STRUKTUR SOSIAL MASYARAKAT JAWA

*
Diarsipkan di bawah: Kapita Selekta — muhtadi ridwan @ 8:33 am oleh : Muhtadi Ridwan 1. A. Pendahuluan. Kajian tentang agama dan kebudayaan masyarakat Jawa oleh sosiolog dan antropolog sudah banyak dilakukan, baik mereka yang berkebangsaan Indonesia (Jawa dan luar Jawa) atau berkebangsaan asing seperti Clifford Geertz.[1] Guru besar antropologi berkebangsaan Amerika pada University of Chicago ini telah melakukan penelitian lapangan di salah satu daerah di Jawa[2] yang ia sebut pada laporan penelitiannya dengan nama samaran “Mojokuto” dari bulan Mei 1953 sampai bulan September 1954, atau kurang lebih 1 tahun 4 bulan. Menurut pengakuan Geertz bahwa proyek riset yang ia lakukan berlangsung hingga masa enam tahun.[3] Hasil penelitian tersebut kemudian diajukan sebagai disertasi doktoral kepada Departemen Hubungan-Hubungan Sosial di Harvard University dalam musim semi tahun 1956 dengan judul aslinya The Religion of Java dan kemudian diterjemahkan oleh Aswab Mahasin dengan judul Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa (1981). Banyak kalangan menganggap, bahwa buku tersebut sangat menarik perhatian para ahli antropologi, sosiologi, orang-orang yang sedang memperdalam pengetahuan mereka tentang agama Islam dan Indonesia, serta ahli-ahli politik yang menaruh minat dalam hubungan antara agama dan perilaku politik. Karena bahan-bahan deskripsinya yang lengkap dan kohesinya yang nampak logis, studi Geertz itu lalu dipakai sebagai buku referensi oleh banyak orang yang berminat dalam studi tentang agama atau kebudayaan dan masyarakat Jawa.[4] Perhatian para ahli terhadap karya Geertz tersebut sebagaimana layaknya para ilmuan ketika mengkaji temuan penelitian atau suatu teori, mereka membahasnya secara kritis. Seperti Harsja W Bachtiar (1973) ketika merespon karya Geertz menyatakan bahwa ia agaknya terlupakan pada bebrapa masalah teoritis yang pokok, yaitu tentang agama-agama orang Jawa.[5] Parsudi Suparlan dalam kata pengantar terjemahan The Riligion of Java juga setuju dengan komentar Bachtiar bahwa kelemahan tulisan Geertz adalah karena tidak didasarinya akan adanya Agama jawa, tetapi sumber yang digunakan adalah kepustakaan yang ditulis oleh para sarjana Belanda.[6] Parsudi juga mengkritisi metodologi yang digunakan Geertz dengan menyatakan bahwa kelemahan-kelemahan yang tampak dalam penggolongan masyarakat Jawa di Mojokuto atas tiga golongan struktur sosial sebenarnya merepakan perwujudan dari pendekatan yang telah dilakukan oleh Geertz.[7] Zaini Muchtarom ketika menulis tesis Santri dan Abangan Di Jawa juga memakai referensi The Riligion of Java, tetapi sesuai dengan judul tesisnya justru ia menganggap sangat perlu ada penelitian tentang konsep santri dan abangan sesuai dengan pendapat kalangan bangsa Indonesia sendiri.[8] Fokus kajian seperti yang diungkap sendiri oleh Clifford Geertz dalam pendahuluan bukunya adalah tradisi keagamaan yang dipengaruhi oleh kepercayaan keagamaan, preferensi etnis dan ideologi politik yang dilakukan oleh masyarakat Mojokuto sebagai cerminan tradisi keagamaan masyarakat Jawa. Tradisi keagamaan tersebut berbeda tipologinya menurut struktur sosial di Jawa masa itu; desa, pasar dan birokrasi pemerintah, yang kemudian ia

Geerts menyatakan bahwa kebudayaan kebudayaan sebagai suatu sistem makna dan simbol yang disusun dalam pengertian di mana individu-individu mendefinisikan dunianya. makna tidak bersifat individual tetapi publik. B. bukan merupakan kumpulan laporan rasa yang luas tetapi sebagai suatu struktur fakta yang merupakan simbol dan hukum yang mereka beri makna. Dia juga seorang pembaharu dalam mengembangkan penelitian antropologi. Bagi Geertz kebudayaan memiliki sifat interpretatif. mengabadikannya. kajian tentang varian masyarakat Jawa.[9] Selanjutnya tulisan ini bermaksud untuk mencoba mengkaji sebagian dari tulisan Clifford Geertz. Secara sistematis kajian ini penulis mulai dari pendahuluan. dan varian priyayi (yang initinya berpusat di kantor pemerintahan. Dalam mendefinisikan makna kebudayaan misalnya. Karena kebudayaan merupakan sebuah teks maka ia perlu ditafsirkan agar tertangkap makna yang terkandung di dalamnya. Makna berisi penilaian-penilaian pelaku yang ada dalam kebudayaan tersebut. dan penutup. suatu kumpulan peralatan simbolik untuk mengatur perilaku. varian abangan (yang intinya berpusat di pedesaan). Dari Paul Ricouer. metodologi yang dipakai Clifford Geertz. varian santri (yang intinya berpusat di tempat perdagangan).melihat ada titik kehidupan keagamaan. maka proses budaya haruslah dibaca. Kebudayaan menjadi suatu pola makna yang diteruskan secara historis terwujud . ditranslasikan. Karena kebudayaan merupakan suatu sistem simbolik. Pendekatan hermeunetik inilah yang kemudian menginspirisasikannya untuk melihat kebudayaan sebagai teks-teks yang harus dibaca.[10] Konsep kebudayaan simbolik yang dikemukakan oleh Geertz di atas adalah suatu pendekatan hermeneutik yang lazim dalam tradisi strukturalisme. Dalam kebudayaan. dan diinterpretasikan. Problem Akademis yang Melatarbelakangi Pemikiran Clifford Geertz Clifford Geertz adalah antropolog terkemuka pada zamannya. Geertz telah menghadirkan paradigma baru yang semakin memperkuat fondasi antropologi dalam memahami konsep kebudayaan. sebuah konsep semiotik. sumber informasi yang ekstrasomatik‖. Kebudayaan bagi Geertz adalah jaringan makna simbol yang perlu diuraikan dalam sebuah deskripsi mendalam (thick description). yang selanjutnya ia simpulkan pada tiga varian. Sehingga demikian tindakan manusia dapat menyampaikan makna yang dapat dibaca. ia mengambil gagasan bahwa bangunan pengetahuan manusia yang ada. suatu pola makna yang ditransmisikan secara historik diwujudkan di dalam bentuk-bentuk simbolik melalui sarana di mana orang-oarang mengkomunikasikan. ketika sistem makna kemudian menjadi milik kolektif dari suatu kelompok. di kota). dan diinterpretasikan. kajian tentang varian abangan. suatu perlakuan yang sama seperti kita memperlakukan teks tulisan.[11] Geertz menfokuskan konsep kebudayaan kepada nilai-nilai budaya yang menjadi pedoman masyarakat untuk bertindak dalam menghadapi berbagai permasalahan hidupnya. dan sebagai sebuah ―teks‖. menyatakan perasaannya dan memberikan penilaian-penilaiannya. diterjemahkan. yaitu tentang varian abangan dengan harapan akan ada gunanya sebagai pengantar untuk memahami secara kritis dan sebagai landasan untuk menilai karyanya sebatas kemampuan penulis yang tidak mempunyai latarbelakang ilmu dalam kajian ini. Kebudayaan bukanlah sebatas pola perilaku yang nampak. Sehingga pada akhirnya konsep budaya lebih merupakan sebagai pedoman penilaian terhadap gejalagejala yang dipahami oleh si pelaku kebudayaan tersebut. dan menmgembangkan pengtahuan dan sikap-sikapnya ke arah kehidupan.

[12] Sebagai konsekuensi atas pemahaman kebudayaan seperti itu. Agama bagi Geetz lebih merupakan sebagai nilai-nilai budaya. dimana ia melihat nilai-nilai tersebut ada dalam suatu kumpulan makna. kepercayaan terhadap makhluk halus. Dimana dengan kumpulan makna tersebut. pasar dan birokrasi pemerintah yang mencerminkan tiga tipe kebudayaan: abangan. pengrajin dan buruh kecil. pembagian tugas dengan tim peneliti lain. untuk membuat dirinya sendiri jelas agar para pembaca dapat melihat sendiri bagaimana tampaknya fakta-fakta itu. tradisi pengobatan. seni tinggi. Meskipun Jawa adalah Jawa yang stereotip penunjukannya jelas. masing-masing individu menafsirkan pengalamannya dan mengatur tingkah lakunya. Dia kemudain menemukan tiga inti struktur sosial yakni desa. Kebudayaan juga menjadi suatu sistem konsep yang diwariskan yang terungkap dalam bentuk-bentuk simbolik yang dengannya manusia berkomunikasi.[14] Ketika ia membagi kebudayaan jawa dalam tiga tipe variant kebudayaan berbeda. preferensi etnis dan pandangan politik. Yang terakhir adalah subvarian priyayi. Sehingga dengan nilai-nilai tersebut pelaku dapat mendefinisikan dunia dan pedoman apa yang akan digunakannya. dan memperkembangkan pengetahuan mereka tentang kehidupan dan sikapsikap terhadap kehidupan. lalu berkembang menjadi sebuah sinkritisme.yang penuh dengan tradisi animisme upacara slametan. Geertz melihat agama jawa sebagai suatu integrasi yang berimbang antara tradisi yang berunsurkan animisme dengan agama Hindu & agama Islam yang datang kemudian. maka priyayi lebih menekankan pada kekuatan sopan santun yang halus. dan mistisisme intuitif dan potensi sosialnya yang memenuhi kebutuhan kolonial Belanda untuk mengisi birokrasi pemerintahannya. Geertz melakukan pengumpulan data belasan bulan di Mojokuto. Sementara pasar terlepas dari penguasaan etnis Cina yang tidak menjadi pengamatan Geertz. Dengan demikian peneliti bisa menilai kesimpulan dan generalisasi ahli etnografi itu sesuai dengan persepsi aktualnya sendiri. melestarikan. santri dan priyayi. Kajian tentang Varian Masyarakat Jawa . Pengamatan Geertz tentang Mojokuto merambah pada praktik hidup penduduk setempat. metode penelitian Geertz lebih banyak menekankan aspek deskripsi atau yang belakangan dikenal sebagai metode ethnografi. Varian ini menunjuk pada elemen Hinduisme lanjutan dari tradisi Keraton Hindu-Jawa. Prinsip kerjanya berdasarkan proposisi bahwa ahli etnografi itu mampu mencari jalan keluar dari datanya. Geertz juga mengambil penggolongan penduduk menurut pandangan masyarakat Mojokuto yang didasarkan pada kepercayaan.diasosiasikan kepada petani kaya dan pedagang besar dari kelompok Islam berdasarkan kondisi historis dan sosial di mana agama Timur Tengah berkembang melalui perdagangan dan kenyataan yang menguasai ekonomi Mojokuto adalah mereka memunculkan subvarian keagamaan santri. dan pengumpulan data-data statistik. Dan bagian terbesarnya digunakan untuk kegiatan observasi-partisipatif.[13] Dalam penelitian itu. sihir dan magic menunjuk kepada seluruh tradisi keagamaan abangan. pendalaman topik-topik tertentu yang membutuhkan detail.dalam simbol-simbol. pemanfaatan banyak informan lokal.[15] C. Struktur sosial desa biasanya diasosiasikan kepada para petani. namun perhatian Geertz mengungkap adanya varian agama Jawa lebih kepada adanya kompleksitas masyarakat Jawa. Sebagaimana halnya Keraton (simbol pemerintahan birokratis). Dia juga melakukan penguasaan bahasa lokal.

dan Priyayi yang sikapnya menitikberatkan pada segi-segi Hindu dan berhubungan dengan unsur-unsur birokrasi. yaitu berturut-turut segi .Untuk mengawali kajian ini penulis mencoba membahas tentang pembagian tiga klasifikasi atau varian masyarakat Jawa. Istilah priyayi diterapkannya pada kebudayaan kelas-kelas tertinggi yang pada umumnya merupakan golongan bangsawan berpangkat tinggi atau rendah. karena ada orang-orang priyayi yang taat kepada agama. Menurut Harsja W. Seorang santri lebih taat kepada agama dibandingkan dengan seorang abangan. Santri. abangan. dan secara luas berhubungan dengan unsur-unsur petani di antara penduduk. Istilah priyayi biasanya diperuntukan kepada orang-orang yang memiliki status sosial tertentu yang berbeda dari rakyat biasa yang disebut wong cilik. meskipun dalam karyanya. Bachtiar pembagian tersebut kurang tepat. pada umumnya berhubungan dengan unsur pedagang (maupun juga dengan unsur-unsur tertentu di antara para petani).[18] Ia memerinci bahwa setiap golongan menitikberatkan pada salah satu di antara tiga segi khusus pada sinkritisme religius Jawa. yaitu para petani yang kurang terpengaruh oleh pihak luar dibandingkan dengan golongan-golongan lain di antara penduduk. Adapun istilah santri diterapkan pada kebudayaan muslimin yang memegang peraturan dengan keras dan biasanya tinggal bersama di kota dalam perkampungan dekat sebuah masjid yang terdiri dari para pedagang di daerah-daerah yang lebih bersifat kota. wong widah atau kaum mayoritas. Abangan. dan ada orang-orang priyayi yang tidak taat atau tidak seberapa memperhatikan soal-soal agama. The Religion of Java. varian dan tradisi religius yang khusus.[16] Istilah abangan oleh Clifford Geertz diterapkan pada kebudayaan orang desa. dan Priyayi yang telah diuraikan panjang lebar oleh Clifford Geertz sebagai temuan penelitian pada karya menomentalnya yang berjudul The Religion of Java sebelum mengarah pada fokus kajian secara khusus tentang varian Abangan. Clifford Geertz memberikan pemerian atau deskripsi dan analisis yang panjang lebar tentang berbagai aspek sistem religius dan pandangan dunia Jawa. dan karenanya ia disebut santri. dan karenanya ia disebut abangan. Pembagian tersebut menurut Clifford Geertz merupakan pembagian yang dibuat sendiri oleh orang-orang Jawa sendiri. santri. dan wong tani. Santri yang mewakili sikap menitikberatkan pada segi-segi Islam dalam sinkretisme tersebut. namun ketiga-tiganya merupakan tiga pandangan dunia. Namun menurut beberapa peneliti berikutnya pembagian tersebut telah mendapat banyak kritik. dan priyayi. jika dikaitkan dengan perkembangan masyarakat Jawa sekarang. gaya hidup. namun deskripsinya mengakibatkan beberapa kerumitan yang terkadang mengacaukan. Tiga varian tersebut secara ringkas dideskripsikan sebagai berikut : Abangan yang mewakili sikap menitikberatkan segi-segi animisme sinkretisme Jawa yang menyeluruh. karena klasifikasi abangan dan santri selalu dikaitkan dengan perilaku keagamaan masyarakat. Skema konsepsi bagi pembagian masyarakat Jawa yang dibuat oleh Clifford Geertz berdasarkan penelitian lapangan di Majokuto adalah tiga tipologi budayawi utama. santri dan priyayi.[17] Zaini Muchtarom dalam laporan penelitiannya menyatakan. Salah satu diantaranya dianggap kurang tepat dan tidak relevan. Demikian juga istilah priyayi tidak bisa dianggap sebagai kategori dari klasifikasi yang sama. Bukunya telah diaturnya menjadi tiga bagian utama berdasarkan konsep abangan. sedangkan ukuran ketaatan itu tergantung kepada nilai-nilai pribadi orang-orang yang menggunakan istilah-istilah itu.

Salah satu sebabnya adalah berkat pendidikan modern. Demikian juga kelompok priyayi juga telah banyak melakukan hal-hal yang dulu menjadi ranah santri. seorang abangan. dan petani. Ketiga. Dalam kenyataannya masyarakat Jawa lama hanya dapat dibagi menjadi tiga bagian. . yaitu lurah atau kepala desa berikut perangkatnya. Menurutnya orang jawa sendiri membedakan empat tingkat sosial sebagai stratifikasi status. namun pada perkembangan berikutnya. Pertama. sekat-sekat dalam ketiga varian tersebut kelihatan semakin luruh. membuat mushala di salah satu ruang rumahnya.[19] Burger (1957) membagi masyarakat Surakarta dan Yogyakarta menjadi tiga kelas sosial. bukan kategori-kategori absolut. Ketiga bagian yang pertama tegas-tegas diberi judul varian abangan.[21] Klasifikasi Geertz tentang masyarakat Jawa semakin nampak kurang relevan untuk realitas sekarang. Guru digolongkan ke dalam komunitas priyayi. varian santri. Buddhisme-Hinduisme dan Islam. rakyat kecil). penulis membatasi klasifikasinya dengan menyatakan bahwa istilah-istilah abangan. Lurah atau kepala desa. dan kesan itu juga memperkuat oleh identifikasi para informan secara positif oleh penulis: Pak Wiro (seorang priyayi dan tukang gambar). seperti giat belajar mengaji. dan varian priyayi.[20] Koentjaraningrat (1963) telah menggambarkan stratifikasi Jawa dengan mencoba menganalisa dan membuat perbedaan yang jelas antara pembagian-pembagian masyarakat Jawa yang horisontal dan vertikal. raja (pangeran). ialah massa atau mereka yang diperintah. ada para sentana dalem atau kerabat raja penguasa yang digolongkan sebagai kelompok bangsawan dan raja. priyayi (birokrat). Kelompok santri telah banyak melakukan hal-hal yang dulu menjadi ranah priyayi. sedangkan kiai ke dalam komunitas santri. seperti menjadi pegawai. ada para kawulo dalem. bangsawan. tahun 1950-an pada waktu Clifford Deertz meneliti.[22] Memang.[23] Fenomena di atas oleh Zainuddin maliki disebut sebagai priyayinisasi santri untuk kelompok pertama (kelompok santri) dan santrinisasi priyayi untuk kelompok yang kedua (kelompok priyayi). terdapat para abdi dalem yaitu para pegawai dan birokrat raja.[24] Menjelang akhir bukunya. sebagaimana digambarkan oleh Azyumardi Azra (2004). umpamanya. yaitu selama perjalanan lima puluh tahun kemudian. Bagian yang terakhir membicarakan masalah konflik dan integrasi dari masyarakat Mojokuto secara keseluruhan. fragmentasi masyarakat sangat kentara karena aktualisasi politik masing-masing kelompok. mereka (tiga santri muda yang terpelajar dan kepala sebuah sekolah swasta). meskipun seluruh buku itu memberi kesan kepada pembaca bahwa istilah-istilah itu menunjukkan kategori-kategori yang cukup tegas. memperkuat kesan pada pembaca bahwa ketiga kategori itu memang diperlakukan sebagai kategori-kategori absolut. masingmasing mencakup beberapa bab yang melukiskan ciri-ciri dari varian agama sebagaimana yang disebut dalam bagian itu. mereka biasanya digolongkan ke dalam kelompok abangan atau Islam tradisional. belajar bahasa Inggris. adalah pembagian buku menjadi empat bagian.animesme. yaitu dhara (bangsawan). guru dan kiai. karena dipilih dari masyarakat yang mayoritas petani di dalam kesehariannya sangat dekat dekat kepada alam dan melakukan kegiatan ritual demi keseimbangan kosmologinya. wong dagang atau saudagar (pedagang) dan wong cilik (orang kecil. dan tentang apa yang dimaksudkan dengan istilah-istilah itu. Bu Arjo adalah induk semang kami. Kedua. bahwa ada tiga figur masyarakat pedesaan Jawa yang dihormati. setidak-tidaknyanya nama nabi atau orang suci lainnya. Pembahasan tentang hubunganhubungan di antara ketiga istilah itu. santri dan priyayi menunjukkan dimensi-dimensi varian kebudayaan. dan seterusnya. memberi nama islami. Yang sangat menyolok.

Kedua aspek tersebut ia gambarkan secara panjang lebar yang intinya bahwa ciri dari varian abangan adalah : pertama. Sekarang masalah mengidentifikasikan seorang priyayi menjadi lebih sulit lagi. Seseorang yang dianggap sebagai taat agama oleh seseorang. karena pemilahan masyarakat berdasarkan aliran. jadi sebagai santri. sekelompok masyarakat desa di Jawa biasanya petani yang mempunyai tradisi keagamaan berupa upacara keagamaan yang disebut slametan. Jika dikaji secara seksama ketiga ciri dari varian abangan di atas akan nampak rancu bila dihdapkan dengan dengan dua varian lainnya. yang terutama sekali terdiri dari pesta keupacaraan yang disebut slametan. Sistem keagamaan tersebut merupakan tradisi keagamaan abangan. sihir dan magi. Hindu dan Islam. dan ketiga tradisi pengobatan. karena banyak priyayi tulen telah meninggalkan kebiasaan untuk mencantumkan gelar mereka di muka nama mereka.melainkan oleh karena mereka bergaul dengan anggotaanggota golongan priyayi. Desa Jawa yang sebagian besar dihuni oleh masyarakat petani yang memiliki sistem keagamaan desa lazimnya terdiri dari suatu integrasi yang berimbang antara unsur-unsur animisme. Kajian tentang Varian Abangan Selanjutnya penulis mencoba fokus pada soal varian abangan sebagai sub varian dari dua sub varian yang sebenarnya tidak bisa dipisahkan sama sekali. maka di sini disesalkan bahwa Clifford Geertz tidak menegaskan apakah ia hendak melukiskan kompleks-kompleks kepercayaan dan ritual keagamaan tertentu ataukah kepercayaankepercayaan dan ritual-ritual keagamaan kategori-kategori tertentu dalam masyarakat. Abangan. desa. terlepas dari soal kerangka referensi dalam mengidentifikasi seseorang. Pertama. sebagaimana dinyatakan Geertz bahwa varian abangan adalah sekelompok masyarakat desa di Jawa yang pada umumnya petani dan mempunyai tradisi keagamaan berupa upacara keagamaan yang disebut selametan. maka sebagaimana telah dikemukakan. Dalam hal priyayi. . sihir dan magi. pasar dan birokrasi pemerintahan yang masing-masing diambil dalam artian lebih luas daripada biasanya. Sebagai contoh. varian santri dan priyayi. Oleh karena itulah. antara lain. D.Sebenarnya. tidaklah selalu mudah untuk membuat identifikasi yang positif. seorang yang sudah pensiun di Mojokuto yang berasal dari Sumatera tidak dapat dianggap sebagai priyayi menurut hukum. masalah identifikasi pertama-tama timbul sebagai pembedaan yang harus diadakan antara status menurut hukum dan status karena pergaulan. ………. kepercayaan yang kompleks dan rumit terhadap makhluk halus. dan secara luas dihubungkan dengan elemen petani. dan seluruh rangkaian teori dan praktek pengobatan. santri dan priyayi adalah tiga skisma yang sebenarnya saling bersinggungan dan berbaur. orang-orang yang berlainan dapat menganut norma-norma yang berlainan tentang ketaatan kepada agama. Kedua. dalam hal ini abangan. karena ia bukan orang Jawa dan dengan demikian tidak dapat menuntut status priyayi yang hanya diperuntukkan kaum ningrat Jawa.[25] Clifford Geertz menyatakan bahwa ada tiga inti struktur sosial Jawa pada masa ini. menurut Clifford Geertz mewakili suatu titik berat pada aspek animisme dan sinkretisme Jawa yang melengkapi semuanya. tidak dengan sendirinya akan dianggap sebagai santri pula oleh orang lain. Ada orang-orang yang dipandang sebagai anggota golongan priyayi bukan atas dasar keturunan atau jabatan resmi –yang merupakan ciri-ciri priyayi tulen. kepercayaan terhadap makhluk halus. Dalam hal ini pembedaan antara santri dan abangan.

khususnya di Majokuto sehingga ditemukan kategori atau tipologi. dan sebagainya. yang selanjutnya disebut varian. Sedangkan pendekatan yang dipakai ialah fenomenologi. Di situ segi doktrin keagamaan kurang tegas. Tradisi ini menitikberatkan pada perpaduan unsur-unsur Islam. melainkan juga mencari pemahaman yang mendalam. yaitu sebuah pendekatan yang berusaha . Budha-Hindu dan unsur-unsur asli sebagai sinkretisme Jawa dan sering dinamakan agama Jawa. rapat-rapat organisasi. di lapangan. sedangkan akhlak (etika)nya tetap agak lebih dekat ke abangan. E. Bagian terbesar masa penelitian yang ia lakukan tidak digunakan untuk wawancara resmi dengan informan yang khusus. Ia turut serta dalam beberapa perayaan umum. dan sebagainya. Beberapa perjalanan dengan para informan juga dilakukan ke rumah orang tua mereka. Secara eksplisit Clifford Geertz tidak menjelaskan metodologi penelitian yang digunakan.Abangan yang secara harfiyah berarti yang merah. tetapi cara hidupnya masih dikuasai oleh tradisi pra Islam Jawa. yang kemudian ia cepat sekali menghasilkan tingkat kelancaran dan pemahaman yang relatif tinggi. upacaraupacara. tetapi lebih sering untuk melakukan kegiatan observasi partisipatisi. yang diturunkan dari pangkal kata abang (merah). di halaman masjid. sebuah catatan tentang metode kerja dalam bukunya. varian abangan. yaitu jenis penelitian yang tidak saja beambisi mengumpulkan data dari sisi kuantitasnya. bahwa semua kegiatan yang dilakukan dalam rangka memperoleh data dari informan. tetapi juga ingin memperoleh pemahaman yang lebih dalam di balik fenomena yang berhasil direkam. Di antara kaum tani di desa-desa sebenarnya terdapat santri wong cilik maupun abangan wong cilik. Sinkretisme ini oleh orang Jawa juga dianggap sebagai tradisi rakyat. dan pengetahuan atas bahasa yang diperoleh kemudian terbukti merupakan satu-satunya alat penelitian yang paling penting untuk menyelidiki kepercayaan dan praktekpraktek keagamaan. formal maupun informal dengan cara tenggelam atau berenang bersama bahasa Jawa. Namanya orang muslim. sebab para tani yang tinggal di desa sedikit banyak sama dalam status politik. Istilah ini mengenai orang muslim Jawa yang tidak seberapa memperhatikan perintah-perintah agama Islam dan kurang teliti dalam memenuhi kewajiban-kewajiban agama. sehingga tidak saja menelusuri hubungan sebab akibat sebagaimana dalam paradigma fakta sosial. 1. Metode seperti ini biasa juga disebut penelitian kualitatif. di toko-toko atau kios-kios pasar. dan sebagainya. dan ekonomi. Jadi ciri-ciri tersebut sekaligus sebagai pembeda antara abangan dan santri lebih mengacu kepada prilaku keagamaan tidak pada dimensi stratifikasi setiap lapisan masyarakat Jawa. Di daerah-daerah yang lebih kota terdapat banyak saudagar santri dan saudagar abangan. Pendekatan yang dipakai Clifford Geertz Fakus kajian yang dilakukan Clifford Gertz adalah tentang prilaku keagamaan masyarakat Jawa. Berjam-jam digunakan untuk omong-omong atau wawancara tak resmi di warung kopi. mulai dari wong cilik sampai ke ndara. namun menurut uraiannya pada lembar tambahan. varian santri dan varian priyayi. sosial. di kantor kelurahan. Penggalian data dilakukan lewat observasi partisipasi dan wawancara mendalam. Jika dilihat dari fokus dan uraian di atas menunjukkan bahwa penelitian yang ia lakukan menggunakan paradigma definisi sosial. ke kota besar untuk menyaksikan beberapa reruntuhan kuno.

maka Clifford Geertz adalah orang yang memiliki sumbangan luar biasa dalam kajian masyarakat Indonesia. F. Berbagai karya monumental pun telah banyak dihasilkan. Kelemahan yang nampak dalam penggolongan masyarakat Jawa mojokuto atas tiga golongan struktur sosial sebenarnya merupakan perwujudan dari pendekatan yang dilakukan oleh Clifford Geertz. konsep yang dihasilkan dari penelitian tersebut adalah penggolongan sosial budaya berdasarkan aliran ideologi. Penggunaan numerologi yang khas Jawa itu menyebabkan adanya asumsi bahwa orang jawa tidak dengan segenap fisik dan batinnya ketika memeluk Islam sebagai agamanya. tetapi keduanya mewujudkan adanya suatu hubungan saling bergantung dan melengkapi satu sama lainnya. akan tetapi juga pandangannya bahwa alam diatur sesuai dengan hukum-hukumnya dengan manusia selalu terlibat di dalamnya. persepsi dan juga pertimbangan-pertimbangan etik di setiap tindakan dan keputusan pada dunia kehidupan manusia. 1955. Geertz adalah sosok luar biasa yang dapat melakukan modifikasi konseptual. terdapat perbedaan penggunaan teori Radfleld oleh Clifford Geertz dalam pembahasannya. sedangkan Redfleld menekankan pada proses komunikasi terus menerus antara kota dan pedesaan. Dari sekian banyak Indonesianis. Sinkretisitas tersebut nampak dalam pola dari tindakan orang Jawa yang cenderung tidak hanya percaya terhadap. Ia dapat menyatukan konsepsi kaum kognitifisme yang beranggapan bahwa kebudayaan adalah sistem . 1953. hal-hal gaib dengan seperangkat ritual-ritualnya. dan karya Geertz The Religion Of Java adalah yang paling monumental.memahami makna. aliran ideologi berbasis pada keyakinan keagamaan. Berkat sumbangan akademisnya itulah maka Geertz dianggap oleh banyak kalangan sebagai pembuka jendela kajian Indonesia. yang masing-masing diwakili oleh warga elite kota dan warga petani desa. Abangan adalah mewakili tipe masyarakat pertanian perdesaan dengan segala atribut keyakinan ritual dan interaksi-interaksi tradisional yang dibangun diatas pola bagi tindakannya. justru ia menyatakan bahwa pembagian atas tiga golongan struktur sosial orang Jawa di Mojokuto itu telah dilakukannya berdasarkan atas sistem penggolongan yang dilakukan oleh orang Jawa terhadap diri mereka sendiri. Di sinilah awal mula ―perselingkuhan‖ antara dua keyakinan: Islam dan budaya Jawa. model ini nampaknya sesuai dengan yang telah digunakan oleh Robert Redfleld (1941. sistem nilai dan sistem evaluasi. sehingga merupakan suatu sistem sosial tersendiri. Refldfleld melihat bahwa kota dan desa merupakan dua struktur sosial yang berbeda. Berkat kajian-kajian yang dilakukan maka Indonesia bisa menjadi lahan amat penting bagi studi-studi sosiologisantropologis yang mengdepan. Pada masyarakat Jawa. Nampak bahwa ia telah mempunyai suatu kerangka teori yang digunakannya untuk menciptakan model analisis. Menurut Harsja Bachtiar. tetapi menurut Parsudi Suparlan tampaknya hal itu tidak sepenuhnya benar. nilai. yaitu Clifford Geertz menekankan pada dimensi struktur. Melalui kemampuan modifikasinya itu. Konstribusi Clifford Geertz dalam Kajian Ilmu Sosial Kajian Islam dan masyarakat telah banyak dilakukan semenjak tahun 1950an. Seperti yang dijelaskan di bagian sebelumnya. Konsep aliran inilah kemudian hampir di hampir seluruh pengkajian tentang masyarakat Jawa sering dirujuk sebagai referansi. Salah satu yang mengedepan dari konsepsi Geertz adalah pandangannya tentang dinamika hubungann antara Islam dan masyarakat Jawa yang sinkretik. ia menemukan hubungan antara sistem simbol. Adapun kerangka teori yang digunakan juga tidak dijelaskan oleh Clifford Geertz.

ketika islam datang ke lokus ini. Ia tidak hanya mengkaji persoalan agama dan masyarakat dalam perspektif sosiologis atau antropologis.[28] Dalam kajiannya tentang Islam di pusat kerajaan yang dianggap paling sinkretik dalam belantara keberagamaan (keislaman) ternyata justru tidak ditemui unsur sinkretisme atau pengaruh ajaran Hindu Budha di dalamnya. Woodward. Melalui kajian secara mendalam terhadap agama-agama di Hindu di India. Salah satu tokoh yang mengkritik konsep tersebut adalah Mark R. ditemukan bahwa Islam di Cirebon adalah Islam yang bernuansa khas. Melalui sistem simbol itulah sistem makna dan sistem kognitif yang tersembunyi dapat dikomunikasikan dan kemudian dipahami oleh orang lain. Islam Persia. santri dan priyayi. Di antara konsepsi yang ditolaknya adalah mengenai abangan sebagai kategori ketaatan beragama. maka mau tidak mau juga harus bersentuhan dengan budaya lokal yang telah menjadi seperangkat pengetahuan bagi penduduk setempat. tetapi juga mengkaji sejarah sosial melalui kajiannya tentang perubahan sosial di dua kota di indonesia. karena sangat individual. maka agar tindakan bisa dipahami oleh orang lain. Demikian pula konsep priyayi juga berlawanan dengan wong cilik dalam penggolongan sosial. antropolog yang juga murid dari Geertz. Untuk itu maka harus ada sebuah sistem yang dapat mengkomunikasikan hubungan keduanya. maka diperoleh gambaran bahwa Islam Jawa adalah Islam juga. Jogyakarta. yaitu sistem simbol. Bukan Islam Timur Tengah yang genuin. Kajian Geertz memantik berbagai reaksi. sebagai kategori ketaatan beragama dan bukan klasifikasi sosial. Salah satu karya yang banyak mendapatkan sorotan itu adalah karya Geertz tentang konsep agama Jawa tersebut. yang dimaksudkan sebagai kacamata untuk melihat Islam di Jawa yang dikenal sebagai paduan antara Hindu. maupun mengkritisinya. Jadi. Islam sebagaimana di tempat lain yang sudah bersentuhan dengan tradisi dan konteksnya. yaitu sistem simbol. konsepsi Geertz tersebut hingga sekarang menjadi acuan utama dalam berbagai kajian tentang Islam dan masyarakat di Indonesia. Salah satu kehebatan sebuah karya adalah jika karya itu dibicarakan dan dijadikan sebagai bahan rujukan berbagai karya yang datang berikutnya. Sistem makna dan sistem nilai tentu saja tidak bisa dipahami oleh orang lain. misalnya dari Muhaimin. Abangan adalah lawan dari mutihan. Islam Mesir dan sebagainya adalah contoh mengenai Islam hasil bentukan antara Islam yang genuin Arab dengan kenyataan-kenyataan sosial di dalam konteksnya. yaitu teori involusi. sistem makna dan sistem budaya. Di antara yang menolak konsepsi Geertz adalah Harsya Bachtiar. Islam Malaysia. tetapi Islam yang sudah bersentuhan dengan konteks . Ia juga mengkaji masalah ekonomi. Islam Maroko. ia menghasilkan teori yang hingga dewasa ini masih diperbincangkan. maka harus ada suatu konsep lain yang menghubungkan antara sistem makna dan sistem nilai. padahal yang dikaji adalah Islam yang dianggap paling lokal. Baik menyempurnakan konsep tersebut. Itulah sebabnya. ahli sejarah sosial. Melalui kajiannya tentang ekonomi masyarakat pedesaan Jawa. yaitu Islam di pusat kerajaan. Melalui konsep aksiomatika struktural.[27] Meski demikian.[29] Woodward memperoleh banyak dukungan. maka ternyata tidak ditemui unsur tersebut didalam tradisi keagamaan Islam di Jawa. hanya saja Islam yang berada di dalam konteksnya. yang mencoba mengkontraskan konsepsi Geertz dengan realitas sosial.kognitif. Memang harus diakui bahwa tidak ada ajaran agama yang turun di dunia ini dalam konteks vakum budaya.[26] Geertz adalah ilmuwan yang memiliki minat kajian yang sangat variatif. baik yang pro maupun yang kontra. terdapat kekacauan dalam penggolongan abangan. Islam dan keyakinan lokal. Dalam kajiannya terhadap Islam di Cirebon melalui pendekatan alternatif.[30] yang mengkaji Islam dalam konteks lokal.

Ada proses tarik menarik bukan dalam bentuknya saling mengalahkan atau menafikan. tujuan akhir interpretasi adalah menemukan dan memahami pandangan. Islam tidak menghilangkan tradisi lokal selama tradisi tersebut tidak bertentangan dengan Islam murni. tetapi Mulder[32] tetap dapat dikategorikan sebagai kajian hubungan antara Islam dan masyarakat dalam konteks sinkretisme. kajian interpretatif saat ini mulai dipakai dalam berbagi disiplin ilmu lain. sesungguhnya merupakan perbedaan pandangan tentang Islam. politik. Kedua.lokalitasnya. Melalui pendekatan multivokalitas dinyatakan bahwa Islam Jawa sungguh-sungguh merupakan Islam sinkretik. yaitu Islam yang hanya di dalam pengakuan dan bukan masuk ke dalam keyakinan dan penghayatan. dan sejalan dengan berkembangnya teori sosial. Ternyata yang dominan menyaring setiap tradisi baru yang masuk itu adalah unsur lokal.[33] Bagaimanapun. akan tetapi intinya adalah keyakinan-keyakinan lokal. dan kebudayaan. Kajian-kajian ini menggambarkan tentang bagaimana cara pandang sarjana Barat tentang Islam di Indonesia. dan penjelasan aktor sosial dari perspektif aktor itu sendiri. meyakini tentang makhluk-makhluk halus. Corak Islam Jawa merupakan pemaduan dari berbagai unsur yang telah menyatu sehingga tidak bisa lagi dikenali sebagai Islam. Hindu/Budha dan animisme. Kenyataannya Islam hanya di luarnya saja. maka yang disaring adalah Islam. Itulah sebabnya Islam di Jawa hanya kulitnya saja tetapi intinya adalah tradisi lokal tersebut. Jadi ketika Islam masuk ke wilayah kebudayaan Jawa. Islam di Cirebon adalah Islam yang melakukan akomodasi dengan tradisi-tradisi lokal. yaitu bagan konseptual ―lokalitas‖. seperti keyakinan numerologi atau hari-hari baik untuk melakukan aktivitas baik ritual maupun non ritual. interpretasi haruslah berdasarkan ―deskripsi tebal‖ (thick description) gejala atau peristiwa sosial. tetapi adalah proses saling memberi dalam koridor saling menerima yang dianggap sesuai. Terobosan pendekatan interpretif Geertz dapat disarikan dalam dua hal. Ketidaksetujuan Mulder terhadap Geertz. Meskipun pertama kali berkembang sebagai pendekatan alternatif dalam disiplin antropologi saat itu yang mengandalkan perspektif relativisme kebudayaan atau strukturalisme. Di antaranya adalah tulisan Beatty. yang digambarkannya sebagai Islam nominal. Meskipun menemukan konsep baru dalam jajaran kajian agama-agama lokal.[31] Tulisan ini mencoba untuk menggambarkan bahwa Islam Jawa hakikatnya adalah Islam sinkretik atau paduan antara Islam. Ajaran Islam yang cocok akan diserap untuk menjadi bagian dari tradisi lokal sedangkan yang tidak cocok akan dibuang. serta berbagai ritual yang telah memperoleh sentuhan ajaran Islam. Mulder sampai pada kesimpulan bahwa hubungan itu bercorak menerima yang relevan dan menolak yang tidak relevan. Inspirasi dari Gfeertz ini merambah ke berbagai dimensi. Melalui tulisannya yang bertopik “Adam and Eva and Vishnu: Syncretism in the Javanese Slametan” digambarkan bahwa inti agama Jawa ialah slametan yang di dalamnya terlihat inti dari ritual tersebut adalah keyakinan-keyakinan lokal hasil sinkresi antara Islam. Tulisan yang bernada membela terhadap Geertz juga banyak. Hindu/Budha dan animisme itu bercorak paduan di antara ketiganya ataukah yang lain. akan tetapi Islam juga tidak membabat habis tradisi-tradisi lokal yang masih memiliki relevansi dengan tradisi besar Islam (Islamic great tradition). Hindu/Budha dan kepercayaan animistik. Tujuan ini hanya bisa dicapai apabila . Pemikiran Geertz juga selalu mencoba menemukan wilayah-wilayah teoritis baru. Pertama. Salah satu terobosan Clifford Geertz dalam teori sosial adalah anjurannya untuk mengembangkan pendekatan interpretasi dalam kajian sosial. keyakinan. konsepsi Geertz dalam The Religions Of java tentang trikotomi masayrakat Jawa telah menjadi perdebatan intelektual yang panjang dan diskursif hingga saat ini.

Hidup Sehari-hari dan Perubahan Budaya. a Socio-cultural Approach (1956). Jakarta. . Islam Jawa: Kesalehan Normatif versus Kebatinan. Mark R Woodward. Jogyakarta. Mojokuto: Dinamika Sosial Sebuah Kota di Jawa (1965). Jakarta. Yogyakarta. Economic Development and Cultural Change (1956). Islam dalam Bingkai Budaya Lokal: Potret dari Cirebon. Aksi Kaum Santri Merebut Hati Rakyat. Niels Mulder. Zainuddin Maliki. [1] Banyak karya Clifford Geertz tentang Indonesia. 1999.The Javanese Kijaji: The Chainging Role of a Cultural Broker. 2003. Srategi Sufistik Sema. Jakarta. dari politik hingga seni. Balai Pustaka. The Interpretation of Culture adalah karya magnum opus Clifford Greetz yang memperlihatkan pemanfaatan pendekatan interpretif dalam memahami gejala sosial yang beragam. Kreasi Wacana. Agama Priyayi. Zaini Muchtarom. Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Yogyakarta. Andrew Beatty. 1981. ―Dari Etnografi ke Etnografi tentang Etnografi: Antropologi Clifford Geertz dalam Tiga Tahap‖ dalam Clifford Geertz. Pustaka Jaya. Kuper. LKiS. INIS. Jogyakarta. LKiS. Ignaz Kleden. Pustaka Marwa. DAFTAR PUSTAKA Abdul Munir Mulkhan. Jakarta. Santri. 1988. 2004. 2001. Religious Belief and economic Behavior in Central javanese Town: Some Preliminary Consideration. Makna Agama di Tangan Elite Penguasa. Cambridge. Abangan. Yogyakarta. Agama. Harvard University Press. The Riligion of Java (1960). 1999. After the Fact. Santri dan Abangan di Jawa. Comperative Studies in Society and History 1959-1960 (1960). et al. 2001. 1996.peneliti dapat menjalin hubungan yang erat dengan masyarakat yang ditelitinya. Islam Pesisir. 2005. Culture. Logos. ―Adam and Eve and Vishnu: Syncretism in The Javanese Slametan‖ dalam The Journal of the Royal Anthropological institut 2 (June 1996). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Lukman Ali. Religion and Progress in Indonesia (1965). Peddlers and Princes. Nur Syam. Muhaimin AG. Clifford Geertz. Adam. 1998. Social Change and Economic Modernization in Two Indonesian Towns (1963). Religion Development in Marocco and Indonesia (1968). LkiS. Islam Observed. Jogyakarta. The Development of Javanese Economy. Modernization in Muslim Society: The Indonesian Case. yaitu antara lain Ritual and Social Change: A Javanese example (1957).

Priyayi dalam Masyarakat Jawa. hal: 3. Lihat Harsja W. [15] Ibid. INIS. xii. Adam. Hampir dipastikan bahwa karya berupa buku tersebut dipakai sebagai referensi pada setiap penulis tentang agama atau kebudayaan dan masyarakat Indonesia. [13] Dalam khazanah antropologi.[2] Menurut data yang penulis temukan tentang nama samaran Mojokuto ada dua versi. hal. dalam Clifford Geertz. Cit. 6. Santri dan Abangan di Jawa. [14] Clifford Geertz. 5-7. hal. Cit. Jakarta. hal. 2. Op. Op Cit. Ibid. Bachtiar. hal: 82. xv dan hal. Jakarta. 2003. 1. The Ethnographic Interview 1997). versi Harsja W. karya The Religions O f Java milik Cliffort Geertz bisa dimasukkan dalam etnografi baru. [11] Ibid. hal: 51. Menurut kamus. [9] Clifford Geertz. Ibid. Santri artinya orang yang mendalami agama Islam (mengkaji agama Islam). 40. hal: 98. Op. 1981. 524-525. Bachtiar. dan versi Zaini Muchtarom Mojokuto adalah nama rekaan untuk kota Pare Kediri di Jawa Timur. khususnya Jawa. 522. tetapi tidak melaksanakan ajaran secara keseluruhan. [5] Ibid [6] Ibid. Harvard University Press. Culture. Ibid. 521dan hal. hal. Yogyakarta. serta Abdul Munir Mulkhan. dan Clifford Geertz menjelaskan bahwa Mojokuta adalah sebuah kota kecil di bagian tengan Jawa Timur dengan jarak tempuh setengah hari dari Surabaya. The Religion of Java: Sebuah Komentar. xvii. [7] Ibid. [10] Kuper. Priyayi atau . [12] Clifford Geertz. ix. biasanya pesantren sebagai tempat tinggal mereka atau hanya tempat mengaji. [3] Clifford Geertz. Abangan. [17] Harsja W. Bachtiar. [8] Zaini muchtarom. Bachtiar adalah suatu daerah yang terletak di Jawa Tengah bagian timur. Kreasi Wacana. 511-515. hal. dan Zaini Muchtarom. [16] Ibid. Pustaka Jaya. Awalnnya etnografi hadir sebagai titik tolak pendekatan penelitian antropologi yang hanya berkutat pada dokumen dan artefak untuk merekonstruksi sejarah peradaban masyarakat pedalaman. hal. 1999. hal. Metode etnografi kemudian lebih memperhatikan aspek interaksi langsung kepada masyarakat/etnic yang hendak diteliti (Speadly. 1988. Cambridge. hal. Santri. hal. Abangan artinya golongan masyarakt Jawa yang menganut agama Islam. hal. Op Cit. Srategi Sufistik Sema. Aksi Kaum Santri Merebut Hati Rakyat. [4] Harsja W.

. hal. dan 788. Abangan. Agama Priyayi. The Riligion of Java. [28] Marx Woodwad adalah Indonesianis yang terkenal dengan hasil penelitiannya bertajuk ―Islam in Java: Normative Piety and Mysticism in the Sultanate of Jogyakarta. hal.. Karya ini merupakan sanggahan terhadap konsepsi Geertz bahwa Islam Jawa adalah Islam sinkretik yang merupakan campuran antara Islam. hal 3. Islam dalam Bingkai Budaya Lokal: Potret dari Cirebon. hal. Balai Pustaka. Koentjaraningrat. 2001. xv-xvi [24] Zainuddi Maliki. [21] R. [25] Zainuddin Maliki. hal. [18] Zaini Muchtarom.xiv-xv. Makna Agama di Tangan Elite Penguasa. [19] D. Burger. Kesalehan Priyayi Jawa: Perspektif Kekuasaan dalam Zainuddi Maliki. Santri. Bachtiar. 2001. . Pustaka Marwa. Op Cit.H. LKiS. Jogyakarta. Structural Changes in Javanese Society: The Village Sphere. ibid. [22] Azyumardi Azra. Jakarta. ―Komentar‖ dalam Clifford Geertz. Pustaka Marwa.” 1985. Jakarta. [20] D. ―Adam and Eve and Vishnu: Syncretism in The Javanese Slametan‖ dalam The Journal of the Royal Anthropological institut 2 (June 1996). [26] Periksa Ignaz Kleden. Pembicaraan Buku Clifford Geertz.H. misalnya golongan pegawai negeri. Priyayi dalam Masyarakat Jawa. 2001. Burger. Yogyakarta. xxxi. Pengertian ini memperkuat argumensi di atas.Priayi artinya orang Jawa yang termasuk lapisan masyarakat yang kedudukannya dianggap terhormat. Kamus Besar Bahasa Indonesia. ix-xxi [27] Harsya W. 257-264. 1998. hal. Lihat Lukman Ali. Agama Priyayi. hal. ―Dari Etnografi ke Etnografi tentang Etnografi: Antropologi Clifford Geertz dalam Tiga Tahap‖ dalam Clifford Geertz. After the Fact. Ibid. Jogyakarta. Islam Jawa: Kesalehan Normatif versus Kebatinan. Logos. Penelitian ini telah dibukukan dan telah diterjemahkan ke dalam edisi Indonesia dengan topik ―Islam Jawa: Kesalehan versus Kebatinan Jawa‖. Structure Change in Javanese Society: The Supra-Village Sphere. Hindu Budha dan Animisme [29] Mark R Woodward. 3-4. LkiS. [30] Muhaimin AG. 878. Santri dan Abangan di Jawa. Yogyakarta. 2004. 2004. dalam Zaini Muchtarom. [31] Andrew Beatty. Makna Agama di Tangan Elite Penguasa. Jakarta. Yogyakarta. [23] Ibid. Pustaka Marwa. 1981. 1. 2004.M. Makna Agama di Tangan Elite Penguasa. 1996. Balai Pustaka. et al. Agama Priyayi. dalam Zaini Muchtarom. dalam Zaini Muchtarom.

2005. Jakarta. 1999.[32] Niels Mulder. Jogyakarta. *Judul lengkap : STRUKTUR SOSIAL MASYARAKAT JAWA (Kajian Tentang Varian Abangan Clifford Geertz) . Agama. Islam Pesisir. Hidup Sehari-hari dan Perubahan Budaya. Gramedia Pustaka Utama. [33] Nur Syam. LKiS.

7./.7.$0-:.:2$.2.32.-::90780-:9 /5.701070385.7 %0 #04341./..7..32:.9.8503907.7 -/ .397/.9.78. 8.8:. .7$:7.3..80-.209347.3.9#.  8079. $ .9.3.33./.%03...2.3.  /.79.3 1147/00792030.-.2. .8.   (.3 50309.30-202507.%0#0438 1..700/7/../..  .9:/.3.0789!7088 . /.3    $7..7/.3.7901..3503:8902:.9.7 /.7.0.7.. ../..3/..3:.1-.3 . %2:7/03..90$:189$02.8.3903../.3.9025:80903.  (-/ (-/ ..8.3/.74244:94.9 4.     (:507 /.9.8.9994./-.3 094/009347.102:/.507.  (1147/0079  5 9 .7.3.397 !7.-.2. /.3974544..3../.3. :8:83..78.39039./780-. .3.  (1147/0079  59 ..09347..2-7/0  .9.2114790079-8...9 3/4308.390709.8.  .49.3-.  (-/ ..89./..32. !:89.42039..2.-/::37:.3.:39:207043897:8 80...344:94.-07:5.78..!.3:.7: .7/&3.3.8.8..2.397070-:9.%2:7 /....3 $..    (.44:9.9...7..9.-.5503:89039.33..9. 70.3..8:.79...503/0. .70.078 ..80-:.7.7.3974544 ..3/.:0-:/.21147/0079  -.(03:7:9/.3-.7.2.79.742   $../:. . .3-./4:203/...  (.2.1.392:7 /.9..8...95.257/5. .2 :9:70 .7.078 .809.. .3:39:49.   (1147/0079 -/ ..742  59 .3..38:305.078..9. /2./..   (-/ .9./.9.07.3.-07:9..950/..

20.2  -.3203/..2070.3:9..8..8. 080:7:.78.9025.9.3970380-.9.3203.9025.793.303/.59/.8..2.!7.3.0  (1147/0079  5 9 .7.9203....3..   03:7:9.8.47.2:8 -.3$.2 203.2.793./909 $50..  (-/   (-/  (.3.3.443..3 2.093.:.: .7 -/ ..7..380.3.993. .3907./ %0 9347.8.3..3.2.2.397.9.7.9.5...2 909.8.508.

.8.9./..3/'83:$3.   !:89.23./.3:.8. .3.2.39347.3/4308.5 /.0..7  42039.4190#4..397/.23. .  4.3://3.7. . -/  (#  4039..    (3/700.9.2..2/.8.30/..9 !02-.  .770-43 448  .79..%..79.13974544 1147/0079/.3-.7.3080$4..09%0$:57.     (:../03.7.79.3:// ./.2 3/::/..3207:5./90702.2.19039.3 907. ...3472. .58.7...21147/0079 190790.3:.93..2.7:2038/.   .793..7/7./%.33.8..744/.8  (.109347.078:80-.3.8.3.78.23 8.3://..2 .9 $ 4.2.2. .9. .2..3/4308.3/.33202507:../..   !0309.8:.443.3/89..3. '.3..397 !7.9:7. .850309.38..    (.7.3  /.2...9.0.3. (.2 .9:70.3899:9 :30  .0.332820 (..  (-/ .2..7 . 08.9.8.3.9 28.3!7.   .7.9.!:89. .7.  (  :707 $97:.09%0'..3007 ..5 907472..  4.:/.3::1147/0079 %0#4341.!7.2....79..303..3.9:2.!49709/.7#44/.. .8.3390.7 /../.54380580079-.25:7.209.3...30/:/:.39072.3945 8. .4.79.33.3 :..   (./.3.9.3 !03079.   /. .21147/0079 -.390!03:.3207:5.3 $.3080$..3083.2%04:73.337...3..3 $  4.08./.7.. 4.!7..9 .32.2.79./-::.2.8..: 8...3.. !:89.!:89.. /.3.742 -/   (  :707 $97:.79347.390!03:.8..3/.!7. .0!09..90414..79.742  59 . .7/ 8..   (!078. ....     (.3.3.93.709823%0.79.3.99  /.82390$:9.91.3/..350../%....9./03.390!03:./%.    (:2.08.0$5070 /.3/.472..20/83/4308.38.283709..742 $. .-079.078:80-.2%.3 09.!7.0$5070 /.390.9.!07850910:...39.0/03  .    !:89..0.2:808.7.3:.3080$4.3.8.3... .47...79.2 ..390703.3974544.3 .742 . .

79.7/.7..2!0887 $ 4.79.7 .3!07:-..31147/0079   .2.    :/:03.3 -.3..   (:7$.2..20/.. &9.(08:/07 .3:/.5$%#&%&#$ $$#% . 7. /:5$0. ..2 8.3'.3%039.!:89.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful