Tindak Pidana Perbankan

Tindak Pidana Perbankan Agar industri perbankan menjadi industri yang makin sehat dan dapat dipercaya masyarakat, Bank Indonesia menerapkan law enforcement atas tindak pidana perbankan bekerjasama dengan Kepolisian RI dan Kejaksaan RI. Upaya ini sejalan dengan implementasi Arsitektur Perbankan Indonesia (API), khususnya Pilar 3, yaitu menciptakan industri perbankan yang kuat dan memiliki daya saing yang tinggi serta memiliki ketahanan dalam menghadapi risiko. Kewenangan Bank Indonesia sebagai otoritas perbankan secara lengkap tertuang dalam Undang-undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 3 Tahun 2004 (UU BI) maupun dalam Undang-undang No. 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. Dalam pelaksanaannya, Bank Indonesia memiliki kewenangan untuk : 1. memberikan izin (right to licence); 2. mengatur (right to regulate); 3. mengawasi (right to supervise); serta 4. mengenakan sanksi (right to impose sanction). Terkait dengan kewenangan mengenakan sanksi, Bank Indonesia selaku otoritas perbankan melalui mekanisme pengawasan dan pembinaan hanya dapat menyelesaikan perbuatan yang bersifat administratif serta hanya berwenang mengenakan sanksi administratif terhadap suatu bank yang terbukti melakukan kegiatan usaha yang menyimpang dari ketentuan yang berlaku sedangkan penyimpangan yang mempunyai indikasi tindak pidana, proses pengenaan sanksinya diserahkan kepada penegak hukum sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengawasan dan Law Enforcement itu sendiri merupakan dua komponen yang tak terpisahkan dalam suatu sistem rule of law. Tidak akan ada law enforcement kalau tidak ada sistem pengawasan dan tidak akan ada rule of law kalau tidak ada law enforcement yang memadai. Jika hal ini di analogkan dengan sistem perbankan, maka pengawasan dan law enforcement dapat berperan dalam mengoptimalkan fungsi perbankan agar tercipta sistem perbankan yang sehat, baik sistem perbankan secara menyeluruh maupun individual, dan mampu memelihara kepentingan masyarakat dengan baik, berkembang secara wajar dan bermanfaat bagi perekonomian nasional. Berkaitan dengan keterbatasan kewenangan tersebut, dalam rangka menegakkan hukum pada industri perbankan dan mengamankan dana masyarakat serta kekayaan negara yang ada pada bank, Bank Indonesia memandang perlu untuk melakukan koordinasi dengan aparat penegak hukum dalam penanganan tindak pidana di bidang perbankan. Melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Kepala Kepolisian R.I, Jaksa Agung R.I, dan Gubernur BI, yang dikeluarkan pertama kali pada tanggal 6 November 1997 dan diperbaharui pada tanggal 20 Desember 2004, ketiga instansi tersebut sepakat untuk bekerjasama dalam penanganan dugaan tindak pidana di bidang perbankan. Melalui kerjasama ini, diharapkan setiap kasus perbankan dapat diselesaikan secara lancar, cepat dan optimal. Untuk mendukung pelaksanaan SKB dan melakukan tindakan represif terhadap pelanggaran dan penyimpangan serta ketidakpatuhan terhadap ketentuan yang berlaku, khususnya yang mengandung unsur tindak pidana di bidang perbankan, Bank Indonesia membentuk satuan kerja yang khusus menangani dugaan tindak pidana di bidang perbankan. Pembentukan DIMP diharapkan dapat menimbulkan announcement effect terhadap dunia perbankan

yaitu law enforcement dalam kegiatan perbankan tetap dilaksanakan dan ditegakkan serta segala bentuk penyimpangan akan membawa konsekuensi hukum bagi para pelakunya. Dalam pelaksanaannya, diperlukan langkah yang memperlancar, mempercepat dan mengoptimalkan penanganan dugaan tindak pidana di bidang perbankan maka pada tahun 2007 dibuat Petunjuk Teknis SKB yang ditandatangani oleh Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum, Kepala Badan Reserse Kriminal POLRI dan Deputi Gubernur BI. Sejak tahun 1999 hingga saat ini, terdapat 580 kasus dugaan tindak pidana perbankan yang terjadi baik di bank umum maupun bank perkreditan rakyat yang telah dilaporkan oleh Bank Indonesia kepada penegak hukum melalui mekanisme SKB. saat ini masih terdapat 448 kasus yang masih dalam proses penanganan penegak hukum. Kasuskasus tersebut merupakan bagian dari kasus-kasus tindak pidana perbankan yang telah dilaporkan oleh Bank Indonesia melalui mekanisme SKB sejak tahun 1999. Disamping melakukan kerjasama dengan penegak hukum, Bank Indonesia juga melakukan kerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Mediasi Perbankan Sebagai bagian dari pelaksanaan perlindungan konsumen, Bank Indonesia telah mengimplementasikan Arsitektur Perbankan Indonesia yang salah satu pilarnya (Pilar 6) adalah Perlindungan Nasabah. Pilar tersebut menjelaskan bahwa perbankan wajib menyusun standar mekanisme pengaduan nasabah secara jelas dan mudah dipahami nasabah, pembentukan lembaga mediasi perbankan independen guna menjembatani sengketa yang terjadi antara bank dan nasabah, penyusunan transparansi informasi produk dan promosi edukasi untuk nasabah yang diharapkan dapat memberikan informasi yang jelas dan memadai sehingga masyarakat mengerti dan paham mengenai produk dan jasa perbankan. Pelaksanaan fungsi mediasi perbankan oleh Bank Indonesia yang dimulai sejak tahun 2006 terutama dilakukan untuk menjembatani kepentingan nasabah dan bank sebagai alternatif penyelesaian sengketa perbankan yang bermanfaat bagi perlindungan nasabah dan dalam upaya menjaga terpeliharanya reputasi bank. Hingga saat ini Bank Indonesia telah menerima 737 kasus pengaduan nasabah di 71 bank. Prosentase terbesar, terkait masalah sistem pembayaran, penyaluran dana dan penghimpunan dana. Nasabah yang memanfaatkan produk/jasa bank dan menemui permasalahan dalam pemanfaatan produk/jasa tersebut, dapat mengajukan pengaduan kepada bank untuk mendapatkan penyelesaian. Apabila kemudian nasabah tidak puas dengan penyelesaian yang dilakukan bank, maka nasabah dapat mengajukan upaya penyelesaian permasalahannya melalui mediasi perbankan yang saat ini fungsinya dilaksanakan oleh Bank Indonesia. Keunggulan pelaksanaan fungsi mediasi itu sendiri adalah : 1. Kesepakatan para pihak (voluntary); 2. Terjaganya hubungan baik (forward looking); 3. Terjaganya kepentingan masing-masing pihak (interest based); dan 4. Proses yang murah, cepat dan sederhana Dalam melaksanakan fungsi mediasi, Bank Indonesia juga melakukan berbagai kerjasama dengan berbagai pihak, baik dengan industri perbankan sendiri (melalui pembentukan Working Group Mediasi Perbankan), akademisi, praktisi dan lembaga/asosiasi mediasi.

Mediasi Perbankan Sebagai Wujud Perlindungan Terhadap Nasabah Bank I. Pendahuluan Bank sebagai badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dan menjalankan usahanya terutama dari dana masyarakat dan kemudian menyalurkan kembali kepada masyarakat. Selain itu, bank juga memberikan jasa-jasa keuangan dan pembayaran lainnya. Dengan demikian ada dua peranan penting yang dimainkan oleh bank yaitu sebagai lembaga penyimpan dana masyarakat dan sebagai lembaga penyedia dana bagi masyarakat dan atau dunia usaha.

Dengan demikian Perbankan memiliki fungsi penting dalam perekonomian negara.[1] Perbankan mempunyai fungsi utama sebagai intermediasi, yaitu penghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya secara efektif dan efisien pada sektor-sektor riil untuk menggerakkan pembangunan dan stabilitas perekonomian sebuah negara. Dalam hal ini, bank menghimpun dana dari masyarakat berdasarkan asas kepercayaan dari masyarakat. Apabila masyarakat percaya pada bank, maka masyarakat akan merasa aman untuk menyimpan uang atau dananya di bank. Dengan demikian, bank menanggung risiko reputasi atau reputation risk yang besar. Bank harus selalu menjaga tingkat kepercayaan dari nasabah atau masyarakat agar menyimpan dana mereka di bank, dan bank dapat menyalurkan dana tersebut untuk menggerakkan perekonomian bangsa. Dalam dunia perbankan, nasabah merupakan konsumen dari pelayanan jasa perbankan. Kedudukan nasabah dalam hubungannya dengan pelayanan jasa perbankan, berada pada dua posisi yang dapat bergantian sesuai dengan sisi mana mereka berada.[2] Dilihat dari sisi pengerahan dana, nasabah yang menyimpan dananya pada bank baik sebagai penabung deposan, maupun pembeli surat berharga, maka pada saat itu nasabah berkedudukan sebagai kreditur bank. Sedangkan pada sisi penyaluran dana, nasabah peminjam berkedudukan sebagai debitur dan bank sebagai kreditur. Dari semua kedudukan tersebut, pada dasarnya nasabah merupakan konsumen dari pelaku usaha yang menyediakan jasa di sektor usaha perbankan. Fungsi lembaga perbankan sebagai perantara pihak-pihak yang memiliki kelebihan dana membawa konsekuensi pada timbulnya interaksi yang intensif antara bank sebagai pelaku usaha dengan nasabah sebagai konsumen pengguna jasa perbankan. Dalam interaksi yang demikian intensif antara bank dengan nasabah, mungkin saja terjadi friksi yang apabila tidak segera diselesaikan dapat berubah menjadi sengketa antara nasabah dengan bank. Timbulnya friksi tersebut terutama disebabkan oleh empat hal yaitu:[3] 1. Informasi yang kurang memadai mengenai karakteristik produk atau jasa yang ditawarkan bank; 2. Pemahaman nasabah terhadap aktivitas dan produk serta jasa perbankan yang masih kurang;

3. Ketimpangan hubungan antara nasabah dengan bank, khususnya bagi nasabah peminjam dana; 4. Tidak adanya saluran memadai untuk memfasilitasi penyelesaian friksi yang terjadi antara nasabah dengan bank. Perlindungan nasabah merupakan tantangan perbankan yang berpengaruh secara langsung terhadap sebagian besar masyarakat. Oleh karena itu menjadi tantangan yang sangat besar bagi perbankan dan Bank Indonesia untuk menciptakan standar yang jelas dalam memberikan perlindungan kepada nasabah. II. Perlindungan Nasabah Nasabah merupakan konsumen dari pelayanan jasa perbankan, perlindungan konsumen baginya merupakan suatu tuntutan tidak boleh diabaikan begitu saja. Dalam dunia perbankan, pihak nasabah merupakan unsur yang sangat berperan sekali, mati hidupnya dunia perbankan bersandar kepada kepercayaan dari pihak masyarakat atau nasabah.[4] Kedudukan nasabah dalam hubungannya dengan jasa perbankan, berada pada dua sisi yang dapat bergantian sesuai dengan sisi mana berada. Dilihat pada sisi pengerahan dana, nasabah yang menyimpan dananya pada bank baik sebagai penabung, deposan maupun pembeli surat berharga (obligasi atau commercial paper) maka pada saat itu nasabah berkedudukan sebagai debitur dan bank sebagai kreditur. Dalam pelayanan jasa perbankan lainnya seperti dalam pelayanan bank garansi, penyewaan save depostie box, transfer uang, dan pelayanan lainnya, nasabah mempunyai kedudukan yang berbeda pula. Tetapi dari semua kedudukan tersebut pada dasarnya nasabah merupakan konsumen dari pelaku usaha yang menyediakan jasa di sektor perbankan[5]. Fokus persoalan perlindungan nasabah tertuju pada ketentuan peraturan perundangundangan serta ketentuan perjanjian yang mengatur hubungan antara bank dengan nasabah dapat terwujud dari suatu perjanjian, baik perjanjian yang berbentuk akta di bawah tangan maupun dalam bentuk otentik. Dalam konteks inilah perlu pengamatan yang baik untuk menjaga suatu bentuk perlindungan bagi konsumen namun tidak melemahkan kedudukan posisi bank, hal demikian perlu mengingat seringnya perjanjian yang dilaksanakan antara bank dengan nasabah telah dibakukan dengan suatu perjanjian baku[6]. Sisi lain yang menjadi fokus perlindungan konsumen dalam sektor jasa perbankan, yaitu pelayanan di bidang perkreditan. Hal-hal yang menjadi perhatian untuk perlindungan konsumen, yaitu pada proses yang harus ditempuh, dan warkat-warkat yang digunakan dalam pemberian krdit tersebut. Tidak kalah pentingnya pula yaitu saat pengikatan hukum antara bank dengan nasabah dimana secara hukum biasanya menyangkut dua macam pengikatan berupa: perjanjian kredit dan perjanjian tambahan yakni perjanjian mengikuti perjanjian pokok berupa suatu perjanjian penjaminan[7].

Enam pilar dalam API adalah: 1. Berbagai regulasi dalam bidang perbankan mengenai perlindungan nasabah bank diantaranya adalah Penerbitan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. Arah kebijakan pengembangan industri perbankan tersebut dilandasi oleh visi mencapai suatu sistem perbankan yang sehat. Sistim pengawasan yang independen dan efektif . dan menjamin agar nasabah tidak mengalami kerugian akibat tindakan bank yang salah.8/5/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006 tentang “Media Perbankan”. Hal-hal yang menyangkut dengan usaha perlindungan nasabah diantaranya berupa laporan dan data-data yang merupakan bahan informasi. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah melalui Bank Indonesia mulai memperhatikan kepentingan nasabah dalam konteks perlindungan nasabah bank yang sebelumnya cenderung terabaikan. Sistim pengaturan yang efektif 3. bersifat menyeluruh dan memberikan arah. Bank Indonesia sebagai pelaksana otoritas moneter mempunyai peranan yang besar dalam usaha melindungi. 7/7/PBI/2005 tanggal 20 Januari 2005 tentang “Penyelesaian Pengaduan Nasabah” dan PBI No. Mengingat pentingnya perlindungan nasabah tersebut. pemerintah berusaha melindungi masyarakat dari tindakan lembaga. baik oleh Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan maupun tidak optimalnya pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang mensyaratkan adanya keseimbangan perlindungan kepentingan konsumen dan pelaku usaha sehingga tercipta perekonomian yang sehat. 7/6/PBI/2005 tanggal 20 Januari 2005 tentang “Transparansi Informasi Produk Bank dan Penggunaan Data Pribadi Nasabah” dan PBI No. ataupun oknumnya yang tidak bertanggungjawab. Bank Indonesia menetapkan upaya perlindungan nasabah sebagai salah satu pilar dalam Arsitektur Perbankan Indonesia (API). dalam konteks ini termasuk dalam hubungan antara bank sebagai pelaku usaha dengan nasabahnya. API merupakan suatu kerangka dasar sistem perbankan Indonesia yang terdiri dari enam pilar. Dengan demikian guna tetap mengekalkan kepercayaan masyarakat terhadap bank. bentuk dan tatanan pada industri perbankan untuk rentang waktu lima sampai sepuluh tahun ke depan. dan merusak sendi kepercayaan masyarakat. Struktur perbankan yang sehat 2.Lembaga perbankan adalah lembaga yang mengandalkan kepercayaan masyarakat. kuat dan efisien guna menciptakan kestabilan sistem keuangan dalam rangka membantu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Bank Indonesia sebagai otoritas pengawas industri perbankan berkepentingan untuk meningkatkan perlindungan terhadap kepentingan nasabah dalam hubungannya dengan bank.

2. Mediasi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Proses mediasi perbankan merupakan kelanjutan dari pengaduan nasabah apabila nasabah merasa tidak puas atas penanganan dan penyelesaian yang diberikan bank. Khusus untuk program edukasi nasabah. Peningkatan edukasi untuk nasabah.4. Edukasi masyarakat di bidang perbankan pada dasarnya merupakan pemberian informasi dan pemahaman kepada masyarakat mengenai fungsi dan kegiatan usaha bank. Perlindungan Konsumen Upaya perlindungan nasabah dalam Pilar ke VI API dituangkan dalam empat aspek yang terkait satu sama lain dan secara bersama-sama akan dapat meningkatkan perlindungan dan pemberdayaan hak-hak nasabah. serta produk dan jasa yang ditawarkan bank. 3. Program penyusunan mekanisme pengaduan nasabah di bank dan program pembentukan lembaga mediasi independen ditujukan untuk mengatasi permasalahan antara nasabah dengan bank yang saat ini sudah terjadi. Dalam pelaksanaan kegiatan usaha perbankan seringkali hak-hak nasabah tidak dapat terlaksana dengan baik sehingga menimbulkan friksi antara nasabah dengan bank yang ditunjukkan dengan munculnya pengaduan nasabah. pelaksanaannya dirasakan perlu diperluas hingga mencakup mereka yang belum dan akan menjadi nasabah bank agar pada saat pertama kali berhubungan dengan bank para calon nasabah tersebut sudah memiliki informasi yang cukup mengenai kegiatan usaha serta produk dan jasa bank. Dengan demikian akan terhindar adanya kesenjangan informasi pada pemanfaatan produk dan jasa perbankan yang dapat menyebabkan timbulnya permasalahan antara bank dengan nasabah di kemudian hari. Pembentukan lembaga mediasi perbankan. sedangkan program penyusunan standar transparansi informasi produk perbankan ditujukan sebagai sarana awal untuk mencegah timbulnya permasalahan antara nasabah dengan bank. Apabila pengaduan nasabah tidak diselesaikan dengan baik oleh bank. III. Infrastruktur pendukung yang mencukupi 6. Industri perbankan yang kuat 5. Pemberian Edukasi ini diharapkan dapat memfasilitasi pemberian informasi yang cukup kepada masyarakat sebelum mereka melakukan interaksi dengan bank. Penyusunan standar transparansi informasi produk. Penyusunan standar mekanisme pengaduan nasabah. dan 4. Hal ini antara lain ditunjukkan dengan cukup banyaknya keluhan-keluhan nasabah di . Empat aspek tersebut adalah[8]: 1. maka berpotensi menjadi perselisihan atau sengketa antara nasabah dengan bank cenderung berlarut-larut.

dan Mahkamah Agung[9]. . Dalam praktek dikenal berbagai bentuk penyelesaian sengketa perdata seperti litigasi. pihak-pihak yang bersengketa umumnya lebih banyak memilih penyelesaian melalui proses litigasi di Pengadilan Negeri.30 tahun 1999. diatur mengenai alternatif penyelesaian sengketa di luar pengadilan. Pengaturan Mediasi di pengadilan diatur dalam Perma No. Untuk mengurangi publikasi negatif terhadap operasional bank dan menjamin terselenggaranya mekanisme penyelesaian pengaduan nasabah secara efektif dalam jangka waktu yang memadai. Namun terdapat banyak kendala yang sering dihadapi.2 tahun 2003. maka Bank Indonesia menetapkan standar minimum mekanisme penyelesaian pengaduan nasabah dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor: 7/7/PBI/2005 Tentang Penyelesaian Pengaduan Nasabah yang wajib dilaksanakan oleh seluruh bank. Kendala tersebut antara lain lamanya penyelesaian perkara. Oleh karena itu. Pengadilan Tinggi.berbagai media. Tetapi Penyelesaian pengaduan nasabah oleh bank yang diatur dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/7/PBI/2005 ini tidak selalu dapat memuaskan nasabah. Namun. Di antaranya adalah arbitrase dan mediasi seperti yang diatur dalam UU No. Munculnya keluhan-keluhan yang tersebar pada publik melalui berbagai media tersebut dapat menurunkan reputasi bank di mata masyarakat dan berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat pada lembaga perbankan. Ketidakpuasan tersebut dikarenakan tidak terpenuhinya tuntutan nasabah bank baik seluruhnya maupun sebagian sehingga berpotensi menimbulkan sengketa antara nasabah dengan bank. Nasabah atau perwakilan nasabah dapat mengajukan upaya penyelesaian sengketa melalui mediasi ke BI apabila nasabah merasa tidak puas atas penyelesaian pengaduan nasabah. maka yang dimaksud dengan Mediasi Perbankan adalah alternatif penyelesaian sengketa antara Nasabah dan Bank yang tidak mencapai penyelesaian yang melibatkan mediator untuk membantu para pihak yang bersengketa guna mencapai penyelesaian dalam bentuk kesepakatan sukarela terhadap sebagian ataupun seluruh permasalahan yang disengketakan. serta putusan yang dijatuhkan seringkali mencerminkan tidak adanya unified legal work dan unified legal opinion antara Pengadilan Negeri. Pada PBI No. Menurut Peraturan Bank Indonesia No. 8/5/PBI/2006. Sedangkan Mediasi Perbankan diatur dalam PBI No. baik melakukan tuntutan secara perdata maupun secara pidana. Hal-hal yang diatur dalam Mediasi Perbankan adalah: 1. arbitrase dan/atau Mediasi.8/5/PBI/2006 tentang Mediasi Perbankan dinyatakan bahwa sampai dengan akhir tahun 2007 pelaksanaan fungsi mediasi perbankan akan dilakukan oleh Bank Indonesia.8/5/PBI/2006.

Lembaga Mediasi mempunyai kewajiban melaporkan secara berkala pada BI mengenai sengketa yang pernah dimediasikan. sehingga manfaat mediasi dapat dirasakan. Mediasi dapat menyelesaikan sengketa dengan cepat. 3. Proses mediasi lebih bersifat informal dan menghasilkan putusan yang tidak memihak. Mendorong terciptanya iklim yang kondusif bagi para pihak yang bersengketa tetap menjaga hubungan kerjasama mereka yang sempat terganggu akibat terjadinya persengketaan diantara mereka. biaya murah dibandingkan dengan proses beracara di Pengadilan atau melalui Arbitrase. 4. Bank Indonesia (BI) harus mewajibkan seluruh bank untuk menjadi anggota dari lembaga mediasi perbankan. Beberapa keuntungan mediasi adalah sebagai berikut: 1.00 (Lima ratus juta rupiah). Dalam penyelesaian sengketa melalui mediasi. Pengajuan penyelesaian sengketa tidak melebihi 60 (enam puluh hari) kerja saat tanggal surat hasil penyelesaian pengaduan yang disampaikan bank kepada nasabah.2. maka BI dapat memberi akreditasi pada lembaga mediasi perbankan indonesia tersebut. atau tidak tercapainya kesepakatan atau kasus yang disengketakan. Dalam proses mediasi tidak diperlukan gugatan ataupun biaya untuk mengajukan banding sehingga biayanya lebih murah 2.000.000. Nasabah tidak dapat mengajukan tuntutan finansial yang diakibatkan oleh tuntutan immaterial. Agar mempunyai kekuatan hukum mengikat maka BI perlu membuat PBI tentang kewajiban Bank menjadi anggota lembaga mediasi. Pelaksaan proses mediasi sejak ditandatanganinya perjanjian mediasi samapi dengan penandatanganan Akta Kesepakatan oleh para pihak dilaksanakan dalam waktu 30 hari kerja dan dapat diperpanjang sampai dengan 30 hari berikutnya berdasarkan kesepakatan nasabah dan bank. 5. Kemudian untuk menjaga kualitas dari lembaga mediasi perbankan ini. Lembaga Mediasi Perbankan Independen di Indonesia Sesuai dengan Pasal 3 ayat 1 PBI No 8/5/PBI/2006. 3. Selain dapat pula dilakukan perekrutan dari kalangan bankir. kesepakatan sebagian. para pihak biasanya mampu mencapai kesepakatan di antara mereka. 500. Sengketa yang dapat diajukan penyelesaiannya adalah sengketa keperdataan yang timbul dari transaksi keuangan yang memiliki tuntutan finansial paling banyak Rp. . IV. Asosiasi perbankan yang membentuk lembaga mediasi perbankan independen dapat terdiri dari gabungan asosiasi perbankan untuk menjaga independensinya. yang membentuk lembaga mediasi perbankan independen adalah asosiasi perbankan. Akta kesepakatan dapat memuat menyeluruh.

Hal ini menyebabkan konsentrasi modal bank diprioritaskan untuk bank itu sendiri. Oleh karena itu. yaitu seperti terciptanya kepastian penyelesaian sengketa antara nasabah dengan bank. Selama ini sebelum terbentuknya lembaga mediasi perbankan independen. maka BI perlu membentuk PBI tentang akreditasi. V. Keberadaan lembaga tersebut merupakan suatu terobosan seperti di negara lain karena Indonesia ingin memberdayakan nasabah perbankan dengan memberikan perlindungan kepada nasabah. pendanaan yang cukup dan sumber daya berupa mediator yang memperoleh pelatihan dan sertifikasi sebagai mediator dan mempunyai latar belakang perbankan.Kemudian dari laporan tersebut BI dapat mengevaluasi kinerja dari lembaga mediasi perbankan indpendent tersebut dan memberikan akreditasinya. Penutup Keberadaan lembaga mediasi perbankan merupakan sebuah bentuk perlindungan terhadap konsumen. Saat ini bank di Indonesia sedang giat-giatnya melakukan konsolidasi internal untuk memenuhi modal dan sertifikasi para bankir. Dalam Lembaga mediasi ini harus ada mediator independen yang dapat memberikan saran sesuai dengan profesinya masing-masing. misalnya ada konflik antara nasabah dengan bank mengenai masalah hukum. hasil dari kesepakatan kedua belah pihak kemudian didaftarkan pada Pengadilan negeri agar mempunyai kekuatan hokum mengikat. Dari permasalahan tersebut terdapat pemikiran apa tidak sebaiknya mediasi perbankan ini dijalankan oleh BI saja. Pada awalnya. Dalam mendirikan mediasi perlu diadakan segmentasi mediasi perbankan agar tercipta parallel institution lembaga mediasi perbankan sehingga masyarakat dapat memilih lembaga mana yang mereka pilih untuk menyelesaikan sengketa. Dengan demikian pembentukan mediasi perbankan diharapkan akan memberikan nilai positif baik bagi nasabah maupun bank. Dana yang diperlukan untuk mendirikan lembaga mediasi perbankan independen tersebut tentu sangat besar. Tetapi dalam mendirikan Lembaga Mediasi ini terdapat beberapa kendala antara lain masalah dana. tentu sangat sulit. Kemudian lembaga ini harus berfungsi seperti arbitrase sehingga keputusannya mengikat bagi kedua belah pihak. . Hal ini merupakan salah satu langkah kebijakan yang akan diterapkan Bank Indonesia (BI) yang tertuang dalam Arsitektur Perbankan Indonesia (API). Melalui mediasi perbankan ini juga akan mendorong terciptanya keseimbangan hubungan antara posisi nasabah dengan bank. lembaga mediasi perbankan tersebut memerlukan dana operasional. BI telah mempunyai sarana dan prasarana yang memadai. Untuk prosedur akreditasi. Apabila biaya ini dibebankan pada bank sebagai anggota dari lembaga mediasi perbankan. mediasi perbankan dijalankan oleh BI. maka harus ada seorang mediator yang ahli di bidang hukum perbankan.

id. Hadad (a). Masyarakat mengandalkan jasa bank dilandasi rasa kepercayaan.] Pustaka ”Arsitektur Perbankan Indonesia. Djumhana. “Perlindungan dan Pemberdayaan Nasabah Bank Dalam Arsitektur Perbankan Indonesia. Munir. [2] Muhammad Djumhana.id. Muhammad.go.go.html>.BI. 1996) [1] Burhanuddin Abdullah. id/API. 2003). 2006) Djumhana. 2003. diakses tgl 19 Nov 2007 Yahya Harahap. Hukum Perbankan Modern Buku Kesatu. Hukum Perbankan di Indonesia (Bandung: PT Citra Aditya Bhakti. [5] Ibid . Burhanuddin Abdullah. Hukum Perbankan di Indonesia (Bandung: PT Citra Aditya Bhakti. Hal 282 [3] Muliaman D.. Opcit. 2006) hal 2003.bi. Citra Aditya Bakti. Perlawanan Terhadap Eksekusi Grose Akta Serta Putusan Pengadilan dan Arbitrase dan Standar Hukum Eksekusi(Bandung: PT. Keberadaan Lembaga Mediasi independen ini akan memberikan manfaat baik bagi nasabah maupun bank. Muliaman D.” Http://www. Jalan Menuju Stabilitas Mencapai Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan (Jakarta : Pustaka LP3ES Indonesia. Hadad . hal 282.” //www. kepercayaan dari masyarakat harus tetap terjaga. Hal ini dikarenakan perbankan merupakan lembaga yang sangat mengandalkan kepercayaan dari masyarakat luas. diakses tgl 19 Nov 2007 [4] M. end note --------------------------.bi. Diakses 27 November 2007. Bandung: Citra Aditya Bakti. “Perlindungan dan Pemberdayaan Nasabah Bank Dalam Arsitektur Perbankan Indonesia. Oleh karena itu.Kehadiran mediasi perbankan sangat penting. 2003) Fuady. Jalan Menuju Stabilitas Mencapai Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan (Jakarta : Pustaka LP3ES Indonesia.” Http://www.go.

Hal 282-283 [7] Ibid. 1996). hal 5. hal 283 [8] Muliaman D Hadad. Perlawanan Terhadap Eksekusi Grose Akta Serta Putusan Pengadilan dan Arbitrase dan Standar Hukum Eksekusi(Bandung: PT.[6] Ibid. . op. Citra Aditya Bakti.cit [9] Yahya Harahap.

Sanksi Pidana suatu ketika merupakan penjamin yang utama. Untuk itulah. kepada siapakah (adresat) hukum perbakan ditujukan? Lalu dalam hal-hal apa saja hukum perbankan bisa dikesampingkan oleh undang-undang Tindak Pidana Korupsi? Pertanyaan ini begitu penting dikedepankan. yakni mengenai banyaknya atau melimpahnya perbuatan yang dikriminalisasikan dan krisispelampauan batas dari pidana. yakni : Pertama. sehingga harus selalu diijadikan pedoman dalam penggunaan sarana hukum pidana.menyatakan bahwa ada tiga inti yang harus dijadikan patokan memandang hukum pidana. berupa pengendalian perbuatan dengan tidak menggunakan sanksi pidana yang efektif. agar tujuan pemidanaan bisa terjaga dengan baik dalam suatu proses penegakan hukum pidana. Sanksi Pidana merupakan alat atau sarana terbaik yang tersedia. yang kita miliki untuk menghadapai kejahatan-kejahatan atau bahaya besar dan serta merta untuk menghadapi ancaman-ancaman dari bahaya. hukum . hukum pidana dibatasi dengan beberapa asas-asas penting yang sifatnya mengikat. Banyak kasus yang kemudian muncul menimbulkan ketidakpastian hukum. dari awal hingga akhir.Lemahnya Penegakan Pidana Perbankan Dijeratnya para pelaku tindak pidana perbankan dengan ketentuan tindak pidana korupsi beberapa tahun belakangan ini bisa menimbulkan efek buruk bagi dunia perbankan. Kedua. salah satunya adalah mentaati asas-asas hukum yang berlaku dalam hukum pidana. Herbert L. Sanksi Pidana sangatlah diperlukan karena kita tidak dapat hidup. Ketidak pastian hukum dalam bidang perbankan sudah menunjukkan ciri terjadinya krisis kelebihan kriminalisasi. atau sebaliknya akan menjadi pengancam apabila digunakan secara sembarangan dan secara paksa. Dalam kasus BLBI misalnya. (muladi :1984). hal ini bisa menimbulkan ketidakpercayaan perbankan nasional dan internasional terhadap kepastian hukum di Indonesia. Tidak Taat Asas Pidana Penggunaan hukum pidana sebagai sebuah bentuk penghukuman merupakan hal yang limitatif sifatnya. Ketiga. Dalam kasus tindak pidana perbankan yang diserap sebagai tindak pidana korupsi hal ini sering diabaikan. Packer di dalam bukunya The Limit of Criminal Sanction. Ia merupakan penjamin apabila digunakan secar hemat-cermat dan secara manusiawi. sekarang maupun di masa depan tanpa pidana. dan suatu ketika merupakan pengancam utama dari kebebasan manusia. Terkait dengan hal ini. Dalam skala luas. Oleh karenanya. Pertanyaan yang bisa dimunculkan terhadap hal ini. dalam mempergunakan hukum pidana haruslah memperhatikan garis-garis kebijakan penggunaan hukum pidana. mengingat dalam beberapa kasus perbankan yang dijerat dengan tindak pidana korupsi telah menimbulkan keresahan dikalangan dunia perbankan.

Karena secara normatif. hal ini telah mempertimbangkan aspek iklim perbankan nasional pada khususnya dan kepercayaan luar negeri terhadap integritas aktor perbankan nasional pada umumnya. Sehingga tercipta kepastian hukum dan kewibawaan undang-undang itu sendiri. aspek hukum yang terkait dalam undang-undang ini didominasi oleh ketentuan hukum administrasi dan perdata.eh UU Korupsi.pidana korupsi yang seharusnya ditegakkan. Sebaliknya dalam kasus Neloe. yaitu apabila dengan jelas diketahui. sekaligus mengaburkan substansi penegakan hukum itu sendiri. ia tetap dapat dianggap sebagai suatu ketentuan pidana yang bersifat khusus. jika melihat ketentuan hukum perbankan. Ini jelas sangat berbahaya. Kekhususan yang Sistematis (Sistematis Specialite) merupakan suatu ketentuan pidana yang menyatakan walaupun tidak memuat semua unsur dari suatu ketentuan yang bersifat umum. Hal ini jelasbertentangan dengan undang-undang tindak pidana korupsi. undang-undang yang dibuat telah secara jelas dan tegas menuju kepada siapa (adresat) mereka ditujukan. juga mengakibatkan terciptanya rasa takut dalam diri masyarakat. tampak penegakan hukum yang dikedepankan tidak mempertimbangkan secara cermat dan tepat asaslex spesialis derogat legi generalis. Hukum Pidana Korupsi menjadi sangat superior terhadap hukum perbankan. perbuatan yang dilakukan oleh Neloe telah secara jelas dan tegas telah diatur dalam UU No 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan. sementara ketentuan hukum pidana mendapatkan porsi yang sangat kecil karena kapasitas dan misinya ditujukan sebagai sarana hukum terakhir (ultimum remedium). dampak buruk lainnya adalah timbulnya deligitimasi undang-undang perbankan itu sendiri. Dalam dua contoh kasus diatas. yang menyatakan secara jelas bahwa pengembalian kerugian negara sebagai akibat perbuatan korupsi tidak menghilangkan sifat melawan hukum pidananya. Tetapi faktanya. bahwa pembentuk undang-undang memang bermaksud untuk memberlakukan ketentuan pidana tersebut sebagai suatu ketentuan pidana yang bersifat khusus Dampak buruk dari tidak dipahami dan diimplementasikannya asasasas hukum pidana secara baik adalah timbulnya ketidakjelasan pola penegakan hukum. Hal ini jelas sangat aneh bin ajaib. . menurut kekhususan yang sistematis. karena disamping bisa menimbulkan anomie. Lebih lanjut. dinegasikan dengan penyelesaian hukum perdata. Neloe dihukum dengan UU Korupsi. atau sebaliknya. Padahal secara filosofis. Pembagian porsi hukum ini bukan tanpa dasar. Padahal.

yang pada gilirannya dapat memengaruhi pencapaian tujuan hukum itu sendiri. yang pada gilirannya mempengaruhi efektivitas praktek penegakan hukum. Sepintas lalu terlihat ketika ancaman pidana hanya di tujukan terhadap orang perseorangan (KUHP). Ketika hal itu menjadi bagian “Ketentuan pidana” dalam undang-undang administratif. Dalam hal ini adalah idiom “hij die” atau di indonesia-kan “barang siapa”. “elemen” atau”bestanddeel” suatu tindak pidana. digunakan sebutan umum “Barang siapa” untuk menujukan addressaat norm-nya. Dalam hukum pidana modern. Idiom „barang siapa” merujuk kepada addressat suatu tindak pidana. pembentuk undang-undang mengundangkan Undang-Undang Nomor . untuk menentukan apakah seseorang adalah “barang siapa” sebagaimana dimaksud dalam rumusan tindak pidana. yaitu siapakah yang sebenarnya dituju oleh suatu norma hukum tentang suatu tindak pidana 5. merugikan atau melukai obyek hukum. sehingga jelas merupakan kekeliruan ketika praktek hukum mencoba memasukan dalam pengertian “barang siapa” dalam KUHP. bukan hanya terdapat orang perseorangan (naturlijk persoon) tetapi juga korporasi. baik badan hukum ( recht person) ataupun bukan badan hukum untuk mendapat gambaran tentang addressat suatu tindak pidana dapat juga dilakukan dengan melihat hal ihwal kepentingan yang hendak dilindungi oleh norma-norma hukum pidana itu. baik dalam bentuk melakukan sesuatu (commission). Bahkan pada tahun yang sama dengan tahun dimana pertama kali digunakan idiom “setiap orang”. Secara umum suatu rumusan tindak pidana. b. Terlalu beragamnya perumusan tindak pidana dalam peraturan perundang-undangan bersambungan langsung dengan masalah penafsiran atas ketentuan tersebut. tergantung dari jawaban apakah seseorang tersebut adalah subyek hukum yang dituju oleh norma hukum yang terdapat dalam perundang-undangan yang memuat suatu tindak pidana. subyek hukum yang menjadi sasaran norma tersebut (addressaat norm). 9. seperti pembunuhan (Pasal 338 KUHP) atau pencuruan (Pasal 362 KUHP).Perumusan Tindak Pidana Dalam Peraturan Perundang Undangan 1. 4. setidaknya memuat rumusan tentang: a. Sebagai sarana memaksakan keberlakuan atau dapat ditaatinya tersebut. dan c. 7. 3. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang pembentukan Peraturan Perundangundangan telah memberikan pedoman dan teknik dasar dalam perancangan suatu peraturan perundang-undangan. Dengan demikian. 6. ancaman pidana di tujukan kepada orang perseorangan (natuurlijke person) atau korporasi (korporatie). 8. maupun ketika merumuskannya dalam undangundang pidana. seperti kepastian hukum dan keadilan. 2. ancaman pidana (strafmaat). Berdasarkan sejarahnya semua tindak pidana dalam KUHP tertuju pada orang perseorangan. tidak melakukan sesuatu (omission) dan menimbulkan akibat (kejadian yang ditimbulkan oleh kelakuan). Adressaat norm suatu tindak pidana umumnya di hubungkan dengan suatu istilah yang kerap disebut sebagai “kenmerk”. perbuatan yang dilarang (strafbaar). Ada rumusan tindak pidana yang melarang perbuatan yang “menyakiti”.

apabila mendapati keadaan-keadaan yang juga ditentukan dalam undang-undang tersebut. sehingga mengacaukan apakah seseorang itu sebagai pelaku pidana ataukah hanya saksi. Sementara itu. Perbuatan yang dilarang (strafbaar) dalam suatu tindak pidana adalah isi undangundang yang harus dibuktikan penuntut umum. 15. Lain lagi halnya dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008. 16.demikian pula ketentuan Pasal 83 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 Tentang Narkotika. . 17. rang asing” dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian.dengan demikian. Demikian pula halnya Pasal 24 UndangUndang Nomor 31 Tahun 1999 yang mengancam pidana bagi “saksi”. untuk dapat menyatakan seseorang melakukan tindak pidana. seperti “Setiap pihak” dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahutentang 1992 Pasar Modal atau “ 11. dengan menentukan: “Percobaan atau permufakatan jahat diancam dengan pidana yang sama”. Tidak pidana pertama-tama suatu tindak pidana berisi larangan terhadap kelakuan-kelakuan tertentu.16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan. tetapi justru yang melihat. Beberapa istilah bersifat sangat umum. 12. Ketika tindak pidana berisi rumusan tentang dilarangnya suatu omisi. 13. Perlu kebijaksanan pembentukan undang-undang untuk menetapkan hanya perbuatan yang dapat terjadi karena kesengajaan pembuatnya saja yang dijadikan tindakan tindak pidana. perbuatanya tetap dirumuskan dalam undang-undang. 14. Bukankah hukuman pidana hanya dapat bekerja jika masyarakat mendapat peringatan yang memadai baik mengenai perbuatan mana yang tidak boleh dilakukan maupun perbuatan yang justru harus dilakukan. masih mengancam pidana terhadap perbuata. kesengajaan seharusnya dikeluarkan dari rumusan tindak pidana. Persoalannya hingga sekarang landasan demikian belum juga dipositifkan dalam peraturan perundang-undangan sehingga terhadap undang-undang diluar KUHP dibentuk dengan suatu asumsi bahwa perbuatan yang dilarang di dalam ketentuan pidana selalu dipandang sebagai dolus. 10. sedangkan perbuatan yang dilarangnya (strafbaar) berada dalam norma administratif ketentuan administratif ini dapat berupa suatu perintah ataupun larangan. Ketentuan pidana dalam undang-undang administratif seharusnya hanya berisi ancaman pidananya (strafmaat). Ancaman pidana tidak dapat ditujukan kepada “saksi” karena saksi adalah orang yang tidak melakukan tindak pidana. mendengar dan mengalami sendiri dari suatu tindak pidana. maka pada hakekatnya undang-undang justru memerintahkan setiap orang melakukan sesuatu. dan Tumbuhan dengan menggunakan istilah “barang siapa” untuk menujukan sasaran umum tindak pidana yang diaturnya. Ikan. mengenai kealpaan dapat tetap menjadi bagian rumusan tindak pidana. kecuali dinyatakan dengan tegas sebagai delik culpa. Dalam peraturan perundang-undangan. 18. yang sekalipun telah menggunakan istilah setiap orang tetapi masih ditambahkan istilah “lembaga” untuk menunjukan addressaat norm-nya.

b. Pasal 35 Peraturan daerah ini diancam dengan pidana kurungan selamalamanya 3 (tiga) bulan. Demikian misalnya ketentuan pidana dalam Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2004 tentang Kepariwisataan. Pasal 30. sedangkan tindak pidana sebagai akibat “pelanggaran larangan administratif” terjadi dalam hal melanggar ketentuan Pasal 26 dan Pasal 35 ayat (2) peraturan ini. 5. Pasal 25. Selain itu. Padahal tindak pidana ini dapat dibedakan dalam “pelanggaran perintah administratif”. Pasal 28. satu jenis pidana diancamkan secara kombinasi alternatif-kumulatif. Pidana adalah reaksi atas tindak pidana. Pasal 28. Pasal 33. jika rumusan tindak pidana di tujukan untuk mengamankan perintah yang terdapat dalam ketentuan administratif. Artinya. Pasal 23 ayat (2). Bahkan “larangan” terhadap perbuatan yang termaktub dalam rumusan tindak pidana justru “timbul” karena adanya ancaman penjatuhan pidana tersebut barangsiapa yang melakukan perbuatan tersebut. pengkajian terhadap rumusan ancaman pidana dalam berbagai peraturan . Pasal 26. ancaman pidana dalam suatu rumusan tindak pidana selalu ditujukan kepada pembuatannya 26. Pasal 32. “Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16. Umumnya pengancaman pidana dalam suatu rumusan tindak pidana. Pasal 27. yang berwujud nestapa yang dengan sengaja ditimpakan negara kepada pembuat tindak pidana tersebut 24. Pasal 33 dan Pasal 35 ayat (1) peraturan daerah ini. yaitu. Konsekuensinya.000. Pasal 24. 22. Ketika rumusan tindak pidana di tujukan untuk mengamankan ketentuan administratif yang berisi atau larangan. Antara “perbuatan yang dilarang” atau strafbaar dan “ancaman pidana” atau strafmaat mempunyai hubungan sebab akibat (kausalitas). maka ketentuan administratif tersebut hanya diperlukan untuk menafsirkan bagian inti (bestanddeel) tindak pidana tersebut yang sebenarnya baik perbuatan maupun sanksinya telah ada dalam ketentuan pidana tersebut. Pasal 25. Sebaliknya. dapat mengikuti beberapa model. satu jenis pidana diancamkan sebagai ancaman pidana tunggal (kecuali terhadap pidana mati. a. ketentuan administratif tersebut harus menjadi perbuatan yang di dakwakan (berstanddeelen delict) dan karenanya harus dapat dibuktikan. maka ketentuan administratif tersebut menjadi bagian inti (bestanddeel) tindak pidana.000 (lima juta rupiah)”. yaitu sebagaimana dalam hal terjadi pelanggaran norma administratif yang ditentukan dalam Pasal 16. Pasal 23 ayat (2). Dalam hal ini rumusan tindak pidananya adalah sebagai berikut: a.19. satu jenis pidana diancamkan sebagai alternatif dari jenis pidana lain. Oleh karena itu. 23. dalam lapangan hukum acara. dengan penjatuhan pidana maka celaan yang objektif ada pada tindak pidana kemudian berubah bentuk menjadi celaan subyektif kepad pembuatnya. 21. b. 20. dan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 25. Pasal 27. Pasal 32. c. Pasal 30. selalu harus dialternatifkan dengan pidana seumur hidup atau pidana penjara selama waktu tertentu).

33. Menukarkan. Menyembunyikan . Senada dengan hal ini Undang-Undang Nomor 51 Tahun 1960 tentang larangan pemakaian tanah tanpa izin yang berhak atau kuasanya menggunakan istilah “…Dapat dipidana dengan…”lain lagi dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang serikat pekerja/serika buruh. Umumnya ancaman pidana ditempatkan pada bagian akhir suatu rumusan tindak pidana. Beberapa undang-undang mengunakan istilah “hukum”. Dalam Pasal 16 undang-undang tersebut ditentukan “. sebagaimana terurai di bawah ini. Sedangkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 dan berbagai undangundang lainnya hanya menggunakan istilah “Denda” saja tanpa ditambahkah istilah “Pidana” didepannya. Misalnya Pasal 13 ayat (1) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. 37. menggunakan idiom ”Pidana denda”. Menghibahkan. Teknik terakhir ini untuk menghindari kesan ancaman pidana tertuju hanya terhadap sebagian perbuatan saja (bagian perbuatan yang disebut terakhir).Dipidana dengan pidana denda…”.”. 27.perundang-undangan menujukan adanya keberagaman perumusan ancaman pidana. 34. Misalnya Undang-Undang Nomor Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Misalnya. 35. 28... menggunakan istilah “pidana” tetapi istilah tersebut tidak selalu digunakan dalam undang-undang. Meskipun umumya para ahli sepakat. Sementara itu Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monpoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. yang menentukan : “Setiap orang yang senada dengan sengaja : Menempatkan. Menitipkan. sehingga tetulis: “…Dipidana dengan penjara…”. 31. 29. Dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi khususnya ketentuan Pasal 18 tentang pidana tambahan pembayaran uang pengganti. Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia menggunakan istilah “Paling lama” untuk pidana penjara dan “ Paling sedikit “ dan “Paling banyak” untuk denda. digunakan istilah “Sebanyak-banyaknya” untuk menggambarkan jumlah maksimum pidana tambahan pembayaran uang pengganti yang dapat dijatuhkan. Mentransfer. didepan kata “Penjara” tidak digunakan kata “Pidana”. menggunakan istilah “serendahrendahnya” dan “setinggi-tingginya” untuk menunjukkan minimum dan maksimum khusus pidana dendanya. menggunakan anak kalimat: “…Dikenakan sanksi pidana penjara…”. Membayar. 36. setelah uraian perbuatannya digunakan istilah “…Diancam dengan pidana penjara. 32. Membawa. 30. dalam Pasal 6 UndangUndang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Pidana Pencucian Uang. dalam Pasal 48 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. yang menentukan : … Dengan pidana penjara sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun…” Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

ditentukan : “…dipidana dengan pidana penjara paling singkat… dan paling lama. Beberapa undang-undang di luar KUHP telah menyimpangi pola umum pengancaman pidana dalam KUHP. Menyembunyikan atau menyamarkan…”. Menghibahkan. 44. 39. dan tidak dapat dijatuhkan jenis pidana perampasan kemerdekaan..Perumusan ini menjadi lebih baik apabila dirumuskan sebagai berikut : “ Dipidana dengan pidana penjara…. Sekalipun salah satu ancaman pidana dalam rumusan tindak pidana adalah denda.. tidak begitu halnya dengan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. Menitipkan. tetapi tetap saja dengan model pengancaman kumulatif hakim. c. 41. 46.Pasal 39 ayat (1) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 jo Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000.. Dengan demikian. . 40. Setiap orang yang melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf a. Misalnya pada rumusan tindak pidana yang ditentukan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasurasian. dan Pasal 64 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997. Pasal 61. 47. Membayar. 38. dan paling banyak…” Namun demikian.Pasal 49 dan Pasal 50 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004. 43.Pasal 13 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002. Beberapa undang-undang di luar KUHP menggunakan minimum khusus dalam ancaman pidana sementara sistem ini tidak dikenal dalam KUHP.. . . . Mentransfer.atau menyamarkan…. . Penempatan rumusan ancaman pidana yang tidak tepat secara demikian juga dilakukan pembentuk undang-Undang dalam banyak Undang-Undang diantaranya: . dengan menggunakan model pengancaman kumulatif (yang ditandai dengan kata penghubung “dan” diantara dua jenis pidana yang diancam) atau model kombinasi alternatif–kumulatif yang ditandai dengan kata penghubung “dan/atau” diantara dua jenis pidana yang diancamkan).Pasal 77 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002.dipidana karena tindak pidana pencucian uang dengan pidana penjara…”.setiap orang yang: Menempatkan. b. Persoalannya. dan e dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau “Pidana penjara paling lama 25 (dua puluh lima) tahun dan paling singkat 10 (sepuluh) tahun”. Demikian pula halnya terhadap denda. . Pasal 63. pada subyek tindak pidana korporasi. hanya dapat dijatuhkan pidana pokok berupa denda. Umumnya undang-undang menempatkan ancaman minimum khusus ini “didepan” ancaman maksimum khususnya. ditentukan : “… Dipidana dengan denda paling sedikit . Membawa. 42. Menukarkan. d.”. 45.Pasal 59. Pasal 60.Pasal 49 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 jo Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998.

dengan penyebutan dalam bagian ketentuan lain diluar rumusan tindak pidana jumlah pidana untuk beberapa kategori tertentu. tidak mencantumkan pidana denda secara jelas dalam ancaman pidana. dalam hal ini undang-undang tidak menentukan dengan pasti jumlah pidana untuk setiap tindak pidana. pertama.Undang-Undang Perpajakan. 52. Pasal 54. Demikian pula ketentuan Pasal 39 undang-undang tersebut. Demikian pula hanya ketentuan Pasal 51. Pasal 41 A. dalam hal ini rumusan tindak pidana menyebutkan dengan tegas berapa jumlah pidana (maksimum ataupun jika perlu minimumnya) yang dapat dijatuhkan hakim. Padahal Undang-Undang tersebut tidak menyatakan menyimpang dari ketentuan Pasal 12 ayat (4) KUHP. Disini ancaman pidana tunggal (hanya pidana penjara selama waktu tertentu). b. dan e. c. ancaman pidana denda disebut dengan tegas (fix model) berapa jumlah yang mungkin dijatuhkan oleh hakim. maka minimum khusus disebutkan lebih dulu. dan Pasal 41 B. Pasal 55 dan Pasal 58 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995. kecuali ditentukan lain oleh undang-undang itu. 50. Minimum khusus disebutkan kemudian dari pada maksimum khususnya. 49. d. melainkan penyerahan sepenuhnya kepada kebijaksanaan hakim . Demikian misalnya dalam Pasal 6 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2003 tentang Terorisme. fix model. Berdasarkan hal ini. Sekalipun menggunakan minimum khusus. pidana mati disebutkan lebih dulu daripada pidana penjara seumur hidup. mestinya Pasal 36 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang pengadilan Hak Asasi Manusia menentukan: setiap orang yang melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf a. Pasal 50. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 jo Undang–undang Nomor 16 Tahun 2000 menggunakan free model. di pidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara singkat 10 (sepuluh) Tahun dan paling lama 25 (dua puluh lima) tahun. 57. tetap saja harus disebut lebih dulu daripada maksimum khususnya. Pasal 38. Ada tiga model perumusan jumlah pidana. Ketiga. 53. 56. jika diperhatikan ketentuan Pasal 37. Pasal 39 dan Pasal 40 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000. Berdasarkan ketentuan Pasal 103 KUHP. sekalipun pidana penjara selama waktu tertentu merupakan alternatif dari pidana penjara seumur hidup dan pidana mati. dan dalam hal ini digunakan minimum khusus. Hal ini juga “disadari” oleh pembentuk undang-undang ini. free model. Hal ini akan membuka disparitas pidana yang terlalu lebar antara satu tindak pidana dan tindak pidana yang lain. tetapi menggunakan model minimum khusus. Dengan demikian. melainkan diancamkan dengan perkalian nilai cukai yang seharusnya dibayar pelaku. 51. categorization model. 55. .48. Argumen ini juga menjadi gugur. ketentuan ini juga berlaku dalam undangundang diluar KUHP. 54. Kedua. dan pidana penjara seumur hidup disebutkan lebih dahulu dari pada pidana penjara selama waktu tertentu. Pasal 52. 58. karena dalam Pasal 41.

Pasal 51.Larangan pada pelaku usaha untuk menduduki jabatan direksi atau komisaris sekurang-kurangnya 2 (Dua) Tahun dan selama-lamanya 5 (Lima) Tahun (UU Nomor 5 Tahun 1999). Pasal 50.Penghentian kegitan lain atau tindakan tertentu yang menyebabkan timbulnya kerugian pada pihak lain (UU Nomor 5 Tahun 1999). Selain yang disebutkan dalam Pasal 10 KUHP. Sementara itu. atau kekayaan yayasan yang dialihkan atau dibagikan (UU Nomor 16 Tqahun 2001).Pasal 189 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 yang menentukan: “Sanksi pidana penjara. beberap ketentuan yang bersifat punitive tidak jelas apakah masuk sebagai sanksi pidana (straf) ataukah tindakan (maatreegel). 60.Pasal 62 ayat (3) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2002 yang menentukan : “Selain pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (2). barang. . .Pembayaran uang pengganti (UU 31/1999). .Kewajiban membayar biaya yang timbul akibat tindak pidana (UU 27/2003). .Pencabutan izin usaha (UU Nomor 5 Tahun 1999).Pembayaran ganti rugi (UU Nomor 3 Tahun 1997). kurungan. Pasal 49. . . maupun pembatasan hak-hak tertentu dari pelaku (UU 23/2004). Ketika mencantumkan pidana pokok dalam undang-undang di luar KUHP. umumnya undang-undang menggunakan jenis-jenis pidana pokok yang ditentukan dalam Pasal 10 KUHP. misalnya : . pemegang izin usaha penyedia tenaga listrik dan pemegang izin operasi diwajibkan untuk memberi ganti rugi”.Pasal 53 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 yang menentukan: “Semua benda hasil tindak pidana atau alat-alat termasuk alat angkutnya yang dipergunakan untuk melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46.Kewajiban mengembalikan uang. . .Pasal 78 ayat (15) Undanng-Undang Nomor 41 Tahun 1999 yang menentukan : ” Semua hasil hutan dari hasil kejahatan dan pelanggaran dan atau alat-alat termasuk alat angkutnya yang dipergunakan untuk melakukan kejahatan dan atau pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam pasal ini rampas untuk negara “. Pasal 48.Penetapan pelaku mengikuti program konseling dibawah pengawasan lembaga tertentu (UU 23/2004). . 61. Pasal 47. . dan Pasal 52 dapat dirampas atau dimusnahkan oleh Negara sesuai dengan perampasan“.Pencabutan izin usaha penyediaan tenaga listrik atau izin operasi (UU Nomor 20 Tahun 2002). . diantaranya adalah: . .Pembatasan gerak pelaku baik bertujuan untuk menjauhkan pelaku dari korban dalam jarak dan waktu tertentu.59. dan/atau denda tidak menghilangkan kewajiban pengusaha membayar hak dan/atau ganti kerugian kepada tenaga kerja pekerja/buruh”. .

Hal?hal semacam tersebut di atas selain secara mudah telah dapat didigitalisasi oleh komputer. Aspek hearsay yang dimaksud adalah adanya pernyataan?pernyataan di luar pengadilan yang dapat diajukan sebagai bukti. The rule of authentification.A. Beberapa pasal dalam Undang-Undang Internet dan Transaksi Elektronik yang berperan dalam e-commerce adalah sebagai berikut : 1. baik yang berada di wilayah hukum . hal?hal semacam email. pengadilan biasanya berpegang pada prinsip originalitas (mencari bukti yang asli). video. dan lain sebagainya. Pengadilan modern telah dapat mengadaptasi ketiga jenis aturan ini di dalam sistem Ecommerce. Dalam melakukan kegiatan e-commerce. terutama di negara Indonesia. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Internet dan Transaksi Elektronik. chatting. The Best Evidence rule. dan 3. Faktor best?evidence berpegang pada hirarki jenis bukti yang dapat dipergunakan di pengadilan untuk meyakinkan pihak?pihak terkait mengenai suatu hal. Hearsay rule. 2. Sebuah dokumen untuk dapat diajukan ke depan pengadilan harus mengikuti tiga aturan utama: 1. walaupun belum secara keseluruhan mencakup atau memayungi segala perbuatan atau kegiatan di dunia maya. dan tidak ada orang lain yang dapat mengubah isi email ataupun mengirimkannya selain yang bersangkutan). Di dalam dunia maya. rekaman pembicaraan. foto. mulai dari dokumen tertulis. Termasuk pula untuk proses autentifikasi dokumen digital yang telah dapat diimplementasikan dengan konsep digital signature. Namun tentu saja pengadilan harus yakin bahwa berbagai bukti tersebut benar-benar dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Pasal 2 Undang-Undang ini berlaku untuk setiap Orang yang melakukan perbuatan hukum sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. Masalah autentifikasi misalnya telah dapat terpecahkan dengan memasukkan unsur?unsur origin dan accuracy of storage jika email ingin dijadikan sebagai barang bukti (sistem email telah diaudit secara teknis untuk membuktikan bahwa hanya orang tertentu yang dapat memiliki email dengan alamat tertentu. tentu saja memiliki payung hukum. dapat pula dimanipulasi tanpa susah payah. sehubungan dengan hal ini. Ketentuan Hukum Dalam Kejahatan E-Commerce Hak dan kewajiban tidak ada artinya jika tidak dilindungi oleh hukum yang dapat menindak mereka yang mengingkarinya. dan tele?conference dapat menjadi sumber potensi entiti yang dapat dijadikan bukti. namun telah cukup untuk dapat menjadi acuan atau patokan dalam melakukan kegiatan cyber tersebut.

arbitrase. produsen. 5. 4. 2. dan produk yang ditawarkan. Pasal 20 . yang memiliki akibat hukum di wilayah hukum Indonesia dan/atau di luar wilayah hukum Indonesia dan merugikan kepentingan Indonesia. Jika para pihak tidak melakukan pilihan forum sebagaimana dimaksud pada ayat (4). hukum yang berlaku didasarkan pada asas Hukum Perdata Internasional. 3. arbitrase. Transaksi Elektronik yang dituangkan ke dalam Kontrak Elektronik mengikat para pihak. penetapan kewenangan pengadilan. atau lembaga penyelesaian sengketa alternatif lainnya yang berwenang menangani sengketa yang mungkin timbul dari Transaksi Elektronik internasional yang dibuatnya. didasarkan pada asas Hukum Perdata Internasional 5. 4. atau lembaga penyelesaian sengketa alternatif lainnya yang berwenang menangani sengketa yang mungkin timbul dari transaksi tersebut. Pasal 10 1. Pasal 18 1. Jika para pihak tidak melakukan pilihan hukum dalam Transaksi Elektronik internasional.Indonesia maupun di luar wilayah hukum Indonesia. 3. 2. Pasal 9 Pelaku usaha yang menawarkan produk melalui Sistem Elektronik harus menyediakan informasi yang lengkap dan benar berkaitan dengan syarat kontrak. Setiap pelaku usaha yang menyelenggarakan Transaksi Elektronik dapat disertifikasi oleh Lembaga Sertifikasi Keandalan. Para pihak memiliki kewenangan untuk memilih hukum yang berlaku bagi Transaksi Elektronik internasional yang dibuatnya. 2. Para pihak memiliki kewenangan untuk menetapkan forum pengadilan. Ketentuan mengenai pembentukan Lembaga Sertifikasi Keandalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

segala akibat hukum menjadi tanggung jawab pengguna jasa layanan. Persetujuan atas penawaran Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan dengan pernyataan penerimaan secara elektronik. segala akibat hukum dalam pelaksanaan Transaksi Elektronik menjadi tanggung jawab para pihak yang bertransaksi. 4. segala akibat hukum dalam pelaksanaan Transaksi Elektronik menjadi tanggung jawab pemberi kuasa. segala akibat hukum menjadi tanggung jawab penyelenggara Agen Elektronik. 7. jika dilakukan melalui pemberian kuasa. Pihak yang bertanggung jawab atas segala akibat hukum dalam pelaksanaan Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur sebagai berikut:   jika dilakukan sendiri.  3. melalui pihak yang dikuasakan olehnya. 5. kesalahan. . 6.1. Penyelenggara Agen Elektronik tertentu harus menyediakan fitur pada Agen Elektronik yang dioperasikannya yang memungkinkan penggunanya melakukan perubahan informasi yang masih dalam proses transaksi. 2. atau melalui Agen Elektronik. 2. Kecuali ditentukan lain oleh para pihak. Pasal 21 1. Pasal 22 1. dan/atau kelalaian pihak pengguna Sistem Elektronik. Pengirim atau Penerima dapat melakukan Transaksi Elektronik sendiri. Jika kerugian Transaksi Elektronik disebabkan gagal beroperasinya Agen Elektronik akibat kelalaian pihak pengguna jasa layanan. Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggara Agen Elektronik tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. atau jika dilakukan melalui Agen Elektronik. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku dalam hal dapat dibuktikan terjadinya keadaan memaksa. Transaksi Elektronik terjadi pada saat penawaran transaksi yang dikirim Pengirim telah diterima dan disetujui Penerima. Jika kerugian Transaksi Elektronik disebabkan gagal beroperasinya Agen Elektronik akibat tindakan pihak ketiga secara langsung terhadap Sistem Elektronik. segala akibat hukum dalam pelaksanaan Transaksi Elektronik menjadi tanggung jawab penyelenggara Agen Elektronik. 2.

Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang 8. 3. diantaranya adalah : 1. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang 6. Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik milik Orang lain dengan cara apa pun.00 (enam ratus juta rupiah). Selain mengacu kepada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008Tentang Internet & Transaksi Elektronika di atas. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana 2. 3.000. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp700.00 (delapan ratus juta rupiah). atau menjebol sistem pengamanan. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas . Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik dengan cara apa pun dengan tujuan untuk memperoleh Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik.000.000. ada beberapa peraturan atau perundangan yang mengikat dan dapat dijadikan sebagai payung hukum dalam kegiatan bisnis e-commerce. 2. Pasal 46 1. menerobos. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun dan/atau denda paling banyak Rp800.000. Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik dengan cara apa pun dengan melanggar.000.00 (tujuh ratus juta rupiah). melampaui. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1997 Tentang Dokumen Perusahaan 7. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana 3. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata 4.000. 2. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp600. 9. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Perdata 5. Pasal 30 1.8.

yang didalamnya termasuk juga tenologi. B. tertera jelas bahwa hakim sebagai penegak hukum wajib menggali. Pada ayat (3) bunyinya : “ketentuan dalam ayat (1) tidak mengurangi berlakunya hukum yang hidup yang menentukan bahwa menurut adat setempat seseorang patut dipidana walaupun perbuatan itu tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan”. Dalam konsep RUU KUHP 1991/1992 Pasal 1 ayat (1) masih mempertahankan asas legalitas. menginterpretasi hukumhukum positif yang ada sekarang ini yang dapat digunakan untuk menjerat pelaku kejahatan e-commerce. Undang-Undang Nomor 36 tahun 1999 Tentang Telekomunikasi 10. walaupun hakim selalu dibayang-gayangi oleh pasal 1 KUHP. keadilan dan kepastian hukum. 12. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. Serta undang-undang dan peraturan lainnya yang terkait dengan kejahatan e-commerce ini. Dalam menghadapi perkembangan di masyarakat. Penegak hukum di Indonesia mengalami kesulitan dalam menghadapi merebaknya cybercrime khususnya kejahatan e-commerce. Dalam Undang-Undang kekuasaan kehakiman. Banyak faktor yang menjadi kendala. RUU KUHP tampak menyadari. maka dapatlah dilihat bahwa ada kejahatan yang dapat dijerat dan ada yang tidak. maka diperlukan adanya keberanian hakim untuk menafsirkan undang-undang. oleh karena itu aparatur penegak hukum harus benar-benar menggali. Dari hal tersebut. 11. hal ini ternyata dalam ketentuan pasal 1 Ayat (3). Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.9. karena penanganan kejahatan ini memerlukan keterampilan khusus dari penegak hukum. yang terutama adalah terbatasnya sumber daya manusia yang dimiliki oleh penegak hukum. Penyelidikan dan penyidikan selalu mengalami jalan buntu dan atau tidak tuntas dikarenakan beberapa hal. Penegakan Hukum terhadap kegiatan dan kejahatan ECommerce Dalam Sistem Hukum Positif Di Indonesia Pembentukan peraturan perundang-undangan di dunia cyber berpangkal pada keinginan masyarakat untuk mendapatkan jaminan keamanan. mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup dimasyarakat. Peraturan Pemerintah RI Nomor 48 Tahun 1998 Tentang Pendirian Perusahaan Perseroan dibidang Perbankan. namun hakim tidak boleh menolak setiap perkara yang telah masuk ke pengadilan. Sebagai norma hukum cyber atau cyberlaw akan menjadi langkah general preventif atau prevensi umum untuk membuat jera para calon-calon penjahat yang berniat merusak citra teknologi informasi Indonesia dimana dunia bisnis indonesia dan pergaulan bisnis internasional. Dari ketentuan ini sesungguhnya mendorong bahkan memberikan justifikasi .

d. Walaupun mengacu pada Pasal 5 Undang-Undang ITE telah jelas menyebutkan mengenai alat bukti ini. c. Beberapa kendala tersebut antara lain : a. namun hanya sebatas berfungsi untuk mengetik saja. Perbedaan Persepsi Perbedaan persepi yang dimaksud adalah bahwa terjadinya perbedaan antara penegak hukum dalam menafsirkan kejahatan yang terjadi dengan penerapan pasal-pasal dalam hukum positif yang belaku sehingga menimbulkan ketidakpastian hukum bagi pencari keadilan. penuntutan dan pemeriksaan di pengadilan tidak dikuasai karena menyangkut sistem yang ada didalam komputer. teknis penyelidikan. maka wajar saja dalam penegakan hukumnya masih mengalami beberapa kendala yang apabila tidak segera ditangani maka akan memberikan peluang bagi pelaku kejahatan bisnis yang canggih ini untuk selalu mengembangkan “bakat” kejahatannya di dunia maya khususnya kejahatan e-commerce. sedangkan kejahatan e-commerce ini dilakukan dengan menggunakan komputer yang berjaringan dan berkapasitas teknologi yang lumayan maju sehingga pihak aparat sulit untuk mengimbangi kegiatan para pelaku kejahatan tersebut. Mengingat kejahatan e-commerce merupakan salah satu kejahatan baru dan canggih. digandakan atau bahkan dipalsukan.untuk interpretasi atau penafsiran terhadap ketentuan undang-undang. Lemahnya penguasaan komputer Kurangnya kemampuan dan keterampilan aparat penegak hukum dibidang komputer yang mengakibatkan taktis. . dihapus atau dipindahkan. Pembuktian (bukti elektrik) Persoalan yang muncul adalah belum adanya kebulatan penafsiran terhadap kepastian dari alat bukti elektrik ini dikarenakan alat bukti ini mudah sekali untuk di copy. hakim untuk sementara dapat melakukan interpretasi. b. namun masih saja aparat penegak hukum susah untuk mendapatkan alat bukti yang otentik. Dalam mengisi kekosongan Hukum. Sarana dan prasarana Fasilitas komputer mungkin memang ada di setiap kantor-kantor para penegak hukum. bahkan ada ancaman bila menolak dapat dituntut (dihukum).

. Protective principle. yang menyatakan bahwa belakunya hukum didasarkan atas keinginnan negara untuk melindungi kepentingan negara dari kejahatan yang dilakukan diluar wilayahnya. bahwa setiap negara berhak untuk menangkap dan menghukum pelaku kejahatan. Kesulitan Menghadirkan korban Terhadap kejahatan yang korbannya berasal dari loar negeri umumnya sangat sulit untuk melakukan pemeriksaan yang mana keterangan saksi korban sangat dibutuhkan untuk membuat sebuah berita acara pemeriksaan. yang menentukan bahwa negara mempunyai yurisdiksi untuk menentukan hukum berdasarkan kewarganegaraan pelaku tindak pidana. Passive nationality. f. Menurut Ahmad P Ramli (2005: 55-56) Terkait dengan penentuan hukum yang berlaku. Objective territoriality.e. yaitu : a. yang menekankan yurisdiksi berdasarkan kewarganegaraan dari korban kejahatan. e. Subjective territoriality. Nationality. d. yang menekankan bahwa keberlakuan hukum pidana ditentukan berdasarkan tempat perbuatan dilakukan dan penyelesaian tindak pidananya dilakukan di negara lain. yang menyatakan bahwa hukum yang berlaku adalah dimana akibat utamanya perbuatan itu terjadi dan memberikan dampak yang sangat merugikan bagi negara yang bersangkutan. dikenal adanya beberapa asa yang biasa digunakan. Universalitity. c. b. Azas ini pada umumnya diterapkan apabila korbannya adalah negara atau pemerintah.

Problematik pencucian uang yang dalam bahasa Inggeris dikenal dengan nama “money laundering” sekarang mulai dibahas dalam buku-buku teks. namun pada pihak lain. lembaga pembiayaan. penyelundupan. pencurian. ternyata ada pihak-pihak tertentu yang ikut menikmati keuntungan dari lalulintas pencucian uang tanpa menyadari akan dampak kerugian yang ditimbulkan. pedagang valuta asing. Dalam Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang. Sebagai suatu fenomena kejahatan yang menyangkut terutama dunia kejahatan yang dinamakan “organized crime”. Peran dan kekuatan pelaku kejahatan secara substansial meningkat dengan melakukan pencucian uang. Latar Belakang Pencucian uang adalah proses pengubahan dana ilegal menjadi dana dan aset yang sah. perusahaan efek. Pada dasarnya perumusan itu menyangkut suatu proses pencucian uang yang diperoleh dari kejahatan dan dicuci melalui suatu lembaga keuangan (bank) atau penyedia jasa keuangan. pengelola reksa dana. Dalam Pasal 2 dari Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dirumuskan : Hasil tindak pidana adalah harta kekayaan yang berjumlah Rp 500 juta atau lebih atau nilai yang setara. kustodian. pengertian bank dirumuskan secara luas dalam Pasal l butir 4. yang diperoleh secara langsung atau tidak langsung dari kejahatan : . praktek korupsi dan aktivitas ilegal lainnya. sehingga pada akhirnya uang yang haram itu mendapatkan suatu penampilan sebagai uang yang sah atau halal. apakah akan membiarkan kejahatan pencucian uang ini terus merajalela. Ada pelbagai perumusan bertalian dengan makna pencucian uang atau “money laundering”. yaitu : Penyedia Jasa Keuangan adalah setiap orang yang menyediakan jasa di bidang keuangan termasuk tetapi tidak terbatas pada bank. Dana berasal dari perdagangan narkoba. dan perusahaan asuransi. apakah itu buku teks hukum pidana atau kriminologi. penggelapan pajak. perdagangan senjata. lembaga penyimpanan dan penyelesaian. UndangUndang No. Ternyata problematik uang haram ini sudah meminta perhatian dunia internasional karena dimensi dan implikasinya yang melanggar batas-batas negara.Money Loundry MONEY LOUNDRY BAGIAN I PENDAHULUAN A. 15 Tahun 2002. dana pensiun. Erat bertalian dengan hal terakhir ini adalah dunia perbankan yang pada satu pihak beroperasional atas dasar kepercayaan para konsumen. wali amanat. terorisme.

perbankan g. Teori-Teori Tindak pidana pencucian uang dirumuskan dalam Pasal 3 UU TPPU. baik atas namanya sendiri maupun atas nama pihak lain. penyeludupan tenaga kerja e. menitipkan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana. penyeludupan barang d.wanita dan anak j. pencurian n. baik perbuatan itu atas namanya sendiri maupun atas nama pihak lain. mentransfer harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana dari suatu Penyedia Jasa Keuangan ke Penyedia Jasa Keuangan yang lain. baik atas nama sendiri atau atas nama pihak lain. membayarkan atau membelanjakan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana. penyuapan c. B. penculikan l. atau       . penggelapan o. penipuan yang dilakukan di wilayah Negara Republik Indonesia atau di luar wilayah Negara Republik Indonesia dan kejahatan tersebut juga merupakan tindak pidana menurut hukum Indonesia. penyeludupan imigran f. membawa ke luar negeri harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana menukarkan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana dengan mata uang atau surat berharga lainnya.a. baik atas nama sendiri maupun atas nama pihak lain. korupsi b. perdagangan budak. terorisme m. psikotropika i. narkotika h. perdagangan senjata gelap k. menghibahkan atau menyumbangkan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana. yaitu : (1) Setiap orang yang dengan sengaja :  menempatkan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana ke dalam Penyedia Jasa Keuangan. baik atas namanya sendiri maupun atas nama pihak lain.

000. seperti kendaraan bermotor.000. atau instrumen keuangan seperti “money orders. Melalui “smurfing” ini. (2) Setiap orang yang melakukan percobaan. Tahap yang kedua dinamakan “layering”.000.000. maka keharusan untuk melaporkan transaksi uang tunai sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku dapat dikelabui atau dihindari. Dengan “integration” dimaksudkan “the provision of apparent legitimacy to criminally derived wealth. Dengan “placement” dimaksudkan “the physical disposal of cash proceeds derived from illegal activity”. Hubungan antara “placement” dengan “layering” adalah jelas. menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana. Dengan perkataan lain. Setiap prosedur “placement” yang berarti mengubah lokasi fisik atau sifat haram dari uang itu adalah juga salah satu bentuk “layering”.00 (lima milyar rupiah) dan paling banyak Rp 15. Yang ketiga adalah “integration”. barang-barang perhiasan dari emas atau batu-batu permata yang mahal. apa yang dinamakan “placement”.00 (lima belas milyar rupiah). fase pertama dari proses pencucian uang haram ini ialah memindahkan uang haram dari sumber di mana uang itu diperoleh untuk menghindarkan jejaknya.000. Untuk itu akan dijelaskan di bawah ini tiga tahap pencucian uang :  Pertama. antara lain. pembantuan. Dipidana karena tindak pidana pencucian uang dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling sedikit Rp 5. Strategi “layering” pada umumnya meliputi.000. atau “real estate”. cashiers cheques or securities and multiple electronic transfers of funds to so called `bank secrecy havens‟. Sejumlah karakteristik yang umumnya melekat pada White Collar Crime menurut Hazel Croall (1992) sebagaimana dikutip oleh Harkristuti Harkrisnowo (2001) adalah sebagai berikut:       Tidak kasat mata (low visibility) Sangat kompleks (complexity) Ketidakjelasan pertanggung jawaban pidana (diffusion of responsibility) Ketidak ielasan korban (diffusion of victims) Aturan hukum yang samar atau tidak ielas (ambiguous criminal law) Sulit dideteksi dan dituntut (weak detection and prosecution). Dengan “layering” dimaksudkan “separating illicit proceeds from their source by creating complex layers of financial transactions designed to disguise the audit trail and provide anonymity”. atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana pencucian uang dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1 ). Atau secara lebih sederhana agar sumber uang tersebut tidak diketahui oleh pihak penegak hukum.   . If the layering process has succeeded. dengan mengubah uang tunai menjadi aset fisik. such as Switzerland or the Caymen Islands”. Metode yang paling penting dari “placement” ini adalah apa yang disebut sebagai “smurfing”.

Kesemua perbuatan dalam proses pencucian uang haram ini memungkinkan para raja uang haram ini menggunakan dana yang begitu besar itu dalam rangka mempertahankan ruang lingkup kejahatan mereka atau untuk terus berproses dalam dunia kejahatan yang menyangkut terutama narkotika. European Communities Directive. Pembalakan liar. juga melalui “invoices and income of shell corporations. kerahasiaan financial secara pribadi. Council of Europe Convention on Laundering. salah satu dari sekian banyak isue yang seharusnya dipertimbangkan oleh Pemerintahan Megawati dan DPR adalah bagaimana menggunakan UU anti pencucian uang untuk mengendalikan aktivitas ilegal di sektor kehutanan. yang merupakan kejahatan kehutanan yang paling menonjol. BAGIAN II PERMASALAHAN DPR and lembaga eksekutif Pemerintah Indonesia saat ini sedang merevisi UU 15/2002 mengenai tindak pidana pencucian uang.8. maka ada tiga permasalahan yang harus ditangani. Tahun lalu FATF mengumumkan bahwa mereka akan menerapkan sanksi kepada Indonesia jika UU 15/2002 tidak diperbaiki sehingga memenuhi standar internasional. . 1988). si penjahat harus mengintegrasikan dana dengan cara legitimasi ke dalam proses ekonomi yang normal. 20. jika ingin menggagalkan praktek kotor pencucian uang haram. diperkirakan merugikan negara paling sedikit sebesar Rp 9 trilliun. dan efisiensi transaksi.4 miliar). Search. Beberapa instrumen internasional yang erat kaitannya dengan pengaturan mengenai Money Laundering adalah :    United Nations Convention Against Illicit Traffic in Narcotic Drugs and Psychotropic Substances (Dec. Seizure and Confiscation of the Proceeds from Crime (No. Yang pertama ialah kerahasiaan bank. per tahun (dan menurut beberapa perkiraaaan. Mereka melakukan ini sebagai respon terhadap tekanan dari Financial Action Task Force (FATF).1991). Dalam pembahasan revisi UU 15/2002 ini. kerugian dapat mencapai US$ 3.integration schemes place the laundered proceeds back into the economy in such a way that the re-enter the financial system appearing to be normal business funds”. Dengan perkataan lain. atau US$ 1 miliar. Untuk menghadapi cara-cara yang digunakan para penjahat ini dengan para pembantu mereka melalui pelbagai transaksi yang tidak jelas dalam rangka menghalalkan uang mereka dalam jumlah yang besar. or more simply through an electronic transfer of the funds from a bank secrecy haven back to the money‟s country of origin”. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menyampaikan laporan palsu yang menyangkut pinjaman uang. 1990). Council Directive on Prevention of the Use of the Financial System for the Purpose of Money Laundering (June 10. sebuah lembaga antar negara yang memonitor implementasi undang-undang anti pencucian uang pada sektor keuangan secara global.

v Menebang pohon dalam batas 500 meter dari tepi waduk atau danau. Dengan memasukkan “kejahatan kehutanan” sebagai predicate offense didalam UU Perubahan terhadap UU 15/2002. v Mengangkut hasil hutan tanpa dokumen yang syah. UU 41/1999 tentang Kehutanan mendefinisikan paling sedikit 13 katagori aktivitas kejahatan yang terkait dengan kehutanan yang dapat dihukum minimal selama 5 tahun dan denda antara Rp. v Membawa peralatan berat ke kawasan hutan tanpa memiliki izin. . Beberapa dari aktivtias tersebut diantaranya adalah: v Merusak infrastruktur yang digunakan untuk perlindungan hutan. v Membakar hutan. penyuapan. v Terlibat didalam kegiatan yang mendukung degradasi hutan. v Memanen hasil hutan tanpa memiliki izin atau hak. Apa itu Kejahatan Kehutanan? Kejahatan kehutanan dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Di Indonesia. Pemerintah Indonesia saat ini terlibat dalam berbagai inisiatif kerjasama bilateral dan multilateral untuk memerangi pembalakan liar dan jenis-jenis kejahatan kehutanan lainnya. Kejahatan kehutanan juga menyebabkan kerusakan lingkungan yang parah. kejahatan perbankan.5-10 miliar. secara umum diperkirakan antara 60 sampai 80 persen dari 60 sampai dengan 70 juta m3 kayu yang dikonsumsi oleh industri kayu domestik setiap tahun diperoleh secara ilegal. pemerintah Indonesia dapat melakukan langkah yang sangat strategis – dan menjadi preseden secara global – untuk meningkatkan governance baik di sektor kehutanan maupun di sektor keuangan. v Menambang didalam kawasan hutan tanpa izin Menteri. Sampai sejauh ini bentuk kejahatan kehutanan yang paling menonjol adalah aktivitas yang dikenal sebagai „pembalakan liar.Kejahatan kehutanan ini sering dikaitkan dengan korupsi. dan berbagai jenis kejahatan lainnya yang tidak unik hanya kepada sektor kehutanan. v Menggunakan atau menempati sebagian dari Kawasan Hutan tanpa persetujuan Menteri. termasuk kehilangan ekosistem kehutanan dan berbagai jenis satwa langka. penggelapan pajak. A.‟ Di Indonesia.

pembiayaan pembangunan hutan tanaman.5 miliar dalam bentuk aset kehutanan yang digadaikan. disamping tentunya menerima deposit dari perusahaan kehutanan. Beberapa produser pulp dan kertas di Indonesia telah melakukan tindak pidana kejahatan perbankan dengan melakukan mark-up biaya investasi mereka.misalnya. Perusahaan kayu sering terlibat didalam penggelapan pajak atau tax evasion dengan melaporkan penebangan kayu yang lebih rendah dari seharusnya. broker kayu ilegal. v Lebih dari US$ 15 miliar telah diinvestasikan di sektor pulp dan kertas sejak akhir tahun 1980-an. misalnya. Korupsi. bank dan lembaga keuangan lainnya memainkan peran penting dalam menyediakan dana untuk kegiatan kehutanan yang legal dan tidak legal. v Sebelum dilakukan penjualan. eksportir. Bank. Pada umumnya pembalakan liar dan berbagai kejahatan kehutanan terkait langsung dengan aktivitas kriminal yang tidak unik hanya kepada sektor kehutanan. B. v Bank Mandiri saat ini menguasai hutang perusahaan kehutanan senilai US$ 1.Penyelundupan juga sangat menonjol di sektor kehutanan yang terlihat dari besarnya volume kayu dan hasil hutan lainnya yang dikirimkan keluar Indonesia tanpa dilengkapi surat-surat yang syah. penjaminan penerbitan obligasi dan surat berhaga komersial. BPPN menguasai hutang perusahaan kehutanan senilai US$ 3 miliar dan US$ 8. pembelian hutang perusahaan. Pada kenyataannya. .Di hampir semua propinsi yang kaya hutan. dan pegawai Bea Cukai. jumlah uang yang keluar dan masuk sektor kehutanan di Indonesia sangatlah besar : v Industri kehutanan menghasilkan ekspor senilai lebih dari US$ 5 miliar per tahun. pembalakan liar melibatkan berbagai oknum termasuk: pegawai yang korup. adalah sebuah kegiatan kriminal yang sangat menyebar luas dimana oknum pegawai pemerintah menerima secara rutin uang suap sebagai imbalan untuk pemberian hak konsesi dan izin pemanfaatan hasil hutan. personel TNI dan polisi. Seperti diperlihatkan oleh angka-angka dibawah ini.3 miliar. dan pembiayaan perdagangan. pemegang hak konsensi hutan yang beroperasi diluar kontrak HPH mereka. Peran yang dimainkan bank Sering sekali diasumsikan bahwa pembalakan liar di Indonesia dilakukan oleh aktor berskala kecil yang bekerja secara tunai (cash basis) dengan sedikit kebutuhan untuk memperoleh pembiayaan. dan jasa pengangkutan. penduduk lokal yang terlibat didalam penebagan informal. secara rutin memberikan modal kerja untuk aktivitas pembalakan. pinjaman jangka panjang untuk fasilitas pemrosesan kayu.

Pegawai-pegawai perusahaan kayu dan perusahaan plywood serta perusahaan pemasaran di Hong Kong menyadari bahwa kayu yang digunakan untuk membuat panel kayu berasal dari pembalakan liar. akan tetapi juga kepada perusahaan pemasaran Indonesia yang berada di Hong Kong. Korea Selatan. Sedangkan perusahaan plywood mengintegrasikan keuntungannya kedalam aktivitas bisnis legal dengan melakukan investasi disebuah kawasan wisata di Bali. Jika „kejahatan kehutanan‟ secara spesifik masuk kedalam daftar predicate offensepada UU tindak pidana pencucian uang Indonesia. masing-masing perusahaan dapat dituntut terlibat pencucian uang.v Menteri Kehutanan menderita kerugian sebesar US$ 1 miliar per tahun akibat terjadinya pembalakan liar. BAGIAN III ANALISIS . mereka juga dapat dituntut terlibat tindak pidana pencucian uang. Perusahaan kayu menempatkan hasil tindak pidana kedalam sistem keuangan dengan mendepositokan kedalam sebuah rekening bank dengan nama fiktif. perhatikan contoh hipotesis berikut ini. Perusahaan plywood ini menjual panel kayu kepada pembelinya di China. C. Didalam ketiga kasus diatas. Perusahaan pemasaran melakukan layering dengan mengalihkan penerimaan uangnya melalui sebuah bank di Cayman Island. Sebelum terjadinya krisis keuangan tahun 1997. hampir seluruh konglomerat kehutanan di Indonesia memiliki bank mereka sendiri. ketiga perusahaan ini menerapkan starategi yang berbeda. Untuk menyamarkan kenyataan bahwa keuntungan perusahaan berasal dari kegiatan ilegal. Pencucian Uang Terjadi di Sektor Kehutanan Untuk lebih memahami bagaimana proses pencucian uang terjadi di sektor kehutanan di Indonesia. Hal ini tidak hanya dapat diterapkan kepada perusahaan kayu dan plywood yang berada di Indonesia. Dalam banyak hal. dan Taiwan melalui perusahaan pemasaran Indonesia yang berlokasi di Hong Kong. Jika lembaga keuangan terbukti membantu proses penyamaran asal dana yang diperoleh secara ilegal ini. kondisi ini memberikan kesempatan kepada mereka untuk memastikan tersedianya dana untuk membiayai kegiatan kehutanan yang ilegal dan merupakan kendaraan yang dapat digunakan untuk memanipulasi transaksi keuangan yang terkait dengan investasi di sektor kehutanan. perusahaan yang terlibat telah mengambil langkah-langkah untuk membuat uang yang berasal dari kegiatan ilegal nampak seolah-olah berasal dari sumber yang syah. Sebuah perusahaan plywood di Propinsi Riau membeli bahan baku kayu dari perusahaan kayu yang tidak memiliki izin pemanfaatan hasil hutan dan melakukan pembalakan liar di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh.

Dalam konteks ini.A. Dibawah FATF. penegakan hukum tindak pidana pencucian uang juga difasilitasi melalui kerjasama . 4) Ketentuan hukum baru akan tersedia untuk penegakan hukum dan penuntutan: Untuk kegiatan pembalakan liar. Memasukkan kejahatan kehutanan dan kejahatan lingkungan didalam UU perubahan atas UU 15/2002 tentunya adalah langkah yang paling efektif untuk mencapai hal tersebut. 3) Pemerintah akan memiliki alat baru untuk menegakkan peraturan kehutanan dan keuangan: Memasukan kejahatan kehutanan didalampredicate offense akan memperluas pilihan penegakan hukum untuk memutuskan sumber pembiayaan bagi kegiatan pembalakan liar. tanpa memperhatikan apakah mereka melakukannya di Indonesia atau diluar negeri. pemerintah dapat juga menuntut lembaga keuangan yang membiayai kegiatan pembalakan liar. Disamping menuntut aktor yang secara langsung terlibat didalam pembalakan liar. termasuk transaksi keuangan oleh nasabah yang patut diduga dilakukan dengan tujuan untuk menghindari pelaporan transaksi yang bersangkutan yang wajib dilakukan oleh Penyedia Jasa Keuangan sesuai dengan ketentuan UU. Hal ini pada gilirannya akan mengarah kepada peningkatan yang besar didalam tingkat transparansi dan akuntabilitas perusahaan di sektor kehutanan.” Kenyataan bahwa hampir 70 persen kayu di Indonesia diperoleh dari sumber yang ilegal memunculkan pertanyaan penting tentang apa yang tergolong „transaksi mencurigakan‟ di sector kehutanan. bank memiliki kewajiban untuk mengambil tindakan terhadap pelanggan yang diketahui menggunakan kayu dari pembalakan liar. secara konseptual bank dapat diwajibkan untuk memperlakukan setiap transaksi yang melibatkan aktivitas kehutanan sebagai salah satu bentuk „transaksi mencurigakan‟ – paling tidak sampai perusahaan kehutanan memberikan bukti sebaliknya. Manfaat Mengkaitkan Hutan Dengan Pencucian Uang Ada berbagai cara untuk mengkaitkan tindak pidana kehutanan dengan dengan tindak pidana pencucian uang. sering terjadi kayu yang ditebang dan uang yang dihasilkan dari kayu tersebut dikirim keluar negeri. UU tindak pidana pencucian uang akan memungkinkan pemerintah Indonesia menuntut warga negara Indonesia yang mungkin terlibat didalam kegiatan pencucian uang. Disektor kehutanan khususnya. Berbeda dengan UU kehutanan. Manfaat mengkaitkan tindak pidana kehutanan dengan tindak pidana pencucian uang diantaranya adalah sebagai berikut: 1) Bank akan meningkatkan praktek due diligence dalam memberikan pinjaman disektor kehutanan: peraturan „Know Your Customer‟ meminta bank untuk menentukan apakah pelanggan terlibat didalam kegiatan ilegal atau tidak. 2) Bank diminta untuk memonitor dan melaporkan transaksi yang mencurigakan: UU 15/2002 mendefinisikan transaksi mencurigakan sebagai: “transaksi yang menyimpang dari profil dan karakteristik serta kebiasaan pola transaksi dari nasabah yang bersangkutan.

Perlunya Kepemimpinan dari Menteri Kehutanan Sejak April 2003. CIFOR telah terlibat dalam seri diskusi dengan Unit Intelejen Keuangan pemerintah Indonesia (PPATK) untuk mengupayakan tercantumnya kejahatan kehutanan didalam UU perubahan atas UU 15/2002. Menteri Kehutanan menempati posisi unik untuk mengkomunikasikan apa implikasi bagi penegakan hukum dan governance dibidang kehutanan jika kejahatan kehutanan dimasukkan sebagai predicate offense pencucian uang. Tidak membayar kepada kreditur dengan memindahkan arus kas perusahaan ke bisnis yang lain. Menteri Kehutanan perlu bekerja sama secara erat dengan PPATK dan lembaga keuangan kunci lainnya di Indonesia dan regulator untuk memastikan UU anti . Saat ini sangat dibutuhkan adanya kepemimpinan dari Menteri Kehutanan atas isue ini untuk memastikan kejahatan kehutanan tercakup dalam UU perubahan atas UU 15/2002 pada saat diratifikasi nanti. Memanipulasi pembayaran hutang piutang kepada group perusahaan sendiri untuk mengurangi laba dan menghindari pajak perusahaan 4. under measuring. under-reporting dan undervaluing kayu dan misklasifikasi spesies kayu 6. Macam-Macam Kejahatan Keuangan Kehutanan 1. Menyatakan harga jual produk kayu dibawah harga pasar untuk melaporkan laba yang kecil atau rugi Menyatakan harga input produk kayu yang jauh diatas harga pasar untuk mengurangi laba atau melaporkan rugi 2. Sampai UU diratifikasi oleh DPR. PPATK memasukkan „kejahatan dibidang kehutanan‟ dan kejahatan dibidang lingkungan‟ didalam daftar predicate offense didalam rancangan UU perubahan yang telah diserahkan kepada DPR untuk diratifikasi. 3. Pada awal Juni. Tidak membayar DR dan PSDH dan kewajiban negara lainnya C. Tidak membayar DR dan PSDH dengan benar dengan under-grading. B. Setelah diratifikasi. Secara khusus. akan sangat berguna jika Menteri mengkomunikasikan dengan PPATK dan dengan Komisi II DPR tentang pentingnya penerapan UU anti pencucian uang untuk mengendalikan pembalakan liar. Mark up nilai jasa dan produk yang diterima dari grup perusahaan sendiri untuk mengurangi besarnya laba dan pajak perusahaan 5.dengan negara lain.

pencucian uang diterapkan secara efektif disektor kehutanan. Lembaga ini termasuk Bank Indonesia, Bapepam dan Dirjen Lembaga Keuangan Departemen Keuangan. Bank Indonesia telah menerbitkan peraturan „know your customer‟ (KYC) untuk perbankan. Sementara Bapepam mengeluarkan aturan serupa untuk perusahaan sekuritas dan Dirjen Lembaga Keuangan telah mengeluarkan peraturan untuk lembaga keuangan bukan bank. Peraturan KYC mewajibkan bank dan penyedian jasa keuangan lainnya untuk mengidentifikasi indetitas nasabah, memonitor transasksi nasabah, dan melaporkan transaksi mencurigakan ke PPATK. Menteri Kehutanan memegang peran penting untuk membantu bank dan lembaga keuangan lainnya untuk lebih mengenal apa yang dimaksud dengan „aktivitas mencurigakan‟ di sektor kehutanan, dan bagaimana aktivtas ini dimonitor. BAGIAN IV KESIMPULAN Tindak Pidana Pencucian Uang adalah Setiap orang yang menerima atau menguasai hasil transaksi (penempatan, transfer, pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan, atau penukaran) harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana. Alat Bukti Pemeriksaannya: sesuai hukum acara pidana, informasi yg diucapkan, dikirimkan, diterima, atau Disimpan secara elektronik, alat optik atau sejenis, tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, huruf, tanda, angka, simbol, atau perforasi Kesemua perbuatan dalam proses pencucian uang haram ini memungkinkan para raja uang haram ini menggunakan dana yang begitu besar itu dalam rangka mempertahankan ruang lingkup kejahatan mereka atau untuk terus berproses dalam dunia kejahatan yang menyangkut terutama narkotika. Untuk menghadapi cara-cara yang digunakan para penjahat ini dengan para pembantu mereka melalui pelbagai transaksi yang tidak jelas dalam rangka menghalalkan uang mereka dalam jumlah yang besar, maka ada tiga permasalahan yang harus ditangani, jika ingin menggagalkan praktek kotor pencucian uang haram. Yang pertama ialah kerahasiaan bank, kerahasiaan financial secara pribadi, dan efisiensi transaksi. Beberapa instrumen internasional yang erat kaitannya dengan pengaturan mengenai Money Laundering adalah :  United Nations Convention Against Illicit Traffic in Narcotic Drugs and Psychotropic Substances (Dec. 20, 1988);

 

Council of Europe Convention on Laundering, Search, Seizure and Confiscation of the Proceeds from Crime (No.8, 1990); European Communities Directive, Council Directive on Prevention of the Use of the Financial System for the Purpose of Money Laundering (June 10,1991); REFERENSI

    

Keputusan Kepala PPATK No.2/1/KEP.PPATK/2003 Tentang Pedoman Umum Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang bagi Penyediaan Jasa Keuangan Peraturan Bank Indonesia No.3/10/PBI/2001 Tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your Customer Principles) Rancangan UU Tentang Perubahan Atas UU No.15 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang Studi Penerapan Sanksi Pidana Kehutanan, Bab III Analisis Pasal-Pasal Pidana Kehutanan dalam Peraturan Perundang-Undangan Terkait, Departemen Kehutanan UU No.15 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan

Membangun Etika Bisnis dan Hukum PENDAHULUAN Pengalaman kita bernegara pada tiga dekade terakhir memperlihatkan masalah-masalah berat di berbagai bidang. Salah satunya adalah keadaan perekonomian yang menjadi demikian morat-marit meliputi berbagai seginya. Dari mulai rantai produksi, distribusi maupun finansial, serta lembaga intermediasi keuangan, seperti perbankan dan lembaga keuangan lainnya di negeri ini mengalami suatu tekanan dan masalah yang luar biasa hebatnya. Bahwa kegiatan ekonomi ini, keseluruhannya dilakukan oleh manusia, sehingga bisa dikatakan bahwa sumber dari segala sumber persoalan yang muncul adalah kembali kepada kualitas manusia yang melakukan kegiatan perekonomian tersebut. Konsepsi pengaturan perekonomian yang diatur oleh Undang-Undang Dasar negara yang berlaku, terpulang pula kepada kemampuan pengelolanya, baik di sektor pemerintah, swasta maupun koperasi. Sebaik apapun sistem itu dibuat, maka unsur kemampuan dan itikad baik dari penyelenggara negara dan penyelenggara perekonomian ini sangatlah menentukan keberhasilannya. Kita telah menyaksikan drama ekonomi Indonesia, sebagai negara yang secara potensial sangat kaya namun telah terperosok pada jurang perekonomian yang bermasalah sangat berat. Peluang usaha yang terjadi selama tiga dekade terakhir ternyata tidak membuat seluruh masyarakat mampu berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi yang tinggi. Perkembangan usaha swasta, diwarnai berbagai kebijakan pemerintah yang kurang pas sehingga pasar menjadi terdistorsi. Disisi lain, perkembangan usaha swasta dalam kenyataannya sebagian besar merupakan perwujudan dari kondisi persaingan yang tidak sehat. Para pengusaha yang dekat dengan elit kekuasaan mendapatkan kemudahankemudahan yang berlebihan sehingga berdampak pada kesenjangan sosial. Munculnya konglomerasi dan sekelompok kecil pengusaha kuat tidak didukung oleh semangat kewirausahaan sejati merupakan salah satu faktor mengakibatkan ketahanan ekonomi menjadi sangat rapuh dan tidak mampu bersaing. (Penjelasan UU No.5/99) Merajalelanya praktek korupsi yang sudah sedemikian rupa sistemik-nya terjadi hampir disemua lapisan masyarakat. Boleh dikatakan bahwa ujung dari segala persoalan yang ada sekarang ini adalah persoalan korupsi. Untuk mengatasi berbagai persoalan perekonomian beserta permaslahan yang ruwet ini telah dilahirkan Ketetapan MPR No. XI/MPR/1998 tentang penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, telah dijabarkan dalam UU Republik Indonesia No.28 tahun 1999 tanggal 19 Mei 1999 tentang penyelenggaraan negara yang bebas dari KKN. Selanjutnya pula telah diundangkannya UU Republik Indonesia No.5 tahun 1999 tanggal 5 Maret 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak sehat. Hal ini merupakan landasan serta sekaligus dorongan untuk penciptaan dunia bisnis yang sehat, unggul yang bermoral. Kesemua ini dilandasi pemikiran harus berjalannya etika bisnis yang baik ditanah air. Untuk itulah semua kalangan perlu menciptakan dorongan lebih lanjut agar mencapai sasarannya.

SUATU CONTOH PERMASALAHAN PERBANKAN DI INDONESIA Beberapa permasalahan yang dihadapi oleh industri perbankan di Indonesia, diantaranya adalah : 1. Kondisi Keuangan/Kesehatan Bank Kondisi keuangan yang mencerminkan tingkat kesehatan bank di Indonesia pada masa sebelum krisis dan sesudah krisis adalah kurang baik. Hal ini terbukti : • Sebagaimana disebutkan dalam Majalah Infobank No. 199 Edisi Juli 1996 Vol XIX, terdapat dua puluh bank yang belum mengumumkan laporan keuangannya seperti yang diatur dalam Surat Edaran Bank Indonesia No. 27/5/UPPB tanggal 25 Januari 1995. Tidak dipenuhinya ketentuan tersebut, terjadi karena adanya kerugian yang cukup besar. • Struktur keuangan bank di Indonesia khusus bank swasta nasional sangat rapuh, yang terjadi karena ekspansi yang dilakukan sangat berlebihan yang menyebabkan nilai kewajibannya sangat tinggi. Sampai dengan pertengahan tahun 1997, kegiatan perbankan secara umum masih berkembang dengan kecepatan tinggi. Mobilisasi dana masyarakat meningkat pesat sementara ekspansi kredit tetap kuat, terutama ke sektor properti. Dalam pengeloaan valuta asing meningkat tajam seperti tercermin pada memburuknya posisi devisa neto dan semakin besarnya rekening administratif dalam valuta asing perbankan selama tiga tahun terakhir. • Perkembangan di atas menyebabkan tingginya kerentanan perbankan nasional terhadap guncangan-guncangan yang terjadi di dalam perekonomian. Melemahnya nilai tukar rupiah mengakibatkan kewajiban dalam valuta asing naik tajam sehingga mempersulit kondisi likuiditas perbankan. Hal ini diperburuk dengan kondisi debitur yang juga mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajiban valuta asing kepada perbankan. Besarnya kesulitan likuiditas pada akhirnya telah memicu terjadinya krisis pada perbankan nasional. • Perkembangan selanjutnya semakin memperlemah tidak saja kondisi likuiditas tetapi juga aspek rentabilitas dan solvabilitas perbankan. Hal ini antara lain tercermin pada meningkatnya nonperforming loan dan turunnya return on assets (ROA). 2. Menurunnya Kepercayaan Masyarakat Kondisi perbankan kemudian menjadi semakin rawan setelah munculnya penarikan simpanan dan pemindahan dana antarbank secara besar-besaran akibat semakin merosotnya kepercayaan masyarakat terhadap perbankan, khususnya sejak pencabutan izin usaha 16 bank pada awal November 1997. Krisis perbankan berkembang semakin dalam dengan munculnya berbagai isu negatif mengenai kondisi perbankan nasional. Akibatnya, pencabutan izin usaha terhadap 16 bank dan program penyehatan perbankan lainnya yang semula ditujukan untuk memperbaiki kepercayaan masyarakat justru memperburuk keadaan. Turunnya peringkat (rating) dan gambaran pesimis yang diberikan lembaga pemeringkat internasional kepada perbankan nasional juga telah mengakibatkan semakin merosotnya kepercayaan masyarakat, baik dalam maupun luar negeri, terhadap perbankan nasional. Kepanikan masyarakat telah mendorong terjadinya penarikan-penarikan tunai dana perbankan yang cukup besar dan pemindahan dana dari bank-bank yang dianggap lemah ke bank-bank yang dinilai kuat. Sebagai akibatnya, beberapa bank yang sebelumnya tergolong sehat dan merupakan pemasok dana juga ikut terkena dampak krisis

pejabat pemerintah dan lainnya. Hal ini tercermin dari meningkatnya penolakan bank-bank internasional untuk melakukan transaksi valuta asing dan terhadap letter of credit yang diterbitkan bank-bank nasional. kurang dipenuhinya persyaratan dalam pemberian kredit karena adanya uang sogokan dari nasabah. Pelanggaran seperti ini sering dilakukan oleh pihak pemilik dan manajemen bank serta nasabah bank . adanya pemberian tingkat suku bunga diatas suku bungan penjaminan. aset BDL menjadi Rp11. membuat kinerja bank semakin berisiko dan tidak berjalan dengan efisien. pemberian komisi-komisi atas penanaman dana.4 triliun sehingga nilai buku. Moral sangat penting dalam dunia perbankan. Dengan tingkat suku bunga yang tinggi tentunya berdampak pada pengelolaan usaha perbankan menjadi tidak efisien. Hal ini mendorong harga barang menjadi mahal dan akhirnya mebakar inflasi serta mendongkrak bunga menjadi lebih tinggi". Pihak – pihak yang berhubungan dengan bank diantaranya adalah Pemilik. adanya surat sakti atau kreditur merupakan pihak yang terkait dengan bank. Manajemen.9 triliun. Laporan BI akhir 1999 menyebutkan hal-hal sbb : Laporan BI memperlihatkan betapa masalah rekayasa terhadap asset bank sangatlah parah (Perkembangan Proses Penyelesaian Aset 16 Bank Dalam Likuidasi/BDL) Total Aset 16 BDL menurut nilai buku per 31 Oktober 1997 yaitu pada saat bank-bank tersebut dilikuidasi berjumlah Rp13. berbagai pungutan liar itu membebani ekonomi nasional. Seperti yang diungkapkan dalam Infobank No. hal ini diakibatkan adanya pemberian kredit tanpa jaminan yang jelas sehingga sulit untuk diperoleh pencairannya. Edisi Mei 1996.5 triliun diantaranya merupakan nilai kredit sebelum dikurangi cadangan penghapusan. 197.6 triliun. Sebesar Rp11. Moral/Hazard Rendahnya moral/hazard dari pihak-pihak yang berhubungan dengan bank. Vol. dan terdapatnya aktiva tidak berwujud. XIX. Contoh konrit pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dalam dunia perbankan seperti BMPK. mengingat karakteristik industri ini adalah kepercayaan dan beresiko. perolehan aset yang nilainya telah di-mark-up oleh pemilik/pengurus bank. juga merupakan pemicu terjadinya krisis perbankan di Indonesia. Dana talangan tersebut telah dialihkan . Selanjutnya. Korupsi juga mempunyai dampak yang cukup significant terhadap industri perbankan. Sementara itu. kredibilitas perbankan nasional juga menurun di luar negeri. Nasabah. sampai dengan bulan September 1999. disebutkan " menurut sejumlah pakar . 3. Prilaku seperti ini berakibat pada peningkatan resiko dan menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat. Dari sisi pasiva.5 triliun. Bank Indonesia menyediakan dana talangan untuk pembayaran simpanan dana para nasabah BDL sebesar Rp5. Namun demikian diperkirakan hanya sekitar 45-50% dari aset BDL tersebut yang dapat dicairkan/ditarik. Rendahnya nilai moralitas mengakibatkan tidak dapat diterapkan sistem prudential banking dan terjadinya pelanggaran aturan yang ditetapkan yang merupakan salah satu unsur dalam sistem pengawasan.kepercayaan tersebut sehingga berubah posisinya menjadi peminjam dana di pasar uang antarbank. yang sebagian besar tergolong kredit bermasalah (non performing loan). terdapat pencairan aset BDL sebesar Rp2.

(iii) dibutuhkan biaya yang cukup besar untuk mengeksekusi penagihan kredit dan pencairan aset sehingga hasil penjualan bersih tidak mencapai jumlah yang diinginkan. Lebih dari itu. Konsentrasi kredit tersebut telah mengakibatkan ketergantungan yang berlebihan terhadap kelangsungan usaha debitur dimaksud sehingga krisis yang juga melanda usaha debitur telah memperburuk kinerja perbankan secara keseluruhan. sebagian digunakan untuk mengangsur pengembalian dana talangan Pemerintah sebesar Rp0. Sampai dengan bulan September 1999. Rendahnya realisasi pencairan aset BDL disebabkan berbagai kendala antara lain : (i) sulitnya menjual aset BDL yang sebagian besar merupakan properti baik berupa harta tetap milik bank maupun agunan kredit. Sementara itu. setelah dikurangi jumlah yang berhasil ditagih oleh Tim Likuidasi.kepada Pemerintah sebesar Rp5. (ii) sebagian kredit yang tergolong bermasalah karena pengikatan hukum terhadap barang jaminannya sangat lemah disamping nilai jaminan yang diserahkan kepada bank tidak mencukupi.9 triliun. diharapkan dalam jangka waktu tersebut upaya penagihan aset/kredit yang dapat digunakan untuk mengembalikan dana Pemerintah dapat terlaksana sesuai dengan yang diharapkan. khususnya exit mechanism. kelemahan tersebut juga mendorong pemberian kredit yang terkonsentrasi hanya kepada beberapa debitur. Mengingat masa tugas Tim Likuidasi masih beberapa tahun lagi (selambat-lambatnya tahun 2002). dari hasil pencairan aset yang berasal dari penagihan kredit dan penjualan aktiva tetap serta inventaris bank. (iv) Tim Likuidasi tidak memiliki kewenangan hukum yang cukup kuat seperti BPPN. dan ketergantungan perbankan kepada bantuan likuiditas dari Bank Indonesia naik tajam. kecukupan likuiditas dan permodalan perbankan menurun drastis. Hal ini tercermin dari adanya banykanya pelanggaran terhadap ketentuan kehati-hatian meningkat. Tidak adanya sistem penjaminan terhadap simpanan masyarakat telah mengharuskan bank sentral memberikan jaminan terselubung (implicit guarantee) atas kelangsungan hidup suatu bank untuk mencegah kegagalan sistemik dalam . belum jelasnya mekanisme penyelesaian bank-bank bermasalah.3 triliun.4 triliun sehingga sisa dana talangan perposisi September 1999 sebesar Rp4. Sementara itu Tim Likuidasi terus mengupayakan penjualan aset serta penagihan kredit macet BDL untuk melunasi kewajiban BDL lainnya. telah menimbulkan moral hazard yang mengarah pada perilaku mengambil risiko tinggi di kalangan perbankan. sehingga setiap proses penagihan kredit maupun pencairan aset harus menempuh prosedur hukum yang penyelesaiannya memakan waktu lama. Kelemahan ini telah memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap penyimpangan dan penyalahgunaan wewenang pada perbankan sehingga mendorong peningkatan risiko kegagalan perbankan. Lemahnya Sistem Pengawasan Kelemahan manajemen terlihat antara lain dari belum efektifnya pengawasan intern bank dan sistem informasi yang relatif terbatas sehingga pelaksanaan self-regulatory banking yang telah dicanangkan dalam beberapa tahun terakhir belum berkembang dengan baik. khususnya pada individu/kelompok usaha yang terkait dengan bank. Untuk itu akan dilakukan intensifikasi tugas 5.

tidak berniat untuk menghapus kekeliruan. Dalam bersikap tidak mampu bersikap penuh kepercayaan. mencuri. seringkali mengintrepretasikan perjanjian secara tidak masuk akal. Banyak pelaksana bisnis yang mengutamakan keuntungan fiansial dalam jangka pendek. berani dan bertindak dengan dorongan penuh muslihat dan tipu daya dan hawa nafsu dan bermuka dua. sehingga langkah yang dilakukannya tidak terhormat. tidak mampu memenuhi janji. teman. mematuhi komitmen dan tidak berpegang berpegang pada surat perjanjian. Tidak mampu berlaku sama terhadap orang lain. sering kali memanfaatkan kesalahan orang lain untuk mendapatkan keuntungannya sendiri. Hal ini banyak terjadi dalam perjalanan kegiatan dunia usaha di negeri kita. baik dalam konteks profesional. tulus. Dalam Bersikap cenderung untuk tidak adil dan pikirannya terfokus pada dirinya sendiri. dan kurang berbelas kasihan. Semua dilihat dari keuntungan materi. Hal ini diperburuk dengan masih terbatasnya informasi yang tersedia bagi masyarakat mengenai kondisi keuangan suatu bank sehingga kontrol masyarakat terhadap perkembangan perbankan tidak berjalan dengan semestinya. Loyalitasnya hanya kepada keuntungan jangka pendek. Secara lebih rinci bisa dilihat. baik masalah policy maupun hal teknis dalam rangka upaya merasionalkan tindakan-tindakannya yang menyimpang untuk keuntungan sendiri. memberi pertolongan. tidak adil. tidak bersikap memberi. dan mau menang sendiri. pelanggan. Dalam langkah bisnisnya cenderung menipu. Tidak Mematuhi janji. dalam hal ini uang. ataupun mengabaikan kepentingan masyarakat banyak . Tidak peduli pada orang lain. berbohong. Bersikap tidak peduli. Karenanya praktek bisnis seperti ini sangat mencerminkan kerakusan dan menghasilkan produk yang tidak kompetitif dan mengakibatkan ekonomi biaya tinggi dan output yang dihasilkan sangat tidak efesien. langsung. pengawasan dan pembinaan yang dilakukan oleh Bank Indonesia masih kurang efektif terutama karena lemahnya law enforcement dan kurangnya independensi bank sentral. sehingga mengabaikan kejujuran. Bahwa istilah KKN juga berkaitan dengan pelanggaran etika bisnis yang sangat elementer. Loyalitas kepada keuntungan jangka pendek. terutama pada yang bukan kelompok usahanya. hati terbuka. Tidak memiliki Integritas. melayani orang lain. komitmennya hanya terhadap dirinya dan usahanya saja. Selain itu. finansial yang sangat berjangka pendek. sehingga dia tak mampu menjaga pertimbangan profesional dengan tidak berusaha menghindari pengaruh buruk dan konflik kepentingan. maupun pemerintah.industri perbankan. jernih. tidak mau berbagi rasa. ataupun teknis. ETIKA BISNIS DAN MASALAHNYA Bahwa keadaan tersebut diatas bisa dikatakan berawal dari masalah besar dalam dunia bisnis kita diberbagai sektor kegiatan yang ternyata diliputi oleh berbagai tindakan yang mencerminkan rendahnya etika bisnis. atasan. Dia akan dengan sangat mudah mengungkapkan informasi rahasia. Tidak bersikap benar. Rasa malu. dan negara. tidak mau menerima dan bertoleransi terhadap perbedaan. Rendahnya Kejujuran. klien. Dalam melakukan bisnisnya prinsip utamanya hanya uang dan untung jangka pendek. antara lain sebagai berikut . Sehingga sangat terdorong untuk bersikap tidak jujur dan tidak loyal kepada keluarga. sudah dirasakan hampir tidak ada. memperdayai konsumen. Tidak mampu berbuat adil.

bisnis bersekala sedang. dan kurang tanggung jawab . Yang meyimpulkan betapa parahnya korupsi di negri ini. kesadaran sosial dan pelayanan masyarakat. bahasan dsb. dan tidak meberikan contoh pada orang lain. Dari mulai urusan pelayanan sosial masyarakat.Tidak menghargai orang lain. menengah dan besar. personalitas. Sampai-sampai hal itu sudah dianggap suatu hal yang biasa saja. cenderung pula untuk menyembunyikan informasi. cenderung malas-malasan.Dalam tindakannya cenderung otoriter. sehingga cenderung merintangi orang lain. Tidak Menunjukan penghargaan atas kemuliaan manusia. Bersikap kurang ramah dan kurang wajar. Cenderung tidak berupaya untuk mencapai yang terbaik. Kita semua merasakan bahwa korupsi terjadi hampir disemua bidang kegiatan. tidak mau melaksanakan semua hak-hak dan tanggung jawab demokrasi melalui partisipasi (pemungutan suara dan pengungkapan pendapat). dalam tindakannya seringkali tidak masuk akal. swasta maupun lembaga-lembaga lainnya. Upaya pencegahan korupsi yang sudah berjalan selama ini dan bagaimana upaya untuk lebih mendorong keberhasilan pencegahan korupsi. Cenderung untuk tidak menaati hukum. Berupaya menjadi yang terbaik dalam konteks yang salah. pemerintahan. Tidak untuk melindungi dan tidak ada upaya untuk meningkatkan integritas dan reputasi keluarga. Seringkali melakukan dan bertindak untuk hal-hal yang sia-sia. hukum cederung digunakan untuk kepentingan dan keuntungannya sendiri. Berarti moralitas masyarakat kita memang sudah biasa untuk melakukan sogokan untuk memperlancar urusannya. artinya yang penting terkenal. perusahaan. melaksanakan tugas dengan ogah-ogahan. profesi dan pemerintah. dan hak atas orang. Kesemua ini adalah suatu fakta yang tak terbantahkan. Telaah khusus yang dibuat BPKP menyebutkan bahwa. KORUPSI DAN PERMASALAHANNYA. tidak menggunakan proses demokrasi secara terbuka dalam pengambilan keputusan. Berbagai institusi resmi dan LSM dalam dan luar negeri telah membuat berbagai data. tidak bersikap rajin. tidak mau menerima tanggung jawab terhadap keputusannya. tidak transparan. ternyata masih memberikan hasil yang menggembirakan masyarakat dan ironisnya Indonesia malah menduduki ranking pertama se-Asia untuk tingkat korupsi menurut versi Transparancy International per April 1999. Cederung pula mengakali hukum. Kurang tanggung jawab. Sehingga dalam memenuhi tanggungjawab perorangan dan profesional. Instansi penegak hukum yang memegang tongkat komado pemberatasan korupsi sejak 1967 yaitu Kejaksaan Agung walupun telah bekerja maksimal. apalagi bila menyangkut pada kerugian yang bersifat finansial. tidak memahami lebih dulu konsekuensi tindakan. tidak mau memberikan informasi yang dibutuhkan orang lain untuk membuat keputusannya sendiri. Tidak memiliki ketanggung-gugatan. Sedangkan aparat pengawasan fungsional lainnya mempunyai tugas pokok dan fungsi yang semata-mata tidak . baik di instansi pemerintah. Jika berada dalam posisi memimpin atau memiliki otoritas. Menyerahkan saja pada orang lain dan tidak mampu mengendalian orang-orangnya. Bahwa kaitan dari etika bisnis yang parah ini tampak dari maraknya prkatek korupsi. Bersikap tidak bertanggung jawab. Seringkali melempar tanggung jawab. bisnis retail.

dan ruwet serta memerlukan keakhlian tertentu menanganinya. merupakan bagian yang secara historis atau tradisional terlibat korupsi. yang bersifat memaksa dengan pendekatan etika yang lebih menekankan pada kesadaran dari pelakunya. Pengendalian internnya tidak ada. canggih. apalagi bila keuntungan finansial telah didepan mata. Urgensi perlu tidaknya suatu Badan Anti Korupsi (badan) masih menjadi perdebatan. Pegawai yang dipercaya. serta LSM lainnya. yang menjadi pengelola perusahaan. 6.diarahkan untuk memberantas korupsi yaitu antara lain itwilprop. 2. lemah atau terselenggara longgar. judi atau mempunyai selera mahal. unggul dan bermoral perlu interaksi positif antara dunia usaha. BPKP. Bisnis yang tak beretika itu sangat berkaitan pula dengan kondisi perusahaan dan kondisi . akan tetapi BPKP tetap akan mengusulkan suatu Komisi atau Badan tersebut. kerugian yang besar. tidak efisien atau tidak menunjukkan kemampuan. Untuk mencapai tujuan dan sasaran. ETIKA BISNIS Pelaku bisnis seringkali terbentur pada banyak pilihan. kecanduan obat. masalah kehidupan keluarganya. Ruang usaha. Disamping adanya perangkat hukum dan perundangundangan maka diperlukan pembinaan dan tumbuh kembangnya etika bisnis yang benar. kolusi dan nepotisme. Untuk itu hanya dengan kesadaran pelaku bisnis saja etika bisnis bisa dilakukan. dunia bisnis antara perilaku bisnis yang baik dan sistem ekonomi politik yang kondusif. Etika bisnis sangat berkaitan dengan keuntungan jangka panjang. dan yang paling sulit adalah bila harus berhadapan dengan upaya menyeimbangkan antara tujuan bisnis yang terlihat jelas. mempunyai problema pribadi yang tidak kunjung terselesaikan. Dalam hubungan ini patut di konstantir kondisi intern perusahaan-perusahaan yang sering menimbulkan kecurangan dan pelanggaran terhadap etika bisnis adalah sebagai berikut ini : 1. misalnya masalah keuangan. seperti kehilangan pasar. mencegah terjadinya benturan kepentingan satu dengan lainnya. Model manajemennya sendiri korup (KKN). keuangan para pegawai berada dibawah tekanan yang sangat berat. Penempatan pegawai yang kurang mempertimbangkan integritas dan kejujurannya. Itjen Departemen. Untuk membangun dan menciptakan dunia usaha yang sehat. Karena lain sekali pendekatan hukum. 7. (Koncoisme. Hal ini ini dudukung pula oleh bahasan Masyarakat Transparansi Indonesia. dan BEPEKA. Klik-isme) 3. jadi buat pengusaha yang berpikiran jangka pendek sangat sulit sekali memahami etika bisnis ini. Usaha pemberantasan korupsi sebagai isu sentral perlu ditangani secara serius oleh suatu lembaga/badan yang khusus mengingat korupsi mempunyai karakter kompleks. Etika bisnis sangat berkepentingan untuk menyeimbangkan keduanya. sangat diperas tenaganya dan diperlakukan kasar. yaitu keuntungan finansial dengan etika. produk atau jasa yang dihasilkan sudah ketinggalan zaman. diperlakukan buruk. KONDISI INTERNAL PERUSAHAAN YANG BERMASALAH Kondisi masyarakat sangat berinteraktif pula dengan kondisi badan usaha yang melakukan kegiatannya di masyarakat. 4. 5. Perusahaan mengalami saat buruk. atau area bisnis dimana perusahaan itu bergerak.

5. 8. karena uang yang dikeluarkan dari perusahaannya untuk menyogok juga biasanya tidak dibukukan pada pos pembukuan yang sebenarnya.orang-orang yang ada dalam perusahaan. karena melakukan yang bukan semestinya patutlah ditelaah. 6. bingung dan tidak dapat menangguhkan keinginan memuaskan hatinya. Orang yang cerdas (intelligent) cenderung menjadi lebih jujur dari pada orang yang dungu (ignorant). Tidak tahu bagaimana mengelola uang yang ada ditangannya. 9. Orang yang sering mengalami kegagalan cenderung sering melakukan kecurangan. 10. kalau dia instansi. 3. 7. Orang yang berkedudukan menengah atau tinggi cenderung menjadi lebih jujur. 8. sehingga mudah tergerak untuk berbohong. 4. menyatakan adanya 25 alasan. Merasa frustasi atau tidak puas mengenai beberapa aspek dari kehidupan pribadinya tidak ada kaitannya dengan pekerjaannya. Dalam hal ini terbuka peluang untuk penyogok juga mengambil sebagian dari uang yang digunakan untuk menyogok tersebut. sedangkan yang melakukan sogokan. Kehendak berbohong. Berfikir ia benar-benar sangat memerlukan atau mengingini uang atau barang yang ia curi. 7. akan mendorong orang melakukannya. Merasa frustasi atau tidak puas mengenai beberapa aspek dari tempat kerjanya. Yakin bahwa dia lolos.A dan Robert J. prihatin dan rasa tersiksa) akan lebih mempunyai rasa melawan terhadap godaan untuk berbuat curang. Orang yang memiliki hati nurani (mempunyai rasa takut. Pendapat lain lagi yang menguraikan bagaimana seseorang berbuat curang. yaitu : 1. cenderung berbuat curang. Linquist B. Jack Bologna B. Praktek-praktek seperti ini kerap terjadi dalam dunia bisnis. diungkapkan oleh G. Berfikir orang lain melakukan penyimpangan mengapa saya tidak. Merasa disalah gunakan oleh atasannya dan ingin membalas dendam. 2. 4. sehingga selalu bocor dan . Berfikir : "Ah ini kan begitu besar.B. maka cenderung juga untuk menjadi koruptor. Masing-masing individu mempunyai kebutuhan yang berbeda dan karena itu menempati tingkat yang berbeda. Comm. Penerima sogokan atau koruptor menerima sesuatu yang bukan haknya. berlaku curang atau menjadi pencuri. Orang yang tidak disukai atau tidak menyukai dirinya sendiri cenderung menjadi pendusta. main curang dan mencuri akan meningkat apabila orang mendapat tekanan yang besar untuk mencapai tujuan yang dirasakannya sangat penting. Gwynn Nettler dalam bukunya Lying. Orang yang hanya menuruti kata hatinya. 3. 9. 5. berbohong atau mencuri dalam melaksanakan pekerjaannya. 2. 6. Perjuangan untuk menyelamatkan nyawa mendorong untuk berlaku tidak jujur. Kesempatan yang mudah untuk berbuat curang atau mencuri. Cheating and Stealing memberikan kesimpulan tentang sebab-sebab seseorang berbuat curang. diambil sedikit kan tidak akan ada bekasnya". CA dalam bukunya yang berjudul Fraud Auditing and Forensic Accounting. Gagal mempertimbangkan konsekwensi yang harus dicapai. Dalam hal ini maka perilaku korupsi yang termasuk perilaku melakukan kecurangan. yaitu : 1.

Pada masa kanak-kanak kehilangan perlakuan ekonomis. disamping oleh keadaan sosial masyarakatnya. Merasa tidak didorong untuk mendiskusikan masalah pribadi atau masalah keuangan sewaktu bekerja atau mencari nasihat dan berkonsultasi dengan pimpinan mengenai masalah tersebut. Melihat bahwa banyak orang yang tertangkap melakukan penyimpangan karena kebetulan saja bukan karena hasil audit atau hasil pola pengamanan. sehingga setiap orang tergoda untuk mencuri. 23. 25. sosial atau berbudaya. Kalau atasan berbuat curang mengapa mereka tidak berbuat serupa. Setiap pelanggaran mempunyai kondisi yang mendahuluinya sendiri dan setiap pelanggaran mempunyai alasannya. Oleh karena itu perasaan takut tertangkap bukan alat pencegah untuk melakukan penyimpangan. penggelapan dan pencurian di satu organisasi lebih menonjol dibandingkan dengan organisasi yang lain. Berpendapat bahwa melanggar karena alasan kemanusiaan dan hayalannya membenarkan. 20. 14. yang harus mendasari pelaksanaan bisnis di Indonesia . Yakin bahwa seorang teman ditempat kerja telah menjadi korban penghinaan atau penyalah gunaan atau telah diperlakukan secara tidak adil. Terus terang malas dan tidak mau bekerja keras mencari penghasilan untuk membeli yang ia inginkan atau yang ia perlukan. 10. Cenderung menipu atasannya. menyalahi atau menggelapkan. Merasa bahwa merusak organisasi adalah tantangan dan bukan malah keuntungan ekonomi semata-mata. 17. Merasa tidak akan dihukum oleh atasannya sekedar mencuri. Tempat bekerja mempunyai organisasi pengendalian intern yang sangat lemah. Dengan demikian maka untuk menekan terjadinya tindak kecurangan dalam berbisnis. Mengkompensasikan kehampaan yang diderita dalam kehidupan pribadinya dan ia memerlukan cinta. Tidak memiliki pengendalian pribadi (self control) dan ingin keluar dari tekanan. baik secara intern maupun terhadap masyarakat bisnis dan masyarakat luas maka perlu ditegakannya etika bisnis yang benar. tidak punya etika dan tidak punya semangat. 19.siap dicuri. Dalam praktek sehari-hari sering ditemui bahwa kecurangan. 15. Melihat tak seorangpun dihukum karena melakukan penyimpangan didalam organisasinya. 13. Etika adalah prinsip moral atau nilai. 18. Untuk mengatasi berbagai persoalan yang dikemukakan diatas. kasih sayang dan sebuah persahabatan. Kajian yang lebih mendalam ternyata hal-hal itu disebabkan secara intern oleh gaya manajemen. 21. 22. 16. 11. 12. 24. seharusnya kita memulai bisnis dengan dasar etika yang baik. maka kajian yang perlu sekali di sampaikan kepada masyarakat bisnis Indonesia adalah. Berpendapat bahwa atasannya juga tidak bermoral. Berpendapat manusia itu lemah dan cenderung mudah berbuat dosa. Berpendapat bahwa pelanggaran adalah gejala situasi (situational phenomena).

4. berlaku sama terhadap orang lain. menerima tanggung jawab pengambilan keputusan. 7. tindak merintangi orang lain. 3. mengembangkan dan memelihara tingkat kompetensi yang tinggi. 1. Menaati hukum. bersikap melayani orang lain. Bersikap benar. langsung. menunjukan komitmen terhadap keadilan. berani dan bertindak dengan dorongan penuh. dan hak atas setiap orang. menghindari penyembunyian informasi jika tidak diperlukan. Ketanggung-gugatan. Menjadi warga yang bertanggung jawab. tulus. memberi pertolongan jika dibutuhkan dan tidak merugikan orang lain. 2. dan bertanggung jawab . harus mampu menjaga kemampuan membuat pertimbangan profesional dengan berusaha menghindari pengaruh buruk dan konflik kepentingan. Menunjukan penghargaan atas kemuliaan manusia.. . melaksanakan semua hakhak dan tanggung jawab demokrasi melalui partisipasi (pemungutan suara dan pengungkapan pendapat). bersikap memberi. Mematuhi janji. dan negara. tidak menipu. memakai proses demokrasi secara terbuka dalam pengambilan keputusan. tidak memperdayai dan tidak melenceng. berbagi rasa. memberikan informasi yang dibutuhkan orang lain untuk membuat keputusannya sendiri. klien. menerima dan bertoleransi terhadap perbedaan. memenuhi janji. jika hukum tidak adil proteslah secara terbuka. personalitas. Berupaya menjadi yang terbaik dalam setiap hal. atasan. 5. 10. dan berbelas kasihan. tidak mengintrepretasikan perjanjian secara tidak masuk akal baik hal teknis maupun masalahnya dalam rangka merasionalkan tindakan-tindakan yang menyimpang. atau bertindak menuruti hawa nafsunya. tidak bermuka dua. Menghargai orang lain. tidak mencuri. 6. memberi dan menerima informasi dengan baik. kesadaran sosial dan pelayanan masyarakat. adil. dan kalau memang diperlukan mau mengubah pendirian. melaksanakan seluruh tugas sesuai kemampuan terbaik. Bersikap jujur dan loyal kepada keluarga. Loyalitas. Bersikap adil dan pikiran terbuka. Bersikap penuh kepercayaan. terhormat. berniat menghapus kekeliruan. tidak berbohong. Bersikap bertanggung jawab. Mencapai yang terbaik. atau membenarkan suatu filosofi tanpa memperhatikan prinsipnya. teman. hati terbuka. baik hati. Bersikap peduli. jika berada dalam posisi memimpin atau memiliki otoritas. dalam konteks profesional. Tidak mengungkapkan informasi rahasia. masuk akal. Integritas. tidak melakukan hal-hal yang tidak berharga . 9. berpegang pada surat perjanjian. mematuhi komitmen. dalam memenuhi tanggungjawab perorangan dan profesional. jernih. 8. bersikap rajin. Kepedulian pada orang lain. tidak selalu memperhitungkan biaya. Kejujuran. dan menjamin bahwa setiap orang mempunyai semua informasi yang dibutuhkan untuk membuat pilihan yang tepat dan melaksanakan hak-hak mereka. Bersikap berprinsip. Keadilan. tidak memanfaatkan kesalahan orang lain untuk mendapatkan keuntungan. Bersikap ramah dan wajar.

individu akan menghindari hasil kerja yang tidak memadai.memahami lebih dulu konsekuensi tindakan. • Para pemilik saham dan pemodal. Bila ada kecurangan. sehat dan prudent. dan dalam meberikan contoh pada orang lain. pelayanan. citra. Orang tua. baik secara individual maupun secara kelompok. Berdasarkan permasalahan – permasalahan industri perbankan Indonesia saat ini. kepercayaan. Kita juga perlu mendorong bangsa membangun sistem ekonomi. untuk melindungi dan meningkatkan integritas dan reputasi keluarga. masyarakat harus berani dan bisa melakukan langkah-langkah koreksi dengan mengungkapkan pada yang berwenang. Pemberdayaan masyarakat. tidak merugikan orang lain. profesi dan pemerintah. Meliputi juga keuntungan yang berjangka panjang. perusahaan. Pelaku yang ingin maju ikuti aturan main yang jelas. Keuntungan yang dicapai juga meliputi non financial profit. RUMUSAN KEY SUCCESS FACTOR Bila kita mencoba mengambil contoh pada sektor perbankan maka kedepan. para profesional. bisnis sebagai suatu usaha yang ada dimasyarakat memerlukan pemuasan kepada semua pihak naik ekstern maupin intern. maka key success faktor dapat dirumuskan misalnya sebagai berikut : . secara etis. pelaksanaan. sosial dan politik yang lebih baik dan lebih demokratis. Menjadikan hukum yang supermasi diatas kekuasaan. tanggung jawab sosial. Dengan demikian. yang harus dicapai dengan cara-cara baik. adil. Etika bisnis yang sehat dibangun untuk memuaskan kepentingan semua pihak dengan caracara yang baik dan santun. tidak curang. atasan. Masyarakat sekitar perusahaan dan secara ridak langsung masyarakat luas. tentunya akan menjalin hubungan yang baik pada semuanya. mutu. ini juga perlu dikembangkan dalam ranga sasaran etika bisnis. • Berbagai kelompok manajemen yang tak tergolong manajemen puncak. agen dan pengecer. • Para karyawan. dan pegawai negeri mempunyai kewajiban khusus untuk memberikan contoh. disamping di sektor riil perlu sehat dan beretika maka perlu dibangun bank-bank yang baik. integritas moral. moral. rasional dan obyektif tanpa mengandalkan KKN. • Sedangkan yang bekepentingan dan berada dalam organisasi perusahaan . • Pembeli atau konsumen. Upaya penyebarluasan pemahaman. guru. penghayatan terhadap pemasyrakatan etika bisnis ini perlu dilakukan dengan luas diseluruh tanah air. seperti LSM dsb. • Distributor. bahwa bisnis adalah profit making activity. Pihak-pihak yang berkepentingan di luar organisasi : • Pemerintah. • Lembaga Keuangan dan Perbankan • Pemasok. SASARAN ETIKA BISNIS Sasaran etika bisnis adalah membangun kesadaran kritis pelaku bisnis. dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk mencegah perilaku yang tidak memadai.

Disisi lain harus mencerminkan kebutuhankebuhan yang diinginkan oleh nasabah". penggalian isu dari bawah perlu diperhatikan sehingga feed back atas pelaksanaannya dapat diperoleh dalam rangka penentuan visi pada periode berikutnya. yaitu mengindikasikan mengenai apa yang harus dilakukan dalam hal ini adalah pemerolehan keuntungan dari pemenuhan kepuasan nasabah. misi lebih specifik lagi. Stemper. Selain visi merupakan petunjuk arah akan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Bank. Disamping dia juga menyebutkan bahwa "hampir sebagian besar aspek perencanaan strategis berfokus pada pemasaran. • Drs. Seperti yang dikemukakan di atas bahwa : • Kepuasan yang didapatkan oleh nasabah. terdapat beberapa bank yang di tutup atau . visi dan misisi harus dikomunikasikan kepada semua pihak dan dalam pembuatannya harus memperhatikan kondisi lingkungan. Untuk itu. 2. Selain itu dia juga mengungkapkan bahwa "Jika visi merupakan gambaran umum bagimana kondisi bank pada periode mendatang. Dengan adanya kejelasan arah tersebut akan menimbulkan terjadinya kesepahaman dan komitmen dari pihak stake holder dan nasabah dalam pengelolaan suatu bank karena meningkatkan nilai moral dan hazard dari beberap pihak.1. Hal ini didasarkan atas pengertian bahwa pasar perbankan merupakan suatu hubungan antara golongan nasabah dengan kelompok produk dan jasa-jasa yang ditawarkan oleh perbankan". Akan tetapi terdapat beberapa implikasi dari misi yang akan diekspliotasi. • Disisi lain sebagai akibat krisis perbankan. Karena visi tersebut merupakan petunjuk arah atau merupakan gambaran bagimana kondisi dan bentuk bank di masa yang akan datang. Sukristono. Disamping itu pembuatan misi harus dititik beratkan pada kepuasan nasabah dan besarnya keuntungan perusahaan (bank) yang akan dicapai. Dengan visi yang jelas yang diterjemahkan dalam misi tentunya akan men-drive bank kearah yang sehat. terdapat tujuh faktor kritis yang harus diperhatikan dalam Consumer Banking disebutkan bahwa "Penetapan visi dari menejemen puncak sangat dibutuhkan. Adanya visi dan misi Seperti yang dikemukakan oleh Robert G. logistik dan lainnya hanya bersifat sebagai faktor pendukung. Kegiatan – kegiatan lainnya seperti keuangan. Stemper dalam bukunya Consumer Banking Strategy. yang menyebutkan bahwa "Customer interaction is the key to the business ". juga mengungkapkan bahwa "Masalah intern bank yang lainnya pada saat ini adalah masalah sistem penyampaian produk dan jasa bank kepada nasabah". Ketepatan pemilihan bentuk. jumlah jaringan bank. sumber daya manusia. dimana hal ini akan secara langsung dapat menjamin perkembangan bank yang wajar dan sehat. terletak pada saat mereka berhubungan/berinteraksi dengan bank pada saat melakukan transaksi sebagimana diungkapan oleh Robert G. Dengan demikian akan terjadi sutau proses yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak. Ungkapan tersebut menunjukan bahwa visi dan misi manajemen bank merupakan salah satu faktor yang dibutuhkan untuk perkembangan suatu bank. Misi merefleksikan what the customer is buyingsatisfaction-and seguests that this won‟t happen in free economy unless the suplier makes a profit.

Tentunya besarnya jumlah jaringan akan memperluas span of controlnya. letak ) atau tingkah laku nasabah dalam bertransaksi dan dalam batas control yang memadai. dalam pengelolaan suatu bank. dimana perubahan peraturan di industri perbankan terjadi dengan cepat dan disisi lain bank harus lebih menfokuskan pada nasabah bukan hanya pada peraturan. 3. Mengingat hal ini sangat mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat (terutama deposan) pada bank tersebut dan perkembangan bank pada periode berikutnya. Tingkat kesehatan Seperti yang kita ketahui bahwa bank merupakan salah satu lembaga penghubung (intermediere) antara unit surplus dan defisit. Jadi dapat dikatakan bahwa ketepatan pemilihan bentuk. Sehingga kondisi keuangan/kesehatan suatu bank dapat tercermin pada laporan keuangannya dan pada akhirnya mempengaruhi opini masyarakat akan kondisi bank tersebut yang bertindak sebagai control sosialnya. Merchant dll) harus disesuaikan dengan kondisi (jumlah. Mengingat bank akan ditinggalkan para nasabahnya apabila kebutuhannya tidak terpenuhi. penutupan bank . pihak manajemen bank harus melakukan inovasi dalam memenuhi kebutuhan nasabahnya. Adanya inovasi tepat guna dan berhasil guna Seperti yang diungkapkan oleh Robert G. kantor kas. Stemper bahwa "survival requires innovations. Sedangkan disisi lain tingkat kompetisi di dunia perbankan yang sangat tajam. tingkat kesehatan bank merupakan salah satu kunci sukses. Sedangkan disisi lain. mengingat nasabah lebih berpengalaman dan mempunyai sifat menuntut". dapat dikatakan fungsi jaringan merupakan salah satu alat dalam memuaskan kebutuhan nasabah. letak dan jumlah jaringan merupakan salah kunci sukses suatu bank pada saat ini. Sehingga pola pelayanan dan operasinya dapat memuaskan kebutuhan nasabah. Disisi lain tingkat pengetahuan nasabah terhadap kondisi perbankan semakin meningkat dan adanya penerapan prinsisp keterbukaan oleh pemerintah atas kondisi keuangan suatu bank. . Apabila terjadi perubahan akan berakibat berubahnya lingkungan bisnis yang secara langsung akan merubah keinginan nasabah. dalam hal pemberian ijin pembukaan cabang/jaringan. cabang pembantu.dibekukan usahanya dan terdapat beberapa bank yang menutup jaringannya karena proses restrukturisasi dalam usaha efisiensi. Berdasarkan hal tersebut. Oleh karena itu ketepatan pemilihan bentuk. yang pada akhirnya menambah nilai ATMR berikut risiko lainnya. merupakan suatu tantangan tersendiri yang harus dijawab oleh manajemen bank dewasa ini. ATM. Dengan demikian. Disisi lain tingkat kesehatan bank juga sangat menentukan dalam perkembangan operasi perbankan pada periode berikutnya. peningkatan status operasional perbankan dan keikut sertaan dalam proses kliring serta kegiatan-kegiatan lainnya yang diatur dalam Peraturan Bank Indonesia. 4. perlu disadari bahwa pengadaan jaringan tidak terlepas dari besarnya nilai investasi yang akan ditanamkan. mendatangkan keuntungan dan dapat meminimalkan tingkat resiko yang akan terjadi. jumlah dan letak akan jaringan (cabang. Sehingga untuk menjawab tantangan tersebut. dimana dalam pengelolaannya tidak terlepas dari derajat kepercayaan para nasabah kepada bank.

jika menginginkan bank tersebut berkembang dengan baik. sehingga nasabah memeproleh kepuasan dan adanya keuntungan bagi bank. karena memperbesar nilai feed back dan input dari design sistem yang telah ada serta adanya temuan-temuan bisnis yang baru. unit khusus yang menangani tersebut perlu dibentuk dalam struktur organisasinya atau yang lebih di dengan sebutan R& D. sosial. Oleh karena itu pengusaan dan aplikasi tehnologi informasi sangat mutlak dibutuhkan. 6.Agar supaya manajemen inovasinya berjalan dengan baik. terutama dalam kecepatan pemberian informasi baik yang bersifat keuangan maupun yang bersifat non keuangan. kebijakan-kebijakan pemerintah. perkembangan lingkungan eksternal bank (ekonomi. Hal ini dimaksudkan agar supaya kebutuhan nasabah dan kebutuhan internnya dapat terpenuhi. Disisi lain keuntungan yang diperoleh adalah kegiatan operasi perbankan dapat berjalan dengan efektif dan efisien serta dapat diterapkannya manajemen control yang baik. • Menimbulkan tingkat inovasi. Stemper yang menyebutkan bahwa "elemen manusia yang berupa contact staff yang merupakan variabel terpenting yang mengakibatkan adanya keuntungan dan terpenuhinya kepuasan". Mengingat dengan adanya sumber daya manusia yang terlatih dan terpercaya : • Dapat mempermudah menjalin hubungan dengan nasabah. Keputusan-keputusan yang diambil oleh manajemen bank dalam rangka menjalin hubungan dengan nasabah berjalan dengan cepat dan tepat karena didukung oleh data financial dan non financial yang akurat. akan menimbulkan adanya competitive advantage dan dapat menciptakan image tersendiri bagi para nasabahnya yang pada akhirnya merupakan salah satu penujang dari perkembangan bank yang sehat dan wajar di masa mendatang. Peranan tekhnologi tak kalah pentingnya dalam kehidupan suatu masayarakat dan khususnya dunia perbankan. Hal ini sesuai dengan apa yang di ungkapkan oleh Robert G. Dengan demikian inovasi yang dibuat dapat diaplikasikan dalam arti dapat memenuhi kebutuhan nasabah dan dapat memberikan hasil bagi bank. Dalam dunia perbankan. Mengingat dengan tehnologi tersebut. Penguasan dan Aplikasi Tekhnologi informasi Yang Handal. disamping itu tehnologi dalam dunia perbankan dapat dijadikan sebagai kepanjangan tangan (jaringan) dalam melayani nasabah (ATM & Merchant). politik. perkembangan teknologi dan lainnya) dan kondisi internal bank". • Mempermudah penerapan aplikasi teknologi • Memperkecil terjadinya pemborosan. Sehingga dengan adanya inovasi tersebut. 5. mempermudah pemenuhan kebutuhan nasabah karena adanya pemahamanan akan produk dan dan peraturan yang memadahi. PENUTUP . Seperti yang yang dikemukakan oleh Drs. Sumber daya manusia yang terlatih dan terpercaya Peranan sumber daya manusia yang terlatih dan terpercaya juga penting sekali dalam menunjang kelangsungan hidup suatu bank. akan tetapi juga mencakup penelitian kegiatan dan strategi pesaing. peranan tehnologi sangat besar artinya. sehingga operasi bank dapat berjalan secara efisien. dapat mempermudah dan menjawab kesulitan-kesulitan yang ada dalam kehidupan. Sukristono menyebutkan bahwa " kegiatan R & D ini sesungguhnya tidak hanya mencakup pencarian produk baru dan penelitian pasar.

4/1998 4. • Semua mass media melakukan kampanye dengan iklan pelayanan masyarakat. namun nahi mungkar . Etika bisnis diajarkan sebagai mata kuliah di perguruan tinggi. • Bekerja keras adalah etos kerja positif yang menjadi dasar kesuksesan. Karenanya masalah etika bisnis. Yang diikuti etika dalam bidang lainnya. yang menjadi landasan political will perlu menjadi manadatory agar menjadi dasar bagi langkah-langkah selanjutnya. Apalagi menangkap dan memproses secara hukum terhadap kesalahan bukan perkara yang mudah. Upaya pemasyarakatan Etika Bisnis dilakukan secara nasional dan besar-besaran dengan suatu Kampanye Nasional secara terus menerus. agar semua rakyat Indonesia memahami bahwa perlu dibangun etika bisnis yang benar. Prof. Tawaf . 5. SE . dsb. Jakarta Pusat. 4. yang menyatakan bahwa korupsi itu jahat. 1995 3."Audit Intern Bank" .atau mengajak pada kebenaran relatif lebih bisa dilaksanakan dan tinggal menyerukan serta berkampanye. Dr. Penerbit Salemba ."Persoalan Etika Bisnis Kita" . Siagian. • Dari segi kelembagaan. untuk itu etika beragama bisa dijadikan satu acuan dalam membentuk dan mengembangkannya. 2."Etika Bisnis" . MPA .atau mencegah kemungkaran. unggul yang bermoral maka etika yang baik harus menjadi landasan filosofisnya. Mempersiapkan lahan. Vol. Banyak aspek aspek lain yang terkait.Afkar.Jakarta. Untuk itu perlu langkah-langkah yang simultan. diluaskan ke perusahaan dengan mengkaji masalahmasalah intern perusahaan agar bisa beroperasi dengan etika bisnis yang baik. Juniardi Soewartoyo. 1996 2. Jurnal tigabulanan Cides. 6.Untuk mencapai sasaran dalam penciptaan dunia usaha dan perbankan yang terpercaya. • Adanya trophy penghargaan nasional bagi perusahaan yang mampu melaksanakan etika bisnis dengan baik pada suatu periode tertentu. Kita perlu beretika dalam melakukan bisnis. Pustaka Binaman Persssindo. ini yang jadi masalah.. langkah yang saat ini sedang dilakukan untuk menyempurnakan kelembagaan dengan membuat Komite Independen Anti Korupsi perlu segera dilaksanakan dan ditindak lanjuti."Korupsi. Sonny Keraf . perlu dibasmi dan jangan lakukan. Beberapa Bahan Bacaan : 1. Pola Kegiatan dan Peran Pengawasan dalam Penanggulangannya" Restu Agung. A. 1. Sondang P. Tjukria P. maka sasaran-sasaran antara yang meliputi antara lain menekan dan menghapuskan korupsi menjadi prioriras utama. • Penghargaan bagi orang sukses yang jujur dan beretika 3.buku ke satu dan buku ke dua. Karena etika bisnis mencakupi bidang yang luas. sehat. • Memberikan terapi pada masyarakat. Etika Bisnis dimulai dari individu. dimunculkan orang yang berperilaku jujur menghadapi sogokan sebagai suatu "bintang" yang dipublikasi.V No. dengan menyeret dan menghukum koruptor besar. Upaya pemberantasan korupsi perlu dilakukanan dengan lebih "menggigit" lagi. Upaya pencegahan. Amar ma'ruf . • Dalam satu waktu tertentu. sehingga setiap lulusan perguruan tinggi memahami bahwa etika dalam berbisnis adalah suatu dasar yang pokok bagi pengembangan sukses selanjutnya.

Fritz F. Comm. G.Fraud Auditing and Forensic Accounting ."Menyingkap Kejahatan Krah Putih" . Heimann* 11. 6.Perlunya Badan Anti Korupsi . CA . Marulak Pardede-"Hukum Pidana bank". Linquist B.Jakarta. Info Bank 1997 – 1998 13. Memerangi Korupsi Internasional:. UU Republik Indonesi No. Jakarta 1999 5.Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.Cet. 1995 9. UU Republik Indonesia No 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktrk Monopoli dan persaingan Usaha tidak sehat. BPKP . Cet.28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari KKN 7. Bank Indonesia – Laporan BI 1999 12.1.B.Peranan Masyarakat Bisnis .Empat.A dan Robert J. 1999 8. Adrianus Meliala . 10. Jack Bologna B. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.1 .Suatu Alternatif Upaya Pemberantasan Korupsi Yang Efektif di Masa datang .

Penyebab lain jatuhnya bank-bank-seperti terjadi pada krisis perbankan periode 19971998-adalah banyaknya pemilik bank yang ikut campur tangan dalam operasional bank sehari-hari. Namun. bank run. Bank sentral bukanlah nahkoda dari suatu bank. Saat krisis moneter 1997. sehingga kurang memperhatikan sama sekali aspek manajemen risiko. melainkan pemilik atau pengurusnya. diikuti 38 bank pada 1999. maka kejatuhan sebuah bank bukanlah semata-mata tanggung jawab bank sentral. good governance. puluhan bank ditutup di era 1980-an sebagai dampak merger wave karena tidak mampu lagi bersaing. Nahkoda dari bank tersebut adalah pengurus bank itu sendiri. penutupan bank bukanlah sesuatu yang luar biasa. dan kehatihatian. misalnya 16 bank ditutup. bank juga bisa bangkrut. baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung. Kebangkrutan sebuah bank bisa dipicu oleh berbagai faktor. pemberian kredit yang tidak hati-hati serta praktek bank dalam bank. kita tidak perlu memberikan reaksi yang berlebihan menyikapi kondisi seperti ini. atau aset bermasalah secara signifikan. Bank Global ditutup pada 2005. Penutupan tersebut menimbulkan berbagai komentar maupun kritikan dari masyarakat dan para pakar. beberapa bank kecil juga ditutup di era 1990-an akibat ketatnya persaingan dengan bank besar. penutupan bank dalah hal biasa. Ketua Tim Arsitektur Perbankan Indonesia. sementara di Australia. Bank bisa bangkrut dan harus ditutup kalau kinerjanya buruk akibat naiknya kredit macet. Pada tahun 2004. maupun ketidakpercayaan masyarakat terhadap bank tersebut. Bisa juga kesulitan likuiditas tersebut akibat mismatch dari struktur pendanaan yang lebih bersifat jangka pendek. Pemilik Tak Seenaknya Dengan penjelasan di atas. Dan terakhir.Dibalik Penutupan Bank Oleh Agus Sugiarto Peneliti Bank Eksekutif. Jika kita melihat ke belakang. sedang . Untuk itu. Bank Indonesia Minggu lalu. jelas bahwa pemicu bangkrutnya sebuah bank bisa datang dari bank itu sendiri maupun sebagai dampak dari kondisi ekonomi yang memburuk. Jadi. Di Amerika Serikat. Seperti korporasi-korporasi lainnya. BI mencabut izin usaha Bank IFI karena ketidakmampuan bank tersebut membenahi permasalahan yang dihadapi. Bank Dagang Bali dan Bank Aspac dilikuidasi. Penyebab lain adalah bank tersebut kesulitan likuiditas karena adanya penarikandana secara besar-besaran dalam waktu bersamaan karena terjadinya krisis bersifat sistemik.

Lebih baik mereka merger dengan bank lain. Selain CAR yang cukup. tapi modal intinya hanya Rp 80 miliar atau kurang dari itu. Apa yang bisa kita lakukan adalah meminimalisasi frekuensi kejadiannya dengan berbagai kebijakan. Bank sentral berfungsi untuk mengawasi untuk menjaga kepentingan masyarakat dan melindungi para pengguna jasa bank. kebijakan konsolidasi perbankan yang dikeluarkan BI sejak 2004 harus dilaksanakan bank-bank kecil yang modalnya pas-pasan. Prinsip kehati-hatian harus dijaga. BI sendiri sering menghadapi suatu pilihan yang sulit sebelum menutup suatu bank. Dampak pengumuman seperti ini bisa lebih berbahaya. mana yang boleh dilalui dan mana yang tidak boleh dilewati.fungsi bank sentral hanya sebagai penunjuk jalan saja. Bahwa adanya usulan dari berbagai pihak agar BI mengumumkan saja nama-nama bank bermasalah ke publik. khususnya peningkatan modal minimum. karena bank bermasalah yang sedang dirawat di special surveillance unit (SSU) BI masih jatuh. bank. pemilik bank jangan terlalu menuntut dan memperlakukan bank seenaknya. Kewenangan pemilik maupun pengurus bank tidaklah mutlak karena modal yang disetorkan oleh pemilik rata-rata hanya 20% maksimum dari total dana pihak ketiga yang ada di bank. sangatlah sulit untuk mencegah kejatuhan suatu bank mengingat fungsi kontrol dan givernance-nya tidak sepenuhnya di tangan bank sentral. itu juga bukan hal mudah. agaar modalnya lebih besar dan ketahan kelembagaan lebih kuat. Karena itu. Karena itu. . hal tersebut harus dilakukan agar tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar lagi dengan dampak yang lebih besar pula. khususnya bank-bank kecil juga perlu melihat kembali modal intinya. Tidak selamanya bank yang masuk SSU ternyata mampu disehatkan kembali dan beroperasi normal. maka sudah sewajarnya kalau bank sentral menetapkan aturan yang ketat dengan berbagai macam sanksi kepada bank-bank yang diawasi. Begitu juga pengurus bank. padahal masih dilakukan proses penyehatan. Mengingat pemilik dan pengurus bank mengelola uang masyarakat. Apa yang Harus Dilakukan Menutup sebuah bank tentu bukan sebuah pekerjaan yang mudah. Tapi. Rasio CAR di atas 8%belumlah mencukupi kalau kegiatan usaha bank sangat kompleks dan berisiko tinggi. sedangkan selebihnya yang para deposan yang dititipkan di bank tersebut. apakah sudah di atas Rp 100 miliar atau belum. Penutupan sebuah bank itu melalui proses panjang yang melibatkan banyak pihak terkait serta mahal ongkosnya. Tidak ada artinya suatu bank memiliki CAR 30%. jangan terlalu ceroboh dalam menjalankan kegiatan bank sehari-hari. Karena itu diperlukanm CAR yang lebih tinggi dari 8% sesuai dengan profil risiko dan risk apetitte dari bank tersebut. Ke depan.

Begitu pula bank-bank yang berkinerja baik dan berisiko rendah sudah sepantasnya mendapatkan reward sesuai upaya mereka. Bank yang berisiko tinggi tentunya membayar premi yang lebih besar dibandingkan dengan bank yang berisiko rendah. Ketua Tim Arsitektur Perbankan Indonesia. Bank Indonesia. seperti halnya di AS.  Penulis adalah Peneliti Bank Eksekutif. Mereka tidak boleh menjadi pemilik dan pengurus bank lagi.Kebijakan lain yang perlu dipertimbangkan adalah skema premi penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang dibedakan sesuai profil risiko atau kategori bank. . pemilik dan pengurus bank yang banknya gagal dan terpaksa harus ditutup juga perlu “diistirahatkan” dulu. Di samping itu.

yang dapat dilakukan oleh dan untuk keuntungan bagi organisasi dan atau individu baik di dalam maupun di luar organisasi) Dari definisi ini memperlihatkan bahwa dalam kecurangan ada penyimpangan dan atau tindakan illegal. Artinya ini dapat dilakukan untuk manfaat dan/atau kerugian organisasi oleh orang di luar atau orang lain dalam organisasi.PENTINGNYA BANK MEMILIKI PROGRAM PENCEGAHAN KECURANGAN Kecurangan bermula dari yang kecil. Dia mengartikan kriminal adalah setiap tindakan kesalahan yang serius yang dilakukan dengan maksud jahat. sedangkan pelakunya bisa organisasi atau individu. meskipun pelaku kecurangan dapat menghindari tuntuan kriminal pidana. Bila kecurangan terjadi. Kerawanan terjadinya kecurangan di perbankan sebagai badan usaha sangatlah luas cakupannya. Sehingga bila terjadi kecurangan maka bisa mengikis tingkat kepercayaan berbagai pihak yang berkaitan langsung ataupun tidak langsung dengan bank dan tentunya lebih jauh lagi pada perekonomian. artinya dibalik itu ada pihak yang dirugikan. Kecurangan bisa terjadi dimana saja. Penyebab Kecurangan . kecurangan dalam institusi perbankan dampaknya akan sangat jauh. It can be perpetrated for the benefit of or to the detriment of thr organization and by persons outside as well as inside organizatioan” (Suatu kesatuan penyimpangan dan tindalan illegal yang ditandai dengan penipuan yang disengaja. maka fungsi intermediasi bank menjadi terganggu. kemudian membesar dan pada akhirnya akan mencelakakan bank. karena dasar bekerjanya bank adalah kepercayaan. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa kecurangan ini adalah suatu penyajian yang palsu atau penyembunyian fakta yang material yang menyebabkan seseorang memiliki sesuatu secara tidak sah. The Institute of Internal Auditors (IIA) mendefinisikan kecurangan sbb. Bila terjadi dalam frekuensi dan volume yang besar maka tentunya tujuan pencapaian sasaran kerjanya akan sulit bisa dicapai. “An array of irregulation and illegal acts characterized by intentional deception.Wells dalam bukunya The Accounting‟s Handbook of Fraud and Commercial Crime. Fraud is criminal deception intended to financially benefit the deceiver (Kecurangan adalah penipuan kriminal yang bermaksud untuk memberi manfaat keuntungan pada si penipu) G. Namum pengartiannya tidak dilakukan secara ketat seperti dalam arti hukum. Dengan demikian. penipuan yang disengaja yang menguntungkan individu maupun organisasi. Untuk itu perlu ada semacam program yang terstruktur serta tertata baik menekan praktik kecurangan. Tujuan utamanya mencegah dan mendeteksi kecurangan serta melakukan langkah penyelamatan dari kerugian yang tidak diinginkan. dan menyalurkannya kepada masyarakat. tindakan ini dipertimbangkan tetap sebagai kriminal. mengingat usahanya menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan.Lindquist & Joseph T.Jack Bologna J.

jelek sistem pertanggungjawabannya. Berbagai pihak di bank dapat melakukan kecurangan baik pemegang saham. . atau selalu dalam tekanan hal ini akan menimbulkan dorongan untuk tumbunya ketidak jujuran. Apabila seseorang ditempatkan dalam lingkungan yang rendah integritasnya. yang dapat merugikan bank dan kepentingan masyarakat. appraisal dan konsultan. Mengingat luasnya kemungkinan pihak-pihak yang bisa melakukannya. yang secara langsung atau tidak langsung juga mewakili kepentingan pribadinya. maka signal bahaya sudah didepan mata. PencegahanPencegahan kecurangan dimulai dari suatu pendapat bahwa tidak semua orang dapat berlaku jujur dan ini adalah merupakan suatu kenyataan dalam kehidupan ini. pengesahan/otorsasi. yang pada akhirnya menjurus kepada penyimpangan. baik “on” maupun “off” balance sheet · Tidak ada atau gagalnya fungsi struktur dan kunci pengendalian. · Tidak memadainya atau tidak efektifnya program audit dan kegiatan pemantauan terutama dalam identifikasi dan pelaporan kelemahan dalam pengendalian permasalahan bank Kecurangan yang terjadi di bank salah satu penyebab utamanya justru faktor sumber daya manusia di sektor perbankan itu sendiri. luas serta terorganisir. lemah kontrolnya. · Tidak berjalannya komunikasi/arus informasi kepada pengurus mengenai permasalahan yang terjadi. verifikasi dan kaji ulang atas kinerja bank. nasabah. menyebutkan penyebab terjadinya fraud (kecurangan). pegawai.Bank For International Settlements (BIS). Sebagai contoh para pemilik bank yang cenderung memanfaatkan bank untuk kepentingan grup usahanya. Selain itu. · Kurang memadainya pengawasan dan akuntabilitas dari pengurus bank serta kegagalan mengembangkan budaya pengendalian yang kuat · Tidak memadainya identifikasi risiko dan penilaian atas risiko dari kegiatan bank. kerugian dan permasalahan bank. Nah. pengurus bank juga cenderung mengutamakan atau mengakomodasi kepentingan pemilik bank. serta pemisahan fungsi. auditor intern. khususnya penyimpan dana. kontraktor. akuntabilitasnya. maka konsep membangun system pengendalian yang handal dalam semua kegiatan menjadi satu hal yang teramat penting. auditor ekstern maupun pihak lain seperti. kalau saja penyebab itu sudah ada dan pelakunya mungkin dari berbagai kalangan di bank. Dia bisa melakukannya sendiri-sendiri. terutama disebabkan . dalam kelompok yang kecil bahkan mungkin dilakukan dengan kelompok yang besar. pengurus. Bahkan seorang yang sebenarnya jujur sekalipun bila dia ada ditengah-tengah organisasi yang memberinya banyak kesempatan untuk bisa berlaku curang maka ini akan menyeret dirinya pada suatu kultur tersebut. yang melakukan praktik-praktik perbankan yang menyimpang atau melanggar ketentuan yang berlaku. baik yang bersifat pidana maupun perdata.

Orang tersebut pada umumnya suka berjudi.B1. Dari hasil studi di Amerika Serikat (John Kula. Kemantapan lingkungan pengendalian mencegah ketidak jujuran karyawan dan merupakan dorongan untuk mencegah kecurangan. “ Prosecution of White – Collar Crime Rising. as quoted in Jerrr Thomas.) terungkap bahwa 31% dari orang Amerika tidak jujur.Menciptakan kultur kejujuran. mentalitas yang buruk. Wawancara ini tentunya diharap bisa mengungkap bila terjadi kebohongan latar belakang yang diberikan para calon nasabah ataupun karyawan. Sebagai contoh bank-bank saat ini yang sudah melakukan penyaringan calon nasabah ataupun calon karyawannya misalnya dengan meneliti problem kreditnya dan kinerjanya. Empat faktor untuk pencegahan kecurangan adalah sangat krusial untuk menciptakan suatu kultur kejujuran. keterbukaan dan saling membantu. mempunyai masalah keuangan. suka minumminum atau mempunyai problem kriminal. Beberapa perusahaan telah melakukan pelatihan untuk bisa melakukan wawancara dengan melakukan cross-check terhadap berbagai latar belakang seseorang yang diperoleh dari berbagai sumber tersebut. temperamen yang tak terkontrol. pemalsuan tingkat pendidikan. 30% jujur secara situasional saja dan hanya 41% yang benar-benar jujur pada setiap keadaan. catatan kriminal yang pernah dilakukan. maupun melalui sistem informasi credit card. keterbukaan dan saling menolong dalam kebaikan. (3) Menyebarluaskan pemahaman terhadap kode etik . organisasi perlu kreatif dalam proses penyaringan.” Chicago Tribune. Langkah lain yang bisa dilakukan adalah menginventarsir sidik jari seluruh karyawan dan nasabah dan menyimpannya dalam database yang selanjutnya bisa digunakan bila diperlukan dan jika terjadi persoalan yang berindikasi kriminal. Orang-orang seperti ini secara umum mempunyai masalah potensial . keburukan rating kreditnya dan kinerjanya. Director of Fraud and Service Consulting for Arthur Anderson. Sehubungan dengan hal tersebut. 1991. Juga test terhadap tulisan tangan seseorang kerap kali digunakan sebagai salah satu caranya. Dalam hubungan ini maka untuk membangun organisasi yang kuat memerlukan suatu kebijakan skrining yang baik bagi para karyawan. Hal ini meliputi : (1) Menempatkan orang-orang yang jujur dan terpercaya serta melakukan pelatihan tentang kesadaran bahaya kecurangan. setidaknya bisa mengindikasikan bahwa kejujuran orang seharusnya dibangun dari awal. June 10. Studi ini juga memperlihatkan 25% dari kecurangan yang terjadi dilakukan oleh karyawan yang sudah bekerja 3 tahun atau lebih. (4) Melakukan program bantuan bagi karyawan (Employee Assistance Programs) Menempatkan Orang-Orang yang Jujur dan Terpercaya serta Melakukan Pelatihan Tentang Kesadaran Bahaya Kecurangan. baik melalui sistem informasi nasabah di bank sentral. Walaupun data tersebut bukan terjadi di Indonesia. ketergantungan pada obat terlarang dan peminum. p. Diharapkan hal ini bisa mengungkap juga problem-problem antara lain ketidak puasan karyawan. (2) Menciptakan lingkungan kerja yang positif . Di Amerika bahkan banyak organisasi yang menyewa private investigators untuk meneliti latar belakang seseorang.

Hal ini perlu untuk membangun kesadaran kritis. yang harus dicapai dengan cara baik. keterbukaan dan saling membantu tak mungkin tercipta tanpa adanya kode etik dan kepatuhan pada kode etik tersebut. mutu. Lingkungan kerja yang positif tidak terbentuk secara otomatis. Membangun Kode Etik. Ekspektasi diklarifikasikan dan ekspektasi yang sudah clear bisa menekan kecurangan. keterbukaan dan saling membantu tanpa menciptakan lingkungan kerja yang positif. tanggung jawab sosial. kalaulah dia memahami apa keinginan dari perusahaan. Meliputi juga keuntungan berjangka panjang. Adalah tidak mungkin menciptakan kultur kejujuran. Rumusan kode etik menggambarkan apa yang baik dan dapat dilakukan serta yang apa yang tidak baik dan jangan dilakukan. Keuntungan yang dicapai juga meliputi non financial profit. Ini merupakan sumber dari strategi. maka dia tidak melakukan kecurangan. problem dan alasan para karyawan. Apabila dia menyimpannya sendiri dia kehilangan kesempatan yang tepat untuk melakukan tindakan dan konsekwensinya dia bisa melakukan tindakan yang salah. Para karyawan secara periodik harus membaca dan menandatangani kode etik perusahaan tidak hanya untuk mendorong kembali pemahamannya tentang apa makna yang patut dan yang tidak patut. Institut Bankir Indonesia telah memberikan suatu dasar bagi para anggotanya dalam “Kode Etik Bankir Indonesia” yang bisa menjadi acuan awal dari setiap . Literatur tentang membangun moral mengatakan bila kita ingin orang-orang berlaku jujur. citra. Kebijakan pintu terbuka akan menolong para manajer dan lain-lainnya untuk memahami tekanan. Kebijakan pintu terbuka yang positif terhadap karyawan serta kepatuhan pada sistem dan prosedur merupakan dorongan bagi organisasi untuk melawan kecurangan. tidak curang. Misalnya. integritas moral. pelayanan. tapi juga menegaskan bahwa hal ini penting bagi perusahaan. Sebagai contoh. Sebenarnya banyak orang yang punya komitemen untuk melawan kecurangan namun dia tidak punya tempat kepada siapa dia mengadu dan meyampaikannya. kepercayaan. bahwa bisnis bank profit making activity. Selanjutnya perlu adanya code of conduct yang merupakan aturan tingkah laku yang merupakan statement dari filosofi bank haruslah menjadi dasar dari segenap perilaku dalam pengelolaan bank. dia harus diolah dan dibangun. bila ada pernyataan karyawan “Saya hanya meminjam uang ini sementara saja”. Perusahaan yang berhasil mencegah kecurangan perlu mempunyai label program untuk itu dan biasanya diberi nama “kode etik”. kita harus membentuk kebiasaan dengan model tersebut. tidak merugikan orang lain. Kultur kejujuran. cara dan langkah kerja bank. namun dia akan mengajukan pinjaman yang memperoleh persetujuan sebagaimana seharusnya.untuk melakukan kecurangan dan sebaiknya tidak masuk dalam lingkungan aktivitas organisasi. moral. Pemahaman para manajer terhadap hal ini merupakan suatu langkah secara proaktif untuk mencegah kecurangan. Menciptakan Lingkungan Kerja yang Positif. Kebijakan pintu terbuka untuk pencegahan kecurangan mempunyai dua jalan. Pertama. Kedua.

Namun hal ini . perjudian. namun karena pinjamannya sudah melampaui limit. 1. Tidak menyalahgunakan wewenangnya untuk kepentingan pribadi 5. Program bantuan bagi karyawan ini utamanya menghadapi masalah seperti. maka fikiran negatifnya terbuka untuk mendebet rekening tersebut sementara dialihkan ke rekening pribadinya dengan alasan menyelematkan pendidikan anaknya. Melihat pos-pos yang sering lambat direspons. Tidak menerima hadiah atau imbalan yang memperkaya diri pribadi maupun keluarganya 9. apabila tidak tertangani secara baik dengan suatu program yang baik akan menjadi potensi kecurangan terjadi. Memperhitungkan dampak yang merugikan dari setiap kebijakan yang ditetapkan banknya terhadap keadaan ekonomi. Orang yang tertekan seperti ini bisa terdorong melakukan kecurangan. Seorang karyawan bank tengah menghadapi kesulitan keluarga pada akhir tahun ajaran baru yang harus memasukan 3 orang anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Pekerjaan sehari-harinya adalah melakukan rekonsiliasi pos-pos rekening sementara antar kantor yang terbuka. Dia telah mengajukan permintaan kepada manajemen HRD bank-nya untuk memperoleh pinjaman. Melakukan pencatatan yg benar mengenai segala transaksi yang berkaitan dengan banknya 3. Salah satu elemen dari terjadinya kecurangan adalah adanya tekanan (pressure). penyalah gunaannya terhadap minuman keras atau obat-obatan. Sebagai contoh . kesulitan pengaturan keuangan. kesehatan. keluarga dan problem yang bersifat pribadi. maka permohonannya diolak. Menghindarkan diri dari persaingan yang tidak sehat 4. Tidak melakukan perbuatan tercela yang dapat merugikan citra profesinya Melakukan Program Bantuan Bagi Karyawan (Employee Assistance Programs). Menjaga kerahasiaan nasabah dan banknya 7. Ini membutuhkan biaya besar padahal sumber–sumber keuangannya sudah sangat terbatas. Masalah-masalah seperti banyak terjadi di dalam suatu organisasi. sosial dan lingkungan 8.bank untuk membuat aturan tingkah laku bagi banknya yang lebih teknis dengan penyesuaian sesuai kultur banknya masing-masing. Patuh dan taat pada ketentuan dan perundang-undangan dan peraturan yg berlaku 2. Menghindarkan diri dari keterlibatan dalam pengambilan keputusan dalam hal terdapat pertentangan kepentingan 6.

Detterance consists of those actions taken to discourage the perpetration of fraud and limit the exposure if fraud does occur. seringkali keluar masuk pub dan restoran mewah serta gaya hidup yang “wah”. Contoh lain adalah. Caranya bekerja sama dengan nasabah yang mengajukan permohonan kredit. . Tujuan utamanya adalah mencegah dan mendeteksi kecurangan serta melakukan langkah penyelamatan dari kerugian yang tidak diinginkan. responsibilitas dan akuntabilitas untuk pencegahan dan mendeteksi kecurangan serta langkah recovery atas kerugian dan harus jelas didefinisikan serta dikomunikasikan kepada semuanya level. yang pergaulannya memang sangat “high class” dan tidak sesuai dengan tingkat pendapatannya. dan prosedur program memberantas kecurangan. Kondisi ini mendorong dia melakukan kecurangan dengan memanfaatkan kelemahan dalam lingkungan kerjanya di bank. account officer. perhitungan kredit maupun agunan. Untuk menekan praktik kecurangan seharusnya ada semacam program yang terstruktur serta tertata baik. Standar ini meliputi adanya . Dia terpaksa melakukan konsumsi yang jauh dari kemampuannya. Untuk itu dia memperoleh imbalan. Dibawah ini diuraikan metode pencegahan kecurangan yang setidakmya menekan terjadinya kesempatan tersebut. merasa adanya “kesempatan” dan adanya “alasan” untuk melakukannya. Organisasi: Adanya aturan. The Institut of Internal Auditors menjelaskan tentang standar kecurangan sebagai contoh adalah sbb.berkelanjutan. seperti pakaian mahal. The principle mechanisem for deffering fraud is control. Melaksanakan Internal Control yang Baik. Primary responsibility for establishing and maintaining control rests with management. Bila ketiga hal ini telah ada secara bersamaan maka pintu kesempatan kecurangan sudah bisa terjadi. Untuk mencapai tujuan ini. melaksanakan. seorang karyawan bank. mobil mewah. diperlukan adanya standar yang harus dipahami dan dipatuhi oleh segenap manajemen dan karyawan. Suatu cara terbaik untuk untuk menekan kemungkinan terjadinya kecurangan adalah menerapkan sistem control yang baik. merasa adanya “tekanan”. sehingga menjadi suatu jumlah yang besar. Tujuan berikutnya adalah untuk membantu manajemen untuk mencapai target finansial dan tujuan banknya dengan membantu menekan pemborosan. selanjutnya bisa memberi kontribusi dengan menaikan harga saham bagi bank-bank yang go-public melalui perbaikan sistem untuk melawan kecurangan. Dia menjamin bahwa permohonan kredit nasabah ini pasti disetujui dan melakukan berbgai cara mark-up data. Menekan Kemungkinan Kecurangan Setidaknya ada tiga hal yang menjadi sebab terjadi kecurangan .

Keputusan: Mengidentifikasi risiko untuk memperkirakan keputusan yang tepat dari tiap tingkatan manajemen Standar seperti ini merupakan fondasi untuk membangun program pencegahan kecurangan yang efektif. Pengetahuan: Adanya transfer dan penyebaran pengetahuan yang merupakan suatu best practice agar pihak-pihak di bank punya pemahaman dan pengetahuan bahwa kecurangan itu buruk dan harus diberantas. Hal in termasuk . Solusi: Adanya contact point untuk peningkatan dan mendalami issue kecurangan Kultur: Harus ada upaya peningkatan perhatian terhadap kecurangan melalui pelatihan. Apabila tidak ada keinginan untuk menggali lebih jauh atau adanya toleransi terhadap kemungkinan kecurangan. o Membangun sistem baik berdasarkan “inttilegent or knowledge based system”. Perbaikan: Bisnis harus belajar dari kesalahan yang terjadi. risk manager. o Melakukan pemetaan risiko dan melakukan penilaiannya. · Adanya hot-line dari karyawan yang terjaga kerahasiaannya dalam pelaporannya. maka hal ini akan memperbesar bank menghadapi risiko yang potensial. Karenanya hal ini perlu masukan dari direksi. dewan komisaris. . compliance dan manager lini dalam bank. Bank Indonesia. mengendalikan dan melaporkan risiko-risiko kecurangan merupakan bagian yang integral dari operasional bisnis perbankan yang dilakukan. serta adanya penghargaan pada yang berprestasi serta sanksi pada yang bersalah. Manajemen Risiko: Kelengkapan dan konsitensi dalam proses untuk mengukur. Hal kritis yang harus dipahami para manajer adalah risiko yang paling penting yang ada dihadapannya.Policy: Adanya kebijakan dan standar dibuat untuk semua risiko kecurangan. Deteksi Kecurangan Tujuan utama dari deteksi ini adalah mengidentifikasikan kerugian atau mencoba untuk mengetahui penyebab kemungkinan kesempatan kerugian lebih dini dan sehingga dapat menekan jumlah kerugian. · Penggunaan alat atau teknik untuk secara pro-aktif mengidentifikasikan kecurangan seperti o Menyaring dan meneliti data akuntansi dan data lainnya o Melakukan review terhadap kecurangan dengan fokus pada area yang spesifik.

Memang tidak semua elemen diperlukan dan mekanisme di setiap unit kerja yang sebenarnya sudah ada perlindungannya sendiri juga. Hal yang penting adalah tindakan selanjutnya. Adanya hubungan internal dan eksternal dalam pelaporan. terutama yang duduk pada posisi yang sensitif) Investigasi Dan Recovery Langkah ini merupakan upaya untuk mencoba melakukan recovery untuk menekan kerugian dengan efektif dan efesien dari berbagai kejadian yang merugikan. Melakukan transfer pengetahuan (yang merupakan best practice untuk pembelajaran dari kejadian ini) melalui program pelatihan. Menjadikannya suatu issue manajemen intern. maka dengan pencegahan terhadap terjadinya kecurangan. seperti BI dsb. termasuk crisis management. Sebuah produk dari proses recovery adalah juga belajar dari kesalahan dan pengidentifikasikan ancamanancaman. Presentasi temuan kepada direksi dan senior manajemen. membuat action plan untuk meredakan issue ini. ini merupakan perlindungan terhadap uang dan kekayaan bank yang sangat berharga. Mengidentifikasikan kelemahan prosedur atau perbedaannya dengan sistem dan prosedur yang berlaku. Recovery ini termasuk . dilakukan diam-diam. (TPT) . prosesnya atau prosedur untuk membangun langkah-langkah prefentif atau menekan kemungkinan berulangnya kejadian tersebut. Implementasi dari sasaran Program Pencegahan Kecurangan Pengimplementasian program manajemen risiko kecurangan disarankan perlu dirumuskan dan dilakukan dengan baik. Investigasi yang terbuka dan tersembunyi. dan bila dianggap perlu bisa dilakukan juga pada pihak eksternal rgulator. Review lanjutannya adalah penilaian dan penyesuaian terhadap peraturan dan pelaksanaannya yang berjalan agar selalu melindungi bisnis bank dan harus memberikan manfaat yang kompetitif. wawancara serta dukungan manajemen secara profesional.· Adanya personnel security (Ternasuk skrining untuk pegawai baru dan re-skrining dari pagawai bank yang ada. bila semua sudah tersedia di bank untuk mencapai sasarannya. dalam hal ini termasuk unsur manusianya. termasuk pada regulatornya.

Legal Audit dilakukan oleh Kantor Hukum/Pengacara yang mempunyai sertifikat khusus/register terdaftar BAPEPAM. serta diumumkan dalam Berita . Perseroan Dokumen-dokumen Korporasi. Check List tersebut pada dasarnya mencakup hal-hal sebagai berikut: 1. yang sering kali tergantung dari faktor besarnya nilai transaksi yang akan dijalankan. Hasil pemeriksaan Legal Audit biasanya didampingi oleh Finansial Audit ataupun Managemen Audit yang pada akhirnya memberikan data yang lengkap tentang kondisi suatu usaha atau perusahaan baik kepada masyarakat umum (jika Legal Audit dilakukan untuk kepentingan Go Public suatu Perusahaan di Pasar Modal) atau dalam rangka penyertaan dana/pemberian fasilitas kredit. Rangkaian data di sini dapat berupa antara lain : mempelajari dokumen-dokumen hukum/data-data (terutama data-data hukum). LEGAL AUDIT DALAM RANGKA PENYERTAAN SAHAM Pada umumnya transaksi penyertaan saham yang akan mengakibatkan terjadinya peralihan “control” daripemegang saham lama kepada pemegang saham baru memerlukan dilakukannya Legal Audit (Legal Due Deligence – DCD) atas perusahaan target. menyusun/mengelompokkan dokumen. dan telah mendapatkan persetujuan dari Menteri Kehakiman RI. Akta pendirian beserta seluruh perubahan-perubahan yang dibuat dihadapan Notaris. antara lain: a. biasanya Legal Audit tersebut digunakan dalam rangka pemberian fasilitas pembiayaan atau fasilitas kredit dan itu dilakukan oleh petugas/pejabat lembaga keuangan/perbankan tersebut yang sering dikenal dengan sebutan Legal Officer. Bentuk dan ruang lingkup dari Legal Due Deligence yang dijalankan oleh Konsultan Hukum pada dasarnya berbeda dari satu transaksi ke transaksi yang lainnya. Lembaga Keuangan dan Perbankan adalah badan yang selalu melakukan Legal Audit. Pada dasarnya Legal Due Deligence dijalankan dengan cara mempersiapkan terlebih dahulu “Checklist” atas dokumen-dokumen yang perlu untuk diperiksa dan dalam hal tertentu dilakukan juga kunjungan lapangan secara langsung (check on the spot)atas harta kekayaan perusahaan target. memeriksa kelengkapan dokumen (keaslian/keberlakuan) termasuk bila dianggap perlu mengecek kebenaran dokumen (on the spot) ke lapangan/instansi/pejabat yang berwenang. sedangkan untuk Lembaga Keuangan dan Perbankan. Kalangan Pasar Modal.Legal Audit Legal Audit pada umumnya dapat didefinisikan adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh seseorang “Legal Auditor” untuk tujuan atau kepentingan tertentu baik bagi kepentingan internal maupun eksternal (klien). khususnya untuk Pasar Modal.

3. antara lain dari lurah setempat dan pengelola gedung. Izin Usaha dari Departemen Teknis yang bersangkutan sehubungan dengan kegiatan usaha perusahaan target. Izin Mendirikan Bangunan (IMB). mobil. Akta Jual Beli. Barang tidak bergerak. b. Akta tentang susunan terakhir pengurus Perusahaan target. mesin-mesin. Pajak dan Asuransi . Sertifikat-sertifikat tanah. motor. yaitu tanah dan banguanan beserta Akta Pelepasan Hak. hak cipta dan merk dagang) 4. Harta Kekayaan Dokumen-dokumen yang merupakan bukti kepemilikan perusahaan target atas : a. dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). asset-asset lainnya. Hak Milik Intelektual (paten. d. Daftar khusus dan contoh Surat Kolektif saham dan status pembebanan dari saham-saham yang telah dikeluarkan penuh. Daftar pemegang saham. dll). Surat Keterangan Domisili. Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) dan surat-surat lain yang menyatakan bukti kepemilikan atas asset-asset tersebut c. Perizinan Dokumen-dokumen yang menyangkut izin-izin yang dimiliki Perusahaan target. 2. c. berupa Bukti Kepemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB). Departemen Perindustrian dan Perdagangan RI – Wajib Daftar Perusahaan (Tanda Daftar Perusahaan) – Surat Izin Usaha Perdagangan – Angka Pengenalan Importir Terbatas (jika ada) b. Akta dan/atau perjanjian di bawah tangan tentang jual beli saham perseroan yang terakhir dan persetujuan RUPS perusahaan target atas jual beli saham tersebut. antara lain: a. antara lain : – Izin Lokasi – Izin Tempat Usaha berdasarkan UU gangguan (HO) – Izin Mendirikan Bangunan (IMB) – Izin Penggunaan Bangunan (IPB) – Izin untuk Pabrik – AMDAL – Izin Pengelolaan Limbah – Izin Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (UKL dan UPL) d. Serta izin-izin lainnya yang dimiliki perusahaan target.Negara RI. Barang bergerak antara lain kendaraan bermotor (bus. c. b.

1. motor. b. Tenaga Kerja GSK Dokumen-dokumen yang menyangkut ketenagakerjaan. Dokumen kerjasama kontraktual yang metrial. seperti misalnya. Kontrak Produksi 9. Perjanjian Jual Beli 11. – Nomor Pokok Wajib Pajak GSK (NPWP) – Keterangan Pengusaha Kena Pajak (PKP) b. c. pertanggungan terhadap bangunan. Dokumen dari kerjasama patungan (Joint Venture) yaitu dokumen-dokumen yang diperlukan untuk mendirikan usaha patungan baik dengan pihak Indonesia maupun dengan investor asing. mobil. Berita Acara PHK massal (jika ada) 5. Perjanjian Sewa Menyewa 10. seperti dokumen-dokumen yang telah disebutkan di atas. Daftar Laporan dalam rangka wajib lapor ketenagakerjaan. b. dll) (Motor Vehicle Insurance) 5. 6. Perjanjian Lisensi dan Bantuan Teknik 6. yaitu kerjasama antar perusahaan target dengan pihak ketiga. Perjanjian Material yang mengikat perusahaan target. Perjanjian Penggunaan Merek (bila ada) 5. a. mesin-mesin dan asset-asset lainnya – Polis Asuransi Kendaraan Bermotor (bus. Perjanjian Distribusi/Kontrak Keagenan 7. Laporan Keuangan GSK Periode 1 Tahun Terakhir . Perjanjian Kerjasama – Perjanjian Pengelolaan/Managemen – Perjanjian Kerjasama Operasional (joint operation/concortium) – Perjanjian Kerjasama Pembagian Keuntungan (Profit Sharing) – Perjanjian Kerjasama Pembiayaan (Modal Ventura. Dokumen-dokumen perpajakan perusahaan target.a. Anjak Piutang. Perjanjian Pemasokan Bahan Baku 8. dll) 4. Perjanjian Sewa Guna Usaha 3. Dokumen dari pembelian atau penyertaan saham perusahaan target pada perseroan terbatas lainnya. Perjanjian Kredit 2. Dokumen-dokukem asuransi – Polis asuransi standar kebakaran Indonesia (Fire Insurance). Peraturan Perusahaan yang disahkan oleh Menaker (jika ada) c. Perikatan-perikatan a.

Berdasarkan check list di atas dan setelah diperolehnya dokumen-dokumen yang diminta maka dapat disiapkan suatu Laporan Hasil Pemeriksaan Hukum – LHPH dalam bentuk suatu Pendapat Hukum atau dikenal dengan LEGAL OPINION .

Pandangan sebagian besar penegak hukum mengenai asas “Ambelijk bevel” atau perintah jabatan yang termaktub dalam Ps. tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Namun. Berkembangnya wacana pemberlakuan vicarious liability yang menjadi perhatian sekaligus kekuatiran praktisi perbankan. secara jelas dan tegas. “Kejahatan Korporasi dan pertanggungjawabannya”-2006). Bismar Nasution. sehingga dapat dimungkinkan bahwa karena kewenangannya. yang berbeda dengan asas “tiada pidana tanpa kesalahan”. suatu pihak. bagi pejabat publik. setiap pihak memiliki kewenangan dan tanggung jawab masing-masing. Dengan kesalahan yang dilakukan oleh salah satu individu tersebut. Hal tersebut berarti bahwa pemidanaan tidak selalu didasarkan kepada adanya unsur kesalahan.40. . Dr. sehingga batasan tanggung jawab di dalam suatu perbuatan hukum yang memenuhi unsur tipibank dapat dipahami secara tepat dan memudahkan di dalam menentukan para pelaku dugaan tipibank. pada umumnya dengan penerapan asas tersebut kurang tepat kiranya di dalam penanganan kasus dugaan tipibank yang dilakukan pada bank umum dan BPR. agen/perantara atau pihak lain yang menjadi tanggung jawab korporasi. merupakan kajian menarik dan penting dalam penanganan kasus tipibank. sering digunakan untuk mengintepretasikan perbuatan hukum para pegawai bank yang turut melakukan tipibank atas “tekanan dan paksaan” atasan. “Asas-asas hukum pidana di Indonesia”-1967). kesalahan itu secara otomatis diatribusikan kepada korporasi. Walaupun sesungguhnya asas tersebut digunakan dalam “perintah untuk melaksanakan suatu peraturan hukum perundang-undangan/ wettelijk voorschrift“. Ada perbedaan pandangan para penegak hukum terkait penerapan hukum di dalam penanganan suatu kasus. misalnya dalam hal perbuatan hukum yang dilakukan oleh direksi. asas dalam hukum pidana yang menyatakan bahwa setiap individu bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya akan kontradiktif dengan asas kolegial dalam hukum perusahaan yang termaktub dalam UU No. dalam suatu perbuatan hukum yang telah dilakukan.Pidana Perbankan: Antara Asas Kolegial dan Vicarious Liability Penanganan kasus dugaan tindak pidana di bidang perbankan (tipibank) dalam suatu bank yang berbentuk badan hukum berupa Perseroan Terbatas (PT). 51 ayat 1 KUHP. Wirjono Prodjodikoro. Doktrin yang diadopsi dari common law tersebut menyatakan bahwa “Korporasi/ perusahaan bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan oleh pegawai-pegawainya. Bagi ahli hukum pidana kecenderungan bahwa hanya pelaku yang secara langsung melakukan “kesalahan” yang akan dipidana dan tidak dapat dialihkan atau dibebankan kepada orang lain. Dalam hal ini korporasi dapat dipersalahkan meskipun tindakan yang dialakukan tersebut tidak disadari atau tidak dapat dikontrol (Prof. harus bertanggung jawab atas nama PT. perlu dipahami oleh penegak hukum mengenai kewenangan dan tanggung jawab masing-masing organ PT. Sedangkan dalam hukum perusahaan. (Prof. dengan beberapa direktur di dalamnya. misalnya direksi.

.Atas beberapa hal yang telah dikemukakan tersebut di atas mengenai adanya perbedaan pandangan. kontradiksi antara penerapan lapanagan hukum pidana dan keperdataan merupakan topik bahasan yang menarik dan perlu dikaji. demi kemajuan yurisprudensi dan ilmu pengetahuan. bahkan lebih. Catatan: Bagi teman-teman yang sedang menyusun skripsi beberapa hal ketentuan dalam UU PT yang baru dan konsep maupun asas lama mengenai hukum perusahaan maupun mengarah pada hukum pidana dapat dijadikan bahan kajian. Perlu adanya terobosan yang membedah “irisan” antara dua lapangan hukum.

2. Setiap ada pembayaran sebagian / seluruhnya untuk melunasi outstanding. maka agunan kredit di gunakan sebagai alternative terakhir untuk pelunasan kredit yang di berikan ( lelang ) . Back to backFasilitas kredit dengan agunan berupa bilyet deposito Bank yang di gunakan untuk modal kerja. maka jumlah fasilitas kredit uang bersangkutan dapat di tarik kembali hingga batas platfond yang di tentukan 7. Committer Line Penyediaan fasilitas kredit yang telah di setujui untuk jumlah plafond. 8. 9. DebiturOrang yang mendapatkan fasilitas dari Bank 6. jangka waktu dan hal – hal lain yang sudah dituangkan dalan Perjanjian Kredit ( PK ). Non Revolving Fasilitas kredit yang di tarik hingga batas platfond yang ditentukan dan penarikannya tidak dapat dilakukan berulang kali.ISTILAH – ISTILAH KREDIT DALAM DUNIA PERBANKAN 1. AgunanAgunan adalah asset yang harus di sediakan debitur dan di serahkan kepada Bank sebagai jaminan atas fasilitas kredit yang di nikmatinya. Uncommitted LinePenyediaan fasilitas kredit yang telah di setujui untuk debitur tertentu dalam platfond tertentu yang tidak di tuangkan dalam PK. maka jumlah kredit yang bersangkutan tidak dapat di tarik kembali. Bank tidak mempunyai komitmen untuk memenuhi permintaan kredit kepada debitur 3. PlatfondBatas maksimal fasilitas kredit yang di berikan Bank kepada debitur sesuai PK 4. RevolvingFasilitas kredit yang dapat di tarik berulang kali hingga batas platfond yang ditentukan. Setiap ada pembayaran sebagian/seluruhnya untuk melunasi outstanding fasilitas kredit. Bank memberikan komitmen kepada debitur untuk memenuhi permintaan kreditnya hingga platfond dan jangka waktu tertentu. Dalam hal debitur tidak mempunyai kemampuan dan kesanggupan untuk melunasi utangnya sesui dengan yang di perjanjikan (wanprestasi). penarikan dana fasilitas kreditnya harus di lakukan secara sekaligus hingga batas platfond yang di berikan. Baki Debet ( Outstanding )Saldo debet dari fasilitas yang telah di tarik debitur 5.

namun lebih banyak sebagai quasi agent (Mohamad Iksan. Dengan demikian. yaitu Bank Dagang Bali dan Bank Asiatic. Modus operandi di kedua bank BUMN itu pada dasarnya sama. industri perbankan kita dinodai perilaku tidak terpuji dari pemiliknya sehingga Bank Indonesia akhirnya harus mencabut izin operasional dua bank. sebagaimana diuraikan di dalam tabel. sebenarnya tidak canggih karena BI dapat mendeteksi permasalahannya sudah sejak lama. Kompas 13/3). komposisi kepemilikan saham dengan jenis kecurangan yang sering timbul di masing-masing bank dapat ditarik suatu pola hubungan keterkaitan. perbankan kita sempat diguncang mega skandal surat kredit (L/C ekspor) di Bank BNI senilai Rp 1. Juga bagi deposan agar lebih selektif menerima tawaran menyimpan uang di bank. mengapa perilaku tidak terpuji pemilik bank masih saja dapat terjadi di tengah gencarnya seruan implementasi manajemen risiko dan tata kelola perusahaan yang baik. Tujuan transaksinya untuk menutupi pelanggaran batas maksimum pemberian kredit (BMPK) kepada perusahaan satu grup (Kompas. Jika dilihat dari tabel. kolusi antara pegawai bank yang berniat melakukan korupsi dan pihak ketiga di luar bank. Walaupun dua modus kecurangan di bank BUMN dan bank swasta dilakukan dua pihak yang berbeda (di satu sisi dilakukan pegawai bank dan di sisi lain pemilik bank). Akhirnya.7 triliun dan kecurangan di Bank BRI yang berpotensi menimbulkan kerugian sekitar Rp 294 miliar. Jika melihat kasusnya. Kecurangan yang dilakukan pemilik bank bermotif untuk menilep dana pihak ketiga melalui rekayasa pemberian kredit dengan jaminan negotiable certificate deposit atau melalui pembelian obligasi yang diterbitkan perusahaan satu grup. di bank BUMN kurang dirasakan eksistensi pressure group . Pada tahun 2003. Jika dicermati. 10/4). Pegawai di bank BUMN cenderung tidak terlalu peduli dengan kekuasaan yang dimiliki pemegang saham karena pada dasarnya Menteri Keuangan selaku pemilik bank BUMN bukanlah principal (pemilik). Adapun motif kecurangan yang terjadi di BDB dan Bank Asiatic baru-baru ini agak berbeda. kerugian yang ditimbulkan mungkin relatif sama saja. Penyebab di balik terjadinya perilaku yang tidak terpuji pada kedua bank tersebut disinyalir karena didorong adanya kepemilikan saham mayoritas di satu tangan pada kedua bank tersebut (I Gusti Made Oka pemegang saham 85-90 persen Bank Dagang Bali dan Tong Muk Keng menguasai 80-90 persen saham Bank Asiatic). kecurangan di bank BUMN umumnya dilakukan pegawai bank yang berkolusi dengan pihak ketiga di luar bank.Pola Hubungan Komposisi Kepemilikan Bank dengan Jenis Kecurangan UNTUK kesekian kalinya. TINDAKAN Bank Indonesia (BI) mencabut izin dua bank itu jelas merupakan edukasi yang luar biasa bagi pemilik maupun pengurus bank untuk lebih serius dan hati-hati dalam mengelola bank. yang patut dan menarik dipertanyakan.

pengawasan BI harus lebih diperkuat. Beberapa pemikiran Menghadapi berbagai bentuk kecurangan perbankan pada berbagai kategori bank. pertama. perbankan harus mulai menumbuhkan budaya kontrol. tak satu pun kekuatan internal yang dapat mencegah perilaku jahat pemilik. Ketiga. Pengenaan premi tinggi untuk bank yang berisiko tinggi diharapkan menjadi stimulus bagi bank tersebut untuk terus berusaha memperbaiki profil risiko banknya. Sudah saatnya bagi BI segera memberlakukan batas kepemilikan saham oleh satu pihak di perbankan. Kedua. Komposisi kepemilikan saham yang cukup tersebar pada berbagai pihak jelas akan efektif mencegah terjadinya moral hazard pemilik bank untuk campur tangan dalam operasional perbankan serta akan menciptakan saling kontrol di antara pemegang saham (built in control). pengenaan premi penjaminan simpanan wajib diikuti bank-bank yang berisiko tinggi. Pembatasan ini bukanlah hal baru bagi perbankan di beberapa negara. Begitu dominannya kekuatan pemegang saham mayoritas di bank itu.(kelompok penekan) yang diharapkan mampu mendorong pegawai bank melaksanakan tata kelola perusahaan secara baik. . kiranya perlu dirumuskan kembali upaya-upaya untuk mencegah terulangnya kasus kecurangan perbankan melalui berbagai cara. pemilik saham mayoritas dapat berperan sekaligus sebagai direksi maupun debitor bank. Munculnya kekhawatiran akan gagalnya proses divestasi saham perbankan nasional jika BI memberlakukan pembatasan kepemilikan saham sebenarnya merupakan hal yang dibesarbesarkan. Jika masih terjadi kecurangan di bank semacam itu. Pada bank tersebut. hendaknya pegawai berusaha mencegah perbuatan itu agar bank terhindar dari kerugian. khususnya pengawasan melalui tim on site supervision (OSP) yang selama ini dirasakan sebagai cara efektif untuk mencegah terjadinya kecurangan di perbankan. Kecurangan perbankan paling jarang terjadi di bank yang telah listed dan distribusi kepemilikannya cukup menyebar. pada umumnya kecurangan yang timbul justru dilakukan pemilik bank. khususnya terhadap lingkungan sesama pegawai. Misalnya. namun pengenaan tingkat preminya yang berbeda-beda. Keempat. biasanya dilakukan dengan teknik sangat canggih yang tidak dapat dideteksi pihak internal bank secara dini. Di bank swasta (baik yang telah tercatat di bursa maupun yang belum) yang mayoritas sahamnya dimiliki satu pihak. termasuk dalam menilep uang nasabah penyimpan. perlu segera ditetapkan batas maksimum kepemilikan saham bank di satu tangan. Pada bank seperti itu proses penunjukan pengurus bank pada umumnya dilakukan secara profesional sehingga sistem dan prosedur operasional perbankan dapat ditegakkan dengan baik. Jika di suatu unit kerja terjadi kecurangan (khususnya KKN).

Harus ditanamkan kepada seluruh pegawai bank bahwa kecurangan yang diperbuat oleh seorang pegawai akan berdampak pada kerugian yang akan menyebabkan seluruh pegawai menderita. . Bank adalah lembaga kepercayaan yang diperkenankan hidup dengan tingkat leverage sangat tinggi sehingga kepentingan masyarakat penabung harus mendapatkan perlindungan agar terhindar dari kecurangan yang dilakukan para pelaku yang terlibat dalam pengurusan bank. sekaligus menyebar komposisi kepemilikan saham. Namun. salah satu cara mendorong perbankan untuk menerapkan tata kelola perusahaan dengan benar. bank-bank harus didorong untuk segera go public. menjual saham ke masyarakat dengan porsi kurang dari 50 persen. go public ini bukan sekadar kosmetik. Kelima. Contohnya di Bank Asiatic dan BDB. terjadi PHK.

Lembaga keuangan bukan bank Adalah suatu badan yang melakukan kegiatan dibidang keuangan berupa usaha menghimpun dana. 10 Tahun 1998 Tentang perubahan UU No. Lembaga bukan bank beroperasi dibidang pasar uang dan modal Segi usaha pokok yang dilakukan yaitu : . Pegadaian 4. kegiatan usaha. terutama memberikan kredit dan jasa di lalulintas pembayaran dan peredaran uang. 7 Tahun 1992 Tentang perbankan UU No. Penyelenggara dana pensiun Sumber Hukum perbankan    Undang-Undang Dasar 1945 UU No. serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan” Bank Lembaga Keuangan Lembaga keuangan terdiri dari dua jenis yaitu : . sebagai perantara dalam usaha mendapatkan sumber pembiayaan. 10/1998 : “perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank mencakup kelembagaan. Asuransi 2. semuanya dilakukan secara langsung atau tidak langsung melalui penghimpunan dana terutama dengan jalan mengeluarkan kertas berharga. Perbedaannya dengan bank. dan usaha penyertaan modal. Pengertian Perbankan : Pasal 1 (1) UU No. Menurut UU N0. 7 Tahun 1992 tentang perbankan Pasal 1 (2) : “Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak”.Usaha ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam bidang-bidang tertentu seperti memberikan pinjaman kepada masyarakat berupa pegadaian. 10 Tahun 1998 Tentang perubahan atas UU No. deposito maupun tabungan. Penghimpunan dana hanya dapat dilakukan dengan pengeluaran kertas berharga.Bahan Hukum Perbankan Menurut kamus besar Bahasa Indonesia : Bank adalah usaha di bidang keuangan yang menarik dan mengeluarkan uang di masyarakat. 23 Tahun 1999 . Lembaga keuangan bukan bank tidak diperkenankan menerima simpanan baik dalam bentuk giro.Lembaga keuangan bank . memberikan kredit. Lembaga pembiayaan 3. . Jenis Lembaga Keuangan Bukan Bank yaitu : 1.sektor pembiayaan pembangunan berupa pemberian kredit jangka menengah/panjang serta melakukan penyertaan modal.

JENIS DAN USAHA BANK I. teliti.        UU No. Dari ketentuan ini terlihat fungsi bank sebagai perantara pihak-pihak yang memiliki kelebihan dana (surplus of funds) dengan pihak-pihak yang kekurangan dan memerlukan dana (lacks of funds). Selain itu bank dalam menjalankan usahanya harus selalu mematuhi seluruh peraturan perundang-undangan yang berlaku secara konsisten dengan didasari oleh itikad baik. 10/1998 : “ Fungsi utama perbankan Indonesia adalah sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat”. dan . 3 Tahun 2004 Tentang Bank Indonesia Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Kitab Undang-Undang Hukum Dagang. Fungsi Diatur dalam Pasal 3 UU N0. dan sebagainya. Bank umum kepemilikannya mungkin saja dimiliki oleh negara (pemerintah daerah). tidak ada penjelasan secara resmi. ASAS DAN FUNGSI BANK I. Demokrasi ekonomi yang dimaksud adalah demokrasi ekonomi yang berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945. 10/1998 tentang Perbankan pada Pasal 2: “ Perbankan Indonesia dalam melakukan usahanya berasaskan demokrasi ekonomi dengan menggunakan prinsip kehati-hatian”. swasta asing. dan UU Kepailitan Peraturan Pemerintah Surat Keputusan presiden Keputusan Menteri Keuangan Surat Keputusan dan Surat Edaran Bank Indonesia Peraturan lainya yang berhubungan erat dengan kegiatan perbankan. ASAS Asas Perbankan Indonesia dapat dapat diketahui dalam UU No. Bank Umum Bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip Syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran 2. terutama dalam membuat kebijaksanaan dan menjalankan kegiatan usahanya wajib menjalankan tugas dan wewenangnya masing-masing secara cermat. II. Mengenai prinsip kehati-hatian sebagaimana disebutkan dalam ketentuan Pasal 2 Undang-Undang Perbankan. JENIS – JENIS BANK Dalam ketentuan Pasal 5 ayat (1) UU Perbankan membagi bank dalam dua jenis. misalnya : Peraturan Menteri Agraria mengenai Hipotik dan Credietverband. tetapi kita dapat mengemukakan bahwa bank dan orangorang yang terlibat didalamnya. Bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. yaitu : 1. dan profesional sehingga memperoleh kepercayaan masyarakat. Bank Perkereditan Rakyat.

Jenis bank dari segi kepemilikannya 1. Bank milik negara 2. yaitu sebagai berikut : Bentuk hukum Bank Umum . jenis bank hanya dikenal dua macam yaitu : 1. keahlian dibidang perbankan e. Bank milik swasta baik dalam negeri maupun luar negeri 4. (2). Bank Perkereditan Rakyat ( Pasal 5) Ketentuan tentang bentuk hukum bank menurut UU No. swasta dan koperasi saja. Bank koperasi PERIZINAN DAN BENTUK. wajib memenuhi persyaratan sekurang-kurangnya tentang : a. Bank Umum. Mengenai perizinan UU Perbankan telah mengatur dalam Pasal 16 ayat (1).BENTUK HUKUM BANK Perizinan Bank Pengaturan perizinan sangat penting dilakukan terhadap kegiatan-kegiatan usaha menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat dalam berbagai bentuknya. kepemilikan d. Hal ini penting untuk melindungi kepentingan masyarakat. 2. Pasal 16 (3) : Persyaratan dan tata cara perizinan bank sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan oleh Bank Indonesia.Perseroan terbatas (PT) . terutama terhadap nasabah penyimpan dan simpanannya. 10 Tahun 1998. kecuali apabila kegiatan menghimpun dana dari masyarakat dimaksud diatur dengan undang-undang”.Koperasi . dan (3) yaitu : Pasal 16 (1) : “Setia pihak yang melakukan kegiatan menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan wajib terlebih dahulu memperoleh izin usaha sebagai bank umum atau bank perkereditan rakyat dari pimpinan bank Indonesia. Bank milik pemerintah daerah 3. susunan organisasi dan kepengurusan b. permodalan c. kelayakan rencana kerja. BENTUK HUKUM BANK Setelah berlakunya UU Perbankan.koperasi sedangkan BPR hanya dimungkinkan dimiliki oleh negara (pemerintah daerah). Syarat Untuk Memperoleh Izin Pasal 16 (2) : Untuk memperoleh izin usaha bank umum dan bank perkreditan rakyat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).

Perseroan Terbatas . . yaitu persetujuan untuk melakukan persiapan bank yang bersangkutan. Pendirian Bank Umum hanya dapat didirikan oleh : . Untuk mendapatkan persetujuan prinsip pemohon wajib melampirkan : . susunan Direksi dan Dewan Komisaris. yaitu izin yang diberikan untuk melakukan usaha setelah persiapan selesai dilakukan. pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip tidak diperkenankan untuk melakukan kegiatan usahanya.Koperasi . PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDIRIAN Persyaratan dan tata cara pendirian Bank Umum yang diatur dalam Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 32/33/KEP/DIR tentang Bank Umum. . Direksi B I mengemukakan bahwa pemberian izin Bank Umum harus melalui dua tahapan : 1.rencana susunan organisasi.rancangan anggaran dasar.daftar calon pemegang saham. . atau dapat dimiliki bersama di antara ketiganya. . Tahapan pemberian izin usaha. 2. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa sebelum memperoleh izin usaha. dan Lembaga-lembaga lainya sebagaimana dimaksud Pasal 58 UU Perbankan.Warga negara Indonesia dan atau Badan Hukum Indonesia dengan warga negara asing atau Badan Hukum asing secara kemitraan (Joint Venture) (Pasal 22 ayat (2)) Bank Perkreditan Rakyat hanya dapat didirikan dan dimiliki oleh warga negara Indonesia.Bentuk lain yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah Bentuk hukum Bank Perkreditan Rakyat lebih banyak dari pada Bank Umum dimaksudkan untuk memberikan wadah bagi penyelenggara lembaga perbankan yang lebih kecil dari Bank Perkreditan Rakyat.rencana kerja. seperti Bank Desa. (Pasal 21 ayat (3). pemerintah daerah. Badan Hukum Indonesia yang seluruh pemilikannya warga negara Indonesia. Tahapan Persetujuan prinsip.bukti penyetoran sekurang-kurangnya sebesar 30% (tiga puluh persen) dari modal setor .Badan Hukum Indonesia .Perusahaan Daerah . Bentuk Hukum Bank Perkreditan Rakyat .Warga Indonesia ..Perusahaan Daerah (Pasal 21 ayat (1)) Bentuk hukum dari kantor perwakilan dan kantor cabang yang berkedudukan diluar negeri adalah mengikuti bentuk hukum kantor pusatnya. Badan Kredit Desa. Pasal 5 Kep. Ketentuan ini memberikan pemahaman bahwa untuk sahnya kegiatan usaha bank harus terlebih dahulu adanya izin usaha dari Bank Indonesia.

Cara penarikan menggunakan cek dan bilyet giro. tabungan 3.anggaran dasar yang sudah disahkan.Daftar pemegang saham. Pengertian “Giro” menurut Pasal 1 butir 6 UU Perbankan adalah : “ Giro adalah simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek. Modal yang bersumber dari bank sendiri Yaitu modal dari para pemegang saham (pendiri bank) yang terdiri dari modal setor yang disebut “modal tetap”. . bilyet giro. yang berarti bahwa penarikan simpanan dalam bentuk giro dapat dilakukan oleh si penyimpan. Modal yang termasuk dalam hal ini berupa : . 2. pemilik girant tersebut setiap saat selama kas bank buka.Call Money adalah dana talangan yang bersumber dari lembaga keuangan bank. Modal yang bersumber dari Bank Indonesia Adalah modal yang dikucurkan Bank Indonesia melalui fasilitas kredit kepada bank-bank yang mengalami kesulitan pendanaan jangka pendek dan dijamin dengan agunan yang berkualitas tinggi dan mudah dicairkan. .Untuk mendapat izin usaha pemohon wajib menyampaikan laporan kesiapan pendirian bank dengan melampiri: . sarana perintah pembayaran lainnya atau dengan pemindahbukuan”. Kegiatan bank dalam usahanya menghimpun dana antara lain meliputi : 1. Merupakan dana dalam rupian yang dipinjamkan oleh bank lainya dalam jangka waktu 7 hari yang setiap waktu dapat ditarik kembali oleh bank yang meminjamkan tanpa dikenakan suatu pembebanan. simpanan deposito c. Sedang Bank Pemerintah modalnya terdiri dari dana/uang yang disisihkan dari anggaran belanja. .Pinjaman antar Bank . karena tidak setiap saat dapat diambil. susunan Direksi dan Dewan Komisaris . Modal yang bersumber dari masyarakat Adalah Merupakan simpanan dari masyarakat yang dikelola oleh bank dengan sebaik-baiknya untuk memperoleh keuntungan. Namun dengan batas-batas tertentu penarikan dalam bentuk lain seperti sarana perintah pembayaran lain dan pemindah bukuan dapat dilakukan. simpanan giro b. Simpanan Giro.Susunan organisasi .penarikan dapat dilaksanakan setiap saat.Bukti pelunasan seluruh modal. yang berupa : a. Modal Bank Pada prinsipnya sumber modal dari suatu bank terdiri dari empat sumber yaitu : 1. .Pinjaman Dana dari luar Negeri Penghimpunan Dana oleh Bank Penghimpunan dana merupakan jasa utama yang ditawarkan oleh dunia perbankan baik Bank Umum maupun Bank Perkreditan Rakyat. Dari pengertian tersebut dapat ditarik dua pemahaman tentang giro. 4. yaitu : . Modal yang bersumber dari Lembaga Keuangan Bank dan Lembaga Keuangan Non Bank.

bilyet giro. atau deposito. b. Deposito. Deposito menurut Pasal 1 butir 7 UU Perbankan adalah : “simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimpan dengan bank”.simpanan dalam bentuk tabungan hanya dapat dilakukan sesuai dengan persyaratan tertentu yang telah disepakati oleh nasabah penyimpan bank. Penarikan simpanan dalam bentuk tabungan tidak dapat dilakukan dengan mempergunakan cek. bilyet giro. Yakni deposito berjangka yang bukti penyimpanannya dapat diperdagangkan. Investasi dalam bentuk lain. Pengertian Kredit Secara etimologis istilah kredit kredit berasal dari bahasa latin. Deposito On Call. berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”. Sertifikat Deposito. pada akhirnya diedarkan kembali oleh bank. tetapi tidak dapat ditarik dengan cek. Pasal 1 butir 11 dirumuskan : “ kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu. Yakni deposito yang pengambilannya berdasarkan pemberitahuan terlebih dahulu (sesuai dengan perjanjian antara nasabah dengan Bank). . credere. Sedangkan menurut UU No. Pengertian Tabungan dimuat dalam Pasal 1 butir 9 UU Perbankan “ Tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati. apakah itu berbentuk simpanan berupa tabungan. Jenis-jenis deposito : a. yang berarti kepercayaan.Dalam hal penarikan simpanan dalam bentuk tabungan dapat dilakukan secara langsung oleh sinasabah penyimpan atau orang lain yang dikuasakan olehnya dengan mengisi slip penarikan yang berlaku dibank yang bersangkutan. Yakni deposito yang terus berjalan atau perpanjangan otomatis. Deposito Otomatic Rolled Over. 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan. .2. giro. Aspek Hukum Pemberian Kredit Uang yang diterima dari masyarakat. dan terutama dalam bentuk pemberian kredit. Ada 2 unsur yang dapat dikemuakan dari pengertian tersebut yaitu : . dan atau alat lainya yang dipersamakan dengan itu”. Berdasarkan pengertian diatas menunjukkan bahwa prestasi yang diwajib dilakukan oleh debitur atas kredit yang diberikan kepadanya tidak semata-mata melunasi utangnya tetapi juga disertai dengan bunga sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati sebelumnya. Tabungan. c. Misalnya lewat pasar uang (money market). 3. pendepositoan. dan atau alat lainya yang dipersamakan dengan itu.

Caracter (watak) Sasaran penilian terhadap nasabah (debitur) adalah kemapuan mengendalikan usaha. Didalam ilmu perbankan dikenal adanya unsur-unsur kredit yang terdiri atas : a. b. pihak bank akan sulit untuk mengetahui dan mendeteksi uang tersebut. oleh karena itu besarnya jaminan dalam perjanjian kredit minimal 100 persen dari nilai kredit. Degree of risk. Sehingga mungkin saja terjadi sesuatu yang tidak dimungkinkan dikemudian hari. melainkan dipisahkan oleh tenggang waktu. Namun biasanya besar modal awal minimum 20 persen dari total dana yang dibutuhkan. maka pada saat itu pula akan terjadi suatu prestasi dan kontra prestasi Pemberian kredit oleh bank mempunyai resiko yang tinggi karena begitu kredit sudah berada ditangan debitur. nasabah (debitur). Makna kepercayaan tersebut adalah adanya keyakinan dari bank sebagai kreditur bahwa kredit yang diberikan akan sungguh-sungguh diterima kembali dalam jangka waktu telah ditertentu sesuai dengan kesepakatan. dan budaya yang mempengaruhi keadaan ekonomi dalam kurun waktu tertentu. Dasar-Dasar Pemberian Kredit Dalam menyalurkan kredit. Conditio of economy (kondisi perekonomian/prospek usaha debitur) Penilaian diutamakan pada situasi dan kondisi politik. Waktu berarti bahwa antara pelepasan kredit oleh bank dengan pembayaran kembali oleh debitur tidak dilakukan pada waktu bersamaan. berarti bahwa setiap pelepasan kredit dilandasi dengan adanya keyakinan oleh bank bahwa kredit tersebut dapat dibayar kembali oleh debiturnya sesuai dengan jangka waktu diperjanjikan. maupun keadaan perekonomian bank pemberi kredit. Collateral (agunan/jaminan) Jaminan merupakan salah satu unsur perjanjian kredit. e. Nasabah (debitur) harus sudah mempunyai modal awal tergantung dari jenis kegiatan usaha. jaminan diperlukan untuk memberikan keyakinan pada bank bahwa nasabah (debitur) sanggup mengembalikan pinjaman sesuai dengan perjanjian.Kredit diberikan atas dasar kepercayaan. Prestasi disini berarti bahwa setiap kesepakatan antara bank dengan debiturnya mengenai suatu pemberian kredit. prospek masa depan usaha. Hal ini berarti semakin panjang waktu kredit semakin tinggi resiko kredit. c. produksi dan pemasaran. d. Capital (modal) Kredit bank pada dasarnya hanya merupakan modal tambahan. Kepercayaan. Keadaan perekonomian disini adlah perekonomian negara. prospek masa depan usaha. bank harus melaksanakan kegiatan perkreditan secara sehat yang lazim dikenal dengan prinsip (The five C’s of Credit Analysis) Yang merupakan dasar pemberian kredit. sosial. c. ekonomi. produksi dan pemasaran. yaitu : a. Capacity (kepampuan) Sasaran penilaian terhadap nasabah (debitur) adalah kemapuan mengendalikan usaha. b. berarti bahwa setiap pelepasan kredit jenis apapun akan terkandung risiko didalamnya yaitu risiko yang terkandung dalam jangka waktu antara pelepasan kredit dengan pembayaran kembali. oleh karena itu dengan adanya pemberian kredit berati adanya kepercayaan. . Disampin ke 5 prinsip pemberian kredit tersebut diatas bank pada dasarnya memberikan kredit kepada nasabah harus berpedoman pada : Prinsip kehati-hatian (prundential principle) yaitu . d.

• Frekuensi mutasi rekening relatif rendah.Bank dalam menjalankankegiatan usahanya. • Terdapat indikasi masalah keuangan yang dihadapi debitur. PERJANJIAN KREDIT Istilah Perjanjian Kredit pertamakali dikemukakan dalam Instruksi Presidium Kabinet No. 4. termasuk pemberian kredit kepada nasabah debitur harus selalu berpedoman pada menerapkan prinsip kehati-hatian. 30/267/KEP/DIR tersebut adalah sebagai berikut : 1. yaitu apabila memenuhi kreteria : • Terdapat tunggakan angsuran pokok dan atau bunga yang telah melampaui 180 hari. Penggolongan Kredit Bank Istilah tersebut adalah untuk menunjukkan penggolangan kredit berdasarkan kolektibilitas kredit yang menggambarkan kualitas kredit tersebut. • Kadang-kadang terjadi cerukan. • Sering terjadi cerukan yang bersifat permanen. atau • Didukung oleh pinjaman baru. yaitu apabila memenuhi kriteria : • Pembayaran angsuran pokok atau bunga tepat. Kredit Macet. 5. yaitu apabila memenuhi kriteria : • Terdapat tunggakan angsuran pokok atau bunga yang telah melampaui 90 hari. • Memiliki mutasi rekening yang aktif. 3. atau • Bagian dari kredit yang dijamin dengan agunan tunai 2. • Terjadi kapitalisasi bunga. Kredit dalam perhatian khusus. 2/UPK/Pemb/1966 Tentang Pedoman Kebijaksanaan di Bidang Perkreditan. yaitu apabila memenuhi kriteria : • Terdapat tunggakan pokok dan atau bunga yang belum melampaui 90 hari. Kredit kurang lancar. 15/EK/10/1996 jo SE Bank Negara Indonesia Unit I No. • Sering terjadi cerukan. Menurut SK Direktur Bank Indonesia no. • Terjadi wanprestasi lebih dari 180 hari. Pengertian perjanjian menurut pakar hukum : Mariam Darus Badrulzaman : “perjanjian kredit bank adalah perjanjian pendahuluan (voorovereenkomst) dari penyerahan uang. • Mutasi rekening relatif rendah. • Dokumentasi hukum yang lemah baik untuk perjanjian kredit maupun peningkatan jaminan. Kredit diragukan. sebab . • Jarang terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang di perjanjikan. apabila memenuhi kriteria : • Terdapat tunggakan angsuran pokok dan atau bunga yang telah melampaui 270 hari • Kerugian operasional ditutup dengan pinjaman baru • Dari segi hukum maupun kondisi pasar. Kredit Lancar. jaminan tidak dapat dicairkan pada nilai wajar. Prinsip ini antara lain diwujudkan dalam bentuk penerapan secara konsisten berdasarkan itikad baik terhadap semua persyaratan dan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pemberian kredit oleh bank yang bersangkutan.

Dari pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa : . R. pada hakekatnya yang terjadi adalah suatu perjanjian pinjam meminjam sebagaimana diatur dalam KUHPerdata (Pasal 1754 sampai pasal 1769)”.keberadaan perjanjian kredit bank ini didahului oleh adanya perjanjian pinjam meminjam yang merupakan perjanjian pokok.perjanjian kredit bank hanya terjadi dilingkungan perbankan antara nasabah dengan bank atau dengan bank sentral atau lain perkataan yang terjadi dilingkungan perbankan. yaitu perjanjian kredit”. Subekti : “Dalam bentuk apapun juga perjanjian kredit itu diadakan. ### .perjanjian kredit bank hanya terjadi dalam perjanjian pinjam uang saja .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful