PEMERKUATAN PEMAHAMAN HAK ASASI MANUSIA UNTUK HAKIM SELURUH INDONESIA Hotel Grand Angkasa Medan, 2 - 5 Mei 2011

MAKALAH

PENEMUAN HUKUM MELALUI PUTUSAN HAKIM
Oleh: Dr. Shidarta, S.H., M.H.

PENEMUAN HUKUM MELALUI PUTUSAN HAKIM
Oleh Shidarta1

Pengantar
Tulisan singkat berikut ini dimaksudkan sebagai pengantar diskusi tentang penemuan hukum dalam putusan hakim. Tulisan pertama-tama akan memyingung tentang kesenjangan hukum (legal gap) yang kerap terjadi dalam penerapan hukum. Kesenjangan inilah yang membuka akses bagi penemuan hukum. Penemuan hukum sendiri tidak dapat dipisahkan dari aktivitas penalaran hukum, sehingga tidak mungkin kita dapat memahami hakikat penemuan hukum tanpa mengaitkannya dengan proses penalaran hukum. Untuk itu, uraian berikutnya berkisar seputar penalaran hukum dengan berbagai langkah-langkahnya. Sebelum ditutup, akan dibahas keterkaitan ulasan sebelumnya dengan aktivitas penemuan hukum.

Kesenjangan Hukum
Dalam tradisi keluarga civil law system, norma positif dalam sistem peraturan perundang-undangan dipandang sebagai sumber formal hukum yang paling utama. Hal ini terlebih-lebih sangat ditekankan dalam ranah hukum pidana. Dalam alam pikiran demikian, keberadaan hukum tertulis menjadi sangat penting. Makna hukum tertulis dalam konteks hukum pidana kerap dibatasi denotasinya yaitu hanya berupa undangundang.2 Alhasil, undang-undang perlu dibuat selengkap mungkin agar mampu mengakomodasi dan mengantisipasi setiap perilaku pelanggaran hukum. Pembentuk undang-undang umumnya berkeyakinan bahwa undang-undang yang dihasilkannya mampu mengakomodasi dan mengantisipasi pelanggaran-pelanggaran hukum terkait dengan materi muatan yang tercantum dalam peraturan tersebut. Jika mengikuti konsepsi teori kehendak dari John Austin, keyakinan demikian dapat dibenarkan mengingat para pembentuk undang-undang sudah memastikan bahwa undang-undang itu dibuat dengan menampung kehendak penuh semua pemangku kepentingan.3 Oleh sebab itu, undang-undang yang dihasilkan sudah dipastikan telah menampung rasa keadilan dan memuat jaminan kemanfaatan jika diterapkan. Hakim yang menjumpai adanya peristiwa konkret (empiri) yang dihadapkan di muka persidangan, dengan sendirinya tinggal menerapkan saja undang-undang itu. Jadi, menerapkan undang-undang dengan sendirinya sudah menjamin tegaknya keadilan dan kemanfaatan.

1

Dosen program sarjana dan pascasarjana sejumlah perguruan negeri dan swasta di Jakarta, Bandung, dan Semarang. Ia adalah pengurus Epistema Institute dan Sekretaris Asosiasi Filsafat Hukum Indonesia (AFHI). Korespodensi dengan yang bersangkutan dapat melalui email: darta67@yahoo.com. 2 Lihat kaitan pernyataan di atas dengan wacana perbuatan melawan hukum formal dan material, terutama pascaputusan Mahkamah Konstitusi No.003/PUU-IV/2006 tanggal 25 Juli 2006. Bandingkan dengan Pasal 20 AB. Ulasan menarik tentang hal ini disampaikan oleh Hakim Agung Komariah Emong Sapardjaja, dalam tulisannya berjudul “Perbuatan Melawan Hukum”. Tulisan ini antara lain dapat diunduh dari: http://infohukum.co.cc/perbuatan-melawanhukum/. 3 Menurut John Austin, “A positive legal rule is to be equated with the expression of an act of wishing,” sedangkan “A legal system is to be equated with all the positive legal rules emanating from the same sovereign will.” Dengan demikian, “... the notion of law as a command of the sovereign. Anything that is not a command is not law. Only general command counts as law. And only commands emanating from the sovereign are ‘positive law’.” Mengenai hal ini lihat J.W. Harris, Law and Legal Science: An Inquiry into Concepts Legal Rule and Legal System (Oxford: Clarendon Press, 1982), hlm. 24. dan Raymond Wacks, Jurisprucence, Ed. 4 (London: Blackstone Press, 1995), hlm. 47

1

Norma hukum ditetapkan secara top-down topmenjadi hukum positif diterapkan secara rasional

Norma hukum positif direvisi (ditetapkan kembali) kembali)

rasional

rasional

Peristiwa konkret A

Peristiwa konkret B

Peristiwa konkret C Pengalaman dari waktu ke waktu adalah penentu nilai kebaikan suatu norma hukum positif

empiri A empiri B empiri C

Namun, keyakinan seperti di atas sebenarnya hanya sebatas asumsi. Het recht hinkt achter de feiten aan: hukum selalu berjalan tertatih-tatih di belakang peristiwa konkret. Oleh sebab itu, cepat atau lambat, undang-undang akan tertinggal oleh fakta. Jurang ketertinggalan itu kian melebar seiring dengan berubahnya tatanan sosial tempat hukum itu hidup di dalam alam kenyataannya. Di sinilah terjadi legal gap antara hukum di atas kertas (law in the books) dan hukum yang hidup dalam kenyataan (law in action; the living law). Dalam praktik di ruang-ruang pengadilan, kesenjangan (gap) yang terjadi ini harus disiasati oleh hakim. Hakikat dari tindakan untuk menyiasati kesenjangan inilah yang disebut dengan penemuan hukum (rechtsvinding). Kesenjangan-kesenjangan ini, dalam kaca mata penganut legisme, merupakan anomali dalam penegakan hukum. Anomali adalah sesuatu yang buruk karena ia berpotensi menggerogoti kewibawaan hukum.4 Untuk itu, hakim disarankan untuk tidak memelihara anomali tersebut. Jika terjadi anomali yang tidak mungkin ditoleransi lagi, maka tugas pembentuk undang-undanglah untuk merevisi undang-undang tersebut melalui proses legislative review.5

4

Pandangan ini sebenarnya tidak tepat karena kewibawaan hukum tidak semata-mata muncul dari kepastian hukum. Ulasan mengenai hal ini dapat dibaca dalam Shidarta, Moralitas Profesi Hukum: Suatu Tawaran Kerangka Bepikir (Bandung: Refika Aditama, 2006), hlm. 90 et seqq. 5 Pikiran kaum legisme seperti ini telah mulai ditinggalkan. Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung, misalnya, telah diberi kewenangan melakukan judicial review atas peraturan perundang-undangan. Kedua lembaga ini melakukan peninjauan atas peraturan perundang-undangan, yang hasil putusannya diberlakukan tidak hanya untuk para pemohon saja, melainkan kepada masyarakat luas. Dalam konteks ini ketentuan Pasal 21 AB sudah tidak lagi diikuti.

2

hlm. Simorangkir (Bandung: Binacipta.T. Lihat Shidarta.G. 7 Kenneth J. apa hukumannya? Pertanyaan demikian harus dijawab segera.. Ia juga perlu mencermati agar putusannya sejalan dengan doktrin ilmu pengetahuan hukum. van der Velden juga menggarisbawahi. ilmu hukum berkewajiban menjawab langsung problematika konkret yang diajukan masyarakat. pertama-tema perlu diperhatikan pandangan Sudikno Mertokusumo yang mengatakan bahwa seorang sarjana hukum (termasuk hakim. dan tidak boleh diambangkan (lites finiri oportet). Mula Hukum (Rechtsaanvang).8 Dengan demikian pengertian penalaran hukum seringkali dipersempit menjadi penalaran hakim tatkala yang bersangkutan menghadapi suatu kasus konkret.” dalam Maria Farida Indrati Soeprapto. 1983). sedangkan yang kedua (method used) berdimensi epistemologis. 352-357. 195-225. tentu saja) selayaknya menguasai kemampuan menyelesaikan perkara yuridis (the power of solving legal problems). juga tanggapan dari mereka yang terlibat langsung di dalam perkara itu. 9 Bagian ini sebagian mengutip tulisan penulis yang sudah dipublikasikan sebelumnya. yakni pertanyaan: jika orang melanggar hukum. telah mengubah ilmu hukum menjadi ilmu tentang peradilan). dan dalam lingkup yang lebih spesifik. dan terakhir mengambil keputusan (decision 6 Putusan hakim perlu diarahkan agar dapat diterima oleh keempat komponen ini. 1. yang bisa diterima secara nalar di kalangan institusi kehakiman.6 Hakim perlu mencermati apakah putusannya berpotensi untuk dikoreksi atau dibatalkan oleh rekan-rekannya di jenjang peradilan berikutnya. Menurutnya. Mengenai ini. Kenneth J. tegas. terjemahan J. lihat A. maka putusan itu harus memuat pertimbangan-pertimbangan yang memadai. putusan itupun wajib memperhatikan tanggapan masyarakat luas. 8 Kecenderungan ini demikian kuat. Pada gilirannya. sebagaimana disebutkan Van Schendelen. masyarakat luas. memecahkannya (legal problem solving).. sehingga Peter Noll mensinyalir. “Die Rechtswissenschaft ist bis heute reine Rechtsprechungswissenschaft geblieben” (ilmu hukum sampai sekarang hanyalah tinggal ilmu yang murni tentang peradilan). Vandevelde. hlm. hlm.”7 Persoalan yang pertama (goal pursued) berdimensi aksiologis. Pembahasannya dapat dibaca dalam N. W. Aspek epistemologis berupa metode yang dimaksud dalam konteks ini adalah halhal yang terkait dengan cara-cara penarikan kesimpulan dalam suatu proses penalaran hukum.. Putusan hakim pada dasarnya dibuat dalam rangka memberikan jawaban seperti itu. zoals Van Schendelen het noemt. Dengan perkataan lain. van Duyvendik. Hamid S. Oleh karena hakim dianggap tahu hukum (ius curia novit). “Pengantar. 3 . penalaran hakim (judicial reasoning) dipandang sebagai wujud paling konkret dari penalaran hukum (legal reasoning).E. ‘Pandangan yang baik hati dari para ahli hukum’ ini. 1996). Kemampuan ini terdiri dari tiga kegiatan utama yakni merumuskan masalah hukum (legal problem indentification). penalaran hukum (legal reasoning) direpresentasikan dengan mengikuti rangkaian proses bekerja (berpikir) seorang hakim (judicial reasoning). xv–xxv. Karakteristik Penalaran Hukum dalam Konteks Keindonesiaan (Bandung: Utomo. Akgra & K. berlangsunglah apa yang disebut penlaran hukum. 1998). “De rechtswetenschap heeft zich te sterk geconcentreed op de wetgevingsproducten en de rechtspraak. heeft van de rechtswetenschap een rechtspraakswetenschap gemaakt” (Ilmu hukum telah terlalu kuat berkonsentrasi pada perundang-undangan dan pengadilan. Thinking Like A Lawyer: An Introduction to Legal Reasoning (Colorado: Westview Press. Pada galibnya..Hakikat Penalaran Hukum Sebagai ilmu praktis. “The phrase ‘to think like a lawyer’ encapsulates a way of thinking that is characterized by both the goal pursued and the method used.C. Ilmu Perundang-undangan: Dasar-Dasar dan Pembentukannya (Yogyakarta: Kanisius. Dalam proses lahirnya putusan hakim itu. Langkah-Langkah Penalaran Hukum9 Terkait dengan langkah-langkah penalaran hukum. Kecenderungan inipun terlihat dalam susunan materi kurikulum pendidikan tinggi hukum di Indonesia. hlm. forum ilmu pengetahuan hukum. Attamimi. Deze ‘brave juristenkijk’. lugas. dan para pihak yang berperkara. 2006). Vandevelde menekankan dua hal setiap kali orang berbicara tentang penalaran hukum atau berpikir ala ahli hukum.

sehingga ia dapat menetapkan perbuatan hukum dalam peristilahan yuridis (legal term). 4. menerjemahkan kasus itu ke dalam peristilahan yuridis (mengkualifikasi. 6. van der Brught dan J. 12 Gr. 5. 1. pengkualifikasian). mengidentifikasi fakta-fakta untuk menghasilkan suatu struktur (peta) kasus yang sungguh-sungguh diyakini oleh hakim sebagai kasus yang riil terjadi. Arief Sidharta. merumuskan (formulasi) penyelesaian. 2. mencari alternatif-alternatif penyelesaian yang mungkin. menganalisis dan menafsirkan (interpretasi) terhadap aturan-aturan hukum itu. “Penyelesaian Kasus. mengevaluasi dan menimbang (mengkaji) argumen-argumen dan penyelesaian. Winkelman menyebutkan tujuh langkah yang harus dilakukan seorang hakim dalam menghadapi suatu kasus:12 1. mengidentifikasi sumber hukum yang mungkin. 11 Kenneth J. No. dapat disimpulkan enam langkah utama penalaran hukum. 7 November 1990. van der Brught & J. Tahun XII. 4. 4. dengan menggunakan kebijakan yang terletak dalam aturan-aturan hukum dalam hal memecahkan kasus-kasus sulit (apply the structure of rules to the facts). Vandevelde. 2. biasanya berupa peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan (identify the applicable sources of law). hlm. menelaah fakta-fakta yang tersedia (research the available facts). 2. sehingga dihasilkan suatu struktur (peta) aturan yang koheren. 3. hlm. menghubungkan (mensubsumsi) struktur kasus tersebut dengan sumber-sumber hukum yang relevan. 3. 4 & 5. Januari 1994. 4 . menetapkan pilihan atas salah satu alternatif untuk kemudian diformulasikan sebagai putusan akhir. Vandevelde menyebutkan lima langkah penalaran hukum. Winkelman. 35–36. yakni struktur yang mengelompokkan aturan-aturan khusus di bawah aturan umum (synthesize the applicable rules of law into a coherent structure). mensintesiskan aturan hukum tersebut ke dalam struktur yang koheren. menyeleksi sumber hukum dan aturan hukum yang relevan untuk kemudian mencari tahu kebijakan yang terkandung di dalam aturan hukum itu (the policies underlying those rules). 7. 2. yaitu:11 1. menghubungkan struktur aturan dengan struktur kasus. akan tampak simplifikasi dari enam 10 Lihat Sudikno Mertokusumo. 3.C. Apabila diilustrasikan dalam sebuah skema. Jurnal Pro Justitia. menerapkan struktur aturan tersebut kepada fakta-fakta untuk memastikan hak atau kewajiban yang timbul dari fakta-fakta itu. 5.making). Dengan mempertimbangkan beberapa pandangan di atas. menyeleksi aturan-aturan hukum yang relevan. 5.10 Kenneth J. artinya: memaparkan secara singkat duduk perkara dari sebuah kasus (menskematisasi). hlm.” terjemahan B. menerapkan aturan-aturan hukum pada kasus. Gr. “Pendidikan Hukum di Indonesia dalam Sorotan.” Harian Kompas.D. 6. Thinking Like A Lawyer: An Introduction to Legal Reasoning (Colorado: Westview Press. menganalisis sumber hukum tersebut untuk menetapkan aturan hukum yang mungkin dan kebijakan dalam aturan tersebut (analyze the sources of law). 1996).D. meletakkan kasus dalam sebuah peta (memetakan kasus) atau memaparkan kasus dalam sebuah ikhtisar (peta).C. yaitu: 1.

. yang pada saatnya dapat dijadikan sebagai sumber [hukum] “otonom” bagi yang bersangkutan dalam menyelesaikan kasus tersebut. arah langkah demi langkah penalaran hukum ini bukanlah perjalanan linear seakan-akan seorang penalar hukum (in casu hakim) yang sudah sampai pada langkah tertentu berada pada point of no return. 5 . Hakim berkewajiban untuk menempatkan para pihak pada posisi yang sejajar dan ia berkewajiban mendengarkan keterangan yang diberikan oleh masing-masing pihak (audi et alteram partem). Ragaan yang menampilkan langkah-langkah tersebut hanyalah asumsi-asumsi di atas kertas (teoretis). Sintesis ini mewujud menjadi keyakinan hakim. Sumber Hukum c Struktur aturan d b a X Alternatif Alternatif Putusan akhir f e Y struktur kasus Alternatif a. Sekalipun hakim dilarang untuk menolak perkara yang diajukan kepadanya dengan alasan tidak ada hukum yang mengaturnya. Hakim akan melakukan identifikasi atas setiap versi kasus itu. Dalam proses ini berarti hakim dihadapkan pada dialektika informasi yang disodorkan masing-masing pihak agar ia dapat membuat sintesis tertentu. Tentu saja setiap pihak akan mengajukan versi kasus menurut pandangan masing-masing. Mengenal Hukum. dengan membuang keterangan-keterangan yang irelevan. 159. ia tetap perlu diyakinkan oleh masing-masing pihak melalui serangkaian argumentasi. yang disebut sebagai struktur kasus atau struktur fakta..13 Sebagaimana terbaca pada uraian atas masing-masing langkah tersebut. Cit. Pihak-pihak mengajukan perkara mereka ke pengadilan.. sehingga ia sampai pada keyakinan tentang posisi kasus yang sesungguhnya. Langkah Pertama Dalam ragaan di atas diasumsikan ada beberapa pihak (katakanlah X dan Y) yang sedang berperkara. atau jika diperlukan.. Sementara di lapangan. hlm. 13 Bandingkan dengan skema yang dimuat dalam Sudikno Mertokusumo. malahan dapat berbalik ke langkah sebelumnya (regresif).langkah penalaran tersebut dalam ragaan di bawah. Op. langkah-langkah dalam proses penalaran itu dapat bergerak secara simultan.

Ia tetap berkewajiban mengkonstatasi fakta-fakta dalam kasus tersebut dengan cara menghilangkan bagian-bagian yang irelevan. Fakta-fakta yang dikemukakan para pihak umumnya diformulasikan dalam simbol. Orang yang merebut bendera itu tidak dikualifikasikan sebagai pencuri. Winkelman. Langkah Kedua Pada langkah berikutnya. 67. Lihat Andi Hamzah & Irdan Dahlan. kata ini menunjukkan hal mengadakan perjanjian obligatoir yang (di kemudian hari) akan menimbulkan penyerahan (levering) dan perolehan hak milik (eigendomsverkrijging). Patut dicatat bahwa tidak semua kasus yang diajukan ke pengadilan berdimensi sengketa. langkah-langkah itu seringkali saling bertumpuan. 16 Mengkualifikasikan tidak selalu identik dengan melihat telah dipenuhi tidaknya unsur-unsur suatu rumusan perbuatan hukum. Pengetahuan tentang isi dari aturan hukum yang dapat diterapkan ikut menentukan pada waktu hakim menyeleksi fakta-fakta mana yang dianggapnya relevan. terdakwa tetap dapat dipidana sepanjang alat-alat bukti mencukupi. 39. sekalipun caranya demikian umum dilakukan. Pengkualifikasian tersebut dapat mudah dilakukan apabila kasus yang dihadapi 14 Dalam hukum acara pidana dikenal sedikitnya tiga pendekatan dalam meninjau alat-alat bukti: (1) sistem negatief wettelijk. 15 Gr.C. “Menghilangkan nyawa orang lain” sebagai “pembunuhan” dan seterusnya. van der Brught & J. Lihat Moeljatno. Dalam perkara seperti ini. yang menyatakan cukup dengan keyakinan hakim. Burght dan Winkelman memberi contoh sederhana dengan kata “membeli. Logika induktif banyak berperan dalam langkah pertama ini. menyimpang dari KUHP. tentu saja telah dibekali pengetahuan yang cukup tentang macam-macam kualifikasi perbuatan hukum. b. Moejatno memberi contoh tentang perbuatan seorang Hitlerjugend yang merebut bendera dari tangan seorang pemuda Katolik pada jaman Nazi. cet. istilah “membeli” sering dimanfaatkan untuk menyatakan bahwa seseorang menjadi pemilik suatu benda. Sekali lagi ditegaskan. Demikian pula dengan kualifikasi perbuatan hukum pidana. administrasi negara. hakim akan melakukan pengkualifikasian dengan menerjemahkan kasus itu ke dalam peristilahan yuridis. yakni tanpa ada keyakinan hakim. 1984). Cit. sekalipun tanpa diperkuat alat bukti lain. “Mengambil milik orang lain dengan maksud dimiliki secara melawan hukum” diberi kualifikasi sebagai pencurian. dan (3) sistem vrij bewijs atau conviction intieme.D. hakim dapat menjatuhkan pidana.Keyakinan hakim tentang duduk perkara suatu kasus sangat penting. 1987) hlm. perdata. tetapi masih perlu ditambah dengan keyakinan hakim. 4 (Jakarta: Bina Aksarana.14 khususnya pada sistem peradilan dalam keluarga sistem civil law yang menempatkan hakim sebagai pemberi keputusan tunggal baik dari segi fakta (penetapan guilty or not guilty) maupun hukumnya. hlm. yaitu sebagai “dem Wesen nach Dieb ist” (orang yang menurut hakikatnya adalah pencuri). dalam bahasa hukum. (2) sistem positief wettelijk. Kasus-kasus berupa permohonan penetapan hakim. sekalipun ia memenuhi unsur-unsur delik pencurian dalam KUHP Jerman. sebagian besar berupa kata-kata. hlm.” Bagi orang awam. Loc. struktur kasusnya tentu akan lebih mudah dipetakan oleh hakim. dan seterusnya. 254–255.15 Seorang hakim. Pengkualifikasian merupakan titik krusial dalam penalaran hukum. yaitu hakim wajib terikat pada alat bukti minimum menurut undang-undang. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana menganut sistem negatief wettelijk. HIR dan Komentar (Jakarta: Ghalia Indonesia. Dapat tidaknya perkara ini dilanjutkan. sangat bergantung pada keyakinan hakim tentang peta kasus tersebut sebagaimana terkonstruksi di benaknya. tidak menghadapkan pihak-pihak yang bersengketa di dalamnya. sebagai pengemban hukum. Padahal. Azas-Azas Hukum Pidana. Perbandingan KUHAP. seperti pergantian nama seseorang atau adopsi anak. 6 . bahwa langkah pertama ini tidak selalu berjalan linear mendahului langkah-langkah berikutnya seperti akan dikemukakan kemudian. Sekalipun demikian. Pencuri dikualifikasikan tersendiri.16 Tiap-tiap kualifikasi tersebut diberi peristilahan yuridis (legal term) melalui sumber-sumber hukum yang telah disistematisasi oleh ilmu hukum.. Menurut Brught dan Winkelman. UU No. yang mungkin dimaknai secara berbeda menurut kaca mata yuridis. secara teoretis hakim tetap dianggap telah melakukan penarikan kesimpulan (inferensi) dalam menangani kasus semacam itu yang disebut inferensi langsung.

traktat. Principle of morality (sebutan dari John Chipman Gray). ed. Satu sumber formal hukum yang sudah eksis sejak lama. atau bahkan sama sekali tidak menyediakan aturan apapun. namun jarang dikemukakan dalam buku-buku teks adalah nilai-nilai atau asas-asas hukum. penyeleksian tadi harus dilakukan dengan hatihati. Ia ada di balik ketentuan norma hukum positif tersebut. Lihat O. hlm. The Nature and Sources of the Law. Untuk kasus yang kompleks (hard case).19 17 Menurut Bellefroid. penumbral case) karena terdiri dari kombinasi berbagai bidang hukum dan perbuatan hukum sekaligus. kebiasaan. dan doktrin. Mengingat sumber hukum tersebut demikian banyaknya. Sumber formal hukum secara klasikal dibedakan menjadi peraturan perundangundangan. Semua kondisi tersebut mengharuskan hakim melakukan kegiatan penemuan hukum (rechtsvinding).strukturnya sederhana (clear case). asas hukum ini (dirumuskan dengan kata-kata “general principles of law recognized by civilized nations”) bahkan digunakan sebagai sumber hukum utama. wujudnya masih berupa nilai. doubful case. 123–125.17 Asas hukum umumnya tidak dirumuskan dalam bentuk norma tersendiri di dalam undangundang. Langkah ini mungkin tidak berlangsung mulus. Eikema Hommes mengartikan asas hukum itu sebagai dasar-dasar atau petunjuk arah dalam pembentukan hukum positif. Notohamidjojo. dalam kenyataannya. hlm.18 Grundnorm (istilah dari Hans Kelsen) atau Volksgeist (terminologi dari von Savigny) termasuk dalam kategori ini. dapat terjadi sumber hukumnya tidak dapat diacu secara cepat. Sebagai contoh. Oleh karena itu. Demi Keadilan dan Kemanusiaan (Jakarta: BPK Gunung Mulia. perjanjian di lapangan keperdataan (kontrak). Ada kasus yang strukturnya sedemikian kompleks (hard case. Dalam sengketa hukum internasional publik. asas hukum adalah pengendapan hukum positif dalam suatu masyarakat. 2 (New York: MacMillan. yurisprudensi. Tindakan pengkualifikasian itu sendiri pertama-tama sudah menggunakan logika induktif. 1921). tidak semua kasus mempunyai struktur yang sederhana. Kegiatan penemuan hukum pun sesungguhnya telah dimulai pada langkah pengkualifikasian ini. 18 John Chipman Gray. Sistem hukum suatu negara tentu telah memberikan pedoman tentang jalinan hubungan antara sumber-sumber hukum tersebut. dalam sistem hukum Indonesia dapat ditunjukkan suatu jalinan hubungan antar-sumber hukum seperti ragaan di bawah. 49. mengingat tidak semua kasus dapat dikualifikasikan secara mudah. 19 Lihat Pasal 38 ayat (1) Piagam Mahkamah Internasional. sehingga dibutuhkan penyeleksian aturan-aturan secara lebih tepat untuk akhirnya dapat diperoleh kepastian (dikonstatasi) bahwa peristiwa konkret itu adalah suatu peristiwa hukum (peritiwa yang berakibat hukum). Belum lagi jika sumber hukum yang diacu tidak memberikan rumusan yang eksplisit. yakni dengan menghubungkan fakta-fakta yang muncul dalam peristiwa yang telah terindentifikasi tersebut dengan sumber hukum tertentu. Perkembangan dewasa ini telah menunjukkan makin luas dan beragamnya sumber-sumber formal hukum itu. 1975). 7 . Namun. misalnya kasus yang membuka kemungkinan terdakwa diadili di pengadilan koneksitas atau tindak pidananya bersifat konkursus.

Normatif-Imperatif Normatif-Koordinatif Normatif-Persuasif Nilai/Asas UU Traktat Kontrak Putusan Doktrin Kebiasaan Autonomic Legislation Yurisprudensi Menurut J. wujud traktat ini kemudian dapat berupa undangundang (dalam arti formal) atau jenis peraturan lainnya. melainkan harus melalui “jembatan” undang-undang (peraturan perundang-undangan) terlebih dulu. yang perlu disahkan oleh Presiden dan DPR. yakni yang mengandung soal-soal politik. 2826/HK/60 tanggal 22 Agustus 1960. hanya perjanjian yang terpenting saja. Tujuannya adalah memberi ikhtisar. Perjanjian yang tidak termasuk kategori ini cukup disahkan dalam bentuk keputusan Presiden. Sementara fungsi dalam ilmu hukum hanya bersifat mengatur dan eksplikatif (menjelaskan). 34.H. Oleh karena itu.20 Dalam konteks pembicaran tentang penalaran hukum ini. asas hukum tersebut diartikan menurut fungsi yang pertama. yakni fungsi dalam hukum dan fungsi dalam ilmu hukum..22 kebiasaan lebih dapat diterima sebagai sumber formal 20 21 Lihat Sudikno Mertokusumo. tidak semua traktat harus diratifikasi dalam bentuk undang-undang. Mengenal Hukum (Suatu Pengantar).21 Kebiasaan juga mempunyai kedudukan yang unik. Dalam lapangan hukum perdata dan hukum internasional publik. tidak normatif sifatnya dan tidak termasuk hukum positif. hlm. Kedudukan traktat (perjanjian internasional) dalam ragaan di atas memang tidak langsung dihubungkan dengan kasus yang terindentifikasi. 22 Kebiasaan yang dimaksud sebagai sumber formal hukum internasional publik menurut Pasal 38 ayat (1) Piagam 8 .M. Klanderman et al. asas hukum mempunyai dua fungsi. ed. 1991). Hal ini terutama karena setiap traktat baru mengikat setelah melalui proses pengundangan ke dalam hukum positif. Menurut Surat Presiden RI No. Fungsi yang pertama mendasarkan eksistensinya pada rumusan pembentuk undang-undang dan hakim (fungsi mengesahkan) serta mempunyai pengaruh yang normatif dan mengikat para pihak. Dalam sistem hukum Indonesia. 3 (Yogyakarta: Liberty.

masing-masing memang memiliki sifat normatif-imperatif. yang oleh Mochtar Kusumaatmadja disebut sebagai “kesopanan internasional. 1 drt Tahun 1951. ilmuwan hukum pertama yang secara khusus mengangkat persoalan ini adalah Valerine J. tentu kontrak di antara pihak penyewa dan yang menyewakan akan memiliki sifat normatif-imperatif. Mengingat sumber-sumber formal hukum itu berada dalam satu sistem. Kriekhoff melalui tulisannya berjudul “Autonomic Legislation sebagai Sumber Hukum Formal dalam Penelitian Hukum. cet. Pasal 17 ayat (1) huruf f melarang pelaku usaha perikalanan memproduksi iklan yang melanggar etika dan/atau ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 5 ayat (3) b undang-undang ini antara lain menegaskan bahwa suatu perbuatan yang menurut hukum yang hidup harus dianggap perbuatan pidana dan yang ada bandingannya dalam kitab hukum pidana sipil. Apabila ada sumber-sumber hukum yang kontradiktif dalam melihat kasus konkret yang dihadapinya.” Ketentuan ini mengalami modifikasi dalam Undang-Undang No. 134.hukum.24 Kompleksitas permasalahan ini akan mempengaruhi pola penalaran hukum yang diperagakan oleh pengemban hukum di Indonesia sebagaimana akan dielaborasi kemudian dalam Bab IV karya tulis ini. sepanjang sumber hukum itu memang relevan dengan kasus yang dihadapi. Pasal 62 ayat (2) dan 63 Undang-Undang No. maka dianggap diancam dengan hukuman yang sama dengan hukuman bandingannya yang paling mirip kepada perbuatan pidana itu. 25 Di Indonesia. Jika sumber hukum itu dilihat satu demi satu secara terpisah. kebiasaan. tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat perjanjiannya diharuskan oleh kepatutan.” yang secara bebas dapat diterjemahkan menjadi: “Selain pengecualian yang ditetapkan bagi Bumiputera dan orang-orang yang dipersamakan (dengan Bumiputera).L. hakim harus mengambil sikap melalui pendekatan sistem. dan alleen wanneer de wet daarop verwijst.” pidato pengukuhan guru besar di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Sebagai contoh. 8 Tahun 1999 tentang Pelindungan Konsumen. Dalam Code Civil yang berlaku sejak 1804 di Prancis. Dalam hal ini. Pengantar Hukum Internasional: Buku I-Bagian Umum. Sumber formal hukum yang mungkin belum banyak disinggung adalah apa yang oleh Edgar Bodenheimer disebut sebagai autonomic legislation. maka kebiasaan bukanlah hukum kecuali jika undang-undang menetapkan demikian.25 Bentuk autonomic legislation ini antara lain berupa kode etik profesi.26 Pada ragaan di atas juga terlihat ada pola hubungan yang bersifat normatifimperatif. untuk sengketa sewa-menyewa antara dua orang warganegara Indonesia atas properti yang dilindungi oleh hukum Indonesia. Hakim harus memanfaatkan sifat hubungan ini agar langkah-langkah yang dilakukannya tetap berada dalam koridor sistem hukum yang ada. 25 Oktober 1997. Di samping itu masih terdapat sanksi-sanksi tambahan yang dapat dijatuhkan menurut Pasal 63. 9 .” Lihat Mochtar Kusumaatmadja. Mahkamah Internasional adalah international custom atau customary international law. sekalipun mungkin hal ini dilakukan secara tidak disengaja. asas-asas hukum dapat digunakan untuk membantu mencari pemecahan dari situasi kontradiksi itu. Pada garis yang lain. 26 Contoh “infliltrasi” dari autonomic legislation ini adalah dalam Pasal 17 ayat (1) huruf f jo. Jakarta. Konsekuensi dari pelanggaran ini dinyatakan dalam Pasal 62 ayat (2) yaitu berupa pidana penjara dua tahun penjara atau pidana denda maksimal Rp500 juta. kebiasaan yang termasuk kategori hukum adat tidak serta merta dapat dijadikan sumber formal hukum. “Behoudens de uitzonderingen omtrent de Indonesiërs en daarmee gelijkgestelde personen vastgesteld. 24 Pasal 15 AB menyatakan. tampak ada gambaran pola hubungan yang normatif-persuasif. Sebaliknya sumber hukum berupa traktat internasional tidak memiliki sifat normatif-imperatif karena tidak relevan bagi kasus tersebut. dan undang-undang.23 Untuk konteks sistem hukum Indonesia. Hampir tidak ada ahli hukum yang menyadari bahwa sumber formal hukum seperti ini telah masuk ke dalam sistem hukum positif Indonesia (bahkan ke dalam sistem hukum pidana yang terkenal kaku). sebagaimana juga diikuti oleh Kitab Undang-Undang Hukum Perdata di Indonesia. geeft gewoonte geen regt. hlm. kecuali jika telah ditunjuk oleh undang-undang. kebiasaan menjadi faktor yang harus diperhatikan dalam membuat perjanjian. 23 Pasal 1339 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyatakan bahwa perjanjian tidak hanya mengikat untuk halhalyang dengan tegas dinyatakan di dalamnya. maka ada pola hubungan yang normatif-koordinatif. 1982). 4 (Bandung: Binacipta. kedudukan kebiasaan ini menjadi salah satu sumber permasalahan tersendiri. Dalam konteks keindonesiaan. mengingat terminologi ini sering diidentikkan dengan hukum adat.

sejumlah ahli hukum seperti van Apeldoorn. dapat dicari pemecahannya dengan asas lex superior derogat legi inferiori. 2. terdapat ketentuan dalam Pasal 21 Algemene Bepalingen van Wetgeving voor Indonesië (AB) yang melarang hakim mengeluarkan putusan yang mengikat setiap orang (umum). menolak memasukkan putusan hakim sebagai sumber formal hukum. dan (3) mencari kebijakan dalam aturan tersebut. 6. Di sini pola penalaran hakim justru pertama-tama dibangun secara induktif. undang-undang memaksa dan kebiasaan. misalnya. dengan mencermati fakta demi fakta yang dibentangkan sebagai posisi kasus tersebut. atau keluarga sistem civil law pada umumnya. 28 L. khususnya kasus-kasus hukum pidana. c. undang-undang lebih tinggi dan undang-undang lebih rendah (seperti undang-undang [dalam arti formal] dengan peraturan pemerintah). van Apeldoorn. undang-undang yang umum dan undang-undang yang khusus. yakni mencari kebijakan dalam aturan tadi. (2) menyeleksi aturan hukum dalam sumber hukum terberi. dapat digunakan asas-asas hukum. dapat dicari pemecahannya dengan asas lex dura sed tamen scripta. dalam terminologi ilmu politik sering juga disebut dengan istilah”politik hukum.Dalam sistem hukum Indonesia. Putusan yang ditetapkan oleh hakim selalu bernuansa personal-kasuistik. undang-undang lama dan undang-undang baru.J. Pada langkah ketiga ini didapati ada tiga tingkatan aktivitas: (1) menyeleksi sumber hukum terberi (given legal resources). Langkah Ketiga Langkah ketiga yang harus dilakukan hakim adalah menyeleksi sumber hukum dan aturan hukum yang relevan untuk kemudian mencari tahu kebijakan yang terkandung di dalam aturan hukum itu (the policies underlying those rules). 167-180. karena mereka semua tidak membentuk peraturan secara abstrakto.27 Karena sifat demikian. hakim berada dalam posisi menerima saja pilihan sumber dan dasar hukum yang telah dipilih oleh jaksa penuntut umum. hlm.” Dalam prakik penanganan perkara. Apa yang dimaksud dengan kebijakan ini. putusan hakim bersama dengan perjanjian (di lapangan hukum keperdataan) dan doktrin adalah faktor-faktor yang membantu pembentukan hukum.28 Di muka telah disinggung bahwa kegiatan menghubungkan fakta-fakta yang ditemukan dalam kasus konkret dengan sumber hukum merupakan proses penemuan hukum (rechtsvinding) sebagai bagian dari aktivitas penalaran hukum (juridisch redenering). dapat dicari pemecahannya dengan asas res judicata pro veritate habetur. sehingga dihasilkan suatu struktur (peta) aturan yang koheren. 22 (Jakarta: Pradnya Paramita. 3. dapat dicari pemecahannya dengan asas lex posterior derogat legi priori. Baru kemudian hakim akan mengkualifikasi peristiwa konkret tadi agar dapat diberi predikat sebagai peristiwa hukum. Dalam ilmu perundang-undangan. 5. dapat dicari pemecahannya dengan asas lex specialis derogat legi generali. misalnya dalam hal terjadi kontradiksi normatif antara: 1. cet. Menurutnya. Apabila dari sumber-sumber hukum yang sudah diseleksi itu ditemukan sejumlah aturan (norma) yang tingkat koherensinya tidak sempurna. 4. 1985). Oleh sebab itu. dapat dicari pemecahannya dengan asas Die normatieve Kraft des Faktischen. hal ini berlaku untuk sumber formal hukum berupa putusan pengadilan. undang-undang dan putusan hakim. Dalam konteks ini. Pengantar Ilmu Hukum. 10 . undang-undang mengatur dan kebiasaan. terjemahan Oetarid Sadino. ada cara sederhana untuk menyusun sebuah 27 Dalam sistem hukum Indonesia. maka harus dilakukan penyeleksian aturan secara hati-hati. tingkatan aktivitas yang biasa dilakukan oleh hakim langsung pada butir ketiga.

Untuk itu. Dalam modus ini ada koherensi sifatsifat norma (perintah. Namun. Demikian pula halnya dengan modus perilaku. dan Dispensasi (D) dalam bentuk diagram (segi empat oposisi): P Kontraris L Implikasi (subalternasi) Kontradiktori Implikasi (subalternasi) I Subkontraris D Jika persoalan koherensi antar-aturan itu telah teratasi. Apabila sebuah pasal atau rangkaian pasal dipilah menjadi unsur-unsur dari dasar hukum yang dipakai di dalam tuntutan atau gugatan. yakni sifat-sifat norma terebut (modus van behoren). Dalam konteks hak asasi manusia di dalam konstitusi.struktur aturan dari sebuah ketentuan normatif. DIAGRAM RELASI Pola relasi antara Perintah (P). Itulah yang dimaksud dengan mencari kebijakan dalam aturan tersebut. hakim terlebih dulu harus menganalisis aturanaturan ini. apabila dirumuskan dengan kata-kata “setiap orang” atau “barangsiapa” tentu berbeda jika dirumuskan dengan kata-kata “setiap warganegara”. Subjek yang terkena sasaran norma. Larangan (L). izin. haram. Norma sekunder yang dimaksud di sini tidak lain adalah konsekuensi dari terpenuhinya norma primer. dan dispensasi) yang harus diperhatikan. syarat pertama untuk dapat mengenali isi suatu aturan hukum adalah pembacaan teks dengan baik. (b) modus perilaku. makruh. yakni persyaratan yang menyertai pelaku atau perilaku itu (normcondities). sunnah. yaitu perilaku yang diminta untuk dikerjakan atau tidak dikerjakan (normgedrag). yang lazim disebut ancaman hukuman. larangan. Norma primer ini memuat unsur-unsur berupa: (a) subjek hukum yang menjadi sasaran norma (normadressaat). Hal ini penting karena tidak semua 29 Dalam hukum Islam. maka komposisi aturanaturannya dapat disajikan.29 Relasi keempat sifat aturan normatif ini membentuk pola yang ditunjukkan dalam ragaan di bawah. misalnya. Menurut Burght dan Winkelman. dan (d) kondisi norma.dan jaiz). 11 . (c) objek norma. ada perbedaan antara penduduk dan warga negara. Izin (I). semua aturan tadi belumlah “berbicara” untuk memecahkan kasus tersebut. Setiap rumusan norma dapat terdiri dari norma primer dan norma sekunder. maka sesungguhnya keempat hal di atas sudah harus tercermin. bahkan dikenal ada lima sifat norma yang disebut “al-ahkam al-khamzah” (wajib.

Cit. Interpretasi ekstensif masih berpegang pada aturan yang ada. Di sini hakim menghadapi kekosongan atau ketidak-lengkapan undang-undang yang harus diisi atau dilengkapi. Upaya memperbesar pemahaman adalah perlu untuk menganalisis dan mengikhtisarkan teks demikian secara gramatikal.”31 Metode penafsiran adalah salah satu metode penemuan hukum (rechtsvinding). Winkelman. C. van der Burght & J.34 Itulah sebabnya.. 32 Sudikno Mertokusumo & A. 42. Loc. sehingga tidak ada petunjuk tentang metode mana yang sesungguhnya harus digunakan dalam sebuah kasus konkret. dalam ranah hukum perjanjian (keperdataan). Pitlo. di masa lalu memang telah “diperjuangkan” suatu pedoman yang kaku pada pemilihan metode-metode interpretasi. hlm. memang ada rangkaian ketentuan mulai dari Pasal 1342 KUH Perdata (asas sens-clair) yang memberi rambu-rambu dalam menafsirkan isi perjanjian. 1847-23) dengan Pasal 14 UU no. dan (3) memenuhi syarat estetis (aesthetische eischen).C. Mr. Paul Scholten menyebutkan tiga syarat. ada pandangan yang masih menerima interpretasi ekstentif dalam hukum pidana. Op.. 33 Gr.35 Apa yang dimaksud oleh Scholten adalah kurang lebih 30 31 Gr. 27–28. 44. 12 . sama-sama terkesan memperluas keberlakuan suatu rumusan norma. “Tiap undang-undang. Sebaliknya dapat terjadi juga hakim harus memeriksa dan mengadili perkara yang tidak ada peraturannya yang khusus. sebab hakim tidak boleh menolak memeriksa dan mengadili perkara dengan dalih tidak ada hukumnya atau tidak lengkap hukumnya (bandingkan Pasal 22 Peraturan Umum Mengenai Perundang-undangan Untuk Indonesia/S. yaitu: (1) meliputi materi positif (het dekken der positieve stof). meskipun diyakini bahwa peristiwa itu seharusnya juga diatur atau dijadikan peristiwa hukum. 14 tahun 1970). Syarat kedua adalah pengetahuan tentang pengertian-pengertian yang digunakan dalam aturan hukum itu. Untuk melakukan konstruksi. perbedaannya terkait dengan gradasi semata.. Cit. hlm. 35 Paul Scholten. yang satu sama lain bersifat saling melengkapi. Paul Scholten menegaskan. Namun.C. Menurutnya. garis batas kedua metode ini dapat ditarik tegas. Di luar itu ada metode lain. Asser’s Handeling tot de Beoefening van het Nederlandsch Burgerlijk Recht: Algemeen Deel. Bab-Bab tentang Penemuan Hukum (Bandung: Citra Aditya Bakti.D. metode penyempitan hukum dan metode a contrario. 21. namun berlawanan dengan harapan itu. memerlukan penafsiran. yang disebut dengan metode konstruksi. suatu benda terdaftar (registergoed) itu? Apa pengalihan (overdracht) itu? Apa arti itikad baik (te goedertrouw) itu? 30 Pandangan Burght dan Winkelman tersebut mengantarkan hakim kepada keperluan untuk melakukan interpretasi. 41. hlm. Dalam hal ini apa yang harus dilakukan oleh hakim untuk menemukan hukumnya? untuk mengisi kekosongan itu digunakan metode berfikir analogi. seperti dikemukakan Moeljatno. Winkelman. Ada banyak metode interpretasi. juga yang terbaik dirumuskan. Sudikno Mertokusumo membedakan kedua metode ini secara sederhana sebagai berikut:32 Interpretasi adalah metode penemuan hukum dalam hal peraturannya ada tetapi tidak jelas untuk dapat diterapkan pada peristiwanya. hlm. 1993). van der Burght & J. Cit.aturan hukum dirumuskan secara jelas. misalnya. Menurut Burght dan Winkelman. Tiap-tiap metode memiliki ciri-cirinya sendiri. Loc. Ibid. Hal ini karena sulit memperoleh pemahaman tentang motif-motif sesunguhnya dari hakim dalam mengambil suatu keputusan tertentu karena yang terlihat hanya argumen-argumen yang dikemukakan secara eksplisit dalam vonisnya. Apa arti. Interpretasi ekstensif dan analogi.D. (2) ajarannya tidak kontradiksi secara internal (de leer mag niet zich zelf tegenspreken). hlm. misalnya. yang akhirnya diperoleh sekadar petunjukpetunjuk yang kabur. peristiwa yang menjadi persoalan tidak dapat dimasukkan ke dalam aturan yang ada.. sementara pada analogi.33 Sangat menarik untuk mengamati bahwa batas-batas antara metode interpretasi dan konstruksi dalam banyak segi demikian tipis. Walaupun demikian. 34 Lihat Moeljatno. namun menolak analogi karena dianggap bertentangan dengan asas legalitas.

” dalam Wila Ch. jika persidangannya berbentuk majelis. hakim atau majelis hakim sangat mungkin memiliki lebih dari satu alternatif jawaban atas masalah (Zwolle: W. Antara hakim yang satu dengan hakim yang lain. 38 J. sehingga hakim perlu membuat beberapa pola konklusi sesuai dengan kompleksitas struktur kasus yang dipetakannya. konstruksi itu pun harus memperhatikan segisegi kesederhanaan dan kejelasan agar konklusi baru yang dihasilkannya mudah dipahami. Op.. Percikan Gagasan tentang Hukum ke-III (Bandung: Mandar Maju. Harris. bukan ajaran yang sudah tersingkir oleh jaman. Langkah Kelima Seperti diuraikan di muka. sekalipun telah melewati “the rule-systematizing logic of legal science” ternyata tetap tidak mungkin hadir secara tunggal. yang menggarisbawahi bahwa eksistensi sebuah kewajiban tidak dapat dihadirkan bersamaan dengan sebuah nonkewajiban. 37 Bandingkan dengan penjelasan B. Pada kasus yang kompleks (hard case). berangkat dari sudut pandang sendiri-sendiri. “. dan ini sejalan dengan asas derogasi yang tidak menghendaki adanya konflik di dalam sistem aturan tersebut.” Ada empat asas yang disebutkan Harris. Materi yang dikonstruksikan harus positif dalam arti dapat diterima sebagai pandangan yang sejalan dengan ajaran yang berlaku. 36 J.J. Seperti kata Lon L. 1934). tingkat probabilitas terjadinya situasi demikian sangat tinggi. hlm.. asas subsumsi mengandung arti bahwa aturan-aturan itu tunduk pada sistem hirarkis. (3) derogasi (derogation). Konsekuensi lebih lanjut ditunjukkan oleh asas nonkontradiksi. And it follows that if legal arguments and legal decisions of penumbral questions are to be rational. Pada kasus-kasus yang terang-benderang (clear case). Harris disebut “the rule-systematizing logic of legal science.. Apalagi. jika yang terjadi adalah kasus yang kompleks (hard case. pada kedua langkah ini si hakim menghubungkan struktur aturan dengan struktur kasus. dalam area penumbra. Arief Sidharta. 65–66. hlm. hlm.. ada beberapa struktur aturan yang semuanya mungkin untuk diterapkan pada langkah keempat nanti. seharusnya pada langkah ketiga inipun. ed. Pembangunan struktur aturan yang dibentangkan di atas pada akhirnya harus tunduk pada asas-asas yang oleh J.37 Masih ada kemungkinan lain. yang ternyata sulit dipersatukan. men cannot live by deduction alone.W. d. dan terakhir.W. Lain halnya. 1998). Supriadi.”38 e. Harris. Tjeenk Willink. Dan. “Struktur Ilmu Hukum Indonesia.. Struktur aturan yang dibuat itu. hlm. 13 . yaitu asas (1) eksklusi (exclusion). 22–23. perbedaan struktur aturan itu tidak perlu buru-buru untuk dituntaskan (diseragamkan) karena justru perbedaan ini sangat berguna untuk melahirkan alternatifalternatif solusi yang dilakukan pada langkah kelima. Cit. 141. pada kasus yang kompleks (hard case). Langkah Keempat Langkah keempat ini sebenarnya menyatu dengan langkah kelima. Misalnya. Aturan yang lebih tinggi akan mengenyampingkan aturan yang lebih rendah. Selanjutnya. Kedua. Artinya. Cit.sebagai berikut. their rationality must lie in something other than a logical realtion to premises. (2) subsumsi (subsumption).36 Asas pertama mengandaikan sejumlah sumber legislatif independen (independent legislative sources) membentuk jalinan yang mengidentifikasikan sebuah sistem hukum.W. mungkin saja masing-masing membangun struktur aturan yang berbeda. hakim sangat mungkin tidak perlu berpikir keras untuk mencari alternatif lain daripada jawaban yang ditelurkan melalui metode interpretasi gramatikal. dan (4) nonkontradiksi (non-contradiction). Fuller. Op. Intinya. penumbral case). hasil konstruksi tersebut harus diterima sebagai bagian dari sistem hukum yang logis. 10. peletakan kewajiban untuk membayar sejumlah uang tidak boleh dihadirkan bersamaan dengan kewajiban untuk tidak membayar sejumlah uang.E.

Dengan demikian. Hakim yang bersikeras untuk mempertahankan alternatif lain di luar putusan rekan-rekannya. yang memuaskannya. seperti euthanasia. dan hukuman mati. tetapi justru paling krusial sifatnya. terutama penalaran hukum yang menjadi benang merah lahirnya 39 Lihat Victor Grassian. 1 Tahun 1962. Independensi ini harus tetap dijamin. aborsi. yang mutlak harus dimiliki seorang hakim yang baik: zelfkritiek (kritis terhadap diri sendiri atau mampu mengkritik diri sendiri). hlm. Bagi sejumlah kalangan. 5 Tahun 1959 dan No.C. 14 . yang sebagian besar mengemukakan contoh-contoh peristiwa hukum di dalamnya. diucapkan di persidangan dan bertujuan untuk mengakhiri atau menyelesaikan suatu perkara atau sengketa antara para pihak. hlm.yang ditanganinya. semua putusan selalu dibacakan (uitspraak) berdasarkan naskah tertulis yang telah dipersiapkan. pertanggungjawaban disiplin hukum ini harus juga dipadukan dengan pertanggungjawaban moral. jika ia dihadapkan pada suatu penyelesaian. Bahkan. Hukum Acara Perdata Indonesia (yogyakarta: Liberty. sementara yang kedua produk peradilan voluntair.41 Putusan hakim per definisi adalah suatu pernyataan yang oleh hakim. misalnya. 194 et seq. sebagai pejabat negara yang diberi wewenang untuk itu. 42 Sudikno Mertokusumo. dianut pendapat bahwa apabila ada perbedaan antara naskah tertulis dan ucapan lisan pada saat naskah putusan dibacakan. yang tidak mempunyai tujuan lain selain mewujudkan hukum dan terdidik (terlatih) di dalam menimbang kepentingan-kepentingan dan argumen-argumen. Kerja sama antara hakim-hakim yang duduk dalam satu majelis diuji pada langkah kelima ini. untuk akhirnya diformulasikan sebagai putusan (termasuk juga yang lazim disebut “penetapan”). f. Winkelman.. kreatif. hlm.42 Dalam praktik. Pada tahap ini hakim atau para hakim harus menetapkan pilihan atas salah satu alternatif yang paling sesuai dengan struktur kasus. 168. yang ia ketahui bahwa tidak setiap orang merasakannya dengan cara yang sama dan sedemikian banyak pengetahuan tentang masyarakat sehingga ia dapat mengetahui yang (disebut) terakhir ini. argumentasi yang diajukannya sebaiknya dimuat dalam putusan juga. hlm. iapun wajib mengkritisi penalarannya sendiri. sekalipun ia duduk sebagai anggota majelis. 167–168. Hakim adalah profesi yang independen dalam bernalar. Setiap jawaban harus dibangun melalui proses penalaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara disiplin hukum. harus tetap dihormati. Dalam hukum acara di Indonesia. baik dalam berupa dissenting opinion (contrariety of opinion) maupun concurring opinion. Moral Reasoning: Ethical Theory and Some Contemporary Moral Problems (New Jersey: Prentice-Hall. 43 Surat Edaran Mahkamah Agung No. juga memiliki sedemikian banyak pengetahuan tentang dirinya sendiri sehingga ia dapat mempertanyakan kepada dirinya sendiri apakah kepuasan itu tidak berkaitan dengan preferensipreferensi. Setiap struktur aturan. secara deduktif akan melahirkan minimal satu jawaban. adalah masih yang terbaik yang terhadapnya orang dapat memberikan kepercayaan. 1981). Lihat pembahasan ini dalam Ibid.. Langkah Keenam Langkah keenam ini adalah langkah pamungkas. seluruh isi putusan.D. 40 Gr. 52–53. maka yang dijadikan pegangan adalah ucapan lisan. Untuk itu. Cit. maka keputusan dari orang. Hakim yang baik harus menerima apabila argumentasi yang diajukannya dikritik oleh rekannya. Hanya setelah mampu mengatasi pengujian yang terakhir ini maka penilaiannya. Loc. akan tidak subjektif lagi. 41 Istilah “putusan” secara teknis dibedakan dengan “penetapan” karena yang pertama mengacu pada produk peradilan contentieus. diskriminasi rasial.39 Tiap-tiap alternatif harus diverifikasi dengan argumentasi yang tepat. Itu terbukti dari teori-teori tentang etika. 1988). Oleh karena itu. yang terpaksa. penalaran hukum (legal reasoning) adalah juga penalaran moral (moral reasoning).43 Putusan pengadilan memang senantiasa bersifat individual kasuistik. Untuk itu Langemeijer berpesan:40 Bila undang-undang dan “kesadaran umum” berdiam diri. Seorang hakim yang baik harus. Asalkan ia masih memiliki sifat. van der Burght & J.

P.. Cit. Menurut M.” Sudah dapat diduga bahwa titik berdiri akhir ini adalah bagian paling menarik bagi masyarakat umum dan para pihak yang berperkara karena secara langsung mengindikasikan pihak mana yang menang dan kalah. hlm. 178. konotasi para pihak ini mencakup denotasi yang luas sekali. yang tentu memiliki keterbatasan. harus dipertanggungjawabkan kepada para pihak. Burght dan Winkelman menyatakan. it is necessary. khususnya para penstudi hukum harus diberi akses yang cukup agar setiap putusan hakim dapat dikaji penalarannya.” atau “menolak permohonan kasasi. termasuk sastra. sehingga ada pula argumentasi yang dibentuk oleh argumen-argumen yang diletakkan di depan (vooruitwijzende argumentatie) dan argumen-argumen yang diletakkan di belakang (terugwijzende argumentatie). Pembagian dan pembahasan butir demi butirnya harus menghindari konstruksi kalimat yang jelimet. dan aksentuasi. sama seperti bentuk pelaporan (rapportage) lainnya. Henket. amfibolia. Salah satunya yang terkemuka adalah James Boyd White. Hukum Acara. Pemikiran White bahkan telah diteliti khusus dalam bentuk disertasi di Universitas Erasmus oleh Adriana M..” atau “oleh karena itu. putusan pun harus disusun berstruktur. Cit.” “jadi.. yaitu titik berdiri (pendirian... seperti problematika pemilihan kata (diksi) dan pemaknaan (semantik) yang telah banyak disoroti para penstudi dan pemerhati hukum. not only that a correct decision should be reached. untuk kondisi di Indonesia publikasi putusan hakim secara luas masih terhalang antara lain oleh Pasal 179 Herziene Indonesisch Reglement (HIR).44 Putusan hakim adalah produk penalaran hukum. van der Burght & J.. ketertarikan mereka justru diarahkan kepada titik-titik berdiri antara beserta argumen-argumennya. 6 Laboratorium Hukum FH Unpar. 46 Gr. Dalam formulasi putusan ini. Ia selanjutnya membedakan lagi antara titik-titik berdiri antara (tussenstandpunten) dan titik berdiri akhir (eindstandpunt). De Waarde van het Woord: Eeen Studie van het Werk van James Boyd White in het Perspectief van Law and Literature (Arnhem: Sanders Instituut. Graakeer.. Masyarakat yang berkepentingan. 29 dikutip Sudikno Mertokusumo. 47 Kaitan hukum dan bahasa. hlm. Formulasi putusan dengan demikian terkait erat dengan persoalan-persoalan bahasa.. setelah dibacakan dan menjadi public domain. “In order that a trial should be fair. and that can only be seen if the judge himself states his reason. 45 Sir Alfred Denning. Op. putusan hakim menunjukkan keterampilan (skill) dan seni (art) bernalar praktis.. Arief Sidharta (Bandung: Penerbitan Tidak Berkala No. publikasi putusan yang utuh sangat diperlukan agar masyarakat tidak hanya tercuri perhatiannya pada amar putusan.. Penggunaan term yang tidak tepat. Titik berdiri antara biasanya ditandai dengan kata-kata: “menyimpulkan. teknik menguraikan pembuktian (betoog) menjadi sisi yang paling penting menurut perspektif penalaran hukum. juga banyak menyita perhatian ahli hukum. hlm.. sehingga tepat apa yang dikatakan Sir Alfred Denning. putusan ini akan terbuka sebagai bahan wacana publik (public discourse). 1995). Sementara bagi penstudi hukum.”45 Formulasi putusan dilakukan dengan menggunakan simbol-simbol bahasa. Henket. The Road to Justice (London: Stevens & Sons..... Oleh sebab itu. standpunt) dan argumen. 15 . Hubungan argumenargumen dalam mendukung suatu titik berdiri disebut dengan argumentasi. Teori Argumentasi dan Hukum... Hubungan 44 Sayangnya. Pada perkara hukum publik. 53. Loc. dapat membawa kepada kesesatan penalaran para pengemban hukum yang menggunakan putusan itu sebagai sumber. suatu uraian pembuktian minimal terdiri dari dua bagian.. 12. yang mempersiapkan diri sebagai bahan diskursus publik.. 1955).C. misalnya karena ekuivokasi. Kendati demikian. 2003). akan memperhatikan penggunaan terminologi hukum dan pemaknaannya secara tepat. but also that it should be seen to be based on reason.D. terjemahan B. 48 Lihat M.46 Oleh karena itu. Winkelman..” Titik berdiri akhir menggunakan kata-kata: “mengabulkan gugatan.putusan tersebut.48 Argumentasi kebanyakan bersifat majemuk (complexe argumentatie). melainkan terutama harus pada konsideran yang menggiring diktum putusan.47 Putusan yang baik. hlm.

hlm. Sebuah argumen berfungsi mendukung sebuah titik berdiri antara. Sekalipun demikian. Cara berpikir regresif demikian terkadang tidak dapat dihindari dan 49 Lihat Ibid. Pertama. 2003 Keterangan: Huruf (a atau b) pada tanda panah menunjukkan argumen-argumen itu bergantung (jika hurufnya sama) dan bebas (jika hurufnya berbeda). yang dilihat dari posisi argumen-argumennya terhadap titik berdiri. Henket. Dengan intuisinya. hakim terkadang telah terlebih dulu mampu meyakinkan dirinya tentang kesimpulan akhir seperti apa yang lahir dari perkara yang tengah ditanganinya. Kedua. Dalam ragaan tersebut terlihat bahwa Pernyataan 2 (p2) atau Pernyataan 3 (p3) secara sendiri-sendiri tidak cukup mendukung titik berdiri Pernyataan 1 (p1). Henket mencatat. ada argumen-argumen yang bergantung (dalam ragaan ditunjukkan oleh Bentuk A). 13–14. p1 a p2 p1 Jan dapat dipidana (melakukan pembunuhan) KARENA: p2 Jan telah menghilangkan nyawa ibunya p3 Jan sengaja melakukannya. p1 a p2 a p3 b p4 p1 Jan dapat dipidana KARENA: p2 Jan telah membunuh ibunya p3 Jan sengaja melakukannya p4 Jan menyelundup narkoba. seakanakan kesimpulan akhir adalah konsekuensi logis dari setiap langkah yang mendahului rangkaian penalaran itu. Contoh rumusan titik berdiri dan argumen-argumennya dapat dilihat pada ragaan di bawah. Ketiga. Kesimpulan inilah yang akhirnya menjadi panduan baginya. Dalam kenyataannya.49 BENTUK-BENTUK ARGUMENTASI Modifikasi dari: © M. Argumen-argumen demikian disebut argumen-argumen bergantung atau tidak bebas (afhankelijke argumenten). a p3 BENTUK “A” Argumen-argumen bergantung BENTUK “B” Argumen-argumen bebas p1 a p2 b p3 p1 Jan tidak perlu dipidana penjara KARENA: p2 Jan akan diputus bebas KARENA: p3 Tidak cukup bukti untuk menjerat Jan. BENTUK “C” Argumentasi bertahap BENTUK “D” Argumentasi campuran Keenam langkah tersebut. ada argumen-argumen yang bebas (onafhankelijke argumenten) karena masing-masing pernyataan (argumen) secara terpisah dapat mendukung titik berdiri (lihat Bentuk B). Titik berdiri ini baru eksis jika p2 dan p3 saling melengkapi. ada bentuk argumen-argumen yang disusun bertahap (tapsgewijs). 16 . p1 a p2 b p3 p1 Jan dapat dipidana KARENA: p2 Jan telah menyelundup narkoba p3 Jan telah membunuh ibunya. Ia membangun justifikasi dari kesimpulan tadi. yang pada gilirannya titik berdiri antara ini juga berfungsi sebagai argumen untuk mendukung titik berdiri berikutnya (lihat Bentuk C). boleh jadi tidak selalu demikian.argumen-argumen yang mendukung titik berdiri ini dibedakan oleh Henket dalam tiga bentuk dasar.. bahwa kebanyakan uraian pembuktian dalam formulasi putusan hakim menampilkan bentukbentuk campuran (mengvormen) dari bentuk-bentuk dasar tersebut (contohnya lihat bentuk D). tampak berlangsung secara linear. di atas kertas.

Artinya ia tidak dapat terus ke silogisme berikutnya sebelum ia terlebih dulu membereskan “ketersendatan” itu. sadar atau tidak sadar kita kurang dapat menerima pandangan demikian. Penulisan silogisme secara baku dalam putusan justru akan membuat putusan menjadi sulit dipahami bagi kalangan awam.. bukan mengikuti doktrin yakni mulai dari sasaran norma (normadressaat). Ajaran doktrinal yang disebutkan di atas memang pertama-tama diperlukan untuk memastikan ketepatan pemahaman terhadap struktur aturan (terlebih-lebih jika terdapat beberapa pasal sekaligus yang dijadikan dasar pijakan). premis mayorlah yang memegang peranan menentukan. hakim terutama diwajibkan memperagakan penalarannya melalui serangkaian silogisme. maka konklusinya sudah pasti adalah operasi militer X merupakan pelanggaran HAM berat.. dan proporsional. Pada saat hakim membuat pertimbangan hukum. Dalam hal hakim berhasil merumuskan silogisme secara mengalir dan utuh dari unsur-unsur tindak pidana (di sini diambil contoh kasusnya dalam perkara pidana). Ada dua jenis silogisme. maka “penemuan hukum” belum terjadi. Dalam praktik. Pengurutan lazimnya dilakukan konsisten mengikuti bunyi pasal yang dijadikan dasar tuntutan. unsur-unsur dasar hukum yang memuat ketentuan tindak pidana itulah yang diderivasi. yakni silogisme kategoris dan silogisme hipotetis. Itu berarti setiap putusan hakim pasti mengandung penemuan hukum. yang mempersoalkan terpenuhi tidaknya hubungan kausalitas antara anteseden dan konsekuen. Konklusi ini tidak dapat dihindari. Tentu saja. Redaksi putusan memang tidak harus didesain seperti itu. Apabila penafsiran gramatikal dipandang sebagai sebuah metode penemuan hukum. objek norma (normgedrag). Lain halnya jika hakim mengalami “ketersendatan” tatkala berhadapan dengan sebuah unsur tindak pidana. Apabila diyakni di dalam premis mayor. rumusan-rumusan silogisme di dalam putusan tidak tampil eksplisit dan harus dirumsukan secara baku. di mana jumping conclusion akan terjadi. misalnya. Namun. hakim tidak mungkin dapat menyembunyikan keberadaan silogisme-silogisme tadi di balik permainan kata-kata. dan pada premis minornya dibangun proposisi bahwa operasi militer X adalah genosida. Formulasi silogisme hipotetis dibangun dengan pola “jika. struktur aturan yang sudah dipersiapkannya harus diderivasi menjadi unsur-unsur yang lebih spesifik. Penemuan hukum biasanya dimaknai sesuatu yang lebih dari sekadar memaknai ketentuan normatif mengikuti persis bunyi kata-katanya secara gramatikal dan leksikal. maka sebenarnya peragaan silogisme-silogisme di atas sudah merupakan penemuan hukum juga.. Penemuan Hukum Untuk memastikan terdapat motivering vonis. Silogisme jenis kedua adalah silogisme hipotetis.. Dalam sistem logika tertutup. 17 . sedangkan konklusi memuat konsekuen.. Premis mayor berbicara tentang fakta yang bersentuhan dengan antieseden.”. misalnya dikatakan bahwa semua tindakan genosida adalah pelanggaran HAM berat.sah-sah saja. silogisme-silogisme seimplisit apapun selalu bisa dilacak dengan mudah dan dapat disusun ulang. Strategi menyembunyikan silogisme justru akan membuat putusan itu kehilangan nilainya sebagai sebuah motivering vonis dan terdorong mengarah kepada kesesatan (fallacies) yang berbahaya. Jika ranahnya berada dalam hukum pidana. Silogisme jenis pertama (kategoris) mempersoalkan distribusi terma-terma di dalam premis mayor dan minor. sepanjang formulasi putusan itu secara keseluruhan tetap dijalin dengan pertimbangan-pertimbangan (motivering vonis) yang tepat. dan bukan dalam rangka mengurutkan silogisme demi silogisme dalam putusan. dan kondisi norma (normcondities). Dengan perkataan lain. sehingga pola penalaran deduktif seperti ini disebut pola yang tunduk pada sistem logika tertutup (closed logical system). Di situlah penemuan hukum baru terjadi. runtut. modus perilaku (modus van behoren).maka. bagi siapapun yang mencermati putusan hakim.

18 . dan tidak juga meminjam pengertian dari undang-undang lain (sehingga bukan penafsiran sistematis). Jika terpenuhi. sampai akhirnya ia sampai pada kesimpulan akhir tentang terpenuhi tidaknya tindak pidana penipuan yang dikualifikasi oleh Pasal 378 KUHP itu. Hakim sadar dengan perbedaan makna ini. Hakim harus berhenti sejenak dengan membuat silogisme antara. Ranah filosofisnya lebih banyak bersentuhan dengan wilayah etika dan diskresi hakim. Bila penafsiran gramatikal yang diandalkan. dengan ini sudah berhasil diselesaikan. Dalam putusan terkenal dari Pengadilan Tinggi di Medan (Sumut) Nomor 144/Pid/1983/PT Mdn. yaitu agar menjadi preseden dan peringatan bagi kaum pria yang kerap mengambil keuntungan sepihak dari perilaku buruk seperti yang dilakukan terdakwa. Tatkala majelis sampai pada unsur “barang” terjadi “ketersendatan” itu. yaitu kata “barangsiapa” dan berlanjut ke unsur-unsur berikutnya dari Pasal 378 KUHP itu. Barang di sini tentu bisa dimaknai secara gramatikal. dalam hal ini seorang perempuan muda. premis mayor di atas juga merupakan sebuah eksposisi. maka norma sekunder berupa ancaman pidana dapat dikenakan. Hakim sudah memiliki kesimpulan lebih dulu.50 Dalam kasus di atas. Majelis hakim memulai silogisme dari unsur yang menunjukkan sasaran norma (normadressaat). yaitu mengenai penipuan yang dituduhkan terhadap terdakwa Mertua Raja Sidabutar. tetapi makna demikian sangat berbeda dengan fakta hukum. Akhirnya. Kegadisan adalah BARANG menurut ketentuan Pasal 378 KUHP. dan tidak mengambil 50 Atas daaar itu penulis berpendapat. daripada perbincangan logika. Jika diperhatikan dengan saksama. “ketersendatan” yang dikemukakan di atas. hakim dapat meneruskan lagi rangkaian silogisme berikutnya. Hakim juga ingin putusannya bermanfaat. Ungkapan silogisme antara ini sekaligus menjelaskan apa yang dimaksud oleh Henket dengan titik-titik berdiri antara (tussenstandpunten). majelis hakim yang dipimpin Bismar Siregar menyusun silogisme satu demi satu terkait dengan Pasal 378 KUHP. Dengan dibuatnya silogisme antara ini. Penemuan hukum terjadi di sini. Untuk itulah hakim lalu mencoba menggali makna “barang” dari berbagai sumber. yaitu sebuah silogisme yang khusus dibuat untuk kepentingan menjelaskan makna barang ini. eksposisi bukan merupakan metode penemuan hukum tersendiri di luar penafsiran dan konstruksi. Kegadisan adalah organ yang melekat pada tubuh seseorang.Satu contoh klasik dapat ditunjukkan di sini. Kesimpulan ini mungkin sekali bertolak dari niat baik hakim untuk memberi porsi keadilan bagi saksi korban. sebuah silogisme antara berhasil dibangun oleh majelis hakim dengan kurang lebih dapat dieksplisitkan sebagai berikut: Premis mayor Premis minor Konklusi Segala organ yang melekat pada tubuh seseorang adalah BARANG menurut ketentuan Pasal 378 KUHP. konklusinya dapat diduga akan berujung menguntungkan terdakwa. yang telah kehilangan kehormatan dirinya (kegadisannya) akibat termakan bujuk rayu terdakwa. yakni penemuan hukum yang tidak sekadar berangkat dari penafsiran gramatikal semata. baru kemudian dicari justifikasinya. Penerapan norma sekunder ini biasanya tidak banyak disinggung dalam wacana penalaran hukum. termasuk dari budaya setempat. sehingga ia tidak boleh begitu saja mengabaikannya. Hakim kebetulan tidak mengambilnya dari penjelasan undang-undang (sehingga bukan penafsiran otentik). Hakim di sini sudah membuat sebuah definisi baru tentang terma “barang” di dalam Pasal 378 KUHP. Sangat mungkin hakim tatkala itu sudah mempraktikkan cara bernalar regresif. dan tidak mengambilnya dari sejarah hukum atau sejarah undang-undang (sehingga bukan penafsiran historis). Dengan demikian. rumusan premis mayor tersebut benar-benar hasil kreasi dari hakim.

1993).51 Ia ingin mengingatkan bahwa penafsiran. Sebab. aktivitas penafsiran itu akan berpotensi untuk menjadi bias. tepatnya konstrusi yang memperluas (analogi). Pitlo. khususnya hakim. topik mengenai hal ini tidak akan dibahas dalam tulisan ini. Pitlo pernah mengatakan. makna “barang” dalam Pasal 378 KUHP di sini sudah berpindah pijakan secara konseptual.dari rancagan KUHP (seingga bukan penafsiran futuristis). maka ia mungkin bermaksud membuat penafsiran sosiologis. yang berbeda dengan makna “barang” sebagai organ tubuh manusia (hukum perorangan). (*) 51 A. seorang penafsir yang baik adalah seorang ahli hukum yang baik. Tapi. Penutup A. Penganut paham legisme sangat menafikan penerapan analogi dalam hukum pidana karena dipandang bertentangan dengan asas legalitas. Karena hakim menyebutkan ia terinspirasi dari budaya setempat. apakah putusan ini benar-benar sebuah penafsiran? Jika mengacu pada pembedaan antara metode penafsiran dan metode konstrusi seperti telah diungkapkan sebelumnya dalam tulisan ini. 77. Bab-Bab tentang Penemuan Hukum (Bandung: Citra Aditya Bakti. atau penemuan hukum secara umum. sehingga dalam konteks KUH Perdata ia diatur dalam buku tersendiri (hukum benda). “Sistem Hukum Perdata Nederland” dalam Sudikno Mertokusumo dan A. dan seberapa jauh asas legalitas ini masih dapat dipertahankan untuk sebuah hard case. Dengan perbedaan konseptual ini. akan membawa kita pada topik lain yang tidak kalah menariknya. tidak “bermain-main” semaunya dengan keterampilan ini. dengan diskresi yang dimilikinya. Mengingat keterbatasan tempat. Jika seseorang menjalankan keterampilan ini dengan baik. Barang dalam konteks Pasal 378 adalah barang yang memiliki nilai ekonomis. adalah bagian dari keterampilan yang harus dibangun agar dapat mengarahkan seseorang menjadi ahli hukum yang baik. yaitu aliran-aliran pemikiran dalam hukum. dan bukan sebaliknya. Hukum positif kita tidak mengakui organ tubuh sebagai objek hukum benda. Namun. Di sini Pitlo sekaligus ingin mengingatkan pada sisi lain. hlm. agar ahli hukum. melainkan sudah mengkonstruksikan. maka forum ilmu pengetahuan hukum sangat mungkin berpendapat apa yang dilakukan majelis hakim pengadilan tinggi tersebut bukan lagi menafsirkan. penemuan hukum dalam putusan ini telah memberi dampak perluasan (ekstensif) dari kata “barang” dalam Pasal 378 KUHP. 19 . Polemik tentang asas legalitas. serta tidak menelusuri sistem hukum negara lain (sehingga bukan penafsiran komparatif). Pitlo. besar potensinya ia akan menjadi ahli hukum yang baik. Penjelasan mengenai hal ini jelas berada dalam diskursus teoretis. apapun nama penafsirannya.

Bandung. Dengan argumentum a fortiori. namun belum tentu dipahami hakikatnya atau disepakati maknanya. Keadilan prosedural. 5 Lihat Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang No. dilarang untuk menafsirkannya secara lain). Namun. Zweckmäßigkeit)2 adalah tiga terminologi yang sering dilantunkan di ruangruang kuliah dan kamar-kamar peradilan. misalnya. sehingga ketidaktepatan pemilihan dasar hukum oleh JPU (dalam kasus pidana) kerap dipandang sebagai konsekuensi logis dari kesalahan yang harus dipikul bersama. 2 Gustav Radbruch. 1973). melainkan justru bersandingan.6 Fenomena ini tidak jarang menimbulkan sinisme: apabila untuk melakukan penafsiran sistematis dengan menggunakan sesama produk hukum sekelas undang-undang saja sudah dianggap tidak lazim. mengajarkan tentang bagaimana hukum dimaknai menurut arti kata-katanya secara objektif. Di sisi lain. 6 Sebagai contoh konkret. Koehler Verlag. dan sebagainya. yakni norma-norma positif dalam sistem perundang-undangan. pada konteks ini keadilan dan kepastian hukum tidak berseberangan. apalagi harus diminta menggali nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat! 1 Penulis adalah dosen sejumlah program sarjana dan pascasarajana perguruan tinggi di Jakarta. boleh jadi putusan hakim akan sangat berbeda dibandingkan dengan penggunaan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik. dan Semarang. ilmu hukum dogmatis sebagaimana lazim diajarkan di perguruan tinggi hukum. Kata keadilan dapat menjadi terma analog. 5 tetapi kenyataannya hakim-hakim selalu diajarkan untuk memfokuskan pertimbangannya pada pasal undang-undang yang ada dalam surat dakwaan. sekalipun ia tahu misalnya. Rechtssicherheit. 4 Asas ini umumnya mengacu pada bunyi Pasal 1342 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. termasuk jika itupun harus mengorbankan rasa keadilan masyarakat. sehingga tersaji istilah keadilan prosedural. Law and Society in Transition: toward Responsive Law (New Brunswick: Harper Torch Books. mag men daarvan door uitlegging niet afwijken" (Jika kata-kata dalam perjanjian sudah jelas. 2001). 1 . dan kemanfaatan (Gustav Radbruch: Gerechtigkeit. Sekilas kedua terma itu berseberangan. 60 et seqq. Tulisan ini sudah pernah dimuat dalam buku berjudul Reformasi Peradilan dan Tanggung Jawab Negara (Jakarta: Komisi Yudisial Republik Indonesia. 2010). apabila kasus Prita Mulyasari diadili dengan Undang-Undang Perlindungan Konsumen. kunkungan prosedural peradilan membuat hakim tidak berani keluar dari "pakem" untuk mengikuti dasar hukum yang dipakai jaksa penuntut umum.4 Pengertian hukum pun lebih diartikan pada hukum-hukum yang tersaji (given). Asas sens-clair yang diajarkan di bangku-bangku kuliah mensyaratkan hal tersebut. Rechtsphilosophie (Stuttgart: K.48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. keadilan legalis. tetapi boleh jadi juga tidak demikian. kepastian hukum. keadilan vindikatif. 3 Phillipe Nonet & Philip Selznick.Lampiran ==================================================== PUTUSAN HAKIM: ANTARA KEADILAN. misalnya. keadilan komutatif. sangat mungkin muara putusannya akan berbeda. Kata objektif di sini biasanya dieja sebagai sesuatu yang benar secara gramatikal (gramatically correct). ternyata setelah dicermati bermuara pada kepastian hukum demi tegaknya the rule of law. DAN KEMANFAATAN Shidarta1 Pendahuluan Keadilan. Hakim-hakim memang dianjurkan untuk menggali nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat. kalau saja jaksa mau menggunakan undang-undang lain. Keadilan dan kepastian hukum. keadilan kreatif. yang aslinya berbunyi: "Indien de bewoordingen eener overeenkomst duidelijk zijn. hlm.F. dapat dikatakan bahwa apabila untuk perjanjian keperdataan saja berlaku asas sens-clair apalagi terhadap sebuah undang-undang. Sangat jarang ada hakim yang berani keluar dan membuat pertimbangan dengan menggunakan undang-undang lain di luar yang didakwakan. keadilan distributif. 3-23.3 Jadi. sebagaimana diistilahkan oleh Nonet dan Selznick untuk menyebut salah satu indikator dari tipe hukum otonom. keadilan substantif. hlm. KEPASTIAN HUKUM.

maka muatan nilai aksiologis dari putusannya sudah dapat ditebak. Jadi. Makin tinggi derajat moral yang terkandung di dalamnya.7 7 Lon L. Hak kerap diartikan sebagai dimensi subjektif dari hukum. sehingga sisi kemanfaatannya pun tidak lagi personal. Di dalam hak terdapat kepentingan-kepentingan manusia. Hukum dalam konteks ini lebih diartikan sebagai aturan normatif buatan penguasa yang berdaulat (law as commands of the souverign). kepastian hukum. 1964). Hak ternyata dapat saja eksis secara moral. Hak yang muncul dari ranah moralitas ini memiliki hierarki bobot moral. dan kemanfaatan tersebut. tidak lagi sekadar sebagai hak moral. melainkan keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Tulisan ini akan membahas akar filosofis yang sebaiknya dipahami terkait dengan persandingan di satu sisi dan perbenturan di sisi lain antara nilai keadilan. kendati tentu saja ada yang disebut hak-hak sosial itu. apakah hukuman mati bagi seorang teroris akan bermanfaat bagi terpidana yang bersangkutan (mengingat kerap para teroris justru berhasrat untuk mati dalam "perjuangannya")? Jika tidak bermanfaat bagi yang bersangkutan. hak hanya membutuhkan hukum untuk membuatnya menjadi lebih konkret dan terkomunikasikan. Lain halnya dengan kasus-kasus pidana yang bermuatan kepentingan publik. Akar Filosofis Ada satu pertanyaan besar yang selalu muncul dalam diskursus filsafat hukum. atau bagi umat manusia keseluruhannya? Jika ya. Artinya. maka secara tentatif dapat saja dikatakan bahwa hak timbul mendahului hukum. memang diarahkan kepada pencapaian pembenaran-pembenaran menurut sistem logika tertutup (closed logical system). Namun. yakni apakah hukum yang melahirkan hak atau hak yang melahirkan hukum? Pertanyaan ini sekilas menjauh dari topik yang ingin diangkat sebagaimana terlihat dari judul tulisan ini. Pada sisi inilah hakim harus memperhitungkan dimensi kemanfaatan di dalam putusannya. Misalnya. di mana garis pembatas antara tujuan keadilan dan kemanfaatan itu? Tentu saja tulisan ini tidak berpretensi dapat menjawab secara tuntas pertanyaanpertanyaan di atas. apabila hakim sejak awal sudah dipersempit ruang gerak bernalarnya pada pilihan-pilihan normatif tertentu saja. sebenarnya tidaklah demikian. Pada sisi yang lebih personal. Nuansa ini lebih-lebih terlihat dalam perkara perdata dan akan lebih mudah bagi hakim untuk mengidentifikasikannya. Namun persoalannya tidak sesederhana itu. disadari atau tidak. The Morality of Law (New Haven: Yale University Press. Lon F. setiap pihak yang terlibat dalam peradilan kontensius (contentieuze jurisdictie) tentu berharap hukum akan berpihak kepada mereka. apakah berarti bermanfaat bagi para korban terorisme. Masingmasing menginginkan tetap ada kemanfaatan yang dapat diperoleh dari putusan hakim: kalaupun tidak berupa kemenangan. jika mengikuti filosofi irah-irah putusan hakim. Sistem logika demikian berbau simplistis karena sangat menggantungkan pada perumusan premis mayor. tetapi belum tentu secara legal. Fuller. Hak yang dihukumkan (dilegitimasi) berubah menjadi hak legal. uraian tentang kemanfaatan akan disinggung lebih kemudian. Ia lebih bernuansa individual ketimbang sosial. Uraian akan ditutup dengan pembahasan tentang upaya meningkatkan kualitas motivering vonis dalam rangka mendorong hakim untuk menggapai tujuan hukum yang paling proporsional dalam setiap putusannya. Sebaliknya hukum lebih berdimensi sosial daripada individual. setidaknya berupa keringanan beban sanksi. Sementara itu. 2 . Pertanyaan ini justru menjadi awal mula perjalanan panjang dari persoalan keadilan versus kepastian hukum yang ingin diperbincangkan. Oleh karena manusia lahir sebagai individu dan baru kemudian tumbuh sebagai mahluk sosial. baik sebagai mahluk individu maupun mahluk sosial. makin lemah energi hukum untuk mengusik atau meniadakan hak-hak itu (unalineable rights). yakni untuk memastikan terpenuhi atau tidak terpenuhinya unsur-unsur tindak pidana persis seperti yang didakwakan jaksa penuntut umum.Penalaran hukum sebagaimana diperagakan dalam putusan-putusan hakim. dimensi aksiologis dari putusan hakim itu tidaklah demikian. Sementara pada sisi lain. Fuller menempatkan hakhak demikian ke dalam wadah moralitas terdalam dari hukum (inner morality of law).

maka dibuatlah rumusannya secara tertulis dan eksplisit di dalam peraturan perundangundangan yang paling tinggi tingkatannya.5.8 Para penganut aliran hukum kodrat sangat meyakini bahwa hak lebih dulu ada daripada hukum positif buatan negara. Kata-kata "individu yang bernegara" di sini sebenarnya mengandung contradictio in terminis karena setiap individu yang bernegara sesungguhnya bukan lagi terdiri dari satu individu melainkan sudah mencakup individu-individu yang jamak. Jika hukum secara sempit diartikan sebagai produk politik para pemegang kekuasaan dalam suatu negara. aturan-aturan hukum positif ditempatkan sebagai premis mayor. Cara berpikir seperti disampaikan oleh Agustinus dan Thomas Aquinas adalah versi tradisional dari aliran hukum kodrat. sedangkan peristiwa konkret menjadi premis minor. alih-alih mencari standar umum yang 8 Jan Michiel Otto memperluas pengertian kepastian hukum ini menjadi lima aspek. di manapun dan dalam kondisi apapun. (4) diterapkan oleh hakim-hakim dalam penyelesaian sengketa. sehingga filsafat hukum dimaknai sebagai pencarian atas keadilan yang berkepastian atau kepastian yang berkeadilan. Kata-kata "tidak bermoral" dalam perspektif aliran ini dapat dengan mudah diganti dengan kata-kata "tidak adil". Melalui logika deduktif. Untuk menjamin penghormatan terhadap hak-hak ini. maka partikularitas didukung oleh satu aliran filsafat hukum lain yang berkembang di Jerman pada dekade pertama abad ke-19. Hak-hak ini lalu menjadi hak-hak konstitusional dan hampir seluruhnya identik dengan hak asasi manusia. Melalui sistem logika tertutup akan serta merta dapat diperoleh konklusinya. sudah ada pemikiran untuk menerapkan standar moralitas yang partikular saja. Kepastian Hukum di Negara Berkembang. sehingga semua orang wajib berpegang kepadanya. Jika universalitas diusung oleh aliran hukum kodrat. bahwa hukum tidak boleh sampai meniadakan hak-hak seperti ini. ada saja kemungkinan muncul hukum yang tidak bermoral. pada era berkuasanya kaum Nazi pernah membuat peraturan yang melarang orang Jerman menikahi etnis Yahudi. seorang pengemuka aliran hukum kodrat. bahwa mereka yang mengikuti hukum yang tidak bermoral adalah sama seperti mereka yang menghalalkan penggunaan uang palsu. Boleh jadi. Sampai di sini terlihat bahwa hak merupakan substansi pokok dari hukum. ukuran moralitas pun ikut digugat karena tindakan bermoral menurut ukuran suatu komunitas bisa sangat berbeda menurut komunitas lain. hlm. suatu hukum positif yang tidak bermoral (baca: menghilangkan hak-hak manusia) adalah bukan lagi hukum yang sebenarnya (an unjust law is no law). 3 . 9 Adolf Hitler. 2003). konsisten. yakni: (1) tersedianya aturan yang jernih. dan mudah diakses. Artinya. maka hukum menjadi media pengakuan negara terhadap hak-hak individu yang bernegara. yaitu mazhab sejarah. Agustinus. Kaum legisme tidak sabar dengan kebimbangan-kebimbangan ini. misalnya. Wacana filsafat hukum sering mempersoalkan kedua nilai ini seolah-olah keduanya merupakan antinomi. dan (5) dilaksanakannya putusan pengadilan secara konkret. Oleh sebab itu. yakni suatu masyarakat. yakni konstitusi negara. Dalam kenyataannya. Di sini universalitas dihadapkan dengan partikularitas.9 Selain itu. yaitu sesuatu yang secara ketat dapat disilogismekan secara legal-formal. dalam kenyataannya tetap berlaku efektif. Konklusi itu harus sesuatu yang dapat diprediksi. Lihat hal ini dalam Jan Michiel Otto. Kata "kepastian" berkaitan erat dengan asas kebenaran. kepastian akan mengarahkan masyarakat kepada ketertiban. Sejarah juga membuktikan bahwa ada demikian banyak hukum positif yang sebenarnya tidak dapat dijustifikasi secara moral. (2) diterapkan oleh instansi penguasa secara konsisten. (3) diterima oleh kebanyakan warga masyarakat dengan cara menyesuaikan perilaku mereka. formalisasi ini justru dapat mencederai hak-hak itu karena bisa saja ada hukum yang justru menghilangkan atau mereduksi hak. Dengan pegangan inilah masyarakat menjadi tertib. sementara hukum adalah formalitas guna menampung hak-hak itu. Hukum yang mewadahi hak-hak ini lalu mengatur agar penerapan hak-hak ini dapat berjalan dengan adil dan pasti. Jika mengikuti perkataan St. Hak-hak itu dapat lahir dari moralitas tanpa perlu menunggu formalisasi tangan-tangan penguasa.Sebagian ahli hukum sepakat. Keadilan dan kepastian adalah dua nilai aksiologis di dalam hukum. Bahkan jauh sebelum aliran-aliran seperti disinggung di atas tampil. Thomas Aquinas menambahkan lagi. bahkan suatu bangsa. terjemahan Tristam Moeliono (Jakarta: Komisi Hukum Nasional. cara berpikir seperti ini sudah banyak dipolemikkan.

Lahirnya ilmu hukum dogmatis selepas Revolusi Perancis memperkukuh keadaan ini. dan (5) kewibawaan. Ragaan ini adalah modifikasi yang penulis lakukan dengan mengikuti pandangan Paul Scholten yang notabene juga dijadikan rujukan oleh ahli-ahli hukum lain seperti Sudikno Mertokusumo dan B. Tentu saja. hlm. seperti Code Justinianus. Kaum utilitarian dalam hal ini berkontribusi untuk menambahkan dimensi kepastian hukum dengan tujuan lain dari hukum. apalagi jika digunakan tolok ukur kemanfaatan bagi masyarakat Roma sekarang. Cukuplah penguasa politik yang menetapkannya. Dengan perkataan lain. (3) persekutuan. Dan. Formulasi yang terlalu detail dan rinci selalu membuka peluang masuknya kepentingankepentingan jangka pendek dari orang perorangan atau kelompok yang memiliki akses terhadap kekuasaan. Pada tahun 80 Masehi. Ruang lingkup "masyarakat luas" mulai dibatasi hanya untuk masyarakat yang tunduk pada kekuasaan politik di teritori tertentu.10 Dalam ragaan ini disajikan lima asas universal dalam hukum. Walaupun demikian. Secara sosiologis. yakni: (1) pemisahan baik-buruk. Kendati urut-urutan di atas tidak lagi 10 Ulasan mengenai asas-asas ini dapat dibaca dalam Shidarta. Dari sini kemudian lahirnya gerakan kodifikasi dan unifikasi hukum. dapat ditelusuri sebagai cikal bakal dari perdebatan seputar urusan standardisasi ini. (2) kesamaan perlakuan. dengan mengatakan bahwa produk hukum adalah produk politik. Tindakan Titus saat itu dinilai bermanfaat karena sebagian besar penduduk merasa terhibur. Kaisar Titus bermaksud membuat mereka berbahagia. Moralitas Profesi Hukum: Suatu Tawaran Kerangka Bepikir (Bandung: Refika Aditama. Penguasa hanya memformulasikannya kembali menjadi bahasa hukum tertulis. pada hakikatnya tidak sepenuhnya dibuatkan. Mulai saat itu pula ilmu hukum kehilangan karakter universalitasnya karena orang mempelajari ilmu hukum dalam cakupan hukum positif belaka. agar hukum dianggap baik. klaim utilisme sosial ini sering menyesatkan karena apa yang disebut bermanfaat ternyata sangat kondisional. Untuk menjelaskan posisi filosofis dari ketiga tujuan hukum tersebut dapat digunakan ragaan berikut ini. karena pengundangan aturan hukum berpeluang besar makin menekankan aspek kepastian hukum. Itulah sebabnya kitab hukum tersebut praktis tidak mendapat penentangan dari masyarakat. Perdebatan tentang kebenaran objektif versus kebenaran relatif pada zaman Yunani kuno. bukan lagi personal. Kaum utilitarian menyatakan. Tindakan mendetailkan dan merincikan aturan pastilah bukan urusan sederhana. tidaklah perlu harus menunggu lama seperti dimaui mazhab sejarah. 4 . seiring dengan kompleksitas yang muncul dalam masyarakat. Arief Sidharta. kodifikasi yang sekadar memuat asas-asas hukum tidak lagi memadai. Semua penduduk diundang menonton pertunjukan gladiator yang penuh darah. Kaum Utilitarian ingin agar konsep kemanfaatan (kebahagiaan) ini dapat diperluas ke dalam skala sosial. dan setiap produk politik pasti mengandung agenda tersembunyi di dalamnya (hidden political agenda). Kodifikasi hukum yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah.universal. tetapi ukuran kemanfaatan itu sangat berbeda bagi minoritas kaum gladiator dan keluarga mereka yang miskin. tetapi sekadar ditetapkan. tetapi sebaliknya mulai menjauh dari nilai keadilan menurut masyarakat luas. masyarakat yang perlu diakomodasi kepentingannya tidak selalu harus mencakupi seluruh masyarakat yang ada. Hakim yang mengadili kasuskasus konkret menjadi sangat terbantu dengan aturan-aturan tertulis ini. 90 et seqq. 2006). hukum positif mulai dengan sengaja didesain untuk satu kepentingan tertentu. cukuplah hukum itu menjamin kebahagiaan bagi golongan terbesar dari suatu masyarakat (the greatest happiness of the greatest number). Kata "menetapkan" pada kalimat di atas harus dibaca berbeda dengan "membuatkan". misalnya. yaitu kemanfaatan. (4) kepribadian. Di sini lalu timbul problematika aksiologis. Undang-undang pun kemudian dibuat lebih detail dan rinci guna menjangkau berbagai probabilitas yang dapat terjadi di lapangan. Suatu contoh klasik dapat diungkapkan di sini. aturan-aturan yang ada di dalam kodifikasi itu sudah berjalan di masyarakat. tatkala penduduk Roma tengah dilanda kemuraman panjang setelah melewati bencana demi bencana. Agar standar itu dapat segera terbentuk. Kaum realis hukum biasanya menaruh perhatian pada titik ini.

dikenal sebagai Al-Furqaan (Pembeda) karena menjadi petunjuk untuk memisahkan perbuatan baik (haq) dan buruk (bathil). Bagi yang berlaku baik akan diberikan keuntungan (reward) dan yang berlaku buruk diganjar dengan kerugian (punishment). diberikan keuntungan lebih sedikit atau bahkan dijatuhi hukuman. Pemisahan (Baik-Buruk) Baik.sepenuhnya mengikuti pemikiran Scholten. Masing-masing mendapatkan apa yang memang berhak ia dapatkan. Norma hukum juga demikian halnya. orang yang tidak adil adalah orang yang mengambil lebih banyak daripada haknya. Sebaliknya. (2) selalu merasakan 5 . 2006 Shidarta. persis seperti apa yang dikatakan oleh Aristoteles lebih dari 2. dan norma hukum. seiring dengan 11 Hobbes menyebutkan ada empat fakta kehidupan manusia yang buruk. Asas pertama yang menjadi dasar paling fundamental adalah asas pemisahan baikburuk. sebaliknya bagi yang berkontribusi paling sedikit atau malahan mengganggu kinerja sistem. Thomas Hobbes melalui teori Kontrak Sosial-nya. sopansantun. Inilah esensi dari keadilan. berjasa untuk menjelaskan filosofi mendasar tentang peranan penting negara dalam menjaga kesepakatan-kesepakatan sosial itu. Tindakan mencuri dilarang karena dinilai buruk. sehingga mereka perlu menciptakan kontrak sosial. misalnya. bahwa orang yang adil adalah orang yang tidak mengambil lebih banyak daripada bagiannya. Asas ini menjiwai semua sistem norma. sedangkan membayar pajak diwajibkan karena dinilai baik. Bagi yang memberikan kontribusi terbanyak layak mendapatkan keuntungan lebih besar. Asas pemisahan baik-buruk itu selanjutnya menuntut agar sistem hukum memberikan persamaan perlakuan terhadap siapa saja dalam hal terjadi penaatan atau pengabaian norma. Kitab suci Al-Quran.Buruk) Kesamaan Perlakuan Kepribadian Persekutuan Kewibawaan © Shidarta. Dalam sistem hukum modern. Sistem hukum Indonesia yang telah mendapat sentuhan hukum modern dari Barat. dalam ragaan ini sebutan untuk asas-asas itu masih tetap mengikuti terminologi yang dikemukakannya.11 Namun.500 tahun lalu. yakni fakta bahwa semua manusia: (1) mempunyai kebutuhan dasar. termasuk norma agama. pola pendistribusian hak dan kewajiban itu harus dituangkan sebagai suatu kesepakatan sosial. kesusilaan. Dalam konteks ini. tidak luput ikut mendapat aksentuasi mengikuti pola logika biner (baik-buruk) tersebut.

Dari segi etika. hlm. anggaran dasar. bahkan tidak perlu diatur oleh hukum. 2004). 51. kebebasan eksistensial selalu dibatasi oleh kebebasan sosial. A Theory of Justice (Oxford: Oxford University Press. summa injuria. The Concept of Law (Oxford: Oxford University Press. Jadi. Artinya. formal justice. Jalur hukum harus dipandang sebagai jalan terbaik yang mampu memaksimalkan pencapaian kemanfaatan bagi pihak-pihak yang berurusan dengan hukum.. This depends upon the principles in accordance with which the basic structure is framed. Tujuan pencantuman ke dalam dokumen-dokumen tertulis tersebut tidak lain agar tercipta tujuan lain dalam hukum di luar keadilan.J. 1999). tidak pernah berhasil menyelesaikan sengketa itu). 252−284. Asas ini merupakan antinomi dari asas kepribadian karena manusia selain sebagai mahluk pribadi memang juga adalah mahluk sosial. Filsafat Moral. ia terikat dan amat bergantung pada masyarakatnya. Tanpa masyarakat. Asas kepribadian menuntut agar secara personal kepentingan seseorang tetap dihormati sekalipun ia sedang berada dalam posisi sebagai pesakitan hukum. manusia memiliki kebebasan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Dengan perkataan lain. hlm. menuntut hukum dilaksanakan secara ekstrem justru akan menghadirkan luka yang terdalam."14 Di sinilah arti penting dari keberadaan asas berikutnya: asas kepribadian.. kekurangan. 2004). namun kebebasan eksistensial itu hanya memiliki arti jika ada kebebasan sosial. Proses hukum (due process of law) yang dijalani haruslah proses yang bermanfaat. 14 John Rawls. Oleh sebab itu. Setiap individu membutuhkan interaksi dengan individu-individu lain di luar dirinya. Hart menyatakan asas ini merupakan prima facie bagi manusia." Dalam kenyataannya. dan sebagainya. excludes significant kinds of injustices. "Nil agit exemplum litem quo lite resolvit" (sebuah sengketa yang dipecahkan dengan contoh sengketa yang lain. Lihat B.A.12 Sudah lazim diketahui.. malahan akan melukai rasa keadilan. Tujuan ini melekat pada asas kesamaan perlakuan.. konvensi. Persis seperti dikatakan John Rawls. "Treating similar cases similarly is not a sufficient guarantee of substantive justice.. Pepatah Latin yang lain mengajarkan. hlm. 12 H. terjemahan A. Tatkala pihak-pihak saling berhadapan di pengadilan (jaksa penuntut umum versus terdakwa atau penggugat versus tergugat). Penjelasan atas pandangan Hobbes ini dapat dibaca dalam James Rachels. Asas ini menuntut agar suatu kasus yang sama diperlakukan sama dan kasus yang berbeda diperlakukan secara berbeda (treat like cases alike and different cases differently). pelaksanaan hukum yang kaku (rigid) dan cenderung menyamaratakan segala hal. 6 .. Proverbia Latina (Jakarta: Penerbit Buku Kompas.L. kode etik.13 Dengan perkataan lain. 1961). 158. kesepakatan tersebut dapat berwujud undang-undang. Hal ini mengingatkan kita pada kaidah kencana (golden rule) dari Confusius yang mengajarkan. "Jangan perlakukan orang lain dengan sesuatu yang tidak kamu inginkan orang lain perlakukan terhadapmu. Nevertheless. Witdarmono. One kind of injustice is the failure of judges and others in authority to adhere to the appropriate rules or interpretation thereof in deciding claims. or justice as regularity. asas kepribadian demikian menerbitkan kebebasan eksistensial. Kebebasan eksistensial yang lahir dari asas kepribadian tersebut berhadapan dengan kebebasan sosial yang idealnya berasal dari asas persekutuan. (3) memiliki kesamaan hakiki dari daya manusiawi. kesepakatan-kesepakatan itu tidak harus berada di bawah payung kekuasaan negara.139. yakni kepastian hukum. (4) atruisme terbatas. Sebagai mahluk individual. bahwa manusia yang menjadi sasaran setiap norma hukum adalah mahluk individual sekaligus sosial. hak-hak yang dimiliki oleh individu itu tidak perlu dipertahankan. Dalam hukum dikenal jargon summun ius. hlm. Hart. Sudiarja (Yogyakarta: Kanisius. Marwoto & H. 13 Ungkapan ini dikutip dari Horatius dalam karyanya Satires.makin menguatnya peran-peran masyarakat sipil (civil society). pada dasarnya mereka tengah berjuang mendapatkan keuntungan (kemanfaatan) terbesar untuk posisi mereka masing-masing. tidak pernah ada kasus-kasus yang identik atau persis sama satu dengan lainnya. demikian juga dengan akibat hukum yang akan ditanggungnya kelak. Kebebasan eksistensial ini merupakan syarat mutlak dalam menilai moralitas seseorang karena seseorang itu hanya mungkin dimintakan pertanggungjawabannya jika memang kebebasan ini benar-benar eksis melatarbelakangi tindakan yang bersangkutan.

they must publicly state and expound. Namun. maka segala gagasan ke arah intervensi terhadap kemandirian hakim dan/atau peradilan tentu bukan suatu ide yang baik. ia lalu diberi pidana tutupan (pengganti penjara).15 Putusan hakim adalah dokumen hukum yang paling representatif untuk mencerminkan asas kewibawaan ini. maka dengan sendirinya putusan hakim adalah putusan yang berangkat dari problem (problem based thinking). Refleksi tentang Struktur Ilmu Hukum: Sebuah Penelitian tentang Fundasi Kefilsafatan dan Sifat Keilmuan Ilmu Hukum sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Hukum Nasional Indonesia (Bandung: Mandar Maju.Dua antinomi (asas kepribadian versus asas persekutuan) itu ketika bertemu dalam suatu kondisi konkret akan menuntut keseimbangan-keseimbangan. Jalinan ketiga nilai utama yang menjadi tujuan hukum itu sangat tidak mudah dilakukan. kepastian hukum. 7 . dan sekaligus juga tidaklah fair membebani pencapaian itu pada pundak hakim semata. 164. H. Mengingat institusi kehakiman telah dibekali jaminan untuk dapat bekerja secara independen dan imparsial. Asas yang disebutkan terakhir ini dengan demikian merupakan konkretisasi dari asas kesamaan perlakuan yang oleh karena benturan asas persekutan dan kepribadian. 20 Tahun 1946.”16 Vonis Beralasan Pendapat yang mengatakan bahwa idealnya putusan hakim harus menampung secara proporsional nilai keadilan. hlm. Dalam konteks inilah dapat dikatakan bahwa asas kesamaan perlakuan itu akan disimpangi dengan asas kewibawaan. Visser't Hooft menggambar pola penalaran hakim sebagai "berpikir problematik tersistematisasi" (gesystematiseerd probleemdenken). Putusan hakim yang baik adalah putusan yang dibuat setelah melalui pergulatan semua asas tersebut. Tulisan ini tidak akan memperpanjang argumentasi untuk mendukung pandangan yang sudah aksiomatis seperti itu. 19. Biarkan hakim membuat putusan yang diyakininya secara intuitif adil. they must not merely reason out. 17 B. Pidana tutupan (custodia honesta) pernah diberikan misalnya kepada Moh. yakni harus menunggu beberapa waktu setelah putusan dibacakan. Persoalan yang lebih penting didiskusikan adalah bagaimana putusan hakim dapat menuangkan ketiga tujuan hukum itu secara tepat di dalam putusannya. dan secara antisipatif (menurut takaran pengalaman empirisnya) akan mampu melahirkan kemanfaatan. sangat mungkin berujung pada "ketidaksamaan perlakuan". Untuk itu. Namun. the justifying reasons for their decisions—hence their eminent accessibility to study. Legal Reasoning and Legal Theory (Oxford: Oxford University Press. 1994). dan kemanfaatan. sesuatu yang secara ideal seharusnya diperlakukan sama (adil). di dalam praktiknya tidak selalu disikapi negatif oleh masyarakat. Ph. hakim juga akan mengaitkan problem ini dengan pengetahuannya tentang keseluruhan sistem hukum yang berlaku. perlu dipahami bagaimana hakim biasanya bernalar. Berbeda dengan nilai keadilan dan kepastian hukum. Arief Sidharta. hlm. dalam kondisi-kondisi tertentu harus pula diperlakukan secara khusus. Di sinilah asas kesamaan perlakuan tadi perlu ditafsir ulang menurut kondisi ruang dan waktu. satu hal harus buru-buru dicatat bahwa "ketidaksamaan perlakuan" dalam perspektif teoretis di sini. Hanya dengan pengaitan kedua hal inilah maka hakim dapat memastikan 15 Contoh yang dapat ditunjukkan di sini adalah diterapkannya pidana tutupan yang dikenal dalam UndangUndang No. 16 Neil MacCormick. Istilah yang disebutkan terakhir ini dikemukakan oleh Ter Heide. Neil MacCormick berpesan kepada para hakim dengan menyatakan “Since they are required to state the reasons for their decisions. Mengingat jasanya. Untuk itu ia diberi fasilitas rumah tutupan di bawah pengawasan militer. Yamin karena memberontak kepada pemerintah. secara rasional benar. 2000).17 Mengingat putusan hakim dalam peradilan kontensius adalah putusan yang terkait kasus-kasus konkret. Artinya. Kewibawaan hanya mungkin dicerna oleh masyarakat apabila hakim dapat menuangkannya ke dalam putusannya secara baik. adalah pandangan yang pasti akan disetujui oleh semua orang. nilai kemanfaatan memang pada hakikatnya baru dicapai melalui pengalaman. Ada saja kemungkinan pemberian keistimewaan-keistimewaan tertentu yang menyimpang dari kelaziman justru dilihat sebagai kepantasan yang "adil" sepanjang ada alasan yang masuk akal dan dapat diterima. pada saat hampir bersamaan.

bahwa perkara yang ditanganinya itu benar-benar merupakan kasus hukum. pada akhirnya hanya berbuah pada pencarian validitas silogisme menurut logika formal. yaitu reduksionisme. Reduksionisme sangat mungkin akan menyelubungi pesan moral. pesan-pesan dalam bahasa hukum tidak bebas nilai. Dalam surat dakwaan ini. maka di dalamnya terkandung komprehensi yang berdimensi socio-linguistics dan psycho-linguistics. penalaran hukum dari hakim tidak pernah mulai dari nol sama sekali. yakni ke asas pemisahan baik-buruk dan kemudian menderivasinya secara intuitif ke asas kesamaan perlakuan. Celah dari penalaran ala reduksionistis justru terletak pada titik ini. maka hakim sesungguhnya telah memulai penalarannya dari ruang yang sempit. Cara bernalar seperti ini mencerminkan salah satu asumsi kaum positivis. apabila pertama-tama hakim memfokuskan perhatiannya pada pencarian makna objektif atas ketentuan norma positif itu dengan cara menariknya ke posisi asas yang paling fundamental. yakni kehendak kolektif yang menjadi kesepakatan bersama tatkala suatu norma diundangkan. Apa latar belakang dari kelahiran pasal-pasal dan undang-undang tersebut? Apa pesan moral terdalam (inner morality) dari norma tadi? Bagaimana mengaitkan bunyi pasalpasal itu dengan hakikat baik-buruk dari tindakan yang diaturnya? Langkah kedua adalah dengan menyelami asas persekutuan dari dasar hukum tersebut. Karena ia dikemas dalam bahasa yang wajib dimengerti oleh masyarakat sasarannya (normadressaat). yang oleh Lon L. Pencarian nilai kepastian hukum lalu dimaknai sekadar sebagai kegiatan validasi unsur-unsur tindak pidana daripada kegiatan pencarian kebenaran material. misalnya. dapat diberi makna baru menurut penafsiran hakim. karena di sini hakim dapat merefleksikan makna tadi menembus batas-batas keberlakuan sistem hukum positifnya. hakim yang tengah menangani kasus korupsi. harus dapat merefleksikan pasal-pasal korupsi yang akan digelutinya. jaksa penuntut umum tidak saja menginformasikan fakta (versi jaksa) melainkan juga dasar hukum yang digunakan. apa yang dianggap pasti melalui pendekatan reduksionistis. Alhasil. Reduksionisme sangat berpotensi mengabaikan segi-segi ini. Apabila pengertian sistem dalam konteks "berpikir problematik tersistematisasi" di atas ternyata hanya sekadar mendeduksikan dasar hukum yang telah disodorkan di hadapannya. Moralitas demikian hanya mungkin dipahami melalui pendekatan holistik. setiap objek ilmiah adalah sesuatu yang bisa dipilah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. maka bukankah itu berarti masyarakat ingin memastikan setiap pelaku korupsi juga dapat 8 . Apabila hakim berkesimpulan satu unsur itu tidak terpenuhi. dapat saja disiasati oleh hakim dengan cara melakukan penafsiran-penafsiran terhadap suatu unsur yang didakwakan. Pada galibnya. Sempitnya ruang bernalar sebagaimana dikemukakan di atas. namun ia ternyata tidak dapat menggunakan pengetahuannya itu untuk keluar dari dasar hukum yang disodorkan kepadanya sekalipun misalnya ia tahu ada dasar hukum lain yang sebenarnya lebih layak digunakan untuk mengadili kasus tersebut. atau mengacu pada metode geometrikal ala Cartesian-Newtonian. Menurut asumsi ini. Tahap ini merupakan tahap filosofis. Acara pertama yang harus didengar dalam rangkaian persidangan adalah pembacaan surat dakwaan. Dasar hukum ini merupakan substansi hukum yang telah dipilihkan oleh jaksa dan disodorkan kepada hakim untuk dipertimbangkan. Hakim dianggap tahu hukum (ius curia novit). Langkah pertama ini sangat diperlukan agar pijakan filsafati dari setiap dasar hukum yang digunakan dalam kasus yang tengah dihadapinya benar-benar dapat dipahami. bukan reduksionis. Jika korupsi dianggap sebagai musuh bersama dan urgen untuk diberantas. Sebagai contoh. bukan sekadar peristiwa konkret biasa tanpa akibat hukum. Fuller disebut inner morality of law. Artinya. maka akibatnya akan menggugurkan keseluruhan dakwaan atas tindak pidana dalam ketentuan hukum tadi. dan penjumlahan pemahaman atas bagian-bagian ini adalah sama dengan hakikat dari objek itu sendiri. dalam putusannya kemudian hakim akan berkutat pada urusan membenarkan atau menyalahkan unsur demi unsur tindak pidana yang terkait dengan dasar hukum pilihan jaksa. dengan demikian. Putusan hakim dapat dipandang berwibawa. Kata "kerugian negara" dalam kasus korupsi. Dalam sistem peradilan dewasa ini. Rumusan bahasa hukum pada hakikatnya harus tunduk pada "hukum" bahasa.

9 . sehingga putusannya layak disebut putusan beralasan (motivering vonis). Dengan demikian putusan hakim dituntut untuk memuat pertimbanganpertimbangan (motivering vonis) yang makin mampu menjawab kebutuhan zamannya. Kejadian demikian tentu langka dan hampir mustahil.A. langkah kedua ini kurang lebih berguna untuk mencari "samenspel-situatie" yakni situasi permainan bersama yang diridhoi oleh masyarakat luas.18 Langkah pertama dan kedua ini sudah dapat dilakukan oleh hakim sebelum ia mendalami struktur kasus itu. maka layak pula bagi publik untuk meminta pertanggungjawabannya. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. 18 J. kepastian hukum. yang pada gilirannya nanti dipakai sebagai premis mayor. putusan hakim menjadi salah satu dokumen yang terbuka untuk diakses oleh publik. yaitu hakim sudah membuat konklusi sementara (bayangan) tentang "hasil akhir" seperti apa dari kasus ini.19 Pada langkah ketiga.dihukum berat? Dengan meminjam kata-kata J. asas kepribadian hanya mungkin diberi posisi lebih tinggi apabila akibat atau dampak dari "tindak pidana" itu sungguh luar biasa bermanfaatnya. asas kesamaan perlakuan. Penemuan Hukum. Langkah selanjutnya adalah memindahkan semua pergulatan asas-asas tadi ke dalam putusan. Pontier. Harus pula diakui. Arief Sidharta (Bandung: Jendela Mas Pustaka. 19 Istilah penalaran regresif dan antisipasi-skematik dikutip dari J. melainkan juga secara moral. maka wajar jika klaim kebenaran seperti itu akan senantiasa dievaluasi oleh publik. Desain inilah yang kemudian dibenturkan dengan fakta-fakta hukum yang berjalan linier dengan pendekatan antisipasi-skematik. terjemahan B. Kewibawaan putusan hakim terletak pada kejernihan sikap dan keruntutan logikanya tatkala menuangkan argumentasinya di dalam putusan.A. langkah pertama dan kedua ini dikenal sebagai pendekatan penalaran regresif. khususnya oleh kalangan komunitas hukum. Penutup Setelah berlakunya Undang-Undang No. Hanya dengan prinsip-prinsip ini reduksionisme dasar hukum ke dalam unsur-unsur yang kemudian disilogismekan itu akan tetap terpelihara dalam satu sistem pemikiran yang dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena "putusan hakim harus dianggap benar" (res judicata pro veritate habetur). 2008). Lihat Ibid. Pontier. termasuk pertanggungjawabannya atas tujuan-tujuan hukum yang secara fundamental dan proporsional seyogianya melekat pada setiap putusan: keadilan. Jika dicontohkan dengan kasus korupsi. 107. Dalam perkara pidana. dan kemanfaatan. hlm. Pergulatan itulah yang menjadi jiwa dari pertimbangan-pertimbangan hakim dalam putusannya. tidak ada rumusan baku yang dapat diterapkan untuk semua pola penjatuhan putusan. tidak hanya secara ilmiah hukum. Lain halnya dengan langkah ketiga yaitu berupa pertimbangan terhadap asas kepribadian. Penilaian atas asas ini hanya mungkin dilakukan jika hakim mendalami fakta hukum yang terungkap di persidangan. dan karena karya tersebut dialamatkan kepada publik. "Bayangan" ini merupakan desain konseptual yang berguna bagi hakim untuk membuat struktur aturan. Pontier. hakim akan menimbang-nimbang seberapa mungkin kepentingan personal dari terdakwa dapat mengenyampingkan asas pemisahan baik-buruk. Pembakuan demikian justru akan menjerumuskan hakim kepada pola berpikir prosedural-legistik yang sempit. dan asas persekutuan tadi. Hakim adalah mahluk intelektual dan etis yang layak diberi keleluasaan untuk berkarya.A. Dalam penalaran hukum. berarti korupsi itu harus berdampak positif sehingga menguntungkan masyarakat luas dan mampu memicu orang lain untuk meniru "kebaikan" tindakan itu.

Bandung: Mandar Maju. Witdarmono. New Brunswick: Harper Torch Books. 2002. & H. Bandung: Penerbitan tidak berkala No. Bandung: Refika Aditama. 2008. Sidharta. Terjemahan Tristam Moeliono. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. 1973. 4 Laboratorium Hukum FH Unpar. Penemuan Hukum. Koehler Verlag. Arief. Rechtsphilosophie. Marwoto. Stuttgart: K. Hart. Ph. Shidarta.A. Gustav. 2006.Daftar Pustaka Fuller. B. Oxford: Oxford University Press. Refleksi tentang Struktur Ilmu Hukum: Sebuah Penelitian tentang Fundasi Kefilsafatan dan Sifat Keilmuan Ilmu Hukum sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Hukum Nasional Indonesia. 2000. B. Jakarta: Komisi Hukum Nasional. Terjemahan A. H.L. Sudiarja. 1964. Proverbia Latina.J. Filsafat Moral. MacCormick. 10 . Arief Sidharta. Phillipe & Philip Selznick. Jan Michiel Kepastian Hukum di Negara Berkembang. Bandung: Jendela Mas Pustaka. Lon L. Moralitas Profesi Hukum: Suatu Tawaran Kerangka Bepikir. New Haven: Yale University Press. Oxford: Oxford University Press. Neil. 2004. James. 1999. The Morality of Law. Otto. Visser’t. A Theory of Justice. Terjemahan B. 2001. Rawls. Nonet. Yogyakarta: Kanisius. H. Arief Sidharta. 1961.A. 2004. The Concept of Law.F. Pontier. Hooft. Radbruch. Legal Reasoning and Legal Theory. 2003. J. Oxford: Oxford University Press. 1994. Rachels. John. Filsafat Ilmu Hukum. Law and Society in Transition: toward Responsive Law. Terjemahan B.

Lulusan Universitas Gadjah Mada dan Universitas Katolik Parahyangan ini mengasuh beberapa mata kuliah. Penalaran Hukum. ia menjadi anggota tim pakar penelitian dan salah seorang Mitra Bestari Jurnal Yudisial dari Komisi Yudisial Republik Indonesia. penalaran hukum. sosiologi hukum. Dalam beberapa tahun terakhir. dan perlindungan konsumen.com.BIOGRAFI SINGKAT (jika akan digunakan sebagai lampiran buku) Shidarta lahir di Pangkalpinang (1967). metode penelitian hukum. Bandung. dan Hukum Perlindungan Konsumen. Saat ini ia adalah dosen program sarjana dan pascasarjana di sejumlah perguruan tinggi di Jakarta. Beberapa buku terkait bidang-bidang tersebut telah dipublikasikannya dalam ranah filsafat hukum. dan Semarang. antara lain Filsafat Ilmu. 11 . Komunikasi dengan yang bersangkutan dapat dilakukan melalui email: darta67@yahoo. Filsafat Hukum.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful