MATERI PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU

KELAS XI SMK Oleh : Drs. I Wayan Pura Ys BAB I HUKUM KARMA DAN PUNARBHAWA Standar kompetensi Memahami Hukum Karma dan Punarbhawa Tujuan Pembelajaran Akhir Setelah mempelajari materi ini siswa diharapkan mampu : Mengerti dan memahami hukum karma . Mampu menjelaskan bagian –bagian hukum karma Mampu menguraikan hubungan hukum karma dengan punarbhawa Menjadikan hukum karma sebagai pegangan dalam prilaku Uraian Materi A. Pengertian Hukum Karma Karma berasal dari Bahasa Sansekerta yang artinya kerja atau berbuat. Konsep hukum karma adalah bahwa setiap perbuatan akan memberikan hasil yang disebut ( phala ). Sehingga setiap hasil yang dipetik atau diterima oleh seseorang atas perbuatannya disebut karma phala. Hukum karma adalah hukum Tuhan yang berlaku bagi semua orang. Tidak memandang apakah orang tersebut percaya atau tidak hukum karma tetap berlaku. Seperti hukum terbitnya matahari dari timur, orang buta ataupun orang eskimo yang tidak pernah melihat matahari, bukan berarti matahari tidak ada. Matahari tetap terbit dari timur. Demikianlah hukum karma berlaku bagi semua umat manusia dari semua negara, semua suku bangsa dan semua agama. Dalam ajaran Hindu , hukum karma merupakan ajaran sebagai landasan ajaran etika dan pegangan dalam mencapai tujuan hidup. Karma atau perbuatan ini ada tiga bentuk yaitu karma yang dilakukan oleh pikiran ( Manah ), karma dalam bentuk ucapan (waca ), dan karma dalam bentuk tindakan jasmanani ( kaya ). Jadi apapun bentuk aktivitas seseorang pasti ada phalanya (hasilnya) .Ini berarti tidak ada perbuatan yang tanpa membuahkan hasil, sekecil apapun kegiatan tersebut. Sedangkan jika dilihat dari baik buruknya maka perbuatan yang baik disebut Subha karma dan perbuatan yang buruk disebut Asubha karma. Materi Pelajaran Pendidikan Agama Hindu 1 1/76

B. Proses berlakunya karma phala Setiap aktivitas karma seseorang didasari oleh keinginan ( Iccha ). Timbulnya keinginan akan direspon oleh pikiran. Pikiran inilah yang akan mengambil keputusan untuk melakukan tindakan dalam bentuk ucapan ataupun tindakan jasmani. Keputusan pikiran sangat ditentukan oleh pengetahuan (jnana), kebijaksanaan ( wiweka), serta pengalaman hidup serta karmawasana seseorang. Jika digambarkan maka proses karma seseorang sebagai berikut : KEINGINAN

Pengetahuan PIKIRAN Pengalaman Hidup KARMA

Wiweka karmawasana

KARMA PHALA C. Wujud Karma phala Banyak orang menafsirkan bahwa wujud dari karma phala ( hasil perbuatan ) seseorang adalah berbentuk materi, seperti kekayaan, kecantikan atau ketampanan, jabatan, kehormatan dan sebagainya yang semata-mata diukur dari segi materi. Secara garis besar memang wujud karmaphala ada dua yaitu berbentuk fisik dan psikis( batin). Artinya hasil dari perbuatan tersebut dapat dirasakan secara langsung oleh badan jasmani melalui panca indria atau juga bisa memberikan suasana batin tertentu pada seseorang. Contoh: Jika seseorang pernah berbuat baik misalnya membantu orang yang jatuh di jalan , suatu saat ketika dia terjatuh di jalan akan ada orang lain yang menolong. Ini adalah phala secara fisik. Contoh lain mungkin ada orang yang suka menipu justru akan membuat hatinya tersiksa karena selalu was-was, selalu berprasangka bahwa tipu dayanya akan ketahuan oleh orang lain. Ini berarti secara psikis dia menderita. Pendidikan Agama Hindu 2/76

Wujud dari karmaphala yang akan diterima seseorang tidak dapat dipastikan. Artinya hasil karma tersebut bisa saja berbentuk fisik, atau psikis, ataupun kedua nya yaitu fisik dan psikis. Demikian pula kapan waktunya akan diterima seseorang atas perbuatannya juga merupakan rahasia Hyang Widhi. Yang jelas bahwa karmaphala itu ada dan akan hadir tepat pada waktunya. Diatas kedua wujud karmaphala di atas yang terpenting untuk menjadi tolok ukur atas hasil perbuatan seseorang adalah akibat dari wujud karmaphala tersebut. Artinya seseorang yang menerima karmaphala baik berwujud fisik maupun psikis apakah mengakibatkan adanya peningkatan kualitas sradha atau tidak. Apakah menyebabkan kebahagiaan atau penderitaan? Contoh : Seseorang yang mendapatkan uang sangat banyak dari hasil judi, diukur dari segi fisik tentu menyenangkan. Tetapi kemenangan itu justru menyebabkan dia semakin tergila-gila pada judi, suka berfoya-foya semata-mata memenuhi nafsu keinginannya. Suatu saat jika dia kalah berjudi maka kekesalan dan kemarahannya akan dilempahkan pada orang lain, seperti anak atau istrinya. Ini menunjukkan bahwa uang yang diperoleh dari hasil judi tersebut bukan karmaphala yang baik, karena akibat dari uang yang diterima terebut justrui menjerumuskan dirinya pada karma-karma yang lebih buruk. Contoh lain mungkin ada seseorang yang secara fisik cacat jasmani, tetapi dengan kekurangannya tersebut memberikan dia inspirasi dan kesadaran bahwa hidup ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan fisik, sehingga dia menjadi orang yang teguh sradha bhakti, serta senantiasa merasa tentram . Jadi cacat jasmani tersebut bukan hasil karma buruk tetapi merupakan hasil karma baik yang membawa kebahagiaan bagi dirinya. Seperti halnya seseorang minum obat pahit untuk kesembuhan dari penyakitnya. Kesimpulannya: Karmaphala yang baik adalah yang dapat meningkatkan kualitas sradha bhakti untuk mencapai kebahagiaan lahir batin ( moksartham jagat hita ) Karmaphala yang buruk adalah yang menyebabkan seseorang menderita lahir batin dan menurunkan kualitas sradha bhakti. D. Dampak karma bagi seseorang Setiap karma yang dilakukan setidak-tidaknya ada tiga akibat yang terjadi : 1. Karma akan memberi akibat atau balasan atas setiap perbuatan manusia. Baik atau buruk yang akan diterima sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya. 2. Karma akan memberi kesan tersendiri kepada pelakunya yang akan melekat pada pikiran pelakunya. Pendidikan Agama Hindu 3/76

Sanchita Karma 2. kepada mereka yang senantiasa gigih demikian itu. Pendidikan Agama Hindu 4/76 . E. Laksanakan semua kewajiban sebagai yadnya dan bhakti kepada Ida sang Hyang Widhi. Bisa saja merupakan pahala atas karma kita pada kehidupan terdahulu. Kita harus yakin bahwa apapun yang kita alami pada kehidupan ini adalah hasil perbuatan diri sendiri. selalu berbuat kebaikan serta tetap yakin dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Manfaat kita mengetahui jenis-jenis karma tersebut adalah untuk meningkatkan sradha dan bhakti kepada Hyang Widhi.3. Mengenai kapan waktu kita akan menerima pahala atas karma yang kita lakukan juga merupakan rahasia Ida sang Hyang Widhi. selalu melekat pada setiap kelahirannya. Kramana karma adalah pahala yang diterima seseorang pada kehidupan ini atas hasil dari perbuatan ( karmanya ) pada kehidupan yang lampau. Oleh karena itu yang terbaik harus dilakukan adalah melaksanakan tugas sebaik-baiknya. Kryamana Karma Sancitha karma adalah karma atau perbuatan yang dilakukan pada masa hidup di dunia baru akan menerima pahalanya setelah meninggal dunia Prarabdha karma adalah karma atau perbuatan seseorang yang pahalanya langsung diterima pada kehidupan ini. atas pahala atas karma kita masa kini. Bukan karena orang lain. Apa yang seharusnya kita butuhkan pasti akan terpenuhi. Prarabdha Karma 3. Jika hal itu sudah dilakukan maka Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik bagi kita. Karma akan membentuk kepribadian seseorang. Meskipun kita menggolongkan karma tersebut seperti di atas tetapi dalam kenyataan sangat sulit bagi kita untuk mengidentifikasi setiap karma yang kita terima saat ini. Tiga Macam Karma Jika dilihat dari segi waktu hasil karma seseorang maka dapat digolongkan menjadi tiga macam yaitu : 1. sebagaimana wahyu Beliau dalam Kitab Bhagawad Gita Bab IX Sloka 22 : Mereka yang memuja-Ku dan hanya bermeditasi kepada-Ku saja. Karma yang memberi kesan dan menjadi kepribadian jiwatman inilah yang merupakan karmawasana setiap orang. akan Aku bawakan segala apa yang belum dimilikinya dan akan menjaga yang sudah dimilikinya.

Contoh sederhana mungkin suatu ketika kita menerima bantuan dari orang lain dimana pada waktu tersebut kita benar-benar memerlukan pertolongan tersebut. Pahala karma bisa saja dirasakan melalui tangan manusia. b. Tetapi bagaimana bentuk pahala dari karma yang harus dinikmati pada kehidupan ini? Tentu saja akibat karma akan dirasakan oleh seseorang melalui interaksi dengan lingkungan. tetapi juga sebagai alat untuk membalas karma orang lain. Itu adalah hasil karma kita yang mungkin kita sudah lupa kapan melakukannya. d. Misalkan Andi menolong Budi yang terjatuh dari sepeda motor. Pahala atas karma seseorang dapat diterima di alam niskala ( sorga atau neraka ) juga bisa dinikmati pada saat hidup. Demikian pula alam bisa saja sebagai alat pembalas karma. c. Pahala karma di dunia bisa diterima melalui tangan manusia atau alam lingkungan. atas perbuatannya menolong budi dia juga akan mendapat pahala atas karma tersebut. Meskipun Andi sebagai alat . sehingga disaat yang tepat kita akan menerimanya. serta bisa juga dari alam. binatang. pahala tersebut mungkin saja atas kebaikan Budi di waktu lalu Dalam kasus ini Andi adalah sebagai alat pembalas karma perbuatan Budi di masa lalu. baik alam maupun sesama manusia. Jadi setiap peristiwa karma yang melibatkan lebih dari satu orang maka dalam peristiwa tersebut ada dua jenis proses karma yang terjadi yaitu ada pihak yang menerima hasil karmanya dan ada orang yang yang berkarma dimana hasilnya belum diketahui kapan akan diterima. Setiap karma yang terjadi akan menjadi penyebab untuk karma-karma berikutnya. Setiap peristiwa karma yang melibatkan lebih dari satu manusia maka akan ada pihak penerima pahala atas karmanya dan ada pihak sebagai pembalas karma sekaligus pelaku karma untuk dirinya.F. Jika karma seseorang harus diterima setelah meninggal dunia maka atmannya akan menuju sorga atau neraka. tetapi semua itu akibat perbuatan manusia sendiri. Kesimpulannya : a. Dalam peristiwa tersebut Budi menerima pahala dalam bentuk pertolongan dari Andi. Kejadian ini buakanlah suatu kebetulan. Bencana alam bukanlah hukuman Tuhan. Meskipun manusia adalah alat pembalas karma. Pelaksana Karmaphala Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa wujud karmaphala bisa berbentuk fisik bisa juga berbentuk psikis. Sehingga manusia disamping akan menerima pahala atas karmanya. bukan berarti dia terbebas atas karma yang diperbuatnya itu tetapi pahala akan selalu mengikuti karma yang dilakukannya. Pendidikan Agama Hindu 5/76 . tumbuhan. Dalam peristiwa tersebut yang menjadi alat Tuhan untuk menyampaikan pahala atas karma tersebut adallah manusia ( orang lain).

demikian juga bila ia berpindah ke badan yang lainnya. sloka 13 ) Bagaikan seseorang yang menanggalkan pakaian usang dan mengenakan pakaian lain yang baru. tumbuh besar. PUNARBHAWA Punarbbhawa atau tumimbal lahir atau samsara adalah bagian keempat dari Panca Sradha sebagai dasar keyakinan Umat Hindu. menuju sorga atau neraka. antara lain : Seperti halnya sang jiwatman yang melewatkan waktunya dalam badan ini dari masa kanak-kanak. ( Bab II. Bahkan planet-planet ini bisa stabil pada tempatnya karena berputar. Dari pemahaman ini jelas bahwa manusia akan mengalami punarbhawa. perputaran dari air laut mejadi awan. Pengertian sederhana adalah bahwa pada saat seseorang meninggal dunia maka jiwatman akan melepaskan badan jasmaninya ( stula sarira ). sehingga terhadap hal yang tak terrelakkan ini janganlah engkau berduka. G. Proses jiwatman meninggalkan stula sarira kemudian lahir kembali menggunakan jasmani yang baru inilah disebut Punarbhawa. sloka 27). Intinya bahwa segala sesuatu di alam ini mengalami perputaran sehingga bisa stabil. ( BabII. Orang bijaksana tak akan terbingungkan oleh hal ini. Kemudian dalam Kitab Suci Bhagawad gita beberapa sloka menyiratkan secara jelas tentang punarbhawa . kemudian turun hujan dan kembali ke laut. demikianlah jiwatman yang berwujud mencampakkan badan lama yang telah usang dan mengenakan badan jasmani baru. Perputaran waktu. Dalam rangka meningkatkan karma baik maka pada saat berdoa mohonlah agar kita senantiasa menjadi alat pembalas karma yang baik. kematian sudahlah pasti dan pasti ada kelahiran bagi mereka yang mati. Demikian juga manusia yang lahir. Pendidikan Agama Hindu 6/76 . ( Bab II. Ada perputaran siang dan malam. remaja dan usia tua. sloka 22 ) Bagi seseorang yang lahir.e. Untuk memahami dan meyakini hukum punarbhawa bisa kita lakukan secara logika maupun dengan meyakini Wahyu Tuhan melalui kitab-kitab suci. perputaran rantai makanan. kemudian meninggal maka akan mengalami perputaran untuk lahir kembali. Jika kita perhatikan bahwa alam ini semuanya mengalami siklus ( perputaran ). dan masih banyak lagi jenis-jenis perputaran kehidupan. Untuk meningkatkan kualitas jiwatman maka setelah waktu tertentu jiwatman kembali kedunia dengan menggunakan badan jasmani yang baru.

Masih banyak sloka-sloka lain yang menjelaskan tentang punarbhawa ini. Dari sloka di atas ada dua point yang dapat kita petik penekannya yaitu : 1. demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia. 2. Berbuat baik ( Subha karma ) adalah cara untuk melepaskan diri dari keadaan samsara ( punarbhawa ). H. Oleh karena itu setiap menjalani kehidupan kewajiban manusia adalah untuk meningkatkan Subhakarma sehingga setiap kelahiran berikutnya bisa meningkat kualitasnya sampai akhirnya tujuan hidup yaitu moksartham jagathita tercapai. sebabnya demikian. Hubungan Karmaphala dengan Punarbhawa Dalam Kitab Sarasamuscaya sloka 4 dikatakan : Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama. Untuk berbuat baik kesempatan yang paling luas adalah bila menjelma menjadi manusia. Jika digambarkan proses hidup manusia dan kelahirannya sampai bersatunya atman dengan brahman ( Brahman Atman aikyam) seperti di bawah ini : Ket : Gari tebal adalah kehidupan saat ini Garis tipis kehidupan kelahiran dengan kualitas meningkat yang menuju bersatunya Brahman Pendidikan Agama Hindu 7/76 . karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara ( lahir dan mati berulang-ulang ) dengan jalan berbuat baik. Jadi bila manusia semasa hidupnya banyak berbuat baik maka kelahiran berikutnya akan meningkat kualitasnya. Demikian juga bila semasa hidupnya banyak berbuat dosa maka kelahiran berikutnya akan menurun kualitasnya. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan terlahir sebagai binatang atau tumbuhan.

Pendidikan Agama Hindu 8/76 . Kesimpulan : Gunakan hidup ini sebaik-baiknya untuk meningkatkan karma sehingga setiap kelahiran berikutnya bisa meningkatkan kualitas dan kesucian jiwatman.Garis putus-putus kehidupan kelahiran dengan kualitas menurun yang semakin jauh dari Brahman.

b. makrokosmos. Mampu mengklasifikasi unsur-unsur bhuana agung dan bhuana alit d. planet. Kapan sesungguhnya alam semesta ini tercipta. dari jenjang yang amat halus dan tidak berwujud ( gaib / niskala ) sampai pada jenjang yang berwujud dan sangat kasar ( nyata / sekala ) Pendidikan Agama Hindu 9/76 . Brahmanda Purana. Mampu menjelaskan proses terciptanya bhuana agung dan bhuana alit. atau brahmanda. Bebrapa peneliti dan ilmuwan mencoba untuk membuat teori tentang penciptaan alam semesta tetapi tidak satupun dapat memastikan kapan alam ini tercipta. BHUWANA AGUNG Pengertian Bhuana Agung artinya alam raya ( besar ). Mampu menjelaskan proses pralaya. demikian seterusnya berulang-ulang. Proses dari tidak ada menjadi ada alam semesta ini berlangsung secara berjenjang. sangat sulit dipastikan. Masa Srsti digabungkan dengan masa Pralaya disebut satu Kalpa atau satu hari Brahman. Pada saat alam semesta ini meng”ada” disebut masa “Srsti “ atau “ Brahma diwa “ ( siang hari Brahma ).BAB II ALAM SEMESTA Standar Kompetensi Memahami proses penciptaan dan pralaya alam semesta Tujuan Akhir Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan : a. Istilah lainnya adalah jagat raya. kemudian tidak ada lagi. c. mengingat keterbatasan kemampuan dan umur manusia. Mampu menguraikan hubungan bhuana agung dan bhuana alit Uraian Materi A. matahari. Menurut Ktab-kitab suci Hindu teori penciptaan jagat raya banyak diuraikan yang jika dicermati dan dipelajari dengan penuh keyakinan maka alam semesta ini mengalami keadaan dimana jagat raya ini pernah tidak ada. bumi dengan segala isinya ini yang disebut bhuana agung. Sedangkan pada waktu alam ini meniada disebut “Pralaya” atau “Brahma nakta” ( malam hari Bharma ). Jadi semua yang ada di alam semesta ini termasuk gugusan bintang. Agastya Parwa dan sebagainya. Penggambaran jagat raya termasuk proses penciptaannya banyak diuraikan dalam beberapa kitab suci Hindu Seperti Brhad Aranyaka Upanisad. lalu ada.

yaitu benih kejiwaan yang bersifat kedirian atau individu. Dari Buddhi selanjutnya lahir Ahamkara. semua zat pada meleleh kemudian menguap. Sattwam. 5. Alam citta yang pertama muncul adalah Buddhi. Proses pralaya menurut beberapa kitab suci Hindu digambarkan sebagai berikut . 3. Sattwam adalah unsur yang bversifat terang dan tenang. Padamulanya Unsur Sattwam yang mendominasi maka lahirlah yang disebut Mahat yang berarti Maha Agung. yaitu unsur kejiwaan tertinggi yang berfungsi untuk menentukan keputusan. Dari sebaran api yang sangat dahsyat ini menyebabkan semua zat cair menguap. Fungsinya adalah untuk merasakan. Selanjutnya alam semesta menjadi tidak ada selama satu kalpa atau kurang lebih 432 juta tahun manusia. Dari Unsur Prakirti lahirlah Triguna yaitu. 6. Bab XIII sloka 20. Dari Mahat terciptalah alam Citta yang didalamnya terdiri dari tiga unsur yaitu Budhi. Srsti Setelah alam ini tidak ada pada masa pralaya .Hal ini disebutkan dalam Bhagawad Gita. Rajas unsur yang memiliki sifat dasar dinamis dan aktif. Pada saat alam ini tidak ada Tuhan menarik kembali semua manifestasi beliau di alam kemudian menjadikan diri dalam wujud sepi. manah dan ahamkara yang tercipta secara berurutan. 2. kosong dan hampa. Sedangkan Tamas adalah unsur yang meiliki sifat dasar gelap dan berat 4. 3. Purusa adalah unsur dasar kejiwaan atau rohani. Alam jagat raya dipenuhi hawa panas kemerahan dan dentuman halilintar yang sambung-menyambung dengan dahsyat. 2. tanpa permulaan dan tanpa akhir. 4. 6. 5. 7.Pralaya Pralaya adalah masa dimana alam semesta ini tidak ada. proses terciptanya alam semesta dapat digambarkan sebagai berikut : 1. Semua mahluk hidup mati dan hancur. Rajas. Pada kondisi seperti ini beliau disebut Paramasiwa atau Nirguna Brahman. Dimulai dari hancurnya ikatan api atau matahari yang kemudian menyebar keseluruh alam semesta. Pendidikan Agama Hindu 10/76 . Purusa dan prakirti keduanya sangat halus dan tidak bisa diamati. Tuhan Paramasiwa atau Nirguna Brahma menjadikan diri-Nya Sada Siwa ( Saguna Brahma ) yang berwujud Purusa dan Prakiti . dan Tamas. Budhi bersifat sattwam sehingga setiap keputusannya bersifat bijaksana. Perpaduan Purusa dan Prakirti menyebabkan Triguna tidak seimbang. Unsur-unsur Panca Maha Bhuta kembali menjadi atom yang amat halus sekali. sedangkan prakirti adalah unsur dasar kebendaan atau jasmani. 1.

Upasthendriya / Bhagendriya ( rangsang penggerak kelamin ) 10. Dari Panca Maha Bhuta inilah kemudian berkembang menjadi alam semesta beserta isinya yaitu mahluk hidup yang ada di bumi termasuk manusia. Apah ( zat cair ) e. Akasa ( ether atau ruang ) b. Wayu ( hawa atau udara ) c. Pendidikan Agama Hindu 11/76 . Padendriya ( yangsang penggerak kaki ) d. Garbhendriya ( rangsang penggerak perut ) b. yaitu lima macam unsur zat alam yang bersifat kasar. Sparsa Tanmatra ( sari rabaan ) c. Panindriya ( rangsang penggerak tangan ) c. Selanjutnya dari Ahamkara lahirlah yang disebut Manas. Selanjutnya lahirlah Panca Tanmatra yaitu lima unsur zat yang sangat halus terdiri dari : a. a. Srotendriya ( rangsang pendengar ) b. Teja ( api ) d. Jihwendriya ( rangsang pengecap ) e. terdiri dari: a. 9.8. Rupa Tanmatra ( sari warna ) d. yang terdiri dari Panca Buddhindriya terdiri dari . Evolusi berikutnya dengan pengaruh triguna dengan imbangan yang berbeda terciptalah Dasendriya . a. Prthiwi ( zat padat ) 12. yaitu akal atau pikiran yang berfungsi untuk berpikir. Twakindriya ( rangsang perasa ) c. Rasa Tanmatra ( sari rasa ) e. Caksundriya ( rangsang penglihatan ) d. Sabda Tanmatra ( sari suara ) b. Ganda Tanmatra ( sari bau ) 11. Granendriya ( rangsang pencium ) Panca Karmendriya terdiri dari. Dari Panca Tanmatra selanjutnya muncul Panca Maha Bhuta . Payundrita ( rangsang penggerak pelepasan ) e. Dari uraian di atas jelaslah bahwa semua yang ada di alam ini mengalir dan lahir dari Tuhan dan pada saatnya nanti akan kembali lagi ke dalam tubuhNya yang menjadi kosong dan hampa.

Jika digambarkan dalam skema maka proses terciptanya alam semesta sebagai berikut : Ida Sang Hyang Widhi Purusa Prakirti / Pradana Memiliki Triguna Mahat Citta Buddhi Ahamkara Manah Dasendriya Panca Tanmatra Panca Maha Butha Brahmanda Pendidikan Agama Hindu 12/76 .

Watala 3. Sutala 6. Sapta 1. Loka terdiri dari : Bhur loka ( alam manusia ) Bhuwah loka ( alam pitara ) Swah Loka ( alam dewa ) Maha loka Jana loka Tapa loka Satya loka ( ruang vakum= Nirguna Brahma ) Sapta Patala Sapta patala adalah lapisan bumi dari permukaan sampai dengan inti bumi. Kalagni Rudra ( ruang inti bumi ) B. Setelah tercipta Brahmanda-brahmanda termasuk bumi maka selanjutnya diciptakanlah mahluk hidup yang berawal dari mahluk hidup yang terrendah sampai dengan mahluk hidup yang tertinggi. 3. 2. manusia. Lapisan-lapisan ini berdasarkan kuat atau lemahnya pengaruh Panca Maha Bhuta. Asal mula atau proses penciptaan bhuwana alit Bhuwana alit adalah bagian dari bhuwana agung. Rasa tala Lebih dalam dari sapta patala masih terdapat dua lapisan lagi yaitu : a. 6. Hanya saja ada perbedaan perkembangan penciptaannya sesuai perimbangan triguna. Tala-tala 7. Mahatala 5. hewan dan tumbuhan.Sapta Loka Bumi sebagai salah satu Brahmanda hasil pembentukan Panca Maha Bhuta memiliki lapisan-lapisan. seperti. Patala ( kulit bumi ) 2. terdiri atas : 1. Pendidikan Agama Hindu 13/76 . 7. Lapisan bumi menuju ruang jagat raya disebut Sapta Loka. Nitala 4. Balagarba maha naraka ( ruang perantara di dalam bumi ) b. oleh karena itu proses penciptaan sama termasuk unsur-unsur pembentukannya. 5. BHUWANA ALIT Pengertian Bhuwana alit sering juga disebut Mikrokosmos adalah alam kecil atau dunia kecil yaitu isi dari alam semesta. 4.

4. Kelompok Dwi Pramana Adalah mahluk hidup yang memiliki dua kekuatan hidup yaitu Bayu dan Sabda. Mahluk ini dikenal dengan nama Satwa atau Sato. Pradana terdiri dari : Pendidikan Agama Hindu 14/76 . Trna yaitu bangsa rumput baik yang hidup di air maupun di darat. 3. Jarayuja yaitu binatang menyusui. Termasuk dalam golongan Sthawara adalah : 1. Kelompok Tri Pramana Adalah mahluk hidup yang memiliki tiga kekuatan hidup yaitu. 2. Lata adalah tumbuhan menjalar di tanah atau di pohon. Manusia memiliki unsur : 1. Bayu. Gulma adalah bangsa tumbuhan yang bagian luar pohon berkayu keras dan bagian dalam berongga atau kosong. Purusa yaitu atman sebagai sumber kehidupan 2. Adapun yang tergolong dalam Sato adalah : 1. Sabda adalah kekuatan suara dan Idep kekuatan pikiran. Swedaya yaitu binatang bersel Satu. tamas yang sesuai dan seimbang tercipta Kelompok Tri Pramana atau manusia. 3. Mahluk ini disebut juga Manusya. 5. 2. Sabda dan Idep. Jangama yaitu tumbuhan yang hidupnya menumpang pada pohon lain. rajas. Diantara mahluk hidup hanya manusialah yang memiliki semua unsur ciptaan Tuhan secara lengkap.Dari proses penciptaan Purusa dan prakirti dengan unsur-unsurnya sampai panca maha bhuta. Baik unsur terhalus sampai unsur paling kasar. Andaya yaitu binatang bertelur. Kelompok Eka Pramana Yaitu mahluk hidup yang hanya memiliki satu kekuatan dalam hidupnya yaitu Bayu. Selanjutnya jika semua unsur penciptaan tersebut lebih banyak guna rajas maka terciptalah kelompok Dwi Pramana atau hewan/ binatang. Bayu adalah kekuatan nafas. Mahluk hidup ini juga dikenal dengan nama Sthawara yaitu mahluk hidup yang tidak berpindah-pindah seperti tumbuhan.. dengan sifat tamas yang mendominasi terciptalah kelompok Eka Pramana atau tumbuh-tumbuhan. Yang membedakan antara manusia yang satu dengan yang lain adalah komposisi dan perimbangan unsur-unsur pembentukannya serta karmawasana yang telah dibentuknya. Taru yaitu semak dan pepohonan. Terakhir dengan perimbangan satwam.

Bhuwana Agung dan bhuwana alit diciptakan oleh pencipta yang sama. Sumsum ( sumsum) 4). sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Bhagawad Gita Bab VII. Manomaya Kosa yaitu badan dari sari pikiran. Asti ( tulang) 2). b. Panca Maya Kosa terdiri dari : 1). Bhuwana Agung dan bhuana alit memiliki unsur-unsur yang sama. Anandamaya Kosa yaitu badan dari sari kebahagiaan Suksma sarira yang dihidupi dengan unsur purusa ( atman ) disebut jiwatman. Jiwatman inilah yang selalu mengalami reinkarnasi jika selama bersatu dengan stula sarira sebagai manusia hidup di dunia belum berhasil melepaskan ikatan-ikatan karma untuk mencapai moksa yaitu bersatunya Atman dengan Brahman. Wijnanamaya Kosa yaitu badan dari sari pengetahuan. Hubungan itu dapat diuraikan minimal sebagai berikut : 1. Suksma sarira dari unsur Cita. Odwad ( Otot ) 3). 5). 5). Carma ( kulit ) C.a. 2. Bentukan hasil karma manusia antara suksma sarira dengan stula sarira menghasilkan Panca Maya Kosa yaitu lima lapisan halus badan manusia. dan Panca Tanmatra. Pranamaya Kosa yaitu badan dari sari nafas. Stula sarira yang berasal dari unsur Panca Maha Bhuta. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Ida Sang Hyang Widhi pada masa Srsti dan akan kembali kepada-Nya pada masa pralaya. 4). ahamkara. Rudhira ( darah ) 6). Sad Kosa terdiri dari : 1). sloka 6. Mamsa ( daging). manah. budhi. Annamaya kosa yaitu badan dari sari makanan 2). Dasendria. Pendidikan Agama Hindu 15/76 . Dari hasil karma dan konsumsi makanan manusia membentuk Sad Kosa yaitu enam lapis pembungkus stula sarira. HUBUNGAN BHUWANA AGUNG DENGAN BHUWANA ALIT Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit memiliki hubungan yang sangat erat satu sama lain. 3).

tetapi unsur-unsur pembentukannya adalah sama.Dalam proses penciptaan meskipun ada perbedaan waktu antara penciptaan alam semesta dengan mahluk yang ada di dalamnya . Skema itu dalat digambarkan sebagai berikut : Pendidikan Agama Hindu 16/76 .

Bhuwana agung dan bhuawana alit saling melengkapi. Parama Anu 8.Brahman ( Nirguna Brahma ) melaksanakn Tapa Nirguna Brahma ( Sada Siwa ) Purusa Prakirti ( pradhana ) Bhuwana Agung 1. Untuk alam ditata dan diatur dengan hukum alam. Dasendriya 6. Ahamkara 5. Ahamkara 5. Panca Tanmatra 7. Manah 4. Mahluk hidup diciptakan berada dan berkembang pada alam semesta. Pendidikan Agama Hindu 17/76 . Citta 2. Manah 4. siklus perputaran air ( hidrologi ). Panca Maha Bhuta 9. Panca Tanmatra 7. Alam dilengkapi untuk kehidupan dan perkembangan mahluk hidup dan mahluk hidup memiliki kemampuan untuk mengatur alam. Buddhi 3. Benih (Sukla/Swanita) Manusia 3. siklus perputaran musim dan sebagainya. Dasendriya 6. Proses saling melengkapi ini telah diatur dengan hukum Tuhan ( Rta ). seperti rotasi bumi dan matahari. Buddhi 3. Panca Maha Bhuta 9. Parama Anu 8. Sedangkan manusia ditata dan diatur dengan hukum karma yang didalamnya dibekali ilmu pengetahuan dan ajaran agama. Citta 2. Brahmanda Sapta Loka Sapta Patala Bhuwana Alit 1.

Intinya bahwa aktivitas manusia dipengaruhi oleh alam dan sebaliknya juga hasil aktivitas manusia tersebut akan mempengaruhi alam Pendidikan Agama Hindu 18/76 . 4. Pribadi. Sehingga di Bali kita mengenal pedewasan ( hari baik/buruk untuk aktivitas tertentu) yang bersumber pada pengaruh guna masing-masing posisi planet tersebut. perputaran planet-planet ini mempengaruhi posisi kedekatan dengan bumi. Karena bhuana agung dan bhuana alit memiliki unsur-unsur yang sama maka dalam proses hubungannya akan saling mempengarui. Alam memiliki unsur Triguna juga akan mempengaruhi semua pribadi dan aktivitas manusia. Penggunaan zat kimia yang merusak lapisan ozon dan polusi dari hasil pembakaran yang dilakukan manusia menciptakan rumah kaca sehingga terjadi pemanasan global. Sebaliknya segala aktivitas manusia juga dapat mempengaruhi kondisi alam. Alam memiliki musim maka manusia akan mengatur hidup dan fisiknya menyesuaikan dengan musim yang ada. budaya masyarakat serta kegiatan fisik manusia sangat dipengaruhi oleh alam. Manusia menciptakan berbagai alat untuk menyesuaikan diri dengan kondisi alam. Pembangunan yang tidak memperhitungkan tata lingkungan menyebabkan bencana alam banjir dan kebakaran. Bhuana agung dan bhuana alit saling mempengaruhi. Masing-masing posisi ini akan memberikan pengaruh yang berbeda pada manusia di bumi.Dengan demikian alam akan melengkapi kebutuhan manusia dan manusia akan melengkapi isi alam. Matahari serta planet-planet di semesta memiliki jenis guna yang berbeda-beda. Contoh sederhana manusia menciptakan kalender untuk pengaturan bercocok tanam bagi masyarakat agraris. Kondisi sekarang dengan ulah sebagian manusia yang merusak alam dan membabat habis hutan menyebabkan rusaknya siklus perputaran air.

bahkan untuk mencapai tujuan secara pribadi kita harus dapat memimpin diri sendiri. kantor. Kelompok dalam hal ini juga termasuk lingkungan profesi. dan seterusnya hingga kelompok negara bahkan dunia. Agar usaha seorang pemimpin berhasil menghantarkan kelompok/organisasi yang dipimpinnya mencapai tujuan maka diperlukan kemampuan untuk memimpin.RW. Ilmu kepemimpinan tidak saja diperlukan oleh pemimpin kelompok atau organisasi. serta organisasi sosial lainnya. URAIAN MATERI A. serta Kautalira Arthasastra. PENDAHULUAN Manusia adalah mahluk paling sempurna yang diciptakan Hyang Widhi di muka bumi dengan memiliki tri pramana yaitu sabda. Mampu menjelaskan pentingnya mempelajari ilmu kepemimpinan. Mampu menguraikan Teori dasar kepemimpinan. RT. Kelompok ini bisa dalam lingkungan rumah tangga. Raja Dharma. sebab setiap orang suatu saat pasti akan menjadi pemimpin. Disisi lain manusia adalah mahluk sosial yang hidup dalam kelompok tertentu. Semua kelompok ini dari kelompok yang terkecil hingga yang terbesar memiliki tujuan tertentu. atau Raja Niti. Kitab ini dikenal juga dengan nama Danda Niti. Mampu neneladani sifat-sifat kepemimpinan Hindu. Kitab ini berisi tentang ilmu Pendidikan Agama Hindu 19/76 . Mampu menguraikan konsep dasar kepemimpinan menurut ajaran Hindu. Kemampuan dalam hal memimpin suatu organisasi ini disebut kepemimpinan/ Leadership. d. Minimal akan menjadi pemimpin dalam keluarga. Kelurahan/Desa. bayu dan idep. setiap orang perlu mempelajari kepemimpinan. Tujuan manusia bisa bersifat individu maupun kelompok. c. Dengan memiliki idep ( pikiran ) maka manusia dalam hidupnya selalu memiliki tujuan serta memiliki upaya untuk mencapai tujuan tersebut. b. keluarga.BAB III KEPEMIMPINAN Standar Kompetensi Memahami hakekat kepemimpinan Hindu Tujuan Pembelajaran akhir Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan : a. Dalam usaha mencapai tujuan kelompok/organisasi tersebut perlu adanya pemimpin yang akan mengarahkan dan membawa kelompoknya untuk mencapai tujuan. Kepemimpinan dalam Hindu banyak dijabarkan dalam berbagai kitab antara lain Kitab Arthasastra. Tujuan yang bersifat individu adalah sesuatu yang ingin dicapai secara pribadi bagi diri sendiri.

Menurut Hindu diberi istilah Nitisastra. Istilah lain tentang kepeminpinan adalah Leadership. serta kelebihan tertentu dari bawahannya memiliki Kelebihan-kelebihan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin antara lain : Pendidikan Agama Hindu 20/76 . Heyt. aturan atau teori. pengetahuan. Niti artinya pemimpin. B. namun inti dari semua teori itu adalah sama yakni bertujuan agar seorang pemimpin berhasil membawa kelompoknya mencapai tujuan yang diinginkan. Jadi Nitisastra artinya ajaran tentang kepemimpinan. oleh karena itu penerapan konsep kepeimpinan juga berbeda dengan hasil yang berbeda pula. Dalam kaitan ini Nitisastra juga dapat diartikan sebagai konsep penataan pemerintahan dan pembangunan negara. Nitisastra berasal dari Bahasa Sansekerta. dari kata Niti dan Sastra. Dalam kaitan perbedaan karakter pribadi ini Howart W. dalam bukunya The Art of Leadership mengatakan bahwa kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau manusia sehingga tergerak untuk mengikuti kemauannya dengan ikhlas dalam rangka mencapai tujuan bersama. ajaran. Kata pimpin medapat awal pe. Dalam berbagai kitab nitisastra banyak mengulas tentang kepemimpinan suatu masyarakat atau tata pemerintahan. Sedangkan sastra artinya perintah. dalam bukunya Principles of Management menyebutkan bahwa kepemimpinan adalah keseluruhan aktivitas untuk mempengaruhi serta menggiatkan orang dalam usaha untuk mencapai tujuan. Menurut Gorge Terry. Di Bali beberapa lontar juga memuat tentang konsep kepemimpinan Hindu. Dalam hal ini karakter dan pribadi setiap pemimpin adalah berbeda. Untuk keberhasilan tersebut maka seorang pemimpin harus kemampuan. pertimbangan atau kebijakan. PENGERTIAN Kepemimpinan berasal dari kata pimpin yang artinya bimbing atau tuntun. Sumber lain tentang kepemimpinan Hindu juga tertuang dalam Itihasa Mahabarata dan Ramayana. Banyak teori dan konsep modern tentang kepemimpinan. Di Indonesia dalam Kitab Nagara Kertagama disusun oleh Empu Prapanca juga memuat tentang kepemimpinan Hindu.pemerintahan Hindu yang disusun oleh Maha Rsi Kautilya atau dikenal juga dengan nama Maha Rsi Chanakya.dan akhiran –an menjadi kata sifat yaitu sifat-sifat atau kemampuan seorang pemimpin. politik. Keberhasilan seorang pemimpin tidak saja ditentukan oleh penguasaan terhadap ilmu memimpin tetapi juga ditentukan oleh karakter atau pribadi pemimpin tersebut.menjadi kata benda “pemimpin” yang artinya orang yang berfungsi memimpin atau menuntun atau orang yang membimbing. Selanjutnya kata pemimpin ditambah awalan ke.

Seorang pemimpin disamping memiliki tugas dan tanggung jawab dia juga warus memiliki wewenang untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya tersebut. Pengertiannya adalah bahwa dalam mencapai tujuan tertinggi yaitu moksa ( kebahagiaan tertinggi). TUJUAN KEPEMIMPINAN HINDU Sebagaimana tujuan hidup menurut konsep Hindu yaitu moksartham jagat hita. masyarakat atau negara yang dipimpinnya mencapai keadaan bahagia lahir dan batin. Planning / Perencana Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk merencanakan segala sesuatu yang harus dikerjakan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Berlandaskan Dharma kemudian mencari artha ( materi ). D. Artha yang diperoleh berdasarkan dharma digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup ( kama). Organisation / Penataan Seorang pemimpin memiliki tugas untuk mampu menata dan menempatkan anggota /orang-orang dibawah pimpinannya pada tugas dan fungsi yang tepat sesuai dengan tingkat pengetahuan dan kompetensinya. Artha. 3. Jadi sangatlah keliru jika harta yang telah diperoleh dengan Dharma hanya digunakan untuk memenuhi keinginan ( kama ) di luar hukum dharma. Tugas dan wewang pemimpin adalah : 1. maka kepemimpinan Hindu bertujuan agar seorang pemimpin dapat menghantarkan kelompok. Kelebihan dalam menggunakan rasio atau pikiran. 3. 2. TUGAS DAN WEWENANG PEMIMPIN. Selanjutnya kebutuhan hidup yang utama harus dicapai adalah moksa / kebahagiaan. FUNGSI. harus diawali dengan menjalankan Dharma ( kebenaran agama). Catur Purushartha yaitu empat tujuan hidup manusia yang utama yaitu . Dharma. 2. Kama dan Moksa. Kelebihan dalam bidang jasmaniah. Kelebihan dalam bidang rohaniah.1. Direkting / Penanggung jawab pelaksana Pendidikan Agama Hindu 21/76 . Dalam rangka mencapai tujuan tersebut maka konsep Catur Purusha Artha menjadi landasan. C.

