Komisi Yudisal dan Reformasi Peradilan

i

ii

Kata Pengantar Ketua Komisi Yudisial Republik Indonesia
Pendekatan transdisipliner dalam pelaksanaan pembangunan di Indonesia dipandang penting dan relevan oleh ekonom berkarakter kerakyatan dan egaliter, Prof. Dr. Mubyarto. Dalam pandangannya, koperasi merupakan pilar dan sistem ekonomi yang kompatibel untuk pendemokratisasian ekonomi bangsa yang berpihak pada rakyat sebagai pemegang tunggal kedaulatan rakyat. Jauh sebelumnya, Bung Hatta salah satu penyusun UUD Tahun 1945 adalah Negarawan yang telah berjuang keras memasukkan ekonomi kerakyatan sebagai prinsip dasar penyelenggaraan perekonomian Indonesia. Dalam tulisannya yang berjudul Demokrasi Kita, ia menegaskan pentingnya peranan ekonomi kerakyatan atau demokrasi ekonomi dalam mewujudkan keadilan sosial di Indonesia. Dikatakan selanjutnya, bahwa demokrasi politik saja tidak dapat mewujudkan persamaan dan persaudaraan, maka harus ada demokrasi ekonomi. Jika tidak, manusia belum merdeka dan persamaan serta persaudaraan belum ada. Maka, cita-cita demokrasi Indonesia adalah demokrasi sosial, yang melingkupi seluruh tatanan hidup yang akan menentukan nasib manusia. Dua di antara ekonom langka yang kini amat sulit ditemukan kader penerusnya dengan kepribadian ilmu dan kejelasan serta ketegasan secara lugas dalam sikap pembelaannya terhadap rakyat, memiliki spirit keadilan sosial yang dikaitkan dengan demokrasi sosial. Suatu pandangan kalangan ekonom yang berfikir transdisipliner. Secara elaboratif, kedua almarhum yang kini telah tenang (muthmainnah) di alam kubur karena kesalehan akademiknya menegaskan suatu ”ideologi ekonomi kerakyatan”. Dan keyakinan ideologis inilah yang melekat hingga akhir jabatan dan hayatnya.

iii

Di negeri dengan ribuan kampus yang tersebar di berbagai daerah ini, rasanya, lebih sulit ditemukan akademisi yang beruntung dengan memiliki watak dan kepribadian yang jelas, yang clean dan clear. Entah karena begitu kuatnya main stream pragmatisme dan hedonisme yang sudah mengideologis, atau bahkan sudah setingkat menjadi falsafahnya, teramat langka terdengar suara nyaring, lugas dan kritis dari lembaga kampus ”pencetak” SDM Pemimpin yang iImuan, dalam mengkritisi situasi bangsa yang mengitarinya. Apakah untuk ”mengkloning” frame of thinking konstruksi dan kepribadian ilmiah kedua ekonom kerakyatan di atas, kita harus set back ke masa lalu yang jelas bertentangan dengan watak sejarah itu? Jelas mustahil. Karena, salah satu dimensi sejarah ialah suatu kesadaran untuk melakukan gerakan-gerakan serius dengan misi ”transformation to the future”. Yang pantas diteladani adalah, bahwa keadilan sosial dipandang dan diletakkan sebagai cara pandang untuk menata perekonomian bangsa, untuk mewujudkan persamaan dan persaudaraan antar anak bangsa dan bahkan menentukan nasib manusia Indonesia. Demokrasi ekonomi dipandang penting yang dikaitkan dengan demokrasi sosial. Suatu cara pandang yang begitu luhur, jelas keberpihakannya kepada rakyat dan merefleksikan spirit Pembukaan UUD Tahun 1945. Namun sejarah kehidupan ketatanegaraan dalam era orla dan orba telah tidak menghargai pemikiran di atas. Tentu hal inilah yang kemudian telah melahirkan suatu bencana ketidakadilan ekonomi yang berdampak luas dalam kehidupan sosial budaya lainnya, termasuk dalam bidang hukum dan law enforcement. Politik dan ekonomi sebagai panglima pembangunan pada era rezim-rezim yang lalu, tidak apresiatif dan artikulatif terhadap posisi dasar rakyat sebagai yang paling berhak atas seluruh kekayaan bangsa sebagai anugerah Allah. Mainstream pemikiran ekonomi yang jelas pro rakyat diabaikan dengan kebijakan ekonomi neoliberal yang telah melahirkan birokrasi korup yang ditandai dengan KKN. Di penghujung kejatuhan Soeharto, Indonesia telah dikenal oleh masyarakat internasional sebagai salah satu negara terkorup di level dunia. Anggaran negara Indonesia telah dibocorkan hingga mencapai angka rata-rata 30% pertahun, sebagaima-

iv

na diungkap oleh Prof Sumitro. Meminjam teori korupsi oleh Syed Hussein Alatas, dikenal ada tiga lapis korupsi. Lapis pertama, yang melibatkan warga dengan aparatur negara, berupa suap (bribery) yang prakarsanya datang dari warga, dan pemerasan (extorsion) yang diperankan olah aparatur negara. Lapis kedua, korupsi dalam lingkaran dalam (inner circle) di pusat pemerintahan dalam ketegori nepotisme, dimana ada hubungan darah antara pelayan publik dengan pemangku kepentingan yang menerima berbagai kemudahan; kronis-isme, yang tidak ada hubungan darah antara para pelaku korupsi dan yang diuntungkannya, dan kelas baru, dimana antara pengambil kebijakan dengan yang menerima kemudahan telah menjadi satu kesatuan organik. Meminjam George J Aditjondro, korupsi di Indonesia dibedakan antara korupsi yang didorong oleh faktor kemiskinan (corruption driven by poverty) dan yang di dorong oleh kerakusan (corruption driven by greed). Yang pertama disebut ”korupsi kerah biru” yakni pelakunya mereka yang berseragam dan yang kedua disebut ”korupsi kerah putih” yakni mereka yang berdasi. Apapun kategorisasinya, kita ”berbahagia”, bahwa secara alamiah di negeri ini, kita memperoleh pengayaan tentang puluhan modus dan pelaku korup. Terakhir kita membaca terdapatnya executive corruption, legislative corruption dan judicial corruption. Masing-masing telah memberikan ragaan dan contoh sempurna tentang kualitas dan sejumlah modus kejahatannya yang pasti telah, sedang dan akan terus menerus secara berkesinambungan (sustainable) menciptakan mesin korupsi yang berjalan secara mekanis dan organik. Keganasan dan kekejaman terus berjalan dengan pasti di atas kepatuhan ideologi korupsi para koruptor di negeri yang masih dihuni oleh sekitar 37 juta rakyat miskin, dan puluhan juta mereka yang terbatas mampu memenuhi hajat makan yang tak mampu berpikir masa depan pendidikan para pewarisnya. Dalam situasi mengenaskan dan menyayat ulu hati rakyat miskin inilah, kalangan ahli hukum dan penegak hukum, telah disapa dan diundang oleh kedua ekonom di atas, untuk berbicara dan melangkah atas nama dan untuk keadilan sosial, demokrasi ekonomi dan demokrasi sosial. Suatu ajakan luhur, yang menjadi ranah dan agenda mereka yang terpanggil nurani dan akal budinya untuk agenda ”re-

v

formasi peradilan”. Suatu agenda yang menuntut kesadaran sejarah untuk bersama-sama dalam ketulusan dan kejiwabesaran merintis proses penegakan hukum yang benar, adil, jujur, transparan dan profesional. Kendatipun berdasarkan survey dari Partnership for Governance Reform tahun 2002, terdapat persepsi masyarakat bahwa badan peradilan merupakan badan terkorup dibandingkan badan-badan lainnya, demikian halnya survey dari Transparansi Internasional Indonesia (TII) tahun 2006 yang mengungkapkan bahwa inisiasi dari badan peradilan untuk melakukan praktik suap lebih tinggi daripada lembaga publik lainnya dan laporan dari Global 2007 Transparency International (TI) yang bermarkas di Jerman telah menempatkan badan peradilan Indonesia dalam kategori badan paling korup di antara badan peradilan di beberapa negara (Yunani, Albania, Meksiko, Moldova, Maroko, Peru, Taiwan dan Venezuela), hingga muncul penilaian Syahrir, bahwa badan peradilan telah menjadi black market of justice, namun, di atas semua penilaian ini, kita sebagai bangsa besar, tentu memiliki jiwa besar, dada lebar dan nafas panjang serta emosi yang menep untuk melakukan self correction. Dalam kerangka untuk mendorong terwujudnya hakekat kemerdekaan bangsa dalam usia kemerdekaan ke-62, patut kita memulai lembaran putih baru. Yakni niat dan kesadaran baru untuk menjadikan proses-proses peradilan sebagai pilar moral menuju terdorongnya tatanan kehidupan hukum yang benar-benar berkeadilan, dan membawa dampak konstrukrif bagi terwujudnya persamaan dan persaudaraan antar anak bangsa, terutama yang berkaitan dengan pemenuhan dan perlindungan hukum atas hajat hidup dan hak-hak asasi rakyat. Siapapun, semuanya, sudah saatnya untuk kembali kepada otentisitas diri (fitrah), yang menyadari dan memerlukan pemenuhan hak-hak fitrah sesama. Hak itu antara lain, pada satu sisi memperoleh perlindungan hukum dan keadilan sehingga tidak lagi terdapat kesenjangan yang mencolok di antara sesama, dan pada sisi lain, kita bisa memperoleh hak yang berasal dari dipenuhinya kewajiban dari orang lain karena kita telah memberikan hak kepada mereka. Penegakan hukum adalah proses mewujudkan hak menjadi suatu hukum positif, atau mengurangi dan meniadakan sesuatu yang bukan hak menjadi hukum posi-

vi

Putusan semacam inilah yang memenuhi kriteria ranah-ranah ”demi keadilan berdasarkan ke-Tuhanan Yang Maha Esa”. gajah mati meninggalkan gading. terdapat pepatah there is no law without morality. Hakim dan Lawyer mati meninggalkan contoh penegakan hukum yang berkeadaban. masih memerlukan pembenahan yang tidak sederhana. Disini. Tentu. untuk menuju pada putusan hakim yang mengkarakterkan sebagaian instrument of social engineering atau social reconstruction. Ini lumrah secara sosiologis dalam masyarakat kita yang untuk sebagian telah terwarisi budaya suap menyuap dalam bentuk dan dalih apapun juga. memang harus dimulai dari sekarang. Jaksa. untuk kedepan. Di antara keduanya terdapat ukuran sebagai patokan. Pepatah klasik harimau mati meninggalkan belang. Namun.tif. dimana pengadilan melahirkan putusan-putusan sedemikian rupa sehingga terjadi perubahan-perubahan penting dalam masyarakat. yang merupakan nilai (value) yang membedakan apa yang benar dan salah yang haq dan bathil. Penormaan moral menjadi hukum positif bukan saja masih terkendala dari berbagai faktor penyebabnya. Maka. bahwa Amerika Serikat adalah merupakan ”a society designed by the judiciary”. Tak salah jika kita berobsesi. Putusan yang teruji secara moral dan hukum disertai asupan yurisprudensi dan doktrin hukum yang selektif yang kemudian melahirkan situasi hukum yaitu menyelesaikan sengketa dan tegaknya hukum dan keadilan terhadap siapapun. Yang oleh Prof. akan haknya di Amerika Serikat. Satjip-to Rahardjo mengutip penelitian Dirk dan Bridwell. Di Indonesia. agar dengan putusan hakim dapat diperoleh suatu tatanan baru dimana proses vii . selalu saja ada pihak-pihak yang melakukan perlawanan. yaitu moral. seperti ditulis oleh Prof. untuk menuju kearah mimpi indah itu. Polisi. Senoadji disempurnakan menjadi there is no morality without religion. bisa dielaborasikan dalam pandangan yang sedikit filsafati. moral adalah esensi dan ruh dari hukum. Yaitu. Suatu putusan hakim yang merupakan produk bersama secara etis-profesional dari pemberfungsian suara nurani yang bening dan akal budi yang sehat oleh empat profesi terpuji di atas dalam keseluruhan proses peradilan. Mendesain putusan yang memenuhi ajakan kedua ekonomi kerakyatan di atas.

Dalam kerangka demikian. yang memerlukan asupan spiritualitas dosis tinggi serta lingkungan keluarga dan budaya organisasi di instansi dimana ia berhikmat dengan profesi luhurnya itu. bukan perkara mudah. pengefektifan pengawasan yang lebih proporsional viii . Dari sisi legislasi di DPR. langkah untuk mendemokratiskan secara berkeadaban proses-proses peradilan. dikandung maksud untuk memperoleh pandangan-pandangan yang komprehensif dan komplementer untuk memperoleh pandangan mengenai gagasan dan langkah menuju bagaimana proses reformasi peradilan bisa segera dimulai dengan pemeranan elemen masyarakat madani. adalah merupakan misi Komisi Yudisial. Ia memerlukan pendekatan kemampuan intelektualitas tinggi. semua pihak yang pro pembebasan rakyat dari lilitan kemiskinan masif tentu berharap lahirnya revisi Undang-Undang Komisi Yudisial. berbagai himpunan pemikiran yang menuju pada bagaimana agenda reformasi peradilan dapat dipersepsi dan diusung bersama. Maka. yang salah satu penyebabnya bisa datang dari produk legislasi dan kebijakan nasional maupun putusan hakim yang tercerabut dari kesadaran nurani dan akal sehat serta rasa keadilan masyarakat. dalam dan komprehensif serta transdisipliner. tokoh agama dan masyarakat. Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi dalam satu nafas baru. para pengamat dan aktivis NGO dalam Buku Bunga Rampai Komisi Yudisial edisi kedua ini. Bersih dan Profesional. tapi juga memerlukan kondisi psikologis dimana para penegak hukum memiliki dan merasakan makna dari hakekat diri yang fitri. Yaitu terwujudnya proses penguatan dan sekaligus pengawasan terhadap badan peradilan melalui mekanisme undang-undang yang akan diiringi dengan pemeranan seluruh elemen masyarakat madani sebagai bagian terpenting bagi terwujudnya peradilan yang Jujur. anggota DPR. Kita amat memerlukan kontribusi pemikiran dan aktualisasi komitmen moral bersama menuju kearah terdorongnya proses pencapaian lahirnya putusan hakim yang memiliki utilitas atau kemaslahatan bagi pemerdekaan anak bangsa ini dari himpitan kemiskinan masif. Dimintakannya para penulis dari berbagai latar belakang akademisi.pendemokratisasian hukum bisa berdampak konstruktif pada terciptanya keadilan sosial. hendaknya menjadi komitmen dan agenda sistemik dan simultan.

yang mencerminkan suara dan hakekat keadilan bagi terwujudnya perlindungan hukum terhadap para pencari keadilan tetapi juga sekaligus dalam rangka perubahan tatanan kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih berkeadilan. 2 Agustus 2007 M. Jakarta. Kita berkepentingan akan lahirnya putusan-putusan hakim yang berkeadaban.baik oleh Komisi Yudisial sebagai wujud amanat reformasi bersama-sama dengan seluruh elemen masyarakat madani. Busyro Muqoddas ix . Semoga tulisan dalam Buku Bunga Rampai ini memberikan wacana yang lebih luas kearah pembenahan peradilan kita kedepan.

x .

S. S. para Tenaga Ahli dan xi .. Dr.. S. S. Bapak Prof. S.. diucapkan terima kasih kepada: Bapak Prof. Bapak M.H. DR. M. M. Bapak F.H. S..H. Hatta Ali. MS... Bapak Dr.H. dukungan dan motivasi. Bapak Arbab Paproeka. MA.Penghargaan dan Ucapan Terima Kasih Program penyusunan buku Bunga Rampai Dua Tahun Komisi Yudisial Republik Indonesia ini adalah salah satu program yang diamanatkan oleh Rapat Kerja Komisi Yudisial Republik Indonesia pada bulan Februari 2007 di Bandung. S. Ibu Prof. S. Andi Djalal Latief. M.H.H. Ketua Komisi Yudisial Republik Indonesia yang telah memberikan kontribusi pemikiran.H.X. Bapak Prof.U. dan Bapak Ir.. Dr. Marwan Mas. Busyro Muqoddas.Hum..H. kami menghaturkan terima kasih yang tak terhingga kepada para penulis (kontributor) yang telah memberikan artikel untuk materi buku ini.. Hidayat Nur Wahid. DR. S.H.....H.H. Bapak Firmansyah Arifin. Bapak Trimedya Panjaitan. S.. Din Syamsuddin.H. Bapak Prof. Sp. Ali Zaidan.M. Ucapan terima kasih kepada Bapak M. John Pieris. Bapak M.N..... S. Dr. Soekarno. MS. Bapak Dr. Bapak Prof. juga disampaikan kepada Bapak Wakil Ketua.H. S. Bapak Asep Rahmat Fajar.. H. Bismar Nasution. M. Satjipto Rahardjo. S. M.H. Ermaya Suradinata. Mahfud MD. atas dukungan dan kontribusi pemikiran dalam proses penyusunan buku ini.H... M. Dr. Moh. Pandupraja. S..H. M..H..H. Secara khusus. serta membuat kata pengantar dalam buku ini. M. Untuk itu. S. Komariah Emong Sapardjaja. Penghargaan yang tinggi. yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu.H. Bapak Dr.. S.H.. LL. Bapak A. Bapak-bapak Anggota Komisi Yudisial Republik Indonesia. S.H. Banyak pihak yang telah memberikan kontribusi yang sangat berharga dalam proses penyusunan buku ini.

serta dukungan Sekretariat Jenderal Komisi Yudisial. 2 Agustus 2007 Hermansyah Redaktur xii . Jakarta. Buku Bunga Rampai ini dapat diselesaikan adalah tidak terlepas dari dukungan dan dedikasi yang sangat tinggi dari Sekretariat Tim Penyusun Buku Bunga Rampai.Bapak Sekretaris Jenderal Komisi Yudisial Republik Indonesia. Semoga dengan hadirnya buku ini dapat memberi manfaat bagi kita semua.

Komisi Yudisial Dalam Mosaik Ketatanegaraan Kita Prof. Pandupraja.U.H. Hakim Agung dan Penemuan Hukum (Rechtsvinding) Pada Era Reformasi dan Transformasi Hukum Prof. Busyro Muqoddas.H.. M.Daftar Isi Prakata Ketua Komisi Yudisial M...H. Komisi Yudisial Pengawal Reformasi Pengadilan Mendayung diantara Simpati dan Resistensi Firmansyah Arifin.. Kontribusi Lembaga Sosial Mendorong Reformasi Peradialn Prof. S.H. S.H. S..H. Peran Hakim Agung Dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding) dan Penciptaan Hukum (Rechtsschepping) Pada Era Reformasi dan Transformasi M. 8. M.Hum. Penghargaan dan Ucapan Terima Kasih Daftar Isi iii xi xiii Bagian Kesatu Reformasi Peradilan 1.H.H.H. Perubahan Bidang Politik dan Pengaruhnya Terhadap Reformasi Peradilan Arbab Paproeka. LL. S.N. Mahfud MD. Dr. DR.H. S. S. Sp. S.M. S. 7. Komariah Emong Sapardjaja. Satjipto Rahardjo. Moh. 83 6. S. Kontribusi Lembaga Kejaksaan Dalam Mempercepat Reformasi Peradilan M. Kontribusi Komisi Kepolisian Nasional Dalam Mempercepat Reformasi Peradilan A. 3. 4. Hatta Ali. S. Dr. 2.H. 1 21 43 65 5. Ali Zaidan. M. 95 107 135 xiii ..

Urgensi Pembuatan Data Base Hakim Sebagai Media Penunjang Pelaksanaan Wewenang dan Tugas Komisi Yudisial Ir. MS. Andi Djalal Latief. M.H. Komisi Yudisial Yang dicita-citakan Oleh Masyarakat dan Pencari Keadilan Dr.H.H. M. H. Urgensi dan Fungsi Pembentukan Jejaring di Daerah Oleh Komisi Yudisial Asep Rahmat Fajar. M. Reformasi Pendidikan Hukum Untuk Menghasilkan SDM Penegak Hukum Yang Kompeten dan Profesional Prof. M.. Gerak dan Langkah Nyata Komisi Yudisial Dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Dr.H. 6. Dr. Soekarno. Pentingnya Peran Komisi Yudisial Berdasarkan Pendekatan Geopolitik dan Geostrategi Indonesia Prof. M. Hidayat Nur Wahid. 7.H. DPR dan Perubahan Atas Undang-Undang Komisi Yudisial F.S. Peran Serta Elemen Masyarakat Sipil Dalam Mendorong Proses Reformasi Peradilan dan Penegakan Hukum Prof. Bismar Nasution. S.H. Ermaya Suradinata.X. 4. 5. 155 165 Bagian Kedua Penguatan Kelembagaan 1. John Pieris. S.H. Marwan Mas. S. S.9.H.. S.. M. Dr. MA. S. 2.H. 3.H. Sinkronisasi Sistem Perundang-undangan Lembaga Peradilan Dalam Menciptakan Peradilan Yang Lebih Baik Trimedya Panjaitan. DR. Redaksi 185 197 221 249 259 275 287 301 319 xiv . 8. Memulihkan Kewenangan Komisi Yudisial Dengan Melibatkan Kemitraan (Jejaring) di Daerah Dr. S.. Din Syamsuddin 10.

Bagian Kesatu Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan xv .

xvi .

Meskipun sudah pernah menulis tentang KY dari aspek politik hukum untuk buku peringatan Satu Tahun Komisi Yudisial (2006). Kontroversi sambutan atas kehadiran KY dapat ditelusuri dari latar belakang kehadirannya di dalam sistem Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 1 . penulis diminta mengelaborasi lebih lanjut optik politik hukum tentang KY tersebut berkenaan dengan perkembangan-perkembangan baru menyusul putusan MK pada akhir Agustus 2006 yang memangkas hampir seluruh kewenangan KY yang semula diberikan oleh UU No. sengaja dilakukan tanpa kehadirannya. katanya. 22 Tahun 2004 berdasar atribusi kewenangan legislasi yang sah. memprotes karena keputusan KY ditetapkan dalam rapat yang. Pujian dan cercaan terus bermunculan yang sampai saat ini (Juli 2007) menyebabkan KY berada pada posisi yang menggantung karena setelah wewenangnya untuk melaksanakan fungsi pengawasan dipangkas melalui putusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada Agustus 2006. pengayaan mana dibangun oleh banyaknya kontroversi atas langkah-langkah KY yang begitu dibentuk langsung tancap gas tinggi untuk mengawasi perilaku dan moralitas hakim. praktis pekerjaannya hanya menyeleksi calon hakim agung. salah seorang anggotanya. Mahfud MD Pujian dan cercaan Kehadiran Komisi Yudisial (KY) di Indonesia telah memperkaya khazanah kita tentang pembangun hukum. Itu pun masih menimbulkan kontroversi karena produknya tentang calon hakim agung tahun 2007 banyak yang menilainya tidak berkualitas apalagi Irawady Joenoes.Komisi Yudisial dalam Mosaik Ketatanegaraan Kita Moh.

Gagasan tentang kedua lembaga ini mendapat sambutan posistif baik dari kampus-kampus dan LSM maupun dari parpol dan Fraksi-fraksi di DPR dan MPR. KY diberi tugas melakukan pengawasan terhadap hakim baik secara preventif maupun represif. Saat kita melakukan reformasi pada tahun 1998 bermunculan wacana untuk memperbaiki penegakan hukum kita dengan asumsi bahwa terjerumusnya Indonesia ke dalam krisis multidimensi yang sulit disembuhkan disebabkan oleh bobroknya dunia peradilan. Pertama. 22 Tahun 2004. untuk mengawasi perilaku hakim agar tidak melakukan judicial corruption harus dibentuk Komisi Yudisial (KY). Kedua. Secara preventif KY dapat mengusulkan calon hakim agung agar tampil hakim agung- 2 Bunga Rampai . Itulah sebabnya dua hal untuk memmperbaiki kinerja hukum kita segera menyeruak ke dalam wacana yang kemudian diterima dengan baik di dalam proses politik yang lahir di awal reformasi. untuk menguji UU terhadap UUD dibentuk Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai lembaga negara baru pemegang kekuasaan kehakiman di samping Mahkamah Agung (MA). Pada saat yang sama dirasakan juga bahwa banyak produk UU yang secara substantif bertentangan dengan UUD 1945 sehingga isinya banyak yang lahir dari korupsi politik tetapi tidak ada instrumen hukum dan lembaga yang dapat mengoreksinya melalui pengujian kecuali pengujian legislatif (legislative review) yang sudah pasti sangat bergantung pada kehendak lembaga-lembaga poltik yang korup. Bahkan orang-orang yang sekarang duduk di MA maupun MK yang “terkesan” ikut menghantam KY.ketatanegaraan kita. Perubahan Positif Ketika gagasan tentang pembentukan KY dan MK ini diproses secara legislasi di DPR kewewenangan yang diberikan kepada keduanya ternyata berkembang secara lebih baik. pada waktu itu memberi dukungan kuat dengan argumen-argumennya yang sangat meyakinkan tentang KY dan segala kewenangannya yang kemudian dituangkan di dalam UU No. Mafia peradilan (judicial corruption) yang melibatkan hakim-hakim terasa menyengat tetapi tak dapat terlihat atau dibuktikan secara formal karena pelaku-pelakunya terdiri dari orangorang yang pandai memanipulasi hukum untuk saling melindungi.

memutus pendapat atau dakwaan (impeachment) DPR bahwa Presiden telah melakukan salah satu atau lebih dari lima hal yang ditentukan di dalam UUD yang dapat dijadikan alasan untuk memberhentikan Presiden/Wapres dalam masa jabatannya. 1998. dan memutus pembubaran partai politik. Begitu pun dengan MK. Kita mencatat sampai sekarang MK sudah memeriksa dan memutus lebih dari 100 kasus pengujian UU terhadap UUD. Politik Hukum di Indonesia. sedangkan secara represif KY dapat mengawasi perilaku hakim dalam pelaksanaan tugas-tugasnya sekaligus memutuskan tindakan yang dapat direkomendasikan kepada MA. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 3 . memutus pendapat DPR bahwa Presiden/Wapres tak lagi menuhi syarat. lembaga kekuasaan kehakiman yang baru ini bukan hanya diberi wewenang melakukan pengujian UU terhadap UUD tetapi juga diberi wewenangwewenang lain yakni memutus sengketa antar lembaga negara yang wewenangnya ditentukan di dalam UUD. Jakarta. Kemajuan nyata Harus diakui secara jujur bahwa mosaik lembaga peradilan. Sebelum reformasi ketentuan ini oleh beberapa peraturan perundang-undangan memang sudah dijadikan wewenang MA tetapi karena pengaturannya kacau secara teoretis maka ketentuan itu tak pernah dapat diimplementasikan. menjadi lebih baik setelah perubahan UUD 1945 yang menegaskan fungsi-fungsi konstitusional dengan proliferasi kelembagaan dalam bidang ini. memutus sengketa hasil pemilu. terutama kekuasaan kehakiman. Terlepas dari soal. Dalam pada itu pembuat Konstitusi menetapkan juga bahwa pengujian peraturan perundang-undangan di bawah UU terhadap peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dilakukan oleh MA.hakim agung yang baik melalui seleksi yang ketat dan obyektif.1 Itulah sebabnya ketentuan tentang itu ditegaskan di dalam UUD hasil amandemen sehingga pengaturan operasionalnya dengan atribusi kewenangan legislasi menjadi jelas dan dapat diimplementasikan. apakah kita setuju atau tidak setu- 1 Bahasan meluas tentang ini lihat dalam buku saya. LP3ES.

Kebenaran relatif putusan MK Tetapi langkah-langkah KY yang cukup memberi harapan ternyata telah menjadi bumerang yang sama sekali tidak diharapkan baik oleh KY sendiri maupun oleh masyarakat. terutama ketika KY mengundang ketua 2 Denny Indrayana.2 Banyak hakim yang kemudian lebih berhati-hati dalam melaksanakan tugasnya. 4 Bunga Rampai . terlepas dari kritik dan kontroversi atas produknya. seorang ahli Hukum Tata Negara dari UGM. terbukti sekarang MA telah menguji dan membatalkan beberapa peraturan perundang-undangan yang dinilai bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Dalam melakukan seleksi terhadap calon hakim agung pun. Ini sudah tentu jauh berbeda dengan zaman sebelumnya di mana hakim agung diangkat berdasar kontrak politik dan ditengarai kuat hanya berdasar kedekatan dengan pimpinan MA. sebab dengan gebrakannya menyorot dan memeriksa hakimhakim yang dilaporkan dan diduga nakal. ini harus dicatat sebagai kemajuan karena membuktikan bahwa memang benar banyak UU yang dapat dipermasalahkan konstitusionalitasnya dan MK telah menjadi lembaga yang tepat untuk melakukan itu. Benar juga ketika kita menguatkan wewenang MA untuk melakukan pengujian peraturan perundang-undangan di bawah UU terhadap peraturan perundang-undangan yang derajatnya lebih tinggi. meski tak semua laporan itu benar adanya. MA yang merasa kewibawaannya diobrak-abrik merasa tersinggung. Langkah KY pun sudah mendorong ke arah kemajuan. menyatakan bahwa maraknya kontroversi yang muncul dari konflik antara MA dan KY yang disusul dengan putusan MK yang sangat kontroversial yang memangkas wewenang-wewenang KY justru menunjukkan adanya kemajuan dalam sistem ketatanegaraan kita sebab kegiatan saling kontrol menjadi tumbuh. KY sudah memberi sumbangan yang cukup baik terutama untuk memilih yang terbaik dari jelek-jelek serta dalam membuat kontrak moral agar kalau sudah menjadi hakim agung seseorang dapat melaksanakan tugasnya dengan penuh integritas.ju dengan sebagian putusan MK. mulai dari hakim pengadilan negeri sampai ke hakim agung ternyata meningkatkan gairah masyarakat untuk menyorot dan melaporkan hakim-hakim nakal.

sebab jika dilihat dari suasana dan sikap-sikap petinggi MA tampak jelas bahwa MA memang merasa gerah dengan sepak terjang KY. Ketiga. Jadi bagi para penggugat harus dibedakan pengertian antara hakim agung dan hakim sehingga isi UU No. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 5 . wewenang-wewenang KY untuk mengawasi para hakim harus dinyatakan bertentangan dengan UUD karena kriterianya tidak jelas dan bersifat eksesif apalagi dalam prakteknya 3 Seperti diketahui pengaturan tentang KY dicantumkan di dalam pasal 24B sedangkan pengaturan tentang MK dicantumkan dalam pasal 24C. Kedua. 22 Tahun 2004 yang menyamakan keduanya harus dinyatakan bertentangan dengan konstitusi. hanya saja karena MA secara institusi tidak mempunyai legal standing atau tidak dapat menjadi pihak dalam sengketa di MK maka yang dimajukan (sekurang-kurangnya dibiarkan dan didorong maju) adalah para hakim agung secara perseorangan. 30 orang hakim agung kemudian menggugat judicial review UU No. Bahwa yang menggugat adalah pribadi-pribadi hakim agung itu hanyalah taktik saja. Kalangan hakim banyak yang mengatakan bahwa KY bukannya menjaga martabat hakim melainkan justru menjatuhkan martabat hakim. Isi gugatan itu pada pokoknya berkisar pada tiga hal. 22 Tahun 2004 tentang KY terhadap UUD. sedangkan untuk mengawasi perilaku disebutkan berlaku untuk hakim. meminta MK memutus bahwa hakim agung bukanlah bagian dari hakim yang dapat diawasi oleh KY sebab menurut pasal 24B ayat (1) untuk hakim agung sudah disebutkan KY hanya mengusulkan pencalonannya. bahkan mengintervensi kemandirian hakim.MA untuk dimintai keterangan dan ketika KY mengundang beberapa hakim agung untuk diperiksa berkenaan dengan masuknya beberapa laporan dari masyarakat. sehingga tak mungkin ketika KY dibentuk sudah terpikir untuk mengawasi hakim konstitusi.3 Argumennya. para penggugat meminta agar hakim konstitusi tidak dijadikan bagian dari pengertian hakim yang dapat diawasi oleh KY karena hakim konstitusi berbeda dari hakim lain dan baru dimasukkan di dalam UUD lebih belakang dari pengaturan tentang KY. Pertama. ketika KY ditentukan di dalam UUD belum ada gagasan tentang hakim konstitusi.

2 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 2007. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung dan UU No. Persoalan belum adanya ketentuan tentang kriteria pelanggaran moral oleh hakim mestinya tidak dapat dijadikan alasan untuk membatalkan kewenangan KY sebab masalah tersebut merupakan ranah legislatif. Lagi pula jika UU tentang KY bertentangan dengan UU lain mengapa isi 4 5 KY sendiri memberikan argumen yang dapat dipahami ketika menyatakan bahwa sulit untuk tidak membaca dan menilai putusan hakim sebab pengaduan yang masuk pada umumnya menyangkut kejanggalan dalam pemeriksaan perkara dan putusan hakim. Perdebatan Hukum Tata Negara Pasca Amandemen UUD 1945. 22 Tahun 2004 dipangkas sehingga meskipun boleh mengawasi tetapi terjadi kekosongan hukum dalam operasionalisasi pengawasan itu sendiri. 8 Tahun 2004 tentang Peradilan Umum yang menentukan bahwa pemberhentian hakim agung dan hakim dilakukan setelah melalui Majelis Kehormatan Mahkamah Agung dan Majelis Kehormatan Hakim. 22 Tahun 2004 itu memang agak kompromistis tetapi juga dapat dipersoalkan karena selain dianggap mengandung ultra petita5 juga bertentangan dengan asas nemo judex in causa sua sekaligus juga tidak sesuai dengan konsepsi hakim yang dimaksud dalam UUD. dinilai kompromistis karena karena menolak gugatan bahwa hakim agung berada di luar subyek yang dapat diawasi oleh KY. namun hampir semua pedoman pengawasan untuk mengawasi para hakim sebagaimana diatur di dalam UU No.KY sering memeriksa hakim dengan mempersoalkan isi putusan.4 Putusan judicial review MK pada Agustus 2006 tentang UU No. dinilai ultra petita dan bias karena salah satu dasar pertimbangan pemangkasan wewenang-wewenang KY itu didasarkan pada pertentangan (tidak sinkronnya) ketentuan yang ada antar UU yakni pertentangan UU KY (yang dapat merekomendasikan pemberian sanksi pada hakim) dengan UU lain seperti UU No. LP3ES. Bias terjadi dan dapat dianggap ultra petita di sini karena MK hanya boleh menguji UU terhadap UUD bukan UU terhadap UU lainnya. Pertama. Kedua. Jakarta. Tentang ini dapat dibaca secara lebih rinci di dalam buku saya. 6 Bunga Rampai . 14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan UU No.

seandainya yang menjadi hakim pada Mahkamah Konstitusi itu adalah hakim lain yang menggunakan atau mengikuti paradigma. Selain berbenturan dengan asas nemo judex in causa sua bias putusan MK tidak sesuai dengan ide dan konsep tentang hakim di dalam konstitusi dan tata hukum kita sebab ide dan konsep dasar hakim adalah semua pejabat yang melaksanakan kekuasaan kehakiman. MK juga pernah membatalkan ketentuan UU tentang MK yang menentukan bahwa MK hanya boleh melakukan pengujian atas UU yang lahir setelah terbentuknya MK. Putusan MK menyatakan bahwa MK boleh menguji semua UU termasuk semua UU yang sudah ada sebelum terbentuknya MK. Di dalam asas ini ditentukan bahwa hakim tidak boleh memutus perkara yang menyangkut diri-nya sendiri. Kebenaran putusan MK itu bersifat relatif. atau pasal-pasal yang dipergunakan untuk memutus. 2 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah dengan UU No. final and binding. Dalam saya catatan sudah dua kali MK memutus hal-hal yang menyangkut dirinya sendiri. dalil. 8 Tahun 2004 tentang Peradilan Umum sesuai dengan asas lex posteriori derogat lex anteriori? Ketiga. dalil. tak dapat dilawan lagi secara hukum. terlepas dari soal benar atau salah.UU KY yang dibatalkan? Mengapa tidak diberlakukan ketentuan bahwa hukum yang datang kemudian (UU No. Dengan kata lain. belum tentu benar tapi mengikat Meskipun begitu harus diingat bahwa. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 7 . Putusan MK. tergantung pada pilihan perspektif. Tegasnya. menurut pasal 24C ayat (1) putusan MK itu bersifat mengikat. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung dan UU No. dan pasal-pasal lain. 14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan UU No. tetapi sudah pasti mengikat. artinya sebuah putusan MK bisa salah jika yang dipakai untuk memutus adalah perspektif. putusan MK tersebut agak berbenturan juga dengan asas nemo judex in causa sua karena MK memutus hal-hal yang menyangkut kepentingannya sendiri yakni meletakkan hakim konstitusi sebagai subyek yang berada di luar pengawasan KY . putusan MK itu belum tentu benar. Selain memutus bahwa hakim konstitusi bukanlah bagian dari hakim yang dapat diawasi KY. 22 Tahun 2004) menghapus hukum yang terdahulu yakni UU No.

Tetapi dari segi lain bisa ditegaskan bahwa tak ada satu pun ketentuan UUD kita maupun dalam sejarah pembahasan ketika membentuk KY bahwa KY adalah lembaga penunjang. Itu hanya pendapat MK berdasar teori yang dipilihnya sendiri untuk kemudian dijadikan bahan pertimbangan vonis. Dengan demikian jika dilihat dari perspektif lain maka KY bukanlah lembaga penunjang lembaga lain. siapa pun yang melakukan dan kapan pun dibentuk. Ia adalah lembaga negara yang otonom sebagai lembaga pengawas eksternal. Sebagai lembaga negara pengawas eksternal ia bukan penunjang. tetapi bidang tugasnya memang berkaitan dengan kekuasaan lembaga negara yang lain yakni kekuasaan kehakiman. 8 Bunga Rampai . paradigma apa pun yang dipergunakan pasti bisa dibangun rasionalitas untuk membenarkan pilihan perpspektif dan paradigma. bisa benar ketika MK mengatakan bahwa KY adalah auxiliary agent (lembaga negara penunjang) karena ia merupakan lembaga negara yang bukan pemegang kekuasaan kehakiman tetapi memiliki tugas yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman dan karenanya KY tidak bisa dijadikan bandul checks and balances dengan MK maupun MA. Menurut UUD sendiri dan berdasar latar belakang pembahasannya di PAH I MPR tak pernah ada gagasan KY dijadikan sebagai lembaga penunjang. Dalam kasus putusan MK yang memangkas hampir semua kewenangan KY seandainya kita memakai perspektif. dan teori yang dipergunakan oleh pihak termohon atau pihak terkait langsung. dalil. Dalam bahasa sehari-hari dapatlah dikatakan bahwa putusan MK itu bisa “sesuka-suka MK” dengan kebenaran yang relatif karena logikanya hanya dibangun dari perspektif tertentu yang hanya bisa logis dari perspektif itu sendiri. maka semua dalil yang dipergunakan oleh MK bisa salah. Kalau soal rasionalitas. Tim Hukum KY misalnya. dan dalil-dalil lain maka putusan bisa berbeda. Tetapi jika konsep hakim dilihat dari teori tentang tugas-tugas untuk mengadili. Begitu juga putusan MK bahwa hakim MK tak bisa diawasi oleh KY karena KY lahir lebih dulu dari MK itu bisa benar dari perspektif tertentu sebab tak mungkin sesuatu yang dipikirkan dan lahir kemudian sudah dicakup untuk diawasi oleh lembaga yang ada lebih dulu.perspektif teori. Tidak sulit untuk mencontohkan ini. Dari perspektif teori tertentu misalnya.

maka manipulasi bisa dilakukan oleh pihak yang punya otoritas untuk memutus dengan cara memilih perspektif dan teori serta dalil-dalil sesuai dengan selera dan kehendaknya sendiri. dan manfaat bagi masyarakat sebagaimana digagas ketika KY akan dijadikan bagian di dalam mosaik ketatanegaraan kita. Namun agar putusan hakim dapat diterima dan tidak menimbulkan persoalan baru di dalam sistem hukum kita sebenarnya sudah ada penggarisan bahwa penegakan hukum di Indonesia haruslah mengintegrasikan secara padu tiga asas yakni asas kepastian hukum dan asas keadilan sesuai dengan ketentuan pasal 24 ayat (1) dan pasal 28D ayat (1) dan asas kemanfaatan sesuai dengan ketentuan pasal 28H ayat (2). Jadi tampak jelas bahwa ini tinggal pilihan paradigma dan perspektif teorianya serta tergantung pada siapa. tak terikat teori Seperti dikemukakan di atas. seperti dikemukakan di atas. putusan MK bersifat final dan mengikat dan harus dilaksanakan. Berdasar ini. Di sini berlaku prinsip “hukmul haakim yarfa’ul khilaaf. setidak-tidaknya menurut penulis.” putusan hakim menyelesaikan semua pertentangan.maka hakim konstitusi pun harus dipandang sebagai hakim yang juga harus diawasi oleh KY. Meskipun begitu. tetapi karena hal itu sudah diputuskan oleh lembaga yang diberi wewenang oleh konstitusi untuk memutus sengketa tentang itu. Untuk banyak pihak putusan MK tentang KY itu memang mengikat tetapi tidak sejalan dengan latar belakang sejarah politik hukum. dan apa yang dimainkan hakim-hakim yang memeriksa dan memutus. salah satu pertimbangan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 9 . Oleh sebab itu di dalam konstitusi kita juga dianut asas keadilan dan kemanfaatan yang harus bersumber dari jeritan hati nurani masyarakat serta manfaat bagi masyarakat. rasa keadilan. Jika hanya mendasarkan pada asas kepastian hukum. maka putusan MK tentang KY lebih merupakan pilihan selera hakim konstitusi yang tentu bisa lain putusannya kalau hakim-hakim dan pilihan perspektifnya juga lain dengan argumen yang juga bisa kuat. tepatnya pada formal dan prosedural semata. Bukan karena benar. terlepas dari soal kita senang atau tidak senang. Pilihan politik.

bukan lembaga negara utama seperti MA dan MK melainkan hanya lembaga pembantu atau penunjang. sebab di dalam UUD sendiri tidak disebutkan tentang itu. Jadi Hukum Tata Negara itu adalah apa yang diperdebatkan dan ditulis sebagai pilihan politik di dalam konstitusi. Meminjam ungkapan KC Wheare di dalam bukunya. melainkan merupakan lembaga pengawas eksternal yang berdiri sendiri. Harus juga diingat bahwa dalam kenyataannya tidak ada satu sistem ketatanegaraan yang benar-benar asli dan tidak ada satu sistem ketatanegaraan yang secara persis dianut oleh lebih dari satu negara karena setiap negara memberikan sentuhan-sentuhan atau warna khusus sesuai dengan kebutuhan dan pilihan politiknya. the Modern Constitution. Memang dapat diterima pandangan bahwa KY bukan lembaga pemegang kekuasaan kehakiman yang mempunyai tugas yang berkaitan dengan kekuasaan tersebut. Selain itu harus diingat bahwa Hukum Tata Negara itu bukanlah apa yang ada di dalam teori atau yang berlaku di negara lain. Jadi jika dilihat dari sudut lembaga negara maka KY ini tidak pernah dimaksudkan sebagai lembaga pembantu atau penunjang lembaga lain. Tidak ada teori Trias Politika asli dan tidak ada sistem pemerintahan yang murni karena hampir semua negara membuat sistem dengan sentuhan 10 Bunga Rampai . Pandangan seperti ini dapat dipertanyakan. Namun sebagai lembaga pengawas eksternal lembaga ini dapat dipandang sebagai lemabaga negara yang sejajar dengan MK maupun MA meski pun kompetensi tugas-tugasnya membantu kekuasaan kedua lembaga tersebut. konstitusi adalah resultante atau kesepakatan yang dibuat oleh bangsa yang bersangkutan sesuai dengan kebutuhan tempat dan waktu serta situasi.putusan MK ketika memangkas hampir semua wewenang pengawasan KY terhadap hakim adalah karena KY bukan main organ melainkan hanya auxiliary organ. tetapi jika dilihat dari tugasnya yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman maka bidang tugas KY memang hanya menunjang lembaga yudikatif dalam pelaksanaan kekuasaan kehakiman. bukan apa yang ada di dalam teori atau yang berlaku di negara lain betapa pun dianggap sudah mapan. Hukum Tata Negara adalah apa yang digagas dan kemudian ditulis di dalam konstitusi oleh bangsa suatu negara.

Swiss. penerapan yang benar adalah sistem parlementer seperti yang berlaku di Inggris. sebenarnya berasal dari John Locke ketika mengajarkan pemisahan kekuasaan atas legislatif. dalam Jawa Pos. sedangkan nama dan uraian teoresasi tentang Trias Politika itu selanjutnya diberikan oleh Emmanuel Kant. 2 Mei 2007. Berbagai contoh kasus6 Antara April dan Juli tahun 2007 ini penulis mengunjungi beberapa negara “demokrasi” di Asia dan Eropa yang ternyata mengatur sistem ketatanegaraannya secara berbeda-beda meskipun mengatakan menganut sistem terten- 6 Lihat dalam tulisan saya. Trias Politika yang “dikira” berasal dari Montesquieu itu pun kemudian melahirkan sistem pemerintahan yang berbeda-beda yang juga dapat dipertanyakan keasliannya. Amerika. Harian Seputar Indonesia. 2 Mei 2007. dan yudikatif. Uniknya di negara Montesquieu sendiri. Perancis. Juga tulisan saya. Amerika Serikat melahirkan sistem Presidensial yang memisahkan secara tegas antara legislatif dan eksekutif dengan mekanisme checks and balances antar poros-porosnya. eksekutif.dan modifikasinya sendiri-sendiri sesuai dengan kebutuhan domistiknya. Hasil modifikasi oleh Montesquieu inilah yang umumnya dianggap sebagai dasar teori Trias Politika padahal Montesquieu sendiri mengambilnya dari John Locke. Tampak jelas bahwa sistem ketatanegaraan yang asli atau murni itu tidak ada karena semuanya merupakan penafsiran dan modifikasi sendiri-sendiri. Tak Ada Sistem Ketatanegaraan Asli. Inggris. eksekutif. dianut hybrid parliamentary-presidential system. Inggris melahirkan sistem Parlementer yang menganut supremasi parlemen. Perancis. Teori Trias Politika yang selalu dikaitkan dengan Montesquieu misalnya. dan lain-lain membuat sistem ketatanegaraan berdasar pilihan politiknya sendiri. Mencontoh Kehidupan Beragama di Lebanon. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 11 . dan federatif namun kemudian dimodifikasi oleh Montesquieu menjadi legislatif. Montesquieu sendiri mengatakan. sedangkan di Swiss lahir sistem badan pekerja.

tu dari Trias Politika. Yang juga menarik di Polandia adalah kewenangan Mahkamah Konstitusi (MK) untuk melakukan judicial preview atau menilai satu RUU sebelum disahkan oleh (dan atas permintaan) Presiden. Di Yordania juga dianut sistem parlementer tetapi yang sangat menentukan jabatan perdana menteri adalah raja. Ini unik karena berarti MK dapat menilai kembali UU yang telah dinyatakan konstitusional oleh MK sendiri sebelum UU itu disahkan. Tapi itulah sistem yang dipilih oleh Polandia. Socialist Democratic 12 Bunga Rampai . tetapi MK juga dapat melakukan judicial review atas UU yang sudah disahkan oleh Presiden jika ada gugatan. termasuk UU yang sudah dimintakan judicial preview sebelum diundangkan. Libanon yang secara resmi menganut sistem Parlementer ternyata menyerahkan kekuasaan tertentu kepada Presiden yakni kekuasaan bidang pertahanan dan intelijen. Namun di Indonesia Presiden mempunyai hak bersama DPR untuk membentuk UU. Polandia juga menganut sistem parlementer tetapi uniknya Presiden dapat membubarkan parlemen dengan dua alasan yakni jika sampai waktu tertentu parlemen tidak mensahkan anggaran yang diajukan oleh pemerintah atau jika parlemen tidak menyetujui susunan kabinet yang diajukan oleh pemerintah dan sampai waktu tertentu parlemen tidak mengajukan alternatif untuk menggantikan penolakannya itu. Sistem presidensial di Indonesia juga tidak mengikuti pola yang umum meski pola umum itu tidak murni juga. Di Suriah pemilu untuk 250 kursi parlemen hanya dilakukan untuk memperebutkan 70 kursi karena nama wakil rakyat yang untuk 180 kursi sudah ditentukan lebih dulu oleh pemerintah dari partai yang berkuasa. Sistem Presidensial seperti yang dianut di Indonesia ini hanya dipakai oleh satu negara lain di dunia. Di Republik Rakyat Cina (RRC) yang menganut sistem yang agak unik. yakni Puerto Rico. Pada umumnya di dalam sistem presidensial kekuasaan membentuk UU hanya ada di parlemen tetapi Presiden mempunyai hak veto (hak menolak) yang kemudian dapat diuji kembali melalui sejumlah dukungan minimal tertentu di parlemen. bukan parlemen. jadi pemerintahan dilakukan oleh kabinet yang dipimpin oleh perdana menteri tetapi untuk masalah pemerintahan tertentu dilakukan oleh Presiden.

tergantung pada kebutuhan masing-masing. bukan sistem yang harus dipaksakan untuk sama atau menganut teori atau sistem yang berlaku di negara lain. siapa pun harus tunduk kepada hukum. Namun seperti dikenal luas penegakan hukum dan pemerintahan di RRC berjalan sangat efektif. Yang menonjol ketika itu adalah pemikiran tentang perlunya lembaga pengawas eksternal yang dapat menyeleksi hakim agung dan mengawasi perilaku hakim sebab lembaga pengawas internal yang ada di lembaga yudikatif sampai saat itu sama sekali tidak efektif. Dewan Yudisial Nasional atau “the National Council of the Judiciary” berfungsi untuk 7 Bagi penulis konsep ini terasa unik. Jadi di RRC kejaksaan bukan bagian dari Pemerintah dan bukan bagian dari Mahkamah Agung melainkan dijadikan lembaga yang sejajar dengan kedua lembaga negara itu. termasuk ketika kita menempatkan KY di dalam mosaik ketatanegaraan kita. Itu pun merupakan pilihan politik atau resultante bangsa Cina dalam membuat konstitusinya. juga agak sulit memahami demokrasi yang dikatatorship. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 13 .Dictatorship. Desain Komisi Yudisial Uraian di atas bermaksud meyakinkan kita bahwa sistem ketatanegaraan kita pun adalah sistem yang dapat kita buat sendiri. sebab pada umumnya agak sulit menyatukan sosialis-komunis dengan demokrasi. bahkan ada negara yang menempatkan KY sebagai lembaga yang bukan di ranah yuridis melainkan bersifat politis. Di Polandia.7 Kejaksaan Agung dijadikan lembaga yang sejajar dengan Mahkamah Agung dan lembaga negara yang lainnya. Sebagai pilihan politik penempatan posisi KY yang seperti itu sah saja dan mengikat secara konstitusional. Ternyata konsep ini berjalan efektif karena dictatorship di sana diartikan kekuasan hukum (dikatatorial hukum) secara mutlak. misalnya. sebab seperti dikemukakan di atas setiap konstitusi dapat menentukan pilihannya sendiri-sendiri. Di berbagai negara pun pemosisian KY bervariasi. Dalam kaitan dengan KY ini penulis dapat mengatakan bahwa menurut risalah persidangan-persidangan MPR yang merancang perubahan UUD 1945 tidak muncul sama sekali pemikiran untuk menjadikan KY sebagai supporting atau auxiliary organ.

dan seorang lain yang ditunjuk oleh Presiden. kita suka atau tak suka. Jadi posisi konstitusional KY dengan berbagai kewenangan yang kemudian dituangkan ke dalam UU No. MK menyatakan bahwa KY bukan lembaga negara utama padahal ketentuan yang seperti itu hanyalah tafsir teoretis dari MK yang bisa dibantah dengan tafsir teoretis lain. 15 orang hakim. Namun seperti dikemukakan di atas. putusan MK itu bersifat final dan mengikat yang karenanya harus diterima dan dilaksanakan. MK juga menyatakan bahwa ketentuan kewenangan KY untuk mengawasi tingkah laku hakim tumpang tindih dengan berbagai UU lain yang terkait dengan kekuasaan kehakiman sehingga karena itu MK membatalkan berbagai kewenangan KY. 6 orang anggota Parlemen yang masing-masing 4 orang dari Majelis Rendah dan 2 orang dari Majelis Tinggi. terlepas dari soal benar atau salah. Menteri Kehakiman. MK mengatakan bahwa KY hanyalah supporting atau auxiliary organ sehingga tak bisa melakukan peran checks and balances padahal tak ada sama sekali pemosisian yang seperti itu ketika MPR membahas dan merumuskan fungsi KY di dalam konstitusi kita. 22 Tahun 2004 sebagai pilihan politik yang khas Indonesia sebenarnya sudah cukup baik.menjaga dan melindungi kebebasan/kemandirian pengadilan dan hakim. padahal MK hanya boleh memutus atau membatalkan isi UU jika bertentangan dengan isi UUD. bukan bertentangan dengan UU lain yang sejajar. tak ada hal-hal yang bertentangan dengan UUD baik secara semantik maupun secara historik dalam garis politik hukum kita. Setelah terjadi kekosongan hukum dalam bidang pengawasan perilaku hakim oleh KY kini kita dituntut untuk segera membentuk UU baru yang memuat dan mengatur kewenangan KY ini. Lembaga ini lebih bersifat politis karena keanggotaannya terdiri dari Ketua I Mahkamah Agung. Yang harus diperhatikan dalam pembentukan UU baru ini adalah bahwa kita harus kembali ke semangat atau garis politik hukum tentang KY itu sebagaimana diperdebatkan di MPR pada saat masalah KY itu dibicarakan dan diputuskan. Tetapi MK dengan pilihan paradigma dan dalil serta pasal-pasal yang dipilihnya sendiri telah memangkas hampir semua kewenangan KY. Pada saat itu ada semangat bahwa KY dibentuk un- 14 Bunga Rampai . Ketua I Mahkamah Tinggi Tata Usaha Negara.

Terkait dengan ini maka di dalam disain baru nanti harus tetap dibuka kemungkinan KY membaca dan mendalami putusan hakim jika terkait dengan dugaan penyimpangan perilaku hakim. RUU tentang MK. Adalah sulit untuk tidak membolehkan KY membaca dan menilai suatu kasus pengaduan tentang pelanggaran perilaku oleh hakim sebab pada umumnya pengaduan perilaku hakim itu terkait dengan perkara yang kemudian diputus oleh hakim. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 15 . baik di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan. Di sini meskipun KY boleh membaca putusan hakim tidaklah dapat diartikan bahwa KY boleh melanggar independensi hakim sebab KY tetap tidak boleh mempengaruhi apalagi mengubah putusan hakim.tuk memenuhi kebutuhan akan lembaga pengawas ekternal yang mandiri untuk mengawasi perilaku hakim dan hakim yang dimaksud ketika itu adalah semua hakim yang bekerja di lembaga kekuasaan kehakiman. keluhuran martabat serta perilaku hakim” (pasal 1 butir 6 draft Juli 2007) diartikan sebagai upaya yang meliputi pencegahan dan penindakan atas perbuatan hakim. Berdasar diskusi-diskusi di Badan Legislasi (Baleg) DPRRI8 yang kini sedang menyiapkan RUU tentang KY yang baru ada beberapa hal yang sudah dimasukkan di dalam buram (draft mentah) berkaitan dengan lingkup kewenangan KY di masa depan yang beberapa hal di antaranya dapat dikemukakan seperti di bawah ini: 1. Dalam cakupan pengertian yang seperti ini maka pengawasan atas hakim mencakup pengawasan preventif (misalnya dalam hal seleksi hakim) dan pengawasan represif (misalnya pemeriksaan dan penindakan atau penjatuhan sanksi). dan RUU tentang KY. Istilah “menjaga dan menegakkan kehormatan. KY hanya boleh membaca dan menilai putusan setelah ada vonis tanpa boleh mengubah putusan hakim. Hakim tetap bebas memeriksa dan memutus perkara dan putusannya tetap mengikat. 8 Penulis adalah anggota Badan Legislasi DPR-RI yang saat tulisan ini dibuat sedang menyiapkan tiga RUU yang terkait dengan kekuasaan kehakiman yakni RUU tentang MA.

Memang di dalam pasal 22 ayat (2) draft Juli 2007 sudah dicantumkan ketentuan bahwa dalam melaksanakan tugas KY tidak boleh mengurangi kebebasan hakim dalam memeriksa dan memutus perkara. Tentang sifat putusan KY yang berupa penjatuhan sanksi tertentu seperti pemberhentian. bukan dibuat di rumah atau diserahkan beberapa hari sebelumnya. antara lain. Selain itu perlu juga diperhatikan dalam kaitan ini tentang pemberian peluang bagi KY untuk membaca dan menilai putusan hakim yang diadukan atau dilaporkan oleh masyarakat dengan penekanan bahwa hal itu tak boleh bertendensi intervensif yang dapat mempengaruhi putusan berikutnya apalagi sampai mengubah putusan hakim. Selain itu perlu juga ditentukan pembacaan rekam jejak (track record) melalui telaah atas semua putusan yang pernah dibuat disertai investigasi secara diam-diam tetapi dapat dipertanggungjawabkan. Untuk tugas ini KY dapat “melakukan pengawasan” atas perilaku hakim serta “memeriksa dan memutus” terhadap dugaan pelanggaran kode etik dan keharusan perilaku baik atas pengaduan masyarakat maupun atas temuan KY sendiri. dapat mewajibkan calon hakim agung menyusun karya ilmiah dengan topik yang telah ditentukan (pasal 18 ayat (2) draft Juli 2007). tetapi ketentuan pasal 22 ayat (2) ini tidak terkait secara spesifik bagi kemungkinan pembacaan dan penilaian putusan hakim oleh KY. keluhuran martabat. Ini dimaksudkan untuk menjaga orisinalitas dan menyaring kemampuan artikulatif setiap calon hakim agung. 4. sebagaimana dimuat Bunga Rampai 16 . 3. Untuk melaksanakan wewenang konstitusional (menurut pasal 20 ayat (1) sampai dengan ayat (3) draft Juli 2007) KY mempunyai tugas “menjaga” dan “menegakkan” kehormatan. Dalam kaitan ini perlu dipertimbangkan atau ditegaskan tentang apa yang dimaksud “hasil temuan” KY sendiri. sebab konsep dasar yang dianut adalah “sikap pasif” bagi KY dalam arti KY hanya memproses laporan dari masyarakat tanpa boleh mencari-cari kasus sendiri.2. serta perilaku hakim. Dalam upaya melakukan seleksi atas kualitas dan kepribadian calon hakim agung KY. Mungkin perlu ditekankan agar pembuatan karya ilmiah tersebut dilakukan seketika di tempat seleksi.

Dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. pimpinan DPR. serta perilaku hakim (pasal 25B ayat (2) draft Juli 2007) ditentukan beberapa larangan bagi hakim. Ini penting juga karena dalam praktik selama ini masih banyak hakim yang menangani perkara yang ada kaitan dengan kepentingan dirinya. Tetapi ketentuan ini harus disertai dengan pemosisian ketentuan di dalam UU lain yang menyatakan bahwa pemberhentian dilakukan setelah melalui pembelaan dan keputusan Majelis Kehormatan Mahkamah Agung dan Majelis Kehormatan Hakim. dinyatakan mengikat dan disampaikan oleh KY kepada Presiden dengan tembusan kepada pimpinan MA. Ketentuan ini sangat penting agar maksud keberadaan KY untuk mengawasi dan menentukan sanksi dan tindakan dapat terpenuhi. termasuk semua hakim konstitusi. Mungkin dapat diatur bahwa dengan adanya KY tidak diperlukan lagi pemberian kompetensi bagi Majelis Kehormatan Mahkamah Agung dan Majelis Kehormatan Hakim untuk memutus/merekomendasikan pemberhentian hakim. Meskipun ini sudah menjadi asas di dalam hukum tetapi perlu juga dicantumkan di dalam bagian ketentuan tentang kode etik bahwa hakim tidak boleh atau harus mengundurkan diri dari (penanganan) perkara yang ada kaitan dengan dirinya.5. keluhuran martabat. dan pimpinan badan peradilan dimana hakim yang bersangkutan bertugas. Tetapi ketentuan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 17 . di dalam pasal 22B ayat (4) draft Juli 2007. Mungkin juga dapat diatur bahwa keputusan KY tentang pemberhentian dapat dilaksanakan tanpa pemeriksaan ulang di Majelis Kehormatan Mahkamah Agung dan Majelis Kehormatan Hakim. Pengawasan atas MK Sebenarnya garis politik hukum tentang pembentukan KY menginginkan pengawasan atas perilaku hakim oleh KY mencakup semua hakim yang mempunyai fungsi kehakiman. sedangkan pemberhentian hakim berdasar hasil pengawasan internal MA sendiri tetap harus melalui Majelis Kehormatan Hakim. tetapi tidak tercantum larangan bagi hakim untuk memeriksa dan memutus perkara yang berkaitan dengan dirinya (asas nemo judex in causa sua).

Karena putusan MK bersifat final dan mengikat maka fakta hukum di pengadilan umum itu tidak dapat mengubah lagi putusan MK yang secara substantif nyata-nyata salah. sesuai dengan ketentuan pasal 24C UUD 1945. Putusan MK tentang cakupan pengertian hakim ini. 18 Bunga Rampai . sebab kita tak bisa membiarkan MK dan hakim-hakimnya menjadi lembaga super yang tak bisa diawasi. ada yang ingin segera dan ada yang menghendaki ditunda dulu. juga menimbulkan komplikasi berkait dengan wewenangnya dalam memutus yang harus diterima secara final dan mengikat. padahal selain sering berdasar pilihan perspektif sepihak putusan MK itu bisa berlawanan dengan fakta hukum lain yang diputus oleh pengadilan. Memang setelah empat tahun perjalanan MK. 9 Wacana untuk melakukan amandemen kelima atas UUD 1945 pada saat ini sedang gencar. MK pernah menyatakan menolak gugatan permohonan pembatalan hasil perhitungan suara dalam pemilu di suatu daerah karena terjadi kecurangan. ada yang ingin partial dan ada yang ingin komprehensif. selain banyak memberi angin segar bagi kehidupan ketatanegaraan yang lebih sehat. Itulah sebabnya dalam Amandemen UUD 1945 berikutnya9 kita harus merumuskan dengan cermat tentang pengawasan terhadap hakim konstitusi dan tentang cara mengatasi jika putusan MK yang bersifat final dan mengikat itu ternyata tidak sesuai dengan politik hukum di dalam konstitusi dan bertentangan dengan fakta hukum yang kemudian muncul. Satu-satunya jalan untuk mengembalikan masalah ini ke garis politik hukum yang benar hanyalah melalui amandemen konstitusi yang harus menegaskan tentang itu secara eksplisit. bersifat final dan mengikat sehingga tak bisa dimasukkan lagi di dalam UU tentang KY yang baru nanti. Contohnya.tentang ini yang sudah dimuat dengan tegas di dalam UU tentang KY dibatalkan oleh putusan MK yang menyatakan bahwa hakim dalam pengertian pasal 24B UUD 1945 tidak mencakup hakim konstitusi karena selain konteksnya hanya dengan hakim agung pasal 24B yang menentukan pembentukan KY itu lahir lebih dulu daripada pasal 24C yang menentukan pembentukan MK sebagai lembaga negara. namun di dalam peradilan umum kecurangan itu terbukti dan pelakunya dijatuhi hukuman pidana.

Bahan Pustaka AV Dicey, An Introduction to Study of the Law of the Constitution, 10th edition, English Language Book Society and Mac Millan, London, 1971. Carl J. Friedrich, Constitutional Government and Democracy: Theory and Practice in Europe and America, Weldham, Mass: Blaisdell Publishing Company, 5th edition, 1967. David Kairys, The Politics of Law, a Progressive Critique, Pantheon Books, New York, 1982. C.F. Strong, Modern Political Constitution, The English Language Book Society, Sidgwick and Jackson Limited, London, 1966. Erwin Chemerinsky, Constitutional Law, Principles and Policies, Aspen Law and Business, New York, 1997. Hans Kelsen, General Theory of Law and State, Russell and Russell, New York, 1973. Jimly Asshiddiqie, ”Telaah Akademis Perubahan Undang-Undang Dasar 1945,” dalam Jurnal Demokrasi dan HAM, Volume 1 No.4 Tahun 2001. K.C. Wheare, the Modern Constitutions, Oxford University Press, London-New York-Toronto, 3rd Impression, 1975. Moh. Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia, LP3ES, Jakarta, 1998. Moh. Mahfud MD, Pergulatan Politik dan Hukum, Gama Media-Ford Foundation, Yogyakarta dan Jakarta, 1999. Moh. Mahfud MD, Hukum dan Pilar-pilar Demokrasi, Gama Media- the Ford Foundation, Yogyakarta dan Jakarta, 1999. Moh. Mahfud MD, Amandemen Konstitusi dalam Rangka ReformasiTata Negara, UII Press, Yogyakarta, 1999. Moh. Mahfud MD, Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia, PT Rinneke Cipta, Jakarta, 2000. Moh. Mahfud MD, Dasar dan Struktur Ketatanegaraan Indonesia, PT Rinneke Cipta, Jakarta, 2001. Moh. Mahfud MD, Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi, LP3ES, Jakarta, 2006. Moh. Mahfud MD, Perdebatan Hukum Tata Negara Pasca Amandemen UUD 1945, LP3ES, Jakarta, 2007.

-

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

19

-

Moh. Mahfud MD, Hukum Tak Kunjung Tegak, PT Citra Aditya Bhakti, Bandung. 2007. RM AB Kusuma, Lahirnya Undang Undang Dasar 1945, Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 2004. Sri Soemantri M, ”Undang-Undang Dasar 1945, Kedudukan dan Artinya dalam Kehidupan Bernegara,” dalam Jurnal Demokrasi dan HAM, Vol. 1 No. 4 Tahun 2001. Sri Soemantri, Prosedur dan Sistem Perubahan Konstitusi, PT Alumni, Bandung, Edisi Kedua, Cetakan Kesatu, 2006.

20

Bunga Rampai

Perubahan Bidang Politik dan Pengaruhnya Terhadap Reformasi Peradilan
Arbab Paproeka, S.H.
1

Pengantar Semangat egalitarian warga negara – bangsa berdampak signifikan terhadap diskursus-diskursus intelektual dan pembentukan sistem politik Indonesia ketika euforia reformasi dan demokrasi mulai mengemuka di semua ruang publik. Kesadaran diskursif seperti itu menjadi konsensus bersama bagi perwujudan res publica (kepentingan bersama) dalam menata tata kehidupan sosial, politik, ekonomi dan hukum. Atas semua itu, reformasi dan demokrasi dengan ragam pemaknaannya dinilai sebagai tujuan yang harus dicapai ketimbang sekadar menjadi sebuah sarana merebut hasrat kuasa. Dalam banyak pandangan, reformasi dan demokrasi, sejatinya dipahami sebagai imaji ideal kebangsaan yang akan menggiring negara bangsa ke dalam kebajikan dan keadaban. Reformasi dan demokrasi kadang juga diletakkan sebagai nonstrum - obat bagi segala masalah kebangsaan. Kondisi ini memiliki implikasi pada tindakan yang mengarah pada cita ideal tata hidup kebangsaan yang dipandang sebagai ekspresi reformasi dan demokrasi. Namun, dalam sisi yang berbeda, reformasi dan demokrasi sering juga diperspepsikan sebagai imaji yang justru memunculkan sinisme yang tinggi dari entitas negara bangsa. Kondisi ini adalah sebuah refleksi dimana cita ideal mengalami kontradiksi

*

Anggota Komisi III DPR RI

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

21

dengan ekspektasi pada situasi faktualnya. Tuntutan untuk melakukan pendalaman demokrasi (a deepening democracy) terhadap negara bangsa yang sementara mengalami masa transisi memang pelik. Terlebih pada sebuah komunitas yang karakter bangsanya cukup heterogen atau plural semisal Indonesia. Sebagaimana Snyder (2000), menjelaskan bahwa sentimen nasionalisme menjadi salah satu faktor yang bisa mengganggu proses demokratisasi. Tesis ini cukup mudah dikenali. Bahwa demokrasi tidak selamanya akan menguntungkan semua kelompok elit politik. Ia bergerak seperti pendulum. Namun biasanya, kelompok elit yang senantiasa berupaya mencegah berlangsungnya proses demokratisasi adalah kelompok elit yang merasa dirugikan dari proses demokratisasi. Modus yang sering digunakan adalah show power melalui pengumpulan kekuat-an inti dengan penguatan isu sentimen nasionalisme. Sentimen nasionalisme ini setidaknya dapat dijelaskan lewat pengkultusan nilai tatanan dalam sebuah komunitas. Atau mungkin juga bisa dijelaskan dalam gugusan negara bangsa. Sentimen nasionalisme dalam gugusan komunitas terpola melalui penuturan klasik, dimana ia terjelma menjadi suatu nilai (value) sebagai suatu bentuk kebaikan umum dalam makna totalitasnya. Lain halnya dengan, Arend Lijphart dalam Latif (2006), justru memberikan ulasan yang optimistik bahwa adalah mungkin untuk mempertahankan pemerintahan demokratis yang stabil dalam sebuah masyarakat plural sepanjang elit-elitnya bersedia bekerja sama. Namun, kerja sama itu tidak akan tercipta dengan sendirinya. Dibutuhkan sebuah kerangka solidaritas bersama yang baru, yang bergantung secara inter alia pada nasionalisme kewargaan (civic nasionalisme). Perspektif ini memang cukup relevan dalam merepresentasikan bahwa demokrasi tidak jatuh dari langit, tetapi melakukan pendalaman demokrasi dibutuhkan konsensus politik dari semua entitas kewargaan untuk membangun komitmen intelektual bagi keberlanjutannya. Nasionalisme yang berakar dari ikatan nation, pada akhirnya begitu untuk didefenisikan. Namun dalam rangka jelajah pemaknaan tentangnya, mungkin dapat dirunut bahwa nation adalah sesuatu yang direkayabayangkan (imagined). Sebagai bentuk direkayabayangkan, maka variannya

22

Bunga Rampai

pun menjadi sangat beragam. Snyder, menyebut ada empat bentuk utama nasionalisme; nasionalisme sipil, nasionalisme SARA, nasionalisme revolusioner dan nasionalisme kontra – revolusioner. Nasionalisme sipil terbentuk jika elite politik yang ada tidak merasa terancam oleh proses demokratisasi, dan kelembagaan negara yang ada cukup kuat untuk menampung proses ini. Ia mendasarkan pada usahanya mempertahankan proses demokratisasi karena dianggap bisa memberikan keadilan. Pada sisi ini, negara menganut prinsip kesetaraan warga negara tanpa memandang suku, warna kulit, agama dan keturunannya. Nasionalisme SARA sebuah solidalitas yang dibangkitkan berdasarkan budaya, agama, bahasa, sejarah dan yang sejenisnya. Nasionalisme SARA terbentuk jika elite politik yang ada merasa terancam oleh proses demokratisasi, dan kelembagaan negara juga masih lemah. Jika terdapat kelompok dominan lebih dari satu maka proses demokratisasi mungkin akan mengakibatkan terjadinya perpecahan di negara tersebut, dan sebagai gantinya akan muncul satu negara federal, atau bahkan beberapa negara baru. Nasionalisme revolusioner merupakan usaha untuk mempertahankan suatu perubahan politik yang melahirkan rezim baru yang dinilai lebih baik dari rezim sebelumnya. Disini terdapat kecenderungan bahwa kekuatan baru mempertahankan perubahan senantiasa menggunakan nasionalisme revolusioner. Nasionalisme terjadi kalau elit politik yang ada tidak dirugikan oleh proses demokratisasi, dan lembaga-lembaga negara yang mau mempertahankan rezim lama lemah. Sedangkan nasionalisme kontra – revolusioner merupakan upaya membangun solidaritas untuk mempertahankan kelembagaan negara yang ada terhadap perubahan. Biasanya nasionalisme kontra – revolusioner digunakan sebagai instrumen untuk mengembalikan militer ke pentas politik dengan mengatakan bahwa di bawah rezim sebelumnya jauh lebih baik dibanding rezim yang ada sekarang. Masalahnya adalah civil society yang dijadikan sebagai gugus konsep paling mondial belakangan bagi pembelajaran sosial secara kolektif dan produksi simbol-simbol politik secara dominan justru disuplai oleh kelompok komunal. Sehingga demikian, Indonesia pada kurun waktu ini masih merupakan sebuah masyarakat komunal, bukan asosiasio-

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

23

nal. Padahal ekspektasi mengenai civil society adalah ketika asosiasi-asosiasi ini terbentuk menjadi sebuah komunitas produktif sebagai katalis bagi proses transformasi masyarakat dari semangat komunalisme menuju kewarganegaraan yang lebih beradab. Di sisi lain, intelegensia-politisi yang diharapkan membimbing komunitas politik ke arah keadaban politik (political civility) dalam kenyataannya justru menyuburkan tradisi komunalisme. Kondisi ini kian diperparah dengan eksistensi kaum komunitas epistemik sebagai penyangga dalam melahirkan gagasan orisinalitas tampaknya juga harus terjebak dengan gugusan pragmatisme yang luar biasa. Penuturan Gunawan (2006) mungkin benar bahwa pragmatisme sendiri memang lahir sebagai anak haram dari sebuah pergulatan panjang, untuk menjawab berbagai persoalan yang terjadi di abad lalu. Fundamen pemikirannya yang meletakkan pada benar tidaknya suatu dalil tergantung pada manfaatnya bagi manusia, dan tentu saja manfaat pertama yang menikmatinya adalah diri sendiri. Sebetulnya, pragmatisme tidak memiliki perbedaan yang cukup jauh dengan patron Machiavelli, “the end justifies the means”. Keduanya memiliki konsekuensi bagi lahirnya keserakahan dan pengkhianatan terhadap nilai-nilai moralitas. Bahkan oleh Juliean Benda dalam Gunawan (2006) justru memandang pragmatis lebih radikal. Bahwa pragmatisme merupakan bentuk pengingkaran terhadap nilai-nilai moral yang universal. Pragmatisme dituding sebagai pabrik nilainilai moral yang semu dan artifisial, yang diproduksi sesuai dengan keadaan dan kebutuhan akan kekuasaan. Tak heran juga bila “pelacur-pelacur intelektual” kian marak bermunculan, yang bekerja berdasarkan permintaan pasar. Praktek ini seolah mirip “panggadaian intelektual”, yang menularkan efek cukup luar biasa. Efek yang patut dipelajari tradisi pencerahan yang melekat pada komunitas epistemik sebagai karakter pokoknya pada gilirannya makin absurd. Padahal dalam tataran normatif-etis, masa transisi seperti ini, justru keberadaan komunitas epistemik diharapkan menjadi avantgarde bagi terciptanya tatanan bangsa yang lebih beradab, bukannya harus ikut dengan permainan “kuasa politik”, yang senantiasa berada dalam pusaran seni merekayasa. Kegundahan lain yang kerap juga menjadi mo-

24

Bunga Rampai

Baginya cendekiawan harus memihak pada kelas tertentu. Kekuasaan menjadi cukup penting bagi kelompok-kelompok intelektual sebagai medium transformasi dalam membentuk komitmen-komitmen baru bagi kepentingan negara bangsa. Mashab bendaian menilai bahwa intelektual harus merentangkan jarak dengan kekuasaan. Walau dalam banyak pemikiran. menjadi pelumas dalam mesin pemerintahan. sementara mashab Gramscian malah melihat dalam sisi yang terbalik.mok bagi komunitas epistemik ini adalah ketika tidak mampu menempatkan dirinya sebagai medium perekat bangsa. tetapi kepicikan. Pada perspektif yang berbeda. keduanya melihatnya dalam sisi yang berlawanan. yang memberikan sindiran halus bahwa “buat apa sekolah kalau hanya untuk mengeruk uang”. Baginya justru menuding ilmuwan yang steril dari persoalan aktual di masyarakat. sekadar mendengungkan kebenaran dari pucuk menara gading. Sehingga yang terjadi bukan lagi kadar pragmatisme. Keduanya adalah dualitas yang saling membentuk. antara intelektualitas dan kekuasaan sebetulnya bukanlah dualisme yang harus dipandang sebagai sesuatu yang berlawanan. pada gilirannya juga menggiring kita untuk berpikir dan bertindak secara pragmatis. adalah para pengkhianat intelektual (La Trahison de la Trahison de clercs). Dua mashab. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 25 . yakni mashab Bendaian dan mashab Gramscian membedahnya seperti berikut. Bahkan Ivan Illich dalam Gunawan (2006) menyebut Deschooling Society. Padahal salah satu prasyarat lahirnya konsolidasi demokrasi adalah perlunya masyarakat sipil yang bebas dan aktif dalam mengontrol tata kerja demokrasi. Yang mungkin dipersalahkan ketika kekuasaan dan intelektual diintegrasikan sebagai perusak nilai tatanan. Pergulatan panjang ini tentu saja bukan menjadi sebuah jebakan untuk harus memihak. Justru soal seperti ini. Persekutuan ini dinilai mengkhianati jati diri intelektual (La Trahison Des Clercs). Malah yang muncul justru memperlihatkan gejala sebagai kekuatan yang sangat pasif terhadap isu-isu kebangsaan. Sehingga demikian. Dalam Gunawan (2006) antara sisi intelektualitas dengan kekuasaan memang memiliki korelasi. dosa terbesar yang tak terampunkan dari seorang cendekiawan adalah bila yang bersangkutan turut berputar.

rute perjalanan transisi. ketika politik ditempatkan sebagai sarana agregasi kepentingan personal. Dalam menjelaskan gejala ini. Segera setelah itu. Pendulum ke arah demokratisasi terjadi pasca isu reformasi meledak tahun 1998. tuturan bahasa ini tidak berlabuh dalam tradisi politisi kita untuk menggiring reformasi peradilan ke dalam laboratorium kehancuran. kapan suatu negara dikatakan sudah terkonsolidasi? Beberapa sarjana bersepakat bahwa untuk menandai demokrasi telah terkonsolidasi. Dalam satu sisi. Ketika rezim otoritarianisme Orde Baru runtuh. Isu konsolidasi demokrasi berakar dari sebuah konsep transisi antara berakhirnya rezim otoritarianisme ke demokratisasi. demokrasi pun tampil sebagai pemenang. oleh banyak pemikiran menjelaskan dua rumus yang bisa diklasifikasi. Demokrasi dianggap sebagai pemenang karena berhasil melumpuhkan lawan tangguhnya otoritarianisme. Celakanya. Liberalisme telah mengalahkan dua lawan tangguhnya: komunisme dan nasionalisme fasis. transisi boleh juga mengarah pada lahirnya konsolidasi demokrasi. Transformasi Politik: Sebagai Pelatuk Perubahan Ketika tembok Berlin runtuh pada tahun 1989. transisi boleh jadi mengarah pada otoritarianisme baru (re-otoritarianisme). Namun. sehingga semakin menjauhkan sisi keadaban publik. kadang dipahami sebagai fase yang serba “memungkinkan”.Dalam belantara politik. Ia kemudian menjelma menjadi leviathan yang teramat beringas karena meleburnya nilai-nilai intelektualitas dalam kekuasaan. bayangan indah sempat memukau imajinasi orang Amerika. ketika mengatakan bahwa “pengkhianatan merupakan esensi dari politikus yang sukses. Gagasan demokratisasi senantitasa terikut dengan wacana berkembangnya konsep konsolidasi demokrasi. karakteristik politisi seperti ini malah mendapat pembenaran oleh Richard Smith dalam Gunawan (2006). Imperium dan kediktatoran telah runtuh. maka isu demokratisasi kian marak dibicarakan dan tampil sebagai euphoria politik yang tak tertandingi. sesuatu kualitas yang sangat mulia namun tak menjadikan dirimu apa-apa”. sementara di sisi lain. ketika terjadi dua kali pergantian kekuasaan (two turnover 26 Bunga Rampai . Tetapi semoga saja. karakter picik bagi seorang politisi kadang ditemukan. Sisi lainnya adalah kesetiaan.

memang baru sebatas belajar merangkak. Namun. ada pula yang menyebut bahwa demokrasi sudah terkonsolidasi jika ia merupakan permainan satu-satunya (the only game in town) untuk memilih pejabat publik. tetapi demokrasi men- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 27 . Fase perjalanannya baru mencapai pada pemenuhan prosedur-prosedur demokrasi formal.rule). Kontrol demokratis yang sejatinya menjadi kunci dalam penerapan demokrasi substantif. Tahap konsolidasi menghendaki perhatian pada segi-segi substantif. maka fase transisi belum dapat disebut telah terkonsolidasi karena prasyarat-prasyarat tersebut belum memenuhi secara memadai. Bila menggunakan ukuran pertama. sehingga demokrasi substantif yang sejatinya menjadi “buruan” kaum demokratik masih jauh dari memadai. Praktek demokrasi yang sementara berlangsung. perkembangan ini hanyalah tahap awal dari proses panjang menuju konsolidasi demokrasi. Demokrasi bukan hanya sekadar menjadi medium penghapusan institusi – institusi politik yang represif dan sarana pergantian regime yang otoriter. transisi demokrasi Indonesia telah siap untuk dikonsolidasikan. Tetapi. pada kadar tertentu bahkan belum menunjukkan suatu perubahan yang signifikan. maka fase transisi demokrasi dapat dikualifikasi telah terkonsolidasi karena sirkulasi kekuasaan melalui pemilu sudah berlangsung sejak pemerintahan Abdurrachman Wahid – walau dalam perjalanan pemerintahannya berhenti ditengah jalan setelah impeacht oleh MPR – yang kemudian digantikan Megawati Soekarno Putri untuk melanjutkan episode pemerintahan yang tersisa hingga pemilu 2004. Penuturan Latif (2006) meneragkan secara memadai bahwa dari sisi prosedur demokrasi. Lain halnya bila menggunakan ukuran kedua. Bagi yang menganut rumus ini. Alasan lain juga yang relevan dengan itu adalah kualitas partisipasi publik dalam mengakses lembaga politik formal maupun institusi hukum masih terbilang sangat lemah. mereka menilai bahwa demokrasi dianggap sudah terkonsolidasi apabila kekuasaan sudah dua kali pindah tangan melalui proses pemilihan umum yang luber-jurdil. Indikatornya adalah rule of law sebagai syarat mestinya belum dapat diapresiasi secara memadai dalam mengartikulasikan prinsip-prinsip demokrasi dalam melakukan penataan kelembagaan.

tentu juga menjadi penting untuk mencegah terjadinya sentralisasi kekuasaan pada institusi negara-negara tertentu. Begitulah titahnya bahwa amendemen konstitusi. Gelombang demokratisasi ini kian menunjukkan perkembangan yang cukup positif dari semua entitas bangsa untuk membangun konsensus-konsensus baru. Pertama. kini menjadi pelatuk perubahan dalam menata pola hubungan kelembagaan negara. yakni adanya transformasi struktural dan kultural dalam sistem ketatanegaraan di republik ini yang harus segera dikomunikasikan. tentu memiliki karakter fungsi. babakan baru ini patut menjadi referensi awal untuk tidak terjebak pada kepongahan sejarah. konsolidasi demokrasi mempersyaratkan perlunya dilakukan transformasi struktural dan kultural secara mendasar. Dan setidaknya. menghendaki adanya proses checks and balances terhadap tiga lembaga negara. Sehingga demikian. Distribusi kekuasaan (distribution of power) yang disangga oleh tiga lembaga negara berbeda. Sebagai pemantiknya. yang kerap menjadi virus – bila tidak ingin 28 Bunga Rampai . amendemen konstitusi telah meletakkan sebuah kerangka pikir untuk beberapa hal. Amendemen konstitusi yang dilakukan. Namun disisi yang berbeda. demokrasi harus menjadi jaminan bagi terwujudnya esensi pemberdayaan rakyat (popular empowerment) dan pertanggungjawaban sistemik (systemic responsiveness) (Latif. Kepenatan dan kegelisahan yang selama ini hidup dengan belenggu otoritarianisme. Konsensus tersebut kemudian diwujudkan melalui sebuah kesepakatan untuk melakukan amandemen konstitusi secara mendasar.coba merepresentasikan momentum bagi perbaikan kualitas bangsa yang lebih adil dan beradab. paling tidak menjadi momentum penting dalam memulai babakan baru dalam menata negara bangsa. Ini adalah sebuah fase sejarah yang patut direkam sebagai memoar penyegaran kembali dalam tata hidup berbangsa dan bernegara. Prinsip checks and balances ini. Rentetan peristiwa ini tentu menjadi kisah menarik untuk dipelajari karena memiliki pesan mulia untuk segera diartikulasikan ke ruang publik. Sehingga praktek abuse of power. seolah kembali memberi energi baru. tugas dan wewenang yang berbeda. yaitu legislatif. 2006). eksekutif dan yudikatif.

baru dapat mencapai titik maksimun ketika infrastruktur institusional demokrasi eksis. mewujudkan cita ideal ini tentu saja mesti dibarengi dengan pemapanan institusi-institusi demokrasi. Prasyarat dalam memapankan institusi demokrasi. pemerintahan yang menjunjung tinggi hukum dan ekonomi yang efisien (Latif. dalam hal ini Mahkamah Konstitusi dan Komisi Yudisial. budaya politik yang independen. Namun demikian. Kelima. prinsip rule of law harus terinternalisasi ke dalam institusi-institusi negara sebagai Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 29 . Ini pun juga dapat dikonsolidasikan bila transisi demokrasi bertransformasi menjadi satu kerangka institusional mapan yang terinternalisasi mendalam pada para aktor sosial dan politik. yang dari sistem pemerintahan sentralistik ke sistem pemerintahan desentralistik. Kedua. tentu saja muaranya adalah penghormatan nilai-nilai keadilan (justice). Rentetan perubahan ini. partai politik yang berfungsi.disebut penyakit – tidak menggerogoti praktek penyelenggaraan negara secara bar barian. memungkinkan adanya aksesibilitas publik yang tinggi dalam pencapaianpencapaian demokrasi substantif. yang memiliki kerangka kerja secara berbeda. dalam wilayah legislatif dimunculkannya Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai perwakilan perseorangan yang dipilih berdasarkan region. walaupun keberadaannya belum dapat dikualifikasi memiliki hubungan yang sifatnya joint session. 2006). memburu keberadaban publik. Bagaimanapun juga. munculnya lembagalembaga baru (new institutions) dalam lingkungan kekuasaan kehakiman. adanya transformasi sistemik. Ketiga. Bila Mahkamah Konstitusi dibentuk dengan filosofi “penjaga konstitusi”. Derajat pemapanan institusi demokrasi dan sekaligus menjadikan institusi demokrasi lebih berwibawa adalah ketika pejabat publik menempatkan rule of law sebagai dasar pijakannya. yang konsekuensi logisnya berimplikasi pada perubahan pola hubungan kelembagaan pusat – daerah. dan didukung oleh adanya masyarakat madani yang berdaya. penciptaan pertanggungjawaban publik yang akuntabel dan transparan serta menghapus segala keserakahan dalam penyelenggaraan tata negara bangsa. maka Komisi Yudisial dihadirkan sebagai “penjaga mafia peradilan” dengan menyandang predikat sebagai lembaga yang hanya sifatnya auxiliary. Keempat.

