P. 1
bunga rampai 2

bunga rampai 2

|Views: 444|Likes:
Published by Fachrizal Subrata

More info:

Published by: Fachrizal Subrata on Oct 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/27/2013

pdf

text

original

Sections

  • M. Hata Ali, S.H., M.H
  • Prof. DR. Komariah Emong Sapardjaja, S.H.*
  • Prof. Dr. M. Din Syamsuddin*
  • Dr. H.M. Hidayat Nur Wahid, MA
  • Redaksi

Komisi Yudisal dan Reformasi Peradilan

i

ii

Kata Pengantar Ketua Komisi Yudisial Republik Indonesia
Pendekatan transdisipliner dalam pelaksanaan pembangunan di Indonesia dipandang penting dan relevan oleh ekonom berkarakter kerakyatan dan egaliter, Prof. Dr. Mubyarto. Dalam pandangannya, koperasi merupakan pilar dan sistem ekonomi yang kompatibel untuk pendemokratisasian ekonomi bangsa yang berpihak pada rakyat sebagai pemegang tunggal kedaulatan rakyat. Jauh sebelumnya, Bung Hatta salah satu penyusun UUD Tahun 1945 adalah Negarawan yang telah berjuang keras memasukkan ekonomi kerakyatan sebagai prinsip dasar penyelenggaraan perekonomian Indonesia. Dalam tulisannya yang berjudul Demokrasi Kita, ia menegaskan pentingnya peranan ekonomi kerakyatan atau demokrasi ekonomi dalam mewujudkan keadilan sosial di Indonesia. Dikatakan selanjutnya, bahwa demokrasi politik saja tidak dapat mewujudkan persamaan dan persaudaraan, maka harus ada demokrasi ekonomi. Jika tidak, manusia belum merdeka dan persamaan serta persaudaraan belum ada. Maka, cita-cita demokrasi Indonesia adalah demokrasi sosial, yang melingkupi seluruh tatanan hidup yang akan menentukan nasib manusia. Dua di antara ekonom langka yang kini amat sulit ditemukan kader penerusnya dengan kepribadian ilmu dan kejelasan serta ketegasan secara lugas dalam sikap pembelaannya terhadap rakyat, memiliki spirit keadilan sosial yang dikaitkan dengan demokrasi sosial. Suatu pandangan kalangan ekonom yang berfikir transdisipliner. Secara elaboratif, kedua almarhum yang kini telah tenang (muthmainnah) di alam kubur karena kesalehan akademiknya menegaskan suatu ”ideologi ekonomi kerakyatan”. Dan keyakinan ideologis inilah yang melekat hingga akhir jabatan dan hayatnya.

iii

Di negeri dengan ribuan kampus yang tersebar di berbagai daerah ini, rasanya, lebih sulit ditemukan akademisi yang beruntung dengan memiliki watak dan kepribadian yang jelas, yang clean dan clear. Entah karena begitu kuatnya main stream pragmatisme dan hedonisme yang sudah mengideologis, atau bahkan sudah setingkat menjadi falsafahnya, teramat langka terdengar suara nyaring, lugas dan kritis dari lembaga kampus ”pencetak” SDM Pemimpin yang iImuan, dalam mengkritisi situasi bangsa yang mengitarinya. Apakah untuk ”mengkloning” frame of thinking konstruksi dan kepribadian ilmiah kedua ekonom kerakyatan di atas, kita harus set back ke masa lalu yang jelas bertentangan dengan watak sejarah itu? Jelas mustahil. Karena, salah satu dimensi sejarah ialah suatu kesadaran untuk melakukan gerakan-gerakan serius dengan misi ”transformation to the future”. Yang pantas diteladani adalah, bahwa keadilan sosial dipandang dan diletakkan sebagai cara pandang untuk menata perekonomian bangsa, untuk mewujudkan persamaan dan persaudaraan antar anak bangsa dan bahkan menentukan nasib manusia Indonesia. Demokrasi ekonomi dipandang penting yang dikaitkan dengan demokrasi sosial. Suatu cara pandang yang begitu luhur, jelas keberpihakannya kepada rakyat dan merefleksikan spirit Pembukaan UUD Tahun 1945. Namun sejarah kehidupan ketatanegaraan dalam era orla dan orba telah tidak menghargai pemikiran di atas. Tentu hal inilah yang kemudian telah melahirkan suatu bencana ketidakadilan ekonomi yang berdampak luas dalam kehidupan sosial budaya lainnya, termasuk dalam bidang hukum dan law enforcement. Politik dan ekonomi sebagai panglima pembangunan pada era rezim-rezim yang lalu, tidak apresiatif dan artikulatif terhadap posisi dasar rakyat sebagai yang paling berhak atas seluruh kekayaan bangsa sebagai anugerah Allah. Mainstream pemikiran ekonomi yang jelas pro rakyat diabaikan dengan kebijakan ekonomi neoliberal yang telah melahirkan birokrasi korup yang ditandai dengan KKN. Di penghujung kejatuhan Soeharto, Indonesia telah dikenal oleh masyarakat internasional sebagai salah satu negara terkorup di level dunia. Anggaran negara Indonesia telah dibocorkan hingga mencapai angka rata-rata 30% pertahun, sebagaima-

iv

na diungkap oleh Prof Sumitro. Meminjam teori korupsi oleh Syed Hussein Alatas, dikenal ada tiga lapis korupsi. Lapis pertama, yang melibatkan warga dengan aparatur negara, berupa suap (bribery) yang prakarsanya datang dari warga, dan pemerasan (extorsion) yang diperankan olah aparatur negara. Lapis kedua, korupsi dalam lingkaran dalam (inner circle) di pusat pemerintahan dalam ketegori nepotisme, dimana ada hubungan darah antara pelayan publik dengan pemangku kepentingan yang menerima berbagai kemudahan; kronis-isme, yang tidak ada hubungan darah antara para pelaku korupsi dan yang diuntungkannya, dan kelas baru, dimana antara pengambil kebijakan dengan yang menerima kemudahan telah menjadi satu kesatuan organik. Meminjam George J Aditjondro, korupsi di Indonesia dibedakan antara korupsi yang didorong oleh faktor kemiskinan (corruption driven by poverty) dan yang di dorong oleh kerakusan (corruption driven by greed). Yang pertama disebut ”korupsi kerah biru” yakni pelakunya mereka yang berseragam dan yang kedua disebut ”korupsi kerah putih” yakni mereka yang berdasi. Apapun kategorisasinya, kita ”berbahagia”, bahwa secara alamiah di negeri ini, kita memperoleh pengayaan tentang puluhan modus dan pelaku korup. Terakhir kita membaca terdapatnya executive corruption, legislative corruption dan judicial corruption. Masing-masing telah memberikan ragaan dan contoh sempurna tentang kualitas dan sejumlah modus kejahatannya yang pasti telah, sedang dan akan terus menerus secara berkesinambungan (sustainable) menciptakan mesin korupsi yang berjalan secara mekanis dan organik. Keganasan dan kekejaman terus berjalan dengan pasti di atas kepatuhan ideologi korupsi para koruptor di negeri yang masih dihuni oleh sekitar 37 juta rakyat miskin, dan puluhan juta mereka yang terbatas mampu memenuhi hajat makan yang tak mampu berpikir masa depan pendidikan para pewarisnya. Dalam situasi mengenaskan dan menyayat ulu hati rakyat miskin inilah, kalangan ahli hukum dan penegak hukum, telah disapa dan diundang oleh kedua ekonom di atas, untuk berbicara dan melangkah atas nama dan untuk keadilan sosial, demokrasi ekonomi dan demokrasi sosial. Suatu ajakan luhur, yang menjadi ranah dan agenda mereka yang terpanggil nurani dan akal budinya untuk agenda ”re-

v

formasi peradilan”. Suatu agenda yang menuntut kesadaran sejarah untuk bersama-sama dalam ketulusan dan kejiwabesaran merintis proses penegakan hukum yang benar, adil, jujur, transparan dan profesional. Kendatipun berdasarkan survey dari Partnership for Governance Reform tahun 2002, terdapat persepsi masyarakat bahwa badan peradilan merupakan badan terkorup dibandingkan badan-badan lainnya, demikian halnya survey dari Transparansi Internasional Indonesia (TII) tahun 2006 yang mengungkapkan bahwa inisiasi dari badan peradilan untuk melakukan praktik suap lebih tinggi daripada lembaga publik lainnya dan laporan dari Global 2007 Transparency International (TI) yang bermarkas di Jerman telah menempatkan badan peradilan Indonesia dalam kategori badan paling korup di antara badan peradilan di beberapa negara (Yunani, Albania, Meksiko, Moldova, Maroko, Peru, Taiwan dan Venezuela), hingga muncul penilaian Syahrir, bahwa badan peradilan telah menjadi black market of justice, namun, di atas semua penilaian ini, kita sebagai bangsa besar, tentu memiliki jiwa besar, dada lebar dan nafas panjang serta emosi yang menep untuk melakukan self correction. Dalam kerangka untuk mendorong terwujudnya hakekat kemerdekaan bangsa dalam usia kemerdekaan ke-62, patut kita memulai lembaran putih baru. Yakni niat dan kesadaran baru untuk menjadikan proses-proses peradilan sebagai pilar moral menuju terdorongnya tatanan kehidupan hukum yang benar-benar berkeadilan, dan membawa dampak konstrukrif bagi terwujudnya persamaan dan persaudaraan antar anak bangsa, terutama yang berkaitan dengan pemenuhan dan perlindungan hukum atas hajat hidup dan hak-hak asasi rakyat. Siapapun, semuanya, sudah saatnya untuk kembali kepada otentisitas diri (fitrah), yang menyadari dan memerlukan pemenuhan hak-hak fitrah sesama. Hak itu antara lain, pada satu sisi memperoleh perlindungan hukum dan keadilan sehingga tidak lagi terdapat kesenjangan yang mencolok di antara sesama, dan pada sisi lain, kita bisa memperoleh hak yang berasal dari dipenuhinya kewajiban dari orang lain karena kita telah memberikan hak kepada mereka. Penegakan hukum adalah proses mewujudkan hak menjadi suatu hukum positif, atau mengurangi dan meniadakan sesuatu yang bukan hak menjadi hukum posi-

vi

Putusan yang teruji secara moral dan hukum disertai asupan yurisprudensi dan doktrin hukum yang selektif yang kemudian melahirkan situasi hukum yaitu menyelesaikan sengketa dan tegaknya hukum dan keadilan terhadap siapapun. untuk kedepan. Pepatah klasik harimau mati meninggalkan belang. Jaksa. gajah mati meninggalkan gading.tif. Polisi. dimana pengadilan melahirkan putusan-putusan sedemikian rupa sehingga terjadi perubahan-perubahan penting dalam masyarakat. akan haknya di Amerika Serikat. Namun. Ini lumrah secara sosiologis dalam masyarakat kita yang untuk sebagian telah terwarisi budaya suap menyuap dalam bentuk dan dalih apapun juga. Mendesain putusan yang memenuhi ajakan kedua ekonomi kerakyatan di atas. masih memerlukan pembenahan yang tidak sederhana. moral adalah esensi dan ruh dari hukum. agar dengan putusan hakim dapat diperoleh suatu tatanan baru dimana proses vii . Putusan semacam inilah yang memenuhi kriteria ranah-ranah ”demi keadilan berdasarkan ke-Tuhanan Yang Maha Esa”. Penormaan moral menjadi hukum positif bukan saja masih terkendala dari berbagai faktor penyebabnya. Yang oleh Prof. yaitu moral. untuk menuju pada putusan hakim yang mengkarakterkan sebagaian instrument of social engineering atau social reconstruction. Tentu. Di antara keduanya terdapat ukuran sebagai patokan. selalu saja ada pihak-pihak yang melakukan perlawanan. terdapat pepatah there is no law without morality. memang harus dimulai dari sekarang. untuk menuju kearah mimpi indah itu. Yaitu. Tak salah jika kita berobsesi. Suatu putusan hakim yang merupakan produk bersama secara etis-profesional dari pemberfungsian suara nurani yang bening dan akal budi yang sehat oleh empat profesi terpuji di atas dalam keseluruhan proses peradilan. bahwa Amerika Serikat adalah merupakan ”a society designed by the judiciary”. Senoadji disempurnakan menjadi there is no morality without religion. Satjip-to Rahardjo mengutip penelitian Dirk dan Bridwell. Disini. Di Indonesia. seperti ditulis oleh Prof. Maka. bisa dielaborasikan dalam pandangan yang sedikit filsafati. yang merupakan nilai (value) yang membedakan apa yang benar dan salah yang haq dan bathil. Hakim dan Lawyer mati meninggalkan contoh penegakan hukum yang berkeadaban.

Dalam kerangka demikian. Bersih dan Profesional. semua pihak yang pro pembebasan rakyat dari lilitan kemiskinan masif tentu berharap lahirnya revisi Undang-Undang Komisi Yudisial. langkah untuk mendemokratiskan secara berkeadaban proses-proses peradilan.pendemokratisasian hukum bisa berdampak konstruktif pada terciptanya keadilan sosial. tokoh agama dan masyarakat. Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi dalam satu nafas baru. Dimintakannya para penulis dari berbagai latar belakang akademisi. dikandung maksud untuk memperoleh pandangan-pandangan yang komprehensif dan komplementer untuk memperoleh pandangan mengenai gagasan dan langkah menuju bagaimana proses reformasi peradilan bisa segera dimulai dengan pemeranan elemen masyarakat madani. tapi juga memerlukan kondisi psikologis dimana para penegak hukum memiliki dan merasakan makna dari hakekat diri yang fitri. yang salah satu penyebabnya bisa datang dari produk legislasi dan kebijakan nasional maupun putusan hakim yang tercerabut dari kesadaran nurani dan akal sehat serta rasa keadilan masyarakat. bukan perkara mudah. yang memerlukan asupan spiritualitas dosis tinggi serta lingkungan keluarga dan budaya organisasi di instansi dimana ia berhikmat dengan profesi luhurnya itu. berbagai himpunan pemikiran yang menuju pada bagaimana agenda reformasi peradilan dapat dipersepsi dan diusung bersama. Dari sisi legislasi di DPR. pengefektifan pengawasan yang lebih proporsional viii . para pengamat dan aktivis NGO dalam Buku Bunga Rampai Komisi Yudisial edisi kedua ini. Ia memerlukan pendekatan kemampuan intelektualitas tinggi. Yaitu terwujudnya proses penguatan dan sekaligus pengawasan terhadap badan peradilan melalui mekanisme undang-undang yang akan diiringi dengan pemeranan seluruh elemen masyarakat madani sebagai bagian terpenting bagi terwujudnya peradilan yang Jujur. dalam dan komprehensif serta transdisipliner. hendaknya menjadi komitmen dan agenda sistemik dan simultan. Kita amat memerlukan kontribusi pemikiran dan aktualisasi komitmen moral bersama menuju kearah terdorongnya proses pencapaian lahirnya putusan hakim yang memiliki utilitas atau kemaslahatan bagi pemerdekaan anak bangsa ini dari himpitan kemiskinan masif. anggota DPR. adalah merupakan misi Komisi Yudisial. Maka.

Busyro Muqoddas ix . Kita berkepentingan akan lahirnya putusan-putusan hakim yang berkeadaban. 2 Agustus 2007 M. Semoga tulisan dalam Buku Bunga Rampai ini memberikan wacana yang lebih luas kearah pembenahan peradilan kita kedepan.baik oleh Komisi Yudisial sebagai wujud amanat reformasi bersama-sama dengan seluruh elemen masyarakat madani. Jakarta. yang mencerminkan suara dan hakekat keadilan bagi terwujudnya perlindungan hukum terhadap para pencari keadilan tetapi juga sekaligus dalam rangka perubahan tatanan kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih berkeadilan.

x .

. Marwan Mas.Penghargaan dan Ucapan Terima Kasih Program penyusunan buku Bunga Rampai Dua Tahun Komisi Yudisial Republik Indonesia ini adalah salah satu program yang diamanatkan oleh Rapat Kerja Komisi Yudisial Republik Indonesia pada bulan Februari 2007 di Bandung. para Tenaga Ahli dan xi . Sp. S. Soekarno.. MS.H. S. yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu. Andi Djalal Latief. Bismar Nasution. M.H. S.M. kami menghaturkan terima kasih yang tak terhingga kepada para penulis (kontributor) yang telah memberikan artikel untuk materi buku ini.... Ermaya Suradinata. M. S. MA.H.. Bapak Prof. serta membuat kata pengantar dalam buku ini.. Bapak Arbab Paproeka..H.. Bapak Prof. Ali Zaidan. Bapak Asep Rahmat Fajar. diucapkan terima kasih kepada: Bapak Prof.H.H. S. S. Bapak Dr. Din Syamsuddin. Hidayat Nur Wahid.H..H. Komariah Emong Sapardjaja. LL. Bapak Dr.H. Bapak Dr. S.H.. Hatta Ali.. Ketua Komisi Yudisial Republik Indonesia yang telah memberikan kontribusi pemikiran.H.H.H.. S.. atas dukungan dan kontribusi pemikiran dalam proses penyusunan buku ini. Secara khusus.Hum..H..X. S. M. Bapak A.. Mahfud MD. S..H. Pandupraja. S.N.. Dr. S. Moh. Dr. M. Dr. S. DR. Banyak pihak yang telah memberikan kontribusi yang sangat berharga dalam proses penyusunan buku ini.. John Pieris. Ucapan terima kasih kepada Bapak M. Penghargaan yang tinggi.H. juga disampaikan kepada Bapak Wakil Ketua. Untuk itu. M. Dr. Bapak Firmansyah Arifin. dan Bapak Ir. M. M. Bapak Prof. Bapak-bapak Anggota Komisi Yudisial Republik Indonesia. Bapak Prof.. S. M.. Bapak M.H. Ibu Prof. H. S. Bapak F...H. Bapak Trimedya Panjaitan. MS.U. Busyro Muqoddas. S. dukungan dan motivasi.. S. DR. Bapak M.H.H..H. Satjipto Rahardjo.

Semoga dengan hadirnya buku ini dapat memberi manfaat bagi kita semua. Buku Bunga Rampai ini dapat diselesaikan adalah tidak terlepas dari dukungan dan dedikasi yang sangat tinggi dari Sekretariat Tim Penyusun Buku Bunga Rampai. Jakarta.Bapak Sekretaris Jenderal Komisi Yudisial Republik Indonesia. 2 Agustus 2007 Hermansyah Redaktur xii . serta dukungan Sekretariat Jenderal Komisi Yudisial.

H. S.H. 1 21 43 65 5. LL. Kontribusi Lembaga Sosial Mendorong Reformasi Peradialn Prof.. S.H. Komisi Yudisial Dalam Mosaik Ketatanegaraan Kita Prof. S. Moh. Busyro Muqoddas. Sp. 8.H. Dr. Mahfud MD.H. 3. S.H. Peran Hakim Agung Dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding) dan Penciptaan Hukum (Rechtsschepping) Pada Era Reformasi dan Transformasi M. 95 107 135 xiii . Hatta Ali. Hakim Agung dan Penemuan Hukum (Rechtsvinding) Pada Era Reformasi dan Transformasi Hukum Prof.. M.U. 83 6. DR. Komariah Emong Sapardjaja. Komisi Yudisial Pengawal Reformasi Pengadilan Mendayung diantara Simpati dan Resistensi Firmansyah Arifin. Satjipto Rahardjo. Pandupraja..H.Hum. Ali Zaidan. S.H.H.H. Kontribusi Komisi Kepolisian Nasional Dalam Mempercepat Reformasi Peradilan A. 2.. S. S. Perubahan Bidang Politik dan Pengaruhnya Terhadap Reformasi Peradilan Arbab Paproeka. Kontribusi Lembaga Kejaksaan Dalam Mempercepat Reformasi Peradilan M. Penghargaan dan Ucapan Terima Kasih Daftar Isi iii xi xiii Bagian Kesatu Reformasi Peradilan 1. Dr.Daftar Isi Prakata Ketua Komisi Yudisial M. S.. 4. M.N.M. S. 7. S.H.. M.

H. Urgensi Pembuatan Data Base Hakim Sebagai Media Penunjang Pelaksanaan Wewenang dan Tugas Komisi Yudisial Ir. 155 165 Bagian Kedua Penguatan Kelembagaan 1.X. Peran Serta Elemen Masyarakat Sipil Dalam Mendorong Proses Reformasi Peradilan dan Penegakan Hukum Prof. John Pieris. Gerak dan Langkah Nyata Komisi Yudisial Dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Dr. Komisi Yudisial Yang dicita-citakan Oleh Masyarakat dan Pencari Keadilan Dr.H. MS. Dr. Pentingnya Peran Komisi Yudisial Berdasarkan Pendekatan Geopolitik dan Geostrategi Indonesia Prof.H.H. Marwan Mas.H. S. Redaksi 185 197 221 249 259 275 287 301 319 xiv . S. M. M. M. Memulihkan Kewenangan Komisi Yudisial Dengan Melibatkan Kemitraan (Jejaring) di Daerah Dr. Reformasi Pendidikan Hukum Untuk Menghasilkan SDM Penegak Hukum Yang Kompeten dan Profesional Prof..H. 7.S. Urgensi dan Fungsi Pembentukan Jejaring di Daerah Oleh Komisi Yudisial Asep Rahmat Fajar. Ermaya Suradinata. M.H. DPR dan Perubahan Atas Undang-Undang Komisi Yudisial F. M. S. Bismar Nasution. 6.H. Andi Djalal Latief. 8. 3. S. S. Din Syamsuddin 10. H. 2..H. S.H. Dr.. 5. Soekarno.. MA.9. M. Hidayat Nur Wahid. Sinkronisasi Sistem Perundang-undangan Lembaga Peradilan Dalam Menciptakan Peradilan Yang Lebih Baik Trimedya Panjaitan. S. 4. DR.

Bagian Kesatu Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan xv .

xvi .

salah seorang anggotanya. penulis diminta mengelaborasi lebih lanjut optik politik hukum tentang KY tersebut berkenaan dengan perkembangan-perkembangan baru menyusul putusan MK pada akhir Agustus 2006 yang memangkas hampir seluruh kewenangan KY yang semula diberikan oleh UU No. memprotes karena keputusan KY ditetapkan dalam rapat yang. Pujian dan cercaan terus bermunculan yang sampai saat ini (Juli 2007) menyebabkan KY berada pada posisi yang menggantung karena setelah wewenangnya untuk melaksanakan fungsi pengawasan dipangkas melalui putusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada Agustus 2006. praktis pekerjaannya hanya menyeleksi calon hakim agung. Meskipun sudah pernah menulis tentang KY dari aspek politik hukum untuk buku peringatan Satu Tahun Komisi Yudisial (2006). pengayaan mana dibangun oleh banyaknya kontroversi atas langkah-langkah KY yang begitu dibentuk langsung tancap gas tinggi untuk mengawasi perilaku dan moralitas hakim. sengaja dilakukan tanpa kehadirannya. Mahfud MD Pujian dan cercaan Kehadiran Komisi Yudisial (KY) di Indonesia telah memperkaya khazanah kita tentang pembangun hukum.Komisi Yudisial dalam Mosaik Ketatanegaraan Kita Moh. katanya. Kontroversi sambutan atas kehadiran KY dapat ditelusuri dari latar belakang kehadirannya di dalam sistem Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 1 . Itu pun masih menimbulkan kontroversi karena produknya tentang calon hakim agung tahun 2007 banyak yang menilainya tidak berkualitas apalagi Irawady Joenoes. 22 Tahun 2004 berdasar atribusi kewenangan legislasi yang sah.

Gagasan tentang kedua lembaga ini mendapat sambutan posistif baik dari kampus-kampus dan LSM maupun dari parpol dan Fraksi-fraksi di DPR dan MPR. 22 Tahun 2004. Saat kita melakukan reformasi pada tahun 1998 bermunculan wacana untuk memperbaiki penegakan hukum kita dengan asumsi bahwa terjerumusnya Indonesia ke dalam krisis multidimensi yang sulit disembuhkan disebabkan oleh bobroknya dunia peradilan. KY diberi tugas melakukan pengawasan terhadap hakim baik secara preventif maupun represif. Pada saat yang sama dirasakan juga bahwa banyak produk UU yang secara substantif bertentangan dengan UUD 1945 sehingga isinya banyak yang lahir dari korupsi politik tetapi tidak ada instrumen hukum dan lembaga yang dapat mengoreksinya melalui pengujian kecuali pengujian legislatif (legislative review) yang sudah pasti sangat bergantung pada kehendak lembaga-lembaga poltik yang korup. Bahkan orang-orang yang sekarang duduk di MA maupun MK yang “terkesan” ikut menghantam KY. untuk mengawasi perilaku hakim agar tidak melakukan judicial corruption harus dibentuk Komisi Yudisial (KY). Kedua. Secara preventif KY dapat mengusulkan calon hakim agung agar tampil hakim agung- 2 Bunga Rampai . pada waktu itu memberi dukungan kuat dengan argumen-argumennya yang sangat meyakinkan tentang KY dan segala kewenangannya yang kemudian dituangkan di dalam UU No. Itulah sebabnya dua hal untuk memmperbaiki kinerja hukum kita segera menyeruak ke dalam wacana yang kemudian diterima dengan baik di dalam proses politik yang lahir di awal reformasi. Perubahan Positif Ketika gagasan tentang pembentukan KY dan MK ini diproses secara legislasi di DPR kewewenangan yang diberikan kepada keduanya ternyata berkembang secara lebih baik. untuk menguji UU terhadap UUD dibentuk Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai lembaga negara baru pemegang kekuasaan kehakiman di samping Mahkamah Agung (MA).ketatanegaraan kita. Mafia peradilan (judicial corruption) yang melibatkan hakim-hakim terasa menyengat tetapi tak dapat terlihat atau dibuktikan secara formal karena pelaku-pelakunya terdiri dari orangorang yang pandai memanipulasi hukum untuk saling melindungi. Pertama.

dan memutus pembubaran partai politik. memutus sengketa hasil pemilu. Terlepas dari soal. memutus pendapat atau dakwaan (impeachment) DPR bahwa Presiden telah melakukan salah satu atau lebih dari lima hal yang ditentukan di dalam UUD yang dapat dijadikan alasan untuk memberhentikan Presiden/Wapres dalam masa jabatannya. terutama kekuasaan kehakiman. apakah kita setuju atau tidak setu- 1 Bahasan meluas tentang ini lihat dalam buku saya. menjadi lebih baik setelah perubahan UUD 1945 yang menegaskan fungsi-fungsi konstitusional dengan proliferasi kelembagaan dalam bidang ini. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 3 .1 Itulah sebabnya ketentuan tentang itu ditegaskan di dalam UUD hasil amandemen sehingga pengaturan operasionalnya dengan atribusi kewenangan legislasi menjadi jelas dan dapat diimplementasikan. 1998. lembaga kekuasaan kehakiman yang baru ini bukan hanya diberi wewenang melakukan pengujian UU terhadap UUD tetapi juga diberi wewenangwewenang lain yakni memutus sengketa antar lembaga negara yang wewenangnya ditentukan di dalam UUD. Jakarta. Begitu pun dengan MK. memutus pendapat DPR bahwa Presiden/Wapres tak lagi menuhi syarat. sedangkan secara represif KY dapat mengawasi perilaku hakim dalam pelaksanaan tugas-tugasnya sekaligus memutuskan tindakan yang dapat direkomendasikan kepada MA.hakim agung yang baik melalui seleksi yang ketat dan obyektif. Kemajuan nyata Harus diakui secara jujur bahwa mosaik lembaga peradilan. Dalam pada itu pembuat Konstitusi menetapkan juga bahwa pengujian peraturan perundang-undangan di bawah UU terhadap peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dilakukan oleh MA. LP3ES. Politik Hukum di Indonesia. Sebelum reformasi ketentuan ini oleh beberapa peraturan perundang-undangan memang sudah dijadikan wewenang MA tetapi karena pengaturannya kacau secara teoretis maka ketentuan itu tak pernah dapat diimplementasikan. Kita mencatat sampai sekarang MK sudah memeriksa dan memutus lebih dari 100 kasus pengujian UU terhadap UUD.

Benar juga ketika kita menguatkan wewenang MA untuk melakukan pengujian peraturan perundang-undangan di bawah UU terhadap peraturan perundang-undangan yang derajatnya lebih tinggi. menyatakan bahwa maraknya kontroversi yang muncul dari konflik antara MA dan KY yang disusul dengan putusan MK yang sangat kontroversial yang memangkas wewenang-wewenang KY justru menunjukkan adanya kemajuan dalam sistem ketatanegaraan kita sebab kegiatan saling kontrol menjadi tumbuh. Dalam melakukan seleksi terhadap calon hakim agung pun. sebab dengan gebrakannya menyorot dan memeriksa hakimhakim yang dilaporkan dan diduga nakal. terlepas dari kritik dan kontroversi atas produknya. Kebenaran relatif putusan MK Tetapi langkah-langkah KY yang cukup memberi harapan ternyata telah menjadi bumerang yang sama sekali tidak diharapkan baik oleh KY sendiri maupun oleh masyarakat. meski tak semua laporan itu benar adanya. 4 Bunga Rampai . terbukti sekarang MA telah menguji dan membatalkan beberapa peraturan perundang-undangan yang dinilai bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. ini harus dicatat sebagai kemajuan karena membuktikan bahwa memang benar banyak UU yang dapat dipermasalahkan konstitusionalitasnya dan MK telah menjadi lembaga yang tepat untuk melakukan itu. terutama ketika KY mengundang ketua 2 Denny Indrayana. Langkah KY pun sudah mendorong ke arah kemajuan. seorang ahli Hukum Tata Negara dari UGM. Ini sudah tentu jauh berbeda dengan zaman sebelumnya di mana hakim agung diangkat berdasar kontrak politik dan ditengarai kuat hanya berdasar kedekatan dengan pimpinan MA.ju dengan sebagian putusan MK. KY sudah memberi sumbangan yang cukup baik terutama untuk memilih yang terbaik dari jelek-jelek serta dalam membuat kontrak moral agar kalau sudah menjadi hakim agung seseorang dapat melaksanakan tugasnya dengan penuh integritas. MA yang merasa kewibawaannya diobrak-abrik merasa tersinggung. mulai dari hakim pengadilan negeri sampai ke hakim agung ternyata meningkatkan gairah masyarakat untuk menyorot dan melaporkan hakim-hakim nakal.2 Banyak hakim yang kemudian lebih berhati-hati dalam melaksanakan tugasnya.

Kalangan hakim banyak yang mengatakan bahwa KY bukannya menjaga martabat hakim melainkan justru menjatuhkan martabat hakim. 30 orang hakim agung kemudian menggugat judicial review UU No. 22 Tahun 2004 yang menyamakan keduanya harus dinyatakan bertentangan dengan konstitusi. Pertama.3 Argumennya. wewenang-wewenang KY untuk mengawasi para hakim harus dinyatakan bertentangan dengan UUD karena kriterianya tidak jelas dan bersifat eksesif apalagi dalam prakteknya 3 Seperti diketahui pengaturan tentang KY dicantumkan di dalam pasal 24B sedangkan pengaturan tentang MK dicantumkan dalam pasal 24C. Kedua. Bahwa yang menggugat adalah pribadi-pribadi hakim agung itu hanyalah taktik saja. bahkan mengintervensi kemandirian hakim. ketika KY ditentukan di dalam UUD belum ada gagasan tentang hakim konstitusi. para penggugat meminta agar hakim konstitusi tidak dijadikan bagian dari pengertian hakim yang dapat diawasi oleh KY karena hakim konstitusi berbeda dari hakim lain dan baru dimasukkan di dalam UUD lebih belakang dari pengaturan tentang KY. meminta MK memutus bahwa hakim agung bukanlah bagian dari hakim yang dapat diawasi oleh KY sebab menurut pasal 24B ayat (1) untuk hakim agung sudah disebutkan KY hanya mengusulkan pencalonannya. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 5 . 22 Tahun 2004 tentang KY terhadap UUD.MA untuk dimintai keterangan dan ketika KY mengundang beberapa hakim agung untuk diperiksa berkenaan dengan masuknya beberapa laporan dari masyarakat. hanya saja karena MA secara institusi tidak mempunyai legal standing atau tidak dapat menjadi pihak dalam sengketa di MK maka yang dimajukan (sekurang-kurangnya dibiarkan dan didorong maju) adalah para hakim agung secara perseorangan. Isi gugatan itu pada pokoknya berkisar pada tiga hal. Ketiga. sehingga tak mungkin ketika KY dibentuk sudah terpikir untuk mengawasi hakim konstitusi. sedangkan untuk mengawasi perilaku disebutkan berlaku untuk hakim. sebab jika dilihat dari suasana dan sikap-sikap petinggi MA tampak jelas bahwa MA memang merasa gerah dengan sepak terjang KY. Jadi bagi para penggugat harus dibedakan pengertian antara hakim agung dan hakim sehingga isi UU No.

KY sering memeriksa hakim dengan mempersoalkan isi putusan. LP3ES. Lagi pula jika UU tentang KY bertentangan dengan UU lain mengapa isi 4 5 KY sendiri memberikan argumen yang dapat dipahami ketika menyatakan bahwa sulit untuk tidak membaca dan menilai putusan hakim sebab pengaduan yang masuk pada umumnya menyangkut kejanggalan dalam pemeriksaan perkara dan putusan hakim. Bias terjadi dan dapat dianggap ultra petita di sini karena MK hanya boleh menguji UU terhadap UUD bukan UU terhadap UU lainnya. 6 Bunga Rampai . 22 Tahun 2004 dipangkas sehingga meskipun boleh mengawasi tetapi terjadi kekosongan hukum dalam operasionalisasi pengawasan itu sendiri. Pertama.4 Putusan judicial review MK pada Agustus 2006 tentang UU No. 2 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan UU No. Tentang ini dapat dibaca secara lebih rinci di dalam buku saya. Persoalan belum adanya ketentuan tentang kriteria pelanggaran moral oleh hakim mestinya tidak dapat dijadikan alasan untuk membatalkan kewenangan KY sebab masalah tersebut merupakan ranah legislatif. Kedua. Perdebatan Hukum Tata Negara Pasca Amandemen UUD 1945. Jakarta. 22 Tahun 2004 itu memang agak kompromistis tetapi juga dapat dipersoalkan karena selain dianggap mengandung ultra petita5 juga bertentangan dengan asas nemo judex in causa sua sekaligus juga tidak sesuai dengan konsepsi hakim yang dimaksud dalam UUD. dinilai kompromistis karena karena menolak gugatan bahwa hakim agung berada di luar subyek yang dapat diawasi oleh KY. 2007. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung dan UU No. 8 Tahun 2004 tentang Peradilan Umum yang menentukan bahwa pemberhentian hakim agung dan hakim dilakukan setelah melalui Majelis Kehormatan Mahkamah Agung dan Majelis Kehormatan Hakim. dinilai ultra petita dan bias karena salah satu dasar pertimbangan pemangkasan wewenang-wewenang KY itu didasarkan pada pertentangan (tidak sinkronnya) ketentuan yang ada antar UU yakni pertentangan UU KY (yang dapat merekomendasikan pemberian sanksi pada hakim) dengan UU lain seperti UU No. namun hampir semua pedoman pengawasan untuk mengawasi para hakim sebagaimana diatur di dalam UU No.

putusan MK itu belum tentu benar. final and binding. tak dapat dilawan lagi secara hukum. Kebenaran putusan MK itu bersifat relatif. 2 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah dengan UU No. Putusan MK. menurut pasal 24C ayat (1) putusan MK itu bersifat mengikat. belum tentu benar tapi mengikat Meskipun begitu harus diingat bahwa. Dengan kata lain. Putusan MK menyatakan bahwa MK boleh menguji semua UU termasuk semua UU yang sudah ada sebelum terbentuknya MK. atau pasal-pasal yang dipergunakan untuk memutus. dalil.UU KY yang dibatalkan? Mengapa tidak diberlakukan ketentuan bahwa hukum yang datang kemudian (UU No. terlepas dari soal benar atau salah. 22 Tahun 2004) menghapus hukum yang terdahulu yakni UU No. Di dalam asas ini ditentukan bahwa hakim tidak boleh memutus perkara yang menyangkut diri-nya sendiri. Dalam saya catatan sudah dua kali MK memutus hal-hal yang menyangkut dirinya sendiri. tetapi sudah pasti mengikat. dalil. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 7 . dan pasal-pasal lain. 8 Tahun 2004 tentang Peradilan Umum sesuai dengan asas lex posteriori derogat lex anteriori? Ketiga. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung dan UU No. Tegasnya. artinya sebuah putusan MK bisa salah jika yang dipakai untuk memutus adalah perspektif. Selain memutus bahwa hakim konstitusi bukanlah bagian dari hakim yang dapat diawasi KY. seandainya yang menjadi hakim pada Mahkamah Konstitusi itu adalah hakim lain yang menggunakan atau mengikuti paradigma. tergantung pada pilihan perspektif. putusan MK tersebut agak berbenturan juga dengan asas nemo judex in causa sua karena MK memutus hal-hal yang menyangkut kepentingannya sendiri yakni meletakkan hakim konstitusi sebagai subyek yang berada di luar pengawasan KY . Selain berbenturan dengan asas nemo judex in causa sua bias putusan MK tidak sesuai dengan ide dan konsep tentang hakim di dalam konstitusi dan tata hukum kita sebab ide dan konsep dasar hakim adalah semua pejabat yang melaksanakan kekuasaan kehakiman. MK juga pernah membatalkan ketentuan UU tentang MK yang menentukan bahwa MK hanya boleh melakukan pengujian atas UU yang lahir setelah terbentuknya MK. 14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan UU No.

Itu hanya pendapat MK berdasar teori yang dipilihnya sendiri untuk kemudian dijadikan bahan pertimbangan vonis. Ia adalah lembaga negara yang otonom sebagai lembaga pengawas eksternal. maka semua dalil yang dipergunakan oleh MK bisa salah. siapa pun yang melakukan dan kapan pun dibentuk.perspektif teori. Dengan demikian jika dilihat dari perspektif lain maka KY bukanlah lembaga penunjang lembaga lain. Tetapi jika konsep hakim dilihat dari teori tentang tugas-tugas untuk mengadili. Dari perspektif teori tertentu misalnya. Dalam kasus putusan MK yang memangkas hampir semua kewenangan KY seandainya kita memakai perspektif. dalil. Tidak sulit untuk mencontohkan ini. 8 Bunga Rampai . Menurut UUD sendiri dan berdasar latar belakang pembahasannya di PAH I MPR tak pernah ada gagasan KY dijadikan sebagai lembaga penunjang. dan dalil-dalil lain maka putusan bisa berbeda. Tim Hukum KY misalnya. Dalam bahasa sehari-hari dapatlah dikatakan bahwa putusan MK itu bisa “sesuka-suka MK” dengan kebenaran yang relatif karena logikanya hanya dibangun dari perspektif tertentu yang hanya bisa logis dari perspektif itu sendiri. tetapi bidang tugasnya memang berkaitan dengan kekuasaan lembaga negara yang lain yakni kekuasaan kehakiman. bisa benar ketika MK mengatakan bahwa KY adalah auxiliary agent (lembaga negara penunjang) karena ia merupakan lembaga negara yang bukan pemegang kekuasaan kehakiman tetapi memiliki tugas yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman dan karenanya KY tidak bisa dijadikan bandul checks and balances dengan MK maupun MA. paradigma apa pun yang dipergunakan pasti bisa dibangun rasionalitas untuk membenarkan pilihan perpspektif dan paradigma. Tetapi dari segi lain bisa ditegaskan bahwa tak ada satu pun ketentuan UUD kita maupun dalam sejarah pembahasan ketika membentuk KY bahwa KY adalah lembaga penunjang. dan teori yang dipergunakan oleh pihak termohon atau pihak terkait langsung. Begitu juga putusan MK bahwa hakim MK tak bisa diawasi oleh KY karena KY lahir lebih dulu dari MK itu bisa benar dari perspektif tertentu sebab tak mungkin sesuatu yang dipikirkan dan lahir kemudian sudah dicakup untuk diawasi oleh lembaga yang ada lebih dulu. Sebagai lembaga negara pengawas eksternal ia bukan penunjang. Kalau soal rasionalitas.

seperti dikemukakan di atas. Jadi tampak jelas bahwa ini tinggal pilihan paradigma dan perspektif teorianya serta tergantung pada siapa. dan apa yang dimainkan hakim-hakim yang memeriksa dan memutus. Untuk banyak pihak putusan MK tentang KY itu memang mengikat tetapi tidak sejalan dengan latar belakang sejarah politik hukum. terlepas dari soal kita senang atau tidak senang. tak terikat teori Seperti dikemukakan di atas. tetapi karena hal itu sudah diputuskan oleh lembaga yang diberi wewenang oleh konstitusi untuk memutus sengketa tentang itu. Bukan karena benar. maka manipulasi bisa dilakukan oleh pihak yang punya otoritas untuk memutus dengan cara memilih perspektif dan teori serta dalil-dalil sesuai dengan selera dan kehendaknya sendiri. salah satu pertimbangan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 9 . Berdasar ini. Di sini berlaku prinsip “hukmul haakim yarfa’ul khilaaf. setidak-tidaknya menurut penulis. Oleh sebab itu di dalam konstitusi kita juga dianut asas keadilan dan kemanfaatan yang harus bersumber dari jeritan hati nurani masyarakat serta manfaat bagi masyarakat.” putusan hakim menyelesaikan semua pertentangan. dan manfaat bagi masyarakat sebagaimana digagas ketika KY akan dijadikan bagian di dalam mosaik ketatanegaraan kita.maka hakim konstitusi pun harus dipandang sebagai hakim yang juga harus diawasi oleh KY. rasa keadilan. putusan MK bersifat final dan mengikat dan harus dilaksanakan. Jika hanya mendasarkan pada asas kepastian hukum. Pilihan politik. Meskipun begitu. Namun agar putusan hakim dapat diterima dan tidak menimbulkan persoalan baru di dalam sistem hukum kita sebenarnya sudah ada penggarisan bahwa penegakan hukum di Indonesia haruslah mengintegrasikan secara padu tiga asas yakni asas kepastian hukum dan asas keadilan sesuai dengan ketentuan pasal 24 ayat (1) dan pasal 28D ayat (1) dan asas kemanfaatan sesuai dengan ketentuan pasal 28H ayat (2). maka putusan MK tentang KY lebih merupakan pilihan selera hakim konstitusi yang tentu bisa lain putusannya kalau hakim-hakim dan pilihan perspektifnya juga lain dengan argumen yang juga bisa kuat. tepatnya pada formal dan prosedural semata.

Meminjam ungkapan KC Wheare di dalam bukunya. Jadi Hukum Tata Negara itu adalah apa yang diperdebatkan dan ditulis sebagai pilihan politik di dalam konstitusi. Memang dapat diterima pandangan bahwa KY bukan lembaga pemegang kekuasaan kehakiman yang mempunyai tugas yang berkaitan dengan kekuasaan tersebut. konstitusi adalah resultante atau kesepakatan yang dibuat oleh bangsa yang bersangkutan sesuai dengan kebutuhan tempat dan waktu serta situasi. the Modern Constitution. Tidak ada teori Trias Politika asli dan tidak ada sistem pemerintahan yang murni karena hampir semua negara membuat sistem dengan sentuhan 10 Bunga Rampai . sebab di dalam UUD sendiri tidak disebutkan tentang itu. Namun sebagai lembaga pengawas eksternal lembaga ini dapat dipandang sebagai lemabaga negara yang sejajar dengan MK maupun MA meski pun kompetensi tugas-tugasnya membantu kekuasaan kedua lembaga tersebut. bukan lembaga negara utama seperti MA dan MK melainkan hanya lembaga pembantu atau penunjang. Harus juga diingat bahwa dalam kenyataannya tidak ada satu sistem ketatanegaraan yang benar-benar asli dan tidak ada satu sistem ketatanegaraan yang secara persis dianut oleh lebih dari satu negara karena setiap negara memberikan sentuhan-sentuhan atau warna khusus sesuai dengan kebutuhan dan pilihan politiknya. Jadi jika dilihat dari sudut lembaga negara maka KY ini tidak pernah dimaksudkan sebagai lembaga pembantu atau penunjang lembaga lain. Pandangan seperti ini dapat dipertanyakan. tetapi jika dilihat dari tugasnya yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman maka bidang tugas KY memang hanya menunjang lembaga yudikatif dalam pelaksanaan kekuasaan kehakiman.putusan MK ketika memangkas hampir semua wewenang pengawasan KY terhadap hakim adalah karena KY bukan main organ melainkan hanya auxiliary organ. Selain itu harus diingat bahwa Hukum Tata Negara itu bukanlah apa yang ada di dalam teori atau yang berlaku di negara lain. bukan apa yang ada di dalam teori atau yang berlaku di negara lain betapa pun dianggap sudah mapan. Hukum Tata Negara adalah apa yang digagas dan kemudian ditulis di dalam konstitusi oleh bangsa suatu negara. melainkan merupakan lembaga pengawas eksternal yang berdiri sendiri.

Mencontoh Kehidupan Beragama di Lebanon. Swiss. 2 Mei 2007. Perancis. sedangkan nama dan uraian teoresasi tentang Trias Politika itu selanjutnya diberikan oleh Emmanuel Kant. Tampak jelas bahwa sistem ketatanegaraan yang asli atau murni itu tidak ada karena semuanya merupakan penafsiran dan modifikasi sendiri-sendiri. Hasil modifikasi oleh Montesquieu inilah yang umumnya dianggap sebagai dasar teori Trias Politika padahal Montesquieu sendiri mengambilnya dari John Locke. dianut hybrid parliamentary-presidential system. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 11 . Amerika. Montesquieu sendiri mengatakan. Trias Politika yang “dikira” berasal dari Montesquieu itu pun kemudian melahirkan sistem pemerintahan yang berbeda-beda yang juga dapat dipertanyakan keasliannya. dalam Jawa Pos. Harian Seputar Indonesia. dan lain-lain membuat sistem ketatanegaraan berdasar pilihan politiknya sendiri. Amerika Serikat melahirkan sistem Presidensial yang memisahkan secara tegas antara legislatif dan eksekutif dengan mekanisme checks and balances antar poros-porosnya. eksekutif. Uniknya di negara Montesquieu sendiri. eksekutif. Juga tulisan saya. sebenarnya berasal dari John Locke ketika mengajarkan pemisahan kekuasaan atas legislatif. Teori Trias Politika yang selalu dikaitkan dengan Montesquieu misalnya. dan yudikatif. dan federatif namun kemudian dimodifikasi oleh Montesquieu menjadi legislatif. penerapan yang benar adalah sistem parlementer seperti yang berlaku di Inggris. Inggris. Tak Ada Sistem Ketatanegaraan Asli.dan modifikasinya sendiri-sendiri sesuai dengan kebutuhan domistiknya. 2 Mei 2007. Inggris melahirkan sistem Parlementer yang menganut supremasi parlemen. Perancis. sedangkan di Swiss lahir sistem badan pekerja. Berbagai contoh kasus6 Antara April dan Juli tahun 2007 ini penulis mengunjungi beberapa negara “demokrasi” di Asia dan Eropa yang ternyata mengatur sistem ketatanegaraannya secara berbeda-beda meskipun mengatakan menganut sistem terten- 6 Lihat dalam tulisan saya.

Di Republik Rakyat Cina (RRC) yang menganut sistem yang agak unik. Di Yordania juga dianut sistem parlementer tetapi yang sangat menentukan jabatan perdana menteri adalah raja. Socialist Democratic 12 Bunga Rampai . Tapi itulah sistem yang dipilih oleh Polandia. bukan parlemen. Polandia juga menganut sistem parlementer tetapi uniknya Presiden dapat membubarkan parlemen dengan dua alasan yakni jika sampai waktu tertentu parlemen tidak mensahkan anggaran yang diajukan oleh pemerintah atau jika parlemen tidak menyetujui susunan kabinet yang diajukan oleh pemerintah dan sampai waktu tertentu parlemen tidak mengajukan alternatif untuk menggantikan penolakannya itu. Sistem presidensial di Indonesia juga tidak mengikuti pola yang umum meski pola umum itu tidak murni juga. Ini unik karena berarti MK dapat menilai kembali UU yang telah dinyatakan konstitusional oleh MK sendiri sebelum UU itu disahkan. Sistem Presidensial seperti yang dianut di Indonesia ini hanya dipakai oleh satu negara lain di dunia. Namun di Indonesia Presiden mempunyai hak bersama DPR untuk membentuk UU. Yang juga menarik di Polandia adalah kewenangan Mahkamah Konstitusi (MK) untuk melakukan judicial preview atau menilai satu RUU sebelum disahkan oleh (dan atas permintaan) Presiden.tu dari Trias Politika. yakni Puerto Rico. termasuk UU yang sudah dimintakan judicial preview sebelum diundangkan. Libanon yang secara resmi menganut sistem Parlementer ternyata menyerahkan kekuasaan tertentu kepada Presiden yakni kekuasaan bidang pertahanan dan intelijen. Di Suriah pemilu untuk 250 kursi parlemen hanya dilakukan untuk memperebutkan 70 kursi karena nama wakil rakyat yang untuk 180 kursi sudah ditentukan lebih dulu oleh pemerintah dari partai yang berkuasa. tetapi MK juga dapat melakukan judicial review atas UU yang sudah disahkan oleh Presiden jika ada gugatan. Pada umumnya di dalam sistem presidensial kekuasaan membentuk UU hanya ada di parlemen tetapi Presiden mempunyai hak veto (hak menolak) yang kemudian dapat diuji kembali melalui sejumlah dukungan minimal tertentu di parlemen. jadi pemerintahan dilakukan oleh kabinet yang dipimpin oleh perdana menteri tetapi untuk masalah pemerintahan tertentu dilakukan oleh Presiden.

termasuk ketika kita menempatkan KY di dalam mosaik ketatanegaraan kita. Sebagai pilihan politik penempatan posisi KY yang seperti itu sah saja dan mengikat secara konstitusional. bahkan ada negara yang menempatkan KY sebagai lembaga yang bukan di ranah yuridis melainkan bersifat politis. Ternyata konsep ini berjalan efektif karena dictatorship di sana diartikan kekuasan hukum (dikatatorial hukum) secara mutlak. Desain Komisi Yudisial Uraian di atas bermaksud meyakinkan kita bahwa sistem ketatanegaraan kita pun adalah sistem yang dapat kita buat sendiri. Di berbagai negara pun pemosisian KY bervariasi. Namun seperti dikenal luas penegakan hukum dan pemerintahan di RRC berjalan sangat efektif.Dictatorship. Itu pun merupakan pilihan politik atau resultante bangsa Cina dalam membuat konstitusinya. sebab seperti dikemukakan di atas setiap konstitusi dapat menentukan pilihannya sendiri-sendiri. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 13 .7 Kejaksaan Agung dijadikan lembaga yang sejajar dengan Mahkamah Agung dan lembaga negara yang lainnya. juga agak sulit memahami demokrasi yang dikatatorship. sebab pada umumnya agak sulit menyatukan sosialis-komunis dengan demokrasi. siapa pun harus tunduk kepada hukum. Yang menonjol ketika itu adalah pemikiran tentang perlunya lembaga pengawas eksternal yang dapat menyeleksi hakim agung dan mengawasi perilaku hakim sebab lembaga pengawas internal yang ada di lembaga yudikatif sampai saat itu sama sekali tidak efektif. Di Polandia. Jadi di RRC kejaksaan bukan bagian dari Pemerintah dan bukan bagian dari Mahkamah Agung melainkan dijadikan lembaga yang sejajar dengan kedua lembaga negara itu. tergantung pada kebutuhan masing-masing. bukan sistem yang harus dipaksakan untuk sama atau menganut teori atau sistem yang berlaku di negara lain. misalnya. Dalam kaitan dengan KY ini penulis dapat mengatakan bahwa menurut risalah persidangan-persidangan MPR yang merancang perubahan UUD 1945 tidak muncul sama sekali pemikiran untuk menjadikan KY sebagai supporting atau auxiliary organ. Dewan Yudisial Nasional atau “the National Council of the Judiciary” berfungsi untuk 7 Bagi penulis konsep ini terasa unik.

MK mengatakan bahwa KY hanyalah supporting atau auxiliary organ sehingga tak bisa melakukan peran checks and balances padahal tak ada sama sekali pemosisian yang seperti itu ketika MPR membahas dan merumuskan fungsi KY di dalam konstitusi kita.menjaga dan melindungi kebebasan/kemandirian pengadilan dan hakim. Lembaga ini lebih bersifat politis karena keanggotaannya terdiri dari Ketua I Mahkamah Agung. MK menyatakan bahwa KY bukan lembaga negara utama padahal ketentuan yang seperti itu hanyalah tafsir teoretis dari MK yang bisa dibantah dengan tafsir teoretis lain. kita suka atau tak suka. Tetapi MK dengan pilihan paradigma dan dalil serta pasal-pasal yang dipilihnya sendiri telah memangkas hampir semua kewenangan KY. terlepas dari soal benar atau salah. 6 orang anggota Parlemen yang masing-masing 4 orang dari Majelis Rendah dan 2 orang dari Majelis Tinggi. Setelah terjadi kekosongan hukum dalam bidang pengawasan perilaku hakim oleh KY kini kita dituntut untuk segera membentuk UU baru yang memuat dan mengatur kewenangan KY ini. 22 Tahun 2004 sebagai pilihan politik yang khas Indonesia sebenarnya sudah cukup baik. Jadi posisi konstitusional KY dengan berbagai kewenangan yang kemudian dituangkan ke dalam UU No. Namun seperti dikemukakan di atas. putusan MK itu bersifat final dan mengikat yang karenanya harus diterima dan dilaksanakan. 15 orang hakim. MK juga menyatakan bahwa ketentuan kewenangan KY untuk mengawasi tingkah laku hakim tumpang tindih dengan berbagai UU lain yang terkait dengan kekuasaan kehakiman sehingga karena itu MK membatalkan berbagai kewenangan KY. Ketua I Mahkamah Tinggi Tata Usaha Negara. dan seorang lain yang ditunjuk oleh Presiden. tak ada hal-hal yang bertentangan dengan UUD baik secara semantik maupun secara historik dalam garis politik hukum kita. padahal MK hanya boleh memutus atau membatalkan isi UU jika bertentangan dengan isi UUD. Yang harus diperhatikan dalam pembentukan UU baru ini adalah bahwa kita harus kembali ke semangat atau garis politik hukum tentang KY itu sebagaimana diperdebatkan di MPR pada saat masalah KY itu dibicarakan dan diputuskan. Pada saat itu ada semangat bahwa KY dibentuk un- 14 Bunga Rampai . bukan bertentangan dengan UU lain yang sejajar. Menteri Kehakiman.

8 Penulis adalah anggota Badan Legislasi DPR-RI yang saat tulisan ini dibuat sedang menyiapkan tiga RUU yang terkait dengan kekuasaan kehakiman yakni RUU tentang MA. dan RUU tentang KY. Istilah “menjaga dan menegakkan kehormatan. Di sini meskipun KY boleh membaca putusan hakim tidaklah dapat diartikan bahwa KY boleh melanggar independensi hakim sebab KY tetap tidak boleh mempengaruhi apalagi mengubah putusan hakim. Terkait dengan ini maka di dalam disain baru nanti harus tetap dibuka kemungkinan KY membaca dan mendalami putusan hakim jika terkait dengan dugaan penyimpangan perilaku hakim. keluhuran martabat serta perilaku hakim” (pasal 1 butir 6 draft Juli 2007) diartikan sebagai upaya yang meliputi pencegahan dan penindakan atas perbuatan hakim. Dalam cakupan pengertian yang seperti ini maka pengawasan atas hakim mencakup pengawasan preventif (misalnya dalam hal seleksi hakim) dan pengawasan represif (misalnya pemeriksaan dan penindakan atau penjatuhan sanksi). baik di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 15 .tuk memenuhi kebutuhan akan lembaga pengawas ekternal yang mandiri untuk mengawasi perilaku hakim dan hakim yang dimaksud ketika itu adalah semua hakim yang bekerja di lembaga kekuasaan kehakiman. KY hanya boleh membaca dan menilai putusan setelah ada vonis tanpa boleh mengubah putusan hakim. Adalah sulit untuk tidak membolehkan KY membaca dan menilai suatu kasus pengaduan tentang pelanggaran perilaku oleh hakim sebab pada umumnya pengaduan perilaku hakim itu terkait dengan perkara yang kemudian diputus oleh hakim. Berdasar diskusi-diskusi di Badan Legislasi (Baleg) DPRRI8 yang kini sedang menyiapkan RUU tentang KY yang baru ada beberapa hal yang sudah dimasukkan di dalam buram (draft mentah) berkaitan dengan lingkup kewenangan KY di masa depan yang beberapa hal di antaranya dapat dikemukakan seperti di bawah ini: 1. Hakim tetap bebas memeriksa dan memutus perkara dan putusannya tetap mengikat. RUU tentang MK.

Untuk melaksanakan wewenang konstitusional (menurut pasal 20 ayat (1) sampai dengan ayat (3) draft Juli 2007) KY mempunyai tugas “menjaga” dan “menegakkan” kehormatan. keluhuran martabat. 3. Mungkin perlu ditekankan agar pembuatan karya ilmiah tersebut dilakukan seketika di tempat seleksi. bukan dibuat di rumah atau diserahkan beberapa hari sebelumnya. Selain itu perlu juga diperhatikan dalam kaitan ini tentang pemberian peluang bagi KY untuk membaca dan menilai putusan hakim yang diadukan atau dilaporkan oleh masyarakat dengan penekanan bahwa hal itu tak boleh bertendensi intervensif yang dapat mempengaruhi putusan berikutnya apalagi sampai mengubah putusan hakim. Selain itu perlu juga ditentukan pembacaan rekam jejak (track record) melalui telaah atas semua putusan yang pernah dibuat disertai investigasi secara diam-diam tetapi dapat dipertanggungjawabkan. Dalam kaitan ini perlu dipertimbangkan atau ditegaskan tentang apa yang dimaksud “hasil temuan” KY sendiri. 4. sebagaimana dimuat Bunga Rampai 16 . dapat mewajibkan calon hakim agung menyusun karya ilmiah dengan topik yang telah ditentukan (pasal 18 ayat (2) draft Juli 2007). Tentang sifat putusan KY yang berupa penjatuhan sanksi tertentu seperti pemberhentian. sebab konsep dasar yang dianut adalah “sikap pasif” bagi KY dalam arti KY hanya memproses laporan dari masyarakat tanpa boleh mencari-cari kasus sendiri. Dalam upaya melakukan seleksi atas kualitas dan kepribadian calon hakim agung KY. Memang di dalam pasal 22 ayat (2) draft Juli 2007 sudah dicantumkan ketentuan bahwa dalam melaksanakan tugas KY tidak boleh mengurangi kebebasan hakim dalam memeriksa dan memutus perkara. serta perilaku hakim. Untuk tugas ini KY dapat “melakukan pengawasan” atas perilaku hakim serta “memeriksa dan memutus” terhadap dugaan pelanggaran kode etik dan keharusan perilaku baik atas pengaduan masyarakat maupun atas temuan KY sendiri. antara lain. tetapi ketentuan pasal 22 ayat (2) ini tidak terkait secara spesifik bagi kemungkinan pembacaan dan penilaian putusan hakim oleh KY. Ini dimaksudkan untuk menjaga orisinalitas dan menyaring kemampuan artikulatif setiap calon hakim agung.2.

Tetapi ketentuan ini harus disertai dengan pemosisian ketentuan di dalam UU lain yang menyatakan bahwa pemberhentian dilakukan setelah melalui pembelaan dan keputusan Majelis Kehormatan Mahkamah Agung dan Majelis Kehormatan Hakim. termasuk semua hakim konstitusi. tetapi tidak tercantum larangan bagi hakim untuk memeriksa dan memutus perkara yang berkaitan dengan dirinya (asas nemo judex in causa sua). di dalam pasal 22B ayat (4) draft Juli 2007. dan pimpinan badan peradilan dimana hakim yang bersangkutan bertugas. Pengawasan atas MK Sebenarnya garis politik hukum tentang pembentukan KY menginginkan pengawasan atas perilaku hakim oleh KY mencakup semua hakim yang mempunyai fungsi kehakiman. Ini penting juga karena dalam praktik selama ini masih banyak hakim yang menangani perkara yang ada kaitan dengan kepentingan dirinya. Mungkin dapat diatur bahwa dengan adanya KY tidak diperlukan lagi pemberian kompetensi bagi Majelis Kehormatan Mahkamah Agung dan Majelis Kehormatan Hakim untuk memutus/merekomendasikan pemberhentian hakim. Ketentuan ini sangat penting agar maksud keberadaan KY untuk mengawasi dan menentukan sanksi dan tindakan dapat terpenuhi. Dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. keluhuran martabat.5. pimpinan DPR. serta perilaku hakim (pasal 25B ayat (2) draft Juli 2007) ditentukan beberapa larangan bagi hakim. Mungkin juga dapat diatur bahwa keputusan KY tentang pemberhentian dapat dilaksanakan tanpa pemeriksaan ulang di Majelis Kehormatan Mahkamah Agung dan Majelis Kehormatan Hakim. dinyatakan mengikat dan disampaikan oleh KY kepada Presiden dengan tembusan kepada pimpinan MA. sedangkan pemberhentian hakim berdasar hasil pengawasan internal MA sendiri tetap harus melalui Majelis Kehormatan Hakim. Tetapi ketentuan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 17 . Meskipun ini sudah menjadi asas di dalam hukum tetapi perlu juga dicantumkan di dalam bagian ketentuan tentang kode etik bahwa hakim tidak boleh atau harus mengundurkan diri dari (penanganan) perkara yang ada kaitan dengan dirinya.

Memang setelah empat tahun perjalanan MK. juga menimbulkan komplikasi berkait dengan wewenangnya dalam memutus yang harus diterima secara final dan mengikat. 18 Bunga Rampai . selain banyak memberi angin segar bagi kehidupan ketatanegaraan yang lebih sehat. Itulah sebabnya dalam Amandemen UUD 1945 berikutnya9 kita harus merumuskan dengan cermat tentang pengawasan terhadap hakim konstitusi dan tentang cara mengatasi jika putusan MK yang bersifat final dan mengikat itu ternyata tidak sesuai dengan politik hukum di dalam konstitusi dan bertentangan dengan fakta hukum yang kemudian muncul. Karena putusan MK bersifat final dan mengikat maka fakta hukum di pengadilan umum itu tidak dapat mengubah lagi putusan MK yang secara substantif nyata-nyata salah. namun di dalam peradilan umum kecurangan itu terbukti dan pelakunya dijatuhi hukuman pidana. ada yang ingin partial dan ada yang ingin komprehensif. MK pernah menyatakan menolak gugatan permohonan pembatalan hasil perhitungan suara dalam pemilu di suatu daerah karena terjadi kecurangan. Satu-satunya jalan untuk mengembalikan masalah ini ke garis politik hukum yang benar hanyalah melalui amandemen konstitusi yang harus menegaskan tentang itu secara eksplisit. ada yang ingin segera dan ada yang menghendaki ditunda dulu.tentang ini yang sudah dimuat dengan tegas di dalam UU tentang KY dibatalkan oleh putusan MK yang menyatakan bahwa hakim dalam pengertian pasal 24B UUD 1945 tidak mencakup hakim konstitusi karena selain konteksnya hanya dengan hakim agung pasal 24B yang menentukan pembentukan KY itu lahir lebih dulu daripada pasal 24C yang menentukan pembentukan MK sebagai lembaga negara. Putusan MK tentang cakupan pengertian hakim ini. Contohnya. padahal selain sering berdasar pilihan perspektif sepihak putusan MK itu bisa berlawanan dengan fakta hukum lain yang diputus oleh pengadilan. 9 Wacana untuk melakukan amandemen kelima atas UUD 1945 pada saat ini sedang gencar. bersifat final dan mengikat sehingga tak bisa dimasukkan lagi di dalam UU tentang KY yang baru nanti. sesuai dengan ketentuan pasal 24C UUD 1945. sebab kita tak bisa membiarkan MK dan hakim-hakimnya menjadi lembaga super yang tak bisa diawasi.

Bahan Pustaka AV Dicey, An Introduction to Study of the Law of the Constitution, 10th edition, English Language Book Society and Mac Millan, London, 1971. Carl J. Friedrich, Constitutional Government and Democracy: Theory and Practice in Europe and America, Weldham, Mass: Blaisdell Publishing Company, 5th edition, 1967. David Kairys, The Politics of Law, a Progressive Critique, Pantheon Books, New York, 1982. C.F. Strong, Modern Political Constitution, The English Language Book Society, Sidgwick and Jackson Limited, London, 1966. Erwin Chemerinsky, Constitutional Law, Principles and Policies, Aspen Law and Business, New York, 1997. Hans Kelsen, General Theory of Law and State, Russell and Russell, New York, 1973. Jimly Asshiddiqie, ”Telaah Akademis Perubahan Undang-Undang Dasar 1945,” dalam Jurnal Demokrasi dan HAM, Volume 1 No.4 Tahun 2001. K.C. Wheare, the Modern Constitutions, Oxford University Press, London-New York-Toronto, 3rd Impression, 1975. Moh. Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia, LP3ES, Jakarta, 1998. Moh. Mahfud MD, Pergulatan Politik dan Hukum, Gama Media-Ford Foundation, Yogyakarta dan Jakarta, 1999. Moh. Mahfud MD, Hukum dan Pilar-pilar Demokrasi, Gama Media- the Ford Foundation, Yogyakarta dan Jakarta, 1999. Moh. Mahfud MD, Amandemen Konstitusi dalam Rangka ReformasiTata Negara, UII Press, Yogyakarta, 1999. Moh. Mahfud MD, Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia, PT Rinneke Cipta, Jakarta, 2000. Moh. Mahfud MD, Dasar dan Struktur Ketatanegaraan Indonesia, PT Rinneke Cipta, Jakarta, 2001. Moh. Mahfud MD, Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi, LP3ES, Jakarta, 2006. Moh. Mahfud MD, Perdebatan Hukum Tata Negara Pasca Amandemen UUD 1945, LP3ES, Jakarta, 2007.

-

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

19

-

Moh. Mahfud MD, Hukum Tak Kunjung Tegak, PT Citra Aditya Bhakti, Bandung. 2007. RM AB Kusuma, Lahirnya Undang Undang Dasar 1945, Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 2004. Sri Soemantri M, ”Undang-Undang Dasar 1945, Kedudukan dan Artinya dalam Kehidupan Bernegara,” dalam Jurnal Demokrasi dan HAM, Vol. 1 No. 4 Tahun 2001. Sri Soemantri, Prosedur dan Sistem Perubahan Konstitusi, PT Alumni, Bandung, Edisi Kedua, Cetakan Kesatu, 2006.

20

Bunga Rampai

Perubahan Bidang Politik dan Pengaruhnya Terhadap Reformasi Peradilan
Arbab Paproeka, S.H.
1

Pengantar Semangat egalitarian warga negara – bangsa berdampak signifikan terhadap diskursus-diskursus intelektual dan pembentukan sistem politik Indonesia ketika euforia reformasi dan demokrasi mulai mengemuka di semua ruang publik. Kesadaran diskursif seperti itu menjadi konsensus bersama bagi perwujudan res publica (kepentingan bersama) dalam menata tata kehidupan sosial, politik, ekonomi dan hukum. Atas semua itu, reformasi dan demokrasi dengan ragam pemaknaannya dinilai sebagai tujuan yang harus dicapai ketimbang sekadar menjadi sebuah sarana merebut hasrat kuasa. Dalam banyak pandangan, reformasi dan demokrasi, sejatinya dipahami sebagai imaji ideal kebangsaan yang akan menggiring negara bangsa ke dalam kebajikan dan keadaban. Reformasi dan demokrasi kadang juga diletakkan sebagai nonstrum - obat bagi segala masalah kebangsaan. Kondisi ini memiliki implikasi pada tindakan yang mengarah pada cita ideal tata hidup kebangsaan yang dipandang sebagai ekspresi reformasi dan demokrasi. Namun, dalam sisi yang berbeda, reformasi dan demokrasi sering juga diperspepsikan sebagai imaji yang justru memunculkan sinisme yang tinggi dari entitas negara bangsa. Kondisi ini adalah sebuah refleksi dimana cita ideal mengalami kontradiksi

*

Anggota Komisi III DPR RI

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

21

dengan ekspektasi pada situasi faktualnya. Tuntutan untuk melakukan pendalaman demokrasi (a deepening democracy) terhadap negara bangsa yang sementara mengalami masa transisi memang pelik. Terlebih pada sebuah komunitas yang karakter bangsanya cukup heterogen atau plural semisal Indonesia. Sebagaimana Snyder (2000), menjelaskan bahwa sentimen nasionalisme menjadi salah satu faktor yang bisa mengganggu proses demokratisasi. Tesis ini cukup mudah dikenali. Bahwa demokrasi tidak selamanya akan menguntungkan semua kelompok elit politik. Ia bergerak seperti pendulum. Namun biasanya, kelompok elit yang senantiasa berupaya mencegah berlangsungnya proses demokratisasi adalah kelompok elit yang merasa dirugikan dari proses demokratisasi. Modus yang sering digunakan adalah show power melalui pengumpulan kekuat-an inti dengan penguatan isu sentimen nasionalisme. Sentimen nasionalisme ini setidaknya dapat dijelaskan lewat pengkultusan nilai tatanan dalam sebuah komunitas. Atau mungkin juga bisa dijelaskan dalam gugusan negara bangsa. Sentimen nasionalisme dalam gugusan komunitas terpola melalui penuturan klasik, dimana ia terjelma menjadi suatu nilai (value) sebagai suatu bentuk kebaikan umum dalam makna totalitasnya. Lain halnya dengan, Arend Lijphart dalam Latif (2006), justru memberikan ulasan yang optimistik bahwa adalah mungkin untuk mempertahankan pemerintahan demokratis yang stabil dalam sebuah masyarakat plural sepanjang elit-elitnya bersedia bekerja sama. Namun, kerja sama itu tidak akan tercipta dengan sendirinya. Dibutuhkan sebuah kerangka solidaritas bersama yang baru, yang bergantung secara inter alia pada nasionalisme kewargaan (civic nasionalisme). Perspektif ini memang cukup relevan dalam merepresentasikan bahwa demokrasi tidak jatuh dari langit, tetapi melakukan pendalaman demokrasi dibutuhkan konsensus politik dari semua entitas kewargaan untuk membangun komitmen intelektual bagi keberlanjutannya. Nasionalisme yang berakar dari ikatan nation, pada akhirnya begitu untuk didefenisikan. Namun dalam rangka jelajah pemaknaan tentangnya, mungkin dapat dirunut bahwa nation adalah sesuatu yang direkayabayangkan (imagined). Sebagai bentuk direkayabayangkan, maka variannya

22

Bunga Rampai

pun menjadi sangat beragam. Snyder, menyebut ada empat bentuk utama nasionalisme; nasionalisme sipil, nasionalisme SARA, nasionalisme revolusioner dan nasionalisme kontra – revolusioner. Nasionalisme sipil terbentuk jika elite politik yang ada tidak merasa terancam oleh proses demokratisasi, dan kelembagaan negara yang ada cukup kuat untuk menampung proses ini. Ia mendasarkan pada usahanya mempertahankan proses demokratisasi karena dianggap bisa memberikan keadilan. Pada sisi ini, negara menganut prinsip kesetaraan warga negara tanpa memandang suku, warna kulit, agama dan keturunannya. Nasionalisme SARA sebuah solidalitas yang dibangkitkan berdasarkan budaya, agama, bahasa, sejarah dan yang sejenisnya. Nasionalisme SARA terbentuk jika elite politik yang ada merasa terancam oleh proses demokratisasi, dan kelembagaan negara juga masih lemah. Jika terdapat kelompok dominan lebih dari satu maka proses demokratisasi mungkin akan mengakibatkan terjadinya perpecahan di negara tersebut, dan sebagai gantinya akan muncul satu negara federal, atau bahkan beberapa negara baru. Nasionalisme revolusioner merupakan usaha untuk mempertahankan suatu perubahan politik yang melahirkan rezim baru yang dinilai lebih baik dari rezim sebelumnya. Disini terdapat kecenderungan bahwa kekuatan baru mempertahankan perubahan senantiasa menggunakan nasionalisme revolusioner. Nasionalisme terjadi kalau elit politik yang ada tidak dirugikan oleh proses demokratisasi, dan lembaga-lembaga negara yang mau mempertahankan rezim lama lemah. Sedangkan nasionalisme kontra – revolusioner merupakan upaya membangun solidaritas untuk mempertahankan kelembagaan negara yang ada terhadap perubahan. Biasanya nasionalisme kontra – revolusioner digunakan sebagai instrumen untuk mengembalikan militer ke pentas politik dengan mengatakan bahwa di bawah rezim sebelumnya jauh lebih baik dibanding rezim yang ada sekarang. Masalahnya adalah civil society yang dijadikan sebagai gugus konsep paling mondial belakangan bagi pembelajaran sosial secara kolektif dan produksi simbol-simbol politik secara dominan justru disuplai oleh kelompok komunal. Sehingga demikian, Indonesia pada kurun waktu ini masih merupakan sebuah masyarakat komunal, bukan asosiasio-

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

23

nal. Padahal ekspektasi mengenai civil society adalah ketika asosiasi-asosiasi ini terbentuk menjadi sebuah komunitas produktif sebagai katalis bagi proses transformasi masyarakat dari semangat komunalisme menuju kewarganegaraan yang lebih beradab. Di sisi lain, intelegensia-politisi yang diharapkan membimbing komunitas politik ke arah keadaban politik (political civility) dalam kenyataannya justru menyuburkan tradisi komunalisme. Kondisi ini kian diperparah dengan eksistensi kaum komunitas epistemik sebagai penyangga dalam melahirkan gagasan orisinalitas tampaknya juga harus terjebak dengan gugusan pragmatisme yang luar biasa. Penuturan Gunawan (2006) mungkin benar bahwa pragmatisme sendiri memang lahir sebagai anak haram dari sebuah pergulatan panjang, untuk menjawab berbagai persoalan yang terjadi di abad lalu. Fundamen pemikirannya yang meletakkan pada benar tidaknya suatu dalil tergantung pada manfaatnya bagi manusia, dan tentu saja manfaat pertama yang menikmatinya adalah diri sendiri. Sebetulnya, pragmatisme tidak memiliki perbedaan yang cukup jauh dengan patron Machiavelli, “the end justifies the means”. Keduanya memiliki konsekuensi bagi lahirnya keserakahan dan pengkhianatan terhadap nilai-nilai moralitas. Bahkan oleh Juliean Benda dalam Gunawan (2006) justru memandang pragmatis lebih radikal. Bahwa pragmatisme merupakan bentuk pengingkaran terhadap nilai-nilai moral yang universal. Pragmatisme dituding sebagai pabrik nilainilai moral yang semu dan artifisial, yang diproduksi sesuai dengan keadaan dan kebutuhan akan kekuasaan. Tak heran juga bila “pelacur-pelacur intelektual” kian marak bermunculan, yang bekerja berdasarkan permintaan pasar. Praktek ini seolah mirip “panggadaian intelektual”, yang menularkan efek cukup luar biasa. Efek yang patut dipelajari tradisi pencerahan yang melekat pada komunitas epistemik sebagai karakter pokoknya pada gilirannya makin absurd. Padahal dalam tataran normatif-etis, masa transisi seperti ini, justru keberadaan komunitas epistemik diharapkan menjadi avantgarde bagi terciptanya tatanan bangsa yang lebih beradab, bukannya harus ikut dengan permainan “kuasa politik”, yang senantiasa berada dalam pusaran seni merekayasa. Kegundahan lain yang kerap juga menjadi mo-

24

Bunga Rampai

Sehingga demikian. pada gilirannya juga menggiring kita untuk berpikir dan bertindak secara pragmatis. Dalam Gunawan (2006) antara sisi intelektualitas dengan kekuasaan memang memiliki korelasi. Malah yang muncul justru memperlihatkan gejala sebagai kekuatan yang sangat pasif terhadap isu-isu kebangsaan. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 25 . dosa terbesar yang tak terampunkan dari seorang cendekiawan adalah bila yang bersangkutan turut berputar. Pergulatan panjang ini tentu saja bukan menjadi sebuah jebakan untuk harus memihak. Justru soal seperti ini. Persekutuan ini dinilai mengkhianati jati diri intelektual (La Trahison Des Clercs). antara intelektualitas dan kekuasaan sebetulnya bukanlah dualisme yang harus dipandang sebagai sesuatu yang berlawanan. tetapi kepicikan. Sehingga yang terjadi bukan lagi kadar pragmatisme. sekadar mendengungkan kebenaran dari pucuk menara gading. Baginya cendekiawan harus memihak pada kelas tertentu. Dua mashab. Kekuasaan menjadi cukup penting bagi kelompok-kelompok intelektual sebagai medium transformasi dalam membentuk komitmen-komitmen baru bagi kepentingan negara bangsa. keduanya melihatnya dalam sisi yang berlawanan. Keduanya adalah dualitas yang saling membentuk. yang memberikan sindiran halus bahwa “buat apa sekolah kalau hanya untuk mengeruk uang”. Padahal salah satu prasyarat lahirnya konsolidasi demokrasi adalah perlunya masyarakat sipil yang bebas dan aktif dalam mengontrol tata kerja demokrasi. Bahkan Ivan Illich dalam Gunawan (2006) menyebut Deschooling Society. sementara mashab Gramscian malah melihat dalam sisi yang terbalik.mok bagi komunitas epistemik ini adalah ketika tidak mampu menempatkan dirinya sebagai medium perekat bangsa. Walau dalam banyak pemikiran. Yang mungkin dipersalahkan ketika kekuasaan dan intelektual diintegrasikan sebagai perusak nilai tatanan. Mashab bendaian menilai bahwa intelektual harus merentangkan jarak dengan kekuasaan. yakni mashab Bendaian dan mashab Gramscian membedahnya seperti berikut. Baginya justru menuding ilmuwan yang steril dari persoalan aktual di masyarakat. adalah para pengkhianat intelektual (La Trahison de la Trahison de clercs). Pada perspektif yang berbeda. menjadi pelumas dalam mesin pemerintahan.

kadang dipahami sebagai fase yang serba “memungkinkan”. maka isu demokratisasi kian marak dibicarakan dan tampil sebagai euphoria politik yang tak tertandingi. Ketika rezim otoritarianisme Orde Baru runtuh. ketika terjadi dua kali pergantian kekuasaan (two turnover 26 Bunga Rampai . ketika politik ditempatkan sebagai sarana agregasi kepentingan personal. transisi boleh jadi mengarah pada otoritarianisme baru (re-otoritarianisme). Dalam satu sisi. Dalam menjelaskan gejala ini. oleh banyak pemikiran menjelaskan dua rumus yang bisa diklasifikasi. Sisi lainnya adalah kesetiaan. Liberalisme telah mengalahkan dua lawan tangguhnya: komunisme dan nasionalisme fasis. sesuatu kualitas yang sangat mulia namun tak menjadikan dirimu apa-apa”. kapan suatu negara dikatakan sudah terkonsolidasi? Beberapa sarjana bersepakat bahwa untuk menandai demokrasi telah terkonsolidasi. transisi boleh juga mengarah pada lahirnya konsolidasi demokrasi. Celakanya. karakter picik bagi seorang politisi kadang ditemukan. Isu konsolidasi demokrasi berakar dari sebuah konsep transisi antara berakhirnya rezim otoritarianisme ke demokratisasi. Namun.Dalam belantara politik. ketika mengatakan bahwa “pengkhianatan merupakan esensi dari politikus yang sukses. tuturan bahasa ini tidak berlabuh dalam tradisi politisi kita untuk menggiring reformasi peradilan ke dalam laboratorium kehancuran. Tetapi semoga saja. Transformasi Politik: Sebagai Pelatuk Perubahan Ketika tembok Berlin runtuh pada tahun 1989. Demokrasi dianggap sebagai pemenang karena berhasil melumpuhkan lawan tangguhnya otoritarianisme. sehingga semakin menjauhkan sisi keadaban publik. Pendulum ke arah demokratisasi terjadi pasca isu reformasi meledak tahun 1998. Gagasan demokratisasi senantitasa terikut dengan wacana berkembangnya konsep konsolidasi demokrasi. bayangan indah sempat memukau imajinasi orang Amerika. sementara di sisi lain. karakteristik politisi seperti ini malah mendapat pembenaran oleh Richard Smith dalam Gunawan (2006). Segera setelah itu. rute perjalanan transisi. Imperium dan kediktatoran telah runtuh. demokrasi pun tampil sebagai pemenang. Ia kemudian menjelma menjadi leviathan yang teramat beringas karena meleburnya nilai-nilai intelektualitas dalam kekuasaan.

Indikatornya adalah rule of law sebagai syarat mestinya belum dapat diapresiasi secara memadai dalam mengartikulasikan prinsip-prinsip demokrasi dalam melakukan penataan kelembagaan.rule). Kontrol demokratis yang sejatinya menjadi kunci dalam penerapan demokrasi substantif. Praktek demokrasi yang sementara berlangsung. Alasan lain juga yang relevan dengan itu adalah kualitas partisipasi publik dalam mengakses lembaga politik formal maupun institusi hukum masih terbilang sangat lemah. pada kadar tertentu bahkan belum menunjukkan suatu perubahan yang signifikan. Tetapi. Penuturan Latif (2006) meneragkan secara memadai bahwa dari sisi prosedur demokrasi. perkembangan ini hanyalah tahap awal dari proses panjang menuju konsolidasi demokrasi. maka fase transisi demokrasi dapat dikualifikasi telah terkonsolidasi karena sirkulasi kekuasaan melalui pemilu sudah berlangsung sejak pemerintahan Abdurrachman Wahid – walau dalam perjalanan pemerintahannya berhenti ditengah jalan setelah impeacht oleh MPR – yang kemudian digantikan Megawati Soekarno Putri untuk melanjutkan episode pemerintahan yang tersisa hingga pemilu 2004. Bagi yang menganut rumus ini. Namun. maka fase transisi belum dapat disebut telah terkonsolidasi karena prasyarat-prasyarat tersebut belum memenuhi secara memadai. ada pula yang menyebut bahwa demokrasi sudah terkonsolidasi jika ia merupakan permainan satu-satunya (the only game in town) untuk memilih pejabat publik. mereka menilai bahwa demokrasi dianggap sudah terkonsolidasi apabila kekuasaan sudah dua kali pindah tangan melalui proses pemilihan umum yang luber-jurdil. Bila menggunakan ukuran pertama. Tahap konsolidasi menghendaki perhatian pada segi-segi substantif. transisi demokrasi Indonesia telah siap untuk dikonsolidasikan. tetapi demokrasi men- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 27 . Lain halnya bila menggunakan ukuran kedua. sehingga demokrasi substantif yang sejatinya menjadi “buruan” kaum demokratik masih jauh dari memadai. memang baru sebatas belajar merangkak. Fase perjalanannya baru mencapai pada pemenuhan prosedur-prosedur demokrasi formal. Demokrasi bukan hanya sekadar menjadi medium penghapusan institusi – institusi politik yang represif dan sarana pergantian regime yang otoriter.

2006). Distribusi kekuasaan (distribution of power) yang disangga oleh tiga lembaga negara berbeda. babakan baru ini patut menjadi referensi awal untuk tidak terjebak pada kepongahan sejarah. yaitu legislatif. Namun disisi yang berbeda. paling tidak menjadi momentum penting dalam memulai babakan baru dalam menata negara bangsa. Begitulah titahnya bahwa amendemen konstitusi. konsolidasi demokrasi mempersyaratkan perlunya dilakukan transformasi struktural dan kultural secara mendasar. Konsensus tersebut kemudian diwujudkan melalui sebuah kesepakatan untuk melakukan amandemen konstitusi secara mendasar. Ini adalah sebuah fase sejarah yang patut direkam sebagai memoar penyegaran kembali dalam tata hidup berbangsa dan bernegara. Dan setidaknya. seolah kembali memberi energi baru. Pertama. tugas dan wewenang yang berbeda. tentu juga menjadi penting untuk mencegah terjadinya sentralisasi kekuasaan pada institusi negara-negara tertentu. tentu memiliki karakter fungsi.coba merepresentasikan momentum bagi perbaikan kualitas bangsa yang lebih adil dan beradab. Sebagai pemantiknya. Gelombang demokratisasi ini kian menunjukkan perkembangan yang cukup positif dari semua entitas bangsa untuk membangun konsensus-konsensus baru. kini menjadi pelatuk perubahan dalam menata pola hubungan kelembagaan negara. Amendemen konstitusi yang dilakukan. Prinsip checks and balances ini. Sehingga demikian. menghendaki adanya proses checks and balances terhadap tiga lembaga negara. Kepenatan dan kegelisahan yang selama ini hidup dengan belenggu otoritarianisme. eksekutif dan yudikatif. demokrasi harus menjadi jaminan bagi terwujudnya esensi pemberdayaan rakyat (popular empowerment) dan pertanggungjawaban sistemik (systemic responsiveness) (Latif. Sehingga praktek abuse of power. Rentetan peristiwa ini tentu menjadi kisah menarik untuk dipelajari karena memiliki pesan mulia untuk segera diartikulasikan ke ruang publik. yakni adanya transformasi struktural dan kultural dalam sistem ketatanegaraan di republik ini yang harus segera dikomunikasikan. amendemen konstitusi telah meletakkan sebuah kerangka pikir untuk beberapa hal. yang kerap menjadi virus – bila tidak ingin 28 Bunga Rampai .

memungkinkan adanya aksesibilitas publik yang tinggi dalam pencapaianpencapaian demokrasi substantif. prinsip rule of law harus terinternalisasi ke dalam institusi-institusi negara sebagai Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 29 . memburu keberadaban publik. adanya transformasi sistemik. tentu saja muaranya adalah penghormatan nilai-nilai keadilan (justice). Keempat. yang dari sistem pemerintahan sentralistik ke sistem pemerintahan desentralistik. mewujudkan cita ideal ini tentu saja mesti dibarengi dengan pemapanan institusi-institusi demokrasi. dan didukung oleh adanya masyarakat madani yang berdaya. partai politik yang berfungsi. munculnya lembagalembaga baru (new institutions) dalam lingkungan kekuasaan kehakiman. yang konsekuensi logisnya berimplikasi pada perubahan pola hubungan kelembagaan pusat – daerah. Prasyarat dalam memapankan institusi demokrasi. dalam hal ini Mahkamah Konstitusi dan Komisi Yudisial. budaya politik yang independen. yang memiliki kerangka kerja secara berbeda. 2006). walaupun keberadaannya belum dapat dikualifikasi memiliki hubungan yang sifatnya joint session. Derajat pemapanan institusi demokrasi dan sekaligus menjadikan institusi demokrasi lebih berwibawa adalah ketika pejabat publik menempatkan rule of law sebagai dasar pijakannya. Bagaimanapun juga. penciptaan pertanggungjawaban publik yang akuntabel dan transparan serta menghapus segala keserakahan dalam penyelenggaraan tata negara bangsa. pemerintahan yang menjunjung tinggi hukum dan ekonomi yang efisien (Latif. baru dapat mencapai titik maksimun ketika infrastruktur institusional demokrasi eksis. Ini pun juga dapat dikonsolidasikan bila transisi demokrasi bertransformasi menjadi satu kerangka institusional mapan yang terinternalisasi mendalam pada para aktor sosial dan politik. Ketiga. Rentetan perubahan ini. Kedua. maka Komisi Yudisial dihadirkan sebagai “penjaga mafia peradilan” dengan menyandang predikat sebagai lembaga yang hanya sifatnya auxiliary.disebut penyakit – tidak menggerogoti praktek penyelenggaraan negara secara bar barian. dalam wilayah legislatif dimunculkannya Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai perwakilan perseorangan yang dipilih berdasarkan region. Kelima. Namun demikian. Bila Mahkamah Konstitusi dibentuk dengan filosofi “penjaga konstitusi”.

Pepatah ini sejatinya mencoba merefleksikan eksistensi dunia peradilan yang teramat mulia.kerangka menghadirkan institusi negara yang kuat. pengacara dan lembaga pemasyarakatan) belum menunjukkan suatu kinerja yang menggembirakan. Ketika para hakim harus menjelma dan bertindak sebagai “mahluk yang suci” karena menjadi wali Tuhan di muka bumi ini. pada konteks kekinian penerapan rule of law sebagai aturan main (rule game) dalam berbangsa dan bernegara. Beban moral ini memang cukup berat karena pertanggungjawabannya bukan hanya bersifat horizontal tetapi yang jauh lebih dalam adalah tanggung jawab vertikal kepada Tuhan. Padahal kegagalan menegakkan prinsip rule of law dalam penegakan hukum dengan gilirannya akan menjadi kerikil-kerikil tajam dalam memapankan institusi – institusi demokrasi. tampaknya masih jauh dari memadai. rule of law selalu menjadi instrumen khusus dan menjadi indikator utama dalam menilai demokrasi telah dikonsolidasikan. Adanya praktek diskriminasi atau tebang pilih dan tebang pesanan serta maraknya praktek mafia peradilan di tubuh kekuasaan kehakiman adalah contoh kecil dari sekian banyak kisah yang dapat disajikan. Kekuasaan kehakiman (judicative power) memang asa bagi pencari keadilan. juga harus dipandang sebagai sebuah kebutuhan dalam mengatur tata laku pejabat publik untuk membedakannya dengan negara bar barian. Sayangnya. Tersimpan sejuta harap dari masyara- 30 Bunga Rampai . Di negara manapun yang menerapkan prinsip-prinsip demokrasi modern. berwibawa dan tempat bersemayamnya prinsip – prinsip ke-tauhidan sebagai asas universal yang suci. transparan. Judicative Power: Sebuah Cermin yang Retak Sebuah pepatah latin kuno. mungkin cukup relevan menggambarkan mengenai mulianya sebuah lembaga peradilan. akuntabel dan responsif di mata publik. hakim. demokratis. Aparatur penegak hukum yang terintegrasi dalam konsep criminal justice system (kepolisian. kejaksaan. Prinsip rule of law. Bahwa pengadilan adalah “nec curia deficeret in justitia exhibenda” (pengadilan adalah istana di mana dewi keadilan bersemayam untuk menyemburkan aroma keadilan tiada henti). Inilah sisi lain yang harus dipertaruhkan sebagai seorang hakim.

Order.kat agar keadilan melebur dan menyatu dengan dambaannya. moralitas yang selalu diperdengarkan dengan nyaring oleh penegak hukum dan dipandang cukup mulia. Sisi lain yang paling potensial melahirkan kejahatan (judicial crime). Kegundahan ini sebetulnya sudah lama berlangsung. Mereka lupa bahwa disisi lain. menuliskan bahwa kebengkokan itu sudah dimulai dari segi hukumnya. mungkin ada benarnya apa yang dikatakan oleh Jeremy Bentham (Gunawan. Bahkan para pakar kriminolog pernah melakukan penelitian mengenai penyimpangan dalam dunia peradilan. Bahkan keduanya mempertegas bahwa penyimpangan dalam dunia peradilan terjadi karena “judges must rely on their personal values when they make decisions in trouble cases”. Sayangnya. Seidman dalam Gunawan (2006) dalam bukunya yang berjudul “Law. malah berubah bentuk menjadi sesuatu yang utopis. Sisi keadilan (justice) masyarakat yang terus terbelenggu dengan maraknya praktek mafia yang berlangsung disekitar proses penegakan hukum. and Power”. kehakiman yang seharusnya menjadi corong bagi terciptanya keadilan bagi semua. kejaksaan. ekspektasi ini tampaknya akan terkikis dengan sendirinya ketika menyaksikan drama peradilan yang terlalu bobrok. Pada sisi inilah kekuasaan kehakiman tampil sebagai sebuah cermin yang retak karena belum mampu merekatkan nilai-nilai keadilan masyarakat yang masih berserak. 2006) ketika mengatakan bahwa para aparat penegak hukum adalah segerombolan orang yang dapat mengangkangi hukum tanpa konsekuensi hukum. gilirannya pun tak bisa berbuat banyak menghadapi derasnya “permainan kotor” di dunia institusi hukum. ada celah yang menganga di insitusi peradilan yang bisa disusupi. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 31 . William J. Celakanya. Kegelisahan mengenai tata kerja kekuasaan kehakiman (judicative power) di Indonesia sebetulnya bukan cerita baru. Pada konteks ini. Institusi kepolisian. yakni karena adanya hukum yang menjadi refleksi dari kepentingan kelompok elite yang berkuasa (the higher a group’s political and economic position). Chamblis dan Robert B. Moralitas hanya diperlakukan bak jubah untuk melakukan penyusupan dan sekaligus sebagai pembenaran atas putusan-putusannya. Keprihatinan terhadap sisi gelap penegakan hukum pada ruang publik sudah menjadi momok yang senantiasa terus dipersoalkan.

“Jika uang dan pengaruh politik menjadi dasar keadilan.id). BPN. 32 Bunga Rampai . mereka yang miskin tidak dapat berkompetisi (http://www. Polisi 78%. Korupsi dianggap melumpuhkan sistem yudisial di seluruh dunia serta menghalangi hak asasi manusia akan peradilan yang adil dan tidak berpihak. Lebih memalukan lagi. ketua Transparency International menegaskan dengan adanya korupsi lembaga peradilan. (http:// www. dan Pajak 76%.ti. Dua katagori korupsi peradilan yakni campur tangan politik dan penyuapan juga sangat jelas terlihat. Pajak. Peradilan. Rusia. Sejalan dengan itu. Pengadilan dilaporkan merupakan lembaga yang paling tinggi tingkat inisiatif meminta suap hingga 100%. Uang serta pengaruh politik dalam hukum memecah sistem keadilan sosial: satu sistem bagi si kaya. Bahkan.or. Militer dll) masih dipersepsikan sangat korup. dan seterusnya. Turki. disusul Bea dan cukai 95%. Survey IPK itu menemukan bahwa lembaga vertikal (Polisi. hal ini dikonfirmasikan oleh laporan para pelaku usaha bahwa inisiatif suap lebih banyak dilakukan oleh aparat. Relevansi Indonesia yang dilaporkan Global Corruption Report 2007 telah menunjukkan bahwa sistem peradilan di Indonesia masih sangat korup dan bobrok. Huguette Labelle. Yordania. hasil survei nasional tentang korupsi yang dilakukan Partnership for Governance Reform pada 2002 juga menempatkan lembaga peradilan di peringkat lembaga terkorup menurut persepsi masyarakat. Imigrasi. mereka tidak canggung-canggung dalam meminta suap. pada sisi lain bagi si miskin.ti. mereka yang berada di pihak yang benar kehilangan hak didengar sedangkan yang bersalah tidak tersentuh hukum. BPN 84%. Bea & Cukai. Imigrasi 90%.id). korupsi di peradilan Indonesia memiliki ranking paling tinggi di antara negara-negara seperti Ukraina. Daniel Kaufman dalam laporan Bureaucarti Judiciary Bribery tahun 1998 menyebutkan. Hal ini sangat relevan dengan hasil Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia 2006 yang dirilis oleh Transparency International (TI) Indonesia. Global Corruption Report 2007 yang diluncurkan oleh Transparency International. Kolombia.or.yakni adanya kecenderungan serta upaya hakim meraup kekayaan dan kekuasaan dari pekerjaan yang diembannya. Mesir. sebuah koalisi global antikorupsi memilih tema Corruption in Judicial Systems. Venezeula.

sejatinya mampu menempatkan posisinya pada kerangka yang lebih intensif melakukan pengawasan internal terhadap perilaku koruptif dalam dunia peradilan. tidak serta merta harus dilakukan pembiaran. Realita sistem hukum dan peradilan di negeri ini. Upaya pembenahan dan penataan ini dilakukan. Bahkan data terakhir yang dilansir Komisi Yudisial menyebutkan bahwa 2. upaya sistemik mesti dilakukan. yakni 45% dibandingkan lembaga lainnya. 38% tidak ada persamaan di muka hukum (there is no such thing as equality before the law). terutama dalam kerangka melakukan harmonisasi dan pembenahan sistem hukum kekuasaan kehakiman menjadi mutlak diprioritaskan. Fakta-fakta faktual yang telah dibeberkan seperti di atas.Hal tersebut diperkuat dengan laporan Komisi Ombudsman Nasional (KON) tahun 2002.com/ Kondisi ini tentu saja tidak dapat dijadikan sebagai pembenaran dalam menjustifikasi dan terus membiarkan maraknya praktek korupsi dalam dunia peradilan. terutama dalam kaitan melakukan reformasi peradilan secara komprehensif sebagai upaya mengembalikan keprcayaan masyarakat terhadap sistem peradilan yang sekarang mengalami keterpurukan. wordpress. setidaknya menjadi unsur korektif bagi Mahkamah Agung untuk menata kembali berbagai sisi gelap yang menyelimuti institusi peradilan. Mahkamah Agung sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam dunia peradilan. http://ahmadirfan.440 hakim atau sekitar 40 persen dari total 6.100 hakim dikategorikan bermasalah. Sehingga demikian. walau butuh energi banyak untuk menafasinya. Episode waktu yang tersisa masih terlalu panjang untuk memperbaikinya. nampaknya tergambarkan dalam penelitian yang dilakukan oleh The Asia Foundation & AC Nielsen yang antara lain menyatakan: 49% sistem hukum tidak melindungi mereka (the legal system does not protect them). Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 33 . yang pada akhirnya membuat praktek hukum diwarnai judicial corruption. 57% sistem hukum masih tetap korup (the legal system is just as corrupt as it has always been problem). Di tengah buruknya kinerja peradilan saat ini. bahwa berdasarkan pengaduan masyarakat menyebutkan penyimpangan di lembaga peradilan menempati urutan tertinggi.

mengenai kehadiran pengadilan tindak pidana korupsi harus dicabut oleh Putusan Mahkamah Konstitusi karena dinilai bertentangan dengan konstitusi. Kemudian pada aspek kelembagaan. Sebab selama dua tahun terakhir (2005-2006) sedikitnya 29 perkara telah diperiksa dan diputus oleh pengadilan tipikor secara lebih cepat. Sebaliknya sepanjang periode tahun 2005-2006 ada kurang lebih 203 perkara yang telah diperiksa dan diputus oleh pengadilan. Dalam laporan korupsi global tahun 2007. arah untuk melakukan perbaikan sudah mulai ditunjukkan. putusan Mahkamah Konstitusi ini justru diinterpretasi lain oleh pihak-pihak tertentu. Perjalanan panjang untuk memberantas tindak pidana korupsi pada gilirannya pupus sudah. Timtas Tipikor dengan resmi harus dibubarkan karena masa pembentukannya sudah berakhir hanya dua tahun.Pada sisi regulasi. dan sele- 34 Bunga Rampai . walaupun belum terlalu memadai. Padahal kinerja lembaga ad hoc dinilai cukup memberi nilai lebih bagi kembalinya kepercayaan masyarakat terhadap pemberantasan tindak pidana korupsi. setidaknya karena beberapa hal. Pasal 53 UU Nomor 30 Tahun 2002. UU Mahkamah Agung. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-Undang Komisi Yudisial. dibentuklah Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi melalui UU Nomor 30 Tahun 2002 dan Pembentukan Timtas Tipikor melalui Keppres Nomor 11 Tahun 2005. UU Peradilan Agama dan sementara berjalan adalah perbaikan UU Peradilan Militer. eksistensi Pengadilan ad hoc Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) perlu diperkuat. Celakanya. yang sama kelasnya dengan pencurian. korupsi hanya kejahatan biasa saja. UU Peradilan Tata Usaha Negara. Sebagaimana Andi Hamzah berpendapat bahwa korupsi bukanlah extra-ordinary crime artinya. Seluruh kasus korupsi divonis bersalah dan tidak ada satupun yang vonis bebas. 72 perkara korupsi dengan 171 terdakwa korupsi (36%) telah divonis bebas oleh pengadilan. yang menginginkan agar pengadilan tindak pidana korupsi sebaiknya dihilangkan. Sebut saja perubahan berbagai kebijakan yang terkait dengan kekuasaan kehakiman. Perubahan UU pokok-pokok kekuasaan kehakiman. Pertama. Kedua. Tapi sayangnya. pembentukan kedua lembaga ini seperti harus bergerak tanpa amunisi.

Secara imperatif etis. termasuk oleh raja sendiri. Posisinya cukup mulia dan tidak mudah diintervensi oleh pihak mana pun. dimana the musketter ini memiliki tugas pokok dalam menjaga wibawa kekuasaan. sudah tentu diperlukan dalam memberikan assessment yang lebih obyektif sebagai kerangka mengembalikan kepercayaan publik terhadap dunia kekuasaan kehakiman yang telah kehilangan wibawa. setidaknya membawa spirit baru dalam menyingkap sisi gelap dunia peradilan saat ini. Komisi Yudisial berfungsi sebagai the musketter yang bertugas menjaga kehormatan dan kewibawaan kekuasaan kehakiman. The musketter adalah “sejenis tentara” sebagai pasukan khusus istana kerajaan yang bertugas untuk mencegah adanya bahaya laten dalam kerajaan Perancis di saat itu. Kehadiran Komisi Yudisial dalam struktur ketatanegaraan di Indonesia. Sebagai institusi yang memiliki sifat khas state auxiliary.bihnya lebih banyak divonis ringan. yang pola kerjanya seolah bertindak seperti spionase dan penjaga raja untuk mencegah terjadinya penyimpangan oleh pejabat-pejabat istana. pada sisi normatif sudah diamini dalam Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 35 . Orang-orang yang terpilih menjadi the musketter adalah mereka yang memiliki keterampilan (skill) khusus. Bahasa semantik ini terinspirasi dari sebuah ilustrasi film. Fakta tersebut menunjukan koruptor lebih banyak dapat dibuktikan kesalahannya di pengadilan ad hoc Tipikor daripada di pengadilan negeri biasa (Lubis. terutama perilaku pejabat kekuasaan kehakiman yang dinilai menyimpang. tetapi pada konteks ini lebih menggambarkan adanya instrumen kelembagaan yang memiliki spirit untuk berbuat kebajikan. Perumpamaan ini bukan ditujukan untuk menyebut Komisi Yudisial “sejenis tentara”. Komisi Yudisial: The Musketter Kekuasaan Kehakiman The musketter sebetulnya sebuah istilah yang digunakan dalam menjelaskan keterkaitan antara keberadaan Komisi Yudisial dengan pelaksanaan kekuasaan kehakiman. Kehadiran Komisi Yudisial dalam lingkaran kekuasaan kehakiman. dimana dihadirkannya sebuah institusi baru yang populer dengan Komisi Yudisial. 2007) Dalam sisi yang berbeda. juga ditemukan adanya struktur lembaga baru dalam konstitusi.

menjadi landasan hukum yang kuat bagi reformasi bidang hukum dengan memberikan kewenangan kepada Komisi Yudisial untuk mewujudkan checks and balances. kemandirian kekuasaan kehakiman (judicial power) dapat terus terjaga. (4) terjaganya konsistensi putusan lembaga peradilan. baik yang menyangkut rekruitmen dan monitoring hakim agung maupun pengelolaan keuangan kekuasaan kehakiman. Menurut Ahsin Thohari (2004). 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial.konstitusi. dan (5) dengan adanya Komisi Yudisial. sehingga diasumsikan tidak mempunyai kepentingan politik. yaitu fungsi pengawasan. karena setiap putusan memperoleh penilaian dan pengawasan yang ketat dari sebuah lembaga khusus (Komisi Yudisial). karena politisasi terhadap perekrutan hakim agung dapat diminimalisasi dengan adanya Komisi Yudisial yang bukan merupakan lembaga politik. Dalam makna ketat walaupun Komisi Yudisial bukan pelaku kekuasaan kehakiman namun fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman. Kehadiran Komisi Yudisial sebetulnya menjadi salah satu jawaban atas gagalnya institusi Mahkamah Agung dalam menjadikan kekuasaan kehakiman lebih berwibawa dan in- 36 Bunga Rampai . argumen utama bagi terwujudnya (raison d’atre) Komisi Yudisial di dalam suatu negara hukum. tingkat efisiensi dan efektivitas kekuasaan kehakiman (judicial power) akan semakin tinggi dalam banyak hal. (2) Komisi Yudisial menjadi perantara (mediator) atau penghubung antara kekuasaan pemerintah (executive power) dan kekuasaan kehakiman (judicial power) yang tujuan utamanya adalah untuk menjamin kemandirian kekuasaan kehakiman dari pengaruh kekuasaan apapun juga khususnya kekuasaan pemerintah. Jadi jelaslah bahwa Komisi Yudisial adalah lembaga negara sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang salah satu wewenangnya adalah melakukan pengawasan terhadap hakim. (3) dengan adanya Komisi Yudisial. adalah: (1) Komisi Yudisial dibentuk agar dapat melakukan monitoring yang intensif terhadap kekuasaan kehakiman dengan melibatkan unsur-unsur masyarakat dalam spektrum yang seluas-luasnya dan bukan hanya monitoring secara internal. Dalam ketentuan Pasal 24B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan UndangUndang No.

Begitu juga disaat munculnya isu penyusunan kode etik hakim. Menurut Mas Achmad Santosa. Di beberapa negara yang mengakui keberadaan adanya Komisi Yudisial. dalam faktanya tidak serta merta dapat diterima oleh pihak-pihak tertentu. bahwa lemahnya pengawasan internal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Terutama ketika Komisi Yudisial meminta agar putusan pengadilan menjadi objek pengawasannya. Umumnya perspektif mereka malah memandang Komisi Yudisial sebagai lembaga yang akan menggerogoti dan mengintervensi institusi peradilan. (3) belum adanya kemudahan bagi masyarakat yang dirugikan untuk menyampaikan pengaduan. kedua lembaga ini saling berebut terhadap siapa yang lebih berwenang untuk menyusunnya. kehadiran Komisi Yudisial. justru menunjukkan sikap yang sangat resisten terhadap keberadaan Komisi Yudisial.or. dan (5) tidak terdapat kehendak yang kuat dari pimpinan lembaga penegak hukum untuk menindak-lanjuti hasil pengawasan. Masalah pokok hilangnya wibawa kekuasaan kehakiman adalah terutama tidak efektifnya pengawasan internal (fungsional) yang ada di badan peradilan. bahwa pembentukan Komisi Yudisial sebagai lembaga pengawas eksternal didasarkan pada lemahnya pengawasan internal tersebut. Sebut saja Mahkamah Agung dalam banyak kisah belakangan ini. ketika Komisi Yudisial meminta perluasan kewenangan untuk menjatuhkan sanksi terhadap hakim yang dinilai bermasalah. (2) proses pemeriksaan disiplin yang tidak transparan. secara terbuka mempublikasikan dirinya untuk menjabat ketua Komisi Yudisial secara ex officio. Setiap upaya untuk memperbaiki suatu kondisi yang buruk pasti akan mendapat reaksi dari pihak yang selama ini mendapatkan keuntungan dari kondisi yang buruk itu. Pergulatan ini semakin diperparah. Sayangnya. antara lain: (1) kualitas dan integritas pengawas yang tidak memadai.dependen. soal seperti ini tidak serta Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 37 . (4) semangat membela sesama korps (esprit de corps) yang mengakibatkan penjatuhan hukuman tidak seimbang dengan perbuatan. Sehingga tidak terbantahkan. memantau proses serta hasilnya (ketiadaan akses).transparansi.id Namun demikian. jabatan ketua Komisi Yudisial memang dijabat secara ex officio oleh Ketua Mahkamah Agung. Cukup aneh juga ketika Ketua Mahkamah Agung. www.

sehingga menimbul- 2. punya tradisi cukup buruk dalam soal penyalahgunaan wewenang (abuse of power). Di tengah pergulatan panjang ini. apa objek yang diawasi. terutama dalam soal antara yang mengawasi dan diawasi. yaitu seolah-olah hubungan antara MA dan KY berada dalam pola hubungan “checks and balances” antarcabang kekuasaan dalam konteks ajaran pemisahan kekuasaan (separation of powers).merta harus diadopsi secara mentah-mentah mengingat dalam beberapa hal. memakai logika kuasa. tidak jelas dan tegas menentukan siapa subjek yang mengawasi. UUKY terbukti tidak rinci mengatur mengenai prosedur pengawasan. Perumusan Pasal 13 huruf b juncto Pasal 20 UUKY mengenai wewenang lain sebagai penjabaran dari Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 menggunakan rumusan kalimat yang berbeda sehingga menimbulkan masalah dalam penormaannya dalam UUKY yang menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). Kedua. karakteristik pejabat negara kita. justru mengaburkan makna pengawasan secara subtil. 3. Konsepsi pengawasan yang terkandung dalam UUKY didasarkan atas paradigma konseptual yang tidak tepat. Hal tidak jelas dan tidak rincinya pengaturan mengenai pengawasan dalam UUKY serta perbedaan dalam rumusan kalimat seperti dimaksud pada butir (i) menyebabkan semua ketentuan UUKY tentang pengawasan menjadi kabur (obscuur) dan menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid) dalam pelaksanaannya. Dan biasanya kekuasaan lembaga yang tersentralisasi sangat rentan mencipta oligarki kekuasaan. Ketiga. serta bagaimana proses pengawasan itu dilaksanakan. dimana aspek kontestasi justru dikebiri sebagai salah satu indikator demokrasi. instrumen apa yang digunakan. dengan sejenak terhenti ketika Mahkamah Konstitusi melalui putusannya Nomor 005/PUU-IV/2006 terhadap judicial review atas Pasal 13 jo Pasal 20 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial dinyatakan bertentangan dengan UndangUndang Dasar 1945. Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa: 1. Pertama. sangat mencenderai makna demokrasi substantif. 38 Bunga Rampai .

KY.go. UUMA. KY. Bahwa MA. ketegangan dan kekisruhan dalam pola hubungan antara KY dan MA akan terus berlangsung dan kebingungan dalam masyarakat pencari keadilan akan terus meningkat. DPR dan Presiden dianjurkan pula untuk melakukan perbaikan-perbaikan yang bersifat integral dengan juga mengadakan perubahan dalam rangka harmonisasi dan sinkronisasi atas UUKK. Tugas legislasi ini adalah tugas DPR bersama dengan pemerintah. terutama dalam pelaksanaannya. sehingga oleh karenanya harus menyerahkan segala urusan legislasi itu kepada pembentuk undang-undang. khususnya yang berkaitan dengan ketentuan mengenai pengawasan perilaku hakim. dan juga MK merupakan lembaga pelaksana undang-undang.kan penafsiran yang juga tidak tepat.mahkamahkonstitusi. UUMK. bukanlah tugas konstitusional MA. segala ketentuan Undang-Undang Komisi Yudisial yang menyangkut pengawasan harus dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat karena terbukti menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). kecuali apabila hal itu dimaksudkan hanya sebagai pendukung. Jika hal ini dibiarkan tanpa penyelesaian. Setiap lembaga negara sudah seharusnya membatasi dirinya masing-masing untuk tidak mengerjakan pekerjaan yang bukan menjadi tugas pokoknya. dan undang-undang lain yang terkait dengan sistem peradilan terpadu. KY. MA. www. Bahkan. Karena itu. Oleh karena itu. Undang-Undang Komisi Yudisial segera harus disempurnakan melalui proses perubahan undang-undang sebagaimana mestinya. dan juga MK dapat diikutsertakan dalam proses pembuatan sesuatu undangundang yang akan mengatur dirinya. yang pada gilirannya juga dapat mendelegitimasi kekuasaan kehakiman yang akan dapat menjadikannya semakin tidak dipercaya. Akan tetapi. Mahkamah Konstitusi juga merekomendasikan kepada DPR dan Presiden untuk segera mengambil langkah-langkah penyempurnaan Undang-Undang Komisi Yudisial.id Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 39 . Untuk mengatasi akibat kekosongan hukum yang terlalu lama berkaitan dengan tugas KY. dan juga MK untuk mengambil prakarsa yang bersifat terbuka untuk mengadakan perubahan undang-undang seperti dimaksud. tentu saja merupakan sesuatu yang logis dan tepat.

ke depan Komisi Yudisial bukan lagi menjadi sebuah institusi yang sifatnya auxiliary tetapi harus diletakkan sebagai kekuatan inti dalam penyelenggaraan kekuasan kehakiman. Menempatkan Komisi Yudisial pada kerangka yang tepat sebagai lembaga pengawas eksternal setidaknya memberi jaminan adanya sisi obyektifitas dan memiliki makna yang subtil bagi reformasi peradilan. Semua ini tentu harus disikapi secara simultan. tetapi perlunya 40 Bunga Rampai . Dalam makna ketat bahwa pilihan memperkuat atau memperlemah posisi Komisi Yudisial dalam struktur ketatanegaraan bukan hanya harus mengandalkan perlunya transformasi politik dalam tubuh legislatif maupun eksekutif. Nasib Komisi Yudisial memang tengah dipertaruhkan. Penyempurnaan terhadap ketentuan ini setidaknya diharapkan dapat memberikan penguatan kelembagaan terhadap Komisi Yudisial sebagai the musketter kekuasaan kehakiman di Indonesia. Premis di atas kesannya memang sangat dilematis. dikhawatirkan justru semakin memperburuk citra dan menghilangkan wibawa kekuasaan kehakiman di mata publik. Sementara. Ini sangat berpotensial. Menguatkan berarti mencipta “oase” untuk menghidupi kekinian dan masa depan. tetapi melemahkan berarti memberi gerak lahirnya “preman tribal atau mafia berdasi” yang akan melahirkan bangsa barbarism atau manusia penghancur dalam dunia kekuasaan kehakiman.Rekomendasi Mahkamah Konstitusi ini tentu saja menjadi pegangan bagi legislatif maupun eksekutif agar melakukan upaya konkret untuk segera merevisi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial. Boleh jadi. Menguatkan Komisi Yudisial melalui perluasan wewenang. justru dikhawatirkan akan menggerogoti independensi kekuasaan kehakiman. pengawasannya terhadap putusan hakim pengadilan justru diinterpretasi atau dipelintir sebagai tindakan intervensi terhadap kemerdekaan hakim. antara menguatkan atau memperlemah. apalagi bila objek pengawasannya adalah putusan hakim pengadilan. Dengan penuh harap semoga gagasan dan bahasa undang-undang dapat menyibakkan tabirnya untuk suatu keadaban dan keadilan bagi semuanya. Semua ini akan ditentukan dalam tuturan semantik dari legislatif maupun pemerintah lewat regulasinya. memperlemah keberadaan Komisi Yudisial. Sehingga demikian.

sudah tentu bukanlah jalan terakhir bagi sebuah perjuangan. Walau. Penuturan ini bukan untuk menggiring kedua institusi negara tersebut ke labirin arogansi institusional. semoga rute perubahan ini. Dengan segala harap. justru tidak melahirkan ”kacung-kacung baru” dalam dunia kekuasaan kehakiman. Atau menjebaknya ke dalam perebutan kredit point terhadap mana yang lebih baik. tentu saja tidak dilakukan dengan amburadul. butuh energi banyak untuk selalu menafasinya. Rentetan pemikiran ini. Transformasi politik yang berlangsung di legislatif maupun eksekutif. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 41 . tetapi setidaknya sebagai kerangka untuk evaluasi akan ”makna keberadaannya”di mata publik. sejatinya cukup penting digunakan untuk membangun ruang-ruang dialogis dalam menemukan makna perubahan yang signifikan dalam dunia kekuasaan kehakiman. yang sekadar melakukan revisi terhadap sejumlah regulasi terkait dengan kekuasaan kehakiman. Sisi penjelahan akan konsep Komisi Yudisial yang ideal mesti terus diusung. isu reformasi peradilan sangat relevan kiranya memperhatikan sisi keterkaitan antara transformasi politik dengan tingkat kinerja pelaksana kekuasaan kehakiman selama ini.sinergitas hubungan antara Komisi Yudisial dan Mahkamah Agung dalam memperbaiki kinerjanya. Pelintasan ruang dan waktu yang terus terbentang. Dengan demikian. tetapi yang lebih mendasar adalah perlunya melihat kinerja (performance) kedua institusi negara tersebut.

id). 2006. (http://www. 2006 Linz. Demokrasi Minus.mahkamahkonstitusi. Forum Media Utama. XIII – XIV. Ahsin. New Haven Gunawan. Jhon Hopkins University Press. Who Governs? Democracy and Power in an American City. 1996. 2006.id - 42 Bunga Rampai .or. Baltimore Thohari.id www. Problems of Democratic Transition and Consolidation. 6. Kumpulan Analisis di Majalah Forum.wordpress. Yudi. Jakarta Latif. 1961. Budi. Yale University Press. Juan.or.Visi Volume V. http://ahmadirfan. Komisi Yudisial & Reformasi Peradilan. Koloni Keadilan. A.ti.go. No. Stepan Alfred. hlm.transparansi.com www.Daftar Pustaka Dahl Robert.

dan gerakan sosial menjadi tertatih-tatih. meninggalkan reformasi peradilan mengakibatkan proses demokrasi berjalan tanpa arah. baik pada tataran kebijakan * Penulis adalah: Ketua Badan Pengurus Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN) Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 43 . Ia bukan lagi sebuah momentum.Komisi Yudisial Pengawal Reformasi Peradilan Mendayung Diantara Simpati dan Resistensi Firmansyah Arifin* Pengantar Reformasi peradilan merupakan sebuah keniscayaan. Sebaliknya. Reformasi peradilan menjadi bagian penting yang tidak bisa diabaikan dalam proses demokrasi dan gerakan sosial (social movement) yang lebih luas. tetapi spirit yang terus menggelora ditengah kegalauan publik yang senantiasa mendambakan rasa keadilan. reformasi peradilan perlu diupayakan agar mampu bersinergi dengan kekuatan/kelompok sosial-politik dalam masyarakat. Sejauh ini reformasi peradilan memang telah menghasilkan berbagai perubahan. reformasi peradilan akan kehilangan moralitas dan legitimasinya jika mengabaikan issue dan kepentingan hak-hak masyarakat. Karena reformasi peradilan menghendaki lembaga peradilan idealnya dapat dimanfaatkan untuk menjamin perlindungan terhadap kebebasan sipil-politik serta perlindungan sosial-ekonomi rakyat. khususnya masyarakat yang pro-reformasi peradilan. Bisa jadi. Pada titik ini.

Kehadiran KY memang memberikan harapan akan institusi peradilan yang bersih dan berwibawa.sampai pembentukan mekanisme dan institusi baru. Gagasan negara hukum mempunyai akar historis dalam perjuangan menegakkan demokrasi. reformasi peradilan (judicial) berjalan lambat jika dibandingkan proses reformasi pada ranah legislatif dan eksekutif. Selanjutnya. serta bebas dari mafia peradilan (judicial corruption). Namun hampir satu dasawarsa. Misi Penting Reformasi Peradilan Reformasi peradilan mempunyai tujuan dan tugas utama untuk menjamin dan mempertahankan prinsip-prinsip negara hukum yang demokratis. apakah cukup efektif untuk mendorong dan memperkuat reformasi peradilan. Dalam pengertian yang sederhana. dan simpati dapat terus diraih dan dikembangkan dalam mengawal reformasi peradilan menuju Negara demokrasi dan rule of law yang dicita-citakan. hingga membubarkan KY. Sepak terjang KY selama 2 tahun terakhir. Sebagai sebuah sistem politik dan pemerintahan. muncul pula resistensi terhadap KY yang hendak mendelegitimasi posisi dan peranan KY. Bahkan dalam beberapa hal mengalami proses maju mundur (back-forward). Dengan harapan resistensi dapat dieliminir. Termasuk dalam hal ini adalah Komisi Yudisial (KY) yang diperlukan untuk mengawal reformasi peradilan. Tulisan ini mencoba merefleksikan kembali peranan KY dalam konteks reformasi peradilan. Hal itu dapat dilihat pada Komisi Yudisial ketika menjalankan tugas dan kewenangannya. mencoba merumuskan kembali peranan dan langkah strategis KY kedepan. di negara hukum tidak ada warga negara yang berada di atas hukum dan karenanya semua warga negara harus patuh pada hukum. setidaknya mampu menuai simpati ketika mengusik eksistensi dan kemapanan para hakim. atau malah sebaliknya. khususnya yang berkenaan dengan hakim. Namun bersamaan dengan itu. gagasan demokrasi dan negara hukum dalam perkembangannya 44 Bunga Rampai . Sejauh mana upaya yang telah dilakukan. Hukum itu sendiri harus ditentukan oleh warga negara yang tidak lain merupakan pengaturan hubungan di antara sesama warga negara melalui cara dan mekanisme demokrasi (parlemen).

Sebab kelengkapan pertama Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 45 . Tetapi juga ditambah dengan perlunya prosedur perlindungan terhadap hak-hak yang telah dijamin dalam konstitusi. Hukum dibutuhkan untuk memastikan adanya jaminan kapasitas kontrol rakyat terhadap berbagai urusan publik. maka tidak ada demokrasi dan negara berdasarkan atas hukum (demokratische rechsstaat). tetapi mutlak mensyaratkan adanya rule of law. menjadi fungsi utama dari pemerintahan demokratis dan pemerintahan berdasarkan atas hukum untuk menjamin dan melindungi hak asasi manusia. Tanpa kehadiran kekuasaan kehakiman yang independen. demokrasi bukan hanya soal kebebasan sipil dan politik. dan kehilangan esensi keberadaannya. maka demokrasi hanya akan menjadi sekadar proyek liberalisasi politik. tak bermakna. Termasuk pula campur tangan dari unsur-unsur kekuasaan kehakiman itu sendiri serta kekuasaan ekonomi dan politik di luar sistem kekuasaan negara. Independensi atau kebebasan tersebut dimaksudkan tidak adanya campur tangan dari kekuasaan eksekutif dan legislatif terhadap pelaksanaan fungsi peradilan. Tanpa kedua hal tersebut. Melalui peranan para hakim sebagai pelaksana utama dari kekuasaan kehakiman. Prosedur yang dimaksudkan salah satunya adalah melalui kewenangan judicial review/constitutional review oleh kekuasaan kehakiman. Dengan pengertian lain. Gagasan negara hukum demokratis tidak hanya menegaskan bahwa kekuasaan kehakiman (judicial power) adalah kekuasaan yang merdeka (independent) dan tidak memihak (impartial). Independensi kekuasaan kehakiman sebagai sesuatu hal yang prinsipil di dalam negara hukum yang demokratis. Dalam pelaksanaannya. Lebih dari itu. Fokus pada hak asasi itu menjadi dasar normatif bagi gagasan demokrasi dan negara hukum. keadilan yang paling esensiil dapat disentuh berdasarkan atas hak asasi dari warga negara. Independensi di sini sekaligus merupakan independensi personal setiap hakim untuk menjalankan tugasnya tanpa ketakutan dan keberpihakan. demokrasi juga mensyaratkan adanya praktek penegakan hukum yang jelas dan tegas.didasari gerakan atau dorongan masalah bagaimana melindungi kebebasan individual atau hak asasi manusia dari tindakan sewenang-wenang para penguasa.

Hanya saja sebagaimana mulai dirasakan. Dalam hal ini dapat dibedakan bahwa independensi merupakan mekanisme kontrol sebelum suatu tindakan yudisial dilakukan yaitu meminimalisir masuknya pengaruh pihak luar terhadap proses pengambilan putusan yang imparsial oleh pengadilan. seorang hakim harus didasarkan pada intelenjensi dan kemauan belajar. Sedangkan akuntabilitas diperlukan sebagai mekanisme kontrol setelah suatu tindakan yudisial diambil. maka akuntabilitas dan legitimasinya menurun.dan utama untuk menegakkan kekuasaan kehakiman yang independen ada pada hakim. Dalam memutus perkara. yaitu sikap independen dan imparsial dalam memutus suatu perkara. dan pada akhirnya bisa menimbulkan masalah-masalah baru. Akuntabilitas diperlukan untuk memperkuat independensi. sebaliknya kewajiban lembaga peradilan untuk mempertanggungjawabkan segala tindakannya kepada publik akan dapat mengurangi kerentanan lembaga peradilan dari tekanan pihak luar. Pengawasan sebagai wujud dari akuntabilitas dan bagian dari checks and balances. 1993) Oleh karena itu. diperlukan untuk mencapai independensi dan impartialitas peradilan. Karena mengingat belum semuanya para hakim mempraktikkan judicial discretion. didukung keberanian dan pikiran yang dingin dan bebas dari pengaruh luar dan tidak goyah karena simpati dan prasangka. kecuali keinginan besar untuk menegakkan keadilan (Felix Frankfurter. Bahwa lembaga peradilan wajib mempertanggungjawabkan baik pelaksanaan fungsi yudisial maupun penyelenggaraan administrasinya. Kedua prinsip tersebut tidaklah bertentangan secara diametral. tetapi juga cara-cara penunjukkan atau pengangkatan hakim dan jaminan keberlangsungan mereka dalam melaksanakan jabatannya (Beetham & Boyle. dikontrol oleh prinsip-prinsip hukum. Kedua jenis independensi ini tidak sekedar menuntut jaminan-jaminan konstitusional formal. Sebab bukan mustahil ketika independensi kekuasaan kehakiman meningkat. misi penting bagi reformasi peradilan tidak hanya sebatas menegakkan independensi dan impar- 46 Bunga Rampai . independensi tanpa akuntabilitas bisa melangkah terlalu jauh. 2000). justru saling menunjang dan memperkuat.

bobroknya institusi peradilan sebagai akibat dari intervensi politik yang begitu panjang yang telah mereduksi independensi dan impartialitas peradilan. BK Harman. tidak lepas dari praktek sistem pemerintahan otoritarian yang diterapkan. 2005) telah mendiagnosis. terutama dari eksekutif. administrasi Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 47 . segi sosial/publik. Disamping problem lainnya seperti. penumpukan perkara. Tidak adanya jaminan independensi dalam konstitusi. semakin memudahkan intervensi politik yang membuat lemah kekuasaan peradilan ketika harus vis a vis dengan kekuasaan eksekutif. Pengadilan hanya menjadi abdi kekuasaan ketimbang berpihak pada rakyat. Setidaknya akuntabilitas dari segi politik.tialitas peradilan sebagai suatu prinsip dalam Negara hukum yang demokratis. 1999. kebenaran dan keadilan. Karakter dalam sistem pemerintahan otoritarian selalu menolak adanya checks and balances dan tidak mau mengakui adanya hak asasi manusia. Beberapa studi (Lev. 2001. Asrun. Sangat jarang pula hakim yang punya keberanian untuk melawan setiap kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan rakyat. serta putusan yang janggal dan mencederai rasa keadilan. Peradilan Yang Belum Berubah Mafia peradilan (judicial corruption) menjadi problem besar yang menimbulkan bobroknya institusi peradilan. Pada masa-masa itu jangan berharap ada banyak putusan-putusan pengadilan yang progresif dan memberi rasa keadilan. managemen dan administrasi peradilan yang tidak transparan. Tetapi penting juga bagaimana membangun dan menjaga sistem akuntabilitas dan mekanisme kontrol bagi para hakim agar peradilan tidak memunculkan abuse of power baru atau tyrani judicial. minimnya hakim yang berkualitas dan berintegritas. Yang ada adalah cerita sukses intervensi politik yang dimulai ketika urusan organisasi. 1989). KRHN-Leip. Pompe. Intervensi politik. 2004. 1997. Belakangan disadari bahwa intervensi yang bersifat ekonomi juga menjadi salah satu faktor penyebabnya. 1990. Sedangkan lembaga peradilan hanya menjadi alat untuk menjustifikasi dan melegitimasi perilaku kekuasaan eksekutif. ICW. segi hukum bagi hakim baik pejabat negara maupun secara personal (Mauro Cappeletti.

Praktik-praktik mafia peradilan disinyalir masih berjalan di setiap tahapan. Seperti kasus panitera pengganti dan hakim PN Jakarta Selatan yang memeras saksi dalam kasus korupsi PT Jamsostek. mulai dari pengadilan negeri (PN). reformasi peradilan dimulai dengan revisi kebijakan satu atap (UU No. Beberapa kasus hanya sebagian kecil yang berhasil terungkap. Dalam seleksi ini. Selain itu lewat amandemen konstitusi dibentuk lembaga Komisi Yudisial untuk rekruitmen hakim agung dan pengawasan hakim. Selanjutnya putusan-putusan pengadilan mesti mengikuti langgam pembangunan pemerintah. UU Pengadilan Umum) pada tahun 2004.dan finansial peradilan berada dalam kekuasaan eksekutif. 2003). Ketika momentum perubahan datang. Meski berbagai perubahan telah terjadi.2003. seleksi hakim agung dan Ketua Mahkamah Agung yang sebelumnya sangat tertutup. MA pun kemudian membuat dan merumuskan sejumlah paket rencana pembaruan yang akan dilakukannya (Blue Print MA. sampai MA. Revisi terakhir ini dipengaruhi oleh hasil Amandemen UUD 1945. pengadilan menjadi institusi yang tertutup. sejumlah hakim agung non karier yang berasal dari kalangan akademi dan praktisi hukum dipilih dan ditetapkan. pengadilan tinggi (PT). mulai dilakukan secara terbuka oleh DPR pada 2000 . UU MA. serta Mahkamah Konstitusi. Korupsi. dan para hakim yang lebih disibukkan dengan urusan kesejahteraan dan kepentingan sendiri. Bersamaan dengan revisi kebijakan. Sejumlah pengadilan khusus untuk mengadili perkara-perkara seperti pelanggaran HAM. Seakan tidak mau ketinggalan. yang telah memberikan jaminan konstitusional prinsip kemerdekaan bagi kekuasaan kehakiman. korup dan tidak berwibawa. tetapi untuk mendorong perubahan di tubuh internal MA. administrasi dan financial menjadi urusan Mahkamah Agung. Tujuannya bukan hanya sekedar mengisi kekosongan kursi hakim agung. dan kasus advo- 48 Bunga Rampai . 14/1970) yang menempatkan urusan organisasi. fakta lain memperlihatkan kondisi lembaga peradilan masih ditengarai berbagai persoalan yang sangat kontras dengan spirit dan agenda perubahan. dilengkapi dan diimplementasikan melalui revisi paket UU Bidang Hukum (UU Kekuasaan Kehakiman. juga dibentuk melalui undang-undang. Anak. Revisi tersebut selanjutnya dipertegas. Perlahan tapi pasti.

Sholeh. meski berbagai upaya perubahan telah dilakukan sejak reformasi 1998. serta perilaku hakim. Memaknai Kehadiran Komisi Yudisial Komisi Yudisial (KY) lahir dan dibentuk berdasarkan konstitusi. Serta kasus Probosutedjo yang mencoba menyuap majelis hakim di MA dengan uang milyaran rupiah. Transparancy International Indonesia (TII) mengeluarkan hasil survey tentang korupsi yang terjadi di lembaga-lembaga pemerintahan. Hasil survey ini melengkapi sejumlah survey atau polling yang telah dilakukan berbagai pihak. hampir semua terdakwanya kemudian diputus bebas oleh MA. Pada Mei 2007. Dari sejumlah kasus yang terungkap nampaknya belum membuat kapok para Mafioso peradilan. keluhuran martabat. dengan tersangka Harini Wijoso dan beberapa pegawai MA. pengadilan menempati urutan teratas untuk inisiatif melakukan suap. Putusan-putusan pengadilan. Ketentuan ini menjadi landasan hukum yang kuat bagi KY untuk memainkan peranan yang sangat penting dan strategis dalam usaha mewujudkan kekuasaan kehakiman yang merdeka didalam Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 49 . Fakta-fakta tersebut semakin membuat institusi peradilan terperosok dalam lubang kegelapan yang seakan-akan sulit untuk keluar. belum bisa memberikan rasa keadilan karena seringkali dengan mudah memberikan putusan bebas bagi para pelakunya. Dan itu berarti bahwa lembaga peradilan memang belum mengalami perubahan yang signifikan.kat Syaifudin Popon. yang dilakukan secara rutin setiap tahun. apalagi dilakukan secara tidak transparan. Posisi ini nampaknya tidak beranjak jauh dari hasil survey TII sebelumnya. Malah dalam kasus-kasus pelanggaran HAM. yang masih menunjukkan bobroknya institusi peradilan. Ramdhan Rizal dan M. dan memiliki kewenangan mengusulkan calon hakim agung serta kewenangan lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. dua panitera PT Jakarta. terutama dalam kasus korupsi dan HAM. Dari survey tersebut. Pasal 24B UUD 1945 menempatkan KY sebagai Lembaga Negara yang bersifat mandiri. Sementara pengawasan internal oleh MA sudah terbukti tidak efektif memberikan efek jera bagi para hakim dan pegawai pengadilan. Masih terjadi krisis kepercayaan.

Faktor lain yang mendorong kelahiran KY adalah kebutuhan untuk membangun sistem seleksi hakim agung yang lebih obyektif. obyek pengawasan KY terhadap hakim meliputi hakim agung dan hakim pada badan peradilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung. independen dan bertanggungjawab (accountable). kredible dan dapat memegang teguh prinsip independensi dan imparsial dalam membuat putusan (Blue Print MA. jelas bahwa Komisi Yudisial memi- 50 Bunga Rampai . kebutuhan KY dilandasi oleh spirit untuk mendorong dan membangun sistem dan pelaksana kekuasaan kehakiman lebih bersih. Sehingga hakim agung yang dihasilkan memiliki integritas.konteks negara hukum. 2003. Intinya. Lahirnya KY dari rahim konstitusi dilatarbelakangi oleh adanya kebutuhan untuk membangun sistem pengawasan hakim yang lebih efektif dan konstruktif. Naskah Akademis RUU Komisi Yudisial. mekanisme pengawasan hakim yang ada mengandung sejumlah kelemahan. Meski KY bukan pelaku kekuasaan kehakiman. Alasannya. Selain itu dalam konteks wewenang pengawasan. namun fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman yaitu fungsi pengawasan. transparan dan partisipatif. KY dapat menerima laporan dari masyarakat. serta hakim Mahkamah Konstitusi. dan cenderung mengedepankan esprit de’corps. meminta laporan tentang perilaku hakim. dan memberikan usul pemberian sanksi (punishment) dan penghargaan (reward). tidak accountable. Jika memperhatikan alasan-alasan pembentukan Komisi Yudisial tersebut di atas. Dalam sistem seleksi semacam ini diharapkan dapat dieliminir politisasi dalam penentuan calon hakim agung. Pengawasan hakim yang dijalankan MA sangat tertutup. yang pada gilirannya menyuburkan judicial corruption di tubuh institusi pengadilan. 2004). Masyarakat pun dapat terlibat secara aktif untuk memantau dan menilai secara kritis terhadap proses serta track record para calon hakim agung. melakukan pemanggilan dan pemeriksaan terhadap hakim. 22/2004 tentang KY kemudian menambahkan bahwa. Dapat dikatakan bahwa fungsi pengawasan inilah yang paling sering akan dilakukan oleh KY. Kondisi pengawasan seperti itu diakui sendiri oleh MA. UU No.

Tugas dan tanggungjawab tersebut tidaklah berakhir ketika DPR bersama Presiden telah memilih dan menetapkan calon hakim agung. Spirit perubahan ini mengubah paradigma dan praktek kekuasaan negara yang selama ini cenderung executive heavy atau legislative heavy. eksekutif dan yudikatif). Pembentukan KY ini sejalan dengan spirit dari perubahan (amandemen) UUD 1945. KY sesungguhnya merupakan mitra strategis dari DPR dan Presiden untuk melakukan dan mem- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 51 . Nababan. sang ujung tombak penegakan hukum di lembaga peradilan (A. ataupun keduanya telah membuat UU yang mendukung independensi peradilan. Mengembalikan rasa percaya publik pada kemampuan lembaga peradilan sebagai benteng terakhir penegakan hukum dan keadilan. telah mendudukan posisi dan kekuasaan lembaga-lembaga negara menjadi setara dan seimbang. Dalam kerangka perubahan itu. Spirit perubahan yang hendak memperkuat checks and balances antara cabang-cabang kekuasaan negara (legislatif. Dalam hal itu. Komisi Yudisial berperan untuk ‘membentuk’ (reshaping) peradilan di Indonesia. Komisi Yudisial berfungsi untuk merepresentasikan kontrol publik ke dalam lembaga peradilan. kewajiban untuk menjaga dan menegakkan kekuasaan kehakiman yang merdeka (independency of judiciary) bukanlah semata-mata menjadi tugas dan tanggungjawab MA dan MK.liki dua fungsi penting dalam upaya penegakan hukum dan keadilan di Indonesia: pertama. Kedua. Tidak ada lagi lembaga tertinggi dan tinggi negara. Komisi Yudisial diberi tanggung jawab konstitusional untuk mengontrol kinerja dan perilaku para hakim. yang tercermin dari sumpah jabatan dan representasi suara rakyat yang telah memilih secara langsung. dan diperlukan dalam menjalankan checks and balances. Ini adalah sebuah moralitas konstitusi dari kedua lembaga tersebut. haruslah senantiasa hadir ketika citacita atau ideologi independensi dan imparsialitas peradilan tidak bisa dijaga dan ditegakkan sendiri oleh MA dan MK. Yang dilihat adalah fungsi dan kewenangan yang telah diberikan. Akan tetapi tugas dan tanggungjawab itu. bersama-sama dengan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. Perubahan paradigma konstitusi tersebut. 2006). Tugas dan tanggungjawab itu juga menjadi kewajiban DPR bersama Presiden.

selain rekruitmen bagi hakim agung. guna mencegah penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) oleh institusi peradilan. membangun akuntabilitas dan memperluas partisipasi masyarakat. pengawasan dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. KY dimaksudkan untuk memperkuat checks and balances bagi kekuasaan kehakiman. professional dan terpuji. kehadiran dan wewenang yang diberikan kepada KY merupakan ‘mosi tidak percaya’ terhadap institusi pelaksana kekuasaan kehakiman. Mosi tidak percaya itu dapat ditunjukkan pula dari posisi Ketua MA yang bukan sekaligus ex officio Ketua KY sebagaimana Judisial Commission di berbagai negara. tekanan.perkuat kontrol (checks and balances) terhadap MA dan MK. martabat dan perilaku para hakim dapat terjaga. harkat martabat dan perilaku hakim oleh KY merupakan bentuk penolakan terhadap pengawasan internal yang sebelumnya dinilai tidak efektif. Jika dijabarkan ‘mosi tidak percaya’ itu. Jelas terlihat bahwa KY memiliki peranan penting untuk mendorong para hakim menjadi lebih bermartabat. Fungsi kontrol yang sedapat mungkin bisa menyeimbangkan terjaganya independensi hakim dengan akuntabilitas yang mesti dibangun. mosi tidak percaya itu dapat dilihat bahwa pemberian wewenang KY merupakan atribusi kewenangan dari kekuasaan eksekutif dan legislatif dalam menjalankan fungsi kontrol atau checks and balances terhadap kekuasaan yudikatif. khususnya MA. KY punya peran sinergis bersama DPR dan Presiden untuk mendapatkan calon hakim agung yang kredibel dan berintegritas. hanya KY satu-satunya lembaga yang diberi mandat oleh konstitusi untuk melakukan pengawasan terhadap hakim. Dalam pengertian lain. janji- 52 Bunga Rampai . Melalui KY diharapkan pula harkat. Dalam hal ini KY menjadi lembaga eksternal yang selalu melakukan pengawasan para hakim. KY harus menjamin judicial discretion bahwa hakim dalam mengambil keputusan harus bebas dari intervensi baik berupa ancaman. Dalam batas-batas tertentu. Pembentukan KY dan juga Komisi-Komisi independen lainnya adalah dimaksudkan sebagai Institutional Watchdog. Melalui kewenangannya. Dengan berpijak pada kerangka konstitusional di atas. Fungsinya adalah untuk memperkuat checks and balances.

Dan untuk pertama kali. praktisi hukum. KY Menuai Simpati dan Resistensi Komisi Yudisial terbentuk pada 2 Agustus 2005. bukan suatu hal yang mudah bagi KY ketika menjalankan fungsi dan kewenangannya ataupun mewujudkan visi-misinya. Keanggotaan KY terdiri atas unsur akademisi. diantaranya menyusun visi-misi organisasi. jujur.janji. (2) Melaksanakan pengawasan peradilan yang efektif. berwibawa dan memberikan rasa keadilan dengan hakim yang berintegritas dan progressif. KY memiliki peranan strategis untuk memperkuat proses reformasi peradilan yang belum selesai. bahwa tugas pokok yang akan dijalankan secara rutin oleh KY adalah melakukan pengawasan atau kontrol bagi hakim. dan simpati. serta pembentukan sekretariat jenderal beserta struktur organisasi maupun personalianya. KY merumuskan visinya “Menjadikan hakim sebagai insan pengabdi dan penegak keadilan”. Namun demikian. Visi-misi itu nampaknya sejalan dengan mandat yang diberikan konstitusi. Semua itu bertujuan untuk menegakkan keadilan. Setelah terbentuk. Intinya. Disatu sisi langkah-langkah dan kebijakan yang diambil KY dapat memberikan inspirasi dan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 53 . berani dan kompeten. (1) Menyiapkan Hakim Agung yang berakhlak mulia. Dengan legitimasi dari konstitusi. Sedangkan misinya. KY sudah mulai membangun capacity building yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas dan kewenangannya. KY dipimpin oleh M. terbuka dan dapat dipercaya. KY mulai membangun perangkat-perangkat organisasi. Sebagai landasan bagi pelaksanaan kewenangan dan pengembangan organisasi. mantan hakim dan jaksa serta masyarakat. (3) Mengembangkan sumber daya hakim menjadi insan yang mengabdi dan menegakkan keadilan. Keberadaan dan kehadiran KY memberikan harapan kembali akan peradilan yang bersih. Busyro Muqoddas seorang akademisi sekaligus advokat yang mendapat suara terbanyak dalam proses pemilihan di DPR. Setelah sekian lama institusi peradilan mengalami krisis kepercayaan sebagai akibat penyakit judicial corruption yang sudah demikian akut. pembentukan peraturan yang diperlukan sebagai landasan. sejak tujuh (7) orang anggotanya diangkat dan disahkan oleh Presiden.

meski para pemimpin ataupun Ketua MA merupakan buah dari proses reformasi. Tentu saja ide kocok ulang ini mengundang pro-kontra. Ide kocok ulang ini sempat disampaikan kepada Presiden SBY. Melalui kocok ulang hakim agung ini diharapkan akan ada regenerasi dan refresh kepemimpinan MA. Bisa 54 Bunga Rampai . NGO dan sebagian anggota DPR. Sebagian publik. KY pun menyiapkan pula draft Perpu untuk Seleksi Ulang Hakim Agung. karena setidaknya ini merupakan terobosan yang harus dilakukan Presiden kemudian disahkan oleh DPR. termasuk penulis. Simpati dan resistensi ini dapat tergambar dari sejumlah issue atau masalah yang muncul ke publik selama kurang lebih 2 tahun belakangan ini.simpati yang mendapat dukungan dari berbagai kalangan. baik yang bersifat individual maupun organisasional. akan mendorong presiden menjadi otoriter. Sebagian yang kontra menilai bahwa ide ini tidak mendasar. Seakan gayung bersambut. KY melontarkan ide seleksi ulang (kocok ulang) hakim agung. dan mempertanyakan apa alasannya bahwa hakim agung yang ada sekarang ini harus diseleksi ulang. Oleh karena itu. Dan melalui Perpu. leadership di MA sangat lemah. Tidak ada dasar hukum yang cukup kuat untuk melakukan itu. Dan menyerahkan proses seleksi ulang hakim agung ini melalui Perpu. Dikabarkan presiden menyetujui dan telah memerintahkan Mentri Hukum dan HAM (Menhuk-HAM) Hamid Awaluddin untuk membuatkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) nya sebagai payung hukumnya. solusinya adalah perlu ada penguatan kepemimpinan di MA melalui seleksi ulang hakim agung. Issue “Kocok Ulang” Hakim Agung Pada awal Januari 2006. sebagai bagian dari checks and balances terhadap kekuasaan yudisial. muncul resistensi yang tidak bisa dihindarkan. Ide ini berangkat dari pemikiran KY yang melihat bahwa problem riil mafia peradilan yang menjadi penyebab keterpurukan lembaga peradilan adalah tidak berjalannya managemen kepemimpinan di MA. 1. Atau dengan kata lain. Tetapi bersamaan dengan itu. Karena memang sama-sama disadari bahwa tidak ada perubahan yang signifikan dari kepemimpinan MA terhadap problem-problem peradilan. terutama dari kalangan akademisi. menilai bahwa ide ini sangat progressif.

2. 2006). Dari 333 laporan tersebut. 18 hakim telah direkomendasikan KY kepada Pimpinan/Ketua MA (Laporan Tahunan KY. dan ada yang dicabut kembali. Issue Pengawasan Hakim Sejak KY terbentuk.Juni 2006 (sebelum putusan MK). Presiden tidak jelas sikapnya dan Menhuk-HAM belakangan membantah bahwa dirinya telah diminta presiden untuk membuat Perpu Seleksi Ulang Hakim Agung. Meski KY telah menyerahkan draft Perpu ke tangan pemerintah. Ide ini pada akhirnya tidak sempat direalisasikan. Dari 754 laporan tersebut. termasuk para hakim agung yang jelas dan pasti menolak. masyarakat dengan antusias melaporkan hakim-hakim yang dinilai menyimpang dan tidak sensitif terhadap rasa keadilan. KY telah memeriksa dan memproses 333 laporan atau pengaduan hakim. KY secara proaktif melakukan penanganan beberapa kasus dugaan pelanggaran perilaku hakim. Ide kocok ulang hakim agung memang sempat membuat kejutan banyak pihak. Sedangkan sampai Desember 2006 (pascaputusan MK). Sebagian lainnya tidak ditindaklanjuti. Dari Agustus 2005 . Jumlah Hakim 4 3 1 3 2 2 Asal Pengadilan PN Bogor PT Banten PN Stabat PN Jakarta Selatan PN Jakarta Pusat PT Bandung Tabel: Jumlah Hakim Yang Mendapat Rekomendasi Selain laporan tersebut. KY telah menerima 754 laporan dari berbagai kalangan masyarakat.jadi ide kocok ulang ini menjadi bibit awal permusuhan atau resistensi dari kalangan hakim agung. diinformasikan bahwa KY telah menerima 28 laporan. sedang dalam proses. antara lain: • Pemeriksaan terhadap hakim yang mengadili kasus Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 55 .

terutama hakim agung. Sukabumi.• • • • • • sengketa Pilkada (Depok. yang menjatuhkan hukuman di bawah hukuman minimal. karena setidaknya bisa menimbulkan shock therapy dikalangan hakim. KY dinilai telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan dan mencemarkan nama baik hakim. Sudah menjadi rahasia umum kalau putusan itu dapat disesuaikan dengan keinginan “yang memesan”. simpati dari berbagai kalangan juga dibarengi dengan sikap sebaliknya yang secara terang-terangan diperlihakan oleh kalangan hakim. yaitu obyek yang diperiksa dan cara pemeriksaan yang dilakukan. Para hakim berpendapat bahwa putusan tidak bisa menjadi obyek pengawasan KY. dengan memainkan norma-norma hukum dan penafsiran hukum. Pemeriksaan terhadap majelis hakim PN Semarang yang mengadili kasus korupsi. Bandung. Karena 56 Bunga Rampai . Sedangkan KY bersikap sebaliknya. Sedangkan dalam hal cara. KY tidak berwenang memeriksa putusan hakim. Pemeriksaan terhadap majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang mengadili kasus korupsi dengan terdakwa ECW Neloe. Musi Rawas. Pemeriksaan terhadap majelis hakim Pengadilan Tipikor yang mengadili kasus korupsi dengan terdakwa Harini Wijoso Pemeriksaan terhadap hakim Pengadilan Negeri Stabat yang mengadili kasus anak dengan terdakwa Raju. Kendati demikian. Selayar. Setidaknya ada 2 hal yang selalu dipersoalkan para hakim kepada KY dalam melakukan pengawasan ini. Banyuwangi) Pemeriksaan terhadap majelis hakim Pengadilan Tinggi Banten yang mengadili kasus korupsi di Lingkungan DPRD Propinsi Banten Pemeriksaan terhadap majelis hakim Pengadilan Negeri Denpasar yang mengadili kasus narkoba dengan terdakwa Michellle Leslie. bisa dikatakan sangat positif. dan mengajak publik untuk senantiasa memusuhi hakim yang berperilaku menyimpang. Sepak terjang KY dalam melakukan pengawasan. bahwa putusan itu dapat menjadi pintu masuk (entry point) untuk melihat ada tidaknya penyimpangan atau tidak. Sumbawa. Dalam hal ini KY cukup berhasil meraih simpati dari publik.

Akibatnya. Yang terjadi malah konflik terbuka antara MA-KY. dll) meminta MK membatalkan sejumlah pasal dalam UU KY terkait dengan fungsi pengawasan hakim karena dianggap bertentangan dengan konstitusi. membuat laporan hasil pemeriksaan. Bahkan secara terang-terangan pimpinan MA menolak dan mengabaikan rekomendasi dari KY. Sayangnya putusan MK berbicara lain. memaksa badan peradilan lain atau hakim untuk memberikan keterangan atau data yang diminta. sejumlah hakim agung yang merasa nama baiknya tercemar oleh KY. Indriyanto Seno Adji. Untuk mencari titik temu dalam soal obyek dan metode pengawasan. MK dalam putusannya mengabulkan hampir semua permohonan. Putusan MK itu tidak hanya menghambat kerja-kerja KY dalam pengawasan hakim. KY se- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 57 . tapi juga merugikan para pencari keadilan. putusan MK ini mendorong simpati publik terhadap KY. ICW. usul pemberhentian hakim kepada presiden sejak pembelaan diri ditolak oleh Majelis Kehormatan Hakim. tidak ada satupun yang ditindaklanjuti oleh MA. Meski demikian. MK juga menolak hakim konstitusi menjadi bagian dari pengawasan KY. dilakukan pertemuan antara KY dengan MA. KY untuk sementara tidak bisa lagi melakukan usul penjatuhan sanksi. meski pada akhirnya bisa “berdamai”.kerapkali nama-nama hakim yang dilaporkan dan sedang dalam proses pemeriksaan terpublikasikan ke media massa. KY kehilangan kekuatan untuk melakukan pengawasan hakim. Semua rekomendasi yang disampaikan KY kepada MA. sempat mengadukan anggota KY ke Kepolisian. LBH Jakarta dan Kontras) mengajukan permohonan menjadi pihak terkait tidak langsung. Tidak cukup dengan hal itu. Pengajuan judicial review ini dikhawatirkan meniadakan fungsi pengawasan hakim dan jelas menghambat upaya pemberantasan mafia peradilan. Namun gesekan antara MA-KY tetap berlanjut. dan puncaknya adalah ketika 31 hakim agung mengajukan judicial review terhadap UU KY ke Mahkamah Konstitusi. Namun nampaknya tidak membawa hasil. Termasuk dalam putusan ini. Para hakim agung itu dengan didampingi sejumlah advokat (OC Kaligis. Kekhawatiran ini mengundang sejumlah lembaga swadaya masyarakat (KRHN. Setidaknya pasca putusan MK.

padahal putusan MK telah dijatuhkan sejak Agustus 2006. dan hal ini posititif. Atau Ketua MA sebaiknya ex officio sebagai Ketua KY. dan UU MK) mesti direvisi. KY terlihat begitu rajin membuat kegiatan dan perjanjian kerjasama (MoU) dengan berbagai pihak (akademisi/PT. Butir-butir penting dari rekomendasi itu yang dapat memperkuat peranan KY diantaranya adalah. Namun bisa jadi kemungkinan itu 3. KY sendiri telah menyiapkan usulan pasal-pasal yang harus direvisi. ormas. Misalnya. sanksi dari KY bersifat mengikat dan disampaikan langsung kepada Presiden. lembaga keagamaan. Vol I No.perti mendapat energi baru untuk menggalang berbagai potensi kekuatan dalam masyarakat. lengkap dengan naskah akademisnya. 5. Revisi UU KY ini bisa menjadi peluang untuk memperbaiki dan memperkuat kembali wewenang pengawasan KY. Tercatat sudah lebih dari 100 perjanjian kerjasama yang ditandatangani. lembaga Negara. MA sempat beberapa kali mengeluarkan statement atau pernyataan lewat media masa. terutama dalam mengawal revisi UU KY. organisasi profesi). Issue Revisi UU KY Sebagai akibat dari putusan MK. Usul atau pandangan ini memang terkesan hendak memdelegitimasi posisi dan peranan KY. seperti rekomendasi dari Lokakarya Dosen HTN Indonesia Wilayah Barat pada 22 Maret 2007. Setidaknya perintah langsung putusan MK adalah meminta DPR dan Pemerintah untuk melakukan sinkronisasi dan harmonisasi undang-undang tersebut. UU Kekuasaan Kehakiman. meminta pembentukan KY di daerah-daerah untuk mempercepat reformasi peradilan dan mendukung sepenuhnya percepatan revisi UU No. 58 Bunga Rampai . UU KY bersama sejumlah UU lain yang terkait (UU MA. Sayangnya sampai saat ini tidak jelas kapan revisi UU KY akan diproses. NGO. putusan dapat ditelaah oleh KY sebagai entry point ada tidaknya pelanggaran hakim. 22/2004 tentang KY (Buletin KY. usul tentang sebaiknya pengawasan KY hanya untuk hakim dan tidak untuk mengawasi hakim agung. dan pengawasan KY diintegrasikan dalam pengawasan internal di MA. Setidaknya itu bisa menjadi kekuatan potensial untuk memperkuat peranan KY. April 2007) Disisi lain. Dalam konteks ini dukungan juga bermunculan.

berhasil jika tidak ada pengawalan yang baik terhadap revisi UU KY, mengingat tidak semua anggota DPR pro terhadap reformasi peradilan. Sebagaimana pernah diakui sendiri oleh seorang anggota DPR yang menyatakan hampir 80% anggota DPR tidak pro-reformasi peradilan, lainnya menyatakan hanya 50%. (F. Arifin, makalah, 2006). 4. Issue Seleksi Hakim Agung Proses seleksi Hakim Agung diawali dengan surat dari MA yang memberitahukan tentang Hakim Agung yang akan pensiun pada tahun 2006. Dan selanjutnya sesuai kesepakatan dengan pimpinan MA, akan diusulkan sejumlah calon Hakim Agung untuk mengisi formasi 6 orang Hakim Agung. KY harus mengusulkan 3 kali lipatnya kepada DPR, sebagaimana ditentukan dalam UU KY. Kemudian DPR memilih dan memutuskan 6 dari 18 calon hakim agung, dan selanjutnya diserahkan kepada Presiden untuk ditetapkan. Kewenangan dalam menyeleksi Hakim Agung ini merupakan kali pertama dilakukan lewat KY, yang diharapkan dapat lebih baik dari proses seleksi yang sebelumnya dilakukan oleh DPR. Ini tentu saja taruhan besar bagi KY. Jika hasil seleksi hakim agung KY lebih baik, KY tentunya mendapat appreciate yang tinggi. Jika sebaliknya, bisa jadi performance dan kredibilitas KY akan diragukan publik. Berbeda dengan proses sebelumnya, seleksi hakim agung kali ini terdiri dari beberapa tahapan; seleksi administratif, penilaian karya ilmiah, dan kesehatan, seleksi kepribadian/profile assessment, dan seleksi kualitas/wawancara. Kecuali tahap seleksi wawancara, dalam setiap tahapan lainnya, KY melibatkan sejumlah pihak yang dianggap kompeten untuk menangani hal itu. Termasuk dalam hal ini usul dan laporan dari masyarakat tentang track record masing-masing calon. Dengan mengedepankan soal integritas dan kualitas, KY kemudian mengabaikan soal kuantitas dalam menentukan hasilnya. Dari 130 bakal calon yang mendaftar, pada akhirnya KY memutus 6 orang calon yang dinilai layak untuk disampaikan kepada DPR. Hasil ini mengundang kontroversi, karena KY meloloskan Ahmad Ali seorang calon yang dianggap berperilaku tidak terpuji dan diduga kuat terlibat dalam kasus korupsi. Apalagi keputusan meloloskan Ahmad Ali ini dilakukan dengan cara voting, 2 menolak dan 5 meloloskan. Akibatnya KY mendapat banyak kritik yang memperKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

59

tanyakan metode dan keputusan dalam seleksi hakim agung ini. Hasil itu juga tidak sepenuhnya diterima oleh DPR. DPR meminta KY untuk melengkapi kekurangannya bahwa KY harus mengusulkan 3 kali lipat dari yang dibutuhkan. DPR tidak akan memilih dan memutuskan hasil dari KY sebelum KY melengkapinya. Sikap DPR ini memaksa KY untuk melakukan seleksi hakim agung tahap kedua. Walaupun kemudian KY telah melengkapi jumlah kekurangannya, namun nampaknya DPR tidak cukup puas dengan calon hakim yang dihasilkan KY. Sejumlah anggota komisi hukum DPR yang melakukan fit and proper test calon hakim agung, beranggapan calon hakim agung yang dihasilkan KY tidak berkualitas. Kritik juga terlontar terhadap anggaran sebesar + Rp. 4 miliar yang digunakan dalam seluruh proses seleksi hakim agung. Issue anggaran ini menjadi bola panas, dan menuai kritik dari sejumlah pihak (DPR dan MA). Mereka mempertanyakan besarnya anggaran yang digunakan, dan mengganggap tidak sebanding dengan hasilnya. Meski telah dijelaskan secara terbuka, dan pada seleksi kedua terjadi perubahan metode/tahapan agar bisa mengurangi anggaran yang digunakan, tapi nampaknya tidak cukup berhasil untuk menepis issue anggaran yang dianggap terlalu boros. Bagi sejumlah kalangan, peranan KY dalam melakukan seleksi hakim agung ini memang diluar harapan. Ada sejumlah persoalan yang tidak bisa dijelaskan dan dijawab dengan baik, terutama menyangkut soal konsistensi antara tujuan dengan hasil seleksi. Dalam hal ini KY selalu menyatakan lebih mengedepankan integritas dan kualitas. Namun ternyata, ada beberapa calon Hakim Agung yang kemudian diragukan kapasitas dan integritasnya. Nampaknya peranan KY dalam seleksi Hakim Agung ini, ‘menggoyahkan’ simpati terhadap KY yang sudah terbangun. Mengelola Simpati, Meminimalisir Resistensi Keberadaan dan kehadiran KY dalam sistem hukum dan ketatanegaraan Indonesia, memang memberikan harapan akan perbaikan sistem peradilan. Dalam dua tahun KY menjalankan fungsi, tugas dan kewenangannya, menunjukkan bahwa KY memiliki peranan yang signifikan dan strate-

60

Bunga Rampai

gis untuk mendorong dan memperkuat reformasi peradilan. Dengan kata lain, KY akan menjadi “pengawal setia” reformasi peradilan, khususnya dalam mencari dan memperbaiki kualitas dan integritas para hakim. Meski terbatas, selama ini KY cukup berhasil untuk “meng-entertaint” fungsi dan kewenangannya. Setidaknya hal itu dapat terlihat dari pemberitaan yang muncul mengenai sepak terjang KY lengkap dengan konflik yang terjadi diseputarnya. Ini suatu hal yang positif bagi sebuah lembaga baru, sehingga publik banyak mengenal dan mengetahui tentang KY. Ditambah upaya dari KY sendiri yang memperluas jejaring kelembagaannya dengan banyak lembaga/organisasi. Sehingga KY tidak hanya menuai simpati, tetapi juga dukungan riil dari berbagai kalangan. Simpati dan dukungan itu setidaknya dapat terlihat dari NGO, akademisi, kampus, praktisi/pengamat hukum, tokoh masyarakat/agama, ormas, sebagian anggota DPR, lembaga Negara/pemerintah, organisasi profesi serta pers. Pada saat yang bersamaan upaya perlawanan atau resistensi terhadap KY juga bermunculan. Resistensi muncul terutama dari kalangan hakim dan unsur/pihak MA, yang merasa eksistensi dan “kemapanan”nya terusik dengan kehadiran KY. Sebagaimana tergambar di atas, upaya perlawanan itu dilakukan dalam berbagai bentuk, mulai dari membangun opini, penolakan rekomendasi sampai langkah dan upaya hukum untuk mendelegitimasi keberadaan KY. Dalam hal-hal tertentu, resistensi juga muncul dari sebagian anggota legislatif dan kalangan advokat, yang khawatir dengan peranan KY dapat mengganggu kepentingan mereka. Resistensi dari sejumlah pihak dengan berbagai bentuknya itu, nampaknya sudah menunjukkan watak sesungguhnya yang anti terhadap perubahan. Terhadap resistensi itu, nampaknya KY belum bisa sepenuhnya meng-counter dan menjadikan hal itu menjadi issue publik. Misalnya, penolakan terhadap rekomendasi KY dapat dijadikan issue pejabat Negara yang tidak patuh pada aturan hukum. Lambannya revisi UU KY dapat dikemas menjadi issue hambatan dalam pemberantasan mafia peradilan. Juga terhadap issue anggaran seleksi Hakim Agung, dapat dilawan dengan minimnya anggaran untuk bidang hukum atau peradilan. Karena selama ini terjadi diskriminasi angga-

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

61

ran untuk kekuasaan yudisial jika dibandingkan anggaran untuk legislatif dan eksekutif. Pada sejumlah issue-issue tersebut di atas, KY juga tidak memaksimalkan simpati dan jejaring yang telah didapat untuk memberikan dukungan yang diperlukan. Entah dikemanakan banyak pihak yang telah mengikat kerjasama dengan KY. KY belum cukup berhasil mengelola simpati dan jejaring untuk melegitimasi dan memperkuat peranan KY. Disamping itu, nampaknya kondisi internal KY belum cukup kuat dan solid untuk memanage potensi kekuatan dengan tantangan yang ada, dan menjadikannya sebuah peluang yang dapat diambil. Termasuk dalam hal ini dalam memanage potensi konflik, membangun opini publik dan memaksimalkan kapasitas sumber daya manusia yang ada. Sebagai lembaga komisi independen yang baru terbentuk, memang tidak mudah untuk menjalankan fungsi dan kewenangannya. Umumnya hal ini terjadi pada lembagalembaga komisi independen yang telah terbentuk. Apalagi dengan kewenangan yang terbatas, lemahnya komitmen dan political will, serta arus balik anti reformasi yang sudah mulai melakukan konsolidasi dan menguat. Kebanyakan tidak cukup berhasil untuk mengelola kewenangannya dengan baik, bahkan ada beberapa diantaranya mengalami krisis kelembagaan dan terancam bubar. Tetapi hal itu nampaknya tidak demikian bagi KY. Perlu diingat, bahwa KY memiliki legitimasi yang kuat sebagai satu-satunya lembaga komisi independen yang diatur tegas dalam konstitusi. Pengaturan dalam konstitusi membuat keberadaan KY lebih terjamin. Karena itu kecil kemungkinan KY dapat mengalami seperti halnya lembaga komisi independen lainnya. KY harus menghindari itu, dan menjadi lembaga yang “seolah-olah ada”, serta cenderung birokratis. Kedepan KY perlu mengelola simpati lebih baik lagi agar menjadi lebih produktif dan mendukung kerja-kerja KY. Sejalan dengan hal itu, perlu diminimalisir hal-hal yang dapat menuai resistensi dari berbagai kalangan terutama para hakim. Sekalipun terjadi, sedapat mungkin dieliminasi agar tidak mendelegitimasi posisi dan peranan KY Usaha tersebut mengharuskan peran serta dari sejumlah pihak yang punya kewajiban dan kewenangan memperbaiki dan men-support peranan KY. Tidak bisa dilakukan oleh KY

62

Bunga Rampai

sendiri. Oleh karena itu, agar performance KY lebih baik lagi, yang perlu dilakukan kedepan adalah sebagai berikut; 1. 2. mendorong dan menjadikan issue/masalah KY menjadi issue publik, sehingga simpati yang telah diraih dapat lebih konkrit dan diperluas. memaksimalkan peranan jejaring yang telah ada dengan men-desentralisasi kewenangan KY terutama kewenangan mengawasi hakim. Untuk hal ini setidaknya dapat dibentuk segera perwakilan KY di sejumlah daerah yang rawan mafia peradilan, serta terdapat jejaring yang cukup potensial dan mampu menjalankan desentralisasi kewenangan itu. menyiapkan perangkat-perangkat organisasi, terutama regulasi internal yang diperlukan untuk memperlancar pelaksanaan tugas dan kewenangan KY, terlebih penting dapat membuat KY lebih transparan, akuntable dan legitimate dimata publik. menyusun code of conduct yang dapat dijadikan sebagai pedoman dan indikator dalam hal pengawasan hakim. Untuk hal ini ada baiknya disusun secara bersama dengan MA. memperkuat fungsi dan peranan KY di dalam revisi UU KY, terutama menyangkut soal pengawasan hakim dapat dilakukan secara efektif. Dalam hal ini setidaknya KY dapat memberikan sanksi yang bersifat mengikat kepada Presiden tentang hakim yang terbukti melanggar perilaku. melakukan kampaye dan pendidikan kepada publik untuk terus-menerus secara konsisten memerangi dan melawan mafia peradilan. Termasuk dalam hal ini meminta kepada DPR dan Presiden agar sungguh-sungguh melakukan pemberantasan mafia peradilan sebagai bagian dari upaya memberantas korupsi.

3.

4.

5.

6.

Epilog Sungguhpun disadari dan dirasakan bahwa membangun sistem peradilan yang baik dan bersih dengan melawan judicial corruption yang telah berurat akar didalamnya, tidak semudah membalik telapan tangan. Tidak segampang yang telah dibayangkan dan direncanakan, akan tetapi upaya ini harus tetap terus dilakukan. Keberadaan dan kehadiran
Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

63

Komisi Yudisial memberikan harapan dan arti penting untuk tetap menjaga dan merawat upaya reformasi peradilan. Upaya yang barangkali tidak pernah diketahui kapan akan berhenti, demi tujuan mulia menegakkan kebenaran dan keadilan. Sejauh ini peranan Komisi Yudisial dapat menjadi spirit dan inspirasi dalam melanjutkan reformasi peradilan. Setidaknya melalui pengawasan para hakim dan menyiapkan hakim agar lebih berkualitas, professional, terpuji dan berpihak pada keadilan. Betapapun kemudian upaya yang dilakukan KY tidak mulus, karena adanya resistensi yang menghambat kerja-kerja KY sekalipun simpati dan dukungan juga bermunculan. Terlihat tidak mudah bagi KY untuk mendayung diantara simpati dan resistensi dalam mengawal reformasi peradilan. Namun yang jelas dan pasti para pencari keadilan masih tertindas dan merasakan ketidakadilan. Suatu kondisi yang tidak bisa dibiarkan berlarut-larut dan harus dihentikan. Mengingat KY memiliki peranan strategis dalam mengawal reformasi peradilan, maka sudah sepatutnya peranan KY perlu diperkuat kedepan. Langkah-langkah yang perlu dilakukan tidak hanya ditujukan kepada KY, tetapi juga DPR dan Presiden sebagai penerima langsung mandat rakyat yang sudah rindu akan penegakan hukum dan keadilan. Semoga tidak menjadi sebatas harapan.

64

Bunga Rampai

reformasi juga terkait pada masalah sistem. kejaksaan dan advokat. maka penilaian berdasar standar internal saja tidaklah cukup. Kecuali alasan empirik. menemukan banyak kekurangan dan hal-hal negatif di peradilan. Sekalian institut dalam peradilan memiliki standar masing-masing yang digunakan untuk melakukan penilaian.Kontribusi Lembaga Sosial Mendorong Reformasi Peradilan Oleh Satjipto Rahardjo Latar Belakang Reformasi Reformasi suatu peradilan tentu memiliki alasan mengapa peradilan harus direformasi. seperti pengadilan sendiri. Interaksi ada secara laten (latent). Alasan empirik yang didorong oleh keterbukaan tersebut. melainkan berada dalam jagat yang lebih luas. maka reformasi tentunya akan menyangkut pula sekalian komponen dari peradilan. Tuntutan transparansi tersebut membuka keKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 65 . seperti produk. Terdapat interaksi antara institut dan publik. Sejak peradilan itu memiliki beberapa komponen. serta transparansi. kapanpun juga. serta tingkat kepuasan publik. sehingga hampir tidak ada putusan publik yang tidak didemo. desentralisasi kekuasaan. Tetapi ia menjadi lebih intensif sejak kelahiran apa yang dinamakan Orde Reformasi dengan kredo demokratisasi. kinerja (performance). Ini dinamakan standar internal. oleh karena institut itu ada untuk melayani publik. Sejak suatu institut tidak ada untuk dirinya sendiri. Di sini peranan publik makin mendapat angin dan terus merangsek maju. Alasan empirik bergerak pada ranah praksis peradilan sehari-hari.

sekarang bertambah besar dan kuat. 1957). Undang-Undang Dasar memiliki otoritas tertinggi untuk menentukan bagaimana sistem peradilan di negeri ini akan dibangun. Meminjam istilah Jose Ortega y Gasset (y Gasset. Pada ranah dan aras sistem. bahkan mungkin untuk sementara secara jujur harus dikatakan. Indonesia pelan-pelan bergerak menuju. para ”preman”). sehingga tidak ada borok yang bagaimana kecilpun yang tidak menerima sorotan dari masyarakat. Sejumlah besar kejadian telah berhasil dihimpun oleh institut-institut independen. bukan ”de opstand der democratie”.sempatan yang luas untuk melakukan eksaminasi terhadap praksis dan jalannya peradilan. Otonomi kekuatankekuatan dalam masyarakat tampil menjadi semakin perkasa. maka reformasi dikaitkan kepada rancangan sistem atau bangunan peradilan yang berawal dari Undang-Undang Dasar 1945. Dari suatu ”state-based society”. Lembaga Sosial Sebagaimana diuraikan di atas. atau dalam istilah Indonesia. yaitu suatu tipe pemerintahan yang berbasis kekuasaan hampir-mutlak. “civil society”. apa yang dikenal sebagai. Sejak jatuhnya pemerintahan Presiden Soeharto. akibat demokratisasi. melainkan ”opstand der horden” (bangkitnya massa. Lembaga Pemantau Peradilan dan Transparensi Internasional. untuk kemudian berubah menuju pemerintahan yang lebih bersifat kerakyatan. masyarakat madani. Tidak semua berlangsung secara ideal. Momentum reformasi peradilan memberi kesempatan kepada kita untuk memikirkan kembali tentang rancangan peradilan menurut Undang-Undang Dasar dan apakah pesan serta amanat dalam Konstitusi itu sudah diselesaikan dengan baik. Bukan demokrat-demokrat sejati yang muncul. Bukan pemilihan oleh rakyat yang jujur yang terjadi. yang memberi alasan kuat untuk melakukan reformasi peradilan. seperti ICW. peran masyarakat atau publik ke dalam urusan kenegaraan dan pemerintahan. melainkan banyak juga para “preman”. berbagai tembok atau bastion dari orde pemerintah lama telah diruntuhkan. bahwa tampilan yang buruk dan negatif lebih menonjol daripada yang diidam-idamkan oleh perubahan tersebut. melainkan 66 Bunga Rampai .

Karena reputasinya itu maka di tengah-tengah kuatnya cengkeraman pemerintah. melainkan penalaran oleh uang atau kapital. Komnas belum pernah sekalipun bertemu dan menerima ”pesan” dari Presiden Soeharto. Hal itu memang memprihatinkan. Lembaga sosial boleh disebut sebagai presentasi persepsi masyarakat yang relatif jujur atau tidak terkooptasi oleh kepentingan penguasa. ia justru memanfaatkan jabatannya itu.pemilihan berdasarkan ”kekuatan uang”. namun secara cukup mengejutkan ternyata mampu menjaga independensi dan integritas serta mengambil jarak dari pemerintah. melainkan lebih merupakan suatu otonomi yang didasarkan pada penalaran ”apa yang kelompok saya bisa dapat”. dan penyerbuan terhadap Kantor Pusat PDI-P. Baharudin Lopa. Komnas sempat menjadi ikon dan tumpuan harapan masyarakat. oleh karena dapat merusak reputasi lembaga sosial yang memang bersungguh-sungguh ingin menjadikan rakyat sebagai raja. Otonomi daerah tidak menyumbang kepada kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Tetapi keadaan seperti itu tak perlu terlalu dirisaukan. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas) generasi pertama (1993-2001) sering mendapat sebutan yang demikian itu. Sebagai Direktur Jenderal Pemasyarakatan pada waktu itu. melainkan tercatat pula lembaga yang tidak demikan. yaitu lembaga yang disponsori oleh pemerintah. seperti di jaman pemerintahan Soeharto. Selama keberadaannya. sehingga lembaga yang benar-benar berkualitas saja yang akan bertahan. penembakan di Irian. Terkadang ada seloroh mengenai adanya lembaga sosial ”pelat merah”. Ia cukup cepat merespons setiap kejadian dugaan pelanggaran HAM. turun ke lapangan dan membuat simpulan serta pernyataan yang cukup berani. Memang rupa-rupanya tidak sekalian lembaga sosial itu baik dan jujur serta beramanah. sebagai Sekretaris Jenderal. Bukan penalaran nurani rakyat. oleh karena pada akhirnya akan terjadi seleksi alami. melainkan harus berani menghadapi berbagai eksaminasi yang dilakukan oleh masyarakat melalui lembaga sosial yang makin menjamur itu. seperti dalam Kasus Marsinah. Peradilan sekarang tidak dapat lebih lama berlindung di bawah wibawa pemerintah. sehingga Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 67 . berperan besar dalam memotori gerakan-gerakan Komnas.

tetapi ia tetap memiliki watak untuk disebut sebagai lembaga mandiri dan karena itu dapat digolongkan ke dalam lembaga sosial. menjadi konsultan dan lain-lain. Universitas yang sarat dengan watak keilmuan. Komunitas ini melakukan pengamatan (observe) terhadap sekalian hal yang terjadi di masyarakat. bangsa dan negara. Penampilan yang lebih maju dilakukan melalui pembentukan pusat-pusat kajian. Rupa-rupanya kalangan pemerintahan belum dapat membedakan secara baik antara Lopa sebagai Dirjen dan sebagai anggota Komnas yang mandiri. kekuatan tersebut belum benar-benar tampil sebagai suatu kekuatan sosial aset bangsa. Peluang ini digunakan oleh Komnas untuk ”menggedor” jajaran pemerintah dan ABRI yang melakukan pelanggaran HAM. menguji dan meneliti. Kendati suatu universitas negeri dibiayai dari anggaran belanja negara. seperti Pusat Studi Anti Korupsi pada Universitas Gajah Mada. yang terdiri dari para scholar dan peneliti. Namun demikian. tak dapat disetir dan dikooptasi oleh pemerintah. Itu meru- 68 Bunga Rampai . Komunitas akademi yang ideal adalah independen. dengan begitu ia tetap merupakan aset bangsa yang belum dapat memberikan kontribusi secara optimal terhadap penyelesaian permasalahan masyarakat. jujur dan membuat simpulannya sendiri yang secara relatif tidak dicemari oleh kepentingan tertentu. Komunitas Akademi Satu kekuatan sosial yang belum termanfaatkan dengan baik adalah dunia akademi. tetapi masih lebih berada dalam apa yang sering disebut sebagai sebuah ”menara gading”. Selebihnya mereka sangat disibukkan oleh kegiatan mengajar. didasarkan pada kaidah keilmuan yang obyektif.Komnas sering dengan relatif mudah dapat memasuki ranah yang ”dikuasai” pemerintah. apabila diminta sebagai pembicara dalam seminar. Dengan mempertahankan posisi yang demikian itu memang komunitas akademi dapat mempertahankan kejujurannya dalam menelaah berbagai permasalahan dan kalau perlu membuat solusi tindakan. Di Indonesia. Sesekali mereka ”turun dari gunung”. Komunitas akademi memiliki sekalian persyaratan untuk dimasukkan juga ke dalam barisan lembaga sosial.

Oleh karena ketiadaan keterbukaan.pakan kemubaziran yang disayangkan. Dalam hal perekrutan hakim. sprang naturally from the nature of recruitment process. A Study of Institutional Collapse” (Pompe. maka banyak peluang bagi terjadinya hal-hal yang tidak baik (improprieties). pada tahun 1996. organisasi pengadilan.” Komentarnya terhadap standar profesionalitas adalah. “This condition. makin menurunnya pengetahuan dan kesepakatan mengenai hukum yang berlaku. Disertasi tersebut (Fifty Years Indonesian Supreme Court. Dikatakan oleh Pompe. Dengan data yang kaya.. Dikatakan oleh Pompe. khususnya Mahkamah Agung Republik Indonesia. which has been largerly directed toward recruiting leaders who have either strong ties to the executive branch of the government or accomodating dispositions. Penelitian tersebut selesai ditulis sebagai disertasi yang dipertahankan di Universitas Leiden. Metode yang digunakan sangat kuat berdasarkan fakta. 2005). 1996) kemudian diterbitkan sebagai buku pada tahun 2005 berjudul “The Indonesian Supreme Court. Penelitian Sebastiaan Pompe Sebastiaan Pompe telah melakukan penelitian yang sangat intensif terhadap dunia pengadilan di Indonesia.” Kelemahan dan kekurangan tersebut muncul dari proses penerimaan (recruitment) hakim yang terlalu melihat kepada kedekatan seseorang calon dengan eksekutif. as a number of chairmen have failed to impose institutional values on the Court’s environment and have also failed to enhance internal cohesion and morale. tidak terdapat keterbukaan dan peranan birokrasi sangat kuat (effectively controlled by the bureaucracy). menurunnya perbandingan penge- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 69 . Pompe menuliskan seluk beluk perjalanan sejarah Mahkamah Agung yang menyoroti aspek-aspek pengaruh dan intervensi politik terhadap Mahkamah.. negeri Belanda. characterized by weak leadership. serta kualitas para hakim.” Banyak Ketua Mahkamah yang tidak menjalankan kepemimpinannya dengan ideal. “This lack of transparency is an important factor in obscuring the personalities of the judges who are recruited and the views which they hold. baik dokumen maupun catatan-catatan wawancara (fact-based research). . fungsi pengadilan. “The leadership standards of many Supreme Court Chairmen have fallen far short of the ideal.

bukan karena tidak ada orang luar yang mampu duduk di kursi hakim. Sindrom ketertutupan itu menghinggapi setiap lembaga apapun. yaitu ”courage turn to cowardice. Dunia pengadilan percaya. dimana telah terjadi sejumlah kemerosotan. menyelamatkan keadaan dan menuju masa depan yang lebih baik. menyimpulkan limapuluh tahun sejarah Mahkamah Agung R. bahwa mereka akan mampu menyelesaikan persoalan-persoalannya sendiri. Ada semacam resistensi terhadap ”penyerbuan dari luar” yang akan mengguncang kenyamanan kelangsungan hidup lembaga dan para anggota di dalamnya. ingin membawa beberapa Ha- 70 Bunga Rampai . integrity to structural corruption.I. melainkan karena rekrutmen secara terbuka itu akan membawa persoalan politik masuk ke pengadilan (cut across the political spectrum). and respect to contempt. bahwa lembaga itu mempunyai kecenderungan kuat untuk berusaha mempertahankan eksistensinya dan dengan demikian juga menyimpan keinginan kuat untuk dengan berbagai cara memberikan legitimasi terhadap eksistensinya itu. ke dalam kata-kata yang padat. yang satu menutup pintu bagi masuknya orang luar. Pompe. Dalam dunia pengadilan ada dua kubu. ini dinamakan kesadaran atau perasaan ”in-group” yang membedakan dan mengambil jarak terhadap ”out-group”. sedang yang lain menerima gagasan untuk merekrut orang-orang dari luar menjadi hakim.” Melihat Pengadilan Dari Luar Optik sosiologi akan mengatakan. pada tahun 2000. tetapi sebagian lain terdiri dari orangorang yang serius ingin melakukan pembaruan. Pada waktu TGPTPK. Mereka yang menolak pembukaan pintu bagi hakimhakim (opening up recruitment) yang direkrut dari luar pengadilan beralasan. Para hakim diumpamakan isi dari sebuah kantong yang bermacam-macam. capability to incompetence. Barangkali pembubaran Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTK) merupakan contoh tentang usaha untuk mempertahankan Iembaga sendiri.tahuan mengenai hukum (comparative legal knowledge) serta menurunnya kedisiplinan pribadi (personal strictness). Dalam sosiologi. Pada bagian akhir dari analisisnya mengenai para hakim. Sebagian hanya ingin mempertahankan keadaan sekarang.

Dalam seminar tersebut. melihat komposisi keanggotaannya. Sekretaris). karena ditentukan oleh pikiran atau mindset sang hakim.kim Agung ke pengadilan. Di Indonesia. TGPTPK. justru dibubarkan. berupa kekuasaan eksklusif tertentu. apakah hakim dan polisi tidak dapat melakukan kesalahan? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut cenderung memastikan. yang bersemangat tinggi untuk memberantas korupsi. Oleh sebab itu diperlukan suatu ”kekuatan-dari-luar” untuk dapat memberikan penilaian yang lebih jujur. untuk sebagian dapat dijelaskan dari hal-hal yang diuraikan di atas. Tidak mudah untuk melakukan penilaian yang jujur terhadap lembaga sendiri. menahan. masih dipegang oleh pejabat tinggi dalam pemerintahan. karena adanya berbagai sindrom tersebut di atas. Kediktatoran Pengadilan Putusan hakim menjadi krusial. komisi-komisi tersebut beIum mandiri benar. Banyak kekuasaan diberikan kepada lembaga-Iembaga. seperti pengadilan dan kepolisian. Ini memang satu kekecualian. karena umumnya lembaga-lembaga publik lebih suka melegitimasi diri sendiri. Hakim yang memiliki kecenderungan legalistik akan memutus berdasarkan kacamaKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 71 . Alasan bagi kehadiran tim-tim yang disebut ”independen” di negeri kita dewasa ini. sedang polisi untuk menangkap. maka. pada waktu Kepolisian Daerah Jawa Barat. Ini merupakan cacat yang tidak kecil. Tidak ada lembaga yang diberi kekuasaan seperti itu. Pimpinan Komisi Kepolisian Nasional (Ketua. pada tahun 80-an (?). Kendati demikian. Pengadilan diberi kekuasaan untuk memutus suatu perkara. merupakan suatu peristiwa yang cukup luar biasa. jawaban itu diberikan dengan membentuk Komisi Yudisial dan Komisi Kepolisian Nasional. maka melalui sebuah judicial review. Pertanyaan mendasar selanjutnya adalah. Wakil Ketua. menginterogasi dan akhirnya menyerahkannya kepada jaksa untuk diajukan ke pengadilan. Polri bagaikan membuka boroknya sendiri. melalui data yang ditemukan di lapangan. mengadakan satu seminar yang menyoroti pungutan liar poIisi di jalan-jalan. dengan dakwaan korupsi. Kalau demikian lalu ”siapa mengawasi pengadilan?” dan ”siapa mengawasi polisi?”. misalnya. Dalam konteks itu.

sehingga (putusan) hukum itu berbanding lurus dengan status sosial (law varies directly with social status) (Black. Saya kira. Konflik yang demikian itu dapat juga dilihat dari perspektif sosiologis. Di Ohio. Apabila seseorang dengan status sosial rendah menyerang orang dengan status sosial tinggi. Pada waktu Herman Goring melakukan pembelaan. maka risiko untuk dijatuhi hukuman mati melonjak tinggi. karena kalah perang. Di Georgia. di atas 30% lebih tinggi. yang kalah perang. Penamaan pengadilan dan peradilan yang demikian itu dapat digunakan untuk menggambarkan. orang kedua sesudah Hitler itu mengatakan. Penelitian Donald Black di Amerika Serikat menemukan. atau sosiologi pengadilan. Andaikata kami yang menang. 1989). Apapun kacamata yang dipakainya. ”Anda mengadili kami. dimana alam pikiran yang satu mengadili alam pikiran yang lain. Situasi yang demikian itu terjadi. maka perkaranya akan ditangani dengan keras dan demikian sebaliknya. Bukan jaksa atau polisi. Maka terjadilah suatu pengadilan. manakala pikiran hukum hakim berbeda dengan terdakwa. risiko itu adalah 15% lebih tinggi daripada baku bunuh antara sesama kulit hitam. Oleh sebab itu muncul sebutan-sebutan ’’formal justice”. pengadilan yang demikian itu dapat juga ditarik ke arah yang lebih tinggi dan menjadi suatu masalah yang bersifat akademis. maka saat seorang kulit hitam diadili karena membunuh kulit putih di Amerika Serikat. Itulah esensi ”Victor’s Justice”. bahwa pengadilan itu melakukan diskriminasi sosial. Menarik untuk membicarakan kediktatoran pengadilan dalam kaitan dengan “Victor’s Justice”. Sekalian penyebutan itu menggambarkan semacam protes terhadap kekuasaan hakim untuk menentukan siapa salah dan benar. “street justice” dan lain-lain.ta yang digunakannya itu. ‘’police justice”. 72 Bunga Rampai . hakim memiliki kekuasaan besar untuk memonopoli pembuatan putusan. Dengan demikian. maka andalah yang akan diadili”. Sebutan pengadilan tersebut diberikan kepada pengadilan Negara-negara Sekutu yang memenangkan Perang Dunia II terhadap para pemimpin Nazi Jerman. “substantial justice”. di Nuremberg. Potret yang demikian itu memancing pendapat. betapa medan pengadilan menjadi ajang pertemuan antara dua alam pikiran. di Florida 40% dan di Texas hampir 90% lebih tinggi.

melalui dialog antara polisi dan hakim (Quirk & Bridwell. Anda seharusnya berusaha lebih dulu untuk mendapat hak untuk menggeledah (search warrant). melainkan juga pergulatan kemanusiaan dan dengan demikian. Hakim: Pengadilan mengakui kepedulian polisi terhadap nyawa gadis itu. karena memiliki kekuasaan besar untuk menentukan siapa salah dan siapa benar. doktrin dan tidak berselera untuk melihat kenyataan. Namun bagaimanapun. Hak tersangka yang dijamin oleh Amandemen ke-4 dan ke. menurut laporan ahli. dan mungkin ke-6 dan ke14 telah dilanggar.bahwa yang terjadi di Amerika Serikat adalah ”white’s justice”. maaf saja. sang hakim berpegangan kepada peraturan. pengakuan terdakwa. Polisi: Surat penggeledahan? Pada waktu itu saya dihadapkan kepada seorang anak perempuan yang tengah sekarat. Pengadilan dan hakim sering dianggap diktator. segalanya sebetulnya sederhana saja. tetapi tidak ada alasan untuk membenarkan kekerasan hukum yang telah dilakukan oleh polisi. pada saat kita berpikir untuk melakukan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 73 . Kekuasaan itu dapat mematahkan usahausaha untuk mencari kebenaran. hanya hakimlah yang boleh memutus dan yang lain harus diam. sehingga bukti yang diperoleh dari situ. Jaksa: Gadis itu sudah mati. penggeledahan terhadap rumah tersangka adalah tidak sah. tidak dapat dibawa ke pengadilan. Hakim: Pada hemat saya.5. Diceritakan adegan menarik dari sebuah film yang didasari oleh semangat menggugat kediktatoran hakim tersebut. karena. Polisi: Tapi saya tidak tahu hal itu. Ilustrasi dari film tersebut menggambarkan betapa pengadilan itu tidak hanya menjadi medan pergulatan hukum. Ilmu Hukum yang Terintegrasi llmu hukum niscaya merupakan sumber penting yang perlu ditengok. Ya. 1997). Semua bukti mengenai gadis itu. semua bukti fisik. harus dikesampingkan. misalnya. juga pergulatan ideologi.

demikian Montesquieu). Ilmu hukum menjadi terfokus ke dalam. Pengadilan atau hakimpun tidak boleh berbuat lain. Hal tersebut dilakukan dengan pengorganisasian dan sistematisasi bahan hukum yang tersedia. llmu hukum merupakan pundi-pundi yang menghimpun sekalian pemikiran dan perkembangan baru dalam pemikiran hukum. perdagangan. Abad ke-19 menampilkan dinamika luar biasa dalam perkembangan hukum positif. qui peuvent moderer ni la force ni la rigeur”.reformasi peradilan. Hakim sama sekali tidak memiliki kekuasaan apapun untuk mengubah dan menafsirkan undang-undang. Ilmu hukum merespons perkembangan tersebut dengan melakukan konsolidasi untuk mengamankan prestasi yang telah dicapai. melainkan berkembang dan bergerak dinamis. Persoalan besar pertama yang dihadapi adalah ”apa sesudah kodifikasi?”. transportasi berkembang dengan cepat yang membutuhkan dukungan hukum. Bidang-bidang hukum baru muncul sebagai bagian dari perkembangan masyarakat yang berkembang cepat pada masa itu. Ia tidak boleh keluar dari medan perundang-undangan. Puncaknya adalah pada saat sekalian massa perundang-undangan tersebut dihimpun dalam kitab-kitab hukum. dengan catatan penting. Kepastian hukum pun muncul sebagai suatu barang yang nyata dan menjadi ikon. llmu hukum abad ke-21 niscaya jauh berbeda daripada abad ke-19. qui prononcent les paroles de la loi. Dalam atmosfer seperti itu. maka 74 Bunga Rampai . kecuali menjadi corong dari undang-undang (”Les juges de la nation ne sont que les bouches. Ilmu hukum menjadi identik dengan ”analytical jurisprudence” atau ”rechtsdogmatiek”. Berbicara hukum adalah berbicara mengenai suatu kepastian. Perkembangan dalam hukum positif akhirnya memacu pengusaan ilmu hukum. Ilmu hukum memusatkan perhatiannya terhadap hukum positif. des etres inanimes. Industri. Langkah dan tindakan konkret dalam hukum memerlukan pencerahan yang datang dari ”the state of the art” dalam ilmu hukum. Ilmu hukum tidak berhenti. Maka abad ke-19 pun dikenal sebagai Era Kodifikasi. Siasat tersebut dilakukan dengan mengintensifkan pemahaman terhadap jagat hukum yang telah menjadi demikian luas. ilmu hukum tidak boleh keluar dari batas perundangundangan (alles binnen de kader van de wet).

seperti diterima banyak orang di abad ke-19. telah menerbitkan sebuah buku berjudul ”Geintegreerde rchtswetenschap” (”Ilmu hukum yang terintegrasi”. Ilmu hukum juga sibuk untuk membangun struktur dan dari situ disusun bangunan hukum yang didasarkan pada pemisahan sub-disiplin secara ketat (hukum-hukum perdata. Sejumlah dokter. Seorang insinyur geologi telah menganalisis kerusuhan sosial dengan menggunakan disiplin ke-insinyuran-nya. Program doktor tersebut menuangkannya ke dalam paradigma ”Hukum untuk Manusia”. Buku yang berisi kumpulan karangan tersebut menggugat kemapanan pembagian ke dalam berbagai sub disiplin hukum dan menyebutnya sebagai ketinggalan zaman. administrasi negara dan lain-lain).” (Kepastian. 1954). sejak mulai rekrutmen para calon doktor (Program doktor. tata negara. bahwa penemuan hukum adalah penerapan hukum. Dikatakan oleh Scholten. sebagai ”het hanteren van logische jiguren” (Scholten. Paul Scholten mengatakan tentang cara berhukum seperti itu. Rotterdam. Hukum harus mengikuti masyarakat dan perkembangannya. Foque et al. insinyur dan sarjana dari ilmu-ilmu sosial. bahwa pengkotakan hukum se- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 75 . dalam memperingati 30 tahun usianya (1993). ilmu hukum pun mengalami perkembangan dan perubahan penting. tidak banyak lagi sisanya). Salah satu artikel. 2004). 1993). dat rechtsvinding is wetstoepassing. Fakultas hukum Erasmus.cara berhukum pun sudah seperti mesin dan tidak berbeda daripada mengerjakan soal matematika. Suasana kepastian dan kekakuan abad ke-19 tidak dapat dipertahankan 1ebih lama 1agi. telah menyelesaikan disertasinya pada program tersebut. ”Van de rustige verzekerdheid van velen in de 19 de eeuw. Perubahan penting terjadi. bukan sebaliknya (Rahardjo. Memasuki abad ke-20. misalnya menggugat. mengakhiri ilmu hukum abad ke-19. Perkembangan terakhir dalam ilmu hukum menunjukkan kecenderungan ke arah struktur yang tidak lagi terkotak-kotak secara ketat. pidana. is niet zo heel veel overgebleven. 1995). Belanda. Perubahan penting juga terjadi di bidang peradilan yang semula dianggap sekedar sebagai mesin otomat yang menerapkan undang-undang. Program doktor ilmu hukum Universitas Diponegoro telah mencoba untuk mencairkan batas-batas yang demikian itu.

mau tidak mau. dunia kita dibelah oleh dua ideologi. tidak dapat lagi dilayani oleh pembidangan hukum secara klasik demikian itu. tidak ada tempat bagi pemisahan klasik ke dalam hukum publik dan privat abad ke-19. Cara berhukum dalam peradilan yang lama bukan sesuatu yang tak dapat dirombak. Kehidupan sosial dan hubungan-hubungan dalam masyarakat dewasa ini sudah demikian rumit atau kompleksnya. yaitu liberal-individual di satu pihak dan kolektif-kontekstual di pihak yang lain (Rahardjo. Dalam ”implicit philosophy” seperti itu. Suatu kehidupan bersama yang benarbenar bertahan lama (duurzame samenleving) hanyalah ada manakala didasarkan pada kesadaran para anggota masyarakat terhadap asas-asas dasar dalam kehidupan bersama itu. Pembelahan tersebut didasarkan pada kosmologi yang berbeda dan yang pada 76 Bunga Rampai . Indonesia harus membuat pilihan. tidak mampu memberikan pelayanan yang baik terhadap masyarakat yang demkian kompleks itu. Indonesia Memilih Sejak pengadilan dan peradilan itu tidak kedap ideologi. 2006). memberi ilham kepada kita pada waktu berpikir untuk melakukan reformasi peradilan. Sejak konstitusi kehidupan kita didasarkan pada visi dan kosmologi yang berbeda dengan yang menjadi dasar bagi penataan peradilan selama ini.cara klasik ke dalam hukum publik dan hukum privat telah kehilangan legitimasinya. bukan suatu kebenaran absolut yang harus diterima dan dijalankan begitu saja. baik terhadap orang lain. Pengkotak-kotakan ke dalam hukum perdata dan hukum pidana. maupun terhadap masyarakat sebagai keseluruhan. pikiran-pikiran tentang ilmu hukum yang terintegrasi itu menolak “rule-book-model of society”. Perkembangan dalam ilmu pengetahuan dan ilmu hukum pada khususnya yang demikian itu. Secara garis besar. maka perombakan bukan sesuatu yang ditabukan. Kehidupan masyarakat tidak berjalan karena mematuhi hukum yang datang dari perintah penguasa. maka di tengah-tengah lalu lintas ideologi hukum di dunia ini. sehingga untuk menghadapinya. Dengan mengutip ”implicit philosophy” Ronald Dworkin.

disebut oleh PyongChoon sebagai. yang melakukan penelitian tentang cara berhukum bangsa Indonesia di pengadilan. juga dirancang untuk menjaga dan mempertahankan ideologi tersebut. dengan tetap mempertahankan keJepang-annya. Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 juga Reformasi Peradilan: Harapan dan Kenyataan 77 . 1972). bahwa kendatipun Jepang menerima hukum kontrak modern.” (Pyong-Choon. “medievalization of modern institutions of the West”. 1978). Dengan demikian. bangsa itu lebih mendahulukan penyelesaian secara Jepang. memastikan pilihan tersebut (Lev. asas dan doktrin. 1971). An institution that originally served one purpose may find itself twisted around to serve a host of totally different purposes in the adopting culture. yaitu yang mengedepankan musyawarah (“the contract could be abrogated by simply renegotiating with the other party when circumstances dictated”). Daniel S. menemukan. Hahm Pyong-Choon. pada dasarnya berwatak liberalindividual. 1984). Baru kalau cara ini gagal. Hal yang demikian itu menyebabkan bahwa bangsa-bangsa dengan kosmologi dan cara berhukum yang beda. Lev. Cara pembengkokan oleh Jepang ini disebut “the Japanese twist” (Ozak. menyebar ke seluruh penjuru dunia. Indonesia telah memilih dan pilihan itu tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa di kawasan Asia Timur. pada waktu menggunakan hukum modern tersebut. Bangsa-bangsa di kawasan Asia Timur. yaitu pada dasamya menolak liberalisme-individual dan menerima cara kolektif-kontekstual. mengalami banyak kesulitan. Hukum modern yang melalui berbagai jalan. misalnya mengatakan sebagai berikut. di Tokyo. tetapi pada penerapannya. Jepang adalah salah satu bangsa di Asia Timur yang sangat siap untuk menerima penggunaan hukum modern (dan lain-lain) dari Barat. digunakanlah kontrak yang sudah dibuat (Parker. maka sekalian struktur. “Any institution that leaves its indigenous habitat and gets transplanted to an alien culture invariably undergoes a fundamental change in the process of transplantation.akhirnya memunculkan cara berhukum yang beda puIa. Sebuah survai mengenai penggunaan hukum kontrak modern di Jepang pada tahun 1970. Penggunaan hukum modern di Korea. merupakan contoh yang baik tentang bagaimana kesulitan yang harus dihadapi tersebut.

yang berbasis nilai dan kosmologi Timur. Reformasi Peradilan Berdasarkan uraian di atas. penataan yang demikian itu perlu dirombak secara mendasar. Harvard. baik Leiden. Di waktu-waktu mendatang. khususnya peradilan. Kesenjangan tersebut menimbulkan berbagai komplikasi sewaktu hukum modern itu diterapkan. Selama ini kita hampir tidak merisaukan amanat yang dipesankan oleh Undang-Undang Dasar kepada kita. khususnya bagian Pembukaan. bahwa memang dirasakan keperluan untuk membangun satu model peradilan lain yang lebih berakar pada kosmologi Indonesia. Pera- 78 Bunga Rampai . Kalau kita melihat kepada pembelajaran hukum kita. menunjukkan. yaitu agar berakar pada kosmologi dan habitat Indonesia. Maka dihadapkan kepada amanat UndangUndang Dasar. pandangan ke Timur lebih diutamakan. atau yang lain. karena memang itulah amanat Undang-Undang Dasar 1945. ”peradilan restoratif’. Dengan demikan kita kurang mendapat ilham untuk melakukan reformasi hukum. maka pengadilan dan peradilan kita memang membutuhkan reformasi. watak liberal-individual dari peradilan kita masih kuat. sebaiknya orientasi kita lebih seimbang. Sebagaimana diuraikan di muka penataan peradilan kita sekarang masih didasarkan pada ideologi liberal-individual. Diponegoro memang sedikit banyak telah meyakinkan. Beberapa penelitian dan disertasi yang ditulis pada Program Doktor Ilmu Hukum Univ. seperti ”peradilan rekonsiliatif’. Fakultas-fakultas hukum kita belum dapat diandalkan untuk menjadi ”avant-garde”. tetapi hampir tidak pernah ke Jepang.dikatakan. bahwa suatu perubahan mendasar hendaknya dilakukan. Kata-kata yang dilontarkan. bahkan di waktu seperti sekarang ini. Selama ini kita terlalu berpaling ke Barat. bahwa ”dibuat Undang-Undang Dasar yang bersifat kekeluargaan”. Sampai hari ini. Reformasi peradilan sebaiknya dilakukan dengan cukup mendasar. maka fakultas-fakultas hukum kita masih belum memiliki kesadaran untuk berubah menuju cara berhukum di pengadilan berdasarkan pembacaan terhadap Undang-Undang Dasar kita.

Tanya sudah ada pranata uku. setidaknya kita tidak menghambat penyelenggaraan peradilan yang berbasis kearifan lokal Indonesia itu. seolah-olah segala sesuatunya memang harus berjalan seperti itu. Setiap kali masyarakat setempat menjalankan praksis yang beda. Perkembangan ilmu hukum yang baru. Di Sabu. ”Realitas obyektif komunitas masyarakat lokal di Sabu yang masih terbilang sederhana. karena masyarakat harus ’belajar’ lagi mengenal dan memahaminya. maka kita belum dapat menghargai apa yang dilakukan oleh masyarakat tersebut. sebagaimana ditulis oleh Bernard L. Tanya. yang beda sekali dari pikiran sosial atau ideologi yang mendasari peradilan modern. Praksis yang beda tersebut mencerminkan ”perlawanan” dari suatu pikiran yang lebih mengakar pada habitat sosial asli. peristiwa hubungan-hubungan keluarga. Dikatakan oleh Tanya. tetap bekerja. lebih menuju kepada integrasi dan dengan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 79 .dilan di Indonesia. seperti ditulis oleh Bernard L. 2006). pranata asli Sabu yang bersifat religius... religi. sebagaimana diuraikan di muka. Dalam proses belajar ini mereka menghadapi masalah yang kompleks . penggunaan hukum modern itu merupakan suatu beban bagi komunitas lokal (Tanya. Padahal pemerintah kolonial Belanda sejak semula sudah melihat risiko penggunaan peradilan modern itu bagi banyak komunitas lokal di Indonesia. Sejak tahun 1945. Padahal. ” Apabila kita belum mampu menata peradilan kita berdasarkan amanat Undang-Undang Dasar secara benar-benar terstruktur. dalam arti sesuatu yang didatangkan dari luar. ”Sebagai sesuatu yang ’baru’. sampai kepada kematian. kehidupan. yang notabene adalah hukum modern.” Pranata yang demikan itu kemudian harus berhadapan dengan hukum nasional. kita memiliki alasan lebih kuat untuk membangun suatu tatanan peradilan yang baru. yang memiliki struktur dan watak sosial beda.. selama enampuluh tahun lebih. sewaktu dihadapkan pada penggunaan hukum modern. ”Uku merangkum semua lapangan kehidupan.” Lebih lanjut Tanya menulis. karena tidak lain harus didasarkan pada asas kekeluargaan. membuat kehadiran hukum negara sebagai sebuah inovasi terasa kian bermasalah. daya tarik dan manfaat yang ditawarkan lembaga/hukum negara tidak segera diterima.

jaksa. Lebih daripada itu pembagian. Ia dimulai dari perubahan paradigma. Disinilah masyarakat ikut serta. sampai ke pengaturan baru dalam beracara. seperti dalam arsitektur peradilan sekarang. advokat. melainkan menjadi hajat seluruh bangsa. yang antara lain diwakili oleh 1embaga-lembaga sosial. dalam sistem peradilan memerlukan penataan kembali. tidak menggambarkan arsitektur kekeluargaan yang dikehendaki. Sudah diuraikan. polisi. penggolongan dan nomenklatur lama juga digugat. mewarisi suatu sistem yang hakekatnya bersifat liberal-individual. Perlindungan dan penyelamatan individu serta kemerdekaan indvidu menjadi ideologi. melainkan menghendaki sistem peradilan didasarkan pada asas kekeluargaan.demikian mengurangi pengkotak-kotakan dalam displin dan sub-disiplin. penyiapan doktrin dan asas. Dengan demikian. bahwa sistem peradilan kita dan umumnya negara-negara di dunia. Ideologi kekeluargaan menjadi penentu arah kemana tujuan reformasi peradilan negeri ini. juga dikehendaki untuk diubah. Posisi komponen-komponen peradilan yang berhadaphadapan. Pembangunan suatu sistem peradilan baru tersebut merupakan pekerjaan raksasa. Dengan demikian. Undang-Undang Dasar 1945 tidak mengikuti ideologi tersebut. posisi hakim. 80 Bunga Rampai . komponen-komponen sistem peradilan. Pembagian ke dalam hukum publik dan privat yang selama beratus-ratus tahun diterima sebagai sesuatu yang absolut dan sakral. Sekalian pekerjaan tersebut tidak dapat hanya dibebankan kepada pengemban kekuasaan formal saja. maka pikiran kita untuk mereformasi peradilan di Indonesia memiliki legitimasi yang tinggi.

dalam Bunga Rampai Refleksi Satu Tahun Komisi Yudisial Republik Indonesia. The Indonesian Supreme Court. 2005. Ilmu Hukum .. Rutland. Pembebasan dan Pencerahan. Quirk. Ozaki.. Ladan. The Japanese. 1995.. Geintegreerde rechtswetenschap. Oxford University Press. Jose Ortega. Sociological Justice.Pencarian. Tjeenk Willink. A. Arnhem. Satjipto. Pompe. Tanya. Y Gasset.C. 1971.. Transaction Publishers. New Brunswick. “Judicial Institutions and Legal Culture in Indonesia”. Daniel S. Rene. Cornell University. - - Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 81 .Y. Bernard L. 1984. The Japanese Police System Today. Asser’s Handleiding tot de beoefening van het Nederlandsch burgerlijk recht. An American Perspective. Komisi Yudisial RI. 246-316. Ithaca. Hahm. Pyong-Choon.E. 1989. Rahardjo. A Cultural Portrait. Program Doktor Ilmu Hukum Univ. 1954..).Y. Penerbit Srikandi. 2006. pp. N. Judicial Dictatorship. W. Diponegoro. Tuttle. & Bridwell. Merintis Visi Program Doktor Hukum. Charles E. 1972. E. 1997. Lev. Muhammadiyah University Press. Scholten. Foque. “Algemeen deer” dari Mr. ----------------------.). Parker. The Korean Political Tradition and Law.Daftar Pustaka Black. Kodansha International. 297-328. “Komisi Yudisial untuk Hakim dan Pengadilan Progresif”. Craig. Seoul Hollym Corporation. L. dalam Culture and Politics in Indonesia (Claire Holt ed. 2004. The Revolt of the Masses. Vermont. Hukum dalam Ruang Sosial. Jr. William J. 2006. Surabaya. Robert S. Paul. Program Doktor Ilmu Hukum. 1994. Cornell University Press. Surakarta. R. N.Randall.J. R. Rood Pijpers.Norton. hlm. W. Zwolle. 1957. N. Jakarta. Tokyo..W.. Sebatiaan. A Study of Institutional Collapse.Y. Gouda Quint. Semarang. 1978.. Ithaca. Donald. Zijderveld (red.

82 Bunga Rampai .

. S. Dengan demikian Badan ini turut mempersiapkan Calon Hakim Agung yang berkualitas. Tugas hakim/badan peradilan sebagai penyelenggara kekuasaan Kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan Badan Peradilan yang berada dibawahnya dan sebuah Mahkamah Konstitusi. Putusannya bersifat mengikat apabila telah berkekuatan hukum tetap. merdeka serta netral yang diberi otoritas dan kewibawaan untuk secara bebas mempertimbangkan segala sesuatunya secara adil dan obyektif serta tidak memihak.H. Oleh karena itu Komisi Yudisial berwenang untuk mengusulkan pengangkatan Hakim Agung (Pasal 24B ayat (1)).Peran Hakim Agung Dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding) dan Penciptaan Hukum (Rechtsschepping) Pada Era Reformasi dan Transformasi M. Pendahuluan Dalam suatu negara hukum maka setiap sengketa hukum atau perkara diadili dan diputus oleh suatu Badan Kekuasaan Kehakiman.H. 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-undang No. 4 Tahun 2004 ditentukan bahwa kekuasaan Kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila demi terselenggaranya Negara Hukum RI. M. Pada perubahan ketiga Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa Calon Hakim Agung diusulkan oleh Komisi Yudisial kepada DPR untuk mendapat persetujuan guna ditetapkan sebagai Hakim Agung oleh Presiden. Institusi yang bersifat mandiri. Hatta Ali. Dalam pasal 1 UU No. 14 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 83 . Sesuai Undang-undang No.

Dalam fungsi mengadili. Dalam menjalankan fungsi tersebut. Fungsi pengaturan. Mahkamah Agung memiliki beberapa fungsi. mengadili dan memutuskan suatu perkara yang diajukan kepadanya dengan dalih bahwa hukumnya tidak ada atau kurang jelas. disebabkan karena terhambatnya upaya mewujudkan sistem hukum nasional yang mantap. hakim sering dihadapkan pada suatu ketentuan yang belum diatur. hakim sering dihadapkan kepada suatu ketentuan yang belum diatur. yaitu mengelola administrasi. yang menyebabkan terhambatnya upaya mewujudkan penegakan hukum. yaitu: 1) 2) Fungsi mengadili. Banyak peraturan perundang-undangan warisan kolonial maupun yang baru tidak sesuai dengan perkembangan masyarakat yang penuh dengan dinamika perubahan dan semakin kompleks. 3) 4) 5) 6) Fungsi administrasi. yaitu untuk menilai apakah suatu peraturan perundang-undangan bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Pokok Masalah Dasar hukum peran hakim dapat dilihat pada pasal 28 84 Bunga Rampai . yaitu memberikan nasehat hukum kepada Presiden dalam hal permohonan grasi dan rehabilitasi serta memberi pertimbangan hukum ke lembaga tinggi negara lain. Produk peraturan perundang-undangan selalu tertinggal dengan dinamika perubahan yang terjadi.Tahun 1985 Tentang Mahkamah Agung. yaitu untuk mengisi kekosongan hukum. Fungsi membina dan mengawasi. Maksudnya adalah jika tidak ditemukan hukum tertulis. hakim wajib menggali hukum tidak tertulis untuk memutus berdasar hukum. Di lain pihak hakim/badan peradilan tidak boleh menolak untuk memeriksa. Fungsi menguji peraturan perundang-undangan. yaitu memeriksa dan memutus perkara permohonan kasasi dan peninjauan kembali. keuangan dan organisasinya sendiri. yaitu membina dan mengawasi peradilan dan hakim dibawahnya. Fungsi memberi nasehat dan pertimbangan hukum.

merasakan dan mampu menyelami perasaan hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. Maksudnya adalah supremasi hukum merupakan pilar negara hukum. sehingga penegakan hukum (law enforcement) dapat diwujudkan tanpa memandang suku/agama/ ras/golongan. Jika tidak dapat dijalankan menurut arti katanya. Yang berarti bahwa perbuatan hukum oleh penguasa atau individu harus dapat dikembalikan kepada hukum yang berlaku. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman menyatakan “Hakim wajib menggali. Pertama adalah hukum harus berperan sebagai panglima. tugas penting dari hakim adalah menyesuaikan undangundang dengan perkembangan yang hidup di dalam masyarakat. “Menggali” berarti hakim harus terjun ketengah-tengah masyarakat untuk mengenal. Mahkamah Agung tidak boleh berhenti melakukan inovasi terhadap berbagai ketertinggalan peraturan perundang-undangan yang tidak sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Namun agar hakim agung dalam melaksanakan perannya sebagai benteng terakhir penegakan hukum harus didukung pula adanya kemauan politik negara untuk menegakkan supremasi hukum yang berarti bahwa hukum bertindak sebagai panglima. Sebagai institusi.ayat (l) Undang-undang No. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana cara Hakim Agung menggali dan menemukan sesuatu yang dapat menjadi hukum? Institusi Mahkamah Agung yang merupakan instrumen dalam upaya menegakkan hukum dan kebenaran agar tidak terpaku pada peraturan perundang-un- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 85 . Lalu yang terakhir bahwa perlakuan kepada semua orang adalah sama dimuka hukum (equality before the law). Supremasi Hukum di dalam negara hukum mempunyai 3 (tiga) ciri (menurut Muchsan . hakim wajib menafsirkan sehingga dibuat suatu putusan yang adil dan sesuai dengan maksud hukum yaitu adanya kepastian hukum. mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat”.dikutip dari Panggabean. Dengan kata lain. Yang kedua hukum harus berperan sebagai titik tolak kegiatan (center of action). Henry. Seluruh komponen masyarakat sampai kepada penguasa tunduk sepenuhnya kepada hukum. P 2002:12).

Oleh karena hakim (secara general) merupakan perumus dan penggali dari nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat. 86 Bunga Rampai . melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadili” merupakan antisipasi bahwa tidak ada peraturan perundang-undangan yang dapat mencakup keseluruhan kehidupan manusia. Sistem hukum Indonesia tidak menentukan jenis klasifikasi yurisprudensi tertentu untuk dijadikan sumber hukum. Hasil penemuan hukum oleh hakim merupakan hukum karena mempunyai kekuatan mengikat sebagai hukum karena dituangkan dalam bentuk putusan. sekalipun peraturan perundangundangan tidak dapat membantunya. hakim harus bertindak berdasar inisiatifnya untuk menyelesaikan perkara. Dalam arti menentukan apa yang merupakan hukum. Hakim Agung sebagai penegak hukum dan keadilan wajib menggali.dangan yang telah usang. mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat. Oleh karena hukumnya tidak lengkap dan tidak jelas. merasakan dan mampu menyelami perasaan hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. maka Hakim Agung harus memahami jalan keluar melalui penemuan hukum (Rechtsvinding). Hakim selalu dihadapkan pada peristiwa konkrit. Apabila peraturan perundang-undangan yang belum jelas atau belum mengatur. Tidak ada peraturan perundang-undangan yang lengkap dan jelas. Jadi dalam penemuan hukum yang penting adalah bagaimana mencari atau menemukan hukumnya untuk peristiwa konkrit. Sehingga dapat memberi putusan yang sesuai dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat. Juga sebagai pengadilan tingkat terakhir diharapkan mampu melahirkan putusan-putusan (yurisprudensi) yang inovatif yang sesuai dengan rasa keadilan masyarakat. Disamping itu. mengadili dan memutuskan suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas. maka seharusnya dapat mengenal. hasil penemuan hukum oleh hakim merupakan sumber hukum juga (yurisprudensi). Konflik atau kasus yang harus diselesaikan atau dipecahkan dan untuk itu perlu dicarikan landasan hukumnya. Pembahasan Bertitik tolak dari pandangan bahwa “Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa.

penafsiran antisipatif dan penafsiran dinamika-evolutif). kaidah hukum atau ketentuan dalam suatu keputusan kemudian diikuti secara konstan atau tetap oleh para hakim dalam putusannya dan dapat dianggap menjadi bagian dari keyakinan hukum yang umum. Kedua klasifikasi yurisprudensi itu memerlukan kriteria sendiri agar dengan cara itu dapat ditelusuri sejauh mana hubungan kedua klasifikasi yurisprudensi itu dalam proses penegakan hukum. yaitu: 1.landmark decision karena kaidah hukum itu diterima masyarakat luas sebagai terobosan yang nyata atas suatu konflik hukum yang sudah lama berlangsung. Mengikuti sistematika J. sehingga yurisprudensi tetap tersebut telah melakukan penciptaan hukum (rechtsschepping). juga tidak ada ketentuan dalam hukum kebiasaan dan hukum adat yang dapat diterapkan. Penafsiran atau interpretasi adalah usaha memberi makna suatu atau sejumlah kaidah hukum agar dapat diterapkan secara wajar dalam memecahkan suatu persoalan hukum. penafsiran sistematik. Yang kedua adalah konstruksi hukum. Pontier (dikutip dari Bagir Manan 2004:73). maka keadaan ini Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 87 .A. sekalipun hakim dapat menafsirkan. harus menguasai metode yang dapat dipergunakan. sebagai yurisprudensi tetap. Artinya adalah. namun tidak ada ketentuan perundang-undangan yang berlaku yang dapat diterapkan. didalam suatu perkara di pengadilan. penafsiran berdasarkan sejarah hukum. penafsiran teleologis. bahwa dalam putusan hakim ditemukan adanya kaedah hukum yang dapat dianggap sebagai . Sebagai Hakim Agung.tetapi dalam praktek peradilan dikenal adanya klasifikasi yurisprudensi biasa dan yurisprudensi tetap. 2. yaitu melalui penerapan hukum penafsiran dan konstruksi hukum. Dengan uraian di atas dapat dikatakan bahwa kriteria yurisprudensi tetap adalah telah mentransformasi secara konstan hukum yang hidup dalam suatu masyarakat dan telah diikuti oleh berbagai putusan sebelumnya. penafsiran berdasarkan sejarah peraturan perundang-undangan yang bersangkutan. didapat bermacam-macam metode penafsiran (penafsiran berdasarkan tata bahasa atau ilmu bahasa. Sudikno Martokusumo (2001:52) memberikan 2 (dua) kategori.

Kenyataan yang bersangkutan menempati sebidang tanah dengan cara-cara yang dibenarkan oleh tradisi yang berlaku disekelilingnya. apabila bertahun-tahun akan diakui telah menimbulkan hubungan hak atas tanah tersebut. wajar dan tidak berlebihan). Walaupun demikian apabila hakim dihadapkan pada pilihan antara ketentuan hukum tertulis dengan hukum tidak tertulis.(dikutip dari Bagir Manan 2004:64) adalah “masyarakat konkrit”. Hakim bukanlah mulut undang-undang atau mulut hukum positif pada umumnya. Hakim adalah mulut kepatutan. sehingga memerlukan penghalusan agar tetap terasa adil. Seseorang memiliki sebidang tanah. hakim atau siapapun juga yang menerapkan 88 Bunga Rampai . Masyarakat Indonesia meminjam pendapat Holleman . kepentingan umum dan ketertiban umum. Termasuk dalam perkara-perkara perdata. serta Argumentum a contrario (mempersempit jangkauan berlaku suatu peraturan perundang-undangan). Konstruksi hukum ini terdiri dari analogi (hakim memperluas penerapan hukum pada keadaan atau peristiwa yang tidak secara eksplisit disebut dalam ketentuan yang berlaku). keadilan. Dengan kata lain. Demikian pula hakim tidak sekedar menerapkan bunyi suatu perjanjian yang merupakan undang-undang bagi pihak-pihak yang membuatnya.mulai menyangkut pada keadaan kekosongan hukum dalam sistem formil hukum. kepentingan umum dan ketertiban umum. penghalusan hukum Rechtsvervijning (suatu kaedah hukum dapat dirasakan terlalu keras pada saat diterapkan pada keadaan konkrit tertentu. keadilan. Hingga saat ini sebagian masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat formalistik. Asas ini menunjukkan bahwa sebagai Hakim Agung tidak boleh semata-mata mencari dan menemukan kebenaran formal. menurut pendapat hakim yang bersangkutan bahwa pengertian hukum itulah yang menjadi dasar. Segala hubungan dan peristiwa hukum dinyatakan dalam wujud yang nyata. hakim harus mencari dan menemukan kebenaran materiil. hakim wajib memilih kepatutan. Berdasar beberapa ketentuan yang mempunyai persamaan. Apabila penerapan aturan hukum akan bertentangan. dibuktikan dengan pohon-pohon yang ditanam oleh orang tuanya dan seterusnya. hakim membuat suatu pengertian hukum (rechtsbegrip).

harus mengutamakan atau mendahulukan ketentuan hukum tertulis. dimana laki-Iaki si pelaku tidak mau bertanggung jawab ketika perempuan tersebut hamil. Koreksi merupakan kenyataan hukum yang hidup dalam masyarakat dan dapat terjadi karena hukum tertulis telah usang atau ada kekosongan tertentu dalam ketentuan hukum tertulis. 89 . pewarisan. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tidak mengatur. Hakim Agung harus mampu menghasilkan putusan-putusan yang mengarah kepada pembaharuan penemuan hukum berupa yurisprudensi. sehingga termasuk hibah.hukum. Pada era reformasi mengandung arti perubahan untuk perbaikan. Juga hubungan kelamin diluar nikah laki-Iaki dewasa dan perempuan dewasa atas dasar suka sama suka. Jadi reformasi itu timbul secara simultan mencakup aspek kehidupan bernegara di bidang politik. Serta ketentuan “Jual beli tidak memutuskan hubungan sewa-menyewa”. Pada situasi ini. Contoh kasus adalah pengertian “barang” dalam pidana pencurian termasuk pencurian listrik.R. Mengutamakan atau mendahulukan hukum tertulis apabila diketahui atau secara rasional dipahami bahwa ketentuan hukum tertulis merupakan pembaharuan terhadap hukum tidak tertulis atau terjadi transformasi ketentuan hukum tidak tertulis menjadi hukum tertulis. tetapi berdasar hukum Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan b. yang oleh yurisprudensi diperluas menjadi asas pengasingan (vervreending) tidak memutuskan sewa-menyewa. Program reformasi hukum harus digulirkan secara bersama-sama oleh seluruh anggota masyarakat. Lalu pengertian “Onrechtmatigedaad” hanya dapat dipahami setelah mempelajari yurisprudensi (Arrest H. yang berhadapan dengan ketentuan hukum positif yang menyatakan tidak ada kasasi untuk praperadilan. ekonomi dan hukum. Mengutamakan atau mendahulukan hukum tidak tertulis dilakukan apabila ketentuan hukum tidak tertulis merupakan suatu yang tumbuh kemudian sebagai koreksi atau penafsiran terhadap suatu ketentuan hukum tertulis. 1919). Namun penerapan ini harus mempertimbangkan hal-hal berikut: a. dan lain-lain bentuk pengasingan. Kemudian makin banyak putusan Mahkamah Agung yang menerima permohonan kasasi praperadilan.

padahal pasal 178 ayat (3) HIR berbunyi: “Hakim wajib mengadili seluruh bagian gugatan. Sedangkan dalam kasus Pilkada Depok apabila menoleh pada pasal 106 ayat(7) Undang-undang No. 6 Tahun 2004. terutama antara unsur keadilan dengan kepastian hukum yang bisa saja saling bertentangan. sehingga mestinya tidak ada upaya hukum lagi yang dapat digunakan. yang meliputi 3 (tiga) unsur yaitu: keadilan (gerechtigkeit).adat merupakan perbuatan yang tidak patut untuk dilakukan dan harus diberi sanksi. Tetapi sayangnya putusan Mahkamah Agung tersebut pada tingkat peninjauan kembali telah dikoreksi/ diperbaiki. Dalam implementasinya terkadang tidak mudah untuk mensinergikan ketiga unsur tersebut. tetapi ketika KPUD Depok mengajukan permohonan peninjauan kembali (PK) ke Mahkamah Agung terhadap putusan Pengadilan Tinggi Bandung tersebut pada akhirnya Mahkamah Agung dalam putusannya mengabulkan permohonan Peninjauan Kembali dari KPUD Depok dan membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Bandung. Mahkamah Agung sendiri dalam instruksinya Nomor KMA/015/lnst/VI/1998 tanggal 1 Juni 90 Bunga Rampai . Ketiga unsur ini harus dipertimbangkan Hakim dan diterapkan secara proporsional. yaitu dalam kasus “Kedung Ombo” di Jawa Tengah dan kasus sengketa pemilihan kepala daerah (Pilkada) Depok. kepastian hukum (rechtsicherheit) dan kemanfaatan (zwechtmassigkeit). Putusan Mahkamah Agung dalam kasus Kedung Ombo pada pokoknya melebihi daripada ganti rugi yang dimohon para penggugat. ditafsirkan putusan Pengadilan Tinggi bersifat final dan mengikat. Paparan kedua kasus di atas. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah No. sehingga pada gilirannya dapat dihasilkan putusan yang berkualitas dan memenuhi harapan para pencari keadilan. Menurut Gustav Radbruch (dikutip dari Bambang Sutiyoso 2006: 6) idealnya putusan harus memuat idee des recht. Kasus yang relevan untuk menggambarkan adanya kemungkinan benturan antara aspek keadilan dan kepastian hukum. tetapi hakim dilarang menjatuhkan putusan atas hal-hal yang tidak dituntut atau mengabulkan putusan lebih dari pada yang dituntut”. sangat relevan menggambarkan adanya benturan-benturan antara aspek kepastian hukum dengan keadilan.

Bentuk pengaturan itu dikenal dalam 2 (dua) bentuk produk yaitu: 1. dengan menghasilkan putusan hakim yang eksekutable berisikan ethos (integritas). Selain itu fungsi Pengaturan Mahkamah Agung diperlukan bagi kelancaran penyelenggaraan peradilan apabila terdapat hal-hal yang belum cukup diatur dalam undang-undang atau terdapat kekurangan. Dengan akses ini mendorong para hakim membuat putusan yang berkualitas dan diterima oleh masyarakat sebagai hukum yang hidup dalam masyarakat. 2. Sebelum ada ketentuan KUHAP dan Undang-undang. filosofis (berintikan rasa keadilan dan kebenaran). serta logos (dapat diterima akal sehat). terutama dalam hukum acara sebagai pelengkap untuk mengisi kekurangan dan kekosongan tadi. PERMA No. demi terciptanya kemandirian para penyelenggara kekuasaan kehakiman. 1 Tahun 1977 (tentang permohonan kasasi) telah menjadi sarana hukum yang menentukan masuknya perkara peradilan agama dan militer ke tingkat perkara kasasi oleh Mahkamah Agung. 1 Tahun 1980 telah digunakan menampung perkara peninjauan kembali karena pada saat itu belum ada peraturan pasal 21 UU No. Dalam setiap penemuan hukum seyogyanya putusanputusan badan peradilan disosialisasikan dengan memberi kesempatan kepada publik untuk mengakses putusan-putusan tersebut. 14 Tahun 1970 tentang Undang-undang Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 91 . atau kekosongan hukum dengan menerbitkan Surat Edaran atau Peraturan Mahkamah Agung. sosiologis (sesuai dengan tata nilai budaya yang berlaku dalam masyarakat).1998 menginstruksikan agar para hakim memantapkan profesionalisme dalam mewujudkan peradilan yang berkualitas. pathos (pertimbangan yuridis yang utama). keseluruh jajaran peradilan yang isinya merupakan bimbingan dalam penyelenggaraan peradilan yang lebih bersifat administrasi. Fungsi pengaturan ini ternyata sangat efektif memperlancar jalannya peradilan. PERMA No. Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) yaitu satu bentuk edaran dari pimpinan Mahkamah Agung. Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) yaitu suatu bentuk peraturan dari Mahkamah Agung ke seluruh jajaran peradilan tertentu yang isinya merupakan ketentuan bersifat hukum beracara.

4. 92 . 1 Tahun 2000 tentang paksa badan dapat dijadikan contoh tentang efektifitas Fungsi Pengaturan Mahkamah Agung mendukung penegakan hukum khususnya untuk mengatasi kebutuhan hukum acara yang saat ini sangat diperlukan menghadapi perilaku para debitur nakal yang sengaja menghindar dari kewajiban melunasi hutang-hutangnya. pengalaman yang memadai. 3. Pada dasarnya Hakim Agung yang baik bukan sekedar menguasai hukum positif melainkan mengusai pula dengan baik berbagai teori dan doktrin hukum.Pokok Kekuasaan Kehakiman. Hakim Agung harus mengisi kekosongan hukum atau hukumnya tidak jelas dengan melakukan penemuan hukum (Rechtsvinding) yang pada gilirannya akan menjadi yurisprudensi tetap menuju penciptaan hukum Bunga Rampai 2. 5. Perekrutan Hakim Agung harus memiliki kemampuan di bidang hukum. Dalam melakukan penemuan hukum hakim menggunakan metode penafsiran dan konstruksi hukum. memiliki integritas. moral dan karakter yang baik. PERMA No. Masyarakat berkepentingan atas keputusan hakim itu karena masyarakat menginginkan adanya keseimbangan tatanan dalam masyarakat. Bahwa setiap putusan pengadilan harus mengandung unsur kemanfaatan bahwa isi putusan itu tidak hanya bermanfaat bagi pihak berperkara tapi juga bagi masyarakat luas. 6. Yang tidak kalah pentingnya suatu hal yang perlu diperhatikan fungsi pembentukan hukum itu sendiri harus memperhatikan kesadaran hukum masyarakat dan tidak tertutup kemungkinan bahwa hukum menciptakan pola-pola baru di dalam masyarakat sehingga pada akhirnya menciptakan kesadaran hukum baru sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan. yang dapat digunakan oleh aparat penegak hukum di lingkungan peradilan. Kesimpulan 1. Meningkatkan kualitas hakim dalam melakukan penemuan hukum baru melalui putusan-putusan pengadilan (yurisprudensi) yang digunakan sebagai dasar pertimbangan hukum.

Meningkatkan mekanisme pertanggung jawaban lembaga pengadilan kepada publik dengan kemudahan akses masyarakat untuk memperoleh putusan pengadilan dan publikasi terhadap setiap pengambilan putusan.(Rechtsschepping). 8. Fungsi Pengaturan Mahkamah Agung berupa Surat Edaran dan Peraturan Mahkamah Agung masih diperlukan guna mengisi kekosongan hukum khususnya hukum acara. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 93 . 7.

J . Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum.Kolff N. 2002. Beberapa aspek Sosiologi Hukum. Henry P-. UH Press Yogyakarta Ketentuan Peraturan Perundang-undangan Undangundang Dasar 1945 dan Perubahannya Kitab Undangundang Hukum Pidana Kitab Undang-undang Hukum Perdata Undang-undang No.V Mertokusumo.cetakan pertama. Fungsi Mahkamah Agung Bersifat Pengaturan (Rule Making Power) Tahun 19662003. cetakan kesatu. Bagir -. 2004. L. Transisi Di Bawah Bayang-Bayang Negara Manan.Daftar Pustaka Van Apeldoorn. cetakan kedua. edisi pertama. Sudikno -. Anton . Otje dan Susantho. A . 2002. Sudikno dan Pitlo. 22 tahun 2004 tentang Komisi Yudisial - - 94 Bunga Rampai .cetakan kedua. 5 tahun 2004 tentang Perubahan terhadap Undang-undang No. Hukum Positif Indonesia. 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman Undang-undang No. cetakan pertama. Metode Penemuan Hukum. 2001. edisi kedua cetakan kedua. Liberty Yogyakarta Panggabean.. Fungsi Mahkamah Agung Dalam Praktik Sehari-hari. Pengantar Ilmu Hukum. Liberty Yogyakarta Sutiyoso. Henry P -. 1 tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana Undang-undang No. 2006. Penemuan Hukum Sebuah Pengantar. 1993. edisi pertama cetakan pertama. FH UH Press Salman. PT Alumni Panggabean. Pustaka Sinar Harapan Komisi Hukum Nasional -. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung Undang-undang No. Bambang-. 2004. 2005. 1957. 8 tahun 2004 tentang Peradilan Umum Undang-undang No. Citra Aditya Bakti Mertokusumo. PT. Noordhoff .

Di dalam era transformasi dan informasi. lebih mengentalkan kenyataan bahwa hukum nasional suatu negara tidak dapat secara mutlak berdiri sendiri tanpa menghiraukan perkembangan-perkembangan yang terjadi di dunia internasional.* Latar Belakang Pernyataan-pernyataan bahwa dunia seakan-akan tidak lagi mengenal batas-batas wilayah Negara. Suatu negara bahkan tidak dapat mengisolasi dirinya dari pergaulan internasionnal. khususnya di dalam suatu masyarakat yang sedang membangun.H. “Apabila kita teliti maka semua masyarakat yang sedang membangun dicirikan oleh perubahan bagaimanapun kita mendefinisikan pembangunan itu dan apapun yang kita pergunakan bagi “masyarakat dalam pembangunan. S. Perjanjian-perjanjian internasional dan dampak ratifikasi konvensi internasional. DR.Hakim Agung dan Penemuan Hukum (Rechtsvinding) Pada Era Reformasi dan Transformasi Hukum Prof. Komariah Emong Sapardjaja. Peranan hukum * Guru Besar Hukum Pidana Universitas Padjadjaran Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 95 . telah menjadi kenyataan. terlebih lagi ketika perkembangan teknologi yang semakin canggih. Arus informasi menyebabkan permasalahan di dalam suatu negara dapat dibaca bagaikan dalam buku terbuka. Perkembangan di dalam masyarakat ini juga mempengaruhi perkembangan hukum di suatu negara. seperti itu permasalahan-permasalahan di dalam masyarakat menjadi lebih rumit dan kompleks.

dalam pembangunan adalah menjamin bahwa perubahan itu terjadi dengan cara yang teratur”1 Selanjutnya dikatakan juga oleh Mochtar Kusumaatmadja bahwa: “Ada anggapan yang boleh dikatakan hampir merupakan keyakinan bahwa perubahan yang teratur demikian dapat dibantu oleh perundang-undangan atau keputusan pengadilan atau kombinasi dari kedua-duanya”. Khususnya bagi persoalan-persoalan yang menjadi kasus konkrit yang dihadapkan kepada seorang hakim untuk mendapatkan penyelesaian. Pembinaan Hukum Dalam Rangka Pembangunan Hukum Nasional. Lcmbaga Penelitian Hukum dan Kriminologi Universitas Padjadjaran.2 Tetapi selalu saja terjadi bahwa ‘undang-undang ketinggalan dari kenyataan-kenyataan masyarakat’ (het recht hink achter de feiten aan‘). 6 UUPK) Disinilah letak peran hakim (Agung) dalam penemuan hukum (rechtsvinding) dan pembentukan hukum (rechtsschepping). melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya”. dan mungkin banyak lagi masalah-masalah di dalam masyarakat yang perlu mendapat pemecahan hukumnya. mengadili. kloning. dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas. 1976. 2. Beberapa contoh mengemuka yang menjadi pemikiran dari para ahli hukum sekarang. Ibid Lihat pasal 16 Undang-undang Republik Indonesia No. dalam kasus-kasus yang terjadi dalam masyarakat yang sedang bereformasi dan transformasi. hlm. misalnya. bayi tabung. Bagaimanakah syarat-syarat suatu penemuan hukum (rechtsvinding) dan pembentukan hukum (rechtsschepping)? Sejauh manakah hakim. 4 tahun 2004 Tentang Kckuasaan Kehakiman 96 Bunga Rampai . melakukan penemuan hukum sehingga tidak melakukan kesewenang-wenangan hukum yang pada akhirnya justru 1 2 3 Mochtar Kusumaatmaja.3 (psl. Bandung. Pokok Masalah 1.3. kejahatan cyber. dalam kebebasannya. maka seorang hakim “tidak boleh menolak untuk memeriksa. kejahatan terhadap kemanusiaan.

yang lebih atau kurang. Terkait padanya antara lain diajukan pertanyaan-pertanyaaan tentang penjelasan (tafsiran) dan penerapan aturan-aturan hukum. Arti penemuan hukum dan mengapa (seringkali) diperlukan Rechtsvinding menjadi sangat terkenal terutama setelah perang dunia kedua. Ibid. Penemuan hukum diarahkan pada pemberian jawaban terhadap pertanyaanpertanyaan tentang hukum dan hal pencarian penye1esaianpenyelesaian terhadap sengketa-sengketa konkrit. berkenaan dengan hal menemukan penyelesaian dan jawaban berdasarkan kaidah-kaidah hukum. 95 Sudikno Mertokusumo. Pontier mendefinisikan penemuan hukum sebagai ‘sebuah reaksi terhadap situasi-situasi problematikal yang dipaparkan orang dalam peristilahan hukum’.Pontier. Ia berkenaan dengan pertanyaan-pertanyaan hukum. hlm. Liberty. pandangan tentang penemuan hukum yang dikemukakan oleh Paul Scholten memperoleh banyak pengikut. atau aparat hukum lainnya yang ditugaskan untuk penerapan peraturan hukum umum pada peristiwa hukum konkrit”. J. hlm. op cit.4 Sudikno Mertokusumo mengatakan “Apa yang dimaksud dengan penemuan hukum lazimnya adalah proses pembentukan hukum oleh hakim. 37. konflik-konflik hukum atau sengketa-sengketa yuridis. Yogyakarta. Penemuan hukum. secara cermat dan teliti mengemukakan bagaimana terhadap situasi-situasi problematik tertentu seyogyanya harus diberikan reaksi. Rechtsvinding.A.A.Arief Sidharta. 2001. dan pertanyaan-pertanyaan tentang makna dari fakta-fakta yang terhadapnya hukum harus diterapkan.7 4 5 6 7 J.5 J.16 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 97 . diterjemahkan oleh B. hlm. Penemuan Hukum. ketidakpastian. Labotatorium Hukum Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan. atau ketidakmanfatan? Pembahasan Masalah 1. hlm.menimbulkan ketidakadilan.A. Pontier. 1.6 Asumsi dasar yang melandasi penemuan hukum tersebut adalah berkaitan dengan pengakuan bahwa tidak semua hukum dapat ditemukan dalam undang-undang. 2001. Bandung.

brengt deze woorden. dalam Komariah Emong Sapardjaja. [Pembuat undang-undang melahirkan kehendaknya dengan kata-kata. [. 17. Slechts die woorden hebben aanspraak op absoluut gezag. Perumusan delik lebih banyak membentuk bagian-bagian daripada merumuskan keseluruhan norma perilaku. Ibid. 22 98 Bunga Rampai . hakim harus melengkapi undang-undang yang dirumuskan secara abstrak dengan ketentuan-ketentuan dari moral rakyat.Bregstein. Het strafrecht handhaaft de materiele norm jragmentarisch” [Norma-norma perilaku yang tersirat dalam perumusan delik bukan pencerminan yang mencakup seluruh noma-norma materiel. welke de wet in vereneging met de volksmoraal aan de Justitiabelen waarborgt”. dan apabila dilanjutkan dengan kata-kata dan Suijling:9 “… behoort hij de abstract geredigeerde wet met de prescripten der volksmoraal aan te vullen en dus altijd de gerechtigheid te oefenen. di mana sangat ditentukan oleh unsur-unsur yang terdapat di dalam perumusan deliknya. hlm. Bandung.. Kehidupan sosial yang mereaksi kata-kata ini. geeft er aan hun zin. Dalam hukum pidana yang sangat legistis karena secara fundamental didasarkan pada prinsip legalitas. membuat kata-kata ini. seperti dikatakan oleh Bregstein8 yang berpendapat: “In woorden belichaamt de wetgever zijn will.H.Hal tersebut telah mengemuka sejak lama. tot leven. Hanya katakata itulah yang berhak atas wibawa yang mutlak. Schaffmeister10 menyatakan: “De in delictsomschrijvingen geimpliceerde gedragsnormen zijn geen omvattende weersplegelingen van de gehele materiele norm. 8 9 10 M. Hukum pidana mempertahankan norma-norma secara fragmentaris]. dan karena itu selalu menyelenggarakan keadilan. Ajaran Sifat Melawan Hukum Materiel dalam Hukum Pidana Indonesia. Het maatschappelijk leven. yang adanya dijamin oleh undang-undang bersama dengan moral rakyat untuk melindungi para pencari keadilan. dat op deze woorden reageert. hlm. memberikan pada kata-kata itu arti]. De delictsomscrijvingen vormen ten opzichte van de gedragsnormen veeler deelstukken van het geheel. tanda-tanda mati itu menjadi hidup.. 16 Ibid. Alumni. hlm. de dode teksten.

evolutif dinamikal) b.Dengan demikian. Hij is dus niet ‘la bouche de la loi’. seringkali undang-undang tidak dapat lagi mengantisipasi perkembangan itu. Motivering vonnis Walaupun demikian hakim tidaklah sebebas-bebasnya dapat menggunakan seluruh metode penemuan hukum 11 12 Ibid. sejarah undang-undang. di dalam situasi masyarakat dengan tingkat perkembangan di segala bidangnya sangat tinggi dan kompleks. sistematis. antisipatif.cit. penghalusan hukum. hlm. hlm. Menurut Pontier12. op. 34 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 99 . sejarah hukum. (penulis tidak akan menguraikan secara mendalam tentang metode interpretasi karena dalam pelajaran tentang Pengantar Ilmu Hukum telah diperkenalkan metode penafsiran berupa penafsiran gramatikal. Jadi dia bukanlah ‘mulut undang-undang’ tetapi ‘mulut jiwa undang-undang’]. penemuan hukum dapat dilakukan melalui metode. 2. penimbangan kepentingan e. tenzij men daaronder verstaat ‘la bouche de l’esprit de la loi’ [Terhadap kata-kata undang-undang penerap undang-undang memiliki suatu kebebasan yang luas. metode interpretasi. penerapan atau penafsiran undang-undang secara rasional ii. tetapi disinilah letak peranan hakim selaku penjaga hukum dan keadilan memainkan peranannya. teleologis. antara lain: a. 16 Pontier. Teknik/metode penemuan hukum dan kebebasan hakim Penemuan hukum dapat dilakukan melalui beberapa cara/teknik/metode. interpretasi restriktif dan interpretasi ekstensif c. Oleh karena itu Bregstein11 pernah mengatakan: “Tegenover de worden der wet komt hem echter een vrijheid toe. teknik penemuan hukum lain berupa: i. penalaran hukum d.

Demikian juga dalam kasus BNI 46 New York. Barulah apabila undang-undang yang menjadi dasar kasus tersebut tidak jelas. Khususnya penemuan hukum yang hanya didasarkan pada nalar hakim saja dapat menimbulkan kesewenangwenangan terhadap undang-undang itu sendiri. 54 100 Bunga Rampai .van der Veen. apabila melihat kepada kecanggihan alat-alat yang digunakannya. sedangkan dalam perkara tata usaha negara dapat dilihat dari permohonan pemohon). hlm. Dengan menggunakan penafsiran sosiologis dan teleologis.M. Hukum Pidana. Penemuan hukum dengan menggunakan metode seperti itu ditemukan dalam kasus Mochtar Pakpahan. barulah hakim dapat menemukan hukum yang harus dikemukakan dalam putusan yang definitif. hakim dapat melakukan penafsiran. yang biasanya diperoleh dari fakta yang terungkap di muka persidangan. dan dilanjutkan dengan penelusuran sejarah perundang-undangan untuk mengetahui maksud dari pembuat undang-undang tentang diterbitkannya undang-undang tersebut. Pertama hendaknya diperhatikan landasan/ norma hukum yang menjadi dasar kasus tersebut (dalam perkara perdata biasanya dapat dilihat dari dasar-dasar gugatan yang diajukan oleh pihak penggugat sedangkan dalam perkara pidana dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum. di mana dijelaskan bahwa hatzaai artikelen yang menjadi dasar dakwaan sudah tidak sesuai lagi dengan semangat reformasi. Di bidang hukum pidana.J. 13 14 J.tersebut untuk menyelesaikan kasus konkrit yang dihadapkan kepadanya.J. Jakarta.M. Gramedia. Selain itu harus diperhatikan pula fakta konkrit yang diperoleh dari dasar penyelidikannya. terjemahan oleh Tristam Moeliono dan DR. J. 2003. dalam Jan Remmelink.Marjanne Termorshuizen.13 Juga Jescheck14 mengingatkan bahwa penafsiran bisa jadi akan sangat melebar. pasal 362 KUHP tidak mungkin dapat diterapkan. van der Veen. 47 Ibid. hIm. Pertama-tama hendaknya digunakan penafsiran gramatikal. telah memperingatkan bahaya penggunaan logika secara berlebihIebihan dalam upaya menerangkan undang-undang. padahal tujuan akhir dari setiap aturan hukum pidana adalah perlindungan tertib hukum.

pasal 20 Demikian pula dengan kedudukan hakim. Dilakukan “Demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” .pasal 4 ayat (2). adil.pasal 8. 10. bahwa hakim adalah pejabat yang melakukan kekuasaan kehakiman yang diatur dalam Undang-undang (pasal 31). dan biaya ringan . dengan syarat-syarat bahwa seorang hakim harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela. profesional. Jujur. Prinsip legalitas . menetapkankan bahwa: Kekuasaan Mahkamah Agung sebagaimana ditetapkan dalam Undang-undang tersebut adalah: Pasal 28: “Mahkamah Agung bertugas dan berwenang memeriksa Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 101 . cepat. 5 tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-undang No.3.pasal 9.diskriminasi dan imparsial . Dilaksanakan sesuai dengan prinsip ne bis in idem – pasal 6 ayat (1).pasal 4 ayat (3). dan berpengalaman di bidang hukum (pasal 32). Independent .pasal 6 ayat (2). Prinsip presumption of innocence . Putusan tentang kesalahan seseorang didasarkan pada keyakinan hakim dengan alat pembuktian yang sah menurut Undang-undang . 4. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Dilakukan dengan sederhana. 9. yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. Hak untuk memperoleh ganti rugi dan rehabilitasi . Terbuka untuk umum . Prinsip-prinsip penyelenggaraan peradilan dan Kedudukan serta Peranan Hakim Agung Prinsip penyelenggaraan peradilan telah ditetapkan dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 5.pasal 4 ayat (1). 3. Prinsip-prinsip tersebut adalah: 1. 8. 2. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. dan wajib menjaga kemandirian peradilan (pasal 33) Khusus berkenaan dengan Mahkamah Agung.pasal 7. 6. non. 7. telah ditetapkan dalam undang-undang tersebut.pasal 5 ayat (1).

memutus: permohonan kasasi. Pasal 31: (1) .. menguji peraturan perundang-undangan di bawah Undang-Undang terhadap Undang-undang . b. c. karena: a. memberikan pertimbangan hukum kepada Presiden dalam permohonan grasi dan rehabilitasi” Pasal 37: “ . sekaligus pedoman perilaku bagi mereka.. c. b. Pasal 35: “ . Pasal 30: (1) Mahkamah Agung dalam tingkat kasasi membatalkan putusan atau penetapan pengadilan-pengadilan dari semua lingkungan peradilan. lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan. seperti dimuat dalam pasal 2: “Mahkamah Agung adalah Pengadilan Negara Tertinggi dari semua Lingkungan Peradilan.dan a. maka peraturan perundang-undangan yang disebutkan di atas memberikan tugas-tugas mulia yang diembankan kepadanya. Hal tersebut mengisyaratkan pula bahwa putusan Mahkamah Agung adalah putusan yang memberikan penyelesaian definitif sesuai dengan asas lites finiri oportet. dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan dalam bidang hukum baik diminta maupun tidak kepada Lembaga Tinggi Negara yang lain” Melihat kepada peraturan perundang-undangan yang memberikan kedudukan istimewa kepada seorang Hakim Agung... tidak berwenang atau melampaui batas wewenang. permohonan peninjauan kembali putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku. Terlebih-lebih apabila dikaitkan dengan Kedudukan Mahkamah Agung. yang dalam melaksanakan tugasnya terlepas dari pengaruh pemerintah dan pengaruhpengaruh lain”. yang berarti tidak membiarkan sengketa hukum berlarut- 102 Bunga Rampai . sengketa tentang kewenangan mengadili...

Anak angkat yang memperoleh bagian waris yang sama dengan anak kandung. mantan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia. Dalam bidang hukum perdata.Cctakan Kedua. 15 Oemar Seno Adji. antara lain: 1. antara lain: 1. him. ia ‘sub-ordinated’. Dengan demikian Hakim Agung dalam menjalankan tugasnya telah memberikan kepastian hukum dari kasus tersebut. sekalipun harus menemukan hukum. 1985. Jakarta. Mahkamah Agung menolak gugatan Presiden Suharto atas pencemaran nama baik yang dilakukan oleh New York Times dengan pemuatan gambar presiden sebagai joker dalam kartu ‘remi’. Kesewenang-wenangan seorang Hakim Agung. Francis Bacon pemah menyatakan: ”there is no worse torture than the torture of laws” Penemuan hukum dan pembentukan hukum Indonesia yang mengemuka. Prof.)15 pernah mengatakan: “Suatu pengadilan yang bebas dan tidak dipengaruhi merupakan syarat yang ‘indipensable’ bagi negara hukum. Oemar Seno Adji. b.H. Peradilan Bebas Negara Hukum. antara lain: a. 275K/Pid/1982. Bebas berarti tidak ada campur tangan dari kekuasaan eksekutif dan legislati dalam menjalankan fungsi yudiciair. 4. Oleh karena itu. yang memberi arti terhadap kata “perbuatan tidak 4. Dalam bidang hukum pidana. 46 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 103 . tetapi menyatakannya sebagai perwujudan kebebasan pers. (alm. S. tidak diperbolehkan . Diperkenankannya seorang wanita yang belum menikah mengangkat anak melalui adopsi.. Dikukuhkannya janda sebagai ahli waris. 2. terikat pada hukum”.larut tanpa akhir. Putusan Mahkamah Agung RI No. Beberapa penemuan hukum yang pernah ada. dan menjadikannya suatu pembentukan hukum baru melalui yurisprudensi yang terkenal. 3. Ia tidak berarti bahwa ia berhak untuk bertindak sewenang-wenang dalam menjalankan tugasnya. Pcnerbit Erlangga.

dan terjadi pada semua bidang hukum baik oleh hakim. 5. 4. pembentuk undang-undang. patut dan terce1a dari suatu tindak pidana korupsi”. dalam kebebasannya.2. Dalam kasus “Rahardi Ramelan”. Tetapi berbeda dengan penemuan hukum oleh para ilmuwan hukum sebagai hasil dari penelitiannya. hakim memberikan penafsiran luas terhadap unsur “mengambil” dalam tindak pidana pencurian. penemuan hukum oleh hakim harus selalu dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip penyelenggaraan peradiBunga Rampai 2. 40/1998 tentang Pers adalah lex speciali dan karenanya dalam kasus tersebut tidak dapat digunakan pasal 310 KUHP tentang penghinaan. dalam praktek hukum hakim harus memberikannya di dalam putusannya dalam jangka waktu yang masuk akal. Penemuan hukum adalah sebuah aspek penting dari ilmu hukum (teori hukum) dan praktek hukum. yang bersifat teoritis terhadap suatu masalah hukum tertentu serta tidak terikat dalam batas-batas waktu. Dalam kasus “Bambang Harymurti Tempo” Mahkamah Agung menyatakan bahwa UU No. 3. bahkan ilmuwan hukum. Agar tidak menjadi suatu kesewenang-wenangan hukum dan tertibnya pembentukan hukum yang dciptakan karena penemuan hukum. Penemuan hukum pada dasarnya merupakan kegiatan sehari-hari para yuris. 104 . Dalam kasus “Mochtar Pakpahan” hakim menyatakan bahwa demonstrasi (waktu itu sedang terjadi era reformasi) bukanlah sebagai pemyataan permusuhan terhadap negara sebagaimana terdapat dalam unsur pasal 154 KUHP yang terkenal dengan haatzaai artikelen. Dalam kasus pembobolan dana Bank BNI New York. Simpulan 1. sehingga penggunaan alat komputer (dengan menekan satu panel/tombol pada key board komputer) disamakan dengan lichamelijk gedraging. dan “Adam Damiri di Pengadilan HAM” hakim menerima teleconference sebagai cara yang sah dari kehadiran saksi.

kaidah hukum yang menjadi dasar kasus konkrit yang dihadapkan kepadanya. serta mengabstrasikannya. tetap memperhatikan fakta hukumnya. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 105 . mengharmonisasikan antara fakta dan kaidah hukum tersebut dengan menggunakan metode yang diperkenankan. dasar-dasar/norma.lan yang baik.

Penerbit Erlangga. 1985. Hukum Pidana.Arief Sidharta. Universitas Parahyangan. Marjanne . Penemuan Hukum. diterjemahkan oleh B. J. Liberty. cetakan kedua. Remmelink. Pembinaan Hukum Dalam Rangka Pembangunan Nasional. dan Widati Wulandari. Jakarta. Ajaran Sifat Melawan Hukum Dalam Hukum Pidana Indonesia. Yogyakarta. Penemuan Hukum.Termorshuizen. 2002 Moehtar Kusumaatmadja. Studi Kasus tentang Penerapan dan Perkembangannya dalam Yurisprudensi. 1972 Oemar Seno Adji. 2003 Sudikno Mertokusumo. Panel Diskusi V yang diselenggarakan oleh MAHINDO di Jakarta -bulan Maret 1972. Gramedia Pustaka Utama. Pontier. diterjemahkan oleh Tristam P. Binacipta. Rechtsvinding. Bandung. Peradilan Bebas Negara Hukum. 2001 - - - 106 Bunga Rampai . eetakan kedua. Jan. Bandung. tanpa tahun.A. Alumni.Moeliono. Jakarta.Daftar Pustaka Komariah Emong Sapardjaja. Bandung.. Komentar atas Pasal-pasal Terpenting dari Kitab Undang-undang Pidana Belanda dan Padanannya dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia.

. MH. Sistem Peradilan Pidana (SPP) terdiri atas sub-sistem yang saling berhubungan antar sub-sistem kepolisian (yang melaksanakan tugas-tugas penyidikan).H. penyelenggaraan tata hukum pidana berpusat dan berpuncak pada pengadilan. pengadilan merupakan institusi penting dalam mengkonkritkan hukum melalui putusan-putusan yang ditetapkannya. Dalam hal ini muncullah pandangan bahwa pengadilan sebagai benteng terakhir pencari keadilan. 1981 halaman 120 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 107 .Kontribusi Lembaga Kejaksaan Dalam Mempercepat Reformasi Peradilan M. Pengadilanlah yang mengkonkritkan hukum. Dalam pandangan ini. 1 SPP – Bejana Berhubungan Secara dogmatik. Tugas-tugas penyidikan dan penuntutan bermuara pada pengadilan. Semua sub-sistem diarahkan kepada tujuan untuk menegakkan tata hukum pidana. Ali Zaidan. Kapita Selekta Hukum Pidana. Pada sisi lain. S. kejaksaan (yang melaksanakan tugas penuntutan dan eksekusi putusan pengadilan) dan Pengadilan (yang mengadili) sehingga membentuk jaringan kerja terpadu yang dikenal dengan integreted criminal justice system. Penerbit Alumni Bandung. Putusan pengadilan merupakan produk badan peradilan yang dimulai dari input 1 2 Anggota Komisi Kejaksaan Republik Indonesia Soedarto. institusi pengadilan melakukan pengawasan (kontrol) terhadap pelaksanaan tugas dan wewenang instansi sebelumnya seperti penyidikan dan penuntutan.2 Menurut pandangan ini.

halaman 15 108 Bunga Rampai . Kegagalan suatu sub-sistem akan mempengaruhi subsistem lainnya. menurut pandangan sosiologis.4 Konsekuensi pernyataan di atas bahwa rumusan-rumusan abstrak dalam undang-undang hanya dipakai seb- 3 4 B. Mardjono Reksodiputro. Konsekuensinya.(yakni kasus hukum). Jakarta. Sebaliknya. Penegakan hukum tidak lagi dilihat sebagai penegakan undang-undang an-sich. Hak Asasi Manusia dalam Sistem Peradilan Pidana. Akibat pengaturan demikian. Penerbit Badan Pembinaan Hukum Nasional. Tanpa keterpaduan dalam sistem akan diperoleh kesulitan dalam mengukur tingkat keberhasilan maupun kegagalan sistem sebelumnya. akan tetapi hendaklah dilihat dari persepektif yang lebih luas. sub-sub sistem peradilan pidana itu sendiri merupakan sub-sistem yang diikat oleh ketentuan perundang-undangannya masingmasing. Masalah Penegakan Hukum. processing (penyidikan. Jakarta. Oleh karena itu kegiatan penegakan hukum tidak dapat hanya dilihat sebagaimana tertera dalam perundangundangan. penegakan hukum hendaklah dipahami sebagai kegiatan yang dilakukan oleh institusi hukum dalam keseluruhan kerangka sosial yang lebih besar. antar subsistem peradilan terdapat hubungan saling berhubungan. Suatu Tinjauan Sosiologis. hasil yang diperoleh tidak akan selalu selaras dengan tujuan sistem secara keseluruhan. Sistem Peradilan Pidana hendaklah dipandang sebagai bagian dari sistem yang lebih besar yakni Sistem Sosial yang lebih rumit dan canggih.3 Hubungan antar sub-sistem peradilan tersebut membentuk suatu jaringan laksana bejana berhubungan. Keterpaduan antar sub-sistem menjadi jaminan bahwa produk yang dihasilkan akan dijamin obyektifitasnya. 1994 halaman 85 Satjipto Rahardjo. sub-sub sistem peradilan itu akan menentukan sendiri hukum dalam bidang dan tugasnya masing-masing dalam mengejar tujuannya. penuntutan dan pengadilan) dan berakhir pada out put yakni putusan pengadilan. Putusan pengadilan merupakan hasil akhir (product) proses hukum sebelumnya. tanpa tahun. Oleh karena itu. Kumpulan Karangan buku Ketiga. Akan tetapi sebagai proses sosial yang melibatkan lingkungannya. Pusat Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum (d/h Lembaga Kriminologi) Universitas Indonesia.

hal ini ditimbulkan karena besarnya pengaruh lingkungan sosial terhadap pencapaian tujuan Sistem Peradilan Pidana tersebut. Tanpa memperhatikan interrelationship antara sub-sistem di atas. Englewood Cliffs. pendidikan dan politik Level 3: sub-sistem Peradilan Pidana. Analizing the Criminal Justice System. New Jersey. disebabkan karena apa yang dikatakan sistem Peradilan Pidana pada hakikatnya merupakan sistem yang terbuka (open system).6 Pemahaman terhadap ketiga sinkronisasi ini penting. Dengan demikian. Terlalu banyak faktor yang tidak terungkap jika hanya membaca peraturan hukum tertulis semata. 1978. Adanya independensi antara sistem peradilan pidana dengan sistem sosial. teknologi. digambarkan oleh La Patra sebagai berikut:7 Level 1: Masyarakat (society) Level 2: ekonomi. Keterpaduan atau sinkronisasi itu sendiri meliputi sinkronisasi struktural. An Introduction to the Criminal Justice System and Process. halaman 86 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 109 . tingkah laku yang menjadi latar belakang penegakan hukum dan sejenisnya. dengan lembaga pemasyarakatan. tidak mungkin Sistem Peradilan Pidana tidak terpengaruh atau kedap terhadap pengaruh sub-sistem sosial di luarnya. 5 6 7 Alan Coffey et al. Keterpaduan sistem itu sendiri akan tercipta manakala semua pihak yang menjadi bagian dari sistem itu bekerja untuk mencapai tujuan tertentu dalam kenyataan. antara kejaksaan dengan pengadilan. 1995 halaman 1 La Patra. kepengacaraan dan dengan hukum itu sendiri. Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana. 1974 halaman 5 Muladi. substansial maupun kultural. Begitu juga hendaknya dilihat kenyataan faktual hubungan interdependensi antara kepolisian dengan kejaksaan. akan mengakibatkan kerawanan yang mengarah kepada fragmentasi dan ketidakefektifan sistem peradilan pidana itu sendiri. Bahkan pengaruh luar itu sendiri akan menjadikan Sistem Peradilan Pidana menjadi unik.5 Dengan demikian menurut pandangan ini terlihat bahwa adanya undang-undang tidak menjadi jaminan bahwa sistem itu akan berjalan dengan baik. Badan Penerbit Universitas Diponegoro.agai petunjuk saja. Prentice Hall Inc. yang ingin diketahui lebih jauh adalah bagaimana hukum itu dijalankan. Lexington Books. Semarang.

ekonomi dan budaya tidak dapat diabaikannya ketika proses penegakan hukum itu dijalankan. Sage Publications. Bandung.8 Dengan tepat Soedarto mengemukakan bahwa membicarakan masalah penegakan hukum di sini tidak membicarakan bagaimana hukumnya. Penerbit CV Sinar Baru. Di lain pihak. dapat diasumsikan bahwa proses peradilan merupakan suatu sub-sistem dari sistem politik yang lebih luas. Kita tidak dapat berbicara penegakan hukum apabila keadilan tiGeorge F.10 Mewujudkan keinginan-keinginan hukum dalam kenyataan dapat diartikan sebagai usaha untuk mewujudkan nilai-nilai dasar di dalam hukum seperti keadilan. penegakan hukum hendaklah dilihat sebagai suatu proses sosial yang melibatkan lingkungannya. Pertimbangan-pertimbangan politik merupakan faktor dalam pengambilan keputusannya. maupun yang harus menerima pembatasan-pembatasan dalam bekerjanya disebabkan oleh faktor lingkungan. dalam hal mana konflik diselesaikan.9 Faktor-faktor eksternal seperti politik. Penegakan hukum tidak lagi didefinisikan sebagai penegakan undang-undang belaka. Sejalan dengan pernyataan ini dikemukakan oleh Satjipto Rahardjo bahwa subsistem politik menggarap masalah penentuan tujuantujuan yang harus dicapai oleh masyarakat serta bagaimana mengorganisasikan dan memobilisasikan sumber daya-sumber daya yang ada untuk mencapainya keputusan-keputusan politik sering dimasukkan atau dirumuskan ke dalam hukum positif. op cit halaman 14 8 110 Bunga Rampai . khususnya dalam hubungan dengan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan untuk dikejar oleh masyarakat.pengadilan menerima masukan dari sektor politik ini dalam bentuk petunjuk tentang apa dan bagaimana ia harus menjalankan fungsinya. Beverly Hill.Suatu contoh pengaruh sub-sistem politik terhadap bekerjanya Sistem Peradilan Pidana. dalam pengertian bahwa penegakan hukum sebagai kegiatan yang menarik lingkungan ke dalam proses tersebut. akan tetapi dilihat sebagai kegiatan untuk mewujudkan keinginan-keinginan hukum menjadi kenyataan. melainkan apa yang dilakukan oleh aparatur penegak hukum dalam menghadapi masalah-masalah dalam penegakan hukum. lihat buku Beberapa Pemikiran tentang Ancangan antardisiplin dalam Pembinaan Hukum Nasional. kepastian hukum dan kemanfaatan. maka keputusan-keputusan politik itupun menjadi sah atau memperoleh legitimasinya. Nilai-nilai dasar ini merupakan fundamental hukum yang esensiil. 1985 halaman 26 9 op cit halaman 113 10 Satjipto Rahardjo. dengan penerimaan oleh pengadilan. Politics and the Administration of Justice. Dalam perspektif ini. Cole. London halaman 20.

akan tetapi tidak lain dari kepastian akan peraturan belaka. John R Blad (ed) Erasmus Universiteit Rotterdam.dak terwujud. Sungguh suatu ironi. Padahal dalam bingkai sosiologis. Part One.yang menjadi tujuan dibuatnya undang-undang. Louk Hulsman. Hukum dengan berbagai pranatanya dibuat untuk memaslahatkan umat manusia dan perlindungan terhadap hak-hak fundamental manusia pula. Pernyataan ini tentu akan mendapat sanggahan dari mereka yang berpendirian normatif. Sistem Peradilan Pidana hendaklah dilihat dalam bingkai yang lebih luas sebagaimana disebutkan di atas. Kepastian hukum --. Sebagai suatu sistem sosial yang lebih besar. bahkan dalam batas tertentu nilai-nilai dasar tersebut hendaklah dilihat sebagai nilai antinomik. Undang-undang dibuat untuk menjaga nilai-nilai keadilan dan kemanfaatan. apabila demi menjaga suatu kepastian hukum. SPP terkadang menimbulkan faktor kriminogen. nilai kepastian hukum itu sendiri mengandung masalah yang substansial. Makna menanggulangi di sini diartikan sebagai usaha untuk mengendalikan kejahatan agar berada dalam batas-batas toleransi masyarakat. Dengan demikian nilai daya guna hendaknya menjadi perhatian dalam setiap upaya law enforcement. tidak dapat bekerja menurut tujuan yang dicita-citakannya dan SPP memiliki cacat yang 11 L. nilai keadilan harus dikorbankan. begitu juga nilai kemanfaatan. akan tetapi dalam waktu tertentu nilai kepastian dapat dikorbankan demi mencapai tujuan keadilan. sebaliknya untuk mewujudkan keadilan terkadang kepastian hukum diabaikan.A. SPP itu sendiri diartikan sebagai sistem dalam suatu masyarakat untuk menanggulangi masalah kejahatan. Pendekatan sistemik harus menjadi acuan bekerjanya sistem itu dalam rangka penanggulangan kejahatan. Kita tidak dapat berbicara penegakan hukum tanpa melibatkan sub-sub SPP secara keseluruhan.tidak dapat dipandang sebagai kepastian yang hakiki. bahwa keadilan dan kemanfaatan itu harus dicapai melalui kepastian hukum. hlm 8 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 111 . Demi sebuah kepastian hukum terkadang keadilan dikorbankan. The Criminal Justice System as a social problem : an abolitionist persepective. Diantaranya SPP menimbulkan penderitaan.

hal ini disebabkan karena usaha pemberian keadilan kepada warga tidak dapat dilakukan oleh warga masyarakat dengan cara-caranya sendiri.mendasar. kelambanan menjadi faktor yang mempengaruhi penegakan hukum itu sendiri. Sebuah pekerjaan besar yang membutuhkan dedikasi dan determinasi. Pada sisi yang lain terdapat ungkapan “tegakkan hukum dengan cara-cara menurut hukum” terkadang dalam hal-hal tertentu justru membawa dampak yang tidak produktif. Dengan tepat Roeslan Saleh mengemukakan bahwa pekerjaan mengadili (dalam perkara pidana) merupakan pekerjaan pergulatan 112 Bunga Rampai . Diantara karakteristik birokrasi (peradilan) misalnya sifat yang non personal. Nilainilai yang menjadi dasar masing-masing pihak terkadang merupakan nilai-nilai antinomik. Birokrasi lebih berpegang kepada normanorma yang bersifat formal sehingga terkadang terbelenggu oleh prosedur. kekakuan. Tugas SPP adalah meramu atau melakukan sintesis antara kedua nilai yang antinomi tersebut.11 Faktor kriminogen ini hendaknya menjadi perhatian semua pihak yang terlibat dalam sub-SPP kita apabila tujuan akhir penegakan hukum (pidana) adalah untuk mewujudkan kesejahteraan sosial (social welfare). Keadilan birokratik ini terkadang terlalu prosedural sehingga dalam hal-hal tertentu tidak sejalan dengan keadilan substantif. sehingga terkadang kepentingan justisiabelen diabaikan. kepentingan pribadi dengan kepentingan umum dan sebagainya. doktrin adagium dan sejenisnya. Akan tetapi tindakan untuk merealisasikan nilai-nilai yang terkandung atau yang berada di belakang norma hukum yang hendak ditegakkan itu. Law enforcement yang dilakukan melalui SPP melibatkan sistem birokrasi yang rumit dan canggih. seperti nilai keadilan dan kepastian hukum. akan tetapi dilakukan melalui sistem birokrasi yang rumit dan canggih. tidak tanggap dan tidak cepat. konsep. Oleh karena itu pekerjaan penegakan hukum yang dilakukan melalui SPP bukanlah pekerjaan subsumptie otomat alias teknologi pencet tombol. Misalnya kelambanan dalam salah satu sub-sistem peradilan disebabkan beban kerja yang berat dan sumberdaya yang terbatas merupakan penyebab pelayanan kepada pencari keadilan menjadi tidak optimal. Pembicaraan tentang hal ini akan membawa kepada wacana keadilan yang birokratik.

akan tetapi membentuk hubungan yang dinamis dengan sistem sosial yang lebih besar yang berada di luarnya. Pembagian tradisionil dalam sistem ketatanegaraan legislatif. keterpaduan tersebut tidak hanya meliputi hubungan antar sub-sistem dalam SPP tersebut secara tertutup. Pertemuan dalam forum tersebut dilandasi oleh semangat profesionalisme. populis dan holistik. Meskipun unsur keyakinan hakim menjadi faktor yang determinan dalam pembuatan putusan akan tetapi ketentuan hukum acara dan hal hal lain yang relevan hendaklah pula diindahkan. integritas dan komitmen untuk menegakkan hukum seadil-adilnya. Kejaksaan – Kekuasaan Eksekutif Penegasan bahwa Kejaksaan Republik Indonesia merupakan bagian eksekutif power di negeri ini tidak perlu diragukan lagi. Diharapkan dengan cara demikian SPP tidak menjadi lembaga yang terasing dalam lingkungan sosialnya. Hal ini disebabkan karena kekuasaan untuk menuntut dan mengeksekusi putusan pengadilan merupakan wewenang absolut kejaksaan. Laksana bejana berhubungan. Aparat penyidik. Mereka tidak bekerja dalam ruangan yang hampa.kemanusiaan. perlindungan hak-hak warganegara dan kerjasama yang produktif. di dalam tarik menarik berbagai faktor internal maupun eksternal itulah hakim harus memberikan putusan yang seadil-adilnya. Semua faktor internal (pribadi hakim) dan faktor eksternal (yang diadili) berbaur menjadi satu. akan tetapi merupakan lembaga sosial yang bermakna. penuntut umum maupun hakim bekerja dalam suatu keterpaduan yang harmonis. eksekutif dan yudiKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 113 . Dalam hal ini gagasan untuk tetap menghidupkan forum-forum seperti Makehjapol di tingkat pusat maupun Diljapol di tingkat daerah perlu didukung secara proporsional. Kesadaran seperti inilah hendaknya menjadi semangat aparatur yang mengemban tugas penegakan hukum dalam tiap sub Sistem Peradilan Pidana kita. Forum yang demikian itu untuk melakukan koreksi dan pengayaan terhadap segala sesuatu yang telah dan akan dilaksanakan ke depan. Di samping itu dapat digunakan untuk meminimalisasi berbagai conflict of interest yang mungkin timbul yang disebabkan oleh egoisme sektoral yang berlebihan.

