P. 1
Bahan Belajar Keterampilan Medik Tahun Ajar 2009

Bahan Belajar Keterampilan Medik Tahun Ajar 2009

|Views: 15,340|Likes:
Published by Minoru Iobi

More info:

Published by: Minoru Iobi on Oct 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/16/2013

pdf

text

original

1= I = Unus, unae, unum, una
2=II= duo, ae
3=III=tres
4=IV=quatuor
5=V=quinguae
6=VI=sex
7=VII=Septem
8=VIII= octo
9=IX=novem
10=X= decem
12=XII=duodecem
15=XV=quidacem
20=XX=viginti

21=XXI=unus et viginti
25=XXV=quinguae et viginti
30=XXX=trigenta
40=XL=quadragenta
50=L=Quingenta
51=LI=unus quingenta
90=XC=nona genta
100=C=Centum
500=D=quncenti
1000=M=mille
2000=MM=duo mille
121=CXXI=centum unus et viginti
131=CXXXI= centum unus trigenta.

PENGGUNAAN OBAT RASIONAL

Terapi dengan menggunakan obat terutama ditujukan untuk meningkatkan kualitas atau
mempertahankan hidup pasien. Hal ini biasanya dilakukan dengan cara : mengobati pasien,
mengurangi atau meniadakan rasa sakit, menghentikan atau memperlambat proses penyakit
serta mencegah penyakit atau gejalanya.
Terdapat 7 kriteria penggunaan obat secara rasional (POSR), yaitu :

1. Tepat diagnosis
2. Tepat indikasi
3. Tepat pemilihan obat
4. Tepat dosis, cara & lama pemberian
5. Tepat informasi
6. Tepat penilaian kondisi pasien
7. Tepat tindak lanjut

Namun ada hal-hal yang tidak dapat disangkal dalam pemberian obat yaitu kemungkinan
terjadinya hasil pengobatan yang seperti yang diharapkan (Drug related problem).
Ketidakberhasilan pengobatan ini dapat disebabkan oleh:
1. Penulisan resep yang kurang tepat
a. Pengobatan kurang tepat (missal: pemilihan obat, bentuk sediaan, dosis, rute,
interval dosis, lama pemakaian).
b. Peresepan obat berlebih
c. Pemberian obat yang tidak diperlukan.
d. Peresepan obat majemuk (polifarmasi).
e. Peresepan salah
2. Penyerahan obat yang tidak tepat
a. Obat yang tidak tersedia pada saat dibutuhkan
b. Kesalahan dispensing
3. Perilaku pasien yang tidak mendukung
a. Berhubungan dengan cara pengobatan yang tidak tepat
b. Penggunaan obat tidak sesuai dengan perintah pengobatan (Non compliance)

4. Idiosinkrasi pasien

a. Respon aneh individu terhadap obat
b. Terjadi kesalahan atau kecelakaan
5. Tidak tepat penderita

a. Pemberian obat yang dikontraindikasikan pada penderita

BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI

Farmasi Kedokteran

54

Laboratorium Keterampilan Medik

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

6. Pemantauan yang tidak tepat

a. Gagal untuk mengenali dan menyelesaikan adanya keputusan terapi yang tidak

tepat.
b. Gagal dalam memantau efek pengobatan pada pasien.

Masalah yang terkait dengan pemberian obat

Rute pemberian obat

Rute pemberian obat perlu dievaluasi untuk memastikan bahwa rute tersebut tepat bagi
pasien.
Contoh :

Pasien yang tidak dapat menerima pengobatan secara oral karena tidak mampu /
tidak boleh minum obat seperti sebelum operasi, tidak sadar atau menderita mual
dan muntah.
Pasien yang tidak dapat menerima pengobatan peroral memerlukan adanya kajian
apakah pengobatan dapat diabaikan sementara waktu atau apakah diperlukan rute
atau pengobatan alternatif.
Pasien dengan keadaan tidak memungkinkan akses melalui vena sehingga
pemeberian obat secara IV harus dihindari.
Rute pemberian obat juga harus disesuaikan dengan obat itu sendiri.
Contoh :

Sediaan obat yang pelepasannya terkendali akan tidak tepat jika diberikan melalui
selang naso-gastrik; harus dilakukan kajian terhadap pengobatan yang sedang
diterima saat ini untuk menentukan formulasi atau pilihan obat alternatif.
Dosis yang terabaikan (kadang-kadang terlupakan, kadang-kadang tidak tersedia di
bangsal / di apotek / di puskesmas, atau obat tidak tersedia pada saat dibutuhkan).

Bentuk sediaan obat

Pada obat-obat tertentu, sangatlah penting untuk mempertimbangkan bioekuivalensi
berbagai nama dagang obat.
Contoh: pasien yang diterapi dengan Calsium chanel blockers pelepasan terkendali harus
menggunakan nama dagang obat yang sama untuk terapi pemeliharaanya.
Pada rute pemberian obat dapat diperlukan penyesuaian dosis untuk pasien dan
pemantauan intensif terhadap efek klinis.
Contoh: suspensi fenitoin 90mg dalam 15 ml dipertimbangkan memberikan efek terapeutik
yang kurang lebih sama dengan kapsul atau tablet yang mengandung natrium fenitoin
100mg.
Pasien yang mungkin mengalami kesulitan dalam mematuhi aturan pengobatan akan
memperoleh kemudahan dengan penyederhanaan aturan pengobatan, yaitu melalui
pemberian sediaan obat yang pelepasannya terkendali sehingga cukup diberikan satu kali
sehari.

Pemilihan waktu pemberian obat
Sangat penting untuk memahami tentang ketepatan waktu pemberian dosis obat.
Contoh:

Pemberian obat sedasi untuk malam hari sebaiknya 30 menit sebelum tidur.
Pemberian obat antihiperlipidemia golongan statin harus pada malam hari karena
tujuan untuk mengurangi produksi kolesterol endogen yang diproduksi oleh tubuh
pada malam hari.
Diuretik lebih baik diberikan pada pagi hari daripada malam hari (kecuali pada
pasien yang dikateterisasi).

BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI

Farmasi Kedokteran

55

Laboratorium Keterampilan Medik

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

Beberapa makanan dapat mempengaruhi absorpsi obat-obat tertentu sehingga perlu
diperikasa adanya persyaratan bahwa suatu obat harus diberikan bersamaan dengan atau
sesuadah makan, atau justru menghindari pemberian bersamaan dengan makanan/
minuman.
Contoh:

Tetrasiklin harus diberikan 1 jam sebelum makan atau pada saat perut kosong dan
tidak boleh diberikan bersamaan dengan susu.

Frekwensi pemberian obat
Pastikan frekwensi pemberian obat telah sesuai dengan farmakokinetika obat ataupun
formulasinya.
Pertimbangkan apakah pengobatan tersebut akan efektif bila diberikan hanya jika perlu atau
perlu diberikan secara teratur.
Contoh:

Laktulosa perlu diberikan secara teratur agar efektif.
antipirektik hanya diberikan jika diperlukan untuk mengatasi demam.

Kecepatan pemberian obat
Untuk obat-obat tertentu perlu dipastikan bahwa obat-obat tersebut diberikan pada
kecepatan yang tepat.
Contoh:

Furosemid secara intravena harus diberikan pada kecepatan tidak lebih dari 4mg per

menit.

Efek samping yang terkait dengan cara pemberian obat
Perlu diantisipasi efek samping yang mungkin timbul sebagai akibat dari rute pemberian
obat.
Contoh:

Acute anger glaucoma dilaporkan terjadi pada pasien dengan pemberian ipatropium
bromida secara nebulasi, terutama jika digunakan bersama-sama dengan
salbutamol secara nebulasi). Perhatian/perlakuan khusus diperlukan untuk
mencegah uap nebulasi dari masker menuju ke mata pasien.

Masalah yang terkait dengan obat

Ketepatan pengobatan
Aturan pengobatan perlu dikaji untuk memastikan kesesuaiannya dengan kondisi pasien.
Aturan pengobatan juga perlu dikaji dalam rangka memastikan ketepatan untuk masing-
masing individu pasien, mengingat faktor-faktor seperti: keadaan penyakit yang bersamaan,
fungsi hati dan ginjal, kontra indikasi, alergi, persoalan kepatuhan dan lain-lain.
Contoh:

Profilaksis anti malaria yang tepat untuk wisatawan sesuai dengan tempat tujuan
mereka, pilihan waktu dan lamanya kunjungan.
Beta bloker dapat memperparah keadaan asma, sehingga harus dihindarkan pada
pasien dengan riwayat penyakit asma atau penyakit paru obstrutif menahun.

Pentingnya pengobatan
Pertimbangkan apakah pengobatan benar-benar dibutuhkan oleh pasien.
Contoh:

Perlu dipertimbangkan antara resiko dan manfaat jika pasien diobati atau tidak
diobati (terutama pada kehamilan dan menyusui).

BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI

Farmasi Kedokteran

56

Laboratorium Keterampilan Medik

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

Pertimbangkan apakah suatu pengobatan masih diindikasikan untuk pasien – seperti
penyelesaian suatu periode antibotika.
Pertimbangkan dasar pemikiran pada pemberian pengobatan yang bersamaan
ataupun tambahan pengobatan, yang dapat mengarah pada duplikasi pengobatan
(termasuk obat yang berbeda tetapi memiliki mekanisme aksi sama) atau
pengobatan yang diberikan untuk mengatasi efek samping yang diakibat obat
(termasuk ruam, mual, muntah).

Ketepatan dosis

Pertimbangkan pedoman dosis (termasuk dosis maksimum dan minimum) dan variable
pasien yang mempengaruhi dosis (termasuk tinggi, berat, usia, fungsi ginjal dan hati).
Kadang-kadang dosis obat perlu disesuaikan ketika terapi berlangsung.
Contoh:
Karbamazepin menginduksi metabolismenya sendiri, sehingga perlu kajian terhadap
khasiatnya dan atau penyesuain dosis.
Penurunan dosis kortikosteroid pada tahap akhir pengobatan jangka panjang asma.

Jangka waktu pengobatan
Beberapa terapi obat harus dilanjutkan untuk seumur hidup, sementara obat yang lain perlu
diberikan untuk suatu pengobatan jangka waktu tertentu.
Contoh:

Pengobatan seumur hidup untuk disfungsi tiroid atau diabetes mellitus.
Pengobatan jangka pendek untuk infeksi, mual / muntah, diare atau demam.

Efek samping obat

Efek samping yang dapat diantisipasi perlu dicegah atau ditangani dengan tepat.
Efek samping yang tidak terduga perlu diidentifikasi dan dinilai untuk memutuskan apakah
pengobatan dapat dilanjutkan, harus dihentikan (dan pengobatan alternatif diberikan) dan
apakah pengobatan tambahan perlu diresepkan untuk mengatasi efek samping obat.

Interaksi obat

Interaksi obat dapat termasuk: interaksi obat-penyakit, interaksi obat-obat, interaksi obat-diet
atau interaksi obat – uji laboratorium.
Contoh:

Walaupun beta bloker tidak dikontra indikasikan untuk diabetes, tetapi golongan obat
ini dapat mengakibatkan sedikit penurunan toleransi terhadap glukosa darah, serta
mengganggu respon metabolisme dan autonomik terhadap hipoglikemia. Kardio
selektif beta bloker lebih dipilih dan beta bloker harus dihindarkan pada mereka
yang sering mengalami kejadian hipoglikemia.
Amiodaron meningkatkan konsentrasi digoksin dalam plasma sehingga memerlukan
penurunan dosis pemeliharaan digoksin.
Sebagian makanan enteral yang diberikan melalui selang nasogastrik dapat
mengganggu absorpsi fenitoin. Atau adanya logam bervalensi 2 pada diet (misalnya
sayur bayam) dapat mengurangi absorpsi ciprofloksasin secara bermakna.
Eritromisin estolat menyebabkan peningkatan semu terhadap aspartat transaminase
AST / SGOT.

Kompatibilitas / Ketercampuran obat.
Masalah obat yang tidak tercampurkan (OTT) secara fisika maupun kimia dapat muncul dan
mengakibatkan hilangnya potensi, meningkatnya toksisitas atau efek samping lain. OTT

BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI

Farmasi Kedokteran

57

Laboratorium Keterampilan Medik

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

dapat timbul karena pencampuran dua jenis injeksi yang tidak tepat atau penambahan suatu
injeksi ke dalam cairan infus yang tidak tepat.
Contoh.

Siklizin cenderung mengendap dengan adanya NaCl 0,9% ketika digunakan
bersamaan dalam satu alat suntik (syring drive) sehingga sangat penting untuk
memeriksa semua tanda / indikasi pengendapan sebelum pemberian obat.

Pedoman Pengobatan

Salah satu aspek yang dapat memudahkan dan menjamin terlaksananya POSR adalah
adanya suatu pedoman pengobatan. Pedoman tersbut disusun berdasarkan bukti ilmiah dan
kesepakatan para ahli. Contoh pedoman yang digunakan di Indonesia adalah FRS, DOEN,
DOEW, PPAB, dan PDT.
Manfaat pedoman pengobatan:

a. Untuk pasien

Pengobatan yang diterima oleh pasien hanya pengobatan yang paling
bermanfaat,paling dibutuhkan, aman dan ekonomis, serta dapat mengurangi kebingungan
pasien akibat keaneka- ragaman pengobatan antara petugas sehingga kepatuhan pasien
terhadap pengobatan lebih terjamin.

b. Untuk dokter dan tenaga keperawatan
Memudahkan dokter dan tenaga keperwatan untuk menentukan pengobatan yang paling
bermanfaat, aman, rasional dan ekonomis bagi pasien. Tenaga kesehatan lebih dapat
memusatkan perhatian pada proses penegakan diagnosis, mutu peresepan lebih terjamin
dan memungkinkan evaluasi, supervisi dan monitoring praktek peresepan serta memberikan
perlindungan hukum.

c. Untuk pengelolaan suplai obat
Suplai obat tiap penyakit baik oleh pemerintah sendiri ataupun melalui kerjasama
dengan pihak swasta, lebih terjamin. Dapat memperkirakan kebutuhan obat secara lebih riil
berdasarkan epidemiologi penyakit.

d. Untuk pemegang kebijaksanaan kesehatan
Pedoman pengobatan bermanfaat untuk mengukur mutu pelayanan pengobatan dan
pengendalian biaya, sehingga anggaran obat dapat dimanfaatkan secara lebih efektif.

Aspek Hukum Pedoman Pengobatan

a. Sebagai standar keprofesian, karena pedoman pengobatan dibuat atas dasar pertimbangan
ilmiah dan juga merupakan kesepakatan berbagai ahli yang relevan dan kompeten
b. Memberi status hukum yang jelas dan dapat diterima, karena telah mengikuti prosedur yang
dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan hukum.

Dampak pengobatan tidak rasonal

a. Dampak terhadap biaya pengobatan

Waktu perawatan lebih lama, pemberian obat tanpa indikasi dan pemberian obat
yang tidak perlu menyebabkan biaya pengobatan meningkat
b. Dampak terhadap efek samping obat

Semakin banyak jenis obat yang diberikan, efek samping yang mungkin dialami oleh
pasein dapat meningkat. Penggunaan antibiotik secara tidak rasonal menyebabkan
terjadinya resistensi obat.

BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI

Farmasi Kedokteran

58

Laboratorium Keterampilan Medik

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

Faktor penyebab penggunaan obat yang tidak rasional

Banyak faktor yang mendorong terjadinya pnggunaan obat yang tidak rasional, antara lain:
1. Kurangnya pengetahuan tentang farmakoterapi
2. Kurang mendapat informasi obat yang benar
3. Diagnosis yang tidak pasti sehingga pemberian obat seperti “ shot gun therapy”
4. kurangnya motivasi dokter dan tenaga paramedis untuk menambah ilmu misalnya jarang
mengikuti kursus penyegar
5. Tidak adanya pedoman pengobatan pada unit-unit pelayanan kesehatan
6. Tekanan dari penderita
7. Tekanan dari industri farmasi
8. Sistem pelayanan kesehatan yang kurang merata
9. Pengawasan penggunaan dan peredaran obat yang kurang ketat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->