Beban moral ini memang cukup berat karena pertanggungjawabannya bukan hanya bersifat horizontal tetapi yang jauh lebih dalam adalah tanggung jawab vertikal kepada Tuhan. Sayangnya. Bahwa pengadilan adalah “nec curia deficeret in justitia exhibenda” (pengadilan adalah istana di mana dewi keadilan bersemayam untuk menyemburkan aroma keadilan tiada henti). hakim. Inilah sisi lain yang harus dipertaruhkan sebagai seorang hakim. berwibawa dan tempat bersemayamnya prinsip – prinsip ke-tauhidan sebagai asas universal yang suci. kejaksaan. pengacara dan lembaga pemasyarakatan) belum menunjukkan suatu kinerja yang menggembirakan. Adanya praktek diskriminasi atau tebang pilih dan tebang pesanan serta maraknya praktek mafia peradilan di tubuh kekuasaan kehakiman adalah contoh kecil dari sekian banyak kisah yang dapat disajikan. demokratis. Pepatah ini sejatinya mencoba merefleksikan eksistensi dunia peradilan yang teramat mulia. Judicative Power: Sebuah Cermin yang Retak Sebuah pepatah latin kuno. pada konteks kekinian penerapan rule of law sebagai aturan main (rule game) dalam berbangsa dan bernegara. juga harus dipandang sebagai sebuah kebutuhan dalam mengatur tata laku pejabat publik untuk membedakannya dengan negara bar barian. Di negara manapun yang menerapkan prinsip-prinsip demokrasi modern. akuntabel dan responsif di mata publik. Aparatur penegak hukum yang terintegrasi dalam konsep criminal justice system (kepolisian. Tersimpan sejuta harap dari masyara- 30 Bunga Rampai . Kekuasaan kehakiman (judicative power) memang asa bagi pencari keadilan. Prinsip rule of law. mungkin cukup relevan menggambarkan mengenai mulianya sebuah lembaga peradilan.kerangka menghadirkan institusi negara yang kuat. rule of law selalu menjadi instrumen khusus dan menjadi indikator utama dalam menilai demokrasi telah dikonsolidasikan. transparan. Padahal kegagalan menegakkan prinsip rule of law dalam penegakan hukum dengan gilirannya akan menjadi kerikil-kerikil tajam dalam memapankan institusi – institusi demokrasi. tampaknya masih jauh dari memadai. Ketika para hakim harus menjelma dan bertindak sebagai “mahluk yang suci” karena menjadi wali Tuhan di muka bumi ini.

yakni karena adanya hukum yang menjadi refleksi dari kepentingan kelompok elite yang berkuasa (the higher a group’s political and economic position). malah berubah bentuk menjadi sesuatu yang utopis. Bahkan para pakar kriminolog pernah melakukan penelitian mengenai penyimpangan dalam dunia peradilan. kejaksaan. Celakanya. Kegundahan ini sebetulnya sudah lama berlangsung. mungkin ada benarnya apa yang dikatakan oleh Jeremy Bentham (Gunawan. 2006) ketika mengatakan bahwa para aparat penegak hukum adalah segerombolan orang yang dapat mengangkangi hukum tanpa konsekuensi hukum. menuliskan bahwa kebengkokan itu sudah dimulai dari segi hukumnya. moralitas yang selalu diperdengarkan dengan nyaring oleh penegak hukum dan dipandang cukup mulia. Sayangnya. Pada konteks ini. Chamblis dan Robert B.kat agar keadilan melebur dan menyatu dengan dambaannya. Order. Sisi keadilan (justice) masyarakat yang terus terbelenggu dengan maraknya praktek mafia yang berlangsung disekitar proses penegakan hukum. Keprihatinan terhadap sisi gelap penegakan hukum pada ruang publik sudah menjadi momok yang senantiasa terus dipersoalkan. ada celah yang menganga di insitusi peradilan yang bisa disusupi. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 31 . and Power”. William J. ekspektasi ini tampaknya akan terkikis dengan sendirinya ketika menyaksikan drama peradilan yang terlalu bobrok. Pada sisi inilah kekuasaan kehakiman tampil sebagai sebuah cermin yang retak karena belum mampu merekatkan nilai-nilai keadilan masyarakat yang masih berserak. Moralitas hanya diperlakukan bak jubah untuk melakukan penyusupan dan sekaligus sebagai pembenaran atas putusan-putusannya. Bahkan keduanya mempertegas bahwa penyimpangan dalam dunia peradilan terjadi karena “judges must rely on their personal values when they make decisions in trouble cases”. Mereka lupa bahwa disisi lain. Kegelisahan mengenai tata kerja kekuasaan kehakiman (judicative power) di Indonesia sebetulnya bukan cerita baru. Seidman dalam Gunawan (2006) dalam bukunya yang berjudul “Law. Institusi kepolisian. kehakiman yang seharusnya menjadi corong bagi terciptanya keadilan bagi semua. gilirannya pun tak bisa berbuat banyak menghadapi derasnya “permainan kotor” di dunia institusi hukum. Sisi lain yang paling potensial melahirkan kejahatan (judicial crime).

Polisi 78%.id). Survey IPK itu menemukan bahwa lembaga vertikal (Polisi. mereka yang berada di pihak yang benar kehilangan hak didengar sedangkan yang bersalah tidak tersentuh hukum. pada sisi lain bagi si miskin. Huguette Labelle. Militer dll) masih dipersepsikan sangat korup. Peradilan. sebuah koalisi global antikorupsi memilih tema Corruption in Judicial Systems. hal ini dikonfirmasikan oleh laporan para pelaku usaha bahwa inisiatif suap lebih banyak dilakukan oleh aparat. dan Pajak 76%. korupsi di peradilan Indonesia memiliki ranking paling tinggi di antara negara-negara seperti Ukraina. Yordania. Sejalan dengan itu. disusul Bea dan cukai 95%. BPN. Hal ini sangat relevan dengan hasil Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia 2006 yang dirilis oleh Transparency International (TI) Indonesia.ti. dan seterusnya. Rusia. (http:// www. mereka yang miskin tidak dapat berkompetisi (http://www. mereka tidak canggung-canggung dalam meminta suap. Venezeula.id). Bahkan. Dua katagori korupsi peradilan yakni campur tangan politik dan penyuapan juga sangat jelas terlihat. Imigrasi 90%.ti. Mesir. Global Corruption Report 2007 yang diluncurkan oleh Transparency International. Bea & Cukai. Korupsi dianggap melumpuhkan sistem yudisial di seluruh dunia serta menghalangi hak asasi manusia akan peradilan yang adil dan tidak berpihak. Pajak. ketua Transparency International menegaskan dengan adanya korupsi lembaga peradilan.or. Lebih memalukan lagi. Pengadilan dilaporkan merupakan lembaga yang paling tinggi tingkat inisiatif meminta suap hingga 100%. Uang serta pengaruh politik dalam hukum memecah sistem keadilan sosial: satu sistem bagi si kaya. Daniel Kaufman dalam laporan Bureaucarti Judiciary Bribery tahun 1998 menyebutkan. Relevansi Indonesia yang dilaporkan Global Corruption Report 2007 telah menunjukkan bahwa sistem peradilan di Indonesia masih sangat korup dan bobrok. Imigrasi. BPN 84%. Kolombia.or.yakni adanya kecenderungan serta upaya hakim meraup kekayaan dan kekuasaan dari pekerjaan yang diembannya. “Jika uang dan pengaruh politik menjadi dasar keadilan. hasil survei nasional tentang korupsi yang dilakukan Partnership for Governance Reform pada 2002 juga menempatkan lembaga peradilan di peringkat lembaga terkorup menurut persepsi masyarakat. 32 Bunga Rampai . Turki.

100 hakim dikategorikan bermasalah. Di tengah buruknya kinerja peradilan saat ini. sejatinya mampu menempatkan posisinya pada kerangka yang lebih intensif melakukan pengawasan internal terhadap perilaku koruptif dalam dunia peradilan. Episode waktu yang tersisa masih terlalu panjang untuk memperbaikinya. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 33 . Bahkan data terakhir yang dilansir Komisi Yudisial menyebutkan bahwa 2. Upaya pembenahan dan penataan ini dilakukan. yang pada akhirnya membuat praktek hukum diwarnai judicial corruption. Realita sistem hukum dan peradilan di negeri ini. setidaknya menjadi unsur korektif bagi Mahkamah Agung untuk menata kembali berbagai sisi gelap yang menyelimuti institusi peradilan. tidak serta merta harus dilakukan pembiaran. http://ahmadirfan.440 hakim atau sekitar 40 persen dari total 6. wordpress. terutama dalam kerangka melakukan harmonisasi dan pembenahan sistem hukum kekuasaan kehakiman menjadi mutlak diprioritaskan. walau butuh energi banyak untuk menafasinya. Fakta-fakta faktual yang telah dibeberkan seperti di atas. yakni 45% dibandingkan lembaga lainnya. nampaknya tergambarkan dalam penelitian yang dilakukan oleh The Asia Foundation & AC Nielsen yang antara lain menyatakan: 49% sistem hukum tidak melindungi mereka (the legal system does not protect them). bahwa berdasarkan pengaduan masyarakat menyebutkan penyimpangan di lembaga peradilan menempati urutan tertinggi.Hal tersebut diperkuat dengan laporan Komisi Ombudsman Nasional (KON) tahun 2002. Sehingga demikian. terutama dalam kaitan melakukan reformasi peradilan secara komprehensif sebagai upaya mengembalikan keprcayaan masyarakat terhadap sistem peradilan yang sekarang mengalami keterpurukan. Mahkamah Agung sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam dunia peradilan. upaya sistemik mesti dilakukan.com/ Kondisi ini tentu saja tidak dapat dijadikan sebagai pembenaran dalam menjustifikasi dan terus membiarkan maraknya praktek korupsi dalam dunia peradilan. 57% sistem hukum masih tetap korup (the legal system is just as corrupt as it has always been problem). 38% tidak ada persamaan di muka hukum (there is no such thing as equality before the law).

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-Undang Komisi Yudisial. Sebut saja perubahan berbagai kebijakan yang terkait dengan kekuasaan kehakiman. Sebab selama dua tahun terakhir (2005-2006) sedikitnya 29 perkara telah diperiksa dan diputus oleh pengadilan tipikor secara lebih cepat. korupsi hanya kejahatan biasa saja. pembentukan kedua lembaga ini seperti harus bergerak tanpa amunisi. Tapi sayangnya. 72 perkara korupsi dengan 171 terdakwa korupsi (36%) telah divonis bebas oleh pengadilan. Dalam laporan korupsi global tahun 2007. Seluruh kasus korupsi divonis bersalah dan tidak ada satupun yang vonis bebas. arah untuk melakukan perbaikan sudah mulai ditunjukkan. UU Peradilan Tata Usaha Negara. Kedua. walaupun belum terlalu memadai. yang menginginkan agar pengadilan tindak pidana korupsi sebaiknya dihilangkan. Sebaliknya sepanjang periode tahun 2005-2006 ada kurang lebih 203 perkara yang telah diperiksa dan diputus oleh pengadilan. eksistensi Pengadilan ad hoc Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) perlu diperkuat. yang sama kelasnya dengan pencurian. Perjalanan panjang untuk memberantas tindak pidana korupsi pada gilirannya pupus sudah. Celakanya. Padahal kinerja lembaga ad hoc dinilai cukup memberi nilai lebih bagi kembalinya kepercayaan masyarakat terhadap pemberantasan tindak pidana korupsi. setidaknya karena beberapa hal. Perubahan UU pokok-pokok kekuasaan kehakiman. dibentuklah Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi melalui UU Nomor 30 Tahun 2002 dan Pembentukan Timtas Tipikor melalui Keppres Nomor 11 Tahun 2005. Timtas Tipikor dengan resmi harus dibubarkan karena masa pembentukannya sudah berakhir hanya dua tahun. dan sele- 34 Bunga Rampai . mengenai kehadiran pengadilan tindak pidana korupsi harus dicabut oleh Putusan Mahkamah Konstitusi karena dinilai bertentangan dengan konstitusi. Kemudian pada aspek kelembagaan.Pada sisi regulasi. putusan Mahkamah Konstitusi ini justru diinterpretasi lain oleh pihak-pihak tertentu. UU Mahkamah Agung. UU Peradilan Agama dan sementara berjalan adalah perbaikan UU Peradilan Militer. Pasal 53 UU Nomor 30 Tahun 2002. Pertama. Sebagaimana Andi Hamzah berpendapat bahwa korupsi bukanlah extra-ordinary crime artinya.

Komisi Yudisial berfungsi sebagai the musketter yang bertugas menjaga kehormatan dan kewibawaan kekuasaan kehakiman. dimana dihadirkannya sebuah institusi baru yang populer dengan Komisi Yudisial. pada sisi normatif sudah diamini dalam Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 35 . sudah tentu diperlukan dalam memberikan assessment yang lebih obyektif sebagai kerangka mengembalikan kepercayaan publik terhadap dunia kekuasaan kehakiman yang telah kehilangan wibawa. Posisinya cukup mulia dan tidak mudah diintervensi oleh pihak mana pun. 2007) Dalam sisi yang berbeda. Fakta tersebut menunjukan koruptor lebih banyak dapat dibuktikan kesalahannya di pengadilan ad hoc Tipikor daripada di pengadilan negeri biasa (Lubis. Sebagai institusi yang memiliki sifat khas state auxiliary. The musketter adalah “sejenis tentara” sebagai pasukan khusus istana kerajaan yang bertugas untuk mencegah adanya bahaya laten dalam kerajaan Perancis di saat itu. dimana the musketter ini memiliki tugas pokok dalam menjaga wibawa kekuasaan. Orang-orang yang terpilih menjadi the musketter adalah mereka yang memiliki keterampilan (skill) khusus. yang pola kerjanya seolah bertindak seperti spionase dan penjaga raja untuk mencegah terjadinya penyimpangan oleh pejabat-pejabat istana. setidaknya membawa spirit baru dalam menyingkap sisi gelap dunia peradilan saat ini. terutama perilaku pejabat kekuasaan kehakiman yang dinilai menyimpang.bihnya lebih banyak divonis ringan. termasuk oleh raja sendiri. juga ditemukan adanya struktur lembaga baru dalam konstitusi. Kehadiran Komisi Yudisial dalam lingkaran kekuasaan kehakiman. Komisi Yudisial: The Musketter Kekuasaan Kehakiman The musketter sebetulnya sebuah istilah yang digunakan dalam menjelaskan keterkaitan antara keberadaan Komisi Yudisial dengan pelaksanaan kekuasaan kehakiman. Secara imperatif etis. Perumpamaan ini bukan ditujukan untuk menyebut Komisi Yudisial “sejenis tentara”. Bahasa semantik ini terinspirasi dari sebuah ilustrasi film. tetapi pada konteks ini lebih menggambarkan adanya instrumen kelembagaan yang memiliki spirit untuk berbuat kebajikan. Kehadiran Komisi Yudisial dalam struktur ketatanegaraan di Indonesia.

argumen utama bagi terwujudnya (raison d’atre) Komisi Yudisial di dalam suatu negara hukum. Jadi jelaslah bahwa Komisi Yudisial adalah lembaga negara sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang salah satu wewenangnya adalah melakukan pengawasan terhadap hakim. adalah: (1) Komisi Yudisial dibentuk agar dapat melakukan monitoring yang intensif terhadap kekuasaan kehakiman dengan melibatkan unsur-unsur masyarakat dalam spektrum yang seluas-luasnya dan bukan hanya monitoring secara internal. Kehadiran Komisi Yudisial sebetulnya menjadi salah satu jawaban atas gagalnya institusi Mahkamah Agung dalam menjadikan kekuasaan kehakiman lebih berwibawa dan in- 36 Bunga Rampai . (2) Komisi Yudisial menjadi perantara (mediator) atau penghubung antara kekuasaan pemerintah (executive power) dan kekuasaan kehakiman (judicial power) yang tujuan utamanya adalah untuk menjamin kemandirian kekuasaan kehakiman dari pengaruh kekuasaan apapun juga khususnya kekuasaan pemerintah. Menurut Ahsin Thohari (2004). dan (5) dengan adanya Komisi Yudisial. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. (4) terjaganya konsistensi putusan lembaga peradilan. yaitu fungsi pengawasan. baik yang menyangkut rekruitmen dan monitoring hakim agung maupun pengelolaan keuangan kekuasaan kehakiman. kemandirian kekuasaan kehakiman (judicial power) dapat terus terjaga. Dalam makna ketat walaupun Komisi Yudisial bukan pelaku kekuasaan kehakiman namun fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman. karena setiap putusan memperoleh penilaian dan pengawasan yang ketat dari sebuah lembaga khusus (Komisi Yudisial). menjadi landasan hukum yang kuat bagi reformasi bidang hukum dengan memberikan kewenangan kepada Komisi Yudisial untuk mewujudkan checks and balances.konstitusi. karena politisasi terhadap perekrutan hakim agung dapat diminimalisasi dengan adanya Komisi Yudisial yang bukan merupakan lembaga politik. sehingga diasumsikan tidak mempunyai kepentingan politik. (3) dengan adanya Komisi Yudisial. Dalam ketentuan Pasal 24B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan UndangUndang No. tingkat efisiensi dan efektivitas kekuasaan kehakiman (judicial power) akan semakin tinggi dalam banyak hal.

transparansi.dependen. kedua lembaga ini saling berebut terhadap siapa yang lebih berwenang untuk menyusunnya. Pergulatan ini semakin diperparah.id Namun demikian. Terutama ketika Komisi Yudisial meminta agar putusan pengadilan menjadi objek pengawasannya. Menurut Mas Achmad Santosa. Umumnya perspektif mereka malah memandang Komisi Yudisial sebagai lembaga yang akan menggerogoti dan mengintervensi institusi peradilan. justru menunjukkan sikap yang sangat resisten terhadap keberadaan Komisi Yudisial. Sebut saja Mahkamah Agung dalam banyak kisah belakangan ini. Begitu juga disaat munculnya isu penyusunan kode etik hakim. (2) proses pemeriksaan disiplin yang tidak transparan. Cukup aneh juga ketika Ketua Mahkamah Agung. (3) belum adanya kemudahan bagi masyarakat yang dirugikan untuk menyampaikan pengaduan. Sehingga tidak terbantahkan. bahwa lemahnya pengawasan internal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Sayangnya. www. jabatan ketua Komisi Yudisial memang dijabat secara ex officio oleh Ketua Mahkamah Agung. secara terbuka mempublikasikan dirinya untuk menjabat ketua Komisi Yudisial secara ex officio. soal seperti ini tidak serta Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 37 . bahwa pembentukan Komisi Yudisial sebagai lembaga pengawas eksternal didasarkan pada lemahnya pengawasan internal tersebut. antara lain: (1) kualitas dan integritas pengawas yang tidak memadai. dan (5) tidak terdapat kehendak yang kuat dari pimpinan lembaga penegak hukum untuk menindak-lanjuti hasil pengawasan. dalam faktanya tidak serta merta dapat diterima oleh pihak-pihak tertentu. kehadiran Komisi Yudisial. (4) semangat membela sesama korps (esprit de corps) yang mengakibatkan penjatuhan hukuman tidak seimbang dengan perbuatan. memantau proses serta hasilnya (ketiadaan akses). Masalah pokok hilangnya wibawa kekuasaan kehakiman adalah terutama tidak efektifnya pengawasan internal (fungsional) yang ada di badan peradilan. Setiap upaya untuk memperbaiki suatu kondisi yang buruk pasti akan mendapat reaksi dari pihak yang selama ini mendapatkan keuntungan dari kondisi yang buruk itu.or. Di beberapa negara yang mengakui keberadaan adanya Komisi Yudisial. ketika Komisi Yudisial meminta perluasan kewenangan untuk menjatuhkan sanksi terhadap hakim yang dinilai bermasalah.

Kedua. dengan sejenak terhenti ketika Mahkamah Konstitusi melalui putusannya Nomor 005/PUU-IV/2006 terhadap judicial review atas Pasal 13 jo Pasal 20 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial dinyatakan bertentangan dengan UndangUndang Dasar 1945. apa objek yang diawasi. Hal tidak jelas dan tidak rincinya pengaturan mengenai pengawasan dalam UUKY serta perbedaan dalam rumusan kalimat seperti dimaksud pada butir (i) menyebabkan semua ketentuan UUKY tentang pengawasan menjadi kabur (obscuur) dan menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid) dalam pelaksanaannya. sehingga menimbul- 2. Konsepsi pengawasan yang terkandung dalam UUKY didasarkan atas paradigma konseptual yang tidak tepat. UUKY terbukti tidak rinci mengatur mengenai prosedur pengawasan. Ketiga. 3. serta bagaimana proses pengawasan itu dilaksanakan. 38 Bunga Rampai . Pertama. terutama dalam soal antara yang mengawasi dan diawasi. punya tradisi cukup buruk dalam soal penyalahgunaan wewenang (abuse of power). sangat mencenderai makna demokrasi substantif.merta harus diadopsi secara mentah-mentah mengingat dalam beberapa hal. dimana aspek kontestasi justru dikebiri sebagai salah satu indikator demokrasi. tidak jelas dan tegas menentukan siapa subjek yang mengawasi. justru mengaburkan makna pengawasan secara subtil. instrumen apa yang digunakan. yaitu seolah-olah hubungan antara MA dan KY berada dalam pola hubungan “checks and balances” antarcabang kekuasaan dalam konteks ajaran pemisahan kekuasaan (separation of powers). Perumusan Pasal 13 huruf b juncto Pasal 20 UUKY mengenai wewenang lain sebagai penjabaran dari Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 menggunakan rumusan kalimat yang berbeda sehingga menimbulkan masalah dalam penormaannya dalam UUKY yang menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). karakteristik pejabat negara kita. Di tengah pergulatan panjang ini. Dan biasanya kekuasaan lembaga yang tersentralisasi sangat rentan mencipta oligarki kekuasaan. memakai logika kuasa. Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa: 1.

khususnya yang berkaitan dengan ketentuan mengenai pengawasan perilaku hakim. tentu saja merupakan sesuatu yang logis dan tepat. sehingga oleh karenanya harus menyerahkan segala urusan legislasi itu kepada pembentuk undang-undang. Untuk mengatasi akibat kekosongan hukum yang terlalu lama berkaitan dengan tugas KY. MA. Karena itu. UUMK.mahkamahkonstitusi. www. Tugas legislasi ini adalah tugas DPR bersama dengan pemerintah. Mahkamah Konstitusi juga merekomendasikan kepada DPR dan Presiden untuk segera mengambil langkah-langkah penyempurnaan Undang-Undang Komisi Yudisial. dan juga MK dapat diikutsertakan dalam proses pembuatan sesuatu undangundang yang akan mengatur dirinya. terutama dalam pelaksanaannya.id Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 39 . dan undang-undang lain yang terkait dengan sistem peradilan terpadu. ketegangan dan kekisruhan dalam pola hubungan antara KY dan MA akan terus berlangsung dan kebingungan dalam masyarakat pencari keadilan akan terus meningkat. KY. KY. Bahkan.kan penafsiran yang juga tidak tepat. dan juga MK untuk mengambil prakarsa yang bersifat terbuka untuk mengadakan perubahan undang-undang seperti dimaksud. bukanlah tugas konstitusional MA. DPR dan Presiden dianjurkan pula untuk melakukan perbaikan-perbaikan yang bersifat integral dengan juga mengadakan perubahan dalam rangka harmonisasi dan sinkronisasi atas UUKK. Akan tetapi. Jika hal ini dibiarkan tanpa penyelesaian. Undang-Undang Komisi Yudisial segera harus disempurnakan melalui proses perubahan undang-undang sebagaimana mestinya. KY. Setiap lembaga negara sudah seharusnya membatasi dirinya masing-masing untuk tidak mengerjakan pekerjaan yang bukan menjadi tugas pokoknya. Oleh karena itu. segala ketentuan Undang-Undang Komisi Yudisial yang menyangkut pengawasan harus dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat karena terbukti menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). dan juga MK merupakan lembaga pelaksana undang-undang. yang pada gilirannya juga dapat mendelegitimasi kekuasaan kehakiman yang akan dapat menjadikannya semakin tidak dipercaya. UUMA.go. Bahwa MA. kecuali apabila hal itu dimaksudkan hanya sebagai pendukung.

Rekomendasi Mahkamah Konstitusi ini tentu saja menjadi pegangan bagi legislatif maupun eksekutif agar melakukan upaya konkret untuk segera merevisi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial. antara menguatkan atau memperlemah. Boleh jadi. Dalam makna ketat bahwa pilihan memperkuat atau memperlemah posisi Komisi Yudisial dalam struktur ketatanegaraan bukan hanya harus mengandalkan perlunya transformasi politik dalam tubuh legislatif maupun eksekutif. Sehingga demikian. tetapi perlunya 40 Bunga Rampai . memperlemah keberadaan Komisi Yudisial. Semua ini akan ditentukan dalam tuturan semantik dari legislatif maupun pemerintah lewat regulasinya. Ini sangat berpotensial. Nasib Komisi Yudisial memang tengah dipertaruhkan. justru dikhawatirkan akan menggerogoti independensi kekuasaan kehakiman. Semua ini tentu harus disikapi secara simultan. ke depan Komisi Yudisial bukan lagi menjadi sebuah institusi yang sifatnya auxiliary tetapi harus diletakkan sebagai kekuatan inti dalam penyelenggaraan kekuasan kehakiman. Menguatkan berarti mencipta “oase” untuk menghidupi kekinian dan masa depan. Menempatkan Komisi Yudisial pada kerangka yang tepat sebagai lembaga pengawas eksternal setidaknya memberi jaminan adanya sisi obyektifitas dan memiliki makna yang subtil bagi reformasi peradilan. Sementara. Menguatkan Komisi Yudisial melalui perluasan wewenang. Premis di atas kesannya memang sangat dilematis. Penyempurnaan terhadap ketentuan ini setidaknya diharapkan dapat memberikan penguatan kelembagaan terhadap Komisi Yudisial sebagai the musketter kekuasaan kehakiman di Indonesia. Dengan penuh harap semoga gagasan dan bahasa undang-undang dapat menyibakkan tabirnya untuk suatu keadaban dan keadilan bagi semuanya. dikhawatirkan justru semakin memperburuk citra dan menghilangkan wibawa kekuasaan kehakiman di mata publik. pengawasannya terhadap putusan hakim pengadilan justru diinterpretasi atau dipelintir sebagai tindakan intervensi terhadap kemerdekaan hakim. apalagi bila objek pengawasannya adalah putusan hakim pengadilan. tetapi melemahkan berarti memberi gerak lahirnya “preman tribal atau mafia berdasi” yang akan melahirkan bangsa barbarism atau manusia penghancur dalam dunia kekuasaan kehakiman.

tetapi setidaknya sebagai kerangka untuk evaluasi akan ”makna keberadaannya”di mata publik. semoga rute perubahan ini. Dengan segala harap. Pelintasan ruang dan waktu yang terus terbentang. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 41 . Penuturan ini bukan untuk menggiring kedua institusi negara tersebut ke labirin arogansi institusional. sudah tentu bukanlah jalan terakhir bagi sebuah perjuangan. Walau. Dengan demikian. butuh energi banyak untuk selalu menafasinya. sejatinya cukup penting digunakan untuk membangun ruang-ruang dialogis dalam menemukan makna perubahan yang signifikan dalam dunia kekuasaan kehakiman. yang sekadar melakukan revisi terhadap sejumlah regulasi terkait dengan kekuasaan kehakiman. tetapi yang lebih mendasar adalah perlunya melihat kinerja (performance) kedua institusi negara tersebut. justru tidak melahirkan ”kacung-kacung baru” dalam dunia kekuasaan kehakiman. Atau menjebaknya ke dalam perebutan kredit point terhadap mana yang lebih baik.sinergitas hubungan antara Komisi Yudisial dan Mahkamah Agung dalam memperbaiki kinerjanya. Sisi penjelahan akan konsep Komisi Yudisial yang ideal mesti terus diusung. isu reformasi peradilan sangat relevan kiranya memperhatikan sisi keterkaitan antara transformasi politik dengan tingkat kinerja pelaksana kekuasaan kehakiman selama ini. Rentetan pemikiran ini. Transformasi politik yang berlangsung di legislatif maupun eksekutif. tentu saja tidak dilakukan dengan amburadul.

or. http://ahmadirfan. Juan.com www. Demokrasi Minus.wordpress. 1996. (http://www.go. Jakarta Latif. 2006. Jhon Hopkins University Press. A. Problems of Democratic Transition and Consolidation. Komisi Yudisial & Reformasi Peradilan. 6.ti. 2006 Linz.or. No. 2006.transparansi. Yudi. Baltimore Thohari. XIII – XIV. Stepan Alfred. Kumpulan Analisis di Majalah Forum.id - 42 Bunga Rampai .Daftar Pustaka Dahl Robert. 1961. hlm. Ahsin. New Haven Gunawan.id). Forum Media Utama.id www. Who Governs? Democracy and Power in an American City.Visi Volume V. Koloni Keadilan.mahkamahkonstitusi. Yale University Press. Budi.

khususnya masyarakat yang pro-reformasi peradilan. Ia bukan lagi sebuah momentum. Sebaliknya. baik pada tataran kebijakan * Penulis adalah: Ketua Badan Pengurus Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN) Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 43 .Komisi Yudisial Pengawal Reformasi Peradilan Mendayung Diantara Simpati dan Resistensi Firmansyah Arifin* Pengantar Reformasi peradilan merupakan sebuah keniscayaan. reformasi peradilan perlu diupayakan agar mampu bersinergi dengan kekuatan/kelompok sosial-politik dalam masyarakat. meninggalkan reformasi peradilan mengakibatkan proses demokrasi berjalan tanpa arah. Sejauh ini reformasi peradilan memang telah menghasilkan berbagai perubahan. reformasi peradilan akan kehilangan moralitas dan legitimasinya jika mengabaikan issue dan kepentingan hak-hak masyarakat. dan gerakan sosial menjadi tertatih-tatih. Reformasi peradilan menjadi bagian penting yang tidak bisa diabaikan dalam proses demokrasi dan gerakan sosial (social movement) yang lebih luas. Pada titik ini. tetapi spirit yang terus menggelora ditengah kegalauan publik yang senantiasa mendambakan rasa keadilan. Karena reformasi peradilan menghendaki lembaga peradilan idealnya dapat dimanfaatkan untuk menjamin perlindungan terhadap kebebasan sipil-politik serta perlindungan sosial-ekonomi rakyat. Bisa jadi.

dan simpati dapat terus diraih dan dikembangkan dalam mengawal reformasi peradilan menuju Negara demokrasi dan rule of law yang dicita-citakan. Gagasan negara hukum mempunyai akar historis dalam perjuangan menegakkan demokrasi. mencoba merumuskan kembali peranan dan langkah strategis KY kedepan. Sebagai sebuah sistem politik dan pemerintahan. Selanjutnya.sampai pembentukan mekanisme dan institusi baru. Termasuk dalam hal ini adalah Komisi Yudisial (KY) yang diperlukan untuk mengawal reformasi peradilan. Hal itu dapat dilihat pada Komisi Yudisial ketika menjalankan tugas dan kewenangannya. di negara hukum tidak ada warga negara yang berada di atas hukum dan karenanya semua warga negara harus patuh pada hukum. Hukum itu sendiri harus ditentukan oleh warga negara yang tidak lain merupakan pengaturan hubungan di antara sesama warga negara melalui cara dan mekanisme demokrasi (parlemen). serta bebas dari mafia peradilan (judicial corruption). apakah cukup efektif untuk mendorong dan memperkuat reformasi peradilan. setidaknya mampu menuai simpati ketika mengusik eksistensi dan kemapanan para hakim. Sejauh mana upaya yang telah dilakukan. Sepak terjang KY selama 2 tahun terakhir. Namun hampir satu dasawarsa. Namun bersamaan dengan itu. atau malah sebaliknya. Dalam pengertian yang sederhana. gagasan demokrasi dan negara hukum dalam perkembangannya 44 Bunga Rampai . Tulisan ini mencoba merefleksikan kembali peranan KY dalam konteks reformasi peradilan. muncul pula resistensi terhadap KY yang hendak mendelegitimasi posisi dan peranan KY. khususnya yang berkenaan dengan hakim. reformasi peradilan (judicial) berjalan lambat jika dibandingkan proses reformasi pada ranah legislatif dan eksekutif. Misi Penting Reformasi Peradilan Reformasi peradilan mempunyai tujuan dan tugas utama untuk menjamin dan mempertahankan prinsip-prinsip negara hukum yang demokratis. Bahkan dalam beberapa hal mengalami proses maju mundur (back-forward). Kehadiran KY memang memberikan harapan akan institusi peradilan yang bersih dan berwibawa. Dengan harapan resistensi dapat dieliminir. hingga membubarkan KY.

Fokus pada hak asasi itu menjadi dasar normatif bagi gagasan demokrasi dan negara hukum. Dalam pelaksanaannya. Hukum dibutuhkan untuk memastikan adanya jaminan kapasitas kontrol rakyat terhadap berbagai urusan publik. Sebab kelengkapan pertama Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 45 . tetapi mutlak mensyaratkan adanya rule of law. Termasuk pula campur tangan dari unsur-unsur kekuasaan kehakiman itu sendiri serta kekuasaan ekonomi dan politik di luar sistem kekuasaan negara. keadilan yang paling esensiil dapat disentuh berdasarkan atas hak asasi dari warga negara. Independensi kekuasaan kehakiman sebagai sesuatu hal yang prinsipil di dalam negara hukum yang demokratis. tak bermakna. dan kehilangan esensi keberadaannya. Gagasan negara hukum demokratis tidak hanya menegaskan bahwa kekuasaan kehakiman (judicial power) adalah kekuasaan yang merdeka (independent) dan tidak memihak (impartial). Independensi di sini sekaligus merupakan independensi personal setiap hakim untuk menjalankan tugasnya tanpa ketakutan dan keberpihakan. Tanpa kedua hal tersebut. Tanpa kehadiran kekuasaan kehakiman yang independen.didasari gerakan atau dorongan masalah bagaimana melindungi kebebasan individual atau hak asasi manusia dari tindakan sewenang-wenang para penguasa. Tetapi juga ditambah dengan perlunya prosedur perlindungan terhadap hak-hak yang telah dijamin dalam konstitusi. menjadi fungsi utama dari pemerintahan demokratis dan pemerintahan berdasarkan atas hukum untuk menjamin dan melindungi hak asasi manusia. Dengan pengertian lain. maka tidak ada demokrasi dan negara berdasarkan atas hukum (demokratische rechsstaat). demokrasi bukan hanya soal kebebasan sipil dan politik. demokrasi juga mensyaratkan adanya praktek penegakan hukum yang jelas dan tegas. maka demokrasi hanya akan menjadi sekadar proyek liberalisasi politik. Lebih dari itu. Prosedur yang dimaksudkan salah satunya adalah melalui kewenangan judicial review/constitutional review oleh kekuasaan kehakiman. Independensi atau kebebasan tersebut dimaksudkan tidak adanya campur tangan dari kekuasaan eksekutif dan legislatif terhadap pelaksanaan fungsi peradilan. Melalui peranan para hakim sebagai pelaksana utama dari kekuasaan kehakiman.

Akuntabilitas diperlukan untuk memperkuat independensi. dikontrol oleh prinsip-prinsip hukum. Hanya saja sebagaimana mulai dirasakan. tetapi juga cara-cara penunjukkan atau pengangkatan hakim dan jaminan keberlangsungan mereka dalam melaksanakan jabatannya (Beetham & Boyle. misi penting bagi reformasi peradilan tidak hanya sebatas menegakkan independensi dan impar- 46 Bunga Rampai . 2000). diperlukan untuk mencapai independensi dan impartialitas peradilan. yaitu sikap independen dan imparsial dalam memutus suatu perkara. Bahwa lembaga peradilan wajib mempertanggungjawabkan baik pelaksanaan fungsi yudisial maupun penyelenggaraan administrasinya. 1993) Oleh karena itu. Sedangkan akuntabilitas diperlukan sebagai mekanisme kontrol setelah suatu tindakan yudisial diambil. sebaliknya kewajiban lembaga peradilan untuk mempertanggungjawabkan segala tindakannya kepada publik akan dapat mengurangi kerentanan lembaga peradilan dari tekanan pihak luar. dan pada akhirnya bisa menimbulkan masalah-masalah baru. justru saling menunjang dan memperkuat. Karena mengingat belum semuanya para hakim mempraktikkan judicial discretion. seorang hakim harus didasarkan pada intelenjensi dan kemauan belajar. maka akuntabilitas dan legitimasinya menurun. Dalam hal ini dapat dibedakan bahwa independensi merupakan mekanisme kontrol sebelum suatu tindakan yudisial dilakukan yaitu meminimalisir masuknya pengaruh pihak luar terhadap proses pengambilan putusan yang imparsial oleh pengadilan. didukung keberanian dan pikiran yang dingin dan bebas dari pengaruh luar dan tidak goyah karena simpati dan prasangka. Kedua prinsip tersebut tidaklah bertentangan secara diametral. kecuali keinginan besar untuk menegakkan keadilan (Felix Frankfurter.dan utama untuk menegakkan kekuasaan kehakiman yang independen ada pada hakim. Kedua jenis independensi ini tidak sekedar menuntut jaminan-jaminan konstitusional formal. Sebab bukan mustahil ketika independensi kekuasaan kehakiman meningkat. Dalam memutus perkara. independensi tanpa akuntabilitas bisa melangkah terlalu jauh. Pengawasan sebagai wujud dari akuntabilitas dan bagian dari checks and balances.

minimnya hakim yang berkualitas dan berintegritas.tialitas peradilan sebagai suatu prinsip dalam Negara hukum yang demokratis. Disamping problem lainnya seperti. Yang ada adalah cerita sukses intervensi politik yang dimulai ketika urusan organisasi. 1990. ICW. Asrun. Beberapa studi (Lev. 1999. tidak lepas dari praktek sistem pemerintahan otoritarian yang diterapkan. Pompe. 2004. Peradilan Yang Belum Berubah Mafia peradilan (judicial corruption) menjadi problem besar yang menimbulkan bobroknya institusi peradilan. Tidak adanya jaminan independensi dalam konstitusi. bobroknya institusi peradilan sebagai akibat dari intervensi politik yang begitu panjang yang telah mereduksi independensi dan impartialitas peradilan. administrasi Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 47 . 1989). Tetapi penting juga bagaimana membangun dan menjaga sistem akuntabilitas dan mekanisme kontrol bagi para hakim agar peradilan tidak memunculkan abuse of power baru atau tyrani judicial. segi hukum bagi hakim baik pejabat negara maupun secara personal (Mauro Cappeletti. kebenaran dan keadilan. managemen dan administrasi peradilan yang tidak transparan. Pengadilan hanya menjadi abdi kekuasaan ketimbang berpihak pada rakyat. segi sosial/publik. penumpukan perkara. 2001. Karakter dalam sistem pemerintahan otoritarian selalu menolak adanya checks and balances dan tidak mau mengakui adanya hak asasi manusia. Sangat jarang pula hakim yang punya keberanian untuk melawan setiap kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan rakyat. Pada masa-masa itu jangan berharap ada banyak putusan-putusan pengadilan yang progresif dan memberi rasa keadilan. 1997. semakin memudahkan intervensi politik yang membuat lemah kekuasaan peradilan ketika harus vis a vis dengan kekuasaan eksekutif. 2005) telah mendiagnosis. Setidaknya akuntabilitas dari segi politik. Sedangkan lembaga peradilan hanya menjadi alat untuk menjustifikasi dan melegitimasi perilaku kekuasaan eksekutif. Intervensi politik. Belakangan disadari bahwa intervensi yang bersifat ekonomi juga menjadi salah satu faktor penyebabnya. terutama dari eksekutif. serta putusan yang janggal dan mencederai rasa keadilan. KRHN-Leip. BK Harman.

Perlahan tapi pasti. Seperti kasus panitera pengganti dan hakim PN Jakarta Selatan yang memeras saksi dalam kasus korupsi PT Jamsostek. Anak. reformasi peradilan dimulai dengan revisi kebijakan satu atap (UU No. Ketika momentum perubahan datang. Dalam seleksi ini. serta Mahkamah Konstitusi. Meski berbagai perubahan telah terjadi. seleksi hakim agung dan Ketua Mahkamah Agung yang sebelumnya sangat tertutup. dilengkapi dan diimplementasikan melalui revisi paket UU Bidang Hukum (UU Kekuasaan Kehakiman. pengadilan menjadi institusi yang tertutup. Seakan tidak mau ketinggalan. mulai dari pengadilan negeri (PN). Praktik-praktik mafia peradilan disinyalir masih berjalan di setiap tahapan. tetapi untuk mendorong perubahan di tubuh internal MA. yang telah memberikan jaminan konstitusional prinsip kemerdekaan bagi kekuasaan kehakiman. administrasi dan financial menjadi urusan Mahkamah Agung. sampai MA. dan para hakim yang lebih disibukkan dengan urusan kesejahteraan dan kepentingan sendiri. Korupsi. UU Pengadilan Umum) pada tahun 2004. fakta lain memperlihatkan kondisi lembaga peradilan masih ditengarai berbagai persoalan yang sangat kontras dengan spirit dan agenda perubahan. Bersamaan dengan revisi kebijakan.dan finansial peradilan berada dalam kekuasaan eksekutif.2003. juga dibentuk melalui undang-undang. 14/1970) yang menempatkan urusan organisasi. MA pun kemudian membuat dan merumuskan sejumlah paket rencana pembaruan yang akan dilakukannya (Blue Print MA. Selanjutnya putusan-putusan pengadilan mesti mengikuti langgam pembangunan pemerintah. UU MA. Revisi tersebut selanjutnya dipertegas. Selain itu lewat amandemen konstitusi dibentuk lembaga Komisi Yudisial untuk rekruitmen hakim agung dan pengawasan hakim. Revisi terakhir ini dipengaruhi oleh hasil Amandemen UUD 1945. Beberapa kasus hanya sebagian kecil yang berhasil terungkap. Sejumlah pengadilan khusus untuk mengadili perkara-perkara seperti pelanggaran HAM. sejumlah hakim agung non karier yang berasal dari kalangan akademi dan praktisi hukum dipilih dan ditetapkan. 2003). dan kasus advo- 48 Bunga Rampai . korup dan tidak berwibawa. pengadilan tinggi (PT). Tujuannya bukan hanya sekedar mengisi kekosongan kursi hakim agung. mulai dilakukan secara terbuka oleh DPR pada 2000 .

meski berbagai upaya perubahan telah dilakukan sejak reformasi 1998. pengadilan menempati urutan teratas untuk inisiatif melakukan suap. hampir semua terdakwanya kemudian diputus bebas oleh MA. Malah dalam kasus-kasus pelanggaran HAM. Dan itu berarti bahwa lembaga peradilan memang belum mengalami perubahan yang signifikan. keluhuran martabat. dua panitera PT Jakarta.kat Syaifudin Popon. Ramdhan Rizal dan M. serta perilaku hakim. Dari survey tersebut. terutama dalam kasus korupsi dan HAM. dan memiliki kewenangan mengusulkan calon hakim agung serta kewenangan lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Hasil survey ini melengkapi sejumlah survey atau polling yang telah dilakukan berbagai pihak. dengan tersangka Harini Wijoso dan beberapa pegawai MA. Sholeh. Serta kasus Probosutedjo yang mencoba menyuap majelis hakim di MA dengan uang milyaran rupiah. Transparancy International Indonesia (TII) mengeluarkan hasil survey tentang korupsi yang terjadi di lembaga-lembaga pemerintahan. belum bisa memberikan rasa keadilan karena seringkali dengan mudah memberikan putusan bebas bagi para pelakunya. yang masih menunjukkan bobroknya institusi peradilan. yang dilakukan secara rutin setiap tahun. Pasal 24B UUD 1945 menempatkan KY sebagai Lembaga Negara yang bersifat mandiri. apalagi dilakukan secara tidak transparan. Ketentuan ini menjadi landasan hukum yang kuat bagi KY untuk memainkan peranan yang sangat penting dan strategis dalam usaha mewujudkan kekuasaan kehakiman yang merdeka didalam Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 49 . Sementara pengawasan internal oleh MA sudah terbukti tidak efektif memberikan efek jera bagi para hakim dan pegawai pengadilan. Dari sejumlah kasus yang terungkap nampaknya belum membuat kapok para Mafioso peradilan. Posisi ini nampaknya tidak beranjak jauh dari hasil survey TII sebelumnya. Fakta-fakta tersebut semakin membuat institusi peradilan terperosok dalam lubang kegelapan yang seakan-akan sulit untuk keluar. Pada Mei 2007. Masih terjadi krisis kepercayaan. Putusan-putusan pengadilan. Memaknai Kehadiran Komisi Yudisial Komisi Yudisial (KY) lahir dan dibentuk berdasarkan konstitusi.

transparan dan partisipatif. Alasannya. kebutuhan KY dilandasi oleh spirit untuk mendorong dan membangun sistem dan pelaksana kekuasaan kehakiman lebih bersih. jelas bahwa Komisi Yudisial memi- 50 Bunga Rampai . KY dapat menerima laporan dari masyarakat. namun fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman yaitu fungsi pengawasan. Faktor lain yang mendorong kelahiran KY adalah kebutuhan untuk membangun sistem seleksi hakim agung yang lebih obyektif. mekanisme pengawasan hakim yang ada mengandung sejumlah kelemahan. yang pada gilirannya menyuburkan judicial corruption di tubuh institusi pengadilan. meminta laporan tentang perilaku hakim. melakukan pemanggilan dan pemeriksaan terhadap hakim. Selain itu dalam konteks wewenang pengawasan. 2004).konteks negara hukum. dan cenderung mengedepankan esprit de’corps. UU No. Jika memperhatikan alasan-alasan pembentukan Komisi Yudisial tersebut di atas. Dalam sistem seleksi semacam ini diharapkan dapat dieliminir politisasi dalam penentuan calon hakim agung. Naskah Akademis RUU Komisi Yudisial. tidak accountable. Pengawasan hakim yang dijalankan MA sangat tertutup. 2003. Intinya. Lahirnya KY dari rahim konstitusi dilatarbelakangi oleh adanya kebutuhan untuk membangun sistem pengawasan hakim yang lebih efektif dan konstruktif. Dapat dikatakan bahwa fungsi pengawasan inilah yang paling sering akan dilakukan oleh KY. Kondisi pengawasan seperti itu diakui sendiri oleh MA. 22/2004 tentang KY kemudian menambahkan bahwa. Meski KY bukan pelaku kekuasaan kehakiman. Masyarakat pun dapat terlibat secara aktif untuk memantau dan menilai secara kritis terhadap proses serta track record para calon hakim agung. obyek pengawasan KY terhadap hakim meliputi hakim agung dan hakim pada badan peradilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung. dan memberikan usul pemberian sanksi (punishment) dan penghargaan (reward). kredible dan dapat memegang teguh prinsip independensi dan imparsial dalam membuat putusan (Blue Print MA. Sehingga hakim agung yang dihasilkan memiliki integritas. serta hakim Mahkamah Konstitusi. independen dan bertanggungjawab (accountable).

Mengembalikan rasa percaya publik pada kemampuan lembaga peradilan sebagai benteng terakhir penegakan hukum dan keadilan. sang ujung tombak penegakan hukum di lembaga peradilan (A. Komisi Yudisial diberi tanggung jawab konstitusional untuk mengontrol kinerja dan perilaku para hakim. Pembentukan KY ini sejalan dengan spirit dari perubahan (amandemen) UUD 1945. Tidak ada lagi lembaga tertinggi dan tinggi negara. Spirit perubahan yang hendak memperkuat checks and balances antara cabang-cabang kekuasaan negara (legislatif. Dalam kerangka perubahan itu. Nababan. Yang dilihat adalah fungsi dan kewenangan yang telah diberikan. 2006). Tugas dan tanggungjawab itu juga menjadi kewajiban DPR bersama Presiden. Dalam hal itu. Akan tetapi tugas dan tanggungjawab itu. telah mendudukan posisi dan kekuasaan lembaga-lembaga negara menjadi setara dan seimbang. Ini adalah sebuah moralitas konstitusi dari kedua lembaga tersebut. Tugas dan tanggungjawab tersebut tidaklah berakhir ketika DPR bersama Presiden telah memilih dan menetapkan calon hakim agung. ataupun keduanya telah membuat UU yang mendukung independensi peradilan. Kedua. eksekutif dan yudikatif). Komisi Yudisial berfungsi untuk merepresentasikan kontrol publik ke dalam lembaga peradilan. haruslah senantiasa hadir ketika citacita atau ideologi independensi dan imparsialitas peradilan tidak bisa dijaga dan ditegakkan sendiri oleh MA dan MK.liki dua fungsi penting dalam upaya penegakan hukum dan keadilan di Indonesia: pertama. yang tercermin dari sumpah jabatan dan representasi suara rakyat yang telah memilih secara langsung. KY sesungguhnya merupakan mitra strategis dari DPR dan Presiden untuk melakukan dan mem- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 51 . Spirit perubahan ini mengubah paradigma dan praktek kekuasaan negara yang selama ini cenderung executive heavy atau legislative heavy. dan diperlukan dalam menjalankan checks and balances. Perubahan paradigma konstitusi tersebut. Komisi Yudisial berperan untuk ‘membentuk’ (reshaping) peradilan di Indonesia. bersama-sama dengan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. kewajiban untuk menjaga dan menegakkan kekuasaan kehakiman yang merdeka (independency of judiciary) bukanlah semata-mata menjadi tugas dan tanggungjawab MA dan MK.

selain rekruitmen bagi hakim agung. guna mencegah penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) oleh institusi peradilan. khususnya MA. KY dimaksudkan untuk memperkuat checks and balances bagi kekuasaan kehakiman. Melalui kewenangannya. Dalam batas-batas tertentu. mosi tidak percaya itu dapat dilihat bahwa pemberian wewenang KY merupakan atribusi kewenangan dari kekuasaan eksekutif dan legislatif dalam menjalankan fungsi kontrol atau checks and balances terhadap kekuasaan yudikatif. harkat martabat dan perilaku hakim oleh KY merupakan bentuk penolakan terhadap pengawasan internal yang sebelumnya dinilai tidak efektif. Fungsi kontrol yang sedapat mungkin bisa menyeimbangkan terjaganya independensi hakim dengan akuntabilitas yang mesti dibangun. Pembentukan KY dan juga Komisi-Komisi independen lainnya adalah dimaksudkan sebagai Institutional Watchdog. KY harus menjamin judicial discretion bahwa hakim dalam mengambil keputusan harus bebas dari intervensi baik berupa ancaman. pengawasan dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. kehadiran dan wewenang yang diberikan kepada KY merupakan ‘mosi tidak percaya’ terhadap institusi pelaksana kekuasaan kehakiman. Dalam hal ini KY menjadi lembaga eksternal yang selalu melakukan pengawasan para hakim. Jika dijabarkan ‘mosi tidak percaya’ itu. Fungsinya adalah untuk memperkuat checks and balances. martabat dan perilaku para hakim dapat terjaga. tekanan. Jelas terlihat bahwa KY memiliki peranan penting untuk mendorong para hakim menjadi lebih bermartabat.perkuat kontrol (checks and balances) terhadap MA dan MK. professional dan terpuji. membangun akuntabilitas dan memperluas partisipasi masyarakat. KY punya peran sinergis bersama DPR dan Presiden untuk mendapatkan calon hakim agung yang kredibel dan berintegritas. Dengan berpijak pada kerangka konstitusional di atas. Mosi tidak percaya itu dapat ditunjukkan pula dari posisi Ketua MA yang bukan sekaligus ex officio Ketua KY sebagaimana Judisial Commission di berbagai negara. Melalui KY diharapkan pula harkat. Dalam pengertian lain. hanya KY satu-satunya lembaga yang diberi mandat oleh konstitusi untuk melakukan pengawasan terhadap hakim. janji- 52 Bunga Rampai .

praktisi hukum. (3) Mengembangkan sumber daya hakim menjadi insan yang mengabdi dan menegakkan keadilan. KY memiliki peranan strategis untuk memperkuat proses reformasi peradilan yang belum selesai. (1) Menyiapkan Hakim Agung yang berakhlak mulia. Dan untuk pertama kali. terbuka dan dapat dipercaya. mantan hakim dan jaksa serta masyarakat. sejak tujuh (7) orang anggotanya diangkat dan disahkan oleh Presiden. Visi-misi itu nampaknya sejalan dengan mandat yang diberikan konstitusi. KY sudah mulai membangun capacity building yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas dan kewenangannya. Busyro Muqoddas seorang akademisi sekaligus advokat yang mendapat suara terbanyak dalam proses pemilihan di DPR. Intinya. (2) Melaksanakan pengawasan peradilan yang efektif. Disatu sisi langkah-langkah dan kebijakan yang diambil KY dapat memberikan inspirasi dan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 53 . KY mulai membangun perangkat-perangkat organisasi.janji. jujur. Dengan legitimasi dari konstitusi. Setelah sekian lama institusi peradilan mengalami krisis kepercayaan sebagai akibat penyakit judicial corruption yang sudah demikian akut. berani dan kompeten. diantaranya menyusun visi-misi organisasi. Sebagai landasan bagi pelaksanaan kewenangan dan pengembangan organisasi. Namun demikian. KY merumuskan visinya “Menjadikan hakim sebagai insan pengabdi dan penegak keadilan”. dan simpati. KY Menuai Simpati dan Resistensi Komisi Yudisial terbentuk pada 2 Agustus 2005. KY dipimpin oleh M. bahwa tugas pokok yang akan dijalankan secara rutin oleh KY adalah melakukan pengawasan atau kontrol bagi hakim. serta pembentukan sekretariat jenderal beserta struktur organisasi maupun personalianya. Keanggotaan KY terdiri atas unsur akademisi. pembentukan peraturan yang diperlukan sebagai landasan. Keberadaan dan kehadiran KY memberikan harapan kembali akan peradilan yang bersih. Sedangkan misinya. Setelah terbentuk. bukan suatu hal yang mudah bagi KY ketika menjalankan fungsi dan kewenangannya ataupun mewujudkan visi-misinya. Semua itu bertujuan untuk menegakkan keadilan. berwibawa dan memberikan rasa keadilan dengan hakim yang berintegritas dan progressif.

Tentu saja ide kocok ulang ini mengundang pro-kontra. Ide kocok ulang ini sempat disampaikan kepada Presiden SBY. terutama dari kalangan akademisi. leadership di MA sangat lemah. Karena memang sama-sama disadari bahwa tidak ada perubahan yang signifikan dari kepemimpinan MA terhadap problem-problem peradilan. Sebagian publik. Dikabarkan presiden menyetujui dan telah memerintahkan Mentri Hukum dan HAM (Menhuk-HAM) Hamid Awaluddin untuk membuatkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) nya sebagai payung hukumnya. 1. Bisa 54 Bunga Rampai . muncul resistensi yang tidak bisa dihindarkan. KY pun menyiapkan pula draft Perpu untuk Seleksi Ulang Hakim Agung. Melalui kocok ulang hakim agung ini diharapkan akan ada regenerasi dan refresh kepemimpinan MA.simpati yang mendapat dukungan dari berbagai kalangan. karena setidaknya ini merupakan terobosan yang harus dilakukan Presiden kemudian disahkan oleh DPR. dan mempertanyakan apa alasannya bahwa hakim agung yang ada sekarang ini harus diseleksi ulang. Seakan gayung bersambut. Ide ini berangkat dari pemikiran KY yang melihat bahwa problem riil mafia peradilan yang menjadi penyebab keterpurukan lembaga peradilan adalah tidak berjalannya managemen kepemimpinan di MA. sebagai bagian dari checks and balances terhadap kekuasaan yudisial. Atau dengan kata lain. Simpati dan resistensi ini dapat tergambar dari sejumlah issue atau masalah yang muncul ke publik selama kurang lebih 2 tahun belakangan ini. solusinya adalah perlu ada penguatan kepemimpinan di MA melalui seleksi ulang hakim agung. Dan melalui Perpu. baik yang bersifat individual maupun organisasional. Tidak ada dasar hukum yang cukup kuat untuk melakukan itu. Dan menyerahkan proses seleksi ulang hakim agung ini melalui Perpu. Oleh karena itu. NGO dan sebagian anggota DPR. Tetapi bersamaan dengan itu. termasuk penulis. KY melontarkan ide seleksi ulang (kocok ulang) hakim agung. Sebagian yang kontra menilai bahwa ide ini tidak mendasar. Issue “Kocok Ulang” Hakim Agung Pada awal Januari 2006. akan mendorong presiden menjadi otoriter. menilai bahwa ide ini sangat progressif. meski para pemimpin ataupun Ketua MA merupakan buah dari proses reformasi.

Issue Pengawasan Hakim Sejak KY terbentuk. Presiden tidak jelas sikapnya dan Menhuk-HAM belakangan membantah bahwa dirinya telah diminta presiden untuk membuat Perpu Seleksi Ulang Hakim Agung. Jumlah Hakim 4 3 1 3 2 2 Asal Pengadilan PN Bogor PT Banten PN Stabat PN Jakarta Selatan PN Jakarta Pusat PT Bandung Tabel: Jumlah Hakim Yang Mendapat Rekomendasi Selain laporan tersebut. Dari 754 laporan tersebut. KY secara proaktif melakukan penanganan beberapa kasus dugaan pelanggaran perilaku hakim. 18 hakim telah direkomendasikan KY kepada Pimpinan/Ketua MA (Laporan Tahunan KY. Dari 333 laporan tersebut. Dari Agustus 2005 . dan ada yang dicabut kembali. Meski KY telah menyerahkan draft Perpu ke tangan pemerintah. antara lain: • Pemeriksaan terhadap hakim yang mengadili kasus Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 55 . diinformasikan bahwa KY telah menerima 28 laporan. KY telah memeriksa dan memproses 333 laporan atau pengaduan hakim. 2006). termasuk para hakim agung yang jelas dan pasti menolak. Ide ini pada akhirnya tidak sempat direalisasikan.jadi ide kocok ulang ini menjadi bibit awal permusuhan atau resistensi dari kalangan hakim agung. Ide kocok ulang hakim agung memang sempat membuat kejutan banyak pihak. masyarakat dengan antusias melaporkan hakim-hakim yang dinilai menyimpang dan tidak sensitif terhadap rasa keadilan. 2. KY telah menerima 754 laporan dari berbagai kalangan masyarakat. sedang dalam proses. Sebagian lainnya tidak ditindaklanjuti. Sedangkan sampai Desember 2006 (pascaputusan MK).Juni 2006 (sebelum putusan MK).

Kendati demikian. Sukabumi. bisa dikatakan sangat positif. Sedangkan dalam hal cara. Dalam hal ini KY cukup berhasil meraih simpati dari publik. Banyuwangi) Pemeriksaan terhadap majelis hakim Pengadilan Tinggi Banten yang mengadili kasus korupsi di Lingkungan DPRD Propinsi Banten Pemeriksaan terhadap majelis hakim Pengadilan Negeri Denpasar yang mengadili kasus narkoba dengan terdakwa Michellle Leslie. KY tidak berwenang memeriksa putusan hakim. Pemeriksaan terhadap majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang mengadili kasus korupsi dengan terdakwa ECW Neloe. Setidaknya ada 2 hal yang selalu dipersoalkan para hakim kepada KY dalam melakukan pengawasan ini. Pemeriksaan terhadap majelis hakim Pengadilan Tipikor yang mengadili kasus korupsi dengan terdakwa Harini Wijoso Pemeriksaan terhadap hakim Pengadilan Negeri Stabat yang mengadili kasus anak dengan terdakwa Raju. Pemeriksaan terhadap majelis hakim PN Semarang yang mengadili kasus korupsi. Para hakim berpendapat bahwa putusan tidak bisa menjadi obyek pengawasan KY. Bandung. Musi Rawas. yang menjatuhkan hukuman di bawah hukuman minimal.• • • • • • sengketa Pilkada (Depok. bahwa putusan itu dapat menjadi pintu masuk (entry point) untuk melihat ada tidaknya penyimpangan atau tidak. karena setidaknya bisa menimbulkan shock therapy dikalangan hakim. yaitu obyek yang diperiksa dan cara pemeriksaan yang dilakukan. KY dinilai telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan dan mencemarkan nama baik hakim. Karena 56 Bunga Rampai . dengan memainkan norma-norma hukum dan penafsiran hukum. Sudah menjadi rahasia umum kalau putusan itu dapat disesuaikan dengan keinginan “yang memesan”. Sumbawa. Selayar. simpati dari berbagai kalangan juga dibarengi dengan sikap sebaliknya yang secara terang-terangan diperlihakan oleh kalangan hakim. Sepak terjang KY dalam melakukan pengawasan. dan mengajak publik untuk senantiasa memusuhi hakim yang berperilaku menyimpang. Sedangkan KY bersikap sebaliknya. terutama hakim agung.

Tidak cukup dengan hal itu. dll) meminta MK membatalkan sejumlah pasal dalam UU KY terkait dengan fungsi pengawasan hakim karena dianggap bertentangan dengan konstitusi. Para hakim agung itu dengan didampingi sejumlah advokat (OC Kaligis. tapi juga merugikan para pencari keadilan. sempat mengadukan anggota KY ke Kepolisian. Sayangnya putusan MK berbicara lain. putusan MK ini mendorong simpati publik terhadap KY.kerapkali nama-nama hakim yang dilaporkan dan sedang dalam proses pemeriksaan terpublikasikan ke media massa. meski pada akhirnya bisa “berdamai”. KY kehilangan kekuatan untuk melakukan pengawasan hakim. tidak ada satupun yang ditindaklanjuti oleh MA. MK juga menolak hakim konstitusi menjadi bagian dari pengawasan KY. Namun gesekan antara MA-KY tetap berlanjut. Pengajuan judicial review ini dikhawatirkan meniadakan fungsi pengawasan hakim dan jelas menghambat upaya pemberantasan mafia peradilan. KY untuk sementara tidak bisa lagi melakukan usul penjatuhan sanksi. dan puncaknya adalah ketika 31 hakim agung mengajukan judicial review terhadap UU KY ke Mahkamah Konstitusi. Bahkan secara terang-terangan pimpinan MA menolak dan mengabaikan rekomendasi dari KY. KY se- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 57 . Termasuk dalam putusan ini. Semua rekomendasi yang disampaikan KY kepada MA. Setidaknya pasca putusan MK. MK dalam putusannya mengabulkan hampir semua permohonan. usul pemberhentian hakim kepada presiden sejak pembelaan diri ditolak oleh Majelis Kehormatan Hakim. Kekhawatiran ini mengundang sejumlah lembaga swadaya masyarakat (KRHN. Indriyanto Seno Adji. ICW. Namun nampaknya tidak membawa hasil. Yang terjadi malah konflik terbuka antara MA-KY. Putusan MK itu tidak hanya menghambat kerja-kerja KY dalam pengawasan hakim. LBH Jakarta dan Kontras) mengajukan permohonan menjadi pihak terkait tidak langsung. membuat laporan hasil pemeriksaan. Meski demikian. sejumlah hakim agung yang merasa nama baiknya tercemar oleh KY. Untuk mencari titik temu dalam soal obyek dan metode pengawasan. Akibatnya. dilakukan pertemuan antara KY dengan MA. memaksa badan peradilan lain atau hakim untuk memberikan keterangan atau data yang diminta.

Namun bisa jadi kemungkinan itu 3. Misalnya. UU Kekuasaan Kehakiman. 58 Bunga Rampai . lembaga keagamaan. MA sempat beberapa kali mengeluarkan statement atau pernyataan lewat media masa. Vol I No. Dalam konteks ini dukungan juga bermunculan. dan hal ini posititif. sanksi dari KY bersifat mengikat dan disampaikan langsung kepada Presiden. 5. meminta pembentukan KY di daerah-daerah untuk mempercepat reformasi peradilan dan mendukung sepenuhnya percepatan revisi UU No. KY sendiri telah menyiapkan usulan pasal-pasal yang harus direvisi. ormas. Revisi UU KY ini bisa menjadi peluang untuk memperbaiki dan memperkuat kembali wewenang pengawasan KY. lembaga Negara.perti mendapat energi baru untuk menggalang berbagai potensi kekuatan dalam masyarakat. Issue Revisi UU KY Sebagai akibat dari putusan MK. April 2007) Disisi lain. 22/2004 tentang KY (Buletin KY. terutama dalam mengawal revisi UU KY. dan UU MK) mesti direvisi. NGO. padahal putusan MK telah dijatuhkan sejak Agustus 2006. Tercatat sudah lebih dari 100 perjanjian kerjasama yang ditandatangani. seperti rekomendasi dari Lokakarya Dosen HTN Indonesia Wilayah Barat pada 22 Maret 2007. dan pengawasan KY diintegrasikan dalam pengawasan internal di MA. Atau Ketua MA sebaiknya ex officio sebagai Ketua KY. Butir-butir penting dari rekomendasi itu yang dapat memperkuat peranan KY diantaranya adalah. Usul atau pandangan ini memang terkesan hendak memdelegitimasi posisi dan peranan KY. putusan dapat ditelaah oleh KY sebagai entry point ada tidaknya pelanggaran hakim. lengkap dengan naskah akademisnya. organisasi profesi). usul tentang sebaiknya pengawasan KY hanya untuk hakim dan tidak untuk mengawasi hakim agung. Sayangnya sampai saat ini tidak jelas kapan revisi UU KY akan diproses. KY terlihat begitu rajin membuat kegiatan dan perjanjian kerjasama (MoU) dengan berbagai pihak (akademisi/PT. UU KY bersama sejumlah UU lain yang terkait (UU MA. Setidaknya perintah langsung putusan MK adalah meminta DPR dan Pemerintah untuk melakukan sinkronisasi dan harmonisasi undang-undang tersebut. Setidaknya itu bisa menjadi kekuatan potensial untuk memperkuat peranan KY.

berhasil jika tidak ada pengawalan yang baik terhadap revisi UU KY, mengingat tidak semua anggota DPR pro terhadap reformasi peradilan. Sebagaimana pernah diakui sendiri oleh seorang anggota DPR yang menyatakan hampir 80% anggota DPR tidak pro-reformasi peradilan, lainnya menyatakan hanya 50%. (F. Arifin, makalah, 2006). 4. Issue Seleksi Hakim Agung Proses seleksi Hakim Agung diawali dengan surat dari MA yang memberitahukan tentang Hakim Agung yang akan pensiun pada tahun 2006. Dan selanjutnya sesuai kesepakatan dengan pimpinan MA, akan diusulkan sejumlah calon Hakim Agung untuk mengisi formasi 6 orang Hakim Agung. KY harus mengusulkan 3 kali lipatnya kepada DPR, sebagaimana ditentukan dalam UU KY. Kemudian DPR memilih dan memutuskan 6 dari 18 calon hakim agung, dan selanjutnya diserahkan kepada Presiden untuk ditetapkan. Kewenangan dalam menyeleksi Hakim Agung ini merupakan kali pertama dilakukan lewat KY, yang diharapkan dapat lebih baik dari proses seleksi yang sebelumnya dilakukan oleh DPR. Ini tentu saja taruhan besar bagi KY. Jika hasil seleksi hakim agung KY lebih baik, KY tentunya mendapat appreciate yang tinggi. Jika sebaliknya, bisa jadi performance dan kredibilitas KY akan diragukan publik. Berbeda dengan proses sebelumnya, seleksi hakim agung kali ini terdiri dari beberapa tahapan; seleksi administratif, penilaian karya ilmiah, dan kesehatan, seleksi kepribadian/profile assessment, dan seleksi kualitas/wawancara. Kecuali tahap seleksi wawancara, dalam setiap tahapan lainnya, KY melibatkan sejumlah pihak yang dianggap kompeten untuk menangani hal itu. Termasuk dalam hal ini usul dan laporan dari masyarakat tentang track record masing-masing calon. Dengan mengedepankan soal integritas dan kualitas, KY kemudian mengabaikan soal kuantitas dalam menentukan hasilnya. Dari 130 bakal calon yang mendaftar, pada akhirnya KY memutus 6 orang calon yang dinilai layak untuk disampaikan kepada DPR. Hasil ini mengundang kontroversi, karena KY meloloskan Ahmad Ali seorang calon yang dianggap berperilaku tidak terpuji dan diduga kuat terlibat dalam kasus korupsi. Apalagi keputusan meloloskan Ahmad Ali ini dilakukan dengan cara voting, 2 menolak dan 5 meloloskan. Akibatnya KY mendapat banyak kritik yang memperKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

59

tanyakan metode dan keputusan dalam seleksi hakim agung ini. Hasil itu juga tidak sepenuhnya diterima oleh DPR. DPR meminta KY untuk melengkapi kekurangannya bahwa KY harus mengusulkan 3 kali lipat dari yang dibutuhkan. DPR tidak akan memilih dan memutuskan hasil dari KY sebelum KY melengkapinya. Sikap DPR ini memaksa KY untuk melakukan seleksi hakim agung tahap kedua. Walaupun kemudian KY telah melengkapi jumlah kekurangannya, namun nampaknya DPR tidak cukup puas dengan calon hakim yang dihasilkan KY. Sejumlah anggota komisi hukum DPR yang melakukan fit and proper test calon hakim agung, beranggapan calon hakim agung yang dihasilkan KY tidak berkualitas. Kritik juga terlontar terhadap anggaran sebesar + Rp. 4 miliar yang digunakan dalam seluruh proses seleksi hakim agung. Issue anggaran ini menjadi bola panas, dan menuai kritik dari sejumlah pihak (DPR dan MA). Mereka mempertanyakan besarnya anggaran yang digunakan, dan mengganggap tidak sebanding dengan hasilnya. Meski telah dijelaskan secara terbuka, dan pada seleksi kedua terjadi perubahan metode/tahapan agar bisa mengurangi anggaran yang digunakan, tapi nampaknya tidak cukup berhasil untuk menepis issue anggaran yang dianggap terlalu boros. Bagi sejumlah kalangan, peranan KY dalam melakukan seleksi hakim agung ini memang diluar harapan. Ada sejumlah persoalan yang tidak bisa dijelaskan dan dijawab dengan baik, terutama menyangkut soal konsistensi antara tujuan dengan hasil seleksi. Dalam hal ini KY selalu menyatakan lebih mengedepankan integritas dan kualitas. Namun ternyata, ada beberapa calon Hakim Agung yang kemudian diragukan kapasitas dan integritasnya. Nampaknya peranan KY dalam seleksi Hakim Agung ini, ‘menggoyahkan’ simpati terhadap KY yang sudah terbangun. Mengelola Simpati, Meminimalisir Resistensi Keberadaan dan kehadiran KY dalam sistem hukum dan ketatanegaraan Indonesia, memang memberikan harapan akan perbaikan sistem peradilan. Dalam dua tahun KY menjalankan fungsi, tugas dan kewenangannya, menunjukkan bahwa KY memiliki peranan yang signifikan dan strate-

60

Bunga Rampai

gis untuk mendorong dan memperkuat reformasi peradilan. Dengan kata lain, KY akan menjadi “pengawal setia” reformasi peradilan, khususnya dalam mencari dan memperbaiki kualitas dan integritas para hakim. Meski terbatas, selama ini KY cukup berhasil untuk “meng-entertaint” fungsi dan kewenangannya. Setidaknya hal itu dapat terlihat dari pemberitaan yang muncul mengenai sepak terjang KY lengkap dengan konflik yang terjadi diseputarnya. Ini suatu hal yang positif bagi sebuah lembaga baru, sehingga publik banyak mengenal dan mengetahui tentang KY. Ditambah upaya dari KY sendiri yang memperluas jejaring kelembagaannya dengan banyak lembaga/organisasi. Sehingga KY tidak hanya menuai simpati, tetapi juga dukungan riil dari berbagai kalangan. Simpati dan dukungan itu setidaknya dapat terlihat dari NGO, akademisi, kampus, praktisi/pengamat hukum, tokoh masyarakat/agama, ormas, sebagian anggota DPR, lembaga Negara/pemerintah, organisasi profesi serta pers. Pada saat yang bersamaan upaya perlawanan atau resistensi terhadap KY juga bermunculan. Resistensi muncul terutama dari kalangan hakim dan unsur/pihak MA, yang merasa eksistensi dan “kemapanan”nya terusik dengan kehadiran KY. Sebagaimana tergambar di atas, upaya perlawanan itu dilakukan dalam berbagai bentuk, mulai dari membangun opini, penolakan rekomendasi sampai langkah dan upaya hukum untuk mendelegitimasi keberadaan KY. Dalam hal-hal tertentu, resistensi juga muncul dari sebagian anggota legislatif dan kalangan advokat, yang khawatir dengan peranan KY dapat mengganggu kepentingan mereka. Resistensi dari sejumlah pihak dengan berbagai bentuknya itu, nampaknya sudah menunjukkan watak sesungguhnya yang anti terhadap perubahan. Terhadap resistensi itu, nampaknya KY belum bisa sepenuhnya meng-counter dan menjadikan hal itu menjadi issue publik. Misalnya, penolakan terhadap rekomendasi KY dapat dijadikan issue pejabat Negara yang tidak patuh pada aturan hukum. Lambannya revisi UU KY dapat dikemas menjadi issue hambatan dalam pemberantasan mafia peradilan. Juga terhadap issue anggaran seleksi Hakim Agung, dapat dilawan dengan minimnya anggaran untuk bidang hukum atau peradilan. Karena selama ini terjadi diskriminasi angga-

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

61

ran untuk kekuasaan yudisial jika dibandingkan anggaran untuk legislatif dan eksekutif. Pada sejumlah issue-issue tersebut di atas, KY juga tidak memaksimalkan simpati dan jejaring yang telah didapat untuk memberikan dukungan yang diperlukan. Entah dikemanakan banyak pihak yang telah mengikat kerjasama dengan KY. KY belum cukup berhasil mengelola simpati dan jejaring untuk melegitimasi dan memperkuat peranan KY. Disamping itu, nampaknya kondisi internal KY belum cukup kuat dan solid untuk memanage potensi kekuatan dengan tantangan yang ada, dan menjadikannya sebuah peluang yang dapat diambil. Termasuk dalam hal ini dalam memanage potensi konflik, membangun opini publik dan memaksimalkan kapasitas sumber daya manusia yang ada. Sebagai lembaga komisi independen yang baru terbentuk, memang tidak mudah untuk menjalankan fungsi dan kewenangannya. Umumnya hal ini terjadi pada lembagalembaga komisi independen yang telah terbentuk. Apalagi dengan kewenangan yang terbatas, lemahnya komitmen dan political will, serta arus balik anti reformasi yang sudah mulai melakukan konsolidasi dan menguat. Kebanyakan tidak cukup berhasil untuk mengelola kewenangannya dengan baik, bahkan ada beberapa diantaranya mengalami krisis kelembagaan dan terancam bubar. Tetapi hal itu nampaknya tidak demikian bagi KY. Perlu diingat, bahwa KY memiliki legitimasi yang kuat sebagai satu-satunya lembaga komisi independen yang diatur tegas dalam konstitusi. Pengaturan dalam konstitusi membuat keberadaan KY lebih terjamin. Karena itu kecil kemungkinan KY dapat mengalami seperti halnya lembaga komisi independen lainnya. KY harus menghindari itu, dan menjadi lembaga yang “seolah-olah ada”, serta cenderung birokratis. Kedepan KY perlu mengelola simpati lebih baik lagi agar menjadi lebih produktif dan mendukung kerja-kerja KY. Sejalan dengan hal itu, perlu diminimalisir hal-hal yang dapat menuai resistensi dari berbagai kalangan terutama para hakim. Sekalipun terjadi, sedapat mungkin dieliminasi agar tidak mendelegitimasi posisi dan peranan KY Usaha tersebut mengharuskan peran serta dari sejumlah pihak yang punya kewajiban dan kewenangan memperbaiki dan men-support peranan KY. Tidak bisa dilakukan oleh KY

62

Bunga Rampai

sendiri. Oleh karena itu, agar performance KY lebih baik lagi, yang perlu dilakukan kedepan adalah sebagai berikut; 1. 2. mendorong dan menjadikan issue/masalah KY menjadi issue publik, sehingga simpati yang telah diraih dapat lebih konkrit dan diperluas. memaksimalkan peranan jejaring yang telah ada dengan men-desentralisasi kewenangan KY terutama kewenangan mengawasi hakim. Untuk hal ini setidaknya dapat dibentuk segera perwakilan KY di sejumlah daerah yang rawan mafia peradilan, serta terdapat jejaring yang cukup potensial dan mampu menjalankan desentralisasi kewenangan itu. menyiapkan perangkat-perangkat organisasi, terutama regulasi internal yang diperlukan untuk memperlancar pelaksanaan tugas dan kewenangan KY, terlebih penting dapat membuat KY lebih transparan, akuntable dan legitimate dimata publik. menyusun code of conduct yang dapat dijadikan sebagai pedoman dan indikator dalam hal pengawasan hakim. Untuk hal ini ada baiknya disusun secara bersama dengan MA. memperkuat fungsi dan peranan KY di dalam revisi UU KY, terutama menyangkut soal pengawasan hakim dapat dilakukan secara efektif. Dalam hal ini setidaknya KY dapat memberikan sanksi yang bersifat mengikat kepada Presiden tentang hakim yang terbukti melanggar perilaku. melakukan kampaye dan pendidikan kepada publik untuk terus-menerus secara konsisten memerangi dan melawan mafia peradilan. Termasuk dalam hal ini meminta kepada DPR dan Presiden agar sungguh-sungguh melakukan pemberantasan mafia peradilan sebagai bagian dari upaya memberantas korupsi.

3.

4.

5.

6.

Epilog Sungguhpun disadari dan dirasakan bahwa membangun sistem peradilan yang baik dan bersih dengan melawan judicial corruption yang telah berurat akar didalamnya, tidak semudah membalik telapan tangan. Tidak segampang yang telah dibayangkan dan direncanakan, akan tetapi upaya ini harus tetap terus dilakukan. Keberadaan dan kehadiran
Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

63

Komisi Yudisial memberikan harapan dan arti penting untuk tetap menjaga dan merawat upaya reformasi peradilan. Upaya yang barangkali tidak pernah diketahui kapan akan berhenti, demi tujuan mulia menegakkan kebenaran dan keadilan. Sejauh ini peranan Komisi Yudisial dapat menjadi spirit dan inspirasi dalam melanjutkan reformasi peradilan. Setidaknya melalui pengawasan para hakim dan menyiapkan hakim agar lebih berkualitas, professional, terpuji dan berpihak pada keadilan. Betapapun kemudian upaya yang dilakukan KY tidak mulus, karena adanya resistensi yang menghambat kerja-kerja KY sekalipun simpati dan dukungan juga bermunculan. Terlihat tidak mudah bagi KY untuk mendayung diantara simpati dan resistensi dalam mengawal reformasi peradilan. Namun yang jelas dan pasti para pencari keadilan masih tertindas dan merasakan ketidakadilan. Suatu kondisi yang tidak bisa dibiarkan berlarut-larut dan harus dihentikan. Mengingat KY memiliki peranan strategis dalam mengawal reformasi peradilan, maka sudah sepatutnya peranan KY perlu diperkuat kedepan. Langkah-langkah yang perlu dilakukan tidak hanya ditujukan kepada KY, tetapi juga DPR dan Presiden sebagai penerima langsung mandat rakyat yang sudah rindu akan penegakan hukum dan keadilan. Semoga tidak menjadi sebatas harapan.

64

Bunga Rampai

oleh karena institut itu ada untuk melayani publik. kejaksaan dan advokat. seperti pengadilan sendiri. maka reformasi tentunya akan menyangkut pula sekalian komponen dari peradilan. Sejak suatu institut tidak ada untuk dirinya sendiri. kapanpun juga. Tuntutan transparansi tersebut membuka keKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 65 . Tetapi ia menjadi lebih intensif sejak kelahiran apa yang dinamakan Orde Reformasi dengan kredo demokratisasi. Kecuali alasan empirik. serta tingkat kepuasan publik. Ini dinamakan standar internal. Di sini peranan publik makin mendapat angin dan terus merangsek maju. desentralisasi kekuasaan. menemukan banyak kekurangan dan hal-hal negatif di peradilan. Alasan empirik bergerak pada ranah praksis peradilan sehari-hari. serta transparansi. reformasi juga terkait pada masalah sistem. sehingga hampir tidak ada putusan publik yang tidak didemo. Sekalian institut dalam peradilan memiliki standar masing-masing yang digunakan untuk melakukan penilaian.Kontribusi Lembaga Sosial Mendorong Reformasi Peradilan Oleh Satjipto Rahardjo Latar Belakang Reformasi Reformasi suatu peradilan tentu memiliki alasan mengapa peradilan harus direformasi. Interaksi ada secara laten (latent). Terdapat interaksi antara institut dan publik. melainkan berada dalam jagat yang lebih luas. kinerja (performance). seperti produk. Alasan empirik yang didorong oleh keterbukaan tersebut. Sejak peradilan itu memiliki beberapa komponen. maka penilaian berdasar standar internal saja tidaklah cukup.

melainkan ”opstand der horden” (bangkitnya massa. Dari suatu ”state-based society”.sempatan yang luas untuk melakukan eksaminasi terhadap praksis dan jalannya peradilan. Pada ranah dan aras sistem. seperti ICW. Sejumlah besar kejadian telah berhasil dihimpun oleh institut-institut independen. Lembaga Sosial Sebagaimana diuraikan di atas. akibat demokratisasi. yaitu suatu tipe pemerintahan yang berbasis kekuasaan hampir-mutlak. para ”preman”). berbagai tembok atau bastion dari orde pemerintah lama telah diruntuhkan. melainkan 66 Bunga Rampai . apa yang dikenal sebagai. Otonomi kekuatankekuatan dalam masyarakat tampil menjadi semakin perkasa. Undang-Undang Dasar memiliki otoritas tertinggi untuk menentukan bagaimana sistem peradilan di negeri ini akan dibangun. Meminjam istilah Jose Ortega y Gasset (y Gasset. Momentum reformasi peradilan memberi kesempatan kepada kita untuk memikirkan kembali tentang rancangan peradilan menurut Undang-Undang Dasar dan apakah pesan serta amanat dalam Konstitusi itu sudah diselesaikan dengan baik. atau dalam istilah Indonesia. Tidak semua berlangsung secara ideal. maka reformasi dikaitkan kepada rancangan sistem atau bangunan peradilan yang berawal dari Undang-Undang Dasar 1945. bahwa tampilan yang buruk dan negatif lebih menonjol daripada yang diidam-idamkan oleh perubahan tersebut. peran masyarakat atau publik ke dalam urusan kenegaraan dan pemerintahan. untuk kemudian berubah menuju pemerintahan yang lebih bersifat kerakyatan. Bukan pemilihan oleh rakyat yang jujur yang terjadi. Lembaga Pemantau Peradilan dan Transparensi Internasional. Sejak jatuhnya pemerintahan Presiden Soeharto. sehingga tidak ada borok yang bagaimana kecilpun yang tidak menerima sorotan dari masyarakat. melainkan banyak juga para “preman”. yang memberi alasan kuat untuk melakukan reformasi peradilan. 1957). Bukan demokrat-demokrat sejati yang muncul. bukan ”de opstand der democratie”. “civil society”. masyarakat madani. bahkan mungkin untuk sementara secara jujur harus dikatakan. sekarang bertambah besar dan kuat. Indonesia pelan-pelan bergerak menuju.

Ia cukup cepat merespons setiap kejadian dugaan pelanggaran HAM.pemilihan berdasarkan ”kekuatan uang”. berperan besar dalam memotori gerakan-gerakan Komnas. Peradilan sekarang tidak dapat lebih lama berlindung di bawah wibawa pemerintah. seperti di jaman pemerintahan Soeharto. Baharudin Lopa. Komnas belum pernah sekalipun bertemu dan menerima ”pesan” dari Presiden Soeharto. melainkan lebih merupakan suatu otonomi yang didasarkan pada penalaran ”apa yang kelompok saya bisa dapat”. Karena reputasinya itu maka di tengah-tengah kuatnya cengkeraman pemerintah. sehingga Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 67 . oleh karena dapat merusak reputasi lembaga sosial yang memang bersungguh-sungguh ingin menjadikan rakyat sebagai raja. Sebagai Direktur Jenderal Pemasyarakatan pada waktu itu. Terkadang ada seloroh mengenai adanya lembaga sosial ”pelat merah”. Hal itu memang memprihatinkan. sebagai Sekretaris Jenderal. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas) generasi pertama (1993-2001) sering mendapat sebutan yang demikian itu. dan penyerbuan terhadap Kantor Pusat PDI-P. sehingga lembaga yang benar-benar berkualitas saja yang akan bertahan. oleh karena pada akhirnya akan terjadi seleksi alami. turun ke lapangan dan membuat simpulan serta pernyataan yang cukup berani. melainkan penalaran oleh uang atau kapital. Memang rupa-rupanya tidak sekalian lembaga sosial itu baik dan jujur serta beramanah. seperti dalam Kasus Marsinah. Selama keberadaannya. penembakan di Irian. Tetapi keadaan seperti itu tak perlu terlalu dirisaukan. Bukan penalaran nurani rakyat. Lembaga sosial boleh disebut sebagai presentasi persepsi masyarakat yang relatif jujur atau tidak terkooptasi oleh kepentingan penguasa. namun secara cukup mengejutkan ternyata mampu menjaga independensi dan integritas serta mengambil jarak dari pemerintah. Komnas sempat menjadi ikon dan tumpuan harapan masyarakat. Otonomi daerah tidak menyumbang kepada kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. yaitu lembaga yang disponsori oleh pemerintah. melainkan tercatat pula lembaga yang tidak demikan. melainkan harus berani menghadapi berbagai eksaminasi yang dilakukan oleh masyarakat melalui lembaga sosial yang makin menjamur itu. ia justru memanfaatkan jabatannya itu.

Peluang ini digunakan oleh Komnas untuk ”menggedor” jajaran pemerintah dan ABRI yang melakukan pelanggaran HAM. seperti Pusat Studi Anti Korupsi pada Universitas Gajah Mada. Komunitas ini melakukan pengamatan (observe) terhadap sekalian hal yang terjadi di masyarakat. didasarkan pada kaidah keilmuan yang obyektif. Komunitas akademi yang ideal adalah independen. tetapi ia tetap memiliki watak untuk disebut sebagai lembaga mandiri dan karena itu dapat digolongkan ke dalam lembaga sosial. Penampilan yang lebih maju dilakukan melalui pembentukan pusat-pusat kajian. Itu meru- 68 Bunga Rampai . Selebihnya mereka sangat disibukkan oleh kegiatan mengajar. Sesekali mereka ”turun dari gunung”.Komnas sering dengan relatif mudah dapat memasuki ranah yang ”dikuasai” pemerintah. dengan begitu ia tetap merupakan aset bangsa yang belum dapat memberikan kontribusi secara optimal terhadap penyelesaian permasalahan masyarakat. jujur dan membuat simpulannya sendiri yang secara relatif tidak dicemari oleh kepentingan tertentu. Komunitas Akademi Satu kekuatan sosial yang belum termanfaatkan dengan baik adalah dunia akademi. Di Indonesia. menjadi konsultan dan lain-lain. Rupa-rupanya kalangan pemerintahan belum dapat membedakan secara baik antara Lopa sebagai Dirjen dan sebagai anggota Komnas yang mandiri. kekuatan tersebut belum benar-benar tampil sebagai suatu kekuatan sosial aset bangsa. Komunitas akademi memiliki sekalian persyaratan untuk dimasukkan juga ke dalam barisan lembaga sosial. bangsa dan negara. apabila diminta sebagai pembicara dalam seminar. Universitas yang sarat dengan watak keilmuan. tetapi masih lebih berada dalam apa yang sering disebut sebagai sebuah ”menara gading”. tak dapat disetir dan dikooptasi oleh pemerintah. Namun demikian. menguji dan meneliti. yang terdiri dari para scholar dan peneliti. Kendati suatu universitas negeri dibiayai dari anggaran belanja negara. Dengan mempertahankan posisi yang demikian itu memang komunitas akademi dapat mempertahankan kejujurannya dalam menelaah berbagai permasalahan dan kalau perlu membuat solusi tindakan.

” Komentarnya terhadap standar profesionalitas adalah. “The leadership standards of many Supreme Court Chairmen have fallen far short of the ideal. negeri Belanda.” Kelemahan dan kekurangan tersebut muncul dari proses penerimaan (recruitment) hakim yang terlalu melihat kepada kedekatan seseorang calon dengan eksekutif. khususnya Mahkamah Agung Republik Indonesia. sprang naturally from the nature of recruitment process. Pompe menuliskan seluk beluk perjalanan sejarah Mahkamah Agung yang menyoroti aspek-aspek pengaruh dan intervensi politik terhadap Mahkamah.. baik dokumen maupun catatan-catatan wawancara (fact-based research). as a number of chairmen have failed to impose institutional values on the Court’s environment and have also failed to enhance internal cohesion and morale. fungsi pengadilan. menurunnya perbandingan penge- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 69 .. 2005). Dalam hal perekrutan hakim. Oleh karena ketiadaan keterbukaan. characterized by weak leadership. tidak terdapat keterbukaan dan peranan birokrasi sangat kuat (effectively controlled by the bureaucracy). “This lack of transparency is an important factor in obscuring the personalities of the judges who are recruited and the views which they hold. Metode yang digunakan sangat kuat berdasarkan fakta. A Study of Institutional Collapse” (Pompe. Penelitian Sebastiaan Pompe Sebastiaan Pompe telah melakukan penelitian yang sangat intensif terhadap dunia pengadilan di Indonesia. Disertasi tersebut (Fifty Years Indonesian Supreme Court. Penelitian tersebut selesai ditulis sebagai disertasi yang dipertahankan di Universitas Leiden. organisasi pengadilan. pada tahun 1996.pakan kemubaziran yang disayangkan. Dengan data yang kaya. maka banyak peluang bagi terjadinya hal-hal yang tidak baik (improprieties).” Banyak Ketua Mahkamah yang tidak menjalankan kepemimpinannya dengan ideal. . “This condition. Dikatakan oleh Pompe. 1996) kemudian diterbitkan sebagai buku pada tahun 2005 berjudul “The Indonesian Supreme Court. makin menurunnya pengetahuan dan kesepakatan mengenai hukum yang berlaku. serta kualitas para hakim. Dikatakan oleh Pompe. which has been largerly directed toward recruiting leaders who have either strong ties to the executive branch of the government or accomodating dispositions.

yang satu menutup pintu bagi masuknya orang luar.tahuan mengenai hukum (comparative legal knowledge) serta menurunnya kedisiplinan pribadi (personal strictness). capability to incompetence. ini dinamakan kesadaran atau perasaan ”in-group” yang membedakan dan mengambil jarak terhadap ”out-group”. integrity to structural corruption. bahwa mereka akan mampu menyelesaikan persoalan-persoalannya sendiri. and respect to contempt. bukan karena tidak ada orang luar yang mampu duduk di kursi hakim. ke dalam kata-kata yang padat. Dunia pengadilan percaya. Sebagian hanya ingin mempertahankan keadaan sekarang. yaitu ”courage turn to cowardice. Dalam dunia pengadilan ada dua kubu. tetapi sebagian lain terdiri dari orangorang yang serius ingin melakukan pembaruan. Pada waktu TGPTPK. Para hakim diumpamakan isi dari sebuah kantong yang bermacam-macam. dimana telah terjadi sejumlah kemerosotan. bahwa lembaga itu mempunyai kecenderungan kuat untuk berusaha mempertahankan eksistensinya dan dengan demikian juga menyimpan keinginan kuat untuk dengan berbagai cara memberikan legitimasi terhadap eksistensinya itu. Pada bagian akhir dari analisisnya mengenai para hakim.” Melihat Pengadilan Dari Luar Optik sosiologi akan mengatakan. melainkan karena rekrutmen secara terbuka itu akan membawa persoalan politik masuk ke pengadilan (cut across the political spectrum). Mereka yang menolak pembukaan pintu bagi hakimhakim (opening up recruitment) yang direkrut dari luar pengadilan beralasan. ingin membawa beberapa Ha- 70 Bunga Rampai . menyelamatkan keadaan dan menuju masa depan yang lebih baik. pada tahun 2000. menyimpulkan limapuluh tahun sejarah Mahkamah Agung R. Ada semacam resistensi terhadap ”penyerbuan dari luar” yang akan mengguncang kenyamanan kelangsungan hidup lembaga dan para anggota di dalamnya.I. Dalam sosiologi. sedang yang lain menerima gagasan untuk merekrut orang-orang dari luar menjadi hakim. Pompe. Barangkali pembubaran Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTK) merupakan contoh tentang usaha untuk mempertahankan Iembaga sendiri. Sindrom ketertutupan itu menghinggapi setiap lembaga apapun.

Pimpinan Komisi Kepolisian Nasional (Ketua. Kediktatoran Pengadilan Putusan hakim menjadi krusial. karena adanya berbagai sindrom tersebut di atas. Ini merupakan cacat yang tidak kecil. masih dipegang oleh pejabat tinggi dalam pemerintahan. Wakil Ketua. Sekretaris). untuk sebagian dapat dijelaskan dari hal-hal yang diuraikan di atas. justru dibubarkan. Ini memang satu kekecualian. sedang polisi untuk menangkap. Di Indonesia. menahan. mengadakan satu seminar yang menyoroti pungutan liar poIisi di jalan-jalan. Dalam seminar tersebut. Polri bagaikan membuka boroknya sendiri. melihat komposisi keanggotaannya. merupakan suatu peristiwa yang cukup luar biasa. Hakim yang memiliki kecenderungan legalistik akan memutus berdasarkan kacamaKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 71 . TGPTPK. seperti pengadilan dan kepolisian. pada waktu Kepolisian Daerah Jawa Barat. Kalau demikian lalu ”siapa mengawasi pengadilan?” dan ”siapa mengawasi polisi?”. melalui data yang ditemukan di lapangan. karena umumnya lembaga-lembaga publik lebih suka melegitimasi diri sendiri.kim Agung ke pengadilan. Pertanyaan mendasar selanjutnya adalah. karena ditentukan oleh pikiran atau mindset sang hakim. komisi-komisi tersebut beIum mandiri benar. apakah hakim dan polisi tidak dapat melakukan kesalahan? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut cenderung memastikan. misalnya. Dalam konteks itu. menginterogasi dan akhirnya menyerahkannya kepada jaksa untuk diajukan ke pengadilan. Alasan bagi kehadiran tim-tim yang disebut ”independen” di negeri kita dewasa ini. Pengadilan diberi kekuasaan untuk memutus suatu perkara. maka melalui sebuah judicial review. Kendati demikian. dengan dakwaan korupsi. Oleh sebab itu diperlukan suatu ”kekuatan-dari-luar” untuk dapat memberikan penilaian yang lebih jujur. yang bersemangat tinggi untuk memberantas korupsi. berupa kekuasaan eksklusif tertentu. Tidak mudah untuk melakukan penilaian yang jujur terhadap lembaga sendiri. jawaban itu diberikan dengan membentuk Komisi Yudisial dan Komisi Kepolisian Nasional. maka. Tidak ada lembaga yang diberi kekuasaan seperti itu. pada tahun 80-an (?). Banyak kekuasaan diberikan kepada lembaga-Iembaga.

Potret yang demikian itu memancing pendapat. “substantial justice”. 72 Bunga Rampai . pengadilan yang demikian itu dapat juga ditarik ke arah yang lebih tinggi dan menjadi suatu masalah yang bersifat akademis. di Nuremberg. Apabila seseorang dengan status sosial rendah menyerang orang dengan status sosial tinggi. orang kedua sesudah Hitler itu mengatakan. manakala pikiran hukum hakim berbeda dengan terdakwa. ‘’police justice”. di Florida 40% dan di Texas hampir 90% lebih tinggi. sehingga (putusan) hukum itu berbanding lurus dengan status sosial (law varies directly with social status) (Black. Konflik yang demikian itu dapat juga dilihat dari perspektif sosiologis. Oleh sebab itu muncul sebutan-sebutan ’’formal justice”. ”Anda mengadili kami. karena kalah perang. maka saat seorang kulit hitam diadili karena membunuh kulit putih di Amerika Serikat. dimana alam pikiran yang satu mengadili alam pikiran yang lain. Apapun kacamata yang dipakainya. maka perkaranya akan ditangani dengan keras dan demikian sebaliknya. di atas 30% lebih tinggi. Di Ohio. risiko itu adalah 15% lebih tinggi daripada baku bunuh antara sesama kulit hitam. 1989). Sebutan pengadilan tersebut diberikan kepada pengadilan Negara-negara Sekutu yang memenangkan Perang Dunia II terhadap para pemimpin Nazi Jerman. maka andalah yang akan diadili”. Penamaan pengadilan dan peradilan yang demikian itu dapat digunakan untuk menggambarkan. Saya kira. Menarik untuk membicarakan kediktatoran pengadilan dalam kaitan dengan “Victor’s Justice”. bahwa pengadilan itu melakukan diskriminasi sosial. Situasi yang demikian itu terjadi. Di Georgia. maka risiko untuk dijatuhi hukuman mati melonjak tinggi. Bukan jaksa atau polisi. hakim memiliki kekuasaan besar untuk memonopoli pembuatan putusan. betapa medan pengadilan menjadi ajang pertemuan antara dua alam pikiran. “street justice” dan lain-lain.ta yang digunakannya itu. Dengan demikian. yang kalah perang. Penelitian Donald Black di Amerika Serikat menemukan. Pada waktu Herman Goring melakukan pembelaan. Maka terjadilah suatu pengadilan. Sekalian penyebutan itu menggambarkan semacam protes terhadap kekuasaan hakim untuk menentukan siapa salah dan benar. atau sosiologi pengadilan. Itulah esensi ”Victor’s Justice”. Andaikata kami yang menang.

Namun bagaimanapun. semua bukti fisik. melainkan juga pergulatan kemanusiaan dan dengan demikian. misalnya. Anda seharusnya berusaha lebih dulu untuk mendapat hak untuk menggeledah (search warrant). karena memiliki kekuasaan besar untuk menentukan siapa salah dan siapa benar. hanya hakimlah yang boleh memutus dan yang lain harus diam. karena. pada saat kita berpikir untuk melakukan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 73 .bahwa yang terjadi di Amerika Serikat adalah ”white’s justice”. pengakuan terdakwa. Semua bukti mengenai gadis itu. Pengadilan dan hakim sering dianggap diktator. Kekuasaan itu dapat mematahkan usahausaha untuk mencari kebenaran. Ilustrasi dari film tersebut menggambarkan betapa pengadilan itu tidak hanya menjadi medan pergulatan hukum.5. juga pergulatan ideologi. Hakim: Pengadilan mengakui kepedulian polisi terhadap nyawa gadis itu. Jaksa: Gadis itu sudah mati. dan mungkin ke-6 dan ke14 telah dilanggar. Hak tersangka yang dijamin oleh Amandemen ke-4 dan ke. penggeledahan terhadap rumah tersangka adalah tidak sah. doktrin dan tidak berselera untuk melihat kenyataan. Hakim: Pada hemat saya. maaf saja. tidak dapat dibawa ke pengadilan. segalanya sebetulnya sederhana saja. menurut laporan ahli. harus dikesampingkan. melalui dialog antara polisi dan hakim (Quirk & Bridwell. 1997). sang hakim berpegangan kepada peraturan. Ilmu Hukum yang Terintegrasi llmu hukum niscaya merupakan sumber penting yang perlu ditengok. Polisi: Surat penggeledahan? Pada waktu itu saya dihadapkan kepada seorang anak perempuan yang tengah sekarat. sehingga bukti yang diperoleh dari situ. Diceritakan adegan menarik dari sebuah film yang didasari oleh semangat menggugat kediktatoran hakim tersebut. tetapi tidak ada alasan untuk membenarkan kekerasan hukum yang telah dilakukan oleh polisi. Polisi: Tapi saya tidak tahu hal itu. Ya.

Bidang-bidang hukum baru muncul sebagai bagian dari perkembangan masyarakat yang berkembang cepat pada masa itu. Abad ke-19 menampilkan dinamika luar biasa dalam perkembangan hukum positif. Ilmu hukum menjadi identik dengan ”analytical jurisprudence” atau ”rechtsdogmatiek”. qui prononcent les paroles de la loi. Ilmu hukum tidak berhenti. Puncaknya adalah pada saat sekalian massa perundang-undangan tersebut dihimpun dalam kitab-kitab hukum. llmu hukum abad ke-21 niscaya jauh berbeda daripada abad ke-19. Ilmu hukum memusatkan perhatiannya terhadap hukum positif. Ilmu hukum menjadi terfokus ke dalam. Industri. Kepastian hukum pun muncul sebagai suatu barang yang nyata dan menjadi ikon. qui peuvent moderer ni la force ni la rigeur”. melainkan berkembang dan bergerak dinamis. Dalam atmosfer seperti itu. Hal tersebut dilakukan dengan pengorganisasian dan sistematisasi bahan hukum yang tersedia. Pengadilan atau hakimpun tidak boleh berbuat lain. kecuali menjadi corong dari undang-undang (”Les juges de la nation ne sont que les bouches. Perkembangan dalam hukum positif akhirnya memacu pengusaan ilmu hukum. des etres inanimes. perdagangan. Ilmu hukum merespons perkembangan tersebut dengan melakukan konsolidasi untuk mengamankan prestasi yang telah dicapai. Ia tidak boleh keluar dari medan perundang-undangan. Berbicara hukum adalah berbicara mengenai suatu kepastian. demikian Montesquieu). Hakim sama sekali tidak memiliki kekuasaan apapun untuk mengubah dan menafsirkan undang-undang. ilmu hukum tidak boleh keluar dari batas perundangundangan (alles binnen de kader van de wet). dengan catatan penting. Langkah dan tindakan konkret dalam hukum memerlukan pencerahan yang datang dari ”the state of the art” dalam ilmu hukum. Persoalan besar pertama yang dihadapi adalah ”apa sesudah kodifikasi?”. llmu hukum merupakan pundi-pundi yang menghimpun sekalian pemikiran dan perkembangan baru dalam pemikiran hukum. Siasat tersebut dilakukan dengan mengintensifkan pemahaman terhadap jagat hukum yang telah menjadi demikian luas. Maka abad ke-19 pun dikenal sebagai Era Kodifikasi.reformasi peradilan. transportasi berkembang dengan cepat yang membutuhkan dukungan hukum. maka 74 Bunga Rampai .

Perubahan penting juga terjadi di bidang peradilan yang semula dianggap sekedar sebagai mesin otomat yang menerapkan undang-undang. Salah satu artikel. Sejumlah dokter. Ilmu hukum juga sibuk untuk membangun struktur dan dari situ disusun bangunan hukum yang didasarkan pada pemisahan sub-disiplin secara ketat (hukum-hukum perdata. ”Van de rustige verzekerdheid van velen in de 19 de eeuw. Paul Scholten mengatakan tentang cara berhukum seperti itu. ilmu hukum pun mengalami perkembangan dan perubahan penting. bukan sebaliknya (Rahardjo. pidana. Foque et al. 2004). Perubahan penting terjadi. tata negara. sebagai ”het hanteren van logische jiguren” (Scholten. Memasuki abad ke-20. Dikatakan oleh Scholten.cara berhukum pun sudah seperti mesin dan tidak berbeda daripada mengerjakan soal matematika. Buku yang berisi kumpulan karangan tersebut menggugat kemapanan pembagian ke dalam berbagai sub disiplin hukum dan menyebutnya sebagai ketinggalan zaman. dalam memperingati 30 tahun usianya (1993). Seorang insinyur geologi telah menganalisis kerusuhan sosial dengan menggunakan disiplin ke-insinyuran-nya. Fakultas hukum Erasmus. dat rechtsvinding is wetstoepassing.” (Kepastian. Program doktor tersebut menuangkannya ke dalam paradigma ”Hukum untuk Manusia”. Program doktor ilmu hukum Universitas Diponegoro telah mencoba untuk mencairkan batas-batas yang demikian itu. Hukum harus mengikuti masyarakat dan perkembangannya. 1993). Suasana kepastian dan kekakuan abad ke-19 tidak dapat dipertahankan 1ebih lama 1agi. administrasi negara dan lain-lain). Perkembangan terakhir dalam ilmu hukum menunjukkan kecenderungan ke arah struktur yang tidak lagi terkotak-kotak secara ketat. bahwa penemuan hukum adalah penerapan hukum. telah menyelesaikan disertasinya pada program tersebut. 1995). misalnya menggugat. Belanda. is niet zo heel veel overgebleven. sejak mulai rekrutmen para calon doktor (Program doktor. insinyur dan sarjana dari ilmu-ilmu sosial. mengakhiri ilmu hukum abad ke-19. 1954). seperti diterima banyak orang di abad ke-19. tidak banyak lagi sisanya). Rotterdam. telah menerbitkan sebuah buku berjudul ”Geintegreerde rchtswetenschap” (”Ilmu hukum yang terintegrasi”. bahwa pengkotakan hukum se- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 75 .

pikiran-pikiran tentang ilmu hukum yang terintegrasi itu menolak “rule-book-model of society”. Dalam ”implicit philosophy” seperti itu. baik terhadap orang lain. maupun terhadap masyarakat sebagai keseluruhan. dunia kita dibelah oleh dua ideologi. Suatu kehidupan bersama yang benarbenar bertahan lama (duurzame samenleving) hanyalah ada manakala didasarkan pada kesadaran para anggota masyarakat terhadap asas-asas dasar dalam kehidupan bersama itu. Dengan mengutip ”implicit philosophy” Ronald Dworkin. Indonesia harus membuat pilihan. Sejak konstitusi kehidupan kita didasarkan pada visi dan kosmologi yang berbeda dengan yang menjadi dasar bagi penataan peradilan selama ini. 2006). Cara berhukum dalam peradilan yang lama bukan sesuatu yang tak dapat dirombak. Kehidupan masyarakat tidak berjalan karena mematuhi hukum yang datang dari perintah penguasa. Pembelahan tersebut didasarkan pada kosmologi yang berbeda dan yang pada 76 Bunga Rampai . tidak ada tempat bagi pemisahan klasik ke dalam hukum publik dan privat abad ke-19.cara klasik ke dalam hukum publik dan hukum privat telah kehilangan legitimasinya. maka perombakan bukan sesuatu yang ditabukan. Indonesia Memilih Sejak pengadilan dan peradilan itu tidak kedap ideologi. bukan suatu kebenaran absolut yang harus diterima dan dijalankan begitu saja. Pengkotak-kotakan ke dalam hukum perdata dan hukum pidana. mau tidak mau. Secara garis besar. Kehidupan sosial dan hubungan-hubungan dalam masyarakat dewasa ini sudah demikian rumit atau kompleksnya. tidak dapat lagi dilayani oleh pembidangan hukum secara klasik demikian itu. Perkembangan dalam ilmu pengetahuan dan ilmu hukum pada khususnya yang demikian itu. maka di tengah-tengah lalu lintas ideologi hukum di dunia ini. memberi ilham kepada kita pada waktu berpikir untuk melakukan reformasi peradilan. tidak mampu memberikan pelayanan yang baik terhadap masyarakat yang demkian kompleks itu. yaitu liberal-individual di satu pihak dan kolektif-kontekstual di pihak yang lain (Rahardjo. sehingga untuk menghadapinya.

Hukum modern yang melalui berbagai jalan. yaitu pada dasamya menolak liberalisme-individual dan menerima cara kolektif-kontekstual. “Any institution that leaves its indigenous habitat and gets transplanted to an alien culture invariably undergoes a fundamental change in the process of transplantation. Lev. Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 juga Reformasi Peradilan: Harapan dan Kenyataan 77 . Baru kalau cara ini gagal.” (Pyong-Choon. merupakan contoh yang baik tentang bagaimana kesulitan yang harus dihadapi tersebut. pada waktu menggunakan hukum modern tersebut. Bangsa-bangsa di kawasan Asia Timur. juga dirancang untuk menjaga dan mempertahankan ideologi tersebut. digunakanlah kontrak yang sudah dibuat (Parker. 1972). Indonesia telah memilih dan pilihan itu tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa di kawasan Asia Timur. di Tokyo. 1978). Dengan demikian. yang melakukan penelitian tentang cara berhukum bangsa Indonesia di pengadilan. mengalami banyak kesulitan. bangsa itu lebih mendahulukan penyelesaian secara Jepang. dengan tetap mempertahankan keJepang-annya. 1971). maka sekalian struktur. Hal yang demikian itu menyebabkan bahwa bangsa-bangsa dengan kosmologi dan cara berhukum yang beda. Sebuah survai mengenai penggunaan hukum kontrak modern di Jepang pada tahun 1970. disebut oleh PyongChoon sebagai. tetapi pada penerapannya. An institution that originally served one purpose may find itself twisted around to serve a host of totally different purposes in the adopting culture. bahwa kendatipun Jepang menerima hukum kontrak modern. Hahm Pyong-Choon. Jepang adalah salah satu bangsa di Asia Timur yang sangat siap untuk menerima penggunaan hukum modern (dan lain-lain) dari Barat. asas dan doktrin. 1984).akhirnya memunculkan cara berhukum yang beda puIa. memastikan pilihan tersebut (Lev. Penggunaan hukum modern di Korea. menyebar ke seluruh penjuru dunia. Daniel S. “medievalization of modern institutions of the West”. pada dasarnya berwatak liberalindividual. misalnya mengatakan sebagai berikut. Cara pembengkokan oleh Jepang ini disebut “the Japanese twist” (Ozak. yaitu yang mengedepankan musyawarah (“the contract could be abrogated by simply renegotiating with the other party when circumstances dictated”). menemukan.

seperti ”peradilan rekonsiliatif’.dikatakan. Maka dihadapkan kepada amanat UndangUndang Dasar. Selama ini kita terlalu berpaling ke Barat. tetapi hampir tidak pernah ke Jepang. yang berbasis nilai dan kosmologi Timur. Kalau kita melihat kepada pembelajaran hukum kita. bahwa suatu perubahan mendasar hendaknya dilakukan. yaitu agar berakar pada kosmologi dan habitat Indonesia. Pera- 78 Bunga Rampai . Sebagaimana diuraikan di muka penataan peradilan kita sekarang masih didasarkan pada ideologi liberal-individual. Fakultas-fakultas hukum kita belum dapat diandalkan untuk menjadi ”avant-garde”. menunjukkan. Reformasi peradilan sebaiknya dilakukan dengan cukup mendasar. khususnya bagian Pembukaan. Reformasi Peradilan Berdasarkan uraian di atas. maka fakultas-fakultas hukum kita masih belum memiliki kesadaran untuk berubah menuju cara berhukum di pengadilan berdasarkan pembacaan terhadap Undang-Undang Dasar kita. Sampai hari ini. baik Leiden. bahkan di waktu seperti sekarang ini. sebaiknya orientasi kita lebih seimbang. Kata-kata yang dilontarkan. atau yang lain. maka pengadilan dan peradilan kita memang membutuhkan reformasi. Beberapa penelitian dan disertasi yang ditulis pada Program Doktor Ilmu Hukum Univ. watak liberal-individual dari peradilan kita masih kuat. Di waktu-waktu mendatang. Selama ini kita hampir tidak merisaukan amanat yang dipesankan oleh Undang-Undang Dasar kepada kita. khususnya peradilan. pandangan ke Timur lebih diutamakan. bahwa memang dirasakan keperluan untuk membangun satu model peradilan lain yang lebih berakar pada kosmologi Indonesia. Dengan demikan kita kurang mendapat ilham untuk melakukan reformasi hukum. Kesenjangan tersebut menimbulkan berbagai komplikasi sewaktu hukum modern itu diterapkan. Harvard. ”peradilan restoratif’. Diponegoro memang sedikit banyak telah meyakinkan. karena memang itulah amanat Undang-Undang Dasar 1945. bahwa ”dibuat Undang-Undang Dasar yang bersifat kekeluargaan”. penataan yang demikian itu perlu dirombak secara mendasar.

Praksis yang beda tersebut mencerminkan ”perlawanan” dari suatu pikiran yang lebih mengakar pada habitat sosial asli. penggunaan hukum modern itu merupakan suatu beban bagi komunitas lokal (Tanya. pranata asli Sabu yang bersifat religius. ”Realitas obyektif komunitas masyarakat lokal di Sabu yang masih terbilang sederhana. seperti ditulis oleh Bernard L. yang memiliki struktur dan watak sosial beda. Setiap kali masyarakat setempat menjalankan praksis yang beda. tetap bekerja. ”Uku merangkum semua lapangan kehidupan.” Lebih lanjut Tanya menulis. Tanya sudah ada pranata uku.dilan di Indonesia.. Padahal. setidaknya kita tidak menghambat penyelenggaraan peradilan yang berbasis kearifan lokal Indonesia itu. 2006). kehidupan. selama enampuluh tahun lebih. karena tidak lain harus didasarkan pada asas kekeluargaan. ” Apabila kita belum mampu menata peradilan kita berdasarkan amanat Undang-Undang Dasar secara benar-benar terstruktur. karena masyarakat harus ’belajar’ lagi mengenal dan memahaminya. sewaktu dihadapkan pada penggunaan hukum modern.. sebagaimana diuraikan di muka. yang beda sekali dari pikiran sosial atau ideologi yang mendasari peradilan modern. Dikatakan oleh Tanya. lebih menuju kepada integrasi dan dengan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 79 . peristiwa hubungan-hubungan keluarga. Perkembangan ilmu hukum yang baru. ”Sebagai sesuatu yang ’baru’. Tanya. dalam arti sesuatu yang didatangkan dari luar. membuat kehadiran hukum negara sebagai sebuah inovasi terasa kian bermasalah. maka kita belum dapat menghargai apa yang dilakukan oleh masyarakat tersebut. Sejak tahun 1945. seolah-olah segala sesuatunya memang harus berjalan seperti itu. yang notabene adalah hukum modern. Dalam proses belajar ini mereka menghadapi masalah yang kompleks . Padahal pemerintah kolonial Belanda sejak semula sudah melihat risiko penggunaan peradilan modern itu bagi banyak komunitas lokal di Indonesia.. daya tarik dan manfaat yang ditawarkan lembaga/hukum negara tidak segera diterima.” Pranata yang demikan itu kemudian harus berhadapan dengan hukum nasional. sebagaimana ditulis oleh Bernard L. Di Sabu. religi. kita memiliki alasan lebih kuat untuk membangun suatu tatanan peradilan yang baru. sampai kepada kematian.

Lebih daripada itu pembagian. Ia dimulai dari perubahan paradigma. Posisi komponen-komponen peradilan yang berhadaphadapan. maka pikiran kita untuk mereformasi peradilan di Indonesia memiliki legitimasi yang tinggi. 80 Bunga Rampai . jaksa. Disinilah masyarakat ikut serta. yang antara lain diwakili oleh 1embaga-lembaga sosial. penyiapan doktrin dan asas. Sekalian pekerjaan tersebut tidak dapat hanya dibebankan kepada pengemban kekuasaan formal saja. Dengan demikian. bahwa sistem peradilan kita dan umumnya negara-negara di dunia. posisi hakim. Sudah diuraikan.demikian mengurangi pengkotak-kotakan dalam displin dan sub-disiplin. polisi. dalam sistem peradilan memerlukan penataan kembali. advokat. komponen-komponen sistem peradilan. sampai ke pengaturan baru dalam beracara. seperti dalam arsitektur peradilan sekarang. Dengan demikian. melainkan menghendaki sistem peradilan didasarkan pada asas kekeluargaan. tidak menggambarkan arsitektur kekeluargaan yang dikehendaki. Ideologi kekeluargaan menjadi penentu arah kemana tujuan reformasi peradilan negeri ini. mewarisi suatu sistem yang hakekatnya bersifat liberal-individual. melainkan menjadi hajat seluruh bangsa. Undang-Undang Dasar 1945 tidak mengikuti ideologi tersebut. juga dikehendaki untuk diubah. Pembagian ke dalam hukum publik dan privat yang selama beratus-ratus tahun diterima sebagai sesuatu yang absolut dan sakral. penggolongan dan nomenklatur lama juga digugat. Perlindungan dan penyelamatan individu serta kemerdekaan indvidu menjadi ideologi. Pembangunan suatu sistem peradilan baru tersebut merupakan pekerjaan raksasa.

Tuttle. R. ----------------------.. Craig. 246-316. Charles E. 1978. Merintis Visi Program Doktor Hukum. L.E. Rahardjo. 1957. Ozaki. R. Cornell University Press.Y. Tjeenk Willink. Vermont.Randall. A.Y. A Study of Institutional Collapse. 1989. Satjipto. Gouda Quint. Rood Pijpers. Donald. 1984. “Judicial Institutions and Legal Culture in Indonesia”. Foque. The Indonesian Supreme Court. “Komisi Yudisial untuk Hakim dan Pengadilan Progresif”.Daftar Pustaka Black. Hukum dalam Ruang Sosial. 2006. Tanya.. Sociological Justice. Geintegreerde rechtswetenschap.Norton. Pompe. Kodansha International. 1994. Paul. 1971. N.. Muhammadiyah University Press. “Algemeen deer” dari Mr. Lev. 1995. Bernard L. Cornell University. dalam Bunga Rampai Refleksi Satu Tahun Komisi Yudisial Republik Indonesia.W. Diponegoro... pp.. 1972. Surabaya. Pembebasan dan Pencerahan. Asser’s Handleiding tot de beoefening van het Nederlandsch burgerlijk recht. A Cultural Portrait. 2005. Ithaca..). hlm. N. Quirk. Ladan.Y. The Revolt of the Masses. Rutland. Seoul Hollym Corporation. Oxford University Press. dalam Culture and Politics in Indonesia (Claire Holt ed.C. & Bridwell. Ithaca. Jakarta. The Korean Political Tradition and Law.Pencarian. Zijderveld (red. The Japanese Police System Today. 297-328. An American Perspective. Surakarta. Ilmu Hukum . Zwolle. 1997. 1954.). Pyong-Choon. Program Doktor Ilmu Hukum. Semarang. 2006.. - - Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 81 . Hahm. The Japanese. Komisi Yudisial RI. Parker. Tokyo. Rene. Scholten. Daniel S. Jose Ortega. New Brunswick. Transaction Publishers. W. 2004.J. Sebatiaan. William J. Penerbit Srikandi. Jr. Robert S. W. Judicial Dictatorship. Program Doktor Ilmu Hukum Univ. Y Gasset. E. N. Arnhem.

82 Bunga Rampai .

Dengan demikian Badan ini turut mempersiapkan Calon Hakim Agung yang berkualitas. Pada perubahan ketiga Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa Calon Hakim Agung diusulkan oleh Komisi Yudisial kepada DPR untuk mendapat persetujuan guna ditetapkan sebagai Hakim Agung oleh Presiden. 4 Tahun 2004 ditentukan bahwa kekuasaan Kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila demi terselenggaranya Negara Hukum RI. M.H.Peran Hakim Agung Dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding) dan Penciptaan Hukum (Rechtsschepping) Pada Era Reformasi dan Transformasi M. S. Sesuai Undang-undang No. Oleh karena itu Komisi Yudisial berwenang untuk mengusulkan pengangkatan Hakim Agung (Pasal 24B ayat (1)). Tugas hakim/badan peradilan sebagai penyelenggara kekuasaan Kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan Badan Peradilan yang berada dibawahnya dan sebuah Mahkamah Konstitusi.. Putusannya bersifat mengikat apabila telah berkekuatan hukum tetap. Hatta Ali. Dalam pasal 1 UU No. Pendahuluan Dalam suatu negara hukum maka setiap sengketa hukum atau perkara diadili dan diputus oleh suatu Badan Kekuasaan Kehakiman. 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-undang No. Institusi yang bersifat mandiri. merdeka serta netral yang diberi otoritas dan kewibawaan untuk secara bebas mempertimbangkan segala sesuatunya secara adil dan obyektif serta tidak memihak. 14 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 83 .H.

yang menyebabkan terhambatnya upaya mewujudkan penegakan hukum. yaitu mengelola administrasi. mengadili dan memutuskan suatu perkara yang diajukan kepadanya dengan dalih bahwa hukumnya tidak ada atau kurang jelas. Dalam menjalankan fungsi tersebut.Tahun 1985 Tentang Mahkamah Agung. keuangan dan organisasinya sendiri. Mahkamah Agung memiliki beberapa fungsi. hakim sering dihadapkan kepada suatu ketentuan yang belum diatur. hakim wajib menggali hukum tidak tertulis untuk memutus berdasar hukum. Maksudnya adalah jika tidak ditemukan hukum tertulis. yaitu: 1) 2) Fungsi mengadili. Di lain pihak hakim/badan peradilan tidak boleh menolak untuk memeriksa. Pokok Masalah Dasar hukum peran hakim dapat dilihat pada pasal 28 84 Bunga Rampai . yaitu membina dan mengawasi peradilan dan hakim dibawahnya. disebabkan karena terhambatnya upaya mewujudkan sistem hukum nasional yang mantap. yaitu memberikan nasehat hukum kepada Presiden dalam hal permohonan grasi dan rehabilitasi serta memberi pertimbangan hukum ke lembaga tinggi negara lain. 3) 4) 5) 6) Fungsi administrasi. Fungsi memberi nasehat dan pertimbangan hukum. Fungsi menguji peraturan perundang-undangan. Produk peraturan perundang-undangan selalu tertinggal dengan dinamika perubahan yang terjadi. yaitu memeriksa dan memutus perkara permohonan kasasi dan peninjauan kembali. Dalam fungsi mengadili. yaitu untuk mengisi kekosongan hukum. hakim sering dihadapkan pada suatu ketentuan yang belum diatur. yaitu untuk menilai apakah suatu peraturan perundang-undangan bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Banyak peraturan perundang-undangan warisan kolonial maupun yang baru tidak sesuai dengan perkembangan masyarakat yang penuh dengan dinamika perubahan dan semakin kompleks. Fungsi membina dan mengawasi. Fungsi pengaturan.

Jika tidak dapat dijalankan menurut arti katanya. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana cara Hakim Agung menggali dan menemukan sesuatu yang dapat menjadi hukum? Institusi Mahkamah Agung yang merupakan instrumen dalam upaya menegakkan hukum dan kebenaran agar tidak terpaku pada peraturan perundang-un- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 85 . Yang kedua hukum harus berperan sebagai titik tolak kegiatan (center of action). Henry. hakim wajib menafsirkan sehingga dibuat suatu putusan yang adil dan sesuai dengan maksud hukum yaitu adanya kepastian hukum. Lalu yang terakhir bahwa perlakuan kepada semua orang adalah sama dimuka hukum (equality before the law). “Menggali” berarti hakim harus terjun ketengah-tengah masyarakat untuk mengenal.ayat (l) Undang-undang No. Namun agar hakim agung dalam melaksanakan perannya sebagai benteng terakhir penegakan hukum harus didukung pula adanya kemauan politik negara untuk menegakkan supremasi hukum yang berarti bahwa hukum bertindak sebagai panglima. Pertama adalah hukum harus berperan sebagai panglima. Sebagai institusi. P 2002:12). Mahkamah Agung tidak boleh berhenti melakukan inovasi terhadap berbagai ketertinggalan peraturan perundang-undangan yang tidak sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Supremasi Hukum di dalam negara hukum mempunyai 3 (tiga) ciri (menurut Muchsan . sehingga penegakan hukum (law enforcement) dapat diwujudkan tanpa memandang suku/agama/ ras/golongan. Dengan kata lain.dikutip dari Panggabean. Maksudnya adalah supremasi hukum merupakan pilar negara hukum. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman menyatakan “Hakim wajib menggali. Yang berarti bahwa perbuatan hukum oleh penguasa atau individu harus dapat dikembalikan kepada hukum yang berlaku. merasakan dan mampu menyelami perasaan hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. tugas penting dari hakim adalah menyesuaikan undangundang dengan perkembangan yang hidup di dalam masyarakat. Seluruh komponen masyarakat sampai kepada penguasa tunduk sepenuhnya kepada hukum. mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat”.

Oleh karena hakim (secara general) merupakan perumus dan penggali dari nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat. Sehingga dapat memberi putusan yang sesuai dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat. sekalipun peraturan perundangundangan tidak dapat membantunya. hasil penemuan hukum oleh hakim merupakan sumber hukum juga (yurisprudensi). mengadili dan memutuskan suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas. maka Hakim Agung harus memahami jalan keluar melalui penemuan hukum (Rechtsvinding). Hasil penemuan hukum oleh hakim merupakan hukum karena mempunyai kekuatan mengikat sebagai hukum karena dituangkan dalam bentuk putusan. merasakan dan mampu menyelami perasaan hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. 86 Bunga Rampai .dangan yang telah usang. maka seharusnya dapat mengenal. Juga sebagai pengadilan tingkat terakhir diharapkan mampu melahirkan putusan-putusan (yurisprudensi) yang inovatif yang sesuai dengan rasa keadilan masyarakat. hakim harus bertindak berdasar inisiatifnya untuk menyelesaikan perkara. Disamping itu. Oleh karena hukumnya tidak lengkap dan tidak jelas. Apabila peraturan perundang-undangan yang belum jelas atau belum mengatur. Hakim selalu dihadapkan pada peristiwa konkrit. mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat. Sistem hukum Indonesia tidak menentukan jenis klasifikasi yurisprudensi tertentu untuk dijadikan sumber hukum. Konflik atau kasus yang harus diselesaikan atau dipecahkan dan untuk itu perlu dicarikan landasan hukumnya. Tidak ada peraturan perundang-undangan yang lengkap dan jelas. Dalam arti menentukan apa yang merupakan hukum. Hakim Agung sebagai penegak hukum dan keadilan wajib menggali. Jadi dalam penemuan hukum yang penting adalah bagaimana mencari atau menemukan hukumnya untuk peristiwa konkrit. melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadili” merupakan antisipasi bahwa tidak ada peraturan perundang-undangan yang dapat mencakup keseluruhan kehidupan manusia. Pembahasan Bertitik tolak dari pandangan bahwa “Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa.

sekalipun hakim dapat menafsirkan. Kedua klasifikasi yurisprudensi itu memerlukan kriteria sendiri agar dengan cara itu dapat ditelusuri sejauh mana hubungan kedua klasifikasi yurisprudensi itu dalam proses penegakan hukum. Artinya adalah. penafsiran berdasarkan sejarah peraturan perundang-undangan yang bersangkutan. Mengikuti sistematika J. penafsiran sistematik.tetapi dalam praktek peradilan dikenal adanya klasifikasi yurisprudensi biasa dan yurisprudensi tetap. namun tidak ada ketentuan perundang-undangan yang berlaku yang dapat diterapkan. Pontier (dikutip dari Bagir Manan 2004:73). penafsiran teleologis.A. harus menguasai metode yang dapat dipergunakan. Dengan uraian di atas dapat dikatakan bahwa kriteria yurisprudensi tetap adalah telah mentransformasi secara konstan hukum yang hidup dalam suatu masyarakat dan telah diikuti oleh berbagai putusan sebelumnya. didapat bermacam-macam metode penafsiran (penafsiran berdasarkan tata bahasa atau ilmu bahasa. yaitu: 1. sehingga yurisprudensi tetap tersebut telah melakukan penciptaan hukum (rechtsschepping). penafsiran berdasarkan sejarah hukum. kaidah hukum atau ketentuan dalam suatu keputusan kemudian diikuti secara konstan atau tetap oleh para hakim dalam putusannya dan dapat dianggap menjadi bagian dari keyakinan hukum yang umum. Sudikno Martokusumo (2001:52) memberikan 2 (dua) kategori. Penafsiran atau interpretasi adalah usaha memberi makna suatu atau sejumlah kaidah hukum agar dapat diterapkan secara wajar dalam memecahkan suatu persoalan hukum. didalam suatu perkara di pengadilan. bahwa dalam putusan hakim ditemukan adanya kaedah hukum yang dapat dianggap sebagai . penafsiran antisipatif dan penafsiran dinamika-evolutif).landmark decision karena kaidah hukum itu diterima masyarakat luas sebagai terobosan yang nyata atas suatu konflik hukum yang sudah lama berlangsung. sebagai yurisprudensi tetap. Sebagai Hakim Agung. 2. maka keadaan ini Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 87 . juga tidak ada ketentuan dalam hukum kebiasaan dan hukum adat yang dapat diterapkan. Yang kedua adalah konstruksi hukum. yaitu melalui penerapan hukum penafsiran dan konstruksi hukum.

menurut pendapat hakim yang bersangkutan bahwa pengertian hukum itulah yang menjadi dasar. Dengan kata lain. Berdasar beberapa ketentuan yang mempunyai persamaan. Konstruksi hukum ini terdiri dari analogi (hakim memperluas penerapan hukum pada keadaan atau peristiwa yang tidak secara eksplisit disebut dalam ketentuan yang berlaku). keadilan. wajar dan tidak berlebihan). hakim wajib memilih kepatutan. hakim membuat suatu pengertian hukum (rechtsbegrip). penghalusan hukum Rechtsvervijning (suatu kaedah hukum dapat dirasakan terlalu keras pada saat diterapkan pada keadaan konkrit tertentu. Hakim bukanlah mulut undang-undang atau mulut hukum positif pada umumnya. Seseorang memiliki sebidang tanah. serta Argumentum a contrario (mempersempit jangkauan berlaku suatu peraturan perundang-undangan). Walaupun demikian apabila hakim dihadapkan pada pilihan antara ketentuan hukum tertulis dengan hukum tidak tertulis. Kenyataan yang bersangkutan menempati sebidang tanah dengan cara-cara yang dibenarkan oleh tradisi yang berlaku disekelilingnya.(dikutip dari Bagir Manan 2004:64) adalah “masyarakat konkrit”.mulai menyangkut pada keadaan kekosongan hukum dalam sistem formil hukum. hakim atau siapapun juga yang menerapkan 88 Bunga Rampai . sehingga memerlukan penghalusan agar tetap terasa adil. apabila bertahun-tahun akan diakui telah menimbulkan hubungan hak atas tanah tersebut. Apabila penerapan aturan hukum akan bertentangan. Termasuk dalam perkara-perkara perdata. Demikian pula hakim tidak sekedar menerapkan bunyi suatu perjanjian yang merupakan undang-undang bagi pihak-pihak yang membuatnya. dibuktikan dengan pohon-pohon yang ditanam oleh orang tuanya dan seterusnya. Hakim adalah mulut kepatutan. kepentingan umum dan ketertiban umum. Segala hubungan dan peristiwa hukum dinyatakan dalam wujud yang nyata. Hingga saat ini sebagian masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat formalistik. hakim harus mencari dan menemukan kebenaran materiil. kepentingan umum dan ketertiban umum. keadilan. Asas ini menunjukkan bahwa sebagai Hakim Agung tidak boleh semata-mata mencari dan menemukan kebenaran formal. Masyarakat Indonesia meminjam pendapat Holleman .

ekonomi dan hukum. Juga hubungan kelamin diluar nikah laki-Iaki dewasa dan perempuan dewasa atas dasar suka sama suka. Mengutamakan atau mendahulukan hukum tidak tertulis dilakukan apabila ketentuan hukum tidak tertulis merupakan suatu yang tumbuh kemudian sebagai koreksi atau penafsiran terhadap suatu ketentuan hukum tertulis. yang oleh yurisprudensi diperluas menjadi asas pengasingan (vervreending) tidak memutuskan sewa-menyewa. Mengutamakan atau mendahulukan hukum tertulis apabila diketahui atau secara rasional dipahami bahwa ketentuan hukum tertulis merupakan pembaharuan terhadap hukum tidak tertulis atau terjadi transformasi ketentuan hukum tidak tertulis menjadi hukum tertulis. Hakim Agung harus mampu menghasilkan putusan-putusan yang mengarah kepada pembaharuan penemuan hukum berupa yurisprudensi. Pada situasi ini. Contoh kasus adalah pengertian “barang” dalam pidana pencurian termasuk pencurian listrik. sehingga termasuk hibah. pewarisan. Namun penerapan ini harus mempertimbangkan hal-hal berikut: a. Program reformasi hukum harus digulirkan secara bersama-sama oleh seluruh anggota masyarakat. yang berhadapan dengan ketentuan hukum positif yang menyatakan tidak ada kasasi untuk praperadilan. Serta ketentuan “Jual beli tidak memutuskan hubungan sewa-menyewa”. Lalu pengertian “Onrechtmatigedaad” hanya dapat dipahami setelah mempelajari yurisprudensi (Arrest H. dan lain-lain bentuk pengasingan. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tidak mengatur.R. Jadi reformasi itu timbul secara simultan mencakup aspek kehidupan bernegara di bidang politik. Pada era reformasi mengandung arti perubahan untuk perbaikan. dimana laki-Iaki si pelaku tidak mau bertanggung jawab ketika perempuan tersebut hamil. harus mengutamakan atau mendahulukan ketentuan hukum tertulis.hukum. Koreksi merupakan kenyataan hukum yang hidup dalam masyarakat dan dapat terjadi karena hukum tertulis telah usang atau ada kekosongan tertentu dalam ketentuan hukum tertulis. tetapi berdasar hukum Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan b. Kemudian makin banyak putusan Mahkamah Agung yang menerima permohonan kasasi praperadilan. 1919). 89 .

yang meliputi 3 (tiga) unsur yaitu: keadilan (gerechtigkeit). Mahkamah Agung sendiri dalam instruksinya Nomor KMA/015/lnst/VI/1998 tanggal 1 Juni 90 Bunga Rampai . Paparan kedua kasus di atas. Putusan Mahkamah Agung dalam kasus Kedung Ombo pada pokoknya melebihi daripada ganti rugi yang dimohon para penggugat. terutama antara unsur keadilan dengan kepastian hukum yang bisa saja saling bertentangan. Ketiga unsur ini harus dipertimbangkan Hakim dan diterapkan secara proporsional. 6 Tahun 2004. tetapi ketika KPUD Depok mengajukan permohonan peninjauan kembali (PK) ke Mahkamah Agung terhadap putusan Pengadilan Tinggi Bandung tersebut pada akhirnya Mahkamah Agung dalam putusannya mengabulkan permohonan Peninjauan Kembali dari KPUD Depok dan membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Bandung. yaitu dalam kasus “Kedung Ombo” di Jawa Tengah dan kasus sengketa pemilihan kepala daerah (Pilkada) Depok. Dalam implementasinya terkadang tidak mudah untuk mensinergikan ketiga unsur tersebut. sehingga pada gilirannya dapat dihasilkan putusan yang berkualitas dan memenuhi harapan para pencari keadilan. Menurut Gustav Radbruch (dikutip dari Bambang Sutiyoso 2006: 6) idealnya putusan harus memuat idee des recht. Sedangkan dalam kasus Pilkada Depok apabila menoleh pada pasal 106 ayat(7) Undang-undang No. sehingga mestinya tidak ada upaya hukum lagi yang dapat digunakan. kepastian hukum (rechtsicherheit) dan kemanfaatan (zwechtmassigkeit). 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah No. sangat relevan menggambarkan adanya benturan-benturan antara aspek kepastian hukum dengan keadilan.adat merupakan perbuatan yang tidak patut untuk dilakukan dan harus diberi sanksi. Kasus yang relevan untuk menggambarkan adanya kemungkinan benturan antara aspek keadilan dan kepastian hukum. tetapi hakim dilarang menjatuhkan putusan atas hal-hal yang tidak dituntut atau mengabulkan putusan lebih dari pada yang dituntut”. padahal pasal 178 ayat (3) HIR berbunyi: “Hakim wajib mengadili seluruh bagian gugatan. Tetapi sayangnya putusan Mahkamah Agung tersebut pada tingkat peninjauan kembali telah dikoreksi/ diperbaiki. ditafsirkan putusan Pengadilan Tinggi bersifat final dan mengikat.

Selain itu fungsi Pengaturan Mahkamah Agung diperlukan bagi kelancaran penyelenggaraan peradilan apabila terdapat hal-hal yang belum cukup diatur dalam undang-undang atau terdapat kekurangan. Fungsi pengaturan ini ternyata sangat efektif memperlancar jalannya peradilan. terutama dalam hukum acara sebagai pelengkap untuk mengisi kekurangan dan kekosongan tadi. filosofis (berintikan rasa keadilan dan kebenaran). 1 Tahun 1980 telah digunakan menampung perkara peninjauan kembali karena pada saat itu belum ada peraturan pasal 21 UU No. sosiologis (sesuai dengan tata nilai budaya yang berlaku dalam masyarakat). keseluruh jajaran peradilan yang isinya merupakan bimbingan dalam penyelenggaraan peradilan yang lebih bersifat administrasi.1998 menginstruksikan agar para hakim memantapkan profesionalisme dalam mewujudkan peradilan yang berkualitas. 1 Tahun 1977 (tentang permohonan kasasi) telah menjadi sarana hukum yang menentukan masuknya perkara peradilan agama dan militer ke tingkat perkara kasasi oleh Mahkamah Agung. 14 Tahun 1970 tentang Undang-undang Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 91 . PERMA No. PERMA No. 2. Dalam setiap penemuan hukum seyogyanya putusanputusan badan peradilan disosialisasikan dengan memberi kesempatan kepada publik untuk mengakses putusan-putusan tersebut. Bentuk pengaturan itu dikenal dalam 2 (dua) bentuk produk yaitu: 1. atau kekosongan hukum dengan menerbitkan Surat Edaran atau Peraturan Mahkamah Agung. Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) yaitu suatu bentuk peraturan dari Mahkamah Agung ke seluruh jajaran peradilan tertentu yang isinya merupakan ketentuan bersifat hukum beracara. serta logos (dapat diterima akal sehat). dengan menghasilkan putusan hakim yang eksekutable berisikan ethos (integritas). Sebelum ada ketentuan KUHAP dan Undang-undang. pathos (pertimbangan yuridis yang utama). Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) yaitu satu bentuk edaran dari pimpinan Mahkamah Agung. Dengan akses ini mendorong para hakim membuat putusan yang berkualitas dan diterima oleh masyarakat sebagai hukum yang hidup dalam masyarakat. demi terciptanya kemandirian para penyelenggara kekuasaan kehakiman.

moral dan karakter yang baik. 1 Tahun 2000 tentang paksa badan dapat dijadikan contoh tentang efektifitas Fungsi Pengaturan Mahkamah Agung mendukung penegakan hukum khususnya untuk mengatasi kebutuhan hukum acara yang saat ini sangat diperlukan menghadapi perilaku para debitur nakal yang sengaja menghindar dari kewajiban melunasi hutang-hutangnya. 5. Pada dasarnya Hakim Agung yang baik bukan sekedar menguasai hukum positif melainkan mengusai pula dengan baik berbagai teori dan doktrin hukum.Pokok Kekuasaan Kehakiman. 6. PERMA No. 4. Yang tidak kalah pentingnya suatu hal yang perlu diperhatikan fungsi pembentukan hukum itu sendiri harus memperhatikan kesadaran hukum masyarakat dan tidak tertutup kemungkinan bahwa hukum menciptakan pola-pola baru di dalam masyarakat sehingga pada akhirnya menciptakan kesadaran hukum baru sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan. memiliki integritas. pengalaman yang memadai. yang dapat digunakan oleh aparat penegak hukum di lingkungan peradilan. Kesimpulan 1. Masyarakat berkepentingan atas keputusan hakim itu karena masyarakat menginginkan adanya keseimbangan tatanan dalam masyarakat. Dalam melakukan penemuan hukum hakim menggunakan metode penafsiran dan konstruksi hukum. 3. 92 . Bahwa setiap putusan pengadilan harus mengandung unsur kemanfaatan bahwa isi putusan itu tidak hanya bermanfaat bagi pihak berperkara tapi juga bagi masyarakat luas. Perekrutan Hakim Agung harus memiliki kemampuan di bidang hukum. Hakim Agung harus mengisi kekosongan hukum atau hukumnya tidak jelas dengan melakukan penemuan hukum (Rechtsvinding) yang pada gilirannya akan menjadi yurisprudensi tetap menuju penciptaan hukum Bunga Rampai 2. Meningkatkan kualitas hakim dalam melakukan penemuan hukum baru melalui putusan-putusan pengadilan (yurisprudensi) yang digunakan sebagai dasar pertimbangan hukum.

Meningkatkan mekanisme pertanggung jawaban lembaga pengadilan kepada publik dengan kemudahan akses masyarakat untuk memperoleh putusan pengadilan dan publikasi terhadap setiap pengambilan putusan. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 93 . 8. Fungsi Pengaturan Mahkamah Agung berupa Surat Edaran dan Peraturan Mahkamah Agung masih diperlukan guna mengisi kekosongan hukum khususnya hukum acara. 7.(Rechtsschepping).

A . Otje dan Susantho. PT Alumni Panggabean. Henry P -. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung Undang-undang No. 2006. Penemuan Hukum Sebuah Pengantar. 1993. Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum. Pengantar Ilmu Hukum.. Beberapa aspek Sosiologi Hukum. cetakan pertama. Hukum Positif Indonesia. Fungsi Mahkamah Agung Bersifat Pengaturan (Rule Making Power) Tahun 19662003. Liberty Yogyakarta Panggabean. FH UH Press Salman. L. edisi kedua cetakan kedua. cetakan kesatu. edisi pertama. Sudikno dan Pitlo. Anton . Liberty Yogyakarta Sutiyoso. Noordhoff . Henry P-. 1957. 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman Undang-undang No.J . 2005. Bambang-. 8 tahun 2004 tentang Peradilan Umum Undang-undang No. Bagir -. 2002. Transisi Di Bawah Bayang-Bayang Negara Manan. Metode Penemuan Hukum. UH Press Yogyakarta Ketentuan Peraturan Perundang-undangan Undangundang Dasar 1945 dan Perubahannya Kitab Undangundang Hukum Pidana Kitab Undang-undang Hukum Perdata Undang-undang No. 5 tahun 2004 tentang Perubahan terhadap Undang-undang No. 2004.cetakan pertama. 22 tahun 2004 tentang Komisi Yudisial - - 94 Bunga Rampai . Fungsi Mahkamah Agung Dalam Praktik Sehari-hari. 2001.cetakan kedua. 1 tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana Undang-undang No. Citra Aditya Bakti Mertokusumo. 2002. edisi pertama cetakan pertama. Pustaka Sinar Harapan Komisi Hukum Nasional -. 2004.Kolff N.Daftar Pustaka Van Apeldoorn. Sudikno -.V Mertokusumo. cetakan kedua. PT.

khususnya di dalam suatu masyarakat yang sedang membangun. Peranan hukum * Guru Besar Hukum Pidana Universitas Padjadjaran Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 95 . telah menjadi kenyataan. Di dalam era transformasi dan informasi. seperti itu permasalahan-permasalahan di dalam masyarakat menjadi lebih rumit dan kompleks. DR. Perjanjian-perjanjian internasional dan dampak ratifikasi konvensi internasional.Hakim Agung dan Penemuan Hukum (Rechtsvinding) Pada Era Reformasi dan Transformasi Hukum Prof. lebih mengentalkan kenyataan bahwa hukum nasional suatu negara tidak dapat secara mutlak berdiri sendiri tanpa menghiraukan perkembangan-perkembangan yang terjadi di dunia internasional.* Latar Belakang Pernyataan-pernyataan bahwa dunia seakan-akan tidak lagi mengenal batas-batas wilayah Negara. terlebih lagi ketika perkembangan teknologi yang semakin canggih. Arus informasi menyebabkan permasalahan di dalam suatu negara dapat dibaca bagaikan dalam buku terbuka.H. “Apabila kita teliti maka semua masyarakat yang sedang membangun dicirikan oleh perubahan bagaimanapun kita mendefinisikan pembangunan itu dan apapun yang kita pergunakan bagi “masyarakat dalam pembangunan. Komariah Emong Sapardjaja. Perkembangan di dalam masyarakat ini juga mempengaruhi perkembangan hukum di suatu negara. Suatu negara bahkan tidak dapat mengisolasi dirinya dari pergaulan internasionnal. S.

melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya”. bayi tabung. Khususnya bagi persoalan-persoalan yang menjadi kasus konkrit yang dihadapkan kepada seorang hakim untuk mendapatkan penyelesaian.3. dalam kebebasannya. Bagaimanakah syarat-syarat suatu penemuan hukum (rechtsvinding) dan pembentukan hukum (rechtsschepping)? Sejauh manakah hakim. 2. maka seorang hakim “tidak boleh menolak untuk memeriksa. melakukan penemuan hukum sehingga tidak melakukan kesewenang-wenangan hukum yang pada akhirnya justru 1 2 3 Mochtar Kusumaatmaja. 4 tahun 2004 Tentang Kckuasaan Kehakiman 96 Bunga Rampai . dan mungkin banyak lagi masalah-masalah di dalam masyarakat yang perlu mendapat pemecahan hukumnya.3 (psl. kejahatan cyber. kloning. 1976. dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas. Ibid Lihat pasal 16 Undang-undang Republik Indonesia No.dalam pembangunan adalah menjamin bahwa perubahan itu terjadi dengan cara yang teratur”1 Selanjutnya dikatakan juga oleh Mochtar Kusumaatmadja bahwa: “Ada anggapan yang boleh dikatakan hampir merupakan keyakinan bahwa perubahan yang teratur demikian dapat dibantu oleh perundang-undangan atau keputusan pengadilan atau kombinasi dari kedua-duanya”. Bandung. hlm. Lcmbaga Penelitian Hukum dan Kriminologi Universitas Padjadjaran. misalnya. Pokok Masalah 1. Pembinaan Hukum Dalam Rangka Pembangunan Hukum Nasional. kejahatan terhadap kemanusiaan.2 Tetapi selalu saja terjadi bahwa ‘undang-undang ketinggalan dari kenyataan-kenyataan masyarakat’ (het recht hink achter de feiten aan‘). dalam kasus-kasus yang terjadi dalam masyarakat yang sedang bereformasi dan transformasi. 6 UUPK) Disinilah letak peran hakim (Agung) dalam penemuan hukum (rechtsvinding) dan pembentukan hukum (rechtsschepping). Beberapa contoh mengemuka yang menjadi pemikiran dari para ahli hukum sekarang. mengadili.

Arief Sidharta. Ia berkenaan dengan pertanyaan-pertanyaan hukum.16 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 97 . Penemuan hukum diarahkan pada pemberian jawaban terhadap pertanyaanpertanyaan tentang hukum dan hal pencarian penye1esaianpenyelesaian terhadap sengketa-sengketa konkrit.4 Sudikno Mertokusumo mengatakan “Apa yang dimaksud dengan penemuan hukum lazimnya adalah proses pembentukan hukum oleh hakim. 2001. berkenaan dengan hal menemukan penyelesaian dan jawaban berdasarkan kaidah-kaidah hukum. 1. Liberty. Rechtsvinding. hlm. atau ketidakmanfatan? Pembahasan Masalah 1. diterjemahkan oleh B.menimbulkan ketidakadilan. Pontier mendefinisikan penemuan hukum sebagai ‘sebuah reaksi terhadap situasi-situasi problematikal yang dipaparkan orang dalam peristilahan hukum’.6 Asumsi dasar yang melandasi penemuan hukum tersebut adalah berkaitan dengan pengakuan bahwa tidak semua hukum dapat ditemukan dalam undang-undang. Terkait padanya antara lain diajukan pertanyaan-pertanyaaan tentang penjelasan (tafsiran) dan penerapan aturan-aturan hukum.A. Yogyakarta. secara cermat dan teliti mengemukakan bagaimana terhadap situasi-situasi problematik tertentu seyogyanya harus diberikan reaksi.7 4 5 6 7 J. hlm.Pontier.A. Penemuan hukum.A. hlm. konflik-konflik hukum atau sengketa-sengketa yuridis. 2001. hlm. atau aparat hukum lainnya yang ditugaskan untuk penerapan peraturan hukum umum pada peristiwa hukum konkrit”.5 J. Penemuan Hukum. Pontier. yang lebih atau kurang. Ibid. pandangan tentang penemuan hukum yang dikemukakan oleh Paul Scholten memperoleh banyak pengikut. Arti penemuan hukum dan mengapa (seringkali) diperlukan Rechtsvinding menjadi sangat terkenal terutama setelah perang dunia kedua. Labotatorium Hukum Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan. Bandung. 95 Sudikno Mertokusumo. J. dan pertanyaan-pertanyaan tentang makna dari fakta-fakta yang terhadapnya hukum harus diterapkan. 37. op cit. ketidakpastian.

.. geeft er aan hun zin. Kehidupan sosial yang mereaksi kata-kata ini. 17. De delictsomscrijvingen vormen ten opzichte van de gedragsnormen veeler deelstukken van het geheel. dalam Komariah Emong Sapardjaja.Hal tersebut telah mengemuka sejak lama. dan apabila dilanjutkan dengan kata-kata dan Suijling:9 “… behoort hij de abstract geredigeerde wet met de prescripten der volksmoraal aan te vullen en dus altijd de gerechtigheid te oefenen. hakim harus melengkapi undang-undang yang dirumuskan secara abstrak dengan ketentuan-ketentuan dari moral rakyat.H. Hukum pidana mempertahankan norma-norma secara fragmentaris]. [. dat op deze woorden reageert. membuat kata-kata ini.Bregstein. Het strafrecht handhaaft de materiele norm jragmentarisch” [Norma-norma perilaku yang tersirat dalam perumusan delik bukan pencerminan yang mencakup seluruh noma-norma materiel. Bandung. hlm. [Pembuat undang-undang melahirkan kehendaknya dengan kata-kata. tanda-tanda mati itu menjadi hidup. hlm. Schaffmeister10 menyatakan: “De in delictsomschrijvingen geimpliceerde gedragsnormen zijn geen omvattende weersplegelingen van de gehele materiele norm. seperti dikatakan oleh Bregstein8 yang berpendapat: “In woorden belichaamt de wetgever zijn will. Perumusan delik lebih banyak membentuk bagian-bagian daripada merumuskan keseluruhan norma perilaku. de dode teksten. dan karena itu selalu menyelenggarakan keadilan. hlm. di mana sangat ditentukan oleh unsur-unsur yang terdapat di dalam perumusan deliknya. memberikan pada kata-kata itu arti]. 16 Ibid. brengt deze woorden. Het maatschappelijk leven. Ajaran Sifat Melawan Hukum Materiel dalam Hukum Pidana Indonesia. Hanya katakata itulah yang berhak atas wibawa yang mutlak. 8 9 10 M. Alumni. tot leven. 22 98 Bunga Rampai . Ibid. Slechts die woorden hebben aanspraak op absoluut gezag. yang adanya dijamin oleh undang-undang bersama dengan moral rakyat untuk melindungi para pencari keadilan. Dalam hukum pidana yang sangat legistis karena secara fundamental didasarkan pada prinsip legalitas. welke de wet in vereneging met de volksmoraal aan de Justitiabelen waarborgt”.

34 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 99 . teleologis. teknik penemuan hukum lain berupa: i. antara lain: a. evolutif dinamikal) b. Menurut Pontier12. sejarah undang-undang. interpretasi restriktif dan interpretasi ekstensif c. penerapan atau penafsiran undang-undang secara rasional ii. (penulis tidak akan menguraikan secara mendalam tentang metode interpretasi karena dalam pelajaran tentang Pengantar Ilmu Hukum telah diperkenalkan metode penafsiran berupa penafsiran gramatikal. metode interpretasi. penimbangan kepentingan e. op. hlm. penemuan hukum dapat dilakukan melalui metode. seringkali undang-undang tidak dapat lagi mengantisipasi perkembangan itu. Teknik/metode penemuan hukum dan kebebasan hakim Penemuan hukum dapat dilakukan melalui beberapa cara/teknik/metode.Dengan demikian. Motivering vonnis Walaupun demikian hakim tidaklah sebebas-bebasnya dapat menggunakan seluruh metode penemuan hukum 11 12 Ibid. Oleh karena itu Bregstein11 pernah mengatakan: “Tegenover de worden der wet komt hem echter een vrijheid toe. Hij is dus niet ‘la bouche de la loi’. hlm. sejarah hukum. di dalam situasi masyarakat dengan tingkat perkembangan di segala bidangnya sangat tinggi dan kompleks. sistematis.cit. tenzij men daaronder verstaat ‘la bouche de l’esprit de la loi’ [Terhadap kata-kata undang-undang penerap undang-undang memiliki suatu kebebasan yang luas. tetapi disinilah letak peranan hakim selaku penjaga hukum dan keadilan memainkan peranannya. 16 Pontier. penghalusan hukum. Jadi dia bukanlah ‘mulut undang-undang’ tetapi ‘mulut jiwa undang-undang’]. antisipatif. penalaran hukum d. 2.

Pertama hendaknya diperhatikan landasan/ norma hukum yang menjadi dasar kasus tersebut (dalam perkara perdata biasanya dapat dilihat dari dasar-dasar gugatan yang diajukan oleh pihak penggugat sedangkan dalam perkara pidana dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum. van der Veen. Khususnya penemuan hukum yang hanya didasarkan pada nalar hakim saja dapat menimbulkan kesewenangwenangan terhadap undang-undang itu sendiri. sedangkan dalam perkara tata usaha negara dapat dilihat dari permohonan pemohon).13 Juga Jescheck14 mengingatkan bahwa penafsiran bisa jadi akan sangat melebar. Dengan menggunakan penafsiran sosiologis dan teleologis. 47 Ibid. apabila melihat kepada kecanggihan alat-alat yang digunakannya. hIm. di mana dijelaskan bahwa hatzaai artikelen yang menjadi dasar dakwaan sudah tidak sesuai lagi dengan semangat reformasi. terjemahan oleh Tristam Moeliono dan DR. 2003. yang biasanya diperoleh dari fakta yang terungkap di muka persidangan. hakim dapat melakukan penafsiran.Marjanne Termorshuizen. barulah hakim dapat menemukan hukum yang harus dikemukakan dalam putusan yang definitif. Demikian juga dalam kasus BNI 46 New York. 13 14 J.M. Di bidang hukum pidana.J. dalam Jan Remmelink.M. padahal tujuan akhir dari setiap aturan hukum pidana adalah perlindungan tertib hukum. hlm. J. telah memperingatkan bahaya penggunaan logika secara berlebihIebihan dalam upaya menerangkan undang-undang. Selain itu harus diperhatikan pula fakta konkrit yang diperoleh dari dasar penyelidikannya. Penemuan hukum dengan menggunakan metode seperti itu ditemukan dalam kasus Mochtar Pakpahan.van der Veen. Jakarta. pasal 362 KUHP tidak mungkin dapat diterapkan.tersebut untuk menyelesaikan kasus konkrit yang dihadapkan kepadanya. Barulah apabila undang-undang yang menjadi dasar kasus tersebut tidak jelas. Gramedia.J. 54 100 Bunga Rampai . Pertama-tama hendaknya digunakan penafsiran gramatikal. dan dilanjutkan dengan penelusuran sejarah perundang-undangan untuk mengetahui maksud dari pembuat undang-undang tentang diterbitkannya undang-undang tersebut. Hukum Pidana.

6. bahwa hakim adalah pejabat yang melakukan kekuasaan kehakiman yang diatur dalam Undang-undang (pasal 31). profesional. dan wajib menjaga kemandirian peradilan (pasal 33) Khusus berkenaan dengan Mahkamah Agung. non. 4. Dilaksanakan sesuai dengan prinsip ne bis in idem – pasal 6 ayat (1). cepat. dan berpengalaman di bidang hukum (pasal 32). Prinsip-prinsip penyelenggaraan peradilan dan Kedudukan serta Peranan Hakim Agung Prinsip penyelenggaraan peradilan telah ditetapkan dalam Undang-undang Republik Indonesia No.pasal 8.pasal 7. Prinsip-prinsip tersebut adalah: 1. Jujur.pasal 4 ayat (2). dan biaya ringan . Terbuka untuk umum . 10. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman.3.pasal 6 ayat (2). 5 tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-undang No. Prinsip legalitas .pasal 5 ayat (1).pasal 4 ayat (1). Hak untuk memperoleh ganti rugi dan rehabilitasi . 3. 2. 7. Dilakukan dengan sederhana. 9.pasal 20 Demikian pula dengan kedudukan hakim. Independent . Dilakukan “Demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” .pasal 4 ayat (3). menetapkankan bahwa: Kekuasaan Mahkamah Agung sebagaimana ditetapkan dalam Undang-undang tersebut adalah: Pasal 28: “Mahkamah Agung bertugas dan berwenang memeriksa Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 101 . yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.pasal 9. adil. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. telah ditetapkan dalam undang-undang tersebut.diskriminasi dan imparsial . Putusan tentang kesalahan seseorang didasarkan pada keyakinan hakim dengan alat pembuktian yang sah menurut Undang-undang . 8. 5. Prinsip presumption of innocence . dengan syarat-syarat bahwa seorang hakim harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela.

Terlebih-lebih apabila dikaitkan dengan Kedudukan Mahkamah Agung. memutus: permohonan kasasi. b. dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan dalam bidang hukum baik diminta maupun tidak kepada Lembaga Tinggi Negara yang lain” Melihat kepada peraturan perundang-undangan yang memberikan kedudukan istimewa kepada seorang Hakim Agung.. c. sengketa tentang kewenangan mengadili. Pasal 30: (1) Mahkamah Agung dalam tingkat kasasi membatalkan putusan atau penetapan pengadilan-pengadilan dari semua lingkungan peradilan. c.dan a. sekaligus pedoman perilaku bagi mereka. menguji peraturan perundang-undangan di bawah Undang-Undang terhadap Undang-undang . lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan.. salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku.. karena: a. permohonan peninjauan kembali putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Pasal 31: (1) . seperti dimuat dalam pasal 2: “Mahkamah Agung adalah Pengadilan Negara Tertinggi dari semua Lingkungan Peradilan. Pasal 35: “ . tidak berwenang atau melampaui batas wewenang. yang berarti tidak membiarkan sengketa hukum berlarut- 102 Bunga Rampai ... Hal tersebut mengisyaratkan pula bahwa putusan Mahkamah Agung adalah putusan yang memberikan penyelesaian definitif sesuai dengan asas lites finiri oportet.. b. yang dalam melaksanakan tugasnya terlepas dari pengaruh pemerintah dan pengaruhpengaruh lain”. maka peraturan perundang-undangan yang disebutkan di atas memberikan tugas-tugas mulia yang diembankan kepadanya. memberikan pertimbangan hukum kepada Presiden dalam permohonan grasi dan rehabilitasi” Pasal 37: “ .

Beberapa penemuan hukum yang pernah ada.Cctakan Kedua. Prof. Putusan Mahkamah Agung RI No. Peradilan Bebas Negara Hukum. terikat pada hukum”. 46 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 103 . 3. Ia tidak berarti bahwa ia berhak untuk bertindak sewenang-wenang dalam menjalankan tugasnya. tidak diperbolehkan . Francis Bacon pemah menyatakan: ”there is no worse torture than the torture of laws” Penemuan hukum dan pembentukan hukum Indonesia yang mengemuka. Oemar Seno Adji. 1985.. Dikukuhkannya janda sebagai ahli waris. yang memberi arti terhadap kata “perbuatan tidak 4. 4. antara lain: 1. S. mantan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia. Diperkenankannya seorang wanita yang belum menikah mengangkat anak melalui adopsi. sekalipun harus menemukan hukum. 15 Oemar Seno Adji. Dalam bidang hukum pidana. him. dan menjadikannya suatu pembentukan hukum baru melalui yurisprudensi yang terkenal. antara lain: a.larut tanpa akhir.)15 pernah mengatakan: “Suatu pengadilan yang bebas dan tidak dipengaruhi merupakan syarat yang ‘indipensable’ bagi negara hukum. Dalam bidang hukum perdata. Kesewenang-wenangan seorang Hakim Agung. b. ia ‘sub-ordinated’. Mahkamah Agung menolak gugatan Presiden Suharto atas pencemaran nama baik yang dilakukan oleh New York Times dengan pemuatan gambar presiden sebagai joker dalam kartu ‘remi’. (alm. tetapi menyatakannya sebagai perwujudan kebebasan pers. Oleh karena itu. Dengan demikian Hakim Agung dalam menjalankan tugasnya telah memberikan kepastian hukum dari kasus tersebut. 2. antara lain: 1.H. 275K/Pid/1982. Pcnerbit Erlangga. Anak angkat yang memperoleh bagian waris yang sama dengan anak kandung. Jakarta. Bebas berarti tidak ada campur tangan dari kekuasaan eksekutif dan legislati dalam menjalankan fungsi yudiciair.

2. 5. 104 . dalam praktek hukum hakim harus memberikannya di dalam putusannya dalam jangka waktu yang masuk akal. pembentuk undang-undang. 40/1998 tentang Pers adalah lex speciali dan karenanya dalam kasus tersebut tidak dapat digunakan pasal 310 KUHP tentang penghinaan. Dalam kasus “Bambang Harymurti Tempo” Mahkamah Agung menyatakan bahwa UU No. Dalam kasus pembobolan dana Bank BNI New York. hakim memberikan penafsiran luas terhadap unsur “mengambil” dalam tindak pidana pencurian. dan terjadi pada semua bidang hukum baik oleh hakim. Simpulan 1. Dalam kasus “Rahardi Ramelan”. 4. penemuan hukum oleh hakim harus selalu dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip penyelenggaraan peradiBunga Rampai 2. bahkan ilmuwan hukum. sehingga penggunaan alat komputer (dengan menekan satu panel/tombol pada key board komputer) disamakan dengan lichamelijk gedraging. 3. Penemuan hukum adalah sebuah aspek penting dari ilmu hukum (teori hukum) dan praktek hukum. Penemuan hukum pada dasarnya merupakan kegiatan sehari-hari para yuris. dan “Adam Damiri di Pengadilan HAM” hakim menerima teleconference sebagai cara yang sah dari kehadiran saksi. Tetapi berbeda dengan penemuan hukum oleh para ilmuwan hukum sebagai hasil dari penelitiannya. Agar tidak menjadi suatu kesewenang-wenangan hukum dan tertibnya pembentukan hukum yang dciptakan karena penemuan hukum. Dalam kasus “Mochtar Pakpahan” hakim menyatakan bahwa demonstrasi (waktu itu sedang terjadi era reformasi) bukanlah sebagai pemyataan permusuhan terhadap negara sebagaimana terdapat dalam unsur pasal 154 KUHP yang terkenal dengan haatzaai artikelen. patut dan terce1a dari suatu tindak pidana korupsi”. yang bersifat teoritis terhadap suatu masalah hukum tertentu serta tidak terikat dalam batas-batas waktu. dalam kebebasannya.

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 105 . dasar-dasar/norma. tetap memperhatikan fakta hukumnya.lan yang baik. kaidah hukum yang menjadi dasar kasus konkrit yang dihadapkan kepadanya. mengharmonisasikan antara fakta dan kaidah hukum tersebut dengan menggunakan metode yang diperkenankan. serta mengabstrasikannya.

Penemuan Hukum. Penerbit Erlangga. 2003 Sudikno Mertokusumo. Jakarta. Bandung. diterjemahkan oleh Tristam P. Komentar atas Pasal-pasal Terpenting dari Kitab Undang-undang Pidana Belanda dan Padanannya dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia. cetakan kedua. Pembinaan Hukum Dalam Rangka Pembangunan Nasional. Universitas Parahyangan. 2001 - - - 106 Bunga Rampai . 1972 Oemar Seno Adji. Jan.Termorshuizen.Arief Sidharta. Bandung. Binacipta. diterjemahkan oleh B. Hukum Pidana. tanpa tahun. Rechtsvinding. Marjanne . Bandung.Daftar Pustaka Komariah Emong Sapardjaja. Peradilan Bebas Negara Hukum.A. Jakarta. Remmelink.Moeliono. J. Pontier. Panel Diskusi V yang diselenggarakan oleh MAHINDO di Jakarta -bulan Maret 1972. Alumni. Yogyakarta. 1985. Penemuan Hukum.. eetakan kedua. dan Widati Wulandari. 2002 Moehtar Kusumaatmadja. Ajaran Sifat Melawan Hukum Dalam Hukum Pidana Indonesia. Liberty. Gramedia Pustaka Utama. Studi Kasus tentang Penerapan dan Perkembangannya dalam Yurisprudensi.

institusi pengadilan melakukan pengawasan (kontrol) terhadap pelaksanaan tugas dan wewenang instansi sebelumnya seperti penyidikan dan penuntutan.. MH. Pada sisi lain. penyelenggaraan tata hukum pidana berpusat dan berpuncak pada pengadilan.2 Menurut pandangan ini. Penerbit Alumni Bandung. 1 SPP – Bejana Berhubungan Secara dogmatik. Sistem Peradilan Pidana (SPP) terdiri atas sub-sistem yang saling berhubungan antar sub-sistem kepolisian (yang melaksanakan tugas-tugas penyidikan). Kapita Selekta Hukum Pidana. 1981 halaman 120 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 107 . pengadilan merupakan institusi penting dalam mengkonkritkan hukum melalui putusan-putusan yang ditetapkannya. Putusan pengadilan merupakan produk badan peradilan yang dimulai dari input 1 2 Anggota Komisi Kejaksaan Republik Indonesia Soedarto. Semua sub-sistem diarahkan kepada tujuan untuk menegakkan tata hukum pidana. S. Pengadilanlah yang mengkonkritkan hukum. Dalam pandangan ini. kejaksaan (yang melaksanakan tugas penuntutan dan eksekusi putusan pengadilan) dan Pengadilan (yang mengadili) sehingga membentuk jaringan kerja terpadu yang dikenal dengan integreted criminal justice system.Kontribusi Lembaga Kejaksaan Dalam Mempercepat Reformasi Peradilan M. Dalam hal ini muncullah pandangan bahwa pengadilan sebagai benteng terakhir pencari keadilan. Tugas-tugas penyidikan dan penuntutan bermuara pada pengadilan.H. Ali Zaidan.

penuntutan dan pengadilan) dan berakhir pada out put yakni putusan pengadilan. sub-sub sistem peradilan itu akan menentukan sendiri hukum dalam bidang dan tugasnya masing-masing dalam mengejar tujuannya.(yakni kasus hukum). Kumpulan Karangan buku Ketiga. Keterpaduan antar sub-sistem menjadi jaminan bahwa produk yang dihasilkan akan dijamin obyektifitasnya. Pusat Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum (d/h Lembaga Kriminologi) Universitas Indonesia. Jakarta.3 Hubungan antar sub-sistem peradilan tersebut membentuk suatu jaringan laksana bejana berhubungan. Putusan pengadilan merupakan hasil akhir (product) proses hukum sebelumnya. hasil yang diperoleh tidak akan selalu selaras dengan tujuan sistem secara keseluruhan. Sebaliknya. Konsekuensinya. sub-sub sistem peradilan pidana itu sendiri merupakan sub-sistem yang diikat oleh ketentuan perundang-undangannya masingmasing. Akibat pengaturan demikian. halaman 15 108 Bunga Rampai . antar subsistem peradilan terdapat hubungan saling berhubungan. Oleh karena itu. Akan tetapi sebagai proses sosial yang melibatkan lingkungannya. Oleh karena itu kegiatan penegakan hukum tidak dapat hanya dilihat sebagaimana tertera dalam perundangundangan. penegakan hukum hendaklah dipahami sebagai kegiatan yang dilakukan oleh institusi hukum dalam keseluruhan kerangka sosial yang lebih besar. Penerbit Badan Pembinaan Hukum Nasional. Tanpa keterpaduan dalam sistem akan diperoleh kesulitan dalam mengukur tingkat keberhasilan maupun kegagalan sistem sebelumnya. Sistem Peradilan Pidana hendaklah dipandang sebagai bagian dari sistem yang lebih besar yakni Sistem Sosial yang lebih rumit dan canggih. 1994 halaman 85 Satjipto Rahardjo. Mardjono Reksodiputro. tanpa tahun. menurut pandangan sosiologis. Penegakan hukum tidak lagi dilihat sebagai penegakan undang-undang an-sich. Masalah Penegakan Hukum. processing (penyidikan. Hak Asasi Manusia dalam Sistem Peradilan Pidana. Jakarta. akan tetapi hendaklah dilihat dari persepektif yang lebih luas. Suatu Tinjauan Sosiologis.4 Konsekuensi pernyataan di atas bahwa rumusan-rumusan abstrak dalam undang-undang hanya dipakai seb- 3 4 B. Kegagalan suatu sub-sistem akan mempengaruhi subsistem lainnya.

agai petunjuk saja. tingkah laku yang menjadi latar belakang penegakan hukum dan sejenisnya. antara kejaksaan dengan pengadilan. Begitu juga hendaknya dilihat kenyataan faktual hubungan interdependensi antara kepolisian dengan kejaksaan. 1974 halaman 5 Muladi. 5 6 7 Alan Coffey et al. tidak mungkin Sistem Peradilan Pidana tidak terpengaruh atau kedap terhadap pengaruh sub-sistem sosial di luarnya. hal ini ditimbulkan karena besarnya pengaruh lingkungan sosial terhadap pencapaian tujuan Sistem Peradilan Pidana tersebut. Semarang. 1978. Keterpaduan sistem itu sendiri akan tercipta manakala semua pihak yang menjadi bagian dari sistem itu bekerja untuk mencapai tujuan tertentu dalam kenyataan. Englewood Cliffs. Tanpa memperhatikan interrelationship antara sub-sistem di atas. yang ingin diketahui lebih jauh adalah bagaimana hukum itu dijalankan. disebabkan karena apa yang dikatakan sistem Peradilan Pidana pada hakikatnya merupakan sistem yang terbuka (open system). Bahkan pengaruh luar itu sendiri akan menjadikan Sistem Peradilan Pidana menjadi unik. kepengacaraan dan dengan hukum itu sendiri. Prentice Hall Inc.5 Dengan demikian menurut pandangan ini terlihat bahwa adanya undang-undang tidak menjadi jaminan bahwa sistem itu akan berjalan dengan baik. dengan lembaga pemasyarakatan. An Introduction to the Criminal Justice System and Process. digambarkan oleh La Patra sebagai berikut:7 Level 1: Masyarakat (society) Level 2: ekonomi. halaman 86 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 109 . 1995 halaman 1 La Patra. pendidikan dan politik Level 3: sub-sistem Peradilan Pidana. Analizing the Criminal Justice System. Adanya independensi antara sistem peradilan pidana dengan sistem sosial. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Dengan demikian. Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana. New Jersey. Keterpaduan atau sinkronisasi itu sendiri meliputi sinkronisasi struktural. akan mengakibatkan kerawanan yang mengarah kepada fragmentasi dan ketidakefektifan sistem peradilan pidana itu sendiri.6 Pemahaman terhadap ketiga sinkronisasi ini penting. substansial maupun kultural. Lexington Books. Terlalu banyak faktor yang tidak terungkap jika hanya membaca peraturan hukum tertulis semata. teknologi.

Dalam perspektif ini. lihat buku Beberapa Pemikiran tentang Ancangan antardisiplin dalam Pembinaan Hukum Nasional. Di lain pihak.9 Faktor-faktor eksternal seperti politik. Politics and the Administration of Justice.pengadilan menerima masukan dari sektor politik ini dalam bentuk petunjuk tentang apa dan bagaimana ia harus menjalankan fungsinya.8 Dengan tepat Soedarto mengemukakan bahwa membicarakan masalah penegakan hukum di sini tidak membicarakan bagaimana hukumnya. kepastian hukum dan kemanfaatan. maupun yang harus menerima pembatasan-pembatasan dalam bekerjanya disebabkan oleh faktor lingkungan. Cole. akan tetapi dilihat sebagai kegiatan untuk mewujudkan keinginan-keinginan hukum menjadi kenyataan. Penegakan hukum tidak lagi didefinisikan sebagai penegakan undang-undang belaka. London halaman 20. dalam pengertian bahwa penegakan hukum sebagai kegiatan yang menarik lingkungan ke dalam proses tersebut. dalam hal mana konflik diselesaikan. dengan penerimaan oleh pengadilan. ekonomi dan budaya tidak dapat diabaikannya ketika proses penegakan hukum itu dijalankan. Beverly Hill. Nilai-nilai dasar ini merupakan fundamental hukum yang esensiil. penegakan hukum hendaklah dilihat sebagai suatu proses sosial yang melibatkan lingkungannya. maka keputusan-keputusan politik itupun menjadi sah atau memperoleh legitimasinya. op cit halaman 14 8 110 Bunga Rampai . Sejalan dengan pernyataan ini dikemukakan oleh Satjipto Rahardjo bahwa subsistem politik menggarap masalah penentuan tujuantujuan yang harus dicapai oleh masyarakat serta bagaimana mengorganisasikan dan memobilisasikan sumber daya-sumber daya yang ada untuk mencapainya keputusan-keputusan politik sering dimasukkan atau dirumuskan ke dalam hukum positif. dapat diasumsikan bahwa proses peradilan merupakan suatu sub-sistem dari sistem politik yang lebih luas. Sage Publications. Bandung. Penerbit CV Sinar Baru.10 Mewujudkan keinginan-keinginan hukum dalam kenyataan dapat diartikan sebagai usaha untuk mewujudkan nilai-nilai dasar di dalam hukum seperti keadilan. 1985 halaman 26 9 op cit halaman 113 10 Satjipto Rahardjo. Pertimbangan-pertimbangan politik merupakan faktor dalam pengambilan keputusannya. melainkan apa yang dilakukan oleh aparatur penegak hukum dalam menghadapi masalah-masalah dalam penegakan hukum. khususnya dalam hubungan dengan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan untuk dikejar oleh masyarakat.Suatu contoh pengaruh sub-sistem politik terhadap bekerjanya Sistem Peradilan Pidana. Kita tidak dapat berbicara penegakan hukum apabila keadilan tiGeorge F.

The Criminal Justice System as a social problem : an abolitionist persepective. Diantaranya SPP menimbulkan penderitaan. hlm 8 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 111 .tidak dapat dipandang sebagai kepastian yang hakiki. SPP itu sendiri diartikan sebagai sistem dalam suatu masyarakat untuk menanggulangi masalah kejahatan. Pendekatan sistemik harus menjadi acuan bekerjanya sistem itu dalam rangka penanggulangan kejahatan. bahwa keadilan dan kemanfaatan itu harus dicapai melalui kepastian hukum. bahkan dalam batas tertentu nilai-nilai dasar tersebut hendaklah dilihat sebagai nilai antinomik. Padahal dalam bingkai sosiologis. begitu juga nilai kemanfaatan. Makna menanggulangi di sini diartikan sebagai usaha untuk mengendalikan kejahatan agar berada dalam batas-batas toleransi masyarakat. Sebagai suatu sistem sosial yang lebih besar. Louk Hulsman. Kepastian hukum --. Pernyataan ini tentu akan mendapat sanggahan dari mereka yang berpendirian normatif. apabila demi menjaga suatu kepastian hukum. John R Blad (ed) Erasmus Universiteit Rotterdam. Undang-undang dibuat untuk menjaga nilai-nilai keadilan dan kemanfaatan. Part One. Dengan demikian nilai daya guna hendaknya menjadi perhatian dalam setiap upaya law enforcement. tidak dapat bekerja menurut tujuan yang dicita-citakannya dan SPP memiliki cacat yang 11 L.yang menjadi tujuan dibuatnya undang-undang.dak terwujud. sebaliknya untuk mewujudkan keadilan terkadang kepastian hukum diabaikan. Sungguh suatu ironi. Sistem Peradilan Pidana hendaklah dilihat dalam bingkai yang lebih luas sebagaimana disebutkan di atas. Kita tidak dapat berbicara penegakan hukum tanpa melibatkan sub-sub SPP secara keseluruhan.A. Demi sebuah kepastian hukum terkadang keadilan dikorbankan. Hukum dengan berbagai pranatanya dibuat untuk memaslahatkan umat manusia dan perlindungan terhadap hak-hak fundamental manusia pula. akan tetapi dalam waktu tertentu nilai kepastian dapat dikorbankan demi mencapai tujuan keadilan. nilai keadilan harus dikorbankan. akan tetapi tidak lain dari kepastian akan peraturan belaka. SPP terkadang menimbulkan faktor kriminogen. nilai kepastian hukum itu sendiri mengandung masalah yang substansial.

Oleh karena itu pekerjaan penegakan hukum yang dilakukan melalui SPP bukanlah pekerjaan subsumptie otomat alias teknologi pencet tombol. hal ini disebabkan karena usaha pemberian keadilan kepada warga tidak dapat dilakukan oleh warga masyarakat dengan cara-caranya sendiri. Nilainilai yang menjadi dasar masing-masing pihak terkadang merupakan nilai-nilai antinomik. kelambanan menjadi faktor yang mempengaruhi penegakan hukum itu sendiri. Law enforcement yang dilakukan melalui SPP melibatkan sistem birokrasi yang rumit dan canggih. seperti nilai keadilan dan kepastian hukum. doktrin adagium dan sejenisnya. Dengan tepat Roeslan Saleh mengemukakan bahwa pekerjaan mengadili (dalam perkara pidana) merupakan pekerjaan pergulatan 112 Bunga Rampai .mendasar.11 Faktor kriminogen ini hendaknya menjadi perhatian semua pihak yang terlibat dalam sub-SPP kita apabila tujuan akhir penegakan hukum (pidana) adalah untuk mewujudkan kesejahteraan sosial (social welfare). Akan tetapi tindakan untuk merealisasikan nilai-nilai yang terkandung atau yang berada di belakang norma hukum yang hendak ditegakkan itu. tidak tanggap dan tidak cepat. Pada sisi yang lain terdapat ungkapan “tegakkan hukum dengan cara-cara menurut hukum” terkadang dalam hal-hal tertentu justru membawa dampak yang tidak produktif. Birokrasi lebih berpegang kepada normanorma yang bersifat formal sehingga terkadang terbelenggu oleh prosedur. kepentingan pribadi dengan kepentingan umum dan sebagainya. Pembicaraan tentang hal ini akan membawa kepada wacana keadilan yang birokratik. Tugas SPP adalah meramu atau melakukan sintesis antara kedua nilai yang antinomi tersebut. kekakuan. Sebuah pekerjaan besar yang membutuhkan dedikasi dan determinasi. Diantara karakteristik birokrasi (peradilan) misalnya sifat yang non personal. sehingga terkadang kepentingan justisiabelen diabaikan. Misalnya kelambanan dalam salah satu sub-sistem peradilan disebabkan beban kerja yang berat dan sumberdaya yang terbatas merupakan penyebab pelayanan kepada pencari keadilan menjadi tidak optimal. konsep. akan tetapi dilakukan melalui sistem birokrasi yang rumit dan canggih. Keadilan birokratik ini terkadang terlalu prosedural sehingga dalam hal-hal tertentu tidak sejalan dengan keadilan substantif.

eksekutif dan yudiKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 113 . populis dan holistik. Pembagian tradisionil dalam sistem ketatanegaraan legislatif. Pertemuan dalam forum tersebut dilandasi oleh semangat profesionalisme. perlindungan hak-hak warganegara dan kerjasama yang produktif. Laksana bejana berhubungan. Aparat penyidik. penuntut umum maupun hakim bekerja dalam suatu keterpaduan yang harmonis. Kesadaran seperti inilah hendaknya menjadi semangat aparatur yang mengemban tugas penegakan hukum dalam tiap sub Sistem Peradilan Pidana kita.kemanusiaan. Hal ini disebabkan karena kekuasaan untuk menuntut dan mengeksekusi putusan pengadilan merupakan wewenang absolut kejaksaan. Forum yang demikian itu untuk melakukan koreksi dan pengayaan terhadap segala sesuatu yang telah dan akan dilaksanakan ke depan. Semua faktor internal (pribadi hakim) dan faktor eksternal (yang diadili) berbaur menjadi satu. keterpaduan tersebut tidak hanya meliputi hubungan antar sub-sistem dalam SPP tersebut secara tertutup. Meskipun unsur keyakinan hakim menjadi faktor yang determinan dalam pembuatan putusan akan tetapi ketentuan hukum acara dan hal hal lain yang relevan hendaklah pula diindahkan. di dalam tarik menarik berbagai faktor internal maupun eksternal itulah hakim harus memberikan putusan yang seadil-adilnya. Mereka tidak bekerja dalam ruangan yang hampa. akan tetapi membentuk hubungan yang dinamis dengan sistem sosial yang lebih besar yang berada di luarnya. akan tetapi merupakan lembaga sosial yang bermakna. integritas dan komitmen untuk menegakkan hukum seadil-adilnya. Diharapkan dengan cara demikian SPP tidak menjadi lembaga yang terasing dalam lingkungan sosialnya. Kejaksaan – Kekuasaan Eksekutif Penegasan bahwa Kejaksaan Republik Indonesia merupakan bagian eksekutif power di negeri ini tidak perlu diragukan lagi. Dalam hal ini gagasan untuk tetap menghidupkan forum-forum seperti Makehjapol di tingkat pusat maupun Diljapol di tingkat daerah perlu didukung secara proporsional. Di samping itu dapat digunakan untuk meminimalisasi berbagai conflict of interest yang mungkin timbul yang disebabkan oleh egoisme sektoral yang berlebihan.

Dalam penanganan kasus korupsi maupun illegal logging misalnya. Kejaksaan RI. Ketika itu kesan tebang pilih yang muncul di masyarakat tidak dapat dihindarkan. Hal ini disebabkan karena selama kejaksaan berada di bawah bayang-bayang pemerintah. Untuk hal itu. Sebagai bagian dari kekuasaan eksekutif kejaksaan harus mampu mengambil sikap dalam posisi yang sulit sekalipun. melainkan lebih karena terjadinya pemasungan kewenangan”. Posisi dan Fungsinya dari Perspektif Hukum. Jakarta. selama itu pula obyektifitas kejaksaan terus menerus dipertanyakan. munculnya lembaga-lembaga lain dengan kewenangan yang berpotensi mereduksi tugas dan wewenang kejaksaan. merupakan faktor yang menyebabkan tidak optimalnya pelaksanaan tugas dan wewenang kejaksaan dalam rangka penegakan hukum.13 Landasan perundang-undangan dalam tataran konsepsional tadi. Lihat Marwan Effendi. Dalam dilematik itu kejaksaan harus menentukan sikapnya. Sehingga kesan ketidakmandirian 12 13 Pengaturan ini dapat dilihat dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia. di mana melibatkan orang-orang yang mempunyai kuasa politik atau ekonomi terkadang menjadikan kejaksaan sebagai sasaran kritik. dapat menempatkan kejaksaan dalam posisi yang dilematik dan vulnerable. Pengaturan seperti ini terkadang menimbulkan indikasi ketidakmandirian kejaksaan di tengah-tengah arus pusaran kepentingan eksekutif. Dengan demikian terjadi hubungan interdependensi antara kebijakan pemerintah dengan tugas-tugas kejaksaan. bukan semata-mata karena perilaku aparatur kejaksaan. Di lain pihak.katif telah menempatkan kejaksaan dalam hal ini sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan. 2005 halaman 50 114 Bunga Rampai . wacana agar Kejaksaan dilepaskan dari kekuasaan pemerintahan sepatutnya diperhatikan. Penerbit PT Gramedia. menjadi realitas dalam tataran aplikasinya di lapangan. “Secara jujur harus dikatakan bahwa kebijakan yang berkaitan dengan penegakan hukum. begitu pula dalam undang-undang kejaksaan sebelumnya. yang menjadi sorotan negatif akhir-akhir ini. Ketidakmandirian kejaksaan dalam melaksanakan tugas penuntutan lebih disebabkan karena faktor perundang-undangan yang dijadikan landasannya. Kebijakan demikian membawa kesan bahwa kejaksaan melakukan tebang pilih dalam melakukan tuntutan dalam kasus-kasus tertentu.12 Meskipun dapat dipahami bahwa kedudukan institusi dalam posisi yang demikian itu.

Bahkan Lopa berhasil membebaskan kejaksaan dari belenggu formalisme ketika ia mengatakan bahwa “untuk menyeret seorang tersangka korupsi.tidak dapat dielakkan. Meskipun bukan alasan untuk menjustifikasi kedudukan yang demikian untuk menjadikan kejaksaan tidak independen. tentu bukanlah alasan pembenar bagi pemerintah untuk mengintervensi pengisian jabatan-jabatan strategis di tubuh kejaksaan.14 Kesemuanya tergantung tekad dan keberanian jaksa dalam menjalankan tugasnya secara mandiri. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 115 . Oleh karena itu pengangkatan jabatan strategis di lingkungan kejaksaan – bahkan Jaksa Agung – haruslah bersandarkan kepada merit system. Pada pihak lain pengaruh sosial politik hendaknya memberikan ruang gerak yang luas kepada kejaksaan untuk melaksanakan tugas dan wewenangnya secara mandiri. Selama ini kesan bahwa kejaksaan dapat diintervensi oleh kekuasaan atau partai politik sulit dihindarkan. Sebagai lembaga yang mengemban tugas penegakan hukum. kewajiban bagi jaksa dan aparat kejaksaan dalam 14 Kita tentu masih ingat dengan kebijakan alm Baharuddin Lopa yang “menusakambangankan” terpidana korupsi. tidak perlu setumpuk bukti yang saya butuhkan. tekad dan keberanian pimpinan kejaksaan untuk keluar dari kungkungan kekuasaan eksekutif yang mempengaruhi netralitasnya. Kebijakan demikian mengundang simpati publik. Oleh sebab itu terwujudnya due process of law sulit direalisasikan. Semuanya tergantung kepada niat.” demikan katanya pada suatu waktu. Sebagai bagian kekuasaan eksekutif. karena apabila campur tangan itu dilakukan berarti menjadikan lembaga ini berada di bawah bayang-bayang pemerintah. cukup dengan beberapa lembar kertas saya sudah dapat menjadikan seseorang sebagai terdakwa. Institusi ini pernah dipimpin oleh Jaksa Agung Soeprapto yang menunjukkan kemandirian dan keberaniannya menegakkan hukum. Begitu juga dengan Alm Baharuddin Lopa yang dengan keberaniannya menyeret pelanggar hukum ke pengadilan dan mengeksekusi terpidana secara cepat. jaminan undang-undang yang memberi kemandirian jaksa dalam melaksanakan tugasnya di lapangan tidak berarti banyak jika tidak diikuti dengan semangat mengabdikan segenap jiwa raganya untuk kepentingan tugas penegakan hukum yang diembannya.

kecuali kepentingan keadilan. Independensi Kejaksaan dalam Penyidikan Korupsi. Lihat Yudi Kristiana. Di samping itu. Dalam “Guidelines on the Role of Prosecutor” terdapat ketentuan mengenai hal ini. antara lain jaksa adalah unsur utama dari “agent of the administration of justice” yang harus menjaga martabat profesinya. kemanusiaan dan kesejahteraan. seperti 15 Doktrin Kejaksaan adalah satu dan tidak terpisah-pisahkan (‘een an ondelbaar’) layak untuk dipertimbangkan karena mempengaruhi independensi jaksa ketika menjalankan tugas-tugas penuntutan. Penerbit Citra Aditya Bakti. Doktrin demikian tidak selaras dengan tuntutan kemandirian dan profesionalisme kejaksaan dalam melaksanakan tugas-tugas penuntutan. hal mendesak untuk dilakukan saat ini misalnya sistem pertanggung jawaban yang berlaku di kejaksaan perlu dilakukan peninjauan kembali. Kewajiban demikian akan mengontrol kejaksaan agar tidak terjebak kepada pertarungan kepentingan yang sempit dan sesaat. Oleh karena itu penetapan kebijakan yang menyangkut institusi kejaksaan hendaklah selain mengacu kepada tuntutan nasional juga harus mengindahkan aspirasi masyarakat yang berkembang secara universal. hlm 121. kesusilaan dan keharusan menjaga kehormatan dan martabat profesinya di samping terus menerus menggali nilai-nilai hukum yang berkembang merupakan suatu keniscayaan. negara harus menjamin keamanan jaksa agar bebas dari pelbagai gangguan dalam melaksanakan tugas profesinya. Bandung. Sistem demikian dapat menyebabkan kejaksaan akan dengan mudah diintervensi oleh kekuasaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tugas penegakan hukum tidak tergantung kepada kepentingan penguasa atau kepentingan apapun.15 Pada sisi lain jaksa tidak dapat melaksanakan tugas-tugas profesionalismenya secara optimal. “Petunjuk-petunjuk atasan”. Oleh karena itu. 2006. 116 Bunga Rampai . Di samping itu kemandirian jaksa dalam melaksanakan tugas penuntutan hendaklah dijamin secara utuh. Dengan adanya jaminan demikian diharapkan jaksa dan kejaksaan pada umumnya dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.melaksanakan tugasnya mengindahkan norma-norma kesopanan. Begitu juga sistem keamanan dirinya hendaknya dijamin. instruksi dan sejenisnya merupakan hambatan nyata bagi jaksa dalam melaksanakan tugas-tugas penuntutan.

Kedudukan sebagai lembaga pemerintahan ini mengakibatkan pelaksanaan tugas dan wewenang kejaksaan berbeda dengan sebelumnya. Kritik yang dialamatkan kepada institusi kejaksaan. Anggaran operasional dan anggaran pembangunan yang masih terbatas merupakan kendala yang serius dan hendaknya menjadi prioritas ke depan untuk segera diantisipasi. Keterbatasan sarana. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 117 . Sebagai lembaga pemerintahan yang memiliki wewenang yang luas dalam perkara pidana. Dalam undang-undang sebelumnya di sebutkan bahwa Kejaksaan ialah alat negara penegak hukum yang terutama bertugas sebagai penuntut umum. terkadang didasarkan kepada pengamatan yang tidak cermat. faktor finansial juga menentukan tingkat capaian-capaian yang diperoleh instansi ini. Keadaan sarana dan prasarana yang masih minim begitu juga dukungan sumber daya manusia yang tidak proporsional membuat kejaksaan sebagai lembaga yang rentan. perdata dan tata usaha negara begitu juga tugas dalam bidang ketertiban dan ketenteraman umum. besarnya tuntutan pidana dan cara bagaimana putusan hakim dijalankan menjadi tanggung jawab kejaksaan sepenuhnya.16 Akan tetapi dalam undang-undang yang menggantikannya ditegaskan bahwa Kejaksaan adalah lembaga pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan serta kewenangan lain berdasarkan undang-undang. Di samping masalah yang bersifat struktural tersebut.penetapan standar minimum tugas profesi jaksa atau penyusunan kode perilaku jaksa mendesak untuk direalisasikan dengan mengacu pada Guidlines di atas. wewenang kejaksaan untuk juga mengemban tugas-tugas lain jika ditetapkan dengan undang-undang terkait kedudukan sebagai lembaga pemerintahan layak dipertimbangkan. Kedudukan yang strategis yakni menentukan perkaraperkara apa yang akan dilimpahkan ke pengadilan. prasarana dan faktor finansial ini menyebabkan kejaksaan kalah berpacu dengan tuntutan perkembangan zaman. sehingga dapat melaksanakan tugasnya secara independen. di sisi lain keterbatasan-keterbatasan sebagaimana disebutkan 16 Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 15 Tahun 1961 ini bisa jadi merupakan faktor yang menimbulkan kemandirian kejaksaan pada waktu itu.

Politics and the Administration of Justice. Masyarakat tidak boleh membiarkan atau menjadikan kejaksaan sebagai bulan-bulanan ketidakpuasan. Sebagaimana legislator dan hakim. dapat menyebabkan kejaksaan berada dalam ranah politik. Cole. kejaksaan memiliki kekuasaan dan tanggung jawab untuk membuat kebijakan-kebijakan politik. Cole. Kondisi demikian tidak hanya terjadi di negeri kita sebagaimana dikemukakan oleh Cole bahwa SPP dalam hal ini juga kejaksaan merupakan lembaga politik. sehingga merit system dapat berjalan dengan baik. kejaksaan dapat menentukan perkara-perkara mana yang akan dituntut. diantaranya terdapat instruksi agar kebijakan untuk memberikan dukungan maksimal terhadap upaya-upaya penindakan korupsi yang dilakukan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia. Selama ini sistem reward dan punisment belum terpolakan secara jelas. Kejaksaan Republik Indonesia dan Komisi Pemberantasan Korupsi dengan cara mempercepat pemberian informasi yang berkaitan dengan perkara tindak pidana korupsi dan mempercepat pemberian izin pemeriksaan terhadap saksi/tersangka.18 Jaksa memiliki kekuasaan diskresioner yang berpengaruh dalam usaha penegakan hukum.di atas memerlukan tindakan konkrit untuk dilakukan pembenahan sesuai dengan tuntutan yang berkembang saat ini.17 Melalui kewenangan yang dimilikinya. Konsistensi ini akan menimbulkan gairah kerja jaksa dan pegawai kejaksaan untuk memberikan darma bakti yang sebaik-baiknya kepada bangsa melalui institusi kejaksaan ini. Sebagai suatu institusi sosial. op cit halaman 3 George F. Sistem reward dan punisment tentu harus dilakukan secara transparan dan konsisten. Kebijakan yang ditetapkan oleh kejaksaan merupakan refleksi prioritas nilai-nilai politik yang 17 18 19 George F. Kedudukan sebagai lembaga pemerintahan tersebut. akan tetapi hendaknya menjadikan institusi ini berdaya. Kondisi yang lebih trasparan dan obyektif harus diciptakan dan dibakukan secara konkrit. kejaksaan tidak dapat lepas dari pengaruh-pengaruh sekelilingnya. Sage Publications. Beverly Hills/London. sehingga kesan subyektif tidak dapat dihindarkan. 118 Bunga Rampai . Kekurangan dan kesalahan di sana-sini tentu tidak akan diabaikan. 1973 halaman 112 Kebijakan seperti ini dapat kita lihat misalnya dalam Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 Tentang Percepatan Pemberatasan Korupsi.

sehingga keberanian dan integritas seorang pimpinan kejaksaan menjadi syarat mutlak di samping keahlian tehnis yuridis yang dimiliki jaksa pada umumnya. Kedudukan sebagai lembaga negara itu akan menciptakan kemandirian yang sesungguhnya bagi kejaksaan untuk melakukan tugas dan wewenangnya tanpa intervensi kekuasaan eksekutif. Karena apabila kebijakan tersebut tidak diindahkan dapat mengakibatkan kejaksaan terperosok dalam kepentingan kekuasaan yang sempit. perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia dan keadilan akan terabaikan. Dibutuhkan keberanian untuk melaksanakan tugas di tengah-tengah tarik menarik berbagai kepentingan yang dominan pada waktu itu. bukan kepentingan politik kelompok tertentu. Oleh karena itu menurut Harkristuti Harkrisnowo. Di sinilah pengangkatan dan pemberhentian Jaksa Agung hendaknya dilepaskan dari berbagai kepentingan politik sesaat. Untuk itu. akuntabilitas kejaksaan harus lebih banyak ditekankan kepada kepentingan publik. di samping untuk mengisi jabatan sesuai dengan kebutuhan.ditetapkan ketika itu. kemandirian personal/individual dapat pula ditumbuhkan. Pengangkatan Jaksa Agung begitu pula pengisian jabatan-jabatan strategis di lingkungan kejaksaan haruslah didasarkan kepada kepentingan untuk menegakkan nilainilai keadilan dan kemanusiaan yang hakiki. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 119 . Itu semua diharapkan akan terwujud. Di samping kemandirian organisasi/institusional. Kepentingan untuk menegakkan hukum. manakala institusi kejaksaan menjadi lembaga negara. yang perlu dilakukan saat ini adalah bagaimana membuat lembaga kejaksaan harus selalu memiliki komitmen pada hukum dan keadilan. Begitu pentingnya tujuan tersebut. apabila kemandirian personal ini terwujud seorang jaksa akan memiliki kemandirian yang sepenuhnya tanpa ada intervensi atasan atau pihak-pihak yang berkepentingan lainnya. Begitu juga harus ada jaminan bagi jaksa terhadap keselamatan diri dan keluarganya dari berbagai ancaman yang mengganggu kemandiriannya sebagai aparatur penegak hukum. Dalam melaksanakan tugas penuntutan.19 Di sinilah kejaksaan ternyata tidak cukup bekerja dengan menggunakan norma-norma hukum yang ditetapkan sebelumnya.

Akan tetapi kenyataan yang berkembang sesudahnya menunjukkan lembaga ini belum dapat menjawab tuntutan reformasi 120 Bunga Rampai . Pemberdayaan sektor publik dan sektor privat yang tengah berlangsung saat ini hendak-lah dimanfaatkan sebaik-baiknya guna menuju tegaknya supremasi hukum. KKN sebagai virus yang menggerogoti pembangunan merupakan musuh nyata masyarakat yang harus diberantas hingga ke akarakarnya. MA diharapkan dapat mengemban amanah reformasi yang merupakan tuntutan publik yang disuarakan oleh mahasiswa dan segenap lapisan masyarakat yang menginginkan hukum ditegakkan seadil-adilnya. Ekspektasi masyarakat yang begitu kuat selayaknya direspon oleh lembaga ini secara konsisten. Sebagai benteng terakhir keadilan. Untuk itu perhatian atas semua ini harus dipusatkan agar kemandirian jaksa terwujud. Penguatan masyarakat sipil saat ini dapat digunakan untuk meningkatkan harkat dan martabat kejaksaan ke arah kemandirian yang sesungguhnya. apabila tidak diikuti dengan usahausaha untuk memandirikan kejaksaan sebagai bagian dalam Sistem Peradilan Pidana pada umumnya sehingga menjadi institusi penegak hukum yang terpercaya. kolusi dan nepotisme (KKN). MA sebagai puncak tertinggi dalam peradilan kita menjadi tumpuan harapan publik terutama dalam penanganan perkara korupsi. Perubahan politik apapun yang terjadi tidak akan membawa arti yang signifikan. kita dapat melihat bahwa salah satu tuntutan reformasi yang bergulir hampir satu dasawarsa yang lalu yakni kemandirian badan-badan peradilan yang puncaknya pada Mahkamah Agung (MA). Tuntutan Publik Jika kita mempersempit makna peradilan dengan pengadilan.Masalah di atas merupakan salah satu diantara sekian masalah yang dihadapi oleh jaksa dan kejaksaan pada umumnya pada waktu menjalankan tugas penuntutan dan tugas-tugas lainnya yang membutuhkan integritas. Reformasi Peradilan. penguatan civil society saat ini merupakan momentum yang bagus untuk mewujudkan ide-ide tersebut menjadi kenyataan. Kita tidak dapat menunggu perubahan undang-undang kejaksaan untuk menciptakan kemandirian demikian.

wajah peradilan melalui MA seakan tidak tersentuh reformasi. lembaga-lembaga peradilan masih asik dengan masalahnya sendiri. Di bawah rezim demokrasi terpimpin. Alih-alih melaksanakan reformasi di tubuh dunia peradilan. kekuasaan kehakiman ditempatkan sebagai bagian dari eksekutif. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 121 . Kekuasaan kehakiman tidak otonom dari pengaruh rezim yang berkuasa ketika itu. MA justru menjadi lembaga yang menghambat tuntutan publik untuk tegaknya supremasi hukum.yang begitu kuat. terungkapnya isu suap di kalangan hakim agung. perpanjangan usia pensiun Ketua MA sampai kepada perseteruannya dengan Komisi Yudisial.20 Meskipun reformasi yang dalam hakikatnya menghendaki perbaikan di semua bidang kehidupan. Kedua rezim memiliki kesamaan-kesamaan dalam memberdayakan kekuasaan kehakiman. Oleh karena itu ungkapan yang dialamatkan kepada mereka yang kritis terhadap peradilan seperti melakukan contempt of court layak dipertanyakan. baik ketika Orde Lama dengan demokrasi terpimpin juga Orde Baru dengan demokrasi Pancasila mempunyai standar-standar yang dapat diperbandingkan. begitu juga di era Orde Baru kekuasaan kehakiman justu dikukuhkan dengan undang-undang sehingga menjadi bagian dari mesin kekuasaan politik Orde 20 Banyak fakta yang menunjukkan bahwa MA merupakan lembaga yang tidak responsif terhadap tuntutan publik demikian. Dalam beberapa dasawarsa terakhir. Berbagai kritik dan saran telah disampaikan. fakta menunjukkan bahwa lembaga peradilan tidak dapat melepaskan diri dari konfigurasi politik yang terus menerus berkembang. Pengalaman dalam dua sistem pemerintahan yang pernah dianut oleh Indonesia. Fenomena ini jelas menunjukkan resistensi lembaga peradilan terhadap tuntutan reformasi. Bahkan terkesan justru counter produktive maupun over protective terhadap tuntutan publik bagi reformasi peradilan. Kesemua itu menunjukkan betapa masyarakat mempunyai kepedulian yang besar terhadap lembaga ini. Realitas menunjukkan bahwa konfigurasi kekuasaan kehakiman tidak dapat dilepaskan dari bayang-bayang pemerintah yang tengah berkuasa. hal ini terlihat dari putusan-putusannya yang kontroversial.

tidak memiliki kewajiban untuk tunduk pada visi dan kepentingan politik pemerintah. penerbit Elsam. hingga isu suap yang melanda badan peradilan tertinggi ini merupakan contoh bahwa lembaga yang disebut sebagai benteng terakhir keadilan ini tidak steril dari korupsi. 2004. Malahan diciptakan dualisme ditubuh badan peradilan. tidak legalistis. memiliki wewenang judicial review yang terbatas. Lembaga peradilan dilumpuhkan sedemikian rupa sehingga tidak mampu mengurus dirinya sendiri dan terlena di bawah bayang-bayang kekuasaan pemerintahan. memiliki wewenang judicial review. maka kekuasaan kehakiman cenderung memiliki karakter tidak independen. 1996 A Muhammad Asrun. Konfigurasi Politik & Kekuasaan Kehakiman di Indonesia. halaman 450 Salah satu ulasan yang menarik tentang KKN dilingkungan badan Peradilan kita lihatlah buku Menyingkap Kabut Peradilan Kita. para hakim sangat legalistis/positivisme dalam memutus perkara dan para hakim akan mendukung serta terikat pada visi dan kepentingan politik pemerintah. kolusi dan nepotisme. Penerbit Pustaka Forum Adil Sejahtera. Krisis Peradilan. dengan menempatkan sisi teknis peradilan di bahwa MA. Aldentua Siringoringo dan Tumpal Sihite (Penyunting). Mahkamah Agung di Bawah Soeharto. Ibid. menurut beliau. tetapi sisi administratif dan finansial di bawah eksekutif. pemalsuan vonis.23 Begitu juga penelitian A Mohammad Asrun yang mengkritisi peranan badan peradilan di bawah bayang-bayang rezim Orde Baru. Begitu juga dalam kasus Gandhi Memorial School. melaksanakan cita hukum. Menurut Asrun. MA menganulir putusannya melalui surat sakti Ketua MA yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan di Jayapura untuk menunda eksekusi putusan yang telah in kracht van gewijsde. Jakarta 1997. pemerintahan di era ini telah menghambat independensi kekuasaan kehakiman yang mandiri. Jakarta. Sebaliknya jika konfigurasi politiknya otoriter.22 Dalam kasus Hanoch Abee Ohee. Menyoal Kolusi di Mahkamah Agung.Baru. halaman 4 122 Bunga Rampai . Jakarta.21 Secara khusus Benny K Harman menyatakan bahwa konfigurasi politik yang demokratis akan melahirkan kekuasaan kehakiman yang independen. Penerbit Elsam.24 Undang-undang Pokok Kekuasaan Kehakiman merupakan kekalahan kaum reformis yang ketika 21 22 23 24 Hal ini dapat dilihat dari penelitian Benny K Harman.

Walaupun kedudukan sebagai kepala pemerintahan dalam hal ini sukar untuk diabaikan. Penerbit Kata Hasta Pustaka. meskipun lembaga ini tidak seratus persen berada di bawah pemerintahan.26 Tindakan demikian jelas melukai perasaan keadilan masyarakat. manajemen keuangan. 2006. Dengan adanya kenyataan tentang masalah organisasi. Jakarta. Jakarta. pendidikan. personel. para hakim di pengadilan negeri dan pengadilan tinggi tergantung sepenuhnya pada Departemen Kehakiman ketika itu.25 Penentuan Ketua dan Wakil Ketua MA merupakan kewenangan presiden dalam kedudukannya sebagai kepala negara. Potret Lembaga Pengadilan Indonesia. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 123 . Sebastian Pompe mengemukakan bahwa untuk mereformasi dunia peradilan di Indonesia tidak dapat dilakukan secara fragmentaris akan tetapi meliputi reformasi kebijakan yang bersifat institusional. administrasi dan keuangan. Arus Pemikiran Konstitusionalisme. 2007 halaman 57 Rusli Muhammad. kontrak sosial dan reformasi manajemen instrumental. Penerbit RajaGrafindo Persada. sehingga lembaga peradilan 25 26 Lihat Adnan Buyung Nasution. komisi yudisial. Usaha reformasi di dunia peradilan diantaranya mencakup reformasi di MA. akan tetapi dalam menentukan personalianya tergantung kepada presiden. peradilan niaga dan peradilan hak asasi manusia. Tak terkecuali pula dengan MA. akibatnya akan sulit diharapkan kemandirian mereka ketika menjalankan tugas-tugas yudisial mereka. Halaman 199 – 200.itu bekerja keras untuk mencegah terulangnya pengebirian kekuasaan di masa rezim Demokrasi Terpimpin. Hukum & Peradilan. bahwa:”kebebasan yang dimiliki lembaga pengadilan tidak lain merupakan suatu kemandirian yang sangat diperlukan (indispenseble) dan “Conditio Sine Quanon” (harus tidak boleh tidak adanya) karena selain menunjukkan bahwa negara ini adalah Rechtsstaat juga menunjukkan akan adanya jaminan terselengaranya peradilan yang independen guna menegakkan hukum yang berintikan keadilan”. Karut marut wajah peradilan memperoleh bentuknya yang sempurna manakala kekuasaan eksekutif berhasil merasuki wilayah yudikatif dengan menodai kemandiriannya. Reformasi dalam tubuh peradilan menjadi conditio sine qua non untuk memenuhi tuntutan publik tersebut. Keterpurukan dunia peradilan disebabkan karena sistem sosial yang karut marut.

Fungsi Mahkamah Agung dalam Praktik Sehari-hari. ketidak adilan dan kesewenangwenangan.27 Keterpurukan peradilan haruslah menjadi concern masyarakat seluruhnya. juga “Mahkamah Agung Reformasi” harian Kompas. meskipun kajian terbatas kepada fungsi MA dalam upaya penanggulangan tunggakan perkara dan pemberdayaan fungsi Pengawasan Mahkamah Agung akan tetapi buku ini dapat memberikan kontribusi positif bagi reformasi peradilan. 18 September 1998 dapat dijadikan referensi untuk merintis sistem peradilan progresif itu.28 Gagasan peradilan progresif sebagaimana dilontarkan oleh Satjipto Rahardjo hendaklah dilihat sebagai eksemplar atau alternatif keluar dari krisis peradilan saat ini. “ Managing Court Reform. halaman 60. Penerbit Sinar Harapan. diantaranya “Indonesia Inginkan Penegakan Hukum Progresif” harian Kompas. Lembaga-lembaga hukum seperti pengadilan hendaklah membantu manusia untuk menyelesaikan konfliknya sendiri 27 28 Sebastian Pompe. oleh karena itu belenggu formalisme. Keterlibatan semua komponen sosial agar menjadikan lembaga peradilan menghasilkan daya guna dan hasil guna yang maksimal untuk mewujudkan prinsip negara hukum merupakan sebuah keniscayaan. 2001. Penegakan hukum hendaklah berpijak kepada kepentingan nilai-nilai kemanusiaan. Edisi 15 Tahun IV Januari – Maret 2007. 124 Bunga Rampai . prosedur dan sekalian doktrin konvensional hendaklah ditanggalkan karena akan menimbulkan kesengsaraan. Saat ini kita membutuhkan suatu penegakan hukum yang progresif. Sebastian Pompe mengingatkan bahwa reformasi lembaga peradilan ini hendaknya menjadi keprihatinan kita semua. upaya pembenahan ditubuh peradilan harus dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan semua komponen masyarakat. Pendekatan tradisional yang selama ini dipraktikkan hendaklah ditinggalkan. Oleh karena itu. Peradilan yang progresif ditandai dengan cara-cara yang progresif dalam memandang hukum. Di era reformasi ini kita membutuhkan lembaga-lembaga peradilan yang reformis pula. tentang peranan MA dan urgensi reformasi di tubuh MA dapat dibaca buku Henry P Panggabean.ikut menjadi korbannya. Jum’at. bukan penegakan undang-undang yang secara linear diartikan sebagai penegakan hukum. Understanding the Indonesian Blueprints for Court Reform” dalam Jentera. Jakarta. Tentang gagasan ini dapat dibaca tulisan-tulisan Satjipto Rahardjo.

bahkan filosofi yang mendukung efektivitas sistem tersebut). Dalam jangka pendek. Jakarta. reformasi di badan peradilan harus dilakukan secara menyeluruh dan integral. reformasi struktural dan 29 Achmad Ali. 2002. MA sebagai lembaga peradilan yang tertinggi di Republik ini. Penerbit Ghalia Indonesia. sehingga pengadilan di bawahnya akan melakukan hal yang sama. Keterpurukan Hukum di Indonesia. Oleh karena itu. reformasi di jajaran kekuasaan kehakiman yang dimulai dari MA hendaklah mengikuti skala prioritas yang telah ditetapkan sebelumnya. akar kulturalnya dan akar religiusnya. Secara keseluruhan. Reformasi itu meliputi elemen struktural (kelembagaan yang terkait pada sistem). Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 125 . Penyebab dan Solusinya. sikap. Untuk mencapai tujuan yang demikian luas itu. diharapkan kepatuhan masyarakat terhadap hukum akan terwujud. Kepatuhan hukum yang bersandarkan kepada kesadaran hukum yang hakiki. antara lain: menjauhi hal-hal yang bersifat fragmentaris dan mengedepankan pendekatan sistemik. semua pihak harus berjuang untuk mengembalikan hukum kepada akar moralitasnya. mengutamakan kebenaran dan keadilan. elemen substansial (hukum positif yang mendasari jalannya sistem tersebut) dan elemen kultural (pandangan. hukum tidak mengabdi kepada kepentingan kekuasaan politik.dengan menggunakan seluruh kapasitas kemanusiaannya. halaman 27. Dalam rangka menciptakan independensi peradilan beberapa hal hendaklah menjadi perhatian. sistem hukum yang kondusif untuk terciptanya supremasi hukum. Oleh karena itu.29 Dengan cara demikian. melakukan promosi dan perlindungan hak asasi manusia. hendaklah memulai langkah-langkah progresif ini. Prinsip kemandirian kekuasaan kehakiman ini merupakan prinsip yang diakui secara universil. konsep kesadaran hukum yang terpadu antara kesadaran hukum penguasa dan perasaan hukum masyarakat. Peranan hakim menjadi sentral dalam hubungan kemanusiaan ini. seperti UN Basic Principles on the Independence of Judiciary (1985). tindakan reformis itu akan diikuti juga oleh kepolisian dan kejaksaan secara berkesinambungan.

keadilan yang dapat diterima semua pihak karena didasari oleh tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagaimana kepala putusan yang dibacakannya. Dengan demikian terjadinya conflict of interest antar sub-sistem dapat dihindari. Jakarta 2002. tugas hakim tidak hanya menerapkan undang-undang terhadap perkara yang tengah diadilinya. konsekuensinya akuntabilitas hakim tidak hanya sebatas undang-undang akan tetapi secara moral dan sosial. dan Reformasi Hukum di Indonesia. reformasi hukum dan peradilan akan memperoleh bentuk yang sesungguhnya. Kekuasaan kehakiman dalam arti ini hendaklah dilihat sebagai suatu bagian yang integral antar sub-sistem peradilan pidana terpadu (integrated criminal justice system) sebagaimana disebutkan di muka yang meliputi subsistem penyidikan. Reformasi struktural tersebut meliputi reformasi kelembagaan di wilayah eksekutif seperti kepolisian. penuntutan. Kecerdasan intelektual harus diimbangi pula dengan kematangan spritual.substansial harus diprioritaskan dan dalam jangka panjang melakukan reformasi kultural. Begitu pula pendekatan legalistik selama ini harus ditinggalkan. Hak Asasi Manusia. Untuk memenuhi harapan itu dibutuhkan kemampuan hakim dalam memahami hukum melampaui batas-batas teks perundang-undangan.30 Melalui pendekatan sistemik ini. akan tetapi suatu kegiatan yang merupakan proyek besar untuk menciptakan keadilan (sosial). Penerbit The Habibie Center. Sinkronisasi atau harmonisasi antar sub-sistem secara keseluruhan akan tercipta. maka meliputi juga kekuasaan penyidikan dan penuntutan. Untuk itu pula. peradilan dan pema- 30 Muladi. Demokratisasi. hendaklah dilihat dalam perspektif yang luas. Hakekat kekuasaan kehakiman yang merdeka dan mandiri. halaman 10 126 Bunga Rampai . Pendekatan fragmentaris dan sektoral akan diminimalisasikan. Moral and social accountability ini merupakan salah satu karakteristik peradilan yang reformis. Dengan demikian semangat itu harus menjiwai semua lingkungan badan peradilan di atas. Apabila lembaga peradilan diartikan secara luas. kejaksaan dan juga wilayah legislatif seperti Dewan Perwakilan Rakyat.

2007 halaman 35 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 127 . berikan saya seorang hakim yang jujur dan cerdas. lepas dari kungkungan pemikiran yang legalistik. berupaya untuk mewujudkan peradilan progresif di mana kegiatan tersebut hendaklah dilihat sebagai suatu proses yang sarat dengan compassion yang memuat empati. Kemandirian dan kemerdekaan itu tidak akan berarti banyak apabila hanya dimiliki oleh salah satu subsistem dalam SPP di atas. Jakarta. Reformasi peradilan sesungguhnya tergantung kepada predisposisi subyek yang melakukan penegakan hukum (pidana) mulai penyidik. Ketika yang menjalankan kekuasaan kehakiman itu terdiri atas manusia. Kebijakan legislatif atau perundang-undang merupakan wilayah yang strategis untuk menentukan kemandirian kekuasaan kehakiman dalam tataran aplikatif di semua lingkungan peradilan nantinya. Pengadilan dalam arti luas. Walaupun harus tetap dipahami bahwa kebijakan legislatif ini tidak secara taken for granted terwujud di lapangan. maka dengan undang-undang yang paling burukpun. penuntut umum dan hakim.syarakatan. Penerbit Kencana Predana Media Group. kebijakan legislatif atau perundang-undangan merupakan tahap awal untuk menentukan kemandirian lembaga ini yang nantinya diikuti oleh taraf aplikatif di lapangan ketika wilayah penegakan hukum in concreto dijalankan. ungkapan Immanuel Kant layak dikemukakan di sini: ”If justice is gone. saya akan menghasilkan putusan yang adil”. determinasi. nurani dan sebagainya. Masalah Penegakah Hukum dan Kebijakan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Kejahatan. Ungkapan Taverne layak dikemukakan di sini ketika ia mengatakan: ”berikan saya seorang jaksa yang jujur dan cerdas. 31 Barda Nawawi Arief. there is no reason for a man to live longer on earth” oleh karena itu keadilan hendaklah menjadi roh penegakan hukum yang sesungguhnya.31 Dalam ide ini. maka predisposisi sebagai subyek untuk menentukan pilihan dalam berbagai alternatif tidak dapat diabaikan. Apakah makna semuanya ini? tidak lain predisposisi subyek akan menentukan kemandirian badan peradilan. jika tidak. Keadilan menjadi tujuan akhir penegakan hukum. Penegakan hukum bukanlah pekerjaan penerapan peraturan dan logika yang secara tradisionil sebagaimana diterapkan selama ini.

Kedua independensi ini harus dilihat sebagai hubungan dialektik. Sistem Peradilan Berwibawa (suatu Pencarian) FH UII Press Yogyakarta. pelaku penegakan hukum yang merupakan kunci utama untuk terwujudnya substantive justice.33 Keadaan deformasi hukum itu merupakan bentuk kesewenang-wenangan secara telanjang. Ibarat nila setitik rusaklah susu sebelanga.Untuk menegakkan hukum secara adil. merupakan ungkapan tepat untuk menggambarkan bahwa perilaku kelembagaan dimanifestasi melalui perilaku individu. Karena di satu pihak independensi atau impartially kelembagaan hanya dapat terwujud melalui perilaku nyata personal/individu penegakan hukum.32 hukum yang akan ditegakkan haruslah benar dan adil. paling tidak harus dipenuhi beberapa syarat misalnya: pertama. Penyimpangan yang dilakukan oleh oknum peradilan dapat menjadi cermin korupnya lembaga itu secara keseluruhan. Komisi Hukum Nasional. Jakarta 2007 halaman 29 128 Bunga Rampai . Keadaan itu tidak dapat dibiarkan berlarut-larut. karena 32 33 Bagir Manan. Di atas telah dikemukakan bahwa independensi kekuasaan kehakiman meliputi independensi kelembagaan dan independensi personal/individual. Dan pada akhirnya keterpurukan dunia peradilan menjadi fenomena yang tidak terelakkan. halaman 9 J. Reformasi yang sejatinya menjadikan segala sesuatu menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Kedua. penyalahgunaan kekuasaan dipraktikkan secara terang-terangan bahkan dibungkus secara rapi melalui slogan hukum seperti asas legalitas. … yang memberi teladan dan menjaga nurani hukum & politik. karena menyangkut kompetensi dan independensi.E Sahetapy. kalau tidak dikelola secara rasional dapat berbalik menjadi deformasi hukum. 2005. di sisi lain independensi personal/individual terkadang diidentikkan dengan independensi kelembagaan. perlindungan hak asasi manusia dan asas praduga tidak bersalah. Unsur pelaku penegakan hukum ini tidak bisa diabaikan. Suatu aturan hukum akan tidak benar dan tidak adil apabila hanya dibuat untuk kepentingan kekuasaan belaka dan mengandung kesewenang-wenangan.

Kontribusi Kejaksaan Dari paparan di atas. Polisi. ketangguhan moral yang tahan uji dan semangat pengabdian yang tinggi. akan tetapi dapat dikemukakan bahwa apa yang telah dirintis oleh Hendarman Supandji merupakan langkah yang terbilang berani.prinsip negara hukum akan runtuh. secara implisit dapat disimpulkan bahwa independensi kekuasaan kehakiman/peradilan merupakan suatu sistem yang integral. Lembaga politik seperti lembaga perwakilan dan juga partai-partai politik harus memberi dukungan yang setulus-tulusnya terhadap langkah-langkah yang telah diayunkan oleh kejaksaan hatta menyangkut dirinya sendiri sekalipun. kontribusi lembaga kejaksaan untuk mempercepat reformasi peradilan dimulai dengan kebijakan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 129 . sebab jika tidak Kejaksaan Agung hanya bekerja untuk dirinya sendiri alias tidak membawa daya guna dan hasil guna. Reformasi hendaknya dijadikan pintu masuk ke arah pembenahan komponen substantif. Kemandirian suatu sub-sistem peradilan tidak akan berarti banyak jika tidak diikuti kemandirian sub-sistem lain secara menyeluruh. Masih terlalu dini untuk menilai kinerja Jaksa Agung saat ini. Secara konseptual. struktural dan kultural penegakan hukum ke arah yang lebih baik. Penegak hukum harus mengabdikan dirinya untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan kebenaran dengan resiko terberat sekalipun. iklim politik yang tengah berkembang janganlah justru menjadikan kejaksaan kehilangan independensinya. Dalam kedudukan sebagai lembaga pemerintahan. Politisasi lembaga kejaksaan dalam melakukan penuntutan perkara pidana hendaklah dihindarkan oleh siapapun juga dengan motivasi apapun. Jaksa dan Hakim harus diisi oleh orang-orang yang memiliki integritas pribadi yang kokoh dalam pengabdian tugas-tugasnya demi bangsa. negara dan darma sejarahnya disamping kemampuan intelektual yang mumpuni. Kekuasaan harus ditundukkan kepada hukum bukan sebaliknya. Supremasi hukum akan tumbang dan kesewenang-wenangan akan terjadi dimanamana. Upaya untuk memproses secara hukum tersangka korupsi dalam skala yang besar membutuhkan dukungan dari sub-sistem politik dan sosial keseluruhan.

oleh karena itu pimpinan kejaksaan hendaklah memberikan perhatian yang besar baik menyangkut promosi maupun kompensasi-kompensasi lainnya. Independensi itu tidak dalam tataran konsepsi akan tetapi hingga tataran realitas atau operasional di lapangan harus diwujudkan. akan tetapi mengandung nilai yang positif apabila dikelola. Mereka jauh dari tindakantindakan yang bertujuan mencari sensasi atau popularitas untuk dirinya sendiri. Untuk itulah kemandirian personal harus dilindungi sebaik-baiknya oleh pimpinan kejaksaan. Penggarapan komponen substantif dan struktural hendaklah diarahkan kepada pembentukan kultur hukum yang bertujuan untuk menegakkan substantive justice bersandarkan kepada profesionalisme dan integritas yang teruji. 130 Bunga Rampai . Penguatan masyarakat madani (“Civil Society”) harus diikuti dengan penguatan sistem kelembagaan penegakan hukum ke arah pembentukan kultur hukum yang lebih baik. Mereka.dalam tataran legislatif atau perundang-undangan dengan menempatkan kejaksaan sebagai lembaga yang independen dari pengaruh kekuasaan apapun. mereka yang mempunyai kekuasaan akan berusaha sekuat mungkin untuk menghambat dan atau mempengaruhi kinerja kejaksaan dalam melaksanakan penegakan hukum secara konsisten. Kebijakan undang-undang yang menentukan jaksa adalah satu dan tidak terpisah-pisahkan dalam melakukan tugas-tugas penuntutan. Mereka yang mengabdikan segenap kemampuannya bagi kejayaan bangsa ini. walaupun dalam tataran empiris menimbulkan permasalahan. Mereka-mereka inilah pendekar hukum yang sesungguhnya. Terjadinya ketidakmandirian itu dapat dihindarkan manakala kejaksaan mampu mengambil jarak dengan pihak-pihak yang mempunyai kepentingan dalam penyelesaian suatu perkara. para jaksa yang bertugas di daerah terpencil jauh dari sorotan media massa dan dengan penuh dedikasi dalam tugasnya merupakan vigilantee yang berjuang untuk kejayaan dan kehormatan profesinya. Melakukan penataan terhadap lembaga hukum yang lain secara sistemik termasuk juga lembaga kepengacaraan sehingga tercapai integrated criminal justice system yang sesungguhnya. Hal ini disebabkan karena. karena itu semua pihak harus melepaskan kepentingannya. Untuk itu sikap vigilantisme hukum harus ditumbuhkan.

keberhasilan-keberhasilan kejaksaan dalam menuntaskan berbagai kasus hendaknya menjadi perhatian semua pihak sehingga penilaian atas kinerja kejaksaan menjadi obyektif.maupun pemerintah dan negara pada umumnya. hendaknya dilakukan secara proporsional dan bijaksana. di samping kerja sama lintas sektoral. Meskipun harus diakui pula bahwa sistem renumerasi di lingkungan kejaksaan masih membutuhkan perbaikan. illegal logging/ fishing. Tidak ada hubungan yang liner antara perbaikan penghasilan dengan integritas jaksa ketika melakukan tugas-tugasnya di lapangan. cyber crime yang terkadang melintasi batas-batas negara. Oleh sebab itu. tanggung jawab dan dukungan sarana dan prasarana yang memadai. Semuanya berpulang kepada niat dan ketulusan masing-masing. Penanganan perkara-perkara yang tergolong perkara penting seperti korupsi. alokasi anggaran untuk menyelesaikan kejahatan-kejahatan di atas. money loundering. Begitu juga aspek struktural perlu mendapat perhatian Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 131 . Permasalahan yang bersifat substantif seperti pembenahan peraturan perundang-undangan yang selaras dengan jiwa/semangat undang-undang kejaksaan yang baru baik menyangkut struktur kelembagaan kejaksaan maupun pelaksanaan tugas dan wewenangnya hendaklah dilakukan secara simultan. regional dan global. Di samping kelemahan-kelemahan yang masih ada. Optimalisasi tersebut membutuhkan dukungan finansial dan sarana serta prasarana yang tidak sedikit serta sumber daya manusia yang baik. akan tetapi bukan suatu alasan pembenar bagi jaksa atau pegawai kejaksaan untuk melakukan penyimpangan. membutuhkan kinerja. Di samping kejahatan konvensional yang terus menerus meningkat membutuhkan penanganan oleh kejaksaan secara optimal. Kebijakan anggaran keuangan yang berbasiskan kinerja hendaklah pula dilihat secara proporsionil dengan mempertimbangkan beban kerja dan tuntutan-tuntutan publik serta besarnya tanggung jawab yang diemban. Begitu juga penyusunan rule of conduct seperti Code Perilaku Jaksa mendesak untuk dilakukan saat ini untuk memenuhi tuntutan profesionalisme sebaik-baiknya. Mempertimbangkan tingkat kesulitan dan kompleksitas masalah yang ditangani.

Pembenahan yang bersifat struktural meliputi organisasi dan tata kerja kejaksaan diarahkan kepada upaya untuk mewujudkan lembaga kejaksaan sebagai institusi yang sederhana dan efisien. sistem pendidikan yang menunjang tugas-tugas profesional jaksa. Komisi Kejaksaan sebagai state auxiliary institution hendaklah dilihat sebagai mitra guna membenahi institusi kejaksaan baik di dalam pengawasan perilaku. Meskipun kejaksaan tidak dapat dilepaskan sebagai lembaga publik yang harus mengakomodasi prinsip-prinsip good government juga harus memperhatikan kebutuhan yang spesifik sebagai suatu lembaga penegakan hukum yang mengemban tugas-tugas yang khusus (legal professional organization).yang sungguh-sungguh. sistem penggajian dan tunjangan jabatan harus dilakukan sejalan dengan kebutuhan yang berkembang dan dilakukan secara cermat. Optimalisasi produktivitas itu merupakan tuntutan publik yang harus direspon oleh kejaksaan secara bijaksana. Keunikan ini hendaknya menjadi perhatian pemerintah yang membidangi penataan aparatur negara. Begitu juga dalam pengelolaan sumber daya manusia harus dilakukan perencanaan dan perhitungan yang matang. struktur organisasi. Oleh sebab itu fungsi pengawasan internal baik meliputi pengawasan melekat maupun pengawasan fungsional dengan pengawasan eksternal dalam hal ini Komisi Kejaksaan perlu dilakukan secara sinergis. Semua pihak harus dilibatkan guna menumbuhkan sense of belonging terhadap institusi kejaksaan. Kesederhanaan dan efisiensi tersebut tidak boleh mengurangi produktivitas kerja yang optimal. kebijakan pembinaan karier. Apabila sebagian kecil permasalahan ini telah dituntaskan. maka pengawasan terhadap jalannya program-program yang telah digariskan harus dilakukan pula secara transparan dan akuntabel. Dan pembentukan kultur di lingkungan kejaksaan harus dibangun secara utuh sehingga kejaksaan menjadi lembaga yang solid. kinerja. Kultur yang dibangun itu hendaklah berangkat dari kesadaran untuk melaksanakan tugas secara profesional. efisien dan simultan. kelengkapan sarana dan prasarana serta sumber 132 Bunga Rampai . transparan dan akuntabel sesuai dengan visi dan misi kejaksaan. mulai sistem rekruitmen pegawai kejaksaan. mutasi dan promosi.

oleh karena itu independensi kekuasaan kehakiman tergantung kepada faktor-faktor internal lembaga peradilan dan political sphare di sekelilingnya.daya manusia di lingkungan kejaksaan. sebab jika tidak. maka usaha perbaikan di dalam sistem peradilan kita secara keseluruhan akan pula menjadi kenyataan. Akan tetapi kondisi-kondisi internal dan eksternalnya sendiri harus pula diperhitungkan. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 133 . Dukungan publik untuk menciptakan kemandirian lembaga peradilan merupakan qonditio sine qua non. Penutup Usaha untuk melakukan reformasi di tubuh peradilan sesungguhnya merupakan perjuangan yang tiada mengenal kata berhenti. Pembenahan yang tengah dilakukan oleh kejaksaan diarahkan kepada tujuan untuk mencapai sasaran tuntutan reformasi itu. Jika reformasi di tubuh kejaksaan telah terwujud. faktor-faktor itu merupakan variabel yang mempengaruhi kinerja dan hasil yang akan dicapai oleh kejaksaan guna memenuhi ekspektasi publik Dukungan publik terhadap upaya yang dilakukan oleh kejaksaan haruslah diarahkan kepada upaya untuk memberdayakan kejaksaan agar menjadi sub-sistem peradilan yang mandiri dan akuntabel. Kemandirian dan akuntabilitas itu menjadi standar bagi keberhasilan kejaksaan dalam memenuhi harapan publik dan pelaksanaan tugas dan wewenangnya secara baik. reformasi peradilan menjadi sekedar wacana yang tak bermakna. Kejaksaan tidak hanya dituntut untuk merespon tuntutan publik secara cepat tepat dan independen. Optimisme itu harus menjadi komitmen nyata kita semua. Reformasi merupakan sebuah ideologi untuk membangun seluruh komponen bangsa ke arah yang lebih baik. Politisasi lembaga peradilan mutlak harus diakhiri.

134 Bunga Rampai .

H.M. Saat ini kehadiran forum tersebut sangat dibutuhkan khususnya pada saat KUHAP sedang dalam revisi karena dinilai sudah tidak sesuai dengan tuntutan pencari keadilan pasca reformasi.* Pendahuluan Salah satu wujud reformasi di bidang penegakan hukum yang cukup signifikan adalah terputusnya hubungan eksekutif dan yudikatif dengan kembalinya pembinaan dan pengawasan hakim di bawah Mahkamah Agung. Sp. Lebih dari itu.. atas nama koordinasi tidak jarang keadilan dikebiri untuk mendukung kepentingan pemerintah atau yang mengatas namakan kepentingan pemerintah.N. sehingga mengganggu independensi instansi peradilan. Pandupraja S. tetapi kemudian dibebaskan oleh Pengadilan. Terputusnya koordinasi di antara para penegak hukum lebih disebabkan karena trauma oleh intervensi pihak yang tidak bertanggung jawab dimasa lalu. Sikap pengadilan tersebut dianggap men- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 135 . Bukti terputusnya koordinasi SPP dapat digambarkan dari permintaan petinggi Polri kepada Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) untuk mengkritisi kinerja peradilan terhadap kasus pembalakan liar (illegal logging) yang cenderung mengabaikan kinerja Polri. Dengan biaya yang tidak sedikit Polri telah bersusah payah menangkap dan memeriksa tersangka pembalakan liar. LL.Kontribusi Komisi Kepolisian Nasional Dalam Mempercepat Reformasi Peradilan A.. Efek yang kurang menguntungkan adalah hilangnya forum koordinasi Sistem Peradilan Pidana (SPP) untuk mengefisienkan kinerja antar instansi penegak hukum.

Sebuah mata rantai yang saling terkait satu sama lain (garbage in garbage out). namun dapat menginisiasi pembentukan forum antar tiga komisi negara di bidang SPP. Tulisan ini akan menguraikan tentang Kompolnas dan peran strategisnya dalam turut membangun Polri yang professional dan mandiri sebagai bagian dari SPP. Sebagai sebuah sistem. yang sama-sama menjalankan fungsi pengawasan diharapkan dapat bersinergi untuk turut mereformasi SPP dengan tetap memperhatikan independensi masing-masing.jatuhkan wibawa Polri dalam memberantas pembalakan liar. Pada bagian akhir dari tulisan ini akan menekankan pada upaya strategis yang dapat diperankan oleh Community Policing untuk mereduksi gelombang perkara yang melanda lembaga peradilan. Ketidaksamaan visi ini nampak dari perbedaan mendasar pada kewenangan memeriksa (subpoena power) yang tidak dimiliki oleh Kompolnas tetapi dimiliki oleh Komisi Yudisial dan Komisi Kejaksaan. Pemisahan yang ingin mengembalikan Polri ke khittah-nya adalah sebagai akibat dari ketidakpercayaan masyarakat terhadap TNI-Polri yang telah disalahgunakan oleh rezim Orde Baru.2/1999 tentang pemisahan TNI-Polri. Ketiganya. Eksistensi Kompolnas Sejarah lahirnya Kompolnas didominasi oleh isu keluarnya Polri dari ABRI yang tercermin pada Instruksi Presiden No. Kondisi tersebut dinilai oleh banyak kalangan menjadi latar belakang mengapa Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tidak memiliki kesamaan visi mengenai reformasi SPP melalui komisi-komisi. problem kinerja pada instansi Polri akan berdampak pada kinerja instansi kejaksaan dan instansi peradilan. yaitu Kompolnas. Padahal kewenangan tersebut sangatlah mendasar dan sekaligus penting untuk menun- 136 Bunga Rampai . 4 Tahun 2005 tentang Pemberantasan Penebangan Kayu Secara Illegal di Kawasan Hutan dan Percepatannya di Seluruh Indonesia. Sebaliknya problem di instansi peradilan tidak lepas dari problem masukan yang diterima dari instansi Kejaksaan dan Polri. Polri terkesan sembrono dan tidak profesional dalam melaksanakan Inpres No. Komisi Kejaksaan dan Komisi Yudisial. Kompolnas tidak memiliki hubungan langsung dengan institusi peradilan.

dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkum dan HAM). Keberadaan menteri ex officio tersebut tentu bukan dimaksudkan untuk menjawab persoalan subordinasi semata. Polri menggunakan asas dekonsentrasi sementara Satpol PP yang berinduk kepada Pemerintah Daerah menggunakan asas desentralisasi. ditambah tiga pakar kepolisian dan tiga wakil masyarakat. tetapi lebih ditujukan untuk memperkaya masukan sebagai pertimbangan Kompolnas dalam merumuskan arah kebijakan Polri (policy maker) bersama-sama dengan pakar kepolisian dan wakil masyarakat (tidak satu pun anggota Kompolnas berasal dari unsur Polri). muncul persoalan subordinasi mengapa Polri ditempatkan di bawah Presiden berdasarkan Keputusan Presiden No. Misalnya. Berbagai spekulasi sempat mencuat ke permukaan bersamaan dengan pembahasan RUU Polri.89/2000. Rumusan tersebut lebih diarahkan untuk mendudukan secara Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 137 . seperti Polisi Khusus Kehutanan (Polsus Kehutanan) yang izinnya dikeluarkan oleh Menteri Hukum dan HAM. persoalan persoalan yang menghambat sinergi kelambagaan antara Polri dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang dilatarbelakangi oleh perbedaan asas. Atau persoalan yang menghambat sinergi antara Polri dengan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS). Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam). seyogyanya masukan menteri ex officio meliputi pula portofolio departemen yang menjadi kompetensinya masing-masing.jang kewibawaan lembaga pengawas eksternal. Setelah Polri dipisahkan dari TNI. Hasil evaluasi kinerja Polri terkait relasi kelembagaan sesuai portofolio masing-masing departemen tersebut dapat menjadi masukan dalam menyusun arah kebijakan Polri yang menjadi kewenangan Kompolnas untuk diajukan kepada Presiden dalam rangka membangun Polri yang profesional dan mandiri (Pasal 39 UU No. Arah kebijakan yang telah dirumuskan agar tidak diarahkan untuk memberi peluang kooptasi satu lembaga terhadap lembaga lain. Menteri Dalam Negeri (Mendagri). Jawabannya Polri disubordinasikan oleh Kompolnas dengan keberadaan tiga menteri ex officio sebagai anggota yaitu. 2 Tahun 2002). Dalam merumuskan arah kebijakan Polri. sedangkan TNI berada di bawah Depertemen Pertahanan.

Misalnya mengandung materi muatan yang menginstruksikan pemerintah daerah untuk mendukung kinerja Polri dalam mengamankan Pilkada. 5) Penggunaan diskresi yang keliru. Peraturan Kompolnas Dalam menjalankan mandatnya. maka ia akan menjadi pedoman bagi Polri dalam membuat kebijakan teknis kepolisian (Pasal 38 ayat (1) UU No. Peran policy maker bagi Kompolnas tersebut tentu bukan persoalan yang bisa dianggap sepele oleh Polri.proporsional peranan Polri selaku penjuru dan pengendali urusan keamanan dan mengeliminasi potensi arogansi sektoral yang dapat memposisikan Polri sebagai lembaga superbody. Ada 5 jenis keluhan masyarakat yang diatur secara limitative oleh UU Polri: 1) Penyalahgunaan wewenang 2) Dugaan korupsi 3) Pelayanan yang buruk. Sejak arah kebijakan Polri yang dipersiapkan oleh Kompolnas berubah bentuk menjadi Peraturan Presiden (atau Instruksi Presiden). Dan Polri tidak memilliki pilihan lain selain menjabarkannya pada level kebijakan teknis. Beberapa ketentuan penting yang diatur dalam OTK. 2 Tahun 2002). Termasuk menteri terkait lain sesuai dengan materi muatan kebijakan Presiden tersebut. 1. 4) Perlakuan diskriminatif. Posisi strategis Kompolnas sebagai policy maker tersebut diharapkan dapat menjawab persoalan subordinasi posisi TNI di bawah Departemen Pertahanan. Kesetaraan posisi sesama anggota Kompolnas. Kompolnas telah mengeluarkan beberapa peraturan tentang: i) Organisasi dan tata kerja (OTK) ii) Kode Etik iii) Tata Cara Penanganan Saran dan Keluhan Masyarakat (SKM). karena berbagai kepentingan dapat berpotensi untuk menunggangi Kompolnas (atau dianggap menunggangi Kompolnas) dalam membuat disain strategis Polri masa datang. Karena setidaknya ada dua departemen dengan portofolionya masingmasing turut merumuskan arah kebijakan Polri yang akan menjadi panduan pimpinan Polri dalam membuat kebijakan teknis kepolisian. 138 Bunga Rampai . atau menginstruksikan pemerintah daerah untuk mendukung program program community policing (Polmas).

pasal 33 ayat 3 OTK: “Pengambilan keputusan dalam pertemuan anggota Kompolnas dinyatakan sah apabila disetujui oleh sekurang kurangnya 5 (lima) orang anggota Kompolnas”. kedudukan menteri tidak lebih tinggi dari anggota non menteri dalam pengambilan keputusan pada Rapat Anggota Kompolnas. Kesenjangan tersebut telah dijembatani pada pasal 25 ayat 2 OTK yang berbunyi “Saran dan Keluhan Masyarakat yang diterima oleh Kompolnas disampaikan kepada satuan Polri terkait untuk ditindaklanjuti dan hasilnya disampaikan kepada Kompolnas”. . Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 139 . Ketentuan di atas menggambarkan bahwa sebagai sesama anggota komisi.pasal 33 ayat 2 OTK: “Pertemuan Anggota Kompolnas dinyatakan sah apabila dihadiri oleh sekurangkurangnya 5 (lima) orang anggota Kompolnas termasuk Pejabat Penghubung liaison officer/LO” (L. Pasal 38 ayat (2) c UU Polri mengatur bahwa Kompolnas menyampaikan Saran dan Keluhan Masyarakat (SKM) kepada Presiden. Apabila Kompolnas tidak dapat menerima atau keberatan terhadap hasil tindak lanjut SKM oleh satuan Polri terkait. UU tidak mengatur hubungan kelembagaan Kompolnas dengan Polri sebelum SKM disampaikan kepada Presiden. 2. Pasal tersebut menggambarkan bahwa Kompolnas sangat bergantung dari hasil pemeriksaan internal Polri terhadap SKM yang diterima oleh Kompolnas. . Kompolnas dapat berhubungan langsung dengan satuan Polri terkait. namun forum tertinggi yang dapat mengambil keputusan penting Kompolnas adalah Pertemuan Anggota Kompolnas. maka Kompolnas dapat meminta “gelar perkara“ sesuai ketentuan pasal 25 ayat 3 OTK yang menyatakan “Kompolnas dapat meminta Polri untuk memberikan penjelasan yang berkaitan dengan keluhan masyarakat dalam pertemuan Kompolnas”.Meskipun Ketua Kompolnas adalah Eks Officio Menkopolhukam dan Wakil Ketua Kompolnas adalah Eks Officio Mendagri. adalah pejabat yang ditunjuk untuk mewakili menteri manakala yang bersangkutan berhalangan hadir).O.

Modus operandi yang digemari aparat dalam menakut-nakuti korban adalah ancaman penahanan. Yaitu: 1. Manakala tidak hadir setelah dipanggil dengan cukup. (i) Tidak jarang objek perkara yang sama.Pasal tersebut menunjukan bahwa Polri sudah kooperatif dalam mendukung eksistensi Kompolnas. Kolusi dalam penyelenggaraan perjudian. Sebagian pengaduan masyarakat yang berjenis penyalahgunaan wewenang oleh aparat penyidik berupa kriminalisasi masalah perdata. 2. Pengaduan Masyarakat Kompolnas memiliki kewenangan untuk menerima pengaduan dari masyarakat mengenai kinerja aparat Polri. Hal ini disebabkan karena buruknya manajemen penyidikan dan dapat dilihat dari. aparat merasa punya cukup alasan untuk menjebloskan korban dalam tahanan. Laporan penelitian mahasiswa PTIK angkatan XXXIX-A telah menemukan 11 jenis KKN pada Satuan Organisasi Reserse Kriminal (Reskrim) Polri. (ii) Terabaikannya prosedur penanganan perkara dengan berkoordinasi dengan instansi Kejaksaan. mengubah posisi pelapor menjadi tersangka dan lain-lain. Bunga Rampai 140 . Sebuah penerapan prinsip kemandirian yang keliru dan cenderung mencederai asas dekonsentrasi. Potensi penyalahgunaan wewenang oleh aparat Penyidik Polri sangat besar. Penyimpangan prosedur pinjam pakai barang bukti. Penyimpangan prosedur penangguhan penahanan. namun belum dijembatani dengan MoU atau Skep Kapolri untuk menindaklanjuti permintaan Kompolnas kepada satuan Polri terkait. Dengan dua bukti tersebut. 3. (iii) Akuntabilitas penyidikan sangat rendah sehingga memungkinkan terjadinya diskriminasi terhadap tersangka. Rekayasa penanganan/penindakan kasus pembalakan liar. tetapi ditangani oleh beberapa instansi di lingkungan Polri dengan alasan karena dilaporkan oleh orang yang berbeda sehingga tersangkanya menjadi berbeda pula. Penyalahgunaan wewenang dapat dibuktikan dengan dibebaskannya tahanan setelah menjalani hukuman selama 60 hari dalam tahanan Contoh kasus DR Chairuddin. korban didaftarkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). 4.

2. Sah atau tidaknya suatu upaya paksa berupa penangkapan atau penahanan. Penyimpangan penerbitan surat keterangan kehilangan kendaraan bermotor untuk persyaratan klaim asuransi. 6.5. 7. 11. Penyimpangan dalam penanganan kasus depo bahan bakar minyak (BBM) illegal. atau (ii) mempercepat mulainya proses pemeriksaan pokok perkara sebelum selesainya pemeriksaan gugatan praperadilan (pasal 82 ayat 1 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 141 . Sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan. Penyimpangan dalam penyelidikan dan penyidikan perdaran VCD bajakan. Ibarat dokter yang sedang mendiagnose penyakit polisi. temuan berharga tersebut dapat diibaratkan sebagai jenis penyakit polisi yang harus disembuhkan atau dieliminasi oleh Kompolnas ketika merumuskan arah kebijakan Polri untuk disampaikan kepada Presiden. 8. 9. tentu akan berakibat buruk bagi masa depan karir Penyidik. Karena itu Penyidik akan berupaya keras agar gugatan praperadilan gugur. 10. (i) menunda-nunda acara persidangan praperadilan. Kolusi pengelolaan kegiatan prostitusi. Potensi KKN polisi di lembaga peradilan Upaya hukum untuk melindungi tegaknya hukum dan perlindungan hak asasi tersangka dalam pemeriksaan penyidikan terhadap dugaan penyalahgunaan wewenang oleh aparat penyidik Polri adalah melalui gugatan praperadilan (pasal 77 KUHAP). Contohnya adalah persidangan kasus Nurhadi di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. dalam rangka menunggu agar persidangan pokok perkara dapat segera dimulai sebelum acara putusan gugatan praperadilan. Apabila gugatan praperadilan diterima oleh pengadilan. Gugatan praperadilan bertujuan untuk menguji: 1. Penyimpangan dalam penanganan kasus-kasus narkoba. Terjadinya sindikat tindak pidana bidang pertanahan. Penyimpangan proses penyelidikan kasus pidana. Upaya yang dapat dilakukan oleh Penyidik adalah.

(ii) membuat gaduh suasana persidangan seolah-oleh akan terjadi keributan dengan tujuan agar hakim yang mengadili gugatan praperadilan menjadi terprovokasi atau ketakutan. Upaya hukum yang dilakukan oleh kedua keluarga korban yang telah diatur dalam KUHAP adalah melakukan gugatan praperadilan perihal prosedur 142 Bunga Rampai . kasus penembak tersangka yang sedang ditangkap oleh aparat Polri. Untuk upaya yang kedua Penyidik harus berkolaborasi dengan Jaksa Penuntut. Kompolnas tidak memiliki salah satu dari kewenangan tersebut. Contohnya adalah kasus Suherman di Pengadilan Negeri Medan. untuk masalah dugaan korupsi. Kerjasama dengan Komisi Negara Lembaga pengaduan eksternal terhadap kinerja Polri sudah ada dan tersebar di beberapa instansi pemerintah maupun di lembaga kepresidenan. lembaga pengaduan eksternal yang menangani masalah-masalah khusus terdapat pada berbagai komisi negara seperti KPK dan Komnas HAM. Cara lain yang relatif lebih ringan adalah. Misalnya. menuntut dan mengadili. Cara di atas agak berbelit-belit dan melibatkan beberapa pihak yang belum tentu berpihak pada kepentingan penyidik. seperti yang terjadi di Medan dan Jakarta beberapa waktu lalu. rekomendasi pengaduan masyarakat yang diberikan Kompolnas kepada Polri untuk ditindaklanjuti berpotensi untuk diabaikan. (i) melobi hakim agar berpihak pada kepentingan penyidik yang mendapat dukungan dari tokoh masyarakat dan LSM. (iii) Tidak segera mengamankan pengadilan manakala dibutuhkan pada saat pengadilan menghadapi demonstran yang brutal. Selain itu.KUHAP). lembaga departemen seperti Menteri Penertiban Aparatur Negara maupun non departemen seperti Kejaksaan. Yang membedakan di antara seluruh lembaga pengaduan tersebut adalah kewenangannya untuk menyelidik dan menyidik (subpoena power). Contohnya adalah sidang gugatan praperadilan kasus Nurhadi di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Lalu mempercepat penunjukan hakim dan selanjutnya mempercepat mulainya proses pemeriksaan pokok perkara. Semakin banyak kewenangan yang dimilikinya akan semakin berperan dalam merespon keluhan masyarakat sehingga akan sangat disegani oleh pihak yang diadukan. Oleh karenanya.

Apakah akan berkoordinasi dengan instansi Polri. Kerjasama dengan KPK layak ditingkatkan manakala Kompolnas diabaikan atau bahkan tidak dihargai sebagai lembaga pengawas ekternal. Misal lain adalah pengaduan yang terkait dengan pelanggaran administrasi anggota Polri yang merupakan wewenangan Kompolnas dan Komisi Ombudsman Nasional (KON). Menanggapi pengaduan tersebut. Kalau mencermati kesetaraan posisi sebagai komisi negara. sesuai kewenangan Kompolnas dalam menerima saran dan keluhan masyarakat. Tindak lanjut dari permintaan ini tentu sangat tergantung dari kemauan Polri. Kompolnas tidak dapat memanggil paksa aparat tersebut untuk diperiksa. Namun. KPK menjadi penjuru yang merancang secara bertahap reformasi birokrasi yang menghambat pemberantasan korupsi. upaya ini ditolak oleh Pengadilan Negeri di masing-masing wilayah. Penolakan ini seolah-olah turut mengubur akuntabilitas aparat yang menembak korban. Kompolnas seyogyanya mendahulukan untuk berkoordinasi dengan KPK untuk dapat mengetahui tingkat keseriusan masalah korupsi di tubuh Polri sebagai salah satu penegak hukum. Kompolnas memiliki beberapa pilihan untuk menindaklanjuti pengaduan tersebut. Manakala diperlukan Kompolnas layak untuk bersinergi dengan Komnas HAM berkaitan dengan kewenangannya untuk memanggil dan memeriksa pihak yang diadukan (Pasal 89 ayat (3) UU No. perihal pengaduan dugaan korupsi oleh anggota Polri yang disampaikan kepada Kompolnas. Yang terpenting dalam menempatkan KPK sebagai mitra kerja Kompolnas adalah saran KPK dalam membangun Polri yang bebas dari korupsi. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia). Contoh lain. Kompolnas telah meminta agar Polri memeriksa aparat yang bertanggung jawab terhadap pengaduan tersebut. Kejaksaan atau KPK. keluarga korban mengadukan hal itu kepada Kompolnas guna meminta akuntabilitas aparat Polri yang menembak korban. Karena keterbatasan kewenangan. Selanjutnya.penangkapan. Dalam pemberantasan korupsi. Padahal antara masalah prosedur penangkapan dan masalah akuntabilitas penembakan korban adalah dua persoalan yang berbeda secara substansi. Ketika kedua lembaga tersebut sama-sama meneri- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 143 .

maka selayaknya mereka perlu untuk saling berkoordinasi. dituntut. ditahan. Beberapa pasal menarik Cukup banyak peraturan dalam rangka mengkoreksi kinerja penegak hukum. Koordinasi juga penting untuk menghindari tumpang tindih kewenangan dalam menerima dan menangani pengaduan. peraturan menteri maupun peraturan yang dikeluarkan oleh pimpinan instansi masingmasing. Koordinasi antar komisi negara mendesak untuk dilaksanakan dalam rangka mengefisienkan kinerja komisi-komisi negara dalam mengoptimalkan sinergi di antara mereka. Kewenangan memeriksa (subpoena power) yang dimiliki oleh beberapa komisi negara seperti Komnas HAM dan KPK sangat penting untuk disinergikan oleh komisi negara yang membutuhkan kewenangan tersebut. 4 Tahun 2004 tentang Kehakiman Pasal 9 ayat 1 dan 2 berbunyi sebagai berikut: (1) Setiap orang yang ditangkap. Kata kunci pemborosan seyogyanya menjadi momok bersama. Karena pada umumnya pengaduan dikirim kepada hampir seluruh lembaga terkait. (2) Pejabat yang dengan sengaja melakukan perbuatan Bunga Rampai 144 . berhak menuntut ganti rugi kerugian dan rehabilitasi. 1. peraturan pemerintah. Desakan dan kritik masyarakat untuk merestrukturisasi komisi negara agar penjadi perhatian kita semua. atau diadili tanpa alasan berdasarkan undang-undang atau karena kekeliruan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkannya. Di samping alasan pemborosan anggaran juga masalah efektifitas penyidikan. Juga untuk menegakkan asas nebis in idem. baik dalam bentuk undang-undang. Pasal 9 UU No. Kompolnas sangat perlu belajar banyak dari KON dalam menangani pengaduan masyarakat. karena telah dinilai sukses oleh masyarakat meski memiliki wewenang yang terbatas seperti Kompolnas. Persoalan yang harus disikapi sejak dini oleh para lembaga penerima pengaduan tersebut. Sebagian dari peraturan tersebut sayangnya sangat jarang digunakan secara benar.ma pengaduan. Jangan sampai polisi terlapor akan diperiksa berkali-kali untuk materi pengaduan yang sama oleh instansi yang berbeda-beda.

yaitu satu kata dengan perbuatan secara berkesinambungan. Profesional merupakan kemahiran dan kemampuan tinggi yang didukung oleh pengetahuan. pada umumnya Jaksa Penuntut kasus tersebut langsung dieksaminasi atau diperiksa oleh Asisten Pengawasan Kejaksaan Tinggi. 3. mudah diucapkan tetapi sulit dilaksanakan karena belum ada kesamaan visi mengenai apa yang dimaksud dengan profesional. Menurut buku panduan HAM untuk anggota Polri. 145 . Konsekuensi apapun baik perdata. sikap. Pasal di atas sepertinya belum pernah diterapkan secara utuh terhadap aparat penegak hukum. keterampilan dan sikap emosional yang matang. Komitmen (commitment). keterampilan dan kematangan emosional dalam melaksanakan tugas di bidang masing-masing sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku dan standard pekerjaannya (SOP). Instansi yang konsisten dalam menerapkan aturan PP 30 Tahun 1980 tersebut adalah kejaksaan. Konsekuensi logis bagi seorang notaris/PPAT yang membuat akta adalah yang bersangkutan harus bisa mempertanggungjawabkan setiap kata atau kalimat yang terdapat pada akta notaril yang telah dibuatnya. Ketentuan yang umum digunakan adalah PP 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. 2.sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana. sementara Jaksa Penuntut diperiksa? Jawaban atas persoalan tersebut bergantung pemahaman Polri terhadap profesionalisme penyidikan dan konsekuensi logis dari sebuah profesi. yaitu memiliki pengetahuan. Kata profesional. pidana maupun administratif harus siap dihadapi Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 1. 4. yaitu keterkaitan antara pengetahuan. yaitu mencintai bidang tugas yang dilakukan. sikap dan keterampilan dengan pekerjaan yang dilakukan. Keterkaitan (connection). ada 4 (empat) indikator kapan seorang polisi disebut profesional: Kompeten (compentence). Konsisten (consistence). Apabila dakwaan jaksa dinyatakan tidak dapat diterima oleh majelis hakim. Bagaimana dengan akuntabilitas aparat polisi apabila yang bersangkutan telah ditangkap dan ditahan? Apakah polisi yang menangkap dan menahan tidak perlu turut bertanggung jawab.

Pasal 3 dan 4 Peraturan Pemeritah No. Kalangan penyidikpenyidik Polri sangat paham bagaimana menginterogasi notaris/PPAT dalam meminta pertanggungjawaban sebagai notaris/PPAT. Meskipun uang yang didapat tidak sebanding dengan tanggung jawabnya. Sungguh menjadi dambaan masyarakat madani apabila prinsip partisipasi yang ada pada Konsil Kedokteran juga diadopsi oleh Polri dalam menangani pengaduan masyarakat terhadap anggotanya. saran atau pendapat dari masyarakat … harus disampaikan secara tertulis …. dokter. 146 Bunga Rampai . Prinsip partisipasi sebagai salah satu unsur masyarakat madani telah berlaku bagi dunia kedokteran. Konsil Kedokteran akan memeriksa pengaduan tersebut apakah terjadi pelanggaran hukum. Begitu pula dengan profesi dokter.oleh yang bersangkutan. Pasal 3 PP 71/2000 berbunyi sebagai berikut: (1) Informasi. (2) Setiap informasi. Selanjutnya pasal 4 dari peraturan tersebut memberi batas waktu bagi aparat untuk memproses sebelum klarifikasi selama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal informasi. atau pendapat dari masyarakat harus diklarifikasi dengan gelar perkara oleh penegak hukum. Community Justice melalui Community Policing Sampai saat ini masyarakat yang tinggal di Meruya masih tetap siaga melakukan perlawanan terhadap segala upa2. pemerintah dan konsumen. komposisi Konsil Kedokteran terdiri dari perwakilan stakeholder: akademisi. pelanggaran disiplin atau pelanggaran etika. Ketika seorang dokter diduga melakukan mal praktek.17 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat dan Pemberian Penghargaan Dalam Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Yang menarik. Setiap tindakan medis yang dilakukan oleh seorang dokter juga membawa konsekuensi baik perdata. pidana maupun administratif. saran atau pendapat diterima. saran. Sayangnya pada saat bersamaan penyidik Polri tidak berpikir bahwa sebagai sesama profesi dirinya juga harus dapat mempertanggungjawabkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang dibuatnya.

ya untuk menangkal eksekusi Putusan Mahkamah Agung. tidak jelas mana Utara mana Selatan. sosial dan politik. Tiba-tiba muncul putusan Mahkamah Agung yang membatalkan kepemilikan tanah mereka. Ia akan kehilangan arah mengadu nasib diantara badai ombak samudra. Pandangan seperti itu tercermin pula dari hasil penelitian Kompas tanggal 17 Maret 2003 bahwa 86. Meskipun demikian. Stigma yang melekat terhadap dunia peradilan.6% responden tidak percaya terhadap kinerja penegakan hukum. Kasus Meruya hanya salah satu dari segudang putusan Mahkamah Agung pasca reformasi yang jauh dari rasa keadilan yang menjadi tujuan dari kekuasaan kehakiman seperti yang diamanatkan oleh UU No. Tidak heran kalau kemudian ada peribahasa Jawa yang berbunyi. setiap putusan menggunakan irah-irah Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. kasus yang masuk pengadilan dianggap sebagai komoditas. jumlah perkara yang masuk ke pengadilan setiap tahun selalu meningkat sejalan dengan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 147 . 4 Tahun 2004. Hukum dianggap selalu benar dan adil. Segala daya upaya dikerahkan agar putusan tersebut tidak dapat dilaksanakan. Hukum harus ditegakkan sekalipun langit akan runtuh. Mereka telah tinggal berpuluh tahun di Meruya tanpa ada gangguan dan teguran perihal status hukum kepemilikan tanah mereka. Untuk mensakralkan putusan hakim. “ngurus cempe kelangan sapi”. Bahkan tidak satupun responden yang berpendapat penegakan hukum di Indonesia sudah berjalan baik. Pencari keadilan yang memasuki arena peradilan diibaratkan menceburkan diri dalam gelombang samudra yang menafikan eksistensi kemanusiaan pencari keadilan. Cara pandang hakim dalam memutuskan kasus tersebut disebut legalisme yang dikomandani oleh Hans Kelsen dan Jhon Austin. maksudnya mengurus perkara senilai anak kambing tapi biaya yang harus dikeluarkan senilai sapi. karena mereka merasa telah membeli secara sah tanah mereka dihadapan pejabat yang sah dan mendapat bukti kepemilikan berupa sertifikat tanah yang dikeluarkan oleh BPN. Bahkan ia akan tergulung oleh ganasnya ombak samudra peradilan. Hukum di atas segalanya. Faham ini berpendapat bahwa hukum sebagai sistem yang otonom alias lebih superior dibanding dengan sistem lain seperti ekonomi.

Polmas antara lain bertujuan menyelesaikan pertikaian antar warga dengan difasilitasi oleh petugas kepolisian yang menggunakan mekanisme informal dengan berpegang pada norma-norma sosial setempat dan kesepakatan-kesepakatan lokal oleh masyarakat sekitar (community justice). Mahkamah Agung telah menerbitkan Surat Edaran Mahkamah Agung No. PERMA tersebut dimaksudkan memberi peluang terakhir (meskipun bukan yang paling akhir) bagi para pihak yang bersengketa untuk damai. Upaya terbaru yang dilansir pemerintah untuk mengurangi volume perkara di pengadilan adalah lembaga community policing yang disebut dengan Perpolisian Masyarakat (Polmas) melalui Keputusan Kapolri No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Penyelesaian Sengketa. Upaya tersebut ternyata tidak berhasil menyurutkan gelombang perkara ditingkat banding dan Kasasi.peningkatan kesadaran hukum masyarakat. Dengan harapan agar para pihak yang berperkara akan mencabut gugatannya. negara sejak lama telah mengakomodir melalui UU No. Pol: SKEP/432/VII/2006 tentang Panduan Fungsi Samapta Dengan Pendekatan Perpolisian Masyarakat (Polmas). 1 Tahun 2002 dengan judul “Pemberdayaan Pengadilan Tingkat Pertama Dalam Menerapkan Lembaga Damai”. Ketentuan tersebut diperkuat lagi dengan Keputusan Kapolri No. Karena itu Mahkamah Agung lalu merubah Surat Edaran tersebut menjadi Peraturan Mahkamah Agung No. Namun kenyataannya tetap saja mekanisme tersebut tidak berhasil mengurangi secara berarti volume perkara di pengadilan. Upaya untuk mengurangi volume perkara di luar pengadilan. 2 tahun 2003 dengan judul “Prosedur Mediasi di Pengadilan” (PERMA). Lembaga yang dimaksud adalah Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) untuk urusan arbitrase dan Pusat Mediasi Nasional (PMN) untuk urusan mediasi sengketa perdata. Untuk menanggulangi penumpukan perkara di lembaga peradilan. Pol: SKEP/737/ X/2005 tentang Kebijakan dan Strategi Penerapan Modal Perpolisian Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Tugas Polri. Mediasi sengketa perdata lebih dikenal dengan istilah Alternatif Dispute Resolution (ADR). 148 Bunga Rampai . sehingga jumlah kasus di Mahkamah Agung sudah menggunung.

Reformasi tata pemerintahan telah membagi kewenangan antara pusat dan daerah. Meskipun UU Otonomi Daerah telah memberi peluang bagi Satpol PP untuk mengambil peran dalam penegakkan hukum lokal. mengakibatkan pudarnya norma moral dan sosial. Keterbatasan jumlah. Bahkan. Posisi Satpol PP menjadi semakin kuat mendukung kewibawaan pemerintah lokal. Kekosongan penegakan hukum ditingkat pemerintah lokal kabupaten/kota telah diisi dengan keberadaan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Polri sudah sangat disibukkan dengan urusan penegakan hukum ditingkat nasional dalam rangka mempertahankan negara kesatuan Republik Indonesia. khususnya televisi sebagai penyumbang terbesar dalam perubahan norma sosial. namun tetap saja belum dapat memenuhi harapan masyarakat. Dalam rangka mengamankan UU Kehutanan No. penerapan asas dekonsentrasi secara rigid mendominasi alasan mengapa Polri terisolasi dari masyarakatnya. mengakibatkan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 149 . Misalnya nilai nilai kebersamaan. Profesionalisasi juga memiliki andil dalam memisahkan masyarakat dari tatanan sosialnya. Kondisi yang sama juga terjadi ditingkat teknis departemental. Derasnya arus modernisasi mendorong masyarakat dimanapun untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama yang telah mengakar kuat dalam satu komunitas. Akibatnya terjadi kekosongan penegakan hukum ditingkat pemerintah lokal.Community Policing Kata community atau masyarakat tidak dapat didefinisikan secara sederhana karena memiliki makna yang berbeda beda dan lingkup yang berbeda-beda untuk setiap orang yang mendefinisikannya. nilai dan masalah yang beraneka ragam di suatu lingkungan pada suatu wilayah tertentu. Disamping itu. Setiap masyarakat memiliki karakteristik yang berbeda-beda antara budaya.41 Tahun 1999. untuk urusan penegakkan hukum di pelabuhan. gotong royong. aparat Bea Cukai telah mengambil alih posisi Polri sesuai UU Bea Cukai. Teknologi media komunikasi. Masyarakat cenderung keluar dari norma-norma sosial yang selama ini dijunjung tinggi. tolong menolong. Polisi Khusus Kehutanan menggantikan posisi Polri untuk urusan teknis kehutanan. Hasil penyidikan aparat Bea Cukai langsung diserahkan kepada Jaksa Penuntut Umum tanpa koordinasi dengan Polri.

Polmas melalui Forum Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM) baru sebatas memecahkan konflik antar warga maupun antar warga dengan polisi/pejabat setempat. bangunan liar dan lain lain yang tidak kalah penting daripada urusan menertibkan papan reklame. Hasil Evaluasi Polmas 2005 oleh Polri telah merekomendasikan agar dukungan pemerintah setempat menjadi variable penting dalam perumusan maupun pengembangan program Polmas. Pelanggaran hukum dan Perda Penegakan hukum oleh komunitas telah dapat diselesaikan dengan menggunakan kearifan lokal sesuai kondisi (baca: kebutuhan) masyarakat sekitar. tertib dan bersih. Dukungan pemerintah lokal sangat diperlukan dalam rangka menjaga kesinambungan maupun keberlanjutan program Polmas. program Police Goes To Kampung. Penelitian LP3ES telah mengangkat temuan bagaimana masyarakat lokal telah berhasil menindak pelanggaran pidana dengan menggunakan kearifan lokal melalui mekanisme Alternatif Dispute Resolution (ADR). Misalnya terhadap penebangan liar di kawasan hutan lindung. Seperti masalah membuang sampah sembarangan. Lombok Barat telah merumuskan pelanggaran dan sanksi bagi perambah hutan lindung sebagai berikut: 150 Bunga Rampai . Patroli Komunitas (Ronda). Legitimasi sangat diperlukan dalam rangka membangun kepercayaan masyarakat lokal. Dukungan dapat berupa anggaran maupun legitimasi program dalam bentuk Peraturan Daerah. Mereka aktif membersihkan papan reklame yang melanggar aturan apabila tidak membayar pajak papan reklame. Saat ini Polmas sedang mencari legitimasi politik dan dukungan pendanaan dari pemerintah daerah. Program Polisi Simpatik. Kinerja Satpol PP sarat dengan kepentingan Pemda. Seperti misalnya. Belum terlihat orientasi program ke arah penegakkan peraturan daerah dalam rangka membantu kinerja Satpol PP. merokok di sembarang tempat. Kelompok Mitra Pengaman Hutan (KMPH) di Desa Sesaot. Program serupa dulu dikenal dengan nama Siskamling.Satpol PP hanya bisa menjaga areal pertokoan dan fasilitas Pemda. Situasi tersebut cukup bisa dipahami karena Polmas baru dihidupkan kembali. Padahal berbagai peraturan daerah membutuhkan penegak hukum untuk menciptakan lingkungan yang aman.

maka didenda menanam pohon 50 kali lipat dari jumlah pohon yang ditebang.9. Demikian halnya dengan perzinahan yang diatur dalam pasal 284 KUHP dengan ancaman hukuman selama-lamanya 9 bulan penjara. sanksinya cukup meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi di depan warga masyarakat. pelanggaran pidana tidak harus diselesaikan dengan ancaman pidana berupa penahanan. telah diubah menjadi denda satak sekat kurang sekek kepeng bolong (Saat ini uang Cina telah dikonversi menjadi Rp. Sanksi pidana perzinahan oleh masyarakat adat di Lombok telah diubah menjadi denda seket kurang sekek kepeng bolong (uang Cina).- Bila menebang (mencuri kayu) sekali karena alasan pemenuhan ekonomi keluarga. terlepas dari apakah panggilan tersebut baru panggilan pertama atau bukan. Pelajaran dari kasus-kasus di atas. yaitu keharusan membeli tanah grosok untuk pengerasan jalan.000). menakut-nakuti). Bila menebang (mencuri) lebih dari sekali karena alasan pemenuhan ekonomi keluarga. Pasal 216 KUHP berbunyi sebagai berikut “barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang undang oleh Pegawai Negeri berdasarkan tugasnya … diancam dengan pidana penjara paling lama 4 bulan 2 minggu atau denda paling banyak Rp. Masyarakat telah melakukan dekriminalisasi kejahatan pidana menjadi denda.25. bahwa upaya paksa berupa penahanan cenderung dikesampingkan. Di desa Munggut. Pada dasarnya penangkapan dan penahan yang tidak berdasarkan hukum Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 151 . Pasal ini selalu bertengger di lembar panggilan yang dikeluarkan oleh polisi.000 Rupiah”. Penahanan bukan lagi cara efektif dalam menegakkan hukum. maka dikeluarkan dari tempat tinggalnya di desa. kasus perselingkuhan diselesaikan dengan “grosok”. Padahal upaya paksa pada pasal 216 KUHP menjadi andalan polisi dalam memanggil seseorang (baca. - - Bila menebang (mencuri) lebih dari 3 (tiga) kali dengan motif komersial. Kasus pencemaran nama baik (gila bibir) yang diancam hukum pidana penjara 9 bulan berdasarkan pasal 310 KUHP. dengan jumlah dan volume sesuai kondisi ketika kasus tersebut terjadi. Hal tersebut juga tercermin dalam draft RUU KUHAP Baru.

).5. marka parkir. denda dan adminstratif. (pasal 32 ayat 1 dan 3.5 Tahun 1999 tentang Perparkiran. Namun karena petugas Satpol PP sangat terbatas. membangun bangunan liar atau membangun tanpa mengindahkan aturan sempadan jalan sehingga mengganggu jalan dan pemandangan. Polmas diharapkan merambah ke ranah Perda yang menjadi domain pemerintah daerah. jauh dari yang didambakan masyarakat pengguna jalan di Jakarta.000 dan sanksi adminstratif bagi pengemudi yang parkir sembarangan yaitu 5 kali biaya parkir. Berbagai studi kasus di Lombok tersebut di atas diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi FKPM atau lembaga apapun namanya untuk mencari formula penyelesaian masalah di perkotaan meskipun harus 152 Bunga Rampai . perubahan terhadap rambu. Polisi menjadi tidak professional karena mereka menjadi pelaku kejahatan dan tidak lagi sebagai petugas penegak hukum. 5 tahun 1999). seketika itu juga kepercayaan masyarakat langsung sirna. merokok di sembarang tempat. melakukan antara lain. Perda Perpakiran DKI No. Hampir bisa dipastikan tiap daerah telah mengatur dan memberi sanksi bagi warganya yang membuang sampah sembarangan. agar tercipta ketertiban masyarakat sehingga warga masyarakat merasa nyaman tinggal di Jakarta. Kasus semrawutnya kondisi parkir di Jakarta tersebut menjadi salah satu contoh betapa perlunya keberadaan penegak hukum dengan nama apapun baik polisi. usaha penyelenggaraan perparkiran. maka ketertiban dan rasa nyaman tinggal di Jakarta sesuai maksud dari pembuat Perda tersebut. Kondisi perparkiran semrawut dan premanisme di tempat-tempat parkir merajalela. (tanpa memperoleh izin dari Gubernur Kepala Daerah. Pasal 30 ayat (1) sebagai berikut: “Dilarang dengan cara dan bentuk apapun. tanda masuk parkir…. Contoh peraturan di atas menggambarkan bahwa Pemda telah membuat aturan masalah perparkiran dengan sanksi pidana.alias mengada-ada adalah melanggar HAM.000. Sebagai contoh Peraturan Daerah DKI No. Ketika polisi melakukan pelanggaran HAM dan hukum. Satpol PP atau FKMP. Ancamannya sanksi pidana kurungan selama lamanya 3 bulan atau denda maksimal Rp.

karena Kepala Desa yang dipilih langsung sudah tidak ada dalam struktur pemerintahan di perkotaan. Kepala Desa menjadi tumpuan apabila terjadi konflik atau sengketa antar warga. Community Justice Konflik antar warga masyarakat diselesaikan dengan cara win win solution. tokoh agama. Tokoh kunci dalam proses penegakan hukum sangat penting dalam menentukan keberhasilannya. Penyelesaian konflik di masyarakat perkotaan tidak dapat mengandalkan kharisma seorang Kepala Desa. tokoh masyarakat dan LSM yang kinerjanya masih dapat diterima oleh publik.merubah ancaman sanksi yang diatur oleh Perda. dipersepsikan tidak memiliki interest dibanding kelompok partisan lain. Demikan halnya di Desa Munggut Lombok (2005). Masyarakat perkotaan akan memandang lembaga yang merepresentasi banyak kepentingan lebih memiliki legitimasi. Mereka akan mendatangi rumah Kepala Desa kapan saja walau sampai tengah malam. menggunakan pendekatan yang berbeda. Namun terhadap pelanggaran hukum atau norma masyarakat (falk law). Kompolnas memiliki posisi strategis untuk menginisisasi kerjasama antar komisi negara bidang penegakan hukum seperti Komisi Kejaksaan dan Komisi Yudisial. Pelanggar hukum harus bersedia menjalankan sanksi denda yang telah ditetapkan berdasarkan kesapakatan masyarakat sekitar. dianggap lebih memiliki legitimasi dibandingkan dengan tokoh informal seperti Kyai. Kepala Desa sebagai Hakim Perdamaian. Kepala Desa dituntut untuk memiliki pengetahuan yang lebih dan kearifan sikap agar keputusan yang diambil tidak berat sebelah dan dapat diterima para pihak yang bersengketa sehingga tidak menimbulkan masalah dikemudian hari. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 153 . Kombinasi representasi berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) menjadi penting dalam mengatur komposisi lembaga yang memiliki wewenang untuk menyelesaikan konflik di masyarakat (community justice). Hasil survey di Kabupaten Ngawi Jawa Timur (2005) disimpulkan bahwa hampir 80% responden (dari 75 responden) menyerahkan penyelesaian konflik kepada figur Kepala Desa. Kesimpulan 1. Kalangan akademisi.

Yaitu lembaga yang menyelesaikan konfik pada masyarakat perkotaan yang merupakan representasi dari berbagai stakeholders. 3. Dengan menurunkan jumlah perkara di lembaga peradilan diharapkan peradilan dapat berbenah diri dalam mereformasi dirinya dan dapat berkonsentrasi untuk menghasilkan putusan yang sesuai dengan rasa keadilan masyarakat.2. Kompolnas dapat berperan penting dalam memperkuat peranan Polmas dalam bersinergi dengan unsur-unsur Pemerintah Daerah untuk turut menyelesaikan atau mencegah penumpukan perkara di lembaga peradilan. 154 Bunga Rampai . 4. Salah satu lembaga yang dapat dipromosikan oleh Kompolnas adalah Community Justice sebagai bagian dari Polmas. Dengan keberadaan Menteri Dalam Negeri sebagai anggota Kompolnas. Termasuk dalam mengisi ruang kosong dalam masalah penegakan peraturan daerah. Kurang lebih setara dengan fungsi jury di negara negara yang menganut sistim common law.

Sebagaimana diketahui. Din Syamsuddin * Kelembagaan Komisi Yudisial Republik Indonesia di tahun 2007 ini memasuki usia ke-2 sejak dibentuk pada Agustus 2005. Desain pengadilan yang semestinya menempatkan semua orang setara di muka hukum. Dalil kehadiran Komisi Yudisial di atas sangat relevan dengan refleksi bangsa Indonesia terhadap perjalanan peradilan sebelum adanya Komisi Yudisial. dibentuk sebagai mandat konstitusional Undang-Undang Dasar 1945 hasil amandemen. M. Dr. Peradilan juga telah menjadi alat bagi pembungkaman suara kritis masyarakat yang menyatakan keberbedaannya dengan negara. meski tindakan itu bertentangan dengan hukum. di masa itu tidak demikian adanya. Inisiasi lahirnya lembaga ini tidak lepas dari sejarah peradilan Indonesia yang semakin jauh dari visi dasarnya untuk menegakkan keadilan bagi pihak-pihak yang berperkara atau bagi mereka yang terenggut hak asasinya. Lahirnya lembaga yang memiliki kewenangan mengusulkan pengangkatan hakim agung dan pengawasan hakim pemegang kekuasaan kehakiman. Berbagai pengalaman yang melatari bergulirnya reformasi. telah memperkuat sumber legitimasi kehadiran * Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Guru Besar Politik Islam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 155 . hukum sepanjang pemerintahan Orde Baru telah menjadi instrumen yang melegitimasi setiap tindakan penguasa.Peran Serta Elemen Masyarakat Sipil dalam Mendorong Proses Reformasi Peradilan dan Penegakan Hukum Prof.

keluhuran martabat. dalam menjalankan fungsinya sangat bergantung pada laporanlaporan masyarakat. Masyarakat yang terhimpun dalam berbagai organisasi keagamaan. Komisi Yudisial misalnya. dimaksudkan agar warga masyarakat di luar struktur resmi lembaga parlemen dapat dilibatkan dalam proses pengangkatan. jelas menuntut adanya keterlibatan masyarakat dalam menjalankan perannya sebagai lembaga negara yang bertugas melakukan pengawasan. dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat selama ini telah menunjukkan peran sertanya dalam berbagai upaya reformasi peradilan dan penegakan hukum. Komisi Yudisial menempatkan masyarakat sebagai mitra utama dalam menjalankan kerja-kerjanya. kekuasaan kehakiman yang merdeka dan imparsial (independent and impartial judiciary) diharapkan dapat diwujudkan baik dari segi hukum maupun segi etika. Tanpa partisipasi masyarakat. organisasi masa. Dengan kehormatan dan keluhuran martabatnya. penilaian kinerja. Keberadaan Komisi Yudisial sebagai lembaga pengawas eksternal terhadap hakim. serta perilaku hakim dalam rangka mewujudkan kebenaran dan keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.lembaga pengawas para hakim ini. sulit bagi Komisi Yudisial memaksimalkan fungsinya. Secara eksplisit. Bahkan masyarakat jauh lebih utama menjadi mitra dibanding hakim-hakim yang menjadi obyek pengawasan. dan kemungkinan pemberhentian hakim. Keberadaan masyarakat sebagai mitra utama bukan hanya dibutuhkan oleh Komisi Yudisial melainkan juga tuntutan reformasi di mana telah menempatkan masyarakat sebagai kelompok strategis dalam memantau peradilan dan penegakan hukum. Dengan demikian. tidak bisa disangkal bahwa Komisi Yudisial memainkan peranan penting dalam rangka reformasi peradilan dan penegakan hukum dalam sistem kenegaraan Indonesia. Peran Serta Masyarakat Peran serta masyarakat jelas sangat menentukan keberhasilan reformasi peradilan. Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama bekerja sama 156 Bunga Rampai . Argumen kehadiran dan karakter kelembagaan Komisi Yudisial sebagaimana dipaparkan di atas. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga dan menegakkan kehormatan.

Terakhir Muhammadiyah beserta ormas-ormas Islam kembali menggerakkan Jihad Melawan Koruptor Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Kerja pemantauan diharapkan mampu Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 157 . sejak tahun 2004 telah memprakarsai gerakan melawan korupsi di semua lini pemerintahan. Inisiatif-inisiatif seperti ini jelas dibutuhkan dalam reformasi peradilan dan penegakan hukum. pemberantasan korupsi dan lain-lain. Di samping lembaga bantuan hukum. Pemantauan memiliki arti penting dalam rangka memastikan agar setiap kehendak politik yang terakumulasi dalam suatu kebijakan negara diorientasikan sepenuh-penuhnya untuk memberikan keadilan bagi semua orang. adalah melalui kerja-kerja pemantauan dibidang peradilan dan penegakan hukum. Mereka yang tergabung dalam Lembaga-lembaga Bantuan Hukum misalnya. Dalam tubuh lembaga-lembaga keagamaan.dengan Kemitraan untuk Pembaruan Tata Pemerintahan yang baik misalnya. secara terus menerus memberikan perhatian pada upaya reformasi peradilan dan penegakan hukum. hampir di semua lembaga-lembaga tersebut terdapat bidang atau departemen yang secara khusus menangani soal reformasi peradilan dan penegakan hukum. terdapat juga pusatpusat kajian yang secara ilmiah memberikan inisiatif-inisiatif untuk menjadikan dunia peradilan lebih baik. Kelompok masyarakat sipil lainnya adalah kalangan perguruan tinggi. Bahkan peran serta itu belakangan telah diakui urgensi dan signifikasinya. Elemen-elemen masyarakat sipil yang berhimpun dalam lembaga swadaya masyarakat diakui memang memiliki peran yang lebih fokus. termasuk di dunia peradilan. karena lembaga-lembaga itu didesain khusus untuk memainkan peran-peran tertentu. Ada juga yang berkonsentrasi dalam pemantauan pembentukan perundang-undangan. Independensi para ilmuwan dan aktivis yang berhimpun dalam pusat-pusat studi telah secara nyata memberikan kontribusi bagi dunia peradilan dan penegakan hukum. Bahkan banyak diantara mereka yang kemudian membangun kemitraan strategis sebagai partner atau bahkan mengasistensi lembaga-lembaga peradilan. karena dunia peradilan dan penegakan hukum merupakan sektor yang sangat berhubungan dengan kepentingan umat dan publik secara umum. Peran serta masyarakat yang paling banyak dilakukan pertama.

Mereka berhimpun dan mengkonsentrasikan diri pada upaya-upaya memastikan proses peradilan berjalan fair. sebagai salah satu prinsip demokrasi. Ketiga. dan lain sebagainya merupakan gagasan-gagasan kelompok kritis masyarakat sipil yang kemudian diadopsi oleh negara.menghimpun fakta-fakta yang baik maupun yang kurang baik dari segi proses penyusunan. substansi. Peran ini biasanya banyak dilakukan oleh kalangan perguruan tinggi atau lembaga-lembaga studi yang mengkonsentrasikan diri pada upaya penyediaan konsep-konsep alternatif reformasi peradilan dan penegakan hukum. Komisi Kejaksaan. Sekalipun pengawasan internal di tubuh lembaga peradilan sudah tersedia. adalah sejumlah contoh terobosan yang didorong oleh masyarakat sipil dalam rangka reformasi peradilan dan penegakan hukum. penetapan indikator-indikator pembangunan berbasis hak asasi manusia dan kesetaraan gender. peran serta lainnya adalah dalam bentuk kam- 158 Bunga Rampai . citizen lawsuit. Dengan demikian prinsip checks and balances. Dalam sistem demokrasi. peran serta dibidang pengkajian. Komnas HAM. kerja pemantauan juga merupakan bentuk kontrol publik untuk menyeimbangkan kekuatan antara penyelenggara negara atau pemerintahan dengan publik di daerah itu. Komnas Perempuan. dapat dijalankan. Serangkaian exercise yang menerabas tradisi praktik hukum di Indonesia ditawarkan dan diujicobakan. kepercayaan publik belum sepenuhnya bisa tumbuh akibat minusnya penindakan jika pengawasan menemukan abuses yang dilakukan oleh para penegak hukum. Komisi Penyiaran. pelaksanaan dan penegakan maupun dampak dari berbagai prosesproses peradilan dan penegakan hukum. Kedua. Beberapa capaian yang telah diperoleh adalah kemungkinan justiciability yang bisa diperoleh para pihak yang dirugikan akibat lahirnya sebuah kebijakan negara yang tidak menguntungkannya. Kerja-kerja pemantauan selama ini banyak dilakukan oleh kelompok elemen sipil yang tergabung di dalam lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Pemantauan yang dilakukan oleh elemen masyarakat sipil ini merupakan jawaban atas tidak adanya akuntabilitas yang terlembagakan pada lembaga-lembaga peradilan. Komisi Yudisial. Komisi Kepolisian. Mekanisme class action. Bahkan inisiatif lahirnya Mahkamah Konstitusi.

Keteladanan para pemimpin organisasi dan interaksi langsung yang para pemimpin dengan jamaahnya. dalam praktiknya. merupakan media dan instrumen kampanye mengubah paradigma berpikir dan tata tindak yang konstruktif pada upaya-upaya penegakan hukum. Berangkat dari fakta bahwa judicial corruption belum sepenuhnya teratasi. eksaminasi publik atas putusan-putusan hakim. atau yang dalam kamus bahasa Inggris-Indonesia sebagai ujian atau pemeriksaan. Akan tetapi Komisi Yudisial hanya memiliki kewenangan mengeksaminasi terkait profesionalisme hukum dan tidak masuk pada substansi perkara yang dipersoalkan. Keempat. Eksaminasi publik dilakukan terutama untuk melakukan penilaian apakah keputusan-keputusan yang dikeluarkan oleh lembaga peradilan telah memenuhi standar profesional dan prinsip-prinsip penegakan hukum dan hak asasi manusia. di samping dilakukan oleh Mahkamah Agung. di samping juga melakukan pemantauan dan pengkajian. adalah elemen yang sangat berpotensi melakukan kampanye penyadaran hukum dalam rangka memperkuat kultur hukum masyarakat. Sejak lahirnya Komisi Yudisial. Namun demikian.panye penyadaran hukum. interrogation. bisa dilakukan oleh lembaga peradilan yang ada pada level di atasnya sebagai bentuk pengawasan internal atau dilakukan oleh publik sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam memantau dunia peradilan. search. secara konstitusional diperankan oleh Komisi Yudisial. Kebanyakan jenis peran serta ini dilakukan oleh organisasi masyarakat sipil yang memiliki basis masa yang besar. sebenarnya fungsi eksaminasi atas putusan hakim. akan tetapi temuan pandangan hukum kelompok di luar mejelis hakim ini akan menjadi pembelajaran yang sangat berarti bagi perkara-perkara lain yang sama. lemahnya mekanisme kontrol internal lembaga-lembaga peradilan. sejumlah lembaga swadaya masyarakat dan perguruan tinggi saat ini mempelopori praktik uji putusan hakim maupun produk kerja lembaga peradilan. inspection. Meskipun kegiatan eksaminasi publik ini tidak memberikan dampak langsung terhadap perkara yang telah divonis. Ormas-ormas keagamaan misalnya. Eksaminasi atau dalam bahasa Inggris disebut dengan “examination” diartikan sebagai an investigation. sulit sekali memeriksa profesionalisme hakim dalam sebuah Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 159 .

Keberbedaan pendekatan antar elemen juga sering menjadikan pilihan strategi yang berbeda. serta menakar sejauh mana sebuah putusan telah menyentuh rasa keadilan masyarakat. maka para anggota legislatif 160 Bunga Rampai . tetap bisa mengarah sasaran yang sama. Tujuan eksaminasi secara umum adalah untuk mengetahui. Reformasi yang digulirkan sejak 1998 telah membuktikan bahwa pengabaian terhadap aspirasi masyarakat telah meminggirkan kekuasaan yang selama ini dianggap kokoh.putusan tanpa menyoal substansinya. Sasaran utama dari kegiatan eksaminasi ini adalah mendorong para hakim agar membuat putusan dengan pertimbangan yang baik dan profesional. sehingga meskipun dengan pendekatan dan strategi yang berbeda. Jaminan akomodasi peran serta masyarakat sekalipun secara yuridis tidak diatur. Peran serta kemudian menjadi bagian yang dianggap tidak menarik sebagian elemen masyarakat sipil. Catatan yang dapat diajukan dalam memandang peran serta masyarakat sipil dalam reformasi peradilan dan penegakan hukum ini. Sikap a priori dan konfrontatif lembaga-lembaga peradilan hanya akan memperburuk citra lembaga peradilan itu sendiri. secara sosio-politik peran serta masyarakat berimplikasi besar terhadap perubahan dunia peradilan. Karena itu produk Komisi Yudisial sering diabaikan. Jika eksistensi publik dalam dunia peradilan sudah disadari urgensinya. Untuk memaksimalkan upaya reformasi peradilan itulah maka publik menginisiasi praktik-praktik eksaminasi yang disebut dengan eksaminasi publik. Semestinya sinergi harus bisa dibangun. sejauh mana pertimbangan hukum dari hakim yang memutus perkara tersebut berkesesuaian dengan prinsip-prinsip hukum dan prosedur hukum acara dengan benar. yakni perbaikan peradilan dan penegakan hukum. Menuntaskan kerja reformasi (termasuk di sektor peradilan) jelas tidak bisa lepas dan mengabaikan peran serta masyarakat. seringkali ekpektasi publik tidak terpenuhi oleh lembaga-lembaga peradilan. Dunia peradilan yang menjadi obyek peran serta juga sudah semestinya menyadari betapa membangun aliansi strategis dengan elemen masyarakat sipil adalah hal yang pokok dalam men-delivery keadilan segera sampai ke tengah masyarakat.

baik di kalangan perguruan tinggi. yang akan menjadi alat efektif untuk melakukan kontrol dan pressure terhadap negara untuk berkomitmen menegakkan hukum. Jika mau diakui. membuat advokasi penegakan hukum seolah-olah hanya menjadi urusan LSM. mayoritas masyarakat Indonesia justru balik menuduh LSM yang melakukan provokasi untuk membuat berang sebuah rezim. Tak jarang kemudian. sebagai salah satu kesadaran evaluatif atas ketersumbatan arus reformasi peradilan patut dipertimbangkan. Minusnya dukungan sosial. Harus diakui. organisasi masyarakat. dan berkelanjutan. organisasi keagamaan dan komunitas-komunitas lainnya. Karena itu. Masyarakat sipil dituntut untuk menata kerja-kerja ini bukan lagi sebagai seremonial yang berulang akan tetapi lebih implementatif. sistematis. Tuduhan ini tidak hanya monopoli aparat negara semata. meskipun di beberapa perguruan tinggi telah tumbuh pusat-pusat studi.juga dituntut untuk bisa mengakomodasi berbagai aspirasi publik dalam setiap penyusunan perundang-undangan. Hanya menjadi urusan lembaga swadaya masyarakat dan beberapa kelompok sosial kritis lainnya. salah satu penyebab tidak maksimalnya reformasi peradilan. Diseminasi tentang pentingnya peran serta masyarakat sipil yang meluas akan mampu melahirkan kekuatan kritis dan membangun kesadaran kolektif bangsa. Jika kondisi yang demikian ti- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 161 . diskursus dan praksis peradilan dan penegakan hukum hingga saat ini masih menjadi isu yang elitis. Refleksi atas keberadaan lembaga-lembaga kemasyarakatan dan keagamaan dalam memaksimalkan peranannya mendorong reformasi peradilan dan penegakan hukum telah menjadi memicu semua pihak untuk segera berbenah diri secara lebih serius. pilihan diseminasi dan edukasi pentingnya peran serta masyarakat dalam reformasi peradilan dan penegakan hukum. Bahkan sebagian besar perguruan tinggi. penegakan hukum hak asasi manusia di Indonesia adalah minusnya kerja-kerja diseminasi publik yang menyadarkan warga tentang pentingnya kerja bersama membangun kelembagaan peradilan yang independen dan akutabel. dedikasi dan kesungguhannya masih belum optimal. tapi telah menjalar kepada sebagian besar masyarakat Indonesia.

dan berkeadilan tanpa diminta dan ditekan. Meskipun predikat ini tidak sepenuhnya genuine. tidak hanya pressure group yang semakin terkikis tapi sinisme masyarakat akibat “instabilitas” yang diciptakan oleh kalangan LSM akan semakin menguat. Karena itu signifikansi perluasan basis sosial terletak pada perolehan dukungan besar masyarakat Indonesia. Salah satu sektor yang harus mendapatkan prioritas dalam proses transformatif ini adalah kalangan perguruan tinggi dan dunia pendidikan. Memang. Memperluas basis sosial untuk memperbesar dukungan reformasi peradilan dan penegakan hukum berarti membangun kesadaran kolektif bangsa akan pentingnya reformasi peradilan di Indonesia. mendorong hukum progresif yang berkeadilan. Kedekat- 162 Bunga Rampai . tidak ada negara yang dengan cumacuma memberikan hak-hak rakyat untuk menikmati kemajuan. Salah satu kapasitas dan kompetensi itu adalah menciptakan generasi terdidik yang peduli dan tergugah untuk melakukan advokasi. dikhawatirkan LSM akan kehabisan energi dalam melakukan kerja-kerja advokasinya.dak segera mendapat respon dan penanganan cepat. pendidikan kesadaran hukum dapat disodorkan sebagai jalan merengkuh dukungan sosial itu. Membangun kesadaran kolektif dapat dilakukan dengan melakukan transformasi simultan atas gagasan dan praksis penegakan hukum di lapangan. peradilan yang murah. tapi paling tidak. lembaga-lembaga keagamaan sebenarnya bisa menjadi kekuatan pengubah sosial yang luar biasa. tapi pengalaman di beberapa negara menunjukkan. penegakan hukum menjadi tugas dan kewajiban negara. kompeten. secara formal perguruan tinggi memiliki kapasitas untuk memproduksi sumber daya manusia yang bisa didesain memiliki kapasitas dan kompetensi tertentu. Gagasan mendidik pendakwah atau misionaris dalam berbagai agama untuk menjadi pembawa suara keadilan bisa menjadi pilihan kerja yang potensial mampu menghimpun dukungan sosial reformasi peradilan dan penegakan hukum. Jika kerja ini tidak dilakukan. Kalangan perguruan tinggi. Melalui kerja pemberdayaan dan pendampingan. sering disebut sebagai salah satu agen perubahan. Sektor lain yang perlu mendapat perhatian adalah lembaga-lembaga keagamaan. Dengan jamaah dan umat yang begitu besar.

dan lembaga-lembaga penyelidik independen lainnya) juga sudah semestinya menyadari pentingnya kehadiran masyarakat di tengah-tengah peran dan fungsi institusinya sebagai stakeholders yang tidak bisa ditinggalkan. Lembaga-lembaga peradilan (kejaksaan. Perlu disadari bahwa keberadaan ormas-ormas baik yang berbasis keagamaan maupun kemasyarakatan memiliki posisi strategis di dalam proses rekayasa sosial untuk melahirkan suatu gerakan sosial dan gerakan moral dalam membangun bangsa. yang dengan mudah mendongkrak popularitas seorang aktivis. Tidak semata-mata karena peradilan yang baik sebagai sesuatu yang dibutuhkan. Diseminasi merupakan kerja jangka panjang dan investasi kemanusiaan yang akan menjadikan kerja advokasi berkelanjutan. Karena itu tidak ada pilihan lain bagi Komisi Yudisal untuk terus meningkatkan intensitasnya melibatkan publik dalam memantau dan memastikan keadilan dapat terberikan. Bagaimanapun kepercayaan publik terhadap keberhasilan reformasi peradilan dan penegakan hukum adalah indikator utama keberhasilan reformasi peradilan dan penegakan hukum.an tokoh-tokoh agama dengan umatnya. Komisi Yudisial telah menjadi jembatan ketidakpuasan publik atas ketidakadilan yang tercabik akibat ulah para mafia peradilan. selama bumi ini masih dipijak. kecuali membangun kemitraan strategis dengan elemen masyarakat sipil. Pilihan kerja diseminasi wacana reformasi peradilan dan penegakan hukum memang tidak memiliki daya tarik sebagaimana kerja advokasi (litigasi). proses-proses reformasi peradilan dan penegakan hukum. tapi juga terjustifikasi oleh semua agama dan kepercayaan di dunia ini. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 163 . Catatan Penutup Keberadaan Komisi Yudisial di dalam ranah kekuasaan kehakiman secara langsung telah menjawab kebutuhan akses publik terhadap dunia peradilan. kepolisian. akan membuat bahasa hukum dan peradilan menjadi mudah dipahami dan diterima sebagai sebuah keyakinan yang harus diperjuangkan. Karena itu tidak ada pilihan lain.

Dr. Caucus and Branch. 1963. Political Parties. Huntington. 1991. Gramedia Pustaka Utama. Miriam. The Third Wave: Democratization in the Late Twentieth Century. 164 Bunga Rampai . Miriam. Toward a Comparative Study of Political Parties. Budiarjo. Chicago University Press. Komisi Yudisial & Reformasi Peradilan. Duverger. PT. PT.Daftar Bacaan Samuel P. Penerbit Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam). New York. Prof. Jakarta. Chicago. Maurice. 1996. Budiarjo. Gramedia Pustaka Utama. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta. 1963. Norman and London: University of Oklahoma Press A. Neuman. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Dr. Sigmund. 2004. Wiley and Sons. Jakarta. Ahsin Thohari. 1996. Cadre Party and Mass Party. Prof.

Krisnadwipayana Jakarta. tahun 2002-sekarang. 1983). Dosen Magister Hukum Pascasarjana Sekolah Tinggi Hukum Militer (STHM). Dosen Magister Hukum Pascasarjana Univ.Reformasi Pendidikan Hukum. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 165 . tidak memberikan petunjuk bagi manusia bagaimana dia harus bertindak.V Hayek mengatakan bahwa sistem common law lebih baik dari pada civil law karena jaminannya * 1 Mendapat Sarjana Hukum dari USU (1983). tahun 2002. Magister Hukum Pascasarjana Universitas Islam. Tahun 2006-sekarang. tahun 2003-sekarang. Dosen Magister Kenotariatan Pascasarjana USU Medan. Jakarta. Jakarta. Dosen Penguji dan Pembimbing Disertasi Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Indonesia. (Sidney: Butterworth. Pengadilan dalam sistem hukum common law. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Univ. Guru Besar Hukum Ekonomi Fakultas Hukum USU (2004). Chaim Perelman. Dosen Pascasarjana Hukum USU Medan. dalam A. Blackshield. Dosen Magister Manajemen Pascasarjana USU Medan. Jeremy Bentham yang kemudian didukung oleh John Austin menganggap bahwa sistem common law mengandung ketidakpastian dan menyebutnya sebagai “law of the dog”. hal 6. Jakarta. Dosen Fakultas Hukum USU Medan.1 Sebaliknya salah satu pendukung sistem common law. tahun 1987– sekarang. Pendukung civil law. Legal Change Essay in Honor of Julius Stone. Doktor dari Universitas Indonesia (2001). 2005. tahun 2001–sekarang.R. tetapi jika manusia itu berbuat kesalahan maka pengadilan langsung menghukumnya. F. Ketua Program Studi Ilmu Hukum dan Ketua Program Doktor Ilmu Hukum Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. tahun 2002-sekarang. Untuk Menghasilkan SDM Penegak Hukum Yang Kompeten dan Profesional Bismar Nasution* Knowledge is power but character is more Perdebatan mengenai sistem mana yang terbaik antara civil law dan common law telah berlangsung selama berabadabad. ed. tahun 2004-sekarang. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Universitas Nasional. Pancasila Jakarta. tahun 1999–sekarang. “Legal Ontology and Legal Reasoning”. tahun 2001–2002. Magister Hukum dari Universitas Indonesia (1994).

Cohen dan Arnold J. Rosoff.1999). Kehakiman terjadi sejak tahun 2004 166 Bunga Rampai . “The Common Law and Economic Growth: Hayek Might Be Right”.XXX. hal. Sistem civil law menggunakan kodifikasi sebagai sumber hukum.5 Perbedaan menonjol lainnya menyangkut peran pengadilan. Dunfee. Cardozo. Di Indonesia. pindah dari naungan Departemen.. Istilah stare decisis berasal dari istilah stare decisis et non quieta movere. hal. Lihat Henry Campbell Black.” lihat W. 89 Lihat John Henry Merryman. (Vol. yaitu “stand by the decision and do not disturb what is settled. Journal of Legal Studies.4 Akar perbedaan yang substansial diantara kedua sistem hukum itu terletak pada sumber hukum yang digunakan oleh Pengadilan dalam memutus sebuah perkara. hal 4-7. 1990). hal 1406. (London : Yale University Press. adanya independensi hakim atau berada di bawah Mahkamah Agung. Bellace. (California: Stanford University Press. University of Chicago.pada kebebasan individu dan membatasi kekuasaan pemerintah.2 Untuk lebih memahami pemicu perdebatan di atas cara terbaik adalah dengan menghampirinya dari aspek historis sebagaimana dikatakan Benjamin N. and not to unsettle things which are established. Paul. Business and Its Legal Environment. hal 504-511 Benjamin N. Cordozo “sejarah dalam menerangi masa lalu menerangi masa sekarang.6 Hal ini tidak terlepas dari sejarah 2 3 4 5 6 Lebih lanjut Hayek menyatakan bahwa sistem kebebasan di Inggris berasal dari ajaran Locke dan Humme yang menekankan kepada kebebasan individu untuk mencapai tujuan masing-masing. 40.“3 Menurut catatan. Sedangkan civil law lahir terlebih dahulu ketika Corpus Juris Civilis of Justinian diterbitkan di Constatinopel pada tahun 533 yang sangat dipengaruhi oleh hukum Romawi. Janice R. David B. Black’s Law Dictionary. 2001). sehingga dalam menerangi masa sekarang dia menerangi masa depan. Mahoney. 1969). The Civil Law Tradition: An Introduction to the Legal System of Western Europe and Latin America. 1962). Di negara civil law hakim merupakan bagian dari pemerintah. (New Jersey: Prentice-Hall Inc. sedangkan model kebebasan Perancis berasal dari ajaran Hobbes dan Rousseau yang menekankan pada kebebasan pemerintah untuk mencapai tujuan bersama lihat Paul G. (ST. The Nature of The Judicial Process. sedangkan sistem common law menggunakan putusan hakim sebelumnya sebagai sumber hukum atau yang lebih dikenal dengan doktrin stare decisis. sedangkan dalam Black’s Law Dictionary diartikan “to adhere to precedents. tahun 1066 dianggap sebagai tahun kelahiran tradisi common law ketika bangsa Norman mengalahkan dan menaklukkan kaum asli (Anglo Saxon) di Inggris. Minn: West Publishing Co.

para hakim Perancis menjadi musuh masyarakat daripada pembela kepentingan masyarakat karena lebih mendukung kepentingan Raja. Op. Raja Stuart kemudian membentuk sebuah pengadilan baru bernama Stuart Chamber yang berada di bawah Kerajaan dan merupakan kepanjangan tangan dari Kerajaan Inggris.Gunn. Lihat Paul G. (London: Sweet & Maxwell. Para hakimnya juga didik pada administrative school bersama-sama dengan pegawai negeri lainnya yang nantinya keputusan mereka akan diawasi oleh hakim tersebut. 1996).H. hal 413. Kondisi inilah yang kemudian memicu revolusi Perancis yang dipimpin oleh Napoleon. hal 503 – 512.8 Sebaliknya. Dugdale. Perbedaan ini tetap dipertahankan dalam sistem civil law di daerah continental yang mewarisi tradisi Hukum Romawi.yang melandasi terciptanya perbedaan itu.Bailey dan M. (London: Sweet & Maxwell. Op.Cit. Sistem Hukum Romawi menggambarkan dengan jelas perbedaan antara hukum privat yang mengatur hubungan antara warga negara dan hukum publik yang mengatur hubungan antara warga negara dengan pemerintah. hal 39. Sebelum revolusi.9 Oleh karenanya kekuasaan untuk menentukan hukum berada pada Mahkamah Agung sebagai pengadilan tertinggi. Perancis memang telah mengembangkan suatu Pengadilan Tata Usaha Negara yang berwenang men-review Keputusan Pemerintah.10 7 8 9 10 John H. . 1984). Smith & Bailey on The Modern English Legal System. Farrar dan Anthony M. Pengalaman sebelum masa revolusi tersebut menjadi inspirasi bagi Napoleon dalam meletakkan hakim di bawah pengawasan pemerintahan untuk mencegah “pemerintahan oleh hakim” seperti yang pernah terjadi sebelum revolusi. namun demikian Pengadilan ini berada dibawah pengawasan Eksekutif. Cit. Di Perancis misalnya.7 Posisi ini membuat pengadilan biasa di Perancis secara prosedural tidak mempunyai wewenang untuk mengkaji kebijakan pemerintah. Independensi pengadilan ini apabila ditelusuri berawal dari pertentangan antara Hakim Coke dengan King Stuart ketika Kerajaan yang memaksakan kehendaknya untuk mengubah hak properti yang merugikan rakyat. Mahoney. Paul G.J. Hal ini membuat kekuasaan pemerintah di negara civil law menjadi sangat dominan. hal 508-509 S. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 167 . Setelah revolusi Stuart Chamber ini dibubarkan. Mahoney. pengadilan membedakan antara kasuskasus yang berhubungan dengan pemerintah dan memberlakukan hukum yang berbeda dengan hukum yang mengatur hubungan sektor privat. Introduction to Legal Method. negara common law yang berasal dari tradisi Inggris memiliki lembaga pengadilan yang independen.

Op. karena umumnya negara-negara civil law berpaham positivisme.12 Arah Pendidikan Hukum Perbedaan penerapan hukum di atas berimplikasi terhadap sistem pendidikan hukum di negara-negara penganut kedua sistem hukum tersebut. Perdebatan dan diskusi jarang dilakukan karena selama perkuliahan berlangsung dosen biasanya hanya memberikan penjelasan mengenai teori. Sistem hukum yang 11 12 Paul G. sistem pendidikan di negara common law lebih menekankan kepada practical use. Mahoney. dan sangat jarang perkuliahan dilakukan untuk membahas suatu kasus. yaitu sistem civil law dan sistem common law. Peranan dosen sangat sentral dalam memberikan pemahaman tentang hukum. kombinasi antara konsep Hukum Romawi dan praktik-praktik di lapangan telah membentuk dasar-dasar hukum yang dianut oleh sebagian besar negara di dunia ini.Dalam perjalanannya. Sebaliknya. Materi yang diberikan adalah isi pasal-pasal dari perundangan-undangan. dosen berfungsi sebagai narasumber. 2001. sehingga landasan maupun pemikiran tentang hukum hanya berpedoman kepada perundangundangan yang telah terkodifikasi. Ibid. hal 253 168 Bunga Rampai . Sistem pendidikan hukum di negara civil law lebih menekankan kepada metode pengajaran yang bersifat doktrinal. isi pasal serta pendapat para sarjana. hal. pembimbing dan legal solver terhadap pertanyaan para mahasiswa. pengalaman menunjukan bahwa negara-negara dengan sistem common law ternyata relatif lebih makmur secara ekonomi dibanding negara dengan sistem civil law.11 Terlepas dari perdebatan di atas. Cit. Hal ini menyebabkan perbandingan hukum dengan negara lain dianggap kurang penting dan kurang mempunyai kekuatan hukum apabila dijadikan landasan pembelaan dalam sebuah peradilan. Para mahasiswa bersifat pasif dan umumnya diajarkan untuk menghapal perundang-undangan. hal 508. dengan metode pengajaran monolog. Perbandingan suatu teori atau hukum juga jarang dilakukan.

dia dapat membuat putusan baru tentu dengan argumentasi yang kuat. Adanya perbedaan dalam sistem pendidikan hukum di atas telah menyebabkan perbedaan besar dalam memahami dan menyelesaikan permasalahan hukum. Sedangkan sisa perkuliahan dilakukan dengan diskusi. Sehingga penyelesaian suatu permasalahan hukum dilakukan dengan pendekatan doktrinal. Sehingga perkuliahan bersifat terbuka. Putusan pengadilan itu juga bukan hal yang mutlak harus diikuti. apabila seorang hakim menganggap suatu putusan tidak sesuai lagi dengan perkembangan masyarakat. sehingga sering sekali putusan hakim dijadikan parameter untuk menilai apakah suatu peraturan dapat diterapkan di masyarakat. dimana para dosen hanya memberikan pengantar dan referensi buku yang harus dipelajari serta dirangkum oleh para mahasiswa. Perundang-undangan bukan harga mati bagi sebuah keadilan. Inilah yang membuat para SDM penegak hukum common law selalu melaku- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 169 . Sebaliknya SDM penegak hukum dari negara common law selalu bersifat kritis dan analistis. Sehingga hubungan antara dosen dan mahasiswa di negara common law umumnya sangat dekat. karena adanya doktrin kalau suatu putusan pengadilan tidak boleh bertentangan dengan putusan pengadilan di atasnya. Pemahaman terhadap teori hanya diberikan di awal perkuliahan dengan metode self learning.menekankan kepada putusan hakim. presentasi dan pemaparan para mahasiswa mengenai suatu kasus. Hal ini membuat peran mahasiswa lebih dominan daripada peran dosen. dan tidak jarang mereka menjadi sahabat dalam kehidupan pribadi. sedangkan isi perkuliahan lebih banyak diisi oleh perdebatan dan pendapat dari masing-masing mahasiswa mengenai kasus-kasus yang diberikan oleh dosen. konsultasi mengenai suatu permasalahan hukum dilakukan secara individual antara dosen dan mahasiswanya. Mereka hanya memandang suatu permasalahan dengan parameter perundang-undangan. membuat perkuliahan difokuskan kepada pembahasan kasus hukum dan putusan pengadilan. Putusan ini akhirnya akan diuji oleh Mahkamah Agung apakah diterima atau ditolak. SDM penegak hukum dari negara civil law cenderung bersifat positifis dan rigid dalam menyelesaikan permasalahan hukum. Dosen hanya berperan sebagai pembimbing dan pengarah diskusi.

kan analisis dan kritis terhadap hukum. analistis dan responsif terhadap permasalahan hukum. Pandangan yang bersifat doktrinal dan positivisme mutlak harus segera diminimalkan untuk membentuk SDM penegak hukum yang kritis. sehingga pembelajaran relatif lebih terarah. Hal ini terjadi karena pembelajaran terfokus pada kodifikasi. Sedangkan kelemahannya adalah metode ini menghasilkan SDM penegak hukum yang lemah akan analisis dan kurang kritis terhadap hukum. sehingga penggalian nilai-nilai keadilan juga harus dilakukan disamping pemahaman terhadap peraturan tersebut. dimana perundang-undangan yang mengaturnya sudah tidak relevan lagi dengan kondisi masyarakat. Dari deskripsi di atas tentu kita dapat menyimpulkan bahwa metode pengajaran civil law membuat para SDM penegak hukum berpikir doktrinal. metode pengajaran common law menekankan kepada analisis kasus dan diskusi serta untuk selalu bersikap kritis dalam menghadapi permasalahan hukum. Sebagai lembaga yang menghasilkan SDM penegak hukum. Pengajaran yang bersifat doktrinal masih mewarnai pembelajaran hukum di Indonesia. para SDM penegak hukum akan gagal mengimplementasikan rasa keadilan masyarakat dalam solusi hukumnya. sehingga kepercayaan masyarakat terhadap hukum dapat dipulihkan kembali. metode pendidikan seperti ini harus diperbaiki terutama pada negara berkembang seperti Indonesia. peran Fakultas 170 Bunga Rampai . dimana perekonomiannya belum stabil dan tingkat penyelewengan hukum masih tinggi dan perundang-undangan belum berfungsi maksimal dalam mengikuti dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Sehingga apabila terjadi suatu permasalahan hukum. Tidak jarang mereka melakukan perbandingan hukum untuk menjustifikasi argumen mereka bahwa hukum yang berlaku tidak sesuai lagi diterapkan di masyarakat. Dalam menghadapi persaingan global. Gambaran mengenai sistem pendidikan hukum di Indonesia tidak berbeda jauh dengan apa yang telah diuraikan mengenai sistem pendidikan hukum civil law di atas. Sehingga metode ini mempunyai kelebihan dalam menghasilkan para SDM penegak hukum yang kritis dalam menghadapi perubahan di masyarakat. Sebaliknya. Kelebihan dari metode ini adalah adanya kepastian dalam pemahaman hukum.

Michael Hagger menggambarkan. It administers justice among men who conduct their own affairs”. Dalam upaya mempercepat pertumbuhan ekonomi. Sementara itu. Pembenahan menyeluruh terhadap pendidikan hukum harus segera dilakukan. Hal ini tentu tidaklah mudah. Padahal L. Pembenahan tersebut harus dilakukan secara serentak. Dalam bahasanya Walter Lippmann “in a free society the states does not administer the affairs of men. bahwa jalannya suatu sistem hukum tidak akan pernah lebih baik dari mereka yang menjalankannya. teaching material atau kurikulum dan kesejahteraan para pengajar. pasarlah yang menjadi panglima. yaitu sebagai professional school yang harus dapat menggabungkan unsur profesionalisme dan pendidikan hukum dalam pengajarannya. Kondisi ini bermula sebagai konsekuensi pendekatan pembangunan yang diterapkan pemerintah. Seharusnya pendidikan itu pulalah yang memperluas ruang lingkup cara berKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 171 . Konsekuensinya tamatan Fakultas Hukum seolah terlempar ke dunia lain. metode pengajaran di kampus-kampus masih berorientasi kepada sistem civil law. baik dari peningkatan kualitas SDM. Fakultas hukum di Indonesia harus kembali kepada khitahnya. Hal ini disebabkan SDM penegak hukum yang berperan menjalankan hukum bukan hanya berdasarkan cara berpikirnya sendiri. metode pengajaran. seperti SDM penegak hukum. sedangkan sistem civil law peran pemerintah sangat dominan. tetapi berasal dari pendidikan yang diperolehnya dari kuliah semasa di Fakultas Hukum. SDM Penegak Hukum Yang Kompeten dan Profesional Jurang antara dunia akademis dan praktis di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir abad ke-20 semakin melebar. Dalam sistem common law.Hukum sangatlah penting di sini. diperlukan political will yang kuat bagi para petinggi universitas dan pemerintah untuk melakukan pembenahan yang sistematis dalam memperbaiki pendidikan hukum di Indonesia. pemerintah menerapkan sistem pembangunan ekonomi pro pasar. Metodemetode ekonomi pro pasar umumnya diimpor dari negaranegara common law dan juga sistem ekonomi pro pasar lebih kondusif bila didekati dengan institusi hukum yang berasal dari sistem common law.

Bailey dan M. Gerakan Law and Economic telah mengubah metode dosen mengajar dan hampir di seluruh subjek hukum pengetahuan praktis ilmu ekonomi merupakan persyaratan. kita dapat melihat sistem pendidikan hukum di Inggris.166-239.” ABA Journal. tentunya staf pengajar di Fakultas Hukum tidak hanya mengajarkan teori atau hal-hal yang normatif sifatnya.H.pikirnya.14 Memperkenalkan hukum sesuai dengan kenyataan dibutuhkan mengingat Fakultas Hukum sebagai professional school diwajibkan untuk mempersiapkan keterampilan para lulusannya.(Cambridge: Harvard University Press. Terlepas setuju atau tidak setuju dengan gerakan ini. tetapi harus pula mengajarkan keterampilan menggunakan sains (science) untuk memahami hukum disamping dan memperkenalkan hukum sesuai dengan kenyataan. Foundation of the Law of the European Union. Lihat Antony T. Jalan yang harus ditempuh adalah bagaimana menepis kekhawatiran bahwa apa yang diberikan dalam kuliah berbeda dengan hukum dalam kenyataan.Cit. obligations 2.13 Kondisi di atas memaksa kita memikirkan bagaimana Fakultas Hukum dapat melahirkan SDM penegak hukum yang berpengetahuan luas dan memiliki keterampilan hukum yang sesuai dengan sistem ekonomi pro pasar yang dijalankan pemerintah tersebut. hal. Foundation of Criminal Law.Gunn. hal 182-183 172 Bunga Rampai . 58. doktrinal dan deskriptif. 1972). kegiatannya dan kesiapannya yang membedakannya pula dengan kalangan lainnya. Penggunaan pendekatan ekonomi terhadap hukum (law and economic) dalam pendidikan hukum di Amerika Serikat bersifat permanen yang dimulai sejak tahun 1960an. Kriteria yang ditekankan disini bukanlah metode penilaian terhadap tugas atau lamanya pengajaran tetapi yang dituntut adalah proposi beban kerja mahasiswa dan setidak-tidaknya harus menguasai tujuh dasar pengetahuan 13 14 15 L. The Lost Lawyer Failing Ideals of the Legal Profession. hal. “The role of Lawyer of development country. Kronman. dimana terdapat syarat yang sangat ketat dalam penerimaan SDM penegak hukum yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan profesi yang lebih tinggi. Ketujuh dasar pengetahuan hukum tersebut adalah: obligations 1. Foundation of Equity and the Law of Trust. Untuk itu. 1993). Fakultas Hukum di Inggris dituntut untuk memberikan pemahaman hukum yang komprehensif untuk menyediakan seorang SDM penegak hukum yang kompeten dan profesional. 33. Michael Hagger. dan Foundation of Public Law serta Legal Research. Lihat S. Foundation of Property Law.J. Op. (Vol. Untuk perbandingan.

Sedangkan untuk menjadi konsultan hukum (solicitor). Adanya anggapan bahwa seorang SDM penegak hukum cukup dibekali kemampuan hukum di bidang tertentu saja harus ditentang.Gunn. sehingga menimbulkan perbedaan persyaratan untuk dapat menekuni kedua profesi ini.H. Kemampuan akademis merupakan dasar pengajaran sedangkan kemampuan profesional adalah pengembangan teori secara praktik. Untuk dapat menjadi pengacara (Bar). Tujuan dari pelatihan ini adalah supaya para lulusannya dapat menguasai pembuatan kontrak dengan kemampuan dan pengetahuan yang cukup untuk mengatasi masalah dan tantangan dengan diawasi oleh instruktur pelatihan. Syarat pertama yaitu syarat akademik sama seperti persyaratan untuk menjadi Pengacara. Pendidikan 16 Seorang calon masih harus mempunyai pengalaman selama 12 bulan dengan Pengacara yang mempunyai pengalaman selama 5 tahun. seorang calon harus ikut dalam salah satu Inns of Court dan harus memenuhi dan menyelesaikan dua tahap pendidikan. Kedua tahap ini menyarankan syarat untuk dapat mendaftar menjadi pengacara. Di sinilah esensi sebenarnya dari profesional school. seorang calon dua tahap sama seperti syarat menjadi Pengacara.J. hal 184-185 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 173 . dimana selama 6 bulan pertama mereka tidak boleh menerima instruksi.hukum. Tahap pertama adalah “tahap akademik” dimana calon harus mempunyai gelar SDM penegak hukum atau sertifikat lulus dari Common Professional Examination (CPE). Tahap kedua adalah “tahapan pendidikan spesialis atau kejuruan” yang dilakukan dengan mengikuti program the Bar Vocational Course yang diselenggarakan oleh Court School of Law.15 Selain itu Sistem Pendidikan Hukum Lanjutan di Inggris juga dibedakan antara Pengacara (Barrister) dan Konsultan Hukum (Solicitor). Bailey dan M.16 Gambaran di atas menunjukkan bahwa Fakultas Hukum sebagai profesional school harus mempunyai suatu sistem pendidikan atau metode pengajaran yang mempunyai suatu kurikulum yang tepat untuk menghasilkan SDM penegak hukum yang kompeten dan mempunyai kemampuan profesional yaitu kemampuan praktik. SDM penegak hukum haruslah menguasai ilmu hukum dan praktik-praktik dasar secara keseluruhan untuk dapat disebut sebagai kompeten dan profesional. Syarat kedua menuntut calon harus merupakan anggota dari the Law Society dan harus mengikuti dan lulus pelatihan Legal Practice Course Board yang diselenggarakan the Law Society. Op. dimana tidak ada pembedaan antara akademisi dan profesional. Lihat S.Cit.

Arthur yang menyatakan bahwa. juga wajib melatih mahasiswanya dengan keterampilan praktis. Dosen Fakultas Hukum disamping berkewajiban mengajar dan menulis. maka pembenahan metode pendidikan harus dilakukan secara komprehensif dimulai dari perubahan sistem pengajaran yang selama ini bersifat doktrinal. Untuk membentuk Fakultas Hukum sebagai profesional school.” Pidato pada Dies Natalis USU Ke-44. dimana mahasiswa harus bersifat aktif dengan didampingi dan diarahkan oleh dosen agar lebih terarah. 13. Hal ini sejalan dengan H. Hal ini dilakukan agar para mahasiswa dapat memahami akibat dan konsekwensi hukum yang timbul akibat isi suatu pasal. Mempersiapkan keterampilan praktis dapat dilakukan dengan menggunakan metode 17 18 H. hal. 174 Bunga Rampai . karena hal itu akan menghilangkan unsur profesionalisme dalam diri dosen yang pada gilirannya akan menghilangkan unsur esensial Fakultas Hukum sebagai pendidikan profesional.17 Oleh karena itu adalah suatu kesalahan besar untuk melarang dosen melakukan praktik hukum. karena mustahil bagi sebuah profesional school mengajarkan pendidikannya jika dosennya tidak mempunyai kemampuan dalam bidang praktik seperti yang telah digambarkan oleh sistem pendidikan hukum di Inggris. “Globalisasi Hukum dan Kemajuan Teknologi: Implikasinya Bagi Pendidikan Hukum dan Pembangunan Hukum Indonesia. lihat dalam Erman Rajagukguk.W. teori dan filsafat hukum dapat dilakukan di awal perkuliahan. yaitu Fakultas Kedokteran. hal. Kasus yang dipilih tidak hanya berasal dari dalam negeri tetapi juga diberikan kasus-kasus yang berasal dari luar negeri.” Dalhousie Journal of Legal Studies. “Access and Specialization in Legal Education and Practice. 286. sehingga mereka dapat membandingkan dan memperluas pandangan mereka terhadap hukum diluar Indonesia.Arthurs. 20 Nopember 2001. dimana para pengajarnya juga melakukan praktik. Medan. Hal ini dilakukan agar mahasiswa mendapat gambaran mengenai hukum di luar Indonesia. Sisa perkuliahan dilakukan dengan pemahaman suatu peraturan perundangan-undangan yang diikuti dengan pembahasan kasus-kasus yang berkaitan dengan peraturan tersebut. Kekhawatiran akan diabaikannya tugas-tugas pendidikan dapat diatasi dengan dibuatnya sebuah rule of the game dengan sanksisanksi yang jelas. Pemahaman terhadap doktrin. “A lot of Knowledge is a Dangerous Thing: Will the Legal Profession Survive the knowledge Explosion? dalam Michael Feindel dan Oliver Fuldaner. Kita harus melihat pada profesional school sejenis. filsafat hukum dan case analysis. Pengajaran dapat dilakukan dengan menggabungkan pemahaman terhadap isi pasal.lanjutan hanyalah memberikan suatu spesialisasi terhadap sebuah bidang yang ingin ditekuni oleh SDM penegak hukum tersebut. W. “lawyers must become expert in some field of knowledge and know little about others”.

Mereka menganggap tugas hakim adalah menerapkan sebuah ketentuan atau prinsip hukum terhadap sebuah situasi fakta tertentu dan berbuat yang benar terhadap situasi tersebut. Kronman. 170. Weeramantry dalam tulisannya “Legal Education for the Age of technology: A Plea for an Interdisciplinary Perspec19 20 Antony T. John H.20 Oleh sebab itu metode case law ini sangat relevan untuk diajarkan kepada para mahasiswa. Sehingga para mahasiswa dapat terhindar dari pemikiran yang positivis dan doktrinal. 1984. Sehingga para mahasiswa dapat memahami “law behind law” dan dapat memahami hukum yang mendasari isi sebuah putusan bukan hanya memahami isi putusan saja. Diharapkan dengan metode ini mahasiswa dapat mempunyai kemampuan untuk menganalisis dan bersikap kritis dalam menghadapi hukum. Op. Seperti yang dikatakan oleh C. untuk dapat “menghidupkannya” maka perlu dikaitkan dengan fakta-fakta yang timbul dari berbagai kasus yang terjadi di masyarakat.19 Metode ini merupakan hasil dari judicial reasoning dalam menentukan sebuah kasus dalam sebuah situasi fakta tertentu. Hakim-hakim di Inggris menganggap bahwa fungsi seorang hakim bukanlah menghasilkan sebuah sistem hukum atau sebuah perkerjaan institusional yang menggunakan simetri logika. Dugdale. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 175 . Cit.G.18 Metode case law pertama sekali digunakan di Harvard Law School yang kemudian diikuti oleh seluruh Fakultas Hukum di AS. Op. mereka dapat melihat hukum sebagai hukum yang hidup bukan sebagai “black letter rules”. Hukum sebagai sumber pengambil keputusan merupakan hal yang mosaic dimana polanya berkembang dengan perkembangan masyarakat. hal 81. karena metode ini dapat mengevaluasi sebuah hukum melebihi dari isi hukum itu sendiri.pengajaran berbasis pembahasan kasus (case law). Farrar dan Anthony M. Hal ini dengan tepat digambarkan oleh seorang Hakim Agung Amerika yang sangat terkenal. hal. Hal ini penting mengingat isi pasal sebuah perundang-undangan hanyalah “sebuah kata-kata dalam bahasa Indonesia”.Cit. it has been experience” (kelangsungan hidup dari hukum bukanlah melalui logika tetapi melalui pengalaman). Oliver Wendell Holmes bahwa “The life of the Law has not been logic.

Lihat juga. Cit. Erman Rajagukguk. 347-368. Op. Robert R. 30. 24. Hikmahanto Juwana. 1995). Depok.” Wake Forest Law Review. hal. Hal ini dapat memperluas pengetahuan hukum mahasiswa mengenai hukum di negara lain dengan 21 22 23 24 C. Op. Michigan Journal of International Law. O. Lihat. Tidak kalah pentingnya. Educating Lawyers for the Global Economy. Pesatnya pertumbuhan teknologi. Weeramantry. (Vol. Sidney: Butterworth. budaya dan tradisi.21 Oleh karena itu metode ini sangat penting untuk dapat membuat hukum “hidup” tidak hanya di pengadilan seperti yang selama ini terlihat. 176 Bunga Rampai . Lihat. 746.” Wake Forest Law Review. 30. hal. (Vol.G.” Pidato Upacara Pengukuhan Sebagai Guru Besar Pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. 275. Merhige Jr. hal. telah memungkinkan kita untuk melakukan kuliah bersama jarak jauh melalui teleconference dengan mahasiswa di negara lain. “selama pengadilan kita dipenuhi dengan hakim dan pengacara yang dilatih untuk melihat hukum sebagai “black letter rule”. perlu mengetahui berbagai peraturan hukum negara lain dan bagaimana ia berjalan dalam perbedaan sistem hukum. tetapi juga dilakukan melalui kuliah bersama dengan para mahasiswa di negara lain. Erman Rajagukguk. 1983. “Empirical Legal Scholarship: Reestablishing a Dialoque Between the Academy and Profession. hal 158.”22 yang nantinya mengalihkan keahlian hukum dalam kenyataan itu kepada mahasiswa. Craig Allen Nard. 17. Spring 1996).23 Penting pula memperkuat muatan pengajaran perbandingan hukum dalam perkuliahan. hal. Tepat pula di sini diusulkan agar staf pengajar melakukan “empirical research. mengingat SDM penegak hukum masa kini dalam era globalisasi. “Legal Education: Observation and Perception From the Bench.1995). tim pengajar di Fakultas Hukum sekarang ini perlu pula menekankan proses belajar mengajar dengan metode legal reasoning yang didasarkan pada penelitian. Cit. Haley. hal. hal. maka putusannya akan dengan cepat tidak relevan dengan zaman yang didominasi oleh sains dan tekhnologi”.24 Perbandingan hukum tidak hanya dapat dilakukan dengan melakukan studi kepustakaan mengenai hukum di negara lain. (Vol. baik karena kebutuhan praktik maupun kesamaan model institusi-institusi hukum dan peraturan-peraturannya. “Legal Education for the Age of technology: A Plea for an Interdisciplinary Perspective” Legal Change. 22. “Hukum Internasional Dalam Konflik Kepentingan Ekonomi Negara Berkembang dan Negara Maju. 25.tive”. Bandingkan. 10 Nopember 2001. tetapi juga dalam ruanganruangan kelas dalam perkuliahan di Fakultas Hukum.

legal analysis and reasoning. dan recognizing and resolving ethical dillemas. Dalam kaitannya dengan pendekatan disiplin ilmu ekonomi misalnya. terasa dalam pendidikan ilmu hukum belum menjadi kebutuhan. oral and written comunicattion. Hal ini sangat penting karena banyak sekali isu-isu baru tentang hukum di tulis dalam jurnal yang berbahasa inggris. Kesepuluh keahlian tersebut adalah problem solving. Wake Forest School of Law.” Wake Forest Law Review.25 Selain itu kita juga harus menyadari bahwa bidang hukum yang semakin hari semakin luas sehingga tidak dapat dihindarkan perlunya pendekatan dengan disiplin ilmu lain. Fasilitas dan peralatan untuk teleconference ini sendiri sudah tersedia di Universitas Sumatera Utara. 262-263. tanggal 24 April 1991.” Pidato Pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Perbedaan irama ini serupa dengan perbedaan antara gamelan Bali yang mengumandangkan tari Baris dan New York Philharmonic Orchestra yang. dalam tulisannya “Lecture on Legal Education. Robert Mac reate. counseling. “Pendekatan Ekonomi Terhadap Hukum Sebagai Sarana Pengembalian Wibawa Hukum. understanding of the procedures of litigation and alternative dispute resolution. 2 (1995). legal research. mengumandangkan Symphony Nomor 5 karya Betthoven. hal. terutama dalam ketatnya persaingan di dunia global dan tingginya aktivitas perdagangan internasional. hal.berdikusi langsung mengenai teori maupun praktik hukum dengan mahasiswa atau para pengajar di negara tersebut. Jakarta. Charles Himawan. organizing ang managing legal work. Kemampuan untuk mengikuti perkembangan dalam hukum di dunia internasional akan memberikan pemahaman tentang hukum lebih komprehensif. Vol. 30 No. setidaknya ada 10 keahlian generik 25 26 27 Selain itu yang tidak kalah penting adalah penguasaan bahasa inggris oleh para dosen dan mahasiswa/i. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 177 . Dalam menyusun kurikulum penting kiranya kita memperhatikan apa yang diungkapkan oleh Robert Mac Create. negotiation. factual investigation. dimana nantinya lahir SDM penegak hukum yang kompeten dan profesional. Namun demikian bukanlah tidak mungkin untuk mengumandangkan irama yang satu dengan menggunakan alat musik yang lain.Create untuk menghasilkan SDM penegak hukum yang kompeten.26 Oleh karena itu kurikulum pendidikan di Fakultas Hukum harus dirancang untuk dapat mempersiapkan mahasiswa dengan bekal yang cukup untuk tampil di masyarakat sesuai dengan tuntutan masa kini. Wake Forest School of Law”. Hal ini ditandai sudah sejak lama pendidikan ilmu hukum mengumandangkan irama yang berbeda dengan pendidikan ilmu ekonomi. 6. “Lecture on Legal Education . Menurut Mc.

Perpustakaan merupakan sentral dari aktivitas di sebuah institusi pendidikan di luar kelas.Cit. “a good lawyer is one who knows where to look for the law. Dugdale. Fakultas dapat juga mengadakan sebuah program khusus dimana kita mengundang pakar-pakar dari fakultas lain untuk bersama-sama melakukan sebuah research atau program tertentu yang mengaitkan hukum dengan bidang tersebut.Cit.”29 Oleh karena itu. Selain bidang ekonomi. Hal ini dapat dilakukan dengan menambah mata kuliah ini yang menggabungkan kedua disiplin ilmu di Fakultas hukum. biologi. Op.28 Hal lain yang tidak kalah penting adalah perpustakaan.G. Mata kuliah ini mengajarkan tidak hanya tentang hukum tetapi juga dasar-dasar sains seperti fisika. Farrar dan Anthony M. Kemudian menambahkan mata kuliah khusus yang membahas kaitan antara sains dan hukum. dan lain sebagainya. Op. termasuk bidang hukum ekonomi. hal 163-165 John H. Wereemantry. Apalagi dari sekarang kita sedang melakukan pembangunan ekonomi. bidang teknologi yang saat ini sedang mengalami perkembangannya juga harus diperhatikan dalam menyusun kurikulum. SDM penegak hukum yang lulus dari Fakultas-Fakultas Hukum sekarang ini menghadapi dunia baru. fakultas dapat mengundang dosen-dosen tamu dari bidang disiplin ilmu yang berbeda. Inilah sebabnya mengapa Law School di luar negeri menyebut perpustakaan sebagai “jantungnya” sebuah institusi pendidikan. Metode self learning tidak dapat berjalan dengan baik apabila tidak didukung oleh fasilitas perpustakaan yang memadai. Misalnya dalam bidang teknologi kita dapat menambahkan mata kuliah wajib pengenalan dalam bidang sains dan society. Ada sebuah pepatah yang menggambarkan pentingnya perpustakaan di luar negeri yaitu. yang menjadikan kebutuhan untuk adanya spesialisasi di bidang hukum tidak dapat dielakkan. 27 Oleh karena itu kurikulum pendidikan hukum harus benar-benar disusun untuk mendukung hal ini. Fakultas Hukum idealnya ha- 28 29 Lihat C. Untuk mengatasi kesulitan dalam mengajarkan mata kuliah ini. termasuk hubungan yang baru di bidang ekonomi.yang harus dimiliki. hal 274 178 Bunga Rampai .

Inilah yang biasanya mereka sumbangkan kepada Fakultas-Fakultas hukum di negara lain. karena Fakultas Hukum dapat meminta bantuan para alumninya yang telah menjadi praktisi di lapangan untuk menjadi trainer secara sukarela. namun dari segi substansi isinya masih sangat relevan. misalnya melalui kursus atau pembelian buku-buku baru. Peningkatan tersebut bukan hanya akan membantu para dosen untuk meningkatkan pengetahuannya. juga dapat meminta bantuan kepada para institusi pendidikan di luar negeri untuk memberikan sumbangan berupa buku-buku ataupun jurnal-jurnal ilmiah baik yang baru maupun yang tidak lagi mereka butuhkan. terutama dalam pengajaran hal-hal yang bersifat praktik. mengingat hukum bukanlah ilmu pasti yang Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 179 .rus mempunyai sebuah perpustakaan sendiri untuk membantu para mahasiswa dan pengajar untuk lebih memahami hukum.” Sedangkan untuk meningkatkan fasilitas perpustakaan. Sementara itu. fakultas dapat mengundang para praktisi sebagai dosen tamu di dalam perkuliahan. Untuk mencapai pada tingkat pendidikan hukum yang ideal seperti yang digambarkan di atas tentu tidak mudah pula. sangat ditentukan oleh kualitas dosen. peningkatan kualitas dosen baru dapat tercapai apabila kesejahteraannya dapat terjamin. tetapi juga penting untuk keberlangsungan suatu institusi pedidikan. Selain efektif untuk meningkatkan kualitas pengajar hal ini juga relatif tidak membutuhkan banyak dana. Selain itu perlu juga diadakan sebuah trainer for trainee untuk para dosen secara rutin dan berkala. Adanya pelatihan ini akan memberikan kemampuan praktik langsung dari para praktisi di lapangan kepada para dosen yang belum mempunyai kemampuan tersebut. Dosen tamu yang didampingi oleh dosen tetap dapat membantu para mahasiswa untuk dapat lebih memahami hal-hal yang bersifat praktis di lapangan dan sekaligus berfungsi sebagai “alih pengetahuan. fakultas selain harus menyediakan dana khusus untuk ini. Perlu diketahui bahwa tiap tahun banyak Fakultas Hukum di luar negeri mengalami over stock karena masuknya edisi-edisi baru dari koleksi buku yang mereka punyai. Sedangkan untuk mengatasi ketimpangan para tenaga pengajar. Perlu diingat bahwa walaupun buku tersebut bukan edisi terbaru.

Semoga. 180 Bunga Rampai . Jaringan dapat dibangun langsung oleh universitas maupun secara individu melalui para dosen-dosen yang sedang melanjutkan pendidikannya di luar negeri.apabila berubah teori-teori yang lama tidak lagi dapat digunakan. Di sinilah diperlukan jaringan atau koneksi dengan Fakultas Hukum di luar negeri. Penutup Momentum untuk merealisasikan gagasan-gagasan yang telah dikemukakan di muka dapat dibuat sebagai pemikiran reformasi sistem pendidikan dan metode pengajaran. Sehingga harapan-harapan dalam reformasi pendidikan hukum untuk melahirkan SDM penegak hukum yang kompeten dan profesional di masa datang ini dapat terwujud.

London: Sweet & Maxwell.H.” Pidato Upacara Pengukuhan Sebagai Guru Besar Pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. dan Anthony M.” Wake Forest Law Review. O. Haley.Daftar Pustaka Bailey. London: Yale University Press. Juwana. “Lecture on Legal Education .Gunn. Depok. London: Sweet & Maxwell. New Jersey: Prentice-Hall. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 181 . 10 Nopember 2001.. Educating Lawyers for the Global Economy. Business and Its Legal Environment. Journal of Legal Studies. Merhige Jr. Kronman.. L. Cardozo.. Antony T. 1999. Charles. 17. Dugdale. 1984. 30. Smith & Bailey on The Modern English Legal System. 1996. ST.. University of Chicago. Hikmahanto. The Lost Lawyer Failing Ideals of the Legal Profession..( Vol. 2 .1995) Merryman. 1995). 1993. The Nature of The Judicial Process. (Vol. “Hukum Internasional Dalam Konflik Kepentingan Ekonomi Negara Berkembang dan Negara Maju. Farrar. “The role of Lawyer of development country. “The Common Law and Economic Growth: Hayek Might Be right”. et. dan M. (Vol.J. 1990. Michael. Benjamin N. Cambridge: Harvard University Press. tanggal 24 April 1991. XXX. Robert. Mahoney. S. 1972). Robert R. Paul. Michigan Journal of International Law. Black’s Law Dictionary. Black. “Pendekatan Ekonomi Terhadap Hukum Sebagai Sarana Pengembalian Wibawa Hukum. John Henry. Spring 1996).reate. The Civil Law Tradition: An Introduction to the Legal System of Western Europe and Latin America.” Wake Forest Law Review. Hagger. (Vol. 58. John H. Himawan. Inc. Jakarta. Introduction to Legal Method.all . (Vol. California: Stanford University Press. 30 No. Paul G.” Pidato Pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Minn: West Publishing Co.” ABA Journal. 2001) Mc. Dunfee W. Henry Campbell. Wake Forest School of Law. 1962. “Legal Education: Observation and Perception From the Bench.

Medan. “Empirical Legal Scholarship: Reestablishing a Dialoque Between the Academy and Profession. 1983. Chaim.. 30.(Vol. Nard. ed. 20 Nopember 2001. Legal Change Essay in Honor of Julius Stone. 182 Bunga Rampai . 1983. Erman. Craig Allen.G.” Wake Forest Law Review. Sidney: Butterworth.- - 1969. C. Weeramantry. Blackshield. “Globalisasi Hukum dan Kemajuan Teknologi: Implikasinya Bagi Pendidikan Hukum dan Pembangunan Hukum Indonesia. Perelman. dalam A. Legal Change.R. “Legal Ontology and Legal Reasoning”.” Pidato pada Dies Natalis USU Ke-44. 1995). “Legal Education for the Age of technology: A Plea for an Interdisciplinary Perspective”. Sidney: Butterworth. Rajagukguk.

Bagian Kedua Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 183 .

184 Bunga Rampai .

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 185 . H. politis. dan perlindungan terhadap hak asasi manusia. Dalam penyusunan suatu UUD. dan historis perumusan juridis perlu dipahami secara mendalam dan seksama sehingga dapat dipahami dan dimengerti dengan sebaik-baiknya ketentuan yang terdapat dalam pasal-pasal UUD. tetapi harus memahami konteks dan suasana kebathinan yang mempengaruhi perumusannya. Dengan demikian. hubungan antar lembaga. Namun demikian. kekuasaan lembaga negara. sosiologis.Komisi Yudisial Yang Dicita-citakan Oleh Masyarakat dan Pencari Keadilan Dr. Undang-Undang Dasar (UUD) adalah dokumen hukum dan politik (political and legal document) resmi suatu negara. MA. UUD tidak dapat dipahami hanya melalui teksnya saja. Penetapan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) sejak tahun 1945 telah memungkinkan penyelenggaraan negara yang sejauh mungkin mengedepankan kemakmuran masyarakat. baik dari sudut pandang filosofis. UUD dapat diubah. mengatur mengenai organisasi negara. maupun yuridis. sejarah mencatat bahwa dalam implementasinya banyak ditemukan kelemahan-kelemahan yang mengakibatkan munculnya ide untuk melakukan perubahan terhadap ketentuan UUD 1945 guna menutupi kelemahan tersebut. yang berisi kesepakatan pokok tentang negara. sosiologis.M. politis. suasana kebathinan yang menjadi latar belakang filosofis. Hidayat Nur Wahid. hubungan lembaga negara dengan warga negara. nilai-nilai dan norma dasar yang hidup dalam masyarakat dan dalam praktek penyelenggaraan negara turut mempengaruhi perumusan suatu norma ke dalam naskah UUD. Secara teoritis.

dan penegakan hukum dengan cara yang tidak bertentangan dengan hukum (due process of law). dalam setiap negara yang menganut paham negara hukum. kesetaraan di hadapan hukum (equality before the law). hal ini ditempuh MPR setelah mempertimbangkan secara seksama berbagai aliran paham dan pemikiran masyarakat tersebut. Ketentuan itu sekaligus dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kesewenangwenangan dan arogansi kekuasaan. MPR hasil Pemilu 1999 telah melakukan suatu rangkaian perubahan UUD 1945 dalam empat tahapan yang berkesinambungan. Masuknya rumusan Negara Indonesia adalah negara hukum mempertegas paham bahwa Indonesia adalah negara hukum. yang diputuskan pada Sidang Umum MPR tahun 1999 sampai dengan Sidang Tahunan MPR tahun 2002. baik dalam penyelenggaraan negara maupun kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. yaitu supremasi hukum (supremacy of law). Apabila hasil perubahan yang dilakukan MPR terwujud dalam bentuk seperti saat ini. dan bernegara. bermasyarakat. MPR memandang bahwa UUD 1945 sudah cukup untuk mengatur pelaksanaan kehidupan berbangsa. baik yang dilakukan oleh alat negara maupun oleh penduduk. Konsekuensi ketentuan itu adalah bahwa setiap sikap. dan perilaku alat negara dan penduduk (warga negara dan orang asing) harus berdasarkan dan sesuai dengan hukum. Paham negara hukum sebagaimana tercantum dalam 186 Bunga Rampai .Seiring dengan bergulirnya reformasi. kita melihat bekerjanya tiga prinsip dasar. Dengan pertimbangan dan proses pembahasan tersebut. kebijakan. Perubahan tersebut dilakukan karena MPR-lah berdasarkan UUD 1945 berwenang untuk melakukan perubahan. Salah satu perubahan penting setelah dilakukannya perubahan terhadap UUD 1945 adalah masuknya ketentuan pasal 1 ayat (3) tentang penegasan negara Indonesia adalah negara hukum dan dimuatnya rumusan tentang Hak Asasi Manusia (HAM) pada Bab XA. Perubahan UUD 1945 tersebut dilakukan MPR untuk jangka waktu yang panjang guna menyempurnakan ketentuan fundamental ketatanegaraan Indonesia sebagai pedoman utama dalam mengisi tuntutan reformasi dan memandu arah perjalanan bangsa dan negara pada masa yang akan datang. Secara umum.

Dalam UUD 1945 terdapat cakupan dasar-dasar normatif yang berfungsi sebagai sarana pengendali terhadap seluruh penyelenggaraan negara menuju arah dan perwujudan cita-cita kolektif bangsa sesuai dengan nilai yang terkandung dalam Pembukaan. hukumlah yang memegang komando tertinggi dalam penyelenggaraan negara. di dalamnya terkandung pengertian pengakuan terhadap prinsip supremasi hukum dan konstitusi. adanya prinsip peradilan yang bebas dan tidak memihak yang menjamin persamaan setiap warga negara dalam hukum. oleh karenanya prinsip negara hukum tidak boleh ditegakkan dengan mengabaikan prinsip-prinsip demokrasi yang diatur dalam UUD.ketentuan Pasal 1 ayat (3) terkait erat dengan negara kesejahteraan (welfare state) atau paham negara hukum materiil sesuai dengan bunyi alinea keempat Pembukaan dan ketentuan Pasal 34 UUD 1945. Untuk menjamin peradaban bangsa di masa yang akan datang perlu dikembangkan keberdayaan dalam hubungan antara negara. Institusi negara dibentuk tidak dengan maksud untuk mengambil alih fungsi-fungsi yang secara alamiah dapat dikerjakan sendiri secara lebih efektif dan efisien oleh institusi masyarakat. Pelaksanaan paham negara hukum materiil akan mendukung dan mempercepat terwujudnya negara kesejahteraan di Indonesia. dan penyelenggara negara dalam hubungan yang fungsional. rakyat diberi kebebasan untuk berkiprah sesuai dengan peradaban yang sesuai dengan nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. serta menjamin keadilan bagi setiap orang. Dalam UUD 1945 dikatakan bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum. Dalam paham negara hukum. sinergis. dianutnya prinsip pemisahan dan pembatasan kekuasaan menurut sistem konstitusional yang diatur dalam UUD. dan seimbang. Institusi negara dibentuk dengan maksud untuk Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 187 . Dalam paham negara hukum. Dalam masyarakat madani. Untuk pencapaian tersebut diperlukan adanya suatu kesadaran kolektif rakyat yang tercermin dalam upaya pembentukan masyarakat madani. masyarakat. hukum ditegakkan menurut prinsip-prinsip demokrasi karena kedaulatan hukum pada pokoknya berasal dari kedaulatan rakyat. adanya jaminan-jaminan hak asasi manusia.

tanpa terkecuali. Sejak keberhasilan gerakan reformasi melanda bangsa Indonesia. sebutan supremasi hukum menjadi kata yang paling sering diucapkan dan didengar. sejahtera lahir dan bathin. dimasukkan ke dalam pasal-pasal. tidak berdasarkan kekuasaan belaka (machtsstaat). ia langsung berada dan bekerja di tengah-tengah masyarakat. maka hal-hal yang bersifat normatif yang terdapat dalam Penjelasan. Tujuannya untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan (abus de pouvoir) dan penggunaan kekuasaan negara secara sewenang-wenang (detournement de pouvoir). mandiri. Hukum berada di atas segalanya termasuk negara. Keadilan bagi semua orang harus diperoleh agar masyarakat demokratis dapat mencapai kehidupan yang adil dan damai melalui penegakan hukum. melalui kiprah nyata dan berkesinambungan dalam upaya mewujudkan supremasi hukum yang kita inginkan. Rumusan Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 ini merupakan hasil perubahan ketiga. Sudah sepatutnya kita semua. Hal tersebut disebabkan karena masalah supremasi hukum adalah bukti nyata proses penegakan hukum suatu bangsa. Dalam negara hukum. Hukum sebagai aturan. Negara diatur oleh konstitusi dan undang-undang. Mengingat Penjelasan UUD 1945 ditiadakan. Karena. demokratis dan berkeadilan. Penegasan Indonesia sebagai negara hukum semula tercantum pada Penjelasan UUD 1945. dan kaidah akan selalu mempunyai posisi yang khas. Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan. Jika kita telaah. Negara Indonesia adalah negara hukum. Istilah ini akan selalu menjadi obyek kajian yang menarik dan tidak ada habis-habisnya. norma. individu dan negara berdiri sejajar. ikut melibatkan diri dalam usaha bersama mencari jalan keluar memperbaiki permasalahan secara menyeluruh.makin mendorong tumbuh dan berkembangnya peradaban bangsa Indonesia sesuai dengan cita dan citra masyarakat madani yang maju. kekuasaan yang tidak di- 188 Bunga Rampai . Keberagaman cita rasa masyarakat yang terkemas dalam budaya tradisional dan modern akan menyatu dalam suatu dimensi hukum. sejak Indonesia merdeka tahun 1945 para pendiri bangsa dan rakyat telah sepakat bahwa negara dibentuk berdasarkan hukum (rechtsstaat). Inilah yang dinamakan supremasi hukum.

Ketentuan ini merupakan perwujudan prinsip Indonesia sebagai negara hukum sebagaimana ditegaskan dalam Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 189 . yaitu Pasal 24 dan Pasal 25. pemberian jasa hukum/penasehat hukum (access to legal counsel). and absolute power corrupts absolutely”. Supremasi hukum tidak hanya berlaku bagi yang lemah tetapi bagi seluruh komponen bangsa termasuk negara (pejabat negara). Setelah diubah. Sebelum perubahan. yaitu bahwa baik pemerintah/negara maupun warga negara dalam bertindak harus berdasar atas dan melalui hukum. dan proses hukum yang adil (due process of law) adalah merupakan prinsip-prinsip negara hukum. sedangkan Pasal 25 tetap. kekuasaan kehakiman atau peradilan yang merdeka. guna menegakkan hukum dan keadilan. Pasal 24A.” Dalam penjabaran selanjutnya. bebas dari intervensi pihak mana pun. pada setiap negara hukum akan terlihat ciri-ciri adanya: 1) 2) 3) jaminan perlindungan hak-hak asasi manusia. Khusus yang menyangkut kekuasaan kehakiman atau peradilan yang merdeka. Undang-Undang Dasar 1945 telah mengakomodasikannya di dalam Bab tentang Kekuasaan Kehakiman. Pasal 24B. tidak diubah. Karenanya. Pasal 24C. Pasal 24B. dan Pasal 25. persamaan di depan hukum (equality before the law). “power tends to corrupt. Pada Perubahan Ketiga (tahun 2001) diputus Pasal 24 [kecuali ayat (3)]. yaitu Pasal 24. Pasal 24 ayat (3) diputus pada Perubahan Keempat (tahun 2002). Sebagaimana diungkapkan oleh Lord Acton. ”Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. sebagaimana tercermin dari bunyi Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan bahwa. Bab tentang Kekuasaan Kehakiman terdiri atas dua pasal.batasi oleh hukum implikasinya adalah korup. Pasal 24C. Bab tentang Kekuasaan Kehakiman menjadi lima pasal sehingga lebih rinci dan lebih lengkap. legalitas dalam arti hukum. Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 itu dimaksudkan untuk mempertegas bahwa tugas kekuasaan kehakiman dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yakni untuk menyelenggarakan peradilan yang merdeka. Pasal 24A.

Pembentukan Mahkamah Konstitusi adalah sejalan dengan dianutnya paham negara hukum dalam Undang-Undang Dasar 1945. 3) wewenang lainnya yang diberikan oleh undang-undang. yaitu Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. Hal-hal mengenai badan lain itu diatur dalam undang-undang. Pada Pasal 24 ayat (2) dibentuk satu lembaga peradilan baru yaitu Mahkamah Konstitusi. dan badan peradilan yang berada di bawahnya. antara lain lembaga penyidik dan lembaga penuntut. Indonesia menganut paham yang 190 Bunga Rampai . 2) menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang. Wewenang dan hal lain yang terkait dengan MK diatur dalam Pasal 24C. Hal itu sesuai dengan penegasan bahwa Undang-Undang Dasar sebagai puncak dalam tata urutan peraturan perundang-undangan di Indonesia. Perubahan ketentuan mengenai Mahkamah Agung dilakukan atas pertimbangan untuk memberikan jaminan konstitusional yang lebih kuat terhadap kewenangan dan kinerja Mahkamah Agung. semula disesuaikan dengan sejarah dan kebutuhan setiap negara. Artinya. Pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar 1945 membutuhkan sebuah mahkamah dalam rangka menjaga prinsip konstitusionalitas hukum. selain badan kekuasaan kehakiman yang telah ada.Pasal 1 ayat (3). Mahkamah Agung mempunyai wewenang: 1) mengadili pada tingkat kasasi. tidak boleh ada undang-undang dan peraturan perundang-undangan lainnya yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar. Ketentuan Pasal 24 ayat (3) menjadi dasar hukum keberadaan berbagai badan lain yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman. yaitu Mahkamah Agung. Ada konstitusi negara yang menyatukan fungsi Mahkamah Konstitusi ke dalam Mahkamah Agung. Mahkamah Konstitusi-lah yang bertugas menjaga konstitusionalitas hukum tersebut. Sesuai dengan ketentuan Pasal 24A ayat (1). Dalam negara hukum harus dijaga paham konstitusional. ada pula konstitusi negara yang memisahkannya sehingga dibentuk dua badan kekuasaan kehakiman. Dalam praktik tidak ada keseragaman di negara-negara di dunia ini mengenai kewenangan Mahkamah Konstitusi.

dan yudikatif.kedua. Lembaga negara yang kewenangannya diberikan langsung oleh Undang-Undang Dasar 1945. antara lain lembaga penyidik dan lembaga penuntut. Komposisi hakim konstitusi di Mahkamah Konstitusi merupakan perwujudan tiga cabang kekuasaan negara. Pengaturan dalam undang-undang mengenai badan lain yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman membuPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 191 . lembaga negara ini juga berwenang memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar 1945. Ketentuan Pasal 24 ayat (3) menjadi dasar hukum keberadaan berbagai badan lain yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman. Hal-hal mengenai badan lain itu diatur dalam undang-undang. DPR. Dengan pembentukan Mahkamah Konstitusi tersebut. proses dan putusan yang diambil terhadap perkara-perkara yang menjadi wewenangnya dapat dilakukan secara lebih baik karena ditangani oleh badan peradilan yang memang khusus dibentuk untuk menangani perkara yang berkaitan dengan pelaksanaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. yakni legislatif. Mahkamah Agung. Masih berkaitan dengan kewenangan Mahkamah Konstitusi. DPD. yakni dari sembilan anggota hakim konstitusi terdiri atas tiga orang yang diajukan oleh DPR. dan BPK. antara lain Presiden. Perbedaan pendapat di dalam Mahkamah Konstitusi sendiri diputuskan melalui mekanisme internal Mahkamah Konstitusi. tiga orang yang diajukan oleh Presiden. Putusan Mahkamah Konstitusi untuk menyelesaikan perbedaan pendapat di tubuh Mahkamah Konstitusi berdasarkan pertimbangan komposisi keanggotaan hakim konstitusi di Mahkamah Konstitusi yang diharapkan dapat menerapkan prinsip saling mengawasi dan saling mengimbangi. eksekutif. Pada sisi lain adanya Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi dalam kekuasaan kehakiman lebih mempertegas bahwa praktik pemerintahan selama ini yang membedakan adanya lembaga tertinggi negara dan tinggi negara sudah ditinggalkan karena setiap lembaga menjalankan tugas sesuai dengan fungsi yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar. dan tiga orang yang diajukan oleh Mahkamah Agung. MPR.

ka partisipasi rakyat melalui wakil-wakilnya di DPR untuk memperjuangkan agar aspirasi dan kepentingannya diakomodasi dalam pembentukan undang-undang tersebut. Adanya ketentuan pengaturan dalam undang-undang tersebut merupakan salah satu wujud saling mengawasi dan saling mengimbangi antara kekuasaan yudikatif, Mahkamah Agung dan badan peradilan di bawahnya serta Mahkamah Konstitusi dengan kekuasaan legislatif DPR dan dengan kekuasaan eksekutif lembaga penyidik dan lembaga penuntut. Selain itu, ketentuan itu dimaksudkan untuk mewujudkan sistem peradilan terpadu (integrated judiciary system) di Indonesia. Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 juga membentuk lembaga baru yang berada di lingkungan Kekuasaan Kehakiman, yaitu Komisi Yudisial. Pembentukan Komisi Yudisial ini didasari pemikiran bahwa hakim agung yang duduk di Mahkamah Agung dan para hakim merupakan figur yang sangat menentukan dalam perjuangan menegakkan hukum dan keadilan. Apalagi hakim agung duduk pada tingkat peradilan tertinggi (puncak) dalam susunan peradilan di Indonesia sehingga ia menjadi tumpuan harapan bagi pencari keadilan. Sebagai negara hukum, masalah kehormatan dan keluhuran martabat, serta perilaku hakim merupakan hal yang sangat strategis untuk mendukung upaya menegakkan peradilan yang handal dan realisasi paham Indonesia adalah negara hukum. Untuk itu, perubahan Undang-Undang Dasar 1945 memuat ketentuan mengenai pembentukan lembaga di bidang kekuasaan kehakiman bernama Komisi Yudisial yang merupakan lembaga bersifat mandiri. Menurut ketentuan Pasal 24B ayat (1), Komisi Yudisial berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim. Melalui lembaga Komisi Yudisial itu diharapkan dapat diwujudkan lembaga peradilan yang sesuai dengan harapan rakyat sekaligus dapat diwujudkan penegakan hukum dan pencapaian keadilan yang diputus oleh hakim yang terjaga kehormatan dan keluhuran martabat serta perilakunya. Penegakan hukum dan supremasi hukum antara lain dapat dilihat dari kemandirian kekuasaan kehakiman dan dibersihkannya lembaga peradilan dari korupsi, kolusi, dan

192

Bunga Rampai

nepotisme. Sebagai esensi dalam penegakan hukum, kekuasaan kehakiman sebagai salah satu kekuasaan dalam negara memiliki hubungan yang sangat erat dengan cabang kekuasaan lainnya. Kekuasaan kehakiman berfungsi memutus sengketa hukum yang timbul antara anggota masyarakat satu sama lain dan antara anggota masyarakat dengan pemerintah. Wewenang untuk memutus perkara, tujuan akhirnya adalah untuk mewujudkan ketertiban umum di masyarakat melalui putusan yang adil. Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 itu dimaksudkan untuk mempertegas bahwa tugas kekuasaan kehakiman dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yakni untuk menyelenggarakan peradilan yang merdeka, bebas dari intervensi pihak mana pun, guna menegakkan hukum dan keadilan. Perubahan Undang-Undang Dasar telah menjamin adanya kemandirian kekuasaan kehakiman. Dengan kekuasaan kehakiman yang merdeka dan mandiri, lembaga-lembaga negara pemegang kekuasaan tersebut dapat bertindak sesuai dengan koridor hukum yang berlaku sehingga pengalaman buruk implementasi kekuasaan kehakiman sebelum reformasi yang penuh dengan rekayasa penguasa dapat dihilangkan. Keadilan tidak boleh dibedakan atas dasar latar belakang (sosial, ekonomi, politik, ideologi, etnisitas, ras, warna kulit, agama, gender, keyakinan politik, dan apapun). Keadilan harus dapat diraih oleh semua orang (kaya,miskin, sipil,militer, swasta, negeri, rakyat, pemimpin, tua dan muda). Artinya, jika pejabat bersalah dapat dihukum oleh pengadilan dan dituntut ganti rugi. Begitu juga jika masyarakat biasa yang bersalah dapat dituntut dan diproses secara hukum sehingga tercapai tujuan hukum yaitu kepastian hukum dan keadilan. Terkait dengan lembaga peradilan, terdapat dua aspek wewenang pokok mengadili dari kekuasaan kehakiman, yaitu aspek institusional berupa jenis-jenis kelembagaan peradilan yang diserahi kekuasaan kehakiman dan aspek fungsional berupa ragam fungsi yang diserahkan oleh undang-undang kepada badan-badan kekuasaan kehakiman. Melalui reposisi fungsi kedudukan lembaga peradilan dalam undang-undang, saat ini terdapat kemajuan yang menggembirakan dimana seluruh kelembagaan tersebut se-

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

193

cara bersama-sama telah berkomitmen untuk melakukan pembinaan sumber daya manusia aparatur hukum. Wujud dari upaya tersebut, penyelenggaraan peradilan yang bersih dan bebas sudah menjadi pedoman dalam berperkara. Pasal 24A ayat (3) dan Pasal 24B ayat (1) menegaskan bahwa calon hakim agung diusulkan Komisi Yudisial kepada DPR untuk mendapat persetujuan. Keberadaan Komisi Yudisial tidak bisa dipisahkan dari kekuasaan kehakiman. Dari ketentuan ini ditegaskan bahwa jabatan hakim merupakan jabatan kehormatan yang harus dihormati, dijaga, dan ditegakkan kehormatannya oleh suatu lembaga yang juga bersifat mandiri. Dalam hubungannya dengan Mahkamah Agung, tugas Komisi Yudisial hanya dikaitkan dengan fungsi pengusulan pengangkatan Hakim Agung, sedangkan pengusulan pengangkatan hakim lainnya, seperti hakim Mahkamah Konstitusi tidak dikaitkan dengan Komisi Yudisial. Aparatur penegak hukum yang berperan dalam upaya penegakkan hukum penting dikedepankan independensinya dari pengaruh kekuasaan politik Presiden atau pengaruh dari intitusi manapun juga. Independensi dalam melaksanakan tugas pro-yustisia diperlukan karena jabatan pemerintahan sangat dipengaruhi oleh dinamika politik lima tahunan. Komisi Yudisial sebagai lembaga yang berwenang mengusulkan dan mengawasi pengangkatan hakim agung, kedudukannya sangat penting. Kehormatan dan martabat hakim sebagai penentu dalam proses peradilan patut dijaga mengingat putusan hakim adalah mutlak dan mengikat sebagai dasar aparat penegak hukum bertindak. Komisi Yudisial diharapkan dapat membantu mengatasi berbagai bentuk penyalahgunaan wewenang yang terjadi pada lembaga peradilan melalui pencitraan hakim, dengan demikian dapat mendorong terwujudnya peradilan yang bersih dan berwibawa. Upaya pemilihan hakim yang kompeten melalui seleksi calon hakim agung secara ketat disertai dengan pengawasan perilaku hakim agar senantiasa menjunjung tinggi kehormatan, keluhuran martabat, serta perilakunya. Komisi Yudisial sebagai salah satu institusi dalam menjalankan fungsi kehakiman harus dapat menunjukkan kinerja yang profesional dan mengedepankan komitmen untuk mendorong terbangunnya komitmen dan integritas para

194

Bunga Rampai

hakim sehingga para hakim dalam semua tingkat peradilan dapat menjalankan wewenang dan tugasnya secara sungguh-sungguh dengan berdasarkan kebenaran, rasa keadilan, mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku serta bebas dari intervensi kekuasaan dan menjunjung tinggi kode etik. Dengan kewenangan yang dimiliki Komisi Yudisial, diharapkan dapat mewujudkan mekanisme checks and balances dalam lembaga pemegang kekuasaan kehakiman, sehingga akan membantu terwujudnya peradilan Indonesia yang menegakkan supremasi hukum. Upaya mewujudkan peradilan Indonesia yang profesional dan adil perlu dikedepankan mengingat saat ini terdapat kecenderungan berkurangnya kepercayaan masyarakat dan pencari keadilan terhadap badan peradilan yang disebabkan karena proses peradilan yang dilaksanakan kurang transparan dan kurang berfungsinya organ yang bertugas dalam mengawasi perilaku hakim. Dengan kondisi demikian, melalui tugas dan fungsi, diharapkan Komisi Yudisial dapat mempelopori untuk menciptakan kondisi yang dapat membantu mengoptimalkan peran peradilan sehingga dapat mewujudkan lembaga peradilan yang bersih, bermartabat, dan berwibawa serta menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan. Adanya pengawasan melekat pada perilaku hakim dalam menjalankan tugasnya akan memberikan kontrol yang effektif dalam upaya menegakkan keadilan. Komisi Yudisial harus dapat menjalankan tugasnya untuk merekrut dan mengawasi perilaku hakim agar hakim dalam lembaga peradilan benar-benar memiliki integritas, memiliki kemampuan dalam menyelesaikan kasus, serta dapat mengambil putusan yang sesuai dengan peraturan yang berlaku dan mandiri. Dengan fungsinya tersebut, Komisi Yudisial menjadi pengawal dalam mengoreksi semua penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh hakim, Komisi Yudisial dapat menjadi pelopor utama guna menegakkan keluhuran martabat dan perilaku hakim. Dengan adanya pengawasan yang optimal oleh Komisi Yudisial, maka akan membantu pencitraan hakim dalam penyelenggaraan peradilan. Akhirnya saya ingin menegaskan bahwa pencitraan peradilan melalui itikad dan kesungguhan dari penyeleng-

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

195

gara negara dalam mengimplementasikan seluruh peraturan secara konsekuen akan mendukung pelaksanaan seluruh ketentuan UUD 1945. Peran lembaga peradilan yang menjunjung tinggi hukum dan kesetaraan dalam hukum akan membantu memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap proses hukum dalam lembaga peradilan. Pencitraan hakim melalui seleksi yang ketat oleh lembaga yang berwenang serta pengawasan yang intensif oleh institusi diluar pengadilan akan mendukung terwujudnya netralitas putusan hakim dan membentuk pencitraan hakim yang profesional dan berwibawa.

196

Bunga Rampai

Sinkronisasi Sistem Perundang-undangan Lembaga Peradilan Dalam Menciptakan Peradilan yang Lebih Baik
Trimedya Panjaitan, SH*

INDONESIA adalah negara hukum. Salah satu prinsip penting bagi Indonesia sebagai negara hukum adalah kekuasaan kehakiman yang merdeka. Prinsip ini menghendaki kekuasaan kehakiman yang bebas dari campur tangan pihak manapun dan dalam bentuk apapun, sehingga dalam menjalankan tugas dan kewajibannya ada jaminan ketidakberpihakan kekuasaan kehakiman kecuali terhadap hukum dan keadilan. Prinsip kekuasaan kehakiman yang merdeka telah ditegaskan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yakni dalam Perubahan (Amandemen) Ketiga UUD 1945. Dalam Pasal 24 ayat (1) dinyatakan kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Sebelumnya, dalam UUD 1945 praamandemen, prinsip ini diatur dalam Pasal 24 UUD 1945, dan diuraikan lebih lanjut dalam penjelasan Pasal 24 yang berbunyi: “Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan yang merdeka, artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah. Berhubung dengan itu harus diadakan jaminan dalam undang-undang tentang kedudukan para hakim”.1

*
1

Penulis adalah Ketua Komisi III DPR RI, Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Kutipan dari penjelasan UUD 1945 sebelum amandemen ini untuk menunjukkan bahwa sejak awal, yaitu oleh para pendiri bangsa, telah diterima gagasan adanya lembaga yudikatif yang mandiri dan bebas dari pengaruh kekuasaan lain.

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

197

Negara Indonesia berdasarkan UUD 1945 tidak menganut secara penuh paham Trias Politica dan pemisahan kekuasaan. dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum (pasal 24C ayat 1). dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh undang-undang (pasal 24A ayat 1). atau secara lebih spesifik melakukan constitutional review) atas undang-undang terhadap UndangUndang Dasar. dinyatakan secara tegas oleh UUD 1945 sebagai kekuasaan negara yang terpisah dari kekuasaan-kekuasaan negara lainnya. lingkungan peradilan tata usaha negara. Namun pelembagaan berbagai kekuasaan negara di Indonesia jelas menunjukkan adanya keterpengaruhan pada paham Trias Politica. memutus pendapat DPR bahwa Presiden telah melanggar hal-hal 2 Lihat Sri Soemantri. Sedangkan Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar. Pada Pasal 24 ayat (2) UUD 1945. Mahkamah Konstitusi juga mempunyai tugas khusus lain yaitu memutus pendapat DPR bahwa Presiden/Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat. Menegakkan Konstitusi. Mahkamah Agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi. memutus pembubaran partai politik. memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar. Dengan demikian Mahkamah Konstitusi dimunculkan sebagai lembaga negara dengan tugas melakukan uji materi (judicial review. Membangun Politik Hukum. 1978. dinyatakan bahwa kekuasaan kehakiman itu dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum.2 Kekuasaan kehakiman di Indonesia dilaksanakan oleh Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi dengan kompentensi yang berbeda. dan Mahfud MD. Dan khusus untuk kekuasaan kehakiman. 2006. menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang. lingkungan peradilan agama. lingkungan peradilan militer. Bunga Rampai Hukum Tata Negara Indonesia. 198 Bunga Rampai .

yakni Komisi Yudisial. ditambah dengan kewenangan menguji materi perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Dalam Konstitusi diatur bahwa Komisi Yudisial merupakan lembaga yang bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Sehingga para anggota DPR/MPR RI sebagai representasi dari rakyat menilai perlunya dibentuk Komisi Yudisial (judicial committee) sebagai lembaga pengawas eksternal terhadap kekuasaan kehakiman. keluhuran martabat. peradilan agama.tertentu yang disebutkan di dalam Undang-Undang Dasar sehingga mereka dapat diproses untuk diberhentikan. memutus sengketa kewenangan antar lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar. dan peradilan tata usaha negara). namun sebagai lembaga pembantu (state auxiliary organ). sebagai supporting elemen dalam kekuasan kehakiman. Komisi Yudisial bukan merupakan pemegang kekuasaan kehakiman. untuk melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim. Pada awalnya ide dasar pembentukan Komisi Yudisial dilatarbelakangi kekhawatiran akan timbulnya tirani yudisial pasca pemberlakuan sistem satu atap di Mahkamah Agung dan pemberian kemandirian dan kemerdekaan kepada institusi pemegang kekuasaan kehakiman ini. serta memutus pembubaran partai politik dan memutus sengketa hasil pemilu. peradilan militer. Dengan demikian konstitusi telah memberikan landasan hukum yang kuat bagi reformasi di bidang hukum dengan memberikan kewenangan kepada Komisi Yudisial. Konstitusi juga memperkenalkan lembaga baru di dalam rumpun kekuasaan kehakiman. Sedangkan Mahkamah Agung mengadili perkara-perkara konvensional (perkara-perkara di lingkungan peradilan umum. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 199 . serta perilaku hakim (pasal 24B ayat 1).3 Hasilnya adalah pengaturan Komisi Yudisial dalam Pasal 24B Perubahan Ketiga UUD 1945 yang ditetap- 3 Lihat keterangan para saksi dari mantan Anggota Panitia Ad Hoc (PAH) I Badan Pekerja MPR dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 005/PUU-IV/2006 dalam perkara permohonan uji materi terhadap UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial.

kan dalam Sidang Tahunan MPR Tahun 2001. administrasi. Dengan kata lain. peralihan sudah selesai paling lambat 31 Maret 2004 (pasal 42 ayat 1). Administrasi. sepenuhnya menjadi tanggung jawab Mahkamah Agung. Dengan konsep satu atap kekuasaan kehakiman. Secara konseptual. Selanjutnya. dan finansial Mahkamah Konstitusi berada di bawah kekuasaan dan kewenangan Mahkamah Konstitusi. Adapun tentang Mahkamah Agung diatur dalam UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU Nomor 14 Tahun 1985. diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 21 Tahun 2004 tentang Pelaksanaan Pengalihan Urusan Organisasi. dan keuangan lembaga peradilan ditangani sendiri oleh institusi pemegang kekuasaan kehakiman. peralihan harus se- 200 Bunga Rampai . dan finansial Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya berada di bawah kekuasaan Mahkamah Agung (pasal 13 ayat 1). Dalam UU Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman ditegaskan bahwa organisasi. administrasi. Selanjutnya sistem satu atap diatur dan dijabarkan dalam Undang-undang (UU) Nomor 35 Tahun 1999 tentang Perubahan UU Nomor 14 Tahun 1970. administrasi. dan peradilan militer. Mahkamah Agung tidak hanya mengurusi pembinaan para hakim. di tingkat pelaksanaan. kemandirian kekuasaan kehakiman dapat tercapai jika organisasi. Kebijakan atap tunggal atau one roof system diawali dengan pembuatan Ketetapan MPR Nomor X/MPR/1998 tentang Pokok-pokok Reformasi Pembangunan yang menetapkan kekuasaan kehakiman bebas dan terpisah dari kekuasaan eksekutif. dan finansial yang sebelumnya diatur oleh eksekutif (Departemen Kehakiman). administrasi. Perlu digarisbawahi. tetapi juga menangani organisasi. urusan teknis yudisial dan kepegawaian korps hakim di negeri ini sekarang berada di satu tangan. Sedangkan dalam pasal 13 ayat (2) disebutkan bahwa organisasi. sebagaimana telah diubah dan dicabut dengan UU Nomor 4 Tahun 2004 tetang Kekuasaan Kehakiman. Untuk peradilan agama. Untuk lingkungan peradilan umum dan peradilan tata usaha negara. sistem satu atap kekuasan kehakiman merupakan unsur penting dari kemandirian kekuasaan kehakiman (judicial independence). dan Finansial Lembaga Peradilan dari Departemen Kehakiman ke Mahkamah Agung. yang dilaksanakan sejak 31 Maret Tahun 2004.

yakni masih dijalankannya sistem pengelolaan kekuasaan kehakiman oleh pemerintah mengenai bidang-bidang organisasi.lesai paling lambat 30 Juni 2004 (pasal 42 ayat 2 dan ayat 3). diserahkan kepada wakil ketua nonyudisial yang membawahi ketua muda pembinaan dan ketua muda pengawasan. Selanjutnya pada sekretariat Mahkamah Agung dibentuk beberapa direktorat jenderal dan kepala badan. promosi. Putusan MK. Sementara dengan UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. Jabatan panitera dan sekretaris Mahkamah Agung juga dipisahkan. struktur baru ini bisa memikul beban yang dialihkan dari Departemen Kehakiman ke Mahkamah Agung. Wakil ketua bidang yudisial membawahi ketua muda perdata. struktur Mahkamah Agung mengalami perubahan. Sistem satu atap kekuasaan kehakiman ini sesuai dengan tuntutan reformasi. Ketiadaan independensi kekuasaan kehakiman. dan finansial. realisasinya terlambat. Dalam undang-undang ini diatur secara rinci mengenai wewenang dan tugas Komisi Yudisial. hal tersebut menjadi sulit dilakukan karena adanya dualisme kendali. dan diharapkan akan memudahkan pengawasan terhadap para hakim. ketua muda militer. selain karena tekanan rezim yang begitu kuat. kekuasaan negara didominasi oleh kekuasaan eksekutif. Pengadilan agama baru diserahkan oleh Departemen Agama pada 30 Juni 2004. juga berakar pada sistem pengelolaannya. serta menangani urusan administratif yang terkait dengan teknis peradilan seperti pembagian perkara. Sedangkan soal administrasi umum termasuk pengawasan. Komisi Yudisial mempunyai tugas mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kePenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 201 . Selama Orde Baru. Selama ini. sedangkan pengadilan militer baru diserahkan oleh Panglima TNI pada 1 September 2004. administratif. yakni ada dua wakil ketua dari sebelumnya hanya satu. Namun. ketua muda pidana. dan mutasi hakim. ketua muda agama. Diharapkan. dan ketua muda tata usaha negara. Sinkronisasi UU Pengaturan lebih lanjut tentang Komisi Yudisial terdapat dalam UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial.

Dalam perkembangannya pelaksanaan pengawasan terhadap hakim oleh Komisi Yudisial yang didasarkan pada UU Nomor 22 Tahun 2004 dipersoalkan oleh para Hakim Agung. Dalam putusannya Mahkamah Konstitusi membatalkan fungsi pengawasan Komisi Yudisial karena bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat karena terbukti menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid).hormatan. sedang Hakim Agung tidak dikecualikan dari objek pengawasan Untuk mengatasi akibat kekosongan hukum yang terlalu lama berkaitan dengan tugas Komisi Yudisial. Amar putusan Mahkamah Konstitusi ini sebenarnya telah memutuskan halhal yang tidak diajukan dalam permohonan judicial review. khususnya yang berkaitan dengan ketentuan mengenai fungsi pengawasan terhadap perilaku hakim. kemudian Komisi Yudisial menggagas kocok ulang Hakim Agung. serta perilaku hakim. Para Hakim Agung tersebut meminta agar pasal-pasal dalam UU Nomor 22 Tahun 2004 yang menyangkut kewenangan Komisi Yudisial mengawasi Hakim Agung dan hakim Mahkamah Konstitusi dibatalkan. Permohonan judicial review ini dikabulkan sebagian oleh Mahkamah Konstitusi. Terhadap permohonan terkait objek pengawasan oleh Komisi Yudisial itu Mahkamah Konstitusi hanya mengecualikan dirinya sendiri dari objek pengawasan. Mahkamah Konstitusi me- 202 Bunga Rampai . yang diputuskan adalah fungsi atau kewenangan pengawasan terhadap hakim oleh Komisi Yudisial yang sama sekali tidak dimohonkan oleh para pemohon. yakni Hakim Agung dan hakim pada badan peradilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung serta hakim Mahkamah Konstitusi. Konflik berkembang sedemikian rupa hingga berpuncak pada pengajuan uji materi atau judicial review terhadap UU Nomor 22 Tahun 2004 oleh 31 orang Hakim Agung. Awalnya Komisi Yudisial merasa adanya kesulitan untuk meminta keterangan dari Ketua Mahkamah Agung dalam suatu kasus yang menarik perhatian masyarakat. sebab yang dipermasalahkan oleh pemohon adalah tentang objek pengawasan Komisi Yudisial yaitu para Hakim Agung dan hakim Mahkamah Konstitusi bukan fungsi pengawasannya itu sendiri. Ini merupakan buntut dari konflik antara Komisi Yudisial dengan Mahkamah Agung. keluhuran martabat.

28 September 2006. Perlu Sinkronisasi Semua UU agar Tak Simpang Siur. Mahkamah Konstitusi juga menyarankan kepada DPR dan Presiden untuk melakukan perbaikan-perbaikan yang bersifat integral dengan juga mengadakan perubahan dalam rangka harmonisasi dan sinkronisasi atas UU Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Menurut Bagir. revisi UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial sebaiknya memang tidak secara sepotong-sepotong tapi dilakukan secara komprehensif dalam satu paket dengan revisi seluruh undang-undang di bidang kekuasaan kehakiman. Namun demikian.nyatakan UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial harus segera disempurnakan melalui proses perubahan undang-undang sebagaimana mestinya. dan undang-undang lain yang terkait dengan sistem peradilan terpadu. termasuk UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. adalah wilayah legislatif. serta sinkronisasi terhadap berbagai peraturan perundangan-undangan di bidang kekuasaan kehakiman sudah mengemuka di berbagai kalangan. Putusan Mahkamah Konstitusi. harmonisasi. UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Mahkamah Agung telah menugasi sejumlah Hakim Agung dan Ikatan Hakim Indonesia untuk melakukan kajian secara mendalam. termasuk dari Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial. UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. baik pembentukan undang-undang baru atau undang-undang perubahan/amandemen. Untuk itu. Mahkamah Agung sedang mengkaji hal-hal yang perlu disinkronkan dari delapan undang-undang tentang kekuasaan kehakiman.4 4 Kompas. Menurut Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan. yang menyarankan DPR dan Presiden (yang secara bersama-sama memegang kekuasaan membentuk undang-undang) untuk melakukan perubahan terhadap berbagai peraturan perundanganundangan di bidang kekuasaan kehakiman ini sebenarnya tidak lazim. dari segi substansi tidak ada masalah dengan saran Mahkamah Konstitusi itu karena sebenarnya wacana atau keinginan melakukan penyempurnaan. MA: Revisi UU KY agar Dilakukan secara Integral. Sebab urusan atau kewenangan pembentukan undang-undang. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 203 .

Menyikapi putusan Mahkamah Konstitusi di atas. yakni 5 6 Disampaikan Pimpinan Komisi Yudisial dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi III DPR RI. RUU tentang Perubahan atas UU Komisi Yudisial dan RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Konstitusi sudah masuk dalam Prioritas Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Tahun 2007. belum lama direvisi oleh DPR bersama pemerintah. UU Peradilan Umum. dan UU tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Terhadap UU Mahkamah Konstitusi. RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. antara lain dengan memberikan batasan tentang materi undang-undang yang dapat diajukan permohonan judicial review. yaitu UU Kekuasaan Kehakiman. Draf pertama dari ketiga RUU inisiatif DPR itu sudah selesai disusun. UU Komisi Yudisial. UU Peradilan Agama. Sementara satu undang-undang lainnya yang masuk rumpun kekuasaan kehakiman.5 Ketika membuat revisi atas UU Komisi Yudisial. 204 Bunga Rampai . Badan Legislatif DPR sedang menyiapkan paket Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan atas UU Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana sudah diubah dengan UU Nomor 5 Tahun 2004. UU Peradilan Militer. dan kini sedang dalam tahap penyempurnaan setelah menerima masukan dari berbagai pihak terkait seperti Ikatan Hakim Indonesia (Ikahi) dan pakar hukum. misalnya. secara keseluruhan Komisi Yudisial membahas delapan undang-undang di bidang kekuasaan kehakiman. dan RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. UU Mahkamah Konstitusi. diusulkan tentang perlunya beberapa perbaikan.6 Dengan demikian tinggal RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Agung dan RUU tentang Perubahan atas UU Kekuasaan Kehakiman yang belum masuk dalam Prioritas Prolegnas 2007. 19 September 2006. Alasannya karena kita masih menghadapi masalah sinkronisasi hukum baik secara horisontal maupun vertikal.Pendapat atau keinginan yang sama diungkapkan oleh Komisi Yudisial. dan karenanya perlu didorong agar juga masuk dalam kategori prioritas. UU Mahkamah Agung. yaitu UU Peradilan Agama. Lihat Prioritas Program Legislasi Nasional 2007 sesuai dengan Keputusan DPR RI Nomor: 07A/DPR RI-RI/I/2006-2007.

disampaikan oleh Komisi Yudisial kepada pimpinan Mahkamah Agung dan tembusannya disampaikan kepada Presiden dan DPR. atau disisipkan di antara pasal 32 dan 33 UU MahkaPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 205 . Penguatan terhadap kedudukan Komisi Yudisial diatur dalam pasal 22C draft RUU yang menyebutkan bahwa Komisi Yudisial dapat membuat keputusan atas dugaan pelanggaran perilaku hakim dengan memberikan teguran tertulis. dan RUU MA Dalam draft pertama RUU tentang Perubahan atas UU Komisi Yudisial yang disusun oleh Badan Legislatif DPR (posisi draft pada 27 Desember 2006). Keputusan tersebut merupakan hasil dari pelaksanaan tugas Komisi Yudisial dalam menjaga dan menegakkan kehormatan. harmonisasi. Dalam draft RUU Komisi Yudisial juga dipertegas bahwa Hakim Agung termasuk objek pengawasan Komisi Yudisial bersama hakim pada semua badan peradilan di bawah Mahkamah Agung (pasal 1 angka 4). Untuk jelasnya kita lihat bunyi rumusan Pasal 22C ayat (2) draf pertama RUU tentang Perubahan atas UU Komisi Yudisial (selanjutnya disingkat RUU Komisi Yudisial): Dalam hal pelanggaran aturan perilaku hakim dinyatakan terbukti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. atau pemberhentian permanen. keluhuran martabat dan perilaku hakim yang tata caranya diatur dalam pasal 22A dan 22B. Dengan demikian revisi. pemberhentian sementara. dan sinkronisasi UU Peradilan Militer terhadap berbagai undang-undang di bidang kekuasaan kehakiman lainnya dapat dilakukan melalui pembahasan RUU yang sedang berlangsung di DPR. b. Kemudian dalam ayat (3) diatur: Putusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bersifat mengikat. keputusan dapat berupa: a. RUU MK. RUU KY. pemberhentian. Ketentuan ini juga diatur dalam pasal 32A draf pertama RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Agung (posisi draft pada 27 Desember 2006).melalui UU Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas UU Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. teguran tertulis. sehingga menurut hemat penulis belum prioritas untuk direvisi. atau c. kedudukan Komisi Yudisial diperkuat. Sedangkan RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 31 tahun 1997 tentang Peradilan Militer saat ini sedang dibahas di DPR. pemberhentian sementara.

menurut penulis. Oleh karena itu ketentuan mengenai pelaksanaan kewenangan Komisi Yudisial untuk menjatuhkan sanksi kepada hakim ini termasuk yang masih perlu disinkronisasikan dan diatur teknis pelaksanaannya dalam RUU Mahkamah Agung dan RUU Kekuasaan Kehakiman. Sejalan dengan itu. selain UU Komisi Yudisial. dalam RUU Komisi Yudisial memang belum diatur tentang mekanisme pelaksanaan putusan Komisi Yudisial tersebut oleh Mahkamah Agung. Sementara itu. UU Kekuasaan Kehakiman juga sudah mencantumkan tentang kedudukan Hakim Agung sebagai objek pengawasan Komisi Yudisial. penyusun draft RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Agung (selanjutnya disingkat RUU Mahkamah Agung) juga telah mengubah bunyi pasal 32 UU Mahkamah Agung dari semula terdiri dari lima ayat menjadi tiga ayat.mah Agung yang berlaku saat ini. Untuk diketahui. keluhuran martabat serta perilaku hakim agung dan hakim. yakni dalam pasal 34 ayat 3 yang berbunyi: Dalam rangka menjaga kehormatan. Ketentuan seperti ini. Ini merupakan upaya sinkronisasi tentang kewenangan pengawasan terhadap hakim dalam peraturan-peraturan perundang-undangan di bidang kekuasaan kehakiman. sesuai putusan Mahkamah Konstitusi. yang menyatakan bahwa pengawasan atas perilaku Hakim Agung dilakukan oleh Komisi Yudisial. sebab pengawasan terhadap perilaku hakim merupakan kewenangan Komisi Yudisial. Sedangkan pencantuman pengaturan kewenangan Komisi Yudisial melakukan pengawasan terhadap Hakim Agung dalam draft RUU Mahkamah Agung merupakan upaya sinkronisasi UU Mahkamah Agung terhadap UU Komisi Yudisial dan UU Kekuasaan Kehakiman. pengawasan dilakukan oleh Komisi Yudisial yang diatur dalam undang-undang. hakim Mahkamah Konstitusi dikecualikan dari pengawasan Komisi Yudisial dan semua ketentuan yang menyangkut hakim Mahkamah Konstitusi dihapus dalam draft RUU Komisi Yudisial. Namun. Perubahan terpenting adalah menghilangkan ketentuan pasal 32 ayat (2) yang mengatur kewenangan Mahkamah Agung untuk mengawasi tingkah laku dan perbuatan para hakim di semua lingkungan peradilan dalam menjalankan tugasnya. Sebab sikap Mahkamah Konstitusi 206 Bunga Rampai . perlu dikaji ulang secara mendalam.

Larangan seperti ini dilatarbelakangi adanya putusan Mahkamah Konstitusi yang melebihi permohonan. Perlu dikaji. dan berwibawa. Sedangkan dalam ayat (2) disebutkan bahwa hakim Mahkamah Konstitusi tidak berwenang melakukan pengujian atas undang-undang yang berkaitan dengan tugas dan wewenang Mahkamah Konstitusi. Pengaturan dalam pasal 50 RUU Mahkamah Konstitusi ini lebih rinci dan tegas dibandingkan pasal 50 dalam UU Mahkamah Konstitusi yang sudah dicabut atau dibatalkan Mahkamah Konstitusi. Pembatalan itu dilakukan Mahka- 7 Tentang kenapa fungsi pengawasan Komisi Yudisial harus dimaksudkan dalam posisi sebagai suppoting element dan bukan check and balances.yang mengecualikan dirinya sendiri dari objek pengawasan Komisi Yudisial ini termasuk kontroversial dan mendapatkan kritikan dari berbagai kalangan. Apapun hasil pengkajian itu penting dicatat bahwa pengawasan oleh Komisi Yudisial yang dimaksud di sini adalah sebagai supporting element dalam rangka mendukung kekuasaan kehakiman yang merdeka. terdapat dalam pasal 45A yang mengatur bahwa Mahkamah Konstitusi tidak boleh memutus perkara melebihi daripada yang diminta sebagaimana dalam surat permohonanannya (ultra petita). bersih. antara lain. yakni hanya meliputi undang-undang yang diundangkan setelah perubahan UUD 1945 (pasal 50 ayat 1 RUU Mahkamah Konstitusi). dan bukan dalam kerangka hubungan checks and balances. antara lain dalam kasus permohonan uji materi terhadap UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial seperti sudah disinggung di atas. lihat pertimbangan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 005/PUU-IV/2006 dalam perkara permohonan uji materi terhadap UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. dan memutus permohonan pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 207 . apakah pengecualian hakim Mahkamah Konstitusi dari objek pengawasan Komisi Yudisial sudah tepat. Pasal substantif lainnya adalah pembatasan kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam memeriksa.7 Ketentuan penting dalam draf pertama RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disingkat RUU Mahkamah Konstitusi) yang disusun Badan Legislatif DPR (posisi draft pada 27 Desember 2006). mengadili.

dengan tambahan adanya ayat (2). sedangkan legislative review masuk dalam wilayah kewenangan legislatif atau pembentuk undang-undang. Termasuk dalam wilayah legislative review adalah review atau penilaian apabila tidak ada kepastian hukum karena adanya undang-undang yang saling bertentangan dengan undang-undang lain. mengadili. sekaligus menutup celah bagi Mahkamah Konstitusi untuk mengatur dirinya sendiri melalui putusan uji materi terhadap undang-undang yang terkait Mahkamah Konstitusi. Hukum Online. Perlu dikaji tentang perlunya pembedaan antara judicial review dan legislative review. Pasca Putusan MK (1): Selamat Datang Kembali Mafia Peradilan. 27 Agustus 2006. Dengan membatalkan Pasal 50 yang menganut asas tidak berlaku surut tersebut juga berarti Mahkamah Konstitusi telah memberikan kewenangan kepada dirinya sendiri untuk untuk menguji seluruh undang-undang yang berlaku di Indonesia. telah membatasi Mahkamah Konstitusi untuk menguji undangundang yang diundangkan sebelum amandemen UUD 1945. telah mengatur pembatasan undang-undang yang dapat dilakukan uji materi oleh Mahkamah Konstitusi dari segi rationne temporis (keberlakuan waktu). Dari ketentuan pasal 50 draft RUU Mahkamah Konstitusi tersebut dapat diketahui bahwa DPR. Dihidupkannya kembali pasal 50 dalam draft RUU Mahkamah Konstitusi. “Hal ini sesuai asas bahwa seorang hakim tidak dapat berlaku adil dalam memeriksa. Judicial review merupakan wilayah kewenangan Mahkamah Konstitusi. 208 Bunga Rampai . Pembatalan pasal 50 itu dilakukan Mahkamah Konstitusi sebagai pintu masuk untuk dapat memeriksa uji materi terhadap undang-undang yang diundangkan sebelum perubahan atau amandemen UUD 1945 tersebut. dan memutus suatu perkara di mana ia sendiri terlibat (ikut menjadi pihak) di dalamnya”.mah Konstitusi saat memeriksa permohonan uji materi UU Nomor 1 Tahun 1987 tentang Kamar Dagang dan Industri. dalam hal ini Badan Legislatif. Namun belum diatur pembatasan dari segi rationne materiae (materi pengujian) yang masuk dalam kewenangan Mahkamah Konstitusi. Dalam penjelasan pasal 50 ayat 2 disebutkan. tanpa batasan waktu.8 Sebab jika 8 Lihat Mahfud MD.

adalah UU Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer. Sikap DPR ini merujuk pada Ketetapan MPR Nomor VII/ MPR/2000 tentang Peran TNI dan Peran Polri dan UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI yang menegaskan bahwa Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 209 . UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM). Sementara Panitia Khusus (Pansus) DPR untuk RUU Peradilan Militer menghendaki agar jurisdiksi peradilan militer dibatasi pada tindak pidana militer. Semula Departemen Pertahanan menghendaki agar semua tindak pidana yang dilakukan militer diadili di peradilan militer. Dari berbagai undangundang di bidang kekuasaan kehakiman. HAM.terjadi pertentangan antara satu undang-undang dengan undang-undang lainnya maka perlu dilakukan harmonisasi atau sinkronisasi antara undang-undang yang saling bertentangan itu melalui revisi atau perubahan terhadap undang-undang dimaksud. RUU Peradilan Militer. dan yang berwenang melakukannya adalah lembaga legislatif. antara lain. dan Tipikor Selain revisi. yang perlu segera dilakukan revisi. harmonisasi. dan sinkronisasi terhadap undang-undang yang mengatur lembaga pemegang kekuasaan kehakiman (yakni Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi sebagai principal organ) dan Komisi Yudisial (sebagai auxiliary organ dalam kekuasaan kehakiman). pembahasan RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 31 tahun 1997 tentang Peradilan Militer (selanjutnya disingkat RUU Peradilan Militer) saat ini sedang dilakukan oleh DPR bersama pemerintah. Sebagaimana telah disinggung di atas. dan UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang di dalamnya diatur dasar hukum tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. dan sinkronisasi. upaya yang sama juga harus dilakukan terhadap berbagai undang-undang yang mengatur tentang badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung. harmonisasi. Pembahasan terhadap RUU Peradilan Militer yang merupakan amanat reformasi ini sempat mengalami kebuntuan karena adanya perbedaan pendapat mengenai yurisdiksi peradilan militer yang diatur dalam pasal 9 RUU Peradilan Militer. sedangkan tindak pidana umum yang dilakukan militer masuk jurisdiksi peradilan umum.

Sedangkan Pasal 65 ayat 2 UU Nomor 34 Tahun 2004 menyebutkan. ”Prajurit tunduk kepada kekuasaan peradilan militer dalam hal pelanggaran hukum pidana militer dan tunduk pada kekuasaan peradilan umum dalam hal pelanggaran hukum pidana umum yang diatur dengan undang-undang”. yaitu ketidakrelaan militer untuk tunduk pada peradilan umum dan disidik oleh polisi. sedangkan apabila melanggar tindak pidana militer akan diadili di peradilan militer. Menurut pemerintah. Merujuk pada argumen masing-masing pihak. pemerintah (dalam hal ini Menteri Pertahanan) memberikan jawaban yang mengejutkan. Selanjutnya dinyatakan bahwa Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2000 maupun Pasal 65 jo Pasal 74 UU Nomor 34 Tahun 2004 tidak bisa dijadikan dasar penyusunan RUU Peradilan Militer. Setelah melalui perdebatan panjang lebih dari satu tahun. Persetujuan itu disampaikan dalam Surat Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono kepada pimpinan DPR tanggal 30 Januari 2007. dan ditegaskan lagi oleh Menteri Pertahanan dalam Rapat 210 Bunga Rampai . Pasal 65 UU No 34 Tahun 2004 itu adalah substansi yang dipaksakan. pemerintah akhirnya sependapat dengan DPR bahwa militer akan diadili di peradilan umum apabila melakukan tindak pidana umum. dan tampaknya lebih karena persoalan kultur. Akan tetapi. Dalam Pasal 3 ayat (4b) Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2000 disebutkan: “Prajurit Tentara Nasional Indonesia tunduk kepada kekuasaan peradilan militer dalam hal pelanggaran hukum militer dan tunduk kepada kekuasaan peradilan umum dalam hal pelanggaran hukum pidana umum”. Sementara resistensi TNI (sebagaimana tergambar dalam sikap Menteri Pertahanan) untuk tunduk pada jurisdiksi peradilan sipil memiliki alasan yang lemah. khususnya semangat menegakkan prinsip demokrasi dan adanya kontrol sipil pada militer. atas argumen tersebut. Hal ini juga sesuai dengan semangat reformasi. Kemudian dalam Pasal 74 undang-undang yang sama disebutkan Pasal 65 ayat 2 bisa berlaku setelah undang-undang yang baru tentang Peradilan Militer diberlakukan. DPR memiliki landasan hukum yang lebih kuat karena merujuk pada Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2000 dan UU Nomor 34 Tahun 2004.TNI selain tunduk pada peradilan militer juga patuh pada peradilan umum.

bukan institusinya. Kata ’Prajurit’ itu berkonotasi pada individu. kelompok 9 Lihat Republika.9 Selanjutnya. terutama terfokus pada UU Nomor 39 Tahun 1947 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana Militer berikut hukum acaranya. antara lain. Perubahan istilah ’Prajurit’ ke ’Militer’ itu dikhawatirkan mengarah ke institusi. Hal ini bisa mengakibatkan munculnya usulan pembentukan pengadilan internasional dalam kasus kejahatan perang atau kemanusiaan. Pasalnya. Perubahan istilah ini dianggap mengandung jebakan. Dalam UU Pengadilan HAM. 28 Juni 2007 Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 211 . Dalam rapat tersebut Pansus DPR dan pemerintah juga mulai menyepakati adanya masa transisi pemberlakuan UU Peradilan Militer selama dua sampai tiga tahun. Saat ini ada persoalan baru berkaitan dengan isi Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) tambahan dari pemerintah. pemerintah dan DPR secara simultan akan merevisi undangundang terkait. Dalam kurun waktu tersebut.Pansus RUU Peradilan Militer. Revisi UU Peradilan Militer perlu mempertimbangkan UU Pengadilan HAM mengingat prajurit TNI merupakan salah satu subjek hukum dari jurisdiksi Pengadilan HAM. diatur bahwa “setiap orang adalah orang perseorangan. bukan ke arah individu yang melakukan tindak pidana. Dalam DIM itu banyak istilah ’Prajurit’ yang kemudian diubah menjadi ’Militer’. Pansus RUU Peradilan Militer Khawatirkan Isi DIM Baru Pemerintah. tercapainya kesepakatan DPR dengan pemerintah tentang jurisdiksi peradilan militer tidak berarti pembahasan RUU Peradilan Militer akan berjalan mulus. sedangkan ’Militer’ mengarah pada institusinya. 8 Februari 2007. jika revisi tersebut tidak mempertimbangkan UU Pengadilan HAM. Sehingga dikhawatirkan bisa terjadi kesulitan untuk mengadili individu prajurit yang melakukan tindak pidana umum itu ke peradilan umum. yang perlu diperhatikan adalah bahwa revisi UU Peradilan Militer harus mempertimbangkan UU Nomor 26 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM). Jika prajurit melakukan tindak pidana umum maka diadili di peradilan umum. Tapi. Indonesia dapat dicurigai tidak mau menyesuaikan diri dengan standar internasional.

Perbedaan pendapat ini telah menyebabkan terjadinya kebuntuan dalam penindaklanjutan proses hukum kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum adanya UU Nomor 26 Tahun 2000. yang menyatakan rekomendasi DPR RI adalah untuk pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. Pendapat ini didukung sebagian besar anggota Komisi III DPR. namun tidak terbatas pada. Revisi ini khususnya terhadap. Dalam kasus tersebut Kejaksaan Agung menolak menindaklanjuti hasil penyelidikan Komnas HAM dengan alasan penyidikan tidak bisa dilakukan tanpa didahului pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. antara lain dalam kasus penghilangan orang secara paksa periode 1997-1998. Kemudian dalam pasal 49 (masuk dalam Bab X tentang Ketentuan Penutup) dinyatakan bahwa ketentuan mengenai kewenangan Atasan Yang Berhak Menghukum dan Perwira Penyerah Perkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 dan Pasal 123 Undangundang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer dinyatakan tidak berlaku dalam pemeriksaan pelanggaran hak asasi manusia yang berat menurut undang-undang ini. militer. komisi yang membidangi hukum dan menjadi pasangan kerja Jaksa Agung RI dan Komnas HAM. Sementara Komnas HAM berpendapat Jaksa Agung dapat menindaklanjuti hasil penyelidikan Komnas HAM dengan melakukan penyidikan tanpa didahului pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. mengenai dalam tahap mana dalam proses hukum kasus pelanggaran HAM berat diperlukan rekomendasi DPR sebagai syarat untuk pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. maupun polisi yang bertanggung jawab secara individual” (pasal 1 ayat 3). Secara hubungan pasal tidak ada hubungan penyelidikan dan penyidikan dengan pembentukan pengadilan Ad Hoc tersebut sehingga tidak beralasan jika Kejaksaan mengatakan harus 212 Bunga Rampai . di mana Pengadilan HAM Ad Hoc dibentuk dengan Keputusan Presiden RI berdasarkan rekomendasi DPR RI. Terhadap UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM sendiri juga perlu dilakukan revisi atau penyempurnaan. Selama ini terdapat perbedaan penafsiran antara DPR dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) di satu pihak. dan Kejaksaan Agung di pihak lain. ketentuan pasal 43 UU Pengadilan HAM yang mengatur tentang rekomendasi DPR untuk pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. baik sipil.orang.

Dari materi pasal-pasal tersebut diketahui kewenangan Komnas HAM ada di bidang penyelidikan. khususnya menyangkut pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. yakni pada pasal 21 dan 22 (penyidikan). Namun atas argumen tersebut Kejaksaan Agung tetap pada sikapnya yang menolak menindaklanjuti hasil penyelidikan Komnas HAM dalam kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum adanya UU Nomor 26 Tahun 2000 tanpa didahului oleh keluarnya rekomendasi DPR untuk pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. Kewenangan penyelidikan kasus pelanggaran HAM berat berada di Komnas HAM. Kewenangan penyidikan dan penuntutan ada di tangan Kejaksaan Agung. mengeluarkan rekomendasi. pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. Kejaksaan Agung di bidang penyidikan dan penuntutan. Mahkamah Konstitusi menyatakan Pasal 53 UU Nomor 30 Tahun 2002 bertentangan dengan UUD 1945. serta pasal 23 dan 24 (penuntutan). Terkait argumen Komnas HAM yang didukung DPR di atas. namun tetap memiliki kekuatan hukum mengi- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 213 . dan pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. Sementara pengaturan tentang pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc diatur dalam pasal 43 yang menyatakan Pengadilan HAM Ad Hoc dibentuk atas usul DPR RI. dapat kita lihat pasal-pasal yang mengatur tentang penyelidikan. Keputusan politik DPR baru diperlukan jika hasil penyidikan akan dilanjutkan dengan proses penuntutan di pengadilan dan karena itu harus dibentuk Pengadilan HAM Ad Hoc. Terhadap perbedaan penafsiran yang meruncing dan menimbulkan kebuntuan hukum ini tentu perlu dicarikan jalan keluar dengan membuat rumusan undang-undang yang lebih tegas dan jelas. melalui amandemen atau revisi terhadap UU Nomor 26 Tahun 2000. dan kewenangan DPR untuk mengusulkan. dan diatur pada pasal 19 dan 20 UU Nomor 26 Tahun 2000. penyidikan. Sementara revisi terhadap UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendesak untuk dilakukan karena adanya putusan judicial review Mahkamah Konstitusi yang membatalkan pasal 53 UU Nomor 30 Tahun 2002 yang menjadi dasar hukum Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).ada keputusan politik dari DPR lebih dulu untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan.

214 Bunga Rampai . Namun. keempat.10 Terlepas dari pro dan kontra mengenai putusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan dasar hukum Pengadilan Tipikor. bukan di dalam UU KPK seperti saat ini.kat sampai diadakan perubahan paling lambat tiga tahun setelah sejak putusan diucapkan. Sebab dalam prinsip kepastian hukum. pertama. untuk melakukan penyempurnaan UU KPK dan penataan kelembagaan pengadilan khusus. agar tidak menyebabkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid) yang dapat mengacaukan penanganan perkara tipikor. keputusan Mahkamah Konstitusi ini sebenarnya dapat dijadikan momentum untuk menguatkan eksistensi Pengadilan Tipikor melalui dukungan terhadap terbentuknya undang-undang yang khusus mengatur mengenai Pengadilan Tipikor. kedua. Sementara dalam konteks sidang perkara korupsi yang berlaku pada saat ini. Putusan ini sesuai dengan Pasal 24A UUD 1945 yang ditafsirkan Mahkamah Konstitusi bahwa pembentukan badan peradilan di bawah Mahkamah Agung harus dilakukan dengan undang-undang. Sementara putusan yang menyatakan Pasal 53 UU KPK tetap mempunyai kekuatan hukum mengikat sampai diadakan perubahan paling lambat tiga tahun terhitung sejak putusan diucapkan. Asas manfaat dimaksud adalah dapat dilihat dari empat alasan yang dikemukakan oleh Mahkamah Konstitusi. putusan Mahkamah Konstitusi tersebut dapat dilihat sebagai putusan yang bertujuan memberikan kepastian hukum. perkara korupsi dapat disidangkan di dua pengadilan yang berbeda yaitu Peradilan Umum dan Pengadilan Tipikor. untuk meniadakan 10 Lihat Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 012-016-019/PUU-IV/2006 tentang permohonan uji materi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. merupakan terobosan yang didasarkan pada aspek manfaat. Artinya. agar tidak memperlemah semangat (disinsentive) pemberantasan korupsi. agar proses peradilan Tipikor tidak terganggu atau tidak macet. Pengadilan Tipikor harus dibentuk dengan undang-undang tersendiri. dinyatakan tidak boleh ada dualisme hukum. maka seharusnya hanya ada satu pengadilan. Karena itu. Untuk meniadakan dualisme yang selama ini terjadi dalam sidang perkara-perkara korupsi. ketiga. yakni. dan.

dualisme tersebut ada dua pilihan. Mahkamah Konstitusi tidak secara tegas memerintahkan dibentuknya Pengadilan Khusus 11 Periksa Draft RUU mengenai Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Isi draf RUU yang disusun tim yang dibentuk Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) ini memang cenderung membubarkan Pengadilan Tipikor. dinyatakan bahwa: Dalam waktu paling lambat 1 (satu) tahun setelah UU ini diundangkan ditunjuk hakim khusus untuk tindak pidana korupsi pada setiap pengadilan negeri. atau kedua. sehingga eksistensi Pengadilan Tipikor beserta hakim Ad Hocnya harus ditiadakan. Menurut Andi Hamzah. maka harus disertai dengan undang-undang yang khusus mengaturnya. Kemudian pada pasal yang terletak setelah pasal 36 tapi belum diberi nomor disebutkan bahwa: (1) Hasil penyidikan yang dilakukan oleh penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 diserahkan kepada Jaksa Penuntut Umum. keberadaan Pengadilan Tipikor bertentangan dengan konstitusi karena kriteria kekhususan Pengadilan Tipikor menyebabkan terdapat dua pengadilan yang berbeda dalam lingkup yang sama. Tim Perumus Draft RUU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang dipimpin Prof. (2) Perkara tindak pidana korupsi yang diterima oleh Jaksa sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dilimpahkan ke pengadilan negeri setempat untuk diperiksa dan diputus oleh majelis hakim khusus tindak pidana korupsi. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 215 . Jika ditinjau putusan Mahkamah Konstitusi dan apa yang sedang digodok oleh Tim Perumus RUU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. ”Penyidikan dalam undang-undang ini dilakukan oleh Kepolisian. jika Pengadilan Tipikor masih dikehendaki eksistensinya. Sehingga selanjutnya seluruh perkara korupsi disidangkan oleh hakim karier yang dididik khusus untuk menangani perkara korupsi di pengadilan umum. Kejaksaan. Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. sebenarnya tidak ada pertentangan antara keduanya. Pasalnya. pada posisi 30 Januari 2007. Kemudian dalam pasal berikutnya (juga belum diberi nomor). Hal ini tercermin pada pasal 36 draf RUU Tipikor11 yang berbunyi. dan penyidik pada Komisi Pemberantasan tindak Pidana Korupsi. Andi Hamzah menganut pendapat yang pertama. yakni Pengadilan Tipikor dileburkan ke pengadilan umum.

Dipastikan dalam draf itu terdapat klausul tentang pembentukan Pengadilan Tipikor. Putusan Mahkamah Konstitusi tidak menghapus keberadaan Pengadilan Khusus Tipikor. apakah disatukan melalui pengadilan khusus. Terhadap kritik dari para pengamat dan akademisi hukum serta kalangan LSM ini tentu pemerintah harus membuka diri. harus dengan payung hukum atau undang-undang tersendiri. Harus dilakukan kajian mendalam tentang pilihan yang akan diambil untuk meniadakan dualisme yang selama ini terjadi dalam sidang perkara-perkara korupsi. kalau tidak maka akan kembali ke pengadilan umum. Mahkamah Konstitusi memberikan waktu tiga tahun bagi pembentuk undang-undang untuk membuat undang-undang tersendiri itu. melainkan memerintahkan pembentuk undang-undang untuk segera membuat UU Pengadilan Khusus Tipikor. Mereka menilai Tim Perumus RUU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi telah keliru memahami putusan Mahkamah Konstitusi. dan banyaknya perkara kasasi yang menumpuk di Mahkamah Agung. Mahkamah Konstitusi hanya menyatakan. Lagipula. banyaknya pungutan di luar biaya administrasi resmi. atau melalui peradilan umum. Apapun pilihan yang diambil harus dalam kerangka untuk mengefektifkan pemberantasan tindak pidana korupsi. Karena itu Romli dan beberapa akademisi hukum serta sejumlah LSM membuat tim untuk menyusun draf RUU Pemberantasan Korupsi tandingan.Tipikor. kalau dibentuk Pengadilan Khusus. antara lain. draft versi pemerintah yang mengarah pada pembubaran Pengadilan Tipikor ini mendapat kritikan dari berbagai kalangan. Tapi. 216 Bunga Rampai . banyaknya persyaratan administratif yang harus ditempuh saat pendaftaran perkara di pengadilan. lambatnya proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh kepolisian dan kejaksaan. Pengadilan yang Lebih Baik Pembenahan lembaga peradilan sangat penting karena saat ini pelayanan lembaga peradilan dianggap sebagian besar masyarakat tidak optimal. Pelayanan yang tidak optimal tersebut. antara lain dari pakar hukum pidana Romli Atmasasmita dan para aktivis lembaga swadaya masyarakat di bidang gerakan antikorupsi.

Yunani. imigrasi 90 persen. survei menemukan bahwa lembaga vertikal. peradilan.ti. Taiwan. yaitu hasil survei Global Corruption Report 200712 yang diluncurkan oleh Transparency International Indonesia. Meksiko. seperti polisi.or. yang menyatakan bahwa tingkat inisiatif lembaga peradilan dalam meminta suap secara langsung mencapai 100 persen dari seluruh interaksi. Menurut hasil survei Global Corruption Report 2007. khususnya 12 Periksa Tranparency International Indonesia. Badan Pertanahan Nasional. Peru. The Global Corruption Report 2007: Corruption in Judicial Systems. masih korup. Transparency International Indonesia mengeluarkan tujuh rekomendasi yaitu reformasi sistem peradilan yang mencegah campur tangan eksekutif atau legislatif. Temuan itu juga sesuai dengan hasil Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia 2006 yang dirilis Transparency International Indonesia pada Februari 2007. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 217 . imigrasi. Saat itu. dan memperkuat eksistensi pengadilan Tipikor. serta militer. pajak. empat lebih di antara sepuluh keluarga Indonesia mengaku harus menyuap demi mendapatkan keadilan. Hasil survei itu paling tidak merupakan indikasi bahwa praktik suap memang terjadi di lembaga peradilan. mengembalikan kewenangan Komisi Yudisial untuk memperkuat fungsi pengawasan hakim. kebebasan memperoleh akses informasi. Hasil survei ini oleh berbagai kalangan. polisi 78 persen. Kondisi itu menempatkan peradilan Indonesia sejajar dengan Albania. Dalam IPK itu. penetapan gaji yang berdasarkan pengalaman dan kemampuan. dan Venezuela. bea dan cukai. http://www. dan proses peradilan yang harus dilakukan secara terbuka. Rekomendasi berikutnya adalah memperkuat seleksi Hakim Agung oleh Komisi Yudisial. dan pajak 76 persen.Masih buruknya wajah lembaga peradilan ini dapat dilihat dari hasil survei terkini. Berdasarkan laporan tersebut.id/news/11/tahun/2007/bulan/05/ tanggal/25/id/1125/. BPN 84 persen. Moldova. sekaligus seolah mengkonfirmasikan kebenaran rahasia umum tentang adanya lingkaran penyalahgunaan wewenang di lembaga peradilan yang dikenal dengan istilah mafia peradilan. Maroko. pengadilan dipersepsikan meminta suap hingga 100 persen. disusul bea dan cukai 95 persen.

Penerbit Buku Kompas. sinyalemen. diungkapkan pakar hukum senior Satjipto Rahardjo dengan mengutip temuan mantan Hakim Agung Asikin Kusumah Atmaja dan Adi Andojo. atau menjatuhkan putusan tertentu. 2006. yaitu hampir separuh dari tiga ribu hakim di Indonesia berbuat tidak benar. Berangkat dari titik itu. Penulis sendiri berpandangan bahwa hasil survei Transparency International Indonesia harus diterima sebagai otokritik. dan advokat harus mempunyai komitmen dan visi yang sama tentang bagaimana mengakhiri praktik suap dan atau praktek mafia peradilan lainnya di pengadilan. jaksa. jaksa. atau persepsi tentang buruknya kondisi peradilan sebenarnya bukan hal baru karena sudah mengemuka sejak lama. Sebab hakim di Indonesia dapat disuap untuk memperlambat atau mempercepat proses hukum di pengadilan. harmonisasi.13 Asikin pernah memaparkan angka yang mengejutkan. Kita harus mengakui bahwa secara institusional memang telah terjadi perubahan dalam dunia peradilan. dianggap mencerminkan gagalnya reformasi peradilan di Indonesia. praktik korupsi tampaknya masih merupakan kebiasaan yang terus saja terjadi dan kemudian dipotret oleh Transparency International. dan advokat sebagai catur wangsa penegak hukum untuk membersihkan korupsi di dunia peradilan. menerima atau menolak permintaan banding. Apalagi temuan. 218 Bunga Rampai . dan sinkronisasi berbagai perundang-undangan yang terkait dengan kekuasaan kehakiman yang memiliki tujuan 13 Lihat artikel Satjipto Rahardjo berjudul Mafia Pengadilan. Adanya praktek suap di lembaga peradilan ini.pengamat hukum dan aktivis lembaga swadaya masyarakat. Komitmen dari para aparat penegak hukum ini mendukung atau seiring dengan proses revisi. Polri. pendapat. Kompas edisi 5 Januari 1995. termuat dalam buku Sisi-sisi Lain dari Hukum di Indonesia. Karena itu hakim. mempengaruhi rekannya sesama hakim. Namun. Sedangkan Adi Andojo pernah membeberkan secara rinci praktek negatif di Mahkamah Agung. polisi. Sementara kalangan lain ada yang mempertanyakan akurasi dari metode survei yang dilakukan Transparency International Indonesia. dibutuhkan komitmen bersama dari hakim. antara lain.

dan berwibawa.Artikel ini disusun untuk memenuhi permintaan Komisi Yudisial terkait penerbitan Buku Bunga Rampai Volume Dua. bersih. khususnya dalam rangka penegakan hukum di Indonesia. peningkatan peran masyarakat dan lembaga legislatif dalam bentuk pengawasan dan kontrol yang ketat terhadap perilaku hakim dan aparat penegak hukum lainnya. dan komitmen dari aparat penegak hukum itu sendiri dalam mewujudkan lembaga peradilan yang merdeka. termasuk dalam bidang pemberantasan tindak pidana korupsi. penerapan sistem rekruitmen hakim dan Hakim Agung yang lebih transparan melalui uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test). peningkatan kualitas moral dan integritas hakim dan aparat penegak hukum lainnya. terwujudnya lembaga peradilan yang transparan dan akuntabel dengan didukung oleh aparat penegak hukum yang bersih akan mendorong tercapainya penyelenggaraan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Sebab untuk mewujudkan sistem peradilan yang transparan dan adil dapat dilakukan melalui pembenahan sistem peradilan untuk mewujudkan sistem peradilan terpadu (integrated criminal justice system). Adanya upaya untuk melakukan reformasi di lingkungan lembaga peradilan diharapkan akan dapat memberikan hasil yang positif. Dan. penyediaan sarana dan prasarana hukum yang mendukung penyelenggaraan proses peradilan yang adil dan transparan. Catatan: .akhir untuk mewujudkan peradilan yang lebih baik. Keberadaan Komisi Yudisial dan beberapa lembaga independen lainnya yang mempunyai fungsi sebagai pengawas terhadap lembaga pengadilan dan lembaga penegak hukum lainnya diharapkan dapat menciptakan lembaga peradilan yang lebih akuntabel dan bersih. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 219 .

220 Bunga Rampai .

menginternalisasi kelembagaan baru di dalam Bab IX (Kekuasaan Kehakiman). Undang-undang ini mengatur tugas dan wewenang Komisi Yudisial. Pasal 24B ayat (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.3 Amanat konstitusi tersebut ditindaklanjuti dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. keluhuran martabat serta perilaku hakim. yaitu mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. yang salah satunya adalah dalam bidang kekuasaan kehakiman.H. Komisi ini oleh konstitusi diberi kewenangan mengusulkan pengangkatan hakim agung dan kewenangan lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Dalam Amandemen ketiga. Soekarno.X.DPR dan Perubahan Atas Undang-Undang Komisi Yudisial Oleh : F. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 221 . Pendahuluan Amandemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) membawa konsekuensi terhadap perubahan sistem ketatanegaraan Republik Indonesia. 1 A.2 Adapun susunan. dan keanggotaan Komisi Yudisial diatur dengan undang-undang. S. Hakim yang dimaksud disini adalah Hakim Agung dan hakim pada badan peradilan disemua lingkungan 1 2 3 Ketua Badan Legislasi DPR RI RI Pasal 24B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. keluhuran martabat serta perilaku hakim. kedudukan. tepatnya pada Pasal 24B yaitu adanya Komisi Yudisial.

khususnya yang berkaitan dengan ”pengawasan hakim” yang diatur dalam Bab III. b) melakukan seleksi terhadap calon Hakim Agung. Dalam melaksanakan tugas pengawasan tersebut. b) meminta laporan secara berkala kepada badan peradilan berkaitan dengan perilaku hakim. c) melakukan pemeriksaan terhadap dugaan pelanggaran perilaku hakim. dapat berupa teguran tertulis.4 Dalam melaksanakan kewenangan mengusulkan pengangkatan Hakim Agung. d) memanggil dan meminta keterangan dari hakim yang diduga melanggar kode etik perilaku hakim. Pasal 20 dan 4 5 Lihat pengertian hakim pada Pasal 1 angka 5 UU No. Namun dalam perjalanannya Undang-undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial dimohonkan judicial review oleh 31 Hakim Agung yang menganggap hak dan kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya UU No. Komisi Yudisial dapat: a) menerima laporan masyarakat tentang perilaku hakim. 22 Tahun 2004.peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung serta hakim Mahkamah Konstitusi.5 Dalam melaksanakan pengawasan tersebut. menjaga kerahasiaan keterangan yang karena sifatnya merupakan rahasia Komisi Yudisial dan tidak boleh mengurangi kebebasan hakim dalam memeriksa dan memutus perkara. Komisi Yudisial mempunyai tugas: a) melakukan pendaftaran calon Hakim Agung. Komisi Yudisial wajib menaati norma hukum dan ketentuan peraturan perundang-undangan. Adapun kewenangan lain yang berkaitan dengan menjaga dan menegakkan kehormatan. Usul penjatuhan sanksi sesuai dengan ketentuan Pasal 23 UU No. 222 Bunga Rampai . 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. c) menetapkan calon Hakim Agung. dan e) membuat laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi dan disampaikan kepada Mahkamah Agung dan/ atau Mahkamah Konstitusi serta tindasannya disampaikan kepada Presiden dan DPR. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. pemberhentian sementara atau pemberhentian. Komisi Yudisial mempunyai tugas pengawasan dan pengusulan penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada Pimpinan Mahkamah Agung atau Mahkamah Konstitusi. dan mengajukan calon Hakim Agung ke DPR. keluhuran martabat serta perilaku hakim.

Berdasarkan permohonan tersebut. hakim pada badan peradilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung dan Hakim Mahkamah Konstitusi sebagaimana yang dimaksud pada Pasal 1 angka 5 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Pasal 22 ayat (5). Pasal 23 ayat (2). Kekosongan Hukum Jika dilihat lebih lanjut.Pasal 22 ayat (1) huruf e dan ayat (5). Pengawasan terhadap pelaksanaan kode etik hakim konstitusi dilakukan oleh Majelis Kehormatan yang tersendiri sesuai dengan ketentuan Pasal 23 Undangundang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Pasal 24 ayat (1) dan Pasal 25 ayat (3) dan ayat (4) dihubungkan dengan Pasal 1 angka 5 undang-undang tersebut. menyatakan Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata ”Hakim Mahkamah Konstitusi”. Mahkamah Konstitusi dengan Putusan Nomor 005/PUU-IV/2006. khusus yang menyangkut hakim Mahkamah Konstitusi dinyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Pasal 23 ayat (5). Pasal 21. sehingga tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. sebagai pelaksanaan Pasal 24C ayat (6) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 25 ayat (3) sepanjang mengenai kata-kata ”dan/atau Mahkamah Konstitusi”. B. serta yang berkaitan dengan ”usul penjatuhan sanksi” yang diatur dalam Pasal 21. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 223 . Alasan yang dikemukakan oleh Mahkamah Konstitusi adalah: a. juga berkaitan dengan pengaturan prosedur pengawasan hakim. Putusan Mahkamah Konstitusi tersebut selain menandaskan obyek pengawasan Komisi Yudisial. Pasal 24 ayat (1) sepanjang mengenai kata-kata ”dan/atau Mahkamah Konstitusi”. dan Pasal 25 ayat (4) sepanjang mengenai kata-kata ”dan/ atau Mahkamah Konstitusi”. Pasal 23 ayat (3). Pasal 23 ayat (2) dan ayat (3) serta ayat (4). Pasal 22 ayat (1) huruf e. Hakim sebagai obyek pengawasan Komisi Yudisial yang menyangkut Hakim Agung. bertentangan dengan Undangundang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 20.

224 Bunga Rampai . Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa hal ini tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.. Dengan demikian hakim yang harus dijaga dan ditegakkan kehormatannya.. Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia. Hakim Pengadilan Umum. Hal ini tidak sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Jimly Asshiddiqie dalam bukunya ”Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia”. Pengadilan Tata Usaha Negara. 2006. keluhuran martabat dan perilakunya mencakup Hakim Agung. meliputi pengertian hakim agung atau tidak. secara tegas telah menyatakan keberlakuan Pasal 1 angka 5 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2004 sepanjang mengenai kata-kata ”hakim Mahkamah Konstitusi”. tidak lagi terganggu sebagai akibat dimasukkannya hakim konstitusi sebagai obyek pengawasan Komisi Yudisial. Persoalan yang berkaitan dengan pertanyaan apakah ”hakim” menurut Pasal 24B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. keluhuran martabat serta perilaku semua hakim di Indonesia. Beliau menyatakan bahwa ”. bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 6 Jimly Asshiddiqie. dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 005/PPU-IV/2006. tidaklah ditemukan dasar-dasar konstitusional yang meyakinkan. 254.Komisi Yudisial bertugas menjaga (preventif) dan menegakkan (korektif dan represif) kehormatan. Kedudukan Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga pemutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh undang-undang dasar. Jakarta. hlm. Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI. dan Pengadilan Militer serta termasuk Hakim Konstitusi”. Terlepas pro dan kontra terhadap hakim Mahkamah Konstitusi dan Hakim Agung sebagai obyek pengawasan Komisi Yudisial. Dapat saja pembentuk undang-undang menentukan bahwa hakim agung termasuk ke dalam pengertian hakim yang perilaku etiknya diawasi oleh Komisi Yudisial secara eksternal.b. Pengadilan Agama.6 Berkaitan Hakim Agung sebagai obyek pengawasan Komisi Yudisial.

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 225 . Mahkamah Konstitusi menyatakan: a. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial terbukti tidak rinci mengatur mengenai prosedur pengawasan. tidak jelas dan tegas menentukan siapa subjek yang mengawasi. Adapun yang berkaitan dengan pengaturan prosedur pengawasan hakim. serta bagaimana proses pengawasan itu dilaksanakan. dalam kesimpulan putusannya. sehingga menimbulkan penafsiran yang juga tidak tepat. menyebabkan semua ketentuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang pengawasan menjadi kabur (obscuur) dan menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid) dalam pelaksanaannya. yaitu seolah-olah hubungan antara MA dan KY berada dalam pola hubungan “checks and balances” antarcabang kekuasaan dalam konteks ajaran pemisahan kekuasaan (separation of powers). Konsepsi pengawasan yang terkandung dalam UndangUndang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial didasarkan atas paradigma konseptual yang tidak tepat. Untuk hal yang terakhir ini. Na- c. b. instrumen apa yang digunakan.Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. apa objek yang diawasi. Hal tidak jelas dan tidak rincinya pengaturan mengenai pengawasan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial serta perbedaan dalam rumusan kalimat seperti dimaksud pada butir a di atas. terutama dalam pelaksanaannya. secara struktural kedudukan Komisi Yudisial memang diposisikan sederajat dengan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. Perumusan Pasal 13 huruf b juncto Pasal 20 UndangUndang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial mengenai wewenang lain sebagai penjabaran dari Pasal 24B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menggunakan rumusan kalimat yang berbeda sehingga menimbulkan masalah dalam penormaannya dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial yang menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid).

Jimly Asshiddiqie. Terhadap fungsi kekuasaan kehakiman. Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) sebagai institusi yang mempunyai kewenangan 7 Lihat. hlm. keluhuran martabat dan perilaku hakim. Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi. Berdasarkan apa yang dinyatakan dalam kesimpulan putusan Mahkamah Konstitusi sebagaimana tersebut di atas. Komisi Yudisial lebih merupakan lembaga etika daripada lembaga hukum.7 Komisi Yudisial bukan merupakan lembaga penegak hukum (the enforcer of the rule of law). Inisiasi Legislasi Untuk mengatasi permasalahan tersebut (adanya kekosongan hukum). bukan dengan lembaga peradilan atau lembaga kekuasaan kehakiman secara institusional. Lembaga negara yang mempunyai fungsi kehakiman atau menjalankan fungsi peradilan tertinggi adalah Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. 2006.mun demikian. Lagi pula komisi ini berurusan dengan soal kehormatan. tetapi tidak menjalankan fungsi kekuasaan kehakiman. Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI. Komisi Yudisial bukanlah lembaga penegak norma hukum (code of law). Komisi Yudisial bersifat penunjang (supporting system) terhadap dan dalam cabang kekuasaan kehakiman. Komisi Yudisial meskipun fungsinya terkait dengan kekuasaan kehakiman. 187-188. C. meskipun secara struktural kedudukannya sederajat dengan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. melainkan lembaga penegak norma etik (code of ethics). melainkan lembaga penegak etika kehakiman (the enforcer of the rule of judicial ethics and good conduct). khususnya yang berkaitan dengan ketentuan mengenai pengawasan perilaku hakim. Dengan demikian terjadi kekosongan hukum yang berkaitan dengan tugas Komisi Yudisial. 226 Bunga Rampai . segala ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial yang menyangkut pengawasan dinyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat karena terbukti menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). Jakarta. tetapi secara fungsional peranannya bersifat penunjang (auxiliary) terhadap lembaga kekuasaan kehakiman.

ide pembentukan Komisi Yudisial dalam rangka pengawasan eksternal dimunculkan. keluhuran martabat dan perilaku hakim hanya dilakukan secara internal oleh para hakim sendiri. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 227 . Agar perubahan ini dapat terintegrasi dengan baik terhadap undang-undang lain khususnya di lingkungan kekuasaan kehakiman. yaitu para hakim tanpa adanya intervensi dari pimpinan Mahkamah Agung. b) independen dalam menjalankan tugas yang tidak boleh diintervensi oleh lembaga-lembaga lain yang mempunyai kepentingan 8 9 10 Lihat ketentuan Pasal 20 ayat (1) dan ayat (2) UUD 1945. tugas dan kewenangan Komisi Yudisial dalam menjaga dan menegakkan kehormatan. Oleh karena itu. Dalam Keputusan DPR RI Nomor 07 A/DPR-RI/I/2006-2007.8 berinisiasi melakukan pembenahan dan perbaikan terhadap Undangundang Komisi Yudisial dimaksud. Pengawasan internal yang dilakukan oleh majelis kehormatan hakim di Mahkamah Agung tersebut dirasakan kurang efektif. upaya menjaga dan menegakkan kehormatan.dan kekuasaan membentuk undang-undang. Kehormatan. (2) Setiap Rancangan Undang-undang dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden untuk mendapatkan persetujuan bersama. keluhuran martabat dan perilaku hakim menjadi syarat mutlak yang diperlukan dalam sistem demokrasi konstitusional. maka inisiasi perubahan terhadap Undang-undang Komisi Yudisial tersebut diikuti dengan Perubahan Undang-undang Mahkamah Agung (Undang-undang Nomor 14 Tahun 1985 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 2004) dan Undang-undang Mahkamah Konstitusi (Undangundang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi). yang menyatakan : (1) Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang. Selama ini (sebelum Amandemen III UUD 1945 dan lahirnya UU Komisi Yudisial).9 Perubahan tersebut diharapkan dapat mendudukkan fungsi. RUU tentang Perubahan UU Komisi Yudisial dan RUU Perubahan UU Mahkamah Konstitusi menjadi prioritas pembahasan Tahun 2007.10 Independen disini dimaknai: a) independensi terhadap subyek yang ia awasi. Lihat ketentuan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945. Kelembagaan ini bersifat mandiri atau independen untuk menjamin efektifitas kerjanya. keluhuran martabat dan perilaku hakim.

keberadaan Komisi Yudisial justru sangat penting artinya agar kehormatan.tertentu. diharapkan pengawasan menjadi efektif. Siapakah yang dimaksud dengan “hakim” dalam konstiBunga Rampai 228 . eksekutif ataupun kekuatan partai politik untuk mempengaruhi kinerja kekuasaan kehakiman yang merdeka. Komisi Yudisial adalah mitra bagi Mahkamah Agung dalam menjaga dan menegakkan kehormatan. Mengenai independensi Komisi Yudisial terhadap pihak lain (yang mempunyai kepentingan tertentu). tidak seperti sebelumnya dimana diantara sesama hakim justru terjadi hubungan saling membela dan melindungi yang menyebabkan pengawasan tidak efektif. Namun demikian tidak berarti dengan menjadi external auditor Komisi Yudisial menjadi lawan atau musuh para hakim.000 orang dapat dijaga dan ditegakkan sebagaimana mestinya. Bagi Mahkamah Agung. antara lain sebagai berikut: 1. juga harus dipertahankan. keluhuran martabat dan perilaku hakim. sangatlah penting karena para hakimlah yang harus diawasi perilakunya oleh Komisi Yudisial. Sejalan dengan perkembangan yang ada dan sekaligus sebagai pengayaan materi yang akan menjadi bahan kajian yang selanjutnya akan disarikan dalam norma. Pilihanpilihan dimaksud merupakan jawaban dari permasalahanpermasalahan yang muncul dan berkembang. Dari pemikiran inilah konstruksi perubahan Undangundang Komisi Yudisial akan dilakukan. Mengenai independensi dari dan terhadap para hakim dan lembaga Mahkamah Agung. Oleh karena itu jangan sampai Komisi Yudisial sebagai lembaga pengawas perilaku hakim dipergunakan atau membiarkan dirinya dipakai oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengganggu kemerdekaan hakim. eksistensi hakim dan lembaga kekuasaan kehakiman terletak antara lain pada independensi dan imparsialitasnya. Karena pada prinsipnya. ada beberapa pilihan-pilihan atau alternatif konsepsi maupun paradigmatig yang nantinya akan menjadi pilihan politis maupun yuridis. keluhuran martabat dan perilaku para hakim diseluruh Indonesia yang berjumlah lebih dari 6. Dengan dijadikannya Komisi Yudisial sebagai external auditor. Komisi Yudisial tidak boleh menjadikan dirinya alat politik bagi lembaga legislatif.

4. 5. serta perilaku hakim? Bagaimana pelaksanaan wewenang Komisi Yudisial dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Siapa yang melakukan pengawasan terhadap (perilaku anggota) Komisi Yudisial? D. baik oleh Mahkamah Agung maupun oleh Komisi Yudisial. keluhuran martabat. Pokok-Pokok Pikiran Perubahan Undang-Undang KY Di bawah ini akan diuraikan pokok-pokok pikiran yang dapat memperkaya pemahaman dalam perubahan Undangundang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. 10.tusi yang menjadi obyek pengawasan Komisi Yudisial? 2. keluhuran martabat. 6. Apakah arti kewenangan Komisi Yudisial dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Apakah kewenangan melakukan pengawasan terhadap hakim. berarti kewenangan untuk menjatuhkan sanksi? 12. yang sedikit banyak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagaimana tersebut di atas. Apakah pengawasan terhadap perilaku hakim dapat dilakukan dengan cara mengkaji putusan Pengadilan? 11. 9. 7. Bagaimana seharusnya hubungan antara Mahkamah Agung dengan Komisi Yudisial? 13. Namun saya menyadari hal ini Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 229 . serta perilaku hakim? Siapa yang menetapkan dan menegakkan kode etik dan perilaku hakim? Apa saja ruang lingkup pengawasan terhadap hakim? Bagaimana pelaksanaan pengawasan terhadap hakim yang tidak bertentangan dengan prinsip independensi peradilan? Bagaimana penerapan prinsip akuntabilitas dan transparansi dalam pengawasan terhadap hakim? Apa pengertian dan ruang lingkup “perilaku hakim”? Apakah perilaku tersebut mencakup baik di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan? Apa yang dijadikan pedoman dalam melakukan pengawasan atas perilaku hakim? 3. 8.

1 Siapakah yang dimaksud dengan “hakim” dalam konstitusi yang menjadi obyek pengawasan Komisi Yudisial? Sementara ini saya sependapat dengan apa yang diputus oleh Mahkamah Konstitusi bahwa hakim konstitusi tidak termasuk obyek pengawasan Komisi Yudisial. untuk fungsi pengawasan terhadap perilaku Hakim Konstitusi ditentukan adanya lembaga Majelis Kehormatan yang diatur secara tersendiri dalam Pasal 23 UU 230 Bunga Rampai . berdasarkan masukan dan pemikiran dari semua pihak.mungkin belum terlalu komprehensif dan tentunya terus akan dilakukannya pengayaan kajian dan pemutakhiran. sudah dapat dipahami bahwa ketentuan mengenai Komisi Yudisial pada Pasal 24B UUD 1945 itu memang tidak dimaksudkan untuk mencakup pula objek perilaku hakim konstitusi sebagaimana diatur dalam Pasal 24C UUD 1945. Hal tidak tercakupnya pengertian perilaku hakim konstitusi dalam apa yang dimaksud dengan perilaku hakim menurut Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 tersebut juga terdapat dalam ketentuan UU MK dan UU KK yang dibentuk sebelum pembentukan UU KY. Hal ini didasari pada pemikiran: Jika ditinjau secara sistematis dan dari penafsiran berdasarkan “original intent” perumusan ketentuan UUD 1945. Dalam UU MK. ketentuan mengenai KY dalam Pasal 24B UUD 1945 memang tidak berkaitan dengan ketentuan mengenai MK yang diatur dalam Pasal 24C UUD 1945. Hal ini dapat dipastikan dengan bukti risalah-risalah rapat-rapat Panitia Ad Hoc I Badan Pekerja MPR maupun dari keterangan para mantan anggota Panitia Ad Hoc tersebut dalam persidangan bahwa perumusan ketentuan mengenai KY dalam Pasal 24B UUD 1945 memang tidak pernah dimaksudkan untuk mencakup pengertian hakim konstitusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24C UUD 1945. Adapun Hakim Agung dan hakim pada badan peradilan disemua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung merupakan obyek pengawasan Komisi Yudisial. Dari sistimatika penempatan ketentuan mengenai Komisi Yudisial sesudah pasal yang mengatur tentang Mahkamah Agung yaitu Pasal 24A dan sebelum pasal yang mengatur tentang Mahkamah Konstitusi yaitu Pasal 24C.

Ph. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 231 . Hakim Konstitusi hanya diangkat untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan setelah tidak lagi menduduki jabatan Hakim Konstitusi. berbeda halnya dengan hakim biasa. menurut Prof. dibentuknya Mahkamah Konstitusi berdasarkan UUD 1945 adalah dalam rangka menjamin agar UUD 1945 dilaksanakan dengan sebaikbaiknya. bahwa Hakim Agung. Mahfud M. LL.H. baik dari segi legal policy pembuat UU maupun dari segi constitutional morality.. Dengan demikian. Dengan menjadikan Hakim Konstitusi sebagai objek pengawasan oleh KY. Hakim Konstitusi pada dasarnya bukanlah hakim sebagai profesi tetap. S.D. Padahal.M. Oleh karena itu.. dan Denny Indrayana. melainkan hakim karena jabatannya. Dr.. maka kewenangan Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga pemutus sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara menjadi terganggu dan terjebak ke dalam anggapan sebagai pihak yang tidak dapat bersikap imparsial. Berkaitan dengan Hakim Agung. khususnya apabila dalam praktik timbul persengketaan kewenangan antara KY dengan lembaga lain.H. ketentuan yang memperluas pengertian perilaku hakim dalam Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 mencakup perilaku Hakim Konstitusi dapat mengebiri kewenangan dan menghalang-halangi pemenuhan tanggungjawab Mahkamah Konstitusi dalam menjaga konstitusionalitas mekanisme hubungan antarlembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945.. Dalam keseluruhan mekanisme pemilihan dan pengangkatan para Hakim Konstitusi yang diatur dalam UUD 1945 juga tidak terdapat keterlibatan peran KY sama sekali.MK. yang bersangkutan masing-masing kembali lagi kepada status profesinya yang semula. Demikian pula Pasal 34 ayat (3) UU KK sama sekali tidak menentukan bahwa Hakim Konstitusi menjadi objek pengawasan oleh KY. salah satu kewenangan yang diberikan kepada Mahkamah Konstitusi sebagaimana dimaksud oleh Pasal 24C ayat (1) UUD 1945. S. termasuk dalam konteks hubungan-hubungan konstitusional antarlembaga negara. adalah untuk memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945.D. Selain itu.

maka penafsiran apakah hal itu bertentangan dengan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 bukanlah hanya dari teks maupun konteksnya secara gramatikal melainkan juga dari konteks sosial yang lebih luas. dalam perjalanan karier selanjutnya bisa saja berubah. serta ketentuan yang mengaturnya berbeda. tidak pernah dipersoalkan. teleologis. Hakim Agung adalah Hakim. dan terutama prinsip konstitusi itu sendiri. Prinsip persamaan di depan hukum (equality before the law) dan non-diskriminasi tidak mendukung pendirian tersebut. sesuai dengan prinsip akuntabilitas. Secara universal hal demikian telah menjadi norma. adalah sesuatu yang ideal jika hakim agung memiliki integritas dan kualitas yang sedemikian rupa sesuai dengan Pasal 24A ayat (2) UUD 1945. tidak cukup beralasan untuk mengecualikan hakim agung. Oleh karena itu. Akan menjadi ganjil untuk menafsirkan bahwa Hakim Agung tidak masuk dalam kategori Hakim dan karena posisinya yang berada di puncak hierarki peradilan lalu menjadi tidak tunduk pada pengawasan. Dari segi kewenangan pengawasan apakah hakim agung itu diawasi. Bagaimanapun tafsiran secara tekstual. demikian pula Hakim Agung tidak selalu berasal dari hakim. Tambahan pula. faktanya Hakim Agung sendiri merupakan anggota Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI) dan bahwa hakim agung adalah hakim. tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak menjadikan Hakim Agung termasuk ke dalam objek pengawasan. dan kategoris dilakukan. Independensi harus berjalan seiring dengan akuntabilitas. Jika kewenangan KY untuk mengusulkan Hakim Agung yang berkualitas dengan integritas yang tinggi dan perilaku tidak tercela.termasuk pengertian hakim yang menjadi objek pengawasan KY. kontekstual. Jika dimaksudkan karena MA sebagai pengawas tertinggi peradilan maupun tingkah laku dan perbuatan hakim. seseorang yang pada saat diangkat sebagai Hakim Agung memiliki integritas yang tinggi. akan menghasilkan Hakim Agung yang juga mempunyai martabat dan perilaku yang tidak tercela sehingga secara moral memiliki legitimasi untuk tidak diawasi lagi dan bahkan menjadi pengawas hakim di bawahnya. pengertian umum. Di samping itu. tetapi bukan berarti hakim agung terbebas dari pengawasan dalam rangka mendukung terciptanya 232 Bunga Rampai .

Norma pengawasan yang berlaku universal di semua sistem hukum yang dikenal di dunia terhadap putusan pengadilan adalah bahwa putusan pengadilan tidak boleh dinilai oleh lembaga lain kecuali melalui proses upaya hukum (rechtsmidellen) sesuai dengan hukum acara. melainkan terhadap individu fungsionaris hakim. ulasan dalam jurnal hukum (law review). Kewenangan tersebut. serta perilaku hakim. khususnya para ahli hukum. untuk menilai putusan hakim melalui kegiatan ilmiah dalam forum atau media ilmiah.peradilan yang bersih dan berwibawa bagi terwujudnya rule of law. seperti seminar. mempunyai kewenangan pokok mengusulkan pengangkatan Hakim Agung. Sehingga. atau kegiatan ilmiah lainnya. Berkaitan dengan Kewenangan Komisi Yudisial dapat diinternalisasi pemikiran-pemikiran sebagai berikut: Berdasarkan ketentuan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 dinyatakan bahwa Komisi Yudisial bersifat mandiri. 2. Dalam UU Komisi Yudisial yang di-judicial review kemarin memang penjabaran konsep pengawasan menimPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 233 . agar hakim memiliki kehormatan. Hakim dimaksud adalah dalam pengertian sebagai individu di luar maupun di dalam kedinasan. keluhuran martabat. bukanlah kewenangan untuk melakukan pengawasan terhadap lembaga peradilan dan teknis justisial. juga memiliki wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. serta perilaku yang baik. 3. apabila suatu putusan hakim dianggap mengandung sesuatu kekeliruan maka pengawasan yang dilakukan dengan cara penilaian atau pun koreksi terhadap hal itu harus melalui upaya hukum (rechtsmidellen) menurut ketentuan hukum acara yang berlaku. keluhuran martabat. Prinsip sebagaimana diuraikan di atas tidak mengurangi hak warga negara. Penilaian terhadap putusan hakim yang dimaksudkan sebagai pengawasan di luar mekanisme hukum acara yang tersedia adalah bertentangan dengan prinsip res judicata pro veritate habetur yang berarti apa yang telah diputus oleh hakim harus dianggap sebagai benar (de inhoud van het vonnis geld als waard). walaupun dalam batas-batas tertentu dapat diartikan sebagai pengawasan.

termasuk kepastian siapa yang membuat kode etik dan perilaku dimaksud. melainkan hanya meliputi penegakan kehormatan dan keluhuran martabat serta perilaku hakim. dan dengan demikian dapat dihindari adanya kerancuan. dan terutama perilaku hakim. keluhuran martabat.” dan dalam Pasal 2 UU Komisi Yudisial diartikan bahwa Komisi Yudisial dalam pelaksanaan wewenangnya bebas dari campur tangan atau pengaruh kekuasaan lain. Dalam ketentuan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 ditegaskan bahwa “Komisi Yudisial bersifat mandiri. dan perilaku hakim. legislatif. melainkan hanya sebagai supporting organ. baik oleh pihak yang mengawasi maupun yang diawasi. Untuk itu dalam konsep perubahan UU KY seharusnya dijelaskan norma yang mengatur tentang pengertian dan ruang lingkup perilaku hakim. sehingga terdapat batasan yang jelas yang dapat dijadikan pegangan yang pasti. Ketiadaan rumusan yang jelas tentang kehormatan.bulkan ketidakpastian karena yang seharusnya menjadi objek dari ”wewenang lain” Komisi Yudisial menurut Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 adalah pelaksanaan kode etik dan kode perilaku hakim dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. 234 .. dan yudikatif). terutama yang menyangkut kaidah-kaidah materiilnya. keluhuran martabat. Hal ini harus dimaknai sebagai kemandirian kelembagaan dalam mengambil keputusan. Berkaitan dengan hubungan antara Komisi Yudisial dan Mahkamah Agung bukan merupakan hubungan dalam konsepsi checks and balances seperti layaknya hubungan antar cabang-cabang kekuasaan negara (eksekutif... yang secara tegas tidak berwenang melakukan pengawasan yang menyangkut hal-hal yang bersifat teknis yustisial dan teknis administratif. bukan kemandirian yang Bunga Rampai 5. Untuk itu dalam Perubahan UU Komisi Yudisial akan dirumuskan ukuran untuk menilai kehormatan. dan perilaku hakim. keluhuran martabat. akan menimbulkan kerancuan dan lebih jauh akan menimbulkan ketidakpastian hukum yang dapat berimplikasi lumpuhnya sistem peradilan. Karena Komisi Yudisial bukan merupakan pelaksana kekuasaan kehakiman. 4.

Oleh karena itu. Dengan demikian. Etik berkenaan dengan harapan atau cita-cita. keluhuran martabat. Secara umum. berarti merujuk pada Kode Etik Hakim Indonesia. Code of conduct merupakan satu standar. Code of conduct akan mengingatkan Hakim mengenai perilaku apa yang dilarang dan bahwa tiap pelanggaran code of conduct mungkin akan menimbulkan sanksi. apakah ada perbedaan antara kode etik dan kode perilaku. kemandirian Komisi Yudisial harus dimaknai sebagai kebebasan dari campur tangan dan pengaruh kekuasaan lain dalam pengambilan keputusan dalam pelaksanaan wewenang pengusulan calon hakim agung maupun dalam rangka pelaksanaan wewenang lain menurut UUD 1945. Tetapi perlu terlebih dahulu dijawab pertanyaan. dalam hubungan dengan permohonan a quo. Komisi Yudisial tidak dapat dikatakan tidak mandiri. Dengan suatu code of conduct. Tetapi ada pertimbangan-pertimbangan etik yang mendorong tercapainya cita-cita atau harapan tersebut. Artinya. keluhuran martabat serta perilaku hakim antara Komisi Yudisial dengan Mahkamah Agung. serta perilaku hakim harus merujuk kepada code of ethics dan/atau code of conduct. Sehingga tidak salah jika ada hubungan kerjasama yang baik dalam menjaga dan menegakkan kehormatan. Etik berbeda dari perilaku yang dilarang. atau dengan kata lain terdapat campur tangan dari pihak luar atau kekuasaan lain.bersifat perorangan anggota Komisi Yudisial. hanya karena alasan bahwa pengambilan keputusan didasarkan pada fakta-fakta yang diperoleh melalui kerjasama atau koordinasi dengan pelaku kekuasaan kehakiman sendiri (dalam hal ini adalah Mahkamah Agung). akan dimungkinkan bagi hakim maupun masyarakat untuk Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 235 . Kewenangan Komisi Yudisial dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Setiap hakim harus mengetahui bahwa ia tidak dapat berperilaku di bawah standar yang ditetapkan. Etik adalah tujuan ideal yang dicoba untuk dicapai yaitu untuk sedapat mungkin menjadi hakim yang terbaik. 6. dikatakan bahwa suatu code of conduct menetapkan tingkah laku atau perilaku hakim yang bagaimana yang tidak dapat diterima dan mana yang dapat diterima.

Berlakunya norma secara bersamaan demikian. Seringkali suatu perbuatan diatur tidak hanya dengan satu macam norma. Kode etik itu dalam lingkungan profesi dibuat dan disahkan oleh organisasi profesi itu sendiri. maka untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi. b) sebagai sarana kontrol sosial. Jadi setelah dibentuk suatu code of conduct. Langkah berikutnya adalah mengembangkan suatu kode etik yang akan memberi motivasi bagi hakim meningkat ke jenjang yang lebih tinggi. norma etik.dapat mengatakan bahwa mereka mengetahui apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan hakim. code of ethics merupakan sumber nilai dan moralitas yang akan membimbing hakim menjadi hakim yang baik. maupun menegakkan rule of law. lebih baik. in casu oleh organisasi profesi hakim baik oleh Mahkamah Agung ataupun oleh IKAHI. dan d) menumbuhkan kepercayaan masyarakat pada lembaga peradilan. bukan oleh lembaga lain. akan tetapi menurut pemahaman saya. c) memberikan jaminan peningkatan moralitas hakim dan kemandirian fungsional hakim. 7. Meskipun benar bahwa code of conduct berbeda dari code of ethics. Tujuan adanya kode etik ini adalah: a) sebagai alat pembinaan dan pembentukan karakter hakim serta pengawasan tingkah laku hakim. mungkin diinginkan untuk membentuk satu kode etik. menambah urgensi tentang perlunya pengaturan mengenai etik dan tingkah laku (ethics and conduct) hakim dan tata cara penjagaan dan penegakannya dalam suatu Kode Etik dan Tingkah Laku Hakim sebagai tolak ukur pengawasan. Penindakan atau pemberian sanksi atas pelanggaran Kode Etik dan 236 Bunga Rampai . dan norma agama. pencegah campur tangan ekstra judicial dan pencegahan timbulnya kesalahpahaman antar sesama anggota dengan masyarakat. lebih efektif dalam melayani masyarakat. di mana suatu perbuatan tercela dilarang baik oleh norma hukum. sebagaimana kemudian dijabarkan ke dalam code of conduct. tetapi oleh beberapa macam norma secara bersamaan. bukan oleh Komisi Yudisial. Dari kode etik kemudian dirumuskan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh atau tidak layak dilakukan oleh hakim di dalam maupun di luar dinas.

Penutup Demikian pokok-pokok pikiran yang dapat saya sampaikan dalam melihat dan mencermati Perubahan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial yang saat ini sedang diagendakan pembahasannya oleh Badan Legislasi Dewan Perwakilan Republik Indonesia yang masuk dalam Program Legislasi Nasional Prioritas Tahun 2007. misalnya pemanggilan. penilaian. mungkin tulisan ini belum begitu komprehensif. Untuk itu saya sangat menyadari. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 237 . pemeriksaan. Hal ini dimaksudkan dalam rangka memenuhi tanggung jawab sosial (social responsibility). namun lebih merupakan hasil telaahan dan pemikiran pribadi penulis. melalui transparansi dan akuntabilitas. Namun perlu saya sampaikan bahwa pokok-pokok pikiran ini bukan merupakan representasi pemikiran dan sikap Badan Legislasi DPR RI dalam arti kelembagaan. Namun mudah-mudahan dapat memberikan kontribusi dalam rangka pengayaan dan pendalaman materi untuk perubahan Undang-undang Komisi Yudisial pada khususnya. pengawasan atas pelaksanaan Kode Etik dan Perilaku selain dapat dilakukan oleh organisasi profesi. Pengawasan dapat dirinci dalam beberapa kegiatan. juga dapat dilakukan oleh pihak di luar profesi. Sementara itu. yang berakhir dengan saran (rekomendasi) kepada organisasi profesi.Perilaku juga dilakukan oleh organisasi profesi. E. yang merupakan salah satu unsur dari profesionalisme. dan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak pada umumnya. dalam hal ini Mahkamah Agung.

238 Bunga Rampai .

W. dan James Bryce menyatakan. bahwa konstitusi berfungsi menetapkan lembaga-lembaga negara dan mengatur fungsi dan batas haknya. Wheare menjelaskan. C. Yang sulit adalah ketika tulisan itu dikaitkan dengan suatu masalah hukum dan politik yang dialami oleh satu atau beberapa lembaga negara. S. Dijelaskan kemudian. konstitusi adalah semua asas hukum. Selain itu. Jika K. Hal ini dapat disimak dari beberapa pendapat pakar yang secara tepat melahirkan beberapa perspektif penting tentang fungsi konstitusi. Yang menjadi Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 239 . konstitusi berfungsi mengawasi pelaksanaan pemerintahan (pengawasan konstitusional). serta Ivor Jenning mengemukakan. Couwenberg mengatakan. konstitusi adalah aturan hukum yang menetapkan kerangka dasar dari suatu negara dan mengatur tentang susunan pemerintahan. Dari berbagai perspektif itu. maka sebenarnya UUD 1945 sebagai konstitusi (hukum dasar) telah mengatur halhal penting mengenai semua lembaga negara khususnya tentang kewenangannya.Gerak dan Langkah Nyata Komisi Yudisial Dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi John Pieris Sebuah tulisan yang bersifat kajian kritis mengenai suatu lembaga negara yang terkait dengan UUD 1945 sebenarnya tidak terlalu sulit. sebab pada dasarnya UUD 1945 (konstitusi) telah menggariskan tugas-tugas pokok semua lembaga negara. aturan hukum dan lembaga-lembaga yang berhubungan dengan susunan dan arah perkembangan kehidupan bersama yang terorganisasikan secara kenegaraan. hukum konstitusi merupakan basis atau landasan dari sistem hukum negara yang bersangkutan.

soal adalah. Mungkin juga konstitusi tidak secara jelas merumuskan ketentuan mengenai kewenangan sebuah lembaga negara. yaitu Gerak dan Langkah Nyata KY dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi. sebaiknya pemerintah itu juga harus tunduk pada pembatasan konstitusional. sebenarnya telah mengatur fungsi-fungsi serta pembatasan kekuasan dari semua lembaga negara. di satu pihak UUD 1945 telah menggariskan kewenangan KY 240 Bunga Rampai . Seperti yang dikatakan Lunshof (1989:7). walaupun ketentuan tersebut dianggap tidak sempurna. konstitusionalisme adalah sebuah gagasan yang menganggap pemerintah sebagai suatu kumpulan aktivitas yang diselenggarakan atas nama rakyat. asas legalitas adalah asas yang dipakai untuk menjamin asas-asas lainnya. Juga dikatakannya. Pandangan Friedrich cukup menarik. Menyimak judul tulisan yang diminta oleh KY kepada penulis. apa yang diamanatkan oleh konstitusi. Itulah faham legalisme dan konstitusionalisme yang dianut sampai sekarang. agar terhindar dari penyalahgunaan kekuasaan. terkesan ada tiga hal krusial yang menonjol. Friedrich (1967) menjelaskan. Terlepas dari asumsi demikian. Jika berpegang pada asas legalitas dan gagasan konstitusionalitas. maka tidak dapat dihindari. yang tunduk pada pembatasan konstitusional. Sejalan dengan itu. Mahkamah Agung (MA) dan Mahkamah Konstitusi (MK). adanya pengawasan pengadilan terhadap pelaksanaan kekuasaan yang dijalankan oleh pemerintah. Pertama. dengan segala keterbatasannya. pemberian wewenang kepada pemerintah. sebab sekali pun pemerintah mendapat mandat dari rakyat dan bertindak atas nama rakyat. Carl J. UUD 1945 sebagai konstitusi tertulis (written constitution) atau sebagai hukum yang tertinggi (Grundgesetz) yang kekuatan mengikatnya melebihi undang-undang biasa. semua ketentuan yang telah dirumuskan di dalam UUD 1945 harus dijalankan. dan perlindungan hukum terhadap yang berkuasa. khususnya Komisi Yudisial (KY). antara lain asas pembatasan kekuasaan pemerintah dan hak-hak asasi. belum tentu dapat dilaksanakan dengan baik. Hal itu diperlukan sebagai jaminan bahwa kekuasaan yang diperlukan untuk pemerintahan tersebut tidak disalahgunakan oleh mereka yang mendapat tugas untuk memerintah.

walaupun ketentuan yang mengatur kewenangan KY untuk mengawasi semua hakim (di MA dan MK) tidak maksimal. Mahkamah Konstitusi telah memutuskan: Menyatakan permohonan para Pemohon dikabulkan untuk sebagian: Menyatakan: Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata “hakim Mahkamah Konstitusi”. tanggal 23 Agustus 2006. pihak KY tetap bergerak mengayunkan langkah nyata. pengawasan terhadap hakim MK tidak diamanatkan oleh UUD 1945 (Pasal 24B ayat (1)). “Dalam melaksanakan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b Komisi Yudisial mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim dalam rangka menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim”. Kedua. yang berbunyi. ternyata MK telah memutuskan. dan Mahkamah Konstitusi telah memutus permohonan tersebut dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 005/PUUIV/2006 yang diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi yang terbuka untuk umum pada hari Rabu. MK berpendapat seperti itu karena. Seperti diketahui. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 241 . dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 005/PUU-IV/2006 tersebut. tentunya dengan segala resiko (perlawanan) yang dihadapi untuk mengemban amanat UUD 1945. bahwa terjadi pertentangan dan perbedaan signifikan antara norma hukum pengawasan hakim agung antara KY dengan MA. Hal inilah yang melatarbelakangi diajukannya permohonan Penguijian UndangUndang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial dan Pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ke Mahkamah Konstitusi. terutama mengenai pengawasan hakim agung oleh KY telah membuktikan. bahwa kewenangan yang dimiliki KY untuk mengawasi hakim-hakim. Ketiga. Pasal 20. tidak termasuk mengawasi hakim MK. Ketidaksetujuan dan penolakan MA atas beberapa ketentuan.

yang berbunyi. “Dalam hal badan peradilan atau hakim tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (4). Pasal 24 ayat (1). Pasal 23 ayat (5). Pasal 22 ayat (5). yang berbunyi. yang berbunyi. “Usul penjatuhan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c diserahkan oleh Komisi Yudisial kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi”.- Pasal 21. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4415). “Dalam hal pembelaan diri ditolak. dan Pasal 25 ayat (4). Komisi Yudisial: e. yang berbunyi. “Dalam rangka menjaga Bunga Rampai - - - - - - - 242 . membuat laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi dan disampaikan kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi. Komisi Yudisial bertugas mengajukan usul penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada pimpinan Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi”. “Dalam melaksanakan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20. serta tindasannya disampaikan kepada Presiden dan DPR”. Pasal 23 ayat (3). “Untuk kepentingan pelaksanaan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b. Pasal 22 ayat (1) huruf e. sepanjang mengenai kata-kata “dan/atau Mahkamah Konstitusi”. Pasal 34 ayat (3). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 89. Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi wajib memberikan penetapan berupa paksaan kepada badan peradilan atau hakim untuk memberikan keterangan atau data yang diminta”. yang berbunyi. Pasal 25 ayat (3). yang berbunyi. usul pemberhentian hakim diajukan oleh Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi kepada Presiden paling lambat 14 (empat belas) hari sejak pembelaan diri ditolak oleh Majelis Kehormatan Hakim”. bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Hal tidak tercakupnya pengertian perilaku hakim konstitusi dalam apa yang dimaksud dengan perilaku hakim menurut Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 tersebut juga terdapat dalam ketentuan UUMK dan UUKK yang dibentuk sebelum Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 243 . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358). Undang-Undang Republik Indonesia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 89. - Amar putusan tersebut di atas didasarkan pada pertimbangan. 23 ayat (3). dan Pasal 25 ayat (4). 22 ayat (1) huruf e. Mahkamah Konstitusi dalam Putusannya menyatakan bahwa Hakim Konstitusi tidak diawasi oleh Komisi Yudisial. bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. sebagai berikut. 22 ayat (5). Pasal 25 ayat (3). tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Menyatakan: Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata “hakim Mahkamah Konstitusi”. Pasal 20. pengawasan dilakukan oleh Komisi Yudisial yang diatur dalam undang-undang”. Pasal 24 ayat (1). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358). Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8. ketentuan mengenai KY dalam Pasal 24B UUD 1945 memang tidak berkaitan dengan ketentuan mengenai MK yang diatur dalam Pasal 24C UUD 1945.kehormatan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4415). UndangUndang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8. 23 ayat (5). tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. 21. sepanjang mengenai kata-kata “dan/atau Mahkamah Konstitusi”. antara lain. 23 ayat (2). dengan pertimbangan: Bahwa apabila ditinjau secara sistematis dan dari penafsiran berdasarkan “original intent” perumusan ketentuan UUD 1945. keluhuran martabat serta perilaku hakim agung dan hakim.

244 Bunga Rampai . untuk fungsi pengawasan terhadap perilaku Hakim Konstitusi ditentukan adanya lembaga Majelis Kehormatan yang diatur secara tersendiri dalam Pasal 23 UUMK. Dengan begitu. maka konflik (pertentangan) antara MK dan KY tidak perlu terjadi. Dalam keseluruhan mekanisme pemilihan dan pengangkatan para Hakim Konstitusi yang diatur dalam UUD 1945 juga tidak terdapat keterlibatan peran KY sama sekali. maka proses penegakan hukum secara terpadu (integrated law enforcement process) mengenai pengawasan terhadap perilaku hakim-hakim juga akan terlaksana dengan baik. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman tidak begitu cermat merumuskan norma-norma hukum yang terkait secara tepat tentang pengawasan hakim. melainkan hakim karena jabatannya. Itulah sebabnya. maka diperlukan keterpaduan (integrasi) dalam merumuskan norma-norma hukum yang sama pada beberapa undang-undang yang saling terkait. yang bersangkutan masing-masing kembali lagi kepada status profesinya yang semula. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. yang mengatur pengawasan tentang Hakim Konstitusi. serta UU No. Hakim Konstitusi hanya diangkat untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan setelah tidak lagi menduduki jabatan Hakim Konstitusi. Tidak berlebihan jika dikatakan. sekiranya kalau ada pasal khusus di dalam UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi dan UU No. 24 Tahun 2003. jika ada ketentuan pengawasan hakim agung dan hakim-hakim lain di dalam lingkungan kekuasaan kehakiman yang diatur secara jelas di dalam UU No.pembentukan UUKY. MA dan KY mengenai pengawasan terhadap hakim-hakim pada semua lingkungan dan strata lembaga peradilan. Selain itu. Dalam UUMK. Demikian pula Pasal 34 ayat (3) UU Kekuasaan Kehakiman sama sekali tidak menentukan bahwa Hakim Konstitusi menjadi objek pengawasan oleh KY. misalnya keterpaduan di dalam pembuatan UU tentang KK. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. maka tidak akan terjadi konflik antara KY dan MA. Atau. Sebagai misal. berbeda halnya dengan hakim biasa. Hakim Konstitusi pada dasarnya bukanlah hakim sebagai profesi tetap. DPR dan Presiden sebagai pembentuk UU No. Karena itu Indonesia memang harus memiliki sebuah sistem pembuatan hukum terpadu (integrated law making system). MK.

PT dan MA. Ini merupakan sebuah upaya mendesak dan sistematik untuk mereformasi kekuasaan peradilan. pengawasan internal tidak bisa diharapkan mampu membongkar mafia peradilan selama ini. lemahnya pengawasan terhadap hakim dapat mendorong hakim bisa berbuat apapun. adalah untuk menjaga dan menegakkan kehormatan. sebab.Pengawasan hakim sebagaimana dirumuskan di dalam Pasal 32 UU No. Banyak hakim (tidak semua) memihak kepada merekamereka yang berkedudukan penting atau orang-orang yang memiliki uang dalam jumlah yang besar. Artinya hakim agung diawasi oleh lembaga MA. banyak mendatangkan ketidakadilan bagi pencari keadilan (justice seekers). bukan rahasia lagi. Karena itu kejahatan yudisial sulit dihindari. Mentalitas birokrasi pemerintah dan lembaga-lembaga negara yang lain juga sulit melakukan pengawaan internal. korupsi. manipulasi penyalahgunaan jabatan yang merugikan negara dan rakyat. Dapat diduga. Penjahat-penjahat korporasi dan ekonomi yang merampok uang negara acap kali dilindungi dan diberikan perlakuan khusus. moral dan spiritual. Agak sulit memang. 14 Tahun 1985 sesungguhnya adalah pengawasan yang bersifat internal. Mekanisme upaya hukum (rechtsmiddlen) terkendala oleh perilakuperilaku hakim yang tidak cukup memiliki kemampuan etik. Hakim dan hukum lalu berpihak secara ekstrim dan arogan kepada kaum bor- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 245 . khususnya peradilan umum yang selama ini tidak menjalankan fungsinya secara benar. sementara terpidana dari kelas bawah tidak dihargai hak asasinya. tidak bisa disangkal. bahwa alasan pembentukan KY di dalam UUD 1945. keluhuran martabat serta perilaku hakim. karena budaya korupsi dan penyelewengan atau perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad) sudah sangat sulit diperbaiki. sekalipun pihakpihak itu terbukti melakukan perbuatan melawan hukum. Haruslah dipahami. jika hakim agung diawasi oleh institusi di mana ia berada di dalamnya. Dengan kata lain. atau tidak memiliki akhlak mulia untuk mewujudkan keadilan bagi masyarakat. apalagi yang menguntungkan dirinya. salah satu faktor rendahnya mentalitas dan moralitas hakim karena para hakim terbebas dari pengawasan yang efektif. Banyak kasus (perkara) yang ditangani hakim PN.

bahwa MA tidak mau diawasi oleh lembaga negara apa- 246 Bunga Rampai . Tulisnya lebih lanjut. Kesulitannya adalah. baik secara internal. bahwa sistem politik birokratik terpusat pada mereka yang memegang kekuasaan negara sebagai majikan. Hampir sama dengan Anderson. Seperti apa yang dikatakan Benedict Anderson. Bahkan ada wacana dari Bagir Manan sebagai Ketua MA. UU No. seorang ilmuwan politik Amerika Serikat yang menulis “Bureaucratic Polity” tentang Indonesia berpendapat. karena dipastikan tidak akan efektif. terutama pada lembaga-lembaga peradilan.juasi dan mencampakkan rakyat kecil yang miskin. jika kekuasaan yang dipegang dan dikendalikan oleh seorang atau sekelompok orang dalam tubuh birokrasi di Indonesia memang sulit diawasi. perlu ada sebuah mekanisme untuk mengawasi hakim seperti itu. karena kolusi juga bisa terjadi antar hakim dengan pimpinan MA. Sistem politik birokratik telah merasuk jauh menusuk sampai ke pusat-pusat kekuasaan (termasuk yudikatif). yang sulit diawasi dari luar (eksekutif dan legislatif). Dengan begitu agak sulit untuk mengawasi birokrasi kekuasaan kehakiman. Maka berdasarkan teori tersebut tidak dapat dielakkan. bahwa kekuasaan eksternal bisa diandalkan untuk mengawasi birokrasi. sebab prinsip ini berpotensi melindungi kesalahan hakim dan ada alasan menolak untuk diawasi. dan ini sangat sulit diawasi. tapi bagaimana menghimpunnya”. Karena itu. bahwa Ketua MA dapat merangkap menjadi Ketua KY. Kalau ada pilihan di antara kedua jenis pengawasan itu. Ini merupakan sebuah indikasi. “bukan masalah bagaimana menggunakan kekuasaan. Tidak bisa diharapkan. Keberpihakan hukum bisa saja dilakukan dengan cara menyalahi teknis yudisial dan administratif yang menguntungkan orang-orang tertentu dan merugikan pihak lain yang tidak berdaya. hanya pengawasan internal oleh MA. Prinsip res judicate pra veritate habetur (apa yang telah diputuskan oleh hakim harus dianggap sebagai benar) yang dipegang para hakim cukup berbahaya. sulit juga diawasi oleh Komisi Yudisial. Karl Jackson. maupun eksternal. bahwa kekuasaan cenderung terpusat di tangan seseorang atau sekelompok orang. mungkin ada sedikit harapan. 14 Tahun 1985 tentang MA melegitimasi kekuasaan MA sebagai kekuasaan terpusat dan personal.

pun. Masalahnya sebenarnya tidak terlalu pelik, jika Pasal 24B UUD 1945 dapat diamandemen agar KY bisa mengawasi perilaku hakim pada semua lingkungan peradilan. Tidak bisa dihindari, bahwa ada masalah-masalah teknis yudisial dan administratif yang dapat merugikan pencari keadilan. Jika ada kesalahan substansial dan mungkin prosedural yang dirancang secara sistematis oleh seorang hakim, maka dapat disimpulkan, hakim tersebut tidak memiliki perilaku yang terpuji. Hakim tersebut tidak boleh tidak, harus diperiksa. Jadi sebenarnya tidak salah seluruhnya jika KY dapat masuk pada hal-hal yang bersifat teknis administratif dalam memeriksa hakim. Jika ada komitmen seperti itu, mengapa tidak dicoba untuk dibuat norma hukumnya? Bukankah teori, sistem dan doktrin hukum bisa berubah atau diubah untuk bisa merakit sebuah kebenaran dalam mewujudkan keadilan yang sejati, supaya hakim-hakim bisa menjadi Law Prophets. Untuk itu dapat dibenarkan dan sebaiknya demikian, KY harus mengusulkan amandemen terhadap Pasal 24B UUD 1945. Usul perubahan dari KY sebaiknya menyangkut tidak saja pengangkatan hakim agung, tetapi juga mengusulkan pemberhentian hakim agung. Hal (kewenangan) yang sama juga harus dilakukan terhadap pengangkatan dan pemberhentian hakim konstitusi. Artinya adalah, bahwa kewenangan KY itu harus dilihat dalam perspektif penguatan wibawa lembaga peradilan atau perwujudan supremasi kekuasaan kehakiman. Selain itu, perlu diperluas struktur organisasi KY sampai ke daerah-daerah, agar KY daerah dapat menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim pengadilan negeri dan pengadilan tinggi. Ini tidak bertentangan dengan UUD 1945, sebab sesuai dengan Pasal 24B ayat (4), dijelaskan, bahwa susunan, kedudukan, dan keanggotaan KY diatur dengan undang-undang. Jadi undang-undang tentang KY yang baru harus mengatur hal ini. KY juga harus diberikan peran untuk mengawasi panitera-panitera pada semua jenjang organisasi kekuasaan kehakiman. Hal ini penting, sebab bukan rahasia lagi, mafia peradilan sulit diberantas, karena para panitera sering menjadi calo (broker) dan penagih uang dari pihak-pihak yang berperkara.

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

247

Sambil menunggu amandemen terhadap UUD 1945 dan revisi UU tentang KY, MK dan MA, gerak dan langkah nyata KY dalam mengemban amanat UUD 1945 pasca putusan MK harus lebih ditingkatkan lagi. Putusan MK tidak boleh membuat KY menyurutkan peran historisnya untuk menegakkan supremasi hukum, keadilan, kebenaran serta mewujudkan supremasi kekuasaan kehakiman di Indonesia. Pada saatnya nanti KY akan tampil sebagai sosok yang lebih berwibawa untuk menegakkan wibawa negara hukum yang berkarakter.

Penulis adalah Dosen dan Ketua Program Pascasarjana FH-UKI Mantan Anggota Komisi Konstitusi

248

Bunga Rampai

Gerak dan Langkah Nyata Komisi Yudisia Dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi
John Pieris

Sebuah tulisan yang bersifat kajian kritis mengenai suatu lembaga negara yang terkait dengan UUD 1945 sebenarnya tidak terlalu sulit, sebab pada dasarnya UUD 1945 (konstitusi) telah menggariskan tugas-tugas pokok semua lembaga negara. Hal ini dapat disimak dari beberapa pendapat pakar yang secara tepat melahirkan beberapa perspektif penting tentang fungsi konstitusi. Jika K. C. Wheare menjelaskan, konstitusi adalah aturan hukum yang menetapkan kerangka dasar dari suatu negara dan mengatur tentang susunan pemerintahan, dan James Bryce menyatakan, bahwa konstitusi berfungsi menetapkan lembaga-lembaga negara dan mengatur fungsi dan batas haknya, serta Ivor Jenning mengemukakan, konstitusi berfungsi mengawasi pelaksanaan pemerintahan (pengawasan konstitusional). Selain itu, S. W. Couwenberg mengatakan, konstitusi adalah semua asas hukum, aturan hukum dan lembaga-lembaga yang berhubungan dengan susunan dan arah perkembangan kehidupan bersama yang terorganisasikan secara kenegaraan. Dijelaskan kemudian, hukum konstitusi merupakan basis atau landasan dari sistem hukum negara yang bersangkutan.

Penulis adalah, Dosen dan Ketua Program Pascasarjana FH-UKI Mantan Anggota Komisi Konstitusi

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

249

Dari berbagai perspektif itu, maka sebenarnya UUD 1945 sebagai konstitusi (hukum dasar) telah mengatur halhal penting mengenai semua lembaga negara khususnya tentang kewenangannya. Yang sulit adalah ketika tulisan itu dikaitkan dengan suatu masalah hukum dan politik yang dialami oleh satu atau beberapa lembaga negara. Yang menjadi soal adalah, apa yang diamanatkan oleh konstitusi, belum tentu dapat dilaksanakan dengan baik. Mungkin juga konstitusi tidak secara jelas merumuskan ketentuan mengenai kewenangan sebuah lembaga negara. Terlepas dari asumsi demikian, UUD 1945 sebagai konstitusi tertulis (written constitution) atau sebagai hukum yang tertinggi (Grundgesetz) yang kekuatan mengikatnya melebihi undang-undang biasa, dengan segala keterbatasannya, sebenarnya telah mengatur fungsi-fungsi serta pembatasan kekuasan dari semua lembaga negara, khususnya Komisi Yudisial (KY), Mahkamah Agung (MA) dan Mahkamah Konstitusi (MK). Jika berpegang pada asas legalitas dan gagasan konstitusionalitas, maka tidak dapat dihindari, semua ketentuan yang telah dirumuskan di dalam UUD 1945 harus dijalankan, walaupun ketentuan tersebut dianggap tidak sempurna. Itulah faham legalisme dan konstitusionalisme yang dianut sampai sekarang. Seperti yang dikatakan Lunshof (1989:7), asas legalitas adalah asas yang dipakai untuk menjamin asas-asas lainnya, antara lain asas pembatasan kekuasaan pemerintah dan hak-hak asasi. Juga dikatakannya, adanya pengawasan pengadil-an terhadap pelaksanaan kekuasaan yang dijalankan oleh pemerintah, pemberian wewenang kepada pemerintah, dan perlindungan hukum terhadap yang berkuasa. Sejalan dengan itu, Carl J. Friedrich (1967) menjelaskan, konstitusionalisme adalah sebuah gagasan yang menganggap pemerintah sebagai suatu kumpulan aktivitas yang diselenggarakan atas nama rakyat, yang tunduk pada pembatasan konstitusional. Hal itu diperlukan sebagai jaminan bahwa kekuasaan yang diperlukan untuk pemerintahan tersebut tidak disalahgunakan oleh mereka yang mendapat tugas untuk memerintah. Pandangan Friedrich cukup menarik, sebab sekali pun pemerintah mendapat mandat dari rakyat dan bertindak atas nama rakyat, sebaiknya pemerintah itu juga harus tunduk pada pembatasan konstitusional,

250

Bunga Rampai

agar terhindar dari penyalahgunaan kekuasaan. Menyimak judul tulisan yang diminta oleh KY kepada penulis, yaitu Gerak dan Langkah Nyata KY dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi, terkesan ada tiga hal krusial yang menonjol. Pertama, di satu pihak UUD 1945 telah menggariskan kewenangan KY walaupun ketentuan yang mengatur kewenangan KY untuk mengawasi semua hakim (di MA dan MK) tidak maksimal. Kedua, pihak KY tetap bergerak mengayunkan langkah nyata, tentunya dengan segala resiko (perlawanan) yang dihadapi untuk mengemban amanat UUD 1945. Ketiga, ternyata MK telah memutuskan, bahwa kewenangan yang dimiliki KY untuk mengawasi hakim-hakim, tidak termasuk mengawasi hakim MK. MK berpendapat seperti itu karena, pengawasan terhadap hakim MK tidak diamanatkan oleh UUD 1945 (Pasal 24B ayat (1)). Ketidaksetujuan dan penolakan MA atas beberapa ketentuan, terutama mengenai pengawasan hakim agung oleh KY telah membuktikan, bahwa terjadi pertentangan dan perbedaan signifikan antara norma hukum pengawasan hakim agung antara KY dengan MA. Hal inilah yang melatarbelakangi diajukannya permohonan Penguijian UndangUndang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial dan Pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ke Mahkamah Konstitusi, dan Mahkamah Konstitusi telah memutus permohonan tersebut dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 005/PUUIV/2006 yang diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi yang terbuka untuk umum pada hari Rabu, tanggal 23 Agustus 2006. Seperti diketahui, dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 005/PUU-IV/2006 tersebut, Mahkamah Konstitusi telah memutuskan: Menyatakan permohonan para Pemohon dikabulkan untuk sebagian: Menyatakan : Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata “hakim Mahkamah Konstitusi”; Pasal 20, yang berbunyi, “Dalam melaksanakan wePenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

251

-

-

-

-

-

-

wenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b Komisi Yudisial mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim dalam rangka menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim”; Pasal 21, yang berbunyi, “Untuk kepentingan pelaksanaan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b, Komisi Yudisial bertugas mengajukan usul penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada pimpinan Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi”; Pasal 22 ayat (1) huruf e, yang berbunyi, “Dalam melaksanakan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20, Komisi Yudisial: e, membuat laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi dan disampaikan kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi, serta tindasannya disampaikan kepada Presiden dan DPR”; Pasal 22 ayat (5), yang berbunyi, “Dalam hal badan peradilan atau hakim tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (4), Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi wajib memberikan penetapan berupa paksaan kepada badan peradilan atau hakim untuk memberikan keterangan atau data yang diminta”; Pasal 23 ayat (3), yang berbunyi, “Usul penjatuhan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c diserahkan oleh Komisi Yudisial kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi”; Pasal 23 ayat (5), yang berbunyi, “Dalam hal pembelaan diri ditolak, usul pemberhentian hakim diajukan oleh Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi kepada Presiden paling lambat 14 (empat belas) hari sejak pembelaan diri ditolak oleh Majelis Kehormatan Hakim”; Pasal 24 ayat (1), Pasal 25 ayat (3), dan Pasal 25 ayat (4), sepanjang mengenai kata-kata “dan/atau Mahkamah Konstitusi”; Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 89. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4415), bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik IndoneBunga Rampai

252

pengawasan dilakukan oleh Komisi Yudisial yang diatur dalam undang-undang”. Pasal 34 ayat (3). sebagai berikut. Pasal 24 ayat (1). 23 ayat (5). Amar putusan tersebut di atas didasarkan pada pertimbangan. 22 ayat (5). Undang-Undang Republik Indonesia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 89. Pasal 20. dengan pertimbangan: Bahwa apabila ditinjau secara sistematis dan dari penafsiran berdasarkan “original intent” perumusan ketentuan UUD 1945. dan Pasal 25 ayat (4). antara lain. 23 ayat (3). 23 ayat (2). tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Mahkamah Konstitusi dalam Putusannya menyatakan bahwa Hakim Konstitusi tidak diawasi oleh Komisi Yudisial. yang berbunyi. keluhuran martabat serta perilaku hakim agung dan hakim.- - - sia Tahun 1945. Menyatakan: Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata “hakim Mahkamah Konstitusi”. 22 ayat (1) huruf e. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4415). sepanjang mengenai kata-kata “dan/atau Mahkamah Konstitusi”. “Dalam rangka menjaga kehormatan. 21. bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Hal tidak tercakupnya pengertian perilaku hakim konstitusi dalam apa yang dimaksud dengan perilaku hakim Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 253 . tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358). ketentuan mengenai KY dalam Pasal 24B UUD 1945 memang tidak berkaitan dengan ketentuan mengenai MK yang diatur dalam Pasal 24C UUD 1945. Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8. UndangUndang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8. Pasal 25 ayat (3).

Demikian pula Pasal 34 ayat (3) UU Kekuasaan Kehakiman sama sekali tidak menentukan bahwa Hakim Konstitusi menjadi objek pengawasan oleh KY. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. maka tidak akan terjadi konflik antara KY dan MA. yang bersangkutan masing-masing kembali lagi kepada status profesinya yang semula. berbeda halnya dengan hakim biasa. Tidak berlebihan jika dikatakan. yang mengatur pengawasan tentang Hakim Konstitusi. Sebagai misal. DPR dan Presiden sebagai pembentuk UU No. MA dan KY mengenai pengawasan terhadap hakim-hakim pada semua lingkungan dan strata lembaga peradilan. maka proses penegakan hukum secara ter- 254 Bunga Rampai . 24 Tahun 2003. untuk fungsi pengawasan terhadap perilaku Hakim Konstitusi ditentukan adanya lembaga Majelis Kehormatan yang diatur secara tersendiri dalam Pasal 23 UUMK. Atau. Hakim Konstitusi pada dasarnya bukanlah hakim sebagai profesi tetap. MK. melainkan hakim karena jabatannya. Karena itu Indonesia memang harus memiliki sebuah sistem pembuatan hukum terpadu (integrated law making system). Itulah sebabnya. sekiranya kalau ada pasal khusus di dalam UU No.menurut Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 tersebut juga terdapat dalam ketentuan UUMK dan UUKK yang dibentuk sebelum pembentukan UUKY. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Selain itu. Hakim Konstitusi hanya diangkat untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan setelah tidak lagi menduduki jabatan Hakim Konstitusi. serta UU No. maka konflik (pertentangan) antara MK dan KY tidak perlu terjadi. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman tidak begitu cermat merumuskan norma-norma hukum yang terkait secara tepat tentang pengawasan hakim. jika ada ketentuan pengawasan hakim agung dan hakim-hakim lain di dalam lingkungan kekuasaan kehakiman yang diatur secara jelas di dalam UU No. Dalam keseluruhan mekanisme pemilihan dan pengangkatan para Hakim Konstitusi yang diatur dalam UUD 1945 juga tidak terdapat keterlibatan peran KY sama sekali. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi dan UU No. Dengan begitu. Dalam UUMK. maka diperlukan keterpaduan (integrasi) dalam merumuskan norma-norma hukum yang sama pada beberapa undang-undang yang saling terkait. misalnya keterpaduan di dalam pembuatan UU tentang KK.

khususnya peradilan umum yang selama ini tidak menjalankan fungsinya secara benar. Agak sulit memang.padu (integrated law enforcement process) mengenai pengawasan terhadap perilaku hakim-hakim juga akan terlaksana dengan baik. Ini merupakan sebuah upaya mendesak dan sistematik untuk mereformasi kekuasaan peradilan. salah satu faktor rendahnya mentalitas dan moralitas hakim karena para hakim terbebas dari pengawasan yang efektif. moral dan spiritual. adalah untuk menjaga dan menegakkan kehormatan. Mekanisme upaya hukum (rechtsmiddlen) terkendala oleh perilakuperilaku hakim yang tidak cukup memiliki kemampuan etik. manipulasi penyalahgunaan jabatan yang merugikan negara dan rakyat. Mentalitas birokrasi pemerintah dan lembaga-lembaga negara yang lain juga sulit melakukan pengawaan internal. sebab. tidak bisa disangkal. jika hakim agung diawasi oleh institusi di mana ia berada di dalamnya. Dengan kata lain. 14 Tahun 1985 sesungguhnya adalah pengawasan yang bersifat internal. keluhuran martabat serta perilaku hakim. Pengawasan hakim sebagaimana dirumuskan di dalam Pasal 32 UU No. Banyak kasus (perkara) yang ditangani hakim PN. Dapat diduga. Penjahat-penjahat korporasi dan ekonomi yang merampok uang negara acap kali dilindungi dan diberikan perlakuan khusus. apalagi yang menguntungkan dirinya. bukan rahasia lagi. atau tidak memiliki akhlak mulia untuk mewujudkan keadilan bagi masyarakat. sementara terpidana dari Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 255 . Karena itu kejahatan yudisial sulit dihindari. korupsi. karena budaya korupsi dan penyelewengan atau perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad) sudah sangat sulit diperbaiki. Artinya hakim agung diawasi oleh lembaga MA. Banyak hakim (tidak semua) memihak kepada merekamereka yang berkedudukan penting atau orang-orang yang memiliki uang dalam jumlah yang besar. pengawasan internal tidak bisa diharapkan mampu membongkar mafia peradilan selama ini. bahwa alasan pembentukan KY di dalam UUD 1945. Haruslah dipahami. lemahnya pengawasan terhadap hakim dapat mendorong hakim bisa berbuat apapun. banyak mendatangkan ketidakadilan bagi pencari keadilan (justice seekers). PT dan MA. sekalipun pihakpihak itu terbukti melakukan perbuatan melawan hukum.

Keberpihakan hukum bisa saja dilakukan dengan cara menyalahi teknis yudisial dan administratif yang menguntungkan orang-orang tertentu dan merugikan pihak lain yang tidak berdaya. Prinsip res judicate pra veritate habetur (apa yang telah diputuskan oleh hakim harus dianggap sebagai benar) yang dipegang para hakim cukup berbahaya. Karl Jackson. karena dipastikan tidak akan efektif. Karena itu. baik secara internal. perlu ada sebuah mekanisme untuk mengawasi hakim seperti itu. Seperti apa yang dikatakan Benedict Anderson. Tidak bisa diharapkan. Tulisnya lebih lanjut. Kesulitannya adalah. Sistem politik birokratik telah merasuk jauh menusuk sampai ke pusat-pusat kekuasaan (termasuk yudikatif). UU No.kelas bawah tidak dihargai hak asasinya. 14 Tahun 1985 tentang MA melegitimasi kekuasaan MA sebagai kekuasaan terpusat dan personal. tapi bagaimana menghimpunnya”. yang sulit diawasi dari luar (eksekutif dan legislatif). Kalau ada pilihan di antara kedua jenis pengawasan itu. maupun eksternal. terutama pada lembaga-lembaga peradilan. jika kekuasaan yang dipegang dan dikendalikan oleh seorang atau sekelompok orang dalam tubuh birokrasi di Indonesia memang sulit diawasi. bahwa Ketua MA dapat 256 Bunga Rampai . Dengan begitu agak sulit untuk mengawasi birokrasi kekuasaan kehakiman. sebab prinsip ini berpotensi melindungi kesalahan hakim dan ada alasan menolak untuk diawasi. bahwa sistem politik birokratik terpusat pada mereka yang memegang kekuasaan negara sebagai majikan. Hampir sama dengan Anderson. Maka berdasarkan teori tersebut tidak dapat dielakkan. hanya pengawasan internal oleh MA. bahwa kekuasaan cenderung terpusat di tangan seseorang atau sekelompok orang. mungkin ada sedikit harapan. Bahkan ada wacana dari Bagir Manan sebagai Ketua MA. Hakim dan hukum lalu berpihak secara ekstrim dan arogan kepada kaum borjuasi dan mencampakkan rakyat kecil yang miskin. “bukan masalah bagaimana menggunakan kekuasaan. bahwa kekuasaan eksternal bisa diandalkan untuk mengawasi birokrasi. sulit juga diawasi oleh Komisi Yudisial. dan ini sangat sulit diawasi. karena kolusi juga bisa terjadi antar hakim dengan pimpinan MA. seorang ilmuwan politik Amerika Serikat yang menulis “Bureaucratic Polity” tentang Indonesia berpendapat.

maka dapat disimpulkan. serta perilaku hakim pengadilan negeri dan pengadilan tinggi. bahwa kewenangan KY itu harus dilihat dalam perspektif penguatan wibawa lembaga peradilan atau perwujudan supremasi kekuasaan kehakiman. Ini merupakan sebuah indikasi. sistem dan doktrin hukum bisa berubah atau diubah untuk bisa merakit sebuah kebenaran dalam mewujudkan keadilan yang sejati. Untuk itu dapat dibenarkan dan sebaiknya demikian.merangkap menjadi Ketua KY. hakim tersebut tidak memiliki perilaku yang terpuji. Hal (kewenangan) yang sama juga harus dilakukan terhadap pengangkatan dan pemberhentian hakim konstitusi. Tidak bisa dihindari. mafia peradilan sulit Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 257 . Hal ini penting. perlu diperluas struktur organisasi KY sampai ke daerah-daerah. bahwa ada masalah-masalah teknis yudisial dan administratif yang dapat merugikan pencari keadilan. tetapi juga mengusulkan pemberhentian hakim agung. Hakim tersebut tidak boleh tidak. dijelaskan. keluhuran martabat. sebab bukan rahasia lagi. Jika ada kesalahan substansial dan mungkin prosedural yang dirancang secara sistematis oleh seorang hakim. harus diperiksa. Jika ada komitmen seperti itu. bahwa susunan. dan keanggotaan KY diatur dengan undang-undang. Usul perubahan dari KY sebaiknya menyangkut tidak saja pengangkatan hakim agung. Jadi sebenarnya tidak salah seluruhnya jika KY dapat masuk pada hal-hal yang bersifat teknis administratif dalam memeriksa hakim. mengapa tidak dicoba untuk dibuat norma hukumnya? Bukankah teori. KY harus mengusulkan amandemen terhadap Pasal 24B UUD 1945. bahwa MA tidak mau diawasi oleh lembaga negara apapun. jika Pasal 24B UUD 1945 dapat diamandemen agar KY bisa mengawasi perilaku hakim pada semua lingkungan peradilan. supaya hakim-hakim bisa menjadi Law Prophets. Artinya adalah. KY juga harus diberikan peran untuk mengawasi panitera-panitera pada semua jenjang organisasi kekuasaan kehakiman. Masalahnya sebenarnya tidak terlalu pelik. kedudukan. sebab sesuai dengan Pasal 24B ayat (4). Jadi undang-undang tentang KY yang baru harus mengatur hal ini. agar KY daerah dapat menjaga dan menegakkan kehormatan. Selain itu. Ini tidak bertentangan dengan UUD 1945.

kebenaran serta mewujudkan supremasi kekuasaan kehakiman di Indonesia. MK dan MA. Pada saatnya nanti KY akan tampil sebagai sosok yang lebih berwibawa untuk menegakkan wibawa negara hukum yang berkarakter. karena para panitera sering menjadi calo (broker) dan penagih uang dari pihak-pihak yang berperkara.diberantas. gerak dan langkah nyata KY dalam mengemban amanat UUD 1945 pasca putusan MK harus lebih ditingkatkan lagi. Putusan MK tidak boleh membuat KY menyurutkan peran historisnya untuk menegakkan supremasi hukum. keadilan. Sambil menunggu amandemen terhadap UUD 1945 dan revisi UU tentang KY. 258 Bunga Rampai .

DR. Latar Belakang. kebebasan berserikat. hak-hak alamiah yang tidak dapat dicabut adalah karunia Tuhan.. Contoh hak-hak yang tidak dapat dicabut meliputi kebebasan berbicara dan berpendapat. Rumusan kebebasan yang dikemukakan oleh para filsuf zaman pencerahan abad ke-17 dan ke-18. dan hak untuk mendapatkan perlindungan yang sama di depan hukum. Sedangkan landasan intelektual demokrasi konstitusional modern dalam geopolitik diletakan selama zaman Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 259 . dan baik masyarakat maupun pemerintahan tidak dapat mencabutnya. pemerintahan dalam suatu demokrasi tidak memberikan kebebasan dasar yang disebut Jefferson. Ermaya Suradinata. Hak-hak ini tidak hancur ketika masyarakat sipil diciptakan. Dalam masyarakat demokratis juga menyatakan hak-hak sipil seperti hak untuk mendapatkan pengadilan yang jujur. kebebasan beragama dan keyakinan. untuk menjalankan pemerintahan negara yang baik tariklah hukum yang bermoral. MS. Sedangkan Soekarno Presiden pertama Republik Indonesia. yaitu pemerintahan diciptakan untuk melindungi kebebasan yang dimiliki oleh individu berdasarkan eksistensi individu itu. MH. S.Pentingnya Peran Komisi Yudisial Berdasarkan Pendekatan Geopolitik dan Geostrategi Indonesia Prof. Deklarasi Kemerdekaan yang dikemukakan oleh Thomas Jefferson. adalah menetapkan suatu prinsip dasar bagi berdirinya pemerintahan negara yang demokratis.H.

dari Jean Jacques Rousseau di Perancis sampai David Hume di Skotlandia. dalam 260 Bunga Rampai . Emmanuel Kant di Jerman dan Thomas Jefferson serta Benjamin Franklin di negeri yang kemudian bernama Amerika Serikat. percaya pada pemerintahah Republik berdasarkan pada persetujuan dari yang diperintah. dan termasuk hak untuk memiliki harta benda serta menikmati hasil kerja sendiri. Hukum alam identik dengan hukum Tuhan. kata Locke. John Locke membantah pengakuan bahwa pemerintah teristimewa monarki. dan ahli hukum dan filsuf Perancis. Pada tahun 1690 Locke menerbitkan bukunya yang sangat berpengaruh Two Treaties of Government (Dua Risalah Tentang Pemerintahan). termasuk hak atas hidup. yang terbit pada tahun 1748. dalam pernyataannya bahwa semua pemerintahan yang sah bertumpu pada persetujuan dari yang diperintah. Dua pemikiran yang berpengaruh adalah filosuf Inggris. ujar Locke. Locke juga menyatakan jika suatu pemerintahan menjadi tanpa hukum dan sewenang-wenang. mendukung pemisahan dan penyeimbangan kekuasaan antara cabang-cabang eksekutif. Montesquieu.Pencerahan Eropa. tapi bukan pada demokrasi yang didirikan atas kekuasaan mayoritas. Tapi penerusnya yang paling terkemuka adalah Montesquieu. Dalam teori hukum alam Locke mengilhami satu generasi filsuf zaman Pencerahan di Eropa dan dunia baru. dan menjamin hak-hak dasar semua orang. warganya berhak menggulingkan rezim itu dan membentuk suatu pemerintahan baru. dan yudikatif. Untuk mengamankan hak-hak ini. suatu gerakkan filosofis abad 18 yang ditandai dengan penolakan terhadap gagasan-gagasan sosial. kebebasan tertentu. legislatif. manusia dalam masyarakat sipil mengadakan kontrak dengan pemerintah mereka. Warga negara wajib patuh pada undang-undang dan mempertahankan kesejahteraan umum dari pelanggaran asing semuanya demi kebaikan bersama. mengubah secara besar-besaran pembahasan mengenai teori politik dan mendorong perkembangan lembaga-lembaga demokrasi. Dalam pernyataannya tentang hukum alam itu. Montesquieu. John Locke. dan politik yang tradisional yang penekanannya pada rasionalisme. agama. Dalam L’Esprit des Lois (Semangat hukum). yang seperti halnya Locke. adalah suatu aspek rangkaian takdir Ilahi. John Locke.

Kongres. sewenang-wenang atau tunduk pada manipulasi politik oleh negara. adalah landasan pokok bagi masyarakat yang adil dan demokratis manapun. sekutu politik negara atau lawan. mereka yang menjalankan sistem peradilan pidana mempunyai kekuasaan yang berpotensi melakukan penyalahgunaan dan menjadi tirani. Setiap negara harus mempunyai kekuasaan untuk memelihara ketertiban dan menghukum tindak pidana. Holden). dan mereka disiksa. sekalipun tidak langsung. Frank menulis. Frank menjelaskan. tapi aturan prosedur yang digunakan negara untuk melaksanakan undang-undangnya harus terbuka dan jelas. merupakan ciptaan rakyat. dengan pembagian kekuasaan antara Presiden. harta mereka dirampas. Warga negara suatu demokrasi tunduk pada hukum karena mereka mengakui bahwa. dan ia tidak mempunyai tanggung jawab untuk melakukan hal itu. Doktrin ini juga membantu membentuk landasan filosofis bagi konstitusi AS. Persamaan hak di depan hukum. Dalam kehidupan negara yang demokratis tidak dapat menjamin bahwa kehidupan akan memperlakukan setiap orang dengan sama.pemerintahan sebagai cara untuk menjamin kebebasan individu. semuanya berhak atas perlindungan yang sama di depan hukum. atau minoritas agama. Atas nama negara. Kaya atau miskin. mereka menyerahkan diri sebagai pembuat undang-undang itu.” Tak seorangpun berada di atas hukum yang bagaimanapun. negara wajib melayani secara rata dan sama seluruh rakyatnya. mayoritas etnik. bukan sesuatu yang dipaksakan kepada mereka. dan sering tanpa pernah dikenai tuduhan resmi. Apakah syarat pokok bagi proses hukum Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 261 . atau perlindungan yang sama oleh hukum sebagaimana sering disebut. dan Kehakiman (dalam Jeannes s. Setiap masyarakat sepanjang sejarah. Jika undang-undang ditetapkan oleh rakyat yang selanjutnya harus mematuhinya. Masyarakat demokratis tidak dapat menerima penyalahgunaan seperti ini. dipenjarakan. Namun ahli hukum konstitusi John P. banyak individu. diasingkan dan dihukum mati tanpa dasar hukum. tidak rahasia. baik undangundang maupun demokrasi terlayani. ”Dalam keadaan apapun negara tidak boleh memaksakan ketidaksamaan tambahan.

Ideologi dan konstitusi negara bagi suatu negara yang berdaulat seperti Negara Republik Indonesia ini. DPRD Kabupaten/Kota) yang berdampak sulitnya untuk membangun kesamaan visi dan misi Nasional antar politisi dalam me- 262 Bunga Rampai . MPR. yang bergulir bagaikan bola salju. Reformasi politik yang terjadi sejak tahun 1997. Pasang surut ini diwarnai oleh perubahan-perubahan sesuai tuntut-an politik. Tak seorangpun boleh ditahan tanpa tuduhan yang jelas dan tertulis. Berkaitan dengan perkembangan ini ruang pemerintah muncul kekuatan-kekuatan baru yang dapat menggeser kedudukan seorang Presiden. DPRD Provinsi. sejak lengsernya Soeharto sebagai Presiden dari panggung politik. DPD. Bukan saja orang berhak mengetahui hakikat sebenarnya tuduhan itu. merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Perubahan-perubahan ini jelas apabila diamati kenyataan di lapangan: Pertama. Ketukan tengah malam oleh polisi rahasia tidak mempunyai tempat dalam demokrasi. Dalam perjalanan sebagai bangsa yang berdaulat. Kedua. berdasarkan doktrin yang disebut Habeas corpus. dan merinci tuduhan pelanggaran itu. menunjukkan adanya pasang surut. dan konstitusi negara akan memberikan model terhadap implementasi ideo-logi dalam birokrasi pemerintahan dalam penyelenggaraan negara terutama penyelenggaraan fungsi lembaga negara.yang wajar dalam demokrasi? Rumah siapa saja tidak boleh dimasuki dan digeledah oleh polisi tanpa perintah pengadilan yang menunjukkan adanya alasan kuat untuk menggeledah itu. membawa berbagai perubahan yang mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal tersebut dapat kita lihat (DPR. begitu pengadilan mendapati bahwa tuduhan itu tanpa dasar atau penahanannya tidak sah. melahirkan perilaku politik yang juga liberal. mereka juga harus segera dilepaskan. implementasi ideologi dan konstitusi negara sebagaimana termuat dalam sejarah. kita tidak lagi memiliki seorang pemimpin yang sentralistik sekaligus sangat menentukan. berkembangnya kehidupan politik yang liberal. dikatakan demikian karena ideologi akan memberikan warna terhadap bentukbentuk yang ada dalam konstitusi negara.

2000. Karena mempunyai landasan: Pertama. Sebagai kelompok sosial yang besar. Selanjutnya pada ayat (2) dinyatakan bahwa ”putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota yang hadir”. Pasal 37 ayat (1) tidak bertentangan. oleh karena itu dapat dikatakan bahwa ideologi dan konstiPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 263 . Dikatakan demikian karena dalam Pasal 37 tersebut secara tegas dinyatakan bahwa ”untuk mengubah UUD sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota harus hadir. yang sampai saat ini sudah empat kali perubahan (Tahun 1999. seperti bangsa Indonesia dan Malaysia. berkembang pula keinginan sebagian elit politik yang berpengaruh dengan cara yang sistemik dan damai melakukan perubahan terhadap UUD NRI Tahun 1945. dan 2002). adat maupun bahasa yang berbeda dari mulai Sabang sampai Merauke.nangani dan memahami makna NKRI. namun bagi bangsa Indonesia dengan kemajemukannya sangat berbeda seperti kita tahu tentang perbedaan budaya. Ketiga. maka ideologi dan konstitusi negara bagi bangsa Indonesia mempunyai peranan yang sangat penting. berkaitan dengan realitas dan eksistensi bangsa kita. berperan sebagai citra jati diri bangsa. Dengan citra jati diri inilah suatu bangsa dapat memberikan ciri yang khas yang dapat dibedakan dengan negara lainnya. Memperhatikan perkembangan politik era reformasi yang berkaitan dengan perubahan UUD NRI Tahun 1945.” Peranan Ideologi dan Konstitusi Negara dalam Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. Memperhatikan peranan tersebut di atas. organisasi bangsa mempunyai kebutuhan untuk memiliki citra jati dirinya. jelas mengindikasikan bahwa para Pendiri RI (Founding Fathers). seiring dengan perkembangan politik tersebut. sejak awal telah mengisaratkan adanya penyesuaian pasal-pasal yang ada dalam UUD 1945 dengan perkembangan yang ada. apabila merujuk pada UUD NRI tahun 1945. Bunyi dan Pasal 37 ayat (1) dan (2). 2001. keanekaragaman itulah ciri jati diri bangsa Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa Malaysia. dengan kata lain ada amanat pada penerus bangsa ini untuk tidak mempermasalahkan konstitusi yang mereka buat. walaupun berasal dari satu rumpun.

Hal tersebut diperlukan sebagai peraturan yang tertinggi karena beragamnya komponen yang juga mempunyai adat istiadat tersendiri. sehingga dapat diharapkan generasi muda akan terus melanjutkan perjuangan generasi pendahulunya untuk mencapai cita-cita dan tujuan nasional bangsa Indonesia. Generasi muda yang telah mengalami masamasa perjuangan untuk mendirikan bangsa dengan negara. Merupakan suatu hal yang alami terjadi pergantian generasi antara generasi terdahulu dengan generasi muda. Keempat. berperan untuk menemukan keyakinan akan kebenaran perjuangan bersama akan satu kesatuan yang berpegang teguh pada ideologi dan konstitusi tersebut. Dengan adanya ideologi dan konstitusi sebagai hukum dasar. Ketiga. dan mematuhi segala ketentuan yang diatur dalam konstitusi. Kedua. maka dibutuhkan suatu pedoman yang dapat memayungi dan berlaku untuk keseluruhan komponen bangsa yang ada. maka dapat diantisipasi sedemikian adanya persepsi yang berbeda terhadap suatu peraturan perundang-undangan. yang akan dijadikan dasar pengambilan keputusan bagi para hakim. Di sini ideologi dan konstitusi menjadi sumber inspirasi dan cita-cita hidup bersama. berperan sebagai jembatan penghubung antara generasi tua sebagai pendiri bangsa (fouding fathers) dengan generasi penerus. jika negara mempunyai kedaulatan yang utuh dalam menjaga eksistensinya dan mewujudkan reformasi birokrasi pemerintahan khususnya reformasi peradilan. berperan sebagai hukum dasar yakni sebagai pedoman utama dalam pembuatan peraturan perundangundangan yang akan diperlakukan kepada segenap komponen bangsa. dan dipandang sebagai suatu kebesaran dan kemuliaan bersama dengan ideologi manusia mengejar keluhuran. dengan ideologi dan konstitusi dapat menjembatani hubungan antara keduanya. sebagaimana telah dirumuskan dalam Ideologi dan Konstitusi (UUD Tahun 1945). Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dalam menyelenggarakan fungsi kenegaraan merupakan hal yang sangat pen- 264 Bunga Rampai .tusinya melekat pada jati diri bangsa. Oleh karena senantiasa berupaya untuk merealisasikan dalam kehidupan bersama. Karena itu keberadaan ideologi dan konstitusi yang berdaulat merupakan sesuatu yang mutlak.

Dalam konstitusi biasanya memuat aturan minimal materi yang mencakup: 1. dan ini jarang sekali dikesampingkan pada saat kebijaksanaan dibuat. Pada akhirnya mungkin dapat dikatakan bahwa orang-orang yang merasa diperlakukan tidak adil dalam suatu sistem demokrasi maka akan terhibur kalau mereka memperhatikan sistem-sistem politik lain. 2. Perkembangan Hukum Dasar Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. dan sistematis dalam empat kali perubahan UUD NRI Tahun 1945. selanjutnya perubahan itu diwujudkan secara komprehensif. Pengaturan tentang hak asasi manusia. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 265 . serta negara hukum yang demokratis. karena dapat menyuarakan persoalannya dan sanggup mengumpulkan kekuatan dengan mempengaruhi para pemilih dengan berbagai cara yang diakui dan absah. Menegakkan keadilan sering dianggap sebagai inti moralitas politik.ting dan mendasar. mengalami perubahan yang sangat fundamental. integral. keterbukaan. Pengaturan tentang pembagian dan pembatasan tugastugas ketatanegaraan yang juga bersifat fundamental. Demokrasi juga menyangkut kompromi atau harmoni politik dengan jalan menyelesaikan tuntutan-tuntutan atau suara-suara yang saling bertentangan. dan juga akuntabilitas tinggi serta diharapkan terwujudnya Good Governance. Demokrasi memberikan kesempatan kepada setiap kelompok dan kepentingan yang cukup besar mengajukan wakilnya. yang menciptakan keadilan yang relatif. 3. pada empat sidang MPR sejak Tahun 1999. dan mempertahankan demokrasi atas dasar ini bermakna bahwa demokrasi adalah sistem terbaik untuk menegakkan keadilan. sampai dengan 2002. Pengaturan tentang susunan ketatanegaraan yang bersifat fundamental. Sedangkan kemungkinan terjadinya ketidak-adilan dalam negara demokrasi jauh lebih kecil dibanding pada negara dimana kebebasan politik ditindas dan tidak ada satupun jaminan politik. sejak perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan keadilan. kepentingan yang merasa dirugikan. bertahap. Reformasi sesungguhnya memberikan ruang yang besar untuk terjadinya perubahan menuju penyelenggaraan negara yang lebih demokratis.

sehingga sebagai lembaga negara baru Komisi Yudisial masih harus menghadapi resistensi yang berat terutama dalam menghadapi hakim agung. Paradigma lama sistem paradilan kita masih kental. memutus sengketa kewenangan Lembaga Negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar. hal tersebut sebagaimana dalam perubahan ketiga UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. yaitu: dihapuskannya lembaga negara Dewan Pertimbangan Agung. 29H. dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. Sedangkan perubahan pada materi yang kedua dan ketiga. setelah perubahan bab IX menjadi 5 pasal dan 19 ayat. Selanjutnya terbangun adanya 2 lembaga negara baru yaitu Mahkamah Konstitusi. yaitu Dewan Perwakilan Daerah (DPD). menegakkan kehormatan. serta perilaku hakim. yaitu pasal 28A. untuk menegakkan hukum dan keadilan. 28G. Awalnya dalam Bab IX hanya terdiri 2 pasal dan 3 ayat. serta untuk memberantas maraknya praktek mafia peradilan.Contoh pengaturan hak asasi manusia telah ditambahkannya pasal hak asasi manusia. dalam kehidupan sistem kekuasaan kehakiman. Diubahnya kedudukan dan kewenangan Majelis Permusyawaratan Rakyat. 28C. 28E. 28F. hakim di bawah Mahkamah 266 Bunga Rampai . dan dibentuknya lembaga negara baru. Keberadaan Komisi Yudisial. Menelaah Komisi Yudisial dari satu sudut pandang Geopolitik dan Geostrategi Indonesia tidak terlepas dengan pemahaman kita tentang politik dan strategi dalam melakukan reformasi hukum/peradilan. 28I. 28B. merupakan hasil reformasi khususnya di bidang peradilan. antara lain perubahan pada Bab IX yang mengatur Kekuasaan Kehakiman. dan Komisi Yudisial (KY). Perubahan yang sangat mendasar dalam hukum dasar Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. memutus pembubaran partai politik. dan 28J. 28D. yang mempunyai kewenangan mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar. keluhuran martabat. Sedangkan lembaga baru yang kedua adalah Komisi Yudisial yang merupakan pilar kehidupan untuk menentukan roh moral para hakim agung. Mahkamah Konstitusi (MK).

Menjawab hal ini Hans Kung. dan bernegara secara universal dituangkan ke Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 267 . toleransi dan hukum. mengusulkan formula untuk menghilangkan ambivalensi dengan konsep aturan etika global yang merupakan rumusan seni politik sejati dengan menggabungkan politik riil dengan politik kontemporer dalam pembentukan civic morality suatu bangsa.Agung. oleh karena itu harus solid dan dapat mendorong proses akselarasi reformasi peradilan pada tataran fungsi dan tugas serta tingkatan para hakim. Atas dasar hal tersebut. Komisi Yudisial dalam Sistem Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. maupun hakim konstitusi. untuk menjaga kedaulatan dirinya. yang hidup dan tidak berada dalam ruang hampa. yang diucapkan oleh Mahatma Gandhi. serta dengan cermat menyikapi karakter dan perubahan pola interaksi peradaban manusia dalam rangka menjaga martabat kemanusiaan. maka hal ini sangat terkait dengan tesis Harbermas. Jika kita kaitkan fenomena tersebut dalam sistem kemasyarakatan dan pemerintahan. Keduanya dikembangkan sebagai suatu konsepsi maupun sebagai realisme atas dasar perkembangan politik nasional. tetapi kebangsaan saya adalah peri-kemanusiaan” (My nationalism is humanity). yang menyatakan bahwa terdapat ambivalensi dalam hukum dan demokrasi. dan sesama bangsa di dunia. pemahaman civic morality harus dituangkan dalam bentuk kewajiban lembaga Komisi Yudisial. dalam arti demokrasi dan kebebasan tidak selalu berjalan beriringan. ”Saya seorang nasionalis. Mengacu pada prinsip tersebut penerapan hukum yang didasarkan pada civic morality dalam kehidupan bermasyarakat. melainkan selalu harus selalu berorientasi terhadap masalah-masalah rasional baik ideal maupun riil. sistem ketatanegaraan maupun sistem pemerintahan. Hal tersebut sejalan dengan prinsip civic morality. jika kita melibatkan budaya. Yang dimaksud dengan sistem Geopolitik dan Geostrategi Indonesia adalah Wawasan Nusantara sebagai Geopolitik Indonesia dan Ketahanan Nasional sebagai Geostrategi Indonesia. untuk secara antisipatif mengawal negara sebagai negara hukum dengan segala sumber daya yang kita miliki. tanpa harus menjadi lembaga yang menyendiri.

serta berpartisipasi aktif dalam hubungan kerja antar lembaga negara sebagai upaya mencapai cita-cita nasional. Mahkamah Agung (MA). Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). yang dimaksud dengan lembaga negara pada pasal tersebut yaitu. Institusi lembagalembaga negara tersebut. memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UndangUndang Dasar. Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Berdasarkan sumber tersebut. sesuai dengan tesisnya Donovan yang merujuk filsafat kata rekonsiliasi dalam kitab Vulgata. Komisi Yudisial (KY). 268 Bunga Rampai . memutus pembubaran partai politik. Civic morality. budi pekerti dan toleransi dalam semangat rekonsiliasi. didasarkan pada Pasal 24C ayat (1) yaitu menyatakan: Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar. Presiden dan Wakil Presiden. dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). yaitu rasionalitas. maupun yudikatif. L. J. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Berdasarkan Pasal 24C Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. sebagaimana dikemukakan oleh C. tersebut adalah basis geopolitik dan geostrategi suatu bangsa yang bermakna sebagai suatu upaya untuk memperoleh kekuatan bangsa dalam menjaga nasionalisme dan penegakkan hukum secara berkelanjutan. yang mencakup keseluruhan lembaga-lembaga negara termasuk eksekutif. Witman & J. lembaga negara adalah institusi yang diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945. Dalam sistem ketatanegaran terbentuk sistem hubungan antar lembaga-lembaga negara. Lahirnya sistem pemerintahan parlementer dan sistem pemerintahan presidensiil. Mahkamah Konstitusi (MK). dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. dan dikenal dalam bahasa Inggris disebut ”Cabinet Government” dan sistem ”Presidential Government” atau juga ”The fixed executive system”. spiritual.dalam bentuk empat pola tindak. legislatif. kecuali dalam sistem pemerintahan negara. Dalam sistem pemerintahan selalu terkait dengan hubungan antara lembaga eksekutif dan lembaga legislatif. Sistem ketatanegaran mempunyai cakupan yang lebih luas dibanding dengan sistem pemerintahan.Wuest. F Strong dan S.

Demikian juga Komisi Yudisial dan ketujuh lembaga negara lainnya berkedudukan sama setingkat/sederajat. dan bentuk negara amat sangat tergantung oleh paham atau sistem Kedaulatan Rakyat/Volkssouvereineteit (sumber Sutjipno). Ditarik dari keberadaan hakim juga terkait dengan keberadaan kekuasaan kehakiman. dan begitu seterusnya bahwa eksistensi negara hukum tergantung pada keberadaan bentuk negara republik.yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar 1945. Kedudukan lembaga-lembaga negara didasarkan atas tugas dan kewenangannya. Sedangkan sebutan lembaga negara tertinggi sebelum perubahan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu Majelis Permusyawaratan Rakyat. Dengan demikian juga setelah perubahan terhadap Undang-Undang Dasar selain tidak ada lembaga negara tertinggi juga tidak ada lagi lembaga tinggi negara. Sehubungan prinsip tersebut bagaimana keterkaitannya dengan geopolitik dan geostrategi Indonesia khususnya diimplementasikan dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Berdasarkan perubahan terhadap Pasal 1 ayat (2). dan kekuasaan kehakiman juga terkait pada keberadaan cita negara hukum/Rechstaat. Majelis Permusyawaratan Rakyat tidak lagi menjadi lembaga negara tertinggi. Pasal 1 ayat (2) diubah. selaku hukum tata negara Indonesia. kedelapan lembaga negara tersebut berkedudukan setingkat sama. khususnya perubahan ketiga. dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (Pasal 1 ayat (2). atau kekuasaan yudikatif mempunyai konsekuensi logis menentukan adanya hakim sebagai subyek pelaksana dari kekuasaan kehakiman. Dengan demikian. Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat dengan suara yang terbanyak (Pasal 6 ayat (2). Selanjutnya setelah reformasi berjalan terjadilah perubahan Undang-Undang Dasar 1945. sehingga berbunyi: Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UndangUndang Dasar”. yang tentunya Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 269 . didasarkan pada: Kedaulatan adalah di tangan rakyat. Keberadaan kekuasan kehakiman. Kekuasaan Negara yang tertinggi di tangan Majelis Permusyawaratan Rakyat (Penjelasan Umum tentang sistem Pemerintahan Negara). atau kekuasaan yudikatif. Majelis Permusyawaratan Rakyat adalah penjelmaan seluruh rakyat Indonesia.

namun lolosnya calon hakim agung yang diseleksi oleh Komisi Yudisial belum mendapat jaminan untuk seluruhnya diterima oleh DPR-RI terutama Komisi III. keluhuran martabat. (4) Susunan. dan merupakan tantangan berat bagi Komisi Yudisial untuk menunjukkan bahwa calon hakim agung yang diusulkan betul-betul dapat dipertanggungjawabkan dan diterima sebagai calon yang telah memenuhi persyaratan termasuk persyaratan dari sisi politis. Rumusan sebagai berikut: Pasal 24B (1) Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Apalagi hakim agung duduk pada tingkat peradilan tertinggi (puncak) dalam susunan peradilan di Indonesia sehingga ia menjadi tumpuan harapan bagi pencari keadilan. Sebagai negara hukum. kedudukan. Ini menunjukkan peran politik begitu dominan. Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan keanggotaan Komisi Yudisial diatur dengan undang-undang. (2) Anggota Komisi Yudisial harus mempunyai pengetahuan dan pengalaman di bidang hukum serta memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela. ayat (2). dan ayat (4). (3) Anggota Komisi Yudisial diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Ketentuan ini didasarkan pemikiran bahwa hakim agung yang duduk di MA dan para hakim merupakan figur yang sangat menentukan dalam perjuangan menegakkan hukum dan keadilan. hasil perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. serta perilaku hakim. Selanjutnya Kewenangan Komisi Yudisial. rumusan kewenangan Komisi Yudisial (KY) sebagaimana tercantum dalam Pasal 24B ayat (1). ayat (3). sangat menentukan manusia sebagai hakim yang mempunyai hati nurani tinggi.mengalami perubahan yang sangat fundamental terutama pada pasal-pasal dan ayat-ayatnya. masalah kehormatan dan 270 Bunga Rampai .

”calon hakim agung diusulkan Komisi Yudisial kepada DPR untuk mendapatkan persetujuan dan selanjutnya ditetapkan sebagai hakim agung oleh Presiden”. proporsional. Menurut ketentuan tersebut. sebelumnya merupakan wewenang Mahkamah Agung. Menurut ketentuan Pasal 24B ayat (1).keluhuran martabat. reformis. memuat ketentuan mengenai pembentukan lembaga di bidang kekuasaan kehakiman bernama Komisi Yudisial (KY) yang merupakan lembaga yang bersifat mandiri. berdasarkan Pasal 80A Undang-Undang nomor 5 Tahun 2004 Tentang perubahan Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985. ”sebelum Komisi Yudisial terbentuk. Melalui Komisi Yudisial diharapkan dapat diwujudkan lembaga peradilan yang sesuai dengan harapan rakyat sekaligus dapat diwujudkan penegakkan hukum dan pencapaian keadilan yang diputus oleh hakim yang terjaga kehormatan dan keluhuram martabat serta perilakunya. perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. tentang Kekuasaan Kehakiman. dan berpikir jernih untuk memutuskan calon hakim agung yang bermoral. Kewenangan yang sangat besar yang diberikan kepada Komisi Yudisial merupakan tantangan besar untuk dapat mewujudkan hakim agung yang profesional dan proporsional. Ujian berat bagi Komisi Yudisial saat ini adalah untuk pertama kalinya bangsa Indonesia memberikan kewenangan penuh untuk menjaring para calon hakim agung yang diselenggarakan oleh Komisi Yudisial. komitmen untuk Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 271 . serta perilaku hakim merupakan hal yang sangat strategis untuk mendukung upaya menegakkan peradilan yang handal dan realisasi paham Indonesia adalah negara hukum. Outsourcing kinerja Komisi Yudisial ini dapat terwujud manakala semua anggota Komisi Yudisial solid. Komisi Yudisial berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai kwenangan lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta perilaku hakim. Untuk itu. pengajuan calon hakim agung dilakukan Mahkamah Agung untuk mendapatkan persetujuan DPR dan selanjutnya ditetapkan sebagai hakim agung oleh Presiden”. Sedangkan pada Pasal 20A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menentukan. memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela adil. profesional.

(hal tersebut perlu dikaji lebih mendalam). saat ini masih dalam proses transisi dibutuhkan orientasi-orientasi baru terutama pemahaman tentang geopolitik dan geostrategi Indonesia yang begitu cepat perubahannya. karena bangsa Indonesia ini penuh dengan keanekaragaman. tidak heran kalau masih terjadi kendala dalam sistem peradilan kita yang tentunya harus dapat diselesaikan oleh kita. sehingga diperlukan suatu tolak ukur apakah seseorang tadi didalam menjalankan tugasnya telah memiliki wawasan yang luas dan jauh menjangkau rasa cinta tanah air. dan perlu dipikirkan wadah konsultasi lembaga yudisial tanpa mengurangi kemandirian dari tugas dan fungsi serta tanggung jawab masing-masing lembaga. dan memahami serta mengerti betul tentang cara kerja dan kultur peradilan yang lama. agar kita dapat membangun sistem peradilan yang mandiri dan dilandasi pada jati diri bangsa kita sendiri. dan mempunyai budi pekerti luhur. Dalam hubungannya dengan budaya.memberantas mafia peradilan. dalam memperkuat Negara Indonesia adalah Negara Hukum. Tentu kita sebagai bangsa Indonesia yang berdaulat dan mempunyai jati diri Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. Bukan hanya pemimpin tingkat nasional sampai pada terendah. agar kita dapat memberikan rasa adil dan sejahtera pada seluruh komponen bangsa Indonesia. Negara hukum Indonesia sampai saat ini masih diwarnai oleh pengaruh budaya liberal. Profesionalitas tidak hanya dimiliki oleh kelompok tertentu saja. sehingga kerja sama dengan lembaga-lembaga yang mempunyai fungsi yudikatif sangat dibutuhkan. harus dijunjung tinggi norma-norma lokal sebagai pondasi kehidupan sistem peradilan Indonesia. melainkan bisa menjadi milik siapa saja. maka peran budaya juga tidak bisa dilepaskan sebagai pilar kekuatan Komisi Yudisial. proses pembangunan budaya berhukum yang baru (paradigma baru budaya berhukum) yang diciptakan oleh Komisi Yudisial. Komisi Yudisial lahir dari hasil reformasi. dan menjadikan pondasi dalam sistem peradilan di Indonesia. untuk memperkuat kemandirian Komisi Yudisial. sangat diperlukan karena selama ini telah terjadi dan terbentuk di Indonesia sistem hukum modern yang melahirkan watak liberal. berwa- 272 Bunga Rampai .

untuk melakukan perbaikan dan langkah strategis untuk memberantas mafia peradilan yang bertentangan dengan norma dan etika peradilan.wasan kebangsaan. Wawasan kebangsaan dan kenegarawanan. diperlukan suatu sharing pengalaman dan mensinergikan menjadi kekuatan wewenang Komisi Yudisial. serta perilaku hakim. sebagai wujud nyata sifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Komisi Yudisial harus dapat membangun ideologinya sendiri. maksudnya antara lain memiliki kandungan kecintaan terhadap tanah air bangsa Indonesia yang sangat kuat. yang akan menentukan calon-calon hakim agung. serta perilaku hakim. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 273 . Penutup Hasil reformasi dan demokrasi. dan merupakan lembaga negara baru yang masih belum tersosialisasikan kepada seluruh elemen bangsa baik yang berada di dalam lembaga negara lainnya maupun di dalam masyarakat luas. kenegarawanan. dan mempunyai komitmen tinggi terhadap keutuhan wilayah kedaulatan negara Republik Indonesia. keluhuran martabat. Demikian juga para anggota Komisi Yudisial. Semua elemen bangsa harus dapat memahami dan mengerti serta melaksanakan apa yang menjadi wewenang Komisi Yudisial sebagai lembaga negara baru yang telah diberikan wewenang berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. selain tentu moral dan etika profesinya yang harus dijunjung. keluhuran martabat. Dalam rangka untuk mewujudkannya diperlukan orientasi baru. di bidang peradilan memberikan peluang yang besar bagi bangsa Indonesia. dari mulai hakim agung sampai pada hakim pengadilan negeri. Fungsi pengawasan yang dilakukam oleh Komisi Yudisial sebagai lembaga negara yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. yaitu melakukan revitalisasi yang sebelumnya wewenang tersebut menjadi wewenang lembaga Mahkamah Agung. mempunyai peran yang sangat vital di bidang peradilan.

Komisi Yudisial Republik Indonesia.. Blout. Rahardjo.1961. Penerbit suara Bebas. Moh. 2006. Mahfud MD. 1 No. Coins s. The English Language Book Society. Jakarta. Richard A. Modern Political Constitution. Jakarta. Sri Soemantri. 2005. Mackinder and The Defence of The West. “Hukum Progresif. Stanford. dan Ball. Bunga Rampai Refleksi Satu Tahun. dalam Jurnal hokum Progresif. Permasalahan Aktual dan pentingnya Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. Sekretariat Jenderal MPR RI. Henry J. Ermaya suradinata. 2006. Taylor & Prancis. New York University Press. The Supreme Court in The Govermental Process. The Judicial Decision. “Hukum yang Membebaskan”. Russak & Company.1.W. London. Jakarta. 1997. The United States Supreme Court. The Judiciary. Wasserstrom.Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia. Mahfud MD.F. ”Menjaga Jarum Sejarah Amandemen UUD. Cooper Phillip. Toword a Theory of Legal Justification. Prosudur dan system Perubahan Konstitusi. B. Lemhannas RI Jakarta. Global Geostrategy. 1996. NY. Demokrasi. Strong. Cal Stanford University Press. 2005. 1966. C. Prentice Hall. Inc. PT Rinneke Cipta. New Jersey. The Geopolitics Of The Nuclear Era New York. NY. Program Pascasarjana Universitas Jayabaya. Gray. Vol. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Hukum Dasar Geopolitik dan Geostrategi Dalam Kerangka Keutuhan NKRI. Jakarta. PT Alumni. Satjipto.Daftar Pustaka Abraham. 274 Bunga Rampai . 2005. Howars.2000. 1996. 2007. Ermaya suradinata. Sdigwick and Jackson Limited. Crane. Bandung. 2005.” tulisan disiapkan untuk buku HUT Mahkamah Konstitusi Tahun 2006. Bintan Regen. 2006. Moh. Saragih.

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 275 .Memulihkan Kewenangan Komisi Yudisial Dengan Melibatkan Kemitraan (Jejaring) di Daerah Marwan Mas A. yang justru berasal dari lembaga yang seharusnya secara bersama menegakkan harkat dan martabat peradilan. Dalam melakukan pengawasan terhadap hakim. Padahal. melainkan juga rekomendasi KY untuk memberi sanksi hakim-hakim nakal dapat menimbulkan efek jera. merupakan kewenangan KY yang amat krusial. Kehadiran KY pada hakikatnya dimaksudkan menjawab tuntutan masyarakat agar prinsip-prinsip demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan terakomodasi melalui lembaga yang akuntabel dan independen. keluhuran martabat. Pendahuluan Pasal 22B Ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 (UUD) menegaskan eksistensi Komisi Yudisial (KY) yang bersifat mandiri dan berwenang mengusulkan hakim agung. sebetulnya KY telah berhasil membangun budaya kontrol yang membuat para hakim lebih berhati-hati. Sayang. dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. serta perilaku hakim. Mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan menegakkan kehormatan hakim. Kehadiran berbagai lembaga negara baru seperti KY telah menandai berjalannya proses transisi menuju demokratisasi yang sesungguhnya. harapan masyarakat pada KY bukan hanya mencari dan menemukan sosok calon hakim agung yang kredibel atau menjaga perilaku hakim dari perbuatan tercela. dalam perjalanan pelaksanaan tugas dan wewenang KY mendapat hambatan.

Sebab sudah menjadi rahasia umum. soal penyimpangan hakim tidak berdiri sendiri tetapi terdesain dalam suatu mafia yang amat sulit dibuktikan. 276 Bunga Rampai . mutasi. pengawasan.Kiranya perlu dipahami bahwa pembentukan KY selain diarahkan untuk menciptakan sebuah lembaga pengawas dalam kekuasaan yudikatif. Italia. Di sejumlah negara. Berbagai kasus yang terungkap ke publik. peran pegawai peradilan yang mengontak pengacara atau pencari keadilan. Di negara-negara Eropa Selatan seperti Perancis. tetapi juga panitera dan administrasi. KY memberikan rekomendasi untuk pemberhentian hakim. paling tidak diharapkan memberikan dampak positif dalam mengefektifkan pelaksanaan tugas dan wewenang KY. termasuk bagaimana peran mitra KY memberikan informasi dalam mendukung pelaksanan tugas dan wewenang KY. managemen organisasi. mestinya objek pengawasan KY tidak hanya hakim. mulai dari sumber daya manusia. dan berakhir pada hakim yang memeriksa dan menjatuhkan putusan. dan Spanyol. promosi. KY telah membangun kemitraan (jejaring) di daerah-daerah. penyimpangan di lingkungan peradilan yang merugikan masyarakat tidak hanya menyangkut hakim. Untuk menunjang proses peradilan yang lebih bermartabat. Peran mitra di daerah. dan pendisiplinan hakim. serta perilaku hakim. dan memberikan masukan dalam pengangkatan ketua/wakil ketua MK. mengajukan calon ketua MA. meskipun berbeda pada pelaksanaan fungsi dan perannya. keluhuran martabat. juga bermakna untuk menjaga dan menegakkan kehormatan. Kompleksitas permasalahan yang melingkupi pengadilan Indonesia. Proses tersebut berawal dari panitera yang meregister dan membagikan perkara kepada hakim. kewenangan komisi ini jauh lebih signifikan karena memiliki kewenangan yang cukup luas seperti rekrutmen hakim. keberadaan komisi semacam ini sudah merupakan hal yang jamak dan dibutuhkan. Di Afrika Selatan. tetapi juga panitera yang mendaftar perkara. Pemilahan dan penentuan prioritas pembenahan menjadi sangat penting dipahami oleh mitra yang dibangun. sumber daya penunjang dan sebagainya. maka tugas dan wewenang KY perlu ditunjang oleh mitra di daerah. Salah satu cara untuk mengawasi perilaku hakim.

termasuk proses persidangan yang murah. KY sebagai lembaga negara yang mandiri berkepentingan dan berkomitmen untuk terus menjalin kerjasama dengan berbagai elemen masyarakat. Dalam kondisi demikian. Sementara keputusan KY berkaitan dengan pelanggaran perilaku hakim hanya berupa rekomendasi yang intinya mengusulkan penjatuhan sanksi.B. Oleh karena itu. perlu pemulihan kewenangan KY untuk mengungkapkan modus operandi dan upaya pemberantasan mafia peradilan. karena dalam realitasnya telah menghilangkan akses keadilan bagi masyarakat dan pencari keadilan. Pentingnya pengawasan hakim dari pengaruh mafia peradilan. Para pencari keadilan begitu sulit mendapatkan pelayanan peradilan yang jujur. serta perilaku hakim. terutama yang concern terhadap proses reformasi peradilan demi terciptanya sistem peradilan yang bersih. Australia. Desain ini mirip dengan fungsi yang diberikan kepada Judicial Commission di New South Wales. pembukuan keuangan perkara. dibutuhkan peran masyarakat melalui mitra yang dibentuk KY untuk terlibat langsung dalam mendukung pelaksanaan tugas dan wewenang KY. penyusunan berita acara pemeriksaan (BAP). akuntabel dan berwibawa. kearsipan perkara. pembuatan laporan Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 277 . Begitu juga terhadap penanganan administrasi peradilan. sederhana dan cepat. KY tidak berwenang memeriksa aspek teknis yudisial seperti kemampuan hakim menangani perkara. tenggang waktu penyelesaian perkara. Reformasi peradilan sebagai agenda utama KY tidak akan berhasil seperti yang diharapkan. KY dipersepsikan dalam UUKY untuk tidak mencampuri teknik yudisial. Sayang. Salah satu upaya tersebut adalah perlunya penguatan pengawasan dan peran serta masyarakat dalam mengontrol praktek peradilan. dan eksekusi. Memulihkan Kewenangan KY Dalam menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat. kualitas putusan. Memang secara legalistik. rekomendasi KY tidak mendapat respon positif MA sehingga ide awal pembentukan KY dalam UUD tidak berjalan sebagaimana mestinya. pembuatan daftar persidangan. seperti prosedur penerimaan perkara dan registrasi perkara. sehingga memerlukan jaringan kerjasama dalam rekrutmen calon hakim agung dan pengawasan terhadap para hakim.

jika ada fakta-fakta perilaku hakim yang tercela dalam berkas perkara yang berakibat dikeluarkannya putusan. Kedua.perkara. sebagai bagian dari pengawasan masyarakat terhadap hakim. Intervensi model ini telah membudaya melalui forum musyawarah pimpinan daerah (Muspida) yang memberi ruang bagi eksekutif dan legislatif untuk mempengaruhi lembaga peradilan. Kedua aspek ini tetap dipegang oleh pengawas internal MA. jujur. memang tidak sampai pada soal “teknis yudisial” karena terkait independensi hakim (independence of judiciary) dalam memeriksa dan memutus perkara. Berdasarkan laporan 32 negara yang dimuat 278 Bunga Rampai . Penilaian atas perilaku hakim dalam menangani perkara yang ternyata menuai keberatan pencari keadilan merupakan bagian dari tanggung jawab hakim. berkas perkara dapat saja diperiksa KY. Mitra atau jejaring yang ada di masyarakat dapat menjadi mata dan telinga KY. Sukses atau tidaknya pengawasan KY. adanya intervensi atau campur tangan dari pihak luar. sebab memeriksa dan memutus perkara merupakan sebuah tanggung jawab seperti “kemampuan menangani perkara” yang memberikan keadilan. dapat dilihat pada dua aspek. dan kualitas putusan harus dapat dirasakan oleh pencari keadilan. Pemeriksaan KY terletak pada penilaian hakim terhadap fakta-fakta persidangan yang dituangkan dalam putusan dengan menelusuri apakah terjadi penyimpangan perilaku hakim. Penyebab maraknya korupsi di lembaga peradilan (judicial corruption) yang mesti jadi perhatian mitra KY di daerah. Kesemuanya diarahkan untuk meningkatkan prestasi kerja hakim dalam menyelesaikan perkara dengan cepat. penyuapan yang dapat terjadi sepanjang proses peradilan. Pada aspek ini. khususnya eksekutif dan legislatif untuk mempengaruhi putusan hakim. Wewenang KY mengawasi perilaku hakim demi menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat hakim. menjadi taruhan kepercayaan masyarakat pada lembaga peradilan. Pertama. Mitra (jejaring) KY yang ada di daerah merupakan representasi pengawasan masyarakat. KY dapat mengapresiasi perilaku hakim yang menyimpang dengan melakukan interpretasi. hakim bisa berkolusi dengan kekuasaan untuk memenangkan suatu perkara. dan eksekusi peraturan. Namun.

termasuk pengawasan fungsional oleh Dewan Kehormatan Hakim Agung. sedangkan KY melakukan pengawasan eksternal untuk menumbuhkan tanggung jawab hakim sebagai benteng terakhir penegakan supremasi hukum dengan memeriksa dan memutus perkara secara benar dan adil. bertujuan untuk menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat hakim. sebagian hakim dapat disuap untuk memperlambat atau mempercepat proses pengadilan.” tandasnya. Jika yang menjadi tujuan adalah tegaknya martabat hakim. mempengaruhi rekan sesama hakim atau sekedar menjatuhkan putusan tertentu. seharusnya direspons positif. kewenangan KY untuk menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat hakim telah diamputasi oleh putusan MK Nomor: 005/PUU-IV/2006 tanggal 23 Agustus 2006. Kewenangan KY mengawasi hakim dan hakim konstitusi sebagaimana dimaksud dalam UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (UUKY). menerima atau menolak permintaan banding. Salah satu yang menghambat efektivitas pelaksanaan tugas dan wewenang KY adalah timbulnya sikap MA yang merasa kewenangan pengawasannya diambil alih KY.dalam Global Corruption Report 2007. terkesan telah membonsai kewenangan KY sehingga perlu dipulihkan dengan mensinkronkan UUKY. Temuan KY dalam memeriksa perilaku hakim yang menyimpang yang kemudian direkomendasikan kepada MA. Pemulihan kewenangan KY dalam menjaga dan mengawasi perilaku hakim harus terakomodasi dalam perubahan UUMA dan UUMK. “Faktor kedua inilah yang paling krusial. Fungsi pengawasan MA bersifat internal. yang mengakibatkan maraknya korupsi di pengadilan. Sayang. Posisi KY sebagai pengawas eksternal yang bersifat independen. UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung (UUMA). Sinkronisasi ketiga UU selain dimaksudkan memulihkan ke- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 279 . pengawasan dari aspek administrasif berkaitan dengan proses peradilan tetap ada pada MA. kehadiran KY tidak perlu dianggap sebagai rival. dan UU Nomor 24 Tahun 2002 tentang Mahkamah Konstitusi (UUMK). Efektivitas pengawasan hakim seharusnya berjalan sinergis. Padahal. Justru MA dapat memanfaatkan KY untuk membantu menegakkan martabat hakim.

Pertama. Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 menyiratkan bahwa KY hanya dapat mengawasi pelaksanaan kode etik dan kode perilaku hakim dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan hakim. KY tidak berwenang mengawasi hakim yang berkaitan dengan teknis yudisial. Saat ini. 280 Bunga Rampai . pengawasan dari dalam tidak maksimal. KY tidak berwenang mengawasi hakim MK. Menurut MK. Kedua. yaitu mengenai putusan hakim atas suatu perkara. Putusan MK yang mencabut pengawasan KY terhadap dirinya (hakim konstitusi) merupakan tindakan yang berlebihan. MK menilai. Para hakim Konstitusi tidak digolongkan sebagai hakim seperti hakim MA dengan alasan demi independensi dalam memeriksa dan menjatuhkan putusan. tetapi hanya diawasi sendiri oleh temannya sesama hakim. MK adalah lembaga negara yang paling steril dari sentuhan pengawasan dari luar dirinya (pengawasan ekstern). Dalam pertimbangan hukumnya.wenangan KY. MK secara sistematis melemahkan fungsi dan peran KY dengan cara ”membonsai” kewenangan KY dalam mengawasi perilaku hakim. juga menambal kekosongan hukum di bidang pengawasan terhadap badan peradilan dan hakim yang dilakukan KY seperti diperintahkan Pasal 24B Ayat (1) UUD. Keberadaan hakim konstitusi yang tidak termasuk dalam pengertian hakim yang dapat diawasi perilaku etiknya oleh KY merupakan putusan diskriminatif. Putusan MK yang perlu diapresiasi menyangkut kewenangan KY pada Kamis 23 Agustus 2006 terdiri dari dua bagian. Padahal. pengawasan atas pelaksanaan kode etik hakim konstitusi dilakukan Majelis Kehormatan sesuai dengan ketentuan Pasal 23 UU MK sebagai pelaksanaan Pasal 24C Ayat (6) UUD. Praktik mafia peradilan diperkirakan akan semakin menjadi-jadi karena perilaku hakim tidak lagi diawasi dan dikontrol oleh lembaga lain (KY). MK secara arogan telah mengabaikan prinsip checks and ba-lances yang menjadi roh bangunan kelembagaan negara dengan tidak rela diawasi dan dijaga kehormatan dan perilakunya oleh lembaga lain. bahwa penilaian perilaku dilakukan dengan penilaian putusan. hal tersebut menyebabkan adanya penafsiran yang tidak tepat.

Sedangkan tidak diberi peluang menerima hadiah sesuai “sumpah hakim”. Di lain pihak. Adanya dua versi pedoman perilaku hakim. tetapi lagi-lagi diabaikan MA. maka rivalitas kewenangan akan kontra-produktif. tidak menutup kemungkinan ada hakim yang akan mencari peluang untuk keuntungan sendiri dengan melanggar salah satu pedoman perilaku hakim. Keduanya diberi wewenang hal yang sama. Termasuk saat Ketua MA dihambat ketua majelis hakim Pengadilan Khusus Korupsi untuk hadir bersaksi dalam sidang perkara suap pegawai MA oleh pengacara Probosutedjo. Bila hakim terpaksa harus menaati dua versi pedoman perilaku hakim (Code of Conduct). Kresna Menon dan hasilnya direkomendasikan kepada MA agar yang bersangkutan diberhentikan sementara selama satu tahun untuk tidak menangani perkara.C. UUMA juga mengatur bahwa MA berwenang pula melakukan pengawasan terhadap kecakapan hakim dan perbuatan tercela dari hakim. kalau pada aspek lain ada ketentuan yang membolehkan hakim menerima hadiah yang berlawanan dengan sumpahnya. tetapi tak satupun dari enam rekomendasi KY yang direspon MA. tak pelak akan semakin menjadi-jadi di kalangan hakim. Satu Pedoman Perilaku Hakim Pasal 14 UU Nomor 22/2004 tentang Komisi Yudisial sebagai derivasi Pasal 24B UUD 1945 menegaskan. Alih-alih menjaga harkat dan martabat hakim. apalagi kalau memang diberi peluang. bahkan ada yang diproses di pengadilan. tidak sedikit oknum hakim yang menerima suap dalam menangani perkara seperti terungkap di media. Malahan tiga anggota hakim non-karir diganti dan kini diperiksa Pengadilan Tinggi Jakarta karena walk out dalam lima kali Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 281 . Apalagi perseteruan MA-KY selama ini cukup memprihatinkan. Penolakan Ketua MA bersaksi ternyata disikapi KY dengan memeriksa ketua majelis hakim. seperti pada soal rekrutmen hakim agung atau saat Ketua MA mengabaikan enam rekomendasi KY untuk menghukum hakim yang telah diperiksa karena melakukan penyelewengan. Harini Wijoso. dan realitas menunjukkan terciptanya potensi rivalitas yang mengarah pada krisis kelembagaan. KY mempunyai wewenang menjaga dan mengawasi perilaku hakim. Hadiah sebagai penghalusan suap (gratifikasi) dalam kode etik yang dibuat MA.

MA seakan lembaga yang kebal dari sentuhan pengawasan lembaga lain atau pengawasan masyarakat dengan mengabaikan konstitusi.sidang yang bersikukuh agar Ketua MA dihadirkan bersaksi. kode etik versi KY akan diabaikan. Kalau pedoman perilaku hakim versi MA membolehkan 282 Bunga Rampai . padahal konstitusi dan UUKY memberi kewenangan untuk mengawasi dan memeriksa hakim-hakim nakal.perlu duduk bersama merancang dan menetapkan satu pedoman perilaku hakim. wibawa KY akan jatuh dan tidak lebih dari “macan kertas” yang tidak bergigi. Dalam kondisi demikian. Resistensi MA terhadap rekomendasi KY. MA. Penyatuan dalam satu atap korps hakim (tidak lagi secara administrasi berada di bawah Menteri Kehakiman dan HAM). Tentu saja para hakim akan mengikuti kode etik yang dibuat MA sebagai lembaga yang menaunginya. Rivalitas kewenangan dalam mengawasi perilaku hakim akan semakin memperpuruk citra lembaga peradilan Indonesia. Sebaliknya. kedua lembaga negara dalam lingkungan peradilan ini diharapkan berperan aktif dalam menjaga keluhuran peradilan. Padahal. termasuk nantinya pada pedoman perilaku hakim yang dibuat KY. Tidak akan efektif kalau masingmasing membuat pedoman perilaku hakim. Penerapan dua pedoman perilaku hakim sudah pasti akan menimbulkan implikasi hukum yang pada akhirnya mengancam kewibawaan MA-KY. tidak lebih dari sikap “arogansi” MA yang selalu berlindung di balik jubah independensi. Mestinya Ketua MA lebih peka atas berbagai keborokan di lingkungan peradilan. dan MK --yang hakimnya mestinya juga diawasi KY. meskipun nantinya bisa dipanggil untuk diperiksa KY dan kemungkinan akan direkomendasikan ke MA agar diberi sanksi. Demi independensi. KY. Perlu kesadaran dan keprihatinan bersama antara MA dengan KY dalam melihat dan menyikapi persoalan penegakan hukum. juga akan memberi peluang untuk dimanipulasi. karena selain membingungkan hakim. Tetapi para hakim juga sudah maklum kalau rekomendasi KY akan diabaikan MA seperti nasib enam rekomendasi KY. terlebih adanya tudingan mafia peradilan. baiknya dijadikan momentum oleh MA untuk memperbaiki institusi peradilan yang selama ini disoroti publik.

ternyata menoleransi hakim menerima hadiah dari orang yang berperkara.hakim menerima hadiah. dan pada sub-bagian berperilaku jujur. Sebab. bertentangan dengan Pasal 12B UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang melarang penyelenggara negara.. karena selain menghindari rivalitas dan krisis kelembagaan. Bahkan... hakim boleh saja menerima hadiah asalkan jumlahnya wajar dan tidak ada tendensi mempengaruhi hakim dalam memeriksa dan menjatuhkan putusan. Pernyataan ini telah mereduksi harapan publik agar hakim memiliki integritas yang tinggi. hakim yang menerima sesuatu atau hadiah selain termasuk gratifikasi juga dinilai sebagai unprofessional conduct. tidak menerima apa pun yang patut diduga berkaitan dengan jabatan ... Alasan membolehkan hakim menerima hadiah terkesan dibuat-buat dan menggelikan. tetapi alasan yang diberikan tidak sesederhana itu. Di sinilah dituntut kesadaran keduanya (termasuk MK) untuk secara bersama membuat satu pedoman perilaku hakim. untuk ”. tentu tidak lagi proporsional di tengah upaya merebut kembali citra peradilan Indonesia.” Olehnya itu. karena akan menghambat pemberantasan judicial corruption yang terstruktur dan institusional. apalagi dari pihak yang berperkara. Pedoman perilaku hakim versi MA dikecam berbagai kalangan karena memuat ketentuan yang membolehkan seorang hakim menerima hadiah dari pihak lain. Bagir Manan (Media Indonesia. Pedoman perilaku hakim versi MA menetapkan 10 pedoman perilaku hakim. 27/6/2006) menyatakan. pegawai negara. dan aparat hukum menerima gratifikasi. Jika masing-masing membuat pedoman perilaku hakim dengan subjek yang sama. memberi peluang bagi hakim menerima hadiah (gratifikasi) sangat riskan dan berbahaya. misalnya sekotak kue atau sepotong kain batik biasa. Ketua MA boleh saja beralasan tidak akan berpengaruh pada independensi hakim. Ketua MA. yaitu untuk menghindari kekecewaan orang dan tidak tega menolak pembe- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 283 . MA mengabaikan sumpah hakim. akan semakin memperlebar jurang perbedaan yang pada akhirnya hanya akan merugikan penegakan hukum yang bersandar pada rasa keadilan masyarakat. juga mewujudkan sinergi dan saling menghormati wewenang.

Kendati proses seleksi calon hakim agung telah dilakukan KY. Penutup Untuk lebih memaknai tugas dan wewenang KY. perlu menyimak kritikan Charles Sampford (1998) dalam teori ”the disorder theory of law” yang memandang hukum tidak identik dengan bangunan yang penuh keteraturan logis-rasional. memotivasinya untuk berani melaporkan rekam jejak para calon hakim agung yang sedang diseleksi KY dan DPR. calon hakim agung dan para hakim dapat terjaga integritas dan kredibilitasnya dalam menyelenggarakan peradilan yang memihak pada rasa keadilan masyarakat. Munculnya polemik atas hasil rekrutmen KY terhadap calon hakim agung. Berbagai survei dan pengaduan masyarakat yang terungkap di media massa menyebutkan. Timbul pertanyaan. bahkan pada 6 Juli 2007. Untuk mengefektifkan pelaksanaan tugas dan wewenang KY. DPR telah memilih enam hakim agung dari 18 284 Bunga Rampai . mana yang harus dipatuhi para hakim? Apakah pedoman perilaku hakim yang dibuat lembaganya (MA) atau pedoman perilaku hakim yang dibuat KY sebagai lembaga yang memang diberi wewenang oleh konstitusi untuk mengawasi perilaku hakim? D. hanya akan menambah kekisruhan dalam mengawasi perilaku hakim. Hukum tidak selalu dimaknakan “machine justice” sehingga hakim harus menjaga hak-hak komunitas dan konstitusionalitas rakyat. Paling tidak. maka mitra (jejaring) KY yang ada di daerah harus dilibatkan secara maksimal. hakim-hakim di republik ini sering hanya mendahulukan kepentingan perutnya ketimbang mengimplementasikan rasa keadilan masyarakat. Rivalitas dan perseteruan MA-KY mestinya sudah harus berakhir dengan duduk bersama merancang satu pedoman perilaku hakim. Pedoman perilaku hakim yang masing-masing dibuat oleh KY dan MA. Di dalamnya selalu ada ruang ekstra (leeway) yang dapat digunakan untuk menghidupkan nilai-nilai kehidupan sosial dan rasa keadilan masyarakat. Hanya dengan cara itu. serta perilaku hakim yang menyimpang.rian yang dapat menyakiti hati orang yang memberi. tetapi sesuatu yang bersifat cair yang perlu dihidupkan oleh pelaksana hukum. juga perlu perhatian KY.

Termasuk jumlah dana yang amat besar digunakan dalam seleksi. serta keluhan sejumlah calon hakim agung yang berasal dari hakim karir yang mengikuti tes. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 285 . seyogyanya diapresiasi agar tidak terulang di kemudian hari. Keberatan salah seorang anggota KY atas penetapan 12 calon hakim agung yang merasa tidak dilibatkan dalam rapat pleno. bahwa mereka direndahkan oleh tim seleksi KY dari cara bertanya yang terkesan menyudutkan. tidak berarti KY harus berpuas diri.calon yang diajukan KY.

286 Bunga Rampai .

sehingga tidak heran apabila dalam sebuah media nasional pernah disebutkan bahwa seorang koruptor yang “merampok” uang negara milyaran rupiah hukumannya tidak beda jauh dengan seorang yang maling 4 karung bawang merah di pasar. 1 Pendahuluan Peradilan Indonesia saat ini dipenuhi kontroversi demi kontroversi. jaksa. yaitu dimulai dari seluruh aparat penegak hukum (polisi. S. pegawai administrasi dengan pangkat tertinggi sampai dengan pangkat terendah di lembaga penegakan hukum. berbagai kontroversi tersebut dapat dilihat mulai dari lambatnya proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh kepolisian dan kejaksaan dalam penanganan suatu kasus. proses penundaan persidangan tanpa alasan yang jelas sampai kepada pelaksanaan putusan pengadilan yang kadang kala tidak jelas waktunya. hakim. banyaknya pungutan di luar biaya administrasi resmi saat kasus telah masuk ke pengadilan.H. sipir penjara dan advokat).Urgensi dan Fungsi Pembentukan Jejaring di Daerah Oleh Komisi Yudisial Asep Rahmat Fajar. Selain itu dari berbagai penelitian yang dilakukan oleh berbagai lembaga swadaya masyarakat diperoleh data bahwa aktor-aktor yang terlibat pun sudah demikian luas. Semua hal tersebut diperparah dengan sering munculnya putusan pengadilan yang tidak mencerminkan rasa keadilan masyarakat. Apabila dirangkum dalam suatu kesimpulan umum. sampai dengan kalangan in- 1 Tenaga Ahli Komisi Yudisial Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 287 .

Kolusi dan Nepotisme (KP2KKN) Jawa Tengah. secara umum adalah tindakan-tindakan yang menyebabkan ketidakmandirian lembaga peradilan dan institusi hukum (polisi. Fakta yang secara selintas disebutkan di atas menyebabkan berbagai laporan lembaga di dalam maupun luar negeri yang menyebutkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat korupsi tertinggi di dunia menjadi cukup valid dan tidak dapat disanggah sama sekali. penghilangan data atau berkas pengadilan.2 Bentuk-bentuk korupsi di lembaga peradilan sendiri menurut deklarasi International Bar Association (IBA). Praktek-praktek judicial corruption ini secara kolektif dikenal dengan sebutan mafia peradilan. Sedangkan secara khusus dapat dilakukan dalam bentuk mencari atau menerima berbagai macam keuntungan atau janji berdasarkan penyalahgunaan kekuasaan kehakiman atau perbuatan lainnya. Berbagai keluhan baik dari masyarakat dan para pencari keadilan seolah-olah sudah tidak dapat lagi menjadi media kontrol bagi para penegak hukum tersebut untuk kemudian melakukan berbagai perbaikan yang signifikan bagi terciptanya suatu kinerja yang ideal dan sesuai dengan harapan masyarakat. seperti suap. Sebagai suatu sistem. memperlambat proses pengadilan. pemalsuan. kompromi dengan advokat serta tunduk kepada kemauan pemerintah dan partai politik. nepotisme. pertimbangan yang keliru.telektual yang menjadi saksi ahli. jaksa. 2 Komite Penyelidikan dan Pemberantasan Korupsi. Bahkan Daniel Kauffmann yang secara khusus menyoroti praktek korupsi di lembaga peradilan. conflict of interest. 288 Bunga Rampai . sikap tunduk kepada campur tangan luar/dalam pada saat memutus perkara karena adanya tekanan. dalam laporannya menunjukkan bahwa Indonesia termasuk negara yang berada pada posisi yang cukup memprihatinkan berkaitan dengan kinerja aparat pada lembaga penegakan hukumnya. pemanfaatan kepentingan umum untuk kepentingan pribadi. kinerja aparat penegak hukum sekarang ini memang berada pada titik nadir yang cukup mengkhawatirkan. favoritisme. ancaman. hakim dan advokat). “Katakan Tidak. perubahan dengan sengaja berkas pengadilan. Panduan Melawan Mafia Peradilan”.

obyek (orang yang diawasi). maka makna yang terkandung di dalam pengertian pengawasan tersebut berhubungan erat dengan kesatuan tanggung jaPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 289 . subyek (pengawas atau orang yang mengawasi). yaitu: 1. Adapun unsur-unsur dari pengawasan tersebut setidaknya meliputi enam hal. apabila dikaitkan dengan aparat penegak hukum. 5. Sebagian kalangan menganggap bahwa permasalahan tersebut tidak dapat dilepaskan dari lemahnya sistem pengawasan. kebijakan dan ketentuan atau peraturan (dasar dilakukanya pengawasan berikut aturan mainnya).Secara praktek. penggunaan anggaran. ruang lingkup pengawasan (hal-hal yang diawasi seperti kinerja pegawai. dan biaya ringan di satu sisi dan terciptanya suatu peradilan yang bersih. teori pengadilan yang mempunyai asas sederhana. Kelemahan sistem tersebut pada gilirannya mengakibatkan pola manajemen sumber daya manusia dan manajemen administrasi di lembaga-lembaga penegak hukum tersebut menjadi berjalan tidak optimal/ obyektif. mekanisme (urutan. Selain itu Sujamto (ahli manajemen lainnya) mendefinisikan pengawasan sebagai segala usaha dan kegiatan untuk mengetahui dan menilai kenyataan yang sebenarnya mengenai pelaksanaan tugas atau kegiatan apakah sesuai dengan yang semestinya atau tidak. tata cara atau prosedur dalam melakukan pengawasan) dan 6. perintah yang dikeluarkan. 4. cepat. dan sebagainya). 3. tujuan (untuk memastikan bahwa pelaksanaan suatu tugas maupun hasilnya sesuai dengan perencanaan) Sehubungan dengan berbagai teori pengawasan tersebut. transparan dan mengedepankan nilai-nilai keadilan di sisi lain terlihat sudah sangat sulit untuk diterapkan dan ditemui dalam lembaga dan aparat penegak hukum yang ada saat ini. Juga dimaksudkan untuk mengetahui kelemahan dan kesalahan agar dapat dihindari kejadiannya di kemudian hari. Pengawasan: Prinsip dan Aktor Yang Terlibat Menurut Fayol (salah seorang perintis ilmu manajemen) pengawasan adalah upaya memeriksa apakah semua terjadi sesuai dengan rencana yang ditetapkan. dan prinsip yang dianut. 2.

antara lain adalah: 1. yaitu:3 1. 3. diperlukan suatu sistem pengawasan agar dapat mendeteksi dan memeriksa pelanggaran. tanggung jawab administrasi (administrative responsibility). 290 Bunga Rampai . 2. merespon laporan atau pengaduan masyarakat dan menindaklanjuti dengan obyektif hasil pemeriksaan dan laporan masyarakat tersebut. Melihat permasalahan yang masih ada sampai saat ini dalam sistem pengawasan aparat penegak hukum kita. 3 Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia (Mappi). Pada beberapa lembaga penegak hukum belum ada ketentuan yang memadai yang mengatur pedoman bagaimana seorang aparat penegak hukum seharusnya berperilaku (code of conduct). 4. baik perilaku di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan. solidaritas (in group feeling. yang mengakibatkan proses pencarian data dan informasi pendukung menjadi cukup terhambat. mekanisme pengawasan tidak transparan dan akuntabel sehingga masyarakat yang mengajukan laporan/ pengaduan tidak mengetahui tindak lanjut dari laporan/pengaduan mereka.wab yudisial (judicial responsibility) yang mengandung tiga dimensi pertanggungjawaban. 3. sehingga tidak berjalan dengan efektif. 2. Mekanisme pengawasan melalui proses yang sangat panjang. “Administrasi Peradilan : Lembaga Pengawasan Sistem Peradilan Terpadu”. Berdasarkan teori di atas terdapat beberapa permasalahan dalam sistem pengawasan bagi aparat penegak hukum di Indonesia. esprit de corps) dari obyek pengawasan. tanggung jawab prosedural (procedural responsibility) yang menuntut ketelitian atau akurasi hukum acara yang dipergunakan dan tanggung jawab substansi (substantif responsibility) yang berhubungan dengan ketepatan pengkaitan antara fakta dan hukum yang berlaku.

beberapa indikator untuk menjamin akuntabilitas publik adalah penyebarluasan informasi mengenai suatu keputusan. melalui media massa. mekanisme yang memfasilitasi pelaporan maupun penyebaran informasi maupun penyimpangan tindakan aparat publik di dalam kegiatan pelayanan publik. maupun proses-proses di dalam sektor publik. adanya mekanisme untuk menjamin bahwa standar telah terpenuhi. Sedangkan pada tahap sosialisasi kebijakan. dan sudah sesuai dengan visi dan misi organisasi. mekanisme yang memfasilitasi pertanyaan-pertanyaan publik tentang berbagai kebijakan dan pelayanan publik.Untuk mengoptimalkan sistem pengawasan aparat penegak hukum tersebut. adanya kejelasan dari sasaran kebijakan yang diambil. yaitu transparansi. akurasi dan kelengkapan informasi yang berhubungan dengan caracara mencapai sasaran suatu program. konsistensi maupun kelayakan dari target operasional yang telah ditetapkan maupun prioritas dalam mencapai target tersebut. serta standar yang berlaku. akuntabilitas dan partisipatif. maupun media komunikasi personal. akses publik pada informasi atas suatu keputusan setelah keputusan dibuat Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 291 . Terdapat beberapa hal penting yang harus dijadikan sebagai prinsip. artinya sesuai dengan prinsip-prinsip administrasi yang benar maupun nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Parameter yang dapat digunakan untuk mengukur prinsip transparasi terdiri dari mekanisme yang menjamin sistem keterbukaan dan standarisasi dari semua prosesproses pelayanan publik. pembuatan keputusan sudah memenuhi standar etika dan nilai-nilai yang berlaku. salah satu hal yang paling utama adalah partisipasi publik. Selanjutnya untuk akuntabilitas indikator dan parameter yang dapat menjadi acuan pada tahap proses pembuatan adalah pembuatan sebuah keputusan harus dibuat secara tertulis dan tersedia bagi setiap masyarakat yang membutuhkan. Dalam hal ini prinsip transparansi ini hanya akan menjadi wacana semata jika tidak didukung oleh adanya perlindungan hukum terutama bagi publik yang tertuang dalam suatu Undang-undang tentang Kebebasan Memperoleh Informasi dan Perlindungan Saksi. dengan konsekuensi mekanisme pertanggungjawaban jika standar tersebut tidak terpenuhi.

dan mekanisme pengaduan masyarakat. masyarakat tidak dapat mengakses informasi-informasi tertentu yang penting untuk menjalankan peran di atas. maka masyarakat tidak memiliki ‘amunisi’ untuk berargumentasi. dan perhatian pemerintah pada pengarahan dan ajakan pada publik untuk berpartisipasi. Adapun untuk prinsip partisipasi agar dapat terlaksana dibutuhkan beberapa langkah awal sebagai inisiatif dari lembaga penegak hukum yakni mengeluarkan informasi yang dapat diakses oleh publik. mendelegasikan otoritas tertentu kepada pengguna jasa layanan publik seperti proses perencanaan dan penyediaan panduan bagi kegiatan masyarakat dan layanan publik. 2002).4 Logikanya cukup sederhana. Sedangkan tolak ukur penilaian pelaksanaan dari prinsip partisipatif yang dapat digunakan adalah keterlibatan publik melalui terciptanya nilai dan komitmen para aparat. Dalam hal ini partisipasi publik dalam pengambilan keputusan hanya dapat efektif dan berarti (meaningful) jika masyarakat memiliki informasi yang memadai. Lucas and Pring. keterlibatan publik dalam merancang dan melaksanakan penegakan hukum. “Public Participation. by Zillman. yang bersifat terbuka dan inklusif sebagai tempat publik menyampaikan keinginannya. ketersediaan sistem informasi manajemen dan monitoring hasil yang telah dicapai oleh pemerintah. Dan tanpa jaminan hak memperoleh informasi. hal. the Aarhus Convention and the European Union” dalam Human Rights in Natural Resources Development. 292 Bunga Rampai . terarah dan dapat terkontrol. kemampuan publik untuk terlibat dalam penegakan hukum. maka salah satu titik lemah dalam pengawasan yaitu tidak adanya parameter dan koridor yang jelas untuk melakukan pengawasan dan tidak diterapkannya prinsip-prinsip dasar good governance harus 4 Peter Davies. Tanpa informasi. (Oxford: Oxford University Press. eds. berpendapat atau memutuskan sikap secara menyakinkan dan tepat. adanya wadah dan saluran untuk menampung partisipasi publik yang representatif. 157. apabila kita menginginkan suatu sistem pengawasan yang cukup optimal. Oleh karenanya. menyelenggarakan proses konsultasi untuk menggali dan mengumpulkan masukan-masukan dari publik dalam kegiatan publik.

Hal ini diakui dalam Konvensi PBB melawan korupsi 2003 (UN Convention Against Coruption. prinsip ini paling sering dibicarakan. Dalam hal ini basis masyarakat yang dimaksud adalah mereka yang berkepentingan langsung yaitu korban (termasuk didalamnya kelompok masyarakat yang peduli dengan isyu ini). Tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa memang prinsip independensi peradilan adalah salah satu prinsip penting untuk melahirnya proses peradilan yang fair. baik karena merupakan prinsip yang dianggap penting di dunia. Prinsip ini pula yang sepertinya paling fasih dikuasai oleh para hakim. hakim menganggap ia dapat melakukan apa saja tanpa perlu mempertanggungjawabkannya kepada publik dan pada akhirnya menjalankan proses peradilan yang sesat. 31 tahun 1999 sendiri.2003) dan dalam Undang-undang No. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal. maupun karena mungkin prinsip ini menguntungkan para hakim.5 Selain itu. meningkatkan peran serta masyarakat dalam sistem pengawasan menjadi tidak dapat ditawar-tawar lagi. Namun di sini perlu disadari bahwa pengawasan berbasis masyarakat bukanlah pengawasan yang langsung jadi dan berjalan dengan sistemik. Di berbagai forum yang membahas lembaga peradilan.secepatnya diperbaharui. penyadaran. Jangan sampai dengan alasan independensi. Namun permasalahannya. memperoleh dan memberikan informasi bahwa di suatu daerah atau instansi telah terjadi praktek korupsi. Peran serta masyarakat diakui memiliki peran penting dalam upaya pencegahan dan penegakan hukum terhadap tindak pidana korupsi. pengawasan yang dilakukan haruslah pengawasan yang berbasis masyarakat. Assegaf dan Josi Khatarina. dan perubahan budaya hukum. Undang-undang ini memberi kebebasan kepada masyarakat untuk mencari.6 5 6 Rifqi S. melainkan melalui proses bertahap yang mencakup pendidikan. prinsip ini sepertinya dianggap lebih penting dibandingkan prinsip pengadilan yang terbuka (prinsip yang mendorong lahirnya akuntabilitas pengadilan). Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 293 . Padahal kita menyadari betul bahwa independensi tanpa akuntabilitas dapat kita umpamakan sebagai “cek kosong yang bisa diisi apa saja”. baik di dalam maupun di luar negeri. Sebab saat ini sering kali karena tidak jelasnya kedua hal tersebut para pelaku mafia peradilan senantiasa berlindung di balik klaim otoritas independensi lembaganya. “ Membuka Ketertutupan Pengadilan”. sebagai wujud dari berbagai teori yang telah dipaparkan di atas.

MPR (dengan dorongan kelompok masyarakat sipil) pada tahun 2002 menetapkan perlunya pembentukan Komisi Yudisial dalam konstitusi yang kemudian disusul dengan pengundangan UU No. adalah beberapa ilustrasi lain permasalahan yang harus menjadi agenda pembenahan. h.23. Naskah Akademik dan Rancangan UndangUndang Tentang Komisi Yudisial. Namun usaha ini dipandang belum tentu mampu menyelesaikan masalah yang ada dan bahkan dipandang dapat menimbulkan monopoli kekuasaan di lembaga tersebut. 22 tahun 2004 tentang Komisi Yudisial oleh Pemerintah dan DPR. Sebagai salah satu upaya menjawab sebagian permasalahan di atas. 294 Bunga Rampai . Konstitusi tepatnya pasal 24B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 memberikan landasan hukum yang kuat bagi reformasi bidang hukum yakni dengan memberikan kewenangan pada Komisi Yudisial untuk mewujudkan cheks and balances.7 Situasi dan kekhawatiran tersebut mendorong terbentuknya gagasan ke arah pembentukan lembaga independen 7 Mahkamah Agung Republik Indonesia. 22 tahun 2004 memberikan wewenang bagi Komisi Yudisial untuk mengusulkan pengangkatan Hakim Agung pada DPR dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim.Jejaring: Mitra Komisi Yudisial Dalam Pengawasan Rendahnya integritas sebagian hakim hanyalah sebagian dari masalah yang menyelimuti lembaga peradilan. Kualitas sebagian hakim yang rendah (salah satunya disebabkan karena kelemahan proses rekrutmen dan promosi hakim). 2003. keuangan dan organisasi kepada Mahkamah Agung. aksesibilitas pengadilan. Dibentuknya Komisi Yudisial pada perubahan ke-3 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan reaksi terhadap kegagalan sistem peradilan yang ada untuk menciptakan peradilan yang lebih baik. Sedangkan UU No. minimnya gaji hakim (pegawai) serta anggaran pengadilan. Usaha ke arah peradilan yang lebih baik tersebut sebelumnya juga dilakukan dengan menciptakan sistem satu atap (One Roof System) yaitu memberikan kewenangan di bidang administrasi. struktur organisasi.

hakim agung dan hakim konstitusi. Dalam rangka merealisasikan gagasan tersebut dibentuklah Komisi Yudisial yang diharapkan dapat mengawasi serta mengimbangi (checks and balances) pelaksana kekuasaan kehakiman sehingga dapat mendorong terciptanya peradilan yang lebih baik di masa mendatang. Dalam kaitan ini Komisi Yudisial telah menegaskan pentingnya peranan elemen-elemen masyarakat tersebut untuk memiliki pengetahuan. Komisi Yudisial diberi wewenang oleh Undang-Undang Dasar untuk mengawasi perilaku hakim. Dengan demikian kedudukan Mahkamah Agung. Buruknya dunia peradilan tentu juga terkait dengan proses rekrutmen dan peningkatan karir hakim yang lemah (yang tidak didasarkan pada basis data dan analisis kinerja/ putusan) serta tidak terlacaknya perilaku hakim. Sebagaimana diketahui sejak perubahan ke-3 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Semua lembaga negara adalah sederajat.yang berada di luar Mahkamah Agung yang dapat mengimbangi agar tidak terjadi monopoli kekuasaan pada lembaga tersebut. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak mengenal istilah lembaga negara utama (main) dan lembaga negara penunjang (supporting). Sebagai lembaga negara yang mandiri. Upaya untuk memperbaiki dunia peradilan yang merupakan salah satu semangat kelahiran Komisi Yudisial tentu memerlukan dukungan penuh dari elemen-elemen civil society. yang membedakan satu sama lain adalah kewenangannya. komitmen dan program aksi bersama dalam menciptakan peradilan yang bersih (clean judiciary). tidak ada lagi pembagian lembaga negara tertinggi dan lembaga tinggi negara. Hakim- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 295 . Komisi Yudisial dan Mahkamah Konstitusi adalah sama yaitu sama-sama mendapat kewenangan atribusi dari Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. informasi. Kehadiran peradilan yang bersih dengan putusannya yang adil merupakan kebutuhan bersama baik masyarakat maupun pemerintah. Diaturnya Komisi Yudisial dalam Pasal 24B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menunjukkan bahwa lembaga ini merupakan lembaga negara yang mendapat atribusi kekuasaan langsung dari Undang-Undang Dasar.

LSM. sementara lembaga-lembaga peradilan berada di setiap provinsi dan kabupaten dengan lebih dari 6000 orang hakim yang tersebar di lebih dari 300 kabupaten/kota. namun dengan keterbatasan lembaga Komisi Yudisial yang hanya ada di tingkat nasional. semestinya bebas dari putusan-putusan bermasalah. Kesadaran terhadap pentingnya optimalisasi publik dalam menjaga dan menegakan kehormatan. mengefektifkan.adalah kurangnya partisipasi publik dalam menjaga dan menegakan kehormatan. kehadiran elemen masyarakat berbasis perguruan tinggi. dan memperkuat upaya di atas. Komisi Yudisial mungkin dapat menyusun strategi dan metode untuk melakukan riset putusan hakim atau melakukan investigasi perilaku hakim guna memperoleh basis data di atas. Ketersediaan basis data hakim akan sangat membantu dalam peningkatan kinerja dan karir hakim.sementara di sisi lain terwujudnya peradilan yang “bersih dan “berwibawa” serta yang memungkinkan perlakuan yang sama bagi 8 Data terakhir yang dimiliki penulis adalah jumlah hakim sebanyak 6178 orang yang tersebar di 341 kabupaten/kota. dan ormas keagamaan akan dapat mendukung.hakim yang putusannya tidak baik bahkan diindikasi kuat ada pengaruh pihak berperkara tentu perlu diketahui sejak dini baik untuk keperluan pembinaan ataupun penjatuhan sanksi. keluhuran martabat serta perilaku hakim (di semua lingkungan dan jenjang pengadilan). 296 Bunga Rampai . serta perilaku hakim bertolak dari dua pemikiran dasar. Pembentukan jejaring berangkat dari berbagai permasalahan di atas dan pemikiran bahwa salah satu faktor penyebab terjadinya “penyimpangan” peradilan –yang muncul dalam bentuk “mafia peradilan”. Apalagi. hasil dari program perbaikan dunia peradilan pada akhirnya akan dan harus dirasakan secara luas dan nyata oleh seluruh masyarakat. Oleh sebab itu. Terlebih lagi hakim-hakim yang akan direkrut menjadi hakim agung. keluhuran martabat. bahwa di satu sisi “penyimpangan” peradilan pada akhirnya akan menempatkan masyarakat sebagai “korban –dengan harga yang sangat mahal.8 tentu mencari data di atas sangat sulit dicapai. Hal itu hanya bisa dilakukan melalui suatu proses yang sistematis dengan metodologi yang jelas.

Jateng. Gorontalo. Dalam hal ini penyusunan nota kesepahaman tersebut diawali dengan lokakarya pembentukan jejaring Komisi Yudisial di 7 regional. Sulbar. Lampung) Malang (mencakup wilayah Banten. Organisasi Masyarakat serta Lembaga Swadaya Masyarakat. Selama ini. Kalbar. NTT dan Bali) Pontianak (mencakup wilayah Kalsel. 3. 4.semua pihak di muka hukum (equality before the law) juga menuntut adanya peran publik yang optimal. dan cukup lengkap. 6. Pada kesempatan ini mungkin perlu disampaikan juga bahwa sampai saat ini telah dilakukan penyusunan nota kesepahaman dengan beberapa lembaga negara dan kalangan masyarakat yang berasal dari elemen Perguruan Tinggi. maka dapat dihasilkan analisis atas putusan-putusan yang baik yang dapat menjadi literatur penting dalam peningkatan kemampuan para hakim dalam menangani perkara. Jambi. Kalteng. Sulut) 9 Laporan Tahunan Komisi Yudisial Republik Indonesia tahun 2006 Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 297 . Sumut. Sultra. Kaltim) Kendari (mencakup wilayan Sulsel. Bengkulu. Jabar. dan Jatim) Mataram (mencakup wilayah NTB. 2. Berdasarkan telaah putusan hakim yang akan dijalankan. Riau dan Kepulauan Riau) Palembang (mencakup wilayah Sumsel. yaitu:9 1. Pada saat ini. Sementara itu ada juga majalah yang berisi analisis putusan tetapi karena dilahirkan bukan dari lembaga negara resmi maka kurang menjadi rujukan bagi para hakim. 5. Komisi Yudisial telah berhasil membentuk jejaring di seluruh Indonesia yang pada saatnya akan merupakan elemen terdepan dalam melakukan kajian putusan hakim (untuk melihat kualitas) dan melakukan investigasi perilaku hakim (untuk melihat integritas) di seluruh Indonesia. Medan (mencakup wilayah Aceh. Sulteng. DIY Yogyakarta. memang telah ada majalah yang berisi putusan pengadilan tetapi sangat deskriptif dan kurang analitis. Bangka Belitung. tidak tumpang tindih. DKI Jakarta. Sumbar. Berdasarkan jaringan yang ada ini maka upaya yang dilakukan akan sistematis.

Sebagai tindak lanjut dari disusunnya berbagai nota kesepahaman tersebut. b. 2. 3. Pengawasan perilaku hakim. 3. Investigasi perilaku hakim di masing-masing daerah. 4. Komisi Yudisial dengan jejaring dae- 298 Bunga Rampai . Papua dan Irjabar). 39 Fakultas Hukum PTN dan PTS. 5.7. Adapun ruang lingkup kerjasama yang berhasil disepakati antara Komisi Yudisial dengan elemen-elemen tersebut di atas. Bidang-bidang lain yang dianggap perlu dan disepakati oleh masing-masing pihak. Seleksi calon hakim agung. 2. 55 Lembaga Swadaya Masyarakat. Pemberian penghargaan bagi hakim yang berprestasi. c. 2. antara lain meliputi bidang: 1. Ambon (mencakup wilayah Maluku. Sedangkan hasil yang diharapkan dengan adanya jejaring dan program-programnya adalah: 1. Dengan nota kesepahaman yang telah disepakati adalah: 1. Tersusun dan tersedianya data base hakim (baik dalam hal kualitas maupun integritas) yang selanjutnya dapat dijadikan sebagai informasi awal bagi Komisi Yudisial pada saat melaksanakan: a. Maluku Utara. 6. Penelitian sesuai dengan tema/topik yang telah disepakati oleh kedua pihak. Penelitian putusan hakim di masing-masing daerah. 3. 11 Organisasi Masyarakat. Pembangunan jaringan advokasi masyarakat. Teradvokasinya masyarakat pencari keadilan (terutama masyarakat korban) untuk dapat memperjuangkan hakhaknya. Terintegrasinya gerakan antara negara dan kalangan masyarakat sipil yang mempunyai tujuan untuk melakukan reformasi peradilan dan pemberantasan mafia peradilan. Pertukaran informasi yang dilakukan atas dasar kesepakatan kedua pihak.

Oleh sebab itu. Selain itu. di mana setiap orang sama kedudukannya di depan hukum dan hakim. berwibawa. menyatakan tidak sah tindakan sewenang-wenang pemerintah terhadap masyarakat. mampu menegakkan hukum serta dapat memberikan kepastian hukum dan keadilan merupakan conditio sine qua non atau persyaratan mutlak dalam sebuah negara yang berdasarkan hukum. sehingga putusan pengadilan yang diucapkan dengan irah-irah “Demi Keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” mengandung arti bahwa kewajiban menegakkan hukum. sebagai bentuk penguatan kelembagaan yang lain. mencabut kebebasan warga negara. seorang hakim dapat mengalihkan hak kepemilikan seseorang. Komisi Yudisial sebagai lembaga yang diberi amanat oleh konstitusi Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 299 . sampai dengan memerintahkan penghilangan hak hidup seseorang. kebenaran dan keadilan tanpa pandang bulu dengan tidak membeda-bedakan orang seperti diatur dalam lafal sumpah seorang hakim. Penutup Pengadilan yang mandiri. terlebih dengan segala kewenangan yang dimilikinya. Komisi Yudisial juga telah melakukan penyusunan nota kesepahaman dengan beberapa lembaga negara yang wilayah tugasnya cukup terkait dengan tugas dan wewenang Komisi Yudisial. semua kewenangan yang dimiliki oleh hakim harus dilaksanakan dalam rangka menegakkan hukum. dan peran hakim menjadi sangat penting. kebenaran dan keadilan itu wajib dipertanggungjawabkan secara horizontal kepada semua manusia. Sebab hanya pengadilan yang memiliki semua kriteria tersebut di ataslah yang dapat menjamin pemenuhan hak asasi manusia. Sebagai aktor utama lembaga peradilan. netral (tidak berpihak).rah sampai saat ini telah melakukan berbagai acara untuk proses penyamaan persepsi dan penyamaan metodologi guna menyongsong berbagai program yang akan dan sekarang sedang dilaksanakan. Melalui putusannya. Sebagai salah satu langkah untuk mewujudkan lembaga peradilan dan hakim seperti disebutkan di atas. Kewenangan hakim yang sangat besar itu menuntut tanggungjawab yang tinggi. dan secara vertikal dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. profesional. posisi.

Hal tersebut selain dilandasi oleh kesadaran bahwa dua pekerjaan tersebut adalah bukan pekerjaan yang ringan.untuk menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim menempatkan diri sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari komunitas negara dan masyarakat sipil yang mempunyai agenda melakukan reformasi peradilan dan pemberantasan mafia peradilan. Oleh karenanya. gerakan bahu membahu secara sistematis dan berkesinambungan antar JEJARING dalam suatu JARINGAN kerja menjadi hal yang tidak dapat ditawar dan ditunda-tunda lagi. 300 Bunga Rampai . juga disebabkan pemahaman bahwa mafia peradilan adalah merupakan musuh bersama yang telah memberikan dampak negatif yang luar biasa besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

S. S.H. hlm 9. * Pendahuluan Ditengah maraknya praktek “mafia peradilan” di Bumi Pertiwi ini.S. Drs. * 1 Penulis adalah Kepala Pusat Data dan Pelayanan Informasi Komisi Yudisial Republik Indonesia Prof. MS. Cetakan kedua... “Ilmu Negara”.H. Untuk sampai pada pemahaman betapa pentingnya keberadaan Komisi Yudisial Republik Indonesia (KYRI) beserta kewenangannya dalam struktur ketatanegaraan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam menjamin hak warga Negara. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 301 . Andi Djalal Latief. Hal ini terbukti beberapa saat setelah anggota Komisi Yudisial mengucapkan sumpah dihadapan Presiden sebagai Kepala Negara.T. Komisi Yudisial sudah langsung menerima pengaduan dari masyarakat.T Kansil.. Kandidat Pilkada kota Depok (Nur Mahmudi Ismail) adalah orang pertama yang datang untuk melaporkan buruknya kerja dan kinerja lembaga pengadilan. 2004.H. C. Kansil. tidaklah dapat dipungkiri bahwa lembaga ini ternyata memberikan secercah harapan bagi para pencari keadilan. Christine S.Urgensi Pembuatan Database Hakim Sebagai Media Penunjang Pelaksanaan Wewenang dan Tugas Komisi Yudisial Ir. Walau menuai pro dan kontra serta mendapatkan resistensi dari Mahkamah Agung (MA). PT Pradnya Paramita Jakarta. haruslah dipahami arti dari definisi “Negara” serta tujuan dibentuknya negara itu sendiri. M. lahirlah sebuah lembaga Negara baru yaitu Komisi Yudisial.

T. atau para subyek pemerintah. J.H. Oleh kodrat.H. tujuan Negara adalah dihubungkan dengan cita-cita manusia hidup di alam kekal yaitu sesuai yang diinginkannya. hlm 36...1 Masih terdapat banyak definisi terhadap istilah “Negara” sehingga. S.A Logemann adalah: De Staats is een gezags organizatie (Negara ialah. alih bahasa-Drs..S.T Kansil.“Negara” menurut pandangan Prof. 302 Bunga Rampai . Hal ini banyak disebabkan oleh fakta bahwa para penulis yang berbeda membahas masalahmasalah yang sangat berbeda di bawah satu nama yang sama dan bahkan penulis yang sama pun tanpa disadari menggunakan istilah yang sama dengan pengertian yang berbedabeda. PT Pradnya Paramita. Augustinus menyatakan. atau wilayah yang mereka diami. S. Tetapi istilah itu pun sangat sering digunakan dalam pengertian yang sangat sempit untuk menunjuk suatu organ khusus masyarakat. C. mengatakan: Negara ialah suatu organisasi manusia atau kumpulan manusiamanusia yang berada di bawah suatu pemerintahan yang sama. Somardi “General Theory of Law and State”. Prof. “lmu Negara”. suatu organisasi kekuasaan/kewibawaan). Kansil. S. Edisi revisi. Cetakan kedua. Drs.H. “bangsa”. R. misalnya pemerintah. maka haruslah pula dipahami tujuan dibentuknya sebuah “Negara” itu sendiri. Dr. Djokosutono. 2007. Istilah “negara” kadang-kadang digunakan dalam pengertian yang sangat luas untuk menunjuk “masyarakat” atau bentuk khusus dari masyarakat. hlm 225. M. Jakarta. Bee Media Indonesia. Christine S. negara 2 3 Hans Kelsen. karena negara mempunyai tugas yang paling mulia yaitu memanusiakan manusia. sedangkan menurut Prof. menurut Hans Kelsen terkadang definisi “Negara” dibuat sangat sulit oleh aneka ragam objek yang biasa dinyatakan secara tegas oleh istilah negara itu sendiri.H.3 sedangkan menurut Aristoteles negara yang ideal itu adalah negara yang memanusiakan manusia.2 Setelah sedikit diketahui apa yang dimaksud dengan istilah “Negara” maka selanjutnya dalam konteks pentingnya keberadaan Komisi Yudisial dalam sebuah negara hukum. 2004.H. dan itulah salah satu sebab mengapa negara sebagai persekutuan hidup menempati jenjang yang paling tinggi.

dan kekuasaan harus tunduk pada hukum. Seperti kita ketahui bersama dan dinyatakan secara tegas dalam UUD 1945 adalah bahwa. LL. 1988.ada dan terbentuk bukan sekedar agar manusia dapat hidup didalamnya. “Filsafat Politik Aristoles” C. Mochtar Kusumaatmadja. Manusia yang benar-benar bermoral dan yang berarti pula benar-benar berkualitas akan senantiasa siap sedia melakukan segala sesuatu yang terbaik dan mulia. manusia dimampukan untuk mencapai tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang semaksimal mungkin. sebenarnya terbentuknya sebuah negara itu seharusnya dan seyogyanya adalah bertujuan untuk mensejahterakan rakyat atau manusia yang menjadi warga dari sebuah negara itu sendiri.H...4 Menjadi jelas bahwa apapun definisi dari negara itu. kekuasaan itu tidak tanpa batas. Dengan kata lain.D. Keberhasilan manusia mencapai tingkat kebajikan tertinggi itu haruslah terlihat lewat moralitas yang terpuji.V. Th. karena hanya moralitas yang demikian itulah yang membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. 2) Ada prinsip-prinsip lain yang berkaitan dengan prinsip pokok di atas.M cita Negara hukum Indonesia adalah: 1) bahwa dalam Negara hukum. Negara Indonesia berdasarkan atas hukum bukan berdasarkan atas kekuasaan belaka. Dr. J. Salah satu yang terpenting adalah 4 DR.H.D. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 303 . artinya kekuasaan itu tunduk pada hukum. Rapar. Rajawali. Ini dapat berarti bahwa Negara Republik Indonesia adalah Negara yang berdasarkan atas hukum yang demokratis berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945. S. menurut Prof. Cetakan Pertama. Jakarta. hlm 43. tetapi agar manusia itu benar-benar memanusia di dalam negara dan lewat hidup dan bernegara. moralitaslah yang memberi kualitas khusus bagi manusia sehingga manusia itu adalah manusia yang tidak sama dengan makhluk yang lain. Lalu kemudian timbul pertanyaan apakah ciri-ciri dari cita Negara hukum Indonesia. Itu berarti bahwa di dalam negara manusia seyogyanya dapat mencapai tingkat kebajikan yang tertinggi. Ph. Secara popular dikatakan bahwa Negara hukum adalah Negara berdasarkan hukum. Di dalam dan lewat hidup bernegara.

penghayatan. Dikatakan secara lain. namun nampaknya bangsa ini belum juga beranjak dewasa dan menyadari arti dari kata merdeka itu sendiri. Cetakan kedua. Keadaan 5 Dr. LL. Terbentuknya Komisi Yudisial RI Perjalanan Bangsa Indonesia dimulai pada saat dikumandangkannya lagu Indonesia Raya serta berkibarnya Sang Saka Merah-Putih pada tanggal 17 Agustus 1945 serta dengan disahkannya UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI menjadi dasar Negara kita. berarti bahwa hukum memperlakukan semua orang sama tanpa perbedaan yang didasarkan atas ras (keturunan). Mochtar Kusumaatmadja. Bandung. Kehadiran Komisi Yudisial di Bumi Pertiwi yang berfungsi sebagai lembaga checks and balances terhadap lembaga peradilan merupakan langkah tepat dalam rangka untuk menjamin terpenuhinya rasa keadilan bagi sebanyak-banyak warga negara. S.. Terungkapnya kasus-kasus penyalahgunaan wewenang (abuse of power) oleh hakim serta pejabat peradilan lain yang banyak dipublikasikan oleh berbagai media massa seolah menjadi cerminan dari lemahnya integritas moral dan perilaku hakim serta pegawai lembaga peradilan.bahwa dalam Negara hukum semua orang sama di hadapan hukum.H. PT Alumni. Mochtar Kusumaatmadja itu terlihat bahwa. Hukum sebagai salah satu pilar berbangsa dan bernegara yang mendasari UUD 1945 telah mereka abaikan demi kepentingannya sendiri. hlm 180. kedudukan sosial dan kekayaan. “Konsep-Konsep Hukum Dalam Pembangunan”. pengamalan serta pelaksanaan hak dan kewajiban Negara Indonesia haruslah menjamin hak asasi setiap warga negara melalui penyelenggara Negara dan lembaga negaranya. agama. 304 Bunga Rampai .5 Dari pernyataan Prof. Hari memang telah silih berganti sejak kemerdekaan.M. 2006. Masih ada di antara kita yang secara sadar telah melakukan penjajahan dalam bentuk yang lebih hina “jual-beli putusan” dan mengingkari hak sesama anak bangsa.

singkat dan fleksibel” memang membuatnya mudah mengikuti perkembangan jaman. Kenyataan ini menimbulkan sebuah pertanyaan yang amat mendasar terhadap UUD 1945. Akhirnya pada tahun 1998 setelah sekian lama bungkam. promosi.ini tidak saja terjadi di lingkungan pengadilan negeri dan pengadilan tinggi. itu tuntutan mereka. rakyat bicara. Namun ide tersebut tidak berhasil dimasukkan dalam undang-undang tentang Kekuasaan Kehakiman. Kelemahan ini dapat terlihat dengan singkatnya UUD Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 305 . Keadaan ini membuat masyarakat pencari keadilan memandang bahwa lembaga peradilan sebagai suatu sistem dianggap sudah tidak bersih dan kurang berwibawa. pemberhentian dan tindakan/hukuman jabatan para hakim. yang dinyatakan secara tegas dalam UUD 1945 itu sendiri. Keadaan ini membuat masyarakat pencari keadilan menjadi patah arang dan bosan menggantungkan harapannya kepada pemerintah dan lembaga peradilan. kepindahan. apakah ada kepastian hukum dari UUD seperti itu? Apalagi bila pertanyaan itu dikaitkan dengan pernyataan bahwa Negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum bukan berdasarkan atas kekuasaan belaka. akan tetapi hal ini juga membuat UUD 1945 dapat diinterpretasikan dan diimplementasikan ke dalam berbagai struktur politikpemerintahan yang berbeda-beda: “Demokrasi Parlementer. “Demokrasi Terpimpin” serta “Demokrasi Pancasila”. Reformasi total. Perlahan namun pasti keinginan untuk melakukan perubahan semakin memuncak. pada tahun 1968 muncul ide pembentukan Majelis Pertimbangan Penelitian Hakim (MPPH) yang berfungsi untuk memberikan pertimbangan dalam mengambil keputusan akhir mengenai saran-saran dan atau usul-usul yang berkenaan dengan pengangkatan. Akhirnya karena desakan yang begitu kuat Orde Baru yang menjalankan roda pemerintahan saat itu pun tumbang. tetapi juga telah terjadi di lingkungan Mahkamah Agung sebagai penyelenggara kekuasaan kehakiman yang tertinggi. Dengan sifat UUD 1945 yang “supel. seolah-olah UUD 1945 adalah sebuah karya agung tanpa kelemahan. Jika diperhatikan salah satu kesalahan pemerintahan Orde Baru saat itu adalah dengan ditabukan dan disakralkannya UUD 1945 untuk dirubah. Oleh karena itu.

pada saat pengesahan UUD 1945 oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945. Kurang sempurnanya UUD 1945 ini sebenarnya juga dikuatkan dalam rumusan Aturan tambahan UUD 1945 itu sendiri yang berbunyi: “Enam bulan sesudah berakhirnya perang Asia Timur Raya. “…Tuan-tuan semuanya tentu mengerti. Kalau boleh saya memakai perkataan: ini adalah UUD kilat! Nanti kalau kita telah bernegara dalam suasana yang lebih tenteram. Beliau mengemukakan beberapa alasan.”6 Terlihat jelas dalam rumusan itu bahwa sejak awal memang para penyusun UUD 1945 sudah menyadari bahwa UUD yang mereka buat secara kilat itu (hanya dalam tempo dua hari) belumlah sempurna dan harus diperbaiki. tidak memberikan tempat bagi keberadaan infrastruktur demokrasi (seperti partai politik.1945 (hanya terdiri dari 37 pasal. di dalam rumusannya. memberikan porsi kekuasaan yang begitu besar kepada presiden.. MPR harus dibentuk. dan enam bulan sesudah dibentuk.H. Tata Negara”. “Arus Pemikiran Konstitusionalisme. UUD Kilat. UUD memang hanya dimaksudkan untuk mengatur hal yang pokok-pokok saja dan hanya berlaku sementara. Adnan Buyung Nasution. Kata Hasta Pustaka. bahwa UUD ini adalah UUD Sementara. UUD 1945 306 Bunga Rampai . sekalipun di dalam penjelasan 6 7 Dr.7 Kelemahan yang terdapat pada UUD 1945 ini dikatakan oleh Adnan Buyung Nasution sebagai loop hole. kita tentu akan mengumpulkan kembali MPR yang dapat membuat UUD yang lebih lengkap dan sempurna… Tuan-tuan tentu mengerti. 4 Aturan Peralihan dan 2 Aturan Tambahan) dan menurut penjelasan resminya. bahwa UUD yang kita buat sekarang ini adalah UUD sementara. bahwa barangkali boleh dikatakan pula. kelompok kepentingan dan penekan) Kedua. Akibatnya. Buku I. Soekarno sebagai Ketua PPKI memberikan kata sambutannya. Iur. Jakarta. S. yaitu: Pertama. Nanti kita membuat UUD yang lebih sempurna dan lengkap…. inilah revolutie grondwet. MPR harus bersidang untuk menetapkan UUD baru”. Keadaan ini tergambarkan pula ketika Ir.

Inilah karakteristik penting lainnya dari UUD 1945. maka para pemimpin negeri ini berusaha melakukan perbaikan dengan melakukan perubahan terhadap beberapa UndangUndang yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman seperti: UU No. Tata Negara”. Dalam kondisi kekuasaan Lembaga Kepresidenan yang begitu besar. Ini terlihat dari rumusan yang berbunyi: “… ditetapkan dengan UU” di akhir sejumlah pasal UUD 1945.H. begitu banyak loop holes yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal UUD 1945. yakni memusatkan kekuasaan di tangan presiden (concentration of power upon the president) sebagai kepala pemerintahan sekaligus kepala negara.UUD 1945 dikatakan bahwa pemerintahan tidak bersifat absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas) dan negara Indonesia tidak berdasar kekuasaan belaka. Kata Hasta Pustaka. rumusan seperti ini memungkinkan dominasi eksekutif dalam pembentukan dan pelaksanaan UU. Ketiga. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 307 . arah menuju perbaikan struktur ketatanegaraan Indonesia sudah mulai tampak dengan diperbaikinya UUD 1945 melalui empat tahapan amandemen. Seiring dengan itu untuk memberantas “mafia peradilan” dan menjamin terpenuhinya hak rakyat dan agar beberapa kesalahan para pemimpin terdahulu tidak terulang. Buku I. niscaya sangat sulit tercipta balance of power apalagi checks and balances diantara cabang-cabang pemerintahan. Jakarta. Adnan Buyung Nasution.8 Namun pada kenyataannya UUD 1945 dalam keadaan seperti inilah yang dipertahankan oleh pemerintahan Orde Baru untuk melanggengkan kekuasaannya. namun dengan begitu besarnya kekuasaan Lembaga Kepresidenan. 2 tahun 1986 tentang Peradilan Umum serta UU No. 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman diterapkanlah sistem satu atap (one roof system) pada dunia 8 Dr. Iur. Sebenarnya setelah terjadinya “revolusi” oleh mahasiswa pada tahun 1998 yang mengakibatkan tumbangnya pemerintahan Orde Baru.. S. Melalui UU No. UU No.14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung.5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. “Arus Pemikiran Konstitusionalisme.

yakni pedoman atau patokan sikap 308 Bunga Rampai .. Oleh karena itu. agar cita-cita untuk mewujudkan pengadilan yang jujur. pada Sidang Tahunan MPR tahun 2001 yang membahas amandeman ketiga Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. namun ada baiknya disimak pendapat Prof Dr. Keadilan serta Hakim Banyak sarjana yang mencoba untuk mendefinisikan apa itu hukum dan mungkin definisi hukum itu sebanyak para pemikirnya. yakni pengetahuan yang tersusun secara sistematis atas dasar kekuatan pemikiran. tentang hukum. 3) Hukum sebagai kaedah. Namun penerapan sistem satu atap sebagai salah satu upaya menciptakan independensi pengadilan dan imparsial hakim agar terhindar dari campur tangan penguasa tidak mengurangi ruang gerak “mafia peradilan” serta tidak juga dapat meningkatkan integritas moral serta profesionalitas hakim. Kewenangan manajemen administrasi. Malah memperparah. disepakati beberapa perubahan dan penambahan pasal yang berkenaan dengan kekuasaan kehakiman. Beliau berpendapat: 1) Hukum sebagai ilmu pengetahuan. personalia dan keuangan yang tadinya dipegang oleh eksekutif melalui Menteri Hukum dan HAM diserahkan sepenuhnya kepada Mahkamah Agung melalui Undang-Undang Pokok Kekuasaan Kehakiman. M. termasuk di dalamnya dibentuk Komisi Yudisial yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. serta perilaku hakim. Sehingga pada tahun 1998-an muncul kembali dan menjadi wacana yang semakin kuat dan solid. S. Soerjono Soekanto.. untuk membentuk lembaga mandiri sebagai pengawas eksternal terhadap lembaga pengadilan. keluhuran martabat.H. dan profesional dapat tercapai. karena dunia pengadilan kita menjadi tidak dapat tersentuh oleh lembaga lain. transparan. jika dikaitkan dengan pendapat masyarakat. yakni suatu sistem ajaran tentang kenyataan atau gejala-gejala yang dihadapi.A. Berdasarkan pada amandemen ketiga itulah dibentuk Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial yang disahkah di Jakarta pada tanggal 13 Agustus 2004. bersih. 2) Hukum sebagai disiplin.peradilan. Hukum.

”Sendi-Sendi Ilmu Hukum dan Tata Hukum”. karena bila kedua kata itu dicampur-adukan maka ia akan menjadi suatu kecenderungan ideologi serta politik. mereka akan merasakan tempat tinggal 9 10 11 Prof. hlm 2. Balai Pustaka. Hukum adalah seperangkat peraturan yang harus kita pahami dalam satu kesatuan yang sistemik. Edisi revisi. Dapat kita ambil contoh masyarakat pedalaman Papua. dan Prof.tindak atau perikelakuan yang pantas atau diharapkan. Dr. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 309 . M. Soerjono Soekanto. Cetakan kedua.11 Kedua kata itu. Hubungan yang mempersatukan berbagai peraturan khusus dari suatu tata hukum perlu dimaknai agar hakikat hukum dapat dipahami. sehingga hukum itu akan tampak adil namun hanyalah bagi golongan tertentu saja. agama. “Kamus Besar Bahasa Indonesia”.H.9 dll. Hans Kelsen. hlm 8. alih bahasa-Drs. disana mereka akan menjadi amat bahagia bila dijebloskan ke penjara. Hanya atas dasar pemahaman yang jelas tentang hubungan-hubungan yang membentuk tata hukum tersebut bahwa hakikat hukum dapat dipahami dengan sempurna. 2002. Namun demikian kedua kata itu juga tidak dapat dipisahkan karena hukum tidak dapat dipisahkan dari konsep keadilan itu sendiri. hal ini terjadi karena dengan dijebloskan ke penjara.. hlm. hukum adalah suatu tata perbuatan manusia. S. budaya.A. cetakan VI. Somardi “General Theory of Law and State”. Memang tidaklah mungkin menjadikan suatu tata aturan tertentu menjadi adil dan membahagiakan bagi semua pihak. 3. Purnadi Purbacaraka. hukum dan keadilan tidak dapat dicampur-adukan jadi satu dengan yang lainnya.H. 1993. latar belakang pendidikan dsb. Namun hukum bukan satu peraturan semata. apalagi di Indonesia yang terdiri dari begitu banyak suku bangsa. Sedangkan Hans Kelsen berpendapat. tidak berat sebelah atau tidak memihak. 2007.. Tidak mungkin untuk memahami hakikat hukum hanya dengan memperhatikan satu peraturan saja.. Bee Media Indonesia. PT Citra Aditya Bakti. “Tata Perbuatan” mengandung arti suatu sistem aturan. S. seperti kadang-kadang dikatakan demikian.10 Sementara itu kata keadilan berasal dari kata adil yang dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti: sama berat. keduanya haruslah dilihat dari sudut ilmiah.

setiap manusia atau pencari keadilan akan mempunyai nilai sendiri tentang keadilan dan kebahagiaan. serta penciptaan hukum (rechtsschepping) bila tidak terdapat peraturan perundangan-undang terhadap setiap perkara yang sedang ditanganinya. S. tidak sama dengan seorang yang merampok dan membunuh hanya untuk kesenangan belaka. Nilai keadilan itu amat bergantung pada latar belakang diri masing-masing pencari keadilan. tentang jabatan hakim. Oleh karena itu berkenaan dengan tugas hakim untuk menerapkan hukum secara benar serta memberikan keadilan yang sebesar-besarnya kepada sebanyak-banyaknya individu. Dalam kaitan itu ada baiknya pula dicermati pendapat Prof. Selain itu seorang hakim juga harus memiliki integritas moral yang baik.H. maka seorang hakim dituntut untuk memiliki pengetahuan luas. Jadi jelaslah bahwa jabatan hakim tidak dapat dipisahkan dari konsep hukum dan keadilan. yang beranggapan bahwa penjeblosan ke dalam penjara adalah bentuk perampasan hak asasi manusia yang dibenarkan oleh Undang-Undang. Menjadi bertolak belakang bila penjeblosan ke penjara ini diterapkan pada masyarakat kota besar. karena pada jabatan hakim melekat status sebagai seorang penegak hukum dan pemberi keadilan di dunia. Dr. Oleh karenanya hakim dikatakan sebagai “perpanjangan tangan Tuhan di dunia”. Jimly Asshiddiqie.yang lebih layak dari pada tempat tinggalnya. Bagi penduduk pedalaman Papua akan lebih menyakitkan bila mereka diharuskan mengganti kerugian akibat perbuatannya dengan seekor babi. 310 Bunga Rampai . dan mereka pun tidak perlu bersusah payah untuk mencari makan. Jadi. tidak akan mungkin semua pembunuh dihukum dengan hukuman yang sama. Demikian pula dengan delik pembunuhan. Seorang yang merampok dan membunuh karena harus membayar biaya rumah sakit anaknya. sehingga ia dapat melakukan penemuan hukum (rechtsvinding). karena pembunuhan sebagai suatu tindakan penghilangan nyawa orang lain itu amat dipengaruhi sebuah peristiwa yang melatar-belakanginya. Seekor babi pada pedalaman Papua amatlah tinggi nilai ekonomisnya. sehingga ia dapat memberikan keadilan yang sebesar-besarnya kepada sebanyak-banyaknya pencari keadilan berdasarkan hati nuraninya.

hlm. yaitu pertama: Mengusulkan pengangkatan hakim agung. Sehingga seharusnya hakim tidak direkrut dengan proses seperti penerimaan pegawai negeri. Cetakan Pertama. yaitu: 1) Kurangnya pengetahuan hakim yang bersangkutan. serta perilaku hakim. sebagaimana tercantum dalam Undang Undang Nomor 22 tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial. Jimly Asshiddiqie. Bekasi. Hal ini jelas mengindikasikan bahwa wewenang Komisi Yudisial ada dua. Yang dapat diangkat menjadi hakim adalah orang yang memiliki kehormatan. S. keluhuran martabat. The 13 Biography Institute. keluhuran martabat. dan yang kedua: Menjaga dan menegakkan kehormatan. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 311 . dan perilaku hakim. “Konstitusi dan Ketatanegaraan Indonesia Kontemporer”. 2007. Yang menjadi hakim bukanlah orang yang mencaricari kerja. bukan orang mencari kerja.12 Dari pendapat Prof.. Karena itu hakim selayaknya bukan pegawai negeri. Jimly tersebut dapatlah ditarik kesimpulan bahwa bila terdapat hakim yang melakukan penyimpangan terhadap hukum dan rasa keadilan maka terdapat dua kemungkinan yang mendasarinya. pengetahuan. Dr. tetapi sebagai institusi. dan 2) Belum memuaskannya tingkat kesejahteraan hakim yang bersangkutan. maka orang yang diangkat menjadi hakim adalah paling terhormat. Wewenang dan Tugas Komisi Yudisial Dalam UUD 1945 dengan jelas dinyatakan bahwa Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Agar Komisi Yudisial dapat menjalankan tugasnya maka disusunlah dengan rinci wewenang dan tugas Komisi Yudisial. 85.hakim melaksanakan tugas bukan lagi sebagai individu.H. Pegawai negeri adalah pelayan sedangkan hakim itu bukan pelayan tetapi jabatan kehormatan. yang disahkan di Ja- 12 Pemikiran Prof. Dan oleh karena itu gajinya lebih tinggi dari eksekutif dan legislatif. dan pengalaman seperti orang yang sudah menjadi dosen atau advokat terkenal yang bekerja sungguh-sungguh dengan segala kehormatan jabatan ini.

Seleksi administratif menyangkut kelengkapan persyaratan administrasi.karta pada tanggal 13 Agustus 2004 oleh Presiden Republik Indonesia serta dicatatkan pada lembaran negara Republik Indonesia tahun 2004 nomor 89 dan tambahan lembaran negara Republik Indonesia nomor 4415. karya ilmiah dan legal case problem solving yang topiknya ditentukan oleh Komisi Yudisial. Komisi Yudisial mempunyai tugas: Melakukan pendaftaran calon hakim agung. permintaan laporan secara 13 “Undang-Undang No.13 Dalam kaitan dengan mengusulkan pengangkatan hakim agung.22 Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial. daftar harta kekayaan serta sumber penghasilan. Menetapkan calon hakim agung. Mengajukan calon hakim agung kepada DPR. keluhuran martabat. Menjaga dan menegakkan kehormatan. surat keterangan sehat jasmani dan rohani dari dokter rumah sakit pemerintah. diwujudkan dalam bentuk: penerimaan laporan pengaduan masyarakat tentang perilaku hakim.” 312 Bunga Rampai . keluhuran martabat serta perilaku hakim. Komisi Yudisial mempunyai tugas: Melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim. serta perilaku hakim. ijazah asli atau yang telah dilegalisir. Sedangkan seleksi kualitas dan kepribadian menyangkut penilaian karya 2 tahun terakhir. dan Nomor Pokok Wajib Pajak. Seleksi yang dimaksudkan disini adalah seleksi administratif. termasuk riwayat pekerjaan. seleksi kualitas dan kepribadian. Mengajukan usul penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada pimpinan Mahkamah Agung. Berdasarkan pasal 20 dan pasal 23 UU No. sekurang-kurangnya: daftar riwayat hidup. Melakukan seleksi terhadap calon hakim agung. Pelaksanaan pengawasan terhadap perilaku hakim. serta pemeriksaan kesehatan untuk melihat keadaan kesehatan yang dapat menghambat atau meniadakan kemampuan (disability) dalam menjalankan tugas sebagai Hakim Agung. Dalam kaitan dengan menjaga dan menegakkan kehormatan. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial maka kewenangan Komisi Yudisial meliputi: Mengusulkan pengangkatan Hakim Agung kepada DPR RI.

sehingga rasa keadilan yang didambakan masyarakat dapat lebih terpenuhi. Database Hakim sebagai Elemen Pendukung Penting Dalam rangka melaksanakan tugas serta wewenang yang diamanatkan oleh UUD 1945 yang penjabarannya di dalam UU Nomor 22 tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. dan Pemberhentian.berkala kepada badan peradilan berkaitan dengan perilaku hakim. Tidak hanya untuk kepentingan melakukan pembinaan dalam rangka peningkatan pengetahuan. Disamping upaya pengawasan yang dikemukakan di atas yang lebih merupakan upaya represif. dapat berupa: Teguran tertulis. profesionalitas dan integritas hakim serta pengajuan usul pemberian penghargaan atau promosi terhadap hakim berprestasi saja. dan tindasannya kepada Presiden dan DPR. Disinilah pentingnya dukungan data base hakim yang akurat. sehingga dapat diketahui secara pasti tingkat pengetahuan (skill) dan profesionalitas serta integritas dari setiap hakim. pembuatan laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi disampaikan kepada Mahkamah Agung. Pemberian penghargaan maupun sanksi dimaksudkan untuk memotivasi hakim agar mempunyai kinerja lebih baik serta mampu menjaga kehormatan. agar Komisi Yudisial dapat melakukan pemetaan terhadap hakim. pemanggilan dan permintaan keterangan dari hakim yang diduga melanggar kode etik perilaku hakim. Disamping itu. tetapi juga untuk mePenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 313 . pemeriksaan terhadap dugaan pelanggaran perilaku hakim. keluhuran martabat dan perilakunya. Sedangkan Usul Penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada Mahkamah Agung disesuaikan dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan. Dengan demikian Komisi Yudisial dapat memberikan dukungan untuk melakukan pembinaan dalam rangka peningkatan pengetahuan. Pemberhentian sementara. profesionalitas dan integritas hakim serta pengajuan usul pemberian penghargaan terhadap hakim berprestasi. lembaga Negara ini perlu didukung oleh database hakim yang dapat menyajikan informasi secara cepat dan akurat. juga sangat bermanfaat dalam melakukan seleksi calon hakim agung. Komisi Yudisial juga diharapkan dapat melakukan upaya preventif agar tidak terjadi penyimpangan perilaku hakim dengan mengusulkan pemberian penghargaan bagi hakim berprestasi kepada Mahkamah Agung.

menjadi program komisi ini untuk mempromosikan hakim tersebut. Informasi tentang aktivitas hakim dan keluarga. Hakim-hakim yang memiliki track record baik. Selain itu informasi tentang keluarga ini sangat penting untuk melihat kondisi sesungguhnya dari kehidupan keluarga hakim yang bersangkutan. skill dan profesionalitas. seperti biodata. penentuan data item yang membentuk database rekam jejak hakim harus dibuat memenuhi kebutuhan di atas. yaitu: Data primer mengenai pribadi hakim. Dari database inilah akan mudah kita telusuri hakimhakim mana yang layak berdasarkan kemampuan pengetahuan (skill). Data Kekayaan. profesionalitas dan integritas. bahwa untuk melihat perilaku seseorang maka dapat dilihat bagaimana ia berperilaku di dalam keluarga dan masyarakat. dari rekam jejak (track record) yang ada pada dirinya. Data Keluarga Adalah data dan informasi yang ada kaitannya dengan keluarga hakim. Data dan informasi tersebut meliputi suami atau isteri. untuk menggambarkan keadaan hakim secara utuh sangat diperlukan. pekerjaan isteri atau suami. Data dan informasi mengenai integritas. riwayat pendidikan dan pekerjaan kedinasannya. Sesuai dengan pepatah. anak. Dalam hal ini keluarga memegang peranan penting untuk membentuk karakter jiwa maupun perilaku termasuk pribadi hakim. minimal dapat dibagi dalam 5 kategori. baik mengenai jati dirinya maupun yang terkait dengan data kedinasan hakim. pekerjaan anak. Data primer mengenai pribadi hakim Adalah data dan informasi yang ada hubungan langsung dengan diri hakim tersebut. Data Keluarga. Oleh karena itu. Data base hakim yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan wewenang dan tugas Komisi Yudisial. dan data serta informasi lainnya yang terkait isteri atau suami dan anak.lihat rekam jejak hakim dalam rangka seleksi calon hakim agung. Data Kekayaan Adalah data kekayaan hakim ditujukan untuk mengetahui besaran kekayaan yang dimiliki oleh hakim yang 314 Bunga Rampai .

maka perlu diketahui darimana dan dengan cara bagaimana kekayaan tersebut diperoleh? Selain itu. untuk mengetahui bagaimana kekayaan dan sumber-sumber kekayaan yang dimiliki oleh hakim. Kebiasaan keluarga ini ada kemungkinan mempunyai kaitan dengan pembentukan sifat dan karakter hakim tersebut. Hal ini secara tidak langsung dapat mencerminkan integritas yang dimiliki oleh Hakim. istri. jika ada jaringan bisnis dan keterlibatan hakim dalam jaringan bisnis tersebut Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 315 . anak) kesenangan terhadap mahluk hidup atau benda-benda tertentu gaya hidup hakim atau keluarga kedekatan (afiliasi) dan bentuk keterlibatannya pada sebuah organisasi politik tertentu. acap kali orang tersebut lupa akan kewajiban sebagai warga negara dalam mengelola kekayaan yang dimilikinya. Bila hakim memiliki kekayaan yang besar. Dengan memiliki informasi aktifitas ini setidaknya dapat diperoleh gambaran mengenai perilaku yang bersangkutan dan keluarganya (orang tua. Data atau informasi yang perlu direkam dalam hal ini adalah terkait dengan harta hakim.bersangkutan. apakah Hakim juga memiliki kesadaran/ ketaatan untuk membayar pajak dari kekayaan yang dimilikinya? Informasi tentang aktivitas hakim dan keluarga Adalah informasi mengenai aktivitas di luar kedinasan yang biasa dilakukan oleh hakim dan keluarganya baik yang positif maupun yang negatif. Adagium bahwa “kekayaan seseorang dapat mempengaruhi gaya hidup (life style) dari orang tersebut” agaknya sangat melekat dalam budaya hidup di Indonesia. Unjuk kekayaan menjadi sebuah gaya hidup tersendiri untuk memperlihatkan gengsi seseorang. Namun demikian. meskipun terkadang kekayaan tersebut didapat dengan cara yang tidak halal. istri mapun anak). Ketidaktaatan dalam membayar pajak merupakan cermin kelalaian dari warganegara untuk menyumbangkan kekayaannya bagi pembangunan bangsa. Data atau informasi yang perlu direkam dalam database antara lain meliputi: • • • • • kebiasaan yang sering dilakukan oleh hakim maupun keluarga (orang tua.

Profesionalitas hakim tidak hanya diukur pada saat hakim mengemban pekerjaannya di dalam kedinasan. Informasi lain yang berkaitan dengan hakim. Meski demikian keduanya bukan sesuatu yang tidak dapat dinilai. baik yang bersumber dari media maupun dari lingkungan kerja mengenai sepak terjang si hakim. antara lain meliputi: informasi mengenai pernah tidaknya hakim terlibat sebuah kasus (hukum maupun kesusilaan). khususnya perkara hukum. Kualitas tanpa integritas bisa membuahkan kerusakan. Bila kualitas berkenaan dengan masalah kemampuan. Untuk mengukur tingkat kualitas dan integritas seseorang bukan hal yang mudah. Sedangkan integritas berkaitan dengan erat dengan karakter kejiwaan (perilaku) yang diterjemahkan dalam perilaku hidup sehari-hari. sedangkan integritas tanpa kualitas tidak akan terlalu banyak memberi perubahan dalam memperbaiki kondisi lingkungan (peradilan). pengalaman hakim terhadap penanganan 316 Bunga Rampai . Kualitas berhubungan dengan kemampuan (capability) teknis yudisial maupun manajerial hakim tersebut dalam menangani persoalan. khususnya dalam penanganan perkara hukum. Keduanya menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi dan menjadi prasyarat utama yang harus dimiliki oleh hakim. skill dan profesionalitas Kualitas dan integritas (moral) adalah materi paling penting untuk menilai bagaimana pribadi seorang hakim. Prinsipnya. maka salah satunya bisa dilihat dari pengalaman dari hakim pada saat menangani perkara. melainkan juga dilihat bagaimana hakim pada saat di luar kedinasan. informasi penting lain yang perlu di dapat dari seorang hakim adalah mengenai profesionalitasnya selama menjalankan pekerjaan di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan. Sedangkan untuk menilai bagaimana integritas hakim. kurang lebih alat (instrument) untuk menilainya adalah apakah hakim pernah terlibat kasus (skandal) yang melanggar norma baik norma hukum maupun kesusilaan? Selain persoalan kualitas dan integritas. hakim yang profesional senantiasa taat azas baik di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan.Data dan informasi mengenai integritas. Data atau informasi yang perlu direkam dalam data base rekam jejak hakim terkait dengan hal di atas.

kepatuhan hakim dalam melaksanakan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. dalam hal tingkat pengetahuan (skill) dan profesionalitas serta integritas moral dari setiap hakim. kebiasaan hakim dalam memanfaatkan barang-barang inventarisasi kantor (misalnya apakah kendaraan dinas/jabatan sering digunakan untuk keperluan di luar kantor: arisan. Pertama. Komisi Yudisial dapat dengan secara akurat menentukan bentuk dukungan yang perlu diberikan kepada hakim untuk melakukan pembinaan dalam rangka peningkatan pengetahuan. karena dengan tersedianya database hakim. pengajuan usul pemberian penghargaan terhadap hakim berprestasi dan lain sebagainya. profesionalisme dan integritas hakim. Penutup Akhir kata ada beberapa catatan penting yang harus diperhatikan berkenaan dengan pembangunan database (rekam jejak) hakim. dsb). Selain itu. melakukan seleksi calon hakim agung dan pengawasan terhadap hakim guna menjaga dan menegakkan kehormatan. hakim lebih sering mengulur-ulur jadwal sidang?). disiplin dalam sidang (apakah hakim tersebut tepat waktu dalam melaksanakan sidang atau sebaliknya. khususnya di dalam pembuatan putusan. kehadiran hakim di kantor. keluhuran martabat serta perilaku hakim. profesionalitas dan integritas hakim. Komisi Yudisial dapat melakukan pemetaan terhadap hakim. buku bacaan. hasil karya ilmiah yang pernah dihasilkan. Dengan terbangunnya database hakim ini. Urgensi pembangunan Database (rekam jejak) hakim Kebutuhan akan database ini sangat penting sifatnya. jalan-jalan.kasus. agar data atau informasi yang disimpan dalam database tersebut. database ini juga dapat menjadi sumber informasi rekam jejak hakim yang sangat bermanfaat di dalam mendukung pelaksanaan kewenangan dan tugas-tugas Komisi Yudisial yaitu. belanja. Bentuk dukungan yang bisa diberikan dapat berupa pelatihan. memang merupakan data atau Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 317 . penentuan data item perlu dilakukan dengan sangat cermat. guna meningkatkan kualitas atau pengetahuan. prestasi kerja atau penghargaan yang pernah diperoleh.

sesuai dengan tingkat kewenangannya.informasi yang penting dan diperlukan di dalam mendukung pelaksanaan kewenangan dan tugas Komisi Yudisial. 318 Bunga Rampai . tetapi juga pengaman secara fisik perlu diperhatikan. Dengan demikian data atau informasi yang tersimpan dapat dijamin akurasi dan integritasnya. keamanan data dan informasi yang tersimpan dalam database merupakan hal yang sangat penting diperhatikan. agar data atau informasi hanya dapat diakses oleh orang yang berhak. Pengamanan yang diterapkan tidak hanya di level aplikasi atau perangkat lunak dan jaringannya. Ketiga. Kedua. agar informasi yang disajikan terpercaya. data dan/atau informasi yang simpan di dalam database harus betul-betul diperhatikan tingkat akurasinya.

5. S. Danardono. S. 3. S. Achmad Dardiri. 8. S. Saiful Rachman. Drs. 2. S. Anna Suhanah 7. M. M. Niniek Ariyani. Hendro Sukmono. 4. S. S.H.H.H. S. S. Redaktur Pelaksana : M.M. Amir Syarifudin. S. M. Ir. M. Sos 9. Si. 7. 6. Romlah Pelupessy.S. S. Muzayyin Mahbub. H. S.H. Hasyim. Frida Aprilia. Ak. Andi Djalal Latief. Kom.. 6. Asep Rachmat Fajar. Arnis Duwita Purnama. H.H.H. S.Redaksi Penanggung Jawab : Drs. Drs. Eddy Hary Susanto.H. Kom 5. 4. Arif Budiman. Wakil Redaksi Pelaksana : Tatang Suryaman Sekretariat : 1.. S.E. Redaktur : Hermansyah.H. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 319 . S..E.. IP. Abdy Koro. M. Si.E.H. M. Sulasman.H. Ak 9. M. Berthine Sumarah Sudiono. 3.H. 2. H. S. Arnoldus Johannis Day. 8. S. Editor/Penyunting : 1.

320 Bunga Rampai .