Ketika itu kesan tebang pilih yang muncul di masyarakat tidak dapat dihindarkan. selama itu pula obyektifitas kejaksaan terus menerus dipertanyakan. Dalam penanganan kasus korupsi maupun illegal logging misalnya. Sebagai bagian dari kekuasaan eksekutif kejaksaan harus mampu mengambil sikap dalam posisi yang sulit sekalipun. 2005 halaman 50 114 Bunga Rampai . Kejaksaan RI. Pengaturan seperti ini terkadang menimbulkan indikasi ketidakmandirian kejaksaan di tengah-tengah arus pusaran kepentingan eksekutif.12 Meskipun dapat dipahami bahwa kedudukan institusi dalam posisi yang demikian itu. Penerbit PT Gramedia.13 Landasan perundang-undangan dalam tataran konsepsional tadi.katif telah menempatkan kejaksaan dalam hal ini sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan. merupakan faktor yang menyebabkan tidak optimalnya pelaksanaan tugas dan wewenang kejaksaan dalam rangka penegakan hukum. Posisi dan Fungsinya dari Perspektif Hukum. Untuk hal itu. Jakarta. menjadi realitas dalam tataran aplikasinya di lapangan. Ketidakmandirian kejaksaan dalam melaksanakan tugas penuntutan lebih disebabkan karena faktor perundang-undangan yang dijadikan landasannya. yang menjadi sorotan negatif akhir-akhir ini. Lihat Marwan Effendi. Kebijakan demikian membawa kesan bahwa kejaksaan melakukan tebang pilih dalam melakukan tuntutan dalam kasus-kasus tertentu. bukan semata-mata karena perilaku aparatur kejaksaan. Dalam dilematik itu kejaksaan harus menentukan sikapnya. “Secara jujur harus dikatakan bahwa kebijakan yang berkaitan dengan penegakan hukum. begitu pula dalam undang-undang kejaksaan sebelumnya. Dengan demikian terjadi hubungan interdependensi antara kebijakan pemerintah dengan tugas-tugas kejaksaan. melainkan lebih karena terjadinya pemasungan kewenangan”. Sehingga kesan ketidakmandirian 12 13 Pengaturan ini dapat dilihat dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia. di mana melibatkan orang-orang yang mempunyai kuasa politik atau ekonomi terkadang menjadikan kejaksaan sebagai sasaran kritik. wacana agar Kejaksaan dilepaskan dari kekuasaan pemerintahan sepatutnya diperhatikan. munculnya lembaga-lembaga lain dengan kewenangan yang berpotensi mereduksi tugas dan wewenang kejaksaan. dapat menempatkan kejaksaan dalam posisi yang dilematik dan vulnerable. Di lain pihak. Hal ini disebabkan karena selama kejaksaan berada di bawah bayang-bayang pemerintah.

Selama ini kesan bahwa kejaksaan dapat diintervensi oleh kekuasaan atau partai politik sulit dihindarkan. kewajiban bagi jaksa dan aparat kejaksaan dalam 14 Kita tentu masih ingat dengan kebijakan alm Baharuddin Lopa yang “menusakambangankan” terpidana korupsi. Pada pihak lain pengaruh sosial politik hendaknya memberikan ruang gerak yang luas kepada kejaksaan untuk melaksanakan tugas dan wewenangnya secara mandiri. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 115 . Oleh sebab itu terwujudnya due process of law sulit direalisasikan. tekad dan keberanian pimpinan kejaksaan untuk keluar dari kungkungan kekuasaan eksekutif yang mempengaruhi netralitasnya. Sebagai lembaga yang mengemban tugas penegakan hukum. karena apabila campur tangan itu dilakukan berarti menjadikan lembaga ini berada di bawah bayang-bayang pemerintah. Oleh karena itu pengangkatan jabatan strategis di lingkungan kejaksaan – bahkan Jaksa Agung – haruslah bersandarkan kepada merit system. jaminan undang-undang yang memberi kemandirian jaksa dalam melaksanakan tugasnya di lapangan tidak berarti banyak jika tidak diikuti dengan semangat mengabdikan segenap jiwa raganya untuk kepentingan tugas penegakan hukum yang diembannya. Sebagai bagian kekuasaan eksekutif. Begitu juga dengan Alm Baharuddin Lopa yang dengan keberaniannya menyeret pelanggar hukum ke pengadilan dan mengeksekusi terpidana secara cepat. cukup dengan beberapa lembar kertas saya sudah dapat menjadikan seseorang sebagai terdakwa.” demikan katanya pada suatu waktu. tidak perlu setumpuk bukti yang saya butuhkan.14 Kesemuanya tergantung tekad dan keberanian jaksa dalam menjalankan tugasnya secara mandiri. Kebijakan demikian mengundang simpati publik. Semuanya tergantung kepada niat. Bahkan Lopa berhasil membebaskan kejaksaan dari belenggu formalisme ketika ia mengatakan bahwa “untuk menyeret seorang tersangka korupsi.tidak dapat dielakkan. Meskipun bukan alasan untuk menjustifikasi kedudukan yang demikian untuk menjadikan kejaksaan tidak independen. Institusi ini pernah dipimpin oleh Jaksa Agung Soeprapto yang menunjukkan kemandirian dan keberaniannya menegakkan hukum. tentu bukanlah alasan pembenar bagi pemerintah untuk mengintervensi pengisian jabatan-jabatan strategis di tubuh kejaksaan.

kesusilaan dan keharusan menjaga kehormatan dan martabat profesinya di samping terus menerus menggali nilai-nilai hukum yang berkembang merupakan suatu keniscayaan. Sistem demikian dapat menyebabkan kejaksaan akan dengan mudah diintervensi oleh kekuasaan. 2006. Di samping itu.melaksanakan tugasnya mengindahkan norma-norma kesopanan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tugas penegakan hukum tidak tergantung kepada kepentingan penguasa atau kepentingan apapun. hal mendesak untuk dilakukan saat ini misalnya sistem pertanggung jawaban yang berlaku di kejaksaan perlu dilakukan peninjauan kembali. kemanusiaan dan kesejahteraan. Begitu juga sistem keamanan dirinya hendaknya dijamin. hlm 121. 116 Bunga Rampai . Doktrin demikian tidak selaras dengan tuntutan kemandirian dan profesionalisme kejaksaan dalam melaksanakan tugas-tugas penuntutan. Kewajiban demikian akan mengontrol kejaksaan agar tidak terjebak kepada pertarungan kepentingan yang sempit dan sesaat. Bandung. seperti 15 Doktrin Kejaksaan adalah satu dan tidak terpisah-pisahkan (‘een an ondelbaar’) layak untuk dipertimbangkan karena mempengaruhi independensi jaksa ketika menjalankan tugas-tugas penuntutan. Di samping itu kemandirian jaksa dalam melaksanakan tugas penuntutan hendaklah dijamin secara utuh. antara lain jaksa adalah unsur utama dari “agent of the administration of justice” yang harus menjaga martabat profesinya. Dalam “Guidelines on the Role of Prosecutor” terdapat ketentuan mengenai hal ini. Oleh karena itu penetapan kebijakan yang menyangkut institusi kejaksaan hendaklah selain mengacu kepada tuntutan nasional juga harus mengindahkan aspirasi masyarakat yang berkembang secara universal. instruksi dan sejenisnya merupakan hambatan nyata bagi jaksa dalam melaksanakan tugas-tugas penuntutan.15 Pada sisi lain jaksa tidak dapat melaksanakan tugas-tugas profesionalismenya secara optimal. Lihat Yudi Kristiana. “Petunjuk-petunjuk atasan”. Dengan adanya jaminan demikian diharapkan jaksa dan kejaksaan pada umumnya dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Oleh karena itu. kecuali kepentingan keadilan. negara harus menjamin keamanan jaksa agar bebas dari pelbagai gangguan dalam melaksanakan tugas profesinya. Penerbit Citra Aditya Bakti. Independensi Kejaksaan dalam Penyidikan Korupsi.

faktor finansial juga menentukan tingkat capaian-capaian yang diperoleh instansi ini. Dalam undang-undang sebelumnya di sebutkan bahwa Kejaksaan ialah alat negara penegak hukum yang terutama bertugas sebagai penuntut umum. Keadaan sarana dan prasarana yang masih minim begitu juga dukungan sumber daya manusia yang tidak proporsional membuat kejaksaan sebagai lembaga yang rentan. wewenang kejaksaan untuk juga mengemban tugas-tugas lain jika ditetapkan dengan undang-undang terkait kedudukan sebagai lembaga pemerintahan layak dipertimbangkan. Di samping masalah yang bersifat struktural tersebut. Kritik yang dialamatkan kepada institusi kejaksaan.16 Akan tetapi dalam undang-undang yang menggantikannya ditegaskan bahwa Kejaksaan adalah lembaga pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan serta kewenangan lain berdasarkan undang-undang. terkadang didasarkan kepada pengamatan yang tidak cermat. sehingga dapat melaksanakan tugasnya secara independen. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 117 . besarnya tuntutan pidana dan cara bagaimana putusan hakim dijalankan menjadi tanggung jawab kejaksaan sepenuhnya. Kedudukan sebagai lembaga pemerintahan ini mengakibatkan pelaksanaan tugas dan wewenang kejaksaan berbeda dengan sebelumnya. Keterbatasan sarana. perdata dan tata usaha negara begitu juga tugas dalam bidang ketertiban dan ketenteraman umum. prasarana dan faktor finansial ini menyebabkan kejaksaan kalah berpacu dengan tuntutan perkembangan zaman. Anggaran operasional dan anggaran pembangunan yang masih terbatas merupakan kendala yang serius dan hendaknya menjadi prioritas ke depan untuk segera diantisipasi. di sisi lain keterbatasan-keterbatasan sebagaimana disebutkan 16 Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 15 Tahun 1961 ini bisa jadi merupakan faktor yang menimbulkan kemandirian kejaksaan pada waktu itu. Sebagai lembaga pemerintahan yang memiliki wewenang yang luas dalam perkara pidana.penetapan standar minimum tugas profesi jaksa atau penyusunan kode perilaku jaksa mendesak untuk direalisasikan dengan mengacu pada Guidlines di atas. Kedudukan yang strategis yakni menentukan perkaraperkara apa yang akan dilimpahkan ke pengadilan.

Selama ini sistem reward dan punisment belum terpolakan secara jelas.di atas memerlukan tindakan konkrit untuk dilakukan pembenahan sesuai dengan tuntutan yang berkembang saat ini. diantaranya terdapat instruksi agar kebijakan untuk memberikan dukungan maksimal terhadap upaya-upaya penindakan korupsi yang dilakukan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia. akan tetapi hendaknya menjadikan institusi ini berdaya. Kejaksaan Republik Indonesia dan Komisi Pemberantasan Korupsi dengan cara mempercepat pemberian informasi yang berkaitan dengan perkara tindak pidana korupsi dan mempercepat pemberian izin pemeriksaan terhadap saksi/tersangka. Sebagai suatu institusi sosial. kejaksaan memiliki kekuasaan dan tanggung jawab untuk membuat kebijakan-kebijakan politik. Politics and the Administration of Justice. 1973 halaman 112 Kebijakan seperti ini dapat kita lihat misalnya dalam Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 Tentang Percepatan Pemberatasan Korupsi. Kondisi yang lebih trasparan dan obyektif harus diciptakan dan dibakukan secara konkrit. Masyarakat tidak boleh membiarkan atau menjadikan kejaksaan sebagai bulan-bulanan ketidakpuasan. kejaksaan tidak dapat lepas dari pengaruh-pengaruh sekelilingnya. Sage Publications. Beverly Hills/London. kejaksaan dapat menentukan perkara-perkara mana yang akan dituntut. Cole. Konsistensi ini akan menimbulkan gairah kerja jaksa dan pegawai kejaksaan untuk memberikan darma bakti yang sebaik-baiknya kepada bangsa melalui institusi kejaksaan ini. Sistem reward dan punisment tentu harus dilakukan secara transparan dan konsisten. Kondisi demikian tidak hanya terjadi di negeri kita sebagaimana dikemukakan oleh Cole bahwa SPP dalam hal ini juga kejaksaan merupakan lembaga politik.18 Jaksa memiliki kekuasaan diskresioner yang berpengaruh dalam usaha penegakan hukum. sehingga merit system dapat berjalan dengan baik. Kekurangan dan kesalahan di sana-sini tentu tidak akan diabaikan. 118 Bunga Rampai . Kebijakan yang ditetapkan oleh kejaksaan merupakan refleksi prioritas nilai-nilai politik yang 17 18 19 George F. Kedudukan sebagai lembaga pemerintahan tersebut. op cit halaman 3 George F. sehingga kesan subyektif tidak dapat dihindarkan. Sebagaimana legislator dan hakim. dapat menyebabkan kejaksaan berada dalam ranah politik. Cole.17 Melalui kewenangan yang dimilikinya.

akuntabilitas kejaksaan harus lebih banyak ditekankan kepada kepentingan publik. Di sinilah pengangkatan dan pemberhentian Jaksa Agung hendaknya dilepaskan dari berbagai kepentingan politik sesaat. di samping untuk mengisi jabatan sesuai dengan kebutuhan. Begitu pentingnya tujuan tersebut. Karena apabila kebijakan tersebut tidak diindahkan dapat mengakibatkan kejaksaan terperosok dalam kepentingan kekuasaan yang sempit. Oleh karena itu menurut Harkristuti Harkrisnowo. Begitu juga harus ada jaminan bagi jaksa terhadap keselamatan diri dan keluarganya dari berbagai ancaman yang mengganggu kemandiriannya sebagai aparatur penegak hukum. Dibutuhkan keberanian untuk melaksanakan tugas di tengah-tengah tarik menarik berbagai kepentingan yang dominan pada waktu itu. Itu semua diharapkan akan terwujud. Di samping kemandirian organisasi/institusional. Pengangkatan Jaksa Agung begitu pula pengisian jabatan-jabatan strategis di lingkungan kejaksaan haruslah didasarkan kepada kepentingan untuk menegakkan nilainilai keadilan dan kemanusiaan yang hakiki. Kepentingan untuk menegakkan hukum. kemandirian personal/individual dapat pula ditumbuhkan. Untuk itu. bukan kepentingan politik kelompok tertentu. perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia dan keadilan akan terabaikan.19 Di sinilah kejaksaan ternyata tidak cukup bekerja dengan menggunakan norma-norma hukum yang ditetapkan sebelumnya. Kedudukan sebagai lembaga negara itu akan menciptakan kemandirian yang sesungguhnya bagi kejaksaan untuk melakukan tugas dan wewenangnya tanpa intervensi kekuasaan eksekutif. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 119 .ditetapkan ketika itu. manakala institusi kejaksaan menjadi lembaga negara. apabila kemandirian personal ini terwujud seorang jaksa akan memiliki kemandirian yang sepenuhnya tanpa ada intervensi atasan atau pihak-pihak yang berkepentingan lainnya. yang perlu dilakukan saat ini adalah bagaimana membuat lembaga kejaksaan harus selalu memiliki komitmen pada hukum dan keadilan. sehingga keberanian dan integritas seorang pimpinan kejaksaan menjadi syarat mutlak di samping keahlian tehnis yuridis yang dimiliki jaksa pada umumnya. Dalam melaksanakan tugas penuntutan.

Tuntutan Publik Jika kita mempersempit makna peradilan dengan pengadilan.Masalah di atas merupakan salah satu diantara sekian masalah yang dihadapi oleh jaksa dan kejaksaan pada umumnya pada waktu menjalankan tugas penuntutan dan tugas-tugas lainnya yang membutuhkan integritas. KKN sebagai virus yang menggerogoti pembangunan merupakan musuh nyata masyarakat yang harus diberantas hingga ke akarakarnya. apabila tidak diikuti dengan usahausaha untuk memandirikan kejaksaan sebagai bagian dalam Sistem Peradilan Pidana pada umumnya sehingga menjadi institusi penegak hukum yang terpercaya. Akan tetapi kenyataan yang berkembang sesudahnya menunjukkan lembaga ini belum dapat menjawab tuntutan reformasi 120 Bunga Rampai . kolusi dan nepotisme (KKN). Ekspektasi masyarakat yang begitu kuat selayaknya direspon oleh lembaga ini secara konsisten. MA diharapkan dapat mengemban amanah reformasi yang merupakan tuntutan publik yang disuarakan oleh mahasiswa dan segenap lapisan masyarakat yang menginginkan hukum ditegakkan seadil-adilnya. Kita tidak dapat menunggu perubahan undang-undang kejaksaan untuk menciptakan kemandirian demikian. Untuk itu perhatian atas semua ini harus dipusatkan agar kemandirian jaksa terwujud. Sebagai benteng terakhir keadilan. Pemberdayaan sektor publik dan sektor privat yang tengah berlangsung saat ini hendak-lah dimanfaatkan sebaik-baiknya guna menuju tegaknya supremasi hukum. Reformasi Peradilan. MA sebagai puncak tertinggi dalam peradilan kita menjadi tumpuan harapan publik terutama dalam penanganan perkara korupsi. Perubahan politik apapun yang terjadi tidak akan membawa arti yang signifikan. penguatan civil society saat ini merupakan momentum yang bagus untuk mewujudkan ide-ide tersebut menjadi kenyataan. kita dapat melihat bahwa salah satu tuntutan reformasi yang bergulir hampir satu dasawarsa yang lalu yakni kemandirian badan-badan peradilan yang puncaknya pada Mahkamah Agung (MA). Penguatan masyarakat sipil saat ini dapat digunakan untuk meningkatkan harkat dan martabat kejaksaan ke arah kemandirian yang sesungguhnya.

Alih-alih melaksanakan reformasi di tubuh dunia peradilan. Fenomena ini jelas menunjukkan resistensi lembaga peradilan terhadap tuntutan reformasi.20 Meskipun reformasi yang dalam hakikatnya menghendaki perbaikan di semua bidang kehidupan. wajah peradilan melalui MA seakan tidak tersentuh reformasi. Berbagai kritik dan saran telah disampaikan. baik ketika Orde Lama dengan demokrasi terpimpin juga Orde Baru dengan demokrasi Pancasila mempunyai standar-standar yang dapat diperbandingkan. kekuasaan kehakiman ditempatkan sebagai bagian dari eksekutif. MA justru menjadi lembaga yang menghambat tuntutan publik untuk tegaknya supremasi hukum. Pengalaman dalam dua sistem pemerintahan yang pernah dianut oleh Indonesia. perpanjangan usia pensiun Ketua MA sampai kepada perseteruannya dengan Komisi Yudisial. terungkapnya isu suap di kalangan hakim agung. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 121 . Di bawah rezim demokrasi terpimpin. Realitas menunjukkan bahwa konfigurasi kekuasaan kehakiman tidak dapat dilepaskan dari bayang-bayang pemerintah yang tengah berkuasa. begitu juga di era Orde Baru kekuasaan kehakiman justu dikukuhkan dengan undang-undang sehingga menjadi bagian dari mesin kekuasaan politik Orde 20 Banyak fakta yang menunjukkan bahwa MA merupakan lembaga yang tidak responsif terhadap tuntutan publik demikian. Oleh karena itu ungkapan yang dialamatkan kepada mereka yang kritis terhadap peradilan seperti melakukan contempt of court layak dipertanyakan. fakta menunjukkan bahwa lembaga peradilan tidak dapat melepaskan diri dari konfigurasi politik yang terus menerus berkembang. hal ini terlihat dari putusan-putusannya yang kontroversial. Kesemua itu menunjukkan betapa masyarakat mempunyai kepedulian yang besar terhadap lembaga ini. Bahkan terkesan justru counter produktive maupun over protective terhadap tuntutan publik bagi reformasi peradilan. Kedua rezim memiliki kesamaan-kesamaan dalam memberdayakan kekuasaan kehakiman. lembaga-lembaga peradilan masih asik dengan masalahnya sendiri. Kekuasaan kehakiman tidak otonom dari pengaruh rezim yang berkuasa ketika itu.yang begitu kuat. Dalam beberapa dasawarsa terakhir.

pemerintahan di era ini telah menghambat independensi kekuasaan kehakiman yang mandiri. halaman 450 Salah satu ulasan yang menarik tentang KKN dilingkungan badan Peradilan kita lihatlah buku Menyingkap Kabut Peradilan Kita. Begitu juga dalam kasus Gandhi Memorial School. maka kekuasaan kehakiman cenderung memiliki karakter tidak independen. Menurut Asrun. Lembaga peradilan dilumpuhkan sedemikian rupa sehingga tidak mampu mengurus dirinya sendiri dan terlena di bawah bayang-bayang kekuasaan pemerintahan.21 Secara khusus Benny K Harman menyatakan bahwa konfigurasi politik yang demokratis akan melahirkan kekuasaan kehakiman yang independen.23 Begitu juga penelitian A Mohammad Asrun yang mengkritisi peranan badan peradilan di bawah bayang-bayang rezim Orde Baru. Sebaliknya jika konfigurasi politiknya otoriter. Krisis Peradilan. halaman 4 122 Bunga Rampai . dengan menempatkan sisi teknis peradilan di bahwa MA. tidak legalistis. Malahan diciptakan dualisme ditubuh badan peradilan. Jakarta. Penerbit Pustaka Forum Adil Sejahtera. Aldentua Siringoringo dan Tumpal Sihite (Penyunting).Baru. tetapi sisi administratif dan finansial di bawah eksekutif. memiliki wewenang judicial review yang terbatas. 1996 A Muhammad Asrun. 2004. hingga isu suap yang melanda badan peradilan tertinggi ini merupakan contoh bahwa lembaga yang disebut sebagai benteng terakhir keadilan ini tidak steril dari korupsi. melaksanakan cita hukum. Jakarta. pemalsuan vonis. Mahkamah Agung di Bawah Soeharto. Penerbit Elsam. Menyoal Kolusi di Mahkamah Agung. tidak memiliki kewajiban untuk tunduk pada visi dan kepentingan politik pemerintah. memiliki wewenang judicial review. Ibid. penerbit Elsam. kolusi dan nepotisme. menurut beliau. para hakim sangat legalistis/positivisme dalam memutus perkara dan para hakim akan mendukung serta terikat pada visi dan kepentingan politik pemerintah. MA menganulir putusannya melalui surat sakti Ketua MA yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan di Jayapura untuk menunda eksekusi putusan yang telah in kracht van gewijsde.22 Dalam kasus Hanoch Abee Ohee. Jakarta 1997. Konfigurasi Politik & Kekuasaan Kehakiman di Indonesia.24 Undang-undang Pokok Kekuasaan Kehakiman merupakan kekalahan kaum reformis yang ketika 21 22 23 24 Hal ini dapat dilihat dari penelitian Benny K Harman.

kontrak sosial dan reformasi manajemen instrumental. Usaha reformasi di dunia peradilan diantaranya mencakup reformasi di MA.25 Penentuan Ketua dan Wakil Ketua MA merupakan kewenangan presiden dalam kedudukannya sebagai kepala negara. administrasi dan keuangan. Tak terkecuali pula dengan MA. akan tetapi dalam menentukan personalianya tergantung kepada presiden. Reformasi dalam tubuh peradilan menjadi conditio sine qua non untuk memenuhi tuntutan publik tersebut. Halaman 199 – 200. Dengan adanya kenyataan tentang masalah organisasi. Walaupun kedudukan sebagai kepala pemerintahan dalam hal ini sukar untuk diabaikan. Arus Pemikiran Konstitusionalisme.itu bekerja keras untuk mencegah terulangnya pengebirian kekuasaan di masa rezim Demokrasi Terpimpin. Sebastian Pompe mengemukakan bahwa untuk mereformasi dunia peradilan di Indonesia tidak dapat dilakukan secara fragmentaris akan tetapi meliputi reformasi kebijakan yang bersifat institusional. Potret Lembaga Pengadilan Indonesia. Jakarta. Karut marut wajah peradilan memperoleh bentuknya yang sempurna manakala kekuasaan eksekutif berhasil merasuki wilayah yudikatif dengan menodai kemandiriannya. Penerbit RajaGrafindo Persada. Keterpurukan dunia peradilan disebabkan karena sistem sosial yang karut marut. meskipun lembaga ini tidak seratus persen berada di bawah pemerintahan. akibatnya akan sulit diharapkan kemandirian mereka ketika menjalankan tugas-tugas yudisial mereka. personel. Hukum & Peradilan. Penerbit Kata Hasta Pustaka. pendidikan. bahwa:”kebebasan yang dimiliki lembaga pengadilan tidak lain merupakan suatu kemandirian yang sangat diperlukan (indispenseble) dan “Conditio Sine Quanon” (harus tidak boleh tidak adanya) karena selain menunjukkan bahwa negara ini adalah Rechtsstaat juga menunjukkan akan adanya jaminan terselengaranya peradilan yang independen guna menegakkan hukum yang berintikan keadilan”. manajemen keuangan. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 123 . 2006. Jakarta. para hakim di pengadilan negeri dan pengadilan tinggi tergantung sepenuhnya pada Departemen Kehakiman ketika itu. komisi yudisial. 2007 halaman 57 Rusli Muhammad. peradilan niaga dan peradilan hak asasi manusia.26 Tindakan demikian jelas melukai perasaan keadilan masyarakat. sehingga lembaga peradilan 25 26 Lihat Adnan Buyung Nasution.

Pendekatan tradisional yang selama ini dipraktikkan hendaklah ditinggalkan. Keterlibatan semua komponen sosial agar menjadikan lembaga peradilan menghasilkan daya guna dan hasil guna yang maksimal untuk mewujudkan prinsip negara hukum merupakan sebuah keniscayaan. “ Managing Court Reform. Understanding the Indonesian Blueprints for Court Reform” dalam Jentera. Fungsi Mahkamah Agung dalam Praktik Sehari-hari.ikut menjadi korbannya. Penerbit Sinar Harapan. 2001. Edisi 15 Tahun IV Januari – Maret 2007.28 Gagasan peradilan progresif sebagaimana dilontarkan oleh Satjipto Rahardjo hendaklah dilihat sebagai eksemplar atau alternatif keluar dari krisis peradilan saat ini. oleh karena itu belenggu formalisme. ketidak adilan dan kesewenangwenangan. Tentang gagasan ini dapat dibaca tulisan-tulisan Satjipto Rahardjo.27 Keterpurukan peradilan haruslah menjadi concern masyarakat seluruhnya. Di era reformasi ini kita membutuhkan lembaga-lembaga peradilan yang reformis pula. 18 September 1998 dapat dijadikan referensi untuk merintis sistem peradilan progresif itu. Saat ini kita membutuhkan suatu penegakan hukum yang progresif. tentang peranan MA dan urgensi reformasi di tubuh MA dapat dibaca buku Henry P Panggabean. 124 Bunga Rampai . bukan penegakan undang-undang yang secara linear diartikan sebagai penegakan hukum. meskipun kajian terbatas kepada fungsi MA dalam upaya penanggulangan tunggakan perkara dan pemberdayaan fungsi Pengawasan Mahkamah Agung akan tetapi buku ini dapat memberikan kontribusi positif bagi reformasi peradilan. Oleh karena itu. Penegakan hukum hendaklah berpijak kepada kepentingan nilai-nilai kemanusiaan. Lembaga-lembaga hukum seperti pengadilan hendaklah membantu manusia untuk menyelesaikan konfliknya sendiri 27 28 Sebastian Pompe. Sebastian Pompe mengingatkan bahwa reformasi lembaga peradilan ini hendaknya menjadi keprihatinan kita semua. diantaranya “Indonesia Inginkan Penegakan Hukum Progresif” harian Kompas. Jakarta. halaman 60. Jum’at. prosedur dan sekalian doktrin konvensional hendaklah ditanggalkan karena akan menimbulkan kesengsaraan. upaya pembenahan ditubuh peradilan harus dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan semua komponen masyarakat. juga “Mahkamah Agung Reformasi” harian Kompas. Peradilan yang progresif ditandai dengan cara-cara yang progresif dalam memandang hukum.

Keterpurukan Hukum di Indonesia. reformasi struktural dan 29 Achmad Ali. Secara keseluruhan. Kepatuhan hukum yang bersandarkan kepada kesadaran hukum yang hakiki. sistem hukum yang kondusif untuk terciptanya supremasi hukum. hendaklah memulai langkah-langkah progresif ini. 2002. Peranan hakim menjadi sentral dalam hubungan kemanusiaan ini. Reformasi itu meliputi elemen struktural (kelembagaan yang terkait pada sistem). semua pihak harus berjuang untuk mengembalikan hukum kepada akar moralitasnya. Oleh karena itu. Dalam rangka menciptakan independensi peradilan beberapa hal hendaklah menjadi perhatian. hukum tidak mengabdi kepada kepentingan kekuasaan politik. diharapkan kepatuhan masyarakat terhadap hukum akan terwujud. sehingga pengadilan di bawahnya akan melakukan hal yang sama. Prinsip kemandirian kekuasaan kehakiman ini merupakan prinsip yang diakui secara universil. Dalam jangka pendek. sikap. antara lain: menjauhi hal-hal yang bersifat fragmentaris dan mengedepankan pendekatan sistemik. Penyebab dan Solusinya. elemen substansial (hukum positif yang mendasari jalannya sistem tersebut) dan elemen kultural (pandangan. reformasi di jajaran kekuasaan kehakiman yang dimulai dari MA hendaklah mengikuti skala prioritas yang telah ditetapkan sebelumnya. Penerbit Ghalia Indonesia. halaman 27. reformasi di badan peradilan harus dilakukan secara menyeluruh dan integral.29 Dengan cara demikian. Oleh karena itu. bahkan filosofi yang mendukung efektivitas sistem tersebut). mengutamakan kebenaran dan keadilan. akar kulturalnya dan akar religiusnya. konsep kesadaran hukum yang terpadu antara kesadaran hukum penguasa dan perasaan hukum masyarakat. Untuk mencapai tujuan yang demikian luas itu. melakukan promosi dan perlindungan hak asasi manusia. MA sebagai lembaga peradilan yang tertinggi di Republik ini. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 125 . tindakan reformis itu akan diikuti juga oleh kepolisian dan kejaksaan secara berkesinambungan. Jakarta.dengan menggunakan seluruh kapasitas kemanusiaannya. seperti UN Basic Principles on the Independence of Judiciary (1985).

Dengan demikian terjadinya conflict of interest antar sub-sistem dapat dihindari. Kekuasaan kehakiman dalam arti ini hendaklah dilihat sebagai suatu bagian yang integral antar sub-sistem peradilan pidana terpadu (integrated criminal justice system) sebagaimana disebutkan di muka yang meliputi subsistem penyidikan. keadilan yang dapat diterima semua pihak karena didasari oleh tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagaimana kepala putusan yang dibacakannya. halaman 10 126 Bunga Rampai . Demokratisasi. Jakarta 2002. dan Reformasi Hukum di Indonesia. Hakekat kekuasaan kehakiman yang merdeka dan mandiri.substansial harus diprioritaskan dan dalam jangka panjang melakukan reformasi kultural. akan tetapi suatu kegiatan yang merupakan proyek besar untuk menciptakan keadilan (sosial). Untuk memenuhi harapan itu dibutuhkan kemampuan hakim dalam memahami hukum melampaui batas-batas teks perundang-undangan. Apabila lembaga peradilan diartikan secara luas. hendaklah dilihat dalam perspektif yang luas. Moral and social accountability ini merupakan salah satu karakteristik peradilan yang reformis. Begitu pula pendekatan legalistik selama ini harus ditinggalkan. maka meliputi juga kekuasaan penyidikan dan penuntutan. Reformasi struktural tersebut meliputi reformasi kelembagaan di wilayah eksekutif seperti kepolisian. penuntutan. Sinkronisasi atau harmonisasi antar sub-sistem secara keseluruhan akan tercipta. Pendekatan fragmentaris dan sektoral akan diminimalisasikan.30 Melalui pendekatan sistemik ini. Dengan demikian semangat itu harus menjiwai semua lingkungan badan peradilan di atas. Hak Asasi Manusia. Kecerdasan intelektual harus diimbangi pula dengan kematangan spritual. konsekuensinya akuntabilitas hakim tidak hanya sebatas undang-undang akan tetapi secara moral dan sosial. Untuk itu pula. peradilan dan pema- 30 Muladi. reformasi hukum dan peradilan akan memperoleh bentuk yang sesungguhnya. Penerbit The Habibie Center. tugas hakim tidak hanya menerapkan undang-undang terhadap perkara yang tengah diadilinya. kejaksaan dan juga wilayah legislatif seperti Dewan Perwakilan Rakyat.

Ketika yang menjalankan kekuasaan kehakiman itu terdiri atas manusia. Kemandirian dan kemerdekaan itu tidak akan berarti banyak apabila hanya dimiliki oleh salah satu subsistem dalam SPP di atas. 31 Barda Nawawi Arief. Jakarta. Apakah makna semuanya ini? tidak lain predisposisi subyek akan menentukan kemandirian badan peradilan. Ungkapan Taverne layak dikemukakan di sini ketika ia mengatakan: ”berikan saya seorang jaksa yang jujur dan cerdas. maka predisposisi sebagai subyek untuk menentukan pilihan dalam berbagai alternatif tidak dapat diabaikan. 2007 halaman 35 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 127 . penuntut umum dan hakim. Masalah Penegakah Hukum dan Kebijakan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Kejahatan.31 Dalam ide ini. berikan saya seorang hakim yang jujur dan cerdas. Kebijakan legislatif atau perundang-undang merupakan wilayah yang strategis untuk menentukan kemandirian kekuasaan kehakiman dalam tataran aplikatif di semua lingkungan peradilan nantinya. Keadilan menjadi tujuan akhir penegakan hukum. Pengadilan dalam arti luas. maka dengan undang-undang yang paling burukpun. Reformasi peradilan sesungguhnya tergantung kepada predisposisi subyek yang melakukan penegakan hukum (pidana) mulai penyidik. nurani dan sebagainya. there is no reason for a man to live longer on earth” oleh karena itu keadilan hendaklah menjadi roh penegakan hukum yang sesungguhnya. saya akan menghasilkan putusan yang adil”. Penerbit Kencana Predana Media Group. berupaya untuk mewujudkan peradilan progresif di mana kegiatan tersebut hendaklah dilihat sebagai suatu proses yang sarat dengan compassion yang memuat empati. lepas dari kungkungan pemikiran yang legalistik.syarakatan. ungkapan Immanuel Kant layak dikemukakan di sini: ”If justice is gone. jika tidak. Walaupun harus tetap dipahami bahwa kebijakan legislatif ini tidak secara taken for granted terwujud di lapangan. determinasi. kebijakan legislatif atau perundang-undangan merupakan tahap awal untuk menentukan kemandirian lembaga ini yang nantinya diikuti oleh taraf aplikatif di lapangan ketika wilayah penegakan hukum in concreto dijalankan. Penegakan hukum bukanlah pekerjaan penerapan peraturan dan logika yang secara tradisionil sebagaimana diterapkan selama ini.

Komisi Hukum Nasional. pelaku penegakan hukum yang merupakan kunci utama untuk terwujudnya substantive justice. paling tidak harus dipenuhi beberapa syarat misalnya: pertama. karena menyangkut kompetensi dan independensi.E Sahetapy. Ibarat nila setitik rusaklah susu sebelanga. Keadaan itu tidak dapat dibiarkan berlarut-larut. di sisi lain independensi personal/individual terkadang diidentikkan dengan independensi kelembagaan. … yang memberi teladan dan menjaga nurani hukum & politik. Dan pada akhirnya keterpurukan dunia peradilan menjadi fenomena yang tidak terelakkan. Jakarta 2007 halaman 29 128 Bunga Rampai . penyalahgunaan kekuasaan dipraktikkan secara terang-terangan bahkan dibungkus secara rapi melalui slogan hukum seperti asas legalitas. merupakan ungkapan tepat untuk menggambarkan bahwa perilaku kelembagaan dimanifestasi melalui perilaku individu. Kedua.32 hukum yang akan ditegakkan haruslah benar dan adil. Sistem Peradilan Berwibawa (suatu Pencarian) FH UII Press Yogyakarta. perlindungan hak asasi manusia dan asas praduga tidak bersalah. Reformasi yang sejatinya menjadikan segala sesuatu menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Penyimpangan yang dilakukan oleh oknum peradilan dapat menjadi cermin korupnya lembaga itu secara keseluruhan. Unsur pelaku penegakan hukum ini tidak bisa diabaikan.Untuk menegakkan hukum secara adil. Kedua independensi ini harus dilihat sebagai hubungan dialektik. 2005. kalau tidak dikelola secara rasional dapat berbalik menjadi deformasi hukum. Karena di satu pihak independensi atau impartially kelembagaan hanya dapat terwujud melalui perilaku nyata personal/individu penegakan hukum. Di atas telah dikemukakan bahwa independensi kekuasaan kehakiman meliputi independensi kelembagaan dan independensi personal/individual. Suatu aturan hukum akan tidak benar dan tidak adil apabila hanya dibuat untuk kepentingan kekuasaan belaka dan mengandung kesewenang-wenangan.33 Keadaan deformasi hukum itu merupakan bentuk kesewenang-wenangan secara telanjang. karena 32 33 Bagir Manan. halaman 9 J.

akan tetapi dapat dikemukakan bahwa apa yang telah dirintis oleh Hendarman Supandji merupakan langkah yang terbilang berani. Kemandirian suatu sub-sistem peradilan tidak akan berarti banyak jika tidak diikuti kemandirian sub-sistem lain secara menyeluruh. Penegak hukum harus mengabdikan dirinya untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan kebenaran dengan resiko terberat sekalipun. Jaksa dan Hakim harus diisi oleh orang-orang yang memiliki integritas pribadi yang kokoh dalam pengabdian tugas-tugasnya demi bangsa. Secara konseptual. Reformasi hendaknya dijadikan pintu masuk ke arah pembenahan komponen substantif. secara implisit dapat disimpulkan bahwa independensi kekuasaan kehakiman/peradilan merupakan suatu sistem yang integral. Supremasi hukum akan tumbang dan kesewenang-wenangan akan terjadi dimanamana. ketangguhan moral yang tahan uji dan semangat pengabdian yang tinggi. Lembaga politik seperti lembaga perwakilan dan juga partai-partai politik harus memberi dukungan yang setulus-tulusnya terhadap langkah-langkah yang telah diayunkan oleh kejaksaan hatta menyangkut dirinya sendiri sekalipun. struktural dan kultural penegakan hukum ke arah yang lebih baik. Dalam kedudukan sebagai lembaga pemerintahan. iklim politik yang tengah berkembang janganlah justru menjadikan kejaksaan kehilangan independensinya. Politisasi lembaga kejaksaan dalam melakukan penuntutan perkara pidana hendaklah dihindarkan oleh siapapun juga dengan motivasi apapun.prinsip negara hukum akan runtuh. Upaya untuk memproses secara hukum tersangka korupsi dalam skala yang besar membutuhkan dukungan dari sub-sistem politik dan sosial keseluruhan. kontribusi lembaga kejaksaan untuk mempercepat reformasi peradilan dimulai dengan kebijakan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 129 . Polisi. sebab jika tidak Kejaksaan Agung hanya bekerja untuk dirinya sendiri alias tidak membawa daya guna dan hasil guna. negara dan darma sejarahnya disamping kemampuan intelektual yang mumpuni. Kontribusi Kejaksaan Dari paparan di atas. Masih terlalu dini untuk menilai kinerja Jaksa Agung saat ini. Kekuasaan harus ditundukkan kepada hukum bukan sebaliknya.

mereka yang mempunyai kekuasaan akan berusaha sekuat mungkin untuk menghambat dan atau mempengaruhi kinerja kejaksaan dalam melaksanakan penegakan hukum secara konsisten. Mereka yang mengabdikan segenap kemampuannya bagi kejayaan bangsa ini. Mereka jauh dari tindakantindakan yang bertujuan mencari sensasi atau popularitas untuk dirinya sendiri. akan tetapi mengandung nilai yang positif apabila dikelola. Melakukan penataan terhadap lembaga hukum yang lain secara sistemik termasuk juga lembaga kepengacaraan sehingga tercapai integrated criminal justice system yang sesungguhnya. Terjadinya ketidakmandirian itu dapat dihindarkan manakala kejaksaan mampu mengambil jarak dengan pihak-pihak yang mempunyai kepentingan dalam penyelesaian suatu perkara. 130 Bunga Rampai . Independensi itu tidak dalam tataran konsepsi akan tetapi hingga tataran realitas atau operasional di lapangan harus diwujudkan. Untuk itulah kemandirian personal harus dilindungi sebaik-baiknya oleh pimpinan kejaksaan. Untuk itu sikap vigilantisme hukum harus ditumbuhkan. Hal ini disebabkan karena. Mereka. oleh karena itu pimpinan kejaksaan hendaklah memberikan perhatian yang besar baik menyangkut promosi maupun kompensasi-kompensasi lainnya. Mereka-mereka inilah pendekar hukum yang sesungguhnya. para jaksa yang bertugas di daerah terpencil jauh dari sorotan media massa dan dengan penuh dedikasi dalam tugasnya merupakan vigilantee yang berjuang untuk kejayaan dan kehormatan profesinya. walaupun dalam tataran empiris menimbulkan permasalahan. Kebijakan undang-undang yang menentukan jaksa adalah satu dan tidak terpisah-pisahkan dalam melakukan tugas-tugas penuntutan. Penggarapan komponen substantif dan struktural hendaklah diarahkan kepada pembentukan kultur hukum yang bertujuan untuk menegakkan substantive justice bersandarkan kepada profesionalisme dan integritas yang teruji. karena itu semua pihak harus melepaskan kepentingannya.dalam tataran legislatif atau perundang-undangan dengan menempatkan kejaksaan sebagai lembaga yang independen dari pengaruh kekuasaan apapun. Penguatan masyarakat madani (“Civil Society”) harus diikuti dengan penguatan sistem kelembagaan penegakan hukum ke arah pembentukan kultur hukum yang lebih baik.

Optimalisasi tersebut membutuhkan dukungan finansial dan sarana serta prasarana yang tidak sedikit serta sumber daya manusia yang baik.maupun pemerintah dan negara pada umumnya. Penanganan perkara-perkara yang tergolong perkara penting seperti korupsi. hendaknya dilakukan secara proporsional dan bijaksana. membutuhkan kinerja. money loundering. akan tetapi bukan suatu alasan pembenar bagi jaksa atau pegawai kejaksaan untuk melakukan penyimpangan. alokasi anggaran untuk menyelesaikan kejahatan-kejahatan di atas. cyber crime yang terkadang melintasi batas-batas negara. di samping kerja sama lintas sektoral. tanggung jawab dan dukungan sarana dan prasarana yang memadai. Oleh sebab itu. Di samping kejahatan konvensional yang terus menerus meningkat membutuhkan penanganan oleh kejaksaan secara optimal. regional dan global. Mempertimbangkan tingkat kesulitan dan kompleksitas masalah yang ditangani. Meskipun harus diakui pula bahwa sistem renumerasi di lingkungan kejaksaan masih membutuhkan perbaikan. keberhasilan-keberhasilan kejaksaan dalam menuntaskan berbagai kasus hendaknya menjadi perhatian semua pihak sehingga penilaian atas kinerja kejaksaan menjadi obyektif. Begitu juga penyusunan rule of conduct seperti Code Perilaku Jaksa mendesak untuk dilakukan saat ini untuk memenuhi tuntutan profesionalisme sebaik-baiknya. Begitu juga aspek struktural perlu mendapat perhatian Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 131 . Semuanya berpulang kepada niat dan ketulusan masing-masing. Kebijakan anggaran keuangan yang berbasiskan kinerja hendaklah pula dilihat secara proporsionil dengan mempertimbangkan beban kerja dan tuntutan-tuntutan publik serta besarnya tanggung jawab yang diemban. Permasalahan yang bersifat substantif seperti pembenahan peraturan perundang-undangan yang selaras dengan jiwa/semangat undang-undang kejaksaan yang baru baik menyangkut struktur kelembagaan kejaksaan maupun pelaksanaan tugas dan wewenangnya hendaklah dilakukan secara simultan. Tidak ada hubungan yang liner antara perbaikan penghasilan dengan integritas jaksa ketika melakukan tugas-tugasnya di lapangan. Di samping kelemahan-kelemahan yang masih ada. illegal logging/ fishing.

efisien dan simultan. sistem penggajian dan tunjangan jabatan harus dilakukan sejalan dengan kebutuhan yang berkembang dan dilakukan secara cermat. mulai sistem rekruitmen pegawai kejaksaan. Kesederhanaan dan efisiensi tersebut tidak boleh mengurangi produktivitas kerja yang optimal. Meskipun kejaksaan tidak dapat dilepaskan sebagai lembaga publik yang harus mengakomodasi prinsip-prinsip good government juga harus memperhatikan kebutuhan yang spesifik sebagai suatu lembaga penegakan hukum yang mengemban tugas-tugas yang khusus (legal professional organization). transparan dan akuntabel sesuai dengan visi dan misi kejaksaan. Kultur yang dibangun itu hendaklah berangkat dari kesadaran untuk melaksanakan tugas secara profesional. Begitu juga dalam pengelolaan sumber daya manusia harus dilakukan perencanaan dan perhitungan yang matang. Komisi Kejaksaan sebagai state auxiliary institution hendaklah dilihat sebagai mitra guna membenahi institusi kejaksaan baik di dalam pengawasan perilaku. mutasi dan promosi. kinerja. Optimalisasi produktivitas itu merupakan tuntutan publik yang harus direspon oleh kejaksaan secara bijaksana. sistem pendidikan yang menunjang tugas-tugas profesional jaksa. Keunikan ini hendaknya menjadi perhatian pemerintah yang membidangi penataan aparatur negara. Oleh sebab itu fungsi pengawasan internal baik meliputi pengawasan melekat maupun pengawasan fungsional dengan pengawasan eksternal dalam hal ini Komisi Kejaksaan perlu dilakukan secara sinergis.yang sungguh-sungguh. Semua pihak harus dilibatkan guna menumbuhkan sense of belonging terhadap institusi kejaksaan. kelengkapan sarana dan prasarana serta sumber 132 Bunga Rampai . Apabila sebagian kecil permasalahan ini telah dituntaskan. Dan pembentukan kultur di lingkungan kejaksaan harus dibangun secara utuh sehingga kejaksaan menjadi lembaga yang solid. maka pengawasan terhadap jalannya program-program yang telah digariskan harus dilakukan pula secara transparan dan akuntabel. Pembenahan yang bersifat struktural meliputi organisasi dan tata kerja kejaksaan diarahkan kepada upaya untuk mewujudkan lembaga kejaksaan sebagai institusi yang sederhana dan efisien. struktur organisasi. kebijakan pembinaan karier.

Pembenahan yang tengah dilakukan oleh kejaksaan diarahkan kepada tujuan untuk mencapai sasaran tuntutan reformasi itu. Penutup Usaha untuk melakukan reformasi di tubuh peradilan sesungguhnya merupakan perjuangan yang tiada mengenal kata berhenti. Dukungan publik untuk menciptakan kemandirian lembaga peradilan merupakan qonditio sine qua non. Kejaksaan tidak hanya dituntut untuk merespon tuntutan publik secara cepat tepat dan independen. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 133 . Kemandirian dan akuntabilitas itu menjadi standar bagi keberhasilan kejaksaan dalam memenuhi harapan publik dan pelaksanaan tugas dan wewenangnya secara baik. sebab jika tidak. Optimisme itu harus menjadi komitmen nyata kita semua.daya manusia di lingkungan kejaksaan. reformasi peradilan menjadi sekedar wacana yang tak bermakna. Politisasi lembaga peradilan mutlak harus diakhiri. faktor-faktor itu merupakan variabel yang mempengaruhi kinerja dan hasil yang akan dicapai oleh kejaksaan guna memenuhi ekspektasi publik Dukungan publik terhadap upaya yang dilakukan oleh kejaksaan haruslah diarahkan kepada upaya untuk memberdayakan kejaksaan agar menjadi sub-sistem peradilan yang mandiri dan akuntabel. Jika reformasi di tubuh kejaksaan telah terwujud. Akan tetapi kondisi-kondisi internal dan eksternalnya sendiri harus pula diperhitungkan. oleh karena itu independensi kekuasaan kehakiman tergantung kepada faktor-faktor internal lembaga peradilan dan political sphare di sekelilingnya. Reformasi merupakan sebuah ideologi untuk membangun seluruh komponen bangsa ke arah yang lebih baik. maka usaha perbaikan di dalam sistem peradilan kita secara keseluruhan akan pula menjadi kenyataan.

134 Bunga Rampai .

* Pendahuluan Salah satu wujud reformasi di bidang penegakan hukum yang cukup signifikan adalah terputusnya hubungan eksekutif dan yudikatif dengan kembalinya pembinaan dan pengawasan hakim di bawah Mahkamah Agung. Dengan biaya yang tidak sedikit Polri telah bersusah payah menangkap dan memeriksa tersangka pembalakan liar. LL. Sp.. Lebih dari itu.M.Kontribusi Komisi Kepolisian Nasional Dalam Mempercepat Reformasi Peradilan A. atas nama koordinasi tidak jarang keadilan dikebiri untuk mendukung kepentingan pemerintah atau yang mengatas namakan kepentingan pemerintah. sehingga mengganggu independensi instansi peradilan..H. Terputusnya koordinasi di antara para penegak hukum lebih disebabkan karena trauma oleh intervensi pihak yang tidak bertanggung jawab dimasa lalu. tetapi kemudian dibebaskan oleh Pengadilan. Bukti terputusnya koordinasi SPP dapat digambarkan dari permintaan petinggi Polri kepada Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) untuk mengkritisi kinerja peradilan terhadap kasus pembalakan liar (illegal logging) yang cenderung mengabaikan kinerja Polri. Sikap pengadilan tersebut dianggap men- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 135 . Pandupraja S.N. Efek yang kurang menguntungkan adalah hilangnya forum koordinasi Sistem Peradilan Pidana (SPP) untuk mengefisienkan kinerja antar instansi penegak hukum. Saat ini kehadiran forum tersebut sangat dibutuhkan khususnya pada saat KUHAP sedang dalam revisi karena dinilai sudah tidak sesuai dengan tuntutan pencari keadilan pasca reformasi.

jatuhkan wibawa Polri dalam memberantas pembalakan liar. Kondisi tersebut dinilai oleh banyak kalangan menjadi latar belakang mengapa Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tidak memiliki kesamaan visi mengenai reformasi SPP melalui komisi-komisi. problem kinerja pada instansi Polri akan berdampak pada kinerja instansi kejaksaan dan instansi peradilan. Polri terkesan sembrono dan tidak profesional dalam melaksanakan Inpres No. Kompolnas tidak memiliki hubungan langsung dengan institusi peradilan. Sebuah mata rantai yang saling terkait satu sama lain (garbage in garbage out). namun dapat menginisiasi pembentukan forum antar tiga komisi negara di bidang SPP. yang sama-sama menjalankan fungsi pengawasan diharapkan dapat bersinergi untuk turut mereformasi SPP dengan tetap memperhatikan independensi masing-masing. Ketiganya.2/1999 tentang pemisahan TNI-Polri. Pada bagian akhir dari tulisan ini akan menekankan pada upaya strategis yang dapat diperankan oleh Community Policing untuk mereduksi gelombang perkara yang melanda lembaga peradilan. Ketidaksamaan visi ini nampak dari perbedaan mendasar pada kewenangan memeriksa (subpoena power) yang tidak dimiliki oleh Kompolnas tetapi dimiliki oleh Komisi Yudisial dan Komisi Kejaksaan. Sebaliknya problem di instansi peradilan tidak lepas dari problem masukan yang diterima dari instansi Kejaksaan dan Polri. Padahal kewenangan tersebut sangatlah mendasar dan sekaligus penting untuk menun- 136 Bunga Rampai . Eksistensi Kompolnas Sejarah lahirnya Kompolnas didominasi oleh isu keluarnya Polri dari ABRI yang tercermin pada Instruksi Presiden No. 4 Tahun 2005 tentang Pemberantasan Penebangan Kayu Secara Illegal di Kawasan Hutan dan Percepatannya di Seluruh Indonesia. Komisi Kejaksaan dan Komisi Yudisial. Pemisahan yang ingin mengembalikan Polri ke khittah-nya adalah sebagai akibat dari ketidakpercayaan masyarakat terhadap TNI-Polri yang telah disalahgunakan oleh rezim Orde Baru. Sebagai sebuah sistem. Tulisan ini akan menguraikan tentang Kompolnas dan peran strategisnya dalam turut membangun Polri yang professional dan mandiri sebagai bagian dari SPP. yaitu Kompolnas.

Rumusan tersebut lebih diarahkan untuk mendudukan secara Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 137 . Hasil evaluasi kinerja Polri terkait relasi kelembagaan sesuai portofolio masing-masing departemen tersebut dapat menjadi masukan dalam menyusun arah kebijakan Polri yang menjadi kewenangan Kompolnas untuk diajukan kepada Presiden dalam rangka membangun Polri yang profesional dan mandiri (Pasal 39 UU No. Menteri Dalam Negeri (Mendagri). Arah kebijakan yang telah dirumuskan agar tidak diarahkan untuk memberi peluang kooptasi satu lembaga terhadap lembaga lain. sedangkan TNI berada di bawah Depertemen Pertahanan. seperti Polisi Khusus Kehutanan (Polsus Kehutanan) yang izinnya dikeluarkan oleh Menteri Hukum dan HAM.89/2000. ditambah tiga pakar kepolisian dan tiga wakil masyarakat. Polri menggunakan asas dekonsentrasi sementara Satpol PP yang berinduk kepada Pemerintah Daerah menggunakan asas desentralisasi.jang kewibawaan lembaga pengawas eksternal. 2 Tahun 2002). Setelah Polri dipisahkan dari TNI. dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkum dan HAM). persoalan persoalan yang menghambat sinergi kelambagaan antara Polri dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang dilatarbelakangi oleh perbedaan asas. Misalnya. Jawabannya Polri disubordinasikan oleh Kompolnas dengan keberadaan tiga menteri ex officio sebagai anggota yaitu. seyogyanya masukan menteri ex officio meliputi pula portofolio departemen yang menjadi kompetensinya masing-masing. Dalam merumuskan arah kebijakan Polri. Berbagai spekulasi sempat mencuat ke permukaan bersamaan dengan pembahasan RUU Polri. tetapi lebih ditujukan untuk memperkaya masukan sebagai pertimbangan Kompolnas dalam merumuskan arah kebijakan Polri (policy maker) bersama-sama dengan pakar kepolisian dan wakil masyarakat (tidak satu pun anggota Kompolnas berasal dari unsur Polri). Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam). Atau persoalan yang menghambat sinergi antara Polri dengan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS). Keberadaan menteri ex officio tersebut tentu bukan dimaksudkan untuk menjawab persoalan subordinasi semata. muncul persoalan subordinasi mengapa Polri ditempatkan di bawah Presiden berdasarkan Keputusan Presiden No.

Peran policy maker bagi Kompolnas tersebut tentu bukan persoalan yang bisa dianggap sepele oleh Polri. Ada 5 jenis keluhan masyarakat yang diatur secara limitative oleh UU Polri: 1) Penyalahgunaan wewenang 2) Dugaan korupsi 3) Pelayanan yang buruk. Kesetaraan posisi sesama anggota Kompolnas. Dan Polri tidak memilliki pilihan lain selain menjabarkannya pada level kebijakan teknis. Kompolnas telah mengeluarkan beberapa peraturan tentang: i) Organisasi dan tata kerja (OTK) ii) Kode Etik iii) Tata Cara Penanganan Saran dan Keluhan Masyarakat (SKM). 138 Bunga Rampai . maka ia akan menjadi pedoman bagi Polri dalam membuat kebijakan teknis kepolisian (Pasal 38 ayat (1) UU No. 4) Perlakuan diskriminatif.proporsional peranan Polri selaku penjuru dan pengendali urusan keamanan dan mengeliminasi potensi arogansi sektoral yang dapat memposisikan Polri sebagai lembaga superbody. karena berbagai kepentingan dapat berpotensi untuk menunggangi Kompolnas (atau dianggap menunggangi Kompolnas) dalam membuat disain strategis Polri masa datang. Posisi strategis Kompolnas sebagai policy maker tersebut diharapkan dapat menjawab persoalan subordinasi posisi TNI di bawah Departemen Pertahanan. Karena setidaknya ada dua departemen dengan portofolionya masingmasing turut merumuskan arah kebijakan Polri yang akan menjadi panduan pimpinan Polri dalam membuat kebijakan teknis kepolisian. Sejak arah kebijakan Polri yang dipersiapkan oleh Kompolnas berubah bentuk menjadi Peraturan Presiden (atau Instruksi Presiden). atau menginstruksikan pemerintah daerah untuk mendukung program program community policing (Polmas). 2 Tahun 2002). 1. Termasuk menteri terkait lain sesuai dengan materi muatan kebijakan Presiden tersebut. 5) Penggunaan diskresi yang keliru. Peraturan Kompolnas Dalam menjalankan mandatnya. Beberapa ketentuan penting yang diatur dalam OTK. Misalnya mengandung materi muatan yang menginstruksikan pemerintah daerah untuk mendukung kinerja Polri dalam mengamankan Pilkada.

Meskipun Ketua Kompolnas adalah Eks Officio Menkopolhukam dan Wakil Ketua Kompolnas adalah Eks Officio Mendagri. kedudukan menteri tidak lebih tinggi dari anggota non menteri dalam pengambilan keputusan pada Rapat Anggota Kompolnas.pasal 33 ayat 2 OTK: “Pertemuan Anggota Kompolnas dinyatakan sah apabila dihadiri oleh sekurangkurangnya 5 (lima) orang anggota Kompolnas termasuk Pejabat Penghubung liaison officer/LO” (L. namun forum tertinggi yang dapat mengambil keputusan penting Kompolnas adalah Pertemuan Anggota Kompolnas. . Pasal 38 ayat (2) c UU Polri mengatur bahwa Kompolnas menyampaikan Saran dan Keluhan Masyarakat (SKM) kepada Presiden. Pasal tersebut menggambarkan bahwa Kompolnas sangat bergantung dari hasil pemeriksaan internal Polri terhadap SKM yang diterima oleh Kompolnas. Kompolnas dapat berhubungan langsung dengan satuan Polri terkait. UU tidak mengatur hubungan kelembagaan Kompolnas dengan Polri sebelum SKM disampaikan kepada Presiden. . maka Kompolnas dapat meminta “gelar perkara“ sesuai ketentuan pasal 25 ayat 3 OTK yang menyatakan “Kompolnas dapat meminta Polri untuk memberikan penjelasan yang berkaitan dengan keluhan masyarakat dalam pertemuan Kompolnas”. Apabila Kompolnas tidak dapat menerima atau keberatan terhadap hasil tindak lanjut SKM oleh satuan Polri terkait.O. 2. Kesenjangan tersebut telah dijembatani pada pasal 25 ayat 2 OTK yang berbunyi “Saran dan Keluhan Masyarakat yang diterima oleh Kompolnas disampaikan kepada satuan Polri terkait untuk ditindaklanjuti dan hasilnya disampaikan kepada Kompolnas”. Ketentuan di atas menggambarkan bahwa sebagai sesama anggota komisi. adalah pejabat yang ditunjuk untuk mewakili menteri manakala yang bersangkutan berhalangan hadir). Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 139 .pasal 33 ayat 3 OTK: “Pengambilan keputusan dalam pertemuan anggota Kompolnas dinyatakan sah apabila disetujui oleh sekurang kurangnya 5 (lima) orang anggota Kompolnas”.

korban didaftarkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Hal ini disebabkan karena buruknya manajemen penyidikan dan dapat dilihat dari. Penyalahgunaan wewenang dapat dibuktikan dengan dibebaskannya tahanan setelah menjalani hukuman selama 60 hari dalam tahanan Contoh kasus DR Chairuddin. Yaitu: 1. aparat merasa punya cukup alasan untuk menjebloskan korban dalam tahanan. Potensi penyalahgunaan wewenang oleh aparat Penyidik Polri sangat besar. Laporan penelitian mahasiswa PTIK angkatan XXXIX-A telah menemukan 11 jenis KKN pada Satuan Organisasi Reserse Kriminal (Reskrim) Polri. (ii) Terabaikannya prosedur penanganan perkara dengan berkoordinasi dengan instansi Kejaksaan. Penyimpangan prosedur penangguhan penahanan. Manakala tidak hadir setelah dipanggil dengan cukup. (i) Tidak jarang objek perkara yang sama. 4. tetapi ditangani oleh beberapa instansi di lingkungan Polri dengan alasan karena dilaporkan oleh orang yang berbeda sehingga tersangkanya menjadi berbeda pula. namun belum dijembatani dengan MoU atau Skep Kapolri untuk menindaklanjuti permintaan Kompolnas kepada satuan Polri terkait.Pasal tersebut menunjukan bahwa Polri sudah kooperatif dalam mendukung eksistensi Kompolnas. mengubah posisi pelapor menjadi tersangka dan lain-lain. 3. Dengan dua bukti tersebut. Modus operandi yang digemari aparat dalam menakut-nakuti korban adalah ancaman penahanan. Sebagian pengaduan masyarakat yang berjenis penyalahgunaan wewenang oleh aparat penyidik berupa kriminalisasi masalah perdata. Pengaduan Masyarakat Kompolnas memiliki kewenangan untuk menerima pengaduan dari masyarakat mengenai kinerja aparat Polri. Penyimpangan prosedur pinjam pakai barang bukti. Bunga Rampai 140 . 2. Kolusi dalam penyelenggaraan perjudian. Rekayasa penanganan/penindakan kasus pembalakan liar. Sebuah penerapan prinsip kemandirian yang keliru dan cenderung mencederai asas dekonsentrasi. (iii) Akuntabilitas penyidikan sangat rendah sehingga memungkinkan terjadinya diskriminasi terhadap tersangka.

11. Contohnya adalah persidangan kasus Nurhadi di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Potensi KKN polisi di lembaga peradilan Upaya hukum untuk melindungi tegaknya hukum dan perlindungan hak asasi tersangka dalam pemeriksaan penyidikan terhadap dugaan penyalahgunaan wewenang oleh aparat penyidik Polri adalah melalui gugatan praperadilan (pasal 77 KUHAP). Penyimpangan dalam penyelidikan dan penyidikan perdaran VCD bajakan. Karena itu Penyidik akan berupaya keras agar gugatan praperadilan gugur. atau (ii) mempercepat mulainya proses pemeriksaan pokok perkara sebelum selesainya pemeriksaan gugatan praperadilan (pasal 82 ayat 1 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 141 . Ibarat dokter yang sedang mendiagnose penyakit polisi. Penyimpangan penerbitan surat keterangan kehilangan kendaraan bermotor untuk persyaratan klaim asuransi. temuan berharga tersebut dapat diibaratkan sebagai jenis penyakit polisi yang harus disembuhkan atau dieliminasi oleh Kompolnas ketika merumuskan arah kebijakan Polri untuk disampaikan kepada Presiden. Penyimpangan dalam penanganan kasus-kasus narkoba. 8. Sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan. 7. Sah atau tidaknya suatu upaya paksa berupa penangkapan atau penahanan.5. (i) menunda-nunda acara persidangan praperadilan. Upaya yang dapat dilakukan oleh Penyidik adalah. Apabila gugatan praperadilan diterima oleh pengadilan. 6. 2. Penyimpangan dalam penanganan kasus depo bahan bakar minyak (BBM) illegal. Penyimpangan proses penyelidikan kasus pidana. dalam rangka menunggu agar persidangan pokok perkara dapat segera dimulai sebelum acara putusan gugatan praperadilan. 10. Gugatan praperadilan bertujuan untuk menguji: 1. tentu akan berakibat buruk bagi masa depan karir Penyidik. 9. Kolusi pengelolaan kegiatan prostitusi. Terjadinya sindikat tindak pidana bidang pertanahan.

menuntut dan mengadili. kasus penembak tersangka yang sedang ditangkap oleh aparat Polri.KUHAP). Cara di atas agak berbelit-belit dan melibatkan beberapa pihak yang belum tentu berpihak pada kepentingan penyidik. (i) melobi hakim agar berpihak pada kepentingan penyidik yang mendapat dukungan dari tokoh masyarakat dan LSM. Untuk upaya yang kedua Penyidik harus berkolaborasi dengan Jaksa Penuntut. lembaga pengaduan eksternal yang menangani masalah-masalah khusus terdapat pada berbagai komisi negara seperti KPK dan Komnas HAM. Kerjasama dengan Komisi Negara Lembaga pengaduan eksternal terhadap kinerja Polri sudah ada dan tersebar di beberapa instansi pemerintah maupun di lembaga kepresidenan. Upaya hukum yang dilakukan oleh kedua keluarga korban yang telah diatur dalam KUHAP adalah melakukan gugatan praperadilan perihal prosedur 142 Bunga Rampai . Contohnya adalah kasus Suherman di Pengadilan Negeri Medan. (ii) membuat gaduh suasana persidangan seolah-oleh akan terjadi keributan dengan tujuan agar hakim yang mengadili gugatan praperadilan menjadi terprovokasi atau ketakutan. Lalu mempercepat penunjukan hakim dan selanjutnya mempercepat mulainya proses pemeriksaan pokok perkara. rekomendasi pengaduan masyarakat yang diberikan Kompolnas kepada Polri untuk ditindaklanjuti berpotensi untuk diabaikan. Cara lain yang relatif lebih ringan adalah. untuk masalah dugaan korupsi. Kompolnas tidak memiliki salah satu dari kewenangan tersebut. seperti yang terjadi di Medan dan Jakarta beberapa waktu lalu. Contohnya adalah sidang gugatan praperadilan kasus Nurhadi di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. (iii) Tidak segera mengamankan pengadilan manakala dibutuhkan pada saat pengadilan menghadapi demonstran yang brutal. Yang membedakan di antara seluruh lembaga pengaduan tersebut adalah kewenangannya untuk menyelidik dan menyidik (subpoena power). Semakin banyak kewenangan yang dimilikinya akan semakin berperan dalam merespon keluhan masyarakat sehingga akan sangat disegani oleh pihak yang diadukan. lembaga departemen seperti Menteri Penertiban Aparatur Negara maupun non departemen seperti Kejaksaan. Selain itu. Misalnya. Oleh karenanya.

Dalam pemberantasan korupsi. upaya ini ditolak oleh Pengadilan Negeri di masing-masing wilayah. Kerjasama dengan KPK layak ditingkatkan manakala Kompolnas diabaikan atau bahkan tidak dihargai sebagai lembaga pengawas ekternal. Kompolnas tidak dapat memanggil paksa aparat tersebut untuk diperiksa. Tindak lanjut dari permintaan ini tentu sangat tergantung dari kemauan Polri. Selanjutnya. Kalau mencermati kesetaraan posisi sebagai komisi negara. Padahal antara masalah prosedur penangkapan dan masalah akuntabilitas penembakan korban adalah dua persoalan yang berbeda secara substansi. Contoh lain.penangkapan. Kejaksaan atau KPK. Yang terpenting dalam menempatkan KPK sebagai mitra kerja Kompolnas adalah saran KPK dalam membangun Polri yang bebas dari korupsi. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia). Kompolnas telah meminta agar Polri memeriksa aparat yang bertanggung jawab terhadap pengaduan tersebut. Kompolnas seyogyanya mendahulukan untuk berkoordinasi dengan KPK untuk dapat mengetahui tingkat keseriusan masalah korupsi di tubuh Polri sebagai salah satu penegak hukum. Karena keterbatasan kewenangan. Kompolnas memiliki beberapa pilihan untuk menindaklanjuti pengaduan tersebut. Apakah akan berkoordinasi dengan instansi Polri. perihal pengaduan dugaan korupsi oleh anggota Polri yang disampaikan kepada Kompolnas. KPK menjadi penjuru yang merancang secara bertahap reformasi birokrasi yang menghambat pemberantasan korupsi. keluarga korban mengadukan hal itu kepada Kompolnas guna meminta akuntabilitas aparat Polri yang menembak korban. Namun. Menanggapi pengaduan tersebut. Ketika kedua lembaga tersebut sama-sama meneri- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 143 . Misal lain adalah pengaduan yang terkait dengan pelanggaran administrasi anggota Polri yang merupakan wewenangan Kompolnas dan Komisi Ombudsman Nasional (KON). sesuai kewenangan Kompolnas dalam menerima saran dan keluhan masyarakat. Penolakan ini seolah-olah turut mengubur akuntabilitas aparat yang menembak korban. Manakala diperlukan Kompolnas layak untuk bersinergi dengan Komnas HAM berkaitan dengan kewenangannya untuk memanggil dan memeriksa pihak yang diadukan (Pasal 89 ayat (3) UU No.

Di samping alasan pemborosan anggaran juga masalah efektifitas penyidikan. Kompolnas sangat perlu belajar banyak dari KON dalam menangani pengaduan masyarakat. Jangan sampai polisi terlapor akan diperiksa berkali-kali untuk materi pengaduan yang sama oleh instansi yang berbeda-beda. 1. dituntut. Koordinasi antar komisi negara mendesak untuk dilaksanakan dalam rangka mengefisienkan kinerja komisi-komisi negara dalam mengoptimalkan sinergi di antara mereka. berhak menuntut ganti rugi kerugian dan rehabilitasi. ditahan. atau diadili tanpa alasan berdasarkan undang-undang atau karena kekeliruan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkannya. Juga untuk menegakkan asas nebis in idem. Karena pada umumnya pengaduan dikirim kepada hampir seluruh lembaga terkait. Koordinasi juga penting untuk menghindari tumpang tindih kewenangan dalam menerima dan menangani pengaduan. karena telah dinilai sukses oleh masyarakat meski memiliki wewenang yang terbatas seperti Kompolnas. Pasal 9 UU No. Sebagian dari peraturan tersebut sayangnya sangat jarang digunakan secara benar. peraturan menteri maupun peraturan yang dikeluarkan oleh pimpinan instansi masingmasing.ma pengaduan. 4 Tahun 2004 tentang Kehakiman Pasal 9 ayat 1 dan 2 berbunyi sebagai berikut: (1) Setiap orang yang ditangkap. Kata kunci pemborosan seyogyanya menjadi momok bersama. baik dalam bentuk undang-undang. Kewenangan memeriksa (subpoena power) yang dimiliki oleh beberapa komisi negara seperti Komnas HAM dan KPK sangat penting untuk disinergikan oleh komisi negara yang membutuhkan kewenangan tersebut. Desakan dan kritik masyarakat untuk merestrukturisasi komisi negara agar penjadi perhatian kita semua. peraturan pemerintah. maka selayaknya mereka perlu untuk saling berkoordinasi. (2) Pejabat yang dengan sengaja melakukan perbuatan Bunga Rampai 144 . Beberapa pasal menarik Cukup banyak peraturan dalam rangka mengkoreksi kinerja penegak hukum. Persoalan yang harus disikapi sejak dini oleh para lembaga penerima pengaduan tersebut.

Konsekuensi apapun baik perdata. sementara Jaksa Penuntut diperiksa? Jawaban atas persoalan tersebut bergantung pemahaman Polri terhadap profesionalisme penyidikan dan konsekuensi logis dari sebuah profesi.sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana. Keterkaitan (connection). 3. yaitu memiliki pengetahuan. Menurut buku panduan HAM untuk anggota Polri. sikap. ada 4 (empat) indikator kapan seorang polisi disebut profesional: Kompeten (compentence). keterampilan dan sikap emosional yang matang. yaitu keterkaitan antara pengetahuan. Konsisten (consistence). Komitmen (commitment). sikap dan keterampilan dengan pekerjaan yang dilakukan. Profesional merupakan kemahiran dan kemampuan tinggi yang didukung oleh pengetahuan. pidana maupun administratif harus siap dihadapi Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 1. yaitu mencintai bidang tugas yang dilakukan. 145 . 4. Konsekuensi logis bagi seorang notaris/PPAT yang membuat akta adalah yang bersangkutan harus bisa mempertanggungjawabkan setiap kata atau kalimat yang terdapat pada akta notaril yang telah dibuatnya. yaitu satu kata dengan perbuatan secara berkesinambungan. keterampilan dan kematangan emosional dalam melaksanakan tugas di bidang masing-masing sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku dan standard pekerjaannya (SOP). Kata profesional. pada umumnya Jaksa Penuntut kasus tersebut langsung dieksaminasi atau diperiksa oleh Asisten Pengawasan Kejaksaan Tinggi. Ketentuan yang umum digunakan adalah PP 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Instansi yang konsisten dalam menerapkan aturan PP 30 Tahun 1980 tersebut adalah kejaksaan. Apabila dakwaan jaksa dinyatakan tidak dapat diterima oleh majelis hakim. 2. Pasal di atas sepertinya belum pernah diterapkan secara utuh terhadap aparat penegak hukum. Bagaimana dengan akuntabilitas aparat polisi apabila yang bersangkutan telah ditangkap dan ditahan? Apakah polisi yang menangkap dan menahan tidak perlu turut bertanggung jawab. mudah diucapkan tetapi sulit dilaksanakan karena belum ada kesamaan visi mengenai apa yang dimaksud dengan profesional.

Begitu pula dengan profesi dokter. Prinsip partisipasi sebagai salah satu unsur masyarakat madani telah berlaku bagi dunia kedokteran.17 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat dan Pemberian Penghargaan Dalam Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.oleh yang bersangkutan. dokter. Konsil Kedokteran akan memeriksa pengaduan tersebut apakah terjadi pelanggaran hukum. Sayangnya pada saat bersamaan penyidik Polri tidak berpikir bahwa sebagai sesama profesi dirinya juga harus dapat mempertanggungjawabkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang dibuatnya. (2) Setiap informasi. Community Justice melalui Community Policing Sampai saat ini masyarakat yang tinggal di Meruya masih tetap siaga melakukan perlawanan terhadap segala upa2. pelanggaran disiplin atau pelanggaran etika. Yang menarik. Pasal 3 PP 71/2000 berbunyi sebagai berikut: (1) Informasi. Kalangan penyidikpenyidik Polri sangat paham bagaimana menginterogasi notaris/PPAT dalam meminta pertanggungjawaban sebagai notaris/PPAT. komposisi Konsil Kedokteran terdiri dari perwakilan stakeholder: akademisi. saran atau pendapat diterima. pidana maupun administratif. 146 Bunga Rampai . Setiap tindakan medis yang dilakukan oleh seorang dokter juga membawa konsekuensi baik perdata. Ketika seorang dokter diduga melakukan mal praktek. pemerintah dan konsumen. Meskipun uang yang didapat tidak sebanding dengan tanggung jawabnya. Pasal 3 dan 4 Peraturan Pemeritah No. atau pendapat dari masyarakat harus diklarifikasi dengan gelar perkara oleh penegak hukum. saran. Selanjutnya pasal 4 dari peraturan tersebut memberi batas waktu bagi aparat untuk memproses sebelum klarifikasi selama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal informasi. saran atau pendapat dari masyarakat … harus disampaikan secara tertulis …. Sungguh menjadi dambaan masyarakat madani apabila prinsip partisipasi yang ada pada Konsil Kedokteran juga diadopsi oleh Polri dalam menangani pengaduan masyarakat terhadap anggotanya.

Hukum di atas segalanya. setiap putusan menggunakan irah-irah Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Faham ini berpendapat bahwa hukum sebagai sistem yang otonom alias lebih superior dibanding dengan sistem lain seperti ekonomi. Pencari keadilan yang memasuki arena peradilan diibaratkan menceburkan diri dalam gelombang samudra yang menafikan eksistensi kemanusiaan pencari keadilan. Kasus Meruya hanya salah satu dari segudang putusan Mahkamah Agung pasca reformasi yang jauh dari rasa keadilan yang menjadi tujuan dari kekuasaan kehakiman seperti yang diamanatkan oleh UU No. Tiba-tiba muncul putusan Mahkamah Agung yang membatalkan kepemilikan tanah mereka. Stigma yang melekat terhadap dunia peradilan. Segala daya upaya dikerahkan agar putusan tersebut tidak dapat dilaksanakan.6% responden tidak percaya terhadap kinerja penegakan hukum. Ia akan kehilangan arah mengadu nasib diantara badai ombak samudra. “ngurus cempe kelangan sapi”. jumlah perkara yang masuk ke pengadilan setiap tahun selalu meningkat sejalan dengan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 147 . Hukum harus ditegakkan sekalipun langit akan runtuh. kasus yang masuk pengadilan dianggap sebagai komoditas. sosial dan politik. Untuk mensakralkan putusan hakim. Cara pandang hakim dalam memutuskan kasus tersebut disebut legalisme yang dikomandani oleh Hans Kelsen dan Jhon Austin. Bahkan ia akan tergulung oleh ganasnya ombak samudra peradilan. maksudnya mengurus perkara senilai anak kambing tapi biaya yang harus dikeluarkan senilai sapi. Bahkan tidak satupun responden yang berpendapat penegakan hukum di Indonesia sudah berjalan baik. tidak jelas mana Utara mana Selatan. karena mereka merasa telah membeli secara sah tanah mereka dihadapan pejabat yang sah dan mendapat bukti kepemilikan berupa sertifikat tanah yang dikeluarkan oleh BPN. Tidak heran kalau kemudian ada peribahasa Jawa yang berbunyi. Meskipun demikian. Hukum dianggap selalu benar dan adil. Pandangan seperti itu tercermin pula dari hasil penelitian Kompas tanggal 17 Maret 2003 bahwa 86. 4 Tahun 2004. Mereka telah tinggal berpuluh tahun di Meruya tanpa ada gangguan dan teguran perihal status hukum kepemilikan tanah mereka.ya untuk menangkal eksekusi Putusan Mahkamah Agung.

Pol: SKEP/737/ X/2005 tentang Kebijakan dan Strategi Penerapan Modal Perpolisian Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Tugas Polri. negara sejak lama telah mengakomodir melalui UU No. Upaya tersebut ternyata tidak berhasil menyurutkan gelombang perkara ditingkat banding dan Kasasi. Ketentuan tersebut diperkuat lagi dengan Keputusan Kapolri No. Pol: SKEP/432/VII/2006 tentang Panduan Fungsi Samapta Dengan Pendekatan Perpolisian Masyarakat (Polmas).peningkatan kesadaran hukum masyarakat. PERMA tersebut dimaksudkan memberi peluang terakhir (meskipun bukan yang paling akhir) bagi para pihak yang bersengketa untuk damai. Upaya terbaru yang dilansir pemerintah untuk mengurangi volume perkara di pengadilan adalah lembaga community policing yang disebut dengan Perpolisian Masyarakat (Polmas) melalui Keputusan Kapolri No. 148 Bunga Rampai . Upaya untuk mengurangi volume perkara di luar pengadilan. Mahkamah Agung telah menerbitkan Surat Edaran Mahkamah Agung No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Penyelesaian Sengketa. sehingga jumlah kasus di Mahkamah Agung sudah menggunung. Karena itu Mahkamah Agung lalu merubah Surat Edaran tersebut menjadi Peraturan Mahkamah Agung No. Dengan harapan agar para pihak yang berperkara akan mencabut gugatannya. Mediasi sengketa perdata lebih dikenal dengan istilah Alternatif Dispute Resolution (ADR). 2 tahun 2003 dengan judul “Prosedur Mediasi di Pengadilan” (PERMA). 1 Tahun 2002 dengan judul “Pemberdayaan Pengadilan Tingkat Pertama Dalam Menerapkan Lembaga Damai”. Namun kenyataannya tetap saja mekanisme tersebut tidak berhasil mengurangi secara berarti volume perkara di pengadilan. Lembaga yang dimaksud adalah Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) untuk urusan arbitrase dan Pusat Mediasi Nasional (PMN) untuk urusan mediasi sengketa perdata. Untuk menanggulangi penumpukan perkara di lembaga peradilan. Polmas antara lain bertujuan menyelesaikan pertikaian antar warga dengan difasilitasi oleh petugas kepolisian yang menggunakan mekanisme informal dengan berpegang pada norma-norma sosial setempat dan kesepakatan-kesepakatan lokal oleh masyarakat sekitar (community justice).

nilai dan masalah yang beraneka ragam di suatu lingkungan pada suatu wilayah tertentu. untuk urusan penegakkan hukum di pelabuhan. Keterbatasan jumlah. Reformasi tata pemerintahan telah membagi kewenangan antara pusat dan daerah. Meskipun UU Otonomi Daerah telah memberi peluang bagi Satpol PP untuk mengambil peran dalam penegakkan hukum lokal. Teknologi media komunikasi. Kondisi yang sama juga terjadi ditingkat teknis departemental. mengakibatkan pudarnya norma moral dan sosial. Dalam rangka mengamankan UU Kehutanan No. Bahkan. aparat Bea Cukai telah mengambil alih posisi Polri sesuai UU Bea Cukai. Posisi Satpol PP menjadi semakin kuat mendukung kewibawaan pemerintah lokal. tolong menolong. gotong royong. Misalnya nilai nilai kebersamaan. Hasil penyidikan aparat Bea Cukai langsung diserahkan kepada Jaksa Penuntut Umum tanpa koordinasi dengan Polri. Kekosongan penegakan hukum ditingkat pemerintah lokal kabupaten/kota telah diisi dengan keberadaan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Polisi Khusus Kehutanan menggantikan posisi Polri untuk urusan teknis kehutanan. penerapan asas dekonsentrasi secara rigid mendominasi alasan mengapa Polri terisolasi dari masyarakatnya. Profesionalisasi juga memiliki andil dalam memisahkan masyarakat dari tatanan sosialnya. Akibatnya terjadi kekosongan penegakan hukum ditingkat pemerintah lokal.Community Policing Kata community atau masyarakat tidak dapat didefinisikan secara sederhana karena memiliki makna yang berbeda beda dan lingkup yang berbeda-beda untuk setiap orang yang mendefinisikannya. mengakibatkan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 149 . Polri sudah sangat disibukkan dengan urusan penegakan hukum ditingkat nasional dalam rangka mempertahankan negara kesatuan Republik Indonesia. Setiap masyarakat memiliki karakteristik yang berbeda-beda antara budaya. khususnya televisi sebagai penyumbang terbesar dalam perubahan norma sosial.41 Tahun 1999. Masyarakat cenderung keluar dari norma-norma sosial yang selama ini dijunjung tinggi. Disamping itu. namun tetap saja belum dapat memenuhi harapan masyarakat. Derasnya arus modernisasi mendorong masyarakat dimanapun untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama yang telah mengakar kuat dalam satu komunitas.

merokok di sembarang tempat. Penelitian LP3ES telah mengangkat temuan bagaimana masyarakat lokal telah berhasil menindak pelanggaran pidana dengan menggunakan kearifan lokal melalui mekanisme Alternatif Dispute Resolution (ADR). Kinerja Satpol PP sarat dengan kepentingan Pemda. Hasil Evaluasi Polmas 2005 oleh Polri telah merekomendasikan agar dukungan pemerintah setempat menjadi variable penting dalam perumusan maupun pengembangan program Polmas. Seperti misalnya. Kelompok Mitra Pengaman Hutan (KMPH) di Desa Sesaot. Saat ini Polmas sedang mencari legitimasi politik dan dukungan pendanaan dari pemerintah daerah. Program Polisi Simpatik. Seperti masalah membuang sampah sembarangan. Misalnya terhadap penebangan liar di kawasan hutan lindung. Dukungan dapat berupa anggaran maupun legitimasi program dalam bentuk Peraturan Daerah. Mereka aktif membersihkan papan reklame yang melanggar aturan apabila tidak membayar pajak papan reklame. Pelanggaran hukum dan Perda Penegakan hukum oleh komunitas telah dapat diselesaikan dengan menggunakan kearifan lokal sesuai kondisi (baca: kebutuhan) masyarakat sekitar. Patroli Komunitas (Ronda).Satpol PP hanya bisa menjaga areal pertokoan dan fasilitas Pemda. Program serupa dulu dikenal dengan nama Siskamling. Dukungan pemerintah lokal sangat diperlukan dalam rangka menjaga kesinambungan maupun keberlanjutan program Polmas. Lombok Barat telah merumuskan pelanggaran dan sanksi bagi perambah hutan lindung sebagai berikut: 150 Bunga Rampai . Legitimasi sangat diperlukan dalam rangka membangun kepercayaan masyarakat lokal. bangunan liar dan lain lain yang tidak kalah penting daripada urusan menertibkan papan reklame. Situasi tersebut cukup bisa dipahami karena Polmas baru dihidupkan kembali. Belum terlihat orientasi program ke arah penegakkan peraturan daerah dalam rangka membantu kinerja Satpol PP. Padahal berbagai peraturan daerah membutuhkan penegak hukum untuk menciptakan lingkungan yang aman. Polmas melalui Forum Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM) baru sebatas memecahkan konflik antar warga maupun antar warga dengan polisi/pejabat setempat. tertib dan bersih. program Police Goes To Kampung.

Padahal upaya paksa pada pasal 216 KUHP menjadi andalan polisi dalam memanggil seseorang (baca. pelanggaran pidana tidak harus diselesaikan dengan ancaman pidana berupa penahanan. Masyarakat telah melakukan dekriminalisasi kejahatan pidana menjadi denda. Pasal 216 KUHP berbunyi sebagai berikut “barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang undang oleh Pegawai Negeri berdasarkan tugasnya … diancam dengan pidana penjara paling lama 4 bulan 2 minggu atau denda paling banyak Rp. maka didenda menanam pohon 50 kali lipat dari jumlah pohon yang ditebang.- Bila menebang (mencuri kayu) sekali karena alasan pemenuhan ekonomi keluarga. Hal tersebut juga tercermin dalam draft RUU KUHAP Baru.9. kasus perselingkuhan diselesaikan dengan “grosok”. Pasal ini selalu bertengger di lembar panggilan yang dikeluarkan oleh polisi. bahwa upaya paksa berupa penahanan cenderung dikesampingkan.000 Rupiah”.000). Pada dasarnya penangkapan dan penahan yang tidak berdasarkan hukum Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 151 . sanksinya cukup meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi di depan warga masyarakat. maka dikeluarkan dari tempat tinggalnya di desa. Sanksi pidana perzinahan oleh masyarakat adat di Lombok telah diubah menjadi denda seket kurang sekek kepeng bolong (uang Cina). terlepas dari apakah panggilan tersebut baru panggilan pertama atau bukan.25. Penahanan bukan lagi cara efektif dalam menegakkan hukum. - - Bila menebang (mencuri) lebih dari 3 (tiga) kali dengan motif komersial. Demikian halnya dengan perzinahan yang diatur dalam pasal 284 KUHP dengan ancaman hukuman selama-lamanya 9 bulan penjara. telah diubah menjadi denda satak sekat kurang sekek kepeng bolong (Saat ini uang Cina telah dikonversi menjadi Rp. dengan jumlah dan volume sesuai kondisi ketika kasus tersebut terjadi. Di desa Munggut. Kasus pencemaran nama baik (gila bibir) yang diancam hukum pidana penjara 9 bulan berdasarkan pasal 310 KUHP. yaitu keharusan membeli tanah grosok untuk pengerasan jalan. menakut-nakuti). Bila menebang (mencuri) lebih dari sekali karena alasan pemenuhan ekonomi keluarga. Pelajaran dari kasus-kasus di atas.

Sebagai contoh Peraturan Daerah DKI No. (pasal 32 ayat 1 dan 3. maka ketertiban dan rasa nyaman tinggal di Jakarta sesuai maksud dari pembuat Perda tersebut. Polmas diharapkan merambah ke ranah Perda yang menjadi domain pemerintah daerah. jauh dari yang didambakan masyarakat pengguna jalan di Jakarta. Hampir bisa dipastikan tiap daerah telah mengatur dan memberi sanksi bagi warganya yang membuang sampah sembarangan.5 Tahun 1999 tentang Perparkiran. Ancamannya sanksi pidana kurungan selama lamanya 3 bulan atau denda maksimal Rp. melakukan antara lain. perubahan terhadap rambu.000 dan sanksi adminstratif bagi pengemudi yang parkir sembarangan yaitu 5 kali biaya parkir. tanda masuk parkir….5. Berbagai studi kasus di Lombok tersebut di atas diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi FKPM atau lembaga apapun namanya untuk mencari formula penyelesaian masalah di perkotaan meskipun harus 152 Bunga Rampai . Perda Perpakiran DKI No. marka parkir. Kondisi perparkiran semrawut dan premanisme di tempat-tempat parkir merajalela. Contoh peraturan di atas menggambarkan bahwa Pemda telah membuat aturan masalah perparkiran dengan sanksi pidana. Ketika polisi melakukan pelanggaran HAM dan hukum. seketika itu juga kepercayaan masyarakat langsung sirna.). (tanpa memperoleh izin dari Gubernur Kepala Daerah. Namun karena petugas Satpol PP sangat terbatas.alias mengada-ada adalah melanggar HAM. membangun bangunan liar atau membangun tanpa mengindahkan aturan sempadan jalan sehingga mengganggu jalan dan pemandangan. merokok di sembarang tempat. Pasal 30 ayat (1) sebagai berikut: “Dilarang dengan cara dan bentuk apapun. Kasus semrawutnya kondisi parkir di Jakarta tersebut menjadi salah satu contoh betapa perlunya keberadaan penegak hukum dengan nama apapun baik polisi. 5 tahun 1999). denda dan adminstratif. agar tercipta ketertiban masyarakat sehingga warga masyarakat merasa nyaman tinggal di Jakarta. Satpol PP atau FKMP.000. usaha penyelenggaraan perparkiran. Polisi menjadi tidak professional karena mereka menjadi pelaku kejahatan dan tidak lagi sebagai petugas penegak hukum.

menggunakan pendekatan yang berbeda. Penyelesaian konflik di masyarakat perkotaan tidak dapat mengandalkan kharisma seorang Kepala Desa. Pelanggar hukum harus bersedia menjalankan sanksi denda yang telah ditetapkan berdasarkan kesapakatan masyarakat sekitar. dianggap lebih memiliki legitimasi dibandingkan dengan tokoh informal seperti Kyai. Kepala Desa sebagai Hakim Perdamaian. Hasil survey di Kabupaten Ngawi Jawa Timur (2005) disimpulkan bahwa hampir 80% responden (dari 75 responden) menyerahkan penyelesaian konflik kepada figur Kepala Desa. Kompolnas memiliki posisi strategis untuk menginisisasi kerjasama antar komisi negara bidang penegakan hukum seperti Komisi Kejaksaan dan Komisi Yudisial. Kepala Desa menjadi tumpuan apabila terjadi konflik atau sengketa antar warga. Masyarakat perkotaan akan memandang lembaga yang merepresentasi banyak kepentingan lebih memiliki legitimasi. Kalangan akademisi. Demikan halnya di Desa Munggut Lombok (2005). dipersepsikan tidak memiliki interest dibanding kelompok partisan lain. tokoh masyarakat dan LSM yang kinerjanya masih dapat diterima oleh publik. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 153 . karena Kepala Desa yang dipilih langsung sudah tidak ada dalam struktur pemerintahan di perkotaan.merubah ancaman sanksi yang diatur oleh Perda. Mereka akan mendatangi rumah Kepala Desa kapan saja walau sampai tengah malam. tokoh agama. Community Justice Konflik antar warga masyarakat diselesaikan dengan cara win win solution. Tokoh kunci dalam proses penegakan hukum sangat penting dalam menentukan keberhasilannya. Kepala Desa dituntut untuk memiliki pengetahuan yang lebih dan kearifan sikap agar keputusan yang diambil tidak berat sebelah dan dapat diterima para pihak yang bersengketa sehingga tidak menimbulkan masalah dikemudian hari. Kesimpulan 1. Kombinasi representasi berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) menjadi penting dalam mengatur komposisi lembaga yang memiliki wewenang untuk menyelesaikan konflik di masyarakat (community justice). Namun terhadap pelanggaran hukum atau norma masyarakat (falk law).

Yaitu lembaga yang menyelesaikan konfik pada masyarakat perkotaan yang merupakan representasi dari berbagai stakeholders. 3. Kurang lebih setara dengan fungsi jury di negara negara yang menganut sistim common law. 4. Dengan menurunkan jumlah perkara di lembaga peradilan diharapkan peradilan dapat berbenah diri dalam mereformasi dirinya dan dapat berkonsentrasi untuk menghasilkan putusan yang sesuai dengan rasa keadilan masyarakat.2. Kompolnas dapat berperan penting dalam memperkuat peranan Polmas dalam bersinergi dengan unsur-unsur Pemerintah Daerah untuk turut menyelesaikan atau mencegah penumpukan perkara di lembaga peradilan. Salah satu lembaga yang dapat dipromosikan oleh Kompolnas adalah Community Justice sebagai bagian dari Polmas. Termasuk dalam mengisi ruang kosong dalam masalah penegakan peraturan daerah. Dengan keberadaan Menteri Dalam Negeri sebagai anggota Kompolnas. 154 Bunga Rampai .

Inisiasi lahirnya lembaga ini tidak lepas dari sejarah peradilan Indonesia yang semakin jauh dari visi dasarnya untuk menegakkan keadilan bagi pihak-pihak yang berperkara atau bagi mereka yang terenggut hak asasinya. Sebagaimana diketahui. dibentuk sebagai mandat konstitusional Undang-Undang Dasar 1945 hasil amandemen.Peran Serta Elemen Masyarakat Sipil dalam Mendorong Proses Reformasi Peradilan dan Penegakan Hukum Prof. Dr. hukum sepanjang pemerintahan Orde Baru telah menjadi instrumen yang melegitimasi setiap tindakan penguasa. Lahirnya lembaga yang memiliki kewenangan mengusulkan pengangkatan hakim agung dan pengawasan hakim pemegang kekuasaan kehakiman. M. telah memperkuat sumber legitimasi kehadiran * Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Guru Besar Politik Islam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 155 . Dalil kehadiran Komisi Yudisial di atas sangat relevan dengan refleksi bangsa Indonesia terhadap perjalanan peradilan sebelum adanya Komisi Yudisial. meski tindakan itu bertentangan dengan hukum. Din Syamsuddin * Kelembagaan Komisi Yudisial Republik Indonesia di tahun 2007 ini memasuki usia ke-2 sejak dibentuk pada Agustus 2005. di masa itu tidak demikian adanya. Berbagai pengalaman yang melatari bergulirnya reformasi. Peradilan juga telah menjadi alat bagi pembungkaman suara kritis masyarakat yang menyatakan keberbedaannya dengan negara. Desain pengadilan yang semestinya menempatkan semua orang setara di muka hukum.

dan kemungkinan pemberhentian hakim. tidak bisa disangkal bahwa Komisi Yudisial memainkan peranan penting dalam rangka reformasi peradilan dan penegakan hukum dalam sistem kenegaraan Indonesia. Komisi Yudisial menempatkan masyarakat sebagai mitra utama dalam menjalankan kerja-kerjanya. penilaian kinerja. Bahkan masyarakat jauh lebih utama menjadi mitra dibanding hakim-hakim yang menjadi obyek pengawasan. organisasi masa. Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama bekerja sama 156 Bunga Rampai . Hal ini dimaksudkan untuk menjaga dan menegakkan kehormatan. Peran Serta Masyarakat Peran serta masyarakat jelas sangat menentukan keberhasilan reformasi peradilan. sulit bagi Komisi Yudisial memaksimalkan fungsinya. dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat selama ini telah menunjukkan peran sertanya dalam berbagai upaya reformasi peradilan dan penegakan hukum. Dengan kehormatan dan keluhuran martabatnya. jelas menuntut adanya keterlibatan masyarakat dalam menjalankan perannya sebagai lembaga negara yang bertugas melakukan pengawasan. kekuasaan kehakiman yang merdeka dan imparsial (independent and impartial judiciary) diharapkan dapat diwujudkan baik dari segi hukum maupun segi etika. Dengan demikian. dalam menjalankan fungsinya sangat bergantung pada laporanlaporan masyarakat. Secara eksplisit. Masyarakat yang terhimpun dalam berbagai organisasi keagamaan. keluhuran martabat. Komisi Yudisial misalnya. serta perilaku hakim dalam rangka mewujudkan kebenaran dan keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.lembaga pengawas para hakim ini. Keberadaan Komisi Yudisial sebagai lembaga pengawas eksternal terhadap hakim. dimaksudkan agar warga masyarakat di luar struktur resmi lembaga parlemen dapat dilibatkan dalam proses pengangkatan. Tanpa partisipasi masyarakat. Keberadaan masyarakat sebagai mitra utama bukan hanya dibutuhkan oleh Komisi Yudisial melainkan juga tuntutan reformasi di mana telah menempatkan masyarakat sebagai kelompok strategis dalam memantau peradilan dan penegakan hukum. Argumen kehadiran dan karakter kelembagaan Komisi Yudisial sebagaimana dipaparkan di atas.

Pemantauan memiliki arti penting dalam rangka memastikan agar setiap kehendak politik yang terakumulasi dalam suatu kebijakan negara diorientasikan sepenuh-penuhnya untuk memberikan keadilan bagi semua orang. Independensi para ilmuwan dan aktivis yang berhimpun dalam pusat-pusat studi telah secara nyata memberikan kontribusi bagi dunia peradilan dan penegakan hukum. Elemen-elemen masyarakat sipil yang berhimpun dalam lembaga swadaya masyarakat diakui memang memiliki peran yang lebih fokus. adalah melalui kerja-kerja pemantauan dibidang peradilan dan penegakan hukum. Kerja pemantauan diharapkan mampu Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 157 . Bahkan peran serta itu belakangan telah diakui urgensi dan signifikasinya. secara terus menerus memberikan perhatian pada upaya reformasi peradilan dan penegakan hukum. Ada juga yang berkonsentrasi dalam pemantauan pembentukan perundang-undangan. Di samping lembaga bantuan hukum. Mereka yang tergabung dalam Lembaga-lembaga Bantuan Hukum misalnya. sejak tahun 2004 telah memprakarsai gerakan melawan korupsi di semua lini pemerintahan. Dalam tubuh lembaga-lembaga keagamaan. Kelompok masyarakat sipil lainnya adalah kalangan perguruan tinggi. hampir di semua lembaga-lembaga tersebut terdapat bidang atau departemen yang secara khusus menangani soal reformasi peradilan dan penegakan hukum. Bahkan banyak diantara mereka yang kemudian membangun kemitraan strategis sebagai partner atau bahkan mengasistensi lembaga-lembaga peradilan. Peran serta masyarakat yang paling banyak dilakukan pertama. terdapat juga pusatpusat kajian yang secara ilmiah memberikan inisiatif-inisiatif untuk menjadikan dunia peradilan lebih baik. pemberantasan korupsi dan lain-lain. termasuk di dunia peradilan.dengan Kemitraan untuk Pembaruan Tata Pemerintahan yang baik misalnya. Terakhir Muhammadiyah beserta ormas-ormas Islam kembali menggerakkan Jihad Melawan Koruptor Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). karena dunia peradilan dan penegakan hukum merupakan sektor yang sangat berhubungan dengan kepentingan umat dan publik secara umum. Inisiatif-inisiatif seperti ini jelas dibutuhkan dalam reformasi peradilan dan penegakan hukum. karena lembaga-lembaga itu didesain khusus untuk memainkan peran-peran tertentu.

kepercayaan publik belum sepenuhnya bisa tumbuh akibat minusnya penindakan jika pengawasan menemukan abuses yang dilakukan oleh para penegak hukum. dan lain sebagainya merupakan gagasan-gagasan kelompok kritis masyarakat sipil yang kemudian diadopsi oleh negara. Komisi Kejaksaan. substansi. Pemantauan yang dilakukan oleh elemen masyarakat sipil ini merupakan jawaban atas tidak adanya akuntabilitas yang terlembagakan pada lembaga-lembaga peradilan. kerja pemantauan juga merupakan bentuk kontrol publik untuk menyeimbangkan kekuatan antara penyelenggara negara atau pemerintahan dengan publik di daerah itu. Komnas HAM. Mereka berhimpun dan mengkonsentrasikan diri pada upaya-upaya memastikan proses peradilan berjalan fair. Kedua. Sekalipun pengawasan internal di tubuh lembaga peradilan sudah tersedia. citizen lawsuit. pelaksanaan dan penegakan maupun dampak dari berbagai prosesproses peradilan dan penegakan hukum. adalah sejumlah contoh terobosan yang didorong oleh masyarakat sipil dalam rangka reformasi peradilan dan penegakan hukum. sebagai salah satu prinsip demokrasi. Komisi Yudisial. Peran ini biasanya banyak dilakukan oleh kalangan perguruan tinggi atau lembaga-lembaga studi yang mengkonsentrasikan diri pada upaya penyediaan konsep-konsep alternatif reformasi peradilan dan penegakan hukum. Bahkan inisiatif lahirnya Mahkamah Konstitusi. Kerja-kerja pemantauan selama ini banyak dilakukan oleh kelompok elemen sipil yang tergabung di dalam lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Mekanisme class action. Ketiga. Dalam sistem demokrasi. peran serta dibidang pengkajian. Komisi Kepolisian. Beberapa capaian yang telah diperoleh adalah kemungkinan justiciability yang bisa diperoleh para pihak yang dirugikan akibat lahirnya sebuah kebijakan negara yang tidak menguntungkannya. peran serta lainnya adalah dalam bentuk kam- 158 Bunga Rampai . penetapan indikator-indikator pembangunan berbasis hak asasi manusia dan kesetaraan gender. Komnas Perempuan. Serangkaian exercise yang menerabas tradisi praktik hukum di Indonesia ditawarkan dan diujicobakan. Dengan demikian prinsip checks and balances. Komisi Penyiaran. dapat dijalankan.menghimpun fakta-fakta yang baik maupun yang kurang baik dari segi proses penyusunan.

atau yang dalam kamus bahasa Inggris-Indonesia sebagai ujian atau pemeriksaan. sebenarnya fungsi eksaminasi atas putusan hakim. Berangkat dari fakta bahwa judicial corruption belum sepenuhnya teratasi. Ormas-ormas keagamaan misalnya. sulit sekali memeriksa profesionalisme hakim dalam sebuah Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 159 . Meskipun kegiatan eksaminasi publik ini tidak memberikan dampak langsung terhadap perkara yang telah divonis.panye penyadaran hukum. Keempat. eksaminasi publik atas putusan-putusan hakim. akan tetapi temuan pandangan hukum kelompok di luar mejelis hakim ini akan menjadi pembelajaran yang sangat berarti bagi perkara-perkara lain yang sama. Eksaminasi publik dilakukan terutama untuk melakukan penilaian apakah keputusan-keputusan yang dikeluarkan oleh lembaga peradilan telah memenuhi standar profesional dan prinsip-prinsip penegakan hukum dan hak asasi manusia. Kebanyakan jenis peran serta ini dilakukan oleh organisasi masyarakat sipil yang memiliki basis masa yang besar. secara konstitusional diperankan oleh Komisi Yudisial. di samping dilakukan oleh Mahkamah Agung. search. Eksaminasi atau dalam bahasa Inggris disebut dengan “examination” diartikan sebagai an investigation. lemahnya mekanisme kontrol internal lembaga-lembaga peradilan. interrogation. adalah elemen yang sangat berpotensi melakukan kampanye penyadaran hukum dalam rangka memperkuat kultur hukum masyarakat. Namun demikian. di samping juga melakukan pemantauan dan pengkajian. Keteladanan para pemimpin organisasi dan interaksi langsung yang para pemimpin dengan jamaahnya. bisa dilakukan oleh lembaga peradilan yang ada pada level di atasnya sebagai bentuk pengawasan internal atau dilakukan oleh publik sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam memantau dunia peradilan. Sejak lahirnya Komisi Yudisial. dalam praktiknya. merupakan media dan instrumen kampanye mengubah paradigma berpikir dan tata tindak yang konstruktif pada upaya-upaya penegakan hukum. sejumlah lembaga swadaya masyarakat dan perguruan tinggi saat ini mempelopori praktik uji putusan hakim maupun produk kerja lembaga peradilan. inspection. Akan tetapi Komisi Yudisial hanya memiliki kewenangan mengeksaminasi terkait profesionalisme hukum dan tidak masuk pada substansi perkara yang dipersoalkan.

yakni perbaikan peradilan dan penegakan hukum. Tujuan eksaminasi secara umum adalah untuk mengetahui. Dunia peradilan yang menjadi obyek peran serta juga sudah semestinya menyadari betapa membangun aliansi strategis dengan elemen masyarakat sipil adalah hal yang pokok dalam men-delivery keadilan segera sampai ke tengah masyarakat. Menuntaskan kerja reformasi (termasuk di sektor peradilan) jelas tidak bisa lepas dan mengabaikan peran serta masyarakat. Sasaran utama dari kegiatan eksaminasi ini adalah mendorong para hakim agar membuat putusan dengan pertimbangan yang baik dan profesional. Sikap a priori dan konfrontatif lembaga-lembaga peradilan hanya akan memperburuk citra lembaga peradilan itu sendiri. Peran serta kemudian menjadi bagian yang dianggap tidak menarik sebagian elemen masyarakat sipil. sehingga meskipun dengan pendekatan dan strategi yang berbeda. Reformasi yang digulirkan sejak 1998 telah membuktikan bahwa pengabaian terhadap aspirasi masyarakat telah meminggirkan kekuasaan yang selama ini dianggap kokoh. Keberbedaan pendekatan antar elemen juga sering menjadikan pilihan strategi yang berbeda. Untuk memaksimalkan upaya reformasi peradilan itulah maka publik menginisiasi praktik-praktik eksaminasi yang disebut dengan eksaminasi publik.putusan tanpa menyoal substansinya. sejauh mana pertimbangan hukum dari hakim yang memutus perkara tersebut berkesesuaian dengan prinsip-prinsip hukum dan prosedur hukum acara dengan benar. Catatan yang dapat diajukan dalam memandang peran serta masyarakat sipil dalam reformasi peradilan dan penegakan hukum ini. tetap bisa mengarah sasaran yang sama. secara sosio-politik peran serta masyarakat berimplikasi besar terhadap perubahan dunia peradilan. serta menakar sejauh mana sebuah putusan telah menyentuh rasa keadilan masyarakat. Jika eksistensi publik dalam dunia peradilan sudah disadari urgensinya. Semestinya sinergi harus bisa dibangun. Karena itu produk Komisi Yudisial sering diabaikan. seringkali ekpektasi publik tidak terpenuhi oleh lembaga-lembaga peradilan. maka para anggota legislatif 160 Bunga Rampai . Jaminan akomodasi peran serta masyarakat sekalipun secara yuridis tidak diatur.

Hanya menjadi urusan lembaga swadaya masyarakat dan beberapa kelompok sosial kritis lainnya. organisasi masyarakat.juga dituntut untuk bisa mengakomodasi berbagai aspirasi publik dalam setiap penyusunan perundang-undangan. mayoritas masyarakat Indonesia justru balik menuduh LSM yang melakukan provokasi untuk membuat berang sebuah rezim. tapi telah menjalar kepada sebagian besar masyarakat Indonesia. baik di kalangan perguruan tinggi. Masyarakat sipil dituntut untuk menata kerja-kerja ini bukan lagi sebagai seremonial yang berulang akan tetapi lebih implementatif. Tuduhan ini tidak hanya monopoli aparat negara semata. sebagai salah satu kesadaran evaluatif atas ketersumbatan arus reformasi peradilan patut dipertimbangkan. Karena itu. Tak jarang kemudian. meskipun di beberapa perguruan tinggi telah tumbuh pusat-pusat studi. Minusnya dukungan sosial. dedikasi dan kesungguhannya masih belum optimal. Diseminasi tentang pentingnya peran serta masyarakat sipil yang meluas akan mampu melahirkan kekuatan kritis dan membangun kesadaran kolektif bangsa. dan berkelanjutan. diskursus dan praksis peradilan dan penegakan hukum hingga saat ini masih menjadi isu yang elitis. yang akan menjadi alat efektif untuk melakukan kontrol dan pressure terhadap negara untuk berkomitmen menegakkan hukum. organisasi keagamaan dan komunitas-komunitas lainnya. penegakan hukum hak asasi manusia di Indonesia adalah minusnya kerja-kerja diseminasi publik yang menyadarkan warga tentang pentingnya kerja bersama membangun kelembagaan peradilan yang independen dan akutabel. sistematis. Refleksi atas keberadaan lembaga-lembaga kemasyarakatan dan keagamaan dalam memaksimalkan peranannya mendorong reformasi peradilan dan penegakan hukum telah menjadi memicu semua pihak untuk segera berbenah diri secara lebih serius. salah satu penyebab tidak maksimalnya reformasi peradilan. Jika mau diakui. Jika kondisi yang demikian ti- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 161 . Bahkan sebagian besar perguruan tinggi. Harus diakui. pilihan diseminasi dan edukasi pentingnya peran serta masyarakat dalam reformasi peradilan dan penegakan hukum. membuat advokasi penegakan hukum seolah-olah hanya menjadi urusan LSM.

Kalangan perguruan tinggi.dak segera mendapat respon dan penanganan cepat. secara formal perguruan tinggi memiliki kapasitas untuk memproduksi sumber daya manusia yang bisa didesain memiliki kapasitas dan kompetensi tertentu. tapi paling tidak. Dengan jamaah dan umat yang begitu besar. tidak hanya pressure group yang semakin terkikis tapi sinisme masyarakat akibat “instabilitas” yang diciptakan oleh kalangan LSM akan semakin menguat. dan berkeadilan tanpa diminta dan ditekan. Salah satu kapasitas dan kompetensi itu adalah menciptakan generasi terdidik yang peduli dan tergugah untuk melakukan advokasi. lembaga-lembaga keagamaan sebenarnya bisa menjadi kekuatan pengubah sosial yang luar biasa. Membangun kesadaran kolektif dapat dilakukan dengan melakukan transformasi simultan atas gagasan dan praksis penegakan hukum di lapangan. pendidikan kesadaran hukum dapat disodorkan sebagai jalan merengkuh dukungan sosial itu. dikhawatirkan LSM akan kehabisan energi dalam melakukan kerja-kerja advokasinya. penegakan hukum menjadi tugas dan kewajiban negara. Jika kerja ini tidak dilakukan. tidak ada negara yang dengan cumacuma memberikan hak-hak rakyat untuk menikmati kemajuan. Salah satu sektor yang harus mendapatkan prioritas dalam proses transformatif ini adalah kalangan perguruan tinggi dan dunia pendidikan. tapi pengalaman di beberapa negara menunjukkan. peradilan yang murah. kompeten. Memang. Melalui kerja pemberdayaan dan pendampingan. Meskipun predikat ini tidak sepenuhnya genuine. Sektor lain yang perlu mendapat perhatian adalah lembaga-lembaga keagamaan. mendorong hukum progresif yang berkeadilan. Gagasan mendidik pendakwah atau misionaris dalam berbagai agama untuk menjadi pembawa suara keadilan bisa menjadi pilihan kerja yang potensial mampu menghimpun dukungan sosial reformasi peradilan dan penegakan hukum. Memperluas basis sosial untuk memperbesar dukungan reformasi peradilan dan penegakan hukum berarti membangun kesadaran kolektif bangsa akan pentingnya reformasi peradilan di Indonesia. Kedekat- 162 Bunga Rampai . Karena itu signifikansi perluasan basis sosial terletak pada perolehan dukungan besar masyarakat Indonesia. sering disebut sebagai salah satu agen perubahan.

Lembaga-lembaga peradilan (kejaksaan. Karena itu tidak ada pilihan lain. kecuali membangun kemitraan strategis dengan elemen masyarakat sipil. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 163 . Pilihan kerja diseminasi wacana reformasi peradilan dan penegakan hukum memang tidak memiliki daya tarik sebagaimana kerja advokasi (litigasi). Diseminasi merupakan kerja jangka panjang dan investasi kemanusiaan yang akan menjadikan kerja advokasi berkelanjutan. proses-proses reformasi peradilan dan penegakan hukum. Karena itu tidak ada pilihan lain bagi Komisi Yudisal untuk terus meningkatkan intensitasnya melibatkan publik dalam memantau dan memastikan keadilan dapat terberikan. Komisi Yudisial telah menjadi jembatan ketidakpuasan publik atas ketidakadilan yang tercabik akibat ulah para mafia peradilan. Tidak semata-mata karena peradilan yang baik sebagai sesuatu yang dibutuhkan. Catatan Penutup Keberadaan Komisi Yudisial di dalam ranah kekuasaan kehakiman secara langsung telah menjawab kebutuhan akses publik terhadap dunia peradilan. Perlu disadari bahwa keberadaan ormas-ormas baik yang berbasis keagamaan maupun kemasyarakatan memiliki posisi strategis di dalam proses rekayasa sosial untuk melahirkan suatu gerakan sosial dan gerakan moral dalam membangun bangsa. tapi juga terjustifikasi oleh semua agama dan kepercayaan di dunia ini. kepolisian. Bagaimanapun kepercayaan publik terhadap keberhasilan reformasi peradilan dan penegakan hukum adalah indikator utama keberhasilan reformasi peradilan dan penegakan hukum. selama bumi ini masih dipijak. dan lembaga-lembaga penyelidik independen lainnya) juga sudah semestinya menyadari pentingnya kehadiran masyarakat di tengah-tengah peran dan fungsi institusinya sebagai stakeholders yang tidak bisa ditinggalkan. akan membuat bahasa hukum dan peradilan menjadi mudah dipahami dan diterima sebagai sebuah keyakinan yang harus diperjuangkan. yang dengan mudah mendongkrak popularitas seorang aktivis.an tokoh-tokoh agama dengan umatnya.

Prof. Political Parties. Komisi Yudisial & Reformasi Peradilan. Duverger. 164 Bunga Rampai . Miriam. Dr. Chicago University Press. Budiarjo.Dr. Caucus and Branch. Gramedia Pustaka Utama. Huntington. PT. Neuman. 1991. Ahsin Thohari. Toward a Comparative Study of Political Parties. Prof.Daftar Bacaan Samuel P. 1963. Norman and London: University of Oklahoma Press A. 1963. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Sigmund. Penerbit Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam). Dasar-Dasar Ilmu Politik. The Third Wave: Democratization in the Late Twentieth Century. Budiarjo. Gramedia Pustaka Utama. Wiley and Sons. New York. 1996. Miriam. Cadre Party and Mass Party. Jakarta. 2004. Jakarta. Jakarta. 1996. PT. Chicago. Maurice.

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 165 . tahun 1987– sekarang.1 Sebaliknya salah satu pendukung sistem common law. tetapi jika manusia itu berbuat kesalahan maka pengadilan langsung menghukumnya. Pengadilan dalam sistem hukum common law. 1983). ed. tahun 2002-sekarang. tahun 2003-sekarang. (Sidney: Butterworth. Tahun 2006-sekarang. Doktor dari Universitas Indonesia (2001). Dosen Magister Manajemen Pascasarjana USU Medan. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Universitas Nasional.Reformasi Pendidikan Hukum. tahun 2001–2002. Pendukung civil law. Jeremy Bentham yang kemudian didukung oleh John Austin menganggap bahwa sistem common law mengandung ketidakpastian dan menyebutnya sebagai “law of the dog”. “Legal Ontology and Legal Reasoning”. F. dalam A. tahun 1999–sekarang. tahun 2001–sekarang. tahun 2004-sekarang. Jakarta. tahun 2002. hal 6. Untuk Menghasilkan SDM Penegak Hukum Yang Kompeten dan Profesional Bismar Nasution* Knowledge is power but character is more Perdebatan mengenai sistem mana yang terbaik antara civil law dan common law telah berlangsung selama berabadabad. Pancasila Jakarta. Legal Change Essay in Honor of Julius Stone. Dosen Pascasarjana Hukum USU Medan. Ketua Program Studi Ilmu Hukum dan Ketua Program Doktor Ilmu Hukum Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Dosen Fakultas Hukum USU Medan. Jakarta. Jakarta.V Hayek mengatakan bahwa sistem common law lebih baik dari pada civil law karena jaminannya * 1 Mendapat Sarjana Hukum dari USU (1983). Guru Besar Hukum Ekonomi Fakultas Hukum USU (2004). Krisnadwipayana Jakarta. Blackshield. 2005. Dosen Penguji dan Pembimbing Disertasi Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Indonesia. Magister Hukum Pascasarjana Universitas Islam. Dosen Magister Kenotariatan Pascasarjana USU Medan. Chaim Perelman.R. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Univ. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Univ. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Sekolah Tinggi Hukum Militer (STHM). Magister Hukum dari Universitas Indonesia (1994). tidak memberikan petunjuk bagi manusia bagaimana dia harus bertindak. tahun 2002-sekarang.

XXX. hal.6 Hal ini tidak terlepas dari sejarah 2 3 4 5 6 Lebih lanjut Hayek menyatakan bahwa sistem kebebasan di Inggris berasal dari ajaran Locke dan Humme yang menekankan kepada kebebasan individu untuk mencapai tujuan masing-masing. Cohen dan Arnold J. hal 504-511 Benjamin N. hal.5 Perbedaan menonjol lainnya menyangkut peran pengadilan. adanya independensi hakim atau berada di bawah Mahkamah Agung. Di Indonesia.1999).pada kebebasan individu dan membatasi kekuasaan pemerintah. Janice R.2 Untuk lebih memahami pemicu perdebatan di atas cara terbaik adalah dengan menghampirinya dari aspek historis sebagaimana dikatakan Benjamin N. “The Common Law and Economic Growth: Hayek Might Be Right”. Di negara civil law hakim merupakan bagian dari pemerintah.“3 Menurut catatan.” lihat W. Bellace. Business and Its Legal Environment. Cordozo “sejarah dalam menerangi masa lalu menerangi masa sekarang. Minn: West Publishing Co. 1990). Rosoff. (ST. sehingga dalam menerangi masa sekarang dia menerangi masa depan. 2001). Sedangkan civil law lahir terlebih dahulu ketika Corpus Juris Civilis of Justinian diterbitkan di Constatinopel pada tahun 533 yang sangat dipengaruhi oleh hukum Romawi. Lihat Henry Campbell Black. hal 4-7. (California: Stanford University Press. sedangkan dalam Black’s Law Dictionary diartikan “to adhere to precedents. sedangkan model kebebasan Perancis berasal dari ajaran Hobbes dan Rousseau yang menekankan pada kebebasan pemerintah untuk mencapai tujuan bersama lihat Paul G. (Vol.4 Akar perbedaan yang substansial diantara kedua sistem hukum itu terletak pada sumber hukum yang digunakan oleh Pengadilan dalam memutus sebuah perkara. pindah dari naungan Departemen. David B. 89 Lihat John Henry Merryman. 1969). yaitu “stand by the decision and do not disturb what is settled. 1962). Sistem civil law menggunakan kodifikasi sebagai sumber hukum. Journal of Legal Studies. Black’s Law Dictionary. The Nature of The Judicial Process. 40. (London : Yale University Press. tahun 1066 dianggap sebagai tahun kelahiran tradisi common law ketika bangsa Norman mengalahkan dan menaklukkan kaum asli (Anglo Saxon) di Inggris. hal 1406. Dunfee. University of Chicago. Kehakiman terjadi sejak tahun 2004 166 Bunga Rampai . Istilah stare decisis berasal dari istilah stare decisis et non quieta movere. Mahoney.. sedangkan sistem common law menggunakan putusan hakim sebelumnya sebagai sumber hukum atau yang lebih dikenal dengan doktrin stare decisis. The Civil Law Tradition: An Introduction to the Legal System of Western Europe and Latin America. Paul. Cardozo. (New Jersey: Prentice-Hall Inc. and not to unsettle things which are established.

Dugdale. 1984). Mahoney. namun demikian Pengadilan ini berada dibawah pengawasan Eksekutif. hal 39.Bailey dan M. Perancis memang telah mengembangkan suatu Pengadilan Tata Usaha Negara yang berwenang men-review Keputusan Pemerintah. Di Perancis misalnya.Cit. Lihat Paul G. negara common law yang berasal dari tradisi Inggris memiliki lembaga pengadilan yang independen. Farrar dan Anthony M. hal 413. Mahoney.9 Oleh karenanya kekuasaan untuk menentukan hukum berada pada Mahkamah Agung sebagai pengadilan tertinggi.H. . (London: Sweet & Maxwell. Hal ini membuat kekuasaan pemerintah di negara civil law menjadi sangat dominan. Sistem Hukum Romawi menggambarkan dengan jelas perbedaan antara hukum privat yang mengatur hubungan antara warga negara dan hukum publik yang mengatur hubungan antara warga negara dengan pemerintah. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 167 .yang melandasi terciptanya perbedaan itu. Op. hal 503 – 512. Kondisi inilah yang kemudian memicu revolusi Perancis yang dipimpin oleh Napoleon. para hakim Perancis menjadi musuh masyarakat daripada pembela kepentingan masyarakat karena lebih mendukung kepentingan Raja.7 Posisi ini membuat pengadilan biasa di Perancis secara prosedural tidak mempunyai wewenang untuk mengkaji kebijakan pemerintah. pengadilan membedakan antara kasuskasus yang berhubungan dengan pemerintah dan memberlakukan hukum yang berbeda dengan hukum yang mengatur hubungan sektor privat. hal 508-509 S.8 Sebaliknya. Raja Stuart kemudian membentuk sebuah pengadilan baru bernama Stuart Chamber yang berada di bawah Kerajaan dan merupakan kepanjangan tangan dari Kerajaan Inggris. Sebelum revolusi. Para hakimnya juga didik pada administrative school bersama-sama dengan pegawai negeri lainnya yang nantinya keputusan mereka akan diawasi oleh hakim tersebut. Paul G.J. (London: Sweet & Maxwell.10 7 8 9 10 John H. Setelah revolusi Stuart Chamber ini dibubarkan. Smith & Bailey on The Modern English Legal System. Cit. Pengalaman sebelum masa revolusi tersebut menjadi inspirasi bagi Napoleon dalam meletakkan hakim di bawah pengawasan pemerintahan untuk mencegah “pemerintahan oleh hakim” seperti yang pernah terjadi sebelum revolusi.Gunn. Perbedaan ini tetap dipertahankan dalam sistem civil law di daerah continental yang mewarisi tradisi Hukum Romawi. Introduction to Legal Method. Independensi pengadilan ini apabila ditelusuri berawal dari pertentangan antara Hakim Coke dengan King Stuart ketika Kerajaan yang memaksakan kehendaknya untuk mengubah hak properti yang merugikan rakyat. 1996). Op.

Sistem pendidikan hukum di negara civil law lebih menekankan kepada metode pengajaran yang bersifat doktrinal. sehingga landasan maupun pemikiran tentang hukum hanya berpedoman kepada perundangundangan yang telah terkodifikasi. sistem pendidikan di negara common law lebih menekankan kepada practical use. Para mahasiswa bersifat pasif dan umumnya diajarkan untuk menghapal perundang-undangan. Hal ini menyebabkan perbandingan hukum dengan negara lain dianggap kurang penting dan kurang mempunyai kekuatan hukum apabila dijadikan landasan pembelaan dalam sebuah peradilan. Mahoney. 2001. hal 253 168 Bunga Rampai . hal 508. Peranan dosen sangat sentral dalam memberikan pemahaman tentang hukum.Dalam perjalanannya. Sebaliknya. hal. Op. kombinasi antara konsep Hukum Romawi dan praktik-praktik di lapangan telah membentuk dasar-dasar hukum yang dianut oleh sebagian besar negara di dunia ini. Cit. isi pasal serta pendapat para sarjana. pengalaman menunjukan bahwa negara-negara dengan sistem common law ternyata relatif lebih makmur secara ekonomi dibanding negara dengan sistem civil law. pembimbing dan legal solver terhadap pertanyaan para mahasiswa. dosen berfungsi sebagai narasumber. dengan metode pengajaran monolog. Ibid. Perbandingan suatu teori atau hukum juga jarang dilakukan.11 Terlepas dari perdebatan di atas. Sistem hukum yang 11 12 Paul G. karena umumnya negara-negara civil law berpaham positivisme.12 Arah Pendidikan Hukum Perbedaan penerapan hukum di atas berimplikasi terhadap sistem pendidikan hukum di negara-negara penganut kedua sistem hukum tersebut. Perdebatan dan diskusi jarang dilakukan karena selama perkuliahan berlangsung dosen biasanya hanya memberikan penjelasan mengenai teori. Materi yang diberikan adalah isi pasal-pasal dari perundangan-undangan. dan sangat jarang perkuliahan dilakukan untuk membahas suatu kasus. yaitu sistem civil law dan sistem common law.

SDM penegak hukum dari negara civil law cenderung bersifat positifis dan rigid dalam menyelesaikan permasalahan hukum. sedangkan isi perkuliahan lebih banyak diisi oleh perdebatan dan pendapat dari masing-masing mahasiswa mengenai kasus-kasus yang diberikan oleh dosen. Sehingga hubungan antara dosen dan mahasiswa di negara common law umumnya sangat dekat. Adanya perbedaan dalam sistem pendidikan hukum di atas telah menyebabkan perbedaan besar dalam memahami dan menyelesaikan permasalahan hukum. Inilah yang membuat para SDM penegak hukum common law selalu melaku- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 169 . membuat perkuliahan difokuskan kepada pembahasan kasus hukum dan putusan pengadilan. Mereka hanya memandang suatu permasalahan dengan parameter perundang-undangan. presentasi dan pemaparan para mahasiswa mengenai suatu kasus. apabila seorang hakim menganggap suatu putusan tidak sesuai lagi dengan perkembangan masyarakat. karena adanya doktrin kalau suatu putusan pengadilan tidak boleh bertentangan dengan putusan pengadilan di atasnya. Perundang-undangan bukan harga mati bagi sebuah keadilan. Putusan pengadilan itu juga bukan hal yang mutlak harus diikuti. Sebaliknya SDM penegak hukum dari negara common law selalu bersifat kritis dan analistis. Pemahaman terhadap teori hanya diberikan di awal perkuliahan dengan metode self learning. sehingga sering sekali putusan hakim dijadikan parameter untuk menilai apakah suatu peraturan dapat diterapkan di masyarakat. Hal ini membuat peran mahasiswa lebih dominan daripada peran dosen. Sehingga penyelesaian suatu permasalahan hukum dilakukan dengan pendekatan doktrinal. dimana para dosen hanya memberikan pengantar dan referensi buku yang harus dipelajari serta dirangkum oleh para mahasiswa. Putusan ini akhirnya akan diuji oleh Mahkamah Agung apakah diterima atau ditolak.menekankan kepada putusan hakim. dan tidak jarang mereka menjadi sahabat dalam kehidupan pribadi. Sedangkan sisa perkuliahan dilakukan dengan diskusi. Sehingga perkuliahan bersifat terbuka. dia dapat membuat putusan baru tentu dengan argumentasi yang kuat. konsultasi mengenai suatu permasalahan hukum dilakukan secara individual antara dosen dan mahasiswanya. Dosen hanya berperan sebagai pembimbing dan pengarah diskusi.

kan analisis dan kritis terhadap hukum. sehingga penggalian nilai-nilai keadilan juga harus dilakukan disamping pemahaman terhadap peraturan tersebut. Sehingga metode ini mempunyai kelebihan dalam menghasilkan para SDM penegak hukum yang kritis dalam menghadapi perubahan di masyarakat. Sebaliknya. Sebagai lembaga yang menghasilkan SDM penegak hukum. dimana perekonomiannya belum stabil dan tingkat penyelewengan hukum masih tinggi dan perundang-undangan belum berfungsi maksimal dalam mengikuti dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Dari deskripsi di atas tentu kita dapat menyimpulkan bahwa metode pengajaran civil law membuat para SDM penegak hukum berpikir doktrinal. Kelebihan dari metode ini adalah adanya kepastian dalam pemahaman hukum. Pandangan yang bersifat doktrinal dan positivisme mutlak harus segera diminimalkan untuk membentuk SDM penegak hukum yang kritis. Tidak jarang mereka melakukan perbandingan hukum untuk menjustifikasi argumen mereka bahwa hukum yang berlaku tidak sesuai lagi diterapkan di masyarakat. metode pendidikan seperti ini harus diperbaiki terutama pada negara berkembang seperti Indonesia. sehingga kepercayaan masyarakat terhadap hukum dapat dipulihkan kembali. peran Fakultas 170 Bunga Rampai . Sehingga apabila terjadi suatu permasalahan hukum. Sedangkan kelemahannya adalah metode ini menghasilkan SDM penegak hukum yang lemah akan analisis dan kurang kritis terhadap hukum. Hal ini terjadi karena pembelajaran terfokus pada kodifikasi. Gambaran mengenai sistem pendidikan hukum di Indonesia tidak berbeda jauh dengan apa yang telah diuraikan mengenai sistem pendidikan hukum civil law di atas. dimana perundang-undangan yang mengaturnya sudah tidak relevan lagi dengan kondisi masyarakat. para SDM penegak hukum akan gagal mengimplementasikan rasa keadilan masyarakat dalam solusi hukumnya. Pengajaran yang bersifat doktrinal masih mewarnai pembelajaran hukum di Indonesia. Dalam menghadapi persaingan global. metode pengajaran common law menekankan kepada analisis kasus dan diskusi serta untuk selalu bersikap kritis dalam menghadapi permasalahan hukum. sehingga pembelajaran relatif lebih terarah. analistis dan responsif terhadap permasalahan hukum.

Hal ini disebabkan SDM penegak hukum yang berperan menjalankan hukum bukan hanya berdasarkan cara berpikirnya sendiri. Sementara itu. teaching material atau kurikulum dan kesejahteraan para pengajar. Konsekuensinya tamatan Fakultas Hukum seolah terlempar ke dunia lain. pemerintah menerapkan sistem pembangunan ekonomi pro pasar. Padahal L. baik dari peningkatan kualitas SDM. metode pengajaran di kampus-kampus masih berorientasi kepada sistem civil law. SDM Penegak Hukum Yang Kompeten dan Profesional Jurang antara dunia akademis dan praktis di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir abad ke-20 semakin melebar. Pembenahan menyeluruh terhadap pendidikan hukum harus segera dilakukan. sedangkan sistem civil law peran pemerintah sangat dominan. Michael Hagger menggambarkan. Dalam sistem common law. Seharusnya pendidikan itu pulalah yang memperluas ruang lingkup cara berKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 171 . Fakultas hukum di Indonesia harus kembali kepada khitahnya. Pembenahan tersebut harus dilakukan secara serentak. pasarlah yang menjadi panglima. It administers justice among men who conduct their own affairs”. Hal ini tentu tidaklah mudah. diperlukan political will yang kuat bagi para petinggi universitas dan pemerintah untuk melakukan pembenahan yang sistematis dalam memperbaiki pendidikan hukum di Indonesia. Dalam bahasanya Walter Lippmann “in a free society the states does not administer the affairs of men. Metodemetode ekonomi pro pasar umumnya diimpor dari negaranegara common law dan juga sistem ekonomi pro pasar lebih kondusif bila didekati dengan institusi hukum yang berasal dari sistem common law.Hukum sangatlah penting di sini. Kondisi ini bermula sebagai konsekuensi pendekatan pembangunan yang diterapkan pemerintah. bahwa jalannya suatu sistem hukum tidak akan pernah lebih baik dari mereka yang menjalankannya. seperti SDM penegak hukum. Dalam upaya mempercepat pertumbuhan ekonomi. yaitu sebagai professional school yang harus dapat menggabungkan unsur profesionalisme dan pendidikan hukum dalam pengajarannya. tetapi berasal dari pendidikan yang diperolehnya dari kuliah semasa di Fakultas Hukum. metode pengajaran.

1972). Untuk perbandingan. Kriteria yang ditekankan disini bukanlah metode penilaian terhadap tugas atau lamanya pengajaran tetapi yang dituntut adalah proposi beban kerja mahasiswa dan setidak-tidaknya harus menguasai tujuh dasar pengetahuan 13 14 15 L. Foundation of Criminal Law. kita dapat melihat sistem pendidikan hukum di Inggris. tentunya staf pengajar di Fakultas Hukum tidak hanya mengajarkan teori atau hal-hal yang normatif sifatnya. Op.(Cambridge: Harvard University Press. Kronman. dimana terdapat syarat yang sangat ketat dalam penerimaan SDM penegak hukum yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan profesi yang lebih tinggi. Gerakan Law and Economic telah mengubah metode dosen mengajar dan hampir di seluruh subjek hukum pengetahuan praktis ilmu ekonomi merupakan persyaratan.13 Kondisi di atas memaksa kita memikirkan bagaimana Fakultas Hukum dapat melahirkan SDM penegak hukum yang berpengetahuan luas dan memiliki keterampilan hukum yang sesuai dengan sistem ekonomi pro pasar yang dijalankan pemerintah tersebut.” ABA Journal.H. obligations 2. 33.166-239.J. Jalan yang harus ditempuh adalah bagaimana menepis kekhawatiran bahwa apa yang diberikan dalam kuliah berbeda dengan hukum dalam kenyataan. Ketujuh dasar pengetahuan hukum tersebut adalah: obligations 1. Foundation of Property Law. Michael Hagger. 58. Lihat Antony T. kegiatannya dan kesiapannya yang membedakannya pula dengan kalangan lainnya. dan Foundation of Public Law serta Legal Research. hal 182-183 172 Bunga Rampai . Fakultas Hukum di Inggris dituntut untuk memberikan pemahaman hukum yang komprehensif untuk menyediakan seorang SDM penegak hukum yang kompeten dan profesional.pikirnya. tetapi harus pula mengajarkan keterampilan menggunakan sains (science) untuk memahami hukum disamping dan memperkenalkan hukum sesuai dengan kenyataan. 1993). Lihat S. Untuk itu. Foundation of the Law of the European Union. Bailey dan M. The Lost Lawyer Failing Ideals of the Legal Profession. “The role of Lawyer of development country. doktrinal dan deskriptif. Foundation of Equity and the Law of Trust.14 Memperkenalkan hukum sesuai dengan kenyataan dibutuhkan mengingat Fakultas Hukum sebagai professional school diwajibkan untuk mempersiapkan keterampilan para lulusannya.Cit.Gunn. Penggunaan pendekatan ekonomi terhadap hukum (law and economic) dalam pendidikan hukum di Amerika Serikat bersifat permanen yang dimulai sejak tahun 1960an. hal. (Vol. Terlepas setuju atau tidak setuju dengan gerakan ini. hal.

SDM penegak hukum haruslah menguasai ilmu hukum dan praktik-praktik dasar secara keseluruhan untuk dapat disebut sebagai kompeten dan profesional. Untuk dapat menjadi pengacara (Bar). Syarat pertama yaitu syarat akademik sama seperti persyaratan untuk menjadi Pengacara. Tujuan dari pelatihan ini adalah supaya para lulusannya dapat menguasai pembuatan kontrak dengan kemampuan dan pengetahuan yang cukup untuk mengatasi masalah dan tantangan dengan diawasi oleh instruktur pelatihan. Pendidikan 16 Seorang calon masih harus mempunyai pengalaman selama 12 bulan dengan Pengacara yang mempunyai pengalaman selama 5 tahun.hukum. Sedangkan untuk menjadi konsultan hukum (solicitor). dimana tidak ada pembedaan antara akademisi dan profesional. dimana selama 6 bulan pertama mereka tidak boleh menerima instruksi. seorang calon harus ikut dalam salah satu Inns of Court dan harus memenuhi dan menyelesaikan dua tahap pendidikan. Bailey dan M.15 Selain itu Sistem Pendidikan Hukum Lanjutan di Inggris juga dibedakan antara Pengacara (Barrister) dan Konsultan Hukum (Solicitor). Di sinilah esensi sebenarnya dari profesional school.Cit. Lihat S. Tahap kedua adalah “tahapan pendidikan spesialis atau kejuruan” yang dilakukan dengan mengikuti program the Bar Vocational Course yang diselenggarakan oleh Court School of Law. seorang calon dua tahap sama seperti syarat menjadi Pengacara. hal 184-185 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 173 . Kemampuan akademis merupakan dasar pengajaran sedangkan kemampuan profesional adalah pengembangan teori secara praktik. Adanya anggapan bahwa seorang SDM penegak hukum cukup dibekali kemampuan hukum di bidang tertentu saja harus ditentang.H. Tahap pertama adalah “tahap akademik” dimana calon harus mempunyai gelar SDM penegak hukum atau sertifikat lulus dari Common Professional Examination (CPE). Op. sehingga menimbulkan perbedaan persyaratan untuk dapat menekuni kedua profesi ini. Kedua tahap ini menyarankan syarat untuk dapat mendaftar menjadi pengacara.Gunn.16 Gambaran di atas menunjukkan bahwa Fakultas Hukum sebagai profesional school harus mempunyai suatu sistem pendidikan atau metode pengajaran yang mempunyai suatu kurikulum yang tepat untuk menghasilkan SDM penegak hukum yang kompeten dan mempunyai kemampuan profesional yaitu kemampuan praktik. Syarat kedua menuntut calon harus merupakan anggota dari the Law Society dan harus mengikuti dan lulus pelatihan Legal Practice Course Board yang diselenggarakan the Law Society.J.

Hal ini dilakukan agar para mahasiswa dapat memahami akibat dan konsekwensi hukum yang timbul akibat isi suatu pasal. hal. dimana para pengajarnya juga melakukan praktik. Kekhawatiran akan diabaikannya tugas-tugas pendidikan dapat diatasi dengan dibuatnya sebuah rule of the game dengan sanksisanksi yang jelas. 286. dimana mahasiswa harus bersifat aktif dengan didampingi dan diarahkan oleh dosen agar lebih terarah. maka pembenahan metode pendidikan harus dilakukan secara komprehensif dimulai dari perubahan sistem pengajaran yang selama ini bersifat doktrinal. teori dan filsafat hukum dapat dilakukan di awal perkuliahan. juga wajib melatih mahasiswanya dengan keterampilan praktis. Arthur yang menyatakan bahwa. Medan.” Dalhousie Journal of Legal Studies. Mempersiapkan keterampilan praktis dapat dilakukan dengan menggunakan metode 17 18 H.” Pidato pada Dies Natalis USU Ke-44. Kita harus melihat pada profesional school sejenis. “Access and Specialization in Legal Education and Practice. “A lot of Knowledge is a Dangerous Thing: Will the Legal Profession Survive the knowledge Explosion? dalam Michael Feindel dan Oliver Fuldaner. sehingga mereka dapat membandingkan dan memperluas pandangan mereka terhadap hukum diluar Indonesia.17 Oleh karena itu adalah suatu kesalahan besar untuk melarang dosen melakukan praktik hukum. 174 Bunga Rampai .lanjutan hanyalah memberikan suatu spesialisasi terhadap sebuah bidang yang ingin ditekuni oleh SDM penegak hukum tersebut. Pengajaran dapat dilakukan dengan menggabungkan pemahaman terhadap isi pasal. Pemahaman terhadap doktrin. Dosen Fakultas Hukum disamping berkewajiban mengajar dan menulis. Hal ini dilakukan agar mahasiswa mendapat gambaran mengenai hukum di luar Indonesia. 20 Nopember 2001. hal. W. yaitu Fakultas Kedokteran. lihat dalam Erman Rajagukguk. filsafat hukum dan case analysis.Arthurs. “lawyers must become expert in some field of knowledge and know little about others”. “Globalisasi Hukum dan Kemajuan Teknologi: Implikasinya Bagi Pendidikan Hukum dan Pembangunan Hukum Indonesia. Kasus yang dipilih tidak hanya berasal dari dalam negeri tetapi juga diberikan kasus-kasus yang berasal dari luar negeri. karena mustahil bagi sebuah profesional school mengajarkan pendidikannya jika dosennya tidak mempunyai kemampuan dalam bidang praktik seperti yang telah digambarkan oleh sistem pendidikan hukum di Inggris. Untuk membentuk Fakultas Hukum sebagai profesional school.W. 13. karena hal itu akan menghilangkan unsur profesionalisme dalam diri dosen yang pada gilirannya akan menghilangkan unsur esensial Fakultas Hukum sebagai pendidikan profesional. Hal ini sejalan dengan H. Sisa perkuliahan dilakukan dengan pemahaman suatu peraturan perundangan-undangan yang diikuti dengan pembahasan kasus-kasus yang berkaitan dengan peraturan tersebut.

Hakim-hakim di Inggris menganggap bahwa fungsi seorang hakim bukanlah menghasilkan sebuah sistem hukum atau sebuah perkerjaan institusional yang menggunakan simetri logika. Cit. hal 81. Hal ini penting mengingat isi pasal sebuah perundang-undangan hanyalah “sebuah kata-kata dalam bahasa Indonesia”. Sehingga para mahasiswa dapat terhindar dari pemikiran yang positivis dan doktrinal. Weeramantry dalam tulisannya “Legal Education for the Age of technology: A Plea for an Interdisciplinary Perspec19 20 Antony T. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 175 . Sehingga para mahasiswa dapat memahami “law behind law” dan dapat memahami hukum yang mendasari isi sebuah putusan bukan hanya memahami isi putusan saja. untuk dapat “menghidupkannya” maka perlu dikaitkan dengan fakta-fakta yang timbul dari berbagai kasus yang terjadi di masyarakat. Dugdale. Op.18 Metode case law pertama sekali digunakan di Harvard Law School yang kemudian diikuti oleh seluruh Fakultas Hukum di AS. hal.19 Metode ini merupakan hasil dari judicial reasoning dalam menentukan sebuah kasus dalam sebuah situasi fakta tertentu. Hal ini dengan tepat digambarkan oleh seorang Hakim Agung Amerika yang sangat terkenal.20 Oleh sebab itu metode case law ini sangat relevan untuk diajarkan kepada para mahasiswa.Cit. Op. Oliver Wendell Holmes bahwa “The life of the Law has not been logic.pengajaran berbasis pembahasan kasus (case law). Diharapkan dengan metode ini mahasiswa dapat mempunyai kemampuan untuk menganalisis dan bersikap kritis dalam menghadapi hukum. 1984. Seperti yang dikatakan oleh C. karena metode ini dapat mengevaluasi sebuah hukum melebihi dari isi hukum itu sendiri. John H. Hukum sebagai sumber pengambil keputusan merupakan hal yang mosaic dimana polanya berkembang dengan perkembangan masyarakat. mereka dapat melihat hukum sebagai hukum yang hidup bukan sebagai “black letter rules”.G. Kronman. Farrar dan Anthony M. it has been experience” (kelangsungan hidup dari hukum bukanlah melalui logika tetapi melalui pengalaman). 170. Mereka menganggap tugas hakim adalah menerapkan sebuah ketentuan atau prinsip hukum terhadap sebuah situasi fakta tertentu dan berbuat yang benar terhadap situasi tersebut.

25. “selama pengadilan kita dipenuhi dengan hakim dan pengacara yang dilatih untuk melihat hukum sebagai “black letter rule”. hal. Merhige Jr. mengingat SDM penegak hukum masa kini dalam era globalisasi. Lihat. 746. Lihat. (Vol. Op.21 Oleh karena itu metode ini sangat penting untuk dapat membuat hukum “hidup” tidak hanya di pengadilan seperti yang selama ini terlihat. Haley. Michigan Journal of International Law. perlu mengetahui berbagai peraturan hukum negara lain dan bagaimana ia berjalan dalam perbedaan sistem hukum. baik karena kebutuhan praktik maupun kesamaan model institusi-institusi hukum dan peraturan-peraturannya. maka putusannya akan dengan cepat tidak relevan dengan zaman yang didominasi oleh sains dan tekhnologi”. Spring 1996). tetapi juga dalam ruanganruangan kelas dalam perkuliahan di Fakultas Hukum. Lihat juga. Erman Rajagukguk.” Pidato Upacara Pengukuhan Sebagai Guru Besar Pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. 176 Bunga Rampai .” Wake Forest Law Review. Sidney: Butterworth. 10 Nopember 2001. Weeramantry. “Legal Education for the Age of technology: A Plea for an Interdisciplinary Perspective” Legal Change.1995). 275. Depok. Cit. 24. (Vol. budaya dan tradisi. Hikmahanto Juwana.”22 yang nantinya mengalihkan keahlian hukum dalam kenyataan itu kepada mahasiswa. 22. Tepat pula di sini diusulkan agar staf pengajar melakukan “empirical research.24 Perbandingan hukum tidak hanya dapat dilakukan dengan melakukan studi kepustakaan mengenai hukum di negara lain. Tidak kalah pentingnya. 30. Pesatnya pertumbuhan teknologi. Bandingkan. Educating Lawyers for the Global Economy. hal. 1995). hal. Op. 30.23 Penting pula memperkuat muatan pengajaran perbandingan hukum dalam perkuliahan. O. 347-368. (Vol.tive”. tetapi juga dilakukan melalui kuliah bersama dengan para mahasiswa di negara lain. Craig Allen Nard. hal 158. 17. “Legal Education: Observation and Perception From the Bench.” Wake Forest Law Review. Cit. 1983.G. “Empirical Legal Scholarship: Reestablishing a Dialoque Between the Academy and Profession. hal. Erman Rajagukguk. tim pengajar di Fakultas Hukum sekarang ini perlu pula menekankan proses belajar mengajar dengan metode legal reasoning yang didasarkan pada penelitian. Hal ini dapat memperluas pengetahuan hukum mahasiswa mengenai hukum di negara lain dengan 21 22 23 24 C. hal. Robert R. hal. telah memungkinkan kita untuk melakukan kuliah bersama jarak jauh melalui teleconference dengan mahasiswa di negara lain. “Hukum Internasional Dalam Konflik Kepentingan Ekonomi Negara Berkembang dan Negara Maju.

terutama dalam ketatnya persaingan di dunia global dan tingginya aktivitas perdagangan internasional. 262-263. 30 No. mengumandangkan Symphony Nomor 5 karya Betthoven. Namun demikian bukanlah tidak mungkin untuk mengumandangkan irama yang satu dengan menggunakan alat musik yang lain. factual investigation. setidaknya ada 10 keahlian generik 25 26 27 Selain itu yang tidak kalah penting adalah penguasaan bahasa inggris oleh para dosen dan mahasiswa/i. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 177 . legal research. hal. dan recognizing and resolving ethical dillemas.” Pidato Pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. organizing ang managing legal work. Wake Forest School of Law”. terasa dalam pendidikan ilmu hukum belum menjadi kebutuhan. 6. understanding of the procedures of litigation and alternative dispute resolution. hal. negotiation.berdikusi langsung mengenai teori maupun praktik hukum dengan mahasiswa atau para pengajar di negara tersebut.Create untuk menghasilkan SDM penegak hukum yang kompeten. Fasilitas dan peralatan untuk teleconference ini sendiri sudah tersedia di Universitas Sumatera Utara. tanggal 24 April 1991. Robert Mac reate. Wake Forest School of Law. Menurut Mc. legal analysis and reasoning. Dalam kaitannya dengan pendekatan disiplin ilmu ekonomi misalnya. Kemampuan untuk mengikuti perkembangan dalam hukum di dunia internasional akan memberikan pemahaman tentang hukum lebih komprehensif. “Pendekatan Ekonomi Terhadap Hukum Sebagai Sarana Pengembalian Wibawa Hukum. Kesepuluh keahlian tersebut adalah problem solving. Perbedaan irama ini serupa dengan perbedaan antara gamelan Bali yang mengumandangkan tari Baris dan New York Philharmonic Orchestra yang.” Wake Forest Law Review.25 Selain itu kita juga harus menyadari bahwa bidang hukum yang semakin hari semakin luas sehingga tidak dapat dihindarkan perlunya pendekatan dengan disiplin ilmu lain. counseling. oral and written comunicattion. Vol. dalam tulisannya “Lecture on Legal Education. Hal ini ditandai sudah sejak lama pendidikan ilmu hukum mengumandangkan irama yang berbeda dengan pendidikan ilmu ekonomi. Hal ini sangat penting karena banyak sekali isu-isu baru tentang hukum di tulis dalam jurnal yang berbahasa inggris. 2 (1995). Jakarta. “Lecture on Legal Education .26 Oleh karena itu kurikulum pendidikan di Fakultas Hukum harus dirancang untuk dapat mempersiapkan mahasiswa dengan bekal yang cukup untuk tampil di masyarakat sesuai dengan tuntutan masa kini. Charles Himawan. Dalam menyusun kurikulum penting kiranya kita memperhatikan apa yang diungkapkan oleh Robert Mac Create. dimana nantinya lahir SDM penegak hukum yang kompeten dan profesional.

hal 274 178 Bunga Rampai . biologi.G. Wereemantry. Untuk mengatasi kesulitan dalam mengajarkan mata kuliah ini. termasuk bidang hukum ekonomi. yang menjadikan kebutuhan untuk adanya spesialisasi di bidang hukum tidak dapat dielakkan. 27 Oleh karena itu kurikulum pendidikan hukum harus benar-benar disusun untuk mendukung hal ini. Metode self learning tidak dapat berjalan dengan baik apabila tidak didukung oleh fasilitas perpustakaan yang memadai. Fakultas Hukum idealnya ha- 28 29 Lihat C. Op. bidang teknologi yang saat ini sedang mengalami perkembangannya juga harus diperhatikan dalam menyusun kurikulum. Inilah sebabnya mengapa Law School di luar negeri menyebut perpustakaan sebagai “jantungnya” sebuah institusi pendidikan.Cit. Kemudian menambahkan mata kuliah khusus yang membahas kaitan antara sains dan hukum.Cit. Hal ini dapat dilakukan dengan menambah mata kuliah ini yang menggabungkan kedua disiplin ilmu di Fakultas hukum. Ada sebuah pepatah yang menggambarkan pentingnya perpustakaan di luar negeri yaitu. SDM penegak hukum yang lulus dari Fakultas-Fakultas Hukum sekarang ini menghadapi dunia baru.yang harus dimiliki. hal 163-165 John H. Misalnya dalam bidang teknologi kita dapat menambahkan mata kuliah wajib pengenalan dalam bidang sains dan society. Selain bidang ekonomi. “a good lawyer is one who knows where to look for the law. Apalagi dari sekarang kita sedang melakukan pembangunan ekonomi.”29 Oleh karena itu. Farrar dan Anthony M. Fakultas dapat juga mengadakan sebuah program khusus dimana kita mengundang pakar-pakar dari fakultas lain untuk bersama-sama melakukan sebuah research atau program tertentu yang mengaitkan hukum dengan bidang tersebut.28 Hal lain yang tidak kalah penting adalah perpustakaan. Op. termasuk hubungan yang baru di bidang ekonomi. Mata kuliah ini mengajarkan tidak hanya tentang hukum tetapi juga dasar-dasar sains seperti fisika. Perpustakaan merupakan sentral dari aktivitas di sebuah institusi pendidikan di luar kelas. dan lain sebagainya. Dugdale. fakultas dapat mengundang dosen-dosen tamu dari bidang disiplin ilmu yang berbeda.

misalnya melalui kursus atau pembelian buku-buku baru. Peningkatan tersebut bukan hanya akan membantu para dosen untuk meningkatkan pengetahuannya. karena Fakultas Hukum dapat meminta bantuan para alumninya yang telah menjadi praktisi di lapangan untuk menjadi trainer secara sukarela. Selain efektif untuk meningkatkan kualitas pengajar hal ini juga relatif tidak membutuhkan banyak dana. fakultas selain harus menyediakan dana khusus untuk ini. juga dapat meminta bantuan kepada para institusi pendidikan di luar negeri untuk memberikan sumbangan berupa buku-buku ataupun jurnal-jurnal ilmiah baik yang baru maupun yang tidak lagi mereka butuhkan. peningkatan kualitas dosen baru dapat tercapai apabila kesejahteraannya dapat terjamin. Inilah yang biasanya mereka sumbangkan kepada Fakultas-Fakultas hukum di negara lain. Adanya pelatihan ini akan memberikan kemampuan praktik langsung dari para praktisi di lapangan kepada para dosen yang belum mempunyai kemampuan tersebut. Dosen tamu yang didampingi oleh dosen tetap dapat membantu para mahasiswa untuk dapat lebih memahami hal-hal yang bersifat praktis di lapangan dan sekaligus berfungsi sebagai “alih pengetahuan. Sementara itu. namun dari segi substansi isinya masih sangat relevan. Untuk mencapai pada tingkat pendidikan hukum yang ideal seperti yang digambarkan di atas tentu tidak mudah pula. mengingat hukum bukanlah ilmu pasti yang Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 179 . tetapi juga penting untuk keberlangsungan suatu institusi pedidikan.” Sedangkan untuk meningkatkan fasilitas perpustakaan. Perlu diketahui bahwa tiap tahun banyak Fakultas Hukum di luar negeri mengalami over stock karena masuknya edisi-edisi baru dari koleksi buku yang mereka punyai. Selain itu perlu juga diadakan sebuah trainer for trainee untuk para dosen secara rutin dan berkala. fakultas dapat mengundang para praktisi sebagai dosen tamu di dalam perkuliahan. sangat ditentukan oleh kualitas dosen. Sedangkan untuk mengatasi ketimpangan para tenaga pengajar.rus mempunyai sebuah perpustakaan sendiri untuk membantu para mahasiswa dan pengajar untuk lebih memahami hukum. terutama dalam pengajaran hal-hal yang bersifat praktik. Perlu diingat bahwa walaupun buku tersebut bukan edisi terbaru.

Sehingga harapan-harapan dalam reformasi pendidikan hukum untuk melahirkan SDM penegak hukum yang kompeten dan profesional di masa datang ini dapat terwujud. Penutup Momentum untuk merealisasikan gagasan-gagasan yang telah dikemukakan di muka dapat dibuat sebagai pemikiran reformasi sistem pendidikan dan metode pengajaran. Semoga. Di sinilah diperlukan jaringan atau koneksi dengan Fakultas Hukum di luar negeri. 180 Bunga Rampai .apabila berubah teori-teori yang lama tidak lagi dapat digunakan. Jaringan dapat dibangun langsung oleh universitas maupun secara individu melalui para dosen-dosen yang sedang melanjutkan pendidikannya di luar negeri.

Educating Lawyers for the Global Economy.” Pidato Pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. California: Stanford University Press. “The Common Law and Economic Growth: Hayek Might Be right”.” Pidato Upacara Pengukuhan Sebagai Guru Besar Pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia.all . Journal of Legal Studies. Introduction to Legal Method. 1996. Antony T. 2001) Mc. Michael.( Vol.Gunn. L. Mahoney. dan M. John Henry. The Civil Law Tradition: An Introduction to the Legal System of Western Europe and Latin America. The Lost Lawyer Failing Ideals of the Legal Profession. Wake Forest School of Law. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 181 . et. Farrar. (Vol. Himawan. Spring 1996). “The role of Lawyer of development country. The Nature of The Judicial Process. dan Anthony M. Cambridge: Harvard University Press. Hagger. John H... Hikmahanto. Paul.” ABA Journal. Minn: West Publishing Co. Kronman. Michigan Journal of International Law. Paul G. Robert R. Henry Campbell. Business and Its Legal Environment. (Vol. Dunfee W.” Wake Forest Law Review. 1962. Haley.reate. “Legal Education: Observation and Perception From the Bench. 17.Daftar Pustaka Bailey. 10 Nopember 2001. “Lecture on Legal Education . Black. University of Chicago. 2 . London: Sweet & Maxwell. (Vol. Jakarta. Benjamin N. Juwana.J. Merhige Jr. Smith & Bailey on The Modern English Legal System. (Vol. “Pendekatan Ekonomi Terhadap Hukum Sebagai Sarana Pengembalian Wibawa Hukum. ST. O. Black’s Law Dictionary. 1995). 1999. tanggal 24 April 1991. Depok.1995) Merryman. London: Sweet & Maxwell. XXX. 58.. Robert. S.” Wake Forest Law Review. Charles.H. “Hukum Internasional Dalam Konflik Kepentingan Ekonomi Negara Berkembang dan Negara Maju. London: Yale University Press. 30 No. Cardozo. 1993. New Jersey: Prentice-Hall... 30. 1972). 1984. Dugdale. 1990. Inc.

(Vol. Medan.R. Sidney: Butterworth. 182 Bunga Rampai . “Empirical Legal Scholarship: Reestablishing a Dialoque Between the Academy and Profession. Chaim. Legal Change Essay in Honor of Julius Stone. 20 Nopember 2001. Legal Change. C. Blackshield. 1983. ed. dalam A. “Legal Education for the Age of technology: A Plea for an Interdisciplinary Perspective”. 1995). “Legal Ontology and Legal Reasoning”.. Craig Allen.G.- - 1969. Rajagukguk. Weeramantry. 1983.” Wake Forest Law Review. Perelman. Nard. 30. “Globalisasi Hukum dan Kemajuan Teknologi: Implikasinya Bagi Pendidikan Hukum dan Pembangunan Hukum Indonesia. Sidney: Butterworth. Erman.” Pidato pada Dies Natalis USU Ke-44.

Bagian Kedua Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 183 .

184 Bunga Rampai .

M. Namun demikian. tetapi harus memahami konteks dan suasana kebathinan yang mempengaruhi perumusannya. Undang-Undang Dasar (UUD) adalah dokumen hukum dan politik (political and legal document) resmi suatu negara. maupun yuridis. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 185 . suasana kebathinan yang menjadi latar belakang filosofis. Dengan demikian. dan historis perumusan juridis perlu dipahami secara mendalam dan seksama sehingga dapat dipahami dan dimengerti dengan sebaik-baiknya ketentuan yang terdapat dalam pasal-pasal UUD. hubungan antar lembaga. nilai-nilai dan norma dasar yang hidup dalam masyarakat dan dalam praktek penyelenggaraan negara turut mempengaruhi perumusan suatu norma ke dalam naskah UUD. sosiologis. yang berisi kesepakatan pokok tentang negara. sejarah mencatat bahwa dalam implementasinya banyak ditemukan kelemahan-kelemahan yang mengakibatkan munculnya ide untuk melakukan perubahan terhadap ketentuan UUD 1945 guna menutupi kelemahan tersebut. hubungan lembaga negara dengan warga negara. Dalam penyusunan suatu UUD. politis. baik dari sudut pandang filosofis. kekuasaan lembaga negara. UUD tidak dapat dipahami hanya melalui teksnya saja.Komisi Yudisial Yang Dicita-citakan Oleh Masyarakat dan Pencari Keadilan Dr. UUD dapat diubah. dan perlindungan terhadap hak asasi manusia. MA. politis. mengatur mengenai organisasi negara. H. sosiologis. Hidayat Nur Wahid. Secara teoritis. Penetapan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) sejak tahun 1945 telah memungkinkan penyelenggaraan negara yang sejauh mungkin mengedepankan kemakmuran masyarakat.

MPR hasil Pemilu 1999 telah melakukan suatu rangkaian perubahan UUD 1945 dalam empat tahapan yang berkesinambungan. dan perilaku alat negara dan penduduk (warga negara dan orang asing) harus berdasarkan dan sesuai dengan hukum. Dengan pertimbangan dan proses pembahasan tersebut. Masuknya rumusan Negara Indonesia adalah negara hukum mempertegas paham bahwa Indonesia adalah negara hukum. yang diputuskan pada Sidang Umum MPR tahun 1999 sampai dengan Sidang Tahunan MPR tahun 2002. Secara umum. kesetaraan di hadapan hukum (equality before the law). kebijakan. Konsekuensi ketentuan itu adalah bahwa setiap sikap. Paham negara hukum sebagaimana tercantum dalam 186 Bunga Rampai . baik dalam penyelenggaraan negara maupun kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. yaitu supremasi hukum (supremacy of law). MPR memandang bahwa UUD 1945 sudah cukup untuk mengatur pelaksanaan kehidupan berbangsa. Perubahan UUD 1945 tersebut dilakukan MPR untuk jangka waktu yang panjang guna menyempurnakan ketentuan fundamental ketatanegaraan Indonesia sebagai pedoman utama dalam mengisi tuntutan reformasi dan memandu arah perjalanan bangsa dan negara pada masa yang akan datang. Ketentuan itu sekaligus dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kesewenangwenangan dan arogansi kekuasaan. Salah satu perubahan penting setelah dilakukannya perubahan terhadap UUD 1945 adalah masuknya ketentuan pasal 1 ayat (3) tentang penegasan negara Indonesia adalah negara hukum dan dimuatnya rumusan tentang Hak Asasi Manusia (HAM) pada Bab XA.Seiring dengan bergulirnya reformasi. dan bernegara. baik yang dilakukan oleh alat negara maupun oleh penduduk. dalam setiap negara yang menganut paham negara hukum. dan penegakan hukum dengan cara yang tidak bertentangan dengan hukum (due process of law). Perubahan tersebut dilakukan karena MPR-lah berdasarkan UUD 1945 berwenang untuk melakukan perubahan. Apabila hasil perubahan yang dilakukan MPR terwujud dalam bentuk seperti saat ini. kita melihat bekerjanya tiga prinsip dasar. hal ini ditempuh MPR setelah mempertimbangkan secara seksama berbagai aliran paham dan pemikiran masyarakat tersebut. bermasyarakat.

Dalam paham negara hukum. dan seimbang. Institusi negara dibentuk tidak dengan maksud untuk mengambil alih fungsi-fungsi yang secara alamiah dapat dikerjakan sendiri secara lebih efektif dan efisien oleh institusi masyarakat. adanya jaminan-jaminan hak asasi manusia. Dalam paham negara hukum.ketentuan Pasal 1 ayat (3) terkait erat dengan negara kesejahteraan (welfare state) atau paham negara hukum materiil sesuai dengan bunyi alinea keempat Pembukaan dan ketentuan Pasal 34 UUD 1945. Institusi negara dibentuk dengan maksud untuk Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 187 . hukum ditegakkan menurut prinsip-prinsip demokrasi karena kedaulatan hukum pada pokoknya berasal dari kedaulatan rakyat. Dalam UUD 1945 dikatakan bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum. Dalam masyarakat madani. rakyat diberi kebebasan untuk berkiprah sesuai dengan peradaban yang sesuai dengan nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. di dalamnya terkandung pengertian pengakuan terhadap prinsip supremasi hukum dan konstitusi. serta menjamin keadilan bagi setiap orang. dan penyelenggara negara dalam hubungan yang fungsional. dianutnya prinsip pemisahan dan pembatasan kekuasaan menurut sistem konstitusional yang diatur dalam UUD. Dalam UUD 1945 terdapat cakupan dasar-dasar normatif yang berfungsi sebagai sarana pengendali terhadap seluruh penyelenggaraan negara menuju arah dan perwujudan cita-cita kolektif bangsa sesuai dengan nilai yang terkandung dalam Pembukaan. hukumlah yang memegang komando tertinggi dalam penyelenggaraan negara. adanya prinsip peradilan yang bebas dan tidak memihak yang menjamin persamaan setiap warga negara dalam hukum. sinergis. Untuk menjamin peradaban bangsa di masa yang akan datang perlu dikembangkan keberdayaan dalam hubungan antara negara. Untuk pencapaian tersebut diperlukan adanya suatu kesadaran kolektif rakyat yang tercermin dalam upaya pembentukan masyarakat madani. oleh karenanya prinsip negara hukum tidak boleh ditegakkan dengan mengabaikan prinsip-prinsip demokrasi yang diatur dalam UUD. Pelaksanaan paham negara hukum materiil akan mendukung dan mempercepat terwujudnya negara kesejahteraan di Indonesia. masyarakat.

norma. Dalam negara hukum. dimasukkan ke dalam pasal-pasal. sejahtera lahir dan bathin. Istilah ini akan selalu menjadi obyek kajian yang menarik dan tidak ada habis-habisnya. Tujuannya untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan (abus de pouvoir) dan penggunaan kekuasaan negara secara sewenang-wenang (detournement de pouvoir). ia langsung berada dan bekerja di tengah-tengah masyarakat. dan kaidah akan selalu mempunyai posisi yang khas. maka hal-hal yang bersifat normatif yang terdapat dalam Penjelasan. individu dan negara berdiri sejajar. tidak berdasarkan kekuasaan belaka (machtsstaat). Mengingat Penjelasan UUD 1945 ditiadakan. Jika kita telaah. melalui kiprah nyata dan berkesinambungan dalam upaya mewujudkan supremasi hukum yang kita inginkan. Penegasan Indonesia sebagai negara hukum semula tercantum pada Penjelasan UUD 1945. mandiri. Hukum sebagai aturan. tanpa terkecuali. ikut melibatkan diri dalam usaha bersama mencari jalan keluar memperbaiki permasalahan secara menyeluruh. Hal tersebut disebabkan karena masalah supremasi hukum adalah bukti nyata proses penegakan hukum suatu bangsa. Sudah sepatutnya kita semua. Negara diatur oleh konstitusi dan undang-undang. sebutan supremasi hukum menjadi kata yang paling sering diucapkan dan didengar. Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan. Sejak keberhasilan gerakan reformasi melanda bangsa Indonesia. Negara Indonesia adalah negara hukum.makin mendorong tumbuh dan berkembangnya peradaban bangsa Indonesia sesuai dengan cita dan citra masyarakat madani yang maju. demokratis dan berkeadilan. Hukum berada di atas segalanya termasuk negara. Karena. Keadilan bagi semua orang harus diperoleh agar masyarakat demokratis dapat mencapai kehidupan yang adil dan damai melalui penegakan hukum. sejak Indonesia merdeka tahun 1945 para pendiri bangsa dan rakyat telah sepakat bahwa negara dibentuk berdasarkan hukum (rechtsstaat). kekuasaan yang tidak di- 188 Bunga Rampai . Rumusan Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 ini merupakan hasil perubahan ketiga. Inilah yang dinamakan supremasi hukum. Keberagaman cita rasa masyarakat yang terkemas dalam budaya tradisional dan modern akan menyatu dalam suatu dimensi hukum.

and absolute power corrupts absolutely”. Pasal 24C. pemberian jasa hukum/penasehat hukum (access to legal counsel). Bab tentang Kekuasaan Kehakiman menjadi lima pasal sehingga lebih rinci dan lebih lengkap. Pasal 24 ayat (3) diputus pada Perubahan Keempat (tahun 2002). Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 itu dimaksudkan untuk mempertegas bahwa tugas kekuasaan kehakiman dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yakni untuk menyelenggarakan peradilan yang merdeka.” Dalam penjabaran selanjutnya. tidak diubah.batasi oleh hukum implikasinya adalah korup. Supremasi hukum tidak hanya berlaku bagi yang lemah tetapi bagi seluruh komponen bangsa termasuk negara (pejabat negara). Khusus yang menyangkut kekuasaan kehakiman atau peradilan yang merdeka. Undang-Undang Dasar 1945 telah mengakomodasikannya di dalam Bab tentang Kekuasaan Kehakiman. bebas dari intervensi pihak mana pun. Pasal 24B. Pada Perubahan Ketiga (tahun 2001) diputus Pasal 24 [kecuali ayat (3)]. Pasal 24B. Sebagaimana diungkapkan oleh Lord Acton. persamaan di depan hukum (equality before the law). yaitu Pasal 24 dan Pasal 25. “power tends to corrupt. yaitu Pasal 24. Pasal 24A. Setelah diubah. Ketentuan ini merupakan perwujudan prinsip Indonesia sebagai negara hukum sebagaimana ditegaskan dalam Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 189 . kekuasaan kehakiman atau peradilan yang merdeka. legalitas dalam arti hukum. dan Pasal 25. guna menegakkan hukum dan keadilan. ”Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. sedangkan Pasal 25 tetap. yaitu bahwa baik pemerintah/negara maupun warga negara dalam bertindak harus berdasar atas dan melalui hukum. sebagaimana tercermin dari bunyi Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan bahwa. Sebelum perubahan. dan proses hukum yang adil (due process of law) adalah merupakan prinsip-prinsip negara hukum. Karenanya. Bab tentang Kekuasaan Kehakiman terdiri atas dua pasal. Pasal 24C. pada setiap negara hukum akan terlihat ciri-ciri adanya: 1) 2) 3) jaminan perlindungan hak-hak asasi manusia. Pasal 24A.

yaitu Mahkamah Agung. selain badan kekuasaan kehakiman yang telah ada.Pasal 1 ayat (3). Dalam negara hukum harus dijaga paham konstitusional. Pembentukan Mahkamah Konstitusi adalah sejalan dengan dianutnya paham negara hukum dalam Undang-Undang Dasar 1945. Hal itu sesuai dengan penegasan bahwa Undang-Undang Dasar sebagai puncak dalam tata urutan peraturan perundang-undangan di Indonesia. dan badan peradilan yang berada di bawahnya. Sesuai dengan ketentuan Pasal 24A ayat (1). antara lain lembaga penyidik dan lembaga penuntut. tidak boleh ada undang-undang dan peraturan perundang-undangan lainnya yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar. Artinya. ada pula konstitusi negara yang memisahkannya sehingga dibentuk dua badan kekuasaan kehakiman. semula disesuaikan dengan sejarah dan kebutuhan setiap negara. Hal-hal mengenai badan lain itu diatur dalam undang-undang. Wewenang dan hal lain yang terkait dengan MK diatur dalam Pasal 24C. Pada Pasal 24 ayat (2) dibentuk satu lembaga peradilan baru yaitu Mahkamah Konstitusi. Perubahan ketentuan mengenai Mahkamah Agung dilakukan atas pertimbangan untuk memberikan jaminan konstitusional yang lebih kuat terhadap kewenangan dan kinerja Mahkamah Agung. Mahkamah Agung mempunyai wewenang: 1) mengadili pada tingkat kasasi. 2) menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang. yaitu Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. Indonesia menganut paham yang 190 Bunga Rampai . Dalam praktik tidak ada keseragaman di negara-negara di dunia ini mengenai kewenangan Mahkamah Konstitusi. 3) wewenang lainnya yang diberikan oleh undang-undang. Mahkamah Konstitusi-lah yang bertugas menjaga konstitusionalitas hukum tersebut. Ketentuan Pasal 24 ayat (3) menjadi dasar hukum keberadaan berbagai badan lain yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman. Pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar 1945 membutuhkan sebuah mahkamah dalam rangka menjaga prinsip konstitusionalitas hukum. Ada konstitusi negara yang menyatukan fungsi Mahkamah Konstitusi ke dalam Mahkamah Agung.

tiga orang yang diajukan oleh Presiden. eksekutif. Komposisi hakim konstitusi di Mahkamah Konstitusi merupakan perwujudan tiga cabang kekuasaan negara. Ketentuan Pasal 24 ayat (3) menjadi dasar hukum keberadaan berbagai badan lain yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman. Masih berkaitan dengan kewenangan Mahkamah Konstitusi. Hal-hal mengenai badan lain itu diatur dalam undang-undang. MPR. dan yudikatif. yakni dari sembilan anggota hakim konstitusi terdiri atas tiga orang yang diajukan oleh DPR.kedua. Putusan Mahkamah Konstitusi untuk menyelesaikan perbedaan pendapat di tubuh Mahkamah Konstitusi berdasarkan pertimbangan komposisi keanggotaan hakim konstitusi di Mahkamah Konstitusi yang diharapkan dapat menerapkan prinsip saling mengawasi dan saling mengimbangi. antara lain lembaga penyidik dan lembaga penuntut. proses dan putusan yang diambil terhadap perkara-perkara yang menjadi wewenangnya dapat dilakukan secara lebih baik karena ditangani oleh badan peradilan yang memang khusus dibentuk untuk menangani perkara yang berkaitan dengan pelaksanaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan BPK. Perbedaan pendapat di dalam Mahkamah Konstitusi sendiri diputuskan melalui mekanisme internal Mahkamah Konstitusi. DPD. antara lain Presiden. Mahkamah Agung. Dengan pembentukan Mahkamah Konstitusi tersebut. DPR. dan tiga orang yang diajukan oleh Mahkamah Agung. Pada sisi lain adanya Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi dalam kekuasaan kehakiman lebih mempertegas bahwa praktik pemerintahan selama ini yang membedakan adanya lembaga tertinggi negara dan tinggi negara sudah ditinggalkan karena setiap lembaga menjalankan tugas sesuai dengan fungsi yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar. yakni legislatif. Pengaturan dalam undang-undang mengenai badan lain yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman membuPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 191 . lembaga negara ini juga berwenang memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar 1945. Lembaga negara yang kewenangannya diberikan langsung oleh Undang-Undang Dasar 1945.

ka partisipasi rakyat melalui wakil-wakilnya di DPR untuk memperjuangkan agar aspirasi dan kepentingannya diakomodasi dalam pembentukan undang-undang tersebut. Adanya ketentuan pengaturan dalam undang-undang tersebut merupakan salah satu wujud saling mengawasi dan saling mengimbangi antara kekuasaan yudikatif, Mahkamah Agung dan badan peradilan di bawahnya serta Mahkamah Konstitusi dengan kekuasaan legislatif DPR dan dengan kekuasaan eksekutif lembaga penyidik dan lembaga penuntut. Selain itu, ketentuan itu dimaksudkan untuk mewujudkan sistem peradilan terpadu (integrated judiciary system) di Indonesia. Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 juga membentuk lembaga baru yang berada di lingkungan Kekuasaan Kehakiman, yaitu Komisi Yudisial. Pembentukan Komisi Yudisial ini didasari pemikiran bahwa hakim agung yang duduk di Mahkamah Agung dan para hakim merupakan figur yang sangat menentukan dalam perjuangan menegakkan hukum dan keadilan. Apalagi hakim agung duduk pada tingkat peradilan tertinggi (puncak) dalam susunan peradilan di Indonesia sehingga ia menjadi tumpuan harapan bagi pencari keadilan. Sebagai negara hukum, masalah kehormatan dan keluhuran martabat, serta perilaku hakim merupakan hal yang sangat strategis untuk mendukung upaya menegakkan peradilan yang handal dan realisasi paham Indonesia adalah negara hukum. Untuk itu, perubahan Undang-Undang Dasar 1945 memuat ketentuan mengenai pembentukan lembaga di bidang kekuasaan kehakiman bernama Komisi Yudisial yang merupakan lembaga bersifat mandiri. Menurut ketentuan Pasal 24B ayat (1), Komisi Yudisial berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim. Melalui lembaga Komisi Yudisial itu diharapkan dapat diwujudkan lembaga peradilan yang sesuai dengan harapan rakyat sekaligus dapat diwujudkan penegakan hukum dan pencapaian keadilan yang diputus oleh hakim yang terjaga kehormatan dan keluhuran martabat serta perilakunya. Penegakan hukum dan supremasi hukum antara lain dapat dilihat dari kemandirian kekuasaan kehakiman dan dibersihkannya lembaga peradilan dari korupsi, kolusi, dan

192

Bunga Rampai

nepotisme. Sebagai esensi dalam penegakan hukum, kekuasaan kehakiman sebagai salah satu kekuasaan dalam negara memiliki hubungan yang sangat erat dengan cabang kekuasaan lainnya. Kekuasaan kehakiman berfungsi memutus sengketa hukum yang timbul antara anggota masyarakat satu sama lain dan antara anggota masyarakat dengan pemerintah. Wewenang untuk memutus perkara, tujuan akhirnya adalah untuk mewujudkan ketertiban umum di masyarakat melalui putusan yang adil. Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 itu dimaksudkan untuk mempertegas bahwa tugas kekuasaan kehakiman dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yakni untuk menyelenggarakan peradilan yang merdeka, bebas dari intervensi pihak mana pun, guna menegakkan hukum dan keadilan. Perubahan Undang-Undang Dasar telah menjamin adanya kemandirian kekuasaan kehakiman. Dengan kekuasaan kehakiman yang merdeka dan mandiri, lembaga-lembaga negara pemegang kekuasaan tersebut dapat bertindak sesuai dengan koridor hukum yang berlaku sehingga pengalaman buruk implementasi kekuasaan kehakiman sebelum reformasi yang penuh dengan rekayasa penguasa dapat dihilangkan. Keadilan tidak boleh dibedakan atas dasar latar belakang (sosial, ekonomi, politik, ideologi, etnisitas, ras, warna kulit, agama, gender, keyakinan politik, dan apapun). Keadilan harus dapat diraih oleh semua orang (kaya,miskin, sipil,militer, swasta, negeri, rakyat, pemimpin, tua dan muda). Artinya, jika pejabat bersalah dapat dihukum oleh pengadilan dan dituntut ganti rugi. Begitu juga jika masyarakat biasa yang bersalah dapat dituntut dan diproses secara hukum sehingga tercapai tujuan hukum yaitu kepastian hukum dan keadilan. Terkait dengan lembaga peradilan, terdapat dua aspek wewenang pokok mengadili dari kekuasaan kehakiman, yaitu aspek institusional berupa jenis-jenis kelembagaan peradilan yang diserahi kekuasaan kehakiman dan aspek fungsional berupa ragam fungsi yang diserahkan oleh undang-undang kepada badan-badan kekuasaan kehakiman. Melalui reposisi fungsi kedudukan lembaga peradilan dalam undang-undang, saat ini terdapat kemajuan yang menggembirakan dimana seluruh kelembagaan tersebut se-

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

193

cara bersama-sama telah berkomitmen untuk melakukan pembinaan sumber daya manusia aparatur hukum. Wujud dari upaya tersebut, penyelenggaraan peradilan yang bersih dan bebas sudah menjadi pedoman dalam berperkara. Pasal 24A ayat (3) dan Pasal 24B ayat (1) menegaskan bahwa calon hakim agung diusulkan Komisi Yudisial kepada DPR untuk mendapat persetujuan. Keberadaan Komisi Yudisial tidak bisa dipisahkan dari kekuasaan kehakiman. Dari ketentuan ini ditegaskan bahwa jabatan hakim merupakan jabatan kehormatan yang harus dihormati, dijaga, dan ditegakkan kehormatannya oleh suatu lembaga yang juga bersifat mandiri. Dalam hubungannya dengan Mahkamah Agung, tugas Komisi Yudisial hanya dikaitkan dengan fungsi pengusulan pengangkatan Hakim Agung, sedangkan pengusulan pengangkatan hakim lainnya, seperti hakim Mahkamah Konstitusi tidak dikaitkan dengan Komisi Yudisial. Aparatur penegak hukum yang berperan dalam upaya penegakkan hukum penting dikedepankan independensinya dari pengaruh kekuasaan politik Presiden atau pengaruh dari intitusi manapun juga. Independensi dalam melaksanakan tugas pro-yustisia diperlukan karena jabatan pemerintahan sangat dipengaruhi oleh dinamika politik lima tahunan. Komisi Yudisial sebagai lembaga yang berwenang mengusulkan dan mengawasi pengangkatan hakim agung, kedudukannya sangat penting. Kehormatan dan martabat hakim sebagai penentu dalam proses peradilan patut dijaga mengingat putusan hakim adalah mutlak dan mengikat sebagai dasar aparat penegak hukum bertindak. Komisi Yudisial diharapkan dapat membantu mengatasi berbagai bentuk penyalahgunaan wewenang yang terjadi pada lembaga peradilan melalui pencitraan hakim, dengan demikian dapat mendorong terwujudnya peradilan yang bersih dan berwibawa. Upaya pemilihan hakim yang kompeten melalui seleksi calon hakim agung secara ketat disertai dengan pengawasan perilaku hakim agar senantiasa menjunjung tinggi kehormatan, keluhuran martabat, serta perilakunya. Komisi Yudisial sebagai salah satu institusi dalam menjalankan fungsi kehakiman harus dapat menunjukkan kinerja yang profesional dan mengedepankan komitmen untuk mendorong terbangunnya komitmen dan integritas para

194

Bunga Rampai

hakim sehingga para hakim dalam semua tingkat peradilan dapat menjalankan wewenang dan tugasnya secara sungguh-sungguh dengan berdasarkan kebenaran, rasa keadilan, mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku serta bebas dari intervensi kekuasaan dan menjunjung tinggi kode etik. Dengan kewenangan yang dimiliki Komisi Yudisial, diharapkan dapat mewujudkan mekanisme checks and balances dalam lembaga pemegang kekuasaan kehakiman, sehingga akan membantu terwujudnya peradilan Indonesia yang menegakkan supremasi hukum. Upaya mewujudkan peradilan Indonesia yang profesional dan adil perlu dikedepankan mengingat saat ini terdapat kecenderungan berkurangnya kepercayaan masyarakat dan pencari keadilan terhadap badan peradilan yang disebabkan karena proses peradilan yang dilaksanakan kurang transparan dan kurang berfungsinya organ yang bertugas dalam mengawasi perilaku hakim. Dengan kondisi demikian, melalui tugas dan fungsi, diharapkan Komisi Yudisial dapat mempelopori untuk menciptakan kondisi yang dapat membantu mengoptimalkan peran peradilan sehingga dapat mewujudkan lembaga peradilan yang bersih, bermartabat, dan berwibawa serta menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan. Adanya pengawasan melekat pada perilaku hakim dalam menjalankan tugasnya akan memberikan kontrol yang effektif dalam upaya menegakkan keadilan. Komisi Yudisial harus dapat menjalankan tugasnya untuk merekrut dan mengawasi perilaku hakim agar hakim dalam lembaga peradilan benar-benar memiliki integritas, memiliki kemampuan dalam menyelesaikan kasus, serta dapat mengambil putusan yang sesuai dengan peraturan yang berlaku dan mandiri. Dengan fungsinya tersebut, Komisi Yudisial menjadi pengawal dalam mengoreksi semua penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh hakim, Komisi Yudisial dapat menjadi pelopor utama guna menegakkan keluhuran martabat dan perilaku hakim. Dengan adanya pengawasan yang optimal oleh Komisi Yudisial, maka akan membantu pencitraan hakim dalam penyelenggaraan peradilan. Akhirnya saya ingin menegaskan bahwa pencitraan peradilan melalui itikad dan kesungguhan dari penyeleng-

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

195

gara negara dalam mengimplementasikan seluruh peraturan secara konsekuen akan mendukung pelaksanaan seluruh ketentuan UUD 1945. Peran lembaga peradilan yang menjunjung tinggi hukum dan kesetaraan dalam hukum akan membantu memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap proses hukum dalam lembaga peradilan. Pencitraan hakim melalui seleksi yang ketat oleh lembaga yang berwenang serta pengawasan yang intensif oleh institusi diluar pengadilan akan mendukung terwujudnya netralitas putusan hakim dan membentuk pencitraan hakim yang profesional dan berwibawa.

196

Bunga Rampai

Sinkronisasi Sistem Perundang-undangan Lembaga Peradilan Dalam Menciptakan Peradilan yang Lebih Baik
Trimedya Panjaitan, SH*

INDONESIA adalah negara hukum. Salah satu prinsip penting bagi Indonesia sebagai negara hukum adalah kekuasaan kehakiman yang merdeka. Prinsip ini menghendaki kekuasaan kehakiman yang bebas dari campur tangan pihak manapun dan dalam bentuk apapun, sehingga dalam menjalankan tugas dan kewajibannya ada jaminan ketidakberpihakan kekuasaan kehakiman kecuali terhadap hukum dan keadilan. Prinsip kekuasaan kehakiman yang merdeka telah ditegaskan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yakni dalam Perubahan (Amandemen) Ketiga UUD 1945. Dalam Pasal 24 ayat (1) dinyatakan kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Sebelumnya, dalam UUD 1945 praamandemen, prinsip ini diatur dalam Pasal 24 UUD 1945, dan diuraikan lebih lanjut dalam penjelasan Pasal 24 yang berbunyi: “Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan yang merdeka, artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah. Berhubung dengan itu harus diadakan jaminan dalam undang-undang tentang kedudukan para hakim”.1

*
1

Penulis adalah Ketua Komisi III DPR RI, Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Kutipan dari penjelasan UUD 1945 sebelum amandemen ini untuk menunjukkan bahwa sejak awal, yaitu oleh para pendiri bangsa, telah diterima gagasan adanya lembaga yudikatif yang mandiri dan bebas dari pengaruh kekuasaan lain.

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

197

Membangun Politik Hukum. 2006. Dan khusus untuk kekuasaan kehakiman. Namun pelembagaan berbagai kekuasaan negara di Indonesia jelas menunjukkan adanya keterpengaruhan pada paham Trias Politica. Mahkamah Agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi. lingkungan peradilan militer. Pada Pasal 24 ayat (2) UUD 1945. atau secara lebih spesifik melakukan constitutional review) atas undang-undang terhadap UndangUndang Dasar. Menegakkan Konstitusi. memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar.2 Kekuasaan kehakiman di Indonesia dilaksanakan oleh Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi dengan kompentensi yang berbeda. dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. Mahkamah Konstitusi juga mempunyai tugas khusus lain yaitu memutus pendapat DPR bahwa Presiden/Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat. memutus pendapat DPR bahwa Presiden telah melanggar hal-hal 2 Lihat Sri Soemantri. lingkungan peradilan tata usaha negara. dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh undang-undang (pasal 24A ayat 1). Dengan demikian Mahkamah Konstitusi dimunculkan sebagai lembaga negara dengan tugas melakukan uji materi (judicial review. 1978. dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum (pasal 24C ayat 1). dinyatakan bahwa kekuasaan kehakiman itu dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum. lingkungan peradilan agama. menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang.Negara Indonesia berdasarkan UUD 1945 tidak menganut secara penuh paham Trias Politica dan pemisahan kekuasaan. memutus pembubaran partai politik. Sedangkan Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar. 198 Bunga Rampai . Bunga Rampai Hukum Tata Negara Indonesia. dinyatakan secara tegas oleh UUD 1945 sebagai kekuasaan negara yang terpisah dari kekuasaan-kekuasaan negara lainnya. dan Mahfud MD.

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 199 .tertentu yang disebutkan di dalam Undang-Undang Dasar sehingga mereka dapat diproses untuk diberhentikan. Sedangkan Mahkamah Agung mengadili perkara-perkara konvensional (perkara-perkara di lingkungan peradilan umum. serta memutus pembubaran partai politik dan memutus sengketa hasil pemilu. ditambah dengan kewenangan menguji materi perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. peradilan militer. untuk melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim. Sehingga para anggota DPR/MPR RI sebagai representasi dari rakyat menilai perlunya dibentuk Komisi Yudisial (judicial committee) sebagai lembaga pengawas eksternal terhadap kekuasaan kehakiman.3 Hasilnya adalah pengaturan Komisi Yudisial dalam Pasal 24B Perubahan Ketiga UUD 1945 yang ditetap- 3 Lihat keterangan para saksi dari mantan Anggota Panitia Ad Hoc (PAH) I Badan Pekerja MPR dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 005/PUU-IV/2006 dalam perkara permohonan uji materi terhadap UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. keluhuran martabat. Pada awalnya ide dasar pembentukan Komisi Yudisial dilatarbelakangi kekhawatiran akan timbulnya tirani yudisial pasca pemberlakuan sistem satu atap di Mahkamah Agung dan pemberian kemandirian dan kemerdekaan kepada institusi pemegang kekuasaan kehakiman ini. yakni Komisi Yudisial. namun sebagai lembaga pembantu (state auxiliary organ). peradilan agama. Konstitusi juga memperkenalkan lembaga baru di dalam rumpun kekuasaan kehakiman. Komisi Yudisial bukan merupakan pemegang kekuasaan kehakiman. sebagai supporting elemen dalam kekuasan kehakiman. Dalam Konstitusi diatur bahwa Komisi Yudisial merupakan lembaga yang bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. serta perilaku hakim (pasal 24B ayat 1). memutus sengketa kewenangan antar lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar. dan peradilan tata usaha negara). Dengan demikian konstitusi telah memberikan landasan hukum yang kuat bagi reformasi di bidang hukum dengan memberikan kewenangan kepada Komisi Yudisial.

Adapun tentang Mahkamah Agung diatur dalam UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU Nomor 14 Tahun 1985. dan finansial Mahkamah Konstitusi berada di bawah kekuasaan dan kewenangan Mahkamah Konstitusi. urusan teknis yudisial dan kepegawaian korps hakim di negeri ini sekarang berada di satu tangan. tetapi juga menangani organisasi. Sedangkan dalam pasal 13 ayat (2) disebutkan bahwa organisasi. Kebijakan atap tunggal atau one roof system diawali dengan pembuatan Ketetapan MPR Nomor X/MPR/1998 tentang Pokok-pokok Reformasi Pembangunan yang menetapkan kekuasaan kehakiman bebas dan terpisah dari kekuasaan eksekutif. Untuk peradilan agama. peralihan sudah selesai paling lambat 31 Maret 2004 (pasal 42 ayat 1). administrasi. Secara konseptual. dan keuangan lembaga peradilan ditangani sendiri oleh institusi pemegang kekuasaan kehakiman. dan finansial Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya berada di bawah kekuasaan Mahkamah Agung (pasal 13 ayat 1). Selanjutnya sistem satu atap diatur dan dijabarkan dalam Undang-undang (UU) Nomor 35 Tahun 1999 tentang Perubahan UU Nomor 14 Tahun 1970. Administrasi. administrasi. sistem satu atap kekuasan kehakiman merupakan unsur penting dari kemandirian kekuasaan kehakiman (judicial independence). Perlu digarisbawahi. Mahkamah Agung tidak hanya mengurusi pembinaan para hakim. Dalam UU Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman ditegaskan bahwa organisasi. sebagaimana telah diubah dan dicabut dengan UU Nomor 4 Tahun 2004 tetang Kekuasaan Kehakiman. peralihan harus se- 200 Bunga Rampai . Selanjutnya. kemandirian kekuasaan kehakiman dapat tercapai jika organisasi. dan peradilan militer. Untuk lingkungan peradilan umum dan peradilan tata usaha negara. di tingkat pelaksanaan. dan finansial yang sebelumnya diatur oleh eksekutif (Departemen Kehakiman). Dengan kata lain. yang dilaksanakan sejak 31 Maret Tahun 2004. administrasi. dan Finansial Lembaga Peradilan dari Departemen Kehakiman ke Mahkamah Agung. sepenuhnya menjadi tanggung jawab Mahkamah Agung. diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 21 Tahun 2004 tentang Pelaksanaan Pengalihan Urusan Organisasi. administrasi.kan dalam Sidang Tahunan MPR Tahun 2001. Dengan konsep satu atap kekuasaan kehakiman.

Sistem satu atap kekuasaan kehakiman ini sesuai dengan tuntutan reformasi. Putusan MK. kekuasaan negara didominasi oleh kekuasaan eksekutif. sedangkan pengadilan militer baru diserahkan oleh Panglima TNI pada 1 September 2004. Selama Orde Baru. yakni ada dua wakil ketua dari sebelumnya hanya satu. yakni masih dijalankannya sistem pengelolaan kekuasaan kehakiman oleh pemerintah mengenai bidang-bidang organisasi. dan ketua muda tata usaha negara. promosi. Selama ini. dan finansial. Dalam undang-undang ini diatur secara rinci mengenai wewenang dan tugas Komisi Yudisial. Komisi Yudisial mempunyai tugas mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kePenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 201 . Namun. hal tersebut menjadi sulit dilakukan karena adanya dualisme kendali. Diharapkan. Ketiadaan independensi kekuasaan kehakiman. Sedangkan soal administrasi umum termasuk pengawasan. Sementara dengan UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. ketua muda militer. Jabatan panitera dan sekretaris Mahkamah Agung juga dipisahkan. dan diharapkan akan memudahkan pengawasan terhadap para hakim. struktur baru ini bisa memikul beban yang dialihkan dari Departemen Kehakiman ke Mahkamah Agung. realisasinya terlambat. struktur Mahkamah Agung mengalami perubahan. serta menangani urusan administratif yang terkait dengan teknis peradilan seperti pembagian perkara.lesai paling lambat 30 Juni 2004 (pasal 42 ayat 2 dan ayat 3). Sinkronisasi UU Pengaturan lebih lanjut tentang Komisi Yudisial terdapat dalam UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. diserahkan kepada wakil ketua nonyudisial yang membawahi ketua muda pembinaan dan ketua muda pengawasan. Pengadilan agama baru diserahkan oleh Departemen Agama pada 30 Juni 2004. juga berakar pada sistem pengelolaannya. Selanjutnya pada sekretariat Mahkamah Agung dibentuk beberapa direktorat jenderal dan kepala badan. Wakil ketua bidang yudisial membawahi ketua muda perdata. selain karena tekanan rezim yang begitu kuat. administratif. dan mutasi hakim. ketua muda pidana. ketua muda agama.

Dalam perkembangannya pelaksanaan pengawasan terhadap hakim oleh Komisi Yudisial yang didasarkan pada UU Nomor 22 Tahun 2004 dipersoalkan oleh para Hakim Agung. khususnya yang berkaitan dengan ketentuan mengenai fungsi pengawasan terhadap perilaku hakim. Konflik berkembang sedemikian rupa hingga berpuncak pada pengajuan uji materi atau judicial review terhadap UU Nomor 22 Tahun 2004 oleh 31 orang Hakim Agung. yang diputuskan adalah fungsi atau kewenangan pengawasan terhadap hakim oleh Komisi Yudisial yang sama sekali tidak dimohonkan oleh para pemohon. keluhuran martabat. Permohonan judicial review ini dikabulkan sebagian oleh Mahkamah Konstitusi. Dalam putusannya Mahkamah Konstitusi membatalkan fungsi pengawasan Komisi Yudisial karena bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat karena terbukti menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). kemudian Komisi Yudisial menggagas kocok ulang Hakim Agung. yakni Hakim Agung dan hakim pada badan peradilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung serta hakim Mahkamah Konstitusi. Amar putusan Mahkamah Konstitusi ini sebenarnya telah memutuskan halhal yang tidak diajukan dalam permohonan judicial review. Ini merupakan buntut dari konflik antara Komisi Yudisial dengan Mahkamah Agung. sebab yang dipermasalahkan oleh pemohon adalah tentang objek pengawasan Komisi Yudisial yaitu para Hakim Agung dan hakim Mahkamah Konstitusi bukan fungsi pengawasannya itu sendiri. Para Hakim Agung tersebut meminta agar pasal-pasal dalam UU Nomor 22 Tahun 2004 yang menyangkut kewenangan Komisi Yudisial mengawasi Hakim Agung dan hakim Mahkamah Konstitusi dibatalkan. serta perilaku hakim. Terhadap permohonan terkait objek pengawasan oleh Komisi Yudisial itu Mahkamah Konstitusi hanya mengecualikan dirinya sendiri dari objek pengawasan.hormatan. sedang Hakim Agung tidak dikecualikan dari objek pengawasan Untuk mengatasi akibat kekosongan hukum yang terlalu lama berkaitan dengan tugas Komisi Yudisial. Mahkamah Konstitusi me- 202 Bunga Rampai . Awalnya Komisi Yudisial merasa adanya kesulitan untuk meminta keterangan dari Ketua Mahkamah Agung dalam suatu kasus yang menarik perhatian masyarakat.

termasuk dari Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial. revisi UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial sebaiknya memang tidak secara sepotong-sepotong tapi dilakukan secara komprehensif dalam satu paket dengan revisi seluruh undang-undang di bidang kekuasaan kehakiman. MA: Revisi UU KY agar Dilakukan secara Integral. 28 September 2006. termasuk UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. Sebab urusan atau kewenangan pembentukan undang-undang. Perlu Sinkronisasi Semua UU agar Tak Simpang Siur. adalah wilayah legislatif.4 4 Kompas. baik pembentukan undang-undang baru atau undang-undang perubahan/amandemen. serta sinkronisasi terhadap berbagai peraturan perundangan-undangan di bidang kekuasaan kehakiman sudah mengemuka di berbagai kalangan. dan undang-undang lain yang terkait dengan sistem peradilan terpadu. Mahkamah Konstitusi juga menyarankan kepada DPR dan Presiden untuk melakukan perbaikan-perbaikan yang bersifat integral dengan juga mengadakan perubahan dalam rangka harmonisasi dan sinkronisasi atas UU Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Menurut Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan. yang menyarankan DPR dan Presiden (yang secara bersama-sama memegang kekuasaan membentuk undang-undang) untuk melakukan perubahan terhadap berbagai peraturan perundanganundangan di bidang kekuasaan kehakiman ini sebenarnya tidak lazim. Putusan Mahkamah Konstitusi. Mahkamah Agung sedang mengkaji hal-hal yang perlu disinkronkan dari delapan undang-undang tentang kekuasaan kehakiman. UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. harmonisasi. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 203 . Menurut Bagir.nyatakan UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial harus segera disempurnakan melalui proses perubahan undang-undang sebagaimana mestinya. dari segi substansi tidak ada masalah dengan saran Mahkamah Konstitusi itu karena sebenarnya wacana atau keinginan melakukan penyempurnaan. Namun demikian. Mahkamah Agung telah menugasi sejumlah Hakim Agung dan Ikatan Hakim Indonesia untuk melakukan kajian secara mendalam. Untuk itu.

yaitu UU Kekuasaan Kehakiman. 204 Bunga Rampai . UU Mahkamah Konstitusi. belum lama direvisi oleh DPR bersama pemerintah.5 Ketika membuat revisi atas UU Komisi Yudisial. dan RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. misalnya. yakni 5 6 Disampaikan Pimpinan Komisi Yudisial dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi III DPR RI. Lihat Prioritas Program Legislasi Nasional 2007 sesuai dengan Keputusan DPR RI Nomor: 07A/DPR RI-RI/I/2006-2007. diusulkan tentang perlunya beberapa perbaikan. dan kini sedang dalam tahap penyempurnaan setelah menerima masukan dari berbagai pihak terkait seperti Ikatan Hakim Indonesia (Ikahi) dan pakar hukum.6 Dengan demikian tinggal RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Agung dan RUU tentang Perubahan atas UU Kekuasaan Kehakiman yang belum masuk dalam Prioritas Prolegnas 2007. RUU tentang Perubahan atas UU Komisi Yudisial dan RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Konstitusi sudah masuk dalam Prioritas Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Tahun 2007. 19 September 2006. UU Peradilan Militer. RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi.Pendapat atau keinginan yang sama diungkapkan oleh Komisi Yudisial. Badan Legislatif DPR sedang menyiapkan paket Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan atas UU Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana sudah diubah dengan UU Nomor 5 Tahun 2004. UU Peradilan Umum. UU Mahkamah Agung. Alasannya karena kita masih menghadapi masalah sinkronisasi hukum baik secara horisontal maupun vertikal. UU Peradilan Agama. dan UU tentang Peradilan Tata Usaha Negara. UU Komisi Yudisial. Terhadap UU Mahkamah Konstitusi. Menyikapi putusan Mahkamah Konstitusi di atas. yaitu UU Peradilan Agama. Draf pertama dari ketiga RUU inisiatif DPR itu sudah selesai disusun. secara keseluruhan Komisi Yudisial membahas delapan undang-undang di bidang kekuasaan kehakiman. Sementara satu undang-undang lainnya yang masuk rumpun kekuasaan kehakiman. dan karenanya perlu didorong agar juga masuk dalam kategori prioritas. antara lain dengan memberikan batasan tentang materi undang-undang yang dapat diajukan permohonan judicial review.

teguran tertulis. Sedangkan RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 31 tahun 1997 tentang Peradilan Militer saat ini sedang dibahas di DPR. Dengan demikian revisi. dan RUU MA Dalam draft pertama RUU tentang Perubahan atas UU Komisi Yudisial yang disusun oleh Badan Legislatif DPR (posisi draft pada 27 Desember 2006). atau pemberhentian permanen. Kemudian dalam ayat (3) diatur: Putusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bersifat mengikat. Penguatan terhadap kedudukan Komisi Yudisial diatur dalam pasal 22C draft RUU yang menyebutkan bahwa Komisi Yudisial dapat membuat keputusan atas dugaan pelanggaran perilaku hakim dengan memberikan teguran tertulis. pemberhentian sementara. keputusan dapat berupa: a. Untuk jelasnya kita lihat bunyi rumusan Pasal 22C ayat (2) draf pertama RUU tentang Perubahan atas UU Komisi Yudisial (selanjutnya disingkat RUU Komisi Yudisial): Dalam hal pelanggaran aturan perilaku hakim dinyatakan terbukti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. Keputusan tersebut merupakan hasil dari pelaksanaan tugas Komisi Yudisial dalam menjaga dan menegakkan kehormatan. sehingga menurut hemat penulis belum prioritas untuk direvisi. atau c. disampaikan oleh Komisi Yudisial kepada pimpinan Mahkamah Agung dan tembusannya disampaikan kepada Presiden dan DPR. keluhuran martabat dan perilaku hakim yang tata caranya diatur dalam pasal 22A dan 22B. pemberhentian. RUU KY. kedudukan Komisi Yudisial diperkuat. RUU MK. Ketentuan ini juga diatur dalam pasal 32A draf pertama RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Agung (posisi draft pada 27 Desember 2006). pemberhentian sementara. harmonisasi. dan sinkronisasi UU Peradilan Militer terhadap berbagai undang-undang di bidang kekuasaan kehakiman lainnya dapat dilakukan melalui pembahasan RUU yang sedang berlangsung di DPR. Dalam draft RUU Komisi Yudisial juga dipertegas bahwa Hakim Agung termasuk objek pengawasan Komisi Yudisial bersama hakim pada semua badan peradilan di bawah Mahkamah Agung (pasal 1 angka 4). atau disisipkan di antara pasal 32 dan 33 UU MahkaPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 205 . b.melalui UU Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas UU Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.

Ketentuan seperti ini. yang menyatakan bahwa pengawasan atas perilaku Hakim Agung dilakukan oleh Komisi Yudisial. yakni dalam pasal 34 ayat 3 yang berbunyi: Dalam rangka menjaga kehormatan. penyusun draft RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Agung (selanjutnya disingkat RUU Mahkamah Agung) juga telah mengubah bunyi pasal 32 UU Mahkamah Agung dari semula terdiri dari lima ayat menjadi tiga ayat.mah Agung yang berlaku saat ini. Untuk diketahui. Perubahan terpenting adalah menghilangkan ketentuan pasal 32 ayat (2) yang mengatur kewenangan Mahkamah Agung untuk mengawasi tingkah laku dan perbuatan para hakim di semua lingkungan peradilan dalam menjalankan tugasnya. menurut penulis. Sejalan dengan itu. dalam RUU Komisi Yudisial memang belum diatur tentang mekanisme pelaksanaan putusan Komisi Yudisial tersebut oleh Mahkamah Agung. Oleh karena itu ketentuan mengenai pelaksanaan kewenangan Komisi Yudisial untuk menjatuhkan sanksi kepada hakim ini termasuk yang masih perlu disinkronisasikan dan diatur teknis pelaksanaannya dalam RUU Mahkamah Agung dan RUU Kekuasaan Kehakiman. Sementara itu. perlu dikaji ulang secara mendalam. UU Kekuasaan Kehakiman juga sudah mencantumkan tentang kedudukan Hakim Agung sebagai objek pengawasan Komisi Yudisial. Ini merupakan upaya sinkronisasi tentang kewenangan pengawasan terhadap hakim dalam peraturan-peraturan perundang-undangan di bidang kekuasaan kehakiman. selain UU Komisi Yudisial. pengawasan dilakukan oleh Komisi Yudisial yang diatur dalam undang-undang. sesuai putusan Mahkamah Konstitusi. Sebab sikap Mahkamah Konstitusi 206 Bunga Rampai . Sedangkan pencantuman pengaturan kewenangan Komisi Yudisial melakukan pengawasan terhadap Hakim Agung dalam draft RUU Mahkamah Agung merupakan upaya sinkronisasi UU Mahkamah Agung terhadap UU Komisi Yudisial dan UU Kekuasaan Kehakiman. Namun. keluhuran martabat serta perilaku hakim agung dan hakim. hakim Mahkamah Konstitusi dikecualikan dari pengawasan Komisi Yudisial dan semua ketentuan yang menyangkut hakim Mahkamah Konstitusi dihapus dalam draft RUU Komisi Yudisial. sebab pengawasan terhadap perilaku hakim merupakan kewenangan Komisi Yudisial.

mengadili. Larangan seperti ini dilatarbelakangi adanya putusan Mahkamah Konstitusi yang melebihi permohonan. Pembatalan itu dilakukan Mahka- 7 Tentang kenapa fungsi pengawasan Komisi Yudisial harus dimaksudkan dalam posisi sebagai suppoting element dan bukan check and balances. terdapat dalam pasal 45A yang mengatur bahwa Mahkamah Konstitusi tidak boleh memutus perkara melebihi daripada yang diminta sebagaimana dalam surat permohonanannya (ultra petita).yang mengecualikan dirinya sendiri dari objek pengawasan Komisi Yudisial ini termasuk kontroversial dan mendapatkan kritikan dari berbagai kalangan. Pengaturan dalam pasal 50 RUU Mahkamah Konstitusi ini lebih rinci dan tegas dibandingkan pasal 50 dalam UU Mahkamah Konstitusi yang sudah dicabut atau dibatalkan Mahkamah Konstitusi. dan bukan dalam kerangka hubungan checks and balances.7 Ketentuan penting dalam draf pertama RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disingkat RUU Mahkamah Konstitusi) yang disusun Badan Legislatif DPR (posisi draft pada 27 Desember 2006). antara lain. yakni hanya meliputi undang-undang yang diundangkan setelah perubahan UUD 1945 (pasal 50 ayat 1 RUU Mahkamah Konstitusi). Pasal substantif lainnya adalah pembatasan kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam memeriksa. Sedangkan dalam ayat (2) disebutkan bahwa hakim Mahkamah Konstitusi tidak berwenang melakukan pengujian atas undang-undang yang berkaitan dengan tugas dan wewenang Mahkamah Konstitusi. bersih. apakah pengecualian hakim Mahkamah Konstitusi dari objek pengawasan Komisi Yudisial sudah tepat. dan memutus permohonan pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar. Perlu dikaji. dan berwibawa. antara lain dalam kasus permohonan uji materi terhadap UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial seperti sudah disinggung di atas. lihat pertimbangan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 005/PUU-IV/2006 dalam perkara permohonan uji materi terhadap UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Apapun hasil pengkajian itu penting dicatat bahwa pengawasan oleh Komisi Yudisial yang dimaksud di sini adalah sebagai supporting element dalam rangka mendukung kekuasaan kehakiman yang merdeka. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 207 .

“Hal ini sesuai asas bahwa seorang hakim tidak dapat berlaku adil dalam memeriksa.8 Sebab jika 8 Lihat Mahfud MD. Dengan membatalkan Pasal 50 yang menganut asas tidak berlaku surut tersebut juga berarti Mahkamah Konstitusi telah memberikan kewenangan kepada dirinya sendiri untuk untuk menguji seluruh undang-undang yang berlaku di Indonesia. dengan tambahan adanya ayat (2). 27 Agustus 2006. Termasuk dalam wilayah legislative review adalah review atau penilaian apabila tidak ada kepastian hukum karena adanya undang-undang yang saling bertentangan dengan undang-undang lain. Pembatalan pasal 50 itu dilakukan Mahkamah Konstitusi sebagai pintu masuk untuk dapat memeriksa uji materi terhadap undang-undang yang diundangkan sebelum perubahan atau amandemen UUD 1945 tersebut. Perlu dikaji tentang perlunya pembedaan antara judicial review dan legislative review. sedangkan legislative review masuk dalam wilayah kewenangan legislatif atau pembentuk undang-undang. Dihidupkannya kembali pasal 50 dalam draft RUU Mahkamah Konstitusi. dalam hal ini Badan Legislatif. Namun belum diatur pembatasan dari segi rationne materiae (materi pengujian) yang masuk dalam kewenangan Mahkamah Konstitusi. dan memutus suatu perkara di mana ia sendiri terlibat (ikut menjadi pihak) di dalamnya”. Hukum Online. sekaligus menutup celah bagi Mahkamah Konstitusi untuk mengatur dirinya sendiri melalui putusan uji materi terhadap undang-undang yang terkait Mahkamah Konstitusi. telah membatasi Mahkamah Konstitusi untuk menguji undangundang yang diundangkan sebelum amandemen UUD 1945. Pasca Putusan MK (1): Selamat Datang Kembali Mafia Peradilan. mengadili. Judicial review merupakan wilayah kewenangan Mahkamah Konstitusi. Dari ketentuan pasal 50 draft RUU Mahkamah Konstitusi tersebut dapat diketahui bahwa DPR. Dalam penjelasan pasal 50 ayat 2 disebutkan. telah mengatur pembatasan undang-undang yang dapat dilakukan uji materi oleh Mahkamah Konstitusi dari segi rationne temporis (keberlakuan waktu). 208 Bunga Rampai . tanpa batasan waktu.mah Konstitusi saat memeriksa permohonan uji materi UU Nomor 1 Tahun 1987 tentang Kamar Dagang dan Industri.

sedangkan tindak pidana umum yang dilakukan militer masuk jurisdiksi peradilan umum. dan Tipikor Selain revisi. HAM. yang perlu segera dilakukan revisi. dan UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang di dalamnya diatur dasar hukum tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. antara lain. pembahasan RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 31 tahun 1997 tentang Peradilan Militer (selanjutnya disingkat RUU Peradilan Militer) saat ini sedang dilakukan oleh DPR bersama pemerintah. harmonisasi. dan sinkronisasi. harmonisasi. dan yang berwenang melakukannya adalah lembaga legislatif. Semula Departemen Pertahanan menghendaki agar semua tindak pidana yang dilakukan militer diadili di peradilan militer. dan sinkronisasi terhadap undang-undang yang mengatur lembaga pemegang kekuasaan kehakiman (yakni Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi sebagai principal organ) dan Komisi Yudisial (sebagai auxiliary organ dalam kekuasaan kehakiman). upaya yang sama juga harus dilakukan terhadap berbagai undang-undang yang mengatur tentang badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung.terjadi pertentangan antara satu undang-undang dengan undang-undang lainnya maka perlu dilakukan harmonisasi atau sinkronisasi antara undang-undang yang saling bertentangan itu melalui revisi atau perubahan terhadap undang-undang dimaksud. Sementara Panitia Khusus (Pansus) DPR untuk RUU Peradilan Militer menghendaki agar jurisdiksi peradilan militer dibatasi pada tindak pidana militer. Sikap DPR ini merujuk pada Ketetapan MPR Nomor VII/ MPR/2000 tentang Peran TNI dan Peran Polri dan UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI yang menegaskan bahwa Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 209 . Pembahasan terhadap RUU Peradilan Militer yang merupakan amanat reformasi ini sempat mengalami kebuntuan karena adanya perbedaan pendapat mengenai yurisdiksi peradilan militer yang diatur dalam pasal 9 RUU Peradilan Militer. UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM). RUU Peradilan Militer. Sebagaimana telah disinggung di atas. adalah UU Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer. Dari berbagai undangundang di bidang kekuasaan kehakiman.

pemerintah (dalam hal ini Menteri Pertahanan) memberikan jawaban yang mengejutkan.TNI selain tunduk pada peradilan militer juga patuh pada peradilan umum. Kemudian dalam Pasal 74 undang-undang yang sama disebutkan Pasal 65 ayat 2 bisa berlaku setelah undang-undang yang baru tentang Peradilan Militer diberlakukan. pemerintah akhirnya sependapat dengan DPR bahwa militer akan diadili di peradilan umum apabila melakukan tindak pidana umum. dan tampaknya lebih karena persoalan kultur. ”Prajurit tunduk kepada kekuasaan peradilan militer dalam hal pelanggaran hukum pidana militer dan tunduk pada kekuasaan peradilan umum dalam hal pelanggaran hukum pidana umum yang diatur dengan undang-undang”. Persetujuan itu disampaikan dalam Surat Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono kepada pimpinan DPR tanggal 30 Januari 2007. Selanjutnya dinyatakan bahwa Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2000 maupun Pasal 65 jo Pasal 74 UU Nomor 34 Tahun 2004 tidak bisa dijadikan dasar penyusunan RUU Peradilan Militer. Akan tetapi. Sedangkan Pasal 65 ayat 2 UU Nomor 34 Tahun 2004 menyebutkan. DPR memiliki landasan hukum yang lebih kuat karena merujuk pada Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2000 dan UU Nomor 34 Tahun 2004. sedangkan apabila melanggar tindak pidana militer akan diadili di peradilan militer. Dalam Pasal 3 ayat (4b) Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2000 disebutkan: “Prajurit Tentara Nasional Indonesia tunduk kepada kekuasaan peradilan militer dalam hal pelanggaran hukum militer dan tunduk kepada kekuasaan peradilan umum dalam hal pelanggaran hukum pidana umum”. Hal ini juga sesuai dengan semangat reformasi. khususnya semangat menegakkan prinsip demokrasi dan adanya kontrol sipil pada militer. dan ditegaskan lagi oleh Menteri Pertahanan dalam Rapat 210 Bunga Rampai . Merujuk pada argumen masing-masing pihak. Setelah melalui perdebatan panjang lebih dari satu tahun. atas argumen tersebut. yaitu ketidakrelaan militer untuk tunduk pada peradilan umum dan disidik oleh polisi. Pasal 65 UU No 34 Tahun 2004 itu adalah substansi yang dipaksakan. Menurut pemerintah. Sementara resistensi TNI (sebagaimana tergambar dalam sikap Menteri Pertahanan) untuk tunduk pada jurisdiksi peradilan sipil memiliki alasan yang lemah.

28 Juni 2007 Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 211 .Pansus RUU Peradilan Militer. Dalam DIM itu banyak istilah ’Prajurit’ yang kemudian diubah menjadi ’Militer’. Pansus RUU Peradilan Militer Khawatirkan Isi DIM Baru Pemerintah. Tapi. Dalam UU Pengadilan HAM. Dalam rapat tersebut Pansus DPR dan pemerintah juga mulai menyepakati adanya masa transisi pemberlakuan UU Peradilan Militer selama dua sampai tiga tahun. Revisi UU Peradilan Militer perlu mempertimbangkan UU Pengadilan HAM mengingat prajurit TNI merupakan salah satu subjek hukum dari jurisdiksi Pengadilan HAM. jika revisi tersebut tidak mempertimbangkan UU Pengadilan HAM. pemerintah dan DPR secara simultan akan merevisi undangundang terkait. Indonesia dapat dicurigai tidak mau menyesuaikan diri dengan standar internasional. sedangkan ’Militer’ mengarah pada institusinya. bukan institusinya. Jika prajurit melakukan tindak pidana umum maka diadili di peradilan umum. kelompok 9 Lihat Republika. Pasalnya. terutama terfokus pada UU Nomor 39 Tahun 1947 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana Militer berikut hukum acaranya. Perubahan istilah ’Prajurit’ ke ’Militer’ itu dikhawatirkan mengarah ke institusi. Sehingga dikhawatirkan bisa terjadi kesulitan untuk mengadili individu prajurit yang melakukan tindak pidana umum itu ke peradilan umum. antara lain. Perubahan istilah ini dianggap mengandung jebakan. Kata ’Prajurit’ itu berkonotasi pada individu. yang perlu diperhatikan adalah bahwa revisi UU Peradilan Militer harus mempertimbangkan UU Nomor 26 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM). 8 Februari 2007. Dalam kurun waktu tersebut. bukan ke arah individu yang melakukan tindak pidana. Hal ini bisa mengakibatkan munculnya usulan pembentukan pengadilan internasional dalam kasus kejahatan perang atau kemanusiaan. tercapainya kesepakatan DPR dengan pemerintah tentang jurisdiksi peradilan militer tidak berarti pembahasan RUU Peradilan Militer akan berjalan mulus. Saat ini ada persoalan baru berkaitan dengan isi Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) tambahan dari pemerintah.9 Selanjutnya. diatur bahwa “setiap orang adalah orang perseorangan.

ketentuan pasal 43 UU Pengadilan HAM yang mengatur tentang rekomendasi DPR untuk pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. Selama ini terdapat perbedaan penafsiran antara DPR dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) di satu pihak. yang menyatakan rekomendasi DPR RI adalah untuk pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. militer. antara lain dalam kasus penghilangan orang secara paksa periode 1997-1998. Revisi ini khususnya terhadap. namun tidak terbatas pada. Dalam kasus tersebut Kejaksaan Agung menolak menindaklanjuti hasil penyelidikan Komnas HAM dengan alasan penyidikan tidak bisa dilakukan tanpa didahului pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. komisi yang membidangi hukum dan menjadi pasangan kerja Jaksa Agung RI dan Komnas HAM. Perbedaan pendapat ini telah menyebabkan terjadinya kebuntuan dalam penindaklanjutan proses hukum kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum adanya UU Nomor 26 Tahun 2000. di mana Pengadilan HAM Ad Hoc dibentuk dengan Keputusan Presiden RI berdasarkan rekomendasi DPR RI. Secara hubungan pasal tidak ada hubungan penyelidikan dan penyidikan dengan pembentukan pengadilan Ad Hoc tersebut sehingga tidak beralasan jika Kejaksaan mengatakan harus 212 Bunga Rampai . Sementara Komnas HAM berpendapat Jaksa Agung dapat menindaklanjuti hasil penyelidikan Komnas HAM dengan melakukan penyidikan tanpa didahului pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc.orang. maupun polisi yang bertanggung jawab secara individual” (pasal 1 ayat 3). Terhadap UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM sendiri juga perlu dilakukan revisi atau penyempurnaan. Kemudian dalam pasal 49 (masuk dalam Bab X tentang Ketentuan Penutup) dinyatakan bahwa ketentuan mengenai kewenangan Atasan Yang Berhak Menghukum dan Perwira Penyerah Perkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 dan Pasal 123 Undangundang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer dinyatakan tidak berlaku dalam pemeriksaan pelanggaran hak asasi manusia yang berat menurut undang-undang ini. mengenai dalam tahap mana dalam proses hukum kasus pelanggaran HAM berat diperlukan rekomendasi DPR sebagai syarat untuk pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. Pendapat ini didukung sebagian besar anggota Komisi III DPR. dan Kejaksaan Agung di pihak lain. baik sipil.

dan pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. Kewenangan penyidikan dan penuntutan ada di tangan Kejaksaan Agung. pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc.ada keputusan politik dari DPR lebih dulu untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan. namun tetap memiliki kekuatan hukum mengi- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 213 . Kejaksaan Agung di bidang penyidikan dan penuntutan. dapat kita lihat pasal-pasal yang mengatur tentang penyelidikan. Terhadap perbedaan penafsiran yang meruncing dan menimbulkan kebuntuan hukum ini tentu perlu dicarikan jalan keluar dengan membuat rumusan undang-undang yang lebih tegas dan jelas. penyidikan. melalui amandemen atau revisi terhadap UU Nomor 26 Tahun 2000. serta pasal 23 dan 24 (penuntutan). khususnya menyangkut pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. Terkait argumen Komnas HAM yang didukung DPR di atas. Mahkamah Konstitusi menyatakan Pasal 53 UU Nomor 30 Tahun 2002 bertentangan dengan UUD 1945. Sementara pengaturan tentang pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc diatur dalam pasal 43 yang menyatakan Pengadilan HAM Ad Hoc dibentuk atas usul DPR RI. Keputusan politik DPR baru diperlukan jika hasil penyidikan akan dilanjutkan dengan proses penuntutan di pengadilan dan karena itu harus dibentuk Pengadilan HAM Ad Hoc. yakni pada pasal 21 dan 22 (penyidikan). Namun atas argumen tersebut Kejaksaan Agung tetap pada sikapnya yang menolak menindaklanjuti hasil penyelidikan Komnas HAM dalam kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum adanya UU Nomor 26 Tahun 2000 tanpa didahului oleh keluarnya rekomendasi DPR untuk pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. dan kewenangan DPR untuk mengusulkan. Kewenangan penyelidikan kasus pelanggaran HAM berat berada di Komnas HAM. dan diatur pada pasal 19 dan 20 UU Nomor 26 Tahun 2000. Dari materi pasal-pasal tersebut diketahui kewenangan Komnas HAM ada di bidang penyelidikan. mengeluarkan rekomendasi. Sementara revisi terhadap UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendesak untuk dilakukan karena adanya putusan judicial review Mahkamah Konstitusi yang membatalkan pasal 53 UU Nomor 30 Tahun 2002 yang menjadi dasar hukum Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).

Sementara putusan yang menyatakan Pasal 53 UU KPK tetap mempunyai kekuatan hukum mengikat sampai diadakan perubahan paling lambat tiga tahun terhitung sejak putusan diucapkan. putusan Mahkamah Konstitusi tersebut dapat dilihat sebagai putusan yang bertujuan memberikan kepastian hukum. Pengadilan Tipikor harus dibentuk dengan undang-undang tersendiri. untuk meniadakan 10 Lihat Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 012-016-019/PUU-IV/2006 tentang permohonan uji materi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. dan. kedua. merupakan terobosan yang didasarkan pada aspek manfaat. Asas manfaat dimaksud adalah dapat dilihat dari empat alasan yang dikemukakan oleh Mahkamah Konstitusi. yakni. keempat. Namun. Sementara dalam konteks sidang perkara korupsi yang berlaku pada saat ini. Karena itu. Putusan ini sesuai dengan Pasal 24A UUD 1945 yang ditafsirkan Mahkamah Konstitusi bahwa pembentukan badan peradilan di bawah Mahkamah Agung harus dilakukan dengan undang-undang.10 Terlepas dari pro dan kontra mengenai putusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan dasar hukum Pengadilan Tipikor. ketiga.kat sampai diadakan perubahan paling lambat tiga tahun setelah sejak putusan diucapkan. keputusan Mahkamah Konstitusi ini sebenarnya dapat dijadikan momentum untuk menguatkan eksistensi Pengadilan Tipikor melalui dukungan terhadap terbentuknya undang-undang yang khusus mengatur mengenai Pengadilan Tipikor. maka seharusnya hanya ada satu pengadilan. Untuk meniadakan dualisme yang selama ini terjadi dalam sidang perkara-perkara korupsi. perkara korupsi dapat disidangkan di dua pengadilan yang berbeda yaitu Peradilan Umum dan Pengadilan Tipikor. agar tidak memperlemah semangat (disinsentive) pemberantasan korupsi. bukan di dalam UU KPK seperti saat ini. pertama. 214 Bunga Rampai . agar proses peradilan Tipikor tidak terganggu atau tidak macet. untuk melakukan penyempurnaan UU KPK dan penataan kelembagaan pengadilan khusus. Sebab dalam prinsip kepastian hukum. agar tidak menyebabkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid) yang dapat mengacaukan penanganan perkara tipikor. dinyatakan tidak boleh ada dualisme hukum. Artinya.

Jika ditinjau putusan Mahkamah Konstitusi dan apa yang sedang digodok oleh Tim Perumus RUU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. sebenarnya tidak ada pertentangan antara keduanya. dan penyidik pada Komisi Pemberantasan tindak Pidana Korupsi. Mahkamah Konstitusi tidak secara tegas memerintahkan dibentuknya Pengadilan Khusus 11 Periksa Draft RUU mengenai Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Menurut Andi Hamzah. dinyatakan bahwa: Dalam waktu paling lambat 1 (satu) tahun setelah UU ini diundangkan ditunjuk hakim khusus untuk tindak pidana korupsi pada setiap pengadilan negeri. maka harus disertai dengan undang-undang yang khusus mengaturnya. Andi Hamzah menganut pendapat yang pertama. keberadaan Pengadilan Tipikor bertentangan dengan konstitusi karena kriteria kekhususan Pengadilan Tipikor menyebabkan terdapat dua pengadilan yang berbeda dalam lingkup yang sama. jika Pengadilan Tipikor masih dikehendaki eksistensinya. Kejaksaan. Isi draf RUU yang disusun tim yang dibentuk Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) ini memang cenderung membubarkan Pengadilan Tipikor. sehingga eksistensi Pengadilan Tipikor beserta hakim Ad Hocnya harus ditiadakan. Pasalnya. Tim Perumus Draft RUU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang dipimpin Prof. pada posisi 30 Januari 2007. Sehingga selanjutnya seluruh perkara korupsi disidangkan oleh hakim karier yang dididik khusus untuk menangani perkara korupsi di pengadilan umum. yakni Pengadilan Tipikor dileburkan ke pengadilan umum.dualisme tersebut ada dua pilihan. Kemudian dalam pasal berikutnya (juga belum diberi nomor). Kemudian pada pasal yang terletak setelah pasal 36 tapi belum diberi nomor disebutkan bahwa: (1) Hasil penyidikan yang dilakukan oleh penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 diserahkan kepada Jaksa Penuntut Umum. (2) Perkara tindak pidana korupsi yang diterima oleh Jaksa sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dilimpahkan ke pengadilan negeri setempat untuk diperiksa dan diputus oleh majelis hakim khusus tindak pidana korupsi. atau kedua. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 215 . ”Penyidikan dalam undang-undang ini dilakukan oleh Kepolisian. Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Hal ini tercermin pada pasal 36 draf RUU Tipikor11 yang berbunyi.

Tapi. Dipastikan dalam draf itu terdapat klausul tentang pembentukan Pengadilan Tipikor. Harus dilakukan kajian mendalam tentang pilihan yang akan diambil untuk meniadakan dualisme yang selama ini terjadi dalam sidang perkara-perkara korupsi. dan banyaknya perkara kasasi yang menumpuk di Mahkamah Agung. banyaknya persyaratan administratif yang harus ditempuh saat pendaftaran perkara di pengadilan. Putusan Mahkamah Konstitusi tidak menghapus keberadaan Pengadilan Khusus Tipikor. Karena itu Romli dan beberapa akademisi hukum serta sejumlah LSM membuat tim untuk menyusun draf RUU Pemberantasan Korupsi tandingan. antara lain. Apapun pilihan yang diambil harus dalam kerangka untuk mengefektifkan pemberantasan tindak pidana korupsi. Pengadilan yang Lebih Baik Pembenahan lembaga peradilan sangat penting karena saat ini pelayanan lembaga peradilan dianggap sebagian besar masyarakat tidak optimal. kalau dibentuk Pengadilan Khusus. Mahkamah Konstitusi hanya menyatakan. harus dengan payung hukum atau undang-undang tersendiri. atau melalui peradilan umum.Tipikor. banyaknya pungutan di luar biaya administrasi resmi. Mereka menilai Tim Perumus RUU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi telah keliru memahami putusan Mahkamah Konstitusi. 216 Bunga Rampai . Terhadap kritik dari para pengamat dan akademisi hukum serta kalangan LSM ini tentu pemerintah harus membuka diri. Lagipula. draft versi pemerintah yang mengarah pada pembubaran Pengadilan Tipikor ini mendapat kritikan dari berbagai kalangan. melainkan memerintahkan pembentuk undang-undang untuk segera membuat UU Pengadilan Khusus Tipikor. Mahkamah Konstitusi memberikan waktu tiga tahun bagi pembentuk undang-undang untuk membuat undang-undang tersendiri itu. apakah disatukan melalui pengadilan khusus. Pelayanan yang tidak optimal tersebut. lambatnya proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh kepolisian dan kejaksaan. kalau tidak maka akan kembali ke pengadilan umum. antara lain dari pakar hukum pidana Romli Atmasasmita dan para aktivis lembaga swadaya masyarakat di bidang gerakan antikorupsi.

Masih buruknya wajah lembaga peradilan ini dapat dilihat dari hasil survei terkini. pajak. dan Venezuela. kebebasan memperoleh akses informasi. Peru. BPN 84 persen. Saat itu. disusul bea dan cukai 95 persen. pengadilan dipersepsikan meminta suap hingga 100 persen. survei menemukan bahwa lembaga vertikal. mengembalikan kewenangan Komisi Yudisial untuk memperkuat fungsi pengawasan hakim. http://www. Hasil survei ini oleh berbagai kalangan. Dalam IPK itu. seperti polisi.ti. imigrasi. Berdasarkan laporan tersebut. Temuan itu juga sesuai dengan hasil Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia 2006 yang dirilis Transparency International Indonesia pada Februari 2007. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 217 . dan memperkuat eksistensi pengadilan Tipikor. Meksiko. yaitu hasil survei Global Corruption Report 200712 yang diluncurkan oleh Transparency International Indonesia. bea dan cukai. Menurut hasil survei Global Corruption Report 2007. Maroko. Moldova. masih korup. Transparency International Indonesia mengeluarkan tujuh rekomendasi yaitu reformasi sistem peradilan yang mencegah campur tangan eksekutif atau legislatif. yang menyatakan bahwa tingkat inisiatif lembaga peradilan dalam meminta suap secara langsung mencapai 100 persen dari seluruh interaksi. Rekomendasi berikutnya adalah memperkuat seleksi Hakim Agung oleh Komisi Yudisial. Yunani. dan pajak 76 persen. polisi 78 persen. Kondisi itu menempatkan peradilan Indonesia sejajar dengan Albania. penetapan gaji yang berdasarkan pengalaman dan kemampuan. The Global Corruption Report 2007: Corruption in Judicial Systems. serta militer. empat lebih di antara sepuluh keluarga Indonesia mengaku harus menyuap demi mendapatkan keadilan. Badan Pertanahan Nasional. Hasil survei itu paling tidak merupakan indikasi bahwa praktik suap memang terjadi di lembaga peradilan. peradilan. dan proses peradilan yang harus dilakukan secara terbuka. sekaligus seolah mengkonfirmasikan kebenaran rahasia umum tentang adanya lingkaran penyalahgunaan wewenang di lembaga peradilan yang dikenal dengan istilah mafia peradilan.id/news/11/tahun/2007/bulan/05/ tanggal/25/id/1125/. khususnya 12 Periksa Tranparency International Indonesia. Taiwan.or. imigrasi 90 persen.

dibutuhkan komitmen bersama dari hakim. Polri.pengamat hukum dan aktivis lembaga swadaya masyarakat. antara lain. termuat dalam buku Sisi-sisi Lain dari Hukum di Indonesia. atau menjatuhkan putusan tertentu. Sementara kalangan lain ada yang mempertanyakan akurasi dari metode survei yang dilakukan Transparency International Indonesia. Sebab hakim di Indonesia dapat disuap untuk memperlambat atau mempercepat proses hukum di pengadilan. Komitmen dari para aparat penegak hukum ini mendukung atau seiring dengan proses revisi. sinyalemen. Adanya praktek suap di lembaga peradilan ini. diungkapkan pakar hukum senior Satjipto Rahardjo dengan mengutip temuan mantan Hakim Agung Asikin Kusumah Atmaja dan Adi Andojo. yaitu hampir separuh dari tiga ribu hakim di Indonesia berbuat tidak benar. dan advokat harus mempunyai komitmen dan visi yang sama tentang bagaimana mengakhiri praktik suap dan atau praktek mafia peradilan lainnya di pengadilan. Namun. Berangkat dari titik itu. Penerbit Buku Kompas. polisi.13 Asikin pernah memaparkan angka yang mengejutkan. dianggap mencerminkan gagalnya reformasi peradilan di Indonesia. jaksa. Penulis sendiri berpandangan bahwa hasil survei Transparency International Indonesia harus diterima sebagai otokritik. mempengaruhi rekannya sesama hakim. Kompas edisi 5 Januari 1995. harmonisasi. 2006. dan advokat sebagai catur wangsa penegak hukum untuk membersihkan korupsi di dunia peradilan. Apalagi temuan. dan sinkronisasi berbagai perundang-undangan yang terkait dengan kekuasaan kehakiman yang memiliki tujuan 13 Lihat artikel Satjipto Rahardjo berjudul Mafia Pengadilan. Sedangkan Adi Andojo pernah membeberkan secara rinci praktek negatif di Mahkamah Agung. Kita harus mengakui bahwa secara institusional memang telah terjadi perubahan dalam dunia peradilan. menerima atau menolak permintaan banding. 218 Bunga Rampai . atau persepsi tentang buruknya kondisi peradilan sebenarnya bukan hal baru karena sudah mengemuka sejak lama. pendapat. praktik korupsi tampaknya masih merupakan kebiasaan yang terus saja terjadi dan kemudian dipotret oleh Transparency International. Karena itu hakim. jaksa.

peningkatan peran masyarakat dan lembaga legislatif dalam bentuk pengawasan dan kontrol yang ketat terhadap perilaku hakim dan aparat penegak hukum lainnya. Adanya upaya untuk melakukan reformasi di lingkungan lembaga peradilan diharapkan akan dapat memberikan hasil yang positif.Artikel ini disusun untuk memenuhi permintaan Komisi Yudisial terkait penerbitan Buku Bunga Rampai Volume Dua. dan komitmen dari aparat penegak hukum itu sendiri dalam mewujudkan lembaga peradilan yang merdeka. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 219 . dan berwibawa. penerapan sistem rekruitmen hakim dan Hakim Agung yang lebih transparan melalui uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test). terwujudnya lembaga peradilan yang transparan dan akuntabel dengan didukung oleh aparat penegak hukum yang bersih akan mendorong tercapainya penyelenggaraan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Sebab untuk mewujudkan sistem peradilan yang transparan dan adil dapat dilakukan melalui pembenahan sistem peradilan untuk mewujudkan sistem peradilan terpadu (integrated criminal justice system). penyediaan sarana dan prasarana hukum yang mendukung penyelenggaraan proses peradilan yang adil dan transparan. Dan.akhir untuk mewujudkan peradilan yang lebih baik. khususnya dalam rangka penegakan hukum di Indonesia. peningkatan kualitas moral dan integritas hakim dan aparat penegak hukum lainnya. termasuk dalam bidang pemberantasan tindak pidana korupsi. Keberadaan Komisi Yudisial dan beberapa lembaga independen lainnya yang mempunyai fungsi sebagai pengawas terhadap lembaga pengadilan dan lembaga penegak hukum lainnya diharapkan dapat menciptakan lembaga peradilan yang lebih akuntabel dan bersih. bersih. Catatan: .

220 Bunga Rampai .

Undang-undang ini mengatur tugas dan wewenang Komisi Yudisial. dan keanggotaan Komisi Yudisial diatur dengan undang-undang.3 Amanat konstitusi tersebut ditindaklanjuti dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. keluhuran martabat serta perilaku hakim. Pasal 24B ayat (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam Amandemen ketiga. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 221 . menginternalisasi kelembagaan baru di dalam Bab IX (Kekuasaan Kehakiman). kedudukan.2 Adapun susunan. keluhuran martabat serta perilaku hakim. S.X.DPR dan Perubahan Atas Undang-Undang Komisi Yudisial Oleh : F.H. 1 A. Soekarno. yaitu mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. tepatnya pada Pasal 24B yaitu adanya Komisi Yudisial. Pendahuluan Amandemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) membawa konsekuensi terhadap perubahan sistem ketatanegaraan Republik Indonesia. yang salah satunya adalah dalam bidang kekuasaan kehakiman. Komisi ini oleh konstitusi diberi kewenangan mengusulkan pengangkatan hakim agung dan kewenangan lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Hakim yang dimaksud disini adalah Hakim Agung dan hakim pada badan peradilan disemua lingkungan 1 2 3 Ketua Badan Legislasi DPR RI RI Pasal 24B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Usul penjatuhan sanksi sesuai dengan ketentuan Pasal 23 UU No. Adapun kewenangan lain yang berkaitan dengan menjaga dan menegakkan kehormatan. Pasal 20 dan 4 5 Lihat pengertian hakim pada Pasal 1 angka 5 UU No. c) melakukan pemeriksaan terhadap dugaan pelanggaran perilaku hakim. dapat berupa teguran tertulis. Namun dalam perjalanannya Undang-undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial dimohonkan judicial review oleh 31 Hakim Agung yang menganggap hak dan kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya UU No.4 Dalam melaksanakan kewenangan mengusulkan pengangkatan Hakim Agung. Komisi Yudisial mempunyai tugas pengawasan dan pengusulan penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada Pimpinan Mahkamah Agung atau Mahkamah Konstitusi. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. 22 Tahun 2004. Komisi Yudisial mempunyai tugas: a) melakukan pendaftaran calon Hakim Agung. d) memanggil dan meminta keterangan dari hakim yang diduga melanggar kode etik perilaku hakim. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. b) melakukan seleksi terhadap calon Hakim Agung. khususnya yang berkaitan dengan ”pengawasan hakim” yang diatur dalam Bab III. Dalam melaksanakan tugas pengawasan tersebut. b) meminta laporan secara berkala kepada badan peradilan berkaitan dengan perilaku hakim. menjaga kerahasiaan keterangan yang karena sifatnya merupakan rahasia Komisi Yudisial dan tidak boleh mengurangi kebebasan hakim dalam memeriksa dan memutus perkara. pemberhentian sementara atau pemberhentian.peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung serta hakim Mahkamah Konstitusi. c) menetapkan calon Hakim Agung. dan e) membuat laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi dan disampaikan kepada Mahkamah Agung dan/ atau Mahkamah Konstitusi serta tindasannya disampaikan kepada Presiden dan DPR. dan mengajukan calon Hakim Agung ke DPR. Komisi Yudisial wajib menaati norma hukum dan ketentuan peraturan perundang-undangan.5 Dalam melaksanakan pengawasan tersebut. keluhuran martabat serta perilaku hakim. Komisi Yudisial dapat: a) menerima laporan masyarakat tentang perilaku hakim. 222 Bunga Rampai .

Pasal 25 ayat (3) sepanjang mengenai kata-kata ”dan/atau Mahkamah Konstitusi”. Berdasarkan permohonan tersebut. Hakim sebagai obyek pengawasan Komisi Yudisial yang menyangkut Hakim Agung. Pengawasan terhadap pelaksanaan kode etik hakim konstitusi dilakukan oleh Majelis Kehormatan yang tersendiri sesuai dengan ketentuan Pasal 23 Undangundang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Pasal 23 ayat (2). Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 223 . juga berkaitan dengan pengaturan prosedur pengawasan hakim. Putusan Mahkamah Konstitusi tersebut selain menandaskan obyek pengawasan Komisi Yudisial. hakim pada badan peradilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung dan Hakim Mahkamah Konstitusi sebagaimana yang dimaksud pada Pasal 1 angka 5 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Pasal 24 ayat (1) dan Pasal 25 ayat (3) dan ayat (4) dihubungkan dengan Pasal 1 angka 5 undang-undang tersebut. khusus yang menyangkut hakim Mahkamah Konstitusi dinyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Pasal 22 ayat (1) huruf e. sebagai pelaksanaan Pasal 24C ayat (6) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. menyatakan Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata ”Hakim Mahkamah Konstitusi”. Pasal 23 ayat (5). Kekosongan Hukum Jika dilihat lebih lanjut. Pasal 23 ayat (2) dan ayat (3) serta ayat (4). serta yang berkaitan dengan ”usul penjatuhan sanksi” yang diatur dalam Pasal 21.Pasal 22 ayat (1) huruf e dan ayat (5). bertentangan dengan Undangundang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Alasan yang dikemukakan oleh Mahkamah Konstitusi adalah: a. Pasal 23 ayat (3). Pasal 24 ayat (1) sepanjang mengenai kata-kata ”dan/atau Mahkamah Konstitusi”. sehingga tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Pasal 22 ayat (5). Pasal 21. Pasal 20. Mahkamah Konstitusi dengan Putusan Nomor 005/PUU-IV/2006. dan Pasal 25 ayat (4) sepanjang mengenai kata-kata ”dan/ atau Mahkamah Konstitusi”. B.

6 Berkaitan Hakim Agung sebagai obyek pengawasan Komisi Yudisial. hlm. 254.b. Hal ini tidak sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Jimly Asshiddiqie dalam bukunya ”Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia”. Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa hal ini tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Beliau menyatakan bahwa ”. Dengan demikian hakim yang harus dijaga dan ditegakkan kehormatannya. keluhuran martabat dan perilakunya mencakup Hakim Agung. bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 6 Jimly Asshiddiqie. Persoalan yang berkaitan dengan pertanyaan apakah ”hakim” menurut Pasal 24B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia. meliputi pengertian hakim agung atau tidak. Kedudukan Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga pemutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh undang-undang dasar.. Jakarta. 224 Bunga Rampai . keluhuran martabat serta perilaku semua hakim di Indonesia.. dan Pengadilan Militer serta termasuk Hakim Konstitusi”. dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 005/PPU-IV/2006. Pengadilan Tata Usaha Negara. Pengadilan Agama.Komisi Yudisial bertugas menjaga (preventif) dan menegakkan (korektif dan represif) kehormatan. Hakim Pengadilan Umum. tidaklah ditemukan dasar-dasar konstitusional yang meyakinkan. Terlepas pro dan kontra terhadap hakim Mahkamah Konstitusi dan Hakim Agung sebagai obyek pengawasan Komisi Yudisial. secara tegas telah menyatakan keberlakuan Pasal 1 angka 5 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2004 sepanjang mengenai kata-kata ”hakim Mahkamah Konstitusi”. Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI. Dapat saja pembentuk undang-undang menentukan bahwa hakim agung termasuk ke dalam pengertian hakim yang perilaku etiknya diawasi oleh Komisi Yudisial secara eksternal. tidak lagi terganggu sebagai akibat dimasukkannya hakim konstitusi sebagai obyek pengawasan Komisi Yudisial. 2006.

Hal tidak jelas dan tidak rincinya pengaturan mengenai pengawasan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial serta perbedaan dalam rumusan kalimat seperti dimaksud pada butir a di atas. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 225 . serta bagaimana proses pengawasan itu dilaksanakan. tidak jelas dan tegas menentukan siapa subjek yang mengawasi. b. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial terbukti tidak rinci mengatur mengenai prosedur pengawasan. yaitu seolah-olah hubungan antara MA dan KY berada dalam pola hubungan “checks and balances” antarcabang kekuasaan dalam konteks ajaran pemisahan kekuasaan (separation of powers). apa objek yang diawasi. sehingga menimbulkan penafsiran yang juga tidak tepat.Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Konsepsi pengawasan yang terkandung dalam UndangUndang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial didasarkan atas paradigma konseptual yang tidak tepat. Adapun yang berkaitan dengan pengaturan prosedur pengawasan hakim. terutama dalam pelaksanaannya. instrumen apa yang digunakan. dalam kesimpulan putusannya. Untuk hal yang terakhir ini. Na- c. Mahkamah Konstitusi menyatakan: a. secara struktural kedudukan Komisi Yudisial memang diposisikan sederajat dengan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. Perumusan Pasal 13 huruf b juncto Pasal 20 UndangUndang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial mengenai wewenang lain sebagai penjabaran dari Pasal 24B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menggunakan rumusan kalimat yang berbeda sehingga menimbulkan masalah dalam penormaannya dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial yang menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). menyebabkan semua ketentuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang pengawasan menjadi kabur (obscuur) dan menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid) dalam pelaksanaannya.

Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) sebagai institusi yang mempunyai kewenangan 7 Lihat. segala ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial yang menyangkut pengawasan dinyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat karena terbukti menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). 2006. tetapi tidak menjalankan fungsi kekuasaan kehakiman. melainkan lembaga penegak etika kehakiman (the enforcer of the rule of judicial ethics and good conduct). Terhadap fungsi kekuasaan kehakiman. tetapi secara fungsional peranannya bersifat penunjang (auxiliary) terhadap lembaga kekuasaan kehakiman. Lembaga negara yang mempunyai fungsi kehakiman atau menjalankan fungsi peradilan tertinggi adalah Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. keluhuran martabat dan perilaku hakim. Komisi Yudisial bersifat penunjang (supporting system) terhadap dan dalam cabang kekuasaan kehakiman.mun demikian. 226 Bunga Rampai . khususnya yang berkaitan dengan ketentuan mengenai pengawasan perilaku hakim. hlm. Dengan demikian terjadi kekosongan hukum yang berkaitan dengan tugas Komisi Yudisial. Komisi Yudisial bukanlah lembaga penegak norma hukum (code of law). Berdasarkan apa yang dinyatakan dalam kesimpulan putusan Mahkamah Konstitusi sebagaimana tersebut di atas. melainkan lembaga penegak norma etik (code of ethics). Lagi pula komisi ini berurusan dengan soal kehormatan. C. Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi. meskipun secara struktural kedudukannya sederajat dengan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. Inisiasi Legislasi Untuk mengatasi permasalahan tersebut (adanya kekosongan hukum). Jakarta. Komisi Yudisial lebih merupakan lembaga etika daripada lembaga hukum.7 Komisi Yudisial bukan merupakan lembaga penegak hukum (the enforcer of the rule of law). Jimly Asshiddiqie. bukan dengan lembaga peradilan atau lembaga kekuasaan kehakiman secara institusional. Komisi Yudisial meskipun fungsinya terkait dengan kekuasaan kehakiman. Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI. 187-188.

Lihat ketentuan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945. b) independen dalam menjalankan tugas yang tidak boleh diintervensi oleh lembaga-lembaga lain yang mempunyai kepentingan 8 9 10 Lihat ketentuan Pasal 20 ayat (1) dan ayat (2) UUD 1945. upaya menjaga dan menegakkan kehormatan. (2) Setiap Rancangan Undang-undang dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden untuk mendapatkan persetujuan bersama. keluhuran martabat dan perilaku hakim. yaitu para hakim tanpa adanya intervensi dari pimpinan Mahkamah Agung. Agar perubahan ini dapat terintegrasi dengan baik terhadap undang-undang lain khususnya di lingkungan kekuasaan kehakiman. tugas dan kewenangan Komisi Yudisial dalam menjaga dan menegakkan kehormatan. Kehormatan. RUU tentang Perubahan UU Komisi Yudisial dan RUU Perubahan UU Mahkamah Konstitusi menjadi prioritas pembahasan Tahun 2007.9 Perubahan tersebut diharapkan dapat mendudukkan fungsi. ide pembentukan Komisi Yudisial dalam rangka pengawasan eksternal dimunculkan. Pengawasan internal yang dilakukan oleh majelis kehormatan hakim di Mahkamah Agung tersebut dirasakan kurang efektif. keluhuran martabat dan perilaku hakim menjadi syarat mutlak yang diperlukan dalam sistem demokrasi konstitusional. Kelembagaan ini bersifat mandiri atau independen untuk menjamin efektifitas kerjanya. yang menyatakan : (1) Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang. maka inisiasi perubahan terhadap Undang-undang Komisi Yudisial tersebut diikuti dengan Perubahan Undang-undang Mahkamah Agung (Undang-undang Nomor 14 Tahun 1985 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 2004) dan Undang-undang Mahkamah Konstitusi (Undangundang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi).10 Independen disini dimaknai: a) independensi terhadap subyek yang ia awasi. Oleh karena itu. keluhuran martabat dan perilaku hakim hanya dilakukan secara internal oleh para hakim sendiri.dan kekuasaan membentuk undang-undang. Selama ini (sebelum Amandemen III UUD 1945 dan lahirnya UU Komisi Yudisial). Dalam Keputusan DPR RI Nomor 07 A/DPR-RI/I/2006-2007.8 berinisiasi melakukan pembenahan dan perbaikan terhadap Undangundang Komisi Yudisial dimaksud. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 227 .

eksekutif ataupun kekuatan partai politik untuk mempengaruhi kinerja kekuasaan kehakiman yang merdeka. antara lain sebagai berikut: 1. Mengenai independensi Komisi Yudisial terhadap pihak lain (yang mempunyai kepentingan tertentu). keluhuran martabat dan perilaku hakim. juga harus dipertahankan. Mengenai independensi dari dan terhadap para hakim dan lembaga Mahkamah Agung. Pilihanpilihan dimaksud merupakan jawaban dari permasalahanpermasalahan yang muncul dan berkembang. tidak seperti sebelumnya dimana diantara sesama hakim justru terjadi hubungan saling membela dan melindungi yang menyebabkan pengawasan tidak efektif. sangatlah penting karena para hakimlah yang harus diawasi perilakunya oleh Komisi Yudisial. ada beberapa pilihan-pilihan atau alternatif konsepsi maupun paradigmatig yang nantinya akan menjadi pilihan politis maupun yuridis. Siapakah yang dimaksud dengan “hakim” dalam konstiBunga Rampai 228 . Dengan dijadikannya Komisi Yudisial sebagai external auditor. diharapkan pengawasan menjadi efektif. Komisi Yudisial adalah mitra bagi Mahkamah Agung dalam menjaga dan menegakkan kehormatan. Komisi Yudisial tidak boleh menjadikan dirinya alat politik bagi lembaga legislatif. Karena pada prinsipnya. keberadaan Komisi Yudisial justru sangat penting artinya agar kehormatan. Namun demikian tidak berarti dengan menjadi external auditor Komisi Yudisial menjadi lawan atau musuh para hakim. Bagi Mahkamah Agung.tertentu. keluhuran martabat dan perilaku para hakim diseluruh Indonesia yang berjumlah lebih dari 6. eksistensi hakim dan lembaga kekuasaan kehakiman terletak antara lain pada independensi dan imparsialitasnya.000 orang dapat dijaga dan ditegakkan sebagaimana mestinya. Dari pemikiran inilah konstruksi perubahan Undangundang Komisi Yudisial akan dilakukan. Oleh karena itu jangan sampai Komisi Yudisial sebagai lembaga pengawas perilaku hakim dipergunakan atau membiarkan dirinya dipakai oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengganggu kemerdekaan hakim. Sejalan dengan perkembangan yang ada dan sekaligus sebagai pengayaan materi yang akan menjadi bahan kajian yang selanjutnya akan disarikan dalam norma.

Apakah kewenangan melakukan pengawasan terhadap hakim. 7. 6. Apakah pengawasan terhadap perilaku hakim dapat dilakukan dengan cara mengkaji putusan Pengadilan? 11.tusi yang menjadi obyek pengawasan Komisi Yudisial? 2. 9. Siapa yang melakukan pengawasan terhadap (perilaku anggota) Komisi Yudisial? D. keluhuran martabat. baik oleh Mahkamah Agung maupun oleh Komisi Yudisial. serta perilaku hakim? Bagaimana pelaksanaan wewenang Komisi Yudisial dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Apakah arti kewenangan Komisi Yudisial dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. 8. Pokok-Pokok Pikiran Perubahan Undang-Undang KY Di bawah ini akan diuraikan pokok-pokok pikiran yang dapat memperkaya pemahaman dalam perubahan Undangundang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Namun saya menyadari hal ini Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 229 . Bagaimana seharusnya hubungan antara Mahkamah Agung dengan Komisi Yudisial? 13. serta perilaku hakim? Siapa yang menetapkan dan menegakkan kode etik dan perilaku hakim? Apa saja ruang lingkup pengawasan terhadap hakim? Bagaimana pelaksanaan pengawasan terhadap hakim yang tidak bertentangan dengan prinsip independensi peradilan? Bagaimana penerapan prinsip akuntabilitas dan transparansi dalam pengawasan terhadap hakim? Apa pengertian dan ruang lingkup “perilaku hakim”? Apakah perilaku tersebut mencakup baik di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan? Apa yang dijadikan pedoman dalam melakukan pengawasan atas perilaku hakim? 3. yang sedikit banyak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagaimana tersebut di atas. keluhuran martabat. 10. berarti kewenangan untuk menjatuhkan sanksi? 12. 4. 5.

mungkin belum terlalu komprehensif dan tentunya terus akan dilakukannya pengayaan kajian dan pemutakhiran. Dari sistimatika penempatan ketentuan mengenai Komisi Yudisial sesudah pasal yang mengatur tentang Mahkamah Agung yaitu Pasal 24A dan sebelum pasal yang mengatur tentang Mahkamah Konstitusi yaitu Pasal 24C. Dalam UU MK. untuk fungsi pengawasan terhadap perilaku Hakim Konstitusi ditentukan adanya lembaga Majelis Kehormatan yang diatur secara tersendiri dalam Pasal 23 UU 230 Bunga Rampai . ketentuan mengenai KY dalam Pasal 24B UUD 1945 memang tidak berkaitan dengan ketentuan mengenai MK yang diatur dalam Pasal 24C UUD 1945. Hal ini didasari pada pemikiran: Jika ditinjau secara sistematis dan dari penafsiran berdasarkan “original intent” perumusan ketentuan UUD 1945. sudah dapat dipahami bahwa ketentuan mengenai Komisi Yudisial pada Pasal 24B UUD 1945 itu memang tidak dimaksudkan untuk mencakup pula objek perilaku hakim konstitusi sebagaimana diatur dalam Pasal 24C UUD 1945. Adapun Hakim Agung dan hakim pada badan peradilan disemua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung merupakan obyek pengawasan Komisi Yudisial. Hal ini dapat dipastikan dengan bukti risalah-risalah rapat-rapat Panitia Ad Hoc I Badan Pekerja MPR maupun dari keterangan para mantan anggota Panitia Ad Hoc tersebut dalam persidangan bahwa perumusan ketentuan mengenai KY dalam Pasal 24B UUD 1945 memang tidak pernah dimaksudkan untuk mencakup pengertian hakim konstitusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24C UUD 1945. 1 Siapakah yang dimaksud dengan “hakim” dalam konstitusi yang menjadi obyek pengawasan Komisi Yudisial? Sementara ini saya sependapat dengan apa yang diputus oleh Mahkamah Konstitusi bahwa hakim konstitusi tidak termasuk obyek pengawasan Komisi Yudisial. berdasarkan masukan dan pemikiran dari semua pihak. Hal tidak tercakupnya pengertian perilaku hakim konstitusi dalam apa yang dimaksud dengan perilaku hakim menurut Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 tersebut juga terdapat dalam ketentuan UU MK dan UU KK yang dibentuk sebelum pembentukan UU KY.

Dalam keseluruhan mekanisme pemilihan dan pengangkatan para Hakim Konstitusi yang diatur dalam UUD 1945 juga tidak terdapat keterlibatan peran KY sama sekali. ketentuan yang memperluas pengertian perilaku hakim dalam Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 mencakup perilaku Hakim Konstitusi dapat mengebiri kewenangan dan menghalang-halangi pemenuhan tanggungjawab Mahkamah Konstitusi dalam menjaga konstitusionalitas mekanisme hubungan antarlembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945. baik dari segi legal policy pembuat UU maupun dari segi constitutional morality.MK. khususnya apabila dalam praktik timbul persengketaan kewenangan antara KY dengan lembaga lain. Dengan demikian. Dr. Ph. Oleh karena itu. bahwa Hakim Agung. Mahfud M. dan Denny Indrayana. Dengan menjadikan Hakim Konstitusi sebagai objek pengawasan oleh KY.. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 231 . S. berbeda halnya dengan hakim biasa. menurut Prof.D. Padahal. Demikian pula Pasal 34 ayat (3) UU KK sama sekali tidak menentukan bahwa Hakim Konstitusi menjadi objek pengawasan oleh KY. salah satu kewenangan yang diberikan kepada Mahkamah Konstitusi sebagaimana dimaksud oleh Pasal 24C ayat (1) UUD 1945.M.D. LL..H. yang bersangkutan masing-masing kembali lagi kepada status profesinya yang semula.. termasuk dalam konteks hubungan-hubungan konstitusional antarlembaga negara. maka kewenangan Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga pemutus sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara menjadi terganggu dan terjebak ke dalam anggapan sebagai pihak yang tidak dapat bersikap imparsial. Hakim Konstitusi pada dasarnya bukanlah hakim sebagai profesi tetap. melainkan hakim karena jabatannya. Hakim Konstitusi hanya diangkat untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan setelah tidak lagi menduduki jabatan Hakim Konstitusi. Berkaitan dengan Hakim Agung.. adalah untuk memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945.H. dibentuknya Mahkamah Konstitusi berdasarkan UUD 1945 adalah dalam rangka menjamin agar UUD 1945 dilaksanakan dengan sebaikbaiknya. S. Selain itu.

tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak menjadikan Hakim Agung termasuk ke dalam objek pengawasan. Prinsip persamaan di depan hukum (equality before the law) dan non-diskriminasi tidak mendukung pendirian tersebut. seseorang yang pada saat diangkat sebagai Hakim Agung memiliki integritas yang tinggi. sesuai dengan prinsip akuntabilitas. Oleh karena itu. Jika dimaksudkan karena MA sebagai pengawas tertinggi peradilan maupun tingkah laku dan perbuatan hakim. demikian pula Hakim Agung tidak selalu berasal dari hakim. Bagaimanapun tafsiran secara tekstual. maka penafsiran apakah hal itu bertentangan dengan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 bukanlah hanya dari teks maupun konteksnya secara gramatikal melainkan juga dari konteks sosial yang lebih luas. tetapi bukan berarti hakim agung terbebas dari pengawasan dalam rangka mendukung terciptanya 232 Bunga Rampai . Independensi harus berjalan seiring dengan akuntabilitas. Di samping itu. akan menghasilkan Hakim Agung yang juga mempunyai martabat dan perilaku yang tidak tercela sehingga secara moral memiliki legitimasi untuk tidak diawasi lagi dan bahkan menjadi pengawas hakim di bawahnya. teleologis. Jika kewenangan KY untuk mengusulkan Hakim Agung yang berkualitas dengan integritas yang tinggi dan perilaku tidak tercela. Tambahan pula. tidak pernah dipersoalkan. kontekstual. tidak cukup beralasan untuk mengecualikan hakim agung. Secara universal hal demikian telah menjadi norma. Hakim Agung adalah Hakim. dalam perjalanan karier selanjutnya bisa saja berubah. faktanya Hakim Agung sendiri merupakan anggota Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI) dan bahwa hakim agung adalah hakim. dan kategoris dilakukan. pengertian umum. adalah sesuatu yang ideal jika hakim agung memiliki integritas dan kualitas yang sedemikian rupa sesuai dengan Pasal 24A ayat (2) UUD 1945. serta ketentuan yang mengaturnya berbeda. Akan menjadi ganjil untuk menafsirkan bahwa Hakim Agung tidak masuk dalam kategori Hakim dan karena posisinya yang berada di puncak hierarki peradilan lalu menjadi tidak tunduk pada pengawasan. dan terutama prinsip konstitusi itu sendiri.termasuk pengertian hakim yang menjadi objek pengawasan KY. Dari segi kewenangan pengawasan apakah hakim agung itu diawasi.

bukanlah kewenangan untuk melakukan pengawasan terhadap lembaga peradilan dan teknis justisial. keluhuran martabat. agar hakim memiliki kehormatan. khususnya para ahli hukum. Sehingga. keluhuran martabat. Hakim dimaksud adalah dalam pengertian sebagai individu di luar maupun di dalam kedinasan. walaupun dalam batas-batas tertentu dapat diartikan sebagai pengawasan. ulasan dalam jurnal hukum (law review). seperti seminar. atau kegiatan ilmiah lainnya. juga memiliki wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. untuk menilai putusan hakim melalui kegiatan ilmiah dalam forum atau media ilmiah. Prinsip sebagaimana diuraikan di atas tidak mengurangi hak warga negara. Berkaitan dengan Kewenangan Komisi Yudisial dapat diinternalisasi pemikiran-pemikiran sebagai berikut: Berdasarkan ketentuan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 dinyatakan bahwa Komisi Yudisial bersifat mandiri. 3. Dalam UU Komisi Yudisial yang di-judicial review kemarin memang penjabaran konsep pengawasan menimPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 233 . 2. Norma pengawasan yang berlaku universal di semua sistem hukum yang dikenal di dunia terhadap putusan pengadilan adalah bahwa putusan pengadilan tidak boleh dinilai oleh lembaga lain kecuali melalui proses upaya hukum (rechtsmidellen) sesuai dengan hukum acara. mempunyai kewenangan pokok mengusulkan pengangkatan Hakim Agung. Kewenangan tersebut. serta perilaku yang baik. Penilaian terhadap putusan hakim yang dimaksudkan sebagai pengawasan di luar mekanisme hukum acara yang tersedia adalah bertentangan dengan prinsip res judicata pro veritate habetur yang berarti apa yang telah diputus oleh hakim harus dianggap sebagai benar (de inhoud van het vonnis geld als waard). melainkan terhadap individu fungsionaris hakim. serta perilaku hakim.peradilan yang bersih dan berwibawa bagi terwujudnya rule of law. apabila suatu putusan hakim dianggap mengandung sesuatu kekeliruan maka pengawasan yang dilakukan dengan cara penilaian atau pun koreksi terhadap hal itu harus melalui upaya hukum (rechtsmidellen) menurut ketentuan hukum acara yang berlaku.

baik oleh pihak yang mengawasi maupun yang diawasi. Untuk itu dalam konsep perubahan UU KY seharusnya dijelaskan norma yang mengatur tentang pengertian dan ruang lingkup perilaku hakim. dan terutama perilaku hakim. terutama yang menyangkut kaidah-kaidah materiilnya.. bukan kemandirian yang Bunga Rampai 5. termasuk kepastian siapa yang membuat kode etik dan perilaku dimaksud. Hal ini harus dimaknai sebagai kemandirian kelembagaan dalam mengambil keputusan. akan menimbulkan kerancuan dan lebih jauh akan menimbulkan ketidakpastian hukum yang dapat berimplikasi lumpuhnya sistem peradilan. 234 . keluhuran martabat. sehingga terdapat batasan yang jelas yang dapat dijadikan pegangan yang pasti. Ketiadaan rumusan yang jelas tentang kehormatan. dan perilaku hakim. Dalam ketentuan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 ditegaskan bahwa “Komisi Yudisial bersifat mandiri. melainkan hanya sebagai supporting organ. Untuk itu dalam Perubahan UU Komisi Yudisial akan dirumuskan ukuran untuk menilai kehormatan. keluhuran martabat. Berkaitan dengan hubungan antara Komisi Yudisial dan Mahkamah Agung bukan merupakan hubungan dalam konsepsi checks and balances seperti layaknya hubungan antar cabang-cabang kekuasaan negara (eksekutif. dan yudikatif). yang secara tegas tidak berwenang melakukan pengawasan yang menyangkut hal-hal yang bersifat teknis yustisial dan teknis administratif. melainkan hanya meliputi penegakan kehormatan dan keluhuran martabat serta perilaku hakim. 4. dan perilaku hakim.” dan dalam Pasal 2 UU Komisi Yudisial diartikan bahwa Komisi Yudisial dalam pelaksanaan wewenangnya bebas dari campur tangan atau pengaruh kekuasaan lain.bulkan ketidakpastian karena yang seharusnya menjadi objek dari ”wewenang lain” Komisi Yudisial menurut Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 adalah pelaksanaan kode etik dan kode perilaku hakim dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Karena Komisi Yudisial bukan merupakan pelaksana kekuasaan kehakiman. keluhuran martabat.. legislatif.. dan dengan demikian dapat dihindari adanya kerancuan.

Code of conduct akan mengingatkan Hakim mengenai perilaku apa yang dilarang dan bahwa tiap pelanggaran code of conduct mungkin akan menimbulkan sanksi. dalam hubungan dengan permohonan a quo. serta perilaku hakim harus merujuk kepada code of ethics dan/atau code of conduct. Code of conduct merupakan satu standar. apakah ada perbedaan antara kode etik dan kode perilaku. Oleh karena itu. Etik berbeda dari perilaku yang dilarang. atau dengan kata lain terdapat campur tangan dari pihak luar atau kekuasaan lain. Etik adalah tujuan ideal yang dicoba untuk dicapai yaitu untuk sedapat mungkin menjadi hakim yang terbaik. Tetapi perlu terlebih dahulu dijawab pertanyaan. akan dimungkinkan bagi hakim maupun masyarakat untuk Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 235 . Etik berkenaan dengan harapan atau cita-cita. Dengan suatu code of conduct. Secara umum. dikatakan bahwa suatu code of conduct menetapkan tingkah laku atau perilaku hakim yang bagaimana yang tidak dapat diterima dan mana yang dapat diterima. Setiap hakim harus mengetahui bahwa ia tidak dapat berperilaku di bawah standar yang ditetapkan. keluhuran martabat serta perilaku hakim antara Komisi Yudisial dengan Mahkamah Agung. Sehingga tidak salah jika ada hubungan kerjasama yang baik dalam menjaga dan menegakkan kehormatan. Artinya.bersifat perorangan anggota Komisi Yudisial. Tetapi ada pertimbangan-pertimbangan etik yang mendorong tercapainya cita-cita atau harapan tersebut. Dengan demikian. berarti merujuk pada Kode Etik Hakim Indonesia. hanya karena alasan bahwa pengambilan keputusan didasarkan pada fakta-fakta yang diperoleh melalui kerjasama atau koordinasi dengan pelaku kekuasaan kehakiman sendiri (dalam hal ini adalah Mahkamah Agung). kemandirian Komisi Yudisial harus dimaknai sebagai kebebasan dari campur tangan dan pengaruh kekuasaan lain dalam pengambilan keputusan dalam pelaksanaan wewenang pengusulan calon hakim agung maupun dalam rangka pelaksanaan wewenang lain menurut UUD 1945. keluhuran martabat. Kewenangan Komisi Yudisial dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Komisi Yudisial tidak dapat dikatakan tidak mandiri. 6.

c) memberikan jaminan peningkatan moralitas hakim dan kemandirian fungsional hakim. maupun menegakkan rule of law. lebih baik. Kode etik itu dalam lingkungan profesi dibuat dan disahkan oleh organisasi profesi itu sendiri. pencegah campur tangan ekstra judicial dan pencegahan timbulnya kesalahpahaman antar sesama anggota dengan masyarakat. menambah urgensi tentang perlunya pengaturan mengenai etik dan tingkah laku (ethics and conduct) hakim dan tata cara penjagaan dan penegakannya dalam suatu Kode Etik dan Tingkah Laku Hakim sebagai tolak ukur pengawasan. maka untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi. Tujuan adanya kode etik ini adalah: a) sebagai alat pembinaan dan pembentukan karakter hakim serta pengawasan tingkah laku hakim. dan norma agama. lebih efektif dalam melayani masyarakat. Jadi setelah dibentuk suatu code of conduct. code of ethics merupakan sumber nilai dan moralitas yang akan membimbing hakim menjadi hakim yang baik. di mana suatu perbuatan tercela dilarang baik oleh norma hukum. b) sebagai sarana kontrol sosial. akan tetapi menurut pemahaman saya.dapat mengatakan bahwa mereka mengetahui apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan hakim. Penindakan atau pemberian sanksi atas pelanggaran Kode Etik dan 236 Bunga Rampai . tetapi oleh beberapa macam norma secara bersamaan. sebagaimana kemudian dijabarkan ke dalam code of conduct. Dari kode etik kemudian dirumuskan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh atau tidak layak dilakukan oleh hakim di dalam maupun di luar dinas. bukan oleh Komisi Yudisial. in casu oleh organisasi profesi hakim baik oleh Mahkamah Agung ataupun oleh IKAHI. Meskipun benar bahwa code of conduct berbeda dari code of ethics. 7. Seringkali suatu perbuatan diatur tidak hanya dengan satu macam norma. mungkin diinginkan untuk membentuk satu kode etik. dan d) menumbuhkan kepercayaan masyarakat pada lembaga peradilan. Berlakunya norma secara bersamaan demikian. Langkah berikutnya adalah mengembangkan suatu kode etik yang akan memberi motivasi bagi hakim meningkat ke jenjang yang lebih tinggi. bukan oleh lembaga lain. norma etik.

misalnya pemanggilan. namun lebih merupakan hasil telaahan dan pemikiran pribadi penulis. penilaian. Namun mudah-mudahan dapat memberikan kontribusi dalam rangka pengayaan dan pendalaman materi untuk perubahan Undang-undang Komisi Yudisial pada khususnya. Pengawasan dapat dirinci dalam beberapa kegiatan. Hal ini dimaksudkan dalam rangka memenuhi tanggung jawab sosial (social responsibility). Untuk itu saya sangat menyadari. juga dapat dilakukan oleh pihak di luar profesi. Penutup Demikian pokok-pokok pikiran yang dapat saya sampaikan dalam melihat dan mencermati Perubahan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial yang saat ini sedang diagendakan pembahasannya oleh Badan Legislasi Dewan Perwakilan Republik Indonesia yang masuk dalam Program Legislasi Nasional Prioritas Tahun 2007. Sementara itu. yang berakhir dengan saran (rekomendasi) kepada organisasi profesi. Namun perlu saya sampaikan bahwa pokok-pokok pikiran ini bukan merupakan representasi pemikiran dan sikap Badan Legislasi DPR RI dalam arti kelembagaan. melalui transparansi dan akuntabilitas.Perilaku juga dilakukan oleh organisasi profesi. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 237 . yang merupakan salah satu unsur dari profesionalisme. pengawasan atas pelaksanaan Kode Etik dan Perilaku selain dapat dilakukan oleh organisasi profesi. dan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak pada umumnya. dalam hal ini Mahkamah Agung. mungkin tulisan ini belum begitu komprehensif. pemeriksaan. E.

238 Bunga Rampai .

konstitusi berfungsi mengawasi pelaksanaan pemerintahan (pengawasan konstitusional). Selain itu. Dijelaskan kemudian. Jika K. konstitusi adalah aturan hukum yang menetapkan kerangka dasar dari suatu negara dan mengatur tentang susunan pemerintahan. Wheare menjelaskan.Gerak dan Langkah Nyata Komisi Yudisial Dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi John Pieris Sebuah tulisan yang bersifat kajian kritis mengenai suatu lembaga negara yang terkait dengan UUD 1945 sebenarnya tidak terlalu sulit. sebab pada dasarnya UUD 1945 (konstitusi) telah menggariskan tugas-tugas pokok semua lembaga negara. Yang menjadi Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 239 . Yang sulit adalah ketika tulisan itu dikaitkan dengan suatu masalah hukum dan politik yang dialami oleh satu atau beberapa lembaga negara. W. maka sebenarnya UUD 1945 sebagai konstitusi (hukum dasar) telah mengatur halhal penting mengenai semua lembaga negara khususnya tentang kewenangannya. serta Ivor Jenning mengemukakan. Hal ini dapat disimak dari beberapa pendapat pakar yang secara tepat melahirkan beberapa perspektif penting tentang fungsi konstitusi. aturan hukum dan lembaga-lembaga yang berhubungan dengan susunan dan arah perkembangan kehidupan bersama yang terorganisasikan secara kenegaraan. konstitusi adalah semua asas hukum. S. hukum konstitusi merupakan basis atau landasan dari sistem hukum negara yang bersangkutan. Dari berbagai perspektif itu. dan James Bryce menyatakan. bahwa konstitusi berfungsi menetapkan lembaga-lembaga negara dan mengatur fungsi dan batas haknya. C. Couwenberg mengatakan.

semua ketentuan yang telah dirumuskan di dalam UUD 1945 harus dijalankan. sebenarnya telah mengatur fungsi-fungsi serta pembatasan kekuasan dari semua lembaga negara. Sejalan dengan itu. agar terhindar dari penyalahgunaan kekuasaan. yaitu Gerak dan Langkah Nyata KY dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi. apa yang diamanatkan oleh konstitusi. belum tentu dapat dilaksanakan dengan baik. Carl J. Jika berpegang pada asas legalitas dan gagasan konstitusionalitas. Seperti yang dikatakan Lunshof (1989:7). Mahkamah Agung (MA) dan Mahkamah Konstitusi (MK). Terlepas dari asumsi demikian. maka tidak dapat dihindari. di satu pihak UUD 1945 telah menggariskan kewenangan KY 240 Bunga Rampai . Friedrich (1967) menjelaskan. Hal itu diperlukan sebagai jaminan bahwa kekuasaan yang diperlukan untuk pemerintahan tersebut tidak disalahgunakan oleh mereka yang mendapat tugas untuk memerintah. Mungkin juga konstitusi tidak secara jelas merumuskan ketentuan mengenai kewenangan sebuah lembaga negara. antara lain asas pembatasan kekuasaan pemerintah dan hak-hak asasi. Menyimak judul tulisan yang diminta oleh KY kepada penulis. terkesan ada tiga hal krusial yang menonjol. Itulah faham legalisme dan konstitusionalisme yang dianut sampai sekarang. Juga dikatakannya. yang tunduk pada pembatasan konstitusional. UUD 1945 sebagai konstitusi tertulis (written constitution) atau sebagai hukum yang tertinggi (Grundgesetz) yang kekuatan mengikatnya melebihi undang-undang biasa. walaupun ketentuan tersebut dianggap tidak sempurna. Pertama. asas legalitas adalah asas yang dipakai untuk menjamin asas-asas lainnya. dengan segala keterbatasannya. khususnya Komisi Yudisial (KY). sebaiknya pemerintah itu juga harus tunduk pada pembatasan konstitusional.soal adalah. adanya pengawasan pengadilan terhadap pelaksanaan kekuasaan yang dijalankan oleh pemerintah. sebab sekali pun pemerintah mendapat mandat dari rakyat dan bertindak atas nama rakyat. dan perlindungan hukum terhadap yang berkuasa. pemberian wewenang kepada pemerintah. konstitusionalisme adalah sebuah gagasan yang menganggap pemerintah sebagai suatu kumpulan aktivitas yang diselenggarakan atas nama rakyat. Pandangan Friedrich cukup menarik.

Ketidaksetujuan dan penolakan MA atas beberapa ketentuan. Hal inilah yang melatarbelakangi diajukannya permohonan Penguijian UndangUndang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial dan Pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ke Mahkamah Konstitusi. pihak KY tetap bergerak mengayunkan langkah nyata. MK berpendapat seperti itu karena.walaupun ketentuan yang mengatur kewenangan KY untuk mengawasi semua hakim (di MA dan MK) tidak maksimal. Kedua. tidak termasuk mengawasi hakim MK. bahwa terjadi pertentangan dan perbedaan signifikan antara norma hukum pengawasan hakim agung antara KY dengan MA. tentunya dengan segala resiko (perlawanan) yang dihadapi untuk mengemban amanat UUD 1945. Mahkamah Konstitusi telah memutuskan: Menyatakan permohonan para Pemohon dikabulkan untuk sebagian: Menyatakan: Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata “hakim Mahkamah Konstitusi”. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 241 . Seperti diketahui. terutama mengenai pengawasan hakim agung oleh KY telah membuktikan. Ketiga. tanggal 23 Agustus 2006. dan Mahkamah Konstitusi telah memutus permohonan tersebut dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 005/PUUIV/2006 yang diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi yang terbuka untuk umum pada hari Rabu. Pasal 20. dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 005/PUU-IV/2006 tersebut. ternyata MK telah memutuskan. bahwa kewenangan yang dimiliki KY untuk mengawasi hakim-hakim. “Dalam melaksanakan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b Komisi Yudisial mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim dalam rangka menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim”. pengawasan terhadap hakim MK tidak diamanatkan oleh UUD 1945 (Pasal 24B ayat (1)). yang berbunyi.

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4415). yang berbunyi.- Pasal 21. yang berbunyi. dan Pasal 25 ayat (4). “Dalam rangka menjaga Bunga Rampai - - - - - - - 242 . Komisi Yudisial bertugas mengajukan usul penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada pimpinan Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi”. Komisi Yudisial: e. yang berbunyi. usul pemberhentian hakim diajukan oleh Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi kepada Presiden paling lambat 14 (empat belas) hari sejak pembelaan diri ditolak oleh Majelis Kehormatan Hakim”. Pasal 34 ayat (3). yang berbunyi. Pasal 25 ayat (3). Pasal 23 ayat (3). membuat laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi dan disampaikan kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi. “Usul penjatuhan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c diserahkan oleh Komisi Yudisial kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi”. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 89. “Untuk kepentingan pelaksanaan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b. serta tindasannya disampaikan kepada Presiden dan DPR”. Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi wajib memberikan penetapan berupa paksaan kepada badan peradilan atau hakim untuk memberikan keterangan atau data yang diminta”. yang berbunyi. bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 24 ayat (1). “Dalam hal pembelaan diri ditolak. yang berbunyi. Pasal 22 ayat (1) huruf e. sepanjang mengenai kata-kata “dan/atau Mahkamah Konstitusi”. “Dalam hal badan peradilan atau hakim tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (4). Pasal 22 ayat (5). Pasal 23 ayat (5). “Dalam melaksanakan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20.

pengawasan dilakukan oleh Komisi Yudisial yang diatur dalam undang-undang”. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358). Pasal 20. 22 ayat (1) huruf e. UndangUndang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8. bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. sepanjang mengenai kata-kata “dan/atau Mahkamah Konstitusi”. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4415). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358). 23 ayat (3). Mahkamah Konstitusi dalam Putusannya menyatakan bahwa Hakim Konstitusi tidak diawasi oleh Komisi Yudisial. dengan pertimbangan: Bahwa apabila ditinjau secara sistematis dan dari penafsiran berdasarkan “original intent” perumusan ketentuan UUD 1945. Pasal 25 ayat (3).kehormatan. Menyatakan: Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata “hakim Mahkamah Konstitusi”. dan Pasal 25 ayat (4). Pasal 24 ayat (1). Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8. sebagai berikut. tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Undang-Undang Republik Indonesia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 89. ketentuan mengenai KY dalam Pasal 24B UUD 1945 memang tidak berkaitan dengan ketentuan mengenai MK yang diatur dalam Pasal 24C UUD 1945. 21. 23 ayat (2). 22 ayat (5). keluhuran martabat serta perilaku hakim agung dan hakim. antara lain. - Amar putusan tersebut di atas didasarkan pada pertimbangan. Hal tidak tercakupnya pengertian perilaku hakim konstitusi dalam apa yang dimaksud dengan perilaku hakim menurut Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 tersebut juga terdapat dalam ketentuan UUMK dan UUKK yang dibentuk sebelum Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 243 . 23 ayat (5). tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

pembentukan UUKY. serta UU No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi dan UU No. Dalam keseluruhan mekanisme pemilihan dan pengangkatan para Hakim Konstitusi yang diatur dalam UUD 1945 juga tidak terdapat keterlibatan peran KY sama sekali. yang bersangkutan masing-masing kembali lagi kepada status profesinya yang semula. DPR dan Presiden sebagai pembentuk UU No. 24 Tahun 2003. maka proses penegakan hukum secara terpadu (integrated law enforcement process) mengenai pengawasan terhadap perilaku hakim-hakim juga akan terlaksana dengan baik. MA dan KY mengenai pengawasan terhadap hakim-hakim pada semua lingkungan dan strata lembaga peradilan. Hakim Konstitusi pada dasarnya bukanlah hakim sebagai profesi tetap. Karena itu Indonesia memang harus memiliki sebuah sistem pembuatan hukum terpadu (integrated law making system). 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman tidak begitu cermat merumuskan norma-norma hukum yang terkait secara tepat tentang pengawasan hakim. maka diperlukan keterpaduan (integrasi) dalam merumuskan norma-norma hukum yang sama pada beberapa undang-undang yang saling terkait. misalnya keterpaduan di dalam pembuatan UU tentang KK. Tidak berlebihan jika dikatakan. Selain itu. Atau. Itulah sebabnya. Sebagai misal. yang mengatur pengawasan tentang Hakim Konstitusi. Dalam UUMK. jika ada ketentuan pengawasan hakim agung dan hakim-hakim lain di dalam lingkungan kekuasaan kehakiman yang diatur secara jelas di dalam UU No. MK. maka tidak akan terjadi konflik antara KY dan MA. Dengan begitu. Demikian pula Pasal 34 ayat (3) UU Kekuasaan Kehakiman sama sekali tidak menentukan bahwa Hakim Konstitusi menjadi objek pengawasan oleh KY. 244 Bunga Rampai . untuk fungsi pengawasan terhadap perilaku Hakim Konstitusi ditentukan adanya lembaga Majelis Kehormatan yang diatur secara tersendiri dalam Pasal 23 UUMK. berbeda halnya dengan hakim biasa. Hakim Konstitusi hanya diangkat untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan setelah tidak lagi menduduki jabatan Hakim Konstitusi. maka konflik (pertentangan) antara MK dan KY tidak perlu terjadi. melainkan hakim karena jabatannya. sekiranya kalau ada pasal khusus di dalam UU No.

moral dan spiritual.Pengawasan hakim sebagaimana dirumuskan di dalam Pasal 32 UU No. Banyak hakim (tidak semua) memihak kepada merekamereka yang berkedudukan penting atau orang-orang yang memiliki uang dalam jumlah yang besar. Dengan kata lain. Hakim dan hukum lalu berpihak secara ekstrim dan arogan kepada kaum bor- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 245 . korupsi. Karena itu kejahatan yudisial sulit dihindari. atau tidak memiliki akhlak mulia untuk mewujudkan keadilan bagi masyarakat. sementara terpidana dari kelas bawah tidak dihargai hak asasinya. Mentalitas birokrasi pemerintah dan lembaga-lembaga negara yang lain juga sulit melakukan pengawaan internal. lemahnya pengawasan terhadap hakim dapat mendorong hakim bisa berbuat apapun. tidak bisa disangkal. bahwa alasan pembentukan KY di dalam UUD 1945. salah satu faktor rendahnya mentalitas dan moralitas hakim karena para hakim terbebas dari pengawasan yang efektif. Agak sulit memang. PT dan MA. Dapat diduga. Mekanisme upaya hukum (rechtsmiddlen) terkendala oleh perilakuperilaku hakim yang tidak cukup memiliki kemampuan etik. Banyak kasus (perkara) yang ditangani hakim PN. 14 Tahun 1985 sesungguhnya adalah pengawasan yang bersifat internal. Ini merupakan sebuah upaya mendesak dan sistematik untuk mereformasi kekuasaan peradilan. pengawasan internal tidak bisa diharapkan mampu membongkar mafia peradilan selama ini. jika hakim agung diawasi oleh institusi di mana ia berada di dalamnya. sekalipun pihakpihak itu terbukti melakukan perbuatan melawan hukum. Penjahat-penjahat korporasi dan ekonomi yang merampok uang negara acap kali dilindungi dan diberikan perlakuan khusus. Artinya hakim agung diawasi oleh lembaga MA. apalagi yang menguntungkan dirinya. bukan rahasia lagi. banyak mendatangkan ketidakadilan bagi pencari keadilan (justice seekers). khususnya peradilan umum yang selama ini tidak menjalankan fungsinya secara benar. manipulasi penyalahgunaan jabatan yang merugikan negara dan rakyat. adalah untuk menjaga dan menegakkan kehormatan. karena budaya korupsi dan penyelewengan atau perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad) sudah sangat sulit diperbaiki. sebab. keluhuran martabat serta perilaku hakim. Haruslah dipahami.

bahwa sistem politik birokratik terpusat pada mereka yang memegang kekuasaan negara sebagai majikan. maupun eksternal. bahwa MA tidak mau diawasi oleh lembaga negara apa- 246 Bunga Rampai . perlu ada sebuah mekanisme untuk mengawasi hakim seperti itu. Ini merupakan sebuah indikasi. Kalau ada pilihan di antara kedua jenis pengawasan itu. mungkin ada sedikit harapan. seorang ilmuwan politik Amerika Serikat yang menulis “Bureaucratic Polity” tentang Indonesia berpendapat. “bukan masalah bagaimana menggunakan kekuasaan. bahwa Ketua MA dapat merangkap menjadi Ketua KY. Tidak bisa diharapkan. sulit juga diawasi oleh Komisi Yudisial. Kesulitannya adalah. dan ini sangat sulit diawasi. Sistem politik birokratik telah merasuk jauh menusuk sampai ke pusat-pusat kekuasaan (termasuk yudikatif). Dengan begitu agak sulit untuk mengawasi birokrasi kekuasaan kehakiman. Maka berdasarkan teori tersebut tidak dapat dielakkan. karena dipastikan tidak akan efektif. bahwa kekuasaan cenderung terpusat di tangan seseorang atau sekelompok orang. 14 Tahun 1985 tentang MA melegitimasi kekuasaan MA sebagai kekuasaan terpusat dan personal. Bahkan ada wacana dari Bagir Manan sebagai Ketua MA. karena kolusi juga bisa terjadi antar hakim dengan pimpinan MA. terutama pada lembaga-lembaga peradilan. hanya pengawasan internal oleh MA. UU No.juasi dan mencampakkan rakyat kecil yang miskin. Karl Jackson. bahwa kekuasaan eksternal bisa diandalkan untuk mengawasi birokrasi. Prinsip res judicate pra veritate habetur (apa yang telah diputuskan oleh hakim harus dianggap sebagai benar) yang dipegang para hakim cukup berbahaya. Tulisnya lebih lanjut. Karena itu. yang sulit diawasi dari luar (eksekutif dan legislatif). Seperti apa yang dikatakan Benedict Anderson. sebab prinsip ini berpotensi melindungi kesalahan hakim dan ada alasan menolak untuk diawasi. tapi bagaimana menghimpunnya”. Hampir sama dengan Anderson. baik secara internal. Keberpihakan hukum bisa saja dilakukan dengan cara menyalahi teknis yudisial dan administratif yang menguntungkan orang-orang tertentu dan merugikan pihak lain yang tidak berdaya. jika kekuasaan yang dipegang dan dikendalikan oleh seorang atau sekelompok orang dalam tubuh birokrasi di Indonesia memang sulit diawasi.

pun. Masalahnya sebenarnya tidak terlalu pelik, jika Pasal 24B UUD 1945 dapat diamandemen agar KY bisa mengawasi perilaku hakim pada semua lingkungan peradilan. Tidak bisa dihindari, bahwa ada masalah-masalah teknis yudisial dan administratif yang dapat merugikan pencari keadilan. Jika ada kesalahan substansial dan mungkin prosedural yang dirancang secara sistematis oleh seorang hakim, maka dapat disimpulkan, hakim tersebut tidak memiliki perilaku yang terpuji. Hakim tersebut tidak boleh tidak, harus diperiksa. Jadi sebenarnya tidak salah seluruhnya jika KY dapat masuk pada hal-hal yang bersifat teknis administratif dalam memeriksa hakim. Jika ada komitmen seperti itu, mengapa tidak dicoba untuk dibuat norma hukumnya? Bukankah teori, sistem dan doktrin hukum bisa berubah atau diubah untuk bisa merakit sebuah kebenaran dalam mewujudkan keadilan yang sejati, supaya hakim-hakim bisa menjadi Law Prophets. Untuk itu dapat dibenarkan dan sebaiknya demikian, KY harus mengusulkan amandemen terhadap Pasal 24B UUD 1945. Usul perubahan dari KY sebaiknya menyangkut tidak saja pengangkatan hakim agung, tetapi juga mengusulkan pemberhentian hakim agung. Hal (kewenangan) yang sama juga harus dilakukan terhadap pengangkatan dan pemberhentian hakim konstitusi. Artinya adalah, bahwa kewenangan KY itu harus dilihat dalam perspektif penguatan wibawa lembaga peradilan atau perwujudan supremasi kekuasaan kehakiman. Selain itu, perlu diperluas struktur organisasi KY sampai ke daerah-daerah, agar KY daerah dapat menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim pengadilan negeri dan pengadilan tinggi. Ini tidak bertentangan dengan UUD 1945, sebab sesuai dengan Pasal 24B ayat (4), dijelaskan, bahwa susunan, kedudukan, dan keanggotaan KY diatur dengan undang-undang. Jadi undang-undang tentang KY yang baru harus mengatur hal ini. KY juga harus diberikan peran untuk mengawasi panitera-panitera pada semua jenjang organisasi kekuasaan kehakiman. Hal ini penting, sebab bukan rahasia lagi, mafia peradilan sulit diberantas, karena para panitera sering menjadi calo (broker) dan penagih uang dari pihak-pihak yang berperkara.

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

247

Sambil menunggu amandemen terhadap UUD 1945 dan revisi UU tentang KY, MK dan MA, gerak dan langkah nyata KY dalam mengemban amanat UUD 1945 pasca putusan MK harus lebih ditingkatkan lagi. Putusan MK tidak boleh membuat KY menyurutkan peran historisnya untuk menegakkan supremasi hukum, keadilan, kebenaran serta mewujudkan supremasi kekuasaan kehakiman di Indonesia. Pada saatnya nanti KY akan tampil sebagai sosok yang lebih berwibawa untuk menegakkan wibawa negara hukum yang berkarakter.

Penulis adalah Dosen dan Ketua Program Pascasarjana FH-UKI Mantan Anggota Komisi Konstitusi

248

Bunga Rampai

Gerak dan Langkah Nyata Komisi Yudisia Dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi
John Pieris

Sebuah tulisan yang bersifat kajian kritis mengenai suatu lembaga negara yang terkait dengan UUD 1945 sebenarnya tidak terlalu sulit, sebab pada dasarnya UUD 1945 (konstitusi) telah menggariskan tugas-tugas pokok semua lembaga negara. Hal ini dapat disimak dari beberapa pendapat pakar yang secara tepat melahirkan beberapa perspektif penting tentang fungsi konstitusi. Jika K. C. Wheare menjelaskan, konstitusi adalah aturan hukum yang menetapkan kerangka dasar dari suatu negara dan mengatur tentang susunan pemerintahan, dan James Bryce menyatakan, bahwa konstitusi berfungsi menetapkan lembaga-lembaga negara dan mengatur fungsi dan batas haknya, serta Ivor Jenning mengemukakan, konstitusi berfungsi mengawasi pelaksanaan pemerintahan (pengawasan konstitusional). Selain itu, S. W. Couwenberg mengatakan, konstitusi adalah semua asas hukum, aturan hukum dan lembaga-lembaga yang berhubungan dengan susunan dan arah perkembangan kehidupan bersama yang terorganisasikan secara kenegaraan. Dijelaskan kemudian, hukum konstitusi merupakan basis atau landasan dari sistem hukum negara yang bersangkutan.

Penulis adalah, Dosen dan Ketua Program Pascasarjana FH-UKI Mantan Anggota Komisi Konstitusi

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

249

Dari berbagai perspektif itu, maka sebenarnya UUD 1945 sebagai konstitusi (hukum dasar) telah mengatur halhal penting mengenai semua lembaga negara khususnya tentang kewenangannya. Yang sulit adalah ketika tulisan itu dikaitkan dengan suatu masalah hukum dan politik yang dialami oleh satu atau beberapa lembaga negara. Yang menjadi soal adalah, apa yang diamanatkan oleh konstitusi, belum tentu dapat dilaksanakan dengan baik. Mungkin juga konstitusi tidak secara jelas merumuskan ketentuan mengenai kewenangan sebuah lembaga negara. Terlepas dari asumsi demikian, UUD 1945 sebagai konstitusi tertulis (written constitution) atau sebagai hukum yang tertinggi (Grundgesetz) yang kekuatan mengikatnya melebihi undang-undang biasa, dengan segala keterbatasannya, sebenarnya telah mengatur fungsi-fungsi serta pembatasan kekuasan dari semua lembaga negara, khususnya Komisi Yudisial (KY), Mahkamah Agung (MA) dan Mahkamah Konstitusi (MK). Jika berpegang pada asas legalitas dan gagasan konstitusionalitas, maka tidak dapat dihindari, semua ketentuan yang telah dirumuskan di dalam UUD 1945 harus dijalankan, walaupun ketentuan tersebut dianggap tidak sempurna. Itulah faham legalisme dan konstitusionalisme yang dianut sampai sekarang. Seperti yang dikatakan Lunshof (1989:7), asas legalitas adalah asas yang dipakai untuk menjamin asas-asas lainnya, antara lain asas pembatasan kekuasaan pemerintah dan hak-hak asasi. Juga dikatakannya, adanya pengawasan pengadil-an terhadap pelaksanaan kekuasaan yang dijalankan oleh pemerintah, pemberian wewenang kepada pemerintah, dan perlindungan hukum terhadap yang berkuasa. Sejalan dengan itu, Carl J. Friedrich (1967) menjelaskan, konstitusionalisme adalah sebuah gagasan yang menganggap pemerintah sebagai suatu kumpulan aktivitas yang diselenggarakan atas nama rakyat, yang tunduk pada pembatasan konstitusional. Hal itu diperlukan sebagai jaminan bahwa kekuasaan yang diperlukan untuk pemerintahan tersebut tidak disalahgunakan oleh mereka yang mendapat tugas untuk memerintah. Pandangan Friedrich cukup menarik, sebab sekali pun pemerintah mendapat mandat dari rakyat dan bertindak atas nama rakyat, sebaiknya pemerintah itu juga harus tunduk pada pembatasan konstitusional,

250

Bunga Rampai

agar terhindar dari penyalahgunaan kekuasaan. Menyimak judul tulisan yang diminta oleh KY kepada penulis, yaitu Gerak dan Langkah Nyata KY dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi, terkesan ada tiga hal krusial yang menonjol. Pertama, di satu pihak UUD 1945 telah menggariskan kewenangan KY walaupun ketentuan yang mengatur kewenangan KY untuk mengawasi semua hakim (di MA dan MK) tidak maksimal. Kedua, pihak KY tetap bergerak mengayunkan langkah nyata, tentunya dengan segala resiko (perlawanan) yang dihadapi untuk mengemban amanat UUD 1945. Ketiga, ternyata MK telah memutuskan, bahwa kewenangan yang dimiliki KY untuk mengawasi hakim-hakim, tidak termasuk mengawasi hakim MK. MK berpendapat seperti itu karena, pengawasan terhadap hakim MK tidak diamanatkan oleh UUD 1945 (Pasal 24B ayat (1)). Ketidaksetujuan dan penolakan MA atas beberapa ketentuan, terutama mengenai pengawasan hakim agung oleh KY telah membuktikan, bahwa terjadi pertentangan dan perbedaan signifikan antara norma hukum pengawasan hakim agung antara KY dengan MA. Hal inilah yang melatarbelakangi diajukannya permohonan Penguijian UndangUndang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial dan Pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ke Mahkamah Konstitusi, dan Mahkamah Konstitusi telah memutus permohonan tersebut dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 005/PUUIV/2006 yang diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi yang terbuka untuk umum pada hari Rabu, tanggal 23 Agustus 2006. Seperti diketahui, dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 005/PUU-IV/2006 tersebut, Mahkamah Konstitusi telah memutuskan: Menyatakan permohonan para Pemohon dikabulkan untuk sebagian: Menyatakan : Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata “hakim Mahkamah Konstitusi”; Pasal 20, yang berbunyi, “Dalam melaksanakan wePenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

251

-

-

-

-

-

-

wenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b Komisi Yudisial mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim dalam rangka menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim”; Pasal 21, yang berbunyi, “Untuk kepentingan pelaksanaan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b, Komisi Yudisial bertugas mengajukan usul penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada pimpinan Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi”; Pasal 22 ayat (1) huruf e, yang berbunyi, “Dalam melaksanakan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20, Komisi Yudisial: e, membuat laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi dan disampaikan kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi, serta tindasannya disampaikan kepada Presiden dan DPR”; Pasal 22 ayat (5), yang berbunyi, “Dalam hal badan peradilan atau hakim tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (4), Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi wajib memberikan penetapan berupa paksaan kepada badan peradilan atau hakim untuk memberikan keterangan atau data yang diminta”; Pasal 23 ayat (3), yang berbunyi, “Usul penjatuhan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c diserahkan oleh Komisi Yudisial kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi”; Pasal 23 ayat (5), yang berbunyi, “Dalam hal pembelaan diri ditolak, usul pemberhentian hakim diajukan oleh Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi kepada Presiden paling lambat 14 (empat belas) hari sejak pembelaan diri ditolak oleh Majelis Kehormatan Hakim”; Pasal 24 ayat (1), Pasal 25 ayat (3), dan Pasal 25 ayat (4), sepanjang mengenai kata-kata “dan/atau Mahkamah Konstitusi”; Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 89. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4415), bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik IndoneBunga Rampai

252

Hal tidak tercakupnya pengertian perilaku hakim konstitusi dalam apa yang dimaksud dengan perilaku hakim Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 253 . Pasal 20. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358). 23 ayat (2). “Dalam rangka menjaga kehormatan. Pasal 34 ayat (3). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358). 23 ayat (5). sebagai berikut. tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. sepanjang mengenai kata-kata “dan/atau Mahkamah Konstitusi”. dan Pasal 25 ayat (4). Menyatakan: Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata “hakim Mahkamah Konstitusi”. Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8. bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Amar putusan tersebut di atas didasarkan pada pertimbangan. 22 ayat (5). antara lain. Pasal 25 ayat (3). 23 ayat (3). UndangUndang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8. Undang-Undang Republik Indonesia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 89. keluhuran martabat serta perilaku hakim agung dan hakim. Mahkamah Konstitusi dalam Putusannya menyatakan bahwa Hakim Konstitusi tidak diawasi oleh Komisi Yudisial. 22 ayat (1) huruf e. ketentuan mengenai KY dalam Pasal 24B UUD 1945 memang tidak berkaitan dengan ketentuan mengenai MK yang diatur dalam Pasal 24C UUD 1945. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4415). Pasal 24 ayat (1). pengawasan dilakukan oleh Komisi Yudisial yang diatur dalam undang-undang”. tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.- - - sia Tahun 1945. yang berbunyi. 21. dengan pertimbangan: Bahwa apabila ditinjau secara sistematis dan dari penafsiran berdasarkan “original intent” perumusan ketentuan UUD 1945.

maka proses penegakan hukum secara ter- 254 Bunga Rampai . Demikian pula Pasal 34 ayat (3) UU Kekuasaan Kehakiman sama sekali tidak menentukan bahwa Hakim Konstitusi menjadi objek pengawasan oleh KY. jika ada ketentuan pengawasan hakim agung dan hakim-hakim lain di dalam lingkungan kekuasaan kehakiman yang diatur secara jelas di dalam UU No. Karena itu Indonesia memang harus memiliki sebuah sistem pembuatan hukum terpadu (integrated law making system). Dengan begitu. berbeda halnya dengan hakim biasa. Selain itu. serta UU No. Sebagai misal. Hakim Konstitusi hanya diangkat untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan setelah tidak lagi menduduki jabatan Hakim Konstitusi. misalnya keterpaduan di dalam pembuatan UU tentang KK. maka tidak akan terjadi konflik antara KY dan MA. maka diperlukan keterpaduan (integrasi) dalam merumuskan norma-norma hukum yang sama pada beberapa undang-undang yang saling terkait. yang mengatur pengawasan tentang Hakim Konstitusi. maka konflik (pertentangan) antara MK dan KY tidak perlu terjadi. Tidak berlebihan jika dikatakan. Itulah sebabnya. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman tidak begitu cermat merumuskan norma-norma hukum yang terkait secara tepat tentang pengawasan hakim. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. 24 Tahun 2003. melainkan hakim karena jabatannya. untuk fungsi pengawasan terhadap perilaku Hakim Konstitusi ditentukan adanya lembaga Majelis Kehormatan yang diatur secara tersendiri dalam Pasal 23 UUMK.menurut Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 tersebut juga terdapat dalam ketentuan UUMK dan UUKK yang dibentuk sebelum pembentukan UUKY. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi dan UU No. Dalam UUMK. MK. yang bersangkutan masing-masing kembali lagi kepada status profesinya yang semula. Dalam keseluruhan mekanisme pemilihan dan pengangkatan para Hakim Konstitusi yang diatur dalam UUD 1945 juga tidak terdapat keterlibatan peran KY sama sekali. DPR dan Presiden sebagai pembentuk UU No. MA dan KY mengenai pengawasan terhadap hakim-hakim pada semua lingkungan dan strata lembaga peradilan. Hakim Konstitusi pada dasarnya bukanlah hakim sebagai profesi tetap. sekiranya kalau ada pasal khusus di dalam UU No. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Atau.

bukan rahasia lagi. moral dan spiritual. Karena itu kejahatan yudisial sulit dihindari. adalah untuk menjaga dan menegakkan kehormatan. keluhuran martabat serta perilaku hakim. Mentalitas birokrasi pemerintah dan lembaga-lembaga negara yang lain juga sulit melakukan pengawaan internal. Artinya hakim agung diawasi oleh lembaga MA.padu (integrated law enforcement process) mengenai pengawasan terhadap perilaku hakim-hakim juga akan terlaksana dengan baik. Agak sulit memang. atau tidak memiliki akhlak mulia untuk mewujudkan keadilan bagi masyarakat. 14 Tahun 1985 sesungguhnya adalah pengawasan yang bersifat internal. lemahnya pengawasan terhadap hakim dapat mendorong hakim bisa berbuat apapun. jika hakim agung diawasi oleh institusi di mana ia berada di dalamnya. karena budaya korupsi dan penyelewengan atau perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad) sudah sangat sulit diperbaiki. manipulasi penyalahgunaan jabatan yang merugikan negara dan rakyat. Banyak kasus (perkara) yang ditangani hakim PN. korupsi. Haruslah dipahami. khususnya peradilan umum yang selama ini tidak menjalankan fungsinya secara benar. sebab. salah satu faktor rendahnya mentalitas dan moralitas hakim karena para hakim terbebas dari pengawasan yang efektif. Penjahat-penjahat korporasi dan ekonomi yang merampok uang negara acap kali dilindungi dan diberikan perlakuan khusus. apalagi yang menguntungkan dirinya. Banyak hakim (tidak semua) memihak kepada merekamereka yang berkedudukan penting atau orang-orang yang memiliki uang dalam jumlah yang besar. sekalipun pihakpihak itu terbukti melakukan perbuatan melawan hukum. tidak bisa disangkal. Dapat diduga. banyak mendatangkan ketidakadilan bagi pencari keadilan (justice seekers). PT dan MA. Mekanisme upaya hukum (rechtsmiddlen) terkendala oleh perilakuperilaku hakim yang tidak cukup memiliki kemampuan etik. Ini merupakan sebuah upaya mendesak dan sistematik untuk mereformasi kekuasaan peradilan. Pengawasan hakim sebagaimana dirumuskan di dalam Pasal 32 UU No. Dengan kata lain. sementara terpidana dari Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 255 . pengawasan internal tidak bisa diharapkan mampu membongkar mafia peradilan selama ini. bahwa alasan pembentukan KY di dalam UUD 1945.

karena dipastikan tidak akan efektif. jika kekuasaan yang dipegang dan dikendalikan oleh seorang atau sekelompok orang dalam tubuh birokrasi di Indonesia memang sulit diawasi. karena kolusi juga bisa terjadi antar hakim dengan pimpinan MA. Karl Jackson. maupun eksternal. Hakim dan hukum lalu berpihak secara ekstrim dan arogan kepada kaum borjuasi dan mencampakkan rakyat kecil yang miskin. Seperti apa yang dikatakan Benedict Anderson. dan ini sangat sulit diawasi. bahwa kekuasaan cenderung terpusat di tangan seseorang atau sekelompok orang. sebab prinsip ini berpotensi melindungi kesalahan hakim dan ada alasan menolak untuk diawasi. hanya pengawasan internal oleh MA. “bukan masalah bagaimana menggunakan kekuasaan. Tulisnya lebih lanjut. Keberpihakan hukum bisa saja dilakukan dengan cara menyalahi teknis yudisial dan administratif yang menguntungkan orang-orang tertentu dan merugikan pihak lain yang tidak berdaya. Dengan begitu agak sulit untuk mengawasi birokrasi kekuasaan kehakiman. mungkin ada sedikit harapan. 14 Tahun 1985 tentang MA melegitimasi kekuasaan MA sebagai kekuasaan terpusat dan personal. Sistem politik birokratik telah merasuk jauh menusuk sampai ke pusat-pusat kekuasaan (termasuk yudikatif). bahwa kekuasaan eksternal bisa diandalkan untuk mengawasi birokrasi. Bahkan ada wacana dari Bagir Manan sebagai Ketua MA. yang sulit diawasi dari luar (eksekutif dan legislatif). sulit juga diawasi oleh Komisi Yudisial.kelas bawah tidak dihargai hak asasinya. Tidak bisa diharapkan. terutama pada lembaga-lembaga peradilan. baik secara internal. UU No. perlu ada sebuah mekanisme untuk mengawasi hakim seperti itu. Maka berdasarkan teori tersebut tidak dapat dielakkan. bahwa Ketua MA dapat 256 Bunga Rampai . Hampir sama dengan Anderson. Karena itu. Kalau ada pilihan di antara kedua jenis pengawasan itu. tapi bagaimana menghimpunnya”. seorang ilmuwan politik Amerika Serikat yang menulis “Bureaucratic Polity” tentang Indonesia berpendapat. bahwa sistem politik birokratik terpusat pada mereka yang memegang kekuasaan negara sebagai majikan. Prinsip res judicate pra veritate habetur (apa yang telah diputuskan oleh hakim harus dianggap sebagai benar) yang dipegang para hakim cukup berbahaya. Kesulitannya adalah.

sebab bukan rahasia lagi.merangkap menjadi Ketua KY. Selain itu. Masalahnya sebenarnya tidak terlalu pelik. bahwa MA tidak mau diawasi oleh lembaga negara apapun. serta perilaku hakim pengadilan negeri dan pengadilan tinggi. agar KY daerah dapat menjaga dan menegakkan kehormatan. sebab sesuai dengan Pasal 24B ayat (4). Ini merupakan sebuah indikasi. Jadi undang-undang tentang KY yang baru harus mengatur hal ini. supaya hakim-hakim bisa menjadi Law Prophets. Hal ini penting. keluhuran martabat. bahwa ada masalah-masalah teknis yudisial dan administratif yang dapat merugikan pencari keadilan. Hal (kewenangan) yang sama juga harus dilakukan terhadap pengangkatan dan pemberhentian hakim konstitusi. hakim tersebut tidak memiliki perilaku yang terpuji. tetapi juga mengusulkan pemberhentian hakim agung. bahwa kewenangan KY itu harus dilihat dalam perspektif penguatan wibawa lembaga peradilan atau perwujudan supremasi kekuasaan kehakiman. jika Pasal 24B UUD 1945 dapat diamandemen agar KY bisa mengawasi perilaku hakim pada semua lingkungan peradilan. Hakim tersebut tidak boleh tidak. KY juga harus diberikan peran untuk mengawasi panitera-panitera pada semua jenjang organisasi kekuasaan kehakiman. dijelaskan. mengapa tidak dicoba untuk dibuat norma hukumnya? Bukankah teori. Ini tidak bertentangan dengan UUD 1945. Artinya adalah. perlu diperluas struktur organisasi KY sampai ke daerah-daerah. Untuk itu dapat dibenarkan dan sebaiknya demikian. dan keanggotaan KY diatur dengan undang-undang. mafia peradilan sulit Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 257 . Tidak bisa dihindari. Jika ada komitmen seperti itu. KY harus mengusulkan amandemen terhadap Pasal 24B UUD 1945. harus diperiksa. Jadi sebenarnya tidak salah seluruhnya jika KY dapat masuk pada hal-hal yang bersifat teknis administratif dalam memeriksa hakim. maka dapat disimpulkan. sistem dan doktrin hukum bisa berubah atau diubah untuk bisa merakit sebuah kebenaran dalam mewujudkan keadilan yang sejati. kedudukan. bahwa susunan. Usul perubahan dari KY sebaiknya menyangkut tidak saja pengangkatan hakim agung. Jika ada kesalahan substansial dan mungkin prosedural yang dirancang secara sistematis oleh seorang hakim.

258 Bunga Rampai . Pada saatnya nanti KY akan tampil sebagai sosok yang lebih berwibawa untuk menegakkan wibawa negara hukum yang berkarakter. gerak dan langkah nyata KY dalam mengemban amanat UUD 1945 pasca putusan MK harus lebih ditingkatkan lagi. keadilan. Sambil menunggu amandemen terhadap UUD 1945 dan revisi UU tentang KY. MK dan MA. karena para panitera sering menjadi calo (broker) dan penagih uang dari pihak-pihak yang berperkara.diberantas. Putusan MK tidak boleh membuat KY menyurutkan peran historisnya untuk menegakkan supremasi hukum. kebenaran serta mewujudkan supremasi kekuasaan kehakiman di Indonesia.

Deklarasi Kemerdekaan yang dikemukakan oleh Thomas Jefferson. hak-hak alamiah yang tidak dapat dicabut adalah karunia Tuhan. pemerintahan dalam suatu demokrasi tidak memberikan kebebasan dasar yang disebut Jefferson. Latar Belakang. adalah menetapkan suatu prinsip dasar bagi berdirinya pemerintahan negara yang demokratis. MH. Contoh hak-hak yang tidak dapat dicabut meliputi kebebasan berbicara dan berpendapat. S. yaitu pemerintahan diciptakan untuk melindungi kebebasan yang dimiliki oleh individu berdasarkan eksistensi individu itu. DR. Rumusan kebebasan yang dikemukakan oleh para filsuf zaman pencerahan abad ke-17 dan ke-18. dan baik masyarakat maupun pemerintahan tidak dapat mencabutnya. kebebasan berserikat. kebebasan beragama dan keyakinan. untuk menjalankan pemerintahan negara yang baik tariklah hukum yang bermoral. Ermaya Suradinata. dan hak untuk mendapatkan perlindungan yang sama di depan hukum.. Dalam masyarakat demokratis juga menyatakan hak-hak sipil seperti hak untuk mendapatkan pengadilan yang jujur. Sedangkan Soekarno Presiden pertama Republik Indonesia. Hak-hak ini tidak hancur ketika masyarakat sipil diciptakan.Pentingnya Peran Komisi Yudisial Berdasarkan Pendekatan Geopolitik dan Geostrategi Indonesia Prof.H. Sedangkan landasan intelektual demokrasi konstitusional modern dalam geopolitik diletakan selama zaman Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 259 . MS.

yang seperti halnya Locke. mengubah secara besar-besaran pembahasan mengenai teori politik dan mendorong perkembangan lembaga-lembaga demokrasi. manusia dalam masyarakat sipil mengadakan kontrak dengan pemerintah mereka. adalah suatu aspek rangkaian takdir Ilahi. warganya berhak menggulingkan rezim itu dan membentuk suatu pemerintahan baru. percaya pada pemerintahah Republik berdasarkan pada persetujuan dari yang diperintah. termasuk hak atas hidup.Pencerahan Eropa. dan yudikatif. dan politik yang tradisional yang penekanannya pada rasionalisme. Dalam L’Esprit des Lois (Semangat hukum). Warga negara wajib patuh pada undang-undang dan mempertahankan kesejahteraan umum dari pelanggaran asing semuanya demi kebaikan bersama. John Locke membantah pengakuan bahwa pemerintah teristimewa monarki. kebebasan tertentu. legislatif. dan menjamin hak-hak dasar semua orang. John Locke. dalam pernyataannya bahwa semua pemerintahan yang sah bertumpu pada persetujuan dari yang diperintah. dalam 260 Bunga Rampai . Montesquieu. Emmanuel Kant di Jerman dan Thomas Jefferson serta Benjamin Franklin di negeri yang kemudian bernama Amerika Serikat. Montesquieu. Locke juga menyatakan jika suatu pemerintahan menjadi tanpa hukum dan sewenang-wenang. Untuk mengamankan hak-hak ini. mendukung pemisahan dan penyeimbangan kekuasaan antara cabang-cabang eksekutif. Dalam pernyataannya tentang hukum alam itu. ujar Locke. tapi bukan pada demokrasi yang didirikan atas kekuasaan mayoritas. Dua pemikiran yang berpengaruh adalah filosuf Inggris. Tapi penerusnya yang paling terkemuka adalah Montesquieu. John Locke. kata Locke. dan termasuk hak untuk memiliki harta benda serta menikmati hasil kerja sendiri. agama. dan ahli hukum dan filsuf Perancis. Dalam teori hukum alam Locke mengilhami satu generasi filsuf zaman Pencerahan di Eropa dan dunia baru. yang terbit pada tahun 1748. Hukum alam identik dengan hukum Tuhan.dari Jean Jacques Rousseau di Perancis sampai David Hume di Skotlandia. Pada tahun 1690 Locke menerbitkan bukunya yang sangat berpengaruh Two Treaties of Government (Dua Risalah Tentang Pemerintahan). suatu gerakkan filosofis abad 18 yang ditandai dengan penolakan terhadap gagasan-gagasan sosial.

”Dalam keadaan apapun negara tidak boleh memaksakan ketidaksamaan tambahan. dipenjarakan. Setiap masyarakat sepanjang sejarah. Masyarakat demokratis tidak dapat menerima penyalahgunaan seperti ini. negara wajib melayani secara rata dan sama seluruh rakyatnya. Atas nama negara. sewenang-wenang atau tunduk pada manipulasi politik oleh negara. adalah landasan pokok bagi masyarakat yang adil dan demokratis manapun. baik undangundang maupun demokrasi terlayani. Dalam kehidupan negara yang demokratis tidak dapat menjamin bahwa kehidupan akan memperlakukan setiap orang dengan sama. Kongres. diasingkan dan dihukum mati tanpa dasar hukum.” Tak seorangpun berada di atas hukum yang bagaimanapun. sekalipun tidak langsung. Doktrin ini juga membantu membentuk landasan filosofis bagi konstitusi AS. dan mereka disiksa. mayoritas etnik. semuanya berhak atas perlindungan yang sama di depan hukum. Warga negara suatu demokrasi tunduk pada hukum karena mereka mengakui bahwa. dan sering tanpa pernah dikenai tuduhan resmi. tidak rahasia. dan Kehakiman (dalam Jeannes s. Frank menulis. merupakan ciptaan rakyat. Holden). tapi aturan prosedur yang digunakan negara untuk melaksanakan undang-undangnya harus terbuka dan jelas. dan ia tidak mempunyai tanggung jawab untuk melakukan hal itu. Persamaan hak di depan hukum. atau minoritas agama. Setiap negara harus mempunyai kekuasaan untuk memelihara ketertiban dan menghukum tindak pidana. atau perlindungan yang sama oleh hukum sebagaimana sering disebut. mereka menyerahkan diri sebagai pembuat undang-undang itu. banyak individu. sekutu politik negara atau lawan. Apakah syarat pokok bagi proses hukum Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 261 . dengan pembagian kekuasaan antara Presiden. Jika undang-undang ditetapkan oleh rakyat yang selanjutnya harus mematuhinya. Kaya atau miskin. bukan sesuatu yang dipaksakan kepada mereka. Namun ahli hukum konstitusi John P. Frank menjelaskan. mereka yang menjalankan sistem peradilan pidana mempunyai kekuasaan yang berpotensi melakukan penyalahgunaan dan menjadi tirani. harta mereka dirampas.pemerintahan sebagai cara untuk menjamin kebebasan individu.

dan merinci tuduhan pelanggaran itu. kita tidak lagi memiliki seorang pemimpin yang sentralistik sekaligus sangat menentukan. yang bergulir bagaikan bola salju. menunjukkan adanya pasang surut. sejak lengsernya Soeharto sebagai Presiden dari panggung politik. implementasi ideologi dan konstitusi negara sebagaimana termuat dalam sejarah. Berkaitan dengan perkembangan ini ruang pemerintah muncul kekuatan-kekuatan baru yang dapat menggeser kedudukan seorang Presiden. Dalam perjalanan sebagai bangsa yang berdaulat. melahirkan perilaku politik yang juga liberal. begitu pengadilan mendapati bahwa tuduhan itu tanpa dasar atau penahanannya tidak sah. berdasarkan doktrin yang disebut Habeas corpus. Hal tersebut dapat kita lihat (DPR. Ideologi dan konstitusi negara bagi suatu negara yang berdaulat seperti Negara Republik Indonesia ini. berkembangnya kehidupan politik yang liberal.yang wajar dalam demokrasi? Rumah siapa saja tidak boleh dimasuki dan digeledah oleh polisi tanpa perintah pengadilan yang menunjukkan adanya alasan kuat untuk menggeledah itu. DPRD Provinsi. Ketukan tengah malam oleh polisi rahasia tidak mempunyai tempat dalam demokrasi. Tak seorangpun boleh ditahan tanpa tuduhan yang jelas dan tertulis. Kedua. dikatakan demikian karena ideologi akan memberikan warna terhadap bentukbentuk yang ada dalam konstitusi negara. dan konstitusi negara akan memberikan model terhadap implementasi ideo-logi dalam birokrasi pemerintahan dalam penyelenggaraan negara terutama penyelenggaraan fungsi lembaga negara. DPRD Kabupaten/Kota) yang berdampak sulitnya untuk membangun kesamaan visi dan misi Nasional antar politisi dalam me- 262 Bunga Rampai . membawa berbagai perubahan yang mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan saja orang berhak mengetahui hakikat sebenarnya tuduhan itu. Pasang surut ini diwarnai oleh perubahan-perubahan sesuai tuntut-an politik. merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. mereka juga harus segera dilepaskan. Reformasi politik yang terjadi sejak tahun 1997. Perubahan-perubahan ini jelas apabila diamati kenyataan di lapangan: Pertama. DPD. MPR.

yang sampai saat ini sudah empat kali perubahan (Tahun 1999.” Peranan Ideologi dan Konstitusi Negara dalam Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. maka ideologi dan konstitusi negara bagi bangsa Indonesia mempunyai peranan yang sangat penting. keanekaragaman itulah ciri jati diri bangsa Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa Malaysia. berkembang pula keinginan sebagian elit politik yang berpengaruh dengan cara yang sistemik dan damai melakukan perubahan terhadap UUD NRI Tahun 1945. 2000. walaupun berasal dari satu rumpun. Dengan citra jati diri inilah suatu bangsa dapat memberikan ciri yang khas yang dapat dibedakan dengan negara lainnya. Ketiga. apabila merujuk pada UUD NRI tahun 1945. sejak awal telah mengisaratkan adanya penyesuaian pasal-pasal yang ada dalam UUD 1945 dengan perkembangan yang ada. Sebagai kelompok sosial yang besar. dan 2002). 2001. dengan kata lain ada amanat pada penerus bangsa ini untuk tidak mempermasalahkan konstitusi yang mereka buat. Bunyi dan Pasal 37 ayat (1) dan (2). berperan sebagai citra jati diri bangsa. Memperhatikan perkembangan politik era reformasi yang berkaitan dengan perubahan UUD NRI Tahun 1945. berkaitan dengan realitas dan eksistensi bangsa kita. organisasi bangsa mempunyai kebutuhan untuk memiliki citra jati dirinya. Selanjutnya pada ayat (2) dinyatakan bahwa ”putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota yang hadir”. seperti bangsa Indonesia dan Malaysia. adat maupun bahasa yang berbeda dari mulai Sabang sampai Merauke. Pasal 37 ayat (1) tidak bertentangan.nangani dan memahami makna NKRI. oleh karena itu dapat dikatakan bahwa ideologi dan konstiPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 263 . Dikatakan demikian karena dalam Pasal 37 tersebut secara tegas dinyatakan bahwa ”untuk mengubah UUD sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota harus hadir. Memperhatikan peranan tersebut di atas. namun bagi bangsa Indonesia dengan kemajemukannya sangat berbeda seperti kita tahu tentang perbedaan budaya. seiring dengan perkembangan politik tersebut. Karena mempunyai landasan: Pertama. jelas mengindikasikan bahwa para Pendiri RI (Founding Fathers).

berperan sebagai jembatan penghubung antara generasi tua sebagai pendiri bangsa (fouding fathers) dengan generasi penerus. sebagaimana telah dirumuskan dalam Ideologi dan Konstitusi (UUD Tahun 1945). berperan untuk menemukan keyakinan akan kebenaran perjuangan bersama akan satu kesatuan yang berpegang teguh pada ideologi dan konstitusi tersebut. Ketiga. Kedua. Dengan adanya ideologi dan konstitusi sebagai hukum dasar. Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dalam menyelenggarakan fungsi kenegaraan merupakan hal yang sangat pen- 264 Bunga Rampai . Di sini ideologi dan konstitusi menjadi sumber inspirasi dan cita-cita hidup bersama. Merupakan suatu hal yang alami terjadi pergantian generasi antara generasi terdahulu dengan generasi muda. sehingga dapat diharapkan generasi muda akan terus melanjutkan perjuangan generasi pendahulunya untuk mencapai cita-cita dan tujuan nasional bangsa Indonesia. dengan ideologi dan konstitusi dapat menjembatani hubungan antara keduanya. Hal tersebut diperlukan sebagai peraturan yang tertinggi karena beragamnya komponen yang juga mempunyai adat istiadat tersendiri. dan dipandang sebagai suatu kebesaran dan kemuliaan bersama dengan ideologi manusia mengejar keluhuran. maka dapat diantisipasi sedemikian adanya persepsi yang berbeda terhadap suatu peraturan perundang-undangan. berperan sebagai hukum dasar yakni sebagai pedoman utama dalam pembuatan peraturan perundangundangan yang akan diperlakukan kepada segenap komponen bangsa. Karena itu keberadaan ideologi dan konstitusi yang berdaulat merupakan sesuatu yang mutlak. Oleh karena senantiasa berupaya untuk merealisasikan dalam kehidupan bersama. dan mematuhi segala ketentuan yang diatur dalam konstitusi. maka dibutuhkan suatu pedoman yang dapat memayungi dan berlaku untuk keseluruhan komponen bangsa yang ada. Generasi muda yang telah mengalami masamasa perjuangan untuk mendirikan bangsa dengan negara. jika negara mempunyai kedaulatan yang utuh dalam menjaga eksistensinya dan mewujudkan reformasi birokrasi pemerintahan khususnya reformasi peradilan. Keempat. yang akan dijadikan dasar pengambilan keputusan bagi para hakim.tusinya melekat pada jati diri bangsa.

Menegakkan keadilan sering dianggap sebagai inti moralitas politik. Pengaturan tentang susunan ketatanegaraan yang bersifat fundamental. mengalami perubahan yang sangat fundamental. Sedangkan kemungkinan terjadinya ketidak-adilan dalam negara demokrasi jauh lebih kecil dibanding pada negara dimana kebebasan politik ditindas dan tidak ada satupun jaminan politik. serta negara hukum yang demokratis. Demokrasi memberikan kesempatan kepada setiap kelompok dan kepentingan yang cukup besar mengajukan wakilnya. integral. 3. Perkembangan Hukum Dasar Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 265 . selanjutnya perubahan itu diwujudkan secara komprehensif. Dalam konstitusi biasanya memuat aturan minimal materi yang mencakup: 1. sejak perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Demokrasi juga menyangkut kompromi atau harmoni politik dengan jalan menyelesaikan tuntutan-tuntutan atau suara-suara yang saling bertentangan. kepentingan yang merasa dirugikan. dan sistematis dalam empat kali perubahan UUD NRI Tahun 1945. dan ini jarang sekali dikesampingkan pada saat kebijaksanaan dibuat. bertahap. pada empat sidang MPR sejak Tahun 1999. dan juga akuntabilitas tinggi serta diharapkan terwujudnya Good Governance.ting dan mendasar. dan mempertahankan demokrasi atas dasar ini bermakna bahwa demokrasi adalah sistem terbaik untuk menegakkan keadilan. dan keadilan. karena dapat menyuarakan persoalannya dan sanggup mengumpulkan kekuatan dengan mempengaruhi para pemilih dengan berbagai cara yang diakui dan absah. sampai dengan 2002. yang menciptakan keadilan yang relatif. Reformasi sesungguhnya memberikan ruang yang besar untuk terjadinya perubahan menuju penyelenggaraan negara yang lebih demokratis. Pada akhirnya mungkin dapat dikatakan bahwa orang-orang yang merasa diperlakukan tidak adil dalam suatu sistem demokrasi maka akan terhibur kalau mereka memperhatikan sistem-sistem politik lain. Pengaturan tentang hak asasi manusia. 2. Pengaturan tentang pembagian dan pembatasan tugastugas ketatanegaraan yang juga bersifat fundamental. keterbukaan.

Sedangkan perubahan pada materi yang kedua dan ketiga. Selanjutnya terbangun adanya 2 lembaga negara baru yaitu Mahkamah Konstitusi. Menelaah Komisi Yudisial dari satu sudut pandang Geopolitik dan Geostrategi Indonesia tidak terlepas dengan pemahaman kita tentang politik dan strategi dalam melakukan reformasi hukum/peradilan. serta perilaku hakim. 28B. 28I. keluhuran martabat. yaitu: dihapuskannya lembaga negara Dewan Pertimbangan Agung. Perubahan yang sangat mendasar dalam hukum dasar Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. hakim di bawah Mahkamah 266 Bunga Rampai . dan 28J. dan Komisi Yudisial (KY). serta untuk memberantas maraknya praktek mafia peradilan. Paradigma lama sistem paradilan kita masih kental. setelah perubahan bab IX menjadi 5 pasal dan 19 ayat. 28D. Awalnya dalam Bab IX hanya terdiri 2 pasal dan 3 ayat. 29H. antara lain perubahan pada Bab IX yang mengatur Kekuasaan Kehakiman. Mahkamah Konstitusi (MK). 28C. 28G. merupakan hasil reformasi khususnya di bidang peradilan. Sedangkan lembaga baru yang kedua adalah Komisi Yudisial yang merupakan pilar kehidupan untuk menentukan roh moral para hakim agung. dan dibentuknya lembaga negara baru. yaitu Dewan Perwakilan Daerah (DPD). dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. Keberadaan Komisi Yudisial. yang mempunyai kewenangan mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar. hal tersebut sebagaimana dalam perubahan ketiga UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dalam kehidupan sistem kekuasaan kehakiman. yaitu pasal 28A. menegakkan kehormatan. memutus pembubaran partai politik. untuk menegakkan hukum dan keadilan.Contoh pengaturan hak asasi manusia telah ditambahkannya pasal hak asasi manusia. Diubahnya kedudukan dan kewenangan Majelis Permusyawaratan Rakyat. sehingga sebagai lembaga negara baru Komisi Yudisial masih harus menghadapi resistensi yang berat terutama dalam menghadapi hakim agung. memutus sengketa kewenangan Lembaga Negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar. 28F. 28E.

Hal tersebut sejalan dengan prinsip civic morality. Jika kita kaitkan fenomena tersebut dalam sistem kemasyarakatan dan pemerintahan. dalam arti demokrasi dan kebebasan tidak selalu berjalan beriringan. yang diucapkan oleh Mahatma Gandhi. maupun hakim konstitusi. Mengacu pada prinsip tersebut penerapan hukum yang didasarkan pada civic morality dalam kehidupan bermasyarakat. dan bernegara secara universal dituangkan ke Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 267 . untuk secara antisipatif mengawal negara sebagai negara hukum dengan segala sumber daya yang kita miliki. mengusulkan formula untuk menghilangkan ambivalensi dengan konsep aturan etika global yang merupakan rumusan seni politik sejati dengan menggabungkan politik riil dengan politik kontemporer dalam pembentukan civic morality suatu bangsa. Komisi Yudisial dalam Sistem Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. yang hidup dan tidak berada dalam ruang hampa. toleransi dan hukum. serta dengan cermat menyikapi karakter dan perubahan pola interaksi peradaban manusia dalam rangka menjaga martabat kemanusiaan. tetapi kebangsaan saya adalah peri-kemanusiaan” (My nationalism is humanity). ”Saya seorang nasionalis. sistem ketatanegaraan maupun sistem pemerintahan. Keduanya dikembangkan sebagai suatu konsepsi maupun sebagai realisme atas dasar perkembangan politik nasional. Yang dimaksud dengan sistem Geopolitik dan Geostrategi Indonesia adalah Wawasan Nusantara sebagai Geopolitik Indonesia dan Ketahanan Nasional sebagai Geostrategi Indonesia. yang menyatakan bahwa terdapat ambivalensi dalam hukum dan demokrasi. jika kita melibatkan budaya. melainkan selalu harus selalu berorientasi terhadap masalah-masalah rasional baik ideal maupun riil. pemahaman civic morality harus dituangkan dalam bentuk kewajiban lembaga Komisi Yudisial. maka hal ini sangat terkait dengan tesis Harbermas. Atas dasar hal tersebut. untuk menjaga kedaulatan dirinya.Agung. Menjawab hal ini Hans Kung. oleh karena itu harus solid dan dapat mendorong proses akselarasi reformasi peradilan pada tataran fungsi dan tugas serta tingkatan para hakim. tanpa harus menjadi lembaga yang menyendiri. dan sesama bangsa di dunia.

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).dalam bentuk empat pola tindak. Mahkamah Agung (MA). Berdasarkan sumber tersebut. tersebut adalah basis geopolitik dan geostrategi suatu bangsa yang bermakna sebagai suatu upaya untuk memperoleh kekuatan bangsa dalam menjaga nasionalisme dan penegakkan hukum secara berkelanjutan. serta berpartisipasi aktif dalam hubungan kerja antar lembaga negara sebagai upaya mencapai cita-cita nasional. J.Wuest. legislatif. Sistem ketatanegaran mempunyai cakupan yang lebih luas dibanding dengan sistem pemerintahan. sebagaimana dikemukakan oleh C. Mahkamah Konstitusi (MK). Institusi lembagalembaga negara tersebut. dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Komisi Yudisial (KY). Berdasarkan Pasal 24C Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. yang dimaksud dengan lembaga negara pada pasal tersebut yaitu. Lahirnya sistem pemerintahan parlementer dan sistem pemerintahan presidensiil. Witman & J. Civic morality. Presiden dan Wakil Presiden. budi pekerti dan toleransi dalam semangat rekonsiliasi. sesuai dengan tesisnya Donovan yang merujuk filsafat kata rekonsiliasi dalam kitab Vulgata. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). yaitu rasionalitas. lembaga negara adalah institusi yang diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945. Dalam sistem pemerintahan selalu terkait dengan hubungan antara lembaga eksekutif dan lembaga legislatif. spiritual. yang mencakup keseluruhan lembaga-lembaga negara termasuk eksekutif. F Strong dan S. memutus pembubaran partai politik. maupun yudikatif. 268 Bunga Rampai . Dalam sistem ketatanegaran terbentuk sistem hubungan antar lembaga-lembaga negara. didasarkan pada Pasal 24C ayat (1) yaitu menyatakan: Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar. kecuali dalam sistem pemerintahan negara. memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UndangUndang Dasar. dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. Dewan Perwakilan Daerah (DPD). dan dikenal dalam bahasa Inggris disebut ”Cabinet Government” dan sistem ”Presidential Government” atau juga ”The fixed executive system”. L.

Dengan demikian. Berdasarkan perubahan terhadap Pasal 1 ayat (2). Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat dengan suara yang terbanyak (Pasal 6 ayat (2). dan kekuasaan kehakiman juga terkait pada keberadaan cita negara hukum/Rechstaat. atau kekuasaan yudikatif mempunyai konsekuensi logis menentukan adanya hakim sebagai subyek pelaksana dari kekuasaan kehakiman. Sehubungan prinsip tersebut bagaimana keterkaitannya dengan geopolitik dan geostrategi Indonesia khususnya diimplementasikan dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Pasal 1 ayat (2) diubah. Selanjutnya setelah reformasi berjalan terjadilah perubahan Undang-Undang Dasar 1945. Kedudukan lembaga-lembaga negara didasarkan atas tugas dan kewenangannya. Majelis Permusyawaratan Rakyat tidak lagi menjadi lembaga negara tertinggi. Majelis Permusyawaratan Rakyat adalah penjelmaan seluruh rakyat Indonesia. sehingga berbunyi: Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UndangUndang Dasar”. selaku hukum tata negara Indonesia. Dengan demikian juga setelah perubahan terhadap Undang-Undang Dasar selain tidak ada lembaga negara tertinggi juga tidak ada lagi lembaga tinggi negara. didasarkan pada: Kedaulatan adalah di tangan rakyat.yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar 1945. khususnya perubahan ketiga. Kekuasaan Negara yang tertinggi di tangan Majelis Permusyawaratan Rakyat (Penjelasan Umum tentang sistem Pemerintahan Negara). Ditarik dari keberadaan hakim juga terkait dengan keberadaan kekuasaan kehakiman. kedelapan lembaga negara tersebut berkedudukan setingkat sama. dan bentuk negara amat sangat tergantung oleh paham atau sistem Kedaulatan Rakyat/Volkssouvereineteit (sumber Sutjipno). dan begitu seterusnya bahwa eksistensi negara hukum tergantung pada keberadaan bentuk negara republik. Demikian juga Komisi Yudisial dan ketujuh lembaga negara lainnya berkedudukan sama setingkat/sederajat. Keberadaan kekuasan kehakiman. dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (Pasal 1 ayat (2). Sedangkan sebutan lembaga negara tertinggi sebelum perubahan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu Majelis Permusyawaratan Rakyat. yang tentunya Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 269 . atau kekuasaan yudikatif.

Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sebagai negara hukum. dan keanggotaan Komisi Yudisial diatur dengan undang-undang. kedudukan. sangat menentukan manusia sebagai hakim yang mempunyai hati nurani tinggi. (2) Anggota Komisi Yudisial harus mempunyai pengetahuan dan pengalaman di bidang hukum serta memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela. (4) Susunan. Apalagi hakim agung duduk pada tingkat peradilan tertinggi (puncak) dalam susunan peradilan di Indonesia sehingga ia menjadi tumpuan harapan bagi pencari keadilan. (3) Anggota Komisi Yudisial diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. dan merupakan tantangan berat bagi Komisi Yudisial untuk menunjukkan bahwa calon hakim agung yang diusulkan betul-betul dapat dipertanggungjawabkan dan diterima sebagai calon yang telah memenuhi persyaratan termasuk persyaratan dari sisi politis. Ini menunjukkan peran politik begitu dominan.mengalami perubahan yang sangat fundamental terutama pada pasal-pasal dan ayat-ayatnya. ayat (2). namun lolosnya calon hakim agung yang diseleksi oleh Komisi Yudisial belum mendapat jaminan untuk seluruhnya diterima oleh DPR-RI terutama Komisi III. Ketentuan ini didasarkan pemikiran bahwa hakim agung yang duduk di MA dan para hakim merupakan figur yang sangat menentukan dalam perjuangan menegakkan hukum dan keadilan. Rumusan sebagai berikut: Pasal 24B (1) Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. rumusan kewenangan Komisi Yudisial (KY) sebagaimana tercantum dalam Pasal 24B ayat (1). Selanjutnya Kewenangan Komisi Yudisial. ayat (3). serta perilaku hakim. dan ayat (4). keluhuran martabat. masalah kehormatan dan 270 Bunga Rampai . hasil perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

pengajuan calon hakim agung dilakukan Mahkamah Agung untuk mendapatkan persetujuan DPR dan selanjutnya ditetapkan sebagai hakim agung oleh Presiden”. Untuk itu. komitmen untuk Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 271 . Menurut ketentuan Pasal 24B ayat (1). ”calon hakim agung diusulkan Komisi Yudisial kepada DPR untuk mendapatkan persetujuan dan selanjutnya ditetapkan sebagai hakim agung oleh Presiden”. Outsourcing kinerja Komisi Yudisial ini dapat terwujud manakala semua anggota Komisi Yudisial solid. proporsional. Kewenangan yang sangat besar yang diberikan kepada Komisi Yudisial merupakan tantangan besar untuk dapat mewujudkan hakim agung yang profesional dan proporsional. sebelumnya merupakan wewenang Mahkamah Agung. perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela adil. Menurut ketentuan tersebut. Ujian berat bagi Komisi Yudisial saat ini adalah untuk pertama kalinya bangsa Indonesia memberikan kewenangan penuh untuk menjaring para calon hakim agung yang diselenggarakan oleh Komisi Yudisial. tentang Kekuasaan Kehakiman.keluhuran martabat. Komisi Yudisial berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai kwenangan lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta perilaku hakim. memuat ketentuan mengenai pembentukan lembaga di bidang kekuasaan kehakiman bernama Komisi Yudisial (KY) yang merupakan lembaga yang bersifat mandiri. Melalui Komisi Yudisial diharapkan dapat diwujudkan lembaga peradilan yang sesuai dengan harapan rakyat sekaligus dapat diwujudkan penegakkan hukum dan pencapaian keadilan yang diputus oleh hakim yang terjaga kehormatan dan keluhuram martabat serta perilakunya. ”sebelum Komisi Yudisial terbentuk. Sedangkan pada Pasal 20A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menentukan. serta perilaku hakim merupakan hal yang sangat strategis untuk mendukung upaya menegakkan peradilan yang handal dan realisasi paham Indonesia adalah negara hukum. profesional. dan berpikir jernih untuk memutuskan calon hakim agung yang bermoral. reformis. berdasarkan Pasal 80A Undang-Undang nomor 5 Tahun 2004 Tentang perubahan Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985.

melainkan bisa menjadi milik siapa saja. Dalam hubungannya dengan budaya. Komisi Yudisial lahir dari hasil reformasi. tidak heran kalau masih terjadi kendala dalam sistem peradilan kita yang tentunya harus dapat diselesaikan oleh kita. karena bangsa Indonesia ini penuh dengan keanekaragaman. berwa- 272 Bunga Rampai . (hal tersebut perlu dikaji lebih mendalam). maka peran budaya juga tidak bisa dilepaskan sebagai pilar kekuatan Komisi Yudisial. untuk memperkuat kemandirian Komisi Yudisial. proses pembangunan budaya berhukum yang baru (paradigma baru budaya berhukum) yang diciptakan oleh Komisi Yudisial. saat ini masih dalam proses transisi dibutuhkan orientasi-orientasi baru terutama pemahaman tentang geopolitik dan geostrategi Indonesia yang begitu cepat perubahannya. sangat diperlukan karena selama ini telah terjadi dan terbentuk di Indonesia sistem hukum modern yang melahirkan watak liberal. sehingga kerja sama dengan lembaga-lembaga yang mempunyai fungsi yudikatif sangat dibutuhkan. Negara hukum Indonesia sampai saat ini masih diwarnai oleh pengaruh budaya liberal. Tentu kita sebagai bangsa Indonesia yang berdaulat dan mempunyai jati diri Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. agar kita dapat membangun sistem peradilan yang mandiri dan dilandasi pada jati diri bangsa kita sendiri. sehingga diperlukan suatu tolak ukur apakah seseorang tadi didalam menjalankan tugasnya telah memiliki wawasan yang luas dan jauh menjangkau rasa cinta tanah air. harus dijunjung tinggi norma-norma lokal sebagai pondasi kehidupan sistem peradilan Indonesia. Profesionalitas tidak hanya dimiliki oleh kelompok tertentu saja. dan menjadikan pondasi dalam sistem peradilan di Indonesia. dan mempunyai budi pekerti luhur.memberantas mafia peradilan. agar kita dapat memberikan rasa adil dan sejahtera pada seluruh komponen bangsa Indonesia. dan perlu dipikirkan wadah konsultasi lembaga yudisial tanpa mengurangi kemandirian dari tugas dan fungsi serta tanggung jawab masing-masing lembaga. Bukan hanya pemimpin tingkat nasional sampai pada terendah. dan memahami serta mengerti betul tentang cara kerja dan kultur peradilan yang lama. dalam memperkuat Negara Indonesia adalah Negara Hukum.

sebagai wujud nyata sifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. dan mempunyai komitmen tinggi terhadap keutuhan wilayah kedaulatan negara Republik Indonesia. di bidang peradilan memberikan peluang yang besar bagi bangsa Indonesia. keluhuran martabat. untuk melakukan perbaikan dan langkah strategis untuk memberantas mafia peradilan yang bertentangan dengan norma dan etika peradilan. Fungsi pengawasan yang dilakukam oleh Komisi Yudisial sebagai lembaga negara yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. yang akan menentukan calon-calon hakim agung. Penutup Hasil reformasi dan demokrasi. mempunyai peran yang sangat vital di bidang peradilan. dari mulai hakim agung sampai pada hakim pengadilan negeri. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 273 . Demikian juga para anggota Komisi Yudisial. selain tentu moral dan etika profesinya yang harus dijunjung. kenegarawanan. serta perilaku hakim. Komisi Yudisial harus dapat membangun ideologinya sendiri. keluhuran martabat. Dalam rangka untuk mewujudkannya diperlukan orientasi baru. Semua elemen bangsa harus dapat memahami dan mengerti serta melaksanakan apa yang menjadi wewenang Komisi Yudisial sebagai lembaga negara baru yang telah diberikan wewenang berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. yaitu melakukan revitalisasi yang sebelumnya wewenang tersebut menjadi wewenang lembaga Mahkamah Agung. dan merupakan lembaga negara baru yang masih belum tersosialisasikan kepada seluruh elemen bangsa baik yang berada di dalam lembaga negara lainnya maupun di dalam masyarakat luas. maksudnya antara lain memiliki kandungan kecintaan terhadap tanah air bangsa Indonesia yang sangat kuat.wasan kebangsaan. Wawasan kebangsaan dan kenegarawanan. diperlukan suatu sharing pengalaman dan mensinergikan menjadi kekuatan wewenang Komisi Yudisial. serta perilaku hakim.

The Judiciary. Hukum Dasar Geopolitik dan Geostrategi Dalam Kerangka Keutuhan NKRI. 2006. Bandung. Ermaya suradinata. dan Ball. Vol. “Hukum yang Membebaskan”. 2005. New York University Press. PT Alumni. 2005. Saragih. Ermaya suradinata. Mackinder and The Defence of The West. Jakarta. Moh. 2005. Moh. Bintan Regen. Penerbit suara Bebas. London. Komisi Yudisial Republik Indonesia.1961. 1996. The Judicial Decision. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. “Hukum Progresif. Mahfud MD.. Wasserstrom. 1 No. PT Rinneke Cipta. Blout. Coins s. Satjipto. Global Geostrategy. Jakarta. Rahardjo. Crane.F. 274 Bunga Rampai . Taylor & Prancis. Cooper Phillip. 2006. The Supreme Court in The Govermental Process. New Jersey. Prosudur dan system Perubahan Konstitusi. 1997. 2007.1. B.W. The Geopolitics Of The Nuclear Era New York. ”Menjaga Jarum Sejarah Amandemen UUD. Strong. NY. NY. Modern Political Constitution. 2006.Daftar Pustaka Abraham. Howars. 1966. Demokrasi. The English Language Book Society. The United States Supreme Court. Sri Soemantri.2000. Inc. Jakarta. Cal Stanford University Press. Henry J. Permasalahan Aktual dan pentingnya Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. dalam Jurnal hokum Progresif. Bunga Rampai Refleksi Satu Tahun.” tulisan disiapkan untuk buku HUT Mahkamah Konstitusi Tahun 2006. Lemhannas RI Jakarta. Toword a Theory of Legal Justification. Gray.Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia. 1996. Richard A. Jakarta. Prentice Hall. Program Pascasarjana Universitas Jayabaya. 2005. Russak & Company. Sekretariat Jenderal MPR RI. Mahfud MD. Sdigwick and Jackson Limited. C. Stanford.

merupakan kewenangan KY yang amat krusial. dalam perjalanan pelaksanaan tugas dan wewenang KY mendapat hambatan. Dalam melakukan pengawasan terhadap hakim. sebetulnya KY telah berhasil membangun budaya kontrol yang membuat para hakim lebih berhati-hati. keluhuran martabat. dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. serta perilaku hakim. yang justru berasal dari lembaga yang seharusnya secara bersama menegakkan harkat dan martabat peradilan. Kehadiran KY pada hakikatnya dimaksudkan menjawab tuntutan masyarakat agar prinsip-prinsip demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan terakomodasi melalui lembaga yang akuntabel dan independen. Pendahuluan Pasal 22B Ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 (UUD) menegaskan eksistensi Komisi Yudisial (KY) yang bersifat mandiri dan berwenang mengusulkan hakim agung. harapan masyarakat pada KY bukan hanya mencari dan menemukan sosok calon hakim agung yang kredibel atau menjaga perilaku hakim dari perbuatan tercela. Padahal. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 275 . Mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan menegakkan kehormatan hakim. melainkan juga rekomendasi KY untuk memberi sanksi hakim-hakim nakal dapat menimbulkan efek jera. Kehadiran berbagai lembaga negara baru seperti KY telah menandai berjalannya proses transisi menuju demokratisasi yang sesungguhnya. Sayang.Memulihkan Kewenangan Komisi Yudisial Dengan Melibatkan Kemitraan (Jejaring) di Daerah Marwan Mas A.

KY telah membangun kemitraan (jejaring) di daerah-daerah. dan memberikan masukan dalam pengangkatan ketua/wakil ketua MK. promosi. Italia. juga bermakna untuk menjaga dan menegakkan kehormatan. paling tidak diharapkan memberikan dampak positif dalam mengefektifkan pelaksanaan tugas dan wewenang KY. peran pegawai peradilan yang mengontak pengacara atau pencari keadilan. tetapi juga panitera dan administrasi. maka tugas dan wewenang KY perlu ditunjang oleh mitra di daerah. KY memberikan rekomendasi untuk pemberhentian hakim. Peran mitra di daerah. Di Afrika Selatan. Di sejumlah negara. dan pendisiplinan hakim. sumber daya penunjang dan sebagainya. mengajukan calon ketua MA. dan berakhir pada hakim yang memeriksa dan menjatuhkan putusan. soal penyimpangan hakim tidak berdiri sendiri tetapi terdesain dalam suatu mafia yang amat sulit dibuktikan.Kiranya perlu dipahami bahwa pembentukan KY selain diarahkan untuk menciptakan sebuah lembaga pengawas dalam kekuasaan yudikatif. managemen organisasi. Pemilahan dan penentuan prioritas pembenahan menjadi sangat penting dipahami oleh mitra yang dibangun. penyimpangan di lingkungan peradilan yang merugikan masyarakat tidak hanya menyangkut hakim. Proses tersebut berawal dari panitera yang meregister dan membagikan perkara kepada hakim. mestinya objek pengawasan KY tidak hanya hakim. Untuk menunjang proses peradilan yang lebih bermartabat. Kompleksitas permasalahan yang melingkupi pengadilan Indonesia. meskipun berbeda pada pelaksanaan fungsi dan perannya. serta perilaku hakim. pengawasan. Sebab sudah menjadi rahasia umum. mutasi. Berbagai kasus yang terungkap ke publik. tetapi juga panitera yang mendaftar perkara. dan Spanyol. 276 Bunga Rampai . Di negara-negara Eropa Selatan seperti Perancis. kewenangan komisi ini jauh lebih signifikan karena memiliki kewenangan yang cukup luas seperti rekrutmen hakim. termasuk bagaimana peran mitra KY memberikan informasi dalam mendukung pelaksanan tugas dan wewenang KY. keluhuran martabat. keberadaan komisi semacam ini sudah merupakan hal yang jamak dan dibutuhkan. mulai dari sumber daya manusia. Salah satu cara untuk mengawasi perilaku hakim.

termasuk proses persidangan yang murah. Salah satu upaya tersebut adalah perlunya penguatan pengawasan dan peran serta masyarakat dalam mengontrol praktek peradilan. Pentingnya pengawasan hakim dari pengaruh mafia peradilan. penyusunan berita acara pemeriksaan (BAP).B. serta perilaku hakim. KY sebagai lembaga negara yang mandiri berkepentingan dan berkomitmen untuk terus menjalin kerjasama dengan berbagai elemen masyarakat. kearsipan perkara. tenggang waktu penyelesaian perkara. Reformasi peradilan sebagai agenda utama KY tidak akan berhasil seperti yang diharapkan. Dalam kondisi demikian. Memulihkan Kewenangan KY Dalam menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat. Sementara keputusan KY berkaitan dengan pelanggaran perilaku hakim hanya berupa rekomendasi yang intinya mengusulkan penjatuhan sanksi. pembukuan keuangan perkara. dan eksekusi. perlu pemulihan kewenangan KY untuk mengungkapkan modus operandi dan upaya pemberantasan mafia peradilan. pembuatan laporan Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 277 . akuntabel dan berwibawa. KY dipersepsikan dalam UUKY untuk tidak mencampuri teknik yudisial. Desain ini mirip dengan fungsi yang diberikan kepada Judicial Commission di New South Wales. dibutuhkan peran masyarakat melalui mitra yang dibentuk KY untuk terlibat langsung dalam mendukung pelaksanaan tugas dan wewenang KY. pembuatan daftar persidangan. KY tidak berwenang memeriksa aspek teknis yudisial seperti kemampuan hakim menangani perkara. sederhana dan cepat. kualitas putusan. terutama yang concern terhadap proses reformasi peradilan demi terciptanya sistem peradilan yang bersih. karena dalam realitasnya telah menghilangkan akses keadilan bagi masyarakat dan pencari keadilan. sehingga memerlukan jaringan kerjasama dalam rekrutmen calon hakim agung dan pengawasan terhadap para hakim. Australia. Memang secara legalistik. Sayang. rekomendasi KY tidak mendapat respon positif MA sehingga ide awal pembentukan KY dalam UUD tidak berjalan sebagaimana mestinya. Oleh karena itu. seperti prosedur penerimaan perkara dan registrasi perkara. Begitu juga terhadap penanganan administrasi peradilan. Para pencari keadilan begitu sulit mendapatkan pelayanan peradilan yang jujur.

Penilaian atas perilaku hakim dalam menangani perkara yang ternyata menuai keberatan pencari keadilan merupakan bagian dari tanggung jawab hakim. sebagai bagian dari pengawasan masyarakat terhadap hakim. adanya intervensi atau campur tangan dari pihak luar. Namun. dan eksekusi peraturan. Pada aspek ini. jika ada fakta-fakta perilaku hakim yang tercela dalam berkas perkara yang berakibat dikeluarkannya putusan. Sukses atau tidaknya pengawasan KY. memang tidak sampai pada soal “teknis yudisial” karena terkait independensi hakim (independence of judiciary) dalam memeriksa dan memutus perkara. KY dapat mengapresiasi perilaku hakim yang menyimpang dengan melakukan interpretasi. Mitra atau jejaring yang ada di masyarakat dapat menjadi mata dan telinga KY. Berdasarkan laporan 32 negara yang dimuat 278 Bunga Rampai . menjadi taruhan kepercayaan masyarakat pada lembaga peradilan. Kesemuanya diarahkan untuk meningkatkan prestasi kerja hakim dalam menyelesaikan perkara dengan cepat. khususnya eksekutif dan legislatif untuk mempengaruhi putusan hakim. Intervensi model ini telah membudaya melalui forum musyawarah pimpinan daerah (Muspida) yang memberi ruang bagi eksekutif dan legislatif untuk mempengaruhi lembaga peradilan. dan kualitas putusan harus dapat dirasakan oleh pencari keadilan. Mitra (jejaring) KY yang ada di daerah merupakan representasi pengawasan masyarakat. Kedua aspek ini tetap dipegang oleh pengawas internal MA. Wewenang KY mengawasi perilaku hakim demi menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat hakim. sebab memeriksa dan memutus perkara merupakan sebuah tanggung jawab seperti “kemampuan menangani perkara” yang memberikan keadilan. Penyebab maraknya korupsi di lembaga peradilan (judicial corruption) yang mesti jadi perhatian mitra KY di daerah. dapat dilihat pada dua aspek.perkara. Kedua. penyuapan yang dapat terjadi sepanjang proses peradilan. Pertama. jujur. Pemeriksaan KY terletak pada penilaian hakim terhadap fakta-fakta persidangan yang dituangkan dalam putusan dengan menelusuri apakah terjadi penyimpangan perilaku hakim. berkas perkara dapat saja diperiksa KY. hakim bisa berkolusi dengan kekuasaan untuk memenangkan suatu perkara.

yang mengakibatkan maraknya korupsi di pengadilan. menerima atau menolak permintaan banding. Efektivitas pengawasan hakim seharusnya berjalan sinergis. Salah satu yang menghambat efektivitas pelaksanaan tugas dan wewenang KY adalah timbulnya sikap MA yang merasa kewenangan pengawasannya diambil alih KY. Sinkronisasi ketiga UU selain dimaksudkan memulihkan ke- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 279 . pengawasan dari aspek administrasif berkaitan dengan proses peradilan tetap ada pada MA. “Faktor kedua inilah yang paling krusial. sedangkan KY melakukan pengawasan eksternal untuk menumbuhkan tanggung jawab hakim sebagai benteng terakhir penegakan supremasi hukum dengan memeriksa dan memutus perkara secara benar dan adil. dan UU Nomor 24 Tahun 2002 tentang Mahkamah Konstitusi (UUMK). Pemulihan kewenangan KY dalam menjaga dan mengawasi perilaku hakim harus terakomodasi dalam perubahan UUMA dan UUMK. Justru MA dapat memanfaatkan KY untuk membantu menegakkan martabat hakim. kehadiran KY tidak perlu dianggap sebagai rival.dalam Global Corruption Report 2007. kewenangan KY untuk menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat hakim telah diamputasi oleh putusan MK Nomor: 005/PUU-IV/2006 tanggal 23 Agustus 2006. Temuan KY dalam memeriksa perilaku hakim yang menyimpang yang kemudian direkomendasikan kepada MA. Posisi KY sebagai pengawas eksternal yang bersifat independen. termasuk pengawasan fungsional oleh Dewan Kehormatan Hakim Agung. terkesan telah membonsai kewenangan KY sehingga perlu dipulihkan dengan mensinkronkan UUKY. Kewenangan KY mengawasi hakim dan hakim konstitusi sebagaimana dimaksud dalam UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (UUKY). Jika yang menjadi tujuan adalah tegaknya martabat hakim. seharusnya direspons positif. Padahal. Sayang.” tandasnya. mempengaruhi rekan sesama hakim atau sekedar menjatuhkan putusan tertentu. sebagian hakim dapat disuap untuk memperlambat atau mempercepat proses pengadilan. UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung (UUMA). bertujuan untuk menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat hakim. Fungsi pengawasan MA bersifat internal.

Kedua. Pertama. juga menambal kekosongan hukum di bidang pengawasan terhadap badan peradilan dan hakim yang dilakukan KY seperti diperintahkan Pasal 24B Ayat (1) UUD. MK secara arogan telah mengabaikan prinsip checks and ba-lances yang menjadi roh bangunan kelembagaan negara dengan tidak rela diawasi dan dijaga kehormatan dan perilakunya oleh lembaga lain. Putusan MK yang perlu diapresiasi menyangkut kewenangan KY pada Kamis 23 Agustus 2006 terdiri dari dua bagian. Saat ini. hal tersebut menyebabkan adanya penafsiran yang tidak tepat.wenangan KY. 280 Bunga Rampai . MK menilai. Menurut MK. tetapi hanya diawasi sendiri oleh temannya sesama hakim. Putusan MK yang mencabut pengawasan KY terhadap dirinya (hakim konstitusi) merupakan tindakan yang berlebihan. bahwa penilaian perilaku dilakukan dengan penilaian putusan. Praktik mafia peradilan diperkirakan akan semakin menjadi-jadi karena perilaku hakim tidak lagi diawasi dan dikontrol oleh lembaga lain (KY). MK secara sistematis melemahkan fungsi dan peran KY dengan cara ”membonsai” kewenangan KY dalam mengawasi perilaku hakim. pengawasan atas pelaksanaan kode etik hakim konstitusi dilakukan Majelis Kehormatan sesuai dengan ketentuan Pasal 23 UU MK sebagai pelaksanaan Pasal 24C Ayat (6) UUD. Keberadaan hakim konstitusi yang tidak termasuk dalam pengertian hakim yang dapat diawasi perilaku etiknya oleh KY merupakan putusan diskriminatif. pengawasan dari dalam tidak maksimal. KY tidak berwenang mengawasi hakim yang berkaitan dengan teknis yudisial. Para hakim Konstitusi tidak digolongkan sebagai hakim seperti hakim MA dengan alasan demi independensi dalam memeriksa dan menjatuhkan putusan. Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 menyiratkan bahwa KY hanya dapat mengawasi pelaksanaan kode etik dan kode perilaku hakim dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan hakim. MK adalah lembaga negara yang paling steril dari sentuhan pengawasan dari luar dirinya (pengawasan ekstern). KY tidak berwenang mengawasi hakim MK. Dalam pertimbangan hukumnya. yaitu mengenai putusan hakim atas suatu perkara. Padahal.

Harini Wijoso. Malahan tiga anggota hakim non-karir diganti dan kini diperiksa Pengadilan Tinggi Jakarta karena walk out dalam lima kali Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 281 . tetapi tak satupun dari enam rekomendasi KY yang direspon MA. Termasuk saat Ketua MA dihambat ketua majelis hakim Pengadilan Khusus Korupsi untuk hadir bersaksi dalam sidang perkara suap pegawai MA oleh pengacara Probosutedjo. seperti pada soal rekrutmen hakim agung atau saat Ketua MA mengabaikan enam rekomendasi KY untuk menghukum hakim yang telah diperiksa karena melakukan penyelewengan. Satu Pedoman Perilaku Hakim Pasal 14 UU Nomor 22/2004 tentang Komisi Yudisial sebagai derivasi Pasal 24B UUD 1945 menegaskan. Bila hakim terpaksa harus menaati dua versi pedoman perilaku hakim (Code of Conduct). maka rivalitas kewenangan akan kontra-produktif. Kresna Menon dan hasilnya direkomendasikan kepada MA agar yang bersangkutan diberhentikan sementara selama satu tahun untuk tidak menangani perkara. bahkan ada yang diproses di pengadilan. Apalagi perseteruan MA-KY selama ini cukup memprihatinkan. Di lain pihak. Alih-alih menjaga harkat dan martabat hakim. Keduanya diberi wewenang hal yang sama. Penolakan Ketua MA bersaksi ternyata disikapi KY dengan memeriksa ketua majelis hakim. tetapi lagi-lagi diabaikan MA. tidak menutup kemungkinan ada hakim yang akan mencari peluang untuk keuntungan sendiri dengan melanggar salah satu pedoman perilaku hakim. apalagi kalau memang diberi peluang. UUMA juga mengatur bahwa MA berwenang pula melakukan pengawasan terhadap kecakapan hakim dan perbuatan tercela dari hakim. kalau pada aspek lain ada ketentuan yang membolehkan hakim menerima hadiah yang berlawanan dengan sumpahnya.C. Hadiah sebagai penghalusan suap (gratifikasi) dalam kode etik yang dibuat MA. dan realitas menunjukkan terciptanya potensi rivalitas yang mengarah pada krisis kelembagaan. Sedangkan tidak diberi peluang menerima hadiah sesuai “sumpah hakim”. tak pelak akan semakin menjadi-jadi di kalangan hakim. KY mempunyai wewenang menjaga dan mengawasi perilaku hakim. tidak sedikit oknum hakim yang menerima suap dalam menangani perkara seperti terungkap di media. Adanya dua versi pedoman perilaku hakim.

padahal konstitusi dan UUKY memberi kewenangan untuk mengawasi dan memeriksa hakim-hakim nakal. Dalam kondisi demikian. terlebih adanya tudingan mafia peradilan. termasuk nantinya pada pedoman perilaku hakim yang dibuat KY. Sebaliknya. MA. KY. Tentu saja para hakim akan mengikuti kode etik yang dibuat MA sebagai lembaga yang menaunginya. Padahal. Rivalitas kewenangan dalam mengawasi perilaku hakim akan semakin memperpuruk citra lembaga peradilan Indonesia. Tetapi para hakim juga sudah maklum kalau rekomendasi KY akan diabaikan MA seperti nasib enam rekomendasi KY. tidak lebih dari sikap “arogansi” MA yang selalu berlindung di balik jubah independensi. kode etik versi KY akan diabaikan. Resistensi MA terhadap rekomendasi KY. Penerapan dua pedoman perilaku hakim sudah pasti akan menimbulkan implikasi hukum yang pada akhirnya mengancam kewibawaan MA-KY. Tidak akan efektif kalau masingmasing membuat pedoman perilaku hakim.perlu duduk bersama merancang dan menetapkan satu pedoman perilaku hakim.sidang yang bersikukuh agar Ketua MA dihadirkan bersaksi. MA seakan lembaga yang kebal dari sentuhan pengawasan lembaga lain atau pengawasan masyarakat dengan mengabaikan konstitusi. meskipun nantinya bisa dipanggil untuk diperiksa KY dan kemungkinan akan direkomendasikan ke MA agar diberi sanksi. dan MK --yang hakimnya mestinya juga diawasi KY. Demi independensi. juga akan memberi peluang untuk dimanipulasi. Perlu kesadaran dan keprihatinan bersama antara MA dengan KY dalam melihat dan menyikapi persoalan penegakan hukum. Mestinya Ketua MA lebih peka atas berbagai keborokan di lingkungan peradilan. baiknya dijadikan momentum oleh MA untuk memperbaiki institusi peradilan yang selama ini disoroti publik. karena selain membingungkan hakim. kedua lembaga negara dalam lingkungan peradilan ini diharapkan berperan aktif dalam menjaga keluhuran peradilan. wibawa KY akan jatuh dan tidak lebih dari “macan kertas” yang tidak bergigi. Penyatuan dalam satu atap korps hakim (tidak lagi secara administrasi berada di bawah Menteri Kehakiman dan HAM). Kalau pedoman perilaku hakim versi MA membolehkan 282 Bunga Rampai .

dan aparat hukum menerima gratifikasi. misalnya sekotak kue atau sepotong kain batik biasa. Pedoman perilaku hakim versi MA dikecam berbagai kalangan karena memuat ketentuan yang membolehkan seorang hakim menerima hadiah dari pihak lain. karena akan menghambat pemberantasan judicial corruption yang terstruktur dan institusional. pegawai negara. akan semakin memperlebar jurang perbedaan yang pada akhirnya hanya akan merugikan penegakan hukum yang bersandar pada rasa keadilan masyarakat. tetapi alasan yang diberikan tidak sesederhana itu. tentu tidak lagi proporsional di tengah upaya merebut kembali citra peradilan Indonesia. Ketua MA boleh saja beralasan tidak akan berpengaruh pada independensi hakim. Alasan membolehkan hakim menerima hadiah terkesan dibuat-buat dan menggelikan. Bahkan. Di sinilah dituntut kesadaran keduanya (termasuk MK) untuk secara bersama membuat satu pedoman perilaku hakim. bertentangan dengan Pasal 12B UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang melarang penyelenggara negara. Ketua MA.. ternyata menoleransi hakim menerima hadiah dari orang yang berperkara.. MA mengabaikan sumpah hakim.. Jika masing-masing membuat pedoman perilaku hakim dengan subjek yang sama.. Sebab.. 27/6/2006) menyatakan.hakim menerima hadiah. untuk ”. hakim yang menerima sesuatu atau hadiah selain termasuk gratifikasi juga dinilai sebagai unprofessional conduct. Pernyataan ini telah mereduksi harapan publik agar hakim memiliki integritas yang tinggi. tidak menerima apa pun yang patut diduga berkaitan dengan jabatan . juga mewujudkan sinergi dan saling menghormati wewenang. Pedoman perilaku hakim versi MA menetapkan 10 pedoman perilaku hakim. memberi peluang bagi hakim menerima hadiah (gratifikasi) sangat riskan dan berbahaya. hakim boleh saja menerima hadiah asalkan jumlahnya wajar dan tidak ada tendensi mempengaruhi hakim dalam memeriksa dan menjatuhkan putusan. yaitu untuk menghindari kekecewaan orang dan tidak tega menolak pembe- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 283 . dan pada sub-bagian berperilaku jujur. apalagi dari pihak yang berperkara. karena selain menghindari rivalitas dan krisis kelembagaan. Bagir Manan (Media Indonesia.” Olehnya itu.

tetapi sesuatu yang bersifat cair yang perlu dihidupkan oleh pelaksana hukum. Di dalamnya selalu ada ruang ekstra (leeway) yang dapat digunakan untuk menghidupkan nilai-nilai kehidupan sosial dan rasa keadilan masyarakat. perlu menyimak kritikan Charles Sampford (1998) dalam teori ”the disorder theory of law” yang memandang hukum tidak identik dengan bangunan yang penuh keteraturan logis-rasional. Hanya dengan cara itu. Paling tidak. DPR telah memilih enam hakim agung dari 18 284 Bunga Rampai .rian yang dapat menyakiti hati orang yang memberi. serta perilaku hakim yang menyimpang. maka mitra (jejaring) KY yang ada di daerah harus dilibatkan secara maksimal. Timbul pertanyaan. Pedoman perilaku hakim yang masing-masing dibuat oleh KY dan MA. Munculnya polemik atas hasil rekrutmen KY terhadap calon hakim agung. Penutup Untuk lebih memaknai tugas dan wewenang KY. juga perlu perhatian KY. memotivasinya untuk berani melaporkan rekam jejak para calon hakim agung yang sedang diseleksi KY dan DPR. hakim-hakim di republik ini sering hanya mendahulukan kepentingan perutnya ketimbang mengimplementasikan rasa keadilan masyarakat. Rivalitas dan perseteruan MA-KY mestinya sudah harus berakhir dengan duduk bersama merancang satu pedoman perilaku hakim. mana yang harus dipatuhi para hakim? Apakah pedoman perilaku hakim yang dibuat lembaganya (MA) atau pedoman perilaku hakim yang dibuat KY sebagai lembaga yang memang diberi wewenang oleh konstitusi untuk mengawasi perilaku hakim? D. bahkan pada 6 Juli 2007. calon hakim agung dan para hakim dapat terjaga integritas dan kredibilitasnya dalam menyelenggarakan peradilan yang memihak pada rasa keadilan masyarakat. hanya akan menambah kekisruhan dalam mengawasi perilaku hakim. Berbagai survei dan pengaduan masyarakat yang terungkap di media massa menyebutkan. Untuk mengefektifkan pelaksanaan tugas dan wewenang KY. Kendati proses seleksi calon hakim agung telah dilakukan KY. Hukum tidak selalu dimaknakan “machine justice” sehingga hakim harus menjaga hak-hak komunitas dan konstitusionalitas rakyat.

tidak berarti KY harus berpuas diri. serta keluhan sejumlah calon hakim agung yang berasal dari hakim karir yang mengikuti tes. Keberatan salah seorang anggota KY atas penetapan 12 calon hakim agung yang merasa tidak dilibatkan dalam rapat pleno. bahwa mereka direndahkan oleh tim seleksi KY dari cara bertanya yang terkesan menyudutkan.calon yang diajukan KY. Termasuk jumlah dana yang amat besar digunakan dalam seleksi. seyogyanya diapresiasi agar tidak terulang di kemudian hari. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 285 .

286 Bunga Rampai .

Selain itu dari berbagai penelitian yang dilakukan oleh berbagai lembaga swadaya masyarakat diperoleh data bahwa aktor-aktor yang terlibat pun sudah demikian luas. hakim. yaitu dimulai dari seluruh aparat penegak hukum (polisi. sampai dengan kalangan in- 1 Tenaga Ahli Komisi Yudisial Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 287 . S. Semua hal tersebut diperparah dengan sering munculnya putusan pengadilan yang tidak mencerminkan rasa keadilan masyarakat. berbagai kontroversi tersebut dapat dilihat mulai dari lambatnya proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh kepolisian dan kejaksaan dalam penanganan suatu kasus. 1 Pendahuluan Peradilan Indonesia saat ini dipenuhi kontroversi demi kontroversi.H. banyaknya pungutan di luar biaya administrasi resmi saat kasus telah masuk ke pengadilan. sipir penjara dan advokat). pegawai administrasi dengan pangkat tertinggi sampai dengan pangkat terendah di lembaga penegakan hukum. jaksa. Apabila dirangkum dalam suatu kesimpulan umum.Urgensi dan Fungsi Pembentukan Jejaring di Daerah Oleh Komisi Yudisial Asep Rahmat Fajar. sehingga tidak heran apabila dalam sebuah media nasional pernah disebutkan bahwa seorang koruptor yang “merampok” uang negara milyaran rupiah hukumannya tidak beda jauh dengan seorang yang maling 4 karung bawang merah di pasar. proses penundaan persidangan tanpa alasan yang jelas sampai kepada pelaksanaan putusan pengadilan yang kadang kala tidak jelas waktunya.

favoritisme. nepotisme.telektual yang menjadi saksi ahli. kinerja aparat penegak hukum sekarang ini memang berada pada titik nadir yang cukup mengkhawatirkan. conflict of interest. “Katakan Tidak. hakim dan advokat). memperlambat proses pengadilan. 288 Bunga Rampai . Fakta yang secara selintas disebutkan di atas menyebabkan berbagai laporan lembaga di dalam maupun luar negeri yang menyebutkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat korupsi tertinggi di dunia menjadi cukup valid dan tidak dapat disanggah sama sekali. Bahkan Daniel Kauffmann yang secara khusus menyoroti praktek korupsi di lembaga peradilan. penghilangan data atau berkas pengadilan.2 Bentuk-bentuk korupsi di lembaga peradilan sendiri menurut deklarasi International Bar Association (IBA). secara umum adalah tindakan-tindakan yang menyebabkan ketidakmandirian lembaga peradilan dan institusi hukum (polisi. perubahan dengan sengaja berkas pengadilan. Sebagai suatu sistem. pemanfaatan kepentingan umum untuk kepentingan pribadi. Panduan Melawan Mafia Peradilan”. Kolusi dan Nepotisme (KP2KKN) Jawa Tengah. Berbagai keluhan baik dari masyarakat dan para pencari keadilan seolah-olah sudah tidak dapat lagi menjadi media kontrol bagi para penegak hukum tersebut untuk kemudian melakukan berbagai perbaikan yang signifikan bagi terciptanya suatu kinerja yang ideal dan sesuai dengan harapan masyarakat. pertimbangan yang keliru. dalam laporannya menunjukkan bahwa Indonesia termasuk negara yang berada pada posisi yang cukup memprihatinkan berkaitan dengan kinerja aparat pada lembaga penegakan hukumnya. sikap tunduk kepada campur tangan luar/dalam pada saat memutus perkara karena adanya tekanan. ancaman. Sedangkan secara khusus dapat dilakukan dalam bentuk mencari atau menerima berbagai macam keuntungan atau janji berdasarkan penyalahgunaan kekuasaan kehakiman atau perbuatan lainnya. kompromi dengan advokat serta tunduk kepada kemauan pemerintah dan partai politik. pemalsuan. 2 Komite Penyelidikan dan Pemberantasan Korupsi. Praktek-praktek judicial corruption ini secara kolektif dikenal dengan sebutan mafia peradilan. jaksa. seperti suap.

transparan dan mengedepankan nilai-nilai keadilan di sisi lain terlihat sudah sangat sulit untuk diterapkan dan ditemui dalam lembaga dan aparat penegak hukum yang ada saat ini. ruang lingkup pengawasan (hal-hal yang diawasi seperti kinerja pegawai. 4. 5. Kelemahan sistem tersebut pada gilirannya mengakibatkan pola manajemen sumber daya manusia dan manajemen administrasi di lembaga-lembaga penegak hukum tersebut menjadi berjalan tidak optimal/ obyektif. 2. perintah yang dikeluarkan. teori pengadilan yang mempunyai asas sederhana. Selain itu Sujamto (ahli manajemen lainnya) mendefinisikan pengawasan sebagai segala usaha dan kegiatan untuk mengetahui dan menilai kenyataan yang sebenarnya mengenai pelaksanaan tugas atau kegiatan apakah sesuai dengan yang semestinya atau tidak. 3. Sebagian kalangan menganggap bahwa permasalahan tersebut tidak dapat dilepaskan dari lemahnya sistem pengawasan. kebijakan dan ketentuan atau peraturan (dasar dilakukanya pengawasan berikut aturan mainnya). Juga dimaksudkan untuk mengetahui kelemahan dan kesalahan agar dapat dihindari kejadiannya di kemudian hari. tata cara atau prosedur dalam melakukan pengawasan) dan 6. subyek (pengawas atau orang yang mengawasi). dan prinsip yang dianut. dan biaya ringan di satu sisi dan terciptanya suatu peradilan yang bersih. tujuan (untuk memastikan bahwa pelaksanaan suatu tugas maupun hasilnya sesuai dengan perencanaan) Sehubungan dengan berbagai teori pengawasan tersebut. Adapun unsur-unsur dari pengawasan tersebut setidaknya meliputi enam hal. penggunaan anggaran.Secara praktek. Pengawasan: Prinsip dan Aktor Yang Terlibat Menurut Fayol (salah seorang perintis ilmu manajemen) pengawasan adalah upaya memeriksa apakah semua terjadi sesuai dengan rencana yang ditetapkan. maka makna yang terkandung di dalam pengertian pengawasan tersebut berhubungan erat dengan kesatuan tanggung jaPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 289 . apabila dikaitkan dengan aparat penegak hukum. mekanisme (urutan. dan sebagainya). yaitu: 1. cepat. obyek (orang yang diawasi).

solidaritas (in group feeling. diperlukan suatu sistem pengawasan agar dapat mendeteksi dan memeriksa pelanggaran. tanggung jawab prosedural (procedural responsibility) yang menuntut ketelitian atau akurasi hukum acara yang dipergunakan dan tanggung jawab substansi (substantif responsibility) yang berhubungan dengan ketepatan pengkaitan antara fakta dan hukum yang berlaku. merespon laporan atau pengaduan masyarakat dan menindaklanjuti dengan obyektif hasil pemeriksaan dan laporan masyarakat tersebut. 2. esprit de corps) dari obyek pengawasan. 3. yaitu:3 1. tanggung jawab administrasi (administrative responsibility). 2.wab yudisial (judicial responsibility) yang mengandung tiga dimensi pertanggungjawaban. Mekanisme pengawasan melalui proses yang sangat panjang. Melihat permasalahan yang masih ada sampai saat ini dalam sistem pengawasan aparat penegak hukum kita. “Administrasi Peradilan : Lembaga Pengawasan Sistem Peradilan Terpadu”. Pada beberapa lembaga penegak hukum belum ada ketentuan yang memadai yang mengatur pedoman bagaimana seorang aparat penegak hukum seharusnya berperilaku (code of conduct). Berdasarkan teori di atas terdapat beberapa permasalahan dalam sistem pengawasan bagi aparat penegak hukum di Indonesia. mekanisme pengawasan tidak transparan dan akuntabel sehingga masyarakat yang mengajukan laporan/ pengaduan tidak mengetahui tindak lanjut dari laporan/pengaduan mereka. sehingga tidak berjalan dengan efektif. 290 Bunga Rampai . yang mengakibatkan proses pencarian data dan informasi pendukung menjadi cukup terhambat. antara lain adalah: 1. 3 Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia (Mappi). 4. baik perilaku di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan. 3.

konsistensi maupun kelayakan dari target operasional yang telah ditetapkan maupun prioritas dalam mencapai target tersebut. Parameter yang dapat digunakan untuk mengukur prinsip transparasi terdiri dari mekanisme yang menjamin sistem keterbukaan dan standarisasi dari semua prosesproses pelayanan publik. mekanisme yang memfasilitasi pertanyaan-pertanyaan publik tentang berbagai kebijakan dan pelayanan publik. Terdapat beberapa hal penting yang harus dijadikan sebagai prinsip. serta standar yang berlaku.Untuk mengoptimalkan sistem pengawasan aparat penegak hukum tersebut. melalui media massa. beberapa indikator untuk menjamin akuntabilitas publik adalah penyebarluasan informasi mengenai suatu keputusan. adanya kejelasan dari sasaran kebijakan yang diambil. akurasi dan kelengkapan informasi yang berhubungan dengan caracara mencapai sasaran suatu program. adanya mekanisme untuk menjamin bahwa standar telah terpenuhi. maupun media komunikasi personal. mekanisme yang memfasilitasi pelaporan maupun penyebaran informasi maupun penyimpangan tindakan aparat publik di dalam kegiatan pelayanan publik. Selanjutnya untuk akuntabilitas indikator dan parameter yang dapat menjadi acuan pada tahap proses pembuatan adalah pembuatan sebuah keputusan harus dibuat secara tertulis dan tersedia bagi setiap masyarakat yang membutuhkan. pembuatan keputusan sudah memenuhi standar etika dan nilai-nilai yang berlaku. akses publik pada informasi atas suatu keputusan setelah keputusan dibuat Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 291 . Sedangkan pada tahap sosialisasi kebijakan. dengan konsekuensi mekanisme pertanggungjawaban jika standar tersebut tidak terpenuhi. maupun proses-proses di dalam sektor publik. salah satu hal yang paling utama adalah partisipasi publik. dan sudah sesuai dengan visi dan misi organisasi. artinya sesuai dengan prinsip-prinsip administrasi yang benar maupun nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Dalam hal ini prinsip transparansi ini hanya akan menjadi wacana semata jika tidak didukung oleh adanya perlindungan hukum terutama bagi publik yang tertuang dalam suatu Undang-undang tentang Kebebasan Memperoleh Informasi dan Perlindungan Saksi. yaitu transparansi. akuntabilitas dan partisipatif.

mendelegasikan otoritas tertentu kepada pengguna jasa layanan publik seperti proses perencanaan dan penyediaan panduan bagi kegiatan masyarakat dan layanan publik. adanya wadah dan saluran untuk menampung partisipasi publik yang representatif. the Aarhus Convention and the European Union” dalam Human Rights in Natural Resources Development. (Oxford: Oxford University Press. Sedangkan tolak ukur penilaian pelaksanaan dari prinsip partisipatif yang dapat digunakan adalah keterlibatan publik melalui terciptanya nilai dan komitmen para aparat. Dalam hal ini partisipasi publik dalam pengambilan keputusan hanya dapat efektif dan berarti (meaningful) jika masyarakat memiliki informasi yang memadai. apabila kita menginginkan suatu sistem pengawasan yang cukup optimal. kemampuan publik untuk terlibat dalam penegakan hukum. Oleh karenanya. ketersediaan sistem informasi manajemen dan monitoring hasil yang telah dicapai oleh pemerintah. terarah dan dapat terkontrol. Adapun untuk prinsip partisipasi agar dapat terlaksana dibutuhkan beberapa langkah awal sebagai inisiatif dari lembaga penegak hukum yakni mengeluarkan informasi yang dapat diakses oleh publik. Tanpa informasi.4 Logikanya cukup sederhana. maka salah satu titik lemah dalam pengawasan yaitu tidak adanya parameter dan koridor yang jelas untuk melakukan pengawasan dan tidak diterapkannya prinsip-prinsip dasar good governance harus 4 Peter Davies. 292 Bunga Rampai . 157. Lucas and Pring. hal. menyelenggarakan proses konsultasi untuk menggali dan mengumpulkan masukan-masukan dari publik dalam kegiatan publik.dan mekanisme pengaduan masyarakat. by Zillman. Dan tanpa jaminan hak memperoleh informasi. maka masyarakat tidak memiliki ‘amunisi’ untuk berargumentasi. yang bersifat terbuka dan inklusif sebagai tempat publik menyampaikan keinginannya. keterlibatan publik dalam merancang dan melaksanakan penegakan hukum. dan perhatian pemerintah pada pengarahan dan ajakan pada publik untuk berpartisipasi. berpendapat atau memutuskan sikap secara menyakinkan dan tepat. 2002). eds. masyarakat tidak dapat mengakses informasi-informasi tertentu yang penting untuk menjalankan peran di atas. “Public Participation.

Jangan sampai dengan alasan independensi. “ Membuka Ketertutupan Pengadilan”. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal. prinsip ini paling sering dibicarakan.2003) dan dalam Undang-undang No. sebagai wujud dari berbagai teori yang telah dipaparkan di atas. 31 tahun 1999 sendiri. dan perubahan budaya hukum.secepatnya diperbaharui. baik karena merupakan prinsip yang dianggap penting di dunia. Sebab saat ini sering kali karena tidak jelasnya kedua hal tersebut para pelaku mafia peradilan senantiasa berlindung di balik klaim otoritas independensi lembaganya. Dalam hal ini basis masyarakat yang dimaksud adalah mereka yang berkepentingan langsung yaitu korban (termasuk didalamnya kelompok masyarakat yang peduli dengan isyu ini). memperoleh dan memberikan informasi bahwa di suatu daerah atau instansi telah terjadi praktek korupsi. Prinsip ini pula yang sepertinya paling fasih dikuasai oleh para hakim. melainkan melalui proses bertahap yang mencakup pendidikan.6 5 6 Rifqi S. hakim menganggap ia dapat melakukan apa saja tanpa perlu mempertanggungjawabkannya kepada publik dan pada akhirnya menjalankan proses peradilan yang sesat. penyadaran. Tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa memang prinsip independensi peradilan adalah salah satu prinsip penting untuk melahirnya proses peradilan yang fair. Namun permasalahannya. Hal ini diakui dalam Konvensi PBB melawan korupsi 2003 (UN Convention Against Coruption. Undang-undang ini memberi kebebasan kepada masyarakat untuk mencari. Di berbagai forum yang membahas lembaga peradilan. baik di dalam maupun di luar negeri. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 293 . Assegaf dan Josi Khatarina. meningkatkan peran serta masyarakat dalam sistem pengawasan menjadi tidak dapat ditawar-tawar lagi. Peran serta masyarakat diakui memiliki peran penting dalam upaya pencegahan dan penegakan hukum terhadap tindak pidana korupsi.5 Selain itu. prinsip ini sepertinya dianggap lebih penting dibandingkan prinsip pengadilan yang terbuka (prinsip yang mendorong lahirnya akuntabilitas pengadilan). maupun karena mungkin prinsip ini menguntungkan para hakim. pengawasan yang dilakukan haruslah pengawasan yang berbasis masyarakat. Padahal kita menyadari betul bahwa independensi tanpa akuntabilitas dapat kita umpamakan sebagai “cek kosong yang bisa diisi apa saja”. Namun di sini perlu disadari bahwa pengawasan berbasis masyarakat bukanlah pengawasan yang langsung jadi dan berjalan dengan sistemik.

minimnya gaji hakim (pegawai) serta anggaran pengadilan.23. Sedangkan UU No. Sebagai salah satu upaya menjawab sebagian permasalahan di atas. Konstitusi tepatnya pasal 24B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 memberikan landasan hukum yang kuat bagi reformasi bidang hukum yakni dengan memberikan kewenangan pada Komisi Yudisial untuk mewujudkan cheks and balances. 22 tahun 2004 tentang Komisi Yudisial oleh Pemerintah dan DPR. Kualitas sebagian hakim yang rendah (salah satunya disebabkan karena kelemahan proses rekrutmen dan promosi hakim). adalah beberapa ilustrasi lain permasalahan yang harus menjadi agenda pembenahan. MPR (dengan dorongan kelompok masyarakat sipil) pada tahun 2002 menetapkan perlunya pembentukan Komisi Yudisial dalam konstitusi yang kemudian disusul dengan pengundangan UU No. Usaha ke arah peradilan yang lebih baik tersebut sebelumnya juga dilakukan dengan menciptakan sistem satu atap (One Roof System) yaitu memberikan kewenangan di bidang administrasi. 2003. 294 Bunga Rampai . struktur organisasi. Dibentuknya Komisi Yudisial pada perubahan ke-3 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan reaksi terhadap kegagalan sistem peradilan yang ada untuk menciptakan peradilan yang lebih baik. Naskah Akademik dan Rancangan UndangUndang Tentang Komisi Yudisial. Namun usaha ini dipandang belum tentu mampu menyelesaikan masalah yang ada dan bahkan dipandang dapat menimbulkan monopoli kekuasaan di lembaga tersebut.7 Situasi dan kekhawatiran tersebut mendorong terbentuknya gagasan ke arah pembentukan lembaga independen 7 Mahkamah Agung Republik Indonesia. 22 tahun 2004 memberikan wewenang bagi Komisi Yudisial untuk mengusulkan pengangkatan Hakim Agung pada DPR dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim. aksesibilitas pengadilan.Jejaring: Mitra Komisi Yudisial Dalam Pengawasan Rendahnya integritas sebagian hakim hanyalah sebagian dari masalah yang menyelimuti lembaga peradilan. keuangan dan organisasi kepada Mahkamah Agung. h.

Hakim- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 295 . Komisi Yudisial diberi wewenang oleh Undang-Undang Dasar untuk mengawasi perilaku hakim. Dalam rangka merealisasikan gagasan tersebut dibentuklah Komisi Yudisial yang diharapkan dapat mengawasi serta mengimbangi (checks and balances) pelaksana kekuasaan kehakiman sehingga dapat mendorong terciptanya peradilan yang lebih baik di masa mendatang. Upaya untuk memperbaiki dunia peradilan yang merupakan salah satu semangat kelahiran Komisi Yudisial tentu memerlukan dukungan penuh dari elemen-elemen civil society. yang membedakan satu sama lain adalah kewenangannya. informasi. Semua lembaga negara adalah sederajat. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak mengenal istilah lembaga negara utama (main) dan lembaga negara penunjang (supporting). Dalam kaitan ini Komisi Yudisial telah menegaskan pentingnya peranan elemen-elemen masyarakat tersebut untuk memiliki pengetahuan. Diaturnya Komisi Yudisial dalam Pasal 24B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menunjukkan bahwa lembaga ini merupakan lembaga negara yang mendapat atribusi kekuasaan langsung dari Undang-Undang Dasar. Sebagaimana diketahui sejak perubahan ke-3 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.yang berada di luar Mahkamah Agung yang dapat mengimbangi agar tidak terjadi monopoli kekuasaan pada lembaga tersebut. Komisi Yudisial dan Mahkamah Konstitusi adalah sama yaitu sama-sama mendapat kewenangan atribusi dari Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Buruknya dunia peradilan tentu juga terkait dengan proses rekrutmen dan peningkatan karir hakim yang lemah (yang tidak didasarkan pada basis data dan analisis kinerja/ putusan) serta tidak terlacaknya perilaku hakim. Dengan demikian kedudukan Mahkamah Agung. hakim agung dan hakim konstitusi. tidak ada lagi pembagian lembaga negara tertinggi dan lembaga tinggi negara. komitmen dan program aksi bersama dalam menciptakan peradilan yang bersih (clean judiciary). Kehadiran peradilan yang bersih dengan putusannya yang adil merupakan kebutuhan bersama baik masyarakat maupun pemerintah. Sebagai lembaga negara yang mandiri.

hasil dari program perbaikan dunia peradilan pada akhirnya akan dan harus dirasakan secara luas dan nyata oleh seluruh masyarakat.8 tentu mencari data di atas sangat sulit dicapai. mengefektifkan.adalah kurangnya partisipasi publik dalam menjaga dan menegakan kehormatan. kehadiran elemen masyarakat berbasis perguruan tinggi. Terlebih lagi hakim-hakim yang akan direkrut menjadi hakim agung.hakim yang putusannya tidak baik bahkan diindikasi kuat ada pengaruh pihak berperkara tentu perlu diketahui sejak dini baik untuk keperluan pembinaan ataupun penjatuhan sanksi. serta perilaku hakim bertolak dari dua pemikiran dasar. Oleh sebab itu. Komisi Yudisial mungkin dapat menyusun strategi dan metode untuk melakukan riset putusan hakim atau melakukan investigasi perilaku hakim guna memperoleh basis data di atas. semestinya bebas dari putusan-putusan bermasalah. Pembentukan jejaring berangkat dari berbagai permasalahan di atas dan pemikiran bahwa salah satu faktor penyebab terjadinya “penyimpangan” peradilan –yang muncul dalam bentuk “mafia peradilan”. Kesadaran terhadap pentingnya optimalisasi publik dalam menjaga dan menegakan kehormatan. bahwa di satu sisi “penyimpangan” peradilan pada akhirnya akan menempatkan masyarakat sebagai “korban –dengan harga yang sangat mahal. dan ormas keagamaan akan dapat mendukung. 296 Bunga Rampai . Apalagi. sementara lembaga-lembaga peradilan berada di setiap provinsi dan kabupaten dengan lebih dari 6000 orang hakim yang tersebar di lebih dari 300 kabupaten/kota. LSM. dan memperkuat upaya di atas. Hal itu hanya bisa dilakukan melalui suatu proses yang sistematis dengan metodologi yang jelas.sementara di sisi lain terwujudnya peradilan yang “bersih dan “berwibawa” serta yang memungkinkan perlakuan yang sama bagi 8 Data terakhir yang dimiliki penulis adalah jumlah hakim sebanyak 6178 orang yang tersebar di 341 kabupaten/kota. keluhuran martabat. Ketersediaan basis data hakim akan sangat membantu dalam peningkatan kinerja dan karir hakim. keluhuran martabat serta perilaku hakim (di semua lingkungan dan jenjang pengadilan). namun dengan keterbatasan lembaga Komisi Yudisial yang hanya ada di tingkat nasional.

4. Sulteng. Kalbar. Riau dan Kepulauan Riau) Palembang (mencakup wilayah Sumsel. Organisasi Masyarakat serta Lembaga Swadaya Masyarakat. Medan (mencakup wilayah Aceh. 3. 6. Gorontalo.semua pihak di muka hukum (equality before the law) juga menuntut adanya peran publik yang optimal. Sumbar. Berdasarkan jaringan yang ada ini maka upaya yang dilakukan akan sistematis. maka dapat dihasilkan analisis atas putusan-putusan yang baik yang dapat menjadi literatur penting dalam peningkatan kemampuan para hakim dalam menangani perkara. Sementara itu ada juga majalah yang berisi analisis putusan tetapi karena dilahirkan bukan dari lembaga negara resmi maka kurang menjadi rujukan bagi para hakim. Sultra. NTT dan Bali) Pontianak (mencakup wilayah Kalsel. DKI Jakarta. 2. Pada saat ini. memang telah ada majalah yang berisi putusan pengadilan tetapi sangat deskriptif dan kurang analitis. Jambi. Kalteng. 5. Selama ini. Lampung) Malang (mencakup wilayah Banten. Berdasarkan telaah putusan hakim yang akan dijalankan. Jateng. Bengkulu. dan Jatim) Mataram (mencakup wilayah NTB. Bangka Belitung. Pada kesempatan ini mungkin perlu disampaikan juga bahwa sampai saat ini telah dilakukan penyusunan nota kesepahaman dengan beberapa lembaga negara dan kalangan masyarakat yang berasal dari elemen Perguruan Tinggi. Jabar. yaitu:9 1. Sumut. DIY Yogyakarta. Sulut) 9 Laporan Tahunan Komisi Yudisial Republik Indonesia tahun 2006 Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 297 . Komisi Yudisial telah berhasil membentuk jejaring di seluruh Indonesia yang pada saatnya akan merupakan elemen terdepan dalam melakukan kajian putusan hakim (untuk melihat kualitas) dan melakukan investigasi perilaku hakim (untuk melihat integritas) di seluruh Indonesia. Kaltim) Kendari (mencakup wilayan Sulsel. Sulbar. dan cukup lengkap. tidak tumpang tindih. Dalam hal ini penyusunan nota kesepahaman tersebut diawali dengan lokakarya pembentukan jejaring Komisi Yudisial di 7 regional.

Tersusun dan tersedianya data base hakim (baik dalam hal kualitas maupun integritas) yang selanjutnya dapat dijadikan sebagai informasi awal bagi Komisi Yudisial pada saat melaksanakan: a. Terintegrasinya gerakan antara negara dan kalangan masyarakat sipil yang mempunyai tujuan untuk melakukan reformasi peradilan dan pemberantasan mafia peradilan. Penelitian sesuai dengan tema/topik yang telah disepakati oleh kedua pihak. Maluku Utara. 6. Papua dan Irjabar). 3. Teradvokasinya masyarakat pencari keadilan (terutama masyarakat korban) untuk dapat memperjuangkan hakhaknya. Bidang-bidang lain yang dianggap perlu dan disepakati oleh masing-masing pihak. b. Dengan nota kesepahaman yang telah disepakati adalah: 1. 5. Seleksi calon hakim agung. 3. Ambon (mencakup wilayah Maluku. Penelitian putusan hakim di masing-masing daerah. Sedangkan hasil yang diharapkan dengan adanya jejaring dan program-programnya adalah: 1. Pembangunan jaringan advokasi masyarakat. Adapun ruang lingkup kerjasama yang berhasil disepakati antara Komisi Yudisial dengan elemen-elemen tersebut di atas.7. 39 Fakultas Hukum PTN dan PTS. Pengawasan perilaku hakim. Pemberian penghargaan bagi hakim yang berprestasi. 2. Pertukaran informasi yang dilakukan atas dasar kesepakatan kedua pihak. Investigasi perilaku hakim di masing-masing daerah. c. Komisi Yudisial dengan jejaring dae- 298 Bunga Rampai . 3. antara lain meliputi bidang: 1. 2. 2. Sebagai tindak lanjut dari disusunnya berbagai nota kesepahaman tersebut. 55 Lembaga Swadaya Masyarakat. 4. 11 Organisasi Masyarakat.

kebenaran dan keadilan tanpa pandang bulu dengan tidak membeda-bedakan orang seperti diatur dalam lafal sumpah seorang hakim. Oleh sebab itu. mencabut kebebasan warga negara. sehingga putusan pengadilan yang diucapkan dengan irah-irah “Demi Keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” mengandung arti bahwa kewajiban menegakkan hukum. mampu menegakkan hukum serta dapat memberikan kepastian hukum dan keadilan merupakan conditio sine qua non atau persyaratan mutlak dalam sebuah negara yang berdasarkan hukum. dan secara vertikal dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kewenangan hakim yang sangat besar itu menuntut tanggungjawab yang tinggi. Komisi Yudisial sebagai lembaga yang diberi amanat oleh konstitusi Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 299 . semua kewenangan yang dimiliki oleh hakim harus dilaksanakan dalam rangka menegakkan hukum. Selain itu. kebenaran dan keadilan itu wajib dipertanggungjawabkan secara horizontal kepada semua manusia. menyatakan tidak sah tindakan sewenang-wenang pemerintah terhadap masyarakat. Sebagai aktor utama lembaga peradilan. Penutup Pengadilan yang mandiri. berwibawa. Sebagai salah satu langkah untuk mewujudkan lembaga peradilan dan hakim seperti disebutkan di atas. Komisi Yudisial juga telah melakukan penyusunan nota kesepahaman dengan beberapa lembaga negara yang wilayah tugasnya cukup terkait dengan tugas dan wewenang Komisi Yudisial. profesional.rah sampai saat ini telah melakukan berbagai acara untuk proses penyamaan persepsi dan penyamaan metodologi guna menyongsong berbagai program yang akan dan sekarang sedang dilaksanakan. di mana setiap orang sama kedudukannya di depan hukum dan hakim. sebagai bentuk penguatan kelembagaan yang lain. netral (tidak berpihak). dan peran hakim menjadi sangat penting. sampai dengan memerintahkan penghilangan hak hidup seseorang. terlebih dengan segala kewenangan yang dimilikinya. Sebab hanya pengadilan yang memiliki semua kriteria tersebut di ataslah yang dapat menjamin pemenuhan hak asasi manusia. posisi. Melalui putusannya. seorang hakim dapat mengalihkan hak kepemilikan seseorang.

juga disebabkan pemahaman bahwa mafia peradilan adalah merupakan musuh bersama yang telah memberikan dampak negatif yang luar biasa besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. gerakan bahu membahu secara sistematis dan berkesinambungan antar JEJARING dalam suatu JARINGAN kerja menjadi hal yang tidak dapat ditawar dan ditunda-tunda lagi. Oleh karenanya.untuk menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim menempatkan diri sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari komunitas negara dan masyarakat sipil yang mempunyai agenda melakukan reformasi peradilan dan pemberantasan mafia peradilan. Hal tersebut selain dilandasi oleh kesadaran bahwa dua pekerjaan tersebut adalah bukan pekerjaan yang ringan. 300 Bunga Rampai .

H. * Pendahuluan Ditengah maraknya praktek “mafia peradilan” di Bumi Pertiwi ini. Andi Djalal Latief.H. Untuk sampai pada pemahaman betapa pentingnya keberadaan Komisi Yudisial Republik Indonesia (KYRI) beserta kewenangannya dalam struktur ketatanegaraan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam menjamin hak warga Negara. Hal ini terbukti beberapa saat setelah anggota Komisi Yudisial mengucapkan sumpah dihadapan Presiden sebagai Kepala Negara. M. 2004.. * 1 Penulis adalah Kepala Pusat Data dan Pelayanan Informasi Komisi Yudisial Republik Indonesia Prof.H.Urgensi Pembuatan Database Hakim Sebagai Media Penunjang Pelaksanaan Wewenang dan Tugas Komisi Yudisial Ir. PT Pradnya Paramita Jakarta. Kandidat Pilkada kota Depok (Nur Mahmudi Ismail) adalah orang pertama yang datang untuk melaporkan buruknya kerja dan kinerja lembaga pengadilan. “Ilmu Negara”. S. Walau menuai pro dan kontra serta mendapatkan resistensi dari Mahkamah Agung (MA). S. tidaklah dapat dipungkiri bahwa lembaga ini ternyata memberikan secercah harapan bagi para pencari keadilan. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 301 . Kansil. Komisi Yudisial sudah langsung menerima pengaduan dari masyarakat. lahirlah sebuah lembaga Negara baru yaitu Komisi Yudisial. Cetakan kedua...S.T. Christine S. haruslah dipahami arti dari definisi “Negara” serta tujuan dibentuknya negara itu sendiri. hlm 9.T Kansil. MS. Drs. C.

hlm 225.. J. Djokosutono.2 Setelah sedikit diketahui apa yang dimaksud dengan istilah “Negara” maka selanjutnya dalam konteks pentingnya keberadaan Komisi Yudisial dalam sebuah negara hukum. 302 Bunga Rampai .H. menurut Hans Kelsen terkadang definisi “Negara” dibuat sangat sulit oleh aneka ragam objek yang biasa dinyatakan secara tegas oleh istilah negara itu sendiri.S. suatu organisasi kekuasaan/kewibawaan).H. R. Kansil. 2004.T Kansil. M. Dr. S. PT Pradnya Paramita.1 Masih terdapat banyak definisi terhadap istilah “Negara” sehingga.H. mengatakan: Negara ialah suatu organisasi manusia atau kumpulan manusiamanusia yang berada di bawah suatu pemerintahan yang sama. Bee Media Indonesia.A Logemann adalah: De Staats is een gezags organizatie (Negara ialah. Edisi revisi. “lmu Negara”. sedangkan menurut Prof. Somardi “General Theory of Law and State”. tujuan Negara adalah dihubungkan dengan cita-cita manusia hidup di alam kekal yaitu sesuai yang diinginkannya.H. hlm 36. S. atau para subyek pemerintah.. Jakarta. Hal ini banyak disebabkan oleh fakta bahwa para penulis yang berbeda membahas masalahmasalah yang sangat berbeda di bawah satu nama yang sama dan bahkan penulis yang sama pun tanpa disadari menggunakan istilah yang sama dengan pengertian yang berbedabeda. S. Christine S. alih bahasa-Drs. Prof. “bangsa”. maka haruslah pula dipahami tujuan dibentuknya sebuah “Negara” itu sendiri. Cetakan kedua. 2007. C.. Istilah “negara” kadang-kadang digunakan dalam pengertian yang sangat luas untuk menunjuk “masyarakat” atau bentuk khusus dari masyarakat.3 sedangkan menurut Aristoteles negara yang ideal itu adalah negara yang memanusiakan manusia. Tetapi istilah itu pun sangat sering digunakan dalam pengertian yang sangat sempit untuk menunjuk suatu organ khusus masyarakat. negara 2 3 Hans Kelsen. atau wilayah yang mereka diami.T.“Negara” menurut pandangan Prof. Oleh kodrat. Augustinus menyatakan. Drs.H. dan itulah salah satu sebab mengapa negara sebagai persekutuan hidup menempati jenjang yang paling tinggi. karena negara mempunyai tugas yang paling mulia yaitu memanusiakan manusia. misalnya pemerintah.

Rapar. Keberhasilan manusia mencapai tingkat kebajikan tertinggi itu haruslah terlihat lewat moralitas yang terpuji. LL. sebenarnya terbentuknya sebuah negara itu seharusnya dan seyogyanya adalah bertujuan untuk mensejahterakan rakyat atau manusia yang menjadi warga dari sebuah negara itu sendiri. Dr. 2) Ada prinsip-prinsip lain yang berkaitan dengan prinsip pokok di atas.4 Menjadi jelas bahwa apapun definisi dari negara itu.. Jakarta.. Ini dapat berarti bahwa Negara Republik Indonesia adalah Negara yang berdasarkan atas hukum yang demokratis berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945. menurut Prof. “Filsafat Politik Aristoles” C. Negara Indonesia berdasarkan atas hukum bukan berdasarkan atas kekuasaan belaka. tetapi agar manusia itu benar-benar memanusia di dalam negara dan lewat hidup dan bernegara. Lalu kemudian timbul pertanyaan apakah ciri-ciri dari cita Negara hukum Indonesia. artinya kekuasaan itu tunduk pada hukum. Rajawali. kekuasaan itu tidak tanpa batas.V.D. Cetakan Pertama. manusia dimampukan untuk mencapai tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang semaksimal mungkin. Th. Dengan kata lain. dan kekuasaan harus tunduk pada hukum. Secara popular dikatakan bahwa Negara hukum adalah Negara berdasarkan hukum.D. Manusia yang benar-benar bermoral dan yang berarti pula benar-benar berkualitas akan senantiasa siap sedia melakukan segala sesuatu yang terbaik dan mulia. J.M cita Negara hukum Indonesia adalah: 1) bahwa dalam Negara hukum.ada dan terbentuk bukan sekedar agar manusia dapat hidup didalamnya.H. Di dalam dan lewat hidup bernegara. moralitaslah yang memberi kualitas khusus bagi manusia sehingga manusia itu adalah manusia yang tidak sama dengan makhluk yang lain. 1988. karena hanya moralitas yang demikian itulah yang membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 303 . Salah satu yang terpenting adalah 4 DR. hlm 43. Ph.H. Seperti kita ketahui bersama dan dinyatakan secara tegas dalam UUD 1945 adalah bahwa. S. Mochtar Kusumaatmadja. Itu berarti bahwa di dalam negara manusia seyogyanya dapat mencapai tingkat kebajikan yang tertinggi.

2006. kedudukan sosial dan kekayaan. S. Kehadiran Komisi Yudisial di Bumi Pertiwi yang berfungsi sebagai lembaga checks and balances terhadap lembaga peradilan merupakan langkah tepat dalam rangka untuk menjamin terpenuhinya rasa keadilan bagi sebanyak-banyak warga negara. Terungkapnya kasus-kasus penyalahgunaan wewenang (abuse of power) oleh hakim serta pejabat peradilan lain yang banyak dipublikasikan oleh berbagai media massa seolah menjadi cerminan dari lemahnya integritas moral dan perilaku hakim serta pegawai lembaga peradilan. Hukum sebagai salah satu pilar berbangsa dan bernegara yang mendasari UUD 1945 telah mereka abaikan demi kepentingannya sendiri. Hari memang telah silih berganti sejak kemerdekaan. LL. pengamalan serta pelaksanaan hak dan kewajiban Negara Indonesia haruslah menjamin hak asasi setiap warga negara melalui penyelenggara Negara dan lembaga negaranya. Keadaan 5 Dr.H. Mochtar Kusumaatmadja itu terlihat bahwa. “Konsep-Konsep Hukum Dalam Pembangunan”.M. Dikatakan secara lain. Masih ada di antara kita yang secara sadar telah melakukan penjajahan dalam bentuk yang lebih hina “jual-beli putusan” dan mengingkari hak sesama anak bangsa. PT Alumni. 304 Bunga Rampai . Mochtar Kusumaatmadja. Bandung. penghayatan.bahwa dalam Negara hukum semua orang sama di hadapan hukum.. berarti bahwa hukum memperlakukan semua orang sama tanpa perbedaan yang didasarkan atas ras (keturunan). agama. namun nampaknya bangsa ini belum juga beranjak dewasa dan menyadari arti dari kata merdeka itu sendiri.5 Dari pernyataan Prof. Cetakan kedua. Terbentuknya Komisi Yudisial RI Perjalanan Bangsa Indonesia dimulai pada saat dikumandangkannya lagu Indonesia Raya serta berkibarnya Sang Saka Merah-Putih pada tanggal 17 Agustus 1945 serta dengan disahkannya UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI menjadi dasar Negara kita. hlm 180.

Dengan sifat UUD 1945 yang “supel. Oleh karena itu. Namun ide tersebut tidak berhasil dimasukkan dalam undang-undang tentang Kekuasaan Kehakiman. seolah-olah UUD 1945 adalah sebuah karya agung tanpa kelemahan.ini tidak saja terjadi di lingkungan pengadilan negeri dan pengadilan tinggi. kepindahan. itu tuntutan mereka. “Demokrasi Terpimpin” serta “Demokrasi Pancasila”. Akhirnya pada tahun 1998 setelah sekian lama bungkam. promosi. Keadaan ini membuat masyarakat pencari keadilan memandang bahwa lembaga peradilan sebagai suatu sistem dianggap sudah tidak bersih dan kurang berwibawa. Keadaan ini membuat masyarakat pencari keadilan menjadi patah arang dan bosan menggantungkan harapannya kepada pemerintah dan lembaga peradilan. yang dinyatakan secara tegas dalam UUD 1945 itu sendiri. Reformasi total. Perlahan namun pasti keinginan untuk melakukan perubahan semakin memuncak. pada tahun 1968 muncul ide pembentukan Majelis Pertimbangan Penelitian Hakim (MPPH) yang berfungsi untuk memberikan pertimbangan dalam mengambil keputusan akhir mengenai saran-saran dan atau usul-usul yang berkenaan dengan pengangkatan. Kelemahan ini dapat terlihat dengan singkatnya UUD Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 305 . tetapi juga telah terjadi di lingkungan Mahkamah Agung sebagai penyelenggara kekuasaan kehakiman yang tertinggi. singkat dan fleksibel” memang membuatnya mudah mengikuti perkembangan jaman. pemberhentian dan tindakan/hukuman jabatan para hakim. apakah ada kepastian hukum dari UUD seperti itu? Apalagi bila pertanyaan itu dikaitkan dengan pernyataan bahwa Negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum bukan berdasarkan atas kekuasaan belaka. Akhirnya karena desakan yang begitu kuat Orde Baru yang menjalankan roda pemerintahan saat itu pun tumbang. Jika diperhatikan salah satu kesalahan pemerintahan Orde Baru saat itu adalah dengan ditabukan dan disakralkannya UUD 1945 untuk dirubah. Kenyataan ini menimbulkan sebuah pertanyaan yang amat mendasar terhadap UUD 1945. rakyat bicara. akan tetapi hal ini juga membuat UUD 1945 dapat diinterpretasikan dan diimplementasikan ke dalam berbagai struktur politikpemerintahan yang berbeda-beda: “Demokrasi Parlementer.

Beliau mengemukakan beberapa alasan. Keadaan ini tergambarkan pula ketika Ir. Kalau boleh saya memakai perkataan: ini adalah UUD kilat! Nanti kalau kita telah bernegara dalam suasana yang lebih tenteram. kita tentu akan mengumpulkan kembali MPR yang dapat membuat UUD yang lebih lengkap dan sempurna… Tuan-tuan tentu mengerti. Kurang sempurnanya UUD 1945 ini sebenarnya juga dikuatkan dalam rumusan Aturan tambahan UUD 1945 itu sendiri yang berbunyi: “Enam bulan sesudah berakhirnya perang Asia Timur Raya.H. “Arus Pemikiran Konstitusionalisme. tidak memberikan tempat bagi keberadaan infrastruktur demokrasi (seperti partai politik. memberikan porsi kekuasaan yang begitu besar kepada presiden. Tata Negara”.”6 Terlihat jelas dalam rumusan itu bahwa sejak awal memang para penyusun UUD 1945 sudah menyadari bahwa UUD yang mereka buat secara kilat itu (hanya dalam tempo dua hari) belumlah sempurna dan harus diperbaiki. S. Jakarta. Buku I. kelompok kepentingan dan penekan) Kedua. di dalam rumusannya.. bahwa barangkali boleh dikatakan pula. Iur. Nanti kita membuat UUD yang lebih sempurna dan lengkap…. inilah revolutie grondwet.7 Kelemahan yang terdapat pada UUD 1945 ini dikatakan oleh Adnan Buyung Nasution sebagai loop hole. Akibatnya. MPR harus dibentuk. Soekarno sebagai Ketua PPKI memberikan kata sambutannya. UUD memang hanya dimaksudkan untuk mengatur hal yang pokok-pokok saja dan hanya berlaku sementara. bahwa UUD ini adalah UUD Sementara. pada saat pengesahan UUD 1945 oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945.1945 (hanya terdiri dari 37 pasal. sekalipun di dalam penjelasan 6 7 Dr. UUD 1945 306 Bunga Rampai . yaitu: Pertama. dan enam bulan sesudah dibentuk. Kata Hasta Pustaka. bahwa UUD yang kita buat sekarang ini adalah UUD sementara. 4 Aturan Peralihan dan 2 Aturan Tambahan) dan menurut penjelasan resminya. UUD Kilat. “…Tuan-tuan semuanya tentu mengerti. MPR harus bersidang untuk menetapkan UUD baru”. Adnan Buyung Nasution.

rumusan seperti ini memungkinkan dominasi eksekutif dalam pembentukan dan pelaksanaan UU. “Arus Pemikiran Konstitusionalisme. UU No. yakni memusatkan kekuasaan di tangan presiden (concentration of power upon the president) sebagai kepala pemerintahan sekaligus kepala negara. Jakarta.5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 307 . Iur. S. Seiring dengan itu untuk memberantas “mafia peradilan” dan menjamin terpenuhinya hak rakyat dan agar beberapa kesalahan para pemimpin terdahulu tidak terulang. 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman diterapkanlah sistem satu atap (one roof system) pada dunia 8 Dr. niscaya sangat sulit tercipta balance of power apalagi checks and balances diantara cabang-cabang pemerintahan. begitu banyak loop holes yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal UUD 1945. Ketiga. Tata Negara”. 2 tahun 1986 tentang Peradilan Umum serta UU No. Sebenarnya setelah terjadinya “revolusi” oleh mahasiswa pada tahun 1998 yang mengakibatkan tumbangnya pemerintahan Orde Baru. Ini terlihat dari rumusan yang berbunyi: “… ditetapkan dengan UU” di akhir sejumlah pasal UUD 1945. Inilah karakteristik penting lainnya dari UUD 1945.H.UUD 1945 dikatakan bahwa pemerintahan tidak bersifat absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas) dan negara Indonesia tidak berdasar kekuasaan belaka.14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung.. arah menuju perbaikan struktur ketatanegaraan Indonesia sudah mulai tampak dengan diperbaikinya UUD 1945 melalui empat tahapan amandemen.8 Namun pada kenyataannya UUD 1945 dalam keadaan seperti inilah yang dipertahankan oleh pemerintahan Orde Baru untuk melanggengkan kekuasaannya. Melalui UU No. Adnan Buyung Nasution. Buku I. Kata Hasta Pustaka. maka para pemimpin negeri ini berusaha melakukan perbaikan dengan melakukan perubahan terhadap beberapa UndangUndang yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman seperti: UU No. Dalam kondisi kekuasaan Lembaga Kepresidenan yang begitu besar. namun dengan begitu besarnya kekuasaan Lembaga Kepresidenan.

keluhuran martabat. Namun penerapan sistem satu atap sebagai salah satu upaya menciptakan independensi pengadilan dan imparsial hakim agar terhindar dari campur tangan penguasa tidak mengurangi ruang gerak “mafia peradilan” serta tidak juga dapat meningkatkan integritas moral serta profesionalitas hakim.. yakni pedoman atau patokan sikap 308 Bunga Rampai . Oleh karena itu. Sehingga pada tahun 1998-an muncul kembali dan menjadi wacana yang semakin kuat dan solid. yakni pengetahuan yang tersusun secara sistematis atas dasar kekuatan pemikiran. dan profesional dapat tercapai. yakni suatu sistem ajaran tentang kenyataan atau gejala-gejala yang dihadapi. S. agar cita-cita untuk mewujudkan pengadilan yang jujur. M.H. namun ada baiknya disimak pendapat Prof Dr.peradilan. Malah memperparah. serta perilaku hakim.. disepakati beberapa perubahan dan penambahan pasal yang berkenaan dengan kekuasaan kehakiman. Soerjono Soekanto. karena dunia pengadilan kita menjadi tidak dapat tersentuh oleh lembaga lain. Beliau berpendapat: 1) Hukum sebagai ilmu pengetahuan.A. bersih. Berdasarkan pada amandemen ketiga itulah dibentuk Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial yang disahkah di Jakarta pada tanggal 13 Agustus 2004. jika dikaitkan dengan pendapat masyarakat. 2) Hukum sebagai disiplin. Keadilan serta Hakim Banyak sarjana yang mencoba untuk mendefinisikan apa itu hukum dan mungkin definisi hukum itu sebanyak para pemikirnya. termasuk di dalamnya dibentuk Komisi Yudisial yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Hukum. untuk membentuk lembaga mandiri sebagai pengawas eksternal terhadap lembaga pengadilan. transparan. 3) Hukum sebagai kaedah. personalia dan keuangan yang tadinya dipegang oleh eksekutif melalui Menteri Hukum dan HAM diserahkan sepenuhnya kepada Mahkamah Agung melalui Undang-Undang Pokok Kekuasaan Kehakiman. Kewenangan manajemen administrasi. tentang hukum. pada Sidang Tahunan MPR tahun 2001 yang membahas amandeman ketiga Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

hukum adalah suatu tata perbuatan manusia. Hubungan yang mempersatukan berbagai peraturan khusus dari suatu tata hukum perlu dimaknai agar hakikat hukum dapat dipahami. disana mereka akan menjadi amat bahagia bila dijebloskan ke penjara. hal ini terjadi karena dengan dijebloskan ke penjara.9 dll. 2002. Memang tidaklah mungkin menjadikan suatu tata aturan tertentu menjadi adil dan membahagiakan bagi semua pihak. dan Prof. PT Citra Aditya Bakti. hlm 2.. Somardi “General Theory of Law and State”.11 Kedua kata itu. S.A. 1993.10 Sementara itu kata keadilan berasal dari kata adil yang dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti: sama berat. Balai Pustaka. Cetakan kedua. apalagi di Indonesia yang terdiri dari begitu banyak suku bangsa. 2007. mereka akan merasakan tempat tinggal 9 10 11 Prof. Tidak mungkin untuk memahami hakikat hukum hanya dengan memperhatikan satu peraturan saja. “Tata Perbuatan” mengandung arti suatu sistem aturan. hukum dan keadilan tidak dapat dicampur-adukan jadi satu dengan yang lainnya. seperti kadang-kadang dikatakan demikian. sehingga hukum itu akan tampak adil namun hanyalah bagi golongan tertentu saja. Hanya atas dasar pemahaman yang jelas tentang hubungan-hubungan yang membentuk tata hukum tersebut bahwa hakikat hukum dapat dipahami dengan sempurna. alih bahasa-Drs. budaya. karena bila kedua kata itu dicampur-adukan maka ia akan menjadi suatu kecenderungan ideologi serta politik. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 309 . agama. keduanya haruslah dilihat dari sudut ilmiah... “Kamus Besar Bahasa Indonesia”. Namun demikian kedua kata itu juga tidak dapat dipisahkan karena hukum tidak dapat dipisahkan dari konsep keadilan itu sendiri. Sedangkan Hans Kelsen berpendapat. S. Hans Kelsen. hlm. Dr. Soerjono Soekanto. 3. latar belakang pendidikan dsb. Bee Media Indonesia.H. Hukum adalah seperangkat peraturan yang harus kita pahami dalam satu kesatuan yang sistemik. Purnadi Purbacaraka. hlm 8.”Sendi-Sendi Ilmu Hukum dan Tata Hukum”. Dapat kita ambil contoh masyarakat pedalaman Papua. cetakan VI. M. tidak berat sebelah atau tidak memihak. Edisi revisi.tindak atau perikelakuan yang pantas atau diharapkan. Namun hukum bukan satu peraturan semata.H.

Jimly Asshiddiqie. Selain itu seorang hakim juga harus memiliki integritas moral yang baik. sehingga ia dapat memberikan keadilan yang sebesar-besarnya kepada sebanyak-banyaknya pencari keadilan berdasarkan hati nuraninya. Seekor babi pada pedalaman Papua amatlah tinggi nilai ekonomisnya. serta penciptaan hukum (rechtsschepping) bila tidak terdapat peraturan perundangan-undang terhadap setiap perkara yang sedang ditanganinya. tidak sama dengan seorang yang merampok dan membunuh hanya untuk kesenangan belaka. Demikian pula dengan delik pembunuhan. tidak akan mungkin semua pembunuh dihukum dengan hukuman yang sama. Dr. yang beranggapan bahwa penjeblosan ke dalam penjara adalah bentuk perampasan hak asasi manusia yang dibenarkan oleh Undang-Undang. tentang jabatan hakim. karena pembunuhan sebagai suatu tindakan penghilangan nyawa orang lain itu amat dipengaruhi sebuah peristiwa yang melatar-belakanginya. sehingga ia dapat melakukan penemuan hukum (rechtsvinding). karena pada jabatan hakim melekat status sebagai seorang penegak hukum dan pemberi keadilan di dunia.yang lebih layak dari pada tempat tinggalnya.H. Oleh karena itu berkenaan dengan tugas hakim untuk menerapkan hukum secara benar serta memberikan keadilan yang sebesar-besarnya kepada sebanyak-banyaknya individu. Dalam kaitan itu ada baiknya pula dicermati pendapat Prof. Seorang yang merampok dan membunuh karena harus membayar biaya rumah sakit anaknya. setiap manusia atau pencari keadilan akan mempunyai nilai sendiri tentang keadilan dan kebahagiaan. S. 310 Bunga Rampai . Oleh karenanya hakim dikatakan sebagai “perpanjangan tangan Tuhan di dunia”. Bagi penduduk pedalaman Papua akan lebih menyakitkan bila mereka diharuskan mengganti kerugian akibat perbuatannya dengan seekor babi. Jadi. Menjadi bertolak belakang bila penjeblosan ke penjara ini diterapkan pada masyarakat kota besar. dan mereka pun tidak perlu bersusah payah untuk mencari makan. Jadi jelaslah bahwa jabatan hakim tidak dapat dipisahkan dari konsep hukum dan keadilan. maka seorang hakim dituntut untuk memiliki pengetahuan luas. Nilai keadilan itu amat bergantung pada latar belakang diri masing-masing pencari keadilan.

hakim melaksanakan tugas bukan lagi sebagai individu. Hal ini jelas mengindikasikan bahwa wewenang Komisi Yudisial ada dua. Pegawai negeri adalah pelayan sedangkan hakim itu bukan pelayan tetapi jabatan kehormatan. Cetakan Pertama. Bekasi. 85. pengetahuan. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 311 .H. tetapi sebagai institusi. Karena itu hakim selayaknya bukan pegawai negeri. yang disahkan di Ja- 12 Pemikiran Prof. dan 2) Belum memuaskannya tingkat kesejahteraan hakim yang bersangkutan. Dr. Jimly tersebut dapatlah ditarik kesimpulan bahwa bila terdapat hakim yang melakukan penyimpangan terhadap hukum dan rasa keadilan maka terdapat dua kemungkinan yang mendasarinya. Jimly Asshiddiqie. hlm.12 Dari pendapat Prof. dan pengalaman seperti orang yang sudah menjadi dosen atau advokat terkenal yang bekerja sungguh-sungguh dengan segala kehormatan jabatan ini. 2007. yaitu: 1) Kurangnya pengetahuan hakim yang bersangkutan. Yang menjadi hakim bukanlah orang yang mencaricari kerja. serta perilaku hakim. Sehingga seharusnya hakim tidak direkrut dengan proses seperti penerimaan pegawai negeri. keluhuran martabat.. sebagaimana tercantum dalam Undang Undang Nomor 22 tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial. Dan oleh karena itu gajinya lebih tinggi dari eksekutif dan legislatif. “Konstitusi dan Ketatanegaraan Indonesia Kontemporer”. dan perilaku hakim. keluhuran martabat. The 13 Biography Institute. dan yang kedua: Menjaga dan menegakkan kehormatan. maka orang yang diangkat menjadi hakim adalah paling terhormat. Yang dapat diangkat menjadi hakim adalah orang yang memiliki kehormatan. Wewenang dan Tugas Komisi Yudisial Dalam UUD 1945 dengan jelas dinyatakan bahwa Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. yaitu pertama: Mengusulkan pengangkatan hakim agung. Agar Komisi Yudisial dapat menjalankan tugasnya maka disusunlah dengan rinci wewenang dan tugas Komisi Yudisial. S. bukan orang mencari kerja.

Seleksi administratif menyangkut kelengkapan persyaratan administrasi. serta pemeriksaan kesehatan untuk melihat keadaan kesehatan yang dapat menghambat atau meniadakan kemampuan (disability) dalam menjalankan tugas sebagai Hakim Agung. daftar harta kekayaan serta sumber penghasilan. Mengajukan usul penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada pimpinan Mahkamah Agung. keluhuran martabat. ijazah asli atau yang telah dilegalisir. keluhuran martabat serta perilaku hakim. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial maka kewenangan Komisi Yudisial meliputi: Mengusulkan pengangkatan Hakim Agung kepada DPR RI. Sedangkan seleksi kualitas dan kepribadian menyangkut penilaian karya 2 tahun terakhir. seleksi kualitas dan kepribadian. Melakukan seleksi terhadap calon hakim agung.” 312 Bunga Rampai . Pelaksanaan pengawasan terhadap perilaku hakim. Berdasarkan pasal 20 dan pasal 23 UU No. karya ilmiah dan legal case problem solving yang topiknya ditentukan oleh Komisi Yudisial.13 Dalam kaitan dengan mengusulkan pengangkatan hakim agung. diwujudkan dalam bentuk: penerimaan laporan pengaduan masyarakat tentang perilaku hakim. dan Nomor Pokok Wajib Pajak. Menjaga dan menegakkan kehormatan. Menetapkan calon hakim agung. termasuk riwayat pekerjaan. Dalam kaitan dengan menjaga dan menegakkan kehormatan. permintaan laporan secara 13 “Undang-Undang No. Komisi Yudisial mempunyai tugas: Melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim.22 Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial. Komisi Yudisial mempunyai tugas: Melakukan pendaftaran calon hakim agung. surat keterangan sehat jasmani dan rohani dari dokter rumah sakit pemerintah. Mengajukan calon hakim agung kepada DPR. Seleksi yang dimaksudkan disini adalah seleksi administratif. serta perilaku hakim. sekurang-kurangnya: daftar riwayat hidup.karta pada tanggal 13 Agustus 2004 oleh Presiden Republik Indonesia serta dicatatkan pada lembaran negara Republik Indonesia tahun 2004 nomor 89 dan tambahan lembaran negara Republik Indonesia nomor 4415.

Tidak hanya untuk kepentingan melakukan pembinaan dalam rangka peningkatan pengetahuan. Disamping itu.berkala kepada badan peradilan berkaitan dengan perilaku hakim. Dengan demikian Komisi Yudisial dapat memberikan dukungan untuk melakukan pembinaan dalam rangka peningkatan pengetahuan. dapat berupa: Teguran tertulis. lembaga Negara ini perlu didukung oleh database hakim yang dapat menyajikan informasi secara cepat dan akurat. sehingga rasa keadilan yang didambakan masyarakat dapat lebih terpenuhi. Database Hakim sebagai Elemen Pendukung Penting Dalam rangka melaksanakan tugas serta wewenang yang diamanatkan oleh UUD 1945 yang penjabarannya di dalam UU Nomor 22 tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Disamping upaya pengawasan yang dikemukakan di atas yang lebih merupakan upaya represif. Sedangkan Usul Penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada Mahkamah Agung disesuaikan dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan. pemanggilan dan permintaan keterangan dari hakim yang diduga melanggar kode etik perilaku hakim. pembuatan laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi disampaikan kepada Mahkamah Agung. Disinilah pentingnya dukungan data base hakim yang akurat. Pemberian penghargaan maupun sanksi dimaksudkan untuk memotivasi hakim agar mempunyai kinerja lebih baik serta mampu menjaga kehormatan. pemeriksaan terhadap dugaan pelanggaran perilaku hakim. tetapi juga untuk mePenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 313 . profesionalitas dan integritas hakim serta pengajuan usul pemberian penghargaan atau promosi terhadap hakim berprestasi saja. sehingga dapat diketahui secara pasti tingkat pengetahuan (skill) dan profesionalitas serta integritas dari setiap hakim. profesionalitas dan integritas hakim serta pengajuan usul pemberian penghargaan terhadap hakim berprestasi. dan Pemberhentian. keluhuran martabat dan perilakunya. agar Komisi Yudisial dapat melakukan pemetaan terhadap hakim. Komisi Yudisial juga diharapkan dapat melakukan upaya preventif agar tidak terjadi penyimpangan perilaku hakim dengan mengusulkan pemberian penghargaan bagi hakim berprestasi kepada Mahkamah Agung. dan tindasannya kepada Presiden dan DPR. Pemberhentian sementara. juga sangat bermanfaat dalam melakukan seleksi calon hakim agung.

anak. pekerjaan anak. riwayat pendidikan dan pekerjaan kedinasannya. Data dan informasi mengenai integritas. untuk menggambarkan keadaan hakim secara utuh sangat diperlukan. minimal dapat dibagi dalam 5 kategori. bahwa untuk melihat perilaku seseorang maka dapat dilihat bagaimana ia berperilaku di dalam keluarga dan masyarakat. Data Keluarga Adalah data dan informasi yang ada kaitannya dengan keluarga hakim. Data Kekayaan. Data base hakim yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan wewenang dan tugas Komisi Yudisial. Data Kekayaan Adalah data kekayaan hakim ditujukan untuk mengetahui besaran kekayaan yang dimiliki oleh hakim yang 314 Bunga Rampai . seperti biodata. dari rekam jejak (track record) yang ada pada dirinya. Informasi tentang aktivitas hakim dan keluarga. Dalam hal ini keluarga memegang peranan penting untuk membentuk karakter jiwa maupun perilaku termasuk pribadi hakim. pekerjaan isteri atau suami. Oleh karena itu. yaitu: Data primer mengenai pribadi hakim. menjadi program komisi ini untuk mempromosikan hakim tersebut. penentuan data item yang membentuk database rekam jejak hakim harus dibuat memenuhi kebutuhan di atas. Selain itu informasi tentang keluarga ini sangat penting untuk melihat kondisi sesungguhnya dari kehidupan keluarga hakim yang bersangkutan. Dari database inilah akan mudah kita telusuri hakimhakim mana yang layak berdasarkan kemampuan pengetahuan (skill). baik mengenai jati dirinya maupun yang terkait dengan data kedinasan hakim. skill dan profesionalitas. profesionalitas dan integritas. dan data serta informasi lainnya yang terkait isteri atau suami dan anak. Data Keluarga. Data primer mengenai pribadi hakim Adalah data dan informasi yang ada hubungan langsung dengan diri hakim tersebut. Hakim-hakim yang memiliki track record baik. Data dan informasi tersebut meliputi suami atau isteri. Sesuai dengan pepatah.lihat rekam jejak hakim dalam rangka seleksi calon hakim agung.

Data atau informasi yang perlu direkam dalam database antara lain meliputi: • • • • • kebiasaan yang sering dilakukan oleh hakim maupun keluarga (orang tua. maka perlu diketahui darimana dan dengan cara bagaimana kekayaan tersebut diperoleh? Selain itu. istri mapun anak). Unjuk kekayaan menjadi sebuah gaya hidup tersendiri untuk memperlihatkan gengsi seseorang. meskipun terkadang kekayaan tersebut didapat dengan cara yang tidak halal. Ketidaktaatan dalam membayar pajak merupakan cermin kelalaian dari warganegara untuk menyumbangkan kekayaannya bagi pembangunan bangsa. istri. Adagium bahwa “kekayaan seseorang dapat mempengaruhi gaya hidup (life style) dari orang tersebut” agaknya sangat melekat dalam budaya hidup di Indonesia. Bila hakim memiliki kekayaan yang besar.bersangkutan. apakah Hakim juga memiliki kesadaran/ ketaatan untuk membayar pajak dari kekayaan yang dimilikinya? Informasi tentang aktivitas hakim dan keluarga Adalah informasi mengenai aktivitas di luar kedinasan yang biasa dilakukan oleh hakim dan keluarganya baik yang positif maupun yang negatif. acap kali orang tersebut lupa akan kewajiban sebagai warga negara dalam mengelola kekayaan yang dimilikinya. Data atau informasi yang perlu direkam dalam hal ini adalah terkait dengan harta hakim. Namun demikian. Dengan memiliki informasi aktifitas ini setidaknya dapat diperoleh gambaran mengenai perilaku yang bersangkutan dan keluarganya (orang tua. Hal ini secara tidak langsung dapat mencerminkan integritas yang dimiliki oleh Hakim. Kebiasaan keluarga ini ada kemungkinan mempunyai kaitan dengan pembentukan sifat dan karakter hakim tersebut. jika ada jaringan bisnis dan keterlibatan hakim dalam jaringan bisnis tersebut Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 315 . anak) kesenangan terhadap mahluk hidup atau benda-benda tertentu gaya hidup hakim atau keluarga kedekatan (afiliasi) dan bentuk keterlibatannya pada sebuah organisasi politik tertentu. untuk mengetahui bagaimana kekayaan dan sumber-sumber kekayaan yang dimiliki oleh hakim.

melainkan juga dilihat bagaimana hakim pada saat di luar kedinasan.Data dan informasi mengenai integritas. khususnya perkara hukum. pengalaman hakim terhadap penanganan 316 Bunga Rampai . Profesionalitas hakim tidak hanya diukur pada saat hakim mengemban pekerjaannya di dalam kedinasan. Data atau informasi yang perlu direkam dalam data base rekam jejak hakim terkait dengan hal di atas. maka salah satunya bisa dilihat dari pengalaman dari hakim pada saat menangani perkara. Prinsipnya. Sedangkan untuk menilai bagaimana integritas hakim. antara lain meliputi: informasi mengenai pernah tidaknya hakim terlibat sebuah kasus (hukum maupun kesusilaan). Informasi lain yang berkaitan dengan hakim. Bila kualitas berkenaan dengan masalah kemampuan. Keduanya menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi dan menjadi prasyarat utama yang harus dimiliki oleh hakim. Untuk mengukur tingkat kualitas dan integritas seseorang bukan hal yang mudah. skill dan profesionalitas Kualitas dan integritas (moral) adalah materi paling penting untuk menilai bagaimana pribadi seorang hakim. Kualitas tanpa integritas bisa membuahkan kerusakan. Kualitas berhubungan dengan kemampuan (capability) teknis yudisial maupun manajerial hakim tersebut dalam menangani persoalan. sedangkan integritas tanpa kualitas tidak akan terlalu banyak memberi perubahan dalam memperbaiki kondisi lingkungan (peradilan). khususnya dalam penanganan perkara hukum. baik yang bersumber dari media maupun dari lingkungan kerja mengenai sepak terjang si hakim. informasi penting lain yang perlu di dapat dari seorang hakim adalah mengenai profesionalitasnya selama menjalankan pekerjaan di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan. kurang lebih alat (instrument) untuk menilainya adalah apakah hakim pernah terlibat kasus (skandal) yang melanggar norma baik norma hukum maupun kesusilaan? Selain persoalan kualitas dan integritas. Meski demikian keduanya bukan sesuatu yang tidak dapat dinilai. Sedangkan integritas berkaitan dengan erat dengan karakter kejiwaan (perilaku) yang diterjemahkan dalam perilaku hidup sehari-hari. hakim yang profesional senantiasa taat azas baik di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan.

profesionalisme dan integritas hakim. pengajuan usul pemberian penghargaan terhadap hakim berprestasi dan lain sebagainya. Bentuk dukungan yang bisa diberikan dapat berupa pelatihan. disiplin dalam sidang (apakah hakim tersebut tepat waktu dalam melaksanakan sidang atau sebaliknya. kepatuhan hakim dalam melaksanakan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. hasil karya ilmiah yang pernah dihasilkan. melakukan seleksi calon hakim agung dan pengawasan terhadap hakim guna menjaga dan menegakkan kehormatan. dsb). Komisi Yudisial dapat melakukan pemetaan terhadap hakim. kehadiran hakim di kantor. belanja. kebiasaan hakim dalam memanfaatkan barang-barang inventarisasi kantor (misalnya apakah kendaraan dinas/jabatan sering digunakan untuk keperluan di luar kantor: arisan.kasus. profesionalitas dan integritas hakim. agar data atau informasi yang disimpan dalam database tersebut. dalam hal tingkat pengetahuan (skill) dan profesionalitas serta integritas moral dari setiap hakim. karena dengan tersedianya database hakim. hakim lebih sering mengulur-ulur jadwal sidang?). Selain itu. keluhuran martabat serta perilaku hakim. database ini juga dapat menjadi sumber informasi rekam jejak hakim yang sangat bermanfaat di dalam mendukung pelaksanaan kewenangan dan tugas-tugas Komisi Yudisial yaitu. memang merupakan data atau Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 317 . khususnya di dalam pembuatan putusan. Urgensi pembangunan Database (rekam jejak) hakim Kebutuhan akan database ini sangat penting sifatnya. Komisi Yudisial dapat dengan secara akurat menentukan bentuk dukungan yang perlu diberikan kepada hakim untuk melakukan pembinaan dalam rangka peningkatan pengetahuan. jalan-jalan. Dengan terbangunnya database hakim ini. guna meningkatkan kualitas atau pengetahuan. penentuan data item perlu dilakukan dengan sangat cermat. Pertama. Penutup Akhir kata ada beberapa catatan penting yang harus diperhatikan berkenaan dengan pembangunan database (rekam jejak) hakim. buku bacaan. prestasi kerja atau penghargaan yang pernah diperoleh.

agar data atau informasi hanya dapat diakses oleh orang yang berhak. data dan/atau informasi yang simpan di dalam database harus betul-betul diperhatikan tingkat akurasinya. agar informasi yang disajikan terpercaya. Kedua.informasi yang penting dan diperlukan di dalam mendukung pelaksanaan kewenangan dan tugas Komisi Yudisial. Dengan demikian data atau informasi yang tersimpan dapat dijamin akurasi dan integritasnya. 318 Bunga Rampai . tetapi juga pengaman secara fisik perlu diperhatikan. Ketiga. Pengamanan yang diterapkan tidak hanya di level aplikasi atau perangkat lunak dan jaringannya. sesuai dengan tingkat kewenangannya. keamanan data dan informasi yang tersimpan dalam database merupakan hal yang sangat penting diperhatikan.

. Muzayyin Mahbub. Frida Aprilia. Drs.. Redaktur : Hermansyah. 5.H. 8. S. Niniek Ariyani.H. Redaktur Pelaksana : M. Abdy Koro. Arnoldus Johannis Day.E. S. Achmad Dardiri.S. M. Eddy Hary Susanto. IP. Ak 9.Redaksi Penanggung Jawab : Drs.H.E. Arnis Duwita Purnama. Ak. S. S. S.M. 6. Si.H. Sos 9. M. Sulasman. Hasyim. Si.H.. S. S.E.. Ir. S. 2. M. Amir Syarifudin. Asep Rachmat Fajar. 4. 3. Andi Djalal Latief.H. 7.H. Danardono. Arif Budiman. H. Romlah Pelupessy. Kom. 6. S. Wakil Redaksi Pelaksana : Tatang Suryaman Sekretariat : 1. 3. 2.H. 4. M. Drs. M. Berthine Sumarah Sudiono. H. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 319 . M. Editor/Penyunting : 1. 8. S. S. M.H. S. S. S. S.H. Saiful Rachman.H. Hendro Sukmono. Anna Suhanah 7. Kom 5. S. H. S.

320 Bunga Rampai .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->