Proses Penemuan Hukum Berdasarkan Aliran Filsafat Rasionalisme dan Empirisme

AGUNG WIDIATMOKO 312006705

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA 2010

penulisan makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan metode penemuan hukum berdasarkan perkawinan filsafat rasionalisme dengan empirisme. Atas dasar latar belakang tersebut di atas. fokus kepada salah satu tokoh ini diharapkan tetap mampu menampilkan pandangan-pandangan aliran-aliran tadi secara komprehensif. Pandangan-pandangan Rasionalisme akan diwakili oleh René Descartes. maka penulis merumuskan masalah dalam penulisan ini. Ini karena kemampuannya untuk mengembangkan filsafat empiris John Locke dan Bishop Berkeley menjadi sebuah konklusi logis.1 Hakim harus mencari hukumnya. Mengenal Hukum: Suatu pengantar. masing-masing aliran tadi hanya akan ditampilkan melalui masing-masing satu orang tokohnya. dan pada akhirnya membuatnya menjadi konsisten. yaitu metode penemuan hukum berdasarkan perkawinan filsafat rasionalisme dengan empirisme. Yogyakarta. Dalam tulisan ini. Untuk memudahkan pencapaian tujuan penulisannya. hal. harus menemukan hukumnya. Metode ini merupakan hasil perkawinan dari pandanganpandangan dua aliran besar dalam dunia filsafat yang berseberangan yakni Rasionalisme dan Empirisme. 1980. Meskipun demikian.2 Penegakan dan pelaksanaan hukum sering merupakan penemuan hukum da tidak sekedar penerapan hukum. Pemilihan dua tokoh ini karena posisi mereka yang penting dalam aliran masing-masing. Sari Sejarah Filsafat 2. hal. 1 Sudikno Mertokusumo. .162. Kanisius. 2 Ibid. 3 Harun Hadiwijono. 18. Sementara Hume adalah salah satu tokoh paling terkemuka di kalangan filosof.I. Descartes adalah seorang filosof yang telah memberikan dasar pijakan yang kuat bagi Rasionalisme3 dan ia pun di kemudian hari dikenal sebagai Bapak Filsafat Modern karena ia adalah orang pertama yang memiliki kapasitas filosofis yang tinggi dan sangat dipengaruhi oleh fisika dan astronomi baru. Pendahuluan Penemuan hukum lazimnya diartikan sebagai proses pembentukan hukum oleh hakim atau petugas-petugas hukum lainnya yang diberi tugas melaksanakan hukum terhadap peristiwa-peristiwa hukum yang konkrit. Yogyakarta. sementara pandangan-pandangan Empirisme akan ditampilkan oleh David Hume. Liberty. 2005. Ia harus melakukan penemuan hukum (rechtsvinding).

Jika prinsip itu tidak ada. Yogyakarta. Soejono Soemargono.8 Dalam pengertian ini pikiran menalar. Gramedia Pustaka Utama. Ilmu dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan tentang Hakekat Ilmu. maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal saja. Pengalaman hanya dipakai untuk mempertegas pengetahuan yang diperoleh akal. . Kaum rasionalis berdalil bahwa karena pikiran dapat memahami prinsip. namun manusia tidak menciptakannya.135. dan karenanya 4 Lorens Bagus. aliran ini yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide. Op. artinya prinsip harus benar dan nyata. 5 Ibid. Akal tidak memerlukan pengalaman. Yayasan obor Indonesia. Element of Philosophy atau Pengantar Filsafat. Aksioma dasar yang dipakai membangun sistem pemikirannya diturunkan dari ide yang menurut anggapannya adalah jelas. maupun tidak mempelajari lewat pengalaman. yaitu atas dasar asas-asas pertama yang pasti. 7 Louis O. Prinsip dianggap sebagai sesuatu yang apriori. orang tidak mungkin akan dapat menggambarkannya. tegas dan pasti dalam pikiran manusia. Kamus Filsafat. melainkan pengalaman hanya dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Karenanya. Pikiran manusia mempunyai kemampuan untuk mengetahui ide tersebut. Akal dapat menurunkan kebenaran dari dirinya sendiri.4 1. Isi dan Pembahasan Secara etimologis Rasionalisme berasal dari kata bahasa Inggris rationalism. 99. Secara terminologis aliran ini dipandang sebagai aliran yang berpegang pada prinsip bahwa akal harus diberi peranan utama dalam penjelasan.5 Ia menekankan akal budi (rasio) sebagai sumber utama pengetahuan. Tiara Wacana. Ide tersebut kiranya sudah ada “di sana” sebagai bagian dari kenyataan dasar dan pikiran manusia.II. hal. 2003. mendahului atau unggul atas. PT. dan bukannya di dalam barang sesuatu. maka prinsip itu harus ada.cit. Jakarta. terj.6 Rasionalisme tidak mengingkari nilai pengalaman. hal. Suriasumantri (penyunting). 2004. Jakarta. Hanya pengetahuan yang diperoleh melalui akal yang memenuhi syarat semua pengetahuan ilmiah. 2002. Rasionalisme Kata ini berakar dari kata bahasa Latin ratio yang berarti “akal”. hal. dan bebas (terlepas) dari pengamatan inderawi. 929. Kattsoff. 8 Jujun S. 6 Harun Hadiwijono.7 Kaum Rasionalisme mulai dengan sebuah pernyataan yang sudah pasti. Jika kebenaran bermakna sebagai mempunyai ide yang sesuai dengan atau yang menunjuk kepada kenyataan.

Jika kita sedang berusaha untuk meyakinkanseorang empiris bahwa sesuatu itu ada. Suriasumantri. dia akan berkata “tunjukkan hal itu kepada saya”. pertama dia minta kita untuk menjelaskan bagaimana kita dapat sampai kepada kesimpulan tersebut. Op. Dalam persoalan mengenai fakta maka dia harus diyakinkan oleh pengalamannya sendiri. Kaum empiris cukup puas dengan mengembangkan sebuah sistem pengetahuan yang mempunyai peluang besar untuk benar. pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan. 2. bahkan sebaliknya pengalaman hanya dapat dimengerti bila ditinjau dari prinsip tersebut.102.prinsip tidak dikembangkan dari pengalaman. Empirisme Empirisme secara etimologis berasal dari kata bahasa Inggris empiricism dan experience.9 Secara terminologis terdapat beberapa definisi mengenai Empirisme. Christian Wolff dan Baruch Spinoza. Jika kemudian kita mengatakan bahwa kita melihat harimau tersebut di dalam kamar mandi. yang meskipun bersifat lebih lambat namun lebih dapat diandalkan. hal. . Gottfried Wilhelm von Leibniz. pandangan bahwa semua ide merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami. Diderot dan D’Alembert adalah para pengusungnya. dengan jalan melihat 9 Lorenz Bagus. Jika kita mengatakan kepada dia bahwa seekor harimau di kamar mandinya. dan bukan akal.11 Kaum empiris memegang teguh pendapat bahwa pengetahuan manusia dapat diperoleh lewat pengalaman. baru kaum empiris akan mau mendengar laporan mengenai pengalaman kita. Sedangkan pada abad ke-18 nama-nama seperti Voltaire. 10 Ibid. meskipun kepastian mutlak tidak akan pernah dapat dijamin. namun dia hanya akan menerima hal tersebut jika dia atau orang lain dapat memeriksa kebenaran yang kita ajukan. Op. apalagi bila di dekat kita terdapat kekuatan yang dapat dikuasai untuk meningkatkan pengetahuan manusia. 11 Jujun S. Dalam perkembangannya Rasionalisme diusung oleh banyak tokoh. cit. namun tetap dalam satu koridor yang sama.cit. di antaranya: doktrin bahwa sumber seluruh pengetahuan harus dicari dalam pengalaman.10 Menurut aliran ini adalah tidak mungkin untuk mencari pengetahuan mutlak dan mencakup semua segi. masingmasingnya dengan ajaran-ajaran yang khas. Pada abad ke-17 terdapat beberapa tokoh kenamaan seperti René Descartes. hal. 197.

15 Dalam ajarannya. Perancis tahun 1596. 124 15 Ibid. René Descartes mengajukan argumentasi yang kukuh untuk pendekatan rasional terhadap pengetahuan. ia menetap di Belanda. namun pada Februari tahun berikutnya yakni 1650. Setelah meninggalkan La Flèche. yang kemudian menjadi mentornya.13 Ia mendapatkan pendidikan di sekolah Jesuit di La Flèche. 3. Rasionalisme René Descartes René Descartes atau Cartesius dilahirkan di La Haye. Selama di sekolah ini. karena kondisi kesehatannya yang kurang baik.harimau itu dengan mata kepalanya sendiri. hal. John Locke dan Bishop Berkley. Pustaka Pelajar. Descartes berkeinginan untuk mendasarkan keyakinannya kepada sebuah landasan yang memiliki kepastian yang mutlak. Sebagai seorang filosof. sebuah kota kecil di Touraine. Mudji sutrisno & F. 1641. hal. Descartes telah menghasilkan beberapa karya filsafat yakni: Discours de la méthode pour bien conduire sa raison et chercheres vérités dansles sciences (Discourse on Method). Principia Philosopiae (Principles of Philosophy). Kamus Filsafat Barat. 127.14 Pada Oktober 1649 pula ia pindah ke Stochkholm. 1637. Di sekolah Jesuit. di mana ia menemukan Mersenne. Pada tahun 1629.12 Seperti juga pada Rasionalisme. . Descartes melanjutkan pendidikannya ke sekolah hukum di Poitiers. ia 12 Ibid. Kanisius. 2001. Descartes mendapatkan pelajaranpelajaran tentang filsafat. Tokoh-tokoh dimaksud di antarnya adalah David Hume. termasuk tiga tahun di Paris. Pada rentang waktu tahun-tahun inilah ia menulis banyak karya ilmiah. Untuk itu. Meditationes de Prima Philosophia (Meditations on the First Philosoph). dalam pencariannya akan ketenangan dan kesunyaian. Descartes menetap di Belanda sampai dengan 1649. 14 Ali Mudhofir. ia wafat karena penyakit pneumonia. ia diizinkan untuk tetap berada di tempat tidur dan ini pada akhirnya menjadi sebuah kebiasaan selama hidupnya. fisika dan matematika. Selama di sekolah ini pula ia ikut merayakan ditemukannya berbagai bulan yang ada pada planet Jupiter tahun 1611. dan Les Passiones de L’ame (1650). 13 Fx. Swedia. 1644. maka pada Empirisme pun terdapat banyak tokoh pendukungnya yang tidak kalah populernya. Yogyakarta. Hidup dalam keadaan yang penuh dengan pertentangan ideologis. Yogyakarta. Selanjutnya ia berpergian di beberapa negera Eropa selama satu dekade. hal.56. Budi Hardiman. 1994. Para Filsuf Penentu Gerak zaman. Belanda dianggap sebagai tempat yang paling tepat karena iklim kebebasannya yang terbaik di Eropa.

ergo sum cogitans. Seluruh pengetahuan yang dimiliki manusia harus diragukan termasuk pengetahuan yang dianggap paling pasti dan sederhana. Aku yang ragu-ragu adalah kenyataan yang tidak dapat disangkal karena apabila kita menyangkalnya berarti kita melakukan apa yang disebut kontradiksi performatis. satu-satunya hal yang tidak dapat diragukan adalah eksistensi dirinya sendiri. dia berdalih bahwa penyesatan itu pun merupakan bukti bahwa ada seseorang yang sedang disesatkan. 3334. Beberapa catatan ditambahkan oleh Hadi16 tentang maksud dari cogito.melakukan berbagai pengujian yang mendalam terhadap segenap yang diketahuinya. Menurut Descartes. maka ketegori itu akan dikesampingkan. misalnya pengetahuan yang telah didapatkan dari pendidikan atau pengajaran. pikiranku yang kebenarannya bersifat pasti dan tidak tergoyahkan. pengetahuan tentang adanya benda-benda dan adanya tubuh kita. dan segala sesuatu yang hingga kini kita anggap sebagai benar dan pasti. kesangsian secara langsung menyatakan adanya aku. Kristalisasi dari kepastian Descartes diekspresikan dengan diktumnya yang cukup terkenal. Yogyakarta. Epistemologi: Filsafat Pengetahuan. isi dari cogito yakni apa yang dinyatakan kepadanya adalah melulu dirinya yang berpikir. maka saya adalah pengada yang berpikir. dia tidak meragukan lagi bahwa dia sedang ragu-ragu. Pengetahuan-pengetahuan yang harus diragukan dalam hal ini adalah berupa: segala sesuatu yang kita didapatkan di dalam kesadaran kita sendiri. Apapun yang masih dapat diragukan maka hal tersebut wajib diragukan. ergo sum ini. Saya berpikir. pengetahuan yang didapatkan melalui penginderaan. karena semuanya mungkin adalah hasil khayalan atau tipuan. bahkan juga pengetahuan tentang ilmu pasti yang paling sederhana. yaitu eksistensi dari 16 Hardono Hadi. 1994. hal. aku berpikir maka aku ada. Kanisius. Dengan kata lain. “cogito. pengetahuan tentang Tuhan. ergo sum”. Pertama. Dia hanya akan menerima sesuatu yang tidak memiliki keraguan apa-apa. Kebenaran tersebut bersifat pasti karena aku mengerti itu secara jernih dan terpilah-pilah atau dengan kata lain tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya. Bahkan jika kemudian dia disesatkan dalam berpikir bahwa dia ada. Inilah yang kemudian dikenal sebagai keraguan metodis universal. Yang termaktub di dalamnya adalah cogito. . Dia memutuskan bahwa jika ia menemukan suatu alasan yang meragukan suatu kategori atau prinsip pengetahuan.

berupa struktur matematis yang wajib ditemukan oleh akal pikiran manusia itu sendiri. Descartes masih dalam koridor semangat skolastik yaitu penyelarasan iman dan akal. Matematikawan agung tersebut dalam menciptakan dunia ini meletakkan dasar-dasar rasional. Kaum rasionalis pada umumnya “menyelamatkan” ide tentang keberadaan Tuhan dengan berasumsi bahwa Tuhanlah yang menciptakan akal kita juga Tuhan yang menciptakan dunia. Descartes masih memberi tempat bagi Tuhan. Empirisme David Hume . apa yang jernih dan terpilah-pilah itu tidak mungkin berasal dari luar diri kita. dan ergo bukanlah ergo silogisme. menurut Descartes. Jawabannya jelas. Apa yang membuat pemahaman kita bahwa apa yang nampak sebelum dan sesudah mencair adalah lilin yang sama? Mengapa setelah penampakan berubah kita tetap mengatakan bahwa itu lilin? Jawaban Descartes adalah karena akal kita yang mampu menangkap ide secara jernih dan gamblang tanpa terpengaruh oleh gejala-gejala yang ditampilkan lilin.akal. sebuah substansi dasar. cogito bukanlah sesuatu yang dicapai melalui proses penyimpulan. Diderot dan D’Alembert. Berbeda dengan para rasionalis-ateis seperti Voltaire. ratio. Ide-ide yang bersifat pasti dipertentangkan dengan ide-ide yang berasal dari luar yang bersifat menyesatkan. Lebih jauh. Descartes memberi contoh lilin yang apabila dipanaskan mencair dan berubah bentuknya. Descartes merupakan bagian dari kaum rasionalis yang tidak ingin menafikan Tuhan begitu saja sebagai konsekuensi pemikiran mereka. Kedua. 4. Tuhanlah yang meletakkan ide tentang-Nya di benak manusia karena kalau tidak keberadaan ide tersebut tidak bisa dijelaskan. Oleh karena penampakan dari luar tidak dapat dipercaya maka seseorang mesti mencari kebenaran-kebenaran dalam dirinya sendiri yang bersifat pasti. Tuhan menurut kaum rasionalis adalah seorang “Matematikawan Agung”. Descartes mempertanyakan bagaimana ide tentang Tuhan sebagai tak terbatas dapat dihasilkan oleh manusia yang terbatas. Yang dimaksud Descartes adalah bahwa eksistensi personal saya yang penuh diberikan kepada saya di dalam kegiatan meragukan.

hal. 1783. dan Immortality of the Soul. An Enquiry Concerning the Principles of Morals. terdapat sebuah tradisi epistemologis yang kuat untuk mendasarkan diri kepada pengalaman manusia yang meninggalkan cita-cita untuk mendapatkan pengetahuan yang mutlak dan pasti tersebut. 17 Lihat William Benton. op. tetapi Hume hanya menyenangi filsafat dan pengetahuan. Skotlandia pada 1711. Political and Literary. Dialogues Concerning Natural Religion.. hal.Inc. Political Discourses.David Hume lahir di Edinburg. Kesan merupakan penginderaan langsung atas realitas lahiriah. 250-251. Setelah dalam beberapa tahun belajar secara otodidak. Jakarta. menurut Hume. Kaum empiris berpandangan bahwa pengetahuan manusia dapat diperoleh melalui pengalaman.50.18 Hume mengajarkan bahwa usaha manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang bersifat mutlak dan pasti telah berlangsung secara terus menerus. Kesan maupun ide. 19 Donny Gahral Adian. 1748. Teraju. 1751. Hume juga meninggalkan banyak tulisan berikut: A Treatise of Human Nature. salah satunya adalah Empirisme. 18 Mudhofir. 1739-1740. 1757. Sejak itu pula hingga wafatnya 1776 ia lebih banyak menghabiskan waktu hidupnya di Prancis. Four Dissertation.17 Ia pun menempuh pendidikannya di sana. hal. Sebuah ide sederhana merupakan perpanjangan dari kesan sederhana. 1752. 1779. Hume seperti layaknya filosof Empirisme lainnya menganut prinsip epistemologis yang berbunyi. maka isi pikiran manusia tergantung kepada aktivitas inderanya. Encyclopedia Britannica. dari ide kompleks dapat diturunkan menjadi ide sederhana. Menyoal Objektivisme Ilmu Pengetahuan dari David Hume Sampai Thomas Kuhn. Namun. ia pindah ke La Flèche. dapat sederhana maupun kompleks. An Enquiry Concerning Human Understanding. Moral. . Begitu pula ide kompleks merupakan kelanjutan dari kesan kompleks. Sebagaimana Descartes. Essays. Menurutnya. Cit. Dengan kata lain. “tidak ada satu pun ada dalam pikiran yang tidak terlebih dahulu terdapat pada data-data inderawi”. Keluarganya berharap agar ia kelak menjadi ahli hukum. Prancis (tempat di mana Descartes menempuh pendidikan). sementara ide sebagai pengalaman langsung tidak dapat diragukan. karena ide merupakan ingatan atas kesan-kesan. “nihil est intelectu quod non antea fuerit in sensu” yang berarti. Tapi. sementara ide adalah ingatan atas kesankesan. 1970.19 Hume melakukan pembedaan antara kesan dan ide. 834-835. kesan selalu muncul lebih dahulu. Encyclopedia Britannica Volume 11. 1741-1742. Chicago.

Berdasarkan prinsip epistemologinya. itu tidak menambah pengetahuan kita tentang dunia. Kritik Hume diejawantahkan dalam sikap skeptisnya terhadap hukum sebab akibat yang diyakini oleh kaum rasionalis sebagai prinsip utama pengatur semesta. Hume melancarkan kritik keras terhadap asumsi epistemologi warisan filsafat Yunani kuno yang selalu mengklaim bahwa pengetahuan kita mampu untuk menjangkau semesta sesungguhnya. Hal-hal di atas mengisyaratkan bahwa ide apa pun selalu berkaitan dengan kesan. prinsip kemiripan yaitu mencari kemiripan antara apa yang ada di benak kita dengan kenyataan di luar. hal. maka berdasarkan prinsip kedekatan kita juga berpikir tentang adanya jendela. Pengetahuan kita hanya bisa bertambah lewat pengamatan empiris. atap. Orang sudah terbiasa di masa lalu melihat peristiwa matahari terbit di Timur selalu diikuti oleh peristiwa tenggelam di Barat dan ia akan mengharapkan peristiwa yang sama terjadi di masa yang akan datang. prinsip sebab-akibat yaitu jika kita memikirkan luka. Karena kesan berkaitan langsung dengan pengalaman inderawi atas realitas maka ide pun harus sesuai dengan relitas yang ditangkap pengalaman inderawi. kita pasti memikirkan rasa sakit yang diakibatkannya. Kedua. cit. logika dan geometri memang ada. ilmu pengetahuan tidak pernah mampu memberi pengetahuan yang niscaya tentang dunia ini. Pertama. Hubungan sebab akibat. Kebenaran yang bersifat apriori seperti ditemukan dalam matematika. perabot sesuai dengan gambaran rumah yang kita dapatkan lewat pengalaman inderawi sebelumnya. pintu. Hume mengemukakan bahwa klaim tentang semesta sesunguguhnya di balik penampakan tidak dapat dipastikan melalui pengalaman faktual maupun prinsip non-kontradiksi.Pikiran kita menurut Hume bekerja berdasarkan tiga prinsip pertautan ide. op. 5.20 Kenicayaan hubungan sebab akibat tidak pernah bisa diamati karena semuanya masih bersifat kemungkinan. Ketiga. namun menurut Hume. . didapatkan berdasarkan kebiasaan dan harapan belaka dari peristiwa-peristiwa yang tidak berkaitan satu sama lain. Pada 20 Hardono Hadi. Bagi Hume. 137. Metode Penemuan Hukum Berdasarkan Rasionalisme dan Empirisme Rasionalisme Descartes dan Empirisme Hume masing-masing memiliki kelemahan apabila digunakan sebagai sebagai sebuah metode penemuan hukum. prinsip kedekatan yaitu kalau kita memikirkan sebuah rumah. menurut Hume.

Eksistensi tentang ide yang sudah pasti maupun yang bersifat bawaan itu sendiri belum dapat didukung oleh semua orang dengan kekuatan dan keyakinan yang sama.Rasionalisme dapat kita lihat beberapa kelemahannya. Sementara itu pada Empirisme ada beberapa kelemahan juga. melakukan berbagai pengamatan dan mempergunakan data inderawi. apabila dicermati dengan lebih mendalam maka didapatkan bahwa kegiatan pra ilmuwan hukum tersebut merupakan . Banyak dari ide yang sudah pasti pada satu waktu kemudian berubahan pada waktu yang lain. ternyata pengalaman tidak berhubungan langsung dengan kenyataan objektif yang sangat ditinggikan oleh kaum Empiris. Tetapi apakah yang dimaksud dengan pengalaman? Pada satu waktu ia hanya berarti sebagai rangsangan pancaindera. Memang ada beberapa alasan untuk mendukung anggapan ini. Rasionalisme gagal dalam menjelaskan perubahan dan pertambahan pengetahuan manusia. sebenarnya merupakan pengetahuan yang seluruhnya diragukan. Fakta tidak mempunyai apapun yang bersifat pasti. Empirisme tidak memberikan kepastian. yaitu: 1. Terdapat sebuah anggapan bahwa ilmu pada dasarnya adalah metode induktif-empiris dalam memperoleh pengetahuan. Apa yang disebut sebagai pengetahuan yang mungkin. Sebagai sebuah konsep. 2. membuka celah bagi ditemukan dan dibentuknya sebuah pandangan baru yang dapat mengatasi kelemahan-kelemahan tadi. Pengetahuan yang dibangun oleh Rasionalisme hanyalah dibentuk oleh ide yang tidak dapat dilihat dan diraba. 3. 2. Kebanyakan orang merasa kesulitan untuk menerapkan konsep Rasionalisme ke dalam kehidupan keseharian yang praktis. Empirisme didasarkan kepada pengalaman. Namun demikian. Lain waktu ia berarti sebagai sebuah sensasi ditambah dengan penilaian. yaitu: 1. Sebuah teori yang sangat bergantung kepada persepsi pancaindera kiranya melupakan kenyataan bahwa pancaindera manusia adalah terbatas dan tidak sempurna. Kelemahan-kelemahan dari masing-masing pandangan Rasionalisme dan Empirisme di atas. Pancaindera sering menyesatkan karena tidak memiliki perlengkapan untuk membedakan antara khayalan dan fakta. Salah satu usaha untuk mengatasi kelemahan-kelemehan tadi adalah dengan mengkombinasikan atau mengawinkan kedua pandangan dari aliran tersebut. karena para ilmuwan hukum dalam mengumpulkan fakta-fakta tertentu. 3.

Op. akal dan pengalaman dipakai secara bersamaan sehingga terjadi perkawinan antara pandangan Rasionalisme Descartes dengan Empirisme Hume. Perkawinan inilah yang penulis maksudkan dengan metode ilmiah dalam penemuan hukum yang di dalamnya terdapat prosedur-prosedur tertentu yang sudah pasti yang dipergunakan dalam usaha memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dihadapi oleh seorang ilmuwan hukum.suatu kombinasi antara prosedur rasional dan empiris. Pengetahuan ilmiah. . sebab teori yang bagaimanapun konsistennya jika sekiranya tidak didukung oleh pengujian empiris tidak dapat diterima kebenarannya secara ilmiah. 184. 23 Sudikno Mertokusumo. metode penemuan hukum merupakan gabungan antara logika deduktif dengan logika induktif yang ditandai dengan Rasionalisme dan Empirisme hidup secara berdampingan dengan sebuah mekanisme korektif yang disebut dengan undang-undang. 143. menurut Suriasumantri.124. yakni sejalan dengan teori-teori sebelumnya yang memungkinkan tidak terjadinya kontradiksi. Pertama. Tetapi permulaan dan akhir ini hanya sebuah pembagian yang bersifat nisbi. hal.22 harus memenuhi dua syarat utama. Op. Kedua. 22 Jujun S Suriasumantri.cit. pengetahuan itu harus bersifat harus konsisten. Sekedar untuk mendapatkan gambaran tentang prosuder penemuan hukum di bawah ini disajikan bagan tentang penemuan hukum oleh hakim dalam memeriksa perkara perdata:23 0100090000037400000002001c00000000000400000003010800050000000b0200000 000050000000c02f703bd06040000002e0118001c000000fb02ceff0000000000009001 000000000440001254696d6573204e657720526f6d616e00000000000000000000000 00000000000040000002d0100000400000002010100050000000902000000020d0000 00320a2104ffff0100040000000000bd06f503206f16001c000000fb021000070000000 21 Louis O Kattsoff. hal. Dengan demikian. hal.cit. pengetahuan tersebut harus cocok dengan fakta-fakta empiris. Op.cit. Menurut Kattsoff21 Proses metode ilmiah dimulai dengan pengamatan (artinya pengalaman-pengalaman) dan diakhiri dengan pengamatan pula. Dalam hal ini.

Donny Gahral. Encyclopedia Britannica Volume 11. Sari Sejarah Filsafat 2. Louis O. 2002. 2002. sehingga hakim tidak harus secara mutlak mematuhinya. Penutup Sebagai metode untuk menemukan hukum. Bagus. Kanisius. Penemuan hukum yang tidak terikat erat pada undang-undang disebut penemuan hukum bebas. 1970.24 DAFTAR PUSTAKA Adian. Chicago.. Gramedia Pustaka Utama. undang-undang memang harus dihormati. Encyclopedia Britannica. hal. Salah satunya adalah dengan mengawinkan Rasionalisme dengan Empirisme sehingga kelemahan-kelemahan masing-masing aliran sebagai sebuah metode dapat diatasi. . tetapi undang-undang selalu akan ketinggalan zaman. hal. terj. 2004. Hadi. dibutuhkan sebuah metode lain yang lebih dapat dimunculkan sebagai sebuah metode yang handal untuk proses penemuan hukum. Kattsoff. Hadiwijono. 1980. Oleh karena itu. 1994. Harun. 24 Sudikno Mertokusumo. Jakarta: PT. Teraju. Yogyakarta.Inc. Epistemologi: Filsafat Pengetahuan. Menyoal Objektivisme Ilmu Pengetahuan dari David Hume Sampai Thomas Kuhn. Yogyakarta: Tiara Wacana. tetapi undang-undang digunakan sebagai alat untuk menemukan pemecahan suatu peristiwa konkrit. Dalam hal ini ia tidak mengikuti atau berpijak pada undang-undang. Hardono. Soejono Soemargono. Yogyakarta: Kanisius. Element of Philosophy atau Pengantar Filsafat. Lorens. Kamus Filsafat. William. Dalam proses penemuan hukum. 183. 33-34. Jakarta.000bc02000000000102022253797374656d0000000000000000000018000000010000 00b8c61d00e4040000040000002d010100030000000000 III. baik Rasionalisme yang diusung oleh Descartes maupun Empirisme yang didukung oleh Hume masing-masing memiliki kelemahan-kelemahan yang mendasar. Ibid. Hakim dalam melihat undang-undang sebagai sarana untuk membantu menemukan hukumnya. Benton.

Jujun S. Fx. Mudji & F. Mudhofir. Yogyakarta: Liberty. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Mengenal Hukum: Suatu pengantar. 1994. Ali. Budi Hardiman. Ilmu dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan tentang Hakekat Ilmu. 2003. . Kamus Filsafat Barat. 2001. Yogyakarta: Kanisius. Para Filsuf Penentu Gerak zaman. 2005. Jakarta: Yayasan obor Indonesia.Mertokusumo. Sutrisno. Sudikno.. Suriasumantri.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful