P. 1
60604184-hinduklsXIsmk

60604184-hinduklsXIsmk

|Views: 797|Likes:
Published by Sai Jage

More info:

Published by: Sai Jage on Nov 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/07/2013

pdf

text

original

Sections

  • KELAS XI SMK Oleh : Drs. I Wayan Pura Ys
  • BAB I HUKUM KARMA DAN PUNARBHAWA
  • Standar kompetensi
  • Tujuan Pembelajaran Akhir
  • Uraian Materi
  • KARMA PHALA
  • BAB II ALAM SEMESTA
  • Standar Kompetensi
  • A.BHUWANA AGUNG
  • Pengertian
  • Sapta Loka
  • Sapta Patala
  • B.BHUWANA ALIT
  • Asal mula atau proses penciptaan bhuwana alit
  • Kelompok Eka Pramana
  • Kelompok Dwi Pramana
  • Kelompok Tri Pramana
  • C.HUBUNGAN BHUWANA AGUNG DENGAN BHUWANA ALIT
  • Tujuan Pembelajaran akhir
  • URAIAN MATERI
  • A.PENDAHULUAN
  • B.PENGERTIAN
  • C.TUJUAN KEPEMIMPINAN HINDU
  • D.FUNGSI, TUGAS DAN WEWENANG PEMIMPIN
  • E.KEPEMIMPINAN HINDU
  • 1.Asta Brata
  • 2.Panca Dasa Pramiteng Prabu
  • 3.Sad Warnaning Rajaniti
  • 4.Panca Upaya Sandhi
  • 5.Nawa Natya
  • Tujuan Akhir Pembelajaran
  • A.PENGERTIAN
  • B.TUJUAN DAN FUNGSI DHARMA GITA
  • C.JENIS-JENIS DHARMA GITA
  • D.UTSAWA DHARMA GITA
  • E.PENDALAMAN
  • A.PENGERTIAN DAN HAKEKAT YADNYA
  • B.TUJUAN YADNYA
  • C.BENTUK DAN JENIS YADNYA
  • 1. Bentuk – bentuk Yadnya
  • 2. Jenis-jenis Yadnya
  • D.PANCA YADNYA
  • E.PENILAIAN YADNYA
  • F.PENDALAMAN MATERI
  • Tujuan akhir pembelajaran
  • B.PERANAN SUSILA DALAM MEWUJUDKAN TRI HITA KARANA
  • C.TAT TWAM ASI
  • D.IMPLEMENTASI TAT TWAM ASI
  • 1.Memandang semua manusia adalah sama
  • 2.Merasakan penderitaan orang lain
  • 3. Melaksanakan Tri Kaya Parisudha (tiga prilaku yang disucikan)
  • b. Wacika
  • c. Kayika (perbuatan)
  • 4. Catur Paramita
  • 5. Tri Parartha
  • 1. Weda Sruti
  • Ad.1. Mantra
  • ad.2. Bagian Brahmana (Karma Kanda)
  • Ad. 3. Bagian Upanisad/Aranyaka
  • 2. Weda Smrti
  • B. RANGKUMAN

MATERI PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU

KELAS XI SMK Oleh : Drs. I Wayan Pura Ys BAB I HUKUM KARMA DAN PUNARBHAWA Standar kompetensi Memahami Hukum Karma dan Punarbhawa Tujuan Pembelajaran Akhir Setelah mempelajari materi ini siswa diharapkan mampu : Mengerti dan memahami hukum karma . Mampu menjelaskan bagian –bagian hukum karma Mampu menguraikan hubungan hukum karma dengan punarbhawa Menjadikan hukum karma sebagai pegangan dalam prilaku Uraian Materi A. Pengertian Hukum Karma Karma berasal dari Bahasa Sansekerta yang artinya kerja atau berbuat. Konsep hukum karma adalah bahwa setiap perbuatan akan memberikan hasil yang disebut ( phala ). Sehingga setiap hasil yang dipetik atau diterima oleh seseorang atas perbuatannya disebut karma phala. Hukum karma adalah hukum Tuhan yang berlaku bagi semua orang. Tidak memandang apakah orang tersebut percaya atau tidak hukum karma tetap berlaku. Seperti hukum terbitnya matahari dari timur, orang buta ataupun orang eskimo yang tidak pernah melihat matahari, bukan berarti matahari tidak ada. Matahari tetap terbit dari timur. Demikianlah hukum karma berlaku bagi semua umat manusia dari semua negara, semua suku bangsa dan semua agama. Dalam ajaran Hindu , hukum karma merupakan ajaran sebagai landasan ajaran etika dan pegangan dalam mencapai tujuan hidup. Karma atau perbuatan ini ada tiga bentuk yaitu karma yang dilakukan oleh pikiran ( Manah ), karma dalam bentuk ucapan (waca ), dan karma dalam bentuk tindakan jasmanani ( kaya ). Jadi apapun bentuk aktivitas seseorang pasti ada phalanya (hasilnya) .Ini berarti tidak ada perbuatan yang tanpa membuahkan hasil, sekecil apapun kegiatan tersebut. Sedangkan jika dilihat dari baik buruknya maka perbuatan yang baik disebut Subha karma dan perbuatan yang buruk disebut Asubha karma. Materi Pelajaran Pendidikan Agama Hindu 1 1/76

B. Proses berlakunya karma phala Setiap aktivitas karma seseorang didasari oleh keinginan ( Iccha ). Timbulnya keinginan akan direspon oleh pikiran. Pikiran inilah yang akan mengambil keputusan untuk melakukan tindakan dalam bentuk ucapan ataupun tindakan jasmani. Keputusan pikiran sangat ditentukan oleh pengetahuan (jnana), kebijaksanaan ( wiweka), serta pengalaman hidup serta karmawasana seseorang. Jika digambarkan maka proses karma seseorang sebagai berikut : KEINGINAN

Pengetahuan PIKIRAN Pengalaman Hidup KARMA

Wiweka karmawasana

KARMA PHALA C. Wujud Karma phala Banyak orang menafsirkan bahwa wujud dari karma phala ( hasil perbuatan ) seseorang adalah berbentuk materi, seperti kekayaan, kecantikan atau ketampanan, jabatan, kehormatan dan sebagainya yang semata-mata diukur dari segi materi. Secara garis besar memang wujud karmaphala ada dua yaitu berbentuk fisik dan psikis( batin). Artinya hasil dari perbuatan tersebut dapat dirasakan secara langsung oleh badan jasmani melalui panca indria atau juga bisa memberikan suasana batin tertentu pada seseorang. Contoh: Jika seseorang pernah berbuat baik misalnya membantu orang yang jatuh di jalan , suatu saat ketika dia terjatuh di jalan akan ada orang lain yang menolong. Ini adalah phala secara fisik. Contoh lain mungkin ada orang yang suka menipu justru akan membuat hatinya tersiksa karena selalu was-was, selalu berprasangka bahwa tipu dayanya akan ketahuan oleh orang lain. Ini berarti secara psikis dia menderita. Pendidikan Agama Hindu 2/76

Wujud dari karmaphala yang akan diterima seseorang tidak dapat dipastikan. Artinya hasil karma tersebut bisa saja berbentuk fisik, atau psikis, ataupun kedua nya yaitu fisik dan psikis. Demikian pula kapan waktunya akan diterima seseorang atas perbuatannya juga merupakan rahasia Hyang Widhi. Yang jelas bahwa karmaphala itu ada dan akan hadir tepat pada waktunya. Diatas kedua wujud karmaphala di atas yang terpenting untuk menjadi tolok ukur atas hasil perbuatan seseorang adalah akibat dari wujud karmaphala tersebut. Artinya seseorang yang menerima karmaphala baik berwujud fisik maupun psikis apakah mengakibatkan adanya peningkatan kualitas sradha atau tidak. Apakah menyebabkan kebahagiaan atau penderitaan? Contoh : Seseorang yang mendapatkan uang sangat banyak dari hasil judi, diukur dari segi fisik tentu menyenangkan. Tetapi kemenangan itu justru menyebabkan dia semakin tergila-gila pada judi, suka berfoya-foya semata-mata memenuhi nafsu keinginannya. Suatu saat jika dia kalah berjudi maka kekesalan dan kemarahannya akan dilempahkan pada orang lain, seperti anak atau istrinya. Ini menunjukkan bahwa uang yang diperoleh dari hasil judi tersebut bukan karmaphala yang baik, karena akibat dari uang yang diterima terebut justrui menjerumuskan dirinya pada karma-karma yang lebih buruk. Contoh lain mungkin ada seseorang yang secara fisik cacat jasmani, tetapi dengan kekurangannya tersebut memberikan dia inspirasi dan kesadaran bahwa hidup ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan fisik, sehingga dia menjadi orang yang teguh sradha bhakti, serta senantiasa merasa tentram . Jadi cacat jasmani tersebut bukan hasil karma buruk tetapi merupakan hasil karma baik yang membawa kebahagiaan bagi dirinya. Seperti halnya seseorang minum obat pahit untuk kesembuhan dari penyakitnya. Kesimpulannya: Karmaphala yang baik adalah yang dapat meningkatkan kualitas sradha bhakti untuk mencapai kebahagiaan lahir batin ( moksartham jagat hita ) Karmaphala yang buruk adalah yang menyebabkan seseorang menderita lahir batin dan menurunkan kualitas sradha bhakti. D. Dampak karma bagi seseorang Setiap karma yang dilakukan setidak-tidaknya ada tiga akibat yang terjadi : 1. Karma akan memberi akibat atau balasan atas setiap perbuatan manusia. Baik atau buruk yang akan diterima sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya. 2. Karma akan memberi kesan tersendiri kepada pelakunya yang akan melekat pada pikiran pelakunya. Pendidikan Agama Hindu 3/76

Prarabdha Karma 3. Karma yang memberi kesan dan menjadi kepribadian jiwatman inilah yang merupakan karmawasana setiap orang. selalu melekat pada setiap kelahirannya. Pendidikan Agama Hindu 4/76 . Mengenai kapan waktu kita akan menerima pahala atas karma yang kita lakukan juga merupakan rahasia Ida sang Hyang Widhi. Kryamana Karma Sancitha karma adalah karma atau perbuatan yang dilakukan pada masa hidup di dunia baru akan menerima pahalanya setelah meninggal dunia Prarabdha karma adalah karma atau perbuatan seseorang yang pahalanya langsung diterima pada kehidupan ini. Tiga Macam Karma Jika dilihat dari segi waktu hasil karma seseorang maka dapat digolongkan menjadi tiga macam yaitu : 1. akan Aku bawakan segala apa yang belum dimilikinya dan akan menjaga yang sudah dimilikinya. Sanchita Karma 2. Bukan karena orang lain. Jika hal itu sudah dilakukan maka Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik bagi kita. Kramana karma adalah pahala yang diterima seseorang pada kehidupan ini atas hasil dari perbuatan ( karmanya ) pada kehidupan yang lampau. Bisa saja merupakan pahala atas karma kita pada kehidupan terdahulu. selalu berbuat kebaikan serta tetap yakin dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. E. Karma akan membentuk kepribadian seseorang. Meskipun kita menggolongkan karma tersebut seperti di atas tetapi dalam kenyataan sangat sulit bagi kita untuk mengidentifikasi setiap karma yang kita terima saat ini. Kita harus yakin bahwa apapun yang kita alami pada kehidupan ini adalah hasil perbuatan diri sendiri. Laksanakan semua kewajiban sebagai yadnya dan bhakti kepada Ida sang Hyang Widhi. Oleh karena itu yang terbaik harus dilakukan adalah melaksanakan tugas sebaik-baiknya. kepada mereka yang senantiasa gigih demikian itu. Apa yang seharusnya kita butuhkan pasti akan terpenuhi. Manfaat kita mengetahui jenis-jenis karma tersebut adalah untuk meningkatkan sradha dan bhakti kepada Hyang Widhi. atas pahala atas karma kita masa kini.3. sebagaimana wahyu Beliau dalam Kitab Bhagawad Gita Bab IX Sloka 22 : Mereka yang memuja-Ku dan hanya bermeditasi kepada-Ku saja.

Setiap peristiwa karma yang melibatkan lebih dari satu manusia maka akan ada pihak penerima pahala atas karmanya dan ada pihak sebagai pembalas karma sekaligus pelaku karma untuk dirinya. Pendidikan Agama Hindu 5/76 . tetapi juga sebagai alat untuk membalas karma orang lain. Itu adalah hasil karma kita yang mungkin kita sudah lupa kapan melakukannya. Dalam peristiwa tersebut yang menjadi alat Tuhan untuk menyampaikan pahala atas karma tersebut adallah manusia ( orang lain). Pelaksana Karmaphala Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa wujud karmaphala bisa berbentuk fisik bisa juga berbentuk psikis. Dalam peristiwa tersebut Budi menerima pahala dalam bentuk pertolongan dari Andi. tetapi semua itu akibat perbuatan manusia sendiri. Kesimpulannya : a. Meskipun manusia adalah alat pembalas karma. tumbuhan. Pahala karma di dunia bisa diterima melalui tangan manusia atau alam lingkungan. Demikian pula alam bisa saja sebagai alat pembalas karma. Setiap karma yang terjadi akan menjadi penyebab untuk karma-karma berikutnya. b. binatang. Misalkan Andi menolong Budi yang terjatuh dari sepeda motor. Jika karma seseorang harus diterima setelah meninggal dunia maka atmannya akan menuju sorga atau neraka. Contoh sederhana mungkin suatu ketika kita menerima bantuan dari orang lain dimana pada waktu tersebut kita benar-benar memerlukan pertolongan tersebut. bukan berarti dia terbebas atas karma yang diperbuatnya itu tetapi pahala akan selalu mengikuti karma yang dilakukannya. sehingga disaat yang tepat kita akan menerimanya. Pahala atas karma seseorang dapat diterima di alam niskala ( sorga atau neraka ) juga bisa dinikmati pada saat hidup. Pahala karma bisa saja dirasakan melalui tangan manusia. baik alam maupun sesama manusia. pahala tersebut mungkin saja atas kebaikan Budi di waktu lalu Dalam kasus ini Andi adalah sebagai alat pembalas karma perbuatan Budi di masa lalu.F. atas perbuatannya menolong budi dia juga akan mendapat pahala atas karma tersebut. c. Meskipun Andi sebagai alat . Kejadian ini buakanlah suatu kebetulan. serta bisa juga dari alam. Jadi setiap peristiwa karma yang melibatkan lebih dari satu orang maka dalam peristiwa tersebut ada dua jenis proses karma yang terjadi yaitu ada pihak yang menerima hasil karmanya dan ada orang yang yang berkarma dimana hasilnya belum diketahui kapan akan diterima. Sehingga manusia disamping akan menerima pahala atas karmanya. d. Tetapi bagaimana bentuk pahala dari karma yang harus dinikmati pada kehidupan ini? Tentu saja akibat karma akan dirasakan oleh seseorang melalui interaksi dengan lingkungan. Bencana alam bukanlah hukuman Tuhan.

Perputaran waktu. dan masih banyak lagi jenis-jenis perputaran kehidupan. Pengertian sederhana adalah bahwa pada saat seseorang meninggal dunia maka jiwatman akan melepaskan badan jasmaninya ( stula sarira ). Dalam rangka meningkatkan karma baik maka pada saat berdoa mohonlah agar kita senantiasa menjadi alat pembalas karma yang baik. ( Bab II. perputaran rantai makanan. sehingga terhadap hal yang tak terrelakkan ini janganlah engkau berduka. PUNARBHAWA Punarbbhawa atau tumimbal lahir atau samsara adalah bagian keempat dari Panca Sradha sebagai dasar keyakinan Umat Hindu. Orang bijaksana tak akan terbingungkan oleh hal ini. sloka 27). Dari pemahaman ini jelas bahwa manusia akan mengalami punarbhawa.e. Jika kita perhatikan bahwa alam ini semuanya mengalami siklus ( perputaran ). ( BabII. antara lain : Seperti halnya sang jiwatman yang melewatkan waktunya dalam badan ini dari masa kanak-kanak. Intinya bahwa segala sesuatu di alam ini mengalami perputaran sehingga bisa stabil. sloka 22 ) Bagi seseorang yang lahir. tumbuh besar. G. Untuk memahami dan meyakini hukum punarbhawa bisa kita lakukan secara logika maupun dengan meyakini Wahyu Tuhan melalui kitab-kitab suci. Demikian juga manusia yang lahir. kematian sudahlah pasti dan pasti ada kelahiran bagi mereka yang mati. demikianlah jiwatman yang berwujud mencampakkan badan lama yang telah usang dan mengenakan badan jasmani baru. Pendidikan Agama Hindu 6/76 . kemudian meninggal maka akan mengalami perputaran untuk lahir kembali. ( Bab II. kemudian turun hujan dan kembali ke laut. sloka 13 ) Bagaikan seseorang yang menanggalkan pakaian usang dan mengenakan pakaian lain yang baru. Bahkan planet-planet ini bisa stabil pada tempatnya karena berputar. Untuk meningkatkan kualitas jiwatman maka setelah waktu tertentu jiwatman kembali kedunia dengan menggunakan badan jasmani yang baru. Kemudian dalam Kitab Suci Bhagawad gita beberapa sloka menyiratkan secara jelas tentang punarbhawa . Proses jiwatman meninggalkan stula sarira kemudian lahir kembali menggunakan jasmani yang baru inilah disebut Punarbhawa. Ada perputaran siang dan malam. menuju sorga atau neraka. demikian juga bila ia berpindah ke badan yang lainnya. perputaran dari air laut mejadi awan. remaja dan usia tua.

H. 2. sebabnya demikian. Demikian juga bila semasa hidupnya banyak berbuat dosa maka kelahiran berikutnya akan menurun kualitasnya. karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara ( lahir dan mati berulang-ulang ) dengan jalan berbuat baik. Untuk berbuat baik kesempatan yang paling luas adalah bila menjelma menjadi manusia. Berbuat baik ( Subha karma ) adalah cara untuk melepaskan diri dari keadaan samsara ( punarbhawa ). Hubungan Karmaphala dengan Punarbhawa Dalam Kitab Sarasamuscaya sloka 4 dikatakan : Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama. Jadi bila manusia semasa hidupnya banyak berbuat baik maka kelahiran berikutnya akan meningkat kualitasnya. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan terlahir sebagai binatang atau tumbuhan. demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia.Masih banyak sloka-sloka lain yang menjelaskan tentang punarbhawa ini. Oleh karena itu setiap menjalani kehidupan kewajiban manusia adalah untuk meningkatkan Subhakarma sehingga setiap kelahiran berikutnya bisa meningkat kualitasnya sampai akhirnya tujuan hidup yaitu moksartham jagathita tercapai. Dari sloka di atas ada dua point yang dapat kita petik penekannya yaitu : 1. Jika digambarkan proses hidup manusia dan kelahirannya sampai bersatunya atman dengan brahman ( Brahman Atman aikyam) seperti di bawah ini : Ket : Gari tebal adalah kehidupan saat ini Garis tipis kehidupan kelahiran dengan kualitas meningkat yang menuju bersatunya Brahman Pendidikan Agama Hindu 7/76 .

Garis putus-putus kehidupan kelahiran dengan kualitas menurun yang semakin jauh dari Brahman. Pendidikan Agama Hindu 8/76 . Kesimpulan : Gunakan hidup ini sebaik-baiknya untuk meningkatkan karma sehingga setiap kelahiran berikutnya bisa meningkatkan kualitas dan kesucian jiwatman.

makrokosmos. BHUWANA AGUNG Pengertian Bhuana Agung artinya alam raya ( besar ). Pada saat alam semesta ini meng”ada” disebut masa “Srsti “ atau “ Brahma diwa “ ( siang hari Brahma ). sangat sulit dipastikan. matahari. lalu ada. mengingat keterbatasan kemampuan dan umur manusia.BAB II ALAM SEMESTA Standar Kompetensi Memahami proses penciptaan dan pralaya alam semesta Tujuan Akhir Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan : a. b. Agastya Parwa dan sebagainya. Sedangkan pada waktu alam ini meniada disebut “Pralaya” atau “Brahma nakta” ( malam hari Bharma ). Mampu mengklasifikasi unsur-unsur bhuana agung dan bhuana alit d. c. Mampu menjelaskan proses pralaya. kemudian tidak ada lagi. demikian seterusnya berulang-ulang. Istilah lainnya adalah jagat raya. Mampu menjelaskan proses terciptanya bhuana agung dan bhuana alit. bumi dengan segala isinya ini yang disebut bhuana agung. atau brahmanda. Menurut Ktab-kitab suci Hindu teori penciptaan jagat raya banyak diuraikan yang jika dicermati dan dipelajari dengan penuh keyakinan maka alam semesta ini mengalami keadaan dimana jagat raya ini pernah tidak ada. Proses dari tidak ada menjadi ada alam semesta ini berlangsung secara berjenjang. Masa Srsti digabungkan dengan masa Pralaya disebut satu Kalpa atau satu hari Brahman. Kapan sesungguhnya alam semesta ini tercipta. Mampu menguraikan hubungan bhuana agung dan bhuana alit Uraian Materi A. dari jenjang yang amat halus dan tidak berwujud ( gaib / niskala ) sampai pada jenjang yang berwujud dan sangat kasar ( nyata / sekala ) Pendidikan Agama Hindu 9/76 . Jadi semua yang ada di alam semesta ini termasuk gugusan bintang. planet. Bebrapa peneliti dan ilmuwan mencoba untuk membuat teori tentang penciptaan alam semesta tetapi tidak satupun dapat memastikan kapan alam ini tercipta. Brahmanda Purana. Penggambaran jagat raya termasuk proses penciptaannya banyak diuraikan dalam beberapa kitab suci Hindu Seperti Brhad Aranyaka Upanisad.

5. Sattwam. Rajas. Alam jagat raya dipenuhi hawa panas kemerahan dan dentuman halilintar yang sambung-menyambung dengan dahsyat. semua zat pada meleleh kemudian menguap. Purusa dan prakirti keduanya sangat halus dan tidak bisa diamati. yaitu benih kejiwaan yang bersifat kedirian atau individu. Padamulanya Unsur Sattwam yang mendominasi maka lahirlah yang disebut Mahat yang berarti Maha Agung. Pendidikan Agama Hindu 10/76 . Dari Mahat terciptalah alam Citta yang didalamnya terdiri dari tiga unsur yaitu Budhi. Semua mahluk hidup mati dan hancur. Unsur-unsur Panca Maha Bhuta kembali menjadi atom yang amat halus sekali. Pada saat alam ini tidak ada Tuhan menarik kembali semua manifestasi beliau di alam kemudian menjadikan diri dalam wujud sepi. Dimulai dari hancurnya ikatan api atau matahari yang kemudian menyebar keseluruh alam semesta. dan Tamas. 1. tanpa permulaan dan tanpa akhir. Fungsinya adalah untuk merasakan. Budhi bersifat sattwam sehingga setiap keputusannya bersifat bijaksana. 3. 6. 2. Purusa adalah unsur dasar kejiwaan atau rohani.Hal ini disebutkan dalam Bhagawad Gita. 7. Pada kondisi seperti ini beliau disebut Paramasiwa atau Nirguna Brahman. Srsti Setelah alam ini tidak ada pada masa pralaya . 3. Sattwam adalah unsur yang bversifat terang dan tenang. Tuhan Paramasiwa atau Nirguna Brahma menjadikan diri-Nya Sada Siwa ( Saguna Brahma ) yang berwujud Purusa dan Prakiti . Dari sebaran api yang sangat dahsyat ini menyebabkan semua zat cair menguap. 4. Perpaduan Purusa dan Prakirti menyebabkan Triguna tidak seimbang. Selanjutnya alam semesta menjadi tidak ada selama satu kalpa atau kurang lebih 432 juta tahun manusia. Sedangkan Tamas adalah unsur yang meiliki sifat dasar gelap dan berat 4. yaitu unsur kejiwaan tertinggi yang berfungsi untuk menentukan keputusan. Dari Buddhi selanjutnya lahir Ahamkara. manah dan ahamkara yang tercipta secara berurutan.Pralaya Pralaya adalah masa dimana alam semesta ini tidak ada. Rajas unsur yang memiliki sifat dasar dinamis dan aktif. proses terciptanya alam semesta dapat digambarkan sebagai berikut : 1. Proses pralaya menurut beberapa kitab suci Hindu digambarkan sebagai berikut . Dari Unsur Prakirti lahirlah Triguna yaitu. 2. kosong dan hampa. 6. Bab XIII sloka 20. Alam citta yang pertama muncul adalah Buddhi. sedangkan prakirti adalah unsur dasar kebendaan atau jasmani. 5.

Rasa Tanmatra ( sari rasa ) e. Padendriya ( yangsang penggerak kaki ) d. Wayu ( hawa atau udara ) c. Selanjutnya lahirlah Panca Tanmatra yaitu lima unsur zat yang sangat halus terdiri dari : a. Apah ( zat cair ) e. a. 9. Evolusi berikutnya dengan pengaruh triguna dengan imbangan yang berbeda terciptalah Dasendriya . yang terdiri dari Panca Buddhindriya terdiri dari . Akasa ( ether atau ruang ) b. Sparsa Tanmatra ( sari rabaan ) c. Srotendriya ( rangsang pendengar ) b. Rupa Tanmatra ( sari warna ) d. Ganda Tanmatra ( sari bau ) 11. Dari Panca Maha Bhuta inilah kemudian berkembang menjadi alam semesta beserta isinya yaitu mahluk hidup yang ada di bumi termasuk manusia. Upasthendriya / Bhagendriya ( rangsang penggerak kelamin ) 10. Dari uraian di atas jelaslah bahwa semua yang ada di alam ini mengalir dan lahir dari Tuhan dan pada saatnya nanti akan kembali lagi ke dalam tubuhNya yang menjadi kosong dan hampa. Dari Panca Tanmatra selanjutnya muncul Panca Maha Bhuta . yaitu akal atau pikiran yang berfungsi untuk berpikir. Panindriya ( rangsang penggerak tangan ) c. a. Payundrita ( rangsang penggerak pelepasan ) e. Prthiwi ( zat padat ) 12. Twakindriya ( rangsang perasa ) c. yaitu lima macam unsur zat alam yang bersifat kasar. Caksundriya ( rangsang penglihatan ) d. Sabda Tanmatra ( sari suara ) b. Teja ( api ) d. Granendriya ( rangsang pencium ) Panca Karmendriya terdiri dari.8. Pendidikan Agama Hindu 11/76 . Selanjutnya dari Ahamkara lahirlah yang disebut Manas. Garbhendriya ( rangsang penggerak perut ) b. Jihwendriya ( rangsang pengecap ) e. terdiri dari: a.

Jika digambarkan dalam skema maka proses terciptanya alam semesta sebagai berikut : Ida Sang Hyang Widhi Purusa Prakirti / Pradana Memiliki Triguna Mahat Citta Buddhi Ahamkara Manah Dasendriya Panca Tanmatra Panca Maha Butha Brahmanda Pendidikan Agama Hindu 12/76 .

Rasa tala Lebih dalam dari sapta patala masih terdapat dua lapisan lagi yaitu : a. 5. BHUWANA ALIT Pengertian Bhuwana alit sering juga disebut Mikrokosmos adalah alam kecil atau dunia kecil yaitu isi dari alam semesta. 4. Pendidikan Agama Hindu 13/76 . Balagarba maha naraka ( ruang perantara di dalam bumi ) b. 7. 2. Lapisan-lapisan ini berdasarkan kuat atau lemahnya pengaruh Panca Maha Bhuta. Nitala 4. Tala-tala 7. 6. Watala 3. Loka terdiri dari : Bhur loka ( alam manusia ) Bhuwah loka ( alam pitara ) Swah Loka ( alam dewa ) Maha loka Jana loka Tapa loka Satya loka ( ruang vakum= Nirguna Brahma ) Sapta Patala Sapta patala adalah lapisan bumi dari permukaan sampai dengan inti bumi. Hanya saja ada perbedaan perkembangan penciptaannya sesuai perimbangan triguna. seperti. oleh karena itu proses penciptaan sama termasuk unsur-unsur pembentukannya. Sutala 6. Kalagni Rudra ( ruang inti bumi ) B. terdiri atas : 1. Asal mula atau proses penciptaan bhuwana alit Bhuwana alit adalah bagian dari bhuwana agung. Setelah tercipta Brahmanda-brahmanda termasuk bumi maka selanjutnya diciptakanlah mahluk hidup yang berawal dari mahluk hidup yang terrendah sampai dengan mahluk hidup yang tertinggi. Sapta 1. manusia. Mahatala 5. Lapisan bumi menuju ruang jagat raya disebut Sapta Loka. hewan dan tumbuhan. 3.Sapta Loka Bumi sebagai salah satu Brahmanda hasil pembentukan Panca Maha Bhuta memiliki lapisan-lapisan. Patala ( kulit bumi ) 2.

Manusia memiliki unsur : 1. 2. Purusa yaitu atman sebagai sumber kehidupan 2.Dari proses penciptaan Purusa dan prakirti dengan unsur-unsurnya sampai panca maha bhuta. Mahluk ini dikenal dengan nama Satwa atau Sato. tamas yang sesuai dan seimbang tercipta Kelompok Tri Pramana atau manusia. Trna yaitu bangsa rumput baik yang hidup di air maupun di darat. Sabda adalah kekuatan suara dan Idep kekuatan pikiran. Pradana terdiri dari : Pendidikan Agama Hindu 14/76 . Sabda dan Idep. Taru yaitu semak dan pepohonan. 3. dengan sifat tamas yang mendominasi terciptalah kelompok Eka Pramana atau tumbuh-tumbuhan. Bayu. Terakhir dengan perimbangan satwam. Andaya yaitu binatang bertelur. Mahluk ini disebut juga Manusya. 3. Diantara mahluk hidup hanya manusialah yang memiliki semua unsur ciptaan Tuhan secara lengkap. rajas.. Lata adalah tumbuhan menjalar di tanah atau di pohon. Mahluk hidup ini juga dikenal dengan nama Sthawara yaitu mahluk hidup yang tidak berpindah-pindah seperti tumbuhan. Gulma adalah bangsa tumbuhan yang bagian luar pohon berkayu keras dan bagian dalam berongga atau kosong. Termasuk dalam golongan Sthawara adalah : 1. Kelompok Tri Pramana Adalah mahluk hidup yang memiliki tiga kekuatan hidup yaitu. Selanjutnya jika semua unsur penciptaan tersebut lebih banyak guna rajas maka terciptalah kelompok Dwi Pramana atau hewan/ binatang. Adapun yang tergolong dalam Sato adalah : 1. Swedaya yaitu binatang bersel Satu. 5. 4. 2. Bayu adalah kekuatan nafas. Baik unsur terhalus sampai unsur paling kasar. Kelompok Eka Pramana Yaitu mahluk hidup yang hanya memiliki satu kekuatan dalam hidupnya yaitu Bayu. Jangama yaitu tumbuhan yang hidupnya menumpang pada pohon lain. Kelompok Dwi Pramana Adalah mahluk hidup yang memiliki dua kekuatan hidup yaitu Bayu dan Sabda. Yang membedakan antara manusia yang satu dengan yang lain adalah komposisi dan perimbangan unsur-unsur pembentukannya serta karmawasana yang telah dibentuknya. Jarayuja yaitu binatang menyusui.

Dasendria. 2. Jiwatman inilah yang selalu mengalami reinkarnasi jika selama bersatu dengan stula sarira sebagai manusia hidup di dunia belum berhasil melepaskan ikatan-ikatan karma untuk mencapai moksa yaitu bersatunya Atman dengan Brahman. Asti ( tulang) 2). Wijnanamaya Kosa yaitu badan dari sari pengetahuan. HUBUNGAN BHUWANA AGUNG DENGAN BHUWANA ALIT Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit memiliki hubungan yang sangat erat satu sama lain.a. 5). Dari hasil karma dan konsumsi makanan manusia membentuk Sad Kosa yaitu enam lapis pembungkus stula sarira. Sad Kosa terdiri dari : 1). 4). Stula sarira yang berasal dari unsur Panca Maha Bhuta. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Ida Sang Hyang Widhi pada masa Srsti dan akan kembali kepada-Nya pada masa pralaya. Pranamaya Kosa yaitu badan dari sari nafas. Bhuwana Agung dan bhuana alit memiliki unsur-unsur yang sama. Odwad ( Otot ) 3). ahamkara. Mamsa ( daging). budhi. Anandamaya Kosa yaitu badan dari sari kebahagiaan Suksma sarira yang dihidupi dengan unsur purusa ( atman ) disebut jiwatman. Annamaya kosa yaitu badan dari sari makanan 2). Pendidikan Agama Hindu 15/76 . Sumsum ( sumsum) 4). Bhuwana Agung dan bhuwana alit diciptakan oleh pencipta yang sama. Suksma sarira dari unsur Cita. b. 3). 5). manah. dan Panca Tanmatra. sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Bhagawad Gita Bab VII. Rudhira ( darah ) 6). Bentukan hasil karma manusia antara suksma sarira dengan stula sarira menghasilkan Panca Maya Kosa yaitu lima lapisan halus badan manusia. Manomaya Kosa yaitu badan dari sari pikiran. Panca Maya Kosa terdiri dari : 1). Carma ( kulit ) C. sloka 6. Hubungan itu dapat diuraikan minimal sebagai berikut : 1.

Skema itu dalat digambarkan sebagai berikut : Pendidikan Agama Hindu 16/76 .Dalam proses penciptaan meskipun ada perbedaan waktu antara penciptaan alam semesta dengan mahluk yang ada di dalamnya . tetapi unsur-unsur pembentukannya adalah sama.

Ahamkara 5. Panca Maha Bhuta 9. Alam dilengkapi untuk kehidupan dan perkembangan mahluk hidup dan mahluk hidup memiliki kemampuan untuk mengatur alam. Buddhi 3. Proses saling melengkapi ini telah diatur dengan hukum Tuhan ( Rta ). seperti rotasi bumi dan matahari. Manah 4. Sedangkan manusia ditata dan diatur dengan hukum karma yang didalamnya dibekali ilmu pengetahuan dan ajaran agama. siklus perputaran musim dan sebagainya. Ahamkara 5. Parama Anu 8. Parama Anu 8.Brahman ( Nirguna Brahma ) melaksanakn Tapa Nirguna Brahma ( Sada Siwa ) Purusa Prakirti ( pradhana ) Bhuwana Agung 1. Untuk alam ditata dan diatur dengan hukum alam. Dasendriya 6. Panca Maha Bhuta 9. Manah 4. Panca Tanmatra 7. Mahluk hidup diciptakan berada dan berkembang pada alam semesta. Buddhi 3. Citta 2. Brahmanda Sapta Loka Sapta Patala Bhuwana Alit 1. siklus perputaran air ( hidrologi ). Bhuwana agung dan bhuawana alit saling melengkapi. Pendidikan Agama Hindu 17/76 . Citta 2. Benih (Sukla/Swanita) Manusia 3. Dasendriya 6. Panca Tanmatra 7.

Matahari serta planet-planet di semesta memiliki jenis guna yang berbeda-beda. budaya masyarakat serta kegiatan fisik manusia sangat dipengaruhi oleh alam. Contoh sederhana manusia menciptakan kalender untuk pengaturan bercocok tanam bagi masyarakat agraris. Pembangunan yang tidak memperhitungkan tata lingkungan menyebabkan bencana alam banjir dan kebakaran. Manusia menciptakan berbagai alat untuk menyesuaikan diri dengan kondisi alam.Dengan demikian alam akan melengkapi kebutuhan manusia dan manusia akan melengkapi isi alam. Pribadi. Penggunaan zat kimia yang merusak lapisan ozon dan polusi dari hasil pembakaran yang dilakukan manusia menciptakan rumah kaca sehingga terjadi pemanasan global. Sehingga di Bali kita mengenal pedewasan ( hari baik/buruk untuk aktivitas tertentu) yang bersumber pada pengaruh guna masing-masing posisi planet tersebut. Alam memiliki unsur Triguna juga akan mempengaruhi semua pribadi dan aktivitas manusia. Karena bhuana agung dan bhuana alit memiliki unsur-unsur yang sama maka dalam proses hubungannya akan saling mempengarui. Kondisi sekarang dengan ulah sebagian manusia yang merusak alam dan membabat habis hutan menyebabkan rusaknya siklus perputaran air. Bhuana agung dan bhuana alit saling mempengaruhi. Alam memiliki musim maka manusia akan mengatur hidup dan fisiknya menyesuaikan dengan musim yang ada. Sebaliknya segala aktivitas manusia juga dapat mempengaruhi kondisi alam. Intinya bahwa aktivitas manusia dipengaruhi oleh alam dan sebaliknya juga hasil aktivitas manusia tersebut akan mempengaruhi alam Pendidikan Agama Hindu 18/76 . 4. Masing-masing posisi ini akan memberikan pengaruh yang berbeda pada manusia di bumi. perputaran planet-planet ini mempengaruhi posisi kedekatan dengan bumi.

Disisi lain manusia adalah mahluk sosial yang hidup dalam kelompok tertentu. URAIAN MATERI A. Minimal akan menjadi pemimpin dalam keluarga. serta Kautalira Arthasastra. bayu dan idep. kantor. atau Raja Niti. sebab setiap orang suatu saat pasti akan menjadi pemimpin. Semua kelompok ini dari kelompok yang terkecil hingga yang terbesar memiliki tujuan tertentu. c. bahkan untuk mencapai tujuan secara pribadi kita harus dapat memimpin diri sendiri. dan seterusnya hingga kelompok negara bahkan dunia. RT. Dalam usaha mencapai tujuan kelompok/organisasi tersebut perlu adanya pemimpin yang akan mengarahkan dan membawa kelompoknya untuk mencapai tujuan. Agar usaha seorang pemimpin berhasil menghantarkan kelompok/organisasi yang dipimpinnya mencapai tujuan maka diperlukan kemampuan untuk memimpin. Dengan memiliki idep ( pikiran ) maka manusia dalam hidupnya selalu memiliki tujuan serta memiliki upaya untuk mencapai tujuan tersebut. Kemampuan dalam hal memimpin suatu organisasi ini disebut kepemimpinan/ Leadership. Mampu neneladani sifat-sifat kepemimpinan Hindu. Mampu menguraikan konsep dasar kepemimpinan menurut ajaran Hindu. keluarga. serta organisasi sosial lainnya.BAB III KEPEMIMPINAN Standar Kompetensi Memahami hakekat kepemimpinan Hindu Tujuan Pembelajaran akhir Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan : a. Raja Dharma. Mampu menguraikan Teori dasar kepemimpinan. Ilmu kepemimpinan tidak saja diperlukan oleh pemimpin kelompok atau organisasi. setiap orang perlu mempelajari kepemimpinan. Kelurahan/Desa. b. d. Kitab ini dikenal juga dengan nama Danda Niti. Tujuan yang bersifat individu adalah sesuatu yang ingin dicapai secara pribadi bagi diri sendiri. Kepemimpinan dalam Hindu banyak dijabarkan dalam berbagai kitab antara lain Kitab Arthasastra. Mampu menjelaskan pentingnya mempelajari ilmu kepemimpinan. Kelompok dalam hal ini juga termasuk lingkungan profesi.RW. PENDAHULUAN Manusia adalah mahluk paling sempurna yang diciptakan Hyang Widhi di muka bumi dengan memiliki tri pramana yaitu sabda. Tujuan manusia bisa bersifat individu maupun kelompok. Kelompok ini bisa dalam lingkungan rumah tangga. Kitab ini berisi tentang ilmu Pendidikan Agama Hindu 19/76 .

Untuk keberhasilan tersebut maka seorang pemimpin harus kemampuan. Dalam kaitan perbedaan karakter pribadi ini Howart W. Dalam hal ini karakter dan pribadi setiap pemimpin adalah berbeda. Istilah lain tentang kepeminpinan adalah Leadership. Keberhasilan seorang pemimpin tidak saja ditentukan oleh penguasaan terhadap ilmu memimpin tetapi juga ditentukan oleh karakter atau pribadi pemimpin tersebut. dalam bukunya The Art of Leadership mengatakan bahwa kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau manusia sehingga tergerak untuk mengikuti kemauannya dengan ikhlas dalam rangka mencapai tujuan bersama.dan akhiran –an menjadi kata sifat yaitu sifat-sifat atau kemampuan seorang pemimpin. Banyak teori dan konsep modern tentang kepemimpinan. PENGERTIAN Kepemimpinan berasal dari kata pimpin yang artinya bimbing atau tuntun. politik. pengetahuan. Di Bali beberapa lontar juga memuat tentang konsep kepemimpinan Hindu. Kata pimpin medapat awal pe. Nitisastra berasal dari Bahasa Sansekerta. Sumber lain tentang kepemimpinan Hindu juga tertuang dalam Itihasa Mahabarata dan Ramayana.menjadi kata benda “pemimpin” yang artinya orang yang berfungsi memimpin atau menuntun atau orang yang membimbing. B. Jadi Nitisastra artinya ajaran tentang kepemimpinan. Di Indonesia dalam Kitab Nagara Kertagama disusun oleh Empu Prapanca juga memuat tentang kepemimpinan Hindu. Menurut Gorge Terry. Dalam kaitan ini Nitisastra juga dapat diartikan sebagai konsep penataan pemerintahan dan pembangunan negara. Dalam berbagai kitab nitisastra banyak mengulas tentang kepemimpinan suatu masyarakat atau tata pemerintahan. dari kata Niti dan Sastra. dalam bukunya Principles of Management menyebutkan bahwa kepemimpinan adalah keseluruhan aktivitas untuk mempengaruhi serta menggiatkan orang dalam usaha untuk mencapai tujuan.pemerintahan Hindu yang disusun oleh Maha Rsi Kautilya atau dikenal juga dengan nama Maha Rsi Chanakya. pertimbangan atau kebijakan. Menurut Hindu diberi istilah Nitisastra. Niti artinya pemimpin. oleh karena itu penerapan konsep kepeimpinan juga berbeda dengan hasil yang berbeda pula. ajaran. namun inti dari semua teori itu adalah sama yakni bertujuan agar seorang pemimpin berhasil membawa kelompoknya mencapai tujuan yang diinginkan. serta kelebihan tertentu dari bawahannya memiliki Kelebihan-kelebihan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin antara lain : Pendidikan Agama Hindu 20/76 . Selanjutnya kata pemimpin ditambah awalan ke. Sedangkan sastra artinya perintah. aturan atau teori. Heyt.

3. Seorang pemimpin disamping memiliki tugas dan tanggung jawab dia juga warus memiliki wewenang untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya tersebut. Jadi sangatlah keliru jika harta yang telah diperoleh dengan Dharma hanya digunakan untuk memenuhi keinginan ( kama ) di luar hukum dharma. Artha yang diperoleh berdasarkan dharma digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup ( kama). Planning / Perencana Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk merencanakan segala sesuatu yang harus dikerjakan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. harus diawali dengan menjalankan Dharma ( kebenaran agama). Kelebihan dalam menggunakan rasio atau pikiran.1. masyarakat atau negara yang dipimpinnya mencapai keadaan bahagia lahir dan batin. 2. maka kepemimpinan Hindu bertujuan agar seorang pemimpin dapat menghantarkan kelompok. Tugas dan wewang pemimpin adalah : 1. Direkting / Penanggung jawab pelaksana Pendidikan Agama Hindu 21/76 . Artha. Pengertiannya adalah bahwa dalam mencapai tujuan tertinggi yaitu moksa ( kebahagiaan tertinggi). Dalam rangka mencapai tujuan tersebut maka konsep Catur Purusha Artha menjadi landasan. FUNGSI. 2. TUGAS DAN WEWENANG PEMIMPIN. Kama dan Moksa. Selanjutnya kebutuhan hidup yang utama harus dicapai adalah moksa / kebahagiaan. TUJUAN KEPEMIMPINAN HINDU Sebagaimana tujuan hidup menurut konsep Hindu yaitu moksartham jagat hita. Dharma. Organisation / Penataan Seorang pemimpin memiliki tugas untuk mampu menata dan menempatkan anggota /orang-orang dibawah pimpinannya pada tugas dan fungsi yang tepat sesuai dengan tingkat pengetahuan dan kompetensinya. D. Berlandaskan Dharma kemudian mencari artha ( materi ). Catur Purushartha yaitu empat tujuan hidup manusia yang utama yaitu . 3. Kelebihan dalam bidang rohaniah. C. Kelebihan dalam bidang jasmaniah.

Indra Brata. Oleh karena itu tiap bagian tidak dapat bekerja sendiri harus ada koordinasi dengan bagian yang lain. sertinya seorang pemimpin harus adil dalam menegakkan hukum dan peraturan. Controlling / Pengawasan Setiap pelaksanaan tugas yang didelegasikan kepada bawahan harus diawasi dan dievaluasi oleh pimpinan. b. Pengawasan yang lemah serta tidak ada evaluasi maka dapat dipastikan bahwa tujuan tidak akan dapat tercapai. 4. sebagaimana hujan yang berasal dari air laut menguap keatas menjadi awan. Coodination / Koordinasi Pemimpin bertugas untuk mengkoordinir semua anggota agar dapat bekerjasama sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. sehingga tujuan dapat tercapai dengan baik. d. Asta Brata artinya delapan sikap mental seorang pemimpin yang merupakan cerminan dari delapan sifat dewa. KEPEMIMPINAN HINDU Dalam ajaran Hindu banyak konsep-konsep serta pedoman-pedoman yang harus menjadi tuntunan bagi seorang pemimpin. Surya Brata.Pemimpin bertanggung jawab dan berusaha agar rencana yang telah ditetapkan dapat berhasil dengan baik. terdiri dari : a. artinya sebagaimana sifat bulan. Seorang pemimpin harus mampu memberikan kemakmuran pada rakyatnya. E. Pendidikan Agama Hindu 22/76 . serta menjadi simbol semangat dan kekuatan hidup bagi negerinya. kemudian menjadi hujan. Dalam kaitan ini pemimpin harus memiliki kepekaan atas segala masukan positif dari bawahan. Candra Brata. Ajaran tentang kepemimpinan Hindu antara lain : 1. Asta Brata Asta Brata adalah ajaran Sri Rama Kepada Gunawan Wibisana pada saat akan menjadi Raja Alengka Pura setelah Rahwana mati. Tidak melupakan bahwa raja juga berasal dari rakyat biasa. 5. artinya seorang pemimpin harus memberikan pencerahan dan penerangan bagi rakyatnya. c. artinya seorang pemimpin harus memiliki sifat seperti Dewa Indra. Yama Brata. Setiap bagian dalam organisasi memiliki keterkaitan dengan bagian yang lain. penguasa hujan. seorang pemimpin harus memberikan keteduhan dan rasa aman dan nyaman bagi rakyatnya.

Pemimpin tidak hanya duduk di singgasana. Kuwera Brata. pengangguran. f. tidak boros dan tidak korupsi. artinya seorang pemimpin harus dapat membersihkan segala penyakit masyarakat seperti kemiskinan. Bayu Brata. Pendidikan Agama Hindu 23/76 . Agni Brata. h. kejahatan dan sebagainya. maka seorang pemimpin harus mengetahui segala keadaan rakyatnya. sebagaimana sifat angin selalu ada dimana-mana dan bergerak ke segala arah. g. Baruna Brata. tetapi harus mengetahui secara detail terutama kondisi rakyat jelata.e. atau dibalik meja . artinya seorang pemimpin harus dapat mengelola keuangan secara tepat. artinya pemimpin harus berani dan pantang mundur menghadapi segala tantangan.

Panca Upaya Sandhi Pendidikan Agama Hindu 24/76 . toleransi dan menghargai pendapat orang lain. b. yaitu pandai berkomunikasidan diplomasi. Tansatrsna. teguh hati dalam segala usaha. 3. artinya memiliki kemampuan mengontrol bawahan sekaligus memperbaiki hal-hal yang dipandang kurang baik. Abhigainika yaitu mampu menarik perhatian yang positif dari masyarakat. optimis dan antusias. bangsa dan negara. Satya bhakti prabhu. Dibyacitta. Dhirotsaha. Mantri Wira. Ginengpatigina. f. Natangguan. Wicaksanengnaya. yaitu setia dan taan pada atasan. g. Sumantri. Nayaken Musuh. Prajna. Sakya Samanta. e. e. yaitu penuh pertimbangan dan jeli dalam menghadapi setiap masalah. 4. yaitu mendapat kepercayaan dari bawahan. terdiri dari : a. Sad Warnaning Rajaniti Artinya enam sifat utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Panca dasa Pramiteng Prabu terdiri dari : a. Wijayana. artinya memiliki kreativitas yang tinggi untuk memajukan kepentingan masyarakat. i. d. c. Aksudra Parisatha. artinya bijaksana c. b. h. m. f. j. l. k.2. memiliki moral yang luhur. d. teguh iman. Atma sampad. artinya menjadi penasehat dan abdi negara yang baik. Utsaha. artinya mampu memimpin sidang dan mengambil keputusan yang bijaksana. yaitu sabar dan rendah hati. o. n. Sarjawa upasama. artinya mampu membersihkan musuh-musuh negara. hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Wagmiwak. yaitu pembrani dalam membela negara. yaitu bijaksana dalam memimpin. Panca Dasa Pramiteng Prabu Adalah 15 ( lima belas ) sifat kepemimpinan yang ditulis oleh Empu Prapanca dalam Kitab Nagara Kertagama. Teulelana. Sifat-sifat inilah yang menjadi pedoman Maha Patih Gajah Mada sehingga berhasil mengawal Majapahit jaya. mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau golongan. Masihi samasta bhuwana. menyayangi isi alam.

Panca Upaya Sandhi. Panca Dasa Pramiteng Prabu. Panca Upaya Sandhi tersurat dalam lontar Siwabudha Gama Tattwa. e. memimpin langsung ( direkting ). c. Rangkuman Kepemimpinan adalah sifat dan prilaku pemimpin dalam upaya membawa kelompok atau masyarakat yang dipimpin menuju cita-cita atau tujuan bersama yang telah ditetapkan. dan data yang akurat. Sad Warnaning Rajaniti. Nawa Natya Artinya sembilan sikap teguh dan pekerti seorang pemimpin. Indra Jala. yaitu teguh pendirian . Wiweka. yaitu pemberani dan pantang menyerah. artinya setiap tindakan yang diambil harus berdasarkan pertimbangan akal sehat. terdiri dari : a. Wruh ring sarwa bastra. artinya menganalisa data-data yang telah dikumpulkan kemudian mengklasifikasi data secara proporsional. artinya kemampuan untuk mengumpulkan data-data permasalahan yang belum jelas kedudukannya.Artinya lima cara seorang pemimpin untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah. d. f. menata ( organisation). artinya upaya untuk mencari solusi pemecahan masalah yang ada. Wira Sarwa Yudha. yaitu memiliki kemampuan membedakan yang benar dan salah. yaitu Selalu setia pada janji. d. g. Sama upaya. Lagawangartha. mengkoordinasikan ( coordination). Dhirotsaha. yaitu tekun dan ulet. yaitu pandai berbicara di depan umum dan pandai berdiplomasi. c. artinya melaksanakan upaya penyelesaian sesuai dengan solusi yang telah ditetapkan. tidak berdasarkan emosi. Upeksa. Asta Brata. Logika. Pradnya Widagda. Maya. yaitu tidak pamrih pada harta benda. Keberhasilan seorang pemimpin tergantung pada kemampuan ilmu kepemimpinan yang dimiliki serta kemampuan secara pribadi dalam mempedomani dan mengaktualisasikan syarat-syarat kepemimpinan. bijaksana dan memiliki berbagai ilmu pengetahuan. yaitu tahu cara mengatasi kerusuhan. Pragiwakia. h. Pendidikan Agama Hindu 25/76 . yaitu memiliki sifat mulia dan luhur. Paramartha. terdiri dari : a. b. Wikrama. e. Dalam ajaran Hindu berbagai sifat dan syarat kepemimpinan antara lain. Tugas dan fungsi seorang pemimpin adalah mampu untuk merencanakan (planning) . dan Nawa Natya. i. 5. dan mengawasi ( kontroling). b.

 Menyanyikan Dharma Gita yang mengandung nilai-nilai budaya. Oleh karena itu setiap kegiatan ritual pemujaan kepada Hyang Widhi seni budaya menyatu di dalamnya. A. suara kidung ( Dharma Gita ). jadi jelas bahwa Dharma Gita sebagai pelengkap Upacara Yadnya. estetika dan etika moral dalam Dharma Gita. Lombok dan sebagainya. demikian juga di Indonesia Dharma Gita memiliki ragam yang berbeda untuk Daerah Bali. Petuah-petuah luhur sebagai ajaran moral bagi umat Hindu 3. Kalimantan . Kidung tergolong juga salah satu Dharma Gita. suara genta/bajra. Pendidikan Agama Hindu 26/76 . Panca Paginda terdiri dari. Secara umum materi dari Dharma gita biasanya berisi tentang : 1. yaitu lima jenis suara dalam Upacara Yadnya. Di India Dharma gita tentu saja memiliki irama khas India. Dalam konsep Hindu bahwa seni budaya merupakan sarana untuk meningkatkan cipta dan rasa dalam rangka meningkatkan sradha bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi. Oleh karena itu maka seni dan budaya masyarakat Hindu tetap dijaga dan dikembangkan tetapi nilai-nilai ajaran kebenaran tetap mewarnainya.  Menunjukkan contoh-contoh nilai kebenaran. Kisah-kisah sejarah kepahlawanan ( itihasa ). suara kul-kul ( kentongan). Jawa. dan etika moral dalam Dharma Gita. ( khususnya di Bali ) ada yang namanya Panca Paginda. estetika. 4. Pujian kebesaran Hyang Widhi beserta seluruh ciptaannya 2. Pelengkap pelaksanaan Upacara Agama ( Yadnya ) Dalam pelaksanaan upacara agama.BAB IV DHARMA GITA Standar Kompetensi Memahami nilai-nilai budaya dalam Dharma Gita Tujuan Akhir Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan mampu :  Menguraikan nilai-nilai kebenaran. termasuk dalam hal ini Dharma Gita. suara mantra. dan suara gamelan. TUJUAN DAN FUNGSI DHARMA GITA Dharma gita adalah hasil kreasi budaya luhur umat Hindu. B. PENGERTIAN Dharma gita adalah suatu nyanyian kebenaran yang dinyanyikan dalam pelaksanaan upacara Agama Hindu. Cerita-cerita/dongeng yang berisi ajaran kebenaran. Umat Hindu dimana saja termasuk di Indonesia memiliki Dharma Gita sesuai dengan budaya setempat. Dari pemahaman di atas tujuan dan fungsi Dharma Gita adalah : 1.

oleh karena itu pengelompokan Dharma gita lebih banyak mengacu pada budaya Bali.2. Sloka biasanya bersumber dari kitab suci yang umumnya berbahasa Sansekerta. b. 4. Sloka Biasanya terdiri dari empat baris dalam satu bait dengan jumlah suku kata yang sama setiap barisnya. Pada masa kini di beberapa daerah dharma gita muncul dari budaya lokal. Sarana ajaran moral Disamping untuk kegiatan upacara / yadnya Dharma Gita juga mengandung nasihat-nasihat tentang kesusilaan sehingga dapat dikatakan bahwa dharma gita juga sebagai sarana untuk pendidikan moral bagi masyarakat. C. Beberapa contoh Dharma Gita : a. sehingga semakin sering orang melantunkan atau mendengar Dharma Gita maka diharapkan pemahaman tentang ajaran agama semakin meningkat. serta konsentrasi pemujaan kepada Hyang Widhi. Palawakya Palawakya menggunakan Bahasa Jawa kuno dan berbentuk prosa. Sarasamuscaya. Sarana untuk menciptakan suana suci dan konsentrasi pemujaan Melantunkan Dharma Gita pada pelaksanaan Upacara agama akan menciptakan suana batin yang suci. Sarana untuk meningkatkan sradha bhakti Syair-syair Dharma Gita ada yang bersumber langsung dari kitab-kitab suci seperti. Ada pula merupakan hasil cipta para kawi berisi tentang pemujaan kepada Hyang Widhi. Disamping itu irama Dharma gita juga biasanya mampu membawa suasana hati yang hening dan tentram 3. Dengan demikian maka dengan melantunkan Dharma gita berarti juga mengingatkan setiap orang tentang ajaran-ajaran agama. Kekawin/Kidung/Tembang Pendidikan Agama Hindu 27/76 . Bhagawad Gita. Dalam membaca dan melantunkan irama ditentukan pada intonasi serta ketepatan pengejaan dan pemenggalan kata. JENIS-JENIS DHARMA GITA Pada awalnya istilah dharma gita lebih dikenal di Bali. Juga di kalimantan ada kidung-kidung daerah yang diangkat dalam kelompok Dharma gita. seperti di Jawa pada setiap kegiatan upacara dilantunkan tembang-tembang jawa . Hal ini disebabkan karena syair-syair Dharma Gita sesuai dengan jenis Upacara Yadnya yang dilaksanakan. Setelah penyebaran Hindu semakin meluas di nusantara maka budaya-budaya lokal mewarnai kegiatan upacara/Yadnya termasuk Dharma gita. c. Manawa Dharma sastra dan sebagainya.

Sekar Madya/ kidung 3). Sekar alit / pupuh Pendidikan Agama Hindu 28/76 .Di setiap daerah memiliki jenis-jenis kidung/tembang tersendiri. Sekar Agung / Kekawin 2). di Bali kidung dikelompokkan menjadi : 1).

yaitu Dharma gita yang dilombakan. tingkat provinsi dan tingkat nasional. Tuliskan tiga bait kidung dengan jenis pupuh yang berbeda. sekar madya dan sekar alit. Nusa Tenggara Barat pernah sebagai pelaksana Utsawa Dharma Gita Tingkat nasional pada tahun 2004 yang dipusatkan Kota Mataram. UTSAWA DHARMA GITA Lembaga tertingi Agama Hindu di Indonesia yaitu Parisada Hindu Dharma Indonesia ( PHDI ). Pelaksanaan Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional biasanya dilaksanakan secara bergilir di beberapa daerah propinsi. Pendidikan Agama Hindu 29/76 . b. Pelajari dan lantunkan kidung Kawitan Wargasari c. mengembangkan dan memasyarakatkan Dharma gita bagi umat Hindu Indonesia. Namun perkembangan berikutnya juga sebagai sarana peningkatan sumber daya manusia umat Hindu dalam pembinaan sradha bhakti maka materi Utsawa Dharma Gita tidak saja lomba untuk Dharma gita tetapi juga ada lomba Dharma Wacana dan Dharma Widya yaitu lomba penguasaan pengetahuan agama bagi siswa tingkat sekolah dasar ( SD ) sampai tingkat sekolah menengah atas ( SMA/SMK ). secara berkala melaksanakan Utsawa Dharma Gita. Kegiatan ini dilaksanakan secara berjenjang dari tingkat kota/kabupaten. E. PENDALAMAN Guna meningkatkan pengetahuan dan kompetensi lakukanlah kegiatan kegiatan berikut : a. Carilah di berbagai sumber tentang jenis-jenis sekar agung. Utsawa Dharma gita pada awalnya bertujuan untuk melestarikan.D.

Dari proses awal ini jelas bahwa awal penciptaan awal dilakukan Yadnya yaitu pengorbanan diri Hyang Widhi dari Nirguna Brahma menjadi Saguna Brahma . Yadnya berasal dari Bahasa Sansekerta dari akar kata “Yaj” yang artinya memuja. Pada dasarnya Yadnya bukanlah sekedar upacara keagamaan. Menyebutkan bentuk-bentuk pelaksanaan Yadnya dalam kehidupan nyata dan kehidupan masyarakat. Menguraikan hakikat dan tujuan yadnya c. A. anena prasawiûyadham eûa wo ‘stw iûþa-kàma-dhuk artinya : Dahulu kala Prajapati ( Hyang Widhi ) menciptakan manusia dengan yajnya dan bersabda. Secara etimologi pengertian Yadnya adalah korban suci secara tulus ikhlas dalam rangka memuja Hyang Widhi. Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan mampu : b. Pada dasarnya Yadnya adalah penyangga dunia dan alam semesta. Mengaplikasikan nilai-nilai Yadnya dalam kehidupan nyata dan kehidupan masyarakat. sloka 10 disebutkan : saha-yajòàá prajàh såûþwà purowàca prajàpatih. PENGERTIAN DAN HAKEKAT YADNYA Pada awalnya banyak orang mengartikan bahwa yadnya semata upacara ritual keagamaan. Dari satu sloka di atas jelas bahwa manusia saja diciptakan melalui yadnya maka untuk kepentingan hidup dan berkembang serta memenuhi segala keinginannya semestinya dengan yadnya. karena alam dan manusia diciptakan oleh Hyang Widhi melalui Yadnya. Dalam Bhagawadgita Bab III. Kesempurnaan dan kebahagiaan tak Pendidikan Agama Hindu 30/76 .BAB V YADNYA Standar Kompetensi Memahami Pelaksanaan Yadnya dalam kehidupan Tujuan Akhir Pembelajaran a. d. Pada masa srsti yaitu penciptaan alam Hyang Hidhi dalam kondisi Nirguna Brahma ( Tuhan dalam wujud tanpa sifat ) melakukan Tapa menjadikan diri beliau Saguna Brahma ( Tuhan dalam wujud sifat Purusha dan Pradhana ). dengan ini engkau akan berkembang dan akan menjadi kamadhuk keinginanmu. lebih dari itu segala aktivitas manusia dalam rangka sujud bhakti kepada hyang Widhi adalah Yadnya. Pemahaman ini tentu tidak salah karena upacara ritual keagamaan adalah bagian dari yadnya. Selanjutnya semua alam diciptakan secara evolusi melalui Yadnya. Manusia harus berkorban untuk mencapai tujuan dan keinginannya.

pengetahuan. Tentu saja pengorbanan ini harus dilandasi rasa cinta. dan tamas ) orang akan saling mempengaruhi. TUJUAN YADNYA Dalam banyak sloka dari berbagai kitab menyatakan bahwa alam semesta beserta segala isinya termasuk manusia. peningkatan kualitas diri. Dari gambaran sederhana di atas dapat diambil kesimpulan bahwa demi mencapai kebahagiaan dan kesempurnaan hidup maka kita harus rela mengorbankan sebagian dari milik kita. Pendidikan Agama Hindu 31/76 . B. Tanpa kesucian sangat mustahil keharmonisan dan kebahagiaan itu dapat tercapai.mungkin akan tercapai tanpa ada pengorbanan. sembahyang. Melalui Yadnya kita dapat menyucikan diri dan juga menyucikan lingkungan alam sekitar. Untuk mencapai kebahagiaan maka manusia harus memiliki imbangan Guna Satwam yang tinggi. dan senantiasa bersyukur dan berterima kasih kepada Sang Pencipta. seperti. dipelihara dan dikembangkan melalui yadnya. Jika manusia dan alam memiliki tingkatan guna satwam yang lebih banyak maka keharmonisan alam akan terjadi. Guna ( sifat satwam. demikian juga “guna” alam akan mempengaruhi manusia. penyucian diri. rajas. Sedangkan potongan yang tidak diperlukan tentu harus dibuang. ucapan. Hyang Widhi akan merajut potonganpotongan pengorbanan kita dan menjadikannya sesuai dengan keinginan kita. Pribadi dan jiwa manusia dalam aktivitasnya setiap hari berinteraksi dengan sesama manusia dan alam lingkungan akan saling berpengaruh. Oleh karena itu tujuan Yadnya adalah : 1. Contoh sederhana bila kita memiliki secarik kain dan berniat untuk menjadikannya sepotong baju. diciptakan . Segala aspek yang dimiliki manusia dapat dikorbankan sebagai yadnya. Oleh karena itu maka yadnya yang dilakukan oleh manusia tentu bertujuan untuk mencapai tujuan hidup manusia menurut konsep Hindu yakni Moksartham jagat hita ( Kebahagiaan sekala dan niskala ). maka kain yang utuh tersebut harus direlakan untuk dipotong sesuai dengan pola yang selanjutnya potongan-potongan tersebut dijahit kembali sehingga berwujud baju. Pribadi dan jiwa manusia harus dibersihkan dari guna rajas dan guna tamas. sifat. Paling tidak empat hal yang harus dilakukan manusia yaitu. tindakan . Pengorbanan dalam hal ini bukan saja dalam bentuk materi. korban pikiran. Dalam rangka mencapai tujuan tertinggi tersebut manusia harus melakukan aktivitas dan berkarma. Untuk Penyucian Untuk mencapai kebahagiaan maka hidup ini harus suci. Jika kita bersikukuh tidak rela kainnya dipotong dan dibuang sebagian maka sangat mustahil akan memperoleh sepotong baju. tulus dan ikhlas. Tanpa dasar tersebut maka suatu pengorbanan bukanlah yadnya. dan lain-lain termasuk nyawa sendiri dapat digunakan sebagai korban. Empat hal di atas semuanya dapat dicapai melalui Yadnya.

109 menyatakan : “ Adbhirgatrani suddhayanti mana satyena suddhayanti.Kitab Manawa Dharmasastra V. Widyatapobhyam bhutatma buddhir jnanena suddhayanti” Pendidikan Agama Hindu 32/76 .

kunéng panéntasakéna ring çubhakarma juga ikangaçubhakarma. Untuk meningkatkan kualitas diri Setiap kelahiran manusia selalu disertai oleh karma wasana. demikianlah gunanya menjadi manusia. Artinya : Diantara semua mahluk hidup . Dari sloka di atas jelas kewajiban hidup manusia adalah untuk selalu meningkatkan kualitas diri melalui perbuatan baik.Artinya : Tubuh dibersihkan dengan air. jiwa manusia dibersihkan dengan pelajaran suci dan tapa brata. kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan yang benar. Laksanakan kewajiban diri sendiri dengan penuh kesadaran dan keihlasan sehingga masuk dalam kelompok yadnya. Sebagai sarana menghubungkan diri dengan Tuhan Pendidikan Agama Hindu 33/76 . Dengan demikian setiap yadnya yang kita lakukan hasilnya adalah terjadinya peningkatan kualitas jiwatman. Demikian juga untuk kesucian alam dan lingkungan lakukan upacara/ ritual sesuai dengan sastra agama sehingga kita akan senantiasa berada pada lingkungan yang suci. hanya yang dilahirkan sebagai manusia saja yang dapat melaksanakan perbuatan baik atau perbuatan buruk. Perbuatan baik yang paling utama adalah melalui Yadnya. pikiran disucikan dengan kebenaran. 2. sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Sarasamuscaya sloka 2 sebagai berikut : Ri sakwehning sarwa bhùta. Dengan demikian maka setiap kegiatan yang kita lakukan selalu memberikan kesucian pada diri pribadi. iking janma wwang juga wénang gumawayakén ikang çubhàçubhakarma. 3. bayu . Oleh karena itu jadikanlah aktivitas sehari-hari kita sebagai yadnya. Lingkungan yang suci akan memberikan kehidupan yang suci juga bagi manusia. oleh karena itu leburlah ke dalam perbuatan baik . segala perbuatan yang buruk itu. phalaning dadi wwang. Demikian pula setiap kelahiran bertujuan untuk meningkatkan kualitas jiwatman sehingga tujuan tertinggi yaitu bersatunya atman dengan brahman ( brahman atman aikyam ) dapat tercapai. dan idep dapat melakukan perbuatan baik sebagai cara untuk meningkatkan kualitas jiwatman. Hanya dilahirkan sebagai manusia memiliki sabda.

Dengan olah rasa yang baik maka rasa syukur merupakan salah satu motivasi utama untuk selalu berbuat kebajikan.Alam semesta dengan segala isinya termasuk manusia adalah ciptaan Hyang Widhi. Yadnya dalam kegiatan karma keseharian adalah sarana untuk menghubungkan diri dengan Tuhan. Ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Hyang Widhi itulah dilakukan dengan Yadnya Bekerja dengan benar dan giat. Upacara/ritual yang dilakukan Umat Hindu baik yang bersifat rutin (contohnya ngejot. Sembahyang artinya menyembah Hyang Widhi. Perlu kedisiplinan dan keihlasan dalam menjalaninya. memahami dan melaksanakan Yadnya. rejeki. adalah suatu yang luar biasa. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi manusia bijak untuk tidak bersyukur dan tidak berterima kasih kepada Sang Pencipta. Untuk menjaga agar senantiasa jalan kehidupan kita pada arah yang benar dan selalu mendapat sinar suci serta tuntunan Hyang Widhi maka haruslah kita selalu menjalin hubungan yang harmonis dengan Tuhan. engkau akan sampai kepada-Ku. Oleh karena itu hidup manusia dalam rangka mencapai tujuannya tidak akan lepas dari tuntunan dan kekuasaan Tuhan. Satusatunya cara agar kita selalu dapat menghubungkan diri dengan Maha Pencipta adalah dengan mempelajari. menolong orang yang kesusahan. Jika dalam kehidupan kita senantiasa dapat memusatkan pikiran. 4. berada pada lingkungan sosial yang baik . berbaktilah pada-Ku. sebagaimana dalam ajaran Tri Hita Karana. dan kegiatan lain yang didasari pengabdian dan rasa ikhlas adalah salah satu contoh ungkapan rasa syukur dan ucapan terima kasih atas anugrah Tuhan untuk kesehatan. serta hari suci lainnya ) salah satu tujuan utamanya sebagai Pendidikan Agama Hindu 34/76 . dilahirkan pada keluarga yang satwam. Terlebih Yadnya dalam bentuk Upacara/ritual jelas merupakan wujud nyata usaha menghubungkan manusia dengan Sang Penciptanya. Manusia memiliki rasa dan pikiran dan dalam tatanan kehidupan sosial terikat pada aturan susila dan moral. maturan sehari-hari dsb ). dan diciptakan bersama bumi yang penuh keindahan dan kedamaian. dan tunduklah padaKu. belajar giat. dan dengan mendisiplinkan dirimu serta menjadikan-Ku sebagai tujuan. odalan. maupun berkala ( rahinan. Kita diberikan hidup sebagai manusia. Sebagai ungkapan rasa terima kasih. Cara paling sederhana menghubungkan diri dengan Tuhan adalah sembahyang. Untuk senantiasa dapat memusatkan pikiran dan memuja Hyang Widhi tidaklah mudah. serta kehidupan yang kita terima. keselamatan diri. memuja Hyang widhi maka tujuan tertinggi pasti akan tercapai sebagaimana sabda Tuhan dalam Bhagawad Gita Bab IX sloka 34 : Pusatkan pikiranmu pada-Ku.

bulan. Pitra Rna. Leluhur dan orang tua sangat memiliki peranan besar atas kehidupan kita saat ini. bahkan bakteri dan kumanpun semuanya memiliki tugas dan fungsi tersendiri dalam memutar kehidupan ini. Dalam Bhagawad Gita . Rsi Rna. Oleh karena itu manusia sebagai bagian alam semesta mempunyai kewajiban untuk menjalankan tugas dan fungsinya untuk ikut menciptakan keharmonisan kehidupan. yaitu hutang hidup kepada Hyang Widhi yang telah menciptakan alam semesta termasuk diri kita. Untuk semua ini wajib kita bayar dengan Dewa Yanya dan Bhuta Yadnya. Perlu diingat bahwa Yadnya tidak semata-mata dilaksanakan dengan upakara/ritual. Jika manusia dalam melakoni hidup penuh keserakahan dan mengabaikan prinsip-prinsip Dharma maka kehancuran pasti terjadi. 5. bintang. b. Dewa Yadnya dalam bentuk pemujaan kepada Hyang Widhi serta melaksanakan Dharma. Tri Rna terdiri dari : a. Hanya dengan Yadnya keharmonisan alam dapat tercipta. tumbuhan. memperturutkan nafsu semata Pàrtha dan mengalami penderitaan. Rsi Rna dilunasi dengan melaksanakan Rsi Yadnya. III. binatang. Dewa. Dalam melaksanakan Yadnya ada tiga kewajiban utama yang harus dilunasi manusia atas keberadaannya di dunia ini yang disebut Tri Rna ( tiga hutang hidup). manusia.16 dijelaskan : Di dunia ini. Yadnya menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Hyang Widhi. yaitu hutang kepada orang tua dan leluhur. Untuk menciptakan kehidupan yang harmonis Hyang Widhi menciptakan alam dengan segala isinya untuk memutar kehidupan. Asura. pada dasarnya bersifat jahat. c. Dewa Rna. yaitu hutang kepada para Rsi yang mengorbankan kehidupannya sehingga dapat memberikan pencerahan kepada manusia melalui ajaran-ajarannya sehingga manusia dapat menjalani hidup dengan lebih baik. Karma leluhur dan orang tua berpengaruh terhadap keberadaan Pendidikan Agama Hindu 35/76 . Alam dengan segala isinya memiliki keterkaitan dan ketergantungan satu sama lain. manusia dengan sesamanya dan keharmonisan hubungan manusia dengan alam. Sekecil apapun ciptaan-Nya memiliki fungsi tersendiri dalam kehidupan ini. wahai Agar perputaran roda kehidupan ini berjalan dengan harmonsi maka peranan manusia sangat penting. Butha Yadnya dilakukan untuk memelihara alam lingkungan sebagai tempat kehidupan semua mahluk. Tri Rna ini dibayar dengan pelaksanaan Panca Yadnya.ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Hyang Widhi atas semua anugrah Beliau. mereka yang tidak ikut memutar roda kehidupan ini.

Paling tidak kelahiran kita di dunia karena adanya leluhur dan orang tua.setiap orang. Oleh karena itu maka sudah menjadi kewajiban untuk membalas hutang tersebut. Membayar hutang kepada orang tua dan leluhur dilakukan dengan Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya Pendidikan Agama Hindu 36/76 .

C. BENTUK DAN JENIS YADNYA 1. Bentuk – bentuk Yadnya Kitab Bhagawad Gita dalam berbagai sloka menjelaskan bahwa bentuk-bentuk yadnya terdiri dari : a. Yadnya dalam bentuk persembahan/Upakara b. Yadnya dalam bentuk pengendalian diri/tapa c. Yadnya dalam bentuk aktivitas/karma d. Yadnya dalam bentuk harta benda / kekayaan/punia e. Yadnya dalam bentuk ilmu pengetahuan/jnana Sampai saat ini di Indonesia khususnya di Bali hampir sebagian besar umat Hindu masih mengartikan dan mengutamakan bahwa yadnya adalah upacara/ritual. Padahal upakara/ritual itu adalah salah satu bagian dari bentukbentuk yadnya. Sangat sedikit Umat Hindu di Indonesia yang memberikan proporsional untuk melaksanakan bentuk-bentuk yadnya yang lainnya. Hindu memberikan keluasan kepada pemeluknya dalam beryadnya sesuai dengan kondisi dan kemampuan yang ada dengan peluang kesempatan hasil yang sama. Dengan demikian apapun bentuk yadnya yang kita lakukan sepanjang sesuai dengan konsep Dharma maka akan memperoleh hasil yang maksimal. 2. Jenis-jenis Yadnya Secara garis besar yadnya dapat kelompokkan sebagai berikut : a. Dari segi waktu pelaksanaan Yadnya dapat dibedakan : 1). Nitya Yadnya Yaitu yadnya yang dilakukan secara rutin setiap hari. Yadnya ini antara lain; dalam bentuk persembahan yang berupa yadnya sesa, atau persembahyangan sehari-hari. Sedangkan bagi sulinggih melakukan Surya Sewana. Yadnya dalam bentuk yang lain dapat dilaksanakan melalui aktivitas sehari-hari. Bagi seorang siswa kewajiban sehari-hari adalah belajar , bila dilakukan dengan penuh ikhlas merupakan yadnya. Bagi seorang petani, tukang, pegawai dan sebagainya yang melaksanakan tugas sehari-hari dengan konsentrasi persembahan kepada Tuhan disertai keikhlasan juga merupakan Nitya Yadnya. 2). Naimitika Yadnya Yaitu Yadnya yang dilaksanakan secara berkala/ waktu-waktu tertentu. Khusus untuk yadnya ini terutama yadnya dalam bentuk persembahan /upakara yaitu Upacara Piodalan, Sembahyang Purnama dan Tilem, Hari Raya baik menurut wewaran maupun sasih. Bagi bentuk yadnya yang lain tergantung kebiasaan pribadi perorangan/kelompok orang. Ada orang pada setiap hari raya tertentu Pendidikan Agama Hindu 37/76

melaksanakan tapa brata sebagai wujud yadnya pengendalian diri. Ada pula yang pada waktu tertentu setiap tahun atau setiap bulan melakukan dana punia baik dihaturkan kepada sulinggih, orang tidak mampu dan sebagainya. Disamping itu ada juga bentuk yadnya yang dilaksanakan secara insidental sesuai kebutuhan dengan waktu yang tidak tetap/ tidak rutin. Contohnya upacara ngaben, nangluk merana, tirtayatra. Demikian juga bentuk yadnya yang lain adakalanya dilakukan tidak dengan jadwal waktu tertentu. Misalkan jika ada ujian sekolah ada siswa / mahasiswa yang puasa. Ada orang yang tanpa diduga memperoleh rejeki yang lebih , maka sebagian dipuniakan untuk pura atau untuk panti asuhan.

b. Berdasarkan nilai materi / jenis bebantenan suatu yadnya digolongkan menjadi : 1). Nista, artinya yadnya tingkatan kecil yang dapat di bagi lagi menjadi :  Nistaning nista, adalah terkecil dari yang kecil  Madyaning nista, adalah tingkatan sedang dari yang kecil.  Utamaning Nista, adalah tingkatan terbesar dari yang kecil 2). Madya, yaitu yandnya tingkatan sedang yang dapat dibagi lagi menjadi :  Nistaning Madya, adalah tingkatan terkecil dari yang sedang.  Madyaning madya, adalah tingkatan sedang dari yang sedang.  Utamaning madya, adalah tingkatan terbesar dari yang sedang. 3). Utama, yaitu yadnya tingkatan besar yang dapat dibagi menjadi :  Nistaning utama, adalah tingkatan terkecil dari yang besar  Madyaning Utama, adalah tingkatan sedang dari yang besar.  Utamaning Utama, adalah tingkatan terbesar dari yang besar.

c. Sedangkan apabila ditinjau dari tujuan pelaksanaan atau kepada siapa yadnya tersebut dilaksanakan, dapat digolongkan menjadi : 1). Dewa Yadnya 2). Rsi Yadnya 3). Pitra Yadnya 4). Manusa Yadnya 5). Bhuta Yadnya Kelima jenis yadnya di atas dikenal dengan istilah Panca Yadnya. Uraian mengenai Panca Yadnya akan dibahas tersendiri setelah bagian ini.

Pendidikan Agama Hindu

38/76

d. Dari segi kualitas yadnya dapat dibedakan atas: 1). Satwika Yadnya yaitu yadnya yang dilaksanakan dasar utama sradha bakti, lascarya, dan semata melaksanakan sebagai kewajiban. Apapun bentuk yadnya yang dilakukan seperti; persembahan, pengendalian diri, punia, maupun jnana jika dilandasi bakti dan tanpa pamrih maka tergolong Satwika Yadnya. Yadnya dalam bentuk persembahan / upakara akan sangat mulia dan termasuk satwika jika sesuai dengan sastra agama, daksina, mantra, Annasewa, dan nasmita. 2). Rajasika Yadnya yaitu yadnya dilakukan dengan motif pamrih serta pamer kemewahan, pamer harga diri, bagi yang melakukan punia berharap agar dirinya dianggap dermawan. Seorang guru/pendarmawacana memberikan ceramah panjang lebar dan berapi-api dengan maksud agar dianggap pintar; semua bentuk yadnya dengan motif di atas tergolong rajasika yadnya. Seorang yang melakukan tapa, puasa tetapi dengan tujuan untuk memperoleh kekayaan, kesaktian fisik, atau agar dianggap sebagai orang suci juga tergolong yadnya rajasik. 3). Tamasika Yadnya yaitu yadnya yang dilaksanakan tanpa sastra, tanpa punia, tanpa mantra dan tanpa keyakinan. Ini adalah kelompok orang yang beryadnya tanpa arah tujuan yang jelas,hanya ikut-ikutan. Contoh orang-orang yang tegolong melaksanakan tamasikan yadnya antara lain orang yang pergi sembahyang ke pura hanya ikut-ikutan, malu tidak ke pura karena semua tetangga pergi ke pura, orang gotong royong di pura atau di tempat umum juga hanya ikut-ikutan tanpa menyadari manfaatnya. Termasuk dalam katagori ini adalah orang yang beryadnya karena terpaksa. Terpaksa maturan karena semua orang maturan. Terpaksa memberikan punia karena semua orang melakukan punia. Terpaksa puasa karena orang-orang berpuasa. Jadi apapun yang dilaksanakannya adalah sia-sia, tiada manfaat bagi peningkatan karmanya. Jenis-jenis yadnya di atas diuraikan dalam Kitab Bhagawad Gita dalam beberapa sloka. Untuk Yadnya yang berbentuk persembahan/upakara akan tergolong kualitas Satwika bila yadnya dilaksanakan berdasarkan :  Sradha, artinya yadnya dilaksanakan dengan penuh keyakinan  Lascarya, yaitu yadnya dilaksanakan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sedikitpun.  Sastra, bahwa pelaksanaan yadnya sesuai dengan sumber-sumber sastra yang benar.  Daksina, yaitu yadnya dilaksanakan dengan sarana upacara serta punia kepada pemuput yadnya/manggala yadnya. Pendidikan Agama Hindu 39/76

namun pada intinya memiliki kesatuan tujuan yang sama. Pitra Yadnya. Tidak ada gunanya yadnya yang besar tetapi bersifat rajas atau tamas. 2. adalah persembahan yang dilaksanakan dengan belajar dan mengajar secara tulus ikhlas.  D. adalah pelaksanaan upacara bali untuk butha. e. Dalam beberapa kitab dan pustaka memberikan penjelasan tentang Panca Yadnya yang berbeda. yaitu yadnya untuk para bhuta b. e. artinya memberikan jamuan kepada tamu yang menghadiri upacara. c. Pitra Yadnya. yaitu persembahan makanan untuk sesama manusia. d. Bhuta Yadnya. yaitu yang dilaksanakan dengan mempelajari pengucapan mantram cusi weda. yaitu persembahan yang ditujukan untuk leluhur ( disebut swadha). adalah penerimaan tamu dengan ramah-tamah. yaitu dengan melantunkan doa-doa serta kidung suci sebagai pemujaan. Pendidikan Agama Hindu 40/76 . Brahma Yadnya. Jamuan ini penting karena setiap tamu yang datang ikut berdoa agar pelaksanaan yadnya berhasil. Dewa yadnya. yaitu persembahan kepada para dewa ( disebut swaha ). bahwa yadnya yang dilaksanakan bukan untuk memamerkan kekayaan dan kemewahan Apapun jenis yadnya yang kita lakukan seharusnya yang menjadi tolok ukur adalah kualitas yadnya. Dengan jamuan maka karma dari doa para tamu undangan menjadi milik sang yajamana. menjelaskan panca yadnya sebagai berikut : a. Kitab Sathapata Brahmana.Mantra dan gita. Kitab Manawa Dharmasastra Kitab Manawa Dharmasastra memberikan penjelasan tentang Panca Yadnya sebagai berikut : a.  Annasewa. Kitab ini merupakan bagian dari Reg Weda. Dewa Yadnya. Sedangkan kualitas yadnya yang harus dicapai setiap pelaksanaan yadnya adalah Satwika Yadnya. c. adalah persembahan tarpana dan air kepada leluhur. PANCA YADNYA Panca Yadnya adalah lima macam korban suci dengan tulus ikhlas yang wajib dilakukan oleh umat Hindu. Manusa Yadnya. Pelaksanaan Panca yadnya adalah sebagai realisasi dalam melunasi kewajiban manusia yang hakiki yaitu Tri Rna ( tiga hutang hidup ). Nara Yadnya . Bhuta Yadnya. b.  Nasmita. d. adalah persembahan minyak dan susu kepada para dewa. Penjelasan-penjelasan tersebut antara lain : 1. Brahma yadnya.

Tetapi dalam konteks pengertian dan pelaksanaannya mengacu pada penjelasan-penjelasan Kitab Weda sehingga di Indonesia Panca Yadnya dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. yaitu persembahan dengan mensejahterakan tumbuhan dan menyelenggarakan upacara tawur serta upacara panca wali krama. Lontar Agastya Parwa Penjelasan tentang Panca Yadnya dari lontar Agastya Parwa adalah yang menjadi acuan utama pelaksanaan yadnya di Indonesia. yaitu persembahan dengan menghormati pendeta dan membaca kitab suci. adalah persembahan dengan sesajen dan mengucapkan Sruti dan Stawa pada waktu bulan purnama. buah-buahan. penuh tanggung jawab dan menjadikan aktivitas tersebut sebagai persembahan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagaimana sabda Tuhan melalui Bahagawad Gita dalam beberapa sloka seperti : Pendidikan Agama Hindu 41/76 . adalah mempersembahkan puja dan banten kepada bhuta. Rsi Yadnya. d. yaitu upacara kematian agar roh yang meninggal mencapai alam Siwa. Dari beberapa sumber di atas yang lebih tepat digunakan sebagai dasar pelaksanaan yadnya di Indonesia adalah Lontas Agastya Parwa.3. adalah persembahan punia. Lontar Korawa Srama a. Pelaksanaan Dewa Yadnya dapat dilakukan dengan berbagai bentuk. keikhlasan. Menurut lontar ini Panca yadnya adalah : a. makanan. Dewa Yadya. f. Pitra Yadnya adalah mempersembahkan puja dan banetn kepada leluhur. 4. yaitu persembahan dengan memberi makanan kepada masyarakat. Dewa Yadnya. Aktivitas kehidupan sehari-hari dapat diwujudkan menjadi yadnya dengan cara melaksanakan semua aktivitas yang didasari oleh kesadaran. e. b. yaitu persembahan dengan minyak dan biji-bijian kehadapan Dewa Siwa dan Dewa Agni di tempat pemujaan dewa. Dewa Yadnya dilaksanakan terutama dalam rangka memenuhi kewajiban Dewa Rna. d. yakni hutang hidup kepada Ida Sang Hyang Widhi. Rsi Yadnya. dan barang yang tidak mudah rusak kepada para Maha Rsi. Bhuta Yadnya. Manusa Yadnya. c. e. adalah persembahan yang tulus iklhas kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya. Bhuta Yadnya. c. Dalam lontar Korawa Srama terdapat penjelasan Panca yadnya sebagai berikut: b. Dewa Yadnya. Pitra Yadnya. Manusa Yadnya adalah persembahan makanan kepada masyarakat.

karena dengan melakukan kerja tanpa pamrih seperti itu membuat manusia mencapai tingkatan tertinggi. lakukanlah selalu kegiatan kerja yang harus dilakukan. Tad-artham karma kaunteya mukta-saògaá samàcara ( Bhagawad Gita. wahai ( Arjuna ).25 ) Artinya: Seperti orang bodoh yang bekerja karena pamrih dari kegiatannya. Asakto hy àcaran karma param àpnoti pùrsaá ( Bhagawad Gita. Pendidikan Agama Hindu 42/76 . III. Kuryàd widwàýs tathàsaktaú cikìrûur loka-saògraham ( Bhagawad Gita. Tasmàd asaktaá satataý kàryaý karmasamàcara. tanpa keterikatan.9 ) Artinya: Kecuali kerja yang dilakukan sebagai dan untuk tujuan pengorbanan. wahai putra Kunti ( Arjuna). Saktàá karmaóy awidwàmso yathà kurwanti bhæata. dunia ini terbelenggu oleh kegiatan kerja. tetapi tanpa pamrih dan semata-mata dengan keinginan untuk memelihara kesejahteraan tatanan dunia ini saja. Oleh karena itu. demikian pula hendaknya orang Bhàrata terpelajar bekerja.Yajòàathàt karmano ‘nyatra loko ‘yaý karma-bandhanah.19 ) Artinya: Oleh karena itu. III. III. lakukanlah kegiatanmu sebagai pengorbanan dan jangan terikat dengan hasilnya.

Upacara ini biasanya dilakukan untuk orang yang waktu meninggal telah mekingsan ring geni. adalah persembahan yang tulus ikhlas kepada para rsi dan orang suci. Di Bali Upacara Pitra Yadnya dikenal memiliki beberapa tingkatan seperti : a. atau meninggal tetapi jenasahnya tidak ditemukan ( misalnya meninggal di laut atau di hutan ).  Ngerca Wedana yaitu upaca ngaben dengan membakar simbol sebagai pengganti tulang/jenasah orang yang sudah meninggal. Jika semua yadnya yang dilaksanakan dengan tujuan sebagai persembahan kepada Tuhan maka jadilah yadnya tersebut Satwika. yakni upacara perawatan dan penyelesaian jenasah seperti dikubur ( mekingsan ring pertiwi ). atau yadnya dalam bentuk tapa serta yadnya dalam bentuk persembahan/upakara haruslah dilakukan dengan ikhlas dan tanpa pamrih. mukur. 2. Bentuk atma wedana antara lain. Rsi Yadnya. maligia. atau beryadnya dalam bentuk jnana (pengetahuan).Tanpa ada leluhur dan orang tua sangat mustahil kita akan lahir di dunia ini. atau juga jenasah yang dikubur tetapi tulangnya tidak ditemukan. Atma Wedana. hormat dan bakti serta melayani para sulinggih/ orang suci secara tulus ikhlas.  Asti Wedana yaitu upacara pengabenan dengan membakar jenasah yang sudah berbentuk tulang ( sudah dikubur terlebih dahulu). Pendidikan Agama Hindu 43/76 . Menurut Hindu atas jasa para rsi dan orang suci ini menyebabkan kita memiliki hutang yang disebut Rsi Rna. sebab jika tidak maka karma baik atas upacara yadnya yang dilaksanakan akan menjadi milik sang pemuput karya. b. ngeroras. Contoh Rsi Yadnya yang berbentuk Upakara adalah Rsi Bojana. Asti Wedana yaitu tingkatan upacara pitra yadnya yang lebih tinggi yang umumnya disebut NGABEN. c. Pitra yadnya wajib dilakukan untuk membayar hutang hidup kepada orang tua dan leluhur yang disebut Pitra Rna. 3. Oleh karena itu hutang hidup ini harus dibayar dengan bentuk Upacara Pitra Yadnya. Bentuk asti wedana adalah :  Sawa Wedana yaitu upacara ngaben bila yang dibakar adalah jenasah. yaitu upacara tingkat berikutnya yang bertujuan lebih menyempurnakan jiwatman yang telah diabenkan dari alam surga menuju alam dewa/moksa. Dalam Kitab Suci Bhagawad Gita banyak dijelaskan berbagai bentuk yadnya yang Satwika. Pelaksanaan yadnya ini sebagai wujud terima kasih atas segala jasa yang telah diberikan oleh para rsi dan orang suci pada kita . Sawa Prateka. adalah pengorbanan yang tulus ikhlas untuk para leluhur dan orang tua.Selanjutnya jika kita beryadnya dalam bentuk dana/harta . Upacara ini dikenal juga dengan nama SWASTA. dibakar ( mekingsan ring geni) dsb. Dalam melaksanakan upacara seharusnya sang yajamana menghaturkan punia daksina pada sulinggih/ pemuput karya yang sesuai. Pitra Yadnya. Sedangkan bentuk lain Rsi Yadnya adalah dengan melaksanakan ajaran-ajaran suci para rsi.

Demikian pula memberikan dana punia untuk pendidikan anak bagi keluarga tidak mampu atau melaksanakan bhakti sosial pengobatan bagi masayarakat kurang mampu juga termasuk manusa yadnya. Jika memahami pengertian manusa yadnya. Butha Yadnya. sempurna kembali menuju alamnya sendiri dan tidak mengganggu kehidupan manusia. Bentuk manusa yadnya bisa bermacam-macam seperti yadnya dalam bentuk dana. sejak dalam kandungan sampai menuju grahasta ( perkawinan). 5. Manusa Yadnya. E. tetapi bagi semua manusia tanpa memandang suku. 4. upacara.Disamping bentuk upacara pitra yadnya sebagaimana dijelaskan di atas yang lebih penting dilakukan masa kini adalah bagaimana usaha kita untuk menjunjung nama baik dan kehormatan leluhur dan orang tua. adalah pengorbanan yang tulus iklhas untuk para butha agar tercipta kedamaian dan keharmonisan hidup di dunia. serta peruntukannya bukan hanya untuk anak ( keturunan sendiri). PENILAIAN YADNYA Pendidikan Agama Hindu 44/76 . Artinya jika kita memberikan nasehat atau ilmu kepada orang lain yang menyebabkan orang tersebut memperoleh kebahagiaan hidup maka itu tergolong juga manusa yadnya. hutan lindung. Oleh karena itu manusia melaksanakan bhuta yadnya agar keseimbangan hidup tercipta. Melayani orang tua semasih hidup dengan ikhlas serta tidak mengecewakan dan menyakiti hati orang tua adalah merupakan pitra yadnya utama. dan karma sepanjang tujuan yadnya tersebut adalah untuk kebahagiaan hidup manusia. Selama ini pemahaman sebagian umat Hindu bahwa manusa yadnya semata-mata upacara yang dilaksanakan oleh orang tua bagi anak-anaknya. Sesuai dengan pengertian tersebut maka segala bentuk pengobanan yang bertujuan untuk kebahagiaan hidup manusia adalah tergolong manusa yadnya. Jadi pitra yadnya dalam kaitan kewajiban sebagai siswa adalah dengan belajar sebaikbaiknya sebagaimana harapan orang tua. agama maupun golongan. tidak merusak mata air. serta tindakantindakan lain yang dapat menjadi penyebab bencana alam. Menurut konsep Hindu bahwa semua yang ada di dunia ini adalah ciptaan Hyang Widhi yang memiliki fungsi tersendiri dalam memutar roda kehidupan. jnana. Jadi semua mahluk termasuk para bhuta memiliki hak hidup. Dengan demikian maka sasaran manusa yadnya bukan hanya untuk anak/ keturunan sendiri. Manusia sebagai mahluk yang memiliki sabda. maka bentuknya tidak selalu upacara. Secara sekala wujud bhuta yadnya adalah usaha kita agar menjaga kelestarian alam. Tujuan bhuta yadnya adalah agar para bhuta kala “somya”. bayu dan idep memiliki peranan penting dalam menciptakan keharmonisan kehidupan. adalah pengorbanan yang tulus ikhlas untuk kebahagiaan hidup manusia.

ataukah Bhuta? Terakhir sebagai tolok ukur karma yang paling penting harus kita nilai apakah yadnya yang kita lakukan bersifat Satwam. maka kita dapat berharap bahwa hidup ini tidak akan sia-sia. Rsi. madya. ataukah nista? Selanjutnya kita harus menggoongkan lagi kepada siapakah yadnya tersebut ditujukan? Apakah kepada Ida Sang Hyang Widhi. Pendidikan Agama Hindu 45/76 . Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah : Bentuk apakah yadnya yang kita lakukan? Selanjutnya kita dapat bertanya apakah yandya yang kita lakukan tergoong Nitya Yadnya ataukah Naimitika Yadnya? Jika Yadnya tersebut berkaitan dengan materi. Rajas ataukah Tamas? Dengan melakukan penilaian diri terhadap setiap tindakan karma. Pitra. Manusia. Untuk itu kita perlu secara jujur menjawab beberapa pertanyaan untuk dianalisa kemudian menilai atas yadnya yang kita laksanakan. sloka 2. apakah tergolong utma. Hidup ini adalah untuk meningkatkan kwalitas karma jiwatman sebagaimana yang disampaikan dalam kitab Sarasamuscaya .Dari uraian di atas maka kita akan dapat menilai diri sendiri tentang yadnya yang kita lakukan.

Carilah sloka-sloka Bhagawad Gita yang berkaitan dengan bentuk-bentuk yadnya 2. Buatlah tulisan tentang pengalaman pribadi anda minimal dua pengalaman yang dapat digolongkan sebagai yadnya.F. Kegiatan/Peristiwa b. Kemudian berikan penilaian atas pengalaman yadnya tersebut dengan alasannya masingmasing. PENGALAMAN YADNYA a. PENDALAMAN MATERI Tugas siswa : 1. Untuk memudahkan dapat digunakan format berikut ini. Penilaian NO Penialaian 1 Bentuk : 2 3 4 5 Waktu Pelaksanaan : Materi : Tujuan : Kwalitas : Alasan Pendidikan Agama Hindu 46/76 .

serta interaksi dengan alam. Sedangkan Susila adalah rambu-rambu . Tanpa pemahaman tattwa yang benar maka yadnya bisa menyimpang dari tujuan utama. tetapi mengabaikan etika maka yadnya menjadi tidak sempurna. maka tattwa akan memberikan pengetahuan pada kita tentang situasi daerah yang akan dituju. maka pengetahuan tattwa dan susilanya tidak memberikan karma apapun. Kemudian seseorang yang memiliki tattwa tinggi juga mengetahui aturan susila tetapi tanpa diikuti dengan tindakan nyata ( dalam bentuk yadnya). Jadi susila adalah perbuatan atau tingkah laku yang baik dan benar. Tatwa. dan Upacara ( Yadnya ). Jika rambu-rambu dan aturan ini dilanggar kemungkinan kita akan tersesat atau bahkan celaka. Sebaliknya meskipun pelaksanaan yadnya secara tattwa benar. serta aturan yang harus diikuti dan dipatuhi sehingga dapat sampai pada tujuan dengan selamat. karena pada hakekatnya pahala karma hanya akan diperoleh melalui kerja ( yadnya). Susila adalah aturan-aturan moral dalam segala tindakan serta komunikasi manusia dengan Tuhan.BAB VI SUSILA Standar Kompetensi Memahami Tat Twam Asi sebagai landasan etika dan moral Tujuan akhir pembelajaran 1. Susila berasal dari kata Su yang berarti baik. sesama manusia . serta berbagai fasilitas yang dapat digunakan untuk menuju tempat tersebut. Istilah lain dai Susila adalah Etika/Etiket. dan sila yang berarti tingkah laku/perbuatan. Menunjukkan prilaku sebagai implementasi ajaran Tat Twam Asi Uraian Materi A. PENDAHULUAN Susila adalah bagian dari tiga kerangka Agama Hindu yakni. berbagai jalan atau arah yang bisa dilalui menuju tempat tujuan. Pendidikan Agama Hindu 47/76 . Contoh sederhana penggambarannya adalah jika kita akan menuju suatu tempat. Tattwa adalah hakekat atau filsafat agama.petunjuk . Sedangkan Yadnya/Upacara adalah aktivitas nyata umat Hindu dalam merealisasikan Tattwa Agama dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik mampu menjelaskan pengertian tat twam asi 2. Dalam konsep Hindu aktivitas kehidupan manusia khususnya dalam kaitan keagamaan maka tiga kerangka tersebut harus merupakan satu kesatuan dalam pelaksanaannya. Umat Hindu harus memahami tattwa dan mematuhi susila setiap yadnya/upacara yang dilaksanakan. Susila ( etika ) .

Dalam mewujudkan keharmonisan antara manusia dengan Tuhan. berjalan sesuai dengan fasilitas yang tersedia dan mengikuti aturan ( susila) yang ada barulah kita bisa mencapai tujuan. Demikian juga dalam kehidupan di dunia. Dalam kehidupan ini semua aktivitas memiliki aturan/etika/susila. Manusia sebagai mahluk yang paling sempurna diantara mahluk lainnya di bumi memiliki peranan utama dalam menegakkan aturan. Tuhan menciptakan RTA ( hukum alam ) untuk kehidupan. jika tidak bergerak/ diam di tempat maka selamanya kita tidak akan pernah sampai pada tujuan. bangsa. manusia memiliki kelebihan dalam menerima ajaran-ajaran susila/ etika dalam menghubungkandiri dengan Tuhan (sembahyang). dimana setiap daerah memiliki kekhasan tersendiri sebagai budaya lokal. . dan manusia dengan alam . Inilah Yadnya. Dari ketiga kerangka tersebut SUSILA memegang peranan penting yang menjembatani antara Tattwa dengan Yadnya. Alam semesta memiliki aturan / hukum tersendiri dalam pergerakannya yang disebut RTA ( hukum alam). Planet-planet berputar mengelilingi bumi dan bersama bumi mengelilingi matahari. peraturan pemerintah dan sebagainya. Dengan susila maka manusia dapat melaksanakan yadnya dengan berbagai kondisi tanpa menyimpang dari tattwanya. Artinya berlaku bagi semua manusia di seluruh dunia tanpa memandang suku. Manusia memiliki peranan utama dalam mewujudkan keharmonisan antara ketiga faktor tersebut. sehingga tercipta keseimbangan dan keharmonisan antara konsep dengan pelaksanaannya. Semua yang ada di alam bebas maupun di dunia harus mengikuti aturan dalam pergerakannya. Aturan/susila itu dapat bersifat universal/global. semua aktivitasnya memiliki aturan. PERANAN SUSILA DALAM MEWUJUDKAN TRI HITA KARANA Dalam konsep ajaran Hindu bahwa kebahagiaan hanya akan terwujud jika adanya hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia. dan agama. Disamping itu ada juga aturan dalam bernegara dan berbangsa dalam bentuk hukum negara/ udang-undang.Akhirnya berdasarkan pengetahuan tattwa yang dimiliki haruslah kita bergerak. ras.Contohnya adalah saling menghormati hak asasi manusia ( HAM). Manusia dengan kecerdasan yang dimilikinya dapat membuat aturan-aturan dalam berinteraksi sesama manusia. Ajaran ini disebut Tri Hita Karana ( tiga faktor penyebab terwujudnya kebahagiaan ). manusia dengan Tuhan . Ada juga aturan / etika dalam berprilaku sosial kemasyarakan. Contohnya bumi berputar pada porosnya dan mengitari matahari. B. Jika aturan ini tidak diikuti maka pasti akan terjadi kekacauan. Jika salah satu bagian alam ini tidak mengikuti aturan maka akan terjadi kehancuran. Ada etika/aturan yang harus Pendidikan Agama Hindu 48/76 . Meskipun kita mengetahui secara jelas gambaran tentang lokasi yang akan dituju serta semua aturan dan rambunya.

hubungan dengan Tuhan. demikian juga sebaliknya. Tat Twam Asi adalah esensial filsafat Hindu dalam ajaran susila yang bersifat universal dan tanpa batas. dan wujud manusia karena perbedaan pengaruh Triguna dan karma wasana. maupun secara kolektif ( bersama-sama). Twam artinya kamu. Jika aturan/etika ini dilanggar maka dipastikan keharmonisan tidak akan terwujud. Etika persembahyangan pribadi tidak dapat diterapkan pada persembahyangan bersama. Jadi Tat Twam Asi berarti dia adalah engkau. Tat twam asi bersumber pada ajaran Hindu bahwa Tuhan / Brahman menciptakan alam semesta beserta segala isinya dari diriNYa sendiri melalui tapa/yadnya. Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan bahwa : 1. 2. saling menolong sehingga terwujud kedamaian dan kebahagiaan.Tat artinya itu (dia). Agar terwujud keharmonisan antara manusia dengan manusia. misalnya persembahyangan di pura. Penggundulan hutan dengan ilegal loging maka terjadilah banjir bandang. TAT TWAM ASI Konsep dasar ajaran kesusilaan Hindu dalam hubungan antara sesama manusia dikupas dalam Kitab Candogya Upanishad yang dalam salah satu sloka ada disebutkan Tat Twam Asi. jika ditelusuri maka semua itu adalah akibat ulah manusia sendiri yang tidak mengikuti aturan / etika dalam mengelola alam. merusak sempadan sungai. Jadi di setiap mahluk hidup khususnya manusia memiliki unsur kekuatan hidup yang sama. dan sebagainya. serta pembangunan gedung/perumahan tanpa memperhatikan penyerapan dan saluran sanitasi yang baik maka terjadi banjir disetiap musim hujan. serta hubungan dengan alam C.diikuti dalam melakukan hubungan dengan Tuhan. Tat Twam Asi adalah sumber utama ajaran cinta kasih agar manusia dapat saling menghargai. Alam secara kodrati hanya akan memberikan reaksi terhadap segala perlakuan manusia kepada alam itu sendiri. Dewasa ini banyak terjadi bencana alam. seperti banjir bandang . yaitu percikan suci Tuhan. manusia dengan Tuhan dan manusia dengan alam maka manusia harus memahami dan mengikuti aturan/susila dalam melaksanakan masingmasing hubungan tersebut. Perbedaan pribadi . dan Asi artinya adalah. Dengan pemahaman ini maka Hindu mengajarkan agar manusia tidak Pendidikan Agama Hindu 49/76 . baik hubungan secara pribadi. sifat. Membuang sampah pada aliran sungai. Selanjutnya mahluk hidup memilki atman sebagai percikan suci Ida Sang Hyang Widhi. Manusia dengan kecerdasan yang dimilikinya dapat menciptakan aturan/etika dalam hubungan dengan sesama manusia. Untuk jenis-jenis persembahyangan tertentu juga memiliki aturan yang berbeda. Sedangkan hubungan manusia dengan alam jelas yang paling menentukan adalah manusia itu sendiri. pemanasan global . saling menghormati.

Bahwa dalam setiap kehidupan ada percikan suci Ida Sang Hyang Widhi sehingga wajib dihormati dan dikasihi tanpa memandang batasan tertentu.memandang manusia lainnya hanya dari segi fisiknya saja. Hindu mengajarkan agar kita memandang semua mahluk hidup diciptakan dan bersumber dari asal yang sama. Pendidikan Agama Hindu 50/76 .

kapanpun kita suka. agar setiap individu dalam satu lingkungan aman/terhindar dari serangan penyakit demam berdarah maka mereka bekerjasama bergotong royong membersihkan lingkungan dari kemungkinan tempat-tempat nyamuk bersarang. Demikian juga untuk memenuhi kebutuhan pribadi yang sama orang melakukan kerjasama. untuk ini kita perlu melatih pengekangan diri untuk mengurangi rasa ego. yang paling utama harus dilakukan adalah:  Mengembangkan cinta kasih sesama. hak mendapatkan kasih sayang dan sebagainya. Secara jasmani setiap individu ingin mencapai kesenangan dan secara rohani setiap orang ingin mendapatkan kebahagiaan. Dalam memenuhi kebutuhan pribadi tidak boleh mengorbankan hak pribadi orang lain. Contoh. Manusia memiliki kebutuhan pribadi baik kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani. hak untuk hidup . Hanya mengutamakan kepentingan pribadi tanpa memperhatikan adanya kepentingan orang lain. Pendidikan Agama Hindu 51/76 . Oleh karena itu maka jika ita mendengarkan musik dengan suara keras pada waktu orang lain istirahat berarti melanggar hak pribadi orang lain. Hal ini tentu saja akan menimbulkan ketidak harmonisan dalam sosial kemasyarakatan. Hak-hak tersebut antara lain. apalagi di jaman sekarang sangatlah mustahil manusia hidup tanpa berhubungan dengan orang lain. Jadi dalam memenuhi kebutuhan pribadi kita harus membatasi diri jangan sampai melanggar hak orang lain. kita punya hak untuk mendengarkan musik dari tape milik kita sendiri. Jadi dalam hal ini orang-orang bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan pribadi yang sama. Dalam hubungan sosial maka hak pribadi merupakan batas bagi orang lain untuk memenuhi kebutuhan pribadinya.  Agar cinta kasih dalam diri dapat tumbuh dan berkembang maka kita harus belajar mengurangi keakuan ( egoisme). Dalam rangka mengatur hubungan sosial masyarakat maka dibutuhkan aturan tingkah laku yang disebut tata susila. Meskipun di masyarakat secara umum sudah dikenal tentang tata susila yang berlaku namun seringkali orang melanggar tata susila itu. hak perlindungan.Untuk bisa mengimplementasikan ajaran Tat Twam Asi. hak memiliki. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka setiap individu memiliki hak secara pribadi. Secara individu manusia memiliki rasa keakuan ( ahamkara ). Pelanggaran tata susila terjadi biasanya dilakukan oleh orang-orang yang kurang mampu mengedalikan diri. Sebagai mahluk sosial manusia tidak dapat hidup sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan pribadi seseorang membutuhkan pertolongan orang lain. Tetapi harus diingat bahwa ada hak orang lain untuk beristirahaT dan tidak diganggu oleh kebisingan. Contohnya. Dengan demikian maka diharapkan dalam hubungan sosial manusia dapat mencapai kebahagiaan. Manusia adalah mahluk individu sekaligus mahluk sosial.

serta kebutuhan kasih sayang. Manusia adalah mahluk individu sekaligus mahluk sosial. Memandang semua manusia adalah sama. anak. papan. Hal ini karena diantara semua mahluk ciptaan Ida Sang Hyang Widhi hanya manusia yang diberikan idep ( daya pikir ). Dalam ranka membina hubungan harmonis sesama manusia. Dalam rangka memenuhi kebutuhan pribadi tersebut kita sebagai mahluk pribadi tidak dapat memenuhi semuanya sendiri. alam lingkungan serta Tuhan. pangan. Dalam Kitab Yajur Weda Adyaya 40. Sebagai implementasi ajaran tat twam asi ada beberapa konsep yang dapat kita pedomani antara lain :  Memandang semua manusia adalah sama. Dalam ajaran Hindu dinyatakan bahwa manusia itu pada dasarnya adalah sama dan berasal dari sumber yang sama. Dalam kaitan memenuhi kebutuhan pribadi yang berhubungan dengan orang lain inilah kita disebut sebagai mahluk sosial. Demikian juga dalam memenuhi kebutuhan kasih sayang kita memerlukan suami/istri. kita harus bisa mengolah manah ( pikiran ). seperti kebutuhan sandang. sloka 7 disebukan : Pendidikan Agama Hindu 52/76 . Setiap individu berhak untuk memenuhi kebutuhan tersebut.  Melaksanakan Tri Kaya Parisudha. kita perlu orang yang menjual makanan atau bahan untuk membuat makanan. budhi (kemampuan mengambil keputusan benar atau salah ). Dalam memenuhi sandang kita perlu orang yang menjual pakaian atau bahan untuk membuat pakaian. kita perlu bantuan dan kerjasama dengan orang lain. keluarga serta tetangga atau teman. Sebagai individu kita memiliki kebutuhan-kebutuhan pribadi yang harus dipenuhi. orang tua. D.  Melaksanakan ajaran Catur Paramita. dan ahamkara ( rasa keakuan sebagai motivasi bertindak) yang ada dalam diri sehingga menjadi seimbang dan mengutamakan bahwa hubungan harmonis sesama manusia adalah kebutuhan utama dalam hidup ini. Dengan daya pikir tersebut kita dapat melakukan yadnya utuk menyucikan diri sendiri serta menyucikan alam. IMPLEMENTASI TAT TWAM ASI Di dunia manusia memegang peranan utama dalam mewujudkan hubungan harmonis antara manusia. 1.  Melaksanakan ajaran Tri Parartha. Sang Pencipta.Konsep ajaran Tat Twam Asi jika dimaknai dan dihayati dengan benar maka dapat dijadikan sebagai kunci pembuka kasih di hati sehingga dapat secara perlahan mengurangi rasa keakuan/ego ( ahamkara ).  Merasakan penderitaan orang lain. Dalam memenuhi kebutuhan pangan misalnya. Dalam membina hubungan sosial inilah kita perlu memahami dan mengamalkan ajaran Tat Twam Asi.

dan ahamkara. 2. Karena atman berasal dari Brahman maka pada tingkat kesadaran tertinggi semua atman-atman yang menghidupi semua manusia di dunia adalah sama. Dengan pemahaman ini maka kita seharusnya belajar untuk memandang setiap orang adalah sama. Merasakan penderitaan orang lain. kita tidak boleh membedakan derajat manusia hanya dari sisi luarnya saja. Pertama . seperti suku. Atman adalah kesadaran kesadaran murni yang memuliki sifat sama dengan Brahman ( Atman Brahman Aikyam). maka timbul tindakan-tindakan yang merugikan pihak lain. bahwa di setIap manusia terdapat unsur utama yang sama yaitu atman. Perbedaannya hanyalah pembungkus luarnya saja yakni. Sifat ego yang berlebihan cenderung mendorong manusia untuk mempertajam perbedaan-perbedaan. orang tersebut tidak terikat dalam ikatan dan bebas dari kesedihan. Sama-sama memiliki sinar Tuhan. Manusia diciptakan lengkap dengan manas. ini berarti bahwa atman-atman yang ada pada setiap manusia adalah sama. bangsa. Dalam satu keluarga besar . budhi. tingkat ekonomi dan sosial juga bisa berbeda. badan jasmani serta pribadinya. Terjadinya sejarah penjajahan suatu bangsa adalah contoh perlakuan yang membedakan derajat manusia. ras. Terjadinya kerusuhan dan perkelahian antar warga. Kenapa? Karena semua bersumber dari yang satu yaitu Brahman. Jadi jika kita membeda-bedakan orang berarti kita membeda-bedakan Hyang Widhi. antar kelompok serta tindakan-tindakan yang merendahkan martabat kelompok lain juga sebagai contoh pengaruh ego ( rasa keakuan) menguasai manusia. Warna kulit bisa berbeda. kasta dan sebagainya. disana ada sinar Tuhan yaitu Atman. Pada dasarnya tidak ada satu orangpun di dunia ini yang ingin hidup dalam kekacauan. semua memilik keinginan untuk hidup berdampingan secara damai. Hanya saja pengaruh pola pikir yang sempit serta mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompoknya saja. Semua ingin hidup damai dan harmonis. Banyak contoh-contoh penajamanpenajaman kelompok dan ras yang terjadi baik sebagai catatan sejarah maupun tradisi yang melekat di masyarakat sampai saat ini. Semua manusia pada dasarnya adalah saudara. budaya dan tradisi bisa berbeda. Manas adalah pikiran sedangkan budhi adalah kemampuan manusia untuk mengolah dan merasakan baik dan benar. warna kulit. Dari sinilah mulai timbul ketidakharmonisan.Seseorang yang menganggap seluruh umat manusia memiliki Atman yang sama dan dapat melihat semua manusia sebagai saudaranya. sedangkan ahamkara lebih menitik beratkan Pendidikan Agama Hindu 53/76 . Selanjutnya konsep kedua dalam sloka di atas juga mengajarkan pada kita bahwa semua manusia di seluruh dunia adalah sebuah keluarga besar. Atman adalah percikan-percikan terkecil dari Brahman ( Hyang Widhi). Dalam sloka di atas tersirat dua konsep pandangan Hindu atas keberadaan umat manusia. tetapi spirit kehidupan setiap orang sama.

Berikutnya jika seseorang memiliki perimbangan dalam penguasaan ahamkara dan memiliki budhi ang tinggi maka orang tersebut akan senantiasa memikirkan rasa dan kepentingan orang lain sebelum bertindak untuk kepentingan pribadinya. Nilai-nilai tradisi yang dikandung oleh lembaga suka duka tradisional itu. Pendidikan Agama Hindu 54/76 . Perpaduan antara budhi dan ahamkara pada seseorang sangat menentukan kualitas rasa/perasaan orang tersebut.pada rasa keakuan sebagai motivasi dasar untuk bertindak. patut dikembangkan sehingga dapat didayagunakan untuk mengatasi persoalan hidup masa kini dan masa yang akan datang. 3. Ukuran rasa kemanusiaan seseorang adalah apabila dia dapat merasakan pendertaan orang lain sebagai penderitaannya. uamt Hindu mengatasi keadaan suka dan duka sudah sangat melembaga. dan tiga untuk menyucikan perbuatan/prilaku. Ada orang yang mengalami duka paa saat tertenu. Type orang seperti ini adalah selalu menuntut hak terlebih dahulu tetapi mengabaikan kewajibannya. Ikut serta menanggulangi penderitaan orang lain adalah sesuai dengan kemampuan dan swadharma masing-masing. maka berbagai beban hidup itu akan dirasakan ringan dan tidak terlalu menyusahkan. Tiap orang selalu mengalami suka dan duka dalam kehidupannya di dunia in Saat suka dan duka itu. Dalam kehidupan tradisional di Bali. Karena itu orang yang dalam keadaan suka seharusnya belapang dada membantu sesame yang sedang dirundung penderitaan. Dalam sistem kehidupan yang modem dewasa mi sesungguhnya banyak pihak yang mendapat kesempatan untuk mengamalkan rasa kemanusiaannya. Hanya mementingkan diri sendiri tanpa peduli pada keadaan maupun perasaan orang lain. Inilah hakekat dan ajaran Tat Twam Asi. Sayang kebanyakan orang tidak menggunakan kesempátan mi untuk mengamalkan rasa kemanusiaannya. tidak dapat dirasakan secara bersamaan oleh semua manusia. dan pada saat itu juga ada orang lain yang mengalami keadaan suka. Kalau keadaan suka dan duka itu diatasi secara bersama-sama. Justru penderitaan orang lain sering dijadikan ajang untuk mencari keuntungan guna memperkaya diri sendiri. Tiga untuk menjaga kesucian pikiran. empat untuk menjaga kesucian kata-kata. Di dalam kitab Sarasamuscaya 73-76 disebut sepuluh hal untuk menjaga kesucian Tri Kaya agar menjadi suci. Karena dirasakan sebagai penderitaannya maka ia sendiri akan ikut aktif menanggulangi penderitaan orang lain. Jika seseorang memiliki ahamkara yang tinggi tanpa dibarengi dengan olah budhi yang matang cenderung melahirkan sifat keakuan / ego yang tinggi. yang disebut Karma Patha. Melaksanakan Tri Kaya Parisudha (tiga prilaku yang disucikan).

pat prawrttyaning käya. widyatapobhyam bhutatma budhir jnanena cuddhyati “. gerak tindakan. Oleh karena itu kuatkanlah pikiran agar pikiran tersebut yang mengatur laku indria. kramanya. tèlu kwehnya. yaitu pengendalian hawa nafsu. Di dalam kitab Sarasamuscaya. tiga banyaknya. tiga banyaknya. wak. pnda. Sucikanlah pikiran dengan satya. (Manawa Dharmasastra. Dalam kehidupan manusia di dunia mi Pikiran paling menentukan kualitas prilaku manusia Pikiranlah yang mengatur gerak sepuluh indria. sapuluh kwehnya. sehingga pikiran sering disebut Rajendria. Karena itu proses penyucian pikiran disebut “manacika parisudha”. V109) Artinya: Tubuh dibersihkan den gan air. perilaku perkataan. Ada tiga cara melakukan manacika atau penyucian pikiran yaitu: 1) Tidak menginginkan dan tidak dengki terhadap milik orang lain Pendidikan Agama Hindu 55/76 . perbuatan yang timbul dari gerak badan.109 sebagai berikut: “Adbhirgatrani çuddhyanti manah satyena çuddhyati. Demikianlah pada hakekatnya pikiran tersebut selalu dijaga kesuciannya dengan satya/kebenaran/kejujuran. Kalau raja ini tidak baik maka indria pun akan tampil tidak baik. jiwa manusia dengan pelajaran suci dan tapa brata. perkataan dan pikiran itulah patut diperhatikan . tèlu. 73-74 disebutkan: Hana karmapatha ngaranya kahrtaningindriya. dan setelah dicemari oleh hawa nafsu disebut manah. seperti diuraikan dalam kitab Manawa Dharmasastra. sepuluh banyaknya yang patut dilaksanakan. pikiran disucikan den gan kebenaran. Pikiran yang masih suci tanpa dicemari oleh hawa nafsu disebut citta. kecerdasan dengan dengan pengetahuan yang benar. perinciannya gerak pikiran. Artinya: Adalah karmapatha namanya. Manacika.jadi sepuluh banyaknya. prawrttyaning manah sakarèng. prawrttyaning káya. manah kengèta.a. sapuluh. empat jumlahnya. ulahakèna. ulahaning wàk. V.

Orang yang selalu berusaha mengedalikan pikiran dan diarahkan pada niat SUCi akan jarang mendapat persoalan sulit dalam kehidupannya dimasyarakat. Sedangkan perbuatan buruk yang dilakukan saat ini sudah pasti akibatnya akan diterima kelak. Harus kita yakini benar kesungguhan hukum Tuhan tersebut. 3) Tidak mengingkari hukum karmaphala. Oleh perkataan engkau akan men dapatkan kesusahan. Pikiran akan menjadi suci (ning) bila tidak menginginkan milik orang lain serta tidak membenci milik orang lain . seperti rasa in. 2) Tidak berpikir buruk terhadap orang lain dan kepada semua makhluk. b. Orang yang hidup sehat dan berumur panjang salah satu penyebabnya karena ia menumbuhkan rasa cinta kasih pada semua makhluk. Sifat ini timbul karena kurang tumbuhnya rasa kasih sayang terhadap sesama. Pendidikan Agama Hindu 56/76 . Wacika adalah perkataan yang baik (suci). Hidup dalam keadaan in akan membuat kita menderita.3 sebagai berikut: Wasita Wasita Wasita Wasita nimittanta nimittanta nimittanta nimittanta manemu laksmi. siapa yang berbuat baik akan mendapat pahala yang baik dan siapa yang berbuat buruk sudah dapat dipastikan akan mendapatkan hasil yang buruk. disatu pihak akan bisa mendatangkan kebahagiaan dan dilain pihak akan bisa mendatangkan penderitaan bahkan kematian.Perbuatan ini dapat menimbulkan kecendrungan yang negatif. Oleh perkataan engkau akan mendapatkan sahabat. Wacika. manemu mitra Artinya: Oleh perkataan engkau akan mendapatkan bahagia. Semua makhluk hidup berasal dan atma yang sama yaitu Ida Sang Hyang Widhi. Kata-kata ibarat pisau bermata dua. Oleh perkataan engkau akan menemui ajalmu. itu pun karena hukum karma phala juga. pati kapangguh. Beliau mentakdirkan ada makhluk yang bernasib baik dan ada yang bernasib buruk sesuai dan karmanya masingmasing. entah kapan. Nasib baik yang ia tenima saat ini pasti karena perbuatan baik sebelumnya yang ia lakukan. seperti termuat dalam kitab Nitisastra sargah V. Meskipun kita melihat orang berbuat buruk pada saat ini dan kenyataannya ia bemasib baik. manemu duhka. Hal ini sangat penting untuk dipahami dan dihayati.

Karena dalam kata-kata yang jahat itu ada gelombang yang mengganggu keseimbangan vibrasi kesucian. wak purusya (berkata kasar). Menghilangkan kebiasaan berbohong mi haruslah dibiasakan untuk rela menerima apa adanya sesuai dengan karma Pendidikan Agama Hindu 57/76 . Cegahlah lidah agar tidak mengucapkan kata-kata fitnah. Kata-kata yang jahat yang terucap akan dapat mencemarkan vibrasi kesucian. mencaci. Kata-kata kasar itu sangat menyakitkan bagi yang mendengarkan . Agar ia kelihatan lebih dan orang lain bohongpun sering dilakukan. dan mencela. Dalam persaingan hidup orang sering mengalahkan persaingan dengan cara memfitnah agar lawan dengan mudah dikalahkan. meskipun fiat baik. berjuanglah untuk merubahnya. Kebiasaan berbohong mi juga sering didorong oleh nafsu distinksi tadi. 2) Tidak berkata kasar (ujar aprgas). Salah sam sifat manusia yang dapat menimbulkan akibat negatif adalah yang disebut “distinksi” yaitu suatu dorongan untuk lebih dan orang lain. kalau diucapkan dengan kata-kata yang kasar maka fiat baik itu akan turun nilainya (menjadi tidak baik). karena katakata yang suci mi akan dapat mengantarkan kita kepada sahabat atau mitra dan kepada kebahagiaan atau laksmi. Oleh karena itu marilah kita sucikan wak/katakata sehingga menjadi “wacika” yaitu kata-kata yang suci. 4) Tidak mengeluarkan kata-kata yang mengandung kebohongan. 3) Tidak memfitnah (raja pisuna). seperti menghardik. Kalau ia tidak mampu berbuat lebih dan kenyataan maka fitnahpun akan dipakai senjata agar ia kelihatan lebih dan yang lain. Bagi yang mempunyai kebiasaan berkata kasar.dan sesungguhnya akan dapat mengurangi vibrasi kesucian bagi yang mengucapkan. berbohong dan sebagainya tidak usah dipelihara. Kata-kata kotor atau buruk disebut Mada (dalam Tri Mala). baik kesucian yang mengucapkan maupun yang mendengarkan. sebab hal tersebut akan bisa mendatangkan penderitaan bahkan lebih fatal lagi bisa menyebabkan kematian. Perlu diperhatikan. Kata-kata yang kotor seperti raja pisuna (fitnah). Berbohong juga sering dilakukan untuk menutupi kekurangan din. Ada empat cara (karma patha) untuk menyucikan perkataan yaitu: 1) Tidak berkatajahat (ujar ahala).Demikianlah akibat dan perkataan yang diucapkan ada yang baik dan ada yang buruk. Ada pepatah mengata’kan fitnah itu lebih kejam dan pembunuhan.

Tindakan-tindakan yang suci mi perlu dipelihara. Orang yang demikian itu disebut “Sadhu” yaitu orang yang tidak melakukan kekerasan. Tindakan seseorang dapat menyebabkan orang menjadi senang. Pada mulanya memang dirasakan beban. karena mengubah kebiasaan jelek memang tidak mudah. Kebaikan itu hanya dapat diwujudkan dengan cara membiasakannya sampai melembaga dalam tingkah laku.kita. bahagia dan atau sebaliknya menyakiti hati orang lain. itikad yang baik. Artinya bila pikirannya dilandasi oleh fiat yang baik. Demikianlah empat hal yang harus dibiasakan agar tidak keluar dan lidah kita katakata yang tidak baik atau menyakitkan. Dalam kaitannya dengan memelihara tindakan kitab Sarasamuscaya sloka 76 menegaskan sebagai berikut: Pendidikan Agama Hindu 58/76 . maka seseorang akan mampu mngendalikan indrianya dan akan menyebabkan orang lain senang dan bahagia. Kayika (perbuatan). Hal mi sangat ditentukan oleh pross berpikir scseorang. tapi lama kelamaan akan menjadi kebutuhan. Tindakan atau perbuatan jasmani atau pisik merupakan upaya seseorang untuk mengaktualisasikan hasil proses berpikir dan apa yang diucapkan dengan kata-kata. Hal mi memang memerlukan kesungguhan. c. Untuk melatih itu biasakanlah menyanyikan namanama Tuhan atau Dharmagita atau Mantram-mantram tertentu secara tents menerus. sampai kebiasaan itu dapat dihapuskan.

mengambil hak orang lain secara tidak sah. Pada umumnya ahimsa diartikan tidak boleh membunuh atau tidak menyakiti secara pisik. Ring apatkala. ri pan gipyan tuwi singgahana jugeka. Intinya disini seseorang tidak terlalu terikat oleh bendabenda duniawi. ketiganya jut jangan hendaknya dilakukan terhadap siapapun. merendahkan martabat umat agama yang lain dan sebagainya. keadaan darurat dalam khayalan sekalipun. agar tidak mclakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang atau asubha karma. Jika seseorang melakukan tindakan sebaliknya yaitu melakukan tindakan kekerasan maka akan terjadi pelanggaranpelanggaran hak asasi manusia seperti mempropokator umat agama lain untuk pindah ke agamanya sendiri. Siparadara. namun sebenarnya walaupun tidak secara pisik tetapi bila segala perilaku itu menyebabkan orang lain sakit hatinya juga tergolong perbuatan himsa. mencuri berbuat zinah. menerima suap dan tidak nepotisme serta tidak rakus. syamatimati man gahalahal.Nihan yang tan ulahakena. Kutipan sloka mi memberikan informasi tentang pentingnya kesucian tindakan seseorang. kedamaian dibumi dan kedamaian Pendidikan Agama Hindu 59/76 . Jika kesucian perbuatan tidak dijaga akan berakibat terjadinya pemaksaan terhadap orang lain yang berimbas kepada tidak adanya hubungan yang harmonis sehingga tidak akan tercapai kedamaian dihati. 2) Tidak mencuri. Adapun tiga tindakan suci tersebut adalah: 1) Tidak menyakiti atau tidak membunuh (ahimsa). nahan tang telu tan ulahakena ring asing ring paribasa. baik dalam keadaan dirundung malang. Hakekat dan manusia hidup didunia mi adalah bersaudara. Orang yang berhasil menumbuh kembangkan sifat-sifat kedewataan akan lebih mudah meraih karunia dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. merampok. Artinya: Inilah yang tidak patut dilakukan : membunuh. serta senang melakukan amal. baik secara berolok-olok. Ahimsa tergolong sifat-sifat kedewataan (daiwi sampat). Dengan terpeliharanya ajaran ahimsa berarti tidak ada kekerasan dalam kehidupan bersama didunia mi. bersendagurau. Ahimsa merupakan pengejawantahan masyarakat yang damai atau santih. melecehkan kesucian agama. hendaknya dihindari saja ketiganya itu.

ia tetap tenang dan selalu berusaha membalas kejahatan dengan kebaikan (suka memaafkan) Guna lebih mudah dapat memahami ajaran catur paramita. Tidak berzinah. Maitri artinya senang mencari kawan dan bergaul. Perbuatan ini harus dikendalikan karena bisa menimbulkan kemerosotan moral.3) diakhirat. artinya tidak atas dasar cinta sama cinta (perkosaan). walaupun disinggung perasaannya oleh orang lain. ramah tamah. Mengadakan hubungan kelamin dengan paksa. Mengadakan hubungan kelamin (sex) antara pria dan wanita dengan jalan tidak sah. Mengadakan hubungan kelamin atau sex yang dilarang oleh agama. yakni tahu menempatkan diri dalam masyarakat. maksudnya selalu memupuk rasa kasih sayang terhadap semua mahluk c. Adapun . Larangan melakukan zinah itu memang wajar. Karuna artinya belas kasihan. bagian-bagian dan ajaran catur paramita tersebut adalah a.. Berzinah merupakan perbuatan yang sangat hina dan terkutuk. karena kalau itu dibiarkan maka kemerosotan moral akan makin memuncak. c. Banyak terjadi pelacuran atau tuna susila maka kehidupan kita sebagai manusia yang menjuiijung tinggi budaya dan agama akan menjadi hancur. dibawah ini disajikan beberapa bentuk larangan-larangan yang harus dipatuhi oleh umat manusia sebagai berikut: Pendidikan Agama Hindu 60/76 . ‘. Catur Paramita. Dan jika kesucian perbuatannya tidak dijaga maka baik terhadap sipelaku maupun orang lain akan mengalami kerugian. Mudita artinya selalu memperlihatkan wajah yang riang gembira dan sopan d. Mengadakan hubungan kelamin dengan suami/istri orang lain. b. d. Berzinah artinya sikap suka memperkosa wanita atau istri orang lain Adapun yang temasuk perbuatan berzinah (paradara) adalah: a. Upeksa artinya senantiasa mengalah demi kebaikan. serta menarik hati segala prilakunya sehingga menyenangkan orang lain dan din pribadinya b. Catur paramita merupakan salah satu dan landasan atau pedoman untuk melaksanakan ajaran susila atau etika dalam ajaran agama Hindu. 4.

maka kita jangan melakukan perbuatan yang membahayakan dan jangan membenci. c.a. jangan melakukan perbuatan yang dapat menyebabkan orang lain susah. Pendidikan Agama Hindu 61/76 . atau jangan memiliki rasa dengki dan in hati terhadap orang lain. b. Untk dapat berbuat mudita. kesengsaraan atau jangan bengis. Untuk dapat berbuat maitri. Untuk dapat berbuat karuna. maka pantang melakukan perbuatan yang menyebabkan terjadinya penderitaan. tersiksa.

2. harmonis dan damai. Tanpa keselamatan dalam hidupnya. Untuk dapat berbuat upeksa. Tri Parartha berarti tiga prihal yang dapat menyebabkan terwujudnya kesempurnaan. dan bhakti merupakan ajaran agama Hindu yang patut dihayati dan diamalkan dalam hidup dan kehidupan mi. Dengan demikian diantara kita sesama makhluk ciptaan Tuhan hendaknya dapat hidup berdampingan serasi. dan semuanya itu hendaknya diwujudkan sebagai amal dan ibadah (yajna Pendidikan Agama Hindu 62/76 . selaras. guna tetap tegaknya dharma. kesejahteraan dan kebahagiaan adalah merupakan kebutuhan hidup umat manusia yang vital mesti dinikmati dalam hidup dan kehidupannya. 3. Asih artinya cinta kasth. 5. Keselamatan. kebahagiaan. keselamatan. Kitab Rg Weda menyebutkan sebagai berikut: Ajaran berdhana punia yang didasari dengan cara bhakti dan rasa cinta kasih mempunyai suatu manfaat yang amat penting dalam hidup dan kehidupan mi. Berdasarkan ajaran agama Hindu. manusia itu dapat menyelamatkan dirinya dengan jalan mengamalkan ajaran Tri Parartha. maka pantang menghina orang lain. Tri Parartha. Demikianlah ajaran Catur Paramita patut kita realisasikan dalam hidup dan kehidupan mi. memandang rendah orang lain. Bhakti artinya hormat. menindas orang lain atau selalu berusaha untuk mengendalikan dorongan hawa nafsu jahat.d. terdiri dari : 1. keagungan. umat manusia tidak akan dapat berbuat banyak dalam hidup dan kehidupan mi. Ajaran Catur Paramita sebagai realisasi dan ajaran Tat Twam Asi patut dijadikan pedoman oleh manusia untuk mewujudkan kehidupan mi yang sempurna. sujud. Adapun ajaran Tri Paratha yang dimaksud dapat mengantarkan umat manusia mencapai keselamatan dan kebahagiaan serta kesejahteraan hidupnya. Hidup saling mengasihi diantara kita adalah merupakan prilaku umat manusia utama yang dapat mengantarkan tercapainya kebahagiaan yang abadi (moksa). kesejahteraan. punya. tulus ikhlas. dan kesukaaan hidup umat manusia. Punya artinya dermawan. Tri Parartha adalah ajaran agama Hindu untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Asih .

dan sebagainya. Kemerosotan moral dapat dilihat di dalam tayangan-tayangan criminal seperti Sergap. 5. baik dalam bidang pendidikan. maupun di tingkat rumah tangga. itu mungkin baru sebagian kecil yang diungkap. Ajaran Tat Twam Asi sudah ditinggalkan menjadi individualistis. 2. Kurang adanya individu/organisasi/lembaga yang memfasilitasi tempattempat bimbingan dan penyuluhan moral bagi anak-anak/remaja yang menganggur. 6. mewujudkan ajaran wairagya (tidak terikat akan pengaruh benda-benda duniawillahiriah) yang dapat memuaskan indria/nafsu belaka manusia secara pribadi. maupun orang tha. sosial. Buser. Keadaan masyarakat yang kurang stabil. norma-norma/aturan tentang tuntunan moral. Patroli. Itu suatu pertanda bahwa banyak orang sudah mulai melepaskan konsep etika yang ada pada dirinya. 4. siaran-siaran.karma). Pendidikan Agama Hindu 63/76 . para remaja. ekonomi. dan bhakti) ini adalah menumbuhkan sikap mental masing-masing pribadi umat manusia. keseniankesenian yang kurang mengindahkan dasar-dasar. Semua umat Hindu hendaknya melakukan hal itu. Namun dewasa ini rupa-rupanya kalau secara jujur kita akui kemerosotan moral semakin hari semakin bertambah. Tujuan pokok dan ajaran Tri Parartha (asih. 7. punia. baik di lingkungan sekolah. Pendidikan moral belum terlaksana sebagaimana mestinya. Kurang tertanamnya jiwa agama pada setiap individu yang ada dalam masyarakat. dan keamanan. Diperkenalkannya secara populer obat-obatan dan sarana anti hamil. Situasi dan kondisi rumah tangga yang kurang stabil/baik. 3. Sesungguhnya banyak sekali tanda-tanda kemerosotan moral yang terjadi di lingkungan masyarakat baik itu dialami oleh anak-anak. politik. masyarakat. Banyaknya tulisan-tulisan. Adapun penyebabnya antara lain: 1. karena itu adalah merupakan kewajibannya untuk menegakkan dharma. gambar-gambar.

Oleh karena itu “Bhagawan Manu” menegaskan dalam kitabnya “Manawa Dharmasastra” 1110. Weda Smrti Pembagian dalam dua jenis ini dipakai selanjutnya untuk menamakan semua jenis buku yang dikelompokkan sebagai kitab Weda balk secara tradisional maupun secara institusional ilmiah.BAB VI KITAB SUCI WEDA SRUTI DAN WEDA SMRTI Rsi Manu membagi jenis isi Weda itu kedalam dua kelompok besar yang disebut. keduanya harus tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga karena keduanya adalah kitab suci yang menjadi sumber dari agama Hindu. (Dharma). Jadi Smrti merupakan. Kelompok Weda Sruti isinya hanya memuat wahyu sedangkan kelompok Smrti isinya adalah sebagai ingatan kembali terhadap Sruti. Kelompok Weda Sruti menurut Bhagawan Manu merupakan Weda yang sebenarnya ada Weda orisinal. (MDs. Kedua-duanya merupakan sumber Hukum yang mengikat yang harus diterima. dari akar kata Crt Yang berarti mendengar langsung. Weda Sruti 2. Bila dibandingkan dengan ilmu politik Sruti adalah merupakan UUD nya Hindu sedangkan Smrti adalah UU Pokok dan UU. 1. Weda Sruti Kata Sruti sesungguhnya berasal dan bahasa Sanskerta. te sartwarhawam imamsyo tabhyam dharmohi nirha bhau Artinya: Sesungguhnya Sruti (wahyu) adalah Weda demikian pula Smrti itu adalah Dharmasastra. 10) 1. sebagai berikut: Srutistu Weda Wijneyo dharmacastram tu wai Smrtih. II. Pelaksanaannya adalah Nibandha. Menurut sifat isinya weda ini dibagi atas tiga bagian yaitu: 1) Bagian Mantra 2) Bagian Brahmana (Karma Kanda) 3) Bagian Upanisad/ Arnyaka (Jnana Kanda) Pendidikan Agama Hindu 64/76 . Jadi Weda Sruti adalah Kelompok Weda yang ditulis oleh para Maha Rsi melalui pendengaran langsung dan wahyu Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan. buku pedoman yang isinya tidak bertentangan dengan Sruti.

merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran yang bersifat magis (Atharwan). Karena itu disebut Trayi Weda atau “Tri Weda” Pengenalan catur weda hanya karena kenyataan Weda ini secara sistimatik telah dikelompokkan atas empat Weda. Kitab mi terbagi atas dua aliran. yaitu: 1) Rg. Perbedaan pokok antara Yajur Weda Putih dengan Yajur Weda hitam hanya sedikit saja. atau kadang-kadang ada yang mengatakan 1875.Ad. merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran-ajaran umum dalam bentuk pujaan 2) Sama Weda Samhita . Weda. atau saman 3) Yayur Weda Samhita . Jenis Weda ini ada dua macam yaitu: a. Weda. b. Yajur Weda terdiri atas mantra-mantra yang sebagian besar berasal dan Rg. yaitu: 1) Yajur Weda hitam (krsna Yajur Weda). Yajur Weda hitam (Kresna yajurweda) yang terdiri atas beberapa resensi antara lain. pluralnya Yajumsi). yang juga disebut Maitraneyi samhita. Yajur Weda putih terdiri atas mantra-mantra dan doa-doa yang harus diucapkan pendeta di dalam upacara.1. Mantra Bagian mantra terdiri dan empat himpunan (samhita) yang disebut catur weda samhita. Taitiriya samhita dan Maitrayanisamhita. tiga kelompok pertama sering disebut-sebut sebagai mantra yang berdiri sendiri. Menurut Bhagawan Patanjali. merupakan kumpulan mantra-mantra memuat ajaran umum mengenai lagu-lagu pujaan. Pendidikan Agama Hindu 65/76 . merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran umum mengenai pokok-pokok yajnya (yajus.) 2) Yajur Weda putih (Sukla yajur weda. sedangkan mantra-mantra didalam Yajurweda hitam terdapat pula mantra-mantra yang menguraikan arti Yajna. 4) Atharwa Weda samhita . Bagian terakhir ini merupakan bagian tertua dari Yayur Weda itu. Pembagian empat kelompok isi weda itu yaitu: 1) Rg Weda Samhita . Weda atau Rg. Yajur Weda putih (Sukla yajurweda). Menurut penelitian Samaweda terdiri atas 1810 mantra. Wedasamhita 2) Sama Weda atau Samawedasamhita 3) Yayur Weda atau Yayurwedasamhita 4) Atharwa Weda atau Atharwawedasamhita Dari keempat kelompok Weda itu. ditambah dengan beberapa mantra tambahan baru. juga dikenal Wajasaneyi samhita). Samaweda terdiri atas mantra-mantra yang berasal dari Rg. kitab ini terdiri atas 101 resensi yang sebagian besar sudah lenyap. Tambahan ini umumnya berbentuk prosa.

Kitab Yajur weda memiliki beberapa kitab “Brahamana” Yajur weda hitam (krsna Yajur Weda) memiliki Taittiriya Brahmana. Kitab Rg. Kadang-kadang Brahmana diartikan penjelasan yang menjelaskan arti kata ucapan mantra. Atharwa Weda mi memiliki kitab “Gopatha Brahmana” Ad. Kitab mi memuat legenda (ceritera-ceritera kuno) yang dikaitkan dengan upacara Yajna. Himpunan buku-buku ini disebut Brahmana. Sebagaimana halnya dengan tiap-tiap mantra memiliki kitab Brahmana. Yajur Weda putih (Sukia Yajurweda) memiliki Satapatha Brahmana.2. Himpunan mi merupakan bagian Jnana Kanda dari pada Weda Sruti. Resensi Paipplada ad. Brahmana berarti doa. Bagian terakhir dan kitab mi merupakan sumber bagian kitab “Brhadaranyakapanisad”. Weda. Resensi Saunaka. Demikian pula tiap-tiap mantra memiliki kitab-kitab Aranyaka atau Upanisad. Nama ini disebut demikian karena kitab ini terdiri atas 100 adhyana. Resensi ini paling terkenal dan terbagi atas 21 buku b. Di dalam kitab Brahmana ini mula-mula kita jumpai ceritra Sakuntala. Pendidikan Agama Hindu 66/76 . Punirawa. Yajur Weda dan Atharwa Weda) memiliki Brahmana. Bagian Upanisad/Aranyaka Aranyaka atau Upanisad adalah himpunan mantra-mantra yang membahas berbagai aspek teori mengenai ke Tuhanan. Disamping itu ada pula “Sadwimsa Brahmana” Kitab ini terbagi atas 25 buku dimana bagian terakhir yang terkenal adalah kitab “Adhuta Brahmana” merupakan jenis “Wedangga” yang memuat mengenai ramalan-ramalan dan penjelasan mengenai berbagai mujijat.Atharwa Weda yang disebut atharwawedangira. 3. Weda memiliki dua jenis buku Brahmana yaitu Aitareya Brahmana dan Kausitaki Brahmana (Sankyana Brahmana). Himpunan ini merupakan bagian teori mengenai ke Tuhanan. Kitab Samaweda memiliki kitab Tandnya Brahmana yang juga sering dikenal dengan nama “Pancawimsa “. Kitab mi terpelihara dalam dua resensi yaitu: a. Kitab mi memiliki 5987 mantra (puisi dan prosa). Weda. Jadi kitab Brahmana adalah kitab yang berisi himpunan doa-doa yang dipergunakan untuk keperluan upacara yajna. Bagian Brahmana (Karma Kanda) Bagian kedua yang terpenting dan kitab Sruti ini adalah bagian yang disebut “Brahmana” atau “Karma Kanda”. Sama Weda. merupakan kumpulankumpulan mantra-mantra yang juga banyak berasal dan Rp. Tiap-tiap mantra (Rg. Urwasi dan ceritra-ceritra tentang ikan.

Nada-bindu. Brhajjabala. Niralambha. Rg. Garbha. Atharwasira. Jabala. Awyaka. Brahma. Adapun perincian dan pada kitab-kitab Upanisad itu adalah sebagai berikut: 1. Sarabha. Yogacudamani. Kaiwalya. dan Atharwa Weda terdiri atas 50 sakha Berdasarkan jumlah sakha itu. dan Bahwrca Upanisad. Saubhagya. Swetaswastara. Nirwana. Sandilya. Kalisandarana. Tripuratapini. Adhyatma. Maitrayani. Yajnawalkya. Matrika. yaitu antara lain: a. 3. Wasudewa. Wahara. Brhadaranyaka. Atharwa sikha. Narayana. Upanisad yang tergolong jenis Yajurweda.Kelompok kitab-kitab ini disebut rahasya Jnana karena isinya membahas hal-hal yang bersifat rahasia. Sukharahasya. Aruni. yaitu 1180 sakha. Rudrasajabala. Semuanya berjumlah sembilan belas Upanisad. Asartanada. Dewi. Prramahamsa. Sita. Mandala brahmana. Sariraka. Parabrahma. Adwanyataraka. Paramahamsapariwrajaka. Maitreyi. Atmaprabedha. Sriniwasa Murti didalam introdusi kitab saiwa Upanisad mengemukakan bahwa tiap-tiap sakha (cabang ilmu) Weda merupakan satu upanisad. Gamapati. Katagnirudra. Pinggalabhiksu. Hamsa. Gopalatapini. Atma. Sakanda. Hayagriwa. Aksamalika. Ekaksara. Krsna. Ramatapini. 2. Upanisad yang tergolong jenis Rg. Ramarahasya. Dari catatan yang ada: 1. Mahanarayana. semuanya berjumlah tigapuluh dua Upanisad. Untuk jenis Yajur Weda putih. Di dalam penelitian berbagai naskah kitab suci Hindu Dr. 4. Sanyasa. 2. Munduka. terdiri dan: Isawasya. Tripura. Upanisad yang tergolong jenis Atharwa Weda. Annapurna. yang semuanya berjumlah sepuluh Upanisad. Pasupata. G. b. dan Saraswatirahasya. Semuanya berjumlah tiga Pendidikan Agama Hindu 67/76 . Yogasikha. Brahma. Turiyatita. 3. Sawitri. dan Garuda Upanisad. Mudgala. Dattatreya. Kondika. Kausitaki. Awadhuta. Subata. Darsana dan Jabali. Aksi. jumlah upanisad yang disebut secara tegas adalah sebanyak 108 buah buku. Amrtabindu. maka jumlah upanisad seyogyanya ada banyak 1180 buah buku tetapi berdasarkan catatan Muktikopanisad. Upanisad yang tergolong jenis Sama Weda yaitu antara lain: Kena. Bhawana. Taittriyaka. Trisikhibrahmana. Mandukya. Weda yaitu antara lain: Aitareya. Satyayani dan Muktika. Wajrasucika. terdiri atas Kathawali. Mahat. Chandogya. Untuk jenis Yajur Weda Hitam. yaitu antara lain: Prana. Sarwasara. Pranagnikotra. Nrsimhatapini. Weda terdiri dan 21 sakha Sama Weda terdiri atas 1000 sakha Yajur Weda terdiri atas 109 sakha. Surya. Kausika. Semuanya berjumlah enambelas Upanisad. Tejebindu. Tarasara. Naradapariwrajaka. 4. Mahawakya.

kita temukan dalam beberapa kitab agama Hindu. Kitab Smrti adalah kitab Veda juga.puluh satu upanisad. Kata Smrti berasal dari bahasa Sansekerta. Smrti adalah kitab suci Weda yang ditulis berdasarkan ingatan oleh para Maharesi bersumberkan pada Veda Cruti. Oleh karena itu pergunakanlah Pendidikan Agama Hindu 68/76 . semua buku-buku itu adalah merupakan sumber utama dan kedudukannya mutlak perlu dihayati. Keterangan tentang hal tersebut di atas. Bab 11. yang juga disebut Dharma atau Dharma Sastra. karena fungsi dan kedudukannya dipersamakan dengan kitab Veda Cruti. Dharma berarti hukum dan sastra berarti ilmu. Dharma Sastra berarti Ilmu Hukum Agama Hindu. kenangan. dan Upanisad diats. Dengan demikian kitab-kitab Smrti tidak boleh bertentangan dengan Weda Cruti. Kitab Smrti memuat tentang ajaran hukum agama Hindu. 2. tradisi yang berwenang. sesudah Veda Sruti. menjadi kata smrti (feminime) berarti: ingatan. Kitab Smrti adalah merupakan kitab pendukung dan penjelasan dan kitab Weda Cruti. dari kata smrta (neuter) berarti: ingatan. kedua macam pustaka suci mi tidak boleh diragu ragukan kebenarannya mengenai apapun juga karena dan keduanya itu hukum inL Berdasarkan uraian di atas. antara lain: Kitab Menawa Dharma Castra.10 menyebutkan sebagai berikut: Crutistu Wedo Wzjneyo dharmacastram tu wai smrtih te sarwarthes wamimansye tabhyam dharmohi nirbabhau artinya: yang dimaksud dengan Cruti ia!ah Weda dan dengan Smrti adalah Dharma Sastra. jelas bahwa kitab Sruti meliputi jumlah yang cukup banyak. Untuk mendalami dharma. Dengan memperhatikan deretan nama nama kelompok Mantra. Brahmana. dengan jelas dapat kita pahami bahwa Smrti merupakan kitab suci agama Hindu. Kitab Smrti adalah kitab suci Veda yang ditulis berdasarkan ingatan oleh para Maharesi dan wahyu Sang Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa. yang ditulis oleh banyak Maharesi. Weda Smrti Smrti merupakan kitab suci agama Hindu.

Kelompok Vedangga b. keamanan. kita hendaknya terlebih dahulu mendalami Vedangga. badan. Tattwa Suksma. Pendidikan Agama Hindu 69/76 . untuk dapat menghayati Veda dengan benar. Untuk dapat mengucapkan mantra (Weda Cruti) dengan baik. yang terdiri dan: a. Jadi Vedangga berarti batang tubuh dari Veda. Niti Sastra. Yajna Pawitra dan Brahmanda Purana. Jenis atau kelompok Vedangga Kata Vedangga. juga disebut dengan nama Pratisakhya. Untuk dapat mempelajari. Kitab-kitab suci yang tergolong jenis kitab Smrti itu banyak jumlahnya. antara lain 1) Siksa (Phonetika) Siksa adalah kitab Vedangga yang isinya menguraikan tentang petunjukpetunjuk tata cara mengucapkan mantra yang tepat sesuai dengan tinggi-rendahnya tekanan suara. Hal semacam ini disebabkan oleh munculnya berbagai macam kebutuhan masyarakat (umat Hindu) yang diisarakat oleh Veda dalam mencapai keadilan. kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Sarasamuccaya. Yoga Sutra. jenis kitab-kitab Smrti perlu dipergunakan sebagai pedoman hidup (dipedomani). antara lain: Manawa Dharma Sastra. Berdasarkan kebiasaan yang telah berjalan. Beberapa kitab suci agama Hindu yang termasuk kitab Smrti. Clokantara.kitab kitab sastra sebagai petunjuk untuk menentukan tentang segala sesuatu yang harus kita kerjakan dan untuk dapat mengetahui apa yang patut kita kerjakan. Bharatayudhya. Oleh karenanya kitab Wyakarana ini memiliki fungsi yang sangat penting di dalam kita mempelajari Veda. terdiri dan beberapa kitab. tanpa mengerti dan mengetaui tata bahasanya. Cilakrama. fungsi kitab siksa ini adalah sangat penting. Veda berarti ilmu pengetahuan suci dan angga berarti bagian. dan penulisnyapun banyak pula. dan mendalami Veda dengan baik. Manu Smrti. terdiri dan kata: Veda dan Angga (bahasa Sansekerta). jenis kitab-kitab dikelompokkan menjadi dua (2) kelompok besar. Dalam hubungannya dengan mempelajari mantra (Weda Cruti) kitabkitab siksa. Untuk dapat mengamalkan Veda secara benar di dalam upaya mewujudkan tujuan hidup secara rohani dan jasmani. kecil kemungkinannya dapat diketahui. dasar. Kelompok Upaveda Smrti a. anggota. 2) Wyakarana (Tata Bahasa) Kitab Wyakarana isinya menguraikan tentang tata bahasa. memahami. Ramayana. Vedangga sebagai kitab Smrti. sumber.

Kedua kitab ini dihimpun oleh Begawan Pinggala. Begawan Panini adalah orang suci yang pertama kali mengenalkan kata bahasa Sanskerta popular (bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat) dan bahasa Daiwak yaitu bahasa para Dewa-Dewa. Melalui pengetahuan yang terdapat dalam kitab Jyotisa juga kita dapat memahami. Hal ini kita dapat persamakan dengan berbagai macam nyanyian yang dapat dinyanyikan dan mudah diingat. isinya yang terutama adalah menguraikan tentang peredaran tata surya. Di antara orang suci tersebut di atas. yang terdapat masih sampai sekarang adalah kitab Jyotisa Wedangga. 6) Kalpa Kitab Kalpa adalah jenis kitab Smrti (Vedangga) yang isinya berhubungan dengan kitab Brahmana dan kitab-kitab mantra. Rg. Kitab Kalpa mi terdiri dan beberapa bidang kitab antara lain: Pendidikan Agama Hindu 70/76 . Dalam mempelajari Veda kita perlu mendalami kitab Chanda. Di antara kitab Jyotisa. Kitab Nirukta ditulis oleh Begawan Yaska pada tahun ± 800 SM. bulan dan badan angkasa lainnya yang dipandang dan dianggap memiliki pengaruh dalam pelaksanaan yadnya. yang menguraikan tentang pokokpokok pengetahuan dalam bidang astronomi. yang masih terdapat utuh sampai sekarang ada dua buah buku. 3) Chanda (Lagu) Chanda adalah cabang Veda yang secara khusus membicarakan tentang aspek ikatan bahasa dalam Veda yang disebut lagu. Kitab mi memiliki hubungan dengan kitab Veda Cruti. bahwa bagaimana Veda mengajarkan kepada umatnya untuk dapat berhubungan secara harmonis dengan alam dan lingkungannya berdasarkan yadnya. Veda. dan Begawan Yaska.Para Maharesi yang mendalami tentang tata bahasa (Veda) adalah : Maharesi Sakatayana. yaitu : Midana Sutra dan Chanda Sutra. Beliau menulis Kitab Asta Dhyayi dan Patanjali Bhasa. 4) Nirukta Kitab-kitab Nirukta berisikan tentang penafsiran otentik yang berhubungan dengan kata-kata yang terdapat dalam Veda. Maharesi Patanjali. dan Yajur Veda. Kitab 5) Jyotisa (Antronomi) Kitab Jyotisa. Dan berbagai macam kitab-kitab Chanda. Kitab Jyotisa adalah kitab pendukung Veda. karena bersumberkan pada pendalaman kitab Chanda semua ayat-ayat Veda dapat dipelajari secara turun temurun. Begawan Panini. yang terkenal adalah Begawan Panini.

b) Bidang Grhya Kitab Grhya Sutra. isinya menguraikan tentang berbagai macam aspek mengenai peraturan hidup bermasyarakat dan bernegara. isinya memuat tentang petunjuk dan peraturanperaturan mengenai tata cara membuat dan mendirikan tempat suci untuk beribadat (Pura. isinya memuat berbagai macam ajaran mengenai tata cara melakukan yadnya. yang diterapkan untuk masing-masing bagian Catur Yuga adalah memiliki sifat saling mengisi atau melengkapi di antara sam dengan yang lainnya. Di antara keempat kitab Dharma Sastra tersebut. Pendidikan Agama Hindu 71/76 . maka terdapatlah kesan bahwa Veda Smrti itu adalah Dharma Sastra. Kitab Dharma Sutra dipandang sebagai kitab yang sangat penting di antara kitab-kitab jenis Kalpa. Agama Hindu mengajarkan kepada umatnya. (3) Pada masa Dwapara Yuga berlaku kitab Dharma Sastra buah karya Bhagawan Sankha Likhita. bahwa masing-masing yuga dan Catur Yuga mempunyai Dharma Sastranya tersendiri. d) Bidang Suliwa Kitab Suliwa Sutra adalah merupakan bagian terakhir dan kitab-kitab Kalpa. bahwa dalam hidup dan kehidupan kita ini. bangunan—bangunan lainnya yang berhubungan dengan arsitektur. Karena dipandang sangat penting. Kitab Dharma Sutra juga disebut Dharma Sastra. Candi).a) Bidang Srauta Kitab Srauta atau juga disebut Srauta Sutra. isinya menguraikan tentang berbagai ajaran mengenai aturan pelaksanaan yadnya yang mesti dilaksanakan oleh orang-orang / masyarakat (umat Hindu) yang telah hidup berumah tangga c) Bidang Dharma Sutra Kitab Dharma Sutra. (4) Pasa masa Kaliyuga dipergunakanlah Dharma Sastra yang ditulis oleh Bhagawan Parasara. Bhagawan Sankhalikhita. seperti: (1) Pada masa Satya / Krtha Yuga berlaku kitab Manawa Dharma Sastra karya sastra dan Bhagawan Manu. Kitab Sulwa Sutra ini. dilalui oleh empat zaman atau juga disebut Catur Yuga. (2) Pada masa Trita Yuga berlaku kitab Dharma sastra yang ditulis oleh Bhagawan Yajnawalkhya.

Kata “upa” dapat diartikan “dekat” dan kata “veda” berarti “pengetahuan suci (kitab suci)”. Jenis kitab Artha Sastra yang digubah di Indonesia adalah jenis Usana dan Niti Sastra. serta Sukraniti. roman. seperti : Bhagawan Usana dan Bhagawan Parasara. Itihasa adalah sebuah epos yang menceritakan sejarah perkembangan raja—raja dan kerajaan Hindu di masa lampait. Kitab Itihasa terdiri dan kitab Ramayana (terdiri dan 7 kanda) dan Mahabharata ( terdiri dan 18 parwa). Nama Itihasa pada mulanya diberikan oleh penulis kitab Mahabharata pada bagian Adiparwa yaitu Bhagawan Wiyasa. 4) AyurWeda Kitab Ayur Weda kelompok kitab Upaweda. Itihasa adalah karya sastra yang bersifat spiritual. Kitab Purana berisikan berbagai macam cerita dan keterangan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku pada zaman dahulu kala (kuno).b. adajuga Bhagawan yang lainnya. 1) Itihasa Kitab Itihasa dikelompokkan dalam kitab-kitab Upaweda. yang terdiri dan dua kata. Upaweda berarti dekat dengan Veda (Pengetahuan suci). Jenis atau Kelompok Upaweda Kitab-kitab Upaweda merupakan kitab kelompok kedua dan Veda Smrti. Wisnugupta. Upaweda juga diartikan Veda tambahan. Jejak beliau di dalam tulis-menulis kitab-kitab “Artha Sastra” diikuti oleh Maharesi Kautilya (Canakhya). Artha Sastra sebagai bagian dan kitab Upaweda. Bharadwaja. Kitab-kitab yang tergolong kitab Artha Sastra yang lainnya adalah Niti Sastra atau Rajadharma (Dandaniti). kewiraan dan mitologi. yakni “Iti-ha-sa” yang artinya “sesungguhnya kejadian itu begitulah nyatanya. di mana ceriteranya penuh filsafat. antara lain . Kata upaweda berasal dan bahasa Sanskerta. Kitab Upaweda memiliki fungsi sama pentingnya dengan kitab-kitab Smrtti yang lainnya. Adapun nama kitab yang termasuk kelompok kitab Ayur weda Pendidikan Agama Hindu 72/76 . Danding. Kata Ityihasa terdiri dan tiga suku kata. Di samping Maharesi Kautilya yang mengikuti Bhagawan Brhaspati dalam menulis kitab-kitab Artha Sastra. yang isinya menguraikan tentang bidang ilmu kedokteran atau kesehatan baik rohani maupun jasmani. yaitu : kata upa dan veda. ditulis oleh Bhagawan Brhaspati. Kitab Upaweda terdiri dan beberapa cabang ilmu. setelah kitab-kitab Vedangga. 3) Artha Sastra Kitab Artha Sastra mi berisikan tentang pokok-pokok pemikiran bidang ilmu politik. dan Wisalaksa. 2) Purana Kitab Purana adalah bagian dan kitab—kitab Upaweda.

dan merupakan dasar bagi ilmu jiwa anak-anak f) Agada Tantra yaitu ilmu toxikologi g) Rasayama Tantra yaitu ilmu mujizat.adalah kitab Caraka Samhita. Disamping itu pula kita Susruta Samhita mencatatkan berbagai macam alat-alat yang dapat dipergunakan dalam pembedahan. Kitab Susruta Samhita ditulis oleh Bhagawan Susanta. Kasyapa Samhita. Kitab mi isinya menguraikan tentang pentingnya ajaran umum di bidang ilmu bedah. Kitab Susruta Samhita ditulis oleh Bhagawan Susanta. dan h) Wajikarana Tantra yaitu ilmu jiwa remaja Kitab Caraka Samhita merupakan baginn dan kitab Ayur Weda. Di samping itu pula kitab Susruta Samhita mencatatkan berbagai macam alat-alat yang dapat dipergunakan dalam pembedahan. Kitab mi isinya menguraikan tentang pentingnya ajaran umum di bidang ilmu bedah. Susruta Samhita. Kitab tersebut mernuat delapan bidang ajaran. Berdasarkan materai yang terdapat dalam kitab Ayur Weda maka isi kitab Ayur Weda meliputi delapan bidang ajaran umum. Berdasarkan catatan yang ada kitab Kalpasthana dan Kitab Siddhistana telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan Persia pada tahun 800 Masehi. Astanggahrdaya. antara lain: a) Sutrathana : isinya menguraikan tentang ilmu pengobatan b) Nidanasthana : isinya memuat tentang berbagai penyakit yang bersifat umum c) Wimanasthana : isinya menguraikan tentang ilmu pathologi d) Sarithana : isinya menguraikan tentang ilmu anatomi dan embriology e) Indiyasthana : isinya menguraikan tentang materia diagnosa dan prognosa f) Cikitasasthana : isinya menguraikan tentang ajaran khusus mengenai pokok-pokok ilmu therapy g) Kalpasthnana : isinya menguraikan tentang ajaran di bidang theraphy secara umum h) Siddistana : isinya juga menguraikan tentang pokok-pokok di bidang therapy secara umum. Pendidikan Agama Hindu 73/76 . Yogasara dan Kama Sutra. yaitu: a) Salya yaitu ajaran mengenai ilmu bedah b) Salkya adalah ajaran mengenai ilmu penyakit c) Kayakitsa yaitu ajaran mengenai ilmu obat-obatan d) Bhuta Widya yaitu ajaran mengenai ilmu psikoteraphy e) Kaumara Bhrtya yaitu ajaran mengenai pendidikan anak-anak.

isisnya menguraikan tentang berbagai aspek cabang ilmu seni. Kitab Gandharwa Weda. juga memiliki beberapa bagian kitab-kitab lagi. Diantara kitab-kitab Kama Sastra yang terkenal adalah karya dan Bhagawan Watsyayana. dan yang lainnya. agama Hindu boleh dan dapat dipelajari oleh seluruh umat manusia. seni atau rasa indah. kaum Ksatrya. Kitab Kamasutra berhubungan dengan kitab Wajikarana Tantra. seperti: Natya Sastra. Pendidikan Agama Hindu 74/76 . umat beragama dipandang perlu untuk membangkitkan rasa indah tersebut. Kitab Kama Sutra ditulis oleh Bhagawan Watsyayana pada abad ke10 Masehi. Isinya menguraikan tentang ajaran ilmu jiwa remaja. Kedua kitab mi isinya menguraikan tentang pokok-pokok ilmu yoga yang berhubungan dengan sistem anatomi dalam pembinaan kesehatan. kepada kaum Brahmana. 6) Kama Sastra Kitab Kama Sastra adalah termasuk kitab suci agama Hindu pada bagian Smrti (Upaweda). Kebangkitan dan rasa indah manusia terbentuk untuk berbakti kepada Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa. Gandharwa Weda sebagai kitab Smrti. hendaknya dipedomani oleh Kama Sastra. kaum Sudra. Hal mi termuat dalam kitab Yajur Veda sebagai berikut: “Yaatkeram wacam kalyanin awadonijanebhyah. Kama Sastra sebagai bagian dan jenis kitab Upaweda isinya menguraikan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan asmara. 5) Gandharwa Weda Kitab Gandharwa Weda merupakan bagian dan kitab-kitab Upaweda.Kitab Yogasara dan Yogasastra ditulis oleh Bhagawan Nagarjuna. Menurut Veda. dan kaum Waisya dan bahkan kepada orang-orangKu dan kepada mereka (orang-orang asing) sekalipun. Dewa Dasa Sahasri. Brahma Rajanyabhyam cudraya caryaya ca siwaya caranayaca” Artinya: “Biar kunyatakan disini kitab suni ini kepada orang-orang banyak. Rasarnawa. kitab Natya Wedagama. baik jasmani maupun rohani. Rasaratnasamucaya. 7) Agama Kitab agama itu baru ada setelah Agama Hindu ada dan berkembang di dunia. Karena dengan demikian asmara dan rasa indah yang muncul itu tentu terarahlbernilai positif adanya. Di dalam upaya untuk mewujudkan salah sath tujuan hidup.

Weda çruti adalah kitab Wahyu Tuhan. disamping kebiasaan-kebiasaan yang baik dan orang-orang yang rnenghayati Veda (sila) dan kemudian tradisi-tradisi dan orang-orang suci (acara) serta yang terakhir ada!ah rasa puas din sendiri (atmanastusti) (Manawa Dharrna Sastra 11. Istilah cruti berarti Wahyu. Dan uraian di atas dapatlah kita simpulkan bahwa jumlah kitab-kitab Smrti yang dapat kita pergunakan sebagai petunjuk untuk menata kehidupan berhubungan dengan Sang Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa mewahyukan ajaran-Nya melalui orang-orang Suci untuk disebarkan pada kita semua. kelompok Brahmana. yang Pendidikan Agama Hindu 75/76 . RANGKUMAN Kitab suci adalah cara yang baik untuk memahami. banyak jenisnya. tidak terkecuali. maka tidak akan semuanya dapat mempelajarinya dengan sempuma. berdasarkan pengelompokannya ada yang disebut dengan nama Weda çruti dan Weda Smrti. Disamping itu kita juga perlu menyadari bahwa.(Yajur Veda XVI. menghayati dan mengamalkan ajaran Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa yang dianut oleh umat Hindu. 18) Berdasarkan bunyi Cloka tersebut di atas dinyatakan bahwa kitab suci Veda (Hindu) dapat dipelajari oleh siapa saja. Menurut sifat dan isinya Weda çruti dibedakan atas kelompok mantra. kelompok Ananyaka dan Upanisad. Kitab agama isinya memuat ajaran tentang keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa dan petunjuk-petunjuk untuk melaksanakan tata cara persembahyangan. Hal mi sesuai dengan ucapan kitab Smrti (Dharma Sastra) sebagai berikut: “Wedo ‘khilo dharma mulam smrti cue ca tad widam acaracca iwa sadhunam atmanastustir ceva ca” Artinya: Seluruh Weda merupakan sumber utama daripada dharma (agama Hindu) kemudian barulah Smrti.6) B. Weda sebagai kitab suci umat beragama Hindu. Veda sebagai sumber ajaran agama Hindu mengandung ajaran yang sangat tinggi. Bagi mereka yang belum dapat mempelajari Veda dapat belajar agama Hindu berdasarkan kitab-kitab agama. Ajaran beliau yang diwahyukan kepada Maha Rsi dituliskan pada buku. yang disebut kitab suci Weda. Namum menyadari akan kekurang sempurnaan kita sebagai umatnya. Kelompok mantra didasarkan atas pertimbangan fungsi dan kegunaannya di bagi menjadi empat. Semua ayatayat yang terdapat didalamnya merupakan Wahyu dan Tuhan yang kemudian dihimpun dalam beberapa buah buku menurut umurnya dan peruntukannya.

dan Purana adalah kitab-kitab Weda yang ditulis oleh para Rsi berdasarkan ingatannya. Mari kita dalami sastra-sastra agama. Salah satu kewajiban hidup manusia yang harus dikerjakan adalah menegakkan kebenaran.Weda Samhita. Sama Weda Samhita dan Atharwa Weda Samhita. Ethika (sosial. Kebenaran yang utama adalah kebenaran yang ada pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.dan engamalkan ajaran agama.sehingga kita dapat meningkatkan budi pekerti dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Manusia adalah mahiuk hidup yang diciptakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.menghayati. Itihasa. Kebenaran beliau dapat kita laksanakan dengan jalan memahami.ekonom i. Itihasa dan Purana berisikan-berbagai macam ajaran yang berhubungan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi beliau dan ciptaanNya.budaya. yang terkandung dalam kitab suci Weda Sruti maupun Smrti untuk dipergunakan didalam menuntun kehidupan kita sehari-hari. Sebagai insan Tuhan. Sudah menjadi kodratnya manusia untuk melaksanakan kewajiban hidupnya. manusia memiliki beberapa kewajiban yang mesti dilaksanakan dalam kehidupan mi. Smrti (Dharma Sastra) . Yajur Weda Samhita. Pendidikan Agama Hindu 76/76 .disebut Catur n Weda Samhita yaitu Rg. bersumber dan Wahyu Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Smrti.politik dan pertahanan/keamanan) serta upacara (ritual) agama.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->