Komisi Yudisal dan Reformasi Peradilan

i

ii

Kata Pengantar Ketua Komisi Yudisial Republik Indonesia
Pendekatan transdisipliner dalam pelaksanaan pembangunan di Indonesia dipandang penting dan relevan oleh ekonom berkarakter kerakyatan dan egaliter, Prof. Dr. Mubyarto. Dalam pandangannya, koperasi merupakan pilar dan sistem ekonomi yang kompatibel untuk pendemokratisasian ekonomi bangsa yang berpihak pada rakyat sebagai pemegang tunggal kedaulatan rakyat. Jauh sebelumnya, Bung Hatta salah satu penyusun UUD Tahun 1945 adalah Negarawan yang telah berjuang keras memasukkan ekonomi kerakyatan sebagai prinsip dasar penyelenggaraan perekonomian Indonesia. Dalam tulisannya yang berjudul Demokrasi Kita, ia menegaskan pentingnya peranan ekonomi kerakyatan atau demokrasi ekonomi dalam mewujudkan keadilan sosial di Indonesia. Dikatakan selanjutnya, bahwa demokrasi politik saja tidak dapat mewujudkan persamaan dan persaudaraan, maka harus ada demokrasi ekonomi. Jika tidak, manusia belum merdeka dan persamaan serta persaudaraan belum ada. Maka, cita-cita demokrasi Indonesia adalah demokrasi sosial, yang melingkupi seluruh tatanan hidup yang akan menentukan nasib manusia. Dua di antara ekonom langka yang kini amat sulit ditemukan kader penerusnya dengan kepribadian ilmu dan kejelasan serta ketegasan secara lugas dalam sikap pembelaannya terhadap rakyat, memiliki spirit keadilan sosial yang dikaitkan dengan demokrasi sosial. Suatu pandangan kalangan ekonom yang berfikir transdisipliner. Secara elaboratif, kedua almarhum yang kini telah tenang (muthmainnah) di alam kubur karena kesalehan akademiknya menegaskan suatu ”ideologi ekonomi kerakyatan”. Dan keyakinan ideologis inilah yang melekat hingga akhir jabatan dan hayatnya.

iii

Di negeri dengan ribuan kampus yang tersebar di berbagai daerah ini, rasanya, lebih sulit ditemukan akademisi yang beruntung dengan memiliki watak dan kepribadian yang jelas, yang clean dan clear. Entah karena begitu kuatnya main stream pragmatisme dan hedonisme yang sudah mengideologis, atau bahkan sudah setingkat menjadi falsafahnya, teramat langka terdengar suara nyaring, lugas dan kritis dari lembaga kampus ”pencetak” SDM Pemimpin yang iImuan, dalam mengkritisi situasi bangsa yang mengitarinya. Apakah untuk ”mengkloning” frame of thinking konstruksi dan kepribadian ilmiah kedua ekonom kerakyatan di atas, kita harus set back ke masa lalu yang jelas bertentangan dengan watak sejarah itu? Jelas mustahil. Karena, salah satu dimensi sejarah ialah suatu kesadaran untuk melakukan gerakan-gerakan serius dengan misi ”transformation to the future”. Yang pantas diteladani adalah, bahwa keadilan sosial dipandang dan diletakkan sebagai cara pandang untuk menata perekonomian bangsa, untuk mewujudkan persamaan dan persaudaraan antar anak bangsa dan bahkan menentukan nasib manusia Indonesia. Demokrasi ekonomi dipandang penting yang dikaitkan dengan demokrasi sosial. Suatu cara pandang yang begitu luhur, jelas keberpihakannya kepada rakyat dan merefleksikan spirit Pembukaan UUD Tahun 1945. Namun sejarah kehidupan ketatanegaraan dalam era orla dan orba telah tidak menghargai pemikiran di atas. Tentu hal inilah yang kemudian telah melahirkan suatu bencana ketidakadilan ekonomi yang berdampak luas dalam kehidupan sosial budaya lainnya, termasuk dalam bidang hukum dan law enforcement. Politik dan ekonomi sebagai panglima pembangunan pada era rezim-rezim yang lalu, tidak apresiatif dan artikulatif terhadap posisi dasar rakyat sebagai yang paling berhak atas seluruh kekayaan bangsa sebagai anugerah Allah. Mainstream pemikiran ekonomi yang jelas pro rakyat diabaikan dengan kebijakan ekonomi neoliberal yang telah melahirkan birokrasi korup yang ditandai dengan KKN. Di penghujung kejatuhan Soeharto, Indonesia telah dikenal oleh masyarakat internasional sebagai salah satu negara terkorup di level dunia. Anggaran negara Indonesia telah dibocorkan hingga mencapai angka rata-rata 30% pertahun, sebagaima-

iv

na diungkap oleh Prof Sumitro. Meminjam teori korupsi oleh Syed Hussein Alatas, dikenal ada tiga lapis korupsi. Lapis pertama, yang melibatkan warga dengan aparatur negara, berupa suap (bribery) yang prakarsanya datang dari warga, dan pemerasan (extorsion) yang diperankan olah aparatur negara. Lapis kedua, korupsi dalam lingkaran dalam (inner circle) di pusat pemerintahan dalam ketegori nepotisme, dimana ada hubungan darah antara pelayan publik dengan pemangku kepentingan yang menerima berbagai kemudahan; kronis-isme, yang tidak ada hubungan darah antara para pelaku korupsi dan yang diuntungkannya, dan kelas baru, dimana antara pengambil kebijakan dengan yang menerima kemudahan telah menjadi satu kesatuan organik. Meminjam George J Aditjondro, korupsi di Indonesia dibedakan antara korupsi yang didorong oleh faktor kemiskinan (corruption driven by poverty) dan yang di dorong oleh kerakusan (corruption driven by greed). Yang pertama disebut ”korupsi kerah biru” yakni pelakunya mereka yang berseragam dan yang kedua disebut ”korupsi kerah putih” yakni mereka yang berdasi. Apapun kategorisasinya, kita ”berbahagia”, bahwa secara alamiah di negeri ini, kita memperoleh pengayaan tentang puluhan modus dan pelaku korup. Terakhir kita membaca terdapatnya executive corruption, legislative corruption dan judicial corruption. Masing-masing telah memberikan ragaan dan contoh sempurna tentang kualitas dan sejumlah modus kejahatannya yang pasti telah, sedang dan akan terus menerus secara berkesinambungan (sustainable) menciptakan mesin korupsi yang berjalan secara mekanis dan organik. Keganasan dan kekejaman terus berjalan dengan pasti di atas kepatuhan ideologi korupsi para koruptor di negeri yang masih dihuni oleh sekitar 37 juta rakyat miskin, dan puluhan juta mereka yang terbatas mampu memenuhi hajat makan yang tak mampu berpikir masa depan pendidikan para pewarisnya. Dalam situasi mengenaskan dan menyayat ulu hati rakyat miskin inilah, kalangan ahli hukum dan penegak hukum, telah disapa dan diundang oleh kedua ekonom di atas, untuk berbicara dan melangkah atas nama dan untuk keadilan sosial, demokrasi ekonomi dan demokrasi sosial. Suatu ajakan luhur, yang menjadi ranah dan agenda mereka yang terpanggil nurani dan akal budinya untuk agenda ”re-

v

formasi peradilan”. Suatu agenda yang menuntut kesadaran sejarah untuk bersama-sama dalam ketulusan dan kejiwabesaran merintis proses penegakan hukum yang benar, adil, jujur, transparan dan profesional. Kendatipun berdasarkan survey dari Partnership for Governance Reform tahun 2002, terdapat persepsi masyarakat bahwa badan peradilan merupakan badan terkorup dibandingkan badan-badan lainnya, demikian halnya survey dari Transparansi Internasional Indonesia (TII) tahun 2006 yang mengungkapkan bahwa inisiasi dari badan peradilan untuk melakukan praktik suap lebih tinggi daripada lembaga publik lainnya dan laporan dari Global 2007 Transparency International (TI) yang bermarkas di Jerman telah menempatkan badan peradilan Indonesia dalam kategori badan paling korup di antara badan peradilan di beberapa negara (Yunani, Albania, Meksiko, Moldova, Maroko, Peru, Taiwan dan Venezuela), hingga muncul penilaian Syahrir, bahwa badan peradilan telah menjadi black market of justice, namun, di atas semua penilaian ini, kita sebagai bangsa besar, tentu memiliki jiwa besar, dada lebar dan nafas panjang serta emosi yang menep untuk melakukan self correction. Dalam kerangka untuk mendorong terwujudnya hakekat kemerdekaan bangsa dalam usia kemerdekaan ke-62, patut kita memulai lembaran putih baru. Yakni niat dan kesadaran baru untuk menjadikan proses-proses peradilan sebagai pilar moral menuju terdorongnya tatanan kehidupan hukum yang benar-benar berkeadilan, dan membawa dampak konstrukrif bagi terwujudnya persamaan dan persaudaraan antar anak bangsa, terutama yang berkaitan dengan pemenuhan dan perlindungan hukum atas hajat hidup dan hak-hak asasi rakyat. Siapapun, semuanya, sudah saatnya untuk kembali kepada otentisitas diri (fitrah), yang menyadari dan memerlukan pemenuhan hak-hak fitrah sesama. Hak itu antara lain, pada satu sisi memperoleh perlindungan hukum dan keadilan sehingga tidak lagi terdapat kesenjangan yang mencolok di antara sesama, dan pada sisi lain, kita bisa memperoleh hak yang berasal dari dipenuhinya kewajiban dari orang lain karena kita telah memberikan hak kepada mereka. Penegakan hukum adalah proses mewujudkan hak menjadi suatu hukum positif, atau mengurangi dan meniadakan sesuatu yang bukan hak menjadi hukum posi-

vi

Jaksa. Maka. Suatu putusan hakim yang merupakan produk bersama secara etis-profesional dari pemberfungsian suara nurani yang bening dan akal budi yang sehat oleh empat profesi terpuji di atas dalam keseluruhan proses peradilan. Tentu. untuk menuju pada putusan hakim yang mengkarakterkan sebagaian instrument of social engineering atau social reconstruction. Namun. terdapat pepatah there is no law without morality. agar dengan putusan hakim dapat diperoleh suatu tatanan baru dimana proses vii . Ini lumrah secara sosiologis dalam masyarakat kita yang untuk sebagian telah terwarisi budaya suap menyuap dalam bentuk dan dalih apapun juga. Putusan semacam inilah yang memenuhi kriteria ranah-ranah ”demi keadilan berdasarkan ke-Tuhanan Yang Maha Esa”. akan haknya di Amerika Serikat. selalu saja ada pihak-pihak yang melakukan perlawanan. Tak salah jika kita berobsesi. Pepatah klasik harimau mati meninggalkan belang. yaitu moral. Disini. yang merupakan nilai (value) yang membedakan apa yang benar dan salah yang haq dan bathil. dimana pengadilan melahirkan putusan-putusan sedemikian rupa sehingga terjadi perubahan-perubahan penting dalam masyarakat. Yaitu. gajah mati meninggalkan gading. Satjip-to Rahardjo mengutip penelitian Dirk dan Bridwell. Yang oleh Prof. memang harus dimulai dari sekarang. Mendesain putusan yang memenuhi ajakan kedua ekonomi kerakyatan di atas. moral adalah esensi dan ruh dari hukum. bahwa Amerika Serikat adalah merupakan ”a society designed by the judiciary”. Penormaan moral menjadi hukum positif bukan saja masih terkendala dari berbagai faktor penyebabnya.tif. bisa dielaborasikan dalam pandangan yang sedikit filsafati. Di Indonesia. Polisi. untuk menuju kearah mimpi indah itu. Hakim dan Lawyer mati meninggalkan contoh penegakan hukum yang berkeadaban. masih memerlukan pembenahan yang tidak sederhana. Putusan yang teruji secara moral dan hukum disertai asupan yurisprudensi dan doktrin hukum yang selektif yang kemudian melahirkan situasi hukum yaitu menyelesaikan sengketa dan tegaknya hukum dan keadilan terhadap siapapun. Di antara keduanya terdapat ukuran sebagai patokan. Senoadji disempurnakan menjadi there is no morality without religion. seperti ditulis oleh Prof. untuk kedepan.

hendaknya menjadi komitmen dan agenda sistemik dan simultan. bukan perkara mudah. Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi dalam satu nafas baru. berbagai himpunan pemikiran yang menuju pada bagaimana agenda reformasi peradilan dapat dipersepsi dan diusung bersama. dalam dan komprehensif serta transdisipliner.pendemokratisasian hukum bisa berdampak konstruktif pada terciptanya keadilan sosial. yang memerlukan asupan spiritualitas dosis tinggi serta lingkungan keluarga dan budaya organisasi di instansi dimana ia berhikmat dengan profesi luhurnya itu. Maka. Yaitu terwujudnya proses penguatan dan sekaligus pengawasan terhadap badan peradilan melalui mekanisme undang-undang yang akan diiringi dengan pemeranan seluruh elemen masyarakat madani sebagai bagian terpenting bagi terwujudnya peradilan yang Jujur. Dari sisi legislasi di DPR. Ia memerlukan pendekatan kemampuan intelektualitas tinggi. tokoh agama dan masyarakat. dikandung maksud untuk memperoleh pandangan-pandangan yang komprehensif dan komplementer untuk memperoleh pandangan mengenai gagasan dan langkah menuju bagaimana proses reformasi peradilan bisa segera dimulai dengan pemeranan elemen masyarakat madani. semua pihak yang pro pembebasan rakyat dari lilitan kemiskinan masif tentu berharap lahirnya revisi Undang-Undang Komisi Yudisial. Bersih dan Profesional. tapi juga memerlukan kondisi psikologis dimana para penegak hukum memiliki dan merasakan makna dari hakekat diri yang fitri. adalah merupakan misi Komisi Yudisial. para pengamat dan aktivis NGO dalam Buku Bunga Rampai Komisi Yudisial edisi kedua ini. pengefektifan pengawasan yang lebih proporsional viii . Dalam kerangka demikian. langkah untuk mendemokratiskan secara berkeadaban proses-proses peradilan. Dimintakannya para penulis dari berbagai latar belakang akademisi. yang salah satu penyebabnya bisa datang dari produk legislasi dan kebijakan nasional maupun putusan hakim yang tercerabut dari kesadaran nurani dan akal sehat serta rasa keadilan masyarakat. Kita amat memerlukan kontribusi pemikiran dan aktualisasi komitmen moral bersama menuju kearah terdorongnya proses pencapaian lahirnya putusan hakim yang memiliki utilitas atau kemaslahatan bagi pemerdekaan anak bangsa ini dari himpitan kemiskinan masif. anggota DPR.

Kita berkepentingan akan lahirnya putusan-putusan hakim yang berkeadaban. Semoga tulisan dalam Buku Bunga Rampai ini memberikan wacana yang lebih luas kearah pembenahan peradilan kita kedepan. Jakarta. 2 Agustus 2007 M.baik oleh Komisi Yudisial sebagai wujud amanat reformasi bersama-sama dengan seluruh elemen masyarakat madani. yang mencerminkan suara dan hakekat keadilan bagi terwujudnya perlindungan hukum terhadap para pencari keadilan tetapi juga sekaligus dalam rangka perubahan tatanan kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih berkeadilan. Busyro Muqoddas ix .

x .

.... Ermaya Suradinata. Ucapan terima kasih kepada Bapak M. S. serta membuat kata pengantar dalam buku ini.H.H.Hum. Mahfud MD. Dr. S. Banyak pihak yang telah memberikan kontribusi yang sangat berharga dalam proses penyusunan buku ini.H. Bapak A.H. Dr.. Busyro Muqoddas.. Bapak Asep Rahmat Fajar.M. Komariah Emong Sapardjaja.H... S. Bapak Arbab Paproeka.. MA. para Tenaga Ahli dan xi . Bapak F. M.H. Ketua Komisi Yudisial Republik Indonesia yang telah memberikan kontribusi pemikiran.H.H. DR. M. diucapkan terima kasih kepada: Bapak Prof.H.H. Bismar Nasution. Untuk itu. Hidayat Nur Wahid.X.. S. S.H. MS. Satjipto Rahardjo. Penghargaan yang tinggi. S. S. Bapak Prof. M. DR.H..H... Soekarno. Secara khusus. S..H. Pandupraja. Bapak Dr. Dr.. LL.. S. S. Bapak Prof. S. S.H..H. M. dan Bapak Ir. atas dukungan dan kontribusi pemikiran dalam proses penyusunan buku ini. kami menghaturkan terima kasih yang tak terhingga kepada para penulis (kontributor) yang telah memberikan artikel untuk materi buku ini. M. MS.. Dr..H.Penghargaan dan Ucapan Terima Kasih Program penyusunan buku Bunga Rampai Dua Tahun Komisi Yudisial Republik Indonesia ini adalah salah satu program yang diamanatkan oleh Rapat Kerja Komisi Yudisial Republik Indonesia pada bulan Februari 2007 di Bandung. M. Sp.H. M. M.H. Bapak Prof. dukungan dan motivasi. John Pieris. Bapak Trimedya Panjaitan.H. Bapak M.. S. Bapak-bapak Anggota Komisi Yudisial Republik Indonesia. S. S. Ibu Prof. Moh. S. Din Syamsuddin. Bapak M.. Andi Djalal Latief. Marwan Mas. Hatta Ali. S. Ali Zaidan. yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu.. Bapak Dr. juga disampaikan kepada Bapak Wakil Ketua.H. Bapak Prof.U. H.. Bapak Dr..N. Bapak Firmansyah Arifin...

Bapak Sekretaris Jenderal Komisi Yudisial Republik Indonesia. Buku Bunga Rampai ini dapat diselesaikan adalah tidak terlepas dari dukungan dan dedikasi yang sangat tinggi dari Sekretariat Tim Penyusun Buku Bunga Rampai. Semoga dengan hadirnya buku ini dapat memberi manfaat bagi kita semua. serta dukungan Sekretariat Jenderal Komisi Yudisial. Jakarta. 2 Agustus 2007 Hermansyah Redaktur xii .

H. Satjipto Rahardjo. 3. Kontribusi Lembaga Sosial Mendorong Reformasi Peradialn Prof. Kontribusi Komisi Kepolisian Nasional Dalam Mempercepat Reformasi Peradilan A.Daftar Isi Prakata Ketua Komisi Yudisial M. 2.H. S. 95 107 135 xiii . Komisi Yudisial Pengawal Reformasi Pengadilan Mendayung diantara Simpati dan Resistensi Firmansyah Arifin. Komariah Emong Sapardjaja.H. S. M... LL. DR. Komisi Yudisial Dalam Mosaik Ketatanegaraan Kita Prof. 8. Ali Zaidan. Perubahan Bidang Politik dan Pengaruhnya Terhadap Reformasi Peradilan Arbab Paproeka.Hum. M.H. Pandupraja. Penghargaan dan Ucapan Terima Kasih Daftar Isi iii xi xiii Bagian Kesatu Reformasi Peradilan 1. Dr. S. S.. Hatta Ali. Dr.M.H. Peran Hakim Agung Dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding) dan Penciptaan Hukum (Rechtsschepping) Pada Era Reformasi dan Transformasi M.H.U..H.H. 7. 4. S.H.N. S. Moh. M. Busyro Muqoddas. Sp. S.H..H. Hakim Agung dan Penemuan Hukum (Rechtsvinding) Pada Era Reformasi dan Transformasi Hukum Prof. S. Kontribusi Lembaga Kejaksaan Dalam Mempercepat Reformasi Peradilan M. S. 1 21 43 65 5. 83 6.. Mahfud MD. S.

M. M. S.H. Andi Djalal Latief. S. Bismar Nasution. M. M. Soekarno.. Marwan Mas. H. DPR dan Perubahan Atas Undang-Undang Komisi Yudisial F. Din Syamsuddin 10. Dr.H. John Pieris. Dr. 6. Hidayat Nur Wahid. Ermaya Suradinata. 4. M. M.H. 2. Redaksi 185 197 221 249 259 275 287 301 319 xiv . DR. Reformasi Pendidikan Hukum Untuk Menghasilkan SDM Penegak Hukum Yang Kompeten dan Profesional Prof. S.H.. 155 165 Bagian Kedua Penguatan Kelembagaan 1. S. MS. MA.H. S.H.. Urgensi Pembuatan Data Base Hakim Sebagai Media Penunjang Pelaksanaan Wewenang dan Tugas Komisi Yudisial Ir. Urgensi dan Fungsi Pembentukan Jejaring di Daerah Oleh Komisi Yudisial Asep Rahmat Fajar. S.X. 3. 5. 8. 7. Komisi Yudisial Yang dicita-citakan Oleh Masyarakat dan Pencari Keadilan Dr.9. Memulihkan Kewenangan Komisi Yudisial Dengan Melibatkan Kemitraan (Jejaring) di Daerah Dr. Peran Serta Elemen Masyarakat Sipil Dalam Mendorong Proses Reformasi Peradilan dan Penegakan Hukum Prof.H.H. Gerak dan Langkah Nyata Komisi Yudisial Dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Dr. Sinkronisasi Sistem Perundang-undangan Lembaga Peradilan Dalam Menciptakan Peradilan Yang Lebih Baik Trimedya Panjaitan.H.S.. Pentingnya Peran Komisi Yudisial Berdasarkan Pendekatan Geopolitik dan Geostrategi Indonesia Prof.H. S.

Bagian Kesatu Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan xv .

xvi .

Kontroversi sambutan atas kehadiran KY dapat ditelusuri dari latar belakang kehadirannya di dalam sistem Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 1 . katanya. Pujian dan cercaan terus bermunculan yang sampai saat ini (Juli 2007) menyebabkan KY berada pada posisi yang menggantung karena setelah wewenangnya untuk melaksanakan fungsi pengawasan dipangkas melalui putusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada Agustus 2006. Meskipun sudah pernah menulis tentang KY dari aspek politik hukum untuk buku peringatan Satu Tahun Komisi Yudisial (2006). penulis diminta mengelaborasi lebih lanjut optik politik hukum tentang KY tersebut berkenaan dengan perkembangan-perkembangan baru menyusul putusan MK pada akhir Agustus 2006 yang memangkas hampir seluruh kewenangan KY yang semula diberikan oleh UU No. salah seorang anggotanya. memprotes karena keputusan KY ditetapkan dalam rapat yang.Komisi Yudisial dalam Mosaik Ketatanegaraan Kita Moh. pengayaan mana dibangun oleh banyaknya kontroversi atas langkah-langkah KY yang begitu dibentuk langsung tancap gas tinggi untuk mengawasi perilaku dan moralitas hakim. Mahfud MD Pujian dan cercaan Kehadiran Komisi Yudisial (KY) di Indonesia telah memperkaya khazanah kita tentang pembangun hukum. 22 Tahun 2004 berdasar atribusi kewenangan legislasi yang sah. sengaja dilakukan tanpa kehadirannya. Itu pun masih menimbulkan kontroversi karena produknya tentang calon hakim agung tahun 2007 banyak yang menilainya tidak berkualitas apalagi Irawady Joenoes. praktis pekerjaannya hanya menyeleksi calon hakim agung.

Pada saat yang sama dirasakan juga bahwa banyak produk UU yang secara substantif bertentangan dengan UUD 1945 sehingga isinya banyak yang lahir dari korupsi politik tetapi tidak ada instrumen hukum dan lembaga yang dapat mengoreksinya melalui pengujian kecuali pengujian legislatif (legislative review) yang sudah pasti sangat bergantung pada kehendak lembaga-lembaga poltik yang korup. untuk mengawasi perilaku hakim agar tidak melakukan judicial corruption harus dibentuk Komisi Yudisial (KY). Bahkan orang-orang yang sekarang duduk di MA maupun MK yang “terkesan” ikut menghantam KY. Mafia peradilan (judicial corruption) yang melibatkan hakim-hakim terasa menyengat tetapi tak dapat terlihat atau dibuktikan secara formal karena pelaku-pelakunya terdiri dari orangorang yang pandai memanipulasi hukum untuk saling melindungi. pada waktu itu memberi dukungan kuat dengan argumen-argumennya yang sangat meyakinkan tentang KY dan segala kewenangannya yang kemudian dituangkan di dalam UU No. Itulah sebabnya dua hal untuk memmperbaiki kinerja hukum kita segera menyeruak ke dalam wacana yang kemudian diterima dengan baik di dalam proses politik yang lahir di awal reformasi. Perubahan Positif Ketika gagasan tentang pembentukan KY dan MK ini diproses secara legislasi di DPR kewewenangan yang diberikan kepada keduanya ternyata berkembang secara lebih baik. untuk menguji UU terhadap UUD dibentuk Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai lembaga negara baru pemegang kekuasaan kehakiman di samping Mahkamah Agung (MA). Secara preventif KY dapat mengusulkan calon hakim agung agar tampil hakim agung- 2 Bunga Rampai . Saat kita melakukan reformasi pada tahun 1998 bermunculan wacana untuk memperbaiki penegakan hukum kita dengan asumsi bahwa terjerumusnya Indonesia ke dalam krisis multidimensi yang sulit disembuhkan disebabkan oleh bobroknya dunia peradilan. Kedua. KY diberi tugas melakukan pengawasan terhadap hakim baik secara preventif maupun represif. Pertama. 22 Tahun 2004. Gagasan tentang kedua lembaga ini mendapat sambutan posistif baik dari kampus-kampus dan LSM maupun dari parpol dan Fraksi-fraksi di DPR dan MPR.ketatanegaraan kita.

Kemajuan nyata Harus diakui secara jujur bahwa mosaik lembaga peradilan. dan memutus pembubaran partai politik. sedangkan secara represif KY dapat mengawasi perilaku hakim dalam pelaksanaan tugas-tugasnya sekaligus memutuskan tindakan yang dapat direkomendasikan kepada MA. memutus pendapat atau dakwaan (impeachment) DPR bahwa Presiden telah melakukan salah satu atau lebih dari lima hal yang ditentukan di dalam UUD yang dapat dijadikan alasan untuk memberhentikan Presiden/Wapres dalam masa jabatannya. Terlepas dari soal. memutus sengketa hasil pemilu. memutus pendapat DPR bahwa Presiden/Wapres tak lagi menuhi syarat. Begitu pun dengan MK. Politik Hukum di Indonesia. Dalam pada itu pembuat Konstitusi menetapkan juga bahwa pengujian peraturan perundang-undangan di bawah UU terhadap peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dilakukan oleh MA. Jakarta. menjadi lebih baik setelah perubahan UUD 1945 yang menegaskan fungsi-fungsi konstitusional dengan proliferasi kelembagaan dalam bidang ini.1 Itulah sebabnya ketentuan tentang itu ditegaskan di dalam UUD hasil amandemen sehingga pengaturan operasionalnya dengan atribusi kewenangan legislasi menjadi jelas dan dapat diimplementasikan. terutama kekuasaan kehakiman. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 3 . LP3ES. apakah kita setuju atau tidak setu- 1 Bahasan meluas tentang ini lihat dalam buku saya. 1998.hakim agung yang baik melalui seleksi yang ketat dan obyektif. Kita mencatat sampai sekarang MK sudah memeriksa dan memutus lebih dari 100 kasus pengujian UU terhadap UUD. lembaga kekuasaan kehakiman yang baru ini bukan hanya diberi wewenang melakukan pengujian UU terhadap UUD tetapi juga diberi wewenangwewenang lain yakni memutus sengketa antar lembaga negara yang wewenangnya ditentukan di dalam UUD. Sebelum reformasi ketentuan ini oleh beberapa peraturan perundang-undangan memang sudah dijadikan wewenang MA tetapi karena pengaturannya kacau secara teoretis maka ketentuan itu tak pernah dapat diimplementasikan.

terbukti sekarang MA telah menguji dan membatalkan beberapa peraturan perundang-undangan yang dinilai bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. meski tak semua laporan itu benar adanya. menyatakan bahwa maraknya kontroversi yang muncul dari konflik antara MA dan KY yang disusul dengan putusan MK yang sangat kontroversial yang memangkas wewenang-wewenang KY justru menunjukkan adanya kemajuan dalam sistem ketatanegaraan kita sebab kegiatan saling kontrol menjadi tumbuh. KY sudah memberi sumbangan yang cukup baik terutama untuk memilih yang terbaik dari jelek-jelek serta dalam membuat kontrak moral agar kalau sudah menjadi hakim agung seseorang dapat melaksanakan tugasnya dengan penuh integritas.ju dengan sebagian putusan MK. Benar juga ketika kita menguatkan wewenang MA untuk melakukan pengujian peraturan perundang-undangan di bawah UU terhadap peraturan perundang-undangan yang derajatnya lebih tinggi. seorang ahli Hukum Tata Negara dari UGM. MA yang merasa kewibawaannya diobrak-abrik merasa tersinggung. sebab dengan gebrakannya menyorot dan memeriksa hakimhakim yang dilaporkan dan diduga nakal. Ini sudah tentu jauh berbeda dengan zaman sebelumnya di mana hakim agung diangkat berdasar kontrak politik dan ditengarai kuat hanya berdasar kedekatan dengan pimpinan MA. Kebenaran relatif putusan MK Tetapi langkah-langkah KY yang cukup memberi harapan ternyata telah menjadi bumerang yang sama sekali tidak diharapkan baik oleh KY sendiri maupun oleh masyarakat. terutama ketika KY mengundang ketua 2 Denny Indrayana. mulai dari hakim pengadilan negeri sampai ke hakim agung ternyata meningkatkan gairah masyarakat untuk menyorot dan melaporkan hakim-hakim nakal. Langkah KY pun sudah mendorong ke arah kemajuan.2 Banyak hakim yang kemudian lebih berhati-hati dalam melaksanakan tugasnya. 4 Bunga Rampai . Dalam melakukan seleksi terhadap calon hakim agung pun. ini harus dicatat sebagai kemajuan karena membuktikan bahwa memang benar banyak UU yang dapat dipermasalahkan konstitusionalitasnya dan MK telah menjadi lembaga yang tepat untuk melakukan itu. terlepas dari kritik dan kontroversi atas produknya.

meminta MK memutus bahwa hakim agung bukanlah bagian dari hakim yang dapat diawasi oleh KY sebab menurut pasal 24B ayat (1) untuk hakim agung sudah disebutkan KY hanya mengusulkan pencalonannya. sehingga tak mungkin ketika KY dibentuk sudah terpikir untuk mengawasi hakim konstitusi. ketika KY ditentukan di dalam UUD belum ada gagasan tentang hakim konstitusi. 30 orang hakim agung kemudian menggugat judicial review UU No. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 5 . sedangkan untuk mengawasi perilaku disebutkan berlaku untuk hakim. Kedua. 22 Tahun 2004 yang menyamakan keduanya harus dinyatakan bertentangan dengan konstitusi.3 Argumennya. Kalangan hakim banyak yang mengatakan bahwa KY bukannya menjaga martabat hakim melainkan justru menjatuhkan martabat hakim. bahkan mengintervensi kemandirian hakim. Jadi bagi para penggugat harus dibedakan pengertian antara hakim agung dan hakim sehingga isi UU No. para penggugat meminta agar hakim konstitusi tidak dijadikan bagian dari pengertian hakim yang dapat diawasi oleh KY karena hakim konstitusi berbeda dari hakim lain dan baru dimasukkan di dalam UUD lebih belakang dari pengaturan tentang KY. sebab jika dilihat dari suasana dan sikap-sikap petinggi MA tampak jelas bahwa MA memang merasa gerah dengan sepak terjang KY. Isi gugatan itu pada pokoknya berkisar pada tiga hal. Bahwa yang menggugat adalah pribadi-pribadi hakim agung itu hanyalah taktik saja. 22 Tahun 2004 tentang KY terhadap UUD. Ketiga. wewenang-wewenang KY untuk mengawasi para hakim harus dinyatakan bertentangan dengan UUD karena kriterianya tidak jelas dan bersifat eksesif apalagi dalam prakteknya 3 Seperti diketahui pengaturan tentang KY dicantumkan di dalam pasal 24B sedangkan pengaturan tentang MK dicantumkan dalam pasal 24C. Pertama. hanya saja karena MA secara institusi tidak mempunyai legal standing atau tidak dapat menjadi pihak dalam sengketa di MK maka yang dimajukan (sekurang-kurangnya dibiarkan dan didorong maju) adalah para hakim agung secara perseorangan.MA untuk dimintai keterangan dan ketika KY mengundang beberapa hakim agung untuk diperiksa berkenaan dengan masuknya beberapa laporan dari masyarakat.

namun hampir semua pedoman pengawasan untuk mengawasi para hakim sebagaimana diatur di dalam UU No. 8 Tahun 2004 tentang Peradilan Umum yang menentukan bahwa pemberhentian hakim agung dan hakim dilakukan setelah melalui Majelis Kehormatan Mahkamah Agung dan Majelis Kehormatan Hakim.KY sering memeriksa hakim dengan mempersoalkan isi putusan.4 Putusan judicial review MK pada Agustus 2006 tentang UU No. 22 Tahun 2004 itu memang agak kompromistis tetapi juga dapat dipersoalkan karena selain dianggap mengandung ultra petita5 juga bertentangan dengan asas nemo judex in causa sua sekaligus juga tidak sesuai dengan konsepsi hakim yang dimaksud dalam UUD. 6 Bunga Rampai . dinilai kompromistis karena karena menolak gugatan bahwa hakim agung berada di luar subyek yang dapat diawasi oleh KY. 2 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah dengan UU No. Bias terjadi dan dapat dianggap ultra petita di sini karena MK hanya boleh menguji UU terhadap UUD bukan UU terhadap UU lainnya. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung dan UU No. Persoalan belum adanya ketentuan tentang kriteria pelanggaran moral oleh hakim mestinya tidak dapat dijadikan alasan untuk membatalkan kewenangan KY sebab masalah tersebut merupakan ranah legislatif. 14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan UU No. Kedua. Lagi pula jika UU tentang KY bertentangan dengan UU lain mengapa isi 4 5 KY sendiri memberikan argumen yang dapat dipahami ketika menyatakan bahwa sulit untuk tidak membaca dan menilai putusan hakim sebab pengaduan yang masuk pada umumnya menyangkut kejanggalan dalam pemeriksaan perkara dan putusan hakim. 2007. 22 Tahun 2004 dipangkas sehingga meskipun boleh mengawasi tetapi terjadi kekosongan hukum dalam operasionalisasi pengawasan itu sendiri. Jakarta. dinilai ultra petita dan bias karena salah satu dasar pertimbangan pemangkasan wewenang-wewenang KY itu didasarkan pada pertentangan (tidak sinkronnya) ketentuan yang ada antar UU yakni pertentangan UU KY (yang dapat merekomendasikan pemberian sanksi pada hakim) dengan UU lain seperti UU No. LP3ES. Perdebatan Hukum Tata Negara Pasca Amandemen UUD 1945. Pertama. Tentang ini dapat dibaca secara lebih rinci di dalam buku saya.

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 7 . final and binding. 2 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah dengan UU No. Tegasnya. Dalam saya catatan sudah dua kali MK memutus hal-hal yang menyangkut dirinya sendiri. 14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan UU No. dalil. putusan MK itu belum tentu benar. tergantung pada pilihan perspektif. dan pasal-pasal lain. Di dalam asas ini ditentukan bahwa hakim tidak boleh memutus perkara yang menyangkut diri-nya sendiri. Selain berbenturan dengan asas nemo judex in causa sua bias putusan MK tidak sesuai dengan ide dan konsep tentang hakim di dalam konstitusi dan tata hukum kita sebab ide dan konsep dasar hakim adalah semua pejabat yang melaksanakan kekuasaan kehakiman. seandainya yang menjadi hakim pada Mahkamah Konstitusi itu adalah hakim lain yang menggunakan atau mengikuti paradigma. belum tentu benar tapi mengikat Meskipun begitu harus diingat bahwa.UU KY yang dibatalkan? Mengapa tidak diberlakukan ketentuan bahwa hukum yang datang kemudian (UU No. putusan MK tersebut agak berbenturan juga dengan asas nemo judex in causa sua karena MK memutus hal-hal yang menyangkut kepentingannya sendiri yakni meletakkan hakim konstitusi sebagai subyek yang berada di luar pengawasan KY . 8 Tahun 2004 tentang Peradilan Umum sesuai dengan asas lex posteriori derogat lex anteriori? Ketiga. Dengan kata lain. 22 Tahun 2004) menghapus hukum yang terdahulu yakni UU No. tak dapat dilawan lagi secara hukum. menurut pasal 24C ayat (1) putusan MK itu bersifat mengikat. atau pasal-pasal yang dipergunakan untuk memutus. artinya sebuah putusan MK bisa salah jika yang dipakai untuk memutus adalah perspektif. Putusan MK. MK juga pernah membatalkan ketentuan UU tentang MK yang menentukan bahwa MK hanya boleh melakukan pengujian atas UU yang lahir setelah terbentuknya MK. terlepas dari soal benar atau salah. Kebenaran putusan MK itu bersifat relatif. Selain memutus bahwa hakim konstitusi bukanlah bagian dari hakim yang dapat diawasi KY. dalil. Putusan MK menyatakan bahwa MK boleh menguji semua UU termasuk semua UU yang sudah ada sebelum terbentuknya MK. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung dan UU No. tetapi sudah pasti mengikat.

bisa benar ketika MK mengatakan bahwa KY adalah auxiliary agent (lembaga negara penunjang) karena ia merupakan lembaga negara yang bukan pemegang kekuasaan kehakiman tetapi memiliki tugas yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman dan karenanya KY tidak bisa dijadikan bandul checks and balances dengan MK maupun MA. paradigma apa pun yang dipergunakan pasti bisa dibangun rasionalitas untuk membenarkan pilihan perpspektif dan paradigma. Sebagai lembaga negara pengawas eksternal ia bukan penunjang. dan dalil-dalil lain maka putusan bisa berbeda. Itu hanya pendapat MK berdasar teori yang dipilihnya sendiri untuk kemudian dijadikan bahan pertimbangan vonis. Kalau soal rasionalitas. Menurut UUD sendiri dan berdasar latar belakang pembahasannya di PAH I MPR tak pernah ada gagasan KY dijadikan sebagai lembaga penunjang. Tetapi jika konsep hakim dilihat dari teori tentang tugas-tugas untuk mengadili. Tim Hukum KY misalnya. tetapi bidang tugasnya memang berkaitan dengan kekuasaan lembaga negara yang lain yakni kekuasaan kehakiman. Dalam kasus putusan MK yang memangkas hampir semua kewenangan KY seandainya kita memakai perspektif. siapa pun yang melakukan dan kapan pun dibentuk. Dari perspektif teori tertentu misalnya. Dengan demikian jika dilihat dari perspektif lain maka KY bukanlah lembaga penunjang lembaga lain. dalil. Begitu juga putusan MK bahwa hakim MK tak bisa diawasi oleh KY karena KY lahir lebih dulu dari MK itu bisa benar dari perspektif tertentu sebab tak mungkin sesuatu yang dipikirkan dan lahir kemudian sudah dicakup untuk diawasi oleh lembaga yang ada lebih dulu. Dalam bahasa sehari-hari dapatlah dikatakan bahwa putusan MK itu bisa “sesuka-suka MK” dengan kebenaran yang relatif karena logikanya hanya dibangun dari perspektif tertentu yang hanya bisa logis dari perspektif itu sendiri. 8 Bunga Rampai . Tetapi dari segi lain bisa ditegaskan bahwa tak ada satu pun ketentuan UUD kita maupun dalam sejarah pembahasan ketika membentuk KY bahwa KY adalah lembaga penunjang. Tidak sulit untuk mencontohkan ini. Ia adalah lembaga negara yang otonom sebagai lembaga pengawas eksternal. dan teori yang dipergunakan oleh pihak termohon atau pihak terkait langsung.perspektif teori. maka semua dalil yang dipergunakan oleh MK bisa salah.

Di sini berlaku prinsip “hukmul haakim yarfa’ul khilaaf. dan apa yang dimainkan hakim-hakim yang memeriksa dan memutus. maka manipulasi bisa dilakukan oleh pihak yang punya otoritas untuk memutus dengan cara memilih perspektif dan teori serta dalil-dalil sesuai dengan selera dan kehendaknya sendiri. salah satu pertimbangan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 9 . putusan MK bersifat final dan mengikat dan harus dilaksanakan. dan manfaat bagi masyarakat sebagaimana digagas ketika KY akan dijadikan bagian di dalam mosaik ketatanegaraan kita. tetapi karena hal itu sudah diputuskan oleh lembaga yang diberi wewenang oleh konstitusi untuk memutus sengketa tentang itu. Berdasar ini.” putusan hakim menyelesaikan semua pertentangan. Bukan karena benar. Jadi tampak jelas bahwa ini tinggal pilihan paradigma dan perspektif teorianya serta tergantung pada siapa. seperti dikemukakan di atas. Oleh sebab itu di dalam konstitusi kita juga dianut asas keadilan dan kemanfaatan yang harus bersumber dari jeritan hati nurani masyarakat serta manfaat bagi masyarakat. Pilihan politik. rasa keadilan. setidak-tidaknya menurut penulis. tepatnya pada formal dan prosedural semata.maka hakim konstitusi pun harus dipandang sebagai hakim yang juga harus diawasi oleh KY. Namun agar putusan hakim dapat diterima dan tidak menimbulkan persoalan baru di dalam sistem hukum kita sebenarnya sudah ada penggarisan bahwa penegakan hukum di Indonesia haruslah mengintegrasikan secara padu tiga asas yakni asas kepastian hukum dan asas keadilan sesuai dengan ketentuan pasal 24 ayat (1) dan pasal 28D ayat (1) dan asas kemanfaatan sesuai dengan ketentuan pasal 28H ayat (2). terlepas dari soal kita senang atau tidak senang. tak terikat teori Seperti dikemukakan di atas. Meskipun begitu. maka putusan MK tentang KY lebih merupakan pilihan selera hakim konstitusi yang tentu bisa lain putusannya kalau hakim-hakim dan pilihan perspektifnya juga lain dengan argumen yang juga bisa kuat. Untuk banyak pihak putusan MK tentang KY itu memang mengikat tetapi tidak sejalan dengan latar belakang sejarah politik hukum. Jika hanya mendasarkan pada asas kepastian hukum.

Meminjam ungkapan KC Wheare di dalam bukunya.putusan MK ketika memangkas hampir semua wewenang pengawasan KY terhadap hakim adalah karena KY bukan main organ melainkan hanya auxiliary organ. melainkan merupakan lembaga pengawas eksternal yang berdiri sendiri. Jadi Hukum Tata Negara itu adalah apa yang diperdebatkan dan ditulis sebagai pilihan politik di dalam konstitusi. Memang dapat diterima pandangan bahwa KY bukan lembaga pemegang kekuasaan kehakiman yang mempunyai tugas yang berkaitan dengan kekuasaan tersebut. Tidak ada teori Trias Politika asli dan tidak ada sistem pemerintahan yang murni karena hampir semua negara membuat sistem dengan sentuhan 10 Bunga Rampai . Pandangan seperti ini dapat dipertanyakan. bukan lembaga negara utama seperti MA dan MK melainkan hanya lembaga pembantu atau penunjang. the Modern Constitution. Jadi jika dilihat dari sudut lembaga negara maka KY ini tidak pernah dimaksudkan sebagai lembaga pembantu atau penunjang lembaga lain. Hukum Tata Negara adalah apa yang digagas dan kemudian ditulis di dalam konstitusi oleh bangsa suatu negara. konstitusi adalah resultante atau kesepakatan yang dibuat oleh bangsa yang bersangkutan sesuai dengan kebutuhan tempat dan waktu serta situasi. bukan apa yang ada di dalam teori atau yang berlaku di negara lain betapa pun dianggap sudah mapan. Namun sebagai lembaga pengawas eksternal lembaga ini dapat dipandang sebagai lemabaga negara yang sejajar dengan MK maupun MA meski pun kompetensi tugas-tugasnya membantu kekuasaan kedua lembaga tersebut. Harus juga diingat bahwa dalam kenyataannya tidak ada satu sistem ketatanegaraan yang benar-benar asli dan tidak ada satu sistem ketatanegaraan yang secara persis dianut oleh lebih dari satu negara karena setiap negara memberikan sentuhan-sentuhan atau warna khusus sesuai dengan kebutuhan dan pilihan politiknya. tetapi jika dilihat dari tugasnya yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman maka bidang tugas KY memang hanya menunjang lembaga yudikatif dalam pelaksanaan kekuasaan kehakiman. Selain itu harus diingat bahwa Hukum Tata Negara itu bukanlah apa yang ada di dalam teori atau yang berlaku di negara lain. sebab di dalam UUD sendiri tidak disebutkan tentang itu.

Tak Ada Sistem Ketatanegaraan Asli. Perancis. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 11 . Harian Seputar Indonesia. Teori Trias Politika yang selalu dikaitkan dengan Montesquieu misalnya. eksekutif. dianut hybrid parliamentary-presidential system. Montesquieu sendiri mengatakan. dan lain-lain membuat sistem ketatanegaraan berdasar pilihan politiknya sendiri. Tampak jelas bahwa sistem ketatanegaraan yang asli atau murni itu tidak ada karena semuanya merupakan penafsiran dan modifikasi sendiri-sendiri. Trias Politika yang “dikira” berasal dari Montesquieu itu pun kemudian melahirkan sistem pemerintahan yang berbeda-beda yang juga dapat dipertanyakan keasliannya. Hasil modifikasi oleh Montesquieu inilah yang umumnya dianggap sebagai dasar teori Trias Politika padahal Montesquieu sendiri mengambilnya dari John Locke. Swiss. eksekutif. Perancis. penerapan yang benar adalah sistem parlementer seperti yang berlaku di Inggris. Inggris melahirkan sistem Parlementer yang menganut supremasi parlemen. Inggris. dan federatif namun kemudian dimodifikasi oleh Montesquieu menjadi legislatif. dalam Jawa Pos. Amerika. Uniknya di negara Montesquieu sendiri. 2 Mei 2007. sedangkan nama dan uraian teoresasi tentang Trias Politika itu selanjutnya diberikan oleh Emmanuel Kant. Mencontoh Kehidupan Beragama di Lebanon. Amerika Serikat melahirkan sistem Presidensial yang memisahkan secara tegas antara legislatif dan eksekutif dengan mekanisme checks and balances antar poros-porosnya. Juga tulisan saya.dan modifikasinya sendiri-sendiri sesuai dengan kebutuhan domistiknya. sebenarnya berasal dari John Locke ketika mengajarkan pemisahan kekuasaan atas legislatif. 2 Mei 2007. dan yudikatif. sedangkan di Swiss lahir sistem badan pekerja. Berbagai contoh kasus6 Antara April dan Juli tahun 2007 ini penulis mengunjungi beberapa negara “demokrasi” di Asia dan Eropa yang ternyata mengatur sistem ketatanegaraannya secara berbeda-beda meskipun mengatakan menganut sistem terten- 6 Lihat dalam tulisan saya.

Namun di Indonesia Presiden mempunyai hak bersama DPR untuk membentuk UU. tetapi MK juga dapat melakukan judicial review atas UU yang sudah disahkan oleh Presiden jika ada gugatan. jadi pemerintahan dilakukan oleh kabinet yang dipimpin oleh perdana menteri tetapi untuk masalah pemerintahan tertentu dilakukan oleh Presiden. Di Suriah pemilu untuk 250 kursi parlemen hanya dilakukan untuk memperebutkan 70 kursi karena nama wakil rakyat yang untuk 180 kursi sudah ditentukan lebih dulu oleh pemerintah dari partai yang berkuasa. yakni Puerto Rico. Polandia juga menganut sistem parlementer tetapi uniknya Presiden dapat membubarkan parlemen dengan dua alasan yakni jika sampai waktu tertentu parlemen tidak mensahkan anggaran yang diajukan oleh pemerintah atau jika parlemen tidak menyetujui susunan kabinet yang diajukan oleh pemerintah dan sampai waktu tertentu parlemen tidak mengajukan alternatif untuk menggantikan penolakannya itu. Di Republik Rakyat Cina (RRC) yang menganut sistem yang agak unik. Sistem Presidensial seperti yang dianut di Indonesia ini hanya dipakai oleh satu negara lain di dunia. Di Yordania juga dianut sistem parlementer tetapi yang sangat menentukan jabatan perdana menteri adalah raja. Sistem presidensial di Indonesia juga tidak mengikuti pola yang umum meski pola umum itu tidak murni juga. Ini unik karena berarti MK dapat menilai kembali UU yang telah dinyatakan konstitusional oleh MK sendiri sebelum UU itu disahkan. Libanon yang secara resmi menganut sistem Parlementer ternyata menyerahkan kekuasaan tertentu kepada Presiden yakni kekuasaan bidang pertahanan dan intelijen. Pada umumnya di dalam sistem presidensial kekuasaan membentuk UU hanya ada di parlemen tetapi Presiden mempunyai hak veto (hak menolak) yang kemudian dapat diuji kembali melalui sejumlah dukungan minimal tertentu di parlemen. termasuk UU yang sudah dimintakan judicial preview sebelum diundangkan. bukan parlemen. Tapi itulah sistem yang dipilih oleh Polandia.tu dari Trias Politika. Yang juga menarik di Polandia adalah kewenangan Mahkamah Konstitusi (MK) untuk melakukan judicial preview atau menilai satu RUU sebelum disahkan oleh (dan atas permintaan) Presiden. Socialist Democratic 12 Bunga Rampai .

Jadi di RRC kejaksaan bukan bagian dari Pemerintah dan bukan bagian dari Mahkamah Agung melainkan dijadikan lembaga yang sejajar dengan kedua lembaga negara itu. bukan sistem yang harus dipaksakan untuk sama atau menganut teori atau sistem yang berlaku di negara lain. bahkan ada negara yang menempatkan KY sebagai lembaga yang bukan di ranah yuridis melainkan bersifat politis. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 13 . juga agak sulit memahami demokrasi yang dikatatorship. Desain Komisi Yudisial Uraian di atas bermaksud meyakinkan kita bahwa sistem ketatanegaraan kita pun adalah sistem yang dapat kita buat sendiri. Ternyata konsep ini berjalan efektif karena dictatorship di sana diartikan kekuasan hukum (dikatatorial hukum) secara mutlak. Di Polandia. Sebagai pilihan politik penempatan posisi KY yang seperti itu sah saja dan mengikat secara konstitusional.7 Kejaksaan Agung dijadikan lembaga yang sejajar dengan Mahkamah Agung dan lembaga negara yang lainnya. tergantung pada kebutuhan masing-masing. Yang menonjol ketika itu adalah pemikiran tentang perlunya lembaga pengawas eksternal yang dapat menyeleksi hakim agung dan mengawasi perilaku hakim sebab lembaga pengawas internal yang ada di lembaga yudikatif sampai saat itu sama sekali tidak efektif.Dictatorship. Di berbagai negara pun pemosisian KY bervariasi. termasuk ketika kita menempatkan KY di dalam mosaik ketatanegaraan kita. Namun seperti dikenal luas penegakan hukum dan pemerintahan di RRC berjalan sangat efektif. Dewan Yudisial Nasional atau “the National Council of the Judiciary” berfungsi untuk 7 Bagi penulis konsep ini terasa unik. siapa pun harus tunduk kepada hukum. Dalam kaitan dengan KY ini penulis dapat mengatakan bahwa menurut risalah persidangan-persidangan MPR yang merancang perubahan UUD 1945 tidak muncul sama sekali pemikiran untuk menjadikan KY sebagai supporting atau auxiliary organ. misalnya. Itu pun merupakan pilihan politik atau resultante bangsa Cina dalam membuat konstitusinya. sebab pada umumnya agak sulit menyatukan sosialis-komunis dengan demokrasi. sebab seperti dikemukakan di atas setiap konstitusi dapat menentukan pilihannya sendiri-sendiri.

Tetapi MK dengan pilihan paradigma dan dalil serta pasal-pasal yang dipilihnya sendiri telah memangkas hampir semua kewenangan KY. dan seorang lain yang ditunjuk oleh Presiden.menjaga dan melindungi kebebasan/kemandirian pengadilan dan hakim. 22 Tahun 2004 sebagai pilihan politik yang khas Indonesia sebenarnya sudah cukup baik. tak ada hal-hal yang bertentangan dengan UUD baik secara semantik maupun secara historik dalam garis politik hukum kita. padahal MK hanya boleh memutus atau membatalkan isi UU jika bertentangan dengan isi UUD. MK juga menyatakan bahwa ketentuan kewenangan KY untuk mengawasi tingkah laku hakim tumpang tindih dengan berbagai UU lain yang terkait dengan kekuasaan kehakiman sehingga karena itu MK membatalkan berbagai kewenangan KY. Setelah terjadi kekosongan hukum dalam bidang pengawasan perilaku hakim oleh KY kini kita dituntut untuk segera membentuk UU baru yang memuat dan mengatur kewenangan KY ini. 6 orang anggota Parlemen yang masing-masing 4 orang dari Majelis Rendah dan 2 orang dari Majelis Tinggi. MK menyatakan bahwa KY bukan lembaga negara utama padahal ketentuan yang seperti itu hanyalah tafsir teoretis dari MK yang bisa dibantah dengan tafsir teoretis lain. putusan MK itu bersifat final dan mengikat yang karenanya harus diterima dan dilaksanakan. bukan bertentangan dengan UU lain yang sejajar. Pada saat itu ada semangat bahwa KY dibentuk un- 14 Bunga Rampai . Ketua I Mahkamah Tinggi Tata Usaha Negara. 15 orang hakim. MK mengatakan bahwa KY hanyalah supporting atau auxiliary organ sehingga tak bisa melakukan peran checks and balances padahal tak ada sama sekali pemosisian yang seperti itu ketika MPR membahas dan merumuskan fungsi KY di dalam konstitusi kita. terlepas dari soal benar atau salah. Namun seperti dikemukakan di atas. Yang harus diperhatikan dalam pembentukan UU baru ini adalah bahwa kita harus kembali ke semangat atau garis politik hukum tentang KY itu sebagaimana diperdebatkan di MPR pada saat masalah KY itu dibicarakan dan diputuskan. Menteri Kehakiman. Lembaga ini lebih bersifat politis karena keanggotaannya terdiri dari Ketua I Mahkamah Agung. kita suka atau tak suka. Jadi posisi konstitusional KY dengan berbagai kewenangan yang kemudian dituangkan ke dalam UU No.

dan RUU tentang KY. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 15 . Istilah “menjaga dan menegakkan kehormatan. KY hanya boleh membaca dan menilai putusan setelah ada vonis tanpa boleh mengubah putusan hakim. RUU tentang MK. Dalam cakupan pengertian yang seperti ini maka pengawasan atas hakim mencakup pengawasan preventif (misalnya dalam hal seleksi hakim) dan pengawasan represif (misalnya pemeriksaan dan penindakan atau penjatuhan sanksi). Terkait dengan ini maka di dalam disain baru nanti harus tetap dibuka kemungkinan KY membaca dan mendalami putusan hakim jika terkait dengan dugaan penyimpangan perilaku hakim. Hakim tetap bebas memeriksa dan memutus perkara dan putusannya tetap mengikat. keluhuran martabat serta perilaku hakim” (pasal 1 butir 6 draft Juli 2007) diartikan sebagai upaya yang meliputi pencegahan dan penindakan atas perbuatan hakim. 8 Penulis adalah anggota Badan Legislasi DPR-RI yang saat tulisan ini dibuat sedang menyiapkan tiga RUU yang terkait dengan kekuasaan kehakiman yakni RUU tentang MA. Berdasar diskusi-diskusi di Badan Legislasi (Baleg) DPRRI8 yang kini sedang menyiapkan RUU tentang KY yang baru ada beberapa hal yang sudah dimasukkan di dalam buram (draft mentah) berkaitan dengan lingkup kewenangan KY di masa depan yang beberapa hal di antaranya dapat dikemukakan seperti di bawah ini: 1. Adalah sulit untuk tidak membolehkan KY membaca dan menilai suatu kasus pengaduan tentang pelanggaran perilaku oleh hakim sebab pada umumnya pengaduan perilaku hakim itu terkait dengan perkara yang kemudian diputus oleh hakim. Di sini meskipun KY boleh membaca putusan hakim tidaklah dapat diartikan bahwa KY boleh melanggar independensi hakim sebab KY tetap tidak boleh mempengaruhi apalagi mengubah putusan hakim. baik di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan.tuk memenuhi kebutuhan akan lembaga pengawas ekternal yang mandiri untuk mengawasi perilaku hakim dan hakim yang dimaksud ketika itu adalah semua hakim yang bekerja di lembaga kekuasaan kehakiman.

Mungkin perlu ditekankan agar pembuatan karya ilmiah tersebut dilakukan seketika di tempat seleksi. bukan dibuat di rumah atau diserahkan beberapa hari sebelumnya. Dalam upaya melakukan seleksi atas kualitas dan kepribadian calon hakim agung KY. Untuk tugas ini KY dapat “melakukan pengawasan” atas perilaku hakim serta “memeriksa dan memutus” terhadap dugaan pelanggaran kode etik dan keharusan perilaku baik atas pengaduan masyarakat maupun atas temuan KY sendiri. Memang di dalam pasal 22 ayat (2) draft Juli 2007 sudah dicantumkan ketentuan bahwa dalam melaksanakan tugas KY tidak boleh mengurangi kebebasan hakim dalam memeriksa dan memutus perkara. Selain itu perlu juga diperhatikan dalam kaitan ini tentang pemberian peluang bagi KY untuk membaca dan menilai putusan hakim yang diadukan atau dilaporkan oleh masyarakat dengan penekanan bahwa hal itu tak boleh bertendensi intervensif yang dapat mempengaruhi putusan berikutnya apalagi sampai mengubah putusan hakim. sebagaimana dimuat Bunga Rampai 16 . tetapi ketentuan pasal 22 ayat (2) ini tidak terkait secara spesifik bagi kemungkinan pembacaan dan penilaian putusan hakim oleh KY. Untuk melaksanakan wewenang konstitusional (menurut pasal 20 ayat (1) sampai dengan ayat (3) draft Juli 2007) KY mempunyai tugas “menjaga” dan “menegakkan” kehormatan. Tentang sifat putusan KY yang berupa penjatuhan sanksi tertentu seperti pemberhentian. 3.2. antara lain. Ini dimaksudkan untuk menjaga orisinalitas dan menyaring kemampuan artikulatif setiap calon hakim agung. 4. keluhuran martabat. Selain itu perlu juga ditentukan pembacaan rekam jejak (track record) melalui telaah atas semua putusan yang pernah dibuat disertai investigasi secara diam-diam tetapi dapat dipertanggungjawabkan. serta perilaku hakim. dapat mewajibkan calon hakim agung menyusun karya ilmiah dengan topik yang telah ditentukan (pasal 18 ayat (2) draft Juli 2007). sebab konsep dasar yang dianut adalah “sikap pasif” bagi KY dalam arti KY hanya memproses laporan dari masyarakat tanpa boleh mencari-cari kasus sendiri. Dalam kaitan ini perlu dipertimbangkan atau ditegaskan tentang apa yang dimaksud “hasil temuan” KY sendiri.

sedangkan pemberhentian hakim berdasar hasil pengawasan internal MA sendiri tetap harus melalui Majelis Kehormatan Hakim. Ini penting juga karena dalam praktik selama ini masih banyak hakim yang menangani perkara yang ada kaitan dengan kepentingan dirinya. Dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Meskipun ini sudah menjadi asas di dalam hukum tetapi perlu juga dicantumkan di dalam bagian ketentuan tentang kode etik bahwa hakim tidak boleh atau harus mengundurkan diri dari (penanganan) perkara yang ada kaitan dengan dirinya. di dalam pasal 22B ayat (4) draft Juli 2007. Ketentuan ini sangat penting agar maksud keberadaan KY untuk mengawasi dan menentukan sanksi dan tindakan dapat terpenuhi. Tetapi ketentuan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 17 .5. dan pimpinan badan peradilan dimana hakim yang bersangkutan bertugas. termasuk semua hakim konstitusi. Mungkin dapat diatur bahwa dengan adanya KY tidak diperlukan lagi pemberian kompetensi bagi Majelis Kehormatan Mahkamah Agung dan Majelis Kehormatan Hakim untuk memutus/merekomendasikan pemberhentian hakim. keluhuran martabat. Tetapi ketentuan ini harus disertai dengan pemosisian ketentuan di dalam UU lain yang menyatakan bahwa pemberhentian dilakukan setelah melalui pembelaan dan keputusan Majelis Kehormatan Mahkamah Agung dan Majelis Kehormatan Hakim. tetapi tidak tercantum larangan bagi hakim untuk memeriksa dan memutus perkara yang berkaitan dengan dirinya (asas nemo judex in causa sua). Mungkin juga dapat diatur bahwa keputusan KY tentang pemberhentian dapat dilaksanakan tanpa pemeriksaan ulang di Majelis Kehormatan Mahkamah Agung dan Majelis Kehormatan Hakim. serta perilaku hakim (pasal 25B ayat (2) draft Juli 2007) ditentukan beberapa larangan bagi hakim. dinyatakan mengikat dan disampaikan oleh KY kepada Presiden dengan tembusan kepada pimpinan MA. Pengawasan atas MK Sebenarnya garis politik hukum tentang pembentukan KY menginginkan pengawasan atas perilaku hakim oleh KY mencakup semua hakim yang mempunyai fungsi kehakiman. pimpinan DPR.

namun di dalam peradilan umum kecurangan itu terbukti dan pelakunya dijatuhi hukuman pidana. Putusan MK tentang cakupan pengertian hakim ini. juga menimbulkan komplikasi berkait dengan wewenangnya dalam memutus yang harus diterima secara final dan mengikat. 18 Bunga Rampai . Karena putusan MK bersifat final dan mengikat maka fakta hukum di pengadilan umum itu tidak dapat mengubah lagi putusan MK yang secara substantif nyata-nyata salah. MK pernah menyatakan menolak gugatan permohonan pembatalan hasil perhitungan suara dalam pemilu di suatu daerah karena terjadi kecurangan. Satu-satunya jalan untuk mengembalikan masalah ini ke garis politik hukum yang benar hanyalah melalui amandemen konstitusi yang harus menegaskan tentang itu secara eksplisit. sebab kita tak bisa membiarkan MK dan hakim-hakimnya menjadi lembaga super yang tak bisa diawasi. Contohnya.tentang ini yang sudah dimuat dengan tegas di dalam UU tentang KY dibatalkan oleh putusan MK yang menyatakan bahwa hakim dalam pengertian pasal 24B UUD 1945 tidak mencakup hakim konstitusi karena selain konteksnya hanya dengan hakim agung pasal 24B yang menentukan pembentukan KY itu lahir lebih dulu daripada pasal 24C yang menentukan pembentukan MK sebagai lembaga negara. padahal selain sering berdasar pilihan perspektif sepihak putusan MK itu bisa berlawanan dengan fakta hukum lain yang diputus oleh pengadilan. sesuai dengan ketentuan pasal 24C UUD 1945. bersifat final dan mengikat sehingga tak bisa dimasukkan lagi di dalam UU tentang KY yang baru nanti. ada yang ingin partial dan ada yang ingin komprehensif. Memang setelah empat tahun perjalanan MK. ada yang ingin segera dan ada yang menghendaki ditunda dulu. Itulah sebabnya dalam Amandemen UUD 1945 berikutnya9 kita harus merumuskan dengan cermat tentang pengawasan terhadap hakim konstitusi dan tentang cara mengatasi jika putusan MK yang bersifat final dan mengikat itu ternyata tidak sesuai dengan politik hukum di dalam konstitusi dan bertentangan dengan fakta hukum yang kemudian muncul. selain banyak memberi angin segar bagi kehidupan ketatanegaraan yang lebih sehat. 9 Wacana untuk melakukan amandemen kelima atas UUD 1945 pada saat ini sedang gencar.

Bahan Pustaka AV Dicey, An Introduction to Study of the Law of the Constitution, 10th edition, English Language Book Society and Mac Millan, London, 1971. Carl J. Friedrich, Constitutional Government and Democracy: Theory and Practice in Europe and America, Weldham, Mass: Blaisdell Publishing Company, 5th edition, 1967. David Kairys, The Politics of Law, a Progressive Critique, Pantheon Books, New York, 1982. C.F. Strong, Modern Political Constitution, The English Language Book Society, Sidgwick and Jackson Limited, London, 1966. Erwin Chemerinsky, Constitutional Law, Principles and Policies, Aspen Law and Business, New York, 1997. Hans Kelsen, General Theory of Law and State, Russell and Russell, New York, 1973. Jimly Asshiddiqie, ”Telaah Akademis Perubahan Undang-Undang Dasar 1945,” dalam Jurnal Demokrasi dan HAM, Volume 1 No.4 Tahun 2001. K.C. Wheare, the Modern Constitutions, Oxford University Press, London-New York-Toronto, 3rd Impression, 1975. Moh. Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia, LP3ES, Jakarta, 1998. Moh. Mahfud MD, Pergulatan Politik dan Hukum, Gama Media-Ford Foundation, Yogyakarta dan Jakarta, 1999. Moh. Mahfud MD, Hukum dan Pilar-pilar Demokrasi, Gama Media- the Ford Foundation, Yogyakarta dan Jakarta, 1999. Moh. Mahfud MD, Amandemen Konstitusi dalam Rangka ReformasiTata Negara, UII Press, Yogyakarta, 1999. Moh. Mahfud MD, Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia, PT Rinneke Cipta, Jakarta, 2000. Moh. Mahfud MD, Dasar dan Struktur Ketatanegaraan Indonesia, PT Rinneke Cipta, Jakarta, 2001. Moh. Mahfud MD, Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi, LP3ES, Jakarta, 2006. Moh. Mahfud MD, Perdebatan Hukum Tata Negara Pasca Amandemen UUD 1945, LP3ES, Jakarta, 2007.

-

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

19

-

Moh. Mahfud MD, Hukum Tak Kunjung Tegak, PT Citra Aditya Bhakti, Bandung. 2007. RM AB Kusuma, Lahirnya Undang Undang Dasar 1945, Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 2004. Sri Soemantri M, ”Undang-Undang Dasar 1945, Kedudukan dan Artinya dalam Kehidupan Bernegara,” dalam Jurnal Demokrasi dan HAM, Vol. 1 No. 4 Tahun 2001. Sri Soemantri, Prosedur dan Sistem Perubahan Konstitusi, PT Alumni, Bandung, Edisi Kedua, Cetakan Kesatu, 2006.

20

Bunga Rampai

Perubahan Bidang Politik dan Pengaruhnya Terhadap Reformasi Peradilan
Arbab Paproeka, S.H.
1

Pengantar Semangat egalitarian warga negara – bangsa berdampak signifikan terhadap diskursus-diskursus intelektual dan pembentukan sistem politik Indonesia ketika euforia reformasi dan demokrasi mulai mengemuka di semua ruang publik. Kesadaran diskursif seperti itu menjadi konsensus bersama bagi perwujudan res publica (kepentingan bersama) dalam menata tata kehidupan sosial, politik, ekonomi dan hukum. Atas semua itu, reformasi dan demokrasi dengan ragam pemaknaannya dinilai sebagai tujuan yang harus dicapai ketimbang sekadar menjadi sebuah sarana merebut hasrat kuasa. Dalam banyak pandangan, reformasi dan demokrasi, sejatinya dipahami sebagai imaji ideal kebangsaan yang akan menggiring negara bangsa ke dalam kebajikan dan keadaban. Reformasi dan demokrasi kadang juga diletakkan sebagai nonstrum - obat bagi segala masalah kebangsaan. Kondisi ini memiliki implikasi pada tindakan yang mengarah pada cita ideal tata hidup kebangsaan yang dipandang sebagai ekspresi reformasi dan demokrasi. Namun, dalam sisi yang berbeda, reformasi dan demokrasi sering juga diperspepsikan sebagai imaji yang justru memunculkan sinisme yang tinggi dari entitas negara bangsa. Kondisi ini adalah sebuah refleksi dimana cita ideal mengalami kontradiksi

*

Anggota Komisi III DPR RI

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

21

dengan ekspektasi pada situasi faktualnya. Tuntutan untuk melakukan pendalaman demokrasi (a deepening democracy) terhadap negara bangsa yang sementara mengalami masa transisi memang pelik. Terlebih pada sebuah komunitas yang karakter bangsanya cukup heterogen atau plural semisal Indonesia. Sebagaimana Snyder (2000), menjelaskan bahwa sentimen nasionalisme menjadi salah satu faktor yang bisa mengganggu proses demokratisasi. Tesis ini cukup mudah dikenali. Bahwa demokrasi tidak selamanya akan menguntungkan semua kelompok elit politik. Ia bergerak seperti pendulum. Namun biasanya, kelompok elit yang senantiasa berupaya mencegah berlangsungnya proses demokratisasi adalah kelompok elit yang merasa dirugikan dari proses demokratisasi. Modus yang sering digunakan adalah show power melalui pengumpulan kekuat-an inti dengan penguatan isu sentimen nasionalisme. Sentimen nasionalisme ini setidaknya dapat dijelaskan lewat pengkultusan nilai tatanan dalam sebuah komunitas. Atau mungkin juga bisa dijelaskan dalam gugusan negara bangsa. Sentimen nasionalisme dalam gugusan komunitas terpola melalui penuturan klasik, dimana ia terjelma menjadi suatu nilai (value) sebagai suatu bentuk kebaikan umum dalam makna totalitasnya. Lain halnya dengan, Arend Lijphart dalam Latif (2006), justru memberikan ulasan yang optimistik bahwa adalah mungkin untuk mempertahankan pemerintahan demokratis yang stabil dalam sebuah masyarakat plural sepanjang elit-elitnya bersedia bekerja sama. Namun, kerja sama itu tidak akan tercipta dengan sendirinya. Dibutuhkan sebuah kerangka solidaritas bersama yang baru, yang bergantung secara inter alia pada nasionalisme kewargaan (civic nasionalisme). Perspektif ini memang cukup relevan dalam merepresentasikan bahwa demokrasi tidak jatuh dari langit, tetapi melakukan pendalaman demokrasi dibutuhkan konsensus politik dari semua entitas kewargaan untuk membangun komitmen intelektual bagi keberlanjutannya. Nasionalisme yang berakar dari ikatan nation, pada akhirnya begitu untuk didefenisikan. Namun dalam rangka jelajah pemaknaan tentangnya, mungkin dapat dirunut bahwa nation adalah sesuatu yang direkayabayangkan (imagined). Sebagai bentuk direkayabayangkan, maka variannya

22

Bunga Rampai

pun menjadi sangat beragam. Snyder, menyebut ada empat bentuk utama nasionalisme; nasionalisme sipil, nasionalisme SARA, nasionalisme revolusioner dan nasionalisme kontra – revolusioner. Nasionalisme sipil terbentuk jika elite politik yang ada tidak merasa terancam oleh proses demokratisasi, dan kelembagaan negara yang ada cukup kuat untuk menampung proses ini. Ia mendasarkan pada usahanya mempertahankan proses demokratisasi karena dianggap bisa memberikan keadilan. Pada sisi ini, negara menganut prinsip kesetaraan warga negara tanpa memandang suku, warna kulit, agama dan keturunannya. Nasionalisme SARA sebuah solidalitas yang dibangkitkan berdasarkan budaya, agama, bahasa, sejarah dan yang sejenisnya. Nasionalisme SARA terbentuk jika elite politik yang ada merasa terancam oleh proses demokratisasi, dan kelembagaan negara juga masih lemah. Jika terdapat kelompok dominan lebih dari satu maka proses demokratisasi mungkin akan mengakibatkan terjadinya perpecahan di negara tersebut, dan sebagai gantinya akan muncul satu negara federal, atau bahkan beberapa negara baru. Nasionalisme revolusioner merupakan usaha untuk mempertahankan suatu perubahan politik yang melahirkan rezim baru yang dinilai lebih baik dari rezim sebelumnya. Disini terdapat kecenderungan bahwa kekuatan baru mempertahankan perubahan senantiasa menggunakan nasionalisme revolusioner. Nasionalisme terjadi kalau elit politik yang ada tidak dirugikan oleh proses demokratisasi, dan lembaga-lembaga negara yang mau mempertahankan rezim lama lemah. Sedangkan nasionalisme kontra – revolusioner merupakan upaya membangun solidaritas untuk mempertahankan kelembagaan negara yang ada terhadap perubahan. Biasanya nasionalisme kontra – revolusioner digunakan sebagai instrumen untuk mengembalikan militer ke pentas politik dengan mengatakan bahwa di bawah rezim sebelumnya jauh lebih baik dibanding rezim yang ada sekarang. Masalahnya adalah civil society yang dijadikan sebagai gugus konsep paling mondial belakangan bagi pembelajaran sosial secara kolektif dan produksi simbol-simbol politik secara dominan justru disuplai oleh kelompok komunal. Sehingga demikian, Indonesia pada kurun waktu ini masih merupakan sebuah masyarakat komunal, bukan asosiasio-

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

23

nal. Padahal ekspektasi mengenai civil society adalah ketika asosiasi-asosiasi ini terbentuk menjadi sebuah komunitas produktif sebagai katalis bagi proses transformasi masyarakat dari semangat komunalisme menuju kewarganegaraan yang lebih beradab. Di sisi lain, intelegensia-politisi yang diharapkan membimbing komunitas politik ke arah keadaban politik (political civility) dalam kenyataannya justru menyuburkan tradisi komunalisme. Kondisi ini kian diperparah dengan eksistensi kaum komunitas epistemik sebagai penyangga dalam melahirkan gagasan orisinalitas tampaknya juga harus terjebak dengan gugusan pragmatisme yang luar biasa. Penuturan Gunawan (2006) mungkin benar bahwa pragmatisme sendiri memang lahir sebagai anak haram dari sebuah pergulatan panjang, untuk menjawab berbagai persoalan yang terjadi di abad lalu. Fundamen pemikirannya yang meletakkan pada benar tidaknya suatu dalil tergantung pada manfaatnya bagi manusia, dan tentu saja manfaat pertama yang menikmatinya adalah diri sendiri. Sebetulnya, pragmatisme tidak memiliki perbedaan yang cukup jauh dengan patron Machiavelli, “the end justifies the means”. Keduanya memiliki konsekuensi bagi lahirnya keserakahan dan pengkhianatan terhadap nilai-nilai moralitas. Bahkan oleh Juliean Benda dalam Gunawan (2006) justru memandang pragmatis lebih radikal. Bahwa pragmatisme merupakan bentuk pengingkaran terhadap nilai-nilai moral yang universal. Pragmatisme dituding sebagai pabrik nilainilai moral yang semu dan artifisial, yang diproduksi sesuai dengan keadaan dan kebutuhan akan kekuasaan. Tak heran juga bila “pelacur-pelacur intelektual” kian marak bermunculan, yang bekerja berdasarkan permintaan pasar. Praktek ini seolah mirip “panggadaian intelektual”, yang menularkan efek cukup luar biasa. Efek yang patut dipelajari tradisi pencerahan yang melekat pada komunitas epistemik sebagai karakter pokoknya pada gilirannya makin absurd. Padahal dalam tataran normatif-etis, masa transisi seperti ini, justru keberadaan komunitas epistemik diharapkan menjadi avantgarde bagi terciptanya tatanan bangsa yang lebih beradab, bukannya harus ikut dengan permainan “kuasa politik”, yang senantiasa berada dalam pusaran seni merekayasa. Kegundahan lain yang kerap juga menjadi mo-

24

Bunga Rampai

Persekutuan ini dinilai mengkhianati jati diri intelektual (La Trahison Des Clercs). Mashab bendaian menilai bahwa intelektual harus merentangkan jarak dengan kekuasaan. adalah para pengkhianat intelektual (La Trahison de la Trahison de clercs). yakni mashab Bendaian dan mashab Gramscian membedahnya seperti berikut. yang memberikan sindiran halus bahwa “buat apa sekolah kalau hanya untuk mengeruk uang”. sementara mashab Gramscian malah melihat dalam sisi yang terbalik. Justru soal seperti ini. dosa terbesar yang tak terampunkan dari seorang cendekiawan adalah bila yang bersangkutan turut berputar. pada gilirannya juga menggiring kita untuk berpikir dan bertindak secara pragmatis. Sehingga yang terjadi bukan lagi kadar pragmatisme. Pada perspektif yang berbeda. Kekuasaan menjadi cukup penting bagi kelompok-kelompok intelektual sebagai medium transformasi dalam membentuk komitmen-komitmen baru bagi kepentingan negara bangsa. keduanya melihatnya dalam sisi yang berlawanan. Baginya justru menuding ilmuwan yang steril dari persoalan aktual di masyarakat. Dalam Gunawan (2006) antara sisi intelektualitas dengan kekuasaan memang memiliki korelasi. Malah yang muncul justru memperlihatkan gejala sebagai kekuatan yang sangat pasif terhadap isu-isu kebangsaan. Bahkan Ivan Illich dalam Gunawan (2006) menyebut Deschooling Society. Walau dalam banyak pemikiran. sekadar mendengungkan kebenaran dari pucuk menara gading. Keduanya adalah dualitas yang saling membentuk. Sehingga demikian. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 25 . antara intelektualitas dan kekuasaan sebetulnya bukanlah dualisme yang harus dipandang sebagai sesuatu yang berlawanan.mok bagi komunitas epistemik ini adalah ketika tidak mampu menempatkan dirinya sebagai medium perekat bangsa. tetapi kepicikan. Padahal salah satu prasyarat lahirnya konsolidasi demokrasi adalah perlunya masyarakat sipil yang bebas dan aktif dalam mengontrol tata kerja demokrasi. Yang mungkin dipersalahkan ketika kekuasaan dan intelektual diintegrasikan sebagai perusak nilai tatanan. Dua mashab. Pergulatan panjang ini tentu saja bukan menjadi sebuah jebakan untuk harus memihak. Baginya cendekiawan harus memihak pada kelas tertentu. menjadi pelumas dalam mesin pemerintahan.

maka isu demokratisasi kian marak dibicarakan dan tampil sebagai euphoria politik yang tak tertandingi. kapan suatu negara dikatakan sudah terkonsolidasi? Beberapa sarjana bersepakat bahwa untuk menandai demokrasi telah terkonsolidasi. Ia kemudian menjelma menjadi leviathan yang teramat beringas karena meleburnya nilai-nilai intelektualitas dalam kekuasaan. Dalam menjelaskan gejala ini. Pendulum ke arah demokratisasi terjadi pasca isu reformasi meledak tahun 1998. rute perjalanan transisi. Isu konsolidasi demokrasi berakar dari sebuah konsep transisi antara berakhirnya rezim otoritarianisme ke demokratisasi. ketika mengatakan bahwa “pengkhianatan merupakan esensi dari politikus yang sukses. tuturan bahasa ini tidak berlabuh dalam tradisi politisi kita untuk menggiring reformasi peradilan ke dalam laboratorium kehancuran. karakter picik bagi seorang politisi kadang ditemukan. kadang dipahami sebagai fase yang serba “memungkinkan”. Sisi lainnya adalah kesetiaan. Tetapi semoga saja. Imperium dan kediktatoran telah runtuh. oleh banyak pemikiran menjelaskan dua rumus yang bisa diklasifikasi. Demokrasi dianggap sebagai pemenang karena berhasil melumpuhkan lawan tangguhnya otoritarianisme. Segera setelah itu. sesuatu kualitas yang sangat mulia namun tak menjadikan dirimu apa-apa”. transisi boleh juga mengarah pada lahirnya konsolidasi demokrasi. Celakanya. Ketika rezim otoritarianisme Orde Baru runtuh. sehingga semakin menjauhkan sisi keadaban publik. bayangan indah sempat memukau imajinasi orang Amerika.Dalam belantara politik. sementara di sisi lain. Dalam satu sisi. karakteristik politisi seperti ini malah mendapat pembenaran oleh Richard Smith dalam Gunawan (2006). Namun. Transformasi Politik: Sebagai Pelatuk Perubahan Ketika tembok Berlin runtuh pada tahun 1989. demokrasi pun tampil sebagai pemenang. transisi boleh jadi mengarah pada otoritarianisme baru (re-otoritarianisme). Liberalisme telah mengalahkan dua lawan tangguhnya: komunisme dan nasionalisme fasis. ketika terjadi dua kali pergantian kekuasaan (two turnover 26 Bunga Rampai . ketika politik ditempatkan sebagai sarana agregasi kepentingan personal. Gagasan demokratisasi senantitasa terikut dengan wacana berkembangnya konsep konsolidasi demokrasi.

Penuturan Latif (2006) meneragkan secara memadai bahwa dari sisi prosedur demokrasi. maka fase transisi belum dapat disebut telah terkonsolidasi karena prasyarat-prasyarat tersebut belum memenuhi secara memadai. pada kadar tertentu bahkan belum menunjukkan suatu perubahan yang signifikan. Praktek demokrasi yang sementara berlangsung. Bila menggunakan ukuran pertama. memang baru sebatas belajar merangkak. ada pula yang menyebut bahwa demokrasi sudah terkonsolidasi jika ia merupakan permainan satu-satunya (the only game in town) untuk memilih pejabat publik. transisi demokrasi Indonesia telah siap untuk dikonsolidasikan. mereka menilai bahwa demokrasi dianggap sudah terkonsolidasi apabila kekuasaan sudah dua kali pindah tangan melalui proses pemilihan umum yang luber-jurdil. Demokrasi bukan hanya sekadar menjadi medium penghapusan institusi – institusi politik yang represif dan sarana pergantian regime yang otoriter. Alasan lain juga yang relevan dengan itu adalah kualitas partisipasi publik dalam mengakses lembaga politik formal maupun institusi hukum masih terbilang sangat lemah. Lain halnya bila menggunakan ukuran kedua. tetapi demokrasi men- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 27 . Fase perjalanannya baru mencapai pada pemenuhan prosedur-prosedur demokrasi formal. Indikatornya adalah rule of law sebagai syarat mestinya belum dapat diapresiasi secara memadai dalam mengartikulasikan prinsip-prinsip demokrasi dalam melakukan penataan kelembagaan. maka fase transisi demokrasi dapat dikualifikasi telah terkonsolidasi karena sirkulasi kekuasaan melalui pemilu sudah berlangsung sejak pemerintahan Abdurrachman Wahid – walau dalam perjalanan pemerintahannya berhenti ditengah jalan setelah impeacht oleh MPR – yang kemudian digantikan Megawati Soekarno Putri untuk melanjutkan episode pemerintahan yang tersisa hingga pemilu 2004. Tahap konsolidasi menghendaki perhatian pada segi-segi substantif. Namun.rule). Bagi yang menganut rumus ini. Tetapi. perkembangan ini hanyalah tahap awal dari proses panjang menuju konsolidasi demokrasi. Kontrol demokratis yang sejatinya menjadi kunci dalam penerapan demokrasi substantif. sehingga demokrasi substantif yang sejatinya menjadi “buruan” kaum demokratik masih jauh dari memadai.

demokrasi harus menjadi jaminan bagi terwujudnya esensi pemberdayaan rakyat (popular empowerment) dan pertanggungjawaban sistemik (systemic responsiveness) (Latif. Sehingga demikian. 2006). Rentetan peristiwa ini tentu menjadi kisah menarik untuk dipelajari karena memiliki pesan mulia untuk segera diartikulasikan ke ruang publik. Sebagai pemantiknya.coba merepresentasikan momentum bagi perbaikan kualitas bangsa yang lebih adil dan beradab. Kepenatan dan kegelisahan yang selama ini hidup dengan belenggu otoritarianisme. eksekutif dan yudikatif. Ini adalah sebuah fase sejarah yang patut direkam sebagai memoar penyegaran kembali dalam tata hidup berbangsa dan bernegara. Dan setidaknya. yakni adanya transformasi struktural dan kultural dalam sistem ketatanegaraan di republik ini yang harus segera dikomunikasikan. seolah kembali memberi energi baru. babakan baru ini patut menjadi referensi awal untuk tidak terjebak pada kepongahan sejarah. Konsensus tersebut kemudian diwujudkan melalui sebuah kesepakatan untuk melakukan amandemen konstitusi secara mendasar. Pertama. tentu memiliki karakter fungsi. Amendemen konstitusi yang dilakukan. Distribusi kekuasaan (distribution of power) yang disangga oleh tiga lembaga negara berbeda. konsolidasi demokrasi mempersyaratkan perlunya dilakukan transformasi struktural dan kultural secara mendasar. Gelombang demokratisasi ini kian menunjukkan perkembangan yang cukup positif dari semua entitas bangsa untuk membangun konsensus-konsensus baru. Namun disisi yang berbeda. kini menjadi pelatuk perubahan dalam menata pola hubungan kelembagaan negara. Begitulah titahnya bahwa amendemen konstitusi. menghendaki adanya proses checks and balances terhadap tiga lembaga negara. tugas dan wewenang yang berbeda. amendemen konstitusi telah meletakkan sebuah kerangka pikir untuk beberapa hal. yang kerap menjadi virus – bila tidak ingin 28 Bunga Rampai . Prinsip checks and balances ini. tentu juga menjadi penting untuk mencegah terjadinya sentralisasi kekuasaan pada institusi negara-negara tertentu. paling tidak menjadi momentum penting dalam memulai babakan baru dalam menata negara bangsa. yaitu legislatif. Sehingga praktek abuse of power.

mewujudkan cita ideal ini tentu saja mesti dibarengi dengan pemapanan institusi-institusi demokrasi. dalam wilayah legislatif dimunculkannya Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai perwakilan perseorangan yang dipilih berdasarkan region. Prasyarat dalam memapankan institusi demokrasi. 2006). yang dari sistem pemerintahan sentralistik ke sistem pemerintahan desentralistik. Keempat. Derajat pemapanan institusi demokrasi dan sekaligus menjadikan institusi demokrasi lebih berwibawa adalah ketika pejabat publik menempatkan rule of law sebagai dasar pijakannya. Ini pun juga dapat dikonsolidasikan bila transisi demokrasi bertransformasi menjadi satu kerangka institusional mapan yang terinternalisasi mendalam pada para aktor sosial dan politik. partai politik yang berfungsi. walaupun keberadaannya belum dapat dikualifikasi memiliki hubungan yang sifatnya joint session. adanya transformasi sistemik. tentu saja muaranya adalah penghormatan nilai-nilai keadilan (justice).disebut penyakit – tidak menggerogoti praktek penyelenggaraan negara secara bar barian. dan didukung oleh adanya masyarakat madani yang berdaya. maka Komisi Yudisial dihadirkan sebagai “penjaga mafia peradilan” dengan menyandang predikat sebagai lembaga yang hanya sifatnya auxiliary. Ketiga. Bila Mahkamah Konstitusi dibentuk dengan filosofi “penjaga konstitusi”. budaya politik yang independen. memungkinkan adanya aksesibilitas publik yang tinggi dalam pencapaianpencapaian demokrasi substantif. prinsip rule of law harus terinternalisasi ke dalam institusi-institusi negara sebagai Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 29 . baru dapat mencapai titik maksimun ketika infrastruktur institusional demokrasi eksis. Kedua. yang konsekuensi logisnya berimplikasi pada perubahan pola hubungan kelembagaan pusat – daerah. dalam hal ini Mahkamah Konstitusi dan Komisi Yudisial. Rentetan perubahan ini. memburu keberadaban publik. yang memiliki kerangka kerja secara berbeda. munculnya lembagalembaga baru (new institutions) dalam lingkungan kekuasaan kehakiman. Bagaimanapun juga. Namun demikian. Kelima. pemerintahan yang menjunjung tinggi hukum dan ekonomi yang efisien (Latif. penciptaan pertanggungjawaban publik yang akuntabel dan transparan serta menghapus segala keserakahan dalam penyelenggaraan tata negara bangsa.

pengacara dan lembaga pemasyarakatan) belum menunjukkan suatu kinerja yang menggembirakan. Tersimpan sejuta harap dari masyara- 30 Bunga Rampai . berwibawa dan tempat bersemayamnya prinsip – prinsip ke-tauhidan sebagai asas universal yang suci. Sayangnya. akuntabel dan responsif di mata publik. hakim. Aparatur penegak hukum yang terintegrasi dalam konsep criminal justice system (kepolisian. Prinsip rule of law. Di negara manapun yang menerapkan prinsip-prinsip demokrasi modern. Kekuasaan kehakiman (judicative power) memang asa bagi pencari keadilan. kejaksaan. mungkin cukup relevan menggambarkan mengenai mulianya sebuah lembaga peradilan. demokratis. juga harus dipandang sebagai sebuah kebutuhan dalam mengatur tata laku pejabat publik untuk membedakannya dengan negara bar barian. transparan. Inilah sisi lain yang harus dipertaruhkan sebagai seorang hakim. tampaknya masih jauh dari memadai. Padahal kegagalan menegakkan prinsip rule of law dalam penegakan hukum dengan gilirannya akan menjadi kerikil-kerikil tajam dalam memapankan institusi – institusi demokrasi. Beban moral ini memang cukup berat karena pertanggungjawabannya bukan hanya bersifat horizontal tetapi yang jauh lebih dalam adalah tanggung jawab vertikal kepada Tuhan. rule of law selalu menjadi instrumen khusus dan menjadi indikator utama dalam menilai demokrasi telah dikonsolidasikan. Pepatah ini sejatinya mencoba merefleksikan eksistensi dunia peradilan yang teramat mulia. Judicative Power: Sebuah Cermin yang Retak Sebuah pepatah latin kuno. Adanya praktek diskriminasi atau tebang pilih dan tebang pesanan serta maraknya praktek mafia peradilan di tubuh kekuasaan kehakiman adalah contoh kecil dari sekian banyak kisah yang dapat disajikan.kerangka menghadirkan institusi negara yang kuat. Bahwa pengadilan adalah “nec curia deficeret in justitia exhibenda” (pengadilan adalah istana di mana dewi keadilan bersemayam untuk menyemburkan aroma keadilan tiada henti). Ketika para hakim harus menjelma dan bertindak sebagai “mahluk yang suci” karena menjadi wali Tuhan di muka bumi ini. pada konteks kekinian penerapan rule of law sebagai aturan main (rule game) dalam berbangsa dan bernegara.

Chamblis dan Robert B. yakni karena adanya hukum yang menjadi refleksi dari kepentingan kelompok elite yang berkuasa (the higher a group’s political and economic position). Order. Sisi lain yang paling potensial melahirkan kejahatan (judicial crime). Bahkan keduanya mempertegas bahwa penyimpangan dalam dunia peradilan terjadi karena “judges must rely on their personal values when they make decisions in trouble cases”. Seidman dalam Gunawan (2006) dalam bukunya yang berjudul “Law. Celakanya. kejaksaan. kehakiman yang seharusnya menjadi corong bagi terciptanya keadilan bagi semua.kat agar keadilan melebur dan menyatu dengan dambaannya. Keprihatinan terhadap sisi gelap penegakan hukum pada ruang publik sudah menjadi momok yang senantiasa terus dipersoalkan. and Power”. moralitas yang selalu diperdengarkan dengan nyaring oleh penegak hukum dan dipandang cukup mulia. Moralitas hanya diperlakukan bak jubah untuk melakukan penyusupan dan sekaligus sebagai pembenaran atas putusan-putusannya. Sayangnya. Kegelisahan mengenai tata kerja kekuasaan kehakiman (judicative power) di Indonesia sebetulnya bukan cerita baru. Kegundahan ini sebetulnya sudah lama berlangsung. William J. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 31 . Bahkan para pakar kriminolog pernah melakukan penelitian mengenai penyimpangan dalam dunia peradilan. menuliskan bahwa kebengkokan itu sudah dimulai dari segi hukumnya. ada celah yang menganga di insitusi peradilan yang bisa disusupi. 2006) ketika mengatakan bahwa para aparat penegak hukum adalah segerombolan orang yang dapat mengangkangi hukum tanpa konsekuensi hukum. Institusi kepolisian. mungkin ada benarnya apa yang dikatakan oleh Jeremy Bentham (Gunawan. malah berubah bentuk menjadi sesuatu yang utopis. ekspektasi ini tampaknya akan terkikis dengan sendirinya ketika menyaksikan drama peradilan yang terlalu bobrok. Mereka lupa bahwa disisi lain. Pada sisi inilah kekuasaan kehakiman tampil sebagai sebuah cermin yang retak karena belum mampu merekatkan nilai-nilai keadilan masyarakat yang masih berserak. Pada konteks ini. Sisi keadilan (justice) masyarakat yang terus terbelenggu dengan maraknya praktek mafia yang berlangsung disekitar proses penegakan hukum. gilirannya pun tak bisa berbuat banyak menghadapi derasnya “permainan kotor” di dunia institusi hukum.

Daniel Kaufman dalam laporan Bureaucarti Judiciary Bribery tahun 1998 menyebutkan.or. 32 Bunga Rampai .yakni adanya kecenderungan serta upaya hakim meraup kekayaan dan kekuasaan dari pekerjaan yang diembannya.id). Rusia.ti. Huguette Labelle. dan Pajak 76%. Venezeula. korupsi di peradilan Indonesia memiliki ranking paling tinggi di antara negara-negara seperti Ukraina. hal ini dikonfirmasikan oleh laporan para pelaku usaha bahwa inisiatif suap lebih banyak dilakukan oleh aparat. Peradilan. Sejalan dengan itu. mereka yang berada di pihak yang benar kehilangan hak didengar sedangkan yang bersalah tidak tersentuh hukum. disusul Bea dan cukai 95%. Relevansi Indonesia yang dilaporkan Global Corruption Report 2007 telah menunjukkan bahwa sistem peradilan di Indonesia masih sangat korup dan bobrok. Militer dll) masih dipersepsikan sangat korup. Bahkan. Korupsi dianggap melumpuhkan sistem yudisial di seluruh dunia serta menghalangi hak asasi manusia akan peradilan yang adil dan tidak berpihak. Kolombia. “Jika uang dan pengaruh politik menjadi dasar keadilan. Dua katagori korupsi peradilan yakni campur tangan politik dan penyuapan juga sangat jelas terlihat.id). Bea & Cukai. mereka yang miskin tidak dapat berkompetisi (http://www. dan seterusnya. sebuah koalisi global antikorupsi memilih tema Corruption in Judicial Systems.ti. Uang serta pengaruh politik dalam hukum memecah sistem keadilan sosial: satu sistem bagi si kaya. ketua Transparency International menegaskan dengan adanya korupsi lembaga peradilan. Pengadilan dilaporkan merupakan lembaga yang paling tinggi tingkat inisiatif meminta suap hingga 100%. Mesir. Global Corruption Report 2007 yang diluncurkan oleh Transparency International. Hal ini sangat relevan dengan hasil Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia 2006 yang dirilis oleh Transparency International (TI) Indonesia. Survey IPK itu menemukan bahwa lembaga vertikal (Polisi. pada sisi lain bagi si miskin. hasil survei nasional tentang korupsi yang dilakukan Partnership for Governance Reform pada 2002 juga menempatkan lembaga peradilan di peringkat lembaga terkorup menurut persepsi masyarakat. Pajak. Polisi 78%. mereka tidak canggung-canggung dalam meminta suap. Lebih memalukan lagi.or. Imigrasi. Yordania. BPN 84%. BPN. Turki. (http:// www. Imigrasi 90%.

Sehingga demikian. Fakta-fakta faktual yang telah dibeberkan seperti di atas. Episode waktu yang tersisa masih terlalu panjang untuk memperbaikinya. bahwa berdasarkan pengaduan masyarakat menyebutkan penyimpangan di lembaga peradilan menempati urutan tertinggi.100 hakim dikategorikan bermasalah. wordpress.com/ Kondisi ini tentu saja tidak dapat dijadikan sebagai pembenaran dalam menjustifikasi dan terus membiarkan maraknya praktek korupsi dalam dunia peradilan. nampaknya tergambarkan dalam penelitian yang dilakukan oleh The Asia Foundation & AC Nielsen yang antara lain menyatakan: 49% sistem hukum tidak melindungi mereka (the legal system does not protect them). 38% tidak ada persamaan di muka hukum (there is no such thing as equality before the law). Upaya pembenahan dan penataan ini dilakukan. setidaknya menjadi unsur korektif bagi Mahkamah Agung untuk menata kembali berbagai sisi gelap yang menyelimuti institusi peradilan. Di tengah buruknya kinerja peradilan saat ini. yang pada akhirnya membuat praktek hukum diwarnai judicial corruption. Mahkamah Agung sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam dunia peradilan. 57% sistem hukum masih tetap korup (the legal system is just as corrupt as it has always been problem). Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 33 . Realita sistem hukum dan peradilan di negeri ini. terutama dalam kaitan melakukan reformasi peradilan secara komprehensif sebagai upaya mengembalikan keprcayaan masyarakat terhadap sistem peradilan yang sekarang mengalami keterpurukan. sejatinya mampu menempatkan posisinya pada kerangka yang lebih intensif melakukan pengawasan internal terhadap perilaku koruptif dalam dunia peradilan. upaya sistemik mesti dilakukan. http://ahmadirfan. Bahkan data terakhir yang dilansir Komisi Yudisial menyebutkan bahwa 2.440 hakim atau sekitar 40 persen dari total 6.Hal tersebut diperkuat dengan laporan Komisi Ombudsman Nasional (KON) tahun 2002. walau butuh energi banyak untuk menafasinya. terutama dalam kerangka melakukan harmonisasi dan pembenahan sistem hukum kekuasaan kehakiman menjadi mutlak diprioritaskan. yakni 45% dibandingkan lembaga lainnya. tidak serta merta harus dilakukan pembiaran.

UU Peradilan Tata Usaha Negara. Sebab selama dua tahun terakhir (2005-2006) sedikitnya 29 perkara telah diperiksa dan diputus oleh pengadilan tipikor secara lebih cepat. setidaknya karena beberapa hal. Perjalanan panjang untuk memberantas tindak pidana korupsi pada gilirannya pupus sudah. Dalam laporan korupsi global tahun 2007. Sebagaimana Andi Hamzah berpendapat bahwa korupsi bukanlah extra-ordinary crime artinya. eksistensi Pengadilan ad hoc Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) perlu diperkuat. Kedua. 72 perkara korupsi dengan 171 terdakwa korupsi (36%) telah divonis bebas oleh pengadilan. dibentuklah Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi melalui UU Nomor 30 Tahun 2002 dan Pembentukan Timtas Tipikor melalui Keppres Nomor 11 Tahun 2005. Perubahan UU pokok-pokok kekuasaan kehakiman. Kemudian pada aspek kelembagaan. walaupun belum terlalu memadai. Sebut saja perubahan berbagai kebijakan yang terkait dengan kekuasaan kehakiman. UU Mahkamah Agung. UU Peradilan Agama dan sementara berjalan adalah perbaikan UU Peradilan Militer. yang menginginkan agar pengadilan tindak pidana korupsi sebaiknya dihilangkan. putusan Mahkamah Konstitusi ini justru diinterpretasi lain oleh pihak-pihak tertentu. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-Undang Komisi Yudisial. Pertama. pembentukan kedua lembaga ini seperti harus bergerak tanpa amunisi. Celakanya. Tapi sayangnya. arah untuk melakukan perbaikan sudah mulai ditunjukkan.Pada sisi regulasi. Pasal 53 UU Nomor 30 Tahun 2002. korupsi hanya kejahatan biasa saja. dan sele- 34 Bunga Rampai . Padahal kinerja lembaga ad hoc dinilai cukup memberi nilai lebih bagi kembalinya kepercayaan masyarakat terhadap pemberantasan tindak pidana korupsi. mengenai kehadiran pengadilan tindak pidana korupsi harus dicabut oleh Putusan Mahkamah Konstitusi karena dinilai bertentangan dengan konstitusi. Timtas Tipikor dengan resmi harus dibubarkan karena masa pembentukannya sudah berakhir hanya dua tahun. yang sama kelasnya dengan pencurian. Sebaliknya sepanjang periode tahun 2005-2006 ada kurang lebih 203 perkara yang telah diperiksa dan diputus oleh pengadilan. Seluruh kasus korupsi divonis bersalah dan tidak ada satupun yang vonis bebas.

dimana the musketter ini memiliki tugas pokok dalam menjaga wibawa kekuasaan. Perumpamaan ini bukan ditujukan untuk menyebut Komisi Yudisial “sejenis tentara”. Komisi Yudisial berfungsi sebagai the musketter yang bertugas menjaga kehormatan dan kewibawaan kekuasaan kehakiman. pada sisi normatif sudah diamini dalam Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 35 . 2007) Dalam sisi yang berbeda.bihnya lebih banyak divonis ringan. tetapi pada konteks ini lebih menggambarkan adanya instrumen kelembagaan yang memiliki spirit untuk berbuat kebajikan. Orang-orang yang terpilih menjadi the musketter adalah mereka yang memiliki keterampilan (skill) khusus. setidaknya membawa spirit baru dalam menyingkap sisi gelap dunia peradilan saat ini. terutama perilaku pejabat kekuasaan kehakiman yang dinilai menyimpang. sudah tentu diperlukan dalam memberikan assessment yang lebih obyektif sebagai kerangka mengembalikan kepercayaan publik terhadap dunia kekuasaan kehakiman yang telah kehilangan wibawa. yang pola kerjanya seolah bertindak seperti spionase dan penjaga raja untuk mencegah terjadinya penyimpangan oleh pejabat-pejabat istana. juga ditemukan adanya struktur lembaga baru dalam konstitusi. The musketter adalah “sejenis tentara” sebagai pasukan khusus istana kerajaan yang bertugas untuk mencegah adanya bahaya laten dalam kerajaan Perancis di saat itu. Sebagai institusi yang memiliki sifat khas state auxiliary. termasuk oleh raja sendiri. Kehadiran Komisi Yudisial dalam lingkaran kekuasaan kehakiman. Secara imperatif etis. dimana dihadirkannya sebuah institusi baru yang populer dengan Komisi Yudisial. Komisi Yudisial: The Musketter Kekuasaan Kehakiman The musketter sebetulnya sebuah istilah yang digunakan dalam menjelaskan keterkaitan antara keberadaan Komisi Yudisial dengan pelaksanaan kekuasaan kehakiman. Fakta tersebut menunjukan koruptor lebih banyak dapat dibuktikan kesalahannya di pengadilan ad hoc Tipikor daripada di pengadilan negeri biasa (Lubis. Bahasa semantik ini terinspirasi dari sebuah ilustrasi film. Kehadiran Komisi Yudisial dalam struktur ketatanegaraan di Indonesia. Posisinya cukup mulia dan tidak mudah diintervensi oleh pihak mana pun.

baik yang menyangkut rekruitmen dan monitoring hakim agung maupun pengelolaan keuangan kekuasaan kehakiman. tingkat efisiensi dan efektivitas kekuasaan kehakiman (judicial power) akan semakin tinggi dalam banyak hal. sehingga diasumsikan tidak mempunyai kepentingan politik. Kehadiran Komisi Yudisial sebetulnya menjadi salah satu jawaban atas gagalnya institusi Mahkamah Agung dalam menjadikan kekuasaan kehakiman lebih berwibawa dan in- 36 Bunga Rampai . (3) dengan adanya Komisi Yudisial. karena setiap putusan memperoleh penilaian dan pengawasan yang ketat dari sebuah lembaga khusus (Komisi Yudisial). (2) Komisi Yudisial menjadi perantara (mediator) atau penghubung antara kekuasaan pemerintah (executive power) dan kekuasaan kehakiman (judicial power) yang tujuan utamanya adalah untuk menjamin kemandirian kekuasaan kehakiman dari pengaruh kekuasaan apapun juga khususnya kekuasaan pemerintah. adalah: (1) Komisi Yudisial dibentuk agar dapat melakukan monitoring yang intensif terhadap kekuasaan kehakiman dengan melibatkan unsur-unsur masyarakat dalam spektrum yang seluas-luasnya dan bukan hanya monitoring secara internal. yaitu fungsi pengawasan. (4) terjaganya konsistensi putusan lembaga peradilan. menjadi landasan hukum yang kuat bagi reformasi bidang hukum dengan memberikan kewenangan kepada Komisi Yudisial untuk mewujudkan checks and balances. karena politisasi terhadap perekrutan hakim agung dapat diminimalisasi dengan adanya Komisi Yudisial yang bukan merupakan lembaga politik. Jadi jelaslah bahwa Komisi Yudisial adalah lembaga negara sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang salah satu wewenangnya adalah melakukan pengawasan terhadap hakim. Menurut Ahsin Thohari (2004). Dalam makna ketat walaupun Komisi Yudisial bukan pelaku kekuasaan kehakiman namun fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman. kemandirian kekuasaan kehakiman (judicial power) dapat terus terjaga. Dalam ketentuan Pasal 24B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan UndangUndang No. argumen utama bagi terwujudnya (raison d’atre) Komisi Yudisial di dalam suatu negara hukum. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial.konstitusi. dan (5) dengan adanya Komisi Yudisial.

kedua lembaga ini saling berebut terhadap siapa yang lebih berwenang untuk menyusunnya. Sehingga tidak terbantahkan. Sebut saja Mahkamah Agung dalam banyak kisah belakangan ini. Cukup aneh juga ketika Ketua Mahkamah Agung. kehadiran Komisi Yudisial. dalam faktanya tidak serta merta dapat diterima oleh pihak-pihak tertentu. dan (5) tidak terdapat kehendak yang kuat dari pimpinan lembaga penegak hukum untuk menindak-lanjuti hasil pengawasan. (2) proses pemeriksaan disiplin yang tidak transparan. Di beberapa negara yang mengakui keberadaan adanya Komisi Yudisial. Pergulatan ini semakin diperparah.or.dependen. Masalah pokok hilangnya wibawa kekuasaan kehakiman adalah terutama tidak efektifnya pengawasan internal (fungsional) yang ada di badan peradilan. bahwa lemahnya pengawasan internal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Umumnya perspektif mereka malah memandang Komisi Yudisial sebagai lembaga yang akan menggerogoti dan mengintervensi institusi peradilan. justru menunjukkan sikap yang sangat resisten terhadap keberadaan Komisi Yudisial. secara terbuka mempublikasikan dirinya untuk menjabat ketua Komisi Yudisial secara ex officio. memantau proses serta hasilnya (ketiadaan akses). antara lain: (1) kualitas dan integritas pengawas yang tidak memadai. (4) semangat membela sesama korps (esprit de corps) yang mengakibatkan penjatuhan hukuman tidak seimbang dengan perbuatan. Menurut Mas Achmad Santosa. Setiap upaya untuk memperbaiki suatu kondisi yang buruk pasti akan mendapat reaksi dari pihak yang selama ini mendapatkan keuntungan dari kondisi yang buruk itu. Begitu juga disaat munculnya isu penyusunan kode etik hakim. www.transparansi. ketika Komisi Yudisial meminta perluasan kewenangan untuk menjatuhkan sanksi terhadap hakim yang dinilai bermasalah. soal seperti ini tidak serta Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 37 . bahwa pembentukan Komisi Yudisial sebagai lembaga pengawas eksternal didasarkan pada lemahnya pengawasan internal tersebut. jabatan ketua Komisi Yudisial memang dijabat secara ex officio oleh Ketua Mahkamah Agung. Terutama ketika Komisi Yudisial meminta agar putusan pengadilan menjadi objek pengawasannya.id Namun demikian. Sayangnya. (3) belum adanya kemudahan bagi masyarakat yang dirugikan untuk menyampaikan pengaduan.

memakai logika kuasa. Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa: 1. Konsepsi pengawasan yang terkandung dalam UUKY didasarkan atas paradigma konseptual yang tidak tepat. yaitu seolah-olah hubungan antara MA dan KY berada dalam pola hubungan “checks and balances” antarcabang kekuasaan dalam konteks ajaran pemisahan kekuasaan (separation of powers). tidak jelas dan tegas menentukan siapa subjek yang mengawasi. justru mengaburkan makna pengawasan secara subtil. 3. sehingga menimbul- 2. Perumusan Pasal 13 huruf b juncto Pasal 20 UUKY mengenai wewenang lain sebagai penjabaran dari Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 menggunakan rumusan kalimat yang berbeda sehingga menimbulkan masalah dalam penormaannya dalam UUKY yang menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). Ketiga. apa objek yang diawasi. instrumen apa yang digunakan. serta bagaimana proses pengawasan itu dilaksanakan.merta harus diadopsi secara mentah-mentah mengingat dalam beberapa hal. Dan biasanya kekuasaan lembaga yang tersentralisasi sangat rentan mencipta oligarki kekuasaan. punya tradisi cukup buruk dalam soal penyalahgunaan wewenang (abuse of power). sangat mencenderai makna demokrasi substantif. Pertama. Di tengah pergulatan panjang ini. karakteristik pejabat negara kita. dimana aspek kontestasi justru dikebiri sebagai salah satu indikator demokrasi. Hal tidak jelas dan tidak rincinya pengaturan mengenai pengawasan dalam UUKY serta perbedaan dalam rumusan kalimat seperti dimaksud pada butir (i) menyebabkan semua ketentuan UUKY tentang pengawasan menjadi kabur (obscuur) dan menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid) dalam pelaksanaannya. UUKY terbukti tidak rinci mengatur mengenai prosedur pengawasan. dengan sejenak terhenti ketika Mahkamah Konstitusi melalui putusannya Nomor 005/PUU-IV/2006 terhadap judicial review atas Pasal 13 jo Pasal 20 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial dinyatakan bertentangan dengan UndangUndang Dasar 1945. Kedua. terutama dalam soal antara yang mengawasi dan diawasi. 38 Bunga Rampai .

DPR dan Presiden dianjurkan pula untuk melakukan perbaikan-perbaikan yang bersifat integral dengan juga mengadakan perubahan dalam rangka harmonisasi dan sinkronisasi atas UUKK.id Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 39 . segala ketentuan Undang-Undang Komisi Yudisial yang menyangkut pengawasan harus dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat karena terbukti menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). dan juga MK untuk mengambil prakarsa yang bersifat terbuka untuk mengadakan perubahan undang-undang seperti dimaksud. ketegangan dan kekisruhan dalam pola hubungan antara KY dan MA akan terus berlangsung dan kebingungan dalam masyarakat pencari keadilan akan terus meningkat. Mahkamah Konstitusi juga merekomendasikan kepada DPR dan Presiden untuk segera mengambil langkah-langkah penyempurnaan Undang-Undang Komisi Yudisial.kan penafsiran yang juga tidak tepat. Oleh karena itu. MA. UUMK. dan juga MK dapat diikutsertakan dalam proses pembuatan sesuatu undangundang yang akan mengatur dirinya. Bahkan. Karena itu. yang pada gilirannya juga dapat mendelegitimasi kekuasaan kehakiman yang akan dapat menjadikannya semakin tidak dipercaya. KY. sehingga oleh karenanya harus menyerahkan segala urusan legislasi itu kepada pembentuk undang-undang. terutama dalam pelaksanaannya. UUMA. tentu saja merupakan sesuatu yang logis dan tepat. Jika hal ini dibiarkan tanpa penyelesaian. Tugas legislasi ini adalah tugas DPR bersama dengan pemerintah. bukanlah tugas konstitusional MA.mahkamahkonstitusi. khususnya yang berkaitan dengan ketentuan mengenai pengawasan perilaku hakim.go. www. kecuali apabila hal itu dimaksudkan hanya sebagai pendukung. dan juga MK merupakan lembaga pelaksana undang-undang. Setiap lembaga negara sudah seharusnya membatasi dirinya masing-masing untuk tidak mengerjakan pekerjaan yang bukan menjadi tugas pokoknya. KY. Untuk mengatasi akibat kekosongan hukum yang terlalu lama berkaitan dengan tugas KY. dan undang-undang lain yang terkait dengan sistem peradilan terpadu. Akan tetapi. KY. Undang-Undang Komisi Yudisial segera harus disempurnakan melalui proses perubahan undang-undang sebagaimana mestinya. Bahwa MA.

antara menguatkan atau memperlemah. dikhawatirkan justru semakin memperburuk citra dan menghilangkan wibawa kekuasaan kehakiman di mata publik. Nasib Komisi Yudisial memang tengah dipertaruhkan. Boleh jadi. Dalam makna ketat bahwa pilihan memperkuat atau memperlemah posisi Komisi Yudisial dalam struktur ketatanegaraan bukan hanya harus mengandalkan perlunya transformasi politik dalam tubuh legislatif maupun eksekutif. Ini sangat berpotensial. Penyempurnaan terhadap ketentuan ini setidaknya diharapkan dapat memberikan penguatan kelembagaan terhadap Komisi Yudisial sebagai the musketter kekuasaan kehakiman di Indonesia. Sehingga demikian. Menguatkan Komisi Yudisial melalui perluasan wewenang. Menempatkan Komisi Yudisial pada kerangka yang tepat sebagai lembaga pengawas eksternal setidaknya memberi jaminan adanya sisi obyektifitas dan memiliki makna yang subtil bagi reformasi peradilan. ke depan Komisi Yudisial bukan lagi menjadi sebuah institusi yang sifatnya auxiliary tetapi harus diletakkan sebagai kekuatan inti dalam penyelenggaraan kekuasan kehakiman.Rekomendasi Mahkamah Konstitusi ini tentu saja menjadi pegangan bagi legislatif maupun eksekutif agar melakukan upaya konkret untuk segera merevisi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial. Dengan penuh harap semoga gagasan dan bahasa undang-undang dapat menyibakkan tabirnya untuk suatu keadaban dan keadilan bagi semuanya. Sementara. Menguatkan berarti mencipta “oase” untuk menghidupi kekinian dan masa depan. Semua ini akan ditentukan dalam tuturan semantik dari legislatif maupun pemerintah lewat regulasinya. apalagi bila objek pengawasannya adalah putusan hakim pengadilan. memperlemah keberadaan Komisi Yudisial. Premis di atas kesannya memang sangat dilematis. pengawasannya terhadap putusan hakim pengadilan justru diinterpretasi atau dipelintir sebagai tindakan intervensi terhadap kemerdekaan hakim. justru dikhawatirkan akan menggerogoti independensi kekuasaan kehakiman. tetapi perlunya 40 Bunga Rampai . Semua ini tentu harus disikapi secara simultan. tetapi melemahkan berarti memberi gerak lahirnya “preman tribal atau mafia berdasi” yang akan melahirkan bangsa barbarism atau manusia penghancur dalam dunia kekuasaan kehakiman.

sejatinya cukup penting digunakan untuk membangun ruang-ruang dialogis dalam menemukan makna perubahan yang signifikan dalam dunia kekuasaan kehakiman. sudah tentu bukanlah jalan terakhir bagi sebuah perjuangan. Penuturan ini bukan untuk menggiring kedua institusi negara tersebut ke labirin arogansi institusional. tentu saja tidak dilakukan dengan amburadul. isu reformasi peradilan sangat relevan kiranya memperhatikan sisi keterkaitan antara transformasi politik dengan tingkat kinerja pelaksana kekuasaan kehakiman selama ini. butuh energi banyak untuk selalu menafasinya.sinergitas hubungan antara Komisi Yudisial dan Mahkamah Agung dalam memperbaiki kinerjanya. Dengan demikian. Pelintasan ruang dan waktu yang terus terbentang. yang sekadar melakukan revisi terhadap sejumlah regulasi terkait dengan kekuasaan kehakiman. Sisi penjelahan akan konsep Komisi Yudisial yang ideal mesti terus diusung. semoga rute perubahan ini. Atau menjebaknya ke dalam perebutan kredit point terhadap mana yang lebih baik. tetapi setidaknya sebagai kerangka untuk evaluasi akan ”makna keberadaannya”di mata publik. Walau. Rentetan pemikiran ini. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 41 . justru tidak melahirkan ”kacung-kacung baru” dalam dunia kekuasaan kehakiman. Transformasi politik yang berlangsung di legislatif maupun eksekutif. tetapi yang lebih mendasar adalah perlunya melihat kinerja (performance) kedua institusi negara tersebut. Dengan segala harap.

Yudi. Who Governs? Democracy and Power in an American City.mahkamahkonstitusi. Komisi Yudisial & Reformasi Peradilan. 1996.or. No. Stepan Alfred. hlm. Ahsin. 2006. Demokrasi Minus.id www. Koloni Keadilan. Kumpulan Analisis di Majalah Forum. XIII – XIV.or. Budi.ti. Baltimore Thohari. A. Problems of Democratic Transition and Consolidation.wordpress. New Haven Gunawan.Daftar Pustaka Dahl Robert. 1961. 2006 Linz. 6.Visi Volume V.id - 42 Bunga Rampai . Juan.com www. http://ahmadirfan. Jhon Hopkins University Press.id). Jakarta Latif.go. (http://www. 2006. Forum Media Utama.transparansi. Yale University Press.

baik pada tataran kebijakan * Penulis adalah: Ketua Badan Pengurus Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN) Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 43 . Pada titik ini. tetapi spirit yang terus menggelora ditengah kegalauan publik yang senantiasa mendambakan rasa keadilan. Ia bukan lagi sebuah momentum. meninggalkan reformasi peradilan mengakibatkan proses demokrasi berjalan tanpa arah. dan gerakan sosial menjadi tertatih-tatih. Bisa jadi. Karena reformasi peradilan menghendaki lembaga peradilan idealnya dapat dimanfaatkan untuk menjamin perlindungan terhadap kebebasan sipil-politik serta perlindungan sosial-ekonomi rakyat. Sejauh ini reformasi peradilan memang telah menghasilkan berbagai perubahan. khususnya masyarakat yang pro-reformasi peradilan. Sebaliknya. reformasi peradilan perlu diupayakan agar mampu bersinergi dengan kekuatan/kelompok sosial-politik dalam masyarakat. reformasi peradilan akan kehilangan moralitas dan legitimasinya jika mengabaikan issue dan kepentingan hak-hak masyarakat.Komisi Yudisial Pengawal Reformasi Peradilan Mendayung Diantara Simpati dan Resistensi Firmansyah Arifin* Pengantar Reformasi peradilan merupakan sebuah keniscayaan. Reformasi peradilan menjadi bagian penting yang tidak bisa diabaikan dalam proses demokrasi dan gerakan sosial (social movement) yang lebih luas.

serta bebas dari mafia peradilan (judicial corruption). Dalam pengertian yang sederhana. gagasan demokrasi dan negara hukum dalam perkembangannya 44 Bunga Rampai . Namun hampir satu dasawarsa. Sebagai sebuah sistem politik dan pemerintahan. Sepak terjang KY selama 2 tahun terakhir. Gagasan negara hukum mempunyai akar historis dalam perjuangan menegakkan demokrasi. Selanjutnya.sampai pembentukan mekanisme dan institusi baru. Bahkan dalam beberapa hal mengalami proses maju mundur (back-forward). Tulisan ini mencoba merefleksikan kembali peranan KY dalam konteks reformasi peradilan. apakah cukup efektif untuk mendorong dan memperkuat reformasi peradilan. Hal itu dapat dilihat pada Komisi Yudisial ketika menjalankan tugas dan kewenangannya. di negara hukum tidak ada warga negara yang berada di atas hukum dan karenanya semua warga negara harus patuh pada hukum. Misi Penting Reformasi Peradilan Reformasi peradilan mempunyai tujuan dan tugas utama untuk menjamin dan mempertahankan prinsip-prinsip negara hukum yang demokratis. Sejauh mana upaya yang telah dilakukan. Dengan harapan resistensi dapat dieliminir. khususnya yang berkenaan dengan hakim. dan simpati dapat terus diraih dan dikembangkan dalam mengawal reformasi peradilan menuju Negara demokrasi dan rule of law yang dicita-citakan. Termasuk dalam hal ini adalah Komisi Yudisial (KY) yang diperlukan untuk mengawal reformasi peradilan. mencoba merumuskan kembali peranan dan langkah strategis KY kedepan. muncul pula resistensi terhadap KY yang hendak mendelegitimasi posisi dan peranan KY. reformasi peradilan (judicial) berjalan lambat jika dibandingkan proses reformasi pada ranah legislatif dan eksekutif. atau malah sebaliknya. Kehadiran KY memang memberikan harapan akan institusi peradilan yang bersih dan berwibawa. setidaknya mampu menuai simpati ketika mengusik eksistensi dan kemapanan para hakim. Namun bersamaan dengan itu. hingga membubarkan KY. Hukum itu sendiri harus ditentukan oleh warga negara yang tidak lain merupakan pengaturan hubungan di antara sesama warga negara melalui cara dan mekanisme demokrasi (parlemen).

keadilan yang paling esensiil dapat disentuh berdasarkan atas hak asasi dari warga negara. Dalam pelaksanaannya. Fokus pada hak asasi itu menjadi dasar normatif bagi gagasan demokrasi dan negara hukum. demokrasi bukan hanya soal kebebasan sipil dan politik. tak bermakna. dan kehilangan esensi keberadaannya. tetapi mutlak mensyaratkan adanya rule of law. Melalui peranan para hakim sebagai pelaksana utama dari kekuasaan kehakiman. Tanpa kehadiran kekuasaan kehakiman yang independen. Independensi di sini sekaligus merupakan independensi personal setiap hakim untuk menjalankan tugasnya tanpa ketakutan dan keberpihakan. demokrasi juga mensyaratkan adanya praktek penegakan hukum yang jelas dan tegas. Prosedur yang dimaksudkan salah satunya adalah melalui kewenangan judicial review/constitutional review oleh kekuasaan kehakiman. Tetapi juga ditambah dengan perlunya prosedur perlindungan terhadap hak-hak yang telah dijamin dalam konstitusi. menjadi fungsi utama dari pemerintahan demokratis dan pemerintahan berdasarkan atas hukum untuk menjamin dan melindungi hak asasi manusia. Dengan pengertian lain. Independensi kekuasaan kehakiman sebagai sesuatu hal yang prinsipil di dalam negara hukum yang demokratis. Hukum dibutuhkan untuk memastikan adanya jaminan kapasitas kontrol rakyat terhadap berbagai urusan publik. Independensi atau kebebasan tersebut dimaksudkan tidak adanya campur tangan dari kekuasaan eksekutif dan legislatif terhadap pelaksanaan fungsi peradilan. Sebab kelengkapan pertama Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 45 .didasari gerakan atau dorongan masalah bagaimana melindungi kebebasan individual atau hak asasi manusia dari tindakan sewenang-wenang para penguasa. maka tidak ada demokrasi dan negara berdasarkan atas hukum (demokratische rechsstaat). Lebih dari itu. Termasuk pula campur tangan dari unsur-unsur kekuasaan kehakiman itu sendiri serta kekuasaan ekonomi dan politik di luar sistem kekuasaan negara. maka demokrasi hanya akan menjadi sekadar proyek liberalisasi politik. Tanpa kedua hal tersebut. Gagasan negara hukum demokratis tidak hanya menegaskan bahwa kekuasaan kehakiman (judicial power) adalah kekuasaan yang merdeka (independent) dan tidak memihak (impartial).

seorang hakim harus didasarkan pada intelenjensi dan kemauan belajar. Hanya saja sebagaimana mulai dirasakan.dan utama untuk menegakkan kekuasaan kehakiman yang independen ada pada hakim. 2000). yaitu sikap independen dan imparsial dalam memutus suatu perkara. Pengawasan sebagai wujud dari akuntabilitas dan bagian dari checks and balances. Sebab bukan mustahil ketika independensi kekuasaan kehakiman meningkat. dan pada akhirnya bisa menimbulkan masalah-masalah baru. maka akuntabilitas dan legitimasinya menurun. diperlukan untuk mencapai independensi dan impartialitas peradilan. justru saling menunjang dan memperkuat. Sedangkan akuntabilitas diperlukan sebagai mekanisme kontrol setelah suatu tindakan yudisial diambil. tetapi juga cara-cara penunjukkan atau pengangkatan hakim dan jaminan keberlangsungan mereka dalam melaksanakan jabatannya (Beetham & Boyle. Kedua prinsip tersebut tidaklah bertentangan secara diametral. sebaliknya kewajiban lembaga peradilan untuk mempertanggungjawabkan segala tindakannya kepada publik akan dapat mengurangi kerentanan lembaga peradilan dari tekanan pihak luar. Kedua jenis independensi ini tidak sekedar menuntut jaminan-jaminan konstitusional formal. Dalam hal ini dapat dibedakan bahwa independensi merupakan mekanisme kontrol sebelum suatu tindakan yudisial dilakukan yaitu meminimalisir masuknya pengaruh pihak luar terhadap proses pengambilan putusan yang imparsial oleh pengadilan. Bahwa lembaga peradilan wajib mempertanggungjawabkan baik pelaksanaan fungsi yudisial maupun penyelenggaraan administrasinya. 1993) Oleh karena itu. dikontrol oleh prinsip-prinsip hukum. Dalam memutus perkara. Karena mengingat belum semuanya para hakim mempraktikkan judicial discretion. kecuali keinginan besar untuk menegakkan keadilan (Felix Frankfurter. Akuntabilitas diperlukan untuk memperkuat independensi. didukung keberanian dan pikiran yang dingin dan bebas dari pengaruh luar dan tidak goyah karena simpati dan prasangka. independensi tanpa akuntabilitas bisa melangkah terlalu jauh. misi penting bagi reformasi peradilan tidak hanya sebatas menegakkan independensi dan impar- 46 Bunga Rampai .

Karakter dalam sistem pemerintahan otoritarian selalu menolak adanya checks and balances dan tidak mau mengakui adanya hak asasi manusia. Tidak adanya jaminan independensi dalam konstitusi. KRHN-Leip. kebenaran dan keadilan. Setidaknya akuntabilitas dari segi politik. Belakangan disadari bahwa intervensi yang bersifat ekonomi juga menjadi salah satu faktor penyebabnya. Pengadilan hanya menjadi abdi kekuasaan ketimbang berpihak pada rakyat. tidak lepas dari praktek sistem pemerintahan otoritarian yang diterapkan. serta putusan yang janggal dan mencederai rasa keadilan. segi hukum bagi hakim baik pejabat negara maupun secara personal (Mauro Cappeletti. 1997. Intervensi politik. 2005) telah mendiagnosis. ICW. 2001. bobroknya institusi peradilan sebagai akibat dari intervensi politik yang begitu panjang yang telah mereduksi independensi dan impartialitas peradilan. 1989). minimnya hakim yang berkualitas dan berintegritas. segi sosial/publik. Pompe. Disamping problem lainnya seperti. penumpukan perkara. 1999.tialitas peradilan sebagai suatu prinsip dalam Negara hukum yang demokratis. Asrun. administrasi Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 47 . Yang ada adalah cerita sukses intervensi politik yang dimulai ketika urusan organisasi. 1990. Sedangkan lembaga peradilan hanya menjadi alat untuk menjustifikasi dan melegitimasi perilaku kekuasaan eksekutif. 2004. Pada masa-masa itu jangan berharap ada banyak putusan-putusan pengadilan yang progresif dan memberi rasa keadilan. Beberapa studi (Lev. Sangat jarang pula hakim yang punya keberanian untuk melawan setiap kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan rakyat. managemen dan administrasi peradilan yang tidak transparan. Tetapi penting juga bagaimana membangun dan menjaga sistem akuntabilitas dan mekanisme kontrol bagi para hakim agar peradilan tidak memunculkan abuse of power baru atau tyrani judicial. Peradilan Yang Belum Berubah Mafia peradilan (judicial corruption) menjadi problem besar yang menimbulkan bobroknya institusi peradilan. semakin memudahkan intervensi politik yang membuat lemah kekuasaan peradilan ketika harus vis a vis dengan kekuasaan eksekutif. terutama dari eksekutif. BK Harman.

mulai dari pengadilan negeri (PN). seleksi hakim agung dan Ketua Mahkamah Agung yang sebelumnya sangat tertutup. Praktik-praktik mafia peradilan disinyalir masih berjalan di setiap tahapan.2003. mulai dilakukan secara terbuka oleh DPR pada 2000 . tetapi untuk mendorong perubahan di tubuh internal MA. Perlahan tapi pasti. Seperti kasus panitera pengganti dan hakim PN Jakarta Selatan yang memeras saksi dalam kasus korupsi PT Jamsostek. fakta lain memperlihatkan kondisi lembaga peradilan masih ditengarai berbagai persoalan yang sangat kontras dengan spirit dan agenda perubahan. serta Mahkamah Konstitusi. Revisi terakhir ini dipengaruhi oleh hasil Amandemen UUD 1945. sejumlah hakim agung non karier yang berasal dari kalangan akademi dan praktisi hukum dipilih dan ditetapkan. dan kasus advo- 48 Bunga Rampai . Revisi tersebut selanjutnya dipertegas. Sejumlah pengadilan khusus untuk mengadili perkara-perkara seperti pelanggaran HAM. pengadilan menjadi institusi yang tertutup. Ketika momentum perubahan datang. sampai MA. Korupsi. 14/1970) yang menempatkan urusan organisasi. UU MA. Selain itu lewat amandemen konstitusi dibentuk lembaga Komisi Yudisial untuk rekruitmen hakim agung dan pengawasan hakim. Seakan tidak mau ketinggalan. Beberapa kasus hanya sebagian kecil yang berhasil terungkap. dilengkapi dan diimplementasikan melalui revisi paket UU Bidang Hukum (UU Kekuasaan Kehakiman. Tujuannya bukan hanya sekedar mengisi kekosongan kursi hakim agung. UU Pengadilan Umum) pada tahun 2004. juga dibentuk melalui undang-undang. reformasi peradilan dimulai dengan revisi kebijakan satu atap (UU No. Dalam seleksi ini. korup dan tidak berwibawa. Meski berbagai perubahan telah terjadi. Bersamaan dengan revisi kebijakan.dan finansial peradilan berada dalam kekuasaan eksekutif. pengadilan tinggi (PT). Anak. dan para hakim yang lebih disibukkan dengan urusan kesejahteraan dan kepentingan sendiri. administrasi dan financial menjadi urusan Mahkamah Agung. MA pun kemudian membuat dan merumuskan sejumlah paket rencana pembaruan yang akan dilakukannya (Blue Print MA. Selanjutnya putusan-putusan pengadilan mesti mengikuti langgam pembangunan pemerintah. yang telah memberikan jaminan konstitusional prinsip kemerdekaan bagi kekuasaan kehakiman. 2003).

dua panitera PT Jakarta. Pasal 24B UUD 1945 menempatkan KY sebagai Lembaga Negara yang bersifat mandiri. yang dilakukan secara rutin setiap tahun. Ramdhan Rizal dan M. Dari survey tersebut. Pada Mei 2007. meski berbagai upaya perubahan telah dilakukan sejak reformasi 1998. terutama dalam kasus korupsi dan HAM. dengan tersangka Harini Wijoso dan beberapa pegawai MA. belum bisa memberikan rasa keadilan karena seringkali dengan mudah memberikan putusan bebas bagi para pelakunya. yang masih menunjukkan bobroknya institusi peradilan. Posisi ini nampaknya tidak beranjak jauh dari hasil survey TII sebelumnya. Transparancy International Indonesia (TII) mengeluarkan hasil survey tentang korupsi yang terjadi di lembaga-lembaga pemerintahan. pengadilan menempati urutan teratas untuk inisiatif melakukan suap. Sementara pengawasan internal oleh MA sudah terbukti tidak efektif memberikan efek jera bagi para hakim dan pegawai pengadilan. hampir semua terdakwanya kemudian diputus bebas oleh MA. Fakta-fakta tersebut semakin membuat institusi peradilan terperosok dalam lubang kegelapan yang seakan-akan sulit untuk keluar. apalagi dilakukan secara tidak transparan. dan memiliki kewenangan mengusulkan calon hakim agung serta kewenangan lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Masih terjadi krisis kepercayaan. Sholeh. serta perilaku hakim. Serta kasus Probosutedjo yang mencoba menyuap majelis hakim di MA dengan uang milyaran rupiah. Malah dalam kasus-kasus pelanggaran HAM.kat Syaifudin Popon. Ketentuan ini menjadi landasan hukum yang kuat bagi KY untuk memainkan peranan yang sangat penting dan strategis dalam usaha mewujudkan kekuasaan kehakiman yang merdeka didalam Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 49 . Putusan-putusan pengadilan. Memaknai Kehadiran Komisi Yudisial Komisi Yudisial (KY) lahir dan dibentuk berdasarkan konstitusi. Dari sejumlah kasus yang terungkap nampaknya belum membuat kapok para Mafioso peradilan. Dan itu berarti bahwa lembaga peradilan memang belum mengalami perubahan yang signifikan. keluhuran martabat. Hasil survey ini melengkapi sejumlah survey atau polling yang telah dilakukan berbagai pihak.

Sehingga hakim agung yang dihasilkan memiliki integritas. Lahirnya KY dari rahim konstitusi dilatarbelakangi oleh adanya kebutuhan untuk membangun sistem pengawasan hakim yang lebih efektif dan konstruktif. Intinya. Jika memperhatikan alasan-alasan pembentukan Komisi Yudisial tersebut di atas. 22/2004 tentang KY kemudian menambahkan bahwa. 2003. UU No.konteks negara hukum. tidak accountable. Alasannya. dan cenderung mengedepankan esprit de’corps. melakukan pemanggilan dan pemeriksaan terhadap hakim. 2004). jelas bahwa Komisi Yudisial memi- 50 Bunga Rampai . dan memberikan usul pemberian sanksi (punishment) dan penghargaan (reward). Dapat dikatakan bahwa fungsi pengawasan inilah yang paling sering akan dilakukan oleh KY. yang pada gilirannya menyuburkan judicial corruption di tubuh institusi pengadilan. Faktor lain yang mendorong kelahiran KY adalah kebutuhan untuk membangun sistem seleksi hakim agung yang lebih obyektif. transparan dan partisipatif. Masyarakat pun dapat terlibat secara aktif untuk memantau dan menilai secara kritis terhadap proses serta track record para calon hakim agung. meminta laporan tentang perilaku hakim. Kondisi pengawasan seperti itu diakui sendiri oleh MA. serta hakim Mahkamah Konstitusi. independen dan bertanggungjawab (accountable). namun fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman yaitu fungsi pengawasan. KY dapat menerima laporan dari masyarakat. kredible dan dapat memegang teguh prinsip independensi dan imparsial dalam membuat putusan (Blue Print MA. Pengawasan hakim yang dijalankan MA sangat tertutup. Selain itu dalam konteks wewenang pengawasan. Dalam sistem seleksi semacam ini diharapkan dapat dieliminir politisasi dalam penentuan calon hakim agung. mekanisme pengawasan hakim yang ada mengandung sejumlah kelemahan. Meski KY bukan pelaku kekuasaan kehakiman. kebutuhan KY dilandasi oleh spirit untuk mendorong dan membangun sistem dan pelaksana kekuasaan kehakiman lebih bersih. obyek pengawasan KY terhadap hakim meliputi hakim agung dan hakim pada badan peradilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung. Naskah Akademis RUU Komisi Yudisial.

Tugas dan tanggungjawab tersebut tidaklah berakhir ketika DPR bersama Presiden telah memilih dan menetapkan calon hakim agung. Spirit perubahan yang hendak memperkuat checks and balances antara cabang-cabang kekuasaan negara (legislatif. telah mendudukan posisi dan kekuasaan lembaga-lembaga negara menjadi setara dan seimbang. dan diperlukan dalam menjalankan checks and balances. bersama-sama dengan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. Nababan. Akan tetapi tugas dan tanggungjawab itu. sang ujung tombak penegakan hukum di lembaga peradilan (A. Dalam hal itu. haruslah senantiasa hadir ketika citacita atau ideologi independensi dan imparsialitas peradilan tidak bisa dijaga dan ditegakkan sendiri oleh MA dan MK. Komisi Yudisial diberi tanggung jawab konstitusional untuk mengontrol kinerja dan perilaku para hakim. Komisi Yudisial berperan untuk ‘membentuk’ (reshaping) peradilan di Indonesia. Kedua.liki dua fungsi penting dalam upaya penegakan hukum dan keadilan di Indonesia: pertama. kewajiban untuk menjaga dan menegakkan kekuasaan kehakiman yang merdeka (independency of judiciary) bukanlah semata-mata menjadi tugas dan tanggungjawab MA dan MK. Pembentukan KY ini sejalan dengan spirit dari perubahan (amandemen) UUD 1945. Ini adalah sebuah moralitas konstitusi dari kedua lembaga tersebut. Dalam kerangka perubahan itu. KY sesungguhnya merupakan mitra strategis dari DPR dan Presiden untuk melakukan dan mem- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 51 . 2006). Komisi Yudisial berfungsi untuk merepresentasikan kontrol publik ke dalam lembaga peradilan. ataupun keduanya telah membuat UU yang mendukung independensi peradilan. Tidak ada lagi lembaga tertinggi dan tinggi negara. eksekutif dan yudikatif). Spirit perubahan ini mengubah paradigma dan praktek kekuasaan negara yang selama ini cenderung executive heavy atau legislative heavy. Yang dilihat adalah fungsi dan kewenangan yang telah diberikan. Perubahan paradigma konstitusi tersebut. Tugas dan tanggungjawab itu juga menjadi kewajiban DPR bersama Presiden. yang tercermin dari sumpah jabatan dan representasi suara rakyat yang telah memilih secara langsung. Mengembalikan rasa percaya publik pada kemampuan lembaga peradilan sebagai benteng terakhir penegakan hukum dan keadilan.

Dalam batas-batas tertentu. harkat martabat dan perilaku hakim oleh KY merupakan bentuk penolakan terhadap pengawasan internal yang sebelumnya dinilai tidak efektif. selain rekruitmen bagi hakim agung. pengawasan dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. KY harus menjamin judicial discretion bahwa hakim dalam mengambil keputusan harus bebas dari intervensi baik berupa ancaman. Melalui KY diharapkan pula harkat. khususnya MA. kehadiran dan wewenang yang diberikan kepada KY merupakan ‘mosi tidak percaya’ terhadap institusi pelaksana kekuasaan kehakiman. mosi tidak percaya itu dapat dilihat bahwa pemberian wewenang KY merupakan atribusi kewenangan dari kekuasaan eksekutif dan legislatif dalam menjalankan fungsi kontrol atau checks and balances terhadap kekuasaan yudikatif. Melalui kewenangannya. professional dan terpuji. membangun akuntabilitas dan memperluas partisipasi masyarakat.perkuat kontrol (checks and balances) terhadap MA dan MK. Pembentukan KY dan juga Komisi-Komisi independen lainnya adalah dimaksudkan sebagai Institutional Watchdog. KY punya peran sinergis bersama DPR dan Presiden untuk mendapatkan calon hakim agung yang kredibel dan berintegritas. Mosi tidak percaya itu dapat ditunjukkan pula dari posisi Ketua MA yang bukan sekaligus ex officio Ketua KY sebagaimana Judisial Commission di berbagai negara. Jelas terlihat bahwa KY memiliki peranan penting untuk mendorong para hakim menjadi lebih bermartabat. Fungsinya adalah untuk memperkuat checks and balances. martabat dan perilaku para hakim dapat terjaga. KY dimaksudkan untuk memperkuat checks and balances bagi kekuasaan kehakiman. tekanan. janji- 52 Bunga Rampai . Dalam pengertian lain. Dalam hal ini KY menjadi lembaga eksternal yang selalu melakukan pengawasan para hakim. guna mencegah penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) oleh institusi peradilan. hanya KY satu-satunya lembaga yang diberi mandat oleh konstitusi untuk melakukan pengawasan terhadap hakim. Dengan berpijak pada kerangka konstitusional di atas. Jika dijabarkan ‘mosi tidak percaya’ itu. Fungsi kontrol yang sedapat mungkin bisa menyeimbangkan terjaganya independensi hakim dengan akuntabilitas yang mesti dibangun.

dan simpati. mantan hakim dan jaksa serta masyarakat. Dengan legitimasi dari konstitusi. Dan untuk pertama kali. Semua itu bertujuan untuk menegakkan keadilan. Busyro Muqoddas seorang akademisi sekaligus advokat yang mendapat suara terbanyak dalam proses pemilihan di DPR. Intinya. sejak tujuh (7) orang anggotanya diangkat dan disahkan oleh Presiden. KY sudah mulai membangun capacity building yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas dan kewenangannya. bukan suatu hal yang mudah bagi KY ketika menjalankan fungsi dan kewenangannya ataupun mewujudkan visi-misinya. Namun demikian. Sebagai landasan bagi pelaksanaan kewenangan dan pengembangan organisasi. serta pembentukan sekretariat jenderal beserta struktur organisasi maupun personalianya. KY Menuai Simpati dan Resistensi Komisi Yudisial terbentuk pada 2 Agustus 2005. bahwa tugas pokok yang akan dijalankan secara rutin oleh KY adalah melakukan pengawasan atau kontrol bagi hakim. Keanggotaan KY terdiri atas unsur akademisi. KY mulai membangun perangkat-perangkat organisasi. Setelah sekian lama institusi peradilan mengalami krisis kepercayaan sebagai akibat penyakit judicial corruption yang sudah demikian akut. praktisi hukum. diantaranya menyusun visi-misi organisasi. KY dipimpin oleh M. (2) Melaksanakan pengawasan peradilan yang efektif. (1) Menyiapkan Hakim Agung yang berakhlak mulia. berani dan kompeten. jujur. berwibawa dan memberikan rasa keadilan dengan hakim yang berintegritas dan progressif. Setelah terbentuk. KY merumuskan visinya “Menjadikan hakim sebagai insan pengabdi dan penegak keadilan”. KY memiliki peranan strategis untuk memperkuat proses reformasi peradilan yang belum selesai. pembentukan peraturan yang diperlukan sebagai landasan. Keberadaan dan kehadiran KY memberikan harapan kembali akan peradilan yang bersih. Sedangkan misinya.janji. Visi-misi itu nampaknya sejalan dengan mandat yang diberikan konstitusi. Disatu sisi langkah-langkah dan kebijakan yang diambil KY dapat memberikan inspirasi dan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 53 . (3) Mengembangkan sumber daya hakim menjadi insan yang mengabdi dan menegakkan keadilan. terbuka dan dapat dipercaya.

Seakan gayung bersambut. akan mendorong presiden menjadi otoriter. Tentu saja ide kocok ulang ini mengundang pro-kontra. Dan menyerahkan proses seleksi ulang hakim agung ini melalui Perpu. baik yang bersifat individual maupun organisasional. Oleh karena itu. Tidak ada dasar hukum yang cukup kuat untuk melakukan itu. KY pun menyiapkan pula draft Perpu untuk Seleksi Ulang Hakim Agung. muncul resistensi yang tidak bisa dihindarkan. solusinya adalah perlu ada penguatan kepemimpinan di MA melalui seleksi ulang hakim agung. Bisa 54 Bunga Rampai . Sebagian yang kontra menilai bahwa ide ini tidak mendasar. Atau dengan kata lain. Karena memang sama-sama disadari bahwa tidak ada perubahan yang signifikan dari kepemimpinan MA terhadap problem-problem peradilan. 1. terutama dari kalangan akademisi. Sebagian publik. Tetapi bersamaan dengan itu. termasuk penulis. menilai bahwa ide ini sangat progressif. NGO dan sebagian anggota DPR. meski para pemimpin ataupun Ketua MA merupakan buah dari proses reformasi. dan mempertanyakan apa alasannya bahwa hakim agung yang ada sekarang ini harus diseleksi ulang. Ide kocok ulang ini sempat disampaikan kepada Presiden SBY. Dikabarkan presiden menyetujui dan telah memerintahkan Mentri Hukum dan HAM (Menhuk-HAM) Hamid Awaluddin untuk membuatkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) nya sebagai payung hukumnya. Melalui kocok ulang hakim agung ini diharapkan akan ada regenerasi dan refresh kepemimpinan MA. karena setidaknya ini merupakan terobosan yang harus dilakukan Presiden kemudian disahkan oleh DPR. sebagai bagian dari checks and balances terhadap kekuasaan yudisial. Dan melalui Perpu.simpati yang mendapat dukungan dari berbagai kalangan. KY melontarkan ide seleksi ulang (kocok ulang) hakim agung. Simpati dan resistensi ini dapat tergambar dari sejumlah issue atau masalah yang muncul ke publik selama kurang lebih 2 tahun belakangan ini. Issue “Kocok Ulang” Hakim Agung Pada awal Januari 2006. leadership di MA sangat lemah. Ide ini berangkat dari pemikiran KY yang melihat bahwa problem riil mafia peradilan yang menjadi penyebab keterpurukan lembaga peradilan adalah tidak berjalannya managemen kepemimpinan di MA.

Dari 333 laporan tersebut. 18 hakim telah direkomendasikan KY kepada Pimpinan/Ketua MA (Laporan Tahunan KY. Meski KY telah menyerahkan draft Perpu ke tangan pemerintah. Dari 754 laporan tersebut.Juni 2006 (sebelum putusan MK). diinformasikan bahwa KY telah menerima 28 laporan. KY secara proaktif melakukan penanganan beberapa kasus dugaan pelanggaran perilaku hakim. masyarakat dengan antusias melaporkan hakim-hakim yang dinilai menyimpang dan tidak sensitif terhadap rasa keadilan. sedang dalam proses. dan ada yang dicabut kembali. 2. Ide kocok ulang hakim agung memang sempat membuat kejutan banyak pihak. Ide ini pada akhirnya tidak sempat direalisasikan.jadi ide kocok ulang ini menjadi bibit awal permusuhan atau resistensi dari kalangan hakim agung. antara lain: • Pemeriksaan terhadap hakim yang mengadili kasus Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 55 . Presiden tidak jelas sikapnya dan Menhuk-HAM belakangan membantah bahwa dirinya telah diminta presiden untuk membuat Perpu Seleksi Ulang Hakim Agung. Jumlah Hakim 4 3 1 3 2 2 Asal Pengadilan PN Bogor PT Banten PN Stabat PN Jakarta Selatan PN Jakarta Pusat PT Bandung Tabel: Jumlah Hakim Yang Mendapat Rekomendasi Selain laporan tersebut. Sedangkan sampai Desember 2006 (pascaputusan MK). KY telah memeriksa dan memproses 333 laporan atau pengaduan hakim. Sebagian lainnya tidak ditindaklanjuti. KY telah menerima 754 laporan dari berbagai kalangan masyarakat. Dari Agustus 2005 . 2006). termasuk para hakim agung yang jelas dan pasti menolak. Issue Pengawasan Hakim Sejak KY terbentuk.

Sedangkan dalam hal cara. Musi Rawas. yaitu obyek yang diperiksa dan cara pemeriksaan yang dilakukan. Sedangkan KY bersikap sebaliknya. terutama hakim agung. Sepak terjang KY dalam melakukan pengawasan. Pemeriksaan terhadap majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang mengadili kasus korupsi dengan terdakwa ECW Neloe. Bandung. Para hakim berpendapat bahwa putusan tidak bisa menjadi obyek pengawasan KY. dengan memainkan norma-norma hukum dan penafsiran hukum. Kendati demikian. Sumbawa. karena setidaknya bisa menimbulkan shock therapy dikalangan hakim. Sukabumi.• • • • • • sengketa Pilkada (Depok. yang menjatuhkan hukuman di bawah hukuman minimal. Sudah menjadi rahasia umum kalau putusan itu dapat disesuaikan dengan keinginan “yang memesan”. KY dinilai telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan dan mencemarkan nama baik hakim. Pemeriksaan terhadap majelis hakim PN Semarang yang mengadili kasus korupsi. Setidaknya ada 2 hal yang selalu dipersoalkan para hakim kepada KY dalam melakukan pengawasan ini. Pemeriksaan terhadap majelis hakim Pengadilan Tipikor yang mengadili kasus korupsi dengan terdakwa Harini Wijoso Pemeriksaan terhadap hakim Pengadilan Negeri Stabat yang mengadili kasus anak dengan terdakwa Raju. bisa dikatakan sangat positif. Karena 56 Bunga Rampai . Selayar. simpati dari berbagai kalangan juga dibarengi dengan sikap sebaliknya yang secara terang-terangan diperlihakan oleh kalangan hakim. Dalam hal ini KY cukup berhasil meraih simpati dari publik. KY tidak berwenang memeriksa putusan hakim. dan mengajak publik untuk senantiasa memusuhi hakim yang berperilaku menyimpang. Banyuwangi) Pemeriksaan terhadap majelis hakim Pengadilan Tinggi Banten yang mengadili kasus korupsi di Lingkungan DPRD Propinsi Banten Pemeriksaan terhadap majelis hakim Pengadilan Negeri Denpasar yang mengadili kasus narkoba dengan terdakwa Michellle Leslie. bahwa putusan itu dapat menjadi pintu masuk (entry point) untuk melihat ada tidaknya penyimpangan atau tidak.

Namun nampaknya tidak membawa hasil. putusan MK ini mendorong simpati publik terhadap KY. Yang terjadi malah konflik terbuka antara MA-KY. KY untuk sementara tidak bisa lagi melakukan usul penjatuhan sanksi. usul pemberhentian hakim kepada presiden sejak pembelaan diri ditolak oleh Majelis Kehormatan Hakim. tapi juga merugikan para pencari keadilan. Putusan MK itu tidak hanya menghambat kerja-kerja KY dalam pengawasan hakim. Semua rekomendasi yang disampaikan KY kepada MA. dilakukan pertemuan antara KY dengan MA. Pengajuan judicial review ini dikhawatirkan meniadakan fungsi pengawasan hakim dan jelas menghambat upaya pemberantasan mafia peradilan. KY se- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 57 . Akibatnya. ICW. tidak ada satupun yang ditindaklanjuti oleh MA. Kekhawatiran ini mengundang sejumlah lembaga swadaya masyarakat (KRHN. dan puncaknya adalah ketika 31 hakim agung mengajukan judicial review terhadap UU KY ke Mahkamah Konstitusi. Untuk mencari titik temu dalam soal obyek dan metode pengawasan. Namun gesekan antara MA-KY tetap berlanjut. MK dalam putusannya mengabulkan hampir semua permohonan. KY kehilangan kekuatan untuk melakukan pengawasan hakim. sempat mengadukan anggota KY ke Kepolisian. Indriyanto Seno Adji. Meski demikian. Sayangnya putusan MK berbicara lain.kerapkali nama-nama hakim yang dilaporkan dan sedang dalam proses pemeriksaan terpublikasikan ke media massa. meski pada akhirnya bisa “berdamai”. membuat laporan hasil pemeriksaan. sejumlah hakim agung yang merasa nama baiknya tercemar oleh KY. Termasuk dalam putusan ini. MK juga menolak hakim konstitusi menjadi bagian dari pengawasan KY. Setidaknya pasca putusan MK. Tidak cukup dengan hal itu. Bahkan secara terang-terangan pimpinan MA menolak dan mengabaikan rekomendasi dari KY. dll) meminta MK membatalkan sejumlah pasal dalam UU KY terkait dengan fungsi pengawasan hakim karena dianggap bertentangan dengan konstitusi. LBH Jakarta dan Kontras) mengajukan permohonan menjadi pihak terkait tidak langsung. memaksa badan peradilan lain atau hakim untuk memberikan keterangan atau data yang diminta. Para hakim agung itu dengan didampingi sejumlah advokat (OC Kaligis.

MA sempat beberapa kali mengeluarkan statement atau pernyataan lewat media masa. Setidaknya itu bisa menjadi kekuatan potensial untuk memperkuat peranan KY. usul tentang sebaiknya pengawasan KY hanya untuk hakim dan tidak untuk mengawasi hakim agung. dan hal ini posititif. UU KY bersama sejumlah UU lain yang terkait (UU MA. Vol I No. Usul atau pandangan ini memang terkesan hendak memdelegitimasi posisi dan peranan KY. dan pengawasan KY diintegrasikan dalam pengawasan internal di MA. seperti rekomendasi dari Lokakarya Dosen HTN Indonesia Wilayah Barat pada 22 Maret 2007. meminta pembentukan KY di daerah-daerah untuk mempercepat reformasi peradilan dan mendukung sepenuhnya percepatan revisi UU No. dan UU MK) mesti direvisi. Revisi UU KY ini bisa menjadi peluang untuk memperbaiki dan memperkuat kembali wewenang pengawasan KY. sanksi dari KY bersifat mengikat dan disampaikan langsung kepada Presiden. Misalnya. KY terlihat begitu rajin membuat kegiatan dan perjanjian kerjasama (MoU) dengan berbagai pihak (akademisi/PT. April 2007) Disisi lain. padahal putusan MK telah dijatuhkan sejak Agustus 2006. putusan dapat ditelaah oleh KY sebagai entry point ada tidaknya pelanggaran hakim. Issue Revisi UU KY Sebagai akibat dari putusan MK. lembaga Negara. ormas. terutama dalam mengawal revisi UU KY. Tercatat sudah lebih dari 100 perjanjian kerjasama yang ditandatangani. 22/2004 tentang KY (Buletin KY. KY sendiri telah menyiapkan usulan pasal-pasal yang harus direvisi. Sayangnya sampai saat ini tidak jelas kapan revisi UU KY akan diproses. lembaga keagamaan.perti mendapat energi baru untuk menggalang berbagai potensi kekuatan dalam masyarakat. Namun bisa jadi kemungkinan itu 3. 58 Bunga Rampai . Dalam konteks ini dukungan juga bermunculan. lengkap dengan naskah akademisnya. UU Kekuasaan Kehakiman. Atau Ketua MA sebaiknya ex officio sebagai Ketua KY. Butir-butir penting dari rekomendasi itu yang dapat memperkuat peranan KY diantaranya adalah. Setidaknya perintah langsung putusan MK adalah meminta DPR dan Pemerintah untuk melakukan sinkronisasi dan harmonisasi undang-undang tersebut. 5. NGO. organisasi profesi).

berhasil jika tidak ada pengawalan yang baik terhadap revisi UU KY, mengingat tidak semua anggota DPR pro terhadap reformasi peradilan. Sebagaimana pernah diakui sendiri oleh seorang anggota DPR yang menyatakan hampir 80% anggota DPR tidak pro-reformasi peradilan, lainnya menyatakan hanya 50%. (F. Arifin, makalah, 2006). 4. Issue Seleksi Hakim Agung Proses seleksi Hakim Agung diawali dengan surat dari MA yang memberitahukan tentang Hakim Agung yang akan pensiun pada tahun 2006. Dan selanjutnya sesuai kesepakatan dengan pimpinan MA, akan diusulkan sejumlah calon Hakim Agung untuk mengisi formasi 6 orang Hakim Agung. KY harus mengusulkan 3 kali lipatnya kepada DPR, sebagaimana ditentukan dalam UU KY. Kemudian DPR memilih dan memutuskan 6 dari 18 calon hakim agung, dan selanjutnya diserahkan kepada Presiden untuk ditetapkan. Kewenangan dalam menyeleksi Hakim Agung ini merupakan kali pertama dilakukan lewat KY, yang diharapkan dapat lebih baik dari proses seleksi yang sebelumnya dilakukan oleh DPR. Ini tentu saja taruhan besar bagi KY. Jika hasil seleksi hakim agung KY lebih baik, KY tentunya mendapat appreciate yang tinggi. Jika sebaliknya, bisa jadi performance dan kredibilitas KY akan diragukan publik. Berbeda dengan proses sebelumnya, seleksi hakim agung kali ini terdiri dari beberapa tahapan; seleksi administratif, penilaian karya ilmiah, dan kesehatan, seleksi kepribadian/profile assessment, dan seleksi kualitas/wawancara. Kecuali tahap seleksi wawancara, dalam setiap tahapan lainnya, KY melibatkan sejumlah pihak yang dianggap kompeten untuk menangani hal itu. Termasuk dalam hal ini usul dan laporan dari masyarakat tentang track record masing-masing calon. Dengan mengedepankan soal integritas dan kualitas, KY kemudian mengabaikan soal kuantitas dalam menentukan hasilnya. Dari 130 bakal calon yang mendaftar, pada akhirnya KY memutus 6 orang calon yang dinilai layak untuk disampaikan kepada DPR. Hasil ini mengundang kontroversi, karena KY meloloskan Ahmad Ali seorang calon yang dianggap berperilaku tidak terpuji dan diduga kuat terlibat dalam kasus korupsi. Apalagi keputusan meloloskan Ahmad Ali ini dilakukan dengan cara voting, 2 menolak dan 5 meloloskan. Akibatnya KY mendapat banyak kritik yang memperKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

59

tanyakan metode dan keputusan dalam seleksi hakim agung ini. Hasil itu juga tidak sepenuhnya diterima oleh DPR. DPR meminta KY untuk melengkapi kekurangannya bahwa KY harus mengusulkan 3 kali lipat dari yang dibutuhkan. DPR tidak akan memilih dan memutuskan hasil dari KY sebelum KY melengkapinya. Sikap DPR ini memaksa KY untuk melakukan seleksi hakim agung tahap kedua. Walaupun kemudian KY telah melengkapi jumlah kekurangannya, namun nampaknya DPR tidak cukup puas dengan calon hakim yang dihasilkan KY. Sejumlah anggota komisi hukum DPR yang melakukan fit and proper test calon hakim agung, beranggapan calon hakim agung yang dihasilkan KY tidak berkualitas. Kritik juga terlontar terhadap anggaran sebesar + Rp. 4 miliar yang digunakan dalam seluruh proses seleksi hakim agung. Issue anggaran ini menjadi bola panas, dan menuai kritik dari sejumlah pihak (DPR dan MA). Mereka mempertanyakan besarnya anggaran yang digunakan, dan mengganggap tidak sebanding dengan hasilnya. Meski telah dijelaskan secara terbuka, dan pada seleksi kedua terjadi perubahan metode/tahapan agar bisa mengurangi anggaran yang digunakan, tapi nampaknya tidak cukup berhasil untuk menepis issue anggaran yang dianggap terlalu boros. Bagi sejumlah kalangan, peranan KY dalam melakukan seleksi hakim agung ini memang diluar harapan. Ada sejumlah persoalan yang tidak bisa dijelaskan dan dijawab dengan baik, terutama menyangkut soal konsistensi antara tujuan dengan hasil seleksi. Dalam hal ini KY selalu menyatakan lebih mengedepankan integritas dan kualitas. Namun ternyata, ada beberapa calon Hakim Agung yang kemudian diragukan kapasitas dan integritasnya. Nampaknya peranan KY dalam seleksi Hakim Agung ini, ‘menggoyahkan’ simpati terhadap KY yang sudah terbangun. Mengelola Simpati, Meminimalisir Resistensi Keberadaan dan kehadiran KY dalam sistem hukum dan ketatanegaraan Indonesia, memang memberikan harapan akan perbaikan sistem peradilan. Dalam dua tahun KY menjalankan fungsi, tugas dan kewenangannya, menunjukkan bahwa KY memiliki peranan yang signifikan dan strate-

60

Bunga Rampai

gis untuk mendorong dan memperkuat reformasi peradilan. Dengan kata lain, KY akan menjadi “pengawal setia” reformasi peradilan, khususnya dalam mencari dan memperbaiki kualitas dan integritas para hakim. Meski terbatas, selama ini KY cukup berhasil untuk “meng-entertaint” fungsi dan kewenangannya. Setidaknya hal itu dapat terlihat dari pemberitaan yang muncul mengenai sepak terjang KY lengkap dengan konflik yang terjadi diseputarnya. Ini suatu hal yang positif bagi sebuah lembaga baru, sehingga publik banyak mengenal dan mengetahui tentang KY. Ditambah upaya dari KY sendiri yang memperluas jejaring kelembagaannya dengan banyak lembaga/organisasi. Sehingga KY tidak hanya menuai simpati, tetapi juga dukungan riil dari berbagai kalangan. Simpati dan dukungan itu setidaknya dapat terlihat dari NGO, akademisi, kampus, praktisi/pengamat hukum, tokoh masyarakat/agama, ormas, sebagian anggota DPR, lembaga Negara/pemerintah, organisasi profesi serta pers. Pada saat yang bersamaan upaya perlawanan atau resistensi terhadap KY juga bermunculan. Resistensi muncul terutama dari kalangan hakim dan unsur/pihak MA, yang merasa eksistensi dan “kemapanan”nya terusik dengan kehadiran KY. Sebagaimana tergambar di atas, upaya perlawanan itu dilakukan dalam berbagai bentuk, mulai dari membangun opini, penolakan rekomendasi sampai langkah dan upaya hukum untuk mendelegitimasi keberadaan KY. Dalam hal-hal tertentu, resistensi juga muncul dari sebagian anggota legislatif dan kalangan advokat, yang khawatir dengan peranan KY dapat mengganggu kepentingan mereka. Resistensi dari sejumlah pihak dengan berbagai bentuknya itu, nampaknya sudah menunjukkan watak sesungguhnya yang anti terhadap perubahan. Terhadap resistensi itu, nampaknya KY belum bisa sepenuhnya meng-counter dan menjadikan hal itu menjadi issue publik. Misalnya, penolakan terhadap rekomendasi KY dapat dijadikan issue pejabat Negara yang tidak patuh pada aturan hukum. Lambannya revisi UU KY dapat dikemas menjadi issue hambatan dalam pemberantasan mafia peradilan. Juga terhadap issue anggaran seleksi Hakim Agung, dapat dilawan dengan minimnya anggaran untuk bidang hukum atau peradilan. Karena selama ini terjadi diskriminasi angga-

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

61

ran untuk kekuasaan yudisial jika dibandingkan anggaran untuk legislatif dan eksekutif. Pada sejumlah issue-issue tersebut di atas, KY juga tidak memaksimalkan simpati dan jejaring yang telah didapat untuk memberikan dukungan yang diperlukan. Entah dikemanakan banyak pihak yang telah mengikat kerjasama dengan KY. KY belum cukup berhasil mengelola simpati dan jejaring untuk melegitimasi dan memperkuat peranan KY. Disamping itu, nampaknya kondisi internal KY belum cukup kuat dan solid untuk memanage potensi kekuatan dengan tantangan yang ada, dan menjadikannya sebuah peluang yang dapat diambil. Termasuk dalam hal ini dalam memanage potensi konflik, membangun opini publik dan memaksimalkan kapasitas sumber daya manusia yang ada. Sebagai lembaga komisi independen yang baru terbentuk, memang tidak mudah untuk menjalankan fungsi dan kewenangannya. Umumnya hal ini terjadi pada lembagalembaga komisi independen yang telah terbentuk. Apalagi dengan kewenangan yang terbatas, lemahnya komitmen dan political will, serta arus balik anti reformasi yang sudah mulai melakukan konsolidasi dan menguat. Kebanyakan tidak cukup berhasil untuk mengelola kewenangannya dengan baik, bahkan ada beberapa diantaranya mengalami krisis kelembagaan dan terancam bubar. Tetapi hal itu nampaknya tidak demikian bagi KY. Perlu diingat, bahwa KY memiliki legitimasi yang kuat sebagai satu-satunya lembaga komisi independen yang diatur tegas dalam konstitusi. Pengaturan dalam konstitusi membuat keberadaan KY lebih terjamin. Karena itu kecil kemungkinan KY dapat mengalami seperti halnya lembaga komisi independen lainnya. KY harus menghindari itu, dan menjadi lembaga yang “seolah-olah ada”, serta cenderung birokratis. Kedepan KY perlu mengelola simpati lebih baik lagi agar menjadi lebih produktif dan mendukung kerja-kerja KY. Sejalan dengan hal itu, perlu diminimalisir hal-hal yang dapat menuai resistensi dari berbagai kalangan terutama para hakim. Sekalipun terjadi, sedapat mungkin dieliminasi agar tidak mendelegitimasi posisi dan peranan KY Usaha tersebut mengharuskan peran serta dari sejumlah pihak yang punya kewajiban dan kewenangan memperbaiki dan men-support peranan KY. Tidak bisa dilakukan oleh KY

62

Bunga Rampai

sendiri. Oleh karena itu, agar performance KY lebih baik lagi, yang perlu dilakukan kedepan adalah sebagai berikut; 1. 2. mendorong dan menjadikan issue/masalah KY menjadi issue publik, sehingga simpati yang telah diraih dapat lebih konkrit dan diperluas. memaksimalkan peranan jejaring yang telah ada dengan men-desentralisasi kewenangan KY terutama kewenangan mengawasi hakim. Untuk hal ini setidaknya dapat dibentuk segera perwakilan KY di sejumlah daerah yang rawan mafia peradilan, serta terdapat jejaring yang cukup potensial dan mampu menjalankan desentralisasi kewenangan itu. menyiapkan perangkat-perangkat organisasi, terutama regulasi internal yang diperlukan untuk memperlancar pelaksanaan tugas dan kewenangan KY, terlebih penting dapat membuat KY lebih transparan, akuntable dan legitimate dimata publik. menyusun code of conduct yang dapat dijadikan sebagai pedoman dan indikator dalam hal pengawasan hakim. Untuk hal ini ada baiknya disusun secara bersama dengan MA. memperkuat fungsi dan peranan KY di dalam revisi UU KY, terutama menyangkut soal pengawasan hakim dapat dilakukan secara efektif. Dalam hal ini setidaknya KY dapat memberikan sanksi yang bersifat mengikat kepada Presiden tentang hakim yang terbukti melanggar perilaku. melakukan kampaye dan pendidikan kepada publik untuk terus-menerus secara konsisten memerangi dan melawan mafia peradilan. Termasuk dalam hal ini meminta kepada DPR dan Presiden agar sungguh-sungguh melakukan pemberantasan mafia peradilan sebagai bagian dari upaya memberantas korupsi.

3.

4.

5.

6.

Epilog Sungguhpun disadari dan dirasakan bahwa membangun sistem peradilan yang baik dan bersih dengan melawan judicial corruption yang telah berurat akar didalamnya, tidak semudah membalik telapan tangan. Tidak segampang yang telah dibayangkan dan direncanakan, akan tetapi upaya ini harus tetap terus dilakukan. Keberadaan dan kehadiran
Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

63

Komisi Yudisial memberikan harapan dan arti penting untuk tetap menjaga dan merawat upaya reformasi peradilan. Upaya yang barangkali tidak pernah diketahui kapan akan berhenti, demi tujuan mulia menegakkan kebenaran dan keadilan. Sejauh ini peranan Komisi Yudisial dapat menjadi spirit dan inspirasi dalam melanjutkan reformasi peradilan. Setidaknya melalui pengawasan para hakim dan menyiapkan hakim agar lebih berkualitas, professional, terpuji dan berpihak pada keadilan. Betapapun kemudian upaya yang dilakukan KY tidak mulus, karena adanya resistensi yang menghambat kerja-kerja KY sekalipun simpati dan dukungan juga bermunculan. Terlihat tidak mudah bagi KY untuk mendayung diantara simpati dan resistensi dalam mengawal reformasi peradilan. Namun yang jelas dan pasti para pencari keadilan masih tertindas dan merasakan ketidakadilan. Suatu kondisi yang tidak bisa dibiarkan berlarut-larut dan harus dihentikan. Mengingat KY memiliki peranan strategis dalam mengawal reformasi peradilan, maka sudah sepatutnya peranan KY perlu diperkuat kedepan. Langkah-langkah yang perlu dilakukan tidak hanya ditujukan kepada KY, tetapi juga DPR dan Presiden sebagai penerima langsung mandat rakyat yang sudah rindu akan penegakan hukum dan keadilan. Semoga tidak menjadi sebatas harapan.

64

Bunga Rampai

Ini dinamakan standar internal. oleh karena institut itu ada untuk melayani publik. serta tingkat kepuasan publik. melainkan berada dalam jagat yang lebih luas. Tuntutan transparansi tersebut membuka keKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 65 . Tetapi ia menjadi lebih intensif sejak kelahiran apa yang dinamakan Orde Reformasi dengan kredo demokratisasi. maka penilaian berdasar standar internal saja tidaklah cukup. menemukan banyak kekurangan dan hal-hal negatif di peradilan. serta transparansi. maka reformasi tentunya akan menyangkut pula sekalian komponen dari peradilan. Di sini peranan publik makin mendapat angin dan terus merangsek maju. Interaksi ada secara laten (latent). kinerja (performance).Kontribusi Lembaga Sosial Mendorong Reformasi Peradilan Oleh Satjipto Rahardjo Latar Belakang Reformasi Reformasi suatu peradilan tentu memiliki alasan mengapa peradilan harus direformasi. sehingga hampir tidak ada putusan publik yang tidak didemo. desentralisasi kekuasaan. Sejak peradilan itu memiliki beberapa komponen. Terdapat interaksi antara institut dan publik. seperti pengadilan sendiri. Alasan empirik yang didorong oleh keterbukaan tersebut. reformasi juga terkait pada masalah sistem. Alasan empirik bergerak pada ranah praksis peradilan sehari-hari. seperti produk. Kecuali alasan empirik. kapanpun juga. Sekalian institut dalam peradilan memiliki standar masing-masing yang digunakan untuk melakukan penilaian. Sejak suatu institut tidak ada untuk dirinya sendiri. kejaksaan dan advokat.

melainkan ”opstand der horden” (bangkitnya massa. para ”preman”). sekarang bertambah besar dan kuat. Lembaga Pemantau Peradilan dan Transparensi Internasional. atau dalam istilah Indonesia. Sejak jatuhnya pemerintahan Presiden Soeharto. 1957). Dari suatu ”state-based society”. berbagai tembok atau bastion dari orde pemerintah lama telah diruntuhkan. yang memberi alasan kuat untuk melakukan reformasi peradilan. Bukan demokrat-demokrat sejati yang muncul. Otonomi kekuatankekuatan dalam masyarakat tampil menjadi semakin perkasa. Sejumlah besar kejadian telah berhasil dihimpun oleh institut-institut independen. maka reformasi dikaitkan kepada rancangan sistem atau bangunan peradilan yang berawal dari Undang-Undang Dasar 1945.sempatan yang luas untuk melakukan eksaminasi terhadap praksis dan jalannya peradilan. bahkan mungkin untuk sementara secara jujur harus dikatakan. apa yang dikenal sebagai. untuk kemudian berubah menuju pemerintahan yang lebih bersifat kerakyatan. Meminjam istilah Jose Ortega y Gasset (y Gasset. peran masyarakat atau publik ke dalam urusan kenegaraan dan pemerintahan. Undang-Undang Dasar memiliki otoritas tertinggi untuk menentukan bagaimana sistem peradilan di negeri ini akan dibangun. yaitu suatu tipe pemerintahan yang berbasis kekuasaan hampir-mutlak. Bukan pemilihan oleh rakyat yang jujur yang terjadi. Tidak semua berlangsung secara ideal. seperti ICW. sehingga tidak ada borok yang bagaimana kecilpun yang tidak menerima sorotan dari masyarakat. bahwa tampilan yang buruk dan negatif lebih menonjol daripada yang diidam-idamkan oleh perubahan tersebut. melainkan 66 Bunga Rampai . “civil society”. masyarakat madani. akibat demokratisasi. Lembaga Sosial Sebagaimana diuraikan di atas. Pada ranah dan aras sistem. melainkan banyak juga para “preman”. Indonesia pelan-pelan bergerak menuju. Momentum reformasi peradilan memberi kesempatan kepada kita untuk memikirkan kembali tentang rancangan peradilan menurut Undang-Undang Dasar dan apakah pesan serta amanat dalam Konstitusi itu sudah diselesaikan dengan baik. bukan ”de opstand der democratie”.

seperti dalam Kasus Marsinah. sebagai Sekretaris Jenderal. penembakan di Irian. Ia cukup cepat merespons setiap kejadian dugaan pelanggaran HAM. Selama keberadaannya. melainkan lebih merupakan suatu otonomi yang didasarkan pada penalaran ”apa yang kelompok saya bisa dapat”. melainkan harus berani menghadapi berbagai eksaminasi yang dilakukan oleh masyarakat melalui lembaga sosial yang makin menjamur itu. melainkan penalaran oleh uang atau kapital. Otonomi daerah tidak menyumbang kepada kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. melainkan tercatat pula lembaga yang tidak demikan. ia justru memanfaatkan jabatannya itu. Baharudin Lopa. Komnas belum pernah sekalipun bertemu dan menerima ”pesan” dari Presiden Soeharto.pemilihan berdasarkan ”kekuatan uang”. Bukan penalaran nurani rakyat. Komnas sempat menjadi ikon dan tumpuan harapan masyarakat. Peradilan sekarang tidak dapat lebih lama berlindung di bawah wibawa pemerintah. turun ke lapangan dan membuat simpulan serta pernyataan yang cukup berani. sehingga Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 67 . namun secara cukup mengejutkan ternyata mampu menjaga independensi dan integritas serta mengambil jarak dari pemerintah. Tetapi keadaan seperti itu tak perlu terlalu dirisaukan. dan penyerbuan terhadap Kantor Pusat PDI-P. oleh karena pada akhirnya akan terjadi seleksi alami. berperan besar dalam memotori gerakan-gerakan Komnas. Memang rupa-rupanya tidak sekalian lembaga sosial itu baik dan jujur serta beramanah. Sebagai Direktur Jenderal Pemasyarakatan pada waktu itu. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas) generasi pertama (1993-2001) sering mendapat sebutan yang demikian itu. sehingga lembaga yang benar-benar berkualitas saja yang akan bertahan. Hal itu memang memprihatinkan. yaitu lembaga yang disponsori oleh pemerintah. Terkadang ada seloroh mengenai adanya lembaga sosial ”pelat merah”. seperti di jaman pemerintahan Soeharto. Lembaga sosial boleh disebut sebagai presentasi persepsi masyarakat yang relatif jujur atau tidak terkooptasi oleh kepentingan penguasa. oleh karena dapat merusak reputasi lembaga sosial yang memang bersungguh-sungguh ingin menjadikan rakyat sebagai raja. Karena reputasinya itu maka di tengah-tengah kuatnya cengkeraman pemerintah.

Komunitas akademi yang ideal adalah independen. Komunitas akademi memiliki sekalian persyaratan untuk dimasukkan juga ke dalam barisan lembaga sosial. apabila diminta sebagai pembicara dalam seminar. kekuatan tersebut belum benar-benar tampil sebagai suatu kekuatan sosial aset bangsa. Sesekali mereka ”turun dari gunung”. Di Indonesia. seperti Pusat Studi Anti Korupsi pada Universitas Gajah Mada. Peluang ini digunakan oleh Komnas untuk ”menggedor” jajaran pemerintah dan ABRI yang melakukan pelanggaran HAM. menguji dan meneliti. Selebihnya mereka sangat disibukkan oleh kegiatan mengajar. bangsa dan negara. tetapi masih lebih berada dalam apa yang sering disebut sebagai sebuah ”menara gading”. Kendati suatu universitas negeri dibiayai dari anggaran belanja negara. yang terdiri dari para scholar dan peneliti. tak dapat disetir dan dikooptasi oleh pemerintah. didasarkan pada kaidah keilmuan yang obyektif. Penampilan yang lebih maju dilakukan melalui pembentukan pusat-pusat kajian. Dengan mempertahankan posisi yang demikian itu memang komunitas akademi dapat mempertahankan kejujurannya dalam menelaah berbagai permasalahan dan kalau perlu membuat solusi tindakan. Universitas yang sarat dengan watak keilmuan. Komunitas Akademi Satu kekuatan sosial yang belum termanfaatkan dengan baik adalah dunia akademi. Rupa-rupanya kalangan pemerintahan belum dapat membedakan secara baik antara Lopa sebagai Dirjen dan sebagai anggota Komnas yang mandiri. dengan begitu ia tetap merupakan aset bangsa yang belum dapat memberikan kontribusi secara optimal terhadap penyelesaian permasalahan masyarakat. Komunitas ini melakukan pengamatan (observe) terhadap sekalian hal yang terjadi di masyarakat. jujur dan membuat simpulannya sendiri yang secara relatif tidak dicemari oleh kepentingan tertentu. Namun demikian. Itu meru- 68 Bunga Rampai . tetapi ia tetap memiliki watak untuk disebut sebagai lembaga mandiri dan karena itu dapat digolongkan ke dalam lembaga sosial. menjadi konsultan dan lain-lain.Komnas sering dengan relatif mudah dapat memasuki ranah yang ”dikuasai” pemerintah.

makin menurunnya pengetahuan dan kesepakatan mengenai hukum yang berlaku. negeri Belanda. khususnya Mahkamah Agung Republik Indonesia. Pompe menuliskan seluk beluk perjalanan sejarah Mahkamah Agung yang menyoroti aspek-aspek pengaruh dan intervensi politik terhadap Mahkamah. Oleh karena ketiadaan keterbukaan. Dikatakan oleh Pompe. Dalam hal perekrutan hakim. . as a number of chairmen have failed to impose institutional values on the Court’s environment and have also failed to enhance internal cohesion and morale. 2005).” Banyak Ketua Mahkamah yang tidak menjalankan kepemimpinannya dengan ideal. Dikatakan oleh Pompe. characterized by weak leadership. A Study of Institutional Collapse” (Pompe. “This condition. “This lack of transparency is an important factor in obscuring the personalities of the judges who are recruited and the views which they hold. which has been largerly directed toward recruiting leaders who have either strong ties to the executive branch of the government or accomodating dispositions. menurunnya perbandingan penge- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 69 . baik dokumen maupun catatan-catatan wawancara (fact-based research).” Kelemahan dan kekurangan tersebut muncul dari proses penerimaan (recruitment) hakim yang terlalu melihat kepada kedekatan seseorang calon dengan eksekutif. tidak terdapat keterbukaan dan peranan birokrasi sangat kuat (effectively controlled by the bureaucracy). Disertasi tersebut (Fifty Years Indonesian Supreme Court. Penelitian tersebut selesai ditulis sebagai disertasi yang dipertahankan di Universitas Leiden. “The leadership standards of many Supreme Court Chairmen have fallen far short of the ideal. fungsi pengadilan. maka banyak peluang bagi terjadinya hal-hal yang tidak baik (improprieties). sprang naturally from the nature of recruitment process.” Komentarnya terhadap standar profesionalitas adalah. Metode yang digunakan sangat kuat berdasarkan fakta. serta kualitas para hakim. 1996) kemudian diterbitkan sebagai buku pada tahun 2005 berjudul “The Indonesian Supreme Court.. pada tahun 1996.pakan kemubaziran yang disayangkan. organisasi pengadilan.. Dengan data yang kaya. Penelitian Sebastiaan Pompe Sebastiaan Pompe telah melakukan penelitian yang sangat intensif terhadap dunia pengadilan di Indonesia.

bahwa mereka akan mampu menyelesaikan persoalan-persoalannya sendiri. Sebagian hanya ingin mempertahankan keadaan sekarang. ini dinamakan kesadaran atau perasaan ”in-group” yang membedakan dan mengambil jarak terhadap ”out-group”. and respect to contempt. menyimpulkan limapuluh tahun sejarah Mahkamah Agung R. integrity to structural corruption. dimana telah terjadi sejumlah kemerosotan. bahwa lembaga itu mempunyai kecenderungan kuat untuk berusaha mempertahankan eksistensinya dan dengan demikian juga menyimpan keinginan kuat untuk dengan berbagai cara memberikan legitimasi terhadap eksistensinya itu. Pada waktu TGPTPK. Ada semacam resistensi terhadap ”penyerbuan dari luar” yang akan mengguncang kenyamanan kelangsungan hidup lembaga dan para anggota di dalamnya. menyelamatkan keadaan dan menuju masa depan yang lebih baik. Mereka yang menolak pembukaan pintu bagi hakimhakim (opening up recruitment) yang direkrut dari luar pengadilan beralasan. ingin membawa beberapa Ha- 70 Bunga Rampai . bukan karena tidak ada orang luar yang mampu duduk di kursi hakim. Dalam sosiologi. ke dalam kata-kata yang padat. Dunia pengadilan percaya. yang satu menutup pintu bagi masuknya orang luar.I. pada tahun 2000. Pada bagian akhir dari analisisnya mengenai para hakim. Dalam dunia pengadilan ada dua kubu. Para hakim diumpamakan isi dari sebuah kantong yang bermacam-macam. sedang yang lain menerima gagasan untuk merekrut orang-orang dari luar menjadi hakim.tahuan mengenai hukum (comparative legal knowledge) serta menurunnya kedisiplinan pribadi (personal strictness).” Melihat Pengadilan Dari Luar Optik sosiologi akan mengatakan. melainkan karena rekrutmen secara terbuka itu akan membawa persoalan politik masuk ke pengadilan (cut across the political spectrum). capability to incompetence. yaitu ”courage turn to cowardice. Pompe. Sindrom ketertutupan itu menghinggapi setiap lembaga apapun. Barangkali pembubaran Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTK) merupakan contoh tentang usaha untuk mempertahankan Iembaga sendiri. tetapi sebagian lain terdiri dari orangorang yang serius ingin melakukan pembaruan.

Wakil Ketua. untuk sebagian dapat dijelaskan dari hal-hal yang diuraikan di atas. mengadakan satu seminar yang menyoroti pungutan liar poIisi di jalan-jalan. Pengadilan diberi kekuasaan untuk memutus suatu perkara. Tidak mudah untuk melakukan penilaian yang jujur terhadap lembaga sendiri.kim Agung ke pengadilan. berupa kekuasaan eksklusif tertentu. Dalam seminar tersebut. menginterogasi dan akhirnya menyerahkannya kepada jaksa untuk diajukan ke pengadilan. Polri bagaikan membuka boroknya sendiri. justru dibubarkan. Dalam konteks itu. Alasan bagi kehadiran tim-tim yang disebut ”independen” di negeri kita dewasa ini. komisi-komisi tersebut beIum mandiri benar. Banyak kekuasaan diberikan kepada lembaga-Iembaga. menahan. yang bersemangat tinggi untuk memberantas korupsi. Sekretaris). merupakan suatu peristiwa yang cukup luar biasa. masih dipegang oleh pejabat tinggi dalam pemerintahan. melihat komposisi keanggotaannya. Kediktatoran Pengadilan Putusan hakim menjadi krusial. melalui data yang ditemukan di lapangan. pada waktu Kepolisian Daerah Jawa Barat. Hakim yang memiliki kecenderungan legalistik akan memutus berdasarkan kacamaKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 71 . dengan dakwaan korupsi. karena ditentukan oleh pikiran atau mindset sang hakim. maka. TGPTPK. maka melalui sebuah judicial review. karena adanya berbagai sindrom tersebut di atas. misalnya. Pertanyaan mendasar selanjutnya adalah. Kalau demikian lalu ”siapa mengawasi pengadilan?” dan ”siapa mengawasi polisi?”. karena umumnya lembaga-lembaga publik lebih suka melegitimasi diri sendiri. apakah hakim dan polisi tidak dapat melakukan kesalahan? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut cenderung memastikan. jawaban itu diberikan dengan membentuk Komisi Yudisial dan Komisi Kepolisian Nasional. Ini merupakan cacat yang tidak kecil. Tidak ada lembaga yang diberi kekuasaan seperti itu. Oleh sebab itu diperlukan suatu ”kekuatan-dari-luar” untuk dapat memberikan penilaian yang lebih jujur. Ini memang satu kekecualian. Pimpinan Komisi Kepolisian Nasional (Ketua. seperti pengadilan dan kepolisian. Di Indonesia. sedang polisi untuk menangkap. pada tahun 80-an (?). Kendati demikian.

72 Bunga Rampai . Di Ohio. Itulah esensi ”Victor’s Justice”. Dengan demikian. maka saat seorang kulit hitam diadili karena membunuh kulit putih di Amerika Serikat. dimana alam pikiran yang satu mengadili alam pikiran yang lain. “substantial justice”. sehingga (putusan) hukum itu berbanding lurus dengan status sosial (law varies directly with social status) (Black. Sebutan pengadilan tersebut diberikan kepada pengadilan Negara-negara Sekutu yang memenangkan Perang Dunia II terhadap para pemimpin Nazi Jerman. risiko itu adalah 15% lebih tinggi daripada baku bunuh antara sesama kulit hitam. ‘’police justice”. Sekalian penyebutan itu menggambarkan semacam protes terhadap kekuasaan hakim untuk menentukan siapa salah dan benar. Penelitian Donald Black di Amerika Serikat menemukan. bahwa pengadilan itu melakukan diskriminasi sosial. yang kalah perang. Apabila seseorang dengan status sosial rendah menyerang orang dengan status sosial tinggi. Saya kira. maka risiko untuk dijatuhi hukuman mati melonjak tinggi. orang kedua sesudah Hitler itu mengatakan. Bukan jaksa atau polisi. betapa medan pengadilan menjadi ajang pertemuan antara dua alam pikiran. hakim memiliki kekuasaan besar untuk memonopoli pembuatan putusan. di Florida 40% dan di Texas hampir 90% lebih tinggi. karena kalah perang. “street justice” dan lain-lain. maka andalah yang akan diadili”. ”Anda mengadili kami. Maka terjadilah suatu pengadilan. pengadilan yang demikian itu dapat juga ditarik ke arah yang lebih tinggi dan menjadi suatu masalah yang bersifat akademis. di atas 30% lebih tinggi. atau sosiologi pengadilan. 1989). Pada waktu Herman Goring melakukan pembelaan. Penamaan pengadilan dan peradilan yang demikian itu dapat digunakan untuk menggambarkan. Andaikata kami yang menang. Apapun kacamata yang dipakainya. manakala pikiran hukum hakim berbeda dengan terdakwa. Potret yang demikian itu memancing pendapat.ta yang digunakannya itu. Situasi yang demikian itu terjadi. maka perkaranya akan ditangani dengan keras dan demikian sebaliknya. di Nuremberg. Oleh sebab itu muncul sebutan-sebutan ’’formal justice”. Di Georgia. Konflik yang demikian itu dapat juga dilihat dari perspektif sosiologis. Menarik untuk membicarakan kediktatoran pengadilan dalam kaitan dengan “Victor’s Justice”.

Jaksa: Gadis itu sudah mati. sehingga bukti yang diperoleh dari situ. Polisi: Surat penggeledahan? Pada waktu itu saya dihadapkan kepada seorang anak perempuan yang tengah sekarat. tidak dapat dibawa ke pengadilan. maaf saja. Namun bagaimanapun. segalanya sebetulnya sederhana saja. pada saat kita berpikir untuk melakukan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 73 . Polisi: Tapi saya tidak tahu hal itu. karena. Hakim: Pada hemat saya. melalui dialog antara polisi dan hakim (Quirk & Bridwell. harus dikesampingkan. doktrin dan tidak berselera untuk melihat kenyataan. tetapi tidak ada alasan untuk membenarkan kekerasan hukum yang telah dilakukan oleh polisi. pengakuan terdakwa. 1997). Ilustrasi dari film tersebut menggambarkan betapa pengadilan itu tidak hanya menjadi medan pergulatan hukum. Hak tersangka yang dijamin oleh Amandemen ke-4 dan ke. Pengadilan dan hakim sering dianggap diktator. Ilmu Hukum yang Terintegrasi llmu hukum niscaya merupakan sumber penting yang perlu ditengok. menurut laporan ahli.bahwa yang terjadi di Amerika Serikat adalah ”white’s justice”. Hakim: Pengadilan mengakui kepedulian polisi terhadap nyawa gadis itu.5. juga pergulatan ideologi. semua bukti fisik. Semua bukti mengenai gadis itu. karena memiliki kekuasaan besar untuk menentukan siapa salah dan siapa benar. Ya. dan mungkin ke-6 dan ke14 telah dilanggar. Diceritakan adegan menarik dari sebuah film yang didasari oleh semangat menggugat kediktatoran hakim tersebut. Kekuasaan itu dapat mematahkan usahausaha untuk mencari kebenaran. Anda seharusnya berusaha lebih dulu untuk mendapat hak untuk menggeledah (search warrant). misalnya. sang hakim berpegangan kepada peraturan. penggeledahan terhadap rumah tersangka adalah tidak sah. hanya hakimlah yang boleh memutus dan yang lain harus diam. melainkan juga pergulatan kemanusiaan dan dengan demikian.

Bidang-bidang hukum baru muncul sebagai bagian dari perkembangan masyarakat yang berkembang cepat pada masa itu. Hakim sama sekali tidak memiliki kekuasaan apapun untuk mengubah dan menafsirkan undang-undang. Ilmu hukum menjadi identik dengan ”analytical jurisprudence” atau ”rechtsdogmatiek”. dengan catatan penting. melainkan berkembang dan bergerak dinamis. des etres inanimes. llmu hukum merupakan pundi-pundi yang menghimpun sekalian pemikiran dan perkembangan baru dalam pemikiran hukum. Pengadilan atau hakimpun tidak boleh berbuat lain. qui prononcent les paroles de la loi. Hal tersebut dilakukan dengan pengorganisasian dan sistematisasi bahan hukum yang tersedia. Puncaknya adalah pada saat sekalian massa perundang-undangan tersebut dihimpun dalam kitab-kitab hukum. Kepastian hukum pun muncul sebagai suatu barang yang nyata dan menjadi ikon. maka 74 Bunga Rampai . Ilmu hukum merespons perkembangan tersebut dengan melakukan konsolidasi untuk mengamankan prestasi yang telah dicapai. kecuali menjadi corong dari undang-undang (”Les juges de la nation ne sont que les bouches. Langkah dan tindakan konkret dalam hukum memerlukan pencerahan yang datang dari ”the state of the art” dalam ilmu hukum. Dalam atmosfer seperti itu. llmu hukum abad ke-21 niscaya jauh berbeda daripada abad ke-19.reformasi peradilan. Ilmu hukum menjadi terfokus ke dalam. Ilmu hukum memusatkan perhatiannya terhadap hukum positif. Persoalan besar pertama yang dihadapi adalah ”apa sesudah kodifikasi?”. Berbicara hukum adalah berbicara mengenai suatu kepastian. ilmu hukum tidak boleh keluar dari batas perundangundangan (alles binnen de kader van de wet). demikian Montesquieu). Ia tidak boleh keluar dari medan perundang-undangan. qui peuvent moderer ni la force ni la rigeur”. Perkembangan dalam hukum positif akhirnya memacu pengusaan ilmu hukum. transportasi berkembang dengan cepat yang membutuhkan dukungan hukum. Industri. Maka abad ke-19 pun dikenal sebagai Era Kodifikasi. Ilmu hukum tidak berhenti. Siasat tersebut dilakukan dengan mengintensifkan pemahaman terhadap jagat hukum yang telah menjadi demikian luas. perdagangan. Abad ke-19 menampilkan dinamika luar biasa dalam perkembangan hukum positif.

1954). mengakhiri ilmu hukum abad ke-19. is niet zo heel veel overgebleven. Rotterdam. pidana. 2004). Perkembangan terakhir dalam ilmu hukum menunjukkan kecenderungan ke arah struktur yang tidak lagi terkotak-kotak secara ketat. 1995). sejak mulai rekrutmen para calon doktor (Program doktor. bahwa pengkotakan hukum se- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 75 . Sejumlah dokter. Suasana kepastian dan kekakuan abad ke-19 tidak dapat dipertahankan 1ebih lama 1agi. bukan sebaliknya (Rahardjo. Foque et al. Dikatakan oleh Scholten. Perubahan penting juga terjadi di bidang peradilan yang semula dianggap sekedar sebagai mesin otomat yang menerapkan undang-undang. Program doktor ilmu hukum Universitas Diponegoro telah mencoba untuk mencairkan batas-batas yang demikian itu. Ilmu hukum juga sibuk untuk membangun struktur dan dari situ disusun bangunan hukum yang didasarkan pada pemisahan sub-disiplin secara ketat (hukum-hukum perdata. insinyur dan sarjana dari ilmu-ilmu sosial. dalam memperingati 30 tahun usianya (1993). administrasi negara dan lain-lain). Hukum harus mengikuti masyarakat dan perkembangannya. telah menyelesaikan disertasinya pada program tersebut.cara berhukum pun sudah seperti mesin dan tidak berbeda daripada mengerjakan soal matematika. tidak banyak lagi sisanya). 1993). Buku yang berisi kumpulan karangan tersebut menggugat kemapanan pembagian ke dalam berbagai sub disiplin hukum dan menyebutnya sebagai ketinggalan zaman.” (Kepastian. Program doktor tersebut menuangkannya ke dalam paradigma ”Hukum untuk Manusia”. misalnya menggugat. seperti diterima banyak orang di abad ke-19. ilmu hukum pun mengalami perkembangan dan perubahan penting. Fakultas hukum Erasmus. bahwa penemuan hukum adalah penerapan hukum. sebagai ”het hanteren van logische jiguren” (Scholten. telah menerbitkan sebuah buku berjudul ”Geintegreerde rchtswetenschap” (”Ilmu hukum yang terintegrasi”. Perubahan penting terjadi. Seorang insinyur geologi telah menganalisis kerusuhan sosial dengan menggunakan disiplin ke-insinyuran-nya. Memasuki abad ke-20. Salah satu artikel. ”Van de rustige verzekerdheid van velen in de 19 de eeuw. Belanda. dat rechtsvinding is wetstoepassing. Paul Scholten mengatakan tentang cara berhukum seperti itu. tata negara.

maka di tengah-tengah lalu lintas ideologi hukum di dunia ini. Dengan mengutip ”implicit philosophy” Ronald Dworkin. Kehidupan sosial dan hubungan-hubungan dalam masyarakat dewasa ini sudah demikian rumit atau kompleksnya. Pembelahan tersebut didasarkan pada kosmologi yang berbeda dan yang pada 76 Bunga Rampai . 2006). Indonesia harus membuat pilihan. Suatu kehidupan bersama yang benarbenar bertahan lama (duurzame samenleving) hanyalah ada manakala didasarkan pada kesadaran para anggota masyarakat terhadap asas-asas dasar dalam kehidupan bersama itu. tidak mampu memberikan pelayanan yang baik terhadap masyarakat yang demkian kompleks itu. Kehidupan masyarakat tidak berjalan karena mematuhi hukum yang datang dari perintah penguasa. mau tidak mau. Cara berhukum dalam peradilan yang lama bukan sesuatu yang tak dapat dirombak. yaitu liberal-individual di satu pihak dan kolektif-kontekstual di pihak yang lain (Rahardjo. Perkembangan dalam ilmu pengetahuan dan ilmu hukum pada khususnya yang demikian itu. dunia kita dibelah oleh dua ideologi. maupun terhadap masyarakat sebagai keseluruhan. Indonesia Memilih Sejak pengadilan dan peradilan itu tidak kedap ideologi. memberi ilham kepada kita pada waktu berpikir untuk melakukan reformasi peradilan. pikiran-pikiran tentang ilmu hukum yang terintegrasi itu menolak “rule-book-model of society”. baik terhadap orang lain. Dalam ”implicit philosophy” seperti itu. Secara garis besar. tidak dapat lagi dilayani oleh pembidangan hukum secara klasik demikian itu. maka perombakan bukan sesuatu yang ditabukan. bukan suatu kebenaran absolut yang harus diterima dan dijalankan begitu saja.cara klasik ke dalam hukum publik dan hukum privat telah kehilangan legitimasinya. tidak ada tempat bagi pemisahan klasik ke dalam hukum publik dan privat abad ke-19. sehingga untuk menghadapinya. Pengkotak-kotakan ke dalam hukum perdata dan hukum pidana. Sejak konstitusi kehidupan kita didasarkan pada visi dan kosmologi yang berbeda dengan yang menjadi dasar bagi penataan peradilan selama ini.

juga dirancang untuk menjaga dan mempertahankan ideologi tersebut. Hahm Pyong-Choon. 1972). “Any institution that leaves its indigenous habitat and gets transplanted to an alien culture invariably undergoes a fundamental change in the process of transplantation. pada dasarnya berwatak liberalindividual. Lev. yaitu yang mengedepankan musyawarah (“the contract could be abrogated by simply renegotiating with the other party when circumstances dictated”). Indonesia telah memilih dan pilihan itu tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa di kawasan Asia Timur. Hal yang demikian itu menyebabkan bahwa bangsa-bangsa dengan kosmologi dan cara berhukum yang beda. bangsa itu lebih mendahulukan penyelesaian secara Jepang. Penggunaan hukum modern di Korea. asas dan doktrin. 1984). di Tokyo. bahwa kendatipun Jepang menerima hukum kontrak modern. memastikan pilihan tersebut (Lev. merupakan contoh yang baik tentang bagaimana kesulitan yang harus dihadapi tersebut.” (Pyong-Choon. An institution that originally served one purpose may find itself twisted around to serve a host of totally different purposes in the adopting culture. disebut oleh PyongChoon sebagai. mengalami banyak kesulitan. Hukum modern yang melalui berbagai jalan. Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 juga Reformasi Peradilan: Harapan dan Kenyataan 77 . Cara pembengkokan oleh Jepang ini disebut “the Japanese twist” (Ozak. pada waktu menggunakan hukum modern tersebut. maka sekalian struktur. misalnya mengatakan sebagai berikut. 1978). Sebuah survai mengenai penggunaan hukum kontrak modern di Jepang pada tahun 1970. digunakanlah kontrak yang sudah dibuat (Parker. Bangsa-bangsa di kawasan Asia Timur.akhirnya memunculkan cara berhukum yang beda puIa. menyebar ke seluruh penjuru dunia. yang melakukan penelitian tentang cara berhukum bangsa Indonesia di pengadilan. menemukan. Daniel S. tetapi pada penerapannya. “medievalization of modern institutions of the West”. Jepang adalah salah satu bangsa di Asia Timur yang sangat siap untuk menerima penggunaan hukum modern (dan lain-lain) dari Barat. 1971). dengan tetap mempertahankan keJepang-annya. Dengan demikian. yaitu pada dasamya menolak liberalisme-individual dan menerima cara kolektif-kontekstual. Baru kalau cara ini gagal.

atau yang lain. Maka dihadapkan kepada amanat UndangUndang Dasar. bahkan di waktu seperti sekarang ini. yaitu agar berakar pada kosmologi dan habitat Indonesia. Kesenjangan tersebut menimbulkan berbagai komplikasi sewaktu hukum modern itu diterapkan. sebaiknya orientasi kita lebih seimbang. menunjukkan. Selama ini kita hampir tidak merisaukan amanat yang dipesankan oleh Undang-Undang Dasar kepada kita. Selama ini kita terlalu berpaling ke Barat. Reformasi peradilan sebaiknya dilakukan dengan cukup mendasar. yang berbasis nilai dan kosmologi Timur. maka pengadilan dan peradilan kita memang membutuhkan reformasi. Di waktu-waktu mendatang. Fakultas-fakultas hukum kita belum dapat diandalkan untuk menjadi ”avant-garde”. khususnya bagian Pembukaan. khususnya peradilan. penataan yang demikian itu perlu dirombak secara mendasar. bahwa memang dirasakan keperluan untuk membangun satu model peradilan lain yang lebih berakar pada kosmologi Indonesia. Diponegoro memang sedikit banyak telah meyakinkan. ”peradilan restoratif’. tetapi hampir tidak pernah ke Jepang. Reformasi Peradilan Berdasarkan uraian di atas. bahwa suatu perubahan mendasar hendaknya dilakukan. maka fakultas-fakultas hukum kita masih belum memiliki kesadaran untuk berubah menuju cara berhukum di pengadilan berdasarkan pembacaan terhadap Undang-Undang Dasar kita. baik Leiden. watak liberal-individual dari peradilan kita masih kuat. karena memang itulah amanat Undang-Undang Dasar 1945. bahwa ”dibuat Undang-Undang Dasar yang bersifat kekeluargaan”. Beberapa penelitian dan disertasi yang ditulis pada Program Doktor Ilmu Hukum Univ. Dengan demikan kita kurang mendapat ilham untuk melakukan reformasi hukum. Kalau kita melihat kepada pembelajaran hukum kita. seperti ”peradilan rekonsiliatif’. Kata-kata yang dilontarkan. pandangan ke Timur lebih diutamakan. Harvard. Sebagaimana diuraikan di muka penataan peradilan kita sekarang masih didasarkan pada ideologi liberal-individual.dikatakan. Sampai hari ini. Pera- 78 Bunga Rampai .

yang notabene adalah hukum modern. Tanya. 2006). sebagaimana diuraikan di muka. ”Sebagai sesuatu yang ’baru’. dalam arti sesuatu yang didatangkan dari luar. pranata asli Sabu yang bersifat religius. selama enampuluh tahun lebih. Di Sabu. penggunaan hukum modern itu merupakan suatu beban bagi komunitas lokal (Tanya.” Lebih lanjut Tanya menulis. Tanya sudah ada pranata uku. Praksis yang beda tersebut mencerminkan ”perlawanan” dari suatu pikiran yang lebih mengakar pada habitat sosial asli. ” Apabila kita belum mampu menata peradilan kita berdasarkan amanat Undang-Undang Dasar secara benar-benar terstruktur. seperti ditulis oleh Bernard L. sewaktu dihadapkan pada penggunaan hukum modern. Setiap kali masyarakat setempat menjalankan praksis yang beda. setidaknya kita tidak menghambat penyelenggaraan peradilan yang berbasis kearifan lokal Indonesia itu. karena tidak lain harus didasarkan pada asas kekeluargaan. karena masyarakat harus ’belajar’ lagi mengenal dan memahaminya.” Pranata yang demikan itu kemudian harus berhadapan dengan hukum nasional. sampai kepada kematian. Sejak tahun 1945. membuat kehadiran hukum negara sebagai sebuah inovasi terasa kian bermasalah. seolah-olah segala sesuatunya memang harus berjalan seperti itu. Padahal pemerintah kolonial Belanda sejak semula sudah melihat risiko penggunaan peradilan modern itu bagi banyak komunitas lokal di Indonesia. Dalam proses belajar ini mereka menghadapi masalah yang kompleks . Dikatakan oleh Tanya. daya tarik dan manfaat yang ditawarkan lembaga/hukum negara tidak segera diterima. tetap bekerja. peristiwa hubungan-hubungan keluarga. kita memiliki alasan lebih kuat untuk membangun suatu tatanan peradilan yang baru.dilan di Indonesia. ”Realitas obyektif komunitas masyarakat lokal di Sabu yang masih terbilang sederhana. Padahal.. kehidupan. maka kita belum dapat menghargai apa yang dilakukan oleh masyarakat tersebut. religi. yang memiliki struktur dan watak sosial beda.. Perkembangan ilmu hukum yang baru.. sebagaimana ditulis oleh Bernard L. ”Uku merangkum semua lapangan kehidupan. lebih menuju kepada integrasi dan dengan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 79 . yang beda sekali dari pikiran sosial atau ideologi yang mendasari peradilan modern.

seperti dalam arsitektur peradilan sekarang. melainkan menghendaki sistem peradilan didasarkan pada asas kekeluargaan. jaksa.demikian mengurangi pengkotak-kotakan dalam displin dan sub-disiplin. dalam sistem peradilan memerlukan penataan kembali. mewarisi suatu sistem yang hakekatnya bersifat liberal-individual. Dengan demikian. komponen-komponen sistem peradilan. Disinilah masyarakat ikut serta. Perlindungan dan penyelamatan individu serta kemerdekaan indvidu menjadi ideologi. juga dikehendaki untuk diubah. sampai ke pengaturan baru dalam beracara. Ia dimulai dari perubahan paradigma. bahwa sistem peradilan kita dan umumnya negara-negara di dunia. Pembangunan suatu sistem peradilan baru tersebut merupakan pekerjaan raksasa. Sekalian pekerjaan tersebut tidak dapat hanya dibebankan kepada pengemban kekuasaan formal saja. yang antara lain diwakili oleh 1embaga-lembaga sosial. penggolongan dan nomenklatur lama juga digugat. advokat. 80 Bunga Rampai . tidak menggambarkan arsitektur kekeluargaan yang dikehendaki. melainkan menjadi hajat seluruh bangsa. Dengan demikian. Ideologi kekeluargaan menjadi penentu arah kemana tujuan reformasi peradilan negeri ini. posisi hakim. Undang-Undang Dasar 1945 tidak mengikuti ideologi tersebut. Pembagian ke dalam hukum publik dan privat yang selama beratus-ratus tahun diterima sebagai sesuatu yang absolut dan sakral. Posisi komponen-komponen peradilan yang berhadaphadapan. Sudah diuraikan. Lebih daripada itu pembagian. maka pikiran kita untuk mereformasi peradilan di Indonesia memiliki legitimasi yang tinggi. polisi. penyiapan doktrin dan asas.

Ithaca. 1971. Judicial Dictatorship. Komisi Yudisial RI. R. “Komisi Yudisial untuk Hakim dan Pengadilan Progresif”.Norton. R. Cornell University Press. Rene. 1954. Geintegreerde rechtswetenschap. The Indonesian Supreme Court. Daniel S. dalam Culture and Politics in Indonesia (Claire Holt ed. 1957. & Bridwell. Semarang. Asser’s Handleiding tot de beoefening van het Nederlandsch burgerlijk recht. Tjeenk Willink.Randall.Y. Diponegoro.W. Rood Pijpers. Sociological Justice. Jr. Seoul Hollym Corporation. An American Perspective. Bernard L. Hahm..).Y. Kodansha International.. Y Gasset. New Brunswick.. Surabaya. Zwolle. A. Robert S. Oxford University Press. Pyong-Choon. Zijderveld (red. Scholten. Sebatiaan. 297-328. William J.C. Pembebasan dan Pencerahan. A Study of Institutional Collapse. Program Doktor Ilmu Hukum. Foque. 1972. 1997. Charles E. The Japanese Police System Today. dalam Bunga Rampai Refleksi Satu Tahun Komisi Yudisial Republik Indonesia.. N. 2006. 1989. L. The Korean Political Tradition and Law. N. Craig. Penerbit Srikandi.. pp. The Revolt of the Masses. ----------------------.). 2005. A Cultural Portrait. N. Arnhem. 2004. E. Jose Ortega. W. Donald. hlm. 1978. Muhammadiyah University Press. 1994. Satjipto. Jakarta. Hukum dalam Ruang Sosial. Parker. Lev. “Algemeen deer” dari Mr. Ladan. Paul.. - - Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 81 . 1995.E.Pencarian. Vermont.. 1984.Y. Tokyo. Transaction Publishers. “Judicial Institutions and Legal Culture in Indonesia”. Rutland. Ozaki. Cornell University. Surakarta. The Japanese. Ithaca. W. Rahardjo. Gouda Quint.J. Tuttle. Pompe. Quirk. 246-316.Daftar Pustaka Black. 2006.. Ilmu Hukum . Program Doktor Ilmu Hukum Univ. Tanya. Merintis Visi Program Doktor Hukum.

82 Bunga Rampai .

4 Tahun 2004 ditentukan bahwa kekuasaan Kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila demi terselenggaranya Negara Hukum RI. merdeka serta netral yang diberi otoritas dan kewibawaan untuk secara bebas mempertimbangkan segala sesuatunya secara adil dan obyektif serta tidak memihak. M..H. Dengan demikian Badan ini turut mempersiapkan Calon Hakim Agung yang berkualitas.H. Tugas hakim/badan peradilan sebagai penyelenggara kekuasaan Kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan Badan Peradilan yang berada dibawahnya dan sebuah Mahkamah Konstitusi. 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-undang No. Hatta Ali. Pendahuluan Dalam suatu negara hukum maka setiap sengketa hukum atau perkara diadili dan diputus oleh suatu Badan Kekuasaan Kehakiman. S.Peran Hakim Agung Dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding) dan Penciptaan Hukum (Rechtsschepping) Pada Era Reformasi dan Transformasi M. Dalam pasal 1 UU No. Oleh karena itu Komisi Yudisial berwenang untuk mengusulkan pengangkatan Hakim Agung (Pasal 24B ayat (1)). Institusi yang bersifat mandiri. Pada perubahan ketiga Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa Calon Hakim Agung diusulkan oleh Komisi Yudisial kepada DPR untuk mendapat persetujuan guna ditetapkan sebagai Hakim Agung oleh Presiden. Putusannya bersifat mengikat apabila telah berkekuatan hukum tetap. 14 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 83 . Sesuai Undang-undang No.

Mahkamah Agung memiliki beberapa fungsi. yaitu untuk mengisi kekosongan hukum. Maksudnya adalah jika tidak ditemukan hukum tertulis. Di lain pihak hakim/badan peradilan tidak boleh menolak untuk memeriksa. mengadili dan memutuskan suatu perkara yang diajukan kepadanya dengan dalih bahwa hukumnya tidak ada atau kurang jelas. Dalam fungsi mengadili. yaitu memberikan nasehat hukum kepada Presiden dalam hal permohonan grasi dan rehabilitasi serta memberi pertimbangan hukum ke lembaga tinggi negara lain. Dalam menjalankan fungsi tersebut. yang menyebabkan terhambatnya upaya mewujudkan penegakan hukum. hakim sering dihadapkan kepada suatu ketentuan yang belum diatur. disebabkan karena terhambatnya upaya mewujudkan sistem hukum nasional yang mantap. yaitu membina dan mengawasi peradilan dan hakim dibawahnya. Fungsi menguji peraturan perundang-undangan. yaitu mengelola administrasi. Fungsi pengaturan. 3) 4) 5) 6) Fungsi administrasi. hakim wajib menggali hukum tidak tertulis untuk memutus berdasar hukum. Fungsi membina dan mengawasi. Pokok Masalah Dasar hukum peran hakim dapat dilihat pada pasal 28 84 Bunga Rampai . Produk peraturan perundang-undangan selalu tertinggal dengan dinamika perubahan yang terjadi. keuangan dan organisasinya sendiri. Fungsi memberi nasehat dan pertimbangan hukum. yaitu untuk menilai apakah suatu peraturan perundang-undangan bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. hakim sering dihadapkan pada suatu ketentuan yang belum diatur. yaitu: 1) 2) Fungsi mengadili. yaitu memeriksa dan memutus perkara permohonan kasasi dan peninjauan kembali.Tahun 1985 Tentang Mahkamah Agung. Banyak peraturan perundang-undangan warisan kolonial maupun yang baru tidak sesuai dengan perkembangan masyarakat yang penuh dengan dinamika perubahan dan semakin kompleks.

Yang kedua hukum harus berperan sebagai titik tolak kegiatan (center of action).ayat (l) Undang-undang No. Lalu yang terakhir bahwa perlakuan kepada semua orang adalah sama dimuka hukum (equality before the law). Supremasi Hukum di dalam negara hukum mempunyai 3 (tiga) ciri (menurut Muchsan . Seluruh komponen masyarakat sampai kepada penguasa tunduk sepenuhnya kepada hukum. Yang berarti bahwa perbuatan hukum oleh penguasa atau individu harus dapat dikembalikan kepada hukum yang berlaku. merasakan dan mampu menyelami perasaan hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. Jika tidak dapat dijalankan menurut arti katanya. “Menggali” berarti hakim harus terjun ketengah-tengah masyarakat untuk mengenal. mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat”. Namun agar hakim agung dalam melaksanakan perannya sebagai benteng terakhir penegakan hukum harus didukung pula adanya kemauan politik negara untuk menegakkan supremasi hukum yang berarti bahwa hukum bertindak sebagai panglima. Dengan kata lain. Pertama adalah hukum harus berperan sebagai panglima. Sebagai institusi. Henry. tugas penting dari hakim adalah menyesuaikan undangundang dengan perkembangan yang hidup di dalam masyarakat. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana cara Hakim Agung menggali dan menemukan sesuatu yang dapat menjadi hukum? Institusi Mahkamah Agung yang merupakan instrumen dalam upaya menegakkan hukum dan kebenaran agar tidak terpaku pada peraturan perundang-un- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 85 . sehingga penegakan hukum (law enforcement) dapat diwujudkan tanpa memandang suku/agama/ ras/golongan. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman menyatakan “Hakim wajib menggali.dikutip dari Panggabean. hakim wajib menafsirkan sehingga dibuat suatu putusan yang adil dan sesuai dengan maksud hukum yaitu adanya kepastian hukum. Mahkamah Agung tidak boleh berhenti melakukan inovasi terhadap berbagai ketertinggalan peraturan perundang-undangan yang tidak sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. P 2002:12). Maksudnya adalah supremasi hukum merupakan pilar negara hukum.

dangan yang telah usang. Tidak ada peraturan perundang-undangan yang lengkap dan jelas. merasakan dan mampu menyelami perasaan hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. Juga sebagai pengadilan tingkat terakhir diharapkan mampu melahirkan putusan-putusan (yurisprudensi) yang inovatif yang sesuai dengan rasa keadilan masyarakat. melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadili” merupakan antisipasi bahwa tidak ada peraturan perundang-undangan yang dapat mencakup keseluruhan kehidupan manusia. Dalam arti menentukan apa yang merupakan hukum. 86 Bunga Rampai . hasil penemuan hukum oleh hakim merupakan sumber hukum juga (yurisprudensi). maka seharusnya dapat mengenal. Hasil penemuan hukum oleh hakim merupakan hukum karena mempunyai kekuatan mengikat sebagai hukum karena dituangkan dalam bentuk putusan. mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat. Konflik atau kasus yang harus diselesaikan atau dipecahkan dan untuk itu perlu dicarikan landasan hukumnya. Sehingga dapat memberi putusan yang sesuai dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat. mengadili dan memutuskan suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas. Oleh karena hakim (secara general) merupakan perumus dan penggali dari nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat. Hakim selalu dihadapkan pada peristiwa konkrit. Oleh karena hukumnya tidak lengkap dan tidak jelas. Pembahasan Bertitik tolak dari pandangan bahwa “Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa. Sistem hukum Indonesia tidak menentukan jenis klasifikasi yurisprudensi tertentu untuk dijadikan sumber hukum. maka Hakim Agung harus memahami jalan keluar melalui penemuan hukum (Rechtsvinding). sekalipun peraturan perundangundangan tidak dapat membantunya. hakim harus bertindak berdasar inisiatifnya untuk menyelesaikan perkara. Disamping itu. Jadi dalam penemuan hukum yang penting adalah bagaimana mencari atau menemukan hukumnya untuk peristiwa konkrit. Hakim Agung sebagai penegak hukum dan keadilan wajib menggali. Apabila peraturan perundang-undangan yang belum jelas atau belum mengatur.

Penafsiran atau interpretasi adalah usaha memberi makna suatu atau sejumlah kaidah hukum agar dapat diterapkan secara wajar dalam memecahkan suatu persoalan hukum. penafsiran teleologis. penafsiran antisipatif dan penafsiran dinamika-evolutif). harus menguasai metode yang dapat dipergunakan. didalam suatu perkara di pengadilan. Sudikno Martokusumo (2001:52) memberikan 2 (dua) kategori. didapat bermacam-macam metode penafsiran (penafsiran berdasarkan tata bahasa atau ilmu bahasa. penafsiran berdasarkan sejarah hukum.tetapi dalam praktek peradilan dikenal adanya klasifikasi yurisprudensi biasa dan yurisprudensi tetap. Pontier (dikutip dari Bagir Manan 2004:73). Kedua klasifikasi yurisprudensi itu memerlukan kriteria sendiri agar dengan cara itu dapat ditelusuri sejauh mana hubungan kedua klasifikasi yurisprudensi itu dalam proses penegakan hukum. yaitu melalui penerapan hukum penafsiran dan konstruksi hukum. Sebagai Hakim Agung. bahwa dalam putusan hakim ditemukan adanya kaedah hukum yang dapat dianggap sebagai . sekalipun hakim dapat menafsirkan. namun tidak ada ketentuan perundang-undangan yang berlaku yang dapat diterapkan.landmark decision karena kaidah hukum itu diterima masyarakat luas sebagai terobosan yang nyata atas suatu konflik hukum yang sudah lama berlangsung. sehingga yurisprudensi tetap tersebut telah melakukan penciptaan hukum (rechtsschepping). penafsiran berdasarkan sejarah peraturan perundang-undangan yang bersangkutan. Dengan uraian di atas dapat dikatakan bahwa kriteria yurisprudensi tetap adalah telah mentransformasi secara konstan hukum yang hidup dalam suatu masyarakat dan telah diikuti oleh berbagai putusan sebelumnya. kaidah hukum atau ketentuan dalam suatu keputusan kemudian diikuti secara konstan atau tetap oleh para hakim dalam putusannya dan dapat dianggap menjadi bagian dari keyakinan hukum yang umum. yaitu: 1.A. Artinya adalah. 2. Yang kedua adalah konstruksi hukum. sebagai yurisprudensi tetap. maka keadaan ini Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 87 . penafsiran sistematik. Mengikuti sistematika J. juga tidak ada ketentuan dalam hukum kebiasaan dan hukum adat yang dapat diterapkan.

hakim membuat suatu pengertian hukum (rechtsbegrip). Asas ini menunjukkan bahwa sebagai Hakim Agung tidak boleh semata-mata mencari dan menemukan kebenaran formal. Kenyataan yang bersangkutan menempati sebidang tanah dengan cara-cara yang dibenarkan oleh tradisi yang berlaku disekelilingnya. apabila bertahun-tahun akan diakui telah menimbulkan hubungan hak atas tanah tersebut. Apabila penerapan aturan hukum akan bertentangan. wajar dan tidak berlebihan).(dikutip dari Bagir Manan 2004:64) adalah “masyarakat konkrit”. Dengan kata lain. sehingga memerlukan penghalusan agar tetap terasa adil. Hingga saat ini sebagian masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat formalistik. Seseorang memiliki sebidang tanah. kepentingan umum dan ketertiban umum. penghalusan hukum Rechtsvervijning (suatu kaedah hukum dapat dirasakan terlalu keras pada saat diterapkan pada keadaan konkrit tertentu. keadilan. Berdasar beberapa ketentuan yang mempunyai persamaan. serta Argumentum a contrario (mempersempit jangkauan berlaku suatu peraturan perundang-undangan).mulai menyangkut pada keadaan kekosongan hukum dalam sistem formil hukum. Demikian pula hakim tidak sekedar menerapkan bunyi suatu perjanjian yang merupakan undang-undang bagi pihak-pihak yang membuatnya. hakim atau siapapun juga yang menerapkan 88 Bunga Rampai . keadilan. Hakim bukanlah mulut undang-undang atau mulut hukum positif pada umumnya. hakim harus mencari dan menemukan kebenaran materiil. Konstruksi hukum ini terdiri dari analogi (hakim memperluas penerapan hukum pada keadaan atau peristiwa yang tidak secara eksplisit disebut dalam ketentuan yang berlaku). Walaupun demikian apabila hakim dihadapkan pada pilihan antara ketentuan hukum tertulis dengan hukum tidak tertulis. Segala hubungan dan peristiwa hukum dinyatakan dalam wujud yang nyata. hakim wajib memilih kepatutan. kepentingan umum dan ketertiban umum. Termasuk dalam perkara-perkara perdata. Hakim adalah mulut kepatutan. menurut pendapat hakim yang bersangkutan bahwa pengertian hukum itulah yang menjadi dasar. Masyarakat Indonesia meminjam pendapat Holleman . dibuktikan dengan pohon-pohon yang ditanam oleh orang tuanya dan seterusnya.

R. Contoh kasus adalah pengertian “barang” dalam pidana pencurian termasuk pencurian listrik. Namun penerapan ini harus mempertimbangkan hal-hal berikut: a. harus mengutamakan atau mendahulukan ketentuan hukum tertulis. Pada era reformasi mengandung arti perubahan untuk perbaikan. dimana laki-Iaki si pelaku tidak mau bertanggung jawab ketika perempuan tersebut hamil. Mengutamakan atau mendahulukan hukum tidak tertulis dilakukan apabila ketentuan hukum tidak tertulis merupakan suatu yang tumbuh kemudian sebagai koreksi atau penafsiran terhadap suatu ketentuan hukum tertulis. Juga hubungan kelamin diluar nikah laki-Iaki dewasa dan perempuan dewasa atas dasar suka sama suka. Koreksi merupakan kenyataan hukum yang hidup dalam masyarakat dan dapat terjadi karena hukum tertulis telah usang atau ada kekosongan tertentu dalam ketentuan hukum tertulis. Jadi reformasi itu timbul secara simultan mencakup aspek kehidupan bernegara di bidang politik. yang oleh yurisprudensi diperluas menjadi asas pengasingan (vervreending) tidak memutuskan sewa-menyewa. Hakim Agung harus mampu menghasilkan putusan-putusan yang mengarah kepada pembaharuan penemuan hukum berupa yurisprudensi. Serta ketentuan “Jual beli tidak memutuskan hubungan sewa-menyewa”. pewarisan. Pada situasi ini. Program reformasi hukum harus digulirkan secara bersama-sama oleh seluruh anggota masyarakat. tetapi berdasar hukum Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan b. dan lain-lain bentuk pengasingan. sehingga termasuk hibah. ekonomi dan hukum.hukum. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tidak mengatur. 1919). 89 . yang berhadapan dengan ketentuan hukum positif yang menyatakan tidak ada kasasi untuk praperadilan. Lalu pengertian “Onrechtmatigedaad” hanya dapat dipahami setelah mempelajari yurisprudensi (Arrest H. Mengutamakan atau mendahulukan hukum tertulis apabila diketahui atau secara rasional dipahami bahwa ketentuan hukum tertulis merupakan pembaharuan terhadap hukum tidak tertulis atau terjadi transformasi ketentuan hukum tidak tertulis menjadi hukum tertulis. Kemudian makin banyak putusan Mahkamah Agung yang menerima permohonan kasasi praperadilan.

tetapi ketika KPUD Depok mengajukan permohonan peninjauan kembali (PK) ke Mahkamah Agung terhadap putusan Pengadilan Tinggi Bandung tersebut pada akhirnya Mahkamah Agung dalam putusannya mengabulkan permohonan Peninjauan Kembali dari KPUD Depok dan membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Bandung. Sedangkan dalam kasus Pilkada Depok apabila menoleh pada pasal 106 ayat(7) Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah No. Dalam implementasinya terkadang tidak mudah untuk mensinergikan ketiga unsur tersebut. kepastian hukum (rechtsicherheit) dan kemanfaatan (zwechtmassigkeit).adat merupakan perbuatan yang tidak patut untuk dilakukan dan harus diberi sanksi. Menurut Gustav Radbruch (dikutip dari Bambang Sutiyoso 2006: 6) idealnya putusan harus memuat idee des recht. Mahkamah Agung sendiri dalam instruksinya Nomor KMA/015/lnst/VI/1998 tanggal 1 Juni 90 Bunga Rampai . yaitu dalam kasus “Kedung Ombo” di Jawa Tengah dan kasus sengketa pemilihan kepala daerah (Pilkada) Depok. sehingga mestinya tidak ada upaya hukum lagi yang dapat digunakan. yang meliputi 3 (tiga) unsur yaitu: keadilan (gerechtigkeit). Tetapi sayangnya putusan Mahkamah Agung tersebut pada tingkat peninjauan kembali telah dikoreksi/ diperbaiki. Putusan Mahkamah Agung dalam kasus Kedung Ombo pada pokoknya melebihi daripada ganti rugi yang dimohon para penggugat. sehingga pada gilirannya dapat dihasilkan putusan yang berkualitas dan memenuhi harapan para pencari keadilan. Ketiga unsur ini harus dipertimbangkan Hakim dan diterapkan secara proporsional. ditafsirkan putusan Pengadilan Tinggi bersifat final dan mengikat. padahal pasal 178 ayat (3) HIR berbunyi: “Hakim wajib mengadili seluruh bagian gugatan. 6 Tahun 2004. sangat relevan menggambarkan adanya benturan-benturan antara aspek kepastian hukum dengan keadilan. Kasus yang relevan untuk menggambarkan adanya kemungkinan benturan antara aspek keadilan dan kepastian hukum. Paparan kedua kasus di atas. terutama antara unsur keadilan dengan kepastian hukum yang bisa saja saling bertentangan. tetapi hakim dilarang menjatuhkan putusan atas hal-hal yang tidak dituntut atau mengabulkan putusan lebih dari pada yang dituntut”.

atau kekosongan hukum dengan menerbitkan Surat Edaran atau Peraturan Mahkamah Agung. terutama dalam hukum acara sebagai pelengkap untuk mengisi kekurangan dan kekosongan tadi. demi terciptanya kemandirian para penyelenggara kekuasaan kehakiman. Fungsi pengaturan ini ternyata sangat efektif memperlancar jalannya peradilan. filosofis (berintikan rasa keadilan dan kebenaran). dengan menghasilkan putusan hakim yang eksekutable berisikan ethos (integritas). PERMA No. Selain itu fungsi Pengaturan Mahkamah Agung diperlukan bagi kelancaran penyelenggaraan peradilan apabila terdapat hal-hal yang belum cukup diatur dalam undang-undang atau terdapat kekurangan. PERMA No. sosiologis (sesuai dengan tata nilai budaya yang berlaku dalam masyarakat). Dengan akses ini mendorong para hakim membuat putusan yang berkualitas dan diterima oleh masyarakat sebagai hukum yang hidup dalam masyarakat.1998 menginstruksikan agar para hakim memantapkan profesionalisme dalam mewujudkan peradilan yang berkualitas. 2. serta logos (dapat diterima akal sehat). Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) yaitu suatu bentuk peraturan dari Mahkamah Agung ke seluruh jajaran peradilan tertentu yang isinya merupakan ketentuan bersifat hukum beracara. pathos (pertimbangan yuridis yang utama). 14 Tahun 1970 tentang Undang-undang Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 91 . 1 Tahun 1980 telah digunakan menampung perkara peninjauan kembali karena pada saat itu belum ada peraturan pasal 21 UU No. Bentuk pengaturan itu dikenal dalam 2 (dua) bentuk produk yaitu: 1. 1 Tahun 1977 (tentang permohonan kasasi) telah menjadi sarana hukum yang menentukan masuknya perkara peradilan agama dan militer ke tingkat perkara kasasi oleh Mahkamah Agung. keseluruh jajaran peradilan yang isinya merupakan bimbingan dalam penyelenggaraan peradilan yang lebih bersifat administrasi. Dalam setiap penemuan hukum seyogyanya putusanputusan badan peradilan disosialisasikan dengan memberi kesempatan kepada publik untuk mengakses putusan-putusan tersebut. Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) yaitu satu bentuk edaran dari pimpinan Mahkamah Agung. Sebelum ada ketentuan KUHAP dan Undang-undang.

4. 1 Tahun 2000 tentang paksa badan dapat dijadikan contoh tentang efektifitas Fungsi Pengaturan Mahkamah Agung mendukung penegakan hukum khususnya untuk mengatasi kebutuhan hukum acara yang saat ini sangat diperlukan menghadapi perilaku para debitur nakal yang sengaja menghindar dari kewajiban melunasi hutang-hutangnya. 92 . Kesimpulan 1. Bahwa setiap putusan pengadilan harus mengandung unsur kemanfaatan bahwa isi putusan itu tidak hanya bermanfaat bagi pihak berperkara tapi juga bagi masyarakat luas. Pada dasarnya Hakim Agung yang baik bukan sekedar menguasai hukum positif melainkan mengusai pula dengan baik berbagai teori dan doktrin hukum. 3. yang dapat digunakan oleh aparat penegak hukum di lingkungan peradilan. PERMA No. Perekrutan Hakim Agung harus memiliki kemampuan di bidang hukum. moral dan karakter yang baik. Masyarakat berkepentingan atas keputusan hakim itu karena masyarakat menginginkan adanya keseimbangan tatanan dalam masyarakat. memiliki integritas. 5.Pokok Kekuasaan Kehakiman. Meningkatkan kualitas hakim dalam melakukan penemuan hukum baru melalui putusan-putusan pengadilan (yurisprudensi) yang digunakan sebagai dasar pertimbangan hukum. Dalam melakukan penemuan hukum hakim menggunakan metode penafsiran dan konstruksi hukum. Hakim Agung harus mengisi kekosongan hukum atau hukumnya tidak jelas dengan melakukan penemuan hukum (Rechtsvinding) yang pada gilirannya akan menjadi yurisprudensi tetap menuju penciptaan hukum Bunga Rampai 2. pengalaman yang memadai. Yang tidak kalah pentingnya suatu hal yang perlu diperhatikan fungsi pembentukan hukum itu sendiri harus memperhatikan kesadaran hukum masyarakat dan tidak tertutup kemungkinan bahwa hukum menciptakan pola-pola baru di dalam masyarakat sehingga pada akhirnya menciptakan kesadaran hukum baru sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan. 6.

7. Fungsi Pengaturan Mahkamah Agung berupa Surat Edaran dan Peraturan Mahkamah Agung masih diperlukan guna mengisi kekosongan hukum khususnya hukum acara. 8. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 93 .(Rechtsschepping). Meningkatkan mekanisme pertanggung jawaban lembaga pengadilan kepada publik dengan kemudahan akses masyarakat untuk memperoleh putusan pengadilan dan publikasi terhadap setiap pengambilan putusan.

Metode Penemuan Hukum. 2002.J .cetakan pertama. 2001. Liberty Yogyakarta Panggabean. edisi pertama. Transisi Di Bawah Bayang-Bayang Negara Manan. Sudikno dan Pitlo. Pustaka Sinar Harapan Komisi Hukum Nasional -. Fungsi Mahkamah Agung Dalam Praktik Sehari-hari. A . PT. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung Undang-undang No. Bagir -. 1993. Noordhoff .Daftar Pustaka Van Apeldoorn. Citra Aditya Bakti Mertokusumo. Pengantar Ilmu Hukum. 5 tahun 2004 tentang Perubahan terhadap Undang-undang No. 2005. cetakan kedua.Kolff N. cetakan kesatu. 1 tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana Undang-undang No. Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum. Fungsi Mahkamah Agung Bersifat Pengaturan (Rule Making Power) Tahun 19662003.cetakan kedua. Henry P -. FH UH Press Salman. L. cetakan pertama. Penemuan Hukum Sebuah Pengantar. 2006. Liberty Yogyakarta Sutiyoso. Anton . 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman Undang-undang No. edisi pertama cetakan pertama.. 22 tahun 2004 tentang Komisi Yudisial - - 94 Bunga Rampai . edisi kedua cetakan kedua. 8 tahun 2004 tentang Peradilan Umum Undang-undang No. 1957. Hukum Positif Indonesia.V Mertokusumo. Bambang-. 2004. Sudikno -. Henry P-. 2004. 2002. Beberapa aspek Sosiologi Hukum. PT Alumni Panggabean. UH Press Yogyakarta Ketentuan Peraturan Perundang-undangan Undangundang Dasar 1945 dan Perubahannya Kitab Undangundang Hukum Pidana Kitab Undang-undang Hukum Perdata Undang-undang No. Otje dan Susantho.

Komariah Emong Sapardjaja.Hakim Agung dan Penemuan Hukum (Rechtsvinding) Pada Era Reformasi dan Transformasi Hukum Prof. “Apabila kita teliti maka semua masyarakat yang sedang membangun dicirikan oleh perubahan bagaimanapun kita mendefinisikan pembangunan itu dan apapun yang kita pergunakan bagi “masyarakat dalam pembangunan. terlebih lagi ketika perkembangan teknologi yang semakin canggih. Di dalam era transformasi dan informasi. DR. S. Suatu negara bahkan tidak dapat mengisolasi dirinya dari pergaulan internasionnal. telah menjadi kenyataan. khususnya di dalam suatu masyarakat yang sedang membangun. Arus informasi menyebabkan permasalahan di dalam suatu negara dapat dibaca bagaikan dalam buku terbuka.* Latar Belakang Pernyataan-pernyataan bahwa dunia seakan-akan tidak lagi mengenal batas-batas wilayah Negara. Perkembangan di dalam masyarakat ini juga mempengaruhi perkembangan hukum di suatu negara. Peranan hukum * Guru Besar Hukum Pidana Universitas Padjadjaran Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 95 . Perjanjian-perjanjian internasional dan dampak ratifikasi konvensi internasional.H. seperti itu permasalahan-permasalahan di dalam masyarakat menjadi lebih rumit dan kompleks. lebih mengentalkan kenyataan bahwa hukum nasional suatu negara tidak dapat secara mutlak berdiri sendiri tanpa menghiraukan perkembangan-perkembangan yang terjadi di dunia internasional.

kloning. dalam kebebasannya. melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya”. kejahatan terhadap kemanusiaan. 1976. dan mungkin banyak lagi masalah-masalah di dalam masyarakat yang perlu mendapat pemecahan hukumnya. Bandung. bayi tabung. Beberapa contoh mengemuka yang menjadi pemikiran dari para ahli hukum sekarang. maka seorang hakim “tidak boleh menolak untuk memeriksa. Khususnya bagi persoalan-persoalan yang menjadi kasus konkrit yang dihadapkan kepada seorang hakim untuk mendapatkan penyelesaian. dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas.3. Pembinaan Hukum Dalam Rangka Pembangunan Hukum Nasional. 2. melakukan penemuan hukum sehingga tidak melakukan kesewenang-wenangan hukum yang pada akhirnya justru 1 2 3 Mochtar Kusumaatmaja. dalam kasus-kasus yang terjadi dalam masyarakat yang sedang bereformasi dan transformasi. 6 UUPK) Disinilah letak peran hakim (Agung) dalam penemuan hukum (rechtsvinding) dan pembentukan hukum (rechtsschepping).3 (psl. Lcmbaga Penelitian Hukum dan Kriminologi Universitas Padjadjaran. Bagaimanakah syarat-syarat suatu penemuan hukum (rechtsvinding) dan pembentukan hukum (rechtsschepping)? Sejauh manakah hakim.dalam pembangunan adalah menjamin bahwa perubahan itu terjadi dengan cara yang teratur”1 Selanjutnya dikatakan juga oleh Mochtar Kusumaatmadja bahwa: “Ada anggapan yang boleh dikatakan hampir merupakan keyakinan bahwa perubahan yang teratur demikian dapat dibantu oleh perundang-undangan atau keputusan pengadilan atau kombinasi dari kedua-duanya”. hlm. misalnya. kejahatan cyber.2 Tetapi selalu saja terjadi bahwa ‘undang-undang ketinggalan dari kenyataan-kenyataan masyarakat’ (het recht hink achter de feiten aan‘). Ibid Lihat pasal 16 Undang-undang Republik Indonesia No. 4 tahun 2004 Tentang Kckuasaan Kehakiman 96 Bunga Rampai . Pokok Masalah 1. mengadili.

Ia berkenaan dengan pertanyaan-pertanyaan hukum. 2001. Penemuan Hukum.Arief Sidharta. Pontier. 1.menimbulkan ketidakadilan. J.A. op cit.6 Asumsi dasar yang melandasi penemuan hukum tersebut adalah berkaitan dengan pengakuan bahwa tidak semua hukum dapat ditemukan dalam undang-undang. hlm. secara cermat dan teliti mengemukakan bagaimana terhadap situasi-situasi problematik tertentu seyogyanya harus diberikan reaksi. konflik-konflik hukum atau sengketa-sengketa yuridis. atau ketidakmanfatan? Pembahasan Masalah 1. Arti penemuan hukum dan mengapa (seringkali) diperlukan Rechtsvinding menjadi sangat terkenal terutama setelah perang dunia kedua. ketidakpastian. hlm. pandangan tentang penemuan hukum yang dikemukakan oleh Paul Scholten memperoleh banyak pengikut. 37. atau aparat hukum lainnya yang ditugaskan untuk penerapan peraturan hukum umum pada peristiwa hukum konkrit”. hlm.7 4 5 6 7 J.5 J.4 Sudikno Mertokusumo mengatakan “Apa yang dimaksud dengan penemuan hukum lazimnya adalah proses pembentukan hukum oleh hakim. diterjemahkan oleh B. Labotatorium Hukum Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan.A. Penemuan hukum diarahkan pada pemberian jawaban terhadap pertanyaanpertanyaan tentang hukum dan hal pencarian penye1esaianpenyelesaian terhadap sengketa-sengketa konkrit.A. Rechtsvinding. dan pertanyaan-pertanyaan tentang makna dari fakta-fakta yang terhadapnya hukum harus diterapkan. 95 Sudikno Mertokusumo. Yogyakarta. 2001.16 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 97 . Terkait padanya antara lain diajukan pertanyaan-pertanyaaan tentang penjelasan (tafsiran) dan penerapan aturan-aturan hukum. Penemuan hukum. berkenaan dengan hal menemukan penyelesaian dan jawaban berdasarkan kaidah-kaidah hukum.Pontier. yang lebih atau kurang. Liberty. Ibid. Pontier mendefinisikan penemuan hukum sebagai ‘sebuah reaksi terhadap situasi-situasi problematikal yang dipaparkan orang dalam peristilahan hukum’. Bandung. hlm.

seperti dikatakan oleh Bregstein8 yang berpendapat: “In woorden belichaamt de wetgever zijn will. Ajaran Sifat Melawan Hukum Materiel dalam Hukum Pidana Indonesia. 22 98 Bunga Rampai .Bregstein. dalam Komariah Emong Sapardjaja. 8 9 10 M. Hukum pidana mempertahankan norma-norma secara fragmentaris]. Schaffmeister10 menyatakan: “De in delictsomschrijvingen geimpliceerde gedragsnormen zijn geen omvattende weersplegelingen van de gehele materiele norm. 16 Ibid. hlm. de dode teksten. tot leven. [Pembuat undang-undang melahirkan kehendaknya dengan kata-kata.Hal tersebut telah mengemuka sejak lama. Het maatschappelijk leven. Perumusan delik lebih banyak membentuk bagian-bagian daripada merumuskan keseluruhan norma perilaku. dan apabila dilanjutkan dengan kata-kata dan Suijling:9 “… behoort hij de abstract geredigeerde wet met de prescripten der volksmoraal aan te vullen en dus altijd de gerechtigheid te oefenen. di mana sangat ditentukan oleh unsur-unsur yang terdapat di dalam perumusan deliknya.. Bandung. memberikan pada kata-kata itu arti]. dat op deze woorden reageert. Slechts die woorden hebben aanspraak op absoluut gezag. welke de wet in vereneging met de volksmoraal aan de Justitiabelen waarborgt”. geeft er aan hun zin.H. Kehidupan sosial yang mereaksi kata-kata ini. brengt deze woorden. Ibid. yang adanya dijamin oleh undang-undang bersama dengan moral rakyat untuk melindungi para pencari keadilan. Het strafrecht handhaaft de materiele norm jragmentarisch” [Norma-norma perilaku yang tersirat dalam perumusan delik bukan pencerminan yang mencakup seluruh noma-norma materiel. hlm. Hanya katakata itulah yang berhak atas wibawa yang mutlak. 17. De delictsomscrijvingen vormen ten opzichte van de gedragsnormen veeler deelstukken van het geheel. Dalam hukum pidana yang sangat legistis karena secara fundamental didasarkan pada prinsip legalitas. Alumni. [.. membuat kata-kata ini. hlm. dan karena itu selalu menyelenggarakan keadilan. tanda-tanda mati itu menjadi hidup. hakim harus melengkapi undang-undang yang dirumuskan secara abstrak dengan ketentuan-ketentuan dari moral rakyat.

penghalusan hukum. (penulis tidak akan menguraikan secara mendalam tentang metode interpretasi karena dalam pelajaran tentang Pengantar Ilmu Hukum telah diperkenalkan metode penafsiran berupa penafsiran gramatikal. seringkali undang-undang tidak dapat lagi mengantisipasi perkembangan itu. Jadi dia bukanlah ‘mulut undang-undang’ tetapi ‘mulut jiwa undang-undang’]. 2. tenzij men daaronder verstaat ‘la bouche de l’esprit de la loi’ [Terhadap kata-kata undang-undang penerap undang-undang memiliki suatu kebebasan yang luas. teknik penemuan hukum lain berupa: i.cit. penimbangan kepentingan e. penalaran hukum d. sejarah hukum.Dengan demikian. 34 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 99 . Menurut Pontier12. sistematis. Motivering vonnis Walaupun demikian hakim tidaklah sebebas-bebasnya dapat menggunakan seluruh metode penemuan hukum 11 12 Ibid. hlm. antara lain: a. tetapi disinilah letak peranan hakim selaku penjaga hukum dan keadilan memainkan peranannya. evolutif dinamikal) b. interpretasi restriktif dan interpretasi ekstensif c. Teknik/metode penemuan hukum dan kebebasan hakim Penemuan hukum dapat dilakukan melalui beberapa cara/teknik/metode. op. penemuan hukum dapat dilakukan melalui metode. metode interpretasi. Hij is dus niet ‘la bouche de la loi’. di dalam situasi masyarakat dengan tingkat perkembangan di segala bidangnya sangat tinggi dan kompleks. sejarah undang-undang. penerapan atau penafsiran undang-undang secara rasional ii. Oleh karena itu Bregstein11 pernah mengatakan: “Tegenover de worden der wet komt hem echter een vrijheid toe. 16 Pontier. hlm. antisipatif. teleologis.

Hukum Pidana. Di bidang hukum pidana.J. terjemahan oleh Tristam Moeliono dan DR.M. 54 100 Bunga Rampai . hIm. 47 Ibid. Dengan menggunakan penafsiran sosiologis dan teleologis. apabila melihat kepada kecanggihan alat-alat yang digunakannya.tersebut untuk menyelesaikan kasus konkrit yang dihadapkan kepadanya. padahal tujuan akhir dari setiap aturan hukum pidana adalah perlindungan tertib hukum. van der Veen. yang biasanya diperoleh dari fakta yang terungkap di muka persidangan. barulah hakim dapat menemukan hukum yang harus dikemukakan dalam putusan yang definitif. Pertama hendaknya diperhatikan landasan/ norma hukum yang menjadi dasar kasus tersebut (dalam perkara perdata biasanya dapat dilihat dari dasar-dasar gugatan yang diajukan oleh pihak penggugat sedangkan dalam perkara pidana dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum. Jakarta. di mana dijelaskan bahwa hatzaai artikelen yang menjadi dasar dakwaan sudah tidak sesuai lagi dengan semangat reformasi. hakim dapat melakukan penafsiran. dan dilanjutkan dengan penelusuran sejarah perundang-undangan untuk mengetahui maksud dari pembuat undang-undang tentang diterbitkannya undang-undang tersebut.13 Juga Jescheck14 mengingatkan bahwa penafsiran bisa jadi akan sangat melebar.J.van der Veen.Marjanne Termorshuizen. J. hlm.M. sedangkan dalam perkara tata usaha negara dapat dilihat dari permohonan pemohon). Khususnya penemuan hukum yang hanya didasarkan pada nalar hakim saja dapat menimbulkan kesewenangwenangan terhadap undang-undang itu sendiri. 13 14 J. Selain itu harus diperhatikan pula fakta konkrit yang diperoleh dari dasar penyelidikannya. dalam Jan Remmelink. pasal 362 KUHP tidak mungkin dapat diterapkan. Penemuan hukum dengan menggunakan metode seperti itu ditemukan dalam kasus Mochtar Pakpahan. 2003. Gramedia. telah memperingatkan bahaya penggunaan logika secara berlebihIebihan dalam upaya menerangkan undang-undang. Demikian juga dalam kasus BNI 46 New York. Barulah apabila undang-undang yang menjadi dasar kasus tersebut tidak jelas. Pertama-tama hendaknya digunakan penafsiran gramatikal.

pasal 8. 8.pasal 20 Demikian pula dengan kedudukan hakim. dengan syarat-syarat bahwa seorang hakim harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela. 5. Dilakukan dengan sederhana.pasal 4 ayat (1). Prinsip legalitas . Putusan tentang kesalahan seseorang didasarkan pada keyakinan hakim dengan alat pembuktian yang sah menurut Undang-undang . Hak untuk memperoleh ganti rugi dan rehabilitasi . 5 tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-undang No.pasal 4 ayat (3).pasal 4 ayat (2). Prinsip presumption of innocence . yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 3.diskriminasi dan imparsial . 7. 2. adil. dan berpengalaman di bidang hukum (pasal 32). 9.pasal 5 ayat (1).pasal 7. Dilaksanakan sesuai dengan prinsip ne bis in idem – pasal 6 ayat (1). Prinsip-prinsip penyelenggaraan peradilan dan Kedudukan serta Peranan Hakim Agung Prinsip penyelenggaraan peradilan telah ditetapkan dalam Undang-undang Republik Indonesia No. profesional. cepat. Independent . 10. dan biaya ringan . Dilakukan “Demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” . Prinsip-prinsip tersebut adalah: 1.pasal 9.pasal 6 ayat (2). menetapkankan bahwa: Kekuasaan Mahkamah Agung sebagaimana ditetapkan dalam Undang-undang tersebut adalah: Pasal 28: “Mahkamah Agung bertugas dan berwenang memeriksa Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 101 . 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman.3. bahwa hakim adalah pejabat yang melakukan kekuasaan kehakiman yang diatur dalam Undang-undang (pasal 31). Jujur. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. non. 6. dan wajib menjaga kemandirian peradilan (pasal 33) Khusus berkenaan dengan Mahkamah Agung. Terbuka untuk umum . telah ditetapkan dalam undang-undang tersebut. 4.

karena: a.dan a. yang dalam melaksanakan tugasnya terlepas dari pengaruh pemerintah dan pengaruhpengaruh lain”. permohonan peninjauan kembali putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.... maka peraturan perundang-undangan yang disebutkan di atas memberikan tugas-tugas mulia yang diembankan kepadanya.. salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku. b.. memutus: permohonan kasasi. Pasal 30: (1) Mahkamah Agung dalam tingkat kasasi membatalkan putusan atau penetapan pengadilan-pengadilan dari semua lingkungan peradilan. tidak berwenang atau melampaui batas wewenang. Pasal 35: “ . b. menguji peraturan perundang-undangan di bawah Undang-Undang terhadap Undang-undang . Pasal 31: (1) . sengketa tentang kewenangan mengadili. Terlebih-lebih apabila dikaitkan dengan Kedudukan Mahkamah Agung. sekaligus pedoman perilaku bagi mereka. dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan dalam bidang hukum baik diminta maupun tidak kepada Lembaga Tinggi Negara yang lain” Melihat kepada peraturan perundang-undangan yang memberikan kedudukan istimewa kepada seorang Hakim Agung. yang berarti tidak membiarkan sengketa hukum berlarut- 102 Bunga Rampai .. Hal tersebut mengisyaratkan pula bahwa putusan Mahkamah Agung adalah putusan yang memberikan penyelesaian definitif sesuai dengan asas lites finiri oportet. c. seperti dimuat dalam pasal 2: “Mahkamah Agung adalah Pengadilan Negara Tertinggi dari semua Lingkungan Peradilan. memberikan pertimbangan hukum kepada Presiden dalam permohonan grasi dan rehabilitasi” Pasal 37: “ . c. lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan.

Dalam bidang hukum pidana. Dalam bidang hukum perdata. Mahkamah Agung menolak gugatan Presiden Suharto atas pencemaran nama baik yang dilakukan oleh New York Times dengan pemuatan gambar presiden sebagai joker dalam kartu ‘remi’. 15 Oemar Seno Adji. Ia tidak berarti bahwa ia berhak untuk bertindak sewenang-wenang dalam menjalankan tugasnya. 1985. antara lain: 1. sekalipun harus menemukan hukum.)15 pernah mengatakan: “Suatu pengadilan yang bebas dan tidak dipengaruhi merupakan syarat yang ‘indipensable’ bagi negara hukum. Oemar Seno Adji. terikat pada hukum”. Prof. Oleh karena itu.Cctakan Kedua. Kesewenang-wenangan seorang Hakim Agung. dan menjadikannya suatu pembentukan hukum baru melalui yurisprudensi yang terkenal. antara lain: 1. S. yang memberi arti terhadap kata “perbuatan tidak 4. Dikukuhkannya janda sebagai ahli waris. him. tidak diperbolehkan . Diperkenankannya seorang wanita yang belum menikah mengangkat anak melalui adopsi. 3. Beberapa penemuan hukum yang pernah ada. 2.. tetapi menyatakannya sebagai perwujudan kebebasan pers. Bebas berarti tidak ada campur tangan dari kekuasaan eksekutif dan legislati dalam menjalankan fungsi yudiciair. mantan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia. 4. Putusan Mahkamah Agung RI No. antara lain: a.H. Jakarta. Francis Bacon pemah menyatakan: ”there is no worse torture than the torture of laws” Penemuan hukum dan pembentukan hukum Indonesia yang mengemuka. 275K/Pid/1982. Dengan demikian Hakim Agung dalam menjalankan tugasnya telah memberikan kepastian hukum dari kasus tersebut. Pcnerbit Erlangga. Anak angkat yang memperoleh bagian waris yang sama dengan anak kandung. b. Peradilan Bebas Negara Hukum. (alm. ia ‘sub-ordinated’. 46 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 103 .larut tanpa akhir.

Dalam kasus “Bambang Harymurti Tempo” Mahkamah Agung menyatakan bahwa UU No. dan terjadi pada semua bidang hukum baik oleh hakim. Tetapi berbeda dengan penemuan hukum oleh para ilmuwan hukum sebagai hasil dari penelitiannya. 3. 4. Dalam kasus “Rahardi Ramelan”. 40/1998 tentang Pers adalah lex speciali dan karenanya dalam kasus tersebut tidak dapat digunakan pasal 310 KUHP tentang penghinaan.2. Dalam kasus pembobolan dana Bank BNI New York. dalam kebebasannya. Penemuan hukum pada dasarnya merupakan kegiatan sehari-hari para yuris. penemuan hukum oleh hakim harus selalu dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip penyelenggaraan peradiBunga Rampai 2. sehingga penggunaan alat komputer (dengan menekan satu panel/tombol pada key board komputer) disamakan dengan lichamelijk gedraging. Penemuan hukum adalah sebuah aspek penting dari ilmu hukum (teori hukum) dan praktek hukum. 104 . yang bersifat teoritis terhadap suatu masalah hukum tertentu serta tidak terikat dalam batas-batas waktu. 5. Agar tidak menjadi suatu kesewenang-wenangan hukum dan tertibnya pembentukan hukum yang dciptakan karena penemuan hukum. bahkan ilmuwan hukum. Dalam kasus “Mochtar Pakpahan” hakim menyatakan bahwa demonstrasi (waktu itu sedang terjadi era reformasi) bukanlah sebagai pemyataan permusuhan terhadap negara sebagaimana terdapat dalam unsur pasal 154 KUHP yang terkenal dengan haatzaai artikelen. patut dan terce1a dari suatu tindak pidana korupsi”. hakim memberikan penafsiran luas terhadap unsur “mengambil” dalam tindak pidana pencurian. pembentuk undang-undang. Simpulan 1. dalam praktek hukum hakim harus memberikannya di dalam putusannya dalam jangka waktu yang masuk akal. dan “Adam Damiri di Pengadilan HAM” hakim menerima teleconference sebagai cara yang sah dari kehadiran saksi.

kaidah hukum yang menjadi dasar kasus konkrit yang dihadapkan kepadanya. mengharmonisasikan antara fakta dan kaidah hukum tersebut dengan menggunakan metode yang diperkenankan. tetap memperhatikan fakta hukumnya.lan yang baik. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 105 . serta mengabstrasikannya. dasar-dasar/norma.

Termorshuizen. Hukum Pidana. Marjanne . tanpa tahun.A. Pontier. Panel Diskusi V yang diselenggarakan oleh MAHINDO di Jakarta -bulan Maret 1972. Bandung. Penemuan Hukum. Binacipta. Gramedia Pustaka Utama. diterjemahkan oleh Tristam P. 2003 Sudikno Mertokusumo. Penemuan Hukum. Rechtsvinding. Peradilan Bebas Negara Hukum. diterjemahkan oleh B. Liberty. 1972 Oemar Seno Adji. Pembinaan Hukum Dalam Rangka Pembangunan Nasional. cetakan kedua.Moeliono. J.Daftar Pustaka Komariah Emong Sapardjaja. Jan. Universitas Parahyangan. Remmelink. Studi Kasus tentang Penerapan dan Perkembangannya dalam Yurisprudensi.Arief Sidharta. Yogyakarta. Bandung. dan Widati Wulandari. Komentar atas Pasal-pasal Terpenting dari Kitab Undang-undang Pidana Belanda dan Padanannya dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia. Bandung. eetakan kedua. Alumni. Penerbit Erlangga. Ajaran Sifat Melawan Hukum Dalam Hukum Pidana Indonesia. 1985. Jakarta. 2001 - - - 106 Bunga Rampai . Jakarta.. 2002 Moehtar Kusumaatmadja.

2 Menurut pandangan ini. Pada sisi lain. kejaksaan (yang melaksanakan tugas penuntutan dan eksekusi putusan pengadilan) dan Pengadilan (yang mengadili) sehingga membentuk jaringan kerja terpadu yang dikenal dengan integreted criminal justice system. Semua sub-sistem diarahkan kepada tujuan untuk menegakkan tata hukum pidana. Penerbit Alumni Bandung. Dalam hal ini muncullah pandangan bahwa pengadilan sebagai benteng terakhir pencari keadilan. 1 SPP – Bejana Berhubungan Secara dogmatik. S. pengadilan merupakan institusi penting dalam mengkonkritkan hukum melalui putusan-putusan yang ditetapkannya. penyelenggaraan tata hukum pidana berpusat dan berpuncak pada pengadilan. Sistem Peradilan Pidana (SPP) terdiri atas sub-sistem yang saling berhubungan antar sub-sistem kepolisian (yang melaksanakan tugas-tugas penyidikan). Ali Zaidan.H. institusi pengadilan melakukan pengawasan (kontrol) terhadap pelaksanaan tugas dan wewenang instansi sebelumnya seperti penyidikan dan penuntutan. Putusan pengadilan merupakan produk badan peradilan yang dimulai dari input 1 2 Anggota Komisi Kejaksaan Republik Indonesia Soedarto. MH. Pengadilanlah yang mengkonkritkan hukum. Kapita Selekta Hukum Pidana. Tugas-tugas penyidikan dan penuntutan bermuara pada pengadilan.Kontribusi Lembaga Kejaksaan Dalam Mempercepat Reformasi Peradilan M. Dalam pandangan ini. 1981 halaman 120 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 107 ..

Keterpaduan antar sub-sistem menjadi jaminan bahwa produk yang dihasilkan akan dijamin obyektifitasnya. Konsekuensinya. antar subsistem peradilan terdapat hubungan saling berhubungan. Penegakan hukum tidak lagi dilihat sebagai penegakan undang-undang an-sich. Oleh karena itu kegiatan penegakan hukum tidak dapat hanya dilihat sebagaimana tertera dalam perundangundangan.3 Hubungan antar sub-sistem peradilan tersebut membentuk suatu jaringan laksana bejana berhubungan. Oleh karena itu. penuntutan dan pengadilan) dan berakhir pada out put yakni putusan pengadilan. Sebaliknya. Penerbit Badan Pembinaan Hukum Nasional. Akibat pengaturan demikian. Pusat Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum (d/h Lembaga Kriminologi) Universitas Indonesia. Tanpa keterpaduan dalam sistem akan diperoleh kesulitan dalam mengukur tingkat keberhasilan maupun kegagalan sistem sebelumnya.4 Konsekuensi pernyataan di atas bahwa rumusan-rumusan abstrak dalam undang-undang hanya dipakai seb- 3 4 B. Putusan pengadilan merupakan hasil akhir (product) proses hukum sebelumnya. Kegagalan suatu sub-sistem akan mempengaruhi subsistem lainnya. 1994 halaman 85 Satjipto Rahardjo. halaman 15 108 Bunga Rampai . menurut pandangan sosiologis. Masalah Penegakan Hukum. Mardjono Reksodiputro. hasil yang diperoleh tidak akan selalu selaras dengan tujuan sistem secara keseluruhan. processing (penyidikan. Suatu Tinjauan Sosiologis. penegakan hukum hendaklah dipahami sebagai kegiatan yang dilakukan oleh institusi hukum dalam keseluruhan kerangka sosial yang lebih besar. Akan tetapi sebagai proses sosial yang melibatkan lingkungannya. sub-sub sistem peradilan pidana itu sendiri merupakan sub-sistem yang diikat oleh ketentuan perundang-undangannya masingmasing. tanpa tahun. Jakarta.(yakni kasus hukum). Kumpulan Karangan buku Ketiga. akan tetapi hendaklah dilihat dari persepektif yang lebih luas. sub-sub sistem peradilan itu akan menentukan sendiri hukum dalam bidang dan tugasnya masing-masing dalam mengejar tujuannya. Jakarta. Sistem Peradilan Pidana hendaklah dipandang sebagai bagian dari sistem yang lebih besar yakni Sistem Sosial yang lebih rumit dan canggih. Hak Asasi Manusia dalam Sistem Peradilan Pidana.

5 6 7 Alan Coffey et al. 1978. hal ini ditimbulkan karena besarnya pengaruh lingkungan sosial terhadap pencapaian tujuan Sistem Peradilan Pidana tersebut. Analizing the Criminal Justice System. 1974 halaman 5 Muladi.6 Pemahaman terhadap ketiga sinkronisasi ini penting. tingkah laku yang menjadi latar belakang penegakan hukum dan sejenisnya. digambarkan oleh La Patra sebagai berikut:7 Level 1: Masyarakat (society) Level 2: ekonomi. disebabkan karena apa yang dikatakan sistem Peradilan Pidana pada hakikatnya merupakan sistem yang terbuka (open system). substansial maupun kultural. Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana. Prentice Hall Inc.5 Dengan demikian menurut pandangan ini terlihat bahwa adanya undang-undang tidak menjadi jaminan bahwa sistem itu akan berjalan dengan baik. Keterpaduan sistem itu sendiri akan tercipta manakala semua pihak yang menjadi bagian dari sistem itu bekerja untuk mencapai tujuan tertentu dalam kenyataan. An Introduction to the Criminal Justice System and Process. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Lexington Books. Keterpaduan atau sinkronisasi itu sendiri meliputi sinkronisasi struktural. teknologi. Semarang. dengan lembaga pemasyarakatan. New Jersey. Begitu juga hendaknya dilihat kenyataan faktual hubungan interdependensi antara kepolisian dengan kejaksaan. tidak mungkin Sistem Peradilan Pidana tidak terpengaruh atau kedap terhadap pengaruh sub-sistem sosial di luarnya. 1995 halaman 1 La Patra. Terlalu banyak faktor yang tidak terungkap jika hanya membaca peraturan hukum tertulis semata. Adanya independensi antara sistem peradilan pidana dengan sistem sosial. yang ingin diketahui lebih jauh adalah bagaimana hukum itu dijalankan. halaman 86 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 109 . antara kejaksaan dengan pengadilan. Englewood Cliffs. akan mengakibatkan kerawanan yang mengarah kepada fragmentasi dan ketidakefektifan sistem peradilan pidana itu sendiri. Tanpa memperhatikan interrelationship antara sub-sistem di atas.agai petunjuk saja. Dengan demikian. pendidikan dan politik Level 3: sub-sistem Peradilan Pidana. Bahkan pengaruh luar itu sendiri akan menjadikan Sistem Peradilan Pidana menjadi unik. kepengacaraan dan dengan hukum itu sendiri.

dalam pengertian bahwa penegakan hukum sebagai kegiatan yang menarik lingkungan ke dalam proses tersebut. London halaman 20. Beverly Hill. khususnya dalam hubungan dengan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan untuk dikejar oleh masyarakat. ekonomi dan budaya tidak dapat diabaikannya ketika proses penegakan hukum itu dijalankan. Sage Publications. maupun yang harus menerima pembatasan-pembatasan dalam bekerjanya disebabkan oleh faktor lingkungan. Di lain pihak.Suatu contoh pengaruh sub-sistem politik terhadap bekerjanya Sistem Peradilan Pidana. Sejalan dengan pernyataan ini dikemukakan oleh Satjipto Rahardjo bahwa subsistem politik menggarap masalah penentuan tujuantujuan yang harus dicapai oleh masyarakat serta bagaimana mengorganisasikan dan memobilisasikan sumber daya-sumber daya yang ada untuk mencapainya keputusan-keputusan politik sering dimasukkan atau dirumuskan ke dalam hukum positif. Kita tidak dapat berbicara penegakan hukum apabila keadilan tiGeorge F. Bandung. lihat buku Beberapa Pemikiran tentang Ancangan antardisiplin dalam Pembinaan Hukum Nasional. Penegakan hukum tidak lagi didefinisikan sebagai penegakan undang-undang belaka.10 Mewujudkan keinginan-keinginan hukum dalam kenyataan dapat diartikan sebagai usaha untuk mewujudkan nilai-nilai dasar di dalam hukum seperti keadilan. penegakan hukum hendaklah dilihat sebagai suatu proses sosial yang melibatkan lingkungannya. dapat diasumsikan bahwa proses peradilan merupakan suatu sub-sistem dari sistem politik yang lebih luas.8 Dengan tepat Soedarto mengemukakan bahwa membicarakan masalah penegakan hukum di sini tidak membicarakan bagaimana hukumnya. kepastian hukum dan kemanfaatan. Cole. dengan penerimaan oleh pengadilan. Nilai-nilai dasar ini merupakan fundamental hukum yang esensiil. akan tetapi dilihat sebagai kegiatan untuk mewujudkan keinginan-keinginan hukum menjadi kenyataan.9 Faktor-faktor eksternal seperti politik.pengadilan menerima masukan dari sektor politik ini dalam bentuk petunjuk tentang apa dan bagaimana ia harus menjalankan fungsinya. Pertimbangan-pertimbangan politik merupakan faktor dalam pengambilan keputusannya. op cit halaman 14 8 110 Bunga Rampai . Penerbit CV Sinar Baru. Politics and the Administration of Justice. maka keputusan-keputusan politik itupun menjadi sah atau memperoleh legitimasinya. 1985 halaman 26 9 op cit halaman 113 10 Satjipto Rahardjo. dalam hal mana konflik diselesaikan. Dalam perspektif ini. melainkan apa yang dilakukan oleh aparatur penegak hukum dalam menghadapi masalah-masalah dalam penegakan hukum.

apabila demi menjaga suatu kepastian hukum. Hukum dengan berbagai pranatanya dibuat untuk memaslahatkan umat manusia dan perlindungan terhadap hak-hak fundamental manusia pula. bahkan dalam batas tertentu nilai-nilai dasar tersebut hendaklah dilihat sebagai nilai antinomik. bahwa keadilan dan kemanfaatan itu harus dicapai melalui kepastian hukum. The Criminal Justice System as a social problem : an abolitionist persepective.dak terwujud. Part One. Sungguh suatu ironi. sebaliknya untuk mewujudkan keadilan terkadang kepastian hukum diabaikan. John R Blad (ed) Erasmus Universiteit Rotterdam.A. hlm 8 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 111 . Demi sebuah kepastian hukum terkadang keadilan dikorbankan. nilai kepastian hukum itu sendiri mengandung masalah yang substansial.tidak dapat dipandang sebagai kepastian yang hakiki. Pernyataan ini tentu akan mendapat sanggahan dari mereka yang berpendirian normatif. Makna menanggulangi di sini diartikan sebagai usaha untuk mengendalikan kejahatan agar berada dalam batas-batas toleransi masyarakat.yang menjadi tujuan dibuatnya undang-undang. Dengan demikian nilai daya guna hendaknya menjadi perhatian dalam setiap upaya law enforcement. begitu juga nilai kemanfaatan. tidak dapat bekerja menurut tujuan yang dicita-citakannya dan SPP memiliki cacat yang 11 L. SPP terkadang menimbulkan faktor kriminogen. akan tetapi dalam waktu tertentu nilai kepastian dapat dikorbankan demi mencapai tujuan keadilan. Pendekatan sistemik harus menjadi acuan bekerjanya sistem itu dalam rangka penanggulangan kejahatan. SPP itu sendiri diartikan sebagai sistem dalam suatu masyarakat untuk menanggulangi masalah kejahatan. Diantaranya SPP menimbulkan penderitaan. Kita tidak dapat berbicara penegakan hukum tanpa melibatkan sub-sub SPP secara keseluruhan. Louk Hulsman. Sistem Peradilan Pidana hendaklah dilihat dalam bingkai yang lebih luas sebagaimana disebutkan di atas. akan tetapi tidak lain dari kepastian akan peraturan belaka. nilai keadilan harus dikorbankan. Padahal dalam bingkai sosiologis. Sebagai suatu sistem sosial yang lebih besar. Kepastian hukum --. Undang-undang dibuat untuk menjaga nilai-nilai keadilan dan kemanfaatan.

Dengan tepat Roeslan Saleh mengemukakan bahwa pekerjaan mengadili (dalam perkara pidana) merupakan pekerjaan pergulatan 112 Bunga Rampai . kekakuan. akan tetapi dilakukan melalui sistem birokrasi yang rumit dan canggih. Diantara karakteristik birokrasi (peradilan) misalnya sifat yang non personal. Nilainilai yang menjadi dasar masing-masing pihak terkadang merupakan nilai-nilai antinomik. kelambanan menjadi faktor yang mempengaruhi penegakan hukum itu sendiri. Tugas SPP adalah meramu atau melakukan sintesis antara kedua nilai yang antinomi tersebut.11 Faktor kriminogen ini hendaknya menjadi perhatian semua pihak yang terlibat dalam sub-SPP kita apabila tujuan akhir penegakan hukum (pidana) adalah untuk mewujudkan kesejahteraan sosial (social welfare). Sebuah pekerjaan besar yang membutuhkan dedikasi dan determinasi. Keadilan birokratik ini terkadang terlalu prosedural sehingga dalam hal-hal tertentu tidak sejalan dengan keadilan substantif.mendasar. doktrin adagium dan sejenisnya. Pada sisi yang lain terdapat ungkapan “tegakkan hukum dengan cara-cara menurut hukum” terkadang dalam hal-hal tertentu justru membawa dampak yang tidak produktif. sehingga terkadang kepentingan justisiabelen diabaikan. Oleh karena itu pekerjaan penegakan hukum yang dilakukan melalui SPP bukanlah pekerjaan subsumptie otomat alias teknologi pencet tombol. Pembicaraan tentang hal ini akan membawa kepada wacana keadilan yang birokratik. kepentingan pribadi dengan kepentingan umum dan sebagainya. Misalnya kelambanan dalam salah satu sub-sistem peradilan disebabkan beban kerja yang berat dan sumberdaya yang terbatas merupakan penyebab pelayanan kepada pencari keadilan menjadi tidak optimal. hal ini disebabkan karena usaha pemberian keadilan kepada warga tidak dapat dilakukan oleh warga masyarakat dengan cara-caranya sendiri. Birokrasi lebih berpegang kepada normanorma yang bersifat formal sehingga terkadang terbelenggu oleh prosedur. Akan tetapi tindakan untuk merealisasikan nilai-nilai yang terkandung atau yang berada di belakang norma hukum yang hendak ditegakkan itu. tidak tanggap dan tidak cepat. konsep. Law enforcement yang dilakukan melalui SPP melibatkan sistem birokrasi yang rumit dan canggih. seperti nilai keadilan dan kepastian hukum.

Meskipun unsur keyakinan hakim menjadi faktor yang determinan dalam pembuatan putusan akan tetapi ketentuan hukum acara dan hal hal lain yang relevan hendaklah pula diindahkan. keterpaduan tersebut tidak hanya meliputi hubungan antar sub-sistem dalam SPP tersebut secara tertutup. integritas dan komitmen untuk menegakkan hukum seadil-adilnya. perlindungan hak-hak warganegara dan kerjasama yang produktif. akan tetapi merupakan lembaga sosial yang bermakna. Pembagian tradisionil dalam sistem ketatanegaraan legislatif. Di samping itu dapat digunakan untuk meminimalisasi berbagai conflict of interest yang mungkin timbul yang disebabkan oleh egoisme sektoral yang berlebihan. Forum yang demikian itu untuk melakukan koreksi dan pengayaan terhadap segala sesuatu yang telah dan akan dilaksanakan ke depan. Mereka tidak bekerja dalam ruangan yang hampa. penuntut umum maupun hakim bekerja dalam suatu keterpaduan yang harmonis. Kesadaran seperti inilah hendaknya menjadi semangat aparatur yang mengemban tugas penegakan hukum dalam tiap sub Sistem Peradilan Pidana kita. eksekutif dan yudiKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 113 . akan tetapi membentuk hubungan yang dinamis dengan sistem sosial yang lebih besar yang berada di luarnya. Aparat penyidik. Semua faktor internal (pribadi hakim) dan faktor eksternal (yang diadili) berbaur menjadi satu. Pertemuan dalam forum tersebut dilandasi oleh semangat profesionalisme. di dalam tarik menarik berbagai faktor internal maupun eksternal itulah hakim harus memberikan putusan yang seadil-adilnya. Hal ini disebabkan karena kekuasaan untuk menuntut dan mengeksekusi putusan pengadilan merupakan wewenang absolut kejaksaan. Laksana bejana berhubungan. Diharapkan dengan cara demikian SPP tidak menjadi lembaga yang terasing dalam lingkungan sosialnya. Kejaksaan – Kekuasaan Eksekutif Penegasan bahwa Kejaksaan Republik Indonesia merupakan bagian eksekutif power di negeri ini tidak perlu diragukan lagi. populis dan holistik. Dalam hal ini gagasan untuk tetap menghidupkan forum-forum seperti Makehjapol di tingkat pusat maupun Diljapol di tingkat daerah perlu didukung secara proporsional.kemanusiaan.

2005 halaman 50 114 Bunga Rampai . dapat menempatkan kejaksaan dalam posisi yang dilematik dan vulnerable.12 Meskipun dapat dipahami bahwa kedudukan institusi dalam posisi yang demikian itu. yang menjadi sorotan negatif akhir-akhir ini. Untuk hal itu. munculnya lembaga-lembaga lain dengan kewenangan yang berpotensi mereduksi tugas dan wewenang kejaksaan. selama itu pula obyektifitas kejaksaan terus menerus dipertanyakan. begitu pula dalam undang-undang kejaksaan sebelumnya. Penerbit PT Gramedia. Pengaturan seperti ini terkadang menimbulkan indikasi ketidakmandirian kejaksaan di tengah-tengah arus pusaran kepentingan eksekutif. Dalam penanganan kasus korupsi maupun illegal logging misalnya. Kebijakan demikian membawa kesan bahwa kejaksaan melakukan tebang pilih dalam melakukan tuntutan dalam kasus-kasus tertentu. Dengan demikian terjadi hubungan interdependensi antara kebijakan pemerintah dengan tugas-tugas kejaksaan. Kejaksaan RI. Jakarta. Ketika itu kesan tebang pilih yang muncul di masyarakat tidak dapat dihindarkan. “Secara jujur harus dikatakan bahwa kebijakan yang berkaitan dengan penegakan hukum. Sehingga kesan ketidakmandirian 12 13 Pengaturan ini dapat dilihat dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia. Dalam dilematik itu kejaksaan harus menentukan sikapnya. Sebagai bagian dari kekuasaan eksekutif kejaksaan harus mampu mengambil sikap dalam posisi yang sulit sekalipun.13 Landasan perundang-undangan dalam tataran konsepsional tadi. Lihat Marwan Effendi. di mana melibatkan orang-orang yang mempunyai kuasa politik atau ekonomi terkadang menjadikan kejaksaan sebagai sasaran kritik. menjadi realitas dalam tataran aplikasinya di lapangan. Hal ini disebabkan karena selama kejaksaan berada di bawah bayang-bayang pemerintah. Posisi dan Fungsinya dari Perspektif Hukum. Di lain pihak. melainkan lebih karena terjadinya pemasungan kewenangan”.katif telah menempatkan kejaksaan dalam hal ini sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan. Ketidakmandirian kejaksaan dalam melaksanakan tugas penuntutan lebih disebabkan karena faktor perundang-undangan yang dijadikan landasannya. bukan semata-mata karena perilaku aparatur kejaksaan. merupakan faktor yang menyebabkan tidak optimalnya pelaksanaan tugas dan wewenang kejaksaan dalam rangka penegakan hukum. wacana agar Kejaksaan dilepaskan dari kekuasaan pemerintahan sepatutnya diperhatikan.

Sebagai bagian kekuasaan eksekutif. Bahkan Lopa berhasil membebaskan kejaksaan dari belenggu formalisme ketika ia mengatakan bahwa “untuk menyeret seorang tersangka korupsi. Pada pihak lain pengaruh sosial politik hendaknya memberikan ruang gerak yang luas kepada kejaksaan untuk melaksanakan tugas dan wewenangnya secara mandiri. Selama ini kesan bahwa kejaksaan dapat diintervensi oleh kekuasaan atau partai politik sulit dihindarkan. Sebagai lembaga yang mengemban tugas penegakan hukum. Kebijakan demikian mengundang simpati publik.14 Kesemuanya tergantung tekad dan keberanian jaksa dalam menjalankan tugasnya secara mandiri. tidak perlu setumpuk bukti yang saya butuhkan. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 115 . Semuanya tergantung kepada niat. cukup dengan beberapa lembar kertas saya sudah dapat menjadikan seseorang sebagai terdakwa. jaminan undang-undang yang memberi kemandirian jaksa dalam melaksanakan tugasnya di lapangan tidak berarti banyak jika tidak diikuti dengan semangat mengabdikan segenap jiwa raganya untuk kepentingan tugas penegakan hukum yang diembannya. Oleh sebab itu terwujudnya due process of law sulit direalisasikan. Institusi ini pernah dipimpin oleh Jaksa Agung Soeprapto yang menunjukkan kemandirian dan keberaniannya menegakkan hukum. tekad dan keberanian pimpinan kejaksaan untuk keluar dari kungkungan kekuasaan eksekutif yang mempengaruhi netralitasnya. kewajiban bagi jaksa dan aparat kejaksaan dalam 14 Kita tentu masih ingat dengan kebijakan alm Baharuddin Lopa yang “menusakambangankan” terpidana korupsi. Begitu juga dengan Alm Baharuddin Lopa yang dengan keberaniannya menyeret pelanggar hukum ke pengadilan dan mengeksekusi terpidana secara cepat. Oleh karena itu pengangkatan jabatan strategis di lingkungan kejaksaan – bahkan Jaksa Agung – haruslah bersandarkan kepada merit system. tentu bukanlah alasan pembenar bagi pemerintah untuk mengintervensi pengisian jabatan-jabatan strategis di tubuh kejaksaan. karena apabila campur tangan itu dilakukan berarti menjadikan lembaga ini berada di bawah bayang-bayang pemerintah.tidak dapat dielakkan.” demikan katanya pada suatu waktu. Meskipun bukan alasan untuk menjustifikasi kedudukan yang demikian untuk menjadikan kejaksaan tidak independen.

hlm 121. kecuali kepentingan keadilan.15 Pada sisi lain jaksa tidak dapat melaksanakan tugas-tugas profesionalismenya secara optimal. antara lain jaksa adalah unsur utama dari “agent of the administration of justice” yang harus menjaga martabat profesinya. kemanusiaan dan kesejahteraan. Lihat Yudi Kristiana. hal mendesak untuk dilakukan saat ini misalnya sistem pertanggung jawaban yang berlaku di kejaksaan perlu dilakukan peninjauan kembali. Penerbit Citra Aditya Bakti. kesusilaan dan keharusan menjaga kehormatan dan martabat profesinya di samping terus menerus menggali nilai-nilai hukum yang berkembang merupakan suatu keniscayaan. Independensi Kejaksaan dalam Penyidikan Korupsi. Bandung. Kewajiban demikian akan mengontrol kejaksaan agar tidak terjebak kepada pertarungan kepentingan yang sempit dan sesaat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tugas penegakan hukum tidak tergantung kepada kepentingan penguasa atau kepentingan apapun. 116 Bunga Rampai . Di samping itu kemandirian jaksa dalam melaksanakan tugas penuntutan hendaklah dijamin secara utuh. seperti 15 Doktrin Kejaksaan adalah satu dan tidak terpisah-pisahkan (‘een an ondelbaar’) layak untuk dipertimbangkan karena mempengaruhi independensi jaksa ketika menjalankan tugas-tugas penuntutan. Begitu juga sistem keamanan dirinya hendaknya dijamin. “Petunjuk-petunjuk atasan”. Oleh karena itu. instruksi dan sejenisnya merupakan hambatan nyata bagi jaksa dalam melaksanakan tugas-tugas penuntutan. Di samping itu. 2006. Oleh karena itu penetapan kebijakan yang menyangkut institusi kejaksaan hendaklah selain mengacu kepada tuntutan nasional juga harus mengindahkan aspirasi masyarakat yang berkembang secara universal. Dalam “Guidelines on the Role of Prosecutor” terdapat ketentuan mengenai hal ini. Doktrin demikian tidak selaras dengan tuntutan kemandirian dan profesionalisme kejaksaan dalam melaksanakan tugas-tugas penuntutan.melaksanakan tugasnya mengindahkan norma-norma kesopanan. Sistem demikian dapat menyebabkan kejaksaan akan dengan mudah diintervensi oleh kekuasaan. negara harus menjamin keamanan jaksa agar bebas dari pelbagai gangguan dalam melaksanakan tugas profesinya. Dengan adanya jaminan demikian diharapkan jaksa dan kejaksaan pada umumnya dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.

Kedudukan yang strategis yakni menentukan perkaraperkara apa yang akan dilimpahkan ke pengadilan. Keterbatasan sarana. wewenang kejaksaan untuk juga mengemban tugas-tugas lain jika ditetapkan dengan undang-undang terkait kedudukan sebagai lembaga pemerintahan layak dipertimbangkan. Kedudukan sebagai lembaga pemerintahan ini mengakibatkan pelaksanaan tugas dan wewenang kejaksaan berbeda dengan sebelumnya. faktor finansial juga menentukan tingkat capaian-capaian yang diperoleh instansi ini. perdata dan tata usaha negara begitu juga tugas dalam bidang ketertiban dan ketenteraman umum. Di samping masalah yang bersifat struktural tersebut. di sisi lain keterbatasan-keterbatasan sebagaimana disebutkan 16 Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 15 Tahun 1961 ini bisa jadi merupakan faktor yang menimbulkan kemandirian kejaksaan pada waktu itu.16 Akan tetapi dalam undang-undang yang menggantikannya ditegaskan bahwa Kejaksaan adalah lembaga pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan serta kewenangan lain berdasarkan undang-undang. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 117 . terkadang didasarkan kepada pengamatan yang tidak cermat.penetapan standar minimum tugas profesi jaksa atau penyusunan kode perilaku jaksa mendesak untuk direalisasikan dengan mengacu pada Guidlines di atas. sehingga dapat melaksanakan tugasnya secara independen. Dalam undang-undang sebelumnya di sebutkan bahwa Kejaksaan ialah alat negara penegak hukum yang terutama bertugas sebagai penuntut umum. Anggaran operasional dan anggaran pembangunan yang masih terbatas merupakan kendala yang serius dan hendaknya menjadi prioritas ke depan untuk segera diantisipasi. besarnya tuntutan pidana dan cara bagaimana putusan hakim dijalankan menjadi tanggung jawab kejaksaan sepenuhnya. Keadaan sarana dan prasarana yang masih minim begitu juga dukungan sumber daya manusia yang tidak proporsional membuat kejaksaan sebagai lembaga yang rentan. Sebagai lembaga pemerintahan yang memiliki wewenang yang luas dalam perkara pidana. prasarana dan faktor finansial ini menyebabkan kejaksaan kalah berpacu dengan tuntutan perkembangan zaman. Kritik yang dialamatkan kepada institusi kejaksaan.

17 Melalui kewenangan yang dimilikinya. 1973 halaman 112 Kebijakan seperti ini dapat kita lihat misalnya dalam Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 Tentang Percepatan Pemberatasan Korupsi. diantaranya terdapat instruksi agar kebijakan untuk memberikan dukungan maksimal terhadap upaya-upaya penindakan korupsi yang dilakukan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia. Kejaksaan Republik Indonesia dan Komisi Pemberantasan Korupsi dengan cara mempercepat pemberian informasi yang berkaitan dengan perkara tindak pidana korupsi dan mempercepat pemberian izin pemeriksaan terhadap saksi/tersangka. Kebijakan yang ditetapkan oleh kejaksaan merupakan refleksi prioritas nilai-nilai politik yang 17 18 19 George F. 118 Bunga Rampai . Sistem reward dan punisment tentu harus dilakukan secara transparan dan konsisten. Cole. Politics and the Administration of Justice. dapat menyebabkan kejaksaan berada dalam ranah politik. kejaksaan memiliki kekuasaan dan tanggung jawab untuk membuat kebijakan-kebijakan politik. Kedudukan sebagai lembaga pemerintahan tersebut. Masyarakat tidak boleh membiarkan atau menjadikan kejaksaan sebagai bulan-bulanan ketidakpuasan.18 Jaksa memiliki kekuasaan diskresioner yang berpengaruh dalam usaha penegakan hukum. Sebagaimana legislator dan hakim. Sage Publications. sehingga merit system dapat berjalan dengan baik. Cole. sehingga kesan subyektif tidak dapat dihindarkan. op cit halaman 3 George F. Sebagai suatu institusi sosial. kejaksaan tidak dapat lepas dari pengaruh-pengaruh sekelilingnya. Konsistensi ini akan menimbulkan gairah kerja jaksa dan pegawai kejaksaan untuk memberikan darma bakti yang sebaik-baiknya kepada bangsa melalui institusi kejaksaan ini. Kondisi yang lebih trasparan dan obyektif harus diciptakan dan dibakukan secara konkrit. kejaksaan dapat menentukan perkara-perkara mana yang akan dituntut. Kekurangan dan kesalahan di sana-sini tentu tidak akan diabaikan. Kondisi demikian tidak hanya terjadi di negeri kita sebagaimana dikemukakan oleh Cole bahwa SPP dalam hal ini juga kejaksaan merupakan lembaga politik. akan tetapi hendaknya menjadikan institusi ini berdaya. Selama ini sistem reward dan punisment belum terpolakan secara jelas. Beverly Hills/London.di atas memerlukan tindakan konkrit untuk dilakukan pembenahan sesuai dengan tuntutan yang berkembang saat ini.

perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia dan keadilan akan terabaikan.19 Di sinilah kejaksaan ternyata tidak cukup bekerja dengan menggunakan norma-norma hukum yang ditetapkan sebelumnya. manakala institusi kejaksaan menjadi lembaga negara. Di sinilah pengangkatan dan pemberhentian Jaksa Agung hendaknya dilepaskan dari berbagai kepentingan politik sesaat. Begitu juga harus ada jaminan bagi jaksa terhadap keselamatan diri dan keluarganya dari berbagai ancaman yang mengganggu kemandiriannya sebagai aparatur penegak hukum. yang perlu dilakukan saat ini adalah bagaimana membuat lembaga kejaksaan harus selalu memiliki komitmen pada hukum dan keadilan. Di samping kemandirian organisasi/institusional. kemandirian personal/individual dapat pula ditumbuhkan. di samping untuk mengisi jabatan sesuai dengan kebutuhan. Karena apabila kebijakan tersebut tidak diindahkan dapat mengakibatkan kejaksaan terperosok dalam kepentingan kekuasaan yang sempit. akuntabilitas kejaksaan harus lebih banyak ditekankan kepada kepentingan publik. Pengangkatan Jaksa Agung begitu pula pengisian jabatan-jabatan strategis di lingkungan kejaksaan haruslah didasarkan kepada kepentingan untuk menegakkan nilainilai keadilan dan kemanusiaan yang hakiki. Itu semua diharapkan akan terwujud. Begitu pentingnya tujuan tersebut. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 119 . Kedudukan sebagai lembaga negara itu akan menciptakan kemandirian yang sesungguhnya bagi kejaksaan untuk melakukan tugas dan wewenangnya tanpa intervensi kekuasaan eksekutif. Kepentingan untuk menegakkan hukum. apabila kemandirian personal ini terwujud seorang jaksa akan memiliki kemandirian yang sepenuhnya tanpa ada intervensi atasan atau pihak-pihak yang berkepentingan lainnya. sehingga keberanian dan integritas seorang pimpinan kejaksaan menjadi syarat mutlak di samping keahlian tehnis yuridis yang dimiliki jaksa pada umumnya.ditetapkan ketika itu. Oleh karena itu menurut Harkristuti Harkrisnowo. Dibutuhkan keberanian untuk melaksanakan tugas di tengah-tengah tarik menarik berbagai kepentingan yang dominan pada waktu itu. Dalam melaksanakan tugas penuntutan. Untuk itu. bukan kepentingan politik kelompok tertentu.

Tuntutan Publik Jika kita mempersempit makna peradilan dengan pengadilan. kita dapat melihat bahwa salah satu tuntutan reformasi yang bergulir hampir satu dasawarsa yang lalu yakni kemandirian badan-badan peradilan yang puncaknya pada Mahkamah Agung (MA). MA diharapkan dapat mengemban amanah reformasi yang merupakan tuntutan publik yang disuarakan oleh mahasiswa dan segenap lapisan masyarakat yang menginginkan hukum ditegakkan seadil-adilnya. Untuk itu perhatian atas semua ini harus dipusatkan agar kemandirian jaksa terwujud. KKN sebagai virus yang menggerogoti pembangunan merupakan musuh nyata masyarakat yang harus diberantas hingga ke akarakarnya. Pemberdayaan sektor publik dan sektor privat yang tengah berlangsung saat ini hendak-lah dimanfaatkan sebaik-baiknya guna menuju tegaknya supremasi hukum. kolusi dan nepotisme (KKN). Perubahan politik apapun yang terjadi tidak akan membawa arti yang signifikan. Akan tetapi kenyataan yang berkembang sesudahnya menunjukkan lembaga ini belum dapat menjawab tuntutan reformasi 120 Bunga Rampai . apabila tidak diikuti dengan usahausaha untuk memandirikan kejaksaan sebagai bagian dalam Sistem Peradilan Pidana pada umumnya sehingga menjadi institusi penegak hukum yang terpercaya. Reformasi Peradilan. Kita tidak dapat menunggu perubahan undang-undang kejaksaan untuk menciptakan kemandirian demikian. Penguatan masyarakat sipil saat ini dapat digunakan untuk meningkatkan harkat dan martabat kejaksaan ke arah kemandirian yang sesungguhnya. Sebagai benteng terakhir keadilan. MA sebagai puncak tertinggi dalam peradilan kita menjadi tumpuan harapan publik terutama dalam penanganan perkara korupsi. Ekspektasi masyarakat yang begitu kuat selayaknya direspon oleh lembaga ini secara konsisten.Masalah di atas merupakan salah satu diantara sekian masalah yang dihadapi oleh jaksa dan kejaksaan pada umumnya pada waktu menjalankan tugas penuntutan dan tugas-tugas lainnya yang membutuhkan integritas. penguatan civil society saat ini merupakan momentum yang bagus untuk mewujudkan ide-ide tersebut menjadi kenyataan.

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 121 . Berbagai kritik dan saran telah disampaikan. Realitas menunjukkan bahwa konfigurasi kekuasaan kehakiman tidak dapat dilepaskan dari bayang-bayang pemerintah yang tengah berkuasa. Kesemua itu menunjukkan betapa masyarakat mempunyai kepedulian yang besar terhadap lembaga ini. Fenomena ini jelas menunjukkan resistensi lembaga peradilan terhadap tuntutan reformasi. wajah peradilan melalui MA seakan tidak tersentuh reformasi. Kekuasaan kehakiman tidak otonom dari pengaruh rezim yang berkuasa ketika itu. Pengalaman dalam dua sistem pemerintahan yang pernah dianut oleh Indonesia. lembaga-lembaga peradilan masih asik dengan masalahnya sendiri.yang begitu kuat. Bahkan terkesan justru counter produktive maupun over protective terhadap tuntutan publik bagi reformasi peradilan. Di bawah rezim demokrasi terpimpin. Alih-alih melaksanakan reformasi di tubuh dunia peradilan. Kedua rezim memiliki kesamaan-kesamaan dalam memberdayakan kekuasaan kehakiman.20 Meskipun reformasi yang dalam hakikatnya menghendaki perbaikan di semua bidang kehidupan. perpanjangan usia pensiun Ketua MA sampai kepada perseteruannya dengan Komisi Yudisial. fakta menunjukkan bahwa lembaga peradilan tidak dapat melepaskan diri dari konfigurasi politik yang terus menerus berkembang. hal ini terlihat dari putusan-putusannya yang kontroversial. kekuasaan kehakiman ditempatkan sebagai bagian dari eksekutif. begitu juga di era Orde Baru kekuasaan kehakiman justu dikukuhkan dengan undang-undang sehingga menjadi bagian dari mesin kekuasaan politik Orde 20 Banyak fakta yang menunjukkan bahwa MA merupakan lembaga yang tidak responsif terhadap tuntutan publik demikian. terungkapnya isu suap di kalangan hakim agung. Oleh karena itu ungkapan yang dialamatkan kepada mereka yang kritis terhadap peradilan seperti melakukan contempt of court layak dipertanyakan. Dalam beberapa dasawarsa terakhir. MA justru menjadi lembaga yang menghambat tuntutan publik untuk tegaknya supremasi hukum. baik ketika Orde Lama dengan demokrasi terpimpin juga Orde Baru dengan demokrasi Pancasila mempunyai standar-standar yang dapat diperbandingkan.

Mahkamah Agung di Bawah Soeharto. Krisis Peradilan. Menurut Asrun. hingga isu suap yang melanda badan peradilan tertinggi ini merupakan contoh bahwa lembaga yang disebut sebagai benteng terakhir keadilan ini tidak steril dari korupsi. Malahan diciptakan dualisme ditubuh badan peradilan. Penerbit Elsam. Aldentua Siringoringo dan Tumpal Sihite (Penyunting).22 Dalam kasus Hanoch Abee Ohee. Konfigurasi Politik & Kekuasaan Kehakiman di Indonesia. Penerbit Pustaka Forum Adil Sejahtera. kolusi dan nepotisme.21 Secara khusus Benny K Harman menyatakan bahwa konfigurasi politik yang demokratis akan melahirkan kekuasaan kehakiman yang independen. 2004.23 Begitu juga penelitian A Mohammad Asrun yang mengkritisi peranan badan peradilan di bawah bayang-bayang rezim Orde Baru. tidak memiliki kewajiban untuk tunduk pada visi dan kepentingan politik pemerintah. Begitu juga dalam kasus Gandhi Memorial School. Sebaliknya jika konfigurasi politiknya otoriter. 1996 A Muhammad Asrun. menurut beliau. pemerintahan di era ini telah menghambat independensi kekuasaan kehakiman yang mandiri. melaksanakan cita hukum. maka kekuasaan kehakiman cenderung memiliki karakter tidak independen. halaman 450 Salah satu ulasan yang menarik tentang KKN dilingkungan badan Peradilan kita lihatlah buku Menyingkap Kabut Peradilan Kita. tidak legalistis. Jakarta. tetapi sisi administratif dan finansial di bawah eksekutif. para hakim sangat legalistis/positivisme dalam memutus perkara dan para hakim akan mendukung serta terikat pada visi dan kepentingan politik pemerintah. Jakarta 1997. pemalsuan vonis. Menyoal Kolusi di Mahkamah Agung. Jakarta. MA menganulir putusannya melalui surat sakti Ketua MA yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan di Jayapura untuk menunda eksekusi putusan yang telah in kracht van gewijsde.24 Undang-undang Pokok Kekuasaan Kehakiman merupakan kekalahan kaum reformis yang ketika 21 22 23 24 Hal ini dapat dilihat dari penelitian Benny K Harman. penerbit Elsam.Baru. memiliki wewenang judicial review yang terbatas. Ibid. memiliki wewenang judicial review. dengan menempatkan sisi teknis peradilan di bahwa MA. Lembaga peradilan dilumpuhkan sedemikian rupa sehingga tidak mampu mengurus dirinya sendiri dan terlena di bawah bayang-bayang kekuasaan pemerintahan. halaman 4 122 Bunga Rampai .

Jakarta. peradilan niaga dan peradilan hak asasi manusia.26 Tindakan demikian jelas melukai perasaan keadilan masyarakat. administrasi dan keuangan. pendidikan. Tak terkecuali pula dengan MA. Potret Lembaga Pengadilan Indonesia. Karut marut wajah peradilan memperoleh bentuknya yang sempurna manakala kekuasaan eksekutif berhasil merasuki wilayah yudikatif dengan menodai kemandiriannya.25 Penentuan Ketua dan Wakil Ketua MA merupakan kewenangan presiden dalam kedudukannya sebagai kepala negara. meskipun lembaga ini tidak seratus persen berada di bawah pemerintahan. 2006. Arus Pemikiran Konstitusionalisme. Penerbit Kata Hasta Pustaka. Penerbit RajaGrafindo Persada. akibatnya akan sulit diharapkan kemandirian mereka ketika menjalankan tugas-tugas yudisial mereka. Jakarta. kontrak sosial dan reformasi manajemen instrumental. sehingga lembaga peradilan 25 26 Lihat Adnan Buyung Nasution. komisi yudisial. 2007 halaman 57 Rusli Muhammad. Sebastian Pompe mengemukakan bahwa untuk mereformasi dunia peradilan di Indonesia tidak dapat dilakukan secara fragmentaris akan tetapi meliputi reformasi kebijakan yang bersifat institusional. Walaupun kedudukan sebagai kepala pemerintahan dalam hal ini sukar untuk diabaikan. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 123 . Dengan adanya kenyataan tentang masalah organisasi. Reformasi dalam tubuh peradilan menjadi conditio sine qua non untuk memenuhi tuntutan publik tersebut. Keterpurukan dunia peradilan disebabkan karena sistem sosial yang karut marut. Hukum & Peradilan. personel. bahwa:”kebebasan yang dimiliki lembaga pengadilan tidak lain merupakan suatu kemandirian yang sangat diperlukan (indispenseble) dan “Conditio Sine Quanon” (harus tidak boleh tidak adanya) karena selain menunjukkan bahwa negara ini adalah Rechtsstaat juga menunjukkan akan adanya jaminan terselengaranya peradilan yang independen guna menegakkan hukum yang berintikan keadilan”. akan tetapi dalam menentukan personalianya tergantung kepada presiden. Halaman 199 – 200. manajemen keuangan.itu bekerja keras untuk mencegah terulangnya pengebirian kekuasaan di masa rezim Demokrasi Terpimpin. para hakim di pengadilan negeri dan pengadilan tinggi tergantung sepenuhnya pada Departemen Kehakiman ketika itu. Usaha reformasi di dunia peradilan diantaranya mencakup reformasi di MA.

18 September 1998 dapat dijadikan referensi untuk merintis sistem peradilan progresif itu. Tentang gagasan ini dapat dibaca tulisan-tulisan Satjipto Rahardjo.ikut menjadi korbannya. meskipun kajian terbatas kepada fungsi MA dalam upaya penanggulangan tunggakan perkara dan pemberdayaan fungsi Pengawasan Mahkamah Agung akan tetapi buku ini dapat memberikan kontribusi positif bagi reformasi peradilan. “ Managing Court Reform. tentang peranan MA dan urgensi reformasi di tubuh MA dapat dibaca buku Henry P Panggabean. prosedur dan sekalian doktrin konvensional hendaklah ditanggalkan karena akan menimbulkan kesengsaraan. Di era reformasi ini kita membutuhkan lembaga-lembaga peradilan yang reformis pula. bukan penegakan undang-undang yang secara linear diartikan sebagai penegakan hukum. Oleh karena itu. Understanding the Indonesian Blueprints for Court Reform” dalam Jentera. Saat ini kita membutuhkan suatu penegakan hukum yang progresif. halaman 60. ketidak adilan dan kesewenangwenangan. Fungsi Mahkamah Agung dalam Praktik Sehari-hari.28 Gagasan peradilan progresif sebagaimana dilontarkan oleh Satjipto Rahardjo hendaklah dilihat sebagai eksemplar atau alternatif keluar dari krisis peradilan saat ini. Pendekatan tradisional yang selama ini dipraktikkan hendaklah ditinggalkan. diantaranya “Indonesia Inginkan Penegakan Hukum Progresif” harian Kompas. Peradilan yang progresif ditandai dengan cara-cara yang progresif dalam memandang hukum. 2001. Sebastian Pompe mengingatkan bahwa reformasi lembaga peradilan ini hendaknya menjadi keprihatinan kita semua. Lembaga-lembaga hukum seperti pengadilan hendaklah membantu manusia untuk menyelesaikan konfliknya sendiri 27 28 Sebastian Pompe. Penegakan hukum hendaklah berpijak kepada kepentingan nilai-nilai kemanusiaan. juga “Mahkamah Agung Reformasi” harian Kompas. 124 Bunga Rampai . Edisi 15 Tahun IV Januari – Maret 2007. oleh karena itu belenggu formalisme.27 Keterpurukan peradilan haruslah menjadi concern masyarakat seluruhnya. Keterlibatan semua komponen sosial agar menjadikan lembaga peradilan menghasilkan daya guna dan hasil guna yang maksimal untuk mewujudkan prinsip negara hukum merupakan sebuah keniscayaan. upaya pembenahan ditubuh peradilan harus dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan semua komponen masyarakat. Jakarta. Jum’at. Penerbit Sinar Harapan.

reformasi di badan peradilan harus dilakukan secara menyeluruh dan integral. Secara keseluruhan. Reformasi itu meliputi elemen struktural (kelembagaan yang terkait pada sistem). sehingga pengadilan di bawahnya akan melakukan hal yang sama. sikap. akar kulturalnya dan akar religiusnya. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 125 . semua pihak harus berjuang untuk mengembalikan hukum kepada akar moralitasnya. Kepatuhan hukum yang bersandarkan kepada kesadaran hukum yang hakiki. elemen substansial (hukum positif yang mendasari jalannya sistem tersebut) dan elemen kultural (pandangan. Keterpurukan Hukum di Indonesia. konsep kesadaran hukum yang terpadu antara kesadaran hukum penguasa dan perasaan hukum masyarakat. Penerbit Ghalia Indonesia. tindakan reformis itu akan diikuti juga oleh kepolisian dan kejaksaan secara berkesinambungan. diharapkan kepatuhan masyarakat terhadap hukum akan terwujud. antara lain: menjauhi hal-hal yang bersifat fragmentaris dan mengedepankan pendekatan sistemik. seperti UN Basic Principles on the Independence of Judiciary (1985). Peranan hakim menjadi sentral dalam hubungan kemanusiaan ini. sistem hukum yang kondusif untuk terciptanya supremasi hukum. Jakarta. reformasi struktural dan 29 Achmad Ali. Dalam rangka menciptakan independensi peradilan beberapa hal hendaklah menjadi perhatian.dengan menggunakan seluruh kapasitas kemanusiaannya. MA sebagai lembaga peradilan yang tertinggi di Republik ini. Prinsip kemandirian kekuasaan kehakiman ini merupakan prinsip yang diakui secara universil.29 Dengan cara demikian. hukum tidak mengabdi kepada kepentingan kekuasaan politik. halaman 27. Untuk mencapai tujuan yang demikian luas itu. 2002. mengutamakan kebenaran dan keadilan. melakukan promosi dan perlindungan hak asasi manusia. reformasi di jajaran kekuasaan kehakiman yang dimulai dari MA hendaklah mengikuti skala prioritas yang telah ditetapkan sebelumnya. Oleh karena itu. Dalam jangka pendek. Penyebab dan Solusinya. hendaklah memulai langkah-langkah progresif ini. bahkan filosofi yang mendukung efektivitas sistem tersebut). Oleh karena itu.

30 Melalui pendekatan sistemik ini. Hakekat kekuasaan kehakiman yang merdeka dan mandiri. Moral and social accountability ini merupakan salah satu karakteristik peradilan yang reformis. hendaklah dilihat dalam perspektif yang luas. Untuk itu pula. Dengan demikian semangat itu harus menjiwai semua lingkungan badan peradilan di atas. konsekuensinya akuntabilitas hakim tidak hanya sebatas undang-undang akan tetapi secara moral dan sosial. penuntutan. Dengan demikian terjadinya conflict of interest antar sub-sistem dapat dihindari. Begitu pula pendekatan legalistik selama ini harus ditinggalkan. Hak Asasi Manusia. Pendekatan fragmentaris dan sektoral akan diminimalisasikan. dan Reformasi Hukum di Indonesia. Untuk memenuhi harapan itu dibutuhkan kemampuan hakim dalam memahami hukum melampaui batas-batas teks perundang-undangan. keadilan yang dapat diterima semua pihak karena didasari oleh tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagaimana kepala putusan yang dibacakannya. Penerbit The Habibie Center. Sinkronisasi atau harmonisasi antar sub-sistem secara keseluruhan akan tercipta. Kecerdasan intelektual harus diimbangi pula dengan kematangan spritual. Kekuasaan kehakiman dalam arti ini hendaklah dilihat sebagai suatu bagian yang integral antar sub-sistem peradilan pidana terpadu (integrated criminal justice system) sebagaimana disebutkan di muka yang meliputi subsistem penyidikan. halaman 10 126 Bunga Rampai . akan tetapi suatu kegiatan yang merupakan proyek besar untuk menciptakan keadilan (sosial). peradilan dan pema- 30 Muladi. Demokratisasi. Apabila lembaga peradilan diartikan secara luas. Reformasi struktural tersebut meliputi reformasi kelembagaan di wilayah eksekutif seperti kepolisian.substansial harus diprioritaskan dan dalam jangka panjang melakukan reformasi kultural. kejaksaan dan juga wilayah legislatif seperti Dewan Perwakilan Rakyat. Jakarta 2002. reformasi hukum dan peradilan akan memperoleh bentuk yang sesungguhnya. tugas hakim tidak hanya menerapkan undang-undang terhadap perkara yang tengah diadilinya. maka meliputi juga kekuasaan penyidikan dan penuntutan.

Penegakan hukum bukanlah pekerjaan penerapan peraturan dan logika yang secara tradisionil sebagaimana diterapkan selama ini. penuntut umum dan hakim. saya akan menghasilkan putusan yang adil”. berupaya untuk mewujudkan peradilan progresif di mana kegiatan tersebut hendaklah dilihat sebagai suatu proses yang sarat dengan compassion yang memuat empati. Kemandirian dan kemerdekaan itu tidak akan berarti banyak apabila hanya dimiliki oleh salah satu subsistem dalam SPP di atas. maka dengan undang-undang yang paling burukpun. determinasi. kebijakan legislatif atau perundang-undangan merupakan tahap awal untuk menentukan kemandirian lembaga ini yang nantinya diikuti oleh taraf aplikatif di lapangan ketika wilayah penegakan hukum in concreto dijalankan. Walaupun harus tetap dipahami bahwa kebijakan legislatif ini tidak secara taken for granted terwujud di lapangan. ungkapan Immanuel Kant layak dikemukakan di sini: ”If justice is gone. 2007 halaman 35 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 127 . Masalah Penegakah Hukum dan Kebijakan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Kejahatan. jika tidak. Ketika yang menjalankan kekuasaan kehakiman itu terdiri atas manusia. Keadilan menjadi tujuan akhir penegakan hukum. maka predisposisi sebagai subyek untuk menentukan pilihan dalam berbagai alternatif tidak dapat diabaikan. Apakah makna semuanya ini? tidak lain predisposisi subyek akan menentukan kemandirian badan peradilan. nurani dan sebagainya. there is no reason for a man to live longer on earth” oleh karena itu keadilan hendaklah menjadi roh penegakan hukum yang sesungguhnya. lepas dari kungkungan pemikiran yang legalistik.31 Dalam ide ini. Pengadilan dalam arti luas. Jakarta. berikan saya seorang hakim yang jujur dan cerdas.syarakatan. 31 Barda Nawawi Arief. Penerbit Kencana Predana Media Group. Reformasi peradilan sesungguhnya tergantung kepada predisposisi subyek yang melakukan penegakan hukum (pidana) mulai penyidik. Kebijakan legislatif atau perundang-undang merupakan wilayah yang strategis untuk menentukan kemandirian kekuasaan kehakiman dalam tataran aplikatif di semua lingkungan peradilan nantinya. Ungkapan Taverne layak dikemukakan di sini ketika ia mengatakan: ”berikan saya seorang jaksa yang jujur dan cerdas.

Untuk menegakkan hukum secara adil. Keadaan itu tidak dapat dibiarkan berlarut-larut. Suatu aturan hukum akan tidak benar dan tidak adil apabila hanya dibuat untuk kepentingan kekuasaan belaka dan mengandung kesewenang-wenangan. perlindungan hak asasi manusia dan asas praduga tidak bersalah. Penyimpangan yang dilakukan oleh oknum peradilan dapat menjadi cermin korupnya lembaga itu secara keseluruhan. halaman 9 J. Sistem Peradilan Berwibawa (suatu Pencarian) FH UII Press Yogyakarta. Komisi Hukum Nasional. Kedua.32 hukum yang akan ditegakkan haruslah benar dan adil. penyalahgunaan kekuasaan dipraktikkan secara terang-terangan bahkan dibungkus secara rapi melalui slogan hukum seperti asas legalitas. pelaku penegakan hukum yang merupakan kunci utama untuk terwujudnya substantive justice. Reformasi yang sejatinya menjadikan segala sesuatu menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Di atas telah dikemukakan bahwa independensi kekuasaan kehakiman meliputi independensi kelembagaan dan independensi personal/individual. merupakan ungkapan tepat untuk menggambarkan bahwa perilaku kelembagaan dimanifestasi melalui perilaku individu.E Sahetapy.33 Keadaan deformasi hukum itu merupakan bentuk kesewenang-wenangan secara telanjang. Unsur pelaku penegakan hukum ini tidak bisa diabaikan. … yang memberi teladan dan menjaga nurani hukum & politik. Jakarta 2007 halaman 29 128 Bunga Rampai . kalau tidak dikelola secara rasional dapat berbalik menjadi deformasi hukum. Ibarat nila setitik rusaklah susu sebelanga. Kedua independensi ini harus dilihat sebagai hubungan dialektik. Karena di satu pihak independensi atau impartially kelembagaan hanya dapat terwujud melalui perilaku nyata personal/individu penegakan hukum. karena 32 33 Bagir Manan. karena menyangkut kompetensi dan independensi. Dan pada akhirnya keterpurukan dunia peradilan menjadi fenomena yang tidak terelakkan. 2005. paling tidak harus dipenuhi beberapa syarat misalnya: pertama. di sisi lain independensi personal/individual terkadang diidentikkan dengan independensi kelembagaan.

Upaya untuk memproses secara hukum tersangka korupsi dalam skala yang besar membutuhkan dukungan dari sub-sistem politik dan sosial keseluruhan.prinsip negara hukum akan runtuh. Secara konseptual. ketangguhan moral yang tahan uji dan semangat pengabdian yang tinggi. Polisi. Kemandirian suatu sub-sistem peradilan tidak akan berarti banyak jika tidak diikuti kemandirian sub-sistem lain secara menyeluruh. Reformasi hendaknya dijadikan pintu masuk ke arah pembenahan komponen substantif. struktural dan kultural penegakan hukum ke arah yang lebih baik. Jaksa dan Hakim harus diisi oleh orang-orang yang memiliki integritas pribadi yang kokoh dalam pengabdian tugas-tugasnya demi bangsa. kontribusi lembaga kejaksaan untuk mempercepat reformasi peradilan dimulai dengan kebijakan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 129 . Kontribusi Kejaksaan Dari paparan di atas. negara dan darma sejarahnya disamping kemampuan intelektual yang mumpuni. secara implisit dapat disimpulkan bahwa independensi kekuasaan kehakiman/peradilan merupakan suatu sistem yang integral. iklim politik yang tengah berkembang janganlah justru menjadikan kejaksaan kehilangan independensinya. Kekuasaan harus ditundukkan kepada hukum bukan sebaliknya. Politisasi lembaga kejaksaan dalam melakukan penuntutan perkara pidana hendaklah dihindarkan oleh siapapun juga dengan motivasi apapun. Supremasi hukum akan tumbang dan kesewenang-wenangan akan terjadi dimanamana. Masih terlalu dini untuk menilai kinerja Jaksa Agung saat ini. Dalam kedudukan sebagai lembaga pemerintahan. sebab jika tidak Kejaksaan Agung hanya bekerja untuk dirinya sendiri alias tidak membawa daya guna dan hasil guna. Penegak hukum harus mengabdikan dirinya untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan kebenaran dengan resiko terberat sekalipun. Lembaga politik seperti lembaga perwakilan dan juga partai-partai politik harus memberi dukungan yang setulus-tulusnya terhadap langkah-langkah yang telah diayunkan oleh kejaksaan hatta menyangkut dirinya sendiri sekalipun. akan tetapi dapat dikemukakan bahwa apa yang telah dirintis oleh Hendarman Supandji merupakan langkah yang terbilang berani.

mereka yang mempunyai kekuasaan akan berusaha sekuat mungkin untuk menghambat dan atau mempengaruhi kinerja kejaksaan dalam melaksanakan penegakan hukum secara konsisten. Melakukan penataan terhadap lembaga hukum yang lain secara sistemik termasuk juga lembaga kepengacaraan sehingga tercapai integrated criminal justice system yang sesungguhnya. Penggarapan komponen substantif dan struktural hendaklah diarahkan kepada pembentukan kultur hukum yang bertujuan untuk menegakkan substantive justice bersandarkan kepada profesionalisme dan integritas yang teruji. Terjadinya ketidakmandirian itu dapat dihindarkan manakala kejaksaan mampu mengambil jarak dengan pihak-pihak yang mempunyai kepentingan dalam penyelesaian suatu perkara. oleh karena itu pimpinan kejaksaan hendaklah memberikan perhatian yang besar baik menyangkut promosi maupun kompensasi-kompensasi lainnya. Untuk itu sikap vigilantisme hukum harus ditumbuhkan. Mereka-mereka inilah pendekar hukum yang sesungguhnya. walaupun dalam tataran empiris menimbulkan permasalahan. Hal ini disebabkan karena. Mereka jauh dari tindakantindakan yang bertujuan mencari sensasi atau popularitas untuk dirinya sendiri. Independensi itu tidak dalam tataran konsepsi akan tetapi hingga tataran realitas atau operasional di lapangan harus diwujudkan. akan tetapi mengandung nilai yang positif apabila dikelola. Kebijakan undang-undang yang menentukan jaksa adalah satu dan tidak terpisah-pisahkan dalam melakukan tugas-tugas penuntutan. Untuk itulah kemandirian personal harus dilindungi sebaik-baiknya oleh pimpinan kejaksaan. karena itu semua pihak harus melepaskan kepentingannya. Penguatan masyarakat madani (“Civil Society”) harus diikuti dengan penguatan sistem kelembagaan penegakan hukum ke arah pembentukan kultur hukum yang lebih baik. Mereka yang mengabdikan segenap kemampuannya bagi kejayaan bangsa ini. 130 Bunga Rampai .dalam tataran legislatif atau perundang-undangan dengan menempatkan kejaksaan sebagai lembaga yang independen dari pengaruh kekuasaan apapun. para jaksa yang bertugas di daerah terpencil jauh dari sorotan media massa dan dengan penuh dedikasi dalam tugasnya merupakan vigilantee yang berjuang untuk kejayaan dan kehormatan profesinya. Mereka.

tanggung jawab dan dukungan sarana dan prasarana yang memadai. Tidak ada hubungan yang liner antara perbaikan penghasilan dengan integritas jaksa ketika melakukan tugas-tugasnya di lapangan. di samping kerja sama lintas sektoral. illegal logging/ fishing.maupun pemerintah dan negara pada umumnya. alokasi anggaran untuk menyelesaikan kejahatan-kejahatan di atas. keberhasilan-keberhasilan kejaksaan dalam menuntaskan berbagai kasus hendaknya menjadi perhatian semua pihak sehingga penilaian atas kinerja kejaksaan menjadi obyektif. Begitu juga penyusunan rule of conduct seperti Code Perilaku Jaksa mendesak untuk dilakukan saat ini untuk memenuhi tuntutan profesionalisme sebaik-baiknya. Begitu juga aspek struktural perlu mendapat perhatian Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 131 . akan tetapi bukan suatu alasan pembenar bagi jaksa atau pegawai kejaksaan untuk melakukan penyimpangan. Di samping kelemahan-kelemahan yang masih ada. Meskipun harus diakui pula bahwa sistem renumerasi di lingkungan kejaksaan masih membutuhkan perbaikan. Semuanya berpulang kepada niat dan ketulusan masing-masing. Optimalisasi tersebut membutuhkan dukungan finansial dan sarana serta prasarana yang tidak sedikit serta sumber daya manusia yang baik. Mempertimbangkan tingkat kesulitan dan kompleksitas masalah yang ditangani. Penanganan perkara-perkara yang tergolong perkara penting seperti korupsi. regional dan global. Di samping kejahatan konvensional yang terus menerus meningkat membutuhkan penanganan oleh kejaksaan secara optimal. cyber crime yang terkadang melintasi batas-batas negara. membutuhkan kinerja. money loundering. hendaknya dilakukan secara proporsional dan bijaksana. Kebijakan anggaran keuangan yang berbasiskan kinerja hendaklah pula dilihat secara proporsionil dengan mempertimbangkan beban kerja dan tuntutan-tuntutan publik serta besarnya tanggung jawab yang diemban. Oleh sebab itu. Permasalahan yang bersifat substantif seperti pembenahan peraturan perundang-undangan yang selaras dengan jiwa/semangat undang-undang kejaksaan yang baru baik menyangkut struktur kelembagaan kejaksaan maupun pelaksanaan tugas dan wewenangnya hendaklah dilakukan secara simultan.

kelengkapan sarana dan prasarana serta sumber 132 Bunga Rampai . Begitu juga dalam pengelolaan sumber daya manusia harus dilakukan perencanaan dan perhitungan yang matang. sistem penggajian dan tunjangan jabatan harus dilakukan sejalan dengan kebutuhan yang berkembang dan dilakukan secara cermat. struktur organisasi. maka pengawasan terhadap jalannya program-program yang telah digariskan harus dilakukan pula secara transparan dan akuntabel. kebijakan pembinaan karier. efisien dan simultan. sistem pendidikan yang menunjang tugas-tugas profesional jaksa. kinerja. Meskipun kejaksaan tidak dapat dilepaskan sebagai lembaga publik yang harus mengakomodasi prinsip-prinsip good government juga harus memperhatikan kebutuhan yang spesifik sebagai suatu lembaga penegakan hukum yang mengemban tugas-tugas yang khusus (legal professional organization). Pembenahan yang bersifat struktural meliputi organisasi dan tata kerja kejaksaan diarahkan kepada upaya untuk mewujudkan lembaga kejaksaan sebagai institusi yang sederhana dan efisien. Optimalisasi produktivitas itu merupakan tuntutan publik yang harus direspon oleh kejaksaan secara bijaksana. Semua pihak harus dilibatkan guna menumbuhkan sense of belonging terhadap institusi kejaksaan. Oleh sebab itu fungsi pengawasan internal baik meliputi pengawasan melekat maupun pengawasan fungsional dengan pengawasan eksternal dalam hal ini Komisi Kejaksaan perlu dilakukan secara sinergis. Dan pembentukan kultur di lingkungan kejaksaan harus dibangun secara utuh sehingga kejaksaan menjadi lembaga yang solid. Apabila sebagian kecil permasalahan ini telah dituntaskan. Komisi Kejaksaan sebagai state auxiliary institution hendaklah dilihat sebagai mitra guna membenahi institusi kejaksaan baik di dalam pengawasan perilaku. Kultur yang dibangun itu hendaklah berangkat dari kesadaran untuk melaksanakan tugas secara profesional. mulai sistem rekruitmen pegawai kejaksaan. Kesederhanaan dan efisiensi tersebut tidak boleh mengurangi produktivitas kerja yang optimal.yang sungguh-sungguh. Keunikan ini hendaknya menjadi perhatian pemerintah yang membidangi penataan aparatur negara. transparan dan akuntabel sesuai dengan visi dan misi kejaksaan. mutasi dan promosi.

Penutup Usaha untuk melakukan reformasi di tubuh peradilan sesungguhnya merupakan perjuangan yang tiada mengenal kata berhenti.daya manusia di lingkungan kejaksaan. faktor-faktor itu merupakan variabel yang mempengaruhi kinerja dan hasil yang akan dicapai oleh kejaksaan guna memenuhi ekspektasi publik Dukungan publik terhadap upaya yang dilakukan oleh kejaksaan haruslah diarahkan kepada upaya untuk memberdayakan kejaksaan agar menjadi sub-sistem peradilan yang mandiri dan akuntabel. Jika reformasi di tubuh kejaksaan telah terwujud. Reformasi merupakan sebuah ideologi untuk membangun seluruh komponen bangsa ke arah yang lebih baik. Politisasi lembaga peradilan mutlak harus diakhiri. maka usaha perbaikan di dalam sistem peradilan kita secara keseluruhan akan pula menjadi kenyataan. Kejaksaan tidak hanya dituntut untuk merespon tuntutan publik secara cepat tepat dan independen. reformasi peradilan menjadi sekedar wacana yang tak bermakna. sebab jika tidak. Kemandirian dan akuntabilitas itu menjadi standar bagi keberhasilan kejaksaan dalam memenuhi harapan publik dan pelaksanaan tugas dan wewenangnya secara baik. Akan tetapi kondisi-kondisi internal dan eksternalnya sendiri harus pula diperhitungkan. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 133 . Pembenahan yang tengah dilakukan oleh kejaksaan diarahkan kepada tujuan untuk mencapai sasaran tuntutan reformasi itu. Dukungan publik untuk menciptakan kemandirian lembaga peradilan merupakan qonditio sine qua non. oleh karena itu independensi kekuasaan kehakiman tergantung kepada faktor-faktor internal lembaga peradilan dan political sphare di sekelilingnya. Optimisme itu harus menjadi komitmen nyata kita semua.

134 Bunga Rampai .

. Terputusnya koordinasi di antara para penegak hukum lebih disebabkan karena trauma oleh intervensi pihak yang tidak bertanggung jawab dimasa lalu. Dengan biaya yang tidak sedikit Polri telah bersusah payah menangkap dan memeriksa tersangka pembalakan liar. Lebih dari itu. Pandupraja S.H.N. Efek yang kurang menguntungkan adalah hilangnya forum koordinasi Sistem Peradilan Pidana (SPP) untuk mengefisienkan kinerja antar instansi penegak hukum. Sikap pengadilan tersebut dianggap men- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 135 .* Pendahuluan Salah satu wujud reformasi di bidang penegakan hukum yang cukup signifikan adalah terputusnya hubungan eksekutif dan yudikatif dengan kembalinya pembinaan dan pengawasan hakim di bawah Mahkamah Agung. tetapi kemudian dibebaskan oleh Pengadilan. Saat ini kehadiran forum tersebut sangat dibutuhkan khususnya pada saat KUHAP sedang dalam revisi karena dinilai sudah tidak sesuai dengan tuntutan pencari keadilan pasca reformasi. atas nama koordinasi tidak jarang keadilan dikebiri untuk mendukung kepentingan pemerintah atau yang mengatas namakan kepentingan pemerintah. LL.M. Sp.Kontribusi Komisi Kepolisian Nasional Dalam Mempercepat Reformasi Peradilan A. Bukti terputusnya koordinasi SPP dapat digambarkan dari permintaan petinggi Polri kepada Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) untuk mengkritisi kinerja peradilan terhadap kasus pembalakan liar (illegal logging) yang cenderung mengabaikan kinerja Polri. sehingga mengganggu independensi instansi peradilan..

Ketiganya. Pada bagian akhir dari tulisan ini akan menekankan pada upaya strategis yang dapat diperankan oleh Community Policing untuk mereduksi gelombang perkara yang melanda lembaga peradilan. Pemisahan yang ingin mengembalikan Polri ke khittah-nya adalah sebagai akibat dari ketidakpercayaan masyarakat terhadap TNI-Polri yang telah disalahgunakan oleh rezim Orde Baru. Eksistensi Kompolnas Sejarah lahirnya Kompolnas didominasi oleh isu keluarnya Polri dari ABRI yang tercermin pada Instruksi Presiden No. Sebagai sebuah sistem.jatuhkan wibawa Polri dalam memberantas pembalakan liar. Kondisi tersebut dinilai oleh banyak kalangan menjadi latar belakang mengapa Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tidak memiliki kesamaan visi mengenai reformasi SPP melalui komisi-komisi. Sebaliknya problem di instansi peradilan tidak lepas dari problem masukan yang diterima dari instansi Kejaksaan dan Polri. yang sama-sama menjalankan fungsi pengawasan diharapkan dapat bersinergi untuk turut mereformasi SPP dengan tetap memperhatikan independensi masing-masing. namun dapat menginisiasi pembentukan forum antar tiga komisi negara di bidang SPP. Tulisan ini akan menguraikan tentang Kompolnas dan peran strategisnya dalam turut membangun Polri yang professional dan mandiri sebagai bagian dari SPP. Kompolnas tidak memiliki hubungan langsung dengan institusi peradilan. Sebuah mata rantai yang saling terkait satu sama lain (garbage in garbage out). Polri terkesan sembrono dan tidak profesional dalam melaksanakan Inpres No. Ketidaksamaan visi ini nampak dari perbedaan mendasar pada kewenangan memeriksa (subpoena power) yang tidak dimiliki oleh Kompolnas tetapi dimiliki oleh Komisi Yudisial dan Komisi Kejaksaan. Komisi Kejaksaan dan Komisi Yudisial. 4 Tahun 2005 tentang Pemberantasan Penebangan Kayu Secara Illegal di Kawasan Hutan dan Percepatannya di Seluruh Indonesia. Padahal kewenangan tersebut sangatlah mendasar dan sekaligus penting untuk menun- 136 Bunga Rampai . yaitu Kompolnas. problem kinerja pada instansi Polri akan berdampak pada kinerja instansi kejaksaan dan instansi peradilan.2/1999 tentang pemisahan TNI-Polri.

Atau persoalan yang menghambat sinergi antara Polri dengan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS). Polri menggunakan asas dekonsentrasi sementara Satpol PP yang berinduk kepada Pemerintah Daerah menggunakan asas desentralisasi.jang kewibawaan lembaga pengawas eksternal. sedangkan TNI berada di bawah Depertemen Pertahanan. seperti Polisi Khusus Kehutanan (Polsus Kehutanan) yang izinnya dikeluarkan oleh Menteri Hukum dan HAM. Keberadaan menteri ex officio tersebut tentu bukan dimaksudkan untuk menjawab persoalan subordinasi semata. tetapi lebih ditujukan untuk memperkaya masukan sebagai pertimbangan Kompolnas dalam merumuskan arah kebijakan Polri (policy maker) bersama-sama dengan pakar kepolisian dan wakil masyarakat (tidak satu pun anggota Kompolnas berasal dari unsur Polri). Hasil evaluasi kinerja Polri terkait relasi kelembagaan sesuai portofolio masing-masing departemen tersebut dapat menjadi masukan dalam menyusun arah kebijakan Polri yang menjadi kewenangan Kompolnas untuk diajukan kepada Presiden dalam rangka membangun Polri yang profesional dan mandiri (Pasal 39 UU No. ditambah tiga pakar kepolisian dan tiga wakil masyarakat. Menteri Dalam Negeri (Mendagri). Dalam merumuskan arah kebijakan Polri. seyogyanya masukan menteri ex officio meliputi pula portofolio departemen yang menjadi kompetensinya masing-masing. Jawabannya Polri disubordinasikan oleh Kompolnas dengan keberadaan tiga menteri ex officio sebagai anggota yaitu. Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam). Misalnya. 2 Tahun 2002). persoalan persoalan yang menghambat sinergi kelambagaan antara Polri dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang dilatarbelakangi oleh perbedaan asas. Setelah Polri dipisahkan dari TNI.89/2000. dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkum dan HAM). Arah kebijakan yang telah dirumuskan agar tidak diarahkan untuk memberi peluang kooptasi satu lembaga terhadap lembaga lain. Berbagai spekulasi sempat mencuat ke permukaan bersamaan dengan pembahasan RUU Polri. muncul persoalan subordinasi mengapa Polri ditempatkan di bawah Presiden berdasarkan Keputusan Presiden No. Rumusan tersebut lebih diarahkan untuk mendudukan secara Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 137 .

atau menginstruksikan pemerintah daerah untuk mendukung program program community policing (Polmas). 2 Tahun 2002). 4) Perlakuan diskriminatif. karena berbagai kepentingan dapat berpotensi untuk menunggangi Kompolnas (atau dianggap menunggangi Kompolnas) dalam membuat disain strategis Polri masa datang. Misalnya mengandung materi muatan yang menginstruksikan pemerintah daerah untuk mendukung kinerja Polri dalam mengamankan Pilkada. Termasuk menteri terkait lain sesuai dengan materi muatan kebijakan Presiden tersebut. Ada 5 jenis keluhan masyarakat yang diatur secara limitative oleh UU Polri: 1) Penyalahgunaan wewenang 2) Dugaan korupsi 3) Pelayanan yang buruk. Peran policy maker bagi Kompolnas tersebut tentu bukan persoalan yang bisa dianggap sepele oleh Polri. Kompolnas telah mengeluarkan beberapa peraturan tentang: i) Organisasi dan tata kerja (OTK) ii) Kode Etik iii) Tata Cara Penanganan Saran dan Keluhan Masyarakat (SKM). Dan Polri tidak memilliki pilihan lain selain menjabarkannya pada level kebijakan teknis.proporsional peranan Polri selaku penjuru dan pengendali urusan keamanan dan mengeliminasi potensi arogansi sektoral yang dapat memposisikan Polri sebagai lembaga superbody. Beberapa ketentuan penting yang diatur dalam OTK. Kesetaraan posisi sesama anggota Kompolnas. Sejak arah kebijakan Polri yang dipersiapkan oleh Kompolnas berubah bentuk menjadi Peraturan Presiden (atau Instruksi Presiden). 1. Karena setidaknya ada dua departemen dengan portofolionya masingmasing turut merumuskan arah kebijakan Polri yang akan menjadi panduan pimpinan Polri dalam membuat kebijakan teknis kepolisian. 138 Bunga Rampai . Posisi strategis Kompolnas sebagai policy maker tersebut diharapkan dapat menjawab persoalan subordinasi posisi TNI di bawah Departemen Pertahanan. maka ia akan menjadi pedoman bagi Polri dalam membuat kebijakan teknis kepolisian (Pasal 38 ayat (1) UU No. 5) Penggunaan diskresi yang keliru. Peraturan Kompolnas Dalam menjalankan mandatnya.

Kesenjangan tersebut telah dijembatani pada pasal 25 ayat 2 OTK yang berbunyi “Saran dan Keluhan Masyarakat yang diterima oleh Kompolnas disampaikan kepada satuan Polri terkait untuk ditindaklanjuti dan hasilnya disampaikan kepada Kompolnas”.pasal 33 ayat 3 OTK: “Pengambilan keputusan dalam pertemuan anggota Kompolnas dinyatakan sah apabila disetujui oleh sekurang kurangnya 5 (lima) orang anggota Kompolnas”. Pasal 38 ayat (2) c UU Polri mengatur bahwa Kompolnas menyampaikan Saran dan Keluhan Masyarakat (SKM) kepada Presiden. . Apabila Kompolnas tidak dapat menerima atau keberatan terhadap hasil tindak lanjut SKM oleh satuan Polri terkait. 2. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 139 . namun forum tertinggi yang dapat mengambil keputusan penting Kompolnas adalah Pertemuan Anggota Kompolnas.O.Meskipun Ketua Kompolnas adalah Eks Officio Menkopolhukam dan Wakil Ketua Kompolnas adalah Eks Officio Mendagri. adalah pejabat yang ditunjuk untuk mewakili menteri manakala yang bersangkutan berhalangan hadir). Ketentuan di atas menggambarkan bahwa sebagai sesama anggota komisi.pasal 33 ayat 2 OTK: “Pertemuan Anggota Kompolnas dinyatakan sah apabila dihadiri oleh sekurangkurangnya 5 (lima) orang anggota Kompolnas termasuk Pejabat Penghubung liaison officer/LO” (L. maka Kompolnas dapat meminta “gelar perkara“ sesuai ketentuan pasal 25 ayat 3 OTK yang menyatakan “Kompolnas dapat meminta Polri untuk memberikan penjelasan yang berkaitan dengan keluhan masyarakat dalam pertemuan Kompolnas”. Kompolnas dapat berhubungan langsung dengan satuan Polri terkait. . kedudukan menteri tidak lebih tinggi dari anggota non menteri dalam pengambilan keputusan pada Rapat Anggota Kompolnas. UU tidak mengatur hubungan kelembagaan Kompolnas dengan Polri sebelum SKM disampaikan kepada Presiden. Pasal tersebut menggambarkan bahwa Kompolnas sangat bergantung dari hasil pemeriksaan internal Polri terhadap SKM yang diterima oleh Kompolnas.

Manakala tidak hadir setelah dipanggil dengan cukup. Sebuah penerapan prinsip kemandirian yang keliru dan cenderung mencederai asas dekonsentrasi. korban didaftarkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). 3. Modus operandi yang digemari aparat dalam menakut-nakuti korban adalah ancaman penahanan. 4. Rekayasa penanganan/penindakan kasus pembalakan liar. aparat merasa punya cukup alasan untuk menjebloskan korban dalam tahanan. tetapi ditangani oleh beberapa instansi di lingkungan Polri dengan alasan karena dilaporkan oleh orang yang berbeda sehingga tersangkanya menjadi berbeda pula. Hal ini disebabkan karena buruknya manajemen penyidikan dan dapat dilihat dari. Penyimpangan prosedur pinjam pakai barang bukti. namun belum dijembatani dengan MoU atau Skep Kapolri untuk menindaklanjuti permintaan Kompolnas kepada satuan Polri terkait. 2. Pengaduan Masyarakat Kompolnas memiliki kewenangan untuk menerima pengaduan dari masyarakat mengenai kinerja aparat Polri. mengubah posisi pelapor menjadi tersangka dan lain-lain. Laporan penelitian mahasiswa PTIK angkatan XXXIX-A telah menemukan 11 jenis KKN pada Satuan Organisasi Reserse Kriminal (Reskrim) Polri. Potensi penyalahgunaan wewenang oleh aparat Penyidik Polri sangat besar. (iii) Akuntabilitas penyidikan sangat rendah sehingga memungkinkan terjadinya diskriminasi terhadap tersangka. Penyimpangan prosedur penangguhan penahanan. (i) Tidak jarang objek perkara yang sama. Kolusi dalam penyelenggaraan perjudian. Dengan dua bukti tersebut. Yaitu: 1. Bunga Rampai 140 .Pasal tersebut menunjukan bahwa Polri sudah kooperatif dalam mendukung eksistensi Kompolnas. Penyalahgunaan wewenang dapat dibuktikan dengan dibebaskannya tahanan setelah menjalani hukuman selama 60 hari dalam tahanan Contoh kasus DR Chairuddin. Sebagian pengaduan masyarakat yang berjenis penyalahgunaan wewenang oleh aparat penyidik berupa kriminalisasi masalah perdata. (ii) Terabaikannya prosedur penanganan perkara dengan berkoordinasi dengan instansi Kejaksaan.

8. 2. Ibarat dokter yang sedang mendiagnose penyakit polisi. Penyimpangan dalam penyelidikan dan penyidikan perdaran VCD bajakan. 9.5. (i) menunda-nunda acara persidangan praperadilan. Penyimpangan penerbitan surat keterangan kehilangan kendaraan bermotor untuk persyaratan klaim asuransi. Sah atau tidaknya suatu upaya paksa berupa penangkapan atau penahanan. Potensi KKN polisi di lembaga peradilan Upaya hukum untuk melindungi tegaknya hukum dan perlindungan hak asasi tersangka dalam pemeriksaan penyidikan terhadap dugaan penyalahgunaan wewenang oleh aparat penyidik Polri adalah melalui gugatan praperadilan (pasal 77 KUHAP). Penyimpangan dalam penanganan kasus depo bahan bakar minyak (BBM) illegal. Karena itu Penyidik akan berupaya keras agar gugatan praperadilan gugur. 6. Terjadinya sindikat tindak pidana bidang pertanahan. tentu akan berakibat buruk bagi masa depan karir Penyidik. 7. Sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan. atau (ii) mempercepat mulainya proses pemeriksaan pokok perkara sebelum selesainya pemeriksaan gugatan praperadilan (pasal 82 ayat 1 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 141 . 10. Kolusi pengelolaan kegiatan prostitusi. Penyimpangan dalam penanganan kasus-kasus narkoba. Upaya yang dapat dilakukan oleh Penyidik adalah. 11. Contohnya adalah persidangan kasus Nurhadi di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. temuan berharga tersebut dapat diibaratkan sebagai jenis penyakit polisi yang harus disembuhkan atau dieliminasi oleh Kompolnas ketika merumuskan arah kebijakan Polri untuk disampaikan kepada Presiden. dalam rangka menunggu agar persidangan pokok perkara dapat segera dimulai sebelum acara putusan gugatan praperadilan. Penyimpangan proses penyelidikan kasus pidana. Apabila gugatan praperadilan diterima oleh pengadilan. Gugatan praperadilan bertujuan untuk menguji: 1.

KUHAP). Cara di atas agak berbelit-belit dan melibatkan beberapa pihak yang belum tentu berpihak pada kepentingan penyidik. Untuk upaya yang kedua Penyidik harus berkolaborasi dengan Jaksa Penuntut. untuk masalah dugaan korupsi. Oleh karenanya. Misalnya. Lalu mempercepat penunjukan hakim dan selanjutnya mempercepat mulainya proses pemeriksaan pokok perkara. seperti yang terjadi di Medan dan Jakarta beberapa waktu lalu. Contohnya adalah kasus Suherman di Pengadilan Negeri Medan. rekomendasi pengaduan masyarakat yang diberikan Kompolnas kepada Polri untuk ditindaklanjuti berpotensi untuk diabaikan. Semakin banyak kewenangan yang dimilikinya akan semakin berperan dalam merespon keluhan masyarakat sehingga akan sangat disegani oleh pihak yang diadukan. Contohnya adalah sidang gugatan praperadilan kasus Nurhadi di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Upaya hukum yang dilakukan oleh kedua keluarga korban yang telah diatur dalam KUHAP adalah melakukan gugatan praperadilan perihal prosedur 142 Bunga Rampai . (i) melobi hakim agar berpihak pada kepentingan penyidik yang mendapat dukungan dari tokoh masyarakat dan LSM. lembaga pengaduan eksternal yang menangani masalah-masalah khusus terdapat pada berbagai komisi negara seperti KPK dan Komnas HAM. Kerjasama dengan Komisi Negara Lembaga pengaduan eksternal terhadap kinerja Polri sudah ada dan tersebar di beberapa instansi pemerintah maupun di lembaga kepresidenan. (iii) Tidak segera mengamankan pengadilan manakala dibutuhkan pada saat pengadilan menghadapi demonstran yang brutal. Kompolnas tidak memiliki salah satu dari kewenangan tersebut. lembaga departemen seperti Menteri Penertiban Aparatur Negara maupun non departemen seperti Kejaksaan. kasus penembak tersangka yang sedang ditangkap oleh aparat Polri. Cara lain yang relatif lebih ringan adalah. (ii) membuat gaduh suasana persidangan seolah-oleh akan terjadi keributan dengan tujuan agar hakim yang mengadili gugatan praperadilan menjadi terprovokasi atau ketakutan. Yang membedakan di antara seluruh lembaga pengaduan tersebut adalah kewenangannya untuk menyelidik dan menyidik (subpoena power). menuntut dan mengadili. Selain itu.

Kompolnas memiliki beberapa pilihan untuk menindaklanjuti pengaduan tersebut. keluarga korban mengadukan hal itu kepada Kompolnas guna meminta akuntabilitas aparat Polri yang menembak korban. Yang terpenting dalam menempatkan KPK sebagai mitra kerja Kompolnas adalah saran KPK dalam membangun Polri yang bebas dari korupsi. Kompolnas tidak dapat memanggil paksa aparat tersebut untuk diperiksa. Kejaksaan atau KPK. Contoh lain. Kompolnas telah meminta agar Polri memeriksa aparat yang bertanggung jawab terhadap pengaduan tersebut. Kompolnas seyogyanya mendahulukan untuk berkoordinasi dengan KPK untuk dapat mengetahui tingkat keseriusan masalah korupsi di tubuh Polri sebagai salah satu penegak hukum. Kerjasama dengan KPK layak ditingkatkan manakala Kompolnas diabaikan atau bahkan tidak dihargai sebagai lembaga pengawas ekternal. sesuai kewenangan Kompolnas dalam menerima saran dan keluhan masyarakat. Dalam pemberantasan korupsi. Misal lain adalah pengaduan yang terkait dengan pelanggaran administrasi anggota Polri yang merupakan wewenangan Kompolnas dan Komisi Ombudsman Nasional (KON). 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia). Kalau mencermati kesetaraan posisi sebagai komisi negara. Padahal antara masalah prosedur penangkapan dan masalah akuntabilitas penembakan korban adalah dua persoalan yang berbeda secara substansi. Karena keterbatasan kewenangan. KPK menjadi penjuru yang merancang secara bertahap reformasi birokrasi yang menghambat pemberantasan korupsi. Namun. Penolakan ini seolah-olah turut mengubur akuntabilitas aparat yang menembak korban. Menanggapi pengaduan tersebut. Tindak lanjut dari permintaan ini tentu sangat tergantung dari kemauan Polri. Apakah akan berkoordinasi dengan instansi Polri.penangkapan. Ketika kedua lembaga tersebut sama-sama meneri- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 143 . upaya ini ditolak oleh Pengadilan Negeri di masing-masing wilayah. Manakala diperlukan Kompolnas layak untuk bersinergi dengan Komnas HAM berkaitan dengan kewenangannya untuk memanggil dan memeriksa pihak yang diadukan (Pasal 89 ayat (3) UU No. perihal pengaduan dugaan korupsi oleh anggota Polri yang disampaikan kepada Kompolnas. Selanjutnya.

Karena pada umumnya pengaduan dikirim kepada hampir seluruh lembaga terkait. baik dalam bentuk undang-undang. Persoalan yang harus disikapi sejak dini oleh para lembaga penerima pengaduan tersebut. Sebagian dari peraturan tersebut sayangnya sangat jarang digunakan secara benar. peraturan menteri maupun peraturan yang dikeluarkan oleh pimpinan instansi masingmasing. Di samping alasan pemborosan anggaran juga masalah efektifitas penyidikan. Kompolnas sangat perlu belajar banyak dari KON dalam menangani pengaduan masyarakat. dituntut. Jangan sampai polisi terlapor akan diperiksa berkali-kali untuk materi pengaduan yang sama oleh instansi yang berbeda-beda.ma pengaduan. Koordinasi juga penting untuk menghindari tumpang tindih kewenangan dalam menerima dan menangani pengaduan. Desakan dan kritik masyarakat untuk merestrukturisasi komisi negara agar penjadi perhatian kita semua. (2) Pejabat yang dengan sengaja melakukan perbuatan Bunga Rampai 144 . karena telah dinilai sukses oleh masyarakat meski memiliki wewenang yang terbatas seperti Kompolnas. 1. Pasal 9 UU No. 4 Tahun 2004 tentang Kehakiman Pasal 9 ayat 1 dan 2 berbunyi sebagai berikut: (1) Setiap orang yang ditangkap. maka selayaknya mereka perlu untuk saling berkoordinasi. ditahan. atau diadili tanpa alasan berdasarkan undang-undang atau karena kekeliruan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkannya. Koordinasi antar komisi negara mendesak untuk dilaksanakan dalam rangka mengefisienkan kinerja komisi-komisi negara dalam mengoptimalkan sinergi di antara mereka. Kata kunci pemborosan seyogyanya menjadi momok bersama. Beberapa pasal menarik Cukup banyak peraturan dalam rangka mengkoreksi kinerja penegak hukum. Juga untuk menegakkan asas nebis in idem. peraturan pemerintah. Kewenangan memeriksa (subpoena power) yang dimiliki oleh beberapa komisi negara seperti Komnas HAM dan KPK sangat penting untuk disinergikan oleh komisi negara yang membutuhkan kewenangan tersebut. berhak menuntut ganti rugi kerugian dan rehabilitasi.

sementara Jaksa Penuntut diperiksa? Jawaban atas persoalan tersebut bergantung pemahaman Polri terhadap profesionalisme penyidikan dan konsekuensi logis dari sebuah profesi. 3. pidana maupun administratif harus siap dihadapi Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 1. Pasal di atas sepertinya belum pernah diterapkan secara utuh terhadap aparat penegak hukum. 4. Konsisten (consistence). Keterkaitan (connection). yaitu memiliki pengetahuan. 145 . sikap. keterampilan dan sikap emosional yang matang. Instansi yang konsisten dalam menerapkan aturan PP 30 Tahun 1980 tersebut adalah kejaksaan. Kata profesional. 2. Profesional merupakan kemahiran dan kemampuan tinggi yang didukung oleh pengetahuan. yaitu mencintai bidang tugas yang dilakukan. pada umumnya Jaksa Penuntut kasus tersebut langsung dieksaminasi atau diperiksa oleh Asisten Pengawasan Kejaksaan Tinggi. Konsekuensi logis bagi seorang notaris/PPAT yang membuat akta adalah yang bersangkutan harus bisa mempertanggungjawabkan setiap kata atau kalimat yang terdapat pada akta notaril yang telah dibuatnya. ada 4 (empat) indikator kapan seorang polisi disebut profesional: Kompeten (compentence). Konsekuensi apapun baik perdata. mudah diucapkan tetapi sulit dilaksanakan karena belum ada kesamaan visi mengenai apa yang dimaksud dengan profesional. Komitmen (commitment). Menurut buku panduan HAM untuk anggota Polri. yaitu satu kata dengan perbuatan secara berkesinambungan. Bagaimana dengan akuntabilitas aparat polisi apabila yang bersangkutan telah ditangkap dan ditahan? Apakah polisi yang menangkap dan menahan tidak perlu turut bertanggung jawab. sikap dan keterampilan dengan pekerjaan yang dilakukan. keterampilan dan kematangan emosional dalam melaksanakan tugas di bidang masing-masing sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku dan standard pekerjaannya (SOP). Ketentuan yang umum digunakan adalah PP 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Apabila dakwaan jaksa dinyatakan tidak dapat diterima oleh majelis hakim.sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana. yaitu keterkaitan antara pengetahuan.

komposisi Konsil Kedokteran terdiri dari perwakilan stakeholder: akademisi. Pasal 3 dan 4 Peraturan Pemeritah No. Selanjutnya pasal 4 dari peraturan tersebut memberi batas waktu bagi aparat untuk memproses sebelum klarifikasi selama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal informasi. dokter. Pasal 3 PP 71/2000 berbunyi sebagai berikut: (1) Informasi. Sungguh menjadi dambaan masyarakat madani apabila prinsip partisipasi yang ada pada Konsil Kedokteran juga diadopsi oleh Polri dalam menangani pengaduan masyarakat terhadap anggotanya. Begitu pula dengan profesi dokter. Konsil Kedokteran akan memeriksa pengaduan tersebut apakah terjadi pelanggaran hukum. pidana maupun administratif. saran. Yang menarik. Meskipun uang yang didapat tidak sebanding dengan tanggung jawabnya. Kalangan penyidikpenyidik Polri sangat paham bagaimana menginterogasi notaris/PPAT dalam meminta pertanggungjawaban sebagai notaris/PPAT. atau pendapat dari masyarakat harus diklarifikasi dengan gelar perkara oleh penegak hukum. pelanggaran disiplin atau pelanggaran etika. saran atau pendapat diterima. Community Justice melalui Community Policing Sampai saat ini masyarakat yang tinggal di Meruya masih tetap siaga melakukan perlawanan terhadap segala upa2. Sayangnya pada saat bersamaan penyidik Polri tidak berpikir bahwa sebagai sesama profesi dirinya juga harus dapat mempertanggungjawabkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang dibuatnya. Prinsip partisipasi sebagai salah satu unsur masyarakat madani telah berlaku bagi dunia kedokteran. pemerintah dan konsumen. Ketika seorang dokter diduga melakukan mal praktek.17 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat dan Pemberian Penghargaan Dalam Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.oleh yang bersangkutan. 146 Bunga Rampai . saran atau pendapat dari masyarakat … harus disampaikan secara tertulis …. Setiap tindakan medis yang dilakukan oleh seorang dokter juga membawa konsekuensi baik perdata. (2) Setiap informasi.

Tiba-tiba muncul putusan Mahkamah Agung yang membatalkan kepemilikan tanah mereka. Untuk mensakralkan putusan hakim. jumlah perkara yang masuk ke pengadilan setiap tahun selalu meningkat sejalan dengan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 147 . Faham ini berpendapat bahwa hukum sebagai sistem yang otonom alias lebih superior dibanding dengan sistem lain seperti ekonomi. maksudnya mengurus perkara senilai anak kambing tapi biaya yang harus dikeluarkan senilai sapi. kasus yang masuk pengadilan dianggap sebagai komoditas. karena mereka merasa telah membeli secara sah tanah mereka dihadapan pejabat yang sah dan mendapat bukti kepemilikan berupa sertifikat tanah yang dikeluarkan oleh BPN. Mereka telah tinggal berpuluh tahun di Meruya tanpa ada gangguan dan teguran perihal status hukum kepemilikan tanah mereka. Pandangan seperti itu tercermin pula dari hasil penelitian Kompas tanggal 17 Maret 2003 bahwa 86. 4 Tahun 2004. Kasus Meruya hanya salah satu dari segudang putusan Mahkamah Agung pasca reformasi yang jauh dari rasa keadilan yang menjadi tujuan dari kekuasaan kehakiman seperti yang diamanatkan oleh UU No. Stigma yang melekat terhadap dunia peradilan. Meskipun demikian. sosial dan politik. Cara pandang hakim dalam memutuskan kasus tersebut disebut legalisme yang dikomandani oleh Hans Kelsen dan Jhon Austin. “ngurus cempe kelangan sapi”. Tidak heran kalau kemudian ada peribahasa Jawa yang berbunyi. Ia akan kehilangan arah mengadu nasib diantara badai ombak samudra. Hukum di atas segalanya. Hukum dianggap selalu benar dan adil.6% responden tidak percaya terhadap kinerja penegakan hukum. Bahkan ia akan tergulung oleh ganasnya ombak samudra peradilan.ya untuk menangkal eksekusi Putusan Mahkamah Agung. Segala daya upaya dikerahkan agar putusan tersebut tidak dapat dilaksanakan. Pencari keadilan yang memasuki arena peradilan diibaratkan menceburkan diri dalam gelombang samudra yang menafikan eksistensi kemanusiaan pencari keadilan. tidak jelas mana Utara mana Selatan. setiap putusan menggunakan irah-irah Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Bahkan tidak satupun responden yang berpendapat penegakan hukum di Indonesia sudah berjalan baik. Hukum harus ditegakkan sekalipun langit akan runtuh.

Upaya untuk mengurangi volume perkara di luar pengadilan. Dengan harapan agar para pihak yang berperkara akan mencabut gugatannya. Upaya tersebut ternyata tidak berhasil menyurutkan gelombang perkara ditingkat banding dan Kasasi. Mediasi sengketa perdata lebih dikenal dengan istilah Alternatif Dispute Resolution (ADR). PERMA tersebut dimaksudkan memberi peluang terakhir (meskipun bukan yang paling akhir) bagi para pihak yang bersengketa untuk damai. sehingga jumlah kasus di Mahkamah Agung sudah menggunung. Pol: SKEP/737/ X/2005 tentang Kebijakan dan Strategi Penerapan Modal Perpolisian Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Tugas Polri. Karena itu Mahkamah Agung lalu merubah Surat Edaran tersebut menjadi Peraturan Mahkamah Agung No. Untuk menanggulangi penumpukan perkara di lembaga peradilan. Upaya terbaru yang dilansir pemerintah untuk mengurangi volume perkara di pengadilan adalah lembaga community policing yang disebut dengan Perpolisian Masyarakat (Polmas) melalui Keputusan Kapolri No. 148 Bunga Rampai . Lembaga yang dimaksud adalah Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) untuk urusan arbitrase dan Pusat Mediasi Nasional (PMN) untuk urusan mediasi sengketa perdata. Mahkamah Agung telah menerbitkan Surat Edaran Mahkamah Agung No.peningkatan kesadaran hukum masyarakat. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Penyelesaian Sengketa. Ketentuan tersebut diperkuat lagi dengan Keputusan Kapolri No. negara sejak lama telah mengakomodir melalui UU No. 1 Tahun 2002 dengan judul “Pemberdayaan Pengadilan Tingkat Pertama Dalam Menerapkan Lembaga Damai”. Pol: SKEP/432/VII/2006 tentang Panduan Fungsi Samapta Dengan Pendekatan Perpolisian Masyarakat (Polmas). Namun kenyataannya tetap saja mekanisme tersebut tidak berhasil mengurangi secara berarti volume perkara di pengadilan. Polmas antara lain bertujuan menyelesaikan pertikaian antar warga dengan difasilitasi oleh petugas kepolisian yang menggunakan mekanisme informal dengan berpegang pada norma-norma sosial setempat dan kesepakatan-kesepakatan lokal oleh masyarakat sekitar (community justice). 2 tahun 2003 dengan judul “Prosedur Mediasi di Pengadilan” (PERMA).

tolong menolong. Setiap masyarakat memiliki karakteristik yang berbeda-beda antara budaya. Bahkan. Dalam rangka mengamankan UU Kehutanan No. mengakibatkan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 149 . Posisi Satpol PP menjadi semakin kuat mendukung kewibawaan pemerintah lokal.Community Policing Kata community atau masyarakat tidak dapat didefinisikan secara sederhana karena memiliki makna yang berbeda beda dan lingkup yang berbeda-beda untuk setiap orang yang mendefinisikannya. Hasil penyidikan aparat Bea Cukai langsung diserahkan kepada Jaksa Penuntut Umum tanpa koordinasi dengan Polri. Disamping itu. Polisi Khusus Kehutanan menggantikan posisi Polri untuk urusan teknis kehutanan. khususnya televisi sebagai penyumbang terbesar dalam perubahan norma sosial. Misalnya nilai nilai kebersamaan. Keterbatasan jumlah. Meskipun UU Otonomi Daerah telah memberi peluang bagi Satpol PP untuk mengambil peran dalam penegakkan hukum lokal. Polri sudah sangat disibukkan dengan urusan penegakan hukum ditingkat nasional dalam rangka mempertahankan negara kesatuan Republik Indonesia. Akibatnya terjadi kekosongan penegakan hukum ditingkat pemerintah lokal. Kondisi yang sama juga terjadi ditingkat teknis departemental. namun tetap saja belum dapat memenuhi harapan masyarakat. untuk urusan penegakkan hukum di pelabuhan. Profesionalisasi juga memiliki andil dalam memisahkan masyarakat dari tatanan sosialnya. nilai dan masalah yang beraneka ragam di suatu lingkungan pada suatu wilayah tertentu. penerapan asas dekonsentrasi secara rigid mendominasi alasan mengapa Polri terisolasi dari masyarakatnya. Teknologi media komunikasi. mengakibatkan pudarnya norma moral dan sosial. Reformasi tata pemerintahan telah membagi kewenangan antara pusat dan daerah. Kekosongan penegakan hukum ditingkat pemerintah lokal kabupaten/kota telah diisi dengan keberadaan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).41 Tahun 1999. gotong royong. Masyarakat cenderung keluar dari norma-norma sosial yang selama ini dijunjung tinggi. aparat Bea Cukai telah mengambil alih posisi Polri sesuai UU Bea Cukai. Derasnya arus modernisasi mendorong masyarakat dimanapun untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama yang telah mengakar kuat dalam satu komunitas.

Mereka aktif membersihkan papan reklame yang melanggar aturan apabila tidak membayar pajak papan reklame. Polmas melalui Forum Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM) baru sebatas memecahkan konflik antar warga maupun antar warga dengan polisi/pejabat setempat. Dukungan dapat berupa anggaran maupun legitimasi program dalam bentuk Peraturan Daerah. Hasil Evaluasi Polmas 2005 oleh Polri telah merekomendasikan agar dukungan pemerintah setempat menjadi variable penting dalam perumusan maupun pengembangan program Polmas. program Police Goes To Kampung. Program serupa dulu dikenal dengan nama Siskamling.Satpol PP hanya bisa menjaga areal pertokoan dan fasilitas Pemda. bangunan liar dan lain lain yang tidak kalah penting daripada urusan menertibkan papan reklame. Lombok Barat telah merumuskan pelanggaran dan sanksi bagi perambah hutan lindung sebagai berikut: 150 Bunga Rampai . merokok di sembarang tempat. Program Polisi Simpatik. Misalnya terhadap penebangan liar di kawasan hutan lindung. Padahal berbagai peraturan daerah membutuhkan penegak hukum untuk menciptakan lingkungan yang aman. Legitimasi sangat diperlukan dalam rangka membangun kepercayaan masyarakat lokal. Kelompok Mitra Pengaman Hutan (KMPH) di Desa Sesaot. Seperti masalah membuang sampah sembarangan. Belum terlihat orientasi program ke arah penegakkan peraturan daerah dalam rangka membantu kinerja Satpol PP. Dukungan pemerintah lokal sangat diperlukan dalam rangka menjaga kesinambungan maupun keberlanjutan program Polmas. tertib dan bersih. Pelanggaran hukum dan Perda Penegakan hukum oleh komunitas telah dapat diselesaikan dengan menggunakan kearifan lokal sesuai kondisi (baca: kebutuhan) masyarakat sekitar. Patroli Komunitas (Ronda). Situasi tersebut cukup bisa dipahami karena Polmas baru dihidupkan kembali. Saat ini Polmas sedang mencari legitimasi politik dan dukungan pendanaan dari pemerintah daerah. Seperti misalnya. Kinerja Satpol PP sarat dengan kepentingan Pemda. Penelitian LP3ES telah mengangkat temuan bagaimana masyarakat lokal telah berhasil menindak pelanggaran pidana dengan menggunakan kearifan lokal melalui mekanisme Alternatif Dispute Resolution (ADR).

Pasal ini selalu bertengger di lembar panggilan yang dikeluarkan oleh polisi. Penahanan bukan lagi cara efektif dalam menegakkan hukum. Masyarakat telah melakukan dekriminalisasi kejahatan pidana menjadi denda. - - Bila menebang (mencuri) lebih dari 3 (tiga) kali dengan motif komersial. Sanksi pidana perzinahan oleh masyarakat adat di Lombok telah diubah menjadi denda seket kurang sekek kepeng bolong (uang Cina). Bila menebang (mencuri) lebih dari sekali karena alasan pemenuhan ekonomi keluarga. yaitu keharusan membeli tanah grosok untuk pengerasan jalan. dengan jumlah dan volume sesuai kondisi ketika kasus tersebut terjadi.9.000). bahwa upaya paksa berupa penahanan cenderung dikesampingkan. Pasal 216 KUHP berbunyi sebagai berikut “barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang undang oleh Pegawai Negeri berdasarkan tugasnya … diancam dengan pidana penjara paling lama 4 bulan 2 minggu atau denda paling banyak Rp.- Bila menebang (mencuri kayu) sekali karena alasan pemenuhan ekonomi keluarga. Demikian halnya dengan perzinahan yang diatur dalam pasal 284 KUHP dengan ancaman hukuman selama-lamanya 9 bulan penjara. pelanggaran pidana tidak harus diselesaikan dengan ancaman pidana berupa penahanan.25. Di desa Munggut. kasus perselingkuhan diselesaikan dengan “grosok”. Padahal upaya paksa pada pasal 216 KUHP menjadi andalan polisi dalam memanggil seseorang (baca. maka didenda menanam pohon 50 kali lipat dari jumlah pohon yang ditebang.000 Rupiah”. Hal tersebut juga tercermin dalam draft RUU KUHAP Baru. Pelajaran dari kasus-kasus di atas. terlepas dari apakah panggilan tersebut baru panggilan pertama atau bukan. sanksinya cukup meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi di depan warga masyarakat. telah diubah menjadi denda satak sekat kurang sekek kepeng bolong (Saat ini uang Cina telah dikonversi menjadi Rp. Kasus pencemaran nama baik (gila bibir) yang diancam hukum pidana penjara 9 bulan berdasarkan pasal 310 KUHP. maka dikeluarkan dari tempat tinggalnya di desa. menakut-nakuti). Pada dasarnya penangkapan dan penahan yang tidak berdasarkan hukum Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 151 .

Kondisi perparkiran semrawut dan premanisme di tempat-tempat parkir merajalela. marka parkir. Sebagai contoh Peraturan Daerah DKI No. Hampir bisa dipastikan tiap daerah telah mengatur dan memberi sanksi bagi warganya yang membuang sampah sembarangan. 5 tahun 1999). melakukan antara lain. Ancamannya sanksi pidana kurungan selama lamanya 3 bulan atau denda maksimal Rp. membangun bangunan liar atau membangun tanpa mengindahkan aturan sempadan jalan sehingga mengganggu jalan dan pemandangan. Kasus semrawutnya kondisi parkir di Jakarta tersebut menjadi salah satu contoh betapa perlunya keberadaan penegak hukum dengan nama apapun baik polisi. Pasal 30 ayat (1) sebagai berikut: “Dilarang dengan cara dan bentuk apapun.000 dan sanksi adminstratif bagi pengemudi yang parkir sembarangan yaitu 5 kali biaya parkir. merokok di sembarang tempat. maka ketertiban dan rasa nyaman tinggal di Jakarta sesuai maksud dari pembuat Perda tersebut. (pasal 32 ayat 1 dan 3. Ketika polisi melakukan pelanggaran HAM dan hukum. seketika itu juga kepercayaan masyarakat langsung sirna. agar tercipta ketertiban masyarakat sehingga warga masyarakat merasa nyaman tinggal di Jakarta.). Berbagai studi kasus di Lombok tersebut di atas diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi FKPM atau lembaga apapun namanya untuk mencari formula penyelesaian masalah di perkotaan meskipun harus 152 Bunga Rampai . denda dan adminstratif. (tanpa memperoleh izin dari Gubernur Kepala Daerah. Perda Perpakiran DKI No. tanda masuk parkir…. Namun karena petugas Satpol PP sangat terbatas.000. Polmas diharapkan merambah ke ranah Perda yang menjadi domain pemerintah daerah.5. Contoh peraturan di atas menggambarkan bahwa Pemda telah membuat aturan masalah perparkiran dengan sanksi pidana. jauh dari yang didambakan masyarakat pengguna jalan di Jakarta. Polisi menjadi tidak professional karena mereka menjadi pelaku kejahatan dan tidak lagi sebagai petugas penegak hukum. usaha penyelenggaraan perparkiran. Satpol PP atau FKMP.5 Tahun 1999 tentang Perparkiran. perubahan terhadap rambu.alias mengada-ada adalah melanggar HAM.

Hasil survey di Kabupaten Ngawi Jawa Timur (2005) disimpulkan bahwa hampir 80% responden (dari 75 responden) menyerahkan penyelesaian konflik kepada figur Kepala Desa. dianggap lebih memiliki legitimasi dibandingkan dengan tokoh informal seperti Kyai. Kepala Desa menjadi tumpuan apabila terjadi konflik atau sengketa antar warga. dipersepsikan tidak memiliki interest dibanding kelompok partisan lain. Kesimpulan 1. Kepala Desa dituntut untuk memiliki pengetahuan yang lebih dan kearifan sikap agar keputusan yang diambil tidak berat sebelah dan dapat diterima para pihak yang bersengketa sehingga tidak menimbulkan masalah dikemudian hari. Kombinasi representasi berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) menjadi penting dalam mengatur komposisi lembaga yang memiliki wewenang untuk menyelesaikan konflik di masyarakat (community justice). Mereka akan mendatangi rumah Kepala Desa kapan saja walau sampai tengah malam. Pelanggar hukum harus bersedia menjalankan sanksi denda yang telah ditetapkan berdasarkan kesapakatan masyarakat sekitar. menggunakan pendekatan yang berbeda. Penyelesaian konflik di masyarakat perkotaan tidak dapat mengandalkan kharisma seorang Kepala Desa. Kepala Desa sebagai Hakim Perdamaian. Namun terhadap pelanggaran hukum atau norma masyarakat (falk law).merubah ancaman sanksi yang diatur oleh Perda. tokoh masyarakat dan LSM yang kinerjanya masih dapat diterima oleh publik. Demikan halnya di Desa Munggut Lombok (2005). karena Kepala Desa yang dipilih langsung sudah tidak ada dalam struktur pemerintahan di perkotaan. tokoh agama. Kompolnas memiliki posisi strategis untuk menginisisasi kerjasama antar komisi negara bidang penegakan hukum seperti Komisi Kejaksaan dan Komisi Yudisial. Tokoh kunci dalam proses penegakan hukum sangat penting dalam menentukan keberhasilannya. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 153 . Masyarakat perkotaan akan memandang lembaga yang merepresentasi banyak kepentingan lebih memiliki legitimasi. Kalangan akademisi. Community Justice Konflik antar warga masyarakat diselesaikan dengan cara win win solution.

4. Kurang lebih setara dengan fungsi jury di negara negara yang menganut sistim common law. 3. Dengan menurunkan jumlah perkara di lembaga peradilan diharapkan peradilan dapat berbenah diri dalam mereformasi dirinya dan dapat berkonsentrasi untuk menghasilkan putusan yang sesuai dengan rasa keadilan masyarakat. Termasuk dalam mengisi ruang kosong dalam masalah penegakan peraturan daerah. 154 Bunga Rampai . Yaitu lembaga yang menyelesaikan konfik pada masyarakat perkotaan yang merupakan representasi dari berbagai stakeholders. Kompolnas dapat berperan penting dalam memperkuat peranan Polmas dalam bersinergi dengan unsur-unsur Pemerintah Daerah untuk turut menyelesaikan atau mencegah penumpukan perkara di lembaga peradilan. Salah satu lembaga yang dapat dipromosikan oleh Kompolnas adalah Community Justice sebagai bagian dari Polmas. Dengan keberadaan Menteri Dalam Negeri sebagai anggota Kompolnas.2.

Sebagaimana diketahui. meski tindakan itu bertentangan dengan hukum. Lahirnya lembaga yang memiliki kewenangan mengusulkan pengangkatan hakim agung dan pengawasan hakim pemegang kekuasaan kehakiman. di masa itu tidak demikian adanya. Dr. hukum sepanjang pemerintahan Orde Baru telah menjadi instrumen yang melegitimasi setiap tindakan penguasa. Berbagai pengalaman yang melatari bergulirnya reformasi. Inisiasi lahirnya lembaga ini tidak lepas dari sejarah peradilan Indonesia yang semakin jauh dari visi dasarnya untuk menegakkan keadilan bagi pihak-pihak yang berperkara atau bagi mereka yang terenggut hak asasinya. Desain pengadilan yang semestinya menempatkan semua orang setara di muka hukum. M.Peran Serta Elemen Masyarakat Sipil dalam Mendorong Proses Reformasi Peradilan dan Penegakan Hukum Prof. telah memperkuat sumber legitimasi kehadiran * Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Guru Besar Politik Islam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 155 . Din Syamsuddin * Kelembagaan Komisi Yudisial Republik Indonesia di tahun 2007 ini memasuki usia ke-2 sejak dibentuk pada Agustus 2005. dibentuk sebagai mandat konstitusional Undang-Undang Dasar 1945 hasil amandemen. Dalil kehadiran Komisi Yudisial di atas sangat relevan dengan refleksi bangsa Indonesia terhadap perjalanan peradilan sebelum adanya Komisi Yudisial. Peradilan juga telah menjadi alat bagi pembungkaman suara kritis masyarakat yang menyatakan keberbedaannya dengan negara.

dimaksudkan agar warga masyarakat di luar struktur resmi lembaga parlemen dapat dilibatkan dalam proses pengangkatan. Masyarakat yang terhimpun dalam berbagai organisasi keagamaan. dan kemungkinan pemberhentian hakim.lembaga pengawas para hakim ini. Bahkan masyarakat jauh lebih utama menjadi mitra dibanding hakim-hakim yang menjadi obyek pengawasan. Tanpa partisipasi masyarakat. Argumen kehadiran dan karakter kelembagaan Komisi Yudisial sebagaimana dipaparkan di atas. dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat selama ini telah menunjukkan peran sertanya dalam berbagai upaya reformasi peradilan dan penegakan hukum. penilaian kinerja. Dengan demikian. Dengan kehormatan dan keluhuran martabatnya. Komisi Yudisial menempatkan masyarakat sebagai mitra utama dalam menjalankan kerja-kerjanya. Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama bekerja sama 156 Bunga Rampai . Keberadaan masyarakat sebagai mitra utama bukan hanya dibutuhkan oleh Komisi Yudisial melainkan juga tuntutan reformasi di mana telah menempatkan masyarakat sebagai kelompok strategis dalam memantau peradilan dan penegakan hukum. jelas menuntut adanya keterlibatan masyarakat dalam menjalankan perannya sebagai lembaga negara yang bertugas melakukan pengawasan. organisasi masa. sulit bagi Komisi Yudisial memaksimalkan fungsinya. dalam menjalankan fungsinya sangat bergantung pada laporanlaporan masyarakat. kekuasaan kehakiman yang merdeka dan imparsial (independent and impartial judiciary) diharapkan dapat diwujudkan baik dari segi hukum maupun segi etika. Peran Serta Masyarakat Peran serta masyarakat jelas sangat menentukan keberhasilan reformasi peradilan. Komisi Yudisial misalnya. serta perilaku hakim dalam rangka mewujudkan kebenaran dan keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. tidak bisa disangkal bahwa Komisi Yudisial memainkan peranan penting dalam rangka reformasi peradilan dan penegakan hukum dalam sistem kenegaraan Indonesia. Keberadaan Komisi Yudisial sebagai lembaga pengawas eksternal terhadap hakim. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga dan menegakkan kehormatan. keluhuran martabat. Secara eksplisit.

karena dunia peradilan dan penegakan hukum merupakan sektor yang sangat berhubungan dengan kepentingan umat dan publik secara umum. adalah melalui kerja-kerja pemantauan dibidang peradilan dan penegakan hukum. Peran serta masyarakat yang paling banyak dilakukan pertama. Pemantauan memiliki arti penting dalam rangka memastikan agar setiap kehendak politik yang terakumulasi dalam suatu kebijakan negara diorientasikan sepenuh-penuhnya untuk memberikan keadilan bagi semua orang. Elemen-elemen masyarakat sipil yang berhimpun dalam lembaga swadaya masyarakat diakui memang memiliki peran yang lebih fokus. Ada juga yang berkonsentrasi dalam pemantauan pembentukan perundang-undangan. secara terus menerus memberikan perhatian pada upaya reformasi peradilan dan penegakan hukum. Bahkan banyak diantara mereka yang kemudian membangun kemitraan strategis sebagai partner atau bahkan mengasistensi lembaga-lembaga peradilan. Terakhir Muhammadiyah beserta ormas-ormas Islam kembali menggerakkan Jihad Melawan Koruptor Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Kerja pemantauan diharapkan mampu Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 157 . Bahkan peran serta itu belakangan telah diakui urgensi dan signifikasinya. terdapat juga pusatpusat kajian yang secara ilmiah memberikan inisiatif-inisiatif untuk menjadikan dunia peradilan lebih baik. Di samping lembaga bantuan hukum. termasuk di dunia peradilan. Kelompok masyarakat sipil lainnya adalah kalangan perguruan tinggi. karena lembaga-lembaga itu didesain khusus untuk memainkan peran-peran tertentu. Mereka yang tergabung dalam Lembaga-lembaga Bantuan Hukum misalnya. hampir di semua lembaga-lembaga tersebut terdapat bidang atau departemen yang secara khusus menangani soal reformasi peradilan dan penegakan hukum. sejak tahun 2004 telah memprakarsai gerakan melawan korupsi di semua lini pemerintahan. pemberantasan korupsi dan lain-lain. Inisiatif-inisiatif seperti ini jelas dibutuhkan dalam reformasi peradilan dan penegakan hukum.dengan Kemitraan untuk Pembaruan Tata Pemerintahan yang baik misalnya. Independensi para ilmuwan dan aktivis yang berhimpun dalam pusat-pusat studi telah secara nyata memberikan kontribusi bagi dunia peradilan dan penegakan hukum. Dalam tubuh lembaga-lembaga keagamaan.

Dengan demikian prinsip checks and balances. Komisi Penyiaran. Sekalipun pengawasan internal di tubuh lembaga peradilan sudah tersedia. Mekanisme class action.menghimpun fakta-fakta yang baik maupun yang kurang baik dari segi proses penyusunan. sebagai salah satu prinsip demokrasi. Dalam sistem demokrasi. adalah sejumlah contoh terobosan yang didorong oleh masyarakat sipil dalam rangka reformasi peradilan dan penegakan hukum. Beberapa capaian yang telah diperoleh adalah kemungkinan justiciability yang bisa diperoleh para pihak yang dirugikan akibat lahirnya sebuah kebijakan negara yang tidak menguntungkannya. Kerja-kerja pemantauan selama ini banyak dilakukan oleh kelompok elemen sipil yang tergabung di dalam lembaga-lembaga swadaya masyarakat. pelaksanaan dan penegakan maupun dampak dari berbagai prosesproses peradilan dan penegakan hukum. Serangkaian exercise yang menerabas tradisi praktik hukum di Indonesia ditawarkan dan diujicobakan. kerja pemantauan juga merupakan bentuk kontrol publik untuk menyeimbangkan kekuatan antara penyelenggara negara atau pemerintahan dengan publik di daerah itu. Komisi Yudisial. substansi. citizen lawsuit. peran serta dibidang pengkajian. Ketiga. dapat dijalankan. Kedua. Pemantauan yang dilakukan oleh elemen masyarakat sipil ini merupakan jawaban atas tidak adanya akuntabilitas yang terlembagakan pada lembaga-lembaga peradilan. Mereka berhimpun dan mengkonsentrasikan diri pada upaya-upaya memastikan proses peradilan berjalan fair. Komisi Kejaksaan. peran serta lainnya adalah dalam bentuk kam- 158 Bunga Rampai . dan lain sebagainya merupakan gagasan-gagasan kelompok kritis masyarakat sipil yang kemudian diadopsi oleh negara. Komisi Kepolisian. Komnas HAM. penetapan indikator-indikator pembangunan berbasis hak asasi manusia dan kesetaraan gender. Komnas Perempuan. Bahkan inisiatif lahirnya Mahkamah Konstitusi. Peran ini biasanya banyak dilakukan oleh kalangan perguruan tinggi atau lembaga-lembaga studi yang mengkonsentrasikan diri pada upaya penyediaan konsep-konsep alternatif reformasi peradilan dan penegakan hukum. kepercayaan publik belum sepenuhnya bisa tumbuh akibat minusnya penindakan jika pengawasan menemukan abuses yang dilakukan oleh para penegak hukum.

Sejak lahirnya Komisi Yudisial. secara konstitusional diperankan oleh Komisi Yudisial. akan tetapi temuan pandangan hukum kelompok di luar mejelis hakim ini akan menjadi pembelajaran yang sangat berarti bagi perkara-perkara lain yang sama. sebenarnya fungsi eksaminasi atas putusan hakim. Berangkat dari fakta bahwa judicial corruption belum sepenuhnya teratasi. Akan tetapi Komisi Yudisial hanya memiliki kewenangan mengeksaminasi terkait profesionalisme hukum dan tidak masuk pada substansi perkara yang dipersoalkan. di samping dilakukan oleh Mahkamah Agung. interrogation. search. inspection. eksaminasi publik atas putusan-putusan hakim. Meskipun kegiatan eksaminasi publik ini tidak memberikan dampak langsung terhadap perkara yang telah divonis. bisa dilakukan oleh lembaga peradilan yang ada pada level di atasnya sebagai bentuk pengawasan internal atau dilakukan oleh publik sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam memantau dunia peradilan.panye penyadaran hukum. Eksaminasi publik dilakukan terutama untuk melakukan penilaian apakah keputusan-keputusan yang dikeluarkan oleh lembaga peradilan telah memenuhi standar profesional dan prinsip-prinsip penegakan hukum dan hak asasi manusia. atau yang dalam kamus bahasa Inggris-Indonesia sebagai ujian atau pemeriksaan. sejumlah lembaga swadaya masyarakat dan perguruan tinggi saat ini mempelopori praktik uji putusan hakim maupun produk kerja lembaga peradilan. Ormas-ormas keagamaan misalnya. Keteladanan para pemimpin organisasi dan interaksi langsung yang para pemimpin dengan jamaahnya. Eksaminasi atau dalam bahasa Inggris disebut dengan “examination” diartikan sebagai an investigation. di samping juga melakukan pemantauan dan pengkajian. adalah elemen yang sangat berpotensi melakukan kampanye penyadaran hukum dalam rangka memperkuat kultur hukum masyarakat. Namun demikian. dalam praktiknya. Keempat. Kebanyakan jenis peran serta ini dilakukan oleh organisasi masyarakat sipil yang memiliki basis masa yang besar. sulit sekali memeriksa profesionalisme hakim dalam sebuah Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 159 . lemahnya mekanisme kontrol internal lembaga-lembaga peradilan. merupakan media dan instrumen kampanye mengubah paradigma berpikir dan tata tindak yang konstruktif pada upaya-upaya penegakan hukum.

Semestinya sinergi harus bisa dibangun. sehingga meskipun dengan pendekatan dan strategi yang berbeda. seringkali ekpektasi publik tidak terpenuhi oleh lembaga-lembaga peradilan. Jaminan akomodasi peran serta masyarakat sekalipun secara yuridis tidak diatur. Sasaran utama dari kegiatan eksaminasi ini adalah mendorong para hakim agar membuat putusan dengan pertimbangan yang baik dan profesional.putusan tanpa menyoal substansinya. secara sosio-politik peran serta masyarakat berimplikasi besar terhadap perubahan dunia peradilan. Catatan yang dapat diajukan dalam memandang peran serta masyarakat sipil dalam reformasi peradilan dan penegakan hukum ini. Karena itu produk Komisi Yudisial sering diabaikan. Jika eksistensi publik dalam dunia peradilan sudah disadari urgensinya. Untuk memaksimalkan upaya reformasi peradilan itulah maka publik menginisiasi praktik-praktik eksaminasi yang disebut dengan eksaminasi publik. Sikap a priori dan konfrontatif lembaga-lembaga peradilan hanya akan memperburuk citra lembaga peradilan itu sendiri. Dunia peradilan yang menjadi obyek peran serta juga sudah semestinya menyadari betapa membangun aliansi strategis dengan elemen masyarakat sipil adalah hal yang pokok dalam men-delivery keadilan segera sampai ke tengah masyarakat. serta menakar sejauh mana sebuah putusan telah menyentuh rasa keadilan masyarakat. Tujuan eksaminasi secara umum adalah untuk mengetahui. Reformasi yang digulirkan sejak 1998 telah membuktikan bahwa pengabaian terhadap aspirasi masyarakat telah meminggirkan kekuasaan yang selama ini dianggap kokoh. yakni perbaikan peradilan dan penegakan hukum. maka para anggota legislatif 160 Bunga Rampai . Keberbedaan pendekatan antar elemen juga sering menjadikan pilihan strategi yang berbeda. tetap bisa mengarah sasaran yang sama. sejauh mana pertimbangan hukum dari hakim yang memutus perkara tersebut berkesesuaian dengan prinsip-prinsip hukum dan prosedur hukum acara dengan benar. Peran serta kemudian menjadi bagian yang dianggap tidak menarik sebagian elemen masyarakat sipil. Menuntaskan kerja reformasi (termasuk di sektor peradilan) jelas tidak bisa lepas dan mengabaikan peran serta masyarakat.

meskipun di beberapa perguruan tinggi telah tumbuh pusat-pusat studi. Harus diakui. Bahkan sebagian besar perguruan tinggi. dedikasi dan kesungguhannya masih belum optimal. Masyarakat sipil dituntut untuk menata kerja-kerja ini bukan lagi sebagai seremonial yang berulang akan tetapi lebih implementatif. dan berkelanjutan. Refleksi atas keberadaan lembaga-lembaga kemasyarakatan dan keagamaan dalam memaksimalkan peranannya mendorong reformasi peradilan dan penegakan hukum telah menjadi memicu semua pihak untuk segera berbenah diri secara lebih serius. Karena itu. salah satu penyebab tidak maksimalnya reformasi peradilan. tapi telah menjalar kepada sebagian besar masyarakat Indonesia. mayoritas masyarakat Indonesia justru balik menuduh LSM yang melakukan provokasi untuk membuat berang sebuah rezim. sistematis.juga dituntut untuk bisa mengakomodasi berbagai aspirasi publik dalam setiap penyusunan perundang-undangan. Tak jarang kemudian. penegakan hukum hak asasi manusia di Indonesia adalah minusnya kerja-kerja diseminasi publik yang menyadarkan warga tentang pentingnya kerja bersama membangun kelembagaan peradilan yang independen dan akutabel. yang akan menjadi alat efektif untuk melakukan kontrol dan pressure terhadap negara untuk berkomitmen menegakkan hukum. Diseminasi tentang pentingnya peran serta masyarakat sipil yang meluas akan mampu melahirkan kekuatan kritis dan membangun kesadaran kolektif bangsa. Jika mau diakui. sebagai salah satu kesadaran evaluatif atas ketersumbatan arus reformasi peradilan patut dipertimbangkan. diskursus dan praksis peradilan dan penegakan hukum hingga saat ini masih menjadi isu yang elitis. Hanya menjadi urusan lembaga swadaya masyarakat dan beberapa kelompok sosial kritis lainnya. Minusnya dukungan sosial. Jika kondisi yang demikian ti- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 161 . Tuduhan ini tidak hanya monopoli aparat negara semata. organisasi masyarakat. membuat advokasi penegakan hukum seolah-olah hanya menjadi urusan LSM. organisasi keagamaan dan komunitas-komunitas lainnya. baik di kalangan perguruan tinggi. pilihan diseminasi dan edukasi pentingnya peran serta masyarakat dalam reformasi peradilan dan penegakan hukum.

Membangun kesadaran kolektif dapat dilakukan dengan melakukan transformasi simultan atas gagasan dan praksis penegakan hukum di lapangan. tapi paling tidak. dikhawatirkan LSM akan kehabisan energi dalam melakukan kerja-kerja advokasinya. Kedekat- 162 Bunga Rampai . Gagasan mendidik pendakwah atau misionaris dalam berbagai agama untuk menjadi pembawa suara keadilan bisa menjadi pilihan kerja yang potensial mampu menghimpun dukungan sosial reformasi peradilan dan penegakan hukum. Salah satu kapasitas dan kompetensi itu adalah menciptakan generasi terdidik yang peduli dan tergugah untuk melakukan advokasi. Meskipun predikat ini tidak sepenuhnya genuine. secara formal perguruan tinggi memiliki kapasitas untuk memproduksi sumber daya manusia yang bisa didesain memiliki kapasitas dan kompetensi tertentu. Salah satu sektor yang harus mendapatkan prioritas dalam proses transformatif ini adalah kalangan perguruan tinggi dan dunia pendidikan. Melalui kerja pemberdayaan dan pendampingan. Kalangan perguruan tinggi. Karena itu signifikansi perluasan basis sosial terletak pada perolehan dukungan besar masyarakat Indonesia. peradilan yang murah. Memperluas basis sosial untuk memperbesar dukungan reformasi peradilan dan penegakan hukum berarti membangun kesadaran kolektif bangsa akan pentingnya reformasi peradilan di Indonesia. kompeten. sering disebut sebagai salah satu agen perubahan. Sektor lain yang perlu mendapat perhatian adalah lembaga-lembaga keagamaan. penegakan hukum menjadi tugas dan kewajiban negara. Dengan jamaah dan umat yang begitu besar.dak segera mendapat respon dan penanganan cepat. lembaga-lembaga keagamaan sebenarnya bisa menjadi kekuatan pengubah sosial yang luar biasa. pendidikan kesadaran hukum dapat disodorkan sebagai jalan merengkuh dukungan sosial itu. dan berkeadilan tanpa diminta dan ditekan. Jika kerja ini tidak dilakukan. tidak hanya pressure group yang semakin terkikis tapi sinisme masyarakat akibat “instabilitas” yang diciptakan oleh kalangan LSM akan semakin menguat. Memang. tapi pengalaman di beberapa negara menunjukkan. mendorong hukum progresif yang berkeadilan. tidak ada negara yang dengan cumacuma memberikan hak-hak rakyat untuk menikmati kemajuan.

tapi juga terjustifikasi oleh semua agama dan kepercayaan di dunia ini. Bagaimanapun kepercayaan publik terhadap keberhasilan reformasi peradilan dan penegakan hukum adalah indikator utama keberhasilan reformasi peradilan dan penegakan hukum.an tokoh-tokoh agama dengan umatnya. kepolisian. Catatan Penutup Keberadaan Komisi Yudisial di dalam ranah kekuasaan kehakiman secara langsung telah menjawab kebutuhan akses publik terhadap dunia peradilan. Lembaga-lembaga peradilan (kejaksaan. Tidak semata-mata karena peradilan yang baik sebagai sesuatu yang dibutuhkan. Komisi Yudisial telah menjadi jembatan ketidakpuasan publik atas ketidakadilan yang tercabik akibat ulah para mafia peradilan. proses-proses reformasi peradilan dan penegakan hukum. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 163 . dan lembaga-lembaga penyelidik independen lainnya) juga sudah semestinya menyadari pentingnya kehadiran masyarakat di tengah-tengah peran dan fungsi institusinya sebagai stakeholders yang tidak bisa ditinggalkan. kecuali membangun kemitraan strategis dengan elemen masyarakat sipil. Karena itu tidak ada pilihan lain bagi Komisi Yudisal untuk terus meningkatkan intensitasnya melibatkan publik dalam memantau dan memastikan keadilan dapat terberikan. Perlu disadari bahwa keberadaan ormas-ormas baik yang berbasis keagamaan maupun kemasyarakatan memiliki posisi strategis di dalam proses rekayasa sosial untuk melahirkan suatu gerakan sosial dan gerakan moral dalam membangun bangsa. yang dengan mudah mendongkrak popularitas seorang aktivis. selama bumi ini masih dipijak. Pilihan kerja diseminasi wacana reformasi peradilan dan penegakan hukum memang tidak memiliki daya tarik sebagaimana kerja advokasi (litigasi). akan membuat bahasa hukum dan peradilan menjadi mudah dipahami dan diterima sebagai sebuah keyakinan yang harus diperjuangkan. Karena itu tidak ada pilihan lain. Diseminasi merupakan kerja jangka panjang dan investasi kemanusiaan yang akan menjadikan kerja advokasi berkelanjutan.

New York.Dr. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Chicago. Prof. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Chicago University Press. 1996. Maurice. Neuman. PT. Ahsin Thohari. 1963. 1963. Dr. Duverger. Prof. Komisi Yudisial & Reformasi Peradilan.Daftar Bacaan Samuel P. Jakarta. Sigmund. Toward a Comparative Study of Political Parties. Jakarta. 1996. 164 Bunga Rampai . Miriam. PT. Miriam. Penerbit Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam). Budiarjo. Norman and London: University of Oklahoma Press A. The Third Wave: Democratization in the Late Twentieth Century. Budiarjo. Jakarta. Cadre Party and Mass Party. Huntington. Caucus and Branch. Political Parties. 2004. Wiley and Sons. 1991. Gramedia Pustaka Utama. Gramedia Pustaka Utama.

Magister Hukum dari Universitas Indonesia (1994). Guru Besar Hukum Ekonomi Fakultas Hukum USU (2004). Dosen Magister Kenotariatan Pascasarjana USU Medan. F. tahun 1999–sekarang. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Univ. Jeremy Bentham yang kemudian didukung oleh John Austin menganggap bahwa sistem common law mengandung ketidakpastian dan menyebutnya sebagai “law of the dog”. tahun 2002-sekarang. dalam A. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Sekolah Tinggi Hukum Militer (STHM). Magister Hukum Pascasarjana Universitas Islam. Pendukung civil law. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Universitas Nasional. 1983). Tahun 2006-sekarang. Dosen Pascasarjana Hukum USU Medan.1 Sebaliknya salah satu pendukung sistem common law. “Legal Ontology and Legal Reasoning”. Doktor dari Universitas Indonesia (2001). Chaim Perelman. Dosen Penguji dan Pembimbing Disertasi Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Indonesia. tidak memberikan petunjuk bagi manusia bagaimana dia harus bertindak. Blackshield. Pancasila Jakarta. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 165 . hal 6. ed. Untuk Menghasilkan SDM Penegak Hukum Yang Kompeten dan Profesional Bismar Nasution* Knowledge is power but character is more Perdebatan mengenai sistem mana yang terbaik antara civil law dan common law telah berlangsung selama berabadabad. tahun 2001–sekarang. Legal Change Essay in Honor of Julius Stone.R. 2005. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Univ. Jakarta.V Hayek mengatakan bahwa sistem common law lebih baik dari pada civil law karena jaminannya * 1 Mendapat Sarjana Hukum dari USU (1983). tahun 1987– sekarang. tahun 2002. Krisnadwipayana Jakarta. tahun 2002-sekarang. Jakarta.Reformasi Pendidikan Hukum. Jakarta. tetapi jika manusia itu berbuat kesalahan maka pengadilan langsung menghukumnya. tahun 2004-sekarang. (Sidney: Butterworth. tahun 2003-sekarang. Pengadilan dalam sistem hukum common law. tahun 2001–2002. Dosen Magister Manajemen Pascasarjana USU Medan. Ketua Program Studi Ilmu Hukum dan Ketua Program Doktor Ilmu Hukum Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Dosen Fakultas Hukum USU Medan.

pindah dari naungan Departemen.2 Untuk lebih memahami pemicu perdebatan di atas cara terbaik adalah dengan menghampirinya dari aspek historis sebagaimana dikatakan Benjamin N. Dunfee. (California: Stanford University Press. 1962).6 Hal ini tidak terlepas dari sejarah 2 3 4 5 6 Lebih lanjut Hayek menyatakan bahwa sistem kebebasan di Inggris berasal dari ajaran Locke dan Humme yang menekankan kepada kebebasan individu untuk mencapai tujuan masing-masing. Cordozo “sejarah dalam menerangi masa lalu menerangi masa sekarang. Cardozo.” lihat W. Di negara civil law hakim merupakan bagian dari pemerintah. (Vol. Sistem civil law menggunakan kodifikasi sebagai sumber hukum. hal 1406. Janice R.. Mahoney. hal 504-511 Benjamin N. adanya independensi hakim atau berada di bawah Mahkamah Agung. Di Indonesia.pada kebebasan individu dan membatasi kekuasaan pemerintah. (New Jersey: Prentice-Hall Inc. Minn: West Publishing Co. 89 Lihat John Henry Merryman. Cohen dan Arnold J. 1969).4 Akar perbedaan yang substansial diantara kedua sistem hukum itu terletak pada sumber hukum yang digunakan oleh Pengadilan dalam memutus sebuah perkara. Journal of Legal Studies.“3 Menurut catatan. David B. sedangkan dalam Black’s Law Dictionary diartikan “to adhere to precedents. 1990). Bellace. University of Chicago. Rosoff. Black’s Law Dictionary. Sedangkan civil law lahir terlebih dahulu ketika Corpus Juris Civilis of Justinian diterbitkan di Constatinopel pada tahun 533 yang sangat dipengaruhi oleh hukum Romawi. The Civil Law Tradition: An Introduction to the Legal System of Western Europe and Latin America. yaitu “stand by the decision and do not disturb what is settled. 2001).1999). The Nature of The Judicial Process. sedangkan model kebebasan Perancis berasal dari ajaran Hobbes dan Rousseau yang menekankan pada kebebasan pemerintah untuk mencapai tujuan bersama lihat Paul G. sehingga dalam menerangi masa sekarang dia menerangi masa depan. Business and Its Legal Environment. hal 4-7. (London : Yale University Press.5 Perbedaan menonjol lainnya menyangkut peran pengadilan. (ST. Istilah stare decisis berasal dari istilah stare decisis et non quieta movere. tahun 1066 dianggap sebagai tahun kelahiran tradisi common law ketika bangsa Norman mengalahkan dan menaklukkan kaum asli (Anglo Saxon) di Inggris. Lihat Henry Campbell Black.XXX. and not to unsettle things which are established. “The Common Law and Economic Growth: Hayek Might Be Right”. hal. sedangkan sistem common law menggunakan putusan hakim sebelumnya sebagai sumber hukum atau yang lebih dikenal dengan doktrin stare decisis. Kehakiman terjadi sejak tahun 2004 166 Bunga Rampai . 40. Paul. hal.

8 Sebaliknya.7 Posisi ini membuat pengadilan biasa di Perancis secara prosedural tidak mempunyai wewenang untuk mengkaji kebijakan pemerintah. Op. pengadilan membedakan antara kasuskasus yang berhubungan dengan pemerintah dan memberlakukan hukum yang berbeda dengan hukum yang mengatur hubungan sektor privat. Di Perancis misalnya. .Bailey dan M. hal 39. Independensi pengadilan ini apabila ditelusuri berawal dari pertentangan antara Hakim Coke dengan King Stuart ketika Kerajaan yang memaksakan kehendaknya untuk mengubah hak properti yang merugikan rakyat. Hal ini membuat kekuasaan pemerintah di negara civil law menjadi sangat dominan. Farrar dan Anthony M. hal 508-509 S. Perbedaan ini tetap dipertahankan dalam sistem civil law di daerah continental yang mewarisi tradisi Hukum Romawi. Mahoney. (London: Sweet & Maxwell. hal 413. Setelah revolusi Stuart Chamber ini dibubarkan.10 7 8 9 10 John H. namun demikian Pengadilan ini berada dibawah pengawasan Eksekutif. hal 503 – 512. Raja Stuart kemudian membentuk sebuah pengadilan baru bernama Stuart Chamber yang berada di bawah Kerajaan dan merupakan kepanjangan tangan dari Kerajaan Inggris. negara common law yang berasal dari tradisi Inggris memiliki lembaga pengadilan yang independen. 1996). 1984). Para hakimnya juga didik pada administrative school bersama-sama dengan pegawai negeri lainnya yang nantinya keputusan mereka akan diawasi oleh hakim tersebut. Dugdale. Perancis memang telah mengembangkan suatu Pengadilan Tata Usaha Negara yang berwenang men-review Keputusan Pemerintah. Lihat Paul G. Pengalaman sebelum masa revolusi tersebut menjadi inspirasi bagi Napoleon dalam meletakkan hakim di bawah pengawasan pemerintahan untuk mencegah “pemerintahan oleh hakim” seperti yang pernah terjadi sebelum revolusi. Paul G. Kondisi inilah yang kemudian memicu revolusi Perancis yang dipimpin oleh Napoleon.9 Oleh karenanya kekuasaan untuk menentukan hukum berada pada Mahkamah Agung sebagai pengadilan tertinggi. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 167 . Cit. Sistem Hukum Romawi menggambarkan dengan jelas perbedaan antara hukum privat yang mengatur hubungan antara warga negara dan hukum publik yang mengatur hubungan antara warga negara dengan pemerintah. (London: Sweet & Maxwell.Cit. Introduction to Legal Method.yang melandasi terciptanya perbedaan itu. Mahoney. Sebelum revolusi.H. Smith & Bailey on The Modern English Legal System. Op.J.Gunn. para hakim Perancis menjadi musuh masyarakat daripada pembela kepentingan masyarakat karena lebih mendukung kepentingan Raja.

kombinasi antara konsep Hukum Romawi dan praktik-praktik di lapangan telah membentuk dasar-dasar hukum yang dianut oleh sebagian besar negara di dunia ini. Materi yang diberikan adalah isi pasal-pasal dari perundangan-undangan. Sistem pendidikan hukum di negara civil law lebih menekankan kepada metode pengajaran yang bersifat doktrinal. dan sangat jarang perkuliahan dilakukan untuk membahas suatu kasus. Peranan dosen sangat sentral dalam memberikan pemahaman tentang hukum. dengan metode pengajaran monolog. hal 508. Perdebatan dan diskusi jarang dilakukan karena selama perkuliahan berlangsung dosen biasanya hanya memberikan penjelasan mengenai teori. Cit. Para mahasiswa bersifat pasif dan umumnya diajarkan untuk menghapal perundang-undangan. Sistem hukum yang 11 12 Paul G. isi pasal serta pendapat para sarjana. Sebaliknya. Ibid. Perbandingan suatu teori atau hukum juga jarang dilakukan.Dalam perjalanannya. hal. 2001. hal 253 168 Bunga Rampai . dosen berfungsi sebagai narasumber. Hal ini menyebabkan perbandingan hukum dengan negara lain dianggap kurang penting dan kurang mempunyai kekuatan hukum apabila dijadikan landasan pembelaan dalam sebuah peradilan. pembimbing dan legal solver terhadap pertanyaan para mahasiswa.12 Arah Pendidikan Hukum Perbedaan penerapan hukum di atas berimplikasi terhadap sistem pendidikan hukum di negara-negara penganut kedua sistem hukum tersebut.11 Terlepas dari perdebatan di atas. Mahoney. sehingga landasan maupun pemikiran tentang hukum hanya berpedoman kepada perundangundangan yang telah terkodifikasi. Op. karena umumnya negara-negara civil law berpaham positivisme. yaitu sistem civil law dan sistem common law. sistem pendidikan di negara common law lebih menekankan kepada practical use. pengalaman menunjukan bahwa negara-negara dengan sistem common law ternyata relatif lebih makmur secara ekonomi dibanding negara dengan sistem civil law.

Putusan ini akhirnya akan diuji oleh Mahkamah Agung apakah diterima atau ditolak. membuat perkuliahan difokuskan kepada pembahasan kasus hukum dan putusan pengadilan. Sebaliknya SDM penegak hukum dari negara common law selalu bersifat kritis dan analistis. Sedangkan sisa perkuliahan dilakukan dengan diskusi. SDM penegak hukum dari negara civil law cenderung bersifat positifis dan rigid dalam menyelesaikan permasalahan hukum. sehingga sering sekali putusan hakim dijadikan parameter untuk menilai apakah suatu peraturan dapat diterapkan di masyarakat. Mereka hanya memandang suatu permasalahan dengan parameter perundang-undangan. Hal ini membuat peran mahasiswa lebih dominan daripada peran dosen. karena adanya doktrin kalau suatu putusan pengadilan tidak boleh bertentangan dengan putusan pengadilan di atasnya. dia dapat membuat putusan baru tentu dengan argumentasi yang kuat. Adanya perbedaan dalam sistem pendidikan hukum di atas telah menyebabkan perbedaan besar dalam memahami dan menyelesaikan permasalahan hukum. presentasi dan pemaparan para mahasiswa mengenai suatu kasus. Sehingga perkuliahan bersifat terbuka. Putusan pengadilan itu juga bukan hal yang mutlak harus diikuti. Inilah yang membuat para SDM penegak hukum common law selalu melaku- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 169 . dimana para dosen hanya memberikan pengantar dan referensi buku yang harus dipelajari serta dirangkum oleh para mahasiswa. Dosen hanya berperan sebagai pembimbing dan pengarah diskusi. Sehingga penyelesaian suatu permasalahan hukum dilakukan dengan pendekatan doktrinal. dan tidak jarang mereka menjadi sahabat dalam kehidupan pribadi. apabila seorang hakim menganggap suatu putusan tidak sesuai lagi dengan perkembangan masyarakat. sedangkan isi perkuliahan lebih banyak diisi oleh perdebatan dan pendapat dari masing-masing mahasiswa mengenai kasus-kasus yang diberikan oleh dosen. Pemahaman terhadap teori hanya diberikan di awal perkuliahan dengan metode self learning. Perundang-undangan bukan harga mati bagi sebuah keadilan. konsultasi mengenai suatu permasalahan hukum dilakukan secara individual antara dosen dan mahasiswanya. Sehingga hubungan antara dosen dan mahasiswa di negara common law umumnya sangat dekat.menekankan kepada putusan hakim.

kan analisis dan kritis terhadap hukum. peran Fakultas 170 Bunga Rampai . Sebaliknya. analistis dan responsif terhadap permasalahan hukum. Dari deskripsi di atas tentu kita dapat menyimpulkan bahwa metode pengajaran civil law membuat para SDM penegak hukum berpikir doktrinal. para SDM penegak hukum akan gagal mengimplementasikan rasa keadilan masyarakat dalam solusi hukumnya. Sehingga metode ini mempunyai kelebihan dalam menghasilkan para SDM penegak hukum yang kritis dalam menghadapi perubahan di masyarakat. Dalam menghadapi persaingan global. Pengajaran yang bersifat doktrinal masih mewarnai pembelajaran hukum di Indonesia. Pandangan yang bersifat doktrinal dan positivisme mutlak harus segera diminimalkan untuk membentuk SDM penegak hukum yang kritis. Tidak jarang mereka melakukan perbandingan hukum untuk menjustifikasi argumen mereka bahwa hukum yang berlaku tidak sesuai lagi diterapkan di masyarakat. Gambaran mengenai sistem pendidikan hukum di Indonesia tidak berbeda jauh dengan apa yang telah diuraikan mengenai sistem pendidikan hukum civil law di atas. dimana perundang-undangan yang mengaturnya sudah tidak relevan lagi dengan kondisi masyarakat. Sebagai lembaga yang menghasilkan SDM penegak hukum. Hal ini terjadi karena pembelajaran terfokus pada kodifikasi. Sehingga apabila terjadi suatu permasalahan hukum. Sedangkan kelemahannya adalah metode ini menghasilkan SDM penegak hukum yang lemah akan analisis dan kurang kritis terhadap hukum. sehingga kepercayaan masyarakat terhadap hukum dapat dipulihkan kembali. Kelebihan dari metode ini adalah adanya kepastian dalam pemahaman hukum. metode pendidikan seperti ini harus diperbaiki terutama pada negara berkembang seperti Indonesia. sehingga penggalian nilai-nilai keadilan juga harus dilakukan disamping pemahaman terhadap peraturan tersebut. sehingga pembelajaran relatif lebih terarah. metode pengajaran common law menekankan kepada analisis kasus dan diskusi serta untuk selalu bersikap kritis dalam menghadapi permasalahan hukum. dimana perekonomiannya belum stabil dan tingkat penyelewengan hukum masih tinggi dan perundang-undangan belum berfungsi maksimal dalam mengikuti dan memenuhi kebutuhan masyarakat.

baik dari peningkatan kualitas SDM. Kondisi ini bermula sebagai konsekuensi pendekatan pembangunan yang diterapkan pemerintah. Padahal L. diperlukan political will yang kuat bagi para petinggi universitas dan pemerintah untuk melakukan pembenahan yang sistematis dalam memperbaiki pendidikan hukum di Indonesia. tetapi berasal dari pendidikan yang diperolehnya dari kuliah semasa di Fakultas Hukum. Seharusnya pendidikan itu pulalah yang memperluas ruang lingkup cara berKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 171 . Pembenahan menyeluruh terhadap pendidikan hukum harus segera dilakukan. Michael Hagger menggambarkan. Dalam upaya mempercepat pertumbuhan ekonomi. Hal ini tentu tidaklah mudah. Fakultas hukum di Indonesia harus kembali kepada khitahnya. SDM Penegak Hukum Yang Kompeten dan Profesional Jurang antara dunia akademis dan praktis di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir abad ke-20 semakin melebar. pasarlah yang menjadi panglima. Pembenahan tersebut harus dilakukan secara serentak.Hukum sangatlah penting di sini. seperti SDM penegak hukum. metode pengajaran di kampus-kampus masih berorientasi kepada sistem civil law. Metodemetode ekonomi pro pasar umumnya diimpor dari negaranegara common law dan juga sistem ekonomi pro pasar lebih kondusif bila didekati dengan institusi hukum yang berasal dari sistem common law. sedangkan sistem civil law peran pemerintah sangat dominan. pemerintah menerapkan sistem pembangunan ekonomi pro pasar. Dalam bahasanya Walter Lippmann “in a free society the states does not administer the affairs of men. metode pengajaran. yaitu sebagai professional school yang harus dapat menggabungkan unsur profesionalisme dan pendidikan hukum dalam pengajarannya. Konsekuensinya tamatan Fakultas Hukum seolah terlempar ke dunia lain. Sementara itu. It administers justice among men who conduct their own affairs”. teaching material atau kurikulum dan kesejahteraan para pengajar. Dalam sistem common law. bahwa jalannya suatu sistem hukum tidak akan pernah lebih baik dari mereka yang menjalankannya. Hal ini disebabkan SDM penegak hukum yang berperan menjalankan hukum bukan hanya berdasarkan cara berpikirnya sendiri.

Gunn.” ABA Journal.H. Fakultas Hukum di Inggris dituntut untuk memberikan pemahaman hukum yang komprehensif untuk menyediakan seorang SDM penegak hukum yang kompeten dan profesional. Untuk perbandingan. Foundation of Property Law.Cit. 33. Lihat S. doktrinal dan deskriptif.13 Kondisi di atas memaksa kita memikirkan bagaimana Fakultas Hukum dapat melahirkan SDM penegak hukum yang berpengetahuan luas dan memiliki keterampilan hukum yang sesuai dengan sistem ekonomi pro pasar yang dijalankan pemerintah tersebut. hal 182-183 172 Bunga Rampai .pikirnya. Foundation of Equity and the Law of Trust. (Vol. Op. Jalan yang harus ditempuh adalah bagaimana menepis kekhawatiran bahwa apa yang diberikan dalam kuliah berbeda dengan hukum dalam kenyataan. Ketujuh dasar pengetahuan hukum tersebut adalah: obligations 1.166-239. tentunya staf pengajar di Fakultas Hukum tidak hanya mengajarkan teori atau hal-hal yang normatif sifatnya. Penggunaan pendekatan ekonomi terhadap hukum (law and economic) dalam pendidikan hukum di Amerika Serikat bersifat permanen yang dimulai sejak tahun 1960an.J. 1993). Lihat Antony T. kita dapat melihat sistem pendidikan hukum di Inggris. hal. Kriteria yang ditekankan disini bukanlah metode penilaian terhadap tugas atau lamanya pengajaran tetapi yang dituntut adalah proposi beban kerja mahasiswa dan setidak-tidaknya harus menguasai tujuh dasar pengetahuan 13 14 15 L. dan Foundation of Public Law serta Legal Research. Michael Hagger. Bailey dan M. “The role of Lawyer of development country.14 Memperkenalkan hukum sesuai dengan kenyataan dibutuhkan mengingat Fakultas Hukum sebagai professional school diwajibkan untuk mempersiapkan keterampilan para lulusannya. dimana terdapat syarat yang sangat ketat dalam penerimaan SDM penegak hukum yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan profesi yang lebih tinggi. Untuk itu. Kronman. Foundation of Criminal Law. 1972).(Cambridge: Harvard University Press. 58. Foundation of the Law of the European Union. obligations 2. hal. Terlepas setuju atau tidak setuju dengan gerakan ini. kegiatannya dan kesiapannya yang membedakannya pula dengan kalangan lainnya. The Lost Lawyer Failing Ideals of the Legal Profession. Gerakan Law and Economic telah mengubah metode dosen mengajar dan hampir di seluruh subjek hukum pengetahuan praktis ilmu ekonomi merupakan persyaratan. tetapi harus pula mengajarkan keterampilan menggunakan sains (science) untuk memahami hukum disamping dan memperkenalkan hukum sesuai dengan kenyataan.

Tahap kedua adalah “tahapan pendidikan spesialis atau kejuruan” yang dilakukan dengan mengikuti program the Bar Vocational Course yang diselenggarakan oleh Court School of Law.H.15 Selain itu Sistem Pendidikan Hukum Lanjutan di Inggris juga dibedakan antara Pengacara (Barrister) dan Konsultan Hukum (Solicitor). Tujuan dari pelatihan ini adalah supaya para lulusannya dapat menguasai pembuatan kontrak dengan kemampuan dan pengetahuan yang cukup untuk mengatasi masalah dan tantangan dengan diawasi oleh instruktur pelatihan. dimana tidak ada pembedaan antara akademisi dan profesional. sehingga menimbulkan perbedaan persyaratan untuk dapat menekuni kedua profesi ini. Syarat pertama yaitu syarat akademik sama seperti persyaratan untuk menjadi Pengacara.hukum. Sedangkan untuk menjadi konsultan hukum (solicitor). Bailey dan M. Kedua tahap ini menyarankan syarat untuk dapat mendaftar menjadi pengacara. hal 184-185 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 173 .16 Gambaran di atas menunjukkan bahwa Fakultas Hukum sebagai profesional school harus mempunyai suatu sistem pendidikan atau metode pengajaran yang mempunyai suatu kurikulum yang tepat untuk menghasilkan SDM penegak hukum yang kompeten dan mempunyai kemampuan profesional yaitu kemampuan praktik. dimana selama 6 bulan pertama mereka tidak boleh menerima instruksi. Untuk dapat menjadi pengacara (Bar). Di sinilah esensi sebenarnya dari profesional school. Syarat kedua menuntut calon harus merupakan anggota dari the Law Society dan harus mengikuti dan lulus pelatihan Legal Practice Course Board yang diselenggarakan the Law Society.Cit.Gunn. seorang calon harus ikut dalam salah satu Inns of Court dan harus memenuhi dan menyelesaikan dua tahap pendidikan. Adanya anggapan bahwa seorang SDM penegak hukum cukup dibekali kemampuan hukum di bidang tertentu saja harus ditentang. Lihat S. Op. Pendidikan 16 Seorang calon masih harus mempunyai pengalaman selama 12 bulan dengan Pengacara yang mempunyai pengalaman selama 5 tahun.J. Kemampuan akademis merupakan dasar pengajaran sedangkan kemampuan profesional adalah pengembangan teori secara praktik. Tahap pertama adalah “tahap akademik” dimana calon harus mempunyai gelar SDM penegak hukum atau sertifikat lulus dari Common Professional Examination (CPE). seorang calon dua tahap sama seperti syarat menjadi Pengacara. SDM penegak hukum haruslah menguasai ilmu hukum dan praktik-praktik dasar secara keseluruhan untuk dapat disebut sebagai kompeten dan profesional.

hal. “Access and Specialization in Legal Education and Practice. 174 Bunga Rampai . filsafat hukum dan case analysis. Medan. 13. Kasus yang dipilih tidak hanya berasal dari dalam negeri tetapi juga diberikan kasus-kasus yang berasal dari luar negeri. Hal ini sejalan dengan H. Dosen Fakultas Hukum disamping berkewajiban mengajar dan menulis.” Dalhousie Journal of Legal Studies. juga wajib melatih mahasiswanya dengan keterampilan praktis. Hal ini dilakukan agar para mahasiswa dapat memahami akibat dan konsekwensi hukum yang timbul akibat isi suatu pasal. Sisa perkuliahan dilakukan dengan pemahaman suatu peraturan perundangan-undangan yang diikuti dengan pembahasan kasus-kasus yang berkaitan dengan peraturan tersebut. karena hal itu akan menghilangkan unsur profesionalisme dalam diri dosen yang pada gilirannya akan menghilangkan unsur esensial Fakultas Hukum sebagai pendidikan profesional. yaitu Fakultas Kedokteran. Kita harus melihat pada profesional school sejenis. hal. “Globalisasi Hukum dan Kemajuan Teknologi: Implikasinya Bagi Pendidikan Hukum dan Pembangunan Hukum Indonesia.lanjutan hanyalah memberikan suatu spesialisasi terhadap sebuah bidang yang ingin ditekuni oleh SDM penegak hukum tersebut. W. karena mustahil bagi sebuah profesional school mengajarkan pendidikannya jika dosennya tidak mempunyai kemampuan dalam bidang praktik seperti yang telah digambarkan oleh sistem pendidikan hukum di Inggris. “lawyers must become expert in some field of knowledge and know little about others”. 20 Nopember 2001.17 Oleh karena itu adalah suatu kesalahan besar untuk melarang dosen melakukan praktik hukum. teori dan filsafat hukum dapat dilakukan di awal perkuliahan. Kekhawatiran akan diabaikannya tugas-tugas pendidikan dapat diatasi dengan dibuatnya sebuah rule of the game dengan sanksisanksi yang jelas. dimana para pengajarnya juga melakukan praktik. sehingga mereka dapat membandingkan dan memperluas pandangan mereka terhadap hukum diluar Indonesia.” Pidato pada Dies Natalis USU Ke-44. 286. Hal ini dilakukan agar mahasiswa mendapat gambaran mengenai hukum di luar Indonesia.Arthurs. dimana mahasiswa harus bersifat aktif dengan didampingi dan diarahkan oleh dosen agar lebih terarah. Mempersiapkan keterampilan praktis dapat dilakukan dengan menggunakan metode 17 18 H. maka pembenahan metode pendidikan harus dilakukan secara komprehensif dimulai dari perubahan sistem pengajaran yang selama ini bersifat doktrinal.W. lihat dalam Erman Rajagukguk. Pengajaran dapat dilakukan dengan menggabungkan pemahaman terhadap isi pasal. Pemahaman terhadap doktrin. “A lot of Knowledge is a Dangerous Thing: Will the Legal Profession Survive the knowledge Explosion? dalam Michael Feindel dan Oliver Fuldaner. Arthur yang menyatakan bahwa. Untuk membentuk Fakultas Hukum sebagai profesional school.

Hal ini dengan tepat digambarkan oleh seorang Hakim Agung Amerika yang sangat terkenal. mereka dapat melihat hukum sebagai hukum yang hidup bukan sebagai “black letter rules”. karena metode ini dapat mengevaluasi sebuah hukum melebihi dari isi hukum itu sendiri.18 Metode case law pertama sekali digunakan di Harvard Law School yang kemudian diikuti oleh seluruh Fakultas Hukum di AS. Cit. 170. Farrar dan Anthony M. hal 81. Sehingga para mahasiswa dapat terhindar dari pemikiran yang positivis dan doktrinal. Diharapkan dengan metode ini mahasiswa dapat mempunyai kemampuan untuk menganalisis dan bersikap kritis dalam menghadapi hukum. Op. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 175 . Oliver Wendell Holmes bahwa “The life of the Law has not been logic. Hal ini penting mengingat isi pasal sebuah perundang-undangan hanyalah “sebuah kata-kata dalam bahasa Indonesia”.pengajaran berbasis pembahasan kasus (case law). Kronman. Hukum sebagai sumber pengambil keputusan merupakan hal yang mosaic dimana polanya berkembang dengan perkembangan masyarakat. Mereka menganggap tugas hakim adalah menerapkan sebuah ketentuan atau prinsip hukum terhadap sebuah situasi fakta tertentu dan berbuat yang benar terhadap situasi tersebut. 1984. Weeramantry dalam tulisannya “Legal Education for the Age of technology: A Plea for an Interdisciplinary Perspec19 20 Antony T. Sehingga para mahasiswa dapat memahami “law behind law” dan dapat memahami hukum yang mendasari isi sebuah putusan bukan hanya memahami isi putusan saja.G. hal. Hakim-hakim di Inggris menganggap bahwa fungsi seorang hakim bukanlah menghasilkan sebuah sistem hukum atau sebuah perkerjaan institusional yang menggunakan simetri logika.19 Metode ini merupakan hasil dari judicial reasoning dalam menentukan sebuah kasus dalam sebuah situasi fakta tertentu.Cit. Seperti yang dikatakan oleh C. Dugdale. John H. untuk dapat “menghidupkannya” maka perlu dikaitkan dengan fakta-fakta yang timbul dari berbagai kasus yang terjadi di masyarakat. it has been experience” (kelangsungan hidup dari hukum bukanlah melalui logika tetapi melalui pengalaman). Op.20 Oleh sebab itu metode case law ini sangat relevan untuk diajarkan kepada para mahasiswa.

(Vol. Michigan Journal of International Law. hal. Lihat juga. 176 Bunga Rampai . hal. Tidak kalah pentingnya. Hal ini dapat memperluas pengetahuan hukum mahasiswa mengenai hukum di negara lain dengan 21 22 23 24 C. Hikmahanto Juwana. Cit. Educating Lawyers for the Global Economy. tim pengajar di Fakultas Hukum sekarang ini perlu pula menekankan proses belajar mengajar dengan metode legal reasoning yang didasarkan pada penelitian. O. tetapi juga dilakukan melalui kuliah bersama dengan para mahasiswa di negara lain. “Empirical Legal Scholarship: Reestablishing a Dialoque Between the Academy and Profession. hal. Erman Rajagukguk. “Legal Education for the Age of technology: A Plea for an Interdisciplinary Perspective” Legal Change. 1995).” Wake Forest Law Review. 1983. perlu mengetahui berbagai peraturan hukum negara lain dan bagaimana ia berjalan dalam perbedaan sistem hukum. Lihat. maka putusannya akan dengan cepat tidak relevan dengan zaman yang didominasi oleh sains dan tekhnologi”. tetapi juga dalam ruanganruangan kelas dalam perkuliahan di Fakultas Hukum. hal. hal 158. 30. mengingat SDM penegak hukum masa kini dalam era globalisasi. “Hukum Internasional Dalam Konflik Kepentingan Ekonomi Negara Berkembang dan Negara Maju. Erman Rajagukguk. 25. 22. Pesatnya pertumbuhan teknologi. Weeramantry. (Vol. Merhige Jr.21 Oleh karena itu metode ini sangat penting untuk dapat membuat hukum “hidup” tidak hanya di pengadilan seperti yang selama ini terlihat. Cit. baik karena kebutuhan praktik maupun kesamaan model institusi-institusi hukum dan peraturan-peraturannya. telah memungkinkan kita untuk melakukan kuliah bersama jarak jauh melalui teleconference dengan mahasiswa di negara lain. Haley. Robert R. 10 Nopember 2001.1995).”22 yang nantinya mengalihkan keahlian hukum dalam kenyataan itu kepada mahasiswa. Spring 1996). Lihat.” Pidato Upacara Pengukuhan Sebagai Guru Besar Pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. budaya dan tradisi. Op. 17. Craig Allen Nard.” Wake Forest Law Review. hal. “Legal Education: Observation and Perception From the Bench. “selama pengadilan kita dipenuhi dengan hakim dan pengacara yang dilatih untuk melihat hukum sebagai “black letter rule”.tive”. hal. 275. Op. Depok. 30.24 Perbandingan hukum tidak hanya dapat dilakukan dengan melakukan studi kepustakaan mengenai hukum di negara lain. 746. (Vol.G. Tepat pula di sini diusulkan agar staf pengajar melakukan “empirical research. Bandingkan. Sidney: Butterworth.23 Penting pula memperkuat muatan pengajaran perbandingan hukum dalam perkuliahan. 24. 347-368.

26 Oleh karena itu kurikulum pendidikan di Fakultas Hukum harus dirancang untuk dapat mempersiapkan mahasiswa dengan bekal yang cukup untuk tampil di masyarakat sesuai dengan tuntutan masa kini. hal. “Lecture on Legal Education . oral and written comunicattion. setidaknya ada 10 keahlian generik 25 26 27 Selain itu yang tidak kalah penting adalah penguasaan bahasa inggris oleh para dosen dan mahasiswa/i. factual investigation. 2 (1995). Hal ini sangat penting karena banyak sekali isu-isu baru tentang hukum di tulis dalam jurnal yang berbahasa inggris. Dalam kaitannya dengan pendekatan disiplin ilmu ekonomi misalnya. Menurut Mc.” Pidato Pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Wake Forest School of Law. legal analysis and reasoning. Robert Mac reate. Namun demikian bukanlah tidak mungkin untuk mengumandangkan irama yang satu dengan menggunakan alat musik yang lain. Fasilitas dan peralatan untuk teleconference ini sendiri sudah tersedia di Universitas Sumatera Utara. hal. dalam tulisannya “Lecture on Legal Education. counseling. dan recognizing and resolving ethical dillemas. understanding of the procedures of litigation and alternative dispute resolution. Kesepuluh keahlian tersebut adalah problem solving. tanggal 24 April 1991. legal research. Dalam menyusun kurikulum penting kiranya kita memperhatikan apa yang diungkapkan oleh Robert Mac Create.berdikusi langsung mengenai teori maupun praktik hukum dengan mahasiswa atau para pengajar di negara tersebut.” Wake Forest Law Review. Charles Himawan. 262-263. 6.Create untuk menghasilkan SDM penegak hukum yang kompeten. Kemampuan untuk mengikuti perkembangan dalam hukum di dunia internasional akan memberikan pemahaman tentang hukum lebih komprehensif. negotiation. Hal ini ditandai sudah sejak lama pendidikan ilmu hukum mengumandangkan irama yang berbeda dengan pendidikan ilmu ekonomi.25 Selain itu kita juga harus menyadari bahwa bidang hukum yang semakin hari semakin luas sehingga tidak dapat dihindarkan perlunya pendekatan dengan disiplin ilmu lain. organizing ang managing legal work. Jakarta. “Pendekatan Ekonomi Terhadap Hukum Sebagai Sarana Pengembalian Wibawa Hukum. Perbedaan irama ini serupa dengan perbedaan antara gamelan Bali yang mengumandangkan tari Baris dan New York Philharmonic Orchestra yang. terasa dalam pendidikan ilmu hukum belum menjadi kebutuhan. Vol. terutama dalam ketatnya persaingan di dunia global dan tingginya aktivitas perdagangan internasional. 30 No. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 177 . mengumandangkan Symphony Nomor 5 karya Betthoven. dimana nantinya lahir SDM penegak hukum yang kompeten dan profesional. Wake Forest School of Law”.

Mata kuliah ini mengajarkan tidak hanya tentang hukum tetapi juga dasar-dasar sains seperti fisika. Untuk mengatasi kesulitan dalam mengajarkan mata kuliah ini. Inilah sebabnya mengapa Law School di luar negeri menyebut perpustakaan sebagai “jantungnya” sebuah institusi pendidikan.G. Fakultas dapat juga mengadakan sebuah program khusus dimana kita mengundang pakar-pakar dari fakultas lain untuk bersama-sama melakukan sebuah research atau program tertentu yang mengaitkan hukum dengan bidang tersebut. Fakultas Hukum idealnya ha- 28 29 Lihat C. Hal ini dapat dilakukan dengan menambah mata kuliah ini yang menggabungkan kedua disiplin ilmu di Fakultas hukum. 27 Oleh karena itu kurikulum pendidikan hukum harus benar-benar disusun untuk mendukung hal ini. Misalnya dalam bidang teknologi kita dapat menambahkan mata kuliah wajib pengenalan dalam bidang sains dan society.”29 Oleh karena itu. Kemudian menambahkan mata kuliah khusus yang membahas kaitan antara sains dan hukum. termasuk hubungan yang baru di bidang ekonomi. Metode self learning tidak dapat berjalan dengan baik apabila tidak didukung oleh fasilitas perpustakaan yang memadai. Apalagi dari sekarang kita sedang melakukan pembangunan ekonomi. Op. biologi. SDM penegak hukum yang lulus dari Fakultas-Fakultas Hukum sekarang ini menghadapi dunia baru.Cit.Cit.28 Hal lain yang tidak kalah penting adalah perpustakaan. fakultas dapat mengundang dosen-dosen tamu dari bidang disiplin ilmu yang berbeda. yang menjadikan kebutuhan untuk adanya spesialisasi di bidang hukum tidak dapat dielakkan. hal 274 178 Bunga Rampai . Perpustakaan merupakan sentral dari aktivitas di sebuah institusi pendidikan di luar kelas. Farrar dan Anthony M. hal 163-165 John H.yang harus dimiliki. “a good lawyer is one who knows where to look for the law. Wereemantry. dan lain sebagainya. bidang teknologi yang saat ini sedang mengalami perkembangannya juga harus diperhatikan dalam menyusun kurikulum. Ada sebuah pepatah yang menggambarkan pentingnya perpustakaan di luar negeri yaitu. termasuk bidang hukum ekonomi. Dugdale. Op. Selain bidang ekonomi.

Perlu diingat bahwa walaupun buku tersebut bukan edisi terbaru. juga dapat meminta bantuan kepada para institusi pendidikan di luar negeri untuk memberikan sumbangan berupa buku-buku ataupun jurnal-jurnal ilmiah baik yang baru maupun yang tidak lagi mereka butuhkan. Dosen tamu yang didampingi oleh dosen tetap dapat membantu para mahasiswa untuk dapat lebih memahami hal-hal yang bersifat praktis di lapangan dan sekaligus berfungsi sebagai “alih pengetahuan. Selain itu perlu juga diadakan sebuah trainer for trainee untuk para dosen secara rutin dan berkala. Perlu diketahui bahwa tiap tahun banyak Fakultas Hukum di luar negeri mengalami over stock karena masuknya edisi-edisi baru dari koleksi buku yang mereka punyai. Peningkatan tersebut bukan hanya akan membantu para dosen untuk meningkatkan pengetahuannya. Selain efektif untuk meningkatkan kualitas pengajar hal ini juga relatif tidak membutuhkan banyak dana. Untuk mencapai pada tingkat pendidikan hukum yang ideal seperti yang digambarkan di atas tentu tidak mudah pula. sangat ditentukan oleh kualitas dosen. namun dari segi substansi isinya masih sangat relevan. mengingat hukum bukanlah ilmu pasti yang Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 179 .” Sedangkan untuk meningkatkan fasilitas perpustakaan. peningkatan kualitas dosen baru dapat tercapai apabila kesejahteraannya dapat terjamin. tetapi juga penting untuk keberlangsungan suatu institusi pedidikan. terutama dalam pengajaran hal-hal yang bersifat praktik. Inilah yang biasanya mereka sumbangkan kepada Fakultas-Fakultas hukum di negara lain. fakultas dapat mengundang para praktisi sebagai dosen tamu di dalam perkuliahan. fakultas selain harus menyediakan dana khusus untuk ini.rus mempunyai sebuah perpustakaan sendiri untuk membantu para mahasiswa dan pengajar untuk lebih memahami hukum. Sedangkan untuk mengatasi ketimpangan para tenaga pengajar. misalnya melalui kursus atau pembelian buku-buku baru. karena Fakultas Hukum dapat meminta bantuan para alumninya yang telah menjadi praktisi di lapangan untuk menjadi trainer secara sukarela. Adanya pelatihan ini akan memberikan kemampuan praktik langsung dari para praktisi di lapangan kepada para dosen yang belum mempunyai kemampuan tersebut. Sementara itu.

Di sinilah diperlukan jaringan atau koneksi dengan Fakultas Hukum di luar negeri. Semoga. Sehingga harapan-harapan dalam reformasi pendidikan hukum untuk melahirkan SDM penegak hukum yang kompeten dan profesional di masa datang ini dapat terwujud. Jaringan dapat dibangun langsung oleh universitas maupun secara individu melalui para dosen-dosen yang sedang melanjutkan pendidikannya di luar negeri.apabila berubah teori-teori yang lama tidak lagi dapat digunakan. Penutup Momentum untuk merealisasikan gagasan-gagasan yang telah dikemukakan di muka dapat dibuat sebagai pemikiran reformasi sistem pendidikan dan metode pengajaran. 180 Bunga Rampai .

Charles. 58.reate. Haley. “Hukum Internasional Dalam Konflik Kepentingan Ekonomi Negara Berkembang dan Negara Maju. Paul G..1995) Merryman. Antony T. (Vol. 30 No. Introduction to Legal Method. “Pendekatan Ekonomi Terhadap Hukum Sebagai Sarana Pengembalian Wibawa Hukum. London: Sweet & Maxwell. 2001) Mc.” ABA Journal. Himawan.. New Jersey: Prentice-Hall. dan M. 1993. Michigan Journal of International Law. London: Yale University Press. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 181 . (Vol. Hagger. Michael. Cambridge: Harvard University Press. Black. The Civil Law Tradition: An Introduction to the Legal System of Western Europe and Latin America. Spring 1996). The Nature of The Judicial Process. Cardozo. 17. John Henry. dan Anthony M. Juwana. tanggal 24 April 1991. XXX.Daftar Pustaka Bailey. Dunfee W. Journal of Legal Studies.Gunn. 1996. California: Stanford University Press.all .” Wake Forest Law Review. Educating Lawyers for the Global Economy. S. 10 Nopember 2001. John H. Hikmahanto. Robert R. Benjamin N. (Vol. 1999. Paul. ST.. Jakarta. “The Common Law and Economic Growth: Hayek Might Be right”.H. “Lecture on Legal Education . Merhige Jr. London: Sweet & Maxwell. (Vol. Minn: West Publishing Co. 1990. Farrar. Depok. 1984. “Legal Education: Observation and Perception From the Bench. Inc. L.( Vol. Mahoney. 1962.” Pidato Pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. 1972).J. et.. 30. Black’s Law Dictionary. Business and Its Legal Environment.” Pidato Upacara Pengukuhan Sebagai Guru Besar Pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. “The role of Lawyer of development country.” Wake Forest Law Review. 1995). Robert. Kronman. 2 . The Lost Lawyer Failing Ideals of the Legal Profession. Smith & Bailey on The Modern English Legal System. Dugdale. Henry Campbell.. University of Chicago. O. Wake Forest School of Law.

- - 1969. “Legal Ontology and Legal Reasoning”. Legal Change.” Wake Forest Law Review. dalam A.. 30. Perelman. 1995).(Vol. 182 Bunga Rampai . Craig Allen. Legal Change Essay in Honor of Julius Stone. 20 Nopember 2001.R. Erman. “Empirical Legal Scholarship: Reestablishing a Dialoque Between the Academy and Profession. Medan. Nard. “Globalisasi Hukum dan Kemajuan Teknologi: Implikasinya Bagi Pendidikan Hukum dan Pembangunan Hukum Indonesia.” Pidato pada Dies Natalis USU Ke-44. Rajagukguk. Weeramantry. Blackshield. 1983. “Legal Education for the Age of technology: A Plea for an Interdisciplinary Perspective”. Sidney: Butterworth. ed.G. Sidney: Butterworth. Chaim. 1983. C.

Bagian Kedua Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 183 .

184 Bunga Rampai .

hubungan lembaga negara dengan warga negara. dan historis perumusan juridis perlu dipahami secara mendalam dan seksama sehingga dapat dipahami dan dimengerti dengan sebaik-baiknya ketentuan yang terdapat dalam pasal-pasal UUD. suasana kebathinan yang menjadi latar belakang filosofis. Dengan demikian. politis.Komisi Yudisial Yang Dicita-citakan Oleh Masyarakat dan Pencari Keadilan Dr. UUD tidak dapat dipahami hanya melalui teksnya saja. sejarah mencatat bahwa dalam implementasinya banyak ditemukan kelemahan-kelemahan yang mengakibatkan munculnya ide untuk melakukan perubahan terhadap ketentuan UUD 1945 guna menutupi kelemahan tersebut. UUD dapat diubah. tetapi harus memahami konteks dan suasana kebathinan yang mempengaruhi perumusannya. Dalam penyusunan suatu UUD. yang berisi kesepakatan pokok tentang negara. mengatur mengenai organisasi negara. H. MA. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 185 .M. nilai-nilai dan norma dasar yang hidup dalam masyarakat dan dalam praktek penyelenggaraan negara turut mempengaruhi perumusan suatu norma ke dalam naskah UUD. Hidayat Nur Wahid. baik dari sudut pandang filosofis. Namun demikian. Undang-Undang Dasar (UUD) adalah dokumen hukum dan politik (political and legal document) resmi suatu negara. Penetapan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) sejak tahun 1945 telah memungkinkan penyelenggaraan negara yang sejauh mungkin mengedepankan kemakmuran masyarakat. sosiologis. dan perlindungan terhadap hak asasi manusia. kekuasaan lembaga negara. sosiologis. politis. hubungan antar lembaga. maupun yuridis. Secara teoritis.

Paham negara hukum sebagaimana tercantum dalam 186 Bunga Rampai . hal ini ditempuh MPR setelah mempertimbangkan secara seksama berbagai aliran paham dan pemikiran masyarakat tersebut. bermasyarakat. kita melihat bekerjanya tiga prinsip dasar. yaitu supremasi hukum (supremacy of law). dan perilaku alat negara dan penduduk (warga negara dan orang asing) harus berdasarkan dan sesuai dengan hukum. baik dalam penyelenggaraan negara maupun kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. baik yang dilakukan oleh alat negara maupun oleh penduduk. dalam setiap negara yang menganut paham negara hukum. Secara umum.Seiring dengan bergulirnya reformasi. Perubahan UUD 1945 tersebut dilakukan MPR untuk jangka waktu yang panjang guna menyempurnakan ketentuan fundamental ketatanegaraan Indonesia sebagai pedoman utama dalam mengisi tuntutan reformasi dan memandu arah perjalanan bangsa dan negara pada masa yang akan datang. Konsekuensi ketentuan itu adalah bahwa setiap sikap. yang diputuskan pada Sidang Umum MPR tahun 1999 sampai dengan Sidang Tahunan MPR tahun 2002. Ketentuan itu sekaligus dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kesewenangwenangan dan arogansi kekuasaan. kesetaraan di hadapan hukum (equality before the law). dan penegakan hukum dengan cara yang tidak bertentangan dengan hukum (due process of law). MPR hasil Pemilu 1999 telah melakukan suatu rangkaian perubahan UUD 1945 dalam empat tahapan yang berkesinambungan. Salah satu perubahan penting setelah dilakukannya perubahan terhadap UUD 1945 adalah masuknya ketentuan pasal 1 ayat (3) tentang penegasan negara Indonesia adalah negara hukum dan dimuatnya rumusan tentang Hak Asasi Manusia (HAM) pada Bab XA. Dengan pertimbangan dan proses pembahasan tersebut. dan bernegara. Perubahan tersebut dilakukan karena MPR-lah berdasarkan UUD 1945 berwenang untuk melakukan perubahan. Masuknya rumusan Negara Indonesia adalah negara hukum mempertegas paham bahwa Indonesia adalah negara hukum. MPR memandang bahwa UUD 1945 sudah cukup untuk mengatur pelaksanaan kehidupan berbangsa. Apabila hasil perubahan yang dilakukan MPR terwujud dalam bentuk seperti saat ini. kebijakan.

Institusi negara dibentuk dengan maksud untuk Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 187 . adanya jaminan-jaminan hak asasi manusia. dan seimbang. masyarakat. Untuk pencapaian tersebut diperlukan adanya suatu kesadaran kolektif rakyat yang tercermin dalam upaya pembentukan masyarakat madani. Pelaksanaan paham negara hukum materiil akan mendukung dan mempercepat terwujudnya negara kesejahteraan di Indonesia. dianutnya prinsip pemisahan dan pembatasan kekuasaan menurut sistem konstitusional yang diatur dalam UUD. dan penyelenggara negara dalam hubungan yang fungsional. Dalam UUD 1945 dikatakan bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum. hukumlah yang memegang komando tertinggi dalam penyelenggaraan negara. Dalam masyarakat madani. Untuk menjamin peradaban bangsa di masa yang akan datang perlu dikembangkan keberdayaan dalam hubungan antara negara. di dalamnya terkandung pengertian pengakuan terhadap prinsip supremasi hukum dan konstitusi. serta menjamin keadilan bagi setiap orang. Dalam paham negara hukum. Institusi negara dibentuk tidak dengan maksud untuk mengambil alih fungsi-fungsi yang secara alamiah dapat dikerjakan sendiri secara lebih efektif dan efisien oleh institusi masyarakat. oleh karenanya prinsip negara hukum tidak boleh ditegakkan dengan mengabaikan prinsip-prinsip demokrasi yang diatur dalam UUD. sinergis. Dalam paham negara hukum.ketentuan Pasal 1 ayat (3) terkait erat dengan negara kesejahteraan (welfare state) atau paham negara hukum materiil sesuai dengan bunyi alinea keempat Pembukaan dan ketentuan Pasal 34 UUD 1945. rakyat diberi kebebasan untuk berkiprah sesuai dengan peradaban yang sesuai dengan nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. adanya prinsip peradilan yang bebas dan tidak memihak yang menjamin persamaan setiap warga negara dalam hukum. Dalam UUD 1945 terdapat cakupan dasar-dasar normatif yang berfungsi sebagai sarana pengendali terhadap seluruh penyelenggaraan negara menuju arah dan perwujudan cita-cita kolektif bangsa sesuai dengan nilai yang terkandung dalam Pembukaan. hukum ditegakkan menurut prinsip-prinsip demokrasi karena kedaulatan hukum pada pokoknya berasal dari kedaulatan rakyat.

sejahtera lahir dan bathin. Negara diatur oleh konstitusi dan undang-undang. Hal tersebut disebabkan karena masalah supremasi hukum adalah bukti nyata proses penegakan hukum suatu bangsa. Sejak keberhasilan gerakan reformasi melanda bangsa Indonesia. Hukum sebagai aturan. Penegasan Indonesia sebagai negara hukum semula tercantum pada Penjelasan UUD 1945. Sudah sepatutnya kita semua. mandiri. tanpa terkecuali. Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan. maka hal-hal yang bersifat normatif yang terdapat dalam Penjelasan. Jika kita telaah. sebutan supremasi hukum menjadi kata yang paling sering diucapkan dan didengar. Hukum berada di atas segalanya termasuk negara. Istilah ini akan selalu menjadi obyek kajian yang menarik dan tidak ada habis-habisnya. tidak berdasarkan kekuasaan belaka (machtsstaat). kekuasaan yang tidak di- 188 Bunga Rampai . norma. demokratis dan berkeadilan. Tujuannya untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan (abus de pouvoir) dan penggunaan kekuasaan negara secara sewenang-wenang (detournement de pouvoir). sejak Indonesia merdeka tahun 1945 para pendiri bangsa dan rakyat telah sepakat bahwa negara dibentuk berdasarkan hukum (rechtsstaat).makin mendorong tumbuh dan berkembangnya peradaban bangsa Indonesia sesuai dengan cita dan citra masyarakat madani yang maju. ikut melibatkan diri dalam usaha bersama mencari jalan keluar memperbaiki permasalahan secara menyeluruh. individu dan negara berdiri sejajar. Inilah yang dinamakan supremasi hukum. Negara Indonesia adalah negara hukum. ia langsung berada dan bekerja di tengah-tengah masyarakat. Karena. Rumusan Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 ini merupakan hasil perubahan ketiga. Mengingat Penjelasan UUD 1945 ditiadakan. melalui kiprah nyata dan berkesinambungan dalam upaya mewujudkan supremasi hukum yang kita inginkan. dimasukkan ke dalam pasal-pasal. dan kaidah akan selalu mempunyai posisi yang khas. Keberagaman cita rasa masyarakat yang terkemas dalam budaya tradisional dan modern akan menyatu dalam suatu dimensi hukum. Keadilan bagi semua orang harus diperoleh agar masyarakat demokratis dapat mencapai kehidupan yang adil dan damai melalui penegakan hukum. Dalam negara hukum.

Karenanya. Setelah diubah. Pasal 24C. Pasal 24 ayat (3) diputus pada Perubahan Keempat (tahun 2002). bebas dari intervensi pihak mana pun. Pasal 24B. Khusus yang menyangkut kekuasaan kehakiman atau peradilan yang merdeka. Sebelum perubahan. Ketentuan ini merupakan perwujudan prinsip Indonesia sebagai negara hukum sebagaimana ditegaskan dalam Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 189 . legalitas dalam arti hukum. Supremasi hukum tidak hanya berlaku bagi yang lemah tetapi bagi seluruh komponen bangsa termasuk negara (pejabat negara).” Dalam penjabaran selanjutnya. and absolute power corrupts absolutely”. Pasal 24A. tidak diubah. Undang-Undang Dasar 1945 telah mengakomodasikannya di dalam Bab tentang Kekuasaan Kehakiman. kekuasaan kehakiman atau peradilan yang merdeka. guna menegakkan hukum dan keadilan. pemberian jasa hukum/penasehat hukum (access to legal counsel). sebagaimana tercermin dari bunyi Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan bahwa. Sebagaimana diungkapkan oleh Lord Acton. dan proses hukum yang adil (due process of law) adalah merupakan prinsip-prinsip negara hukum. “power tends to corrupt. Pasal 24C. Pada Perubahan Ketiga (tahun 2001) diputus Pasal 24 [kecuali ayat (3)]. Bab tentang Kekuasaan Kehakiman terdiri atas dua pasal. persamaan di depan hukum (equality before the law). Bab tentang Kekuasaan Kehakiman menjadi lima pasal sehingga lebih rinci dan lebih lengkap. yaitu bahwa baik pemerintah/negara maupun warga negara dalam bertindak harus berdasar atas dan melalui hukum. dan Pasal 25. sedangkan Pasal 25 tetap. Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 itu dimaksudkan untuk mempertegas bahwa tugas kekuasaan kehakiman dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yakni untuk menyelenggarakan peradilan yang merdeka. Pasal 24B. yaitu Pasal 24 dan Pasal 25. yaitu Pasal 24.batasi oleh hukum implikasinya adalah korup. pada setiap negara hukum akan terlihat ciri-ciri adanya: 1) 2) 3) jaminan perlindungan hak-hak asasi manusia. ”Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Pasal 24A.

Sesuai dengan ketentuan Pasal 24A ayat (1). Hal-hal mengenai badan lain itu diatur dalam undang-undang. Pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar 1945 membutuhkan sebuah mahkamah dalam rangka menjaga prinsip konstitusionalitas hukum. Hal itu sesuai dengan penegasan bahwa Undang-Undang Dasar sebagai puncak dalam tata urutan peraturan perundang-undangan di Indonesia. Wewenang dan hal lain yang terkait dengan MK diatur dalam Pasal 24C. Dalam negara hukum harus dijaga paham konstitusional. Artinya. tidak boleh ada undang-undang dan peraturan perundang-undangan lainnya yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar. ada pula konstitusi negara yang memisahkannya sehingga dibentuk dua badan kekuasaan kehakiman. Dalam praktik tidak ada keseragaman di negara-negara di dunia ini mengenai kewenangan Mahkamah Konstitusi. Ketentuan Pasal 24 ayat (3) menjadi dasar hukum keberadaan berbagai badan lain yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman. yaitu Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. Mahkamah Konstitusi-lah yang bertugas menjaga konstitusionalitas hukum tersebut. Pada Pasal 24 ayat (2) dibentuk satu lembaga peradilan baru yaitu Mahkamah Konstitusi. dan badan peradilan yang berada di bawahnya. Indonesia menganut paham yang 190 Bunga Rampai . Ada konstitusi negara yang menyatukan fungsi Mahkamah Konstitusi ke dalam Mahkamah Agung. 3) wewenang lainnya yang diberikan oleh undang-undang. 2) menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang. Pembentukan Mahkamah Konstitusi adalah sejalan dengan dianutnya paham negara hukum dalam Undang-Undang Dasar 1945. Mahkamah Agung mempunyai wewenang: 1) mengadili pada tingkat kasasi. selain badan kekuasaan kehakiman yang telah ada.Pasal 1 ayat (3). semula disesuaikan dengan sejarah dan kebutuhan setiap negara. antara lain lembaga penyidik dan lembaga penuntut. yaitu Mahkamah Agung. Perubahan ketentuan mengenai Mahkamah Agung dilakukan atas pertimbangan untuk memberikan jaminan konstitusional yang lebih kuat terhadap kewenangan dan kinerja Mahkamah Agung.

Pengaturan dalam undang-undang mengenai badan lain yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman membuPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 191 . Komposisi hakim konstitusi di Mahkamah Konstitusi merupakan perwujudan tiga cabang kekuasaan negara. Hal-hal mengenai badan lain itu diatur dalam undang-undang. Dengan pembentukan Mahkamah Konstitusi tersebut. antara lain Presiden. eksekutif. Ketentuan Pasal 24 ayat (3) menjadi dasar hukum keberadaan berbagai badan lain yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman. Mahkamah Agung. lembaga negara ini juga berwenang memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar 1945. proses dan putusan yang diambil terhadap perkara-perkara yang menjadi wewenangnya dapat dilakukan secara lebih baik karena ditangani oleh badan peradilan yang memang khusus dibentuk untuk menangani perkara yang berkaitan dengan pelaksanaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. antara lain lembaga penyidik dan lembaga penuntut. dan yudikatif. yakni legislatif. DPR. Perbedaan pendapat di dalam Mahkamah Konstitusi sendiri diputuskan melalui mekanisme internal Mahkamah Konstitusi. yakni dari sembilan anggota hakim konstitusi terdiri atas tiga orang yang diajukan oleh DPR. MPR. Lembaga negara yang kewenangannya diberikan langsung oleh Undang-Undang Dasar 1945. Putusan Mahkamah Konstitusi untuk menyelesaikan perbedaan pendapat di tubuh Mahkamah Konstitusi berdasarkan pertimbangan komposisi keanggotaan hakim konstitusi di Mahkamah Konstitusi yang diharapkan dapat menerapkan prinsip saling mengawasi dan saling mengimbangi. Masih berkaitan dengan kewenangan Mahkamah Konstitusi.kedua. Pada sisi lain adanya Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi dalam kekuasaan kehakiman lebih mempertegas bahwa praktik pemerintahan selama ini yang membedakan adanya lembaga tertinggi negara dan tinggi negara sudah ditinggalkan karena setiap lembaga menjalankan tugas sesuai dengan fungsi yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar. dan tiga orang yang diajukan oleh Mahkamah Agung. DPD. tiga orang yang diajukan oleh Presiden. dan BPK.

ka partisipasi rakyat melalui wakil-wakilnya di DPR untuk memperjuangkan agar aspirasi dan kepentingannya diakomodasi dalam pembentukan undang-undang tersebut. Adanya ketentuan pengaturan dalam undang-undang tersebut merupakan salah satu wujud saling mengawasi dan saling mengimbangi antara kekuasaan yudikatif, Mahkamah Agung dan badan peradilan di bawahnya serta Mahkamah Konstitusi dengan kekuasaan legislatif DPR dan dengan kekuasaan eksekutif lembaga penyidik dan lembaga penuntut. Selain itu, ketentuan itu dimaksudkan untuk mewujudkan sistem peradilan terpadu (integrated judiciary system) di Indonesia. Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 juga membentuk lembaga baru yang berada di lingkungan Kekuasaan Kehakiman, yaitu Komisi Yudisial. Pembentukan Komisi Yudisial ini didasari pemikiran bahwa hakim agung yang duduk di Mahkamah Agung dan para hakim merupakan figur yang sangat menentukan dalam perjuangan menegakkan hukum dan keadilan. Apalagi hakim agung duduk pada tingkat peradilan tertinggi (puncak) dalam susunan peradilan di Indonesia sehingga ia menjadi tumpuan harapan bagi pencari keadilan. Sebagai negara hukum, masalah kehormatan dan keluhuran martabat, serta perilaku hakim merupakan hal yang sangat strategis untuk mendukung upaya menegakkan peradilan yang handal dan realisasi paham Indonesia adalah negara hukum. Untuk itu, perubahan Undang-Undang Dasar 1945 memuat ketentuan mengenai pembentukan lembaga di bidang kekuasaan kehakiman bernama Komisi Yudisial yang merupakan lembaga bersifat mandiri. Menurut ketentuan Pasal 24B ayat (1), Komisi Yudisial berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim. Melalui lembaga Komisi Yudisial itu diharapkan dapat diwujudkan lembaga peradilan yang sesuai dengan harapan rakyat sekaligus dapat diwujudkan penegakan hukum dan pencapaian keadilan yang diputus oleh hakim yang terjaga kehormatan dan keluhuran martabat serta perilakunya. Penegakan hukum dan supremasi hukum antara lain dapat dilihat dari kemandirian kekuasaan kehakiman dan dibersihkannya lembaga peradilan dari korupsi, kolusi, dan

192

Bunga Rampai

nepotisme. Sebagai esensi dalam penegakan hukum, kekuasaan kehakiman sebagai salah satu kekuasaan dalam negara memiliki hubungan yang sangat erat dengan cabang kekuasaan lainnya. Kekuasaan kehakiman berfungsi memutus sengketa hukum yang timbul antara anggota masyarakat satu sama lain dan antara anggota masyarakat dengan pemerintah. Wewenang untuk memutus perkara, tujuan akhirnya adalah untuk mewujudkan ketertiban umum di masyarakat melalui putusan yang adil. Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 itu dimaksudkan untuk mempertegas bahwa tugas kekuasaan kehakiman dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yakni untuk menyelenggarakan peradilan yang merdeka, bebas dari intervensi pihak mana pun, guna menegakkan hukum dan keadilan. Perubahan Undang-Undang Dasar telah menjamin adanya kemandirian kekuasaan kehakiman. Dengan kekuasaan kehakiman yang merdeka dan mandiri, lembaga-lembaga negara pemegang kekuasaan tersebut dapat bertindak sesuai dengan koridor hukum yang berlaku sehingga pengalaman buruk implementasi kekuasaan kehakiman sebelum reformasi yang penuh dengan rekayasa penguasa dapat dihilangkan. Keadilan tidak boleh dibedakan atas dasar latar belakang (sosial, ekonomi, politik, ideologi, etnisitas, ras, warna kulit, agama, gender, keyakinan politik, dan apapun). Keadilan harus dapat diraih oleh semua orang (kaya,miskin, sipil,militer, swasta, negeri, rakyat, pemimpin, tua dan muda). Artinya, jika pejabat bersalah dapat dihukum oleh pengadilan dan dituntut ganti rugi. Begitu juga jika masyarakat biasa yang bersalah dapat dituntut dan diproses secara hukum sehingga tercapai tujuan hukum yaitu kepastian hukum dan keadilan. Terkait dengan lembaga peradilan, terdapat dua aspek wewenang pokok mengadili dari kekuasaan kehakiman, yaitu aspek institusional berupa jenis-jenis kelembagaan peradilan yang diserahi kekuasaan kehakiman dan aspek fungsional berupa ragam fungsi yang diserahkan oleh undang-undang kepada badan-badan kekuasaan kehakiman. Melalui reposisi fungsi kedudukan lembaga peradilan dalam undang-undang, saat ini terdapat kemajuan yang menggembirakan dimana seluruh kelembagaan tersebut se-

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

193

cara bersama-sama telah berkomitmen untuk melakukan pembinaan sumber daya manusia aparatur hukum. Wujud dari upaya tersebut, penyelenggaraan peradilan yang bersih dan bebas sudah menjadi pedoman dalam berperkara. Pasal 24A ayat (3) dan Pasal 24B ayat (1) menegaskan bahwa calon hakim agung diusulkan Komisi Yudisial kepada DPR untuk mendapat persetujuan. Keberadaan Komisi Yudisial tidak bisa dipisahkan dari kekuasaan kehakiman. Dari ketentuan ini ditegaskan bahwa jabatan hakim merupakan jabatan kehormatan yang harus dihormati, dijaga, dan ditegakkan kehormatannya oleh suatu lembaga yang juga bersifat mandiri. Dalam hubungannya dengan Mahkamah Agung, tugas Komisi Yudisial hanya dikaitkan dengan fungsi pengusulan pengangkatan Hakim Agung, sedangkan pengusulan pengangkatan hakim lainnya, seperti hakim Mahkamah Konstitusi tidak dikaitkan dengan Komisi Yudisial. Aparatur penegak hukum yang berperan dalam upaya penegakkan hukum penting dikedepankan independensinya dari pengaruh kekuasaan politik Presiden atau pengaruh dari intitusi manapun juga. Independensi dalam melaksanakan tugas pro-yustisia diperlukan karena jabatan pemerintahan sangat dipengaruhi oleh dinamika politik lima tahunan. Komisi Yudisial sebagai lembaga yang berwenang mengusulkan dan mengawasi pengangkatan hakim agung, kedudukannya sangat penting. Kehormatan dan martabat hakim sebagai penentu dalam proses peradilan patut dijaga mengingat putusan hakim adalah mutlak dan mengikat sebagai dasar aparat penegak hukum bertindak. Komisi Yudisial diharapkan dapat membantu mengatasi berbagai bentuk penyalahgunaan wewenang yang terjadi pada lembaga peradilan melalui pencitraan hakim, dengan demikian dapat mendorong terwujudnya peradilan yang bersih dan berwibawa. Upaya pemilihan hakim yang kompeten melalui seleksi calon hakim agung secara ketat disertai dengan pengawasan perilaku hakim agar senantiasa menjunjung tinggi kehormatan, keluhuran martabat, serta perilakunya. Komisi Yudisial sebagai salah satu institusi dalam menjalankan fungsi kehakiman harus dapat menunjukkan kinerja yang profesional dan mengedepankan komitmen untuk mendorong terbangunnya komitmen dan integritas para

194

Bunga Rampai

hakim sehingga para hakim dalam semua tingkat peradilan dapat menjalankan wewenang dan tugasnya secara sungguh-sungguh dengan berdasarkan kebenaran, rasa keadilan, mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku serta bebas dari intervensi kekuasaan dan menjunjung tinggi kode etik. Dengan kewenangan yang dimiliki Komisi Yudisial, diharapkan dapat mewujudkan mekanisme checks and balances dalam lembaga pemegang kekuasaan kehakiman, sehingga akan membantu terwujudnya peradilan Indonesia yang menegakkan supremasi hukum. Upaya mewujudkan peradilan Indonesia yang profesional dan adil perlu dikedepankan mengingat saat ini terdapat kecenderungan berkurangnya kepercayaan masyarakat dan pencari keadilan terhadap badan peradilan yang disebabkan karena proses peradilan yang dilaksanakan kurang transparan dan kurang berfungsinya organ yang bertugas dalam mengawasi perilaku hakim. Dengan kondisi demikian, melalui tugas dan fungsi, diharapkan Komisi Yudisial dapat mempelopori untuk menciptakan kondisi yang dapat membantu mengoptimalkan peran peradilan sehingga dapat mewujudkan lembaga peradilan yang bersih, bermartabat, dan berwibawa serta menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan. Adanya pengawasan melekat pada perilaku hakim dalam menjalankan tugasnya akan memberikan kontrol yang effektif dalam upaya menegakkan keadilan. Komisi Yudisial harus dapat menjalankan tugasnya untuk merekrut dan mengawasi perilaku hakim agar hakim dalam lembaga peradilan benar-benar memiliki integritas, memiliki kemampuan dalam menyelesaikan kasus, serta dapat mengambil putusan yang sesuai dengan peraturan yang berlaku dan mandiri. Dengan fungsinya tersebut, Komisi Yudisial menjadi pengawal dalam mengoreksi semua penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh hakim, Komisi Yudisial dapat menjadi pelopor utama guna menegakkan keluhuran martabat dan perilaku hakim. Dengan adanya pengawasan yang optimal oleh Komisi Yudisial, maka akan membantu pencitraan hakim dalam penyelenggaraan peradilan. Akhirnya saya ingin menegaskan bahwa pencitraan peradilan melalui itikad dan kesungguhan dari penyeleng-

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

195

gara negara dalam mengimplementasikan seluruh peraturan secara konsekuen akan mendukung pelaksanaan seluruh ketentuan UUD 1945. Peran lembaga peradilan yang menjunjung tinggi hukum dan kesetaraan dalam hukum akan membantu memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap proses hukum dalam lembaga peradilan. Pencitraan hakim melalui seleksi yang ketat oleh lembaga yang berwenang serta pengawasan yang intensif oleh institusi diluar pengadilan akan mendukung terwujudnya netralitas putusan hakim dan membentuk pencitraan hakim yang profesional dan berwibawa.

196

Bunga Rampai

Sinkronisasi Sistem Perundang-undangan Lembaga Peradilan Dalam Menciptakan Peradilan yang Lebih Baik
Trimedya Panjaitan, SH*

INDONESIA adalah negara hukum. Salah satu prinsip penting bagi Indonesia sebagai negara hukum adalah kekuasaan kehakiman yang merdeka. Prinsip ini menghendaki kekuasaan kehakiman yang bebas dari campur tangan pihak manapun dan dalam bentuk apapun, sehingga dalam menjalankan tugas dan kewajibannya ada jaminan ketidakberpihakan kekuasaan kehakiman kecuali terhadap hukum dan keadilan. Prinsip kekuasaan kehakiman yang merdeka telah ditegaskan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yakni dalam Perubahan (Amandemen) Ketiga UUD 1945. Dalam Pasal 24 ayat (1) dinyatakan kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Sebelumnya, dalam UUD 1945 praamandemen, prinsip ini diatur dalam Pasal 24 UUD 1945, dan diuraikan lebih lanjut dalam penjelasan Pasal 24 yang berbunyi: “Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan yang merdeka, artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah. Berhubung dengan itu harus diadakan jaminan dalam undang-undang tentang kedudukan para hakim”.1

*
1

Penulis adalah Ketua Komisi III DPR RI, Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Kutipan dari penjelasan UUD 1945 sebelum amandemen ini untuk menunjukkan bahwa sejak awal, yaitu oleh para pendiri bangsa, telah diterima gagasan adanya lembaga yudikatif yang mandiri dan bebas dari pengaruh kekuasaan lain.

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

197

198 Bunga Rampai . Namun pelembagaan berbagai kekuasaan negara di Indonesia jelas menunjukkan adanya keterpengaruhan pada paham Trias Politica. Dengan demikian Mahkamah Konstitusi dimunculkan sebagai lembaga negara dengan tugas melakukan uji materi (judicial review. memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar. menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang.Negara Indonesia berdasarkan UUD 1945 tidak menganut secara penuh paham Trias Politica dan pemisahan kekuasaan. dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh undang-undang (pasal 24A ayat 1). dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. lingkungan peradilan agama. atau secara lebih spesifik melakukan constitutional review) atas undang-undang terhadap UndangUndang Dasar. Mahkamah Konstitusi juga mempunyai tugas khusus lain yaitu memutus pendapat DPR bahwa Presiden/Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat. dan Mahfud MD. lingkungan peradilan tata usaha negara. Mahkamah Agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi. Bunga Rampai Hukum Tata Negara Indonesia. 2006. 1978. dinyatakan secara tegas oleh UUD 1945 sebagai kekuasaan negara yang terpisah dari kekuasaan-kekuasaan negara lainnya. Membangun Politik Hukum. Pada Pasal 24 ayat (2) UUD 1945. Dan khusus untuk kekuasaan kehakiman. dinyatakan bahwa kekuasaan kehakiman itu dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum. memutus pendapat DPR bahwa Presiden telah melanggar hal-hal 2 Lihat Sri Soemantri.2 Kekuasaan kehakiman di Indonesia dilaksanakan oleh Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi dengan kompentensi yang berbeda. Menegakkan Konstitusi. dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum (pasal 24C ayat 1). lingkungan peradilan militer. Sedangkan Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar. memutus pembubaran partai politik.

Komisi Yudisial bukan merupakan pemegang kekuasaan kehakiman. yakni Komisi Yudisial. keluhuran martabat. ditambah dengan kewenangan menguji materi perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Sedangkan Mahkamah Agung mengadili perkara-perkara konvensional (perkara-perkara di lingkungan peradilan umum. Dengan demikian konstitusi telah memberikan landasan hukum yang kuat bagi reformasi di bidang hukum dengan memberikan kewenangan kepada Komisi Yudisial. dan peradilan tata usaha negara). untuk melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim. peradilan militer. Dalam Konstitusi diatur bahwa Komisi Yudisial merupakan lembaga yang bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Konstitusi juga memperkenalkan lembaga baru di dalam rumpun kekuasaan kehakiman. Pada awalnya ide dasar pembentukan Komisi Yudisial dilatarbelakangi kekhawatiran akan timbulnya tirani yudisial pasca pemberlakuan sistem satu atap di Mahkamah Agung dan pemberian kemandirian dan kemerdekaan kepada institusi pemegang kekuasaan kehakiman ini. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 199 . serta perilaku hakim (pasal 24B ayat 1).3 Hasilnya adalah pengaturan Komisi Yudisial dalam Pasal 24B Perubahan Ketiga UUD 1945 yang ditetap- 3 Lihat keterangan para saksi dari mantan Anggota Panitia Ad Hoc (PAH) I Badan Pekerja MPR dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 005/PUU-IV/2006 dalam perkara permohonan uji materi terhadap UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. memutus sengketa kewenangan antar lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar. sebagai supporting elemen dalam kekuasan kehakiman.tertentu yang disebutkan di dalam Undang-Undang Dasar sehingga mereka dapat diproses untuk diberhentikan. namun sebagai lembaga pembantu (state auxiliary organ). peradilan agama. Sehingga para anggota DPR/MPR RI sebagai representasi dari rakyat menilai perlunya dibentuk Komisi Yudisial (judicial committee) sebagai lembaga pengawas eksternal terhadap kekuasaan kehakiman. serta memutus pembubaran partai politik dan memutus sengketa hasil pemilu.

Adapun tentang Mahkamah Agung diatur dalam UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU Nomor 14 Tahun 1985. Mahkamah Agung tidak hanya mengurusi pembinaan para hakim. Administrasi. kemandirian kekuasaan kehakiman dapat tercapai jika organisasi. Dengan konsep satu atap kekuasaan kehakiman.kan dalam Sidang Tahunan MPR Tahun 2001. dan finansial Mahkamah Konstitusi berada di bawah kekuasaan dan kewenangan Mahkamah Konstitusi. Kebijakan atap tunggal atau one roof system diawali dengan pembuatan Ketetapan MPR Nomor X/MPR/1998 tentang Pokok-pokok Reformasi Pembangunan yang menetapkan kekuasaan kehakiman bebas dan terpisah dari kekuasaan eksekutif. yang dilaksanakan sejak 31 Maret Tahun 2004. Sedangkan dalam pasal 13 ayat (2) disebutkan bahwa organisasi. Selanjutnya sistem satu atap diatur dan dijabarkan dalam Undang-undang (UU) Nomor 35 Tahun 1999 tentang Perubahan UU Nomor 14 Tahun 1970. Secara konseptual. administrasi. administrasi. sepenuhnya menjadi tanggung jawab Mahkamah Agung. administrasi. dan keuangan lembaga peradilan ditangani sendiri oleh institusi pemegang kekuasaan kehakiman. administrasi. diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 21 Tahun 2004 tentang Pelaksanaan Pengalihan Urusan Organisasi. Perlu digarisbawahi. dan Finansial Lembaga Peradilan dari Departemen Kehakiman ke Mahkamah Agung. peralihan harus se- 200 Bunga Rampai . tetapi juga menangani organisasi. Dengan kata lain. dan finansial Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya berada di bawah kekuasaan Mahkamah Agung (pasal 13 ayat 1). sistem satu atap kekuasan kehakiman merupakan unsur penting dari kemandirian kekuasaan kehakiman (judicial independence). dan peradilan militer. di tingkat pelaksanaan. Dalam UU Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman ditegaskan bahwa organisasi. Untuk peradilan agama. sebagaimana telah diubah dan dicabut dengan UU Nomor 4 Tahun 2004 tetang Kekuasaan Kehakiman. Untuk lingkungan peradilan umum dan peradilan tata usaha negara. urusan teknis yudisial dan kepegawaian korps hakim di negeri ini sekarang berada di satu tangan. peralihan sudah selesai paling lambat 31 Maret 2004 (pasal 42 ayat 1). dan finansial yang sebelumnya diatur oleh eksekutif (Departemen Kehakiman). Selanjutnya.

Pengadilan agama baru diserahkan oleh Departemen Agama pada 30 Juni 2004. Jabatan panitera dan sekretaris Mahkamah Agung juga dipisahkan. realisasinya terlambat.lesai paling lambat 30 Juni 2004 (pasal 42 ayat 2 dan ayat 3). administratif. dan ketua muda tata usaha negara. Wakil ketua bidang yudisial membawahi ketua muda perdata. Selama ini. Diharapkan. Namun. struktur baru ini bisa memikul beban yang dialihkan dari Departemen Kehakiman ke Mahkamah Agung. serta menangani urusan administratif yang terkait dengan teknis peradilan seperti pembagian perkara. dan diharapkan akan memudahkan pengawasan terhadap para hakim. Dalam undang-undang ini diatur secara rinci mengenai wewenang dan tugas Komisi Yudisial. ketua muda agama. yakni ada dua wakil ketua dari sebelumnya hanya satu. struktur Mahkamah Agung mengalami perubahan. Sinkronisasi UU Pengaturan lebih lanjut tentang Komisi Yudisial terdapat dalam UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Sementara dengan UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. Sedangkan soal administrasi umum termasuk pengawasan. Ketiadaan independensi kekuasaan kehakiman. dan finansial. ketua muda militer. selain karena tekanan rezim yang begitu kuat. Selanjutnya pada sekretariat Mahkamah Agung dibentuk beberapa direktorat jenderal dan kepala badan. dan mutasi hakim. ketua muda pidana. sedangkan pengadilan militer baru diserahkan oleh Panglima TNI pada 1 September 2004. Selama Orde Baru. Putusan MK. kekuasaan negara didominasi oleh kekuasaan eksekutif. hal tersebut menjadi sulit dilakukan karena adanya dualisme kendali. Komisi Yudisial mempunyai tugas mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kePenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 201 . juga berakar pada sistem pengelolaannya. diserahkan kepada wakil ketua nonyudisial yang membawahi ketua muda pembinaan dan ketua muda pengawasan. yakni masih dijalankannya sistem pengelolaan kekuasaan kehakiman oleh pemerintah mengenai bidang-bidang organisasi. Sistem satu atap kekuasaan kehakiman ini sesuai dengan tuntutan reformasi. promosi.

Dalam perkembangannya pelaksanaan pengawasan terhadap hakim oleh Komisi Yudisial yang didasarkan pada UU Nomor 22 Tahun 2004 dipersoalkan oleh para Hakim Agung. kemudian Komisi Yudisial menggagas kocok ulang Hakim Agung. Amar putusan Mahkamah Konstitusi ini sebenarnya telah memutuskan halhal yang tidak diajukan dalam permohonan judicial review. Mahkamah Konstitusi me- 202 Bunga Rampai . Konflik berkembang sedemikian rupa hingga berpuncak pada pengajuan uji materi atau judicial review terhadap UU Nomor 22 Tahun 2004 oleh 31 orang Hakim Agung. sedang Hakim Agung tidak dikecualikan dari objek pengawasan Untuk mengatasi akibat kekosongan hukum yang terlalu lama berkaitan dengan tugas Komisi Yudisial. keluhuran martabat. Awalnya Komisi Yudisial merasa adanya kesulitan untuk meminta keterangan dari Ketua Mahkamah Agung dalam suatu kasus yang menarik perhatian masyarakat. yang diputuskan adalah fungsi atau kewenangan pengawasan terhadap hakim oleh Komisi Yudisial yang sama sekali tidak dimohonkan oleh para pemohon. Para Hakim Agung tersebut meminta agar pasal-pasal dalam UU Nomor 22 Tahun 2004 yang menyangkut kewenangan Komisi Yudisial mengawasi Hakim Agung dan hakim Mahkamah Konstitusi dibatalkan. Dalam putusannya Mahkamah Konstitusi membatalkan fungsi pengawasan Komisi Yudisial karena bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat karena terbukti menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). yakni Hakim Agung dan hakim pada badan peradilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung serta hakim Mahkamah Konstitusi. Ini merupakan buntut dari konflik antara Komisi Yudisial dengan Mahkamah Agung. Permohonan judicial review ini dikabulkan sebagian oleh Mahkamah Konstitusi.hormatan. khususnya yang berkaitan dengan ketentuan mengenai fungsi pengawasan terhadap perilaku hakim. Terhadap permohonan terkait objek pengawasan oleh Komisi Yudisial itu Mahkamah Konstitusi hanya mengecualikan dirinya sendiri dari objek pengawasan. serta perilaku hakim. sebab yang dipermasalahkan oleh pemohon adalah tentang objek pengawasan Komisi Yudisial yaitu para Hakim Agung dan hakim Mahkamah Konstitusi bukan fungsi pengawasannya itu sendiri.

Sebab urusan atau kewenangan pembentukan undang-undang. 28 September 2006. termasuk UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. baik pembentukan undang-undang baru atau undang-undang perubahan/amandemen.4 4 Kompas. Perlu Sinkronisasi Semua UU agar Tak Simpang Siur. adalah wilayah legislatif. Mahkamah Agung telah menugasi sejumlah Hakim Agung dan Ikatan Hakim Indonesia untuk melakukan kajian secara mendalam. serta sinkronisasi terhadap berbagai peraturan perundangan-undangan di bidang kekuasaan kehakiman sudah mengemuka di berbagai kalangan. revisi UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial sebaiknya memang tidak secara sepotong-sepotong tapi dilakukan secara komprehensif dalam satu paket dengan revisi seluruh undang-undang di bidang kekuasaan kehakiman. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 203 . MA: Revisi UU KY agar Dilakukan secara Integral. Mahkamah Konstitusi juga menyarankan kepada DPR dan Presiden untuk melakukan perbaikan-perbaikan yang bersifat integral dengan juga mengadakan perubahan dalam rangka harmonisasi dan sinkronisasi atas UU Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Mahkamah Agung sedang mengkaji hal-hal yang perlu disinkronkan dari delapan undang-undang tentang kekuasaan kehakiman. Menurut Bagir.nyatakan UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial harus segera disempurnakan melalui proses perubahan undang-undang sebagaimana mestinya. UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. Untuk itu. harmonisasi. Menurut Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan. Putusan Mahkamah Konstitusi. dan undang-undang lain yang terkait dengan sistem peradilan terpadu. UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Namun demikian. termasuk dari Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial. dari segi substansi tidak ada masalah dengan saran Mahkamah Konstitusi itu karena sebenarnya wacana atau keinginan melakukan penyempurnaan. yang menyarankan DPR dan Presiden (yang secara bersama-sama memegang kekuasaan membentuk undang-undang) untuk melakukan perubahan terhadap berbagai peraturan perundanganundangan di bidang kekuasaan kehakiman ini sebenarnya tidak lazim.

dan UU tentang Peradilan Tata Usaha Negara. UU Mahkamah Agung. UU Peradilan Agama. antara lain dengan memberikan batasan tentang materi undang-undang yang dapat diajukan permohonan judicial review. Menyikapi putusan Mahkamah Konstitusi di atas. diusulkan tentang perlunya beberapa perbaikan. belum lama direvisi oleh DPR bersama pemerintah. Draf pertama dari ketiga RUU inisiatif DPR itu sudah selesai disusun. UU Peradilan Militer. Terhadap UU Mahkamah Konstitusi. Alasannya karena kita masih menghadapi masalah sinkronisasi hukum baik secara horisontal maupun vertikal.Pendapat atau keinginan yang sama diungkapkan oleh Komisi Yudisial. RUU tentang Perubahan atas UU Komisi Yudisial dan RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Konstitusi sudah masuk dalam Prioritas Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Tahun 2007. Lihat Prioritas Program Legislasi Nasional 2007 sesuai dengan Keputusan DPR RI Nomor: 07A/DPR RI-RI/I/2006-2007.6 Dengan demikian tinggal RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Agung dan RUU tentang Perubahan atas UU Kekuasaan Kehakiman yang belum masuk dalam Prioritas Prolegnas 2007. dan karenanya perlu didorong agar juga masuk dalam kategori prioritas. UU Peradilan Umum. UU Mahkamah Konstitusi. UU Komisi Yudisial. misalnya. secara keseluruhan Komisi Yudisial membahas delapan undang-undang di bidang kekuasaan kehakiman. RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. dan RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. dan kini sedang dalam tahap penyempurnaan setelah menerima masukan dari berbagai pihak terkait seperti Ikatan Hakim Indonesia (Ikahi) dan pakar hukum. 19 September 2006. Badan Legislatif DPR sedang menyiapkan paket Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan atas UU Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana sudah diubah dengan UU Nomor 5 Tahun 2004. yaitu UU Kekuasaan Kehakiman.5 Ketika membuat revisi atas UU Komisi Yudisial. 204 Bunga Rampai . Sementara satu undang-undang lainnya yang masuk rumpun kekuasaan kehakiman. yakni 5 6 Disampaikan Pimpinan Komisi Yudisial dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi III DPR RI. yaitu UU Peradilan Agama.

Ketentuan ini juga diatur dalam pasal 32A draf pertama RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Agung (posisi draft pada 27 Desember 2006). disampaikan oleh Komisi Yudisial kepada pimpinan Mahkamah Agung dan tembusannya disampaikan kepada Presiden dan DPR. Sedangkan RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 31 tahun 1997 tentang Peradilan Militer saat ini sedang dibahas di DPR. sehingga menurut hemat penulis belum prioritas untuk direvisi. b. Dalam draft RUU Komisi Yudisial juga dipertegas bahwa Hakim Agung termasuk objek pengawasan Komisi Yudisial bersama hakim pada semua badan peradilan di bawah Mahkamah Agung (pasal 1 angka 4). atau disisipkan di antara pasal 32 dan 33 UU MahkaPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 205 . RUU KY. pemberhentian sementara.melalui UU Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas UU Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Dengan demikian revisi. Kemudian dalam ayat (3) diatur: Putusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bersifat mengikat. kedudukan Komisi Yudisial diperkuat. keluhuran martabat dan perilaku hakim yang tata caranya diatur dalam pasal 22A dan 22B. pemberhentian. dan RUU MA Dalam draft pertama RUU tentang Perubahan atas UU Komisi Yudisial yang disusun oleh Badan Legislatif DPR (posisi draft pada 27 Desember 2006). Penguatan terhadap kedudukan Komisi Yudisial diatur dalam pasal 22C draft RUU yang menyebutkan bahwa Komisi Yudisial dapat membuat keputusan atas dugaan pelanggaran perilaku hakim dengan memberikan teguran tertulis. harmonisasi. dan sinkronisasi UU Peradilan Militer terhadap berbagai undang-undang di bidang kekuasaan kehakiman lainnya dapat dilakukan melalui pembahasan RUU yang sedang berlangsung di DPR. atau pemberhentian permanen. teguran tertulis. RUU MK. atau c. pemberhentian sementara. keputusan dapat berupa: a. Untuk jelasnya kita lihat bunyi rumusan Pasal 22C ayat (2) draf pertama RUU tentang Perubahan atas UU Komisi Yudisial (selanjutnya disingkat RUU Komisi Yudisial): Dalam hal pelanggaran aturan perilaku hakim dinyatakan terbukti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. Keputusan tersebut merupakan hasil dari pelaksanaan tugas Komisi Yudisial dalam menjaga dan menegakkan kehormatan.

Sementara itu. dalam RUU Komisi Yudisial memang belum diatur tentang mekanisme pelaksanaan putusan Komisi Yudisial tersebut oleh Mahkamah Agung. yang menyatakan bahwa pengawasan atas perilaku Hakim Agung dilakukan oleh Komisi Yudisial. keluhuran martabat serta perilaku hakim agung dan hakim. sebab pengawasan terhadap perilaku hakim merupakan kewenangan Komisi Yudisial. Namun. menurut penulis.mah Agung yang berlaku saat ini. Ketentuan seperti ini. sesuai putusan Mahkamah Konstitusi. Perubahan terpenting adalah menghilangkan ketentuan pasal 32 ayat (2) yang mengatur kewenangan Mahkamah Agung untuk mengawasi tingkah laku dan perbuatan para hakim di semua lingkungan peradilan dalam menjalankan tugasnya. Sedangkan pencantuman pengaturan kewenangan Komisi Yudisial melakukan pengawasan terhadap Hakim Agung dalam draft RUU Mahkamah Agung merupakan upaya sinkronisasi UU Mahkamah Agung terhadap UU Komisi Yudisial dan UU Kekuasaan Kehakiman. Ini merupakan upaya sinkronisasi tentang kewenangan pengawasan terhadap hakim dalam peraturan-peraturan perundang-undangan di bidang kekuasaan kehakiman. yakni dalam pasal 34 ayat 3 yang berbunyi: Dalam rangka menjaga kehormatan. pengawasan dilakukan oleh Komisi Yudisial yang diatur dalam undang-undang. Sebab sikap Mahkamah Konstitusi 206 Bunga Rampai . Sejalan dengan itu. selain UU Komisi Yudisial. hakim Mahkamah Konstitusi dikecualikan dari pengawasan Komisi Yudisial dan semua ketentuan yang menyangkut hakim Mahkamah Konstitusi dihapus dalam draft RUU Komisi Yudisial. Untuk diketahui. perlu dikaji ulang secara mendalam. penyusun draft RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Agung (selanjutnya disingkat RUU Mahkamah Agung) juga telah mengubah bunyi pasal 32 UU Mahkamah Agung dari semula terdiri dari lima ayat menjadi tiga ayat. UU Kekuasaan Kehakiman juga sudah mencantumkan tentang kedudukan Hakim Agung sebagai objek pengawasan Komisi Yudisial. Oleh karena itu ketentuan mengenai pelaksanaan kewenangan Komisi Yudisial untuk menjatuhkan sanksi kepada hakim ini termasuk yang masih perlu disinkronisasikan dan diatur teknis pelaksanaannya dalam RUU Mahkamah Agung dan RUU Kekuasaan Kehakiman.

dan berwibawa. Larangan seperti ini dilatarbelakangi adanya putusan Mahkamah Konstitusi yang melebihi permohonan.7 Ketentuan penting dalam draf pertama RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disingkat RUU Mahkamah Konstitusi) yang disusun Badan Legislatif DPR (posisi draft pada 27 Desember 2006). terdapat dalam pasal 45A yang mengatur bahwa Mahkamah Konstitusi tidak boleh memutus perkara melebihi daripada yang diminta sebagaimana dalam surat permohonanannya (ultra petita). Pembatalan itu dilakukan Mahka- 7 Tentang kenapa fungsi pengawasan Komisi Yudisial harus dimaksudkan dalam posisi sebagai suppoting element dan bukan check and balances. yakni hanya meliputi undang-undang yang diundangkan setelah perubahan UUD 1945 (pasal 50 ayat 1 RUU Mahkamah Konstitusi). antara lain dalam kasus permohonan uji materi terhadap UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial seperti sudah disinggung di atas. dan memutus permohonan pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar. Sedangkan dalam ayat (2) disebutkan bahwa hakim Mahkamah Konstitusi tidak berwenang melakukan pengujian atas undang-undang yang berkaitan dengan tugas dan wewenang Mahkamah Konstitusi. Pengaturan dalam pasal 50 RUU Mahkamah Konstitusi ini lebih rinci dan tegas dibandingkan pasal 50 dalam UU Mahkamah Konstitusi yang sudah dicabut atau dibatalkan Mahkamah Konstitusi. apakah pengecualian hakim Mahkamah Konstitusi dari objek pengawasan Komisi Yudisial sudah tepat. mengadili. lihat pertimbangan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 005/PUU-IV/2006 dalam perkara permohonan uji materi terhadap UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. bersih.yang mengecualikan dirinya sendiri dari objek pengawasan Komisi Yudisial ini termasuk kontroversial dan mendapatkan kritikan dari berbagai kalangan. dan bukan dalam kerangka hubungan checks and balances. antara lain. Apapun hasil pengkajian itu penting dicatat bahwa pengawasan oleh Komisi Yudisial yang dimaksud di sini adalah sebagai supporting element dalam rangka mendukung kekuasaan kehakiman yang merdeka. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 207 . Pasal substantif lainnya adalah pembatasan kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam memeriksa. Perlu dikaji.

Perlu dikaji tentang perlunya pembedaan antara judicial review dan legislative review. 27 Agustus 2006. telah membatasi Mahkamah Konstitusi untuk menguji undangundang yang diundangkan sebelum amandemen UUD 1945. 208 Bunga Rampai . Termasuk dalam wilayah legislative review adalah review atau penilaian apabila tidak ada kepastian hukum karena adanya undang-undang yang saling bertentangan dengan undang-undang lain. mengadili. Dengan membatalkan Pasal 50 yang menganut asas tidak berlaku surut tersebut juga berarti Mahkamah Konstitusi telah memberikan kewenangan kepada dirinya sendiri untuk untuk menguji seluruh undang-undang yang berlaku di Indonesia. Dihidupkannya kembali pasal 50 dalam draft RUU Mahkamah Konstitusi. Judicial review merupakan wilayah kewenangan Mahkamah Konstitusi. dan memutus suatu perkara di mana ia sendiri terlibat (ikut menjadi pihak) di dalamnya”. sekaligus menutup celah bagi Mahkamah Konstitusi untuk mengatur dirinya sendiri melalui putusan uji materi terhadap undang-undang yang terkait Mahkamah Konstitusi. Namun belum diatur pembatasan dari segi rationne materiae (materi pengujian) yang masuk dalam kewenangan Mahkamah Konstitusi. telah mengatur pembatasan undang-undang yang dapat dilakukan uji materi oleh Mahkamah Konstitusi dari segi rationne temporis (keberlakuan waktu). dalam hal ini Badan Legislatif. Hukum Online. dengan tambahan adanya ayat (2). Dari ketentuan pasal 50 draft RUU Mahkamah Konstitusi tersebut dapat diketahui bahwa DPR. Pasca Putusan MK (1): Selamat Datang Kembali Mafia Peradilan. “Hal ini sesuai asas bahwa seorang hakim tidak dapat berlaku adil dalam memeriksa. sedangkan legislative review masuk dalam wilayah kewenangan legislatif atau pembentuk undang-undang. Pembatalan pasal 50 itu dilakukan Mahkamah Konstitusi sebagai pintu masuk untuk dapat memeriksa uji materi terhadap undang-undang yang diundangkan sebelum perubahan atau amandemen UUD 1945 tersebut.mah Konstitusi saat memeriksa permohonan uji materi UU Nomor 1 Tahun 1987 tentang Kamar Dagang dan Industri. Dalam penjelasan pasal 50 ayat 2 disebutkan.8 Sebab jika 8 Lihat Mahfud MD. tanpa batasan waktu.

pembahasan RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 31 tahun 1997 tentang Peradilan Militer (selanjutnya disingkat RUU Peradilan Militer) saat ini sedang dilakukan oleh DPR bersama pemerintah. dan sinkronisasi terhadap undang-undang yang mengatur lembaga pemegang kekuasaan kehakiman (yakni Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi sebagai principal organ) dan Komisi Yudisial (sebagai auxiliary organ dalam kekuasaan kehakiman). UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM). dan UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang di dalamnya diatur dasar hukum tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. harmonisasi. antara lain. HAM. Dari berbagai undangundang di bidang kekuasaan kehakiman. dan Tipikor Selain revisi.terjadi pertentangan antara satu undang-undang dengan undang-undang lainnya maka perlu dilakukan harmonisasi atau sinkronisasi antara undang-undang yang saling bertentangan itu melalui revisi atau perubahan terhadap undang-undang dimaksud. Sebagaimana telah disinggung di atas. harmonisasi. Semula Departemen Pertahanan menghendaki agar semua tindak pidana yang dilakukan militer diadili di peradilan militer. yang perlu segera dilakukan revisi. dan yang berwenang melakukannya adalah lembaga legislatif. Sikap DPR ini merujuk pada Ketetapan MPR Nomor VII/ MPR/2000 tentang Peran TNI dan Peran Polri dan UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI yang menegaskan bahwa Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 209 . RUU Peradilan Militer. adalah UU Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer. Pembahasan terhadap RUU Peradilan Militer yang merupakan amanat reformasi ini sempat mengalami kebuntuan karena adanya perbedaan pendapat mengenai yurisdiksi peradilan militer yang diatur dalam pasal 9 RUU Peradilan Militer. sedangkan tindak pidana umum yang dilakukan militer masuk jurisdiksi peradilan umum. dan sinkronisasi. Sementara Panitia Khusus (Pansus) DPR untuk RUU Peradilan Militer menghendaki agar jurisdiksi peradilan militer dibatasi pada tindak pidana militer. upaya yang sama juga harus dilakukan terhadap berbagai undang-undang yang mengatur tentang badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung.

Kemudian dalam Pasal 74 undang-undang yang sama disebutkan Pasal 65 ayat 2 bisa berlaku setelah undang-undang yang baru tentang Peradilan Militer diberlakukan. dan tampaknya lebih karena persoalan kultur.TNI selain tunduk pada peradilan militer juga patuh pada peradilan umum. Pasal 65 UU No 34 Tahun 2004 itu adalah substansi yang dipaksakan. dan ditegaskan lagi oleh Menteri Pertahanan dalam Rapat 210 Bunga Rampai . Menurut pemerintah. pemerintah (dalam hal ini Menteri Pertahanan) memberikan jawaban yang mengejutkan. atas argumen tersebut. Merujuk pada argumen masing-masing pihak. Sedangkan Pasal 65 ayat 2 UU Nomor 34 Tahun 2004 menyebutkan. Selanjutnya dinyatakan bahwa Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2000 maupun Pasal 65 jo Pasal 74 UU Nomor 34 Tahun 2004 tidak bisa dijadikan dasar penyusunan RUU Peradilan Militer. Dalam Pasal 3 ayat (4b) Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2000 disebutkan: “Prajurit Tentara Nasional Indonesia tunduk kepada kekuasaan peradilan militer dalam hal pelanggaran hukum militer dan tunduk kepada kekuasaan peradilan umum dalam hal pelanggaran hukum pidana umum”. Sementara resistensi TNI (sebagaimana tergambar dalam sikap Menteri Pertahanan) untuk tunduk pada jurisdiksi peradilan sipil memiliki alasan yang lemah. ”Prajurit tunduk kepada kekuasaan peradilan militer dalam hal pelanggaran hukum pidana militer dan tunduk pada kekuasaan peradilan umum dalam hal pelanggaran hukum pidana umum yang diatur dengan undang-undang”. Akan tetapi. yaitu ketidakrelaan militer untuk tunduk pada peradilan umum dan disidik oleh polisi. Persetujuan itu disampaikan dalam Surat Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono kepada pimpinan DPR tanggal 30 Januari 2007. khususnya semangat menegakkan prinsip demokrasi dan adanya kontrol sipil pada militer. sedangkan apabila melanggar tindak pidana militer akan diadili di peradilan militer. Setelah melalui perdebatan panjang lebih dari satu tahun. DPR memiliki landasan hukum yang lebih kuat karena merujuk pada Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2000 dan UU Nomor 34 Tahun 2004. Hal ini juga sesuai dengan semangat reformasi. pemerintah akhirnya sependapat dengan DPR bahwa militer akan diadili di peradilan umum apabila melakukan tindak pidana umum.

jika revisi tersebut tidak mempertimbangkan UU Pengadilan HAM. kelompok 9 Lihat Republika. Perubahan istilah ’Prajurit’ ke ’Militer’ itu dikhawatirkan mengarah ke institusi. Kata ’Prajurit’ itu berkonotasi pada individu. Sehingga dikhawatirkan bisa terjadi kesulitan untuk mengadili individu prajurit yang melakukan tindak pidana umum itu ke peradilan umum. Jika prajurit melakukan tindak pidana umum maka diadili di peradilan umum. yang perlu diperhatikan adalah bahwa revisi UU Peradilan Militer harus mempertimbangkan UU Nomor 26 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM). 28 Juni 2007 Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 211 . Tapi. terutama terfokus pada UU Nomor 39 Tahun 1947 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana Militer berikut hukum acaranya. antara lain. tercapainya kesepakatan DPR dengan pemerintah tentang jurisdiksi peradilan militer tidak berarti pembahasan RUU Peradilan Militer akan berjalan mulus.9 Selanjutnya. Revisi UU Peradilan Militer perlu mempertimbangkan UU Pengadilan HAM mengingat prajurit TNI merupakan salah satu subjek hukum dari jurisdiksi Pengadilan HAM. Hal ini bisa mengakibatkan munculnya usulan pembentukan pengadilan internasional dalam kasus kejahatan perang atau kemanusiaan. bukan institusinya. Dalam kurun waktu tersebut. Pasalnya. Saat ini ada persoalan baru berkaitan dengan isi Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) tambahan dari pemerintah. Dalam rapat tersebut Pansus DPR dan pemerintah juga mulai menyepakati adanya masa transisi pemberlakuan UU Peradilan Militer selama dua sampai tiga tahun. bukan ke arah individu yang melakukan tindak pidana. 8 Februari 2007. Dalam UU Pengadilan HAM. pemerintah dan DPR secara simultan akan merevisi undangundang terkait. Indonesia dapat dicurigai tidak mau menyesuaikan diri dengan standar internasional. Dalam DIM itu banyak istilah ’Prajurit’ yang kemudian diubah menjadi ’Militer’. Pansus RUU Peradilan Militer Khawatirkan Isi DIM Baru Pemerintah. sedangkan ’Militer’ mengarah pada institusinya. Perubahan istilah ini dianggap mengandung jebakan. diatur bahwa “setiap orang adalah orang perseorangan.Pansus RUU Peradilan Militer.

ketentuan pasal 43 UU Pengadilan HAM yang mengatur tentang rekomendasi DPR untuk pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. komisi yang membidangi hukum dan menjadi pasangan kerja Jaksa Agung RI dan Komnas HAM. maupun polisi yang bertanggung jawab secara individual” (pasal 1 ayat 3). Kemudian dalam pasal 49 (masuk dalam Bab X tentang Ketentuan Penutup) dinyatakan bahwa ketentuan mengenai kewenangan Atasan Yang Berhak Menghukum dan Perwira Penyerah Perkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 dan Pasal 123 Undangundang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer dinyatakan tidak berlaku dalam pemeriksaan pelanggaran hak asasi manusia yang berat menurut undang-undang ini.orang. militer. Secara hubungan pasal tidak ada hubungan penyelidikan dan penyidikan dengan pembentukan pengadilan Ad Hoc tersebut sehingga tidak beralasan jika Kejaksaan mengatakan harus 212 Bunga Rampai . Revisi ini khususnya terhadap. yang menyatakan rekomendasi DPR RI adalah untuk pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. mengenai dalam tahap mana dalam proses hukum kasus pelanggaran HAM berat diperlukan rekomendasi DPR sebagai syarat untuk pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. Dalam kasus tersebut Kejaksaan Agung menolak menindaklanjuti hasil penyelidikan Komnas HAM dengan alasan penyidikan tidak bisa dilakukan tanpa didahului pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. namun tidak terbatas pada. antara lain dalam kasus penghilangan orang secara paksa periode 1997-1998. Sementara Komnas HAM berpendapat Jaksa Agung dapat menindaklanjuti hasil penyelidikan Komnas HAM dengan melakukan penyidikan tanpa didahului pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. Selama ini terdapat perbedaan penafsiran antara DPR dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) di satu pihak. Pendapat ini didukung sebagian besar anggota Komisi III DPR. Terhadap UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM sendiri juga perlu dilakukan revisi atau penyempurnaan. Perbedaan pendapat ini telah menyebabkan terjadinya kebuntuan dalam penindaklanjutan proses hukum kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum adanya UU Nomor 26 Tahun 2000. dan Kejaksaan Agung di pihak lain. di mana Pengadilan HAM Ad Hoc dibentuk dengan Keputusan Presiden RI berdasarkan rekomendasi DPR RI. baik sipil.

penyidikan. Kejaksaan Agung di bidang penyidikan dan penuntutan. Keputusan politik DPR baru diperlukan jika hasil penyidikan akan dilanjutkan dengan proses penuntutan di pengadilan dan karena itu harus dibentuk Pengadilan HAM Ad Hoc. Sementara pengaturan tentang pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc diatur dalam pasal 43 yang menyatakan Pengadilan HAM Ad Hoc dibentuk atas usul DPR RI.ada keputusan politik dari DPR lebih dulu untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan. Mahkamah Konstitusi menyatakan Pasal 53 UU Nomor 30 Tahun 2002 bertentangan dengan UUD 1945. Sementara revisi terhadap UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendesak untuk dilakukan karena adanya putusan judicial review Mahkamah Konstitusi yang membatalkan pasal 53 UU Nomor 30 Tahun 2002 yang menjadi dasar hukum Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). dapat kita lihat pasal-pasal yang mengatur tentang penyelidikan. namun tetap memiliki kekuatan hukum mengi- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 213 . melalui amandemen atau revisi terhadap UU Nomor 26 Tahun 2000. pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. khususnya menyangkut pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. dan kewenangan DPR untuk mengusulkan. dan diatur pada pasal 19 dan 20 UU Nomor 26 Tahun 2000. serta pasal 23 dan 24 (penuntutan). Kewenangan penyidikan dan penuntutan ada di tangan Kejaksaan Agung. Terkait argumen Komnas HAM yang didukung DPR di atas. Dari materi pasal-pasal tersebut diketahui kewenangan Komnas HAM ada di bidang penyelidikan. dan pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. mengeluarkan rekomendasi. Terhadap perbedaan penafsiran yang meruncing dan menimbulkan kebuntuan hukum ini tentu perlu dicarikan jalan keluar dengan membuat rumusan undang-undang yang lebih tegas dan jelas. Kewenangan penyelidikan kasus pelanggaran HAM berat berada di Komnas HAM. yakni pada pasal 21 dan 22 (penyidikan). Namun atas argumen tersebut Kejaksaan Agung tetap pada sikapnya yang menolak menindaklanjuti hasil penyelidikan Komnas HAM dalam kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum adanya UU Nomor 26 Tahun 2000 tanpa didahului oleh keluarnya rekomendasi DPR untuk pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc.

perkara korupsi dapat disidangkan di dua pengadilan yang berbeda yaitu Peradilan Umum dan Pengadilan Tipikor. 214 Bunga Rampai . Putusan ini sesuai dengan Pasal 24A UUD 1945 yang ditafsirkan Mahkamah Konstitusi bahwa pembentukan badan peradilan di bawah Mahkamah Agung harus dilakukan dengan undang-undang. kedua. agar tidak menyebabkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid) yang dapat mengacaukan penanganan perkara tipikor. pertama. Pengadilan Tipikor harus dibentuk dengan undang-undang tersendiri. keputusan Mahkamah Konstitusi ini sebenarnya dapat dijadikan momentum untuk menguatkan eksistensi Pengadilan Tipikor melalui dukungan terhadap terbentuknya undang-undang yang khusus mengatur mengenai Pengadilan Tipikor. bukan di dalam UU KPK seperti saat ini. dinyatakan tidak boleh ada dualisme hukum. untuk melakukan penyempurnaan UU KPK dan penataan kelembagaan pengadilan khusus. maka seharusnya hanya ada satu pengadilan. Asas manfaat dimaksud adalah dapat dilihat dari empat alasan yang dikemukakan oleh Mahkamah Konstitusi. Sebab dalam prinsip kepastian hukum. dan. Sementara putusan yang menyatakan Pasal 53 UU KPK tetap mempunyai kekuatan hukum mengikat sampai diadakan perubahan paling lambat tiga tahun terhitung sejak putusan diucapkan. Artinya. Namun. agar tidak memperlemah semangat (disinsentive) pemberantasan korupsi. untuk meniadakan 10 Lihat Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 012-016-019/PUU-IV/2006 tentang permohonan uji materi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. yakni. keempat. putusan Mahkamah Konstitusi tersebut dapat dilihat sebagai putusan yang bertujuan memberikan kepastian hukum.10 Terlepas dari pro dan kontra mengenai putusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan dasar hukum Pengadilan Tipikor. Sementara dalam konteks sidang perkara korupsi yang berlaku pada saat ini. merupakan terobosan yang didasarkan pada aspek manfaat.kat sampai diadakan perubahan paling lambat tiga tahun setelah sejak putusan diucapkan. agar proses peradilan Tipikor tidak terganggu atau tidak macet. Karena itu. ketiga. Untuk meniadakan dualisme yang selama ini terjadi dalam sidang perkara-perkara korupsi.

sehingga eksistensi Pengadilan Tipikor beserta hakim Ad Hocnya harus ditiadakan. Isi draf RUU yang disusun tim yang dibentuk Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) ini memang cenderung membubarkan Pengadilan Tipikor. atau kedua. Tim Perumus Draft RUU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang dipimpin Prof. dinyatakan bahwa: Dalam waktu paling lambat 1 (satu) tahun setelah UU ini diundangkan ditunjuk hakim khusus untuk tindak pidana korupsi pada setiap pengadilan negeri. Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Andi Hamzah menganut pendapat yang pertama. Hal ini tercermin pada pasal 36 draf RUU Tipikor11 yang berbunyi. Menurut Andi Hamzah. Mahkamah Konstitusi tidak secara tegas memerintahkan dibentuknya Pengadilan Khusus 11 Periksa Draft RUU mengenai Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. jika Pengadilan Tipikor masih dikehendaki eksistensinya. dan penyidik pada Komisi Pemberantasan tindak Pidana Korupsi. Kemudian pada pasal yang terletak setelah pasal 36 tapi belum diberi nomor disebutkan bahwa: (1) Hasil penyidikan yang dilakukan oleh penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 diserahkan kepada Jaksa Penuntut Umum. Kemudian dalam pasal berikutnya (juga belum diberi nomor). pada posisi 30 Januari 2007. yakni Pengadilan Tipikor dileburkan ke pengadilan umum. maka harus disertai dengan undang-undang yang khusus mengaturnya. Pasalnya. (2) Perkara tindak pidana korupsi yang diterima oleh Jaksa sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dilimpahkan ke pengadilan negeri setempat untuk diperiksa dan diputus oleh majelis hakim khusus tindak pidana korupsi. Sehingga selanjutnya seluruh perkara korupsi disidangkan oleh hakim karier yang dididik khusus untuk menangani perkara korupsi di pengadilan umum. Jika ditinjau putusan Mahkamah Konstitusi dan apa yang sedang digodok oleh Tim Perumus RUU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Kejaksaan. sebenarnya tidak ada pertentangan antara keduanya.dualisme tersebut ada dua pilihan. ”Penyidikan dalam undang-undang ini dilakukan oleh Kepolisian. keberadaan Pengadilan Tipikor bertentangan dengan konstitusi karena kriteria kekhususan Pengadilan Tipikor menyebabkan terdapat dua pengadilan yang berbeda dalam lingkup yang sama. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 215 .

Dipastikan dalam draf itu terdapat klausul tentang pembentukan Pengadilan Tipikor. banyaknya persyaratan administratif yang harus ditempuh saat pendaftaran perkara di pengadilan. Putusan Mahkamah Konstitusi tidak menghapus keberadaan Pengadilan Khusus Tipikor. Mereka menilai Tim Perumus RUU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi telah keliru memahami putusan Mahkamah Konstitusi. Karena itu Romli dan beberapa akademisi hukum serta sejumlah LSM membuat tim untuk menyusun draf RUU Pemberantasan Korupsi tandingan. kalau dibentuk Pengadilan Khusus. harus dengan payung hukum atau undang-undang tersendiri. lambatnya proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh kepolisian dan kejaksaan. Terhadap kritik dari para pengamat dan akademisi hukum serta kalangan LSM ini tentu pemerintah harus membuka diri. banyaknya pungutan di luar biaya administrasi resmi. draft versi pemerintah yang mengarah pada pembubaran Pengadilan Tipikor ini mendapat kritikan dari berbagai kalangan. Tapi. Harus dilakukan kajian mendalam tentang pilihan yang akan diambil untuk meniadakan dualisme yang selama ini terjadi dalam sidang perkara-perkara korupsi. Pengadilan yang Lebih Baik Pembenahan lembaga peradilan sangat penting karena saat ini pelayanan lembaga peradilan dianggap sebagian besar masyarakat tidak optimal. antara lain dari pakar hukum pidana Romli Atmasasmita dan para aktivis lembaga swadaya masyarakat di bidang gerakan antikorupsi. Lagipula. dan banyaknya perkara kasasi yang menumpuk di Mahkamah Agung. antara lain. Pelayanan yang tidak optimal tersebut.Tipikor. 216 Bunga Rampai . melainkan memerintahkan pembentuk undang-undang untuk segera membuat UU Pengadilan Khusus Tipikor. kalau tidak maka akan kembali ke pengadilan umum. Mahkamah Konstitusi hanya menyatakan. Apapun pilihan yang diambil harus dalam kerangka untuk mengefektifkan pemberantasan tindak pidana korupsi. atau melalui peradilan umum. apakah disatukan melalui pengadilan khusus. Mahkamah Konstitusi memberikan waktu tiga tahun bagi pembentuk undang-undang untuk membuat undang-undang tersendiri itu.

seperti polisi. serta militer. dan memperkuat eksistensi pengadilan Tipikor. Rekomendasi berikutnya adalah memperkuat seleksi Hakim Agung oleh Komisi Yudisial. dan pajak 76 persen. yaitu hasil survei Global Corruption Report 200712 yang diluncurkan oleh Transparency International Indonesia.Masih buruknya wajah lembaga peradilan ini dapat dilihat dari hasil survei terkini. The Global Corruption Report 2007: Corruption in Judicial Systems. imigrasi. polisi 78 persen. mengembalikan kewenangan Komisi Yudisial untuk memperkuat fungsi pengawasan hakim. sekaligus seolah mengkonfirmasikan kebenaran rahasia umum tentang adanya lingkaran penyalahgunaan wewenang di lembaga peradilan yang dikenal dengan istilah mafia peradilan. kebebasan memperoleh akses informasi. Saat itu. Dalam IPK itu. dan proses peradilan yang harus dilakukan secara terbuka. peradilan. bea dan cukai. Peru. Badan Pertanahan Nasional. Temuan itu juga sesuai dengan hasil Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia 2006 yang dirilis Transparency International Indonesia pada Februari 2007. Berdasarkan laporan tersebut. pajak. dan Venezuela. Taiwan. imigrasi 90 persen. Maroko. Menurut hasil survei Global Corruption Report 2007. penetapan gaji yang berdasarkan pengalaman dan kemampuan. empat lebih di antara sepuluh keluarga Indonesia mengaku harus menyuap demi mendapatkan keadilan. BPN 84 persen. http://www. pengadilan dipersepsikan meminta suap hingga 100 persen. masih korup. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 217 . yang menyatakan bahwa tingkat inisiatif lembaga peradilan dalam meminta suap secara langsung mencapai 100 persen dari seluruh interaksi. disusul bea dan cukai 95 persen. Meksiko. Moldova. Yunani. survei menemukan bahwa lembaga vertikal. khususnya 12 Periksa Tranparency International Indonesia.or. Transparency International Indonesia mengeluarkan tujuh rekomendasi yaitu reformasi sistem peradilan yang mencegah campur tangan eksekutif atau legislatif. Hasil survei itu paling tidak merupakan indikasi bahwa praktik suap memang terjadi di lembaga peradilan. Hasil survei ini oleh berbagai kalangan.ti.id/news/11/tahun/2007/bulan/05/ tanggal/25/id/1125/. Kondisi itu menempatkan peradilan Indonesia sejajar dengan Albania.

dan sinkronisasi berbagai perundang-undangan yang terkait dengan kekuasaan kehakiman yang memiliki tujuan 13 Lihat artikel Satjipto Rahardjo berjudul Mafia Pengadilan. Sebab hakim di Indonesia dapat disuap untuk memperlambat atau mempercepat proses hukum di pengadilan. Penerbit Buku Kompas. 218 Bunga Rampai . 2006. sinyalemen. Namun. polisi. dan advokat harus mempunyai komitmen dan visi yang sama tentang bagaimana mengakhiri praktik suap dan atau praktek mafia peradilan lainnya di pengadilan. pendapat. yaitu hampir separuh dari tiga ribu hakim di Indonesia berbuat tidak benar. dan advokat sebagai catur wangsa penegak hukum untuk membersihkan korupsi di dunia peradilan. Polri. Komitmen dari para aparat penegak hukum ini mendukung atau seiring dengan proses revisi. diungkapkan pakar hukum senior Satjipto Rahardjo dengan mengutip temuan mantan Hakim Agung Asikin Kusumah Atmaja dan Adi Andojo. mempengaruhi rekannya sesama hakim. Penulis sendiri berpandangan bahwa hasil survei Transparency International Indonesia harus diterima sebagai otokritik. atau menjatuhkan putusan tertentu. termuat dalam buku Sisi-sisi Lain dari Hukum di Indonesia. menerima atau menolak permintaan banding. Kompas edisi 5 Januari 1995. harmonisasi. praktik korupsi tampaknya masih merupakan kebiasaan yang terus saja terjadi dan kemudian dipotret oleh Transparency International. dianggap mencerminkan gagalnya reformasi peradilan di Indonesia. Kita harus mengakui bahwa secara institusional memang telah terjadi perubahan dalam dunia peradilan. dibutuhkan komitmen bersama dari hakim. jaksa.13 Asikin pernah memaparkan angka yang mengejutkan.pengamat hukum dan aktivis lembaga swadaya masyarakat. Berangkat dari titik itu. Adanya praktek suap di lembaga peradilan ini. Sedangkan Adi Andojo pernah membeberkan secara rinci praktek negatif di Mahkamah Agung. Apalagi temuan. atau persepsi tentang buruknya kondisi peradilan sebenarnya bukan hal baru karena sudah mengemuka sejak lama. Sementara kalangan lain ada yang mempertanyakan akurasi dari metode survei yang dilakukan Transparency International Indonesia. antara lain. jaksa. Karena itu hakim.

peningkatan kualitas moral dan integritas hakim dan aparat penegak hukum lainnya. dan komitmen dari aparat penegak hukum itu sendiri dalam mewujudkan lembaga peradilan yang merdeka. dan berwibawa. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 219 .akhir untuk mewujudkan peradilan yang lebih baik. peningkatan peran masyarakat dan lembaga legislatif dalam bentuk pengawasan dan kontrol yang ketat terhadap perilaku hakim dan aparat penegak hukum lainnya.Artikel ini disusun untuk memenuhi permintaan Komisi Yudisial terkait penerbitan Buku Bunga Rampai Volume Dua. penerapan sistem rekruitmen hakim dan Hakim Agung yang lebih transparan melalui uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test). bersih. khususnya dalam rangka penegakan hukum di Indonesia. Adanya upaya untuk melakukan reformasi di lingkungan lembaga peradilan diharapkan akan dapat memberikan hasil yang positif. Dan. termasuk dalam bidang pemberantasan tindak pidana korupsi. Keberadaan Komisi Yudisial dan beberapa lembaga independen lainnya yang mempunyai fungsi sebagai pengawas terhadap lembaga pengadilan dan lembaga penegak hukum lainnya diharapkan dapat menciptakan lembaga peradilan yang lebih akuntabel dan bersih. penyediaan sarana dan prasarana hukum yang mendukung penyelenggaraan proses peradilan yang adil dan transparan. Catatan: . Sebab untuk mewujudkan sistem peradilan yang transparan dan adil dapat dilakukan melalui pembenahan sistem peradilan untuk mewujudkan sistem peradilan terpadu (integrated criminal justice system). terwujudnya lembaga peradilan yang transparan dan akuntabel dengan didukung oleh aparat penegak hukum yang bersih akan mendorong tercapainya penyelenggaraan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.

220 Bunga Rampai .

menginternalisasi kelembagaan baru di dalam Bab IX (Kekuasaan Kehakiman).H. yaitu mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan.2 Adapun susunan. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 221 . keluhuran martabat serta perilaku hakim. kedudukan. Dalam Amandemen ketiga. Pendahuluan Amandemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) membawa konsekuensi terhadap perubahan sistem ketatanegaraan Republik Indonesia.3 Amanat konstitusi tersebut ditindaklanjuti dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial.DPR dan Perubahan Atas Undang-Undang Komisi Yudisial Oleh : F. Komisi ini oleh konstitusi diberi kewenangan mengusulkan pengangkatan hakim agung dan kewenangan lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. yang salah satunya adalah dalam bidang kekuasaan kehakiman. Pasal 24B ayat (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.X. Soekarno. keluhuran martabat serta perilaku hakim. tepatnya pada Pasal 24B yaitu adanya Komisi Yudisial. dan keanggotaan Komisi Yudisial diatur dengan undang-undang. S. Hakim yang dimaksud disini adalah Hakim Agung dan hakim pada badan peradilan disemua lingkungan 1 2 3 Ketua Badan Legislasi DPR RI RI Pasal 24B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 1 A. Undang-undang ini mengatur tugas dan wewenang Komisi Yudisial.

dan mengajukan calon Hakim Agung ke DPR. Dalam melaksanakan tugas pengawasan tersebut. keluhuran martabat serta perilaku hakim. c) menetapkan calon Hakim Agung. khususnya yang berkaitan dengan ”pengawasan hakim” yang diatur dalam Bab III. Namun dalam perjalanannya Undang-undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial dimohonkan judicial review oleh 31 Hakim Agung yang menganggap hak dan kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya UU No. c) melakukan pemeriksaan terhadap dugaan pelanggaran perilaku hakim. pemberhentian sementara atau pemberhentian. Adapun kewenangan lain yang berkaitan dengan menjaga dan menegakkan kehormatan. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Pasal 20 dan 4 5 Lihat pengertian hakim pada Pasal 1 angka 5 UU No. b) meminta laporan secara berkala kepada badan peradilan berkaitan dengan perilaku hakim. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. menjaga kerahasiaan keterangan yang karena sifatnya merupakan rahasia Komisi Yudisial dan tidak boleh mengurangi kebebasan hakim dalam memeriksa dan memutus perkara. Komisi Yudisial mempunyai tugas: a) melakukan pendaftaran calon Hakim Agung.5 Dalam melaksanakan pengawasan tersebut. Komisi Yudisial mempunyai tugas pengawasan dan pengusulan penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada Pimpinan Mahkamah Agung atau Mahkamah Konstitusi. b) melakukan seleksi terhadap calon Hakim Agung.peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung serta hakim Mahkamah Konstitusi. Komisi Yudisial wajib menaati norma hukum dan ketentuan peraturan perundang-undangan. dapat berupa teguran tertulis. dan e) membuat laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi dan disampaikan kepada Mahkamah Agung dan/ atau Mahkamah Konstitusi serta tindasannya disampaikan kepada Presiden dan DPR. 222 Bunga Rampai .4 Dalam melaksanakan kewenangan mengusulkan pengangkatan Hakim Agung. 22 Tahun 2004. d) memanggil dan meminta keterangan dari hakim yang diduga melanggar kode etik perilaku hakim. Usul penjatuhan sanksi sesuai dengan ketentuan Pasal 23 UU No. Komisi Yudisial dapat: a) menerima laporan masyarakat tentang perilaku hakim.

sebagai pelaksanaan Pasal 24C ayat (6) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 24 ayat (1) sepanjang mengenai kata-kata ”dan/atau Mahkamah Konstitusi”. sehingga tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Berdasarkan permohonan tersebut. Hakim sebagai obyek pengawasan Komisi Yudisial yang menyangkut Hakim Agung. dan Pasal 25 ayat (4) sepanjang mengenai kata-kata ”dan/ atau Mahkamah Konstitusi”. bertentangan dengan Undangundang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pengawasan terhadap pelaksanaan kode etik hakim konstitusi dilakukan oleh Majelis Kehormatan yang tersendiri sesuai dengan ketentuan Pasal 23 Undangundang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Pasal 20. Putusan Mahkamah Konstitusi tersebut selain menandaskan obyek pengawasan Komisi Yudisial. Alasan yang dikemukakan oleh Mahkamah Konstitusi adalah: a. juga berkaitan dengan pengaturan prosedur pengawasan hakim. Pasal 21. Pasal 23 ayat (5). Pasal 22 ayat (1) huruf e. Pasal 23 ayat (2). Mahkamah Konstitusi dengan Putusan Nomor 005/PUU-IV/2006. Pasal 23 ayat (2) dan ayat (3) serta ayat (4). Kekosongan Hukum Jika dilihat lebih lanjut. Pasal 25 ayat (3) sepanjang mengenai kata-kata ”dan/atau Mahkamah Konstitusi”. serta yang berkaitan dengan ”usul penjatuhan sanksi” yang diatur dalam Pasal 21. menyatakan Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata ”Hakim Mahkamah Konstitusi”. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 223 .Pasal 22 ayat (1) huruf e dan ayat (5). Pasal 24 ayat (1) dan Pasal 25 ayat (3) dan ayat (4) dihubungkan dengan Pasal 1 angka 5 undang-undang tersebut. Pasal 22 ayat (5). B. khusus yang menyangkut hakim Mahkamah Konstitusi dinyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. hakim pada badan peradilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung dan Hakim Mahkamah Konstitusi sebagaimana yang dimaksud pada Pasal 1 angka 5 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Pasal 23 ayat (3).

dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 005/PPU-IV/2006. Jakarta.. Pengadilan Agama. 2006. tidak lagi terganggu sebagai akibat dimasukkannya hakim konstitusi sebagai obyek pengawasan Komisi Yudisial. 254. Beliau menyatakan bahwa ”. tidaklah ditemukan dasar-dasar konstitusional yang meyakinkan. Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI. keluhuran martabat dan perilakunya mencakup Hakim Agung.Komisi Yudisial bertugas menjaga (preventif) dan menegakkan (korektif dan represif) kehormatan. keluhuran martabat serta perilaku semua hakim di Indonesia. Pengadilan Tata Usaha Negara. Kedudukan Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga pemutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh undang-undang dasar. Dengan demikian hakim yang harus dijaga dan ditegakkan kehormatannya. Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia. meliputi pengertian hakim agung atau tidak. Persoalan yang berkaitan dengan pertanyaan apakah ”hakim” menurut Pasal 24B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. hlm. bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 6 Jimly Asshiddiqie. secara tegas telah menyatakan keberlakuan Pasal 1 angka 5 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2004 sepanjang mengenai kata-kata ”hakim Mahkamah Konstitusi”. dan Pengadilan Militer serta termasuk Hakim Konstitusi”.b.. Hal ini tidak sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Jimly Asshiddiqie dalam bukunya ”Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia”.6 Berkaitan Hakim Agung sebagai obyek pengawasan Komisi Yudisial. Dapat saja pembentuk undang-undang menentukan bahwa hakim agung termasuk ke dalam pengertian hakim yang perilaku etiknya diawasi oleh Komisi Yudisial secara eksternal. Hakim Pengadilan Umum. Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa hal ini tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 224 Bunga Rampai . Terlepas pro dan kontra terhadap hakim Mahkamah Konstitusi dan Hakim Agung sebagai obyek pengawasan Komisi Yudisial.

menyebabkan semua ketentuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang pengawasan menjadi kabur (obscuur) dan menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid) dalam pelaksanaannya. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial terbukti tidak rinci mengatur mengenai prosedur pengawasan. Na- c. Hal tidak jelas dan tidak rincinya pengaturan mengenai pengawasan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial serta perbedaan dalam rumusan kalimat seperti dimaksud pada butir a di atas. b. Konsepsi pengawasan yang terkandung dalam UndangUndang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial didasarkan atas paradigma konseptual yang tidak tepat. dalam kesimpulan putusannya. sehingga menimbulkan penafsiran yang juga tidak tepat. Untuk hal yang terakhir ini. serta bagaimana proses pengawasan itu dilaksanakan. Mahkamah Konstitusi menyatakan: a. secara struktural kedudukan Komisi Yudisial memang diposisikan sederajat dengan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. apa objek yang diawasi. Adapun yang berkaitan dengan pengaturan prosedur pengawasan hakim.Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. instrumen apa yang digunakan. tidak jelas dan tegas menentukan siapa subjek yang mengawasi. yaitu seolah-olah hubungan antara MA dan KY berada dalam pola hubungan “checks and balances” antarcabang kekuasaan dalam konteks ajaran pemisahan kekuasaan (separation of powers). Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 225 . Perumusan Pasal 13 huruf b juncto Pasal 20 UndangUndang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial mengenai wewenang lain sebagai penjabaran dari Pasal 24B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menggunakan rumusan kalimat yang berbeda sehingga menimbulkan masalah dalam penormaannya dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial yang menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). terutama dalam pelaksanaannya.

Berdasarkan apa yang dinyatakan dalam kesimpulan putusan Mahkamah Konstitusi sebagaimana tersebut di atas. Terhadap fungsi kekuasaan kehakiman. melainkan lembaga penegak norma etik (code of ethics). Jimly Asshiddiqie. bukan dengan lembaga peradilan atau lembaga kekuasaan kehakiman secara institusional. 187-188. khususnya yang berkaitan dengan ketentuan mengenai pengawasan perilaku hakim. C. Lembaga negara yang mempunyai fungsi kehakiman atau menjalankan fungsi peradilan tertinggi adalah Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. 226 Bunga Rampai . hlm. Komisi Yudisial bukanlah lembaga penegak norma hukum (code of law). Komisi Yudisial lebih merupakan lembaga etika daripada lembaga hukum. segala ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial yang menyangkut pengawasan dinyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat karena terbukti menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). melainkan lembaga penegak etika kehakiman (the enforcer of the rule of judicial ethics and good conduct). tetapi secara fungsional peranannya bersifat penunjang (auxiliary) terhadap lembaga kekuasaan kehakiman.7 Komisi Yudisial bukan merupakan lembaga penegak hukum (the enforcer of the rule of law). 2006. Dengan demikian terjadi kekosongan hukum yang berkaitan dengan tugas Komisi Yudisial.mun demikian. Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) sebagai institusi yang mempunyai kewenangan 7 Lihat. Komisi Yudisial meskipun fungsinya terkait dengan kekuasaan kehakiman. tetapi tidak menjalankan fungsi kekuasaan kehakiman. Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi. meskipun secara struktural kedudukannya sederajat dengan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. Lagi pula komisi ini berurusan dengan soal kehormatan. keluhuran martabat dan perilaku hakim. Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI. Jakarta. Inisiasi Legislasi Untuk mengatasi permasalahan tersebut (adanya kekosongan hukum). Komisi Yudisial bersifat penunjang (supporting system) terhadap dan dalam cabang kekuasaan kehakiman.

Kelembagaan ini bersifat mandiri atau independen untuk menjamin efektifitas kerjanya.dan kekuasaan membentuk undang-undang. yaitu para hakim tanpa adanya intervensi dari pimpinan Mahkamah Agung. keluhuran martabat dan perilaku hakim hanya dilakukan secara internal oleh para hakim sendiri. ide pembentukan Komisi Yudisial dalam rangka pengawasan eksternal dimunculkan. Agar perubahan ini dapat terintegrasi dengan baik terhadap undang-undang lain khususnya di lingkungan kekuasaan kehakiman. yang menyatakan : (1) Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang. Lihat ketentuan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945. upaya menjaga dan menegakkan kehormatan.9 Perubahan tersebut diharapkan dapat mendudukkan fungsi. RUU tentang Perubahan UU Komisi Yudisial dan RUU Perubahan UU Mahkamah Konstitusi menjadi prioritas pembahasan Tahun 2007. tugas dan kewenangan Komisi Yudisial dalam menjaga dan menegakkan kehormatan.10 Independen disini dimaknai: a) independensi terhadap subyek yang ia awasi. keluhuran martabat dan perilaku hakim. maka inisiasi perubahan terhadap Undang-undang Komisi Yudisial tersebut diikuti dengan Perubahan Undang-undang Mahkamah Agung (Undang-undang Nomor 14 Tahun 1985 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 2004) dan Undang-undang Mahkamah Konstitusi (Undangundang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi). Pengawasan internal yang dilakukan oleh majelis kehormatan hakim di Mahkamah Agung tersebut dirasakan kurang efektif. b) independen dalam menjalankan tugas yang tidak boleh diintervensi oleh lembaga-lembaga lain yang mempunyai kepentingan 8 9 10 Lihat ketentuan Pasal 20 ayat (1) dan ayat (2) UUD 1945. Kehormatan.8 berinisiasi melakukan pembenahan dan perbaikan terhadap Undangundang Komisi Yudisial dimaksud. Oleh karena itu. (2) Setiap Rancangan Undang-undang dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden untuk mendapatkan persetujuan bersama. Selama ini (sebelum Amandemen III UUD 1945 dan lahirnya UU Komisi Yudisial). Dalam Keputusan DPR RI Nomor 07 A/DPR-RI/I/2006-2007. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 227 . keluhuran martabat dan perilaku hakim menjadi syarat mutlak yang diperlukan dalam sistem demokrasi konstitusional.

Bagi Mahkamah Agung. juga harus dipertahankan. Pilihanpilihan dimaksud merupakan jawaban dari permasalahanpermasalahan yang muncul dan berkembang. tidak seperti sebelumnya dimana diantara sesama hakim justru terjadi hubungan saling membela dan melindungi yang menyebabkan pengawasan tidak efektif. Mengenai independensi dari dan terhadap para hakim dan lembaga Mahkamah Agung. Namun demikian tidak berarti dengan menjadi external auditor Komisi Yudisial menjadi lawan atau musuh para hakim. diharapkan pengawasan menjadi efektif. eksistensi hakim dan lembaga kekuasaan kehakiman terletak antara lain pada independensi dan imparsialitasnya.000 orang dapat dijaga dan ditegakkan sebagaimana mestinya. keluhuran martabat dan perilaku hakim. Mengenai independensi Komisi Yudisial terhadap pihak lain (yang mempunyai kepentingan tertentu). antara lain sebagai berikut: 1. keberadaan Komisi Yudisial justru sangat penting artinya agar kehormatan. ada beberapa pilihan-pilihan atau alternatif konsepsi maupun paradigmatig yang nantinya akan menjadi pilihan politis maupun yuridis.tertentu. Sejalan dengan perkembangan yang ada dan sekaligus sebagai pengayaan materi yang akan menjadi bahan kajian yang selanjutnya akan disarikan dalam norma. Komisi Yudisial adalah mitra bagi Mahkamah Agung dalam menjaga dan menegakkan kehormatan. Komisi Yudisial tidak boleh menjadikan dirinya alat politik bagi lembaga legislatif. Oleh karena itu jangan sampai Komisi Yudisial sebagai lembaga pengawas perilaku hakim dipergunakan atau membiarkan dirinya dipakai oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengganggu kemerdekaan hakim. sangatlah penting karena para hakimlah yang harus diawasi perilakunya oleh Komisi Yudisial. Karena pada prinsipnya. keluhuran martabat dan perilaku para hakim diseluruh Indonesia yang berjumlah lebih dari 6. Dengan dijadikannya Komisi Yudisial sebagai external auditor. Dari pemikiran inilah konstruksi perubahan Undangundang Komisi Yudisial akan dilakukan. Siapakah yang dimaksud dengan “hakim” dalam konstiBunga Rampai 228 . eksekutif ataupun kekuatan partai politik untuk mempengaruhi kinerja kekuasaan kehakiman yang merdeka.

7. keluhuran martabat. Apakah kewenangan melakukan pengawasan terhadap hakim. 8. baik oleh Mahkamah Agung maupun oleh Komisi Yudisial. serta perilaku hakim? Bagaimana pelaksanaan wewenang Komisi Yudisial dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Apakah arti kewenangan Komisi Yudisial dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. 9. Siapa yang melakukan pengawasan terhadap (perilaku anggota) Komisi Yudisial? D. 5. berarti kewenangan untuk menjatuhkan sanksi? 12. Pokok-Pokok Pikiran Perubahan Undang-Undang KY Di bawah ini akan diuraikan pokok-pokok pikiran yang dapat memperkaya pemahaman dalam perubahan Undangundang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. serta perilaku hakim? Siapa yang menetapkan dan menegakkan kode etik dan perilaku hakim? Apa saja ruang lingkup pengawasan terhadap hakim? Bagaimana pelaksanaan pengawasan terhadap hakim yang tidak bertentangan dengan prinsip independensi peradilan? Bagaimana penerapan prinsip akuntabilitas dan transparansi dalam pengawasan terhadap hakim? Apa pengertian dan ruang lingkup “perilaku hakim”? Apakah perilaku tersebut mencakup baik di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan? Apa yang dijadikan pedoman dalam melakukan pengawasan atas perilaku hakim? 3. Apakah pengawasan terhadap perilaku hakim dapat dilakukan dengan cara mengkaji putusan Pengadilan? 11. 6. 4. 10.tusi yang menjadi obyek pengawasan Komisi Yudisial? 2. Bagaimana seharusnya hubungan antara Mahkamah Agung dengan Komisi Yudisial? 13. keluhuran martabat. Namun saya menyadari hal ini Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 229 . yang sedikit banyak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagaimana tersebut di atas.

1 Siapakah yang dimaksud dengan “hakim” dalam konstitusi yang menjadi obyek pengawasan Komisi Yudisial? Sementara ini saya sependapat dengan apa yang diputus oleh Mahkamah Konstitusi bahwa hakim konstitusi tidak termasuk obyek pengawasan Komisi Yudisial. sudah dapat dipahami bahwa ketentuan mengenai Komisi Yudisial pada Pasal 24B UUD 1945 itu memang tidak dimaksudkan untuk mencakup pula objek perilaku hakim konstitusi sebagaimana diatur dalam Pasal 24C UUD 1945. Hal ini didasari pada pemikiran: Jika ditinjau secara sistematis dan dari penafsiran berdasarkan “original intent” perumusan ketentuan UUD 1945. untuk fungsi pengawasan terhadap perilaku Hakim Konstitusi ditentukan adanya lembaga Majelis Kehormatan yang diatur secara tersendiri dalam Pasal 23 UU 230 Bunga Rampai . berdasarkan masukan dan pemikiran dari semua pihak. Dari sistimatika penempatan ketentuan mengenai Komisi Yudisial sesudah pasal yang mengatur tentang Mahkamah Agung yaitu Pasal 24A dan sebelum pasal yang mengatur tentang Mahkamah Konstitusi yaitu Pasal 24C. Dalam UU MK. ketentuan mengenai KY dalam Pasal 24B UUD 1945 memang tidak berkaitan dengan ketentuan mengenai MK yang diatur dalam Pasal 24C UUD 1945. Adapun Hakim Agung dan hakim pada badan peradilan disemua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung merupakan obyek pengawasan Komisi Yudisial.mungkin belum terlalu komprehensif dan tentunya terus akan dilakukannya pengayaan kajian dan pemutakhiran. Hal ini dapat dipastikan dengan bukti risalah-risalah rapat-rapat Panitia Ad Hoc I Badan Pekerja MPR maupun dari keterangan para mantan anggota Panitia Ad Hoc tersebut dalam persidangan bahwa perumusan ketentuan mengenai KY dalam Pasal 24B UUD 1945 memang tidak pernah dimaksudkan untuk mencakup pengertian hakim konstitusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24C UUD 1945. Hal tidak tercakupnya pengertian perilaku hakim konstitusi dalam apa yang dimaksud dengan perilaku hakim menurut Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 tersebut juga terdapat dalam ketentuan UU MK dan UU KK yang dibentuk sebelum pembentukan UU KY.

baik dari segi legal policy pembuat UU maupun dari segi constitutional morality. Hakim Konstitusi hanya diangkat untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan setelah tidak lagi menduduki jabatan Hakim Konstitusi.D. Ph. Dengan menjadikan Hakim Konstitusi sebagai objek pengawasan oleh KY. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 231 . melainkan hakim karena jabatannya. LL. Dengan demikian. berbeda halnya dengan hakim biasa.. Dr. S.H. termasuk dalam konteks hubungan-hubungan konstitusional antarlembaga negara. Berkaitan dengan Hakim Agung. yang bersangkutan masing-masing kembali lagi kepada status profesinya yang semula.MK. adalah untuk memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945.. Selain itu. bahwa Hakim Agung. Demikian pula Pasal 34 ayat (3) UU KK sama sekali tidak menentukan bahwa Hakim Konstitusi menjadi objek pengawasan oleh KY. menurut Prof.H.. ketentuan yang memperluas pengertian perilaku hakim dalam Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 mencakup perilaku Hakim Konstitusi dapat mengebiri kewenangan dan menghalang-halangi pemenuhan tanggungjawab Mahkamah Konstitusi dalam menjaga konstitusionalitas mekanisme hubungan antarlembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945.M. khususnya apabila dalam praktik timbul persengketaan kewenangan antara KY dengan lembaga lain.. dan Denny Indrayana. Oleh karena itu. dibentuknya Mahkamah Konstitusi berdasarkan UUD 1945 adalah dalam rangka menjamin agar UUD 1945 dilaksanakan dengan sebaikbaiknya. Hakim Konstitusi pada dasarnya bukanlah hakim sebagai profesi tetap. Dalam keseluruhan mekanisme pemilihan dan pengangkatan para Hakim Konstitusi yang diatur dalam UUD 1945 juga tidak terdapat keterlibatan peran KY sama sekali.D. Padahal. Mahfud M. maka kewenangan Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga pemutus sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara menjadi terganggu dan terjebak ke dalam anggapan sebagai pihak yang tidak dapat bersikap imparsial. salah satu kewenangan yang diberikan kepada Mahkamah Konstitusi sebagaimana dimaksud oleh Pasal 24C ayat (1) UUD 1945. S.

akan menghasilkan Hakim Agung yang juga mempunyai martabat dan perilaku yang tidak tercela sehingga secara moral memiliki legitimasi untuk tidak diawasi lagi dan bahkan menjadi pengawas hakim di bawahnya. kontekstual. faktanya Hakim Agung sendiri merupakan anggota Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI) dan bahwa hakim agung adalah hakim. Akan menjadi ganjil untuk menafsirkan bahwa Hakim Agung tidak masuk dalam kategori Hakim dan karena posisinya yang berada di puncak hierarki peradilan lalu menjadi tidak tunduk pada pengawasan. dan terutama prinsip konstitusi itu sendiri. Independensi harus berjalan seiring dengan akuntabilitas. Prinsip persamaan di depan hukum (equality before the law) dan non-diskriminasi tidak mendukung pendirian tersebut. adalah sesuatu yang ideal jika hakim agung memiliki integritas dan kualitas yang sedemikian rupa sesuai dengan Pasal 24A ayat (2) UUD 1945. Jika kewenangan KY untuk mengusulkan Hakim Agung yang berkualitas dengan integritas yang tinggi dan perilaku tidak tercela. pengertian umum. seseorang yang pada saat diangkat sebagai Hakim Agung memiliki integritas yang tinggi. Hakim Agung adalah Hakim. teleologis.termasuk pengertian hakim yang menjadi objek pengawasan KY. serta ketentuan yang mengaturnya berbeda. tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak menjadikan Hakim Agung termasuk ke dalam objek pengawasan. Di samping itu. Tambahan pula. tidak cukup beralasan untuk mengecualikan hakim agung. maka penafsiran apakah hal itu bertentangan dengan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 bukanlah hanya dari teks maupun konteksnya secara gramatikal melainkan juga dari konteks sosial yang lebih luas. sesuai dengan prinsip akuntabilitas. dan kategoris dilakukan. demikian pula Hakim Agung tidak selalu berasal dari hakim. tetapi bukan berarti hakim agung terbebas dari pengawasan dalam rangka mendukung terciptanya 232 Bunga Rampai . Bagaimanapun tafsiran secara tekstual. Jika dimaksudkan karena MA sebagai pengawas tertinggi peradilan maupun tingkah laku dan perbuatan hakim. dalam perjalanan karier selanjutnya bisa saja berubah. Oleh karena itu. Dari segi kewenangan pengawasan apakah hakim agung itu diawasi. tidak pernah dipersoalkan. Secara universal hal demikian telah menjadi norma.

Penilaian terhadap putusan hakim yang dimaksudkan sebagai pengawasan di luar mekanisme hukum acara yang tersedia adalah bertentangan dengan prinsip res judicata pro veritate habetur yang berarti apa yang telah diputus oleh hakim harus dianggap sebagai benar (de inhoud van het vonnis geld als waard). atau kegiatan ilmiah lainnya. Berkaitan dengan Kewenangan Komisi Yudisial dapat diinternalisasi pemikiran-pemikiran sebagai berikut: Berdasarkan ketentuan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 dinyatakan bahwa Komisi Yudisial bersifat mandiri.peradilan yang bersih dan berwibawa bagi terwujudnya rule of law. Dalam UU Komisi Yudisial yang di-judicial review kemarin memang penjabaran konsep pengawasan menimPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 233 . khususnya para ahli hukum. Sehingga. 3. ulasan dalam jurnal hukum (law review). keluhuran martabat. walaupun dalam batas-batas tertentu dapat diartikan sebagai pengawasan. bukanlah kewenangan untuk melakukan pengawasan terhadap lembaga peradilan dan teknis justisial. agar hakim memiliki kehormatan. seperti seminar. Kewenangan tersebut. Hakim dimaksud adalah dalam pengertian sebagai individu di luar maupun di dalam kedinasan. apabila suatu putusan hakim dianggap mengandung sesuatu kekeliruan maka pengawasan yang dilakukan dengan cara penilaian atau pun koreksi terhadap hal itu harus melalui upaya hukum (rechtsmidellen) menurut ketentuan hukum acara yang berlaku. melainkan terhadap individu fungsionaris hakim. serta perilaku yang baik. 2. mempunyai kewenangan pokok mengusulkan pengangkatan Hakim Agung. untuk menilai putusan hakim melalui kegiatan ilmiah dalam forum atau media ilmiah. juga memiliki wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. serta perilaku hakim. Norma pengawasan yang berlaku universal di semua sistem hukum yang dikenal di dunia terhadap putusan pengadilan adalah bahwa putusan pengadilan tidak boleh dinilai oleh lembaga lain kecuali melalui proses upaya hukum (rechtsmidellen) sesuai dengan hukum acara. keluhuran martabat. Prinsip sebagaimana diuraikan di atas tidak mengurangi hak warga negara.

dan perilaku hakim. akan menimbulkan kerancuan dan lebih jauh akan menimbulkan ketidakpastian hukum yang dapat berimplikasi lumpuhnya sistem peradilan. baik oleh pihak yang mengawasi maupun yang diawasi. dan yudikatif). terutama yang menyangkut kaidah-kaidah materiilnya. dan perilaku hakim. Berkaitan dengan hubungan antara Komisi Yudisial dan Mahkamah Agung bukan merupakan hubungan dalam konsepsi checks and balances seperti layaknya hubungan antar cabang-cabang kekuasaan negara (eksekutif. keluhuran martabat. 4. dan dengan demikian dapat dihindari adanya kerancuan. Hal ini harus dimaknai sebagai kemandirian kelembagaan dalam mengambil keputusan.. legislatif. sehingga terdapat batasan yang jelas yang dapat dijadikan pegangan yang pasti.” dan dalam Pasal 2 UU Komisi Yudisial diartikan bahwa Komisi Yudisial dalam pelaksanaan wewenangnya bebas dari campur tangan atau pengaruh kekuasaan lain. bukan kemandirian yang Bunga Rampai 5. melainkan hanya meliputi penegakan kehormatan dan keluhuran martabat serta perilaku hakim. Ketiadaan rumusan yang jelas tentang kehormatan. 234 . keluhuran martabat... termasuk kepastian siapa yang membuat kode etik dan perilaku dimaksud. Untuk itu dalam konsep perubahan UU KY seharusnya dijelaskan norma yang mengatur tentang pengertian dan ruang lingkup perilaku hakim. melainkan hanya sebagai supporting organ. Dalam ketentuan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 ditegaskan bahwa “Komisi Yudisial bersifat mandiri.bulkan ketidakpastian karena yang seharusnya menjadi objek dari ”wewenang lain” Komisi Yudisial menurut Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 adalah pelaksanaan kode etik dan kode perilaku hakim dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. keluhuran martabat. Untuk itu dalam Perubahan UU Komisi Yudisial akan dirumuskan ukuran untuk menilai kehormatan. yang secara tegas tidak berwenang melakukan pengawasan yang menyangkut hal-hal yang bersifat teknis yustisial dan teknis administratif. dan terutama perilaku hakim. Karena Komisi Yudisial bukan merupakan pelaksana kekuasaan kehakiman.

berarti merujuk pada Kode Etik Hakim Indonesia. Tetapi perlu terlebih dahulu dijawab pertanyaan. hanya karena alasan bahwa pengambilan keputusan didasarkan pada fakta-fakta yang diperoleh melalui kerjasama atau koordinasi dengan pelaku kekuasaan kehakiman sendiri (dalam hal ini adalah Mahkamah Agung).bersifat perorangan anggota Komisi Yudisial. apakah ada perbedaan antara kode etik dan kode perilaku. Setiap hakim harus mengetahui bahwa ia tidak dapat berperilaku di bawah standar yang ditetapkan. 6. keluhuran martabat serta perilaku hakim antara Komisi Yudisial dengan Mahkamah Agung. Etik berkenaan dengan harapan atau cita-cita. Dengan suatu code of conduct. Code of conduct akan mengingatkan Hakim mengenai perilaku apa yang dilarang dan bahwa tiap pelanggaran code of conduct mungkin akan menimbulkan sanksi. Komisi Yudisial tidak dapat dikatakan tidak mandiri. Sehingga tidak salah jika ada hubungan kerjasama yang baik dalam menjaga dan menegakkan kehormatan. keluhuran martabat. Kewenangan Komisi Yudisial dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Code of conduct merupakan satu standar. serta perilaku hakim harus merujuk kepada code of ethics dan/atau code of conduct. Etik adalah tujuan ideal yang dicoba untuk dicapai yaitu untuk sedapat mungkin menjadi hakim yang terbaik. Etik berbeda dari perilaku yang dilarang. akan dimungkinkan bagi hakim maupun masyarakat untuk Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 235 . dalam hubungan dengan permohonan a quo. atau dengan kata lain terdapat campur tangan dari pihak luar atau kekuasaan lain. Secara umum. Dengan demikian. Oleh karena itu. kemandirian Komisi Yudisial harus dimaknai sebagai kebebasan dari campur tangan dan pengaruh kekuasaan lain dalam pengambilan keputusan dalam pelaksanaan wewenang pengusulan calon hakim agung maupun dalam rangka pelaksanaan wewenang lain menurut UUD 1945. Tetapi ada pertimbangan-pertimbangan etik yang mendorong tercapainya cita-cita atau harapan tersebut. dikatakan bahwa suatu code of conduct menetapkan tingkah laku atau perilaku hakim yang bagaimana yang tidak dapat diterima dan mana yang dapat diterima. Artinya.

dan norma agama. Berlakunya norma secara bersamaan demikian. Jadi setelah dibentuk suatu code of conduct. pencegah campur tangan ekstra judicial dan pencegahan timbulnya kesalahpahaman antar sesama anggota dengan masyarakat. Penindakan atau pemberian sanksi atas pelanggaran Kode Etik dan 236 Bunga Rampai . in casu oleh organisasi profesi hakim baik oleh Mahkamah Agung ataupun oleh IKAHI. di mana suatu perbuatan tercela dilarang baik oleh norma hukum.dapat mengatakan bahwa mereka mengetahui apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan hakim. Langkah berikutnya adalah mengembangkan suatu kode etik yang akan memberi motivasi bagi hakim meningkat ke jenjang yang lebih tinggi. bukan oleh Komisi Yudisial. tetapi oleh beberapa macam norma secara bersamaan. c) memberikan jaminan peningkatan moralitas hakim dan kemandirian fungsional hakim. sebagaimana kemudian dijabarkan ke dalam code of conduct. code of ethics merupakan sumber nilai dan moralitas yang akan membimbing hakim menjadi hakim yang baik. Dari kode etik kemudian dirumuskan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh atau tidak layak dilakukan oleh hakim di dalam maupun di luar dinas. lebih efektif dalam melayani masyarakat. maka untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi. Seringkali suatu perbuatan diatur tidak hanya dengan satu macam norma. Kode etik itu dalam lingkungan profesi dibuat dan disahkan oleh organisasi profesi itu sendiri. 7. norma etik. mungkin diinginkan untuk membentuk satu kode etik. akan tetapi menurut pemahaman saya. menambah urgensi tentang perlunya pengaturan mengenai etik dan tingkah laku (ethics and conduct) hakim dan tata cara penjagaan dan penegakannya dalam suatu Kode Etik dan Tingkah Laku Hakim sebagai tolak ukur pengawasan. lebih baik. maupun menegakkan rule of law. dan d) menumbuhkan kepercayaan masyarakat pada lembaga peradilan. b) sebagai sarana kontrol sosial. Meskipun benar bahwa code of conduct berbeda dari code of ethics. bukan oleh lembaga lain. Tujuan adanya kode etik ini adalah: a) sebagai alat pembinaan dan pembentukan karakter hakim serta pengawasan tingkah laku hakim.

pengawasan atas pelaksanaan Kode Etik dan Perilaku selain dapat dilakukan oleh organisasi profesi.Perilaku juga dilakukan oleh organisasi profesi. dan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak pada umumnya. Pengawasan dapat dirinci dalam beberapa kegiatan. Namun perlu saya sampaikan bahwa pokok-pokok pikiran ini bukan merupakan representasi pemikiran dan sikap Badan Legislasi DPR RI dalam arti kelembagaan. Namun mudah-mudahan dapat memberikan kontribusi dalam rangka pengayaan dan pendalaman materi untuk perubahan Undang-undang Komisi Yudisial pada khususnya. dalam hal ini Mahkamah Agung. mungkin tulisan ini belum begitu komprehensif. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 237 . E. penilaian. Penutup Demikian pokok-pokok pikiran yang dapat saya sampaikan dalam melihat dan mencermati Perubahan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial yang saat ini sedang diagendakan pembahasannya oleh Badan Legislasi Dewan Perwakilan Republik Indonesia yang masuk dalam Program Legislasi Nasional Prioritas Tahun 2007. juga dapat dilakukan oleh pihak di luar profesi. yang merupakan salah satu unsur dari profesionalisme. misalnya pemanggilan. pemeriksaan. Hal ini dimaksudkan dalam rangka memenuhi tanggung jawab sosial (social responsibility). melalui transparansi dan akuntabilitas. namun lebih merupakan hasil telaahan dan pemikiran pribadi penulis. yang berakhir dengan saran (rekomendasi) kepada organisasi profesi. Sementara itu. Untuk itu saya sangat menyadari.

238 Bunga Rampai .

konstitusi adalah aturan hukum yang menetapkan kerangka dasar dari suatu negara dan mengatur tentang susunan pemerintahan. Selain itu. Couwenberg mengatakan. hukum konstitusi merupakan basis atau landasan dari sistem hukum negara yang bersangkutan. bahwa konstitusi berfungsi menetapkan lembaga-lembaga negara dan mengatur fungsi dan batas haknya. W. S. Yang menjadi Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 239 . dan James Bryce menyatakan. konstitusi berfungsi mengawasi pelaksanaan pemerintahan (pengawasan konstitusional). Jika K. serta Ivor Jenning mengemukakan. Wheare menjelaskan. Dari berbagai perspektif itu. Yang sulit adalah ketika tulisan itu dikaitkan dengan suatu masalah hukum dan politik yang dialami oleh satu atau beberapa lembaga negara. konstitusi adalah semua asas hukum. aturan hukum dan lembaga-lembaga yang berhubungan dengan susunan dan arah perkembangan kehidupan bersama yang terorganisasikan secara kenegaraan. C. maka sebenarnya UUD 1945 sebagai konstitusi (hukum dasar) telah mengatur halhal penting mengenai semua lembaga negara khususnya tentang kewenangannya. Dijelaskan kemudian. sebab pada dasarnya UUD 1945 (konstitusi) telah menggariskan tugas-tugas pokok semua lembaga negara. Hal ini dapat disimak dari beberapa pendapat pakar yang secara tepat melahirkan beberapa perspektif penting tentang fungsi konstitusi.Gerak dan Langkah Nyata Komisi Yudisial Dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi John Pieris Sebuah tulisan yang bersifat kajian kritis mengenai suatu lembaga negara yang terkait dengan UUD 1945 sebenarnya tidak terlalu sulit.

antara lain asas pembatasan kekuasaan pemerintah dan hak-hak asasi. semua ketentuan yang telah dirumuskan di dalam UUD 1945 harus dijalankan. Menyimak judul tulisan yang diminta oleh KY kepada penulis. yaitu Gerak dan Langkah Nyata KY dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi. asas legalitas adalah asas yang dipakai untuk menjamin asas-asas lainnya. adanya pengawasan pengadilan terhadap pelaksanaan kekuasaan yang dijalankan oleh pemerintah. sebenarnya telah mengatur fungsi-fungsi serta pembatasan kekuasan dari semua lembaga negara. belum tentu dapat dilaksanakan dengan baik. yang tunduk pada pembatasan konstitusional. Pandangan Friedrich cukup menarik. agar terhindar dari penyalahgunaan kekuasaan. Jika berpegang pada asas legalitas dan gagasan konstitusionalitas. Itulah faham legalisme dan konstitusionalisme yang dianut sampai sekarang. sebab sekali pun pemerintah mendapat mandat dari rakyat dan bertindak atas nama rakyat. Terlepas dari asumsi demikian. UUD 1945 sebagai konstitusi tertulis (written constitution) atau sebagai hukum yang tertinggi (Grundgesetz) yang kekuatan mengikatnya melebihi undang-undang biasa. Mungkin juga konstitusi tidak secara jelas merumuskan ketentuan mengenai kewenangan sebuah lembaga negara. maka tidak dapat dihindari. di satu pihak UUD 1945 telah menggariskan kewenangan KY 240 Bunga Rampai . Friedrich (1967) menjelaskan. terkesan ada tiga hal krusial yang menonjol. Hal itu diperlukan sebagai jaminan bahwa kekuasaan yang diperlukan untuk pemerintahan tersebut tidak disalahgunakan oleh mereka yang mendapat tugas untuk memerintah. walaupun ketentuan tersebut dianggap tidak sempurna. Sejalan dengan itu. Pertama. Mahkamah Agung (MA) dan Mahkamah Konstitusi (MK). konstitusionalisme adalah sebuah gagasan yang menganggap pemerintah sebagai suatu kumpulan aktivitas yang diselenggarakan atas nama rakyat. sebaiknya pemerintah itu juga harus tunduk pada pembatasan konstitusional. Carl J. Seperti yang dikatakan Lunshof (1989:7).soal adalah. khususnya Komisi Yudisial (KY). dan perlindungan hukum terhadap yang berkuasa. pemberian wewenang kepada pemerintah. Juga dikatakannya. apa yang diamanatkan oleh konstitusi. dengan segala keterbatasannya.

tentunya dengan segala resiko (perlawanan) yang dihadapi untuk mengemban amanat UUD 1945. Ketidaksetujuan dan penolakan MA atas beberapa ketentuan. bahwa kewenangan yang dimiliki KY untuk mengawasi hakim-hakim. Ketiga. dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 005/PUU-IV/2006 tersebut. pengawasan terhadap hakim MK tidak diamanatkan oleh UUD 1945 (Pasal 24B ayat (1)). Mahkamah Konstitusi telah memutuskan: Menyatakan permohonan para Pemohon dikabulkan untuk sebagian: Menyatakan: Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata “hakim Mahkamah Konstitusi”.walaupun ketentuan yang mengatur kewenangan KY untuk mengawasi semua hakim (di MA dan MK) tidak maksimal. yang berbunyi. pihak KY tetap bergerak mengayunkan langkah nyata. Hal inilah yang melatarbelakangi diajukannya permohonan Penguijian UndangUndang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial dan Pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ke Mahkamah Konstitusi. MK berpendapat seperti itu karena. Kedua. tanggal 23 Agustus 2006. dan Mahkamah Konstitusi telah memutus permohonan tersebut dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 005/PUUIV/2006 yang diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi yang terbuka untuk umum pada hari Rabu. terutama mengenai pengawasan hakim agung oleh KY telah membuktikan. tidak termasuk mengawasi hakim MK. “Dalam melaksanakan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b Komisi Yudisial mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim dalam rangka menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim”. ternyata MK telah memutuskan. Seperti diketahui. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 241 . Pasal 20. bahwa terjadi pertentangan dan perbedaan signifikan antara norma hukum pengawasan hakim agung antara KY dengan MA.

membuat laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi dan disampaikan kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi. Pasal 25 ayat (3). bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. “Dalam rangka menjaga Bunga Rampai - - - - - - - 242 . “Usul penjatuhan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c diserahkan oleh Komisi Yudisial kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi”. “Dalam hal badan peradilan atau hakim tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (4). dan Pasal 25 ayat (4). “Dalam hal pembelaan diri ditolak. Pasal 34 ayat (3). yang berbunyi. usul pemberhentian hakim diajukan oleh Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi kepada Presiden paling lambat 14 (empat belas) hari sejak pembelaan diri ditolak oleh Majelis Kehormatan Hakim”. Pasal 22 ayat (5). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 89. yang berbunyi. yang berbunyi. serta tindasannya disampaikan kepada Presiden dan DPR”. Komisi Yudisial: e. Pasal 23 ayat (3). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4415). sepanjang mengenai kata-kata “dan/atau Mahkamah Konstitusi”.- Pasal 21. “Untuk kepentingan pelaksanaan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b. Pasal 24 ayat (1). Komisi Yudisial bertugas mengajukan usul penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada pimpinan Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi”. Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi wajib memberikan penetapan berupa paksaan kepada badan peradilan atau hakim untuk memberikan keterangan atau data yang diminta”. yang berbunyi. yang berbunyi. “Dalam melaksanakan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20. Pasal 23 ayat (5). yang berbunyi. Pasal 22 ayat (1) huruf e.

sepanjang mengenai kata-kata “dan/atau Mahkamah Konstitusi”. bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 20. 21. tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Pasal 25 ayat (3). - Amar putusan tersebut di atas didasarkan pada pertimbangan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4415). Hal tidak tercakupnya pengertian perilaku hakim konstitusi dalam apa yang dimaksud dengan perilaku hakim menurut Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 tersebut juga terdapat dalam ketentuan UUMK dan UUKK yang dibentuk sebelum Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 243 . 23 ayat (3). Mahkamah Konstitusi dalam Putusannya menyatakan bahwa Hakim Konstitusi tidak diawasi oleh Komisi Yudisial. Undang-Undang Republik Indonesia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 89. UndangUndang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8. antara lain. 22 ayat (5). Pasal 24 ayat (1). Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8. tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. 22 ayat (1) huruf e. keluhuran martabat serta perilaku hakim agung dan hakim. dengan pertimbangan: Bahwa apabila ditinjau secara sistematis dan dari penafsiran berdasarkan “original intent” perumusan ketentuan UUD 1945. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358). ketentuan mengenai KY dalam Pasal 24B UUD 1945 memang tidak berkaitan dengan ketentuan mengenai MK yang diatur dalam Pasal 24C UUD 1945.kehormatan. Menyatakan: Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata “hakim Mahkamah Konstitusi”. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358). sebagai berikut. dan Pasal 25 ayat (4). 23 ayat (2). 23 ayat (5). pengawasan dilakukan oleh Komisi Yudisial yang diatur dalam undang-undang”.

Sebagai misal. Tidak berlebihan jika dikatakan. sekiranya kalau ada pasal khusus di dalam UU No. melainkan hakim karena jabatannya. yang mengatur pengawasan tentang Hakim Konstitusi. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. untuk fungsi pengawasan terhadap perilaku Hakim Konstitusi ditentukan adanya lembaga Majelis Kehormatan yang diatur secara tersendiri dalam Pasal 23 UUMK. MA dan KY mengenai pengawasan terhadap hakim-hakim pada semua lingkungan dan strata lembaga peradilan. maka konflik (pertentangan) antara MK dan KY tidak perlu terjadi. Selain itu. Karena itu Indonesia memang harus memiliki sebuah sistem pembuatan hukum terpadu (integrated law making system). Demikian pula Pasal 34 ayat (3) UU Kekuasaan Kehakiman sama sekali tidak menentukan bahwa Hakim Konstitusi menjadi objek pengawasan oleh KY. misalnya keterpaduan di dalam pembuatan UU tentang KK. MK. maka tidak akan terjadi konflik antara KY dan MA. berbeda halnya dengan hakim biasa. 244 Bunga Rampai . Dalam UUMK. Dalam keseluruhan mekanisme pemilihan dan pengangkatan para Hakim Konstitusi yang diatur dalam UUD 1945 juga tidak terdapat keterlibatan peran KY sama sekali.pembentukan UUKY. Hakim Konstitusi pada dasarnya bukanlah hakim sebagai profesi tetap. maka diperlukan keterpaduan (integrasi) dalam merumuskan norma-norma hukum yang sama pada beberapa undang-undang yang saling terkait. yang bersangkutan masing-masing kembali lagi kepada status profesinya yang semula. maka proses penegakan hukum secara terpadu (integrated law enforcement process) mengenai pengawasan terhadap perilaku hakim-hakim juga akan terlaksana dengan baik. DPR dan Presiden sebagai pembentuk UU No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman tidak begitu cermat merumuskan norma-norma hukum yang terkait secara tepat tentang pengawasan hakim. Itulah sebabnya. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi dan UU No. Atau. 24 Tahun 2003. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. serta UU No. jika ada ketentuan pengawasan hakim agung dan hakim-hakim lain di dalam lingkungan kekuasaan kehakiman yang diatur secara jelas di dalam UU No. Dengan begitu. Hakim Konstitusi hanya diangkat untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan setelah tidak lagi menduduki jabatan Hakim Konstitusi.

lemahnya pengawasan terhadap hakim dapat mendorong hakim bisa berbuat apapun. Mentalitas birokrasi pemerintah dan lembaga-lembaga negara yang lain juga sulit melakukan pengawaan internal. 14 Tahun 1985 sesungguhnya adalah pengawasan yang bersifat internal. Ini merupakan sebuah upaya mendesak dan sistematik untuk mereformasi kekuasaan peradilan. atau tidak memiliki akhlak mulia untuk mewujudkan keadilan bagi masyarakat. Dengan kata lain. Haruslah dipahami. Dapat diduga. bahwa alasan pembentukan KY di dalam UUD 1945. bukan rahasia lagi. salah satu faktor rendahnya mentalitas dan moralitas hakim karena para hakim terbebas dari pengawasan yang efektif. apalagi yang menguntungkan dirinya. Artinya hakim agung diawasi oleh lembaga MA.Pengawasan hakim sebagaimana dirumuskan di dalam Pasal 32 UU No. Karena itu kejahatan yudisial sulit dihindari. PT dan MA. korupsi. khususnya peradilan umum yang selama ini tidak menjalankan fungsinya secara benar. Agak sulit memang. adalah untuk menjaga dan menegakkan kehormatan. Banyak kasus (perkara) yang ditangani hakim PN. sementara terpidana dari kelas bawah tidak dihargai hak asasinya. jika hakim agung diawasi oleh institusi di mana ia berada di dalamnya. pengawasan internal tidak bisa diharapkan mampu membongkar mafia peradilan selama ini. moral dan spiritual. manipulasi penyalahgunaan jabatan yang merugikan negara dan rakyat. tidak bisa disangkal. sekalipun pihakpihak itu terbukti melakukan perbuatan melawan hukum. Hakim dan hukum lalu berpihak secara ekstrim dan arogan kepada kaum bor- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 245 . karena budaya korupsi dan penyelewengan atau perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad) sudah sangat sulit diperbaiki. keluhuran martabat serta perilaku hakim. Banyak hakim (tidak semua) memihak kepada merekamereka yang berkedudukan penting atau orang-orang yang memiliki uang dalam jumlah yang besar. Penjahat-penjahat korporasi dan ekonomi yang merampok uang negara acap kali dilindungi dan diberikan perlakuan khusus. Mekanisme upaya hukum (rechtsmiddlen) terkendala oleh perilakuperilaku hakim yang tidak cukup memiliki kemampuan etik. sebab. banyak mendatangkan ketidakadilan bagi pencari keadilan (justice seekers).

hanya pengawasan internal oleh MA. maupun eksternal. bahwa Ketua MA dapat merangkap menjadi Ketua KY. Sistem politik birokratik telah merasuk jauh menusuk sampai ke pusat-pusat kekuasaan (termasuk yudikatif). Karena itu. Ini merupakan sebuah indikasi. bahwa kekuasaan cenderung terpusat di tangan seseorang atau sekelompok orang. 14 Tahun 1985 tentang MA melegitimasi kekuasaan MA sebagai kekuasaan terpusat dan personal. Prinsip res judicate pra veritate habetur (apa yang telah diputuskan oleh hakim harus dianggap sebagai benar) yang dipegang para hakim cukup berbahaya. tapi bagaimana menghimpunnya”. bahwa sistem politik birokratik terpusat pada mereka yang memegang kekuasaan negara sebagai majikan. Seperti apa yang dikatakan Benedict Anderson. jika kekuasaan yang dipegang dan dikendalikan oleh seorang atau sekelompok orang dalam tubuh birokrasi di Indonesia memang sulit diawasi. Karl Jackson. Kalau ada pilihan di antara kedua jenis pengawasan itu. yang sulit diawasi dari luar (eksekutif dan legislatif). mungkin ada sedikit harapan. Dengan begitu agak sulit untuk mengawasi birokrasi kekuasaan kehakiman. Hampir sama dengan Anderson. perlu ada sebuah mekanisme untuk mengawasi hakim seperti itu. sulit juga diawasi oleh Komisi Yudisial. bahwa kekuasaan eksternal bisa diandalkan untuk mengawasi birokrasi. Maka berdasarkan teori tersebut tidak dapat dielakkan.juasi dan mencampakkan rakyat kecil yang miskin. dan ini sangat sulit diawasi. seorang ilmuwan politik Amerika Serikat yang menulis “Bureaucratic Polity” tentang Indonesia berpendapat. sebab prinsip ini berpotensi melindungi kesalahan hakim dan ada alasan menolak untuk diawasi. Kesulitannya adalah. UU No. karena dipastikan tidak akan efektif. Bahkan ada wacana dari Bagir Manan sebagai Ketua MA. Tidak bisa diharapkan. “bukan masalah bagaimana menggunakan kekuasaan. Tulisnya lebih lanjut. bahwa MA tidak mau diawasi oleh lembaga negara apa- 246 Bunga Rampai . terutama pada lembaga-lembaga peradilan. Keberpihakan hukum bisa saja dilakukan dengan cara menyalahi teknis yudisial dan administratif yang menguntungkan orang-orang tertentu dan merugikan pihak lain yang tidak berdaya. baik secara internal. karena kolusi juga bisa terjadi antar hakim dengan pimpinan MA.

pun. Masalahnya sebenarnya tidak terlalu pelik, jika Pasal 24B UUD 1945 dapat diamandemen agar KY bisa mengawasi perilaku hakim pada semua lingkungan peradilan. Tidak bisa dihindari, bahwa ada masalah-masalah teknis yudisial dan administratif yang dapat merugikan pencari keadilan. Jika ada kesalahan substansial dan mungkin prosedural yang dirancang secara sistematis oleh seorang hakim, maka dapat disimpulkan, hakim tersebut tidak memiliki perilaku yang terpuji. Hakim tersebut tidak boleh tidak, harus diperiksa. Jadi sebenarnya tidak salah seluruhnya jika KY dapat masuk pada hal-hal yang bersifat teknis administratif dalam memeriksa hakim. Jika ada komitmen seperti itu, mengapa tidak dicoba untuk dibuat norma hukumnya? Bukankah teori, sistem dan doktrin hukum bisa berubah atau diubah untuk bisa merakit sebuah kebenaran dalam mewujudkan keadilan yang sejati, supaya hakim-hakim bisa menjadi Law Prophets. Untuk itu dapat dibenarkan dan sebaiknya demikian, KY harus mengusulkan amandemen terhadap Pasal 24B UUD 1945. Usul perubahan dari KY sebaiknya menyangkut tidak saja pengangkatan hakim agung, tetapi juga mengusulkan pemberhentian hakim agung. Hal (kewenangan) yang sama juga harus dilakukan terhadap pengangkatan dan pemberhentian hakim konstitusi. Artinya adalah, bahwa kewenangan KY itu harus dilihat dalam perspektif penguatan wibawa lembaga peradilan atau perwujudan supremasi kekuasaan kehakiman. Selain itu, perlu diperluas struktur organisasi KY sampai ke daerah-daerah, agar KY daerah dapat menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim pengadilan negeri dan pengadilan tinggi. Ini tidak bertentangan dengan UUD 1945, sebab sesuai dengan Pasal 24B ayat (4), dijelaskan, bahwa susunan, kedudukan, dan keanggotaan KY diatur dengan undang-undang. Jadi undang-undang tentang KY yang baru harus mengatur hal ini. KY juga harus diberikan peran untuk mengawasi panitera-panitera pada semua jenjang organisasi kekuasaan kehakiman. Hal ini penting, sebab bukan rahasia lagi, mafia peradilan sulit diberantas, karena para panitera sering menjadi calo (broker) dan penagih uang dari pihak-pihak yang berperkara.

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

247

Sambil menunggu amandemen terhadap UUD 1945 dan revisi UU tentang KY, MK dan MA, gerak dan langkah nyata KY dalam mengemban amanat UUD 1945 pasca putusan MK harus lebih ditingkatkan lagi. Putusan MK tidak boleh membuat KY menyurutkan peran historisnya untuk menegakkan supremasi hukum, keadilan, kebenaran serta mewujudkan supremasi kekuasaan kehakiman di Indonesia. Pada saatnya nanti KY akan tampil sebagai sosok yang lebih berwibawa untuk menegakkan wibawa negara hukum yang berkarakter.

Penulis adalah Dosen dan Ketua Program Pascasarjana FH-UKI Mantan Anggota Komisi Konstitusi

248

Bunga Rampai

Gerak dan Langkah Nyata Komisi Yudisia Dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi
John Pieris

Sebuah tulisan yang bersifat kajian kritis mengenai suatu lembaga negara yang terkait dengan UUD 1945 sebenarnya tidak terlalu sulit, sebab pada dasarnya UUD 1945 (konstitusi) telah menggariskan tugas-tugas pokok semua lembaga negara. Hal ini dapat disimak dari beberapa pendapat pakar yang secara tepat melahirkan beberapa perspektif penting tentang fungsi konstitusi. Jika K. C. Wheare menjelaskan, konstitusi adalah aturan hukum yang menetapkan kerangka dasar dari suatu negara dan mengatur tentang susunan pemerintahan, dan James Bryce menyatakan, bahwa konstitusi berfungsi menetapkan lembaga-lembaga negara dan mengatur fungsi dan batas haknya, serta Ivor Jenning mengemukakan, konstitusi berfungsi mengawasi pelaksanaan pemerintahan (pengawasan konstitusional). Selain itu, S. W. Couwenberg mengatakan, konstitusi adalah semua asas hukum, aturan hukum dan lembaga-lembaga yang berhubungan dengan susunan dan arah perkembangan kehidupan bersama yang terorganisasikan secara kenegaraan. Dijelaskan kemudian, hukum konstitusi merupakan basis atau landasan dari sistem hukum negara yang bersangkutan.

Penulis adalah, Dosen dan Ketua Program Pascasarjana FH-UKI Mantan Anggota Komisi Konstitusi

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

249

Dari berbagai perspektif itu, maka sebenarnya UUD 1945 sebagai konstitusi (hukum dasar) telah mengatur halhal penting mengenai semua lembaga negara khususnya tentang kewenangannya. Yang sulit adalah ketika tulisan itu dikaitkan dengan suatu masalah hukum dan politik yang dialami oleh satu atau beberapa lembaga negara. Yang menjadi soal adalah, apa yang diamanatkan oleh konstitusi, belum tentu dapat dilaksanakan dengan baik. Mungkin juga konstitusi tidak secara jelas merumuskan ketentuan mengenai kewenangan sebuah lembaga negara. Terlepas dari asumsi demikian, UUD 1945 sebagai konstitusi tertulis (written constitution) atau sebagai hukum yang tertinggi (Grundgesetz) yang kekuatan mengikatnya melebihi undang-undang biasa, dengan segala keterbatasannya, sebenarnya telah mengatur fungsi-fungsi serta pembatasan kekuasan dari semua lembaga negara, khususnya Komisi Yudisial (KY), Mahkamah Agung (MA) dan Mahkamah Konstitusi (MK). Jika berpegang pada asas legalitas dan gagasan konstitusionalitas, maka tidak dapat dihindari, semua ketentuan yang telah dirumuskan di dalam UUD 1945 harus dijalankan, walaupun ketentuan tersebut dianggap tidak sempurna. Itulah faham legalisme dan konstitusionalisme yang dianut sampai sekarang. Seperti yang dikatakan Lunshof (1989:7), asas legalitas adalah asas yang dipakai untuk menjamin asas-asas lainnya, antara lain asas pembatasan kekuasaan pemerintah dan hak-hak asasi. Juga dikatakannya, adanya pengawasan pengadil-an terhadap pelaksanaan kekuasaan yang dijalankan oleh pemerintah, pemberian wewenang kepada pemerintah, dan perlindungan hukum terhadap yang berkuasa. Sejalan dengan itu, Carl J. Friedrich (1967) menjelaskan, konstitusionalisme adalah sebuah gagasan yang menganggap pemerintah sebagai suatu kumpulan aktivitas yang diselenggarakan atas nama rakyat, yang tunduk pada pembatasan konstitusional. Hal itu diperlukan sebagai jaminan bahwa kekuasaan yang diperlukan untuk pemerintahan tersebut tidak disalahgunakan oleh mereka yang mendapat tugas untuk memerintah. Pandangan Friedrich cukup menarik, sebab sekali pun pemerintah mendapat mandat dari rakyat dan bertindak atas nama rakyat, sebaiknya pemerintah itu juga harus tunduk pada pembatasan konstitusional,

250

Bunga Rampai

agar terhindar dari penyalahgunaan kekuasaan. Menyimak judul tulisan yang diminta oleh KY kepada penulis, yaitu Gerak dan Langkah Nyata KY dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi, terkesan ada tiga hal krusial yang menonjol. Pertama, di satu pihak UUD 1945 telah menggariskan kewenangan KY walaupun ketentuan yang mengatur kewenangan KY untuk mengawasi semua hakim (di MA dan MK) tidak maksimal. Kedua, pihak KY tetap bergerak mengayunkan langkah nyata, tentunya dengan segala resiko (perlawanan) yang dihadapi untuk mengemban amanat UUD 1945. Ketiga, ternyata MK telah memutuskan, bahwa kewenangan yang dimiliki KY untuk mengawasi hakim-hakim, tidak termasuk mengawasi hakim MK. MK berpendapat seperti itu karena, pengawasan terhadap hakim MK tidak diamanatkan oleh UUD 1945 (Pasal 24B ayat (1)). Ketidaksetujuan dan penolakan MA atas beberapa ketentuan, terutama mengenai pengawasan hakim agung oleh KY telah membuktikan, bahwa terjadi pertentangan dan perbedaan signifikan antara norma hukum pengawasan hakim agung antara KY dengan MA. Hal inilah yang melatarbelakangi diajukannya permohonan Penguijian UndangUndang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial dan Pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ke Mahkamah Konstitusi, dan Mahkamah Konstitusi telah memutus permohonan tersebut dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 005/PUUIV/2006 yang diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi yang terbuka untuk umum pada hari Rabu, tanggal 23 Agustus 2006. Seperti diketahui, dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 005/PUU-IV/2006 tersebut, Mahkamah Konstitusi telah memutuskan: Menyatakan permohonan para Pemohon dikabulkan untuk sebagian: Menyatakan : Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata “hakim Mahkamah Konstitusi”; Pasal 20, yang berbunyi, “Dalam melaksanakan wePenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

251

-

-

-

-

-

-

wenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b Komisi Yudisial mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim dalam rangka menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim”; Pasal 21, yang berbunyi, “Untuk kepentingan pelaksanaan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b, Komisi Yudisial bertugas mengajukan usul penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada pimpinan Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi”; Pasal 22 ayat (1) huruf e, yang berbunyi, “Dalam melaksanakan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20, Komisi Yudisial: e, membuat laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi dan disampaikan kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi, serta tindasannya disampaikan kepada Presiden dan DPR”; Pasal 22 ayat (5), yang berbunyi, “Dalam hal badan peradilan atau hakim tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (4), Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi wajib memberikan penetapan berupa paksaan kepada badan peradilan atau hakim untuk memberikan keterangan atau data yang diminta”; Pasal 23 ayat (3), yang berbunyi, “Usul penjatuhan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c diserahkan oleh Komisi Yudisial kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi”; Pasal 23 ayat (5), yang berbunyi, “Dalam hal pembelaan diri ditolak, usul pemberhentian hakim diajukan oleh Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi kepada Presiden paling lambat 14 (empat belas) hari sejak pembelaan diri ditolak oleh Majelis Kehormatan Hakim”; Pasal 24 ayat (1), Pasal 25 ayat (3), dan Pasal 25 ayat (4), sepanjang mengenai kata-kata “dan/atau Mahkamah Konstitusi”; Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 89. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4415), bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik IndoneBunga Rampai

252

Menyatakan: Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata “hakim Mahkamah Konstitusi”. ketentuan mengenai KY dalam Pasal 24B UUD 1945 memang tidak berkaitan dengan ketentuan mengenai MK yang diatur dalam Pasal 24C UUD 1945. Amar putusan tersebut di atas didasarkan pada pertimbangan. Pasal 24 ayat (1). “Dalam rangka menjaga kehormatan. sebagai berikut. pengawasan dilakukan oleh Komisi Yudisial yang diatur dalam undang-undang”. tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8. yang berbunyi. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358). Hal tidak tercakupnya pengertian perilaku hakim konstitusi dalam apa yang dimaksud dengan perilaku hakim Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 253 . dan Pasal 25 ayat (4). 21. 23 ayat (5). dengan pertimbangan: Bahwa apabila ditinjau secara sistematis dan dari penafsiran berdasarkan “original intent” perumusan ketentuan UUD 1945. Pasal 34 ayat (3). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358). 22 ayat (5). 23 ayat (2). 23 ayat (3). Pasal 20. Undang-Undang Republik Indonesia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 89. tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Pasal 25 ayat (3). keluhuran martabat serta perilaku hakim agung dan hakim.- - - sia Tahun 1945. 22 ayat (1) huruf e. bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. antara lain. sepanjang mengenai kata-kata “dan/atau Mahkamah Konstitusi”. UndangUndang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4415). Mahkamah Konstitusi dalam Putusannya menyatakan bahwa Hakim Konstitusi tidak diawasi oleh Komisi Yudisial.

melainkan hakim karena jabatannya. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi dan UU No. Selain itu. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Itulah sebabnya. Demikian pula Pasal 34 ayat (3) UU Kekuasaan Kehakiman sama sekali tidak menentukan bahwa Hakim Konstitusi menjadi objek pengawasan oleh KY. Sebagai misal. MK. berbeda halnya dengan hakim biasa. Karena itu Indonesia memang harus memiliki sebuah sistem pembuatan hukum terpadu (integrated law making system). yang bersangkutan masing-masing kembali lagi kepada status profesinya yang semula. Hakim Konstitusi pada dasarnya bukanlah hakim sebagai profesi tetap. Dengan begitu. yang mengatur pengawasan tentang Hakim Konstitusi.menurut Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 tersebut juga terdapat dalam ketentuan UUMK dan UUKK yang dibentuk sebelum pembentukan UUKY. maka konflik (pertentangan) antara MK dan KY tidak perlu terjadi. untuk fungsi pengawasan terhadap perilaku Hakim Konstitusi ditentukan adanya lembaga Majelis Kehormatan yang diatur secara tersendiri dalam Pasal 23 UUMK. 24 Tahun 2003. Hakim Konstitusi hanya diangkat untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan setelah tidak lagi menduduki jabatan Hakim Konstitusi. misalnya keterpaduan di dalam pembuatan UU tentang KK. DPR dan Presiden sebagai pembentuk UU No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman tidak begitu cermat merumuskan norma-norma hukum yang terkait secara tepat tentang pengawasan hakim. Atau. MA dan KY mengenai pengawasan terhadap hakim-hakim pada semua lingkungan dan strata lembaga peradilan. Dalam keseluruhan mekanisme pemilihan dan pengangkatan para Hakim Konstitusi yang diatur dalam UUD 1945 juga tidak terdapat keterlibatan peran KY sama sekali. serta UU No. Tidak berlebihan jika dikatakan. maka diperlukan keterpaduan (integrasi) dalam merumuskan norma-norma hukum yang sama pada beberapa undang-undang yang saling terkait. maka proses penegakan hukum secara ter- 254 Bunga Rampai . Dalam UUMK. maka tidak akan terjadi konflik antara KY dan MA. jika ada ketentuan pengawasan hakim agung dan hakim-hakim lain di dalam lingkungan kekuasaan kehakiman yang diatur secara jelas di dalam UU No. sekiranya kalau ada pasal khusus di dalam UU No.

Penjahat-penjahat korporasi dan ekonomi yang merampok uang negara acap kali dilindungi dan diberikan perlakuan khusus. salah satu faktor rendahnya mentalitas dan moralitas hakim karena para hakim terbebas dari pengawasan yang efektif. atau tidak memiliki akhlak mulia untuk mewujudkan keadilan bagi masyarakat. Mekanisme upaya hukum (rechtsmiddlen) terkendala oleh perilakuperilaku hakim yang tidak cukup memiliki kemampuan etik. moral dan spiritual. Banyak hakim (tidak semua) memihak kepada merekamereka yang berkedudukan penting atau orang-orang yang memiliki uang dalam jumlah yang besar. Karena itu kejahatan yudisial sulit dihindari. Ini merupakan sebuah upaya mendesak dan sistematik untuk mereformasi kekuasaan peradilan. banyak mendatangkan ketidakadilan bagi pencari keadilan (justice seekers). korupsi. Pengawasan hakim sebagaimana dirumuskan di dalam Pasal 32 UU No. pengawasan internal tidak bisa diharapkan mampu membongkar mafia peradilan selama ini. sebab. khususnya peradilan umum yang selama ini tidak menjalankan fungsinya secara benar. 14 Tahun 1985 sesungguhnya adalah pengawasan yang bersifat internal. Dapat diduga. jika hakim agung diawasi oleh institusi di mana ia berada di dalamnya. sementara terpidana dari Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 255 . Agak sulit memang. tidak bisa disangkal. adalah untuk menjaga dan menegakkan kehormatan.padu (integrated law enforcement process) mengenai pengawasan terhadap perilaku hakim-hakim juga akan terlaksana dengan baik. sekalipun pihakpihak itu terbukti melakukan perbuatan melawan hukum. apalagi yang menguntungkan dirinya. Artinya hakim agung diawasi oleh lembaga MA. Dengan kata lain. lemahnya pengawasan terhadap hakim dapat mendorong hakim bisa berbuat apapun. karena budaya korupsi dan penyelewengan atau perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad) sudah sangat sulit diperbaiki. PT dan MA. Banyak kasus (perkara) yang ditangani hakim PN. keluhuran martabat serta perilaku hakim. Mentalitas birokrasi pemerintah dan lembaga-lembaga negara yang lain juga sulit melakukan pengawaan internal. bahwa alasan pembentukan KY di dalam UUD 1945. manipulasi penyalahgunaan jabatan yang merugikan negara dan rakyat. Haruslah dipahami. bukan rahasia lagi.

seorang ilmuwan politik Amerika Serikat yang menulis “Bureaucratic Polity” tentang Indonesia berpendapat. Kesulitannya adalah. Karena itu. Seperti apa yang dikatakan Benedict Anderson. dan ini sangat sulit diawasi. Dengan begitu agak sulit untuk mengawasi birokrasi kekuasaan kehakiman. UU No. jika kekuasaan yang dipegang dan dikendalikan oleh seorang atau sekelompok orang dalam tubuh birokrasi di Indonesia memang sulit diawasi. hanya pengawasan internal oleh MA.kelas bawah tidak dihargai hak asasinya. Hampir sama dengan Anderson. Bahkan ada wacana dari Bagir Manan sebagai Ketua MA. bahwa kekuasaan cenderung terpusat di tangan seseorang atau sekelompok orang. sebab prinsip ini berpotensi melindungi kesalahan hakim dan ada alasan menolak untuk diawasi. 14 Tahun 1985 tentang MA melegitimasi kekuasaan MA sebagai kekuasaan terpusat dan personal. Hakim dan hukum lalu berpihak secara ekstrim dan arogan kepada kaum borjuasi dan mencampakkan rakyat kecil yang miskin. Kalau ada pilihan di antara kedua jenis pengawasan itu. Tulisnya lebih lanjut. Tidak bisa diharapkan. “bukan masalah bagaimana menggunakan kekuasaan. Karl Jackson. bahwa sistem politik birokratik terpusat pada mereka yang memegang kekuasaan negara sebagai majikan. bahwa kekuasaan eksternal bisa diandalkan untuk mengawasi birokrasi. karena dipastikan tidak akan efektif. Maka berdasarkan teori tersebut tidak dapat dielakkan. tapi bagaimana menghimpunnya”. karena kolusi juga bisa terjadi antar hakim dengan pimpinan MA. bahwa Ketua MA dapat 256 Bunga Rampai . mungkin ada sedikit harapan. maupun eksternal. Prinsip res judicate pra veritate habetur (apa yang telah diputuskan oleh hakim harus dianggap sebagai benar) yang dipegang para hakim cukup berbahaya. Sistem politik birokratik telah merasuk jauh menusuk sampai ke pusat-pusat kekuasaan (termasuk yudikatif). sulit juga diawasi oleh Komisi Yudisial. Keberpihakan hukum bisa saja dilakukan dengan cara menyalahi teknis yudisial dan administratif yang menguntungkan orang-orang tertentu dan merugikan pihak lain yang tidak berdaya. perlu ada sebuah mekanisme untuk mengawasi hakim seperti itu. terutama pada lembaga-lembaga peradilan. baik secara internal. yang sulit diawasi dari luar (eksekutif dan legislatif).

sebab bukan rahasia lagi. Usul perubahan dari KY sebaiknya menyangkut tidak saja pengangkatan hakim agung. sebab sesuai dengan Pasal 24B ayat (4). jika Pasal 24B UUD 1945 dapat diamandemen agar KY bisa mengawasi perilaku hakim pada semua lingkungan peradilan. Ini tidak bertentangan dengan UUD 1945. KY harus mengusulkan amandemen terhadap Pasal 24B UUD 1945.merangkap menjadi Ketua KY. KY juga harus diberikan peran untuk mengawasi panitera-panitera pada semua jenjang organisasi kekuasaan kehakiman. Hakim tersebut tidak boleh tidak. Artinya adalah. dijelaskan. dan keanggotaan KY diatur dengan undang-undang. harus diperiksa. Untuk itu dapat dibenarkan dan sebaiknya demikian. mengapa tidak dicoba untuk dibuat norma hukumnya? Bukankah teori. bahwa susunan. Hal (kewenangan) yang sama juga harus dilakukan terhadap pengangkatan dan pemberhentian hakim konstitusi. Jika ada kesalahan substansial dan mungkin prosedural yang dirancang secara sistematis oleh seorang hakim. Masalahnya sebenarnya tidak terlalu pelik. bahwa ada masalah-masalah teknis yudisial dan administratif yang dapat merugikan pencari keadilan. supaya hakim-hakim bisa menjadi Law Prophets. Selain itu. bahwa kewenangan KY itu harus dilihat dalam perspektif penguatan wibawa lembaga peradilan atau perwujudan supremasi kekuasaan kehakiman. perlu diperluas struktur organisasi KY sampai ke daerah-daerah. Ini merupakan sebuah indikasi. tetapi juga mengusulkan pemberhentian hakim agung. kedudukan. bahwa MA tidak mau diawasi oleh lembaga negara apapun. sistem dan doktrin hukum bisa berubah atau diubah untuk bisa merakit sebuah kebenaran dalam mewujudkan keadilan yang sejati. Jadi sebenarnya tidak salah seluruhnya jika KY dapat masuk pada hal-hal yang bersifat teknis administratif dalam memeriksa hakim. Hal ini penting. hakim tersebut tidak memiliki perilaku yang terpuji. serta perilaku hakim pengadilan negeri dan pengadilan tinggi. Tidak bisa dihindari. keluhuran martabat. Jika ada komitmen seperti itu. Jadi undang-undang tentang KY yang baru harus mengatur hal ini. mafia peradilan sulit Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 257 . agar KY daerah dapat menjaga dan menegakkan kehormatan. maka dapat disimpulkan.

Pada saatnya nanti KY akan tampil sebagai sosok yang lebih berwibawa untuk menegakkan wibawa negara hukum yang berkarakter. Sambil menunggu amandemen terhadap UUD 1945 dan revisi UU tentang KY. MK dan MA. gerak dan langkah nyata KY dalam mengemban amanat UUD 1945 pasca putusan MK harus lebih ditingkatkan lagi. kebenaran serta mewujudkan supremasi kekuasaan kehakiman di Indonesia. karena para panitera sering menjadi calo (broker) dan penagih uang dari pihak-pihak yang berperkara.diberantas. 258 Bunga Rampai . keadilan. Putusan MK tidak boleh membuat KY menyurutkan peran historisnya untuk menegakkan supremasi hukum.

Sedangkan landasan intelektual demokrasi konstitusional modern dalam geopolitik diletakan selama zaman Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 259 . dan hak untuk mendapatkan perlindungan yang sama di depan hukum.Pentingnya Peran Komisi Yudisial Berdasarkan Pendekatan Geopolitik dan Geostrategi Indonesia Prof. pemerintahan dalam suatu demokrasi tidak memberikan kebebasan dasar yang disebut Jefferson. MS. kebebasan beragama dan keyakinan. DR. Dalam masyarakat demokratis juga menyatakan hak-hak sipil seperti hak untuk mendapatkan pengadilan yang jujur. Sedangkan Soekarno Presiden pertama Republik Indonesia. Deklarasi Kemerdekaan yang dikemukakan oleh Thomas Jefferson. Hak-hak ini tidak hancur ketika masyarakat sipil diciptakan.. dan baik masyarakat maupun pemerintahan tidak dapat mencabutnya. untuk menjalankan pemerintahan negara yang baik tariklah hukum yang bermoral. MH. Latar Belakang. Ermaya Suradinata. Rumusan kebebasan yang dikemukakan oleh para filsuf zaman pencerahan abad ke-17 dan ke-18. kebebasan berserikat. Contoh hak-hak yang tidak dapat dicabut meliputi kebebasan berbicara dan berpendapat. hak-hak alamiah yang tidak dapat dicabut adalah karunia Tuhan. yaitu pemerintahan diciptakan untuk melindungi kebebasan yang dimiliki oleh individu berdasarkan eksistensi individu itu. adalah menetapkan suatu prinsip dasar bagi berdirinya pemerintahan negara yang demokratis.H. S.

Dalam teori hukum alam Locke mengilhami satu generasi filsuf zaman Pencerahan di Eropa dan dunia baru. Locke juga menyatakan jika suatu pemerintahan menjadi tanpa hukum dan sewenang-wenang. manusia dalam masyarakat sipil mengadakan kontrak dengan pemerintah mereka. mengubah secara besar-besaran pembahasan mengenai teori politik dan mendorong perkembangan lembaga-lembaga demokrasi. kebebasan tertentu.Pencerahan Eropa. termasuk hak atas hidup. dan politik yang tradisional yang penekanannya pada rasionalisme. dalam pernyataannya bahwa semua pemerintahan yang sah bertumpu pada persetujuan dari yang diperintah. Dua pemikiran yang berpengaruh adalah filosuf Inggris. Montesquieu. dalam 260 Bunga Rampai . percaya pada pemerintahah Republik berdasarkan pada persetujuan dari yang diperintah. suatu gerakkan filosofis abad 18 yang ditandai dengan penolakan terhadap gagasan-gagasan sosial. legislatif. dan termasuk hak untuk memiliki harta benda serta menikmati hasil kerja sendiri. Pada tahun 1690 Locke menerbitkan bukunya yang sangat berpengaruh Two Treaties of Government (Dua Risalah Tentang Pemerintahan). John Locke membantah pengakuan bahwa pemerintah teristimewa monarki. kata Locke. yang terbit pada tahun 1748. John Locke. Warga negara wajib patuh pada undang-undang dan mempertahankan kesejahteraan umum dari pelanggaran asing semuanya demi kebaikan bersama. adalah suatu aspek rangkaian takdir Ilahi. Hukum alam identik dengan hukum Tuhan. Montesquieu. tapi bukan pada demokrasi yang didirikan atas kekuasaan mayoritas. Untuk mengamankan hak-hak ini. Dalam L’Esprit des Lois (Semangat hukum). Emmanuel Kant di Jerman dan Thomas Jefferson serta Benjamin Franklin di negeri yang kemudian bernama Amerika Serikat. mendukung pemisahan dan penyeimbangan kekuasaan antara cabang-cabang eksekutif.dari Jean Jacques Rousseau di Perancis sampai David Hume di Skotlandia. John Locke. Dalam pernyataannya tentang hukum alam itu. agama. warganya berhak menggulingkan rezim itu dan membentuk suatu pemerintahan baru. Tapi penerusnya yang paling terkemuka adalah Montesquieu. dan ahli hukum dan filsuf Perancis. yang seperti halnya Locke. dan menjamin hak-hak dasar semua orang. dan yudikatif. ujar Locke.

mereka menyerahkan diri sebagai pembuat undang-undang itu. dan ia tidak mempunyai tanggung jawab untuk melakukan hal itu. dan mereka disiksa. baik undangundang maupun demokrasi terlayani. Setiap negara harus mempunyai kekuasaan untuk memelihara ketertiban dan menghukum tindak pidana. adalah landasan pokok bagi masyarakat yang adil dan demokratis manapun. Masyarakat demokratis tidak dapat menerima penyalahgunaan seperti ini. atau perlindungan yang sama oleh hukum sebagaimana sering disebut. dan sering tanpa pernah dikenai tuduhan resmi. sekalipun tidak langsung. Warga negara suatu demokrasi tunduk pada hukum karena mereka mengakui bahwa.pemerintahan sebagai cara untuk menjamin kebebasan individu. dan Kehakiman (dalam Jeannes s. dipenjarakan. Setiap masyarakat sepanjang sejarah. Kongres. Dalam kehidupan negara yang demokratis tidak dapat menjamin bahwa kehidupan akan memperlakukan setiap orang dengan sama. tapi aturan prosedur yang digunakan negara untuk melaksanakan undang-undangnya harus terbuka dan jelas.” Tak seorangpun berada di atas hukum yang bagaimanapun. Frank menjelaskan. Namun ahli hukum konstitusi John P. Doktrin ini juga membantu membentuk landasan filosofis bagi konstitusi AS. Atas nama negara. dengan pembagian kekuasaan antara Presiden. sekutu politik negara atau lawan. Kaya atau miskin. Frank menulis. tidak rahasia. harta mereka dirampas. mereka yang menjalankan sistem peradilan pidana mempunyai kekuasaan yang berpotensi melakukan penyalahgunaan dan menjadi tirani. bukan sesuatu yang dipaksakan kepada mereka. Apakah syarat pokok bagi proses hukum Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 261 . ”Dalam keadaan apapun negara tidak boleh memaksakan ketidaksamaan tambahan. negara wajib melayani secara rata dan sama seluruh rakyatnya. banyak individu. sewenang-wenang atau tunduk pada manipulasi politik oleh negara. merupakan ciptaan rakyat. semuanya berhak atas perlindungan yang sama di depan hukum. atau minoritas agama. Holden). Persamaan hak di depan hukum. mayoritas etnik. Jika undang-undang ditetapkan oleh rakyat yang selanjutnya harus mematuhinya. diasingkan dan dihukum mati tanpa dasar hukum.

Bukan saja orang berhak mengetahui hakikat sebenarnya tuduhan itu. kita tidak lagi memiliki seorang pemimpin yang sentralistik sekaligus sangat menentukan. Tak seorangpun boleh ditahan tanpa tuduhan yang jelas dan tertulis. sejak lengsernya Soeharto sebagai Presiden dari panggung politik. begitu pengadilan mendapati bahwa tuduhan itu tanpa dasar atau penahanannya tidak sah. Pasang surut ini diwarnai oleh perubahan-perubahan sesuai tuntut-an politik.yang wajar dalam demokrasi? Rumah siapa saja tidak boleh dimasuki dan digeledah oleh polisi tanpa perintah pengadilan yang menunjukkan adanya alasan kuat untuk menggeledah itu. Ideologi dan konstitusi negara bagi suatu negara yang berdaulat seperti Negara Republik Indonesia ini. dan merinci tuduhan pelanggaran itu. menunjukkan adanya pasang surut. berdasarkan doktrin yang disebut Habeas corpus. DPRD Provinsi. melahirkan perilaku politik yang juga liberal. dan konstitusi negara akan memberikan model terhadap implementasi ideo-logi dalam birokrasi pemerintahan dalam penyelenggaraan negara terutama penyelenggaraan fungsi lembaga negara. Ketukan tengah malam oleh polisi rahasia tidak mempunyai tempat dalam demokrasi. Reformasi politik yang terjadi sejak tahun 1997. membawa berbagai perubahan yang mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. DPD. DPRD Kabupaten/Kota) yang berdampak sulitnya untuk membangun kesamaan visi dan misi Nasional antar politisi dalam me- 262 Bunga Rampai . Dalam perjalanan sebagai bangsa yang berdaulat. Berkaitan dengan perkembangan ini ruang pemerintah muncul kekuatan-kekuatan baru yang dapat menggeser kedudukan seorang Presiden. berkembangnya kehidupan politik yang liberal. Perubahan-perubahan ini jelas apabila diamati kenyataan di lapangan: Pertama. yang bergulir bagaikan bola salju. mereka juga harus segera dilepaskan. Kedua. dikatakan demikian karena ideologi akan memberikan warna terhadap bentukbentuk yang ada dalam konstitusi negara. Hal tersebut dapat kita lihat (DPR. MPR. merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. implementasi ideologi dan konstitusi negara sebagaimana termuat dalam sejarah.

Dikatakan demikian karena dalam Pasal 37 tersebut secara tegas dinyatakan bahwa ”untuk mengubah UUD sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota harus hadir. yang sampai saat ini sudah empat kali perubahan (Tahun 1999. Selanjutnya pada ayat (2) dinyatakan bahwa ”putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota yang hadir”. apabila merujuk pada UUD NRI tahun 1945. Sebagai kelompok sosial yang besar. adat maupun bahasa yang berbeda dari mulai Sabang sampai Merauke. berkaitan dengan realitas dan eksistensi bangsa kita. Ketiga.” Peranan Ideologi dan Konstitusi Negara dalam Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. 2000. sejak awal telah mengisaratkan adanya penyesuaian pasal-pasal yang ada dalam UUD 1945 dengan perkembangan yang ada. organisasi bangsa mempunyai kebutuhan untuk memiliki citra jati dirinya.nangani dan memahami makna NKRI. seiring dengan perkembangan politik tersebut. 2001. oleh karena itu dapat dikatakan bahwa ideologi dan konstiPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 263 . seperti bangsa Indonesia dan Malaysia. Karena mempunyai landasan: Pertama. berkembang pula keinginan sebagian elit politik yang berpengaruh dengan cara yang sistemik dan damai melakukan perubahan terhadap UUD NRI Tahun 1945. dan 2002). Memperhatikan peranan tersebut di atas. jelas mengindikasikan bahwa para Pendiri RI (Founding Fathers). maka ideologi dan konstitusi negara bagi bangsa Indonesia mempunyai peranan yang sangat penting. Bunyi dan Pasal 37 ayat (1) dan (2). dengan kata lain ada amanat pada penerus bangsa ini untuk tidak mempermasalahkan konstitusi yang mereka buat. Pasal 37 ayat (1) tidak bertentangan. Dengan citra jati diri inilah suatu bangsa dapat memberikan ciri yang khas yang dapat dibedakan dengan negara lainnya. berperan sebagai citra jati diri bangsa. keanekaragaman itulah ciri jati diri bangsa Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa Malaysia. Memperhatikan perkembangan politik era reformasi yang berkaitan dengan perubahan UUD NRI Tahun 1945. namun bagi bangsa Indonesia dengan kemajemukannya sangat berbeda seperti kita tahu tentang perbedaan budaya. walaupun berasal dari satu rumpun.

dengan ideologi dan konstitusi dapat menjembatani hubungan antara keduanya. maka dapat diantisipasi sedemikian adanya persepsi yang berbeda terhadap suatu peraturan perundang-undangan. Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dalam menyelenggarakan fungsi kenegaraan merupakan hal yang sangat pen- 264 Bunga Rampai . Kedua. Oleh karena senantiasa berupaya untuk merealisasikan dalam kehidupan bersama. dan dipandang sebagai suatu kebesaran dan kemuliaan bersama dengan ideologi manusia mengejar keluhuran. Generasi muda yang telah mengalami masamasa perjuangan untuk mendirikan bangsa dengan negara. Karena itu keberadaan ideologi dan konstitusi yang berdaulat merupakan sesuatu yang mutlak.tusinya melekat pada jati diri bangsa. jika negara mempunyai kedaulatan yang utuh dalam menjaga eksistensinya dan mewujudkan reformasi birokrasi pemerintahan khususnya reformasi peradilan. sebagaimana telah dirumuskan dalam Ideologi dan Konstitusi (UUD Tahun 1945). Hal tersebut diperlukan sebagai peraturan yang tertinggi karena beragamnya komponen yang juga mempunyai adat istiadat tersendiri. yang akan dijadikan dasar pengambilan keputusan bagi para hakim. berperan sebagai jembatan penghubung antara generasi tua sebagai pendiri bangsa (fouding fathers) dengan generasi penerus. maka dibutuhkan suatu pedoman yang dapat memayungi dan berlaku untuk keseluruhan komponen bangsa yang ada. sehingga dapat diharapkan generasi muda akan terus melanjutkan perjuangan generasi pendahulunya untuk mencapai cita-cita dan tujuan nasional bangsa Indonesia. Ketiga. berperan sebagai hukum dasar yakni sebagai pedoman utama dalam pembuatan peraturan perundangundangan yang akan diperlakukan kepada segenap komponen bangsa. Di sini ideologi dan konstitusi menjadi sumber inspirasi dan cita-cita hidup bersama. Merupakan suatu hal yang alami terjadi pergantian generasi antara generasi terdahulu dengan generasi muda. berperan untuk menemukan keyakinan akan kebenaran perjuangan bersama akan satu kesatuan yang berpegang teguh pada ideologi dan konstitusi tersebut. dan mematuhi segala ketentuan yang diatur dalam konstitusi. Keempat. Dengan adanya ideologi dan konstitusi sebagai hukum dasar.

2. dan keadilan. bertahap. dan mempertahankan demokrasi atas dasar ini bermakna bahwa demokrasi adalah sistem terbaik untuk menegakkan keadilan. mengalami perubahan yang sangat fundamental. Pengaturan tentang hak asasi manusia. Pengaturan tentang susunan ketatanegaraan yang bersifat fundamental. Perkembangan Hukum Dasar Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. sejak perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pengaturan tentang pembagian dan pembatasan tugastugas ketatanegaraan yang juga bersifat fundamental. Dalam konstitusi biasanya memuat aturan minimal materi yang mencakup: 1. Demokrasi memberikan kesempatan kepada setiap kelompok dan kepentingan yang cukup besar mengajukan wakilnya. Sedangkan kemungkinan terjadinya ketidak-adilan dalam negara demokrasi jauh lebih kecil dibanding pada negara dimana kebebasan politik ditindas dan tidak ada satupun jaminan politik. dan sistematis dalam empat kali perubahan UUD NRI Tahun 1945. Reformasi sesungguhnya memberikan ruang yang besar untuk terjadinya perubahan menuju penyelenggaraan negara yang lebih demokratis. karena dapat menyuarakan persoalannya dan sanggup mengumpulkan kekuatan dengan mempengaruhi para pemilih dengan berbagai cara yang diakui dan absah. serta negara hukum yang demokratis. 3. Demokrasi juga menyangkut kompromi atau harmoni politik dengan jalan menyelesaikan tuntutan-tuntutan atau suara-suara yang saling bertentangan. integral. kepentingan yang merasa dirugikan. selanjutnya perubahan itu diwujudkan secara komprehensif. pada empat sidang MPR sejak Tahun 1999. sampai dengan 2002. Pada akhirnya mungkin dapat dikatakan bahwa orang-orang yang merasa diperlakukan tidak adil dalam suatu sistem demokrasi maka akan terhibur kalau mereka memperhatikan sistem-sistem politik lain. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 265 . keterbukaan. yang menciptakan keadilan yang relatif. dan juga akuntabilitas tinggi serta diharapkan terwujudnya Good Governance.ting dan mendasar. Menegakkan keadilan sering dianggap sebagai inti moralitas politik. dan ini jarang sekali dikesampingkan pada saat kebijaksanaan dibuat.

28C. 28D. Sedangkan perubahan pada materi yang kedua dan ketiga. Sedangkan lembaga baru yang kedua adalah Komisi Yudisial yang merupakan pilar kehidupan untuk menentukan roh moral para hakim agung. memutus sengketa kewenangan Lembaga Negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar. serta perilaku hakim. 28B. untuk menegakkan hukum dan keadilan. Menelaah Komisi Yudisial dari satu sudut pandang Geopolitik dan Geostrategi Indonesia tidak terlepas dengan pemahaman kita tentang politik dan strategi dalam melakukan reformasi hukum/peradilan. setelah perubahan bab IX menjadi 5 pasal dan 19 ayat. serta untuk memberantas maraknya praktek mafia peradilan. menegakkan kehormatan. dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. 28F. Paradigma lama sistem paradilan kita masih kental. yaitu: dihapuskannya lembaga negara Dewan Pertimbangan Agung. Keberadaan Komisi Yudisial.Contoh pengaturan hak asasi manusia telah ditambahkannya pasal hak asasi manusia. hal tersebut sebagaimana dalam perubahan ketiga UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan Komisi Yudisial (KY). 28I. sehingga sebagai lembaga negara baru Komisi Yudisial masih harus menghadapi resistensi yang berat terutama dalam menghadapi hakim agung. Mahkamah Konstitusi (MK). 28E. Awalnya dalam Bab IX hanya terdiri 2 pasal dan 3 ayat. antara lain perubahan pada Bab IX yang mengatur Kekuasaan Kehakiman. hakim di bawah Mahkamah 266 Bunga Rampai . dan 28J. merupakan hasil reformasi khususnya di bidang peradilan. dan dibentuknya lembaga negara baru. yaitu pasal 28A. 29H. memutus pembubaran partai politik. 28G. Perubahan yang sangat mendasar dalam hukum dasar Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. dalam kehidupan sistem kekuasaan kehakiman. Diubahnya kedudukan dan kewenangan Majelis Permusyawaratan Rakyat. keluhuran martabat. yang mempunyai kewenangan mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar. Selanjutnya terbangun adanya 2 lembaga negara baru yaitu Mahkamah Konstitusi. yaitu Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

jika kita melibatkan budaya. serta dengan cermat menyikapi karakter dan perubahan pola interaksi peradaban manusia dalam rangka menjaga martabat kemanusiaan. tetapi kebangsaan saya adalah peri-kemanusiaan” (My nationalism is humanity). pemahaman civic morality harus dituangkan dalam bentuk kewajiban lembaga Komisi Yudisial. dan bernegara secara universal dituangkan ke Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 267 . toleransi dan hukum. maka hal ini sangat terkait dengan tesis Harbermas. dan sesama bangsa di dunia. untuk secara antisipatif mengawal negara sebagai negara hukum dengan segala sumber daya yang kita miliki. yang menyatakan bahwa terdapat ambivalensi dalam hukum dan demokrasi. Komisi Yudisial dalam Sistem Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. ”Saya seorang nasionalis. mengusulkan formula untuk menghilangkan ambivalensi dengan konsep aturan etika global yang merupakan rumusan seni politik sejati dengan menggabungkan politik riil dengan politik kontemporer dalam pembentukan civic morality suatu bangsa. melainkan selalu harus selalu berorientasi terhadap masalah-masalah rasional baik ideal maupun riil. Hal tersebut sejalan dengan prinsip civic morality. untuk menjaga kedaulatan dirinya. Mengacu pada prinsip tersebut penerapan hukum yang didasarkan pada civic morality dalam kehidupan bermasyarakat. tanpa harus menjadi lembaga yang menyendiri. maupun hakim konstitusi. yang diucapkan oleh Mahatma Gandhi. sistem ketatanegaraan maupun sistem pemerintahan. dalam arti demokrasi dan kebebasan tidak selalu berjalan beriringan. Yang dimaksud dengan sistem Geopolitik dan Geostrategi Indonesia adalah Wawasan Nusantara sebagai Geopolitik Indonesia dan Ketahanan Nasional sebagai Geostrategi Indonesia. Atas dasar hal tersebut. Jika kita kaitkan fenomena tersebut dalam sistem kemasyarakatan dan pemerintahan. yang hidup dan tidak berada dalam ruang hampa. Menjawab hal ini Hans Kung. oleh karena itu harus solid dan dapat mendorong proses akselarasi reformasi peradilan pada tataran fungsi dan tugas serta tingkatan para hakim. Keduanya dikembangkan sebagai suatu konsepsi maupun sebagai realisme atas dasar perkembangan politik nasional.Agung.

Dalam sistem pemerintahan selalu terkait dengan hubungan antara lembaga eksekutif dan lembaga legislatif.dalam bentuk empat pola tindak. kecuali dalam sistem pemerintahan negara. Dalam sistem ketatanegaran terbentuk sistem hubungan antar lembaga-lembaga negara. dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. yaitu rasionalitas. maupun yudikatif. spiritual. Sistem ketatanegaran mempunyai cakupan yang lebih luas dibanding dengan sistem pemerintahan. dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UndangUndang Dasar. Mahkamah Konstitusi (MK). Berdasarkan sumber tersebut. lembaga negara adalah institusi yang diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945. Institusi lembagalembaga negara tersebut.Wuest. Berdasarkan Pasal 24C Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. yang mencakup keseluruhan lembaga-lembaga negara termasuk eksekutif. budi pekerti dan toleransi dalam semangat rekonsiliasi. yang dimaksud dengan lembaga negara pada pasal tersebut yaitu. L. Lahirnya sistem pemerintahan parlementer dan sistem pemerintahan presidensiil. 268 Bunga Rampai . Presiden dan Wakil Presiden. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). sebagaimana dikemukakan oleh C. serta berpartisipasi aktif dalam hubungan kerja antar lembaga negara sebagai upaya mencapai cita-cita nasional. tersebut adalah basis geopolitik dan geostrategi suatu bangsa yang bermakna sebagai suatu upaya untuk memperoleh kekuatan bangsa dalam menjaga nasionalisme dan penegakkan hukum secara berkelanjutan. Dewan Perwakilan Daerah (DPD). dan dikenal dalam bahasa Inggris disebut ”Cabinet Government” dan sistem ”Presidential Government” atau juga ”The fixed executive system”. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). didasarkan pada Pasal 24C ayat (1) yaitu menyatakan: Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar. Mahkamah Agung (MA). Komisi Yudisial (KY). sesuai dengan tesisnya Donovan yang merujuk filsafat kata rekonsiliasi dalam kitab Vulgata. J. Civic morality. F Strong dan S. Witman & J. memutus pembubaran partai politik. legislatif.

Majelis Permusyawaratan Rakyat tidak lagi menjadi lembaga negara tertinggi. Dengan demikian juga setelah perubahan terhadap Undang-Undang Dasar selain tidak ada lembaga negara tertinggi juga tidak ada lagi lembaga tinggi negara. dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (Pasal 1 ayat (2). Berdasarkan perubahan terhadap Pasal 1 ayat (2). Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat dengan suara yang terbanyak (Pasal 6 ayat (2). Pasal 1 ayat (2) diubah. atau kekuasaan yudikatif.yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar 1945. dan begitu seterusnya bahwa eksistensi negara hukum tergantung pada keberadaan bentuk negara republik. kedelapan lembaga negara tersebut berkedudukan setingkat sama. Ditarik dari keberadaan hakim juga terkait dengan keberadaan kekuasaan kehakiman. dan kekuasaan kehakiman juga terkait pada keberadaan cita negara hukum/Rechstaat. sehingga berbunyi: Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UndangUndang Dasar”. atau kekuasaan yudikatif mempunyai konsekuensi logis menentukan adanya hakim sebagai subyek pelaksana dari kekuasaan kehakiman. yang tentunya Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 269 . selaku hukum tata negara Indonesia. didasarkan pada: Kedaulatan adalah di tangan rakyat. Majelis Permusyawaratan Rakyat adalah penjelmaan seluruh rakyat Indonesia. Sedangkan sebutan lembaga negara tertinggi sebelum perubahan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu Majelis Permusyawaratan Rakyat. Keberadaan kekuasan kehakiman. Selanjutnya setelah reformasi berjalan terjadilah perubahan Undang-Undang Dasar 1945. Sehubungan prinsip tersebut bagaimana keterkaitannya dengan geopolitik dan geostrategi Indonesia khususnya diimplementasikan dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945. dan bentuk negara amat sangat tergantung oleh paham atau sistem Kedaulatan Rakyat/Volkssouvereineteit (sumber Sutjipno). Kedudukan lembaga-lembaga negara didasarkan atas tugas dan kewenangannya. khususnya perubahan ketiga. Demikian juga Komisi Yudisial dan ketujuh lembaga negara lainnya berkedudukan sama setingkat/sederajat. Dengan demikian. Kekuasaan Negara yang tertinggi di tangan Majelis Permusyawaratan Rakyat (Penjelasan Umum tentang sistem Pemerintahan Negara).

rumusan kewenangan Komisi Yudisial (KY) sebagaimana tercantum dalam Pasal 24B ayat (1). namun lolosnya calon hakim agung yang diseleksi oleh Komisi Yudisial belum mendapat jaminan untuk seluruhnya diterima oleh DPR-RI terutama Komisi III. dan keanggotaan Komisi Yudisial diatur dengan undang-undang. keluhuran martabat. (3) Anggota Komisi Yudisial diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Rumusan sebagai berikut: Pasal 24B (1) Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Sebagai negara hukum. hasil perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Ini menunjukkan peran politik begitu dominan. dan merupakan tantangan berat bagi Komisi Yudisial untuk menunjukkan bahwa calon hakim agung yang diusulkan betul-betul dapat dipertanggungjawabkan dan diterima sebagai calon yang telah memenuhi persyaratan termasuk persyaratan dari sisi politis. Ketentuan ini didasarkan pemikiran bahwa hakim agung yang duduk di MA dan para hakim merupakan figur yang sangat menentukan dalam perjuangan menegakkan hukum dan keadilan. Selanjutnya Kewenangan Komisi Yudisial.mengalami perubahan yang sangat fundamental terutama pada pasal-pasal dan ayat-ayatnya. kedudukan. sangat menentukan manusia sebagai hakim yang mempunyai hati nurani tinggi. serta perilaku hakim. Apalagi hakim agung duduk pada tingkat peradilan tertinggi (puncak) dalam susunan peradilan di Indonesia sehingga ia menjadi tumpuan harapan bagi pencari keadilan. dan ayat (4). (4) Susunan. Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. ayat (2). masalah kehormatan dan 270 Bunga Rampai . (2) Anggota Komisi Yudisial harus mempunyai pengetahuan dan pengalaman di bidang hukum serta memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela. ayat (3).

Kewenangan yang sangat besar yang diberikan kepada Komisi Yudisial merupakan tantangan besar untuk dapat mewujudkan hakim agung yang profesional dan proporsional. memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela adil. berdasarkan Pasal 80A Undang-Undang nomor 5 Tahun 2004 Tentang perubahan Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985. sebelumnya merupakan wewenang Mahkamah Agung.keluhuran martabat. ”sebelum Komisi Yudisial terbentuk. perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Ujian berat bagi Komisi Yudisial saat ini adalah untuk pertama kalinya bangsa Indonesia memberikan kewenangan penuh untuk menjaring para calon hakim agung yang diselenggarakan oleh Komisi Yudisial. memuat ketentuan mengenai pembentukan lembaga di bidang kekuasaan kehakiman bernama Komisi Yudisial (KY) yang merupakan lembaga yang bersifat mandiri. Komisi Yudisial berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai kwenangan lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta perilaku hakim. proporsional. reformis. serta perilaku hakim merupakan hal yang sangat strategis untuk mendukung upaya menegakkan peradilan yang handal dan realisasi paham Indonesia adalah negara hukum. Sedangkan pada Pasal 20A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menentukan. ”calon hakim agung diusulkan Komisi Yudisial kepada DPR untuk mendapatkan persetujuan dan selanjutnya ditetapkan sebagai hakim agung oleh Presiden”. Menurut ketentuan Pasal 24B ayat (1). Outsourcing kinerja Komisi Yudisial ini dapat terwujud manakala semua anggota Komisi Yudisial solid. pengajuan calon hakim agung dilakukan Mahkamah Agung untuk mendapatkan persetujuan DPR dan selanjutnya ditetapkan sebagai hakim agung oleh Presiden”. Untuk itu. Melalui Komisi Yudisial diharapkan dapat diwujudkan lembaga peradilan yang sesuai dengan harapan rakyat sekaligus dapat diwujudkan penegakkan hukum dan pencapaian keadilan yang diputus oleh hakim yang terjaga kehormatan dan keluhuram martabat serta perilakunya. komitmen untuk Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 271 . dan berpikir jernih untuk memutuskan calon hakim agung yang bermoral. tentang Kekuasaan Kehakiman. profesional. Menurut ketentuan tersebut.

proses pembangunan budaya berhukum yang baru (paradigma baru budaya berhukum) yang diciptakan oleh Komisi Yudisial. agar kita dapat memberikan rasa adil dan sejahtera pada seluruh komponen bangsa Indonesia. berwa- 272 Bunga Rampai . dalam memperkuat Negara Indonesia adalah Negara Hukum. sangat diperlukan karena selama ini telah terjadi dan terbentuk di Indonesia sistem hukum modern yang melahirkan watak liberal. Komisi Yudisial lahir dari hasil reformasi. dan mempunyai budi pekerti luhur. melainkan bisa menjadi milik siapa saja. Negara hukum Indonesia sampai saat ini masih diwarnai oleh pengaruh budaya liberal. tidak heran kalau masih terjadi kendala dalam sistem peradilan kita yang tentunya harus dapat diselesaikan oleh kita. maka peran budaya juga tidak bisa dilepaskan sebagai pilar kekuatan Komisi Yudisial. sehingga kerja sama dengan lembaga-lembaga yang mempunyai fungsi yudikatif sangat dibutuhkan. Tentu kita sebagai bangsa Indonesia yang berdaulat dan mempunyai jati diri Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. agar kita dapat membangun sistem peradilan yang mandiri dan dilandasi pada jati diri bangsa kita sendiri. dan perlu dipikirkan wadah konsultasi lembaga yudisial tanpa mengurangi kemandirian dari tugas dan fungsi serta tanggung jawab masing-masing lembaga. saat ini masih dalam proses transisi dibutuhkan orientasi-orientasi baru terutama pemahaman tentang geopolitik dan geostrategi Indonesia yang begitu cepat perubahannya. dan menjadikan pondasi dalam sistem peradilan di Indonesia.memberantas mafia peradilan. harus dijunjung tinggi norma-norma lokal sebagai pondasi kehidupan sistem peradilan Indonesia. karena bangsa Indonesia ini penuh dengan keanekaragaman. Bukan hanya pemimpin tingkat nasional sampai pada terendah. untuk memperkuat kemandirian Komisi Yudisial. sehingga diperlukan suatu tolak ukur apakah seseorang tadi didalam menjalankan tugasnya telah memiliki wawasan yang luas dan jauh menjangkau rasa cinta tanah air. (hal tersebut perlu dikaji lebih mendalam). Dalam hubungannya dengan budaya. Profesionalitas tidak hanya dimiliki oleh kelompok tertentu saja. dan memahami serta mengerti betul tentang cara kerja dan kultur peradilan yang lama.

Penutup Hasil reformasi dan demokrasi. selain tentu moral dan etika profesinya yang harus dijunjung. Fungsi pengawasan yang dilakukam oleh Komisi Yudisial sebagai lembaga negara yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. di bidang peradilan memberikan peluang yang besar bagi bangsa Indonesia. keluhuran martabat.wasan kebangsaan. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 273 . dari mulai hakim agung sampai pada hakim pengadilan negeri. maksudnya antara lain memiliki kandungan kecintaan terhadap tanah air bangsa Indonesia yang sangat kuat. dan merupakan lembaga negara baru yang masih belum tersosialisasikan kepada seluruh elemen bangsa baik yang berada di dalam lembaga negara lainnya maupun di dalam masyarakat luas. diperlukan suatu sharing pengalaman dan mensinergikan menjadi kekuatan wewenang Komisi Yudisial. mempunyai peran yang sangat vital di bidang peradilan. Komisi Yudisial harus dapat membangun ideologinya sendiri. untuk melakukan perbaikan dan langkah strategis untuk memberantas mafia peradilan yang bertentangan dengan norma dan etika peradilan. serta perilaku hakim. keluhuran martabat. kenegarawanan. Demikian juga para anggota Komisi Yudisial. yang akan menentukan calon-calon hakim agung. dan mempunyai komitmen tinggi terhadap keutuhan wilayah kedaulatan negara Republik Indonesia. sebagai wujud nyata sifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Dalam rangka untuk mewujudkannya diperlukan orientasi baru. Semua elemen bangsa harus dapat memahami dan mengerti serta melaksanakan apa yang menjadi wewenang Komisi Yudisial sebagai lembaga negara baru yang telah diberikan wewenang berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. yaitu melakukan revitalisasi yang sebelumnya wewenang tersebut menjadi wewenang lembaga Mahkamah Agung. serta perilaku hakim. Wawasan kebangsaan dan kenegarawanan.

C. Blout. 2005. 2006. 2007. Howars. 1 No. Ermaya suradinata. Moh. Sekretariat Jenderal MPR RI. ”Menjaga Jarum Sejarah Amandemen UUD. Inc. Demokrasi. PT Alumni. dalam Jurnal hokum Progresif.F. Bunga Rampai Refleksi Satu Tahun. Vol. Penerbit suara Bebas.2000. New York University Press. 1966. Russak & Company. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Crane. “Hukum Progresif. Moh. Bandung. Lemhannas RI Jakarta. Strong. Jakarta. Ermaya suradinata. Komisi Yudisial Republik Indonesia.W.1.Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia. Taylor & Prancis. Saragih. NY. Bintan Regen. The Judiciary. PT Rinneke Cipta.” tulisan disiapkan untuk buku HUT Mahkamah Konstitusi Tahun 2006. Hukum Dasar Geopolitik dan Geostrategi Dalam Kerangka Keutuhan NKRI. dan Ball. Prentice Hall. 1996. Permasalahan Aktual dan pentingnya Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. 2006. Satjipto. 2005. 2005. NY. Sdigwick and Jackson Limited. New Jersey. The English Language Book Society. Richard A. Henry J. 1996. Modern Political Constitution. Rahardjo. B. “Hukum yang Membebaskan”. Cal Stanford University Press. 2006. Mahfud MD. Cooper Phillip. Coins s. Wasserstrom. 1997. The Supreme Court in The Govermental Process. London. Sri Soemantri. The United States Supreme Court.1961. The Geopolitics Of The Nuclear Era New York. Program Pascasarjana Universitas Jayabaya. The Judicial Decision. Mackinder and The Defence of The West.. 2005. Jakarta. Global Geostrategy. Mahfud MD. Gray. Toword a Theory of Legal Justification. Stanford. Jakarta. 274 Bunga Rampai .Daftar Pustaka Abraham. Jakarta. Prosudur dan system Perubahan Konstitusi.

Dalam melakukan pengawasan terhadap hakim. sebetulnya KY telah berhasil membangun budaya kontrol yang membuat para hakim lebih berhati-hati. Sayang. melainkan juga rekomendasi KY untuk memberi sanksi hakim-hakim nakal dapat menimbulkan efek jera. dalam perjalanan pelaksanaan tugas dan wewenang KY mendapat hambatan. Padahal. Pendahuluan Pasal 22B Ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 (UUD) menegaskan eksistensi Komisi Yudisial (KY) yang bersifat mandiri dan berwenang mengusulkan hakim agung. merupakan kewenangan KY yang amat krusial. Kehadiran berbagai lembaga negara baru seperti KY telah menandai berjalannya proses transisi menuju demokratisasi yang sesungguhnya. harapan masyarakat pada KY bukan hanya mencari dan menemukan sosok calon hakim agung yang kredibel atau menjaga perilaku hakim dari perbuatan tercela. serta perilaku hakim. keluhuran martabat. yang justru berasal dari lembaga yang seharusnya secara bersama menegakkan harkat dan martabat peradilan.Memulihkan Kewenangan Komisi Yudisial Dengan Melibatkan Kemitraan (Jejaring) di Daerah Marwan Mas A. Kehadiran KY pada hakikatnya dimaksudkan menjawab tuntutan masyarakat agar prinsip-prinsip demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan terakomodasi melalui lembaga yang akuntabel dan independen. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 275 . dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan menegakkan kehormatan hakim.

Kompleksitas permasalahan yang melingkupi pengadilan Indonesia. KY memberikan rekomendasi untuk pemberhentian hakim. meskipun berbeda pada pelaksanaan fungsi dan perannya. tetapi juga panitera dan administrasi.Kiranya perlu dipahami bahwa pembentukan KY selain diarahkan untuk menciptakan sebuah lembaga pengawas dalam kekuasaan yudikatif. Pemilahan dan penentuan prioritas pembenahan menjadi sangat penting dipahami oleh mitra yang dibangun. Peran mitra di daerah. Berbagai kasus yang terungkap ke publik. mutasi. dan pendisiplinan hakim. termasuk bagaimana peran mitra KY memberikan informasi dalam mendukung pelaksanan tugas dan wewenang KY. keberadaan komisi semacam ini sudah merupakan hal yang jamak dan dibutuhkan. pengawasan. managemen organisasi. kewenangan komisi ini jauh lebih signifikan karena memiliki kewenangan yang cukup luas seperti rekrutmen hakim. Proses tersebut berawal dari panitera yang meregister dan membagikan perkara kepada hakim. tetapi juga panitera yang mendaftar perkara. soal penyimpangan hakim tidak berdiri sendiri tetapi terdesain dalam suatu mafia yang amat sulit dibuktikan. mestinya objek pengawasan KY tidak hanya hakim. Di negara-negara Eropa Selatan seperti Perancis. maka tugas dan wewenang KY perlu ditunjang oleh mitra di daerah. serta perilaku hakim. mengajukan calon ketua MA. peran pegawai peradilan yang mengontak pengacara atau pencari keadilan. Sebab sudah menjadi rahasia umum. Untuk menunjang proses peradilan yang lebih bermartabat. Italia. dan memberikan masukan dalam pengangkatan ketua/wakil ketua MK. sumber daya penunjang dan sebagainya. keluhuran martabat. mulai dari sumber daya manusia. promosi. KY telah membangun kemitraan (jejaring) di daerah-daerah. dan berakhir pada hakim yang memeriksa dan menjatuhkan putusan. paling tidak diharapkan memberikan dampak positif dalam mengefektifkan pelaksanaan tugas dan wewenang KY. penyimpangan di lingkungan peradilan yang merugikan masyarakat tidak hanya menyangkut hakim. Di Afrika Selatan. Salah satu cara untuk mengawasi perilaku hakim. dan Spanyol. Di sejumlah negara. 276 Bunga Rampai . juga bermakna untuk menjaga dan menegakkan kehormatan.

penyusunan berita acara pemeriksaan (BAP). Sayang. termasuk proses persidangan yang murah. KY dipersepsikan dalam UUKY untuk tidak mencampuri teknik yudisial.B. kearsipan perkara. terutama yang concern terhadap proses reformasi peradilan demi terciptanya sistem peradilan yang bersih. seperti prosedur penerimaan perkara dan registrasi perkara. Memang secara legalistik. Memulihkan Kewenangan KY Dalam menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat. akuntabel dan berwibawa. sehingga memerlukan jaringan kerjasama dalam rekrutmen calon hakim agung dan pengawasan terhadap para hakim. KY sebagai lembaga negara yang mandiri berkepentingan dan berkomitmen untuk terus menjalin kerjasama dengan berbagai elemen masyarakat. KY tidak berwenang memeriksa aspek teknis yudisial seperti kemampuan hakim menangani perkara. Reformasi peradilan sebagai agenda utama KY tidak akan berhasil seperti yang diharapkan. dibutuhkan peran masyarakat melalui mitra yang dibentuk KY untuk terlibat langsung dalam mendukung pelaksanaan tugas dan wewenang KY. rekomendasi KY tidak mendapat respon positif MA sehingga ide awal pembentukan KY dalam UUD tidak berjalan sebagaimana mestinya. pembuatan laporan Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 277 . pembukuan keuangan perkara. dan eksekusi. Sementara keputusan KY berkaitan dengan pelanggaran perilaku hakim hanya berupa rekomendasi yang intinya mengusulkan penjatuhan sanksi. pembuatan daftar persidangan. perlu pemulihan kewenangan KY untuk mengungkapkan modus operandi dan upaya pemberantasan mafia peradilan. Dalam kondisi demikian. tenggang waktu penyelesaian perkara. Desain ini mirip dengan fungsi yang diberikan kepada Judicial Commission di New South Wales. serta perilaku hakim. Pentingnya pengawasan hakim dari pengaruh mafia peradilan. Para pencari keadilan begitu sulit mendapatkan pelayanan peradilan yang jujur. Begitu juga terhadap penanganan administrasi peradilan. Australia. Salah satu upaya tersebut adalah perlunya penguatan pengawasan dan peran serta masyarakat dalam mengontrol praktek peradilan. karena dalam realitasnya telah menghilangkan akses keadilan bagi masyarakat dan pencari keadilan. sederhana dan cepat. Oleh karena itu. kualitas putusan.

berkas perkara dapat saja diperiksa KY. Penilaian atas perilaku hakim dalam menangani perkara yang ternyata menuai keberatan pencari keadilan merupakan bagian dari tanggung jawab hakim. Kedua aspek ini tetap dipegang oleh pengawas internal MA. Berdasarkan laporan 32 negara yang dimuat 278 Bunga Rampai . Sukses atau tidaknya pengawasan KY. Kesemuanya diarahkan untuk meningkatkan prestasi kerja hakim dalam menyelesaikan perkara dengan cepat. Mitra (jejaring) KY yang ada di daerah merupakan representasi pengawasan masyarakat. Namun. dan kualitas putusan harus dapat dirasakan oleh pencari keadilan. sebab memeriksa dan memutus perkara merupakan sebuah tanggung jawab seperti “kemampuan menangani perkara” yang memberikan keadilan. Pemeriksaan KY terletak pada penilaian hakim terhadap fakta-fakta persidangan yang dituangkan dalam putusan dengan menelusuri apakah terjadi penyimpangan perilaku hakim. Mitra atau jejaring yang ada di masyarakat dapat menjadi mata dan telinga KY. memang tidak sampai pada soal “teknis yudisial” karena terkait independensi hakim (independence of judiciary) dalam memeriksa dan memutus perkara.perkara. KY dapat mengapresiasi perilaku hakim yang menyimpang dengan melakukan interpretasi. Wewenang KY mengawasi perilaku hakim demi menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat hakim. Intervensi model ini telah membudaya melalui forum musyawarah pimpinan daerah (Muspida) yang memberi ruang bagi eksekutif dan legislatif untuk mempengaruhi lembaga peradilan. penyuapan yang dapat terjadi sepanjang proses peradilan. khususnya eksekutif dan legislatif untuk mempengaruhi putusan hakim. menjadi taruhan kepercayaan masyarakat pada lembaga peradilan. dapat dilihat pada dua aspek. jika ada fakta-fakta perilaku hakim yang tercela dalam berkas perkara yang berakibat dikeluarkannya putusan. dan eksekusi peraturan. hakim bisa berkolusi dengan kekuasaan untuk memenangkan suatu perkara. sebagai bagian dari pengawasan masyarakat terhadap hakim. adanya intervensi atau campur tangan dari pihak luar. jujur. Kedua. Penyebab maraknya korupsi di lembaga peradilan (judicial corruption) yang mesti jadi perhatian mitra KY di daerah. Pada aspek ini. Pertama.

Salah satu yang menghambat efektivitas pelaksanaan tugas dan wewenang KY adalah timbulnya sikap MA yang merasa kewenangan pengawasannya diambil alih KY.” tandasnya. dan UU Nomor 24 Tahun 2002 tentang Mahkamah Konstitusi (UUMK). Temuan KY dalam memeriksa perilaku hakim yang menyimpang yang kemudian direkomendasikan kepada MA. bertujuan untuk menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat hakim. Fungsi pengawasan MA bersifat internal. menerima atau menolak permintaan banding. sebagian hakim dapat disuap untuk memperlambat atau mempercepat proses pengadilan. yang mengakibatkan maraknya korupsi di pengadilan. pengawasan dari aspek administrasif berkaitan dengan proses peradilan tetap ada pada MA. Pemulihan kewenangan KY dalam menjaga dan mengawasi perilaku hakim harus terakomodasi dalam perubahan UUMA dan UUMK. seharusnya direspons positif. UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung (UUMA). mempengaruhi rekan sesama hakim atau sekedar menjatuhkan putusan tertentu. Justru MA dapat memanfaatkan KY untuk membantu menegakkan martabat hakim. Kewenangan KY mengawasi hakim dan hakim konstitusi sebagaimana dimaksud dalam UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (UUKY). terkesan telah membonsai kewenangan KY sehingga perlu dipulihkan dengan mensinkronkan UUKY. Efektivitas pengawasan hakim seharusnya berjalan sinergis. Jika yang menjadi tujuan adalah tegaknya martabat hakim.dalam Global Corruption Report 2007. Posisi KY sebagai pengawas eksternal yang bersifat independen. Sinkronisasi ketiga UU selain dimaksudkan memulihkan ke- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 279 . sedangkan KY melakukan pengawasan eksternal untuk menumbuhkan tanggung jawab hakim sebagai benteng terakhir penegakan supremasi hukum dengan memeriksa dan memutus perkara secara benar dan adil. termasuk pengawasan fungsional oleh Dewan Kehormatan Hakim Agung. kewenangan KY untuk menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat hakim telah diamputasi oleh putusan MK Nomor: 005/PUU-IV/2006 tanggal 23 Agustus 2006. “Faktor kedua inilah yang paling krusial. Sayang. Padahal. kehadiran KY tidak perlu dianggap sebagai rival.

Pertama. bahwa penilaian perilaku dilakukan dengan penilaian putusan. MK adalah lembaga negara yang paling steril dari sentuhan pengawasan dari luar dirinya (pengawasan ekstern). pengawasan dari dalam tidak maksimal. Menurut MK. Keberadaan hakim konstitusi yang tidak termasuk dalam pengertian hakim yang dapat diawasi perilaku etiknya oleh KY merupakan putusan diskriminatif. Dalam pertimbangan hukumnya. KY tidak berwenang mengawasi hakim yang berkaitan dengan teknis yudisial. KY tidak berwenang mengawasi hakim MK. Putusan MK yang perlu diapresiasi menyangkut kewenangan KY pada Kamis 23 Agustus 2006 terdiri dari dua bagian. MK secara sistematis melemahkan fungsi dan peran KY dengan cara ”membonsai” kewenangan KY dalam mengawasi perilaku hakim. juga menambal kekosongan hukum di bidang pengawasan terhadap badan peradilan dan hakim yang dilakukan KY seperti diperintahkan Pasal 24B Ayat (1) UUD.wenangan KY. Saat ini. yaitu mengenai putusan hakim atas suatu perkara. Praktik mafia peradilan diperkirakan akan semakin menjadi-jadi karena perilaku hakim tidak lagi diawasi dan dikontrol oleh lembaga lain (KY). MK menilai. Padahal. hal tersebut menyebabkan adanya penafsiran yang tidak tepat. Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 menyiratkan bahwa KY hanya dapat mengawasi pelaksanaan kode etik dan kode perilaku hakim dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan hakim. Kedua. Para hakim Konstitusi tidak digolongkan sebagai hakim seperti hakim MA dengan alasan demi independensi dalam memeriksa dan menjatuhkan putusan. pengawasan atas pelaksanaan kode etik hakim konstitusi dilakukan Majelis Kehormatan sesuai dengan ketentuan Pasal 23 UU MK sebagai pelaksanaan Pasal 24C Ayat (6) UUD. tetapi hanya diawasi sendiri oleh temannya sesama hakim. Putusan MK yang mencabut pengawasan KY terhadap dirinya (hakim konstitusi) merupakan tindakan yang berlebihan. MK secara arogan telah mengabaikan prinsip checks and ba-lances yang menjadi roh bangunan kelembagaan negara dengan tidak rela diawasi dan dijaga kehormatan dan perilakunya oleh lembaga lain. 280 Bunga Rampai .

Termasuk saat Ketua MA dihambat ketua majelis hakim Pengadilan Khusus Korupsi untuk hadir bersaksi dalam sidang perkara suap pegawai MA oleh pengacara Probosutedjo. tetapi tak satupun dari enam rekomendasi KY yang direspon MA. bahkan ada yang diproses di pengadilan. tetapi lagi-lagi diabaikan MA. Harini Wijoso. dan realitas menunjukkan terciptanya potensi rivalitas yang mengarah pada krisis kelembagaan. tidak menutup kemungkinan ada hakim yang akan mencari peluang untuk keuntungan sendiri dengan melanggar salah satu pedoman perilaku hakim. Bila hakim terpaksa harus menaati dua versi pedoman perilaku hakim (Code of Conduct). Satu Pedoman Perilaku Hakim Pasal 14 UU Nomor 22/2004 tentang Komisi Yudisial sebagai derivasi Pasal 24B UUD 1945 menegaskan. Adanya dua versi pedoman perilaku hakim. Apalagi perseteruan MA-KY selama ini cukup memprihatinkan. KY mempunyai wewenang menjaga dan mengawasi perilaku hakim. UUMA juga mengatur bahwa MA berwenang pula melakukan pengawasan terhadap kecakapan hakim dan perbuatan tercela dari hakim.C. Penolakan Ketua MA bersaksi ternyata disikapi KY dengan memeriksa ketua majelis hakim. Sedangkan tidak diberi peluang menerima hadiah sesuai “sumpah hakim”. kalau pada aspek lain ada ketentuan yang membolehkan hakim menerima hadiah yang berlawanan dengan sumpahnya. Di lain pihak. Malahan tiga anggota hakim non-karir diganti dan kini diperiksa Pengadilan Tinggi Jakarta karena walk out dalam lima kali Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 281 . seperti pada soal rekrutmen hakim agung atau saat Ketua MA mengabaikan enam rekomendasi KY untuk menghukum hakim yang telah diperiksa karena melakukan penyelewengan. Keduanya diberi wewenang hal yang sama. tak pelak akan semakin menjadi-jadi di kalangan hakim. maka rivalitas kewenangan akan kontra-produktif. Hadiah sebagai penghalusan suap (gratifikasi) dalam kode etik yang dibuat MA. apalagi kalau memang diberi peluang. Alih-alih menjaga harkat dan martabat hakim. tidak sedikit oknum hakim yang menerima suap dalam menangani perkara seperti terungkap di media. Kresna Menon dan hasilnya direkomendasikan kepada MA agar yang bersangkutan diberhentikan sementara selama satu tahun untuk tidak menangani perkara.

perlu duduk bersama merancang dan menetapkan satu pedoman perilaku hakim. juga akan memberi peluang untuk dimanipulasi. Mestinya Ketua MA lebih peka atas berbagai keborokan di lingkungan peradilan. kedua lembaga negara dalam lingkungan peradilan ini diharapkan berperan aktif dalam menjaga keluhuran peradilan. KY. Dalam kondisi demikian. padahal konstitusi dan UUKY memberi kewenangan untuk mengawasi dan memeriksa hakim-hakim nakal. Kalau pedoman perilaku hakim versi MA membolehkan 282 Bunga Rampai . terlebih adanya tudingan mafia peradilan. Padahal. baiknya dijadikan momentum oleh MA untuk memperbaiki institusi peradilan yang selama ini disoroti publik. Tentu saja para hakim akan mengikuti kode etik yang dibuat MA sebagai lembaga yang menaunginya. MA seakan lembaga yang kebal dari sentuhan pengawasan lembaga lain atau pengawasan masyarakat dengan mengabaikan konstitusi. Resistensi MA terhadap rekomendasi KY. karena selain membingungkan hakim. Tidak akan efektif kalau masingmasing membuat pedoman perilaku hakim. kode etik versi KY akan diabaikan. Rivalitas kewenangan dalam mengawasi perilaku hakim akan semakin memperpuruk citra lembaga peradilan Indonesia.sidang yang bersikukuh agar Ketua MA dihadirkan bersaksi. Demi independensi. dan MK --yang hakimnya mestinya juga diawasi KY. Tetapi para hakim juga sudah maklum kalau rekomendasi KY akan diabaikan MA seperti nasib enam rekomendasi KY. wibawa KY akan jatuh dan tidak lebih dari “macan kertas” yang tidak bergigi. Penyatuan dalam satu atap korps hakim (tidak lagi secara administrasi berada di bawah Menteri Kehakiman dan HAM). MA. termasuk nantinya pada pedoman perilaku hakim yang dibuat KY. tidak lebih dari sikap “arogansi” MA yang selalu berlindung di balik jubah independensi. Penerapan dua pedoman perilaku hakim sudah pasti akan menimbulkan implikasi hukum yang pada akhirnya mengancam kewibawaan MA-KY. Perlu kesadaran dan keprihatinan bersama antara MA dengan KY dalam melihat dan menyikapi persoalan penegakan hukum. Sebaliknya. meskipun nantinya bisa dipanggil untuk diperiksa KY dan kemungkinan akan direkomendasikan ke MA agar diberi sanksi.

misalnya sekotak kue atau sepotong kain batik biasa. yaitu untuk menghindari kekecewaan orang dan tidak tega menolak pembe- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 283 . MA mengabaikan sumpah hakim.. Bagir Manan (Media Indonesia. bertentangan dengan Pasal 12B UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang melarang penyelenggara negara.. tentu tidak lagi proporsional di tengah upaya merebut kembali citra peradilan Indonesia. apalagi dari pihak yang berperkara. juga mewujudkan sinergi dan saling menghormati wewenang. ternyata menoleransi hakim menerima hadiah dari orang yang berperkara. untuk ”. Alasan membolehkan hakim menerima hadiah terkesan dibuat-buat dan menggelikan. memberi peluang bagi hakim menerima hadiah (gratifikasi) sangat riskan dan berbahaya. dan aparat hukum menerima gratifikasi. Ketua MA. Bahkan. 27/6/2006) menyatakan. dan pada sub-bagian berperilaku jujur. karena akan menghambat pemberantasan judicial corruption yang terstruktur dan institusional..” Olehnya itu. karena selain menghindari rivalitas dan krisis kelembagaan. hakim yang menerima sesuatu atau hadiah selain termasuk gratifikasi juga dinilai sebagai unprofessional conduct. Di sinilah dituntut kesadaran keduanya (termasuk MK) untuk secara bersama membuat satu pedoman perilaku hakim.hakim menerima hadiah. Ketua MA boleh saja beralasan tidak akan berpengaruh pada independensi hakim. tetapi alasan yang diberikan tidak sesederhana itu. hakim boleh saja menerima hadiah asalkan jumlahnya wajar dan tidak ada tendensi mempengaruhi hakim dalam memeriksa dan menjatuhkan putusan. Pernyataan ini telah mereduksi harapan publik agar hakim memiliki integritas yang tinggi. akan semakin memperlebar jurang perbedaan yang pada akhirnya hanya akan merugikan penegakan hukum yang bersandar pada rasa keadilan masyarakat. Jika masing-masing membuat pedoman perilaku hakim dengan subjek yang sama.. Sebab. Pedoman perilaku hakim versi MA dikecam berbagai kalangan karena memuat ketentuan yang membolehkan seorang hakim menerima hadiah dari pihak lain.. tidak menerima apa pun yang patut diduga berkaitan dengan jabatan . pegawai negara. Pedoman perilaku hakim versi MA menetapkan 10 pedoman perilaku hakim.

Penutup Untuk lebih memaknai tugas dan wewenang KY.rian yang dapat menyakiti hati orang yang memberi. maka mitra (jejaring) KY yang ada di daerah harus dilibatkan secara maksimal. juga perlu perhatian KY. Munculnya polemik atas hasil rekrutmen KY terhadap calon hakim agung. tetapi sesuatu yang bersifat cair yang perlu dihidupkan oleh pelaksana hukum. hakim-hakim di republik ini sering hanya mendahulukan kepentingan perutnya ketimbang mengimplementasikan rasa keadilan masyarakat. Berbagai survei dan pengaduan masyarakat yang terungkap di media massa menyebutkan. Paling tidak. Timbul pertanyaan. Kendati proses seleksi calon hakim agung telah dilakukan KY. perlu menyimak kritikan Charles Sampford (1998) dalam teori ”the disorder theory of law” yang memandang hukum tidak identik dengan bangunan yang penuh keteraturan logis-rasional. DPR telah memilih enam hakim agung dari 18 284 Bunga Rampai . calon hakim agung dan para hakim dapat terjaga integritas dan kredibilitasnya dalam menyelenggarakan peradilan yang memihak pada rasa keadilan masyarakat. memotivasinya untuk berani melaporkan rekam jejak para calon hakim agung yang sedang diseleksi KY dan DPR. Di dalamnya selalu ada ruang ekstra (leeway) yang dapat digunakan untuk menghidupkan nilai-nilai kehidupan sosial dan rasa keadilan masyarakat. Rivalitas dan perseteruan MA-KY mestinya sudah harus berakhir dengan duduk bersama merancang satu pedoman perilaku hakim. Hukum tidak selalu dimaknakan “machine justice” sehingga hakim harus menjaga hak-hak komunitas dan konstitusionalitas rakyat. Untuk mengefektifkan pelaksanaan tugas dan wewenang KY. Pedoman perilaku hakim yang masing-masing dibuat oleh KY dan MA. bahkan pada 6 Juli 2007. Hanya dengan cara itu. mana yang harus dipatuhi para hakim? Apakah pedoman perilaku hakim yang dibuat lembaganya (MA) atau pedoman perilaku hakim yang dibuat KY sebagai lembaga yang memang diberi wewenang oleh konstitusi untuk mengawasi perilaku hakim? D. hanya akan menambah kekisruhan dalam mengawasi perilaku hakim. serta perilaku hakim yang menyimpang.

serta keluhan sejumlah calon hakim agung yang berasal dari hakim karir yang mengikuti tes.calon yang diajukan KY. seyogyanya diapresiasi agar tidak terulang di kemudian hari. bahwa mereka direndahkan oleh tim seleksi KY dari cara bertanya yang terkesan menyudutkan. tidak berarti KY harus berpuas diri. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 285 . Termasuk jumlah dana yang amat besar digunakan dalam seleksi. Keberatan salah seorang anggota KY atas penetapan 12 calon hakim agung yang merasa tidak dilibatkan dalam rapat pleno.

286 Bunga Rampai .

berbagai kontroversi tersebut dapat dilihat mulai dari lambatnya proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh kepolisian dan kejaksaan dalam penanganan suatu kasus. Semua hal tersebut diperparah dengan sering munculnya putusan pengadilan yang tidak mencerminkan rasa keadilan masyarakat. sipir penjara dan advokat). S. Apabila dirangkum dalam suatu kesimpulan umum.Urgensi dan Fungsi Pembentukan Jejaring di Daerah Oleh Komisi Yudisial Asep Rahmat Fajar. yaitu dimulai dari seluruh aparat penegak hukum (polisi. proses penundaan persidangan tanpa alasan yang jelas sampai kepada pelaksanaan putusan pengadilan yang kadang kala tidak jelas waktunya. Selain itu dari berbagai penelitian yang dilakukan oleh berbagai lembaga swadaya masyarakat diperoleh data bahwa aktor-aktor yang terlibat pun sudah demikian luas. jaksa. pegawai administrasi dengan pangkat tertinggi sampai dengan pangkat terendah di lembaga penegakan hukum. sampai dengan kalangan in- 1 Tenaga Ahli Komisi Yudisial Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 287 . banyaknya pungutan di luar biaya administrasi resmi saat kasus telah masuk ke pengadilan. sehingga tidak heran apabila dalam sebuah media nasional pernah disebutkan bahwa seorang koruptor yang “merampok” uang negara milyaran rupiah hukumannya tidak beda jauh dengan seorang yang maling 4 karung bawang merah di pasar.H. hakim. 1 Pendahuluan Peradilan Indonesia saat ini dipenuhi kontroversi demi kontroversi.

Berbagai keluhan baik dari masyarakat dan para pencari keadilan seolah-olah sudah tidak dapat lagi menjadi media kontrol bagi para penegak hukum tersebut untuk kemudian melakukan berbagai perbaikan yang signifikan bagi terciptanya suatu kinerja yang ideal dan sesuai dengan harapan masyarakat. favoritisme. kinerja aparat penegak hukum sekarang ini memang berada pada titik nadir yang cukup mengkhawatirkan. memperlambat proses pengadilan. “Katakan Tidak. Kolusi dan Nepotisme (KP2KKN) Jawa Tengah. nepotisme.telektual yang menjadi saksi ahli. secara umum adalah tindakan-tindakan yang menyebabkan ketidakmandirian lembaga peradilan dan institusi hukum (polisi. 288 Bunga Rampai . Bahkan Daniel Kauffmann yang secara khusus menyoroti praktek korupsi di lembaga peradilan. perubahan dengan sengaja berkas pengadilan. seperti suap. ancaman. pemanfaatan kepentingan umum untuk kepentingan pribadi. jaksa. Panduan Melawan Mafia Peradilan”. Sebagai suatu sistem. pemalsuan. dalam laporannya menunjukkan bahwa Indonesia termasuk negara yang berada pada posisi yang cukup memprihatinkan berkaitan dengan kinerja aparat pada lembaga penegakan hukumnya. sikap tunduk kepada campur tangan luar/dalam pada saat memutus perkara karena adanya tekanan. pertimbangan yang keliru. conflict of interest. Fakta yang secara selintas disebutkan di atas menyebabkan berbagai laporan lembaga di dalam maupun luar negeri yang menyebutkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat korupsi tertinggi di dunia menjadi cukup valid dan tidak dapat disanggah sama sekali. Sedangkan secara khusus dapat dilakukan dalam bentuk mencari atau menerima berbagai macam keuntungan atau janji berdasarkan penyalahgunaan kekuasaan kehakiman atau perbuatan lainnya. kompromi dengan advokat serta tunduk kepada kemauan pemerintah dan partai politik. Praktek-praktek judicial corruption ini secara kolektif dikenal dengan sebutan mafia peradilan. penghilangan data atau berkas pengadilan. hakim dan advokat). 2 Komite Penyelidikan dan Pemberantasan Korupsi.2 Bentuk-bentuk korupsi di lembaga peradilan sendiri menurut deklarasi International Bar Association (IBA).

Secara praktek. Kelemahan sistem tersebut pada gilirannya mengakibatkan pola manajemen sumber daya manusia dan manajemen administrasi di lembaga-lembaga penegak hukum tersebut menjadi berjalan tidak optimal/ obyektif. yaitu: 1. apabila dikaitkan dengan aparat penegak hukum. kebijakan dan ketentuan atau peraturan (dasar dilakukanya pengawasan berikut aturan mainnya). mekanisme (urutan. penggunaan anggaran. 5. perintah yang dikeluarkan. subyek (pengawas atau orang yang mengawasi). 3. 2. Pengawasan: Prinsip dan Aktor Yang Terlibat Menurut Fayol (salah seorang perintis ilmu manajemen) pengawasan adalah upaya memeriksa apakah semua terjadi sesuai dengan rencana yang ditetapkan. dan prinsip yang dianut. Juga dimaksudkan untuk mengetahui kelemahan dan kesalahan agar dapat dihindari kejadiannya di kemudian hari. transparan dan mengedepankan nilai-nilai keadilan di sisi lain terlihat sudah sangat sulit untuk diterapkan dan ditemui dalam lembaga dan aparat penegak hukum yang ada saat ini. tata cara atau prosedur dalam melakukan pengawasan) dan 6. dan biaya ringan di satu sisi dan terciptanya suatu peradilan yang bersih. Adapun unsur-unsur dari pengawasan tersebut setidaknya meliputi enam hal. obyek (orang yang diawasi). cepat. maka makna yang terkandung di dalam pengertian pengawasan tersebut berhubungan erat dengan kesatuan tanggung jaPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 289 . 4. Sebagian kalangan menganggap bahwa permasalahan tersebut tidak dapat dilepaskan dari lemahnya sistem pengawasan. dan sebagainya). Selain itu Sujamto (ahli manajemen lainnya) mendefinisikan pengawasan sebagai segala usaha dan kegiatan untuk mengetahui dan menilai kenyataan yang sebenarnya mengenai pelaksanaan tugas atau kegiatan apakah sesuai dengan yang semestinya atau tidak. ruang lingkup pengawasan (hal-hal yang diawasi seperti kinerja pegawai. tujuan (untuk memastikan bahwa pelaksanaan suatu tugas maupun hasilnya sesuai dengan perencanaan) Sehubungan dengan berbagai teori pengawasan tersebut. teori pengadilan yang mempunyai asas sederhana.

esprit de corps) dari obyek pengawasan. yang mengakibatkan proses pencarian data dan informasi pendukung menjadi cukup terhambat. merespon laporan atau pengaduan masyarakat dan menindaklanjuti dengan obyektif hasil pemeriksaan dan laporan masyarakat tersebut. 4. diperlukan suatu sistem pengawasan agar dapat mendeteksi dan memeriksa pelanggaran. 3 Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia (Mappi). antara lain adalah: 1. 3. 2. Mekanisme pengawasan melalui proses yang sangat panjang. tanggung jawab administrasi (administrative responsibility). 290 Bunga Rampai . 2. mekanisme pengawasan tidak transparan dan akuntabel sehingga masyarakat yang mengajukan laporan/ pengaduan tidak mengetahui tindak lanjut dari laporan/pengaduan mereka. yaitu:3 1. 3.wab yudisial (judicial responsibility) yang mengandung tiga dimensi pertanggungjawaban. solidaritas (in group feeling. sehingga tidak berjalan dengan efektif. Melihat permasalahan yang masih ada sampai saat ini dalam sistem pengawasan aparat penegak hukum kita. “Administrasi Peradilan : Lembaga Pengawasan Sistem Peradilan Terpadu”. tanggung jawab prosedural (procedural responsibility) yang menuntut ketelitian atau akurasi hukum acara yang dipergunakan dan tanggung jawab substansi (substantif responsibility) yang berhubungan dengan ketepatan pengkaitan antara fakta dan hukum yang berlaku. baik perilaku di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan. Pada beberapa lembaga penegak hukum belum ada ketentuan yang memadai yang mengatur pedoman bagaimana seorang aparat penegak hukum seharusnya berperilaku (code of conduct). Berdasarkan teori di atas terdapat beberapa permasalahan dalam sistem pengawasan bagi aparat penegak hukum di Indonesia.

yaitu transparansi. beberapa indikator untuk menjamin akuntabilitas publik adalah penyebarluasan informasi mengenai suatu keputusan. pembuatan keputusan sudah memenuhi standar etika dan nilai-nilai yang berlaku. melalui media massa.Untuk mengoptimalkan sistem pengawasan aparat penegak hukum tersebut. akuntabilitas dan partisipatif. salah satu hal yang paling utama adalah partisipasi publik. mekanisme yang memfasilitasi pertanyaan-pertanyaan publik tentang berbagai kebijakan dan pelayanan publik. mekanisme yang memfasilitasi pelaporan maupun penyebaran informasi maupun penyimpangan tindakan aparat publik di dalam kegiatan pelayanan publik. adanya mekanisme untuk menjamin bahwa standar telah terpenuhi. artinya sesuai dengan prinsip-prinsip administrasi yang benar maupun nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. serta standar yang berlaku. Sedangkan pada tahap sosialisasi kebijakan. konsistensi maupun kelayakan dari target operasional yang telah ditetapkan maupun prioritas dalam mencapai target tersebut. dengan konsekuensi mekanisme pertanggungjawaban jika standar tersebut tidak terpenuhi. dan sudah sesuai dengan visi dan misi organisasi. Dalam hal ini prinsip transparansi ini hanya akan menjadi wacana semata jika tidak didukung oleh adanya perlindungan hukum terutama bagi publik yang tertuang dalam suatu Undang-undang tentang Kebebasan Memperoleh Informasi dan Perlindungan Saksi. maupun media komunikasi personal. akses publik pada informasi atas suatu keputusan setelah keputusan dibuat Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 291 . maupun proses-proses di dalam sektor publik. Parameter yang dapat digunakan untuk mengukur prinsip transparasi terdiri dari mekanisme yang menjamin sistem keterbukaan dan standarisasi dari semua prosesproses pelayanan publik. Selanjutnya untuk akuntabilitas indikator dan parameter yang dapat menjadi acuan pada tahap proses pembuatan adalah pembuatan sebuah keputusan harus dibuat secara tertulis dan tersedia bagi setiap masyarakat yang membutuhkan. adanya kejelasan dari sasaran kebijakan yang diambil. akurasi dan kelengkapan informasi yang berhubungan dengan caracara mencapai sasaran suatu program. Terdapat beberapa hal penting yang harus dijadikan sebagai prinsip.

2002). Dalam hal ini partisipasi publik dalam pengambilan keputusan hanya dapat efektif dan berarti (meaningful) jika masyarakat memiliki informasi yang memadai. 157. Oleh karenanya.4 Logikanya cukup sederhana. hal. dan perhatian pemerintah pada pengarahan dan ajakan pada publik untuk berpartisipasi. the Aarhus Convention and the European Union” dalam Human Rights in Natural Resources Development. maka masyarakat tidak memiliki ‘amunisi’ untuk berargumentasi. Adapun untuk prinsip partisipasi agar dapat terlaksana dibutuhkan beberapa langkah awal sebagai inisiatif dari lembaga penegak hukum yakni mengeluarkan informasi yang dapat diakses oleh publik. mendelegasikan otoritas tertentu kepada pengguna jasa layanan publik seperti proses perencanaan dan penyediaan panduan bagi kegiatan masyarakat dan layanan publik. maka salah satu titik lemah dalam pengawasan yaitu tidak adanya parameter dan koridor yang jelas untuk melakukan pengawasan dan tidak diterapkannya prinsip-prinsip dasar good governance harus 4 Peter Davies. masyarakat tidak dapat mengakses informasi-informasi tertentu yang penting untuk menjalankan peran di atas. adanya wadah dan saluran untuk menampung partisipasi publik yang representatif. menyelenggarakan proses konsultasi untuk menggali dan mengumpulkan masukan-masukan dari publik dalam kegiatan publik. eds. Sedangkan tolak ukur penilaian pelaksanaan dari prinsip partisipatif yang dapat digunakan adalah keterlibatan publik melalui terciptanya nilai dan komitmen para aparat. Dan tanpa jaminan hak memperoleh informasi. berpendapat atau memutuskan sikap secara menyakinkan dan tepat. “Public Participation. 292 Bunga Rampai . by Zillman. kemampuan publik untuk terlibat dalam penegakan hukum. terarah dan dapat terkontrol. apabila kita menginginkan suatu sistem pengawasan yang cukup optimal. Tanpa informasi. keterlibatan publik dalam merancang dan melaksanakan penegakan hukum. yang bersifat terbuka dan inklusif sebagai tempat publik menyampaikan keinginannya.dan mekanisme pengaduan masyarakat. ketersediaan sistem informasi manajemen dan monitoring hasil yang telah dicapai oleh pemerintah. (Oxford: Oxford University Press. Lucas and Pring.

memperoleh dan memberikan informasi bahwa di suatu daerah atau instansi telah terjadi praktek korupsi. prinsip ini paling sering dibicarakan. “ Membuka Ketertutupan Pengadilan”. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 293 . sebagai wujud dari berbagai teori yang telah dipaparkan di atas. pengawasan yang dilakukan haruslah pengawasan yang berbasis masyarakat. penyadaran.secepatnya diperbaharui. Undang-undang ini memberi kebebasan kepada masyarakat untuk mencari.6 5 6 Rifqi S. Namun di sini perlu disadari bahwa pengawasan berbasis masyarakat bukanlah pengawasan yang langsung jadi dan berjalan dengan sistemik. Hal ini diakui dalam Konvensi PBB melawan korupsi 2003 (UN Convention Against Coruption. Namun permasalahannya. prinsip ini sepertinya dianggap lebih penting dibandingkan prinsip pengadilan yang terbuka (prinsip yang mendorong lahirnya akuntabilitas pengadilan). Padahal kita menyadari betul bahwa independensi tanpa akuntabilitas dapat kita umpamakan sebagai “cek kosong yang bisa diisi apa saja”. Jangan sampai dengan alasan independensi. dan perubahan budaya hukum. Tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa memang prinsip independensi peradilan adalah salah satu prinsip penting untuk melahirnya proses peradilan yang fair. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal. hakim menganggap ia dapat melakukan apa saja tanpa perlu mempertanggungjawabkannya kepada publik dan pada akhirnya menjalankan proses peradilan yang sesat.2003) dan dalam Undang-undang No. Di berbagai forum yang membahas lembaga peradilan. Prinsip ini pula yang sepertinya paling fasih dikuasai oleh para hakim. Assegaf dan Josi Khatarina. maupun karena mungkin prinsip ini menguntungkan para hakim. baik di dalam maupun di luar negeri. Dalam hal ini basis masyarakat yang dimaksud adalah mereka yang berkepentingan langsung yaitu korban (termasuk didalamnya kelompok masyarakat yang peduli dengan isyu ini). 31 tahun 1999 sendiri.5 Selain itu. Sebab saat ini sering kali karena tidak jelasnya kedua hal tersebut para pelaku mafia peradilan senantiasa berlindung di balik klaim otoritas independensi lembaganya. baik karena merupakan prinsip yang dianggap penting di dunia. melainkan melalui proses bertahap yang mencakup pendidikan. meningkatkan peran serta masyarakat dalam sistem pengawasan menjadi tidak dapat ditawar-tawar lagi. Peran serta masyarakat diakui memiliki peran penting dalam upaya pencegahan dan penegakan hukum terhadap tindak pidana korupsi.

22 tahun 2004 memberikan wewenang bagi Komisi Yudisial untuk mengusulkan pengangkatan Hakim Agung pada DPR dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim.23. Konstitusi tepatnya pasal 24B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 memberikan landasan hukum yang kuat bagi reformasi bidang hukum yakni dengan memberikan kewenangan pada Komisi Yudisial untuk mewujudkan cheks and balances.7 Situasi dan kekhawatiran tersebut mendorong terbentuknya gagasan ke arah pembentukan lembaga independen 7 Mahkamah Agung Republik Indonesia. Sedangkan UU No. 2003. Dibentuknya Komisi Yudisial pada perubahan ke-3 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan reaksi terhadap kegagalan sistem peradilan yang ada untuk menciptakan peradilan yang lebih baik. Namun usaha ini dipandang belum tentu mampu menyelesaikan masalah yang ada dan bahkan dipandang dapat menimbulkan monopoli kekuasaan di lembaga tersebut. MPR (dengan dorongan kelompok masyarakat sipil) pada tahun 2002 menetapkan perlunya pembentukan Komisi Yudisial dalam konstitusi yang kemudian disusul dengan pengundangan UU No. Naskah Akademik dan Rancangan UndangUndang Tentang Komisi Yudisial. 22 tahun 2004 tentang Komisi Yudisial oleh Pemerintah dan DPR. h. Kualitas sebagian hakim yang rendah (salah satunya disebabkan karena kelemahan proses rekrutmen dan promosi hakim). Usaha ke arah peradilan yang lebih baik tersebut sebelumnya juga dilakukan dengan menciptakan sistem satu atap (One Roof System) yaitu memberikan kewenangan di bidang administrasi. minimnya gaji hakim (pegawai) serta anggaran pengadilan. struktur organisasi. aksesibilitas pengadilan. Sebagai salah satu upaya menjawab sebagian permasalahan di atas. adalah beberapa ilustrasi lain permasalahan yang harus menjadi agenda pembenahan. 294 Bunga Rampai .Jejaring: Mitra Komisi Yudisial Dalam Pengawasan Rendahnya integritas sebagian hakim hanyalah sebagian dari masalah yang menyelimuti lembaga peradilan. keuangan dan organisasi kepada Mahkamah Agung.

informasi. Dalam kaitan ini Komisi Yudisial telah menegaskan pentingnya peranan elemen-elemen masyarakat tersebut untuk memiliki pengetahuan. Diaturnya Komisi Yudisial dalam Pasal 24B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menunjukkan bahwa lembaga ini merupakan lembaga negara yang mendapat atribusi kekuasaan langsung dari Undang-Undang Dasar. Hakim- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 295 . Sebagaimana diketahui sejak perubahan ke-3 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Upaya untuk memperbaiki dunia peradilan yang merupakan salah satu semangat kelahiran Komisi Yudisial tentu memerlukan dukungan penuh dari elemen-elemen civil society. Komisi Yudisial dan Mahkamah Konstitusi adalah sama yaitu sama-sama mendapat kewenangan atribusi dari Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. hakim agung dan hakim konstitusi.yang berada di luar Mahkamah Agung yang dapat mengimbangi agar tidak terjadi monopoli kekuasaan pada lembaga tersebut. tidak ada lagi pembagian lembaga negara tertinggi dan lembaga tinggi negara. komitmen dan program aksi bersama dalam menciptakan peradilan yang bersih (clean judiciary). Semua lembaga negara adalah sederajat. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak mengenal istilah lembaga negara utama (main) dan lembaga negara penunjang (supporting). Dengan demikian kedudukan Mahkamah Agung. Buruknya dunia peradilan tentu juga terkait dengan proses rekrutmen dan peningkatan karir hakim yang lemah (yang tidak didasarkan pada basis data dan analisis kinerja/ putusan) serta tidak terlacaknya perilaku hakim. Dalam rangka merealisasikan gagasan tersebut dibentuklah Komisi Yudisial yang diharapkan dapat mengawasi serta mengimbangi (checks and balances) pelaksana kekuasaan kehakiman sehingga dapat mendorong terciptanya peradilan yang lebih baik di masa mendatang. yang membedakan satu sama lain adalah kewenangannya. Komisi Yudisial diberi wewenang oleh Undang-Undang Dasar untuk mengawasi perilaku hakim. Sebagai lembaga negara yang mandiri. Kehadiran peradilan yang bersih dengan putusannya yang adil merupakan kebutuhan bersama baik masyarakat maupun pemerintah.

296 Bunga Rampai . semestinya bebas dari putusan-putusan bermasalah. Oleh sebab itu. Hal itu hanya bisa dilakukan melalui suatu proses yang sistematis dengan metodologi yang jelas. dan ormas keagamaan akan dapat mendukung.8 tentu mencari data di atas sangat sulit dicapai. kehadiran elemen masyarakat berbasis perguruan tinggi.sementara di sisi lain terwujudnya peradilan yang “bersih dan “berwibawa” serta yang memungkinkan perlakuan yang sama bagi 8 Data terakhir yang dimiliki penulis adalah jumlah hakim sebanyak 6178 orang yang tersebar di 341 kabupaten/kota. dan memperkuat upaya di atas. hasil dari program perbaikan dunia peradilan pada akhirnya akan dan harus dirasakan secara luas dan nyata oleh seluruh masyarakat.adalah kurangnya partisipasi publik dalam menjaga dan menegakan kehormatan. bahwa di satu sisi “penyimpangan” peradilan pada akhirnya akan menempatkan masyarakat sebagai “korban –dengan harga yang sangat mahal. LSM. sementara lembaga-lembaga peradilan berada di setiap provinsi dan kabupaten dengan lebih dari 6000 orang hakim yang tersebar di lebih dari 300 kabupaten/kota. Apalagi. serta perilaku hakim bertolak dari dua pemikiran dasar. Pembentukan jejaring berangkat dari berbagai permasalahan di atas dan pemikiran bahwa salah satu faktor penyebab terjadinya “penyimpangan” peradilan –yang muncul dalam bentuk “mafia peradilan”. Komisi Yudisial mungkin dapat menyusun strategi dan metode untuk melakukan riset putusan hakim atau melakukan investigasi perilaku hakim guna memperoleh basis data di atas. namun dengan keterbatasan lembaga Komisi Yudisial yang hanya ada di tingkat nasional. mengefektifkan. Terlebih lagi hakim-hakim yang akan direkrut menjadi hakim agung.hakim yang putusannya tidak baik bahkan diindikasi kuat ada pengaruh pihak berperkara tentu perlu diketahui sejak dini baik untuk keperluan pembinaan ataupun penjatuhan sanksi. Ketersediaan basis data hakim akan sangat membantu dalam peningkatan kinerja dan karir hakim. keluhuran martabat. keluhuran martabat serta perilaku hakim (di semua lingkungan dan jenjang pengadilan). Kesadaran terhadap pentingnya optimalisasi publik dalam menjaga dan menegakan kehormatan.

DIY Yogyakarta. Sultra. Sementara itu ada juga majalah yang berisi analisis putusan tetapi karena dilahirkan bukan dari lembaga negara resmi maka kurang menjadi rujukan bagi para hakim. Komisi Yudisial telah berhasil membentuk jejaring di seluruh Indonesia yang pada saatnya akan merupakan elemen terdepan dalam melakukan kajian putusan hakim (untuk melihat kualitas) dan melakukan investigasi perilaku hakim (untuk melihat integritas) di seluruh Indonesia. Dalam hal ini penyusunan nota kesepahaman tersebut diawali dengan lokakarya pembentukan jejaring Komisi Yudisial di 7 regional. Sulut) 9 Laporan Tahunan Komisi Yudisial Republik Indonesia tahun 2006 Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 297 . memang telah ada majalah yang berisi putusan pengadilan tetapi sangat deskriptif dan kurang analitis. Kalbar. Berdasarkan telaah putusan hakim yang akan dijalankan. Berdasarkan jaringan yang ada ini maka upaya yang dilakukan akan sistematis. yaitu:9 1. Sumut. Lampung) Malang (mencakup wilayah Banten. Pada kesempatan ini mungkin perlu disampaikan juga bahwa sampai saat ini telah dilakukan penyusunan nota kesepahaman dengan beberapa lembaga negara dan kalangan masyarakat yang berasal dari elemen Perguruan Tinggi. Bengkulu. 4. Jateng. dan Jatim) Mataram (mencakup wilayah NTB. 6. Sulbar. Organisasi Masyarakat serta Lembaga Swadaya Masyarakat. dan cukup lengkap. tidak tumpang tindih. Medan (mencakup wilayah Aceh. Sulteng. Gorontalo. 2. Jambi. Kalteng. DKI Jakarta. maka dapat dihasilkan analisis atas putusan-putusan yang baik yang dapat menjadi literatur penting dalam peningkatan kemampuan para hakim dalam menangani perkara. Pada saat ini. Selama ini. Sumbar. Bangka Belitung. Kaltim) Kendari (mencakup wilayan Sulsel. NTT dan Bali) Pontianak (mencakup wilayah Kalsel. Jabar. 5.semua pihak di muka hukum (equality before the law) juga menuntut adanya peran publik yang optimal. 3. Riau dan Kepulauan Riau) Palembang (mencakup wilayah Sumsel.

Pertukaran informasi yang dilakukan atas dasar kesepakatan kedua pihak. b. Sedangkan hasil yang diharapkan dengan adanya jejaring dan program-programnya adalah: 1. Komisi Yudisial dengan jejaring dae- 298 Bunga Rampai . 2. 4. Seleksi calon hakim agung. 3. Pengawasan perilaku hakim. 11 Organisasi Masyarakat. Sebagai tindak lanjut dari disusunnya berbagai nota kesepahaman tersebut. Investigasi perilaku hakim di masing-masing daerah. 3. 5. 6. Papua dan Irjabar).7. Maluku Utara. Bidang-bidang lain yang dianggap perlu dan disepakati oleh masing-masing pihak. 2. c. 2. Teradvokasinya masyarakat pencari keadilan (terutama masyarakat korban) untuk dapat memperjuangkan hakhaknya. Adapun ruang lingkup kerjasama yang berhasil disepakati antara Komisi Yudisial dengan elemen-elemen tersebut di atas. Dengan nota kesepahaman yang telah disepakati adalah: 1. Pembangunan jaringan advokasi masyarakat. Terintegrasinya gerakan antara negara dan kalangan masyarakat sipil yang mempunyai tujuan untuk melakukan reformasi peradilan dan pemberantasan mafia peradilan. antara lain meliputi bidang: 1. Tersusun dan tersedianya data base hakim (baik dalam hal kualitas maupun integritas) yang selanjutnya dapat dijadikan sebagai informasi awal bagi Komisi Yudisial pada saat melaksanakan: a. Pemberian penghargaan bagi hakim yang berprestasi. Penelitian sesuai dengan tema/topik yang telah disepakati oleh kedua pihak. 55 Lembaga Swadaya Masyarakat. 3. 39 Fakultas Hukum PTN dan PTS. Penelitian putusan hakim di masing-masing daerah. Ambon (mencakup wilayah Maluku.

Sebagai aktor utama lembaga peradilan. sebagai bentuk penguatan kelembagaan yang lain. Selain itu. semua kewenangan yang dimiliki oleh hakim harus dilaksanakan dalam rangka menegakkan hukum. kebenaran dan keadilan itu wajib dipertanggungjawabkan secara horizontal kepada semua manusia. terlebih dengan segala kewenangan yang dimilikinya. sehingga putusan pengadilan yang diucapkan dengan irah-irah “Demi Keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” mengandung arti bahwa kewajiban menegakkan hukum. posisi. sampai dengan memerintahkan penghilangan hak hidup seseorang. Komisi Yudisial juga telah melakukan penyusunan nota kesepahaman dengan beberapa lembaga negara yang wilayah tugasnya cukup terkait dengan tugas dan wewenang Komisi Yudisial. di mana setiap orang sama kedudukannya di depan hukum dan hakim.rah sampai saat ini telah melakukan berbagai acara untuk proses penyamaan persepsi dan penyamaan metodologi guna menyongsong berbagai program yang akan dan sekarang sedang dilaksanakan. Penutup Pengadilan yang mandiri. kebenaran dan keadilan tanpa pandang bulu dengan tidak membeda-bedakan orang seperti diatur dalam lafal sumpah seorang hakim. Melalui putusannya. Sebagai salah satu langkah untuk mewujudkan lembaga peradilan dan hakim seperti disebutkan di atas. menyatakan tidak sah tindakan sewenang-wenang pemerintah terhadap masyarakat. netral (tidak berpihak). berwibawa. dan secara vertikal dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Komisi Yudisial sebagai lembaga yang diberi amanat oleh konstitusi Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 299 . dan peran hakim menjadi sangat penting. Sebab hanya pengadilan yang memiliki semua kriteria tersebut di ataslah yang dapat menjamin pemenuhan hak asasi manusia. Kewenangan hakim yang sangat besar itu menuntut tanggungjawab yang tinggi. profesional. mencabut kebebasan warga negara. mampu menegakkan hukum serta dapat memberikan kepastian hukum dan keadilan merupakan conditio sine qua non atau persyaratan mutlak dalam sebuah negara yang berdasarkan hukum. Oleh sebab itu. seorang hakim dapat mengalihkan hak kepemilikan seseorang.

Hal tersebut selain dilandasi oleh kesadaran bahwa dua pekerjaan tersebut adalah bukan pekerjaan yang ringan.untuk menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim menempatkan diri sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari komunitas negara dan masyarakat sipil yang mempunyai agenda melakukan reformasi peradilan dan pemberantasan mafia peradilan. 300 Bunga Rampai . juga disebabkan pemahaman bahwa mafia peradilan adalah merupakan musuh bersama yang telah memberikan dampak negatif yang luar biasa besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karenanya. gerakan bahu membahu secara sistematis dan berkesinambungan antar JEJARING dalam suatu JARINGAN kerja menjadi hal yang tidak dapat ditawar dan ditunda-tunda lagi.

hlm 9.H. * 1 Penulis adalah Kepala Pusat Data dan Pelayanan Informasi Komisi Yudisial Republik Indonesia Prof. Kansil. 2004. MS. Andi Djalal Latief.H.T. M. Walau menuai pro dan kontra serta mendapatkan resistensi dari Mahkamah Agung (MA).T Kansil. “Ilmu Negara”. tidaklah dapat dipungkiri bahwa lembaga ini ternyata memberikan secercah harapan bagi para pencari keadilan.. Christine S.Urgensi Pembuatan Database Hakim Sebagai Media Penunjang Pelaksanaan Wewenang dan Tugas Komisi Yudisial Ir. Komisi Yudisial sudah langsung menerima pengaduan dari masyarakat. Drs.. haruslah dipahami arti dari definisi “Negara” serta tujuan dibentuknya negara itu sendiri. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 301 .S. S.H. lahirlah sebuah lembaga Negara baru yaitu Komisi Yudisial. Untuk sampai pada pemahaman betapa pentingnya keberadaan Komisi Yudisial Republik Indonesia (KYRI) beserta kewenangannya dalam struktur ketatanegaraan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam menjamin hak warga Negara. Cetakan kedua.. C. Hal ini terbukti beberapa saat setelah anggota Komisi Yudisial mengucapkan sumpah dihadapan Presiden sebagai Kepala Negara. * Pendahuluan Ditengah maraknya praktek “mafia peradilan” di Bumi Pertiwi ini. S. PT Pradnya Paramita Jakarta. Kandidat Pilkada kota Depok (Nur Mahmudi Ismail) adalah orang pertama yang datang untuk melaporkan buruknya kerja dan kinerja lembaga pengadilan.

Somardi “General Theory of Law and State”. maka haruslah pula dipahami tujuan dibentuknya sebuah “Negara” itu sendiri. mengatakan: Negara ialah suatu organisasi manusia atau kumpulan manusiamanusia yang berada di bawah suatu pemerintahan yang sama.H. Hal ini banyak disebabkan oleh fakta bahwa para penulis yang berbeda membahas masalahmasalah yang sangat berbeda di bawah satu nama yang sama dan bahkan penulis yang sama pun tanpa disadari menggunakan istilah yang sama dengan pengertian yang berbedabeda. Edisi revisi. suatu organisasi kekuasaan/kewibawaan).H. alih bahasa-Drs. 2004. Dr.A Logemann adalah: De Staats is een gezags organizatie (Negara ialah.T. hlm 225.3 sedangkan menurut Aristoteles negara yang ideal itu adalah negara yang memanusiakan manusia. Oleh kodrat. Cetakan kedua.. R. M.1 Masih terdapat banyak definisi terhadap istilah “Negara” sehingga. 2007. J.S. S.H. misalnya pemerintah. sedangkan menurut Prof. Kansil. Tetapi istilah itu pun sangat sering digunakan dalam pengertian yang sangat sempit untuk menunjuk suatu organ khusus masyarakat. Istilah “negara” kadang-kadang digunakan dalam pengertian yang sangat luas untuk menunjuk “masyarakat” atau bentuk khusus dari masyarakat. 302 Bunga Rampai . dan itulah salah satu sebab mengapa negara sebagai persekutuan hidup menempati jenjang yang paling tinggi. Jakarta.. Prof. Augustinus menyatakan. Bee Media Indonesia. atau wilayah yang mereka diami. “lmu Negara”.“Negara” menurut pandangan Prof. “bangsa”. karena negara mempunyai tugas yang paling mulia yaitu memanusiakan manusia. Drs. S. C. atau para subyek pemerintah.2 Setelah sedikit diketahui apa yang dimaksud dengan istilah “Negara” maka selanjutnya dalam konteks pentingnya keberadaan Komisi Yudisial dalam sebuah negara hukum.H. menurut Hans Kelsen terkadang definisi “Negara” dibuat sangat sulit oleh aneka ragam objek yang biasa dinyatakan secara tegas oleh istilah negara itu sendiri. Djokosutono.T Kansil. PT Pradnya Paramita. negara 2 3 Hans Kelsen. tujuan Negara adalah dihubungkan dengan cita-cita manusia hidup di alam kekal yaitu sesuai yang diinginkannya. hlm 36.. S.H. Christine S.

Secara popular dikatakan bahwa Negara hukum adalah Negara berdasarkan hukum. 1988. Keberhasilan manusia mencapai tingkat kebajikan tertinggi itu haruslah terlihat lewat moralitas yang terpuji.4 Menjadi jelas bahwa apapun definisi dari negara itu. kekuasaan itu tidak tanpa batas. Manusia yang benar-benar bermoral dan yang berarti pula benar-benar berkualitas akan senantiasa siap sedia melakukan segala sesuatu yang terbaik dan mulia. Jakarta. Ini dapat berarti bahwa Negara Republik Indonesia adalah Negara yang berdasarkan atas hukum yang demokratis berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945. Rapar.V. S. sebenarnya terbentuknya sebuah negara itu seharusnya dan seyogyanya adalah bertujuan untuk mensejahterakan rakyat atau manusia yang menjadi warga dari sebuah negara itu sendiri.ada dan terbentuk bukan sekedar agar manusia dapat hidup didalamnya. dan kekuasaan harus tunduk pada hukum. Cetakan Pertama. Lalu kemudian timbul pertanyaan apakah ciri-ciri dari cita Negara hukum Indonesia. Dengan kata lain. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 303 . 2) Ada prinsip-prinsip lain yang berkaitan dengan prinsip pokok di atas. menurut Prof. manusia dimampukan untuk mencapai tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang semaksimal mungkin. “Filsafat Politik Aristoles” C. Rajawali. Th.M cita Negara hukum Indonesia adalah: 1) bahwa dalam Negara hukum. Di dalam dan lewat hidup bernegara. LL.D. artinya kekuasaan itu tunduk pada hukum. karena hanya moralitas yang demikian itulah yang membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. Seperti kita ketahui bersama dan dinyatakan secara tegas dalam UUD 1945 adalah bahwa. Dr.H.H. J. Itu berarti bahwa di dalam negara manusia seyogyanya dapat mencapai tingkat kebajikan yang tertinggi. tetapi agar manusia itu benar-benar memanusia di dalam negara dan lewat hidup dan bernegara. Negara Indonesia berdasarkan atas hukum bukan berdasarkan atas kekuasaan belaka.D. Mochtar Kusumaatmadja... Salah satu yang terpenting adalah 4 DR. moralitaslah yang memberi kualitas khusus bagi manusia sehingga manusia itu adalah manusia yang tidak sama dengan makhluk yang lain. hlm 43. Ph.

berarti bahwa hukum memperlakukan semua orang sama tanpa perbedaan yang didasarkan atas ras (keturunan). Masih ada di antara kita yang secara sadar telah melakukan penjajahan dalam bentuk yang lebih hina “jual-beli putusan” dan mengingkari hak sesama anak bangsa. S. penghayatan. namun nampaknya bangsa ini belum juga beranjak dewasa dan menyadari arti dari kata merdeka itu sendiri.H. Kehadiran Komisi Yudisial di Bumi Pertiwi yang berfungsi sebagai lembaga checks and balances terhadap lembaga peradilan merupakan langkah tepat dalam rangka untuk menjamin terpenuhinya rasa keadilan bagi sebanyak-banyak warga negara.M. Bandung.bahwa dalam Negara hukum semua orang sama di hadapan hukum. Terbentuknya Komisi Yudisial RI Perjalanan Bangsa Indonesia dimulai pada saat dikumandangkannya lagu Indonesia Raya serta berkibarnya Sang Saka Merah-Putih pada tanggal 17 Agustus 1945 serta dengan disahkannya UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI menjadi dasar Negara kita. “Konsep-Konsep Hukum Dalam Pembangunan”.. LL. Hukum sebagai salah satu pilar berbangsa dan bernegara yang mendasari UUD 1945 telah mereka abaikan demi kepentingannya sendiri. Hari memang telah silih berganti sejak kemerdekaan. kedudukan sosial dan kekayaan.5 Dari pernyataan Prof. hlm 180. Mochtar Kusumaatmadja. Keadaan 5 Dr. Dikatakan secara lain. Cetakan kedua. 2006. Terungkapnya kasus-kasus penyalahgunaan wewenang (abuse of power) oleh hakim serta pejabat peradilan lain yang banyak dipublikasikan oleh berbagai media massa seolah menjadi cerminan dari lemahnya integritas moral dan perilaku hakim serta pegawai lembaga peradilan. Mochtar Kusumaatmadja itu terlihat bahwa. agama. PT Alumni. 304 Bunga Rampai . pengamalan serta pelaksanaan hak dan kewajiban Negara Indonesia haruslah menjamin hak asasi setiap warga negara melalui penyelenggara Negara dan lembaga negaranya.

Keadaan ini membuat masyarakat pencari keadilan memandang bahwa lembaga peradilan sebagai suatu sistem dianggap sudah tidak bersih dan kurang berwibawa. tetapi juga telah terjadi di lingkungan Mahkamah Agung sebagai penyelenggara kekuasaan kehakiman yang tertinggi. yang dinyatakan secara tegas dalam UUD 1945 itu sendiri. Dengan sifat UUD 1945 yang “supel. “Demokrasi Terpimpin” serta “Demokrasi Pancasila”. Akhirnya pada tahun 1998 setelah sekian lama bungkam. promosi. itu tuntutan mereka. akan tetapi hal ini juga membuat UUD 1945 dapat diinterpretasikan dan diimplementasikan ke dalam berbagai struktur politikpemerintahan yang berbeda-beda: “Demokrasi Parlementer. seolah-olah UUD 1945 adalah sebuah karya agung tanpa kelemahan. singkat dan fleksibel” memang membuatnya mudah mengikuti perkembangan jaman. kepindahan. Kelemahan ini dapat terlihat dengan singkatnya UUD Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 305 . pada tahun 1968 muncul ide pembentukan Majelis Pertimbangan Penelitian Hakim (MPPH) yang berfungsi untuk memberikan pertimbangan dalam mengambil keputusan akhir mengenai saran-saran dan atau usul-usul yang berkenaan dengan pengangkatan. Akhirnya karena desakan yang begitu kuat Orde Baru yang menjalankan roda pemerintahan saat itu pun tumbang. rakyat bicara. Keadaan ini membuat masyarakat pencari keadilan menjadi patah arang dan bosan menggantungkan harapannya kepada pemerintah dan lembaga peradilan.ini tidak saja terjadi di lingkungan pengadilan negeri dan pengadilan tinggi. apakah ada kepastian hukum dari UUD seperti itu? Apalagi bila pertanyaan itu dikaitkan dengan pernyataan bahwa Negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum bukan berdasarkan atas kekuasaan belaka. Kenyataan ini menimbulkan sebuah pertanyaan yang amat mendasar terhadap UUD 1945. Jika diperhatikan salah satu kesalahan pemerintahan Orde Baru saat itu adalah dengan ditabukan dan disakralkannya UUD 1945 untuk dirubah. Reformasi total. Namun ide tersebut tidak berhasil dimasukkan dalam undang-undang tentang Kekuasaan Kehakiman. pemberhentian dan tindakan/hukuman jabatan para hakim. Oleh karena itu. Perlahan namun pasti keinginan untuk melakukan perubahan semakin memuncak.

4 Aturan Peralihan dan 2 Aturan Tambahan) dan menurut penjelasan resminya. bahwa UUD yang kita buat sekarang ini adalah UUD sementara. inilah revolutie grondwet.H. Iur. bahwa UUD ini adalah UUD Sementara. Beliau mengemukakan beberapa alasan. di dalam rumusannya. S. Buku I. bahwa barangkali boleh dikatakan pula. UUD Kilat. Jakarta.”6 Terlihat jelas dalam rumusan itu bahwa sejak awal memang para penyusun UUD 1945 sudah menyadari bahwa UUD yang mereka buat secara kilat itu (hanya dalam tempo dua hari) belumlah sempurna dan harus diperbaiki. “Arus Pemikiran Konstitusionalisme. tidak memberikan tempat bagi keberadaan infrastruktur demokrasi (seperti partai politik. Kata Hasta Pustaka. kita tentu akan mengumpulkan kembali MPR yang dapat membuat UUD yang lebih lengkap dan sempurna… Tuan-tuan tentu mengerti.7 Kelemahan yang terdapat pada UUD 1945 ini dikatakan oleh Adnan Buyung Nasution sebagai loop hole. UUD memang hanya dimaksudkan untuk mengatur hal yang pokok-pokok saja dan hanya berlaku sementara. pada saat pengesahan UUD 1945 oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945. “…Tuan-tuan semuanya tentu mengerti. Nanti kita membuat UUD yang lebih sempurna dan lengkap….. Tata Negara”.1945 (hanya terdiri dari 37 pasal. yaitu: Pertama. Akibatnya. sekalipun di dalam penjelasan 6 7 Dr. dan enam bulan sesudah dibentuk. Kurang sempurnanya UUD 1945 ini sebenarnya juga dikuatkan dalam rumusan Aturan tambahan UUD 1945 itu sendiri yang berbunyi: “Enam bulan sesudah berakhirnya perang Asia Timur Raya. MPR harus dibentuk. Adnan Buyung Nasution. Keadaan ini tergambarkan pula ketika Ir. MPR harus bersidang untuk menetapkan UUD baru”. memberikan porsi kekuasaan yang begitu besar kepada presiden. Soekarno sebagai Ketua PPKI memberikan kata sambutannya. kelompok kepentingan dan penekan) Kedua. UUD 1945 306 Bunga Rampai . Kalau boleh saya memakai perkataan: ini adalah UUD kilat! Nanti kalau kita telah bernegara dalam suasana yang lebih tenteram.

arah menuju perbaikan struktur ketatanegaraan Indonesia sudah mulai tampak dengan diperbaikinya UUD 1945 melalui empat tahapan amandemen. yakni memusatkan kekuasaan di tangan presiden (concentration of power upon the president) sebagai kepala pemerintahan sekaligus kepala negara. niscaya sangat sulit tercipta balance of power apalagi checks and balances diantara cabang-cabang pemerintahan. Ini terlihat dari rumusan yang berbunyi: “… ditetapkan dengan UU” di akhir sejumlah pasal UUD 1945. UU No. begitu banyak loop holes yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal UUD 1945. 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman diterapkanlah sistem satu atap (one roof system) pada dunia 8 Dr.. Kata Hasta Pustaka. Sebenarnya setelah terjadinya “revolusi” oleh mahasiswa pada tahun 1998 yang mengakibatkan tumbangnya pemerintahan Orde Baru. Iur. Jakarta. Ketiga.H. maka para pemimpin negeri ini berusaha melakukan perbaikan dengan melakukan perubahan terhadap beberapa UndangUndang yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman seperti: UU No. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 307 .UUD 1945 dikatakan bahwa pemerintahan tidak bersifat absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas) dan negara Indonesia tidak berdasar kekuasaan belaka. Seiring dengan itu untuk memberantas “mafia peradilan” dan menjamin terpenuhinya hak rakyat dan agar beberapa kesalahan para pemimpin terdahulu tidak terulang. Melalui UU No. namun dengan begitu besarnya kekuasaan Lembaga Kepresidenan. Inilah karakteristik penting lainnya dari UUD 1945.5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Dalam kondisi kekuasaan Lembaga Kepresidenan yang begitu besar. “Arus Pemikiran Konstitusionalisme. Adnan Buyung Nasution. Tata Negara”.8 Namun pada kenyataannya UUD 1945 dalam keadaan seperti inilah yang dipertahankan oleh pemerintahan Orde Baru untuk melanggengkan kekuasaannya. Buku I.14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. rumusan seperti ini memungkinkan dominasi eksekutif dalam pembentukan dan pelaksanaan UU. 2 tahun 1986 tentang Peradilan Umum serta UU No. S.

Soerjono Soekanto. yakni suatu sistem ajaran tentang kenyataan atau gejala-gejala yang dihadapi. termasuk di dalamnya dibentuk Komisi Yudisial yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Namun penerapan sistem satu atap sebagai salah satu upaya menciptakan independensi pengadilan dan imparsial hakim agar terhindar dari campur tangan penguasa tidak mengurangi ruang gerak “mafia peradilan” serta tidak juga dapat meningkatkan integritas moral serta profesionalitas hakim. Sehingga pada tahun 1998-an muncul kembali dan menjadi wacana yang semakin kuat dan solid... yakni pengetahuan yang tersusun secara sistematis atas dasar kekuatan pemikiran. 3) Hukum sebagai kaedah. personalia dan keuangan yang tadinya dipegang oleh eksekutif melalui Menteri Hukum dan HAM diserahkan sepenuhnya kepada Mahkamah Agung melalui Undang-Undang Pokok Kekuasaan Kehakiman. 2) Hukum sebagai disiplin. Malah memperparah. S. Oleh karena itu. namun ada baiknya disimak pendapat Prof Dr. Beliau berpendapat: 1) Hukum sebagai ilmu pengetahuan. keluhuran martabat. Hukum. agar cita-cita untuk mewujudkan pengadilan yang jujur. jika dikaitkan dengan pendapat masyarakat. serta perilaku hakim. pada Sidang Tahunan MPR tahun 2001 yang membahas amandeman ketiga Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. karena dunia pengadilan kita menjadi tidak dapat tersentuh oleh lembaga lain. untuk membentuk lembaga mandiri sebagai pengawas eksternal terhadap lembaga pengadilan. disepakati beberapa perubahan dan penambahan pasal yang berkenaan dengan kekuasaan kehakiman. tentang hukum.A. Berdasarkan pada amandemen ketiga itulah dibentuk Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial yang disahkah di Jakarta pada tanggal 13 Agustus 2004.H. transparan. yakni pedoman atau patokan sikap 308 Bunga Rampai .peradilan. bersih. dan profesional dapat tercapai. Kewenangan manajemen administrasi. M. Keadilan serta Hakim Banyak sarjana yang mencoba untuk mendefinisikan apa itu hukum dan mungkin definisi hukum itu sebanyak para pemikirnya.

mereka akan merasakan tempat tinggal 9 10 11 Prof. cetakan VI. hukum dan keadilan tidak dapat dicampur-adukan jadi satu dengan yang lainnya.9 dll. Namun hukum bukan satu peraturan semata. M. disana mereka akan menjadi amat bahagia bila dijebloskan ke penjara.H. 3. Cetakan kedua. hukum adalah suatu tata perbuatan manusia. karena bila kedua kata itu dicampur-adukan maka ia akan menjadi suatu kecenderungan ideologi serta politik. 2002. Edisi revisi. budaya. dan Prof. hlm 8. hal ini terjadi karena dengan dijebloskan ke penjara. PT Citra Aditya Bakti. keduanya haruslah dilihat dari sudut ilmiah. Hanya atas dasar pemahaman yang jelas tentang hubungan-hubungan yang membentuk tata hukum tersebut bahwa hakikat hukum dapat dipahami dengan sempurna. apalagi di Indonesia yang terdiri dari begitu banyak suku bangsa. Hans Kelsen.. Balai Pustaka. tidak berat sebelah atau tidak memihak. agama. Soerjono Soekanto.”Sendi-Sendi Ilmu Hukum dan Tata Hukum”. Sedangkan Hans Kelsen berpendapat. Hubungan yang mempersatukan berbagai peraturan khusus dari suatu tata hukum perlu dimaknai agar hakikat hukum dapat dipahami..10 Sementara itu kata keadilan berasal dari kata adil yang dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti: sama berat. Bee Media Indonesia. latar belakang pendidikan dsb. seperti kadang-kadang dikatakan demikian. Purnadi Purbacaraka. Memang tidaklah mungkin menjadikan suatu tata aturan tertentu menjadi adil dan membahagiakan bagi semua pihak. 2007. hlm 2. S.tindak atau perikelakuan yang pantas atau diharapkan. Tidak mungkin untuk memahami hakikat hukum hanya dengan memperhatikan satu peraturan saja. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 309 .A. alih bahasa-Drs. sehingga hukum itu akan tampak adil namun hanyalah bagi golongan tertentu saja.. “Tata Perbuatan” mengandung arti suatu sistem aturan. Namun demikian kedua kata itu juga tidak dapat dipisahkan karena hukum tidak dapat dipisahkan dari konsep keadilan itu sendiri. S. Somardi “General Theory of Law and State”.11 Kedua kata itu.H. Dapat kita ambil contoh masyarakat pedalaman Papua. Dr. “Kamus Besar Bahasa Indonesia”. hlm. 1993. Hukum adalah seperangkat peraturan yang harus kita pahami dalam satu kesatuan yang sistemik.

sehingga ia dapat melakukan penemuan hukum (rechtsvinding). karena pada jabatan hakim melekat status sebagai seorang penegak hukum dan pemberi keadilan di dunia. Seekor babi pada pedalaman Papua amatlah tinggi nilai ekonomisnya. Seorang yang merampok dan membunuh karena harus membayar biaya rumah sakit anaknya.yang lebih layak dari pada tempat tinggalnya. Jadi. maka seorang hakim dituntut untuk memiliki pengetahuan luas. tentang jabatan hakim. dan mereka pun tidak perlu bersusah payah untuk mencari makan. tidak akan mungkin semua pembunuh dihukum dengan hukuman yang sama. Oleh karenanya hakim dikatakan sebagai “perpanjangan tangan Tuhan di dunia”. Demikian pula dengan delik pembunuhan. Selain itu seorang hakim juga harus memiliki integritas moral yang baik. Menjadi bertolak belakang bila penjeblosan ke penjara ini diterapkan pada masyarakat kota besar. Dalam kaitan itu ada baiknya pula dicermati pendapat Prof. Jadi jelaslah bahwa jabatan hakim tidak dapat dipisahkan dari konsep hukum dan keadilan. sehingga ia dapat memberikan keadilan yang sebesar-besarnya kepada sebanyak-banyaknya pencari keadilan berdasarkan hati nuraninya. tidak sama dengan seorang yang merampok dan membunuh hanya untuk kesenangan belaka. 310 Bunga Rampai . Dr. serta penciptaan hukum (rechtsschepping) bila tidak terdapat peraturan perundangan-undang terhadap setiap perkara yang sedang ditanganinya. Nilai keadilan itu amat bergantung pada latar belakang diri masing-masing pencari keadilan. Oleh karena itu berkenaan dengan tugas hakim untuk menerapkan hukum secara benar serta memberikan keadilan yang sebesar-besarnya kepada sebanyak-banyaknya individu. yang beranggapan bahwa penjeblosan ke dalam penjara adalah bentuk perampasan hak asasi manusia yang dibenarkan oleh Undang-Undang. karena pembunuhan sebagai suatu tindakan penghilangan nyawa orang lain itu amat dipengaruhi sebuah peristiwa yang melatar-belakanginya. S. Jimly Asshiddiqie. setiap manusia atau pencari keadilan akan mempunyai nilai sendiri tentang keadilan dan kebahagiaan.H. Bagi penduduk pedalaman Papua akan lebih menyakitkan bila mereka diharuskan mengganti kerugian akibat perbuatannya dengan seekor babi.

Yang dapat diangkat menjadi hakim adalah orang yang memiliki kehormatan.H. hlm. Cetakan Pertama. sebagaimana tercantum dalam Undang Undang Nomor 22 tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial. dan perilaku hakim. dan 2) Belum memuaskannya tingkat kesejahteraan hakim yang bersangkutan. Sehingga seharusnya hakim tidak direkrut dengan proses seperti penerimaan pegawai negeri. yaitu: 1) Kurangnya pengetahuan hakim yang bersangkutan. Dr. pengetahuan. Karena itu hakim selayaknya bukan pegawai negeri. bukan orang mencari kerja.hakim melaksanakan tugas bukan lagi sebagai individu. tetapi sebagai institusi. Hal ini jelas mengindikasikan bahwa wewenang Komisi Yudisial ada dua.. maka orang yang diangkat menjadi hakim adalah paling terhormat.12 Dari pendapat Prof. Bekasi. “Konstitusi dan Ketatanegaraan Indonesia Kontemporer”. yaitu pertama: Mengusulkan pengangkatan hakim agung. S. keluhuran martabat. keluhuran martabat. dan yang kedua: Menjaga dan menegakkan kehormatan. dan pengalaman seperti orang yang sudah menjadi dosen atau advokat terkenal yang bekerja sungguh-sungguh dengan segala kehormatan jabatan ini. yang disahkan di Ja- 12 Pemikiran Prof. 85. 2007. Wewenang dan Tugas Komisi Yudisial Dalam UUD 1945 dengan jelas dinyatakan bahwa Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Pegawai negeri adalah pelayan sedangkan hakim itu bukan pelayan tetapi jabatan kehormatan. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 311 . Agar Komisi Yudisial dapat menjalankan tugasnya maka disusunlah dengan rinci wewenang dan tugas Komisi Yudisial. Jimly Asshiddiqie. The 13 Biography Institute. Yang menjadi hakim bukanlah orang yang mencaricari kerja. Dan oleh karena itu gajinya lebih tinggi dari eksekutif dan legislatif. serta perilaku hakim. Jimly tersebut dapatlah ditarik kesimpulan bahwa bila terdapat hakim yang melakukan penyimpangan terhadap hukum dan rasa keadilan maka terdapat dua kemungkinan yang mendasarinya.

13 Dalam kaitan dengan mengusulkan pengangkatan hakim agung. permintaan laporan secara 13 “Undang-Undang No. Sedangkan seleksi kualitas dan kepribadian menyangkut penilaian karya 2 tahun terakhir. ijazah asli atau yang telah dilegalisir. Pelaksanaan pengawasan terhadap perilaku hakim. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial maka kewenangan Komisi Yudisial meliputi: Mengusulkan pengangkatan Hakim Agung kepada DPR RI. Mengajukan calon hakim agung kepada DPR. seleksi kualitas dan kepribadian. diwujudkan dalam bentuk: penerimaan laporan pengaduan masyarakat tentang perilaku hakim. Melakukan seleksi terhadap calon hakim agung. Berdasarkan pasal 20 dan pasal 23 UU No. Komisi Yudisial mempunyai tugas: Melakukan pendaftaran calon hakim agung. surat keterangan sehat jasmani dan rohani dari dokter rumah sakit pemerintah. daftar harta kekayaan serta sumber penghasilan. Komisi Yudisial mempunyai tugas: Melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim. keluhuran martabat. Menetapkan calon hakim agung. dan Nomor Pokok Wajib Pajak. sekurang-kurangnya: daftar riwayat hidup. karya ilmiah dan legal case problem solving yang topiknya ditentukan oleh Komisi Yudisial. Seleksi administratif menyangkut kelengkapan persyaratan administrasi. serta perilaku hakim. termasuk riwayat pekerjaan. Menjaga dan menegakkan kehormatan.22 Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial.” 312 Bunga Rampai . Seleksi yang dimaksudkan disini adalah seleksi administratif. Mengajukan usul penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada pimpinan Mahkamah Agung.karta pada tanggal 13 Agustus 2004 oleh Presiden Republik Indonesia serta dicatatkan pada lembaran negara Republik Indonesia tahun 2004 nomor 89 dan tambahan lembaran negara Republik Indonesia nomor 4415. serta pemeriksaan kesehatan untuk melihat keadaan kesehatan yang dapat menghambat atau meniadakan kemampuan (disability) dalam menjalankan tugas sebagai Hakim Agung. Dalam kaitan dengan menjaga dan menegakkan kehormatan. keluhuran martabat serta perilaku hakim.

tetapi juga untuk mePenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 313 . Pemberhentian sementara. Disamping itu. Dengan demikian Komisi Yudisial dapat memberikan dukungan untuk melakukan pembinaan dalam rangka peningkatan pengetahuan. dapat berupa: Teguran tertulis. Sedangkan Usul Penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada Mahkamah Agung disesuaikan dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan. Disamping upaya pengawasan yang dikemukakan di atas yang lebih merupakan upaya represif. Komisi Yudisial juga diharapkan dapat melakukan upaya preventif agar tidak terjadi penyimpangan perilaku hakim dengan mengusulkan pemberian penghargaan bagi hakim berprestasi kepada Mahkamah Agung. agar Komisi Yudisial dapat melakukan pemetaan terhadap hakim. pembuatan laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi disampaikan kepada Mahkamah Agung. profesionalitas dan integritas hakim serta pengajuan usul pemberian penghargaan terhadap hakim berprestasi. Database Hakim sebagai Elemen Pendukung Penting Dalam rangka melaksanakan tugas serta wewenang yang diamanatkan oleh UUD 1945 yang penjabarannya di dalam UU Nomor 22 tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. profesionalitas dan integritas hakim serta pengajuan usul pemberian penghargaan atau promosi terhadap hakim berprestasi saja.berkala kepada badan peradilan berkaitan dengan perilaku hakim. Disinilah pentingnya dukungan data base hakim yang akurat. lembaga Negara ini perlu didukung oleh database hakim yang dapat menyajikan informasi secara cepat dan akurat. keluhuran martabat dan perilakunya. sehingga rasa keadilan yang didambakan masyarakat dapat lebih terpenuhi. Tidak hanya untuk kepentingan melakukan pembinaan dalam rangka peningkatan pengetahuan. Pemberian penghargaan maupun sanksi dimaksudkan untuk memotivasi hakim agar mempunyai kinerja lebih baik serta mampu menjaga kehormatan. pemeriksaan terhadap dugaan pelanggaran perilaku hakim. sehingga dapat diketahui secara pasti tingkat pengetahuan (skill) dan profesionalitas serta integritas dari setiap hakim. juga sangat bermanfaat dalam melakukan seleksi calon hakim agung. dan tindasannya kepada Presiden dan DPR. pemanggilan dan permintaan keterangan dari hakim yang diduga melanggar kode etik perilaku hakim. dan Pemberhentian.

menjadi program komisi ini untuk mempromosikan hakim tersebut. seperti biodata. Data Keluarga Adalah data dan informasi yang ada kaitannya dengan keluarga hakim. baik mengenai jati dirinya maupun yang terkait dengan data kedinasan hakim. untuk menggambarkan keadaan hakim secara utuh sangat diperlukan. Hakim-hakim yang memiliki track record baik. penentuan data item yang membentuk database rekam jejak hakim harus dibuat memenuhi kebutuhan di atas. Data primer mengenai pribadi hakim Adalah data dan informasi yang ada hubungan langsung dengan diri hakim tersebut. Data dan informasi tersebut meliputi suami atau isteri. pekerjaan anak. anak. Dalam hal ini keluarga memegang peranan penting untuk membentuk karakter jiwa maupun perilaku termasuk pribadi hakim. Dari database inilah akan mudah kita telusuri hakimhakim mana yang layak berdasarkan kemampuan pengetahuan (skill). dari rekam jejak (track record) yang ada pada dirinya. Selain itu informasi tentang keluarga ini sangat penting untuk melihat kondisi sesungguhnya dari kehidupan keluarga hakim yang bersangkutan. Data base hakim yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan wewenang dan tugas Komisi Yudisial. Data Keluarga. profesionalitas dan integritas. pekerjaan isteri atau suami. Data dan informasi mengenai integritas. skill dan profesionalitas. Oleh karena itu. riwayat pendidikan dan pekerjaan kedinasannya.lihat rekam jejak hakim dalam rangka seleksi calon hakim agung. bahwa untuk melihat perilaku seseorang maka dapat dilihat bagaimana ia berperilaku di dalam keluarga dan masyarakat. Data Kekayaan Adalah data kekayaan hakim ditujukan untuk mengetahui besaran kekayaan yang dimiliki oleh hakim yang 314 Bunga Rampai . dan data serta informasi lainnya yang terkait isteri atau suami dan anak. Data Kekayaan. yaitu: Data primer mengenai pribadi hakim. minimal dapat dibagi dalam 5 kategori. Sesuai dengan pepatah. Informasi tentang aktivitas hakim dan keluarga.

Dengan memiliki informasi aktifitas ini setidaknya dapat diperoleh gambaran mengenai perilaku yang bersangkutan dan keluarganya (orang tua. istri mapun anak). Data atau informasi yang perlu direkam dalam database antara lain meliputi: • • • • • kebiasaan yang sering dilakukan oleh hakim maupun keluarga (orang tua. Bila hakim memiliki kekayaan yang besar. maka perlu diketahui darimana dan dengan cara bagaimana kekayaan tersebut diperoleh? Selain itu. meskipun terkadang kekayaan tersebut didapat dengan cara yang tidak halal. Ketidaktaatan dalam membayar pajak merupakan cermin kelalaian dari warganegara untuk menyumbangkan kekayaannya bagi pembangunan bangsa. jika ada jaringan bisnis dan keterlibatan hakim dalam jaringan bisnis tersebut Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 315 . anak) kesenangan terhadap mahluk hidup atau benda-benda tertentu gaya hidup hakim atau keluarga kedekatan (afiliasi) dan bentuk keterlibatannya pada sebuah organisasi politik tertentu. istri. Kebiasaan keluarga ini ada kemungkinan mempunyai kaitan dengan pembentukan sifat dan karakter hakim tersebut. Hal ini secara tidak langsung dapat mencerminkan integritas yang dimiliki oleh Hakim. untuk mengetahui bagaimana kekayaan dan sumber-sumber kekayaan yang dimiliki oleh hakim. Namun demikian. Data atau informasi yang perlu direkam dalam hal ini adalah terkait dengan harta hakim.bersangkutan. acap kali orang tersebut lupa akan kewajiban sebagai warga negara dalam mengelola kekayaan yang dimilikinya. Unjuk kekayaan menjadi sebuah gaya hidup tersendiri untuk memperlihatkan gengsi seseorang. Adagium bahwa “kekayaan seseorang dapat mempengaruhi gaya hidup (life style) dari orang tersebut” agaknya sangat melekat dalam budaya hidup di Indonesia. apakah Hakim juga memiliki kesadaran/ ketaatan untuk membayar pajak dari kekayaan yang dimilikinya? Informasi tentang aktivitas hakim dan keluarga Adalah informasi mengenai aktivitas di luar kedinasan yang biasa dilakukan oleh hakim dan keluarganya baik yang positif maupun yang negatif.

pengalaman hakim terhadap penanganan 316 Bunga Rampai . Data atau informasi yang perlu direkam dalam data base rekam jejak hakim terkait dengan hal di atas. Informasi lain yang berkaitan dengan hakim. hakim yang profesional senantiasa taat azas baik di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan. informasi penting lain yang perlu di dapat dari seorang hakim adalah mengenai profesionalitasnya selama menjalankan pekerjaan di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan. Kualitas tanpa integritas bisa membuahkan kerusakan. Meski demikian keduanya bukan sesuatu yang tidak dapat dinilai. maka salah satunya bisa dilihat dari pengalaman dari hakim pada saat menangani perkara. Sedangkan integritas berkaitan dengan erat dengan karakter kejiwaan (perilaku) yang diterjemahkan dalam perilaku hidup sehari-hari. Untuk mengukur tingkat kualitas dan integritas seseorang bukan hal yang mudah.Data dan informasi mengenai integritas. skill dan profesionalitas Kualitas dan integritas (moral) adalah materi paling penting untuk menilai bagaimana pribadi seorang hakim. Keduanya menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi dan menjadi prasyarat utama yang harus dimiliki oleh hakim. melainkan juga dilihat bagaimana hakim pada saat di luar kedinasan. Prinsipnya. Sedangkan untuk menilai bagaimana integritas hakim. Kualitas berhubungan dengan kemampuan (capability) teknis yudisial maupun manajerial hakim tersebut dalam menangani persoalan. sedangkan integritas tanpa kualitas tidak akan terlalu banyak memberi perubahan dalam memperbaiki kondisi lingkungan (peradilan). Bila kualitas berkenaan dengan masalah kemampuan. khususnya dalam penanganan perkara hukum. kurang lebih alat (instrument) untuk menilainya adalah apakah hakim pernah terlibat kasus (skandal) yang melanggar norma baik norma hukum maupun kesusilaan? Selain persoalan kualitas dan integritas. antara lain meliputi: informasi mengenai pernah tidaknya hakim terlibat sebuah kasus (hukum maupun kesusilaan). khususnya perkara hukum. Profesionalitas hakim tidak hanya diukur pada saat hakim mengemban pekerjaannya di dalam kedinasan. baik yang bersumber dari media maupun dari lingkungan kerja mengenai sepak terjang si hakim.

hakim lebih sering mengulur-ulur jadwal sidang?). dalam hal tingkat pengetahuan (skill) dan profesionalitas serta integritas moral dari setiap hakim. memang merupakan data atau Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 317 . Komisi Yudisial dapat melakukan pemetaan terhadap hakim.kasus. prestasi kerja atau penghargaan yang pernah diperoleh. profesionalisme dan integritas hakim. melakukan seleksi calon hakim agung dan pengawasan terhadap hakim guna menjaga dan menegakkan kehormatan. Pertama. penentuan data item perlu dilakukan dengan sangat cermat. hasil karya ilmiah yang pernah dihasilkan. keluhuran martabat serta perilaku hakim. karena dengan tersedianya database hakim. Urgensi pembangunan Database (rekam jejak) hakim Kebutuhan akan database ini sangat penting sifatnya. dsb). pengajuan usul pemberian penghargaan terhadap hakim berprestasi dan lain sebagainya. profesionalitas dan integritas hakim. jalan-jalan. disiplin dalam sidang (apakah hakim tersebut tepat waktu dalam melaksanakan sidang atau sebaliknya. guna meningkatkan kualitas atau pengetahuan. kebiasaan hakim dalam memanfaatkan barang-barang inventarisasi kantor (misalnya apakah kendaraan dinas/jabatan sering digunakan untuk keperluan di luar kantor: arisan. Bentuk dukungan yang bisa diberikan dapat berupa pelatihan. Komisi Yudisial dapat dengan secara akurat menentukan bentuk dukungan yang perlu diberikan kepada hakim untuk melakukan pembinaan dalam rangka peningkatan pengetahuan. Selain itu. database ini juga dapat menjadi sumber informasi rekam jejak hakim yang sangat bermanfaat di dalam mendukung pelaksanaan kewenangan dan tugas-tugas Komisi Yudisial yaitu. kehadiran hakim di kantor. khususnya di dalam pembuatan putusan. Dengan terbangunnya database hakim ini. agar data atau informasi yang disimpan dalam database tersebut. belanja. Penutup Akhir kata ada beberapa catatan penting yang harus diperhatikan berkenaan dengan pembangunan database (rekam jejak) hakim. kepatuhan hakim dalam melaksanakan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. buku bacaan.

Pengamanan yang diterapkan tidak hanya di level aplikasi atau perangkat lunak dan jaringannya. data dan/atau informasi yang simpan di dalam database harus betul-betul diperhatikan tingkat akurasinya.informasi yang penting dan diperlukan di dalam mendukung pelaksanaan kewenangan dan tugas Komisi Yudisial. Ketiga. agar informasi yang disajikan terpercaya. Kedua. 318 Bunga Rampai . agar data atau informasi hanya dapat diakses oleh orang yang berhak. tetapi juga pengaman secara fisik perlu diperhatikan. Dengan demikian data atau informasi yang tersimpan dapat dijamin akurasi dan integritasnya. sesuai dengan tingkat kewenangannya. keamanan data dan informasi yang tersimpan dalam database merupakan hal yang sangat penting diperhatikan.

S. Arnis Duwita Purnama.Redaksi Penanggung Jawab : Drs. Romlah Pelupessy. Ak. Drs.H. 4. Anna Suhanah 7. Drs.H. Sos 9. 8..H. Eddy Hary Susanto. Kom 5. M. M. H. S. Si.S. Arif Budiman.H. 7. Arnoldus Johannis Day. Ir. S. Andi Djalal Latief. S. S. S. Hendro Sukmono. Editor/Penyunting : 1.E. Kom. 5. S. Asep Rachmat Fajar. Danardono.H. M. Hasyim. Achmad Dardiri. Berthine Sumarah Sudiono. S.H. 4. Frida Aprilia. Saiful Rachman. 6. IP. M. M. Si. Redaktur : Hermansyah.H. Sulasman. S. Amir Syarifudin.. 8. Ak 9. 3.E.H. Niniek Ariyani. S. S. S. S. 2. Redaktur Pelaksana : M. Wakil Redaksi Pelaksana : Tatang Suryaman Sekretariat : 1. 2. H.. S.E.H.M. S. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 319 . M. H. 6. 3.H..H. M. Abdy Koro. S. S. Muzayyin Mahbub.

320 Bunga Rampai .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful