P. 1
CARA PENYELESAIAN KREDIT

CARA PENYELESAIAN KREDIT

|Views: 155|Likes:
Published by Yunia Arifanie

More info:

Published by: Yunia Arifanie on Oct 31, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/26/2012

pdf

text

original

CARA PENYELESAIAN KREDIT MACET

Posted: 9 June 2010 by iwanvictorleonardo in HUKUM Tags: HUKUM PERBANKAN

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Masyarakat kita terutama yang hidup di perkotaan atau kota-kota besar sudah tidak asing lagi jika mendengar kata bank. Bahkan sekarang ini sebagian masyarakat pedesaanpun sudah terbiasa mendengar kata bank, terlebih lagi hingar bingar dunia perbankan semenjak Indonesia dilanda krisis moneter beberapa waktu yang lalu yang diikuti dengan dibubarkannya puluhan bank pada masa itu. Hanya saja perlu diingat bahwa pengenalan bank dari sebagian masyarakat ini baru sebatas dalam artian sempit. Masyarakat mengenal bank masih sebatas yang ada kaitannya dengan tabungan atau kredit, selebihnya banyak tidak tahu aspek-aspek perbankan lainnya terlebih mengenai bagaimana cara penyelesaian kredit macet. Adalah wajar jika sebagian masyarakat kita tidak mengenal bank, padahal setiap hari sebenarnya mereka sudah berhubungan dengan produk perbankan. Ketidaktahuan masyarakat tentang bank secara utuh lebih diakibatkan kurangnya informasi dan pengetahuan yang diberikan oleh berbagai pihak kepada berbagai lapisan masyarakat, baik yang hidup dikota maupun di pelosok pedesaan. Bahkan di era informasi yang berkembang demikian cepat dewasa ini yang seharusnya pengetahuan masyarakat tentang bank semakin bertambah, belum juga banyak tersentuh. Suka atau tidak suka , sesungguhnya dunia perbankan memang memegang peranan sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Hal ini dapat dirasakan bahwa aktivitas yang dijalankan masyarakat sebenarnya selalu berhubungan dengan bank. Terlebih apabila masyarakat yang telah mencairkan kredit pada suatu bank baik itu bank pemerintah maupun bank swasta, dan suatu saat ia melakukan wanprestasi sehingga pihak perbankan memvonis kredit tersebut masuk kepada kategori kredit macet yang cara penyelesaiaannya ada yang melalui Pengadilan, Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN), dan ada yang melalui Badan Penyehatana Perbankan Nasional (BPPN). Untuk membantu memasyarakatkan perbankan dengan segala aktivitasnya terlebih berkenaan dengan kredit bermasalah, penulis mencoba menulis tentang dunia perbankan yang berjudul ” Penyelesaian Kredit Bermasalah.” B. Permasalahan Berdasarkan latar belakang diatas, maka dalam penulisan ini, penulis memfokuskan masalah pokok yang dapat dirumuskan sebagai berikut :

Bagaimana upaya penyelesaian kredit bermasalah pada dunia perbankan Indonesia? 2. Sebagai analogi dalam penelitian Thorsten Beck dan Ross Levine disebutkan bahwa . 3. Reformasi hukum yang diselenggarakan seharusnya dilakukan secara berkesinambungan dan terus menerus disempurnakan agar mampu menghadapi tantangan di bidang ekonomi dan keuangan di kemudian hari. Indonesia sebagai negara hukum. Sedangkan manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui bagaimana upaya penyelesaian kredit bermasalah pada dunia perbankan. Sarana hukum apa yang dapat dipergunakan dalam menyelesaikan kredit bermasalah ? C. Untuk memberikan sumbangan pengetahuan dan pikiran bagi almamater pada tempat penulis berkuliah. Untuk mengetahui peranan peradilan dan non peradilan dalam upaya penyelesaian kredit bermasalah 3. D. Sebagai bahan masukan untuk menambah serta memperluas pengetahuan penulis.Tujuan dan Maksud Penelitian Adapun tujuan yang hendak dicapai melalui penulisan ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui sarana hukum yang dapat dipakai untuk menyelesaikan kredit bermasalah. Kelemahan hukum sering disebut sebagai penghambat utama dalam penanggulangan dan penyelesaian krisis perbankan di Indonesia. Bagaimana peranan peradilan dan non peradilan dalam upaya penyelesaian kredit bermasalah? 3. Tinjauan Pustaka Krisis perbankan di Indonesia yang berawal dari krisis nilai tukar pada tahun 1997 dan berlanjut menjadi krisis ekonomi dan politik sehingga secara keseluruhan telah menjadi krisis multidimensi. 2. yaitu Pasca Sarjana Program Studi Ilmu Hukum Universitas Islam Riau. Padahal. seyogianya segala kebijakan yang diterapkan sebelum krisis maupun segala tindakan yang dilakukan untuk menyelesaikan krisis perlu berada dalam kerangka hukum yang berlaku. Terkait dengan kelembagaan yang menyelesaikan krisis perbankan di Indonesia. kelembagaan hukum dalam hal ini peranan peradilan dan non peradilan juga memiliki peranan yang sangat penting.1. yang khususnya berkaitan dengan masalah perkreditan perbankan terlebih bagaimana penyelesaian kredit bermasalah. telah menyebabkan kemunduran yang parah di berbagai bidang pembangunan dan kesejahteraan masyarakat terutama di bidang ekonomi. dan pelaksanaannya dilakukan oleh aparat-aparat yang memiliki otoritas yang sah menurut hukum. 2. Sebagai bahan perbandingan bagi peneliti lain yang hendak melakukan penelitian lebih lanjut.

perpanjangan jangka waktu. Kredit dikategorikan sebagai kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tersebut adalah apabila kualitas kredit tersebut tergolong pada tingkat kolektibilitas kurang lancar. Disinyalir debitur yang pindah tersebut khawatir jangan-jangan kredit mereka hanya menunggu giliran untuk diungkap di media massa oleh pemeriksa. Beberapa debitur berkualitas bagus mulai pindah ke bank lain. Sedangkan untuk kredit. atau disebabkan faktor lain seperti faktor makro ekonomi. diragukan. tetapi berbagai masalah atas penyaluran kredit harus dihadapi perbankan. ada kesengajaan dari pihak-pihak yang terlibat dalam proses kredit.kredit bermasalah yang bersifat struktural pada umumnya tidak dapat diselesaikan dengan restrukturisasi sebagaimana kredit bermasalah yang bersifat nonstruktural. atau macet. Berbagai unsur seperti safety. Berita kredit bermasalah di sejumlah bank telah menimbulkan implikasi kurang baik bagi Bank itu sendiri. Sebaliknya. kesalahan procedur pemberian kredit. pengurangan tunggakan pokok kredit. yang sering menjadi sumber malapetaka bagi kreditur sehubungan dengan kredit macet. Resiko tersebut berupa keadaan di mana kredit tidak dapat kembali tepat pada waktunya (wanprestasi). pengurangan tunggakan bunga kredit. karena dalam kenyataannya kurang memuaskan untuk menyelesaikan permasalahan kredit macet. . Kredit bermasalah atau nonperforming loan merupakan resiko yang terkandung dalam setiap pemberian kredit oleh bank kepada nasabahnya. Kredit bermasalah atau nonperforming loan di perbankan itu dapat di sebabkan oleh beberapa faktor. BAB II PEMBAHASAN Perkreditan merupakan salah satu usaha penting bagi bank dalam memberikan keuntungan.teori hukum dan keuangan pada negara-negara dengan sistem hukum yang melaksanakan hakhak kepemilikan privat. Pemberian kredit yang tertuang dalam suatu perjanjian tidak dapat dilepaskan dari prinsip kepercayaan. without substantial risk – pun dalam perundangundangan/peraturan perlu mendapatkan perhatian. pada umumnya dapat diatasi dengan langkah-langkah restrukturisasi berupa penurunan suku bunga kredit. mendukung pengaturan perjanjian privat dan melindungi hak-hak hukum investor serta penabung lebih berkeinginan untuk membiayai perusahaan dan keuangan menjadi berkembang. pada negara yang kelembagaan hukumnya tidak mendukung hal-hal tersebut akan menghalangi pembiayaan korporasi dan menghalangi perkembangan keuangan[1] Kelembagaan hukum merupakan faktor yang patut dicermati dalam melihat keseluruhan dari peranan kelembagaan penyelesaian krisis. Untuk kredit-kredit bermasalah yang bersifat non struktural. misalnya. penambahan fasilitas kredit. soundness. atau konversi kredit menjadi pernyataan sementara. Akhir-akhir ini banyak kritikan terhadap kinerja perbankan nasional yang dilakukan oleh praktisi keuangan ataupun lembaga-lembaga pemerintahan. Hal ini sehubungan dengan adanya kredit bermasalah yang biasa disebut Non Performance Loan (NPL) dengan jumlah yang cukup signifikan di sejumlah bank tersebut.

7/2/PBI/2005 agar usahanya dapat berjalan kembali dan pendapatannya mampu untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya. melalui PUPN. dan penataan kembali (restructuring). yaitu suatu upaya hukum untuk melakukan perubahan terhadap beberapa syarat perjanjian kredit yang berkenaan dengan jadwal pembayaran kembali/ jangka waktu kredit termasuk tenggang (grace priod). Dalam surat edaran tersebut yang dimaksud dengan penyelamatan kredit bermasalah melalui rescheduling. dan melalui Lembaga Paksa Badan. dan restructuring adalah sebagai berikut: 1. Penanganan dapat melalui salah satu cara ataupun gabungan dari ketiga cara tersebut. Untuk menyelesaikan kredit bermasalah atau non-performing loan itu dapat ditempuh dua cara atau strategi yaitu penyelamatan kredit dan penyelesaian kredit. termasuk perubahan jumlah angsuran. Bila perlu dengan penambahan kredit. Setelah ditempuh dengan cara tersebut dan tetap tidak ada kemajuan penanganan. Melalui restructuring (penataan kembali). yang dilakukan . 2. persyaratan kembali (reconditioning).[2] Mengenai penyelamatan kredit bermasalah dapat dilakukan dengan berpedoman kepada Surat Edaran Bank Indonesia No. atau melakukan konversi atas seluruh atau sebagian kredit menjadi perusahaan. Penanganan kredit bermasalah sebelum diselesaikan secara yudisial dilakukan melalui penjadwalan (rescheduling). Yang dimaksud dengan penyelamatan kredit adalah suatu langkah penyelesaian kredit bermasalah melalui perundingan kembali antara bank sebagai kreditor dan nasabah peminjam sebagai debitor. persyaratan (reconditioning). yang tidak terbatas hanya kepada perubahan jadwal angsuran. melalui Badan Peradilan. Yang dimaksud dengan lembaga hukum dalam hal ini adalah Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN) dan Direktorat Jendral Piutang dan Lelang Negara (DJPLN). reconditioning. dan melalui Arbitrase atau Badan Alternatif Penyelesaian sengketa. sedangkan penyelesaian kredit adalah suatu langkah penyelesaian kredit bermasalah melalui lembaga hukum. dan penataan kembali (restructuring). yaitu melakukan perubahan atas sebagian atau seluruh persyaratan perjanjian. Tetapi perubahan kredit tersebut tanpa memberikan tambahan kredit atau tanpa melakukan konversi atas seluruh atau sebagian dari kredit menjadi equity perusahaan.melainkan harus diberikan pengurangan pokok kredit (haircut) sebagaimana ditentukan oleh peraturan Bank Indonesia No. atau jangka waktu kredit saja. Melalui rescheduling (penjadwalan kembali). pengadilan Niaga. 3. 26/4/BPPP tanggal 29 Mei 1993 yang pada prinsipnya mengatur penyelamatan kredit bermasalah sebelum diselesaikan melalui lembaga hukum adalah melalui alternatif penanganan secara penjadwalan kembali (rescheduling). Melalui reconditioning (persyaratan kembali). yaitu upaya berupa melakukan perubahan syarat-syarat perjanjian kredit berupa pemberian tambaha kredit. selanjutnya diselesaikan secara yudisial melalui jalur pengadilan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->