Setiap bagian dalam organisasi memiliki keterkaitan dengan bagian yang lain. Indra Brata. Dalam kaitan ini pemimpin harus memiliki kepekaan atas segala masukan positif dari bawahan. Asta Brata artinya delapan sikap mental seorang pemimpin yang merupakan cerminan dari delapan sifat dewa. Controlling / Pengawasan Setiap pelaksanaan tugas yang didelegasikan kepada bawahan harus diawasi dan dievaluasi oleh pimpinan. serta menjadi simbol semangat dan kekuatan hidup bagi negerinya. artinya seorang pemimpin harus memiliki sifat seperti Dewa Indra. Asta Brata Asta Brata adalah ajaran Sri Rama Kepada Gunawan Wibisana pada saat akan menjadi Raja Alengka Pura setelah Rahwana mati. 5. penguasa hujan. sehingga tujuan dapat tercapai dengan baik. b. artinya seorang pemimpin harus memberikan pencerahan dan penerangan bagi rakyatnya. Seorang pemimpin harus mampu memberikan kemakmuran pada rakyatnya. Pendidikan Agama Hindu 22/76 . terdiri dari : a. Ajaran tentang kepemimpinan Hindu antara lain : 1. KEPEMIMPINAN HINDU Dalam ajaran Hindu banyak konsep-konsep serta pedoman-pedoman yang harus menjadi tuntunan bagi seorang pemimpin. c. Oleh karena itu tiap bagian tidak dapat bekerja sendiri harus ada koordinasi dengan bagian yang lain. Candra Brata. seorang pemimpin harus memberikan keteduhan dan rasa aman dan nyaman bagi rakyatnya. Surya Brata. Tidak melupakan bahwa raja juga berasal dari rakyat biasa. Pengawasan yang lemah serta tidak ada evaluasi maka dapat dipastikan bahwa tujuan tidak akan dapat tercapai. 4.Pemimpin bertanggung jawab dan berusaha agar rencana yang telah ditetapkan dapat berhasil dengan baik. d. sertinya seorang pemimpin harus adil dalam menegakkan hukum dan peraturan. artinya sebagaimana sifat bulan. kemudian menjadi hujan. E. Coodination / Koordinasi Pemimpin bertugas untuk mengkoordinir semua anggota agar dapat bekerjasama sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. Yama Brata. sebagaimana hujan yang berasal dari air laut menguap keatas menjadi awan.

Baruna Brata. Pendidikan Agama Hindu 23/76 . tetapi harus mengetahui secara detail terutama kondisi rakyat jelata. pengangguran. Bayu Brata. tidak boros dan tidak korupsi. Agni Brata. h. artinya seorang pemimpin harus dapat mengelola keuangan secara tepat. artinya seorang pemimpin harus dapat membersihkan segala penyakit masyarakat seperti kemiskinan. atau dibalik meja . Pemimpin tidak hanya duduk di singgasana. kejahatan dan sebagainya. g. sebagaimana sifat angin selalu ada dimana-mana dan bergerak ke segala arah. f.e. Kuwera Brata. artinya pemimpin harus berani dan pantang mundur menghadapi segala tantangan. maka seorang pemimpin harus mengetahui segala keadaan rakyatnya.

Panca Upaya Sandhi Pendidikan Agama Hindu 24/76 . Abhigainika yaitu mampu menarik perhatian yang positif dari masyarakat. yaitu penuh pertimbangan dan jeli dalam menghadapi setiap masalah. f. Wicaksanengnaya. Ginengpatigina. optimis dan antusias. Aksudra Parisatha. Panca dasa Pramiteng Prabu terdiri dari : a. Prajna. memiliki moral yang luhur. yaitu pandai berkomunikasidan diplomasi. menyayangi isi alam. b. mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau golongan. m. Sumantri. terdiri dari : a.2. Sarjawa upasama. Teulelana. Tansatrsna. b. teguh hati dalam segala usaha. o. f. Wijayana. 3. artinya memiliki kemampuan mengontrol bawahan sekaligus memperbaiki hal-hal yang dipandang kurang baik. bangsa dan negara. Satya bhakti prabhu. e. Mantri Wira. artinya mampu membersihkan musuh-musuh negara. Masihi samasta bhuwana. Sifat-sifat inilah yang menjadi pedoman Maha Patih Gajah Mada sehingga berhasil mengawal Majapahit jaya. yaitu sabar dan rendah hati. g. Sakya Samanta. j. d. c. Wagmiwak. artinya mampu memimpin sidang dan mengambil keputusan yang bijaksana. h. Atma sampad. yaitu bijaksana dalam memimpin. k. Panca Dasa Pramiteng Prabu Adalah 15 ( lima belas ) sifat kepemimpinan yang ditulis oleh Empu Prapanca dalam Kitab Nagara Kertagama. artinya menjadi penasehat dan abdi negara yang baik. hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. yaitu setia dan taan pada atasan. Utsaha. n. i. d. Dibyacitta. yaitu mendapat kepercayaan dari bawahan. artinya bijaksana c. teguh iman. 4. Sad Warnaning Rajaniti Artinya enam sifat utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. toleransi dan menghargai pendapat orang lain. artinya memiliki kreativitas yang tinggi untuk memajukan kepentingan masyarakat. e. Natangguan. Dhirotsaha. Nayaken Musuh. l. yaitu pembrani dalam membela negara.

Rangkuman Kepemimpinan adalah sifat dan prilaku pemimpin dalam upaya membawa kelompok atau masyarakat yang dipimpin menuju cita-cita atau tujuan bersama yang telah ditetapkan. e. Dalam ajaran Hindu berbagai sifat dan syarat kepemimpinan antara lain. Upeksa. Panca Dasa Pramiteng Prabu. yaitu pandai berbicara di depan umum dan pandai berdiplomasi. Logika. Keberhasilan seorang pemimpin tergantung pada kemampuan ilmu kepemimpinan yang dimiliki serta kemampuan secara pribadi dalam mempedomani dan mengaktualisasikan syarat-syarat kepemimpinan. memimpin langsung ( direkting ). mengkoordinasikan ( coordination). Wiweka. d. Nawa Natya Artinya sembilan sikap teguh dan pekerti seorang pemimpin. yaitu teguh pendirian . terdiri dari : a. terdiri dari : a. dan Nawa Natya. b. Sad Warnaning Rajaniti. c. Pradnya Widagda. Wikrama. artinya kemampuan untuk mengumpulkan data-data permasalahan yang belum jelas kedudukannya. yaitu tidak pamrih pada harta benda. Dhirotsaha. Lagawangartha. Maya. yaitu tahu cara mengatasi kerusuhan. h. d. yaitu Selalu setia pada janji.Artinya lima cara seorang pemimpin untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah. Pragiwakia. f. tidak berdasarkan emosi. yaitu memiliki kemampuan membedakan yang benar dan salah. bijaksana dan memiliki berbagai ilmu pengetahuan. menata ( organisation). Indra Jala. dan data yang akurat. dan mengawasi ( kontroling). c. Pendidikan Agama Hindu 25/76 . Wruh ring sarwa bastra. e. artinya menganalisa data-data yang telah dikumpulkan kemudian mengklasifikasi data secara proporsional. i. Panca Upaya Sandhi tersurat dalam lontar Siwabudha Gama Tattwa. Panca Upaya Sandhi. artinya melaksanakan upaya penyelesaian sesuai dengan solusi yang telah ditetapkan. Sama upaya. yaitu memiliki sifat mulia dan luhur. g. Asta Brata. Wira Sarwa Yudha. Paramartha. 5. artinya setiap tindakan yang diambil harus berdasarkan pertimbangan akal sehat. b. artinya upaya untuk mencari solusi pemecahan masalah yang ada. Tugas dan fungsi seorang pemimpin adalah mampu untuk merencanakan (planning) . yaitu pemberani dan pantang menyerah. yaitu tekun dan ulet.

Pujian kebesaran Hyang Widhi beserta seluruh ciptaannya 2. estetika. suara kul-kul ( kentongan). Oleh karena itu maka seni dan budaya masyarakat Hindu tetap dijaga dan dikembangkan tetapi nilai-nilai ajaran kebenaran tetap mewarnainya. Dalam konsep Hindu bahwa seni budaya merupakan sarana untuk meningkatkan cipta dan rasa dalam rangka meningkatkan sradha bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi. Oleh karena itu setiap kegiatan ritual pemujaan kepada Hyang Widhi seni budaya menyatu di dalamnya.  Menyanyikan Dharma Gita yang mengandung nilai-nilai budaya. estetika dan etika moral dalam Dharma Gita. yaitu lima jenis suara dalam Upacara Yadnya. Kidung tergolong juga salah satu Dharma Gita. Lombok dan sebagainya. Cerita-cerita/dongeng yang berisi ajaran kebenaran. suara genta/bajra. Pelengkap pelaksanaan Upacara Agama ( Yadnya ) Dalam pelaksanaan upacara agama. 4. Secara umum materi dari Dharma gita biasanya berisi tentang : 1. dan suara gamelan. PENGERTIAN Dharma gita adalah suatu nyanyian kebenaran yang dinyanyikan dalam pelaksanaan upacara Agama Hindu. TUJUAN DAN FUNGSI DHARMA GITA Dharma gita adalah hasil kreasi budaya luhur umat Hindu. Umat Hindu dimana saja termasuk di Indonesia memiliki Dharma Gita sesuai dengan budaya setempat. Kisah-kisah sejarah kepahlawanan ( itihasa ). Dari pemahaman di atas tujuan dan fungsi Dharma Gita adalah : 1. Pendidikan Agama Hindu 26/76 . termasuk dalam hal ini Dharma Gita. A. Jawa. jadi jelas bahwa Dharma Gita sebagai pelengkap Upacara Yadnya. Kalimantan . suara kidung ( Dharma Gita ). B. dan etika moral dalam Dharma Gita.  Menunjukkan contoh-contoh nilai kebenaran. ( khususnya di Bali ) ada yang namanya Panca Paginda. Panca Paginda terdiri dari. suara mantra. Di India Dharma gita tentu saja memiliki irama khas India. demikian juga di Indonesia Dharma Gita memiliki ragam yang berbeda untuk Daerah Bali.BAB IV DHARMA GITA Standar Kompetensi Memahami nilai-nilai budaya dalam Dharma Gita Tujuan Akhir Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan mampu :  Menguraikan nilai-nilai kebenaran. Petuah-petuah luhur sebagai ajaran moral bagi umat Hindu 3.

JENIS-JENIS DHARMA GITA Pada awalnya istilah dharma gita lebih dikenal di Bali. Hal ini disebabkan karena syair-syair Dharma Gita sesuai dengan jenis Upacara Yadnya yang dilaksanakan.2. C. Sarana untuk menciptakan suana suci dan konsentrasi pemujaan Melantunkan Dharma Gita pada pelaksanaan Upacara agama akan menciptakan suana batin yang suci. Sloka biasanya bersumber dari kitab suci yang umumnya berbahasa Sansekerta. seperti di Jawa pada setiap kegiatan upacara dilantunkan tembang-tembang jawa . Kekawin/Kidung/Tembang Pendidikan Agama Hindu 27/76 . Manawa Dharma sastra dan sebagainya. Sarana untuk meningkatkan sradha bhakti Syair-syair Dharma Gita ada yang bersumber langsung dari kitab-kitab suci seperti. c. Dengan demikian maka dengan melantunkan Dharma gita berarti juga mengingatkan setiap orang tentang ajaran-ajaran agama. serta konsentrasi pemujaan kepada Hyang Widhi. Sarasamuscaya. Pada masa kini di beberapa daerah dharma gita muncul dari budaya lokal. Dalam membaca dan melantunkan irama ditentukan pada intonasi serta ketepatan pengejaan dan pemenggalan kata. Bhagawad Gita. sehingga semakin sering orang melantunkan atau mendengar Dharma Gita maka diharapkan pemahaman tentang ajaran agama semakin meningkat. Beberapa contoh Dharma Gita : a. Ada pula merupakan hasil cipta para kawi berisi tentang pemujaan kepada Hyang Widhi. b. Disamping itu irama Dharma gita juga biasanya mampu membawa suasana hati yang hening dan tentram 3. 4. Setelah penyebaran Hindu semakin meluas di nusantara maka budaya-budaya lokal mewarnai kegiatan upacara/Yadnya termasuk Dharma gita. Sarana ajaran moral Disamping untuk kegiatan upacara / yadnya Dharma Gita juga mengandung nasihat-nasihat tentang kesusilaan sehingga dapat dikatakan bahwa dharma gita juga sebagai sarana untuk pendidikan moral bagi masyarakat. Palawakya Palawakya menggunakan Bahasa Jawa kuno dan berbentuk prosa. Sloka Biasanya terdiri dari empat baris dalam satu bait dengan jumlah suku kata yang sama setiap barisnya. Juga di kalimantan ada kidung-kidung daerah yang diangkat dalam kelompok Dharma gita. oleh karena itu pengelompokan Dharma gita lebih banyak mengacu pada budaya Bali.

Di setiap daerah memiliki jenis-jenis kidung/tembang tersendiri. Sekar alit / pupuh Pendidikan Agama Hindu 28/76 . Sekar Agung / Kekawin 2). di Bali kidung dikelompokkan menjadi : 1). Sekar Madya/ kidung 3).

E. Carilah di berbagai sumber tentang jenis-jenis sekar agung. Namun perkembangan berikutnya juga sebagai sarana peningkatan sumber daya manusia umat Hindu dalam pembinaan sradha bhakti maka materi Utsawa Dharma Gita tidak saja lomba untuk Dharma gita tetapi juga ada lomba Dharma Wacana dan Dharma Widya yaitu lomba penguasaan pengetahuan agama bagi siswa tingkat sekolah dasar ( SD ) sampai tingkat sekolah menengah atas ( SMA/SMK ). Utsawa Dharma gita pada awalnya bertujuan untuk melestarikan. sekar madya dan sekar alit. PENDALAMAN Guna meningkatkan pengetahuan dan kompetensi lakukanlah kegiatan kegiatan berikut : a. secara berkala melaksanakan Utsawa Dharma Gita. Pelajari dan lantunkan kidung Kawitan Wargasari c.D. mengembangkan dan memasyarakatkan Dharma gita bagi umat Hindu Indonesia. b. tingkat provinsi dan tingkat nasional. UTSAWA DHARMA GITA Lembaga tertingi Agama Hindu di Indonesia yaitu Parisada Hindu Dharma Indonesia ( PHDI ). Tuliskan tiga bait kidung dengan jenis pupuh yang berbeda. Pendidikan Agama Hindu 29/76 . yaitu Dharma gita yang dilombakan. Nusa Tenggara Barat pernah sebagai pelaksana Utsawa Dharma Gita Tingkat nasional pada tahun 2004 yang dipusatkan Kota Mataram. Kegiatan ini dilaksanakan secara berjenjang dari tingkat kota/kabupaten. Pelaksanaan Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional biasanya dilaksanakan secara bergilir di beberapa daerah propinsi.

Menyebutkan bentuk-bentuk pelaksanaan Yadnya dalam kehidupan nyata dan kehidupan masyarakat. Pada dasarnya Yadnya adalah penyangga dunia dan alam semesta. Manusia harus berkorban untuk mencapai tujuan dan keinginannya. Dari satu sloka di atas jelas bahwa manusia saja diciptakan melalui yadnya maka untuk kepentingan hidup dan berkembang serta memenuhi segala keinginannya semestinya dengan yadnya. Yadnya berasal dari Bahasa Sansekerta dari akar kata “Yaj” yang artinya memuja. dengan ini engkau akan berkembang dan akan menjadi kamadhuk keinginanmu. Pada dasarnya Yadnya bukanlah sekedar upacara keagamaan. anena prasawiûyadham eûa wo ‘stw iûþa-kàma-dhuk artinya : Dahulu kala Prajapati ( Hyang Widhi ) menciptakan manusia dengan yajnya dan bersabda. Kesempurnaan dan kebahagiaan tak Pendidikan Agama Hindu 30/76 .BAB V YADNYA Standar Kompetensi Memahami Pelaksanaan Yadnya dalam kehidupan Tujuan Akhir Pembelajaran a. Dari proses awal ini jelas bahwa awal penciptaan awal dilakukan Yadnya yaitu pengorbanan diri Hyang Widhi dari Nirguna Brahma menjadi Saguna Brahma . Pemahaman ini tentu tidak salah karena upacara ritual keagamaan adalah bagian dari yadnya. d. Pada masa srsti yaitu penciptaan alam Hyang Hidhi dalam kondisi Nirguna Brahma ( Tuhan dalam wujud tanpa sifat ) melakukan Tapa menjadikan diri beliau Saguna Brahma ( Tuhan dalam wujud sifat Purusha dan Pradhana ). karena alam dan manusia diciptakan oleh Hyang Widhi melalui Yadnya. lebih dari itu segala aktivitas manusia dalam rangka sujud bhakti kepada hyang Widhi adalah Yadnya. PENGERTIAN DAN HAKEKAT YADNYA Pada awalnya banyak orang mengartikan bahwa yadnya semata upacara ritual keagamaan. Menguraikan hakikat dan tujuan yadnya c. sloka 10 disebutkan : saha-yajòàá prajàh såûþwà purowàca prajàpatih. Selanjutnya semua alam diciptakan secara evolusi melalui Yadnya. Mengaplikasikan nilai-nilai Yadnya dalam kehidupan nyata dan kehidupan masyarakat. Dalam Bhagawadgita Bab III. A. Secara etimologi pengertian Yadnya adalah korban suci secara tulus ikhlas dalam rangka memuja Hyang Widhi. Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan mampu : b.

tindakan . Oleh karena itu maka yadnya yang dilakukan oleh manusia tentu bertujuan untuk mencapai tujuan hidup manusia menurut konsep Hindu yakni Moksartham jagat hita ( Kebahagiaan sekala dan niskala ). sifat. dipelihara dan dikembangkan melalui yadnya. tulus dan ikhlas. seperti. Pengorbanan dalam hal ini bukan saja dalam bentuk materi. Paling tidak empat hal yang harus dilakukan manusia yaitu. TUJUAN YADNYA Dalam banyak sloka dari berbagai kitab menyatakan bahwa alam semesta beserta segala isinya termasuk manusia. korban pikiran. sembahyang. dan senantiasa bersyukur dan berterima kasih kepada Sang Pencipta. Pribadi dan jiwa manusia harus dibersihkan dari guna rajas dan guna tamas. Segala aspek yang dimiliki manusia dapat dikorbankan sebagai yadnya. Pribadi dan jiwa manusia dalam aktivitasnya setiap hari berinteraksi dengan sesama manusia dan alam lingkungan akan saling berpengaruh. Guna ( sifat satwam. Oleh karena itu tujuan Yadnya adalah : 1. penyucian diri. peningkatan kualitas diri. ucapan. Jika kita bersikukuh tidak rela kainnya dipotong dan dibuang sebagian maka sangat mustahil akan memperoleh sepotong baju. Jika manusia dan alam memiliki tingkatan guna satwam yang lebih banyak maka keharmonisan alam akan terjadi. Melalui Yadnya kita dapat menyucikan diri dan juga menyucikan lingkungan alam sekitar. Dari gambaran sederhana di atas dapat diambil kesimpulan bahwa demi mencapai kebahagiaan dan kesempurnaan hidup maka kita harus rela mengorbankan sebagian dari milik kita. rajas. Pendidikan Agama Hindu 31/76 . Tanpa dasar tersebut maka suatu pengorbanan bukanlah yadnya. dan tamas ) orang akan saling mempengaruhi. demikian juga “guna” alam akan mempengaruhi manusia. Sedangkan potongan yang tidak diperlukan tentu harus dibuang. maka kain yang utuh tersebut harus direlakan untuk dipotong sesuai dengan pola yang selanjutnya potongan-potongan tersebut dijahit kembali sehingga berwujud baju. Contoh sederhana bila kita memiliki secarik kain dan berniat untuk menjadikannya sepotong baju.mungkin akan tercapai tanpa ada pengorbanan. dan lain-lain termasuk nyawa sendiri dapat digunakan sebagai korban. B. Hyang Widhi akan merajut potonganpotongan pengorbanan kita dan menjadikannya sesuai dengan keinginan kita. Dalam rangka mencapai tujuan tertinggi tersebut manusia harus melakukan aktivitas dan berkarma. Untuk Penyucian Untuk mencapai kebahagiaan maka hidup ini harus suci. pengetahuan. Empat hal di atas semuanya dapat dicapai melalui Yadnya. Tanpa kesucian sangat mustahil keharmonisan dan kebahagiaan itu dapat tercapai. diciptakan . Untuk mencapai kebahagiaan maka manusia harus memiliki imbangan Guna Satwam yang tinggi. Tentu saja pengorbanan ini harus dilandasi rasa cinta.

Widyatapobhyam bhutatma buddhir jnanena suddhayanti” Pendidikan Agama Hindu 32/76 .Kitab Manawa Dharmasastra V.109 menyatakan : “ Adbhirgatrani suddhayanti mana satyena suddhayanti.

Artinya : Tubuh dibersihkan dengan air. Hanya dilahirkan sebagai manusia memiliki sabda. 3. dan idep dapat melakukan perbuatan baik sebagai cara untuk meningkatkan kualitas jiwatman. pikiran disucikan dengan kebenaran. Perbuatan baik yang paling utama adalah melalui Yadnya. Demikian juga untuk kesucian alam dan lingkungan lakukan upacara/ ritual sesuai dengan sastra agama sehingga kita akan senantiasa berada pada lingkungan yang suci. demikianlah gunanya menjadi manusia. phalaning dadi wwang. Oleh karena itu jadikanlah aktivitas sehari-hari kita sebagai yadnya. 2. Laksanakan kewajiban diri sendiri dengan penuh kesadaran dan keihlasan sehingga masuk dalam kelompok yadnya. hanya yang dilahirkan sebagai manusia saja yang dapat melaksanakan perbuatan baik atau perbuatan buruk. iking janma wwang juga wénang gumawayakén ikang çubhàçubhakarma. Lingkungan yang suci akan memberikan kehidupan yang suci juga bagi manusia. sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Sarasamuscaya sloka 2 sebagai berikut : Ri sakwehning sarwa bhùta. kunéng panéntasakéna ring çubhakarma juga ikangaçubhakarma. Demikian pula setiap kelahiran bertujuan untuk meningkatkan kualitas jiwatman sehingga tujuan tertinggi yaitu bersatunya atman dengan brahman ( brahman atman aikyam ) dapat tercapai. Dengan demikian setiap yadnya yang kita lakukan hasilnya adalah terjadinya peningkatan kualitas jiwatman. bayu . segala perbuatan yang buruk itu. Dengan demikian maka setiap kegiatan yang kita lakukan selalu memberikan kesucian pada diri pribadi. jiwa manusia dibersihkan dengan pelajaran suci dan tapa brata. Untuk meningkatkan kualitas diri Setiap kelahiran manusia selalu disertai oleh karma wasana. kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan yang benar. Artinya : Diantara semua mahluk hidup . Dari sloka di atas jelas kewajiban hidup manusia adalah untuk selalu meningkatkan kualitas diri melalui perbuatan baik. Sebagai sarana menghubungkan diri dengan Tuhan Pendidikan Agama Hindu 33/76 . oleh karena itu leburlah ke dalam perbuatan baik .

berbaktilah pada-Ku. Kita diberikan hidup sebagai manusia. Cara paling sederhana menghubungkan diri dengan Tuhan adalah sembahyang. dan kegiatan lain yang didasari pengabdian dan rasa ikhlas adalah salah satu contoh ungkapan rasa syukur dan ucapan terima kasih atas anugrah Tuhan untuk kesehatan. Terlebih Yadnya dalam bentuk Upacara/ritual jelas merupakan wujud nyata usaha menghubungkan manusia dengan Sang Penciptanya. Perlu kedisiplinan dan keihlasan dalam menjalaninya. Dengan olah rasa yang baik maka rasa syukur merupakan salah satu motivasi utama untuk selalu berbuat kebajikan. keselamatan diri. sebagaimana dalam ajaran Tri Hita Karana. dan tunduklah padaKu. Oleh karena itu hidup manusia dalam rangka mencapai tujuannya tidak akan lepas dari tuntunan dan kekuasaan Tuhan. engkau akan sampai kepada-Ku. serta hari suci lainnya ) salah satu tujuan utamanya sebagai Pendidikan Agama Hindu 34/76 . adalah suatu yang luar biasa. odalan. 4. Sembahyang artinya menyembah Hyang Widhi. Untuk menjaga agar senantiasa jalan kehidupan kita pada arah yang benar dan selalu mendapat sinar suci serta tuntunan Hyang Widhi maka haruslah kita selalu menjalin hubungan yang harmonis dengan Tuhan. dan dengan mendisiplinkan dirimu serta menjadikan-Ku sebagai tujuan. Untuk senantiasa dapat memusatkan pikiran dan memuja Hyang Widhi tidaklah mudah. memuja Hyang widhi maka tujuan tertinggi pasti akan tercapai sebagaimana sabda Tuhan dalam Bhagawad Gita Bab IX sloka 34 : Pusatkan pikiranmu pada-Ku. Ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Hyang Widhi itulah dilakukan dengan Yadnya Bekerja dengan benar dan giat. maupun berkala ( rahinan. maturan sehari-hari dsb ). Upacara/ritual yang dilakukan Umat Hindu baik yang bersifat rutin (contohnya ngejot. Manusia memiliki rasa dan pikiran dan dalam tatanan kehidupan sosial terikat pada aturan susila dan moral. belajar giat. Satusatunya cara agar kita selalu dapat menghubungkan diri dengan Maha Pencipta adalah dengan mempelajari. dilahirkan pada keluarga yang satwam. menolong orang yang kesusahan. dan diciptakan bersama bumi yang penuh keindahan dan kedamaian. Jika dalam kehidupan kita senantiasa dapat memusatkan pikiran.Alam semesta dengan segala isinya termasuk manusia adalah ciptaan Hyang Widhi. berada pada lingkungan sosial yang baik . Yadnya dalam kegiatan karma keseharian adalah sarana untuk menghubungkan diri dengan Tuhan. memahami dan melaksanakan Yadnya. rejeki. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi manusia bijak untuk tidak bersyukur dan tidak berterima kasih kepada Sang Pencipta. Sebagai ungkapan rasa terima kasih. serta kehidupan yang kita terima.

Asura. bahkan bakteri dan kumanpun semuanya memiliki tugas dan fungsi tersendiri dalam memutar kehidupan ini. Tri Rna terdiri dari : a. Alam dengan segala isinya memiliki keterkaitan dan ketergantungan satu sama lain. mereka yang tidak ikut memutar roda kehidupan ini. manusia dengan sesamanya dan keharmonisan hubungan manusia dengan alam. bintang. Dewa Rna. pada dasarnya bersifat jahat. Dewa Yadnya dalam bentuk pemujaan kepada Hyang Widhi serta melaksanakan Dharma. Rsi Rna. Oleh karena itu manusia sebagai bagian alam semesta mempunyai kewajiban untuk menjalankan tugas dan fungsinya untuk ikut menciptakan keharmonisan kehidupan. Dalam melaksanakan Yadnya ada tiga kewajiban utama yang harus dilunasi manusia atas keberadaannya di dunia ini yang disebut Tri Rna ( tiga hutang hidup). Sekecil apapun ciptaan-Nya memiliki fungsi tersendiri dalam kehidupan ini. binatang. Perlu diingat bahwa Yadnya tidak semata-mata dilaksanakan dengan upakara/ritual. yaitu hutang hidup kepada Hyang Widhi yang telah menciptakan alam semesta termasuk diri kita. Butha Yadnya dilakukan untuk memelihara alam lingkungan sebagai tempat kehidupan semua mahluk. Untuk menciptakan kehidupan yang harmonis Hyang Widhi menciptakan alam dengan segala isinya untuk memutar kehidupan. Pitra Rna. Untuk semua ini wajib kita bayar dengan Dewa Yanya dan Bhuta Yadnya. Dewa. wahai Agar perputaran roda kehidupan ini berjalan dengan harmonsi maka peranan manusia sangat penting. Yadnya menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Hyang Widhi. Hanya dengan Yadnya keharmonisan alam dapat tercipta. Dalam Bhagawad Gita . Tri Rna ini dibayar dengan pelaksanaan Panca Yadnya. 5. manusia. b.16 dijelaskan : Di dunia ini. Jika manusia dalam melakoni hidup penuh keserakahan dan mengabaikan prinsip-prinsip Dharma maka kehancuran pasti terjadi. bulan. c. yaitu hutang kepada para Rsi yang mengorbankan kehidupannya sehingga dapat memberikan pencerahan kepada manusia melalui ajaran-ajarannya sehingga manusia dapat menjalani hidup dengan lebih baik. Leluhur dan orang tua sangat memiliki peranan besar atas kehidupan kita saat ini. tumbuhan. memperturutkan nafsu semata Pàrtha dan mengalami penderitaan. Rsi Rna dilunasi dengan melaksanakan Rsi Yadnya. III. Karma leluhur dan orang tua berpengaruh terhadap keberadaan Pendidikan Agama Hindu 35/76 . yaitu hutang kepada orang tua dan leluhur.ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Hyang Widhi atas semua anugrah Beliau.

Paling tidak kelahiran kita di dunia karena adanya leluhur dan orang tua. Membayar hutang kepada orang tua dan leluhur dilakukan dengan Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya Pendidikan Agama Hindu 36/76 . Oleh karena itu maka sudah menjadi kewajiban untuk membalas hutang tersebut.setiap orang.

C. BENTUK DAN JENIS YADNYA 1. Bentuk – bentuk Yadnya Kitab Bhagawad Gita dalam berbagai sloka menjelaskan bahwa bentuk-bentuk yadnya terdiri dari : a. Yadnya dalam bentuk persembahan/Upakara b. Yadnya dalam bentuk pengendalian diri/tapa c. Yadnya dalam bentuk aktivitas/karma d. Yadnya dalam bentuk harta benda / kekayaan/punia e. Yadnya dalam bentuk ilmu pengetahuan/jnana Sampai saat ini di Indonesia khususnya di Bali hampir sebagian besar umat Hindu masih mengartikan dan mengutamakan bahwa yadnya adalah upacara/ritual. Padahal upakara/ritual itu adalah salah satu bagian dari bentukbentuk yadnya. Sangat sedikit Umat Hindu di Indonesia yang memberikan proporsional untuk melaksanakan bentuk-bentuk yadnya yang lainnya. Hindu memberikan keluasan kepada pemeluknya dalam beryadnya sesuai dengan kondisi dan kemampuan yang ada dengan peluang kesempatan hasil yang sama. Dengan demikian apapun bentuk yadnya yang kita lakukan sepanjang sesuai dengan konsep Dharma maka akan memperoleh hasil yang maksimal. 2. Jenis-jenis Yadnya Secara garis besar yadnya dapat kelompokkan sebagai berikut : a. Dari segi waktu pelaksanaan Yadnya dapat dibedakan : 1). Nitya Yadnya Yaitu yadnya yang dilakukan secara rutin setiap hari. Yadnya ini antara lain; dalam bentuk persembahan yang berupa yadnya sesa, atau persembahyangan sehari-hari. Sedangkan bagi sulinggih melakukan Surya Sewana. Yadnya dalam bentuk yang lain dapat dilaksanakan melalui aktivitas sehari-hari. Bagi seorang siswa kewajiban sehari-hari adalah belajar , bila dilakukan dengan penuh ikhlas merupakan yadnya. Bagi seorang petani, tukang, pegawai dan sebagainya yang melaksanakan tugas sehari-hari dengan konsentrasi persembahan kepada Tuhan disertai keikhlasan juga merupakan Nitya Yadnya. 2). Naimitika Yadnya Yaitu Yadnya yang dilaksanakan secara berkala/ waktu-waktu tertentu. Khusus untuk yadnya ini terutama yadnya dalam bentuk persembahan /upakara yaitu Upacara Piodalan, Sembahyang Purnama dan Tilem, Hari Raya baik menurut wewaran maupun sasih. Bagi bentuk yadnya yang lain tergantung kebiasaan pribadi perorangan/kelompok orang. Ada orang pada setiap hari raya tertentu Pendidikan Agama Hindu 37/76

melaksanakan tapa brata sebagai wujud yadnya pengendalian diri. Ada pula yang pada waktu tertentu setiap tahun atau setiap bulan melakukan dana punia baik dihaturkan kepada sulinggih, orang tidak mampu dan sebagainya. Disamping itu ada juga bentuk yadnya yang dilaksanakan secara insidental sesuai kebutuhan dengan waktu yang tidak tetap/ tidak rutin. Contohnya upacara ngaben, nangluk merana, tirtayatra. Demikian juga bentuk yadnya yang lain adakalanya dilakukan tidak dengan jadwal waktu tertentu. Misalkan jika ada ujian sekolah ada siswa / mahasiswa yang puasa. Ada orang yang tanpa diduga memperoleh rejeki yang lebih , maka sebagian dipuniakan untuk pura atau untuk panti asuhan.

b. Berdasarkan nilai materi / jenis bebantenan suatu yadnya digolongkan menjadi : 1). Nista, artinya yadnya tingkatan kecil yang dapat di bagi lagi menjadi :  Nistaning nista, adalah terkecil dari yang kecil  Madyaning nista, adalah tingkatan sedang dari yang kecil.  Utamaning Nista, adalah tingkatan terbesar dari yang kecil 2). Madya, yaitu yandnya tingkatan sedang yang dapat dibagi lagi menjadi :  Nistaning Madya, adalah tingkatan terkecil dari yang sedang.  Madyaning madya, adalah tingkatan sedang dari yang sedang.  Utamaning madya, adalah tingkatan terbesar dari yang sedang. 3). Utama, yaitu yadnya tingkatan besar yang dapat dibagi menjadi :  Nistaning utama, adalah tingkatan terkecil dari yang besar  Madyaning Utama, adalah tingkatan sedang dari yang besar.  Utamaning Utama, adalah tingkatan terbesar dari yang besar.

c. Sedangkan apabila ditinjau dari tujuan pelaksanaan atau kepada siapa yadnya tersebut dilaksanakan, dapat digolongkan menjadi : 1). Dewa Yadnya 2). Rsi Yadnya 3). Pitra Yadnya 4). Manusa Yadnya 5). Bhuta Yadnya Kelima jenis yadnya di atas dikenal dengan istilah Panca Yadnya. Uraian mengenai Panca Yadnya akan dibahas tersendiri setelah bagian ini.

Pendidikan Agama Hindu

38/76

d. Dari segi kualitas yadnya dapat dibedakan atas: 1). Satwika Yadnya yaitu yadnya yang dilaksanakan dasar utama sradha bakti, lascarya, dan semata melaksanakan sebagai kewajiban. Apapun bentuk yadnya yang dilakukan seperti; persembahan, pengendalian diri, punia, maupun jnana jika dilandasi bakti dan tanpa pamrih maka tergolong Satwika Yadnya. Yadnya dalam bentuk persembahan / upakara akan sangat mulia dan termasuk satwika jika sesuai dengan sastra agama, daksina, mantra, Annasewa, dan nasmita. 2). Rajasika Yadnya yaitu yadnya dilakukan dengan motif pamrih serta pamer kemewahan, pamer harga diri, bagi yang melakukan punia berharap agar dirinya dianggap dermawan. Seorang guru/pendarmawacana memberikan ceramah panjang lebar dan berapi-api dengan maksud agar dianggap pintar; semua bentuk yadnya dengan motif di atas tergolong rajasika yadnya. Seorang yang melakukan tapa, puasa tetapi dengan tujuan untuk memperoleh kekayaan, kesaktian fisik, atau agar dianggap sebagai orang suci juga tergolong yadnya rajasik. 3). Tamasika Yadnya yaitu yadnya yang dilaksanakan tanpa sastra, tanpa punia, tanpa mantra dan tanpa keyakinan. Ini adalah kelompok orang yang beryadnya tanpa arah tujuan yang jelas,hanya ikut-ikutan. Contoh orang-orang yang tegolong melaksanakan tamasikan yadnya antara lain orang yang pergi sembahyang ke pura hanya ikut-ikutan, malu tidak ke pura karena semua tetangga pergi ke pura, orang gotong royong di pura atau di tempat umum juga hanya ikut-ikutan tanpa menyadari manfaatnya. Termasuk dalam katagori ini adalah orang yang beryadnya karena terpaksa. Terpaksa maturan karena semua orang maturan. Terpaksa memberikan punia karena semua orang melakukan punia. Terpaksa puasa karena orang-orang berpuasa. Jadi apapun yang dilaksanakannya adalah sia-sia, tiada manfaat bagi peningkatan karmanya. Jenis-jenis yadnya di atas diuraikan dalam Kitab Bhagawad Gita dalam beberapa sloka. Untuk Yadnya yang berbentuk persembahan/upakara akan tergolong kualitas Satwika bila yadnya dilaksanakan berdasarkan :  Sradha, artinya yadnya dilaksanakan dengan penuh keyakinan  Lascarya, yaitu yadnya dilaksanakan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sedikitpun.  Sastra, bahwa pelaksanaan yadnya sesuai dengan sumber-sumber sastra yang benar.  Daksina, yaitu yadnya dilaksanakan dengan sarana upacara serta punia kepada pemuput yadnya/manggala yadnya. Pendidikan Agama Hindu 39/76

adalah persembahan minyak dan susu kepada para dewa. artinya memberikan jamuan kepada tamu yang menghadiri upacara. 2. Kitab Sathapata Brahmana.Mantra dan gita. menjelaskan panca yadnya sebagai berikut : a. namun pada intinya memiliki kesatuan tujuan yang sama. c.  Annasewa. adalah penerimaan tamu dengan ramah-tamah. adalah pelaksanaan upacara bali untuk butha. Brahma yadnya. Kitab Manawa Dharmasastra Kitab Manawa Dharmasastra memberikan penjelasan tentang Panca Yadnya sebagai berikut : a. Pitra Yadnya. d. Manusa Yadnya. Penjelasan-penjelasan tersebut antara lain : 1. yaitu persembahan makanan untuk sesama manusia. Sedangkan kualitas yadnya yang harus dicapai setiap pelaksanaan yadnya adalah Satwika Yadnya. yaitu yadnya untuk para bhuta b. Dengan jamuan maka karma dari doa para tamu undangan menjadi milik sang yajamana. b. Dalam beberapa kitab dan pustaka memberikan penjelasan tentang Panca Yadnya yang berbeda. Brahma Yadnya. Pendidikan Agama Hindu 40/76 . yaitu persembahan yang ditujukan untuk leluhur ( disebut swadha). yaitu persembahan kepada para dewa ( disebut swaha ). bahwa yadnya yang dilaksanakan bukan untuk memamerkan kekayaan dan kemewahan Apapun jenis yadnya yang kita lakukan seharusnya yang menjadi tolok ukur adalah kualitas yadnya. Pitra Yadnya. Nara Yadnya . Bhuta Yadnya. e. Tidak ada gunanya yadnya yang besar tetapi bersifat rajas atau tamas. yaitu yang dilaksanakan dengan mempelajari pengucapan mantram cusi weda.  Nasmita. e. c. Dewa yadnya. yaitu dengan melantunkan doa-doa serta kidung suci sebagai pemujaan. Jamuan ini penting karena setiap tamu yang datang ikut berdoa agar pelaksanaan yadnya berhasil. Pelaksanaan Panca yadnya adalah sebagai realisasi dalam melunasi kewajiban manusia yang hakiki yaitu Tri Rna ( tiga hutang hidup ). adalah persembahan tarpana dan air kepada leluhur. PANCA YADNYA Panca Yadnya adalah lima macam korban suci dengan tulus ikhlas yang wajib dilakukan oleh umat Hindu. Kitab ini merupakan bagian dari Reg Weda. Dewa Yadnya. Bhuta Yadnya. d. adalah persembahan yang dilaksanakan dengan belajar dan mengajar secara tulus ikhlas.  D.

Lontar Korawa Srama a. Dalam lontar Korawa Srama terdapat penjelasan Panca yadnya sebagai berikut: b. Rsi Yadnya. b. yakni hutang hidup kepada Ida Sang Hyang Widhi. yaitu persembahan dengan minyak dan biji-bijian kehadapan Dewa Siwa dan Dewa Agni di tempat pemujaan dewa. buah-buahan. Rsi Yadnya. Manusa Yadnya adalah persembahan makanan kepada masyarakat. Bhuta Yadnya. d. Dari beberapa sumber di atas yang lebih tepat digunakan sebagai dasar pelaksanaan yadnya di Indonesia adalah Lontas Agastya Parwa. makanan. Bhuta Yadnya. penuh tanggung jawab dan menjadikan aktivitas tersebut sebagai persembahan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagaimana sabda Tuhan melalui Bahagawad Gita dalam beberapa sloka seperti : Pendidikan Agama Hindu 41/76 . d. c. Pitra Yadnya. e. yaitu persembahan dengan mensejahterakan tumbuhan dan menyelenggarakan upacara tawur serta upacara panca wali krama. adalah mempersembahkan puja dan banten kepada bhuta. Pelaksanaan Dewa Yadnya dapat dilakukan dengan berbagai bentuk.3. c. adalah persembahan punia. Manusa Yadnya. yaitu persembahan dengan menghormati pendeta dan membaca kitab suci. Dewa Yadnya dilaksanakan terutama dalam rangka memenuhi kewajiban Dewa Rna. Pitra Yadnya adalah mempersembahkan puja dan banetn kepada leluhur. keikhlasan. adalah persembahan yang tulus iklhas kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya. Aktivitas kehidupan sehari-hari dapat diwujudkan menjadi yadnya dengan cara melaksanakan semua aktivitas yang didasari oleh kesadaran. e. yaitu persembahan dengan memberi makanan kepada masyarakat. f. Lontar Agastya Parwa Penjelasan tentang Panca Yadnya dari lontar Agastya Parwa adalah yang menjadi acuan utama pelaksanaan yadnya di Indonesia. dan barang yang tidak mudah rusak kepada para Maha Rsi. Menurut lontar ini Panca yadnya adalah : a. Dewa Yadya. yaitu upacara kematian agar roh yang meninggal mencapai alam Siwa. 4. adalah persembahan dengan sesajen dan mengucapkan Sruti dan Stawa pada waktu bulan purnama. Dewa Yadnya. Tetapi dalam konteks pengertian dan pelaksanaannya mengacu pada penjelasan-penjelasan Kitab Weda sehingga di Indonesia Panca Yadnya dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Dewa Yadnya.

Saktàá karmaóy awidwàmso yathà kurwanti bhæata. dunia ini terbelenggu oleh kegiatan kerja.25 ) Artinya: Seperti orang bodoh yang bekerja karena pamrih dari kegiatannya. lakukanlah selalu kegiatan kerja yang harus dilakukan. tetapi tanpa pamrih dan semata-mata dengan keinginan untuk memelihara kesejahteraan tatanan dunia ini saja. tanpa keterikatan. lakukanlah kegiatanmu sebagai pengorbanan dan jangan terikat dengan hasilnya. III. Asakto hy àcaran karma param àpnoti pùrsaá ( Bhagawad Gita.Yajòàathàt karmano ‘nyatra loko ‘yaý karma-bandhanah. wahai ( Arjuna ). Pendidikan Agama Hindu 42/76 .19 ) Artinya: Oleh karena itu. Kuryàd widwàýs tathàsaktaú cikìrûur loka-saògraham ( Bhagawad Gita. karena dengan melakukan kerja tanpa pamrih seperti itu membuat manusia mencapai tingkatan tertinggi. III. Tad-artham karma kaunteya mukta-saògaá samàcara ( Bhagawad Gita. demikian pula hendaknya orang Bhàrata terpelajar bekerja. wahai putra Kunti ( Arjuna). Oleh karena itu.9 ) Artinya: Kecuali kerja yang dilakukan sebagai dan untuk tujuan pengorbanan. III. Tasmàd asaktaá satataý kàryaý karmasamàcara.

yaitu upacara tingkat berikutnya yang bertujuan lebih menyempurnakan jiwatman yang telah diabenkan dari alam surga menuju alam dewa/moksa. Oleh karena itu hutang hidup ini harus dibayar dengan bentuk Upacara Pitra Yadnya. sebab jika tidak maka karma baik atas upacara yadnya yang dilaksanakan akan menjadi milik sang pemuput karya. Jika semua yadnya yang dilaksanakan dengan tujuan sebagai persembahan kepada Tuhan maka jadilah yadnya tersebut Satwika. Sedangkan bentuk lain Rsi Yadnya adalah dengan melaksanakan ajaran-ajaran suci para rsi. mukur. Asti Wedana yaitu tingkatan upacara pitra yadnya yang lebih tinggi yang umumnya disebut NGABEN. Menurut Hindu atas jasa para rsi dan orang suci ini menyebabkan kita memiliki hutang yang disebut Rsi Rna. ngeroras. c. Upacara ini biasanya dilakukan untuk orang yang waktu meninggal telah mekingsan ring geni. Pitra Yadnya. Pelaksanaan yadnya ini sebagai wujud terima kasih atas segala jasa yang telah diberikan oleh para rsi dan orang suci pada kita . hormat dan bakti serta melayani para sulinggih/ orang suci secara tulus ikhlas. maligia. Dalam Kitab Suci Bhagawad Gita banyak dijelaskan berbagai bentuk yadnya yang Satwika.Selanjutnya jika kita beryadnya dalam bentuk dana/harta . Bentuk atma wedana antara lain. Pendidikan Agama Hindu 43/76 . Pitra yadnya wajib dilakukan untuk membayar hutang hidup kepada orang tua dan leluhur yang disebut Pitra Rna. atau yadnya dalam bentuk tapa serta yadnya dalam bentuk persembahan/upakara haruslah dilakukan dengan ikhlas dan tanpa pamrih. 3. yakni upacara perawatan dan penyelesaian jenasah seperti dikubur ( mekingsan ring pertiwi ). Upacara ini dikenal juga dengan nama SWASTA.  Ngerca Wedana yaitu upaca ngaben dengan membakar simbol sebagai pengganti tulang/jenasah orang yang sudah meninggal. Rsi Yadnya. Dalam melaksanakan upacara seharusnya sang yajamana menghaturkan punia daksina pada sulinggih/ pemuput karya yang sesuai. adalah pengorbanan yang tulus ikhlas untuk para leluhur dan orang tua.  Asti Wedana yaitu upacara pengabenan dengan membakar jenasah yang sudah berbentuk tulang ( sudah dikubur terlebih dahulu). b. Di Bali Upacara Pitra Yadnya dikenal memiliki beberapa tingkatan seperti : a. Sawa Prateka. atau juga jenasah yang dikubur tetapi tulangnya tidak ditemukan. 2. dibakar ( mekingsan ring geni) dsb.Tanpa ada leluhur dan orang tua sangat mustahil kita akan lahir di dunia ini. Bentuk asti wedana adalah :  Sawa Wedana yaitu upacara ngaben bila yang dibakar adalah jenasah. Contoh Rsi Yadnya yang berbentuk Upakara adalah Rsi Bojana. adalah persembahan yang tulus ikhlas kepada para rsi dan orang suci. Atma Wedana. atau meninggal tetapi jenasahnya tidak ditemukan ( misalnya meninggal di laut atau di hutan ). atau beryadnya dalam bentuk jnana (pengetahuan).

Artinya jika kita memberikan nasehat atau ilmu kepada orang lain yang menyebabkan orang tersebut memperoleh kebahagiaan hidup maka itu tergolong juga manusa yadnya. bayu dan idep memiliki peranan penting dalam menciptakan keharmonisan kehidupan. tetapi bagi semua manusia tanpa memandang suku. Butha Yadnya. 5. Melayani orang tua semasih hidup dengan ikhlas serta tidak mengecewakan dan menyakiti hati orang tua adalah merupakan pitra yadnya utama. sempurna kembali menuju alamnya sendiri dan tidak mengganggu kehidupan manusia. Secara sekala wujud bhuta yadnya adalah usaha kita agar menjaga kelestarian alam. maka bentuknya tidak selalu upacara. Demikian pula memberikan dana punia untuk pendidikan anak bagi keluarga tidak mampu atau melaksanakan bhakti sosial pengobatan bagi masayarakat kurang mampu juga termasuk manusa yadnya. Jadi pitra yadnya dalam kaitan kewajiban sebagai siswa adalah dengan belajar sebaikbaiknya sebagaimana harapan orang tua. Jika memahami pengertian manusa yadnya. sejak dalam kandungan sampai menuju grahasta ( perkawinan). Manusia sebagai mahluk yang memiliki sabda. tidak merusak mata air. E. Sesuai dengan pengertian tersebut maka segala bentuk pengobanan yang bertujuan untuk kebahagiaan hidup manusia adalah tergolong manusa yadnya. hutan lindung. adalah pengorbanan yang tulus ikhlas untuk kebahagiaan hidup manusia. Tujuan bhuta yadnya adalah agar para bhuta kala “somya”. dan karma sepanjang tujuan yadnya tersebut adalah untuk kebahagiaan hidup manusia. serta peruntukannya bukan hanya untuk anak ( keturunan sendiri).Disamping bentuk upacara pitra yadnya sebagaimana dijelaskan di atas yang lebih penting dilakukan masa kini adalah bagaimana usaha kita untuk menjunjung nama baik dan kehormatan leluhur dan orang tua. 4. Dengan demikian maka sasaran manusa yadnya bukan hanya untuk anak/ keturunan sendiri. adalah pengorbanan yang tulus iklhas untuk para butha agar tercipta kedamaian dan keharmonisan hidup di dunia. Manusa Yadnya. PENILAIAN YADNYA Pendidikan Agama Hindu 44/76 . Oleh karena itu manusia melaksanakan bhuta yadnya agar keseimbangan hidup tercipta. upacara. Bentuk manusa yadnya bisa bermacam-macam seperti yadnya dalam bentuk dana. Menurut konsep Hindu bahwa semua yang ada di dunia ini adalah ciptaan Hyang Widhi yang memiliki fungsi tersendiri dalam memutar roda kehidupan. Jadi semua mahluk termasuk para bhuta memiliki hak hidup. agama maupun golongan. jnana. serta tindakantindakan lain yang dapat menjadi penyebab bencana alam. Selama ini pemahaman sebagian umat Hindu bahwa manusa yadnya semata-mata upacara yang dilaksanakan oleh orang tua bagi anak-anaknya.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah : Bentuk apakah yadnya yang kita lakukan? Selanjutnya kita dapat bertanya apakah yandya yang kita lakukan tergoong Nitya Yadnya ataukah Naimitika Yadnya? Jika Yadnya tersebut berkaitan dengan materi.Dari uraian di atas maka kita akan dapat menilai diri sendiri tentang yadnya yang kita lakukan. ataukah nista? Selanjutnya kita harus menggoongkan lagi kepada siapakah yadnya tersebut ditujukan? Apakah kepada Ida Sang Hyang Widhi. Untuk itu kita perlu secara jujur menjawab beberapa pertanyaan untuk dianalisa kemudian menilai atas yadnya yang kita laksanakan. Rajas ataukah Tamas? Dengan melakukan penilaian diri terhadap setiap tindakan karma. Pendidikan Agama Hindu 45/76 . Hidup ini adalah untuk meningkatkan kwalitas karma jiwatman sebagaimana yang disampaikan dalam kitab Sarasamuscaya . Manusia. madya. Rsi. apakah tergolong utma. sloka 2. Pitra. ataukah Bhuta? Terakhir sebagai tolok ukur karma yang paling penting harus kita nilai apakah yadnya yang kita lakukan bersifat Satwam. maka kita dapat berharap bahwa hidup ini tidak akan sia-sia.

Carilah sloka-sloka Bhagawad Gita yang berkaitan dengan bentuk-bentuk yadnya 2.F. PENGALAMAN YADNYA a. PENDALAMAN MATERI Tugas siswa : 1. Buatlah tulisan tentang pengalaman pribadi anda minimal dua pengalaman yang dapat digolongkan sebagai yadnya. Untuk memudahkan dapat digunakan format berikut ini. Kemudian berikan penilaian atas pengalaman yadnya tersebut dengan alasannya masingmasing. Penilaian NO Penialaian 1 Bentuk : 2 3 4 5 Waktu Pelaksanaan : Materi : Tujuan : Kwalitas : Alasan Pendidikan Agama Hindu 46/76 . Kegiatan/Peristiwa b.

PENDAHULUAN Susila adalah bagian dari tiga kerangka Agama Hindu yakni. Dalam konsep Hindu aktivitas kehidupan manusia khususnya dalam kaitan keagamaan maka tiga kerangka tersebut harus merupakan satu kesatuan dalam pelaksanaannya. dan sila yang berarti tingkah laku/perbuatan.BAB VI SUSILA Standar Kompetensi Memahami Tat Twam Asi sebagai landasan etika dan moral Tujuan akhir pembelajaran 1. Kemudian seseorang yang memiliki tattwa tinggi juga mengetahui aturan susila tetapi tanpa diikuti dengan tindakan nyata ( dalam bentuk yadnya).petunjuk . Peserta didik mampu menjelaskan pengertian tat twam asi 2. Menunjukkan prilaku sebagai implementasi ajaran Tat Twam Asi Uraian Materi A. Jadi susila adalah perbuatan atau tingkah laku yang baik dan benar. Tattwa adalah hakekat atau filsafat agama. Tatwa. karena pada hakekatnya pahala karma hanya akan diperoleh melalui kerja ( yadnya). sesama manusia . Sedangkan Susila adalah rambu-rambu . Umat Hindu harus memahami tattwa dan mematuhi susila setiap yadnya/upacara yang dilaksanakan. Susila adalah aturan-aturan moral dalam segala tindakan serta komunikasi manusia dengan Tuhan. serta interaksi dengan alam. berbagai jalan atau arah yang bisa dilalui menuju tempat tujuan. dan Upacara ( Yadnya ). Sebaliknya meskipun pelaksanaan yadnya secara tattwa benar. serta berbagai fasilitas yang dapat digunakan untuk menuju tempat tersebut. Sedangkan Yadnya/Upacara adalah aktivitas nyata umat Hindu dalam merealisasikan Tattwa Agama dalam kehidupan sehari-hari. Jika rambu-rambu dan aturan ini dilanggar kemungkinan kita akan tersesat atau bahkan celaka. maka tattwa akan memberikan pengetahuan pada kita tentang situasi daerah yang akan dituju. Susila berasal dari kata Su yang berarti baik. maka pengetahuan tattwa dan susilanya tidak memberikan karma apapun. Pendidikan Agama Hindu 47/76 . serta aturan yang harus diikuti dan dipatuhi sehingga dapat sampai pada tujuan dengan selamat. Istilah lain dai Susila adalah Etika/Etiket. Susila ( etika ) . tetapi mengabaikan etika maka yadnya menjadi tidak sempurna. Tanpa pemahaman tattwa yang benar maka yadnya bisa menyimpang dari tujuan utama. Contoh sederhana penggambarannya adalah jika kita akan menuju suatu tempat.

manusia memiliki kelebihan dalam menerima ajaran-ajaran susila/ etika dalam menghubungkandiri dengan Tuhan (sembahyang). . manusia dengan Tuhan . semua aktivitasnya memiliki aturan.Contohnya adalah saling menghormati hak asasi manusia ( HAM). Artinya berlaku bagi semua manusia di seluruh dunia tanpa memandang suku. Manusia sebagai mahluk yang paling sempurna diantara mahluk lainnya di bumi memiliki peranan utama dalam menegakkan aturan. B. Meskipun kita mengetahui secara jelas gambaran tentang lokasi yang akan dituju serta semua aturan dan rambunya. berjalan sesuai dengan fasilitas yang tersedia dan mengikuti aturan ( susila) yang ada barulah kita bisa mencapai tujuan. Manusia memiliki peranan utama dalam mewujudkan keharmonisan antara ketiga faktor tersebut. Aturan/susila itu dapat bersifat universal/global.Akhirnya berdasarkan pengetahuan tattwa yang dimiliki haruslah kita bergerak. dan agama. sehingga tercipta keseimbangan dan keharmonisan antara konsep dengan pelaksanaannya. Dari ketiga kerangka tersebut SUSILA memegang peranan penting yang menjembatani antara Tattwa dengan Yadnya. ras. jika tidak bergerak/ diam di tempat maka selamanya kita tidak akan pernah sampai pada tujuan. Ada juga aturan / etika dalam berprilaku sosial kemasyarakan. Dalam mewujudkan keharmonisan antara manusia dengan Tuhan. Jika aturan ini tidak diikuti maka pasti akan terjadi kekacauan. Alam semesta memiliki aturan / hukum tersendiri dalam pergerakannya yang disebut RTA ( hukum alam). PERANAN SUSILA DALAM MEWUJUDKAN TRI HITA KARANA Dalam konsep ajaran Hindu bahwa kebahagiaan hanya akan terwujud jika adanya hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia. Manusia dengan kecerdasan yang dimilikinya dapat membuat aturan-aturan dalam berinteraksi sesama manusia. Dengan susila maka manusia dapat melaksanakan yadnya dengan berbagai kondisi tanpa menyimpang dari tattwanya. Semua yang ada di alam bebas maupun di dunia harus mengikuti aturan dalam pergerakannya. Demikian juga dalam kehidupan di dunia. Planet-planet berputar mengelilingi bumi dan bersama bumi mengelilingi matahari. dimana setiap daerah memiliki kekhasan tersendiri sebagai budaya lokal. peraturan pemerintah dan sebagainya. Disamping itu ada juga aturan dalam bernegara dan berbangsa dalam bentuk hukum negara/ udang-undang. Jika salah satu bagian alam ini tidak mengikuti aturan maka akan terjadi kehancuran. Ada etika/aturan yang harus Pendidikan Agama Hindu 48/76 . Ajaran ini disebut Tri Hita Karana ( tiga faktor penyebab terwujudnya kebahagiaan ). Dalam kehidupan ini semua aktivitas memiliki aturan/etika/susila. dan manusia dengan alam . Contohnya bumi berputar pada porosnya dan mengitari matahari. Tuhan menciptakan RTA ( hukum alam ) untuk kehidupan. Inilah Yadnya. bangsa.

Jadi di setiap mahluk hidup khususnya manusia memiliki unsur kekuatan hidup yang sama. misalnya persembahyangan di pura. Perbedaan pribadi . serta hubungan dengan alam C. merusak sempadan sungai. Untuk jenis-jenis persembahyangan tertentu juga memiliki aturan yang berbeda. saling menghormati. saling menolong sehingga terwujud kedamaian dan kebahagiaan. maupun secara kolektif ( bersama-sama). Jika aturan/etika ini dilanggar maka dipastikan keharmonisan tidak akan terwujud.Tat artinya itu (dia). seperti banjir bandang . 2. dan wujud manusia karena perbedaan pengaruh Triguna dan karma wasana. Penggundulan hutan dengan ilegal loging maka terjadilah banjir bandang. Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan bahwa : 1. Tat Twam Asi adalah sumber utama ajaran cinta kasih agar manusia dapat saling menghargai. demikian juga sebaliknya. Dengan pemahaman ini maka Hindu mengajarkan agar manusia tidak Pendidikan Agama Hindu 49/76 . Etika persembahyangan pribadi tidak dapat diterapkan pada persembahyangan bersama. Twam artinya kamu. pemanasan global . Manusia dengan kecerdasan yang dimilikinya dapat menciptakan aturan/etika dalam hubungan dengan sesama manusia.diikuti dalam melakukan hubungan dengan Tuhan. Jadi Tat Twam Asi berarti dia adalah engkau. Agar terwujud keharmonisan antara manusia dengan manusia. yaitu percikan suci Tuhan. Membuang sampah pada aliran sungai. Tat Twam Asi adalah esensial filsafat Hindu dalam ajaran susila yang bersifat universal dan tanpa batas. manusia dengan Tuhan dan manusia dengan alam maka manusia harus memahami dan mengikuti aturan/susila dalam melaksanakan masingmasing hubungan tersebut. serta pembangunan gedung/perumahan tanpa memperhatikan penyerapan dan saluran sanitasi yang baik maka terjadi banjir disetiap musim hujan. dan sebagainya. hubungan dengan Tuhan. TAT TWAM ASI Konsep dasar ajaran kesusilaan Hindu dalam hubungan antara sesama manusia dikupas dalam Kitab Candogya Upanishad yang dalam salah satu sloka ada disebutkan Tat Twam Asi. sifat. dan Asi artinya adalah. Sedangkan hubungan manusia dengan alam jelas yang paling menentukan adalah manusia itu sendiri. jika ditelusuri maka semua itu adalah akibat ulah manusia sendiri yang tidak mengikuti aturan / etika dalam mengelola alam. Alam secara kodrati hanya akan memberikan reaksi terhadap segala perlakuan manusia kepada alam itu sendiri. Selanjutnya mahluk hidup memilki atman sebagai percikan suci Ida Sang Hyang Widhi. Dewasa ini banyak terjadi bencana alam. Tat twam asi bersumber pada ajaran Hindu bahwa Tuhan / Brahman menciptakan alam semesta beserta segala isinya dari diriNYa sendiri melalui tapa/yadnya. baik hubungan secara pribadi.

Pendidikan Agama Hindu 50/76 .memandang manusia lainnya hanya dari segi fisiknya saja. Bahwa dalam setiap kehidupan ada percikan suci Ida Sang Hyang Widhi sehingga wajib dihormati dan dikasihi tanpa memandang batasan tertentu. Hindu mengajarkan agar kita memandang semua mahluk hidup diciptakan dan bersumber dari asal yang sama.

Jadi dalam memenuhi kebutuhan pribadi kita harus membatasi diri jangan sampai melanggar hak orang lain. Pelanggaran tata susila terjadi biasanya dilakukan oleh orang-orang yang kurang mampu mengedalikan diri. Hak-hak tersebut antara lain. Meskipun di masyarakat secara umum sudah dikenal tentang tata susila yang berlaku namun seringkali orang melanggar tata susila itu. kita punya hak untuk mendengarkan musik dari tape milik kita sendiri. Hanya mengutamakan kepentingan pribadi tanpa memperhatikan adanya kepentingan orang lain. Dalam rangka mengatur hubungan sosial masyarakat maka dibutuhkan aturan tingkah laku yang disebut tata susila. agar setiap individu dalam satu lingkungan aman/terhindar dari serangan penyakit demam berdarah maka mereka bekerjasama bergotong royong membersihkan lingkungan dari kemungkinan tempat-tempat nyamuk bersarang. apalagi di jaman sekarang sangatlah mustahil manusia hidup tanpa berhubungan dengan orang lain. Dalam memenuhi kebutuhan pribadi tidak boleh mengorbankan hak pribadi orang lain. Tetapi harus diingat bahwa ada hak orang lain untuk beristirahaT dan tidak diganggu oleh kebisingan. Oleh karena itu maka jika ita mendengarkan musik dengan suara keras pada waktu orang lain istirahat berarti melanggar hak pribadi orang lain. Sebagai mahluk sosial manusia tidak dapat hidup sendiri. Manusia adalah mahluk individu sekaligus mahluk sosial. Pendidikan Agama Hindu 51/76 . kapanpun kita suka. Contoh. hak memiliki. Secara jasmani setiap individu ingin mencapai kesenangan dan secara rohani setiap orang ingin mendapatkan kebahagiaan.Untuk bisa mengimplementasikan ajaran Tat Twam Asi. Contohnya. Dalam hubungan sosial maka hak pribadi merupakan batas bagi orang lain untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka setiap individu memiliki hak secara pribadi. untuk ini kita perlu melatih pengekangan diri untuk mengurangi rasa ego. Untuk memenuhi kebutuhan pribadi seseorang membutuhkan pertolongan orang lain. hak untuk hidup .  Agar cinta kasih dalam diri dapat tumbuh dan berkembang maka kita harus belajar mengurangi keakuan ( egoisme). Demikian juga untuk memenuhi kebutuhan pribadi yang sama orang melakukan kerjasama. Jadi dalam hal ini orang-orang bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan pribadi yang sama. hak perlindungan. Dengan demikian maka diharapkan dalam hubungan sosial manusia dapat mencapai kebahagiaan. hak mendapatkan kasih sayang dan sebagainya. Secara individu manusia memiliki rasa keakuan ( ahamkara ). yang paling utama harus dilakukan adalah:  Mengembangkan cinta kasih sesama. Manusia memiliki kebutuhan pribadi baik kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani. Hal ini tentu saja akan menimbulkan ketidak harmonisan dalam sosial kemasyarakatan.

Demikian juga dalam memenuhi kebutuhan kasih sayang kita memerlukan suami/istri. budhi (kemampuan mengambil keputusan benar atau salah ). Sebagai individu kita memiliki kebutuhan-kebutuhan pribadi yang harus dipenuhi.  Merasakan penderitaan orang lain. keluarga serta tetangga atau teman. Dalam memenuhi kebutuhan pangan misalnya. 1. papan. alam lingkungan serta Tuhan. Sebagai implementasi ajaran tat twam asi ada beberapa konsep yang dapat kita pedomani antara lain :  Memandang semua manusia adalah sama. serta kebutuhan kasih sayang. Setiap individu berhak untuk memenuhi kebutuhan tersebut. kita perlu orang yang menjual makanan atau bahan untuk membuat makanan. Dalam Kitab Yajur Weda Adyaya 40. D. Dengan daya pikir tersebut kita dapat melakukan yadnya utuk menyucikan diri sendiri serta menyucikan alam.  Melaksanakan Tri Kaya Parisudha. Manusia adalah mahluk individu sekaligus mahluk sosial. seperti kebutuhan sandang. kita harus bisa mengolah manah ( pikiran ). Dalam ranka membina hubungan harmonis sesama manusia. sloka 7 disebukan : Pendidikan Agama Hindu 52/76 . dan ahamkara ( rasa keakuan sebagai motivasi bertindak) yang ada dalam diri sehingga menjadi seimbang dan mengutamakan bahwa hubungan harmonis sesama manusia adalah kebutuhan utama dalam hidup ini. Sang Pencipta. Dalam kaitan memenuhi kebutuhan pribadi yang berhubungan dengan orang lain inilah kita disebut sebagai mahluk sosial. pangan. IMPLEMENTASI TAT TWAM ASI Di dunia manusia memegang peranan utama dalam mewujudkan hubungan harmonis antara manusia. orang tua. Dalam ajaran Hindu dinyatakan bahwa manusia itu pada dasarnya adalah sama dan berasal dari sumber yang sama. Dalam membina hubungan sosial inilah kita perlu memahami dan mengamalkan ajaran Tat Twam Asi.  Melaksanakan ajaran Catur Paramita. Dalam memenuhi sandang kita perlu orang yang menjual pakaian atau bahan untuk membuat pakaian. kita perlu bantuan dan kerjasama dengan orang lain. Hal ini karena diantara semua mahluk ciptaan Ida Sang Hyang Widhi hanya manusia yang diberikan idep ( daya pikir ).  Melaksanakan ajaran Tri Parartha.Konsep ajaran Tat Twam Asi jika dimaknai dan dihayati dengan benar maka dapat dijadikan sebagai kunci pembuka kasih di hati sehingga dapat secara perlahan mengurangi rasa keakuan/ego ( ahamkara ). anak. Dalam rangka memenuhi kebutuhan pribadi tersebut kita sebagai mahluk pribadi tidak dapat memenuhi semuanya sendiri. Memandang semua manusia adalah sama.

Pada dasarnya tidak ada satu orangpun di dunia ini yang ingin hidup dalam kekacauan. Merasakan penderitaan orang lain. 2. tetapi spirit kehidupan setiap orang sama. Pertama . Hanya saja pengaruh pola pikir yang sempit serta mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompoknya saja. antar kelompok serta tindakan-tindakan yang merendahkan martabat kelompok lain juga sebagai contoh pengaruh ego ( rasa keakuan) menguasai manusia. Sifat ego yang berlebihan cenderung mendorong manusia untuk mempertajam perbedaan-perbedaan. badan jasmani serta pribadinya. bangsa. Sama-sama memiliki sinar Tuhan. Atman adalah percikan-percikan terkecil dari Brahman ( Hyang Widhi). seperti suku. budaya dan tradisi bisa berbeda. bahwa di setIap manusia terdapat unsur utama yang sama yaitu atman. budhi. ini berarti bahwa atman-atman yang ada pada setiap manusia adalah sama. orang tersebut tidak terikat dalam ikatan dan bebas dari kesedihan. disana ada sinar Tuhan yaitu Atman. Kenapa? Karena semua bersumber dari yang satu yaitu Brahman. sedangkan ahamkara lebih menitik beratkan Pendidikan Agama Hindu 53/76 . kasta dan sebagainya. tingkat ekonomi dan sosial juga bisa berbeda. Manas adalah pikiran sedangkan budhi adalah kemampuan manusia untuk mengolah dan merasakan baik dan benar. Terjadinya kerusuhan dan perkelahian antar warga. Semua ingin hidup damai dan harmonis. Banyak contoh-contoh penajamanpenajaman kelompok dan ras yang terjadi baik sebagai catatan sejarah maupun tradisi yang melekat di masyarakat sampai saat ini. kita tidak boleh membedakan derajat manusia hanya dari sisi luarnya saja. dan ahamkara. Warna kulit bisa berbeda. ras. Selanjutnya konsep kedua dalam sloka di atas juga mengajarkan pada kita bahwa semua manusia di seluruh dunia adalah sebuah keluarga besar. Atman adalah kesadaran kesadaran murni yang memuliki sifat sama dengan Brahman ( Atman Brahman Aikyam). Dalam satu keluarga besar . semua memilik keinginan untuk hidup berdampingan secara damai. Semua manusia pada dasarnya adalah saudara. Terjadinya sejarah penjajahan suatu bangsa adalah contoh perlakuan yang membedakan derajat manusia. Dengan pemahaman ini maka kita seharusnya belajar untuk memandang setiap orang adalah sama. Jadi jika kita membeda-bedakan orang berarti kita membeda-bedakan Hyang Widhi.Seseorang yang menganggap seluruh umat manusia memiliki Atman yang sama dan dapat melihat semua manusia sebagai saudaranya. maka timbul tindakan-tindakan yang merugikan pihak lain. Perbedaannya hanyalah pembungkus luarnya saja yakni. warna kulit. Karena atman berasal dari Brahman maka pada tingkat kesadaran tertinggi semua atman-atman yang menghidupi semua manusia di dunia adalah sama. Manusia diciptakan lengkap dengan manas. Dalam sloka di atas tersirat dua konsep pandangan Hindu atas keberadaan umat manusia. Dari sinilah mulai timbul ketidakharmonisan.

Dalam kehidupan tradisional di Bali. Karena itu orang yang dalam keadaan suka seharusnya belapang dada membantu sesame yang sedang dirundung penderitaan. empat untuk menjaga kesucian kata-kata. yang disebut Karma Patha. Perpaduan antara budhi dan ahamkara pada seseorang sangat menentukan kualitas rasa/perasaan orang tersebut. Melaksanakan Tri Kaya Parisudha (tiga prilaku yang disucikan). Ada orang yang mengalami duka paa saat tertenu. Karena dirasakan sebagai penderitaannya maka ia sendiri akan ikut aktif menanggulangi penderitaan orang lain. Ikut serta menanggulangi penderitaan orang lain adalah sesuai dengan kemampuan dan swadharma masing-masing. Ukuran rasa kemanusiaan seseorang adalah apabila dia dapat merasakan pendertaan orang lain sebagai penderitaannya.pada rasa keakuan sebagai motivasi dasar untuk bertindak. Tiap orang selalu mengalami suka dan duka dalam kehidupannya di dunia in Saat suka dan duka itu. Type orang seperti ini adalah selalu menuntut hak terlebih dahulu tetapi mengabaikan kewajibannya. Kalau keadaan suka dan duka itu diatasi secara bersama-sama. Jika seseorang memiliki ahamkara yang tinggi tanpa dibarengi dengan olah budhi yang matang cenderung melahirkan sifat keakuan / ego yang tinggi. Dalam sistem kehidupan yang modem dewasa mi sesungguhnya banyak pihak yang mendapat kesempatan untuk mengamalkan rasa kemanusiaannya. Sayang kebanyakan orang tidak menggunakan kesempátan mi untuk mengamalkan rasa kemanusiaannya. Hanya mementingkan diri sendiri tanpa peduli pada keadaan maupun perasaan orang lain. 3. dan tiga untuk menyucikan perbuatan/prilaku. Di dalam kitab Sarasamuscaya 73-76 disebut sepuluh hal untuk menjaga kesucian Tri Kaya agar menjadi suci. Berikutnya jika seseorang memiliki perimbangan dalam penguasaan ahamkara dan memiliki budhi ang tinggi maka orang tersebut akan senantiasa memikirkan rasa dan kepentingan orang lain sebelum bertindak untuk kepentingan pribadinya. Nilai-nilai tradisi yang dikandung oleh lembaga suka duka tradisional itu. Justru penderitaan orang lain sering dijadikan ajang untuk mencari keuntungan guna memperkaya diri sendiri. dan pada saat itu juga ada orang lain yang mengalami keadaan suka. patut dikembangkan sehingga dapat didayagunakan untuk mengatasi persoalan hidup masa kini dan masa yang akan datang. maka berbagai beban hidup itu akan dirasakan ringan dan tidak terlalu menyusahkan. Pendidikan Agama Hindu 54/76 . tidak dapat dirasakan secara bersamaan oleh semua manusia. Inilah hakekat dan ajaran Tat Twam Asi. uamt Hindu mengatasi keadaan suka dan duka sudah sangat melembaga. Tiga untuk menjaga kesucian pikiran.

perinciannya gerak pikiran. tèlu kwehnya. Manacika. Pikiran yang masih suci tanpa dicemari oleh hawa nafsu disebut citta. Artinya: Adalah karmapatha namanya.jadi sepuluh banyaknya. perilaku perkataan. yaitu pengendalian hawa nafsu.a. prawrttyaning káya. Ada tiga cara melakukan manacika atau penyucian pikiran yaitu: 1) Tidak menginginkan dan tidak dengki terhadap milik orang lain Pendidikan Agama Hindu 55/76 . dan setelah dicemari oleh hawa nafsu disebut manah. sapuluh. tèlu. tiga banyaknya. pat prawrttyaning käya. ulahakèna. empat jumlahnya. Karena itu proses penyucian pikiran disebut “manacika parisudha”. sepuluh banyaknya yang patut dilaksanakan. V. gerak tindakan. perbuatan yang timbul dari gerak badan. Sucikanlah pikiran dengan satya.109 sebagai berikut: “Adbhirgatrani çuddhyanti manah satyena çuddhyati. Demikianlah pada hakekatnya pikiran tersebut selalu dijaga kesuciannya dengan satya/kebenaran/kejujuran. tiga banyaknya. pikiran disucikan den gan kebenaran. perkataan dan pikiran itulah patut diperhatikan . wak. sehingga pikiran sering disebut Rajendria. Kalau raja ini tidak baik maka indria pun akan tampil tidak baik. V109) Artinya: Tubuh dibersihkan den gan air. 73-74 disebutkan: Hana karmapatha ngaranya kahrtaningindriya. Dalam kehidupan manusia di dunia mi Pikiran paling menentukan kualitas prilaku manusia Pikiranlah yang mengatur gerak sepuluh indria. pnda. kecerdasan dengan dengan pengetahuan yang benar. kramanya. sapuluh kwehnya. seperti diuraikan dalam kitab Manawa Dharmasastra. jiwa manusia dengan pelajaran suci dan tapa brata. ulahaning wàk. Di dalam kitab Sarasamuscaya. manah kengèta. (Manawa Dharmasastra. Oleh karena itu kuatkanlah pikiran agar pikiran tersebut yang mengatur laku indria. widyatapobhyam bhutatma budhir jnanena cuddhyati “. prawrttyaning manah sakarèng.

Perbuatan ini dapat menimbulkan kecendrungan yang negatif. siapa yang berbuat baik akan mendapat pahala yang baik dan siapa yang berbuat buruk sudah dapat dipastikan akan mendapatkan hasil yang buruk. Oleh perkataan engkau akan menemui ajalmu. Orang yang selalu berusaha mengedalikan pikiran dan diarahkan pada niat SUCi akan jarang mendapat persoalan sulit dalam kehidupannya dimasyarakat. Oleh perkataan engkau akan mendapatkan sahabat. Harus kita yakini benar kesungguhan hukum Tuhan tersebut. Pikiran akan menjadi suci (ning) bila tidak menginginkan milik orang lain serta tidak membenci milik orang lain . entah kapan. Kata-kata ibarat pisau bermata dua.3 sebagai berikut: Wasita Wasita Wasita Wasita nimittanta nimittanta nimittanta nimittanta manemu laksmi. seperti rasa in. Beliau mentakdirkan ada makhluk yang bernasib baik dan ada yang bernasib buruk sesuai dan karmanya masingmasing. Oleh perkataan engkau akan men dapatkan kesusahan. Sedangkan perbuatan buruk yang dilakukan saat ini sudah pasti akibatnya akan diterima kelak. Semua makhluk hidup berasal dan atma yang sama yaitu Ida Sang Hyang Widhi. pati kapangguh. 2) Tidak berpikir buruk terhadap orang lain dan kepada semua makhluk. Sifat ini timbul karena kurang tumbuhnya rasa kasih sayang terhadap sesama. manemu duhka. itu pun karena hukum karma phala juga. 3) Tidak mengingkari hukum karmaphala. Wacika adalah perkataan yang baik (suci). disatu pihak akan bisa mendatangkan kebahagiaan dan dilain pihak akan bisa mendatangkan penderitaan bahkan kematian. Orang yang hidup sehat dan berumur panjang salah satu penyebabnya karena ia menumbuhkan rasa cinta kasih pada semua makhluk. Nasib baik yang ia tenima saat ini pasti karena perbuatan baik sebelumnya yang ia lakukan. Hal ini sangat penting untuk dipahami dan dihayati. Hidup dalam keadaan in akan membuat kita menderita. b. seperti termuat dalam kitab Nitisastra sargah V. Meskipun kita melihat orang berbuat buruk pada saat ini dan kenyataannya ia bemasib baik. Wacika. Pendidikan Agama Hindu 56/76 . manemu mitra Artinya: Oleh perkataan engkau akan mendapatkan bahagia.

Berbohong juga sering dilakukan untuk menutupi kekurangan din. Ada empat cara (karma patha) untuk menyucikan perkataan yaitu: 1) Tidak berkatajahat (ujar ahala). Salah sam sifat manusia yang dapat menimbulkan akibat negatif adalah yang disebut “distinksi” yaitu suatu dorongan untuk lebih dan orang lain. Dalam persaingan hidup orang sering mengalahkan persaingan dengan cara memfitnah agar lawan dengan mudah dikalahkan. mencaci. Kata-kata yang kotor seperti raja pisuna (fitnah). Bagi yang mempunyai kebiasaan berkata kasar. Kata-kata kotor atau buruk disebut Mada (dalam Tri Mala). 3) Tidak memfitnah (raja pisuna). Karena dalam kata-kata yang jahat itu ada gelombang yang mengganggu keseimbangan vibrasi kesucian.Demikianlah akibat dan perkataan yang diucapkan ada yang baik dan ada yang buruk. sebab hal tersebut akan bisa mendatangkan penderitaan bahkan lebih fatal lagi bisa menyebabkan kematian. Kata-kata yang jahat yang terucap akan dapat mencemarkan vibrasi kesucian. berjuanglah untuk merubahnya. berbohong dan sebagainya tidak usah dipelihara. Kalau ia tidak mampu berbuat lebih dan kenyataan maka fitnahpun akan dipakai senjata agar ia kelihatan lebih dan yang lain. Cegahlah lidah agar tidak mengucapkan kata-kata fitnah. seperti menghardik. kalau diucapkan dengan kata-kata yang kasar maka fiat baik itu akan turun nilainya (menjadi tidak baik). meskipun fiat baik. Oleh karena itu marilah kita sucikan wak/katakata sehingga menjadi “wacika” yaitu kata-kata yang suci.dan sesungguhnya akan dapat mengurangi vibrasi kesucian bagi yang mengucapkan. Perlu diperhatikan. dan mencela. Agar ia kelihatan lebih dan orang lain bohongpun sering dilakukan. 2) Tidak berkata kasar (ujar aprgas). karena katakata yang suci mi akan dapat mengantarkan kita kepada sahabat atau mitra dan kepada kebahagiaan atau laksmi. Kata-kata kasar itu sangat menyakitkan bagi yang mendengarkan . Menghilangkan kebiasaan berbohong mi haruslah dibiasakan untuk rela menerima apa adanya sesuai dengan karma Pendidikan Agama Hindu 57/76 . baik kesucian yang mengucapkan maupun yang mendengarkan. Ada pepatah mengata’kan fitnah itu lebih kejam dan pembunuhan. Kebiasaan berbohong mi juga sering didorong oleh nafsu distinksi tadi. wak purusya (berkata kasar). 4) Tidak mengeluarkan kata-kata yang mengandung kebohongan.

Pada mulanya memang dirasakan beban. Artinya bila pikirannya dilandasi oleh fiat yang baik. Tindakan-tindakan yang suci mi perlu dipelihara. karena mengubah kebiasaan jelek memang tidak mudah. sampai kebiasaan itu dapat dihapuskan. Kebaikan itu hanya dapat diwujudkan dengan cara membiasakannya sampai melembaga dalam tingkah laku.kita. Hal mi memang memerlukan kesungguhan. Tindakan atau perbuatan jasmani atau pisik merupakan upaya seseorang untuk mengaktualisasikan hasil proses berpikir dan apa yang diucapkan dengan kata-kata. maka seseorang akan mampu mngendalikan indrianya dan akan menyebabkan orang lain senang dan bahagia. Tindakan seseorang dapat menyebabkan orang menjadi senang. tapi lama kelamaan akan menjadi kebutuhan. Demikianlah empat hal yang harus dibiasakan agar tidak keluar dan lidah kita katakata yang tidak baik atau menyakitkan. Kayika (perbuatan). Orang yang demikian itu disebut “Sadhu” yaitu orang yang tidak melakukan kekerasan. bahagia dan atau sebaliknya menyakiti hati orang lain. itikad yang baik. c. Hal mi sangat ditentukan oleh pross berpikir scseorang. Dalam kaitannya dengan memelihara tindakan kitab Sarasamuscaya sloka 76 menegaskan sebagai berikut: Pendidikan Agama Hindu 58/76 . Untuk melatih itu biasakanlah menyanyikan namanama Tuhan atau Dharmagita atau Mantram-mantram tertentu secara tents menerus.

Nihan yang tan ulahakena. Ahimsa tergolong sifat-sifat kedewataan (daiwi sampat). 2) Tidak mencuri. hendaknya dihindari saja ketiganya itu. Pada umumnya ahimsa diartikan tidak boleh membunuh atau tidak menyakiti secara pisik. menerima suap dan tidak nepotisme serta tidak rakus. nahan tang telu tan ulahakena ring asing ring paribasa. Ahimsa merupakan pengejawantahan masyarakat yang damai atau santih. Dengan terpeliharanya ajaran ahimsa berarti tidak ada kekerasan dalam kehidupan bersama didunia mi. baik secara berolok-olok. baik dalam keadaan dirundung malang. agar tidak mclakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang atau asubha karma. Siparadara. bersendagurau. keadaan darurat dalam khayalan sekalipun. merampok. Hakekat dan manusia hidup didunia mi adalah bersaudara. Adapun tiga tindakan suci tersebut adalah: 1) Tidak menyakiti atau tidak membunuh (ahimsa). Intinya disini seseorang tidak terlalu terikat oleh bendabenda duniawi. kedamaian dibumi dan kedamaian Pendidikan Agama Hindu 59/76 . syamatimati man gahalahal. ri pan gipyan tuwi singgahana jugeka. Kutipan sloka mi memberikan informasi tentang pentingnya kesucian tindakan seseorang. namun sebenarnya walaupun tidak secara pisik tetapi bila segala perilaku itu menyebabkan orang lain sakit hatinya juga tergolong perbuatan himsa. Orang yang berhasil menumbuh kembangkan sifat-sifat kedewataan akan lebih mudah meraih karunia dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Jika kesucian perbuatan tidak dijaga akan berakibat terjadinya pemaksaan terhadap orang lain yang berimbas kepada tidak adanya hubungan yang harmonis sehingga tidak akan tercapai kedamaian dihati. Ring apatkala. mengambil hak orang lain secara tidak sah. Jika seseorang melakukan tindakan sebaliknya yaitu melakukan tindakan kekerasan maka akan terjadi pelanggaranpelanggaran hak asasi manusia seperti mempropokator umat agama lain untuk pindah ke agamanya sendiri. serta senang melakukan amal. melecehkan kesucian agama. merendahkan martabat umat agama yang lain dan sebagainya. mencuri berbuat zinah. ketiganya jut jangan hendaknya dilakukan terhadap siapapun. Artinya: Inilah yang tidak patut dilakukan : membunuh.

Tidak berzinah. ‘. maksudnya selalu memupuk rasa kasih sayang terhadap semua mahluk c. Perbuatan ini harus dikendalikan karena bisa menimbulkan kemerosotan moral. Adapun . Maitri artinya senang mencari kawan dan bergaul. serta menarik hati segala prilakunya sehingga menyenangkan orang lain dan din pribadinya b. Mengadakan hubungan kelamin dengan suami/istri orang lain. Larangan melakukan zinah itu memang wajar. Mengadakan hubungan kelamin (sex) antara pria dan wanita dengan jalan tidak sah. karena kalau itu dibiarkan maka kemerosotan moral akan makin memuncak.3) diakhirat. Dan jika kesucian perbuatannya tidak dijaga maka baik terhadap sipelaku maupun orang lain akan mengalami kerugian. walaupun disinggung perasaannya oleh orang lain. Mengadakan hubungan kelamin dengan paksa. dibawah ini disajikan beberapa bentuk larangan-larangan yang harus dipatuhi oleh umat manusia sebagai berikut: Pendidikan Agama Hindu 60/76 . Berzinah merupakan perbuatan yang sangat hina dan terkutuk. c. Banyak terjadi pelacuran atau tuna susila maka kehidupan kita sebagai manusia yang menjuiijung tinggi budaya dan agama akan menjadi hancur.. Catur paramita merupakan salah satu dan landasan atau pedoman untuk melaksanakan ajaran susila atau etika dalam ajaran agama Hindu. Catur Paramita. Mudita artinya selalu memperlihatkan wajah yang riang gembira dan sopan d. 4. Karuna artinya belas kasihan. bagian-bagian dan ajaran catur paramita tersebut adalah a. ia tetap tenang dan selalu berusaha membalas kejahatan dengan kebaikan (suka memaafkan) Guna lebih mudah dapat memahami ajaran catur paramita. Mengadakan hubungan kelamin atau sex yang dilarang oleh agama. yakni tahu menempatkan diri dalam masyarakat. ramah tamah. Berzinah artinya sikap suka memperkosa wanita atau istri orang lain Adapun yang temasuk perbuatan berzinah (paradara) adalah: a. artinya tidak atas dasar cinta sama cinta (perkosaan). Upeksa artinya senantiasa mengalah demi kebaikan. d. b.

Untuk dapat berbuat karuna. Untk dapat berbuat mudita. b. tersiksa. jangan melakukan perbuatan yang dapat menyebabkan orang lain susah. maka pantang melakukan perbuatan yang menyebabkan terjadinya penderitaan. c. maka kita jangan melakukan perbuatan yang membahayakan dan jangan membenci. Untuk dapat berbuat maitri. atau jangan memiliki rasa dengki dan in hati terhadap orang lain. kesengsaraan atau jangan bengis.a. Pendidikan Agama Hindu 61/76 .

Adapun ajaran Tri Paratha yang dimaksud dapat mengantarkan umat manusia mencapai keselamatan dan kebahagiaan serta kesejahteraan hidupnya. Tri Parartha berarti tiga prihal yang dapat menyebabkan terwujudnya kesempurnaan. Keselamatan. dan bhakti merupakan ajaran agama Hindu yang patut dihayati dan diamalkan dalam hidup dan kehidupan mi. keagungan. Bhakti artinya hormat. 5. terdiri dari : 1. maka pantang menghina orang lain. umat manusia tidak akan dapat berbuat banyak dalam hidup dan kehidupan mi. dan kesukaaan hidup umat manusia. Tanpa keselamatan dalam hidupnya. punya. Untuk dapat berbuat upeksa. Asih artinya cinta kasth. keselamatan. Asih . Tri Parartha. Dengan demikian diantara kita sesama makhluk ciptaan Tuhan hendaknya dapat hidup berdampingan serasi. sujud. kebahagiaan. Tri Parartha adalah ajaran agama Hindu untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. guna tetap tegaknya dharma. Punya artinya dermawan. memandang rendah orang lain. Hidup saling mengasihi diantara kita adalah merupakan prilaku umat manusia utama yang dapat mengantarkan tercapainya kebahagiaan yang abadi (moksa). kesejahteraan. Ajaran Catur Paramita sebagai realisasi dan ajaran Tat Twam Asi patut dijadikan pedoman oleh manusia untuk mewujudkan kehidupan mi yang sempurna. Kitab Rg Weda menyebutkan sebagai berikut: Ajaran berdhana punia yang didasari dengan cara bhakti dan rasa cinta kasih mempunyai suatu manfaat yang amat penting dalam hidup dan kehidupan mi. manusia itu dapat menyelamatkan dirinya dengan jalan mengamalkan ajaran Tri Parartha. harmonis dan damai. kesejahteraan dan kebahagiaan adalah merupakan kebutuhan hidup umat manusia yang vital mesti dinikmati dalam hidup dan kehidupannya.d. dan semuanya itu hendaknya diwujudkan sebagai amal dan ibadah (yajna Pendidikan Agama Hindu 62/76 . menindas orang lain atau selalu berusaha untuk mengendalikan dorongan hawa nafsu jahat. 2. 3. Demikianlah ajaran Catur Paramita patut kita realisasikan dalam hidup dan kehidupan mi. selaras. tulus ikhlas. Berdasarkan ajaran agama Hindu.

Pendidikan Agama Hindu 63/76 . 3. Sesungguhnya banyak sekali tanda-tanda kemerosotan moral yang terjadi di lingkungan masyarakat baik itu dialami oleh anak-anak. 6. punia. itu mungkin baru sebagian kecil yang diungkap. Kemerosotan moral dapat dilihat di dalam tayangan-tayangan criminal seperti Sergap. dan bhakti) ini adalah menumbuhkan sikap mental masing-masing pribadi umat manusia. dan sebagainya. para remaja. Ajaran Tat Twam Asi sudah ditinggalkan menjadi individualistis. siaran-siaran. politik. sosial. Keadaan masyarakat yang kurang stabil. baik dalam bidang pendidikan. Itu suatu pertanda bahwa banyak orang sudah mulai melepaskan konsep etika yang ada pada dirinya. baik di lingkungan sekolah. keseniankesenian yang kurang mengindahkan dasar-dasar. karena itu adalah merupakan kewajibannya untuk menegakkan dharma. 4. 7. 2. Situasi dan kondisi rumah tangga yang kurang stabil/baik. Pendidikan moral belum terlaksana sebagaimana mestinya. 5. Patroli. mewujudkan ajaran wairagya (tidak terikat akan pengaruh benda-benda duniawillahiriah) yang dapat memuaskan indria/nafsu belaka manusia secara pribadi. Tujuan pokok dan ajaran Tri Parartha (asih. dan keamanan. ekonomi. Kurang adanya individu/organisasi/lembaga yang memfasilitasi tempattempat bimbingan dan penyuluhan moral bagi anak-anak/remaja yang menganggur. Namun dewasa ini rupa-rupanya kalau secara jujur kita akui kemerosotan moral semakin hari semakin bertambah. masyarakat.karma). Diperkenalkannya secara populer obat-obatan dan sarana anti hamil. Buser. Banyaknya tulisan-tulisan. Adapun penyebabnya antara lain: 1. maupun orang tha. Semua umat Hindu hendaknya melakukan hal itu. maupun di tingkat rumah tangga. Kurang tertanamnya jiwa agama pada setiap individu yang ada dalam masyarakat. gambar-gambar. norma-norma/aturan tentang tuntunan moral.

Jadi Smrti merupakan. Weda Smrti Pembagian dalam dua jenis ini dipakai selanjutnya untuk menamakan semua jenis buku yang dikelompokkan sebagai kitab Weda balk secara tradisional maupun secara institusional ilmiah. Jadi Weda Sruti adalah Kelompok Weda yang ditulis oleh para Maha Rsi melalui pendengaran langsung dan wahyu Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan. buku pedoman yang isinya tidak bertentangan dengan Sruti. Bila dibandingkan dengan ilmu politik Sruti adalah merupakan UUD nya Hindu sedangkan Smrti adalah UU Pokok dan UU. keduanya harus tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga karena keduanya adalah kitab suci yang menjadi sumber dari agama Hindu. (MDs. 1. II. 10) 1. Kedua-duanya merupakan sumber Hukum yang mengikat yang harus diterima. dari akar kata Crt Yang berarti mendengar langsung. Weda Sruti Kata Sruti sesungguhnya berasal dan bahasa Sanskerta. Oleh karena itu “Bhagawan Manu” menegaskan dalam kitabnya “Manawa Dharmasastra” 1110. sebagai berikut: Srutistu Weda Wijneyo dharmacastram tu wai Smrtih. (Dharma). Pelaksanaannya adalah Nibandha. Kelompok Weda Sruti isinya hanya memuat wahyu sedangkan kelompok Smrti isinya adalah sebagai ingatan kembali terhadap Sruti. te sartwarhawam imamsyo tabhyam dharmohi nirha bhau Artinya: Sesungguhnya Sruti (wahyu) adalah Weda demikian pula Smrti itu adalah Dharmasastra. Weda Sruti 2.BAB VI KITAB SUCI WEDA SRUTI DAN WEDA SMRTI Rsi Manu membagi jenis isi Weda itu kedalam dua kelompok besar yang disebut. Menurut sifat isinya weda ini dibagi atas tiga bagian yaitu: 1) Bagian Mantra 2) Bagian Brahmana (Karma Kanda) 3) Bagian Upanisad/ Arnyaka (Jnana Kanda) Pendidikan Agama Hindu 64/76 . Kelompok Weda Sruti menurut Bhagawan Manu merupakan Weda yang sebenarnya ada Weda orisinal.

merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran yang bersifat magis (Atharwan).1. yaitu: 1) Rg. Menurut Bhagawan Patanjali. Yajur Weda putih terdiri atas mantra-mantra dan doa-doa yang harus diucapkan pendeta di dalam upacara. atau kadang-kadang ada yang mengatakan 1875. merupakan kumpulan mantra-mantra memuat ajaran umum mengenai lagu-lagu pujaan. kitab ini terdiri atas 101 resensi yang sebagian besar sudah lenyap.) 2) Yajur Weda putih (Sukla yajur weda. ditambah dengan beberapa mantra tambahan baru. yang juga disebut Maitraneyi samhita. b. Weda. sedangkan mantra-mantra didalam Yajurweda hitam terdapat pula mantra-mantra yang menguraikan arti Yajna. Karena itu disebut Trayi Weda atau “Tri Weda” Pengenalan catur weda hanya karena kenyataan Weda ini secara sistimatik telah dikelompokkan atas empat Weda. atau saman 3) Yayur Weda Samhita . Yajur Weda putih (Sukla yajurweda). Pembagian empat kelompok isi weda itu yaitu: 1) Rg Weda Samhita . Yajur Weda hitam (Kresna yajurweda) yang terdiri atas beberapa resensi antara lain. Perbedaan pokok antara Yajur Weda Putih dengan Yajur Weda hitam hanya sedikit saja. merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran-ajaran umum dalam bentuk pujaan 2) Sama Weda Samhita . 4) Atharwa Weda samhita .Ad. Samaweda terdiri atas mantra-mantra yang berasal dari Rg. Pendidikan Agama Hindu 65/76 . Weda atau Rg. merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran umum mengenai pokok-pokok yajnya (yajus. Weda. Mantra Bagian mantra terdiri dan empat himpunan (samhita) yang disebut catur weda samhita. pluralnya Yajumsi). juga dikenal Wajasaneyi samhita). tiga kelompok pertama sering disebut-sebut sebagai mantra yang berdiri sendiri. Bagian terakhir ini merupakan bagian tertua dari Yayur Weda itu. Menurut penelitian Samaweda terdiri atas 1810 mantra. Yajur Weda terdiri atas mantra-mantra yang sebagian besar berasal dan Rg. yaitu: 1) Yajur Weda hitam (krsna Yajur Weda). Kitab mi terbagi atas dua aliran. Jenis Weda ini ada dua macam yaitu: a. Taitiriya samhita dan Maitrayanisamhita. Wedasamhita 2) Sama Weda atau Samawedasamhita 3) Yayur Weda atau Yayurwedasamhita 4) Atharwa Weda atau Atharwawedasamhita Dari keempat kelompok Weda itu. Tambahan ini umumnya berbentuk prosa.

Yajur Weda dan Atharwa Weda) memiliki Brahmana. Demikian pula tiap-tiap mantra memiliki kitab-kitab Aranyaka atau Upanisad. Himpunan buku-buku ini disebut Brahmana. Jadi kitab Brahmana adalah kitab yang berisi himpunan doa-doa yang dipergunakan untuk keperluan upacara yajna. Kitab Rg. Weda.Atharwa Weda yang disebut atharwawedangira. Urwasi dan ceritra-ceritra tentang ikan. Disamping itu ada pula “Sadwimsa Brahmana” Kitab ini terbagi atas 25 buku dimana bagian terakhir yang terkenal adalah kitab “Adhuta Brahmana” merupakan jenis “Wedangga” yang memuat mengenai ramalan-ramalan dan penjelasan mengenai berbagai mujijat. Resensi Saunaka. Tiap-tiap mantra (Rg. Kitab Samaweda memiliki kitab Tandnya Brahmana yang juga sering dikenal dengan nama “Pancawimsa “. Brahmana berarti doa. merupakan kumpulankumpulan mantra-mantra yang juga banyak berasal dan Rp. 3. Yajur Weda putih (Sukia Yajurweda) memiliki Satapatha Brahmana. Himpunan ini merupakan bagian teori mengenai ke Tuhanan. Himpunan mi merupakan bagian Jnana Kanda dari pada Weda Sruti. Kitab mi memuat legenda (ceritera-ceritera kuno) yang dikaitkan dengan upacara Yajna. Resensi Paipplada ad. Kitab mi terpelihara dalam dua resensi yaitu: a. Kitab mi memiliki 5987 mantra (puisi dan prosa). Resensi ini paling terkenal dan terbagi atas 21 buku b. Sama Weda. Bagian Brahmana (Karma Kanda) Bagian kedua yang terpenting dan kitab Sruti ini adalah bagian yang disebut “Brahmana” atau “Karma Kanda”. Punirawa. Weda. Pendidikan Agama Hindu 66/76 . Sebagaimana halnya dengan tiap-tiap mantra memiliki kitab Brahmana. Kitab Yajur weda memiliki beberapa kitab “Brahamana” Yajur weda hitam (krsna Yajur Weda) memiliki Taittiriya Brahmana. Kadang-kadang Brahmana diartikan penjelasan yang menjelaskan arti kata ucapan mantra. Bagian terakhir dan kitab mi merupakan sumber bagian kitab “Brhadaranyakapanisad”.2. Di dalam kitab Brahmana ini mula-mula kita jumpai ceritra Sakuntala. Atharwa Weda mi memiliki kitab “Gopatha Brahmana” Ad. Nama ini disebut demikian karena kitab ini terdiri atas 100 adhyana. Weda memiliki dua jenis buku Brahmana yaitu Aitareya Brahmana dan Kausitaki Brahmana (Sankyana Brahmana). Bagian Upanisad/Aranyaka Aranyaka atau Upanisad adalah himpunan mantra-mantra yang membahas berbagai aspek teori mengenai ke Tuhanan.

dan Saraswatirahasya. 4. Hamsa. Nrsimhatapini. Semuanya berjumlah sembilan belas Upanisad. Adwanyataraka. Maitrayani. semuanya berjumlah tigapuluh dua Upanisad. Kondika. Atma. Naradapariwrajaka. Chandogya. Bhawana. maka jumlah upanisad seyogyanya ada banyak 1180 buah buku tetapi berdasarkan catatan Muktikopanisad. Pinggalabhiksu. Katagnirudra. Dewi. Aruni. Mahawakya. Swetaswastara. Untuk jenis Yajur Weda putih. Pasupata. Pranagnikotra. Upanisad yang tergolong jenis Yajurweda. Trisikhibrahmana. Weda yaitu antara lain: Aitareya. Ekaksara. Awyaka. Kaiwalya. Asartanada. Krsna. dan Garuda Upanisad. dan Atharwa Weda terdiri atas 50 sakha Berdasarkan jumlah sakha itu. Niralambha. Aksamalika. Sita. Ramatapini. Tripura. Kalisandarana. Subata. Gopalatapini. Adapun perincian dan pada kitab-kitab Upanisad itu adalah sebagai berikut: 1. Mudgala. Sanyasa. Wahara. Rg. Semuanya berjumlah enambelas Upanisad. Semuanya berjumlah tiga Pendidikan Agama Hindu 67/76 . Satyayani dan Muktika. Ramarahasya. Di dalam penelitian berbagai naskah kitab suci Hindu Dr. 4. Atharwasira. yaitu 1180 sakha. Upanisad yang tergolong jenis Atharwa Weda. Wajrasucika. Turiyatita. Jabala. Surya. Amrtabindu. Brahma. Darsana dan Jabali. Weda terdiri dan 21 sakha Sama Weda terdiri atas 1000 sakha Yajur Weda terdiri atas 109 sakha. Mahanarayana. Sakanda. 2. Atharwa sikha. Garbha. Matrika. Awadhuta. Kausitaki. Aksi. b. Sriniwasa Murti didalam introdusi kitab saiwa Upanisad mengemukakan bahwa tiap-tiap sakha (cabang ilmu) Weda merupakan satu upanisad. Mandala brahmana. Adhyatma. Wasudewa. Sarwasara. G. Narayana. Yajnawalkya. 3. Annapurna. Mandukya. Sarabha. Taittriyaka. dan Bahwrca Upanisad. Sariraka. Dattatreya. Nada-bindu. Untuk jenis Yajur Weda Hitam. Upanisad yang tergolong jenis Sama Weda yaitu antara lain: Kena.Kelompok kitab-kitab ini disebut rahasya Jnana karena isinya membahas hal-hal yang bersifat rahasia. Nirwana. Tejebindu. Atmaprabedha. yang semuanya berjumlah sepuluh Upanisad. terdiri dan: Isawasya. Yogacudamani. terdiri atas Kathawali. yaitu antara lain: Prana. Prramahamsa. Gamapati. Brahma. Rudrasajabala. Paramahamsapariwrajaka. Saubhagya. Sandilya. jumlah upanisad yang disebut secara tegas adalah sebanyak 108 buah buku. 3. Munduka. Hayagriwa. Yogasikha. Tarasara. Dari catatan yang ada: 1. 2. Parabrahma. Brhadaranyaka. Maitreyi. Sukharahasya. Brhajjabala. Upanisad yang tergolong jenis Rg. Sawitri. Tripuratapini. Kausika. Mahat. yaitu antara lain: a.

Untuk mendalami dharma. Oleh karena itu pergunakanlah Pendidikan Agama Hindu 68/76 . Dengan memperhatikan deretan nama nama kelompok Mantra. dan Upanisad diats. semua buku-buku itu adalah merupakan sumber utama dan kedudukannya mutlak perlu dihayati. Kitab Smrti memuat tentang ajaran hukum agama Hindu. tradisi yang berwenang. yang juga disebut Dharma atau Dharma Sastra. kita temukan dalam beberapa kitab agama Hindu. Brahmana. karena fungsi dan kedudukannya dipersamakan dengan kitab Veda Cruti.puluh satu upanisad. dengan jelas dapat kita pahami bahwa Smrti merupakan kitab suci agama Hindu. jelas bahwa kitab Sruti meliputi jumlah yang cukup banyak.10 menyebutkan sebagai berikut: Crutistu Wedo Wzjneyo dharmacastram tu wai smrtih te sarwarthes wamimansye tabhyam dharmohi nirbabhau artinya: yang dimaksud dengan Cruti ia!ah Weda dan dengan Smrti adalah Dharma Sastra. Dharma Sastra berarti Ilmu Hukum Agama Hindu. kenangan. Weda Smrti Smrti merupakan kitab suci agama Hindu. 2. Keterangan tentang hal tersebut di atas. Smrti adalah kitab suci Weda yang ditulis berdasarkan ingatan oleh para Maharesi bersumberkan pada Veda Cruti. menjadi kata smrti (feminime) berarti: ingatan. Kitab Smrti adalah kitab Veda juga. Kitab Smrti adalah merupakan kitab pendukung dan penjelasan dan kitab Weda Cruti. dari kata smrta (neuter) berarti: ingatan. antara lain: Kitab Menawa Dharma Castra. kedua macam pustaka suci mi tidak boleh diragu ragukan kebenarannya mengenai apapun juga karena dan keduanya itu hukum inL Berdasarkan uraian di atas. Kitab Smrti adalah kitab suci Veda yang ditulis berdasarkan ingatan oleh para Maharesi dan wahyu Sang Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa. Dharma berarti hukum dan sastra berarti ilmu. sesudah Veda Sruti. Kata Smrti berasal dari bahasa Sansekerta. Bab 11. Dengan demikian kitab-kitab Smrti tidak boleh bertentangan dengan Weda Cruti. yang ditulis oleh banyak Maharesi.

anggota. Untuk dapat mengamalkan Veda secara benar di dalam upaya mewujudkan tujuan hidup secara rohani dan jasmani. antara lain: Manawa Dharma Sastra. Yajna Pawitra dan Brahmanda Purana. 2) Wyakarana (Tata Bahasa) Kitab Wyakarana isinya menguraikan tentang tata bahasa. jenis kitab-kitab dikelompokkan menjadi dua (2) kelompok besar. dan mendalami Veda dengan baik. tanpa mengerti dan mengetaui tata bahasanya. Jadi Vedangga berarti batang tubuh dari Veda. dan penulisnyapun banyak pula. Tattwa Suksma. Untuk dapat mengucapkan mantra (Weda Cruti) dengan baik. Clokantara. fungsi kitab siksa ini adalah sangat penting. juga disebut dengan nama Pratisakhya. Kitab-kitab suci yang tergolong jenis kitab Smrti itu banyak jumlahnya. kita hendaknya terlebih dahulu mendalami Vedangga. kecil kemungkinannya dapat diketahui. terdiri dan beberapa kitab. Oleh karenanya kitab Wyakarana ini memiliki fungsi yang sangat penting di dalam kita mempelajari Veda. Berdasarkan kebiasaan yang telah berjalan. Kelompok Upaveda Smrti a. Yoga Sutra. antara lain 1) Siksa (Phonetika) Siksa adalah kitab Vedangga yang isinya menguraikan tentang petunjukpetunjuk tata cara mengucapkan mantra yang tepat sesuai dengan tinggi-rendahnya tekanan suara. Vedangga sebagai kitab Smrti. Manu Smrti. memahami. Hal semacam ini disebabkan oleh munculnya berbagai macam kebutuhan masyarakat (umat Hindu) yang diisarakat oleh Veda dalam mencapai keadilan. Kelompok Vedangga b. Untuk dapat mempelajari. Niti Sastra. Sarasamuccaya. jenis kitab-kitab Smrti perlu dipergunakan sebagai pedoman hidup (dipedomani). Cilakrama. Jenis atau kelompok Vedangga Kata Vedangga. Ramayana. sumber.kitab kitab sastra sebagai petunjuk untuk menentukan tentang segala sesuatu yang harus kita kerjakan dan untuk dapat mengetahui apa yang patut kita kerjakan. badan. kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. keamanan. Dalam hubungannya dengan mempelajari mantra (Weda Cruti) kitabkitab siksa. yang terdiri dan: a. dasar. Bharatayudhya. Beberapa kitab suci agama Hindu yang termasuk kitab Smrti. untuk dapat menghayati Veda dengan benar. terdiri dan kata: Veda dan Angga (bahasa Sansekerta). Pendidikan Agama Hindu 69/76 . Veda berarti ilmu pengetahuan suci dan angga berarti bagian.

Hal ini kita dapat persamakan dengan berbagai macam nyanyian yang dapat dinyanyikan dan mudah diingat. Dan berbagai macam kitab-kitab Chanda. Di antara orang suci tersebut di atas. Kedua kitab ini dihimpun oleh Begawan Pinggala. Kitab Jyotisa adalah kitab pendukung Veda. Maharesi Patanjali. bahwa bagaimana Veda mengajarkan kepada umatnya untuk dapat berhubungan secara harmonis dengan alam dan lingkungannya berdasarkan yadnya. isinya yang terutama adalah menguraikan tentang peredaran tata surya.Para Maharesi yang mendalami tentang tata bahasa (Veda) adalah : Maharesi Sakatayana. yaitu : Midana Sutra dan Chanda Sutra. Veda. Kitab 5) Jyotisa (Antronomi) Kitab Jyotisa. 6) Kalpa Kitab Kalpa adalah jenis kitab Smrti (Vedangga) yang isinya berhubungan dengan kitab Brahmana dan kitab-kitab mantra. Dalam mempelajari Veda kita perlu mendalami kitab Chanda. bulan dan badan angkasa lainnya yang dipandang dan dianggap memiliki pengaruh dalam pelaksanaan yadnya. Begawan Panini adalah orang suci yang pertama kali mengenalkan kata bahasa Sanskerta popular (bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat) dan bahasa Daiwak yaitu bahasa para Dewa-Dewa. Di antara kitab Jyotisa. Rg. Begawan Panini. dan Begawan Yaska. 4) Nirukta Kitab-kitab Nirukta berisikan tentang penafsiran otentik yang berhubungan dengan kata-kata yang terdapat dalam Veda. Beliau menulis Kitab Asta Dhyayi dan Patanjali Bhasa. yang masih terdapat utuh sampai sekarang ada dua buah buku. dan Yajur Veda. yang terkenal adalah Begawan Panini. 3) Chanda (Lagu) Chanda adalah cabang Veda yang secara khusus membicarakan tentang aspek ikatan bahasa dalam Veda yang disebut lagu. yang terdapat masih sampai sekarang adalah kitab Jyotisa Wedangga. Kitab Kalpa mi terdiri dan beberapa bidang kitab antara lain: Pendidikan Agama Hindu 70/76 . karena bersumberkan pada pendalaman kitab Chanda semua ayat-ayat Veda dapat dipelajari secara turun temurun. Kitab Nirukta ditulis oleh Begawan Yaska pada tahun ± 800 SM. yang menguraikan tentang pokokpokok pengetahuan dalam bidang astronomi. Kitab mi memiliki hubungan dengan kitab Veda Cruti. Melalui pengetahuan yang terdapat dalam kitab Jyotisa juga kita dapat memahami.

isinya memuat tentang petunjuk dan peraturanperaturan mengenai tata cara membuat dan mendirikan tempat suci untuk beribadat (Pura. Agama Hindu mengajarkan kepada umatnya. Kitab Sulwa Sutra ini. Bhagawan Sankhalikhita.a) Bidang Srauta Kitab Srauta atau juga disebut Srauta Sutra. bangunan—bangunan lainnya yang berhubungan dengan arsitektur. Di antara keempat kitab Dharma Sastra tersebut. Kitab Dharma Sutra juga disebut Dharma Sastra. isinya menguraikan tentang berbagai macam aspek mengenai peraturan hidup bermasyarakat dan bernegara. (4) Pasa masa Kaliyuga dipergunakanlah Dharma Sastra yang ditulis oleh Bhagawan Parasara. bahwa dalam hidup dan kehidupan kita ini. isinya menguraikan tentang berbagai ajaran mengenai aturan pelaksanaan yadnya yang mesti dilaksanakan oleh orang-orang / masyarakat (umat Hindu) yang telah hidup berumah tangga c) Bidang Dharma Sutra Kitab Dharma Sutra. Candi). Karena dipandang sangat penting. maka terdapatlah kesan bahwa Veda Smrti itu adalah Dharma Sastra. Pendidikan Agama Hindu 71/76 . b) Bidang Grhya Kitab Grhya Sutra. dilalui oleh empat zaman atau juga disebut Catur Yuga. yang diterapkan untuk masing-masing bagian Catur Yuga adalah memiliki sifat saling mengisi atau melengkapi di antara sam dengan yang lainnya. d) Bidang Suliwa Kitab Suliwa Sutra adalah merupakan bagian terakhir dan kitab-kitab Kalpa. seperti: (1) Pada masa Satya / Krtha Yuga berlaku kitab Manawa Dharma Sastra karya sastra dan Bhagawan Manu. Kitab Dharma Sutra dipandang sebagai kitab yang sangat penting di antara kitab-kitab jenis Kalpa. (2) Pada masa Trita Yuga berlaku kitab Dharma sastra yang ditulis oleh Bhagawan Yajnawalkhya. isinya memuat berbagai macam ajaran mengenai tata cara melakukan yadnya. bahwa masing-masing yuga dan Catur Yuga mempunyai Dharma Sastranya tersendiri. (3) Pada masa Dwapara Yuga berlaku kitab Dharma Sastra buah karya Bhagawan Sankha Likhita.

2) Purana Kitab Purana adalah bagian dan kitab—kitab Upaweda. Jenis kitab Artha Sastra yang digubah di Indonesia adalah jenis Usana dan Niti Sastra. ditulis oleh Bhagawan Brhaspati. seperti : Bhagawan Usana dan Bhagawan Parasara. setelah kitab-kitab Vedangga. Kata “upa” dapat diartikan “dekat” dan kata “veda” berarti “pengetahuan suci (kitab suci)”. Kitab Itihasa terdiri dan kitab Ramayana (terdiri dan 7 kanda) dan Mahabharata ( terdiri dan 18 parwa). Danding. 4) AyurWeda Kitab Ayur Weda kelompok kitab Upaweda. Kitab Upaweda memiliki fungsi sama pentingnya dengan kitab-kitab Smrtti yang lainnya. serta Sukraniti. yang isinya menguraikan tentang bidang ilmu kedokteran atau kesehatan baik rohani maupun jasmani. Upaweda juga diartikan Veda tambahan. Kata upaweda berasal dan bahasa Sanskerta. Itihasa adalah karya sastra yang bersifat spiritual. Kitab Upaweda terdiri dan beberapa cabang ilmu. di mana ceriteranya penuh filsafat. Wisnugupta. yakni “Iti-ha-sa” yang artinya “sesungguhnya kejadian itu begitulah nyatanya. Kitab-kitab yang tergolong kitab Artha Sastra yang lainnya adalah Niti Sastra atau Rajadharma (Dandaniti). Artha Sastra sebagai bagian dan kitab Upaweda. antara lain . 3) Artha Sastra Kitab Artha Sastra mi berisikan tentang pokok-pokok pemikiran bidang ilmu politik. roman. yaitu : kata upa dan veda.b. Bharadwaja. adajuga Bhagawan yang lainnya. 1) Itihasa Kitab Itihasa dikelompokkan dalam kitab-kitab Upaweda. Kata Ityihasa terdiri dan tiga suku kata. Di samping Maharesi Kautilya yang mengikuti Bhagawan Brhaspati dalam menulis kitab-kitab Artha Sastra. Kitab Purana berisikan berbagai macam cerita dan keterangan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku pada zaman dahulu kala (kuno). yang terdiri dan dua kata. Itihasa adalah sebuah epos yang menceritakan sejarah perkembangan raja—raja dan kerajaan Hindu di masa lampait. kewiraan dan mitologi. Upaweda berarti dekat dengan Veda (Pengetahuan suci). Nama Itihasa pada mulanya diberikan oleh penulis kitab Mahabharata pada bagian Adiparwa yaitu Bhagawan Wiyasa. Adapun nama kitab yang termasuk kelompok kitab Ayur weda Pendidikan Agama Hindu 72/76 . dan Wisalaksa. Jenis atau Kelompok Upaweda Kitab-kitab Upaweda merupakan kitab kelompok kedua dan Veda Smrti. Jejak beliau di dalam tulis-menulis kitab-kitab “Artha Sastra” diikuti oleh Maharesi Kautilya (Canakhya).

Berdasarkan catatan yang ada kitab Kalpasthana dan Kitab Siddhistana telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan Persia pada tahun 800 Masehi. Kitab Susruta Samhita ditulis oleh Bhagawan Susanta. Disamping itu pula kita Susruta Samhita mencatatkan berbagai macam alat-alat yang dapat dipergunakan dalam pembedahan. Susruta Samhita. Kasyapa Samhita.adalah kitab Caraka Samhita. yaitu: a) Salya yaitu ajaran mengenai ilmu bedah b) Salkya adalah ajaran mengenai ilmu penyakit c) Kayakitsa yaitu ajaran mengenai ilmu obat-obatan d) Bhuta Widya yaitu ajaran mengenai ilmu psikoteraphy e) Kaumara Bhrtya yaitu ajaran mengenai pendidikan anak-anak. dan h) Wajikarana Tantra yaitu ilmu jiwa remaja Kitab Caraka Samhita merupakan baginn dan kitab Ayur Weda. dan merupakan dasar bagi ilmu jiwa anak-anak f) Agada Tantra yaitu ilmu toxikologi g) Rasayama Tantra yaitu ilmu mujizat. Kitab Susruta Samhita ditulis oleh Bhagawan Susanta. antara lain: a) Sutrathana : isinya menguraikan tentang ilmu pengobatan b) Nidanasthana : isinya memuat tentang berbagai penyakit yang bersifat umum c) Wimanasthana : isinya menguraikan tentang ilmu pathologi d) Sarithana : isinya menguraikan tentang ilmu anatomi dan embriology e) Indiyasthana : isinya menguraikan tentang materia diagnosa dan prognosa f) Cikitasasthana : isinya menguraikan tentang ajaran khusus mengenai pokok-pokok ilmu therapy g) Kalpasthnana : isinya menguraikan tentang ajaran di bidang theraphy secara umum h) Siddistana : isinya juga menguraikan tentang pokok-pokok di bidang therapy secara umum. Astanggahrdaya. Berdasarkan materai yang terdapat dalam kitab Ayur Weda maka isi kitab Ayur Weda meliputi delapan bidang ajaran umum. Kitab tersebut mernuat delapan bidang ajaran. Kitab mi isinya menguraikan tentang pentingnya ajaran umum di bidang ilmu bedah. Kitab mi isinya menguraikan tentang pentingnya ajaran umum di bidang ilmu bedah. Pendidikan Agama Hindu 73/76 . Yogasara dan Kama Sutra. Di samping itu pula kitab Susruta Samhita mencatatkan berbagai macam alat-alat yang dapat dipergunakan dalam pembedahan.

hendaknya dipedomani oleh Kama Sastra. kepada kaum Brahmana. Pendidikan Agama Hindu 74/76 . 7) Agama Kitab agama itu baru ada setelah Agama Hindu ada dan berkembang di dunia. Hal mi termuat dalam kitab Yajur Veda sebagai berikut: “Yaatkeram wacam kalyanin awadonijanebhyah. baik jasmani maupun rohani. Kitab Kamasutra berhubungan dengan kitab Wajikarana Tantra.Kitab Yogasara dan Yogasastra ditulis oleh Bhagawan Nagarjuna. Brahma Rajanyabhyam cudraya caryaya ca siwaya caranayaca” Artinya: “Biar kunyatakan disini kitab suni ini kepada orang-orang banyak. kaum Ksatrya. Dewa Dasa Sahasri. seni atau rasa indah. seperti: Natya Sastra. dan yang lainnya. Isinya menguraikan tentang ajaran ilmu jiwa remaja. Kitab Gandharwa Weda. Kama Sastra sebagai bagian dan jenis kitab Upaweda isinya menguraikan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan asmara. juga memiliki beberapa bagian kitab-kitab lagi. dan kaum Waisya dan bahkan kepada orang-orangKu dan kepada mereka (orang-orang asing) sekalipun. isisnya menguraikan tentang berbagai aspek cabang ilmu seni. Kedua kitab mi isinya menguraikan tentang pokok-pokok ilmu yoga yang berhubungan dengan sistem anatomi dalam pembinaan kesehatan. Diantara kitab-kitab Kama Sastra yang terkenal adalah karya dan Bhagawan Watsyayana. Karena dengan demikian asmara dan rasa indah yang muncul itu tentu terarahlbernilai positif adanya. umat beragama dipandang perlu untuk membangkitkan rasa indah tersebut. kaum Sudra. Menurut Veda. 6) Kama Sastra Kitab Kama Sastra adalah termasuk kitab suci agama Hindu pada bagian Smrti (Upaweda). Kebangkitan dan rasa indah manusia terbentuk untuk berbakti kepada Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa. agama Hindu boleh dan dapat dipelajari oleh seluruh umat manusia. Di dalam upaya untuk mewujudkan salah sath tujuan hidup. Rasarnawa. Gandharwa Weda sebagai kitab Smrti. 5) Gandharwa Weda Kitab Gandharwa Weda merupakan bagian dan kitab-kitab Upaweda. kitab Natya Wedagama. Rasaratnasamucaya. Kitab Kama Sutra ditulis oleh Bhagawan Watsyayana pada abad ke10 Masehi.

tidak terkecuali. yang Pendidikan Agama Hindu 75/76 . Istilah cruti berarti Wahyu. banyak jenisnya. Disamping itu kita juga perlu menyadari bahwa. Hal mi sesuai dengan ucapan kitab Smrti (Dharma Sastra) sebagai berikut: “Wedo ‘khilo dharma mulam smrti cue ca tad widam acaracca iwa sadhunam atmanastustir ceva ca” Artinya: Seluruh Weda merupakan sumber utama daripada dharma (agama Hindu) kemudian barulah Smrti. Bagi mereka yang belum dapat mempelajari Veda dapat belajar agama Hindu berdasarkan kitab-kitab agama. Kelompok mantra didasarkan atas pertimbangan fungsi dan kegunaannya di bagi menjadi empat. Dan uraian di atas dapatlah kita simpulkan bahwa jumlah kitab-kitab Smrti yang dapat kita pergunakan sebagai petunjuk untuk menata kehidupan berhubungan dengan Sang Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa. Weda çruti adalah kitab Wahyu Tuhan. Veda sebagai sumber ajaran agama Hindu mengandung ajaran yang sangat tinggi. kelompok Brahmana. Weda sebagai kitab suci umat beragama Hindu. Menurut sifat dan isinya Weda çruti dibedakan atas kelompok mantra. menghayati dan mengamalkan ajaran Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa yang dianut oleh umat Hindu.6) B. kelompok Ananyaka dan Upanisad. yang disebut kitab suci Weda. 18) Berdasarkan bunyi Cloka tersebut di atas dinyatakan bahwa kitab suci Veda (Hindu) dapat dipelajari oleh siapa saja. maka tidak akan semuanya dapat mempelajarinya dengan sempuma. disamping kebiasaan-kebiasaan yang baik dan orang-orang yang rnenghayati Veda (sila) dan kemudian tradisi-tradisi dan orang-orang suci (acara) serta yang terakhir ada!ah rasa puas din sendiri (atmanastusti) (Manawa Dharrna Sastra 11. Ajaran beliau yang diwahyukan kepada Maha Rsi dituliskan pada buku. berdasarkan pengelompokannya ada yang disebut dengan nama Weda çruti dan Weda Smrti. RANGKUMAN Kitab suci adalah cara yang baik untuk memahami. Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa mewahyukan ajaran-Nya melalui orang-orang Suci untuk disebarkan pada kita semua. Namum menyadari akan kekurang sempurnaan kita sebagai umatnya. Kitab agama isinya memuat ajaran tentang keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa dan petunjuk-petunjuk untuk melaksanakan tata cara persembahyangan. Semua ayatayat yang terdapat didalamnya merupakan Wahyu dan Tuhan yang kemudian dihimpun dalam beberapa buah buku menurut umurnya dan peruntukannya.(Yajur Veda XVI.

Itihasa dan Purana berisikan-berbagai macam ajaran yang berhubungan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi beliau dan ciptaanNya.menghayati. Sama Weda Samhita dan Atharwa Weda Samhita. Smrti (Dharma Sastra) . bersumber dan Wahyu Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Manusia adalah mahiuk hidup yang diciptakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.Weda Samhita. dan Purana adalah kitab-kitab Weda yang ditulis oleh para Rsi berdasarkan ingatannya. Sudah menjadi kodratnya manusia untuk melaksanakan kewajiban hidupnya.politik dan pertahanan/keamanan) serta upacara (ritual) agama. Itihasa. manusia memiliki beberapa kewajiban yang mesti dilaksanakan dalam kehidupan mi.ekonom i.disebut Catur n Weda Samhita yaitu Rg.sehingga kita dapat meningkatkan budi pekerti dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kebenaran yang utama adalah kebenaran yang ada pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.budaya. Kebenaran beliau dapat kita laksanakan dengan jalan memahami. Mari kita dalami sastra-sastra agama. Salah satu kewajiban hidup manusia yang harus dikerjakan adalah menegakkan kebenaran. Yajur Weda Samhita.dan engamalkan ajaran agama. Ethika (sosial. Sebagai insan Tuhan. Pendidikan Agama Hindu 76/76 . Smrti. yang terkandung dalam kitab suci Weda Sruti maupun Smrti untuk dipergunakan didalam menuntun kehidupan kita sehari-hari.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful