P. 1
Kontroversi Nasakh Al-Quran

Kontroversi Nasakh Al-Quran

|Views: 341|Likes:

More info:

Published by: Fakhrie Hanief Al-banjary on Oct 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/21/2015

pdf

text

original

NASIKH MANSUKH

A. Pendahuluan
“Seandainya (Al-Quran ini) datangnya bukan dari Allah, niscaya mereka akan
menemukan di dalam (kandungan)-nya ikhtilaf (kontradiksi) yang banyak” (QS an-
Nisa / 4:82).
Ayat Al-Quran tersebut di atas merupakan prinsip yang di yakini
kebenarannya oleh setiap Muslim. Namun demikian, para ulama berbeda pendapat
tentang bagaimana menghadapi ayat-ayat yang sepintas lalu menunjukkan adanya
gejala kontradiksi. Dari sinilah kemudian timbul pembahasan tentang nasikh dan
mansukh. Di dalam Al-Quran, kata naskh dalam berbagai bentuknya, ditemukan
sebanyak empat kali, yaitu dalam QS. Al-Baqarah/2:106, QS. Al-`Araf/7:154, QS.
Al-Hajj / 22:52, dan QS. Al-Jatsiah / 45:29.
Masalah nâsikh dan mansûkh dan korelasinya dengan Alquran merupakan hal
yang masih hangat untuk dibicarakan. Pendapat seputar konsep ini dalam fiqh, ushul-
fiqh , dan ulumul quran masih dilingkupi oleh perdebatan. Karena, sepanjang zaman
masalah naskh ini benar-benar telah menyita perhatian para pemikir Islam.
Di antara kajian Islam tentang hukum (fiqh ,ushul-fiqh ) yang sampai
sekarang masih kontroversial adalah persoalan nasakh, terutama jika dihubungkan
dengan kemungkinan adanya nâsîkh-mansûkh sesama (internal) ayat-ayat Alquran.
Bahkan, dengan nada yang cukup provokatif ada yang menyatakan bahwa ide naskh
adalah ‘‘min akbar al-kawârits al-fikriyyah’’ (‘salah satu malapetaka pemikiran
2
terbesar’) yang menjadikan ulama salaf tergelincir dan tertipu. Akhirnya mereka
membolehkannya, bahkan mereka sampai mengatakan bahwa itu merupakan ijma‘.
Bahkan, mereka menolak imam al-Syafi‘i, yang menyatakan bahwa Sunnah tidak me-
naskh Alquran, berdasarkan klaim mereka bahwa kedua-duanya (Alquran dan
Sunnah) adalah wahyu.
Secara umum, para ulama telah berijma‘ bahwa naskh itu ‘boleh’ secara akal,
dan ‘terjadi’ secara pendengaran (jâ’iz ‘aqlan wa wâqi‘ sam‘an). Dan hanya Abu
Muslim al-Ashfahânî saja yang menyatakan ‘boleh’, tetapi ia ( naskh) bukan menjadi
satu realita (tidak terjadi). Sehingga menjadi menarik untuk ditelusuri karena masalah
naskh ini sangat erat kaitannya dengan istinbâth al-ahkâm (menyimpulkan satu
hukum). Dengan demikian harus benar diketahui dan dibahas secara serius.
B. Pengertian Nasikh dan Mansukh
Kata naasikh berasal dari kata naskh yang secara etimologi mengandung
beberapa arti, yaitu menghapus dan menghilangkan (al-izaalat), mengganti dan
menukar ( at-tabdiil), memalingkan (at-tahwiil), dan menukilkan dan memindahkan
(an-naql). Jadi naasikh adalah sesuatu yang menghapus, mengganti dan membatalkan
atau yang tidak memberlakukan. Adapun mansuukh adalah sesuatu yang dihapus,
diganti dan dibatalkan atau yang tidak diberlakukan.
1
Sedangkan secara terminologi arti nasikh dan mansukh adalah membatalkan
pelaksanaan hukum syara dengan dalil yang datang kemudian, yang menunjukkan
penghapusannya secara jelas atau implisit (dhimni). Baik penghapusan itu secara
1
PT Ichtiar Baru van Hoeve, (ed), Nasikh dan Mansukh, Ensiklopedi Islam (Jakarta :2002 ),
cet ke x , jilid 4 hal 16
3
keseluruhan atau sebagian, menurut kepentingan yang ada. Atau melahirkan dalil
yang datang kemudian yang secara implisit menghapus pelaksanaan dalil yang lebih
dulu.
2
Pengertian naskh secara terminlogi digolongkan ke dalam dua golongan yaitu:
1. Menurut ulama Mutakadimin (abad ke 1 hingga abad ke 3 H) arti nasikh dan
mansukh dari segi terminologi mencakup:
a. Pembatalan hukum yang ditetapkan kemudian.
b. Pengecualian hukum yang bersifat umum oleh hukum yang bersifat khusus
yang datang kemudian
c. Penjelasan yang datang kemudian terhadap hukum yang belum jelas(samar),
dan penetapan syarat terhadap hukum yang terdahulu yang belum bersyarat.
3
Di samping itu ada pula yang berpendapat bahwa istilah tersebut berarti
pembatalan ketetapan hukum yang ditetapkan pada suatu kondisi tertentu oleh
ketetapan lain yang berbeda akibat munculnya kondisi lain. Misalnya, perintah
agar kaum muslimin pada periode Mekkah bersabar karena kondisi mereka lemah
telah di naskh oleh adanya perintah berperang pada periode Madinah karena
kondisi mereka sudah kuat. Bahkan ketetapan hukum Islam yang membatalkan
hukum yang berlaku pada masa sebelum Islam termasuk dalam pengertian naskh.
4
2. Menurut ulama Muta`akhirin ( setelah abad 3 H) mempersempit pengertian yang
luas itu. Menurut mereka, naskh adalah ketentuan hukum yang datang kemudian
2
Abdul Wahab Khalaf . Prof. Dr, Kaidah Kaidah Hukum Islam (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 1994) cet ke 5 hal 368
3
Al-Syatibi, Al-Muwafaqat fi Ushul Al-Syari'at, (Beirut : Dar Al-Ma'arif, 1975) jilid III, h.
108.
4
Abdul 'Azim Al-Zarqani, Manahil A-'Irfan fi 'Ulum Alquran, (Mesir , Al-Halabiy, 1980),
Jilid II, h. 254.
4
untuk membatalkan masa berlakunya hukum terdahulu. Artinya , ketetapan hukum
yang terdahulu tidak berlaku lagi dengan adanya ketetapan hukum yang baru.
5
C. Macam-Macam Naskh
1. Al-Qur`an dengan al-Qur`an.
Bagian ini disepakati kebolehannya dan telah terjadi dalam pandangan
mereka yang mengatakan adanya naskh. misalnya ayat tentang idah empat bulan
sepuluh hari. Allah SWT berfirman Artinya: “Dan orang –orang yang akan
meninggal dunia di antaramu dan meninggalkan istri, hendaklah berwasiat untuk
istri-istrinya, (yaitu ) diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh
pindah (dari rumahnya). Akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), maka tidak ada
dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat
yang ma`ruf terhadap diri mereka. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
(QS.al-Baqarah/2: 240). Artinya: “Orang orang yang meninggal dunia di antaramu
dengan meninggalkan istri istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya
(beridah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis masa idahnya,
maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri
mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat ”. (QS.al-
Baqarah/2:234).
Ada yang berpendapat bahwa ayat pertama muhkam, sebab ia berkaitan
dengan pemberian wasiat bagi istri jika istri itu tidak keluar dari rumah suami dan
5
Van Hoeve, Op.Cit.
5
tidak kawin lagi. Sedangkan ayat ke dua berkenaan dengan masalah idah. Dengan
demikian maka tidak ada pertentangan antara kedua ayat itu.
6
2. Al-Qur`an dengan Sunnah.
Naskh ini ada dua macam yaitu:
a. Naskh al-Qur`an dengan Hadits Ahad.
Jumhur ulama berpendapat bahwa al-qur`an tidak boleh dinaskh oleh
hadits ahad, karena al-qur`an adalah mutawatir dan menunjukan yakin,
sedangkan hadits ahad dzanni, bersifat dugaan, disamping tidak sah pula
menghapuskan sesuatu yang ma`lum (jelas diketahui) dengan yang madznun
(diduga).
b. Naskh al-Qur`an dengan Hadits Mutawatir.
Naskh demikian dibolehkan oleh Imam Malik, Abu Hanifah dan Ahmad
dalam satu riwayat, sebab masing masing keduanya adalah wahyu dan naskh itu
sendiri merupakan salah satu penjelasan.
7
Allah berfirman
Artinya: “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa
nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan
(kepadanya)” (QS. An-Najm/53: 3-4) Artinya: “Keterangan-keterangan
(mu`jizat) dan kitab kitab. Dan kami turunkan kepadamu al-Qur`an agar kamu
menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka
dan supaya mereka memikirkan (QS.an-Nahl/16:44)
c. Sunnah dengan al-Qur`an
6
Manna Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Qur`an , ter , (Jakarta: Litera Antar Nusa ,1994),
cet ke 2, hal 334
7
Ibid.
6
Naskh ini dibolehkan oleh jumhur ulama.
8
Misalnya masalah
menghadap ke Baitul Maqdis yang ditetapkan dengan sunnah dan di dalam al-
qur`an tidak terdapat dalil yang menunjukkannya. Ketetapan itu dinaskh oleh
al-qur`an dengan firmannya: Artinya: “Sungguh kami (sering) melihat mukamu
menengadah ke langit maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat
yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu kea rah masjidil haram . Dan di mana
saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang
orang (yahudi dan nasrani) yang diberi al-Kitab (taurat dan injil) memang
mengetahui, bahwa berpaling ke masjidil haram itu adalah benar dari tuhannya
dan Allah sekali kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan (QS. Al-
Baqarah/2: 144)
d. Sunnah dengan Sunnah
Naskh dalam kategori ini terdapat empat bentuk:
1) Sunnah mutawatir dengan sunnah mutawatir
2) Sunnah ahad dengan sunnah ahad
3) Sunnah ahad dengan mutawatir
4) Sunnah mutawatir dengan sunnah ahad
Bentuk 1),2) dan 3) diperbolehkan sedangkan bentuk d) terjadi silang
pendapat seperti halnya naskh al-qur`an dengan hadits ahad, yang tidak
diperbolehkan oleh jumhur ulama.
D. Bentuk-Bentuk Naskh
8
Ibid., hal. 335
7
Naskh dalam al-Qur`an dibagi ke dalam 4 jenis:
9
1. Naskh sarih, yaitu ayat ayat yang secara tegas menghapuskan hukum yang
terdapat dalam ayat terdahulu. Misalnya QS.al-Anfal :65-66, ayat tentang perang
yang mengharuskan perbandingan antara muslim dan kafir adalah 1: 10 di-naskh
dengan ayat yang mengharuskan hanya 1: 2 dalam masalah yang sama
Artinya: ” Hai Nabi, kabarkanlah semangat para mu`min itu untuk berperang , jika
ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat
mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di
antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu dari pada orang orang kafir,
disebabkan orang orang kafir itu kaum yang tidak mengerti (65). Sekarang Allah
telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada
kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar niscaya mereka
dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika ada di antaramu seribu orang (yang
sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan izin Allah . Dan
Allah beserta orang orang yang sabar ”. (QS.al-Anfal /8:65-66).
2. Naskh dimni, yaitu bila ada ketentuan hukum ayat yang terdahulu tidak bisa
dikompromikan dengan ketentuan hukum ayat yang datang kemudian dan ia
menasakh ayat yang terdahulu. Misalnya, ayat tentang kewajiban wasiat kepada
ahli waris yang dianggap mansukh oleh ayat waris.
3. Naskh Kulli, yaitu menasakh hukum ynag datang sebelumnya secara keseluruhan.
Misalnya ketentuan hukum Idah satu tahun bagi wanita yang ditinggal mati oleh
suaminya yang di-naskh dengan idah 4 bulan 10 hari
9
Van Hoeve, Op.Cit., hal. 18
8
Artinya : ” Orang orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan
istri istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (beridah) empat bulan
sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis masa idahnya, maka tiada dosa bagimu
(para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut.
Allah mengetahui apa yang kamu perbuat ”. (QS.al-Baqarah/2:234).
4. Naskh Juz`i yaitu menaskh hukum yang mencakup seluruh individu dengan hukum
yang mencakup sebagian individu, atau menasakh hukum yang bersifat mutlak
dengan hukum yang bersifat mubayyad (terbatas). Misalnya, Artinya: ” Dan orang
orang menuduh wanita yang baik baik (berbuat zina) dan mereka tidak
mendatangkan empat orang saksi , maka deralah mereka (orang yang menuduh itu)
delapan puluh kali dera. Dan janaganlah kamu terima kesaksian mereka buat
selama lamanya. Dan mereka itulah orang orang fasiq (4). Kecuali orang –orang
yang bertaubat sesudah itu , dan memperbaiki (dirinya) maka sesungguhnya Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang orang yang menuduh
istrinya(berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi saksi selain diri
mereka sendiri , maka persaksian orang itu adalah empat kali bersumpah dengan
nama Allah, Sesungguhnya dia adalah termasuk orang orang yang benar”. (QS.
An-Nur /24: 4-6)
QS. An-Nur /24: 4 di atas menyatakan bahwa orang yang menuduh seorang
wanita berzina tanpa menghadirkan 4 orang saksi hukumnya didera 80 kali. Ayat 4
dari surat an-Nur di atas di-naskh oleh ayat 6 ayat yang menjelaskan bahwa jika
menuduh itu suminya sendiri, maka hukumnya tidak didera tetapi dilakukan saling
sumpah antara keduanya
9
Adapun Naskh al-Qur`an dari segi tilawah dan hukumnya terbagi menjadi 3
macam:
1. Naskh Tilawah dan Hukum
Naskh terhadap tilawah dan hukum: Misalnya apa yang diriwayatkan oleh
Muslim dan yang lainnya dari Aisyah, yang artinya” Di antara yang diturunkan
kepada beliau adalah ’sepuluh susuan (hisapan) yang maklum itu menyebabkan
mukhrim’, kemudian (ketentuan ) ini dinaskh oleh Lima susuan yang maklum’,
maka ketika Rasulullah wafat ’lima susuan’ ini termasuk ayat al-qur`an yang
dibaca (matlu).”
Kata kata Aisyah “lima susuan ini termasuk ayat al-qur`an yang dibaca”,
pada lahirnya menun jukkan bahwa tilawahnya masih tetap. Tetapi tidak demikian
halnya, karena tidak terdapat dalam mushaf usmani. Kesimpulan demikian
dijawab, bahwa yang dimaksud dengan perkataan Aisyah tersebut ialah ketika
belian menjelang wafat.
10
2. Naskh Hukum dan Tilawahnya Tetap
Naskh hukum dan tilawahnya tetap, misalnya naskh hokum ayat idah
selama satu tahun, sedang tilawahnya tetap. Jenis kedua inilah pada hakikatnya
sangat sedikit sekali, meskipun banyak yang menghitung banyak ayat berkenaan
dengan ini. Para muhaqqiqîn, seperti al-Qâdhî Abu Bakar ibn al-‘Arabî telah
menjelaskan hal ini dan beliau merupakan orang yang membahas secara tuntas.
Untuk jenis yang kedua ini, beliau banyak menyebutkan sebanyak 20 ayat yang
10
Al-Qathtan, Op.Cit., 330
10
mansûkhah (dihapus) hukumnya tanpa bacaannya. Namun demikian, beliau
banyak menggunakan kata-kata qîla (dikatakan), yang mengindikasikan riwayat
yang lemah.
11
3. Naskh Tilawah dan Hukumnya Tetap
Untuk naskh macam ini contohnya ayat rajam, yang artinya : “ Orang tua laki laki
dan perempuan apabila keduanya berzina, maka rajamlah keduanya itu dengan
pasti sebagai siksaan dari Allah . Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana “.
E. Pendapat Ulama tentang Naskh dalam Al-Qur’an
Pembahasan tentang nasikh dan mansukh yang muncul dalam kajian ilmu
tafsir merupakan masalah yang mengundang perdebatan di kalangan para ulama.
Kontroversi yang timbul bertolak dari bagaimana memahami dan menghadapi ayat
ayat al-qur`an yang pada lahirnya kelihatan saling berlawanan. Segolongan ulama
berpendapat bahwa ada ayat ayat yang bertentangan dan tidak bisa dikompromikan,
dan dengan demikian ada naskh dalam al-Qur`an. Sebaliknya, segolongan ulama
lainnya berpendapat bahwa ayat ayat yang dikatakan tampak bertentangan bisa
dikomoromikan dan dengan demikian tidak ada naskh dalam al-qur`an.
12
1. Ulama yang mengakui Nasikh dan mansukh Jumhur (mayoritas) ulama mengakui
adanya nasikh dan mansukh, antara lain:
a. Imam Syafi`i
Imam Syafi`i mengakui adanya naskh dalam al-Qur`an berdasarkan
Firman Allah yang artinya: ” Ayat mana saja yang kami nasakh-kan, atau kami
11
Ibid., hal. 338
12
Van Hoeve, Op.Cit., hal. 12
11
jadikan (manusia) lupa kepadanya, kami datangkan yang lebih baik dari
padanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa
sesungguhnya Allah Maha kuasa atas segala sesuatu ?” (QS.al-Baqarah/2: 106)
Artinya: ”Dan apabila Kami letakkan suatu ayat ditempat ayat yang lain sebagai
penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya,
mereka berkata ”Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada ada saja .”
Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui.”(QS.an-Nahl/16: 101).
13
b. Al-Maragi
Al-Maragi dalam kitab tafsirnya melihat adanya hikmah keberadaan
naskh dengan menyatakan: “Sesungguhnya hukum – hukum itu tidak
diundangkan kecuali untuk kepentingan manusia. Hal ini dapat berbeda karena
berbeda waktu dan tempat. Jika suatu hukum diundangkan karena dirasakan
perlu adanya hukum itu, kemudian keperluan itu berakhir, maka adalah suatu
tindakan bijaksana menghapuskan hukum itu dan menggantikannya dengan
hukum yang lebih sesuai dengan waktu itu. Dengan demkian hukum lebih
menjadi lebih baik dari yang semula atau sama dari segi manfaat untuk hamba-
hamba Allah.”
14
c. Sayid Qutub
Sayid Qutub berpendapat bahwa ayat itu merupakan sanggahan terhadap
pendirian orang-orang Yahudi yang mempertahankan ajaran agama mereka dan
menolak ajaran Islam dengan alasan bahwa Allahg SWT tidak mungkin
13
Ibid., hal. 16
14
Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghiy, ( Mesir: Al-Halabiy, 1946) , jilid I, h.
187
12
menghapuskan hukum –hukum-Nya dalam Taurat. Selain itu mereka menuduh
bahwa Nabi Muhammad SAW tidak konsisten, baik mengenai perpindahan
kiblat dari Masjidilaqsa ke Masjidilharam, maupun perubahan – perubahan
petunjuk, hukum, dan perintah yang akan terjadi sebagai akibat dari
pertumbuhan masyarakat Islam menurut situasi dan kondisi mereka yang baru
berkembang.
15
d. Manna Khalil al-Qattan
Manna Khalil al-Qattan berpendapat bahwa apa yang cocok untuk satu
kaum pada suatu masa mungkin tidak cocok lagi pada masa yang lain.
Perjalanan dakwah pada taraf pertumbuhan dan pembentukan tidak sama
dengan perjalanan sesudah memasuki era perkembangan dan pembangunan.
Demikian juga hikmah tasyri` pada suatu periode akan berbeda dengan hikmah
tasyri` pada periode yang lain. Oleh karena itu wajarlah jika Allah
menghapuskan suatu tasyri` dengan tasyri` yang lain untuk menjaga
kepentingan para hambaNya.
16
Menurut pendukung adanya naskh, naskh baru dilakukan jika:
17
 Terdapat dua ayat hukum yang saling berlawanan dan tidak dapat
dikompromokan.
 Harus diakui meyakinkan urutan turunnya ayat ayat tersebut, yang lebih dahulu
turun ditetapkan sebagai mansukh dan yang kemudian sebagai nasikh.
15
Van Hoeve, Op.Cit., hal. 17
16
Al-Qattan, Op.Cit., hal. 326
17
Van Hoeve, Op.Cit., hal. 18
13
 Hukum yang mansukh tidak bersifat abadi, tetapi bersifat sementara. Karena itu
hanya ayat-ayat tertentu yang bisa di-naskh.
Ayat ayat yang tidak bisa di-naskh adalah:
 Ayat ayat yang mengandung hukum pokok yang tidak bisa berubah dengan
sebab berubahnya situasi dan kondisi manusia, seperti ayat yang berkaitan
dengan akidah, ibadah, keadilan, dan amanah.
 Ayat –ayat yang secra tekstual menunjukkan ketentuan hukumnya berlaku
sepanjang masa (abadi).
 Ayat-ayat yang berisi berita yang tidak mengandung perintah dan larangan
seperti kabar tentang umat –umat terdahulu.
18
2. Ulama yang menolak nasikh dan mansukh.
Ulama yang menolak adanya nasikh dan mansukh dalam al-Qur`an antara
lain:
a. Abu Muslim al-Asfahani (tokoh mu`tazilah)
b. Imam ar-Razi
c. Dr.Taufiq Sidqi
d. Muhammad Khudari Bek
e. Muhammad Abduh
19
18
Ibid.
19
Hasbi Ash-Shiddiqy. Prof. Dr, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur`an / Tafsir (Jakarta:
Bulan Bintang , 1990 ) cet ke 13 hal 108
14
Alasan penolakan mereka didasarkan pada ayat-ayat al-Qur`an yang sama
yang dikemukakan oleh kelompok pendukung naskh, dengan perbedaan
penafsiran.
20
Alasan alasan mereka adalah sebagai berikut:
a. Kandungan surat al-Baqarah ayat 106 yang oleh kelompok pendukung naskh
dijadikan sebagai argumentasi adanya naskh dalam al-Qur`an, menurut mereka
ditujukan kepada kaum Yahudi yang mengingkari al-Qur`an atau merujuk pada
wahyu yang diturunkan sebelum al-Qur`an yang akhirnya digantikan oleh al-
Qur`an . Artinya hukum-hukum yang terdapat dalam kitab kitab suci sebelum
al-Qur`an diganti dengan yang lebih baik, yaitu al-Qur`an. Kandungan surat an-
Nahl ayat: 101 dilihat dari segi turunnya ditujukan kepada orang orang kafir
yang tidak mempercayai kerasulan Muhammad SAW karena hukum hukum
yang ada di dalam al-Qur`an berlainan dengan hukum hukum dalam Taurat dan
Injil. Menurut mereka kalau al-Qur`an benar benar datang dari Allah SWT,
maka pasti tidak akan berbeda dari isi kitab kitab sebelumnya. Untuk itulah
Allah SWT menjawab bahwa Dia lebih tahu apa yang maslahat buat hamba-
hambaNya untuk setiap zaman.
b. Jika dalam al-Qur`an ada ayat yang dimansukh, berarti didalam al-Qur`an
terdapat kesalahan dan saling berlawanan, padahal al-Qur`an sendiri telah
menegaskan:
Artinya: ”Yang tidak datang kepadanya (al-Qur`an) kebatilan baik dari depan
maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana
lagi Maha Terpuji.” (QS. Fush-shilat / 41: 42)
20
Van Hoeve. Loc.Cit.
15
c. Rasulullah sendiri tidak pernah mengatakan adanya naskh dalam al-Qur`an.
Seandainya ada, sudah tentu ia akan menjelaskannya.
d. Hadits- hadits yang dikatakan oleh pendukung naskh dinilai sebagai pe-nasikh
ayat al-qur`an, seperti hadits “Tidak ada wasiat bagi penerima waris”
(HR.Bukhari , Abu Daud , Attarmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Darul-Qutni, dan
Ahmad Bin Hanbal) bukanlah hadits mutawatir melainkan hadits ahad yang
tidak sederajat dengan al-Qur`an , dan hadits ahad tidak punya kualifikasi untuk
menjadi hujjah dalam menetapkan hukum sesuatu.
e. Dikalangan pendukung naskh sendiri tidak ada kesepakatan dalam menentukan
jumlah ayat ayat yang mansukh. Misalnya, menurut an-Nuhas terdapat 100 ayat
lebih yang mansukh, asy-Syuyuti 20 ayat, sedangkan asy-Syaukani berhasil
mengkompromikan 8 ayat dari 20 ayat yang oleh asy-Syuyuti tidak
dikompromikan. Ini tidak berarti ada sebagian ayat yang oleh sebagian ulama
dipandang bertentangan dan tidak bisa dikompromikan, ternyata dapat
dikompromikan oleh ulama lain. Karena itu kelompok penolak adanya naskh
membuktikan kemampuan mereka dalam mengkompromikan ayat ayat yang
oleh pendukung naskh dinilai kontradiktif. Bahkan sebagian usaha mereka itu
telah diterima secara baik oleh pendukung naskh.
Karena kontroversi itu maka jalan terbaik adalah mengkompromikan kedua
kelompok ulama tersebut yaitu dengan jalan meninjau kembali pengertian istilah
naskh yang di kemukakan oleh ulama muta`akhirin sebagaimana mereka meninjau
pengertian dari ulama mutakaddimin.
16
F. Pedoman Mengetahui Naskh
Pengetahuan tentang nasikh dan mansukh mempunyai fungsi dan manfaat
besar bagi fuqaha, mufassir dan ahli ushul fiqh, agar pengetahuan tentang hokum
tidak menjadi kabur. Diriwayatkan, Ali pada suatu hari melewati seorang hakim dan
bertanya: “Apakah kamu mengetahu nasikh dan mansukh? “tidak” jawab hakim.
Maka Ali berkata “celakalah kamu dan kamu pun mencelakakan orang lain.
Untuk mengetahui nasikh mansukh terdapat beberapa cara:
1. Keterangan tegas dari Nabi atau sahabat, seperti hadits ziarah kubur.
2. Ijma’ umat bahwa ayat ini nasikh dan yang itu mansukh.
3. Mengetahui mana yang terlebih dahulu dan mana yang belakangan berdasarkan
sejarah.
G. Cara mentaufiqkan Ayat-ayat yang Dipandang Berlawanan
Di bawah ini akan diterangkan ayat-ayat yang dipandang oleh As-Suyuthi
sudah di-mansukh-kan beserta ayat-ayat yang me-nasakh-kannya. Dan akan
diterangkan pula cara mempersesuaikan ayat-ayat itu menurut uraian Al-Khudhary
dalam Ushul Fiqhny.
Pertama
_¸>¦ ¯¡÷l ,l ¸,!´,¸´.l¦ ¸·¯¸l¦ _|¸| ¯¡>¸¸!.¸·
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-
isteri kamu,,,” (QS. Al-Baqarah: 187)
As-Suyuthi memasukkan ayat ini ke dalam golongan ayat yang me-mansukh-
kan ayat:
17
!¸¯,!., _¸¸¦ ¦¡`..¦´, ¸¸.´ `¡÷,l. `¸!´,¸´.l¦ !.´ ¸¸.´ _ls _¸¸¦ _¸.
¯¡÷¸l¯,· ¯¡>l-l _¡1`.. ¸¸__¸
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-
Baqarah: 183)
Menurut penyelidikan, tidak ada artinya sama sekali memasukkan ayat ini ke
dalam ayat-ayat nasakh mansukh. Semua ulama menetapkan ayat ini tidak mansukh
dan tidak me-nasikh-kan pula sesuatu perintah tersebut dalam Al-Quran.
Kedua
_¸¸¦´¸ _¯¡·´¡.`, ¯¡÷.¸. _¸'¸.,´¸ l´>´¸¸¦ «¯,¸.´¸ ¸¸¸¸>´¸¸¸¸ !´-... _|¸| ¸_¯¡>l¦
´¸¯,s ¸_¦¸>¸| _¸|· ´_>¸> ¸· _!.`> ¯¡÷,l. _¸· !. _l-· _¸· _¸¸¸.±.¦ _¸.
¸.¸`¸-. ´<¦´¸ ¸,¸¸s ,¸¸÷> ¸__¸¸
“Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan
meninggalkan isteri, hendaklah Berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi
nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya).
akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), Maka tidak ada dosa bagimu (wali
atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma'ruf
terhadap diri mereka. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-
Baqarah: 240)
Menurut mereka ayat ini di-nasakh-kan oleh ayat:
_¸¸¦´¸ _¯¡·´¡.`, ¯¡>.¸. _¸'¸.,´¸ l´>´¸¸¦ ´_`.`,´¸., ´_¸¸¸.±.!¸, «-,¯¸¦ ¸¸·¸:¦ ¦¸:s´¸
¦:¸|· ´_-l, ´_¸l>¦ ¸· _!.`> ¯>,l. !.,¸· ´_l-· _¸· ´_¸¸¸.±.¦ ¸.¸'¸-.l!¸, ´<¦´¸
!.¸, _¡l.-. ¸,¸,> ¸___¸
“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-
isteri (hendaklah Para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat
18
bulan sepuluh hari. kemudian apabila telah habis 'iddahnya, Maka tiada dosa
bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut
yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. (QS. Al-Baqarah: 234)
Orang yang memperhatikan dengan baik kedua ayat ini tentu melihat bahwa
isteri-isteri yang ditinggalkan suami berhak memperoleh perbekalan untuk setahun
dan berhak tinggal di rumah suami. Pada ujung ayat ini menerangkan mereka keluar
atas kemauan sendiri. Ayat kedua mewajibkan isteri menanti empat bulan sepuluh
hari, tidak boleh menikah lagi. Jika lewat tempo itu mereka boleh menikah lagi.
Tegasnya tidak ada perlawanan antara kedua hokum ini.
Ketiga
_¸|´¸ ¦¸.¯,. !. _¸· ¯¡÷¸.±.¦ ¸¦ :¡±>. ¡>¯,¸.!>`, ¸«¸, ´<¦ `¸¸±-´,· _.¸l ',!:¸
´,¸.-`,´¸ _. ',!:¸ ´<¦´¸ _ls ¸_é ¸,`_: '¸,¸.· ¸___¸
“Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu
menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu
tentang perbuatanmu itu”. (QS. Al-Baqarah: 284)
Mereka berkata bahwa ayat ini di-nasakh-kan oleh ayat:
¸ ¸¸l>`, ´<¦ !´.±. ¸¸| !¸-`.`¸
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Tidak terang terlihat bahwa ayat yang kedua me-nasakh-kan ayat yang
pertama. Allah menghitung segala pekerjaan yang dikerjakan manusia, baik yang
lahir maupun yang tidak lahir. Dalam pada itu Tuhan tidak memberatkan manusia
melainkan sekedar yang disanggupi oleh mereka. Maka manusia sanggup tidak
membunyikan kejahatan, sebagaimana sanggup melaksanakan pekerjaan yang
19
ditugaskan mereka mengerjakannya. Dan tidak masuk ke dalamnya, bisikan-bisikan
hati yang terkadang datang dengan tidak sengaja, kemudian hilang lenyap dengan
tidak meninggalkan bekasan apa-apa.
Keempat
!¸¸!., _¸¸¦ ¦¡`..¦´, ¦¡1.¦ ´<¦ _> .¸«¸.!1. ¸´¸ _¯¡.· ¸¸| ¡..¦´¸ _¡.¸l`.¯. ¸¸¸_¸
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar
takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam
Keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)
Mereka berkata bahwa ayat ini di-mansukh-kan oleh ayat:
¦¡1.!· ´<¦ !. ,.-L.`.¦
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu” (QS. At-
Taghabun: 16)
Pendakwaan nasakh di sini terang karena kadar (jumlah) yang disanggupi,
itulah takwa yang sebenar-benarnya takwa. Allah tidak menuntut lebih dari yang
dapat disanggupi oleh manusia.
Kelima
¦¸`¸¸±.¦ !·!±¸> ¸!1¸.´¸
“Berangkatlah kamu baik dalam Keadaan merasa ringan maupun berat,,,”
(QS. At-Taubah: 41)
Ayat ini menurut mereka di-nasakh-kan oleh ayat-ayat udzur yaitu:
_,l _ls _.s¸¦ _¸> ¸´¸ _ls ¸_¸s¸¦ _¸> ¸´¸ _ls ¸_,¸¸.l¦ _¸>
20
“Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak
(pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri”. (QS. An-Nur:
61)
dan oleh ayat:
_,l _ls ¸,!±-´.l¦ ¸´¸ _ls _.¯¸.l¦ ¸´¸ _ls _¸¸¦ ¸ _¸.¸,´ !.
_¡1¸±.`, ´_¸> ¦:¸| ¦¡>.. ¸< .¸¸¡.´¸´¸ !. _ls _,¸.¸.`>.l¦ _¸. ¸_,¸,.
´<¦´¸ "¸¡±s '¸,¸>¯¸ ¸_¸¸
“Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah,
orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang
akan mereka nafkahkan, apabila mereka Berlaku ikhlas kepada Allah dan
Rasul-Nya. tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang
berbuat baik. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS. At-
Taubah: 91)
Apabila kita renungkan lebih dalam nyatalah bahwa ayat pertama bersifat ‘am
dan ayat kedua menjelaskan orang-orang yang disuruh berangkat ke medan
peperangan dan orang-orang yang boleh tidak berangkat. Ringkasnya, ayat-ayat
kedua men-takhshish-kan ayat yang pertama, bukan me-nasakh-kan.
21
H. Penutup
Ilmu Nasikh Mansukh adalah merupakan kompenen penting yang turut
membentuk dan mewarnai corak kandungan ilmu al-Qur’an. Ilmu Nasikh Mansukh
merupakan salah satu bagian dari banyaknya ilmu yang mempelajari al-Qur’an secara
seksama. Syari’at langit yang turun dari Allah kepada Rasul-Nya, untuk memperbaiki
umat. Oleh sebab itu perlu diperlukan ilmu untuk memahami al-Qur’an.
21
Teungku M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Quran dan Tafsir, hal
103-111.
21
Untuk lebih memahami al-Qur’an perlu diketahui Nasikh Mansukhnya,
dengan demikian keberadaan Ilmu Nasikh Mansukh sangatlah penting bagi
pendalaman al-Qur’an sebagai kalamullah.
22
DAFTAR PUSTAKA
Al-Syatibi. Al-Muwafaqat fi Ushul Al-Syari'at. Beirut : Dar Al-Ma'arif, 1975.
Al-Zarqani, Abdul 'Azim. Manahil A-'Irfan fi 'Ulum Alquran. Mesir , Al-Halabiy,
1980.
Al-Qattan, Manna Khalil. Studi Ilmu-Ilmu Qur`an. Jakarta: Litera Antar Nusa ,1994.
Al-Maraghi,Ahmad Mustafa. Tafsir Al-Maraghiy. Mesir: Al-Halabiy, 1946.
Ash-Shiddiqy, Hasbi, Prof. Dr, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur`an / Tafsir.
Jakarta: Bulan Bintang , 1990.
Hoeve, PT Ichtiar Baru van. (ed), Nasikh dan Mansukh, Ensiklopedi Islam. Jakarta
:2002.
Khalaf, Abdul Wahab. Prof. Dr. Kaidah Kaidah Hukum Islam .Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 1994.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->