PENGARUH PENERAPAN METODE MODIFIKASI PERILAKU

TOKEN ECONOMY TERHADAP REGULASI DIRI SISWA
PESERTA MATA PELAJARAN MATEMATIKA

Anita A’isah, Prasetyo Budi Widodo, Imam Setyawan
Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro

Abstrak

Self regulation is an important factor in supporting students obtain optimal
performance on the subjects of Mathematics. Ability of self regulation can not
develop by itself and so we need a conducive environment so that children can
develop self regulation. Reinforcement (reinforcement) is one of the external factors
in the regulation of self. Token economy behavior modification method is a basic
principle of positive reinforcement. This study aimed to determine whether there is
influence of the token economy behavior modification methods of self regulation math
students participating subjects.
Characteristic of the research subjects were students participating subjects of
Mathematics, grade five SDN Srondol Banyumanik 02. This research design uses a
non-randomized pretest - posttest control group design. This study did not adjust the
randomization because schools that provides two classes for research. Two classes
are defined in this study were divided into two groups randomly. Research subjects in
the experimental group numbered 16 people, while the control group 22 people. Data
collection was performed by using the Self Regulation Scale.
Results of statistical tests using the Wilcoxon test showed significant
differences in the experimental group between before and after application of
behavior modification with the value of the token economy Asymp sig (2-tailed)
(0016) <(0:05). This shows that the implementation of token economy behavior
modification effective in improving students' self regulation participants mathematics
subjects. Analysis of test results with test 2 Independent Sample Kolmogorov-Smirnov
got value Asymp Sig (2-tailed) (0003) <(0:05). The results indicate that there are
significant differences in self-regulation score of experimental group students who
received treatment in the form of token economy behavior modification methods and
the control group who did not receive treatment.

Keywords: Behavior Modification Method of Token Economy, Self Regulation,
Mathematics




PENDAHULUAN
Pendidikan Matematika pada jenjang pendidikan dasar mempunyai peranan
sangat penting sebab jenjang pendidikan dasar merupakan pondasi yang sangat
menentukan dalam membentuk sikap, kecerdasan, dan kepribadian anak
(http:digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/). Tujuan Matematika di Sekolah Dasar adalah
memahami konsep Matematika, menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan
pernyataan Matematika, memecahkan masalah serta meracang model Matematika,
mengkomunikasikan gagasan, simbol, tabel, diagram atau media lain untuk
memperjelas keadaan atau masalah, memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat
dalam mempelajari Matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan
masalah.
Menurut Nawangsari (dalam Sa’adah. 2007, hal.4), Matematika sejak dulu
memang dianggap oleh siswa sebagai pelajaran yang sulit dan menakutkan.
Karateristik Matematika yang abstrak dan sistematis menjadi salah satu alasan
sulitnya siswa mempelajari Matematika serta menjadikan kurang berminat dalam
mempelajarinya. Firngadi (dalam Permatasari, 2008, hal.2) juga menambahkan
bahwa Matematika adalah salah satu pelajaran yang menurunkan semangat siswa.
Siswa sering menjadi takut dan cemas menghadapi pelajaran Matematika. Biasanya
kecemasan ini tampak setelah kelas dua atau kelas tiga Sekolah Dasar. Penelitian
yang dilakukan oleh Newstead pada tahun 1997 mengenai aspek-aspek kecemasan
pada Matematika menunjukkan bahwa adanya kecemasan ditinjau dari aspek sosial
dan aspek umum dalam mengerjakan soal Matematika di hadapan guru dan teman-
teman sekelas pada usia sembilan dan sebelas tahun. Usia sembilan sampai sebelas
tahun termasuk usia anak yang sedang menempuh pendidikan di Sekolah Dasar.
Ditinjau dari aspek perkembangan, Erickson (dalam Santrock, 2002, hal.40)
memasukkan usia Sekolah Dasar pada periode membangun ‘sense of industry’ atas
apa yang dapat dicapai anak. Periode sense of industry merupakan suatu periode
dimana anak harus berhadapan dengan tugas-tugas untuk membangun kompetensi
akademik dan sosial. Kegagalan memperoleh rasa mampu dalam periode membangun
‘sense of industry’ akan memunculkan rasa inferior atau self esteem yang rendah pada
diri anak.
Agar anak dapat membangun kompetensi sesuai yang diharapkan di usia
sekolah, maka dibutuhkan kemampuan anak dalam mengelola diri tanpa
mengandalkan bantuan orang lain, yang sering disebut sebagai regulasi diri. Susanto
(2006, hal.65) menyatakan bahwa perkembangan regulasi diri sebenarnya sudah
mulai berlangsung pada anak mulai memasuki lingkungan sekolah. Pada lingkungan
sekolah, anak-anak dituntut untuk dapat mengikuti proses belajar-mengajar misalnya
belajar untuk memusatkan perhatian. Santrock (2008, hal.37) juga menyatakan bahwa
dalam periode masa kanak-kanak menengah dan akhir adalah suatu periode dimana
prestasi menjadi tema yang lebih utama dan pengendalian diri menjadi semakin baik.
Regulasi diri dapat dipahami sebagai penggunaan suatu proses yang
mengaktivasi pemikiran, perilaku dan affect (perasaan) yang terus menerus dalam
upaya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Schunk dan Zimmerman dalam
Susanto, 2006, hal.65). Regulasi diri meliputi self-generation dan pemantauan secara
kognitif terhadap pikiran, perasaan dan perilaku dalam rangka mencapai suatu tujuan
tanpa mengandalkan orang lain (Santrock, 2007, hal.295). Zimmerman (dalam
Ormrod, 2003, hal.153), juga menjelaskan bahwa seseorang disebut memiliki regulasi
diri jika pikiran dan perilakunya berada di bawah kendalinya sendiri, tidak
dikendalikan oleh orang lain dan lingkungan.
Regulasi diri merupakan faktor penting dalam menunjang siswa memperoleh
prestasi yang optimal pada mata pelajaran Matematika. Susanto (2006, hal.65)
menambahkan bahwa seorang siswa memiliki tingkat inteligensi yang baik,
kepribadian, lingkungan rumah dan lingkungan sekolah yang mendukungnya, namun
tanpa ditunjang dengan kemampuan regulasi diri maka siswa tersebut tetap tidak akan
mampu mencapai prestasi yang optimal.
Kemampuan regulasi diri tidak dapat berkembang dengan sendirinya.
Dibutuhkan suatu lingkungan yang kondusif agar anak dapat mengembangkan
regulasi diri. Teori sosial kognitif oleh Bandura (dalam Alwisol, 2004, hal.358 – 359)
menyatakan bahwa regulasi diri dalam belajar tidak hanya ditentukan oleh oleh faktor
pribadi, tetapi juga faktor perilaku dan faktor lingkungan/faktor eksternal, yang
berhubungan secara timbal balik. Penguatan (reinforcement) adalah salah satu faktor
eksternal dalam regulasi diri (Bandura dalam Santrock, 1999, hal.296).
Token economy merupakan salah satu bentuk penguatan (reinforcement)
positif. Token economy adalah suatu sistem dalam modifikasi perilaku melalui
penguatan positif yang berasal dari dasar operant conditioning. Respons dalam
operant conditioning, terjadi tanpa didahului stimulus, melainkan oleh efek yang
ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri sesungguhnya adalah stimulus
yang dapat meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu (Syah,
1999. H.98).
Metode token economy dikembangkan oleh Ayllon dan Azrin (dalam Indrijati,
2002 hal.9). Konsep token economy adalah pemberian reinforcement yang langsung
terhadap perilaku sesuai dengan yang ditentukan dalam aturan-aturan dalam kelas.
Menurut Indrijati (2002, h.10), metode token economy ini efektif pada seluruh tingkat
usia. Pada situasi dimana kontrol yang sangat ketat dibutuhkan maka metode token
economy menjadi metode intervensi yang baik. Keuntungan dari metode ini adalah
reinforcement yang konkret, fleksibilitas dalam pilihan reinforcement, minat peserta
didik yang tinggi terhadap reinforcement dan kemudahan dalam melakukan revisi
program ini.
Berdasarkan uraian yang telah disebutkan di atas, terlihat pentingnya untuk
mengetahui apakah metode token economy salah satu metode modifikasi perilaku
yang merupakan pengembangan dari metode reinforcement dan dikatakan efektif bagi
setiap seluruh usia, efektif pula jika diterapkan bagi siswa kelas lima peserta mata
pelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Siswa kelas lima Sekolah Dasar termasuk
pada masa kelas tinggi Sekolah Dasar, yang melihat nilai hasil belajar sebagai tolak
ukur kemampuan mereka. Hal ini juga berlaku pada bidang Matematika. Prestasi
belajar Matematika merupakan salah satu petunjuk untuk melihat kecerdasan seorang
anak (Santrock, 2008, hal.37).
METODE
Eksperimen ini dilakukan menggunakan desain ulang non-random (non-
randomized pretest – posttest control group design). Desain eksperimen ini dilakukan
dengan pretest sebelum perlakuan diberikan dan posttest sesudah perlakuan,
sekaligus ada kelompok eksperimen dan kontrol, namun penentuan sampel dengan
tidak random (Latipun, 2002, h. 83). Penentuan anggota sampel dipilih berdasarkan
kelompok-kelompok yang sudah tersedia, misalnya kelompok kelas yang dipilih
berdasarkan perkiraan eksperimenter bahwa kedua kelompok adalah homogen. Pihak
sekolah, yakni SDN Srondol 02 Banyumanik yang menentukan dua kelas yaitu VB
dan VC yang bisa dipakai sebagai subjek penelitian. Dua kelas yang tersedia
kemudian secara random sederhana dibagi menjadi dua kelompok yakni kelas VC
sebagai kelompok eksperimen dan kelas VB sebagai kelompok kontrol.
Pengumpulan data dilakukan dengan tujuan untuk mengungkap sejauh mana
pengaruh penerapan metode modifikasi perilaku token economy dalam meningkatkan
regulasi diri subjek. Pengaruh penggunaan metode ini akan ditunjukkan melalui
seberapa signifikan peningkatan regulasi diri yang ditunjukkan oleh kelompok yang
diberi pembelajaran menggunakan metode modifikasi perilaku token economy.
Skala akan dibuat dalam arah favorable dan unfavorable dengan tujuan untuk
menghindari stereotip jawaban. Adapun skala yang akan digunakan dalam penelitian
ini adalah skala regulasi diri. Skala regulasi diri disusun oleh peneliti berdasarkan
aspek-aspek regulasi diri yang dikemukakan oleh Zimmerman (1989, hal.329),
diantaranya adalah:
a. Metakognitif
MeLakognlLlf adalah kemampuan dalam merencanakan, mengorganlsaslkan,
melakukan pengawasan dan mengevaluasl dlrl pada proses pembela[aran.
lndlkaLor perllakunya adalah perencanaan, pengorganlsaslan dlrl, pengawasan
dlrl dan evaluasl dlrl.
b. MoLlvaLlonal
Aspek lnl berhubungan dengan kemampuan slswa dalam mendorong dlrl
sendlrl berkeyaklnan dlrl, dan berkonsenLrasl pada Lu[uan presLasl serLa mampu
mengelola emosl dan afeksl sehlngga slswa dapaL beradapLasl Lerhadap
LunLuLan Lugas. lndlkaLor perllakunya adalah kemampuan dalam memoLlvasl
secara lnLrlnslk, keyaklnan dlrl, berkonsenLrasl pada Lu[uan, serLa kemampuan
dalam mengelola emosl dan afeksl dalam mencapal Lu[uan.
c. 8ehavloral
Aspek lnl berhubungan dengan kemampuan slswa dalam mengaLur wakLu,
mengaLur llngkungan flslk, memanfaaLkan orang laln/Leman sebaya dan orang-
orang sekolah dalam upaya menlngkaLkan pembela[aran. lndlkaLor perllakunya
mellpuLl kemampuan mengaLur wakLu, kemampuan mengaLur llngkungan flslk
serLa kemampuan dalam memanfaaLkan Leman, guru serLa orang laln dalam
membanLu dalam proses bela[ar.


nASIL DAN ÞLM8AnASAN
Hasil analisis data pada kelompok kontrol sebelum dan sesudah perlakuan
berupa modifikasi perilaku token economy menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan
antara skor regulasi diri pada kelompok kontrol sebelum dan sesudah mendapatkan
perlakuan modifikasi perilaku token economy. Hal ini ditunjukkan dengan nilai
signifikansi yang lebih besar dari taraf nyata (0,162 > = 0,05).
Hasil analisis data sebelum perlakuan pada kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan skor regulasi diri antara
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sebelum perlakuan metode modifikasi
perilaku token economy. Hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikansi yang lebih
besar dari taraf nyata (0,999 > = 0,05).
Hasil analisis data sesudah perlakuan pada kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol menunjukkan bahwa ada perbedaan skor regulasi diri antara
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol setelah perlakuan metode modifikasi
perilaku token economy. Hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikansi yang kurang
dari taraf nyata (0,003 < = 0,05).
Token economy juga merupakan dasar dari operant conditioning oleh Skinner.
Teori Skinner berdasarkan operant conditioning adalah respon-respon yang timbul
dan berkembangnya diikuti oleh perangsang-perangsang tertentu. Operant response
merupakan bagian terbesar dari tingkah laku manusia dan kemungkinan dimodifikasi
tidak terbatas. Tingkah laku hanya disebabkan oleh kemungkinan-kemungkinan yang
melibatkan berbagai macam penguat atau reinforcers positif dan negatif. Target
perilaku yang ditetapkan di dalam kelas mengalami peningkatan karena adanya
reinforcement salah satunya adalah metode modifikasi perilaku token economy.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya maka
dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Ada perbedaan skor regulasi diri yang signifikan pada kelompok eksperimen
sebelum dan sesudah perlakuan berupa penerapan metode modifikasi perilaku
token economy. Regulasi diri pada kelompok eksperimen sesudah perlakuan
lebih tinggi dari pada sebelum perlakuan.
2. Ada perbedaan yang signifikan antara regulasi diri siswa yang mendapat
perlakuan modifikasi perilaku token economy (kelompok eksperimen) dengan
regulasi diri siswa yang tidak mendapat perlakuan token economy (kelompok
kontrol). Perbedaan yang signifikan ini menunjukkan bahwa perlakuan
modifikasi perilaku token economy dapat meningkatan regulasi diri siswa
yaitu siswa peserta mata pelajaran matematika di SDN Srondol 02
Banyumanik.
Berdasarkan hasil penelitian, saran-saran yang dapat dikemukakan adalah :
1. Bagi Guru
Guru diharapkan menerapkan metode modifikasi perilaku token economy
dalam proses belajar mengajar dengan memperhatikan beberapa hal mengenai
unsur-unsur metode modifikasi perilaku yang diutarakan pada Bab II dan Bab III.
Metode modifikasi perilaku token economy juga diberikan bersama penjelasan
atas manfaat dari perilaku yang terbentuk sehingga diharapkan siswa menyadari
yang terpenting adalah perilakunya bukan tokennya.
Penerapan metode modifikasi perilaku ini, memerlukan koordinasi yang baik
antara pengajar dan siswa. Pengajar juga diharapkan lebih tegas terutama bagi
siswa yang berperilaku tidak diharapkan harus mendapatkan konsekuensi sesuai
kesepakatan.
2. Bagi Peneliti Selanjutnya
Bagi peneliti selanjutnya yang berminat untuk meneliti regulasi diri siswa
hendaknya memperhatikan faktor-faktor lain yang mempengaruhi regulasi diri,
misalnya faktor internal yang meliputi observasi diri, penilaian diri dan reaksi diri
afektif. Peneliti Selanjutnya juga dapat memakai subjek penelitian seperti siswa
yang memiliki problem behavior.
Bagi peneliti yang berminat untuk meneliti metode modifikasi perilaku token
economy lebih memperhatikan variasi dalam perlengkapan eksperimen terutama
back-up reinforcers yang lebih menarik dan beragam. Bagi peneliti juga bisa
menerapkan metode modifikasi perilaku ini pada mata pelajaran yang lain selain
Matematika, subjek yang lebih bervariasi dan juga diterapkan pada bidang tidak
hanya bidang pendidikan saja misalnya pada bidang psikologi klinis dan psikologi
industri.


DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, M. 2003. Pendidikan: Bagi Anak Kesulitan Belajar. Jakarta: Rineka
Cipta.

Azwar, S. 2000. Tes Prestasi: Fungsi dan Pengembangan Pengukuran Prestasi
Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

_________. 2007. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Chen, C. S. 2002. Self-regulated Learning Strategies and Achievement in an
Introduction to Information Systems Course. Information Technology,
Learning, and Performance Journal, Vol. 20, No. 1. Diunduh pada 20 Mei
2009 pukul 15.30 WIB (http://www.osra.org/tlpj/chensping.2002.pdf)

Dorough, A. E. 2005. The Relationship of Preferences and Self-Regulation Among
Consistent Exercisers. Thesis. Blacksburg, Virginia: Virginia Polytechnic
Institute and State University.

Hurk, M. V. D. 2006. The Relation Between Self Regulated Strategies and individual
study time, Prepared Participation and Achievement in a Problem-Based
Curriculum. Vol 7(2): 155–169 DOI: 10.1177/1469787406064752 The
Netherlands: Radboud University Nijmegen. Diunduh pada 20 April 2009
pukul 09.00 WIB (http://alh.sagepub.com).

Indrijati, H. 2002. Studi Perbedaan Efektivitas Antara Metode Manajemen Kelas
Good Behavior Game Dengan Metode Manajemen Kelas Konvensional. INSAN
Psikologi.Volume.4 Nomor.1 halaman 3 – 21.

Latipun. 2002. Psikologi Eksperimen. Malang: UMM Press.

Liberty, D. 2006. Hubungan Efikasi Diri dan Self Regulated Learning dengan
Prestasi Belajar Fisika pada Siswa Kelas 1 SMU N 4 Semarang. Skripsi.
Semarang: Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro.

Marcou, A. dan George P. 2005. Motivational Beliefs, Self Regulated Learning and
Mathematical Problem Solving. Proceedings of the 29th Conference of the
International Group for the Psychology of Mathematics Education, Vol. 3, pp.
297-304. Melbourne: PME.

Martin, G. and Joseph P. 1996. Behavior Modification, What It Is and How To Do It.
New York: Prentice Hall International.

McGinnis, J. C., Patrick C. F. dan William D. C. 1999. The Effect Of Token Rewards
On “Intrinsic” Motivation For Doing Math. Journal of Applied Behvior
Analysis. Vol 32, hal 375–379. Diunduh pada 26 Mei 2009 pukul 09.00 WIB
(http//seab.envmed.rochester.edu/eses/EDSPC715-MCINTYRE/tokens.pdf).

Miltenbenger, R. G. 2004. Behavior Modification, Principles and Prosedure. New
York: Wadsworth, a Adivision of Thomsons Learning.

Montalvo, F. T. dan Maria C. G. T. 2004. Self Regulated Learning: Current and
Future Direction. Journal of research in Educational Psychology. 2(1), 1-34.
ISSN: 1696-2095. Diunduh pada tanggal 1 Juni 2009
(http://www.investigation-psicodagogica.org/revista/articulos/3/english/art-3-
27.pdf).

Newstead, K. 1997. Aspects of Children's Mathematics Anxiety. Matieland: Research
Unit for Mathematics Education of the University of Stellenbosch
(RUMEUS) Department of Didactics. Diunduh pada 6 Oktober 2009 pukul
08.00 WIB (http://academic.un.ac.za/mathed/malati/files/educ656.pdf).

O’Donohue W., Jane E. F. and Steven C.H. 2003. Cognitive Behavior Therapy. New
Jersey: John Wiley and Sons, Inc.

Ormrod, J.E. 1995. Educational Psychology, Developing Learners. 4
th
ed. New
Jersey: Merrill Prentice Hall.
Papalia, D.E., Olds, S. W., dan Feldman, R. D. 2001. Human Development. Eight
Edition. New York: McGraw-Hill Company.

Paris, S. G. 2001. The Role of Self-regulated learning in Contextual Teaching:
Principles and Practices for Teacher Preparation.
http://www.ciera.org/library/archieve/2001-04htm.

Kompetensi Mengajar Guru. Skripsi. Semarang: Fakultas Psikologi Universitas
Katolik Soegijapranata.

Santrock, J. W. 2002. Life – Span Development Jilid I (Alih Bahasa: Juda Damanik
dan Achmad Chusairi). Jakarta: Erlangga.

-----------------. 2007. Child Development. New York: Mc-Graw Companies, Inc.

-----------------. 2008. Psikologi Pendidikan (Alih Bahasa: Diana Angelica). Jakarta:
Salemba Humanika.

Seniati, L., Yulianto, A., dan Setiadi, B. N. 2005. Psikologi Eksperimen. Jakarta:
Indeks.

Susanto, H. 2006. Mengembangkan Kemampuan Self Regulation untuk
Meningkatkan Keberhasilan Akademik Siswa. Jurnal Pendidikan Penabur.
No.07/th V/Desember 2008.

Syah, M. M.Ed. 1999. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Stipek, D. 2002. Motivation to Learn Integrating Theory an Practice.
Massachausetts: A. Person Education Company.
Suryabrata, S. 1990. Pembimbing ke Arah Psikodiagnostika. Yogyakarta: Rake
Sarasin.

Taylor, S.E, dkk. 1997. Social Psychology. New Jersey: Prentice Hall.

Trihendradi, C. 2007. Statistik Inferen Teori Dasar & Aplikasinya Menggunakan
SPSS. Yogyakarta: CV. Andi Offset.

Usher, E. R. 2008. Sources of Middle School Students’Self-Efficacy in Mathematics:
A Qualitative Investigation. American Educational Research Journal. Vol. 46,
No. 1, pp. 275 –314. DOI: 10.3102/0002831208324517. Diunduh pada 4 April
2009 pukul 09.00 WIB (http:/aerj.aera.net.).

Winarsunu, T. 2002. Statistika Dalam Penelitian Psikologi dan Pendidikan. Malang:
Umm Press.

Wolfolk, A. 2004. Educational Psychology, ninth edition. Boston: Pearson
Education, Inc.

Young, M. R. 2005. The Motivational Effect of the Classroom Environment in
Facilitating Self Regulated Learning. Journal of Marketing Education DOI :
10.1177/0273475304273346. Diunduh pada 4 April 2009 pukul 10.00 WIB
(http://Jmd. Sageopub.com)

Zimmerman, B. J. 1989. A Social Cognitive View of Self-Regulated Academic
Learning. Journal of Educational Psychology. Volume 81, No. 3, 329 – 339.

tabel. serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. hal. Menurut Nawangsari (dalam Sa’adah. 2008. Karateristik Matematika yang abstrak dan sistematis menjadi salah satu alasan sulitnya siswa mempelajari Matematika serta menjadikan kurang berminat dalam mempelajarinya. mengkomunikasikan gagasan.4). diagram atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.2) juga menambahkan bahwa Matematika adalah salah satu pelajaran yang menurunkan semangat siswa. memiliki rasa ingin tahu. Penelitian yang dilakukan oleh Newstead pada tahun 1997 mengenai aspek-aspek kecemasan pada Matematika menunjukkan bahwa adanya kecemasan ditinjau dari aspek sosial . kecerdasan.id/gsdl/collect/). dan kepribadian anak (http:digilib.PENDAHULUAN Pendidikan Matematika pada jenjang pendidikan dasar mempunyai peranan sangat penting sebab jenjang pendidikan dasar merupakan pondasi yang sangat menentukan dalam membentuk sikap.unnes. memecahkan masalah serta meracang model Matematika.ac. Firngadi (dalam Permatasari. perhatian. 2007. dan minat dalam mempelajari Matematika. hal. Biasanya kecemasan ini tampak setelah kelas dua atau kelas tiga Sekolah Dasar. Matematika sejak dulu memang dianggap oleh siswa sebagai pelajaran yang sulit dan menakutkan. Tujuan Matematika di Sekolah Dasar adalah memahami konsep Matematika. menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan Matematika. simbol. Siswa sering menjadi takut dan cemas menghadapi pelajaran Matematika.

dan aspek umum dalam mengerjakan soal Matematika di hadapan guru dan temanteman sekelas pada usia sembilan dan sebelas tahun. Usia sembilan sampai sebelas tahun termasuk usia anak yang sedang menempuh pendidikan di Sekolah Dasar. Kegagalan memperoleh rasa mampu dalam periode membangun ‘sense of industry’ akan memunculkan rasa inferior atau self esteem yang rendah pada diri anak. hal. anak-anak dituntut untuk dapat mengikuti proses belajar-mengajar misalnya belajar untuk memusatkan perhatian.37) juga menyatakan bahwa dalam periode masa kanak-kanak menengah dan akhir adalah suatu periode dimana prestasi menjadi tema yang lebih utama dan pengendalian diri menjadi semakin baik. Santrock (2008. Agar anak dapat membangun kompetensi sesuai yang diharapkan di usia sekolah. Erickson (dalam Santrock. maka dibutuhkan kemampuan anak dalam mengelola diri tanpa mengandalkan bantuan orang lain. Pada lingkungan sekolah.65) menyatakan bahwa perkembangan regulasi diri sebenarnya sudah mulai berlangsung pada anak mulai memasuki lingkungan sekolah. Ditinjau dari aspek perkembangan. hal.40) memasukkan usia Sekolah Dasar pada periode membangun ‘sense of industry’ atas apa yang dapat dicapai anak. perilaku dan affect (perasaan) yang terus menerus dalam upaya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Schunk dan Zimmerman dalam . hal. Regulasi diri dapat dipahami sebagai penggunaan suatu proses yang mengaktivasi pemikiran. Susanto (2006. 2002. yang sering disebut sebagai regulasi diri. Periode sense of industry merupakan suatu periode dimana anak harus berhadapan dengan tugas-tugas untuk membangun kompetensi akademik dan sosial.

2007. namun tanpa ditunjang dengan kemampuan regulasi diri maka siswa tersebut tetap tidak akan mampu mencapai prestasi yang optimal. kepribadian.Susanto. Teori sosial kognitif oleh Bandura (dalam Alwisol. hal. juga menjelaskan bahwa seseorang disebut memiliki regulasi diri jika pikiran dan perilakunya berada di bawah kendalinya sendiri. hal.358 – 359) menyatakan bahwa regulasi diri dalam belajar tidak hanya ditentukan oleh oleh faktor pribadi.65). Zimmerman (dalam Ormrod. Regulasi diri meliputi self-generation dan pemantauan secara kognitif terhadap pikiran. tidak dikendalikan oleh orang lain dan lingkungan. Token economy adalah suatu sistem dalam modifikasi perilaku melalui penguatan positif yang berasal dari dasar operant conditioning. Regulasi diri merupakan faktor penting dalam menunjang siswa memperoleh prestasi yang optimal pada mata pelajaran Matematika.153). lingkungan rumah dan lingkungan sekolah yang mendukungnya. Token economy merupakan salah satu bentuk penguatan (reinforcement) positif.65) menambahkan bahwa seorang siswa memiliki tingkat inteligensi yang baik. yang berhubungan secara timbal balik. tetapi juga faktor perilaku dan faktor lingkungan/faktor eksternal. Dibutuhkan suatu lingkungan yang kondusif agar anak dapat mengembangkan regulasi diri. perasaan dan perilaku dalam rangka mencapai suatu tujuan tanpa mengandalkan orang lain (Santrock. 1999. Penguatan (reinforcement) adalah salah satu faktor eksternal dalam regulasi diri (Bandura dalam Santrock. 2004. hal. 2006. hal. Susanto (2006.295). 2003.296). hal. Respons dalam . hal. Kemampuan regulasi diri tidak dapat berkembang dengan sendirinya.

minat peserta didik yang tinggi terhadap reinforcement dan kemudahan dalam melakukan revisi program ini. 2008. Menurut Indrijati (2002. yang melihat nilai hasil belajar sebagai tolak ukur kemampuan mereka. Prestasi belajar Matematika merupakan salah satu petunjuk untuk melihat kecerdasan seorang anak (Santrock.10). Hal ini juga berlaku pada bidang Matematika. Pada situasi dimana kontrol yang sangat ketat dibutuhkan maka metode token economy menjadi metode intervensi yang baik.98). hal. Konsep token economy adalah pemberian reinforcement yang langsung terhadap perilaku sesuai dengan yang ditentukan dalam aturan-aturan dalam kelas. Metode token economy dikembangkan oleh Ayllon dan Azrin (dalam Indrijati. Siswa kelas lima Sekolah Dasar termasuk pada masa kelas tinggi Sekolah Dasar. 1999. H. terjadi tanpa didahului stimulus. Berdasarkan uraian yang telah disebutkan di atas.37). Keuntungan dari metode ini adalah reinforcement yang konkret. melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. terlihat pentingnya untuk mengetahui apakah metode token economy salah satu metode modifikasi perilaku yang merupakan pengembangan dari metode reinforcement dan dikatakan efektif bagi setiap seluruh usia. Reinforcer itu sendiri sesungguhnya adalah stimulus yang dapat meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu (Syah. metode token economy ini efektif pada seluruh tingkat usia.operant conditioning. efektif pula jika diterapkan bagi siswa kelas lima peserta mata pelajaran Matematika di Sekolah Dasar. fleksibilitas dalam pilihan reinforcement. h. . 2002 hal.9).

namun penentuan sampel dengan tidak random (Latipun. 2002. Adapun skala yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah skala regulasi diri. Pengumpulan data dilakukan dengan tujuan untuk mengungkap sejauh mana pengaruh penerapan metode modifikasi perilaku token economy dalam meningkatkan regulasi diri subjek. yakni SDN Srondol 02 Banyumanik yang menentukan dua kelas yaitu VB dan VC yang bisa dipakai sebagai subjek penelitian. hal. h. 83). Pihak sekolah. Skala akan dibuat dalam arah favorable dan unfavorable dengan tujuan untuk menghindari stereotip jawaban. misalnya kelompok kelas yang dipilih berdasarkan perkiraan eksperimenter bahwa kedua kelompok adalah homogen. diantaranya adalah: . Dua kelas yang tersedia kemudian secara random sederhana dibagi menjadi dua kelompok yakni kelas VC sebagai kelompok eksperimen dan kelas VB sebagai kelompok kontrol.METODE Eksperimen ini dilakukan menggunakan desain ulang non-random (nonrandomized pretest – posttest control group design). Pengaruh penggunaan metode ini akan ditunjukkan melalui seberapa signifikan peningkatan regulasi diri yang ditunjukkan oleh kelompok yang diberi pembelajaran menggunakan metode modifikasi perilaku token economy. sekaligus ada kelompok eksperimen dan kontrol. Skala regulasi diri disusun oleh peneliti berdasarkan aspek-aspek regulasi diri yang dikemukakan oleh Zimmerman (1989. Penentuan anggota sampel dipilih berdasarkan kelompok-kelompok yang sudah tersedia. Desain eksperimen ini dilakukan dengan pretest sebelum perlakuan diberikan dan posttest sesudah perlakuan.329).

c. Metakognitif b.a. .

Hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikansi yang lebih besar dari taraf nyata (0.999 > = 0.003 < = 0. Hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikansi yang lebih besar dari taraf nyata (0. Operant response merupakan bagian terbesar dari tingkah laku manusia dan kemungkinan dimodifikasi . Token economy juga merupakan dasar dari operant conditioning oleh Skinner.05).162 > = 0.05). Teori Skinner berdasarkan operant conditioning adalah respon-respon yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh perangsang-perangsang tertentu. Hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikansi yang kurang dari taraf nyata (0.Hasil analisis data pada kelompok kontrol sebelum dan sesudah perlakuan berupa modifikasi perilaku token economy menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara skor regulasi diri pada kelompok kontrol sebelum dan sesudah mendapatkan perlakuan modifikasi perilaku token economy.05). Hasil analisis data sesudah perlakuan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol menunjukkan bahwa ada perbedaan skor regulasi diri antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol setelah perlakuan metode modifikasi perilaku token economy. Hasil analisis data sebelum perlakuan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan skor regulasi diri antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sebelum perlakuan metode modifikasi perilaku token economy.

Ada perbedaan skor regulasi diri yang signifikan pada kelompok eksperimen sebelum dan sesudah perlakuan berupa penerapan metode modifikasi perilaku token economy. 2. Bagi Guru Guru diharapkan menerapkan metode modifikasi perilaku token economy dalam proses belajar mengajar dengan memperhatikan beberapa hal mengenai .tidak terbatas. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Tingkah laku hanya disebabkan oleh kemungkinan-kemungkinan yang melibatkan berbagai macam penguat atau reinforcers positif dan negatif. Target perilaku yang ditetapkan di dalam kelas mengalami peningkatan karena adanya reinforcement salah satunya adalah metode modifikasi perilaku token economy. Perbedaan yang signifikan ini menunjukkan bahwa perlakuan modifikasi perilaku token economy dapat meningkatan regulasi diri siswa yaitu siswa peserta mata pelajaran matematika di SDN Srondol 02 Banyumanik. Regulasi diri pada kelompok eksperimen sesudah perlakuan lebih tinggi dari pada sebelum perlakuan. saran-saran yang dapat dikemukakan adalah : 1. Ada perbedaan yang signifikan antara regulasi diri siswa yang mendapat perlakuan modifikasi perilaku token economy (kelompok eksperimen) dengan regulasi diri siswa yang tidak mendapat perlakuan token economy (kelompok kontrol). Berdasarkan hasil penelitian.

subjek yang lebih bervariasi dan juga diterapkan pada bidang tidak hanya bidang pendidikan saja misalnya pada bidang psikologi klinis dan psikologi industri. . memerlukan koordinasi yang baik antara pengajar dan siswa. 2. Peneliti Selanjutnya juga dapat memakai subjek penelitian seperti siswa yang memiliki problem behavior. Pengajar juga diharapkan lebih tegas terutama bagi siswa yang berperilaku tidak diharapkan harus mendapatkan konsekuensi sesuai kesepakatan. Penerapan metode modifikasi perilaku ini. Bagi Peneliti Selanjutnya Bagi peneliti selanjutnya yang berminat untuk meneliti regulasi diri siswa hendaknya memperhatikan faktor-faktor lain yang mempengaruhi regulasi diri.unsur-unsur metode modifikasi perilaku yang diutarakan pada Bab II dan Bab III. Bagi peneliti juga bisa menerapkan metode modifikasi perilaku ini pada mata pelajaran yang lain selain Matematika. misalnya faktor internal yang meliputi observasi diri. Metode modifikasi perilaku token economy juga diberikan bersama penjelasan atas manfaat dari perilaku yang terbentuk sehingga diharapkan siswa menyadari yang terpenting adalah perilakunya bukan tokennya. Bagi peneliti yang berminat untuk meneliti metode modifikasi perilaku token economy lebih memperhatikan variasi dalam perlengkapan eksperimen terutama back-up reinforcers yang lebih menarik dan beragam. penilaian diri dan reaksi diri afektif.

297-304.1177/1469787406064752 The Netherlands: Radboud University Nijmegen. Self Regulated Learning and Mathematical Problem Solving. Semarang: Program Studi Psikologi. A.pdf) Dorough. 2002. H.sagepub. D. Hubungan Efikasi Diri dan Self Regulated Learning dengan Prestasi Belajar Fisika pada Siswa Kelas 1 SMU N 4 Semarang. . dan George P. Liberty. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Skripsi. 20. Blacksburg. No. Information Technology.com). 3. S. The Relationship of Preferences and Self-Regulation Among Consistent Exercisers. Vol. Vol 7(2): 155–169 DOI: 10.DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman. Diunduh pada 20 Mei 2009 pukul 15. 1. Penyusunan Skala Psikologi. D. M. 2005. Indrijati. Studi Perbedaan Efektivitas Antara Metode Manajemen Kelas Good Behavior Game Dengan Metode Manajemen Kelas Konvensional. Tes Prestasi: Fungsi dan Pengembangan Pengukuran Prestasi Belajar. Melbourne: PME. Prepared Participation and Achievement in a Problem-Based Curriculum. The Relation Between Self Regulated Strategies and individual study time. 2006. pp. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. S.org/tlpj/chensping. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. _________. Latipun. Hurk. 2007.30 WIB (http://www.osra. 2002.Volume. E. Azwar. Marcou. 2002. Pendidikan: Bagi Anak Kesulitan Belajar. C. Learning. 2000. 2003. Motivational Beliefs. A. V. 2006. and Performance Journal. INSAN Psikologi. Jakarta: Rineka Cipta. Chen. Proceedings of the 29th Conference of the International Group for the Psychology of Mathematics Education. Psikologi Eksperimen. Malang: UMM Press. Vol.4 Nomor. Virginia: Virginia Polytechnic Institute and State University.2002. M. Self-regulated Learning Strategies and Achievement in an Introduction to Information Systems Course. 2005.00 WIB (http://alh. Diunduh pada 20 April 2009 pukul 09. Thesis.1 halaman 3 – 21.

1999. The Effect Of Token Rewards On “Intrinsic” Motivation For Doing Math. The Role of Self-regulated learning in Contextual Teaching: Principles and Practices for Teacher Preparation. Skripsi. J. dan Maria C. G. Self Regulated Learning: Current and Future Direction. T. G.00 WIB (http//seab.za/mathed/malati/files/educ656. Principles and Prosedure. K.. 2004. Cognitive Behavior Therapy. 2001. New Jersey: Merrill Prentice Hall.H.E. New York: McGraw-Hill Company. Aspects of Children's Mathematics Anxiety. Behavior Modification.org/library/archieve/2001-04htm. Miltenbenger. Diunduh pada tanggal 1 Juni 2009 (http://www.ciera.envmed. http://www. Paris.. 2003. Olds. R. O’Donohue W. New York: Prentice Hall International. Educational Psychology. 1996. F. ISSN: 1696-2095. Eight Edition.E. and Steven C. -----------------. W. Kompetensi Mengajar Guru.rochester. What It Is and How To Do It. New Jersey: John Wiley and Sons. T.un. Jane E.pdf). McGinnis. W. Ormrod.ac.Martin. Life – Span Development Jilid I (Alih Bahasa: Juda Damanik dan Achmad Chusairi).00 WIB (http://academic. and Joseph P. dan William D. New York: Mc-Graw Companies. C. Semarang: Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata. Diunduh pada 26 Mei 2009 pukul 09. Papalia. Journal of research in Educational Psychology. G. 2007.. .pdf). S.pdf). 1997. Vol 32. Newstead. G.org/revista/articulos/3/english/art-327.. S. F. Inc. dan Feldman. Montalvo. a Adivision of Thomsons Learning. R. C. J. Diunduh pada 6 Oktober 2009 pukul 08. Jakarta: Erlangga. 1-34.investigation-psicodagogica. 4th ed. Santrock. D. Journal of Applied Behvior Analysis. Child Development. 2004. Developing Learners. Human Development.edu/eses/EDSPC715-MCINTYRE/tokens. J. hal 375–379. D. 1995. 2(1). Inc. 2001. Matieland: Research Unit for Mathematics Education of the University of Stellenbosch (RUMEUS) Department of Didactics. Patrick C. New York: Wadsworth. Behavior Modification. 2002. F.

2002. M.07/th V/Desember 2008. 2007. . N.3102/0002831208324517. Statistik Inferen Teori Dasar & Aplikasinya Menggunakan SPSS. Young. B.00 WIB (http://Jmd. Social Psychology. 275 –314. H. Massachausetts: A. No. Journal of Marketing Education DOI : 10. M. No. 3. The Motivational Effect of the Classroom Environment in Facilitating Self Regulated Learning. 2005. 1999.-----------------. Susanto. Person Education Company. 1. Malang: Umm Press. S. Yulianto. Yogyakarta: CV. A Social Cognitive View of Self-Regulated Academic Learning. American Educational Research Journal. S. 2006. Jurnal Pendidikan Penabur.. Vol.Ed. Psikologi Pendidikan (Alih Bahasa: Diana Angelica). D. pp. Inc. Seniati. 2002.1177/0273475304273346. B. Sources of Middle School Students’Self-Efficacy in Mathematics: A Qualitative Investigation. 2004. Syah. Psikologi Belajar. Psikologi Eksperimen. New Jersey: Prentice Hall.aera. L. 1989.00 WIB (http:/aerj. Diunduh pada 4 April 2009 pukul 09. dan Setiadi. J. 1997. 46.. 1990. Jakarta: PT. DOI: 10. Educational Psychology.E. Jakarta: Salemba Humanika. Diunduh pada 4 April 2009 pukul 10. 2008. R. Volume 81. Raja Grafindo Persada. Motivation to Learn Integrating Theory an Practice. Stipek.com) Zimmerman. Boston: Pearson Education. E. 329 – 339. Trihendradi. Usher. Journal of Educational Psychology. Taylor. Statistika Dalam Penelitian Psikologi dan Pendidikan.). Jakarta: Indeks. Sageopub. Wolfolk.net. Suryabrata. C. Winarsunu. R. T. No. 2005. M. Pembimbing ke Arah Psikodiagnostika. A. dkk. 2008. Yogyakarta: Rake Sarasin. ninth edition. Mengembangkan Kemampuan Self Regulation untuk Meningkatkan Keberhasilan Akademik Siswa. A. Andi Offset.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful