saat ini. pertama. agar proses peradilan Tipikor tidak terganggu atau tidak macet. untuk meniadakan 10 Lihat Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 012-016-019/PUU-IV/2006 tentang permohonan uji materi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. maka seharusnya hanya ada satu pengadilan. untuk melakukan penyempurnaan UU KPK dan penataan kelembagaan pengadilan khusus. yakni. Artinya. Untuk meniadakan dualisme yang selama ini terjadi dalam sidang perkara-perkara korupsi. keempat. 214 Bunga Rampai . merupakan terobosan yang didasarkan pada aspek manfaat. agar tidak memperlemah semangat (disinsentive) pemberantasan korupsi. Namun.kat sampai diadakan perubahan paling lambat tiga tahun setelah sejak putusan diucapkan. perkara korupsi dapat disidangkan di dua pengadilan yang berbeda yaitu Peradilan Umum dan Pengadilan Tipikor. bukan di dalam UU KPK seperti saat ini.10 Terlepas dari pro dan kontra mengenai putusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan dasar hukum Pengadilan Tipikor. Pengadilan Tipikor harus dibentuk dengan undang-undang tersendiri. dinyatakan tidak boleh ada dualisme hukum. Sebab dalam prinsip kepastian hukum. dan. keputusan Mahkamah Konstitusi ini sebenarnya dapat dijadikan momentum untuk menguatkan eksistensi Pengadilan Tipikor melalui dukungan terhadap terbentuknya undang-undang yang khusus mengatur mengenai Pengadilan Tipikor. kedua.

maka harus disertai dengan undang-undang yang khusus mengaturnya. Hal ini tercermin pada pasal 36 draf RUU Tipikor11 yang berbunyi. dan penyidik pada Komisi Pemberantasan tindak Pidana Korupsi. sebenarnya tidak ada pertentangan antara keduanya. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 215 . Isi draf RUU yang disusun tim yang dibentuk Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) ini memang cenderung membubarkan Pengadilan Tipikor. Sehingga selanjutnya seluruh perkara korupsi disidangkan oleh hakim karier yang dididik khusus untuk menangani perkara korupsi di pengadilan umum. Menurut Andi Hamzah. Andi Hamzah menganut pendapat yang pertama. dinyatakan bahwa: Dalam waktu paling lambat 1 (satu) tahun setelah UU ini diundangkan ditunjuk hakim khusus untuk tindak pidana korupsi pada setiap pengadilan negeri. Pasalnya. sehingga eksistensi Pengadilan Tipikor beserta hakim Ad Hocnya harus ditiadakan. Jika ditinjau putusan Mahkamah Konstitusi dan apa yang sedang digodok oleh Tim Perumus RUU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Mahkamah Konstitusi tidak secara tegas memerintahkan dibentuknya Pengadilan Khusus 11 Periksa Draft RUU mengenai Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.dualisme tersebut ada dua pilihan. yakni Pengadilan Tipikor dileburkan ke pengadilan umum. ”Penyidikan dalam undang-undang ini dilakukan oleh Kepolisian. Tim Perumus Draft RUU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang dipimpin Prof. atau kedua. (2) Perkara tindak pidana korupsi yang diterima oleh Jaksa sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dilimpahkan ke pengadilan negeri setempat untuk diperiksa dan diputus oleh majelis hakim khusus tindak pidana korupsi. pada posisi 30 Januari 2007. Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. jika Pengadilan Tipikor masih dikehendaki eksistensinya. Kemudian pada pasal yang terletak setelah pasal 36 tapi belum diberi nomor disebutkan bahwa: (1) Hasil penyidikan yang dilakukan oleh penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 diserahkan kepada Jaksa Penuntut Umum. Kemudian dalam pasal berikutnya (juga belum diberi nomor). keberadaan Pengadilan Tipikor bertentangan dengan konstitusi karena kriteria kekhususan Pengadilan Tipikor menyebabkan terdapat dua pengadilan yang berbeda dalam lingkup yang sama. Kejaksaan.

Lagipula. harus dengan payung hukum atau undang-undang tersendiri. apakah disatukan melalui pengadilan khusus. kalau tidak maka akan kembali ke pengadilan umum. Harus dilakukan kajian mendalam tentang pilihan yang akan diambil untuk meniadakan dualisme yang selama ini terjadi dalam sidang perkara-perkara korupsi. antara lain dari pakar hukum pidana Romli Atmasasmita dan para aktivis lembaga swadaya masyarakat di bidang gerakan antikorupsi. Mereka menilai Tim Perumus RUU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi telah keliru memahami putusan Mahkamah Konstitusi. melainkan memerintahkan pembentuk undang-undang untuk segera membuat UU Pengadilan Khusus Tipikor. Karena itu Romli dan beberapa akademisi hukum serta sejumlah LSM membuat tim untuk menyusun draf RUU Pemberantasan Korupsi tandingan. Putusan Mahkamah Konstitusi tidak menghapus keberadaan Pengadilan Khusus Tipikor. Pengadilan yang Lebih Baik Pembenahan lembaga peradilan sangat penting karena saat ini pelayanan lembaga peradilan dianggap sebagian besar masyarakat tidak optimal. Apapun pilihan yang diambil harus dalam kerangka untuk mengefektifkan pemberantasan tindak pidana korupsi. lambatnya proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh kepolisian dan kejaksaan. Dipastikan dalam draf itu terdapat klausul tentang pembentukan Pengadilan Tipikor. draft versi pemerintah yang mengarah pada pembubaran Pengadilan Tipikor ini mendapat kritikan dari berbagai kalangan. atau melalui peradilan umum. Mahkamah Konstitusi memberikan waktu tiga tahun bagi pembentuk undang-undang untuk membuat undang-undang tersendiri itu. dan banyaknya perkara kasasi yang menumpuk di Mahkamah Agung.Tipikor. kalau dibentuk Pengadilan Khusus. banyaknya persyaratan administratif yang harus ditempuh saat pendaftaran perkara di pengadilan. Pelayanan yang tidak optimal tersebut. banyaknya pungutan di luar biaya administrasi resmi. Terhadap kritik dari para pengamat dan akademisi hukum serta kalangan LSM ini tentu pemerintah harus membuka diri. Tapi. antara lain. Mahkamah Konstitusi hanya menyatakan. 216 Bunga Rampai .

http://www. disusul bea dan cukai 95 persen.ti. dan memperkuat eksistensi pengadilan Tipikor. yaitu hasil survei Global Corruption Report 200712 yang diluncurkan oleh Transparency International Indonesia. Moldova. penetapan gaji yang berdasarkan pengalaman dan kemampuan. serta militer. masih korup. sekaligus seolah mengkonfirmasikan kebenaran rahasia umum tentang adanya lingkaran penyalahgunaan wewenang di lembaga peradilan yang dikenal dengan istilah mafia peradilan. dan proses peradilan yang harus dilakukan secara terbuka. Menurut hasil survei Global Corruption Report 2007. Maroko. imigrasi 90 persen. Transparency International Indonesia mengeluarkan tujuh rekomendasi yaitu reformasi sistem peradilan yang mencegah campur tangan eksekutif atau legislatif.or. Peru. Saat itu. khususnya 12 Periksa Tranparency International Indonesia. Hasil survei itu paling tidak merupakan indikasi bahwa praktik suap memang terjadi di lembaga peradilan. Temuan itu juga sesuai dengan hasil Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia 2006 yang dirilis Transparency International Indonesia pada Februari 2007. bea dan cukai.id/news/11/tahun/2007/bulan/05/ tanggal/25/id/1125/. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 217 . Dalam IPK itu. pajak. kebebasan memperoleh akses informasi. Meksiko. survei menemukan bahwa lembaga vertikal. Hasil survei ini oleh berbagai kalangan. dan pajak 76 persen. The Global Corruption Report 2007: Corruption in Judicial Systems. empat lebih di antara sepuluh keluarga Indonesia mengaku harus menyuap demi mendapatkan keadilan. Kondisi itu menempatkan peradilan Indonesia sejajar dengan Albania. Berdasarkan laporan tersebut. peradilan. Yunani. pengadilan dipersepsikan meminta suap hingga 100 persen. yang menyatakan bahwa tingkat inisiatif lembaga peradilan dalam meminta suap secara langsung mencapai 100 persen dari seluruh interaksi. imigrasi. BPN 84 persen.Masih buruknya wajah lembaga peradilan ini dapat dilihat dari hasil survei terkini. Taiwan. Rekomendasi berikutnya adalah memperkuat seleksi Hakim Agung oleh Komisi Yudisial. polisi 78 persen. seperti polisi. dan Venezuela. mengembalikan kewenangan Komisi Yudisial untuk memperkuat fungsi pengawasan hakim. Badan Pertanahan Nasional.

Sebab hakim di Indonesia dapat disuap untuk memperlambat atau mempercepat proses hukum di pengadilan. polisi. Sementara kalangan lain ada yang mempertanyakan akurasi dari metode survei yang dilakukan Transparency International Indonesia. Berangkat dari titik itu.pengamat hukum dan aktivis lembaga swadaya masyarakat. dan sinkronisasi berbagai perundang-undangan yang terkait dengan kekuasaan kehakiman yang memiliki tujuan 13 Lihat artikel Satjipto Rahardjo berjudul Mafia Pengadilan. Adanya praktek suap di lembaga peradilan ini. menerima atau menolak permintaan banding. termuat dalam buku Sisi-sisi Lain dari Hukum di Indonesia. jaksa. Apalagi temuan. Penulis sendiri berpandangan bahwa hasil survei Transparency International Indonesia harus diterima sebagai otokritik.13 Asikin pernah memaparkan angka yang mengejutkan. antara lain. diungkapkan pakar hukum senior Satjipto Rahardjo dengan mengutip temuan mantan Hakim Agung Asikin Kusumah Atmaja dan Adi Andojo. praktik korupsi tampaknya masih merupakan kebiasaan yang terus saja terjadi dan kemudian dipotret oleh Transparency International. Sedangkan Adi Andojo pernah membeberkan secara rinci praktek negatif di Mahkamah Agung. Penerbit Buku Kompas. dan advokat harus mempunyai komitmen dan visi yang sama tentang bagaimana mengakhiri praktik suap dan atau praktek mafia peradilan lainnya di pengadilan. yaitu hampir separuh dari tiga ribu hakim di Indonesia berbuat tidak benar. dibutuhkan komitmen bersama dari hakim. mempengaruhi rekannya sesama hakim. 218 Bunga Rampai . Kompas edisi 5 Januari 1995. jaksa. atau menjatuhkan putusan tertentu. Kita harus mengakui bahwa secara institusional memang telah terjadi perubahan dalam dunia peradilan. atau persepsi tentang buruknya kondisi peradilan sebenarnya bukan hal baru karena sudah mengemuka sejak lama. dianggap mencerminkan gagalnya reformasi peradilan di Indonesia. harmonisasi. pendapat. Komitmen dari para aparat penegak hukum ini mendukung atau seiring dengan proses revisi. sinyalemen. Polri. 2006. Namun. dan advokat sebagai catur wangsa penegak hukum untuk membersihkan korupsi di dunia peradilan. Karena itu hakim.

terwujudnya lembaga peradilan yang transparan dan akuntabel dengan didukung oleh aparat penegak hukum yang bersih akan mendorong tercapainya penyelenggaraan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. peningkatan peran masyarakat dan lembaga legislatif dalam bentuk pengawasan dan kontrol yang ketat terhadap perilaku hakim dan aparat penegak hukum lainnya. Dan. Keberadaan Komisi Yudisial dan beberapa lembaga independen lainnya yang mempunyai fungsi sebagai pengawas terhadap lembaga pengadilan dan lembaga penegak hukum lainnya diharapkan dapat menciptakan lembaga peradilan yang lebih akuntabel dan bersih.akhir untuk mewujudkan peradilan yang lebih baik. khususnya dalam rangka penegakan hukum di Indonesia. Catatan: . dan komitmen dari aparat penegak hukum itu sendiri dalam mewujudkan lembaga peradilan yang merdeka. bersih. dan berwibawa. Adanya upaya untuk melakukan reformasi di lingkungan lembaga peradilan diharapkan akan dapat memberikan hasil yang positif. peningkatan kualitas moral dan integritas hakim dan aparat penegak hukum lainnya. termasuk dalam bidang pemberantasan tindak pidana korupsi. Sebab untuk mewujudkan sistem peradilan yang transparan dan adil dapat dilakukan melalui pembenahan sistem peradilan untuk mewujudkan sistem peradilan terpadu (integrated criminal justice system).Artikel ini disusun untuk memenuhi permintaan Komisi Yudisial terkait penerbitan Buku Bunga Rampai Volume Dua. penerapan sistem rekruitmen hakim dan Hakim Agung yang lebih transparan melalui uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test). penyediaan sarana dan prasarana hukum yang mendukung penyelenggaraan proses peradilan yang adil dan transparan. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 219 .

220 Bunga Rampai .

Hakim yang dimaksud disini adalah Hakim Agung dan hakim pada badan peradilan disemua lingkungan 1 2 3 Ketua Badan Legislasi DPR RI RI Pasal 24B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. kedudukan. Dalam Amandemen ketiga. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 221 . Soekarno. Komisi ini oleh konstitusi diberi kewenangan mengusulkan pengangkatan hakim agung dan kewenangan lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. menginternalisasi kelembagaan baru di dalam Bab IX (Kekuasaan Kehakiman). yang salah satunya adalah dalam bidang kekuasaan kehakiman. tepatnya pada Pasal 24B yaitu adanya Komisi Yudisial.DPR dan Perubahan Atas Undang-Undang Komisi Yudisial Oleh : F. yaitu mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. S.2 Adapun susunan.3 Amanat konstitusi tersebut ditindaklanjuti dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Pendahuluan Amandemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) membawa konsekuensi terhadap perubahan sistem ketatanegaraan Republik Indonesia. keluhuran martabat serta perilaku hakim.H. Pasal 24B ayat (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan keanggotaan Komisi Yudisial diatur dengan undang-undang. Undang-undang ini mengatur tugas dan wewenang Komisi Yudisial. 1 A. keluhuran martabat serta perilaku hakim.X.

Namun dalam perjalanannya Undang-undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial dimohonkan judicial review oleh 31 Hakim Agung yang menganggap hak dan kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya UU No. 222 Bunga Rampai . Pasal 20 dan 4 5 Lihat pengertian hakim pada Pasal 1 angka 5 UU No.peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung serta hakim Mahkamah Konstitusi. Komisi Yudisial wajib menaati norma hukum dan ketentuan peraturan perundang-undangan. dan mengajukan calon Hakim Agung ke DPR. d) memanggil dan meminta keterangan dari hakim yang diduga melanggar kode etik perilaku hakim.4 Dalam melaksanakan kewenangan mengusulkan pengangkatan Hakim Agung. b) melakukan seleksi terhadap calon Hakim Agung. c) menetapkan calon Hakim Agung. Dalam melaksanakan tugas pengawasan tersebut. Adapun kewenangan lain yang berkaitan dengan menjaga dan menegakkan kehormatan. pemberhentian sementara atau pemberhentian. keluhuran martabat serta perilaku hakim. menjaga kerahasiaan keterangan yang karena sifatnya merupakan rahasia Komisi Yudisial dan tidak boleh mengurangi kebebasan hakim dalam memeriksa dan memutus perkara. dapat berupa teguran tertulis. 22 Tahun 2004. dan e) membuat laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi dan disampaikan kepada Mahkamah Agung dan/ atau Mahkamah Konstitusi serta tindasannya disampaikan kepada Presiden dan DPR. Komisi Yudisial mempunyai tugas: a) melakukan pendaftaran calon Hakim Agung. khususnya yang berkaitan dengan ”pengawasan hakim” yang diatur dalam Bab III. c) melakukan pemeriksaan terhadap dugaan pelanggaran perilaku hakim.5 Dalam melaksanakan pengawasan tersebut. b) meminta laporan secara berkala kepada badan peradilan berkaitan dengan perilaku hakim. Komisi Yudisial dapat: a) menerima laporan masyarakat tentang perilaku hakim. Usul penjatuhan sanksi sesuai dengan ketentuan Pasal 23 UU No. Komisi Yudisial mempunyai tugas pengawasan dan pengusulan penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada Pimpinan Mahkamah Agung atau Mahkamah Konstitusi. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial.

Pasal 25 ayat (3) sepanjang mengenai kata-kata ”dan/atau Mahkamah Konstitusi”. menyatakan Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata ”Hakim Mahkamah Konstitusi”. hakim pada badan peradilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung dan Hakim Mahkamah Konstitusi sebagaimana yang dimaksud pada Pasal 1 angka 5 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Kekosongan Hukum Jika dilihat lebih lanjut. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 223 . juga berkaitan dengan pengaturan prosedur pengawasan hakim. Pasal 21. bertentangan dengan Undangundang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 22 ayat (1) huruf e. Pasal 23 ayat (3). serta yang berkaitan dengan ”usul penjatuhan sanksi” yang diatur dalam Pasal 21. Pengawasan terhadap pelaksanaan kode etik hakim konstitusi dilakukan oleh Majelis Kehormatan yang tersendiri sesuai dengan ketentuan Pasal 23 Undangundang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi.Pasal 22 ayat (1) huruf e dan ayat (5). Alasan yang dikemukakan oleh Mahkamah Konstitusi adalah: a. Pasal 23 ayat (2). Pasal 23 ayat (5). khusus yang menyangkut hakim Mahkamah Konstitusi dinyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. dan Pasal 25 ayat (4) sepanjang mengenai kata-kata ”dan/ atau Mahkamah Konstitusi”. sehingga tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Hakim sebagai obyek pengawasan Komisi Yudisial yang menyangkut Hakim Agung. Putusan Mahkamah Konstitusi tersebut selain menandaskan obyek pengawasan Komisi Yudisial. Pasal 24 ayat (1) dan Pasal 25 ayat (3) dan ayat (4) dihubungkan dengan Pasal 1 angka 5 undang-undang tersebut. Pasal 24 ayat (1) sepanjang mengenai kata-kata ”dan/atau Mahkamah Konstitusi”. Pasal 23 ayat (2) dan ayat (3) serta ayat (4). Pasal 22 ayat (5). Mahkamah Konstitusi dengan Putusan Nomor 005/PUU-IV/2006. Berdasarkan permohonan tersebut. sebagai pelaksanaan Pasal 24C ayat (6) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. B. Pasal 20.

.6 Berkaitan Hakim Agung sebagai obyek pengawasan Komisi Yudisial. keluhuran martabat serta perilaku semua hakim di Indonesia. bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 6 Jimly Asshiddiqie. Dengan demikian hakim yang harus dijaga dan ditegakkan kehormatannya. dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 005/PPU-IV/2006. 2006. Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa hal ini tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. hlm.. Terlepas pro dan kontra terhadap hakim Mahkamah Konstitusi dan Hakim Agung sebagai obyek pengawasan Komisi Yudisial. Dapat saja pembentuk undang-undang menentukan bahwa hakim agung termasuk ke dalam pengertian hakim yang perilaku etiknya diawasi oleh Komisi Yudisial secara eksternal. Jakarta. Pengadilan Agama. tidaklah ditemukan dasar-dasar konstitusional yang meyakinkan. meliputi pengertian hakim agung atau tidak. Hakim Pengadilan Umum.b. Kedudukan Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga pemutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh undang-undang dasar. dan Pengadilan Militer serta termasuk Hakim Konstitusi”. secara tegas telah menyatakan keberlakuan Pasal 1 angka 5 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2004 sepanjang mengenai kata-kata ”hakim Mahkamah Konstitusi”. Hal ini tidak sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Jimly Asshiddiqie dalam bukunya ”Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia”. Beliau menyatakan bahwa ”. tidak lagi terganggu sebagai akibat dimasukkannya hakim konstitusi sebagai obyek pengawasan Komisi Yudisial. 224 Bunga Rampai . Persoalan yang berkaitan dengan pertanyaan apakah ”hakim” menurut Pasal 24B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI. Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia. Pengadilan Tata Usaha Negara.Komisi Yudisial bertugas menjaga (preventif) dan menegakkan (korektif dan represif) kehormatan. keluhuran martabat dan perilakunya mencakup Hakim Agung. 254.

yaitu seolah-olah hubungan antara MA dan KY berada dalam pola hubungan “checks and balances” antarcabang kekuasaan dalam konteks ajaran pemisahan kekuasaan (separation of powers). Konsepsi pengawasan yang terkandung dalam UndangUndang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial didasarkan atas paradigma konseptual yang tidak tepat. menyebabkan semua ketentuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang pengawasan menjadi kabur (obscuur) dan menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid) dalam pelaksanaannya. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 225 . Untuk hal yang terakhir ini. serta bagaimana proses pengawasan itu dilaksanakan. instrumen apa yang digunakan. dalam kesimpulan putusannya. b. Perumusan Pasal 13 huruf b juncto Pasal 20 UndangUndang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial mengenai wewenang lain sebagai penjabaran dari Pasal 24B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menggunakan rumusan kalimat yang berbeda sehingga menimbulkan masalah dalam penormaannya dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial yang menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). Mahkamah Konstitusi menyatakan: a. tidak jelas dan tegas menentukan siapa subjek yang mengawasi. Hal tidak jelas dan tidak rincinya pengaturan mengenai pengawasan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial serta perbedaan dalam rumusan kalimat seperti dimaksud pada butir a di atas. Adapun yang berkaitan dengan pengaturan prosedur pengawasan hakim. apa objek yang diawasi. secara struktural kedudukan Komisi Yudisial memang diposisikan sederajat dengan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi.Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial terbukti tidak rinci mengatur mengenai prosedur pengawasan. terutama dalam pelaksanaannya. Na- c. sehingga menimbulkan penafsiran yang juga tidak tepat.

Berdasarkan apa yang dinyatakan dalam kesimpulan putusan Mahkamah Konstitusi sebagaimana tersebut di atas. tetapi secara fungsional peranannya bersifat penunjang (auxiliary) terhadap lembaga kekuasaan kehakiman. Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi. melainkan lembaga penegak etika kehakiman (the enforcer of the rule of judicial ethics and good conduct). Jimly Asshiddiqie. hlm. Lagi pula komisi ini berurusan dengan soal kehormatan. melainkan lembaga penegak norma etik (code of ethics). Komisi Yudisial lebih merupakan lembaga etika daripada lembaga hukum. Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI. Komisi Yudisial meskipun fungsinya terkait dengan kekuasaan kehakiman. 226 Bunga Rampai . C. tetapi tidak menjalankan fungsi kekuasaan kehakiman. Komisi Yudisial bukanlah lembaga penegak norma hukum (code of law). Komisi Yudisial bersifat penunjang (supporting system) terhadap dan dalam cabang kekuasaan kehakiman. bukan dengan lembaga peradilan atau lembaga kekuasaan kehakiman secara institusional. 2006. meskipun secara struktural kedudukannya sederajat dengan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. Inisiasi Legislasi Untuk mengatasi permasalahan tersebut (adanya kekosongan hukum). 187-188. Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) sebagai institusi yang mempunyai kewenangan 7 Lihat. Terhadap fungsi kekuasaan kehakiman.mun demikian. segala ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial yang menyangkut pengawasan dinyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat karena terbukti menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). Jakarta. Dengan demikian terjadi kekosongan hukum yang berkaitan dengan tugas Komisi Yudisial. khususnya yang berkaitan dengan ketentuan mengenai pengawasan perilaku hakim. Lembaga negara yang mempunyai fungsi kehakiman atau menjalankan fungsi peradilan tertinggi adalah Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. keluhuran martabat dan perilaku hakim.7 Komisi Yudisial bukan merupakan lembaga penegak hukum (the enforcer of the rule of law).

Kehormatan. Agar perubahan ini dapat terintegrasi dengan baik terhadap undang-undang lain khususnya di lingkungan kekuasaan kehakiman.9 Perubahan tersebut diharapkan dapat mendudukkan fungsi. keluhuran martabat dan perilaku hakim menjadi syarat mutlak yang diperlukan dalam sistem demokrasi konstitusional. yang menyatakan : (1) Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang. ide pembentukan Komisi Yudisial dalam rangka pengawasan eksternal dimunculkan. RUU tentang Perubahan UU Komisi Yudisial dan RUU Perubahan UU Mahkamah Konstitusi menjadi prioritas pembahasan Tahun 2007. yaitu para hakim tanpa adanya intervensi dari pimpinan Mahkamah Agung. tugas dan kewenangan Komisi Yudisial dalam menjaga dan menegakkan kehormatan. Lihat ketentuan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945. Kelembagaan ini bersifat mandiri atau independen untuk menjamin efektifitas kerjanya. Dalam Keputusan DPR RI Nomor 07 A/DPR-RI/I/2006-2007. keluhuran martabat dan perilaku hakim hanya dilakukan secara internal oleh para hakim sendiri.10 Independen disini dimaknai: a) independensi terhadap subyek yang ia awasi. Pengawasan internal yang dilakukan oleh majelis kehormatan hakim di Mahkamah Agung tersebut dirasakan kurang efektif. (2) Setiap Rancangan Undang-undang dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden untuk mendapatkan persetujuan bersama. Oleh karena itu.dan kekuasaan membentuk undang-undang. upaya menjaga dan menegakkan kehormatan.8 berinisiasi melakukan pembenahan dan perbaikan terhadap Undangundang Komisi Yudisial dimaksud. maka inisiasi perubahan terhadap Undang-undang Komisi Yudisial tersebut diikuti dengan Perubahan Undang-undang Mahkamah Agung (Undang-undang Nomor 14 Tahun 1985 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 2004) dan Undang-undang Mahkamah Konstitusi (Undangundang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi). Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 227 . b) independen dalam menjalankan tugas yang tidak boleh diintervensi oleh lembaga-lembaga lain yang mempunyai kepentingan 8 9 10 Lihat ketentuan Pasal 20 ayat (1) dan ayat (2) UUD 1945. keluhuran martabat dan perilaku hakim. Selama ini (sebelum Amandemen III UUD 1945 dan lahirnya UU Komisi Yudisial).

Mengenai independensi Komisi Yudisial terhadap pihak lain (yang mempunyai kepentingan tertentu).000 orang dapat dijaga dan ditegakkan sebagaimana mestinya. sangatlah penting karena para hakimlah yang harus diawasi perilakunya oleh Komisi Yudisial. Komisi Yudisial tidak boleh menjadikan dirinya alat politik bagi lembaga legislatif. diharapkan pengawasan menjadi efektif. ada beberapa pilihan-pilihan atau alternatif konsepsi maupun paradigmatig yang nantinya akan menjadi pilihan politis maupun yuridis. Dengan dijadikannya Komisi Yudisial sebagai external auditor. Oleh karena itu jangan sampai Komisi Yudisial sebagai lembaga pengawas perilaku hakim dipergunakan atau membiarkan dirinya dipakai oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengganggu kemerdekaan hakim. keberadaan Komisi Yudisial justru sangat penting artinya agar kehormatan. tidak seperti sebelumnya dimana diantara sesama hakim justru terjadi hubungan saling membela dan melindungi yang menyebabkan pengawasan tidak efektif.tertentu. eksistensi hakim dan lembaga kekuasaan kehakiman terletak antara lain pada independensi dan imparsialitasnya. juga harus dipertahankan. eksekutif ataupun kekuatan partai politik untuk mempengaruhi kinerja kekuasaan kehakiman yang merdeka. Komisi Yudisial adalah mitra bagi Mahkamah Agung dalam menjaga dan menegakkan kehormatan. keluhuran martabat dan perilaku para hakim diseluruh Indonesia yang berjumlah lebih dari 6. Namun demikian tidak berarti dengan menjadi external auditor Komisi Yudisial menjadi lawan atau musuh para hakim. Bagi Mahkamah Agung. Pilihanpilihan dimaksud merupakan jawaban dari permasalahanpermasalahan yang muncul dan berkembang. Sejalan dengan perkembangan yang ada dan sekaligus sebagai pengayaan materi yang akan menjadi bahan kajian yang selanjutnya akan disarikan dalam norma. Karena pada prinsipnya. Dari pemikiran inilah konstruksi perubahan Undangundang Komisi Yudisial akan dilakukan. keluhuran martabat dan perilaku hakim. Siapakah yang dimaksud dengan “hakim” dalam konstiBunga Rampai 228 . antara lain sebagai berikut: 1. Mengenai independensi dari dan terhadap para hakim dan lembaga Mahkamah Agung.

yang sedikit banyak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagaimana tersebut di atas. baik oleh Mahkamah Agung maupun oleh Komisi Yudisial. 10.tusi yang menjadi obyek pengawasan Komisi Yudisial? 2. Apakah pengawasan terhadap perilaku hakim dapat dilakukan dengan cara mengkaji putusan Pengadilan? 11. 5. Siapa yang melakukan pengawasan terhadap (perilaku anggota) Komisi Yudisial? D. Apakah arti kewenangan Komisi Yudisial dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. 8. keluhuran martabat. 6. keluhuran martabat. Namun saya menyadari hal ini Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 229 . berarti kewenangan untuk menjatuhkan sanksi? 12. 7. Bagaimana seharusnya hubungan antara Mahkamah Agung dengan Komisi Yudisial? 13. Apakah kewenangan melakukan pengawasan terhadap hakim. serta perilaku hakim? Siapa yang menetapkan dan menegakkan kode etik dan perilaku hakim? Apa saja ruang lingkup pengawasan terhadap hakim? Bagaimana pelaksanaan pengawasan terhadap hakim yang tidak bertentangan dengan prinsip independensi peradilan? Bagaimana penerapan prinsip akuntabilitas dan transparansi dalam pengawasan terhadap hakim? Apa pengertian dan ruang lingkup “perilaku hakim”? Apakah perilaku tersebut mencakup baik di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan? Apa yang dijadikan pedoman dalam melakukan pengawasan atas perilaku hakim? 3. 4. Pokok-Pokok Pikiran Perubahan Undang-Undang KY Di bawah ini akan diuraikan pokok-pokok pikiran yang dapat memperkaya pemahaman dalam perubahan Undangundang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. 9. serta perilaku hakim? Bagaimana pelaksanaan wewenang Komisi Yudisial dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan.

Hal ini didasari pada pemikiran: Jika ditinjau secara sistematis dan dari penafsiran berdasarkan “original intent” perumusan ketentuan UUD 1945. Hal ini dapat dipastikan dengan bukti risalah-risalah rapat-rapat Panitia Ad Hoc I Badan Pekerja MPR maupun dari keterangan para mantan anggota Panitia Ad Hoc tersebut dalam persidangan bahwa perumusan ketentuan mengenai KY dalam Pasal 24B UUD 1945 memang tidak pernah dimaksudkan untuk mencakup pengertian hakim konstitusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24C UUD 1945. sudah dapat dipahami bahwa ketentuan mengenai Komisi Yudisial pada Pasal 24B UUD 1945 itu memang tidak dimaksudkan untuk mencakup pula objek perilaku hakim konstitusi sebagaimana diatur dalam Pasal 24C UUD 1945. 1 Siapakah yang dimaksud dengan “hakim” dalam konstitusi yang menjadi obyek pengawasan Komisi Yudisial? Sementara ini saya sependapat dengan apa yang diputus oleh Mahkamah Konstitusi bahwa hakim konstitusi tidak termasuk obyek pengawasan Komisi Yudisial.mungkin belum terlalu komprehensif dan tentunya terus akan dilakukannya pengayaan kajian dan pemutakhiran. ketentuan mengenai KY dalam Pasal 24B UUD 1945 memang tidak berkaitan dengan ketentuan mengenai MK yang diatur dalam Pasal 24C UUD 1945. Dari sistimatika penempatan ketentuan mengenai Komisi Yudisial sesudah pasal yang mengatur tentang Mahkamah Agung yaitu Pasal 24A dan sebelum pasal yang mengatur tentang Mahkamah Konstitusi yaitu Pasal 24C. Hal tidak tercakupnya pengertian perilaku hakim konstitusi dalam apa yang dimaksud dengan perilaku hakim menurut Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 tersebut juga terdapat dalam ketentuan UU MK dan UU KK yang dibentuk sebelum pembentukan UU KY. berdasarkan masukan dan pemikiran dari semua pihak. Adapun Hakim Agung dan hakim pada badan peradilan disemua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung merupakan obyek pengawasan Komisi Yudisial. untuk fungsi pengawasan terhadap perilaku Hakim Konstitusi ditentukan adanya lembaga Majelis Kehormatan yang diatur secara tersendiri dalam Pasal 23 UU 230 Bunga Rampai . Dalam UU MK.

D.MK. baik dari segi legal policy pembuat UU maupun dari segi constitutional morality. dan Denny Indrayana. Demikian pula Pasal 34 ayat (3) UU KK sama sekali tidak menentukan bahwa Hakim Konstitusi menjadi objek pengawasan oleh KY. S.. LL.. ketentuan yang memperluas pengertian perilaku hakim dalam Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 mencakup perilaku Hakim Konstitusi dapat mengebiri kewenangan dan menghalang-halangi pemenuhan tanggungjawab Mahkamah Konstitusi dalam menjaga konstitusionalitas mekanisme hubungan antarlembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945. Dr. yang bersangkutan masing-masing kembali lagi kepada status profesinya yang semula. Ph. S. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 231 .M. Hakim Konstitusi pada dasarnya bukanlah hakim sebagai profesi tetap. menurut Prof. termasuk dalam konteks hubungan-hubungan konstitusional antarlembaga negara. khususnya apabila dalam praktik timbul persengketaan kewenangan antara KY dengan lembaga lain. Hakim Konstitusi hanya diangkat untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan setelah tidak lagi menduduki jabatan Hakim Konstitusi. Berkaitan dengan Hakim Agung. melainkan hakim karena jabatannya. Dalam keseluruhan mekanisme pemilihan dan pengangkatan para Hakim Konstitusi yang diatur dalam UUD 1945 juga tidak terdapat keterlibatan peran KY sama sekali. Dengan demikian. Padahal. Oleh karena itu.. maka kewenangan Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga pemutus sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara menjadi terganggu dan terjebak ke dalam anggapan sebagai pihak yang tidak dapat bersikap imparsial. Selain itu. bahwa Hakim Agung. Dengan menjadikan Hakim Konstitusi sebagai objek pengawasan oleh KY.H.D. dibentuknya Mahkamah Konstitusi berdasarkan UUD 1945 adalah dalam rangka menjamin agar UUD 1945 dilaksanakan dengan sebaikbaiknya.. salah satu kewenangan yang diberikan kepada Mahkamah Konstitusi sebagaimana dimaksud oleh Pasal 24C ayat (1) UUD 1945. berbeda halnya dengan hakim biasa. adalah untuk memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945.H. Mahfud M.

adalah sesuatu yang ideal jika hakim agung memiliki integritas dan kualitas yang sedemikian rupa sesuai dengan Pasal 24A ayat (2) UUD 1945. Jika kewenangan KY untuk mengusulkan Hakim Agung yang berkualitas dengan integritas yang tinggi dan perilaku tidak tercela. tidak cukup beralasan untuk mengecualikan hakim agung. Hakim Agung adalah Hakim. seseorang yang pada saat diangkat sebagai Hakim Agung memiliki integritas yang tinggi. dan terutama prinsip konstitusi itu sendiri. Tambahan pula. pengertian umum. Jika dimaksudkan karena MA sebagai pengawas tertinggi peradilan maupun tingkah laku dan perbuatan hakim. Dari segi kewenangan pengawasan apakah hakim agung itu diawasi.termasuk pengertian hakim yang menjadi objek pengawasan KY. tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak menjadikan Hakim Agung termasuk ke dalam objek pengawasan. demikian pula Hakim Agung tidak selalu berasal dari hakim. Di samping itu. Akan menjadi ganjil untuk menafsirkan bahwa Hakim Agung tidak masuk dalam kategori Hakim dan karena posisinya yang berada di puncak hierarki peradilan lalu menjadi tidak tunduk pada pengawasan. Prinsip persamaan di depan hukum (equality before the law) dan non-diskriminasi tidak mendukung pendirian tersebut. maka penafsiran apakah hal itu bertentangan dengan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 bukanlah hanya dari teks maupun konteksnya secara gramatikal melainkan juga dari konteks sosial yang lebih luas. serta ketentuan yang mengaturnya berbeda. Bagaimanapun tafsiran secara tekstual. Secara universal hal demikian telah menjadi norma. sesuai dengan prinsip akuntabilitas. dalam perjalanan karier selanjutnya bisa saja berubah. Independensi harus berjalan seiring dengan akuntabilitas. Oleh karena itu. dan kategoris dilakukan. akan menghasilkan Hakim Agung yang juga mempunyai martabat dan perilaku yang tidak tercela sehingga secara moral memiliki legitimasi untuk tidak diawasi lagi dan bahkan menjadi pengawas hakim di bawahnya. teleologis. tidak pernah dipersoalkan. tetapi bukan berarti hakim agung terbebas dari pengawasan dalam rangka mendukung terciptanya 232 Bunga Rampai . faktanya Hakim Agung sendiri merupakan anggota Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI) dan bahwa hakim agung adalah hakim. kontekstual.

Prinsip sebagaimana diuraikan di atas tidak mengurangi hak warga negara. agar hakim memiliki kehormatan. bukanlah kewenangan untuk melakukan pengawasan terhadap lembaga peradilan dan teknis justisial. keluhuran martabat. untuk menilai putusan hakim melalui kegiatan ilmiah dalam forum atau media ilmiah. atau kegiatan ilmiah lainnya. 3. Berkaitan dengan Kewenangan Komisi Yudisial dapat diinternalisasi pemikiran-pemikiran sebagai berikut: Berdasarkan ketentuan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 dinyatakan bahwa Komisi Yudisial bersifat mandiri. melainkan terhadap individu fungsionaris hakim. juga memiliki wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Hakim dimaksud adalah dalam pengertian sebagai individu di luar maupun di dalam kedinasan. 2. serta perilaku hakim. Norma pengawasan yang berlaku universal di semua sistem hukum yang dikenal di dunia terhadap putusan pengadilan adalah bahwa putusan pengadilan tidak boleh dinilai oleh lembaga lain kecuali melalui proses upaya hukum (rechtsmidellen) sesuai dengan hukum acara. Penilaian terhadap putusan hakim yang dimaksudkan sebagai pengawasan di luar mekanisme hukum acara yang tersedia adalah bertentangan dengan prinsip res judicata pro veritate habetur yang berarti apa yang telah diputus oleh hakim harus dianggap sebagai benar (de inhoud van het vonnis geld als waard). seperti seminar. keluhuran martabat. Dalam UU Komisi Yudisial yang di-judicial review kemarin memang penjabaran konsep pengawasan menimPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 233 . walaupun dalam batas-batas tertentu dapat diartikan sebagai pengawasan. ulasan dalam jurnal hukum (law review). mempunyai kewenangan pokok mengusulkan pengangkatan Hakim Agung. khususnya para ahli hukum.peradilan yang bersih dan berwibawa bagi terwujudnya rule of law. Kewenangan tersebut. apabila suatu putusan hakim dianggap mengandung sesuatu kekeliruan maka pengawasan yang dilakukan dengan cara penilaian atau pun koreksi terhadap hal itu harus melalui upaya hukum (rechtsmidellen) menurut ketentuan hukum acara yang berlaku. serta perilaku yang baik. Sehingga.

Hal ini harus dimaknai sebagai kemandirian kelembagaan dalam mengambil keputusan. keluhuran martabat. terutama yang menyangkut kaidah-kaidah materiilnya. Untuk itu dalam Perubahan UU Komisi Yudisial akan dirumuskan ukuran untuk menilai kehormatan. sehingga terdapat batasan yang jelas yang dapat dijadikan pegangan yang pasti. 4. 234 . Karena Komisi Yudisial bukan merupakan pelaksana kekuasaan kehakiman. Dalam ketentuan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 ditegaskan bahwa “Komisi Yudisial bersifat mandiri. melainkan hanya sebagai supporting organ. Untuk itu dalam konsep perubahan UU KY seharusnya dijelaskan norma yang mengatur tentang pengertian dan ruang lingkup perilaku hakim. legislatif.bulkan ketidakpastian karena yang seharusnya menjadi objek dari ”wewenang lain” Komisi Yudisial menurut Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 adalah pelaksanaan kode etik dan kode perilaku hakim dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. bukan kemandirian yang Bunga Rampai 5. termasuk kepastian siapa yang membuat kode etik dan perilaku dimaksud. dan terutama perilaku hakim.. baik oleh pihak yang mengawasi maupun yang diawasi.. akan menimbulkan kerancuan dan lebih jauh akan menimbulkan ketidakpastian hukum yang dapat berimplikasi lumpuhnya sistem peradilan.. dan dengan demikian dapat dihindari adanya kerancuan. dan perilaku hakim. dan yudikatif). Berkaitan dengan hubungan antara Komisi Yudisial dan Mahkamah Agung bukan merupakan hubungan dalam konsepsi checks and balances seperti layaknya hubungan antar cabang-cabang kekuasaan negara (eksekutif. melainkan hanya meliputi penegakan kehormatan dan keluhuran martabat serta perilaku hakim. dan perilaku hakim. yang secara tegas tidak berwenang melakukan pengawasan yang menyangkut hal-hal yang bersifat teknis yustisial dan teknis administratif.” dan dalam Pasal 2 UU Komisi Yudisial diartikan bahwa Komisi Yudisial dalam pelaksanaan wewenangnya bebas dari campur tangan atau pengaruh kekuasaan lain. keluhuran martabat. keluhuran martabat. Ketiadaan rumusan yang jelas tentang kehormatan.

Etik berkenaan dengan harapan atau cita-cita. Tetapi perlu terlebih dahulu dijawab pertanyaan. Etik adalah tujuan ideal yang dicoba untuk dicapai yaitu untuk sedapat mungkin menjadi hakim yang terbaik. Artinya. atau dengan kata lain terdapat campur tangan dari pihak luar atau kekuasaan lain. hanya karena alasan bahwa pengambilan keputusan didasarkan pada fakta-fakta yang diperoleh melalui kerjasama atau koordinasi dengan pelaku kekuasaan kehakiman sendiri (dalam hal ini adalah Mahkamah Agung). Oleh karena itu. Dengan demikian. keluhuran martabat. akan dimungkinkan bagi hakim maupun masyarakat untuk Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 235 . apakah ada perbedaan antara kode etik dan kode perilaku. berarti merujuk pada Kode Etik Hakim Indonesia.bersifat perorangan anggota Komisi Yudisial. kemandirian Komisi Yudisial harus dimaknai sebagai kebebasan dari campur tangan dan pengaruh kekuasaan lain dalam pengambilan keputusan dalam pelaksanaan wewenang pengusulan calon hakim agung maupun dalam rangka pelaksanaan wewenang lain menurut UUD 1945. dalam hubungan dengan permohonan a quo. Code of conduct akan mengingatkan Hakim mengenai perilaku apa yang dilarang dan bahwa tiap pelanggaran code of conduct mungkin akan menimbulkan sanksi. Kewenangan Komisi Yudisial dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. keluhuran martabat serta perilaku hakim antara Komisi Yudisial dengan Mahkamah Agung. Code of conduct merupakan satu standar. Etik berbeda dari perilaku yang dilarang. Tetapi ada pertimbangan-pertimbangan etik yang mendorong tercapainya cita-cita atau harapan tersebut. Setiap hakim harus mengetahui bahwa ia tidak dapat berperilaku di bawah standar yang ditetapkan. dikatakan bahwa suatu code of conduct menetapkan tingkah laku atau perilaku hakim yang bagaimana yang tidak dapat diterima dan mana yang dapat diterima. serta perilaku hakim harus merujuk kepada code of ethics dan/atau code of conduct. Dengan suatu code of conduct. Secara umum. Komisi Yudisial tidak dapat dikatakan tidak mandiri. Sehingga tidak salah jika ada hubungan kerjasama yang baik dalam menjaga dan menegakkan kehormatan. 6.

Berlakunya norma secara bersamaan demikian. norma etik. in casu oleh organisasi profesi hakim baik oleh Mahkamah Agung ataupun oleh IKAHI. lebih baik. c) memberikan jaminan peningkatan moralitas hakim dan kemandirian fungsional hakim. 7. Penindakan atau pemberian sanksi atas pelanggaran Kode Etik dan 236 Bunga Rampai . tetapi oleh beberapa macam norma secara bersamaan. dan norma agama. bukan oleh Komisi Yudisial. lebih efektif dalam melayani masyarakat. Meskipun benar bahwa code of conduct berbeda dari code of ethics. b) sebagai sarana kontrol sosial. maka untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi. sebagaimana kemudian dijabarkan ke dalam code of conduct. Jadi setelah dibentuk suatu code of conduct. pencegah campur tangan ekstra judicial dan pencegahan timbulnya kesalahpahaman antar sesama anggota dengan masyarakat. Seringkali suatu perbuatan diatur tidak hanya dengan satu macam norma. Dari kode etik kemudian dirumuskan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh atau tidak layak dilakukan oleh hakim di dalam maupun di luar dinas. menambah urgensi tentang perlunya pengaturan mengenai etik dan tingkah laku (ethics and conduct) hakim dan tata cara penjagaan dan penegakannya dalam suatu Kode Etik dan Tingkah Laku Hakim sebagai tolak ukur pengawasan. code of ethics merupakan sumber nilai dan moralitas yang akan membimbing hakim menjadi hakim yang baik. dan d) menumbuhkan kepercayaan masyarakat pada lembaga peradilan.dapat mengatakan bahwa mereka mengetahui apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan hakim. mungkin diinginkan untuk membentuk satu kode etik. akan tetapi menurut pemahaman saya. maupun menegakkan rule of law. bukan oleh lembaga lain. Tujuan adanya kode etik ini adalah: a) sebagai alat pembinaan dan pembentukan karakter hakim serta pengawasan tingkah laku hakim. di mana suatu perbuatan tercela dilarang baik oleh norma hukum. Kode etik itu dalam lingkungan profesi dibuat dan disahkan oleh organisasi profesi itu sendiri. Langkah berikutnya adalah mengembangkan suatu kode etik yang akan memberi motivasi bagi hakim meningkat ke jenjang yang lebih tinggi.

E. Namun perlu saya sampaikan bahwa pokok-pokok pikiran ini bukan merupakan representasi pemikiran dan sikap Badan Legislasi DPR RI dalam arti kelembagaan. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 237 .Perilaku juga dilakukan oleh organisasi profesi. dan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak pada umumnya. Penutup Demikian pokok-pokok pikiran yang dapat saya sampaikan dalam melihat dan mencermati Perubahan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial yang saat ini sedang diagendakan pembahasannya oleh Badan Legislasi Dewan Perwakilan Republik Indonesia yang masuk dalam Program Legislasi Nasional Prioritas Tahun 2007. namun lebih merupakan hasil telaahan dan pemikiran pribadi penulis. yang berakhir dengan saran (rekomendasi) kepada organisasi profesi. Pengawasan dapat dirinci dalam beberapa kegiatan. juga dapat dilakukan oleh pihak di luar profesi. Namun mudah-mudahan dapat memberikan kontribusi dalam rangka pengayaan dan pendalaman materi untuk perubahan Undang-undang Komisi Yudisial pada khususnya. mungkin tulisan ini belum begitu komprehensif. Untuk itu saya sangat menyadari. yang merupakan salah satu unsur dari profesionalisme. melalui transparansi dan akuntabilitas. pemeriksaan. pengawasan atas pelaksanaan Kode Etik dan Perilaku selain dapat dilakukan oleh organisasi profesi. dalam hal ini Mahkamah Agung. misalnya pemanggilan. Hal ini dimaksudkan dalam rangka memenuhi tanggung jawab sosial (social responsibility). Sementara itu. penilaian.

238 Bunga Rampai .

C. dan James Bryce menyatakan. Couwenberg mengatakan. Dari berbagai perspektif itu. bahwa konstitusi berfungsi menetapkan lembaga-lembaga negara dan mengatur fungsi dan batas haknya. Dijelaskan kemudian.Gerak dan Langkah Nyata Komisi Yudisial Dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi John Pieris Sebuah tulisan yang bersifat kajian kritis mengenai suatu lembaga negara yang terkait dengan UUD 1945 sebenarnya tidak terlalu sulit. Selain itu. konstitusi adalah aturan hukum yang menetapkan kerangka dasar dari suatu negara dan mengatur tentang susunan pemerintahan. serta Ivor Jenning mengemukakan. Yang sulit adalah ketika tulisan itu dikaitkan dengan suatu masalah hukum dan politik yang dialami oleh satu atau beberapa lembaga negara. W. konstitusi adalah semua asas hukum. hukum konstitusi merupakan basis atau landasan dari sistem hukum negara yang bersangkutan. Jika K. Wheare menjelaskan. konstitusi berfungsi mengawasi pelaksanaan pemerintahan (pengawasan konstitusional). Yang menjadi Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 239 . Hal ini dapat disimak dari beberapa pendapat pakar yang secara tepat melahirkan beberapa perspektif penting tentang fungsi konstitusi. sebab pada dasarnya UUD 1945 (konstitusi) telah menggariskan tugas-tugas pokok semua lembaga negara. aturan hukum dan lembaga-lembaga yang berhubungan dengan susunan dan arah perkembangan kehidupan bersama yang terorganisasikan secara kenegaraan. S. maka sebenarnya UUD 1945 sebagai konstitusi (hukum dasar) telah mengatur halhal penting mengenai semua lembaga negara khususnya tentang kewenangannya.

asas legalitas adalah asas yang dipakai untuk menjamin asas-asas lainnya. sebenarnya telah mengatur fungsi-fungsi serta pembatasan kekuasan dari semua lembaga negara. khususnya Komisi Yudisial (KY). dengan segala keterbatasannya. di satu pihak UUD 1945 telah menggariskan kewenangan KY 240 Bunga Rampai . Mungkin juga konstitusi tidak secara jelas merumuskan ketentuan mengenai kewenangan sebuah lembaga negara. konstitusionalisme adalah sebuah gagasan yang menganggap pemerintah sebagai suatu kumpulan aktivitas yang diselenggarakan atas nama rakyat. Mahkamah Agung (MA) dan Mahkamah Konstitusi (MK). semua ketentuan yang telah dirumuskan di dalam UUD 1945 harus dijalankan. Friedrich (1967) menjelaskan. pemberian wewenang kepada pemerintah. Terlepas dari asumsi demikian. Juga dikatakannya. apa yang diamanatkan oleh konstitusi. terkesan ada tiga hal krusial yang menonjol. antara lain asas pembatasan kekuasaan pemerintah dan hak-hak asasi. sebaiknya pemerintah itu juga harus tunduk pada pembatasan konstitusional. yang tunduk pada pembatasan konstitusional. Menyimak judul tulisan yang diminta oleh KY kepada penulis. Sejalan dengan itu. adanya pengawasan pengadilan terhadap pelaksanaan kekuasaan yang dijalankan oleh pemerintah. Pandangan Friedrich cukup menarik. agar terhindar dari penyalahgunaan kekuasaan. yaitu Gerak dan Langkah Nyata KY dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi. Itulah faham legalisme dan konstitusionalisme yang dianut sampai sekarang. UUD 1945 sebagai konstitusi tertulis (written constitution) atau sebagai hukum yang tertinggi (Grundgesetz) yang kekuatan mengikatnya melebihi undang-undang biasa. Jika berpegang pada asas legalitas dan gagasan konstitusionalitas. Hal itu diperlukan sebagai jaminan bahwa kekuasaan yang diperlukan untuk pemerintahan tersebut tidak disalahgunakan oleh mereka yang mendapat tugas untuk memerintah.soal adalah. sebab sekali pun pemerintah mendapat mandat dari rakyat dan bertindak atas nama rakyat. belum tentu dapat dilaksanakan dengan baik. maka tidak dapat dihindari. dan perlindungan hukum terhadap yang berkuasa. walaupun ketentuan tersebut dianggap tidak sempurna. Pertama. Seperti yang dikatakan Lunshof (1989:7). Carl J.

tidak termasuk mengawasi hakim MK. tentunya dengan segala resiko (perlawanan) yang dihadapi untuk mengemban amanat UUD 1945. Pasal 20. Mahkamah Konstitusi telah memutuskan: Menyatakan permohonan para Pemohon dikabulkan untuk sebagian: Menyatakan: Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata “hakim Mahkamah Konstitusi”. “Dalam melaksanakan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b Komisi Yudisial mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim dalam rangka menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim”. Ketidaksetujuan dan penolakan MA atas beberapa ketentuan. bahwa terjadi pertentangan dan perbedaan signifikan antara norma hukum pengawasan hakim agung antara KY dengan MA. bahwa kewenangan yang dimiliki KY untuk mengawasi hakim-hakim. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 241 . pengawasan terhadap hakim MK tidak diamanatkan oleh UUD 1945 (Pasal 24B ayat (1)).walaupun ketentuan yang mengatur kewenangan KY untuk mengawasi semua hakim (di MA dan MK) tidak maksimal. ternyata MK telah memutuskan. dan Mahkamah Konstitusi telah memutus permohonan tersebut dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 005/PUUIV/2006 yang diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi yang terbuka untuk umum pada hari Rabu. MK berpendapat seperti itu karena. tanggal 23 Agustus 2006. yang berbunyi. pihak KY tetap bergerak mengayunkan langkah nyata. Kedua. Ketiga. dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 005/PUU-IV/2006 tersebut. terutama mengenai pengawasan hakim agung oleh KY telah membuktikan. Seperti diketahui. Hal inilah yang melatarbelakangi diajukannya permohonan Penguijian UndangUndang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial dan Pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ke Mahkamah Konstitusi.

Pasal 23 ayat (3). Pasal 34 ayat (3).- Pasal 21. serta tindasannya disampaikan kepada Presiden dan DPR”. yang berbunyi. Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi wajib memberikan penetapan berupa paksaan kepada badan peradilan atau hakim untuk memberikan keterangan atau data yang diminta”. yang berbunyi. Komisi Yudisial: e. Pasal 24 ayat (1). “Dalam rangka menjaga Bunga Rampai - - - - - - - 242 . “Dalam melaksanakan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20. bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. yang berbunyi. Pasal 25 ayat (3). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 89. “Usul penjatuhan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c diserahkan oleh Komisi Yudisial kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi”. Pasal 22 ayat (5). yang berbunyi. usul pemberhentian hakim diajukan oleh Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi kepada Presiden paling lambat 14 (empat belas) hari sejak pembelaan diri ditolak oleh Majelis Kehormatan Hakim”. yang berbunyi. membuat laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi dan disampaikan kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi. “Dalam hal badan peradilan atau hakim tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (4). sepanjang mengenai kata-kata “dan/atau Mahkamah Konstitusi”. Pasal 23 ayat (5). dan Pasal 25 ayat (4). “Untuk kepentingan pelaksanaan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b. “Dalam hal pembelaan diri ditolak. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4415). Pasal 22 ayat (1) huruf e. Komisi Yudisial bertugas mengajukan usul penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada pimpinan Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi”. yang berbunyi.

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358). sepanjang mengenai kata-kata “dan/atau Mahkamah Konstitusi”. 22 ayat (5).kehormatan. pengawasan dilakukan oleh Komisi Yudisial yang diatur dalam undang-undang”. ketentuan mengenai KY dalam Pasal 24B UUD 1945 memang tidak berkaitan dengan ketentuan mengenai MK yang diatur dalam Pasal 24C UUD 1945. Mahkamah Konstitusi dalam Putusannya menyatakan bahwa Hakim Konstitusi tidak diawasi oleh Komisi Yudisial. 23 ayat (2). dengan pertimbangan: Bahwa apabila ditinjau secara sistematis dan dari penafsiran berdasarkan “original intent” perumusan ketentuan UUD 1945. tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Undang-Undang Republik Indonesia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 89. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4415). Menyatakan: Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata “hakim Mahkamah Konstitusi”. tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Pasal 20. Pasal 25 ayat (3). dan Pasal 25 ayat (4). sebagai berikut. UndangUndang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8. 22 ayat (1) huruf e. keluhuran martabat serta perilaku hakim agung dan hakim. Pasal 24 ayat (1). 23 ayat (5). 23 ayat (3). antara lain. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358). - Amar putusan tersebut di atas didasarkan pada pertimbangan. Hal tidak tercakupnya pengertian perilaku hakim konstitusi dalam apa yang dimaksud dengan perilaku hakim menurut Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 tersebut juga terdapat dalam ketentuan UUMK dan UUKK yang dibentuk sebelum Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 243 . Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8. 21.

Demikian pula Pasal 34 ayat (3) UU Kekuasaan Kehakiman sama sekali tidak menentukan bahwa Hakim Konstitusi menjadi objek pengawasan oleh KY. Tidak berlebihan jika dikatakan. Dalam keseluruhan mekanisme pemilihan dan pengangkatan para Hakim Konstitusi yang diatur dalam UUD 1945 juga tidak terdapat keterlibatan peran KY sama sekali. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman tidak begitu cermat merumuskan norma-norma hukum yang terkait secara tepat tentang pengawasan hakim. MK. Dalam UUMK. Itulah sebabnya. 24 Tahun 2003. sekiranya kalau ada pasal khusus di dalam UU No. melainkan hakim karena jabatannya. maka diperlukan keterpaduan (integrasi) dalam merumuskan norma-norma hukum yang sama pada beberapa undang-undang yang saling terkait. Hakim Konstitusi hanya diangkat untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan setelah tidak lagi menduduki jabatan Hakim Konstitusi. misalnya keterpaduan di dalam pembuatan UU tentang KK. 244 Bunga Rampai . untuk fungsi pengawasan terhadap perilaku Hakim Konstitusi ditentukan adanya lembaga Majelis Kehormatan yang diatur secara tersendiri dalam Pasal 23 UUMK. Atau. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Sebagai misal. MA dan KY mengenai pengawasan terhadap hakim-hakim pada semua lingkungan dan strata lembaga peradilan. yang mengatur pengawasan tentang Hakim Konstitusi.pembentukan UUKY. Karena itu Indonesia memang harus memiliki sebuah sistem pembuatan hukum terpadu (integrated law making system). DPR dan Presiden sebagai pembentuk UU No. Selain itu. maka tidak akan terjadi konflik antara KY dan MA. maka proses penegakan hukum secara terpadu (integrated law enforcement process) mengenai pengawasan terhadap perilaku hakim-hakim juga akan terlaksana dengan baik. Dengan begitu. yang bersangkutan masing-masing kembali lagi kepada status profesinya yang semula. Hakim Konstitusi pada dasarnya bukanlah hakim sebagai profesi tetap. maka konflik (pertentangan) antara MK dan KY tidak perlu terjadi. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi dan UU No. berbeda halnya dengan hakim biasa. serta UU No. jika ada ketentuan pengawasan hakim agung dan hakim-hakim lain di dalam lingkungan kekuasaan kehakiman yang diatur secara jelas di dalam UU No. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial.

bahwa alasan pembentukan KY di dalam UUD 1945. Penjahat-penjahat korporasi dan ekonomi yang merampok uang negara acap kali dilindungi dan diberikan perlakuan khusus. Ini merupakan sebuah upaya mendesak dan sistematik untuk mereformasi kekuasaan peradilan. moral dan spiritual. khususnya peradilan umum yang selama ini tidak menjalankan fungsinya secara benar. atau tidak memiliki akhlak mulia untuk mewujudkan keadilan bagi masyarakat.Pengawasan hakim sebagaimana dirumuskan di dalam Pasal 32 UU No. PT dan MA. Banyak hakim (tidak semua) memihak kepada merekamereka yang berkedudukan penting atau orang-orang yang memiliki uang dalam jumlah yang besar. keluhuran martabat serta perilaku hakim. jika hakim agung diawasi oleh institusi di mana ia berada di dalamnya. Mentalitas birokrasi pemerintah dan lembaga-lembaga negara yang lain juga sulit melakukan pengawaan internal. manipulasi penyalahgunaan jabatan yang merugikan negara dan rakyat. Artinya hakim agung diawasi oleh lembaga MA. Haruslah dipahami. 14 Tahun 1985 sesungguhnya adalah pengawasan yang bersifat internal. korupsi. Agak sulit memang. salah satu faktor rendahnya mentalitas dan moralitas hakim karena para hakim terbebas dari pengawasan yang efektif. adalah untuk menjaga dan menegakkan kehormatan. sebab. Dengan kata lain. tidak bisa disangkal. Mekanisme upaya hukum (rechtsmiddlen) terkendala oleh perilakuperilaku hakim yang tidak cukup memiliki kemampuan etik. lemahnya pengawasan terhadap hakim dapat mendorong hakim bisa berbuat apapun. pengawasan internal tidak bisa diharapkan mampu membongkar mafia peradilan selama ini. Hakim dan hukum lalu berpihak secara ekstrim dan arogan kepada kaum bor- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 245 . banyak mendatangkan ketidakadilan bagi pencari keadilan (justice seekers). Dapat diduga. Karena itu kejahatan yudisial sulit dihindari. apalagi yang menguntungkan dirinya. sekalipun pihakpihak itu terbukti melakukan perbuatan melawan hukum. sementara terpidana dari kelas bawah tidak dihargai hak asasinya. bukan rahasia lagi. Banyak kasus (perkara) yang ditangani hakim PN. karena budaya korupsi dan penyelewengan atau perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad) sudah sangat sulit diperbaiki.

bahwa MA tidak mau diawasi oleh lembaga negara apa- 246 Bunga Rampai . bahwa Ketua MA dapat merangkap menjadi Ketua KY. sulit juga diawasi oleh Komisi Yudisial. maupun eksternal. Karl Jackson. Tulisnya lebih lanjut. mungkin ada sedikit harapan. perlu ada sebuah mekanisme untuk mengawasi hakim seperti itu. karena kolusi juga bisa terjadi antar hakim dengan pimpinan MA. Dengan begitu agak sulit untuk mengawasi birokrasi kekuasaan kehakiman. yang sulit diawasi dari luar (eksekutif dan legislatif). bahwa sistem politik birokratik terpusat pada mereka yang memegang kekuasaan negara sebagai majikan. terutama pada lembaga-lembaga peradilan. tapi bagaimana menghimpunnya”. karena dipastikan tidak akan efektif. Prinsip res judicate pra veritate habetur (apa yang telah diputuskan oleh hakim harus dianggap sebagai benar) yang dipegang para hakim cukup berbahaya. Hampir sama dengan Anderson. Tidak bisa diharapkan. hanya pengawasan internal oleh MA. sebab prinsip ini berpotensi melindungi kesalahan hakim dan ada alasan menolak untuk diawasi. dan ini sangat sulit diawasi. UU No. Sistem politik birokratik telah merasuk jauh menusuk sampai ke pusat-pusat kekuasaan (termasuk yudikatif). “bukan masalah bagaimana menggunakan kekuasaan. Seperti apa yang dikatakan Benedict Anderson. Kalau ada pilihan di antara kedua jenis pengawasan itu. Keberpihakan hukum bisa saja dilakukan dengan cara menyalahi teknis yudisial dan administratif yang menguntungkan orang-orang tertentu dan merugikan pihak lain yang tidak berdaya. Karena itu. Kesulitannya adalah. Maka berdasarkan teori tersebut tidak dapat dielakkan. bahwa kekuasaan cenderung terpusat di tangan seseorang atau sekelompok orang. Bahkan ada wacana dari Bagir Manan sebagai Ketua MA. seorang ilmuwan politik Amerika Serikat yang menulis “Bureaucratic Polity” tentang Indonesia berpendapat. bahwa kekuasaan eksternal bisa diandalkan untuk mengawasi birokrasi. jika kekuasaan yang dipegang dan dikendalikan oleh seorang atau sekelompok orang dalam tubuh birokrasi di Indonesia memang sulit diawasi. 14 Tahun 1985 tentang MA melegitimasi kekuasaan MA sebagai kekuasaan terpusat dan personal. Ini merupakan sebuah indikasi.juasi dan mencampakkan rakyat kecil yang miskin. baik secara internal.

pun. Masalahnya sebenarnya tidak terlalu pelik, jika Pasal 24B UUD 1945 dapat diamandemen agar KY bisa mengawasi perilaku hakim pada semua lingkungan peradilan. Tidak bisa dihindari, bahwa ada masalah-masalah teknis yudisial dan administratif yang dapat merugikan pencari keadilan. Jika ada kesalahan substansial dan mungkin prosedural yang dirancang secara sistematis oleh seorang hakim, maka dapat disimpulkan, hakim tersebut tidak memiliki perilaku yang terpuji. Hakim tersebut tidak boleh tidak, harus diperiksa. Jadi sebenarnya tidak salah seluruhnya jika KY dapat masuk pada hal-hal yang bersifat teknis administratif dalam memeriksa hakim. Jika ada komitmen seperti itu, mengapa tidak dicoba untuk dibuat norma hukumnya? Bukankah teori, sistem dan doktrin hukum bisa berubah atau diubah untuk bisa merakit sebuah kebenaran dalam mewujudkan keadilan yang sejati, supaya hakim-hakim bisa menjadi Law Prophets. Untuk itu dapat dibenarkan dan sebaiknya demikian, KY harus mengusulkan amandemen terhadap Pasal 24B UUD 1945. Usul perubahan dari KY sebaiknya menyangkut tidak saja pengangkatan hakim agung, tetapi juga mengusulkan pemberhentian hakim agung. Hal (kewenangan) yang sama juga harus dilakukan terhadap pengangkatan dan pemberhentian hakim konstitusi. Artinya adalah, bahwa kewenangan KY itu harus dilihat dalam perspektif penguatan wibawa lembaga peradilan atau perwujudan supremasi kekuasaan kehakiman. Selain itu, perlu diperluas struktur organisasi KY sampai ke daerah-daerah, agar KY daerah dapat menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim pengadilan negeri dan pengadilan tinggi. Ini tidak bertentangan dengan UUD 1945, sebab sesuai dengan Pasal 24B ayat (4), dijelaskan, bahwa susunan, kedudukan, dan keanggotaan KY diatur dengan undang-undang. Jadi undang-undang tentang KY yang baru harus mengatur hal ini. KY juga harus diberikan peran untuk mengawasi panitera-panitera pada semua jenjang organisasi kekuasaan kehakiman. Hal ini penting, sebab bukan rahasia lagi, mafia peradilan sulit diberantas, karena para panitera sering menjadi calo (broker) dan penagih uang dari pihak-pihak yang berperkara.

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

247

Sambil menunggu amandemen terhadap UUD 1945 dan revisi UU tentang KY, MK dan MA, gerak dan langkah nyata KY dalam mengemban amanat UUD 1945 pasca putusan MK harus lebih ditingkatkan lagi. Putusan MK tidak boleh membuat KY menyurutkan peran historisnya untuk menegakkan supremasi hukum, keadilan, kebenaran serta mewujudkan supremasi kekuasaan kehakiman di Indonesia. Pada saatnya nanti KY akan tampil sebagai sosok yang lebih berwibawa untuk menegakkan wibawa negara hukum yang berkarakter.

Penulis adalah Dosen dan Ketua Program Pascasarjana FH-UKI Mantan Anggota Komisi Konstitusi

248

Bunga Rampai

Gerak dan Langkah Nyata Komisi Yudisia Dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi
John Pieris

Sebuah tulisan yang bersifat kajian kritis mengenai suatu lembaga negara yang terkait dengan UUD 1945 sebenarnya tidak terlalu sulit, sebab pada dasarnya UUD 1945 (konstitusi) telah menggariskan tugas-tugas pokok semua lembaga negara. Hal ini dapat disimak dari beberapa pendapat pakar yang secara tepat melahirkan beberapa perspektif penting tentang fungsi konstitusi. Jika K. C. Wheare menjelaskan, konstitusi adalah aturan hukum yang menetapkan kerangka dasar dari suatu negara dan mengatur tentang susunan pemerintahan, dan James Bryce menyatakan, bahwa konstitusi berfungsi menetapkan lembaga-lembaga negara dan mengatur fungsi dan batas haknya, serta Ivor Jenning mengemukakan, konstitusi berfungsi mengawasi pelaksanaan pemerintahan (pengawasan konstitusional). Selain itu, S. W. Couwenberg mengatakan, konstitusi adalah semua asas hukum, aturan hukum dan lembaga-lembaga yang berhubungan dengan susunan dan arah perkembangan kehidupan bersama yang terorganisasikan secara kenegaraan. Dijelaskan kemudian, hukum konstitusi merupakan basis atau landasan dari sistem hukum negara yang bersangkutan.

Penulis adalah, Dosen dan Ketua Program Pascasarjana FH-UKI Mantan Anggota Komisi Konstitusi

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

249

Dari berbagai perspektif itu, maka sebenarnya UUD 1945 sebagai konstitusi (hukum dasar) telah mengatur halhal penting mengenai semua lembaga negara khususnya tentang kewenangannya. Yang sulit adalah ketika tulisan itu dikaitkan dengan suatu masalah hukum dan politik yang dialami oleh satu atau beberapa lembaga negara. Yang menjadi soal adalah, apa yang diamanatkan oleh konstitusi, belum tentu dapat dilaksanakan dengan baik. Mungkin juga konstitusi tidak secara jelas merumuskan ketentuan mengenai kewenangan sebuah lembaga negara. Terlepas dari asumsi demikian, UUD 1945 sebagai konstitusi tertulis (written constitution) atau sebagai hukum yang tertinggi (Grundgesetz) yang kekuatan mengikatnya melebihi undang-undang biasa, dengan segala keterbatasannya, sebenarnya telah mengatur fungsi-fungsi serta pembatasan kekuasan dari semua lembaga negara, khususnya Komisi Yudisial (KY), Mahkamah Agung (MA) dan Mahkamah Konstitusi (MK). Jika berpegang pada asas legalitas dan gagasan konstitusionalitas, maka tidak dapat dihindari, semua ketentuan yang telah dirumuskan di dalam UUD 1945 harus dijalankan, walaupun ketentuan tersebut dianggap tidak sempurna. Itulah faham legalisme dan konstitusionalisme yang dianut sampai sekarang. Seperti yang dikatakan Lunshof (1989:7), asas legalitas adalah asas yang dipakai untuk menjamin asas-asas lainnya, antara lain asas pembatasan kekuasaan pemerintah dan hak-hak asasi. Juga dikatakannya, adanya pengawasan pengadil-an terhadap pelaksanaan kekuasaan yang dijalankan oleh pemerintah, pemberian wewenang kepada pemerintah, dan perlindungan hukum terhadap yang berkuasa. Sejalan dengan itu, Carl J. Friedrich (1967) menjelaskan, konstitusionalisme adalah sebuah gagasan yang menganggap pemerintah sebagai suatu kumpulan aktivitas yang diselenggarakan atas nama rakyat, yang tunduk pada pembatasan konstitusional. Hal itu diperlukan sebagai jaminan bahwa kekuasaan yang diperlukan untuk pemerintahan tersebut tidak disalahgunakan oleh mereka yang mendapat tugas untuk memerintah. Pandangan Friedrich cukup menarik, sebab sekali pun pemerintah mendapat mandat dari rakyat dan bertindak atas nama rakyat, sebaiknya pemerintah itu juga harus tunduk pada pembatasan konstitusional,

250

Bunga Rampai

agar terhindar dari penyalahgunaan kekuasaan. Menyimak judul tulisan yang diminta oleh KY kepada penulis, yaitu Gerak dan Langkah Nyata KY dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi, terkesan ada tiga hal krusial yang menonjol. Pertama, di satu pihak UUD 1945 telah menggariskan kewenangan KY walaupun ketentuan yang mengatur kewenangan KY untuk mengawasi semua hakim (di MA dan MK) tidak maksimal. Kedua, pihak KY tetap bergerak mengayunkan langkah nyata, tentunya dengan segala resiko (perlawanan) yang dihadapi untuk mengemban amanat UUD 1945. Ketiga, ternyata MK telah memutuskan, bahwa kewenangan yang dimiliki KY untuk mengawasi hakim-hakim, tidak termasuk mengawasi hakim MK. MK berpendapat seperti itu karena, pengawasan terhadap hakim MK tidak diamanatkan oleh UUD 1945 (Pasal 24B ayat (1)). Ketidaksetujuan dan penolakan MA atas beberapa ketentuan, terutama mengenai pengawasan hakim agung oleh KY telah membuktikan, bahwa terjadi pertentangan dan perbedaan signifikan antara norma hukum pengawasan hakim agung antara KY dengan MA. Hal inilah yang melatarbelakangi diajukannya permohonan Penguijian UndangUndang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial dan Pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ke Mahkamah Konstitusi, dan Mahkamah Konstitusi telah memutus permohonan tersebut dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 005/PUUIV/2006 yang diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi yang terbuka untuk umum pada hari Rabu, tanggal 23 Agustus 2006. Seperti diketahui, dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 005/PUU-IV/2006 tersebut, Mahkamah Konstitusi telah memutuskan: Menyatakan permohonan para Pemohon dikabulkan untuk sebagian: Menyatakan : Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata “hakim Mahkamah Konstitusi”; Pasal 20, yang berbunyi, “Dalam melaksanakan wePenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

251

-

-

-

-

-

-

wenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b Komisi Yudisial mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim dalam rangka menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim”; Pasal 21, yang berbunyi, “Untuk kepentingan pelaksanaan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b, Komisi Yudisial bertugas mengajukan usul penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada pimpinan Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi”; Pasal 22 ayat (1) huruf e, yang berbunyi, “Dalam melaksanakan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20, Komisi Yudisial: e, membuat laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi dan disampaikan kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi, serta tindasannya disampaikan kepada Presiden dan DPR”; Pasal 22 ayat (5), yang berbunyi, “Dalam hal badan peradilan atau hakim tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (4), Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi wajib memberikan penetapan berupa paksaan kepada badan peradilan atau hakim untuk memberikan keterangan atau data yang diminta”; Pasal 23 ayat (3), yang berbunyi, “Usul penjatuhan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c diserahkan oleh Komisi Yudisial kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi”; Pasal 23 ayat (5), yang berbunyi, “Dalam hal pembelaan diri ditolak, usul pemberhentian hakim diajukan oleh Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi kepada Presiden paling lambat 14 (empat belas) hari sejak pembelaan diri ditolak oleh Majelis Kehormatan Hakim”; Pasal 24 ayat (1), Pasal 25 ayat (3), dan Pasal 25 ayat (4), sepanjang mengenai kata-kata “dan/atau Mahkamah Konstitusi”; Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 89. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4415), bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik IndoneBunga Rampai

252

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358). antara lain. ketentuan mengenai KY dalam Pasal 24B UUD 1945 memang tidak berkaitan dengan ketentuan mengenai MK yang diatur dalam Pasal 24C UUD 1945. Menyatakan: Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata “hakim Mahkamah Konstitusi”. sebagai berikut. 21. UndangUndang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8. tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Pasal 20. Hal tidak tercakupnya pengertian perilaku hakim konstitusi dalam apa yang dimaksud dengan perilaku hakim Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 253 . Pasal 25 ayat (3). 22 ayat (1) huruf e. pengawasan dilakukan oleh Komisi Yudisial yang diatur dalam undang-undang”. bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Amar putusan tersebut di atas didasarkan pada pertimbangan. Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8. “Dalam rangka menjaga kehormatan. Mahkamah Konstitusi dalam Putusannya menyatakan bahwa Hakim Konstitusi tidak diawasi oleh Komisi Yudisial. Pasal 34 ayat (3). Undang-Undang Republik Indonesia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 89. dengan pertimbangan: Bahwa apabila ditinjau secara sistematis dan dari penafsiran berdasarkan “original intent” perumusan ketentuan UUD 1945. 22 ayat (5). keluhuran martabat serta perilaku hakim agung dan hakim. sepanjang mengenai kata-kata “dan/atau Mahkamah Konstitusi”. 23 ayat (5). tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358). 23 ayat (3). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4415). yang berbunyi. dan Pasal 25 ayat (4). Pasal 24 ayat (1). 23 ayat (2).- - - sia Tahun 1945.

maka konflik (pertentangan) antara MK dan KY tidak perlu terjadi. 24 Tahun 2003. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi dan UU No. maka tidak akan terjadi konflik antara KY dan MA. Hakim Konstitusi hanya diangkat untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan setelah tidak lagi menduduki jabatan Hakim Konstitusi. serta UU No. Hakim Konstitusi pada dasarnya bukanlah hakim sebagai profesi tetap. Selain itu. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. DPR dan Presiden sebagai pembentuk UU No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman tidak begitu cermat merumuskan norma-norma hukum yang terkait secara tepat tentang pengawasan hakim. jika ada ketentuan pengawasan hakim agung dan hakim-hakim lain di dalam lingkungan kekuasaan kehakiman yang diatur secara jelas di dalam UU No. Karena itu Indonesia memang harus memiliki sebuah sistem pembuatan hukum terpadu (integrated law making system). melainkan hakim karena jabatannya. MA dan KY mengenai pengawasan terhadap hakim-hakim pada semua lingkungan dan strata lembaga peradilan. yang mengatur pengawasan tentang Hakim Konstitusi. Demikian pula Pasal 34 ayat (3) UU Kekuasaan Kehakiman sama sekali tidak menentukan bahwa Hakim Konstitusi menjadi objek pengawasan oleh KY. Dalam keseluruhan mekanisme pemilihan dan pengangkatan para Hakim Konstitusi yang diatur dalam UUD 1945 juga tidak terdapat keterlibatan peran KY sama sekali. misalnya keterpaduan di dalam pembuatan UU tentang KK. Dalam UUMK. maka diperlukan keterpaduan (integrasi) dalam merumuskan norma-norma hukum yang sama pada beberapa undang-undang yang saling terkait. sekiranya kalau ada pasal khusus di dalam UU No. untuk fungsi pengawasan terhadap perilaku Hakim Konstitusi ditentukan adanya lembaga Majelis Kehormatan yang diatur secara tersendiri dalam Pasal 23 UUMK. berbeda halnya dengan hakim biasa. Sebagai misal. maka proses penegakan hukum secara ter- 254 Bunga Rampai . Dengan begitu. yang bersangkutan masing-masing kembali lagi kepada status profesinya yang semula.menurut Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 tersebut juga terdapat dalam ketentuan UUMK dan UUKK yang dibentuk sebelum pembentukan UUKY. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Itulah sebabnya. MK. Tidak berlebihan jika dikatakan. Atau.

Haruslah dipahami. apalagi yang menguntungkan dirinya. sementara terpidana dari Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 255 . Dapat diduga. karena budaya korupsi dan penyelewengan atau perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad) sudah sangat sulit diperbaiki. Pengawasan hakim sebagaimana dirumuskan di dalam Pasal 32 UU No. Banyak kasus (perkara) yang ditangani hakim PN. banyak mendatangkan ketidakadilan bagi pencari keadilan (justice seekers). Mentalitas birokrasi pemerintah dan lembaga-lembaga negara yang lain juga sulit melakukan pengawaan internal. khususnya peradilan umum yang selama ini tidak menjalankan fungsinya secara benar. sebab. Ini merupakan sebuah upaya mendesak dan sistematik untuk mereformasi kekuasaan peradilan. 14 Tahun 1985 sesungguhnya adalah pengawasan yang bersifat internal. korupsi. PT dan MA. Agak sulit memang. tidak bisa disangkal. keluhuran martabat serta perilaku hakim. jika hakim agung diawasi oleh institusi di mana ia berada di dalamnya. Banyak hakim (tidak semua) memihak kepada merekamereka yang berkedudukan penting atau orang-orang yang memiliki uang dalam jumlah yang besar. Mekanisme upaya hukum (rechtsmiddlen) terkendala oleh perilakuperilaku hakim yang tidak cukup memiliki kemampuan etik. Dengan kata lain. moral dan spiritual. Karena itu kejahatan yudisial sulit dihindari. Artinya hakim agung diawasi oleh lembaga MA. Penjahat-penjahat korporasi dan ekonomi yang merampok uang negara acap kali dilindungi dan diberikan perlakuan khusus. sekalipun pihakpihak itu terbukti melakukan perbuatan melawan hukum.padu (integrated law enforcement process) mengenai pengawasan terhadap perilaku hakim-hakim juga akan terlaksana dengan baik. manipulasi penyalahgunaan jabatan yang merugikan negara dan rakyat. bukan rahasia lagi. pengawasan internal tidak bisa diharapkan mampu membongkar mafia peradilan selama ini. bahwa alasan pembentukan KY di dalam UUD 1945. lemahnya pengawasan terhadap hakim dapat mendorong hakim bisa berbuat apapun. adalah untuk menjaga dan menegakkan kehormatan. salah satu faktor rendahnya mentalitas dan moralitas hakim karena para hakim terbebas dari pengawasan yang efektif. atau tidak memiliki akhlak mulia untuk mewujudkan keadilan bagi masyarakat.

terutama pada lembaga-lembaga peradilan. Bahkan ada wacana dari Bagir Manan sebagai Ketua MA. baik secara internal. Hakim dan hukum lalu berpihak secara ekstrim dan arogan kepada kaum borjuasi dan mencampakkan rakyat kecil yang miskin. Sistem politik birokratik telah merasuk jauh menusuk sampai ke pusat-pusat kekuasaan (termasuk yudikatif). UU No. seorang ilmuwan politik Amerika Serikat yang menulis “Bureaucratic Polity” tentang Indonesia berpendapat. Prinsip res judicate pra veritate habetur (apa yang telah diputuskan oleh hakim harus dianggap sebagai benar) yang dipegang para hakim cukup berbahaya. hanya pengawasan internal oleh MA. Karena itu. tapi bagaimana menghimpunnya”. bahwa Ketua MA dapat 256 Bunga Rampai . karena dipastikan tidak akan efektif. dan ini sangat sulit diawasi. perlu ada sebuah mekanisme untuk mengawasi hakim seperti itu. 14 Tahun 1985 tentang MA melegitimasi kekuasaan MA sebagai kekuasaan terpusat dan personal. Karl Jackson. Maka berdasarkan teori tersebut tidak dapat dielakkan. Seperti apa yang dikatakan Benedict Anderson. Kalau ada pilihan di antara kedua jenis pengawasan itu. Tulisnya lebih lanjut. sebab prinsip ini berpotensi melindungi kesalahan hakim dan ada alasan menolak untuk diawasi. bahwa kekuasaan eksternal bisa diandalkan untuk mengawasi birokrasi.kelas bawah tidak dihargai hak asasinya. karena kolusi juga bisa terjadi antar hakim dengan pimpinan MA. Tidak bisa diharapkan. Dengan begitu agak sulit untuk mengawasi birokrasi kekuasaan kehakiman. “bukan masalah bagaimana menggunakan kekuasaan. jika kekuasaan yang dipegang dan dikendalikan oleh seorang atau sekelompok orang dalam tubuh birokrasi di Indonesia memang sulit diawasi. bahwa kekuasaan cenderung terpusat di tangan seseorang atau sekelompok orang. bahwa sistem politik birokratik terpusat pada mereka yang memegang kekuasaan negara sebagai majikan. Hampir sama dengan Anderson. Keberpihakan hukum bisa saja dilakukan dengan cara menyalahi teknis yudisial dan administratif yang menguntungkan orang-orang tertentu dan merugikan pihak lain yang tidak berdaya. yang sulit diawasi dari luar (eksekutif dan legislatif). sulit juga diawasi oleh Komisi Yudisial. Kesulitannya adalah. maupun eksternal. mungkin ada sedikit harapan.

supaya hakim-hakim bisa menjadi Law Prophets. Masalahnya sebenarnya tidak terlalu pelik. Jika ada kesalahan substansial dan mungkin prosedural yang dirancang secara sistematis oleh seorang hakim. kedudukan. bahwa kewenangan KY itu harus dilihat dalam perspektif penguatan wibawa lembaga peradilan atau perwujudan supremasi kekuasaan kehakiman. agar KY daerah dapat menjaga dan menegakkan kehormatan. Hal (kewenangan) yang sama juga harus dilakukan terhadap pengangkatan dan pemberhentian hakim konstitusi. keluhuran martabat. Hakim tersebut tidak boleh tidak. Jadi sebenarnya tidak salah seluruhnya jika KY dapat masuk pada hal-hal yang bersifat teknis administratif dalam memeriksa hakim. mengapa tidak dicoba untuk dibuat norma hukumnya? Bukankah teori. bahwa ada masalah-masalah teknis yudisial dan administratif yang dapat merugikan pencari keadilan. Jika ada komitmen seperti itu.merangkap menjadi Ketua KY. bahwa MA tidak mau diawasi oleh lembaga negara apapun. bahwa susunan. mafia peradilan sulit Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 257 . jika Pasal 24B UUD 1945 dapat diamandemen agar KY bisa mengawasi perilaku hakim pada semua lingkungan peradilan. serta perilaku hakim pengadilan negeri dan pengadilan tinggi. KY juga harus diberikan peran untuk mengawasi panitera-panitera pada semua jenjang organisasi kekuasaan kehakiman. sebab sesuai dengan Pasal 24B ayat (4). sebab bukan rahasia lagi. perlu diperluas struktur organisasi KY sampai ke daerah-daerah. Usul perubahan dari KY sebaiknya menyangkut tidak saja pengangkatan hakim agung. dan keanggotaan KY diatur dengan undang-undang. Untuk itu dapat dibenarkan dan sebaiknya demikian. Artinya adalah. tetapi juga mengusulkan pemberhentian hakim agung. sistem dan doktrin hukum bisa berubah atau diubah untuk bisa merakit sebuah kebenaran dalam mewujudkan keadilan yang sejati. dijelaskan. hakim tersebut tidak memiliki perilaku yang terpuji. Ini merupakan sebuah indikasi. KY harus mengusulkan amandemen terhadap Pasal 24B UUD 1945. harus diperiksa. maka dapat disimpulkan. Hal ini penting. Tidak bisa dihindari. Ini tidak bertentangan dengan UUD 1945. Selain itu. Jadi undang-undang tentang KY yang baru harus mengatur hal ini.

karena para panitera sering menjadi calo (broker) dan penagih uang dari pihak-pihak yang berperkara. keadilan. 258 Bunga Rampai . MK dan MA. Pada saatnya nanti KY akan tampil sebagai sosok yang lebih berwibawa untuk menegakkan wibawa negara hukum yang berkarakter. Putusan MK tidak boleh membuat KY menyurutkan peran historisnya untuk menegakkan supremasi hukum.diberantas. Sambil menunggu amandemen terhadap UUD 1945 dan revisi UU tentang KY. kebenaran serta mewujudkan supremasi kekuasaan kehakiman di Indonesia. gerak dan langkah nyata KY dalam mengemban amanat UUD 1945 pasca putusan MK harus lebih ditingkatkan lagi.

. dan hak untuk mendapatkan perlindungan yang sama di depan hukum.Pentingnya Peran Komisi Yudisial Berdasarkan Pendekatan Geopolitik dan Geostrategi Indonesia Prof. DR. kebebasan berserikat. MS. Latar Belakang. untuk menjalankan pemerintahan negara yang baik tariklah hukum yang bermoral. pemerintahan dalam suatu demokrasi tidak memberikan kebebasan dasar yang disebut Jefferson. MH. Deklarasi Kemerdekaan yang dikemukakan oleh Thomas Jefferson. dan baik masyarakat maupun pemerintahan tidak dapat mencabutnya.H. kebebasan beragama dan keyakinan. Rumusan kebebasan yang dikemukakan oleh para filsuf zaman pencerahan abad ke-17 dan ke-18. hak-hak alamiah yang tidak dapat dicabut adalah karunia Tuhan. Hak-hak ini tidak hancur ketika masyarakat sipil diciptakan. S. Dalam masyarakat demokratis juga menyatakan hak-hak sipil seperti hak untuk mendapatkan pengadilan yang jujur. Contoh hak-hak yang tidak dapat dicabut meliputi kebebasan berbicara dan berpendapat. Ermaya Suradinata. yaitu pemerintahan diciptakan untuk melindungi kebebasan yang dimiliki oleh individu berdasarkan eksistensi individu itu. Sedangkan Soekarno Presiden pertama Republik Indonesia. adalah menetapkan suatu prinsip dasar bagi berdirinya pemerintahan negara yang demokratis. Sedangkan landasan intelektual demokrasi konstitusional modern dalam geopolitik diletakan selama zaman Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 259 .

yang terbit pada tahun 1748.Pencerahan Eropa. ujar Locke. Pada tahun 1690 Locke menerbitkan bukunya yang sangat berpengaruh Two Treaties of Government (Dua Risalah Tentang Pemerintahan). percaya pada pemerintahah Republik berdasarkan pada persetujuan dari yang diperintah. Untuk mengamankan hak-hak ini. mendukung pemisahan dan penyeimbangan kekuasaan antara cabang-cabang eksekutif. Warga negara wajib patuh pada undang-undang dan mempertahankan kesejahteraan umum dari pelanggaran asing semuanya demi kebaikan bersama. warganya berhak menggulingkan rezim itu dan membentuk suatu pemerintahan baru. Dalam pernyataannya tentang hukum alam itu.dari Jean Jacques Rousseau di Perancis sampai David Hume di Skotlandia. Emmanuel Kant di Jerman dan Thomas Jefferson serta Benjamin Franklin di negeri yang kemudian bernama Amerika Serikat. termasuk hak atas hidup. tapi bukan pada demokrasi yang didirikan atas kekuasaan mayoritas. Montesquieu. suatu gerakkan filosofis abad 18 yang ditandai dengan penolakan terhadap gagasan-gagasan sosial. Dalam L’Esprit des Lois (Semangat hukum). Tapi penerusnya yang paling terkemuka adalah Montesquieu. Montesquieu. kata Locke. John Locke. Dalam teori hukum alam Locke mengilhami satu generasi filsuf zaman Pencerahan di Eropa dan dunia baru. dan politik yang tradisional yang penekanannya pada rasionalisme. Dua pemikiran yang berpengaruh adalah filosuf Inggris. legislatif. mengubah secara besar-besaran pembahasan mengenai teori politik dan mendorong perkembangan lembaga-lembaga demokrasi. dan termasuk hak untuk memiliki harta benda serta menikmati hasil kerja sendiri. agama. yang seperti halnya Locke. manusia dalam masyarakat sipil mengadakan kontrak dengan pemerintah mereka. adalah suatu aspek rangkaian takdir Ilahi. kebebasan tertentu. dalam pernyataannya bahwa semua pemerintahan yang sah bertumpu pada persetujuan dari yang diperintah. dalam 260 Bunga Rampai . John Locke. dan yudikatif. John Locke membantah pengakuan bahwa pemerintah teristimewa monarki. Hukum alam identik dengan hukum Tuhan. dan menjamin hak-hak dasar semua orang. Locke juga menyatakan jika suatu pemerintahan menjadi tanpa hukum dan sewenang-wenang. dan ahli hukum dan filsuf Perancis.

”Dalam keadaan apapun negara tidak boleh memaksakan ketidaksamaan tambahan. atau minoritas agama. mereka yang menjalankan sistem peradilan pidana mempunyai kekuasaan yang berpotensi melakukan penyalahgunaan dan menjadi tirani. Kongres. banyak individu. dipenjarakan. negara wajib melayani secara rata dan sama seluruh rakyatnya. adalah landasan pokok bagi masyarakat yang adil dan demokratis manapun. mayoritas etnik. Frank menulis. baik undangundang maupun demokrasi terlayani.pemerintahan sebagai cara untuk menjamin kebebasan individu. Holden).” Tak seorangpun berada di atas hukum yang bagaimanapun. mereka menyerahkan diri sebagai pembuat undang-undang itu. diasingkan dan dihukum mati tanpa dasar hukum. dengan pembagian kekuasaan antara Presiden. Frank menjelaskan. Jika undang-undang ditetapkan oleh rakyat yang selanjutnya harus mematuhinya. atau perlindungan yang sama oleh hukum sebagaimana sering disebut. tidak rahasia. Apakah syarat pokok bagi proses hukum Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 261 . sekutu politik negara atau lawan. merupakan ciptaan rakyat. Persamaan hak di depan hukum. sewenang-wenang atau tunduk pada manipulasi politik oleh negara. Masyarakat demokratis tidak dapat menerima penyalahgunaan seperti ini. Warga negara suatu demokrasi tunduk pada hukum karena mereka mengakui bahwa. harta mereka dirampas. bukan sesuatu yang dipaksakan kepada mereka. Setiap masyarakat sepanjang sejarah. sekalipun tidak langsung. dan sering tanpa pernah dikenai tuduhan resmi. dan mereka disiksa. Kaya atau miskin. Namun ahli hukum konstitusi John P. Setiap negara harus mempunyai kekuasaan untuk memelihara ketertiban dan menghukum tindak pidana. dan ia tidak mempunyai tanggung jawab untuk melakukan hal itu. Dalam kehidupan negara yang demokratis tidak dapat menjamin bahwa kehidupan akan memperlakukan setiap orang dengan sama. dan Kehakiman (dalam Jeannes s. semuanya berhak atas perlindungan yang sama di depan hukum. tapi aturan prosedur yang digunakan negara untuk melaksanakan undang-undangnya harus terbuka dan jelas. Doktrin ini juga membantu membentuk landasan filosofis bagi konstitusi AS. Atas nama negara.

Bukan saja orang berhak mengetahui hakikat sebenarnya tuduhan itu. DPRD Kabupaten/Kota) yang berdampak sulitnya untuk membangun kesamaan visi dan misi Nasional antar politisi dalam me- 262 Bunga Rampai . Hal tersebut dapat kita lihat (DPR. membawa berbagai perubahan yang mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. yang bergulir bagaikan bola salju. Pasang surut ini diwarnai oleh perubahan-perubahan sesuai tuntut-an politik. Ketukan tengah malam oleh polisi rahasia tidak mempunyai tempat dalam demokrasi. Ideologi dan konstitusi negara bagi suatu negara yang berdaulat seperti Negara Republik Indonesia ini. berkembangnya kehidupan politik yang liberal. merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Perubahan-perubahan ini jelas apabila diamati kenyataan di lapangan: Pertama. Reformasi politik yang terjadi sejak tahun 1997. dan konstitusi negara akan memberikan model terhadap implementasi ideo-logi dalam birokrasi pemerintahan dalam penyelenggaraan negara terutama penyelenggaraan fungsi lembaga negara. Dalam perjalanan sebagai bangsa yang berdaulat. DPRD Provinsi. Kedua. menunjukkan adanya pasang surut. begitu pengadilan mendapati bahwa tuduhan itu tanpa dasar atau penahanannya tidak sah. dikatakan demikian karena ideologi akan memberikan warna terhadap bentukbentuk yang ada dalam konstitusi negara. berdasarkan doktrin yang disebut Habeas corpus. melahirkan perilaku politik yang juga liberal. Berkaitan dengan perkembangan ini ruang pemerintah muncul kekuatan-kekuatan baru yang dapat menggeser kedudukan seorang Presiden. implementasi ideologi dan konstitusi negara sebagaimana termuat dalam sejarah. DPD. mereka juga harus segera dilepaskan. Tak seorangpun boleh ditahan tanpa tuduhan yang jelas dan tertulis. MPR.yang wajar dalam demokrasi? Rumah siapa saja tidak boleh dimasuki dan digeledah oleh polisi tanpa perintah pengadilan yang menunjukkan adanya alasan kuat untuk menggeledah itu. dan merinci tuduhan pelanggaran itu. sejak lengsernya Soeharto sebagai Presiden dari panggung politik. kita tidak lagi memiliki seorang pemimpin yang sentralistik sekaligus sangat menentukan.

Bunyi dan Pasal 37 ayat (1) dan (2). jelas mengindikasikan bahwa para Pendiri RI (Founding Fathers). dengan kata lain ada amanat pada penerus bangsa ini untuk tidak mempermasalahkan konstitusi yang mereka buat. seiring dengan perkembangan politik tersebut. keanekaragaman itulah ciri jati diri bangsa Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa Malaysia. dan 2002). yang sampai saat ini sudah empat kali perubahan (Tahun 1999. walaupun berasal dari satu rumpun. organisasi bangsa mempunyai kebutuhan untuk memiliki citra jati dirinya. berkembang pula keinginan sebagian elit politik yang berpengaruh dengan cara yang sistemik dan damai melakukan perubahan terhadap UUD NRI Tahun 1945. Selanjutnya pada ayat (2) dinyatakan bahwa ”putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota yang hadir”. Memperhatikan peranan tersebut di atas. Pasal 37 ayat (1) tidak bertentangan.” Peranan Ideologi dan Konstitusi Negara dalam Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. seperti bangsa Indonesia dan Malaysia. 2000. maka ideologi dan konstitusi negara bagi bangsa Indonesia mempunyai peranan yang sangat penting. berperan sebagai citra jati diri bangsa. sejak awal telah mengisaratkan adanya penyesuaian pasal-pasal yang ada dalam UUD 1945 dengan perkembangan yang ada. berkaitan dengan realitas dan eksistensi bangsa kita. namun bagi bangsa Indonesia dengan kemajemukannya sangat berbeda seperti kita tahu tentang perbedaan budaya. Memperhatikan perkembangan politik era reformasi yang berkaitan dengan perubahan UUD NRI Tahun 1945. Dengan citra jati diri inilah suatu bangsa dapat memberikan ciri yang khas yang dapat dibedakan dengan negara lainnya. oleh karena itu dapat dikatakan bahwa ideologi dan konstiPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 263 . Sebagai kelompok sosial yang besar. 2001. adat maupun bahasa yang berbeda dari mulai Sabang sampai Merauke. Ketiga.nangani dan memahami makna NKRI. apabila merujuk pada UUD NRI tahun 1945. Karena mempunyai landasan: Pertama. Dikatakan demikian karena dalam Pasal 37 tersebut secara tegas dinyatakan bahwa ”untuk mengubah UUD sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota harus hadir.

Di sini ideologi dan konstitusi menjadi sumber inspirasi dan cita-cita hidup bersama. Keempat. berperan untuk menemukan keyakinan akan kebenaran perjuangan bersama akan satu kesatuan yang berpegang teguh pada ideologi dan konstitusi tersebut. Hal tersebut diperlukan sebagai peraturan yang tertinggi karena beragamnya komponen yang juga mempunyai adat istiadat tersendiri. dan dipandang sebagai suatu kebesaran dan kemuliaan bersama dengan ideologi manusia mengejar keluhuran. Kedua. berperan sebagai jembatan penghubung antara generasi tua sebagai pendiri bangsa (fouding fathers) dengan generasi penerus. Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dalam menyelenggarakan fungsi kenegaraan merupakan hal yang sangat pen- 264 Bunga Rampai . maka dibutuhkan suatu pedoman yang dapat memayungi dan berlaku untuk keseluruhan komponen bangsa yang ada. Oleh karena senantiasa berupaya untuk merealisasikan dalam kehidupan bersama.tusinya melekat pada jati diri bangsa. jika negara mempunyai kedaulatan yang utuh dalam menjaga eksistensinya dan mewujudkan reformasi birokrasi pemerintahan khususnya reformasi peradilan. sebagaimana telah dirumuskan dalam Ideologi dan Konstitusi (UUD Tahun 1945). dan mematuhi segala ketentuan yang diatur dalam konstitusi. Merupakan suatu hal yang alami terjadi pergantian generasi antara generasi terdahulu dengan generasi muda. yang akan dijadikan dasar pengambilan keputusan bagi para hakim. maka dapat diantisipasi sedemikian adanya persepsi yang berbeda terhadap suatu peraturan perundang-undangan. Karena itu keberadaan ideologi dan konstitusi yang berdaulat merupakan sesuatu yang mutlak. Ketiga. Generasi muda yang telah mengalami masamasa perjuangan untuk mendirikan bangsa dengan negara. Dengan adanya ideologi dan konstitusi sebagai hukum dasar. dengan ideologi dan konstitusi dapat menjembatani hubungan antara keduanya. sehingga dapat diharapkan generasi muda akan terus melanjutkan perjuangan generasi pendahulunya untuk mencapai cita-cita dan tujuan nasional bangsa Indonesia. berperan sebagai hukum dasar yakni sebagai pedoman utama dalam pembuatan peraturan perundangundangan yang akan diperlakukan kepada segenap komponen bangsa.

Perkembangan Hukum Dasar Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. Sedangkan kemungkinan terjadinya ketidak-adilan dalam negara demokrasi jauh lebih kecil dibanding pada negara dimana kebebasan politik ditindas dan tidak ada satupun jaminan politik. Reformasi sesungguhnya memberikan ruang yang besar untuk terjadinya perubahan menuju penyelenggaraan negara yang lebih demokratis. integral. Pengaturan tentang pembagian dan pembatasan tugastugas ketatanegaraan yang juga bersifat fundamental. Pada akhirnya mungkin dapat dikatakan bahwa orang-orang yang merasa diperlakukan tidak adil dalam suatu sistem demokrasi maka akan terhibur kalau mereka memperhatikan sistem-sistem politik lain. dan juga akuntabilitas tinggi serta diharapkan terwujudnya Good Governance. dan mempertahankan demokrasi atas dasar ini bermakna bahwa demokrasi adalah sistem terbaik untuk menegakkan keadilan. dan sistematis dalam empat kali perubahan UUD NRI Tahun 1945. 3. keterbukaan. pada empat sidang MPR sejak Tahun 1999. mengalami perubahan yang sangat fundamental. Dalam konstitusi biasanya memuat aturan minimal materi yang mencakup: 1. dan ini jarang sekali dikesampingkan pada saat kebijaksanaan dibuat. Demokrasi memberikan kesempatan kepada setiap kelompok dan kepentingan yang cukup besar mengajukan wakilnya. Menegakkan keadilan sering dianggap sebagai inti moralitas politik. yang menciptakan keadilan yang relatif. Pengaturan tentang hak asasi manusia. sampai dengan 2002. bertahap. sejak perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 2. Pengaturan tentang susunan ketatanegaraan yang bersifat fundamental. Demokrasi juga menyangkut kompromi atau harmoni politik dengan jalan menyelesaikan tuntutan-tuntutan atau suara-suara yang saling bertentangan.ting dan mendasar. karena dapat menyuarakan persoalannya dan sanggup mengumpulkan kekuatan dengan mempengaruhi para pemilih dengan berbagai cara yang diakui dan absah. kepentingan yang merasa dirugikan. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 265 . selanjutnya perubahan itu diwujudkan secara komprehensif. serta negara hukum yang demokratis. dan keadilan.

28F. yaitu: dihapuskannya lembaga negara Dewan Pertimbangan Agung. Sedangkan perubahan pada materi yang kedua dan ketiga. Mahkamah Konstitusi (MK). serta perilaku hakim. hakim di bawah Mahkamah 266 Bunga Rampai . Menelaah Komisi Yudisial dari satu sudut pandang Geopolitik dan Geostrategi Indonesia tidak terlepas dengan pemahaman kita tentang politik dan strategi dalam melakukan reformasi hukum/peradilan. 28D. memutus pembubaran partai politik. Keberadaan Komisi Yudisial.Contoh pengaturan hak asasi manusia telah ditambahkannya pasal hak asasi manusia. Paradigma lama sistem paradilan kita masih kental. 28C. 28B. Diubahnya kedudukan dan kewenangan Majelis Permusyawaratan Rakyat. dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. antara lain perubahan pada Bab IX yang mengatur Kekuasaan Kehakiman. sehingga sebagai lembaga negara baru Komisi Yudisial masih harus menghadapi resistensi yang berat terutama dalam menghadapi hakim agung. yaitu Dewan Perwakilan Daerah (DPD). dan Komisi Yudisial (KY). hal tersebut sebagaimana dalam perubahan ketiga UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Selanjutnya terbangun adanya 2 lembaga negara baru yaitu Mahkamah Konstitusi. setelah perubahan bab IX menjadi 5 pasal dan 19 ayat. keluhuran martabat. dan dibentuknya lembaga negara baru. dalam kehidupan sistem kekuasaan kehakiman. dan 28J. memutus sengketa kewenangan Lembaga Negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar. yang mempunyai kewenangan mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar. serta untuk memberantas maraknya praktek mafia peradilan. untuk menegakkan hukum dan keadilan. 28G. 29H. merupakan hasil reformasi khususnya di bidang peradilan. menegakkan kehormatan. Perubahan yang sangat mendasar dalam hukum dasar Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. Awalnya dalam Bab IX hanya terdiri 2 pasal dan 3 ayat. yaitu pasal 28A. Sedangkan lembaga baru yang kedua adalah Komisi Yudisial yang merupakan pilar kehidupan untuk menentukan roh moral para hakim agung. 28I. 28E.

untuk secara antisipatif mengawal negara sebagai negara hukum dengan segala sumber daya yang kita miliki. pemahaman civic morality harus dituangkan dalam bentuk kewajiban lembaga Komisi Yudisial. jika kita melibatkan budaya. Mengacu pada prinsip tersebut penerapan hukum yang didasarkan pada civic morality dalam kehidupan bermasyarakat. yang menyatakan bahwa terdapat ambivalensi dalam hukum dan demokrasi. serta dengan cermat menyikapi karakter dan perubahan pola interaksi peradaban manusia dalam rangka menjaga martabat kemanusiaan. Keduanya dikembangkan sebagai suatu konsepsi maupun sebagai realisme atas dasar perkembangan politik nasional. yang hidup dan tidak berada dalam ruang hampa. sistem ketatanegaraan maupun sistem pemerintahan. dan bernegara secara universal dituangkan ke Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 267 . Yang dimaksud dengan sistem Geopolitik dan Geostrategi Indonesia adalah Wawasan Nusantara sebagai Geopolitik Indonesia dan Ketahanan Nasional sebagai Geostrategi Indonesia. tetapi kebangsaan saya adalah peri-kemanusiaan” (My nationalism is humanity). maka hal ini sangat terkait dengan tesis Harbermas.Agung. mengusulkan formula untuk menghilangkan ambivalensi dengan konsep aturan etika global yang merupakan rumusan seni politik sejati dengan menggabungkan politik riil dengan politik kontemporer dalam pembentukan civic morality suatu bangsa. Komisi Yudisial dalam Sistem Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. dan sesama bangsa di dunia. Hal tersebut sejalan dengan prinsip civic morality. untuk menjaga kedaulatan dirinya. ”Saya seorang nasionalis. maupun hakim konstitusi. dalam arti demokrasi dan kebebasan tidak selalu berjalan beriringan. tanpa harus menjadi lembaga yang menyendiri. toleransi dan hukum. Jika kita kaitkan fenomena tersebut dalam sistem kemasyarakatan dan pemerintahan. yang diucapkan oleh Mahatma Gandhi. melainkan selalu harus selalu berorientasi terhadap masalah-masalah rasional baik ideal maupun riil. oleh karena itu harus solid dan dapat mendorong proses akselarasi reformasi peradilan pada tataran fungsi dan tugas serta tingkatan para hakim. Menjawab hal ini Hans Kung. Atas dasar hal tersebut.

dalam bentuk empat pola tindak. legislatif. maupun yudikatif. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). dan dikenal dalam bahasa Inggris disebut ”Cabinet Government” dan sistem ”Presidential Government” atau juga ”The fixed executive system”. memutus pembubaran partai politik. Institusi lembagalembaga negara tersebut. sesuai dengan tesisnya Donovan yang merujuk filsafat kata rekonsiliasi dalam kitab Vulgata. F Strong dan S. Civic morality. tersebut adalah basis geopolitik dan geostrategi suatu bangsa yang bermakna sebagai suatu upaya untuk memperoleh kekuatan bangsa dalam menjaga nasionalisme dan penegakkan hukum secara berkelanjutan. yang mencakup keseluruhan lembaga-lembaga negara termasuk eksekutif. lembaga negara adalah institusi yang diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945. Komisi Yudisial (KY). Lahirnya sistem pemerintahan parlementer dan sistem pemerintahan presidensiil. yang dimaksud dengan lembaga negara pada pasal tersebut yaitu. Presiden dan Wakil Presiden. J. didasarkan pada Pasal 24C ayat (1) yaitu menyatakan: Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar. Dalam sistem pemerintahan selalu terkait dengan hubungan antara lembaga eksekutif dan lembaga legislatif. 268 Bunga Rampai . kecuali dalam sistem pemerintahan negara. Berdasarkan Pasal 24C Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Witman & J. Berdasarkan sumber tersebut. spiritual. Dewan Perwakilan Daerah (DPD). L.Wuest. Mahkamah Agung (MA). dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). budi pekerti dan toleransi dalam semangat rekonsiliasi. memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UndangUndang Dasar. serta berpartisipasi aktif dalam hubungan kerja antar lembaga negara sebagai upaya mencapai cita-cita nasional. Sistem ketatanegaran mempunyai cakupan yang lebih luas dibanding dengan sistem pemerintahan. Mahkamah Konstitusi (MK). Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Dalam sistem ketatanegaran terbentuk sistem hubungan antar lembaga-lembaga negara. yaitu rasionalitas. sebagaimana dikemukakan oleh C. dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.

yang tentunya Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 269 .yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar 1945. Kekuasaan Negara yang tertinggi di tangan Majelis Permusyawaratan Rakyat (Penjelasan Umum tentang sistem Pemerintahan Negara). Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat dengan suara yang terbanyak (Pasal 6 ayat (2). dan kekuasaan kehakiman juga terkait pada keberadaan cita negara hukum/Rechstaat. atau kekuasaan yudikatif mempunyai konsekuensi logis menentukan adanya hakim sebagai subyek pelaksana dari kekuasaan kehakiman. Sedangkan sebutan lembaga negara tertinggi sebelum perubahan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu Majelis Permusyawaratan Rakyat. khususnya perubahan ketiga. Pasal 1 ayat (2) diubah. Sehubungan prinsip tersebut bagaimana keterkaitannya dengan geopolitik dan geostrategi Indonesia khususnya diimplementasikan dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945. dan bentuk negara amat sangat tergantung oleh paham atau sistem Kedaulatan Rakyat/Volkssouvereineteit (sumber Sutjipno). Majelis Permusyawaratan Rakyat adalah penjelmaan seluruh rakyat Indonesia. Kedudukan lembaga-lembaga negara didasarkan atas tugas dan kewenangannya. Dengan demikian. Keberadaan kekuasan kehakiman. dan begitu seterusnya bahwa eksistensi negara hukum tergantung pada keberadaan bentuk negara republik. kedelapan lembaga negara tersebut berkedudukan setingkat sama. sehingga berbunyi: Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UndangUndang Dasar”. dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (Pasal 1 ayat (2). atau kekuasaan yudikatif. Majelis Permusyawaratan Rakyat tidak lagi menjadi lembaga negara tertinggi. Ditarik dari keberadaan hakim juga terkait dengan keberadaan kekuasaan kehakiman. Dengan demikian juga setelah perubahan terhadap Undang-Undang Dasar selain tidak ada lembaga negara tertinggi juga tidak ada lagi lembaga tinggi negara. selaku hukum tata negara Indonesia. Selanjutnya setelah reformasi berjalan terjadilah perubahan Undang-Undang Dasar 1945. Demikian juga Komisi Yudisial dan ketujuh lembaga negara lainnya berkedudukan sama setingkat/sederajat. didasarkan pada: Kedaulatan adalah di tangan rakyat. Berdasarkan perubahan terhadap Pasal 1 ayat (2).

Ini menunjukkan peran politik begitu dominan. (4) Susunan. ayat (2). Rumusan sebagai berikut: Pasal 24B (1) Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Ketentuan ini didasarkan pemikiran bahwa hakim agung yang duduk di MA dan para hakim merupakan figur yang sangat menentukan dalam perjuangan menegakkan hukum dan keadilan. dan merupakan tantangan berat bagi Komisi Yudisial untuk menunjukkan bahwa calon hakim agung yang diusulkan betul-betul dapat dipertanggungjawabkan dan diterima sebagai calon yang telah memenuhi persyaratan termasuk persyaratan dari sisi politis. rumusan kewenangan Komisi Yudisial (KY) sebagaimana tercantum dalam Pasal 24B ayat (1). sangat menentukan manusia sebagai hakim yang mempunyai hati nurani tinggi. Selanjutnya Kewenangan Komisi Yudisial. ayat (3). namun lolosnya calon hakim agung yang diseleksi oleh Komisi Yudisial belum mendapat jaminan untuk seluruhnya diterima oleh DPR-RI terutama Komisi III. dan keanggotaan Komisi Yudisial diatur dengan undang-undang. masalah kehormatan dan 270 Bunga Rampai . hasil perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sebagai negara hukum. Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. kedudukan. keluhuran martabat. (3) Anggota Komisi Yudisial diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. dan ayat (4). Apalagi hakim agung duduk pada tingkat peradilan tertinggi (puncak) dalam susunan peradilan di Indonesia sehingga ia menjadi tumpuan harapan bagi pencari keadilan. serta perilaku hakim.mengalami perubahan yang sangat fundamental terutama pada pasal-pasal dan ayat-ayatnya. (2) Anggota Komisi Yudisial harus mempunyai pengetahuan dan pengalaman di bidang hukum serta memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela.

Kewenangan yang sangat besar yang diberikan kepada Komisi Yudisial merupakan tantangan besar untuk dapat mewujudkan hakim agung yang profesional dan proporsional. Komisi Yudisial berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai kwenangan lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta perilaku hakim. proporsional. komitmen untuk Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 271 . Outsourcing kinerja Komisi Yudisial ini dapat terwujud manakala semua anggota Komisi Yudisial solid. reformis. profesional. ”sebelum Komisi Yudisial terbentuk.keluhuran martabat. memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela adil. sebelumnya merupakan wewenang Mahkamah Agung. perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Untuk itu. memuat ketentuan mengenai pembentukan lembaga di bidang kekuasaan kehakiman bernama Komisi Yudisial (KY) yang merupakan lembaga yang bersifat mandiri. Ujian berat bagi Komisi Yudisial saat ini adalah untuk pertama kalinya bangsa Indonesia memberikan kewenangan penuh untuk menjaring para calon hakim agung yang diselenggarakan oleh Komisi Yudisial. serta perilaku hakim merupakan hal yang sangat strategis untuk mendukung upaya menegakkan peradilan yang handal dan realisasi paham Indonesia adalah negara hukum. Melalui Komisi Yudisial diharapkan dapat diwujudkan lembaga peradilan yang sesuai dengan harapan rakyat sekaligus dapat diwujudkan penegakkan hukum dan pencapaian keadilan yang diputus oleh hakim yang terjaga kehormatan dan keluhuram martabat serta perilakunya. pengajuan calon hakim agung dilakukan Mahkamah Agung untuk mendapatkan persetujuan DPR dan selanjutnya ditetapkan sebagai hakim agung oleh Presiden”. berdasarkan Pasal 80A Undang-Undang nomor 5 Tahun 2004 Tentang perubahan Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985. Sedangkan pada Pasal 20A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menentukan. ”calon hakim agung diusulkan Komisi Yudisial kepada DPR untuk mendapatkan persetujuan dan selanjutnya ditetapkan sebagai hakim agung oleh Presiden”. Menurut ketentuan Pasal 24B ayat (1). dan berpikir jernih untuk memutuskan calon hakim agung yang bermoral. tentang Kekuasaan Kehakiman. Menurut ketentuan tersebut.

agar kita dapat membangun sistem peradilan yang mandiri dan dilandasi pada jati diri bangsa kita sendiri. (hal tersebut perlu dikaji lebih mendalam). maka peran budaya juga tidak bisa dilepaskan sebagai pilar kekuatan Komisi Yudisial. Profesionalitas tidak hanya dimiliki oleh kelompok tertentu saja. untuk memperkuat kemandirian Komisi Yudisial. saat ini masih dalam proses transisi dibutuhkan orientasi-orientasi baru terutama pemahaman tentang geopolitik dan geostrategi Indonesia yang begitu cepat perubahannya. karena bangsa Indonesia ini penuh dengan keanekaragaman. dan menjadikan pondasi dalam sistem peradilan di Indonesia. Bukan hanya pemimpin tingkat nasional sampai pada terendah. proses pembangunan budaya berhukum yang baru (paradigma baru budaya berhukum) yang diciptakan oleh Komisi Yudisial. sangat diperlukan karena selama ini telah terjadi dan terbentuk di Indonesia sistem hukum modern yang melahirkan watak liberal. Komisi Yudisial lahir dari hasil reformasi. dan mempunyai budi pekerti luhur.memberantas mafia peradilan. agar kita dapat memberikan rasa adil dan sejahtera pada seluruh komponen bangsa Indonesia. Negara hukum Indonesia sampai saat ini masih diwarnai oleh pengaruh budaya liberal. Dalam hubungannya dengan budaya. melainkan bisa menjadi milik siapa saja. dan memahami serta mengerti betul tentang cara kerja dan kultur peradilan yang lama. harus dijunjung tinggi norma-norma lokal sebagai pondasi kehidupan sistem peradilan Indonesia. tidak heran kalau masih terjadi kendala dalam sistem peradilan kita yang tentunya harus dapat diselesaikan oleh kita. sehingga diperlukan suatu tolak ukur apakah seseorang tadi didalam menjalankan tugasnya telah memiliki wawasan yang luas dan jauh menjangkau rasa cinta tanah air. Tentu kita sebagai bangsa Indonesia yang berdaulat dan mempunyai jati diri Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. dalam memperkuat Negara Indonesia adalah Negara Hukum. berwa- 272 Bunga Rampai . dan perlu dipikirkan wadah konsultasi lembaga yudisial tanpa mengurangi kemandirian dari tugas dan fungsi serta tanggung jawab masing-masing lembaga. sehingga kerja sama dengan lembaga-lembaga yang mempunyai fungsi yudikatif sangat dibutuhkan.

wasan kebangsaan. kenegarawanan. dari mulai hakim agung sampai pada hakim pengadilan negeri. dan merupakan lembaga negara baru yang masih belum tersosialisasikan kepada seluruh elemen bangsa baik yang berada di dalam lembaga negara lainnya maupun di dalam masyarakat luas. Fungsi pengawasan yang dilakukam oleh Komisi Yudisial sebagai lembaga negara yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Komisi Yudisial harus dapat membangun ideologinya sendiri. keluhuran martabat. selain tentu moral dan etika profesinya yang harus dijunjung. serta perilaku hakim. di bidang peradilan memberikan peluang yang besar bagi bangsa Indonesia. diperlukan suatu sharing pengalaman dan mensinergikan menjadi kekuatan wewenang Komisi Yudisial. dan mempunyai komitmen tinggi terhadap keutuhan wilayah kedaulatan negara Republik Indonesia. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 273 . yaitu melakukan revitalisasi yang sebelumnya wewenang tersebut menjadi wewenang lembaga Mahkamah Agung. maksudnya antara lain memiliki kandungan kecintaan terhadap tanah air bangsa Indonesia yang sangat kuat. untuk melakukan perbaikan dan langkah strategis untuk memberantas mafia peradilan yang bertentangan dengan norma dan etika peradilan. Semua elemen bangsa harus dapat memahami dan mengerti serta melaksanakan apa yang menjadi wewenang Komisi Yudisial sebagai lembaga negara baru yang telah diberikan wewenang berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Penutup Hasil reformasi dan demokrasi. sebagai wujud nyata sifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. yang akan menentukan calon-calon hakim agung. Demikian juga para anggota Komisi Yudisial. mempunyai peran yang sangat vital di bidang peradilan. Wawasan kebangsaan dan kenegarawanan. Dalam rangka untuk mewujudkannya diperlukan orientasi baru. serta perilaku hakim. keluhuran martabat.

. Moh. 2005. Henry J. Cooper Phillip. 274 Bunga Rampai .1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Crane. Lemhannas RI Jakarta. Modern Political Constitution. 2005. “Hukum Progresif. Howars. 2005. New York University Press.F. Prosudur dan system Perubahan Konstitusi. 1966. New Jersey. “Hukum yang Membebaskan”. Vol.2000. Mahfud MD. C. Bintan Regen. Hukum Dasar Geopolitik dan Geostrategi Dalam Kerangka Keutuhan NKRI. 2006. Gray. 1996. The Supreme Court in The Govermental Process. Sekretariat Jenderal MPR RI. Cal Stanford University Press. Ermaya suradinata. Rahardjo. dalam Jurnal hokum Progresif. Bandung. Richard A. Toword a Theory of Legal Justification. NY.” tulisan disiapkan untuk buku HUT Mahkamah Konstitusi Tahun 2006. 2007. Prentice Hall. The United States Supreme Court. Stanford. Mahfud MD. The Judiciary. Komisi Yudisial Republik Indonesia. Ermaya suradinata. Program Pascasarjana Universitas Jayabaya. Coins s. 2006.1961. Jakarta. PT Alumni. Demokrasi. The Judicial Decision.W. 1996. 2006. dan Ball. Mackinder and The Defence of The West. The Geopolitics Of The Nuclear Era New York. London. Wasserstrom. Global Geostrategy. ”Menjaga Jarum Sejarah Amandemen UUD. 2005. The English Language Book Society. Saragih. Taylor & Prancis. PT Rinneke Cipta. Sri Soemantri.Daftar Pustaka Abraham. Penerbit suara Bebas. Jakarta. 1 No. Russak & Company. B. Bunga Rampai Refleksi Satu Tahun. Sdigwick and Jackson Limited. Strong. NY. Satjipto.Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia. Jakarta. 1997. Blout. Permasalahan Aktual dan pentingnya Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. Moh. Inc. Jakarta.

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 275 . melainkan juga rekomendasi KY untuk memberi sanksi hakim-hakim nakal dapat menimbulkan efek jera. Sayang. dalam perjalanan pelaksanaan tugas dan wewenang KY mendapat hambatan. merupakan kewenangan KY yang amat krusial. Dalam melakukan pengawasan terhadap hakim. sebetulnya KY telah berhasil membangun budaya kontrol yang membuat para hakim lebih berhati-hati. Pendahuluan Pasal 22B Ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 (UUD) menegaskan eksistensi Komisi Yudisial (KY) yang bersifat mandiri dan berwenang mengusulkan hakim agung. keluhuran martabat. Mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan menegakkan kehormatan hakim. dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. harapan masyarakat pada KY bukan hanya mencari dan menemukan sosok calon hakim agung yang kredibel atau menjaga perilaku hakim dari perbuatan tercela. Padahal. Kehadiran berbagai lembaga negara baru seperti KY telah menandai berjalannya proses transisi menuju demokratisasi yang sesungguhnya. serta perilaku hakim. Kehadiran KY pada hakikatnya dimaksudkan menjawab tuntutan masyarakat agar prinsip-prinsip demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan terakomodasi melalui lembaga yang akuntabel dan independen. yang justru berasal dari lembaga yang seharusnya secara bersama menegakkan harkat dan martabat peradilan.Memulihkan Kewenangan Komisi Yudisial Dengan Melibatkan Kemitraan (Jejaring) di Daerah Marwan Mas A.

juga bermakna untuk menjaga dan menegakkan kehormatan. Pemilahan dan penentuan prioritas pembenahan menjadi sangat penting dipahami oleh mitra yang dibangun. dan pendisiplinan hakim. Berbagai kasus yang terungkap ke publik. Italia. paling tidak diharapkan memberikan dampak positif dalam mengefektifkan pelaksanaan tugas dan wewenang KY. kewenangan komisi ini jauh lebih signifikan karena memiliki kewenangan yang cukup luas seperti rekrutmen hakim. Peran mitra di daerah. dan memberikan masukan dalam pengangkatan ketua/wakil ketua MK. Salah satu cara untuk mengawasi perilaku hakim. sumber daya penunjang dan sebagainya. keluhuran martabat. maka tugas dan wewenang KY perlu ditunjang oleh mitra di daerah. meskipun berbeda pada pelaksanaan fungsi dan perannya. Di sejumlah negara. dan Spanyol. penyimpangan di lingkungan peradilan yang merugikan masyarakat tidak hanya menyangkut hakim. dan berakhir pada hakim yang memeriksa dan menjatuhkan putusan. Kompleksitas permasalahan yang melingkupi pengadilan Indonesia. KY telah membangun kemitraan (jejaring) di daerah-daerah. soal penyimpangan hakim tidak berdiri sendiri tetapi terdesain dalam suatu mafia yang amat sulit dibuktikan. mengajukan calon ketua MA. KY memberikan rekomendasi untuk pemberhentian hakim. Proses tersebut berawal dari panitera yang meregister dan membagikan perkara kepada hakim. peran pegawai peradilan yang mengontak pengacara atau pencari keadilan. promosi. Di negara-negara Eropa Selatan seperti Perancis. mutasi. termasuk bagaimana peran mitra KY memberikan informasi dalam mendukung pelaksanan tugas dan wewenang KY. tetapi juga panitera yang mendaftar perkara. keberadaan komisi semacam ini sudah merupakan hal yang jamak dan dibutuhkan. pengawasan.Kiranya perlu dipahami bahwa pembentukan KY selain diarahkan untuk menciptakan sebuah lembaga pengawas dalam kekuasaan yudikatif. 276 Bunga Rampai . Sebab sudah menjadi rahasia umum. mestinya objek pengawasan KY tidak hanya hakim. mulai dari sumber daya manusia. tetapi juga panitera dan administrasi. Di Afrika Selatan. Untuk menunjang proses peradilan yang lebih bermartabat. serta perilaku hakim. managemen organisasi.

Reformasi peradilan sebagai agenda utama KY tidak akan berhasil seperti yang diharapkan. Dalam kondisi demikian. termasuk proses persidangan yang murah. kearsipan perkara. Para pencari keadilan begitu sulit mendapatkan pelayanan peradilan yang jujur. sederhana dan cepat. Oleh karena itu. karena dalam realitasnya telah menghilangkan akses keadilan bagi masyarakat dan pencari keadilan. perlu pemulihan kewenangan KY untuk mengungkapkan modus operandi dan upaya pemberantasan mafia peradilan. seperti prosedur penerimaan perkara dan registrasi perkara. KY sebagai lembaga negara yang mandiri berkepentingan dan berkomitmen untuk terus menjalin kerjasama dengan berbagai elemen masyarakat. kualitas putusan. pembuatan daftar persidangan. dibutuhkan peran masyarakat melalui mitra yang dibentuk KY untuk terlibat langsung dalam mendukung pelaksanaan tugas dan wewenang KY. Sementara keputusan KY berkaitan dengan pelanggaran perilaku hakim hanya berupa rekomendasi yang intinya mengusulkan penjatuhan sanksi. serta perilaku hakim. terutama yang concern terhadap proses reformasi peradilan demi terciptanya sistem peradilan yang bersih. Begitu juga terhadap penanganan administrasi peradilan. rekomendasi KY tidak mendapat respon positif MA sehingga ide awal pembentukan KY dalam UUD tidak berjalan sebagaimana mestinya. Australia.B. dan eksekusi. Memang secara legalistik. penyusunan berita acara pemeriksaan (BAP). pembuatan laporan Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 277 . KY tidak berwenang memeriksa aspek teknis yudisial seperti kemampuan hakim menangani perkara. KY dipersepsikan dalam UUKY untuk tidak mencampuri teknik yudisial. sehingga memerlukan jaringan kerjasama dalam rekrutmen calon hakim agung dan pengawasan terhadap para hakim. pembukuan keuangan perkara. tenggang waktu penyelesaian perkara. Pentingnya pengawasan hakim dari pengaruh mafia peradilan. Memulihkan Kewenangan KY Dalam menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat. akuntabel dan berwibawa. Salah satu upaya tersebut adalah perlunya penguatan pengawasan dan peran serta masyarakat dalam mengontrol praktek peradilan. Desain ini mirip dengan fungsi yang diberikan kepada Judicial Commission di New South Wales. Sayang.

Intervensi model ini telah membudaya melalui forum musyawarah pimpinan daerah (Muspida) yang memberi ruang bagi eksekutif dan legislatif untuk mempengaruhi lembaga peradilan. jika ada fakta-fakta perilaku hakim yang tercela dalam berkas perkara yang berakibat dikeluarkannya putusan. khususnya eksekutif dan legislatif untuk mempengaruhi putusan hakim. Pada aspek ini. sebab memeriksa dan memutus perkara merupakan sebuah tanggung jawab seperti “kemampuan menangani perkara” yang memberikan keadilan. memang tidak sampai pada soal “teknis yudisial” karena terkait independensi hakim (independence of judiciary) dalam memeriksa dan memutus perkara. Namun. dan eksekusi peraturan. dapat dilihat pada dua aspek. Mitra atau jejaring yang ada di masyarakat dapat menjadi mata dan telinga KY. KY dapat mengapresiasi perilaku hakim yang menyimpang dengan melakukan interpretasi. Pemeriksaan KY terletak pada penilaian hakim terhadap fakta-fakta persidangan yang dituangkan dalam putusan dengan menelusuri apakah terjadi penyimpangan perilaku hakim. Kesemuanya diarahkan untuk meningkatkan prestasi kerja hakim dalam menyelesaikan perkara dengan cepat. adanya intervensi atau campur tangan dari pihak luar. Penyebab maraknya korupsi di lembaga peradilan (judicial corruption) yang mesti jadi perhatian mitra KY di daerah.perkara. dan kualitas putusan harus dapat dirasakan oleh pencari keadilan. Penilaian atas perilaku hakim dalam menangani perkara yang ternyata menuai keberatan pencari keadilan merupakan bagian dari tanggung jawab hakim. Sukses atau tidaknya pengawasan KY. Mitra (jejaring) KY yang ada di daerah merupakan representasi pengawasan masyarakat. penyuapan yang dapat terjadi sepanjang proses peradilan. Berdasarkan laporan 32 negara yang dimuat 278 Bunga Rampai . sebagai bagian dari pengawasan masyarakat terhadap hakim. Kedua aspek ini tetap dipegang oleh pengawas internal MA. Wewenang KY mengawasi perilaku hakim demi menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat hakim. hakim bisa berkolusi dengan kekuasaan untuk memenangkan suatu perkara. Pertama. Kedua. jujur. menjadi taruhan kepercayaan masyarakat pada lembaga peradilan. berkas perkara dapat saja diperiksa KY.

dalam Global Corruption Report 2007. mempengaruhi rekan sesama hakim atau sekedar menjatuhkan putusan tertentu. termasuk pengawasan fungsional oleh Dewan Kehormatan Hakim Agung. Jika yang menjadi tujuan adalah tegaknya martabat hakim. kehadiran KY tidak perlu dianggap sebagai rival. Salah satu yang menghambat efektivitas pelaksanaan tugas dan wewenang KY adalah timbulnya sikap MA yang merasa kewenangan pengawasannya diambil alih KY. “Faktor kedua inilah yang paling krusial. Sinkronisasi ketiga UU selain dimaksudkan memulihkan ke- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 279 . Temuan KY dalam memeriksa perilaku hakim yang menyimpang yang kemudian direkomendasikan kepada MA. Sayang. UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung (UUMA). sebagian hakim dapat disuap untuk memperlambat atau mempercepat proses pengadilan. dan UU Nomor 24 Tahun 2002 tentang Mahkamah Konstitusi (UUMK). bertujuan untuk menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat hakim. pengawasan dari aspek administrasif berkaitan dengan proses peradilan tetap ada pada MA. terkesan telah membonsai kewenangan KY sehingga perlu dipulihkan dengan mensinkronkan UUKY. kewenangan KY untuk menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat hakim telah diamputasi oleh putusan MK Nomor: 005/PUU-IV/2006 tanggal 23 Agustus 2006. menerima atau menolak permintaan banding. Posisi KY sebagai pengawas eksternal yang bersifat independen. Pemulihan kewenangan KY dalam menjaga dan mengawasi perilaku hakim harus terakomodasi dalam perubahan UUMA dan UUMK. seharusnya direspons positif. Efektivitas pengawasan hakim seharusnya berjalan sinergis. Kewenangan KY mengawasi hakim dan hakim konstitusi sebagaimana dimaksud dalam UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (UUKY).” tandasnya. Padahal. Fungsi pengawasan MA bersifat internal. sedangkan KY melakukan pengawasan eksternal untuk menumbuhkan tanggung jawab hakim sebagai benteng terakhir penegakan supremasi hukum dengan memeriksa dan memutus perkara secara benar dan adil. Justru MA dapat memanfaatkan KY untuk membantu menegakkan martabat hakim. yang mengakibatkan maraknya korupsi di pengadilan.

Putusan MK yang perlu diapresiasi menyangkut kewenangan KY pada Kamis 23 Agustus 2006 terdiri dari dua bagian. pengawasan atas pelaksanaan kode etik hakim konstitusi dilakukan Majelis Kehormatan sesuai dengan ketentuan Pasal 23 UU MK sebagai pelaksanaan Pasal 24C Ayat (6) UUD. Padahal. tetapi hanya diawasi sendiri oleh temannya sesama hakim. juga menambal kekosongan hukum di bidang pengawasan terhadap badan peradilan dan hakim yang dilakukan KY seperti diperintahkan Pasal 24B Ayat (1) UUD. hal tersebut menyebabkan adanya penafsiran yang tidak tepat. pengawasan dari dalam tidak maksimal. MK secara sistematis melemahkan fungsi dan peran KY dengan cara ”membonsai” kewenangan KY dalam mengawasi perilaku hakim. Dalam pertimbangan hukumnya. MK secara arogan telah mengabaikan prinsip checks and ba-lances yang menjadi roh bangunan kelembagaan negara dengan tidak rela diawasi dan dijaga kehormatan dan perilakunya oleh lembaga lain. Para hakim Konstitusi tidak digolongkan sebagai hakim seperti hakim MA dengan alasan demi independensi dalam memeriksa dan menjatuhkan putusan. 280 Bunga Rampai . Praktik mafia peradilan diperkirakan akan semakin menjadi-jadi karena perilaku hakim tidak lagi diawasi dan dikontrol oleh lembaga lain (KY). Putusan MK yang mencabut pengawasan KY terhadap dirinya (hakim konstitusi) merupakan tindakan yang berlebihan. KY tidak berwenang mengawasi hakim MK. KY tidak berwenang mengawasi hakim yang berkaitan dengan teknis yudisial.wenangan KY. bahwa penilaian perilaku dilakukan dengan penilaian putusan. Saat ini. yaitu mengenai putusan hakim atas suatu perkara. Menurut MK. MK menilai. Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 menyiratkan bahwa KY hanya dapat mengawasi pelaksanaan kode etik dan kode perilaku hakim dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan hakim. Kedua. MK adalah lembaga negara yang paling steril dari sentuhan pengawasan dari luar dirinya (pengawasan ekstern). Pertama. Keberadaan hakim konstitusi yang tidak termasuk dalam pengertian hakim yang dapat diawasi perilaku etiknya oleh KY merupakan putusan diskriminatif.

Di lain pihak. Adanya dua versi pedoman perilaku hakim. tetapi lagi-lagi diabaikan MA.C. Apalagi perseteruan MA-KY selama ini cukup memprihatinkan. bahkan ada yang diproses di pengadilan. maka rivalitas kewenangan akan kontra-produktif. KY mempunyai wewenang menjaga dan mengawasi perilaku hakim. kalau pada aspek lain ada ketentuan yang membolehkan hakim menerima hadiah yang berlawanan dengan sumpahnya. Bila hakim terpaksa harus menaati dua versi pedoman perilaku hakim (Code of Conduct). seperti pada soal rekrutmen hakim agung atau saat Ketua MA mengabaikan enam rekomendasi KY untuk menghukum hakim yang telah diperiksa karena melakukan penyelewengan. Penolakan Ketua MA bersaksi ternyata disikapi KY dengan memeriksa ketua majelis hakim. Satu Pedoman Perilaku Hakim Pasal 14 UU Nomor 22/2004 tentang Komisi Yudisial sebagai derivasi Pasal 24B UUD 1945 menegaskan. tidak sedikit oknum hakim yang menerima suap dalam menangani perkara seperti terungkap di media. apalagi kalau memang diberi peluang. Alih-alih menjaga harkat dan martabat hakim. tetapi tak satupun dari enam rekomendasi KY yang direspon MA. Kresna Menon dan hasilnya direkomendasikan kepada MA agar yang bersangkutan diberhentikan sementara selama satu tahun untuk tidak menangani perkara. Malahan tiga anggota hakim non-karir diganti dan kini diperiksa Pengadilan Tinggi Jakarta karena walk out dalam lima kali Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 281 . UUMA juga mengatur bahwa MA berwenang pula melakukan pengawasan terhadap kecakapan hakim dan perbuatan tercela dari hakim. dan realitas menunjukkan terciptanya potensi rivalitas yang mengarah pada krisis kelembagaan. Harini Wijoso. Hadiah sebagai penghalusan suap (gratifikasi) dalam kode etik yang dibuat MA. tidak menutup kemungkinan ada hakim yang akan mencari peluang untuk keuntungan sendiri dengan melanggar salah satu pedoman perilaku hakim. Sedangkan tidak diberi peluang menerima hadiah sesuai “sumpah hakim”. tak pelak akan semakin menjadi-jadi di kalangan hakim. Termasuk saat Ketua MA dihambat ketua majelis hakim Pengadilan Khusus Korupsi untuk hadir bersaksi dalam sidang perkara suap pegawai MA oleh pengacara Probosutedjo. Keduanya diberi wewenang hal yang sama.

juga akan memberi peluang untuk dimanipulasi.perlu duduk bersama merancang dan menetapkan satu pedoman perilaku hakim. Kalau pedoman perilaku hakim versi MA membolehkan 282 Bunga Rampai . meskipun nantinya bisa dipanggil untuk diperiksa KY dan kemungkinan akan direkomendasikan ke MA agar diberi sanksi. Padahal. KY. Penerapan dua pedoman perilaku hakim sudah pasti akan menimbulkan implikasi hukum yang pada akhirnya mengancam kewibawaan MA-KY. Mestinya Ketua MA lebih peka atas berbagai keborokan di lingkungan peradilan. Rivalitas kewenangan dalam mengawasi perilaku hakim akan semakin memperpuruk citra lembaga peradilan Indonesia. tidak lebih dari sikap “arogansi” MA yang selalu berlindung di balik jubah independensi. kedua lembaga negara dalam lingkungan peradilan ini diharapkan berperan aktif dalam menjaga keluhuran peradilan. termasuk nantinya pada pedoman perilaku hakim yang dibuat KY. karena selain membingungkan hakim. Tidak akan efektif kalau masingmasing membuat pedoman perilaku hakim. Tetapi para hakim juga sudah maklum kalau rekomendasi KY akan diabaikan MA seperti nasib enam rekomendasi KY. MA. Sebaliknya. dan MK --yang hakimnya mestinya juga diawasi KY. Penyatuan dalam satu atap korps hakim (tidak lagi secara administrasi berada di bawah Menteri Kehakiman dan HAM).sidang yang bersikukuh agar Ketua MA dihadirkan bersaksi. baiknya dijadikan momentum oleh MA untuk memperbaiki institusi peradilan yang selama ini disoroti publik. Dalam kondisi demikian. Perlu kesadaran dan keprihatinan bersama antara MA dengan KY dalam melihat dan menyikapi persoalan penegakan hukum. kode etik versi KY akan diabaikan. Resistensi MA terhadap rekomendasi KY. terlebih adanya tudingan mafia peradilan. Tentu saja para hakim akan mengikuti kode etik yang dibuat MA sebagai lembaga yang menaunginya. wibawa KY akan jatuh dan tidak lebih dari “macan kertas” yang tidak bergigi. Demi independensi. MA seakan lembaga yang kebal dari sentuhan pengawasan lembaga lain atau pengawasan masyarakat dengan mengabaikan konstitusi. padahal konstitusi dan UUKY memberi kewenangan untuk mengawasi dan memeriksa hakim-hakim nakal.

akan semakin memperlebar jurang perbedaan yang pada akhirnya hanya akan merugikan penegakan hukum yang bersandar pada rasa keadilan masyarakat. karena akan menghambat pemberantasan judicial corruption yang terstruktur dan institusional. memberi peluang bagi hakim menerima hadiah (gratifikasi) sangat riskan dan berbahaya... yaitu untuk menghindari kekecewaan orang dan tidak tega menolak pembe- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 283 . untuk ”. MA mengabaikan sumpah hakim. ternyata menoleransi hakim menerima hadiah dari orang yang berperkara. Bagir Manan (Media Indonesia. Jika masing-masing membuat pedoman perilaku hakim dengan subjek yang sama. dan pada sub-bagian berperilaku jujur. Ketua MA. Pedoman perilaku hakim versi MA menetapkan 10 pedoman perilaku hakim.” Olehnya itu. hakim boleh saja menerima hadiah asalkan jumlahnya wajar dan tidak ada tendensi mempengaruhi hakim dalam memeriksa dan menjatuhkan putusan. Alasan membolehkan hakim menerima hadiah terkesan dibuat-buat dan menggelikan. bertentangan dengan Pasal 12B UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang melarang penyelenggara negara. Sebab. juga mewujudkan sinergi dan saling menghormati wewenang.. dan aparat hukum menerima gratifikasi. tidak menerima apa pun yang patut diduga berkaitan dengan jabatan . apalagi dari pihak yang berperkara. pegawai negara.. misalnya sekotak kue atau sepotong kain batik biasa. tentu tidak lagi proporsional di tengah upaya merebut kembali citra peradilan Indonesia. karena selain menghindari rivalitas dan krisis kelembagaan.. Di sinilah dituntut kesadaran keduanya (termasuk MK) untuk secara bersama membuat satu pedoman perilaku hakim. hakim yang menerima sesuatu atau hadiah selain termasuk gratifikasi juga dinilai sebagai unprofessional conduct. Ketua MA boleh saja beralasan tidak akan berpengaruh pada independensi hakim.hakim menerima hadiah. 27/6/2006) menyatakan. Pernyataan ini telah mereduksi harapan publik agar hakim memiliki integritas yang tinggi. Pedoman perilaku hakim versi MA dikecam berbagai kalangan karena memuat ketentuan yang membolehkan seorang hakim menerima hadiah dari pihak lain. tetapi alasan yang diberikan tidak sesederhana itu. Bahkan.

hanya akan menambah kekisruhan dalam mengawasi perilaku hakim. tetapi sesuatu yang bersifat cair yang perlu dihidupkan oleh pelaksana hukum. maka mitra (jejaring) KY yang ada di daerah harus dilibatkan secara maksimal. Hanya dengan cara itu. Hukum tidak selalu dimaknakan “machine justice” sehingga hakim harus menjaga hak-hak komunitas dan konstitusionalitas rakyat. Timbul pertanyaan. juga perlu perhatian KY. Untuk mengefektifkan pelaksanaan tugas dan wewenang KY. hakim-hakim di republik ini sering hanya mendahulukan kepentingan perutnya ketimbang mengimplementasikan rasa keadilan masyarakat. perlu menyimak kritikan Charles Sampford (1998) dalam teori ”the disorder theory of law” yang memandang hukum tidak identik dengan bangunan yang penuh keteraturan logis-rasional. Pedoman perilaku hakim yang masing-masing dibuat oleh KY dan MA. Di dalamnya selalu ada ruang ekstra (leeway) yang dapat digunakan untuk menghidupkan nilai-nilai kehidupan sosial dan rasa keadilan masyarakat. Munculnya polemik atas hasil rekrutmen KY terhadap calon hakim agung. memotivasinya untuk berani melaporkan rekam jejak para calon hakim agung yang sedang diseleksi KY dan DPR. bahkan pada 6 Juli 2007. Rivalitas dan perseteruan MA-KY mestinya sudah harus berakhir dengan duduk bersama merancang satu pedoman perilaku hakim. Kendati proses seleksi calon hakim agung telah dilakukan KY. calon hakim agung dan para hakim dapat terjaga integritas dan kredibilitasnya dalam menyelenggarakan peradilan yang memihak pada rasa keadilan masyarakat. Paling tidak. Penutup Untuk lebih memaknai tugas dan wewenang KY. Berbagai survei dan pengaduan masyarakat yang terungkap di media massa menyebutkan.rian yang dapat menyakiti hati orang yang memberi. DPR telah memilih enam hakim agung dari 18 284 Bunga Rampai . serta perilaku hakim yang menyimpang. mana yang harus dipatuhi para hakim? Apakah pedoman perilaku hakim yang dibuat lembaganya (MA) atau pedoman perilaku hakim yang dibuat KY sebagai lembaga yang memang diberi wewenang oleh konstitusi untuk mengawasi perilaku hakim? D.

Termasuk jumlah dana yang amat besar digunakan dalam seleksi.calon yang diajukan KY. bahwa mereka direndahkan oleh tim seleksi KY dari cara bertanya yang terkesan menyudutkan. seyogyanya diapresiasi agar tidak terulang di kemudian hari. tidak berarti KY harus berpuas diri. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 285 . serta keluhan sejumlah calon hakim agung yang berasal dari hakim karir yang mengikuti tes. Keberatan salah seorang anggota KY atas penetapan 12 calon hakim agung yang merasa tidak dilibatkan dalam rapat pleno.

286 Bunga Rampai .

sipir penjara dan advokat). 1 Pendahuluan Peradilan Indonesia saat ini dipenuhi kontroversi demi kontroversi. sampai dengan kalangan in- 1 Tenaga Ahli Komisi Yudisial Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 287 . jaksa. proses penundaan persidangan tanpa alasan yang jelas sampai kepada pelaksanaan putusan pengadilan yang kadang kala tidak jelas waktunya. pegawai administrasi dengan pangkat tertinggi sampai dengan pangkat terendah di lembaga penegakan hukum. berbagai kontroversi tersebut dapat dilihat mulai dari lambatnya proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh kepolisian dan kejaksaan dalam penanganan suatu kasus. sehingga tidak heran apabila dalam sebuah media nasional pernah disebutkan bahwa seorang koruptor yang “merampok” uang negara milyaran rupiah hukumannya tidak beda jauh dengan seorang yang maling 4 karung bawang merah di pasar. hakim. Semua hal tersebut diperparah dengan sering munculnya putusan pengadilan yang tidak mencerminkan rasa keadilan masyarakat. banyaknya pungutan di luar biaya administrasi resmi saat kasus telah masuk ke pengadilan. Apabila dirangkum dalam suatu kesimpulan umum. Selain itu dari berbagai penelitian yang dilakukan oleh berbagai lembaga swadaya masyarakat diperoleh data bahwa aktor-aktor yang terlibat pun sudah demikian luas. S.Urgensi dan Fungsi Pembentukan Jejaring di Daerah Oleh Komisi Yudisial Asep Rahmat Fajar. yaitu dimulai dari seluruh aparat penegak hukum (polisi.H.

hakim dan advokat). penghilangan data atau berkas pengadilan. pemanfaatan kepentingan umum untuk kepentingan pribadi. 2 Komite Penyelidikan dan Pemberantasan Korupsi. Panduan Melawan Mafia Peradilan”. nepotisme. perubahan dengan sengaja berkas pengadilan. memperlambat proses pengadilan. pemalsuan. Kolusi dan Nepotisme (KP2KKN) Jawa Tengah. seperti suap. conflict of interest.2 Bentuk-bentuk korupsi di lembaga peradilan sendiri menurut deklarasi International Bar Association (IBA). “Katakan Tidak. jaksa.telektual yang menjadi saksi ahli. ancaman. kompromi dengan advokat serta tunduk kepada kemauan pemerintah dan partai politik. Praktek-praktek judicial corruption ini secara kolektif dikenal dengan sebutan mafia peradilan. pertimbangan yang keliru. Sebagai suatu sistem. secara umum adalah tindakan-tindakan yang menyebabkan ketidakmandirian lembaga peradilan dan institusi hukum (polisi. Bahkan Daniel Kauffmann yang secara khusus menyoroti praktek korupsi di lembaga peradilan. kinerja aparat penegak hukum sekarang ini memang berada pada titik nadir yang cukup mengkhawatirkan. 288 Bunga Rampai . sikap tunduk kepada campur tangan luar/dalam pada saat memutus perkara karena adanya tekanan. dalam laporannya menunjukkan bahwa Indonesia termasuk negara yang berada pada posisi yang cukup memprihatinkan berkaitan dengan kinerja aparat pada lembaga penegakan hukumnya. Sedangkan secara khusus dapat dilakukan dalam bentuk mencari atau menerima berbagai macam keuntungan atau janji berdasarkan penyalahgunaan kekuasaan kehakiman atau perbuatan lainnya. favoritisme. Fakta yang secara selintas disebutkan di atas menyebabkan berbagai laporan lembaga di dalam maupun luar negeri yang menyebutkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat korupsi tertinggi di dunia menjadi cukup valid dan tidak dapat disanggah sama sekali. Berbagai keluhan baik dari masyarakat dan para pencari keadilan seolah-olah sudah tidak dapat lagi menjadi media kontrol bagi para penegak hukum tersebut untuk kemudian melakukan berbagai perbaikan yang signifikan bagi terciptanya suatu kinerja yang ideal dan sesuai dengan harapan masyarakat.

kebijakan dan ketentuan atau peraturan (dasar dilakukanya pengawasan berikut aturan mainnya). 5. perintah yang dikeluarkan. apabila dikaitkan dengan aparat penegak hukum. ruang lingkup pengawasan (hal-hal yang diawasi seperti kinerja pegawai. cepat. penggunaan anggaran. Juga dimaksudkan untuk mengetahui kelemahan dan kesalahan agar dapat dihindari kejadiannya di kemudian hari. tujuan (untuk memastikan bahwa pelaksanaan suatu tugas maupun hasilnya sesuai dengan perencanaan) Sehubungan dengan berbagai teori pengawasan tersebut. yaitu: 1. 4. mekanisme (urutan. dan biaya ringan di satu sisi dan terciptanya suatu peradilan yang bersih. Selain itu Sujamto (ahli manajemen lainnya) mendefinisikan pengawasan sebagai segala usaha dan kegiatan untuk mengetahui dan menilai kenyataan yang sebenarnya mengenai pelaksanaan tugas atau kegiatan apakah sesuai dengan yang semestinya atau tidak. transparan dan mengedepankan nilai-nilai keadilan di sisi lain terlihat sudah sangat sulit untuk diterapkan dan ditemui dalam lembaga dan aparat penegak hukum yang ada saat ini. Sebagian kalangan menganggap bahwa permasalahan tersebut tidak dapat dilepaskan dari lemahnya sistem pengawasan. Pengawasan: Prinsip dan Aktor Yang Terlibat Menurut Fayol (salah seorang perintis ilmu manajemen) pengawasan adalah upaya memeriksa apakah semua terjadi sesuai dengan rencana yang ditetapkan. teori pengadilan yang mempunyai asas sederhana. maka makna yang terkandung di dalam pengertian pengawasan tersebut berhubungan erat dengan kesatuan tanggung jaPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 289 . obyek (orang yang diawasi). tata cara atau prosedur dalam melakukan pengawasan) dan 6. subyek (pengawas atau orang yang mengawasi). Adapun unsur-unsur dari pengawasan tersebut setidaknya meliputi enam hal.Secara praktek. dan sebagainya). 3. 2. Kelemahan sistem tersebut pada gilirannya mengakibatkan pola manajemen sumber daya manusia dan manajemen administrasi di lembaga-lembaga penegak hukum tersebut menjadi berjalan tidak optimal/ obyektif. dan prinsip yang dianut.

solidaritas (in group feeling. 2. antara lain adalah: 1. 4.wab yudisial (judicial responsibility) yang mengandung tiga dimensi pertanggungjawaban. 3. 2. sehingga tidak berjalan dengan efektif. yaitu:3 1. yang mengakibatkan proses pencarian data dan informasi pendukung menjadi cukup terhambat. Berdasarkan teori di atas terdapat beberapa permasalahan dalam sistem pengawasan bagi aparat penegak hukum di Indonesia. merespon laporan atau pengaduan masyarakat dan menindaklanjuti dengan obyektif hasil pemeriksaan dan laporan masyarakat tersebut. Melihat permasalahan yang masih ada sampai saat ini dalam sistem pengawasan aparat penegak hukum kita. Mekanisme pengawasan melalui proses yang sangat panjang. tanggung jawab administrasi (administrative responsibility). mekanisme pengawasan tidak transparan dan akuntabel sehingga masyarakat yang mengajukan laporan/ pengaduan tidak mengetahui tindak lanjut dari laporan/pengaduan mereka. baik perilaku di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan. “Administrasi Peradilan : Lembaga Pengawasan Sistem Peradilan Terpadu”. diperlukan suatu sistem pengawasan agar dapat mendeteksi dan memeriksa pelanggaran. 3. 290 Bunga Rampai . esprit de corps) dari obyek pengawasan. 3 Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia (Mappi). Pada beberapa lembaga penegak hukum belum ada ketentuan yang memadai yang mengatur pedoman bagaimana seorang aparat penegak hukum seharusnya berperilaku (code of conduct). tanggung jawab prosedural (procedural responsibility) yang menuntut ketelitian atau akurasi hukum acara yang dipergunakan dan tanggung jawab substansi (substantif responsibility) yang berhubungan dengan ketepatan pengkaitan antara fakta dan hukum yang berlaku.

maupun media komunikasi personal. dengan konsekuensi mekanisme pertanggungjawaban jika standar tersebut tidak terpenuhi. dan sudah sesuai dengan visi dan misi organisasi. mekanisme yang memfasilitasi pertanyaan-pertanyaan publik tentang berbagai kebijakan dan pelayanan publik. konsistensi maupun kelayakan dari target operasional yang telah ditetapkan maupun prioritas dalam mencapai target tersebut. serta standar yang berlaku. Selanjutnya untuk akuntabilitas indikator dan parameter yang dapat menjadi acuan pada tahap proses pembuatan adalah pembuatan sebuah keputusan harus dibuat secara tertulis dan tersedia bagi setiap masyarakat yang membutuhkan. mekanisme yang memfasilitasi pelaporan maupun penyebaran informasi maupun penyimpangan tindakan aparat publik di dalam kegiatan pelayanan publik. adanya kejelasan dari sasaran kebijakan yang diambil. akuntabilitas dan partisipatif. pembuatan keputusan sudah memenuhi standar etika dan nilai-nilai yang berlaku. akses publik pada informasi atas suatu keputusan setelah keputusan dibuat Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 291 . salah satu hal yang paling utama adalah partisipasi publik. beberapa indikator untuk menjamin akuntabilitas publik adalah penyebarluasan informasi mengenai suatu keputusan. maupun proses-proses di dalam sektor publik.Untuk mengoptimalkan sistem pengawasan aparat penegak hukum tersebut. Dalam hal ini prinsip transparansi ini hanya akan menjadi wacana semata jika tidak didukung oleh adanya perlindungan hukum terutama bagi publik yang tertuang dalam suatu Undang-undang tentang Kebebasan Memperoleh Informasi dan Perlindungan Saksi. yaitu transparansi. melalui media massa. akurasi dan kelengkapan informasi yang berhubungan dengan caracara mencapai sasaran suatu program. Parameter yang dapat digunakan untuk mengukur prinsip transparasi terdiri dari mekanisme yang menjamin sistem keterbukaan dan standarisasi dari semua prosesproses pelayanan publik. Sedangkan pada tahap sosialisasi kebijakan. adanya mekanisme untuk menjamin bahwa standar telah terpenuhi. Terdapat beberapa hal penting yang harus dijadikan sebagai prinsip. artinya sesuai dengan prinsip-prinsip administrasi yang benar maupun nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.

berpendapat atau memutuskan sikap secara menyakinkan dan tepat. 2002). Tanpa informasi. Lucas and Pring. 292 Bunga Rampai . 157. apabila kita menginginkan suatu sistem pengawasan yang cukup optimal. masyarakat tidak dapat mengakses informasi-informasi tertentu yang penting untuk menjalankan peran di atas. Sedangkan tolak ukur penilaian pelaksanaan dari prinsip partisipatif yang dapat digunakan adalah keterlibatan publik melalui terciptanya nilai dan komitmen para aparat. Adapun untuk prinsip partisipasi agar dapat terlaksana dibutuhkan beberapa langkah awal sebagai inisiatif dari lembaga penegak hukum yakni mengeluarkan informasi yang dapat diakses oleh publik. menyelenggarakan proses konsultasi untuk menggali dan mengumpulkan masukan-masukan dari publik dalam kegiatan publik. Dan tanpa jaminan hak memperoleh informasi. maka masyarakat tidak memiliki ‘amunisi’ untuk berargumentasi. hal. “Public Participation. dan perhatian pemerintah pada pengarahan dan ajakan pada publik untuk berpartisipasi. maka salah satu titik lemah dalam pengawasan yaitu tidak adanya parameter dan koridor yang jelas untuk melakukan pengawasan dan tidak diterapkannya prinsip-prinsip dasar good governance harus 4 Peter Davies. yang bersifat terbuka dan inklusif sebagai tempat publik menyampaikan keinginannya. Oleh karenanya. ketersediaan sistem informasi manajemen dan monitoring hasil yang telah dicapai oleh pemerintah. by Zillman. Dalam hal ini partisipasi publik dalam pengambilan keputusan hanya dapat efektif dan berarti (meaningful) jika masyarakat memiliki informasi yang memadai. adanya wadah dan saluran untuk menampung partisipasi publik yang representatif. the Aarhus Convention and the European Union” dalam Human Rights in Natural Resources Development. eds.4 Logikanya cukup sederhana. keterlibatan publik dalam merancang dan melaksanakan penegakan hukum.dan mekanisme pengaduan masyarakat. mendelegasikan otoritas tertentu kepada pengguna jasa layanan publik seperti proses perencanaan dan penyediaan panduan bagi kegiatan masyarakat dan layanan publik. terarah dan dapat terkontrol. kemampuan publik untuk terlibat dalam penegakan hukum. (Oxford: Oxford University Press.

meningkatkan peran serta masyarakat dalam sistem pengawasan menjadi tidak dapat ditawar-tawar lagi. melainkan melalui proses bertahap yang mencakup pendidikan. Prinsip ini pula yang sepertinya paling fasih dikuasai oleh para hakim. Assegaf dan Josi Khatarina. Di berbagai forum yang membahas lembaga peradilan. dan perubahan budaya hukum. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal. penyadaran. baik di dalam maupun di luar negeri. hakim menganggap ia dapat melakukan apa saja tanpa perlu mempertanggungjawabkannya kepada publik dan pada akhirnya menjalankan proses peradilan yang sesat. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 293 .6 5 6 Rifqi S. Peran serta masyarakat diakui memiliki peran penting dalam upaya pencegahan dan penegakan hukum terhadap tindak pidana korupsi. Jangan sampai dengan alasan independensi. Namun di sini perlu disadari bahwa pengawasan berbasis masyarakat bukanlah pengawasan yang langsung jadi dan berjalan dengan sistemik. Sebab saat ini sering kali karena tidak jelasnya kedua hal tersebut para pelaku mafia peradilan senantiasa berlindung di balik klaim otoritas independensi lembaganya. 31 tahun 1999 sendiri. baik karena merupakan prinsip yang dianggap penting di dunia. prinsip ini paling sering dibicarakan. maupun karena mungkin prinsip ini menguntungkan para hakim. memperoleh dan memberikan informasi bahwa di suatu daerah atau instansi telah terjadi praktek korupsi. Namun permasalahannya. Undang-undang ini memberi kebebasan kepada masyarakat untuk mencari.secepatnya diperbaharui.5 Selain itu. Hal ini diakui dalam Konvensi PBB melawan korupsi 2003 (UN Convention Against Coruption. Padahal kita menyadari betul bahwa independensi tanpa akuntabilitas dapat kita umpamakan sebagai “cek kosong yang bisa diisi apa saja”. “ Membuka Ketertutupan Pengadilan”. sebagai wujud dari berbagai teori yang telah dipaparkan di atas. prinsip ini sepertinya dianggap lebih penting dibandingkan prinsip pengadilan yang terbuka (prinsip yang mendorong lahirnya akuntabilitas pengadilan). Tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa memang prinsip independensi peradilan adalah salah satu prinsip penting untuk melahirnya proses peradilan yang fair. Dalam hal ini basis masyarakat yang dimaksud adalah mereka yang berkepentingan langsung yaitu korban (termasuk didalamnya kelompok masyarakat yang peduli dengan isyu ini). pengawasan yang dilakukan haruslah pengawasan yang berbasis masyarakat.2003) dan dalam Undang-undang No.

2003. 22 tahun 2004 memberikan wewenang bagi Komisi Yudisial untuk mengusulkan pengangkatan Hakim Agung pada DPR dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim. adalah beberapa ilustrasi lain permasalahan yang harus menjadi agenda pembenahan.Jejaring: Mitra Komisi Yudisial Dalam Pengawasan Rendahnya integritas sebagian hakim hanyalah sebagian dari masalah yang menyelimuti lembaga peradilan. MPR (dengan dorongan kelompok masyarakat sipil) pada tahun 2002 menetapkan perlunya pembentukan Komisi Yudisial dalam konstitusi yang kemudian disusul dengan pengundangan UU No. 22 tahun 2004 tentang Komisi Yudisial oleh Pemerintah dan DPR.23.7 Situasi dan kekhawatiran tersebut mendorong terbentuknya gagasan ke arah pembentukan lembaga independen 7 Mahkamah Agung Republik Indonesia. minimnya gaji hakim (pegawai) serta anggaran pengadilan. Sedangkan UU No. h. aksesibilitas pengadilan. Usaha ke arah peradilan yang lebih baik tersebut sebelumnya juga dilakukan dengan menciptakan sistem satu atap (One Roof System) yaitu memberikan kewenangan di bidang administrasi. Kualitas sebagian hakim yang rendah (salah satunya disebabkan karena kelemahan proses rekrutmen dan promosi hakim). Konstitusi tepatnya pasal 24B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 memberikan landasan hukum yang kuat bagi reformasi bidang hukum yakni dengan memberikan kewenangan pada Komisi Yudisial untuk mewujudkan cheks and balances. struktur organisasi. Namun usaha ini dipandang belum tentu mampu menyelesaikan masalah yang ada dan bahkan dipandang dapat menimbulkan monopoli kekuasaan di lembaga tersebut. Sebagai salah satu upaya menjawab sebagian permasalahan di atas. Naskah Akademik dan Rancangan UndangUndang Tentang Komisi Yudisial. 294 Bunga Rampai . Dibentuknya Komisi Yudisial pada perubahan ke-3 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan reaksi terhadap kegagalan sistem peradilan yang ada untuk menciptakan peradilan yang lebih baik. keuangan dan organisasi kepada Mahkamah Agung.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak mengenal istilah lembaga negara utama (main) dan lembaga negara penunjang (supporting). Dengan demikian kedudukan Mahkamah Agung. Komisi Yudisial diberi wewenang oleh Undang-Undang Dasar untuk mengawasi perilaku hakim. Buruknya dunia peradilan tentu juga terkait dengan proses rekrutmen dan peningkatan karir hakim yang lemah (yang tidak didasarkan pada basis data dan analisis kinerja/ putusan) serta tidak terlacaknya perilaku hakim. Hakim- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 295 . Semua lembaga negara adalah sederajat.yang berada di luar Mahkamah Agung yang dapat mengimbangi agar tidak terjadi monopoli kekuasaan pada lembaga tersebut. tidak ada lagi pembagian lembaga negara tertinggi dan lembaga tinggi negara. komitmen dan program aksi bersama dalam menciptakan peradilan yang bersih (clean judiciary). Komisi Yudisial dan Mahkamah Konstitusi adalah sama yaitu sama-sama mendapat kewenangan atribusi dari Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sebagaimana diketahui sejak perubahan ke-3 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam rangka merealisasikan gagasan tersebut dibentuklah Komisi Yudisial yang diharapkan dapat mengawasi serta mengimbangi (checks and balances) pelaksana kekuasaan kehakiman sehingga dapat mendorong terciptanya peradilan yang lebih baik di masa mendatang. hakim agung dan hakim konstitusi. yang membedakan satu sama lain adalah kewenangannya. Upaya untuk memperbaiki dunia peradilan yang merupakan salah satu semangat kelahiran Komisi Yudisial tentu memerlukan dukungan penuh dari elemen-elemen civil society. Diaturnya Komisi Yudisial dalam Pasal 24B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menunjukkan bahwa lembaga ini merupakan lembaga negara yang mendapat atribusi kekuasaan langsung dari Undang-Undang Dasar. informasi. Dalam kaitan ini Komisi Yudisial telah menegaskan pentingnya peranan elemen-elemen masyarakat tersebut untuk memiliki pengetahuan. Sebagai lembaga negara yang mandiri. Kehadiran peradilan yang bersih dengan putusannya yang adil merupakan kebutuhan bersama baik masyarakat maupun pemerintah.

semestinya bebas dari putusan-putusan bermasalah. mengefektifkan. 296 Bunga Rampai . dan ormas keagamaan akan dapat mendukung. dan memperkuat upaya di atas. keluhuran martabat serta perilaku hakim (di semua lingkungan dan jenjang pengadilan). serta perilaku hakim bertolak dari dua pemikiran dasar. bahwa di satu sisi “penyimpangan” peradilan pada akhirnya akan menempatkan masyarakat sebagai “korban –dengan harga yang sangat mahal.sementara di sisi lain terwujudnya peradilan yang “bersih dan “berwibawa” serta yang memungkinkan perlakuan yang sama bagi 8 Data terakhir yang dimiliki penulis adalah jumlah hakim sebanyak 6178 orang yang tersebar di 341 kabupaten/kota. namun dengan keterbatasan lembaga Komisi Yudisial yang hanya ada di tingkat nasional. keluhuran martabat. Oleh sebab itu. Terlebih lagi hakim-hakim yang akan direkrut menjadi hakim agung. Ketersediaan basis data hakim akan sangat membantu dalam peningkatan kinerja dan karir hakim. Komisi Yudisial mungkin dapat menyusun strategi dan metode untuk melakukan riset putusan hakim atau melakukan investigasi perilaku hakim guna memperoleh basis data di atas. sementara lembaga-lembaga peradilan berada di setiap provinsi dan kabupaten dengan lebih dari 6000 orang hakim yang tersebar di lebih dari 300 kabupaten/kota. kehadiran elemen masyarakat berbasis perguruan tinggi. Apalagi.adalah kurangnya partisipasi publik dalam menjaga dan menegakan kehormatan. hasil dari program perbaikan dunia peradilan pada akhirnya akan dan harus dirasakan secara luas dan nyata oleh seluruh masyarakat.hakim yang putusannya tidak baik bahkan diindikasi kuat ada pengaruh pihak berperkara tentu perlu diketahui sejak dini baik untuk keperluan pembinaan ataupun penjatuhan sanksi. Pembentukan jejaring berangkat dari berbagai permasalahan di atas dan pemikiran bahwa salah satu faktor penyebab terjadinya “penyimpangan” peradilan –yang muncul dalam bentuk “mafia peradilan”.8 tentu mencari data di atas sangat sulit dicapai. Kesadaran terhadap pentingnya optimalisasi publik dalam menjaga dan menegakan kehormatan. Hal itu hanya bisa dilakukan melalui suatu proses yang sistematis dengan metodologi yang jelas. LSM.

Pada kesempatan ini mungkin perlu disampaikan juga bahwa sampai saat ini telah dilakukan penyusunan nota kesepahaman dengan beberapa lembaga negara dan kalangan masyarakat yang berasal dari elemen Perguruan Tinggi. Sementara itu ada juga majalah yang berisi analisis putusan tetapi karena dilahirkan bukan dari lembaga negara resmi maka kurang menjadi rujukan bagi para hakim. 5. Berdasarkan jaringan yang ada ini maka upaya yang dilakukan akan sistematis. Dalam hal ini penyusunan nota kesepahaman tersebut diawali dengan lokakarya pembentukan jejaring Komisi Yudisial di 7 regional. 2. Medan (mencakup wilayah Aceh. Kaltim) Kendari (mencakup wilayan Sulsel. tidak tumpang tindih. yaitu:9 1. Lampung) Malang (mencakup wilayah Banten. Jateng. Bengkulu. DIY Yogyakarta. Sumbar. 6. Bangka Belitung. 4. Jabar. Sultra. Sulut) 9 Laporan Tahunan Komisi Yudisial Republik Indonesia tahun 2006 Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 297 . NTT dan Bali) Pontianak (mencakup wilayah Kalsel. Gorontalo. Jambi. Berdasarkan telaah putusan hakim yang akan dijalankan. Sulteng. dan cukup lengkap. 3. Organisasi Masyarakat serta Lembaga Swadaya Masyarakat. DKI Jakarta. Selama ini. Riau dan Kepulauan Riau) Palembang (mencakup wilayah Sumsel. dan Jatim) Mataram (mencakup wilayah NTB. Komisi Yudisial telah berhasil membentuk jejaring di seluruh Indonesia yang pada saatnya akan merupakan elemen terdepan dalam melakukan kajian putusan hakim (untuk melihat kualitas) dan melakukan investigasi perilaku hakim (untuk melihat integritas) di seluruh Indonesia. Pada saat ini. Kalteng. maka dapat dihasilkan analisis atas putusan-putusan yang baik yang dapat menjadi literatur penting dalam peningkatan kemampuan para hakim dalam menangani perkara. Kalbar. memang telah ada majalah yang berisi putusan pengadilan tetapi sangat deskriptif dan kurang analitis. Sulbar.semua pihak di muka hukum (equality before the law) juga menuntut adanya peran publik yang optimal. Sumut.

Bidang-bidang lain yang dianggap perlu dan disepakati oleh masing-masing pihak. Pemberian penghargaan bagi hakim yang berprestasi. 4. Tersusun dan tersedianya data base hakim (baik dalam hal kualitas maupun integritas) yang selanjutnya dapat dijadikan sebagai informasi awal bagi Komisi Yudisial pada saat melaksanakan: a. Terintegrasinya gerakan antara negara dan kalangan masyarakat sipil yang mempunyai tujuan untuk melakukan reformasi peradilan dan pemberantasan mafia peradilan. Pengawasan perilaku hakim. Dengan nota kesepahaman yang telah disepakati adalah: 1. Adapun ruang lingkup kerjasama yang berhasil disepakati antara Komisi Yudisial dengan elemen-elemen tersebut di atas. 5. Seleksi calon hakim agung. Penelitian putusan hakim di masing-masing daerah. Maluku Utara. antara lain meliputi bidang: 1. Teradvokasinya masyarakat pencari keadilan (terutama masyarakat korban) untuk dapat memperjuangkan hakhaknya. Ambon (mencakup wilayah Maluku. Sebagai tindak lanjut dari disusunnya berbagai nota kesepahaman tersebut. Pembangunan jaringan advokasi masyarakat. 3. 39 Fakultas Hukum PTN dan PTS. Penelitian sesuai dengan tema/topik yang telah disepakati oleh kedua pihak. 2. Komisi Yudisial dengan jejaring dae- 298 Bunga Rampai . 55 Lembaga Swadaya Masyarakat. 3. c. Investigasi perilaku hakim di masing-masing daerah. b. 6. Papua dan Irjabar). 3. 11 Organisasi Masyarakat. 2. 2.7. Pertukaran informasi yang dilakukan atas dasar kesepakatan kedua pihak. Sedangkan hasil yang diharapkan dengan adanya jejaring dan program-programnya adalah: 1.

Komisi Yudisial sebagai lembaga yang diberi amanat oleh konstitusi Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 299 . posisi. kebenaran dan keadilan tanpa pandang bulu dengan tidak membeda-bedakan orang seperti diatur dalam lafal sumpah seorang hakim. dan peran hakim menjadi sangat penting. kebenaran dan keadilan itu wajib dipertanggungjawabkan secara horizontal kepada semua manusia. berwibawa. Kewenangan hakim yang sangat besar itu menuntut tanggungjawab yang tinggi. dan secara vertikal dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. netral (tidak berpihak). mencabut kebebasan warga negara. seorang hakim dapat mengalihkan hak kepemilikan seseorang. Penutup Pengadilan yang mandiri. profesional. Sebab hanya pengadilan yang memiliki semua kriteria tersebut di ataslah yang dapat menjamin pemenuhan hak asasi manusia. Sebagai aktor utama lembaga peradilan. sampai dengan memerintahkan penghilangan hak hidup seseorang. mampu menegakkan hukum serta dapat memberikan kepastian hukum dan keadilan merupakan conditio sine qua non atau persyaratan mutlak dalam sebuah negara yang berdasarkan hukum. Melalui putusannya. di mana setiap orang sama kedudukannya di depan hukum dan hakim. sebagai bentuk penguatan kelembagaan yang lain. terlebih dengan segala kewenangan yang dimilikinya. Komisi Yudisial juga telah melakukan penyusunan nota kesepahaman dengan beberapa lembaga negara yang wilayah tugasnya cukup terkait dengan tugas dan wewenang Komisi Yudisial. menyatakan tidak sah tindakan sewenang-wenang pemerintah terhadap masyarakat. Oleh sebab itu.rah sampai saat ini telah melakukan berbagai acara untuk proses penyamaan persepsi dan penyamaan metodologi guna menyongsong berbagai program yang akan dan sekarang sedang dilaksanakan. sehingga putusan pengadilan yang diucapkan dengan irah-irah “Demi Keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” mengandung arti bahwa kewajiban menegakkan hukum. semua kewenangan yang dimiliki oleh hakim harus dilaksanakan dalam rangka menegakkan hukum. Sebagai salah satu langkah untuk mewujudkan lembaga peradilan dan hakim seperti disebutkan di atas. Selain itu.

untuk menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim menempatkan diri sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari komunitas negara dan masyarakat sipil yang mempunyai agenda melakukan reformasi peradilan dan pemberantasan mafia peradilan. juga disebabkan pemahaman bahwa mafia peradilan adalah merupakan musuh bersama yang telah memberikan dampak negatif yang luar biasa besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. 300 Bunga Rampai . Hal tersebut selain dilandasi oleh kesadaran bahwa dua pekerjaan tersebut adalah bukan pekerjaan yang ringan. Oleh karenanya. gerakan bahu membahu secara sistematis dan berkesinambungan antar JEJARING dalam suatu JARINGAN kerja menjadi hal yang tidak dapat ditawar dan ditunda-tunda lagi.

hlm 9.. haruslah dipahami arti dari definisi “Negara” serta tujuan dibentuknya negara itu sendiri. MS.H.T. Drs. 2004.H. Untuk sampai pada pemahaman betapa pentingnya keberadaan Komisi Yudisial Republik Indonesia (KYRI) beserta kewenangannya dalam struktur ketatanegaraan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam menjamin hak warga Negara. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 301 . “Ilmu Negara”. lahirlah sebuah lembaga Negara baru yaitu Komisi Yudisial.. C. * Pendahuluan Ditengah maraknya praktek “mafia peradilan” di Bumi Pertiwi ini. S. Andi Djalal Latief. S.S. Hal ini terbukti beberapa saat setelah anggota Komisi Yudisial mengucapkan sumpah dihadapan Presiden sebagai Kepala Negara.Urgensi Pembuatan Database Hakim Sebagai Media Penunjang Pelaksanaan Wewenang dan Tugas Komisi Yudisial Ir.H. M. tidaklah dapat dipungkiri bahwa lembaga ini ternyata memberikan secercah harapan bagi para pencari keadilan. Kansil.T Kansil. Cetakan kedua. Kandidat Pilkada kota Depok (Nur Mahmudi Ismail) adalah orang pertama yang datang untuk melaporkan buruknya kerja dan kinerja lembaga pengadilan. PT Pradnya Paramita Jakarta. * 1 Penulis adalah Kepala Pusat Data dan Pelayanan Informasi Komisi Yudisial Republik Indonesia Prof.. Walau menuai pro dan kontra serta mendapatkan resistensi dari Mahkamah Agung (MA). Christine S. Komisi Yudisial sudah langsung menerima pengaduan dari masyarakat.

Jakarta. Drs. Somardi “General Theory of Law and State”. C. hlm 36. Edisi revisi.2 Setelah sedikit diketahui apa yang dimaksud dengan istilah “Negara” maka selanjutnya dalam konteks pentingnya keberadaan Komisi Yudisial dalam sebuah negara hukum. atau para subyek pemerintah.H.. dan itulah salah satu sebab mengapa negara sebagai persekutuan hidup menempati jenjang yang paling tinggi. 302 Bunga Rampai . Djokosutono. S.. Istilah “negara” kadang-kadang digunakan dalam pengertian yang sangat luas untuk menunjuk “masyarakat” atau bentuk khusus dari masyarakat. alih bahasa-Drs. Augustinus menyatakan. J. maka haruslah pula dipahami tujuan dibentuknya sebuah “Negara” itu sendiri. Bee Media Indonesia. Hal ini banyak disebabkan oleh fakta bahwa para penulis yang berbeda membahas masalahmasalah yang sangat berbeda di bawah satu nama yang sama dan bahkan penulis yang sama pun tanpa disadari menggunakan istilah yang sama dengan pengertian yang berbedabeda. Prof.H. misalnya pemerintah. negara 2 3 Hans Kelsen. menurut Hans Kelsen terkadang definisi “Negara” dibuat sangat sulit oleh aneka ragam objek yang biasa dinyatakan secara tegas oleh istilah negara itu sendiri. 2007.H. sedangkan menurut Prof. 2004.H. R. M. Oleh kodrat. suatu organisasi kekuasaan/kewibawaan). “lmu Negara”. “bangsa”.A Logemann adalah: De Staats is een gezags organizatie (Negara ialah. Tetapi istilah itu pun sangat sering digunakan dalam pengertian yang sangat sempit untuk menunjuk suatu organ khusus masyarakat.“Negara” menurut pandangan Prof.3 sedangkan menurut Aristoteles negara yang ideal itu adalah negara yang memanusiakan manusia. PT Pradnya Paramita. Kansil. Cetakan kedua. karena negara mempunyai tugas yang paling mulia yaitu memanusiakan manusia. hlm 225. S.S. mengatakan: Negara ialah suatu organisasi manusia atau kumpulan manusiamanusia yang berada di bawah suatu pemerintahan yang sama. S. atau wilayah yang mereka diami. Dr. Christine S.T..T Kansil. tujuan Negara adalah dihubungkan dengan cita-cita manusia hidup di alam kekal yaitu sesuai yang diinginkannya.H.1 Masih terdapat banyak definisi terhadap istilah “Negara” sehingga.

Th. Mochtar Kusumaatmadja.ada dan terbentuk bukan sekedar agar manusia dapat hidup didalamnya. karena hanya moralitas yang demikian itulah yang membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya.M cita Negara hukum Indonesia adalah: 1) bahwa dalam Negara hukum.V. Secara popular dikatakan bahwa Negara hukum adalah Negara berdasarkan hukum. Cetakan Pertama. Seperti kita ketahui bersama dan dinyatakan secara tegas dalam UUD 1945 adalah bahwa. tetapi agar manusia itu benar-benar memanusia di dalam negara dan lewat hidup dan bernegara. 2) Ada prinsip-prinsip lain yang berkaitan dengan prinsip pokok di atas. Lalu kemudian timbul pertanyaan apakah ciri-ciri dari cita Negara hukum Indonesia. Jakarta. Negara Indonesia berdasarkan atas hukum bukan berdasarkan atas kekuasaan belaka. Dengan kata lain.. Rapar.D. sebenarnya terbentuknya sebuah negara itu seharusnya dan seyogyanya adalah bertujuan untuk mensejahterakan rakyat atau manusia yang menjadi warga dari sebuah negara itu sendiri. Itu berarti bahwa di dalam negara manusia seyogyanya dapat mencapai tingkat kebajikan yang tertinggi. LL.H.D. kekuasaan itu tidak tanpa batas. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 303 . Keberhasilan manusia mencapai tingkat kebajikan tertinggi itu haruslah terlihat lewat moralitas yang terpuji.4 Menjadi jelas bahwa apapun definisi dari negara itu. hlm 43. Ini dapat berarti bahwa Negara Republik Indonesia adalah Negara yang berdasarkan atas hukum yang demokratis berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945. J. moralitaslah yang memberi kualitas khusus bagi manusia sehingga manusia itu adalah manusia yang tidak sama dengan makhluk yang lain.H. Rajawali. “Filsafat Politik Aristoles” C. manusia dimampukan untuk mencapai tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang semaksimal mungkin. Ph. Di dalam dan lewat hidup bernegara. menurut Prof. artinya kekuasaan itu tunduk pada hukum. Salah satu yang terpenting adalah 4 DR. dan kekuasaan harus tunduk pada hukum. Manusia yang benar-benar bermoral dan yang berarti pula benar-benar berkualitas akan senantiasa siap sedia melakukan segala sesuatu yang terbaik dan mulia.. S. 1988. Dr.

Cetakan kedua. berarti bahwa hukum memperlakukan semua orang sama tanpa perbedaan yang didasarkan atas ras (keturunan). namun nampaknya bangsa ini belum juga beranjak dewasa dan menyadari arti dari kata merdeka itu sendiri.. PT Alumni. Terbentuknya Komisi Yudisial RI Perjalanan Bangsa Indonesia dimulai pada saat dikumandangkannya lagu Indonesia Raya serta berkibarnya Sang Saka Merah-Putih pada tanggal 17 Agustus 1945 serta dengan disahkannya UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI menjadi dasar Negara kita.M. Terungkapnya kasus-kasus penyalahgunaan wewenang (abuse of power) oleh hakim serta pejabat peradilan lain yang banyak dipublikasikan oleh berbagai media massa seolah menjadi cerminan dari lemahnya integritas moral dan perilaku hakim serta pegawai lembaga peradilan. kedudukan sosial dan kekayaan. LL. Dikatakan secara lain. 304 Bunga Rampai . pengamalan serta pelaksanaan hak dan kewajiban Negara Indonesia haruslah menjamin hak asasi setiap warga negara melalui penyelenggara Negara dan lembaga negaranya. Hari memang telah silih berganti sejak kemerdekaan. Bandung. Masih ada di antara kita yang secara sadar telah melakukan penjajahan dalam bentuk yang lebih hina “jual-beli putusan” dan mengingkari hak sesama anak bangsa. S.H. Hukum sebagai salah satu pilar berbangsa dan bernegara yang mendasari UUD 1945 telah mereka abaikan demi kepentingannya sendiri. Mochtar Kusumaatmadja itu terlihat bahwa. Kehadiran Komisi Yudisial di Bumi Pertiwi yang berfungsi sebagai lembaga checks and balances terhadap lembaga peradilan merupakan langkah tepat dalam rangka untuk menjamin terpenuhinya rasa keadilan bagi sebanyak-banyak warga negara. Keadaan 5 Dr. “Konsep-Konsep Hukum Dalam Pembangunan”.bahwa dalam Negara hukum semua orang sama di hadapan hukum. hlm 180. Mochtar Kusumaatmadja. penghayatan.5 Dari pernyataan Prof. agama. 2006.

pada tahun 1968 muncul ide pembentukan Majelis Pertimbangan Penelitian Hakim (MPPH) yang berfungsi untuk memberikan pertimbangan dalam mengambil keputusan akhir mengenai saran-saran dan atau usul-usul yang berkenaan dengan pengangkatan. singkat dan fleksibel” memang membuatnya mudah mengikuti perkembangan jaman. seolah-olah UUD 1945 adalah sebuah karya agung tanpa kelemahan. yang dinyatakan secara tegas dalam UUD 1945 itu sendiri. Jika diperhatikan salah satu kesalahan pemerintahan Orde Baru saat itu adalah dengan ditabukan dan disakralkannya UUD 1945 untuk dirubah. Reformasi total. apakah ada kepastian hukum dari UUD seperti itu? Apalagi bila pertanyaan itu dikaitkan dengan pernyataan bahwa Negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum bukan berdasarkan atas kekuasaan belaka. pemberhentian dan tindakan/hukuman jabatan para hakim. Akhirnya pada tahun 1998 setelah sekian lama bungkam. Kenyataan ini menimbulkan sebuah pertanyaan yang amat mendasar terhadap UUD 1945. Dengan sifat UUD 1945 yang “supel. Namun ide tersebut tidak berhasil dimasukkan dalam undang-undang tentang Kekuasaan Kehakiman. itu tuntutan mereka. Perlahan namun pasti keinginan untuk melakukan perubahan semakin memuncak. tetapi juga telah terjadi di lingkungan Mahkamah Agung sebagai penyelenggara kekuasaan kehakiman yang tertinggi. “Demokrasi Terpimpin” serta “Demokrasi Pancasila”.ini tidak saja terjadi di lingkungan pengadilan negeri dan pengadilan tinggi. akan tetapi hal ini juga membuat UUD 1945 dapat diinterpretasikan dan diimplementasikan ke dalam berbagai struktur politikpemerintahan yang berbeda-beda: “Demokrasi Parlementer. Kelemahan ini dapat terlihat dengan singkatnya UUD Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 305 . Keadaan ini membuat masyarakat pencari keadilan memandang bahwa lembaga peradilan sebagai suatu sistem dianggap sudah tidak bersih dan kurang berwibawa. Keadaan ini membuat masyarakat pencari keadilan menjadi patah arang dan bosan menggantungkan harapannya kepada pemerintah dan lembaga peradilan. Oleh karena itu. rakyat bicara. kepindahan. promosi. Akhirnya karena desakan yang begitu kuat Orde Baru yang menjalankan roda pemerintahan saat itu pun tumbang.

inilah revolutie grondwet. Keadaan ini tergambarkan pula ketika Ir.. yaitu: Pertama. Adnan Buyung Nasution. UUD memang hanya dimaksudkan untuk mengatur hal yang pokok-pokok saja dan hanya berlaku sementara. MPR harus bersidang untuk menetapkan UUD baru”. 4 Aturan Peralihan dan 2 Aturan Tambahan) dan menurut penjelasan resminya. Nanti kita membuat UUD yang lebih sempurna dan lengkap…. memberikan porsi kekuasaan yang begitu besar kepada presiden. tidak memberikan tempat bagi keberadaan infrastruktur demokrasi (seperti partai politik. Akibatnya. bahwa UUD ini adalah UUD Sementara. bahwa UUD yang kita buat sekarang ini adalah UUD sementara. Iur. “Arus Pemikiran Konstitusionalisme. kita tentu akan mengumpulkan kembali MPR yang dapat membuat UUD yang lebih lengkap dan sempurna… Tuan-tuan tentu mengerti. Jakarta. di dalam rumusannya. Kurang sempurnanya UUD 1945 ini sebenarnya juga dikuatkan dalam rumusan Aturan tambahan UUD 1945 itu sendiri yang berbunyi: “Enam bulan sesudah berakhirnya perang Asia Timur Raya. S.”6 Terlihat jelas dalam rumusan itu bahwa sejak awal memang para penyusun UUD 1945 sudah menyadari bahwa UUD yang mereka buat secara kilat itu (hanya dalam tempo dua hari) belumlah sempurna dan harus diperbaiki. Buku I. UUD 1945 306 Bunga Rampai .7 Kelemahan yang terdapat pada UUD 1945 ini dikatakan oleh Adnan Buyung Nasution sebagai loop hole.H.1945 (hanya terdiri dari 37 pasal. pada saat pengesahan UUD 1945 oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945. MPR harus dibentuk. Soekarno sebagai Ketua PPKI memberikan kata sambutannya. Kata Hasta Pustaka. dan enam bulan sesudah dibentuk. Tata Negara”. bahwa barangkali boleh dikatakan pula. Kalau boleh saya memakai perkataan: ini adalah UUD kilat! Nanti kalau kita telah bernegara dalam suasana yang lebih tenteram. sekalipun di dalam penjelasan 6 7 Dr. kelompok kepentingan dan penekan) Kedua. “…Tuan-tuan semuanya tentu mengerti. UUD Kilat. Beliau mengemukakan beberapa alasan.

Jakarta. 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman diterapkanlah sistem satu atap (one roof system) pada dunia 8 Dr. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 307 . arah menuju perbaikan struktur ketatanegaraan Indonesia sudah mulai tampak dengan diperbaikinya UUD 1945 melalui empat tahapan amandemen. begitu banyak loop holes yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal UUD 1945. Adnan Buyung Nasution. S. Seiring dengan itu untuk memberantas “mafia peradilan” dan menjamin terpenuhinya hak rakyat dan agar beberapa kesalahan para pemimpin terdahulu tidak terulang.UUD 1945 dikatakan bahwa pemerintahan tidak bersifat absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas) dan negara Indonesia tidak berdasar kekuasaan belaka. Sebenarnya setelah terjadinya “revolusi” oleh mahasiswa pada tahun 1998 yang mengakibatkan tumbangnya pemerintahan Orde Baru. Buku I. Ketiga. rumusan seperti ini memungkinkan dominasi eksekutif dalam pembentukan dan pelaksanaan UU. niscaya sangat sulit tercipta balance of power apalagi checks and balances diantara cabang-cabang pemerintahan.14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. “Arus Pemikiran Konstitusionalisme.. Iur. Dalam kondisi kekuasaan Lembaga Kepresidenan yang begitu besar. Tata Negara”.H. namun dengan begitu besarnya kekuasaan Lembaga Kepresidenan. yakni memusatkan kekuasaan di tangan presiden (concentration of power upon the president) sebagai kepala pemerintahan sekaligus kepala negara. maka para pemimpin negeri ini berusaha melakukan perbaikan dengan melakukan perubahan terhadap beberapa UndangUndang yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman seperti: UU No. UU No. Ini terlihat dari rumusan yang berbunyi: “… ditetapkan dengan UU” di akhir sejumlah pasal UUD 1945. Inilah karakteristik penting lainnya dari UUD 1945. Kata Hasta Pustaka. 2 tahun 1986 tentang Peradilan Umum serta UU No. Melalui UU No.5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.8 Namun pada kenyataannya UUD 1945 dalam keadaan seperti inilah yang dipertahankan oleh pemerintahan Orde Baru untuk melanggengkan kekuasaannya.

serta perilaku hakim. untuk membentuk lembaga mandiri sebagai pengawas eksternal terhadap lembaga pengadilan. Namun penerapan sistem satu atap sebagai salah satu upaya menciptakan independensi pengadilan dan imparsial hakim agar terhindar dari campur tangan penguasa tidak mengurangi ruang gerak “mafia peradilan” serta tidak juga dapat meningkatkan integritas moral serta profesionalitas hakim. Malah memperparah. Berdasarkan pada amandemen ketiga itulah dibentuk Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial yang disahkah di Jakarta pada tanggal 13 Agustus 2004. yakni suatu sistem ajaran tentang kenyataan atau gejala-gejala yang dihadapi.. disepakati beberapa perubahan dan penambahan pasal yang berkenaan dengan kekuasaan kehakiman. dan profesional dapat tercapai. termasuk di dalamnya dibentuk Komisi Yudisial yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. agar cita-cita untuk mewujudkan pengadilan yang jujur. M. 2) Hukum sebagai disiplin. S.A. yakni pengetahuan yang tersusun secara sistematis atas dasar kekuatan pemikiran. Soerjono Soekanto. karena dunia pengadilan kita menjadi tidak dapat tersentuh oleh lembaga lain. Sehingga pada tahun 1998-an muncul kembali dan menjadi wacana yang semakin kuat dan solid.. tentang hukum. Kewenangan manajemen administrasi.peradilan. transparan. Keadilan serta Hakim Banyak sarjana yang mencoba untuk mendefinisikan apa itu hukum dan mungkin definisi hukum itu sebanyak para pemikirnya. personalia dan keuangan yang tadinya dipegang oleh eksekutif melalui Menteri Hukum dan HAM diserahkan sepenuhnya kepada Mahkamah Agung melalui Undang-Undang Pokok Kekuasaan Kehakiman. bersih. Oleh karena itu. 3) Hukum sebagai kaedah. yakni pedoman atau patokan sikap 308 Bunga Rampai . Hukum. keluhuran martabat. jika dikaitkan dengan pendapat masyarakat. pada Sidang Tahunan MPR tahun 2001 yang membahas amandeman ketiga Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Beliau berpendapat: 1) Hukum sebagai ilmu pengetahuan. namun ada baiknya disimak pendapat Prof Dr.H.

hal ini terjadi karena dengan dijebloskan ke penjara.10 Sementara itu kata keadilan berasal dari kata adil yang dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti: sama berat. Namun hukum bukan satu peraturan semata. hlm 2.11 Kedua kata itu. 2002. latar belakang pendidikan dsb.. hukum dan keadilan tidak dapat dicampur-adukan jadi satu dengan yang lainnya. Bee Media Indonesia. Sedangkan Hans Kelsen berpendapat.H. mereka akan merasakan tempat tinggal 9 10 11 Prof. PT Citra Aditya Bakti. keduanya haruslah dilihat dari sudut ilmiah. 2007. seperti kadang-kadang dikatakan demikian. S. Edisi revisi. “Kamus Besar Bahasa Indonesia”. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 309 . Hans Kelsen. Balai Pustaka.tindak atau perikelakuan yang pantas atau diharapkan. “Tata Perbuatan” mengandung arti suatu sistem aturan. agama. Dapat kita ambil contoh masyarakat pedalaman Papua. hlm 8.A. Purnadi Purbacaraka... budaya. Cetakan kedua. tidak berat sebelah atau tidak memihak. Soerjono Soekanto. cetakan VI. S.”Sendi-Sendi Ilmu Hukum dan Tata Hukum”. dan Prof. alih bahasa-Drs. M. karena bila kedua kata itu dicampur-adukan maka ia akan menjadi suatu kecenderungan ideologi serta politik. Hanya atas dasar pemahaman yang jelas tentang hubungan-hubungan yang membentuk tata hukum tersebut bahwa hakikat hukum dapat dipahami dengan sempurna. 3. sehingga hukum itu akan tampak adil namun hanyalah bagi golongan tertentu saja.9 dll. hlm. Namun demikian kedua kata itu juga tidak dapat dipisahkan karena hukum tidak dapat dipisahkan dari konsep keadilan itu sendiri. Tidak mungkin untuk memahami hakikat hukum hanya dengan memperhatikan satu peraturan saja. apalagi di Indonesia yang terdiri dari begitu banyak suku bangsa. hukum adalah suatu tata perbuatan manusia. Somardi “General Theory of Law and State”.H. Dr. disana mereka akan menjadi amat bahagia bila dijebloskan ke penjara. Hukum adalah seperangkat peraturan yang harus kita pahami dalam satu kesatuan yang sistemik. 1993. Hubungan yang mempersatukan berbagai peraturan khusus dari suatu tata hukum perlu dimaknai agar hakikat hukum dapat dipahami. Memang tidaklah mungkin menjadikan suatu tata aturan tertentu menjadi adil dan membahagiakan bagi semua pihak.

maka seorang hakim dituntut untuk memiliki pengetahuan luas. Oleh karena itu berkenaan dengan tugas hakim untuk menerapkan hukum secara benar serta memberikan keadilan yang sebesar-besarnya kepada sebanyak-banyaknya individu. Jimly Asshiddiqie. Seekor babi pada pedalaman Papua amatlah tinggi nilai ekonomisnya. Seorang yang merampok dan membunuh karena harus membayar biaya rumah sakit anaknya. yang beranggapan bahwa penjeblosan ke dalam penjara adalah bentuk perampasan hak asasi manusia yang dibenarkan oleh Undang-Undang. Dr. sehingga ia dapat melakukan penemuan hukum (rechtsvinding). S. serta penciptaan hukum (rechtsschepping) bila tidak terdapat peraturan perundangan-undang terhadap setiap perkara yang sedang ditanganinya.yang lebih layak dari pada tempat tinggalnya. tentang jabatan hakim. Oleh karenanya hakim dikatakan sebagai “perpanjangan tangan Tuhan di dunia”. dan mereka pun tidak perlu bersusah payah untuk mencari makan. tidak sama dengan seorang yang merampok dan membunuh hanya untuk kesenangan belaka. Demikian pula dengan delik pembunuhan. Dalam kaitan itu ada baiknya pula dicermati pendapat Prof. karena pada jabatan hakim melekat status sebagai seorang penegak hukum dan pemberi keadilan di dunia. Jadi jelaslah bahwa jabatan hakim tidak dapat dipisahkan dari konsep hukum dan keadilan. Menjadi bertolak belakang bila penjeblosan ke penjara ini diterapkan pada masyarakat kota besar. karena pembunuhan sebagai suatu tindakan penghilangan nyawa orang lain itu amat dipengaruhi sebuah peristiwa yang melatar-belakanginya.H. tidak akan mungkin semua pembunuh dihukum dengan hukuman yang sama. Selain itu seorang hakim juga harus memiliki integritas moral yang baik. sehingga ia dapat memberikan keadilan yang sebesar-besarnya kepada sebanyak-banyaknya pencari keadilan berdasarkan hati nuraninya. Jadi. 310 Bunga Rampai . Nilai keadilan itu amat bergantung pada latar belakang diri masing-masing pencari keadilan. Bagi penduduk pedalaman Papua akan lebih menyakitkan bila mereka diharuskan mengganti kerugian akibat perbuatannya dengan seekor babi. setiap manusia atau pencari keadilan akan mempunyai nilai sendiri tentang keadilan dan kebahagiaan.

sebagaimana tercantum dalam Undang Undang Nomor 22 tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial. yang disahkan di Ja- 12 Pemikiran Prof. tetapi sebagai institusi. 85. dan pengalaman seperti orang yang sudah menjadi dosen atau advokat terkenal yang bekerja sungguh-sungguh dengan segala kehormatan jabatan ini. Jimly Asshiddiqie.. yaitu: 1) Kurangnya pengetahuan hakim yang bersangkutan. dan perilaku hakim. The 13 Biography Institute. Karena itu hakim selayaknya bukan pegawai negeri. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 311 . dan 2) Belum memuaskannya tingkat kesejahteraan hakim yang bersangkutan. Dan oleh karena itu gajinya lebih tinggi dari eksekutif dan legislatif. S. Agar Komisi Yudisial dapat menjalankan tugasnya maka disusunlah dengan rinci wewenang dan tugas Komisi Yudisial. keluhuran martabat. Wewenang dan Tugas Komisi Yudisial Dalam UUD 1945 dengan jelas dinyatakan bahwa Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. 2007. “Konstitusi dan Ketatanegaraan Indonesia Kontemporer”. keluhuran martabat. bukan orang mencari kerja. yaitu pertama: Mengusulkan pengangkatan hakim agung. Sehingga seharusnya hakim tidak direkrut dengan proses seperti penerimaan pegawai negeri. serta perilaku hakim. Yang dapat diangkat menjadi hakim adalah orang yang memiliki kehormatan. dan yang kedua: Menjaga dan menegakkan kehormatan.H. Dr. Yang menjadi hakim bukanlah orang yang mencaricari kerja. Hal ini jelas mengindikasikan bahwa wewenang Komisi Yudisial ada dua. Bekasi. Jimly tersebut dapatlah ditarik kesimpulan bahwa bila terdapat hakim yang melakukan penyimpangan terhadap hukum dan rasa keadilan maka terdapat dua kemungkinan yang mendasarinya.12 Dari pendapat Prof. pengetahuan. hlm. Cetakan Pertama. maka orang yang diangkat menjadi hakim adalah paling terhormat.hakim melaksanakan tugas bukan lagi sebagai individu. Pegawai negeri adalah pelayan sedangkan hakim itu bukan pelayan tetapi jabatan kehormatan.

Melakukan seleksi terhadap calon hakim agung. Komisi Yudisial mempunyai tugas: Melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim. daftar harta kekayaan serta sumber penghasilan. ijazah asli atau yang telah dilegalisir. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial maka kewenangan Komisi Yudisial meliputi: Mengusulkan pengangkatan Hakim Agung kepada DPR RI. karya ilmiah dan legal case problem solving yang topiknya ditentukan oleh Komisi Yudisial.karta pada tanggal 13 Agustus 2004 oleh Presiden Republik Indonesia serta dicatatkan pada lembaran negara Republik Indonesia tahun 2004 nomor 89 dan tambahan lembaran negara Republik Indonesia nomor 4415. Komisi Yudisial mempunyai tugas: Melakukan pendaftaran calon hakim agung.22 Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial. termasuk riwayat pekerjaan. seleksi kualitas dan kepribadian. permintaan laporan secara 13 “Undang-Undang No. Pelaksanaan pengawasan terhadap perilaku hakim. keluhuran martabat. sekurang-kurangnya: daftar riwayat hidup.13 Dalam kaitan dengan mengusulkan pengangkatan hakim agung. Mengajukan usul penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada pimpinan Mahkamah Agung.” 312 Bunga Rampai . Berdasarkan pasal 20 dan pasal 23 UU No. surat keterangan sehat jasmani dan rohani dari dokter rumah sakit pemerintah. Seleksi yang dimaksudkan disini adalah seleksi administratif. dan Nomor Pokok Wajib Pajak. diwujudkan dalam bentuk: penerimaan laporan pengaduan masyarakat tentang perilaku hakim. serta perilaku hakim. Dalam kaitan dengan menjaga dan menegakkan kehormatan. Menetapkan calon hakim agung. Menjaga dan menegakkan kehormatan. Seleksi administratif menyangkut kelengkapan persyaratan administrasi. keluhuran martabat serta perilaku hakim. Sedangkan seleksi kualitas dan kepribadian menyangkut penilaian karya 2 tahun terakhir. Mengajukan calon hakim agung kepada DPR. serta pemeriksaan kesehatan untuk melihat keadaan kesehatan yang dapat menghambat atau meniadakan kemampuan (disability) dalam menjalankan tugas sebagai Hakim Agung.

berkala kepada badan peradilan berkaitan dengan perilaku hakim. Komisi Yudisial juga diharapkan dapat melakukan upaya preventif agar tidak terjadi penyimpangan perilaku hakim dengan mengusulkan pemberian penghargaan bagi hakim berprestasi kepada Mahkamah Agung. pemeriksaan terhadap dugaan pelanggaran perilaku hakim. sehingga dapat diketahui secara pasti tingkat pengetahuan (skill) dan profesionalitas serta integritas dari setiap hakim. profesionalitas dan integritas hakim serta pengajuan usul pemberian penghargaan atau promosi terhadap hakim berprestasi saja. pemanggilan dan permintaan keterangan dari hakim yang diduga melanggar kode etik perilaku hakim. Pemberhentian sementara. lembaga Negara ini perlu didukung oleh database hakim yang dapat menyajikan informasi secara cepat dan akurat. pembuatan laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi disampaikan kepada Mahkamah Agung. Database Hakim sebagai Elemen Pendukung Penting Dalam rangka melaksanakan tugas serta wewenang yang diamanatkan oleh UUD 1945 yang penjabarannya di dalam UU Nomor 22 tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Dengan demikian Komisi Yudisial dapat memberikan dukungan untuk melakukan pembinaan dalam rangka peningkatan pengetahuan. Pemberian penghargaan maupun sanksi dimaksudkan untuk memotivasi hakim agar mempunyai kinerja lebih baik serta mampu menjaga kehormatan. Disamping upaya pengawasan yang dikemukakan di atas yang lebih merupakan upaya represif. agar Komisi Yudisial dapat melakukan pemetaan terhadap hakim. profesionalitas dan integritas hakim serta pengajuan usul pemberian penghargaan terhadap hakim berprestasi. dapat berupa: Teguran tertulis. Tidak hanya untuk kepentingan melakukan pembinaan dalam rangka peningkatan pengetahuan. Sedangkan Usul Penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada Mahkamah Agung disesuaikan dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan. Disinilah pentingnya dukungan data base hakim yang akurat. keluhuran martabat dan perilakunya. juga sangat bermanfaat dalam melakukan seleksi calon hakim agung. dan tindasannya kepada Presiden dan DPR. Disamping itu. dan Pemberhentian. sehingga rasa keadilan yang didambakan masyarakat dapat lebih terpenuhi. tetapi juga untuk mePenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 313 .

Sesuai dengan pepatah. untuk menggambarkan keadaan hakim secara utuh sangat diperlukan. dari rekam jejak (track record) yang ada pada dirinya. baik mengenai jati dirinya maupun yang terkait dengan data kedinasan hakim. Data Keluarga Adalah data dan informasi yang ada kaitannya dengan keluarga hakim. menjadi program komisi ini untuk mempromosikan hakim tersebut. Data Kekayaan Adalah data kekayaan hakim ditujukan untuk mengetahui besaran kekayaan yang dimiliki oleh hakim yang 314 Bunga Rampai . profesionalitas dan integritas. yaitu: Data primer mengenai pribadi hakim. Data primer mengenai pribadi hakim Adalah data dan informasi yang ada hubungan langsung dengan diri hakim tersebut. Dari database inilah akan mudah kita telusuri hakimhakim mana yang layak berdasarkan kemampuan pengetahuan (skill). Hakim-hakim yang memiliki track record baik. Oleh karena itu. Selain itu informasi tentang keluarga ini sangat penting untuk melihat kondisi sesungguhnya dari kehidupan keluarga hakim yang bersangkutan. Informasi tentang aktivitas hakim dan keluarga. penentuan data item yang membentuk database rekam jejak hakim harus dibuat memenuhi kebutuhan di atas. Data dan informasi mengenai integritas. Dalam hal ini keluarga memegang peranan penting untuk membentuk karakter jiwa maupun perilaku termasuk pribadi hakim.lihat rekam jejak hakim dalam rangka seleksi calon hakim agung. riwayat pendidikan dan pekerjaan kedinasannya. bahwa untuk melihat perilaku seseorang maka dapat dilihat bagaimana ia berperilaku di dalam keluarga dan masyarakat. Data base hakim yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan wewenang dan tugas Komisi Yudisial. Data Kekayaan. pekerjaan anak. anak. dan data serta informasi lainnya yang terkait isteri atau suami dan anak. pekerjaan isteri atau suami. skill dan profesionalitas. Data dan informasi tersebut meliputi suami atau isteri. minimal dapat dibagi dalam 5 kategori. Data Keluarga. seperti biodata.

Hal ini secara tidak langsung dapat mencerminkan integritas yang dimiliki oleh Hakim. Data atau informasi yang perlu direkam dalam database antara lain meliputi: • • • • • kebiasaan yang sering dilakukan oleh hakim maupun keluarga (orang tua.bersangkutan. anak) kesenangan terhadap mahluk hidup atau benda-benda tertentu gaya hidup hakim atau keluarga kedekatan (afiliasi) dan bentuk keterlibatannya pada sebuah organisasi politik tertentu. acap kali orang tersebut lupa akan kewajiban sebagai warga negara dalam mengelola kekayaan yang dimilikinya. Ketidaktaatan dalam membayar pajak merupakan cermin kelalaian dari warganegara untuk menyumbangkan kekayaannya bagi pembangunan bangsa. Kebiasaan keluarga ini ada kemungkinan mempunyai kaitan dengan pembentukan sifat dan karakter hakim tersebut. Data atau informasi yang perlu direkam dalam hal ini adalah terkait dengan harta hakim. istri mapun anak). Unjuk kekayaan menjadi sebuah gaya hidup tersendiri untuk memperlihatkan gengsi seseorang. apakah Hakim juga memiliki kesadaran/ ketaatan untuk membayar pajak dari kekayaan yang dimilikinya? Informasi tentang aktivitas hakim dan keluarga Adalah informasi mengenai aktivitas di luar kedinasan yang biasa dilakukan oleh hakim dan keluarganya baik yang positif maupun yang negatif. untuk mengetahui bagaimana kekayaan dan sumber-sumber kekayaan yang dimiliki oleh hakim. jika ada jaringan bisnis dan keterlibatan hakim dalam jaringan bisnis tersebut Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 315 . Adagium bahwa “kekayaan seseorang dapat mempengaruhi gaya hidup (life style) dari orang tersebut” agaknya sangat melekat dalam budaya hidup di Indonesia. Namun demikian. Bila hakim memiliki kekayaan yang besar. maka perlu diketahui darimana dan dengan cara bagaimana kekayaan tersebut diperoleh? Selain itu. meskipun terkadang kekayaan tersebut didapat dengan cara yang tidak halal. istri. Dengan memiliki informasi aktifitas ini setidaknya dapat diperoleh gambaran mengenai perilaku yang bersangkutan dan keluarganya (orang tua.

Kualitas tanpa integritas bisa membuahkan kerusakan. informasi penting lain yang perlu di dapat dari seorang hakim adalah mengenai profesionalitasnya selama menjalankan pekerjaan di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan.Data dan informasi mengenai integritas. Untuk mengukur tingkat kualitas dan integritas seseorang bukan hal yang mudah. antara lain meliputi: informasi mengenai pernah tidaknya hakim terlibat sebuah kasus (hukum maupun kesusilaan). Informasi lain yang berkaitan dengan hakim. kurang lebih alat (instrument) untuk menilainya adalah apakah hakim pernah terlibat kasus (skandal) yang melanggar norma baik norma hukum maupun kesusilaan? Selain persoalan kualitas dan integritas. khususnya perkara hukum. pengalaman hakim terhadap penanganan 316 Bunga Rampai . Profesionalitas hakim tidak hanya diukur pada saat hakim mengemban pekerjaannya di dalam kedinasan. melainkan juga dilihat bagaimana hakim pada saat di luar kedinasan. baik yang bersumber dari media maupun dari lingkungan kerja mengenai sepak terjang si hakim. hakim yang profesional senantiasa taat azas baik di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan. Keduanya menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi dan menjadi prasyarat utama yang harus dimiliki oleh hakim. Prinsipnya. Meski demikian keduanya bukan sesuatu yang tidak dapat dinilai. maka salah satunya bisa dilihat dari pengalaman dari hakim pada saat menangani perkara. Data atau informasi yang perlu direkam dalam data base rekam jejak hakim terkait dengan hal di atas. Sedangkan untuk menilai bagaimana integritas hakim. Sedangkan integritas berkaitan dengan erat dengan karakter kejiwaan (perilaku) yang diterjemahkan dalam perilaku hidup sehari-hari. skill dan profesionalitas Kualitas dan integritas (moral) adalah materi paling penting untuk menilai bagaimana pribadi seorang hakim. Kualitas berhubungan dengan kemampuan (capability) teknis yudisial maupun manajerial hakim tersebut dalam menangani persoalan. Bila kualitas berkenaan dengan masalah kemampuan. sedangkan integritas tanpa kualitas tidak akan terlalu banyak memberi perubahan dalam memperbaiki kondisi lingkungan (peradilan). khususnya dalam penanganan perkara hukum.

Bentuk dukungan yang bisa diberikan dapat berupa pelatihan. agar data atau informasi yang disimpan dalam database tersebut. keluhuran martabat serta perilaku hakim. hakim lebih sering mengulur-ulur jadwal sidang?). kehadiran hakim di kantor. Komisi Yudisial dapat melakukan pemetaan terhadap hakim. prestasi kerja atau penghargaan yang pernah diperoleh. guna meningkatkan kualitas atau pengetahuan. memang merupakan data atau Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 317 . hasil karya ilmiah yang pernah dihasilkan. khususnya di dalam pembuatan putusan. Komisi Yudisial dapat dengan secara akurat menentukan bentuk dukungan yang perlu diberikan kepada hakim untuk melakukan pembinaan dalam rangka peningkatan pengetahuan. Urgensi pembangunan Database (rekam jejak) hakim Kebutuhan akan database ini sangat penting sifatnya. profesionalitas dan integritas hakim. pengajuan usul pemberian penghargaan terhadap hakim berprestasi dan lain sebagainya. jalan-jalan. Pertama. buku bacaan.kasus. karena dengan tersedianya database hakim. database ini juga dapat menjadi sumber informasi rekam jejak hakim yang sangat bermanfaat di dalam mendukung pelaksanaan kewenangan dan tugas-tugas Komisi Yudisial yaitu. kepatuhan hakim dalam melaksanakan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Penutup Akhir kata ada beberapa catatan penting yang harus diperhatikan berkenaan dengan pembangunan database (rekam jejak) hakim. dalam hal tingkat pengetahuan (skill) dan profesionalitas serta integritas moral dari setiap hakim. disiplin dalam sidang (apakah hakim tersebut tepat waktu dalam melaksanakan sidang atau sebaliknya. melakukan seleksi calon hakim agung dan pengawasan terhadap hakim guna menjaga dan menegakkan kehormatan. kebiasaan hakim dalam memanfaatkan barang-barang inventarisasi kantor (misalnya apakah kendaraan dinas/jabatan sering digunakan untuk keperluan di luar kantor: arisan. profesionalisme dan integritas hakim. Dengan terbangunnya database hakim ini. penentuan data item perlu dilakukan dengan sangat cermat. belanja. Selain itu. dsb).

Pengamanan yang diterapkan tidak hanya di level aplikasi atau perangkat lunak dan jaringannya. agar informasi yang disajikan terpercaya. Ketiga. sesuai dengan tingkat kewenangannya. data dan/atau informasi yang simpan di dalam database harus betul-betul diperhatikan tingkat akurasinya. keamanan data dan informasi yang tersimpan dalam database merupakan hal yang sangat penting diperhatikan. 318 Bunga Rampai . Dengan demikian data atau informasi yang tersimpan dapat dijamin akurasi dan integritasnya. Kedua. agar data atau informasi hanya dapat diakses oleh orang yang berhak. tetapi juga pengaman secara fisik perlu diperhatikan.informasi yang penting dan diperlukan di dalam mendukung pelaksanaan kewenangan dan tugas Komisi Yudisial.

H.H. Saiful Rachman. Redaktur : Hermansyah. S.H. 6. 2. Danardono. M.. 3. 2... M.H. 5. M. M. 3. Romlah Pelupessy. S. 4. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 319 . S. Hendro Sukmono. Abdy Koro. S. S. S. H.H. S. S. Ir. Sulasman. M. Editor/Penyunting : 1. Anna Suhanah 7. Berthine Sumarah Sudiono. Arnis Duwita Purnama. Andi Djalal Latief. Asep Rachmat Fajar. S. 8. S.H. Wakil Redaksi Pelaksana : Tatang Suryaman Sekretariat : 1.H.Redaksi Penanggung Jawab : Drs. 4.E. Si.H.H. Ak. IP.H. Drs. S. Kom 5. Frida Aprilia.E. S. Sos 9. Niniek Ariyani. Arif Budiman. 6.S. Eddy Hary Susanto. M. Hasyim. Ak 9.M. Achmad Dardiri. Amir Syarifudin.H. Arnoldus Johannis Day. Kom. S. 8. Si. 7. Muzayyin Mahbub. H. S. S. Drs.H. M. S.E. Redaktur Pelaksana : M.. S.

320 Bunga Rampai .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful