Tindak Pidana Perbankan

Tindak Pidana Perbankan Agar industri perbankan menjadi industri yang makin sehat dan dapat dipercaya masyarakat, Bank Indonesia menerapkan law enforcement atas tindak pidana perbankan bekerjasama dengan Kepolisian RI dan Kejaksaan RI. Upaya ini sejalan dengan implementasi Arsitektur Perbankan Indonesia (API), khususnya Pilar 3, yaitu menciptakan industri perbankan yang kuat dan memiliki daya saing yang tinggi serta memiliki ketahanan dalam menghadapi risiko. Kewenangan Bank Indonesia sebagai otoritas perbankan secara lengkap tertuang dalam Undang-undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 3 Tahun 2004 (UU BI) maupun dalam Undang-undang No. 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. Dalam pelaksanaannya, Bank Indonesia memiliki kewenangan untuk : 1. memberikan izin (right to licence); 2. mengatur (right to regulate); 3. mengawasi (right to supervise); serta 4. mengenakan sanksi (right to impose sanction). Terkait dengan kewenangan mengenakan sanksi, Bank Indonesia selaku otoritas perbankan melalui mekanisme pengawasan dan pembinaan hanya dapat menyelesaikan perbuatan yang bersifat administratif serta hanya berwenang mengenakan sanksi administratif terhadap suatu bank yang terbukti melakukan kegiatan usaha yang menyimpang dari ketentuan yang berlaku sedangkan penyimpangan yang mempunyai indikasi tindak pidana, proses pengenaan sanksinya diserahkan kepada penegak hukum sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengawasan dan Law Enforcement itu sendiri merupakan dua komponen yang tak terpisahkan dalam suatu sistem rule of law. Tidak akan ada law enforcement kalau tidak ada sistem pengawasan dan tidak akan ada rule of law kalau tidak ada law enforcement yang memadai. Jika hal ini di analogkan dengan sistem perbankan, maka pengawasan dan law enforcement dapat berperan dalam mengoptimalkan fungsi perbankan agar tercipta sistem perbankan yang sehat, baik sistem perbankan secara menyeluruh maupun individual, dan mampu memelihara kepentingan masyarakat dengan baik, berkembang secara wajar dan bermanfaat bagi perekonomian nasional. Berkaitan dengan keterbatasan kewenangan tersebut, dalam rangka menegakkan hukum pada industri perbankan dan mengamankan dana masyarakat serta kekayaan negara yang ada pada bank, Bank Indonesia memandang perlu untuk melakukan koordinasi dengan aparat penegak hukum dalam penanganan tindak pidana di bidang perbankan. Melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Kepala Kepolisian R.I, Jaksa Agung R.I, dan Gubernur BI, yang dikeluarkan pertama kali pada tanggal 6 November 1997 dan diperbaharui pada tanggal 20 Desember 2004, ketiga instansi tersebut sepakat untuk bekerjasama dalam penanganan dugaan tindak pidana di bidang perbankan. Melalui kerjasama ini, diharapkan setiap kasus perbankan dapat diselesaikan secara lancar, cepat dan optimal. Untuk mendukung pelaksanaan SKB dan melakukan tindakan represif terhadap pelanggaran dan penyimpangan serta ketidakpatuhan terhadap ketentuan yang berlaku, khususnya yang mengandung unsur tindak pidana di bidang perbankan, Bank Indonesia membentuk satuan kerja yang khusus menangani dugaan tindak pidana di bidang perbankan. Pembentukan DIMP diharapkan dapat menimbulkan announcement effect terhadap dunia perbankan

yaitu law enforcement dalam kegiatan perbankan tetap dilaksanakan dan ditegakkan serta segala bentuk penyimpangan akan membawa konsekuensi hukum bagi para pelakunya. Dalam pelaksanaannya, diperlukan langkah yang memperlancar, mempercepat dan mengoptimalkan penanganan dugaan tindak pidana di bidang perbankan maka pada tahun 2007 dibuat Petunjuk Teknis SKB yang ditandatangani oleh Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum, Kepala Badan Reserse Kriminal POLRI dan Deputi Gubernur BI. Sejak tahun 1999 hingga saat ini, terdapat 580 kasus dugaan tindak pidana perbankan yang terjadi baik di bank umum maupun bank perkreditan rakyat yang telah dilaporkan oleh Bank Indonesia kepada penegak hukum melalui mekanisme SKB. saat ini masih terdapat 448 kasus yang masih dalam proses penanganan penegak hukum. Kasuskasus tersebut merupakan bagian dari kasus-kasus tindak pidana perbankan yang telah dilaporkan oleh Bank Indonesia melalui mekanisme SKB sejak tahun 1999. Disamping melakukan kerjasama dengan penegak hukum, Bank Indonesia juga melakukan kerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Mediasi Perbankan Sebagai bagian dari pelaksanaan perlindungan konsumen, Bank Indonesia telah mengimplementasikan Arsitektur Perbankan Indonesia yang salah satu pilarnya (Pilar 6) adalah Perlindungan Nasabah. Pilar tersebut menjelaskan bahwa perbankan wajib menyusun standar mekanisme pengaduan nasabah secara jelas dan mudah dipahami nasabah, pembentukan lembaga mediasi perbankan independen guna menjembatani sengketa yang terjadi antara bank dan nasabah, penyusunan transparansi informasi produk dan promosi edukasi untuk nasabah yang diharapkan dapat memberikan informasi yang jelas dan memadai sehingga masyarakat mengerti dan paham mengenai produk dan jasa perbankan. Pelaksanaan fungsi mediasi perbankan oleh Bank Indonesia yang dimulai sejak tahun 2006 terutama dilakukan untuk menjembatani kepentingan nasabah dan bank sebagai alternatif penyelesaian sengketa perbankan yang bermanfaat bagi perlindungan nasabah dan dalam upaya menjaga terpeliharanya reputasi bank. Hingga saat ini Bank Indonesia telah menerima 737 kasus pengaduan nasabah di 71 bank. Prosentase terbesar, terkait masalah sistem pembayaran, penyaluran dana dan penghimpunan dana. Nasabah yang memanfaatkan produk/jasa bank dan menemui permasalahan dalam pemanfaatan produk/jasa tersebut, dapat mengajukan pengaduan kepada bank untuk mendapatkan penyelesaian. Apabila kemudian nasabah tidak puas dengan penyelesaian yang dilakukan bank, maka nasabah dapat mengajukan upaya penyelesaian permasalahannya melalui mediasi perbankan yang saat ini fungsinya dilaksanakan oleh Bank Indonesia. Keunggulan pelaksanaan fungsi mediasi itu sendiri adalah : 1. Kesepakatan para pihak (voluntary); 2. Terjaganya hubungan baik (forward looking); 3. Terjaganya kepentingan masing-masing pihak (interest based); dan 4. Proses yang murah, cepat dan sederhana Dalam melaksanakan fungsi mediasi, Bank Indonesia juga melakukan berbagai kerjasama dengan berbagai pihak, baik dengan industri perbankan sendiri (melalui pembentukan Working Group Mediasi Perbankan), akademisi, praktisi dan lembaga/asosiasi mediasi.

Mediasi Perbankan Sebagai Wujud Perlindungan Terhadap Nasabah Bank I. Pendahuluan Bank sebagai badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dan menjalankan usahanya terutama dari dana masyarakat dan kemudian menyalurkan kembali kepada masyarakat. Selain itu, bank juga memberikan jasa-jasa keuangan dan pembayaran lainnya. Dengan demikian ada dua peranan penting yang dimainkan oleh bank yaitu sebagai lembaga penyimpan dana masyarakat dan sebagai lembaga penyedia dana bagi masyarakat dan atau dunia usaha.

Dengan demikian Perbankan memiliki fungsi penting dalam perekonomian negara.[1] Perbankan mempunyai fungsi utama sebagai intermediasi, yaitu penghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya secara efektif dan efisien pada sektor-sektor riil untuk menggerakkan pembangunan dan stabilitas perekonomian sebuah negara. Dalam hal ini, bank menghimpun dana dari masyarakat berdasarkan asas kepercayaan dari masyarakat. Apabila masyarakat percaya pada bank, maka masyarakat akan merasa aman untuk menyimpan uang atau dananya di bank. Dengan demikian, bank menanggung risiko reputasi atau reputation risk yang besar. Bank harus selalu menjaga tingkat kepercayaan dari nasabah atau masyarakat agar menyimpan dana mereka di bank, dan bank dapat menyalurkan dana tersebut untuk menggerakkan perekonomian bangsa. Dalam dunia perbankan, nasabah merupakan konsumen dari pelayanan jasa perbankan. Kedudukan nasabah dalam hubungannya dengan pelayanan jasa perbankan, berada pada dua posisi yang dapat bergantian sesuai dengan sisi mana mereka berada.[2] Dilihat dari sisi pengerahan dana, nasabah yang menyimpan dananya pada bank baik sebagai penabung deposan, maupun pembeli surat berharga, maka pada saat itu nasabah berkedudukan sebagai kreditur bank. Sedangkan pada sisi penyaluran dana, nasabah peminjam berkedudukan sebagai debitur dan bank sebagai kreditur. Dari semua kedudukan tersebut, pada dasarnya nasabah merupakan konsumen dari pelaku usaha yang menyediakan jasa di sektor usaha perbankan. Fungsi lembaga perbankan sebagai perantara pihak-pihak yang memiliki kelebihan dana membawa konsekuensi pada timbulnya interaksi yang intensif antara bank sebagai pelaku usaha dengan nasabah sebagai konsumen pengguna jasa perbankan. Dalam interaksi yang demikian intensif antara bank dengan nasabah, mungkin saja terjadi friksi yang apabila tidak segera diselesaikan dapat berubah menjadi sengketa antara nasabah dengan bank. Timbulnya friksi tersebut terutama disebabkan oleh empat hal yaitu:[3] 1. Informasi yang kurang memadai mengenai karakteristik produk atau jasa yang ditawarkan bank; 2. Pemahaman nasabah terhadap aktivitas dan produk serta jasa perbankan yang masih kurang;

3. Ketimpangan hubungan antara nasabah dengan bank, khususnya bagi nasabah peminjam dana; 4. Tidak adanya saluran memadai untuk memfasilitasi penyelesaian friksi yang terjadi antara nasabah dengan bank. Perlindungan nasabah merupakan tantangan perbankan yang berpengaruh secara langsung terhadap sebagian besar masyarakat. Oleh karena itu menjadi tantangan yang sangat besar bagi perbankan dan Bank Indonesia untuk menciptakan standar yang jelas dalam memberikan perlindungan kepada nasabah. II. Perlindungan Nasabah Nasabah merupakan konsumen dari pelayanan jasa perbankan, perlindungan konsumen baginya merupakan suatu tuntutan tidak boleh diabaikan begitu saja. Dalam dunia perbankan, pihak nasabah merupakan unsur yang sangat berperan sekali, mati hidupnya dunia perbankan bersandar kepada kepercayaan dari pihak masyarakat atau nasabah.[4] Kedudukan nasabah dalam hubungannya dengan jasa perbankan, berada pada dua sisi yang dapat bergantian sesuai dengan sisi mana berada. Dilihat pada sisi pengerahan dana, nasabah yang menyimpan dananya pada bank baik sebagai penabung, deposan maupun pembeli surat berharga (obligasi atau commercial paper) maka pada saat itu nasabah berkedudukan sebagai debitur dan bank sebagai kreditur. Dalam pelayanan jasa perbankan lainnya seperti dalam pelayanan bank garansi, penyewaan save depostie box, transfer uang, dan pelayanan lainnya, nasabah mempunyai kedudukan yang berbeda pula. Tetapi dari semua kedudukan tersebut pada dasarnya nasabah merupakan konsumen dari pelaku usaha yang menyediakan jasa di sektor perbankan[5]. Fokus persoalan perlindungan nasabah tertuju pada ketentuan peraturan perundangundangan serta ketentuan perjanjian yang mengatur hubungan antara bank dengan nasabah dapat terwujud dari suatu perjanjian, baik perjanjian yang berbentuk akta di bawah tangan maupun dalam bentuk otentik. Dalam konteks inilah perlu pengamatan yang baik untuk menjaga suatu bentuk perlindungan bagi konsumen namun tidak melemahkan kedudukan posisi bank, hal demikian perlu mengingat seringnya perjanjian yang dilaksanakan antara bank dengan nasabah telah dibakukan dengan suatu perjanjian baku[6]. Sisi lain yang menjadi fokus perlindungan konsumen dalam sektor jasa perbankan, yaitu pelayanan di bidang perkreditan. Hal-hal yang menjadi perhatian untuk perlindungan konsumen, yaitu pada proses yang harus ditempuh, dan warkat-warkat yang digunakan dalam pemberian krdit tersebut. Tidak kalah pentingnya pula yaitu saat pengikatan hukum antara bank dengan nasabah dimana secara hukum biasanya menyangkut dua macam pengikatan berupa: perjanjian kredit dan perjanjian tambahan yakni perjanjian mengikuti perjanjian pokok berupa suatu perjanjian penjaminan[7].

Bank Indonesia sebagai otoritas pengawas industri perbankan berkepentingan untuk meningkatkan perlindungan terhadap kepentingan nasabah dalam hubungannya dengan bank. Arah kebijakan pengembangan industri perbankan tersebut dilandasi oleh visi mencapai suatu sistem perbankan yang sehat. dan merusak sendi kepercayaan masyarakat. bersifat menyeluruh dan memberikan arah. Hal-hal yang menyangkut dengan usaha perlindungan nasabah diantaranya berupa laporan dan data-data yang merupakan bahan informasi. kuat dan efisien guna menciptakan kestabilan sistem keuangan dalam rangka membantu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. ataupun oknumnya yang tidak bertanggungjawab. 7/6/PBI/2005 tanggal 20 Januari 2005 tentang “Transparansi Informasi Produk Bank dan Penggunaan Data Pribadi Nasabah” dan PBI No. Sistim pengawasan yang independen dan efektif . Bank Indonesia sebagai pelaksana otoritas moneter mempunyai peranan yang besar dalam usaha melindungi. 7/7/PBI/2005 tanggal 20 Januari 2005 tentang “Penyelesaian Pengaduan Nasabah” dan PBI No. dan menjamin agar nasabah tidak mengalami kerugian akibat tindakan bank yang salah. API merupakan suatu kerangka dasar sistem perbankan Indonesia yang terdiri dari enam pilar. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah melalui Bank Indonesia mulai memperhatikan kepentingan nasabah dalam konteks perlindungan nasabah bank yang sebelumnya cenderung terabaikan.Lembaga perbankan adalah lembaga yang mengandalkan kepercayaan masyarakat. Dengan demikian guna tetap mengekalkan kepercayaan masyarakat terhadap bank. Struktur perbankan yang sehat 2. Berbagai regulasi dalam bidang perbankan mengenai perlindungan nasabah bank diantaranya adalah Penerbitan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. Mengingat pentingnya perlindungan nasabah tersebut. Enam pilar dalam API adalah: 1. baik oleh Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan maupun tidak optimalnya pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang mensyaratkan adanya keseimbangan perlindungan kepentingan konsumen dan pelaku usaha sehingga tercipta perekonomian yang sehat. dalam konteks ini termasuk dalam hubungan antara bank sebagai pelaku usaha dengan nasabahnya.8/5/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006 tentang “Media Perbankan”. bentuk dan tatanan pada industri perbankan untuk rentang waktu lima sampai sepuluh tahun ke depan. Sistim pengaturan yang efektif 3. Bank Indonesia menetapkan upaya perlindungan nasabah sebagai salah satu pilar dalam Arsitektur Perbankan Indonesia (API). pemerintah berusaha melindungi masyarakat dari tindakan lembaga.

Khusus untuk program edukasi nasabah. Peningkatan edukasi untuk nasabah.4. Edukasi masyarakat di bidang perbankan pada dasarnya merupakan pemberian informasi dan pemahaman kepada masyarakat mengenai fungsi dan kegiatan usaha bank. Hal ini antara lain ditunjukkan dengan cukup banyaknya keluhan-keluhan nasabah di . 2. pelaksanaannya dirasakan perlu diperluas hingga mencakup mereka yang belum dan akan menjadi nasabah bank agar pada saat pertama kali berhubungan dengan bank para calon nasabah tersebut sudah memiliki informasi yang cukup mengenai kegiatan usaha serta produk dan jasa bank. Empat aspek tersebut adalah[8]: 1. Dalam pelaksanaan kegiatan usaha perbankan seringkali hak-hak nasabah tidak dapat terlaksana dengan baik sehingga menimbulkan friksi antara nasabah dengan bank yang ditunjukkan dengan munculnya pengaduan nasabah. Perlindungan Konsumen Upaya perlindungan nasabah dalam Pilar ke VI API dituangkan dalam empat aspek yang terkait satu sama lain dan secara bersama-sama akan dapat meningkatkan perlindungan dan pemberdayaan hak-hak nasabah. dan 4. III. Pemberian Edukasi ini diharapkan dapat memfasilitasi pemberian informasi yang cukup kepada masyarakat sebelum mereka melakukan interaksi dengan bank. Industri perbankan yang kuat 5. 3. Pembentukan lembaga mediasi perbankan. sedangkan program penyusunan standar transparansi informasi produk perbankan ditujukan sebagai sarana awal untuk mencegah timbulnya permasalahan antara nasabah dengan bank. serta produk dan jasa yang ditawarkan bank. Mediasi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Proses mediasi perbankan merupakan kelanjutan dari pengaduan nasabah apabila nasabah merasa tidak puas atas penanganan dan penyelesaian yang diberikan bank. maka berpotensi menjadi perselisihan atau sengketa antara nasabah dengan bank cenderung berlarut-larut. Penyusunan standar mekanisme pengaduan nasabah. Apabila pengaduan nasabah tidak diselesaikan dengan baik oleh bank. Penyusunan standar transparansi informasi produk. Dengan demikian akan terhindar adanya kesenjangan informasi pada pemanfaatan produk dan jasa perbankan yang dapat menyebabkan timbulnya permasalahan antara bank dengan nasabah di kemudian hari. Infrastruktur pendukung yang mencukupi 6. Program penyusunan mekanisme pengaduan nasabah di bank dan program pembentukan lembaga mediasi independen ditujukan untuk mengatasi permasalahan antara nasabah dengan bank yang saat ini sudah terjadi.

Dalam praktek dikenal berbagai bentuk penyelesaian sengketa perdata seperti litigasi. baik melakukan tuntutan secara perdata maupun secara pidana. Oleh karena itu.8/5/PBI/2006 tentang Mediasi Perbankan dinyatakan bahwa sampai dengan akhir tahun 2007 pelaksanaan fungsi mediasi perbankan akan dilakukan oleh Bank Indonesia. 8/5/PBI/2006. Menurut Peraturan Bank Indonesia No. . Namun terdapat banyak kendala yang sering dihadapi. dan Mahkamah Agung[9]. Ketidakpuasan tersebut dikarenakan tidak terpenuhinya tuntutan nasabah bank baik seluruhnya maupun sebagian sehingga berpotensi menimbulkan sengketa antara nasabah dengan bank. Untuk mengurangi publikasi negatif terhadap operasional bank dan menjamin terselenggaranya mekanisme penyelesaian pengaduan nasabah secara efektif dalam jangka waktu yang memadai. serta putusan yang dijatuhkan seringkali mencerminkan tidak adanya unified legal work dan unified legal opinion antara Pengadilan Negeri.30 tahun 1999.berbagai media. diatur mengenai alternatif penyelesaian sengketa di luar pengadilan. Tetapi Penyelesaian pengaduan nasabah oleh bank yang diatur dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/7/PBI/2005 ini tidak selalu dapat memuaskan nasabah. Di antaranya adalah arbitrase dan mediasi seperti yang diatur dalam UU No. Pada PBI No.8/5/PBI/2006.2 tahun 2003. Kendala tersebut antara lain lamanya penyelesaian perkara. maka Bank Indonesia menetapkan standar minimum mekanisme penyelesaian pengaduan nasabah dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor: 7/7/PBI/2005 Tentang Penyelesaian Pengaduan Nasabah yang wajib dilaksanakan oleh seluruh bank. Sedangkan Mediasi Perbankan diatur dalam PBI No. Munculnya keluhan-keluhan yang tersebar pada publik melalui berbagai media tersebut dapat menurunkan reputasi bank di mata masyarakat dan berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat pada lembaga perbankan. Pengadilan Tinggi. Namun. Nasabah atau perwakilan nasabah dapat mengajukan upaya penyelesaian sengketa melalui mediasi ke BI apabila nasabah merasa tidak puas atas penyelesaian pengaduan nasabah. arbitrase dan/atau Mediasi. Pengaturan Mediasi di pengadilan diatur dalam Perma No. Hal-hal yang diatur dalam Mediasi Perbankan adalah: 1. maka yang dimaksud dengan Mediasi Perbankan adalah alternatif penyelesaian sengketa antara Nasabah dan Bank yang tidak mencapai penyelesaian yang melibatkan mediator untuk membantu para pihak yang bersengketa guna mencapai penyelesaian dalam bentuk kesepakatan sukarela terhadap sebagian ataupun seluruh permasalahan yang disengketakan. pihak-pihak yang bersengketa umumnya lebih banyak memilih penyelesaian melalui proses litigasi di Pengadilan Negeri.

Nasabah tidak dapat mengajukan tuntutan finansial yang diakibatkan oleh tuntutan immaterial. biaya murah dibandingkan dengan proses beracara di Pengadilan atau melalui Arbitrase. yang membentuk lembaga mediasi perbankan independen adalah asosiasi perbankan. 3. Beberapa keuntungan mediasi adalah sebagai berikut: 1.00 (Lima ratus juta rupiah).000. Mendorong terciptanya iklim yang kondusif bagi para pihak yang bersengketa tetap menjaga hubungan kerjasama mereka yang sempat terganggu akibat terjadinya persengketaan diantara mereka. kesepakatan sebagian. . 500. Dalam penyelesaian sengketa melalui mediasi.000. para pihak biasanya mampu mencapai kesepakatan di antara mereka. maka BI dapat memberi akreditasi pada lembaga mediasi perbankan indonesia tersebut. Kemudian untuk menjaga kualitas dari lembaga mediasi perbankan ini. Lembaga Mediasi mempunyai kewajiban melaporkan secara berkala pada BI mengenai sengketa yang pernah dimediasikan. IV. Agar mempunyai kekuatan hukum mengikat maka BI perlu membuat PBI tentang kewajiban Bank menjadi anggota lembaga mediasi. 3. atau tidak tercapainya kesepakatan atau kasus yang disengketakan. 4. Pelaksaan proses mediasi sejak ditandatanganinya perjanjian mediasi samapi dengan penandatanganan Akta Kesepakatan oleh para pihak dilaksanakan dalam waktu 30 hari kerja dan dapat diperpanjang sampai dengan 30 hari berikutnya berdasarkan kesepakatan nasabah dan bank. Asosiasi perbankan yang membentuk lembaga mediasi perbankan independen dapat terdiri dari gabungan asosiasi perbankan untuk menjaga independensinya. Dalam proses mediasi tidak diperlukan gugatan ataupun biaya untuk mengajukan banding sehingga biayanya lebih murah 2. Akta kesepakatan dapat memuat menyeluruh. Proses mediasi lebih bersifat informal dan menghasilkan putusan yang tidak memihak.2. sehingga manfaat mediasi dapat dirasakan. Selain dapat pula dilakukan perekrutan dari kalangan bankir. Sengketa yang dapat diajukan penyelesaiannya adalah sengketa keperdataan yang timbul dari transaksi keuangan yang memiliki tuntutan finansial paling banyak Rp. Pengajuan penyelesaian sengketa tidak melebihi 60 (enam puluh hari) kerja saat tanggal surat hasil penyelesaian pengaduan yang disampaikan bank kepada nasabah. Mediasi dapat menyelesaikan sengketa dengan cepat. Lembaga Mediasi Perbankan Independen di Indonesia Sesuai dengan Pasal 3 ayat 1 PBI No 8/5/PBI/2006. Bank Indonesia (BI) harus mewajibkan seluruh bank untuk menjadi anggota dari lembaga mediasi perbankan. 5.

V. maka BI perlu membentuk PBI tentang akreditasi. Selama ini sebelum terbentuknya lembaga mediasi perbankan independen. yaitu seperti terciptanya kepastian penyelesaian sengketa antara nasabah dengan bank. Dalam Lembaga mediasi ini harus ada mediator independen yang dapat memberikan saran sesuai dengan profesinya masing-masing. Dalam mendirikan mediasi perlu diadakan segmentasi mediasi perbankan agar tercipta parallel institution lembaga mediasi perbankan sehingga masyarakat dapat memilih lembaga mana yang mereka pilih untuk menyelesaikan sengketa. Saat ini bank di Indonesia sedang giat-giatnya melakukan konsolidasi internal untuk memenuhi modal dan sertifikasi para bankir. maka harus ada seorang mediator yang ahli di bidang hukum perbankan. Dari permasalahan tersebut terdapat pemikiran apa tidak sebaiknya mediasi perbankan ini dijalankan oleh BI saja. lembaga mediasi perbankan tersebut memerlukan dana operasional. tentu sangat sulit. Melalui mediasi perbankan ini juga akan mendorong terciptanya keseimbangan hubungan antara posisi nasabah dengan bank. Tetapi dalam mendirikan Lembaga Mediasi ini terdapat beberapa kendala antara lain masalah dana. misalnya ada konflik antara nasabah dengan bank mengenai masalah hukum. Oleh karena itu. Untuk prosedur akreditasi.Kemudian dari laporan tersebut BI dapat mengevaluasi kinerja dari lembaga mediasi perbankan indpendent tersebut dan memberikan akreditasinya. Keberadaan lembaga tersebut merupakan suatu terobosan seperti di negara lain karena Indonesia ingin memberdayakan nasabah perbankan dengan memberikan perlindungan kepada nasabah. Kemudian lembaga ini harus berfungsi seperti arbitrase sehingga keputusannya mengikat bagi kedua belah pihak. BI telah mempunyai sarana dan prasarana yang memadai. Penutup Keberadaan lembaga mediasi perbankan merupakan sebuah bentuk perlindungan terhadap konsumen. mediasi perbankan dijalankan oleh BI. Pada awalnya. Dengan demikian pembentukan mediasi perbankan diharapkan akan memberikan nilai positif baik bagi nasabah maupun bank. Hal ini merupakan salah satu langkah kebijakan yang akan diterapkan Bank Indonesia (BI) yang tertuang dalam Arsitektur Perbankan Indonesia (API). Hal ini menyebabkan konsentrasi modal bank diprioritaskan untuk bank itu sendiri. hasil dari kesepakatan kedua belah pihak kemudian didaftarkan pada Pengadilan negeri agar mempunyai kekuatan hokum mengikat. pendanaan yang cukup dan sumber daya berupa mediator yang memperoleh pelatihan dan sertifikasi sebagai mediator dan mempunyai latar belakang perbankan. . Apabila biaya ini dibebankan pada bank sebagai anggota dari lembaga mediasi perbankan. Dana yang diperlukan untuk mendirikan lembaga mediasi perbankan independen tersebut tentu sangat besar.

Kehadiran mediasi perbankan sangat penting. Diakses 27 November 2007. Hadad .BI.” Http://www. Citra Aditya Bakti. Hal ini dikarenakan perbankan merupakan lembaga yang sangat mengandalkan kepercayaan dari masyarakat luas. [5] Ibid .go. 2006) hal 2003..id.bi. 2003) Fuady. Muhammad. [2] Muhammad Djumhana. diakses tgl 19 Nov 2007 Yahya Harahap. Hukum Perbankan Modern Buku Kesatu.go. 2003). diakses tgl 19 Nov 2007 [4] M. Masyarakat mengandalkan jasa bank dilandasi rasa kepercayaan. Hukum Perbankan di Indonesia (Bandung: PT Citra Aditya Bhakti.go. Burhanuddin Abdullah. 2003. Keberadaan Lembaga Mediasi independen ini akan memberikan manfaat baik bagi nasabah maupun bank. Bandung: Citra Aditya Bakti. hal 282. id/API. “Perlindungan dan Pemberdayaan Nasabah Bank Dalam Arsitektur Perbankan Indonesia.bi. Hukum Perbankan di Indonesia (Bandung: PT Citra Aditya Bhakti. Munir.” Http://www.” //www.html>. Hadad (a). end note --------------------------. Oleh karena itu. Muliaman D. Opcit. Jalan Menuju Stabilitas Mencapai Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan (Jakarta : Pustaka LP3ES Indonesia.id.] Pustaka ”Arsitektur Perbankan Indonesia. Perlawanan Terhadap Eksekusi Grose Akta Serta Putusan Pengadilan dan Arbitrase dan Standar Hukum Eksekusi(Bandung: PT. kepercayaan dari masyarakat harus tetap terjaga. Jalan Menuju Stabilitas Mencapai Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan (Jakarta : Pustaka LP3ES Indonesia. 1996) [1] Burhanuddin Abdullah. 2006) Djumhana. Djumhana. Hal 282 [3] Muliaman D. “Perlindungan dan Pemberdayaan Nasabah Bank Dalam Arsitektur Perbankan Indonesia.

hal 283 [8] Muliaman D Hadad.[6] Ibid. hal 5. Citra Aditya Bakti. op. Hal 282-283 [7] Ibid. 1996). . Perlawanan Terhadap Eksekusi Grose Akta Serta Putusan Pengadilan dan Arbitrase dan Standar Hukum Eksekusi(Bandung: PT.cit [9] Yahya Harahap.

dan suatu ketika merupakan pengancam utama dari kebebasan manusia. dari awal hingga akhir. Ketiga. Dalam kasus BLBI misalnya. Dalam skala luas. Dalam kasus tindak pidana perbankan yang diserap sebagai tindak pidana korupsi hal ini sering diabaikan. Untuk itulah. Packer di dalam bukunya The Limit of Criminal Sanction. kepada siapakah (adresat) hukum perbakan ditujukan? Lalu dalam hal-hal apa saja hukum perbankan bisa dikesampingkan oleh undang-undang Tindak Pidana Korupsi? Pertanyaan ini begitu penting dikedepankan. Oleh karenanya. Ia merupakan penjamin apabila digunakan secar hemat-cermat dan secara manusiawi. hukum . Sanksi Pidana sangatlah diperlukan karena kita tidak dapat hidup. sehingga harus selalu diijadikan pedoman dalam penggunaan sarana hukum pidana. dalam mempergunakan hukum pidana haruslah memperhatikan garis-garis kebijakan penggunaan hukum pidana. hal ini bisa menimbulkan ketidakpercayaan perbankan nasional dan internasional terhadap kepastian hukum di Indonesia. Herbert L. berupa pengendalian perbuatan dengan tidak menggunakan sanksi pidana yang efektif. Pertanyaan yang bisa dimunculkan terhadap hal ini. atau sebaliknya akan menjadi pengancam apabila digunakan secara sembarangan dan secara paksa. Sanksi Pidana merupakan alat atau sarana terbaik yang tersedia. Kedua. hukum pidana dibatasi dengan beberapa asas-asas penting yang sifatnya mengikat. yakni : Pertama. yakni mengenai banyaknya atau melimpahnya perbuatan yang dikriminalisasikan dan krisispelampauan batas dari pidana.menyatakan bahwa ada tiga inti yang harus dijadikan patokan memandang hukum pidana. Ketidak pastian hukum dalam bidang perbankan sudah menunjukkan ciri terjadinya krisis kelebihan kriminalisasi.Lemahnya Penegakan Pidana Perbankan Dijeratnya para pelaku tindak pidana perbankan dengan ketentuan tindak pidana korupsi beberapa tahun belakangan ini bisa menimbulkan efek buruk bagi dunia perbankan. Tidak Taat Asas Pidana Penggunaan hukum pidana sebagai sebuah bentuk penghukuman merupakan hal yang limitatif sifatnya. (muladi :1984). yang kita miliki untuk menghadapai kejahatan-kejahatan atau bahaya besar dan serta merta untuk menghadapi ancaman-ancaman dari bahaya. mengingat dalam beberapa kasus perbankan yang dijerat dengan tindak pidana korupsi telah menimbulkan keresahan dikalangan dunia perbankan. Sanksi Pidana suatu ketika merupakan penjamin yang utama. Terkait dengan hal ini. Banyak kasus yang kemudian muncul menimbulkan ketidakpastian hukum. sekarang maupun di masa depan tanpa pidana. salah satunya adalah mentaati asas-asas hukum yang berlaku dalam hukum pidana. agar tujuan pemidanaan bisa terjaga dengan baik dalam suatu proses penegakan hukum pidana.

yang menyatakan secara jelas bahwa pengembalian kerugian negara sebagai akibat perbuatan korupsi tidak menghilangkan sifat melawan hukum pidananya. Padahal.eh UU Korupsi. aspek hukum yang terkait dalam undang-undang ini didominasi oleh ketentuan hukum administrasi dan perdata. menurut kekhususan yang sistematis. sekaligus mengaburkan substansi penegakan hukum itu sendiri.pidana korupsi yang seharusnya ditegakkan. . karena disamping bisa menimbulkan anomie. Neloe dihukum dengan UU Korupsi. yaitu apabila dengan jelas diketahui. Hal ini jelasbertentangan dengan undang-undang tindak pidana korupsi. Ini jelas sangat berbahaya. Tetapi faktanya. perbuatan yang dilakukan oleh Neloe telah secara jelas dan tegas telah diatur dalam UU No 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan. Dalam dua contoh kasus diatas. juga mengakibatkan terciptanya rasa takut dalam diri masyarakat. Hukum Pidana Korupsi menjadi sangat superior terhadap hukum perbankan. hal ini telah mempertimbangkan aspek iklim perbankan nasional pada khususnya dan kepercayaan luar negeri terhadap integritas aktor perbankan nasional pada umumnya. Sehingga tercipta kepastian hukum dan kewibawaan undang-undang itu sendiri. atau sebaliknya. bahwa pembentuk undang-undang memang bermaksud untuk memberlakukan ketentuan pidana tersebut sebagai suatu ketentuan pidana yang bersifat khusus Dampak buruk dari tidak dipahami dan diimplementasikannya asasasas hukum pidana secara baik adalah timbulnya ketidakjelasan pola penegakan hukum. Pembagian porsi hukum ini bukan tanpa dasar. undang-undang yang dibuat telah secara jelas dan tegas menuju kepada siapa (adresat) mereka ditujukan. dinegasikan dengan penyelesaian hukum perdata. sementara ketentuan hukum pidana mendapatkan porsi yang sangat kecil karena kapasitas dan misinya ditujukan sebagai sarana hukum terakhir (ultimum remedium). Karena secara normatif. Hal ini jelas sangat aneh bin ajaib. tampak penegakan hukum yang dikedepankan tidak mempertimbangkan secara cermat dan tepat asaslex spesialis derogat legi generalis. Lebih lanjut. jika melihat ketentuan hukum perbankan. dampak buruk lainnya adalah timbulnya deligitimasi undang-undang perbankan itu sendiri. ia tetap dapat dianggap sebagai suatu ketentuan pidana yang bersifat khusus. Kekhususan yang Sistematis (Sistematis Specialite) merupakan suatu ketentuan pidana yang menyatakan walaupun tidak memuat semua unsur dari suatu ketentuan yang bersifat umum. Sebaliknya dalam kasus Neloe. Padahal secara filosofis.

yang pada gilirannya mempengaruhi efektivitas praktek penegakan hukum. perbuatan yang dilarang (strafbaar). Ketika hal itu menjadi bagian “Ketentuan pidana” dalam undang-undang administratif. digunakan sebutan umum “Barang siapa” untuk menujukan addressaat norm-nya. setidaknya memuat rumusan tentang: a. 9. Idiom „barang siapa” merujuk kepada addressat suatu tindak pidana. ancaman pidana di tujukan kepada orang perseorangan (natuurlijke person) atau korporasi (korporatie). baik dalam bentuk melakukan sesuatu (commission). 8. yaitu siapakah yang sebenarnya dituju oleh suatu norma hukum tentang suatu tindak pidana 5. Ada rumusan tindak pidana yang melarang perbuatan yang “menyakiti”. seperti pembunuhan (Pasal 338 KUHP) atau pencuruan (Pasal 362 KUHP). maupun ketika merumuskannya dalam undangundang pidana. Sepintas lalu terlihat ketika ancaman pidana hanya di tujukan terhadap orang perseorangan (KUHP). bukan hanya terdapat orang perseorangan (naturlijk persoon) tetapi juga korporasi. Terlalu beragamnya perumusan tindak pidana dalam peraturan perundang-undangan bersambungan langsung dengan masalah penafsiran atas ketentuan tersebut. 2. 6. Bahkan pada tahun yang sama dengan tahun dimana pertama kali digunakan idiom “setiap orang”. 7. tergantung dari jawaban apakah seseorang tersebut adalah subyek hukum yang dituju oleh norma hukum yang terdapat dalam perundang-undangan yang memuat suatu tindak pidana. b. yang pada gilirannya dapat memengaruhi pencapaian tujuan hukum itu sendiri. untuk menentukan apakah seseorang adalah “barang siapa” sebagaimana dimaksud dalam rumusan tindak pidana. Sebagai sarana memaksakan keberlakuan atau dapat ditaatinya tersebut. Adressaat norm suatu tindak pidana umumnya di hubungkan dengan suatu istilah yang kerap disebut sebagai “kenmerk”. sehingga jelas merupakan kekeliruan ketika praktek hukum mencoba memasukan dalam pengertian “barang siapa” dalam KUHP. pembentuk undang-undang mengundangkan Undang-Undang Nomor . Dalam hal ini adalah idiom “hij die” atau di indonesia-kan “barang siapa”. ancaman pidana (strafmaat).Perumusan Tindak Pidana Dalam Peraturan Perundang Undangan 1. merugikan atau melukai obyek hukum. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang pembentukan Peraturan Perundangundangan telah memberikan pedoman dan teknik dasar dalam perancangan suatu peraturan perundang-undangan. Berdasarkan sejarahnya semua tindak pidana dalam KUHP tertuju pada orang perseorangan. 3. Secara umum suatu rumusan tindak pidana. dan c. tidak melakukan sesuatu (omission) dan menimbulkan akibat (kejadian yang ditimbulkan oleh kelakuan). “elemen” atau”bestanddeel” suatu tindak pidana. 4. Dalam hukum pidana modern. Dengan demikian. baik badan hukum ( recht person) ataupun bukan badan hukum untuk mendapat gambaran tentang addressat suatu tindak pidana dapat juga dilakukan dengan melihat hal ihwal kepentingan yang hendak dilindungi oleh norma-norma hukum pidana itu. seperti kepastian hukum dan keadilan. subyek hukum yang menjadi sasaran norma tersebut (addressaat norm).

16. 12. yang sekalipun telah menggunakan istilah setiap orang tetapi masih ditambahkan istilah “lembaga” untuk menunjukan addressaat norm-nya. Ketika tindak pidana berisi rumusan tentang dilarangnya suatu omisi. mendengar dan mengalami sendiri dari suatu tindak pidana. sedangkan perbuatan yang dilarangnya (strafbaar) berada dalam norma administratif ketentuan administratif ini dapat berupa suatu perintah ataupun larangan. tetapi justru yang melihat. rang asing” dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. seperti “Setiap pihak” dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahutentang 1992 Pasar Modal atau “ 11. dan Tumbuhan dengan menggunakan istilah “barang siapa” untuk menujukan sasaran umum tindak pidana yang diaturnya. masih mengancam pidana terhadap perbuata. Perbuatan yang dilarang (strafbaar) dalam suatu tindak pidana adalah isi undangundang yang harus dibuktikan penuntut umum. Demikian pula halnya Pasal 24 UndangUndang Nomor 31 Tahun 1999 yang mengancam pidana bagi “saksi”. Sementara itu. kesengajaan seharusnya dikeluarkan dari rumusan tindak pidana. 10.16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan. Beberapa istilah bersifat sangat umum. Ketentuan pidana dalam undang-undang administratif seharusnya hanya berisi ancaman pidananya (strafmaat). Ancaman pidana tidak dapat ditujukan kepada “saksi” karena saksi adalah orang yang tidak melakukan tindak pidana. Lain lagi halnya dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008. . Dalam peraturan perundang-undangan. 15. Persoalannya hingga sekarang landasan demikian belum juga dipositifkan dalam peraturan perundang-undangan sehingga terhadap undang-undang diluar KUHP dibentuk dengan suatu asumsi bahwa perbuatan yang dilarang di dalam ketentuan pidana selalu dipandang sebagai dolus. Ikan. 14. Tidak pidana pertama-tama suatu tindak pidana berisi larangan terhadap kelakuan-kelakuan tertentu. mengenai kealpaan dapat tetap menjadi bagian rumusan tindak pidana. 17. perbuatanya tetap dirumuskan dalam undang-undang. 13. Bukankah hukuman pidana hanya dapat bekerja jika masyarakat mendapat peringatan yang memadai baik mengenai perbuatan mana yang tidak boleh dilakukan maupun perbuatan yang justru harus dilakukan. sehingga mengacaukan apakah seseorang itu sebagai pelaku pidana ataukah hanya saksi. Perlu kebijaksanan pembentukan undang-undang untuk menetapkan hanya perbuatan yang dapat terjadi karena kesengajaan pembuatnya saja yang dijadikan tindakan tindak pidana. kecuali dinyatakan dengan tegas sebagai delik culpa.demikian pula ketentuan Pasal 83 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 Tentang Narkotika. 18. dengan menentukan: “Percobaan atau permufakatan jahat diancam dengan pidana yang sama”. apabila mendapati keadaan-keadaan yang juga ditentukan dalam undang-undang tersebut.dengan demikian. untuk dapat menyatakan seseorang melakukan tindak pidana. maka pada hakekatnya undang-undang justru memerintahkan setiap orang melakukan sesuatu.

a.000 (lima juta rupiah)”. Ketika rumusan tindak pidana di tujukan untuk mengamankan ketentuan administratif yang berisi atau larangan. Oleh karena itu. Artinya. Pasal 28. Pasal 27. yang berwujud nestapa yang dengan sengaja ditimpakan negara kepada pembuat tindak pidana tersebut 24. Umumnya pengancaman pidana dalam suatu rumusan tindak pidana. Dalam hal ini rumusan tindak pidananya adalah sebagai berikut: a. Pasal 33. c. Bahkan “larangan” terhadap perbuatan yang termaktub dalam rumusan tindak pidana justru “timbul” karena adanya ancaman penjatuhan pidana tersebut barangsiapa yang melakukan perbuatan tersebut. Pasal 24. ketentuan administratif tersebut harus menjadi perbuatan yang di dakwakan (berstanddeelen delict) dan karenanya harus dapat dibuktikan.19. dalam lapangan hukum acara. 22. Padahal tindak pidana ini dapat dibedakan dalam “pelanggaran perintah administratif”. Pasal 32. jika rumusan tindak pidana di tujukan untuk mengamankan perintah yang terdapat dalam ketentuan administratif. satu jenis pidana diancamkan sebagai ancaman pidana tunggal (kecuali terhadap pidana mati. Pasal 28. sedangkan tindak pidana sebagai akibat “pelanggaran larangan administratif” terjadi dalam hal melanggar ketentuan Pasal 26 dan Pasal 35 ayat (2) peraturan ini. Pasal 33 dan Pasal 35 ayat (1) peraturan daerah ini. dengan penjatuhan pidana maka celaan yang objektif ada pada tindak pidana kemudian berubah bentuk menjadi celaan subyektif kepad pembuatnya. dapat mengikuti beberapa model. Pasal 23 ayat (2). Pasal 26. ancaman pidana dalam suatu rumusan tindak pidana selalu ditujukan kepada pembuatannya 26. Demikian misalnya ketentuan pidana dalam Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2004 tentang Kepariwisataan. Pasal 23 ayat (2). satu jenis pidana diancamkan sebagai alternatif dari jenis pidana lain. pengkajian terhadap rumusan ancaman pidana dalam berbagai peraturan . Pasal 25. “Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16. b. maka ketentuan administratif tersebut hanya diperlukan untuk menafsirkan bagian inti (bestanddeel) tindak pidana tersebut yang sebenarnya baik perbuatan maupun sanksinya telah ada dalam ketentuan pidana tersebut. 5. yaitu sebagaimana dalam hal terjadi pelanggaran norma administratif yang ditentukan dalam Pasal 16. satu jenis pidana diancamkan secara kombinasi alternatif-kumulatif. Pasal 32. Pasal 30. Pasal 27. 23. 21. maka ketentuan administratif tersebut menjadi bagian inti (bestanddeel) tindak pidana.000. Pasal 30. 25. Pasal 35 Peraturan daerah ini diancam dengan pidana kurungan selamalamanya 3 (tiga) bulan. Antara “perbuatan yang dilarang” atau strafbaar dan “ancaman pidana” atau strafmaat mempunyai hubungan sebab akibat (kausalitas). 20. yaitu. Selain itu. Konsekuensinya. dan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. Pidana adalah reaksi atas tindak pidana. b. selalu harus dialternatifkan dengan pidana seumur hidup atau pidana penjara selama waktu tertentu). Sebaliknya. Pasal 25.

Beberapa undang-undang mengunakan istilah “hukum”. Membayar. Umumnya ancaman pidana ditempatkan pada bagian akhir suatu rumusan tindak pidana. 36.Dipidana dengan pidana denda…”. 35.perundang-undangan menujukan adanya keberagaman perumusan ancaman pidana. menggunakan idiom ”Pidana denda”. Sedangkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 dan berbagai undangundang lainnya hanya menggunakan istilah “Denda” saja tanpa ditambahkah istilah “Pidana” didepannya. sebagaimana terurai di bawah ini. Dalam Pasal 16 undang-undang tersebut ditentukan “. dalam Pasal 6 UndangUndang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Pidana Pencucian Uang. menggunakan anak kalimat: “…Dikenakan sanksi pidana penjara…”. 32.”. menggunakan istilah “pidana” tetapi istilah tersebut tidak selalu digunakan dalam undang-undang. 33. yang menentukan : … Dengan pidana penjara sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun…” Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Meskipun umumya para ahli sepakat. didepan kata “Penjara” tidak digunakan kata “Pidana”. menggunakan istilah “serendahrendahnya” dan “setinggi-tingginya” untuk menunjukkan minimum dan maksimum khusus pidana dendanya. Menyembunyikan . sehingga tetulis: “…Dipidana dengan penjara…”. Sementara itu Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monpoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.. 29. Dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi khususnya ketentuan Pasal 18 tentang pidana tambahan pembayaran uang pengganti. Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia menggunakan istilah “Paling lama” untuk pidana penjara dan “ Paling sedikit “ dan “Paling banyak” untuk denda. 27. Menitipkan. Senada dengan hal ini Undang-Undang Nomor 51 Tahun 1960 tentang larangan pemakaian tanah tanpa izin yang berhak atau kuasanya menggunakan istilah “…Dapat dipidana dengan…”lain lagi dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang serikat pekerja/serika buruh. 34. Teknik terakhir ini untuk menghindari kesan ancaman pidana tertuju hanya terhadap sebagian perbuatan saja (bagian perbuatan yang disebut terakhir). Menghibahkan. 30. digunakan istilah “Sebanyak-banyaknya” untuk menggambarkan jumlah maksimum pidana tambahan pembayaran uang pengganti yang dapat dijatuhkan. 28. Mentransfer. Misalnya Undang-Undang Nomor Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Menukarkan. yang menentukan : “Setiap orang yang senada dengan sengaja : Menempatkan. Misalnya Pasal 13 ayat (1) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Membawa. Misalnya. dalam Pasal 48 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. 31. 37. setelah uraian perbuatannya digunakan istilah “…Diancam dengan pidana penjara..

Sekalipun salah satu ancaman pidana dalam rumusan tindak pidana adalah denda. c. . dan paling banyak…” Namun demikian. . Setiap orang yang melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf a. . 44. tidak begitu halnya dengan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. Dengan demikian.. Penempatan rumusan ancaman pidana yang tidak tepat secara demikian juga dilakukan pembentuk undang-Undang dalam banyak Undang-Undang diantaranya: . ditentukan : “…dipidana dengan pidana penjara paling singkat… dan paling lama. 47. Membayar. dengan menggunakan model pengancaman kumulatif (yang ditandai dengan kata penghubung “dan” diantara dua jenis pidana yang diancam) atau model kombinasi alternatif–kumulatif yang ditandai dengan kata penghubung “dan/atau” diantara dua jenis pidana yang diancamkan). Persoalannya. Menyembunyikan atau menyamarkan…”. Pasal 60.Pasal 13 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002. Umumnya undang-undang menempatkan ancaman minimum khusus ini “didepan” ancaman maksimum khususnya. Membawa.”. Menitipkan. . Beberapa undang-undang di luar KUHP menggunakan minimum khusus dalam ancaman pidana sementara sistem ini tidak dikenal dalam KUHP..Perumusan ini menjadi lebih baik apabila dirumuskan sebagai berikut : “ Dipidana dengan pidana penjara…. 42. ditentukan : “… Dipidana dengan denda paling sedikit .dipidana karena tindak pidana pencucian uang dengan pidana penjara…”. Menghibahkan.Pasal 77 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002.setiap orang yang: Menempatkan. hanya dapat dijatuhkan pidana pokok berupa denda. tetapi tetap saja dengan model pengancaman kumulatif hakim. Menukarkan. 39. dan tidak dapat dijatuhkan jenis pidana perampasan kemerdekaan.. Pasal 63.atau menyamarkan….Pasal 39 ayat (1) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 jo Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000. 38.Pasal 59. dan Pasal 64 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997.Pasal 49 dan Pasal 50 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004. 41. Demikian pula halnya terhadap denda. Misalnya pada rumusan tindak pidana yang ditentukan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasurasian. . Pasal 61. pada subyek tindak pidana korporasi. dan e dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau “Pidana penjara paling lama 25 (dua puluh lima) tahun dan paling singkat 10 (sepuluh) tahun”. 45. . d. Beberapa undang-undang di luar KUHP telah menyimpangi pola umum pengancaman pidana dalam KUHP. 46.Pasal 49 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 jo Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998. Mentransfer.. 43. b. 40.

dan e. Demikian pula ketentuan Pasal 39 undang-undang tersebut. karena dalam Pasal 41. dan pidana penjara seumur hidup disebutkan lebih dahulu dari pada pidana penjara selama waktu tertentu. . 56. fix model. Hal ini akan membuka disparitas pidana yang terlalu lebar antara satu tindak pidana dan tindak pidana yang lain. Berdasarkan ketentuan Pasal 103 KUHP. Argumen ini juga menjadi gugur. tetapi menggunakan model minimum khusus. Pasal 54. free model. dengan penyebutan dalam bagian ketentuan lain diluar rumusan tindak pidana jumlah pidana untuk beberapa kategori tertentu. Pasal 50. di pidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara singkat 10 (sepuluh) Tahun dan paling lama 25 (dua puluh lima) tahun. d. 55. 51. 57. tetap saja harus disebut lebih dulu daripada maksimum khususnya. dan dalam hal ini digunakan minimum khusus. Pasal 39 dan Pasal 40 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000. tidak mencantumkan pidana denda secara jelas dalam ancaman pidana. Pasal 41 A. maka minimum khusus disebutkan lebih dulu. Berdasarkan hal ini. categorization model. 50. dalam hal ini rumusan tindak pidana menyebutkan dengan tegas berapa jumlah pidana (maksimum ataupun jika perlu minimumnya) yang dapat dijatuhkan hakim. Pasal 38. Hal ini juga “disadari” oleh pembentuk undang-undang ini. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 jo Undang–undang Nomor 16 Tahun 2000 menggunakan free model.Undang-Undang Perpajakan. Ada tiga model perumusan jumlah pidana. 52. Kedua. Pasal 55 dan Pasal 58 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995. 54. Demikian pula hanya ketentuan Pasal 51. Minimum khusus disebutkan kemudian dari pada maksimum khususnya. dalam hal ini undang-undang tidak menentukan dengan pasti jumlah pidana untuk setiap tindak pidana. melainkan penyerahan sepenuhnya kepada kebijaksanaan hakim . mestinya Pasal 36 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang pengadilan Hak Asasi Manusia menentukan: setiap orang yang melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf a. 58. pidana mati disebutkan lebih dulu daripada pidana penjara seumur hidup. Dengan demikian. kecuali ditentukan lain oleh undang-undang itu. dan Pasal 41 B. pertama. jika diperhatikan ketentuan Pasal 37. ketentuan ini juga berlaku dalam undangundang diluar KUHP. b. Pasal 52. 49. Demikian misalnya dalam Pasal 6 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2003 tentang Terorisme. Disini ancaman pidana tunggal (hanya pidana penjara selama waktu tertentu). Padahal Undang-Undang tersebut tidak menyatakan menyimpang dari ketentuan Pasal 12 ayat (4) KUHP. sekalipun pidana penjara selama waktu tertentu merupakan alternatif dari pidana penjara seumur hidup dan pidana mati.48. Ketiga. ancaman pidana denda disebut dengan tegas (fix model) berapa jumlah yang mungkin dijatuhkan oleh hakim. melainkan diancamkan dengan perkalian nilai cukai yang seharusnya dibayar pelaku. 53. Sekalipun menggunakan minimum khusus. c.

atau kekayaan yayasan yang dialihkan atau dibagikan (UU Nomor 16 Tqahun 2001). umumnya undang-undang menggunakan jenis-jenis pidana pokok yang ditentukan dalam Pasal 10 KUHP. barang.Pasal 53 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 yang menentukan: “Semua benda hasil tindak pidana atau alat-alat termasuk alat angkutnya yang dipergunakan untuk melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46. dan/atau denda tidak menghilangkan kewajiban pengusaha membayar hak dan/atau ganti kerugian kepada tenaga kerja pekerja/buruh”. beberap ketentuan yang bersifat punitive tidak jelas apakah masuk sebagai sanksi pidana (straf) ataukah tindakan (maatreegel). Ketika mencantumkan pidana pokok dalam undang-undang di luar KUHP. 60. .59.Pasal 189 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 yang menentukan: “Sanksi pidana penjara. . pemegang izin usaha penyedia tenaga listrik dan pemegang izin operasi diwajibkan untuk memberi ganti rugi”.Pembatasan gerak pelaku baik bertujuan untuk menjauhkan pelaku dari korban dalam jarak dan waktu tertentu. .Pasal 62 ayat (3) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2002 yang menentukan : “Selain pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (2). . kurungan.Pembayaran uang pengganti (UU 31/1999).Kewajiban membayar biaya yang timbul akibat tindak pidana (UU 27/2003). diantaranya adalah: . 61.Larangan pada pelaku usaha untuk menduduki jabatan direksi atau komisaris sekurang-kurangnya 2 (Dua) Tahun dan selama-lamanya 5 (Lima) Tahun (UU Nomor 5 Tahun 1999). maupun pembatasan hak-hak tertentu dari pelaku (UU 23/2004). Pasal 51.Penetapan pelaku mengikuti program konseling dibawah pengawasan lembaga tertentu (UU 23/2004). . Pasal 47. Selain yang disebutkan dalam Pasal 10 KUHP.Pasal 78 ayat (15) Undanng-Undang Nomor 41 Tahun 1999 yang menentukan : ” Semua hasil hutan dari hasil kejahatan dan pelanggaran dan atau alat-alat termasuk alat angkutnya yang dipergunakan untuk melakukan kejahatan dan atau pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam pasal ini rampas untuk negara “.Pencabutan izin usaha (UU Nomor 5 Tahun 1999). . Pasal 50.Kewajiban mengembalikan uang. misalnya : .Penghentian kegitan lain atau tindakan tertentu yang menyebabkan timbulnya kerugian pada pihak lain (UU Nomor 5 Tahun 1999).Pencabutan izin usaha penyediaan tenaga listrik atau izin operasi (UU Nomor 20 Tahun 2002).Pembayaran ganti rugi (UU Nomor 3 Tahun 1997). Sementara itu. . . . . . . dan Pasal 52 dapat dirampas atau dimusnahkan oleh Negara sesuai dengan perampasan“. Pasal 48. . Pasal 49.

Pasal 2 Undang-Undang ini berlaku untuk setiap Orang yang melakukan perbuatan hukum sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. Hal?hal semacam tersebut di atas selain secara mudah telah dapat didigitalisasi oleh komputer. terutama di negara Indonesia.A. pengadilan biasanya berpegang pada prinsip originalitas (mencari bukti yang asli). dan tele?conference dapat menjadi sumber potensi entiti yang dapat dijadikan bukti. 2. Namun tentu saja pengadilan harus yakin bahwa berbagai bukti tersebut benar-benar dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Beberapa pasal dalam Undang-Undang Internet dan Transaksi Elektronik yang berperan dalam e-commerce adalah sebagai berikut : 1. The rule of authentification. Ketentuan Hukum Dalam Kejahatan E-Commerce Hak dan kewajiban tidak ada artinya jika tidak dilindungi oleh hukum yang dapat menindak mereka yang mengingkarinya. dan tidak ada orang lain yang dapat mengubah isi email ataupun mengirimkannya selain yang bersangkutan). Termasuk pula untuk proses autentifikasi dokumen digital yang telah dapat diimplementasikan dengan konsep digital signature. Sebuah dokumen untuk dapat diajukan ke depan pengadilan harus mengikuti tiga aturan utama: 1. Dalam melakukan kegiatan e-commerce. Di dalam dunia maya. Hearsay rule. namun telah cukup untuk dapat menjadi acuan atau patokan dalam melakukan kegiatan cyber tersebut. walaupun belum secara keseluruhan mencakup atau memayungi segala perbuatan atau kegiatan di dunia maya. Aspek hearsay yang dimaksud adalah adanya pernyataan?pernyataan di luar pengadilan yang dapat diajukan sebagai bukti. video. mulai dari dokumen tertulis. Pengadilan modern telah dapat mengadaptasi ketiga jenis aturan ini di dalam sistem Ecommerce. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Internet dan Transaksi Elektronik. rekaman pembicaraan. foto. hal?hal semacam email. Masalah autentifikasi misalnya telah dapat terpecahkan dengan memasukkan unsur?unsur origin dan accuracy of storage jika email ingin dijadikan sebagai barang bukti (sistem email telah diaudit secara teknis untuk membuktikan bahwa hanya orang tertentu yang dapat memiliki email dengan alamat tertentu. Faktor best?evidence berpegang pada hirarki jenis bukti yang dapat dipergunakan di pengadilan untuk meyakinkan pihak?pihak terkait mengenai suatu hal. dapat pula dimanipulasi tanpa susah payah. baik yang berada di wilayah hukum . dan 3. The Best Evidence rule. tentu saja memiliki payung hukum. chatting. sehubungan dengan hal ini. dan lain sebagainya.

atau lembaga penyelesaian sengketa alternatif lainnya yang berwenang menangani sengketa yang mungkin timbul dari Transaksi Elektronik internasional yang dibuatnya.Indonesia maupun di luar wilayah hukum Indonesia. Ketentuan mengenai pembentukan Lembaga Sertifikasi Keandalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. 2. Pasal 10 1. Setiap pelaku usaha yang menyelenggarakan Transaksi Elektronik dapat disertifikasi oleh Lembaga Sertifikasi Keandalan. Jika para pihak tidak melakukan pilihan hukum dalam Transaksi Elektronik internasional. Pasal 18 1. arbitrase. 4. atau lembaga penyelesaian sengketa alternatif lainnya yang berwenang menangani sengketa yang mungkin timbul dari transaksi tersebut. 2. Para pihak memiliki kewenangan untuk memilih hukum yang berlaku bagi Transaksi Elektronik internasional yang dibuatnya. Transaksi Elektronik yang dituangkan ke dalam Kontrak Elektronik mengikat para pihak. Para pihak memiliki kewenangan untuk menetapkan forum pengadilan. didasarkan pada asas Hukum Perdata Internasional 5. 5. arbitrase. 2. 3. yang memiliki akibat hukum di wilayah hukum Indonesia dan/atau di luar wilayah hukum Indonesia dan merugikan kepentingan Indonesia. Pasal 9 Pelaku usaha yang menawarkan produk melalui Sistem Elektronik harus menyediakan informasi yang lengkap dan benar berkaitan dengan syarat kontrak. penetapan kewenangan pengadilan. produsen. hukum yang berlaku didasarkan pada asas Hukum Perdata Internasional. 3. Pasal 20 . Jika para pihak tidak melakukan pilihan forum sebagaimana dimaksud pada ayat (4). dan produk yang ditawarkan. 4.

Persetujuan atas penawaran Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan dengan pernyataan penerimaan secara elektronik. Pihak yang bertanggung jawab atas segala akibat hukum dalam pelaksanaan Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur sebagai berikut:   jika dilakukan sendiri. segala akibat hukum menjadi tanggung jawab pengguna jasa layanan. jika dilakukan melalui pemberian kuasa. 2. segala akibat hukum dalam pelaksanaan Transaksi Elektronik menjadi tanggung jawab pemberi kuasa. segala akibat hukum dalam pelaksanaan Transaksi Elektronik menjadi tanggung jawab penyelenggara Agen Elektronik. Pasal 22 1. 7. 5. Jika kerugian Transaksi Elektronik disebabkan gagal beroperasinya Agen Elektronik akibat tindakan pihak ketiga secara langsung terhadap Sistem Elektronik. atau melalui Agen Elektronik. melalui pihak yang dikuasakan olehnya. dan/atau kelalaian pihak pengguna Sistem Elektronik. segala akibat hukum dalam pelaksanaan Transaksi Elektronik menjadi tanggung jawab para pihak yang bertransaksi. Pasal 21 1. 6.1. 4. . Kecuali ditentukan lain oleh para pihak. Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggara Agen Elektronik tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.  3. kesalahan. Jika kerugian Transaksi Elektronik disebabkan gagal beroperasinya Agen Elektronik akibat kelalaian pihak pengguna jasa layanan. Penyelenggara Agen Elektronik tertentu harus menyediakan fitur pada Agen Elektronik yang dioperasikannya yang memungkinkan penggunanya melakukan perubahan informasi yang masih dalam proses transaksi. atau jika dilakukan melalui Agen Elektronik. 2. segala akibat hukum menjadi tanggung jawab penyelenggara Agen Elektronik. Transaksi Elektronik terjadi pada saat penawaran transaksi yang dikirim Pengirim telah diterima dan disetujui Penerima. Pengirim atau Penerima dapat melakukan Transaksi Elektronik sendiri. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku dalam hal dapat dibuktikan terjadinya keadaan memaksa. 2.

melampaui. 9.000. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp600.00 (delapan ratus juta rupiah). menerobos. ada beberapa peraturan atau perundangan yang mengikat dan dapat dijadikan sebagai payung hukum dalam kegiatan bisnis e-commerce. Selain mengacu kepada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008Tentang Internet & Transaksi Elektronika di atas.8.000. atau menjebol sistem pengamanan.000.00 (enam ratus juta rupiah). 3. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun dan/atau denda paling banyak Rp800. Pasal 30 1. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Perdata 5. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas .000. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang 8.00 (tujuh ratus juta rupiah). Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp700. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana 3. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana 2. Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik milik Orang lain dengan cara apa pun.000. Pasal 46 1. 2. 3. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata 4. Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik dengan cara apa pun dengan tujuan untuk memperoleh Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik. 2. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang 6.000. diantaranya adalah : 1. Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik dengan cara apa pun dengan melanggar. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1997 Tentang Dokumen Perusahaan 7.

yang didalamnya termasuk juga tenologi. Peraturan Pemerintah RI Nomor 48 Tahun 1998 Tentang Pendirian Perusahaan Perseroan dibidang Perbankan. Dalam menghadapi perkembangan di masyarakat. mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup dimasyarakat. Banyak faktor yang menjadi kendala. 11. maka diperlukan adanya keberanian hakim untuk menafsirkan undang-undang. karena penanganan kejahatan ini memerlukan keterampilan khusus dari penegak hukum. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. walaupun hakim selalu dibayang-gayangi oleh pasal 1 KUHP. menginterpretasi hukumhukum positif yang ada sekarang ini yang dapat digunakan untuk menjerat pelaku kejahatan e-commerce. yang terutama adalah terbatasnya sumber daya manusia yang dimiliki oleh penegak hukum. keadilan dan kepastian hukum. Dari ketentuan ini sesungguhnya mendorong bahkan memberikan justifikasi . RUU KUHP tampak menyadari. Undang-Undang Nomor 36 tahun 1999 Tentang Telekomunikasi 10. Dari hal tersebut.9. Dalam konsep RUU KUHP 1991/1992 Pasal 1 ayat (1) masih mempertahankan asas legalitas. oleh karena itu aparatur penegak hukum harus benar-benar menggali. 12. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. Pada ayat (3) bunyinya : “ketentuan dalam ayat (1) tidak mengurangi berlakunya hukum yang hidup yang menentukan bahwa menurut adat setempat seseorang patut dipidana walaupun perbuatan itu tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan”. namun hakim tidak boleh menolak setiap perkara yang telah masuk ke pengadilan. B. hal ini ternyata dalam ketentuan pasal 1 Ayat (3). Penegak hukum di Indonesia mengalami kesulitan dalam menghadapi merebaknya cybercrime khususnya kejahatan e-commerce. Dalam Undang-Undang kekuasaan kehakiman. Serta undang-undang dan peraturan lainnya yang terkait dengan kejahatan e-commerce ini. Sebagai norma hukum cyber atau cyberlaw akan menjadi langkah general preventif atau prevensi umum untuk membuat jera para calon-calon penjahat yang berniat merusak citra teknologi informasi Indonesia dimana dunia bisnis indonesia dan pergaulan bisnis internasional. Penegakan Hukum terhadap kegiatan dan kejahatan ECommerce Dalam Sistem Hukum Positif Di Indonesia Pembentukan peraturan perundang-undangan di dunia cyber berpangkal pada keinginan masyarakat untuk mendapatkan jaminan keamanan. tertera jelas bahwa hakim sebagai penegak hukum wajib menggali. Penyelidikan dan penyidikan selalu mengalami jalan buntu dan atau tidak tuntas dikarenakan beberapa hal. maka dapatlah dilihat bahwa ada kejahatan yang dapat dijerat dan ada yang tidak.

Lemahnya penguasaan komputer Kurangnya kemampuan dan keterampilan aparat penegak hukum dibidang komputer yang mengakibatkan taktis. Sarana dan prasarana Fasilitas komputer mungkin memang ada di setiap kantor-kantor para penegak hukum. Pembuktian (bukti elektrik) Persoalan yang muncul adalah belum adanya kebulatan penafsiran terhadap kepastian dari alat bukti elektrik ini dikarenakan alat bukti ini mudah sekali untuk di copy. digandakan atau bahkan dipalsukan. bahkan ada ancaman bila menolak dapat dituntut (dihukum). Perbedaan Persepsi Perbedaan persepi yang dimaksud adalah bahwa terjadinya perbedaan antara penegak hukum dalam menafsirkan kejahatan yang terjadi dengan penerapan pasal-pasal dalam hukum positif yang belaku sehingga menimbulkan ketidakpastian hukum bagi pencari keadilan. namun masih saja aparat penegak hukum susah untuk mendapatkan alat bukti yang otentik. Dalam mengisi kekosongan Hukum. namun hanya sebatas berfungsi untuk mengetik saja. dihapus atau dipindahkan.untuk interpretasi atau penafsiran terhadap ketentuan undang-undang. Beberapa kendala tersebut antara lain : a. sedangkan kejahatan e-commerce ini dilakukan dengan menggunakan komputer yang berjaringan dan berkapasitas teknologi yang lumayan maju sehingga pihak aparat sulit untuk mengimbangi kegiatan para pelaku kejahatan tersebut. d. c. maka wajar saja dalam penegakan hukumnya masih mengalami beberapa kendala yang apabila tidak segera ditangani maka akan memberikan peluang bagi pelaku kejahatan bisnis yang canggih ini untuk selalu mengembangkan “bakat” kejahatannya di dunia maya khususnya kejahatan e-commerce. hakim untuk sementara dapat melakukan interpretasi. teknis penyelidikan. b. . penuntutan dan pemeriksaan di pengadilan tidak dikuasai karena menyangkut sistem yang ada didalam komputer. Walaupun mengacu pada Pasal 5 Undang-Undang ITE telah jelas menyebutkan mengenai alat bukti ini. Mengingat kejahatan e-commerce merupakan salah satu kejahatan baru dan canggih.

Azas ini pada umumnya diterapkan apabila korbannya adalah negara atau pemerintah. Nationality. f. yang menyatakan bahwa belakunya hukum didasarkan atas keinginnan negara untuk melindungi kepentingan negara dari kejahatan yang dilakukan diluar wilayahnya. Menurut Ahmad P Ramli (2005: 55-56) Terkait dengan penentuan hukum yang berlaku. d. yang menyatakan bahwa hukum yang berlaku adalah dimana akibat utamanya perbuatan itu terjadi dan memberikan dampak yang sangat merugikan bagi negara yang bersangkutan. dikenal adanya beberapa asa yang biasa digunakan. Kesulitan Menghadirkan korban Terhadap kejahatan yang korbannya berasal dari loar negeri umumnya sangat sulit untuk melakukan pemeriksaan yang mana keterangan saksi korban sangat dibutuhkan untuk membuat sebuah berita acara pemeriksaan. e. yang menekankan bahwa keberlakuan hukum pidana ditentukan berdasarkan tempat perbuatan dilakukan dan penyelesaian tindak pidananya dilakukan di negara lain. Passive nationality. Objective territoriality. bahwa setiap negara berhak untuk menangkap dan menghukum pelaku kejahatan. Universalitity. b. yang menekankan yurisdiksi berdasarkan kewarganegaraan dari korban kejahatan. Protective principle. Subjective territoriality. c. . yang menentukan bahwa negara mempunyai yurisdiksi untuk menentukan hukum berdasarkan kewarganegaraan pelaku tindak pidana. yaitu : a.e.

Peran dan kekuatan pelaku kejahatan secara substansial meningkat dengan melakukan pencucian uang. Ternyata problematik uang haram ini sudah meminta perhatian dunia internasional karena dimensi dan implikasinya yang melanggar batas-batas negara. UndangUndang No. dana pensiun. sehingga pada akhirnya uang yang haram itu mendapatkan suatu penampilan sebagai uang yang sah atau halal. Ada pelbagai perumusan bertalian dengan makna pencucian uang atau “money laundering”. kustodian. wali amanat. ternyata ada pihak-pihak tertentu yang ikut menikmati keuntungan dari lalulintas pencucian uang tanpa menyadari akan dampak kerugian yang ditimbulkan. lembaga penyimpanan dan penyelesaian. pedagang valuta asing. pencurian. apakah akan membiarkan kejahatan pencucian uang ini terus merajalela. 15 Tahun 2002. pengelola reksa dana. Dalam Pasal 2 dari Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dirumuskan : Hasil tindak pidana adalah harta kekayaan yang berjumlah Rp 500 juta atau lebih atau nilai yang setara. Dalam Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang. praktek korupsi dan aktivitas ilegal lainnya. Dana berasal dari perdagangan narkoba. apakah itu buku teks hukum pidana atau kriminologi. Erat bertalian dengan hal terakhir ini adalah dunia perbankan yang pada satu pihak beroperasional atas dasar kepercayaan para konsumen. dan perusahaan asuransi.Money Loundry MONEY LOUNDRY BAGIAN I PENDAHULUAN A. yaitu : Penyedia Jasa Keuangan adalah setiap orang yang menyediakan jasa di bidang keuangan termasuk tetapi tidak terbatas pada bank. perdagangan senjata. penggelapan pajak. perusahaan efek. terorisme. penyelundupan. yang diperoleh secara langsung atau tidak langsung dari kejahatan : . Latar Belakang Pencucian uang adalah proses pengubahan dana ilegal menjadi dana dan aset yang sah. Pada dasarnya perumusan itu menyangkut suatu proses pencucian uang yang diperoleh dari kejahatan dan dicuci melalui suatu lembaga keuangan (bank) atau penyedia jasa keuangan. pengertian bank dirumuskan secara luas dalam Pasal l butir 4. lembaga pembiayaan. Sebagai suatu fenomena kejahatan yang menyangkut terutama dunia kejahatan yang dinamakan “organized crime”. Problematik pencucian uang yang dalam bahasa Inggeris dikenal dengan nama “money laundering” sekarang mulai dibahas dalam buku-buku teks. namun pada pihak lain.

wanita dan anak j. penipuan yang dilakukan di wilayah Negara Republik Indonesia atau di luar wilayah Negara Republik Indonesia dan kejahatan tersebut juga merupakan tindak pidana menurut hukum Indonesia. penyeludupan barang d. membawa ke luar negeri harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana menukarkan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana dengan mata uang atau surat berharga lainnya. perdagangan senjata gelap k. penculikan l. pencurian n. baik atas nama sendiri maupun atas nama pihak lain. atau       . penyeludupan imigran f. Teori-Teori Tindak pidana pencucian uang dirumuskan dalam Pasal 3 UU TPPU. membayarkan atau membelanjakan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana. penyeludupan tenaga kerja e.a. mentransfer harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana dari suatu Penyedia Jasa Keuangan ke Penyedia Jasa Keuangan yang lain. narkotika h. yaitu : (1) Setiap orang yang dengan sengaja :  menempatkan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana ke dalam Penyedia Jasa Keuangan. korupsi b. baik perbuatan itu atas namanya sendiri maupun atas nama pihak lain. baik atas namanya sendiri maupun atas nama pihak lain. baik atas nama sendiri atau atas nama pihak lain. penyuapan c. perdagangan budak. penggelapan o. B. menghibahkan atau menyumbangkan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana. baik atas namanya sendiri maupun atas nama pihak lain. psikotropika i. perbankan g. terorisme m. menitipkan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana.

00 (lima milyar rupiah) dan paling banyak Rp 15. (2) Setiap orang yang melakukan percobaan. Sejumlah karakteristik yang umumnya melekat pada White Collar Crime menurut Hazel Croall (1992) sebagaimana dikutip oleh Harkristuti Harkrisnowo (2001) adalah sebagai berikut:       Tidak kasat mata (low visibility) Sangat kompleks (complexity) Ketidakjelasan pertanggung jawaban pidana (diffusion of responsibility) Ketidak ielasan korban (diffusion of victims) Aturan hukum yang samar atau tidak ielas (ambiguous criminal law) Sulit dideteksi dan dituntut (weak detection and prosecution). Dengan perkataan lain. Melalui “smurfing” ini. menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana. atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana pencucian uang dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1 ). Yang ketiga adalah “integration”.000. atau “real estate”. barang-barang perhiasan dari emas atau batu-batu permata yang mahal.   . Strategi “layering” pada umumnya meliputi. If the layering process has succeeded. seperti kendaraan bermotor. dengan mengubah uang tunai menjadi aset fisik. Atau secara lebih sederhana agar sumber uang tersebut tidak diketahui oleh pihak penegak hukum. Dengan “integration” dimaksudkan “the provision of apparent legitimacy to criminally derived wealth.000. Dipidana karena tindak pidana pencucian uang dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling sedikit Rp 5. antara lain. Dengan “placement” dimaksudkan “the physical disposal of cash proceeds derived from illegal activity”. Setiap prosedur “placement” yang berarti mengubah lokasi fisik atau sifat haram dari uang itu adalah juga salah satu bentuk “layering”. Metode yang paling penting dari “placement” ini adalah apa yang disebut sebagai “smurfing”.000. Untuk itu akan dijelaskan di bawah ini tiga tahap pencucian uang :  Pertama. maka keharusan untuk melaporkan transaksi uang tunai sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku dapat dikelabui atau dihindari. pembantuan.000.000. Dengan “layering” dimaksudkan “separating illicit proceeds from their source by creating complex layers of financial transactions designed to disguise the audit trail and provide anonymity”. fase pertama dari proses pencucian uang haram ini ialah memindahkan uang haram dari sumber di mana uang itu diperoleh untuk menghindarkan jejaknya. Tahap yang kedua dinamakan “layering”. atau instrumen keuangan seperti “money orders.00 (lima belas milyar rupiah).000. cashiers cheques or securities and multiple electronic transfers of funds to so called `bank secrecy havens‟. such as Switzerland or the Caymen Islands”. Hubungan antara “placement” dengan “layering” adalah jelas. apa yang dinamakan “placement”.

BAGIAN II PERMASALAHAN DPR and lembaga eksekutif Pemerintah Indonesia saat ini sedang merevisi UU 15/2002 mengenai tindak pidana pencucian uang. . Dalam pembahasan revisi UU 15/2002 ini. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menyampaikan laporan palsu yang menyangkut pinjaman uang. salah satu dari sekian banyak isue yang seharusnya dipertimbangkan oleh Pemerintahan Megawati dan DPR adalah bagaimana menggunakan UU anti pencucian uang untuk mengendalikan aktivitas ilegal di sektor kehutanan. kerugian dapat mencapai US$ 3. per tahun (dan menurut beberapa perkiraaaan. Mereka melakukan ini sebagai respon terhadap tekanan dari Financial Action Task Force (FATF). Dengan perkataan lain. Pembalakan liar. or more simply through an electronic transfer of the funds from a bank secrecy haven back to the money‟s country of origin”. Beberapa instrumen internasional yang erat kaitannya dengan pengaturan mengenai Money Laundering adalah :    United Nations Convention Against Illicit Traffic in Narcotic Drugs and Psychotropic Substances (Dec. maka ada tiga permasalahan yang harus ditangani.1991). Council of Europe Convention on Laundering. Untuk menghadapi cara-cara yang digunakan para penjahat ini dengan para pembantu mereka melalui pelbagai transaksi yang tidak jelas dalam rangka menghalalkan uang mereka dalam jumlah yang besar. sebuah lembaga antar negara yang memonitor implementasi undang-undang anti pencucian uang pada sektor keuangan secara global. 1990). Kesemua perbuatan dalam proses pencucian uang haram ini memungkinkan para raja uang haram ini menggunakan dana yang begitu besar itu dalam rangka mempertahankan ruang lingkup kejahatan mereka atau untuk terus berproses dalam dunia kejahatan yang menyangkut terutama narkotika. 20. Search. Tahun lalu FATF mengumumkan bahwa mereka akan menerapkan sanksi kepada Indonesia jika UU 15/2002 tidak diperbaiki sehingga memenuhi standar internasional. 1988). Council Directive on Prevention of the Use of the Financial System for the Purpose of Money Laundering (June 10. kerahasiaan financial secara pribadi. si penjahat harus mengintegrasikan dana dengan cara legitimasi ke dalam proses ekonomi yang normal. atau US$ 1 miliar. Seizure and Confiscation of the Proceeds from Crime (No.integration schemes place the laundered proceeds back into the economy in such a way that the re-enter the financial system appearing to be normal business funds”. Yang pertama ialah kerahasiaan bank. juga melalui “invoices and income of shell corporations.8. jika ingin menggagalkan praktek kotor pencucian uang haram. diperkirakan merugikan negara paling sedikit sebesar Rp 9 trilliun. dan efisiensi transaksi. yang merupakan kejahatan kehutanan yang paling menonjol. European Communities Directive.4 miliar).

penyuapan. Kejahatan kehutanan juga menyebabkan kerusakan lingkungan yang parah. Sampai sejauh ini bentuk kejahatan kehutanan yang paling menonjol adalah aktivitas yang dikenal sebagai „pembalakan liar. dan berbagai jenis kejahatan lainnya yang tidak unik hanya kepada sektor kehutanan. Dengan memasukkan “kejahatan kehutanan” sebagai predicate offense didalam UU Perubahan terhadap UU 15/2002. termasuk kehilangan ekosistem kehutanan dan berbagai jenis satwa langka. UU 41/1999 tentang Kehutanan mendefinisikan paling sedikit 13 katagori aktivitas kejahatan yang terkait dengan kehutanan yang dapat dihukum minimal selama 5 tahun dan denda antara Rp.5-10 miliar. v Menambang didalam kawasan hutan tanpa izin Menteri. Di Indonesia. kejahatan perbankan. secara umum diperkirakan antara 60 sampai 80 persen dari 60 sampai dengan 70 juta m3 kayu yang dikonsumsi oleh industri kayu domestik setiap tahun diperoleh secara ilegal. v Mengangkut hasil hutan tanpa dokumen yang syah. v Terlibat didalam kegiatan yang mendukung degradasi hutan. A. Beberapa dari aktivtias tersebut diantaranya adalah: v Merusak infrastruktur yang digunakan untuk perlindungan hutan. Apa itu Kejahatan Kehutanan? Kejahatan kehutanan dapat terjadi dalam berbagai bentuk. v Memanen hasil hutan tanpa memiliki izin atau hak. v Menggunakan atau menempati sebagian dari Kawasan Hutan tanpa persetujuan Menteri.Kejahatan kehutanan ini sering dikaitkan dengan korupsi. . penggelapan pajak. Pemerintah Indonesia saat ini terlibat dalam berbagai inisiatif kerjasama bilateral dan multilateral untuk memerangi pembalakan liar dan jenis-jenis kejahatan kehutanan lainnya.‟ Di Indonesia. v Membakar hutan. pemerintah Indonesia dapat melakukan langkah yang sangat strategis – dan menjadi preseden secara global – untuk meningkatkan governance baik di sektor kehutanan maupun di sektor keuangan. v Menebang pohon dalam batas 500 meter dari tepi waduk atau danau. v Membawa peralatan berat ke kawasan hutan tanpa memiliki izin.

Perusahaan kayu sering terlibat didalam penggelapan pajak atau tax evasion dengan melaporkan penebangan kayu yang lebih rendah dari seharusnya. penduduk lokal yang terlibat didalam penebagan informal. pembelian hutang perusahaan. Seperti diperlihatkan oleh angka-angka dibawah ini. BPPN menguasai hutang perusahaan kehutanan senilai US$ 3 miliar dan US$ 8. misalnya. Pada kenyataannya. pembalakan liar melibatkan berbagai oknum termasuk: pegawai yang korup. v Lebih dari US$ 15 miliar telah diinvestasikan di sektor pulp dan kertas sejak akhir tahun 1980-an. eksportir. jumlah uang yang keluar dan masuk sektor kehutanan di Indonesia sangatlah besar : v Industri kehutanan menghasilkan ekspor senilai lebih dari US$ 5 miliar per tahun. dan pegawai Bea Cukai. Korupsi. v Bank Mandiri saat ini menguasai hutang perusahaan kehutanan senilai US$ 1. Pada umumnya pembalakan liar dan berbagai kejahatan kehutanan terkait langsung dengan aktivitas kriminal yang tidak unik hanya kepada sektor kehutanan.misalnya. personel TNI dan polisi. dan pembiayaan perdagangan. broker kayu ilegal. penjaminan penerbitan obligasi dan surat berhaga komersial.Penyelundupan juga sangat menonjol di sektor kehutanan yang terlihat dari besarnya volume kayu dan hasil hutan lainnya yang dikirimkan keluar Indonesia tanpa dilengkapi surat-surat yang syah. pinjaman jangka panjang untuk fasilitas pemrosesan kayu. disamping tentunya menerima deposit dari perusahaan kehutanan. Peran yang dimainkan bank Sering sekali diasumsikan bahwa pembalakan liar di Indonesia dilakukan oleh aktor berskala kecil yang bekerja secara tunai (cash basis) dengan sedikit kebutuhan untuk memperoleh pembiayaan. secara rutin memberikan modal kerja untuk aktivitas pembalakan. B.Di hampir semua propinsi yang kaya hutan. dan jasa pengangkutan. pemegang hak konsensi hutan yang beroperasi diluar kontrak HPH mereka. . Beberapa produser pulp dan kertas di Indonesia telah melakukan tindak pidana kejahatan perbankan dengan melakukan mark-up biaya investasi mereka. pembiayaan pembangunan hutan tanaman.5 miliar dalam bentuk aset kehutanan yang digadaikan. adalah sebuah kegiatan kriminal yang sangat menyebar luas dimana oknum pegawai pemerintah menerima secara rutin uang suap sebagai imbalan untuk pemberian hak konsesi dan izin pemanfaatan hasil hutan. v Sebelum dilakukan penjualan. bank dan lembaga keuangan lainnya memainkan peran penting dalam menyediakan dana untuk kegiatan kehutanan yang legal dan tidak legal.3 miliar. Bank.

perusahaan yang terlibat telah mengambil langkah-langkah untuk membuat uang yang berasal dari kegiatan ilegal nampak seolah-olah berasal dari sumber yang syah. ketiga perusahaan ini menerapkan starategi yang berbeda. Sebuah perusahaan plywood di Propinsi Riau membeli bahan baku kayu dari perusahaan kayu yang tidak memiliki izin pemanfaatan hasil hutan dan melakukan pembalakan liar di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. Perusahaan plywood ini menjual panel kayu kepada pembelinya di China. Sedangkan perusahaan plywood mengintegrasikan keuntungannya kedalam aktivitas bisnis legal dengan melakukan investasi disebuah kawasan wisata di Bali. Korea Selatan. Perusahaan kayu menempatkan hasil tindak pidana kedalam sistem keuangan dengan mendepositokan kedalam sebuah rekening bank dengan nama fiktif. BAGIAN III ANALISIS . masing-masing perusahaan dapat dituntut terlibat pencucian uang. Pencucian Uang Terjadi di Sektor Kehutanan Untuk lebih memahami bagaimana proses pencucian uang terjadi di sektor kehutanan di Indonesia. Didalam ketiga kasus diatas. Perusahaan pemasaran melakukan layering dengan mengalihkan penerimaan uangnya melalui sebuah bank di Cayman Island. Jika „kejahatan kehutanan‟ secara spesifik masuk kedalam daftar predicate offensepada UU tindak pidana pencucian uang Indonesia. kondisi ini memberikan kesempatan kepada mereka untuk memastikan tersedianya dana untuk membiayai kegiatan kehutanan yang ilegal dan merupakan kendaraan yang dapat digunakan untuk memanipulasi transaksi keuangan yang terkait dengan investasi di sektor kehutanan. Sebelum terjadinya krisis keuangan tahun 1997. Untuk menyamarkan kenyataan bahwa keuntungan perusahaan berasal dari kegiatan ilegal. Hal ini tidak hanya dapat diterapkan kepada perusahaan kayu dan plywood yang berada di Indonesia. mereka juga dapat dituntut terlibat tindak pidana pencucian uang. perhatikan contoh hipotesis berikut ini. Jika lembaga keuangan terbukti membantu proses penyamaran asal dana yang diperoleh secara ilegal ini. C. Dalam banyak hal. dan Taiwan melalui perusahaan pemasaran Indonesia yang berlokasi di Hong Kong. hampir seluruh konglomerat kehutanan di Indonesia memiliki bank mereka sendiri. akan tetapi juga kepada perusahaan pemasaran Indonesia yang berada di Hong Kong. Pegawai-pegawai perusahaan kayu dan perusahaan plywood serta perusahaan pemasaran di Hong Kong menyadari bahwa kayu yang digunakan untuk membuat panel kayu berasal dari pembalakan liar.v Menteri Kehutanan menderita kerugian sebesar US$ 1 miliar per tahun akibat terjadinya pembalakan liar.

Disamping menuntut aktor yang secara langsung terlibat didalam pembalakan liar. pemerintah dapat juga menuntut lembaga keuangan yang membiayai kegiatan pembalakan liar. UU tindak pidana pencucian uang akan memungkinkan pemerintah Indonesia menuntut warga negara Indonesia yang mungkin terlibat didalam kegiatan pencucian uang. Disektor kehutanan khususnya. penegakan hukum tindak pidana pencucian uang juga difasilitasi melalui kerjasama .A. Manfaat mengkaitkan tindak pidana kehutanan dengan tindak pidana pencucian uang diantaranya adalah sebagai berikut: 1) Bank akan meningkatkan praktek due diligence dalam memberikan pinjaman disektor kehutanan: peraturan „Know Your Customer‟ meminta bank untuk menentukan apakah pelanggan terlibat didalam kegiatan ilegal atau tidak. sering terjadi kayu yang ditebang dan uang yang dihasilkan dari kayu tersebut dikirim keluar negeri. Dalam konteks ini. 3) Pemerintah akan memiliki alat baru untuk menegakkan peraturan kehutanan dan keuangan: Memasukan kejahatan kehutanan didalampredicate offense akan memperluas pilihan penegakan hukum untuk memutuskan sumber pembiayaan bagi kegiatan pembalakan liar. Manfaat Mengkaitkan Hutan Dengan Pencucian Uang Ada berbagai cara untuk mengkaitkan tindak pidana kehutanan dengan dengan tindak pidana pencucian uang. Dibawah FATF. bank memiliki kewajiban untuk mengambil tindakan terhadap pelanggan yang diketahui menggunakan kayu dari pembalakan liar. termasuk transaksi keuangan oleh nasabah yang patut diduga dilakukan dengan tujuan untuk menghindari pelaporan transaksi yang bersangkutan yang wajib dilakukan oleh Penyedia Jasa Keuangan sesuai dengan ketentuan UU. tanpa memperhatikan apakah mereka melakukannya di Indonesia atau diluar negeri.” Kenyataan bahwa hampir 70 persen kayu di Indonesia diperoleh dari sumber yang ilegal memunculkan pertanyaan penting tentang apa yang tergolong „transaksi mencurigakan‟ di sector kehutanan. Berbeda dengan UU kehutanan. Memasukkan kejahatan kehutanan dan kejahatan lingkungan didalam UU perubahan atas UU 15/2002 tentunya adalah langkah yang paling efektif untuk mencapai hal tersebut. Hal ini pada gilirannya akan mengarah kepada peningkatan yang besar didalam tingkat transparansi dan akuntabilitas perusahaan di sektor kehutanan. 2) Bank diminta untuk memonitor dan melaporkan transaksi yang mencurigakan: UU 15/2002 mendefinisikan transaksi mencurigakan sebagai: “transaksi yang menyimpang dari profil dan karakteristik serta kebiasaan pola transaksi dari nasabah yang bersangkutan. 4) Ketentuan hukum baru akan tersedia untuk penegakan hukum dan penuntutan: Untuk kegiatan pembalakan liar. secara konseptual bank dapat diwajibkan untuk memperlakukan setiap transaksi yang melibatkan aktivitas kehutanan sebagai salah satu bentuk „transaksi mencurigakan‟ – paling tidak sampai perusahaan kehutanan memberikan bukti sebaliknya.

Tidak membayar kepada kreditur dengan memindahkan arus kas perusahaan ke bisnis yang lain. Secara khusus. Saat ini sangat dibutuhkan adanya kepemimpinan dari Menteri Kehutanan atas isue ini untuk memastikan kejahatan kehutanan tercakup dalam UU perubahan atas UU 15/2002 pada saat diratifikasi nanti. CIFOR telah terlibat dalam seri diskusi dengan Unit Intelejen Keuangan pemerintah Indonesia (PPATK) untuk mengupayakan tercantumnya kejahatan kehutanan didalam UU perubahan atas UU 15/2002. PPATK memasukkan „kejahatan dibidang kehutanan‟ dan kejahatan dibidang lingkungan‟ didalam daftar predicate offense didalam rancangan UU perubahan yang telah diserahkan kepada DPR untuk diratifikasi. Menyatakan harga jual produk kayu dibawah harga pasar untuk melaporkan laba yang kecil atau rugi Menyatakan harga input produk kayu yang jauh diatas harga pasar untuk mengurangi laba atau melaporkan rugi 2. Tidak membayar DR dan PSDH dan kewajiban negara lainnya C. B. under-reporting dan undervaluing kayu dan misklasifikasi spesies kayu 6. Sampai UU diratifikasi oleh DPR. Menteri Kehutanan menempati posisi unik untuk mengkomunikasikan apa implikasi bagi penegakan hukum dan governance dibidang kehutanan jika kejahatan kehutanan dimasukkan sebagai predicate offense pencucian uang. Pada awal Juni. Mark up nilai jasa dan produk yang diterima dari grup perusahaan sendiri untuk mengurangi besarnya laba dan pajak perusahaan 5. under measuring. Macam-Macam Kejahatan Keuangan Kehutanan 1. akan sangat berguna jika Menteri mengkomunikasikan dengan PPATK dan dengan Komisi II DPR tentang pentingnya penerapan UU anti pencucian uang untuk mengendalikan pembalakan liar.dengan negara lain. Tidak membayar DR dan PSDH dengan benar dengan under-grading. Setelah diratifikasi. Menteri Kehutanan perlu bekerja sama secara erat dengan PPATK dan lembaga keuangan kunci lainnya di Indonesia dan regulator untuk memastikan UU anti . Memanipulasi pembayaran hutang piutang kepada group perusahaan sendiri untuk mengurangi laba dan menghindari pajak perusahaan 4. 3. Perlunya Kepemimpinan dari Menteri Kehutanan Sejak April 2003.

pencucian uang diterapkan secara efektif disektor kehutanan. Lembaga ini termasuk Bank Indonesia, Bapepam dan Dirjen Lembaga Keuangan Departemen Keuangan. Bank Indonesia telah menerbitkan peraturan „know your customer‟ (KYC) untuk perbankan. Sementara Bapepam mengeluarkan aturan serupa untuk perusahaan sekuritas dan Dirjen Lembaga Keuangan telah mengeluarkan peraturan untuk lembaga keuangan bukan bank. Peraturan KYC mewajibkan bank dan penyedian jasa keuangan lainnya untuk mengidentifikasi indetitas nasabah, memonitor transasksi nasabah, dan melaporkan transaksi mencurigakan ke PPATK. Menteri Kehutanan memegang peran penting untuk membantu bank dan lembaga keuangan lainnya untuk lebih mengenal apa yang dimaksud dengan „aktivitas mencurigakan‟ di sektor kehutanan, dan bagaimana aktivtas ini dimonitor. BAGIAN IV KESIMPULAN Tindak Pidana Pencucian Uang adalah Setiap orang yang menerima atau menguasai hasil transaksi (penempatan, transfer, pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan, atau penukaran) harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana. Alat Bukti Pemeriksaannya: sesuai hukum acara pidana, informasi yg diucapkan, dikirimkan, diterima, atau Disimpan secara elektronik, alat optik atau sejenis, tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, huruf, tanda, angka, simbol, atau perforasi Kesemua perbuatan dalam proses pencucian uang haram ini memungkinkan para raja uang haram ini menggunakan dana yang begitu besar itu dalam rangka mempertahankan ruang lingkup kejahatan mereka atau untuk terus berproses dalam dunia kejahatan yang menyangkut terutama narkotika. Untuk menghadapi cara-cara yang digunakan para penjahat ini dengan para pembantu mereka melalui pelbagai transaksi yang tidak jelas dalam rangka menghalalkan uang mereka dalam jumlah yang besar, maka ada tiga permasalahan yang harus ditangani, jika ingin menggagalkan praktek kotor pencucian uang haram. Yang pertama ialah kerahasiaan bank, kerahasiaan financial secara pribadi, dan efisiensi transaksi. Beberapa instrumen internasional yang erat kaitannya dengan pengaturan mengenai Money Laundering adalah :  United Nations Convention Against Illicit Traffic in Narcotic Drugs and Psychotropic Substances (Dec. 20, 1988);

 

Council of Europe Convention on Laundering, Search, Seizure and Confiscation of the Proceeds from Crime (No.8, 1990); European Communities Directive, Council Directive on Prevention of the Use of the Financial System for the Purpose of Money Laundering (June 10,1991); REFERENSI

    

Keputusan Kepala PPATK No.2/1/KEP.PPATK/2003 Tentang Pedoman Umum Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang bagi Penyediaan Jasa Keuangan Peraturan Bank Indonesia No.3/10/PBI/2001 Tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your Customer Principles) Rancangan UU Tentang Perubahan Atas UU No.15 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang Studi Penerapan Sanksi Pidana Kehutanan, Bab III Analisis Pasal-Pasal Pidana Kehutanan dalam Peraturan Perundang-Undangan Terkait, Departemen Kehutanan UU No.15 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan

Membangun Etika Bisnis dan Hukum PENDAHULUAN Pengalaman kita bernegara pada tiga dekade terakhir memperlihatkan masalah-masalah berat di berbagai bidang. Salah satunya adalah keadaan perekonomian yang menjadi demikian morat-marit meliputi berbagai seginya. Dari mulai rantai produksi, distribusi maupun finansial, serta lembaga intermediasi keuangan, seperti perbankan dan lembaga keuangan lainnya di negeri ini mengalami suatu tekanan dan masalah yang luar biasa hebatnya. Bahwa kegiatan ekonomi ini, keseluruhannya dilakukan oleh manusia, sehingga bisa dikatakan bahwa sumber dari segala sumber persoalan yang muncul adalah kembali kepada kualitas manusia yang melakukan kegiatan perekonomian tersebut. Konsepsi pengaturan perekonomian yang diatur oleh Undang-Undang Dasar negara yang berlaku, terpulang pula kepada kemampuan pengelolanya, baik di sektor pemerintah, swasta maupun koperasi. Sebaik apapun sistem itu dibuat, maka unsur kemampuan dan itikad baik dari penyelenggara negara dan penyelenggara perekonomian ini sangatlah menentukan keberhasilannya. Kita telah menyaksikan drama ekonomi Indonesia, sebagai negara yang secara potensial sangat kaya namun telah terperosok pada jurang perekonomian yang bermasalah sangat berat. Peluang usaha yang terjadi selama tiga dekade terakhir ternyata tidak membuat seluruh masyarakat mampu berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi yang tinggi. Perkembangan usaha swasta, diwarnai berbagai kebijakan pemerintah yang kurang pas sehingga pasar menjadi terdistorsi. Disisi lain, perkembangan usaha swasta dalam kenyataannya sebagian besar merupakan perwujudan dari kondisi persaingan yang tidak sehat. Para pengusaha yang dekat dengan elit kekuasaan mendapatkan kemudahankemudahan yang berlebihan sehingga berdampak pada kesenjangan sosial. Munculnya konglomerasi dan sekelompok kecil pengusaha kuat tidak didukung oleh semangat kewirausahaan sejati merupakan salah satu faktor mengakibatkan ketahanan ekonomi menjadi sangat rapuh dan tidak mampu bersaing. (Penjelasan UU No.5/99) Merajalelanya praktek korupsi yang sudah sedemikian rupa sistemik-nya terjadi hampir disemua lapisan masyarakat. Boleh dikatakan bahwa ujung dari segala persoalan yang ada sekarang ini adalah persoalan korupsi. Untuk mengatasi berbagai persoalan perekonomian beserta permaslahan yang ruwet ini telah dilahirkan Ketetapan MPR No. XI/MPR/1998 tentang penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, telah dijabarkan dalam UU Republik Indonesia No.28 tahun 1999 tanggal 19 Mei 1999 tentang penyelenggaraan negara yang bebas dari KKN. Selanjutnya pula telah diundangkannya UU Republik Indonesia No.5 tahun 1999 tanggal 5 Maret 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak sehat. Hal ini merupakan landasan serta sekaligus dorongan untuk penciptaan dunia bisnis yang sehat, unggul yang bermoral. Kesemua ini dilandasi pemikiran harus berjalannya etika bisnis yang baik ditanah air. Untuk itulah semua kalangan perlu menciptakan dorongan lebih lanjut agar mencapai sasarannya.

SUATU CONTOH PERMASALAHAN PERBANKAN DI INDONESIA Beberapa permasalahan yang dihadapi oleh industri perbankan di Indonesia, diantaranya adalah : 1. Kondisi Keuangan/Kesehatan Bank Kondisi keuangan yang mencerminkan tingkat kesehatan bank di Indonesia pada masa sebelum krisis dan sesudah krisis adalah kurang baik. Hal ini terbukti : • Sebagaimana disebutkan dalam Majalah Infobank No. 199 Edisi Juli 1996 Vol XIX, terdapat dua puluh bank yang belum mengumumkan laporan keuangannya seperti yang diatur dalam Surat Edaran Bank Indonesia No. 27/5/UPPB tanggal 25 Januari 1995. Tidak dipenuhinya ketentuan tersebut, terjadi karena adanya kerugian yang cukup besar. • Struktur keuangan bank di Indonesia khusus bank swasta nasional sangat rapuh, yang terjadi karena ekspansi yang dilakukan sangat berlebihan yang menyebabkan nilai kewajibannya sangat tinggi. Sampai dengan pertengahan tahun 1997, kegiatan perbankan secara umum masih berkembang dengan kecepatan tinggi. Mobilisasi dana masyarakat meningkat pesat sementara ekspansi kredit tetap kuat, terutama ke sektor properti. Dalam pengeloaan valuta asing meningkat tajam seperti tercermin pada memburuknya posisi devisa neto dan semakin besarnya rekening administratif dalam valuta asing perbankan selama tiga tahun terakhir. • Perkembangan di atas menyebabkan tingginya kerentanan perbankan nasional terhadap guncangan-guncangan yang terjadi di dalam perekonomian. Melemahnya nilai tukar rupiah mengakibatkan kewajiban dalam valuta asing naik tajam sehingga mempersulit kondisi likuiditas perbankan. Hal ini diperburuk dengan kondisi debitur yang juga mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajiban valuta asing kepada perbankan. Besarnya kesulitan likuiditas pada akhirnya telah memicu terjadinya krisis pada perbankan nasional. • Perkembangan selanjutnya semakin memperlemah tidak saja kondisi likuiditas tetapi juga aspek rentabilitas dan solvabilitas perbankan. Hal ini antara lain tercermin pada meningkatnya nonperforming loan dan turunnya return on assets (ROA). 2. Menurunnya Kepercayaan Masyarakat Kondisi perbankan kemudian menjadi semakin rawan setelah munculnya penarikan simpanan dan pemindahan dana antarbank secara besar-besaran akibat semakin merosotnya kepercayaan masyarakat terhadap perbankan, khususnya sejak pencabutan izin usaha 16 bank pada awal November 1997. Krisis perbankan berkembang semakin dalam dengan munculnya berbagai isu negatif mengenai kondisi perbankan nasional. Akibatnya, pencabutan izin usaha terhadap 16 bank dan program penyehatan perbankan lainnya yang semula ditujukan untuk memperbaiki kepercayaan masyarakat justru memperburuk keadaan. Turunnya peringkat (rating) dan gambaran pesimis yang diberikan lembaga pemeringkat internasional kepada perbankan nasional juga telah mengakibatkan semakin merosotnya kepercayaan masyarakat, baik dalam maupun luar negeri, terhadap perbankan nasional. Kepanikan masyarakat telah mendorong terjadinya penarikan-penarikan tunai dana perbankan yang cukup besar dan pemindahan dana dari bank-bank yang dianggap lemah ke bank-bank yang dinilai kuat. Sebagai akibatnya, beberapa bank yang sebelumnya tergolong sehat dan merupakan pemasok dana juga ikut terkena dampak krisis

6 triliun. Moral sangat penting dalam dunia perbankan. Dengan tingkat suku bunga yang tinggi tentunya berdampak pada pengelolaan usaha perbankan menjadi tidak efisien. Seperti yang diungkapkan dalam Infobank No. Vol. Prilaku seperti ini berakibat pada peningkatan resiko dan menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat. hal ini diakibatkan adanya pemberian kredit tanpa jaminan yang jelas sehingga sulit untuk diperoleh pencairannya. Edisi Mei 1996. Rendahnya nilai moralitas mengakibatkan tidak dapat diterapkan sistem prudential banking dan terjadinya pelanggaran aturan yang ditetapkan yang merupakan salah satu unsur dalam sistem pengawasan.kepercayaan tersebut sehingga berubah posisinya menjadi peminjam dana di pasar uang antarbank. 197.9 triliun. Sementara itu. Hal ini tercermin dari meningkatnya penolakan bank-bank internasional untuk melakukan transaksi valuta asing dan terhadap letter of credit yang diterbitkan bank-bank nasional. Moral/Hazard Rendahnya moral/hazard dari pihak-pihak yang berhubungan dengan bank.4 triliun sehingga nilai buku. dan terdapatnya aktiva tidak berwujud. sampai dengan bulan September 1999. Namun demikian diperkirakan hanya sekitar 45-50% dari aset BDL tersebut yang dapat dicairkan/ditarik. pejabat pemerintah dan lainnya. Nasabah.5 triliun diantaranya merupakan nilai kredit sebelum dikurangi cadangan penghapusan. disebutkan " menurut sejumlah pakar . membuat kinerja bank semakin berisiko dan tidak berjalan dengan efisien. adanya surat sakti atau kreditur merupakan pihak yang terkait dengan bank. perolehan aset yang nilainya telah di-mark-up oleh pemilik/pengurus bank. Pihak – pihak yang berhubungan dengan bank diantaranya adalah Pemilik. pemberian komisi-komisi atas penanaman dana. Bank Indonesia menyediakan dana talangan untuk pembayaran simpanan dana para nasabah BDL sebesar Rp5. yang sebagian besar tergolong kredit bermasalah (non performing loan). Laporan BI akhir 1999 menyebutkan hal-hal sbb : Laporan BI memperlihatkan betapa masalah rekayasa terhadap asset bank sangatlah parah (Perkembangan Proses Penyelesaian Aset 16 Bank Dalam Likuidasi/BDL) Total Aset 16 BDL menurut nilai buku per 31 Oktober 1997 yaitu pada saat bank-bank tersebut dilikuidasi berjumlah Rp13. berbagai pungutan liar itu membebani ekonomi nasional. Dana talangan tersebut telah dialihkan . Hal ini mendorong harga barang menjadi mahal dan akhirnya mebakar inflasi serta mendongkrak bunga menjadi lebih tinggi". Contoh konrit pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dalam dunia perbankan seperti BMPK. Pelanggaran seperti ini sering dilakukan oleh pihak pemilik dan manajemen bank serta nasabah bank . XIX. Korupsi juga mempunyai dampak yang cukup significant terhadap industri perbankan. adanya pemberian tingkat suku bunga diatas suku bungan penjaminan. aset BDL menjadi Rp11. kurang dipenuhinya persyaratan dalam pemberian kredit karena adanya uang sogokan dari nasabah. mengingat karakteristik industri ini adalah kepercayaan dan beresiko. juga merupakan pemicu terjadinya krisis perbankan di Indonesia. terdapat pencairan aset BDL sebesar Rp2. Sebesar Rp11. Dari sisi pasiva. Selanjutnya. 3. Manajemen. kredibilitas perbankan nasional juga menurun di luar negeri.5 triliun.

telah menimbulkan moral hazard yang mengarah pada perilaku mengambil risiko tinggi di kalangan perbankan. dan ketergantungan perbankan kepada bantuan likuiditas dari Bank Indonesia naik tajam.9 triliun. Hal ini tercermin dari adanya banykanya pelanggaran terhadap ketentuan kehati-hatian meningkat. sehingga setiap proses penagihan kredit maupun pencairan aset harus menempuh prosedur hukum yang penyelesaiannya memakan waktu lama.3 triliun. Kelemahan ini telah memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap penyimpangan dan penyalahgunaan wewenang pada perbankan sehingga mendorong peningkatan risiko kegagalan perbankan. (iv) Tim Likuidasi tidak memiliki kewenangan hukum yang cukup kuat seperti BPPN. khususnya exit mechanism. Mengingat masa tugas Tim Likuidasi masih beberapa tahun lagi (selambat-lambatnya tahun 2002). khususnya pada individu/kelompok usaha yang terkait dengan bank. Lebih dari itu. (iii) dibutuhkan biaya yang cukup besar untuk mengeksekusi penagihan kredit dan pencairan aset sehingga hasil penjualan bersih tidak mencapai jumlah yang diinginkan. kecukupan likuiditas dan permodalan perbankan menurun drastis. setelah dikurangi jumlah yang berhasil ditagih oleh Tim Likuidasi. Lemahnya Sistem Pengawasan Kelemahan manajemen terlihat antara lain dari belum efektifnya pengawasan intern bank dan sistem informasi yang relatif terbatas sehingga pelaksanaan self-regulatory banking yang telah dicanangkan dalam beberapa tahun terakhir belum berkembang dengan baik. diharapkan dalam jangka waktu tersebut upaya penagihan aset/kredit yang dapat digunakan untuk mengembalikan dana Pemerintah dapat terlaksana sesuai dengan yang diharapkan. Sampai dengan bulan September 1999. kelemahan tersebut juga mendorong pemberian kredit yang terkonsentrasi hanya kepada beberapa debitur. sebagian digunakan untuk mengangsur pengembalian dana talangan Pemerintah sebesar Rp0. belum jelasnya mekanisme penyelesaian bank-bank bermasalah. Tidak adanya sistem penjaminan terhadap simpanan masyarakat telah mengharuskan bank sentral memberikan jaminan terselubung (implicit guarantee) atas kelangsungan hidup suatu bank untuk mencegah kegagalan sistemik dalam . Sementara itu. Rendahnya realisasi pencairan aset BDL disebabkan berbagai kendala antara lain : (i) sulitnya menjual aset BDL yang sebagian besar merupakan properti baik berupa harta tetap milik bank maupun agunan kredit. Untuk itu akan dilakukan intensifikasi tugas 5. (ii) sebagian kredit yang tergolong bermasalah karena pengikatan hukum terhadap barang jaminannya sangat lemah disamping nilai jaminan yang diserahkan kepada bank tidak mencukupi.kepada Pemerintah sebesar Rp5. dari hasil pencairan aset yang berasal dari penagihan kredit dan penjualan aktiva tetap serta inventaris bank. Konsentrasi kredit tersebut telah mengakibatkan ketergantungan yang berlebihan terhadap kelangsungan usaha debitur dimaksud sehingga krisis yang juga melanda usaha debitur telah memperburuk kinerja perbankan secara keseluruhan. Sementara itu Tim Likuidasi terus mengupayakan penjualan aset serta penagihan kredit macet BDL untuk melunasi kewajiban BDL lainnya.4 triliun sehingga sisa dana talangan perposisi September 1999 sebesar Rp4.

Dalam langkah bisnisnya cenderung menipu. baik masalah policy maupun hal teknis dalam rangka upaya merasionalkan tindakan-tindakannya yang menyimpang untuk keuntungan sendiri. berani dan bertindak dengan dorongan penuh muslihat dan tipu daya dan hawa nafsu dan bermuka dua. dalam hal ini uang. melayani orang lain. mencuri. sehingga dia tak mampu menjaga pertimbangan profesional dengan tidak berusaha menghindari pengaruh buruk dan konflik kepentingan. Hal ini banyak terjadi dalam perjalanan kegiatan dunia usaha di negeri kita. Tidak bersikap benar. Loyalitasnya hanya kepada keuntungan jangka pendek. sering kali memanfaatkan kesalahan orang lain untuk mendapatkan keuntungannya sendiri. ETIKA BISNIS DAN MASALAHNYA Bahwa keadaan tersebut diatas bisa dikatakan berawal dari masalah besar dalam dunia bisnis kita diberbagai sektor kegiatan yang ternyata diliputi oleh berbagai tindakan yang mencerminkan rendahnya etika bisnis. Bahwa istilah KKN juga berkaitan dengan pelanggaran etika bisnis yang sangat elementer. klien. jernih. Tidak mampu berlaku sama terhadap orang lain. sehingga mengabaikan kejujuran. Karenanya praktek bisnis seperti ini sangat mencerminkan kerakusan dan menghasilkan produk yang tidak kompetitif dan mengakibatkan ekonomi biaya tinggi dan output yang dihasilkan sangat tidak efesien. Selain itu. antara lain sebagai berikut . pengawasan dan pembinaan yang dilakukan oleh Bank Indonesia masih kurang efektif terutama karena lemahnya law enforcement dan kurangnya independensi bank sentral. Rasa malu. berbohong. Bersikap tidak peduli. dan negara. memberi pertolongan. tidak berniat untuk menghapus kekeliruan. terutama pada yang bukan kelompok usahanya. ataupun teknis. Dalam bersikap tidak mampu bersikap penuh kepercayaan. finansial yang sangat berjangka pendek. Semua dilihat dari keuntungan materi. Tidak peduli pada orang lain. maupun pemerintah. dan kurang berbelas kasihan. dan mau menang sendiri. Secara lebih rinci bisa dilihat. tidak mampu memenuhi janji. baik dalam konteks profesional.industri perbankan. Banyak pelaksana bisnis yang mengutamakan keuntungan fiansial dalam jangka pendek. Dia akan dengan sangat mudah mengungkapkan informasi rahasia. mematuhi komitmen dan tidak berpegang berpegang pada surat perjanjian. atasan. seringkali mengintrepretasikan perjanjian secara tidak masuk akal. tidak mau menerima dan bertoleransi terhadap perbedaan. Tidak Mematuhi janji. pelanggan. sudah dirasakan hampir tidak ada. tidak adil. komitmennya hanya terhadap dirinya dan usahanya saja. Rendahnya Kejujuran. Hal ini diperburuk dengan masih terbatasnya informasi yang tersedia bagi masyarakat mengenai kondisi keuangan suatu bank sehingga kontrol masyarakat terhadap perkembangan perbankan tidak berjalan dengan semestinya. teman. Loyalitas kepada keuntungan jangka pendek. ataupun mengabaikan kepentingan masyarakat banyak . sehingga langkah yang dilakukannya tidak terhormat. hati terbuka. Dalam melakukan bisnisnya prinsip utamanya hanya uang dan untung jangka pendek. langsung. Sehingga sangat terdorong untuk bersikap tidak jujur dan tidak loyal kepada keluarga. tidak mau berbagi rasa. Tidak mampu berbuat adil. Dalam Bersikap cenderung untuk tidak adil dan pikirannya terfokus pada dirinya sendiri. Tidak memiliki Integritas. memperdayai konsumen. tidak bersikap memberi. tulus.

dan tidak meberikan contoh pada orang lain.Dalam tindakannya cenderung otoriter. Upaya pencegahan korupsi yang sudah berjalan selama ini dan bagaimana upaya untuk lebih mendorong keberhasilan pencegahan korupsi. Cenderung tidak berupaya untuk mencapai yang terbaik. Tidak Menunjukan penghargaan atas kemuliaan manusia. melaksanakan tugas dengan ogah-ogahan. Tidak memiliki ketanggung-gugatan. pemerintahan. tidak menggunakan proses demokrasi secara terbuka dalam pengambilan keputusan. tidak mau melaksanakan semua hak-hak dan tanggung jawab demokrasi melalui partisipasi (pemungutan suara dan pengungkapan pendapat). Instansi penegak hukum yang memegang tongkat komado pemberatasan korupsi sejak 1967 yaitu Kejaksaan Agung walupun telah bekerja maksimal. tidak mau memberikan informasi yang dibutuhkan orang lain untuk membuat keputusannya sendiri. Seringkali melakukan dan bertindak untuk hal-hal yang sia-sia. tidak transparan. baik di instansi pemerintah. perusahaan. tidak mau menerima tanggung jawab terhadap keputusannya. dan hak atas orang. kesadaran sosial dan pelayanan masyarakat. Jika berada dalam posisi memimpin atau memiliki otoritas. Tidak untuk melindungi dan tidak ada upaya untuk meningkatkan integritas dan reputasi keluarga. Berarti moralitas masyarakat kita memang sudah biasa untuk melakukan sogokan untuk memperlancar urusannya. Dari mulai urusan pelayanan sosial masyarakat. dalam tindakannya seringkali tidak masuk akal. Telaah khusus yang dibuat BPKP menyebutkan bahwa. Kurang tanggung jawab. bisnis bersekala sedang. Kita semua merasakan bahwa korupsi terjadi hampir disemua bidang kegiatan. personalitas. swasta maupun lembaga-lembaga lainnya. KORUPSI DAN PERMASALAHANNYA. Yang meyimpulkan betapa parahnya korupsi di negri ini. artinya yang penting terkenal. profesi dan pemerintah. ternyata masih memberikan hasil yang menggembirakan masyarakat dan ironisnya Indonesia malah menduduki ranking pertama se-Asia untuk tingkat korupsi menurut versi Transparancy International per April 1999. Berupaya menjadi yang terbaik dalam konteks yang salah. sehingga cenderung merintangi orang lain. Bersikap tidak bertanggung jawab. Cenderung untuk tidak menaati hukum. Seringkali melempar tanggung jawab. menengah dan besar. Sehingga dalam memenuhi tanggungjawab perorangan dan profesional. hukum cederung digunakan untuk kepentingan dan keuntungannya sendiri. Bahwa kaitan dari etika bisnis yang parah ini tampak dari maraknya prkatek korupsi. Bersikap kurang ramah dan kurang wajar. Menyerahkan saja pada orang lain dan tidak mampu mengendalian orang-orangnya. Cederung pula mengakali hukum. cenderung pula untuk menyembunyikan informasi. bisnis retail. Sedangkan aparat pengawasan fungsional lainnya mempunyai tugas pokok dan fungsi yang semata-mata tidak . bahasan dsb. Sampai-sampai hal itu sudah dianggap suatu hal yang biasa saja. Kesemua ini adalah suatu fakta yang tak terbantahkan. tidak bersikap rajin. dan kurang tanggung jawab . Berbagai institusi resmi dan LSM dalam dan luar negeri telah membuat berbagai data. cenderung malas-malasan. tidak memahami lebih dulu konsekuensi tindakan. apalagi bila menyangkut pada kerugian yang bersifat finansial.Tidak menghargai orang lain.

akan tetapi BPKP tetap akan mengusulkan suatu Komisi atau Badan tersebut. Hal ini ini dudukung pula oleh bahasan Masyarakat Transparansi Indonesia. dan BEPEKA. seperti kehilangan pasar. 6. Dalam hubungan ini patut di konstantir kondisi intern perusahaan-perusahaan yang sering menimbulkan kecurangan dan pelanggaran terhadap etika bisnis adalah sebagai berikut ini : 1. kecanduan obat. dan yang paling sulit adalah bila harus berhadapan dengan upaya menyeimbangkan antara tujuan bisnis yang terlihat jelas. dan ruwet serta memerlukan keakhlian tertentu menanganinya. Etika bisnis sangat berkepentingan untuk menyeimbangkan keduanya. Penempatan pegawai yang kurang mempertimbangkan integritas dan kejujurannya. Urgensi perlu tidaknya suatu Badan Anti Korupsi (badan) masih menjadi perdebatan. judi atau mempunyai selera mahal. ETIKA BISNIS Pelaku bisnis seringkali terbentur pada banyak pilihan. kerugian yang besar. Pengendalian internnya tidak ada. yang menjadi pengelola perusahaan. atau area bisnis dimana perusahaan itu bergerak. dunia bisnis antara perilaku bisnis yang baik dan sistem ekonomi politik yang kondusif. unggul dan bermoral perlu interaksi positif antara dunia usaha. Perusahaan mengalami saat buruk. (Koncoisme. Karena lain sekali pendekatan hukum. KONDISI INTERNAL PERUSAHAAN YANG BERMASALAH Kondisi masyarakat sangat berinteraktif pula dengan kondisi badan usaha yang melakukan kegiatannya di masyarakat. canggih. Pegawai yang dipercaya. Untuk membangun dan menciptakan dunia usaha yang sehat. Untuk itu hanya dengan kesadaran pelaku bisnis saja etika bisnis bisa dilakukan. tidak efisien atau tidak menunjukkan kemampuan. Itjen Departemen. serta LSM lainnya. Etika bisnis sangat berkaitan dengan keuntungan jangka panjang. yang bersifat memaksa dengan pendekatan etika yang lebih menekankan pada kesadaran dari pelakunya. Disamping adanya perangkat hukum dan perundangundangan maka diperlukan pembinaan dan tumbuh kembangnya etika bisnis yang benar. mempunyai problema pribadi yang tidak kunjung terselesaikan. mencegah terjadinya benturan kepentingan satu dengan lainnya. Bisnis yang tak beretika itu sangat berkaitan pula dengan kondisi perusahaan dan kondisi . keuangan para pegawai berada dibawah tekanan yang sangat berat. misalnya masalah keuangan. lemah atau terselenggara longgar. 2. Ruang usaha. jadi buat pengusaha yang berpikiran jangka pendek sangat sulit sekali memahami etika bisnis ini. Klik-isme) 3. apalagi bila keuntungan finansial telah didepan mata. yaitu keuntungan finansial dengan etika. 4. kolusi dan nepotisme. Usaha pemberantasan korupsi sebagai isu sentral perlu ditangani secara serius oleh suatu lembaga/badan yang khusus mengingat korupsi mempunyai karakter kompleks. BPKP. 7. sangat diperas tenaganya dan diperlakukan kasar. Model manajemennya sendiri korup (KKN). Untuk mencapai tujuan dan sasaran. produk atau jasa yang dihasilkan sudah ketinggalan zaman. 5. masalah kehidupan keluarganya. merupakan bagian yang secara historis atau tradisional terlibat korupsi. diperlakukan buruk.diarahkan untuk memberantas korupsi yaitu antara lain itwilprop.

Gagal mempertimbangkan konsekwensi yang harus dicapai. Cheating and Stealing memberikan kesimpulan tentang sebab-sebab seseorang berbuat curang.A dan Robert J. Penerima sogokan atau koruptor menerima sesuatu yang bukan haknya. 4. 10. Pendapat lain lagi yang menguraikan bagaimana seseorang berbuat curang. 6. 5. maka cenderung juga untuk menjadi koruptor. Merasa frustasi atau tidak puas mengenai beberapa aspek dari tempat kerjanya. main curang dan mencuri akan meningkat apabila orang mendapat tekanan yang besar untuk mencapai tujuan yang dirasakannya sangat penting. 2. berlaku curang atau menjadi pencuri. 5. Berfikir orang lain melakukan penyimpangan mengapa saya tidak. Praktek-praktek seperti ini kerap terjadi dalam dunia bisnis. Orang yang berkedudukan menengah atau tinggi cenderung menjadi lebih jujur. Berfikir : "Ah ini kan begitu besar. Dalam hal ini terbuka peluang untuk penyogok juga mengambil sebagian dari uang yang digunakan untuk menyogok tersebut. diungkapkan oleh G. cenderung berbuat curang. 9. prihatin dan rasa tersiksa) akan lebih mempunyai rasa melawan terhadap godaan untuk berbuat curang. Gwynn Nettler dalam bukunya Lying. Comm. Dalam hal ini maka perilaku korupsi yang termasuk perilaku melakukan kecurangan. 6. 4.orang-orang yang ada dalam perusahaan. 7. 9. yaitu : 1. berbohong atau mencuri dalam melaksanakan pekerjaannya. 8. kalau dia instansi. sehingga mudah tergerak untuk berbohong. bingung dan tidak dapat menangguhkan keinginan memuaskan hatinya. karena uang yang dikeluarkan dari perusahaannya untuk menyogok juga biasanya tidak dibukukan pada pos pembukuan yang sebenarnya. sedangkan yang melakukan sogokan. diambil sedikit kan tidak akan ada bekasnya". Merasa disalah gunakan oleh atasannya dan ingin membalas dendam. Yakin bahwa dia lolos. akan mendorong orang melakukannya. Kesempatan yang mudah untuk berbuat curang atau mencuri. Tidak tahu bagaimana mengelola uang yang ada ditangannya. sehingga selalu bocor dan . Orang yang sering mengalami kegagalan cenderung sering melakukan kecurangan. Jack Bologna B. Berfikir ia benar-benar sangat memerlukan atau mengingini uang atau barang yang ia curi. karena melakukan yang bukan semestinya patutlah ditelaah. menyatakan adanya 25 alasan. CA dalam bukunya yang berjudul Fraud Auditing and Forensic Accounting. Perjuangan untuk menyelamatkan nyawa mendorong untuk berlaku tidak jujur. yaitu : 1. Orang yang memiliki hati nurani (mempunyai rasa takut. 8.B. 3. 3. Merasa frustasi atau tidak puas mengenai beberapa aspek dari kehidupan pribadinya tidak ada kaitannya dengan pekerjaannya. Masing-masing individu mempunyai kebutuhan yang berbeda dan karena itu menempati tingkat yang berbeda. 2. Linquist B. Orang yang tidak disukai atau tidak menyukai dirinya sendiri cenderung menjadi pendusta. Kehendak berbohong. Orang yang hanya menuruti kata hatinya. Orang yang cerdas (intelligent) cenderung menjadi lebih jujur dari pada orang yang dungu (ignorant). 7.

Merasa bahwa merusak organisasi adalah tantangan dan bukan malah keuntungan ekonomi semata-mata. 16. Kalau atasan berbuat curang mengapa mereka tidak berbuat serupa. 21. disamping oleh keadaan sosial masyarakatnya. Mengkompensasikan kehampaan yang diderita dalam kehidupan pribadinya dan ia memerlukan cinta. yang harus mendasari pelaksanaan bisnis di Indonesia . 24. penggelapan dan pencurian di satu organisasi lebih menonjol dibandingkan dengan organisasi yang lain. Cenderung menipu atasannya. 25. 11. Berpendapat bahwa melanggar karena alasan kemanusiaan dan hayalannya membenarkan. Tidak memiliki pengendalian pribadi (self control) dan ingin keluar dari tekanan. Tempat bekerja mempunyai organisasi pengendalian intern yang sangat lemah. maka kajian yang perlu sekali di sampaikan kepada masyarakat bisnis Indonesia adalah. Melihat tak seorangpun dihukum karena melakukan penyimpangan didalam organisasinya. Dengan demikian maka untuk menekan terjadinya tindak kecurangan dalam berbisnis. sosial atau berbudaya. Melihat bahwa banyak orang yang tertangkap melakukan penyimpangan karena kebetulan saja bukan karena hasil audit atau hasil pola pengamanan. Berpendapat manusia itu lemah dan cenderung mudah berbuat dosa. Yakin bahwa seorang teman ditempat kerja telah menjadi korban penghinaan atau penyalah gunaan atau telah diperlakukan secara tidak adil. 14. Berpendapat bahwa pelanggaran adalah gejala situasi (situational phenomena). baik secara intern maupun terhadap masyarakat bisnis dan masyarakat luas maka perlu ditegakannya etika bisnis yang benar. Untuk mengatasi berbagai persoalan yang dikemukakan diatas. Kajian yang lebih mendalam ternyata hal-hal itu disebabkan secara intern oleh gaya manajemen. Setiap pelanggaran mempunyai kondisi yang mendahuluinya sendiri dan setiap pelanggaran mempunyai alasannya. 10. Merasa tidak akan dihukum oleh atasannya sekedar mencuri.siap dicuri. Terus terang malas dan tidak mau bekerja keras mencari penghasilan untuk membeli yang ia inginkan atau yang ia perlukan. 13. Berpendapat bahwa atasannya juga tidak bermoral. 19. 23. menyalahi atau menggelapkan. kasih sayang dan sebuah persahabatan. Etika adalah prinsip moral atau nilai. seharusnya kita memulai bisnis dengan dasar etika yang baik. 15. tidak punya etika dan tidak punya semangat. 22. sehingga setiap orang tergoda untuk mencuri. Dalam praktek sehari-hari sering ditemui bahwa kecurangan. Oleh karena itu perasaan takut tertangkap bukan alat pencegah untuk melakukan penyimpangan. 20. 18. 12. Pada masa kanak-kanak kehilangan perlakuan ekonomis. 17. Merasa tidak didorong untuk mendiskusikan masalah pribadi atau masalah keuangan sewaktu bekerja atau mencari nasihat dan berkonsultasi dengan pimpinan mengenai masalah tersebut.

teman. Bersikap jujur dan loyal kepada keluarga. tulus. Bersikap penuh kepercayaan. melaksanakan semua hakhak dan tanggung jawab demokrasi melalui partisipasi (pemungutan suara dan pengungkapan pendapat). 3. kesadaran sosial dan pelayanan masyarakat. tidak bermuka dua. Mencapai yang terbaik. 10. 9. 7. berlaku sama terhadap orang lain. dan kalau memang diperlukan mau mengubah pendirian. berniat menghapus kekeliruan. masuk akal. mengembangkan dan memelihara tingkat kompetensi yang tinggi. tidak berbohong. menerima dan bertoleransi terhadap perbedaan. dan negara. melaksanakan seluruh tugas sesuai kemampuan terbaik. tindak merintangi orang lain. memenuhi janji. personalitas. Bersikap benar. Menunjukan penghargaan atas kemuliaan manusia. Bersikap bertanggung jawab. Bersikap berprinsip. tidak mengintrepretasikan perjanjian secara tidak masuk akal baik hal teknis maupun masalahnya dalam rangka merasionalkan tindakan-tindakan yang menyimpang. memberikan informasi yang dibutuhkan orang lain untuk membuat keputusannya sendiri. Ketanggung-gugatan. tidak mencuri. adil. berpegang pada surat perjanjian. harus mampu menjaga kemampuan membuat pertimbangan profesional dengan berusaha menghindari pengaruh buruk dan konflik kepentingan. Integritas. atau membenarkan suatu filosofi tanpa memperhatikan prinsipnya. dan berbelas kasihan. memberi dan menerima informasi dengan baik. Menaati hukum. jika hukum tidak adil proteslah secara terbuka. Menjadi warga yang bertanggung jawab. mematuhi komitmen. jika berada dalam posisi memimpin atau memiliki otoritas. atasan. Tidak mengungkapkan informasi rahasia. tidak melakukan hal-hal yang tidak berharga . klien. dalam konteks profesional. tidak memperdayai dan tidak melenceng. dalam memenuhi tanggungjawab perorangan dan profesional. Bersikap ramah dan wajar. 2. bersikap melayani orang lain. dan menjamin bahwa setiap orang mempunyai semua informasi yang dibutuhkan untuk membuat pilihan yang tepat dan melaksanakan hak-hak mereka. Kepedulian pada orang lain. baik hati. memberi pertolongan jika dibutuhkan dan tidak merugikan orang lain. 8. tidak menipu. . terhormat. 1. menghindari penyembunyian informasi jika tidak diperlukan. Berupaya menjadi yang terbaik dalam setiap hal. tidak selalu memperhitungkan biaya. tidak memanfaatkan kesalahan orang lain untuk mendapatkan keuntungan. Loyalitas. menunjukan komitmen terhadap keadilan. bersikap memberi. Kejujuran.. dan hak atas setiap orang. dan bertanggung jawab . Menghargai orang lain. Keadilan. jernih. Bersikap adil dan pikiran terbuka. bersikap rajin. menerima tanggung jawab pengambilan keputusan. 5. langsung. hati terbuka. 4. berbagi rasa. 6. Bersikap peduli. berani dan bertindak dengan dorongan penuh. Mematuhi janji. atau bertindak menuruti hawa nafsunya. memakai proses demokrasi secara terbuka dalam pengambilan keputusan.

seperti LSM dsb. ini juga perlu dikembangkan dalam ranga sasaran etika bisnis. bisnis sebagai suatu usaha yang ada dimasyarakat memerlukan pemuasan kepada semua pihak naik ekstern maupin intern. para profesional. Pemberdayaan masyarakat. pelaksanaan. Masyarakat sekitar perusahaan dan secara ridak langsung masyarakat luas. SASARAN ETIKA BISNIS Sasaran etika bisnis adalah membangun kesadaran kritis pelaku bisnis. dan dalam meberikan contoh pada orang lain. profesi dan pemerintah. kepercayaan. Keuntungan yang dicapai juga meliputi non financial profit. masyarakat harus berani dan bisa melakukan langkah-langkah koreksi dengan mengungkapkan pada yang berwenang. Menjadikan hukum yang supermasi diatas kekuasaan. tanggung jawab sosial. • Lembaga Keuangan dan Perbankan • Pemasok. Upaya penyebarluasan pemahaman. sehat dan prudent. • Para pemilik saham dan pemodal. • Para karyawan. • Berbagai kelompok manajemen yang tak tergolong manajemen puncak.memahami lebih dulu konsekuensi tindakan. Etika bisnis yang sehat dibangun untuk memuaskan kepentingan semua pihak dengan caracara yang baik dan santun. bahwa bisnis adalah profit making activity. secara etis. individu akan menghindari hasil kerja yang tidak memadai. Pelaku yang ingin maju ikuti aturan main yang jelas. tidak curang. disamping di sektor riil perlu sehat dan beretika maka perlu dibangun bank-bank yang baik. Meliputi juga keuntungan yang berjangka panjang. yang harus dicapai dengan cara-cara baik. Berdasarkan permasalahan – permasalahan industri perbankan Indonesia saat ini. atasan. citra. • Sedangkan yang bekepentingan dan berada dalam organisasi perusahaan . penghayatan terhadap pemasyrakatan etika bisnis ini perlu dilakukan dengan luas diseluruh tanah air. RUMUSAN KEY SUCCESS FACTOR Bila kita mencoba mengambil contoh pada sektor perbankan maka kedepan. adil. baik secara individual maupun secara kelompok. Pihak-pihak yang berkepentingan di luar organisasi : • Pemerintah. pelayanan. Orang tua. Dengan demikian. Bila ada kecurangan. • Distributor. tidak merugikan orang lain. sosial dan politik yang lebih baik dan lebih demokratis. rasional dan obyektif tanpa mengandalkan KKN. maka key success faktor dapat dirumuskan misalnya sebagai berikut : . tentunya akan menjalin hubungan yang baik pada semuanya. mutu. • Pembeli atau konsumen. untuk melindungi dan meningkatkan integritas dan reputasi keluarga. agen dan pengecer. Kita juga perlu mendorong bangsa membangun sistem ekonomi. perusahaan. dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk mencegah perilaku yang tidak memadai. integritas moral. guru. moral. dan pegawai negeri mempunyai kewajiban khusus untuk memberikan contoh.

Kegiatan – kegiatan lainnya seperti keuangan. Disamping dia juga menyebutkan bahwa "hampir sebagian besar aspek perencanaan strategis berfokus pada pemasaran. Sukristono. dimana hal ini akan secara langsung dapat menjamin perkembangan bank yang wajar dan sehat. Stemper. Adanya visi dan misi Seperti yang dikemukakan oleh Robert G. Stemper dalam bukunya Consumer Banking Strategy. Dengan visi yang jelas yang diterjemahkan dalam misi tentunya akan men-drive bank kearah yang sehat. Disisi lain harus mencerminkan kebutuhankebuhan yang diinginkan oleh nasabah". terdapat tujuh faktor kritis yang harus diperhatikan dalam Consumer Banking disebutkan bahwa "Penetapan visi dari menejemen puncak sangat dibutuhkan. Misi merefleksikan what the customer is buyingsatisfaction-and seguests that this won‟t happen in free economy unless the suplier makes a profit. Dengan demikian akan terjadi sutau proses yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak. logistik dan lainnya hanya bersifat sebagai faktor pendukung. yaitu mengindikasikan mengenai apa yang harus dilakukan dalam hal ini adalah pemerolehan keuntungan dari pemenuhan kepuasan nasabah. Dengan adanya kejelasan arah tersebut akan menimbulkan terjadinya kesepahaman dan komitmen dari pihak stake holder dan nasabah dalam pengelolaan suatu bank karena meningkatkan nilai moral dan hazard dari beberap pihak. yang menyebutkan bahwa "Customer interaction is the key to the business ". penggalian isu dari bawah perlu diperhatikan sehingga feed back atas pelaksanaannya dapat diperoleh dalam rangka penentuan visi pada periode berikutnya.1. Ketepatan pemilihan bentuk. juga mengungkapkan bahwa "Masalah intern bank yang lainnya pada saat ini adalah masalah sistem penyampaian produk dan jasa bank kepada nasabah". Karena visi tersebut merupakan petunjuk arah atau merupakan gambaran bagimana kondisi dan bentuk bank di masa yang akan datang. Untuk itu. terdapat beberapa bank yang di tutup atau . visi dan misisi harus dikomunikasikan kepada semua pihak dan dalam pembuatannya harus memperhatikan kondisi lingkungan. Disamping itu pembuatan misi harus dititik beratkan pada kepuasan nasabah dan besarnya keuntungan perusahaan (bank) yang akan dicapai. Ungkapan tersebut menunjukan bahwa visi dan misi manajemen bank merupakan salah satu faktor yang dibutuhkan untuk perkembangan suatu bank. Selain visi merupakan petunjuk arah akan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Bank. jumlah jaringan bank. Seperti yang dikemukakan di atas bahwa : • Kepuasan yang didapatkan oleh nasabah. Akan tetapi terdapat beberapa implikasi dari misi yang akan diekspliotasi. Selain itu dia juga mengungkapkan bahwa "Jika visi merupakan gambaran umum bagimana kondisi bank pada periode mendatang. terletak pada saat mereka berhubungan/berinteraksi dengan bank pada saat melakukan transaksi sebagimana diungkapan oleh Robert G. Hal ini didasarkan atas pengertian bahwa pasar perbankan merupakan suatu hubungan antara golongan nasabah dengan kelompok produk dan jasa-jasa yang ditawarkan oleh perbankan". • Drs. sumber daya manusia. misi lebih specifik lagi. • Disisi lain sebagai akibat krisis perbankan. 2.

penutupan bank . Disisi lain tingkat pengetahuan nasabah terhadap kondisi perbankan semakin meningkat dan adanya penerapan prinsisp keterbukaan oleh pemerintah atas kondisi keuangan suatu bank. Sedangkan disisi lain. dalam pengelolaan suatu bank. Jadi dapat dikatakan bahwa ketepatan pemilihan bentuk. letak ) atau tingkah laku nasabah dalam bertransaksi dan dalam batas control yang memadai. dimana dalam pengelolaannya tidak terlepas dari derajat kepercayaan para nasabah kepada bank. Disisi lain tingkat kesehatan bank juga sangat menentukan dalam perkembangan operasi perbankan pada periode berikutnya. cabang pembantu. 4. merupakan suatu tantangan tersendiri yang harus dijawab oleh manajemen bank dewasa ini. dapat dikatakan fungsi jaringan merupakan salah satu alat dalam memuaskan kebutuhan nasabah. letak dan jumlah jaringan merupakan salah kunci sukses suatu bank pada saat ini. ATM. Sehingga untuk menjawab tantangan tersebut. Tingkat kesehatan Seperti yang kita ketahui bahwa bank merupakan salah satu lembaga penghubung (intermediere) antara unit surplus dan defisit. Adanya inovasi tepat guna dan berhasil guna Seperti yang diungkapkan oleh Robert G. Mengingat bank akan ditinggalkan para nasabahnya apabila kebutuhannya tidak terpenuhi.dibekukan usahanya dan terdapat beberapa bank yang menutup jaringannya karena proses restrukturisasi dalam usaha efisiensi. yang pada akhirnya menambah nilai ATMR berikut risiko lainnya. tingkat kesehatan bank merupakan salah satu kunci sukses. Apabila terjadi perubahan akan berakibat berubahnya lingkungan bisnis yang secara langsung akan merubah keinginan nasabah. jumlah dan letak akan jaringan (cabang. perlu disadari bahwa pengadaan jaringan tidak terlepas dari besarnya nilai investasi yang akan ditanamkan. mengingat nasabah lebih berpengalaman dan mempunyai sifat menuntut". Oleh karena itu ketepatan pemilihan bentuk. mendatangkan keuntungan dan dapat meminimalkan tingkat resiko yang akan terjadi. dimana perubahan peraturan di industri perbankan terjadi dengan cepat dan disisi lain bank harus lebih menfokuskan pada nasabah bukan hanya pada peraturan. Stemper bahwa "survival requires innovations. Tentunya besarnya jumlah jaringan akan memperluas span of controlnya. pihak manajemen bank harus melakukan inovasi dalam memenuhi kebutuhan nasabahnya. . Sehingga kondisi keuangan/kesehatan suatu bank dapat tercermin pada laporan keuangannya dan pada akhirnya mempengaruhi opini masyarakat akan kondisi bank tersebut yang bertindak sebagai control sosialnya. Sehingga pola pelayanan dan operasinya dapat memuaskan kebutuhan nasabah. 3. Mengingat hal ini sangat mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat (terutama deposan) pada bank tersebut dan perkembangan bank pada periode berikutnya. Berdasarkan hal tersebut. dalam hal pemberian ijin pembukaan cabang/jaringan. Dengan demikian. Sedangkan disisi lain tingkat kompetisi di dunia perbankan yang sangat tajam. peningkatan status operasional perbankan dan keikut sertaan dalam proses kliring serta kegiatan-kegiatan lainnya yang diatur dalam Peraturan Bank Indonesia. Merchant dll) harus disesuaikan dengan kondisi (jumlah. kantor kas.

Dengan demikian inovasi yang dibuat dapat diaplikasikan dalam arti dapat memenuhi kebutuhan nasabah dan dapat memberikan hasil bagi bank. disamping itu tehnologi dalam dunia perbankan dapat dijadikan sebagai kepanjangan tangan (jaringan) dalam melayani nasabah (ATM & Merchant).Agar supaya manajemen inovasinya berjalan dengan baik. terutama dalam kecepatan pemberian informasi baik yang bersifat keuangan maupun yang bersifat non keuangan. dapat mempermudah dan menjawab kesulitan-kesulitan yang ada dalam kehidupan. sehingga nasabah memeproleh kepuasan dan adanya keuntungan bagi bank. karena memperbesar nilai feed back dan input dari design sistem yang telah ada serta adanya temuan-temuan bisnis yang baru. Seperti yang yang dikemukakan oleh Drs. akan menimbulkan adanya competitive advantage dan dapat menciptakan image tersendiri bagi para nasabahnya yang pada akhirnya merupakan salah satu penujang dari perkembangan bank yang sehat dan wajar di masa mendatang. peranan tehnologi sangat besar artinya. Stemper yang menyebutkan bahwa "elemen manusia yang berupa contact staff yang merupakan variabel terpenting yang mengakibatkan adanya keuntungan dan terpenuhinya kepuasan". • Mempermudah penerapan aplikasi teknologi • Memperkecil terjadinya pemborosan. Peranan tekhnologi tak kalah pentingnya dalam kehidupan suatu masayarakat dan khususnya dunia perbankan. • Menimbulkan tingkat inovasi. Oleh karena itu pengusaan dan aplikasi tehnologi informasi sangat mutlak dibutuhkan. mempermudah pemenuhan kebutuhan nasabah karena adanya pemahamanan akan produk dan dan peraturan yang memadahi. Dalam dunia perbankan. politik. sehingga operasi bank dapat berjalan secara efisien. akan tetapi juga mencakup penelitian kegiatan dan strategi pesaing. unit khusus yang menangani tersebut perlu dibentuk dalam struktur organisasinya atau yang lebih di dengan sebutan R& D. Sumber daya manusia yang terlatih dan terpercaya Peranan sumber daya manusia yang terlatih dan terpercaya juga penting sekali dalam menunjang kelangsungan hidup suatu bank. Disisi lain keuntungan yang diperoleh adalah kegiatan operasi perbankan dapat berjalan dengan efektif dan efisien serta dapat diterapkannya manajemen control yang baik. Hal ini sesuai dengan apa yang di ungkapkan oleh Robert G. Penguasan dan Aplikasi Tekhnologi informasi Yang Handal. Sehingga dengan adanya inovasi tersebut. kebijakan-kebijakan pemerintah. PENUTUP . 6. Mengingat dengan tehnologi tersebut. perkembangan lingkungan eksternal bank (ekonomi. jika menginginkan bank tersebut berkembang dengan baik. Hal ini dimaksudkan agar supaya kebutuhan nasabah dan kebutuhan internnya dapat terpenuhi. Mengingat dengan adanya sumber daya manusia yang terlatih dan terpercaya : • Dapat mempermudah menjalin hubungan dengan nasabah. 5. perkembangan teknologi dan lainnya) dan kondisi internal bank". sosial. Sukristono menyebutkan bahwa " kegiatan R & D ini sesungguhnya tidak hanya mencakup pencarian produk baru dan penelitian pasar. Keputusan-keputusan yang diambil oleh manajemen bank dalam rangka menjalin hubungan dengan nasabah berjalan dengan cepat dan tepat karena didukung oleh data financial dan non financial yang akurat.

• Dalam satu waktu tertentu. sehat. 1995 3. langkah yang saat ini sedang dilakukan untuk menyempurnakan kelembagaan dengan membuat Komite Independen Anti Korupsi perlu segera dilaksanakan dan ditindak lanjuti. 1. Dr.4/1998 4. Pola Kegiatan dan Peran Pengawasan dalam Penanggulangannya" Restu Agung. MPA . Kita perlu beretika dalam melakukan bisnis. agar semua rakyat Indonesia memahami bahwa perlu dibangun etika bisnis yang benar. Upaya pencegahan.atau mengajak pada kebenaran relatif lebih bisa dilaksanakan dan tinggal menyerukan serta berkampanye. Tjukria P. Banyak aspek aspek lain yang terkait.. • Bekerja keras adalah etos kerja positif yang menjadi dasar kesuksesan. SE .Untuk mencapai sasaran dalam penciptaan dunia usaha dan perbankan yang terpercaya."Korupsi. 5. Prof. Upaya pemberantasan korupsi perlu dilakukanan dengan lebih "menggigit" lagi. Untuk itu perlu langkah-langkah yang simultan. ini yang jadi masalah. diluaskan ke perusahaan dengan mengkaji masalahmasalah intern perusahaan agar bisa beroperasi dengan etika bisnis yang baik. Jurnal tigabulanan Cides."Audit Intern Bank" . 6. untuk itu etika beragama bisa dijadikan satu acuan dalam membentuk dan mengembangkannya. • Semua mass media melakukan kampanye dengan iklan pelayanan masyarakat. Tawaf . Siagian. dimunculkan orang yang berperilaku jujur menghadapi sogokan sebagai suatu "bintang" yang dipublikasi. namun nahi mungkar . dengan menyeret dan menghukum koruptor besar. dsb. • Dari segi kelembagaan. • Penghargaan bagi orang sukses yang jujur dan beretika 3.buku ke satu dan buku ke dua. Karena etika bisnis mencakupi bidang yang luas. Juniardi Soewartoyo. yang menjadi landasan political will perlu menjadi manadatory agar menjadi dasar bagi langkah-langkah selanjutnya. Apalagi menangkap dan memproses secara hukum terhadap kesalahan bukan perkara yang mudah. Etika Bisnis dimulai dari individu."Etika Bisnis" .Jakarta. Beberapa Bahan Bacaan : 1. • Adanya trophy penghargaan nasional bagi perusahaan yang mampu melaksanakan etika bisnis dengan baik pada suatu periode tertentu. sehingga setiap lulusan perguruan tinggi memahami bahwa etika dalam berbisnis adalah suatu dasar yang pokok bagi pengembangan sukses selanjutnya. • Memberikan terapi pada masyarakat. 4. unggul yang bermoral maka etika yang baik harus menjadi landasan filosofisnya. Etika bisnis diajarkan sebagai mata kuliah di perguruan tinggi. Sondang P. Amar ma'ruf . Yang diikuti etika dalam bidang lainnya. Penerbit Salemba ."Persoalan Etika Bisnis Kita" . A. Mempersiapkan lahan. Upaya pemasyarakatan Etika Bisnis dilakukan secara nasional dan besar-besaran dengan suatu Kampanye Nasional secara terus menerus. Sonny Keraf . Vol.V No. Pustaka Binaman Persssindo. Jakarta Pusat. perlu dibasmi dan jangan lakukan. Karenanya masalah etika bisnis. maka sasaran-sasaran antara yang meliputi antara lain menekan dan menghapuskan korupsi menjadi prioriras utama. 1996 2. yang menyatakan bahwa korupsi itu jahat.atau mencegah kemungkaran. 2.Afkar.

Adrianus Meliala . Linquist B.1. Marulak Pardede-"Hukum Pidana bank". Memerangi Korupsi Internasional:. UU Republik Indonesia No 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktrk Monopoli dan persaingan Usaha tidak sehat.B. 1995 9. 6.Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.Empat. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.Jakarta. CA . Jack Bologna B. Info Bank 1997 – 1998 13.A dan Robert J. BPKP .28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari KKN 7.Cet.Fraud Auditing and Forensic Accounting . 10. G. Jakarta 1999 5.1 . UU Republik Indonesi No. Cet.Suatu Alternatif Upaya Pemberantasan Korupsi Yang Efektif di Masa datang . Comm. Bank Indonesia – Laporan BI 1999 12."Menyingkap Kejahatan Krah Putih" . 1999 8.Fritz F.Perlunya Badan Anti Korupsi . Heimann* 11.Peranan Masyarakat Bisnis .

Nahkoda dari bank tersebut adalah pengurus bank itu sendiri. Untuk itu. sementara di Australia. dan kehatihatian. maupun ketidakpercayaan masyarakat terhadap bank tersebut. Pemilik Tak Seenaknya Dengan penjelasan di atas. Seperti korporasi-korporasi lainnya. Bisa juga kesulitan likuiditas tersebut akibat mismatch dari struktur pendanaan yang lebih bersifat jangka pendek. maka kejatuhan sebuah bank bukanlah semata-mata tanggung jawab bank sentral. misalnya 16 bank ditutup. Kebangkrutan sebuah bank bisa dipicu oleh berbagai faktor.Dibalik Penutupan Bank Oleh Agus Sugiarto Peneliti Bank Eksekutif. Bank Dagang Bali dan Bank Aspac dilikuidasi. Penyebab lain adalah bank tersebut kesulitan likuiditas karena adanya penarikandana secara besar-besaran dalam waktu bersamaan karena terjadinya krisis bersifat sistemik. Ketua Tim Arsitektur Perbankan Indonesia. Bank Indonesia Minggu lalu. Bank Global ditutup pada 2005. jelas bahwa pemicu bangkrutnya sebuah bank bisa datang dari bank itu sendiri maupun sebagai dampak dari kondisi ekonomi yang memburuk. Penutupan tersebut menimbulkan berbagai komentar maupun kritikan dari masyarakat dan para pakar. kita tidak perlu memberikan reaksi yang berlebihan menyikapi kondisi seperti ini. Jadi. sedang . Dan terakhir. penutupan bank bukanlah sesuatu yang luar biasa. good governance. melainkan pemilik atau pengurusnya. Bank bisa bangkrut dan harus ditutup kalau kinerjanya buruk akibat naiknya kredit macet. Jika kita melihat ke belakang. Penyebab lain jatuhnya bank-bank-seperti terjadi pada krisis perbankan periode 19971998-adalah banyaknya pemilik bank yang ikut campur tangan dalam operasional bank sehari-hari. Pada tahun 2004. penutupan bank dalah hal biasa. Namun. Di Amerika Serikat. beberapa bank kecil juga ditutup di era 1990-an akibat ketatnya persaingan dengan bank besar. Bank sentral bukanlah nahkoda dari suatu bank. sehingga kurang memperhatikan sama sekali aspek manajemen risiko. atau aset bermasalah secara signifikan. BI mencabut izin usaha Bank IFI karena ketidakmampuan bank tersebut membenahi permasalahan yang dihadapi. diikuti 38 bank pada 1999. baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung. bank run. bank juga bisa bangkrut. Saat krisis moneter 1997. pemberian kredit yang tidak hati-hati serta praktek bank dalam bank. puluhan bank ditutup di era 1980-an sebagai dampak merger wave karena tidak mampu lagi bersaing.

hal tersebut harus dilakukan agar tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar lagi dengan dampak yang lebih besar pula. khususnya bank-bank kecil juga perlu melihat kembali modal intinya. Tidak ada artinya suatu bank memiliki CAR 30%. Kewenangan pemilik maupun pengurus bank tidaklah mutlak karena modal yang disetorkan oleh pemilik rata-rata hanya 20% maksimum dari total dana pihak ketiga yang ada di bank. sangatlah sulit untuk mencegah kejatuhan suatu bank mengingat fungsi kontrol dan givernance-nya tidak sepenuhnya di tangan bank sentral. Karena itu. Karena itu diperlukanm CAR yang lebih tinggi dari 8% sesuai dengan profil risiko dan risk apetitte dari bank tersebut. Mengingat pemilik dan pengurus bank mengelola uang masyarakat. jangan terlalu ceroboh dalam menjalankan kegiatan bank sehari-hari. khususnya peningkatan modal minimum. Karena itu. sedangkan selebihnya yang para deposan yang dititipkan di bank tersebut.fungsi bank sentral hanya sebagai penunjuk jalan saja. maka sudah sewajarnya kalau bank sentral menetapkan aturan yang ketat dengan berbagai macam sanksi kepada bank-bank yang diawasi. Prinsip kehati-hatian harus dijaga. agaar modalnya lebih besar dan ketahan kelembagaan lebih kuat. itu juga bukan hal mudah. Tapi. Tidak selamanya bank yang masuk SSU ternyata mampu disehatkan kembali dan beroperasi normal. kebijakan konsolidasi perbankan yang dikeluarkan BI sejak 2004 harus dilaksanakan bank-bank kecil yang modalnya pas-pasan. bank. . Selain CAR yang cukup. Bahwa adanya usulan dari berbagai pihak agar BI mengumumkan saja nama-nama bank bermasalah ke publik. Apa yang Harus Dilakukan Menutup sebuah bank tentu bukan sebuah pekerjaan yang mudah. mana yang boleh dilalui dan mana yang tidak boleh dilewati. Bank sentral berfungsi untuk mengawasi untuk menjaga kepentingan masyarakat dan melindungi para pengguna jasa bank. Ke depan. Dampak pengumuman seperti ini bisa lebih berbahaya. Rasio CAR di atas 8%belumlah mencukupi kalau kegiatan usaha bank sangat kompleks dan berisiko tinggi. Penutupan sebuah bank itu melalui proses panjang yang melibatkan banyak pihak terkait serta mahal ongkosnya. padahal masih dilakukan proses penyehatan. apakah sudah di atas Rp 100 miliar atau belum. Lebih baik mereka merger dengan bank lain. Begitu juga pengurus bank. Apa yang bisa kita lakukan adalah meminimalisasi frekuensi kejadiannya dengan berbagai kebijakan. BI sendiri sering menghadapi suatu pilihan yang sulit sebelum menutup suatu bank. karena bank bermasalah yang sedang dirawat di special surveillance unit (SSU) BI masih jatuh. pemilik bank jangan terlalu menuntut dan memperlakukan bank seenaknya. tapi modal intinya hanya Rp 80 miliar atau kurang dari itu.

Kebijakan lain yang perlu dipertimbangkan adalah skema premi penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang dibedakan sesuai profil risiko atau kategori bank. Begitu pula bank-bank yang berkinerja baik dan berisiko rendah sudah sepantasnya mendapatkan reward sesuai upaya mereka. Mereka tidak boleh menjadi pemilik dan pengurus bank lagi. . Bank yang berisiko tinggi tentunya membayar premi yang lebih besar dibandingkan dengan bank yang berisiko rendah. pemilik dan pengurus bank yang banknya gagal dan terpaksa harus ditutup juga perlu “diistirahatkan” dulu. seperti halnya di AS. Ketua Tim Arsitektur Perbankan Indonesia. Bank Indonesia. Di samping itu.  Penulis adalah Peneliti Bank Eksekutif.

sedangkan pelakunya bisa organisasi atau individu. kemudian membesar dan pada akhirnya akan mencelakakan bank.Wells dalam bukunya The Accounting‟s Handbook of Fraud and Commercial Crime. Penyebab Kecurangan .PENTINGNYA BANK MEMILIKI PROGRAM PENCEGAHAN KECURANGAN Kecurangan bermula dari yang kecil. “An array of irregulation and illegal acts characterized by intentional deception. Fraud is criminal deception intended to financially benefit the deceiver (Kecurangan adalah penipuan kriminal yang bermaksud untuk memberi manfaat keuntungan pada si penipu) G. penipuan yang disengaja yang menguntungkan individu maupun organisasi. Artinya ini dapat dilakukan untuk manfaat dan/atau kerugian organisasi oleh orang di luar atau orang lain dalam organisasi. dan menyalurkannya kepada masyarakat.Jack Bologna J. tindakan ini dipertimbangkan tetap sebagai kriminal. Kerawanan terjadinya kecurangan di perbankan sebagai badan usaha sangatlah luas cakupannya. Kecurangan bisa terjadi dimana saja. Bila kecurangan terjadi. Namum pengartiannya tidak dilakukan secara ketat seperti dalam arti hukum. Dengan demikian.Lindquist & Joseph T. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa kecurangan ini adalah suatu penyajian yang palsu atau penyembunyian fakta yang material yang menyebabkan seseorang memiliki sesuatu secara tidak sah. Bila terjadi dalam frekuensi dan volume yang besar maka tentunya tujuan pencapaian sasaran kerjanya akan sulit bisa dicapai. Dia mengartikan kriminal adalah setiap tindakan kesalahan yang serius yang dilakukan dengan maksud jahat. kecurangan dalam institusi perbankan dampaknya akan sangat jauh. artinya dibalik itu ada pihak yang dirugikan. Tujuan utamanya mencegah dan mendeteksi kecurangan serta melakukan langkah penyelamatan dari kerugian yang tidak diinginkan. It can be perpetrated for the benefit of or to the detriment of thr organization and by persons outside as well as inside organizatioan” (Suatu kesatuan penyimpangan dan tindalan illegal yang ditandai dengan penipuan yang disengaja. yang dapat dilakukan oleh dan untuk keuntungan bagi organisasi dan atau individu baik di dalam maupun di luar organisasi) Dari definisi ini memperlihatkan bahwa dalam kecurangan ada penyimpangan dan atau tindakan illegal. maka fungsi intermediasi bank menjadi terganggu. meskipun pelaku kecurangan dapat menghindari tuntuan kriminal pidana. Sehingga bila terjadi kecurangan maka bisa mengikis tingkat kepercayaan berbagai pihak yang berkaitan langsung ataupun tidak langsung dengan bank dan tentunya lebih jauh lagi pada perekonomian. mengingat usahanya menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan. Untuk itu perlu ada semacam program yang terstruktur serta tertata baik menekan praktik kecurangan. The Institute of Internal Auditors (IIA) mendefinisikan kecurangan sbb. karena dasar bekerjanya bank adalah kepercayaan.

pengurus. Nah. jelek sistem pertanggungjawabannya. Mengingat luasnya kemungkinan pihak-pihak yang bisa melakukannya. Berbagai pihak di bank dapat melakukan kecurangan baik pemegang saham. . Bahkan seorang yang sebenarnya jujur sekalipun bila dia ada ditengah-tengah organisasi yang memberinya banyak kesempatan untuk bisa berlaku curang maka ini akan menyeret dirinya pada suatu kultur tersebut. serta pemisahan fungsi. dalam kelompok yang kecil bahkan mungkin dilakukan dengan kelompok yang besar. kalau saja penyebab itu sudah ada dan pelakunya mungkin dari berbagai kalangan di bank. luas serta terorganisir. baik yang bersifat pidana maupun perdata. yang melakukan praktik-praktik perbankan yang menyimpang atau melanggar ketentuan yang berlaku. kontraktor. verifikasi dan kaji ulang atas kinerja bank. baik “on” maupun “off” balance sheet · Tidak ada atau gagalnya fungsi struktur dan kunci pengendalian. lemah kontrolnya. · Tidak memadainya atau tidak efektifnya program audit dan kegiatan pemantauan terutama dalam identifikasi dan pelaporan kelemahan dalam pengendalian permasalahan bank Kecurangan yang terjadi di bank salah satu penyebab utamanya justru faktor sumber daya manusia di sektor perbankan itu sendiri.Bank For International Settlements (BIS). yang secara langsung atau tidak langsung juga mewakili kepentingan pribadinya. maka konsep membangun system pengendalian yang handal dalam semua kegiatan menjadi satu hal yang teramat penting. auditor intern. appraisal dan konsultan. menyebutkan penyebab terjadinya fraud (kecurangan). Dia bisa melakukannya sendiri-sendiri. khususnya penyimpan dana. Selain itu. · Kurang memadainya pengawasan dan akuntabilitas dari pengurus bank serta kegagalan mengembangkan budaya pengendalian yang kuat · Tidak memadainya identifikasi risiko dan penilaian atas risiko dari kegiatan bank. · Tidak berjalannya komunikasi/arus informasi kepada pengurus mengenai permasalahan yang terjadi. nasabah. akuntabilitasnya. atau selalu dalam tekanan hal ini akan menimbulkan dorongan untuk tumbunya ketidak jujuran. terutama disebabkan . maka signal bahaya sudah didepan mata. yang dapat merugikan bank dan kepentingan masyarakat. pengesahan/otorsasi. Sebagai contoh para pemilik bank yang cenderung memanfaatkan bank untuk kepentingan grup usahanya. auditor ekstern maupun pihak lain seperti. pegawai. kerugian dan permasalahan bank. pengurus bank juga cenderung mengutamakan atau mengakomodasi kepentingan pemilik bank. Apabila seseorang ditempatkan dalam lingkungan yang rendah integritasnya. PencegahanPencegahan kecurangan dimulai dari suatu pendapat bahwa tidak semua orang dapat berlaku jujur dan ini adalah merupakan suatu kenyataan dalam kehidupan ini. yang pada akhirnya menjurus kepada penyimpangan.

Juga test terhadap tulisan tangan seseorang kerap kali digunakan sebagai salah satu caranya. Sebagai contoh bank-bank saat ini yang sudah melakukan penyaringan calon nasabah ataupun calon karyawannya misalnya dengan meneliti problem kreditnya dan kinerjanya.” Chicago Tribune. June 10. Orang-orang seperti ini secara umum mempunyai masalah potensial . mentalitas yang buruk. temperamen yang tak terkontrol. organisasi perlu kreatif dalam proses penyaringan. (3) Menyebarluaskan pemahaman terhadap kode etik . Beberapa perusahaan telah melakukan pelatihan untuk bisa melakukan wawancara dengan melakukan cross-check terhadap berbagai latar belakang seseorang yang diperoleh dari berbagai sumber tersebut. suka minumminum atau mempunyai problem kriminal. Hal ini meliputi : (1) Menempatkan orang-orang yang jujur dan terpercaya serta melakukan pelatihan tentang kesadaran bahaya kecurangan.) terungkap bahwa 31% dari orang Amerika tidak jujur. setidaknya bisa mengindikasikan bahwa kejujuran orang seharusnya dibangun dari awal. Walaupun data tersebut bukan terjadi di Indonesia. p. Dari hasil studi di Amerika Serikat (John Kula. Studi ini juga memperlihatkan 25% dari kecurangan yang terjadi dilakukan oleh karyawan yang sudah bekerja 3 tahun atau lebih. “ Prosecution of White – Collar Crime Rising. Director of Fraud and Service Consulting for Arthur Anderson.B1. keburukan rating kreditnya dan kinerjanya. as quoted in Jerrr Thomas. mempunyai masalah keuangan. Empat faktor untuk pencegahan kecurangan adalah sangat krusial untuk menciptakan suatu kultur kejujuran. Di Amerika bahkan banyak organisasi yang menyewa private investigators untuk meneliti latar belakang seseorang. (4) Melakukan program bantuan bagi karyawan (Employee Assistance Programs) Menempatkan Orang-Orang yang Jujur dan Terpercaya serta Melakukan Pelatihan Tentang Kesadaran Bahaya Kecurangan. keterbukaan dan saling membantu. 30% jujur secara situasional saja dan hanya 41% yang benar-benar jujur pada setiap keadaan. Diharapkan hal ini bisa mengungkap juga problem-problem antara lain ketidak puasan karyawan. ketergantungan pada obat terlarang dan peminum. pemalsuan tingkat pendidikan. 1991. keterbukaan dan saling menolong dalam kebaikan. Dalam hubungan ini maka untuk membangun organisasi yang kuat memerlukan suatu kebijakan skrining yang baik bagi para karyawan. Sehubungan dengan hal tersebut. (2) Menciptakan lingkungan kerja yang positif . Orang tersebut pada umumnya suka berjudi. baik melalui sistem informasi nasabah di bank sentral. maupun melalui sistem informasi credit card. Wawancara ini tentunya diharap bisa mengungkap bila terjadi kebohongan latar belakang yang diberikan para calon nasabah ataupun karyawan. Langkah lain yang bisa dilakukan adalah menginventarsir sidik jari seluruh karyawan dan nasabah dan menyimpannya dalam database yang selanjutnya bisa digunakan bila diperlukan dan jika terjadi persoalan yang berindikasi kriminal.Menciptakan kultur kejujuran. catatan kriminal yang pernah dilakukan. Kemantapan lingkungan pengendalian mencegah ketidak jujuran karyawan dan merupakan dorongan untuk mencegah kecurangan.

Apabila dia menyimpannya sendiri dia kehilangan kesempatan yang tepat untuk melakukan tindakan dan konsekwensinya dia bisa melakukan tindakan yang salah. Menciptakan Lingkungan Kerja yang Positif. Institut Bankir Indonesia telah memberikan suatu dasar bagi para anggotanya dalam “Kode Etik Bankir Indonesia” yang bisa menjadi acuan awal dari setiap . bila ada pernyataan karyawan “Saya hanya meminjam uang ini sementara saja”. tidak curang. Sebagai contoh. Sebenarnya banyak orang yang punya komitemen untuk melawan kecurangan namun dia tidak punya tempat kepada siapa dia mengadu dan meyampaikannya. Perusahaan yang berhasil mencegah kecurangan perlu mempunyai label program untuk itu dan biasanya diberi nama “kode etik”. Kedua. Meliputi juga keuntungan berjangka panjang. Membangun Kode Etik. kepercayaan. kalaulah dia memahami apa keinginan dari perusahaan. Para karyawan secara periodik harus membaca dan menandatangani kode etik perusahaan tidak hanya untuk mendorong kembali pemahamannya tentang apa makna yang patut dan yang tidak patut. Ekspektasi diklarifikasikan dan ekspektasi yang sudah clear bisa menekan kecurangan. Adalah tidak mungkin menciptakan kultur kejujuran. kita harus membentuk kebiasaan dengan model tersebut. Kebijakan pintu terbuka akan menolong para manajer dan lain-lainnya untuk memahami tekanan. Hal ini perlu untuk membangun kesadaran kritis. tidak merugikan orang lain. Ini merupakan sumber dari strategi. Kebijakan pintu terbuka untuk pencegahan kecurangan mempunyai dua jalan. maka dia tidak melakukan kecurangan.untuk melakukan kecurangan dan sebaiknya tidak masuk dalam lingkungan aktivitas organisasi. bahwa bisnis bank profit making activity. Rumusan kode etik menggambarkan apa yang baik dan dapat dilakukan serta yang apa yang tidak baik dan jangan dilakukan. Pertama. namun dia akan mengajukan pinjaman yang memperoleh persetujuan sebagaimana seharusnya. Pemahaman para manajer terhadap hal ini merupakan suatu langkah secara proaktif untuk mencegah kecurangan. moral. Keuntungan yang dicapai juga meliputi non financial profit. cara dan langkah kerja bank. Kebijakan pintu terbuka yang positif terhadap karyawan serta kepatuhan pada sistem dan prosedur merupakan dorongan bagi organisasi untuk melawan kecurangan. tapi juga menegaskan bahwa hal ini penting bagi perusahaan. pelayanan. mutu. keterbukaan dan saling membantu tanpa menciptakan lingkungan kerja yang positif. Lingkungan kerja yang positif tidak terbentuk secara otomatis. keterbukaan dan saling membantu tak mungkin tercipta tanpa adanya kode etik dan kepatuhan pada kode etik tersebut. tanggung jawab sosial. Selanjutnya perlu adanya code of conduct yang merupakan aturan tingkah laku yang merupakan statement dari filosofi bank haruslah menjadi dasar dari segenap perilaku dalam pengelolaan bank. dia harus diolah dan dibangun. Misalnya. yang harus dicapai dengan cara baik. Kultur kejujuran. integritas moral. citra. Literatur tentang membangun moral mengatakan bila kita ingin orang-orang berlaku jujur. problem dan alasan para karyawan.

Program bantuan bagi karyawan ini utamanya menghadapi masalah seperti. Namun hal ini . Orang yang tertekan seperti ini bisa terdorong melakukan kecurangan. Menjaga kerahasiaan nasabah dan banknya 7. keluarga dan problem yang bersifat pribadi. Salah satu elemen dari terjadinya kecurangan adalah adanya tekanan (pressure). Melakukan pencatatan yg benar mengenai segala transaksi yang berkaitan dengan banknya 3. maka permohonannya diolak. Tidak menyalahgunakan wewenangnya untuk kepentingan pribadi 5. kesehatan. maka fikiran negatifnya terbuka untuk mendebet rekening tersebut sementara dialihkan ke rekening pribadinya dengan alasan menyelematkan pendidikan anaknya. Memperhitungkan dampak yang merugikan dari setiap kebijakan yang ditetapkan banknya terhadap keadaan ekonomi. penyalah gunaannya terhadap minuman keras atau obat-obatan. Menghindarkan diri dari persaingan yang tidak sehat 4. Ini membutuhkan biaya besar padahal sumber–sumber keuangannya sudah sangat terbatas. Masalah-masalah seperti banyak terjadi di dalam suatu organisasi. Melihat pos-pos yang sering lambat direspons. Seorang karyawan bank tengah menghadapi kesulitan keluarga pada akhir tahun ajaran baru yang harus memasukan 3 orang anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tidak melakukan perbuatan tercela yang dapat merugikan citra profesinya Melakukan Program Bantuan Bagi Karyawan (Employee Assistance Programs). kesulitan pengaturan keuangan. apabila tidak tertangani secara baik dengan suatu program yang baik akan menjadi potensi kecurangan terjadi. Menghindarkan diri dari keterlibatan dalam pengambilan keputusan dalam hal terdapat pertentangan kepentingan 6. Pekerjaan sehari-harinya adalah melakukan rekonsiliasi pos-pos rekening sementara antar kantor yang terbuka. 1. Tidak menerima hadiah atau imbalan yang memperkaya diri pribadi maupun keluarganya 9. Dia telah mengajukan permintaan kepada manajemen HRD bank-nya untuk memperoleh pinjaman. Patuh dan taat pada ketentuan dan perundang-undangan dan peraturan yg berlaku 2. perjudian. Sebagai contoh . sosial dan lingkungan 8.bank untuk membuat aturan tingkah laku bagi banknya yang lebih teknis dengan penyesuaian sesuai kultur banknya masing-masing. namun karena pinjamannya sudah melampaui limit.

mobil mewah. Caranya bekerja sama dengan nasabah yang mengajukan permohonan kredit. Untuk mencapai tujuan ini. Contoh lain adalah.berkelanjutan. Bila ketiga hal ini telah ada secara bersamaan maka pintu kesempatan kecurangan sudah bisa terjadi. melaksanakan. Dibawah ini diuraikan metode pencegahan kecurangan yang setidakmya menekan terjadinya kesempatan tersebut. Melaksanakan Internal Control yang Baik. Untuk itu dia memperoleh imbalan. responsibilitas dan akuntabilitas untuk pencegahan dan mendeteksi kecurangan serta langkah recovery atas kerugian dan harus jelas didefinisikan serta dikomunikasikan kepada semuanya level. Untuk menekan praktik kecurangan seharusnya ada semacam program yang terstruktur serta tertata baik. merasa adanya “tekanan”. Standar ini meliputi adanya . yang pergaulannya memang sangat “high class” dan tidak sesuai dengan tingkat pendapatannya. seringkali keluar masuk pub dan restoran mewah serta gaya hidup yang “wah”. Menekan Kemungkinan Kecurangan Setidaknya ada tiga hal yang menjadi sebab terjadi kecurangan . Suatu cara terbaik untuk untuk menekan kemungkinan terjadinya kecurangan adalah menerapkan sistem control yang baik. Kondisi ini mendorong dia melakukan kecurangan dengan memanfaatkan kelemahan dalam lingkungan kerjanya di bank. diperlukan adanya standar yang harus dipahami dan dipatuhi oleh segenap manajemen dan karyawan. The principle mechanisem for deffering fraud is control. Primary responsibility for establishing and maintaining control rests with management. sehingga menjadi suatu jumlah yang besar. Tujuan utamanya adalah mencegah dan mendeteksi kecurangan serta melakukan langkah penyelamatan dari kerugian yang tidak diinginkan. The Institut of Internal Auditors menjelaskan tentang standar kecurangan sebagai contoh adalah sbb. Dia menjamin bahwa permohonan kredit nasabah ini pasti disetujui dan melakukan berbgai cara mark-up data. dan prosedur program memberantas kecurangan. selanjutnya bisa memberi kontribusi dengan menaikan harga saham bagi bank-bank yang go-public melalui perbaikan sistem untuk melawan kecurangan. Organisasi: Adanya aturan. merasa adanya “kesempatan” dan adanya “alasan” untuk melakukannya. Detterance consists of those actions taken to discourage the perpetration of fraud and limit the exposure if fraud does occur. Dia terpaksa melakukan konsumsi yang jauh dari kemampuannya. seperti pakaian mahal. account officer. . perhitungan kredit maupun agunan. Tujuan berikutnya adalah untuk membantu manajemen untuk mencapai target finansial dan tujuan banknya dengan membantu menekan pemborosan. seorang karyawan bank.

o Membangun sistem baik berdasarkan “inttilegent or knowledge based system”. compliance dan manager lini dalam bank. dewan komisaris. . Keputusan: Mengidentifikasi risiko untuk memperkirakan keputusan yang tepat dari tiap tingkatan manajemen Standar seperti ini merupakan fondasi untuk membangun program pencegahan kecurangan yang efektif. Pengetahuan: Adanya transfer dan penyebaran pengetahuan yang merupakan suatu best practice agar pihak-pihak di bank punya pemahaman dan pengetahuan bahwa kecurangan itu buruk dan harus diberantas. Deteksi Kecurangan Tujuan utama dari deteksi ini adalah mengidentifikasikan kerugian atau mencoba untuk mengetahui penyebab kemungkinan kesempatan kerugian lebih dini dan sehingga dapat menekan jumlah kerugian. mengendalikan dan melaporkan risiko-risiko kecurangan merupakan bagian yang integral dari operasional bisnis perbankan yang dilakukan. · Adanya hot-line dari karyawan yang terjaga kerahasiaannya dalam pelaporannya. Bank Indonesia. serta adanya penghargaan pada yang berprestasi serta sanksi pada yang bersalah. · Penggunaan alat atau teknik untuk secara pro-aktif mengidentifikasikan kecurangan seperti o Menyaring dan meneliti data akuntansi dan data lainnya o Melakukan review terhadap kecurangan dengan fokus pada area yang spesifik. risk manager. maka hal ini akan memperbesar bank menghadapi risiko yang potensial. Hal kritis yang harus dipahami para manajer adalah risiko yang paling penting yang ada dihadapannya. Apabila tidak ada keinginan untuk menggali lebih jauh atau adanya toleransi terhadap kemungkinan kecurangan. Perbaikan: Bisnis harus belajar dari kesalahan yang terjadi. Hal in termasuk . Manajemen Risiko: Kelengkapan dan konsitensi dalam proses untuk mengukur. Solusi: Adanya contact point untuk peningkatan dan mendalami issue kecurangan Kultur: Harus ada upaya peningkatan perhatian terhadap kecurangan melalui pelatihan.Policy: Adanya kebijakan dan standar dibuat untuk semua risiko kecurangan. o Melakukan pemetaan risiko dan melakukan penilaiannya. Karenanya hal ini perlu masukan dari direksi.

Presentasi temuan kepada direksi dan senior manajemen. prosesnya atau prosedur untuk membangun langkah-langkah prefentif atau menekan kemungkinan berulangnya kejadian tersebut. dalam hal ini termasuk unsur manusianya. Melakukan transfer pengetahuan (yang merupakan best practice untuk pembelajaran dari kejadian ini) melalui program pelatihan. Review lanjutannya adalah penilaian dan penyesuaian terhadap peraturan dan pelaksanaannya yang berjalan agar selalu melindungi bisnis bank dan harus memberikan manfaat yang kompetitif. maka dengan pencegahan terhadap terjadinya kecurangan. Recovery ini termasuk . seperti BI dsb. terutama yang duduk pada posisi yang sensitif) Investigasi Dan Recovery Langkah ini merupakan upaya untuk mencoba melakukan recovery untuk menekan kerugian dengan efektif dan efesien dari berbagai kejadian yang merugikan. wawancara serta dukungan manajemen secara profesional. termasuk pada regulatornya. termasuk crisis management. Adanya hubungan internal dan eksternal dalam pelaporan. bila semua sudah tersedia di bank untuk mencapai sasarannya. dan bila dianggap perlu bisa dilakukan juga pada pihak eksternal rgulator. Sebuah produk dari proses recovery adalah juga belajar dari kesalahan dan pengidentifikasikan ancamanancaman. Implementasi dari sasaran Program Pencegahan Kecurangan Pengimplementasian program manajemen risiko kecurangan disarankan perlu dirumuskan dan dilakukan dengan baik. membuat action plan untuk meredakan issue ini. Hal yang penting adalah tindakan selanjutnya. Mengidentifikasikan kelemahan prosedur atau perbedaannya dengan sistem dan prosedur yang berlaku. Menjadikannya suatu issue manajemen intern. Investigasi yang terbuka dan tersembunyi. Memang tidak semua elemen diperlukan dan mekanisme di setiap unit kerja yang sebenarnya sudah ada perlindungannya sendiri juga. dilakukan diam-diam.· Adanya personnel security (Ternasuk skrining untuk pegawai baru dan re-skrining dari pagawai bank yang ada. ini merupakan perlindungan terhadap uang dan kekayaan bank yang sangat berharga. (TPT) .

biasanya Legal Audit tersebut digunakan dalam rangka pemberian fasilitas pembiayaan atau fasilitas kredit dan itu dilakukan oleh petugas/pejabat lembaga keuangan/perbankan tersebut yang sering dikenal dengan sebutan Legal Officer. Akta pendirian beserta seluruh perubahan-perubahan yang dibuat dihadapan Notaris.Legal Audit Legal Audit pada umumnya dapat didefinisikan adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh seseorang “Legal Auditor” untuk tujuan atau kepentingan tertentu baik bagi kepentingan internal maupun eksternal (klien). menyusun/mengelompokkan dokumen. antara lain: a. Hasil pemeriksaan Legal Audit biasanya didampingi oleh Finansial Audit ataupun Managemen Audit yang pada akhirnya memberikan data yang lengkap tentang kondisi suatu usaha atau perusahaan baik kepada masyarakat umum (jika Legal Audit dilakukan untuk kepentingan Go Public suatu Perusahaan di Pasar Modal) atau dalam rangka penyertaan dana/pemberian fasilitas kredit. memeriksa kelengkapan dokumen (keaslian/keberlakuan) termasuk bila dianggap perlu mengecek kebenaran dokumen (on the spot) ke lapangan/instansi/pejabat yang berwenang. dan telah mendapatkan persetujuan dari Menteri Kehakiman RI. Pada dasarnya Legal Due Deligence dijalankan dengan cara mempersiapkan terlebih dahulu “Checklist” atas dokumen-dokumen yang perlu untuk diperiksa dan dalam hal tertentu dilakukan juga kunjungan lapangan secara langsung (check on the spot)atas harta kekayaan perusahaan target. yang sering kali tergantung dari faktor besarnya nilai transaksi yang akan dijalankan. Lembaga Keuangan dan Perbankan adalah badan yang selalu melakukan Legal Audit. LEGAL AUDIT DALAM RANGKA PENYERTAAN SAHAM Pada umumnya transaksi penyertaan saham yang akan mengakibatkan terjadinya peralihan “control” daripemegang saham lama kepada pemegang saham baru memerlukan dilakukannya Legal Audit (Legal Due Deligence – DCD) atas perusahaan target. Check List tersebut pada dasarnya mencakup hal-hal sebagai berikut: 1. khususnya untuk Pasar Modal. Rangkaian data di sini dapat berupa antara lain : mempelajari dokumen-dokumen hukum/data-data (terutama data-data hukum). sedangkan untuk Lembaga Keuangan dan Perbankan. Bentuk dan ruang lingkup dari Legal Due Deligence yang dijalankan oleh Konsultan Hukum pada dasarnya berbeda dari satu transaksi ke transaksi yang lainnya. Perseroan Dokumen-dokumen Korporasi. Legal Audit dilakukan oleh Kantor Hukum/Pengacara yang mempunyai sertifikat khusus/register terdaftar BAPEPAM. Kalangan Pasar Modal. serta diumumkan dalam Berita .

Daftar pemegang saham. antara lain : – Izin Lokasi – Izin Tempat Usaha berdasarkan UU gangguan (HO) – Izin Mendirikan Bangunan (IMB) – Izin Penggunaan Bangunan (IPB) – Izin untuk Pabrik – AMDAL – Izin Pengelolaan Limbah – Izin Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (UKL dan UPL) d. Akta tentang susunan terakhir pengurus Perusahaan target. b. Sertifikat-sertifikat tanah. Izin Usaha dari Departemen Teknis yang bersangkutan sehubungan dengan kegiatan usaha perusahaan target. antara lain: a. Serta izin-izin lainnya yang dimiliki perusahaan target. 3. berupa Bukti Kepemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB). Perizinan Dokumen-dokumen yang menyangkut izin-izin yang dimiliki Perusahaan target. Departemen Perindustrian dan Perdagangan RI – Wajib Daftar Perusahaan (Tanda Daftar Perusahaan) – Surat Izin Usaha Perdagangan – Angka Pengenalan Importir Terbatas (jika ada) b. dll). mobil. dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). d. mesin-mesin. Barang tidak bergerak. Barang bergerak antara lain kendaraan bermotor (bus. motor. asset-asset lainnya. hak cipta dan merk dagang) 4. b. Akta Jual Beli. c. Akta dan/atau perjanjian di bawah tangan tentang jual beli saham perseroan yang terakhir dan persetujuan RUPS perusahaan target atas jual beli saham tersebut. Pajak dan Asuransi . Izin Mendirikan Bangunan (IMB). c.Negara RI. Harta Kekayaan Dokumen-dokumen yang merupakan bukti kepemilikan perusahaan target atas : a. Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) dan surat-surat lain yang menyatakan bukti kepemilikan atas asset-asset tersebut c. yaitu tanah dan banguanan beserta Akta Pelepasan Hak. antara lain dari lurah setempat dan pengelola gedung. 2. Surat Keterangan Domisili. Daftar khusus dan contoh Surat Kolektif saham dan status pembebanan dari saham-saham yang telah dikeluarkan penuh. Hak Milik Intelektual (paten.

Perjanjian Kerjasama – Perjanjian Pengelolaan/Managemen – Perjanjian Kerjasama Operasional (joint operation/concortium) – Perjanjian Kerjasama Pembagian Keuntungan (Profit Sharing) – Perjanjian Kerjasama Pembiayaan (Modal Ventura. Berita Acara PHK massal (jika ada) 5. Kontrak Produksi 9. Perjanjian Lisensi dan Bantuan Teknik 6. Perjanjian Pemasokan Bahan Baku 8. mesin-mesin dan asset-asset lainnya – Polis Asuransi Kendaraan Bermotor (bus. mobil. dll) 4. a. c. 1. Dokumen-dokukem asuransi – Polis asuransi standar kebakaran Indonesia (Fire Insurance). Perjanjian Material yang mengikat perusahaan target.a. Dokumen-dokumen perpajakan perusahaan target. seperti misalnya. Perjanjian Sewa Menyewa 10. Perjanjian Kredit 2. pertanggungan terhadap bangunan. Perjanjian Penggunaan Merek (bila ada) 5. yaitu kerjasama antar perusahaan target dengan pihak ketiga. Dokumen dari kerjasama patungan (Joint Venture) yaitu dokumen-dokumen yang diperlukan untuk mendirikan usaha patungan baik dengan pihak Indonesia maupun dengan investor asing. Laporan Keuangan GSK Periode 1 Tahun Terakhir . Perjanjian Jual Beli 11. Tenaga Kerja GSK Dokumen-dokumen yang menyangkut ketenagakerjaan. Dokumen kerjasama kontraktual yang metrial. Daftar Laporan dalam rangka wajib lapor ketenagakerjaan. b. motor. Anjak Piutang. – Nomor Pokok Wajib Pajak GSK (NPWP) – Keterangan Pengusaha Kena Pajak (PKP) b. Peraturan Perusahaan yang disahkan oleh Menaker (jika ada) c. Dokumen dari pembelian atau penyertaan saham perusahaan target pada perseroan terbatas lainnya. 6. Perjanjian Distribusi/Kontrak Keagenan 7. b. Perikatan-perikatan a. Perjanjian Sewa Guna Usaha 3. seperti dokumen-dokumen yang telah disebutkan di atas. dll) (Motor Vehicle Insurance) 5.

Berdasarkan check list di atas dan setelah diperolehnya dokumen-dokumen yang diminta maka dapat disiapkan suatu Laporan Hasil Pemeriksaan Hukum – LHPH dalam bentuk suatu Pendapat Hukum atau dikenal dengan LEGAL OPINION .

merupakan kajian menarik dan penting dalam penanganan kasus tipibank. tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. dengan beberapa direktur di dalamnya. Doktrin yang diadopsi dari common law tersebut menyatakan bahwa “Korporasi/ perusahaan bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan oleh pegawai-pegawainya. . pada umumnya dengan penerapan asas tersebut kurang tepat kiranya di dalam penanganan kasus dugaan tipibank yang dilakukan pada bank umum dan BPR. “Kejahatan Korporasi dan pertanggungjawabannya”-2006). misalnya dalam hal perbuatan hukum yang dilakukan oleh direksi. bagi pejabat publik. Sedangkan dalam hukum perusahaan. Wirjono Prodjodikoro. Bismar Nasution. 51 ayat 1 KUHP. Walaupun sesungguhnya asas tersebut digunakan dalam “perintah untuk melaksanakan suatu peraturan hukum perundang-undangan/ wettelijk voorschrift“. sehingga dapat dimungkinkan bahwa karena kewenangannya. Namun. asas dalam hukum pidana yang menyatakan bahwa setiap individu bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya akan kontradiktif dengan asas kolegial dalam hukum perusahaan yang termaktub dalam UU No. setiap pihak memiliki kewenangan dan tanggung jawab masing-masing. “Asas-asas hukum pidana di Indonesia”-1967). harus bertanggung jawab atas nama PT. Hal tersebut berarti bahwa pemidanaan tidak selalu didasarkan kepada adanya unsur kesalahan.Pidana Perbankan: Antara Asas Kolegial dan Vicarious Liability Penanganan kasus dugaan tindak pidana di bidang perbankan (tipibank) dalam suatu bank yang berbentuk badan hukum berupa Perseroan Terbatas (PT). perlu dipahami oleh penegak hukum mengenai kewenangan dan tanggung jawab masing-masing organ PT. dalam suatu perbuatan hukum yang telah dilakukan. kesalahan itu secara otomatis diatribusikan kepada korporasi. Dalam hal ini korporasi dapat dipersalahkan meskipun tindakan yang dialakukan tersebut tidak disadari atau tidak dapat dikontrol (Prof. Pandangan sebagian besar penegak hukum mengenai asas “Ambelijk bevel” atau perintah jabatan yang termaktub dalam Ps. suatu pihak. Dr. misalnya direksi. sering digunakan untuk mengintepretasikan perbuatan hukum para pegawai bank yang turut melakukan tipibank atas “tekanan dan paksaan” atasan. Berkembangnya wacana pemberlakuan vicarious liability yang menjadi perhatian sekaligus kekuatiran praktisi perbankan. Ada perbedaan pandangan para penegak hukum terkait penerapan hukum di dalam penanganan suatu kasus. secara jelas dan tegas. Bagi ahli hukum pidana kecenderungan bahwa hanya pelaku yang secara langsung melakukan “kesalahan” yang akan dipidana dan tidak dapat dialihkan atau dibebankan kepada orang lain. yang berbeda dengan asas “tiada pidana tanpa kesalahan”. (Prof. sehingga batasan tanggung jawab di dalam suatu perbuatan hukum yang memenuhi unsur tipibank dapat dipahami secara tepat dan memudahkan di dalam menentukan para pelaku dugaan tipibank. Dengan kesalahan yang dilakukan oleh salah satu individu tersebut.40. agen/perantara atau pihak lain yang menjadi tanggung jawab korporasi.

bahkan lebih. . Catatan: Bagi teman-teman yang sedang menyusun skripsi beberapa hal ketentuan dalam UU PT yang baru dan konsep maupun asas lama mengenai hukum perusahaan maupun mengarah pada hukum pidana dapat dijadikan bahan kajian.Atas beberapa hal yang telah dikemukakan tersebut di atas mengenai adanya perbedaan pandangan. demi kemajuan yurisprudensi dan ilmu pengetahuan. kontradiksi antara penerapan lapanagan hukum pidana dan keperdataan merupakan topik bahasan yang menarik dan perlu dikaji. Perlu adanya terobosan yang membedah “irisan” antara dua lapangan hukum.

Uncommitted LinePenyediaan fasilitas kredit yang telah di setujui untuk debitur tertentu dalam platfond tertentu yang tidak di tuangkan dalam PK. RevolvingFasilitas kredit yang dapat di tarik berulang kali hingga batas platfond yang ditentukan. PlatfondBatas maksimal fasilitas kredit yang di berikan Bank kepada debitur sesuai PK 4. penarikan dana fasilitas kreditnya harus di lakukan secara sekaligus hingga batas platfond yang di berikan.ISTILAH – ISTILAH KREDIT DALAM DUNIA PERBANKAN 1. maka jumlah fasilitas kredit uang bersangkutan dapat di tarik kembali hingga batas platfond yang di tentukan 7. AgunanAgunan adalah asset yang harus di sediakan debitur dan di serahkan kepada Bank sebagai jaminan atas fasilitas kredit yang di nikmatinya. Setiap ada pembayaran sebagian / seluruhnya untuk melunasi outstanding. maka jumlah kredit yang bersangkutan tidak dapat di tarik kembali. Dalam hal debitur tidak mempunyai kemampuan dan kesanggupan untuk melunasi utangnya sesui dengan yang di perjanjikan (wanprestasi). maka agunan kredit di gunakan sebagai alternative terakhir untuk pelunasan kredit yang di berikan ( lelang ) . DebiturOrang yang mendapatkan fasilitas dari Bank 6. Bank tidak mempunyai komitmen untuk memenuhi permintaan kredit kepada debitur 3. 2. Non Revolving Fasilitas kredit yang di tarik hingga batas platfond yang ditentukan dan penarikannya tidak dapat dilakukan berulang kali. Committer Line Penyediaan fasilitas kredit yang telah di setujui untuk jumlah plafond. Baki Debet ( Outstanding )Saldo debet dari fasilitas yang telah di tarik debitur 5. Setiap ada pembayaran sebagian/seluruhnya untuk melunasi outstanding fasilitas kredit. 8. 9. Bank memberikan komitmen kepada debitur untuk memenuhi permintaan kreditnya hingga platfond dan jangka waktu tertentu. jangka waktu dan hal – hal lain yang sudah dituangkan dalan Perjanjian Kredit ( PK ). Back to backFasilitas kredit dengan agunan berupa bilyet deposito Bank yang di gunakan untuk modal kerja.

Jika dicermati. yang patut dan menarik dipertanyakan. sebenarnya tidak canggih karena BI dapat mendeteksi permasalahannya sudah sejak lama. Kompas 13/3). Juga bagi deposan agar lebih selektif menerima tawaran menyimpan uang di bank. yaitu Bank Dagang Bali dan Bank Asiatic. namun lebih banyak sebagai quasi agent (Mohamad Iksan. Jika melihat kasusnya. mengapa perilaku tidak terpuji pemilik bank masih saja dapat terjadi di tengah gencarnya seruan implementasi manajemen risiko dan tata kelola perusahaan yang baik. Penyebab di balik terjadinya perilaku yang tidak terpuji pada kedua bank tersebut disinyalir karena didorong adanya kepemilikan saham mayoritas di satu tangan pada kedua bank tersebut (I Gusti Made Oka pemegang saham 85-90 persen Bank Dagang Bali dan Tong Muk Keng menguasai 80-90 persen saham Bank Asiatic). Akhirnya. industri perbankan kita dinodai perilaku tidak terpuji dari pemiliknya sehingga Bank Indonesia akhirnya harus mencabut izin operasional dua bank. komposisi kepemilikan saham dengan jenis kecurangan yang sering timbul di masing-masing bank dapat ditarik suatu pola hubungan keterkaitan. 10/4). Walaupun dua modus kecurangan di bank BUMN dan bank swasta dilakukan dua pihak yang berbeda (di satu sisi dilakukan pegawai bank dan di sisi lain pemilik bank). Pada tahun 2003. di bank BUMN kurang dirasakan eksistensi pressure group . Tujuan transaksinya untuk menutupi pelanggaran batas maksimum pemberian kredit (BMPK) kepada perusahaan satu grup (Kompas. kerugian yang ditimbulkan mungkin relatif sama saja. Modus operandi di kedua bank BUMN itu pada dasarnya sama. perbankan kita sempat diguncang mega skandal surat kredit (L/C ekspor) di Bank BNI senilai Rp 1. kolusi antara pegawai bank yang berniat melakukan korupsi dan pihak ketiga di luar bank. Adapun motif kecurangan yang terjadi di BDB dan Bank Asiatic baru-baru ini agak berbeda. Jika dilihat dari tabel. Pegawai di bank BUMN cenderung tidak terlalu peduli dengan kekuasaan yang dimiliki pemegang saham karena pada dasarnya Menteri Keuangan selaku pemilik bank BUMN bukanlah principal (pemilik). Kecurangan yang dilakukan pemilik bank bermotif untuk menilep dana pihak ketiga melalui rekayasa pemberian kredit dengan jaminan negotiable certificate deposit atau melalui pembelian obligasi yang diterbitkan perusahaan satu grup.Pola Hubungan Komposisi Kepemilikan Bank dengan Jenis Kecurangan UNTUK kesekian kalinya. TINDAKAN Bank Indonesia (BI) mencabut izin dua bank itu jelas merupakan edukasi yang luar biasa bagi pemilik maupun pengurus bank untuk lebih serius dan hati-hati dalam mengelola bank. Dengan demikian.7 triliun dan kecurangan di Bank BRI yang berpotensi menimbulkan kerugian sekitar Rp 294 miliar. sebagaimana diuraikan di dalam tabel. kecurangan di bank BUMN umumnya dilakukan pegawai bank yang berkolusi dengan pihak ketiga di luar bank.

namun pengenaan tingkat preminya yang berbeda-beda. Pengenaan premi tinggi untuk bank yang berisiko tinggi diharapkan menjadi stimulus bagi bank tersebut untuk terus berusaha memperbaiki profil risiko banknya. Begitu dominannya kekuatan pemegang saham mayoritas di bank itu. biasanya dilakukan dengan teknik sangat canggih yang tidak dapat dideteksi pihak internal bank secara dini. pertama. Sudah saatnya bagi BI segera memberlakukan batas kepemilikan saham oleh satu pihak di perbankan. Kedua. hendaknya pegawai berusaha mencegah perbuatan itu agar bank terhindar dari kerugian. Misalnya. Di bank swasta (baik yang telah tercatat di bursa maupun yang belum) yang mayoritas sahamnya dimiliki satu pihak. Pembatasan ini bukanlah hal baru bagi perbankan di beberapa negara. pada umumnya kecurangan yang timbul justru dilakukan pemilik bank. Munculnya kekhawatiran akan gagalnya proses divestasi saham perbankan nasional jika BI memberlakukan pembatasan kepemilikan saham sebenarnya merupakan hal yang dibesarbesarkan.(kelompok penekan) yang diharapkan mampu mendorong pegawai bank melaksanakan tata kelola perusahaan secara baik. Kecurangan perbankan paling jarang terjadi di bank yang telah listed dan distribusi kepemilikannya cukup menyebar. tak satu pun kekuatan internal yang dapat mencegah perilaku jahat pemilik. Komposisi kepemilikan saham yang cukup tersebar pada berbagai pihak jelas akan efektif mencegah terjadinya moral hazard pemilik bank untuk campur tangan dalam operasional perbankan serta akan menciptakan saling kontrol di antara pemegang saham (built in control). Keempat. pemilik saham mayoritas dapat berperan sekaligus sebagai direksi maupun debitor bank. kiranya perlu dirumuskan kembali upaya-upaya untuk mencegah terulangnya kasus kecurangan perbankan melalui berbagai cara. Jika masih terjadi kecurangan di bank semacam itu. Beberapa pemikiran Menghadapi berbagai bentuk kecurangan perbankan pada berbagai kategori bank. . khususnya terhadap lingkungan sesama pegawai. pengenaan premi penjaminan simpanan wajib diikuti bank-bank yang berisiko tinggi. perlu segera ditetapkan batas maksimum kepemilikan saham bank di satu tangan. Ketiga. perbankan harus mulai menumbuhkan budaya kontrol. khususnya pengawasan melalui tim on site supervision (OSP) yang selama ini dirasakan sebagai cara efektif untuk mencegah terjadinya kecurangan di perbankan. Pada bank tersebut. termasuk dalam menilep uang nasabah penyimpan. Pada bank seperti itu proses penunjukan pengurus bank pada umumnya dilakukan secara profesional sehingga sistem dan prosedur operasional perbankan dapat ditegakkan dengan baik. Jika di suatu unit kerja terjadi kecurangan (khususnya KKN). pengawasan BI harus lebih diperkuat.

Namun. bank-bank harus didorong untuk segera go public. . menjual saham ke masyarakat dengan porsi kurang dari 50 persen.Harus ditanamkan kepada seluruh pegawai bank bahwa kecurangan yang diperbuat oleh seorang pegawai akan berdampak pada kerugian yang akan menyebabkan seluruh pegawai menderita. terjadi PHK. salah satu cara mendorong perbankan untuk menerapkan tata kelola perusahaan dengan benar. Contohnya di Bank Asiatic dan BDB. Kelima. sekaligus menyebar komposisi kepemilikan saham. Bank adalah lembaga kepercayaan yang diperkenankan hidup dengan tingkat leverage sangat tinggi sehingga kepentingan masyarakat penabung harus mendapatkan perlindungan agar terhindar dari kecurangan yang dilakukan para pelaku yang terlibat dalam pengurusan bank. go public ini bukan sekadar kosmetik.

Lembaga keuangan bukan bank tidak diperkenankan menerima simpanan baik dalam bentuk giro. serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan” Bank Lembaga Keuangan Lembaga keuangan terdiri dari dua jenis yaitu : .sektor pembiayaan pembangunan berupa pemberian kredit jangka menengah/panjang serta melakukan penyertaan modal. Jenis Lembaga Keuangan Bukan Bank yaitu : 1. 10 Tahun 1998 Tentang perubahan atas UU No. terutama memberikan kredit dan jasa di lalulintas pembayaran dan peredaran uang. Pengertian Perbankan : Pasal 1 (1) UU No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan Pasal 1 (2) : “Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak”. Asuransi 2. deposito maupun tabungan.Lembaga keuangan bukan bank Adalah suatu badan yang melakukan kegiatan dibidang keuangan berupa usaha menghimpun dana.Lembaga keuangan bank . 10/1998 : “perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank mencakup kelembagaan. Perbedaannya dengan bank. 23 Tahun 1999 .Bahan Hukum Perbankan Menurut kamus besar Bahasa Indonesia : Bank adalah usaha di bidang keuangan yang menarik dan mengeluarkan uang di masyarakat.Usaha ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam bidang-bidang tertentu seperti memberikan pinjaman kepada masyarakat berupa pegadaian. 10 Tahun 1998 Tentang perubahan UU No. Penyelenggara dana pensiun Sumber Hukum perbankan    Undang-Undang Dasar 1945 UU No. 7 Tahun 1992 Tentang perbankan UU No. Menurut UU N0. sebagai perantara dalam usaha mendapatkan sumber pembiayaan. memberikan kredit. kegiatan usaha. dan usaha penyertaan modal. semuanya dilakukan secara langsung atau tidak langsung melalui penghimpunan dana terutama dengan jalan mengeluarkan kertas berharga. Penghimpunan dana hanya dapat dilakukan dengan pengeluaran kertas berharga. Pegadaian 4. Lembaga bukan bank beroperasi dibidang pasar uang dan modal Segi usaha pokok yang dilakukan yaitu : . . Lembaga pembiayaan 3.

Dari ketentuan ini terlihat fungsi bank sebagai perantara pihak-pihak yang memiliki kelebihan dana (surplus of funds) dengan pihak-pihak yang kekurangan dan memerlukan dana (lacks of funds). Demokrasi ekonomi yang dimaksud adalah demokrasi ekonomi yang berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945. tetapi kita dapat mengemukakan bahwa bank dan orangorang yang terlibat didalamnya. terutama dalam membuat kebijaksanaan dan menjalankan kegiatan usahanya wajib menjalankan tugas dan wewenangnya masing-masing secara cermat. Bank Perkereditan Rakyat. Selain itu bank dalam menjalankan usahanya harus selalu mematuhi seluruh peraturan perundang-undangan yang berlaku secara konsisten dengan didasari oleh itikad baik. 10/1998 : “ Fungsi utama perbankan Indonesia adalah sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat”. misalnya : Peraturan Menteri Agraria mengenai Hipotik dan Credietverband. JENIS – JENIS BANK Dalam ketentuan Pasal 5 ayat (1) UU Perbankan membagi bank dalam dua jenis. swasta asing. dan sebagainya. Bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. ASAS Asas Perbankan Indonesia dapat dapat diketahui dalam UU No. Mengenai prinsip kehati-hatian sebagaimana disebutkan dalam ketentuan Pasal 2 Undang-Undang Perbankan. Fungsi Diatur dalam Pasal 3 UU N0. JENIS DAN USAHA BANK I. Bank umum kepemilikannya mungkin saja dimiliki oleh negara (pemerintah daerah). 10/1998 tentang Perbankan pada Pasal 2: “ Perbankan Indonesia dalam melakukan usahanya berasaskan demokrasi ekonomi dengan menggunakan prinsip kehati-hatian”. tidak ada penjelasan secara resmi. Bank Umum Bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip Syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran 2. ASAS DAN FUNGSI BANK I. dan profesional sehingga memperoleh kepercayaan masyarakat. yaitu : 1. dan UU Kepailitan Peraturan Pemerintah Surat Keputusan presiden Keputusan Menteri Keuangan Surat Keputusan dan Surat Edaran Bank Indonesia Peraturan lainya yang berhubungan erat dengan kegiatan perbankan. dan . 3 Tahun 2004 Tentang Bank Indonesia Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Kitab Undang-Undang Hukum Dagang. teliti. II.        UU No.

Bank milik negara 2. Pasal 16 (3) : Persyaratan dan tata cara perizinan bank sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan oleh Bank Indonesia. Bank koperasi PERIZINAN DAN BENTUK. wajib memenuhi persyaratan sekurang-kurangnya tentang : a. Jenis bank dari segi kepemilikannya 1. (2). swasta dan koperasi saja. 10 Tahun 1998. kecuali apabila kegiatan menghimpun dana dari masyarakat dimaksud diatur dengan undang-undang”. Mengenai perizinan UU Perbankan telah mengatur dalam Pasal 16 ayat (1). Syarat Untuk Memperoleh Izin Pasal 16 (2) : Untuk memperoleh izin usaha bank umum dan bank perkreditan rakyat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).koperasi sedangkan BPR hanya dimungkinkan dimiliki oleh negara (pemerintah daerah). Bank milik pemerintah daerah 3.Perseroan terbatas (PT) .Koperasi . kelayakan rencana kerja. Hal ini penting untuk melindungi kepentingan masyarakat. susunan organisasi dan kepengurusan b. kepemilikan d. permodalan c. keahlian dibidang perbankan e. BENTUK HUKUM BANK Setelah berlakunya UU Perbankan. Bank milik swasta baik dalam negeri maupun luar negeri 4.BENTUK HUKUM BANK Perizinan Bank Pengaturan perizinan sangat penting dilakukan terhadap kegiatan-kegiatan usaha menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat dalam berbagai bentuknya. 2. jenis bank hanya dikenal dua macam yaitu : 1. Bank Umum. dan (3) yaitu : Pasal 16 (1) : “Setia pihak yang melakukan kegiatan menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan wajib terlebih dahulu memperoleh izin usaha sebagai bank umum atau bank perkereditan rakyat dari pimpinan bank Indonesia. yaitu sebagai berikut : Bentuk hukum Bank Umum . terutama terhadap nasabah penyimpan dan simpanannya. Bank Perkereditan Rakyat ( Pasal 5) Ketentuan tentang bentuk hukum bank menurut UU No.

yaitu izin yang diberikan untuk melakukan usaha setelah persiapan selesai dilakukan.rencana kerja. atau dapat dimiliki bersama di antara ketiganya.daftar calon pemegang saham.Bentuk lain yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah Bentuk hukum Bank Perkreditan Rakyat lebih banyak dari pada Bank Umum dimaksudkan untuk memberikan wadah bagi penyelenggara lembaga perbankan yang lebih kecil dari Bank Perkreditan Rakyat.Warga negara Indonesia dan atau Badan Hukum Indonesia dengan warga negara asing atau Badan Hukum asing secara kemitraan (Joint Venture) (Pasal 22 ayat (2)) Bank Perkreditan Rakyat hanya dapat didirikan dan dimiliki oleh warga negara Indonesia. Tahapan pemberian izin usaha. Untuk mendapatkan persetujuan prinsip pemohon wajib melampirkan : .Koperasi .. pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip tidak diperkenankan untuk melakukan kegiatan usahanya. . seperti Bank Desa. Ketentuan ini memberikan pemahaman bahwa untuk sahnya kegiatan usaha bank harus terlebih dahulu adanya izin usaha dari Bank Indonesia. Badan Kredit Desa. . yaitu persetujuan untuk melakukan persiapan bank yang bersangkutan. Pendirian Bank Umum hanya dapat didirikan oleh : . Pasal 5 Kep. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa sebelum memperoleh izin usaha. dan Lembaga-lembaga lainya sebagaimana dimaksud Pasal 58 UU Perbankan.Badan Hukum Indonesia . Bentuk Hukum Bank Perkreditan Rakyat .Perusahaan Daerah . Tahapan Persetujuan prinsip.rencana susunan organisasi.Perseroan Terbatas .Perusahaan Daerah (Pasal 21 ayat (1)) Bentuk hukum dari kantor perwakilan dan kantor cabang yang berkedudukan diluar negeri adalah mengikuti bentuk hukum kantor pusatnya.Warga Indonesia . Direksi B I mengemukakan bahwa pemberian izin Bank Umum harus melalui dua tahapan : 1. . susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Badan Hukum Indonesia yang seluruh pemilikannya warga negara Indonesia.bukti penyetoran sekurang-kurangnya sebesar 30% (tiga puluh persen) dari modal setor . 2. .rancangan anggaran dasar. pemerintah daerah. (Pasal 21 ayat (3). PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDIRIAN Persyaratan dan tata cara pendirian Bank Umum yang diatur dalam Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 32/33/KEP/DIR tentang Bank Umum.

4. pemilik girant tersebut setiap saat selama kas bank buka. susunan Direksi dan Dewan Komisaris .Pinjaman Dana dari luar Negeri Penghimpunan Dana oleh Bank Penghimpunan dana merupakan jasa utama yang ditawarkan oleh dunia perbankan baik Bank Umum maupun Bank Perkreditan Rakyat. . Dari pengertian tersebut dapat ditarik dua pemahaman tentang giro. Kegiatan bank dalam usahanya menghimpun dana antara lain meliputi : 1. .Pinjaman antar Bank . . Sedang Bank Pemerintah modalnya terdiri dari dana/uang yang disisihkan dari anggaran belanja. simpanan deposito c.Call Money adalah dana talangan yang bersumber dari lembaga keuangan bank. Modal yang bersumber dari Lembaga Keuangan Bank dan Lembaga Keuangan Non Bank. Merupakan dana dalam rupian yang dipinjamkan oleh bank lainya dalam jangka waktu 7 hari yang setiap waktu dapat ditarik kembali oleh bank yang meminjamkan tanpa dikenakan suatu pembebanan. yaitu : .Daftar pemegang saham. . Pengertian “Giro” menurut Pasal 1 butir 6 UU Perbankan adalah : “ Giro adalah simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek. Modal yang bersumber dari bank sendiri Yaitu modal dari para pemegang saham (pendiri bank) yang terdiri dari modal setor yang disebut “modal tetap”. Modal Bank Pada prinsipnya sumber modal dari suatu bank terdiri dari empat sumber yaitu : 1. simpanan giro b. sarana perintah pembayaran lainnya atau dengan pemindahbukuan”.Untuk mendapat izin usaha pemohon wajib menyampaikan laporan kesiapan pendirian bank dengan melampiri: . bilyet giro.Bukti pelunasan seluruh modal. Simpanan Giro. Modal yang bersumber dari masyarakat Adalah Merupakan simpanan dari masyarakat yang dikelola oleh bank dengan sebaik-baiknya untuk memperoleh keuntungan.anggaran dasar yang sudah disahkan.penarikan dapat dilaksanakan setiap saat. karena tidak setiap saat dapat diambil. tabungan 3. Modal yang bersumber dari Bank Indonesia Adalah modal yang dikucurkan Bank Indonesia melalui fasilitas kredit kepada bank-bank yang mengalami kesulitan pendanaan jangka pendek dan dijamin dengan agunan yang berkualitas tinggi dan mudah dicairkan. Namun dengan batas-batas tertentu penarikan dalam bentuk lain seperti sarana perintah pembayaran lain dan pemindah bukuan dapat dilakukan.Cara penarikan menggunakan cek dan bilyet giro. yang berarti bahwa penarikan simpanan dalam bentuk giro dapat dilakukan oleh si penyimpan. Modal yang termasuk dalam hal ini berupa : .Susunan organisasi . yang berupa : a. 2.

Dalam hal penarikan simpanan dalam bentuk tabungan dapat dilakukan secara langsung oleh sinasabah penyimpan atau orang lain yang dikuasakan olehnya dengan mengisi slip penarikan yang berlaku dibank yang bersangkutan.simpanan dalam bentuk tabungan hanya dapat dilakukan sesuai dengan persyaratan tertentu yang telah disepakati oleh nasabah penyimpan bank. Deposito On Call. 3. pada akhirnya diedarkan kembali oleh bank. Ada 2 unsur yang dapat dikemuakan dari pengertian tersebut yaitu : . credere. Pasal 1 butir 11 dirumuskan : “ kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu. Sertifikat Deposito. dan atau alat lainya yang dipersamakan dengan itu”. tetapi tidak dapat ditarik dengan cek. Yakni deposito yang pengambilannya berdasarkan pemberitahuan terlebih dahulu (sesuai dengan perjanjian antara nasabah dengan Bank). Tabungan. Misalnya lewat pasar uang (money market). berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”. dan terutama dalam bentuk pemberian kredit. bilyet giro. c. apakah itu berbentuk simpanan berupa tabungan. Yakni deposito yang terus berjalan atau perpanjangan otomatis. bilyet giro.2. yang berarti kepercayaan. pendepositoan. Yakni deposito berjangka yang bukti penyimpanannya dapat diperdagangkan. Penarikan simpanan dalam bentuk tabungan tidak dapat dilakukan dengan mempergunakan cek. Berdasarkan pengertian diatas menunjukkan bahwa prestasi yang diwajib dilakukan oleh debitur atas kredit yang diberikan kepadanya tidak semata-mata melunasi utangnya tetapi juga disertai dengan bunga sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati sebelumnya. . Jenis-jenis deposito : a. Deposito. b. dan atau alat lainya yang dipersamakan dengan itu. Deposito Otomatic Rolled Over. Investasi dalam bentuk lain. Sedangkan menurut UU No. 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan. Pengertian Tabungan dimuat dalam Pasal 1 butir 9 UU Perbankan “ Tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati. giro. atau deposito. Aspek Hukum Pemberian Kredit Uang yang diterima dari masyarakat. Deposito menurut Pasal 1 butir 7 UU Perbankan adalah : “simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimpan dengan bank”. . Pengertian Kredit Secara etimologis istilah kredit kredit berasal dari bahasa latin.

pihak bank akan sulit untuk mengetahui dan mendeteksi uang tersebut. c. produksi dan pemasaran. e. prospek masa depan usaha. nasabah (debitur). b. berarti bahwa setiap pelepasan kredit jenis apapun akan terkandung risiko didalamnya yaitu risiko yang terkandung dalam jangka waktu antara pelepasan kredit dengan pembayaran kembali. d. d. Dasar-Dasar Pemberian Kredit Dalam menyalurkan kredit. Capacity (kepampuan) Sasaran penilaian terhadap nasabah (debitur) adalah kemapuan mengendalikan usaha. Hal ini berarti semakin panjang waktu kredit semakin tinggi resiko kredit. . b. oleh karena itu dengan adanya pemberian kredit berati adanya kepercayaan.Kredit diberikan atas dasar kepercayaan. Keadaan perekonomian disini adlah perekonomian negara. prospek masa depan usaha. maupun keadaan perekonomian bank pemberi kredit. bank harus melaksanakan kegiatan perkreditan secara sehat yang lazim dikenal dengan prinsip (The five C’s of Credit Analysis) Yang merupakan dasar pemberian kredit. jaminan diperlukan untuk memberikan keyakinan pada bank bahwa nasabah (debitur) sanggup mengembalikan pinjaman sesuai dengan perjanjian. melainkan dipisahkan oleh tenggang waktu. maka pada saat itu pula akan terjadi suatu prestasi dan kontra prestasi Pemberian kredit oleh bank mempunyai resiko yang tinggi karena begitu kredit sudah berada ditangan debitur. berarti bahwa setiap pelepasan kredit dilandasi dengan adanya keyakinan oleh bank bahwa kredit tersebut dapat dibayar kembali oleh debiturnya sesuai dengan jangka waktu diperjanjikan. dan budaya yang mempengaruhi keadaan ekonomi dalam kurun waktu tertentu. Conditio of economy (kondisi perekonomian/prospek usaha debitur) Penilaian diutamakan pada situasi dan kondisi politik. c. Collateral (agunan/jaminan) Jaminan merupakan salah satu unsur perjanjian kredit. yaitu : a. Nasabah (debitur) harus sudah mempunyai modal awal tergantung dari jenis kegiatan usaha. Kepercayaan. produksi dan pemasaran. Sehingga mungkin saja terjadi sesuatu yang tidak dimungkinkan dikemudian hari. Disampin ke 5 prinsip pemberian kredit tersebut diatas bank pada dasarnya memberikan kredit kepada nasabah harus berpedoman pada : Prinsip kehati-hatian (prundential principle) yaitu . Degree of risk. sosial. Waktu berarti bahwa antara pelepasan kredit oleh bank dengan pembayaran kembali oleh debitur tidak dilakukan pada waktu bersamaan. Didalam ilmu perbankan dikenal adanya unsur-unsur kredit yang terdiri atas : a. Makna kepercayaan tersebut adalah adanya keyakinan dari bank sebagai kreditur bahwa kredit yang diberikan akan sungguh-sungguh diterima kembali dalam jangka waktu telah ditertentu sesuai dengan kesepakatan. Capital (modal) Kredit bank pada dasarnya hanya merupakan modal tambahan. oleh karena itu besarnya jaminan dalam perjanjian kredit minimal 100 persen dari nilai kredit. Namun biasanya besar modal awal minimum 20 persen dari total dana yang dibutuhkan. Caracter (watak) Sasaran penilian terhadap nasabah (debitur) adalah kemapuan mengendalikan usaha. ekonomi. Prestasi disini berarti bahwa setiap kesepakatan antara bank dengan debiturnya mengenai suatu pemberian kredit.

Kredit Macet. • Frekuensi mutasi rekening relatif rendah. 5. Kredit Lancar. yaitu apabila memenuhi kreteria : • Terdapat tunggakan angsuran pokok dan atau bunga yang telah melampaui 180 hari. • Mutasi rekening relatif rendah. yaitu apabila memenuhi kriteria : • Terdapat tunggakan pokok dan atau bunga yang belum melampaui 90 hari. Kredit diragukan. Kredit dalam perhatian khusus. atau • Didukung oleh pinjaman baru. yaitu apabila memenuhi kriteria : • Terdapat tunggakan angsuran pokok atau bunga yang telah melampaui 90 hari. termasuk pemberian kredit kepada nasabah debitur harus selalu berpedoman pada menerapkan prinsip kehati-hatian. Penggolongan Kredit Bank Istilah tersebut adalah untuk menunjukkan penggolangan kredit berdasarkan kolektibilitas kredit yang menggambarkan kualitas kredit tersebut. • Sering terjadi cerukan. 15/EK/10/1996 jo SE Bank Negara Indonesia Unit I No. yaitu apabila memenuhi kriteria : • Pembayaran angsuran pokok atau bunga tepat. atau • Bagian dari kredit yang dijamin dengan agunan tunai 2. • Terjadi wanprestasi lebih dari 180 hari. 30/267/KEP/DIR tersebut adalah sebagai berikut : 1. jaminan tidak dapat dicairkan pada nilai wajar. Pengertian perjanjian menurut pakar hukum : Mariam Darus Badrulzaman : “perjanjian kredit bank adalah perjanjian pendahuluan (voorovereenkomst) dari penyerahan uang. sebab . Menurut SK Direktur Bank Indonesia no. 3. apabila memenuhi kriteria : • Terdapat tunggakan angsuran pokok dan atau bunga yang telah melampaui 270 hari • Kerugian operasional ditutup dengan pinjaman baru • Dari segi hukum maupun kondisi pasar. 4. PERJANJIAN KREDIT Istilah Perjanjian Kredit pertamakali dikemukakan dalam Instruksi Presidium Kabinet No. • Jarang terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang di perjanjikan. • Terdapat indikasi masalah keuangan yang dihadapi debitur. • Dokumentasi hukum yang lemah baik untuk perjanjian kredit maupun peningkatan jaminan. • Terjadi kapitalisasi bunga. 2/UPK/Pemb/1966 Tentang Pedoman Kebijaksanaan di Bidang Perkreditan. Prinsip ini antara lain diwujudkan dalam bentuk penerapan secara konsisten berdasarkan itikad baik terhadap semua persyaratan dan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pemberian kredit oleh bank yang bersangkutan. • Sering terjadi cerukan yang bersifat permanen. • Memiliki mutasi rekening yang aktif. Kredit kurang lancar. • Kadang-kadang terjadi cerukan.Bank dalam menjalankankegiatan usahanya.

perjanjian kredit bank hanya terjadi dilingkungan perbankan antara nasabah dengan bank atau dengan bank sentral atau lain perkataan yang terjadi dilingkungan perbankan. Dari pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa : . Subekti : “Dalam bentuk apapun juga perjanjian kredit itu diadakan. R. pada hakekatnya yang terjadi adalah suatu perjanjian pinjam meminjam sebagaimana diatur dalam KUHPerdata (Pasal 1754 sampai pasal 1769)”. yaitu perjanjian kredit”. ### .keberadaan perjanjian kredit bank ini didahului oleh adanya perjanjian pinjam meminjam yang merupakan perjanjian pokok.perjanjian kredit bank hanya terjadi dalam perjanjian pinjam uang saja .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful