Komisi Yudisal dan Reformasi Peradilan

i

ii

Kata Pengantar Ketua Komisi Yudisial Republik Indonesia
Pendekatan transdisipliner dalam pelaksanaan pembangunan di Indonesia dipandang penting dan relevan oleh ekonom berkarakter kerakyatan dan egaliter, Prof. Dr. Mubyarto. Dalam pandangannya, koperasi merupakan pilar dan sistem ekonomi yang kompatibel untuk pendemokratisasian ekonomi bangsa yang berpihak pada rakyat sebagai pemegang tunggal kedaulatan rakyat. Jauh sebelumnya, Bung Hatta salah satu penyusun UUD Tahun 1945 adalah Negarawan yang telah berjuang keras memasukkan ekonomi kerakyatan sebagai prinsip dasar penyelenggaraan perekonomian Indonesia. Dalam tulisannya yang berjudul Demokrasi Kita, ia menegaskan pentingnya peranan ekonomi kerakyatan atau demokrasi ekonomi dalam mewujudkan keadilan sosial di Indonesia. Dikatakan selanjutnya, bahwa demokrasi politik saja tidak dapat mewujudkan persamaan dan persaudaraan, maka harus ada demokrasi ekonomi. Jika tidak, manusia belum merdeka dan persamaan serta persaudaraan belum ada. Maka, cita-cita demokrasi Indonesia adalah demokrasi sosial, yang melingkupi seluruh tatanan hidup yang akan menentukan nasib manusia. Dua di antara ekonom langka yang kini amat sulit ditemukan kader penerusnya dengan kepribadian ilmu dan kejelasan serta ketegasan secara lugas dalam sikap pembelaannya terhadap rakyat, memiliki spirit keadilan sosial yang dikaitkan dengan demokrasi sosial. Suatu pandangan kalangan ekonom yang berfikir transdisipliner. Secara elaboratif, kedua almarhum yang kini telah tenang (muthmainnah) di alam kubur karena kesalehan akademiknya menegaskan suatu ”ideologi ekonomi kerakyatan”. Dan keyakinan ideologis inilah yang melekat hingga akhir jabatan dan hayatnya.

iii

Di negeri dengan ribuan kampus yang tersebar di berbagai daerah ini, rasanya, lebih sulit ditemukan akademisi yang beruntung dengan memiliki watak dan kepribadian yang jelas, yang clean dan clear. Entah karena begitu kuatnya main stream pragmatisme dan hedonisme yang sudah mengideologis, atau bahkan sudah setingkat menjadi falsafahnya, teramat langka terdengar suara nyaring, lugas dan kritis dari lembaga kampus ”pencetak” SDM Pemimpin yang iImuan, dalam mengkritisi situasi bangsa yang mengitarinya. Apakah untuk ”mengkloning” frame of thinking konstruksi dan kepribadian ilmiah kedua ekonom kerakyatan di atas, kita harus set back ke masa lalu yang jelas bertentangan dengan watak sejarah itu? Jelas mustahil. Karena, salah satu dimensi sejarah ialah suatu kesadaran untuk melakukan gerakan-gerakan serius dengan misi ”transformation to the future”. Yang pantas diteladani adalah, bahwa keadilan sosial dipandang dan diletakkan sebagai cara pandang untuk menata perekonomian bangsa, untuk mewujudkan persamaan dan persaudaraan antar anak bangsa dan bahkan menentukan nasib manusia Indonesia. Demokrasi ekonomi dipandang penting yang dikaitkan dengan demokrasi sosial. Suatu cara pandang yang begitu luhur, jelas keberpihakannya kepada rakyat dan merefleksikan spirit Pembukaan UUD Tahun 1945. Namun sejarah kehidupan ketatanegaraan dalam era orla dan orba telah tidak menghargai pemikiran di atas. Tentu hal inilah yang kemudian telah melahirkan suatu bencana ketidakadilan ekonomi yang berdampak luas dalam kehidupan sosial budaya lainnya, termasuk dalam bidang hukum dan law enforcement. Politik dan ekonomi sebagai panglima pembangunan pada era rezim-rezim yang lalu, tidak apresiatif dan artikulatif terhadap posisi dasar rakyat sebagai yang paling berhak atas seluruh kekayaan bangsa sebagai anugerah Allah. Mainstream pemikiran ekonomi yang jelas pro rakyat diabaikan dengan kebijakan ekonomi neoliberal yang telah melahirkan birokrasi korup yang ditandai dengan KKN. Di penghujung kejatuhan Soeharto, Indonesia telah dikenal oleh masyarakat internasional sebagai salah satu negara terkorup di level dunia. Anggaran negara Indonesia telah dibocorkan hingga mencapai angka rata-rata 30% pertahun, sebagaima-

iv

na diungkap oleh Prof Sumitro. Meminjam teori korupsi oleh Syed Hussein Alatas, dikenal ada tiga lapis korupsi. Lapis pertama, yang melibatkan warga dengan aparatur negara, berupa suap (bribery) yang prakarsanya datang dari warga, dan pemerasan (extorsion) yang diperankan olah aparatur negara. Lapis kedua, korupsi dalam lingkaran dalam (inner circle) di pusat pemerintahan dalam ketegori nepotisme, dimana ada hubungan darah antara pelayan publik dengan pemangku kepentingan yang menerima berbagai kemudahan; kronis-isme, yang tidak ada hubungan darah antara para pelaku korupsi dan yang diuntungkannya, dan kelas baru, dimana antara pengambil kebijakan dengan yang menerima kemudahan telah menjadi satu kesatuan organik. Meminjam George J Aditjondro, korupsi di Indonesia dibedakan antara korupsi yang didorong oleh faktor kemiskinan (corruption driven by poverty) dan yang di dorong oleh kerakusan (corruption driven by greed). Yang pertama disebut ”korupsi kerah biru” yakni pelakunya mereka yang berseragam dan yang kedua disebut ”korupsi kerah putih” yakni mereka yang berdasi. Apapun kategorisasinya, kita ”berbahagia”, bahwa secara alamiah di negeri ini, kita memperoleh pengayaan tentang puluhan modus dan pelaku korup. Terakhir kita membaca terdapatnya executive corruption, legislative corruption dan judicial corruption. Masing-masing telah memberikan ragaan dan contoh sempurna tentang kualitas dan sejumlah modus kejahatannya yang pasti telah, sedang dan akan terus menerus secara berkesinambungan (sustainable) menciptakan mesin korupsi yang berjalan secara mekanis dan organik. Keganasan dan kekejaman terus berjalan dengan pasti di atas kepatuhan ideologi korupsi para koruptor di negeri yang masih dihuni oleh sekitar 37 juta rakyat miskin, dan puluhan juta mereka yang terbatas mampu memenuhi hajat makan yang tak mampu berpikir masa depan pendidikan para pewarisnya. Dalam situasi mengenaskan dan menyayat ulu hati rakyat miskin inilah, kalangan ahli hukum dan penegak hukum, telah disapa dan diundang oleh kedua ekonom di atas, untuk berbicara dan melangkah atas nama dan untuk keadilan sosial, demokrasi ekonomi dan demokrasi sosial. Suatu ajakan luhur, yang menjadi ranah dan agenda mereka yang terpanggil nurani dan akal budinya untuk agenda ”re-

v

formasi peradilan”. Suatu agenda yang menuntut kesadaran sejarah untuk bersama-sama dalam ketulusan dan kejiwabesaran merintis proses penegakan hukum yang benar, adil, jujur, transparan dan profesional. Kendatipun berdasarkan survey dari Partnership for Governance Reform tahun 2002, terdapat persepsi masyarakat bahwa badan peradilan merupakan badan terkorup dibandingkan badan-badan lainnya, demikian halnya survey dari Transparansi Internasional Indonesia (TII) tahun 2006 yang mengungkapkan bahwa inisiasi dari badan peradilan untuk melakukan praktik suap lebih tinggi daripada lembaga publik lainnya dan laporan dari Global 2007 Transparency International (TI) yang bermarkas di Jerman telah menempatkan badan peradilan Indonesia dalam kategori badan paling korup di antara badan peradilan di beberapa negara (Yunani, Albania, Meksiko, Moldova, Maroko, Peru, Taiwan dan Venezuela), hingga muncul penilaian Syahrir, bahwa badan peradilan telah menjadi black market of justice, namun, di atas semua penilaian ini, kita sebagai bangsa besar, tentu memiliki jiwa besar, dada lebar dan nafas panjang serta emosi yang menep untuk melakukan self correction. Dalam kerangka untuk mendorong terwujudnya hakekat kemerdekaan bangsa dalam usia kemerdekaan ke-62, patut kita memulai lembaran putih baru. Yakni niat dan kesadaran baru untuk menjadikan proses-proses peradilan sebagai pilar moral menuju terdorongnya tatanan kehidupan hukum yang benar-benar berkeadilan, dan membawa dampak konstrukrif bagi terwujudnya persamaan dan persaudaraan antar anak bangsa, terutama yang berkaitan dengan pemenuhan dan perlindungan hukum atas hajat hidup dan hak-hak asasi rakyat. Siapapun, semuanya, sudah saatnya untuk kembali kepada otentisitas diri (fitrah), yang menyadari dan memerlukan pemenuhan hak-hak fitrah sesama. Hak itu antara lain, pada satu sisi memperoleh perlindungan hukum dan keadilan sehingga tidak lagi terdapat kesenjangan yang mencolok di antara sesama, dan pada sisi lain, kita bisa memperoleh hak yang berasal dari dipenuhinya kewajiban dari orang lain karena kita telah memberikan hak kepada mereka. Penegakan hukum adalah proses mewujudkan hak menjadi suatu hukum positif, atau mengurangi dan meniadakan sesuatu yang bukan hak menjadi hukum posi-

vi

terdapat pepatah there is no law without morality. Ini lumrah secara sosiologis dalam masyarakat kita yang untuk sebagian telah terwarisi budaya suap menyuap dalam bentuk dan dalih apapun juga.tif. Yang oleh Prof. masih memerlukan pembenahan yang tidak sederhana. untuk menuju pada putusan hakim yang mengkarakterkan sebagaian instrument of social engineering atau social reconstruction. Maka. selalu saja ada pihak-pihak yang melakukan perlawanan. gajah mati meninggalkan gading. Polisi. Suatu putusan hakim yang merupakan produk bersama secara etis-profesional dari pemberfungsian suara nurani yang bening dan akal budi yang sehat oleh empat profesi terpuji di atas dalam keseluruhan proses peradilan. Disini. Senoadji disempurnakan menjadi there is no morality without religion. agar dengan putusan hakim dapat diperoleh suatu tatanan baru dimana proses vii . Tak salah jika kita berobsesi. bahwa Amerika Serikat adalah merupakan ”a society designed by the judiciary”. Putusan semacam inilah yang memenuhi kriteria ranah-ranah ”demi keadilan berdasarkan ke-Tuhanan Yang Maha Esa”. Mendesain putusan yang memenuhi ajakan kedua ekonomi kerakyatan di atas. Di Indonesia. Hakim dan Lawyer mati meninggalkan contoh penegakan hukum yang berkeadaban. memang harus dimulai dari sekarang. seperti ditulis oleh Prof. Satjip-to Rahardjo mengutip penelitian Dirk dan Bridwell. Tentu. bisa dielaborasikan dalam pandangan yang sedikit filsafati. Penormaan moral menjadi hukum positif bukan saja masih terkendala dari berbagai faktor penyebabnya. untuk kedepan. moral adalah esensi dan ruh dari hukum. Pepatah klasik harimau mati meninggalkan belang. untuk menuju kearah mimpi indah itu. dimana pengadilan melahirkan putusan-putusan sedemikian rupa sehingga terjadi perubahan-perubahan penting dalam masyarakat. yang merupakan nilai (value) yang membedakan apa yang benar dan salah yang haq dan bathil. Putusan yang teruji secara moral dan hukum disertai asupan yurisprudensi dan doktrin hukum yang selektif yang kemudian melahirkan situasi hukum yaitu menyelesaikan sengketa dan tegaknya hukum dan keadilan terhadap siapapun. Jaksa. Yaitu. yaitu moral. Di antara keduanya terdapat ukuran sebagai patokan. akan haknya di Amerika Serikat. Namun.

Dalam kerangka demikian. Dari sisi legislasi di DPR. tapi juga memerlukan kondisi psikologis dimana para penegak hukum memiliki dan merasakan makna dari hakekat diri yang fitri. Dimintakannya para penulis dari berbagai latar belakang akademisi. Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi dalam satu nafas baru. adalah merupakan misi Komisi Yudisial. tokoh agama dan masyarakat. pengefektifan pengawasan yang lebih proporsional viii . yang salah satu penyebabnya bisa datang dari produk legislasi dan kebijakan nasional maupun putusan hakim yang tercerabut dari kesadaran nurani dan akal sehat serta rasa keadilan masyarakat. hendaknya menjadi komitmen dan agenda sistemik dan simultan. anggota DPR. Ia memerlukan pendekatan kemampuan intelektualitas tinggi. Maka. bukan perkara mudah. dikandung maksud untuk memperoleh pandangan-pandangan yang komprehensif dan komplementer untuk memperoleh pandangan mengenai gagasan dan langkah menuju bagaimana proses reformasi peradilan bisa segera dimulai dengan pemeranan elemen masyarakat madani. dalam dan komprehensif serta transdisipliner. berbagai himpunan pemikiran yang menuju pada bagaimana agenda reformasi peradilan dapat dipersepsi dan diusung bersama. Yaitu terwujudnya proses penguatan dan sekaligus pengawasan terhadap badan peradilan melalui mekanisme undang-undang yang akan diiringi dengan pemeranan seluruh elemen masyarakat madani sebagai bagian terpenting bagi terwujudnya peradilan yang Jujur. langkah untuk mendemokratiskan secara berkeadaban proses-proses peradilan. Bersih dan Profesional. para pengamat dan aktivis NGO dalam Buku Bunga Rampai Komisi Yudisial edisi kedua ini. yang memerlukan asupan spiritualitas dosis tinggi serta lingkungan keluarga dan budaya organisasi di instansi dimana ia berhikmat dengan profesi luhurnya itu. Kita amat memerlukan kontribusi pemikiran dan aktualisasi komitmen moral bersama menuju kearah terdorongnya proses pencapaian lahirnya putusan hakim yang memiliki utilitas atau kemaslahatan bagi pemerdekaan anak bangsa ini dari himpitan kemiskinan masif.pendemokratisasian hukum bisa berdampak konstruktif pada terciptanya keadilan sosial. semua pihak yang pro pembebasan rakyat dari lilitan kemiskinan masif tentu berharap lahirnya revisi Undang-Undang Komisi Yudisial.

Semoga tulisan dalam Buku Bunga Rampai ini memberikan wacana yang lebih luas kearah pembenahan peradilan kita kedepan. yang mencerminkan suara dan hakekat keadilan bagi terwujudnya perlindungan hukum terhadap para pencari keadilan tetapi juga sekaligus dalam rangka perubahan tatanan kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih berkeadilan. Kita berkepentingan akan lahirnya putusan-putusan hakim yang berkeadaban.baik oleh Komisi Yudisial sebagai wujud amanat reformasi bersama-sama dengan seluruh elemen masyarakat madani. Busyro Muqoddas ix . Jakarta. 2 Agustus 2007 M.

x .

John Pieris. Bapak Dr. serta membuat kata pengantar dalam buku ini. MA.M. juga disampaikan kepada Bapak Wakil Ketua.H.. Banyak pihak yang telah memberikan kontribusi yang sangat berharga dalam proses penyusunan buku ini.H. S. Penghargaan yang tinggi. Bapak-bapak Anggota Komisi Yudisial Republik Indonesia.. S. M. S. S. S. Hidayat Nur Wahid.. S. S.. Bapak Arbab Paproeka. M.. kami menghaturkan terima kasih yang tak terhingga kepada para penulis (kontributor) yang telah memberikan artikel untuk materi buku ini...H. Ali Zaidan.. Bapak Firmansyah Arifin. M.H. Mahfud MD.H. Bapak Prof.H. Untuk itu. S.. S. Andi Djalal Latief. Dr. Komariah Emong Sapardjaja.H. Bapak F.H. DR. LL. M.H. Moh. S.H. yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu. Bapak Asep Rahmat Fajar. Bismar Nasution.. Marwan Mas... Bapak Prof. Dr.. Soekarno. MS. S. Ermaya Suradinata. Hatta Ali....H. dukungan dan motivasi.H.. dan Bapak Ir. Bapak Prof. DR..H.. Dr. S. Ketua Komisi Yudisial Republik Indonesia yang telah memberikan kontribusi pemikiran. H. Dr...U. S. S. Din Syamsuddin. Secara khusus. Sp.X.. atas dukungan dan kontribusi pemikiran dalam proses penyusunan buku ini. S.H. Bapak M..Hum. S.Penghargaan dan Ucapan Terima Kasih Program penyusunan buku Bunga Rampai Dua Tahun Komisi Yudisial Republik Indonesia ini adalah salah satu program yang diamanatkan oleh Rapat Kerja Komisi Yudisial Republik Indonesia pada bulan Februari 2007 di Bandung. Bapak Trimedya Panjaitan.N.H.. Ibu Prof. M. MS. Bapak Dr.H. Bapak M. M. M. Busyro Muqoddas. S. Pandupraja. Bapak Prof.H. Ucapan terima kasih kepada Bapak M.H. Bapak A. M. Satjipto Rahardjo.H.H. Bapak Dr.. diucapkan terima kasih kepada: Bapak Prof.H. para Tenaga Ahli dan xi ..

serta dukungan Sekretariat Jenderal Komisi Yudisial.Bapak Sekretaris Jenderal Komisi Yudisial Republik Indonesia. Jakarta. Buku Bunga Rampai ini dapat diselesaikan adalah tidak terlepas dari dukungan dan dedikasi yang sangat tinggi dari Sekretariat Tim Penyusun Buku Bunga Rampai. 2 Agustus 2007 Hermansyah Redaktur xii . Semoga dengan hadirnya buku ini dapat memberi manfaat bagi kita semua.

. Hatta Ali. S. Kontribusi Lembaga Sosial Mendorong Reformasi Peradialn Prof. S. Hakim Agung dan Penemuan Hukum (Rechtsvinding) Pada Era Reformasi dan Transformasi Hukum Prof. S. Busyro Muqoddas.U.H. S. Penghargaan dan Ucapan Terima Kasih Daftar Isi iii xi xiii Bagian Kesatu Reformasi Peradilan 1.H.Daftar Isi Prakata Ketua Komisi Yudisial M. 8. Peran Hakim Agung Dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding) dan Penciptaan Hukum (Rechtsschepping) Pada Era Reformasi dan Transformasi M..H. Perubahan Bidang Politik dan Pengaruhnya Terhadap Reformasi Peradilan Arbab Paproeka.H. Mahfud MD. S. S. S.Hum. Kontribusi Komisi Kepolisian Nasional Dalam Mempercepat Reformasi Peradilan A.. LL.H. Sp. Ali Zaidan.H. Kontribusi Lembaga Kejaksaan Dalam Mempercepat Reformasi Peradilan M.. M. S. 4. 95 107 135 xiii . 1 21 43 65 5. 83 6. 3. 2..M. Dr. S. Komisi Yudisial Pengawal Reformasi Pengadilan Mendayung diantara Simpati dan Resistensi Firmansyah Arifin. S. Komisi Yudisial Dalam Mosaik Ketatanegaraan Kita Prof. M. Pandupraja.N. Satjipto Rahardjo. M. Komariah Emong Sapardjaja. Moh.H.. DR. Dr.H.H. 7.H.H.

Bismar Nasution. M. S. 2. H. Andi Djalal Latief. S. MA. Hidayat Nur Wahid. Redaksi 185 197 221 249 259 275 287 301 319 xiv . S.H. 7. John Pieris. Memulihkan Kewenangan Komisi Yudisial Dengan Melibatkan Kemitraan (Jejaring) di Daerah Dr. Reformasi Pendidikan Hukum Untuk Menghasilkan SDM Penegak Hukum Yang Kompeten dan Profesional Prof. Pentingnya Peran Komisi Yudisial Berdasarkan Pendekatan Geopolitik dan Geostrategi Indonesia Prof. MS. M.S. Marwan Mas. Komisi Yudisial Yang dicita-citakan Oleh Masyarakat dan Pencari Keadilan Dr. Dr. Peran Serta Elemen Masyarakat Sipil Dalam Mendorong Proses Reformasi Peradilan dan Penegakan Hukum Prof.H.9. 5...H. Urgensi dan Fungsi Pembentukan Jejaring di Daerah Oleh Komisi Yudisial Asep Rahmat Fajar. S. Ermaya Suradinata. M.H.H.H.H. 155 165 Bagian Kedua Penguatan Kelembagaan 1.. S. Sinkronisasi Sistem Perundang-undangan Lembaga Peradilan Dalam Menciptakan Peradilan Yang Lebih Baik Trimedya Panjaitan. Soekarno. DPR dan Perubahan Atas Undang-Undang Komisi Yudisial F. Dr. S. Din Syamsuddin 10. Urgensi Pembuatan Data Base Hakim Sebagai Media Penunjang Pelaksanaan Wewenang dan Tugas Komisi Yudisial Ir. M. M. 6.H. Gerak dan Langkah Nyata Komisi Yudisial Dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Dr. 4.X. 3. 8.H.. S. DR.H. M.

Bagian Kesatu Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan xv .

xvi .

Pujian dan cercaan terus bermunculan yang sampai saat ini (Juli 2007) menyebabkan KY berada pada posisi yang menggantung karena setelah wewenangnya untuk melaksanakan fungsi pengawasan dipangkas melalui putusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada Agustus 2006. sengaja dilakukan tanpa kehadirannya. Itu pun masih menimbulkan kontroversi karena produknya tentang calon hakim agung tahun 2007 banyak yang menilainya tidak berkualitas apalagi Irawady Joenoes. praktis pekerjaannya hanya menyeleksi calon hakim agung. Mahfud MD Pujian dan cercaan Kehadiran Komisi Yudisial (KY) di Indonesia telah memperkaya khazanah kita tentang pembangun hukum. memprotes karena keputusan KY ditetapkan dalam rapat yang. penulis diminta mengelaborasi lebih lanjut optik politik hukum tentang KY tersebut berkenaan dengan perkembangan-perkembangan baru menyusul putusan MK pada akhir Agustus 2006 yang memangkas hampir seluruh kewenangan KY yang semula diberikan oleh UU No. Kontroversi sambutan atas kehadiran KY dapat ditelusuri dari latar belakang kehadirannya di dalam sistem Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 1 .Komisi Yudisial dalam Mosaik Ketatanegaraan Kita Moh. salah seorang anggotanya. katanya. pengayaan mana dibangun oleh banyaknya kontroversi atas langkah-langkah KY yang begitu dibentuk langsung tancap gas tinggi untuk mengawasi perilaku dan moralitas hakim. Meskipun sudah pernah menulis tentang KY dari aspek politik hukum untuk buku peringatan Satu Tahun Komisi Yudisial (2006). 22 Tahun 2004 berdasar atribusi kewenangan legislasi yang sah.

untuk mengawasi perilaku hakim agar tidak melakukan judicial corruption harus dibentuk Komisi Yudisial (KY). Gagasan tentang kedua lembaga ini mendapat sambutan posistif baik dari kampus-kampus dan LSM maupun dari parpol dan Fraksi-fraksi di DPR dan MPR. Pertama. Kedua. KY diberi tugas melakukan pengawasan terhadap hakim baik secara preventif maupun represif.ketatanegaraan kita. pada waktu itu memberi dukungan kuat dengan argumen-argumennya yang sangat meyakinkan tentang KY dan segala kewenangannya yang kemudian dituangkan di dalam UU No. Perubahan Positif Ketika gagasan tentang pembentukan KY dan MK ini diproses secara legislasi di DPR kewewenangan yang diberikan kepada keduanya ternyata berkembang secara lebih baik. Itulah sebabnya dua hal untuk memmperbaiki kinerja hukum kita segera menyeruak ke dalam wacana yang kemudian diterima dengan baik di dalam proses politik yang lahir di awal reformasi. Saat kita melakukan reformasi pada tahun 1998 bermunculan wacana untuk memperbaiki penegakan hukum kita dengan asumsi bahwa terjerumusnya Indonesia ke dalam krisis multidimensi yang sulit disembuhkan disebabkan oleh bobroknya dunia peradilan. 22 Tahun 2004. Secara preventif KY dapat mengusulkan calon hakim agung agar tampil hakim agung- 2 Bunga Rampai . Mafia peradilan (judicial corruption) yang melibatkan hakim-hakim terasa menyengat tetapi tak dapat terlihat atau dibuktikan secara formal karena pelaku-pelakunya terdiri dari orangorang yang pandai memanipulasi hukum untuk saling melindungi. untuk menguji UU terhadap UUD dibentuk Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai lembaga negara baru pemegang kekuasaan kehakiman di samping Mahkamah Agung (MA). Pada saat yang sama dirasakan juga bahwa banyak produk UU yang secara substantif bertentangan dengan UUD 1945 sehingga isinya banyak yang lahir dari korupsi politik tetapi tidak ada instrumen hukum dan lembaga yang dapat mengoreksinya melalui pengujian kecuali pengujian legislatif (legislative review) yang sudah pasti sangat bergantung pada kehendak lembaga-lembaga poltik yang korup. Bahkan orang-orang yang sekarang duduk di MA maupun MK yang “terkesan” ikut menghantam KY.

dan memutus pembubaran partai politik. memutus sengketa hasil pemilu. Jakarta. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 3 . sedangkan secara represif KY dapat mengawasi perilaku hakim dalam pelaksanaan tugas-tugasnya sekaligus memutuskan tindakan yang dapat direkomendasikan kepada MA.hakim agung yang baik melalui seleksi yang ketat dan obyektif. 1998. Kemajuan nyata Harus diakui secara jujur bahwa mosaik lembaga peradilan. Kita mencatat sampai sekarang MK sudah memeriksa dan memutus lebih dari 100 kasus pengujian UU terhadap UUD. Begitu pun dengan MK. lembaga kekuasaan kehakiman yang baru ini bukan hanya diberi wewenang melakukan pengujian UU terhadap UUD tetapi juga diberi wewenangwewenang lain yakni memutus sengketa antar lembaga negara yang wewenangnya ditentukan di dalam UUD. Politik Hukum di Indonesia. LP3ES.1 Itulah sebabnya ketentuan tentang itu ditegaskan di dalam UUD hasil amandemen sehingga pengaturan operasionalnya dengan atribusi kewenangan legislasi menjadi jelas dan dapat diimplementasikan. menjadi lebih baik setelah perubahan UUD 1945 yang menegaskan fungsi-fungsi konstitusional dengan proliferasi kelembagaan dalam bidang ini. memutus pendapat atau dakwaan (impeachment) DPR bahwa Presiden telah melakukan salah satu atau lebih dari lima hal yang ditentukan di dalam UUD yang dapat dijadikan alasan untuk memberhentikan Presiden/Wapres dalam masa jabatannya. Dalam pada itu pembuat Konstitusi menetapkan juga bahwa pengujian peraturan perundang-undangan di bawah UU terhadap peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dilakukan oleh MA. Sebelum reformasi ketentuan ini oleh beberapa peraturan perundang-undangan memang sudah dijadikan wewenang MA tetapi karena pengaturannya kacau secara teoretis maka ketentuan itu tak pernah dapat diimplementasikan. Terlepas dari soal. memutus pendapat DPR bahwa Presiden/Wapres tak lagi menuhi syarat. terutama kekuasaan kehakiman. apakah kita setuju atau tidak setu- 1 Bahasan meluas tentang ini lihat dalam buku saya.

Benar juga ketika kita menguatkan wewenang MA untuk melakukan pengujian peraturan perundang-undangan di bawah UU terhadap peraturan perundang-undangan yang derajatnya lebih tinggi. sebab dengan gebrakannya menyorot dan memeriksa hakimhakim yang dilaporkan dan diduga nakal. terutama ketika KY mengundang ketua 2 Denny Indrayana.2 Banyak hakim yang kemudian lebih berhati-hati dalam melaksanakan tugasnya. menyatakan bahwa maraknya kontroversi yang muncul dari konflik antara MA dan KY yang disusul dengan putusan MK yang sangat kontroversial yang memangkas wewenang-wewenang KY justru menunjukkan adanya kemajuan dalam sistem ketatanegaraan kita sebab kegiatan saling kontrol menjadi tumbuh. seorang ahli Hukum Tata Negara dari UGM. MA yang merasa kewibawaannya diobrak-abrik merasa tersinggung. ini harus dicatat sebagai kemajuan karena membuktikan bahwa memang benar banyak UU yang dapat dipermasalahkan konstitusionalitasnya dan MK telah menjadi lembaga yang tepat untuk melakukan itu.ju dengan sebagian putusan MK. Dalam melakukan seleksi terhadap calon hakim agung pun. mulai dari hakim pengadilan negeri sampai ke hakim agung ternyata meningkatkan gairah masyarakat untuk menyorot dan melaporkan hakim-hakim nakal. terlepas dari kritik dan kontroversi atas produknya. Kebenaran relatif putusan MK Tetapi langkah-langkah KY yang cukup memberi harapan ternyata telah menjadi bumerang yang sama sekali tidak diharapkan baik oleh KY sendiri maupun oleh masyarakat. KY sudah memberi sumbangan yang cukup baik terutama untuk memilih yang terbaik dari jelek-jelek serta dalam membuat kontrak moral agar kalau sudah menjadi hakim agung seseorang dapat melaksanakan tugasnya dengan penuh integritas. meski tak semua laporan itu benar adanya. 4 Bunga Rampai . Ini sudah tentu jauh berbeda dengan zaman sebelumnya di mana hakim agung diangkat berdasar kontrak politik dan ditengarai kuat hanya berdasar kedekatan dengan pimpinan MA. terbukti sekarang MA telah menguji dan membatalkan beberapa peraturan perundang-undangan yang dinilai bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Langkah KY pun sudah mendorong ke arah kemajuan.

Bahwa yang menggugat adalah pribadi-pribadi hakim agung itu hanyalah taktik saja. meminta MK memutus bahwa hakim agung bukanlah bagian dari hakim yang dapat diawasi oleh KY sebab menurut pasal 24B ayat (1) untuk hakim agung sudah disebutkan KY hanya mengusulkan pencalonannya. wewenang-wewenang KY untuk mengawasi para hakim harus dinyatakan bertentangan dengan UUD karena kriterianya tidak jelas dan bersifat eksesif apalagi dalam prakteknya 3 Seperti diketahui pengaturan tentang KY dicantumkan di dalam pasal 24B sedangkan pengaturan tentang MK dicantumkan dalam pasal 24C. Kedua. sebab jika dilihat dari suasana dan sikap-sikap petinggi MA tampak jelas bahwa MA memang merasa gerah dengan sepak terjang KY. para penggugat meminta agar hakim konstitusi tidak dijadikan bagian dari pengertian hakim yang dapat diawasi oleh KY karena hakim konstitusi berbeda dari hakim lain dan baru dimasukkan di dalam UUD lebih belakang dari pengaturan tentang KY. sedangkan untuk mengawasi perilaku disebutkan berlaku untuk hakim. ketika KY ditentukan di dalam UUD belum ada gagasan tentang hakim konstitusi. Ketiga. 22 Tahun 2004 yang menyamakan keduanya harus dinyatakan bertentangan dengan konstitusi.MA untuk dimintai keterangan dan ketika KY mengundang beberapa hakim agung untuk diperiksa berkenaan dengan masuknya beberapa laporan dari masyarakat. hanya saja karena MA secara institusi tidak mempunyai legal standing atau tidak dapat menjadi pihak dalam sengketa di MK maka yang dimajukan (sekurang-kurangnya dibiarkan dan didorong maju) adalah para hakim agung secara perseorangan. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 5 . bahkan mengintervensi kemandirian hakim. 30 orang hakim agung kemudian menggugat judicial review UU No. Jadi bagi para penggugat harus dibedakan pengertian antara hakim agung dan hakim sehingga isi UU No. Pertama.3 Argumennya. Isi gugatan itu pada pokoknya berkisar pada tiga hal. 22 Tahun 2004 tentang KY terhadap UUD. sehingga tak mungkin ketika KY dibentuk sudah terpikir untuk mengawasi hakim konstitusi. Kalangan hakim banyak yang mengatakan bahwa KY bukannya menjaga martabat hakim melainkan justru menjatuhkan martabat hakim.

Lagi pula jika UU tentang KY bertentangan dengan UU lain mengapa isi 4 5 KY sendiri memberikan argumen yang dapat dipahami ketika menyatakan bahwa sulit untuk tidak membaca dan menilai putusan hakim sebab pengaduan yang masuk pada umumnya menyangkut kejanggalan dalam pemeriksaan perkara dan putusan hakim. 2007. dinilai ultra petita dan bias karena salah satu dasar pertimbangan pemangkasan wewenang-wewenang KY itu didasarkan pada pertentangan (tidak sinkronnya) ketentuan yang ada antar UU yakni pertentangan UU KY (yang dapat merekomendasikan pemberian sanksi pada hakim) dengan UU lain seperti UU No. Persoalan belum adanya ketentuan tentang kriteria pelanggaran moral oleh hakim mestinya tidak dapat dijadikan alasan untuk membatalkan kewenangan KY sebab masalah tersebut merupakan ranah legislatif. Bias terjadi dan dapat dianggap ultra petita di sini karena MK hanya boleh menguji UU terhadap UUD bukan UU terhadap UU lainnya. Perdebatan Hukum Tata Negara Pasca Amandemen UUD 1945. 22 Tahun 2004 itu memang agak kompromistis tetapi juga dapat dipersoalkan karena selain dianggap mengandung ultra petita5 juga bertentangan dengan asas nemo judex in causa sua sekaligus juga tidak sesuai dengan konsepsi hakim yang dimaksud dalam UUD. 22 Tahun 2004 dipangkas sehingga meskipun boleh mengawasi tetapi terjadi kekosongan hukum dalam operasionalisasi pengawasan itu sendiri. 8 Tahun 2004 tentang Peradilan Umum yang menentukan bahwa pemberhentian hakim agung dan hakim dilakukan setelah melalui Majelis Kehormatan Mahkamah Agung dan Majelis Kehormatan Hakim. dinilai kompromistis karena karena menolak gugatan bahwa hakim agung berada di luar subyek yang dapat diawasi oleh KY. namun hampir semua pedoman pengawasan untuk mengawasi para hakim sebagaimana diatur di dalam UU No. 2 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 6 Bunga Rampai . Kedua.KY sering memeriksa hakim dengan mempersoalkan isi putusan. Pertama. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung dan UU No. Jakarta.4 Putusan judicial review MK pada Agustus 2006 tentang UU No. Tentang ini dapat dibaca secara lebih rinci di dalam buku saya. LP3ES. 14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan UU No.

Selain berbenturan dengan asas nemo judex in causa sua bias putusan MK tidak sesuai dengan ide dan konsep tentang hakim di dalam konstitusi dan tata hukum kita sebab ide dan konsep dasar hakim adalah semua pejabat yang melaksanakan kekuasaan kehakiman. MK juga pernah membatalkan ketentuan UU tentang MK yang menentukan bahwa MK hanya boleh melakukan pengujian atas UU yang lahir setelah terbentuknya MK. belum tentu benar tapi mengikat Meskipun begitu harus diingat bahwa. Putusan MK menyatakan bahwa MK boleh menguji semua UU termasuk semua UU yang sudah ada sebelum terbentuknya MK. dan pasal-pasal lain. Dalam saya catatan sudah dua kali MK memutus hal-hal yang menyangkut dirinya sendiri. putusan MK itu belum tentu benar.UU KY yang dibatalkan? Mengapa tidak diberlakukan ketentuan bahwa hukum yang datang kemudian (UU No. Di dalam asas ini ditentukan bahwa hakim tidak boleh memutus perkara yang menyangkut diri-nya sendiri. Kebenaran putusan MK itu bersifat relatif. atau pasal-pasal yang dipergunakan untuk memutus. 14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 22 Tahun 2004) menghapus hukum yang terdahulu yakni UU No. dalil. Selain memutus bahwa hakim konstitusi bukanlah bagian dari hakim yang dapat diawasi KY. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung dan UU No. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 7 . 2 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah dengan UU No. terlepas dari soal benar atau salah. final and binding. menurut pasal 24C ayat (1) putusan MK itu bersifat mengikat. putusan MK tersebut agak berbenturan juga dengan asas nemo judex in causa sua karena MK memutus hal-hal yang menyangkut kepentingannya sendiri yakni meletakkan hakim konstitusi sebagai subyek yang berada di luar pengawasan KY . Putusan MK. seandainya yang menjadi hakim pada Mahkamah Konstitusi itu adalah hakim lain yang menggunakan atau mengikuti paradigma. tetapi sudah pasti mengikat. 8 Tahun 2004 tentang Peradilan Umum sesuai dengan asas lex posteriori derogat lex anteriori? Ketiga. Dengan kata lain. dalil. tak dapat dilawan lagi secara hukum. Tegasnya. artinya sebuah putusan MK bisa salah jika yang dipakai untuk memutus adalah perspektif. tergantung pada pilihan perspektif.

Sebagai lembaga negara pengawas eksternal ia bukan penunjang. dan dalil-dalil lain maka putusan bisa berbeda. Kalau soal rasionalitas. 8 Bunga Rampai . paradigma apa pun yang dipergunakan pasti bisa dibangun rasionalitas untuk membenarkan pilihan perpspektif dan paradigma. Tetapi jika konsep hakim dilihat dari teori tentang tugas-tugas untuk mengadili. Dari perspektif teori tertentu misalnya. Tetapi dari segi lain bisa ditegaskan bahwa tak ada satu pun ketentuan UUD kita maupun dalam sejarah pembahasan ketika membentuk KY bahwa KY adalah lembaga penunjang. Dalam kasus putusan MK yang memangkas hampir semua kewenangan KY seandainya kita memakai perspektif. Tim Hukum KY misalnya. Menurut UUD sendiri dan berdasar latar belakang pembahasannya di PAH I MPR tak pernah ada gagasan KY dijadikan sebagai lembaga penunjang. tetapi bidang tugasnya memang berkaitan dengan kekuasaan lembaga negara yang lain yakni kekuasaan kehakiman. Begitu juga putusan MK bahwa hakim MK tak bisa diawasi oleh KY karena KY lahir lebih dulu dari MK itu bisa benar dari perspektif tertentu sebab tak mungkin sesuatu yang dipikirkan dan lahir kemudian sudah dicakup untuk diawasi oleh lembaga yang ada lebih dulu. Dengan demikian jika dilihat dari perspektif lain maka KY bukanlah lembaga penunjang lembaga lain. dalil. Itu hanya pendapat MK berdasar teori yang dipilihnya sendiri untuk kemudian dijadikan bahan pertimbangan vonis. siapa pun yang melakukan dan kapan pun dibentuk. bisa benar ketika MK mengatakan bahwa KY adalah auxiliary agent (lembaga negara penunjang) karena ia merupakan lembaga negara yang bukan pemegang kekuasaan kehakiman tetapi memiliki tugas yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman dan karenanya KY tidak bisa dijadikan bandul checks and balances dengan MK maupun MA. Dalam bahasa sehari-hari dapatlah dikatakan bahwa putusan MK itu bisa “sesuka-suka MK” dengan kebenaran yang relatif karena logikanya hanya dibangun dari perspektif tertentu yang hanya bisa logis dari perspektif itu sendiri. Ia adalah lembaga negara yang otonom sebagai lembaga pengawas eksternal. dan teori yang dipergunakan oleh pihak termohon atau pihak terkait langsung. Tidak sulit untuk mencontohkan ini.perspektif teori. maka semua dalil yang dipergunakan oleh MK bisa salah.

Bukan karena benar. seperti dikemukakan di atas. Untuk banyak pihak putusan MK tentang KY itu memang mengikat tetapi tidak sejalan dengan latar belakang sejarah politik hukum. maka putusan MK tentang KY lebih merupakan pilihan selera hakim konstitusi yang tentu bisa lain putusannya kalau hakim-hakim dan pilihan perspektifnya juga lain dengan argumen yang juga bisa kuat. terlepas dari soal kita senang atau tidak senang. Di sini berlaku prinsip “hukmul haakim yarfa’ul khilaaf. tepatnya pada formal dan prosedural semata. Jika hanya mendasarkan pada asas kepastian hukum. maka manipulasi bisa dilakukan oleh pihak yang punya otoritas untuk memutus dengan cara memilih perspektif dan teori serta dalil-dalil sesuai dengan selera dan kehendaknya sendiri. Oleh sebab itu di dalam konstitusi kita juga dianut asas keadilan dan kemanfaatan yang harus bersumber dari jeritan hati nurani masyarakat serta manfaat bagi masyarakat. dan manfaat bagi masyarakat sebagaimana digagas ketika KY akan dijadikan bagian di dalam mosaik ketatanegaraan kita. Meskipun begitu. Pilihan politik. Namun agar putusan hakim dapat diterima dan tidak menimbulkan persoalan baru di dalam sistem hukum kita sebenarnya sudah ada penggarisan bahwa penegakan hukum di Indonesia haruslah mengintegrasikan secara padu tiga asas yakni asas kepastian hukum dan asas keadilan sesuai dengan ketentuan pasal 24 ayat (1) dan pasal 28D ayat (1) dan asas kemanfaatan sesuai dengan ketentuan pasal 28H ayat (2).” putusan hakim menyelesaikan semua pertentangan. salah satu pertimbangan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 9 . putusan MK bersifat final dan mengikat dan harus dilaksanakan. tak terikat teori Seperti dikemukakan di atas.maka hakim konstitusi pun harus dipandang sebagai hakim yang juga harus diawasi oleh KY. tetapi karena hal itu sudah diputuskan oleh lembaga yang diberi wewenang oleh konstitusi untuk memutus sengketa tentang itu. setidak-tidaknya menurut penulis. dan apa yang dimainkan hakim-hakim yang memeriksa dan memutus. rasa keadilan. Jadi tampak jelas bahwa ini tinggal pilihan paradigma dan perspektif teorianya serta tergantung pada siapa. Berdasar ini.

konstitusi adalah resultante atau kesepakatan yang dibuat oleh bangsa yang bersangkutan sesuai dengan kebutuhan tempat dan waktu serta situasi. tetapi jika dilihat dari tugasnya yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman maka bidang tugas KY memang hanya menunjang lembaga yudikatif dalam pelaksanaan kekuasaan kehakiman. melainkan merupakan lembaga pengawas eksternal yang berdiri sendiri. Jadi Hukum Tata Negara itu adalah apa yang diperdebatkan dan ditulis sebagai pilihan politik di dalam konstitusi. Jadi jika dilihat dari sudut lembaga negara maka KY ini tidak pernah dimaksudkan sebagai lembaga pembantu atau penunjang lembaga lain. sebab di dalam UUD sendiri tidak disebutkan tentang itu. Meminjam ungkapan KC Wheare di dalam bukunya. Tidak ada teori Trias Politika asli dan tidak ada sistem pemerintahan yang murni karena hampir semua negara membuat sistem dengan sentuhan 10 Bunga Rampai . the Modern Constitution. Namun sebagai lembaga pengawas eksternal lembaga ini dapat dipandang sebagai lemabaga negara yang sejajar dengan MK maupun MA meski pun kompetensi tugas-tugasnya membantu kekuasaan kedua lembaga tersebut. Harus juga diingat bahwa dalam kenyataannya tidak ada satu sistem ketatanegaraan yang benar-benar asli dan tidak ada satu sistem ketatanegaraan yang secara persis dianut oleh lebih dari satu negara karena setiap negara memberikan sentuhan-sentuhan atau warna khusus sesuai dengan kebutuhan dan pilihan politiknya.putusan MK ketika memangkas hampir semua wewenang pengawasan KY terhadap hakim adalah karena KY bukan main organ melainkan hanya auxiliary organ. bukan apa yang ada di dalam teori atau yang berlaku di negara lain betapa pun dianggap sudah mapan. bukan lembaga negara utama seperti MA dan MK melainkan hanya lembaga pembantu atau penunjang. Hukum Tata Negara adalah apa yang digagas dan kemudian ditulis di dalam konstitusi oleh bangsa suatu negara. Pandangan seperti ini dapat dipertanyakan. Selain itu harus diingat bahwa Hukum Tata Negara itu bukanlah apa yang ada di dalam teori atau yang berlaku di negara lain. Memang dapat diterima pandangan bahwa KY bukan lembaga pemegang kekuasaan kehakiman yang mempunyai tugas yang berkaitan dengan kekuasaan tersebut.

dan lain-lain membuat sistem ketatanegaraan berdasar pilihan politiknya sendiri. Swiss. penerapan yang benar adalah sistem parlementer seperti yang berlaku di Inggris. Uniknya di negara Montesquieu sendiri.dan modifikasinya sendiri-sendiri sesuai dengan kebutuhan domistiknya. Trias Politika yang “dikira” berasal dari Montesquieu itu pun kemudian melahirkan sistem pemerintahan yang berbeda-beda yang juga dapat dipertanyakan keasliannya. Harian Seputar Indonesia. Perancis. dan yudikatif. Juga tulisan saya. eksekutif. 2 Mei 2007. Perancis. Hasil modifikasi oleh Montesquieu inilah yang umumnya dianggap sebagai dasar teori Trias Politika padahal Montesquieu sendiri mengambilnya dari John Locke. Inggris melahirkan sistem Parlementer yang menganut supremasi parlemen. dalam Jawa Pos. 2 Mei 2007. Inggris. Tampak jelas bahwa sistem ketatanegaraan yang asli atau murni itu tidak ada karena semuanya merupakan penafsiran dan modifikasi sendiri-sendiri. sedangkan di Swiss lahir sistem badan pekerja. Amerika. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 11 . sedangkan nama dan uraian teoresasi tentang Trias Politika itu selanjutnya diberikan oleh Emmanuel Kant. Tak Ada Sistem Ketatanegaraan Asli. Mencontoh Kehidupan Beragama di Lebanon. dan federatif namun kemudian dimodifikasi oleh Montesquieu menjadi legislatif. Teori Trias Politika yang selalu dikaitkan dengan Montesquieu misalnya. sebenarnya berasal dari John Locke ketika mengajarkan pemisahan kekuasaan atas legislatif. eksekutif. Berbagai contoh kasus6 Antara April dan Juli tahun 2007 ini penulis mengunjungi beberapa negara “demokrasi” di Asia dan Eropa yang ternyata mengatur sistem ketatanegaraannya secara berbeda-beda meskipun mengatakan menganut sistem terten- 6 Lihat dalam tulisan saya. Amerika Serikat melahirkan sistem Presidensial yang memisahkan secara tegas antara legislatif dan eksekutif dengan mekanisme checks and balances antar poros-porosnya. Montesquieu sendiri mengatakan. dianut hybrid parliamentary-presidential system.

Sistem Presidensial seperti yang dianut di Indonesia ini hanya dipakai oleh satu negara lain di dunia.tu dari Trias Politika. Di Republik Rakyat Cina (RRC) yang menganut sistem yang agak unik. Sistem presidensial di Indonesia juga tidak mengikuti pola yang umum meski pola umum itu tidak murni juga. jadi pemerintahan dilakukan oleh kabinet yang dipimpin oleh perdana menteri tetapi untuk masalah pemerintahan tertentu dilakukan oleh Presiden. Tapi itulah sistem yang dipilih oleh Polandia. Namun di Indonesia Presiden mempunyai hak bersama DPR untuk membentuk UU. tetapi MK juga dapat melakukan judicial review atas UU yang sudah disahkan oleh Presiden jika ada gugatan. Di Yordania juga dianut sistem parlementer tetapi yang sangat menentukan jabatan perdana menteri adalah raja. Ini unik karena berarti MK dapat menilai kembali UU yang telah dinyatakan konstitusional oleh MK sendiri sebelum UU itu disahkan. Polandia juga menganut sistem parlementer tetapi uniknya Presiden dapat membubarkan parlemen dengan dua alasan yakni jika sampai waktu tertentu parlemen tidak mensahkan anggaran yang diajukan oleh pemerintah atau jika parlemen tidak menyetujui susunan kabinet yang diajukan oleh pemerintah dan sampai waktu tertentu parlemen tidak mengajukan alternatif untuk menggantikan penolakannya itu. Socialist Democratic 12 Bunga Rampai . Di Suriah pemilu untuk 250 kursi parlemen hanya dilakukan untuk memperebutkan 70 kursi karena nama wakil rakyat yang untuk 180 kursi sudah ditentukan lebih dulu oleh pemerintah dari partai yang berkuasa. termasuk UU yang sudah dimintakan judicial preview sebelum diundangkan. Pada umumnya di dalam sistem presidensial kekuasaan membentuk UU hanya ada di parlemen tetapi Presiden mempunyai hak veto (hak menolak) yang kemudian dapat diuji kembali melalui sejumlah dukungan minimal tertentu di parlemen. Yang juga menarik di Polandia adalah kewenangan Mahkamah Konstitusi (MK) untuk melakukan judicial preview atau menilai satu RUU sebelum disahkan oleh (dan atas permintaan) Presiden. yakni Puerto Rico. bukan parlemen. Libanon yang secara resmi menganut sistem Parlementer ternyata menyerahkan kekuasaan tertentu kepada Presiden yakni kekuasaan bidang pertahanan dan intelijen.

termasuk ketika kita menempatkan KY di dalam mosaik ketatanegaraan kita. sebab seperti dikemukakan di atas setiap konstitusi dapat menentukan pilihannya sendiri-sendiri. Yang menonjol ketika itu adalah pemikiran tentang perlunya lembaga pengawas eksternal yang dapat menyeleksi hakim agung dan mengawasi perilaku hakim sebab lembaga pengawas internal yang ada di lembaga yudikatif sampai saat itu sama sekali tidak efektif. Desain Komisi Yudisial Uraian di atas bermaksud meyakinkan kita bahwa sistem ketatanegaraan kita pun adalah sistem yang dapat kita buat sendiri. Dewan Yudisial Nasional atau “the National Council of the Judiciary” berfungsi untuk 7 Bagi penulis konsep ini terasa unik. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 13 .7 Kejaksaan Agung dijadikan lembaga yang sejajar dengan Mahkamah Agung dan lembaga negara yang lainnya. Jadi di RRC kejaksaan bukan bagian dari Pemerintah dan bukan bagian dari Mahkamah Agung melainkan dijadikan lembaga yang sejajar dengan kedua lembaga negara itu. Di berbagai negara pun pemosisian KY bervariasi. siapa pun harus tunduk kepada hukum. Namun seperti dikenal luas penegakan hukum dan pemerintahan di RRC berjalan sangat efektif. Itu pun merupakan pilihan politik atau resultante bangsa Cina dalam membuat konstitusinya. Di Polandia. misalnya. Ternyata konsep ini berjalan efektif karena dictatorship di sana diartikan kekuasan hukum (dikatatorial hukum) secara mutlak. Sebagai pilihan politik penempatan posisi KY yang seperti itu sah saja dan mengikat secara konstitusional. sebab pada umumnya agak sulit menyatukan sosialis-komunis dengan demokrasi. tergantung pada kebutuhan masing-masing. bahkan ada negara yang menempatkan KY sebagai lembaga yang bukan di ranah yuridis melainkan bersifat politis. bukan sistem yang harus dipaksakan untuk sama atau menganut teori atau sistem yang berlaku di negara lain. juga agak sulit memahami demokrasi yang dikatatorship.Dictatorship. Dalam kaitan dengan KY ini penulis dapat mengatakan bahwa menurut risalah persidangan-persidangan MPR yang merancang perubahan UUD 1945 tidak muncul sama sekali pemikiran untuk menjadikan KY sebagai supporting atau auxiliary organ.

terlepas dari soal benar atau salah. 22 Tahun 2004 sebagai pilihan politik yang khas Indonesia sebenarnya sudah cukup baik. tak ada hal-hal yang bertentangan dengan UUD baik secara semantik maupun secara historik dalam garis politik hukum kita. MK menyatakan bahwa KY bukan lembaga negara utama padahal ketentuan yang seperti itu hanyalah tafsir teoretis dari MK yang bisa dibantah dengan tafsir teoretis lain. dan seorang lain yang ditunjuk oleh Presiden. putusan MK itu bersifat final dan mengikat yang karenanya harus diterima dan dilaksanakan. Pada saat itu ada semangat bahwa KY dibentuk un- 14 Bunga Rampai . Namun seperti dikemukakan di atas. Setelah terjadi kekosongan hukum dalam bidang pengawasan perilaku hakim oleh KY kini kita dituntut untuk segera membentuk UU baru yang memuat dan mengatur kewenangan KY ini. kita suka atau tak suka. Ketua I Mahkamah Tinggi Tata Usaha Negara. 6 orang anggota Parlemen yang masing-masing 4 orang dari Majelis Rendah dan 2 orang dari Majelis Tinggi. Menteri Kehakiman.menjaga dan melindungi kebebasan/kemandirian pengadilan dan hakim. Lembaga ini lebih bersifat politis karena keanggotaannya terdiri dari Ketua I Mahkamah Agung. 15 orang hakim. Yang harus diperhatikan dalam pembentukan UU baru ini adalah bahwa kita harus kembali ke semangat atau garis politik hukum tentang KY itu sebagaimana diperdebatkan di MPR pada saat masalah KY itu dibicarakan dan diputuskan. MK juga menyatakan bahwa ketentuan kewenangan KY untuk mengawasi tingkah laku hakim tumpang tindih dengan berbagai UU lain yang terkait dengan kekuasaan kehakiman sehingga karena itu MK membatalkan berbagai kewenangan KY. Tetapi MK dengan pilihan paradigma dan dalil serta pasal-pasal yang dipilihnya sendiri telah memangkas hampir semua kewenangan KY. Jadi posisi konstitusional KY dengan berbagai kewenangan yang kemudian dituangkan ke dalam UU No. padahal MK hanya boleh memutus atau membatalkan isi UU jika bertentangan dengan isi UUD. bukan bertentangan dengan UU lain yang sejajar. MK mengatakan bahwa KY hanyalah supporting atau auxiliary organ sehingga tak bisa melakukan peran checks and balances padahal tak ada sama sekali pemosisian yang seperti itu ketika MPR membahas dan merumuskan fungsi KY di dalam konstitusi kita.

Dalam cakupan pengertian yang seperti ini maka pengawasan atas hakim mencakup pengawasan preventif (misalnya dalam hal seleksi hakim) dan pengawasan represif (misalnya pemeriksaan dan penindakan atau penjatuhan sanksi). keluhuran martabat serta perilaku hakim” (pasal 1 butir 6 draft Juli 2007) diartikan sebagai upaya yang meliputi pencegahan dan penindakan atas perbuatan hakim. Hakim tetap bebas memeriksa dan memutus perkara dan putusannya tetap mengikat. Adalah sulit untuk tidak membolehkan KY membaca dan menilai suatu kasus pengaduan tentang pelanggaran perilaku oleh hakim sebab pada umumnya pengaduan perilaku hakim itu terkait dengan perkara yang kemudian diputus oleh hakim. 8 Penulis adalah anggota Badan Legislasi DPR-RI yang saat tulisan ini dibuat sedang menyiapkan tiga RUU yang terkait dengan kekuasaan kehakiman yakni RUU tentang MA. baik di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan.tuk memenuhi kebutuhan akan lembaga pengawas ekternal yang mandiri untuk mengawasi perilaku hakim dan hakim yang dimaksud ketika itu adalah semua hakim yang bekerja di lembaga kekuasaan kehakiman. KY hanya boleh membaca dan menilai putusan setelah ada vonis tanpa boleh mengubah putusan hakim. dan RUU tentang KY. Berdasar diskusi-diskusi di Badan Legislasi (Baleg) DPRRI8 yang kini sedang menyiapkan RUU tentang KY yang baru ada beberapa hal yang sudah dimasukkan di dalam buram (draft mentah) berkaitan dengan lingkup kewenangan KY di masa depan yang beberapa hal di antaranya dapat dikemukakan seperti di bawah ini: 1. RUU tentang MK. Terkait dengan ini maka di dalam disain baru nanti harus tetap dibuka kemungkinan KY membaca dan mendalami putusan hakim jika terkait dengan dugaan penyimpangan perilaku hakim. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 15 . Di sini meskipun KY boleh membaca putusan hakim tidaklah dapat diartikan bahwa KY boleh melanggar independensi hakim sebab KY tetap tidak boleh mempengaruhi apalagi mengubah putusan hakim. Istilah “menjaga dan menegakkan kehormatan.

Mungkin perlu ditekankan agar pembuatan karya ilmiah tersebut dilakukan seketika di tempat seleksi. Selain itu perlu juga ditentukan pembacaan rekam jejak (track record) melalui telaah atas semua putusan yang pernah dibuat disertai investigasi secara diam-diam tetapi dapat dipertanggungjawabkan. Memang di dalam pasal 22 ayat (2) draft Juli 2007 sudah dicantumkan ketentuan bahwa dalam melaksanakan tugas KY tidak boleh mengurangi kebebasan hakim dalam memeriksa dan memutus perkara. antara lain. Selain itu perlu juga diperhatikan dalam kaitan ini tentang pemberian peluang bagi KY untuk membaca dan menilai putusan hakim yang diadukan atau dilaporkan oleh masyarakat dengan penekanan bahwa hal itu tak boleh bertendensi intervensif yang dapat mempengaruhi putusan berikutnya apalagi sampai mengubah putusan hakim.2. 3. dapat mewajibkan calon hakim agung menyusun karya ilmiah dengan topik yang telah ditentukan (pasal 18 ayat (2) draft Juli 2007). sebab konsep dasar yang dianut adalah “sikap pasif” bagi KY dalam arti KY hanya memproses laporan dari masyarakat tanpa boleh mencari-cari kasus sendiri. sebagaimana dimuat Bunga Rampai 16 . bukan dibuat di rumah atau diserahkan beberapa hari sebelumnya. Untuk melaksanakan wewenang konstitusional (menurut pasal 20 ayat (1) sampai dengan ayat (3) draft Juli 2007) KY mempunyai tugas “menjaga” dan “menegakkan” kehormatan. Dalam kaitan ini perlu dipertimbangkan atau ditegaskan tentang apa yang dimaksud “hasil temuan” KY sendiri. Tentang sifat putusan KY yang berupa penjatuhan sanksi tertentu seperti pemberhentian. Ini dimaksudkan untuk menjaga orisinalitas dan menyaring kemampuan artikulatif setiap calon hakim agung. serta perilaku hakim. keluhuran martabat. tetapi ketentuan pasal 22 ayat (2) ini tidak terkait secara spesifik bagi kemungkinan pembacaan dan penilaian putusan hakim oleh KY. Untuk tugas ini KY dapat “melakukan pengawasan” atas perilaku hakim serta “memeriksa dan memutus” terhadap dugaan pelanggaran kode etik dan keharusan perilaku baik atas pengaduan masyarakat maupun atas temuan KY sendiri. 4. Dalam upaya melakukan seleksi atas kualitas dan kepribadian calon hakim agung KY.

pimpinan DPR. Tetapi ketentuan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 17 .5. Mungkin juga dapat diatur bahwa keputusan KY tentang pemberhentian dapat dilaksanakan tanpa pemeriksaan ulang di Majelis Kehormatan Mahkamah Agung dan Majelis Kehormatan Hakim. termasuk semua hakim konstitusi. di dalam pasal 22B ayat (4) draft Juli 2007. Dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. dinyatakan mengikat dan disampaikan oleh KY kepada Presiden dengan tembusan kepada pimpinan MA. Tetapi ketentuan ini harus disertai dengan pemosisian ketentuan di dalam UU lain yang menyatakan bahwa pemberhentian dilakukan setelah melalui pembelaan dan keputusan Majelis Kehormatan Mahkamah Agung dan Majelis Kehormatan Hakim. serta perilaku hakim (pasal 25B ayat (2) draft Juli 2007) ditentukan beberapa larangan bagi hakim. tetapi tidak tercantum larangan bagi hakim untuk memeriksa dan memutus perkara yang berkaitan dengan dirinya (asas nemo judex in causa sua). dan pimpinan badan peradilan dimana hakim yang bersangkutan bertugas. Mungkin dapat diatur bahwa dengan adanya KY tidak diperlukan lagi pemberian kompetensi bagi Majelis Kehormatan Mahkamah Agung dan Majelis Kehormatan Hakim untuk memutus/merekomendasikan pemberhentian hakim. sedangkan pemberhentian hakim berdasar hasil pengawasan internal MA sendiri tetap harus melalui Majelis Kehormatan Hakim. Pengawasan atas MK Sebenarnya garis politik hukum tentang pembentukan KY menginginkan pengawasan atas perilaku hakim oleh KY mencakup semua hakim yang mempunyai fungsi kehakiman. Meskipun ini sudah menjadi asas di dalam hukum tetapi perlu juga dicantumkan di dalam bagian ketentuan tentang kode etik bahwa hakim tidak boleh atau harus mengundurkan diri dari (penanganan) perkara yang ada kaitan dengan dirinya. Ini penting juga karena dalam praktik selama ini masih banyak hakim yang menangani perkara yang ada kaitan dengan kepentingan dirinya. Ketentuan ini sangat penting agar maksud keberadaan KY untuk mengawasi dan menentukan sanksi dan tindakan dapat terpenuhi. keluhuran martabat.

namun di dalam peradilan umum kecurangan itu terbukti dan pelakunya dijatuhi hukuman pidana. padahal selain sering berdasar pilihan perspektif sepihak putusan MK itu bisa berlawanan dengan fakta hukum lain yang diputus oleh pengadilan. Itulah sebabnya dalam Amandemen UUD 1945 berikutnya9 kita harus merumuskan dengan cermat tentang pengawasan terhadap hakim konstitusi dan tentang cara mengatasi jika putusan MK yang bersifat final dan mengikat itu ternyata tidak sesuai dengan politik hukum di dalam konstitusi dan bertentangan dengan fakta hukum yang kemudian muncul.tentang ini yang sudah dimuat dengan tegas di dalam UU tentang KY dibatalkan oleh putusan MK yang menyatakan bahwa hakim dalam pengertian pasal 24B UUD 1945 tidak mencakup hakim konstitusi karena selain konteksnya hanya dengan hakim agung pasal 24B yang menentukan pembentukan KY itu lahir lebih dulu daripada pasal 24C yang menentukan pembentukan MK sebagai lembaga negara. selain banyak memberi angin segar bagi kehidupan ketatanegaraan yang lebih sehat. ada yang ingin segera dan ada yang menghendaki ditunda dulu. Karena putusan MK bersifat final dan mengikat maka fakta hukum di pengadilan umum itu tidak dapat mengubah lagi putusan MK yang secara substantif nyata-nyata salah. sesuai dengan ketentuan pasal 24C UUD 1945. ada yang ingin partial dan ada yang ingin komprehensif. sebab kita tak bisa membiarkan MK dan hakim-hakimnya menjadi lembaga super yang tak bisa diawasi. 18 Bunga Rampai . MK pernah menyatakan menolak gugatan permohonan pembatalan hasil perhitungan suara dalam pemilu di suatu daerah karena terjadi kecurangan. bersifat final dan mengikat sehingga tak bisa dimasukkan lagi di dalam UU tentang KY yang baru nanti. Putusan MK tentang cakupan pengertian hakim ini. Contohnya. Satu-satunya jalan untuk mengembalikan masalah ini ke garis politik hukum yang benar hanyalah melalui amandemen konstitusi yang harus menegaskan tentang itu secara eksplisit. 9 Wacana untuk melakukan amandemen kelima atas UUD 1945 pada saat ini sedang gencar. Memang setelah empat tahun perjalanan MK. juga menimbulkan komplikasi berkait dengan wewenangnya dalam memutus yang harus diterima secara final dan mengikat.

Bahan Pustaka AV Dicey, An Introduction to Study of the Law of the Constitution, 10th edition, English Language Book Society and Mac Millan, London, 1971. Carl J. Friedrich, Constitutional Government and Democracy: Theory and Practice in Europe and America, Weldham, Mass: Blaisdell Publishing Company, 5th edition, 1967. David Kairys, The Politics of Law, a Progressive Critique, Pantheon Books, New York, 1982. C.F. Strong, Modern Political Constitution, The English Language Book Society, Sidgwick and Jackson Limited, London, 1966. Erwin Chemerinsky, Constitutional Law, Principles and Policies, Aspen Law and Business, New York, 1997. Hans Kelsen, General Theory of Law and State, Russell and Russell, New York, 1973. Jimly Asshiddiqie, ”Telaah Akademis Perubahan Undang-Undang Dasar 1945,” dalam Jurnal Demokrasi dan HAM, Volume 1 No.4 Tahun 2001. K.C. Wheare, the Modern Constitutions, Oxford University Press, London-New York-Toronto, 3rd Impression, 1975. Moh. Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia, LP3ES, Jakarta, 1998. Moh. Mahfud MD, Pergulatan Politik dan Hukum, Gama Media-Ford Foundation, Yogyakarta dan Jakarta, 1999. Moh. Mahfud MD, Hukum dan Pilar-pilar Demokrasi, Gama Media- the Ford Foundation, Yogyakarta dan Jakarta, 1999. Moh. Mahfud MD, Amandemen Konstitusi dalam Rangka ReformasiTata Negara, UII Press, Yogyakarta, 1999. Moh. Mahfud MD, Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia, PT Rinneke Cipta, Jakarta, 2000. Moh. Mahfud MD, Dasar dan Struktur Ketatanegaraan Indonesia, PT Rinneke Cipta, Jakarta, 2001. Moh. Mahfud MD, Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi, LP3ES, Jakarta, 2006. Moh. Mahfud MD, Perdebatan Hukum Tata Negara Pasca Amandemen UUD 1945, LP3ES, Jakarta, 2007.

-

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

19

-

Moh. Mahfud MD, Hukum Tak Kunjung Tegak, PT Citra Aditya Bhakti, Bandung. 2007. RM AB Kusuma, Lahirnya Undang Undang Dasar 1945, Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 2004. Sri Soemantri M, ”Undang-Undang Dasar 1945, Kedudukan dan Artinya dalam Kehidupan Bernegara,” dalam Jurnal Demokrasi dan HAM, Vol. 1 No. 4 Tahun 2001. Sri Soemantri, Prosedur dan Sistem Perubahan Konstitusi, PT Alumni, Bandung, Edisi Kedua, Cetakan Kesatu, 2006.

20

Bunga Rampai

Perubahan Bidang Politik dan Pengaruhnya Terhadap Reformasi Peradilan
Arbab Paproeka, S.H.
1

Pengantar Semangat egalitarian warga negara – bangsa berdampak signifikan terhadap diskursus-diskursus intelektual dan pembentukan sistem politik Indonesia ketika euforia reformasi dan demokrasi mulai mengemuka di semua ruang publik. Kesadaran diskursif seperti itu menjadi konsensus bersama bagi perwujudan res publica (kepentingan bersama) dalam menata tata kehidupan sosial, politik, ekonomi dan hukum. Atas semua itu, reformasi dan demokrasi dengan ragam pemaknaannya dinilai sebagai tujuan yang harus dicapai ketimbang sekadar menjadi sebuah sarana merebut hasrat kuasa. Dalam banyak pandangan, reformasi dan demokrasi, sejatinya dipahami sebagai imaji ideal kebangsaan yang akan menggiring negara bangsa ke dalam kebajikan dan keadaban. Reformasi dan demokrasi kadang juga diletakkan sebagai nonstrum - obat bagi segala masalah kebangsaan. Kondisi ini memiliki implikasi pada tindakan yang mengarah pada cita ideal tata hidup kebangsaan yang dipandang sebagai ekspresi reformasi dan demokrasi. Namun, dalam sisi yang berbeda, reformasi dan demokrasi sering juga diperspepsikan sebagai imaji yang justru memunculkan sinisme yang tinggi dari entitas negara bangsa. Kondisi ini adalah sebuah refleksi dimana cita ideal mengalami kontradiksi

*

Anggota Komisi III DPR RI

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

21

dengan ekspektasi pada situasi faktualnya. Tuntutan untuk melakukan pendalaman demokrasi (a deepening democracy) terhadap negara bangsa yang sementara mengalami masa transisi memang pelik. Terlebih pada sebuah komunitas yang karakter bangsanya cukup heterogen atau plural semisal Indonesia. Sebagaimana Snyder (2000), menjelaskan bahwa sentimen nasionalisme menjadi salah satu faktor yang bisa mengganggu proses demokratisasi. Tesis ini cukup mudah dikenali. Bahwa demokrasi tidak selamanya akan menguntungkan semua kelompok elit politik. Ia bergerak seperti pendulum. Namun biasanya, kelompok elit yang senantiasa berupaya mencegah berlangsungnya proses demokratisasi adalah kelompok elit yang merasa dirugikan dari proses demokratisasi. Modus yang sering digunakan adalah show power melalui pengumpulan kekuat-an inti dengan penguatan isu sentimen nasionalisme. Sentimen nasionalisme ini setidaknya dapat dijelaskan lewat pengkultusan nilai tatanan dalam sebuah komunitas. Atau mungkin juga bisa dijelaskan dalam gugusan negara bangsa. Sentimen nasionalisme dalam gugusan komunitas terpola melalui penuturan klasik, dimana ia terjelma menjadi suatu nilai (value) sebagai suatu bentuk kebaikan umum dalam makna totalitasnya. Lain halnya dengan, Arend Lijphart dalam Latif (2006), justru memberikan ulasan yang optimistik bahwa adalah mungkin untuk mempertahankan pemerintahan demokratis yang stabil dalam sebuah masyarakat plural sepanjang elit-elitnya bersedia bekerja sama. Namun, kerja sama itu tidak akan tercipta dengan sendirinya. Dibutuhkan sebuah kerangka solidaritas bersama yang baru, yang bergantung secara inter alia pada nasionalisme kewargaan (civic nasionalisme). Perspektif ini memang cukup relevan dalam merepresentasikan bahwa demokrasi tidak jatuh dari langit, tetapi melakukan pendalaman demokrasi dibutuhkan konsensus politik dari semua entitas kewargaan untuk membangun komitmen intelektual bagi keberlanjutannya. Nasionalisme yang berakar dari ikatan nation, pada akhirnya begitu untuk didefenisikan. Namun dalam rangka jelajah pemaknaan tentangnya, mungkin dapat dirunut bahwa nation adalah sesuatu yang direkayabayangkan (imagined). Sebagai bentuk direkayabayangkan, maka variannya

22

Bunga Rampai

pun menjadi sangat beragam. Snyder, menyebut ada empat bentuk utama nasionalisme; nasionalisme sipil, nasionalisme SARA, nasionalisme revolusioner dan nasionalisme kontra – revolusioner. Nasionalisme sipil terbentuk jika elite politik yang ada tidak merasa terancam oleh proses demokratisasi, dan kelembagaan negara yang ada cukup kuat untuk menampung proses ini. Ia mendasarkan pada usahanya mempertahankan proses demokratisasi karena dianggap bisa memberikan keadilan. Pada sisi ini, negara menganut prinsip kesetaraan warga negara tanpa memandang suku, warna kulit, agama dan keturunannya. Nasionalisme SARA sebuah solidalitas yang dibangkitkan berdasarkan budaya, agama, bahasa, sejarah dan yang sejenisnya. Nasionalisme SARA terbentuk jika elite politik yang ada merasa terancam oleh proses demokratisasi, dan kelembagaan negara juga masih lemah. Jika terdapat kelompok dominan lebih dari satu maka proses demokratisasi mungkin akan mengakibatkan terjadinya perpecahan di negara tersebut, dan sebagai gantinya akan muncul satu negara federal, atau bahkan beberapa negara baru. Nasionalisme revolusioner merupakan usaha untuk mempertahankan suatu perubahan politik yang melahirkan rezim baru yang dinilai lebih baik dari rezim sebelumnya. Disini terdapat kecenderungan bahwa kekuatan baru mempertahankan perubahan senantiasa menggunakan nasionalisme revolusioner. Nasionalisme terjadi kalau elit politik yang ada tidak dirugikan oleh proses demokratisasi, dan lembaga-lembaga negara yang mau mempertahankan rezim lama lemah. Sedangkan nasionalisme kontra – revolusioner merupakan upaya membangun solidaritas untuk mempertahankan kelembagaan negara yang ada terhadap perubahan. Biasanya nasionalisme kontra – revolusioner digunakan sebagai instrumen untuk mengembalikan militer ke pentas politik dengan mengatakan bahwa di bawah rezim sebelumnya jauh lebih baik dibanding rezim yang ada sekarang. Masalahnya adalah civil society yang dijadikan sebagai gugus konsep paling mondial belakangan bagi pembelajaran sosial secara kolektif dan produksi simbol-simbol politik secara dominan justru disuplai oleh kelompok komunal. Sehingga demikian, Indonesia pada kurun waktu ini masih merupakan sebuah masyarakat komunal, bukan asosiasio-

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

23

nal. Padahal ekspektasi mengenai civil society adalah ketika asosiasi-asosiasi ini terbentuk menjadi sebuah komunitas produktif sebagai katalis bagi proses transformasi masyarakat dari semangat komunalisme menuju kewarganegaraan yang lebih beradab. Di sisi lain, intelegensia-politisi yang diharapkan membimbing komunitas politik ke arah keadaban politik (political civility) dalam kenyataannya justru menyuburkan tradisi komunalisme. Kondisi ini kian diperparah dengan eksistensi kaum komunitas epistemik sebagai penyangga dalam melahirkan gagasan orisinalitas tampaknya juga harus terjebak dengan gugusan pragmatisme yang luar biasa. Penuturan Gunawan (2006) mungkin benar bahwa pragmatisme sendiri memang lahir sebagai anak haram dari sebuah pergulatan panjang, untuk menjawab berbagai persoalan yang terjadi di abad lalu. Fundamen pemikirannya yang meletakkan pada benar tidaknya suatu dalil tergantung pada manfaatnya bagi manusia, dan tentu saja manfaat pertama yang menikmatinya adalah diri sendiri. Sebetulnya, pragmatisme tidak memiliki perbedaan yang cukup jauh dengan patron Machiavelli, “the end justifies the means”. Keduanya memiliki konsekuensi bagi lahirnya keserakahan dan pengkhianatan terhadap nilai-nilai moralitas. Bahkan oleh Juliean Benda dalam Gunawan (2006) justru memandang pragmatis lebih radikal. Bahwa pragmatisme merupakan bentuk pengingkaran terhadap nilai-nilai moral yang universal. Pragmatisme dituding sebagai pabrik nilainilai moral yang semu dan artifisial, yang diproduksi sesuai dengan keadaan dan kebutuhan akan kekuasaan. Tak heran juga bila “pelacur-pelacur intelektual” kian marak bermunculan, yang bekerja berdasarkan permintaan pasar. Praktek ini seolah mirip “panggadaian intelektual”, yang menularkan efek cukup luar biasa. Efek yang patut dipelajari tradisi pencerahan yang melekat pada komunitas epistemik sebagai karakter pokoknya pada gilirannya makin absurd. Padahal dalam tataran normatif-etis, masa transisi seperti ini, justru keberadaan komunitas epistemik diharapkan menjadi avantgarde bagi terciptanya tatanan bangsa yang lebih beradab, bukannya harus ikut dengan permainan “kuasa politik”, yang senantiasa berada dalam pusaran seni merekayasa. Kegundahan lain yang kerap juga menjadi mo-

24

Bunga Rampai

Keduanya adalah dualitas yang saling membentuk. Persekutuan ini dinilai mengkhianati jati diri intelektual (La Trahison Des Clercs). dosa terbesar yang tak terampunkan dari seorang cendekiawan adalah bila yang bersangkutan turut berputar. yang memberikan sindiran halus bahwa “buat apa sekolah kalau hanya untuk mengeruk uang”. Walau dalam banyak pemikiran. sekadar mendengungkan kebenaran dari pucuk menara gading. Yang mungkin dipersalahkan ketika kekuasaan dan intelektual diintegrasikan sebagai perusak nilai tatanan. menjadi pelumas dalam mesin pemerintahan. Sehingga demikian. Mashab bendaian menilai bahwa intelektual harus merentangkan jarak dengan kekuasaan. Baginya justru menuding ilmuwan yang steril dari persoalan aktual di masyarakat. Bahkan Ivan Illich dalam Gunawan (2006) menyebut Deschooling Society. antara intelektualitas dan kekuasaan sebetulnya bukanlah dualisme yang harus dipandang sebagai sesuatu yang berlawanan. Baginya cendekiawan harus memihak pada kelas tertentu. pada gilirannya juga menggiring kita untuk berpikir dan bertindak secara pragmatis. Dua mashab. yakni mashab Bendaian dan mashab Gramscian membedahnya seperti berikut. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 25 . Pergulatan panjang ini tentu saja bukan menjadi sebuah jebakan untuk harus memihak. Justru soal seperti ini. Malah yang muncul justru memperlihatkan gejala sebagai kekuatan yang sangat pasif terhadap isu-isu kebangsaan. Padahal salah satu prasyarat lahirnya konsolidasi demokrasi adalah perlunya masyarakat sipil yang bebas dan aktif dalam mengontrol tata kerja demokrasi. adalah para pengkhianat intelektual (La Trahison de la Trahison de clercs). keduanya melihatnya dalam sisi yang berlawanan. sementara mashab Gramscian malah melihat dalam sisi yang terbalik. Kekuasaan menjadi cukup penting bagi kelompok-kelompok intelektual sebagai medium transformasi dalam membentuk komitmen-komitmen baru bagi kepentingan negara bangsa. tetapi kepicikan.mok bagi komunitas epistemik ini adalah ketika tidak mampu menempatkan dirinya sebagai medium perekat bangsa. Sehingga yang terjadi bukan lagi kadar pragmatisme. Pada perspektif yang berbeda. Dalam Gunawan (2006) antara sisi intelektualitas dengan kekuasaan memang memiliki korelasi.

Celakanya. Tetapi semoga saja. sementara di sisi lain. Gagasan demokratisasi senantitasa terikut dengan wacana berkembangnya konsep konsolidasi demokrasi. transisi boleh jadi mengarah pada otoritarianisme baru (re-otoritarianisme). Demokrasi dianggap sebagai pemenang karena berhasil melumpuhkan lawan tangguhnya otoritarianisme. tuturan bahasa ini tidak berlabuh dalam tradisi politisi kita untuk menggiring reformasi peradilan ke dalam laboratorium kehancuran. Isu konsolidasi demokrasi berakar dari sebuah konsep transisi antara berakhirnya rezim otoritarianisme ke demokratisasi. sehingga semakin menjauhkan sisi keadaban publik. Namun. kapan suatu negara dikatakan sudah terkonsolidasi? Beberapa sarjana bersepakat bahwa untuk menandai demokrasi telah terkonsolidasi. Segera setelah itu. Imperium dan kediktatoran telah runtuh. ketika politik ditempatkan sebagai sarana agregasi kepentingan personal. sesuatu kualitas yang sangat mulia namun tak menjadikan dirimu apa-apa”. Dalam satu sisi. transisi boleh juga mengarah pada lahirnya konsolidasi demokrasi.Dalam belantara politik. Ketika rezim otoritarianisme Orde Baru runtuh. Pendulum ke arah demokratisasi terjadi pasca isu reformasi meledak tahun 1998. karakteristik politisi seperti ini malah mendapat pembenaran oleh Richard Smith dalam Gunawan (2006). ketika terjadi dua kali pergantian kekuasaan (two turnover 26 Bunga Rampai . Ia kemudian menjelma menjadi leviathan yang teramat beringas karena meleburnya nilai-nilai intelektualitas dalam kekuasaan. ketika mengatakan bahwa “pengkhianatan merupakan esensi dari politikus yang sukses. rute perjalanan transisi. Dalam menjelaskan gejala ini. maka isu demokratisasi kian marak dibicarakan dan tampil sebagai euphoria politik yang tak tertandingi. Liberalisme telah mengalahkan dua lawan tangguhnya: komunisme dan nasionalisme fasis. oleh banyak pemikiran menjelaskan dua rumus yang bisa diklasifikasi. karakter picik bagi seorang politisi kadang ditemukan. Transformasi Politik: Sebagai Pelatuk Perubahan Ketika tembok Berlin runtuh pada tahun 1989. demokrasi pun tampil sebagai pemenang. kadang dipahami sebagai fase yang serba “memungkinkan”. Sisi lainnya adalah kesetiaan. bayangan indah sempat memukau imajinasi orang Amerika.

perkembangan ini hanyalah tahap awal dari proses panjang menuju konsolidasi demokrasi. tetapi demokrasi men- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 27 . Bagi yang menganut rumus ini. mereka menilai bahwa demokrasi dianggap sudah terkonsolidasi apabila kekuasaan sudah dua kali pindah tangan melalui proses pemilihan umum yang luber-jurdil. transisi demokrasi Indonesia telah siap untuk dikonsolidasikan.rule). Fase perjalanannya baru mencapai pada pemenuhan prosedur-prosedur demokrasi formal. pada kadar tertentu bahkan belum menunjukkan suatu perubahan yang signifikan. Alasan lain juga yang relevan dengan itu adalah kualitas partisipasi publik dalam mengakses lembaga politik formal maupun institusi hukum masih terbilang sangat lemah. Namun. maka fase transisi demokrasi dapat dikualifikasi telah terkonsolidasi karena sirkulasi kekuasaan melalui pemilu sudah berlangsung sejak pemerintahan Abdurrachman Wahid – walau dalam perjalanan pemerintahannya berhenti ditengah jalan setelah impeacht oleh MPR – yang kemudian digantikan Megawati Soekarno Putri untuk melanjutkan episode pemerintahan yang tersisa hingga pemilu 2004. Praktek demokrasi yang sementara berlangsung. Bila menggunakan ukuran pertama. Demokrasi bukan hanya sekadar menjadi medium penghapusan institusi – institusi politik yang represif dan sarana pergantian regime yang otoriter. Tetapi. memang baru sebatas belajar merangkak. Kontrol demokratis yang sejatinya menjadi kunci dalam penerapan demokrasi substantif. ada pula yang menyebut bahwa demokrasi sudah terkonsolidasi jika ia merupakan permainan satu-satunya (the only game in town) untuk memilih pejabat publik. Penuturan Latif (2006) meneragkan secara memadai bahwa dari sisi prosedur demokrasi. Lain halnya bila menggunakan ukuran kedua. Tahap konsolidasi menghendaki perhatian pada segi-segi substantif. Indikatornya adalah rule of law sebagai syarat mestinya belum dapat diapresiasi secara memadai dalam mengartikulasikan prinsip-prinsip demokrasi dalam melakukan penataan kelembagaan. sehingga demokrasi substantif yang sejatinya menjadi “buruan” kaum demokratik masih jauh dari memadai. maka fase transisi belum dapat disebut telah terkonsolidasi karena prasyarat-prasyarat tersebut belum memenuhi secara memadai.

paling tidak menjadi momentum penting dalam memulai babakan baru dalam menata negara bangsa. menghendaki adanya proses checks and balances terhadap tiga lembaga negara. Sehingga demikian. Gelombang demokratisasi ini kian menunjukkan perkembangan yang cukup positif dari semua entitas bangsa untuk membangun konsensus-konsensus baru. seolah kembali memberi energi baru. amendemen konstitusi telah meletakkan sebuah kerangka pikir untuk beberapa hal. demokrasi harus menjadi jaminan bagi terwujudnya esensi pemberdayaan rakyat (popular empowerment) dan pertanggungjawaban sistemik (systemic responsiveness) (Latif. Distribusi kekuasaan (distribution of power) yang disangga oleh tiga lembaga negara berbeda. yang kerap menjadi virus – bila tidak ingin 28 Bunga Rampai . babakan baru ini patut menjadi referensi awal untuk tidak terjebak pada kepongahan sejarah. tugas dan wewenang yang berbeda. Pertama. Konsensus tersebut kemudian diwujudkan melalui sebuah kesepakatan untuk melakukan amandemen konstitusi secara mendasar. kini menjadi pelatuk perubahan dalam menata pola hubungan kelembagaan negara. Dan setidaknya. Rentetan peristiwa ini tentu menjadi kisah menarik untuk dipelajari karena memiliki pesan mulia untuk segera diartikulasikan ke ruang publik. Namun disisi yang berbeda. Prinsip checks and balances ini. 2006). yakni adanya transformasi struktural dan kultural dalam sistem ketatanegaraan di republik ini yang harus segera dikomunikasikan. yaitu legislatif.coba merepresentasikan momentum bagi perbaikan kualitas bangsa yang lebih adil dan beradab. konsolidasi demokrasi mempersyaratkan perlunya dilakukan transformasi struktural dan kultural secara mendasar. Ini adalah sebuah fase sejarah yang patut direkam sebagai memoar penyegaran kembali dalam tata hidup berbangsa dan bernegara. Begitulah titahnya bahwa amendemen konstitusi. Sebagai pemantiknya. tentu memiliki karakter fungsi. Amendemen konstitusi yang dilakukan. Kepenatan dan kegelisahan yang selama ini hidup dengan belenggu otoritarianisme. Sehingga praktek abuse of power. tentu juga menjadi penting untuk mencegah terjadinya sentralisasi kekuasaan pada institusi negara-negara tertentu. eksekutif dan yudikatif.

Bila Mahkamah Konstitusi dibentuk dengan filosofi “penjaga konstitusi”. dan didukung oleh adanya masyarakat madani yang berdaya. walaupun keberadaannya belum dapat dikualifikasi memiliki hubungan yang sifatnya joint session. mewujudkan cita ideal ini tentu saja mesti dibarengi dengan pemapanan institusi-institusi demokrasi. baru dapat mencapai titik maksimun ketika infrastruktur institusional demokrasi eksis. Keempat.disebut penyakit – tidak menggerogoti praktek penyelenggaraan negara secara bar barian. dalam hal ini Mahkamah Konstitusi dan Komisi Yudisial. pemerintahan yang menjunjung tinggi hukum dan ekonomi yang efisien (Latif. budaya politik yang independen. yang konsekuensi logisnya berimplikasi pada perubahan pola hubungan kelembagaan pusat – daerah. memburu keberadaban publik. yang memiliki kerangka kerja secara berbeda. adanya transformasi sistemik. penciptaan pertanggungjawaban publik yang akuntabel dan transparan serta menghapus segala keserakahan dalam penyelenggaraan tata negara bangsa. prinsip rule of law harus terinternalisasi ke dalam institusi-institusi negara sebagai Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 29 . Kelima. Rentetan perubahan ini. tentu saja muaranya adalah penghormatan nilai-nilai keadilan (justice). dalam wilayah legislatif dimunculkannya Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai perwakilan perseorangan yang dipilih berdasarkan region. Kedua. partai politik yang berfungsi. Prasyarat dalam memapankan institusi demokrasi. maka Komisi Yudisial dihadirkan sebagai “penjaga mafia peradilan” dengan menyandang predikat sebagai lembaga yang hanya sifatnya auxiliary. memungkinkan adanya aksesibilitas publik yang tinggi dalam pencapaianpencapaian demokrasi substantif. Derajat pemapanan institusi demokrasi dan sekaligus menjadikan institusi demokrasi lebih berwibawa adalah ketika pejabat publik menempatkan rule of law sebagai dasar pijakannya. 2006). Bagaimanapun juga. yang dari sistem pemerintahan sentralistik ke sistem pemerintahan desentralistik. munculnya lembagalembaga baru (new institutions) dalam lingkungan kekuasaan kehakiman. Namun demikian. Ketiga. Ini pun juga dapat dikonsolidasikan bila transisi demokrasi bertransformasi menjadi satu kerangka institusional mapan yang terinternalisasi mendalam pada para aktor sosial dan politik.

Sayangnya. Prinsip rule of law. Di negara manapun yang menerapkan prinsip-prinsip demokrasi modern. Pepatah ini sejatinya mencoba merefleksikan eksistensi dunia peradilan yang teramat mulia. Padahal kegagalan menegakkan prinsip rule of law dalam penegakan hukum dengan gilirannya akan menjadi kerikil-kerikil tajam dalam memapankan institusi – institusi demokrasi. kejaksaan. tampaknya masih jauh dari memadai. Inilah sisi lain yang harus dipertaruhkan sebagai seorang hakim.kerangka menghadirkan institusi negara yang kuat. transparan. Tersimpan sejuta harap dari masyara- 30 Bunga Rampai . Beban moral ini memang cukup berat karena pertanggungjawabannya bukan hanya bersifat horizontal tetapi yang jauh lebih dalam adalah tanggung jawab vertikal kepada Tuhan. berwibawa dan tempat bersemayamnya prinsip – prinsip ke-tauhidan sebagai asas universal yang suci. hakim. pengacara dan lembaga pemasyarakatan) belum menunjukkan suatu kinerja yang menggembirakan. Kekuasaan kehakiman (judicative power) memang asa bagi pencari keadilan. Aparatur penegak hukum yang terintegrasi dalam konsep criminal justice system (kepolisian. pada konteks kekinian penerapan rule of law sebagai aturan main (rule game) dalam berbangsa dan bernegara. mungkin cukup relevan menggambarkan mengenai mulianya sebuah lembaga peradilan. demokratis. Bahwa pengadilan adalah “nec curia deficeret in justitia exhibenda” (pengadilan adalah istana di mana dewi keadilan bersemayam untuk menyemburkan aroma keadilan tiada henti). Adanya praktek diskriminasi atau tebang pilih dan tebang pesanan serta maraknya praktek mafia peradilan di tubuh kekuasaan kehakiman adalah contoh kecil dari sekian banyak kisah yang dapat disajikan. Judicative Power: Sebuah Cermin yang Retak Sebuah pepatah latin kuno. Ketika para hakim harus menjelma dan bertindak sebagai “mahluk yang suci” karena menjadi wali Tuhan di muka bumi ini. akuntabel dan responsif di mata publik. rule of law selalu menjadi instrumen khusus dan menjadi indikator utama dalam menilai demokrasi telah dikonsolidasikan. juga harus dipandang sebagai sebuah kebutuhan dalam mengatur tata laku pejabat publik untuk membedakannya dengan negara bar barian.

Moralitas hanya diperlakukan bak jubah untuk melakukan penyusupan dan sekaligus sebagai pembenaran atas putusan-putusannya. Sisi lain yang paling potensial melahirkan kejahatan (judicial crime). menuliskan bahwa kebengkokan itu sudah dimulai dari segi hukumnya. Kegundahan ini sebetulnya sudah lama berlangsung. malah berubah bentuk menjadi sesuatu yang utopis. Pada sisi inilah kekuasaan kehakiman tampil sebagai sebuah cermin yang retak karena belum mampu merekatkan nilai-nilai keadilan masyarakat yang masih berserak. William J. mungkin ada benarnya apa yang dikatakan oleh Jeremy Bentham (Gunawan. gilirannya pun tak bisa berbuat banyak menghadapi derasnya “permainan kotor” di dunia institusi hukum. Kegelisahan mengenai tata kerja kekuasaan kehakiman (judicative power) di Indonesia sebetulnya bukan cerita baru. ekspektasi ini tampaknya akan terkikis dengan sendirinya ketika menyaksikan drama peradilan yang terlalu bobrok. Pada konteks ini. Mereka lupa bahwa disisi lain. kehakiman yang seharusnya menjadi corong bagi terciptanya keadilan bagi semua. Celakanya. Chamblis dan Robert B. yakni karena adanya hukum yang menjadi refleksi dari kepentingan kelompok elite yang berkuasa (the higher a group’s political and economic position). Keprihatinan terhadap sisi gelap penegakan hukum pada ruang publik sudah menjadi momok yang senantiasa terus dipersoalkan. moralitas yang selalu diperdengarkan dengan nyaring oleh penegak hukum dan dipandang cukup mulia. Institusi kepolisian. and Power”. Seidman dalam Gunawan (2006) dalam bukunya yang berjudul “Law. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 31 . Bahkan keduanya mempertegas bahwa penyimpangan dalam dunia peradilan terjadi karena “judges must rely on their personal values when they make decisions in trouble cases”. Sayangnya. 2006) ketika mengatakan bahwa para aparat penegak hukum adalah segerombolan orang yang dapat mengangkangi hukum tanpa konsekuensi hukum. ada celah yang menganga di insitusi peradilan yang bisa disusupi.kat agar keadilan melebur dan menyatu dengan dambaannya. kejaksaan. Order. Bahkan para pakar kriminolog pernah melakukan penelitian mengenai penyimpangan dalam dunia peradilan. Sisi keadilan (justice) masyarakat yang terus terbelenggu dengan maraknya praktek mafia yang berlangsung disekitar proses penegakan hukum.

Bea & Cukai.ti. Turki. Militer dll) masih dipersepsikan sangat korup. Survey IPK itu menemukan bahwa lembaga vertikal (Polisi. dan seterusnya. Uang serta pengaruh politik dalam hukum memecah sistem keadilan sosial: satu sistem bagi si kaya. Venezeula. Kolombia.or. Lebih memalukan lagi. BPN 84%. ketua Transparency International menegaskan dengan adanya korupsi lembaga peradilan. (http:// www. Polisi 78%. “Jika uang dan pengaruh politik menjadi dasar keadilan. Dua katagori korupsi peradilan yakni campur tangan politik dan penyuapan juga sangat jelas terlihat. Global Corruption Report 2007 yang diluncurkan oleh Transparency International. Imigrasi. Korupsi dianggap melumpuhkan sistem yudisial di seluruh dunia serta menghalangi hak asasi manusia akan peradilan yang adil dan tidak berpihak. BPN. dan Pajak 76%. Yordania. mereka tidak canggung-canggung dalam meminta suap.id). Rusia. sebuah koalisi global antikorupsi memilih tema Corruption in Judicial Systems. mereka yang miskin tidak dapat berkompetisi (http://www. Sejalan dengan itu. disusul Bea dan cukai 95%. hasil survei nasional tentang korupsi yang dilakukan Partnership for Governance Reform pada 2002 juga menempatkan lembaga peradilan di peringkat lembaga terkorup menurut persepsi masyarakat.id). Mesir. hal ini dikonfirmasikan oleh laporan para pelaku usaha bahwa inisiatif suap lebih banyak dilakukan oleh aparat. korupsi di peradilan Indonesia memiliki ranking paling tinggi di antara negara-negara seperti Ukraina. Peradilan.ti. Relevansi Indonesia yang dilaporkan Global Corruption Report 2007 telah menunjukkan bahwa sistem peradilan di Indonesia masih sangat korup dan bobrok. Huguette Labelle.or. Imigrasi 90%. 32 Bunga Rampai . Hal ini sangat relevan dengan hasil Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia 2006 yang dirilis oleh Transparency International (TI) Indonesia.yakni adanya kecenderungan serta upaya hakim meraup kekayaan dan kekuasaan dari pekerjaan yang diembannya. Bahkan. Daniel Kaufman dalam laporan Bureaucarti Judiciary Bribery tahun 1998 menyebutkan. Pajak. Pengadilan dilaporkan merupakan lembaga yang paling tinggi tingkat inisiatif meminta suap hingga 100%. pada sisi lain bagi si miskin. mereka yang berada di pihak yang benar kehilangan hak didengar sedangkan yang bersalah tidak tersentuh hukum.

wordpress. walau butuh energi banyak untuk menafasinya. http://ahmadirfan. Mahkamah Agung sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam dunia peradilan. 38% tidak ada persamaan di muka hukum (there is no such thing as equality before the law). upaya sistemik mesti dilakukan. bahwa berdasarkan pengaduan masyarakat menyebutkan penyimpangan di lembaga peradilan menempati urutan tertinggi. Realita sistem hukum dan peradilan di negeri ini. setidaknya menjadi unsur korektif bagi Mahkamah Agung untuk menata kembali berbagai sisi gelap yang menyelimuti institusi peradilan.100 hakim dikategorikan bermasalah.Hal tersebut diperkuat dengan laporan Komisi Ombudsman Nasional (KON) tahun 2002. Sehingga demikian. Di tengah buruknya kinerja peradilan saat ini. nampaknya tergambarkan dalam penelitian yang dilakukan oleh The Asia Foundation & AC Nielsen yang antara lain menyatakan: 49% sistem hukum tidak melindungi mereka (the legal system does not protect them). 57% sistem hukum masih tetap korup (the legal system is just as corrupt as it has always been problem). yang pada akhirnya membuat praktek hukum diwarnai judicial corruption.com/ Kondisi ini tentu saja tidak dapat dijadikan sebagai pembenaran dalam menjustifikasi dan terus membiarkan maraknya praktek korupsi dalam dunia peradilan. Fakta-fakta faktual yang telah dibeberkan seperti di atas. Upaya pembenahan dan penataan ini dilakukan. tidak serta merta harus dilakukan pembiaran. yakni 45% dibandingkan lembaga lainnya. Episode waktu yang tersisa masih terlalu panjang untuk memperbaikinya. sejatinya mampu menempatkan posisinya pada kerangka yang lebih intensif melakukan pengawasan internal terhadap perilaku koruptif dalam dunia peradilan.440 hakim atau sekitar 40 persen dari total 6. terutama dalam kaitan melakukan reformasi peradilan secara komprehensif sebagai upaya mengembalikan keprcayaan masyarakat terhadap sistem peradilan yang sekarang mengalami keterpurukan. Bahkan data terakhir yang dilansir Komisi Yudisial menyebutkan bahwa 2. terutama dalam kerangka melakukan harmonisasi dan pembenahan sistem hukum kekuasaan kehakiman menjadi mutlak diprioritaskan. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 33 .

Sebut saja perubahan berbagai kebijakan yang terkait dengan kekuasaan kehakiman. Timtas Tipikor dengan resmi harus dibubarkan karena masa pembentukannya sudah berakhir hanya dua tahun. Pasal 53 UU Nomor 30 Tahun 2002. Tapi sayangnya. Pertama. UU Peradilan Tata Usaha Negara. Sebab selama dua tahun terakhir (2005-2006) sedikitnya 29 perkara telah diperiksa dan diputus oleh pengadilan tipikor secara lebih cepat. dan sele- 34 Bunga Rampai . Seluruh kasus korupsi divonis bersalah dan tidak ada satupun yang vonis bebas. Dalam laporan korupsi global tahun 2007. walaupun belum terlalu memadai. UU Mahkamah Agung. pembentukan kedua lembaga ini seperti harus bergerak tanpa amunisi. Sebaliknya sepanjang periode tahun 2005-2006 ada kurang lebih 203 perkara yang telah diperiksa dan diputus oleh pengadilan. Perjalanan panjang untuk memberantas tindak pidana korupsi pada gilirannya pupus sudah. Sebagaimana Andi Hamzah berpendapat bahwa korupsi bukanlah extra-ordinary crime artinya. Padahal kinerja lembaga ad hoc dinilai cukup memberi nilai lebih bagi kembalinya kepercayaan masyarakat terhadap pemberantasan tindak pidana korupsi. 72 perkara korupsi dengan 171 terdakwa korupsi (36%) telah divonis bebas oleh pengadilan. dibentuklah Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi melalui UU Nomor 30 Tahun 2002 dan Pembentukan Timtas Tipikor melalui Keppres Nomor 11 Tahun 2005. mengenai kehadiran pengadilan tindak pidana korupsi harus dicabut oleh Putusan Mahkamah Konstitusi karena dinilai bertentangan dengan konstitusi. yang sama kelasnya dengan pencurian. Celakanya.Pada sisi regulasi. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-Undang Komisi Yudisial. yang menginginkan agar pengadilan tindak pidana korupsi sebaiknya dihilangkan. Perubahan UU pokok-pokok kekuasaan kehakiman. eksistensi Pengadilan ad hoc Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) perlu diperkuat. putusan Mahkamah Konstitusi ini justru diinterpretasi lain oleh pihak-pihak tertentu. UU Peradilan Agama dan sementara berjalan adalah perbaikan UU Peradilan Militer. setidaknya karena beberapa hal. korupsi hanya kejahatan biasa saja. Kedua. arah untuk melakukan perbaikan sudah mulai ditunjukkan. Kemudian pada aspek kelembagaan.

Sebagai institusi yang memiliki sifat khas state auxiliary. tetapi pada konteks ini lebih menggambarkan adanya instrumen kelembagaan yang memiliki spirit untuk berbuat kebajikan. Komisi Yudisial berfungsi sebagai the musketter yang bertugas menjaga kehormatan dan kewibawaan kekuasaan kehakiman. Orang-orang yang terpilih menjadi the musketter adalah mereka yang memiliki keterampilan (skill) khusus. juga ditemukan adanya struktur lembaga baru dalam konstitusi. setidaknya membawa spirit baru dalam menyingkap sisi gelap dunia peradilan saat ini. sudah tentu diperlukan dalam memberikan assessment yang lebih obyektif sebagai kerangka mengembalikan kepercayaan publik terhadap dunia kekuasaan kehakiman yang telah kehilangan wibawa. termasuk oleh raja sendiri. Perumpamaan ini bukan ditujukan untuk menyebut Komisi Yudisial “sejenis tentara”. Posisinya cukup mulia dan tidak mudah diintervensi oleh pihak mana pun. The musketter adalah “sejenis tentara” sebagai pasukan khusus istana kerajaan yang bertugas untuk mencegah adanya bahaya laten dalam kerajaan Perancis di saat itu. 2007) Dalam sisi yang berbeda. Kehadiran Komisi Yudisial dalam lingkaran kekuasaan kehakiman. dimana the musketter ini memiliki tugas pokok dalam menjaga wibawa kekuasaan. pada sisi normatif sudah diamini dalam Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 35 . Kehadiran Komisi Yudisial dalam struktur ketatanegaraan di Indonesia. dimana dihadirkannya sebuah institusi baru yang populer dengan Komisi Yudisial. Komisi Yudisial: The Musketter Kekuasaan Kehakiman The musketter sebetulnya sebuah istilah yang digunakan dalam menjelaskan keterkaitan antara keberadaan Komisi Yudisial dengan pelaksanaan kekuasaan kehakiman. Fakta tersebut menunjukan koruptor lebih banyak dapat dibuktikan kesalahannya di pengadilan ad hoc Tipikor daripada di pengadilan negeri biasa (Lubis. yang pola kerjanya seolah bertindak seperti spionase dan penjaga raja untuk mencegah terjadinya penyimpangan oleh pejabat-pejabat istana. terutama perilaku pejabat kekuasaan kehakiman yang dinilai menyimpang. Bahasa semantik ini terinspirasi dari sebuah ilustrasi film. Secara imperatif etis.bihnya lebih banyak divonis ringan.

sehingga diasumsikan tidak mempunyai kepentingan politik. Jadi jelaslah bahwa Komisi Yudisial adalah lembaga negara sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang salah satu wewenangnya adalah melakukan pengawasan terhadap hakim.konstitusi. karena setiap putusan memperoleh penilaian dan pengawasan yang ketat dari sebuah lembaga khusus (Komisi Yudisial). Menurut Ahsin Thohari (2004). tingkat efisiensi dan efektivitas kekuasaan kehakiman (judicial power) akan semakin tinggi dalam banyak hal. Dalam makna ketat walaupun Komisi Yudisial bukan pelaku kekuasaan kehakiman namun fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman. (4) terjaganya konsistensi putusan lembaga peradilan. (2) Komisi Yudisial menjadi perantara (mediator) atau penghubung antara kekuasaan pemerintah (executive power) dan kekuasaan kehakiman (judicial power) yang tujuan utamanya adalah untuk menjamin kemandirian kekuasaan kehakiman dari pengaruh kekuasaan apapun juga khususnya kekuasaan pemerintah. Dalam ketentuan Pasal 24B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan UndangUndang No. menjadi landasan hukum yang kuat bagi reformasi bidang hukum dengan memberikan kewenangan kepada Komisi Yudisial untuk mewujudkan checks and balances. baik yang menyangkut rekruitmen dan monitoring hakim agung maupun pengelolaan keuangan kekuasaan kehakiman. argumen utama bagi terwujudnya (raison d’atre) Komisi Yudisial di dalam suatu negara hukum. (3) dengan adanya Komisi Yudisial. yaitu fungsi pengawasan. dan (5) dengan adanya Komisi Yudisial. Kehadiran Komisi Yudisial sebetulnya menjadi salah satu jawaban atas gagalnya institusi Mahkamah Agung dalam menjadikan kekuasaan kehakiman lebih berwibawa dan in- 36 Bunga Rampai . karena politisasi terhadap perekrutan hakim agung dapat diminimalisasi dengan adanya Komisi Yudisial yang bukan merupakan lembaga politik. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. kemandirian kekuasaan kehakiman (judicial power) dapat terus terjaga. adalah: (1) Komisi Yudisial dibentuk agar dapat melakukan monitoring yang intensif terhadap kekuasaan kehakiman dengan melibatkan unsur-unsur masyarakat dalam spektrum yang seluas-luasnya dan bukan hanya monitoring secara internal.

transparansi. bahwa pembentukan Komisi Yudisial sebagai lembaga pengawas eksternal didasarkan pada lemahnya pengawasan internal tersebut. dan (5) tidak terdapat kehendak yang kuat dari pimpinan lembaga penegak hukum untuk menindak-lanjuti hasil pengawasan. Terutama ketika Komisi Yudisial meminta agar putusan pengadilan menjadi objek pengawasannya. www. secara terbuka mempublikasikan dirinya untuk menjabat ketua Komisi Yudisial secara ex officio. Di beberapa negara yang mengakui keberadaan adanya Komisi Yudisial. dalam faktanya tidak serta merta dapat diterima oleh pihak-pihak tertentu. memantau proses serta hasilnya (ketiadaan akses). Pergulatan ini semakin diperparah. Sayangnya. bahwa lemahnya pengawasan internal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. antara lain: (1) kualitas dan integritas pengawas yang tidak memadai.dependen.id Namun demikian. Masalah pokok hilangnya wibawa kekuasaan kehakiman adalah terutama tidak efektifnya pengawasan internal (fungsional) yang ada di badan peradilan. Cukup aneh juga ketika Ketua Mahkamah Agung.or. Sehingga tidak terbantahkan. (3) belum adanya kemudahan bagi masyarakat yang dirugikan untuk menyampaikan pengaduan. Setiap upaya untuk memperbaiki suatu kondisi yang buruk pasti akan mendapat reaksi dari pihak yang selama ini mendapatkan keuntungan dari kondisi yang buruk itu. soal seperti ini tidak serta Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 37 . Menurut Mas Achmad Santosa. (2) proses pemeriksaan disiplin yang tidak transparan. kedua lembaga ini saling berebut terhadap siapa yang lebih berwenang untuk menyusunnya. Sebut saja Mahkamah Agung dalam banyak kisah belakangan ini. (4) semangat membela sesama korps (esprit de corps) yang mengakibatkan penjatuhan hukuman tidak seimbang dengan perbuatan. jabatan ketua Komisi Yudisial memang dijabat secara ex officio oleh Ketua Mahkamah Agung. kehadiran Komisi Yudisial. justru menunjukkan sikap yang sangat resisten terhadap keberadaan Komisi Yudisial. ketika Komisi Yudisial meminta perluasan kewenangan untuk menjatuhkan sanksi terhadap hakim yang dinilai bermasalah. Begitu juga disaat munculnya isu penyusunan kode etik hakim. Umumnya perspektif mereka malah memandang Komisi Yudisial sebagai lembaga yang akan menggerogoti dan mengintervensi institusi peradilan.

dimana aspek kontestasi justru dikebiri sebagai salah satu indikator demokrasi. Konsepsi pengawasan yang terkandung dalam UUKY didasarkan atas paradigma konseptual yang tidak tepat. apa objek yang diawasi. serta bagaimana proses pengawasan itu dilaksanakan. Pertama. memakai logika kuasa. dengan sejenak terhenti ketika Mahkamah Konstitusi melalui putusannya Nomor 005/PUU-IV/2006 terhadap judicial review atas Pasal 13 jo Pasal 20 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial dinyatakan bertentangan dengan UndangUndang Dasar 1945.merta harus diadopsi secara mentah-mentah mengingat dalam beberapa hal. instrumen apa yang digunakan. tidak jelas dan tegas menentukan siapa subjek yang mengawasi. sehingga menimbul- 2. Di tengah pergulatan panjang ini. karakteristik pejabat negara kita. sangat mencenderai makna demokrasi substantif. punya tradisi cukup buruk dalam soal penyalahgunaan wewenang (abuse of power). terutama dalam soal antara yang mengawasi dan diawasi. 3. UUKY terbukti tidak rinci mengatur mengenai prosedur pengawasan. Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa: 1. Kedua. Hal tidak jelas dan tidak rincinya pengaturan mengenai pengawasan dalam UUKY serta perbedaan dalam rumusan kalimat seperti dimaksud pada butir (i) menyebabkan semua ketentuan UUKY tentang pengawasan menjadi kabur (obscuur) dan menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid) dalam pelaksanaannya. yaitu seolah-olah hubungan antara MA dan KY berada dalam pola hubungan “checks and balances” antarcabang kekuasaan dalam konteks ajaran pemisahan kekuasaan (separation of powers). Ketiga. Perumusan Pasal 13 huruf b juncto Pasal 20 UUKY mengenai wewenang lain sebagai penjabaran dari Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 menggunakan rumusan kalimat yang berbeda sehingga menimbulkan masalah dalam penormaannya dalam UUKY yang menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). justru mengaburkan makna pengawasan secara subtil. 38 Bunga Rampai . Dan biasanya kekuasaan lembaga yang tersentralisasi sangat rentan mencipta oligarki kekuasaan.

ketegangan dan kekisruhan dalam pola hubungan antara KY dan MA akan terus berlangsung dan kebingungan dalam masyarakat pencari keadilan akan terus meningkat. Bahwa MA. dan juga MK untuk mengambil prakarsa yang bersifat terbuka untuk mengadakan perubahan undang-undang seperti dimaksud.kan penafsiran yang juga tidak tepat.id Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 39 . yang pada gilirannya juga dapat mendelegitimasi kekuasaan kehakiman yang akan dapat menjadikannya semakin tidak dipercaya. www. bukanlah tugas konstitusional MA. Akan tetapi. KY. UUMA. Mahkamah Konstitusi juga merekomendasikan kepada DPR dan Presiden untuk segera mengambil langkah-langkah penyempurnaan Undang-Undang Komisi Yudisial. terutama dalam pelaksanaannya. KY. Jika hal ini dibiarkan tanpa penyelesaian. Tugas legislasi ini adalah tugas DPR bersama dengan pemerintah. Karena itu. MA. kecuali apabila hal itu dimaksudkan hanya sebagai pendukung. Untuk mengatasi akibat kekosongan hukum yang terlalu lama berkaitan dengan tugas KY. UUMK. tentu saja merupakan sesuatu yang logis dan tepat. sehingga oleh karenanya harus menyerahkan segala urusan legislasi itu kepada pembentuk undang-undang.go.mahkamahkonstitusi. khususnya yang berkaitan dengan ketentuan mengenai pengawasan perilaku hakim. Setiap lembaga negara sudah seharusnya membatasi dirinya masing-masing untuk tidak mengerjakan pekerjaan yang bukan menjadi tugas pokoknya. KY. Undang-Undang Komisi Yudisial segera harus disempurnakan melalui proses perubahan undang-undang sebagaimana mestinya. segala ketentuan Undang-Undang Komisi Yudisial yang menyangkut pengawasan harus dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat karena terbukti menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). dan juga MK dapat diikutsertakan dalam proses pembuatan sesuatu undangundang yang akan mengatur dirinya. Oleh karena itu. Bahkan. dan undang-undang lain yang terkait dengan sistem peradilan terpadu. DPR dan Presiden dianjurkan pula untuk melakukan perbaikan-perbaikan yang bersifat integral dengan juga mengadakan perubahan dalam rangka harmonisasi dan sinkronisasi atas UUKK. dan juga MK merupakan lembaga pelaksana undang-undang.

Menempatkan Komisi Yudisial pada kerangka yang tepat sebagai lembaga pengawas eksternal setidaknya memberi jaminan adanya sisi obyektifitas dan memiliki makna yang subtil bagi reformasi peradilan. Penyempurnaan terhadap ketentuan ini setidaknya diharapkan dapat memberikan penguatan kelembagaan terhadap Komisi Yudisial sebagai the musketter kekuasaan kehakiman di Indonesia. Sementara. dikhawatirkan justru semakin memperburuk citra dan menghilangkan wibawa kekuasaan kehakiman di mata publik. Boleh jadi. ke depan Komisi Yudisial bukan lagi menjadi sebuah institusi yang sifatnya auxiliary tetapi harus diletakkan sebagai kekuatan inti dalam penyelenggaraan kekuasan kehakiman. Sehingga demikian. Menguatkan Komisi Yudisial melalui perluasan wewenang. Nasib Komisi Yudisial memang tengah dipertaruhkan. antara menguatkan atau memperlemah. memperlemah keberadaan Komisi Yudisial. Semua ini tentu harus disikapi secara simultan.Rekomendasi Mahkamah Konstitusi ini tentu saja menjadi pegangan bagi legislatif maupun eksekutif agar melakukan upaya konkret untuk segera merevisi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial. pengawasannya terhadap putusan hakim pengadilan justru diinterpretasi atau dipelintir sebagai tindakan intervensi terhadap kemerdekaan hakim. Ini sangat berpotensial. Premis di atas kesannya memang sangat dilematis. tetapi perlunya 40 Bunga Rampai . tetapi melemahkan berarti memberi gerak lahirnya “preman tribal atau mafia berdasi” yang akan melahirkan bangsa barbarism atau manusia penghancur dalam dunia kekuasaan kehakiman. apalagi bila objek pengawasannya adalah putusan hakim pengadilan. Dengan penuh harap semoga gagasan dan bahasa undang-undang dapat menyibakkan tabirnya untuk suatu keadaban dan keadilan bagi semuanya. Semua ini akan ditentukan dalam tuturan semantik dari legislatif maupun pemerintah lewat regulasinya. justru dikhawatirkan akan menggerogoti independensi kekuasaan kehakiman. Menguatkan berarti mencipta “oase” untuk menghidupi kekinian dan masa depan. Dalam makna ketat bahwa pilihan memperkuat atau memperlemah posisi Komisi Yudisial dalam struktur ketatanegaraan bukan hanya harus mengandalkan perlunya transformasi politik dalam tubuh legislatif maupun eksekutif.

sudah tentu bukanlah jalan terakhir bagi sebuah perjuangan. sejatinya cukup penting digunakan untuk membangun ruang-ruang dialogis dalam menemukan makna perubahan yang signifikan dalam dunia kekuasaan kehakiman. tetapi yang lebih mendasar adalah perlunya melihat kinerja (performance) kedua institusi negara tersebut. Penuturan ini bukan untuk menggiring kedua institusi negara tersebut ke labirin arogansi institusional. Pelintasan ruang dan waktu yang terus terbentang. Walau. tentu saja tidak dilakukan dengan amburadul. Dengan segala harap. Rentetan pemikiran ini. isu reformasi peradilan sangat relevan kiranya memperhatikan sisi keterkaitan antara transformasi politik dengan tingkat kinerja pelaksana kekuasaan kehakiman selama ini. Transformasi politik yang berlangsung di legislatif maupun eksekutif. justru tidak melahirkan ”kacung-kacung baru” dalam dunia kekuasaan kehakiman.sinergitas hubungan antara Komisi Yudisial dan Mahkamah Agung dalam memperbaiki kinerjanya. Dengan demikian. butuh energi banyak untuk selalu menafasinya. Sisi penjelahan akan konsep Komisi Yudisial yang ideal mesti terus diusung. semoga rute perubahan ini. Atau menjebaknya ke dalam perebutan kredit point terhadap mana yang lebih baik. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 41 . yang sekadar melakukan revisi terhadap sejumlah regulasi terkait dengan kekuasaan kehakiman. tetapi setidaknya sebagai kerangka untuk evaluasi akan ”makna keberadaannya”di mata publik.

hlm. Jakarta Latif. 2006. No. Yudi.transparansi.wordpress. Kumpulan Analisis di Majalah Forum. 6. A. 1996.or. Baltimore Thohari. Yale University Press.mahkamahkonstitusi.go. Koloni Keadilan. 1961. Komisi Yudisial & Reformasi Peradilan.ti.id www. Ahsin. Stepan Alfred. 2006 Linz. 2006.com www.id - 42 Bunga Rampai . Budi. Problems of Democratic Transition and Consolidation. Jhon Hopkins University Press. Demokrasi Minus.Visi Volume V. http://ahmadirfan. Juan. New Haven Gunawan. Who Governs? Democracy and Power in an American City.or.Daftar Pustaka Dahl Robert. (http://www. Forum Media Utama.id). XIII – XIV.

Bisa jadi. tetapi spirit yang terus menggelora ditengah kegalauan publik yang senantiasa mendambakan rasa keadilan. reformasi peradilan perlu diupayakan agar mampu bersinergi dengan kekuatan/kelompok sosial-politik dalam masyarakat. khususnya masyarakat yang pro-reformasi peradilan. Ia bukan lagi sebuah momentum.Komisi Yudisial Pengawal Reformasi Peradilan Mendayung Diantara Simpati dan Resistensi Firmansyah Arifin* Pengantar Reformasi peradilan merupakan sebuah keniscayaan. Sejauh ini reformasi peradilan memang telah menghasilkan berbagai perubahan. dan gerakan sosial menjadi tertatih-tatih. Sebaliknya. reformasi peradilan akan kehilangan moralitas dan legitimasinya jika mengabaikan issue dan kepentingan hak-hak masyarakat. Pada titik ini. Karena reformasi peradilan menghendaki lembaga peradilan idealnya dapat dimanfaatkan untuk menjamin perlindungan terhadap kebebasan sipil-politik serta perlindungan sosial-ekonomi rakyat. Reformasi peradilan menjadi bagian penting yang tidak bisa diabaikan dalam proses demokrasi dan gerakan sosial (social movement) yang lebih luas. baik pada tataran kebijakan * Penulis adalah: Ketua Badan Pengurus Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN) Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 43 . meninggalkan reformasi peradilan mengakibatkan proses demokrasi berjalan tanpa arah.

sampai pembentukan mekanisme dan institusi baru. hingga membubarkan KY. muncul pula resistensi terhadap KY yang hendak mendelegitimasi posisi dan peranan KY. khususnya yang berkenaan dengan hakim. Kehadiran KY memang memberikan harapan akan institusi peradilan yang bersih dan berwibawa. Gagasan negara hukum mempunyai akar historis dalam perjuangan menegakkan demokrasi. Hal itu dapat dilihat pada Komisi Yudisial ketika menjalankan tugas dan kewenangannya. Hukum itu sendiri harus ditentukan oleh warga negara yang tidak lain merupakan pengaturan hubungan di antara sesama warga negara melalui cara dan mekanisme demokrasi (parlemen). serta bebas dari mafia peradilan (judicial corruption). Namun hampir satu dasawarsa. atau malah sebaliknya. di negara hukum tidak ada warga negara yang berada di atas hukum dan karenanya semua warga negara harus patuh pada hukum. Selanjutnya. setidaknya mampu menuai simpati ketika mengusik eksistensi dan kemapanan para hakim. apakah cukup efektif untuk mendorong dan memperkuat reformasi peradilan. gagasan demokrasi dan negara hukum dalam perkembangannya 44 Bunga Rampai . dan simpati dapat terus diraih dan dikembangkan dalam mengawal reformasi peradilan menuju Negara demokrasi dan rule of law yang dicita-citakan. Dengan harapan resistensi dapat dieliminir. Namun bersamaan dengan itu. Sejauh mana upaya yang telah dilakukan. mencoba merumuskan kembali peranan dan langkah strategis KY kedepan. Bahkan dalam beberapa hal mengalami proses maju mundur (back-forward). Misi Penting Reformasi Peradilan Reformasi peradilan mempunyai tujuan dan tugas utama untuk menjamin dan mempertahankan prinsip-prinsip negara hukum yang demokratis. Tulisan ini mencoba merefleksikan kembali peranan KY dalam konteks reformasi peradilan. Termasuk dalam hal ini adalah Komisi Yudisial (KY) yang diperlukan untuk mengawal reformasi peradilan. Sepak terjang KY selama 2 tahun terakhir. reformasi peradilan (judicial) berjalan lambat jika dibandingkan proses reformasi pada ranah legislatif dan eksekutif. Dalam pengertian yang sederhana. Sebagai sebuah sistem politik dan pemerintahan.

Independensi di sini sekaligus merupakan independensi personal setiap hakim untuk menjalankan tugasnya tanpa ketakutan dan keberpihakan. Dengan pengertian lain.didasari gerakan atau dorongan masalah bagaimana melindungi kebebasan individual atau hak asasi manusia dari tindakan sewenang-wenang para penguasa. Sebab kelengkapan pertama Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 45 . tetapi mutlak mensyaratkan adanya rule of law. Independensi kekuasaan kehakiman sebagai sesuatu hal yang prinsipil di dalam negara hukum yang demokratis. Hukum dibutuhkan untuk memastikan adanya jaminan kapasitas kontrol rakyat terhadap berbagai urusan publik. Fokus pada hak asasi itu menjadi dasar normatif bagi gagasan demokrasi dan negara hukum. maka demokrasi hanya akan menjadi sekadar proyek liberalisasi politik. demokrasi bukan hanya soal kebebasan sipil dan politik. menjadi fungsi utama dari pemerintahan demokratis dan pemerintahan berdasarkan atas hukum untuk menjamin dan melindungi hak asasi manusia. keadilan yang paling esensiil dapat disentuh berdasarkan atas hak asasi dari warga negara. Dalam pelaksanaannya. dan kehilangan esensi keberadaannya. Termasuk pula campur tangan dari unsur-unsur kekuasaan kehakiman itu sendiri serta kekuasaan ekonomi dan politik di luar sistem kekuasaan negara. Gagasan negara hukum demokratis tidak hanya menegaskan bahwa kekuasaan kehakiman (judicial power) adalah kekuasaan yang merdeka (independent) dan tidak memihak (impartial). Tanpa kedua hal tersebut. demokrasi juga mensyaratkan adanya praktek penegakan hukum yang jelas dan tegas. Tetapi juga ditambah dengan perlunya prosedur perlindungan terhadap hak-hak yang telah dijamin dalam konstitusi. Melalui peranan para hakim sebagai pelaksana utama dari kekuasaan kehakiman. Independensi atau kebebasan tersebut dimaksudkan tidak adanya campur tangan dari kekuasaan eksekutif dan legislatif terhadap pelaksanaan fungsi peradilan. Lebih dari itu. tak bermakna. Prosedur yang dimaksudkan salah satunya adalah melalui kewenangan judicial review/constitutional review oleh kekuasaan kehakiman. maka tidak ada demokrasi dan negara berdasarkan atas hukum (demokratische rechsstaat). Tanpa kehadiran kekuasaan kehakiman yang independen.

dikontrol oleh prinsip-prinsip hukum. misi penting bagi reformasi peradilan tidak hanya sebatas menegakkan independensi dan impar- 46 Bunga Rampai . diperlukan untuk mencapai independensi dan impartialitas peradilan. Dalam hal ini dapat dibedakan bahwa independensi merupakan mekanisme kontrol sebelum suatu tindakan yudisial dilakukan yaitu meminimalisir masuknya pengaruh pihak luar terhadap proses pengambilan putusan yang imparsial oleh pengadilan. tetapi juga cara-cara penunjukkan atau pengangkatan hakim dan jaminan keberlangsungan mereka dalam melaksanakan jabatannya (Beetham & Boyle. Bahwa lembaga peradilan wajib mempertanggungjawabkan baik pelaksanaan fungsi yudisial maupun penyelenggaraan administrasinya. Akuntabilitas diperlukan untuk memperkuat independensi. sebaliknya kewajiban lembaga peradilan untuk mempertanggungjawabkan segala tindakannya kepada publik akan dapat mengurangi kerentanan lembaga peradilan dari tekanan pihak luar. justru saling menunjang dan memperkuat. Kedua prinsip tersebut tidaklah bertentangan secara diametral.dan utama untuk menegakkan kekuasaan kehakiman yang independen ada pada hakim. Sedangkan akuntabilitas diperlukan sebagai mekanisme kontrol setelah suatu tindakan yudisial diambil. Sebab bukan mustahil ketika independensi kekuasaan kehakiman meningkat. Pengawasan sebagai wujud dari akuntabilitas dan bagian dari checks and balances. didukung keberanian dan pikiran yang dingin dan bebas dari pengaruh luar dan tidak goyah karena simpati dan prasangka. dan pada akhirnya bisa menimbulkan masalah-masalah baru. Kedua jenis independensi ini tidak sekedar menuntut jaminan-jaminan konstitusional formal. kecuali keinginan besar untuk menegakkan keadilan (Felix Frankfurter. 1993) Oleh karena itu. Karena mengingat belum semuanya para hakim mempraktikkan judicial discretion. 2000). yaitu sikap independen dan imparsial dalam memutus suatu perkara. Dalam memutus perkara. Hanya saja sebagaimana mulai dirasakan. maka akuntabilitas dan legitimasinya menurun. independensi tanpa akuntabilitas bisa melangkah terlalu jauh. seorang hakim harus didasarkan pada intelenjensi dan kemauan belajar.

segi sosial/publik. Yang ada adalah cerita sukses intervensi politik yang dimulai ketika urusan organisasi. Sedangkan lembaga peradilan hanya menjadi alat untuk menjustifikasi dan melegitimasi perilaku kekuasaan eksekutif. Tetapi penting juga bagaimana membangun dan menjaga sistem akuntabilitas dan mekanisme kontrol bagi para hakim agar peradilan tidak memunculkan abuse of power baru atau tyrani judicial. managemen dan administrasi peradilan yang tidak transparan. ICW. BK Harman. 1997.tialitas peradilan sebagai suatu prinsip dalam Negara hukum yang demokratis. Peradilan Yang Belum Berubah Mafia peradilan (judicial corruption) menjadi problem besar yang menimbulkan bobroknya institusi peradilan. Asrun. 2004. Pompe. kebenaran dan keadilan. 1990. Sangat jarang pula hakim yang punya keberanian untuk melawan setiap kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan rakyat. 2001. 1999. bobroknya institusi peradilan sebagai akibat dari intervensi politik yang begitu panjang yang telah mereduksi independensi dan impartialitas peradilan. Belakangan disadari bahwa intervensi yang bersifat ekonomi juga menjadi salah satu faktor penyebabnya. Pada masa-masa itu jangan berharap ada banyak putusan-putusan pengadilan yang progresif dan memberi rasa keadilan. Pengadilan hanya menjadi abdi kekuasaan ketimbang berpihak pada rakyat. tidak lepas dari praktek sistem pemerintahan otoritarian yang diterapkan. Intervensi politik. administrasi Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 47 . KRHN-Leip. Karakter dalam sistem pemerintahan otoritarian selalu menolak adanya checks and balances dan tidak mau mengakui adanya hak asasi manusia. segi hukum bagi hakim baik pejabat negara maupun secara personal (Mauro Cappeletti. Disamping problem lainnya seperti. Tidak adanya jaminan independensi dalam konstitusi. Beberapa studi (Lev. 2005) telah mendiagnosis. terutama dari eksekutif. 1989). semakin memudahkan intervensi politik yang membuat lemah kekuasaan peradilan ketika harus vis a vis dengan kekuasaan eksekutif. Setidaknya akuntabilitas dari segi politik. serta putusan yang janggal dan mencederai rasa keadilan. minimnya hakim yang berkualitas dan berintegritas. penumpukan perkara.

sejumlah hakim agung non karier yang berasal dari kalangan akademi dan praktisi hukum dipilih dan ditetapkan. Seakan tidak mau ketinggalan. tetapi untuk mendorong perubahan di tubuh internal MA. Anak. administrasi dan financial menjadi urusan Mahkamah Agung. mulai dari pengadilan negeri (PN). Sejumlah pengadilan khusus untuk mengadili perkara-perkara seperti pelanggaran HAM. Praktik-praktik mafia peradilan disinyalir masih berjalan di setiap tahapan.2003. sampai MA. 2003). MA pun kemudian membuat dan merumuskan sejumlah paket rencana pembaruan yang akan dilakukannya (Blue Print MA. Korupsi. pengadilan menjadi institusi yang tertutup. Selain itu lewat amandemen konstitusi dibentuk lembaga Komisi Yudisial untuk rekruitmen hakim agung dan pengawasan hakim. mulai dilakukan secara terbuka oleh DPR pada 2000 . 14/1970) yang menempatkan urusan organisasi. UU MA. fakta lain memperlihatkan kondisi lembaga peradilan masih ditengarai berbagai persoalan yang sangat kontras dengan spirit dan agenda perubahan. dilengkapi dan diimplementasikan melalui revisi paket UU Bidang Hukum (UU Kekuasaan Kehakiman. seleksi hakim agung dan Ketua Mahkamah Agung yang sebelumnya sangat tertutup. serta Mahkamah Konstitusi. reformasi peradilan dimulai dengan revisi kebijakan satu atap (UU No. Perlahan tapi pasti. pengadilan tinggi (PT). Meski berbagai perubahan telah terjadi. juga dibentuk melalui undang-undang. Ketika momentum perubahan datang. Selanjutnya putusan-putusan pengadilan mesti mengikuti langgam pembangunan pemerintah. UU Pengadilan Umum) pada tahun 2004.dan finansial peradilan berada dalam kekuasaan eksekutif. Revisi tersebut selanjutnya dipertegas. yang telah memberikan jaminan konstitusional prinsip kemerdekaan bagi kekuasaan kehakiman. Revisi terakhir ini dipengaruhi oleh hasil Amandemen UUD 1945. Dalam seleksi ini. Seperti kasus panitera pengganti dan hakim PN Jakarta Selatan yang memeras saksi dalam kasus korupsi PT Jamsostek. dan para hakim yang lebih disibukkan dengan urusan kesejahteraan dan kepentingan sendiri. Tujuannya bukan hanya sekedar mengisi kekosongan kursi hakim agung. Beberapa kasus hanya sebagian kecil yang berhasil terungkap. dan kasus advo- 48 Bunga Rampai . korup dan tidak berwibawa. Bersamaan dengan revisi kebijakan.

kat Syaifudin Popon. dan memiliki kewenangan mengusulkan calon hakim agung serta kewenangan lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Hasil survey ini melengkapi sejumlah survey atau polling yang telah dilakukan berbagai pihak. pengadilan menempati urutan teratas untuk inisiatif melakukan suap. Putusan-putusan pengadilan. Dari sejumlah kasus yang terungkap nampaknya belum membuat kapok para Mafioso peradilan. Dari survey tersebut. Sementara pengawasan internal oleh MA sudah terbukti tidak efektif memberikan efek jera bagi para hakim dan pegawai pengadilan. Fakta-fakta tersebut semakin membuat institusi peradilan terperosok dalam lubang kegelapan yang seakan-akan sulit untuk keluar. Posisi ini nampaknya tidak beranjak jauh dari hasil survey TII sebelumnya. Sholeh. Ketentuan ini menjadi landasan hukum yang kuat bagi KY untuk memainkan peranan yang sangat penting dan strategis dalam usaha mewujudkan kekuasaan kehakiman yang merdeka didalam Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 49 . keluhuran martabat. terutama dalam kasus korupsi dan HAM. serta perilaku hakim. yang masih menunjukkan bobroknya institusi peradilan. Ramdhan Rizal dan M. meski berbagai upaya perubahan telah dilakukan sejak reformasi 1998. dengan tersangka Harini Wijoso dan beberapa pegawai MA. Serta kasus Probosutedjo yang mencoba menyuap majelis hakim di MA dengan uang milyaran rupiah. belum bisa memberikan rasa keadilan karena seringkali dengan mudah memberikan putusan bebas bagi para pelakunya. Memaknai Kehadiran Komisi Yudisial Komisi Yudisial (KY) lahir dan dibentuk berdasarkan konstitusi. Transparancy International Indonesia (TII) mengeluarkan hasil survey tentang korupsi yang terjadi di lembaga-lembaga pemerintahan. Dan itu berarti bahwa lembaga peradilan memang belum mengalami perubahan yang signifikan. dua panitera PT Jakarta. Pada Mei 2007. Malah dalam kasus-kasus pelanggaran HAM. yang dilakukan secara rutin setiap tahun. hampir semua terdakwanya kemudian diputus bebas oleh MA. apalagi dilakukan secara tidak transparan. Masih terjadi krisis kepercayaan. Pasal 24B UUD 1945 menempatkan KY sebagai Lembaga Negara yang bersifat mandiri.

Kondisi pengawasan seperti itu diakui sendiri oleh MA. independen dan bertanggungjawab (accountable). Masyarakat pun dapat terlibat secara aktif untuk memantau dan menilai secara kritis terhadap proses serta track record para calon hakim agung. kredible dan dapat memegang teguh prinsip independensi dan imparsial dalam membuat putusan (Blue Print MA. Intinya. Faktor lain yang mendorong kelahiran KY adalah kebutuhan untuk membangun sistem seleksi hakim agung yang lebih obyektif. transparan dan partisipatif.konteks negara hukum. mekanisme pengawasan hakim yang ada mengandung sejumlah kelemahan. KY dapat menerima laporan dari masyarakat. melakukan pemanggilan dan pemeriksaan terhadap hakim. kebutuhan KY dilandasi oleh spirit untuk mendorong dan membangun sistem dan pelaksana kekuasaan kehakiman lebih bersih. Selain itu dalam konteks wewenang pengawasan. Lahirnya KY dari rahim konstitusi dilatarbelakangi oleh adanya kebutuhan untuk membangun sistem pengawasan hakim yang lebih efektif dan konstruktif. UU No. obyek pengawasan KY terhadap hakim meliputi hakim agung dan hakim pada badan peradilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung. Sehingga hakim agung yang dihasilkan memiliki integritas. Naskah Akademis RUU Komisi Yudisial. meminta laporan tentang perilaku hakim. 22/2004 tentang KY kemudian menambahkan bahwa. Dapat dikatakan bahwa fungsi pengawasan inilah yang paling sering akan dilakukan oleh KY. 2004). namun fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman yaitu fungsi pengawasan. tidak accountable. dan memberikan usul pemberian sanksi (punishment) dan penghargaan (reward). Meski KY bukan pelaku kekuasaan kehakiman. Dalam sistem seleksi semacam ini diharapkan dapat dieliminir politisasi dalam penentuan calon hakim agung. serta hakim Mahkamah Konstitusi. Alasannya. yang pada gilirannya menyuburkan judicial corruption di tubuh institusi pengadilan. Pengawasan hakim yang dijalankan MA sangat tertutup. dan cenderung mengedepankan esprit de’corps. 2003. Jika memperhatikan alasan-alasan pembentukan Komisi Yudisial tersebut di atas. jelas bahwa Komisi Yudisial memi- 50 Bunga Rampai .

telah mendudukan posisi dan kekuasaan lembaga-lembaga negara menjadi setara dan seimbang. Tugas dan tanggungjawab tersebut tidaklah berakhir ketika DPR bersama Presiden telah memilih dan menetapkan calon hakim agung. Yang dilihat adalah fungsi dan kewenangan yang telah diberikan. dan diperlukan dalam menjalankan checks and balances. Dalam hal itu. 2006). Spirit perubahan yang hendak memperkuat checks and balances antara cabang-cabang kekuasaan negara (legislatif. Mengembalikan rasa percaya publik pada kemampuan lembaga peradilan sebagai benteng terakhir penegakan hukum dan keadilan. Komisi Yudisial berperan untuk ‘membentuk’ (reshaping) peradilan di Indonesia. Komisi Yudisial diberi tanggung jawab konstitusional untuk mengontrol kinerja dan perilaku para hakim. yang tercermin dari sumpah jabatan dan representasi suara rakyat yang telah memilih secara langsung. Komisi Yudisial berfungsi untuk merepresentasikan kontrol publik ke dalam lembaga peradilan. ataupun keduanya telah membuat UU yang mendukung independensi peradilan. Akan tetapi tugas dan tanggungjawab itu. haruslah senantiasa hadir ketika citacita atau ideologi independensi dan imparsialitas peradilan tidak bisa dijaga dan ditegakkan sendiri oleh MA dan MK. Ini adalah sebuah moralitas konstitusi dari kedua lembaga tersebut. Tugas dan tanggungjawab itu juga menjadi kewajiban DPR bersama Presiden. sang ujung tombak penegakan hukum di lembaga peradilan (A.liki dua fungsi penting dalam upaya penegakan hukum dan keadilan di Indonesia: pertama. Kedua. Nababan. bersama-sama dengan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. kewajiban untuk menjaga dan menegakkan kekuasaan kehakiman yang merdeka (independency of judiciary) bukanlah semata-mata menjadi tugas dan tanggungjawab MA dan MK. KY sesungguhnya merupakan mitra strategis dari DPR dan Presiden untuk melakukan dan mem- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 51 . eksekutif dan yudikatif). Dalam kerangka perubahan itu. Pembentukan KY ini sejalan dengan spirit dari perubahan (amandemen) UUD 1945. Perubahan paradigma konstitusi tersebut. Tidak ada lagi lembaga tertinggi dan tinggi negara. Spirit perubahan ini mengubah paradigma dan praktek kekuasaan negara yang selama ini cenderung executive heavy atau legislative heavy.

Pembentukan KY dan juga Komisi-Komisi independen lainnya adalah dimaksudkan sebagai Institutional Watchdog. tekanan. Jelas terlihat bahwa KY memiliki peranan penting untuk mendorong para hakim menjadi lebih bermartabat. KY harus menjamin judicial discretion bahwa hakim dalam mengambil keputusan harus bebas dari intervensi baik berupa ancaman. pengawasan dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. hanya KY satu-satunya lembaga yang diberi mandat oleh konstitusi untuk melakukan pengawasan terhadap hakim. guna mencegah penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) oleh institusi peradilan. khususnya MA. kehadiran dan wewenang yang diberikan kepada KY merupakan ‘mosi tidak percaya’ terhadap institusi pelaksana kekuasaan kehakiman. Jika dijabarkan ‘mosi tidak percaya’ itu. Dalam batas-batas tertentu. Mosi tidak percaya itu dapat ditunjukkan pula dari posisi Ketua MA yang bukan sekaligus ex officio Ketua KY sebagaimana Judisial Commission di berbagai negara. Fungsinya adalah untuk memperkuat checks and balances. KY punya peran sinergis bersama DPR dan Presiden untuk mendapatkan calon hakim agung yang kredibel dan berintegritas. janji- 52 Bunga Rampai . selain rekruitmen bagi hakim agung. harkat martabat dan perilaku hakim oleh KY merupakan bentuk penolakan terhadap pengawasan internal yang sebelumnya dinilai tidak efektif. professional dan terpuji. Fungsi kontrol yang sedapat mungkin bisa menyeimbangkan terjaganya independensi hakim dengan akuntabilitas yang mesti dibangun. Melalui kewenangannya. KY dimaksudkan untuk memperkuat checks and balances bagi kekuasaan kehakiman.perkuat kontrol (checks and balances) terhadap MA dan MK. Melalui KY diharapkan pula harkat. Dalam pengertian lain. Dengan berpijak pada kerangka konstitusional di atas. membangun akuntabilitas dan memperluas partisipasi masyarakat. Dalam hal ini KY menjadi lembaga eksternal yang selalu melakukan pengawasan para hakim. martabat dan perilaku para hakim dapat terjaga. mosi tidak percaya itu dapat dilihat bahwa pemberian wewenang KY merupakan atribusi kewenangan dari kekuasaan eksekutif dan legislatif dalam menjalankan fungsi kontrol atau checks and balances terhadap kekuasaan yudikatif.

Setelah terbentuk.janji. dan simpati. Dengan legitimasi dari konstitusi. KY merumuskan visinya “Menjadikan hakim sebagai insan pengabdi dan penegak keadilan”. berani dan kompeten. (2) Melaksanakan pengawasan peradilan yang efektif. terbuka dan dapat dipercaya. KY sudah mulai membangun capacity building yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas dan kewenangannya. KY memiliki peranan strategis untuk memperkuat proses reformasi peradilan yang belum selesai. KY Menuai Simpati dan Resistensi Komisi Yudisial terbentuk pada 2 Agustus 2005. KY mulai membangun perangkat-perangkat organisasi. sejak tujuh (7) orang anggotanya diangkat dan disahkan oleh Presiden. Visi-misi itu nampaknya sejalan dengan mandat yang diberikan konstitusi. Sedangkan misinya. Keberadaan dan kehadiran KY memberikan harapan kembali akan peradilan yang bersih. diantaranya menyusun visi-misi organisasi. Sebagai landasan bagi pelaksanaan kewenangan dan pengembangan organisasi. pembentukan peraturan yang diperlukan sebagai landasan. Dan untuk pertama kali. Busyro Muqoddas seorang akademisi sekaligus advokat yang mendapat suara terbanyak dalam proses pemilihan di DPR. Setelah sekian lama institusi peradilan mengalami krisis kepercayaan sebagai akibat penyakit judicial corruption yang sudah demikian akut. Keanggotaan KY terdiri atas unsur akademisi. Namun demikian. KY dipimpin oleh M. serta pembentukan sekretariat jenderal beserta struktur organisasi maupun personalianya. bukan suatu hal yang mudah bagi KY ketika menjalankan fungsi dan kewenangannya ataupun mewujudkan visi-misinya. bahwa tugas pokok yang akan dijalankan secara rutin oleh KY adalah melakukan pengawasan atau kontrol bagi hakim. mantan hakim dan jaksa serta masyarakat. (1) Menyiapkan Hakim Agung yang berakhlak mulia. Semua itu bertujuan untuk menegakkan keadilan. jujur. (3) Mengembangkan sumber daya hakim menjadi insan yang mengabdi dan menegakkan keadilan. Disatu sisi langkah-langkah dan kebijakan yang diambil KY dapat memberikan inspirasi dan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 53 . Intinya. berwibawa dan memberikan rasa keadilan dengan hakim yang berintegritas dan progressif. praktisi hukum.

Ide kocok ulang ini sempat disampaikan kepada Presiden SBY. Tetapi bersamaan dengan itu. Dan menyerahkan proses seleksi ulang hakim agung ini melalui Perpu. menilai bahwa ide ini sangat progressif. solusinya adalah perlu ada penguatan kepemimpinan di MA melalui seleksi ulang hakim agung. akan mendorong presiden menjadi otoriter. Tidak ada dasar hukum yang cukup kuat untuk melakukan itu. Seakan gayung bersambut. baik yang bersifat individual maupun organisasional. Dikabarkan presiden menyetujui dan telah memerintahkan Mentri Hukum dan HAM (Menhuk-HAM) Hamid Awaluddin untuk membuatkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) nya sebagai payung hukumnya. muncul resistensi yang tidak bisa dihindarkan. Bisa 54 Bunga Rampai . Sebagian publik. Dan melalui Perpu. KY melontarkan ide seleksi ulang (kocok ulang) hakim agung. karena setidaknya ini merupakan terobosan yang harus dilakukan Presiden kemudian disahkan oleh DPR. Ide ini berangkat dari pemikiran KY yang melihat bahwa problem riil mafia peradilan yang menjadi penyebab keterpurukan lembaga peradilan adalah tidak berjalannya managemen kepemimpinan di MA. Tentu saja ide kocok ulang ini mengundang pro-kontra.simpati yang mendapat dukungan dari berbagai kalangan. termasuk penulis. dan mempertanyakan apa alasannya bahwa hakim agung yang ada sekarang ini harus diseleksi ulang. Melalui kocok ulang hakim agung ini diharapkan akan ada regenerasi dan refresh kepemimpinan MA. terutama dari kalangan akademisi. Oleh karena itu. leadership di MA sangat lemah. Atau dengan kata lain. meski para pemimpin ataupun Ketua MA merupakan buah dari proses reformasi. Issue “Kocok Ulang” Hakim Agung Pada awal Januari 2006. sebagai bagian dari checks and balances terhadap kekuasaan yudisial. NGO dan sebagian anggota DPR. KY pun menyiapkan pula draft Perpu untuk Seleksi Ulang Hakim Agung. Karena memang sama-sama disadari bahwa tidak ada perubahan yang signifikan dari kepemimpinan MA terhadap problem-problem peradilan. Simpati dan resistensi ini dapat tergambar dari sejumlah issue atau masalah yang muncul ke publik selama kurang lebih 2 tahun belakangan ini. Sebagian yang kontra menilai bahwa ide ini tidak mendasar. 1.

KY secara proaktif melakukan penanganan beberapa kasus dugaan pelanggaran perilaku hakim. KY telah menerima 754 laporan dari berbagai kalangan masyarakat. Issue Pengawasan Hakim Sejak KY terbentuk.jadi ide kocok ulang ini menjadi bibit awal permusuhan atau resistensi dari kalangan hakim agung. 2. Ide ini pada akhirnya tidak sempat direalisasikan. 2006). Sebagian lainnya tidak ditindaklanjuti. Sedangkan sampai Desember 2006 (pascaputusan MK). sedang dalam proses. KY telah memeriksa dan memproses 333 laporan atau pengaduan hakim. termasuk para hakim agung yang jelas dan pasti menolak. masyarakat dengan antusias melaporkan hakim-hakim yang dinilai menyimpang dan tidak sensitif terhadap rasa keadilan. 18 hakim telah direkomendasikan KY kepada Pimpinan/Ketua MA (Laporan Tahunan KY. Dari 754 laporan tersebut. Jumlah Hakim 4 3 1 3 2 2 Asal Pengadilan PN Bogor PT Banten PN Stabat PN Jakarta Selatan PN Jakarta Pusat PT Bandung Tabel: Jumlah Hakim Yang Mendapat Rekomendasi Selain laporan tersebut. Presiden tidak jelas sikapnya dan Menhuk-HAM belakangan membantah bahwa dirinya telah diminta presiden untuk membuat Perpu Seleksi Ulang Hakim Agung. Ide kocok ulang hakim agung memang sempat membuat kejutan banyak pihak. Dari Agustus 2005 . antara lain: • Pemeriksaan terhadap hakim yang mengadili kasus Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 55 . Dari 333 laporan tersebut. dan ada yang dicabut kembali.Juni 2006 (sebelum putusan MK). diinformasikan bahwa KY telah menerima 28 laporan. Meski KY telah menyerahkan draft Perpu ke tangan pemerintah.

Pemeriksaan terhadap majelis hakim Pengadilan Tipikor yang mengadili kasus korupsi dengan terdakwa Harini Wijoso Pemeriksaan terhadap hakim Pengadilan Negeri Stabat yang mengadili kasus anak dengan terdakwa Raju. Musi Rawas.• • • • • • sengketa Pilkada (Depok. Bandung. KY dinilai telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan dan mencemarkan nama baik hakim. Dalam hal ini KY cukup berhasil meraih simpati dari publik. Selayar. Sukabumi. Para hakim berpendapat bahwa putusan tidak bisa menjadi obyek pengawasan KY. Setidaknya ada 2 hal yang selalu dipersoalkan para hakim kepada KY dalam melakukan pengawasan ini. Pemeriksaan terhadap majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang mengadili kasus korupsi dengan terdakwa ECW Neloe. Banyuwangi) Pemeriksaan terhadap majelis hakim Pengadilan Tinggi Banten yang mengadili kasus korupsi di Lingkungan DPRD Propinsi Banten Pemeriksaan terhadap majelis hakim Pengadilan Negeri Denpasar yang mengadili kasus narkoba dengan terdakwa Michellle Leslie. Sepak terjang KY dalam melakukan pengawasan. simpati dari berbagai kalangan juga dibarengi dengan sikap sebaliknya yang secara terang-terangan diperlihakan oleh kalangan hakim. Pemeriksaan terhadap majelis hakim PN Semarang yang mengadili kasus korupsi. bahwa putusan itu dapat menjadi pintu masuk (entry point) untuk melihat ada tidaknya penyimpangan atau tidak. Kendati demikian. terutama hakim agung. Sudah menjadi rahasia umum kalau putusan itu dapat disesuaikan dengan keinginan “yang memesan”. yang menjatuhkan hukuman di bawah hukuman minimal. karena setidaknya bisa menimbulkan shock therapy dikalangan hakim. Karena 56 Bunga Rampai . bisa dikatakan sangat positif. Sedangkan KY bersikap sebaliknya. dan mengajak publik untuk senantiasa memusuhi hakim yang berperilaku menyimpang. dengan memainkan norma-norma hukum dan penafsiran hukum. Sumbawa. Sedangkan dalam hal cara. KY tidak berwenang memeriksa putusan hakim. yaitu obyek yang diperiksa dan cara pemeriksaan yang dilakukan.

dll) meminta MK membatalkan sejumlah pasal dalam UU KY terkait dengan fungsi pengawasan hakim karena dianggap bertentangan dengan konstitusi. meski pada akhirnya bisa “berdamai”. LBH Jakarta dan Kontras) mengajukan permohonan menjadi pihak terkait tidak langsung. usul pemberhentian hakim kepada presiden sejak pembelaan diri ditolak oleh Majelis Kehormatan Hakim. Pengajuan judicial review ini dikhawatirkan meniadakan fungsi pengawasan hakim dan jelas menghambat upaya pemberantasan mafia peradilan. KY se- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 57 . Bahkan secara terang-terangan pimpinan MA menolak dan mengabaikan rekomendasi dari KY. Termasuk dalam putusan ini. ICW. MK juga menolak hakim konstitusi menjadi bagian dari pengawasan KY. MK dalam putusannya mengabulkan hampir semua permohonan. membuat laporan hasil pemeriksaan. Yang terjadi malah konflik terbuka antara MA-KY. Untuk mencari titik temu dalam soal obyek dan metode pengawasan. tapi juga merugikan para pencari keadilan. KY kehilangan kekuatan untuk melakukan pengawasan hakim. dilakukan pertemuan antara KY dengan MA. Namun gesekan antara MA-KY tetap berlanjut. sempat mengadukan anggota KY ke Kepolisian. Meski demikian. Indriyanto Seno Adji. Sayangnya putusan MK berbicara lain. Semua rekomendasi yang disampaikan KY kepada MA.kerapkali nama-nama hakim yang dilaporkan dan sedang dalam proses pemeriksaan terpublikasikan ke media massa. dan puncaknya adalah ketika 31 hakim agung mengajukan judicial review terhadap UU KY ke Mahkamah Konstitusi. Kekhawatiran ini mengundang sejumlah lembaga swadaya masyarakat (KRHN. memaksa badan peradilan lain atau hakim untuk memberikan keterangan atau data yang diminta. Tidak cukup dengan hal itu. sejumlah hakim agung yang merasa nama baiknya tercemar oleh KY. Para hakim agung itu dengan didampingi sejumlah advokat (OC Kaligis. Namun nampaknya tidak membawa hasil. Putusan MK itu tidak hanya menghambat kerja-kerja KY dalam pengawasan hakim. putusan MK ini mendorong simpati publik terhadap KY. Setidaknya pasca putusan MK. KY untuk sementara tidak bisa lagi melakukan usul penjatuhan sanksi. tidak ada satupun yang ditindaklanjuti oleh MA. Akibatnya.

UU Kekuasaan Kehakiman. meminta pembentukan KY di daerah-daerah untuk mempercepat reformasi peradilan dan mendukung sepenuhnya percepatan revisi UU No. April 2007) Disisi lain. KY sendiri telah menyiapkan usulan pasal-pasal yang harus direvisi. organisasi profesi). Setidaknya perintah langsung putusan MK adalah meminta DPR dan Pemerintah untuk melakukan sinkronisasi dan harmonisasi undang-undang tersebut. putusan dapat ditelaah oleh KY sebagai entry point ada tidaknya pelanggaran hakim. lembaga Negara. lengkap dengan naskah akademisnya. Revisi UU KY ini bisa menjadi peluang untuk memperbaiki dan memperkuat kembali wewenang pengawasan KY. seperti rekomendasi dari Lokakarya Dosen HTN Indonesia Wilayah Barat pada 22 Maret 2007. Setidaknya itu bisa menjadi kekuatan potensial untuk memperkuat peranan KY. Sayangnya sampai saat ini tidak jelas kapan revisi UU KY akan diproses. 58 Bunga Rampai . MA sempat beberapa kali mengeluarkan statement atau pernyataan lewat media masa. 22/2004 tentang KY (Buletin KY. Atau Ketua MA sebaiknya ex officio sebagai Ketua KY. dan pengawasan KY diintegrasikan dalam pengawasan internal di MA. padahal putusan MK telah dijatuhkan sejak Agustus 2006. Butir-butir penting dari rekomendasi itu yang dapat memperkuat peranan KY diantaranya adalah. Misalnya. dan UU MK) mesti direvisi. dan hal ini posititif. KY terlihat begitu rajin membuat kegiatan dan perjanjian kerjasama (MoU) dengan berbagai pihak (akademisi/PT. NGO. terutama dalam mengawal revisi UU KY. Tercatat sudah lebih dari 100 perjanjian kerjasama yang ditandatangani. Dalam konteks ini dukungan juga bermunculan. Namun bisa jadi kemungkinan itu 3.perti mendapat energi baru untuk menggalang berbagai potensi kekuatan dalam masyarakat. Usul atau pandangan ini memang terkesan hendak memdelegitimasi posisi dan peranan KY. usul tentang sebaiknya pengawasan KY hanya untuk hakim dan tidak untuk mengawasi hakim agung. Vol I No. UU KY bersama sejumlah UU lain yang terkait (UU MA. 5. sanksi dari KY bersifat mengikat dan disampaikan langsung kepada Presiden. ormas. lembaga keagamaan. Issue Revisi UU KY Sebagai akibat dari putusan MK.

berhasil jika tidak ada pengawalan yang baik terhadap revisi UU KY, mengingat tidak semua anggota DPR pro terhadap reformasi peradilan. Sebagaimana pernah diakui sendiri oleh seorang anggota DPR yang menyatakan hampir 80% anggota DPR tidak pro-reformasi peradilan, lainnya menyatakan hanya 50%. (F. Arifin, makalah, 2006). 4. Issue Seleksi Hakim Agung Proses seleksi Hakim Agung diawali dengan surat dari MA yang memberitahukan tentang Hakim Agung yang akan pensiun pada tahun 2006. Dan selanjutnya sesuai kesepakatan dengan pimpinan MA, akan diusulkan sejumlah calon Hakim Agung untuk mengisi formasi 6 orang Hakim Agung. KY harus mengusulkan 3 kali lipatnya kepada DPR, sebagaimana ditentukan dalam UU KY. Kemudian DPR memilih dan memutuskan 6 dari 18 calon hakim agung, dan selanjutnya diserahkan kepada Presiden untuk ditetapkan. Kewenangan dalam menyeleksi Hakim Agung ini merupakan kali pertama dilakukan lewat KY, yang diharapkan dapat lebih baik dari proses seleksi yang sebelumnya dilakukan oleh DPR. Ini tentu saja taruhan besar bagi KY. Jika hasil seleksi hakim agung KY lebih baik, KY tentunya mendapat appreciate yang tinggi. Jika sebaliknya, bisa jadi performance dan kredibilitas KY akan diragukan publik. Berbeda dengan proses sebelumnya, seleksi hakim agung kali ini terdiri dari beberapa tahapan; seleksi administratif, penilaian karya ilmiah, dan kesehatan, seleksi kepribadian/profile assessment, dan seleksi kualitas/wawancara. Kecuali tahap seleksi wawancara, dalam setiap tahapan lainnya, KY melibatkan sejumlah pihak yang dianggap kompeten untuk menangani hal itu. Termasuk dalam hal ini usul dan laporan dari masyarakat tentang track record masing-masing calon. Dengan mengedepankan soal integritas dan kualitas, KY kemudian mengabaikan soal kuantitas dalam menentukan hasilnya. Dari 130 bakal calon yang mendaftar, pada akhirnya KY memutus 6 orang calon yang dinilai layak untuk disampaikan kepada DPR. Hasil ini mengundang kontroversi, karena KY meloloskan Ahmad Ali seorang calon yang dianggap berperilaku tidak terpuji dan diduga kuat terlibat dalam kasus korupsi. Apalagi keputusan meloloskan Ahmad Ali ini dilakukan dengan cara voting, 2 menolak dan 5 meloloskan. Akibatnya KY mendapat banyak kritik yang memperKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

59

tanyakan metode dan keputusan dalam seleksi hakim agung ini. Hasil itu juga tidak sepenuhnya diterima oleh DPR. DPR meminta KY untuk melengkapi kekurangannya bahwa KY harus mengusulkan 3 kali lipat dari yang dibutuhkan. DPR tidak akan memilih dan memutuskan hasil dari KY sebelum KY melengkapinya. Sikap DPR ini memaksa KY untuk melakukan seleksi hakim agung tahap kedua. Walaupun kemudian KY telah melengkapi jumlah kekurangannya, namun nampaknya DPR tidak cukup puas dengan calon hakim yang dihasilkan KY. Sejumlah anggota komisi hukum DPR yang melakukan fit and proper test calon hakim agung, beranggapan calon hakim agung yang dihasilkan KY tidak berkualitas. Kritik juga terlontar terhadap anggaran sebesar + Rp. 4 miliar yang digunakan dalam seluruh proses seleksi hakim agung. Issue anggaran ini menjadi bola panas, dan menuai kritik dari sejumlah pihak (DPR dan MA). Mereka mempertanyakan besarnya anggaran yang digunakan, dan mengganggap tidak sebanding dengan hasilnya. Meski telah dijelaskan secara terbuka, dan pada seleksi kedua terjadi perubahan metode/tahapan agar bisa mengurangi anggaran yang digunakan, tapi nampaknya tidak cukup berhasil untuk menepis issue anggaran yang dianggap terlalu boros. Bagi sejumlah kalangan, peranan KY dalam melakukan seleksi hakim agung ini memang diluar harapan. Ada sejumlah persoalan yang tidak bisa dijelaskan dan dijawab dengan baik, terutama menyangkut soal konsistensi antara tujuan dengan hasil seleksi. Dalam hal ini KY selalu menyatakan lebih mengedepankan integritas dan kualitas. Namun ternyata, ada beberapa calon Hakim Agung yang kemudian diragukan kapasitas dan integritasnya. Nampaknya peranan KY dalam seleksi Hakim Agung ini, ‘menggoyahkan’ simpati terhadap KY yang sudah terbangun. Mengelola Simpati, Meminimalisir Resistensi Keberadaan dan kehadiran KY dalam sistem hukum dan ketatanegaraan Indonesia, memang memberikan harapan akan perbaikan sistem peradilan. Dalam dua tahun KY menjalankan fungsi, tugas dan kewenangannya, menunjukkan bahwa KY memiliki peranan yang signifikan dan strate-

60

Bunga Rampai

gis untuk mendorong dan memperkuat reformasi peradilan. Dengan kata lain, KY akan menjadi “pengawal setia” reformasi peradilan, khususnya dalam mencari dan memperbaiki kualitas dan integritas para hakim. Meski terbatas, selama ini KY cukup berhasil untuk “meng-entertaint” fungsi dan kewenangannya. Setidaknya hal itu dapat terlihat dari pemberitaan yang muncul mengenai sepak terjang KY lengkap dengan konflik yang terjadi diseputarnya. Ini suatu hal yang positif bagi sebuah lembaga baru, sehingga publik banyak mengenal dan mengetahui tentang KY. Ditambah upaya dari KY sendiri yang memperluas jejaring kelembagaannya dengan banyak lembaga/organisasi. Sehingga KY tidak hanya menuai simpati, tetapi juga dukungan riil dari berbagai kalangan. Simpati dan dukungan itu setidaknya dapat terlihat dari NGO, akademisi, kampus, praktisi/pengamat hukum, tokoh masyarakat/agama, ormas, sebagian anggota DPR, lembaga Negara/pemerintah, organisasi profesi serta pers. Pada saat yang bersamaan upaya perlawanan atau resistensi terhadap KY juga bermunculan. Resistensi muncul terutama dari kalangan hakim dan unsur/pihak MA, yang merasa eksistensi dan “kemapanan”nya terusik dengan kehadiran KY. Sebagaimana tergambar di atas, upaya perlawanan itu dilakukan dalam berbagai bentuk, mulai dari membangun opini, penolakan rekomendasi sampai langkah dan upaya hukum untuk mendelegitimasi keberadaan KY. Dalam hal-hal tertentu, resistensi juga muncul dari sebagian anggota legislatif dan kalangan advokat, yang khawatir dengan peranan KY dapat mengganggu kepentingan mereka. Resistensi dari sejumlah pihak dengan berbagai bentuknya itu, nampaknya sudah menunjukkan watak sesungguhnya yang anti terhadap perubahan. Terhadap resistensi itu, nampaknya KY belum bisa sepenuhnya meng-counter dan menjadikan hal itu menjadi issue publik. Misalnya, penolakan terhadap rekomendasi KY dapat dijadikan issue pejabat Negara yang tidak patuh pada aturan hukum. Lambannya revisi UU KY dapat dikemas menjadi issue hambatan dalam pemberantasan mafia peradilan. Juga terhadap issue anggaran seleksi Hakim Agung, dapat dilawan dengan minimnya anggaran untuk bidang hukum atau peradilan. Karena selama ini terjadi diskriminasi angga-

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

61

ran untuk kekuasaan yudisial jika dibandingkan anggaran untuk legislatif dan eksekutif. Pada sejumlah issue-issue tersebut di atas, KY juga tidak memaksimalkan simpati dan jejaring yang telah didapat untuk memberikan dukungan yang diperlukan. Entah dikemanakan banyak pihak yang telah mengikat kerjasama dengan KY. KY belum cukup berhasil mengelola simpati dan jejaring untuk melegitimasi dan memperkuat peranan KY. Disamping itu, nampaknya kondisi internal KY belum cukup kuat dan solid untuk memanage potensi kekuatan dengan tantangan yang ada, dan menjadikannya sebuah peluang yang dapat diambil. Termasuk dalam hal ini dalam memanage potensi konflik, membangun opini publik dan memaksimalkan kapasitas sumber daya manusia yang ada. Sebagai lembaga komisi independen yang baru terbentuk, memang tidak mudah untuk menjalankan fungsi dan kewenangannya. Umumnya hal ini terjadi pada lembagalembaga komisi independen yang telah terbentuk. Apalagi dengan kewenangan yang terbatas, lemahnya komitmen dan political will, serta arus balik anti reformasi yang sudah mulai melakukan konsolidasi dan menguat. Kebanyakan tidak cukup berhasil untuk mengelola kewenangannya dengan baik, bahkan ada beberapa diantaranya mengalami krisis kelembagaan dan terancam bubar. Tetapi hal itu nampaknya tidak demikian bagi KY. Perlu diingat, bahwa KY memiliki legitimasi yang kuat sebagai satu-satunya lembaga komisi independen yang diatur tegas dalam konstitusi. Pengaturan dalam konstitusi membuat keberadaan KY lebih terjamin. Karena itu kecil kemungkinan KY dapat mengalami seperti halnya lembaga komisi independen lainnya. KY harus menghindari itu, dan menjadi lembaga yang “seolah-olah ada”, serta cenderung birokratis. Kedepan KY perlu mengelola simpati lebih baik lagi agar menjadi lebih produktif dan mendukung kerja-kerja KY. Sejalan dengan hal itu, perlu diminimalisir hal-hal yang dapat menuai resistensi dari berbagai kalangan terutama para hakim. Sekalipun terjadi, sedapat mungkin dieliminasi agar tidak mendelegitimasi posisi dan peranan KY Usaha tersebut mengharuskan peran serta dari sejumlah pihak yang punya kewajiban dan kewenangan memperbaiki dan men-support peranan KY. Tidak bisa dilakukan oleh KY

62

Bunga Rampai

sendiri. Oleh karena itu, agar performance KY lebih baik lagi, yang perlu dilakukan kedepan adalah sebagai berikut; 1. 2. mendorong dan menjadikan issue/masalah KY menjadi issue publik, sehingga simpati yang telah diraih dapat lebih konkrit dan diperluas. memaksimalkan peranan jejaring yang telah ada dengan men-desentralisasi kewenangan KY terutama kewenangan mengawasi hakim. Untuk hal ini setidaknya dapat dibentuk segera perwakilan KY di sejumlah daerah yang rawan mafia peradilan, serta terdapat jejaring yang cukup potensial dan mampu menjalankan desentralisasi kewenangan itu. menyiapkan perangkat-perangkat organisasi, terutama regulasi internal yang diperlukan untuk memperlancar pelaksanaan tugas dan kewenangan KY, terlebih penting dapat membuat KY lebih transparan, akuntable dan legitimate dimata publik. menyusun code of conduct yang dapat dijadikan sebagai pedoman dan indikator dalam hal pengawasan hakim. Untuk hal ini ada baiknya disusun secara bersama dengan MA. memperkuat fungsi dan peranan KY di dalam revisi UU KY, terutama menyangkut soal pengawasan hakim dapat dilakukan secara efektif. Dalam hal ini setidaknya KY dapat memberikan sanksi yang bersifat mengikat kepada Presiden tentang hakim yang terbukti melanggar perilaku. melakukan kampaye dan pendidikan kepada publik untuk terus-menerus secara konsisten memerangi dan melawan mafia peradilan. Termasuk dalam hal ini meminta kepada DPR dan Presiden agar sungguh-sungguh melakukan pemberantasan mafia peradilan sebagai bagian dari upaya memberantas korupsi.

3.

4.

5.

6.

Epilog Sungguhpun disadari dan dirasakan bahwa membangun sistem peradilan yang baik dan bersih dengan melawan judicial corruption yang telah berurat akar didalamnya, tidak semudah membalik telapan tangan. Tidak segampang yang telah dibayangkan dan direncanakan, akan tetapi upaya ini harus tetap terus dilakukan. Keberadaan dan kehadiran
Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

63

Komisi Yudisial memberikan harapan dan arti penting untuk tetap menjaga dan merawat upaya reformasi peradilan. Upaya yang barangkali tidak pernah diketahui kapan akan berhenti, demi tujuan mulia menegakkan kebenaran dan keadilan. Sejauh ini peranan Komisi Yudisial dapat menjadi spirit dan inspirasi dalam melanjutkan reformasi peradilan. Setidaknya melalui pengawasan para hakim dan menyiapkan hakim agar lebih berkualitas, professional, terpuji dan berpihak pada keadilan. Betapapun kemudian upaya yang dilakukan KY tidak mulus, karena adanya resistensi yang menghambat kerja-kerja KY sekalipun simpati dan dukungan juga bermunculan. Terlihat tidak mudah bagi KY untuk mendayung diantara simpati dan resistensi dalam mengawal reformasi peradilan. Namun yang jelas dan pasti para pencari keadilan masih tertindas dan merasakan ketidakadilan. Suatu kondisi yang tidak bisa dibiarkan berlarut-larut dan harus dihentikan. Mengingat KY memiliki peranan strategis dalam mengawal reformasi peradilan, maka sudah sepatutnya peranan KY perlu diperkuat kedepan. Langkah-langkah yang perlu dilakukan tidak hanya ditujukan kepada KY, tetapi juga DPR dan Presiden sebagai penerima langsung mandat rakyat yang sudah rindu akan penegakan hukum dan keadilan. Semoga tidak menjadi sebatas harapan.

64

Bunga Rampai

Sejak peradilan itu memiliki beberapa komponen.Kontribusi Lembaga Sosial Mendorong Reformasi Peradilan Oleh Satjipto Rahardjo Latar Belakang Reformasi Reformasi suatu peradilan tentu memiliki alasan mengapa peradilan harus direformasi. sehingga hampir tidak ada putusan publik yang tidak didemo. seperti produk. Sekalian institut dalam peradilan memiliki standar masing-masing yang digunakan untuk melakukan penilaian. Alasan empirik bergerak pada ranah praksis peradilan sehari-hari. Terdapat interaksi antara institut dan publik. melainkan berada dalam jagat yang lebih luas. Tuntutan transparansi tersebut membuka keKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 65 . desentralisasi kekuasaan. maka reformasi tentunya akan menyangkut pula sekalian komponen dari peradilan. Di sini peranan publik makin mendapat angin dan terus merangsek maju. kapanpun juga. Sejak suatu institut tidak ada untuk dirinya sendiri. Kecuali alasan empirik. reformasi juga terkait pada masalah sistem. Interaksi ada secara laten (latent). kinerja (performance). Alasan empirik yang didorong oleh keterbukaan tersebut. serta transparansi. kejaksaan dan advokat. oleh karena institut itu ada untuk melayani publik. Tetapi ia menjadi lebih intensif sejak kelahiran apa yang dinamakan Orde Reformasi dengan kredo demokratisasi. seperti pengadilan sendiri. menemukan banyak kekurangan dan hal-hal negatif di peradilan. serta tingkat kepuasan publik. Ini dinamakan standar internal. maka penilaian berdasar standar internal saja tidaklah cukup.

bukan ”de opstand der democratie”. sekarang bertambah besar dan kuat. Lembaga Sosial Sebagaimana diuraikan di atas. bahwa tampilan yang buruk dan negatif lebih menonjol daripada yang diidam-idamkan oleh perubahan tersebut. Lembaga Pemantau Peradilan dan Transparensi Internasional. akibat demokratisasi. maka reformasi dikaitkan kepada rancangan sistem atau bangunan peradilan yang berawal dari Undang-Undang Dasar 1945. untuk kemudian berubah menuju pemerintahan yang lebih bersifat kerakyatan. yang memberi alasan kuat untuk melakukan reformasi peradilan. Sejak jatuhnya pemerintahan Presiden Soeharto. Pada ranah dan aras sistem. Meminjam istilah Jose Ortega y Gasset (y Gasset. melainkan banyak juga para “preman”. masyarakat madani. yaitu suatu tipe pemerintahan yang berbasis kekuasaan hampir-mutlak.sempatan yang luas untuk melakukan eksaminasi terhadap praksis dan jalannya peradilan. Undang-Undang Dasar memiliki otoritas tertinggi untuk menentukan bagaimana sistem peradilan di negeri ini akan dibangun. seperti ICW. Otonomi kekuatankekuatan dalam masyarakat tampil menjadi semakin perkasa. Indonesia pelan-pelan bergerak menuju. peran masyarakat atau publik ke dalam urusan kenegaraan dan pemerintahan. Tidak semua berlangsung secara ideal. atau dalam istilah Indonesia. Dari suatu ”state-based society”. bahkan mungkin untuk sementara secara jujur harus dikatakan. 1957). Bukan demokrat-demokrat sejati yang muncul. melainkan ”opstand der horden” (bangkitnya massa. sehingga tidak ada borok yang bagaimana kecilpun yang tidak menerima sorotan dari masyarakat. apa yang dikenal sebagai. berbagai tembok atau bastion dari orde pemerintah lama telah diruntuhkan. Sejumlah besar kejadian telah berhasil dihimpun oleh institut-institut independen. “civil society”. para ”preman”). Bukan pemilihan oleh rakyat yang jujur yang terjadi. Momentum reformasi peradilan memberi kesempatan kepada kita untuk memikirkan kembali tentang rancangan peradilan menurut Undang-Undang Dasar dan apakah pesan serta amanat dalam Konstitusi itu sudah diselesaikan dengan baik. melainkan 66 Bunga Rampai .

oleh karena dapat merusak reputasi lembaga sosial yang memang bersungguh-sungguh ingin menjadikan rakyat sebagai raja. melainkan tercatat pula lembaga yang tidak demikan. Sebagai Direktur Jenderal Pemasyarakatan pada waktu itu. Memang rupa-rupanya tidak sekalian lembaga sosial itu baik dan jujur serta beramanah. melainkan lebih merupakan suatu otonomi yang didasarkan pada penalaran ”apa yang kelompok saya bisa dapat”. Bukan penalaran nurani rakyat. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas) generasi pertama (1993-2001) sering mendapat sebutan yang demikian itu. seperti dalam Kasus Marsinah. oleh karena pada akhirnya akan terjadi seleksi alami. dan penyerbuan terhadap Kantor Pusat PDI-P. seperti di jaman pemerintahan Soeharto. penembakan di Irian. Terkadang ada seloroh mengenai adanya lembaga sosial ”pelat merah”.pemilihan berdasarkan ”kekuatan uang”. Karena reputasinya itu maka di tengah-tengah kuatnya cengkeraman pemerintah. ia justru memanfaatkan jabatannya itu. sebagai Sekretaris Jenderal. namun secara cukup mengejutkan ternyata mampu menjaga independensi dan integritas serta mengambil jarak dari pemerintah. sehingga lembaga yang benar-benar berkualitas saja yang akan bertahan. melainkan penalaran oleh uang atau kapital. turun ke lapangan dan membuat simpulan serta pernyataan yang cukup berani. Tetapi keadaan seperti itu tak perlu terlalu dirisaukan. Selama keberadaannya. Komnas belum pernah sekalipun bertemu dan menerima ”pesan” dari Presiden Soeharto. Komnas sempat menjadi ikon dan tumpuan harapan masyarakat. sehingga Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 67 . Lembaga sosial boleh disebut sebagai presentasi persepsi masyarakat yang relatif jujur atau tidak terkooptasi oleh kepentingan penguasa. Baharudin Lopa. yaitu lembaga yang disponsori oleh pemerintah. berperan besar dalam memotori gerakan-gerakan Komnas. Hal itu memang memprihatinkan. Otonomi daerah tidak menyumbang kepada kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Peradilan sekarang tidak dapat lebih lama berlindung di bawah wibawa pemerintah. melainkan harus berani menghadapi berbagai eksaminasi yang dilakukan oleh masyarakat melalui lembaga sosial yang makin menjamur itu. Ia cukup cepat merespons setiap kejadian dugaan pelanggaran HAM.

Komunitas akademi yang ideal adalah independen. didasarkan pada kaidah keilmuan yang obyektif. tak dapat disetir dan dikooptasi oleh pemerintah. Komunitas Akademi Satu kekuatan sosial yang belum termanfaatkan dengan baik adalah dunia akademi. Itu meru- 68 Bunga Rampai . seperti Pusat Studi Anti Korupsi pada Universitas Gajah Mada. jujur dan membuat simpulannya sendiri yang secara relatif tidak dicemari oleh kepentingan tertentu. Sesekali mereka ”turun dari gunung”. menguji dan meneliti. tetapi ia tetap memiliki watak untuk disebut sebagai lembaga mandiri dan karena itu dapat digolongkan ke dalam lembaga sosial. Dengan mempertahankan posisi yang demikian itu memang komunitas akademi dapat mempertahankan kejujurannya dalam menelaah berbagai permasalahan dan kalau perlu membuat solusi tindakan. yang terdiri dari para scholar dan peneliti. Komunitas ini melakukan pengamatan (observe) terhadap sekalian hal yang terjadi di masyarakat. tetapi masih lebih berada dalam apa yang sering disebut sebagai sebuah ”menara gading”. dengan begitu ia tetap merupakan aset bangsa yang belum dapat memberikan kontribusi secara optimal terhadap penyelesaian permasalahan masyarakat. Penampilan yang lebih maju dilakukan melalui pembentukan pusat-pusat kajian. Kendati suatu universitas negeri dibiayai dari anggaran belanja negara. kekuatan tersebut belum benar-benar tampil sebagai suatu kekuatan sosial aset bangsa. Rupa-rupanya kalangan pemerintahan belum dapat membedakan secara baik antara Lopa sebagai Dirjen dan sebagai anggota Komnas yang mandiri. Selebihnya mereka sangat disibukkan oleh kegiatan mengajar. apabila diminta sebagai pembicara dalam seminar. Komunitas akademi memiliki sekalian persyaratan untuk dimasukkan juga ke dalam barisan lembaga sosial.Komnas sering dengan relatif mudah dapat memasuki ranah yang ”dikuasai” pemerintah. menjadi konsultan dan lain-lain. bangsa dan negara. Namun demikian. Di Indonesia. Universitas yang sarat dengan watak keilmuan. Peluang ini digunakan oleh Komnas untuk ”menggedor” jajaran pemerintah dan ABRI yang melakukan pelanggaran HAM.

.” Kelemahan dan kekurangan tersebut muncul dari proses penerimaan (recruitment) hakim yang terlalu melihat kepada kedekatan seseorang calon dengan eksekutif. 1996) kemudian diterbitkan sebagai buku pada tahun 2005 berjudul “The Indonesian Supreme Court. Penelitian tersebut selesai ditulis sebagai disertasi yang dipertahankan di Universitas Leiden. which has been largerly directed toward recruiting leaders who have either strong ties to the executive branch of the government or accomodating dispositions. “The leadership standards of many Supreme Court Chairmen have fallen far short of the ideal.. makin menurunnya pengetahuan dan kesepakatan mengenai hukum yang berlaku. maka banyak peluang bagi terjadinya hal-hal yang tidak baik (improprieties). characterized by weak leadership. organisasi pengadilan. Pompe menuliskan seluk beluk perjalanan sejarah Mahkamah Agung yang menyoroti aspek-aspek pengaruh dan intervensi politik terhadap Mahkamah. Metode yang digunakan sangat kuat berdasarkan fakta.” Komentarnya terhadap standar profesionalitas adalah. “This lack of transparency is an important factor in obscuring the personalities of the judges who are recruited and the views which they hold. A Study of Institutional Collapse” (Pompe. as a number of chairmen have failed to impose institutional values on the Court’s environment and have also failed to enhance internal cohesion and morale. Dikatakan oleh Pompe. fungsi pengadilan. baik dokumen maupun catatan-catatan wawancara (fact-based research). pada tahun 1996. sprang naturally from the nature of recruitment process. Dalam hal perekrutan hakim.. Penelitian Sebastiaan Pompe Sebastiaan Pompe telah melakukan penelitian yang sangat intensif terhadap dunia pengadilan di Indonesia. “This condition. serta kualitas para hakim. Disertasi tersebut (Fifty Years Indonesian Supreme Court. menurunnya perbandingan penge- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 69 . Dikatakan oleh Pompe. tidak terdapat keterbukaan dan peranan birokrasi sangat kuat (effectively controlled by the bureaucracy). Dengan data yang kaya. khususnya Mahkamah Agung Republik Indonesia.pakan kemubaziran yang disayangkan. negeri Belanda.” Banyak Ketua Mahkamah yang tidak menjalankan kepemimpinannya dengan ideal. Oleh karena ketiadaan keterbukaan. 2005).

ke dalam kata-kata yang padat. Sindrom ketertutupan itu menghinggapi setiap lembaga apapun. sedang yang lain menerima gagasan untuk merekrut orang-orang dari luar menjadi hakim. integrity to structural corruption. bukan karena tidak ada orang luar yang mampu duduk di kursi hakim. bahwa mereka akan mampu menyelesaikan persoalan-persoalannya sendiri.tahuan mengenai hukum (comparative legal knowledge) serta menurunnya kedisiplinan pribadi (personal strictness). Pada waktu TGPTPK. Dunia pengadilan percaya. Para hakim diumpamakan isi dari sebuah kantong yang bermacam-macam. Dalam sosiologi. ini dinamakan kesadaran atau perasaan ”in-group” yang membedakan dan mengambil jarak terhadap ”out-group”. capability to incompetence. dimana telah terjadi sejumlah kemerosotan. Ada semacam resistensi terhadap ”penyerbuan dari luar” yang akan mengguncang kenyamanan kelangsungan hidup lembaga dan para anggota di dalamnya. Pada bagian akhir dari analisisnya mengenai para hakim. yaitu ”courage turn to cowardice. and respect to contempt. Dalam dunia pengadilan ada dua kubu.I. yang satu menutup pintu bagi masuknya orang luar. menyelamatkan keadaan dan menuju masa depan yang lebih baik. bahwa lembaga itu mempunyai kecenderungan kuat untuk berusaha mempertahankan eksistensinya dan dengan demikian juga menyimpan keinginan kuat untuk dengan berbagai cara memberikan legitimasi terhadap eksistensinya itu. Sebagian hanya ingin mempertahankan keadaan sekarang. pada tahun 2000.” Melihat Pengadilan Dari Luar Optik sosiologi akan mengatakan. ingin membawa beberapa Ha- 70 Bunga Rampai . Barangkali pembubaran Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTK) merupakan contoh tentang usaha untuk mempertahankan Iembaga sendiri. tetapi sebagian lain terdiri dari orangorang yang serius ingin melakukan pembaruan. melainkan karena rekrutmen secara terbuka itu akan membawa persoalan politik masuk ke pengadilan (cut across the political spectrum). Mereka yang menolak pembukaan pintu bagi hakimhakim (opening up recruitment) yang direkrut dari luar pengadilan beralasan. menyimpulkan limapuluh tahun sejarah Mahkamah Agung R. Pompe.

melalui data yang ditemukan di lapangan. mengadakan satu seminar yang menyoroti pungutan liar poIisi di jalan-jalan. karena umumnya lembaga-lembaga publik lebih suka melegitimasi diri sendiri. pada waktu Kepolisian Daerah Jawa Barat. Pengadilan diberi kekuasaan untuk memutus suatu perkara. masih dipegang oleh pejabat tinggi dalam pemerintahan. Pertanyaan mendasar selanjutnya adalah. pada tahun 80-an (?). Di Indonesia. menginterogasi dan akhirnya menyerahkannya kepada jaksa untuk diajukan ke pengadilan. Ini memang satu kekecualian. misalnya. yang bersemangat tinggi untuk memberantas korupsi. Tidak ada lembaga yang diberi kekuasaan seperti itu. maka. dengan dakwaan korupsi. Hakim yang memiliki kecenderungan legalistik akan memutus berdasarkan kacamaKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 71 . justru dibubarkan. Kendati demikian. melihat komposisi keanggotaannya. TGPTPK. Polri bagaikan membuka boroknya sendiri. Kediktatoran Pengadilan Putusan hakim menjadi krusial.kim Agung ke pengadilan. Sekretaris). karena ditentukan oleh pikiran atau mindset sang hakim. Kalau demikian lalu ”siapa mengawasi pengadilan?” dan ”siapa mengawasi polisi?”. apakah hakim dan polisi tidak dapat melakukan kesalahan? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut cenderung memastikan. karena adanya berbagai sindrom tersebut di atas. sedang polisi untuk menangkap. Tidak mudah untuk melakukan penilaian yang jujur terhadap lembaga sendiri. komisi-komisi tersebut beIum mandiri benar. Wakil Ketua. untuk sebagian dapat dijelaskan dari hal-hal yang diuraikan di atas. Oleh sebab itu diperlukan suatu ”kekuatan-dari-luar” untuk dapat memberikan penilaian yang lebih jujur. menahan. berupa kekuasaan eksklusif tertentu. seperti pengadilan dan kepolisian. Pimpinan Komisi Kepolisian Nasional (Ketua. maka melalui sebuah judicial review. jawaban itu diberikan dengan membentuk Komisi Yudisial dan Komisi Kepolisian Nasional. Alasan bagi kehadiran tim-tim yang disebut ”independen” di negeri kita dewasa ini. merupakan suatu peristiwa yang cukup luar biasa. Dalam konteks itu. Ini merupakan cacat yang tidak kecil. Dalam seminar tersebut. Banyak kekuasaan diberikan kepada lembaga-Iembaga.

Konflik yang demikian itu dapat juga dilihat dari perspektif sosiologis. Sebutan pengadilan tersebut diberikan kepada pengadilan Negara-negara Sekutu yang memenangkan Perang Dunia II terhadap para pemimpin Nazi Jerman. di Florida 40% dan di Texas hampir 90% lebih tinggi. Situasi yang demikian itu terjadi. manakala pikiran hukum hakim berbeda dengan terdakwa. maka risiko untuk dijatuhi hukuman mati melonjak tinggi. atau sosiologi pengadilan. Penamaan pengadilan dan peradilan yang demikian itu dapat digunakan untuk menggambarkan. Bukan jaksa atau polisi. Andaikata kami yang menang. hakim memiliki kekuasaan besar untuk memonopoli pembuatan putusan. Itulah esensi ”Victor’s Justice”. Apabila seseorang dengan status sosial rendah menyerang orang dengan status sosial tinggi. maka perkaranya akan ditangani dengan keras dan demikian sebaliknya. pengadilan yang demikian itu dapat juga ditarik ke arah yang lebih tinggi dan menjadi suatu masalah yang bersifat akademis. ‘’police justice”. Penelitian Donald Black di Amerika Serikat menemukan. sehingga (putusan) hukum itu berbanding lurus dengan status sosial (law varies directly with social status) (Black. “street justice” dan lain-lain. di Nuremberg. betapa medan pengadilan menjadi ajang pertemuan antara dua alam pikiran. dimana alam pikiran yang satu mengadili alam pikiran yang lain. 1989). bahwa pengadilan itu melakukan diskriminasi sosial. risiko itu adalah 15% lebih tinggi daripada baku bunuh antara sesama kulit hitam. ”Anda mengadili kami. Dengan demikian. Sekalian penyebutan itu menggambarkan semacam protes terhadap kekuasaan hakim untuk menentukan siapa salah dan benar. Di Georgia. 72 Bunga Rampai . maka saat seorang kulit hitam diadili karena membunuh kulit putih di Amerika Serikat. “substantial justice”. Potret yang demikian itu memancing pendapat. Di Ohio. orang kedua sesudah Hitler itu mengatakan. Oleh sebab itu muncul sebutan-sebutan ’’formal justice”. maka andalah yang akan diadili”. di atas 30% lebih tinggi. karena kalah perang. Pada waktu Herman Goring melakukan pembelaan. Maka terjadilah suatu pengadilan. Saya kira. Menarik untuk membicarakan kediktatoran pengadilan dalam kaitan dengan “Victor’s Justice”. Apapun kacamata yang dipakainya. yang kalah perang.ta yang digunakannya itu.

karena. maaf saja. tidak dapat dibawa ke pengadilan. sang hakim berpegangan kepada peraturan. Ya. Polisi: Surat penggeledahan? Pada waktu itu saya dihadapkan kepada seorang anak perempuan yang tengah sekarat. sehingga bukti yang diperoleh dari situ. Jaksa: Gadis itu sudah mati. Diceritakan adegan menarik dari sebuah film yang didasari oleh semangat menggugat kediktatoran hakim tersebut. doktrin dan tidak berselera untuk melihat kenyataan. Kekuasaan itu dapat mematahkan usahausaha untuk mencari kebenaran. misalnya. harus dikesampingkan. karena memiliki kekuasaan besar untuk menentukan siapa salah dan siapa benar. 1997). dan mungkin ke-6 dan ke14 telah dilanggar. penggeledahan terhadap rumah tersangka adalah tidak sah.5. Ilustrasi dari film tersebut menggambarkan betapa pengadilan itu tidak hanya menjadi medan pergulatan hukum. pada saat kita berpikir untuk melakukan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 73 . Namun bagaimanapun. Hakim: Pengadilan mengakui kepedulian polisi terhadap nyawa gadis itu. juga pergulatan ideologi. Anda seharusnya berusaha lebih dulu untuk mendapat hak untuk menggeledah (search warrant). melainkan juga pergulatan kemanusiaan dan dengan demikian. Polisi: Tapi saya tidak tahu hal itu.bahwa yang terjadi di Amerika Serikat adalah ”white’s justice”. menurut laporan ahli. segalanya sebetulnya sederhana saja. hanya hakimlah yang boleh memutus dan yang lain harus diam. Hakim: Pada hemat saya. Semua bukti mengenai gadis itu. Pengadilan dan hakim sering dianggap diktator. melalui dialog antara polisi dan hakim (Quirk & Bridwell. tetapi tidak ada alasan untuk membenarkan kekerasan hukum yang telah dilakukan oleh polisi. semua bukti fisik. Hak tersangka yang dijamin oleh Amandemen ke-4 dan ke. Ilmu Hukum yang Terintegrasi llmu hukum niscaya merupakan sumber penting yang perlu ditengok. pengakuan terdakwa.

kecuali menjadi corong dari undang-undang (”Les juges de la nation ne sont que les bouches. Ia tidak boleh keluar dari medan perundang-undangan. Abad ke-19 menampilkan dinamika luar biasa dalam perkembangan hukum positif. llmu hukum merupakan pundi-pundi yang menghimpun sekalian pemikiran dan perkembangan baru dalam pemikiran hukum. Persoalan besar pertama yang dihadapi adalah ”apa sesudah kodifikasi?”. maka 74 Bunga Rampai . Langkah dan tindakan konkret dalam hukum memerlukan pencerahan yang datang dari ”the state of the art” dalam ilmu hukum. Berbicara hukum adalah berbicara mengenai suatu kepastian. Industri.reformasi peradilan. Hal tersebut dilakukan dengan pengorganisasian dan sistematisasi bahan hukum yang tersedia. Bidang-bidang hukum baru muncul sebagai bagian dari perkembangan masyarakat yang berkembang cepat pada masa itu. perdagangan. Dalam atmosfer seperti itu. llmu hukum abad ke-21 niscaya jauh berbeda daripada abad ke-19. ilmu hukum tidak boleh keluar dari batas perundangundangan (alles binnen de kader van de wet). transportasi berkembang dengan cepat yang membutuhkan dukungan hukum. melainkan berkembang dan bergerak dinamis. Ilmu hukum menjadi terfokus ke dalam. dengan catatan penting. Ilmu hukum menjadi identik dengan ”analytical jurisprudence” atau ”rechtsdogmatiek”. des etres inanimes. qui prononcent les paroles de la loi. Ilmu hukum tidak berhenti. demikian Montesquieu). Hakim sama sekali tidak memiliki kekuasaan apapun untuk mengubah dan menafsirkan undang-undang. Kepastian hukum pun muncul sebagai suatu barang yang nyata dan menjadi ikon. Puncaknya adalah pada saat sekalian massa perundang-undangan tersebut dihimpun dalam kitab-kitab hukum. Maka abad ke-19 pun dikenal sebagai Era Kodifikasi. Perkembangan dalam hukum positif akhirnya memacu pengusaan ilmu hukum. Siasat tersebut dilakukan dengan mengintensifkan pemahaman terhadap jagat hukum yang telah menjadi demikian luas. Pengadilan atau hakimpun tidak boleh berbuat lain. Ilmu hukum merespons perkembangan tersebut dengan melakukan konsolidasi untuk mengamankan prestasi yang telah dicapai. qui peuvent moderer ni la force ni la rigeur”. Ilmu hukum memusatkan perhatiannya terhadap hukum positif.

Paul Scholten mengatakan tentang cara berhukum seperti itu. Suasana kepastian dan kekakuan abad ke-19 tidak dapat dipertahankan 1ebih lama 1agi. Seorang insinyur geologi telah menganalisis kerusuhan sosial dengan menggunakan disiplin ke-insinyuran-nya. ”Van de rustige verzekerdheid van velen in de 19 de eeuw. Ilmu hukum juga sibuk untuk membangun struktur dan dari situ disusun bangunan hukum yang didasarkan pada pemisahan sub-disiplin secara ketat (hukum-hukum perdata. bukan sebaliknya (Rahardjo. Belanda. Buku yang berisi kumpulan karangan tersebut menggugat kemapanan pembagian ke dalam berbagai sub disiplin hukum dan menyebutnya sebagai ketinggalan zaman. Dikatakan oleh Scholten. administrasi negara dan lain-lain). bahwa penemuan hukum adalah penerapan hukum. mengakhiri ilmu hukum abad ke-19. tata negara. insinyur dan sarjana dari ilmu-ilmu sosial. dat rechtsvinding is wetstoepassing. Perubahan penting juga terjadi di bidang peradilan yang semula dianggap sekedar sebagai mesin otomat yang menerapkan undang-undang. tidak banyak lagi sisanya). 1995). Sejumlah dokter. 1993). Perubahan penting terjadi.” (Kepastian. dalam memperingati 30 tahun usianya (1993). Memasuki abad ke-20. bahwa pengkotakan hukum se- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 75 . Perkembangan terakhir dalam ilmu hukum menunjukkan kecenderungan ke arah struktur yang tidak lagi terkotak-kotak secara ketat. Hukum harus mengikuti masyarakat dan perkembangannya. Fakultas hukum Erasmus. seperti diterima banyak orang di abad ke-19. Foque et al. Rotterdam. misalnya menggugat.cara berhukum pun sudah seperti mesin dan tidak berbeda daripada mengerjakan soal matematika. Salah satu artikel. pidana. 2004). Program doktor tersebut menuangkannya ke dalam paradigma ”Hukum untuk Manusia”. sejak mulai rekrutmen para calon doktor (Program doktor. is niet zo heel veel overgebleven. 1954). sebagai ”het hanteren van logische jiguren” (Scholten. ilmu hukum pun mengalami perkembangan dan perubahan penting. Program doktor ilmu hukum Universitas Diponegoro telah mencoba untuk mencairkan batas-batas yang demikian itu. telah menyelesaikan disertasinya pada program tersebut. telah menerbitkan sebuah buku berjudul ”Geintegreerde rchtswetenschap” (”Ilmu hukum yang terintegrasi”.

yaitu liberal-individual di satu pihak dan kolektif-kontekstual di pihak yang lain (Rahardjo. maka perombakan bukan sesuatu yang ditabukan. Pengkotak-kotakan ke dalam hukum perdata dan hukum pidana. mau tidak mau. tidak ada tempat bagi pemisahan klasik ke dalam hukum publik dan privat abad ke-19. bukan suatu kebenaran absolut yang harus diterima dan dijalankan begitu saja. Kehidupan masyarakat tidak berjalan karena mematuhi hukum yang datang dari perintah penguasa. Perkembangan dalam ilmu pengetahuan dan ilmu hukum pada khususnya yang demikian itu. Cara berhukum dalam peradilan yang lama bukan sesuatu yang tak dapat dirombak. Indonesia harus membuat pilihan. memberi ilham kepada kita pada waktu berpikir untuk melakukan reformasi peradilan. Suatu kehidupan bersama yang benarbenar bertahan lama (duurzame samenleving) hanyalah ada manakala didasarkan pada kesadaran para anggota masyarakat terhadap asas-asas dasar dalam kehidupan bersama itu. tidak mampu memberikan pelayanan yang baik terhadap masyarakat yang demkian kompleks itu. Indonesia Memilih Sejak pengadilan dan peradilan itu tidak kedap ideologi. Sejak konstitusi kehidupan kita didasarkan pada visi dan kosmologi yang berbeda dengan yang menjadi dasar bagi penataan peradilan selama ini. maka di tengah-tengah lalu lintas ideologi hukum di dunia ini. Kehidupan sosial dan hubungan-hubungan dalam masyarakat dewasa ini sudah demikian rumit atau kompleksnya.cara klasik ke dalam hukum publik dan hukum privat telah kehilangan legitimasinya. Secara garis besar. Dalam ”implicit philosophy” seperti itu. 2006). maupun terhadap masyarakat sebagai keseluruhan. pikiran-pikiran tentang ilmu hukum yang terintegrasi itu menolak “rule-book-model of society”. tidak dapat lagi dilayani oleh pembidangan hukum secara klasik demikian itu. sehingga untuk menghadapinya. Dengan mengutip ”implicit philosophy” Ronald Dworkin. baik terhadap orang lain. dunia kita dibelah oleh dua ideologi. Pembelahan tersebut didasarkan pada kosmologi yang berbeda dan yang pada 76 Bunga Rampai .

“medievalization of modern institutions of the West”. mengalami banyak kesulitan. pada dasarnya berwatak liberalindividual. Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 juga Reformasi Peradilan: Harapan dan Kenyataan 77 . Dengan demikian. “Any institution that leaves its indigenous habitat and gets transplanted to an alien culture invariably undergoes a fundamental change in the process of transplantation. dengan tetap mempertahankan keJepang-annya. asas dan doktrin. disebut oleh PyongChoon sebagai. 1978). Hahm Pyong-Choon. digunakanlah kontrak yang sudah dibuat (Parker. di Tokyo. Daniel S. pada waktu menggunakan hukum modern tersebut. yaitu yang mengedepankan musyawarah (“the contract could be abrogated by simply renegotiating with the other party when circumstances dictated”). yaitu pada dasamya menolak liberalisme-individual dan menerima cara kolektif-kontekstual. yang melakukan penelitian tentang cara berhukum bangsa Indonesia di pengadilan. menemukan. juga dirancang untuk menjaga dan mempertahankan ideologi tersebut. tetapi pada penerapannya.akhirnya memunculkan cara berhukum yang beda puIa. memastikan pilihan tersebut (Lev. Hal yang demikian itu menyebabkan bahwa bangsa-bangsa dengan kosmologi dan cara berhukum yang beda. Penggunaan hukum modern di Korea. maka sekalian struktur. Jepang adalah salah satu bangsa di Asia Timur yang sangat siap untuk menerima penggunaan hukum modern (dan lain-lain) dari Barat. 1972). Indonesia telah memilih dan pilihan itu tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa di kawasan Asia Timur. Hukum modern yang melalui berbagai jalan. Cara pembengkokan oleh Jepang ini disebut “the Japanese twist” (Ozak. 1971). merupakan contoh yang baik tentang bagaimana kesulitan yang harus dihadapi tersebut. Lev. Baru kalau cara ini gagal. 1984). Sebuah survai mengenai penggunaan hukum kontrak modern di Jepang pada tahun 1970. An institution that originally served one purpose may find itself twisted around to serve a host of totally different purposes in the adopting culture. bangsa itu lebih mendahulukan penyelesaian secara Jepang. Bangsa-bangsa di kawasan Asia Timur. menyebar ke seluruh penjuru dunia. bahwa kendatipun Jepang menerima hukum kontrak modern.” (Pyong-Choon. misalnya mengatakan sebagai berikut.

Reformasi peradilan sebaiknya dilakukan dengan cukup mendasar. watak liberal-individual dari peradilan kita masih kuat. bahwa ”dibuat Undang-Undang Dasar yang bersifat kekeluargaan”. atau yang lain. menunjukkan. yang berbasis nilai dan kosmologi Timur. Selama ini kita hampir tidak merisaukan amanat yang dipesankan oleh Undang-Undang Dasar kepada kita. Kesenjangan tersebut menimbulkan berbagai komplikasi sewaktu hukum modern itu diterapkan. Sampai hari ini. Selama ini kita terlalu berpaling ke Barat. Kalau kita melihat kepada pembelajaran hukum kita. karena memang itulah amanat Undang-Undang Dasar 1945. Di waktu-waktu mendatang. sebaiknya orientasi kita lebih seimbang. penataan yang demikian itu perlu dirombak secara mendasar. Diponegoro memang sedikit banyak telah meyakinkan.dikatakan. bahwa suatu perubahan mendasar hendaknya dilakukan. Harvard. Fakultas-fakultas hukum kita belum dapat diandalkan untuk menjadi ”avant-garde”. Beberapa penelitian dan disertasi yang ditulis pada Program Doktor Ilmu Hukum Univ. maka pengadilan dan peradilan kita memang membutuhkan reformasi. ”peradilan restoratif’. tetapi hampir tidak pernah ke Jepang. Maka dihadapkan kepada amanat UndangUndang Dasar. bahwa memang dirasakan keperluan untuk membangun satu model peradilan lain yang lebih berakar pada kosmologi Indonesia. Kata-kata yang dilontarkan. khususnya bagian Pembukaan. seperti ”peradilan rekonsiliatif’. Dengan demikan kita kurang mendapat ilham untuk melakukan reformasi hukum. khususnya peradilan. Reformasi Peradilan Berdasarkan uraian di atas. maka fakultas-fakultas hukum kita masih belum memiliki kesadaran untuk berubah menuju cara berhukum di pengadilan berdasarkan pembacaan terhadap Undang-Undang Dasar kita. Sebagaimana diuraikan di muka penataan peradilan kita sekarang masih didasarkan pada ideologi liberal-individual. pandangan ke Timur lebih diutamakan. baik Leiden. bahkan di waktu seperti sekarang ini. Pera- 78 Bunga Rampai . yaitu agar berakar pada kosmologi dan habitat Indonesia.

. Dikatakan oleh Tanya. tetap bekerja. Perkembangan ilmu hukum yang baru. setidaknya kita tidak menghambat penyelenggaraan peradilan yang berbasis kearifan lokal Indonesia itu. Padahal pemerintah kolonial Belanda sejak semula sudah melihat risiko penggunaan peradilan modern itu bagi banyak komunitas lokal di Indonesia.” Lebih lanjut Tanya menulis. religi. Setiap kali masyarakat setempat menjalankan praksis yang beda. Dalam proses belajar ini mereka menghadapi masalah yang kompleks . Praksis yang beda tersebut mencerminkan ”perlawanan” dari suatu pikiran yang lebih mengakar pada habitat sosial asli. pranata asli Sabu yang bersifat religius. selama enampuluh tahun lebih. karena tidak lain harus didasarkan pada asas kekeluargaan. Sejak tahun 1945. sebagaimana ditulis oleh Bernard L. Tanya sudah ada pranata uku. ” Apabila kita belum mampu menata peradilan kita berdasarkan amanat Undang-Undang Dasar secara benar-benar terstruktur. kita memiliki alasan lebih kuat untuk membangun suatu tatanan peradilan yang baru. ”Uku merangkum semua lapangan kehidupan. sebagaimana diuraikan di muka.” Pranata yang demikan itu kemudian harus berhadapan dengan hukum nasional. karena masyarakat harus ’belajar’ lagi mengenal dan memahaminya. yang memiliki struktur dan watak sosial beda. maka kita belum dapat menghargai apa yang dilakukan oleh masyarakat tersebut. yang notabene adalah hukum modern. Di Sabu. dalam arti sesuatu yang didatangkan dari luar. peristiwa hubungan-hubungan keluarga. penggunaan hukum modern itu merupakan suatu beban bagi komunitas lokal (Tanya.. kehidupan. Padahal. seperti ditulis oleh Bernard L.. membuat kehadiran hukum negara sebagai sebuah inovasi terasa kian bermasalah.dilan di Indonesia. sampai kepada kematian. seolah-olah segala sesuatunya memang harus berjalan seperti itu. 2006). lebih menuju kepada integrasi dan dengan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 79 . ”Realitas obyektif komunitas masyarakat lokal di Sabu yang masih terbilang sederhana. sewaktu dihadapkan pada penggunaan hukum modern. Tanya. ”Sebagai sesuatu yang ’baru’. yang beda sekali dari pikiran sosial atau ideologi yang mendasari peradilan modern. daya tarik dan manfaat yang ditawarkan lembaga/hukum negara tidak segera diterima.

seperti dalam arsitektur peradilan sekarang. Sekalian pekerjaan tersebut tidak dapat hanya dibebankan kepada pengemban kekuasaan formal saja. Sudah diuraikan. yang antara lain diwakili oleh 1embaga-lembaga sosial. Ideologi kekeluargaan menjadi penentu arah kemana tujuan reformasi peradilan negeri ini. polisi. penggolongan dan nomenklatur lama juga digugat. penyiapan doktrin dan asas. Dengan demikian. bahwa sistem peradilan kita dan umumnya negara-negara di dunia. melainkan menjadi hajat seluruh bangsa. advokat. komponen-komponen sistem peradilan. sampai ke pengaturan baru dalam beracara. Undang-Undang Dasar 1945 tidak mengikuti ideologi tersebut. tidak menggambarkan arsitektur kekeluargaan yang dikehendaki. Disinilah masyarakat ikut serta. dalam sistem peradilan memerlukan penataan kembali. Lebih daripada itu pembagian. Dengan demikian. Pembagian ke dalam hukum publik dan privat yang selama beratus-ratus tahun diterima sebagai sesuatu yang absolut dan sakral. mewarisi suatu sistem yang hakekatnya bersifat liberal-individual. melainkan menghendaki sistem peradilan didasarkan pada asas kekeluargaan. 80 Bunga Rampai . Posisi komponen-komponen peradilan yang berhadaphadapan. juga dikehendaki untuk diubah. Pembangunan suatu sistem peradilan baru tersebut merupakan pekerjaan raksasa. jaksa. posisi hakim. maka pikiran kita untuk mereformasi peradilan di Indonesia memiliki legitimasi yang tinggi.demikian mengurangi pengkotak-kotakan dalam displin dan sub-disiplin. Ia dimulai dari perubahan paradigma. Perlindungan dan penyelamatan individu serta kemerdekaan indvidu menjadi ideologi.

Surabaya. Semarang. Donald. Program Doktor Ilmu Hukum Univ. Muhammadiyah University Press. Sociological Justice.. Tuttle. 1989. Oxford University Press. W. N. 2005. R..J. 1978. Charles E. The Japanese. Parker. Gouda Quint. Asser’s Handleiding tot de beoefening van het Nederlandsch burgerlijk recht. Satjipto. Ilmu Hukum .Y. Lev. A Study of Institutional Collapse. R. Surakarta.W. 1972. Arnhem. Tanya. Tokyo.. & Bridwell. Sebatiaan. ----------------------. Vermont. 297-328. 1995. 2006. Hukum dalam Ruang Sosial. 1984. Cornell University Press. A. New Brunswick.Norton. Cornell University. Ithaca. Transaction Publishers. 246-316.Daftar Pustaka Black. N.. Komisi Yudisial RI. The Indonesian Supreme Court. Seoul Hollym Corporation. “Komisi Yudisial untuk Hakim dan Pengadilan Progresif”.Pencarian. Bernard L. The Japanese Police System Today. Merintis Visi Program Doktor Hukum. Zwolle. hlm. 1997. Ozaki. 2006. 1954. Rene. Kodansha International.).. 1971. The Korean Political Tradition and Law. Penerbit Srikandi.. 1994. “Algemeen deer” dari Mr. Jakarta. Rutland. Ladan. Daniel S. N. Scholten. Craig. Tjeenk Willink. Robert S. An American Perspective. Geintegreerde rechtswetenschap. Judicial Dictatorship. William J. Y Gasset.Y. A Cultural Portrait.. Diponegoro. Pompe. 1957. 2004. The Revolt of the Masses. Foque. Rood Pijpers. dalam Culture and Politics in Indonesia (Claire Holt ed. pp. Program Doktor Ilmu Hukum. Pembebasan dan Pencerahan.Y. Pyong-Choon. Rahardjo.C. Paul. - - Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 81 . W. dalam Bunga Rampai Refleksi Satu Tahun Komisi Yudisial Republik Indonesia. L. “Judicial Institutions and Legal Culture in Indonesia”.Randall. Jr. Hahm.E. Zijderveld (red.. E.). Quirk. Ithaca. Jose Ortega.

82 Bunga Rampai .

Pada perubahan ketiga Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa Calon Hakim Agung diusulkan oleh Komisi Yudisial kepada DPR untuk mendapat persetujuan guna ditetapkan sebagai Hakim Agung oleh Presiden. Hatta Ali.H. Tugas hakim/badan peradilan sebagai penyelenggara kekuasaan Kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan Badan Peradilan yang berada dibawahnya dan sebuah Mahkamah Konstitusi. Pendahuluan Dalam suatu negara hukum maka setiap sengketa hukum atau perkara diadili dan diputus oleh suatu Badan Kekuasaan Kehakiman. 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-undang No. 4 Tahun 2004 ditentukan bahwa kekuasaan Kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila demi terselenggaranya Negara Hukum RI. Dalam pasal 1 UU No. S. Institusi yang bersifat mandiri. 14 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 83 .H. Putusannya bersifat mengikat apabila telah berkekuatan hukum tetap. merdeka serta netral yang diberi otoritas dan kewibawaan untuk secara bebas mempertimbangkan segala sesuatunya secara adil dan obyektif serta tidak memihak..Peran Hakim Agung Dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding) dan Penciptaan Hukum (Rechtsschepping) Pada Era Reformasi dan Transformasi M. M. Sesuai Undang-undang No. Oleh karena itu Komisi Yudisial berwenang untuk mengusulkan pengangkatan Hakim Agung (Pasal 24B ayat (1)). Dengan demikian Badan ini turut mempersiapkan Calon Hakim Agung yang berkualitas.

yaitu untuk mengisi kekosongan hukum. Di lain pihak hakim/badan peradilan tidak boleh menolak untuk memeriksa. Fungsi pengaturan. Dalam fungsi mengadili. Fungsi membina dan mengawasi. Pokok Masalah Dasar hukum peran hakim dapat dilihat pada pasal 28 84 Bunga Rampai . yaitu memberikan nasehat hukum kepada Presiden dalam hal permohonan grasi dan rehabilitasi serta memberi pertimbangan hukum ke lembaga tinggi negara lain. yaitu memeriksa dan memutus perkara permohonan kasasi dan peninjauan kembali. yaitu untuk menilai apakah suatu peraturan perundang-undangan bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Dalam menjalankan fungsi tersebut. hakim sering dihadapkan kepada suatu ketentuan yang belum diatur. Maksudnya adalah jika tidak ditemukan hukum tertulis. disebabkan karena terhambatnya upaya mewujudkan sistem hukum nasional yang mantap. yaitu membina dan mengawasi peradilan dan hakim dibawahnya. hakim sering dihadapkan pada suatu ketentuan yang belum diatur. mengadili dan memutuskan suatu perkara yang diajukan kepadanya dengan dalih bahwa hukumnya tidak ada atau kurang jelas. hakim wajib menggali hukum tidak tertulis untuk memutus berdasar hukum. yaitu mengelola administrasi. Mahkamah Agung memiliki beberapa fungsi. Banyak peraturan perundang-undangan warisan kolonial maupun yang baru tidak sesuai dengan perkembangan masyarakat yang penuh dengan dinamika perubahan dan semakin kompleks. keuangan dan organisasinya sendiri. yang menyebabkan terhambatnya upaya mewujudkan penegakan hukum. 3) 4) 5) 6) Fungsi administrasi. Fungsi menguji peraturan perundang-undangan. yaitu: 1) 2) Fungsi mengadili.Tahun 1985 Tentang Mahkamah Agung. Fungsi memberi nasehat dan pertimbangan hukum. Produk peraturan perundang-undangan selalu tertinggal dengan dinamika perubahan yang terjadi.

mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat”. tugas penting dari hakim adalah menyesuaikan undangundang dengan perkembangan yang hidup di dalam masyarakat. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman menyatakan “Hakim wajib menggali. Henry. Mahkamah Agung tidak boleh berhenti melakukan inovasi terhadap berbagai ketertinggalan peraturan perundang-undangan yang tidak sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat.ayat (l) Undang-undang No. hakim wajib menafsirkan sehingga dibuat suatu putusan yang adil dan sesuai dengan maksud hukum yaitu adanya kepastian hukum. Pertama adalah hukum harus berperan sebagai panglima. Supremasi Hukum di dalam negara hukum mempunyai 3 (tiga) ciri (menurut Muchsan . Maksudnya adalah supremasi hukum merupakan pilar negara hukum. Yang kedua hukum harus berperan sebagai titik tolak kegiatan (center of action). sehingga penegakan hukum (law enforcement) dapat diwujudkan tanpa memandang suku/agama/ ras/golongan. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana cara Hakim Agung menggali dan menemukan sesuatu yang dapat menjadi hukum? Institusi Mahkamah Agung yang merupakan instrumen dalam upaya menegakkan hukum dan kebenaran agar tidak terpaku pada peraturan perundang-un- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 85 . Seluruh komponen masyarakat sampai kepada penguasa tunduk sepenuhnya kepada hukum. “Menggali” berarti hakim harus terjun ketengah-tengah masyarakat untuk mengenal. Jika tidak dapat dijalankan menurut arti katanya. Lalu yang terakhir bahwa perlakuan kepada semua orang adalah sama dimuka hukum (equality before the law). Dengan kata lain. Yang berarti bahwa perbuatan hukum oleh penguasa atau individu harus dapat dikembalikan kepada hukum yang berlaku. Namun agar hakim agung dalam melaksanakan perannya sebagai benteng terakhir penegakan hukum harus didukung pula adanya kemauan politik negara untuk menegakkan supremasi hukum yang berarti bahwa hukum bertindak sebagai panglima. Sebagai institusi.dikutip dari Panggabean. merasakan dan mampu menyelami perasaan hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. P 2002:12).

Oleh karena hakim (secara general) merupakan perumus dan penggali dari nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat. Juga sebagai pengadilan tingkat terakhir diharapkan mampu melahirkan putusan-putusan (yurisprudensi) yang inovatif yang sesuai dengan rasa keadilan masyarakat. Hakim selalu dihadapkan pada peristiwa konkrit. Oleh karena hukumnya tidak lengkap dan tidak jelas. melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadili” merupakan antisipasi bahwa tidak ada peraturan perundang-undangan yang dapat mencakup keseluruhan kehidupan manusia. Sistem hukum Indonesia tidak menentukan jenis klasifikasi yurisprudensi tertentu untuk dijadikan sumber hukum. Hasil penemuan hukum oleh hakim merupakan hukum karena mempunyai kekuatan mengikat sebagai hukum karena dituangkan dalam bentuk putusan. hakim harus bertindak berdasar inisiatifnya untuk menyelesaikan perkara. Konflik atau kasus yang harus diselesaikan atau dipecahkan dan untuk itu perlu dicarikan landasan hukumnya. Sehingga dapat memberi putusan yang sesuai dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat. Jadi dalam penemuan hukum yang penting adalah bagaimana mencari atau menemukan hukumnya untuk peristiwa konkrit.dangan yang telah usang. Hakim Agung sebagai penegak hukum dan keadilan wajib menggali. maka seharusnya dapat mengenal. Pembahasan Bertitik tolak dari pandangan bahwa “Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa. sekalipun peraturan perundangundangan tidak dapat membantunya. merasakan dan mampu menyelami perasaan hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat. 86 Bunga Rampai . Disamping itu. Apabila peraturan perundang-undangan yang belum jelas atau belum mengatur. maka Hakim Agung harus memahami jalan keluar melalui penemuan hukum (Rechtsvinding). Dalam arti menentukan apa yang merupakan hukum. hasil penemuan hukum oleh hakim merupakan sumber hukum juga (yurisprudensi). Tidak ada peraturan perundang-undangan yang lengkap dan jelas. mengadili dan memutuskan suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas.

yaitu melalui penerapan hukum penafsiran dan konstruksi hukum. Sudikno Martokusumo (2001:52) memberikan 2 (dua) kategori. juga tidak ada ketentuan dalam hukum kebiasaan dan hukum adat yang dapat diterapkan. kaidah hukum atau ketentuan dalam suatu keputusan kemudian diikuti secara konstan atau tetap oleh para hakim dalam putusannya dan dapat dianggap menjadi bagian dari keyakinan hukum yang umum. Kedua klasifikasi yurisprudensi itu memerlukan kriteria sendiri agar dengan cara itu dapat ditelusuri sejauh mana hubungan kedua klasifikasi yurisprudensi itu dalam proses penegakan hukum. didalam suatu perkara di pengadilan. sekalipun hakim dapat menafsirkan. bahwa dalam putusan hakim ditemukan adanya kaedah hukum yang dapat dianggap sebagai . sebagai yurisprudensi tetap. penafsiran berdasarkan sejarah hukum. Artinya adalah. Sebagai Hakim Agung.A. penafsiran teleologis. 2. Mengikuti sistematika J. harus menguasai metode yang dapat dipergunakan. didapat bermacam-macam metode penafsiran (penafsiran berdasarkan tata bahasa atau ilmu bahasa. namun tidak ada ketentuan perundang-undangan yang berlaku yang dapat diterapkan. penafsiran antisipatif dan penafsiran dinamika-evolutif). penafsiran berdasarkan sejarah peraturan perundang-undangan yang bersangkutan. Penafsiran atau interpretasi adalah usaha memberi makna suatu atau sejumlah kaidah hukum agar dapat diterapkan secara wajar dalam memecahkan suatu persoalan hukum. penafsiran sistematik. Dengan uraian di atas dapat dikatakan bahwa kriteria yurisprudensi tetap adalah telah mentransformasi secara konstan hukum yang hidup dalam suatu masyarakat dan telah diikuti oleh berbagai putusan sebelumnya. sehingga yurisprudensi tetap tersebut telah melakukan penciptaan hukum (rechtsschepping). yaitu: 1.tetapi dalam praktek peradilan dikenal adanya klasifikasi yurisprudensi biasa dan yurisprudensi tetap. Pontier (dikutip dari Bagir Manan 2004:73). Yang kedua adalah konstruksi hukum. maka keadaan ini Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 87 .landmark decision karena kaidah hukum itu diterima masyarakat luas sebagai terobosan yang nyata atas suatu konflik hukum yang sudah lama berlangsung.

Apabila penerapan aturan hukum akan bertentangan. hakim atau siapapun juga yang menerapkan 88 Bunga Rampai . Konstruksi hukum ini terdiri dari analogi (hakim memperluas penerapan hukum pada keadaan atau peristiwa yang tidak secara eksplisit disebut dalam ketentuan yang berlaku).(dikutip dari Bagir Manan 2004:64) adalah “masyarakat konkrit”. penghalusan hukum Rechtsvervijning (suatu kaedah hukum dapat dirasakan terlalu keras pada saat diterapkan pada keadaan konkrit tertentu. Berdasar beberapa ketentuan yang mempunyai persamaan. Hingga saat ini sebagian masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat formalistik. hakim wajib memilih kepatutan. sehingga memerlukan penghalusan agar tetap terasa adil. kepentingan umum dan ketertiban umum. serta Argumentum a contrario (mempersempit jangkauan berlaku suatu peraturan perundang-undangan). keadilan. Termasuk dalam perkara-perkara perdata. Hakim bukanlah mulut undang-undang atau mulut hukum positif pada umumnya. Demikian pula hakim tidak sekedar menerapkan bunyi suatu perjanjian yang merupakan undang-undang bagi pihak-pihak yang membuatnya. Masyarakat Indonesia meminjam pendapat Holleman . Hakim adalah mulut kepatutan. Seseorang memiliki sebidang tanah. Walaupun demikian apabila hakim dihadapkan pada pilihan antara ketentuan hukum tertulis dengan hukum tidak tertulis. hakim membuat suatu pengertian hukum (rechtsbegrip). keadilan. Kenyataan yang bersangkutan menempati sebidang tanah dengan cara-cara yang dibenarkan oleh tradisi yang berlaku disekelilingnya. hakim harus mencari dan menemukan kebenaran materiil. Dengan kata lain. apabila bertahun-tahun akan diakui telah menimbulkan hubungan hak atas tanah tersebut. wajar dan tidak berlebihan). Segala hubungan dan peristiwa hukum dinyatakan dalam wujud yang nyata.mulai menyangkut pada keadaan kekosongan hukum dalam sistem formil hukum. kepentingan umum dan ketertiban umum. dibuktikan dengan pohon-pohon yang ditanam oleh orang tuanya dan seterusnya. Asas ini menunjukkan bahwa sebagai Hakim Agung tidak boleh semata-mata mencari dan menemukan kebenaran formal. menurut pendapat hakim yang bersangkutan bahwa pengertian hukum itulah yang menjadi dasar.

tetapi berdasar hukum Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan b. Contoh kasus adalah pengertian “barang” dalam pidana pencurian termasuk pencurian listrik. harus mengutamakan atau mendahulukan ketentuan hukum tertulis. Hakim Agung harus mampu menghasilkan putusan-putusan yang mengarah kepada pembaharuan penemuan hukum berupa yurisprudensi. Jadi reformasi itu timbul secara simultan mencakup aspek kehidupan bernegara di bidang politik. Serta ketentuan “Jual beli tidak memutuskan hubungan sewa-menyewa”. yang oleh yurisprudensi diperluas menjadi asas pengasingan (vervreending) tidak memutuskan sewa-menyewa. sehingga termasuk hibah. Koreksi merupakan kenyataan hukum yang hidup dalam masyarakat dan dapat terjadi karena hukum tertulis telah usang atau ada kekosongan tertentu dalam ketentuan hukum tertulis. Namun penerapan ini harus mempertimbangkan hal-hal berikut: a. Juga hubungan kelamin diluar nikah laki-Iaki dewasa dan perempuan dewasa atas dasar suka sama suka. 89 . Program reformasi hukum harus digulirkan secara bersama-sama oleh seluruh anggota masyarakat. dimana laki-Iaki si pelaku tidak mau bertanggung jawab ketika perempuan tersebut hamil.R. Mengutamakan atau mendahulukan hukum tidak tertulis dilakukan apabila ketentuan hukum tidak tertulis merupakan suatu yang tumbuh kemudian sebagai koreksi atau penafsiran terhadap suatu ketentuan hukum tertulis. dan lain-lain bentuk pengasingan. Kemudian makin banyak putusan Mahkamah Agung yang menerima permohonan kasasi praperadilan. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tidak mengatur.hukum. 1919). ekonomi dan hukum. Pada era reformasi mengandung arti perubahan untuk perbaikan. Lalu pengertian “Onrechtmatigedaad” hanya dapat dipahami setelah mempelajari yurisprudensi (Arrest H. yang berhadapan dengan ketentuan hukum positif yang menyatakan tidak ada kasasi untuk praperadilan. pewarisan. Pada situasi ini. Mengutamakan atau mendahulukan hukum tertulis apabila diketahui atau secara rasional dipahami bahwa ketentuan hukum tertulis merupakan pembaharuan terhadap hukum tidak tertulis atau terjadi transformasi ketentuan hukum tidak tertulis menjadi hukum tertulis.

Tetapi sayangnya putusan Mahkamah Agung tersebut pada tingkat peninjauan kembali telah dikoreksi/ diperbaiki. Kasus yang relevan untuk menggambarkan adanya kemungkinan benturan antara aspek keadilan dan kepastian hukum. yaitu dalam kasus “Kedung Ombo” di Jawa Tengah dan kasus sengketa pemilihan kepala daerah (Pilkada) Depok. Ketiga unsur ini harus dipertimbangkan Hakim dan diterapkan secara proporsional. sangat relevan menggambarkan adanya benturan-benturan antara aspek kepastian hukum dengan keadilan. padahal pasal 178 ayat (3) HIR berbunyi: “Hakim wajib mengadili seluruh bagian gugatan. Putusan Mahkamah Agung dalam kasus Kedung Ombo pada pokoknya melebihi daripada ganti rugi yang dimohon para penggugat. tetapi hakim dilarang menjatuhkan putusan atas hal-hal yang tidak dituntut atau mengabulkan putusan lebih dari pada yang dituntut”. ditafsirkan putusan Pengadilan Tinggi bersifat final dan mengikat. Dalam implementasinya terkadang tidak mudah untuk mensinergikan ketiga unsur tersebut. Paparan kedua kasus di atas. Sedangkan dalam kasus Pilkada Depok apabila menoleh pada pasal 106 ayat(7) Undang-undang No. Menurut Gustav Radbruch (dikutip dari Bambang Sutiyoso 2006: 6) idealnya putusan harus memuat idee des recht. sehingga pada gilirannya dapat dihasilkan putusan yang berkualitas dan memenuhi harapan para pencari keadilan.adat merupakan perbuatan yang tidak patut untuk dilakukan dan harus diberi sanksi. Mahkamah Agung sendiri dalam instruksinya Nomor KMA/015/lnst/VI/1998 tanggal 1 Juni 90 Bunga Rampai . terutama antara unsur keadilan dengan kepastian hukum yang bisa saja saling bertentangan. 6 Tahun 2004. kepastian hukum (rechtsicherheit) dan kemanfaatan (zwechtmassigkeit). tetapi ketika KPUD Depok mengajukan permohonan peninjauan kembali (PK) ke Mahkamah Agung terhadap putusan Pengadilan Tinggi Bandung tersebut pada akhirnya Mahkamah Agung dalam putusannya mengabulkan permohonan Peninjauan Kembali dari KPUD Depok dan membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Bandung. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah No. sehingga mestinya tidak ada upaya hukum lagi yang dapat digunakan. yang meliputi 3 (tiga) unsur yaitu: keadilan (gerechtigkeit).

1 Tahun 1977 (tentang permohonan kasasi) telah menjadi sarana hukum yang menentukan masuknya perkara peradilan agama dan militer ke tingkat perkara kasasi oleh Mahkamah Agung. PERMA No. Dalam setiap penemuan hukum seyogyanya putusanputusan badan peradilan disosialisasikan dengan memberi kesempatan kepada publik untuk mengakses putusan-putusan tersebut. atau kekosongan hukum dengan menerbitkan Surat Edaran atau Peraturan Mahkamah Agung. Bentuk pengaturan itu dikenal dalam 2 (dua) bentuk produk yaitu: 1. 2. Sebelum ada ketentuan KUHAP dan Undang-undang. Fungsi pengaturan ini ternyata sangat efektif memperlancar jalannya peradilan. Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) yaitu suatu bentuk peraturan dari Mahkamah Agung ke seluruh jajaran peradilan tertentu yang isinya merupakan ketentuan bersifat hukum beracara. sosiologis (sesuai dengan tata nilai budaya yang berlaku dalam masyarakat). terutama dalam hukum acara sebagai pelengkap untuk mengisi kekurangan dan kekosongan tadi. demi terciptanya kemandirian para penyelenggara kekuasaan kehakiman. 14 Tahun 1970 tentang Undang-undang Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 91 . dengan menghasilkan putusan hakim yang eksekutable berisikan ethos (integritas). keseluruh jajaran peradilan yang isinya merupakan bimbingan dalam penyelenggaraan peradilan yang lebih bersifat administrasi. PERMA No. pathos (pertimbangan yuridis yang utama). filosofis (berintikan rasa keadilan dan kebenaran). serta logos (dapat diterima akal sehat). Dengan akses ini mendorong para hakim membuat putusan yang berkualitas dan diterima oleh masyarakat sebagai hukum yang hidup dalam masyarakat.1998 menginstruksikan agar para hakim memantapkan profesionalisme dalam mewujudkan peradilan yang berkualitas. Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) yaitu satu bentuk edaran dari pimpinan Mahkamah Agung. 1 Tahun 1980 telah digunakan menampung perkara peninjauan kembali karena pada saat itu belum ada peraturan pasal 21 UU No. Selain itu fungsi Pengaturan Mahkamah Agung diperlukan bagi kelancaran penyelenggaraan peradilan apabila terdapat hal-hal yang belum cukup diatur dalam undang-undang atau terdapat kekurangan.

yang dapat digunakan oleh aparat penegak hukum di lingkungan peradilan. Pada dasarnya Hakim Agung yang baik bukan sekedar menguasai hukum positif melainkan mengusai pula dengan baik berbagai teori dan doktrin hukum. Bahwa setiap putusan pengadilan harus mengandung unsur kemanfaatan bahwa isi putusan itu tidak hanya bermanfaat bagi pihak berperkara tapi juga bagi masyarakat luas. pengalaman yang memadai. PERMA No. Masyarakat berkepentingan atas keputusan hakim itu karena masyarakat menginginkan adanya keseimbangan tatanan dalam masyarakat.Pokok Kekuasaan Kehakiman. Kesimpulan 1. 6. Dalam melakukan penemuan hukum hakim menggunakan metode penafsiran dan konstruksi hukum. 92 . Yang tidak kalah pentingnya suatu hal yang perlu diperhatikan fungsi pembentukan hukum itu sendiri harus memperhatikan kesadaran hukum masyarakat dan tidak tertutup kemungkinan bahwa hukum menciptakan pola-pola baru di dalam masyarakat sehingga pada akhirnya menciptakan kesadaran hukum baru sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan. Perekrutan Hakim Agung harus memiliki kemampuan di bidang hukum. moral dan karakter yang baik. 5. 4. 1 Tahun 2000 tentang paksa badan dapat dijadikan contoh tentang efektifitas Fungsi Pengaturan Mahkamah Agung mendukung penegakan hukum khususnya untuk mengatasi kebutuhan hukum acara yang saat ini sangat diperlukan menghadapi perilaku para debitur nakal yang sengaja menghindar dari kewajiban melunasi hutang-hutangnya. Meningkatkan kualitas hakim dalam melakukan penemuan hukum baru melalui putusan-putusan pengadilan (yurisprudensi) yang digunakan sebagai dasar pertimbangan hukum. 3. Hakim Agung harus mengisi kekosongan hukum atau hukumnya tidak jelas dengan melakukan penemuan hukum (Rechtsvinding) yang pada gilirannya akan menjadi yurisprudensi tetap menuju penciptaan hukum Bunga Rampai 2. memiliki integritas.

Fungsi Pengaturan Mahkamah Agung berupa Surat Edaran dan Peraturan Mahkamah Agung masih diperlukan guna mengisi kekosongan hukum khususnya hukum acara. Meningkatkan mekanisme pertanggung jawaban lembaga pengadilan kepada publik dengan kemudahan akses masyarakat untuk memperoleh putusan pengadilan dan publikasi terhadap setiap pengambilan putusan. 8. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 93 . 7.(Rechtsschepping).

1993. cetakan pertama. cetakan kesatu. Citra Aditya Bakti Mertokusumo. 2005. Bambang-. Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum.Daftar Pustaka Van Apeldoorn. L.cetakan pertama. 2004.Kolff N. Penemuan Hukum Sebuah Pengantar. Metode Penemuan Hukum. PT. cetakan kedua. Pustaka Sinar Harapan Komisi Hukum Nasional -. Henry P-. A . Liberty Yogyakarta Panggabean. 2006. 22 tahun 2004 tentang Komisi Yudisial - - 94 Bunga Rampai . edisi pertama. Liberty Yogyakarta Sutiyoso. 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman Undang-undang No. 2002..cetakan kedua. 2001. 5 tahun 2004 tentang Perubahan terhadap Undang-undang No. edisi pertama cetakan pertama. Transisi Di Bawah Bayang-Bayang Negara Manan.J . PT Alumni Panggabean. 2002. Bagir -. Pengantar Ilmu Hukum. 8 tahun 2004 tentang Peradilan Umum Undang-undang No. edisi kedua cetakan kedua. Otje dan Susantho. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung Undang-undang No. 1 tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana Undang-undang No. UH Press Yogyakarta Ketentuan Peraturan Perundang-undangan Undangundang Dasar 1945 dan Perubahannya Kitab Undangundang Hukum Pidana Kitab Undang-undang Hukum Perdata Undang-undang No. Henry P -. Anton . Sudikno -. Beberapa aspek Sosiologi Hukum. Noordhoff . Sudikno dan Pitlo. Fungsi Mahkamah Agung Dalam Praktik Sehari-hari. Fungsi Mahkamah Agung Bersifat Pengaturan (Rule Making Power) Tahun 19662003. FH UH Press Salman.V Mertokusumo. 2004. 1957. Hukum Positif Indonesia.

telah menjadi kenyataan.H. Perjanjian-perjanjian internasional dan dampak ratifikasi konvensi internasional. Perkembangan di dalam masyarakat ini juga mempengaruhi perkembangan hukum di suatu negara. lebih mengentalkan kenyataan bahwa hukum nasional suatu negara tidak dapat secara mutlak berdiri sendiri tanpa menghiraukan perkembangan-perkembangan yang terjadi di dunia internasional. DR. Peranan hukum * Guru Besar Hukum Pidana Universitas Padjadjaran Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 95 . “Apabila kita teliti maka semua masyarakat yang sedang membangun dicirikan oleh perubahan bagaimanapun kita mendefinisikan pembangunan itu dan apapun yang kita pergunakan bagi “masyarakat dalam pembangunan. Suatu negara bahkan tidak dapat mengisolasi dirinya dari pergaulan internasionnal. Komariah Emong Sapardjaja. khususnya di dalam suatu masyarakat yang sedang membangun. S. Di dalam era transformasi dan informasi.Hakim Agung dan Penemuan Hukum (Rechtsvinding) Pada Era Reformasi dan Transformasi Hukum Prof. terlebih lagi ketika perkembangan teknologi yang semakin canggih. Arus informasi menyebabkan permasalahan di dalam suatu negara dapat dibaca bagaikan dalam buku terbuka. seperti itu permasalahan-permasalahan di dalam masyarakat menjadi lebih rumit dan kompleks.* Latar Belakang Pernyataan-pernyataan bahwa dunia seakan-akan tidak lagi mengenal batas-batas wilayah Negara.

dalam kasus-kasus yang terjadi dalam masyarakat yang sedang bereformasi dan transformasi. Pembinaan Hukum Dalam Rangka Pembangunan Hukum Nasional. hlm.3. Bagaimanakah syarat-syarat suatu penemuan hukum (rechtsvinding) dan pembentukan hukum (rechtsschepping)? Sejauh manakah hakim.3 (psl. Khususnya bagi persoalan-persoalan yang menjadi kasus konkrit yang dihadapkan kepada seorang hakim untuk mendapatkan penyelesaian. Bandung. Ibid Lihat pasal 16 Undang-undang Republik Indonesia No. kloning. bayi tabung. kejahatan terhadap kemanusiaan. melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya”. 2. Lcmbaga Penelitian Hukum dan Kriminologi Universitas Padjadjaran. dalam kebebasannya. kejahatan cyber. 1976.dalam pembangunan adalah menjamin bahwa perubahan itu terjadi dengan cara yang teratur”1 Selanjutnya dikatakan juga oleh Mochtar Kusumaatmadja bahwa: “Ada anggapan yang boleh dikatakan hampir merupakan keyakinan bahwa perubahan yang teratur demikian dapat dibantu oleh perundang-undangan atau keputusan pengadilan atau kombinasi dari kedua-duanya”. Beberapa contoh mengemuka yang menjadi pemikiran dari para ahli hukum sekarang. dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas. 6 UUPK) Disinilah letak peran hakim (Agung) dalam penemuan hukum (rechtsvinding) dan pembentukan hukum (rechtsschepping). dan mungkin banyak lagi masalah-masalah di dalam masyarakat yang perlu mendapat pemecahan hukumnya. 4 tahun 2004 Tentang Kckuasaan Kehakiman 96 Bunga Rampai . melakukan penemuan hukum sehingga tidak melakukan kesewenang-wenangan hukum yang pada akhirnya justru 1 2 3 Mochtar Kusumaatmaja. mengadili. misalnya.2 Tetapi selalu saja terjadi bahwa ‘undang-undang ketinggalan dari kenyataan-kenyataan masyarakat’ (het recht hink achter de feiten aan‘). Pokok Masalah 1. maka seorang hakim “tidak boleh menolak untuk memeriksa.

dan pertanyaan-pertanyaan tentang makna dari fakta-fakta yang terhadapnya hukum harus diterapkan.7 4 5 6 7 J. atau aparat hukum lainnya yang ditugaskan untuk penerapan peraturan hukum umum pada peristiwa hukum konkrit”. ketidakpastian. Pontier. hlm.A. Ibid. atau ketidakmanfatan? Pembahasan Masalah 1. Yogyakarta. Arti penemuan hukum dan mengapa (seringkali) diperlukan Rechtsvinding menjadi sangat terkenal terutama setelah perang dunia kedua.menimbulkan ketidakadilan. Bandung. J.16 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 97 . Rechtsvinding.5 J. berkenaan dengan hal menemukan penyelesaian dan jawaban berdasarkan kaidah-kaidah hukum. Liberty. yang lebih atau kurang. Penemuan Hukum.6 Asumsi dasar yang melandasi penemuan hukum tersebut adalah berkaitan dengan pengakuan bahwa tidak semua hukum dapat ditemukan dalam undang-undang.Pontier. konflik-konflik hukum atau sengketa-sengketa yuridis. 1. hlm. Pontier mendefinisikan penemuan hukum sebagai ‘sebuah reaksi terhadap situasi-situasi problematikal yang dipaparkan orang dalam peristilahan hukum’.A. hlm. 2001. 2001.Arief Sidharta. diterjemahkan oleh B. Penemuan hukum.4 Sudikno Mertokusumo mengatakan “Apa yang dimaksud dengan penemuan hukum lazimnya adalah proses pembentukan hukum oleh hakim. 37. op cit. Penemuan hukum diarahkan pada pemberian jawaban terhadap pertanyaanpertanyaan tentang hukum dan hal pencarian penye1esaianpenyelesaian terhadap sengketa-sengketa konkrit. 95 Sudikno Mertokusumo. Ia berkenaan dengan pertanyaan-pertanyaan hukum. Terkait padanya antara lain diajukan pertanyaan-pertanyaaan tentang penjelasan (tafsiran) dan penerapan aturan-aturan hukum. Labotatorium Hukum Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan. secara cermat dan teliti mengemukakan bagaimana terhadap situasi-situasi problematik tertentu seyogyanya harus diberikan reaksi. hlm.A. pandangan tentang penemuan hukum yang dikemukakan oleh Paul Scholten memperoleh banyak pengikut.

Het strafrecht handhaaft de materiele norm jragmentarisch” [Norma-norma perilaku yang tersirat dalam perumusan delik bukan pencerminan yang mencakup seluruh noma-norma materiel. welke de wet in vereneging met de volksmoraal aan de Justitiabelen waarborgt”. Bandung. dat op deze woorden reageert. Alumni. memberikan pada kata-kata itu arti]. dan apabila dilanjutkan dengan kata-kata dan Suijling:9 “… behoort hij de abstract geredigeerde wet met de prescripten der volksmoraal aan te vullen en dus altijd de gerechtigheid te oefenen. seperti dikatakan oleh Bregstein8 yang berpendapat: “In woorden belichaamt de wetgever zijn will. Perumusan delik lebih banyak membentuk bagian-bagian daripada merumuskan keseluruhan norma perilaku. Slechts die woorden hebben aanspraak op absoluut gezag. [Pembuat undang-undang melahirkan kehendaknya dengan kata-kata. hlm.Hal tersebut telah mengemuka sejak lama. hakim harus melengkapi undang-undang yang dirumuskan secara abstrak dengan ketentuan-ketentuan dari moral rakyat. Dalam hukum pidana yang sangat legistis karena secara fundamental didasarkan pada prinsip legalitas.Bregstein. tanda-tanda mati itu menjadi hidup. [.. Het maatschappelijk leven. 17.H. di mana sangat ditentukan oleh unsur-unsur yang terdapat di dalam perumusan deliknya. De delictsomscrijvingen vormen ten opzichte van de gedragsnormen veeler deelstukken van het geheel. Hanya katakata itulah yang berhak atas wibawa yang mutlak. dan karena itu selalu menyelenggarakan keadilan. yang adanya dijamin oleh undang-undang bersama dengan moral rakyat untuk melindungi para pencari keadilan.. Schaffmeister10 menyatakan: “De in delictsomschrijvingen geimpliceerde gedragsnormen zijn geen omvattende weersplegelingen van de gehele materiele norm. geeft er aan hun zin. Ajaran Sifat Melawan Hukum Materiel dalam Hukum Pidana Indonesia. brengt deze woorden. Hukum pidana mempertahankan norma-norma secara fragmentaris]. de dode teksten. 22 98 Bunga Rampai . hlm. dalam Komariah Emong Sapardjaja. 16 Ibid. 8 9 10 M. membuat kata-kata ini. Kehidupan sosial yang mereaksi kata-kata ini. Ibid. hlm. tot leven.

Menurut Pontier12. sejarah hukum. antisipatif. op. hlm. 16 Pontier. seringkali undang-undang tidak dapat lagi mengantisipasi perkembangan itu. penimbangan kepentingan e. 2. hlm. interpretasi restriktif dan interpretasi ekstensif c. (penulis tidak akan menguraikan secara mendalam tentang metode interpretasi karena dalam pelajaran tentang Pengantar Ilmu Hukum telah diperkenalkan metode penafsiran berupa penafsiran gramatikal. tetapi disinilah letak peranan hakim selaku penjaga hukum dan keadilan memainkan peranannya. Oleh karena itu Bregstein11 pernah mengatakan: “Tegenover de worden der wet komt hem echter een vrijheid toe. sejarah undang-undang. Hij is dus niet ‘la bouche de la loi’. penghalusan hukum. 34 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 99 . sistematis. penerapan atau penafsiran undang-undang secara rasional ii.cit. penemuan hukum dapat dilakukan melalui metode. evolutif dinamikal) b. teleologis.Dengan demikian. Teknik/metode penemuan hukum dan kebebasan hakim Penemuan hukum dapat dilakukan melalui beberapa cara/teknik/metode. penalaran hukum d. tenzij men daaronder verstaat ‘la bouche de l’esprit de la loi’ [Terhadap kata-kata undang-undang penerap undang-undang memiliki suatu kebebasan yang luas. metode interpretasi. antara lain: a. di dalam situasi masyarakat dengan tingkat perkembangan di segala bidangnya sangat tinggi dan kompleks. Jadi dia bukanlah ‘mulut undang-undang’ tetapi ‘mulut jiwa undang-undang’]. Motivering vonnis Walaupun demikian hakim tidaklah sebebas-bebasnya dapat menggunakan seluruh metode penemuan hukum 11 12 Ibid. teknik penemuan hukum lain berupa: i.

yang biasanya diperoleh dari fakta yang terungkap di muka persidangan.J. J. Barulah apabila undang-undang yang menjadi dasar kasus tersebut tidak jelas. 47 Ibid. barulah hakim dapat menemukan hukum yang harus dikemukakan dalam putusan yang definitif. hlm. Khususnya penemuan hukum yang hanya didasarkan pada nalar hakim saja dapat menimbulkan kesewenangwenangan terhadap undang-undang itu sendiri. pasal 362 KUHP tidak mungkin dapat diterapkan. padahal tujuan akhir dari setiap aturan hukum pidana adalah perlindungan tertib hukum. Demikian juga dalam kasus BNI 46 New York. Pertama hendaknya diperhatikan landasan/ norma hukum yang menjadi dasar kasus tersebut (dalam perkara perdata biasanya dapat dilihat dari dasar-dasar gugatan yang diajukan oleh pihak penggugat sedangkan dalam perkara pidana dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum. 54 100 Bunga Rampai . Di bidang hukum pidana. Selain itu harus diperhatikan pula fakta konkrit yang diperoleh dari dasar penyelidikannya. terjemahan oleh Tristam Moeliono dan DR. sedangkan dalam perkara tata usaha negara dapat dilihat dari permohonan pemohon). Dengan menggunakan penafsiran sosiologis dan teleologis. apabila melihat kepada kecanggihan alat-alat yang digunakannya.tersebut untuk menyelesaikan kasus konkrit yang dihadapkan kepadanya.J. hakim dapat melakukan penafsiran. Jakarta. Penemuan hukum dengan menggunakan metode seperti itu ditemukan dalam kasus Mochtar Pakpahan. dan dilanjutkan dengan penelusuran sejarah perundang-undangan untuk mengetahui maksud dari pembuat undang-undang tentang diterbitkannya undang-undang tersebut. 2003. 13 14 J.Marjanne Termorshuizen.13 Juga Jescheck14 mengingatkan bahwa penafsiran bisa jadi akan sangat melebar. Pertama-tama hendaknya digunakan penafsiran gramatikal. Gramedia. di mana dijelaskan bahwa hatzaai artikelen yang menjadi dasar dakwaan sudah tidak sesuai lagi dengan semangat reformasi. telah memperingatkan bahaya penggunaan logika secara berlebihIebihan dalam upaya menerangkan undang-undang.M. van der Veen. dalam Jan Remmelink.M. hIm. Hukum Pidana.van der Veen.

pasal 8. Hak untuk memperoleh ganti rugi dan rehabilitasi . 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Jujur.3. Prinsip-prinsip tersebut adalah: 1. Prinsip-prinsip penyelenggaraan peradilan dan Kedudukan serta Peranan Hakim Agung Prinsip penyelenggaraan peradilan telah ditetapkan dalam Undang-undang Republik Indonesia No. Prinsip presumption of innocence . Prinsip legalitas . Dilaksanakan sesuai dengan prinsip ne bis in idem – pasal 6 ayat (1). 8. 4. Independent . Dilakukan dengan sederhana. Putusan tentang kesalahan seseorang didasarkan pada keyakinan hakim dengan alat pembuktian yang sah menurut Undang-undang .pasal 20 Demikian pula dengan kedudukan hakim.pasal 4 ayat (1). Terbuka untuk umum . 10. yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. bahwa hakim adalah pejabat yang melakukan kekuasaan kehakiman yang diatur dalam Undang-undang (pasal 31). adil. dengan syarat-syarat bahwa seorang hakim harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. 5 tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-undang No. menetapkankan bahwa: Kekuasaan Mahkamah Agung sebagaimana ditetapkan dalam Undang-undang tersebut adalah: Pasal 28: “Mahkamah Agung bertugas dan berwenang memeriksa Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 101 .pasal 5 ayat (1). 3. telah ditetapkan dalam undang-undang tersebut. dan wajib menjaga kemandirian peradilan (pasal 33) Khusus berkenaan dengan Mahkamah Agung. 5. 6. 9. cepat. profesional.pasal 4 ayat (2).pasal 7.pasal 4 ayat (3). dan biaya ringan . Dilakukan “Demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” . 2.diskriminasi dan imparsial . dan berpengalaman di bidang hukum (pasal 32).pasal 6 ayat (2). non. 7.pasal 9.

yang dalam melaksanakan tugasnya terlepas dari pengaruh pemerintah dan pengaruhpengaruh lain”..dan a. c.. b. memutus: permohonan kasasi. permohonan peninjauan kembali putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. c.. Terlebih-lebih apabila dikaitkan dengan Kedudukan Mahkamah Agung. tidak berwenang atau melampaui batas wewenang.. lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan. seperti dimuat dalam pasal 2: “Mahkamah Agung adalah Pengadilan Negara Tertinggi dari semua Lingkungan Peradilan. Pasal 30: (1) Mahkamah Agung dalam tingkat kasasi membatalkan putusan atau penetapan pengadilan-pengadilan dari semua lingkungan peradilan. salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku. dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan dalam bidang hukum baik diminta maupun tidak kepada Lembaga Tinggi Negara yang lain” Melihat kepada peraturan perundang-undangan yang memberikan kedudukan istimewa kepada seorang Hakim Agung. menguji peraturan perundang-undangan di bawah Undang-Undang terhadap Undang-undang . sekaligus pedoman perilaku bagi mereka. yang berarti tidak membiarkan sengketa hukum berlarut- 102 Bunga Rampai . sengketa tentang kewenangan mengadili. Pasal 31: (1) ... karena: a. Hal tersebut mengisyaratkan pula bahwa putusan Mahkamah Agung adalah putusan yang memberikan penyelesaian definitif sesuai dengan asas lites finiri oportet. Pasal 35: “ . memberikan pertimbangan hukum kepada Presiden dalam permohonan grasi dan rehabilitasi” Pasal 37: “ . maka peraturan perundang-undangan yang disebutkan di atas memberikan tugas-tugas mulia yang diembankan kepadanya. b.

Anak angkat yang memperoleh bagian waris yang sama dengan anak kandung. Francis Bacon pemah menyatakan: ”there is no worse torture than the torture of laws” Penemuan hukum dan pembentukan hukum Indonesia yang mengemuka. 275K/Pid/1982. Peradilan Bebas Negara Hukum. Dengan demikian Hakim Agung dalam menjalankan tugasnya telah memberikan kepastian hukum dari kasus tersebut. Oemar Seno Adji. Beberapa penemuan hukum yang pernah ada.)15 pernah mengatakan: “Suatu pengadilan yang bebas dan tidak dipengaruhi merupakan syarat yang ‘indipensable’ bagi negara hukum.larut tanpa akhir.H. 2. S. terikat pada hukum”. tetapi menyatakannya sebagai perwujudan kebebasan pers. sekalipun harus menemukan hukum.. (alm. 46 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 103 . Ia tidak berarti bahwa ia berhak untuk bertindak sewenang-wenang dalam menjalankan tugasnya. Dikukuhkannya janda sebagai ahli waris. yang memberi arti terhadap kata “perbuatan tidak 4. Bebas berarti tidak ada campur tangan dari kekuasaan eksekutif dan legislati dalam menjalankan fungsi yudiciair.Cctakan Kedua. mantan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia. Diperkenankannya seorang wanita yang belum menikah mengangkat anak melalui adopsi. Oleh karena itu. Dalam bidang hukum perdata. Prof. antara lain: 1. b. Kesewenang-wenangan seorang Hakim Agung. 15 Oemar Seno Adji. tidak diperbolehkan . dan menjadikannya suatu pembentukan hukum baru melalui yurisprudensi yang terkenal. antara lain: 1. him. ia ‘sub-ordinated’. Putusan Mahkamah Agung RI No. antara lain: a. Mahkamah Agung menolak gugatan Presiden Suharto atas pencemaran nama baik yang dilakukan oleh New York Times dengan pemuatan gambar presiden sebagai joker dalam kartu ‘remi’. 1985. Dalam bidang hukum pidana. 4. 3. Jakarta. Pcnerbit Erlangga.

Tetapi berbeda dengan penemuan hukum oleh para ilmuwan hukum sebagai hasil dari penelitiannya. 40/1998 tentang Pers adalah lex speciali dan karenanya dalam kasus tersebut tidak dapat digunakan pasal 310 KUHP tentang penghinaan. dan “Adam Damiri di Pengadilan HAM” hakim menerima teleconference sebagai cara yang sah dari kehadiran saksi. 4. dan terjadi pada semua bidang hukum baik oleh hakim. sehingga penggunaan alat komputer (dengan menekan satu panel/tombol pada key board komputer) disamakan dengan lichamelijk gedraging. bahkan ilmuwan hukum. 104 . Dalam kasus “Rahardi Ramelan”. Dalam kasus pembobolan dana Bank BNI New York. Penemuan hukum pada dasarnya merupakan kegiatan sehari-hari para yuris. penemuan hukum oleh hakim harus selalu dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip penyelenggaraan peradiBunga Rampai 2. Agar tidak menjadi suatu kesewenang-wenangan hukum dan tertibnya pembentukan hukum yang dciptakan karena penemuan hukum. dalam kebebasannya.2. hakim memberikan penafsiran luas terhadap unsur “mengambil” dalam tindak pidana pencurian. 3. dalam praktek hukum hakim harus memberikannya di dalam putusannya dalam jangka waktu yang masuk akal. Dalam kasus “Bambang Harymurti Tempo” Mahkamah Agung menyatakan bahwa UU No. Simpulan 1. pembentuk undang-undang. Dalam kasus “Mochtar Pakpahan” hakim menyatakan bahwa demonstrasi (waktu itu sedang terjadi era reformasi) bukanlah sebagai pemyataan permusuhan terhadap negara sebagaimana terdapat dalam unsur pasal 154 KUHP yang terkenal dengan haatzaai artikelen. 5. Penemuan hukum adalah sebuah aspek penting dari ilmu hukum (teori hukum) dan praktek hukum. patut dan terce1a dari suatu tindak pidana korupsi”. yang bersifat teoritis terhadap suatu masalah hukum tertentu serta tidak terikat dalam batas-batas waktu.

tetap memperhatikan fakta hukumnya. mengharmonisasikan antara fakta dan kaidah hukum tersebut dengan menggunakan metode yang diperkenankan. serta mengabstrasikannya. dasar-dasar/norma. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 105 . kaidah hukum yang menjadi dasar kasus konkrit yang dihadapkan kepadanya.lan yang baik.

1985. Studi Kasus tentang Penerapan dan Perkembangannya dalam Yurisprudensi. Binacipta. 2001 - - - 106 Bunga Rampai . diterjemahkan oleh Tristam P. dan Widati Wulandari. Komentar atas Pasal-pasal Terpenting dari Kitab Undang-undang Pidana Belanda dan Padanannya dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia. Jakarta. Pembinaan Hukum Dalam Rangka Pembangunan Nasional. tanpa tahun. Alumni. Jan.A. 2002 Moehtar Kusumaatmadja.Moeliono. Yogyakarta. Remmelink. Penemuan Hukum. J. 2003 Sudikno Mertokusumo. Pontier. Hukum Pidana. Jakarta. cetakan kedua. Liberty. Ajaran Sifat Melawan Hukum Dalam Hukum Pidana Indonesia. Bandung. Peradilan Bebas Negara Hukum. Bandung. Penerbit Erlangga. Rechtsvinding.. Universitas Parahyangan. eetakan kedua. Marjanne . Bandung. Gramedia Pustaka Utama.Arief Sidharta. Panel Diskusi V yang diselenggarakan oleh MAHINDO di Jakarta -bulan Maret 1972. 1972 Oemar Seno Adji.Daftar Pustaka Komariah Emong Sapardjaja.Termorshuizen. diterjemahkan oleh B. Penemuan Hukum.

Kontribusi Lembaga Kejaksaan Dalam Mempercepat Reformasi Peradilan M.2 Menurut pandangan ini. Putusan pengadilan merupakan produk badan peradilan yang dimulai dari input 1 2 Anggota Komisi Kejaksaan Republik Indonesia Soedarto. pengadilan merupakan institusi penting dalam mengkonkritkan hukum melalui putusan-putusan yang ditetapkannya. S. penyelenggaraan tata hukum pidana berpusat dan berpuncak pada pengadilan. Dalam hal ini muncullah pandangan bahwa pengadilan sebagai benteng terakhir pencari keadilan. institusi pengadilan melakukan pengawasan (kontrol) terhadap pelaksanaan tugas dan wewenang instansi sebelumnya seperti penyidikan dan penuntutan. kejaksaan (yang melaksanakan tugas penuntutan dan eksekusi putusan pengadilan) dan Pengadilan (yang mengadili) sehingga membentuk jaringan kerja terpadu yang dikenal dengan integreted criminal justice system. Penerbit Alumni Bandung.H. Tugas-tugas penyidikan dan penuntutan bermuara pada pengadilan. Sistem Peradilan Pidana (SPP) terdiri atas sub-sistem yang saling berhubungan antar sub-sistem kepolisian (yang melaksanakan tugas-tugas penyidikan). Ali Zaidan. Dalam pandangan ini. Pengadilanlah yang mengkonkritkan hukum. 1981 halaman 120 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 107 . MH. Semua sub-sistem diarahkan kepada tujuan untuk menegakkan tata hukum pidana. Pada sisi lain.. Kapita Selekta Hukum Pidana. 1 SPP – Bejana Berhubungan Secara dogmatik.

hasil yang diperoleh tidak akan selalu selaras dengan tujuan sistem secara keseluruhan. Hak Asasi Manusia dalam Sistem Peradilan Pidana. sub-sub sistem peradilan itu akan menentukan sendiri hukum dalam bidang dan tugasnya masing-masing dalam mengejar tujuannya. Mardjono Reksodiputro. sub-sub sistem peradilan pidana itu sendiri merupakan sub-sistem yang diikat oleh ketentuan perundang-undangannya masingmasing. Putusan pengadilan merupakan hasil akhir (product) proses hukum sebelumnya. Akan tetapi sebagai proses sosial yang melibatkan lingkungannya. Keterpaduan antar sub-sistem menjadi jaminan bahwa produk yang dihasilkan akan dijamin obyektifitasnya. Jakarta.(yakni kasus hukum). Masalah Penegakan Hukum. Akibat pengaturan demikian. Oleh karena itu kegiatan penegakan hukum tidak dapat hanya dilihat sebagaimana tertera dalam perundangundangan. 1994 halaman 85 Satjipto Rahardjo. Kumpulan Karangan buku Ketiga. Pusat Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum (d/h Lembaga Kriminologi) Universitas Indonesia. Suatu Tinjauan Sosiologis. penuntutan dan pengadilan) dan berakhir pada out put yakni putusan pengadilan. Tanpa keterpaduan dalam sistem akan diperoleh kesulitan dalam mengukur tingkat keberhasilan maupun kegagalan sistem sebelumnya.4 Konsekuensi pernyataan di atas bahwa rumusan-rumusan abstrak dalam undang-undang hanya dipakai seb- 3 4 B. antar subsistem peradilan terdapat hubungan saling berhubungan. Kegagalan suatu sub-sistem akan mempengaruhi subsistem lainnya. Sistem Peradilan Pidana hendaklah dipandang sebagai bagian dari sistem yang lebih besar yakni Sistem Sosial yang lebih rumit dan canggih. Jakarta. penegakan hukum hendaklah dipahami sebagai kegiatan yang dilakukan oleh institusi hukum dalam keseluruhan kerangka sosial yang lebih besar. Penerbit Badan Pembinaan Hukum Nasional. Penegakan hukum tidak lagi dilihat sebagai penegakan undang-undang an-sich.3 Hubungan antar sub-sistem peradilan tersebut membentuk suatu jaringan laksana bejana berhubungan. menurut pandangan sosiologis. Konsekuensinya. tanpa tahun. Oleh karena itu. akan tetapi hendaklah dilihat dari persepektif yang lebih luas. halaman 15 108 Bunga Rampai . processing (penyidikan. Sebaliknya.

Tanpa memperhatikan interrelationship antara sub-sistem di atas. halaman 86 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 109 . Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana.5 Dengan demikian menurut pandangan ini terlihat bahwa adanya undang-undang tidak menjadi jaminan bahwa sistem itu akan berjalan dengan baik. substansial maupun kultural. Prentice Hall Inc. tingkah laku yang menjadi latar belakang penegakan hukum dan sejenisnya. Bahkan pengaruh luar itu sendiri akan menjadikan Sistem Peradilan Pidana menjadi unik. Begitu juga hendaknya dilihat kenyataan faktual hubungan interdependensi antara kepolisian dengan kejaksaan.6 Pemahaman terhadap ketiga sinkronisasi ini penting. Englewood Cliffs. 1974 halaman 5 Muladi. Keterpaduan sistem itu sendiri akan tercipta manakala semua pihak yang menjadi bagian dari sistem itu bekerja untuk mencapai tujuan tertentu dalam kenyataan. Terlalu banyak faktor yang tidak terungkap jika hanya membaca peraturan hukum tertulis semata. digambarkan oleh La Patra sebagai berikut:7 Level 1: Masyarakat (society) Level 2: ekonomi. Analizing the Criminal Justice System. Semarang. Lexington Books. New Jersey. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. hal ini ditimbulkan karena besarnya pengaruh lingkungan sosial terhadap pencapaian tujuan Sistem Peradilan Pidana tersebut. dengan lembaga pemasyarakatan. antara kejaksaan dengan pengadilan. Dengan demikian. Adanya independensi antara sistem peradilan pidana dengan sistem sosial.agai petunjuk saja. Keterpaduan atau sinkronisasi itu sendiri meliputi sinkronisasi struktural. An Introduction to the Criminal Justice System and Process. disebabkan karena apa yang dikatakan sistem Peradilan Pidana pada hakikatnya merupakan sistem yang terbuka (open system). teknologi. kepengacaraan dan dengan hukum itu sendiri. tidak mungkin Sistem Peradilan Pidana tidak terpengaruh atau kedap terhadap pengaruh sub-sistem sosial di luarnya. 5 6 7 Alan Coffey et al. akan mengakibatkan kerawanan yang mengarah kepada fragmentasi dan ketidakefektifan sistem peradilan pidana itu sendiri. yang ingin diketahui lebih jauh adalah bagaimana hukum itu dijalankan. 1978. pendidikan dan politik Level 3: sub-sistem Peradilan Pidana. 1995 halaman 1 La Patra.

op cit halaman 14 8 110 Bunga Rampai . dalam hal mana konflik diselesaikan. ekonomi dan budaya tidak dapat diabaikannya ketika proses penegakan hukum itu dijalankan. Cole. Politics and the Administration of Justice. maka keputusan-keputusan politik itupun menjadi sah atau memperoleh legitimasinya.9 Faktor-faktor eksternal seperti politik. penegakan hukum hendaklah dilihat sebagai suatu proses sosial yang melibatkan lingkungannya. 1985 halaman 26 9 op cit halaman 113 10 Satjipto Rahardjo. melainkan apa yang dilakukan oleh aparatur penegak hukum dalam menghadapi masalah-masalah dalam penegakan hukum. Pertimbangan-pertimbangan politik merupakan faktor dalam pengambilan keputusannya. Kita tidak dapat berbicara penegakan hukum apabila keadilan tiGeorge F. Nilai-nilai dasar ini merupakan fundamental hukum yang esensiil. dapat diasumsikan bahwa proses peradilan merupakan suatu sub-sistem dari sistem politik yang lebih luas. Dalam perspektif ini. Bandung. akan tetapi dilihat sebagai kegiatan untuk mewujudkan keinginan-keinginan hukum menjadi kenyataan. London halaman 20. khususnya dalam hubungan dengan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan untuk dikejar oleh masyarakat. Penerbit CV Sinar Baru.Suatu contoh pengaruh sub-sistem politik terhadap bekerjanya Sistem Peradilan Pidana. kepastian hukum dan kemanfaatan. Sejalan dengan pernyataan ini dikemukakan oleh Satjipto Rahardjo bahwa subsistem politik menggarap masalah penentuan tujuantujuan yang harus dicapai oleh masyarakat serta bagaimana mengorganisasikan dan memobilisasikan sumber daya-sumber daya yang ada untuk mencapainya keputusan-keputusan politik sering dimasukkan atau dirumuskan ke dalam hukum positif. lihat buku Beberapa Pemikiran tentang Ancangan antardisiplin dalam Pembinaan Hukum Nasional. Di lain pihak.8 Dengan tepat Soedarto mengemukakan bahwa membicarakan masalah penegakan hukum di sini tidak membicarakan bagaimana hukumnya. Beverly Hill. Sage Publications. dengan penerimaan oleh pengadilan. maupun yang harus menerima pembatasan-pembatasan dalam bekerjanya disebabkan oleh faktor lingkungan.pengadilan menerima masukan dari sektor politik ini dalam bentuk petunjuk tentang apa dan bagaimana ia harus menjalankan fungsinya. dalam pengertian bahwa penegakan hukum sebagai kegiatan yang menarik lingkungan ke dalam proses tersebut. Penegakan hukum tidak lagi didefinisikan sebagai penegakan undang-undang belaka.10 Mewujudkan keinginan-keinginan hukum dalam kenyataan dapat diartikan sebagai usaha untuk mewujudkan nilai-nilai dasar di dalam hukum seperti keadilan.

begitu juga nilai kemanfaatan. Sistem Peradilan Pidana hendaklah dilihat dalam bingkai yang lebih luas sebagaimana disebutkan di atas. Part One.tidak dapat dipandang sebagai kepastian yang hakiki. Kita tidak dapat berbicara penegakan hukum tanpa melibatkan sub-sub SPP secara keseluruhan. Padahal dalam bingkai sosiologis. Pernyataan ini tentu akan mendapat sanggahan dari mereka yang berpendirian normatif. Dengan demikian nilai daya guna hendaknya menjadi perhatian dalam setiap upaya law enforcement. nilai keadilan harus dikorbankan. SPP terkadang menimbulkan faktor kriminogen. bahwa keadilan dan kemanfaatan itu harus dicapai melalui kepastian hukum. Hukum dengan berbagai pranatanya dibuat untuk memaslahatkan umat manusia dan perlindungan terhadap hak-hak fundamental manusia pula. hlm 8 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 111 . Pendekatan sistemik harus menjadi acuan bekerjanya sistem itu dalam rangka penanggulangan kejahatan. John R Blad (ed) Erasmus Universiteit Rotterdam.dak terwujud. Kepastian hukum --. Diantaranya SPP menimbulkan penderitaan. nilai kepastian hukum itu sendiri mengandung masalah yang substansial. Demi sebuah kepastian hukum terkadang keadilan dikorbankan. sebaliknya untuk mewujudkan keadilan terkadang kepastian hukum diabaikan. The Criminal Justice System as a social problem : an abolitionist persepective. akan tetapi tidak lain dari kepastian akan peraturan belaka. Louk Hulsman. Undang-undang dibuat untuk menjaga nilai-nilai keadilan dan kemanfaatan.A. akan tetapi dalam waktu tertentu nilai kepastian dapat dikorbankan demi mencapai tujuan keadilan. SPP itu sendiri diartikan sebagai sistem dalam suatu masyarakat untuk menanggulangi masalah kejahatan. bahkan dalam batas tertentu nilai-nilai dasar tersebut hendaklah dilihat sebagai nilai antinomik. apabila demi menjaga suatu kepastian hukum. Sebagai suatu sistem sosial yang lebih besar. Sungguh suatu ironi.yang menjadi tujuan dibuatnya undang-undang. Makna menanggulangi di sini diartikan sebagai usaha untuk mengendalikan kejahatan agar berada dalam batas-batas toleransi masyarakat. tidak dapat bekerja menurut tujuan yang dicita-citakannya dan SPP memiliki cacat yang 11 L.

mendasar. seperti nilai keadilan dan kepastian hukum. Birokrasi lebih berpegang kepada normanorma yang bersifat formal sehingga terkadang terbelenggu oleh prosedur. Misalnya kelambanan dalam salah satu sub-sistem peradilan disebabkan beban kerja yang berat dan sumberdaya yang terbatas merupakan penyebab pelayanan kepada pencari keadilan menjadi tidak optimal. Pada sisi yang lain terdapat ungkapan “tegakkan hukum dengan cara-cara menurut hukum” terkadang dalam hal-hal tertentu justru membawa dampak yang tidak produktif. tidak tanggap dan tidak cepat. konsep. hal ini disebabkan karena usaha pemberian keadilan kepada warga tidak dapat dilakukan oleh warga masyarakat dengan cara-caranya sendiri. kekakuan. Dengan tepat Roeslan Saleh mengemukakan bahwa pekerjaan mengadili (dalam perkara pidana) merupakan pekerjaan pergulatan 112 Bunga Rampai . Pembicaraan tentang hal ini akan membawa kepada wacana keadilan yang birokratik. Sebuah pekerjaan besar yang membutuhkan dedikasi dan determinasi. Nilainilai yang menjadi dasar masing-masing pihak terkadang merupakan nilai-nilai antinomik.11 Faktor kriminogen ini hendaknya menjadi perhatian semua pihak yang terlibat dalam sub-SPP kita apabila tujuan akhir penegakan hukum (pidana) adalah untuk mewujudkan kesejahteraan sosial (social welfare). Diantara karakteristik birokrasi (peradilan) misalnya sifat yang non personal. Keadilan birokratik ini terkadang terlalu prosedural sehingga dalam hal-hal tertentu tidak sejalan dengan keadilan substantif. sehingga terkadang kepentingan justisiabelen diabaikan. Tugas SPP adalah meramu atau melakukan sintesis antara kedua nilai yang antinomi tersebut. Law enforcement yang dilakukan melalui SPP melibatkan sistem birokrasi yang rumit dan canggih. kelambanan menjadi faktor yang mempengaruhi penegakan hukum itu sendiri. kepentingan pribadi dengan kepentingan umum dan sebagainya. doktrin adagium dan sejenisnya. Akan tetapi tindakan untuk merealisasikan nilai-nilai yang terkandung atau yang berada di belakang norma hukum yang hendak ditegakkan itu. Oleh karena itu pekerjaan penegakan hukum yang dilakukan melalui SPP bukanlah pekerjaan subsumptie otomat alias teknologi pencet tombol. akan tetapi dilakukan melalui sistem birokrasi yang rumit dan canggih.

akan tetapi membentuk hubungan yang dinamis dengan sistem sosial yang lebih besar yang berada di luarnya. Dalam hal ini gagasan untuk tetap menghidupkan forum-forum seperti Makehjapol di tingkat pusat maupun Diljapol di tingkat daerah perlu didukung secara proporsional. perlindungan hak-hak warganegara dan kerjasama yang produktif. Laksana bejana berhubungan. populis dan holistik. integritas dan komitmen untuk menegakkan hukum seadil-adilnya. Mereka tidak bekerja dalam ruangan yang hampa. Aparat penyidik. akan tetapi merupakan lembaga sosial yang bermakna. Pembagian tradisionil dalam sistem ketatanegaraan legislatif.kemanusiaan. Meskipun unsur keyakinan hakim menjadi faktor yang determinan dalam pembuatan putusan akan tetapi ketentuan hukum acara dan hal hal lain yang relevan hendaklah pula diindahkan. di dalam tarik menarik berbagai faktor internal maupun eksternal itulah hakim harus memberikan putusan yang seadil-adilnya. Di samping itu dapat digunakan untuk meminimalisasi berbagai conflict of interest yang mungkin timbul yang disebabkan oleh egoisme sektoral yang berlebihan. Forum yang demikian itu untuk melakukan koreksi dan pengayaan terhadap segala sesuatu yang telah dan akan dilaksanakan ke depan. keterpaduan tersebut tidak hanya meliputi hubungan antar sub-sistem dalam SPP tersebut secara tertutup. Pertemuan dalam forum tersebut dilandasi oleh semangat profesionalisme. penuntut umum maupun hakim bekerja dalam suatu keterpaduan yang harmonis. Kesadaran seperti inilah hendaknya menjadi semangat aparatur yang mengemban tugas penegakan hukum dalam tiap sub Sistem Peradilan Pidana kita. Kejaksaan – Kekuasaan Eksekutif Penegasan bahwa Kejaksaan Republik Indonesia merupakan bagian eksekutif power di negeri ini tidak perlu diragukan lagi. Diharapkan dengan cara demikian SPP tidak menjadi lembaga yang terasing dalam lingkungan sosialnya. Hal ini disebabkan karena kekuasaan untuk menuntut dan mengeksekusi putusan pengadilan merupakan wewenang absolut kejaksaan. Semua faktor internal (pribadi hakim) dan faktor eksternal (yang diadili) berbaur menjadi satu. eksekutif dan yudiKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 113 .

Dalam penanganan kasus korupsi maupun illegal logging misalnya. Hal ini disebabkan karena selama kejaksaan berada di bawah bayang-bayang pemerintah. Ketika itu kesan tebang pilih yang muncul di masyarakat tidak dapat dihindarkan. Sebagai bagian dari kekuasaan eksekutif kejaksaan harus mampu mengambil sikap dalam posisi yang sulit sekalipun. merupakan faktor yang menyebabkan tidak optimalnya pelaksanaan tugas dan wewenang kejaksaan dalam rangka penegakan hukum. Kejaksaan RI.katif telah menempatkan kejaksaan dalam hal ini sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan.12 Meskipun dapat dipahami bahwa kedudukan institusi dalam posisi yang demikian itu. Dengan demikian terjadi hubungan interdependensi antara kebijakan pemerintah dengan tugas-tugas kejaksaan. selama itu pula obyektifitas kejaksaan terus menerus dipertanyakan. Pengaturan seperti ini terkadang menimbulkan indikasi ketidakmandirian kejaksaan di tengah-tengah arus pusaran kepentingan eksekutif. dapat menempatkan kejaksaan dalam posisi yang dilematik dan vulnerable.13 Landasan perundang-undangan dalam tataran konsepsional tadi. Jakarta. wacana agar Kejaksaan dilepaskan dari kekuasaan pemerintahan sepatutnya diperhatikan. 2005 halaman 50 114 Bunga Rampai . di mana melibatkan orang-orang yang mempunyai kuasa politik atau ekonomi terkadang menjadikan kejaksaan sebagai sasaran kritik. Penerbit PT Gramedia. munculnya lembaga-lembaga lain dengan kewenangan yang berpotensi mereduksi tugas dan wewenang kejaksaan. “Secara jujur harus dikatakan bahwa kebijakan yang berkaitan dengan penegakan hukum. Dalam dilematik itu kejaksaan harus menentukan sikapnya. Untuk hal itu. bukan semata-mata karena perilaku aparatur kejaksaan. Ketidakmandirian kejaksaan dalam melaksanakan tugas penuntutan lebih disebabkan karena faktor perundang-undangan yang dijadikan landasannya. melainkan lebih karena terjadinya pemasungan kewenangan”. Di lain pihak. Sehingga kesan ketidakmandirian 12 13 Pengaturan ini dapat dilihat dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia. Kebijakan demikian membawa kesan bahwa kejaksaan melakukan tebang pilih dalam melakukan tuntutan dalam kasus-kasus tertentu. menjadi realitas dalam tataran aplikasinya di lapangan. Lihat Marwan Effendi. begitu pula dalam undang-undang kejaksaan sebelumnya. Posisi dan Fungsinya dari Perspektif Hukum. yang menjadi sorotan negatif akhir-akhir ini.

Oleh karena itu pengangkatan jabatan strategis di lingkungan kejaksaan – bahkan Jaksa Agung – haruslah bersandarkan kepada merit system. jaminan undang-undang yang memberi kemandirian jaksa dalam melaksanakan tugasnya di lapangan tidak berarti banyak jika tidak diikuti dengan semangat mengabdikan segenap jiwa raganya untuk kepentingan tugas penegakan hukum yang diembannya.tidak dapat dielakkan. kewajiban bagi jaksa dan aparat kejaksaan dalam 14 Kita tentu masih ingat dengan kebijakan alm Baharuddin Lopa yang “menusakambangankan” terpidana korupsi.14 Kesemuanya tergantung tekad dan keberanian jaksa dalam menjalankan tugasnya secara mandiri. cukup dengan beberapa lembar kertas saya sudah dapat menjadikan seseorang sebagai terdakwa. Sebagai lembaga yang mengemban tugas penegakan hukum. Institusi ini pernah dipimpin oleh Jaksa Agung Soeprapto yang menunjukkan kemandirian dan keberaniannya menegakkan hukum. Sebagai bagian kekuasaan eksekutif. Semuanya tergantung kepada niat. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 115 . Begitu juga dengan Alm Baharuddin Lopa yang dengan keberaniannya menyeret pelanggar hukum ke pengadilan dan mengeksekusi terpidana secara cepat. Selama ini kesan bahwa kejaksaan dapat diintervensi oleh kekuasaan atau partai politik sulit dihindarkan. Meskipun bukan alasan untuk menjustifikasi kedudukan yang demikian untuk menjadikan kejaksaan tidak independen. tentu bukanlah alasan pembenar bagi pemerintah untuk mengintervensi pengisian jabatan-jabatan strategis di tubuh kejaksaan. tekad dan keberanian pimpinan kejaksaan untuk keluar dari kungkungan kekuasaan eksekutif yang mempengaruhi netralitasnya. Pada pihak lain pengaruh sosial politik hendaknya memberikan ruang gerak yang luas kepada kejaksaan untuk melaksanakan tugas dan wewenangnya secara mandiri.” demikan katanya pada suatu waktu. Bahkan Lopa berhasil membebaskan kejaksaan dari belenggu formalisme ketika ia mengatakan bahwa “untuk menyeret seorang tersangka korupsi. Kebijakan demikian mengundang simpati publik. karena apabila campur tangan itu dilakukan berarti menjadikan lembaga ini berada di bawah bayang-bayang pemerintah. tidak perlu setumpuk bukti yang saya butuhkan. Oleh sebab itu terwujudnya due process of law sulit direalisasikan.

melaksanakan tugasnya mengindahkan norma-norma kesopanan. kecuali kepentingan keadilan. Bandung.15 Pada sisi lain jaksa tidak dapat melaksanakan tugas-tugas profesionalismenya secara optimal. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tugas penegakan hukum tidak tergantung kepada kepentingan penguasa atau kepentingan apapun. kemanusiaan dan kesejahteraan. Penerbit Citra Aditya Bakti. Oleh karena itu. hal mendesak untuk dilakukan saat ini misalnya sistem pertanggung jawaban yang berlaku di kejaksaan perlu dilakukan peninjauan kembali. Lihat Yudi Kristiana. Begitu juga sistem keamanan dirinya hendaknya dijamin. seperti 15 Doktrin Kejaksaan adalah satu dan tidak terpisah-pisahkan (‘een an ondelbaar’) layak untuk dipertimbangkan karena mempengaruhi independensi jaksa ketika menjalankan tugas-tugas penuntutan. negara harus menjamin keamanan jaksa agar bebas dari pelbagai gangguan dalam melaksanakan tugas profesinya. Dalam “Guidelines on the Role of Prosecutor” terdapat ketentuan mengenai hal ini. instruksi dan sejenisnya merupakan hambatan nyata bagi jaksa dalam melaksanakan tugas-tugas penuntutan. 116 Bunga Rampai . Doktrin demikian tidak selaras dengan tuntutan kemandirian dan profesionalisme kejaksaan dalam melaksanakan tugas-tugas penuntutan. Independensi Kejaksaan dalam Penyidikan Korupsi. “Petunjuk-petunjuk atasan”. 2006. Di samping itu kemandirian jaksa dalam melaksanakan tugas penuntutan hendaklah dijamin secara utuh. Kewajiban demikian akan mengontrol kejaksaan agar tidak terjebak kepada pertarungan kepentingan yang sempit dan sesaat. Di samping itu. Dengan adanya jaminan demikian diharapkan jaksa dan kejaksaan pada umumnya dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. hlm 121. kesusilaan dan keharusan menjaga kehormatan dan martabat profesinya di samping terus menerus menggali nilai-nilai hukum yang berkembang merupakan suatu keniscayaan. antara lain jaksa adalah unsur utama dari “agent of the administration of justice” yang harus menjaga martabat profesinya. Sistem demikian dapat menyebabkan kejaksaan akan dengan mudah diintervensi oleh kekuasaan. Oleh karena itu penetapan kebijakan yang menyangkut institusi kejaksaan hendaklah selain mengacu kepada tuntutan nasional juga harus mengindahkan aspirasi masyarakat yang berkembang secara universal.

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 117 . Sebagai lembaga pemerintahan yang memiliki wewenang yang luas dalam perkara pidana. wewenang kejaksaan untuk juga mengemban tugas-tugas lain jika ditetapkan dengan undang-undang terkait kedudukan sebagai lembaga pemerintahan layak dipertimbangkan. perdata dan tata usaha negara begitu juga tugas dalam bidang ketertiban dan ketenteraman umum. sehingga dapat melaksanakan tugasnya secara independen. Dalam undang-undang sebelumnya di sebutkan bahwa Kejaksaan ialah alat negara penegak hukum yang terutama bertugas sebagai penuntut umum. Kritik yang dialamatkan kepada institusi kejaksaan. besarnya tuntutan pidana dan cara bagaimana putusan hakim dijalankan menjadi tanggung jawab kejaksaan sepenuhnya. Kedudukan yang strategis yakni menentukan perkaraperkara apa yang akan dilimpahkan ke pengadilan. prasarana dan faktor finansial ini menyebabkan kejaksaan kalah berpacu dengan tuntutan perkembangan zaman. faktor finansial juga menentukan tingkat capaian-capaian yang diperoleh instansi ini. terkadang didasarkan kepada pengamatan yang tidak cermat.penetapan standar minimum tugas profesi jaksa atau penyusunan kode perilaku jaksa mendesak untuk direalisasikan dengan mengacu pada Guidlines di atas. Kedudukan sebagai lembaga pemerintahan ini mengakibatkan pelaksanaan tugas dan wewenang kejaksaan berbeda dengan sebelumnya. Keadaan sarana dan prasarana yang masih minim begitu juga dukungan sumber daya manusia yang tidak proporsional membuat kejaksaan sebagai lembaga yang rentan.16 Akan tetapi dalam undang-undang yang menggantikannya ditegaskan bahwa Kejaksaan adalah lembaga pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan serta kewenangan lain berdasarkan undang-undang. Anggaran operasional dan anggaran pembangunan yang masih terbatas merupakan kendala yang serius dan hendaknya menjadi prioritas ke depan untuk segera diantisipasi. Keterbatasan sarana. Di samping masalah yang bersifat struktural tersebut. di sisi lain keterbatasan-keterbatasan sebagaimana disebutkan 16 Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 15 Tahun 1961 ini bisa jadi merupakan faktor yang menimbulkan kemandirian kejaksaan pada waktu itu.

Cole. kejaksaan memiliki kekuasaan dan tanggung jawab untuk membuat kebijakan-kebijakan politik. Beverly Hills/London. diantaranya terdapat instruksi agar kebijakan untuk memberikan dukungan maksimal terhadap upaya-upaya penindakan korupsi yang dilakukan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia. Cole.di atas memerlukan tindakan konkrit untuk dilakukan pembenahan sesuai dengan tuntutan yang berkembang saat ini. Kekurangan dan kesalahan di sana-sini tentu tidak akan diabaikan. Masyarakat tidak boleh membiarkan atau menjadikan kejaksaan sebagai bulan-bulanan ketidakpuasan. sehingga kesan subyektif tidak dapat dihindarkan. Sistem reward dan punisment tentu harus dilakukan secara transparan dan konsisten. Sebagaimana legislator dan hakim. dapat menyebabkan kejaksaan berada dalam ranah politik.18 Jaksa memiliki kekuasaan diskresioner yang berpengaruh dalam usaha penegakan hukum. 1973 halaman 112 Kebijakan seperti ini dapat kita lihat misalnya dalam Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 Tentang Percepatan Pemberatasan Korupsi. Sage Publications. Kejaksaan Republik Indonesia dan Komisi Pemberantasan Korupsi dengan cara mempercepat pemberian informasi yang berkaitan dengan perkara tindak pidana korupsi dan mempercepat pemberian izin pemeriksaan terhadap saksi/tersangka.17 Melalui kewenangan yang dimilikinya. kejaksaan tidak dapat lepas dari pengaruh-pengaruh sekelilingnya. akan tetapi hendaknya menjadikan institusi ini berdaya. kejaksaan dapat menentukan perkara-perkara mana yang akan dituntut. sehingga merit system dapat berjalan dengan baik. Politics and the Administration of Justice. Kedudukan sebagai lembaga pemerintahan tersebut. Kondisi demikian tidak hanya terjadi di negeri kita sebagaimana dikemukakan oleh Cole bahwa SPP dalam hal ini juga kejaksaan merupakan lembaga politik. Konsistensi ini akan menimbulkan gairah kerja jaksa dan pegawai kejaksaan untuk memberikan darma bakti yang sebaik-baiknya kepada bangsa melalui institusi kejaksaan ini. Selama ini sistem reward dan punisment belum terpolakan secara jelas. op cit halaman 3 George F. Sebagai suatu institusi sosial. 118 Bunga Rampai . Kebijakan yang ditetapkan oleh kejaksaan merupakan refleksi prioritas nilai-nilai politik yang 17 18 19 George F. Kondisi yang lebih trasparan dan obyektif harus diciptakan dan dibakukan secara konkrit.

perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia dan keadilan akan terabaikan. akuntabilitas kejaksaan harus lebih banyak ditekankan kepada kepentingan publik. Di sinilah pengangkatan dan pemberhentian Jaksa Agung hendaknya dilepaskan dari berbagai kepentingan politik sesaat. manakala institusi kejaksaan menjadi lembaga negara.ditetapkan ketika itu. yang perlu dilakukan saat ini adalah bagaimana membuat lembaga kejaksaan harus selalu memiliki komitmen pada hukum dan keadilan. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 119 . Dalam melaksanakan tugas penuntutan. bukan kepentingan politik kelompok tertentu.19 Di sinilah kejaksaan ternyata tidak cukup bekerja dengan menggunakan norma-norma hukum yang ditetapkan sebelumnya. apabila kemandirian personal ini terwujud seorang jaksa akan memiliki kemandirian yang sepenuhnya tanpa ada intervensi atasan atau pihak-pihak yang berkepentingan lainnya. Di samping kemandirian organisasi/institusional. di samping untuk mengisi jabatan sesuai dengan kebutuhan. Kepentingan untuk menegakkan hukum. Pengangkatan Jaksa Agung begitu pula pengisian jabatan-jabatan strategis di lingkungan kejaksaan haruslah didasarkan kepada kepentingan untuk menegakkan nilainilai keadilan dan kemanusiaan yang hakiki. kemandirian personal/individual dapat pula ditumbuhkan. Begitu pentingnya tujuan tersebut. Dibutuhkan keberanian untuk melaksanakan tugas di tengah-tengah tarik menarik berbagai kepentingan yang dominan pada waktu itu. Kedudukan sebagai lembaga negara itu akan menciptakan kemandirian yang sesungguhnya bagi kejaksaan untuk melakukan tugas dan wewenangnya tanpa intervensi kekuasaan eksekutif. Itu semua diharapkan akan terwujud. Untuk itu. Karena apabila kebijakan tersebut tidak diindahkan dapat mengakibatkan kejaksaan terperosok dalam kepentingan kekuasaan yang sempit. sehingga keberanian dan integritas seorang pimpinan kejaksaan menjadi syarat mutlak di samping keahlian tehnis yuridis yang dimiliki jaksa pada umumnya. Begitu juga harus ada jaminan bagi jaksa terhadap keselamatan diri dan keluarganya dari berbagai ancaman yang mengganggu kemandiriannya sebagai aparatur penegak hukum. Oleh karena itu menurut Harkristuti Harkrisnowo.

apabila tidak diikuti dengan usahausaha untuk memandirikan kejaksaan sebagai bagian dalam Sistem Peradilan Pidana pada umumnya sehingga menjadi institusi penegak hukum yang terpercaya. Ekspektasi masyarakat yang begitu kuat selayaknya direspon oleh lembaga ini secara konsisten. Tuntutan Publik Jika kita mempersempit makna peradilan dengan pengadilan. penguatan civil society saat ini merupakan momentum yang bagus untuk mewujudkan ide-ide tersebut menjadi kenyataan. Perubahan politik apapun yang terjadi tidak akan membawa arti yang signifikan. Reformasi Peradilan. Akan tetapi kenyataan yang berkembang sesudahnya menunjukkan lembaga ini belum dapat menjawab tuntutan reformasi 120 Bunga Rampai . Penguatan masyarakat sipil saat ini dapat digunakan untuk meningkatkan harkat dan martabat kejaksaan ke arah kemandirian yang sesungguhnya. KKN sebagai virus yang menggerogoti pembangunan merupakan musuh nyata masyarakat yang harus diberantas hingga ke akarakarnya.Masalah di atas merupakan salah satu diantara sekian masalah yang dihadapi oleh jaksa dan kejaksaan pada umumnya pada waktu menjalankan tugas penuntutan dan tugas-tugas lainnya yang membutuhkan integritas. kita dapat melihat bahwa salah satu tuntutan reformasi yang bergulir hampir satu dasawarsa yang lalu yakni kemandirian badan-badan peradilan yang puncaknya pada Mahkamah Agung (MA). MA diharapkan dapat mengemban amanah reformasi yang merupakan tuntutan publik yang disuarakan oleh mahasiswa dan segenap lapisan masyarakat yang menginginkan hukum ditegakkan seadil-adilnya. Sebagai benteng terakhir keadilan. MA sebagai puncak tertinggi dalam peradilan kita menjadi tumpuan harapan publik terutama dalam penanganan perkara korupsi. kolusi dan nepotisme (KKN). Kita tidak dapat menunggu perubahan undang-undang kejaksaan untuk menciptakan kemandirian demikian. Pemberdayaan sektor publik dan sektor privat yang tengah berlangsung saat ini hendak-lah dimanfaatkan sebaik-baiknya guna menuju tegaknya supremasi hukum. Untuk itu perhatian atas semua ini harus dipusatkan agar kemandirian jaksa terwujud.

yang begitu kuat. begitu juga di era Orde Baru kekuasaan kehakiman justu dikukuhkan dengan undang-undang sehingga menjadi bagian dari mesin kekuasaan politik Orde 20 Banyak fakta yang menunjukkan bahwa MA merupakan lembaga yang tidak responsif terhadap tuntutan publik demikian. terungkapnya isu suap di kalangan hakim agung. Berbagai kritik dan saran telah disampaikan. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 121 . Fenomena ini jelas menunjukkan resistensi lembaga peradilan terhadap tuntutan reformasi.20 Meskipun reformasi yang dalam hakikatnya menghendaki perbaikan di semua bidang kehidupan. MA justru menjadi lembaga yang menghambat tuntutan publik untuk tegaknya supremasi hukum. Kesemua itu menunjukkan betapa masyarakat mempunyai kepedulian yang besar terhadap lembaga ini. kekuasaan kehakiman ditempatkan sebagai bagian dari eksekutif. fakta menunjukkan bahwa lembaga peradilan tidak dapat melepaskan diri dari konfigurasi politik yang terus menerus berkembang. wajah peradilan melalui MA seakan tidak tersentuh reformasi. Alih-alih melaksanakan reformasi di tubuh dunia peradilan. Oleh karena itu ungkapan yang dialamatkan kepada mereka yang kritis terhadap peradilan seperti melakukan contempt of court layak dipertanyakan. Kedua rezim memiliki kesamaan-kesamaan dalam memberdayakan kekuasaan kehakiman. Bahkan terkesan justru counter produktive maupun over protective terhadap tuntutan publik bagi reformasi peradilan. lembaga-lembaga peradilan masih asik dengan masalahnya sendiri. Dalam beberapa dasawarsa terakhir. Realitas menunjukkan bahwa konfigurasi kekuasaan kehakiman tidak dapat dilepaskan dari bayang-bayang pemerintah yang tengah berkuasa. Pengalaman dalam dua sistem pemerintahan yang pernah dianut oleh Indonesia. hal ini terlihat dari putusan-putusannya yang kontroversial. perpanjangan usia pensiun Ketua MA sampai kepada perseteruannya dengan Komisi Yudisial. baik ketika Orde Lama dengan demokrasi terpimpin juga Orde Baru dengan demokrasi Pancasila mempunyai standar-standar yang dapat diperbandingkan. Kekuasaan kehakiman tidak otonom dari pengaruh rezim yang berkuasa ketika itu. Di bawah rezim demokrasi terpimpin.

21 Secara khusus Benny K Harman menyatakan bahwa konfigurasi politik yang demokratis akan melahirkan kekuasaan kehakiman yang independen. dengan menempatkan sisi teknis peradilan di bahwa MA. pemerintahan di era ini telah menghambat independensi kekuasaan kehakiman yang mandiri. Penerbit Elsam. pemalsuan vonis.23 Begitu juga penelitian A Mohammad Asrun yang mengkritisi peranan badan peradilan di bawah bayang-bayang rezim Orde Baru. halaman 4 122 Bunga Rampai . Krisis Peradilan. Sebaliknya jika konfigurasi politiknya otoriter.22 Dalam kasus Hanoch Abee Ohee. Menurut Asrun. maka kekuasaan kehakiman cenderung memiliki karakter tidak independen. Konfigurasi Politik & Kekuasaan Kehakiman di Indonesia. memiliki wewenang judicial review. kolusi dan nepotisme. halaman 450 Salah satu ulasan yang menarik tentang KKN dilingkungan badan Peradilan kita lihatlah buku Menyingkap Kabut Peradilan Kita. Malahan diciptakan dualisme ditubuh badan peradilan. para hakim sangat legalistis/positivisme dalam memutus perkara dan para hakim akan mendukung serta terikat pada visi dan kepentingan politik pemerintah. Menyoal Kolusi di Mahkamah Agung. MA menganulir putusannya melalui surat sakti Ketua MA yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan di Jayapura untuk menunda eksekusi putusan yang telah in kracht van gewijsde. hingga isu suap yang melanda badan peradilan tertinggi ini merupakan contoh bahwa lembaga yang disebut sebagai benteng terakhir keadilan ini tidak steril dari korupsi. Begitu juga dalam kasus Gandhi Memorial School. Mahkamah Agung di Bawah Soeharto. Jakarta. melaksanakan cita hukum.24 Undang-undang Pokok Kekuasaan Kehakiman merupakan kekalahan kaum reformis yang ketika 21 22 23 24 Hal ini dapat dilihat dari penelitian Benny K Harman. tidak legalistis. Jakarta 1997. 2004.Baru. Ibid. Jakarta. Aldentua Siringoringo dan Tumpal Sihite (Penyunting). Penerbit Pustaka Forum Adil Sejahtera. menurut beliau. memiliki wewenang judicial review yang terbatas. tetapi sisi administratif dan finansial di bawah eksekutif. penerbit Elsam. Lembaga peradilan dilumpuhkan sedemikian rupa sehingga tidak mampu mengurus dirinya sendiri dan terlena di bawah bayang-bayang kekuasaan pemerintahan. tidak memiliki kewajiban untuk tunduk pada visi dan kepentingan politik pemerintah. 1996 A Muhammad Asrun.

komisi yudisial. Tak terkecuali pula dengan MA. bahwa:”kebebasan yang dimiliki lembaga pengadilan tidak lain merupakan suatu kemandirian yang sangat diperlukan (indispenseble) dan “Conditio Sine Quanon” (harus tidak boleh tidak adanya) karena selain menunjukkan bahwa negara ini adalah Rechtsstaat juga menunjukkan akan adanya jaminan terselengaranya peradilan yang independen guna menegakkan hukum yang berintikan keadilan”. Jakarta. peradilan niaga dan peradilan hak asasi manusia.25 Penentuan Ketua dan Wakil Ketua MA merupakan kewenangan presiden dalam kedudukannya sebagai kepala negara. meskipun lembaga ini tidak seratus persen berada di bawah pemerintahan. Dengan adanya kenyataan tentang masalah organisasi. Penerbit RajaGrafindo Persada. Penerbit Kata Hasta Pustaka. Halaman 199 – 200. 2006. akibatnya akan sulit diharapkan kemandirian mereka ketika menjalankan tugas-tugas yudisial mereka. Potret Lembaga Pengadilan Indonesia. Keterpurukan dunia peradilan disebabkan karena sistem sosial yang karut marut. Hukum & Peradilan. Walaupun kedudukan sebagai kepala pemerintahan dalam hal ini sukar untuk diabaikan. Usaha reformasi di dunia peradilan diantaranya mencakup reformasi di MA. manajemen keuangan. pendidikan. kontrak sosial dan reformasi manajemen instrumental. para hakim di pengadilan negeri dan pengadilan tinggi tergantung sepenuhnya pada Departemen Kehakiman ketika itu. Reformasi dalam tubuh peradilan menjadi conditio sine qua non untuk memenuhi tuntutan publik tersebut. Karut marut wajah peradilan memperoleh bentuknya yang sempurna manakala kekuasaan eksekutif berhasil merasuki wilayah yudikatif dengan menodai kemandiriannya. personel.26 Tindakan demikian jelas melukai perasaan keadilan masyarakat. administrasi dan keuangan. Sebastian Pompe mengemukakan bahwa untuk mereformasi dunia peradilan di Indonesia tidak dapat dilakukan secara fragmentaris akan tetapi meliputi reformasi kebijakan yang bersifat institusional. Jakarta. Arus Pemikiran Konstitusionalisme. akan tetapi dalam menentukan personalianya tergantung kepada presiden. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 123 .itu bekerja keras untuk mencegah terulangnya pengebirian kekuasaan di masa rezim Demokrasi Terpimpin. 2007 halaman 57 Rusli Muhammad. sehingga lembaga peradilan 25 26 Lihat Adnan Buyung Nasution.

Tentang gagasan ini dapat dibaca tulisan-tulisan Satjipto Rahardjo. Pendekatan tradisional yang selama ini dipraktikkan hendaklah ditinggalkan. prosedur dan sekalian doktrin konvensional hendaklah ditanggalkan karena akan menimbulkan kesengsaraan. 18 September 1998 dapat dijadikan referensi untuk merintis sistem peradilan progresif itu. Jum’at. Fungsi Mahkamah Agung dalam Praktik Sehari-hari. Oleh karena itu. Edisi 15 Tahun IV Januari – Maret 2007. Lembaga-lembaga hukum seperti pengadilan hendaklah membantu manusia untuk menyelesaikan konfliknya sendiri 27 28 Sebastian Pompe.27 Keterpurukan peradilan haruslah menjadi concern masyarakat seluruhnya. 2001. 124 Bunga Rampai . juga “Mahkamah Agung Reformasi” harian Kompas. Saat ini kita membutuhkan suatu penegakan hukum yang progresif. halaman 60.ikut menjadi korbannya. Penerbit Sinar Harapan. Understanding the Indonesian Blueprints for Court Reform” dalam Jentera. Peradilan yang progresif ditandai dengan cara-cara yang progresif dalam memandang hukum. Di era reformasi ini kita membutuhkan lembaga-lembaga peradilan yang reformis pula. Penegakan hukum hendaklah berpijak kepada kepentingan nilai-nilai kemanusiaan. ketidak adilan dan kesewenangwenangan. meskipun kajian terbatas kepada fungsi MA dalam upaya penanggulangan tunggakan perkara dan pemberdayaan fungsi Pengawasan Mahkamah Agung akan tetapi buku ini dapat memberikan kontribusi positif bagi reformasi peradilan. bukan penegakan undang-undang yang secara linear diartikan sebagai penegakan hukum. “ Managing Court Reform. Jakarta. upaya pembenahan ditubuh peradilan harus dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan semua komponen masyarakat. Sebastian Pompe mengingatkan bahwa reformasi lembaga peradilan ini hendaknya menjadi keprihatinan kita semua. diantaranya “Indonesia Inginkan Penegakan Hukum Progresif” harian Kompas. tentang peranan MA dan urgensi reformasi di tubuh MA dapat dibaca buku Henry P Panggabean. oleh karena itu belenggu formalisme. Keterlibatan semua komponen sosial agar menjadikan lembaga peradilan menghasilkan daya guna dan hasil guna yang maksimal untuk mewujudkan prinsip negara hukum merupakan sebuah keniscayaan.28 Gagasan peradilan progresif sebagaimana dilontarkan oleh Satjipto Rahardjo hendaklah dilihat sebagai eksemplar atau alternatif keluar dari krisis peradilan saat ini.

melakukan promosi dan perlindungan hak asasi manusia. antara lain: menjauhi hal-hal yang bersifat fragmentaris dan mengedepankan pendekatan sistemik. 2002. Secara keseluruhan. seperti UN Basic Principles on the Independence of Judiciary (1985). hukum tidak mengabdi kepada kepentingan kekuasaan politik. Penyebab dan Solusinya. reformasi struktural dan 29 Achmad Ali. Dalam jangka pendek. tindakan reformis itu akan diikuti juga oleh kepolisian dan kejaksaan secara berkesinambungan. konsep kesadaran hukum yang terpadu antara kesadaran hukum penguasa dan perasaan hukum masyarakat. Oleh karena itu. Untuk mencapai tujuan yang demikian luas itu. halaman 27. bahkan filosofi yang mendukung efektivitas sistem tersebut). MA sebagai lembaga peradilan yang tertinggi di Republik ini. akar kulturalnya dan akar religiusnya. semua pihak harus berjuang untuk mengembalikan hukum kepada akar moralitasnya. Jakarta. Peranan hakim menjadi sentral dalam hubungan kemanusiaan ini.dengan menggunakan seluruh kapasitas kemanusiaannya. reformasi di badan peradilan harus dilakukan secara menyeluruh dan integral. sikap. elemen substansial (hukum positif yang mendasari jalannya sistem tersebut) dan elemen kultural (pandangan. Oleh karena itu. Dalam rangka menciptakan independensi peradilan beberapa hal hendaklah menjadi perhatian. mengutamakan kebenaran dan keadilan. Penerbit Ghalia Indonesia.29 Dengan cara demikian. Kepatuhan hukum yang bersandarkan kepada kesadaran hukum yang hakiki. Prinsip kemandirian kekuasaan kehakiman ini merupakan prinsip yang diakui secara universil. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 125 . sehingga pengadilan di bawahnya akan melakukan hal yang sama. reformasi di jajaran kekuasaan kehakiman yang dimulai dari MA hendaklah mengikuti skala prioritas yang telah ditetapkan sebelumnya. Keterpurukan Hukum di Indonesia. diharapkan kepatuhan masyarakat terhadap hukum akan terwujud. hendaklah memulai langkah-langkah progresif ini. Reformasi itu meliputi elemen struktural (kelembagaan yang terkait pada sistem). sistem hukum yang kondusif untuk terciptanya supremasi hukum.

Dengan demikian terjadinya conflict of interest antar sub-sistem dapat dihindari. halaman 10 126 Bunga Rampai .30 Melalui pendekatan sistemik ini. Demokratisasi. Sinkronisasi atau harmonisasi antar sub-sistem secara keseluruhan akan tercipta. konsekuensinya akuntabilitas hakim tidak hanya sebatas undang-undang akan tetapi secara moral dan sosial.substansial harus diprioritaskan dan dalam jangka panjang melakukan reformasi kultural. Jakarta 2002. hendaklah dilihat dalam perspektif yang luas. Apabila lembaga peradilan diartikan secara luas. akan tetapi suatu kegiatan yang merupakan proyek besar untuk menciptakan keadilan (sosial). Untuk memenuhi harapan itu dibutuhkan kemampuan hakim dalam memahami hukum melampaui batas-batas teks perundang-undangan. Dengan demikian semangat itu harus menjiwai semua lingkungan badan peradilan di atas. peradilan dan pema- 30 Muladi. Kecerdasan intelektual harus diimbangi pula dengan kematangan spritual. Hak Asasi Manusia. keadilan yang dapat diterima semua pihak karena didasari oleh tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagaimana kepala putusan yang dibacakannya. Moral and social accountability ini merupakan salah satu karakteristik peradilan yang reformis. Hakekat kekuasaan kehakiman yang merdeka dan mandiri. tugas hakim tidak hanya menerapkan undang-undang terhadap perkara yang tengah diadilinya. kejaksaan dan juga wilayah legislatif seperti Dewan Perwakilan Rakyat. Penerbit The Habibie Center. Pendekatan fragmentaris dan sektoral akan diminimalisasikan. Untuk itu pula. penuntutan. reformasi hukum dan peradilan akan memperoleh bentuk yang sesungguhnya. Begitu pula pendekatan legalistik selama ini harus ditinggalkan. Kekuasaan kehakiman dalam arti ini hendaklah dilihat sebagai suatu bagian yang integral antar sub-sistem peradilan pidana terpadu (integrated criminal justice system) sebagaimana disebutkan di muka yang meliputi subsistem penyidikan. maka meliputi juga kekuasaan penyidikan dan penuntutan. dan Reformasi Hukum di Indonesia. Reformasi struktural tersebut meliputi reformasi kelembagaan di wilayah eksekutif seperti kepolisian.

Ketika yang menjalankan kekuasaan kehakiman itu terdiri atas manusia. kebijakan legislatif atau perundang-undangan merupakan tahap awal untuk menentukan kemandirian lembaga ini yang nantinya diikuti oleh taraf aplikatif di lapangan ketika wilayah penegakan hukum in concreto dijalankan. 31 Barda Nawawi Arief. Penegakan hukum bukanlah pekerjaan penerapan peraturan dan logika yang secara tradisionil sebagaimana diterapkan selama ini. berikan saya seorang hakim yang jujur dan cerdas. maka dengan undang-undang yang paling burukpun. Pengadilan dalam arti luas.syarakatan.31 Dalam ide ini. penuntut umum dan hakim. determinasi. Walaupun harus tetap dipahami bahwa kebijakan legislatif ini tidak secara taken for granted terwujud di lapangan. Penerbit Kencana Predana Media Group. berupaya untuk mewujudkan peradilan progresif di mana kegiatan tersebut hendaklah dilihat sebagai suatu proses yang sarat dengan compassion yang memuat empati. nurani dan sebagainya. lepas dari kungkungan pemikiran yang legalistik. saya akan menghasilkan putusan yang adil”. Keadilan menjadi tujuan akhir penegakan hukum. Jakarta. ungkapan Immanuel Kant layak dikemukakan di sini: ”If justice is gone. maka predisposisi sebagai subyek untuk menentukan pilihan dalam berbagai alternatif tidak dapat diabaikan. Reformasi peradilan sesungguhnya tergantung kepada predisposisi subyek yang melakukan penegakan hukum (pidana) mulai penyidik. Apakah makna semuanya ini? tidak lain predisposisi subyek akan menentukan kemandirian badan peradilan. Masalah Penegakah Hukum dan Kebijakan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Kejahatan. there is no reason for a man to live longer on earth” oleh karena itu keadilan hendaklah menjadi roh penegakan hukum yang sesungguhnya. 2007 halaman 35 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 127 . Kebijakan legislatif atau perundang-undang merupakan wilayah yang strategis untuk menentukan kemandirian kekuasaan kehakiman dalam tataran aplikatif di semua lingkungan peradilan nantinya. jika tidak. Kemandirian dan kemerdekaan itu tidak akan berarti banyak apabila hanya dimiliki oleh salah satu subsistem dalam SPP di atas. Ungkapan Taverne layak dikemukakan di sini ketika ia mengatakan: ”berikan saya seorang jaksa yang jujur dan cerdas.

Penyimpangan yang dilakukan oleh oknum peradilan dapat menjadi cermin korupnya lembaga itu secara keseluruhan. Karena di satu pihak independensi atau impartially kelembagaan hanya dapat terwujud melalui perilaku nyata personal/individu penegakan hukum. Kedua. Komisi Hukum Nasional. Sistem Peradilan Berwibawa (suatu Pencarian) FH UII Press Yogyakarta. Jakarta 2007 halaman 29 128 Bunga Rampai . pelaku penegakan hukum yang merupakan kunci utama untuk terwujudnya substantive justice. … yang memberi teladan dan menjaga nurani hukum & politik. kalau tidak dikelola secara rasional dapat berbalik menjadi deformasi hukum. penyalahgunaan kekuasaan dipraktikkan secara terang-terangan bahkan dibungkus secara rapi melalui slogan hukum seperti asas legalitas. Unsur pelaku penegakan hukum ini tidak bisa diabaikan. di sisi lain independensi personal/individual terkadang diidentikkan dengan independensi kelembagaan. Dan pada akhirnya keterpurukan dunia peradilan menjadi fenomena yang tidak terelakkan. karena menyangkut kompetensi dan independensi. perlindungan hak asasi manusia dan asas praduga tidak bersalah. karena 32 33 Bagir Manan. Kedua independensi ini harus dilihat sebagai hubungan dialektik. paling tidak harus dipenuhi beberapa syarat misalnya: pertama.E Sahetapy. Di atas telah dikemukakan bahwa independensi kekuasaan kehakiman meliputi independensi kelembagaan dan independensi personal/individual. 2005. Ibarat nila setitik rusaklah susu sebelanga.33 Keadaan deformasi hukum itu merupakan bentuk kesewenang-wenangan secara telanjang.Untuk menegakkan hukum secara adil.32 hukum yang akan ditegakkan haruslah benar dan adil. Reformasi yang sejatinya menjadikan segala sesuatu menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Keadaan itu tidak dapat dibiarkan berlarut-larut. merupakan ungkapan tepat untuk menggambarkan bahwa perilaku kelembagaan dimanifestasi melalui perilaku individu. halaman 9 J. Suatu aturan hukum akan tidak benar dan tidak adil apabila hanya dibuat untuk kepentingan kekuasaan belaka dan mengandung kesewenang-wenangan.

Lembaga politik seperti lembaga perwakilan dan juga partai-partai politik harus memberi dukungan yang setulus-tulusnya terhadap langkah-langkah yang telah diayunkan oleh kejaksaan hatta menyangkut dirinya sendiri sekalipun. Reformasi hendaknya dijadikan pintu masuk ke arah pembenahan komponen substantif. kontribusi lembaga kejaksaan untuk mempercepat reformasi peradilan dimulai dengan kebijakan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 129 . negara dan darma sejarahnya disamping kemampuan intelektual yang mumpuni. Jaksa dan Hakim harus diisi oleh orang-orang yang memiliki integritas pribadi yang kokoh dalam pengabdian tugas-tugasnya demi bangsa. Masih terlalu dini untuk menilai kinerja Jaksa Agung saat ini. Supremasi hukum akan tumbang dan kesewenang-wenangan akan terjadi dimanamana. Penegak hukum harus mengabdikan dirinya untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan kebenaran dengan resiko terberat sekalipun. Dalam kedudukan sebagai lembaga pemerintahan. Politisasi lembaga kejaksaan dalam melakukan penuntutan perkara pidana hendaklah dihindarkan oleh siapapun juga dengan motivasi apapun. Upaya untuk memproses secara hukum tersangka korupsi dalam skala yang besar membutuhkan dukungan dari sub-sistem politik dan sosial keseluruhan. Polisi.prinsip negara hukum akan runtuh. Kemandirian suatu sub-sistem peradilan tidak akan berarti banyak jika tidak diikuti kemandirian sub-sistem lain secara menyeluruh. sebab jika tidak Kejaksaan Agung hanya bekerja untuk dirinya sendiri alias tidak membawa daya guna dan hasil guna. Kontribusi Kejaksaan Dari paparan di atas. Kekuasaan harus ditundukkan kepada hukum bukan sebaliknya. akan tetapi dapat dikemukakan bahwa apa yang telah dirintis oleh Hendarman Supandji merupakan langkah yang terbilang berani. iklim politik yang tengah berkembang janganlah justru menjadikan kejaksaan kehilangan independensinya. secara implisit dapat disimpulkan bahwa independensi kekuasaan kehakiman/peradilan merupakan suatu sistem yang integral. Secara konseptual. ketangguhan moral yang tahan uji dan semangat pengabdian yang tinggi. struktural dan kultural penegakan hukum ke arah yang lebih baik.

Penguatan masyarakat madani (“Civil Society”) harus diikuti dengan penguatan sistem kelembagaan penegakan hukum ke arah pembentukan kultur hukum yang lebih baik. Independensi itu tidak dalam tataran konsepsi akan tetapi hingga tataran realitas atau operasional di lapangan harus diwujudkan. Mereka jauh dari tindakantindakan yang bertujuan mencari sensasi atau popularitas untuk dirinya sendiri.dalam tataran legislatif atau perundang-undangan dengan menempatkan kejaksaan sebagai lembaga yang independen dari pengaruh kekuasaan apapun. akan tetapi mengandung nilai yang positif apabila dikelola. Melakukan penataan terhadap lembaga hukum yang lain secara sistemik termasuk juga lembaga kepengacaraan sehingga tercapai integrated criminal justice system yang sesungguhnya. Kebijakan undang-undang yang menentukan jaksa adalah satu dan tidak terpisah-pisahkan dalam melakukan tugas-tugas penuntutan. karena itu semua pihak harus melepaskan kepentingannya. Hal ini disebabkan karena. Mereka. Terjadinya ketidakmandirian itu dapat dihindarkan manakala kejaksaan mampu mengambil jarak dengan pihak-pihak yang mempunyai kepentingan dalam penyelesaian suatu perkara. oleh karena itu pimpinan kejaksaan hendaklah memberikan perhatian yang besar baik menyangkut promosi maupun kompensasi-kompensasi lainnya. Untuk itu sikap vigilantisme hukum harus ditumbuhkan. Mereka yang mengabdikan segenap kemampuannya bagi kejayaan bangsa ini. Penggarapan komponen substantif dan struktural hendaklah diarahkan kepada pembentukan kultur hukum yang bertujuan untuk menegakkan substantive justice bersandarkan kepada profesionalisme dan integritas yang teruji. walaupun dalam tataran empiris menimbulkan permasalahan. para jaksa yang bertugas di daerah terpencil jauh dari sorotan media massa dan dengan penuh dedikasi dalam tugasnya merupakan vigilantee yang berjuang untuk kejayaan dan kehormatan profesinya. 130 Bunga Rampai . Untuk itulah kemandirian personal harus dilindungi sebaik-baiknya oleh pimpinan kejaksaan. mereka yang mempunyai kekuasaan akan berusaha sekuat mungkin untuk menghambat dan atau mempengaruhi kinerja kejaksaan dalam melaksanakan penegakan hukum secara konsisten. Mereka-mereka inilah pendekar hukum yang sesungguhnya.

Di samping kelemahan-kelemahan yang masih ada. membutuhkan kinerja. Di samping kejahatan konvensional yang terus menerus meningkat membutuhkan penanganan oleh kejaksaan secara optimal. Begitu juga aspek struktural perlu mendapat perhatian Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 131 . alokasi anggaran untuk menyelesaikan kejahatan-kejahatan di atas. Meskipun harus diakui pula bahwa sistem renumerasi di lingkungan kejaksaan masih membutuhkan perbaikan. akan tetapi bukan suatu alasan pembenar bagi jaksa atau pegawai kejaksaan untuk melakukan penyimpangan. Mempertimbangkan tingkat kesulitan dan kompleksitas masalah yang ditangani. money loundering. keberhasilan-keberhasilan kejaksaan dalam menuntaskan berbagai kasus hendaknya menjadi perhatian semua pihak sehingga penilaian atas kinerja kejaksaan menjadi obyektif. illegal logging/ fishing. Semuanya berpulang kepada niat dan ketulusan masing-masing. Optimalisasi tersebut membutuhkan dukungan finansial dan sarana serta prasarana yang tidak sedikit serta sumber daya manusia yang baik. regional dan global. di samping kerja sama lintas sektoral. hendaknya dilakukan secara proporsional dan bijaksana. Tidak ada hubungan yang liner antara perbaikan penghasilan dengan integritas jaksa ketika melakukan tugas-tugasnya di lapangan. tanggung jawab dan dukungan sarana dan prasarana yang memadai. Permasalahan yang bersifat substantif seperti pembenahan peraturan perundang-undangan yang selaras dengan jiwa/semangat undang-undang kejaksaan yang baru baik menyangkut struktur kelembagaan kejaksaan maupun pelaksanaan tugas dan wewenangnya hendaklah dilakukan secara simultan. Oleh sebab itu. Kebijakan anggaran keuangan yang berbasiskan kinerja hendaklah pula dilihat secara proporsionil dengan mempertimbangkan beban kerja dan tuntutan-tuntutan publik serta besarnya tanggung jawab yang diemban. cyber crime yang terkadang melintasi batas-batas negara.maupun pemerintah dan negara pada umumnya. Penanganan perkara-perkara yang tergolong perkara penting seperti korupsi. Begitu juga penyusunan rule of conduct seperti Code Perilaku Jaksa mendesak untuk dilakukan saat ini untuk memenuhi tuntutan profesionalisme sebaik-baiknya.

Begitu juga dalam pengelolaan sumber daya manusia harus dilakukan perencanaan dan perhitungan yang matang. sistem penggajian dan tunjangan jabatan harus dilakukan sejalan dengan kebutuhan yang berkembang dan dilakukan secara cermat. Keunikan ini hendaknya menjadi perhatian pemerintah yang membidangi penataan aparatur negara. Meskipun kejaksaan tidak dapat dilepaskan sebagai lembaga publik yang harus mengakomodasi prinsip-prinsip good government juga harus memperhatikan kebutuhan yang spesifik sebagai suatu lembaga penegakan hukum yang mengemban tugas-tugas yang khusus (legal professional organization). maka pengawasan terhadap jalannya program-program yang telah digariskan harus dilakukan pula secara transparan dan akuntabel. Dan pembentukan kultur di lingkungan kejaksaan harus dibangun secara utuh sehingga kejaksaan menjadi lembaga yang solid. Kultur yang dibangun itu hendaklah berangkat dari kesadaran untuk melaksanakan tugas secara profesional. efisien dan simultan. Semua pihak harus dilibatkan guna menumbuhkan sense of belonging terhadap institusi kejaksaan. kebijakan pembinaan karier. Apabila sebagian kecil permasalahan ini telah dituntaskan. kelengkapan sarana dan prasarana serta sumber 132 Bunga Rampai . mulai sistem rekruitmen pegawai kejaksaan. Oleh sebab itu fungsi pengawasan internal baik meliputi pengawasan melekat maupun pengawasan fungsional dengan pengawasan eksternal dalam hal ini Komisi Kejaksaan perlu dilakukan secara sinergis. transparan dan akuntabel sesuai dengan visi dan misi kejaksaan. Pembenahan yang bersifat struktural meliputi organisasi dan tata kerja kejaksaan diarahkan kepada upaya untuk mewujudkan lembaga kejaksaan sebagai institusi yang sederhana dan efisien. mutasi dan promosi. Kesederhanaan dan efisiensi tersebut tidak boleh mengurangi produktivitas kerja yang optimal. sistem pendidikan yang menunjang tugas-tugas profesional jaksa. struktur organisasi.yang sungguh-sungguh. Optimalisasi produktivitas itu merupakan tuntutan publik yang harus direspon oleh kejaksaan secara bijaksana. Komisi Kejaksaan sebagai state auxiliary institution hendaklah dilihat sebagai mitra guna membenahi institusi kejaksaan baik di dalam pengawasan perilaku. kinerja.

Jika reformasi di tubuh kejaksaan telah terwujud. Akan tetapi kondisi-kondisi internal dan eksternalnya sendiri harus pula diperhitungkan. faktor-faktor itu merupakan variabel yang mempengaruhi kinerja dan hasil yang akan dicapai oleh kejaksaan guna memenuhi ekspektasi publik Dukungan publik terhadap upaya yang dilakukan oleh kejaksaan haruslah diarahkan kepada upaya untuk memberdayakan kejaksaan agar menjadi sub-sistem peradilan yang mandiri dan akuntabel. Dukungan publik untuk menciptakan kemandirian lembaga peradilan merupakan qonditio sine qua non. Pembenahan yang tengah dilakukan oleh kejaksaan diarahkan kepada tujuan untuk mencapai sasaran tuntutan reformasi itu. maka usaha perbaikan di dalam sistem peradilan kita secara keseluruhan akan pula menjadi kenyataan. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 133 . Kejaksaan tidak hanya dituntut untuk merespon tuntutan publik secara cepat tepat dan independen. oleh karena itu independensi kekuasaan kehakiman tergantung kepada faktor-faktor internal lembaga peradilan dan political sphare di sekelilingnya. Optimisme itu harus menjadi komitmen nyata kita semua. Penutup Usaha untuk melakukan reformasi di tubuh peradilan sesungguhnya merupakan perjuangan yang tiada mengenal kata berhenti. sebab jika tidak. reformasi peradilan menjadi sekedar wacana yang tak bermakna. Politisasi lembaga peradilan mutlak harus diakhiri. Kemandirian dan akuntabilitas itu menjadi standar bagi keberhasilan kejaksaan dalam memenuhi harapan publik dan pelaksanaan tugas dan wewenangnya secara baik.daya manusia di lingkungan kejaksaan. Reformasi merupakan sebuah ideologi untuk membangun seluruh komponen bangsa ke arah yang lebih baik.

134 Bunga Rampai .

Sp. atas nama koordinasi tidak jarang keadilan dikebiri untuk mendukung kepentingan pemerintah atau yang mengatas namakan kepentingan pemerintah. LL. Bukti terputusnya koordinasi SPP dapat digambarkan dari permintaan petinggi Polri kepada Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) untuk mengkritisi kinerja peradilan terhadap kasus pembalakan liar (illegal logging) yang cenderung mengabaikan kinerja Polri.N. Efek yang kurang menguntungkan adalah hilangnya forum koordinasi Sistem Peradilan Pidana (SPP) untuk mengefisienkan kinerja antar instansi penegak hukum. Lebih dari itu.* Pendahuluan Salah satu wujud reformasi di bidang penegakan hukum yang cukup signifikan adalah terputusnya hubungan eksekutif dan yudikatif dengan kembalinya pembinaan dan pengawasan hakim di bawah Mahkamah Agung.. Saat ini kehadiran forum tersebut sangat dibutuhkan khususnya pada saat KUHAP sedang dalam revisi karena dinilai sudah tidak sesuai dengan tuntutan pencari keadilan pasca reformasi.M. Dengan biaya yang tidak sedikit Polri telah bersusah payah menangkap dan memeriksa tersangka pembalakan liar. Sikap pengadilan tersebut dianggap men- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 135 .Kontribusi Komisi Kepolisian Nasional Dalam Mempercepat Reformasi Peradilan A. Terputusnya koordinasi di antara para penegak hukum lebih disebabkan karena trauma oleh intervensi pihak yang tidak bertanggung jawab dimasa lalu. Pandupraja S.. sehingga mengganggu independensi instansi peradilan. tetapi kemudian dibebaskan oleh Pengadilan.H.

namun dapat menginisiasi pembentukan forum antar tiga komisi negara di bidang SPP. Eksistensi Kompolnas Sejarah lahirnya Kompolnas didominasi oleh isu keluarnya Polri dari ABRI yang tercermin pada Instruksi Presiden No. Kondisi tersebut dinilai oleh banyak kalangan menjadi latar belakang mengapa Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tidak memiliki kesamaan visi mengenai reformasi SPP melalui komisi-komisi. Kompolnas tidak memiliki hubungan langsung dengan institusi peradilan.2/1999 tentang pemisahan TNI-Polri. Sebuah mata rantai yang saling terkait satu sama lain (garbage in garbage out). Polri terkesan sembrono dan tidak profesional dalam melaksanakan Inpres No. Pada bagian akhir dari tulisan ini akan menekankan pada upaya strategis yang dapat diperankan oleh Community Policing untuk mereduksi gelombang perkara yang melanda lembaga peradilan. problem kinerja pada instansi Polri akan berdampak pada kinerja instansi kejaksaan dan instansi peradilan.jatuhkan wibawa Polri dalam memberantas pembalakan liar. Pemisahan yang ingin mengembalikan Polri ke khittah-nya adalah sebagai akibat dari ketidakpercayaan masyarakat terhadap TNI-Polri yang telah disalahgunakan oleh rezim Orde Baru. Ketiganya. Ketidaksamaan visi ini nampak dari perbedaan mendasar pada kewenangan memeriksa (subpoena power) yang tidak dimiliki oleh Kompolnas tetapi dimiliki oleh Komisi Yudisial dan Komisi Kejaksaan. Sebagai sebuah sistem. Tulisan ini akan menguraikan tentang Kompolnas dan peran strategisnya dalam turut membangun Polri yang professional dan mandiri sebagai bagian dari SPP. yaitu Kompolnas. Komisi Kejaksaan dan Komisi Yudisial. yang sama-sama menjalankan fungsi pengawasan diharapkan dapat bersinergi untuk turut mereformasi SPP dengan tetap memperhatikan independensi masing-masing. 4 Tahun 2005 tentang Pemberantasan Penebangan Kayu Secara Illegal di Kawasan Hutan dan Percepatannya di Seluruh Indonesia. Sebaliknya problem di instansi peradilan tidak lepas dari problem masukan yang diterima dari instansi Kejaksaan dan Polri. Padahal kewenangan tersebut sangatlah mendasar dan sekaligus penting untuk menun- 136 Bunga Rampai .

Atau persoalan yang menghambat sinergi antara Polri dengan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS). Misalnya. Hasil evaluasi kinerja Polri terkait relasi kelembagaan sesuai portofolio masing-masing departemen tersebut dapat menjadi masukan dalam menyusun arah kebijakan Polri yang menjadi kewenangan Kompolnas untuk diajukan kepada Presiden dalam rangka membangun Polri yang profesional dan mandiri (Pasal 39 UU No. seperti Polisi Khusus Kehutanan (Polsus Kehutanan) yang izinnya dikeluarkan oleh Menteri Hukum dan HAM.jang kewibawaan lembaga pengawas eksternal. Menteri Dalam Negeri (Mendagri). dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkum dan HAM). muncul persoalan subordinasi mengapa Polri ditempatkan di bawah Presiden berdasarkan Keputusan Presiden No.89/2000. Jawabannya Polri disubordinasikan oleh Kompolnas dengan keberadaan tiga menteri ex officio sebagai anggota yaitu. sedangkan TNI berada di bawah Depertemen Pertahanan. persoalan persoalan yang menghambat sinergi kelambagaan antara Polri dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang dilatarbelakangi oleh perbedaan asas. Setelah Polri dipisahkan dari TNI. Berbagai spekulasi sempat mencuat ke permukaan bersamaan dengan pembahasan RUU Polri. tetapi lebih ditujukan untuk memperkaya masukan sebagai pertimbangan Kompolnas dalam merumuskan arah kebijakan Polri (policy maker) bersama-sama dengan pakar kepolisian dan wakil masyarakat (tidak satu pun anggota Kompolnas berasal dari unsur Polri). ditambah tiga pakar kepolisian dan tiga wakil masyarakat. Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam). Polri menggunakan asas dekonsentrasi sementara Satpol PP yang berinduk kepada Pemerintah Daerah menggunakan asas desentralisasi. seyogyanya masukan menteri ex officio meliputi pula portofolio departemen yang menjadi kompetensinya masing-masing. 2 Tahun 2002). Dalam merumuskan arah kebijakan Polri. Rumusan tersebut lebih diarahkan untuk mendudukan secara Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 137 . Arah kebijakan yang telah dirumuskan agar tidak diarahkan untuk memberi peluang kooptasi satu lembaga terhadap lembaga lain. Keberadaan menteri ex officio tersebut tentu bukan dimaksudkan untuk menjawab persoalan subordinasi semata.

karena berbagai kepentingan dapat berpotensi untuk menunggangi Kompolnas (atau dianggap menunggangi Kompolnas) dalam membuat disain strategis Polri masa datang. Dan Polri tidak memilliki pilihan lain selain menjabarkannya pada level kebijakan teknis. Beberapa ketentuan penting yang diatur dalam OTK. Termasuk menteri terkait lain sesuai dengan materi muatan kebijakan Presiden tersebut. Sejak arah kebijakan Polri yang dipersiapkan oleh Kompolnas berubah bentuk menjadi Peraturan Presiden (atau Instruksi Presiden). 2 Tahun 2002). Ada 5 jenis keluhan masyarakat yang diatur secara limitative oleh UU Polri: 1) Penyalahgunaan wewenang 2) Dugaan korupsi 3) Pelayanan yang buruk. Posisi strategis Kompolnas sebagai policy maker tersebut diharapkan dapat menjawab persoalan subordinasi posisi TNI di bawah Departemen Pertahanan. 138 Bunga Rampai . atau menginstruksikan pemerintah daerah untuk mendukung program program community policing (Polmas). Karena setidaknya ada dua departemen dengan portofolionya masingmasing turut merumuskan arah kebijakan Polri yang akan menjadi panduan pimpinan Polri dalam membuat kebijakan teknis kepolisian. 4) Perlakuan diskriminatif. Peraturan Kompolnas Dalam menjalankan mandatnya. 1. Peran policy maker bagi Kompolnas tersebut tentu bukan persoalan yang bisa dianggap sepele oleh Polri. Kesetaraan posisi sesama anggota Kompolnas. Misalnya mengandung materi muatan yang menginstruksikan pemerintah daerah untuk mendukung kinerja Polri dalam mengamankan Pilkada. maka ia akan menjadi pedoman bagi Polri dalam membuat kebijakan teknis kepolisian (Pasal 38 ayat (1) UU No. 5) Penggunaan diskresi yang keliru.proporsional peranan Polri selaku penjuru dan pengendali urusan keamanan dan mengeliminasi potensi arogansi sektoral yang dapat memposisikan Polri sebagai lembaga superbody. Kompolnas telah mengeluarkan beberapa peraturan tentang: i) Organisasi dan tata kerja (OTK) ii) Kode Etik iii) Tata Cara Penanganan Saran dan Keluhan Masyarakat (SKM).

Pasal 38 ayat (2) c UU Polri mengatur bahwa Kompolnas menyampaikan Saran dan Keluhan Masyarakat (SKM) kepada Presiden.O. namun forum tertinggi yang dapat mengambil keputusan penting Kompolnas adalah Pertemuan Anggota Kompolnas. Apabila Kompolnas tidak dapat menerima atau keberatan terhadap hasil tindak lanjut SKM oleh satuan Polri terkait. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 139 . . Ketentuan di atas menggambarkan bahwa sebagai sesama anggota komisi. Pasal tersebut menggambarkan bahwa Kompolnas sangat bergantung dari hasil pemeriksaan internal Polri terhadap SKM yang diterima oleh Kompolnas. UU tidak mengatur hubungan kelembagaan Kompolnas dengan Polri sebelum SKM disampaikan kepada Presiden.pasal 33 ayat 2 OTK: “Pertemuan Anggota Kompolnas dinyatakan sah apabila dihadiri oleh sekurangkurangnya 5 (lima) orang anggota Kompolnas termasuk Pejabat Penghubung liaison officer/LO” (L. Kompolnas dapat berhubungan langsung dengan satuan Polri terkait. maka Kompolnas dapat meminta “gelar perkara“ sesuai ketentuan pasal 25 ayat 3 OTK yang menyatakan “Kompolnas dapat meminta Polri untuk memberikan penjelasan yang berkaitan dengan keluhan masyarakat dalam pertemuan Kompolnas”. kedudukan menteri tidak lebih tinggi dari anggota non menteri dalam pengambilan keputusan pada Rapat Anggota Kompolnas. .Meskipun Ketua Kompolnas adalah Eks Officio Menkopolhukam dan Wakil Ketua Kompolnas adalah Eks Officio Mendagri.pasal 33 ayat 3 OTK: “Pengambilan keputusan dalam pertemuan anggota Kompolnas dinyatakan sah apabila disetujui oleh sekurang kurangnya 5 (lima) orang anggota Kompolnas”. Kesenjangan tersebut telah dijembatani pada pasal 25 ayat 2 OTK yang berbunyi “Saran dan Keluhan Masyarakat yang diterima oleh Kompolnas disampaikan kepada satuan Polri terkait untuk ditindaklanjuti dan hasilnya disampaikan kepada Kompolnas”. adalah pejabat yang ditunjuk untuk mewakili menteri manakala yang bersangkutan berhalangan hadir). 2.

Laporan penelitian mahasiswa PTIK angkatan XXXIX-A telah menemukan 11 jenis KKN pada Satuan Organisasi Reserse Kriminal (Reskrim) Polri. Sebagian pengaduan masyarakat yang berjenis penyalahgunaan wewenang oleh aparat penyidik berupa kriminalisasi masalah perdata. Potensi penyalahgunaan wewenang oleh aparat Penyidik Polri sangat besar. namun belum dijembatani dengan MoU atau Skep Kapolri untuk menindaklanjuti permintaan Kompolnas kepada satuan Polri terkait. (iii) Akuntabilitas penyidikan sangat rendah sehingga memungkinkan terjadinya diskriminasi terhadap tersangka. (ii) Terabaikannya prosedur penanganan perkara dengan berkoordinasi dengan instansi Kejaksaan. Penyalahgunaan wewenang dapat dibuktikan dengan dibebaskannya tahanan setelah menjalani hukuman selama 60 hari dalam tahanan Contoh kasus DR Chairuddin. Bunga Rampai 140 . korban didaftarkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Sebuah penerapan prinsip kemandirian yang keliru dan cenderung mencederai asas dekonsentrasi. Dengan dua bukti tersebut. 2. Manakala tidak hadir setelah dipanggil dengan cukup. Pengaduan Masyarakat Kompolnas memiliki kewenangan untuk menerima pengaduan dari masyarakat mengenai kinerja aparat Polri. tetapi ditangani oleh beberapa instansi di lingkungan Polri dengan alasan karena dilaporkan oleh orang yang berbeda sehingga tersangkanya menjadi berbeda pula. 3. aparat merasa punya cukup alasan untuk menjebloskan korban dalam tahanan. mengubah posisi pelapor menjadi tersangka dan lain-lain.Pasal tersebut menunjukan bahwa Polri sudah kooperatif dalam mendukung eksistensi Kompolnas. Hal ini disebabkan karena buruknya manajemen penyidikan dan dapat dilihat dari. Penyimpangan prosedur pinjam pakai barang bukti. 4. Penyimpangan prosedur penangguhan penahanan. Rekayasa penanganan/penindakan kasus pembalakan liar. (i) Tidak jarang objek perkara yang sama. Modus operandi yang digemari aparat dalam menakut-nakuti korban adalah ancaman penahanan. Kolusi dalam penyelenggaraan perjudian. Yaitu: 1.

tentu akan berakibat buruk bagi masa depan karir Penyidik. 8. Penyimpangan dalam penanganan kasus depo bahan bakar minyak (BBM) illegal. atau (ii) mempercepat mulainya proses pemeriksaan pokok perkara sebelum selesainya pemeriksaan gugatan praperadilan (pasal 82 ayat 1 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 141 . Karena itu Penyidik akan berupaya keras agar gugatan praperadilan gugur. 10. 6. 7. temuan berharga tersebut dapat diibaratkan sebagai jenis penyakit polisi yang harus disembuhkan atau dieliminasi oleh Kompolnas ketika merumuskan arah kebijakan Polri untuk disampaikan kepada Presiden. 2. Contohnya adalah persidangan kasus Nurhadi di Pengadilan Negeri Jakarta Barat.5. Penyimpangan penerbitan surat keterangan kehilangan kendaraan bermotor untuk persyaratan klaim asuransi. (i) menunda-nunda acara persidangan praperadilan. Terjadinya sindikat tindak pidana bidang pertanahan. Sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan. Penyimpangan proses penyelidikan kasus pidana. Gugatan praperadilan bertujuan untuk menguji: 1. dalam rangka menunggu agar persidangan pokok perkara dapat segera dimulai sebelum acara putusan gugatan praperadilan. Kolusi pengelolaan kegiatan prostitusi. 9. Penyimpangan dalam penyelidikan dan penyidikan perdaran VCD bajakan. Sah atau tidaknya suatu upaya paksa berupa penangkapan atau penahanan. Apabila gugatan praperadilan diterima oleh pengadilan. Upaya yang dapat dilakukan oleh Penyidik adalah. Ibarat dokter yang sedang mendiagnose penyakit polisi. 11. Penyimpangan dalam penanganan kasus-kasus narkoba. Potensi KKN polisi di lembaga peradilan Upaya hukum untuk melindungi tegaknya hukum dan perlindungan hak asasi tersangka dalam pemeriksaan penyidikan terhadap dugaan penyalahgunaan wewenang oleh aparat penyidik Polri adalah melalui gugatan praperadilan (pasal 77 KUHAP).

Misalnya. untuk masalah dugaan korupsi. Kerjasama dengan Komisi Negara Lembaga pengaduan eksternal terhadap kinerja Polri sudah ada dan tersebar di beberapa instansi pemerintah maupun di lembaga kepresidenan. Cara lain yang relatif lebih ringan adalah. (ii) membuat gaduh suasana persidangan seolah-oleh akan terjadi keributan dengan tujuan agar hakim yang mengadili gugatan praperadilan menjadi terprovokasi atau ketakutan. Untuk upaya yang kedua Penyidik harus berkolaborasi dengan Jaksa Penuntut. seperti yang terjadi di Medan dan Jakarta beberapa waktu lalu. Cara di atas agak berbelit-belit dan melibatkan beberapa pihak yang belum tentu berpihak pada kepentingan penyidik.KUHAP). kasus penembak tersangka yang sedang ditangkap oleh aparat Polri. (i) melobi hakim agar berpihak pada kepentingan penyidik yang mendapat dukungan dari tokoh masyarakat dan LSM. Contohnya adalah kasus Suherman di Pengadilan Negeri Medan. lembaga departemen seperti Menteri Penertiban Aparatur Negara maupun non departemen seperti Kejaksaan. Yang membedakan di antara seluruh lembaga pengaduan tersebut adalah kewenangannya untuk menyelidik dan menyidik (subpoena power). rekomendasi pengaduan masyarakat yang diberikan Kompolnas kepada Polri untuk ditindaklanjuti berpotensi untuk diabaikan. menuntut dan mengadili. Lalu mempercepat penunjukan hakim dan selanjutnya mempercepat mulainya proses pemeriksaan pokok perkara. Contohnya adalah sidang gugatan praperadilan kasus Nurhadi di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Upaya hukum yang dilakukan oleh kedua keluarga korban yang telah diatur dalam KUHAP adalah melakukan gugatan praperadilan perihal prosedur 142 Bunga Rampai . Selain itu. (iii) Tidak segera mengamankan pengadilan manakala dibutuhkan pada saat pengadilan menghadapi demonstran yang brutal. lembaga pengaduan eksternal yang menangani masalah-masalah khusus terdapat pada berbagai komisi negara seperti KPK dan Komnas HAM. Kompolnas tidak memiliki salah satu dari kewenangan tersebut. Oleh karenanya. Semakin banyak kewenangan yang dimilikinya akan semakin berperan dalam merespon keluhan masyarakat sehingga akan sangat disegani oleh pihak yang diadukan.

upaya ini ditolak oleh Pengadilan Negeri di masing-masing wilayah. Yang terpenting dalam menempatkan KPK sebagai mitra kerja Kompolnas adalah saran KPK dalam membangun Polri yang bebas dari korupsi. Dalam pemberantasan korupsi. Kalau mencermati kesetaraan posisi sebagai komisi negara.penangkapan. Menanggapi pengaduan tersebut. perihal pengaduan dugaan korupsi oleh anggota Polri yang disampaikan kepada Kompolnas. Kompolnas tidak dapat memanggil paksa aparat tersebut untuk diperiksa. Apakah akan berkoordinasi dengan instansi Polri. Kompolnas memiliki beberapa pilihan untuk menindaklanjuti pengaduan tersebut. Kompolnas seyogyanya mendahulukan untuk berkoordinasi dengan KPK untuk dapat mengetahui tingkat keseriusan masalah korupsi di tubuh Polri sebagai salah satu penegak hukum. Kompolnas telah meminta agar Polri memeriksa aparat yang bertanggung jawab terhadap pengaduan tersebut. Namun. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia). Kerjasama dengan KPK layak ditingkatkan manakala Kompolnas diabaikan atau bahkan tidak dihargai sebagai lembaga pengawas ekternal. Padahal antara masalah prosedur penangkapan dan masalah akuntabilitas penembakan korban adalah dua persoalan yang berbeda secara substansi. Kejaksaan atau KPK. Contoh lain. Tindak lanjut dari permintaan ini tentu sangat tergantung dari kemauan Polri. Karena keterbatasan kewenangan. KPK menjadi penjuru yang merancang secara bertahap reformasi birokrasi yang menghambat pemberantasan korupsi. Misal lain adalah pengaduan yang terkait dengan pelanggaran administrasi anggota Polri yang merupakan wewenangan Kompolnas dan Komisi Ombudsman Nasional (KON). keluarga korban mengadukan hal itu kepada Kompolnas guna meminta akuntabilitas aparat Polri yang menembak korban. Manakala diperlukan Kompolnas layak untuk bersinergi dengan Komnas HAM berkaitan dengan kewenangannya untuk memanggil dan memeriksa pihak yang diadukan (Pasal 89 ayat (3) UU No. sesuai kewenangan Kompolnas dalam menerima saran dan keluhan masyarakat. Penolakan ini seolah-olah turut mengubur akuntabilitas aparat yang menembak korban. Selanjutnya. Ketika kedua lembaga tersebut sama-sama meneri- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 143 .

Sebagian dari peraturan tersebut sayangnya sangat jarang digunakan secara benar. baik dalam bentuk undang-undang. ditahan. 4 Tahun 2004 tentang Kehakiman Pasal 9 ayat 1 dan 2 berbunyi sebagai berikut: (1) Setiap orang yang ditangkap. Pasal 9 UU No. Kompolnas sangat perlu belajar banyak dari KON dalam menangani pengaduan masyarakat. berhak menuntut ganti rugi kerugian dan rehabilitasi. atau diadili tanpa alasan berdasarkan undang-undang atau karena kekeliruan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkannya. Di samping alasan pemborosan anggaran juga masalah efektifitas penyidikan. karena telah dinilai sukses oleh masyarakat meski memiliki wewenang yang terbatas seperti Kompolnas. maka selayaknya mereka perlu untuk saling berkoordinasi. peraturan pemerintah. Kewenangan memeriksa (subpoena power) yang dimiliki oleh beberapa komisi negara seperti Komnas HAM dan KPK sangat penting untuk disinergikan oleh komisi negara yang membutuhkan kewenangan tersebut. Koordinasi juga penting untuk menghindari tumpang tindih kewenangan dalam menerima dan menangani pengaduan. Jangan sampai polisi terlapor akan diperiksa berkali-kali untuk materi pengaduan yang sama oleh instansi yang berbeda-beda. Karena pada umumnya pengaduan dikirim kepada hampir seluruh lembaga terkait. 1. Beberapa pasal menarik Cukup banyak peraturan dalam rangka mengkoreksi kinerja penegak hukum. Juga untuk menegakkan asas nebis in idem. Persoalan yang harus disikapi sejak dini oleh para lembaga penerima pengaduan tersebut. Kata kunci pemborosan seyogyanya menjadi momok bersama.ma pengaduan. dituntut. Koordinasi antar komisi negara mendesak untuk dilaksanakan dalam rangka mengefisienkan kinerja komisi-komisi negara dalam mengoptimalkan sinergi di antara mereka. peraturan menteri maupun peraturan yang dikeluarkan oleh pimpinan instansi masingmasing. (2) Pejabat yang dengan sengaja melakukan perbuatan Bunga Rampai 144 . Desakan dan kritik masyarakat untuk merestrukturisasi komisi negara agar penjadi perhatian kita semua.

yaitu keterkaitan antara pengetahuan. Profesional merupakan kemahiran dan kemampuan tinggi yang didukung oleh pengetahuan. keterampilan dan kematangan emosional dalam melaksanakan tugas di bidang masing-masing sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku dan standard pekerjaannya (SOP). sikap. Instansi yang konsisten dalam menerapkan aturan PP 30 Tahun 1980 tersebut adalah kejaksaan. Pasal di atas sepertinya belum pernah diterapkan secara utuh terhadap aparat penegak hukum. Komitmen (commitment). yaitu satu kata dengan perbuatan secara berkesinambungan. yaitu memiliki pengetahuan. Ketentuan yang umum digunakan adalah PP 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. 2. Bagaimana dengan akuntabilitas aparat polisi apabila yang bersangkutan telah ditangkap dan ditahan? Apakah polisi yang menangkap dan menahan tidak perlu turut bertanggung jawab. Keterkaitan (connection). Konsisten (consistence). keterampilan dan sikap emosional yang matang. yaitu mencintai bidang tugas yang dilakukan. Apabila dakwaan jaksa dinyatakan tidak dapat diterima oleh majelis hakim. Konsekuensi logis bagi seorang notaris/PPAT yang membuat akta adalah yang bersangkutan harus bisa mempertanggungjawabkan setiap kata atau kalimat yang terdapat pada akta notaril yang telah dibuatnya. 4. mudah diucapkan tetapi sulit dilaksanakan karena belum ada kesamaan visi mengenai apa yang dimaksud dengan profesional. pada umumnya Jaksa Penuntut kasus tersebut langsung dieksaminasi atau diperiksa oleh Asisten Pengawasan Kejaksaan Tinggi.sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana. 3. Konsekuensi apapun baik perdata. pidana maupun administratif harus siap dihadapi Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 1. Menurut buku panduan HAM untuk anggota Polri. sikap dan keterampilan dengan pekerjaan yang dilakukan. sementara Jaksa Penuntut diperiksa? Jawaban atas persoalan tersebut bergantung pemahaman Polri terhadap profesionalisme penyidikan dan konsekuensi logis dari sebuah profesi. Kata profesional. ada 4 (empat) indikator kapan seorang polisi disebut profesional: Kompeten (compentence). 145 .

Sayangnya pada saat bersamaan penyidik Polri tidak berpikir bahwa sebagai sesama profesi dirinya juga harus dapat mempertanggungjawabkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang dibuatnya. Pasal 3 dan 4 Peraturan Pemeritah No. Selanjutnya pasal 4 dari peraturan tersebut memberi batas waktu bagi aparat untuk memproses sebelum klarifikasi selama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal informasi. (2) Setiap informasi. Begitu pula dengan profesi dokter. Pasal 3 PP 71/2000 berbunyi sebagai berikut: (1) Informasi. Sungguh menjadi dambaan masyarakat madani apabila prinsip partisipasi yang ada pada Konsil Kedokteran juga diadopsi oleh Polri dalam menangani pengaduan masyarakat terhadap anggotanya. Setiap tindakan medis yang dilakukan oleh seorang dokter juga membawa konsekuensi baik perdata.oleh yang bersangkutan. pelanggaran disiplin atau pelanggaran etika. dokter. komposisi Konsil Kedokteran terdiri dari perwakilan stakeholder: akademisi.17 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat dan Pemberian Penghargaan Dalam Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. pidana maupun administratif. Prinsip partisipasi sebagai salah satu unsur masyarakat madani telah berlaku bagi dunia kedokteran. saran. Yang menarik. atau pendapat dari masyarakat harus diklarifikasi dengan gelar perkara oleh penegak hukum. Konsil Kedokteran akan memeriksa pengaduan tersebut apakah terjadi pelanggaran hukum. Ketika seorang dokter diduga melakukan mal praktek. Kalangan penyidikpenyidik Polri sangat paham bagaimana menginterogasi notaris/PPAT dalam meminta pertanggungjawaban sebagai notaris/PPAT. saran atau pendapat dari masyarakat … harus disampaikan secara tertulis …. saran atau pendapat diterima. Meskipun uang yang didapat tidak sebanding dengan tanggung jawabnya. Community Justice melalui Community Policing Sampai saat ini masyarakat yang tinggal di Meruya masih tetap siaga melakukan perlawanan terhadap segala upa2. 146 Bunga Rampai . pemerintah dan konsumen.

Pandangan seperti itu tercermin pula dari hasil penelitian Kompas tanggal 17 Maret 2003 bahwa 86. Untuk mensakralkan putusan hakim. Kasus Meruya hanya salah satu dari segudang putusan Mahkamah Agung pasca reformasi yang jauh dari rasa keadilan yang menjadi tujuan dari kekuasaan kehakiman seperti yang diamanatkan oleh UU No. Tiba-tiba muncul putusan Mahkamah Agung yang membatalkan kepemilikan tanah mereka. Ia akan kehilangan arah mengadu nasib diantara badai ombak samudra. Bahkan ia akan tergulung oleh ganasnya ombak samudra peradilan. Faham ini berpendapat bahwa hukum sebagai sistem yang otonom alias lebih superior dibanding dengan sistem lain seperti ekonomi. sosial dan politik. Stigma yang melekat terhadap dunia peradilan. “ngurus cempe kelangan sapi”. setiap putusan menggunakan irah-irah Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. kasus yang masuk pengadilan dianggap sebagai komoditas. karena mereka merasa telah membeli secara sah tanah mereka dihadapan pejabat yang sah dan mendapat bukti kepemilikan berupa sertifikat tanah yang dikeluarkan oleh BPN. Hukum harus ditegakkan sekalipun langit akan runtuh. Tidak heran kalau kemudian ada peribahasa Jawa yang berbunyi. maksudnya mengurus perkara senilai anak kambing tapi biaya yang harus dikeluarkan senilai sapi. Hukum di atas segalanya.ya untuk menangkal eksekusi Putusan Mahkamah Agung. Hukum dianggap selalu benar dan adil. Segala daya upaya dikerahkan agar putusan tersebut tidak dapat dilaksanakan. Bahkan tidak satupun responden yang berpendapat penegakan hukum di Indonesia sudah berjalan baik. Meskipun demikian. Pencari keadilan yang memasuki arena peradilan diibaratkan menceburkan diri dalam gelombang samudra yang menafikan eksistensi kemanusiaan pencari keadilan. jumlah perkara yang masuk ke pengadilan setiap tahun selalu meningkat sejalan dengan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 147 . Mereka telah tinggal berpuluh tahun di Meruya tanpa ada gangguan dan teguran perihal status hukum kepemilikan tanah mereka. Cara pandang hakim dalam memutuskan kasus tersebut disebut legalisme yang dikomandani oleh Hans Kelsen dan Jhon Austin. 4 Tahun 2004.6% responden tidak percaya terhadap kinerja penegakan hukum. tidak jelas mana Utara mana Selatan.

Dengan harapan agar para pihak yang berperkara akan mencabut gugatannya. negara sejak lama telah mengakomodir melalui UU No. 1 Tahun 2002 dengan judul “Pemberdayaan Pengadilan Tingkat Pertama Dalam Menerapkan Lembaga Damai”. Namun kenyataannya tetap saja mekanisme tersebut tidak berhasil mengurangi secara berarti volume perkara di pengadilan. Karena itu Mahkamah Agung lalu merubah Surat Edaran tersebut menjadi Peraturan Mahkamah Agung No. Ketentuan tersebut diperkuat lagi dengan Keputusan Kapolri No. Upaya terbaru yang dilansir pemerintah untuk mengurangi volume perkara di pengadilan adalah lembaga community policing yang disebut dengan Perpolisian Masyarakat (Polmas) melalui Keputusan Kapolri No. Upaya untuk mengurangi volume perkara di luar pengadilan. Lembaga yang dimaksud adalah Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) untuk urusan arbitrase dan Pusat Mediasi Nasional (PMN) untuk urusan mediasi sengketa perdata. Pol: SKEP/737/ X/2005 tentang Kebijakan dan Strategi Penerapan Modal Perpolisian Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Tugas Polri.peningkatan kesadaran hukum masyarakat. Untuk menanggulangi penumpukan perkara di lembaga peradilan. Upaya tersebut ternyata tidak berhasil menyurutkan gelombang perkara ditingkat banding dan Kasasi. Mediasi sengketa perdata lebih dikenal dengan istilah Alternatif Dispute Resolution (ADR). sehingga jumlah kasus di Mahkamah Agung sudah menggunung. PERMA tersebut dimaksudkan memberi peluang terakhir (meskipun bukan yang paling akhir) bagi para pihak yang bersengketa untuk damai. Pol: SKEP/432/VII/2006 tentang Panduan Fungsi Samapta Dengan Pendekatan Perpolisian Masyarakat (Polmas). 2 tahun 2003 dengan judul “Prosedur Mediasi di Pengadilan” (PERMA). Polmas antara lain bertujuan menyelesaikan pertikaian antar warga dengan difasilitasi oleh petugas kepolisian yang menggunakan mekanisme informal dengan berpegang pada norma-norma sosial setempat dan kesepakatan-kesepakatan lokal oleh masyarakat sekitar (community justice). 148 Bunga Rampai . 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Penyelesaian Sengketa. Mahkamah Agung telah menerbitkan Surat Edaran Mahkamah Agung No.

Teknologi media komunikasi. khususnya televisi sebagai penyumbang terbesar dalam perubahan norma sosial. aparat Bea Cukai telah mengambil alih posisi Polri sesuai UU Bea Cukai. Akibatnya terjadi kekosongan penegakan hukum ditingkat pemerintah lokal. Dalam rangka mengamankan UU Kehutanan No. Polri sudah sangat disibukkan dengan urusan penegakan hukum ditingkat nasional dalam rangka mempertahankan negara kesatuan Republik Indonesia. gotong royong. Keterbatasan jumlah. Profesionalisasi juga memiliki andil dalam memisahkan masyarakat dari tatanan sosialnya. Derasnya arus modernisasi mendorong masyarakat dimanapun untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama yang telah mengakar kuat dalam satu komunitas. Reformasi tata pemerintahan telah membagi kewenangan antara pusat dan daerah. Hasil penyidikan aparat Bea Cukai langsung diserahkan kepada Jaksa Penuntut Umum tanpa koordinasi dengan Polri. tolong menolong. Kekosongan penegakan hukum ditingkat pemerintah lokal kabupaten/kota telah diisi dengan keberadaan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Misalnya nilai nilai kebersamaan. Posisi Satpol PP menjadi semakin kuat mendukung kewibawaan pemerintah lokal. untuk urusan penegakkan hukum di pelabuhan. Kondisi yang sama juga terjadi ditingkat teknis departemental. Setiap masyarakat memiliki karakteristik yang berbeda-beda antara budaya. nilai dan masalah yang beraneka ragam di suatu lingkungan pada suatu wilayah tertentu. penerapan asas dekonsentrasi secara rigid mendominasi alasan mengapa Polri terisolasi dari masyarakatnya. Polisi Khusus Kehutanan menggantikan posisi Polri untuk urusan teknis kehutanan. Disamping itu. namun tetap saja belum dapat memenuhi harapan masyarakat. mengakibatkan pudarnya norma moral dan sosial. Bahkan. Meskipun UU Otonomi Daerah telah memberi peluang bagi Satpol PP untuk mengambil peran dalam penegakkan hukum lokal. mengakibatkan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 149 .Community Policing Kata community atau masyarakat tidak dapat didefinisikan secara sederhana karena memiliki makna yang berbeda beda dan lingkup yang berbeda-beda untuk setiap orang yang mendefinisikannya.41 Tahun 1999. Masyarakat cenderung keluar dari norma-norma sosial yang selama ini dijunjung tinggi.

Misalnya terhadap penebangan liar di kawasan hutan lindung. Dukungan pemerintah lokal sangat diperlukan dalam rangka menjaga kesinambungan maupun keberlanjutan program Polmas. Dukungan dapat berupa anggaran maupun legitimasi program dalam bentuk Peraturan Daerah. Padahal berbagai peraturan daerah membutuhkan penegak hukum untuk menciptakan lingkungan yang aman. Legitimasi sangat diperlukan dalam rangka membangun kepercayaan masyarakat lokal. Program Polisi Simpatik. Patroli Komunitas (Ronda). Penelitian LP3ES telah mengangkat temuan bagaimana masyarakat lokal telah berhasil menindak pelanggaran pidana dengan menggunakan kearifan lokal melalui mekanisme Alternatif Dispute Resolution (ADR). Seperti masalah membuang sampah sembarangan. Kelompok Mitra Pengaman Hutan (KMPH) di Desa Sesaot. Mereka aktif membersihkan papan reklame yang melanggar aturan apabila tidak membayar pajak papan reklame. Situasi tersebut cukup bisa dipahami karena Polmas baru dihidupkan kembali. Lombok Barat telah merumuskan pelanggaran dan sanksi bagi perambah hutan lindung sebagai berikut: 150 Bunga Rampai . Program serupa dulu dikenal dengan nama Siskamling. Saat ini Polmas sedang mencari legitimasi politik dan dukungan pendanaan dari pemerintah daerah. Hasil Evaluasi Polmas 2005 oleh Polri telah merekomendasikan agar dukungan pemerintah setempat menjadi variable penting dalam perumusan maupun pengembangan program Polmas. Kinerja Satpol PP sarat dengan kepentingan Pemda. tertib dan bersih. merokok di sembarang tempat. Pelanggaran hukum dan Perda Penegakan hukum oleh komunitas telah dapat diselesaikan dengan menggunakan kearifan lokal sesuai kondisi (baca: kebutuhan) masyarakat sekitar. program Police Goes To Kampung. bangunan liar dan lain lain yang tidak kalah penting daripada urusan menertibkan papan reklame. Seperti misalnya. Belum terlihat orientasi program ke arah penegakkan peraturan daerah dalam rangka membantu kinerja Satpol PP.Satpol PP hanya bisa menjaga areal pertokoan dan fasilitas Pemda. Polmas melalui Forum Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM) baru sebatas memecahkan konflik antar warga maupun antar warga dengan polisi/pejabat setempat.

telah diubah menjadi denda satak sekat kurang sekek kepeng bolong (Saat ini uang Cina telah dikonversi menjadi Rp.000 Rupiah”. bahwa upaya paksa berupa penahanan cenderung dikesampingkan. Di desa Munggut. maka didenda menanam pohon 50 kali lipat dari jumlah pohon yang ditebang. Demikian halnya dengan perzinahan yang diatur dalam pasal 284 KUHP dengan ancaman hukuman selama-lamanya 9 bulan penjara. Bila menebang (mencuri) lebih dari sekali karena alasan pemenuhan ekonomi keluarga.- Bila menebang (mencuri kayu) sekali karena alasan pemenuhan ekonomi keluarga. Masyarakat telah melakukan dekriminalisasi kejahatan pidana menjadi denda.25. Pasal ini selalu bertengger di lembar panggilan yang dikeluarkan oleh polisi. maka dikeluarkan dari tempat tinggalnya di desa. Pada dasarnya penangkapan dan penahan yang tidak berdasarkan hukum Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 151 . yaitu keharusan membeli tanah grosok untuk pengerasan jalan. sanksinya cukup meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi di depan warga masyarakat. - - Bila menebang (mencuri) lebih dari 3 (tiga) kali dengan motif komersial. terlepas dari apakah panggilan tersebut baru panggilan pertama atau bukan. Kasus pencemaran nama baik (gila bibir) yang diancam hukum pidana penjara 9 bulan berdasarkan pasal 310 KUHP. pelanggaran pidana tidak harus diselesaikan dengan ancaman pidana berupa penahanan. Pelajaran dari kasus-kasus di atas.000). Hal tersebut juga tercermin dalam draft RUU KUHAP Baru. Sanksi pidana perzinahan oleh masyarakat adat di Lombok telah diubah menjadi denda seket kurang sekek kepeng bolong (uang Cina). Pasal 216 KUHP berbunyi sebagai berikut “barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang undang oleh Pegawai Negeri berdasarkan tugasnya … diancam dengan pidana penjara paling lama 4 bulan 2 minggu atau denda paling banyak Rp.9. Padahal upaya paksa pada pasal 216 KUHP menjadi andalan polisi dalam memanggil seseorang (baca. Penahanan bukan lagi cara efektif dalam menegakkan hukum. dengan jumlah dan volume sesuai kondisi ketika kasus tersebut terjadi. kasus perselingkuhan diselesaikan dengan “grosok”. menakut-nakuti).

agar tercipta ketertiban masyarakat sehingga warga masyarakat merasa nyaman tinggal di Jakarta. perubahan terhadap rambu. Satpol PP atau FKMP. Kondisi perparkiran semrawut dan premanisme di tempat-tempat parkir merajalela. Ketika polisi melakukan pelanggaran HAM dan hukum.5 Tahun 1999 tentang Perparkiran. Polmas diharapkan merambah ke ranah Perda yang menjadi domain pemerintah daerah. usaha penyelenggaraan perparkiran. melakukan antara lain.000. Namun karena petugas Satpol PP sangat terbatas. (pasal 32 ayat 1 dan 3. Kasus semrawutnya kondisi parkir di Jakarta tersebut menjadi salah satu contoh betapa perlunya keberadaan penegak hukum dengan nama apapun baik polisi.). denda dan adminstratif. (tanpa memperoleh izin dari Gubernur Kepala Daerah.000 dan sanksi adminstratif bagi pengemudi yang parkir sembarangan yaitu 5 kali biaya parkir. Contoh peraturan di atas menggambarkan bahwa Pemda telah membuat aturan masalah perparkiran dengan sanksi pidana. Sebagai contoh Peraturan Daerah DKI No. marka parkir. Ancamannya sanksi pidana kurungan selama lamanya 3 bulan atau denda maksimal Rp. jauh dari yang didambakan masyarakat pengguna jalan di Jakarta. merokok di sembarang tempat. Hampir bisa dipastikan tiap daerah telah mengatur dan memberi sanksi bagi warganya yang membuang sampah sembarangan. seketika itu juga kepercayaan masyarakat langsung sirna.alias mengada-ada adalah melanggar HAM.5. 5 tahun 1999). Polisi menjadi tidak professional karena mereka menjadi pelaku kejahatan dan tidak lagi sebagai petugas penegak hukum. Berbagai studi kasus di Lombok tersebut di atas diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi FKPM atau lembaga apapun namanya untuk mencari formula penyelesaian masalah di perkotaan meskipun harus 152 Bunga Rampai . tanda masuk parkir…. membangun bangunan liar atau membangun tanpa mengindahkan aturan sempadan jalan sehingga mengganggu jalan dan pemandangan. maka ketertiban dan rasa nyaman tinggal di Jakarta sesuai maksud dari pembuat Perda tersebut. Pasal 30 ayat (1) sebagai berikut: “Dilarang dengan cara dan bentuk apapun. Perda Perpakiran DKI No.

Kepala Desa menjadi tumpuan apabila terjadi konflik atau sengketa antar warga. Community Justice Konflik antar warga masyarakat diselesaikan dengan cara win win solution. tokoh agama. Kompolnas memiliki posisi strategis untuk menginisisasi kerjasama antar komisi negara bidang penegakan hukum seperti Komisi Kejaksaan dan Komisi Yudisial. dipersepsikan tidak memiliki interest dibanding kelompok partisan lain. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 153 . dianggap lebih memiliki legitimasi dibandingkan dengan tokoh informal seperti Kyai. Namun terhadap pelanggaran hukum atau norma masyarakat (falk law). Mereka akan mendatangi rumah Kepala Desa kapan saja walau sampai tengah malam. Kalangan akademisi. Tokoh kunci dalam proses penegakan hukum sangat penting dalam menentukan keberhasilannya. Kombinasi representasi berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) menjadi penting dalam mengatur komposisi lembaga yang memiliki wewenang untuk menyelesaikan konflik di masyarakat (community justice). Penyelesaian konflik di masyarakat perkotaan tidak dapat mengandalkan kharisma seorang Kepala Desa. karena Kepala Desa yang dipilih langsung sudah tidak ada dalam struktur pemerintahan di perkotaan. tokoh masyarakat dan LSM yang kinerjanya masih dapat diterima oleh publik. Pelanggar hukum harus bersedia menjalankan sanksi denda yang telah ditetapkan berdasarkan kesapakatan masyarakat sekitar. Demikan halnya di Desa Munggut Lombok (2005).merubah ancaman sanksi yang diatur oleh Perda. menggunakan pendekatan yang berbeda. Hasil survey di Kabupaten Ngawi Jawa Timur (2005) disimpulkan bahwa hampir 80% responden (dari 75 responden) menyerahkan penyelesaian konflik kepada figur Kepala Desa. Kepala Desa sebagai Hakim Perdamaian. Kesimpulan 1. Kepala Desa dituntut untuk memiliki pengetahuan yang lebih dan kearifan sikap agar keputusan yang diambil tidak berat sebelah dan dapat diterima para pihak yang bersengketa sehingga tidak menimbulkan masalah dikemudian hari. Masyarakat perkotaan akan memandang lembaga yang merepresentasi banyak kepentingan lebih memiliki legitimasi.

3. Salah satu lembaga yang dapat dipromosikan oleh Kompolnas adalah Community Justice sebagai bagian dari Polmas. 4. Dengan menurunkan jumlah perkara di lembaga peradilan diharapkan peradilan dapat berbenah diri dalam mereformasi dirinya dan dapat berkonsentrasi untuk menghasilkan putusan yang sesuai dengan rasa keadilan masyarakat. 154 Bunga Rampai . Kompolnas dapat berperan penting dalam memperkuat peranan Polmas dalam bersinergi dengan unsur-unsur Pemerintah Daerah untuk turut menyelesaikan atau mencegah penumpukan perkara di lembaga peradilan. Kurang lebih setara dengan fungsi jury di negara negara yang menganut sistim common law. Dengan keberadaan Menteri Dalam Negeri sebagai anggota Kompolnas. Termasuk dalam mengisi ruang kosong dalam masalah penegakan peraturan daerah.2. Yaitu lembaga yang menyelesaikan konfik pada masyarakat perkotaan yang merupakan representasi dari berbagai stakeholders.

meski tindakan itu bertentangan dengan hukum. di masa itu tidak demikian adanya. Dr. Sebagaimana diketahui. Berbagai pengalaman yang melatari bergulirnya reformasi. dibentuk sebagai mandat konstitusional Undang-Undang Dasar 1945 hasil amandemen. Peradilan juga telah menjadi alat bagi pembungkaman suara kritis masyarakat yang menyatakan keberbedaannya dengan negara. Lahirnya lembaga yang memiliki kewenangan mengusulkan pengangkatan hakim agung dan pengawasan hakim pemegang kekuasaan kehakiman. Dalil kehadiran Komisi Yudisial di atas sangat relevan dengan refleksi bangsa Indonesia terhadap perjalanan peradilan sebelum adanya Komisi Yudisial. Inisiasi lahirnya lembaga ini tidak lepas dari sejarah peradilan Indonesia yang semakin jauh dari visi dasarnya untuk menegakkan keadilan bagi pihak-pihak yang berperkara atau bagi mereka yang terenggut hak asasinya. M. hukum sepanjang pemerintahan Orde Baru telah menjadi instrumen yang melegitimasi setiap tindakan penguasa. Din Syamsuddin * Kelembagaan Komisi Yudisial Republik Indonesia di tahun 2007 ini memasuki usia ke-2 sejak dibentuk pada Agustus 2005. telah memperkuat sumber legitimasi kehadiran * Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Guru Besar Politik Islam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 155 .Peran Serta Elemen Masyarakat Sipil dalam Mendorong Proses Reformasi Peradilan dan Penegakan Hukum Prof. Desain pengadilan yang semestinya menempatkan semua orang setara di muka hukum.

Dengan kehormatan dan keluhuran martabatnya. organisasi masa.lembaga pengawas para hakim ini. kekuasaan kehakiman yang merdeka dan imparsial (independent and impartial judiciary) diharapkan dapat diwujudkan baik dari segi hukum maupun segi etika. Komisi Yudisial misalnya. jelas menuntut adanya keterlibatan masyarakat dalam menjalankan perannya sebagai lembaga negara yang bertugas melakukan pengawasan. keluhuran martabat. Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama bekerja sama 156 Bunga Rampai . Keberadaan masyarakat sebagai mitra utama bukan hanya dibutuhkan oleh Komisi Yudisial melainkan juga tuntutan reformasi di mana telah menempatkan masyarakat sebagai kelompok strategis dalam memantau peradilan dan penegakan hukum. Peran Serta Masyarakat Peran serta masyarakat jelas sangat menentukan keberhasilan reformasi peradilan. dan kemungkinan pemberhentian hakim. tidak bisa disangkal bahwa Komisi Yudisial memainkan peranan penting dalam rangka reformasi peradilan dan penegakan hukum dalam sistem kenegaraan Indonesia. Komisi Yudisial menempatkan masyarakat sebagai mitra utama dalam menjalankan kerja-kerjanya. Dengan demikian. serta perilaku hakim dalam rangka mewujudkan kebenaran dan keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Tanpa partisipasi masyarakat. dalam menjalankan fungsinya sangat bergantung pada laporanlaporan masyarakat. Masyarakat yang terhimpun dalam berbagai organisasi keagamaan. dimaksudkan agar warga masyarakat di luar struktur resmi lembaga parlemen dapat dilibatkan dalam proses pengangkatan. dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat selama ini telah menunjukkan peran sertanya dalam berbagai upaya reformasi peradilan dan penegakan hukum. penilaian kinerja. Bahkan masyarakat jauh lebih utama menjadi mitra dibanding hakim-hakim yang menjadi obyek pengawasan. Argumen kehadiran dan karakter kelembagaan Komisi Yudisial sebagaimana dipaparkan di atas. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga dan menegakkan kehormatan. Keberadaan Komisi Yudisial sebagai lembaga pengawas eksternal terhadap hakim. sulit bagi Komisi Yudisial memaksimalkan fungsinya. Secara eksplisit.

Bahkan peran serta itu belakangan telah diakui urgensi dan signifikasinya. hampir di semua lembaga-lembaga tersebut terdapat bidang atau departemen yang secara khusus menangani soal reformasi peradilan dan penegakan hukum. Mereka yang tergabung dalam Lembaga-lembaga Bantuan Hukum misalnya. Di samping lembaga bantuan hukum. termasuk di dunia peradilan. Elemen-elemen masyarakat sipil yang berhimpun dalam lembaga swadaya masyarakat diakui memang memiliki peran yang lebih fokus. Independensi para ilmuwan dan aktivis yang berhimpun dalam pusat-pusat studi telah secara nyata memberikan kontribusi bagi dunia peradilan dan penegakan hukum. sejak tahun 2004 telah memprakarsai gerakan melawan korupsi di semua lini pemerintahan. Kerja pemantauan diharapkan mampu Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 157 . Dalam tubuh lembaga-lembaga keagamaan. adalah melalui kerja-kerja pemantauan dibidang peradilan dan penegakan hukum. pemberantasan korupsi dan lain-lain. Bahkan banyak diantara mereka yang kemudian membangun kemitraan strategis sebagai partner atau bahkan mengasistensi lembaga-lembaga peradilan. Ada juga yang berkonsentrasi dalam pemantauan pembentukan perundang-undangan.dengan Kemitraan untuk Pembaruan Tata Pemerintahan yang baik misalnya. Pemantauan memiliki arti penting dalam rangka memastikan agar setiap kehendak politik yang terakumulasi dalam suatu kebijakan negara diorientasikan sepenuh-penuhnya untuk memberikan keadilan bagi semua orang. Kelompok masyarakat sipil lainnya adalah kalangan perguruan tinggi. secara terus menerus memberikan perhatian pada upaya reformasi peradilan dan penegakan hukum. karena dunia peradilan dan penegakan hukum merupakan sektor yang sangat berhubungan dengan kepentingan umat dan publik secara umum. Inisiatif-inisiatif seperti ini jelas dibutuhkan dalam reformasi peradilan dan penegakan hukum. terdapat juga pusatpusat kajian yang secara ilmiah memberikan inisiatif-inisiatif untuk menjadikan dunia peradilan lebih baik. karena lembaga-lembaga itu didesain khusus untuk memainkan peran-peran tertentu. Peran serta masyarakat yang paling banyak dilakukan pertama. Terakhir Muhammadiyah beserta ormas-ormas Islam kembali menggerakkan Jihad Melawan Koruptor Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

Komisi Yudisial. kepercayaan publik belum sepenuhnya bisa tumbuh akibat minusnya penindakan jika pengawasan menemukan abuses yang dilakukan oleh para penegak hukum. adalah sejumlah contoh terobosan yang didorong oleh masyarakat sipil dalam rangka reformasi peradilan dan penegakan hukum. Sekalipun pengawasan internal di tubuh lembaga peradilan sudah tersedia. penetapan indikator-indikator pembangunan berbasis hak asasi manusia dan kesetaraan gender. Kedua. pelaksanaan dan penegakan maupun dampak dari berbagai prosesproses peradilan dan penegakan hukum. substansi. peran serta lainnya adalah dalam bentuk kam- 158 Bunga Rampai . Komisi Kejaksaan. Kerja-kerja pemantauan selama ini banyak dilakukan oleh kelompok elemen sipil yang tergabung di dalam lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Mereka berhimpun dan mengkonsentrasikan diri pada upaya-upaya memastikan proses peradilan berjalan fair. Bahkan inisiatif lahirnya Mahkamah Konstitusi. Mekanisme class action. Komnas HAM. Komisi Penyiaran. Dengan demikian prinsip checks and balances. dapat dijalankan. sebagai salah satu prinsip demokrasi. Pemantauan yang dilakukan oleh elemen masyarakat sipil ini merupakan jawaban atas tidak adanya akuntabilitas yang terlembagakan pada lembaga-lembaga peradilan. Serangkaian exercise yang menerabas tradisi praktik hukum di Indonesia ditawarkan dan diujicobakan. Dalam sistem demokrasi.menghimpun fakta-fakta yang baik maupun yang kurang baik dari segi proses penyusunan. Komnas Perempuan. peran serta dibidang pengkajian. Peran ini biasanya banyak dilakukan oleh kalangan perguruan tinggi atau lembaga-lembaga studi yang mengkonsentrasikan diri pada upaya penyediaan konsep-konsep alternatif reformasi peradilan dan penegakan hukum. Ketiga. Beberapa capaian yang telah diperoleh adalah kemungkinan justiciability yang bisa diperoleh para pihak yang dirugikan akibat lahirnya sebuah kebijakan negara yang tidak menguntungkannya. citizen lawsuit. Komisi Kepolisian. kerja pemantauan juga merupakan bentuk kontrol publik untuk menyeimbangkan kekuatan antara penyelenggara negara atau pemerintahan dengan publik di daerah itu. dan lain sebagainya merupakan gagasan-gagasan kelompok kritis masyarakat sipil yang kemudian diadopsi oleh negara.

dalam praktiknya. eksaminasi publik atas putusan-putusan hakim. merupakan media dan instrumen kampanye mengubah paradigma berpikir dan tata tindak yang konstruktif pada upaya-upaya penegakan hukum. Eksaminasi atau dalam bahasa Inggris disebut dengan “examination” diartikan sebagai an investigation. Sejak lahirnya Komisi Yudisial. Kebanyakan jenis peran serta ini dilakukan oleh organisasi masyarakat sipil yang memiliki basis masa yang besar. sebenarnya fungsi eksaminasi atas putusan hakim. bisa dilakukan oleh lembaga peradilan yang ada pada level di atasnya sebagai bentuk pengawasan internal atau dilakukan oleh publik sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam memantau dunia peradilan. di samping juga melakukan pemantauan dan pengkajian. sejumlah lembaga swadaya masyarakat dan perguruan tinggi saat ini mempelopori praktik uji putusan hakim maupun produk kerja lembaga peradilan. Namun demikian. inspection. Akan tetapi Komisi Yudisial hanya memiliki kewenangan mengeksaminasi terkait profesionalisme hukum dan tidak masuk pada substansi perkara yang dipersoalkan. sulit sekali memeriksa profesionalisme hakim dalam sebuah Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 159 . secara konstitusional diperankan oleh Komisi Yudisial. Ormas-ormas keagamaan misalnya. Meskipun kegiatan eksaminasi publik ini tidak memberikan dampak langsung terhadap perkara yang telah divonis. adalah elemen yang sangat berpotensi melakukan kampanye penyadaran hukum dalam rangka memperkuat kultur hukum masyarakat. lemahnya mekanisme kontrol internal lembaga-lembaga peradilan. akan tetapi temuan pandangan hukum kelompok di luar mejelis hakim ini akan menjadi pembelajaran yang sangat berarti bagi perkara-perkara lain yang sama. search. di samping dilakukan oleh Mahkamah Agung. Eksaminasi publik dilakukan terutama untuk melakukan penilaian apakah keputusan-keputusan yang dikeluarkan oleh lembaga peradilan telah memenuhi standar profesional dan prinsip-prinsip penegakan hukum dan hak asasi manusia. interrogation. Keteladanan para pemimpin organisasi dan interaksi langsung yang para pemimpin dengan jamaahnya. atau yang dalam kamus bahasa Inggris-Indonesia sebagai ujian atau pemeriksaan. Berangkat dari fakta bahwa judicial corruption belum sepenuhnya teratasi.panye penyadaran hukum. Keempat.

Jaminan akomodasi peran serta masyarakat sekalipun secara yuridis tidak diatur. Reformasi yang digulirkan sejak 1998 telah membuktikan bahwa pengabaian terhadap aspirasi masyarakat telah meminggirkan kekuasaan yang selama ini dianggap kokoh. Semestinya sinergi harus bisa dibangun. sehingga meskipun dengan pendekatan dan strategi yang berbeda. yakni perbaikan peradilan dan penegakan hukum. Dunia peradilan yang menjadi obyek peran serta juga sudah semestinya menyadari betapa membangun aliansi strategis dengan elemen masyarakat sipil adalah hal yang pokok dalam men-delivery keadilan segera sampai ke tengah masyarakat. Jika eksistensi publik dalam dunia peradilan sudah disadari urgensinya. secara sosio-politik peran serta masyarakat berimplikasi besar terhadap perubahan dunia peradilan.putusan tanpa menyoal substansinya. tetap bisa mengarah sasaran yang sama. Menuntaskan kerja reformasi (termasuk di sektor peradilan) jelas tidak bisa lepas dan mengabaikan peran serta masyarakat. Tujuan eksaminasi secara umum adalah untuk mengetahui. Keberbedaan pendekatan antar elemen juga sering menjadikan pilihan strategi yang berbeda. Karena itu produk Komisi Yudisial sering diabaikan. Sikap a priori dan konfrontatif lembaga-lembaga peradilan hanya akan memperburuk citra lembaga peradilan itu sendiri. Peran serta kemudian menjadi bagian yang dianggap tidak menarik sebagian elemen masyarakat sipil. serta menakar sejauh mana sebuah putusan telah menyentuh rasa keadilan masyarakat. Sasaran utama dari kegiatan eksaminasi ini adalah mendorong para hakim agar membuat putusan dengan pertimbangan yang baik dan profesional. maka para anggota legislatif 160 Bunga Rampai . Catatan yang dapat diajukan dalam memandang peran serta masyarakat sipil dalam reformasi peradilan dan penegakan hukum ini. Untuk memaksimalkan upaya reformasi peradilan itulah maka publik menginisiasi praktik-praktik eksaminasi yang disebut dengan eksaminasi publik. seringkali ekpektasi publik tidak terpenuhi oleh lembaga-lembaga peradilan. sejauh mana pertimbangan hukum dari hakim yang memutus perkara tersebut berkesesuaian dengan prinsip-prinsip hukum dan prosedur hukum acara dengan benar.

pilihan diseminasi dan edukasi pentingnya peran serta masyarakat dalam reformasi peradilan dan penegakan hukum. Minusnya dukungan sosial. Bahkan sebagian besar perguruan tinggi. yang akan menjadi alat efektif untuk melakukan kontrol dan pressure terhadap negara untuk berkomitmen menegakkan hukum. Masyarakat sipil dituntut untuk menata kerja-kerja ini bukan lagi sebagai seremonial yang berulang akan tetapi lebih implementatif. Jika kondisi yang demikian ti- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 161 . diskursus dan praksis peradilan dan penegakan hukum hingga saat ini masih menjadi isu yang elitis. tapi telah menjalar kepada sebagian besar masyarakat Indonesia. Karena itu. baik di kalangan perguruan tinggi. penegakan hukum hak asasi manusia di Indonesia adalah minusnya kerja-kerja diseminasi publik yang menyadarkan warga tentang pentingnya kerja bersama membangun kelembagaan peradilan yang independen dan akutabel. organisasi masyarakat. dan berkelanjutan. organisasi keagamaan dan komunitas-komunitas lainnya. Refleksi atas keberadaan lembaga-lembaga kemasyarakatan dan keagamaan dalam memaksimalkan peranannya mendorong reformasi peradilan dan penegakan hukum telah menjadi memicu semua pihak untuk segera berbenah diri secara lebih serius. sistematis. Jika mau diakui. mayoritas masyarakat Indonesia justru balik menuduh LSM yang melakukan provokasi untuk membuat berang sebuah rezim. membuat advokasi penegakan hukum seolah-olah hanya menjadi urusan LSM. Harus diakui. Tuduhan ini tidak hanya monopoli aparat negara semata. Tak jarang kemudian. salah satu penyebab tidak maksimalnya reformasi peradilan. meskipun di beberapa perguruan tinggi telah tumbuh pusat-pusat studi. Diseminasi tentang pentingnya peran serta masyarakat sipil yang meluas akan mampu melahirkan kekuatan kritis dan membangun kesadaran kolektif bangsa. Hanya menjadi urusan lembaga swadaya masyarakat dan beberapa kelompok sosial kritis lainnya. sebagai salah satu kesadaran evaluatif atas ketersumbatan arus reformasi peradilan patut dipertimbangkan. dedikasi dan kesungguhannya masih belum optimal.juga dituntut untuk bisa mengakomodasi berbagai aspirasi publik dalam setiap penyusunan perundang-undangan.

dan berkeadilan tanpa diminta dan ditekan. Gagasan mendidik pendakwah atau misionaris dalam berbagai agama untuk menjadi pembawa suara keadilan bisa menjadi pilihan kerja yang potensial mampu menghimpun dukungan sosial reformasi peradilan dan penegakan hukum.dak segera mendapat respon dan penanganan cepat. Membangun kesadaran kolektif dapat dilakukan dengan melakukan transformasi simultan atas gagasan dan praksis penegakan hukum di lapangan. Dengan jamaah dan umat yang begitu besar. Meskipun predikat ini tidak sepenuhnya genuine. Kedekat- 162 Bunga Rampai . lembaga-lembaga keagamaan sebenarnya bisa menjadi kekuatan pengubah sosial yang luar biasa. kompeten. tapi paling tidak. peradilan yang murah. Kalangan perguruan tinggi. Karena itu signifikansi perluasan basis sosial terletak pada perolehan dukungan besar masyarakat Indonesia. penegakan hukum menjadi tugas dan kewajiban negara. dikhawatirkan LSM akan kehabisan energi dalam melakukan kerja-kerja advokasinya. tidak ada negara yang dengan cumacuma memberikan hak-hak rakyat untuk menikmati kemajuan. tidak hanya pressure group yang semakin terkikis tapi sinisme masyarakat akibat “instabilitas” yang diciptakan oleh kalangan LSM akan semakin menguat. sering disebut sebagai salah satu agen perubahan. mendorong hukum progresif yang berkeadilan. Salah satu kapasitas dan kompetensi itu adalah menciptakan generasi terdidik yang peduli dan tergugah untuk melakukan advokasi. Salah satu sektor yang harus mendapatkan prioritas dalam proses transformatif ini adalah kalangan perguruan tinggi dan dunia pendidikan. Sektor lain yang perlu mendapat perhatian adalah lembaga-lembaga keagamaan. Memang. tapi pengalaman di beberapa negara menunjukkan. Melalui kerja pemberdayaan dan pendampingan. pendidikan kesadaran hukum dapat disodorkan sebagai jalan merengkuh dukungan sosial itu. Memperluas basis sosial untuk memperbesar dukungan reformasi peradilan dan penegakan hukum berarti membangun kesadaran kolektif bangsa akan pentingnya reformasi peradilan di Indonesia. Jika kerja ini tidak dilakukan. secara formal perguruan tinggi memiliki kapasitas untuk memproduksi sumber daya manusia yang bisa didesain memiliki kapasitas dan kompetensi tertentu.

Perlu disadari bahwa keberadaan ormas-ormas baik yang berbasis keagamaan maupun kemasyarakatan memiliki posisi strategis di dalam proses rekayasa sosial untuk melahirkan suatu gerakan sosial dan gerakan moral dalam membangun bangsa. Karena itu tidak ada pilihan lain. Catatan Penutup Keberadaan Komisi Yudisial di dalam ranah kekuasaan kehakiman secara langsung telah menjawab kebutuhan akses publik terhadap dunia peradilan. Tidak semata-mata karena peradilan yang baik sebagai sesuatu yang dibutuhkan. Komisi Yudisial telah menjadi jembatan ketidakpuasan publik atas ketidakadilan yang tercabik akibat ulah para mafia peradilan. Karena itu tidak ada pilihan lain bagi Komisi Yudisal untuk terus meningkatkan intensitasnya melibatkan publik dalam memantau dan memastikan keadilan dapat terberikan. akan membuat bahasa hukum dan peradilan menjadi mudah dipahami dan diterima sebagai sebuah keyakinan yang harus diperjuangkan. Pilihan kerja diseminasi wacana reformasi peradilan dan penegakan hukum memang tidak memiliki daya tarik sebagaimana kerja advokasi (litigasi). kecuali membangun kemitraan strategis dengan elemen masyarakat sipil. dan lembaga-lembaga penyelidik independen lainnya) juga sudah semestinya menyadari pentingnya kehadiran masyarakat di tengah-tengah peran dan fungsi institusinya sebagai stakeholders yang tidak bisa ditinggalkan. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 163 . tapi juga terjustifikasi oleh semua agama dan kepercayaan di dunia ini.an tokoh-tokoh agama dengan umatnya. Bagaimanapun kepercayaan publik terhadap keberhasilan reformasi peradilan dan penegakan hukum adalah indikator utama keberhasilan reformasi peradilan dan penegakan hukum. selama bumi ini masih dipijak. yang dengan mudah mendongkrak popularitas seorang aktivis. Lembaga-lembaga peradilan (kejaksaan. kepolisian. proses-proses reformasi peradilan dan penegakan hukum. Diseminasi merupakan kerja jangka panjang dan investasi kemanusiaan yang akan menjadikan kerja advokasi berkelanjutan.

Toward a Comparative Study of Political Parties. Miriam. Penerbit Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam). Prof. 1963. Wiley and Sons. 164 Bunga Rampai . Jakarta. 1996. Ahsin Thohari. PT. Komisi Yudisial & Reformasi Peradilan. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Cadre Party and Mass Party. Huntington. Caucus and Branch. Dr. Norman and London: University of Oklahoma Press A. New York. Miriam. The Third Wave: Democratization in the Late Twentieth Century. Budiarjo. Jakarta. Political Parties. Chicago. Chicago University Press. 1991.Daftar Bacaan Samuel P. Budiarjo. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Gramedia Pustaka Utama. Neuman. Prof. PT. Jakarta. Maurice. Sigmund. 1963. Gramedia Pustaka Utama. 1996. Duverger. 2004.Dr.

2005. (Sidney: Butterworth. Chaim Perelman. Pendukung civil law. ed. Pengadilan dalam sistem hukum common law. Tahun 2006-sekarang. tahun 2001–sekarang. Legal Change Essay in Honor of Julius Stone. Magister Hukum dari Universitas Indonesia (1994).1 Sebaliknya salah satu pendukung sistem common law. Blackshield. Dosen Fakultas Hukum USU Medan. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Univ. tetapi jika manusia itu berbuat kesalahan maka pengadilan langsung menghukumnya. Dosen Pascasarjana Hukum USU Medan. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Univ. tahun 2004-sekarang. Jeremy Bentham yang kemudian didukung oleh John Austin menganggap bahwa sistem common law mengandung ketidakpastian dan menyebutnya sebagai “law of the dog”.V Hayek mengatakan bahwa sistem common law lebih baik dari pada civil law karena jaminannya * 1 Mendapat Sarjana Hukum dari USU (1983). Dosen Magister Hukum Pascasarjana Sekolah Tinggi Hukum Militer (STHM). tahun 2002. Dosen Magister Kenotariatan Pascasarjana USU Medan. tahun 2003-sekarang. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 165 . Jakarta. tahun 2002-sekarang. Untuk Menghasilkan SDM Penegak Hukum Yang Kompeten dan Profesional Bismar Nasution* Knowledge is power but character is more Perdebatan mengenai sistem mana yang terbaik antara civil law dan common law telah berlangsung selama berabadabad. Krisnadwipayana Jakarta.Reformasi Pendidikan Hukum. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Universitas Nasional. Doktor dari Universitas Indonesia (2001). tahun 1999–sekarang. Jakarta. “Legal Ontology and Legal Reasoning”. tahun 1987– sekarang. Jakarta. Dosen Magister Manajemen Pascasarjana USU Medan. hal 6. Dosen Penguji dan Pembimbing Disertasi Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Indonesia. tidak memberikan petunjuk bagi manusia bagaimana dia harus bertindak.R. Pancasila Jakarta. 1983). Magister Hukum Pascasarjana Universitas Islam. tahun 2001–2002. Guru Besar Hukum Ekonomi Fakultas Hukum USU (2004). Ketua Program Studi Ilmu Hukum dan Ketua Program Doktor Ilmu Hukum Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. tahun 2002-sekarang. F. dalam A.

Cordozo “sejarah dalam menerangi masa lalu menerangi masa sekarang. Janice R. Sistem civil law menggunakan kodifikasi sebagai sumber hukum.1999).6 Hal ini tidak terlepas dari sejarah 2 3 4 5 6 Lebih lanjut Hayek menyatakan bahwa sistem kebebasan di Inggris berasal dari ajaran Locke dan Humme yang menekankan kepada kebebasan individu untuk mencapai tujuan masing-masing. Black’s Law Dictionary. Cohen dan Arnold J. Bellace. “The Common Law and Economic Growth: Hayek Might Be Right”. 40. tahun 1066 dianggap sebagai tahun kelahiran tradisi common law ketika bangsa Norman mengalahkan dan menaklukkan kaum asli (Anglo Saxon) di Inggris. Istilah stare decisis berasal dari istilah stare decisis et non quieta movere. Dunfee. (London : Yale University Press. 89 Lihat John Henry Merryman. (ST.. University of Chicago. (New Jersey: Prentice-Hall Inc. sedangkan model kebebasan Perancis berasal dari ajaran Hobbes dan Rousseau yang menekankan pada kebebasan pemerintah untuk mencapai tujuan bersama lihat Paul G. hal 4-7. Lihat Henry Campbell Black. Di negara civil law hakim merupakan bagian dari pemerintah. Paul. hal. Sedangkan civil law lahir terlebih dahulu ketika Corpus Juris Civilis of Justinian diterbitkan di Constatinopel pada tahun 533 yang sangat dipengaruhi oleh hukum Romawi.XXX.4 Akar perbedaan yang substansial diantara kedua sistem hukum itu terletak pada sumber hukum yang digunakan oleh Pengadilan dalam memutus sebuah perkara. 1969). sedangkan dalam Black’s Law Dictionary diartikan “to adhere to precedents. 2001). hal.” lihat W. 1962). sehingga dalam menerangi masa sekarang dia menerangi masa depan.pada kebebasan individu dan membatasi kekuasaan pemerintah.2 Untuk lebih memahami pemicu perdebatan di atas cara terbaik adalah dengan menghampirinya dari aspek historis sebagaimana dikatakan Benjamin N. adanya independensi hakim atau berada di bawah Mahkamah Agung. The Civil Law Tradition: An Introduction to the Legal System of Western Europe and Latin America. (Vol. yaitu “stand by the decision and do not disturb what is settled. Di Indonesia. 1990). Cardozo. Journal of Legal Studies. Rosoff.“3 Menurut catatan. Kehakiman terjadi sejak tahun 2004 166 Bunga Rampai . David B. (California: Stanford University Press. Business and Its Legal Environment. hal 504-511 Benjamin N.5 Perbedaan menonjol lainnya menyangkut peran pengadilan. sedangkan sistem common law menggunakan putusan hakim sebelumnya sebagai sumber hukum atau yang lebih dikenal dengan doktrin stare decisis. Mahoney. hal 1406. The Nature of The Judicial Process. and not to unsettle things which are established. Minn: West Publishing Co. pindah dari naungan Departemen.

Mahoney. Op.7 Posisi ini membuat pengadilan biasa di Perancis secara prosedural tidak mempunyai wewenang untuk mengkaji kebijakan pemerintah. Smith & Bailey on The Modern English Legal System.J. hal 413. 1984). Independensi pengadilan ini apabila ditelusuri berawal dari pertentangan antara Hakim Coke dengan King Stuart ketika Kerajaan yang memaksakan kehendaknya untuk mengubah hak properti yang merugikan rakyat. Hal ini membuat kekuasaan pemerintah di negara civil law menjadi sangat dominan. Cit. Perbedaan ini tetap dipertahankan dalam sistem civil law di daerah continental yang mewarisi tradisi Hukum Romawi. Di Perancis misalnya. para hakim Perancis menjadi musuh masyarakat daripada pembela kepentingan masyarakat karena lebih mendukung kepentingan Raja. Para hakimnya juga didik pada administrative school bersama-sama dengan pegawai negeri lainnya yang nantinya keputusan mereka akan diawasi oleh hakim tersebut. Dugdale. hal 508-509 S. Raja Stuart kemudian membentuk sebuah pengadilan baru bernama Stuart Chamber yang berada di bawah Kerajaan dan merupakan kepanjangan tangan dari Kerajaan Inggris. (London: Sweet & Maxwell. Farrar dan Anthony M.10 7 8 9 10 John H. hal 503 – 512. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 167 . Sebelum revolusi.H. Introduction to Legal Method.Gunn. namun demikian Pengadilan ini berada dibawah pengawasan Eksekutif. (London: Sweet & Maxwell. hal 39. .9 Oleh karenanya kekuasaan untuk menentukan hukum berada pada Mahkamah Agung sebagai pengadilan tertinggi. Setelah revolusi Stuart Chamber ini dibubarkan. Kondisi inilah yang kemudian memicu revolusi Perancis yang dipimpin oleh Napoleon. Lihat Paul G. Pengalaman sebelum masa revolusi tersebut menjadi inspirasi bagi Napoleon dalam meletakkan hakim di bawah pengawasan pemerintahan untuk mencegah “pemerintahan oleh hakim” seperti yang pernah terjadi sebelum revolusi. pengadilan membedakan antara kasuskasus yang berhubungan dengan pemerintah dan memberlakukan hukum yang berbeda dengan hukum yang mengatur hubungan sektor privat.yang melandasi terciptanya perbedaan itu. Sistem Hukum Romawi menggambarkan dengan jelas perbedaan antara hukum privat yang mengatur hubungan antara warga negara dan hukum publik yang mengatur hubungan antara warga negara dengan pemerintah. Perancis memang telah mengembangkan suatu Pengadilan Tata Usaha Negara yang berwenang men-review Keputusan Pemerintah. Paul G. negara common law yang berasal dari tradisi Inggris memiliki lembaga pengadilan yang independen. 1996).8 Sebaliknya. Op.Cit. Mahoney.Bailey dan M.

isi pasal serta pendapat para sarjana. karena umumnya negara-negara civil law berpaham positivisme. sehingga landasan maupun pemikiran tentang hukum hanya berpedoman kepada perundangundangan yang telah terkodifikasi.Dalam perjalanannya. Mahoney. Perbandingan suatu teori atau hukum juga jarang dilakukan. 2001. hal 253 168 Bunga Rampai . Para mahasiswa bersifat pasif dan umumnya diajarkan untuk menghapal perundang-undangan. dengan metode pengajaran monolog. yaitu sistem civil law dan sistem common law. dosen berfungsi sebagai narasumber. Peranan dosen sangat sentral dalam memberikan pemahaman tentang hukum.11 Terlepas dari perdebatan di atas.12 Arah Pendidikan Hukum Perbedaan penerapan hukum di atas berimplikasi terhadap sistem pendidikan hukum di negara-negara penganut kedua sistem hukum tersebut. Sistem hukum yang 11 12 Paul G. hal. Op. Sebaliknya. Hal ini menyebabkan perbandingan hukum dengan negara lain dianggap kurang penting dan kurang mempunyai kekuatan hukum apabila dijadikan landasan pembelaan dalam sebuah peradilan. Ibid. sistem pendidikan di negara common law lebih menekankan kepada practical use. dan sangat jarang perkuliahan dilakukan untuk membahas suatu kasus. pengalaman menunjukan bahwa negara-negara dengan sistem common law ternyata relatif lebih makmur secara ekonomi dibanding negara dengan sistem civil law. Materi yang diberikan adalah isi pasal-pasal dari perundangan-undangan. pembimbing dan legal solver terhadap pertanyaan para mahasiswa. Perdebatan dan diskusi jarang dilakukan karena selama perkuliahan berlangsung dosen biasanya hanya memberikan penjelasan mengenai teori. kombinasi antara konsep Hukum Romawi dan praktik-praktik di lapangan telah membentuk dasar-dasar hukum yang dianut oleh sebagian besar negara di dunia ini. Cit. hal 508. Sistem pendidikan hukum di negara civil law lebih menekankan kepada metode pengajaran yang bersifat doktrinal.

karena adanya doktrin kalau suatu putusan pengadilan tidak boleh bertentangan dengan putusan pengadilan di atasnya. dan tidak jarang mereka menjadi sahabat dalam kehidupan pribadi. Inilah yang membuat para SDM penegak hukum common law selalu melaku- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 169 . Sehingga penyelesaian suatu permasalahan hukum dilakukan dengan pendekatan doktrinal. dimana para dosen hanya memberikan pengantar dan referensi buku yang harus dipelajari serta dirangkum oleh para mahasiswa. presentasi dan pemaparan para mahasiswa mengenai suatu kasus. Mereka hanya memandang suatu permasalahan dengan parameter perundang-undangan. sehingga sering sekali putusan hakim dijadikan parameter untuk menilai apakah suatu peraturan dapat diterapkan di masyarakat. apabila seorang hakim menganggap suatu putusan tidak sesuai lagi dengan perkembangan masyarakat. Sedangkan sisa perkuliahan dilakukan dengan diskusi. Perundang-undangan bukan harga mati bagi sebuah keadilan. Sebaliknya SDM penegak hukum dari negara common law selalu bersifat kritis dan analistis. sedangkan isi perkuliahan lebih banyak diisi oleh perdebatan dan pendapat dari masing-masing mahasiswa mengenai kasus-kasus yang diberikan oleh dosen. dia dapat membuat putusan baru tentu dengan argumentasi yang kuat. membuat perkuliahan difokuskan kepada pembahasan kasus hukum dan putusan pengadilan. Pemahaman terhadap teori hanya diberikan di awal perkuliahan dengan metode self learning. Putusan pengadilan itu juga bukan hal yang mutlak harus diikuti. SDM penegak hukum dari negara civil law cenderung bersifat positifis dan rigid dalam menyelesaikan permasalahan hukum. Sehingga hubungan antara dosen dan mahasiswa di negara common law umumnya sangat dekat. konsultasi mengenai suatu permasalahan hukum dilakukan secara individual antara dosen dan mahasiswanya. Putusan ini akhirnya akan diuji oleh Mahkamah Agung apakah diterima atau ditolak. Hal ini membuat peran mahasiswa lebih dominan daripada peran dosen.menekankan kepada putusan hakim. Adanya perbedaan dalam sistem pendidikan hukum di atas telah menyebabkan perbedaan besar dalam memahami dan menyelesaikan permasalahan hukum. Sehingga perkuliahan bersifat terbuka. Dosen hanya berperan sebagai pembimbing dan pengarah diskusi.

Dari deskripsi di atas tentu kita dapat menyimpulkan bahwa metode pengajaran civil law membuat para SDM penegak hukum berpikir doktrinal. Gambaran mengenai sistem pendidikan hukum di Indonesia tidak berbeda jauh dengan apa yang telah diuraikan mengenai sistem pendidikan hukum civil law di atas. dimana perekonomiannya belum stabil dan tingkat penyelewengan hukum masih tinggi dan perundang-undangan belum berfungsi maksimal dalam mengikuti dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Kelebihan dari metode ini adalah adanya kepastian dalam pemahaman hukum. Sedangkan kelemahannya adalah metode ini menghasilkan SDM penegak hukum yang lemah akan analisis dan kurang kritis terhadap hukum. analistis dan responsif terhadap permasalahan hukum. Sebagai lembaga yang menghasilkan SDM penegak hukum. dimana perundang-undangan yang mengaturnya sudah tidak relevan lagi dengan kondisi masyarakat. Pengajaran yang bersifat doktrinal masih mewarnai pembelajaran hukum di Indonesia. sehingga kepercayaan masyarakat terhadap hukum dapat dipulihkan kembali. Pandangan yang bersifat doktrinal dan positivisme mutlak harus segera diminimalkan untuk membentuk SDM penegak hukum yang kritis. Tidak jarang mereka melakukan perbandingan hukum untuk menjustifikasi argumen mereka bahwa hukum yang berlaku tidak sesuai lagi diterapkan di masyarakat. Sehingga apabila terjadi suatu permasalahan hukum. Sehingga metode ini mempunyai kelebihan dalam menghasilkan para SDM penegak hukum yang kritis dalam menghadapi perubahan di masyarakat. para SDM penegak hukum akan gagal mengimplementasikan rasa keadilan masyarakat dalam solusi hukumnya. Sebaliknya. metode pendidikan seperti ini harus diperbaiki terutama pada negara berkembang seperti Indonesia. peran Fakultas 170 Bunga Rampai . sehingga pembelajaran relatif lebih terarah.kan analisis dan kritis terhadap hukum. Hal ini terjadi karena pembelajaran terfokus pada kodifikasi. Dalam menghadapi persaingan global. sehingga penggalian nilai-nilai keadilan juga harus dilakukan disamping pemahaman terhadap peraturan tersebut. metode pengajaran common law menekankan kepada analisis kasus dan diskusi serta untuk selalu bersikap kritis dalam menghadapi permasalahan hukum.

Kondisi ini bermula sebagai konsekuensi pendekatan pembangunan yang diterapkan pemerintah. diperlukan political will yang kuat bagi para petinggi universitas dan pemerintah untuk melakukan pembenahan yang sistematis dalam memperbaiki pendidikan hukum di Indonesia. yaitu sebagai professional school yang harus dapat menggabungkan unsur profesionalisme dan pendidikan hukum dalam pengajarannya. sedangkan sistem civil law peran pemerintah sangat dominan.Hukum sangatlah penting di sini. Dalam bahasanya Walter Lippmann “in a free society the states does not administer the affairs of men. metode pengajaran. bahwa jalannya suatu sistem hukum tidak akan pernah lebih baik dari mereka yang menjalankannya. teaching material atau kurikulum dan kesejahteraan para pengajar. SDM Penegak Hukum Yang Kompeten dan Profesional Jurang antara dunia akademis dan praktis di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir abad ke-20 semakin melebar. Fakultas hukum di Indonesia harus kembali kepada khitahnya. Hal ini disebabkan SDM penegak hukum yang berperan menjalankan hukum bukan hanya berdasarkan cara berpikirnya sendiri. Sementara itu. tetapi berasal dari pendidikan yang diperolehnya dari kuliah semasa di Fakultas Hukum. Seharusnya pendidikan itu pulalah yang memperluas ruang lingkup cara berKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 171 . Pembenahan menyeluruh terhadap pendidikan hukum harus segera dilakukan. Padahal L. seperti SDM penegak hukum. Dalam upaya mempercepat pertumbuhan ekonomi. metode pengajaran di kampus-kampus masih berorientasi kepada sistem civil law. It administers justice among men who conduct their own affairs”. pemerintah menerapkan sistem pembangunan ekonomi pro pasar. baik dari peningkatan kualitas SDM. pasarlah yang menjadi panglima. Michael Hagger menggambarkan. Hal ini tentu tidaklah mudah. Dalam sistem common law. Konsekuensinya tamatan Fakultas Hukum seolah terlempar ke dunia lain. Pembenahan tersebut harus dilakukan secara serentak. Metodemetode ekonomi pro pasar umumnya diimpor dari negaranegara common law dan juga sistem ekonomi pro pasar lebih kondusif bila didekati dengan institusi hukum yang berasal dari sistem common law.

Foundation of the Law of the European Union. dan Foundation of Public Law serta Legal Research. Gerakan Law and Economic telah mengubah metode dosen mengajar dan hampir di seluruh subjek hukum pengetahuan praktis ilmu ekonomi merupakan persyaratan. (Vol. tetapi harus pula mengajarkan keterampilan menggunakan sains (science) untuk memahami hukum disamping dan memperkenalkan hukum sesuai dengan kenyataan. Op. Foundation of Criminal Law. kita dapat melihat sistem pendidikan hukum di Inggris.Gunn. hal. Bailey dan M. Foundation of Equity and the Law of Trust. tentunya staf pengajar di Fakultas Hukum tidak hanya mengajarkan teori atau hal-hal yang normatif sifatnya. Kriteria yang ditekankan disini bukanlah metode penilaian terhadap tugas atau lamanya pengajaran tetapi yang dituntut adalah proposi beban kerja mahasiswa dan setidak-tidaknya harus menguasai tujuh dasar pengetahuan 13 14 15 L.J. obligations 2. hal 182-183 172 Bunga Rampai . Untuk perbandingan. doktrinal dan deskriptif. Untuk itu. Kronman. 1972). Lihat S. “The role of Lawyer of development country.166-239. 58.Cit.pikirnya.(Cambridge: Harvard University Press. 1993).13 Kondisi di atas memaksa kita memikirkan bagaimana Fakultas Hukum dapat melahirkan SDM penegak hukum yang berpengetahuan luas dan memiliki keterampilan hukum yang sesuai dengan sistem ekonomi pro pasar yang dijalankan pemerintah tersebut. dimana terdapat syarat yang sangat ketat dalam penerimaan SDM penegak hukum yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan profesi yang lebih tinggi. Fakultas Hukum di Inggris dituntut untuk memberikan pemahaman hukum yang komprehensif untuk menyediakan seorang SDM penegak hukum yang kompeten dan profesional. Lihat Antony T. Penggunaan pendekatan ekonomi terhadap hukum (law and economic) dalam pendidikan hukum di Amerika Serikat bersifat permanen yang dimulai sejak tahun 1960an. hal. Foundation of Property Law. Jalan yang harus ditempuh adalah bagaimana menepis kekhawatiran bahwa apa yang diberikan dalam kuliah berbeda dengan hukum dalam kenyataan. The Lost Lawyer Failing Ideals of the Legal Profession.14 Memperkenalkan hukum sesuai dengan kenyataan dibutuhkan mengingat Fakultas Hukum sebagai professional school diwajibkan untuk mempersiapkan keterampilan para lulusannya. kegiatannya dan kesiapannya yang membedakannya pula dengan kalangan lainnya.H.” ABA Journal. Terlepas setuju atau tidak setuju dengan gerakan ini. 33. Ketujuh dasar pengetahuan hukum tersebut adalah: obligations 1. Michael Hagger.

J. Pendidikan 16 Seorang calon masih harus mempunyai pengalaman selama 12 bulan dengan Pengacara yang mempunyai pengalaman selama 5 tahun. Kedua tahap ini menyarankan syarat untuk dapat mendaftar menjadi pengacara.Cit.H.hukum. Tahap kedua adalah “tahapan pendidikan spesialis atau kejuruan” yang dilakukan dengan mengikuti program the Bar Vocational Course yang diselenggarakan oleh Court School of Law. Kemampuan akademis merupakan dasar pengajaran sedangkan kemampuan profesional adalah pengembangan teori secara praktik. Adanya anggapan bahwa seorang SDM penegak hukum cukup dibekali kemampuan hukum di bidang tertentu saja harus ditentang. seorang calon harus ikut dalam salah satu Inns of Court dan harus memenuhi dan menyelesaikan dua tahap pendidikan. Tujuan dari pelatihan ini adalah supaya para lulusannya dapat menguasai pembuatan kontrak dengan kemampuan dan pengetahuan yang cukup untuk mengatasi masalah dan tantangan dengan diawasi oleh instruktur pelatihan. Syarat kedua menuntut calon harus merupakan anggota dari the Law Society dan harus mengikuti dan lulus pelatihan Legal Practice Course Board yang diselenggarakan the Law Society.16 Gambaran di atas menunjukkan bahwa Fakultas Hukum sebagai profesional school harus mempunyai suatu sistem pendidikan atau metode pengajaran yang mempunyai suatu kurikulum yang tepat untuk menghasilkan SDM penegak hukum yang kompeten dan mempunyai kemampuan profesional yaitu kemampuan praktik. Tahap pertama adalah “tahap akademik” dimana calon harus mempunyai gelar SDM penegak hukum atau sertifikat lulus dari Common Professional Examination (CPE). SDM penegak hukum haruslah menguasai ilmu hukum dan praktik-praktik dasar secara keseluruhan untuk dapat disebut sebagai kompeten dan profesional. Untuk dapat menjadi pengacara (Bar). Syarat pertama yaitu syarat akademik sama seperti persyaratan untuk menjadi Pengacara. Op. dimana selama 6 bulan pertama mereka tidak boleh menerima instruksi. seorang calon dua tahap sama seperti syarat menjadi Pengacara. hal 184-185 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 173 .15 Selain itu Sistem Pendidikan Hukum Lanjutan di Inggris juga dibedakan antara Pengacara (Barrister) dan Konsultan Hukum (Solicitor). Lihat S. Di sinilah esensi sebenarnya dari profesional school. dimana tidak ada pembedaan antara akademisi dan profesional. Sedangkan untuk menjadi konsultan hukum (solicitor). sehingga menimbulkan perbedaan persyaratan untuk dapat menekuni kedua profesi ini.Gunn. Bailey dan M.

dimana mahasiswa harus bersifat aktif dengan didampingi dan diarahkan oleh dosen agar lebih terarah. “A lot of Knowledge is a Dangerous Thing: Will the Legal Profession Survive the knowledge Explosion? dalam Michael Feindel dan Oliver Fuldaner. “Globalisasi Hukum dan Kemajuan Teknologi: Implikasinya Bagi Pendidikan Hukum dan Pembangunan Hukum Indonesia. lihat dalam Erman Rajagukguk. teori dan filsafat hukum dapat dilakukan di awal perkuliahan. karena mustahil bagi sebuah profesional school mengajarkan pendidikannya jika dosennya tidak mempunyai kemampuan dalam bidang praktik seperti yang telah digambarkan oleh sistem pendidikan hukum di Inggris. Dosen Fakultas Hukum disamping berkewajiban mengajar dan menulis. Pemahaman terhadap doktrin.lanjutan hanyalah memberikan suatu spesialisasi terhadap sebuah bidang yang ingin ditekuni oleh SDM penegak hukum tersebut. 286. juga wajib melatih mahasiswanya dengan keterampilan praktis.Arthurs. 174 Bunga Rampai .” Pidato pada Dies Natalis USU Ke-44. 13. “lawyers must become expert in some field of knowledge and know little about others”. karena hal itu akan menghilangkan unsur profesionalisme dalam diri dosen yang pada gilirannya akan menghilangkan unsur esensial Fakultas Hukum sebagai pendidikan profesional. hal. Hal ini dilakukan agar mahasiswa mendapat gambaran mengenai hukum di luar Indonesia. Hal ini sejalan dengan H. dimana para pengajarnya juga melakukan praktik. W. Kekhawatiran akan diabaikannya tugas-tugas pendidikan dapat diatasi dengan dibuatnya sebuah rule of the game dengan sanksisanksi yang jelas. filsafat hukum dan case analysis. Mempersiapkan keterampilan praktis dapat dilakukan dengan menggunakan metode 17 18 H. Kita harus melihat pada profesional school sejenis. Hal ini dilakukan agar para mahasiswa dapat memahami akibat dan konsekwensi hukum yang timbul akibat isi suatu pasal.W.17 Oleh karena itu adalah suatu kesalahan besar untuk melarang dosen melakukan praktik hukum. 20 Nopember 2001. Kasus yang dipilih tidak hanya berasal dari dalam negeri tetapi juga diberikan kasus-kasus yang berasal dari luar negeri. Sisa perkuliahan dilakukan dengan pemahaman suatu peraturan perundangan-undangan yang diikuti dengan pembahasan kasus-kasus yang berkaitan dengan peraturan tersebut. “Access and Specialization in Legal Education and Practice. Arthur yang menyatakan bahwa. hal. Pengajaran dapat dilakukan dengan menggabungkan pemahaman terhadap isi pasal. sehingga mereka dapat membandingkan dan memperluas pandangan mereka terhadap hukum diluar Indonesia. Untuk membentuk Fakultas Hukum sebagai profesional school. maka pembenahan metode pendidikan harus dilakukan secara komprehensif dimulai dari perubahan sistem pengajaran yang selama ini bersifat doktrinal. yaitu Fakultas Kedokteran. Medan.” Dalhousie Journal of Legal Studies.

Op.18 Metode case law pertama sekali digunakan di Harvard Law School yang kemudian diikuti oleh seluruh Fakultas Hukum di AS. Weeramantry dalam tulisannya “Legal Education for the Age of technology: A Plea for an Interdisciplinary Perspec19 20 Antony T. hal. Hakim-hakim di Inggris menganggap bahwa fungsi seorang hakim bukanlah menghasilkan sebuah sistem hukum atau sebuah perkerjaan institusional yang menggunakan simetri logika. Dugdale. Seperti yang dikatakan oleh C. 170. it has been experience” (kelangsungan hidup dari hukum bukanlah melalui logika tetapi melalui pengalaman). karena metode ini dapat mengevaluasi sebuah hukum melebihi dari isi hukum itu sendiri.19 Metode ini merupakan hasil dari judicial reasoning dalam menentukan sebuah kasus dalam sebuah situasi fakta tertentu. Cit. Diharapkan dengan metode ini mahasiswa dapat mempunyai kemampuan untuk menganalisis dan bersikap kritis dalam menghadapi hukum. 1984. Sehingga para mahasiswa dapat terhindar dari pemikiran yang positivis dan doktrinal.20 Oleh sebab itu metode case law ini sangat relevan untuk diajarkan kepada para mahasiswa.pengajaran berbasis pembahasan kasus (case law). Kronman. Mereka menganggap tugas hakim adalah menerapkan sebuah ketentuan atau prinsip hukum terhadap sebuah situasi fakta tertentu dan berbuat yang benar terhadap situasi tersebut. untuk dapat “menghidupkannya” maka perlu dikaitkan dengan fakta-fakta yang timbul dari berbagai kasus yang terjadi di masyarakat. Farrar dan Anthony M.Cit. Oliver Wendell Holmes bahwa “The life of the Law has not been logic. hal 81. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 175 . Op. Sehingga para mahasiswa dapat memahami “law behind law” dan dapat memahami hukum yang mendasari isi sebuah putusan bukan hanya memahami isi putusan saja. Hal ini penting mengingat isi pasal sebuah perundang-undangan hanyalah “sebuah kata-kata dalam bahasa Indonesia”.G. John H. Hukum sebagai sumber pengambil keputusan merupakan hal yang mosaic dimana polanya berkembang dengan perkembangan masyarakat. mereka dapat melihat hukum sebagai hukum yang hidup bukan sebagai “black letter rules”. Hal ini dengan tepat digambarkan oleh seorang Hakim Agung Amerika yang sangat terkenal.

(Vol. budaya dan tradisi. Lihat. O. Spring 1996). Lihat. hal. Tidak kalah pentingnya. 24. Erman Rajagukguk. maka putusannya akan dengan cepat tidak relevan dengan zaman yang didominasi oleh sains dan tekhnologi”.21 Oleh karena itu metode ini sangat penting untuk dapat membuat hukum “hidup” tidak hanya di pengadilan seperti yang selama ini terlihat. Erman Rajagukguk. 1983. Cit.tive”. (Vol. hal.”22 yang nantinya mengalihkan keahlian hukum dalam kenyataan itu kepada mahasiswa. Bandingkan. 1995). hal 158. Educating Lawyers for the Global Economy.G. Depok. “Hukum Internasional Dalam Konflik Kepentingan Ekonomi Negara Berkembang dan Negara Maju. Tepat pula di sini diusulkan agar staf pengajar melakukan “empirical research. 746.23 Penting pula memperkuat muatan pengajaran perbandingan hukum dalam perkuliahan. “selama pengadilan kita dipenuhi dengan hakim dan pengacara yang dilatih untuk melihat hukum sebagai “black letter rule”.” Wake Forest Law Review. Merhige Jr. (Vol.1995). 30. Robert R. Craig Allen Nard. Weeramantry.24 Perbandingan hukum tidak hanya dapat dilakukan dengan melakukan studi kepustakaan mengenai hukum di negara lain. 17. tetapi juga dilakukan melalui kuliah bersama dengan para mahasiswa di negara lain. 30. 176 Bunga Rampai . Cit. “Legal Education: Observation and Perception From the Bench. 25.” Pidato Upacara Pengukuhan Sebagai Guru Besar Pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. “Empirical Legal Scholarship: Reestablishing a Dialoque Between the Academy and Profession. mengingat SDM penegak hukum masa kini dalam era globalisasi. Op. Michigan Journal of International Law. baik karena kebutuhan praktik maupun kesamaan model institusi-institusi hukum dan peraturan-peraturannya. Hal ini dapat memperluas pengetahuan hukum mahasiswa mengenai hukum di negara lain dengan 21 22 23 24 C. tetapi juga dalam ruanganruangan kelas dalam perkuliahan di Fakultas Hukum. 347-368. telah memungkinkan kita untuk melakukan kuliah bersama jarak jauh melalui teleconference dengan mahasiswa di negara lain.” Wake Forest Law Review. 275. Haley. Pesatnya pertumbuhan teknologi. hal. Sidney: Butterworth. perlu mengetahui berbagai peraturan hukum negara lain dan bagaimana ia berjalan dalam perbedaan sistem hukum. Lihat juga. hal. hal. 10 Nopember 2001. “Legal Education for the Age of technology: A Plea for an Interdisciplinary Perspective” Legal Change. tim pengajar di Fakultas Hukum sekarang ini perlu pula menekankan proses belajar mengajar dengan metode legal reasoning yang didasarkan pada penelitian. hal. Op. 22. Hikmahanto Juwana.

hal. oral and written comunicattion. setidaknya ada 10 keahlian generik 25 26 27 Selain itu yang tidak kalah penting adalah penguasaan bahasa inggris oleh para dosen dan mahasiswa/i. Menurut Mc. organizing ang managing legal work. Robert Mac reate. Dalam kaitannya dengan pendekatan disiplin ilmu ekonomi misalnya. hal. counseling. mengumandangkan Symphony Nomor 5 karya Betthoven. “Lecture on Legal Education . Namun demikian bukanlah tidak mungkin untuk mengumandangkan irama yang satu dengan menggunakan alat musik yang lain. terasa dalam pendidikan ilmu hukum belum menjadi kebutuhan. “Pendekatan Ekonomi Terhadap Hukum Sebagai Sarana Pengembalian Wibawa Hukum. tanggal 24 April 1991. Wake Forest School of Law. Charles Himawan. Kemampuan untuk mengikuti perkembangan dalam hukum di dunia internasional akan memberikan pemahaman tentang hukum lebih komprehensif. Wake Forest School of Law”. 262-263. dimana nantinya lahir SDM penegak hukum yang kompeten dan profesional.Create untuk menghasilkan SDM penegak hukum yang kompeten. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 177 . Jakarta. factual investigation. terutama dalam ketatnya persaingan di dunia global dan tingginya aktivitas perdagangan internasional. Hal ini ditandai sudah sejak lama pendidikan ilmu hukum mengumandangkan irama yang berbeda dengan pendidikan ilmu ekonomi. negotiation. dalam tulisannya “Lecture on Legal Education.25 Selain itu kita juga harus menyadari bahwa bidang hukum yang semakin hari semakin luas sehingga tidak dapat dihindarkan perlunya pendekatan dengan disiplin ilmu lain. legal research. 2 (1995). Fasilitas dan peralatan untuk teleconference ini sendiri sudah tersedia di Universitas Sumatera Utara. Vol. legal analysis and reasoning. understanding of the procedures of litigation and alternative dispute resolution. Hal ini sangat penting karena banyak sekali isu-isu baru tentang hukum di tulis dalam jurnal yang berbahasa inggris.” Pidato Pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. 30 No. dan recognizing and resolving ethical dillemas.berdikusi langsung mengenai teori maupun praktik hukum dengan mahasiswa atau para pengajar di negara tersebut. Kesepuluh keahlian tersebut adalah problem solving. Dalam menyusun kurikulum penting kiranya kita memperhatikan apa yang diungkapkan oleh Robert Mac Create. 6.” Wake Forest Law Review.26 Oleh karena itu kurikulum pendidikan di Fakultas Hukum harus dirancang untuk dapat mempersiapkan mahasiswa dengan bekal yang cukup untuk tampil di masyarakat sesuai dengan tuntutan masa kini. Perbedaan irama ini serupa dengan perbedaan antara gamelan Bali yang mengumandangkan tari Baris dan New York Philharmonic Orchestra yang.

Cit. SDM penegak hukum yang lulus dari Fakultas-Fakultas Hukum sekarang ini menghadapi dunia baru. Fakultas Hukum idealnya ha- 28 29 Lihat C. hal 274 178 Bunga Rampai . Dugdale. Op. Mata kuliah ini mengajarkan tidak hanya tentang hukum tetapi juga dasar-dasar sains seperti fisika. Inilah sebabnya mengapa Law School di luar negeri menyebut perpustakaan sebagai “jantungnya” sebuah institusi pendidikan.28 Hal lain yang tidak kalah penting adalah perpustakaan. hal 163-165 John H. “a good lawyer is one who knows where to look for the law. bidang teknologi yang saat ini sedang mengalami perkembangannya juga harus diperhatikan dalam menyusun kurikulum.yang harus dimiliki. Untuk mengatasi kesulitan dalam mengajarkan mata kuliah ini. Op. dan lain sebagainya. fakultas dapat mengundang dosen-dosen tamu dari bidang disiplin ilmu yang berbeda.”29 Oleh karena itu. Hal ini dapat dilakukan dengan menambah mata kuliah ini yang menggabungkan kedua disiplin ilmu di Fakultas hukum. 27 Oleh karena itu kurikulum pendidikan hukum harus benar-benar disusun untuk mendukung hal ini. termasuk bidang hukum ekonomi. termasuk hubungan yang baru di bidang ekonomi. Fakultas dapat juga mengadakan sebuah program khusus dimana kita mengundang pakar-pakar dari fakultas lain untuk bersama-sama melakukan sebuah research atau program tertentu yang mengaitkan hukum dengan bidang tersebut.G. yang menjadikan kebutuhan untuk adanya spesialisasi di bidang hukum tidak dapat dielakkan. Selain bidang ekonomi. Metode self learning tidak dapat berjalan dengan baik apabila tidak didukung oleh fasilitas perpustakaan yang memadai. Farrar dan Anthony M. biologi. Wereemantry. Kemudian menambahkan mata kuliah khusus yang membahas kaitan antara sains dan hukum. Apalagi dari sekarang kita sedang melakukan pembangunan ekonomi. Ada sebuah pepatah yang menggambarkan pentingnya perpustakaan di luar negeri yaitu. Perpustakaan merupakan sentral dari aktivitas di sebuah institusi pendidikan di luar kelas.Cit. Misalnya dalam bidang teknologi kita dapat menambahkan mata kuliah wajib pengenalan dalam bidang sains dan society.

fakultas selain harus menyediakan dana khusus untuk ini. Adanya pelatihan ini akan memberikan kemampuan praktik langsung dari para praktisi di lapangan kepada para dosen yang belum mempunyai kemampuan tersebut. Sementara itu. Inilah yang biasanya mereka sumbangkan kepada Fakultas-Fakultas hukum di negara lain.” Sedangkan untuk meningkatkan fasilitas perpustakaan. Perlu diingat bahwa walaupun buku tersebut bukan edisi terbaru. terutama dalam pengajaran hal-hal yang bersifat praktik. sangat ditentukan oleh kualitas dosen. Perlu diketahui bahwa tiap tahun banyak Fakultas Hukum di luar negeri mengalami over stock karena masuknya edisi-edisi baru dari koleksi buku yang mereka punyai. namun dari segi substansi isinya masih sangat relevan. Dosen tamu yang didampingi oleh dosen tetap dapat membantu para mahasiswa untuk dapat lebih memahami hal-hal yang bersifat praktis di lapangan dan sekaligus berfungsi sebagai “alih pengetahuan. Sedangkan untuk mengatasi ketimpangan para tenaga pengajar. tetapi juga penting untuk keberlangsungan suatu institusi pedidikan.rus mempunyai sebuah perpustakaan sendiri untuk membantu para mahasiswa dan pengajar untuk lebih memahami hukum. peningkatan kualitas dosen baru dapat tercapai apabila kesejahteraannya dapat terjamin. Selain efektif untuk meningkatkan kualitas pengajar hal ini juga relatif tidak membutuhkan banyak dana. Selain itu perlu juga diadakan sebuah trainer for trainee untuk para dosen secara rutin dan berkala. Peningkatan tersebut bukan hanya akan membantu para dosen untuk meningkatkan pengetahuannya. karena Fakultas Hukum dapat meminta bantuan para alumninya yang telah menjadi praktisi di lapangan untuk menjadi trainer secara sukarela. Untuk mencapai pada tingkat pendidikan hukum yang ideal seperti yang digambarkan di atas tentu tidak mudah pula. mengingat hukum bukanlah ilmu pasti yang Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 179 . misalnya melalui kursus atau pembelian buku-buku baru. juga dapat meminta bantuan kepada para institusi pendidikan di luar negeri untuk memberikan sumbangan berupa buku-buku ataupun jurnal-jurnal ilmiah baik yang baru maupun yang tidak lagi mereka butuhkan. fakultas dapat mengundang para praktisi sebagai dosen tamu di dalam perkuliahan.

Sehingga harapan-harapan dalam reformasi pendidikan hukum untuk melahirkan SDM penegak hukum yang kompeten dan profesional di masa datang ini dapat terwujud. Penutup Momentum untuk merealisasikan gagasan-gagasan yang telah dikemukakan di muka dapat dibuat sebagai pemikiran reformasi sistem pendidikan dan metode pengajaran.apabila berubah teori-teori yang lama tidak lagi dapat digunakan. Semoga. Di sinilah diperlukan jaringan atau koneksi dengan Fakultas Hukum di luar negeri. 180 Bunga Rampai . Jaringan dapat dibangun langsung oleh universitas maupun secara individu melalui para dosen-dosen yang sedang melanjutkan pendidikannya di luar negeri.

“The role of Lawyer of development country. Mahoney. 58. “Hukum Internasional Dalam Konflik Kepentingan Ekonomi Negara Berkembang dan Negara Maju. Henry Campbell... Smith & Bailey on The Modern English Legal System. Cambridge: Harvard University Press.reate. Hikmahanto. Educating Lawyers for the Global Economy. California: Stanford University Press. Antony T. 1962. New Jersey: Prentice-Hall.( Vol. Cardozo. Minn: West Publishing Co. (Vol. London: Sweet & Maxwell. ST. Black. London: Sweet & Maxwell. Benjamin N.Gunn. Juwana. Paul G.all . “Lecture on Legal Education . Inc. XXX. Michael. dan Anthony M. (Vol. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 181 . Black’s Law Dictionary. “Legal Education: Observation and Perception From the Bench. Introduction to Legal Method. 1999. Robert R. “Pendekatan Ekonomi Terhadap Hukum Sebagai Sarana Pengembalian Wibawa Hukum. dan M. Spring 1996). Dugdale. Wake Forest School of Law. 10 Nopember 2001. S.” Pidato Pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. The Nature of The Judicial Process. London: Yale University Press.. 2001) Mc. Farrar. tanggal 24 April 1991. John Henry. 1984. 1993.” Wake Forest Law Review. Charles. The Civil Law Tradition: An Introduction to the Legal System of Western Europe and Latin America. 1972). Paul. (Vol.1995) Merryman. 17. 1996. Journal of Legal Studies.” ABA Journal. L..” Pidato Upacara Pengukuhan Sebagai Guru Besar Pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia.J.. Merhige Jr. Business and Its Legal Environment. O. Hagger. Michigan Journal of International Law.H. Haley. Kronman. University of Chicago.” Wake Forest Law Review. 30 No. 1995). 2 . (Vol.Daftar Pustaka Bailey. John H. 1990. Himawan. et. The Lost Lawyer Failing Ideals of the Legal Profession. “The Common Law and Economic Growth: Hayek Might Be right”. Robert. Depok. Jakarta. Dunfee W. 30.

Rajagukguk.” Pidato pada Dies Natalis USU Ke-44. 1983. Medan.- - 1969. C. 182 Bunga Rampai . dalam A. “Legal Ontology and Legal Reasoning”. Legal Change.” Wake Forest Law Review. Weeramantry. Nard. Sidney: Butterworth.R..G. 20 Nopember 2001. ed. Perelman. “Empirical Legal Scholarship: Reestablishing a Dialoque Between the Academy and Profession. Sidney: Butterworth. Chaim. “Globalisasi Hukum dan Kemajuan Teknologi: Implikasinya Bagi Pendidikan Hukum dan Pembangunan Hukum Indonesia. 30. Craig Allen. Erman.(Vol. 1983. 1995). Blackshield. “Legal Education for the Age of technology: A Plea for an Interdisciplinary Perspective”. Legal Change Essay in Honor of Julius Stone.

Bagian Kedua Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 183 .

184 Bunga Rampai .

Penetapan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) sejak tahun 1945 telah memungkinkan penyelenggaraan negara yang sejauh mungkin mengedepankan kemakmuran masyarakat. dan perlindungan terhadap hak asasi manusia. Secara teoritis. Undang-Undang Dasar (UUD) adalah dokumen hukum dan politik (political and legal document) resmi suatu negara. hubungan lembaga negara dengan warga negara. baik dari sudut pandang filosofis. suasana kebathinan yang menjadi latar belakang filosofis. tetapi harus memahami konteks dan suasana kebathinan yang mempengaruhi perumusannya. maupun yuridis. politis. sosiologis.M. sosiologis. H.Komisi Yudisial Yang Dicita-citakan Oleh Masyarakat dan Pencari Keadilan Dr. Hidayat Nur Wahid. Dalam penyusunan suatu UUD. UUD dapat diubah. mengatur mengenai organisasi negara. Namun demikian. MA. hubungan antar lembaga. nilai-nilai dan norma dasar yang hidup dalam masyarakat dan dalam praktek penyelenggaraan negara turut mempengaruhi perumusan suatu norma ke dalam naskah UUD. yang berisi kesepakatan pokok tentang negara. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 185 . kekuasaan lembaga negara. Dengan demikian. politis. UUD tidak dapat dipahami hanya melalui teksnya saja. sejarah mencatat bahwa dalam implementasinya banyak ditemukan kelemahan-kelemahan yang mengakibatkan munculnya ide untuk melakukan perubahan terhadap ketentuan UUD 1945 guna menutupi kelemahan tersebut. dan historis perumusan juridis perlu dipahami secara mendalam dan seksama sehingga dapat dipahami dan dimengerti dengan sebaik-baiknya ketentuan yang terdapat dalam pasal-pasal UUD.

baik dalam penyelenggaraan negara maupun kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. dalam setiap negara yang menganut paham negara hukum. Apabila hasil perubahan yang dilakukan MPR terwujud dalam bentuk seperti saat ini. Paham negara hukum sebagaimana tercantum dalam 186 Bunga Rampai . Konsekuensi ketentuan itu adalah bahwa setiap sikap. Masuknya rumusan Negara Indonesia adalah negara hukum mempertegas paham bahwa Indonesia adalah negara hukum. kesetaraan di hadapan hukum (equality before the law). yang diputuskan pada Sidang Umum MPR tahun 1999 sampai dengan Sidang Tahunan MPR tahun 2002. dan penegakan hukum dengan cara yang tidak bertentangan dengan hukum (due process of law). yaitu supremasi hukum (supremacy of law). hal ini ditempuh MPR setelah mempertimbangkan secara seksama berbagai aliran paham dan pemikiran masyarakat tersebut. Secara umum. Dengan pertimbangan dan proses pembahasan tersebut. dan bernegara. Salah satu perubahan penting setelah dilakukannya perubahan terhadap UUD 1945 adalah masuknya ketentuan pasal 1 ayat (3) tentang penegasan negara Indonesia adalah negara hukum dan dimuatnya rumusan tentang Hak Asasi Manusia (HAM) pada Bab XA. Ketentuan itu sekaligus dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kesewenangwenangan dan arogansi kekuasaan. Perubahan UUD 1945 tersebut dilakukan MPR untuk jangka waktu yang panjang guna menyempurnakan ketentuan fundamental ketatanegaraan Indonesia sebagai pedoman utama dalam mengisi tuntutan reformasi dan memandu arah perjalanan bangsa dan negara pada masa yang akan datang. Perubahan tersebut dilakukan karena MPR-lah berdasarkan UUD 1945 berwenang untuk melakukan perubahan.Seiring dengan bergulirnya reformasi. kebijakan. bermasyarakat. dan perilaku alat negara dan penduduk (warga negara dan orang asing) harus berdasarkan dan sesuai dengan hukum. kita melihat bekerjanya tiga prinsip dasar. MPR memandang bahwa UUD 1945 sudah cukup untuk mengatur pelaksanaan kehidupan berbangsa. MPR hasil Pemilu 1999 telah melakukan suatu rangkaian perubahan UUD 1945 dalam empat tahapan yang berkesinambungan. baik yang dilakukan oleh alat negara maupun oleh penduduk.

Untuk pencapaian tersebut diperlukan adanya suatu kesadaran kolektif rakyat yang tercermin dalam upaya pembentukan masyarakat madani. rakyat diberi kebebasan untuk berkiprah sesuai dengan peradaban yang sesuai dengan nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. di dalamnya terkandung pengertian pengakuan terhadap prinsip supremasi hukum dan konstitusi. Pelaksanaan paham negara hukum materiil akan mendukung dan mempercepat terwujudnya negara kesejahteraan di Indonesia. hukumlah yang memegang komando tertinggi dalam penyelenggaraan negara. hukum ditegakkan menurut prinsip-prinsip demokrasi karena kedaulatan hukum pada pokoknya berasal dari kedaulatan rakyat.ketentuan Pasal 1 ayat (3) terkait erat dengan negara kesejahteraan (welfare state) atau paham negara hukum materiil sesuai dengan bunyi alinea keempat Pembukaan dan ketentuan Pasal 34 UUD 1945. adanya jaminan-jaminan hak asasi manusia. masyarakat. dan penyelenggara negara dalam hubungan yang fungsional. Dalam paham negara hukum. dianutnya prinsip pemisahan dan pembatasan kekuasaan menurut sistem konstitusional yang diatur dalam UUD. Dalam masyarakat madani. Dalam paham negara hukum. adanya prinsip peradilan yang bebas dan tidak memihak yang menjamin persamaan setiap warga negara dalam hukum. serta menjamin keadilan bagi setiap orang. sinergis. Institusi negara dibentuk tidak dengan maksud untuk mengambil alih fungsi-fungsi yang secara alamiah dapat dikerjakan sendiri secara lebih efektif dan efisien oleh institusi masyarakat. Institusi negara dibentuk dengan maksud untuk Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 187 . dan seimbang. Dalam UUD 1945 terdapat cakupan dasar-dasar normatif yang berfungsi sebagai sarana pengendali terhadap seluruh penyelenggaraan negara menuju arah dan perwujudan cita-cita kolektif bangsa sesuai dengan nilai yang terkandung dalam Pembukaan. Untuk menjamin peradaban bangsa di masa yang akan datang perlu dikembangkan keberdayaan dalam hubungan antara negara. Dalam UUD 1945 dikatakan bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum. oleh karenanya prinsip negara hukum tidak boleh ditegakkan dengan mengabaikan prinsip-prinsip demokrasi yang diatur dalam UUD.

Rumusan Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 ini merupakan hasil perubahan ketiga. Keadilan bagi semua orang harus diperoleh agar masyarakat demokratis dapat mencapai kehidupan yang adil dan damai melalui penegakan hukum. mandiri. sejahtera lahir dan bathin. Istilah ini akan selalu menjadi obyek kajian yang menarik dan tidak ada habis-habisnya. Sudah sepatutnya kita semua. Karena. demokratis dan berkeadilan.makin mendorong tumbuh dan berkembangnya peradaban bangsa Indonesia sesuai dengan cita dan citra masyarakat madani yang maju. Dalam negara hukum. Negara diatur oleh konstitusi dan undang-undang. Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan. dan kaidah akan selalu mempunyai posisi yang khas. Mengingat Penjelasan UUD 1945 ditiadakan. Jika kita telaah. kekuasaan yang tidak di- 188 Bunga Rampai . tanpa terkecuali. Penegasan Indonesia sebagai negara hukum semula tercantum pada Penjelasan UUD 1945. ikut melibatkan diri dalam usaha bersama mencari jalan keluar memperbaiki permasalahan secara menyeluruh. Hukum sebagai aturan. sebutan supremasi hukum menjadi kata yang paling sering diucapkan dan didengar. Hal tersebut disebabkan karena masalah supremasi hukum adalah bukti nyata proses penegakan hukum suatu bangsa. Hukum berada di atas segalanya termasuk negara. norma. maka hal-hal yang bersifat normatif yang terdapat dalam Penjelasan. Negara Indonesia adalah negara hukum. Inilah yang dinamakan supremasi hukum. Tujuannya untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan (abus de pouvoir) dan penggunaan kekuasaan negara secara sewenang-wenang (detournement de pouvoir). tidak berdasarkan kekuasaan belaka (machtsstaat). sejak Indonesia merdeka tahun 1945 para pendiri bangsa dan rakyat telah sepakat bahwa negara dibentuk berdasarkan hukum (rechtsstaat). dimasukkan ke dalam pasal-pasal. Sejak keberhasilan gerakan reformasi melanda bangsa Indonesia. melalui kiprah nyata dan berkesinambungan dalam upaya mewujudkan supremasi hukum yang kita inginkan. individu dan negara berdiri sejajar. ia langsung berada dan bekerja di tengah-tengah masyarakat. Keberagaman cita rasa masyarakat yang terkemas dalam budaya tradisional dan modern akan menyatu dalam suatu dimensi hukum.

sebagaimana tercermin dari bunyi Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan bahwa. Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 itu dimaksudkan untuk mempertegas bahwa tugas kekuasaan kehakiman dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yakni untuk menyelenggarakan peradilan yang merdeka.batasi oleh hukum implikasinya adalah korup. Karenanya. yaitu Pasal 24. Pasal 24C. legalitas dalam arti hukum. “power tends to corrupt. kekuasaan kehakiman atau peradilan yang merdeka. Pasal 24A.” Dalam penjabaran selanjutnya. bebas dari intervensi pihak mana pun. Pasal 24A. Sebagaimana diungkapkan oleh Lord Acton. tidak diubah. Pasal 24B. pada setiap negara hukum akan terlihat ciri-ciri adanya: 1) 2) 3) jaminan perlindungan hak-hak asasi manusia. Pasal 24B. Bab tentang Kekuasaan Kehakiman menjadi lima pasal sehingga lebih rinci dan lebih lengkap. pemberian jasa hukum/penasehat hukum (access to legal counsel). Setelah diubah. dan Pasal 25. yaitu Pasal 24 dan Pasal 25. Ketentuan ini merupakan perwujudan prinsip Indonesia sebagai negara hukum sebagaimana ditegaskan dalam Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 189 . Sebelum perubahan. Pasal 24C. yaitu bahwa baik pemerintah/negara maupun warga negara dalam bertindak harus berdasar atas dan melalui hukum. Pasal 24 ayat (3) diputus pada Perubahan Keempat (tahun 2002). and absolute power corrupts absolutely”. persamaan di depan hukum (equality before the law). Pada Perubahan Ketiga (tahun 2001) diputus Pasal 24 [kecuali ayat (3)]. sedangkan Pasal 25 tetap. Bab tentang Kekuasaan Kehakiman terdiri atas dua pasal. Supremasi hukum tidak hanya berlaku bagi yang lemah tetapi bagi seluruh komponen bangsa termasuk negara (pejabat negara). Khusus yang menyangkut kekuasaan kehakiman atau peradilan yang merdeka. guna menegakkan hukum dan keadilan. ”Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Undang-Undang Dasar 1945 telah mengakomodasikannya di dalam Bab tentang Kekuasaan Kehakiman. dan proses hukum yang adil (due process of law) adalah merupakan prinsip-prinsip negara hukum.

3) wewenang lainnya yang diberikan oleh undang-undang. Pada Pasal 24 ayat (2) dibentuk satu lembaga peradilan baru yaitu Mahkamah Konstitusi. ada pula konstitusi negara yang memisahkannya sehingga dibentuk dua badan kekuasaan kehakiman.Pasal 1 ayat (3). Artinya. selain badan kekuasaan kehakiman yang telah ada. tidak boleh ada undang-undang dan peraturan perundang-undangan lainnya yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar. semula disesuaikan dengan sejarah dan kebutuhan setiap negara. Hal-hal mengenai badan lain itu diatur dalam undang-undang. antara lain lembaga penyidik dan lembaga penuntut. yaitu Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. Hal itu sesuai dengan penegasan bahwa Undang-Undang Dasar sebagai puncak dalam tata urutan peraturan perundang-undangan di Indonesia. Ketentuan Pasal 24 ayat (3) menjadi dasar hukum keberadaan berbagai badan lain yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman. Ada konstitusi negara yang menyatukan fungsi Mahkamah Konstitusi ke dalam Mahkamah Agung. Indonesia menganut paham yang 190 Bunga Rampai . 2) menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang. Pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar 1945 membutuhkan sebuah mahkamah dalam rangka menjaga prinsip konstitusionalitas hukum. Mahkamah Konstitusi-lah yang bertugas menjaga konstitusionalitas hukum tersebut. Pembentukan Mahkamah Konstitusi adalah sejalan dengan dianutnya paham negara hukum dalam Undang-Undang Dasar 1945. Mahkamah Agung mempunyai wewenang: 1) mengadili pada tingkat kasasi. dan badan peradilan yang berada di bawahnya. Dalam negara hukum harus dijaga paham konstitusional. yaitu Mahkamah Agung. Perubahan ketentuan mengenai Mahkamah Agung dilakukan atas pertimbangan untuk memberikan jaminan konstitusional yang lebih kuat terhadap kewenangan dan kinerja Mahkamah Agung. Dalam praktik tidak ada keseragaman di negara-negara di dunia ini mengenai kewenangan Mahkamah Konstitusi. Wewenang dan hal lain yang terkait dengan MK diatur dalam Pasal 24C. Sesuai dengan ketentuan Pasal 24A ayat (1).

dan BPK. yakni dari sembilan anggota hakim konstitusi terdiri atas tiga orang yang diajukan oleh DPR. MPR. dan yudikatif. DPD.kedua. Putusan Mahkamah Konstitusi untuk menyelesaikan perbedaan pendapat di tubuh Mahkamah Konstitusi berdasarkan pertimbangan komposisi keanggotaan hakim konstitusi di Mahkamah Konstitusi yang diharapkan dapat menerapkan prinsip saling mengawasi dan saling mengimbangi. Lembaga negara yang kewenangannya diberikan langsung oleh Undang-Undang Dasar 1945. Perbedaan pendapat di dalam Mahkamah Konstitusi sendiri diputuskan melalui mekanisme internal Mahkamah Konstitusi. Masih berkaitan dengan kewenangan Mahkamah Konstitusi. Ketentuan Pasal 24 ayat (3) menjadi dasar hukum keberadaan berbagai badan lain yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman. Komposisi hakim konstitusi di Mahkamah Konstitusi merupakan perwujudan tiga cabang kekuasaan negara. Pengaturan dalam undang-undang mengenai badan lain yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman membuPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 191 . tiga orang yang diajukan oleh Presiden. Pada sisi lain adanya Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi dalam kekuasaan kehakiman lebih mempertegas bahwa praktik pemerintahan selama ini yang membedakan adanya lembaga tertinggi negara dan tinggi negara sudah ditinggalkan karena setiap lembaga menjalankan tugas sesuai dengan fungsi yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar. yakni legislatif. Hal-hal mengenai badan lain itu diatur dalam undang-undang. dan tiga orang yang diajukan oleh Mahkamah Agung. antara lain lembaga penyidik dan lembaga penuntut. Mahkamah Agung. lembaga negara ini juga berwenang memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar 1945. Dengan pembentukan Mahkamah Konstitusi tersebut. DPR. proses dan putusan yang diambil terhadap perkara-perkara yang menjadi wewenangnya dapat dilakukan secara lebih baik karena ditangani oleh badan peradilan yang memang khusus dibentuk untuk menangani perkara yang berkaitan dengan pelaksanaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. antara lain Presiden. eksekutif.

ka partisipasi rakyat melalui wakil-wakilnya di DPR untuk memperjuangkan agar aspirasi dan kepentingannya diakomodasi dalam pembentukan undang-undang tersebut. Adanya ketentuan pengaturan dalam undang-undang tersebut merupakan salah satu wujud saling mengawasi dan saling mengimbangi antara kekuasaan yudikatif, Mahkamah Agung dan badan peradilan di bawahnya serta Mahkamah Konstitusi dengan kekuasaan legislatif DPR dan dengan kekuasaan eksekutif lembaga penyidik dan lembaga penuntut. Selain itu, ketentuan itu dimaksudkan untuk mewujudkan sistem peradilan terpadu (integrated judiciary system) di Indonesia. Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 juga membentuk lembaga baru yang berada di lingkungan Kekuasaan Kehakiman, yaitu Komisi Yudisial. Pembentukan Komisi Yudisial ini didasari pemikiran bahwa hakim agung yang duduk di Mahkamah Agung dan para hakim merupakan figur yang sangat menentukan dalam perjuangan menegakkan hukum dan keadilan. Apalagi hakim agung duduk pada tingkat peradilan tertinggi (puncak) dalam susunan peradilan di Indonesia sehingga ia menjadi tumpuan harapan bagi pencari keadilan. Sebagai negara hukum, masalah kehormatan dan keluhuran martabat, serta perilaku hakim merupakan hal yang sangat strategis untuk mendukung upaya menegakkan peradilan yang handal dan realisasi paham Indonesia adalah negara hukum. Untuk itu, perubahan Undang-Undang Dasar 1945 memuat ketentuan mengenai pembentukan lembaga di bidang kekuasaan kehakiman bernama Komisi Yudisial yang merupakan lembaga bersifat mandiri. Menurut ketentuan Pasal 24B ayat (1), Komisi Yudisial berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim. Melalui lembaga Komisi Yudisial itu diharapkan dapat diwujudkan lembaga peradilan yang sesuai dengan harapan rakyat sekaligus dapat diwujudkan penegakan hukum dan pencapaian keadilan yang diputus oleh hakim yang terjaga kehormatan dan keluhuran martabat serta perilakunya. Penegakan hukum dan supremasi hukum antara lain dapat dilihat dari kemandirian kekuasaan kehakiman dan dibersihkannya lembaga peradilan dari korupsi, kolusi, dan

192

Bunga Rampai

nepotisme. Sebagai esensi dalam penegakan hukum, kekuasaan kehakiman sebagai salah satu kekuasaan dalam negara memiliki hubungan yang sangat erat dengan cabang kekuasaan lainnya. Kekuasaan kehakiman berfungsi memutus sengketa hukum yang timbul antara anggota masyarakat satu sama lain dan antara anggota masyarakat dengan pemerintah. Wewenang untuk memutus perkara, tujuan akhirnya adalah untuk mewujudkan ketertiban umum di masyarakat melalui putusan yang adil. Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 itu dimaksudkan untuk mempertegas bahwa tugas kekuasaan kehakiman dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yakni untuk menyelenggarakan peradilan yang merdeka, bebas dari intervensi pihak mana pun, guna menegakkan hukum dan keadilan. Perubahan Undang-Undang Dasar telah menjamin adanya kemandirian kekuasaan kehakiman. Dengan kekuasaan kehakiman yang merdeka dan mandiri, lembaga-lembaga negara pemegang kekuasaan tersebut dapat bertindak sesuai dengan koridor hukum yang berlaku sehingga pengalaman buruk implementasi kekuasaan kehakiman sebelum reformasi yang penuh dengan rekayasa penguasa dapat dihilangkan. Keadilan tidak boleh dibedakan atas dasar latar belakang (sosial, ekonomi, politik, ideologi, etnisitas, ras, warna kulit, agama, gender, keyakinan politik, dan apapun). Keadilan harus dapat diraih oleh semua orang (kaya,miskin, sipil,militer, swasta, negeri, rakyat, pemimpin, tua dan muda). Artinya, jika pejabat bersalah dapat dihukum oleh pengadilan dan dituntut ganti rugi. Begitu juga jika masyarakat biasa yang bersalah dapat dituntut dan diproses secara hukum sehingga tercapai tujuan hukum yaitu kepastian hukum dan keadilan. Terkait dengan lembaga peradilan, terdapat dua aspek wewenang pokok mengadili dari kekuasaan kehakiman, yaitu aspek institusional berupa jenis-jenis kelembagaan peradilan yang diserahi kekuasaan kehakiman dan aspek fungsional berupa ragam fungsi yang diserahkan oleh undang-undang kepada badan-badan kekuasaan kehakiman. Melalui reposisi fungsi kedudukan lembaga peradilan dalam undang-undang, saat ini terdapat kemajuan yang menggembirakan dimana seluruh kelembagaan tersebut se-

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

193

cara bersama-sama telah berkomitmen untuk melakukan pembinaan sumber daya manusia aparatur hukum. Wujud dari upaya tersebut, penyelenggaraan peradilan yang bersih dan bebas sudah menjadi pedoman dalam berperkara. Pasal 24A ayat (3) dan Pasal 24B ayat (1) menegaskan bahwa calon hakim agung diusulkan Komisi Yudisial kepada DPR untuk mendapat persetujuan. Keberadaan Komisi Yudisial tidak bisa dipisahkan dari kekuasaan kehakiman. Dari ketentuan ini ditegaskan bahwa jabatan hakim merupakan jabatan kehormatan yang harus dihormati, dijaga, dan ditegakkan kehormatannya oleh suatu lembaga yang juga bersifat mandiri. Dalam hubungannya dengan Mahkamah Agung, tugas Komisi Yudisial hanya dikaitkan dengan fungsi pengusulan pengangkatan Hakim Agung, sedangkan pengusulan pengangkatan hakim lainnya, seperti hakim Mahkamah Konstitusi tidak dikaitkan dengan Komisi Yudisial. Aparatur penegak hukum yang berperan dalam upaya penegakkan hukum penting dikedepankan independensinya dari pengaruh kekuasaan politik Presiden atau pengaruh dari intitusi manapun juga. Independensi dalam melaksanakan tugas pro-yustisia diperlukan karena jabatan pemerintahan sangat dipengaruhi oleh dinamika politik lima tahunan. Komisi Yudisial sebagai lembaga yang berwenang mengusulkan dan mengawasi pengangkatan hakim agung, kedudukannya sangat penting. Kehormatan dan martabat hakim sebagai penentu dalam proses peradilan patut dijaga mengingat putusan hakim adalah mutlak dan mengikat sebagai dasar aparat penegak hukum bertindak. Komisi Yudisial diharapkan dapat membantu mengatasi berbagai bentuk penyalahgunaan wewenang yang terjadi pada lembaga peradilan melalui pencitraan hakim, dengan demikian dapat mendorong terwujudnya peradilan yang bersih dan berwibawa. Upaya pemilihan hakim yang kompeten melalui seleksi calon hakim agung secara ketat disertai dengan pengawasan perilaku hakim agar senantiasa menjunjung tinggi kehormatan, keluhuran martabat, serta perilakunya. Komisi Yudisial sebagai salah satu institusi dalam menjalankan fungsi kehakiman harus dapat menunjukkan kinerja yang profesional dan mengedepankan komitmen untuk mendorong terbangunnya komitmen dan integritas para

194

Bunga Rampai

hakim sehingga para hakim dalam semua tingkat peradilan dapat menjalankan wewenang dan tugasnya secara sungguh-sungguh dengan berdasarkan kebenaran, rasa keadilan, mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku serta bebas dari intervensi kekuasaan dan menjunjung tinggi kode etik. Dengan kewenangan yang dimiliki Komisi Yudisial, diharapkan dapat mewujudkan mekanisme checks and balances dalam lembaga pemegang kekuasaan kehakiman, sehingga akan membantu terwujudnya peradilan Indonesia yang menegakkan supremasi hukum. Upaya mewujudkan peradilan Indonesia yang profesional dan adil perlu dikedepankan mengingat saat ini terdapat kecenderungan berkurangnya kepercayaan masyarakat dan pencari keadilan terhadap badan peradilan yang disebabkan karena proses peradilan yang dilaksanakan kurang transparan dan kurang berfungsinya organ yang bertugas dalam mengawasi perilaku hakim. Dengan kondisi demikian, melalui tugas dan fungsi, diharapkan Komisi Yudisial dapat mempelopori untuk menciptakan kondisi yang dapat membantu mengoptimalkan peran peradilan sehingga dapat mewujudkan lembaga peradilan yang bersih, bermartabat, dan berwibawa serta menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan. Adanya pengawasan melekat pada perilaku hakim dalam menjalankan tugasnya akan memberikan kontrol yang effektif dalam upaya menegakkan keadilan. Komisi Yudisial harus dapat menjalankan tugasnya untuk merekrut dan mengawasi perilaku hakim agar hakim dalam lembaga peradilan benar-benar memiliki integritas, memiliki kemampuan dalam menyelesaikan kasus, serta dapat mengambil putusan yang sesuai dengan peraturan yang berlaku dan mandiri. Dengan fungsinya tersebut, Komisi Yudisial menjadi pengawal dalam mengoreksi semua penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh hakim, Komisi Yudisial dapat menjadi pelopor utama guna menegakkan keluhuran martabat dan perilaku hakim. Dengan adanya pengawasan yang optimal oleh Komisi Yudisial, maka akan membantu pencitraan hakim dalam penyelenggaraan peradilan. Akhirnya saya ingin menegaskan bahwa pencitraan peradilan melalui itikad dan kesungguhan dari penyeleng-

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

195

gara negara dalam mengimplementasikan seluruh peraturan secara konsekuen akan mendukung pelaksanaan seluruh ketentuan UUD 1945. Peran lembaga peradilan yang menjunjung tinggi hukum dan kesetaraan dalam hukum akan membantu memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap proses hukum dalam lembaga peradilan. Pencitraan hakim melalui seleksi yang ketat oleh lembaga yang berwenang serta pengawasan yang intensif oleh institusi diluar pengadilan akan mendukung terwujudnya netralitas putusan hakim dan membentuk pencitraan hakim yang profesional dan berwibawa.

196

Bunga Rampai

Sinkronisasi Sistem Perundang-undangan Lembaga Peradilan Dalam Menciptakan Peradilan yang Lebih Baik
Trimedya Panjaitan, SH*

INDONESIA adalah negara hukum. Salah satu prinsip penting bagi Indonesia sebagai negara hukum adalah kekuasaan kehakiman yang merdeka. Prinsip ini menghendaki kekuasaan kehakiman yang bebas dari campur tangan pihak manapun dan dalam bentuk apapun, sehingga dalam menjalankan tugas dan kewajibannya ada jaminan ketidakberpihakan kekuasaan kehakiman kecuali terhadap hukum dan keadilan. Prinsip kekuasaan kehakiman yang merdeka telah ditegaskan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yakni dalam Perubahan (Amandemen) Ketiga UUD 1945. Dalam Pasal 24 ayat (1) dinyatakan kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Sebelumnya, dalam UUD 1945 praamandemen, prinsip ini diatur dalam Pasal 24 UUD 1945, dan diuraikan lebih lanjut dalam penjelasan Pasal 24 yang berbunyi: “Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan yang merdeka, artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah. Berhubung dengan itu harus diadakan jaminan dalam undang-undang tentang kedudukan para hakim”.1

*
1

Penulis adalah Ketua Komisi III DPR RI, Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Kutipan dari penjelasan UUD 1945 sebelum amandemen ini untuk menunjukkan bahwa sejak awal, yaitu oleh para pendiri bangsa, telah diterima gagasan adanya lembaga yudikatif yang mandiri dan bebas dari pengaruh kekuasaan lain.

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

197

menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang. Pada Pasal 24 ayat (2) UUD 1945. Namun pelembagaan berbagai kekuasaan negara di Indonesia jelas menunjukkan adanya keterpengaruhan pada paham Trias Politica. 198 Bunga Rampai . Sedangkan Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar. lingkungan peradilan militer. dinyatakan bahwa kekuasaan kehakiman itu dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum. memutus pendapat DPR bahwa Presiden telah melanggar hal-hal 2 Lihat Sri Soemantri. Bunga Rampai Hukum Tata Negara Indonesia. Mahkamah Konstitusi juga mempunyai tugas khusus lain yaitu memutus pendapat DPR bahwa Presiden/Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat.2 Kekuasaan kehakiman di Indonesia dilaksanakan oleh Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi dengan kompentensi yang berbeda. Membangun Politik Hukum. lingkungan peradilan tata usaha negara. dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum (pasal 24C ayat 1). Dengan demikian Mahkamah Konstitusi dimunculkan sebagai lembaga negara dengan tugas melakukan uji materi (judicial review. atau secara lebih spesifik melakukan constitutional review) atas undang-undang terhadap UndangUndang Dasar. dan Mahfud MD. 1978. Dan khusus untuk kekuasaan kehakiman. memutus pembubaran partai politik. dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. 2006. dinyatakan secara tegas oleh UUD 1945 sebagai kekuasaan negara yang terpisah dari kekuasaan-kekuasaan negara lainnya. Mahkamah Agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi.Negara Indonesia berdasarkan UUD 1945 tidak menganut secara penuh paham Trias Politica dan pemisahan kekuasaan. lingkungan peradilan agama. memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar. Menegakkan Konstitusi. dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh undang-undang (pasal 24A ayat 1).

Dalam Konstitusi diatur bahwa Komisi Yudisial merupakan lembaga yang bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. serta memutus pembubaran partai politik dan memutus sengketa hasil pemilu. sebagai supporting elemen dalam kekuasan kehakiman. dan peradilan tata usaha negara). keluhuran martabat. namun sebagai lembaga pembantu (state auxiliary organ). peradilan agama. Sehingga para anggota DPR/MPR RI sebagai representasi dari rakyat menilai perlunya dibentuk Komisi Yudisial (judicial committee) sebagai lembaga pengawas eksternal terhadap kekuasaan kehakiman. memutus sengketa kewenangan antar lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 199 . Sedangkan Mahkamah Agung mengadili perkara-perkara konvensional (perkara-perkara di lingkungan peradilan umum.tertentu yang disebutkan di dalam Undang-Undang Dasar sehingga mereka dapat diproses untuk diberhentikan. ditambah dengan kewenangan menguji materi perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. peradilan militer. untuk melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim. Konstitusi juga memperkenalkan lembaga baru di dalam rumpun kekuasaan kehakiman. Pada awalnya ide dasar pembentukan Komisi Yudisial dilatarbelakangi kekhawatiran akan timbulnya tirani yudisial pasca pemberlakuan sistem satu atap di Mahkamah Agung dan pemberian kemandirian dan kemerdekaan kepada institusi pemegang kekuasaan kehakiman ini. serta perilaku hakim (pasal 24B ayat 1).3 Hasilnya adalah pengaturan Komisi Yudisial dalam Pasal 24B Perubahan Ketiga UUD 1945 yang ditetap- 3 Lihat keterangan para saksi dari mantan Anggota Panitia Ad Hoc (PAH) I Badan Pekerja MPR dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 005/PUU-IV/2006 dalam perkara permohonan uji materi terhadap UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. yakni Komisi Yudisial. Dengan demikian konstitusi telah memberikan landasan hukum yang kuat bagi reformasi di bidang hukum dengan memberikan kewenangan kepada Komisi Yudisial. Komisi Yudisial bukan merupakan pemegang kekuasaan kehakiman.

yang dilaksanakan sejak 31 Maret Tahun 2004. urusan teknis yudisial dan kepegawaian korps hakim di negeri ini sekarang berada di satu tangan. administrasi. Secara konseptual. administrasi. administrasi. Sedangkan dalam pasal 13 ayat (2) disebutkan bahwa organisasi. dan peradilan militer. Untuk lingkungan peradilan umum dan peradilan tata usaha negara. Dengan konsep satu atap kekuasaan kehakiman. dan Finansial Lembaga Peradilan dari Departemen Kehakiman ke Mahkamah Agung. sebagaimana telah diubah dan dicabut dengan UU Nomor 4 Tahun 2004 tetang Kekuasaan Kehakiman. Kebijakan atap tunggal atau one roof system diawali dengan pembuatan Ketetapan MPR Nomor X/MPR/1998 tentang Pokok-pokok Reformasi Pembangunan yang menetapkan kekuasaan kehakiman bebas dan terpisah dari kekuasaan eksekutif. Dalam UU Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman ditegaskan bahwa organisasi. Selanjutnya. Administrasi. Dengan kata lain. dan finansial Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya berada di bawah kekuasaan Mahkamah Agung (pasal 13 ayat 1). Perlu digarisbawahi. sistem satu atap kekuasan kehakiman merupakan unsur penting dari kemandirian kekuasaan kehakiman (judicial independence). diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 21 Tahun 2004 tentang Pelaksanaan Pengalihan Urusan Organisasi. sepenuhnya menjadi tanggung jawab Mahkamah Agung. Mahkamah Agung tidak hanya mengurusi pembinaan para hakim. tetapi juga menangani organisasi. kemandirian kekuasaan kehakiman dapat tercapai jika organisasi. dan finansial Mahkamah Konstitusi berada di bawah kekuasaan dan kewenangan Mahkamah Konstitusi. dan finansial yang sebelumnya diatur oleh eksekutif (Departemen Kehakiman). administrasi. Selanjutnya sistem satu atap diatur dan dijabarkan dalam Undang-undang (UU) Nomor 35 Tahun 1999 tentang Perubahan UU Nomor 14 Tahun 1970. dan keuangan lembaga peradilan ditangani sendiri oleh institusi pemegang kekuasaan kehakiman.kan dalam Sidang Tahunan MPR Tahun 2001. di tingkat pelaksanaan. Adapun tentang Mahkamah Agung diatur dalam UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU Nomor 14 Tahun 1985. peralihan harus se- 200 Bunga Rampai . peralihan sudah selesai paling lambat 31 Maret 2004 (pasal 42 ayat 1). Untuk peradilan agama.

ketua muda pidana. Selanjutnya pada sekretariat Mahkamah Agung dibentuk beberapa direktorat jenderal dan kepala badan. Sedangkan soal administrasi umum termasuk pengawasan. ketua muda militer. sedangkan pengadilan militer baru diserahkan oleh Panglima TNI pada 1 September 2004. Namun. hal tersebut menjadi sulit dilakukan karena adanya dualisme kendali. Sinkronisasi UU Pengaturan lebih lanjut tentang Komisi Yudisial terdapat dalam UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Putusan MK. Dalam undang-undang ini diatur secara rinci mengenai wewenang dan tugas Komisi Yudisial. struktur Mahkamah Agung mengalami perubahan. dan diharapkan akan memudahkan pengawasan terhadap para hakim. dan mutasi hakim. struktur baru ini bisa memikul beban yang dialihkan dari Departemen Kehakiman ke Mahkamah Agung. juga berakar pada sistem pengelolaannya. Sistem satu atap kekuasaan kehakiman ini sesuai dengan tuntutan reformasi. realisasinya terlambat. Komisi Yudisial mempunyai tugas mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kePenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 201 . Selama ini. Wakil ketua bidang yudisial membawahi ketua muda perdata. yakni ada dua wakil ketua dari sebelumnya hanya satu. yakni masih dijalankannya sistem pengelolaan kekuasaan kehakiman oleh pemerintah mengenai bidang-bidang organisasi. selain karena tekanan rezim yang begitu kuat. kekuasaan negara didominasi oleh kekuasaan eksekutif. promosi. Selama Orde Baru.lesai paling lambat 30 Juni 2004 (pasal 42 ayat 2 dan ayat 3). dan finansial. Ketiadaan independensi kekuasaan kehakiman. Pengadilan agama baru diserahkan oleh Departemen Agama pada 30 Juni 2004. Sementara dengan UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. diserahkan kepada wakil ketua nonyudisial yang membawahi ketua muda pembinaan dan ketua muda pengawasan. administratif. Diharapkan. dan ketua muda tata usaha negara. serta menangani urusan administratif yang terkait dengan teknis peradilan seperti pembagian perkara. ketua muda agama. Jabatan panitera dan sekretaris Mahkamah Agung juga dipisahkan.

Amar putusan Mahkamah Konstitusi ini sebenarnya telah memutuskan halhal yang tidak diajukan dalam permohonan judicial review. kemudian Komisi Yudisial menggagas kocok ulang Hakim Agung. Terhadap permohonan terkait objek pengawasan oleh Komisi Yudisial itu Mahkamah Konstitusi hanya mengecualikan dirinya sendiri dari objek pengawasan. yakni Hakim Agung dan hakim pada badan peradilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung serta hakim Mahkamah Konstitusi. Permohonan judicial review ini dikabulkan sebagian oleh Mahkamah Konstitusi. serta perilaku hakim. Para Hakim Agung tersebut meminta agar pasal-pasal dalam UU Nomor 22 Tahun 2004 yang menyangkut kewenangan Komisi Yudisial mengawasi Hakim Agung dan hakim Mahkamah Konstitusi dibatalkan. Dalam putusannya Mahkamah Konstitusi membatalkan fungsi pengawasan Komisi Yudisial karena bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat karena terbukti menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). sebab yang dipermasalahkan oleh pemohon adalah tentang objek pengawasan Komisi Yudisial yaitu para Hakim Agung dan hakim Mahkamah Konstitusi bukan fungsi pengawasannya itu sendiri. keluhuran martabat. Konflik berkembang sedemikian rupa hingga berpuncak pada pengajuan uji materi atau judicial review terhadap UU Nomor 22 Tahun 2004 oleh 31 orang Hakim Agung. sedang Hakim Agung tidak dikecualikan dari objek pengawasan Untuk mengatasi akibat kekosongan hukum yang terlalu lama berkaitan dengan tugas Komisi Yudisial.hormatan. Mahkamah Konstitusi me- 202 Bunga Rampai . Ini merupakan buntut dari konflik antara Komisi Yudisial dengan Mahkamah Agung. khususnya yang berkaitan dengan ketentuan mengenai fungsi pengawasan terhadap perilaku hakim. Awalnya Komisi Yudisial merasa adanya kesulitan untuk meminta keterangan dari Ketua Mahkamah Agung dalam suatu kasus yang menarik perhatian masyarakat. yang diputuskan adalah fungsi atau kewenangan pengawasan terhadap hakim oleh Komisi Yudisial yang sama sekali tidak dimohonkan oleh para pemohon. Dalam perkembangannya pelaksanaan pengawasan terhadap hakim oleh Komisi Yudisial yang didasarkan pada UU Nomor 22 Tahun 2004 dipersoalkan oleh para Hakim Agung.

dan undang-undang lain yang terkait dengan sistem peradilan terpadu. Menurut Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan. Mahkamah Konstitusi juga menyarankan kepada DPR dan Presiden untuk melakukan perbaikan-perbaikan yang bersifat integral dengan juga mengadakan perubahan dalam rangka harmonisasi dan sinkronisasi atas UU Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman.nyatakan UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial harus segera disempurnakan melalui proses perubahan undang-undang sebagaimana mestinya. Perlu Sinkronisasi Semua UU agar Tak Simpang Siur. Untuk itu. MA: Revisi UU KY agar Dilakukan secara Integral. UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. revisi UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial sebaiknya memang tidak secara sepotong-sepotong tapi dilakukan secara komprehensif dalam satu paket dengan revisi seluruh undang-undang di bidang kekuasaan kehakiman. Sebab urusan atau kewenangan pembentukan undang-undang. Menurut Bagir. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 203 . Mahkamah Agung telah menugasi sejumlah Hakim Agung dan Ikatan Hakim Indonesia untuk melakukan kajian secara mendalam. dari segi substansi tidak ada masalah dengan saran Mahkamah Konstitusi itu karena sebenarnya wacana atau keinginan melakukan penyempurnaan. Mahkamah Agung sedang mengkaji hal-hal yang perlu disinkronkan dari delapan undang-undang tentang kekuasaan kehakiman. adalah wilayah legislatif.4 4 Kompas. termasuk UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. termasuk dari Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial. 28 September 2006. baik pembentukan undang-undang baru atau undang-undang perubahan/amandemen. Putusan Mahkamah Konstitusi. Namun demikian. UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. serta sinkronisasi terhadap berbagai peraturan perundangan-undangan di bidang kekuasaan kehakiman sudah mengemuka di berbagai kalangan. harmonisasi. yang menyarankan DPR dan Presiden (yang secara bersama-sama memegang kekuasaan membentuk undang-undang) untuk melakukan perubahan terhadap berbagai peraturan perundanganundangan di bidang kekuasaan kehakiman ini sebenarnya tidak lazim.

yakni 5 6 Disampaikan Pimpinan Komisi Yudisial dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi III DPR RI.6 Dengan demikian tinggal RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Agung dan RUU tentang Perubahan atas UU Kekuasaan Kehakiman yang belum masuk dalam Prioritas Prolegnas 2007. 19 September 2006. UU Peradilan Militer. Terhadap UU Mahkamah Konstitusi. Badan Legislatif DPR sedang menyiapkan paket Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan atas UU Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana sudah diubah dengan UU Nomor 5 Tahun 2004. Sementara satu undang-undang lainnya yang masuk rumpun kekuasaan kehakiman. RUU tentang Perubahan atas UU Komisi Yudisial dan RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Konstitusi sudah masuk dalam Prioritas Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Tahun 2007. secara keseluruhan Komisi Yudisial membahas delapan undang-undang di bidang kekuasaan kehakiman. dan UU tentang Peradilan Tata Usaha Negara. UU Mahkamah Agung. dan kini sedang dalam tahap penyempurnaan setelah menerima masukan dari berbagai pihak terkait seperti Ikatan Hakim Indonesia (Ikahi) dan pakar hukum. misalnya. Menyikapi putusan Mahkamah Konstitusi di atas. RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. dan karenanya perlu didorong agar juga masuk dalam kategori prioritas. diusulkan tentang perlunya beberapa perbaikan. antara lain dengan memberikan batasan tentang materi undang-undang yang dapat diajukan permohonan judicial review. UU Mahkamah Konstitusi. yaitu UU Kekuasaan Kehakiman. UU Peradilan Agama. belum lama direvisi oleh DPR bersama pemerintah. Lihat Prioritas Program Legislasi Nasional 2007 sesuai dengan Keputusan DPR RI Nomor: 07A/DPR RI-RI/I/2006-2007. yaitu UU Peradilan Agama. 204 Bunga Rampai . Alasannya karena kita masih menghadapi masalah sinkronisasi hukum baik secara horisontal maupun vertikal. Draf pertama dari ketiga RUU inisiatif DPR itu sudah selesai disusun. dan RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. UU Komisi Yudisial.5 Ketika membuat revisi atas UU Komisi Yudisial.Pendapat atau keinginan yang sama diungkapkan oleh Komisi Yudisial. UU Peradilan Umum.

Dengan demikian revisi. dan RUU MA Dalam draft pertama RUU tentang Perubahan atas UU Komisi Yudisial yang disusun oleh Badan Legislatif DPR (posisi draft pada 27 Desember 2006). dan sinkronisasi UU Peradilan Militer terhadap berbagai undang-undang di bidang kekuasaan kehakiman lainnya dapat dilakukan melalui pembahasan RUU yang sedang berlangsung di DPR. Untuk jelasnya kita lihat bunyi rumusan Pasal 22C ayat (2) draf pertama RUU tentang Perubahan atas UU Komisi Yudisial (selanjutnya disingkat RUU Komisi Yudisial): Dalam hal pelanggaran aturan perilaku hakim dinyatakan terbukti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. atau c. b. Ketentuan ini juga diatur dalam pasal 32A draf pertama RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Agung (posisi draft pada 27 Desember 2006). Sedangkan RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 31 tahun 1997 tentang Peradilan Militer saat ini sedang dibahas di DPR. Dalam draft RUU Komisi Yudisial juga dipertegas bahwa Hakim Agung termasuk objek pengawasan Komisi Yudisial bersama hakim pada semua badan peradilan di bawah Mahkamah Agung (pasal 1 angka 4).melalui UU Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas UU Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. sehingga menurut hemat penulis belum prioritas untuk direvisi. atau disisipkan di antara pasal 32 dan 33 UU MahkaPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 205 . harmonisasi. atau pemberhentian permanen. disampaikan oleh Komisi Yudisial kepada pimpinan Mahkamah Agung dan tembusannya disampaikan kepada Presiden dan DPR. Penguatan terhadap kedudukan Komisi Yudisial diatur dalam pasal 22C draft RUU yang menyebutkan bahwa Komisi Yudisial dapat membuat keputusan atas dugaan pelanggaran perilaku hakim dengan memberikan teguran tertulis. kedudukan Komisi Yudisial diperkuat. RUU MK. Keputusan tersebut merupakan hasil dari pelaksanaan tugas Komisi Yudisial dalam menjaga dan menegakkan kehormatan. pemberhentian sementara. teguran tertulis. keluhuran martabat dan perilaku hakim yang tata caranya diatur dalam pasal 22A dan 22B. pemberhentian. keputusan dapat berupa: a. RUU KY. pemberhentian sementara. Kemudian dalam ayat (3) diatur: Putusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bersifat mengikat.

yang menyatakan bahwa pengawasan atas perilaku Hakim Agung dilakukan oleh Komisi Yudisial. hakim Mahkamah Konstitusi dikecualikan dari pengawasan Komisi Yudisial dan semua ketentuan yang menyangkut hakim Mahkamah Konstitusi dihapus dalam draft RUU Komisi Yudisial. Sebab sikap Mahkamah Konstitusi 206 Bunga Rampai . selain UU Komisi Yudisial. Oleh karena itu ketentuan mengenai pelaksanaan kewenangan Komisi Yudisial untuk menjatuhkan sanksi kepada hakim ini termasuk yang masih perlu disinkronisasikan dan diatur teknis pelaksanaannya dalam RUU Mahkamah Agung dan RUU Kekuasaan Kehakiman. sebab pengawasan terhadap perilaku hakim merupakan kewenangan Komisi Yudisial. dalam RUU Komisi Yudisial memang belum diatur tentang mekanisme pelaksanaan putusan Komisi Yudisial tersebut oleh Mahkamah Agung. Namun. perlu dikaji ulang secara mendalam. Sementara itu. Untuk diketahui.mah Agung yang berlaku saat ini. Perubahan terpenting adalah menghilangkan ketentuan pasal 32 ayat (2) yang mengatur kewenangan Mahkamah Agung untuk mengawasi tingkah laku dan perbuatan para hakim di semua lingkungan peradilan dalam menjalankan tugasnya. yakni dalam pasal 34 ayat 3 yang berbunyi: Dalam rangka menjaga kehormatan. Ketentuan seperti ini. sesuai putusan Mahkamah Konstitusi. Sedangkan pencantuman pengaturan kewenangan Komisi Yudisial melakukan pengawasan terhadap Hakim Agung dalam draft RUU Mahkamah Agung merupakan upaya sinkronisasi UU Mahkamah Agung terhadap UU Komisi Yudisial dan UU Kekuasaan Kehakiman. Ini merupakan upaya sinkronisasi tentang kewenangan pengawasan terhadap hakim dalam peraturan-peraturan perundang-undangan di bidang kekuasaan kehakiman. UU Kekuasaan Kehakiman juga sudah mencantumkan tentang kedudukan Hakim Agung sebagai objek pengawasan Komisi Yudisial. Sejalan dengan itu. pengawasan dilakukan oleh Komisi Yudisial yang diatur dalam undang-undang. menurut penulis. keluhuran martabat serta perilaku hakim agung dan hakim. penyusun draft RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Agung (selanjutnya disingkat RUU Mahkamah Agung) juga telah mengubah bunyi pasal 32 UU Mahkamah Agung dari semula terdiri dari lima ayat menjadi tiga ayat.

apakah pengecualian hakim Mahkamah Konstitusi dari objek pengawasan Komisi Yudisial sudah tepat. dan memutus permohonan pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar. Apapun hasil pengkajian itu penting dicatat bahwa pengawasan oleh Komisi Yudisial yang dimaksud di sini adalah sebagai supporting element dalam rangka mendukung kekuasaan kehakiman yang merdeka. terdapat dalam pasal 45A yang mengatur bahwa Mahkamah Konstitusi tidak boleh memutus perkara melebihi daripada yang diminta sebagaimana dalam surat permohonanannya (ultra petita). dan bukan dalam kerangka hubungan checks and balances.7 Ketentuan penting dalam draf pertama RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disingkat RUU Mahkamah Konstitusi) yang disusun Badan Legislatif DPR (posisi draft pada 27 Desember 2006). Perlu dikaji. mengadili. Pasal substantif lainnya adalah pembatasan kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam memeriksa. antara lain dalam kasus permohonan uji materi terhadap UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial seperti sudah disinggung di atas. Larangan seperti ini dilatarbelakangi adanya putusan Mahkamah Konstitusi yang melebihi permohonan. lihat pertimbangan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 005/PUU-IV/2006 dalam perkara permohonan uji materi terhadap UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 207 . antara lain. Pengaturan dalam pasal 50 RUU Mahkamah Konstitusi ini lebih rinci dan tegas dibandingkan pasal 50 dalam UU Mahkamah Konstitusi yang sudah dicabut atau dibatalkan Mahkamah Konstitusi. bersih. dan berwibawa. Pembatalan itu dilakukan Mahka- 7 Tentang kenapa fungsi pengawasan Komisi Yudisial harus dimaksudkan dalam posisi sebagai suppoting element dan bukan check and balances. yakni hanya meliputi undang-undang yang diundangkan setelah perubahan UUD 1945 (pasal 50 ayat 1 RUU Mahkamah Konstitusi).yang mengecualikan dirinya sendiri dari objek pengawasan Komisi Yudisial ini termasuk kontroversial dan mendapatkan kritikan dari berbagai kalangan. Sedangkan dalam ayat (2) disebutkan bahwa hakim Mahkamah Konstitusi tidak berwenang melakukan pengujian atas undang-undang yang berkaitan dengan tugas dan wewenang Mahkamah Konstitusi.

Dengan membatalkan Pasal 50 yang menganut asas tidak berlaku surut tersebut juga berarti Mahkamah Konstitusi telah memberikan kewenangan kepada dirinya sendiri untuk untuk menguji seluruh undang-undang yang berlaku di Indonesia. Pembatalan pasal 50 itu dilakukan Mahkamah Konstitusi sebagai pintu masuk untuk dapat memeriksa uji materi terhadap undang-undang yang diundangkan sebelum perubahan atau amandemen UUD 1945 tersebut. mengadili. 208 Bunga Rampai . Dari ketentuan pasal 50 draft RUU Mahkamah Konstitusi tersebut dapat diketahui bahwa DPR. Judicial review merupakan wilayah kewenangan Mahkamah Konstitusi.8 Sebab jika 8 Lihat Mahfud MD. Namun belum diatur pembatasan dari segi rationne materiae (materi pengujian) yang masuk dalam kewenangan Mahkamah Konstitusi. tanpa batasan waktu. dengan tambahan adanya ayat (2). 27 Agustus 2006. Termasuk dalam wilayah legislative review adalah review atau penilaian apabila tidak ada kepastian hukum karena adanya undang-undang yang saling bertentangan dengan undang-undang lain. Dalam penjelasan pasal 50 ayat 2 disebutkan. dan memutus suatu perkara di mana ia sendiri terlibat (ikut menjadi pihak) di dalamnya”. sedangkan legislative review masuk dalam wilayah kewenangan legislatif atau pembentuk undang-undang. telah membatasi Mahkamah Konstitusi untuk menguji undangundang yang diundangkan sebelum amandemen UUD 1945.mah Konstitusi saat memeriksa permohonan uji materi UU Nomor 1 Tahun 1987 tentang Kamar Dagang dan Industri. Pasca Putusan MK (1): Selamat Datang Kembali Mafia Peradilan. sekaligus menutup celah bagi Mahkamah Konstitusi untuk mengatur dirinya sendiri melalui putusan uji materi terhadap undang-undang yang terkait Mahkamah Konstitusi. telah mengatur pembatasan undang-undang yang dapat dilakukan uji materi oleh Mahkamah Konstitusi dari segi rationne temporis (keberlakuan waktu). Perlu dikaji tentang perlunya pembedaan antara judicial review dan legislative review. Dihidupkannya kembali pasal 50 dalam draft RUU Mahkamah Konstitusi. dalam hal ini Badan Legislatif. “Hal ini sesuai asas bahwa seorang hakim tidak dapat berlaku adil dalam memeriksa. Hukum Online.

Sikap DPR ini merujuk pada Ketetapan MPR Nomor VII/ MPR/2000 tentang Peran TNI dan Peran Polri dan UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI yang menegaskan bahwa Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 209 . yang perlu segera dilakukan revisi.terjadi pertentangan antara satu undang-undang dengan undang-undang lainnya maka perlu dilakukan harmonisasi atau sinkronisasi antara undang-undang yang saling bertentangan itu melalui revisi atau perubahan terhadap undang-undang dimaksud. pembahasan RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 31 tahun 1997 tentang Peradilan Militer (selanjutnya disingkat RUU Peradilan Militer) saat ini sedang dilakukan oleh DPR bersama pemerintah. upaya yang sama juga harus dilakukan terhadap berbagai undang-undang yang mengatur tentang badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung. antara lain. Sementara Panitia Khusus (Pansus) DPR untuk RUU Peradilan Militer menghendaki agar jurisdiksi peradilan militer dibatasi pada tindak pidana militer. dan Tipikor Selain revisi. sedangkan tindak pidana umum yang dilakukan militer masuk jurisdiksi peradilan umum. Pembahasan terhadap RUU Peradilan Militer yang merupakan amanat reformasi ini sempat mengalami kebuntuan karena adanya perbedaan pendapat mengenai yurisdiksi peradilan militer yang diatur dalam pasal 9 RUU Peradilan Militer. Dari berbagai undangundang di bidang kekuasaan kehakiman. Semula Departemen Pertahanan menghendaki agar semua tindak pidana yang dilakukan militer diadili di peradilan militer. Sebagaimana telah disinggung di atas. dan yang berwenang melakukannya adalah lembaga legislatif. dan UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang di dalamnya diatur dasar hukum tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. harmonisasi. UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM). adalah UU Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer. dan sinkronisasi. dan sinkronisasi terhadap undang-undang yang mengatur lembaga pemegang kekuasaan kehakiman (yakni Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi sebagai principal organ) dan Komisi Yudisial (sebagai auxiliary organ dalam kekuasaan kehakiman). RUU Peradilan Militer. HAM. harmonisasi.

DPR memiliki landasan hukum yang lebih kuat karena merujuk pada Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2000 dan UU Nomor 34 Tahun 2004. ”Prajurit tunduk kepada kekuasaan peradilan militer dalam hal pelanggaran hukum pidana militer dan tunduk pada kekuasaan peradilan umum dalam hal pelanggaran hukum pidana umum yang diatur dengan undang-undang”. khususnya semangat menegakkan prinsip demokrasi dan adanya kontrol sipil pada militer. Merujuk pada argumen masing-masing pihak. Persetujuan itu disampaikan dalam Surat Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono kepada pimpinan DPR tanggal 30 Januari 2007. dan tampaknya lebih karena persoalan kultur. Setelah melalui perdebatan panjang lebih dari satu tahun. Selanjutnya dinyatakan bahwa Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2000 maupun Pasal 65 jo Pasal 74 UU Nomor 34 Tahun 2004 tidak bisa dijadikan dasar penyusunan RUU Peradilan Militer. yaitu ketidakrelaan militer untuk tunduk pada peradilan umum dan disidik oleh polisi.TNI selain tunduk pada peradilan militer juga patuh pada peradilan umum. Sedangkan Pasal 65 ayat 2 UU Nomor 34 Tahun 2004 menyebutkan. pemerintah akhirnya sependapat dengan DPR bahwa militer akan diadili di peradilan umum apabila melakukan tindak pidana umum. Hal ini juga sesuai dengan semangat reformasi. Akan tetapi. pemerintah (dalam hal ini Menteri Pertahanan) memberikan jawaban yang mengejutkan. Dalam Pasal 3 ayat (4b) Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2000 disebutkan: “Prajurit Tentara Nasional Indonesia tunduk kepada kekuasaan peradilan militer dalam hal pelanggaran hukum militer dan tunduk kepada kekuasaan peradilan umum dalam hal pelanggaran hukum pidana umum”. Sementara resistensi TNI (sebagaimana tergambar dalam sikap Menteri Pertahanan) untuk tunduk pada jurisdiksi peradilan sipil memiliki alasan yang lemah. Menurut pemerintah. atas argumen tersebut. dan ditegaskan lagi oleh Menteri Pertahanan dalam Rapat 210 Bunga Rampai . Kemudian dalam Pasal 74 undang-undang yang sama disebutkan Pasal 65 ayat 2 bisa berlaku setelah undang-undang yang baru tentang Peradilan Militer diberlakukan. sedangkan apabila melanggar tindak pidana militer akan diadili di peradilan militer. Pasal 65 UU No 34 Tahun 2004 itu adalah substansi yang dipaksakan.

9 Selanjutnya. Pasalnya.Pansus RUU Peradilan Militer. Pansus RUU Peradilan Militer Khawatirkan Isi DIM Baru Pemerintah. Kata ’Prajurit’ itu berkonotasi pada individu. Jika prajurit melakukan tindak pidana umum maka diadili di peradilan umum. jika revisi tersebut tidak mempertimbangkan UU Pengadilan HAM. antara lain. Revisi UU Peradilan Militer perlu mempertimbangkan UU Pengadilan HAM mengingat prajurit TNI merupakan salah satu subjek hukum dari jurisdiksi Pengadilan HAM. diatur bahwa “setiap orang adalah orang perseorangan. Tapi. yang perlu diperhatikan adalah bahwa revisi UU Peradilan Militer harus mempertimbangkan UU Nomor 26 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM). pemerintah dan DPR secara simultan akan merevisi undangundang terkait. tercapainya kesepakatan DPR dengan pemerintah tentang jurisdiksi peradilan militer tidak berarti pembahasan RUU Peradilan Militer akan berjalan mulus. Sehingga dikhawatirkan bisa terjadi kesulitan untuk mengadili individu prajurit yang melakukan tindak pidana umum itu ke peradilan umum. kelompok 9 Lihat Republika. bukan ke arah individu yang melakukan tindak pidana. 8 Februari 2007. sedangkan ’Militer’ mengarah pada institusinya. terutama terfokus pada UU Nomor 39 Tahun 1947 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana Militer berikut hukum acaranya. Dalam kurun waktu tersebut. Perubahan istilah ini dianggap mengandung jebakan. Dalam DIM itu banyak istilah ’Prajurit’ yang kemudian diubah menjadi ’Militer’. Dalam rapat tersebut Pansus DPR dan pemerintah juga mulai menyepakati adanya masa transisi pemberlakuan UU Peradilan Militer selama dua sampai tiga tahun. 28 Juni 2007 Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 211 . Hal ini bisa mengakibatkan munculnya usulan pembentukan pengadilan internasional dalam kasus kejahatan perang atau kemanusiaan. Indonesia dapat dicurigai tidak mau menyesuaikan diri dengan standar internasional. Saat ini ada persoalan baru berkaitan dengan isi Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) tambahan dari pemerintah. Perubahan istilah ’Prajurit’ ke ’Militer’ itu dikhawatirkan mengarah ke institusi. Dalam UU Pengadilan HAM. bukan institusinya.

Revisi ini khususnya terhadap. militer. Terhadap UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM sendiri juga perlu dilakukan revisi atau penyempurnaan. Sementara Komnas HAM berpendapat Jaksa Agung dapat menindaklanjuti hasil penyelidikan Komnas HAM dengan melakukan penyidikan tanpa didahului pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. mengenai dalam tahap mana dalam proses hukum kasus pelanggaran HAM berat diperlukan rekomendasi DPR sebagai syarat untuk pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. Dalam kasus tersebut Kejaksaan Agung menolak menindaklanjuti hasil penyelidikan Komnas HAM dengan alasan penyidikan tidak bisa dilakukan tanpa didahului pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. Perbedaan pendapat ini telah menyebabkan terjadinya kebuntuan dalam penindaklanjutan proses hukum kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum adanya UU Nomor 26 Tahun 2000. di mana Pengadilan HAM Ad Hoc dibentuk dengan Keputusan Presiden RI berdasarkan rekomendasi DPR RI. Kemudian dalam pasal 49 (masuk dalam Bab X tentang Ketentuan Penutup) dinyatakan bahwa ketentuan mengenai kewenangan Atasan Yang Berhak Menghukum dan Perwira Penyerah Perkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 dan Pasal 123 Undangundang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer dinyatakan tidak berlaku dalam pemeriksaan pelanggaran hak asasi manusia yang berat menurut undang-undang ini. maupun polisi yang bertanggung jawab secara individual” (pasal 1 ayat 3). Secara hubungan pasal tidak ada hubungan penyelidikan dan penyidikan dengan pembentukan pengadilan Ad Hoc tersebut sehingga tidak beralasan jika Kejaksaan mengatakan harus 212 Bunga Rampai .orang. komisi yang membidangi hukum dan menjadi pasangan kerja Jaksa Agung RI dan Komnas HAM. baik sipil. ketentuan pasal 43 UU Pengadilan HAM yang mengatur tentang rekomendasi DPR untuk pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. dan Kejaksaan Agung di pihak lain. Pendapat ini didukung sebagian besar anggota Komisi III DPR. antara lain dalam kasus penghilangan orang secara paksa periode 1997-1998. Selama ini terdapat perbedaan penafsiran antara DPR dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) di satu pihak. yang menyatakan rekomendasi DPR RI adalah untuk pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. namun tidak terbatas pada.

dan diatur pada pasal 19 dan 20 UU Nomor 26 Tahun 2000. khususnya menyangkut pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. Mahkamah Konstitusi menyatakan Pasal 53 UU Nomor 30 Tahun 2002 bertentangan dengan UUD 1945. yakni pada pasal 21 dan 22 (penyidikan). Sementara pengaturan tentang pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc diatur dalam pasal 43 yang menyatakan Pengadilan HAM Ad Hoc dibentuk atas usul DPR RI. Dari materi pasal-pasal tersebut diketahui kewenangan Komnas HAM ada di bidang penyelidikan. serta pasal 23 dan 24 (penuntutan). dapat kita lihat pasal-pasal yang mengatur tentang penyelidikan. Sementara revisi terhadap UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendesak untuk dilakukan karena adanya putusan judicial review Mahkamah Konstitusi yang membatalkan pasal 53 UU Nomor 30 Tahun 2002 yang menjadi dasar hukum Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). penyidikan. Kejaksaan Agung di bidang penyidikan dan penuntutan. dan kewenangan DPR untuk mengusulkan. pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. Kewenangan penyelidikan kasus pelanggaran HAM berat berada di Komnas HAM. Namun atas argumen tersebut Kejaksaan Agung tetap pada sikapnya yang menolak menindaklanjuti hasil penyelidikan Komnas HAM dalam kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum adanya UU Nomor 26 Tahun 2000 tanpa didahului oleh keluarnya rekomendasi DPR untuk pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. Keputusan politik DPR baru diperlukan jika hasil penyidikan akan dilanjutkan dengan proses penuntutan di pengadilan dan karena itu harus dibentuk Pengadilan HAM Ad Hoc. Terkait argumen Komnas HAM yang didukung DPR di atas. namun tetap memiliki kekuatan hukum mengi- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 213 .ada keputusan politik dari DPR lebih dulu untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan. melalui amandemen atau revisi terhadap UU Nomor 26 Tahun 2000. Kewenangan penyidikan dan penuntutan ada di tangan Kejaksaan Agung. Terhadap perbedaan penafsiran yang meruncing dan menimbulkan kebuntuan hukum ini tentu perlu dicarikan jalan keluar dengan membuat rumusan undang-undang yang lebih tegas dan jelas. dan pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. mengeluarkan rekomendasi.

untuk melakukan penyempurnaan UU KPK dan penataan kelembagaan pengadilan khusus. Putusan ini sesuai dengan Pasal 24A UUD 1945 yang ditafsirkan Mahkamah Konstitusi bahwa pembentukan badan peradilan di bawah Mahkamah Agung harus dilakukan dengan undang-undang. dan. Namun. Pengadilan Tipikor harus dibentuk dengan undang-undang tersendiri. untuk meniadakan 10 Lihat Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 012-016-019/PUU-IV/2006 tentang permohonan uji materi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. putusan Mahkamah Konstitusi tersebut dapat dilihat sebagai putusan yang bertujuan memberikan kepastian hukum. Sebab dalam prinsip kepastian hukum. bukan di dalam UU KPK seperti saat ini. Artinya. Sementara dalam konteks sidang perkara korupsi yang berlaku pada saat ini. maka seharusnya hanya ada satu pengadilan. agar tidak memperlemah semangat (disinsentive) pemberantasan korupsi. perkara korupsi dapat disidangkan di dua pengadilan yang berbeda yaitu Peradilan Umum dan Pengadilan Tipikor. Sementara putusan yang menyatakan Pasal 53 UU KPK tetap mempunyai kekuatan hukum mengikat sampai diadakan perubahan paling lambat tiga tahun terhitung sejak putusan diucapkan. merupakan terobosan yang didasarkan pada aspek manfaat. agar tidak menyebabkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid) yang dapat mengacaukan penanganan perkara tipikor. kedua. keputusan Mahkamah Konstitusi ini sebenarnya dapat dijadikan momentum untuk menguatkan eksistensi Pengadilan Tipikor melalui dukungan terhadap terbentuknya undang-undang yang khusus mengatur mengenai Pengadilan Tipikor. yakni. ketiga. 214 Bunga Rampai . Untuk meniadakan dualisme yang selama ini terjadi dalam sidang perkara-perkara korupsi.kat sampai diadakan perubahan paling lambat tiga tahun setelah sejak putusan diucapkan. Karena itu. pertama. dinyatakan tidak boleh ada dualisme hukum.10 Terlepas dari pro dan kontra mengenai putusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan dasar hukum Pengadilan Tipikor. Asas manfaat dimaksud adalah dapat dilihat dari empat alasan yang dikemukakan oleh Mahkamah Konstitusi. keempat. agar proses peradilan Tipikor tidak terganggu atau tidak macet.

Kejaksaan. jika Pengadilan Tipikor masih dikehendaki eksistensinya. dan penyidik pada Komisi Pemberantasan tindak Pidana Korupsi. (2) Perkara tindak pidana korupsi yang diterima oleh Jaksa sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dilimpahkan ke pengadilan negeri setempat untuk diperiksa dan diputus oleh majelis hakim khusus tindak pidana korupsi. Mahkamah Konstitusi tidak secara tegas memerintahkan dibentuknya Pengadilan Khusus 11 Periksa Draft RUU mengenai Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. ”Penyidikan dalam undang-undang ini dilakukan oleh Kepolisian. Tim Perumus Draft RUU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang dipimpin Prof. Sehingga selanjutnya seluruh perkara korupsi disidangkan oleh hakim karier yang dididik khusus untuk menangani perkara korupsi di pengadilan umum. Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Kemudian pada pasal yang terletak setelah pasal 36 tapi belum diberi nomor disebutkan bahwa: (1) Hasil penyidikan yang dilakukan oleh penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 diserahkan kepada Jaksa Penuntut Umum. Pasalnya. Hal ini tercermin pada pasal 36 draf RUU Tipikor11 yang berbunyi. keberadaan Pengadilan Tipikor bertentangan dengan konstitusi karena kriteria kekhususan Pengadilan Tipikor menyebabkan terdapat dua pengadilan yang berbeda dalam lingkup yang sama. pada posisi 30 Januari 2007.dualisme tersebut ada dua pilihan. atau kedua. yakni Pengadilan Tipikor dileburkan ke pengadilan umum. sehingga eksistensi Pengadilan Tipikor beserta hakim Ad Hocnya harus ditiadakan. Andi Hamzah menganut pendapat yang pertama. maka harus disertai dengan undang-undang yang khusus mengaturnya. Isi draf RUU yang disusun tim yang dibentuk Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) ini memang cenderung membubarkan Pengadilan Tipikor. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 215 . sebenarnya tidak ada pertentangan antara keduanya. dinyatakan bahwa: Dalam waktu paling lambat 1 (satu) tahun setelah UU ini diundangkan ditunjuk hakim khusus untuk tindak pidana korupsi pada setiap pengadilan negeri. Jika ditinjau putusan Mahkamah Konstitusi dan apa yang sedang digodok oleh Tim Perumus RUU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Kemudian dalam pasal berikutnya (juga belum diberi nomor). Menurut Andi Hamzah.

Pengadilan yang Lebih Baik Pembenahan lembaga peradilan sangat penting karena saat ini pelayanan lembaga peradilan dianggap sebagian besar masyarakat tidak optimal. lambatnya proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh kepolisian dan kejaksaan.Tipikor. Putusan Mahkamah Konstitusi tidak menghapus keberadaan Pengadilan Khusus Tipikor. antara lain. apakah disatukan melalui pengadilan khusus. antara lain dari pakar hukum pidana Romli Atmasasmita dan para aktivis lembaga swadaya masyarakat di bidang gerakan antikorupsi. banyaknya persyaratan administratif yang harus ditempuh saat pendaftaran perkara di pengadilan. Tapi. kalau dibentuk Pengadilan Khusus. Dipastikan dalam draf itu terdapat klausul tentang pembentukan Pengadilan Tipikor. Terhadap kritik dari para pengamat dan akademisi hukum serta kalangan LSM ini tentu pemerintah harus membuka diri. banyaknya pungutan di luar biaya administrasi resmi. Mahkamah Konstitusi hanya menyatakan. Lagipula. atau melalui peradilan umum. Pelayanan yang tidak optimal tersebut. 216 Bunga Rampai . draft versi pemerintah yang mengarah pada pembubaran Pengadilan Tipikor ini mendapat kritikan dari berbagai kalangan. Apapun pilihan yang diambil harus dalam kerangka untuk mengefektifkan pemberantasan tindak pidana korupsi. harus dengan payung hukum atau undang-undang tersendiri. Harus dilakukan kajian mendalam tentang pilihan yang akan diambil untuk meniadakan dualisme yang selama ini terjadi dalam sidang perkara-perkara korupsi. Mahkamah Konstitusi memberikan waktu tiga tahun bagi pembentuk undang-undang untuk membuat undang-undang tersendiri itu. Karena itu Romli dan beberapa akademisi hukum serta sejumlah LSM membuat tim untuk menyusun draf RUU Pemberantasan Korupsi tandingan. Mereka menilai Tim Perumus RUU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi telah keliru memahami putusan Mahkamah Konstitusi. dan banyaknya perkara kasasi yang menumpuk di Mahkamah Agung. melainkan memerintahkan pembentuk undang-undang untuk segera membuat UU Pengadilan Khusus Tipikor. kalau tidak maka akan kembali ke pengadilan umum.

Hasil survei itu paling tidak merupakan indikasi bahwa praktik suap memang terjadi di lembaga peradilan. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 217 .Masih buruknya wajah lembaga peradilan ini dapat dilihat dari hasil survei terkini.id/news/11/tahun/2007/bulan/05/ tanggal/25/id/1125/. mengembalikan kewenangan Komisi Yudisial untuk memperkuat fungsi pengawasan hakim. Taiwan. bea dan cukai. dan pajak 76 persen. BPN 84 persen. Dalam IPK itu. khususnya 12 Periksa Tranparency International Indonesia. Badan Pertanahan Nasional. Kondisi itu menempatkan peradilan Indonesia sejajar dengan Albania. disusul bea dan cukai 95 persen. Yunani. Saat itu. kebebasan memperoleh akses informasi. yang menyatakan bahwa tingkat inisiatif lembaga peradilan dalam meminta suap secara langsung mencapai 100 persen dari seluruh interaksi. dan Venezuela. peradilan. dan proses peradilan yang harus dilakukan secara terbuka.or. sekaligus seolah mengkonfirmasikan kebenaran rahasia umum tentang adanya lingkaran penyalahgunaan wewenang di lembaga peradilan yang dikenal dengan istilah mafia peradilan. Menurut hasil survei Global Corruption Report 2007. Temuan itu juga sesuai dengan hasil Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia 2006 yang dirilis Transparency International Indonesia pada Februari 2007. http://www. yaitu hasil survei Global Corruption Report 200712 yang diluncurkan oleh Transparency International Indonesia. penetapan gaji yang berdasarkan pengalaman dan kemampuan. masih korup. Maroko. The Global Corruption Report 2007: Corruption in Judicial Systems. survei menemukan bahwa lembaga vertikal. Rekomendasi berikutnya adalah memperkuat seleksi Hakim Agung oleh Komisi Yudisial. imigrasi 90 persen. pajak. Meksiko. seperti polisi. Peru. empat lebih di antara sepuluh keluarga Indonesia mengaku harus menyuap demi mendapatkan keadilan. imigrasi. dan memperkuat eksistensi pengadilan Tipikor. Transparency International Indonesia mengeluarkan tujuh rekomendasi yaitu reformasi sistem peradilan yang mencegah campur tangan eksekutif atau legislatif. serta militer. Berdasarkan laporan tersebut. polisi 78 persen. pengadilan dipersepsikan meminta suap hingga 100 persen.ti. Hasil survei ini oleh berbagai kalangan. Moldova.

Komitmen dari para aparat penegak hukum ini mendukung atau seiring dengan proses revisi. Sementara kalangan lain ada yang mempertanyakan akurasi dari metode survei yang dilakukan Transparency International Indonesia. Sebab hakim di Indonesia dapat disuap untuk memperlambat atau mempercepat proses hukum di pengadilan. jaksa. Berangkat dari titik itu. Penulis sendiri berpandangan bahwa hasil survei Transparency International Indonesia harus diterima sebagai otokritik. harmonisasi. Adanya praktek suap di lembaga peradilan ini. Kita harus mengakui bahwa secara institusional memang telah terjadi perubahan dalam dunia peradilan. mempengaruhi rekannya sesama hakim. 2006. polisi. dan advokat sebagai catur wangsa penegak hukum untuk membersihkan korupsi di dunia peradilan. atau menjatuhkan putusan tertentu. Karena itu hakim. sinyalemen. pendapat. dan sinkronisasi berbagai perundang-undangan yang terkait dengan kekuasaan kehakiman yang memiliki tujuan 13 Lihat artikel Satjipto Rahardjo berjudul Mafia Pengadilan. atau persepsi tentang buruknya kondisi peradilan sebenarnya bukan hal baru karena sudah mengemuka sejak lama. dianggap mencerminkan gagalnya reformasi peradilan di Indonesia. praktik korupsi tampaknya masih merupakan kebiasaan yang terus saja terjadi dan kemudian dipotret oleh Transparency International. dibutuhkan komitmen bersama dari hakim. Sedangkan Adi Andojo pernah membeberkan secara rinci praktek negatif di Mahkamah Agung. diungkapkan pakar hukum senior Satjipto Rahardjo dengan mengutip temuan mantan Hakim Agung Asikin Kusumah Atmaja dan Adi Andojo. Polri.13 Asikin pernah memaparkan angka yang mengejutkan. Penerbit Buku Kompas. dan advokat harus mempunyai komitmen dan visi yang sama tentang bagaimana mengakhiri praktik suap dan atau praktek mafia peradilan lainnya di pengadilan. menerima atau menolak permintaan banding. yaitu hampir separuh dari tiga ribu hakim di Indonesia berbuat tidak benar. Apalagi temuan. jaksa. Kompas edisi 5 Januari 1995. termuat dalam buku Sisi-sisi Lain dari Hukum di Indonesia. Namun.pengamat hukum dan aktivis lembaga swadaya masyarakat. 218 Bunga Rampai . antara lain.

peningkatan kualitas moral dan integritas hakim dan aparat penegak hukum lainnya. dan berwibawa. Catatan: . peningkatan peran masyarakat dan lembaga legislatif dalam bentuk pengawasan dan kontrol yang ketat terhadap perilaku hakim dan aparat penegak hukum lainnya. Adanya upaya untuk melakukan reformasi di lingkungan lembaga peradilan diharapkan akan dapat memberikan hasil yang positif. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 219 .akhir untuk mewujudkan peradilan yang lebih baik. khususnya dalam rangka penegakan hukum di Indonesia. penyediaan sarana dan prasarana hukum yang mendukung penyelenggaraan proses peradilan yang adil dan transparan. dan komitmen dari aparat penegak hukum itu sendiri dalam mewujudkan lembaga peradilan yang merdeka. Dan. bersih. penerapan sistem rekruitmen hakim dan Hakim Agung yang lebih transparan melalui uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test). Keberadaan Komisi Yudisial dan beberapa lembaga independen lainnya yang mempunyai fungsi sebagai pengawas terhadap lembaga pengadilan dan lembaga penegak hukum lainnya diharapkan dapat menciptakan lembaga peradilan yang lebih akuntabel dan bersih. termasuk dalam bidang pemberantasan tindak pidana korupsi. Sebab untuk mewujudkan sistem peradilan yang transparan dan adil dapat dilakukan melalui pembenahan sistem peradilan untuk mewujudkan sistem peradilan terpadu (integrated criminal justice system). terwujudnya lembaga peradilan yang transparan dan akuntabel dengan didukung oleh aparat penegak hukum yang bersih akan mendorong tercapainya penyelenggaraan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.Artikel ini disusun untuk memenuhi permintaan Komisi Yudisial terkait penerbitan Buku Bunga Rampai Volume Dua.

220 Bunga Rampai .

yaitu mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan.X. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 221 . Hakim yang dimaksud disini adalah Hakim Agung dan hakim pada badan peradilan disemua lingkungan 1 2 3 Ketua Badan Legislasi DPR RI RI Pasal 24B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 24B ayat (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pendahuluan Amandemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) membawa konsekuensi terhadap perubahan sistem ketatanegaraan Republik Indonesia. keluhuran martabat serta perilaku hakim.H.3 Amanat konstitusi tersebut ditindaklanjuti dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Undang-undang ini mengatur tugas dan wewenang Komisi Yudisial. yang salah satunya adalah dalam bidang kekuasaan kehakiman.2 Adapun susunan. Dalam Amandemen ketiga. tepatnya pada Pasal 24B yaitu adanya Komisi Yudisial. Soekarno. 1 A. keluhuran martabat serta perilaku hakim. dan keanggotaan Komisi Yudisial diatur dengan undang-undang. menginternalisasi kelembagaan baru di dalam Bab IX (Kekuasaan Kehakiman).DPR dan Perubahan Atas Undang-Undang Komisi Yudisial Oleh : F. S. kedudukan. Komisi ini oleh konstitusi diberi kewenangan mengusulkan pengangkatan hakim agung dan kewenangan lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan.

Komisi Yudisial wajib menaati norma hukum dan ketentuan peraturan perundang-undangan. menjaga kerahasiaan keterangan yang karena sifatnya merupakan rahasia Komisi Yudisial dan tidak boleh mengurangi kebebasan hakim dalam memeriksa dan memutus perkara. khususnya yang berkaitan dengan ”pengawasan hakim” yang diatur dalam Bab III. Komisi Yudisial mempunyai tugas: a) melakukan pendaftaran calon Hakim Agung. dan e) membuat laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi dan disampaikan kepada Mahkamah Agung dan/ atau Mahkamah Konstitusi serta tindasannya disampaikan kepada Presiden dan DPR. 22 Tahun 2004. dan mengajukan calon Hakim Agung ke DPR. Adapun kewenangan lain yang berkaitan dengan menjaga dan menegakkan kehormatan. b) meminta laporan secara berkala kepada badan peradilan berkaitan dengan perilaku hakim.4 Dalam melaksanakan kewenangan mengusulkan pengangkatan Hakim Agung.5 Dalam melaksanakan pengawasan tersebut. Namun dalam perjalanannya Undang-undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial dimohonkan judicial review oleh 31 Hakim Agung yang menganggap hak dan kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya UU No. dapat berupa teguran tertulis. Komisi Yudisial mempunyai tugas pengawasan dan pengusulan penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada Pimpinan Mahkamah Agung atau Mahkamah Konstitusi. c) melakukan pemeriksaan terhadap dugaan pelanggaran perilaku hakim. Dalam melaksanakan tugas pengawasan tersebut. Usul penjatuhan sanksi sesuai dengan ketentuan Pasal 23 UU No. b) melakukan seleksi terhadap calon Hakim Agung. Pasal 20 dan 4 5 Lihat pengertian hakim pada Pasal 1 angka 5 UU No. d) memanggil dan meminta keterangan dari hakim yang diduga melanggar kode etik perilaku hakim. pemberhentian sementara atau pemberhentian. c) menetapkan calon Hakim Agung. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. keluhuran martabat serta perilaku hakim. Komisi Yudisial dapat: a) menerima laporan masyarakat tentang perilaku hakim. 222 Bunga Rampai .peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung serta hakim Mahkamah Konstitusi.

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 223 . Pasal 20. menyatakan Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata ”Hakim Mahkamah Konstitusi”. Pasal 23 ayat (2) dan ayat (3) serta ayat (4). Kekosongan Hukum Jika dilihat lebih lanjut. dan Pasal 25 ayat (4) sepanjang mengenai kata-kata ”dan/ atau Mahkamah Konstitusi”. sehingga tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Pasal 21.Pasal 22 ayat (1) huruf e dan ayat (5). hakim pada badan peradilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung dan Hakim Mahkamah Konstitusi sebagaimana yang dimaksud pada Pasal 1 angka 5 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Pasal 23 ayat (3). Berdasarkan permohonan tersebut. Mahkamah Konstitusi dengan Putusan Nomor 005/PUU-IV/2006. Pasal 24 ayat (1) sepanjang mengenai kata-kata ”dan/atau Mahkamah Konstitusi”. serta yang berkaitan dengan ”usul penjatuhan sanksi” yang diatur dalam Pasal 21. Pasal 23 ayat (5). Hakim sebagai obyek pengawasan Komisi Yudisial yang menyangkut Hakim Agung. Pasal 22 ayat (5). Pasal 25 ayat (3) sepanjang mengenai kata-kata ”dan/atau Mahkamah Konstitusi”. bertentangan dengan Undangundang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 22 ayat (1) huruf e. Pengawasan terhadap pelaksanaan kode etik hakim konstitusi dilakukan oleh Majelis Kehormatan yang tersendiri sesuai dengan ketentuan Pasal 23 Undangundang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. khusus yang menyangkut hakim Mahkamah Konstitusi dinyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Putusan Mahkamah Konstitusi tersebut selain menandaskan obyek pengawasan Komisi Yudisial. sebagai pelaksanaan Pasal 24C ayat (6) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. juga berkaitan dengan pengaturan prosedur pengawasan hakim. Pasal 23 ayat (2). B. Alasan yang dikemukakan oleh Mahkamah Konstitusi adalah: a. Pasal 24 ayat (1) dan Pasal 25 ayat (3) dan ayat (4) dihubungkan dengan Pasal 1 angka 5 undang-undang tersebut.

.6 Berkaitan Hakim Agung sebagai obyek pengawasan Komisi Yudisial. Kedudukan Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga pemutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh undang-undang dasar. dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 005/PPU-IV/2006. Persoalan yang berkaitan dengan pertanyaan apakah ”hakim” menurut Pasal 24B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 224 Bunga Rampai .Komisi Yudisial bertugas menjaga (preventif) dan menegakkan (korektif dan represif) kehormatan. 254. Jakarta. Beliau menyatakan bahwa ”. hlm. bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 6 Jimly Asshiddiqie. Hakim Pengadilan Umum. Dapat saja pembentuk undang-undang menentukan bahwa hakim agung termasuk ke dalam pengertian hakim yang perilaku etiknya diawasi oleh Komisi Yudisial secara eksternal.. Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI. 2006. keluhuran martabat serta perilaku semua hakim di Indonesia. keluhuran martabat dan perilakunya mencakup Hakim Agung. secara tegas telah menyatakan keberlakuan Pasal 1 angka 5 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2004 sepanjang mengenai kata-kata ”hakim Mahkamah Konstitusi”. Pengadilan Tata Usaha Negara. tidaklah ditemukan dasar-dasar konstitusional yang meyakinkan. meliputi pengertian hakim agung atau tidak. tidak lagi terganggu sebagai akibat dimasukkannya hakim konstitusi sebagai obyek pengawasan Komisi Yudisial. Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa hal ini tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Hal ini tidak sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Jimly Asshiddiqie dalam bukunya ”Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia”.b. Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia. dan Pengadilan Militer serta termasuk Hakim Konstitusi”. Dengan demikian hakim yang harus dijaga dan ditegakkan kehormatannya. Pengadilan Agama. Terlepas pro dan kontra terhadap hakim Mahkamah Konstitusi dan Hakim Agung sebagai obyek pengawasan Komisi Yudisial.

serta bagaimana proses pengawasan itu dilaksanakan. Perumusan Pasal 13 huruf b juncto Pasal 20 UndangUndang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial mengenai wewenang lain sebagai penjabaran dari Pasal 24B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menggunakan rumusan kalimat yang berbeda sehingga menimbulkan masalah dalam penormaannya dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial yang menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). b. instrumen apa yang digunakan. secara struktural kedudukan Komisi Yudisial memang diposisikan sederajat dengan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. Na- c. Adapun yang berkaitan dengan pengaturan prosedur pengawasan hakim. Hal tidak jelas dan tidak rincinya pengaturan mengenai pengawasan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial serta perbedaan dalam rumusan kalimat seperti dimaksud pada butir a di atas. apa objek yang diawasi. terutama dalam pelaksanaannya. menyebabkan semua ketentuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang pengawasan menjadi kabur (obscuur) dan menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid) dalam pelaksanaannya. Untuk hal yang terakhir ini. Konsepsi pengawasan yang terkandung dalam UndangUndang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial didasarkan atas paradigma konseptual yang tidak tepat.Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. yaitu seolah-olah hubungan antara MA dan KY berada dalam pola hubungan “checks and balances” antarcabang kekuasaan dalam konteks ajaran pemisahan kekuasaan (separation of powers). Mahkamah Konstitusi menyatakan: a. tidak jelas dan tegas menentukan siapa subjek yang mengawasi. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 225 . dalam kesimpulan putusannya. sehingga menimbulkan penafsiran yang juga tidak tepat. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial terbukti tidak rinci mengatur mengenai prosedur pengawasan.

Dengan demikian terjadi kekosongan hukum yang berkaitan dengan tugas Komisi Yudisial. Komisi Yudisial meskipun fungsinya terkait dengan kekuasaan kehakiman. Jakarta.7 Komisi Yudisial bukan merupakan lembaga penegak hukum (the enforcer of the rule of law). Lembaga negara yang mempunyai fungsi kehakiman atau menjalankan fungsi peradilan tertinggi adalah Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. 2006. Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI. khususnya yang berkaitan dengan ketentuan mengenai pengawasan perilaku hakim. melainkan lembaga penegak norma etik (code of ethics). Berdasarkan apa yang dinyatakan dalam kesimpulan putusan Mahkamah Konstitusi sebagaimana tersebut di atas. Terhadap fungsi kekuasaan kehakiman. Komisi Yudisial lebih merupakan lembaga etika daripada lembaga hukum. Komisi Yudisial bukanlah lembaga penegak norma hukum (code of law). Jimly Asshiddiqie. tetapi secara fungsional peranannya bersifat penunjang (auxiliary) terhadap lembaga kekuasaan kehakiman. 226 Bunga Rampai .mun demikian. 187-188. tetapi tidak menjalankan fungsi kekuasaan kehakiman. C. bukan dengan lembaga peradilan atau lembaga kekuasaan kehakiman secara institusional. Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) sebagai institusi yang mempunyai kewenangan 7 Lihat. keluhuran martabat dan perilaku hakim. Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi. meskipun secara struktural kedudukannya sederajat dengan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. hlm. segala ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial yang menyangkut pengawasan dinyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat karena terbukti menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). Komisi Yudisial bersifat penunjang (supporting system) terhadap dan dalam cabang kekuasaan kehakiman. Lagi pula komisi ini berurusan dengan soal kehormatan. Inisiasi Legislasi Untuk mengatasi permasalahan tersebut (adanya kekosongan hukum). melainkan lembaga penegak etika kehakiman (the enforcer of the rule of judicial ethics and good conduct).

RUU tentang Perubahan UU Komisi Yudisial dan RUU Perubahan UU Mahkamah Konstitusi menjadi prioritas pembahasan Tahun 2007. b) independen dalam menjalankan tugas yang tidak boleh diintervensi oleh lembaga-lembaga lain yang mempunyai kepentingan 8 9 10 Lihat ketentuan Pasal 20 ayat (1) dan ayat (2) UUD 1945. Pengawasan internal yang dilakukan oleh majelis kehormatan hakim di Mahkamah Agung tersebut dirasakan kurang efektif.9 Perubahan tersebut diharapkan dapat mendudukkan fungsi. yang menyatakan : (1) Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang. maka inisiasi perubahan terhadap Undang-undang Komisi Yudisial tersebut diikuti dengan Perubahan Undang-undang Mahkamah Agung (Undang-undang Nomor 14 Tahun 1985 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 2004) dan Undang-undang Mahkamah Konstitusi (Undangundang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi). yaitu para hakim tanpa adanya intervensi dari pimpinan Mahkamah Agung. Agar perubahan ini dapat terintegrasi dengan baik terhadap undang-undang lain khususnya di lingkungan kekuasaan kehakiman. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 227 .10 Independen disini dimaknai: a) independensi terhadap subyek yang ia awasi. Kelembagaan ini bersifat mandiri atau independen untuk menjamin efektifitas kerjanya. keluhuran martabat dan perilaku hakim hanya dilakukan secara internal oleh para hakim sendiri. (2) Setiap Rancangan Undang-undang dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden untuk mendapatkan persetujuan bersama. Oleh karena itu.8 berinisiasi melakukan pembenahan dan perbaikan terhadap Undangundang Komisi Yudisial dimaksud. Selama ini (sebelum Amandemen III UUD 1945 dan lahirnya UU Komisi Yudisial).dan kekuasaan membentuk undang-undang. Dalam Keputusan DPR RI Nomor 07 A/DPR-RI/I/2006-2007. Kehormatan. upaya menjaga dan menegakkan kehormatan. keluhuran martabat dan perilaku hakim. ide pembentukan Komisi Yudisial dalam rangka pengawasan eksternal dimunculkan. Lihat ketentuan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945. keluhuran martabat dan perilaku hakim menjadi syarat mutlak yang diperlukan dalam sistem demokrasi konstitusional. tugas dan kewenangan Komisi Yudisial dalam menjaga dan menegakkan kehormatan.

Dari pemikiran inilah konstruksi perubahan Undangundang Komisi Yudisial akan dilakukan. eksekutif ataupun kekuatan partai politik untuk mempengaruhi kinerja kekuasaan kehakiman yang merdeka. Pilihanpilihan dimaksud merupakan jawaban dari permasalahanpermasalahan yang muncul dan berkembang. Dengan dijadikannya Komisi Yudisial sebagai external auditor.000 orang dapat dijaga dan ditegakkan sebagaimana mestinya. juga harus dipertahankan. ada beberapa pilihan-pilihan atau alternatif konsepsi maupun paradigmatig yang nantinya akan menjadi pilihan politis maupun yuridis. Karena pada prinsipnya. tidak seperti sebelumnya dimana diantara sesama hakim justru terjadi hubungan saling membela dan melindungi yang menyebabkan pengawasan tidak efektif. keluhuran martabat dan perilaku hakim. Siapakah yang dimaksud dengan “hakim” dalam konstiBunga Rampai 228 . Sejalan dengan perkembangan yang ada dan sekaligus sebagai pengayaan materi yang akan menjadi bahan kajian yang selanjutnya akan disarikan dalam norma. diharapkan pengawasan menjadi efektif. Mengenai independensi dari dan terhadap para hakim dan lembaga Mahkamah Agung. keberadaan Komisi Yudisial justru sangat penting artinya agar kehormatan. sangatlah penting karena para hakimlah yang harus diawasi perilakunya oleh Komisi Yudisial. Oleh karena itu jangan sampai Komisi Yudisial sebagai lembaga pengawas perilaku hakim dipergunakan atau membiarkan dirinya dipakai oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengganggu kemerdekaan hakim. antara lain sebagai berikut: 1. keluhuran martabat dan perilaku para hakim diseluruh Indonesia yang berjumlah lebih dari 6. Komisi Yudisial tidak boleh menjadikan dirinya alat politik bagi lembaga legislatif. Namun demikian tidak berarti dengan menjadi external auditor Komisi Yudisial menjadi lawan atau musuh para hakim. Bagi Mahkamah Agung. Mengenai independensi Komisi Yudisial terhadap pihak lain (yang mempunyai kepentingan tertentu). Komisi Yudisial adalah mitra bagi Mahkamah Agung dalam menjaga dan menegakkan kehormatan. eksistensi hakim dan lembaga kekuasaan kehakiman terletak antara lain pada independensi dan imparsialitasnya.tertentu.

5. Pokok-Pokok Pikiran Perubahan Undang-Undang KY Di bawah ini akan diuraikan pokok-pokok pikiran yang dapat memperkaya pemahaman dalam perubahan Undangundang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. keluhuran martabat. 9. serta perilaku hakim? Siapa yang menetapkan dan menegakkan kode etik dan perilaku hakim? Apa saja ruang lingkup pengawasan terhadap hakim? Bagaimana pelaksanaan pengawasan terhadap hakim yang tidak bertentangan dengan prinsip independensi peradilan? Bagaimana penerapan prinsip akuntabilitas dan transparansi dalam pengawasan terhadap hakim? Apa pengertian dan ruang lingkup “perilaku hakim”? Apakah perilaku tersebut mencakup baik di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan? Apa yang dijadikan pedoman dalam melakukan pengawasan atas perilaku hakim? 3. Apakah pengawasan terhadap perilaku hakim dapat dilakukan dengan cara mengkaji putusan Pengadilan? 11. Apakah kewenangan melakukan pengawasan terhadap hakim. Apakah arti kewenangan Komisi Yudisial dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. yang sedikit banyak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagaimana tersebut di atas. baik oleh Mahkamah Agung maupun oleh Komisi Yudisial. 10. 6. Bagaimana seharusnya hubungan antara Mahkamah Agung dengan Komisi Yudisial? 13. Namun saya menyadari hal ini Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 229 . 4. Siapa yang melakukan pengawasan terhadap (perilaku anggota) Komisi Yudisial? D. berarti kewenangan untuk menjatuhkan sanksi? 12. 7. keluhuran martabat. 8. serta perilaku hakim? Bagaimana pelaksanaan wewenang Komisi Yudisial dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan.tusi yang menjadi obyek pengawasan Komisi Yudisial? 2.

Dalam UU MK.mungkin belum terlalu komprehensif dan tentunya terus akan dilakukannya pengayaan kajian dan pemutakhiran. sudah dapat dipahami bahwa ketentuan mengenai Komisi Yudisial pada Pasal 24B UUD 1945 itu memang tidak dimaksudkan untuk mencakup pula objek perilaku hakim konstitusi sebagaimana diatur dalam Pasal 24C UUD 1945. untuk fungsi pengawasan terhadap perilaku Hakim Konstitusi ditentukan adanya lembaga Majelis Kehormatan yang diatur secara tersendiri dalam Pasal 23 UU 230 Bunga Rampai . Hal ini dapat dipastikan dengan bukti risalah-risalah rapat-rapat Panitia Ad Hoc I Badan Pekerja MPR maupun dari keterangan para mantan anggota Panitia Ad Hoc tersebut dalam persidangan bahwa perumusan ketentuan mengenai KY dalam Pasal 24B UUD 1945 memang tidak pernah dimaksudkan untuk mencakup pengertian hakim konstitusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24C UUD 1945. 1 Siapakah yang dimaksud dengan “hakim” dalam konstitusi yang menjadi obyek pengawasan Komisi Yudisial? Sementara ini saya sependapat dengan apa yang diputus oleh Mahkamah Konstitusi bahwa hakim konstitusi tidak termasuk obyek pengawasan Komisi Yudisial. Hal ini didasari pada pemikiran: Jika ditinjau secara sistematis dan dari penafsiran berdasarkan “original intent” perumusan ketentuan UUD 1945. Adapun Hakim Agung dan hakim pada badan peradilan disemua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung merupakan obyek pengawasan Komisi Yudisial. ketentuan mengenai KY dalam Pasal 24B UUD 1945 memang tidak berkaitan dengan ketentuan mengenai MK yang diatur dalam Pasal 24C UUD 1945. Dari sistimatika penempatan ketentuan mengenai Komisi Yudisial sesudah pasal yang mengatur tentang Mahkamah Agung yaitu Pasal 24A dan sebelum pasal yang mengatur tentang Mahkamah Konstitusi yaitu Pasal 24C. Hal tidak tercakupnya pengertian perilaku hakim konstitusi dalam apa yang dimaksud dengan perilaku hakim menurut Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 tersebut juga terdapat dalam ketentuan UU MK dan UU KK yang dibentuk sebelum pembentukan UU KY. berdasarkan masukan dan pemikiran dari semua pihak.

maka kewenangan Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga pemutus sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara menjadi terganggu dan terjebak ke dalam anggapan sebagai pihak yang tidak dapat bersikap imparsial. Dengan demikian. Padahal. dibentuknya Mahkamah Konstitusi berdasarkan UUD 1945 adalah dalam rangka menjamin agar UUD 1945 dilaksanakan dengan sebaikbaiknya.M.. melainkan hakim karena jabatannya. Hakim Konstitusi hanya diangkat untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan setelah tidak lagi menduduki jabatan Hakim Konstitusi. berbeda halnya dengan hakim biasa. Selain itu.. Hakim Konstitusi pada dasarnya bukanlah hakim sebagai profesi tetap. Dr. salah satu kewenangan yang diberikan kepada Mahkamah Konstitusi sebagaimana dimaksud oleh Pasal 24C ayat (1) UUD 1945. Oleh karena itu. bahwa Hakim Agung. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 231 . Mahfud M.MK.H. S.D. Dalam keseluruhan mekanisme pemilihan dan pengangkatan para Hakim Konstitusi yang diatur dalam UUD 1945 juga tidak terdapat keterlibatan peran KY sama sekali. ketentuan yang memperluas pengertian perilaku hakim dalam Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 mencakup perilaku Hakim Konstitusi dapat mengebiri kewenangan dan menghalang-halangi pemenuhan tanggungjawab Mahkamah Konstitusi dalam menjaga konstitusionalitas mekanisme hubungan antarlembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945. Berkaitan dengan Hakim Agung. menurut Prof. baik dari segi legal policy pembuat UU maupun dari segi constitutional morality.D. adalah untuk memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945. LL.. S. Demikian pula Pasal 34 ayat (3) UU KK sama sekali tidak menentukan bahwa Hakim Konstitusi menjadi objek pengawasan oleh KY. Ph.. termasuk dalam konteks hubungan-hubungan konstitusional antarlembaga negara. khususnya apabila dalam praktik timbul persengketaan kewenangan antara KY dengan lembaga lain. Dengan menjadikan Hakim Konstitusi sebagai objek pengawasan oleh KY. yang bersangkutan masing-masing kembali lagi kepada status profesinya yang semula.H. dan Denny Indrayana.

adalah sesuatu yang ideal jika hakim agung memiliki integritas dan kualitas yang sedemikian rupa sesuai dengan Pasal 24A ayat (2) UUD 1945. Jika dimaksudkan karena MA sebagai pengawas tertinggi peradilan maupun tingkah laku dan perbuatan hakim. kontekstual. tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak menjadikan Hakim Agung termasuk ke dalam objek pengawasan. teleologis. Oleh karena itu. Akan menjadi ganjil untuk menafsirkan bahwa Hakim Agung tidak masuk dalam kategori Hakim dan karena posisinya yang berada di puncak hierarki peradilan lalu menjadi tidak tunduk pada pengawasan. seseorang yang pada saat diangkat sebagai Hakim Agung memiliki integritas yang tinggi. Dari segi kewenangan pengawasan apakah hakim agung itu diawasi. tidak cukup beralasan untuk mengecualikan hakim agung. tetapi bukan berarti hakim agung terbebas dari pengawasan dalam rangka mendukung terciptanya 232 Bunga Rampai . pengertian umum. sesuai dengan prinsip akuntabilitas. tidak pernah dipersoalkan. dan kategoris dilakukan. akan menghasilkan Hakim Agung yang juga mempunyai martabat dan perilaku yang tidak tercela sehingga secara moral memiliki legitimasi untuk tidak diawasi lagi dan bahkan menjadi pengawas hakim di bawahnya. Bagaimanapun tafsiran secara tekstual. Jika kewenangan KY untuk mengusulkan Hakim Agung yang berkualitas dengan integritas yang tinggi dan perilaku tidak tercela. Di samping itu. Prinsip persamaan di depan hukum (equality before the law) dan non-diskriminasi tidak mendukung pendirian tersebut. dan terutama prinsip konstitusi itu sendiri. Independensi harus berjalan seiring dengan akuntabilitas. Secara universal hal demikian telah menjadi norma. maka penafsiran apakah hal itu bertentangan dengan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 bukanlah hanya dari teks maupun konteksnya secara gramatikal melainkan juga dari konteks sosial yang lebih luas.termasuk pengertian hakim yang menjadi objek pengawasan KY. dalam perjalanan karier selanjutnya bisa saja berubah. demikian pula Hakim Agung tidak selalu berasal dari hakim. faktanya Hakim Agung sendiri merupakan anggota Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI) dan bahwa hakim agung adalah hakim. Tambahan pula. Hakim Agung adalah Hakim. serta ketentuan yang mengaturnya berbeda.

Sehingga.peradilan yang bersih dan berwibawa bagi terwujudnya rule of law. untuk menilai putusan hakim melalui kegiatan ilmiah dalam forum atau media ilmiah. keluhuran martabat. 2. serta perilaku yang baik. juga memiliki wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. 3. serta perilaku hakim. Norma pengawasan yang berlaku universal di semua sistem hukum yang dikenal di dunia terhadap putusan pengadilan adalah bahwa putusan pengadilan tidak boleh dinilai oleh lembaga lain kecuali melalui proses upaya hukum (rechtsmidellen) sesuai dengan hukum acara. Hakim dimaksud adalah dalam pengertian sebagai individu di luar maupun di dalam kedinasan. seperti seminar. Prinsip sebagaimana diuraikan di atas tidak mengurangi hak warga negara. keluhuran martabat. ulasan dalam jurnal hukum (law review). khususnya para ahli hukum. Kewenangan tersebut. Berkaitan dengan Kewenangan Komisi Yudisial dapat diinternalisasi pemikiran-pemikiran sebagai berikut: Berdasarkan ketentuan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 dinyatakan bahwa Komisi Yudisial bersifat mandiri. Penilaian terhadap putusan hakim yang dimaksudkan sebagai pengawasan di luar mekanisme hukum acara yang tersedia adalah bertentangan dengan prinsip res judicata pro veritate habetur yang berarti apa yang telah diputus oleh hakim harus dianggap sebagai benar (de inhoud van het vonnis geld als waard). mempunyai kewenangan pokok mengusulkan pengangkatan Hakim Agung. agar hakim memiliki kehormatan. Dalam UU Komisi Yudisial yang di-judicial review kemarin memang penjabaran konsep pengawasan menimPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 233 . melainkan terhadap individu fungsionaris hakim. atau kegiatan ilmiah lainnya. walaupun dalam batas-batas tertentu dapat diartikan sebagai pengawasan. apabila suatu putusan hakim dianggap mengandung sesuatu kekeliruan maka pengawasan yang dilakukan dengan cara penilaian atau pun koreksi terhadap hal itu harus melalui upaya hukum (rechtsmidellen) menurut ketentuan hukum acara yang berlaku. bukanlah kewenangan untuk melakukan pengawasan terhadap lembaga peradilan dan teknis justisial.

dan perilaku hakim. 234 . terutama yang menyangkut kaidah-kaidah materiilnya.. Karena Komisi Yudisial bukan merupakan pelaksana kekuasaan kehakiman. dan dengan demikian dapat dihindari adanya kerancuan.. dan perilaku hakim. melainkan hanya meliputi penegakan kehormatan dan keluhuran martabat serta perilaku hakim. dan yudikatif). keluhuran martabat. Dalam ketentuan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 ditegaskan bahwa “Komisi Yudisial bersifat mandiri. baik oleh pihak yang mengawasi maupun yang diawasi. akan menimbulkan kerancuan dan lebih jauh akan menimbulkan ketidakpastian hukum yang dapat berimplikasi lumpuhnya sistem peradilan. melainkan hanya sebagai supporting organ.. keluhuran martabat. sehingga terdapat batasan yang jelas yang dapat dijadikan pegangan yang pasti. yang secara tegas tidak berwenang melakukan pengawasan yang menyangkut hal-hal yang bersifat teknis yustisial dan teknis administratif.” dan dalam Pasal 2 UU Komisi Yudisial diartikan bahwa Komisi Yudisial dalam pelaksanaan wewenangnya bebas dari campur tangan atau pengaruh kekuasaan lain.bulkan ketidakpastian karena yang seharusnya menjadi objek dari ”wewenang lain” Komisi Yudisial menurut Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 adalah pelaksanaan kode etik dan kode perilaku hakim dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Hal ini harus dimaknai sebagai kemandirian kelembagaan dalam mengambil keputusan. keluhuran martabat. Berkaitan dengan hubungan antara Komisi Yudisial dan Mahkamah Agung bukan merupakan hubungan dalam konsepsi checks and balances seperti layaknya hubungan antar cabang-cabang kekuasaan negara (eksekutif. termasuk kepastian siapa yang membuat kode etik dan perilaku dimaksud. bukan kemandirian yang Bunga Rampai 5. Untuk itu dalam Perubahan UU Komisi Yudisial akan dirumuskan ukuran untuk menilai kehormatan. dan terutama perilaku hakim. legislatif. Untuk itu dalam konsep perubahan UU KY seharusnya dijelaskan norma yang mengatur tentang pengertian dan ruang lingkup perilaku hakim. Ketiadaan rumusan yang jelas tentang kehormatan. 4.

Etik berkenaan dengan harapan atau cita-cita. dalam hubungan dengan permohonan a quo. Sehingga tidak salah jika ada hubungan kerjasama yang baik dalam menjaga dan menegakkan kehormatan. atau dengan kata lain terdapat campur tangan dari pihak luar atau kekuasaan lain. Artinya. Etik berbeda dari perilaku yang dilarang. kemandirian Komisi Yudisial harus dimaknai sebagai kebebasan dari campur tangan dan pengaruh kekuasaan lain dalam pengambilan keputusan dalam pelaksanaan wewenang pengusulan calon hakim agung maupun dalam rangka pelaksanaan wewenang lain menurut UUD 1945. keluhuran martabat serta perilaku hakim antara Komisi Yudisial dengan Mahkamah Agung. Code of conduct akan mengingatkan Hakim mengenai perilaku apa yang dilarang dan bahwa tiap pelanggaran code of conduct mungkin akan menimbulkan sanksi. Secara umum. keluhuran martabat. hanya karena alasan bahwa pengambilan keputusan didasarkan pada fakta-fakta yang diperoleh melalui kerjasama atau koordinasi dengan pelaku kekuasaan kehakiman sendiri (dalam hal ini adalah Mahkamah Agung). Etik adalah tujuan ideal yang dicoba untuk dicapai yaitu untuk sedapat mungkin menjadi hakim yang terbaik. Code of conduct merupakan satu standar. dikatakan bahwa suatu code of conduct menetapkan tingkah laku atau perilaku hakim yang bagaimana yang tidak dapat diterima dan mana yang dapat diterima. Oleh karena itu. berarti merujuk pada Kode Etik Hakim Indonesia. Komisi Yudisial tidak dapat dikatakan tidak mandiri.bersifat perorangan anggota Komisi Yudisial. apakah ada perbedaan antara kode etik dan kode perilaku. Kewenangan Komisi Yudisial dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. serta perilaku hakim harus merujuk kepada code of ethics dan/atau code of conduct. Tetapi ada pertimbangan-pertimbangan etik yang mendorong tercapainya cita-cita atau harapan tersebut. akan dimungkinkan bagi hakim maupun masyarakat untuk Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 235 . Tetapi perlu terlebih dahulu dijawab pertanyaan. Setiap hakim harus mengetahui bahwa ia tidak dapat berperilaku di bawah standar yang ditetapkan. Dengan suatu code of conduct. Dengan demikian. 6.

7. maka untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi. Kode etik itu dalam lingkungan profesi dibuat dan disahkan oleh organisasi profesi itu sendiri. tetapi oleh beberapa macam norma secara bersamaan. Meskipun benar bahwa code of conduct berbeda dari code of ethics. mungkin diinginkan untuk membentuk satu kode etik. c) memberikan jaminan peningkatan moralitas hakim dan kemandirian fungsional hakim. dan d) menumbuhkan kepercayaan masyarakat pada lembaga peradilan. maupun menegakkan rule of law. Tujuan adanya kode etik ini adalah: a) sebagai alat pembinaan dan pembentukan karakter hakim serta pengawasan tingkah laku hakim. Dari kode etik kemudian dirumuskan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh atau tidak layak dilakukan oleh hakim di dalam maupun di luar dinas. Jadi setelah dibentuk suatu code of conduct.dapat mengatakan bahwa mereka mengetahui apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan hakim. Penindakan atau pemberian sanksi atas pelanggaran Kode Etik dan 236 Bunga Rampai . bukan oleh Komisi Yudisial. b) sebagai sarana kontrol sosial. akan tetapi menurut pemahaman saya. di mana suatu perbuatan tercela dilarang baik oleh norma hukum. code of ethics merupakan sumber nilai dan moralitas yang akan membimbing hakim menjadi hakim yang baik. Seringkali suatu perbuatan diatur tidak hanya dengan satu macam norma. lebih efektif dalam melayani masyarakat. Langkah berikutnya adalah mengembangkan suatu kode etik yang akan memberi motivasi bagi hakim meningkat ke jenjang yang lebih tinggi. dan norma agama. bukan oleh lembaga lain. in casu oleh organisasi profesi hakim baik oleh Mahkamah Agung ataupun oleh IKAHI. lebih baik. norma etik. pencegah campur tangan ekstra judicial dan pencegahan timbulnya kesalahpahaman antar sesama anggota dengan masyarakat. menambah urgensi tentang perlunya pengaturan mengenai etik dan tingkah laku (ethics and conduct) hakim dan tata cara penjagaan dan penegakannya dalam suatu Kode Etik dan Tingkah Laku Hakim sebagai tolak ukur pengawasan. sebagaimana kemudian dijabarkan ke dalam code of conduct. Berlakunya norma secara bersamaan demikian.

juga dapat dilakukan oleh pihak di luar profesi. pemeriksaan. Namun mudah-mudahan dapat memberikan kontribusi dalam rangka pengayaan dan pendalaman materi untuk perubahan Undang-undang Komisi Yudisial pada khususnya. Penutup Demikian pokok-pokok pikiran yang dapat saya sampaikan dalam melihat dan mencermati Perubahan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial yang saat ini sedang diagendakan pembahasannya oleh Badan Legislasi Dewan Perwakilan Republik Indonesia yang masuk dalam Program Legislasi Nasional Prioritas Tahun 2007. Pengawasan dapat dirinci dalam beberapa kegiatan. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 237 . penilaian. Sementara itu. melalui transparansi dan akuntabilitas. yang merupakan salah satu unsur dari profesionalisme. misalnya pemanggilan. E. pengawasan atas pelaksanaan Kode Etik dan Perilaku selain dapat dilakukan oleh organisasi profesi. Untuk itu saya sangat menyadari. namun lebih merupakan hasil telaahan dan pemikiran pribadi penulis. dan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak pada umumnya. yang berakhir dengan saran (rekomendasi) kepada organisasi profesi. dalam hal ini Mahkamah Agung.Perilaku juga dilakukan oleh organisasi profesi. mungkin tulisan ini belum begitu komprehensif. Hal ini dimaksudkan dalam rangka memenuhi tanggung jawab sosial (social responsibility). Namun perlu saya sampaikan bahwa pokok-pokok pikiran ini bukan merupakan representasi pemikiran dan sikap Badan Legislasi DPR RI dalam arti kelembagaan.

238 Bunga Rampai .

konstitusi adalah aturan hukum yang menetapkan kerangka dasar dari suatu negara dan mengatur tentang susunan pemerintahan. Jika K. W. Hal ini dapat disimak dari beberapa pendapat pakar yang secara tepat melahirkan beberapa perspektif penting tentang fungsi konstitusi. Selain itu. maka sebenarnya UUD 1945 sebagai konstitusi (hukum dasar) telah mengatur halhal penting mengenai semua lembaga negara khususnya tentang kewenangannya. Dari berbagai perspektif itu. Yang sulit adalah ketika tulisan itu dikaitkan dengan suatu masalah hukum dan politik yang dialami oleh satu atau beberapa lembaga negara. C. Wheare menjelaskan. Dijelaskan kemudian. S. dan James Bryce menyatakan. sebab pada dasarnya UUD 1945 (konstitusi) telah menggariskan tugas-tugas pokok semua lembaga negara.Gerak dan Langkah Nyata Komisi Yudisial Dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi John Pieris Sebuah tulisan yang bersifat kajian kritis mengenai suatu lembaga negara yang terkait dengan UUD 1945 sebenarnya tidak terlalu sulit. konstitusi berfungsi mengawasi pelaksanaan pemerintahan (pengawasan konstitusional). hukum konstitusi merupakan basis atau landasan dari sistem hukum negara yang bersangkutan. bahwa konstitusi berfungsi menetapkan lembaga-lembaga negara dan mengatur fungsi dan batas haknya. serta Ivor Jenning mengemukakan. Couwenberg mengatakan. Yang menjadi Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 239 . konstitusi adalah semua asas hukum. aturan hukum dan lembaga-lembaga yang berhubungan dengan susunan dan arah perkembangan kehidupan bersama yang terorganisasikan secara kenegaraan.

Seperti yang dikatakan Lunshof (1989:7). Carl J. dengan segala keterbatasannya. Hal itu diperlukan sebagai jaminan bahwa kekuasaan yang diperlukan untuk pemerintahan tersebut tidak disalahgunakan oleh mereka yang mendapat tugas untuk memerintah.soal adalah. pemberian wewenang kepada pemerintah. Sejalan dengan itu. Menyimak judul tulisan yang diminta oleh KY kepada penulis. yang tunduk pada pembatasan konstitusional. Mahkamah Agung (MA) dan Mahkamah Konstitusi (MK). Terlepas dari asumsi demikian. konstitusionalisme adalah sebuah gagasan yang menganggap pemerintah sebagai suatu kumpulan aktivitas yang diselenggarakan atas nama rakyat. di satu pihak UUD 1945 telah menggariskan kewenangan KY 240 Bunga Rampai . sebab sekali pun pemerintah mendapat mandat dari rakyat dan bertindak atas nama rakyat. yaitu Gerak dan Langkah Nyata KY dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi. sebaiknya pemerintah itu juga harus tunduk pada pembatasan konstitusional. Friedrich (1967) menjelaskan. Pertama. Itulah faham legalisme dan konstitusionalisme yang dianut sampai sekarang. apa yang diamanatkan oleh konstitusi. Mungkin juga konstitusi tidak secara jelas merumuskan ketentuan mengenai kewenangan sebuah lembaga negara. asas legalitas adalah asas yang dipakai untuk menjamin asas-asas lainnya. sebenarnya telah mengatur fungsi-fungsi serta pembatasan kekuasan dari semua lembaga negara. walaupun ketentuan tersebut dianggap tidak sempurna. Juga dikatakannya. Jika berpegang pada asas legalitas dan gagasan konstitusionalitas. adanya pengawasan pengadilan terhadap pelaksanaan kekuasaan yang dijalankan oleh pemerintah. antara lain asas pembatasan kekuasaan pemerintah dan hak-hak asasi. belum tentu dapat dilaksanakan dengan baik. semua ketentuan yang telah dirumuskan di dalam UUD 1945 harus dijalankan. dan perlindungan hukum terhadap yang berkuasa. agar terhindar dari penyalahgunaan kekuasaan. UUD 1945 sebagai konstitusi tertulis (written constitution) atau sebagai hukum yang tertinggi (Grundgesetz) yang kekuatan mengikatnya melebihi undang-undang biasa. khususnya Komisi Yudisial (KY). Pandangan Friedrich cukup menarik. terkesan ada tiga hal krusial yang menonjol. maka tidak dapat dihindari.

yang berbunyi. terutama mengenai pengawasan hakim agung oleh KY telah membuktikan. Ketidaksetujuan dan penolakan MA atas beberapa ketentuan. Pasal 20. Ketiga. “Dalam melaksanakan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b Komisi Yudisial mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim dalam rangka menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim”. ternyata MK telah memutuskan. tanggal 23 Agustus 2006. dan Mahkamah Konstitusi telah memutus permohonan tersebut dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 005/PUUIV/2006 yang diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi yang terbuka untuk umum pada hari Rabu. tentunya dengan segala resiko (perlawanan) yang dihadapi untuk mengemban amanat UUD 1945. Hal inilah yang melatarbelakangi diajukannya permohonan Penguijian UndangUndang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial dan Pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ke Mahkamah Konstitusi. Seperti diketahui. MK berpendapat seperti itu karena. pihak KY tetap bergerak mengayunkan langkah nyata. Kedua. bahwa kewenangan yang dimiliki KY untuk mengawasi hakim-hakim.walaupun ketentuan yang mengatur kewenangan KY untuk mengawasi semua hakim (di MA dan MK) tidak maksimal. Mahkamah Konstitusi telah memutuskan: Menyatakan permohonan para Pemohon dikabulkan untuk sebagian: Menyatakan: Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata “hakim Mahkamah Konstitusi”. tidak termasuk mengawasi hakim MK. bahwa terjadi pertentangan dan perbedaan signifikan antara norma hukum pengawasan hakim agung antara KY dengan MA. pengawasan terhadap hakim MK tidak diamanatkan oleh UUD 1945 (Pasal 24B ayat (1)). Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 241 . dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 005/PUU-IV/2006 tersebut.

Komisi Yudisial bertugas mengajukan usul penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada pimpinan Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi”. dan Pasal 25 ayat (4). yang berbunyi. “Dalam hal pembelaan diri ditolak. yang berbunyi. yang berbunyi. membuat laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi dan disampaikan kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi. “Untuk kepentingan pelaksanaan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b. yang berbunyi. yang berbunyi. bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. yang berbunyi. sepanjang mengenai kata-kata “dan/atau Mahkamah Konstitusi”. Komisi Yudisial: e. Pasal 24 ayat (1). Pasal 34 ayat (3). “Dalam rangka menjaga Bunga Rampai - - - - - - - 242 . Pasal 22 ayat (1) huruf e. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4415). Pasal 22 ayat (5). Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi wajib memberikan penetapan berupa paksaan kepada badan peradilan atau hakim untuk memberikan keterangan atau data yang diminta”. Pasal 25 ayat (3). “Dalam melaksanakan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20. Pasal 23 ayat (3).- Pasal 21. “Dalam hal badan peradilan atau hakim tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (4). “Usul penjatuhan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c diserahkan oleh Komisi Yudisial kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi”. Pasal 23 ayat (5). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 89. usul pemberhentian hakim diajukan oleh Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi kepada Presiden paling lambat 14 (empat belas) hari sejak pembelaan diri ditolak oleh Majelis Kehormatan Hakim”. serta tindasannya disampaikan kepada Presiden dan DPR”.

Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8. 22 ayat (5). tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. - Amar putusan tersebut di atas didasarkan pada pertimbangan. keluhuran martabat serta perilaku hakim agung dan hakim. Hal tidak tercakupnya pengertian perilaku hakim konstitusi dalam apa yang dimaksud dengan perilaku hakim menurut Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 tersebut juga terdapat dalam ketentuan UUMK dan UUKK yang dibentuk sebelum Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 243 . sebagai berikut. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4415). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358). Menyatakan: Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata “hakim Mahkamah Konstitusi”. dengan pertimbangan: Bahwa apabila ditinjau secara sistematis dan dari penafsiran berdasarkan “original intent” perumusan ketentuan UUD 1945. Pasal 25 ayat (3). 21. Undang-Undang Republik Indonesia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 89. dan Pasal 25 ayat (4). Pasal 20. 23 ayat (3). Mahkamah Konstitusi dalam Putusannya menyatakan bahwa Hakim Konstitusi tidak diawasi oleh Komisi Yudisial. antara lain. 23 ayat (5). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358). pengawasan dilakukan oleh Komisi Yudisial yang diatur dalam undang-undang”. ketentuan mengenai KY dalam Pasal 24B UUD 1945 memang tidak berkaitan dengan ketentuan mengenai MK yang diatur dalam Pasal 24C UUD 1945. 23 ayat (2). 22 ayat (1) huruf e. UndangUndang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8.kehormatan. sepanjang mengenai kata-kata “dan/atau Mahkamah Konstitusi”. Pasal 24 ayat (1). tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

maka tidak akan terjadi konflik antara KY dan MA. maka diperlukan keterpaduan (integrasi) dalam merumuskan norma-norma hukum yang sama pada beberapa undang-undang yang saling terkait. Hakim Konstitusi hanya diangkat untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan setelah tidak lagi menduduki jabatan Hakim Konstitusi. MK. maka proses penegakan hukum secara terpadu (integrated law enforcement process) mengenai pengawasan terhadap perilaku hakim-hakim juga akan terlaksana dengan baik. Atau. 244 Bunga Rampai . Hakim Konstitusi pada dasarnya bukanlah hakim sebagai profesi tetap. Dalam keseluruhan mekanisme pemilihan dan pengangkatan para Hakim Konstitusi yang diatur dalam UUD 1945 juga tidak terdapat keterlibatan peran KY sama sekali. berbeda halnya dengan hakim biasa. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi dan UU No. maka konflik (pertentangan) antara MK dan KY tidak perlu terjadi. yang bersangkutan masing-masing kembali lagi kepada status profesinya yang semula. Tidak berlebihan jika dikatakan. MA dan KY mengenai pengawasan terhadap hakim-hakim pada semua lingkungan dan strata lembaga peradilan. 24 Tahun 2003.pembentukan UUKY. Dengan begitu. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. melainkan hakim karena jabatannya. Selain itu. Sebagai misal. Itulah sebabnya. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman tidak begitu cermat merumuskan norma-norma hukum yang terkait secara tepat tentang pengawasan hakim. DPR dan Presiden sebagai pembentuk UU No. jika ada ketentuan pengawasan hakim agung dan hakim-hakim lain di dalam lingkungan kekuasaan kehakiman yang diatur secara jelas di dalam UU No. untuk fungsi pengawasan terhadap perilaku Hakim Konstitusi ditentukan adanya lembaga Majelis Kehormatan yang diatur secara tersendiri dalam Pasal 23 UUMK. misalnya keterpaduan di dalam pembuatan UU tentang KK. sekiranya kalau ada pasal khusus di dalam UU No. serta UU No. Demikian pula Pasal 34 ayat (3) UU Kekuasaan Kehakiman sama sekali tidak menentukan bahwa Hakim Konstitusi menjadi objek pengawasan oleh KY. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. yang mengatur pengawasan tentang Hakim Konstitusi. Karena itu Indonesia memang harus memiliki sebuah sistem pembuatan hukum terpadu (integrated law making system). Dalam UUMK.

Dapat diduga. Hakim dan hukum lalu berpihak secara ekstrim dan arogan kepada kaum bor- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 245 .Pengawasan hakim sebagaimana dirumuskan di dalam Pasal 32 UU No. jika hakim agung diawasi oleh institusi di mana ia berada di dalamnya. Banyak hakim (tidak semua) memihak kepada merekamereka yang berkedudukan penting atau orang-orang yang memiliki uang dalam jumlah yang besar. bukan rahasia lagi. adalah untuk menjaga dan menegakkan kehormatan. keluhuran martabat serta perilaku hakim. khususnya peradilan umum yang selama ini tidak menjalankan fungsinya secara benar. pengawasan internal tidak bisa diharapkan mampu membongkar mafia peradilan selama ini. sementara terpidana dari kelas bawah tidak dihargai hak asasinya. sebab. karena budaya korupsi dan penyelewengan atau perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad) sudah sangat sulit diperbaiki. Mentalitas birokrasi pemerintah dan lembaga-lembaga negara yang lain juga sulit melakukan pengawaan internal. tidak bisa disangkal. Penjahat-penjahat korporasi dan ekonomi yang merampok uang negara acap kali dilindungi dan diberikan perlakuan khusus. PT dan MA. manipulasi penyalahgunaan jabatan yang merugikan negara dan rakyat. Agak sulit memang. banyak mendatangkan ketidakadilan bagi pencari keadilan (justice seekers). Mekanisme upaya hukum (rechtsmiddlen) terkendala oleh perilakuperilaku hakim yang tidak cukup memiliki kemampuan etik. salah satu faktor rendahnya mentalitas dan moralitas hakim karena para hakim terbebas dari pengawasan yang efektif. Dengan kata lain. Haruslah dipahami. korupsi. atau tidak memiliki akhlak mulia untuk mewujudkan keadilan bagi masyarakat. lemahnya pengawasan terhadap hakim dapat mendorong hakim bisa berbuat apapun. 14 Tahun 1985 sesungguhnya adalah pengawasan yang bersifat internal. sekalipun pihakpihak itu terbukti melakukan perbuatan melawan hukum. moral dan spiritual. bahwa alasan pembentukan KY di dalam UUD 1945. Banyak kasus (perkara) yang ditangani hakim PN. Ini merupakan sebuah upaya mendesak dan sistematik untuk mereformasi kekuasaan peradilan. Artinya hakim agung diawasi oleh lembaga MA. Karena itu kejahatan yudisial sulit dihindari. apalagi yang menguntungkan dirinya.

seorang ilmuwan politik Amerika Serikat yang menulis “Bureaucratic Polity” tentang Indonesia berpendapat. Prinsip res judicate pra veritate habetur (apa yang telah diputuskan oleh hakim harus dianggap sebagai benar) yang dipegang para hakim cukup berbahaya. baik secara internal. perlu ada sebuah mekanisme untuk mengawasi hakim seperti itu. karena dipastikan tidak akan efektif. bahwa kekuasaan cenderung terpusat di tangan seseorang atau sekelompok orang. Bahkan ada wacana dari Bagir Manan sebagai Ketua MA. mungkin ada sedikit harapan. Ini merupakan sebuah indikasi. UU No. Kalau ada pilihan di antara kedua jenis pengawasan itu. jika kekuasaan yang dipegang dan dikendalikan oleh seorang atau sekelompok orang dalam tubuh birokrasi di Indonesia memang sulit diawasi. Karl Jackson. sulit juga diawasi oleh Komisi Yudisial. bahwa MA tidak mau diawasi oleh lembaga negara apa- 246 Bunga Rampai . Seperti apa yang dikatakan Benedict Anderson. Tidak bisa diharapkan. “bukan masalah bagaimana menggunakan kekuasaan. hanya pengawasan internal oleh MA. Maka berdasarkan teori tersebut tidak dapat dielakkan. bahwa Ketua MA dapat merangkap menjadi Ketua KY. sebab prinsip ini berpotensi melindungi kesalahan hakim dan ada alasan menolak untuk diawasi. yang sulit diawasi dari luar (eksekutif dan legislatif). 14 Tahun 1985 tentang MA melegitimasi kekuasaan MA sebagai kekuasaan terpusat dan personal. karena kolusi juga bisa terjadi antar hakim dengan pimpinan MA. Keberpihakan hukum bisa saja dilakukan dengan cara menyalahi teknis yudisial dan administratif yang menguntungkan orang-orang tertentu dan merugikan pihak lain yang tidak berdaya. Karena itu. Hampir sama dengan Anderson. dan ini sangat sulit diawasi. Kesulitannya adalah. bahwa kekuasaan eksternal bisa diandalkan untuk mengawasi birokrasi. Sistem politik birokratik telah merasuk jauh menusuk sampai ke pusat-pusat kekuasaan (termasuk yudikatif). terutama pada lembaga-lembaga peradilan. Dengan begitu agak sulit untuk mengawasi birokrasi kekuasaan kehakiman.juasi dan mencampakkan rakyat kecil yang miskin. tapi bagaimana menghimpunnya”. bahwa sistem politik birokratik terpusat pada mereka yang memegang kekuasaan negara sebagai majikan. maupun eksternal. Tulisnya lebih lanjut.

pun. Masalahnya sebenarnya tidak terlalu pelik, jika Pasal 24B UUD 1945 dapat diamandemen agar KY bisa mengawasi perilaku hakim pada semua lingkungan peradilan. Tidak bisa dihindari, bahwa ada masalah-masalah teknis yudisial dan administratif yang dapat merugikan pencari keadilan. Jika ada kesalahan substansial dan mungkin prosedural yang dirancang secara sistematis oleh seorang hakim, maka dapat disimpulkan, hakim tersebut tidak memiliki perilaku yang terpuji. Hakim tersebut tidak boleh tidak, harus diperiksa. Jadi sebenarnya tidak salah seluruhnya jika KY dapat masuk pada hal-hal yang bersifat teknis administratif dalam memeriksa hakim. Jika ada komitmen seperti itu, mengapa tidak dicoba untuk dibuat norma hukumnya? Bukankah teori, sistem dan doktrin hukum bisa berubah atau diubah untuk bisa merakit sebuah kebenaran dalam mewujudkan keadilan yang sejati, supaya hakim-hakim bisa menjadi Law Prophets. Untuk itu dapat dibenarkan dan sebaiknya demikian, KY harus mengusulkan amandemen terhadap Pasal 24B UUD 1945. Usul perubahan dari KY sebaiknya menyangkut tidak saja pengangkatan hakim agung, tetapi juga mengusulkan pemberhentian hakim agung. Hal (kewenangan) yang sama juga harus dilakukan terhadap pengangkatan dan pemberhentian hakim konstitusi. Artinya adalah, bahwa kewenangan KY itu harus dilihat dalam perspektif penguatan wibawa lembaga peradilan atau perwujudan supremasi kekuasaan kehakiman. Selain itu, perlu diperluas struktur organisasi KY sampai ke daerah-daerah, agar KY daerah dapat menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim pengadilan negeri dan pengadilan tinggi. Ini tidak bertentangan dengan UUD 1945, sebab sesuai dengan Pasal 24B ayat (4), dijelaskan, bahwa susunan, kedudukan, dan keanggotaan KY diatur dengan undang-undang. Jadi undang-undang tentang KY yang baru harus mengatur hal ini. KY juga harus diberikan peran untuk mengawasi panitera-panitera pada semua jenjang organisasi kekuasaan kehakiman. Hal ini penting, sebab bukan rahasia lagi, mafia peradilan sulit diberantas, karena para panitera sering menjadi calo (broker) dan penagih uang dari pihak-pihak yang berperkara.

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

247

Sambil menunggu amandemen terhadap UUD 1945 dan revisi UU tentang KY, MK dan MA, gerak dan langkah nyata KY dalam mengemban amanat UUD 1945 pasca putusan MK harus lebih ditingkatkan lagi. Putusan MK tidak boleh membuat KY menyurutkan peran historisnya untuk menegakkan supremasi hukum, keadilan, kebenaran serta mewujudkan supremasi kekuasaan kehakiman di Indonesia. Pada saatnya nanti KY akan tampil sebagai sosok yang lebih berwibawa untuk menegakkan wibawa negara hukum yang berkarakter.

Penulis adalah Dosen dan Ketua Program Pascasarjana FH-UKI Mantan Anggota Komisi Konstitusi

248

Bunga Rampai

Gerak dan Langkah Nyata Komisi Yudisia Dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi
John Pieris

Sebuah tulisan yang bersifat kajian kritis mengenai suatu lembaga negara yang terkait dengan UUD 1945 sebenarnya tidak terlalu sulit, sebab pada dasarnya UUD 1945 (konstitusi) telah menggariskan tugas-tugas pokok semua lembaga negara. Hal ini dapat disimak dari beberapa pendapat pakar yang secara tepat melahirkan beberapa perspektif penting tentang fungsi konstitusi. Jika K. C. Wheare menjelaskan, konstitusi adalah aturan hukum yang menetapkan kerangka dasar dari suatu negara dan mengatur tentang susunan pemerintahan, dan James Bryce menyatakan, bahwa konstitusi berfungsi menetapkan lembaga-lembaga negara dan mengatur fungsi dan batas haknya, serta Ivor Jenning mengemukakan, konstitusi berfungsi mengawasi pelaksanaan pemerintahan (pengawasan konstitusional). Selain itu, S. W. Couwenberg mengatakan, konstitusi adalah semua asas hukum, aturan hukum dan lembaga-lembaga yang berhubungan dengan susunan dan arah perkembangan kehidupan bersama yang terorganisasikan secara kenegaraan. Dijelaskan kemudian, hukum konstitusi merupakan basis atau landasan dari sistem hukum negara yang bersangkutan.

Penulis adalah, Dosen dan Ketua Program Pascasarjana FH-UKI Mantan Anggota Komisi Konstitusi

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

249

Dari berbagai perspektif itu, maka sebenarnya UUD 1945 sebagai konstitusi (hukum dasar) telah mengatur halhal penting mengenai semua lembaga negara khususnya tentang kewenangannya. Yang sulit adalah ketika tulisan itu dikaitkan dengan suatu masalah hukum dan politik yang dialami oleh satu atau beberapa lembaga negara. Yang menjadi soal adalah, apa yang diamanatkan oleh konstitusi, belum tentu dapat dilaksanakan dengan baik. Mungkin juga konstitusi tidak secara jelas merumuskan ketentuan mengenai kewenangan sebuah lembaga negara. Terlepas dari asumsi demikian, UUD 1945 sebagai konstitusi tertulis (written constitution) atau sebagai hukum yang tertinggi (Grundgesetz) yang kekuatan mengikatnya melebihi undang-undang biasa, dengan segala keterbatasannya, sebenarnya telah mengatur fungsi-fungsi serta pembatasan kekuasan dari semua lembaga negara, khususnya Komisi Yudisial (KY), Mahkamah Agung (MA) dan Mahkamah Konstitusi (MK). Jika berpegang pada asas legalitas dan gagasan konstitusionalitas, maka tidak dapat dihindari, semua ketentuan yang telah dirumuskan di dalam UUD 1945 harus dijalankan, walaupun ketentuan tersebut dianggap tidak sempurna. Itulah faham legalisme dan konstitusionalisme yang dianut sampai sekarang. Seperti yang dikatakan Lunshof (1989:7), asas legalitas adalah asas yang dipakai untuk menjamin asas-asas lainnya, antara lain asas pembatasan kekuasaan pemerintah dan hak-hak asasi. Juga dikatakannya, adanya pengawasan pengadil-an terhadap pelaksanaan kekuasaan yang dijalankan oleh pemerintah, pemberian wewenang kepada pemerintah, dan perlindungan hukum terhadap yang berkuasa. Sejalan dengan itu, Carl J. Friedrich (1967) menjelaskan, konstitusionalisme adalah sebuah gagasan yang menganggap pemerintah sebagai suatu kumpulan aktivitas yang diselenggarakan atas nama rakyat, yang tunduk pada pembatasan konstitusional. Hal itu diperlukan sebagai jaminan bahwa kekuasaan yang diperlukan untuk pemerintahan tersebut tidak disalahgunakan oleh mereka yang mendapat tugas untuk memerintah. Pandangan Friedrich cukup menarik, sebab sekali pun pemerintah mendapat mandat dari rakyat dan bertindak atas nama rakyat, sebaiknya pemerintah itu juga harus tunduk pada pembatasan konstitusional,

250

Bunga Rampai

agar terhindar dari penyalahgunaan kekuasaan. Menyimak judul tulisan yang diminta oleh KY kepada penulis, yaitu Gerak dan Langkah Nyata KY dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi, terkesan ada tiga hal krusial yang menonjol. Pertama, di satu pihak UUD 1945 telah menggariskan kewenangan KY walaupun ketentuan yang mengatur kewenangan KY untuk mengawasi semua hakim (di MA dan MK) tidak maksimal. Kedua, pihak KY tetap bergerak mengayunkan langkah nyata, tentunya dengan segala resiko (perlawanan) yang dihadapi untuk mengemban amanat UUD 1945. Ketiga, ternyata MK telah memutuskan, bahwa kewenangan yang dimiliki KY untuk mengawasi hakim-hakim, tidak termasuk mengawasi hakim MK. MK berpendapat seperti itu karena, pengawasan terhadap hakim MK tidak diamanatkan oleh UUD 1945 (Pasal 24B ayat (1)). Ketidaksetujuan dan penolakan MA atas beberapa ketentuan, terutama mengenai pengawasan hakim agung oleh KY telah membuktikan, bahwa terjadi pertentangan dan perbedaan signifikan antara norma hukum pengawasan hakim agung antara KY dengan MA. Hal inilah yang melatarbelakangi diajukannya permohonan Penguijian UndangUndang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial dan Pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ke Mahkamah Konstitusi, dan Mahkamah Konstitusi telah memutus permohonan tersebut dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 005/PUUIV/2006 yang diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi yang terbuka untuk umum pada hari Rabu, tanggal 23 Agustus 2006. Seperti diketahui, dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 005/PUU-IV/2006 tersebut, Mahkamah Konstitusi telah memutuskan: Menyatakan permohonan para Pemohon dikabulkan untuk sebagian: Menyatakan : Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata “hakim Mahkamah Konstitusi”; Pasal 20, yang berbunyi, “Dalam melaksanakan wePenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

251

-

-

-

-

-

-

wenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b Komisi Yudisial mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim dalam rangka menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim”; Pasal 21, yang berbunyi, “Untuk kepentingan pelaksanaan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b, Komisi Yudisial bertugas mengajukan usul penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada pimpinan Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi”; Pasal 22 ayat (1) huruf e, yang berbunyi, “Dalam melaksanakan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20, Komisi Yudisial: e, membuat laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi dan disampaikan kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi, serta tindasannya disampaikan kepada Presiden dan DPR”; Pasal 22 ayat (5), yang berbunyi, “Dalam hal badan peradilan atau hakim tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (4), Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi wajib memberikan penetapan berupa paksaan kepada badan peradilan atau hakim untuk memberikan keterangan atau data yang diminta”; Pasal 23 ayat (3), yang berbunyi, “Usul penjatuhan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c diserahkan oleh Komisi Yudisial kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi”; Pasal 23 ayat (5), yang berbunyi, “Dalam hal pembelaan diri ditolak, usul pemberhentian hakim diajukan oleh Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi kepada Presiden paling lambat 14 (empat belas) hari sejak pembelaan diri ditolak oleh Majelis Kehormatan Hakim”; Pasal 24 ayat (1), Pasal 25 ayat (3), dan Pasal 25 ayat (4), sepanjang mengenai kata-kata “dan/atau Mahkamah Konstitusi”; Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 89. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4415), bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik IndoneBunga Rampai

252

Pasal 34 ayat (3). bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. antara lain. 22 ayat (1) huruf e. 22 ayat (5). 23 ayat (5). UndangUndang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8. sepanjang mengenai kata-kata “dan/atau Mahkamah Konstitusi”. tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. “Dalam rangka menjaga kehormatan. Pasal 25 ayat (3). dan Pasal 25 ayat (4). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4415). Pasal 24 ayat (1). Mahkamah Konstitusi dalam Putusannya menyatakan bahwa Hakim Konstitusi tidak diawasi oleh Komisi Yudisial. Amar putusan tersebut di atas didasarkan pada pertimbangan. 23 ayat (3). Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8. ketentuan mengenai KY dalam Pasal 24B UUD 1945 memang tidak berkaitan dengan ketentuan mengenai MK yang diatur dalam Pasal 24C UUD 1945. pengawasan dilakukan oleh Komisi Yudisial yang diatur dalam undang-undang”. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358). keluhuran martabat serta perilaku hakim agung dan hakim.- - - sia Tahun 1945. Undang-Undang Republik Indonesia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 89. sebagai berikut. 21. Hal tidak tercakupnya pengertian perilaku hakim konstitusi dalam apa yang dimaksud dengan perilaku hakim Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 253 . tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. 23 ayat (2). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358). yang berbunyi. dengan pertimbangan: Bahwa apabila ditinjau secara sistematis dan dari penafsiran berdasarkan “original intent” perumusan ketentuan UUD 1945. Pasal 20. Menyatakan: Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata “hakim Mahkamah Konstitusi”.

Tidak berlebihan jika dikatakan. serta UU No. Hakim Konstitusi pada dasarnya bukanlah hakim sebagai profesi tetap. 24 Tahun 2003. maka tidak akan terjadi konflik antara KY dan MA. berbeda halnya dengan hakim biasa. MK. melainkan hakim karena jabatannya. maka konflik (pertentangan) antara MK dan KY tidak perlu terjadi. Sebagai misal. Demikian pula Pasal 34 ayat (3) UU Kekuasaan Kehakiman sama sekali tidak menentukan bahwa Hakim Konstitusi menjadi objek pengawasan oleh KY. Karena itu Indonesia memang harus memiliki sebuah sistem pembuatan hukum terpadu (integrated law making system). jika ada ketentuan pengawasan hakim agung dan hakim-hakim lain di dalam lingkungan kekuasaan kehakiman yang diatur secara jelas di dalam UU No. DPR dan Presiden sebagai pembentuk UU No. Itulah sebabnya. Dalam UUMK. Dalam keseluruhan mekanisme pemilihan dan pengangkatan para Hakim Konstitusi yang diatur dalam UUD 1945 juga tidak terdapat keterlibatan peran KY sama sekali. untuk fungsi pengawasan terhadap perilaku Hakim Konstitusi ditentukan adanya lembaga Majelis Kehormatan yang diatur secara tersendiri dalam Pasal 23 UUMK. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi dan UU No. Selain itu. maka proses penegakan hukum secara ter- 254 Bunga Rampai . maka diperlukan keterpaduan (integrasi) dalam merumuskan norma-norma hukum yang sama pada beberapa undang-undang yang saling terkait. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman tidak begitu cermat merumuskan norma-norma hukum yang terkait secara tepat tentang pengawasan hakim. sekiranya kalau ada pasal khusus di dalam UU No.menurut Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 tersebut juga terdapat dalam ketentuan UUMK dan UUKK yang dibentuk sebelum pembentukan UUKY. misalnya keterpaduan di dalam pembuatan UU tentang KK. yang bersangkutan masing-masing kembali lagi kepada status profesinya yang semula. yang mengatur pengawasan tentang Hakim Konstitusi. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. MA dan KY mengenai pengawasan terhadap hakim-hakim pada semua lingkungan dan strata lembaga peradilan. Hakim Konstitusi hanya diangkat untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan setelah tidak lagi menduduki jabatan Hakim Konstitusi. Dengan begitu. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Atau.

pengawasan internal tidak bisa diharapkan mampu membongkar mafia peradilan selama ini. Mentalitas birokrasi pemerintah dan lembaga-lembaga negara yang lain juga sulit melakukan pengawaan internal. sekalipun pihakpihak itu terbukti melakukan perbuatan melawan hukum. jika hakim agung diawasi oleh institusi di mana ia berada di dalamnya. Banyak hakim (tidak semua) memihak kepada merekamereka yang berkedudukan penting atau orang-orang yang memiliki uang dalam jumlah yang besar. apalagi yang menguntungkan dirinya. khususnya peradilan umum yang selama ini tidak menjalankan fungsinya secara benar. salah satu faktor rendahnya mentalitas dan moralitas hakim karena para hakim terbebas dari pengawasan yang efektif. bukan rahasia lagi. sebab. banyak mendatangkan ketidakadilan bagi pencari keadilan (justice seekers). Agak sulit memang. manipulasi penyalahgunaan jabatan yang merugikan negara dan rakyat. lemahnya pengawasan terhadap hakim dapat mendorong hakim bisa berbuat apapun. Artinya hakim agung diawasi oleh lembaga MA. sementara terpidana dari Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 255 . atau tidak memiliki akhlak mulia untuk mewujudkan keadilan bagi masyarakat. moral dan spiritual. keluhuran martabat serta perilaku hakim. Dapat diduga. Mekanisme upaya hukum (rechtsmiddlen) terkendala oleh perilakuperilaku hakim yang tidak cukup memiliki kemampuan etik. Penjahat-penjahat korporasi dan ekonomi yang merampok uang negara acap kali dilindungi dan diberikan perlakuan khusus. Karena itu kejahatan yudisial sulit dihindari. PT dan MA.padu (integrated law enforcement process) mengenai pengawasan terhadap perilaku hakim-hakim juga akan terlaksana dengan baik. bahwa alasan pembentukan KY di dalam UUD 1945. korupsi. tidak bisa disangkal. karena budaya korupsi dan penyelewengan atau perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad) sudah sangat sulit diperbaiki. Dengan kata lain. 14 Tahun 1985 sesungguhnya adalah pengawasan yang bersifat internal. Banyak kasus (perkara) yang ditangani hakim PN. Pengawasan hakim sebagaimana dirumuskan di dalam Pasal 32 UU No. Ini merupakan sebuah upaya mendesak dan sistematik untuk mereformasi kekuasaan peradilan. Haruslah dipahami. adalah untuk menjaga dan menegakkan kehormatan.

Keberpihakan hukum bisa saja dilakukan dengan cara menyalahi teknis yudisial dan administratif yang menguntungkan orang-orang tertentu dan merugikan pihak lain yang tidak berdaya. Karena itu. jika kekuasaan yang dipegang dan dikendalikan oleh seorang atau sekelompok orang dalam tubuh birokrasi di Indonesia memang sulit diawasi. bahwa Ketua MA dapat 256 Bunga Rampai . “bukan masalah bagaimana menggunakan kekuasaan. Tidak bisa diharapkan. Kesulitannya adalah. Dengan begitu agak sulit untuk mengawasi birokrasi kekuasaan kehakiman. 14 Tahun 1985 tentang MA melegitimasi kekuasaan MA sebagai kekuasaan terpusat dan personal. bahwa kekuasaan eksternal bisa diandalkan untuk mengawasi birokrasi. Maka berdasarkan teori tersebut tidak dapat dielakkan. Bahkan ada wacana dari Bagir Manan sebagai Ketua MA. tapi bagaimana menghimpunnya”. Hakim dan hukum lalu berpihak secara ekstrim dan arogan kepada kaum borjuasi dan mencampakkan rakyat kecil yang miskin. perlu ada sebuah mekanisme untuk mengawasi hakim seperti itu. Seperti apa yang dikatakan Benedict Anderson. maupun eksternal. karena kolusi juga bisa terjadi antar hakim dengan pimpinan MA. dan ini sangat sulit diawasi.kelas bawah tidak dihargai hak asasinya. UU No. sebab prinsip ini berpotensi melindungi kesalahan hakim dan ada alasan menolak untuk diawasi. Sistem politik birokratik telah merasuk jauh menusuk sampai ke pusat-pusat kekuasaan (termasuk yudikatif). yang sulit diawasi dari luar (eksekutif dan legislatif). mungkin ada sedikit harapan. Prinsip res judicate pra veritate habetur (apa yang telah diputuskan oleh hakim harus dianggap sebagai benar) yang dipegang para hakim cukup berbahaya. baik secara internal. bahwa sistem politik birokratik terpusat pada mereka yang memegang kekuasaan negara sebagai majikan. Karl Jackson. Hampir sama dengan Anderson. seorang ilmuwan politik Amerika Serikat yang menulis “Bureaucratic Polity” tentang Indonesia berpendapat. Tulisnya lebih lanjut. sulit juga diawasi oleh Komisi Yudisial. bahwa kekuasaan cenderung terpusat di tangan seseorang atau sekelompok orang. hanya pengawasan internal oleh MA. karena dipastikan tidak akan efektif. terutama pada lembaga-lembaga peradilan. Kalau ada pilihan di antara kedua jenis pengawasan itu.

Selain itu. serta perilaku hakim pengadilan negeri dan pengadilan tinggi. sebab bukan rahasia lagi. hakim tersebut tidak memiliki perilaku yang terpuji. Tidak bisa dihindari. mengapa tidak dicoba untuk dibuat norma hukumnya? Bukankah teori. Ini tidak bertentangan dengan UUD 1945. mafia peradilan sulit Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 257 . Artinya adalah. Hal (kewenangan) yang sama juga harus dilakukan terhadap pengangkatan dan pemberhentian hakim konstitusi. Ini merupakan sebuah indikasi. Usul perubahan dari KY sebaiknya menyangkut tidak saja pengangkatan hakim agung. keluhuran martabat.merangkap menjadi Ketua KY. Jadi undang-undang tentang KY yang baru harus mengatur hal ini. Hal ini penting. Untuk itu dapat dibenarkan dan sebaiknya demikian. Hakim tersebut tidak boleh tidak. sistem dan doktrin hukum bisa berubah atau diubah untuk bisa merakit sebuah kebenaran dalam mewujudkan keadilan yang sejati. KY juga harus diberikan peran untuk mengawasi panitera-panitera pada semua jenjang organisasi kekuasaan kehakiman. KY harus mengusulkan amandemen terhadap Pasal 24B UUD 1945. dijelaskan. maka dapat disimpulkan. kedudukan. perlu diperluas struktur organisasi KY sampai ke daerah-daerah. tetapi juga mengusulkan pemberhentian hakim agung. dan keanggotaan KY diatur dengan undang-undang. sebab sesuai dengan Pasal 24B ayat (4). Jika ada komitmen seperti itu. supaya hakim-hakim bisa menjadi Law Prophets. harus diperiksa. Jika ada kesalahan substansial dan mungkin prosedural yang dirancang secara sistematis oleh seorang hakim. Jadi sebenarnya tidak salah seluruhnya jika KY dapat masuk pada hal-hal yang bersifat teknis administratif dalam memeriksa hakim. bahwa susunan. bahwa kewenangan KY itu harus dilihat dalam perspektif penguatan wibawa lembaga peradilan atau perwujudan supremasi kekuasaan kehakiman. bahwa MA tidak mau diawasi oleh lembaga negara apapun. jika Pasal 24B UUD 1945 dapat diamandemen agar KY bisa mengawasi perilaku hakim pada semua lingkungan peradilan. Masalahnya sebenarnya tidak terlalu pelik. bahwa ada masalah-masalah teknis yudisial dan administratif yang dapat merugikan pencari keadilan. agar KY daerah dapat menjaga dan menegakkan kehormatan.

Sambil menunggu amandemen terhadap UUD 1945 dan revisi UU tentang KY. Putusan MK tidak boleh membuat KY menyurutkan peran historisnya untuk menegakkan supremasi hukum.diberantas. 258 Bunga Rampai . MK dan MA. kebenaran serta mewujudkan supremasi kekuasaan kehakiman di Indonesia. keadilan. Pada saatnya nanti KY akan tampil sebagai sosok yang lebih berwibawa untuk menegakkan wibawa negara hukum yang berkarakter. karena para panitera sering menjadi calo (broker) dan penagih uang dari pihak-pihak yang berperkara. gerak dan langkah nyata KY dalam mengemban amanat UUD 1945 pasca putusan MK harus lebih ditingkatkan lagi.

hak-hak alamiah yang tidak dapat dicabut adalah karunia Tuhan. Contoh hak-hak yang tidak dapat dicabut meliputi kebebasan berbicara dan berpendapat.H.. adalah menetapkan suatu prinsip dasar bagi berdirinya pemerintahan negara yang demokratis. Dalam masyarakat demokratis juga menyatakan hak-hak sipil seperti hak untuk mendapatkan pengadilan yang jujur. DR.Pentingnya Peran Komisi Yudisial Berdasarkan Pendekatan Geopolitik dan Geostrategi Indonesia Prof. Sedangkan Soekarno Presiden pertama Republik Indonesia. MH. Rumusan kebebasan yang dikemukakan oleh para filsuf zaman pencerahan abad ke-17 dan ke-18. pemerintahan dalam suatu demokrasi tidak memberikan kebebasan dasar yang disebut Jefferson. S. Ermaya Suradinata. dan baik masyarakat maupun pemerintahan tidak dapat mencabutnya. dan hak untuk mendapatkan perlindungan yang sama di depan hukum. yaitu pemerintahan diciptakan untuk melindungi kebebasan yang dimiliki oleh individu berdasarkan eksistensi individu itu. Deklarasi Kemerdekaan yang dikemukakan oleh Thomas Jefferson. Hak-hak ini tidak hancur ketika masyarakat sipil diciptakan. kebebasan beragama dan keyakinan. Latar Belakang. kebebasan berserikat. MS. untuk menjalankan pemerintahan negara yang baik tariklah hukum yang bermoral. Sedangkan landasan intelektual demokrasi konstitusional modern dalam geopolitik diletakan selama zaman Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 259 .

warganya berhak menggulingkan rezim itu dan membentuk suatu pemerintahan baru. mendukung pemisahan dan penyeimbangan kekuasaan antara cabang-cabang eksekutif. kata Locke. yang terbit pada tahun 1748. dalam 260 Bunga Rampai . percaya pada pemerintahah Republik berdasarkan pada persetujuan dari yang diperintah. manusia dalam masyarakat sipil mengadakan kontrak dengan pemerintah mereka. dan termasuk hak untuk memiliki harta benda serta menikmati hasil kerja sendiri. mengubah secara besar-besaran pembahasan mengenai teori politik dan mendorong perkembangan lembaga-lembaga demokrasi. Dalam L’Esprit des Lois (Semangat hukum). Hukum alam identik dengan hukum Tuhan. Emmanuel Kant di Jerman dan Thomas Jefferson serta Benjamin Franklin di negeri yang kemudian bernama Amerika Serikat. Locke juga menyatakan jika suatu pemerintahan menjadi tanpa hukum dan sewenang-wenang. suatu gerakkan filosofis abad 18 yang ditandai dengan penolakan terhadap gagasan-gagasan sosial. John Locke. dalam pernyataannya bahwa semua pemerintahan yang sah bertumpu pada persetujuan dari yang diperintah. tapi bukan pada demokrasi yang didirikan atas kekuasaan mayoritas. John Locke membantah pengakuan bahwa pemerintah teristimewa monarki. adalah suatu aspek rangkaian takdir Ilahi. Pada tahun 1690 Locke menerbitkan bukunya yang sangat berpengaruh Two Treaties of Government (Dua Risalah Tentang Pemerintahan). Montesquieu. Dalam pernyataannya tentang hukum alam itu. kebebasan tertentu. yang seperti halnya Locke. John Locke. Untuk mengamankan hak-hak ini. legislatif. Warga negara wajib patuh pada undang-undang dan mempertahankan kesejahteraan umum dari pelanggaran asing semuanya demi kebaikan bersama. dan politik yang tradisional yang penekanannya pada rasionalisme. Montesquieu.Pencerahan Eropa. dan menjamin hak-hak dasar semua orang. ujar Locke.dari Jean Jacques Rousseau di Perancis sampai David Hume di Skotlandia. termasuk hak atas hidup. Tapi penerusnya yang paling terkemuka adalah Montesquieu. Dua pemikiran yang berpengaruh adalah filosuf Inggris. Dalam teori hukum alam Locke mengilhami satu generasi filsuf zaman Pencerahan di Eropa dan dunia baru. dan yudikatif. dan ahli hukum dan filsuf Perancis. agama.

baik undangundang maupun demokrasi terlayani. Frank menulis. Dalam kehidupan negara yang demokratis tidak dapat menjamin bahwa kehidupan akan memperlakukan setiap orang dengan sama. Doktrin ini juga membantu membentuk landasan filosofis bagi konstitusi AS. atau minoritas agama. Setiap negara harus mempunyai kekuasaan untuk memelihara ketertiban dan menghukum tindak pidana. sekalipun tidak langsung. mereka menyerahkan diri sebagai pembuat undang-undang itu. banyak individu. Jika undang-undang ditetapkan oleh rakyat yang selanjutnya harus mematuhinya. Setiap masyarakat sepanjang sejarah. Atas nama negara. sewenang-wenang atau tunduk pada manipulasi politik oleh negara. mayoritas etnik. negara wajib melayani secara rata dan sama seluruh rakyatnya. atau perlindungan yang sama oleh hukum sebagaimana sering disebut. Warga negara suatu demokrasi tunduk pada hukum karena mereka mengakui bahwa. Kaya atau miskin. semuanya berhak atas perlindungan yang sama di depan hukum. tidak rahasia. dan sering tanpa pernah dikenai tuduhan resmi. Masyarakat demokratis tidak dapat menerima penyalahgunaan seperti ini. diasingkan dan dihukum mati tanpa dasar hukum. dan ia tidak mempunyai tanggung jawab untuk melakukan hal itu. Apakah syarat pokok bagi proses hukum Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 261 . tapi aturan prosedur yang digunakan negara untuk melaksanakan undang-undangnya harus terbuka dan jelas. dengan pembagian kekuasaan antara Presiden. Kongres. mereka yang menjalankan sistem peradilan pidana mempunyai kekuasaan yang berpotensi melakukan penyalahgunaan dan menjadi tirani.” Tak seorangpun berada di atas hukum yang bagaimanapun. ”Dalam keadaan apapun negara tidak boleh memaksakan ketidaksamaan tambahan. merupakan ciptaan rakyat. harta mereka dirampas. adalah landasan pokok bagi masyarakat yang adil dan demokratis manapun. dan Kehakiman (dalam Jeannes s. Namun ahli hukum konstitusi John P. Holden). dipenjarakan. Frank menjelaskan. Persamaan hak di depan hukum. sekutu politik negara atau lawan.pemerintahan sebagai cara untuk menjamin kebebasan individu. bukan sesuatu yang dipaksakan kepada mereka. dan mereka disiksa.

membawa berbagai perubahan yang mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. MPR. Ideologi dan konstitusi negara bagi suatu negara yang berdaulat seperti Negara Republik Indonesia ini. Kedua. Ketukan tengah malam oleh polisi rahasia tidak mempunyai tempat dalam demokrasi. sejak lengsernya Soeharto sebagai Presiden dari panggung politik. Reformasi politik yang terjadi sejak tahun 1997. Dalam perjalanan sebagai bangsa yang berdaulat. berkembangnya kehidupan politik yang liberal. Pasang surut ini diwarnai oleh perubahan-perubahan sesuai tuntut-an politik. yang bergulir bagaikan bola salju. dan konstitusi negara akan memberikan model terhadap implementasi ideo-logi dalam birokrasi pemerintahan dalam penyelenggaraan negara terutama penyelenggaraan fungsi lembaga negara. DPRD Provinsi. dikatakan demikian karena ideologi akan memberikan warna terhadap bentukbentuk yang ada dalam konstitusi negara. Hal tersebut dapat kita lihat (DPR. merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan.yang wajar dalam demokrasi? Rumah siapa saja tidak boleh dimasuki dan digeledah oleh polisi tanpa perintah pengadilan yang menunjukkan adanya alasan kuat untuk menggeledah itu. Perubahan-perubahan ini jelas apabila diamati kenyataan di lapangan: Pertama. berdasarkan doktrin yang disebut Habeas corpus. melahirkan perilaku politik yang juga liberal. mereka juga harus segera dilepaskan. menunjukkan adanya pasang surut. Berkaitan dengan perkembangan ini ruang pemerintah muncul kekuatan-kekuatan baru yang dapat menggeser kedudukan seorang Presiden. dan merinci tuduhan pelanggaran itu. implementasi ideologi dan konstitusi negara sebagaimana termuat dalam sejarah. Tak seorangpun boleh ditahan tanpa tuduhan yang jelas dan tertulis. begitu pengadilan mendapati bahwa tuduhan itu tanpa dasar atau penahanannya tidak sah. Bukan saja orang berhak mengetahui hakikat sebenarnya tuduhan itu. DPD. kita tidak lagi memiliki seorang pemimpin yang sentralistik sekaligus sangat menentukan. DPRD Kabupaten/Kota) yang berdampak sulitnya untuk membangun kesamaan visi dan misi Nasional antar politisi dalam me- 262 Bunga Rampai .

maka ideologi dan konstitusi negara bagi bangsa Indonesia mempunyai peranan yang sangat penting. berkembang pula keinginan sebagian elit politik yang berpengaruh dengan cara yang sistemik dan damai melakukan perubahan terhadap UUD NRI Tahun 1945. walaupun berasal dari satu rumpun. apabila merujuk pada UUD NRI tahun 1945. dengan kata lain ada amanat pada penerus bangsa ini untuk tidak mempermasalahkan konstitusi yang mereka buat. berperan sebagai citra jati diri bangsa. oleh karena itu dapat dikatakan bahwa ideologi dan konstiPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 263 . adat maupun bahasa yang berbeda dari mulai Sabang sampai Merauke. namun bagi bangsa Indonesia dengan kemajemukannya sangat berbeda seperti kita tahu tentang perbedaan budaya. Ketiga. Sebagai kelompok sosial yang besar. Memperhatikan peranan tersebut di atas. seperti bangsa Indonesia dan Malaysia. berkaitan dengan realitas dan eksistensi bangsa kita. Bunyi dan Pasal 37 ayat (1) dan (2). Pasal 37 ayat (1) tidak bertentangan. Dengan citra jati diri inilah suatu bangsa dapat memberikan ciri yang khas yang dapat dibedakan dengan negara lainnya. sejak awal telah mengisaratkan adanya penyesuaian pasal-pasal yang ada dalam UUD 1945 dengan perkembangan yang ada. Dikatakan demikian karena dalam Pasal 37 tersebut secara tegas dinyatakan bahwa ”untuk mengubah UUD sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota harus hadir. jelas mengindikasikan bahwa para Pendiri RI (Founding Fathers). Karena mempunyai landasan: Pertama. seiring dengan perkembangan politik tersebut. yang sampai saat ini sudah empat kali perubahan (Tahun 1999. organisasi bangsa mempunyai kebutuhan untuk memiliki citra jati dirinya. Memperhatikan perkembangan politik era reformasi yang berkaitan dengan perubahan UUD NRI Tahun 1945. 2001. keanekaragaman itulah ciri jati diri bangsa Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa Malaysia.nangani dan memahami makna NKRI. 2000.” Peranan Ideologi dan Konstitusi Negara dalam Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. dan 2002). Selanjutnya pada ayat (2) dinyatakan bahwa ”putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota yang hadir”.

Karena itu keberadaan ideologi dan konstitusi yang berdaulat merupakan sesuatu yang mutlak. dengan ideologi dan konstitusi dapat menjembatani hubungan antara keduanya. Kedua. maka dapat diantisipasi sedemikian adanya persepsi yang berbeda terhadap suatu peraturan perundang-undangan. Oleh karena senantiasa berupaya untuk merealisasikan dalam kehidupan bersama. Keempat. berperan sebagai hukum dasar yakni sebagai pedoman utama dalam pembuatan peraturan perundangundangan yang akan diperlakukan kepada segenap komponen bangsa. maka dibutuhkan suatu pedoman yang dapat memayungi dan berlaku untuk keseluruhan komponen bangsa yang ada. Hal tersebut diperlukan sebagai peraturan yang tertinggi karena beragamnya komponen yang juga mempunyai adat istiadat tersendiri. sehingga dapat diharapkan generasi muda akan terus melanjutkan perjuangan generasi pendahulunya untuk mencapai cita-cita dan tujuan nasional bangsa Indonesia. Generasi muda yang telah mengalami masamasa perjuangan untuk mendirikan bangsa dengan negara. Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dalam menyelenggarakan fungsi kenegaraan merupakan hal yang sangat pen- 264 Bunga Rampai . jika negara mempunyai kedaulatan yang utuh dalam menjaga eksistensinya dan mewujudkan reformasi birokrasi pemerintahan khususnya reformasi peradilan. sebagaimana telah dirumuskan dalam Ideologi dan Konstitusi (UUD Tahun 1945). Ketiga. berperan untuk menemukan keyakinan akan kebenaran perjuangan bersama akan satu kesatuan yang berpegang teguh pada ideologi dan konstitusi tersebut. Dengan adanya ideologi dan konstitusi sebagai hukum dasar.tusinya melekat pada jati diri bangsa. berperan sebagai jembatan penghubung antara generasi tua sebagai pendiri bangsa (fouding fathers) dengan generasi penerus. Di sini ideologi dan konstitusi menjadi sumber inspirasi dan cita-cita hidup bersama. yang akan dijadikan dasar pengambilan keputusan bagi para hakim. dan mematuhi segala ketentuan yang diatur dalam konstitusi. dan dipandang sebagai suatu kebesaran dan kemuliaan bersama dengan ideologi manusia mengejar keluhuran. Merupakan suatu hal yang alami terjadi pergantian generasi antara generasi terdahulu dengan generasi muda.

Demokrasi memberikan kesempatan kepada setiap kelompok dan kepentingan yang cukup besar mengajukan wakilnya. bertahap. Perkembangan Hukum Dasar Geopolitik dan Geostrategi Indonesia.ting dan mendasar. Pengaturan tentang hak asasi manusia. selanjutnya perubahan itu diwujudkan secara komprehensif. dan keadilan. 3. Pengaturan tentang susunan ketatanegaraan yang bersifat fundamental. sejak perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan ini jarang sekali dikesampingkan pada saat kebijaksanaan dibuat. serta negara hukum yang demokratis. Dalam konstitusi biasanya memuat aturan minimal materi yang mencakup: 1. Menegakkan keadilan sering dianggap sebagai inti moralitas politik. dan sistematis dalam empat kali perubahan UUD NRI Tahun 1945. integral. sampai dengan 2002. pada empat sidang MPR sejak Tahun 1999. mengalami perubahan yang sangat fundamental. keterbukaan. dan mempertahankan demokrasi atas dasar ini bermakna bahwa demokrasi adalah sistem terbaik untuk menegakkan keadilan. karena dapat menyuarakan persoalannya dan sanggup mengumpulkan kekuatan dengan mempengaruhi para pemilih dengan berbagai cara yang diakui dan absah. kepentingan yang merasa dirugikan. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 265 . Reformasi sesungguhnya memberikan ruang yang besar untuk terjadinya perubahan menuju penyelenggaraan negara yang lebih demokratis. Pada akhirnya mungkin dapat dikatakan bahwa orang-orang yang merasa diperlakukan tidak adil dalam suatu sistem demokrasi maka akan terhibur kalau mereka memperhatikan sistem-sistem politik lain. yang menciptakan keadilan yang relatif. Pengaturan tentang pembagian dan pembatasan tugastugas ketatanegaraan yang juga bersifat fundamental. dan juga akuntabilitas tinggi serta diharapkan terwujudnya Good Governance. Sedangkan kemungkinan terjadinya ketidak-adilan dalam negara demokrasi jauh lebih kecil dibanding pada negara dimana kebebasan politik ditindas dan tidak ada satupun jaminan politik. 2. Demokrasi juga menyangkut kompromi atau harmoni politik dengan jalan menyelesaikan tuntutan-tuntutan atau suara-suara yang saling bertentangan.

yaitu Dewan Perwakilan Daerah (DPD). 28C. dan dibentuknya lembaga negara baru. memutus sengketa kewenangan Lembaga Negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar. menegakkan kehormatan. serta perilaku hakim. yaitu pasal 28A. 28F. Paradigma lama sistem paradilan kita masih kental. yang mempunyai kewenangan mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar. Selanjutnya terbangun adanya 2 lembaga negara baru yaitu Mahkamah Konstitusi. Awalnya dalam Bab IX hanya terdiri 2 pasal dan 3 ayat. Diubahnya kedudukan dan kewenangan Majelis Permusyawaratan Rakyat. setelah perubahan bab IX menjadi 5 pasal dan 19 ayat. dalam kehidupan sistem kekuasaan kehakiman. dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. hakim di bawah Mahkamah 266 Bunga Rampai . 28I. keluhuran martabat. 28G. merupakan hasil reformasi khususnya di bidang peradilan. 28B. 28E. sehingga sebagai lembaga negara baru Komisi Yudisial masih harus menghadapi resistensi yang berat terutama dalam menghadapi hakim agung. serta untuk memberantas maraknya praktek mafia peradilan. antara lain perubahan pada Bab IX yang mengatur Kekuasaan Kehakiman. yaitu: dihapuskannya lembaga negara Dewan Pertimbangan Agung. Keberadaan Komisi Yudisial. memutus pembubaran partai politik. hal tersebut sebagaimana dalam perubahan ketiga UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Perubahan yang sangat mendasar dalam hukum dasar Geopolitik dan Geostrategi Indonesia.Contoh pengaturan hak asasi manusia telah ditambahkannya pasal hak asasi manusia. Mahkamah Konstitusi (MK). Sedangkan lembaga baru yang kedua adalah Komisi Yudisial yang merupakan pilar kehidupan untuk menentukan roh moral para hakim agung. Menelaah Komisi Yudisial dari satu sudut pandang Geopolitik dan Geostrategi Indonesia tidak terlepas dengan pemahaman kita tentang politik dan strategi dalam melakukan reformasi hukum/peradilan. dan Komisi Yudisial (KY). 28D. dan 28J. 29H. Sedangkan perubahan pada materi yang kedua dan ketiga. untuk menegakkan hukum dan keadilan.

yang diucapkan oleh Mahatma Gandhi. Keduanya dikembangkan sebagai suatu konsepsi maupun sebagai realisme atas dasar perkembangan politik nasional. yang hidup dan tidak berada dalam ruang hampa. tanpa harus menjadi lembaga yang menyendiri. tetapi kebangsaan saya adalah peri-kemanusiaan” (My nationalism is humanity). dalam arti demokrasi dan kebebasan tidak selalu berjalan beriringan. Jika kita kaitkan fenomena tersebut dalam sistem kemasyarakatan dan pemerintahan. Komisi Yudisial dalam Sistem Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. Yang dimaksud dengan sistem Geopolitik dan Geostrategi Indonesia adalah Wawasan Nusantara sebagai Geopolitik Indonesia dan Ketahanan Nasional sebagai Geostrategi Indonesia. pemahaman civic morality harus dituangkan dalam bentuk kewajiban lembaga Komisi Yudisial. yang menyatakan bahwa terdapat ambivalensi dalam hukum dan demokrasi. sistem ketatanegaraan maupun sistem pemerintahan. toleransi dan hukum. maupun hakim konstitusi. jika kita melibatkan budaya. melainkan selalu harus selalu berorientasi terhadap masalah-masalah rasional baik ideal maupun riil. mengusulkan formula untuk menghilangkan ambivalensi dengan konsep aturan etika global yang merupakan rumusan seni politik sejati dengan menggabungkan politik riil dengan politik kontemporer dalam pembentukan civic morality suatu bangsa. Hal tersebut sejalan dengan prinsip civic morality. untuk secara antisipatif mengawal negara sebagai negara hukum dengan segala sumber daya yang kita miliki. dan sesama bangsa di dunia. untuk menjaga kedaulatan dirinya.Agung. ”Saya seorang nasionalis. Atas dasar hal tersebut. serta dengan cermat menyikapi karakter dan perubahan pola interaksi peradaban manusia dalam rangka menjaga martabat kemanusiaan. dan bernegara secara universal dituangkan ke Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 267 . oleh karena itu harus solid dan dapat mendorong proses akselarasi reformasi peradilan pada tataran fungsi dan tugas serta tingkatan para hakim. maka hal ini sangat terkait dengan tesis Harbermas. Menjawab hal ini Hans Kung. Mengacu pada prinsip tersebut penerapan hukum yang didasarkan pada civic morality dalam kehidupan bermasyarakat.

sesuai dengan tesisnya Donovan yang merujuk filsafat kata rekonsiliasi dalam kitab Vulgata. Dalam sistem pemerintahan selalu terkait dengan hubungan antara lembaga eksekutif dan lembaga legislatif. Komisi Yudisial (KY). dan dikenal dalam bahasa Inggris disebut ”Cabinet Government” dan sistem ”Presidential Government” atau juga ”The fixed executive system”. memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UndangUndang Dasar. Civic morality. yaitu rasionalitas. Mahkamah Konstitusi (MK). Lahirnya sistem pemerintahan parlementer dan sistem pemerintahan presidensiil. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Presiden dan Wakil Presiden. legislatif. sebagaimana dikemukakan oleh C. spiritual. F Strong dan S. Institusi lembagalembaga negara tersebut. yang mencakup keseluruhan lembaga-lembaga negara termasuk eksekutif. Mahkamah Agung (MA). tersebut adalah basis geopolitik dan geostrategi suatu bangsa yang bermakna sebagai suatu upaya untuk memperoleh kekuatan bangsa dalam menjaga nasionalisme dan penegakkan hukum secara berkelanjutan.dalam bentuk empat pola tindak. Sistem ketatanegaran mempunyai cakupan yang lebih luas dibanding dengan sistem pemerintahan.Wuest. yang dimaksud dengan lembaga negara pada pasal tersebut yaitu. 268 Bunga Rampai . J. dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. budi pekerti dan toleransi dalam semangat rekonsiliasi. Berdasarkan Pasal 24C Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Berdasarkan sumber tersebut. serta berpartisipasi aktif dalam hubungan kerja antar lembaga negara sebagai upaya mencapai cita-cita nasional. maupun yudikatif. L. lembaga negara adalah institusi yang diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945. Witman & J. kecuali dalam sistem pemerintahan negara. didasarkan pada Pasal 24C ayat (1) yaitu menyatakan: Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar. memutus pembubaran partai politik. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Dalam sistem ketatanegaran terbentuk sistem hubungan antar lembaga-lembaga negara. Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

selaku hukum tata negara Indonesia. Ditarik dari keberadaan hakim juga terkait dengan keberadaan kekuasaan kehakiman. dan kekuasaan kehakiman juga terkait pada keberadaan cita negara hukum/Rechstaat. dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (Pasal 1 ayat (2). Demikian juga Komisi Yudisial dan ketujuh lembaga negara lainnya berkedudukan sama setingkat/sederajat. dan bentuk negara amat sangat tergantung oleh paham atau sistem Kedaulatan Rakyat/Volkssouvereineteit (sumber Sutjipno). atau kekuasaan yudikatif. Majelis Permusyawaratan Rakyat tidak lagi menjadi lembaga negara tertinggi. sehingga berbunyi: Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UndangUndang Dasar”. khususnya perubahan ketiga. Dengan demikian. Majelis Permusyawaratan Rakyat adalah penjelmaan seluruh rakyat Indonesia. Kekuasaan Negara yang tertinggi di tangan Majelis Permusyawaratan Rakyat (Penjelasan Umum tentang sistem Pemerintahan Negara). Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat dengan suara yang terbanyak (Pasal 6 ayat (2). Dengan demikian juga setelah perubahan terhadap Undang-Undang Dasar selain tidak ada lembaga negara tertinggi juga tidak ada lagi lembaga tinggi negara. Keberadaan kekuasan kehakiman. Sedangkan sebutan lembaga negara tertinggi sebelum perubahan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu Majelis Permusyawaratan Rakyat. dan begitu seterusnya bahwa eksistensi negara hukum tergantung pada keberadaan bentuk negara republik.yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar 1945. atau kekuasaan yudikatif mempunyai konsekuensi logis menentukan adanya hakim sebagai subyek pelaksana dari kekuasaan kehakiman. yang tentunya Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 269 . Kedudukan lembaga-lembaga negara didasarkan atas tugas dan kewenangannya. Berdasarkan perubahan terhadap Pasal 1 ayat (2). Pasal 1 ayat (2) diubah. kedelapan lembaga negara tersebut berkedudukan setingkat sama. Selanjutnya setelah reformasi berjalan terjadilah perubahan Undang-Undang Dasar 1945. didasarkan pada: Kedaulatan adalah di tangan rakyat. Sehubungan prinsip tersebut bagaimana keterkaitannya dengan geopolitik dan geostrategi Indonesia khususnya diimplementasikan dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945.

Apalagi hakim agung duduk pada tingkat peradilan tertinggi (puncak) dalam susunan peradilan di Indonesia sehingga ia menjadi tumpuan harapan bagi pencari keadilan. dan keanggotaan Komisi Yudisial diatur dengan undang-undang. serta perilaku hakim. ayat (2). Selanjutnya Kewenangan Komisi Yudisial. dan ayat (4). rumusan kewenangan Komisi Yudisial (KY) sebagaimana tercantum dalam Pasal 24B ayat (1). Ketentuan ini didasarkan pemikiran bahwa hakim agung yang duduk di MA dan para hakim merupakan figur yang sangat menentukan dalam perjuangan menegakkan hukum dan keadilan. Rumusan sebagai berikut: Pasal 24B (1) Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. ayat (3). keluhuran martabat. (4) Susunan. kedudukan. dan merupakan tantangan berat bagi Komisi Yudisial untuk menunjukkan bahwa calon hakim agung yang diusulkan betul-betul dapat dipertanggungjawabkan dan diterima sebagai calon yang telah memenuhi persyaratan termasuk persyaratan dari sisi politis. namun lolosnya calon hakim agung yang diseleksi oleh Komisi Yudisial belum mendapat jaminan untuk seluruhnya diterima oleh DPR-RI terutama Komisi III. (2) Anggota Komisi Yudisial harus mempunyai pengetahuan dan pengalaman di bidang hukum serta memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela. Ini menunjukkan peran politik begitu dominan. masalah kehormatan dan 270 Bunga Rampai . Sebagai negara hukum. sangat menentukan manusia sebagai hakim yang mempunyai hati nurani tinggi. Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. hasil perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. (3) Anggota Komisi Yudisial diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.mengalami perubahan yang sangat fundamental terutama pada pasal-pasal dan ayat-ayatnya.

Menurut ketentuan Pasal 24B ayat (1). perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela adil. serta perilaku hakim merupakan hal yang sangat strategis untuk mendukung upaya menegakkan peradilan yang handal dan realisasi paham Indonesia adalah negara hukum.keluhuran martabat. ”calon hakim agung diusulkan Komisi Yudisial kepada DPR untuk mendapatkan persetujuan dan selanjutnya ditetapkan sebagai hakim agung oleh Presiden”. Sedangkan pada Pasal 20A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menentukan. Komisi Yudisial berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai kwenangan lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta perilaku hakim. Outsourcing kinerja Komisi Yudisial ini dapat terwujud manakala semua anggota Komisi Yudisial solid. Untuk itu. ”sebelum Komisi Yudisial terbentuk. Menurut ketentuan tersebut. memuat ketentuan mengenai pembentukan lembaga di bidang kekuasaan kehakiman bernama Komisi Yudisial (KY) yang merupakan lembaga yang bersifat mandiri. proporsional. dan berpikir jernih untuk memutuskan calon hakim agung yang bermoral. Kewenangan yang sangat besar yang diberikan kepada Komisi Yudisial merupakan tantangan besar untuk dapat mewujudkan hakim agung yang profesional dan proporsional. reformis. berdasarkan Pasal 80A Undang-Undang nomor 5 Tahun 2004 Tentang perubahan Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985. komitmen untuk Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 271 . pengajuan calon hakim agung dilakukan Mahkamah Agung untuk mendapatkan persetujuan DPR dan selanjutnya ditetapkan sebagai hakim agung oleh Presiden”. sebelumnya merupakan wewenang Mahkamah Agung. tentang Kekuasaan Kehakiman. profesional. Melalui Komisi Yudisial diharapkan dapat diwujudkan lembaga peradilan yang sesuai dengan harapan rakyat sekaligus dapat diwujudkan penegakkan hukum dan pencapaian keadilan yang diputus oleh hakim yang terjaga kehormatan dan keluhuram martabat serta perilakunya. Ujian berat bagi Komisi Yudisial saat ini adalah untuk pertama kalinya bangsa Indonesia memberikan kewenangan penuh untuk menjaring para calon hakim agung yang diselenggarakan oleh Komisi Yudisial.

dan menjadikan pondasi dalam sistem peradilan di Indonesia. untuk memperkuat kemandirian Komisi Yudisial. dalam memperkuat Negara Indonesia adalah Negara Hukum. dan perlu dipikirkan wadah konsultasi lembaga yudisial tanpa mengurangi kemandirian dari tugas dan fungsi serta tanggung jawab masing-masing lembaga. karena bangsa Indonesia ini penuh dengan keanekaragaman. harus dijunjung tinggi norma-norma lokal sebagai pondasi kehidupan sistem peradilan Indonesia. sehingga diperlukan suatu tolak ukur apakah seseorang tadi didalam menjalankan tugasnya telah memiliki wawasan yang luas dan jauh menjangkau rasa cinta tanah air. dan mempunyai budi pekerti luhur. Komisi Yudisial lahir dari hasil reformasi. berwa- 272 Bunga Rampai .memberantas mafia peradilan. Bukan hanya pemimpin tingkat nasional sampai pada terendah. (hal tersebut perlu dikaji lebih mendalam). Tentu kita sebagai bangsa Indonesia yang berdaulat dan mempunyai jati diri Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. sangat diperlukan karena selama ini telah terjadi dan terbentuk di Indonesia sistem hukum modern yang melahirkan watak liberal. agar kita dapat membangun sistem peradilan yang mandiri dan dilandasi pada jati diri bangsa kita sendiri. Profesionalitas tidak hanya dimiliki oleh kelompok tertentu saja. proses pembangunan budaya berhukum yang baru (paradigma baru budaya berhukum) yang diciptakan oleh Komisi Yudisial. melainkan bisa menjadi milik siapa saja. Negara hukum Indonesia sampai saat ini masih diwarnai oleh pengaruh budaya liberal. Dalam hubungannya dengan budaya. saat ini masih dalam proses transisi dibutuhkan orientasi-orientasi baru terutama pemahaman tentang geopolitik dan geostrategi Indonesia yang begitu cepat perubahannya. maka peran budaya juga tidak bisa dilepaskan sebagai pilar kekuatan Komisi Yudisial. tidak heran kalau masih terjadi kendala dalam sistem peradilan kita yang tentunya harus dapat diselesaikan oleh kita. sehingga kerja sama dengan lembaga-lembaga yang mempunyai fungsi yudikatif sangat dibutuhkan. dan memahami serta mengerti betul tentang cara kerja dan kultur peradilan yang lama. agar kita dapat memberikan rasa adil dan sejahtera pada seluruh komponen bangsa Indonesia.

dan mempunyai komitmen tinggi terhadap keutuhan wilayah kedaulatan negara Republik Indonesia. diperlukan suatu sharing pengalaman dan mensinergikan menjadi kekuatan wewenang Komisi Yudisial.wasan kebangsaan. sebagai wujud nyata sifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. keluhuran martabat. di bidang peradilan memberikan peluang yang besar bagi bangsa Indonesia. untuk melakukan perbaikan dan langkah strategis untuk memberantas mafia peradilan yang bertentangan dengan norma dan etika peradilan. yaitu melakukan revitalisasi yang sebelumnya wewenang tersebut menjadi wewenang lembaga Mahkamah Agung. dan merupakan lembaga negara baru yang masih belum tersosialisasikan kepada seluruh elemen bangsa baik yang berada di dalam lembaga negara lainnya maupun di dalam masyarakat luas. mempunyai peran yang sangat vital di bidang peradilan. Demikian juga para anggota Komisi Yudisial. dari mulai hakim agung sampai pada hakim pengadilan negeri. yang akan menentukan calon-calon hakim agung. Dalam rangka untuk mewujudkannya diperlukan orientasi baru. Fungsi pengawasan yang dilakukam oleh Komisi Yudisial sebagai lembaga negara yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 273 . serta perilaku hakim. Komisi Yudisial harus dapat membangun ideologinya sendiri. serta perilaku hakim. kenegarawanan. Wawasan kebangsaan dan kenegarawanan. keluhuran martabat. Semua elemen bangsa harus dapat memahami dan mengerti serta melaksanakan apa yang menjadi wewenang Komisi Yudisial sebagai lembaga negara baru yang telah diberikan wewenang berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. selain tentu moral dan etika profesinya yang harus dijunjung. Penutup Hasil reformasi dan demokrasi. maksudnya antara lain memiliki kandungan kecintaan terhadap tanah air bangsa Indonesia yang sangat kuat.

Sdigwick and Jackson Limited.2000. Henry J. 2006. Coins s. C. dan Ball. “Hukum Progresif. NY. Jakarta. Bintan Regen. The Judiciary. Jakarta. 274 Bunga Rampai . Cal Stanford University Press. Komisi Yudisial Republik Indonesia. Demokrasi. Strong. Ermaya suradinata. Crane. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Rahardjo. The Judicial Decision. Global Geostrategy.Daftar Pustaka Abraham.” tulisan disiapkan untuk buku HUT Mahkamah Konstitusi Tahun 2006. Vol. 1997. Ermaya suradinata.1. Bunga Rampai Refleksi Satu Tahun. Penerbit suara Bebas. The English Language Book Society. 1 No. PT Rinneke Cipta. 2005. Mahfud MD. London. Taylor & Prancis. Gray. 1996. Prentice Hall. Inc. Moh. Richard A. Moh.1961. Modern Political Constitution. 2005.W. Wasserstrom. PT Alumni. dalam Jurnal hokum Progresif. ”Menjaga Jarum Sejarah Amandemen UUD.. Hukum Dasar Geopolitik dan Geostrategi Dalam Kerangka Keutuhan NKRI. Mahfud MD. Cooper Phillip. The United States Supreme Court. Saragih. “Hukum yang Membebaskan”. Sekretariat Jenderal MPR RI. 2005. Prosudur dan system Perubahan Konstitusi. Toword a Theory of Legal Justification. Russak & Company. Sri Soemantri. Mackinder and The Defence of The West. Bandung. 2006. Jakarta. Permasalahan Aktual dan pentingnya Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. Jakarta. New Jersey. 2007. 1966. The Geopolitics Of The Nuclear Era New York. Blout. Howars. 1996. 2006. B. The Supreme Court in The Govermental Process. NY. Lemhannas RI Jakarta. 2005. Satjipto.F. Program Pascasarjana Universitas Jayabaya. New York University Press. Stanford.Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia.

dalam perjalanan pelaksanaan tugas dan wewenang KY mendapat hambatan. Sayang. Padahal. serta perilaku hakim. keluhuran martabat. Pendahuluan Pasal 22B Ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 (UUD) menegaskan eksistensi Komisi Yudisial (KY) yang bersifat mandiri dan berwenang mengusulkan hakim agung.Memulihkan Kewenangan Komisi Yudisial Dengan Melibatkan Kemitraan (Jejaring) di Daerah Marwan Mas A. Kehadiran berbagai lembaga negara baru seperti KY telah menandai berjalannya proses transisi menuju demokratisasi yang sesungguhnya. dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Dalam melakukan pengawasan terhadap hakim. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 275 . harapan masyarakat pada KY bukan hanya mencari dan menemukan sosok calon hakim agung yang kredibel atau menjaga perilaku hakim dari perbuatan tercela. merupakan kewenangan KY yang amat krusial. melainkan juga rekomendasi KY untuk memberi sanksi hakim-hakim nakal dapat menimbulkan efek jera. yang justru berasal dari lembaga yang seharusnya secara bersama menegakkan harkat dan martabat peradilan. sebetulnya KY telah berhasil membangun budaya kontrol yang membuat para hakim lebih berhati-hati. Kehadiran KY pada hakikatnya dimaksudkan menjawab tuntutan masyarakat agar prinsip-prinsip demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan terakomodasi melalui lembaga yang akuntabel dan independen. Mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan menegakkan kehormatan hakim.

Untuk menunjang proses peradilan yang lebih bermartabat. pengawasan. soal penyimpangan hakim tidak berdiri sendiri tetapi terdesain dalam suatu mafia yang amat sulit dibuktikan. penyimpangan di lingkungan peradilan yang merugikan masyarakat tidak hanya menyangkut hakim. mengajukan calon ketua MA. termasuk bagaimana peran mitra KY memberikan informasi dalam mendukung pelaksanan tugas dan wewenang KY. peran pegawai peradilan yang mengontak pengacara atau pencari keadilan. Berbagai kasus yang terungkap ke publik. Di sejumlah negara. Kompleksitas permasalahan yang melingkupi pengadilan Indonesia. Di negara-negara Eropa Selatan seperti Perancis. juga bermakna untuk menjaga dan menegakkan kehormatan. dan pendisiplinan hakim. mestinya objek pengawasan KY tidak hanya hakim. managemen organisasi. KY telah membangun kemitraan (jejaring) di daerah-daerah. keluhuran martabat. Peran mitra di daerah. dan berakhir pada hakim yang memeriksa dan menjatuhkan putusan. meskipun berbeda pada pelaksanaan fungsi dan perannya. kewenangan komisi ini jauh lebih signifikan karena memiliki kewenangan yang cukup luas seperti rekrutmen hakim. 276 Bunga Rampai . tetapi juga panitera dan administrasi. tetapi juga panitera yang mendaftar perkara.Kiranya perlu dipahami bahwa pembentukan KY selain diarahkan untuk menciptakan sebuah lembaga pengawas dalam kekuasaan yudikatif. Sebab sudah menjadi rahasia umum. paling tidak diharapkan memberikan dampak positif dalam mengefektifkan pelaksanaan tugas dan wewenang KY. serta perilaku hakim. dan Spanyol. Proses tersebut berawal dari panitera yang meregister dan membagikan perkara kepada hakim. Di Afrika Selatan. maka tugas dan wewenang KY perlu ditunjang oleh mitra di daerah. mulai dari sumber daya manusia. sumber daya penunjang dan sebagainya. Salah satu cara untuk mengawasi perilaku hakim. keberadaan komisi semacam ini sudah merupakan hal yang jamak dan dibutuhkan. mutasi. dan memberikan masukan dalam pengangkatan ketua/wakil ketua MK. Italia. promosi. KY memberikan rekomendasi untuk pemberhentian hakim. Pemilahan dan penentuan prioritas pembenahan menjadi sangat penting dipahami oleh mitra yang dibangun.

perlu pemulihan kewenangan KY untuk mengungkapkan modus operandi dan upaya pemberantasan mafia peradilan. Begitu juga terhadap penanganan administrasi peradilan. karena dalam realitasnya telah menghilangkan akses keadilan bagi masyarakat dan pencari keadilan. Reformasi peradilan sebagai agenda utama KY tidak akan berhasil seperti yang diharapkan. kualitas putusan. Sementara keputusan KY berkaitan dengan pelanggaran perilaku hakim hanya berupa rekomendasi yang intinya mengusulkan penjatuhan sanksi. dibutuhkan peran masyarakat melalui mitra yang dibentuk KY untuk terlibat langsung dalam mendukung pelaksanaan tugas dan wewenang KY. seperti prosedur penerimaan perkara dan registrasi perkara. Desain ini mirip dengan fungsi yang diberikan kepada Judicial Commission di New South Wales. penyusunan berita acara pemeriksaan (BAP). serta perilaku hakim. Sayang. Dalam kondisi demikian. akuntabel dan berwibawa. Pentingnya pengawasan hakim dari pengaruh mafia peradilan. dan eksekusi. Salah satu upaya tersebut adalah perlunya penguatan pengawasan dan peran serta masyarakat dalam mengontrol praktek peradilan. pembuatan laporan Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 277 . termasuk proses persidangan yang murah. Memang secara legalistik. tenggang waktu penyelesaian perkara.B. rekomendasi KY tidak mendapat respon positif MA sehingga ide awal pembentukan KY dalam UUD tidak berjalan sebagaimana mestinya. Para pencari keadilan begitu sulit mendapatkan pelayanan peradilan yang jujur. KY tidak berwenang memeriksa aspek teknis yudisial seperti kemampuan hakim menangani perkara. KY sebagai lembaga negara yang mandiri berkepentingan dan berkomitmen untuk terus menjalin kerjasama dengan berbagai elemen masyarakat. terutama yang concern terhadap proses reformasi peradilan demi terciptanya sistem peradilan yang bersih. Memulihkan Kewenangan KY Dalam menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat. Oleh karena itu. pembukuan keuangan perkara. sederhana dan cepat. sehingga memerlukan jaringan kerjasama dalam rekrutmen calon hakim agung dan pengawasan terhadap para hakim. pembuatan daftar persidangan. Australia. kearsipan perkara. KY dipersepsikan dalam UUKY untuk tidak mencampuri teknik yudisial.

Berdasarkan laporan 32 negara yang dimuat 278 Bunga Rampai . adanya intervensi atau campur tangan dari pihak luar. Penyebab maraknya korupsi di lembaga peradilan (judicial corruption) yang mesti jadi perhatian mitra KY di daerah. jujur. Penilaian atas perilaku hakim dalam menangani perkara yang ternyata menuai keberatan pencari keadilan merupakan bagian dari tanggung jawab hakim. Pertama. sebagai bagian dari pengawasan masyarakat terhadap hakim. berkas perkara dapat saja diperiksa KY. Kesemuanya diarahkan untuk meningkatkan prestasi kerja hakim dalam menyelesaikan perkara dengan cepat. dapat dilihat pada dua aspek. Mitra (jejaring) KY yang ada di daerah merupakan representasi pengawasan masyarakat. Intervensi model ini telah membudaya melalui forum musyawarah pimpinan daerah (Muspida) yang memberi ruang bagi eksekutif dan legislatif untuk mempengaruhi lembaga peradilan. khususnya eksekutif dan legislatif untuk mempengaruhi putusan hakim. memang tidak sampai pada soal “teknis yudisial” karena terkait independensi hakim (independence of judiciary) dalam memeriksa dan memutus perkara. Mitra atau jejaring yang ada di masyarakat dapat menjadi mata dan telinga KY. KY dapat mengapresiasi perilaku hakim yang menyimpang dengan melakukan interpretasi. jika ada fakta-fakta perilaku hakim yang tercela dalam berkas perkara yang berakibat dikeluarkannya putusan. dan eksekusi peraturan. Kedua aspek ini tetap dipegang oleh pengawas internal MA. sebab memeriksa dan memutus perkara merupakan sebuah tanggung jawab seperti “kemampuan menangani perkara” yang memberikan keadilan. menjadi taruhan kepercayaan masyarakat pada lembaga peradilan. Pada aspek ini. Sukses atau tidaknya pengawasan KY. hakim bisa berkolusi dengan kekuasaan untuk memenangkan suatu perkara. Kedua.perkara. penyuapan yang dapat terjadi sepanjang proses peradilan. dan kualitas putusan harus dapat dirasakan oleh pencari keadilan. Wewenang KY mengawasi perilaku hakim demi menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat hakim. Pemeriksaan KY terletak pada penilaian hakim terhadap fakta-fakta persidangan yang dituangkan dalam putusan dengan menelusuri apakah terjadi penyimpangan perilaku hakim. Namun.

mempengaruhi rekan sesama hakim atau sekedar menjatuhkan putusan tertentu. Temuan KY dalam memeriksa perilaku hakim yang menyimpang yang kemudian direkomendasikan kepada MA. sedangkan KY melakukan pengawasan eksternal untuk menumbuhkan tanggung jawab hakim sebagai benteng terakhir penegakan supremasi hukum dengan memeriksa dan memutus perkara secara benar dan adil. pengawasan dari aspek administrasif berkaitan dengan proses peradilan tetap ada pada MA. Fungsi pengawasan MA bersifat internal. Sinkronisasi ketiga UU selain dimaksudkan memulihkan ke- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 279 . Justru MA dapat memanfaatkan KY untuk membantu menegakkan martabat hakim. sebagian hakim dapat disuap untuk memperlambat atau mempercepat proses pengadilan. kewenangan KY untuk menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat hakim telah diamputasi oleh putusan MK Nomor: 005/PUU-IV/2006 tanggal 23 Agustus 2006. Pemulihan kewenangan KY dalam menjaga dan mengawasi perilaku hakim harus terakomodasi dalam perubahan UUMA dan UUMK.” tandasnya. Kewenangan KY mengawasi hakim dan hakim konstitusi sebagaimana dimaksud dalam UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (UUKY). Padahal. termasuk pengawasan fungsional oleh Dewan Kehormatan Hakim Agung. Efektivitas pengawasan hakim seharusnya berjalan sinergis. yang mengakibatkan maraknya korupsi di pengadilan. menerima atau menolak permintaan banding.dalam Global Corruption Report 2007. dan UU Nomor 24 Tahun 2002 tentang Mahkamah Konstitusi (UUMK). kehadiran KY tidak perlu dianggap sebagai rival. seharusnya direspons positif. terkesan telah membonsai kewenangan KY sehingga perlu dipulihkan dengan mensinkronkan UUKY. Posisi KY sebagai pengawas eksternal yang bersifat independen. bertujuan untuk menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat hakim. UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung (UUMA). Salah satu yang menghambat efektivitas pelaksanaan tugas dan wewenang KY adalah timbulnya sikap MA yang merasa kewenangan pengawasannya diambil alih KY. “Faktor kedua inilah yang paling krusial. Sayang. Jika yang menjadi tujuan adalah tegaknya martabat hakim.

KY tidak berwenang mengawasi hakim yang berkaitan dengan teknis yudisial. Padahal. 280 Bunga Rampai . MK secara sistematis melemahkan fungsi dan peran KY dengan cara ”membonsai” kewenangan KY dalam mengawasi perilaku hakim. yaitu mengenai putusan hakim atas suatu perkara. Para hakim Konstitusi tidak digolongkan sebagai hakim seperti hakim MA dengan alasan demi independensi dalam memeriksa dan menjatuhkan putusan. KY tidak berwenang mengawasi hakim MK. pengawasan atas pelaksanaan kode etik hakim konstitusi dilakukan Majelis Kehormatan sesuai dengan ketentuan Pasal 23 UU MK sebagai pelaksanaan Pasal 24C Ayat (6) UUD. MK secara arogan telah mengabaikan prinsip checks and ba-lances yang menjadi roh bangunan kelembagaan negara dengan tidak rela diawasi dan dijaga kehormatan dan perilakunya oleh lembaga lain. Putusan MK yang mencabut pengawasan KY terhadap dirinya (hakim konstitusi) merupakan tindakan yang berlebihan. Praktik mafia peradilan diperkirakan akan semakin menjadi-jadi karena perilaku hakim tidak lagi diawasi dan dikontrol oleh lembaga lain (KY). tetapi hanya diawasi sendiri oleh temannya sesama hakim. Menurut MK. Kedua. Dalam pertimbangan hukumnya. juga menambal kekosongan hukum di bidang pengawasan terhadap badan peradilan dan hakim yang dilakukan KY seperti diperintahkan Pasal 24B Ayat (1) UUD. MK adalah lembaga negara yang paling steril dari sentuhan pengawasan dari luar dirinya (pengawasan ekstern). hal tersebut menyebabkan adanya penafsiran yang tidak tepat. Keberadaan hakim konstitusi yang tidak termasuk dalam pengertian hakim yang dapat diawasi perilaku etiknya oleh KY merupakan putusan diskriminatif.wenangan KY. Pertama. bahwa penilaian perilaku dilakukan dengan penilaian putusan. Saat ini. pengawasan dari dalam tidak maksimal. Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 menyiratkan bahwa KY hanya dapat mengawasi pelaksanaan kode etik dan kode perilaku hakim dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan hakim. MK menilai. Putusan MK yang perlu diapresiasi menyangkut kewenangan KY pada Kamis 23 Agustus 2006 terdiri dari dua bagian.

tetapi lagi-lagi diabaikan MA. tetapi tak satupun dari enam rekomendasi KY yang direspon MA. UUMA juga mengatur bahwa MA berwenang pula melakukan pengawasan terhadap kecakapan hakim dan perbuatan tercela dari hakim. maka rivalitas kewenangan akan kontra-produktif. Kresna Menon dan hasilnya direkomendasikan kepada MA agar yang bersangkutan diberhentikan sementara selama satu tahun untuk tidak menangani perkara. Hadiah sebagai penghalusan suap (gratifikasi) dalam kode etik yang dibuat MA. kalau pada aspek lain ada ketentuan yang membolehkan hakim menerima hadiah yang berlawanan dengan sumpahnya. Harini Wijoso. tidak sedikit oknum hakim yang menerima suap dalam menangani perkara seperti terungkap di media. Satu Pedoman Perilaku Hakim Pasal 14 UU Nomor 22/2004 tentang Komisi Yudisial sebagai derivasi Pasal 24B UUD 1945 menegaskan. Alih-alih menjaga harkat dan martabat hakim. Adanya dua versi pedoman perilaku hakim. Di lain pihak. KY mempunyai wewenang menjaga dan mengawasi perilaku hakim. Bila hakim terpaksa harus menaati dua versi pedoman perilaku hakim (Code of Conduct). bahkan ada yang diproses di pengadilan.C. Penolakan Ketua MA bersaksi ternyata disikapi KY dengan memeriksa ketua majelis hakim. Termasuk saat Ketua MA dihambat ketua majelis hakim Pengadilan Khusus Korupsi untuk hadir bersaksi dalam sidang perkara suap pegawai MA oleh pengacara Probosutedjo. apalagi kalau memang diberi peluang. Apalagi perseteruan MA-KY selama ini cukup memprihatinkan. dan realitas menunjukkan terciptanya potensi rivalitas yang mengarah pada krisis kelembagaan. Sedangkan tidak diberi peluang menerima hadiah sesuai “sumpah hakim”. tak pelak akan semakin menjadi-jadi di kalangan hakim. Malahan tiga anggota hakim non-karir diganti dan kini diperiksa Pengadilan Tinggi Jakarta karena walk out dalam lima kali Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 281 . Keduanya diberi wewenang hal yang sama. tidak menutup kemungkinan ada hakim yang akan mencari peluang untuk keuntungan sendiri dengan melanggar salah satu pedoman perilaku hakim. seperti pada soal rekrutmen hakim agung atau saat Ketua MA mengabaikan enam rekomendasi KY untuk menghukum hakim yang telah diperiksa karena melakukan penyelewengan.

Tidak akan efektif kalau masingmasing membuat pedoman perilaku hakim. Penerapan dua pedoman perilaku hakim sudah pasti akan menimbulkan implikasi hukum yang pada akhirnya mengancam kewibawaan MA-KY.sidang yang bersikukuh agar Ketua MA dihadirkan bersaksi. Dalam kondisi demikian. Mestinya Ketua MA lebih peka atas berbagai keborokan di lingkungan peradilan. Penyatuan dalam satu atap korps hakim (tidak lagi secara administrasi berada di bawah Menteri Kehakiman dan HAM). juga akan memberi peluang untuk dimanipulasi. Tetapi para hakim juga sudah maklum kalau rekomendasi KY akan diabaikan MA seperti nasib enam rekomendasi KY. termasuk nantinya pada pedoman perilaku hakim yang dibuat KY. terlebih adanya tudingan mafia peradilan.perlu duduk bersama merancang dan menetapkan satu pedoman perilaku hakim. Padahal. kode etik versi KY akan diabaikan. karena selain membingungkan hakim. Resistensi MA terhadap rekomendasi KY. meskipun nantinya bisa dipanggil untuk diperiksa KY dan kemungkinan akan direkomendasikan ke MA agar diberi sanksi. Demi independensi. Tentu saja para hakim akan mengikuti kode etik yang dibuat MA sebagai lembaga yang menaunginya. baiknya dijadikan momentum oleh MA untuk memperbaiki institusi peradilan yang selama ini disoroti publik. Sebaliknya. kedua lembaga negara dalam lingkungan peradilan ini diharapkan berperan aktif dalam menjaga keluhuran peradilan. KY. tidak lebih dari sikap “arogansi” MA yang selalu berlindung di balik jubah independensi. MA. Kalau pedoman perilaku hakim versi MA membolehkan 282 Bunga Rampai . MA seakan lembaga yang kebal dari sentuhan pengawasan lembaga lain atau pengawasan masyarakat dengan mengabaikan konstitusi. wibawa KY akan jatuh dan tidak lebih dari “macan kertas” yang tidak bergigi. Rivalitas kewenangan dalam mengawasi perilaku hakim akan semakin memperpuruk citra lembaga peradilan Indonesia. dan MK --yang hakimnya mestinya juga diawasi KY. Perlu kesadaran dan keprihatinan bersama antara MA dengan KY dalam melihat dan menyikapi persoalan penegakan hukum. padahal konstitusi dan UUKY memberi kewenangan untuk mengawasi dan memeriksa hakim-hakim nakal.

Pedoman perilaku hakim versi MA menetapkan 10 pedoman perilaku hakim. karena selain menghindari rivalitas dan krisis kelembagaan. bertentangan dengan Pasal 12B UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang melarang penyelenggara negara. 27/6/2006) menyatakan. dan aparat hukum menerima gratifikasi. Ketua MA. Sebab. Pedoman perilaku hakim versi MA dikecam berbagai kalangan karena memuat ketentuan yang membolehkan seorang hakim menerima hadiah dari pihak lain. Alasan membolehkan hakim menerima hadiah terkesan dibuat-buat dan menggelikan. karena akan menghambat pemberantasan judicial corruption yang terstruktur dan institusional. MA mengabaikan sumpah hakim. hakim yang menerima sesuatu atau hadiah selain termasuk gratifikasi juga dinilai sebagai unprofessional conduct. Di sinilah dituntut kesadaran keduanya (termasuk MK) untuk secara bersama membuat satu pedoman perilaku hakim.. ternyata menoleransi hakim menerima hadiah dari orang yang berperkara. misalnya sekotak kue atau sepotong kain batik biasa. dan pada sub-bagian berperilaku jujur.. hakim boleh saja menerima hadiah asalkan jumlahnya wajar dan tidak ada tendensi mempengaruhi hakim dalam memeriksa dan menjatuhkan putusan. memberi peluang bagi hakim menerima hadiah (gratifikasi) sangat riskan dan berbahaya. juga mewujudkan sinergi dan saling menghormati wewenang. Ketua MA boleh saja beralasan tidak akan berpengaruh pada independensi hakim. yaitu untuk menghindari kekecewaan orang dan tidak tega menolak pembe- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 283 .hakim menerima hadiah.” Olehnya itu. apalagi dari pihak yang berperkara. tidak menerima apa pun yang patut diduga berkaitan dengan jabatan . pegawai negara.. untuk ”. tetapi alasan yang diberikan tidak sesederhana itu. Bahkan. Bagir Manan (Media Indonesia.. Jika masing-masing membuat pedoman perilaku hakim dengan subjek yang sama.. Pernyataan ini telah mereduksi harapan publik agar hakim memiliki integritas yang tinggi. akan semakin memperlebar jurang perbedaan yang pada akhirnya hanya akan merugikan penegakan hukum yang bersandar pada rasa keadilan masyarakat. tentu tidak lagi proporsional di tengah upaya merebut kembali citra peradilan Indonesia.

hanya akan menambah kekisruhan dalam mengawasi perilaku hakim. calon hakim agung dan para hakim dapat terjaga integritas dan kredibilitasnya dalam menyelenggarakan peradilan yang memihak pada rasa keadilan masyarakat.rian yang dapat menyakiti hati orang yang memberi. perlu menyimak kritikan Charles Sampford (1998) dalam teori ”the disorder theory of law” yang memandang hukum tidak identik dengan bangunan yang penuh keteraturan logis-rasional. bahkan pada 6 Juli 2007. Di dalamnya selalu ada ruang ekstra (leeway) yang dapat digunakan untuk menghidupkan nilai-nilai kehidupan sosial dan rasa keadilan masyarakat. tetapi sesuatu yang bersifat cair yang perlu dihidupkan oleh pelaksana hukum. serta perilaku hakim yang menyimpang. Hukum tidak selalu dimaknakan “machine justice” sehingga hakim harus menjaga hak-hak komunitas dan konstitusionalitas rakyat. juga perlu perhatian KY. maka mitra (jejaring) KY yang ada di daerah harus dilibatkan secara maksimal. hakim-hakim di republik ini sering hanya mendahulukan kepentingan perutnya ketimbang mengimplementasikan rasa keadilan masyarakat. Untuk mengefektifkan pelaksanaan tugas dan wewenang KY. Rivalitas dan perseteruan MA-KY mestinya sudah harus berakhir dengan duduk bersama merancang satu pedoman perilaku hakim. Pedoman perilaku hakim yang masing-masing dibuat oleh KY dan MA. Hanya dengan cara itu. Munculnya polemik atas hasil rekrutmen KY terhadap calon hakim agung. memotivasinya untuk berani melaporkan rekam jejak para calon hakim agung yang sedang diseleksi KY dan DPR. Penutup Untuk lebih memaknai tugas dan wewenang KY. DPR telah memilih enam hakim agung dari 18 284 Bunga Rampai . Berbagai survei dan pengaduan masyarakat yang terungkap di media massa menyebutkan. Kendati proses seleksi calon hakim agung telah dilakukan KY. Timbul pertanyaan. Paling tidak. mana yang harus dipatuhi para hakim? Apakah pedoman perilaku hakim yang dibuat lembaganya (MA) atau pedoman perilaku hakim yang dibuat KY sebagai lembaga yang memang diberi wewenang oleh konstitusi untuk mengawasi perilaku hakim? D.

Termasuk jumlah dana yang amat besar digunakan dalam seleksi. seyogyanya diapresiasi agar tidak terulang di kemudian hari. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 285 . bahwa mereka direndahkan oleh tim seleksi KY dari cara bertanya yang terkesan menyudutkan. Keberatan salah seorang anggota KY atas penetapan 12 calon hakim agung yang merasa tidak dilibatkan dalam rapat pleno. serta keluhan sejumlah calon hakim agung yang berasal dari hakim karir yang mengikuti tes.calon yang diajukan KY. tidak berarti KY harus berpuas diri.

286 Bunga Rampai .

S. pegawai administrasi dengan pangkat tertinggi sampai dengan pangkat terendah di lembaga penegakan hukum. sehingga tidak heran apabila dalam sebuah media nasional pernah disebutkan bahwa seorang koruptor yang “merampok” uang negara milyaran rupiah hukumannya tidak beda jauh dengan seorang yang maling 4 karung bawang merah di pasar.Urgensi dan Fungsi Pembentukan Jejaring di Daerah Oleh Komisi Yudisial Asep Rahmat Fajar. sipir penjara dan advokat). jaksa. Semua hal tersebut diperparah dengan sering munculnya putusan pengadilan yang tidak mencerminkan rasa keadilan masyarakat. Selain itu dari berbagai penelitian yang dilakukan oleh berbagai lembaga swadaya masyarakat diperoleh data bahwa aktor-aktor yang terlibat pun sudah demikian luas. 1 Pendahuluan Peradilan Indonesia saat ini dipenuhi kontroversi demi kontroversi. proses penundaan persidangan tanpa alasan yang jelas sampai kepada pelaksanaan putusan pengadilan yang kadang kala tidak jelas waktunya. hakim.H. berbagai kontroversi tersebut dapat dilihat mulai dari lambatnya proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh kepolisian dan kejaksaan dalam penanganan suatu kasus. banyaknya pungutan di luar biaya administrasi resmi saat kasus telah masuk ke pengadilan. yaitu dimulai dari seluruh aparat penegak hukum (polisi. sampai dengan kalangan in- 1 Tenaga Ahli Komisi Yudisial Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 287 . Apabila dirangkum dalam suatu kesimpulan umum.

pemalsuan. 2 Komite Penyelidikan dan Pemberantasan Korupsi. jaksa. hakim dan advokat). conflict of interest.2 Bentuk-bentuk korupsi di lembaga peradilan sendiri menurut deklarasi International Bar Association (IBA). seperti suap. Bahkan Daniel Kauffmann yang secara khusus menyoroti praktek korupsi di lembaga peradilan. Panduan Melawan Mafia Peradilan”.telektual yang menjadi saksi ahli. dalam laporannya menunjukkan bahwa Indonesia termasuk negara yang berada pada posisi yang cukup memprihatinkan berkaitan dengan kinerja aparat pada lembaga penegakan hukumnya. Praktek-praktek judicial corruption ini secara kolektif dikenal dengan sebutan mafia peradilan. kinerja aparat penegak hukum sekarang ini memang berada pada titik nadir yang cukup mengkhawatirkan. penghilangan data atau berkas pengadilan. Sebagai suatu sistem. perubahan dengan sengaja berkas pengadilan. secara umum adalah tindakan-tindakan yang menyebabkan ketidakmandirian lembaga peradilan dan institusi hukum (polisi. Sedangkan secara khusus dapat dilakukan dalam bentuk mencari atau menerima berbagai macam keuntungan atau janji berdasarkan penyalahgunaan kekuasaan kehakiman atau perbuatan lainnya. memperlambat proses pengadilan. kompromi dengan advokat serta tunduk kepada kemauan pemerintah dan partai politik. Kolusi dan Nepotisme (KP2KKN) Jawa Tengah. favoritisme. “Katakan Tidak. Fakta yang secara selintas disebutkan di atas menyebabkan berbagai laporan lembaga di dalam maupun luar negeri yang menyebutkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat korupsi tertinggi di dunia menjadi cukup valid dan tidak dapat disanggah sama sekali. ancaman. pemanfaatan kepentingan umum untuk kepentingan pribadi. nepotisme. Berbagai keluhan baik dari masyarakat dan para pencari keadilan seolah-olah sudah tidak dapat lagi menjadi media kontrol bagi para penegak hukum tersebut untuk kemudian melakukan berbagai perbaikan yang signifikan bagi terciptanya suatu kinerja yang ideal dan sesuai dengan harapan masyarakat. pertimbangan yang keliru. sikap tunduk kepada campur tangan luar/dalam pada saat memutus perkara karena adanya tekanan. 288 Bunga Rampai .

teori pengadilan yang mempunyai asas sederhana. 5. kebijakan dan ketentuan atau peraturan (dasar dilakukanya pengawasan berikut aturan mainnya). subyek (pengawas atau orang yang mengawasi). penggunaan anggaran. 2. yaitu: 1. dan biaya ringan di satu sisi dan terciptanya suatu peradilan yang bersih. ruang lingkup pengawasan (hal-hal yang diawasi seperti kinerja pegawai. dan sebagainya). tujuan (untuk memastikan bahwa pelaksanaan suatu tugas maupun hasilnya sesuai dengan perencanaan) Sehubungan dengan berbagai teori pengawasan tersebut. maka makna yang terkandung di dalam pengertian pengawasan tersebut berhubungan erat dengan kesatuan tanggung jaPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 289 . Adapun unsur-unsur dari pengawasan tersebut setidaknya meliputi enam hal. apabila dikaitkan dengan aparat penegak hukum. cepat. tata cara atau prosedur dalam melakukan pengawasan) dan 6.Secara praktek. Sebagian kalangan menganggap bahwa permasalahan tersebut tidak dapat dilepaskan dari lemahnya sistem pengawasan. dan prinsip yang dianut. transparan dan mengedepankan nilai-nilai keadilan di sisi lain terlihat sudah sangat sulit untuk diterapkan dan ditemui dalam lembaga dan aparat penegak hukum yang ada saat ini. Pengawasan: Prinsip dan Aktor Yang Terlibat Menurut Fayol (salah seorang perintis ilmu manajemen) pengawasan adalah upaya memeriksa apakah semua terjadi sesuai dengan rencana yang ditetapkan. 4. Kelemahan sistem tersebut pada gilirannya mengakibatkan pola manajemen sumber daya manusia dan manajemen administrasi di lembaga-lembaga penegak hukum tersebut menjadi berjalan tidak optimal/ obyektif. perintah yang dikeluarkan. obyek (orang yang diawasi). Juga dimaksudkan untuk mengetahui kelemahan dan kesalahan agar dapat dihindari kejadiannya di kemudian hari. mekanisme (urutan. Selain itu Sujamto (ahli manajemen lainnya) mendefinisikan pengawasan sebagai segala usaha dan kegiatan untuk mengetahui dan menilai kenyataan yang sebenarnya mengenai pelaksanaan tugas atau kegiatan apakah sesuai dengan yang semestinya atau tidak. 3.

wab yudisial (judicial responsibility) yang mengandung tiga dimensi pertanggungjawaban. 2. sehingga tidak berjalan dengan efektif. diperlukan suatu sistem pengawasan agar dapat mendeteksi dan memeriksa pelanggaran. Berdasarkan teori di atas terdapat beberapa permasalahan dalam sistem pengawasan bagi aparat penegak hukum di Indonesia. Pada beberapa lembaga penegak hukum belum ada ketentuan yang memadai yang mengatur pedoman bagaimana seorang aparat penegak hukum seharusnya berperilaku (code of conduct). “Administrasi Peradilan : Lembaga Pengawasan Sistem Peradilan Terpadu”. tanggung jawab administrasi (administrative responsibility). Mekanisme pengawasan melalui proses yang sangat panjang. baik perilaku di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan. antara lain adalah: 1. 2. yaitu:3 1. 4. solidaritas (in group feeling. mekanisme pengawasan tidak transparan dan akuntabel sehingga masyarakat yang mengajukan laporan/ pengaduan tidak mengetahui tindak lanjut dari laporan/pengaduan mereka. 3. 3 Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia (Mappi). Melihat permasalahan yang masih ada sampai saat ini dalam sistem pengawasan aparat penegak hukum kita. merespon laporan atau pengaduan masyarakat dan menindaklanjuti dengan obyektif hasil pemeriksaan dan laporan masyarakat tersebut. esprit de corps) dari obyek pengawasan. 3. tanggung jawab prosedural (procedural responsibility) yang menuntut ketelitian atau akurasi hukum acara yang dipergunakan dan tanggung jawab substansi (substantif responsibility) yang berhubungan dengan ketepatan pengkaitan antara fakta dan hukum yang berlaku. yang mengakibatkan proses pencarian data dan informasi pendukung menjadi cukup terhambat. 290 Bunga Rampai .

Sedangkan pada tahap sosialisasi kebijakan. maupun media komunikasi personal. melalui media massa. artinya sesuai dengan prinsip-prinsip administrasi yang benar maupun nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. salah satu hal yang paling utama adalah partisipasi publik. dengan konsekuensi mekanisme pertanggungjawaban jika standar tersebut tidak terpenuhi. yaitu transparansi. akuntabilitas dan partisipatif. maupun proses-proses di dalam sektor publik. mekanisme yang memfasilitasi pelaporan maupun penyebaran informasi maupun penyimpangan tindakan aparat publik di dalam kegiatan pelayanan publik. dan sudah sesuai dengan visi dan misi organisasi. adanya kejelasan dari sasaran kebijakan yang diambil. serta standar yang berlaku. adanya mekanisme untuk menjamin bahwa standar telah terpenuhi. beberapa indikator untuk menjamin akuntabilitas publik adalah penyebarluasan informasi mengenai suatu keputusan. konsistensi maupun kelayakan dari target operasional yang telah ditetapkan maupun prioritas dalam mencapai target tersebut. Terdapat beberapa hal penting yang harus dijadikan sebagai prinsip. pembuatan keputusan sudah memenuhi standar etika dan nilai-nilai yang berlaku. akses publik pada informasi atas suatu keputusan setelah keputusan dibuat Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 291 . mekanisme yang memfasilitasi pertanyaan-pertanyaan publik tentang berbagai kebijakan dan pelayanan publik.Untuk mengoptimalkan sistem pengawasan aparat penegak hukum tersebut. akurasi dan kelengkapan informasi yang berhubungan dengan caracara mencapai sasaran suatu program. Selanjutnya untuk akuntabilitas indikator dan parameter yang dapat menjadi acuan pada tahap proses pembuatan adalah pembuatan sebuah keputusan harus dibuat secara tertulis dan tersedia bagi setiap masyarakat yang membutuhkan. Parameter yang dapat digunakan untuk mengukur prinsip transparasi terdiri dari mekanisme yang menjamin sistem keterbukaan dan standarisasi dari semua prosesproses pelayanan publik. Dalam hal ini prinsip transparansi ini hanya akan menjadi wacana semata jika tidak didukung oleh adanya perlindungan hukum terutama bagi publik yang tertuang dalam suatu Undang-undang tentang Kebebasan Memperoleh Informasi dan Perlindungan Saksi.

Dalam hal ini partisipasi publik dalam pengambilan keputusan hanya dapat efektif dan berarti (meaningful) jika masyarakat memiliki informasi yang memadai. Lucas and Pring. (Oxford: Oxford University Press. Adapun untuk prinsip partisipasi agar dapat terlaksana dibutuhkan beberapa langkah awal sebagai inisiatif dari lembaga penegak hukum yakni mengeluarkan informasi yang dapat diakses oleh publik. maka masyarakat tidak memiliki ‘amunisi’ untuk berargumentasi. terarah dan dapat terkontrol. mendelegasikan otoritas tertentu kepada pengguna jasa layanan publik seperti proses perencanaan dan penyediaan panduan bagi kegiatan masyarakat dan layanan publik. Sedangkan tolak ukur penilaian pelaksanaan dari prinsip partisipatif yang dapat digunakan adalah keterlibatan publik melalui terciptanya nilai dan komitmen para aparat. 292 Bunga Rampai . Oleh karenanya. Dan tanpa jaminan hak memperoleh informasi.dan mekanisme pengaduan masyarakat. the Aarhus Convention and the European Union” dalam Human Rights in Natural Resources Development. menyelenggarakan proses konsultasi untuk menggali dan mengumpulkan masukan-masukan dari publik dalam kegiatan publik. keterlibatan publik dalam merancang dan melaksanakan penegakan hukum. maka salah satu titik lemah dalam pengawasan yaitu tidak adanya parameter dan koridor yang jelas untuk melakukan pengawasan dan tidak diterapkannya prinsip-prinsip dasar good governance harus 4 Peter Davies. Tanpa informasi. masyarakat tidak dapat mengakses informasi-informasi tertentu yang penting untuk menjalankan peran di atas. by Zillman. yang bersifat terbuka dan inklusif sebagai tempat publik menyampaikan keinginannya. berpendapat atau memutuskan sikap secara menyakinkan dan tepat.4 Logikanya cukup sederhana. 157. ketersediaan sistem informasi manajemen dan monitoring hasil yang telah dicapai oleh pemerintah. apabila kita menginginkan suatu sistem pengawasan yang cukup optimal. eds. “Public Participation. 2002). dan perhatian pemerintah pada pengarahan dan ajakan pada publik untuk berpartisipasi. kemampuan publik untuk terlibat dalam penegakan hukum. hal. adanya wadah dan saluran untuk menampung partisipasi publik yang representatif.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Assegaf dan Josi Khatarina. hakim menganggap ia dapat melakukan apa saja tanpa perlu mempertanggungjawabkannya kepada publik dan pada akhirnya menjalankan proses peradilan yang sesat. baik di dalam maupun di luar negeri. maupun karena mungkin prinsip ini menguntungkan para hakim. Di berbagai forum yang membahas lembaga peradilan.2003) dan dalam Undang-undang No. Sebab saat ini sering kali karena tidak jelasnya kedua hal tersebut para pelaku mafia peradilan senantiasa berlindung di balik klaim otoritas independensi lembaganya. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 293 . Namun di sini perlu disadari bahwa pengawasan berbasis masyarakat bukanlah pengawasan yang langsung jadi dan berjalan dengan sistemik. melainkan melalui proses bertahap yang mencakup pendidikan. Peran serta masyarakat diakui memiliki peran penting dalam upaya pencegahan dan penegakan hukum terhadap tindak pidana korupsi. penyadaran. sebagai wujud dari berbagai teori yang telah dipaparkan di atas.secepatnya diperbaharui. meningkatkan peran serta masyarakat dalam sistem pengawasan menjadi tidak dapat ditawar-tawar lagi.5 Selain itu. baik karena merupakan prinsip yang dianggap penting di dunia. Jangan sampai dengan alasan independensi.6 5 6 Rifqi S. Prinsip ini pula yang sepertinya paling fasih dikuasai oleh para hakim. prinsip ini paling sering dibicarakan. memperoleh dan memberikan informasi bahwa di suatu daerah atau instansi telah terjadi praktek korupsi. pengawasan yang dilakukan haruslah pengawasan yang berbasis masyarakat. prinsip ini sepertinya dianggap lebih penting dibandingkan prinsip pengadilan yang terbuka (prinsip yang mendorong lahirnya akuntabilitas pengadilan). 31 tahun 1999 sendiri. Dalam hal ini basis masyarakat yang dimaksud adalah mereka yang berkepentingan langsung yaitu korban (termasuk didalamnya kelompok masyarakat yang peduli dengan isyu ini). Tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa memang prinsip independensi peradilan adalah salah satu prinsip penting untuk melahirnya proses peradilan yang fair. dan perubahan budaya hukum. Padahal kita menyadari betul bahwa independensi tanpa akuntabilitas dapat kita umpamakan sebagai “cek kosong yang bisa diisi apa saja”. Hal ini diakui dalam Konvensi PBB melawan korupsi 2003 (UN Convention Against Coruption. “ Membuka Ketertutupan Pengadilan”. Undang-undang ini memberi kebebasan kepada masyarakat untuk mencari. Namun permasalahannya.

7 Situasi dan kekhawatiran tersebut mendorong terbentuknya gagasan ke arah pembentukan lembaga independen 7 Mahkamah Agung Republik Indonesia. keuangan dan organisasi kepada Mahkamah Agung. Usaha ke arah peradilan yang lebih baik tersebut sebelumnya juga dilakukan dengan menciptakan sistem satu atap (One Roof System) yaitu memberikan kewenangan di bidang administrasi. aksesibilitas pengadilan. Namun usaha ini dipandang belum tentu mampu menyelesaikan masalah yang ada dan bahkan dipandang dapat menimbulkan monopoli kekuasaan di lembaga tersebut. Konstitusi tepatnya pasal 24B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 memberikan landasan hukum yang kuat bagi reformasi bidang hukum yakni dengan memberikan kewenangan pada Komisi Yudisial untuk mewujudkan cheks and balances. 22 tahun 2004 memberikan wewenang bagi Komisi Yudisial untuk mengusulkan pengangkatan Hakim Agung pada DPR dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim. Sedangkan UU No. struktur organisasi. Dibentuknya Komisi Yudisial pada perubahan ke-3 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan reaksi terhadap kegagalan sistem peradilan yang ada untuk menciptakan peradilan yang lebih baik. minimnya gaji hakim (pegawai) serta anggaran pengadilan. Sebagai salah satu upaya menjawab sebagian permasalahan di atas.23. Naskah Akademik dan Rancangan UndangUndang Tentang Komisi Yudisial.Jejaring: Mitra Komisi Yudisial Dalam Pengawasan Rendahnya integritas sebagian hakim hanyalah sebagian dari masalah yang menyelimuti lembaga peradilan. h. 22 tahun 2004 tentang Komisi Yudisial oleh Pemerintah dan DPR. MPR (dengan dorongan kelompok masyarakat sipil) pada tahun 2002 menetapkan perlunya pembentukan Komisi Yudisial dalam konstitusi yang kemudian disusul dengan pengundangan UU No. 294 Bunga Rampai . 2003. Kualitas sebagian hakim yang rendah (salah satunya disebabkan karena kelemahan proses rekrutmen dan promosi hakim). adalah beberapa ilustrasi lain permasalahan yang harus menjadi agenda pembenahan.

hakim agung dan hakim konstitusi. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak mengenal istilah lembaga negara utama (main) dan lembaga negara penunjang (supporting). yang membedakan satu sama lain adalah kewenangannya. informasi.yang berada di luar Mahkamah Agung yang dapat mengimbangi agar tidak terjadi monopoli kekuasaan pada lembaga tersebut. Upaya untuk memperbaiki dunia peradilan yang merupakan salah satu semangat kelahiran Komisi Yudisial tentu memerlukan dukungan penuh dari elemen-elemen civil society. Diaturnya Komisi Yudisial dalam Pasal 24B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menunjukkan bahwa lembaga ini merupakan lembaga negara yang mendapat atribusi kekuasaan langsung dari Undang-Undang Dasar. Sebagaimana diketahui sejak perubahan ke-3 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Buruknya dunia peradilan tentu juga terkait dengan proses rekrutmen dan peningkatan karir hakim yang lemah (yang tidak didasarkan pada basis data dan analisis kinerja/ putusan) serta tidak terlacaknya perilaku hakim. Dengan demikian kedudukan Mahkamah Agung. tidak ada lagi pembagian lembaga negara tertinggi dan lembaga tinggi negara. Kehadiran peradilan yang bersih dengan putusannya yang adil merupakan kebutuhan bersama baik masyarakat maupun pemerintah. Komisi Yudisial diberi wewenang oleh Undang-Undang Dasar untuk mengawasi perilaku hakim. Komisi Yudisial dan Mahkamah Konstitusi adalah sama yaitu sama-sama mendapat kewenangan atribusi dari Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sebagai lembaga negara yang mandiri. Hakim- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 295 . Dalam kaitan ini Komisi Yudisial telah menegaskan pentingnya peranan elemen-elemen masyarakat tersebut untuk memiliki pengetahuan. Semua lembaga negara adalah sederajat. komitmen dan program aksi bersama dalam menciptakan peradilan yang bersih (clean judiciary). Dalam rangka merealisasikan gagasan tersebut dibentuklah Komisi Yudisial yang diharapkan dapat mengawasi serta mengimbangi (checks and balances) pelaksana kekuasaan kehakiman sehingga dapat mendorong terciptanya peradilan yang lebih baik di masa mendatang.

hakim yang putusannya tidak baik bahkan diindikasi kuat ada pengaruh pihak berperkara tentu perlu diketahui sejak dini baik untuk keperluan pembinaan ataupun penjatuhan sanksi. bahwa di satu sisi “penyimpangan” peradilan pada akhirnya akan menempatkan masyarakat sebagai “korban –dengan harga yang sangat mahal. dan ormas keagamaan akan dapat mendukung.adalah kurangnya partisipasi publik dalam menjaga dan menegakan kehormatan. mengefektifkan. Terlebih lagi hakim-hakim yang akan direkrut menjadi hakim agung. 296 Bunga Rampai . Komisi Yudisial mungkin dapat menyusun strategi dan metode untuk melakukan riset putusan hakim atau melakukan investigasi perilaku hakim guna memperoleh basis data di atas. Ketersediaan basis data hakim akan sangat membantu dalam peningkatan kinerja dan karir hakim. serta perilaku hakim bertolak dari dua pemikiran dasar. hasil dari program perbaikan dunia peradilan pada akhirnya akan dan harus dirasakan secara luas dan nyata oleh seluruh masyarakat. keluhuran martabat serta perilaku hakim (di semua lingkungan dan jenjang pengadilan).8 tentu mencari data di atas sangat sulit dicapai.sementara di sisi lain terwujudnya peradilan yang “bersih dan “berwibawa” serta yang memungkinkan perlakuan yang sama bagi 8 Data terakhir yang dimiliki penulis adalah jumlah hakim sebanyak 6178 orang yang tersebar di 341 kabupaten/kota. Hal itu hanya bisa dilakukan melalui suatu proses yang sistematis dengan metodologi yang jelas. Oleh sebab itu. LSM. Apalagi. Pembentukan jejaring berangkat dari berbagai permasalahan di atas dan pemikiran bahwa salah satu faktor penyebab terjadinya “penyimpangan” peradilan –yang muncul dalam bentuk “mafia peradilan”. keluhuran martabat. sementara lembaga-lembaga peradilan berada di setiap provinsi dan kabupaten dengan lebih dari 6000 orang hakim yang tersebar di lebih dari 300 kabupaten/kota. dan memperkuat upaya di atas. kehadiran elemen masyarakat berbasis perguruan tinggi. Kesadaran terhadap pentingnya optimalisasi publik dalam menjaga dan menegakan kehormatan. semestinya bebas dari putusan-putusan bermasalah. namun dengan keterbatasan lembaga Komisi Yudisial yang hanya ada di tingkat nasional.

Bengkulu. Jambi. Sumbar. Lampung) Malang (mencakup wilayah Banten. Bangka Belitung. memang telah ada majalah yang berisi putusan pengadilan tetapi sangat deskriptif dan kurang analitis. Kaltim) Kendari (mencakup wilayan Sulsel. dan cukup lengkap. Sulteng. Komisi Yudisial telah berhasil membentuk jejaring di seluruh Indonesia yang pada saatnya akan merupakan elemen terdepan dalam melakukan kajian putusan hakim (untuk melihat kualitas) dan melakukan investigasi perilaku hakim (untuk melihat integritas) di seluruh Indonesia. Selama ini. 5. Jateng. Sulut) 9 Laporan Tahunan Komisi Yudisial Republik Indonesia tahun 2006 Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 297 . DKI Jakarta. Medan (mencakup wilayah Aceh. 3. Sulbar. Pada kesempatan ini mungkin perlu disampaikan juga bahwa sampai saat ini telah dilakukan penyusunan nota kesepahaman dengan beberapa lembaga negara dan kalangan masyarakat yang berasal dari elemen Perguruan Tinggi. tidak tumpang tindih. yaitu:9 1. Sultra. maka dapat dihasilkan analisis atas putusan-putusan yang baik yang dapat menjadi literatur penting dalam peningkatan kemampuan para hakim dalam menangani perkara. Sumut. Organisasi Masyarakat serta Lembaga Swadaya Masyarakat. Sementara itu ada juga majalah yang berisi analisis putusan tetapi karena dilahirkan bukan dari lembaga negara resmi maka kurang menjadi rujukan bagi para hakim. Gorontalo. DIY Yogyakarta. Jabar. Riau dan Kepulauan Riau) Palembang (mencakup wilayah Sumsel. 2. Dalam hal ini penyusunan nota kesepahaman tersebut diawali dengan lokakarya pembentukan jejaring Komisi Yudisial di 7 regional. NTT dan Bali) Pontianak (mencakup wilayah Kalsel.semua pihak di muka hukum (equality before the law) juga menuntut adanya peran publik yang optimal. Kalteng. Berdasarkan telaah putusan hakim yang akan dijalankan. 4. Pada saat ini. Kalbar. Berdasarkan jaringan yang ada ini maka upaya yang dilakukan akan sistematis. 6. dan Jatim) Mataram (mencakup wilayah NTB.

39 Fakultas Hukum PTN dan PTS. Sebagai tindak lanjut dari disusunnya berbagai nota kesepahaman tersebut. 4. Terintegrasinya gerakan antara negara dan kalangan masyarakat sipil yang mempunyai tujuan untuk melakukan reformasi peradilan dan pemberantasan mafia peradilan. 3. antara lain meliputi bidang: 1. Adapun ruang lingkup kerjasama yang berhasil disepakati antara Komisi Yudisial dengan elemen-elemen tersebut di atas. b. Seleksi calon hakim agung. Sedangkan hasil yang diharapkan dengan adanya jejaring dan program-programnya adalah: 1. Maluku Utara. 55 Lembaga Swadaya Masyarakat. Teradvokasinya masyarakat pencari keadilan (terutama masyarakat korban) untuk dapat memperjuangkan hakhaknya. Ambon (mencakup wilayah Maluku. Papua dan Irjabar). Penelitian putusan hakim di masing-masing daerah. 3. Tersusun dan tersedianya data base hakim (baik dalam hal kualitas maupun integritas) yang selanjutnya dapat dijadikan sebagai informasi awal bagi Komisi Yudisial pada saat melaksanakan: a.7. Investigasi perilaku hakim di masing-masing daerah. Pembangunan jaringan advokasi masyarakat. c. 11 Organisasi Masyarakat. Pertukaran informasi yang dilakukan atas dasar kesepakatan kedua pihak. Penelitian sesuai dengan tema/topik yang telah disepakati oleh kedua pihak. Pengawasan perilaku hakim. Bidang-bidang lain yang dianggap perlu dan disepakati oleh masing-masing pihak. 3. Pemberian penghargaan bagi hakim yang berprestasi. 6. 2. 2. Dengan nota kesepahaman yang telah disepakati adalah: 1. 2. 5. Komisi Yudisial dengan jejaring dae- 298 Bunga Rampai .

mampu menegakkan hukum serta dapat memberikan kepastian hukum dan keadilan merupakan conditio sine qua non atau persyaratan mutlak dalam sebuah negara yang berdasarkan hukum. profesional. Penutup Pengadilan yang mandiri. seorang hakim dapat mengalihkan hak kepemilikan seseorang. di mana setiap orang sama kedudukannya di depan hukum dan hakim. kebenaran dan keadilan tanpa pandang bulu dengan tidak membeda-bedakan orang seperti diatur dalam lafal sumpah seorang hakim. Komisi Yudisial sebagai lembaga yang diberi amanat oleh konstitusi Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 299 . terlebih dengan segala kewenangan yang dimilikinya. Kewenangan hakim yang sangat besar itu menuntut tanggungjawab yang tinggi. menyatakan tidak sah tindakan sewenang-wenang pemerintah terhadap masyarakat. sehingga putusan pengadilan yang diucapkan dengan irah-irah “Demi Keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” mengandung arti bahwa kewajiban menegakkan hukum. Sebagai aktor utama lembaga peradilan. Selain itu.rah sampai saat ini telah melakukan berbagai acara untuk proses penyamaan persepsi dan penyamaan metodologi guna menyongsong berbagai program yang akan dan sekarang sedang dilaksanakan. mencabut kebebasan warga negara. sebagai bentuk penguatan kelembagaan yang lain. Oleh sebab itu. semua kewenangan yang dimiliki oleh hakim harus dilaksanakan dalam rangka menegakkan hukum. Melalui putusannya. sampai dengan memerintahkan penghilangan hak hidup seseorang. Sebagai salah satu langkah untuk mewujudkan lembaga peradilan dan hakim seperti disebutkan di atas. netral (tidak berpihak). kebenaran dan keadilan itu wajib dipertanggungjawabkan secara horizontal kepada semua manusia. Komisi Yudisial juga telah melakukan penyusunan nota kesepahaman dengan beberapa lembaga negara yang wilayah tugasnya cukup terkait dengan tugas dan wewenang Komisi Yudisial. posisi. dan secara vertikal dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan peran hakim menjadi sangat penting. Sebab hanya pengadilan yang memiliki semua kriteria tersebut di ataslah yang dapat menjamin pemenuhan hak asasi manusia. berwibawa.

300 Bunga Rampai . gerakan bahu membahu secara sistematis dan berkesinambungan antar JEJARING dalam suatu JARINGAN kerja menjadi hal yang tidak dapat ditawar dan ditunda-tunda lagi. juga disebabkan pemahaman bahwa mafia peradilan adalah merupakan musuh bersama yang telah memberikan dampak negatif yang luar biasa besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karenanya.untuk menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim menempatkan diri sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari komunitas negara dan masyarakat sipil yang mempunyai agenda melakukan reformasi peradilan dan pemberantasan mafia peradilan. Hal tersebut selain dilandasi oleh kesadaran bahwa dua pekerjaan tersebut adalah bukan pekerjaan yang ringan.

Christine S.. Kandidat Pilkada kota Depok (Nur Mahmudi Ismail) adalah orang pertama yang datang untuk melaporkan buruknya kerja dan kinerja lembaga pengadilan. lahirlah sebuah lembaga Negara baru yaitu Komisi Yudisial. MS.H. hlm 9..H.T. Drs. 2004. * Pendahuluan Ditengah maraknya praktek “mafia peradilan” di Bumi Pertiwi ini..H. Komisi Yudisial sudah langsung menerima pengaduan dari masyarakat. Walau menuai pro dan kontra serta mendapatkan resistensi dari Mahkamah Agung (MA).T Kansil. PT Pradnya Paramita Jakarta. S. tidaklah dapat dipungkiri bahwa lembaga ini ternyata memberikan secercah harapan bagi para pencari keadilan. M. “Ilmu Negara”. Cetakan kedua. Untuk sampai pada pemahaman betapa pentingnya keberadaan Komisi Yudisial Republik Indonesia (KYRI) beserta kewenangannya dalam struktur ketatanegaraan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam menjamin hak warga Negara.Urgensi Pembuatan Database Hakim Sebagai Media Penunjang Pelaksanaan Wewenang dan Tugas Komisi Yudisial Ir. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 301 .S. Kansil. C. * 1 Penulis adalah Kepala Pusat Data dan Pelayanan Informasi Komisi Yudisial Republik Indonesia Prof. S. haruslah dipahami arti dari definisi “Negara” serta tujuan dibentuknya negara itu sendiri. Andi Djalal Latief. Hal ini terbukti beberapa saat setelah anggota Komisi Yudisial mengucapkan sumpah dihadapan Presiden sebagai Kepala Negara.

2007. 2004.“Negara” menurut pandangan Prof. dan itulah salah satu sebab mengapa negara sebagai persekutuan hidup menempati jenjang yang paling tinggi. karena negara mempunyai tugas yang paling mulia yaitu memanusiakan manusia. misalnya pemerintah. S.3 sedangkan menurut Aristoteles negara yang ideal itu adalah negara yang memanusiakan manusia. tujuan Negara adalah dihubungkan dengan cita-cita manusia hidup di alam kekal yaitu sesuai yang diinginkannya.T Kansil. Bee Media Indonesia. Somardi “General Theory of Law and State”.T. Prof. 302 Bunga Rampai .. negara 2 3 Hans Kelsen. Kansil. Istilah “negara” kadang-kadang digunakan dalam pengertian yang sangat luas untuk menunjuk “masyarakat” atau bentuk khusus dari masyarakat..H. S.A Logemann adalah: De Staats is een gezags organizatie (Negara ialah. “bangsa”. sedangkan menurut Prof. Hal ini banyak disebabkan oleh fakta bahwa para penulis yang berbeda membahas masalahmasalah yang sangat berbeda di bawah satu nama yang sama dan bahkan penulis yang sama pun tanpa disadari menggunakan istilah yang sama dengan pengertian yang berbedabeda. mengatakan: Negara ialah suatu organisasi manusia atau kumpulan manusiamanusia yang berada di bawah suatu pemerintahan yang sama.H. suatu organisasi kekuasaan/kewibawaan). Edisi revisi.H. Dr. R. atau wilayah yang mereka diami. hlm 225. Djokosutono. Augustinus menyatakan. PT Pradnya Paramita. hlm 36. atau para subyek pemerintah. Jakarta.S. alih bahasa-Drs.1 Masih terdapat banyak definisi terhadap istilah “Negara” sehingga.H. maka haruslah pula dipahami tujuan dibentuknya sebuah “Negara” itu sendiri. J.H. Tetapi istilah itu pun sangat sering digunakan dalam pengertian yang sangat sempit untuk menunjuk suatu organ khusus masyarakat.. Drs.2 Setelah sedikit diketahui apa yang dimaksud dengan istilah “Negara” maka selanjutnya dalam konteks pentingnya keberadaan Komisi Yudisial dalam sebuah negara hukum. S. Cetakan kedua. Oleh kodrat. menurut Hans Kelsen terkadang definisi “Negara” dibuat sangat sulit oleh aneka ragam objek yang biasa dinyatakan secara tegas oleh istilah negara itu sendiri. “lmu Negara”. C. Christine S. M.

karena hanya moralitas yang demikian itulah yang membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya.D.D. Di dalam dan lewat hidup bernegara. S. Rapar.. “Filsafat Politik Aristoles” C. manusia dimampukan untuk mencapai tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang semaksimal mungkin. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 303 . hlm 43. dan kekuasaan harus tunduk pada hukum.ada dan terbentuk bukan sekedar agar manusia dapat hidup didalamnya. Salah satu yang terpenting adalah 4 DR.. Mochtar Kusumaatmadja.V. 2) Ada prinsip-prinsip lain yang berkaitan dengan prinsip pokok di atas. artinya kekuasaan itu tunduk pada hukum. Th. Seperti kita ketahui bersama dan dinyatakan secara tegas dalam UUD 1945 adalah bahwa.H.H. Itu berarti bahwa di dalam negara manusia seyogyanya dapat mencapai tingkat kebajikan yang tertinggi. Dr. Manusia yang benar-benar bermoral dan yang berarti pula benar-benar berkualitas akan senantiasa siap sedia melakukan segala sesuatu yang terbaik dan mulia. moralitaslah yang memberi kualitas khusus bagi manusia sehingga manusia itu adalah manusia yang tidak sama dengan makhluk yang lain. Lalu kemudian timbul pertanyaan apakah ciri-ciri dari cita Negara hukum Indonesia. Cetakan Pertama. Ph. Dengan kata lain.4 Menjadi jelas bahwa apapun definisi dari negara itu. Rajawali.M cita Negara hukum Indonesia adalah: 1) bahwa dalam Negara hukum. sebenarnya terbentuknya sebuah negara itu seharusnya dan seyogyanya adalah bertujuan untuk mensejahterakan rakyat atau manusia yang menjadi warga dari sebuah negara itu sendiri. kekuasaan itu tidak tanpa batas. menurut Prof. 1988. J. Negara Indonesia berdasarkan atas hukum bukan berdasarkan atas kekuasaan belaka. Ini dapat berarti bahwa Negara Republik Indonesia adalah Negara yang berdasarkan atas hukum yang demokratis berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945. Keberhasilan manusia mencapai tingkat kebajikan tertinggi itu haruslah terlihat lewat moralitas yang terpuji. tetapi agar manusia itu benar-benar memanusia di dalam negara dan lewat hidup dan bernegara. Jakarta. LL. Secara popular dikatakan bahwa Negara hukum adalah Negara berdasarkan hukum.

namun nampaknya bangsa ini belum juga beranjak dewasa dan menyadari arti dari kata merdeka itu sendiri. berarti bahwa hukum memperlakukan semua orang sama tanpa perbedaan yang didasarkan atas ras (keturunan). Bandung. Hari memang telah silih berganti sejak kemerdekaan. Mochtar Kusumaatmadja itu terlihat bahwa. penghayatan. Terungkapnya kasus-kasus penyalahgunaan wewenang (abuse of power) oleh hakim serta pejabat peradilan lain yang banyak dipublikasikan oleh berbagai media massa seolah menjadi cerminan dari lemahnya integritas moral dan perilaku hakim serta pegawai lembaga peradilan. kedudukan sosial dan kekayaan.M.. hlm 180. Cetakan kedua. Mochtar Kusumaatmadja. Terbentuknya Komisi Yudisial RI Perjalanan Bangsa Indonesia dimulai pada saat dikumandangkannya lagu Indonesia Raya serta berkibarnya Sang Saka Merah-Putih pada tanggal 17 Agustus 1945 serta dengan disahkannya UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI menjadi dasar Negara kita. pengamalan serta pelaksanaan hak dan kewajiban Negara Indonesia haruslah menjamin hak asasi setiap warga negara melalui penyelenggara Negara dan lembaga negaranya.5 Dari pernyataan Prof. 304 Bunga Rampai . Dikatakan secara lain. Masih ada di antara kita yang secara sadar telah melakukan penjajahan dalam bentuk yang lebih hina “jual-beli putusan” dan mengingkari hak sesama anak bangsa.H.bahwa dalam Negara hukum semua orang sama di hadapan hukum. S. agama. 2006. LL. PT Alumni. Hukum sebagai salah satu pilar berbangsa dan bernegara yang mendasari UUD 1945 telah mereka abaikan demi kepentingannya sendiri. Kehadiran Komisi Yudisial di Bumi Pertiwi yang berfungsi sebagai lembaga checks and balances terhadap lembaga peradilan merupakan langkah tepat dalam rangka untuk menjamin terpenuhinya rasa keadilan bagi sebanyak-banyak warga negara. Keadaan 5 Dr. “Konsep-Konsep Hukum Dalam Pembangunan”.

akan tetapi hal ini juga membuat UUD 1945 dapat diinterpretasikan dan diimplementasikan ke dalam berbagai struktur politikpemerintahan yang berbeda-beda: “Demokrasi Parlementer. Keadaan ini membuat masyarakat pencari keadilan memandang bahwa lembaga peradilan sebagai suatu sistem dianggap sudah tidak bersih dan kurang berwibawa. kepindahan. Dengan sifat UUD 1945 yang “supel. Namun ide tersebut tidak berhasil dimasukkan dalam undang-undang tentang Kekuasaan Kehakiman. Jika diperhatikan salah satu kesalahan pemerintahan Orde Baru saat itu adalah dengan ditabukan dan disakralkannya UUD 1945 untuk dirubah. yang dinyatakan secara tegas dalam UUD 1945 itu sendiri. Oleh karena itu. itu tuntutan mereka. pemberhentian dan tindakan/hukuman jabatan para hakim. “Demokrasi Terpimpin” serta “Demokrasi Pancasila”. Keadaan ini membuat masyarakat pencari keadilan menjadi patah arang dan bosan menggantungkan harapannya kepada pemerintah dan lembaga peradilan. singkat dan fleksibel” memang membuatnya mudah mengikuti perkembangan jaman. Perlahan namun pasti keinginan untuk melakukan perubahan semakin memuncak. Reformasi total. Akhirnya pada tahun 1998 setelah sekian lama bungkam. Kelemahan ini dapat terlihat dengan singkatnya UUD Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 305 . Akhirnya karena desakan yang begitu kuat Orde Baru yang menjalankan roda pemerintahan saat itu pun tumbang. promosi.ini tidak saja terjadi di lingkungan pengadilan negeri dan pengadilan tinggi. tetapi juga telah terjadi di lingkungan Mahkamah Agung sebagai penyelenggara kekuasaan kehakiman yang tertinggi. apakah ada kepastian hukum dari UUD seperti itu? Apalagi bila pertanyaan itu dikaitkan dengan pernyataan bahwa Negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum bukan berdasarkan atas kekuasaan belaka. Kenyataan ini menimbulkan sebuah pertanyaan yang amat mendasar terhadap UUD 1945. rakyat bicara. pada tahun 1968 muncul ide pembentukan Majelis Pertimbangan Penelitian Hakim (MPPH) yang berfungsi untuk memberikan pertimbangan dalam mengambil keputusan akhir mengenai saran-saran dan atau usul-usul yang berkenaan dengan pengangkatan. seolah-olah UUD 1945 adalah sebuah karya agung tanpa kelemahan.

Kurang sempurnanya UUD 1945 ini sebenarnya juga dikuatkan dalam rumusan Aturan tambahan UUD 1945 itu sendiri yang berbunyi: “Enam bulan sesudah berakhirnya perang Asia Timur Raya. yaitu: Pertama. kelompok kepentingan dan penekan) Kedua. Nanti kita membuat UUD yang lebih sempurna dan lengkap…. Akibatnya.H. MPR harus dibentuk. inilah revolutie grondwet. Soekarno sebagai Ketua PPKI memberikan kata sambutannya. UUD 1945 306 Bunga Rampai . “Arus Pemikiran Konstitusionalisme. Kata Hasta Pustaka. Tata Negara”. Keadaan ini tergambarkan pula ketika Ir. di dalam rumusannya. UUD Kilat. tidak memberikan tempat bagi keberadaan infrastruktur demokrasi (seperti partai politik. UUD memang hanya dimaksudkan untuk mengatur hal yang pokok-pokok saja dan hanya berlaku sementara.7 Kelemahan yang terdapat pada UUD 1945 ini dikatakan oleh Adnan Buyung Nasution sebagai loop hole. bahwa UUD yang kita buat sekarang ini adalah UUD sementara. Beliau mengemukakan beberapa alasan. Iur.”6 Terlihat jelas dalam rumusan itu bahwa sejak awal memang para penyusun UUD 1945 sudah menyadari bahwa UUD yang mereka buat secara kilat itu (hanya dalam tempo dua hari) belumlah sempurna dan harus diperbaiki. Kalau boleh saya memakai perkataan: ini adalah UUD kilat! Nanti kalau kita telah bernegara dalam suasana yang lebih tenteram. Adnan Buyung Nasution. MPR harus bersidang untuk menetapkan UUD baru”. kita tentu akan mengumpulkan kembali MPR yang dapat membuat UUD yang lebih lengkap dan sempurna… Tuan-tuan tentu mengerti.1945 (hanya terdiri dari 37 pasal. Jakarta. bahwa UUD ini adalah UUD Sementara. pada saat pengesahan UUD 1945 oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945. 4 Aturan Peralihan dan 2 Aturan Tambahan) dan menurut penjelasan resminya.. sekalipun di dalam penjelasan 6 7 Dr. memberikan porsi kekuasaan yang begitu besar kepada presiden. bahwa barangkali boleh dikatakan pula. “…Tuan-tuan semuanya tentu mengerti. Buku I. dan enam bulan sesudah dibentuk. S.

. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 307 . begitu banyak loop holes yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal UUD 1945.UUD 1945 dikatakan bahwa pemerintahan tidak bersifat absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas) dan negara Indonesia tidak berdasar kekuasaan belaka. Seiring dengan itu untuk memberantas “mafia peradilan” dan menjamin terpenuhinya hak rakyat dan agar beberapa kesalahan para pemimpin terdahulu tidak terulang. Kata Hasta Pustaka. Iur. Jakarta. 2 tahun 1986 tentang Peradilan Umum serta UU No. arah menuju perbaikan struktur ketatanegaraan Indonesia sudah mulai tampak dengan diperbaikinya UUD 1945 melalui empat tahapan amandemen. UU No.5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Melalui UU No. 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman diterapkanlah sistem satu atap (one roof system) pada dunia 8 Dr. yakni memusatkan kekuasaan di tangan presiden (concentration of power upon the president) sebagai kepala pemerintahan sekaligus kepala negara.H. Ini terlihat dari rumusan yang berbunyi: “… ditetapkan dengan UU” di akhir sejumlah pasal UUD 1945. Tata Negara”. maka para pemimpin negeri ini berusaha melakukan perbaikan dengan melakukan perubahan terhadap beberapa UndangUndang yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman seperti: UU No. namun dengan begitu besarnya kekuasaan Lembaga Kepresidenan. Adnan Buyung Nasution. S. Ketiga. niscaya sangat sulit tercipta balance of power apalagi checks and balances diantara cabang-cabang pemerintahan. Inilah karakteristik penting lainnya dari UUD 1945. Dalam kondisi kekuasaan Lembaga Kepresidenan yang begitu besar. “Arus Pemikiran Konstitusionalisme.8 Namun pada kenyataannya UUD 1945 dalam keadaan seperti inilah yang dipertahankan oleh pemerintahan Orde Baru untuk melanggengkan kekuasaannya. Sebenarnya setelah terjadinya “revolusi” oleh mahasiswa pada tahun 1998 yang mengakibatkan tumbangnya pemerintahan Orde Baru. rumusan seperti ini memungkinkan dominasi eksekutif dalam pembentukan dan pelaksanaan UU.14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. Buku I.

Malah memperparah. transparan. karena dunia pengadilan kita menjadi tidak dapat tersentuh oleh lembaga lain. S. 3) Hukum sebagai kaedah. disepakati beberapa perubahan dan penambahan pasal yang berkenaan dengan kekuasaan kehakiman. yakni pengetahuan yang tersusun secara sistematis atas dasar kekuatan pemikiran. Namun penerapan sistem satu atap sebagai salah satu upaya menciptakan independensi pengadilan dan imparsial hakim agar terhindar dari campur tangan penguasa tidak mengurangi ruang gerak “mafia peradilan” serta tidak juga dapat meningkatkan integritas moral serta profesionalitas hakim. untuk membentuk lembaga mandiri sebagai pengawas eksternal terhadap lembaga pengadilan. Soerjono Soekanto.A..peradilan. keluhuran martabat. termasuk di dalamnya dibentuk Komisi Yudisial yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Sehingga pada tahun 1998-an muncul kembali dan menjadi wacana yang semakin kuat dan solid. Keadilan serta Hakim Banyak sarjana yang mencoba untuk mendefinisikan apa itu hukum dan mungkin definisi hukum itu sebanyak para pemikirnya. Kewenangan manajemen administrasi. tentang hukum. personalia dan keuangan yang tadinya dipegang oleh eksekutif melalui Menteri Hukum dan HAM diserahkan sepenuhnya kepada Mahkamah Agung melalui Undang-Undang Pokok Kekuasaan Kehakiman. bersih.H. agar cita-cita untuk mewujudkan pengadilan yang jujur. yakni pedoman atau patokan sikap 308 Bunga Rampai . dan profesional dapat tercapai. Oleh karena itu. Hukum. 2) Hukum sebagai disiplin. Beliau berpendapat: 1) Hukum sebagai ilmu pengetahuan. jika dikaitkan dengan pendapat masyarakat. pada Sidang Tahunan MPR tahun 2001 yang membahas amandeman ketiga Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. serta perilaku hakim. namun ada baiknya disimak pendapat Prof Dr. M.. yakni suatu sistem ajaran tentang kenyataan atau gejala-gejala yang dihadapi. Berdasarkan pada amandemen ketiga itulah dibentuk Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial yang disahkah di Jakarta pada tanggal 13 Agustus 2004.

H. disana mereka akan menjadi amat bahagia bila dijebloskan ke penjara. Tidak mungkin untuk memahami hakikat hukum hanya dengan memperhatikan satu peraturan saja. alih bahasa-Drs. M. Somardi “General Theory of Law and State”. Bee Media Indonesia. Memang tidaklah mungkin menjadikan suatu tata aturan tertentu menjadi adil dan membahagiakan bagi semua pihak. 2002. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 309 . keduanya haruslah dilihat dari sudut ilmiah. hal ini terjadi karena dengan dijebloskan ke penjara. 1993. Sedangkan Hans Kelsen berpendapat. Dr. hlm. sehingga hukum itu akan tampak adil namun hanyalah bagi golongan tertentu saja.H. mereka akan merasakan tempat tinggal 9 10 11 Prof. 3. cetakan VI. S. Purnadi Purbacaraka. budaya. Hans Kelsen.tindak atau perikelakuan yang pantas atau diharapkan. Hubungan yang mempersatukan berbagai peraturan khusus dari suatu tata hukum perlu dimaknai agar hakikat hukum dapat dipahami.11 Kedua kata itu. “Tata Perbuatan” mengandung arti suatu sistem aturan. 2007. hukum dan keadilan tidak dapat dicampur-adukan jadi satu dengan yang lainnya. karena bila kedua kata itu dicampur-adukan maka ia akan menjadi suatu kecenderungan ideologi serta politik. seperti kadang-kadang dikatakan demikian. S.10 Sementara itu kata keadilan berasal dari kata adil yang dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti: sama berat.. Hanya atas dasar pemahaman yang jelas tentang hubungan-hubungan yang membentuk tata hukum tersebut bahwa hakikat hukum dapat dipahami dengan sempurna.A. Dapat kita ambil contoh masyarakat pedalaman Papua. “Kamus Besar Bahasa Indonesia”.9 dll. Namun demikian kedua kata itu juga tidak dapat dipisahkan karena hukum tidak dapat dipisahkan dari konsep keadilan itu sendiri. Edisi revisi. dan Prof. Hukum adalah seperangkat peraturan yang harus kita pahami dalam satu kesatuan yang sistemik. Cetakan kedua. agama. apalagi di Indonesia yang terdiri dari begitu banyak suku bangsa. tidak berat sebelah atau tidak memihak.. hukum adalah suatu tata perbuatan manusia.. Soerjono Soekanto. hlm 8. hlm 2.”Sendi-Sendi Ilmu Hukum dan Tata Hukum”. Balai Pustaka. PT Citra Aditya Bakti. Namun hukum bukan satu peraturan semata. latar belakang pendidikan dsb.

setiap manusia atau pencari keadilan akan mempunyai nilai sendiri tentang keadilan dan kebahagiaan. serta penciptaan hukum (rechtsschepping) bila tidak terdapat peraturan perundangan-undang terhadap setiap perkara yang sedang ditanganinya. yang beranggapan bahwa penjeblosan ke dalam penjara adalah bentuk perampasan hak asasi manusia yang dibenarkan oleh Undang-Undang. sehingga ia dapat memberikan keadilan yang sebesar-besarnya kepada sebanyak-banyaknya pencari keadilan berdasarkan hati nuraninya. tidak sama dengan seorang yang merampok dan membunuh hanya untuk kesenangan belaka. Dalam kaitan itu ada baiknya pula dicermati pendapat Prof. Jimly Asshiddiqie.H. Menjadi bertolak belakang bila penjeblosan ke penjara ini diterapkan pada masyarakat kota besar. Nilai keadilan itu amat bergantung pada latar belakang diri masing-masing pencari keadilan. Dr. Seekor babi pada pedalaman Papua amatlah tinggi nilai ekonomisnya. Demikian pula dengan delik pembunuhan. karena pembunuhan sebagai suatu tindakan penghilangan nyawa orang lain itu amat dipengaruhi sebuah peristiwa yang melatar-belakanginya. sehingga ia dapat melakukan penemuan hukum (rechtsvinding). Bagi penduduk pedalaman Papua akan lebih menyakitkan bila mereka diharuskan mengganti kerugian akibat perbuatannya dengan seekor babi. Selain itu seorang hakim juga harus memiliki integritas moral yang baik. karena pada jabatan hakim melekat status sebagai seorang penegak hukum dan pemberi keadilan di dunia. dan mereka pun tidak perlu bersusah payah untuk mencari makan.yang lebih layak dari pada tempat tinggalnya. maka seorang hakim dituntut untuk memiliki pengetahuan luas. tentang jabatan hakim. Jadi jelaslah bahwa jabatan hakim tidak dapat dipisahkan dari konsep hukum dan keadilan. S. Oleh karena itu berkenaan dengan tugas hakim untuk menerapkan hukum secara benar serta memberikan keadilan yang sebesar-besarnya kepada sebanyak-banyaknya individu. tidak akan mungkin semua pembunuh dihukum dengan hukuman yang sama. Jadi. Oleh karenanya hakim dikatakan sebagai “perpanjangan tangan Tuhan di dunia”. 310 Bunga Rampai . Seorang yang merampok dan membunuh karena harus membayar biaya rumah sakit anaknya.

serta perilaku hakim. bukan orang mencari kerja. yang disahkan di Ja- 12 Pemikiran Prof. Agar Komisi Yudisial dapat menjalankan tugasnya maka disusunlah dengan rinci wewenang dan tugas Komisi Yudisial. dan perilaku hakim. Yang dapat diangkat menjadi hakim adalah orang yang memiliki kehormatan. Jimly Asshiddiqie. keluhuran martabat.hakim melaksanakan tugas bukan lagi sebagai individu. tetapi sebagai institusi. keluhuran martabat. S. 2007. Sehingga seharusnya hakim tidak direkrut dengan proses seperti penerimaan pegawai negeri. Dan oleh karena itu gajinya lebih tinggi dari eksekutif dan legislatif. The 13 Biography Institute. Wewenang dan Tugas Komisi Yudisial Dalam UUD 1945 dengan jelas dinyatakan bahwa Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Yang menjadi hakim bukanlah orang yang mencaricari kerja. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 311 . Jimly tersebut dapatlah ditarik kesimpulan bahwa bila terdapat hakim yang melakukan penyimpangan terhadap hukum dan rasa keadilan maka terdapat dua kemungkinan yang mendasarinya.12 Dari pendapat Prof.H. sebagaimana tercantum dalam Undang Undang Nomor 22 tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial.. pengetahuan. Karena itu hakim selayaknya bukan pegawai negeri. Dr. maka orang yang diangkat menjadi hakim adalah paling terhormat. Bekasi. dan pengalaman seperti orang yang sudah menjadi dosen atau advokat terkenal yang bekerja sungguh-sungguh dengan segala kehormatan jabatan ini. hlm. Pegawai negeri adalah pelayan sedangkan hakim itu bukan pelayan tetapi jabatan kehormatan. Cetakan Pertama. dan yang kedua: Menjaga dan menegakkan kehormatan. 85. dan 2) Belum memuaskannya tingkat kesejahteraan hakim yang bersangkutan. “Konstitusi dan Ketatanegaraan Indonesia Kontemporer”. yaitu pertama: Mengusulkan pengangkatan hakim agung. yaitu: 1) Kurangnya pengetahuan hakim yang bersangkutan. Hal ini jelas mengindikasikan bahwa wewenang Komisi Yudisial ada dua.

Menetapkan calon hakim agung. dan Nomor Pokok Wajib Pajak. Dalam kaitan dengan menjaga dan menegakkan kehormatan.” 312 Bunga Rampai . Komisi Yudisial mempunyai tugas: Melakukan pendaftaran calon hakim agung. Berdasarkan pasal 20 dan pasal 23 UU No.karta pada tanggal 13 Agustus 2004 oleh Presiden Republik Indonesia serta dicatatkan pada lembaran negara Republik Indonesia tahun 2004 nomor 89 dan tambahan lembaran negara Republik Indonesia nomor 4415. Mengajukan usul penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada pimpinan Mahkamah Agung. sekurang-kurangnya: daftar riwayat hidup. Menjaga dan menegakkan kehormatan. Seleksi yang dimaksudkan disini adalah seleksi administratif. Seleksi administratif menyangkut kelengkapan persyaratan administrasi. Pelaksanaan pengawasan terhadap perilaku hakim. termasuk riwayat pekerjaan. Sedangkan seleksi kualitas dan kepribadian menyangkut penilaian karya 2 tahun terakhir. karya ilmiah dan legal case problem solving yang topiknya ditentukan oleh Komisi Yudisial. surat keterangan sehat jasmani dan rohani dari dokter rumah sakit pemerintah. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial maka kewenangan Komisi Yudisial meliputi: Mengusulkan pengangkatan Hakim Agung kepada DPR RI. serta perilaku hakim. keluhuran martabat serta perilaku hakim.22 Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial. keluhuran martabat. diwujudkan dalam bentuk: penerimaan laporan pengaduan masyarakat tentang perilaku hakim. seleksi kualitas dan kepribadian. daftar harta kekayaan serta sumber penghasilan. Mengajukan calon hakim agung kepada DPR. Melakukan seleksi terhadap calon hakim agung. serta pemeriksaan kesehatan untuk melihat keadaan kesehatan yang dapat menghambat atau meniadakan kemampuan (disability) dalam menjalankan tugas sebagai Hakim Agung. ijazah asli atau yang telah dilegalisir. permintaan laporan secara 13 “Undang-Undang No.13 Dalam kaitan dengan mengusulkan pengangkatan hakim agung. Komisi Yudisial mempunyai tugas: Melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim.

Dengan demikian Komisi Yudisial dapat memberikan dukungan untuk melakukan pembinaan dalam rangka peningkatan pengetahuan. Database Hakim sebagai Elemen Pendukung Penting Dalam rangka melaksanakan tugas serta wewenang yang diamanatkan oleh UUD 1945 yang penjabarannya di dalam UU Nomor 22 tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. dan Pemberhentian. agar Komisi Yudisial dapat melakukan pemetaan terhadap hakim. profesionalitas dan integritas hakim serta pengajuan usul pemberian penghargaan terhadap hakim berprestasi. lembaga Negara ini perlu didukung oleh database hakim yang dapat menyajikan informasi secara cepat dan akurat. dan tindasannya kepada Presiden dan DPR. profesionalitas dan integritas hakim serta pengajuan usul pemberian penghargaan atau promosi terhadap hakim berprestasi saja. juga sangat bermanfaat dalam melakukan seleksi calon hakim agung. Pemberhentian sementara. Tidak hanya untuk kepentingan melakukan pembinaan dalam rangka peningkatan pengetahuan. Pemberian penghargaan maupun sanksi dimaksudkan untuk memotivasi hakim agar mempunyai kinerja lebih baik serta mampu menjaga kehormatan. Disamping upaya pengawasan yang dikemukakan di atas yang lebih merupakan upaya represif. pemeriksaan terhadap dugaan pelanggaran perilaku hakim. sehingga rasa keadilan yang didambakan masyarakat dapat lebih terpenuhi. pembuatan laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi disampaikan kepada Mahkamah Agung. Komisi Yudisial juga diharapkan dapat melakukan upaya preventif agar tidak terjadi penyimpangan perilaku hakim dengan mengusulkan pemberian penghargaan bagi hakim berprestasi kepada Mahkamah Agung.berkala kepada badan peradilan berkaitan dengan perilaku hakim. keluhuran martabat dan perilakunya. dapat berupa: Teguran tertulis. Disinilah pentingnya dukungan data base hakim yang akurat. tetapi juga untuk mePenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 313 . Sedangkan Usul Penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada Mahkamah Agung disesuaikan dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan. sehingga dapat diketahui secara pasti tingkat pengetahuan (skill) dan profesionalitas serta integritas dari setiap hakim. pemanggilan dan permintaan keterangan dari hakim yang diduga melanggar kode etik perilaku hakim. Disamping itu.

dari rekam jejak (track record) yang ada pada dirinya. seperti biodata. Data primer mengenai pribadi hakim Adalah data dan informasi yang ada hubungan langsung dengan diri hakim tersebut. baik mengenai jati dirinya maupun yang terkait dengan data kedinasan hakim. Data dan informasi tersebut meliputi suami atau isteri. anak. penentuan data item yang membentuk database rekam jejak hakim harus dibuat memenuhi kebutuhan di atas. Data Keluarga Adalah data dan informasi yang ada kaitannya dengan keluarga hakim. untuk menggambarkan keadaan hakim secara utuh sangat diperlukan. Informasi tentang aktivitas hakim dan keluarga. menjadi program komisi ini untuk mempromosikan hakim tersebut. Hakim-hakim yang memiliki track record baik. Data Kekayaan. Dari database inilah akan mudah kita telusuri hakimhakim mana yang layak berdasarkan kemampuan pengetahuan (skill). riwayat pendidikan dan pekerjaan kedinasannya. yaitu: Data primer mengenai pribadi hakim. Data dan informasi mengenai integritas. pekerjaan isteri atau suami. Sesuai dengan pepatah. Oleh karena itu. skill dan profesionalitas. bahwa untuk melihat perilaku seseorang maka dapat dilihat bagaimana ia berperilaku di dalam keluarga dan masyarakat. dan data serta informasi lainnya yang terkait isteri atau suami dan anak. Selain itu informasi tentang keluarga ini sangat penting untuk melihat kondisi sesungguhnya dari kehidupan keluarga hakim yang bersangkutan. Data base hakim yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan wewenang dan tugas Komisi Yudisial.lihat rekam jejak hakim dalam rangka seleksi calon hakim agung. pekerjaan anak. profesionalitas dan integritas. minimal dapat dibagi dalam 5 kategori. Dalam hal ini keluarga memegang peranan penting untuk membentuk karakter jiwa maupun perilaku termasuk pribadi hakim. Data Kekayaan Adalah data kekayaan hakim ditujukan untuk mengetahui besaran kekayaan yang dimiliki oleh hakim yang 314 Bunga Rampai . Data Keluarga.

anak) kesenangan terhadap mahluk hidup atau benda-benda tertentu gaya hidup hakim atau keluarga kedekatan (afiliasi) dan bentuk keterlibatannya pada sebuah organisasi politik tertentu. Ketidaktaatan dalam membayar pajak merupakan cermin kelalaian dari warganegara untuk menyumbangkan kekayaannya bagi pembangunan bangsa. Kebiasaan keluarga ini ada kemungkinan mempunyai kaitan dengan pembentukan sifat dan karakter hakim tersebut. apakah Hakim juga memiliki kesadaran/ ketaatan untuk membayar pajak dari kekayaan yang dimilikinya? Informasi tentang aktivitas hakim dan keluarga Adalah informasi mengenai aktivitas di luar kedinasan yang biasa dilakukan oleh hakim dan keluarganya baik yang positif maupun yang negatif. Hal ini secara tidak langsung dapat mencerminkan integritas yang dimiliki oleh Hakim. istri. meskipun terkadang kekayaan tersebut didapat dengan cara yang tidak halal. acap kali orang tersebut lupa akan kewajiban sebagai warga negara dalam mengelola kekayaan yang dimilikinya.bersangkutan. Data atau informasi yang perlu direkam dalam hal ini adalah terkait dengan harta hakim. Bila hakim memiliki kekayaan yang besar. Data atau informasi yang perlu direkam dalam database antara lain meliputi: • • • • • kebiasaan yang sering dilakukan oleh hakim maupun keluarga (orang tua. Dengan memiliki informasi aktifitas ini setidaknya dapat diperoleh gambaran mengenai perilaku yang bersangkutan dan keluarganya (orang tua. Unjuk kekayaan menjadi sebuah gaya hidup tersendiri untuk memperlihatkan gengsi seseorang. istri mapun anak). Adagium bahwa “kekayaan seseorang dapat mempengaruhi gaya hidup (life style) dari orang tersebut” agaknya sangat melekat dalam budaya hidup di Indonesia. maka perlu diketahui darimana dan dengan cara bagaimana kekayaan tersebut diperoleh? Selain itu. jika ada jaringan bisnis dan keterlibatan hakim dalam jaringan bisnis tersebut Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 315 . Namun demikian. untuk mengetahui bagaimana kekayaan dan sumber-sumber kekayaan yang dimiliki oleh hakim.

sedangkan integritas tanpa kualitas tidak akan terlalu banyak memberi perubahan dalam memperbaiki kondisi lingkungan (peradilan). baik yang bersumber dari media maupun dari lingkungan kerja mengenai sepak terjang si hakim. khususnya dalam penanganan perkara hukum.Data dan informasi mengenai integritas. pengalaman hakim terhadap penanganan 316 Bunga Rampai . kurang lebih alat (instrument) untuk menilainya adalah apakah hakim pernah terlibat kasus (skandal) yang melanggar norma baik norma hukum maupun kesusilaan? Selain persoalan kualitas dan integritas. Bila kualitas berkenaan dengan masalah kemampuan. Data atau informasi yang perlu direkam dalam data base rekam jejak hakim terkait dengan hal di atas. Keduanya menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi dan menjadi prasyarat utama yang harus dimiliki oleh hakim. antara lain meliputi: informasi mengenai pernah tidaknya hakim terlibat sebuah kasus (hukum maupun kesusilaan). skill dan profesionalitas Kualitas dan integritas (moral) adalah materi paling penting untuk menilai bagaimana pribadi seorang hakim. informasi penting lain yang perlu di dapat dari seorang hakim adalah mengenai profesionalitasnya selama menjalankan pekerjaan di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan. Informasi lain yang berkaitan dengan hakim. Prinsipnya. Sedangkan integritas berkaitan dengan erat dengan karakter kejiwaan (perilaku) yang diterjemahkan dalam perilaku hidup sehari-hari. melainkan juga dilihat bagaimana hakim pada saat di luar kedinasan. khususnya perkara hukum. Meski demikian keduanya bukan sesuatu yang tidak dapat dinilai. maka salah satunya bisa dilihat dari pengalaman dari hakim pada saat menangani perkara. Kualitas tanpa integritas bisa membuahkan kerusakan. Profesionalitas hakim tidak hanya diukur pada saat hakim mengemban pekerjaannya di dalam kedinasan. hakim yang profesional senantiasa taat azas baik di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan. Sedangkan untuk menilai bagaimana integritas hakim. Untuk mengukur tingkat kualitas dan integritas seseorang bukan hal yang mudah. Kualitas berhubungan dengan kemampuan (capability) teknis yudisial maupun manajerial hakim tersebut dalam menangani persoalan.

Bentuk dukungan yang bisa diberikan dapat berupa pelatihan. dalam hal tingkat pengetahuan (skill) dan profesionalitas serta integritas moral dari setiap hakim. kepatuhan hakim dalam melaksanakan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. database ini juga dapat menjadi sumber informasi rekam jejak hakim yang sangat bermanfaat di dalam mendukung pelaksanaan kewenangan dan tugas-tugas Komisi Yudisial yaitu. melakukan seleksi calon hakim agung dan pengawasan terhadap hakim guna menjaga dan menegakkan kehormatan. buku bacaan. Pertama. Penutup Akhir kata ada beberapa catatan penting yang harus diperhatikan berkenaan dengan pembangunan database (rekam jejak) hakim. memang merupakan data atau Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 317 . profesionalitas dan integritas hakim. jalan-jalan.kasus. Komisi Yudisial dapat dengan secara akurat menentukan bentuk dukungan yang perlu diberikan kepada hakim untuk melakukan pembinaan dalam rangka peningkatan pengetahuan. profesionalisme dan integritas hakim. guna meningkatkan kualitas atau pengetahuan. Komisi Yudisial dapat melakukan pemetaan terhadap hakim. hakim lebih sering mengulur-ulur jadwal sidang?). Selain itu. hasil karya ilmiah yang pernah dihasilkan. belanja. karena dengan tersedianya database hakim. pengajuan usul pemberian penghargaan terhadap hakim berprestasi dan lain sebagainya. agar data atau informasi yang disimpan dalam database tersebut. penentuan data item perlu dilakukan dengan sangat cermat. kebiasaan hakim dalam memanfaatkan barang-barang inventarisasi kantor (misalnya apakah kendaraan dinas/jabatan sering digunakan untuk keperluan di luar kantor: arisan. khususnya di dalam pembuatan putusan. kehadiran hakim di kantor. dsb). keluhuran martabat serta perilaku hakim. Dengan terbangunnya database hakim ini. Urgensi pembangunan Database (rekam jejak) hakim Kebutuhan akan database ini sangat penting sifatnya. disiplin dalam sidang (apakah hakim tersebut tepat waktu dalam melaksanakan sidang atau sebaliknya. prestasi kerja atau penghargaan yang pernah diperoleh.

keamanan data dan informasi yang tersimpan dalam database merupakan hal yang sangat penting diperhatikan. tetapi juga pengaman secara fisik perlu diperhatikan. Dengan demikian data atau informasi yang tersimpan dapat dijamin akurasi dan integritasnya. Pengamanan yang diterapkan tidak hanya di level aplikasi atau perangkat lunak dan jaringannya.informasi yang penting dan diperlukan di dalam mendukung pelaksanaan kewenangan dan tugas Komisi Yudisial. Kedua. 318 Bunga Rampai . agar data atau informasi hanya dapat diakses oleh orang yang berhak. sesuai dengan tingkat kewenangannya. agar informasi yang disajikan terpercaya. data dan/atau informasi yang simpan di dalam database harus betul-betul diperhatikan tingkat akurasinya. Ketiga.

H. S. Kom 5. Drs. Amir Syarifudin. Kom. S. 4. Romlah Pelupessy. M. Arnis Duwita Purnama. Si. Redaktur Pelaksana : M. Anna Suhanah 7. Wakil Redaksi Pelaksana : Tatang Suryaman Sekretariat : 1.H.. S. S. 3. 5. S. S. Ak. S. Redaktur : Hermansyah. S. M.H. Editor/Penyunting : 1. 7.E.E. Ir. Abdy Koro. M. Achmad Dardiri. 3. 8.H.H. IP. 8. S.H.H.S. Arnoldus Johannis Day. M. Drs.. H. M. S.H. Eddy Hary Susanto.. S.H. H. M.. S. H.H.Redaksi Penanggung Jawab : Drs. S. 2. S. 2. Muzayyin Mahbub. S. 4. S. Si. Frida Aprilia.H. Sos 9. Hasyim. S. M. Sulasman. Danardono. Niniek Ariyani. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 319 . 6. Ak 9.E. Saiful Rachman. Berthine Sumarah Sudiono. Asep Rachmat Fajar. 6. Andi Djalal Latief. Arif Budiman. Hendro Sukmono.M.

320 Bunga Rampai .