P. 1
Bahan Belajar Keterampilan Medik Tahun Ajar 2009

Bahan Belajar Keterampilan Medik Tahun Ajar 2009

|Views: 15,350|Likes:
Published by Minoru Iobi

More info:

Published by: Minoru Iobi on Oct 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/16/2013

pdf

text

original

BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI

Farmasi Kedokteran

5

Laboratorium Keterampilan Medik

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

Dosis lazim, dosis terapeutik adalah sejumlah obat ( dalam satuan berat/volume unit) yang
memberikan efek terapeutik pada penderita ( dewasa). Selain dosis terapeutik, dikenal pula istilah, dosis
awal, dosis pemeliharaan, dosis maksimum, dosis toksis, dan dosis letal.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi dosis antara lain adalah faktor obat, faktor pemberian,
faktor penderita dan indikasi dan patologi penyakit.
Dosis Maksimum (DM) kecuali dinyatakan lain, adalah dosis maksimum untuk dewasa untuk
pemakaian melalui mulut, injeksi subkutan dan rektal. Penyerahan obat dengan melebih DM dapat
dilakukan, jika dibelakang jumlah obat bersangkutan pada resep dibubuhi tanda seru dan paraf dokter
penulis resep. Dosis Lazim untuk dewasa, anak dan bayi hanya merupakan petunjuk dan tidak mengikat.

FAKTOR OBAT

Dipengaruhi oleh sifat fisika, daya larut (air/lemak), bentuk(kristal/amorf), sifat kimia (asam, basa,
garam, ester), derajat keasaman (pH dan pKa), toksisitas.

FAKTOR RUTE PEMBERIAN OBAT

Dosis obat yang diberikan melalui rute/cara pemberian apapun, harus mencapai dosis terapi dalam
pada target organ. Dengan mempertimbangkan berbagai faktor, misanya faktor yang membatasi
kemampuan absorbsi obat pada pemberian per oral, maka dosis oral berbeda dengan dosis obat yang
diberikan secara parenteral. Dosis obat pada pemberian per oral lebih tinggi dari pada per parenteral.

FAKTOR PENDERITA

Dipengaruhi oleh umur (anak, dewasa, geriatri), berat badan (normal, obesitas, malnutrisi), luas
permukaan tubuh, ras dan sensitivitas individual.

INDIKASI DAN PATOLOGI PENYAKIT

Penyebab penyakit
Keadaan pato-fisiologis, misalnya pada gangguan fungsi hepar dan/atau gangguan fungsi ginjal,
beberapa jenis obat dikontraindikasikan, atau dosis beberapa jenis obat perlu diturunkan atau
interval pemberian diperlama.

PERHITUNGAN DOSIS OBAT UNTUK ANAK

Anak bukanlah miniatur dewasa, oleh karena organ tubuhnya (hepar, ginjal, saluran pencernaan,
dan SSP) belum berfungsi secara sempurna, luas permukaan tubuh, kecepatan metabolisme basal, serta
volume dan distribusi cairan tubuh berbeda dengan orang dewasa, maka besar dosis pada anak
ditentukan berdasarkan pada keadan fisiologi anak. Dalam menghitung dosis obat untuk anak, perlu
dibedakan antara :
Prematur
Neonatus ( 1bln)
Infant ( s.d 1 thn)
Balita (>1-5 thn)
Anak ( 6-12 tahun)

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan dosis anak:
Faktor farmakokinetik obat

Absorpsi : kemampuan absorpsi dipengaruhi oleh
PH lambung dan usus
Waktu pengosongan lambung
Waktu transit
Enzim pencernaan
Distribusi : jumlah obat yang sampai di jaringan dipengaruhi oleh:

BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI

Farmasi Kedokteran

6

Laboratorium Keterampilan Medik

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

Masa jaringan
Kandungan lemak
Aliran darah
Permeabilitas membran
Kadar protein plasma
Volume cairan ekstraseluler
Metabolisme : kecepatan metabolisme dipengaruhi oleh:
Ukuran hepar
Kemampuan enzim mikrosomal
Eksresi : proses eksresi obat terutama melalui ginjal dan dipengaruhi oleh:
Kecepatan filtrasi glomeruler
Proses sekresi dan reabsopsi tubuler

Cara menghitung dosis anak

1. Didasarkan perbandingan dengan dosis dewasa.
Berdasar perbandingan umur:

Rumus young ( Anak umur 1 8 tahun)

Da =

Angka 12 menunjukkan berlaku untuk umur anak <12 tahun

Dosis Rangkap = Dosis Kombinasi

Apabila dalam resep terdapat dua atau lebih obat yang mempunyai khasiat sama, maka dosis-
dosis yang ada dihitung sebagai berikut :

Dihitung dosis rangkap sekali dan dosis rangkap sehari.

Rumus Dilling

Da =

Angka 20 menunjukkan bahwa rumus ini berlaku untuk orang dewasa >20-24 tahun.
Ket rumus diling:
Da= dosis anak
DM= dosis Maksimum
n= umur

2. Berdasar perbandingan berat badan
dianggap berat badan orang dewasa 70 kg
Rumus Clark =

3. Berdasar perbandingan luas permukaan tubuh (LPT)
Dianggap bahwa luas permukaan tubuh orang dewasa : 1,73 m2
Rumus ( crawford- Terry Rouke) = LPT a
1,73
4. Didasarkan atas ukuran fisik anak secara individual

x DM (mg)

n

20 DM (mg)

BBa
70

DM (mg)

DM (mg)

n
n +12

Dosis A
DM A

+ Dosis B
DM B

dan seterusnya

+

≤1

BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI

Farmasi Kedokteran

7

Laboratorium Keterampilan Medik

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

Sesuai dengan BB anak ( dalam kg)
Sesuai dengan LPT anak ( dalam m2
)

CATATAN:
Kelemahan perhitungan anak dengan perbandingan dengan dosis dewasa:
Umur: tidak tepat oleh karena ada variasi BB dan LPT
Berat Badan : tidak tepat untuk semua obat
LPT : tidak praktis terutama kasus gawat
Karena kelemahan-kelemahan tersebut maka diciptakan rumus baru untuk menghitung dosis anak yang
lebih akurat oleh bagian farmasi kedokteran Unair.

Untuk bayi 0-11 bulan

Da=

Da = dosis anak
DM= Dosis Makanan
m = umur dalam bulan
atau
Da =

W= berat dalam kg

Untuk balita 1 4 tahun

Da =

n = umur dalam tahun
atau

Da =

W= berat badan dalam kg
Catatan : rumus ini diturunkan dari Rumus Clark ( yang telah diseuaikan untuk anak Indonesia).

PERHITUNGAN DOSIS OBAT PADA OBESITAS

Dikatakan obesitas jika BB > 20%, BB ideal dan komposisi komponen tubuh berbeda dengan BB

normal
Untuk perhitungan dosisnya harus memperhatikan kelarutan obat dalam lemak (lipofisitas) :
Berdasar berat badan tanpa lemak (BBTL) untuk obat non-lipofilik.
Contoh: digitoksin, gentamisin
Berdasar berat badan normal ( BBN) untuk obat lipofilik
Contoh: thiopental

DOSIS LAZIM / TERAPEUTIK

Yang tertulis dalam pustaka

13 + M

89

DM

1+ W

28,8+0,9 W

DM

4,5 + n
19,8

DM

2,5 + W
41

DM

BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI

Farmasi Kedokteran

8

Laboratorium Keterampilan Medik

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

Dosis sekali (tunggal)
Bisacodyl 5-10 mg/ dosis tunggal
Dosis sehari
Dexamethasone 0,2-2mg/ hari
Diazepam 5-30 mg dalam dosis terbagi
Dosis/kg.BB/hari

Ampicilin 50-100 mg/kg BB/hari dalam dosis terbagi tiap 6 jam.
Griseofulvin 0,5-1 g/ hari ( dosis tunggal atau terbagi) ; anak : 10 mg/kg BB/ hari

DOSIS UNTUK EFEK BERBEDA

Sebagai contoh; PHENOBARBITAL sebagai :
sedative – hipnotik, dosisnya 30 mg/ 3-4 d.d
antikonvulsan, dosisnya 30-60 mg/2-3 DM

KURVA BENTUK BEL

Menunjukkan efek obat dalam populasi

Kecil

Rata-rata

Besar

EFEK

BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI

Farmasi Kedokteran

9

Laboratorium Keterampilan Medik

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

UNDANG-UNDANG FARMASI & KODE ETIK KEFARMASIAN DALAM
KEDOKTERAN

UU FARMASI
Peraturan MenKes no. 242/ thn 90
:

Pasal 1 ayat 1

Obat adalah bahan atau panduan bahan yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki
sisitem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan penyakit,
penyembuhan penyakit, pemulihan, dan peningkatan kesehatan termasuk kontrasepsi dan sediaan
biologis.

Peraturan MenKes RI No. 922/thn 1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek

Pasal 1 ayat 1

Resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dan dokter hewan kepada apoteker
pengelola apotek untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita sesuai peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
Masih tentang resep, Peraturan MenKes No. 26/ thn 1981 BAB III pasal 10 menjelaskan:
1. Resep harus ditulis dengan jelas (terbaca red) dan lengkap
2. Ketentuan mengenai resep yang dimaksud ayat ( 1) ditetapkan Menteri.

Selain itu , dalam Keputusan Menkes No. 280/ thn 1981 tentang resep yang terdapat dalam

BAB II yang berbunyi:
Pasal II : disamping memuat pasal 10 ( no.26/thn 81) resep juga harus memuat juga:
1. Nama, alamat, dan nomor izin praktek dr, drg. drh
2. Tanggal penulisan R/, nama setiap obat dan komposisi obat
3. Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan R/
4. Tanda tangan /paraf dokter penulis R/ sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
5. Jenis hewan, nama, serta alamat pemilik untuk R/ dokter hewan
6. Tanda seru dan paraf dokter untuk R/ yang mengandung obat yang jumlahnya melebihi dosis
maksimal.

Peraturan MenKes No. 922/ thn 93:

Pasal 15 ayat 3

Dalam hal pasien tidak mampu menebus obat yang tertulis dalam R/ apoteker wajib berkonsultasi
dngan dokter untuk pemilihan obat yang tepat.

Pasal 16:

1. apabila apoteker menganggap bahwa dalam R/ terdapat kekeliruan atau penulisan resep yang
tidak tepat, apoteker harus memberitahukan kepada dokter penulis resep.
2. apabila dalam hal dimkasud ayat (1) karena pertimbangan tertentu dokter penulis tetap pada
pendirianya, dokter wajib menyatakan secara tertulis atau membubuhkan tanda tangan yang
lazim diatas resep.

Pasal 17 ayat 3: R/ atau salinan R/ hanya boleh diperlihatkan kepada :

dokter penulis R/ atau yang merawat.
Penderita yang bersangkutan
Petugas kesehatan
Petugas yang berwenang menurut perundang- undangan yang berlaku

BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI

Farmasi Kedokteran

10

Laboratorium Keterampilan Medik

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

GOLONGAN OBAT
Peraturan MenKes no. 242/ thn 90
pasal 1 ayat 3 menyebutkan bahwa obat digolongkan menjadi :
1. Obat bebas

obat bebas yaitu obat yang dijual bebas dan dapat dibeli secara bebas tanpa resep dokter, di toko,
dan toko obat. Obat ini ditandai dengan lingkaran warna hijau. Dibuku ISO ada tanda atau tulisan B.

Lambang obat bebas

Contohnya:

Vitamin larut air
2-4 salep.
Oralit
Parasetamol ≤ 500mg
Ibuprofen 200 mg

2. Obat bebas terbatas

yaitu obat yang dibeli secara bebas tanpa resep dokter, tapi juga dengan batasan jumlah dan isi
berkhasiat serta tanda peringatan P. Pada kemasannya ada tanda lingkaran biru tua dan termasuk obat
daftar W ( Werschuwin) ( Kep. Menkes No. 6355/69). Di buku ISO ditandai dengan tulisan T.

Lambang obat bebas terbatas

Sebagai contoh peringatannya :
P No. I : awas obat keras, bacalah aturan pemakaiannya.
Dulcolax tablet
Acetaminofen = >600 mg/tab atau >40 mg/ml (kep Menkes no.66227/73)
SG tablet.
P No. 2 : awas obat keras, hanya untuk kumur , jangan ditelan
Gargarisma khan
Betadin gargarisma
P NO. 3 : awas obat keras hanya untuk bagian luar badan
Anthistamin pemakain luar , misal dalam bentuk cream, caladin, caladril.
Lasonil
Liquor burowl
P No. 4 : awas obat keras hanya untuk dibakar
Dalam bentuk rokok dan sebuk untuk penyakit asma yang mengandung scopolamin.
P No.5 ; awas obat keras tidak boleh ditelan
Dulcolax Suppos
Amonia 10 % ke bawah
P No. 6 : awas obat keras wasir jangan ditelan:
Varemoid

BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI

Farmasi Kedokteran

11

Laboratorium Keterampilan Medik

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

3. Obat keras

Adalah obat yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan RI dan yang ditandai dengan lingkaran warna
merah lingkaran merah bergaris tepi hitam dengan tulisan huruf K di dalamnya dan di penandaanya harus
dicantum kalimat “Harus dengan Resep Dokter”. Obat ini termasuk daftar G ( Gevarrlijk).

Lambang obat keras

Berdasarkan keputusan Menkes No. 347/ menkes/SK/VII/1990 tentang obat wajib Apotek (OWA 1)
No. I, dan keputusan Menkes : 924/93 (OWA 2) maka menurut cara memperolehnya, obat keras terbagi
2:

a. Harus dengan resep dokter ( G1)
Untuk semua injeksi
Antibiotika dan virus
Obat-obat jantung
Obat-obat psikotropika.
b. Disarankan oleh apoteker di apotek
pil kb
analgetik-antipiretik ( antalgin, asam mefenamat)
antihistamin dan obat asma
Psikotropika Kombinasi
Obat Keras tertentu

Menurut UU No. 49/1949 pasal 3 ayat 2, Apoteker hanya dapat menjual obat keras kepada:
1. pasien dengan resep dokter untuk obat yang bukan OWA
2. apoteker
3. dokter/dokter gigi
4. dokter hewan

Yang berhak memiliki serta menyimpan obat daftar G dalam jumlah yang patut disangka bahwa
obat tersebut tidak akan digunakan sendiri adalah:
1. PBF (pedagang besar farmasi)
2. APA (apoteker pengelola apotik)
3. Dokter yang berizin (dr,drg)
4. Dokter hewan (dalam batas haknya)

4. Psikotropika

Menurut Undang-undang RI no. 5 tahun 1997 tentang PSIKOTROPIKA yang terdiri atas 16 bab 74
pasal, tertanggal 11 maret 1997, PSIKOTROPIKA adalah zat atau obat baik alamiah maupun bukan
narkotik yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang
menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

Pasal 2 ayat 2 tentang penggolongan psikotropika:
Penggolongan psikotropika:
1. psikotropika golongan I
2. psikotropika golngan II
3. psikotropika golongan III

BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI

Farmasi Kedokteran

12

Laboratorium Keterampilan Medik

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

4. psikotropika golongan IV

Pasal 4

1. psikotropika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan atau ilmu
pengetahuan.
2. psikotropika golongan I untuk ilmu pengetahuan
3. selain pasal 4 ayat 2 psikotropika golongan I dinyatakan sebagai barang terlarang.

Pasal 14 ayat 5

Dokter hanya diperbolehkan menyerahkan obat psikotropika apabila:
a. menjalankan praktek dan diberikan dengan suntikan
b. menolong orang sakit dalam keadaan darurat
c. menjalankan tugas di daerah terpencil yang tidak ada apotek.

BAB XIV. Ketentuan Pidana ( 13 pasal)

Pasal 59

1. Barang Siapa:

a. menggunakan psikotropika selain yang dimaksud pasal 4 ayat 2
b. memproduksi atau menggunakan psikotropika golongan I
c. mengedarkan psikotropika golongan I
d. mengimpor selain kepentingan ilmu pengetahuan
e. secara tanpa hak memiliki menyimpan atau membawa psikotropika golongan I dipidana penjara
paling sedikit 4 tahun dan selama-lamanya 15 tahun dan membayar denda paling sedikit 150
juta dan paling bayak 750 jt.
2. Jika terorganisasi maka akan dipidana mati atau seumur hidup dan membayar denda 750 juta.

Pasal 68 : tindak pidana di bidang Psikotropika sebagaimana diatur dalam undang-undang ini
adalah kejahatan:

5. Narkotika

Obat narkotika ditandai dengan lingkaran warna putih ada palang merah di tengah-tengahnya dan
termasuk daftar O (Opiat). Untuk memperolehnya harus dengan resep dokter dan apotik wajib
melaporkan jumlah dan macamnya. Peresepan tidak boleh diulang dan ada tanda tangan dokter penulis
resep. Di buku ISO ditandai dengan tulisan N.

Lambang obat golongan narkotika

UU Narkotika No. 9 thn 1976 yang terdiri atas 10 bab 55 pasal diganti dengan UU no. 22 tahun 1997
tentang Narkotika dengan 15 BAB 104 pasal.

BAB I

pasal 1

Narkotika : zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun
semisintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa,
mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.

BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI

Farmasi Kedokteran

13

Laboratorium Keterampilan Medik

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

Oleh karena itu, obat-obat ini mulai dari pembuatannya sampai pemakaiannya diawasi dengan
ketat oleh Pemerintah dan hanya boleh diserahkan oleh apotek atas resep dokter. Tiap bulan apotek
wajib melaporkan pembelian dan pemakaiannya pada pemerintah.

BAB II

Pasal 2

Narkotika digolongkan menjadi:
a. Narkotika golongan I- kokain, heroin
b. Narkotika golongan II= Metadon, morfina, opium, petidin, tebain
c. Narkotika golongan III- kodein.
Tujuan pengaturan Narkotika

1. menjamin ketersediaannya narkotika untuk keperluan pelayanan kesehatan dan atau
pengembangan ilmu pengetahuan.
2. mencegah terjadinya penyalahgunaan narkotika
3. memberantas peredaran gelap narkotika.

Pasal 4

Narkotika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan atau
pengembangan ilmu pengetahuan.

Pasal 5

Narkotika golongan I hanya digunakan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan
dilarang digunakan untuk kepentingan lainnya.

BAB III. Pengadaan

Pasal 6

I. Menkes : mengupayakan tersedianya narkotika untuk pelayanan kesehatan atau pengembangan
ilmu pengetahuan

Pasal 9

I. narkotika golongan I dilarang diproduksi atau digunakan dalam proses produksi, kecuali jumlah
sangat terbatas untuk pengembangan ilmu pengetahuan dengan pengawasan ketat dari Menkes.

BAB V PEREDARAN

Pasal 33

Narkotika dalam bentuk obat jadi hanya dapat diedarkan setelah terdaftar pada Depkes

Pasal 37

Narkotika golongan I hanya dapat disalurkan oleh pabrik obat tertentu atau pedagang besar
farmasi tertentu kepada lembaga ilmu pengetahuan untuk kepentingan pengembangan ilmu
pengetahuan.

Pasal 39

1. penyerahan narkotika hanya dilakukan oleh: apotek, rumah sakit, Puskesmas, balai pengobatan
dan dokter.
2. apotek hanya dapat menyerahkan narkotika kepada : rumah sakit, puskesmas, apotik lain , balai
pengobatan, dokter, pasien.
3. rumah sakit, apotek, puskesmas, balai pengobatan hanya dapat menyerahkan narkotika kepada
pasien berdasarkan R/ dokter.
4. Penyerahan narkotika oleh dokter hanya dilakukan dalam:

BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI

Farmasi Kedokteran

14

Laboratorium Keterampilan Medik

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

a. menjalankan praktek dan diberikan melalui suntikan.
b. Menolong orang sakit dalam keadaan darurat melalui suntikan.
c. Menjalankan tugas di daerah terpencil yang tidak ada apotek.
5. narkotika dalam bentuk suntikan dalam jumlah tertentu , disarankan dokter dimaksud ayat 4
hanya dapat diperoleh di apotek.

BAB XII. KETENTUAN PIDANA ( PASAL 78-99)

Pasal 84

Barang siapa tanpa hak dan melawan hukum:
a. menggunakan narkotika terhadap orang lain atau memberikan narkotika golongan I untuk
orang lain, dipidana paling lama 15 tahun dan didenda 750 jt
b. menggunakan narkotika terhadap orang lain atau memberikan narkotika golongan II untuk
orang lain, dipidana paling lama 10 tahun dan didenda 500 jt.
c. Menggunakan narkotika terhadap orang lain atau memberikan narkotika golongan III untuk
orang lain, dipidana paling lama 5 tahun dan didenda 250 jt.

Pasal 99

Dipidana penjara paling lama 10 tahun dan didenda 200 juta bagi pimpinan Rumah Sakit,
Puskesmas, Balai Pengobatan, sarana penyimpanan pemerintah, apotek, dan dokter yang
mengedarluaskan narkotika golongan II dan III bukan untuk pelayanan kesehatan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->