MATERI PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU

KELAS XI SMK Oleh : Drs. I Wayan Pura Ys BAB I HUKUM KARMA DAN PUNARBHAWA Standar kompetensi Memahami Hukum Karma dan Punarbhawa Tujuan Pembelajaran Akhir Setelah mempelajari materi ini siswa diharapkan mampu : Mengerti dan memahami hukum karma . Mampu menjelaskan bagian –bagian hukum karma Mampu menguraikan hubungan hukum karma dengan punarbhawa Menjadikan hukum karma sebagai pegangan dalam prilaku Uraian Materi A. Pengertian Hukum Karma Karma berasal dari Bahasa Sansekerta yang artinya kerja atau berbuat. Konsep hukum karma adalah bahwa setiap perbuatan akan memberikan hasil yang disebut ( phala ). Sehingga setiap hasil yang dipetik atau diterima oleh seseorang atas perbuatannya disebut karma phala. Hukum karma adalah hukum Tuhan yang berlaku bagi semua orang. Tidak memandang apakah orang tersebut percaya atau tidak hukum karma tetap berlaku. Seperti hukum terbitnya matahari dari timur, orang buta ataupun orang eskimo yang tidak pernah melihat matahari, bukan berarti matahari tidak ada. Matahari tetap terbit dari timur. Demikianlah hukum karma berlaku bagi semua umat manusia dari semua negara, semua suku bangsa dan semua agama. Dalam ajaran Hindu , hukum karma merupakan ajaran sebagai landasan ajaran etika dan pegangan dalam mencapai tujuan hidup. Karma atau perbuatan ini ada tiga bentuk yaitu karma yang dilakukan oleh pikiran ( Manah ), karma dalam bentuk ucapan (waca ), dan karma dalam bentuk tindakan jasmanani ( kaya ). Jadi apapun bentuk aktivitas seseorang pasti ada phalanya (hasilnya) .Ini berarti tidak ada perbuatan yang tanpa membuahkan hasil, sekecil apapun kegiatan tersebut. Sedangkan jika dilihat dari baik buruknya maka perbuatan yang baik disebut Subha karma dan perbuatan yang buruk disebut Asubha karma. Materi Pelajaran Pendidikan Agama Hindu 1 1/76

B. Proses berlakunya karma phala Setiap aktivitas karma seseorang didasari oleh keinginan ( Iccha ). Timbulnya keinginan akan direspon oleh pikiran. Pikiran inilah yang akan mengambil keputusan untuk melakukan tindakan dalam bentuk ucapan ataupun tindakan jasmani. Keputusan pikiran sangat ditentukan oleh pengetahuan (jnana), kebijaksanaan ( wiweka), serta pengalaman hidup serta karmawasana seseorang. Jika digambarkan maka proses karma seseorang sebagai berikut : KEINGINAN

Pengetahuan PIKIRAN Pengalaman Hidup KARMA

Wiweka karmawasana

KARMA PHALA C. Wujud Karma phala Banyak orang menafsirkan bahwa wujud dari karma phala ( hasil perbuatan ) seseorang adalah berbentuk materi, seperti kekayaan, kecantikan atau ketampanan, jabatan, kehormatan dan sebagainya yang semata-mata diukur dari segi materi. Secara garis besar memang wujud karmaphala ada dua yaitu berbentuk fisik dan psikis( batin). Artinya hasil dari perbuatan tersebut dapat dirasakan secara langsung oleh badan jasmani melalui panca indria atau juga bisa memberikan suasana batin tertentu pada seseorang. Contoh: Jika seseorang pernah berbuat baik misalnya membantu orang yang jatuh di jalan , suatu saat ketika dia terjatuh di jalan akan ada orang lain yang menolong. Ini adalah phala secara fisik. Contoh lain mungkin ada orang yang suka menipu justru akan membuat hatinya tersiksa karena selalu was-was, selalu berprasangka bahwa tipu dayanya akan ketahuan oleh orang lain. Ini berarti secara psikis dia menderita. Pendidikan Agama Hindu 2/76

Wujud dari karmaphala yang akan diterima seseorang tidak dapat dipastikan. Artinya hasil karma tersebut bisa saja berbentuk fisik, atau psikis, ataupun kedua nya yaitu fisik dan psikis. Demikian pula kapan waktunya akan diterima seseorang atas perbuatannya juga merupakan rahasia Hyang Widhi. Yang jelas bahwa karmaphala itu ada dan akan hadir tepat pada waktunya. Diatas kedua wujud karmaphala di atas yang terpenting untuk menjadi tolok ukur atas hasil perbuatan seseorang adalah akibat dari wujud karmaphala tersebut. Artinya seseorang yang menerima karmaphala baik berwujud fisik maupun psikis apakah mengakibatkan adanya peningkatan kualitas sradha atau tidak. Apakah menyebabkan kebahagiaan atau penderitaan? Contoh : Seseorang yang mendapatkan uang sangat banyak dari hasil judi, diukur dari segi fisik tentu menyenangkan. Tetapi kemenangan itu justru menyebabkan dia semakin tergila-gila pada judi, suka berfoya-foya semata-mata memenuhi nafsu keinginannya. Suatu saat jika dia kalah berjudi maka kekesalan dan kemarahannya akan dilempahkan pada orang lain, seperti anak atau istrinya. Ini menunjukkan bahwa uang yang diperoleh dari hasil judi tersebut bukan karmaphala yang baik, karena akibat dari uang yang diterima terebut justrui menjerumuskan dirinya pada karma-karma yang lebih buruk. Contoh lain mungkin ada seseorang yang secara fisik cacat jasmani, tetapi dengan kekurangannya tersebut memberikan dia inspirasi dan kesadaran bahwa hidup ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan fisik, sehingga dia menjadi orang yang teguh sradha bhakti, serta senantiasa merasa tentram . Jadi cacat jasmani tersebut bukan hasil karma buruk tetapi merupakan hasil karma baik yang membawa kebahagiaan bagi dirinya. Seperti halnya seseorang minum obat pahit untuk kesembuhan dari penyakitnya. Kesimpulannya: Karmaphala yang baik adalah yang dapat meningkatkan kualitas sradha bhakti untuk mencapai kebahagiaan lahir batin ( moksartham jagat hita ) Karmaphala yang buruk adalah yang menyebabkan seseorang menderita lahir batin dan menurunkan kualitas sradha bhakti. D. Dampak karma bagi seseorang Setiap karma yang dilakukan setidak-tidaknya ada tiga akibat yang terjadi : 1. Karma akan memberi akibat atau balasan atas setiap perbuatan manusia. Baik atau buruk yang akan diterima sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya. 2. Karma akan memberi kesan tersendiri kepada pelakunya yang akan melekat pada pikiran pelakunya. Pendidikan Agama Hindu 3/76

Pendidikan Agama Hindu 4/76 . Kramana karma adalah pahala yang diterima seseorang pada kehidupan ini atas hasil dari perbuatan ( karmanya ) pada kehidupan yang lampau. Laksanakan semua kewajiban sebagai yadnya dan bhakti kepada Ida sang Hyang Widhi. Kryamana Karma Sancitha karma adalah karma atau perbuatan yang dilakukan pada masa hidup di dunia baru akan menerima pahalanya setelah meninggal dunia Prarabdha karma adalah karma atau perbuatan seseorang yang pahalanya langsung diterima pada kehidupan ini. atas pahala atas karma kita masa kini. Sanchita Karma 2.3. kepada mereka yang senantiasa gigih demikian itu. Kita harus yakin bahwa apapun yang kita alami pada kehidupan ini adalah hasil perbuatan diri sendiri. E. Jika hal itu sudah dilakukan maka Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik bagi kita. akan Aku bawakan segala apa yang belum dimilikinya dan akan menjaga yang sudah dimilikinya. selalu melekat pada setiap kelahirannya. selalu berbuat kebaikan serta tetap yakin dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Tiga Macam Karma Jika dilihat dari segi waktu hasil karma seseorang maka dapat digolongkan menjadi tiga macam yaitu : 1. Mengenai kapan waktu kita akan menerima pahala atas karma yang kita lakukan juga merupakan rahasia Ida sang Hyang Widhi. Bisa saja merupakan pahala atas karma kita pada kehidupan terdahulu. Apa yang seharusnya kita butuhkan pasti akan terpenuhi. Bukan karena orang lain. sebagaimana wahyu Beliau dalam Kitab Bhagawad Gita Bab IX Sloka 22 : Mereka yang memuja-Ku dan hanya bermeditasi kepada-Ku saja. Karma yang memberi kesan dan menjadi kepribadian jiwatman inilah yang merupakan karmawasana setiap orang. Oleh karena itu yang terbaik harus dilakukan adalah melaksanakan tugas sebaik-baiknya. Prarabdha Karma 3. Karma akan membentuk kepribadian seseorang. Manfaat kita mengetahui jenis-jenis karma tersebut adalah untuk meningkatkan sradha dan bhakti kepada Hyang Widhi. Meskipun kita menggolongkan karma tersebut seperti di atas tetapi dalam kenyataan sangat sulit bagi kita untuk mengidentifikasi setiap karma yang kita terima saat ini.

Pahala karma bisa saja dirasakan melalui tangan manusia. c. Tetapi bagaimana bentuk pahala dari karma yang harus dinikmati pada kehidupan ini? Tentu saja akibat karma akan dirasakan oleh seseorang melalui interaksi dengan lingkungan. Setiap karma yang terjadi akan menjadi penyebab untuk karma-karma berikutnya. Pahala karma di dunia bisa diterima melalui tangan manusia atau alam lingkungan. Dalam peristiwa tersebut Budi menerima pahala dalam bentuk pertolongan dari Andi. serta bisa juga dari alam. bukan berarti dia terbebas atas karma yang diperbuatnya itu tetapi pahala akan selalu mengikuti karma yang dilakukannya. atas perbuatannya menolong budi dia juga akan mendapat pahala atas karma tersebut. Misalkan Andi menolong Budi yang terjatuh dari sepeda motor. Bencana alam bukanlah hukuman Tuhan. Itu adalah hasil karma kita yang mungkin kita sudah lupa kapan melakukannya. Jika karma seseorang harus diterima setelah meninggal dunia maka atmannya akan menuju sorga atau neraka. Kesimpulannya : a. tumbuhan. sehingga disaat yang tepat kita akan menerimanya. Pendidikan Agama Hindu 5/76 . tetapi semua itu akibat perbuatan manusia sendiri. Contoh sederhana mungkin suatu ketika kita menerima bantuan dari orang lain dimana pada waktu tersebut kita benar-benar memerlukan pertolongan tersebut. Setiap peristiwa karma yang melibatkan lebih dari satu manusia maka akan ada pihak penerima pahala atas karmanya dan ada pihak sebagai pembalas karma sekaligus pelaku karma untuk dirinya. baik alam maupun sesama manusia. d. Sehingga manusia disamping akan menerima pahala atas karmanya. b. Dalam peristiwa tersebut yang menjadi alat Tuhan untuk menyampaikan pahala atas karma tersebut adallah manusia ( orang lain). pahala tersebut mungkin saja atas kebaikan Budi di waktu lalu Dalam kasus ini Andi adalah sebagai alat pembalas karma perbuatan Budi di masa lalu. tetapi juga sebagai alat untuk membalas karma orang lain. binatang.F. Kejadian ini buakanlah suatu kebetulan. Jadi setiap peristiwa karma yang melibatkan lebih dari satu orang maka dalam peristiwa tersebut ada dua jenis proses karma yang terjadi yaitu ada pihak yang menerima hasil karmanya dan ada orang yang yang berkarma dimana hasilnya belum diketahui kapan akan diterima. Meskipun manusia adalah alat pembalas karma. Demikian pula alam bisa saja sebagai alat pembalas karma. Meskipun Andi sebagai alat . Pahala atas karma seseorang dapat diterima di alam niskala ( sorga atau neraka ) juga bisa dinikmati pada saat hidup. Pelaksana Karmaphala Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa wujud karmaphala bisa berbentuk fisik bisa juga berbentuk psikis.

perputaran rantai makanan. Pengertian sederhana adalah bahwa pada saat seseorang meninggal dunia maka jiwatman akan melepaskan badan jasmaninya ( stula sarira ). G. kemudian meninggal maka akan mengalami perputaran untuk lahir kembali. Ada perputaran siang dan malam. Proses jiwatman meninggalkan stula sarira kemudian lahir kembali menggunakan jasmani yang baru inilah disebut Punarbhawa. Pendidikan Agama Hindu 6/76 . demikian juga bila ia berpindah ke badan yang lainnya. sloka 13 ) Bagaikan seseorang yang menanggalkan pakaian usang dan mengenakan pakaian lain yang baru. Orang bijaksana tak akan terbingungkan oleh hal ini. Jika kita perhatikan bahwa alam ini semuanya mengalami siklus ( perputaran ). Untuk memahami dan meyakini hukum punarbhawa bisa kita lakukan secara logika maupun dengan meyakini Wahyu Tuhan melalui kitab-kitab suci. ( Bab II. dan masih banyak lagi jenis-jenis perputaran kehidupan. Untuk meningkatkan kualitas jiwatman maka setelah waktu tertentu jiwatman kembali kedunia dengan menggunakan badan jasmani yang baru. remaja dan usia tua. demikianlah jiwatman yang berwujud mencampakkan badan lama yang telah usang dan mengenakan badan jasmani baru. Demikian juga manusia yang lahir. sloka 27). sehingga terhadap hal yang tak terrelakkan ini janganlah engkau berduka. Dalam rangka meningkatkan karma baik maka pada saat berdoa mohonlah agar kita senantiasa menjadi alat pembalas karma yang baik. Kemudian dalam Kitab Suci Bhagawad gita beberapa sloka menyiratkan secara jelas tentang punarbhawa . Bahkan planet-planet ini bisa stabil pada tempatnya karena berputar. Intinya bahwa segala sesuatu di alam ini mengalami perputaran sehingga bisa stabil. PUNARBHAWA Punarbbhawa atau tumimbal lahir atau samsara adalah bagian keempat dari Panca Sradha sebagai dasar keyakinan Umat Hindu. Perputaran waktu. kematian sudahlah pasti dan pasti ada kelahiran bagi mereka yang mati. tumbuh besar.e. perputaran dari air laut mejadi awan. kemudian turun hujan dan kembali ke laut. ( BabII. antara lain : Seperti halnya sang jiwatman yang melewatkan waktunya dalam badan ini dari masa kanak-kanak. ( Bab II. menuju sorga atau neraka. sloka 22 ) Bagi seseorang yang lahir. Dari pemahaman ini jelas bahwa manusia akan mengalami punarbhawa.

Masih banyak sloka-sloka lain yang menjelaskan tentang punarbhawa ini. Oleh karena itu setiap menjalani kehidupan kewajiban manusia adalah untuk meningkatkan Subhakarma sehingga setiap kelahiran berikutnya bisa meningkat kualitasnya sampai akhirnya tujuan hidup yaitu moksartham jagathita tercapai. demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia. Dari sloka di atas ada dua point yang dapat kita petik penekannya yaitu : 1. Hubungan Karmaphala dengan Punarbhawa Dalam Kitab Sarasamuscaya sloka 4 dikatakan : Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama. Demikian juga bila semasa hidupnya banyak berbuat dosa maka kelahiran berikutnya akan menurun kualitasnya. Berbuat baik ( Subha karma ) adalah cara untuk melepaskan diri dari keadaan samsara ( punarbhawa ). sebabnya demikian. Jadi bila manusia semasa hidupnya banyak berbuat baik maka kelahiran berikutnya akan meningkat kualitasnya. karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara ( lahir dan mati berulang-ulang ) dengan jalan berbuat baik. 2. Untuk berbuat baik kesempatan yang paling luas adalah bila menjelma menjadi manusia. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan terlahir sebagai binatang atau tumbuhan. Jika digambarkan proses hidup manusia dan kelahirannya sampai bersatunya atman dengan brahman ( Brahman Atman aikyam) seperti di bawah ini : Ket : Gari tebal adalah kehidupan saat ini Garis tipis kehidupan kelahiran dengan kualitas meningkat yang menuju bersatunya Brahman Pendidikan Agama Hindu 7/76 . H.

Garis putus-putus kehidupan kelahiran dengan kualitas menurun yang semakin jauh dari Brahman. Kesimpulan : Gunakan hidup ini sebaik-baiknya untuk meningkatkan karma sehingga setiap kelahiran berikutnya bisa meningkatkan kualitas dan kesucian jiwatman. Pendidikan Agama Hindu 8/76 .

sangat sulit dipastikan. Kapan sesungguhnya alam semesta ini tercipta. lalu ada. Masa Srsti digabungkan dengan masa Pralaya disebut satu Kalpa atau satu hari Brahman. Sedangkan pada waktu alam ini meniada disebut “Pralaya” atau “Brahma nakta” ( malam hari Bharma ). Brahmanda Purana. BHUWANA AGUNG Pengertian Bhuana Agung artinya alam raya ( besar ). Menurut Ktab-kitab suci Hindu teori penciptaan jagat raya banyak diuraikan yang jika dicermati dan dipelajari dengan penuh keyakinan maka alam semesta ini mengalami keadaan dimana jagat raya ini pernah tidak ada. b. Mampu menguraikan hubungan bhuana agung dan bhuana alit Uraian Materi A.BAB II ALAM SEMESTA Standar Kompetensi Memahami proses penciptaan dan pralaya alam semesta Tujuan Akhir Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan : a. matahari. dari jenjang yang amat halus dan tidak berwujud ( gaib / niskala ) sampai pada jenjang yang berwujud dan sangat kasar ( nyata / sekala ) Pendidikan Agama Hindu 9/76 . Agastya Parwa dan sebagainya. Bebrapa peneliti dan ilmuwan mencoba untuk membuat teori tentang penciptaan alam semesta tetapi tidak satupun dapat memastikan kapan alam ini tercipta. atau brahmanda. Mampu menjelaskan proses pralaya. makrokosmos. Penggambaran jagat raya termasuk proses penciptaannya banyak diuraikan dalam beberapa kitab suci Hindu Seperti Brhad Aranyaka Upanisad. planet. demikian seterusnya berulang-ulang. Mampu menjelaskan proses terciptanya bhuana agung dan bhuana alit. Istilah lainnya adalah jagat raya. Proses dari tidak ada menjadi ada alam semesta ini berlangsung secara berjenjang. Mampu mengklasifikasi unsur-unsur bhuana agung dan bhuana alit d. Pada saat alam semesta ini meng”ada” disebut masa “Srsti “ atau “ Brahma diwa “ ( siang hari Brahma ). bumi dengan segala isinya ini yang disebut bhuana agung. mengingat keterbatasan kemampuan dan umur manusia. Jadi semua yang ada di alam semesta ini termasuk gugusan bintang. c. kemudian tidak ada lagi.

Rajas unsur yang memiliki sifat dasar dinamis dan aktif. Fungsinya adalah untuk merasakan. proses terciptanya alam semesta dapat digambarkan sebagai berikut : 1.Hal ini disebutkan dalam Bhagawad Gita. yaitu unsur kejiwaan tertinggi yang berfungsi untuk menentukan keputusan. yaitu benih kejiwaan yang bersifat kedirian atau individu. Unsur-unsur Panca Maha Bhuta kembali menjadi atom yang amat halus sekali. 2. Budhi bersifat sattwam sehingga setiap keputusannya bersifat bijaksana. Dari Buddhi selanjutnya lahir Ahamkara. 5. Alam citta yang pertama muncul adalah Buddhi. Purusa dan prakirti keduanya sangat halus dan tidak bisa diamati. Dari Unsur Prakirti lahirlah Triguna yaitu. 6. Pendidikan Agama Hindu 10/76 . Dari Mahat terciptalah alam Citta yang didalamnya terdiri dari tiga unsur yaitu Budhi. Srsti Setelah alam ini tidak ada pada masa pralaya . Purusa adalah unsur dasar kejiwaan atau rohani. manah dan ahamkara yang tercipta secara berurutan. Pada kondisi seperti ini beliau disebut Paramasiwa atau Nirguna Brahman. 5. 3. Rajas. 7. 6. Bab XIII sloka 20. 4. dan Tamas. tanpa permulaan dan tanpa akhir. Pada saat alam ini tidak ada Tuhan menarik kembali semua manifestasi beliau di alam kemudian menjadikan diri dalam wujud sepi. 2. Sattwam. sedangkan prakirti adalah unsur dasar kebendaan atau jasmani. Semua mahluk hidup mati dan hancur. Dari sebaran api yang sangat dahsyat ini menyebabkan semua zat cair menguap. Perpaduan Purusa dan Prakirti menyebabkan Triguna tidak seimbang. Proses pralaya menurut beberapa kitab suci Hindu digambarkan sebagai berikut . Alam jagat raya dipenuhi hawa panas kemerahan dan dentuman halilintar yang sambung-menyambung dengan dahsyat. Sattwam adalah unsur yang bversifat terang dan tenang. kosong dan hampa. 1. 3. Dimulai dari hancurnya ikatan api atau matahari yang kemudian menyebar keseluruh alam semesta. Tuhan Paramasiwa atau Nirguna Brahma menjadikan diri-Nya Sada Siwa ( Saguna Brahma ) yang berwujud Purusa dan Prakiti .Pralaya Pralaya adalah masa dimana alam semesta ini tidak ada. semua zat pada meleleh kemudian menguap. Sedangkan Tamas adalah unsur yang meiliki sifat dasar gelap dan berat 4. Padamulanya Unsur Sattwam yang mendominasi maka lahirlah yang disebut Mahat yang berarti Maha Agung. Selanjutnya alam semesta menjadi tidak ada selama satu kalpa atau kurang lebih 432 juta tahun manusia.

Sparsa Tanmatra ( sari rabaan ) c. Dari uraian di atas jelaslah bahwa semua yang ada di alam ini mengalir dan lahir dari Tuhan dan pada saatnya nanti akan kembali lagi ke dalam tubuhNya yang menjadi kosong dan hampa. Dari Panca Maha Bhuta inilah kemudian berkembang menjadi alam semesta beserta isinya yaitu mahluk hidup yang ada di bumi termasuk manusia. 9. Prthiwi ( zat padat ) 12. Upasthendriya / Bhagendriya ( rangsang penggerak kelamin ) 10. terdiri dari: a. Evolusi berikutnya dengan pengaruh triguna dengan imbangan yang berbeda terciptalah Dasendriya . yang terdiri dari Panca Buddhindriya terdiri dari . Padendriya ( yangsang penggerak kaki ) d. Granendriya ( rangsang pencium ) Panca Karmendriya terdiri dari. Selanjutnya dari Ahamkara lahirlah yang disebut Manas. a. Apah ( zat cair ) e. Ganda Tanmatra ( sari bau ) 11. Wayu ( hawa atau udara ) c. Twakindriya ( rangsang perasa ) c. Garbhendriya ( rangsang penggerak perut ) b.8. Payundrita ( rangsang penggerak pelepasan ) e. Srotendriya ( rangsang pendengar ) b. Rasa Tanmatra ( sari rasa ) e. Caksundriya ( rangsang penglihatan ) d. Sabda Tanmatra ( sari suara ) b. Pendidikan Agama Hindu 11/76 . Rupa Tanmatra ( sari warna ) d. Akasa ( ether atau ruang ) b. Selanjutnya lahirlah Panca Tanmatra yaitu lima unsur zat yang sangat halus terdiri dari : a. Jihwendriya ( rangsang pengecap ) e. Dari Panca Tanmatra selanjutnya muncul Panca Maha Bhuta . yaitu lima macam unsur zat alam yang bersifat kasar. Teja ( api ) d. yaitu akal atau pikiran yang berfungsi untuk berpikir. Panindriya ( rangsang penggerak tangan ) c. a.

Jika digambarkan dalam skema maka proses terciptanya alam semesta sebagai berikut : Ida Sang Hyang Widhi Purusa Prakirti / Pradana Memiliki Triguna Mahat Citta Buddhi Ahamkara Manah Dasendriya Panca Tanmatra Panca Maha Butha Brahmanda Pendidikan Agama Hindu 12/76 .

Nitala 4. Rasa tala Lebih dalam dari sapta patala masih terdapat dua lapisan lagi yaitu : a. Loka terdiri dari : Bhur loka ( alam manusia ) Bhuwah loka ( alam pitara ) Swah Loka ( alam dewa ) Maha loka Jana loka Tapa loka Satya loka ( ruang vakum= Nirguna Brahma ) Sapta Patala Sapta patala adalah lapisan bumi dari permukaan sampai dengan inti bumi. 3. hewan dan tumbuhan. Lapisan-lapisan ini berdasarkan kuat atau lemahnya pengaruh Panca Maha Bhuta. Tala-tala 7. oleh karena itu proses penciptaan sama termasuk unsur-unsur pembentukannya.Sapta Loka Bumi sebagai salah satu Brahmanda hasil pembentukan Panca Maha Bhuta memiliki lapisan-lapisan. Patala ( kulit bumi ) 2. Mahatala 5. Lapisan bumi menuju ruang jagat raya disebut Sapta Loka. seperti. Kalagni Rudra ( ruang inti bumi ) B. terdiri atas : 1. 4. 6. Pendidikan Agama Hindu 13/76 . Watala 3. Sutala 6. Balagarba maha naraka ( ruang perantara di dalam bumi ) b. 7. BHUWANA ALIT Pengertian Bhuwana alit sering juga disebut Mikrokosmos adalah alam kecil atau dunia kecil yaitu isi dari alam semesta. Setelah tercipta Brahmanda-brahmanda termasuk bumi maka selanjutnya diciptakanlah mahluk hidup yang berawal dari mahluk hidup yang terrendah sampai dengan mahluk hidup yang tertinggi. manusia. Sapta 1. 5. Asal mula atau proses penciptaan bhuwana alit Bhuwana alit adalah bagian dari bhuwana agung. 2. Hanya saja ada perbedaan perkembangan penciptaannya sesuai perimbangan triguna.

5. Jarayuja yaitu binatang menyusui. Terakhir dengan perimbangan satwam. 3. tamas yang sesuai dan seimbang tercipta Kelompok Tri Pramana atau manusia. dengan sifat tamas yang mendominasi terciptalah kelompok Eka Pramana atau tumbuh-tumbuhan. Adapun yang tergolong dalam Sato adalah : 1. Andaya yaitu binatang bertelur. Bayu adalah kekuatan nafas.Dari proses penciptaan Purusa dan prakirti dengan unsur-unsurnya sampai panca maha bhuta. Mahluk ini disebut juga Manusya. Sabda dan Idep. Trna yaitu bangsa rumput baik yang hidup di air maupun di darat. Bayu. 3. Kelompok Eka Pramana Yaitu mahluk hidup yang hanya memiliki satu kekuatan dalam hidupnya yaitu Bayu. Purusa yaitu atman sebagai sumber kehidupan 2. 2. Pradana terdiri dari : Pendidikan Agama Hindu 14/76 . Diantara mahluk hidup hanya manusialah yang memiliki semua unsur ciptaan Tuhan secara lengkap. Swedaya yaitu binatang bersel Satu. Baik unsur terhalus sampai unsur paling kasar. rajas.. Kelompok Tri Pramana Adalah mahluk hidup yang memiliki tiga kekuatan hidup yaitu. Lata adalah tumbuhan menjalar di tanah atau di pohon. 2. Mahluk ini dikenal dengan nama Satwa atau Sato. Taru yaitu semak dan pepohonan. Termasuk dalam golongan Sthawara adalah : 1. Jangama yaitu tumbuhan yang hidupnya menumpang pada pohon lain. Selanjutnya jika semua unsur penciptaan tersebut lebih banyak guna rajas maka terciptalah kelompok Dwi Pramana atau hewan/ binatang. Sabda adalah kekuatan suara dan Idep kekuatan pikiran. Kelompok Dwi Pramana Adalah mahluk hidup yang memiliki dua kekuatan hidup yaitu Bayu dan Sabda. Manusia memiliki unsur : 1. Mahluk hidup ini juga dikenal dengan nama Sthawara yaitu mahluk hidup yang tidak berpindah-pindah seperti tumbuhan. Yang membedakan antara manusia yang satu dengan yang lain adalah komposisi dan perimbangan unsur-unsur pembentukannya serta karmawasana yang telah dibentuknya. 4. Gulma adalah bangsa tumbuhan yang bagian luar pohon berkayu keras dan bagian dalam berongga atau kosong.

a. Panca Maya Kosa terdiri dari : 1). Sumsum ( sumsum) 4). Wijnanamaya Kosa yaitu badan dari sari pengetahuan. HUBUNGAN BHUWANA AGUNG DENGAN BHUWANA ALIT Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit memiliki hubungan yang sangat erat satu sama lain. 3). 5). ahamkara. sloka 6. Rudhira ( darah ) 6). Asti ( tulang) 2). Manomaya Kosa yaitu badan dari sari pikiran. Sad Kosa terdiri dari : 1). Pranamaya Kosa yaitu badan dari sari nafas. 2. manah. budhi. Hubungan itu dapat diuraikan minimal sebagai berikut : 1. 4). sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Bhagawad Gita Bab VII. Dasendria. Pendidikan Agama Hindu 15/76 . Suksma sarira dari unsur Cita. 5). Bhuwana Agung dan bhuwana alit diciptakan oleh pencipta yang sama. Jiwatman inilah yang selalu mengalami reinkarnasi jika selama bersatu dengan stula sarira sebagai manusia hidup di dunia belum berhasil melepaskan ikatan-ikatan karma untuk mencapai moksa yaitu bersatunya Atman dengan Brahman. b. Carma ( kulit ) C. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Ida Sang Hyang Widhi pada masa Srsti dan akan kembali kepada-Nya pada masa pralaya. Bentukan hasil karma manusia antara suksma sarira dengan stula sarira menghasilkan Panca Maya Kosa yaitu lima lapisan halus badan manusia. Mamsa ( daging). Bhuwana Agung dan bhuana alit memiliki unsur-unsur yang sama. dan Panca Tanmatra. Odwad ( Otot ) 3). Annamaya kosa yaitu badan dari sari makanan 2). Stula sarira yang berasal dari unsur Panca Maha Bhuta. Dari hasil karma dan konsumsi makanan manusia membentuk Sad Kosa yaitu enam lapis pembungkus stula sarira. Anandamaya Kosa yaitu badan dari sari kebahagiaan Suksma sarira yang dihidupi dengan unsur purusa ( atman ) disebut jiwatman.

Dalam proses penciptaan meskipun ada perbedaan waktu antara penciptaan alam semesta dengan mahluk yang ada di dalamnya . Skema itu dalat digambarkan sebagai berikut : Pendidikan Agama Hindu 16/76 . tetapi unsur-unsur pembentukannya adalah sama.

siklus perputaran air ( hidrologi ). Alam dilengkapi untuk kehidupan dan perkembangan mahluk hidup dan mahluk hidup memiliki kemampuan untuk mengatur alam. Brahmanda Sapta Loka Sapta Patala Bhuwana Alit 1. Benih (Sukla/Swanita) Manusia 3. Ahamkara 5. Parama Anu 8. Mahluk hidup diciptakan berada dan berkembang pada alam semesta. Manah 4. Pendidikan Agama Hindu 17/76 . Dasendriya 6. Panca Maha Bhuta 9. seperti rotasi bumi dan matahari. siklus perputaran musim dan sebagainya. Proses saling melengkapi ini telah diatur dengan hukum Tuhan ( Rta ). Ahamkara 5. Panca Maha Bhuta 9. Buddhi 3. Citta 2. Buddhi 3. Sedangkan manusia ditata dan diatur dengan hukum karma yang didalamnya dibekali ilmu pengetahuan dan ajaran agama.Brahman ( Nirguna Brahma ) melaksanakn Tapa Nirguna Brahma ( Sada Siwa ) Purusa Prakirti ( pradhana ) Bhuwana Agung 1. Dasendriya 6. Manah 4. Parama Anu 8. Panca Tanmatra 7. Bhuwana agung dan bhuawana alit saling melengkapi. Panca Tanmatra 7. Citta 2. Untuk alam ditata dan diatur dengan hukum alam.

Masing-masing posisi ini akan memberikan pengaruh yang berbeda pada manusia di bumi. Alam memiliki musim maka manusia akan mengatur hidup dan fisiknya menyesuaikan dengan musim yang ada. budaya masyarakat serta kegiatan fisik manusia sangat dipengaruhi oleh alam. Karena bhuana agung dan bhuana alit memiliki unsur-unsur yang sama maka dalam proses hubungannya akan saling mempengarui. Manusia menciptakan berbagai alat untuk menyesuaikan diri dengan kondisi alam. Bhuana agung dan bhuana alit saling mempengaruhi. Matahari serta planet-planet di semesta memiliki jenis guna yang berbeda-beda. 4. Penggunaan zat kimia yang merusak lapisan ozon dan polusi dari hasil pembakaran yang dilakukan manusia menciptakan rumah kaca sehingga terjadi pemanasan global. Pribadi. perputaran planet-planet ini mempengaruhi posisi kedekatan dengan bumi. Sehingga di Bali kita mengenal pedewasan ( hari baik/buruk untuk aktivitas tertentu) yang bersumber pada pengaruh guna masing-masing posisi planet tersebut. Sebaliknya segala aktivitas manusia juga dapat mempengaruhi kondisi alam. Pembangunan yang tidak memperhitungkan tata lingkungan menyebabkan bencana alam banjir dan kebakaran. Contoh sederhana manusia menciptakan kalender untuk pengaturan bercocok tanam bagi masyarakat agraris.Dengan demikian alam akan melengkapi kebutuhan manusia dan manusia akan melengkapi isi alam. Alam memiliki unsur Triguna juga akan mempengaruhi semua pribadi dan aktivitas manusia. Kondisi sekarang dengan ulah sebagian manusia yang merusak alam dan membabat habis hutan menyebabkan rusaknya siklus perputaran air. Intinya bahwa aktivitas manusia dipengaruhi oleh alam dan sebaliknya juga hasil aktivitas manusia tersebut akan mempengaruhi alam Pendidikan Agama Hindu 18/76 .

serta organisasi sosial lainnya. Mampu neneladani sifat-sifat kepemimpinan Hindu. Minimal akan menjadi pemimpin dalam keluarga. Kelompok dalam hal ini juga termasuk lingkungan profesi. dan seterusnya hingga kelompok negara bahkan dunia. Kelurahan/Desa. PENDAHULUAN Manusia adalah mahluk paling sempurna yang diciptakan Hyang Widhi di muka bumi dengan memiliki tri pramana yaitu sabda. Dalam usaha mencapai tujuan kelompok/organisasi tersebut perlu adanya pemimpin yang akan mengarahkan dan membawa kelompoknya untuk mencapai tujuan. Semua kelompok ini dari kelompok yang terkecil hingga yang terbesar memiliki tujuan tertentu.BAB III KEPEMIMPINAN Standar Kompetensi Memahami hakekat kepemimpinan Hindu Tujuan Pembelajaran akhir Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan : a. Tujuan yang bersifat individu adalah sesuatu yang ingin dicapai secara pribadi bagi diri sendiri. Mampu menjelaskan pentingnya mempelajari ilmu kepemimpinan. Tujuan manusia bisa bersifat individu maupun kelompok. d.RW. kantor. bahkan untuk mencapai tujuan secara pribadi kita harus dapat memimpin diri sendiri. Ilmu kepemimpinan tidak saja diperlukan oleh pemimpin kelompok atau organisasi. Mampu menguraikan Teori dasar kepemimpinan. atau Raja Niti. Kitab ini berisi tentang ilmu Pendidikan Agama Hindu 19/76 . bayu dan idep. Disisi lain manusia adalah mahluk sosial yang hidup dalam kelompok tertentu. serta Kautalira Arthasastra. Kelompok ini bisa dalam lingkungan rumah tangga. Agar usaha seorang pemimpin berhasil menghantarkan kelompok/organisasi yang dipimpinnya mencapai tujuan maka diperlukan kemampuan untuk memimpin. Kepemimpinan dalam Hindu banyak dijabarkan dalam berbagai kitab antara lain Kitab Arthasastra. c. Raja Dharma. setiap orang perlu mempelajari kepemimpinan. keluarga. b. URAIAN MATERI A. Kitab ini dikenal juga dengan nama Danda Niti. sebab setiap orang suatu saat pasti akan menjadi pemimpin. Kemampuan dalam hal memimpin suatu organisasi ini disebut kepemimpinan/ Leadership. Dengan memiliki idep ( pikiran ) maka manusia dalam hidupnya selalu memiliki tujuan serta memiliki upaya untuk mencapai tujuan tersebut. Mampu menguraikan konsep dasar kepemimpinan menurut ajaran Hindu. RT.

dan akhiran –an menjadi kata sifat yaitu sifat-sifat atau kemampuan seorang pemimpin. Heyt.menjadi kata benda “pemimpin” yang artinya orang yang berfungsi memimpin atau menuntun atau orang yang membimbing. Istilah lain tentang kepeminpinan adalah Leadership. PENGERTIAN Kepemimpinan berasal dari kata pimpin yang artinya bimbing atau tuntun. Di Indonesia dalam Kitab Nagara Kertagama disusun oleh Empu Prapanca juga memuat tentang kepemimpinan Hindu. pertimbangan atau kebijakan. Banyak teori dan konsep modern tentang kepemimpinan. Menurut Hindu diberi istilah Nitisastra. Niti artinya pemimpin. aturan atau teori. dalam bukunya The Art of Leadership mengatakan bahwa kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau manusia sehingga tergerak untuk mengikuti kemauannya dengan ikhlas dalam rangka mencapai tujuan bersama. oleh karena itu penerapan konsep kepeimpinan juga berbeda dengan hasil yang berbeda pula. politik. Nitisastra berasal dari Bahasa Sansekerta. Selanjutnya kata pemimpin ditambah awalan ke. Jadi Nitisastra artinya ajaran tentang kepemimpinan. Menurut Gorge Terry. Sedangkan sastra artinya perintah. Dalam hal ini karakter dan pribadi setiap pemimpin adalah berbeda. Keberhasilan seorang pemimpin tidak saja ditentukan oleh penguasaan terhadap ilmu memimpin tetapi juga ditentukan oleh karakter atau pribadi pemimpin tersebut. dari kata Niti dan Sastra. dalam bukunya Principles of Management menyebutkan bahwa kepemimpinan adalah keseluruhan aktivitas untuk mempengaruhi serta menggiatkan orang dalam usaha untuk mencapai tujuan. B. Sumber lain tentang kepemimpinan Hindu juga tertuang dalam Itihasa Mahabarata dan Ramayana.pemerintahan Hindu yang disusun oleh Maha Rsi Kautilya atau dikenal juga dengan nama Maha Rsi Chanakya. Dalam berbagai kitab nitisastra banyak mengulas tentang kepemimpinan suatu masyarakat atau tata pemerintahan. namun inti dari semua teori itu adalah sama yakni bertujuan agar seorang pemimpin berhasil membawa kelompoknya mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam kaitan perbedaan karakter pribadi ini Howart W. serta kelebihan tertentu dari bawahannya memiliki Kelebihan-kelebihan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin antara lain : Pendidikan Agama Hindu 20/76 . Dalam kaitan ini Nitisastra juga dapat diartikan sebagai konsep penataan pemerintahan dan pembangunan negara. Untuk keberhasilan tersebut maka seorang pemimpin harus kemampuan. Kata pimpin medapat awal pe. ajaran. pengetahuan. Di Bali beberapa lontar juga memuat tentang konsep kepemimpinan Hindu.

Jadi sangatlah keliru jika harta yang telah diperoleh dengan Dharma hanya digunakan untuk memenuhi keinginan ( kama ) di luar hukum dharma. 3. Kelebihan dalam bidang rohaniah. 3. Berlandaskan Dharma kemudian mencari artha ( materi ). Artha yang diperoleh berdasarkan dharma digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup ( kama). Kama dan Moksa. masyarakat atau negara yang dipimpinnya mencapai keadaan bahagia lahir dan batin. Pengertiannya adalah bahwa dalam mencapai tujuan tertinggi yaitu moksa ( kebahagiaan tertinggi). 2. Artha. Planning / Perencana Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk merencanakan segala sesuatu yang harus dikerjakan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. TUJUAN KEPEMIMPINAN HINDU Sebagaimana tujuan hidup menurut konsep Hindu yaitu moksartham jagat hita. FUNGSI.1. Dharma. Selanjutnya kebutuhan hidup yang utama harus dicapai adalah moksa / kebahagiaan. Kelebihan dalam bidang jasmaniah. 2. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut maka konsep Catur Purusha Artha menjadi landasan. Catur Purushartha yaitu empat tujuan hidup manusia yang utama yaitu . TUGAS DAN WEWENANG PEMIMPIN. Tugas dan wewang pemimpin adalah : 1. harus diawali dengan menjalankan Dharma ( kebenaran agama). Direkting / Penanggung jawab pelaksana Pendidikan Agama Hindu 21/76 . Kelebihan dalam menggunakan rasio atau pikiran. Seorang pemimpin disamping memiliki tugas dan tanggung jawab dia juga warus memiliki wewenang untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya tersebut. maka kepemimpinan Hindu bertujuan agar seorang pemimpin dapat menghantarkan kelompok. D. C. Organisation / Penataan Seorang pemimpin memiliki tugas untuk mampu menata dan menempatkan anggota /orang-orang dibawah pimpinannya pada tugas dan fungsi yang tepat sesuai dengan tingkat pengetahuan dan kompetensinya.

c. 5. penguasa hujan. d. Asta Brata Asta Brata adalah ajaran Sri Rama Kepada Gunawan Wibisana pada saat akan menjadi Raja Alengka Pura setelah Rahwana mati. kemudian menjadi hujan. Pengawasan yang lemah serta tidak ada evaluasi maka dapat dipastikan bahwa tujuan tidak akan dapat tercapai. b. Ajaran tentang kepemimpinan Hindu antara lain : 1. Tidak melupakan bahwa raja juga berasal dari rakyat biasa. KEPEMIMPINAN HINDU Dalam ajaran Hindu banyak konsep-konsep serta pedoman-pedoman yang harus menjadi tuntunan bagi seorang pemimpin. Asta Brata artinya delapan sikap mental seorang pemimpin yang merupakan cerminan dari delapan sifat dewa. Controlling / Pengawasan Setiap pelaksanaan tugas yang didelegasikan kepada bawahan harus diawasi dan dievaluasi oleh pimpinan. serta menjadi simbol semangat dan kekuatan hidup bagi negerinya. Coodination / Koordinasi Pemimpin bertugas untuk mengkoordinir semua anggota agar dapat bekerjasama sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. artinya seorang pemimpin harus memiliki sifat seperti Dewa Indra. artinya seorang pemimpin harus memberikan pencerahan dan penerangan bagi rakyatnya. seorang pemimpin harus memberikan keteduhan dan rasa aman dan nyaman bagi rakyatnya. 4. Seorang pemimpin harus mampu memberikan kemakmuran pada rakyatnya. artinya sebagaimana sifat bulan. Pendidikan Agama Hindu 22/76 .Pemimpin bertanggung jawab dan berusaha agar rencana yang telah ditetapkan dapat berhasil dengan baik. Dalam kaitan ini pemimpin harus memiliki kepekaan atas segala masukan positif dari bawahan. Oleh karena itu tiap bagian tidak dapat bekerja sendiri harus ada koordinasi dengan bagian yang lain. sertinya seorang pemimpin harus adil dalam menegakkan hukum dan peraturan. E. sehingga tujuan dapat tercapai dengan baik. Setiap bagian dalam organisasi memiliki keterkaitan dengan bagian yang lain. terdiri dari : a. Yama Brata. Surya Brata. Candra Brata. sebagaimana hujan yang berasal dari air laut menguap keatas menjadi awan. Indra Brata.

h. atau dibalik meja .e. tidak boros dan tidak korupsi. artinya pemimpin harus berani dan pantang mundur menghadapi segala tantangan. g. maka seorang pemimpin harus mengetahui segala keadaan rakyatnya. Bayu Brata. Pemimpin tidak hanya duduk di singgasana. Pendidikan Agama Hindu 23/76 . artinya seorang pemimpin harus dapat membersihkan segala penyakit masyarakat seperti kemiskinan. tetapi harus mengetahui secara detail terutama kondisi rakyat jelata. sebagaimana sifat angin selalu ada dimana-mana dan bergerak ke segala arah. kejahatan dan sebagainya. artinya seorang pemimpin harus dapat mengelola keuangan secara tepat. Baruna Brata. Kuwera Brata. f. pengangguran. Agni Brata.

3. k. Dibyacitta. e. Satya bhakti prabhu. menyayangi isi alam. memiliki moral yang luhur. hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Tansatrsna. j. Prajna. yaitu penuh pertimbangan dan jeli dalam menghadapi setiap masalah. Sumantri. Sifat-sifat inilah yang menjadi pedoman Maha Patih Gajah Mada sehingga berhasil mengawal Majapahit jaya. b. Panca Dasa Pramiteng Prabu Adalah 15 ( lima belas ) sifat kepemimpinan yang ditulis oleh Empu Prapanca dalam Kitab Nagara Kertagama. o.2. Wicaksanengnaya. yaitu sabar dan rendah hati. artinya menjadi penasehat dan abdi negara yang baik. g. yaitu bijaksana dalam memimpin. l. Panca dasa Pramiteng Prabu terdiri dari : a. Aksudra Parisatha. artinya memiliki kemampuan mengontrol bawahan sekaligus memperbaiki hal-hal yang dipandang kurang baik. Natangguan. Dhirotsaha. d. Sakya Samanta. teguh iman. c. yaitu pembrani dalam membela negara. e. yaitu pandai berkomunikasidan diplomasi. n. bangsa dan negara. yaitu setia dan taan pada atasan. Panca Upaya Sandhi Pendidikan Agama Hindu 24/76 . Teulelana. m. Abhigainika yaitu mampu menarik perhatian yang positif dari masyarakat. artinya bijaksana c. d. yaitu mendapat kepercayaan dari bawahan. terdiri dari : a. Nayaken Musuh. optimis dan antusias. artinya mampu membersihkan musuh-musuh negara. artinya memiliki kreativitas yang tinggi untuk memajukan kepentingan masyarakat. Ginengpatigina. b. Sarjawa upasama. Wagmiwak. 4. i. Atma sampad. Wijayana. Masihi samasta bhuwana. artinya mampu memimpin sidang dan mengambil keputusan yang bijaksana. Mantri Wira. f. mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau golongan. Utsaha. h. toleransi dan menghargai pendapat orang lain. Sad Warnaning Rajaniti Artinya enam sifat utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. teguh hati dalam segala usaha. f.

b. Wikrama.Artinya lima cara seorang pemimpin untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah. yaitu memiliki kemampuan membedakan yang benar dan salah. c. dan Nawa Natya. i. d. mengkoordinasikan ( coordination). Asta Brata. Panca Dasa Pramiteng Prabu. Indra Jala. Wiweka. Keberhasilan seorang pemimpin tergantung pada kemampuan ilmu kepemimpinan yang dimiliki serta kemampuan secara pribadi dalam mempedomani dan mengaktualisasikan syarat-syarat kepemimpinan. Upeksa. Logika. Sama upaya. artinya menganalisa data-data yang telah dikumpulkan kemudian mengklasifikasi data secara proporsional. yaitu tekun dan ulet. Pradnya Widagda. g. b. terdiri dari : a. artinya setiap tindakan yang diambil harus berdasarkan pertimbangan akal sehat. Wira Sarwa Yudha. artinya melaksanakan upaya penyelesaian sesuai dengan solusi yang telah ditetapkan. f. artinya upaya untuk mencari solusi pemecahan masalah yang ada. h. Pendidikan Agama Hindu 25/76 . memimpin langsung ( direkting ). Wruh ring sarwa bastra. yaitu tidak pamrih pada harta benda. yaitu teguh pendirian . Pragiwakia. Paramartha. Maya. d. 5. e. Dalam ajaran Hindu berbagai sifat dan syarat kepemimpinan antara lain. e. Sad Warnaning Rajaniti. Panca Upaya Sandhi tersurat dalam lontar Siwabudha Gama Tattwa. artinya kemampuan untuk mengumpulkan data-data permasalahan yang belum jelas kedudukannya. bijaksana dan memiliki berbagai ilmu pengetahuan. Tugas dan fungsi seorang pemimpin adalah mampu untuk merencanakan (planning) . terdiri dari : a. dan mengawasi ( kontroling). Lagawangartha. Panca Upaya Sandhi. yaitu memiliki sifat mulia dan luhur. Dhirotsaha. c. Rangkuman Kepemimpinan adalah sifat dan prilaku pemimpin dalam upaya membawa kelompok atau masyarakat yang dipimpin menuju cita-cita atau tujuan bersama yang telah ditetapkan. Nawa Natya Artinya sembilan sikap teguh dan pekerti seorang pemimpin. yaitu pandai berbicara di depan umum dan pandai berdiplomasi. menata ( organisation). yaitu Selalu setia pada janji. dan data yang akurat. tidak berdasarkan emosi. yaitu tahu cara mengatasi kerusuhan. yaitu pemberani dan pantang menyerah.

4. Dari pemahaman di atas tujuan dan fungsi Dharma Gita adalah : 1. demikian juga di Indonesia Dharma Gita memiliki ragam yang berbeda untuk Daerah Bali. Dalam konsep Hindu bahwa seni budaya merupakan sarana untuk meningkatkan cipta dan rasa dalam rangka meningkatkan sradha bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi. Secara umum materi dari Dharma gita biasanya berisi tentang : 1. B. Kisah-kisah sejarah kepahlawanan ( itihasa ). Di India Dharma gita tentu saja memiliki irama khas India. Jawa.  Menyanyikan Dharma Gita yang mengandung nilai-nilai budaya. Oleh karena itu maka seni dan budaya masyarakat Hindu tetap dijaga dan dikembangkan tetapi nilai-nilai ajaran kebenaran tetap mewarnainya. Lombok dan sebagainya. suara mantra. estetika. jadi jelas bahwa Dharma Gita sebagai pelengkap Upacara Yadnya. suara kidung ( Dharma Gita ). dan suara gamelan. suara genta/bajra. Panca Paginda terdiri dari. suara kul-kul ( kentongan). Pendidikan Agama Hindu 26/76 . Pujian kebesaran Hyang Widhi beserta seluruh ciptaannya 2. ( khususnya di Bali ) ada yang namanya Panca Paginda. estetika dan etika moral dalam Dharma Gita. Petuah-petuah luhur sebagai ajaran moral bagi umat Hindu 3. Umat Hindu dimana saja termasuk di Indonesia memiliki Dharma Gita sesuai dengan budaya setempat. PENGERTIAN Dharma gita adalah suatu nyanyian kebenaran yang dinyanyikan dalam pelaksanaan upacara Agama Hindu.BAB IV DHARMA GITA Standar Kompetensi Memahami nilai-nilai budaya dalam Dharma Gita Tujuan Akhir Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan mampu :  Menguraikan nilai-nilai kebenaran. Kidung tergolong juga salah satu Dharma Gita.  Menunjukkan contoh-contoh nilai kebenaran. Pelengkap pelaksanaan Upacara Agama ( Yadnya ) Dalam pelaksanaan upacara agama. A. Cerita-cerita/dongeng yang berisi ajaran kebenaran. yaitu lima jenis suara dalam Upacara Yadnya. TUJUAN DAN FUNGSI DHARMA GITA Dharma gita adalah hasil kreasi budaya luhur umat Hindu. Kalimantan . Oleh karena itu setiap kegiatan ritual pemujaan kepada Hyang Widhi seni budaya menyatu di dalamnya. dan etika moral dalam Dharma Gita. termasuk dalam hal ini Dharma Gita.

Hal ini disebabkan karena syair-syair Dharma Gita sesuai dengan jenis Upacara Yadnya yang dilaksanakan. Beberapa contoh Dharma Gita : a. Disamping itu irama Dharma gita juga biasanya mampu membawa suasana hati yang hening dan tentram 3. JENIS-JENIS DHARMA GITA Pada awalnya istilah dharma gita lebih dikenal di Bali. seperti di Jawa pada setiap kegiatan upacara dilantunkan tembang-tembang jawa . serta konsentrasi pemujaan kepada Hyang Widhi. Bhagawad Gita.2. Sarana untuk menciptakan suana suci dan konsentrasi pemujaan Melantunkan Dharma Gita pada pelaksanaan Upacara agama akan menciptakan suana batin yang suci. oleh karena itu pengelompokan Dharma gita lebih banyak mengacu pada budaya Bali. b. Juga di kalimantan ada kidung-kidung daerah yang diangkat dalam kelompok Dharma gita. Setelah penyebaran Hindu semakin meluas di nusantara maka budaya-budaya lokal mewarnai kegiatan upacara/Yadnya termasuk Dharma gita. Kekawin/Kidung/Tembang Pendidikan Agama Hindu 27/76 . C. Dalam membaca dan melantunkan irama ditentukan pada intonasi serta ketepatan pengejaan dan pemenggalan kata. Sloka biasanya bersumber dari kitab suci yang umumnya berbahasa Sansekerta. Dengan demikian maka dengan melantunkan Dharma gita berarti juga mengingatkan setiap orang tentang ajaran-ajaran agama. 4. Palawakya Palawakya menggunakan Bahasa Jawa kuno dan berbentuk prosa. Manawa Dharma sastra dan sebagainya. c. sehingga semakin sering orang melantunkan atau mendengar Dharma Gita maka diharapkan pemahaman tentang ajaran agama semakin meningkat. Ada pula merupakan hasil cipta para kawi berisi tentang pemujaan kepada Hyang Widhi. Sarasamuscaya. Sarana untuk meningkatkan sradha bhakti Syair-syair Dharma Gita ada yang bersumber langsung dari kitab-kitab suci seperti. Sloka Biasanya terdiri dari empat baris dalam satu bait dengan jumlah suku kata yang sama setiap barisnya. Sarana ajaran moral Disamping untuk kegiatan upacara / yadnya Dharma Gita juga mengandung nasihat-nasihat tentang kesusilaan sehingga dapat dikatakan bahwa dharma gita juga sebagai sarana untuk pendidikan moral bagi masyarakat. Pada masa kini di beberapa daerah dharma gita muncul dari budaya lokal.

Di setiap daerah memiliki jenis-jenis kidung/tembang tersendiri. Sekar Agung / Kekawin 2). Sekar alit / pupuh Pendidikan Agama Hindu 28/76 . di Bali kidung dikelompokkan menjadi : 1). Sekar Madya/ kidung 3).

E. Kegiatan ini dilaksanakan secara berjenjang dari tingkat kota/kabupaten. yaitu Dharma gita yang dilombakan. Pendidikan Agama Hindu 29/76 . UTSAWA DHARMA GITA Lembaga tertingi Agama Hindu di Indonesia yaitu Parisada Hindu Dharma Indonesia ( PHDI ). Pelaksanaan Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional biasanya dilaksanakan secara bergilir di beberapa daerah propinsi. Utsawa Dharma gita pada awalnya bertujuan untuk melestarikan. mengembangkan dan memasyarakatkan Dharma gita bagi umat Hindu Indonesia. Pelajari dan lantunkan kidung Kawitan Wargasari c.D. PENDALAMAN Guna meningkatkan pengetahuan dan kompetensi lakukanlah kegiatan kegiatan berikut : a. Carilah di berbagai sumber tentang jenis-jenis sekar agung. tingkat provinsi dan tingkat nasional. Namun perkembangan berikutnya juga sebagai sarana peningkatan sumber daya manusia umat Hindu dalam pembinaan sradha bhakti maka materi Utsawa Dharma Gita tidak saja lomba untuk Dharma gita tetapi juga ada lomba Dharma Wacana dan Dharma Widya yaitu lomba penguasaan pengetahuan agama bagi siswa tingkat sekolah dasar ( SD ) sampai tingkat sekolah menengah atas ( SMA/SMK ). Tuliskan tiga bait kidung dengan jenis pupuh yang berbeda. secara berkala melaksanakan Utsawa Dharma Gita. Nusa Tenggara Barat pernah sebagai pelaksana Utsawa Dharma Gita Tingkat nasional pada tahun 2004 yang dipusatkan Kota Mataram. b. sekar madya dan sekar alit.

PENGERTIAN DAN HAKEKAT YADNYA Pada awalnya banyak orang mengartikan bahwa yadnya semata upacara ritual keagamaan. Kesempurnaan dan kebahagiaan tak Pendidikan Agama Hindu 30/76 . lebih dari itu segala aktivitas manusia dalam rangka sujud bhakti kepada hyang Widhi adalah Yadnya. Pemahaman ini tentu tidak salah karena upacara ritual keagamaan adalah bagian dari yadnya. Pada dasarnya Yadnya adalah penyangga dunia dan alam semesta. d. Yadnya berasal dari Bahasa Sansekerta dari akar kata “Yaj” yang artinya memuja. Dari satu sloka di atas jelas bahwa manusia saja diciptakan melalui yadnya maka untuk kepentingan hidup dan berkembang serta memenuhi segala keinginannya semestinya dengan yadnya. Dalam Bhagawadgita Bab III.BAB V YADNYA Standar Kompetensi Memahami Pelaksanaan Yadnya dalam kehidupan Tujuan Akhir Pembelajaran a. Secara etimologi pengertian Yadnya adalah korban suci secara tulus ikhlas dalam rangka memuja Hyang Widhi. sloka 10 disebutkan : saha-yajòàá prajàh såûþwà purowàca prajàpatih. Menguraikan hakikat dan tujuan yadnya c. Pada dasarnya Yadnya bukanlah sekedar upacara keagamaan. Manusia harus berkorban untuk mencapai tujuan dan keinginannya. dengan ini engkau akan berkembang dan akan menjadi kamadhuk keinginanmu. A. anena prasawiûyadham eûa wo ‘stw iûþa-kàma-dhuk artinya : Dahulu kala Prajapati ( Hyang Widhi ) menciptakan manusia dengan yajnya dan bersabda. Dari proses awal ini jelas bahwa awal penciptaan awal dilakukan Yadnya yaitu pengorbanan diri Hyang Widhi dari Nirguna Brahma menjadi Saguna Brahma . karena alam dan manusia diciptakan oleh Hyang Widhi melalui Yadnya. Menyebutkan bentuk-bentuk pelaksanaan Yadnya dalam kehidupan nyata dan kehidupan masyarakat. Mengaplikasikan nilai-nilai Yadnya dalam kehidupan nyata dan kehidupan masyarakat. Selanjutnya semua alam diciptakan secara evolusi melalui Yadnya. Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan mampu : b. Pada masa srsti yaitu penciptaan alam Hyang Hidhi dalam kondisi Nirguna Brahma ( Tuhan dalam wujud tanpa sifat ) melakukan Tapa menjadikan diri beliau Saguna Brahma ( Tuhan dalam wujud sifat Purusha dan Pradhana ).

Tanpa dasar tersebut maka suatu pengorbanan bukanlah yadnya. Guna ( sifat satwam. Dari gambaran sederhana di atas dapat diambil kesimpulan bahwa demi mencapai kebahagiaan dan kesempurnaan hidup maka kita harus rela mengorbankan sebagian dari milik kita. tindakan . sembahyang. dan senantiasa bersyukur dan berterima kasih kepada Sang Pencipta. Untuk mencapai kebahagiaan maka manusia harus memiliki imbangan Guna Satwam yang tinggi. Paling tidak empat hal yang harus dilakukan manusia yaitu. tulus dan ikhlas. Contoh sederhana bila kita memiliki secarik kain dan berniat untuk menjadikannya sepotong baju. peningkatan kualitas diri. TUJUAN YADNYA Dalam banyak sloka dari berbagai kitab menyatakan bahwa alam semesta beserta segala isinya termasuk manusia. Hyang Widhi akan merajut potonganpotongan pengorbanan kita dan menjadikannya sesuai dengan keinginan kita. dipelihara dan dikembangkan melalui yadnya. dan lain-lain termasuk nyawa sendiri dapat digunakan sebagai korban. Untuk Penyucian Untuk mencapai kebahagiaan maka hidup ini harus suci. Melalui Yadnya kita dapat menyucikan diri dan juga menyucikan lingkungan alam sekitar. Pribadi dan jiwa manusia dalam aktivitasnya setiap hari berinteraksi dengan sesama manusia dan alam lingkungan akan saling berpengaruh. Jika kita bersikukuh tidak rela kainnya dipotong dan dibuang sebagian maka sangat mustahil akan memperoleh sepotong baju. Segala aspek yang dimiliki manusia dapat dikorbankan sebagai yadnya. B. Jika manusia dan alam memiliki tingkatan guna satwam yang lebih banyak maka keharmonisan alam akan terjadi. Tentu saja pengorbanan ini harus dilandasi rasa cinta. ucapan. sifat. Pengorbanan dalam hal ini bukan saja dalam bentuk materi.mungkin akan tercapai tanpa ada pengorbanan. korban pikiran. rajas. Pribadi dan jiwa manusia harus dibersihkan dari guna rajas dan guna tamas. Pendidikan Agama Hindu 31/76 . maka kain yang utuh tersebut harus direlakan untuk dipotong sesuai dengan pola yang selanjutnya potongan-potongan tersebut dijahit kembali sehingga berwujud baju. Sedangkan potongan yang tidak diperlukan tentu harus dibuang. Oleh karena itu tujuan Yadnya adalah : 1. penyucian diri. dan tamas ) orang akan saling mempengaruhi. Tanpa kesucian sangat mustahil keharmonisan dan kebahagiaan itu dapat tercapai. pengetahuan. seperti. Dalam rangka mencapai tujuan tertinggi tersebut manusia harus melakukan aktivitas dan berkarma. diciptakan . Empat hal di atas semuanya dapat dicapai melalui Yadnya. Oleh karena itu maka yadnya yang dilakukan oleh manusia tentu bertujuan untuk mencapai tujuan hidup manusia menurut konsep Hindu yakni Moksartham jagat hita ( Kebahagiaan sekala dan niskala ). demikian juga “guna” alam akan mempengaruhi manusia.

Kitab Manawa Dharmasastra V. Widyatapobhyam bhutatma buddhir jnanena suddhayanti” Pendidikan Agama Hindu 32/76 .109 menyatakan : “ Adbhirgatrani suddhayanti mana satyena suddhayanti.

Untuk meningkatkan kualitas diri Setiap kelahiran manusia selalu disertai oleh karma wasana. jiwa manusia dibersihkan dengan pelajaran suci dan tapa brata. Dari sloka di atas jelas kewajiban hidup manusia adalah untuk selalu meningkatkan kualitas diri melalui perbuatan baik. Lingkungan yang suci akan memberikan kehidupan yang suci juga bagi manusia. segala perbuatan yang buruk itu. Artinya : Diantara semua mahluk hidup . kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan yang benar. sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Sarasamuscaya sloka 2 sebagai berikut : Ri sakwehning sarwa bhùta. iking janma wwang juga wénang gumawayakén ikang çubhàçubhakarma. kunéng panéntasakéna ring çubhakarma juga ikangaçubhakarma. hanya yang dilahirkan sebagai manusia saja yang dapat melaksanakan perbuatan baik atau perbuatan buruk. Dengan demikian setiap yadnya yang kita lakukan hasilnya adalah terjadinya peningkatan kualitas jiwatman. Perbuatan baik yang paling utama adalah melalui Yadnya. oleh karena itu leburlah ke dalam perbuatan baik . Demikian pula setiap kelahiran bertujuan untuk meningkatkan kualitas jiwatman sehingga tujuan tertinggi yaitu bersatunya atman dengan brahman ( brahman atman aikyam ) dapat tercapai. phalaning dadi wwang. 3. Sebagai sarana menghubungkan diri dengan Tuhan Pendidikan Agama Hindu 33/76 . 2. demikianlah gunanya menjadi manusia. Oleh karena itu jadikanlah aktivitas sehari-hari kita sebagai yadnya. Laksanakan kewajiban diri sendiri dengan penuh kesadaran dan keihlasan sehingga masuk dalam kelompok yadnya. dan idep dapat melakukan perbuatan baik sebagai cara untuk meningkatkan kualitas jiwatman. Dengan demikian maka setiap kegiatan yang kita lakukan selalu memberikan kesucian pada diri pribadi. Demikian juga untuk kesucian alam dan lingkungan lakukan upacara/ ritual sesuai dengan sastra agama sehingga kita akan senantiasa berada pada lingkungan yang suci. Hanya dilahirkan sebagai manusia memiliki sabda. pikiran disucikan dengan kebenaran. bayu .Artinya : Tubuh dibersihkan dengan air.

serta kehidupan yang kita terima. menolong orang yang kesusahan. rejeki. Terlebih Yadnya dalam bentuk Upacara/ritual jelas merupakan wujud nyata usaha menghubungkan manusia dengan Sang Penciptanya. maturan sehari-hari dsb ). Yadnya dalam kegiatan karma keseharian adalah sarana untuk menghubungkan diri dengan Tuhan. 4. Sebagai ungkapan rasa terima kasih. dan dengan mendisiplinkan dirimu serta menjadikan-Ku sebagai tujuan. berbaktilah pada-Ku. belajar giat. Jika dalam kehidupan kita senantiasa dapat memusatkan pikiran. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi manusia bijak untuk tidak bersyukur dan tidak berterima kasih kepada Sang Pencipta. maupun berkala ( rahinan. odalan. Perlu kedisiplinan dan keihlasan dalam menjalaninya. berada pada lingkungan sosial yang baik . Manusia memiliki rasa dan pikiran dan dalam tatanan kehidupan sosial terikat pada aturan susila dan moral. Cara paling sederhana menghubungkan diri dengan Tuhan adalah sembahyang. Dengan olah rasa yang baik maka rasa syukur merupakan salah satu motivasi utama untuk selalu berbuat kebajikan. Untuk menjaga agar senantiasa jalan kehidupan kita pada arah yang benar dan selalu mendapat sinar suci serta tuntunan Hyang Widhi maka haruslah kita selalu menjalin hubungan yang harmonis dengan Tuhan. Oleh karena itu hidup manusia dalam rangka mencapai tujuannya tidak akan lepas dari tuntunan dan kekuasaan Tuhan. sebagaimana dalam ajaran Tri Hita Karana. Sembahyang artinya menyembah Hyang Widhi. dilahirkan pada keluarga yang satwam. Upacara/ritual yang dilakukan Umat Hindu baik yang bersifat rutin (contohnya ngejot. dan tunduklah padaKu. memahami dan melaksanakan Yadnya. adalah suatu yang luar biasa. dan diciptakan bersama bumi yang penuh keindahan dan kedamaian. Satusatunya cara agar kita selalu dapat menghubungkan diri dengan Maha Pencipta adalah dengan mempelajari. memuja Hyang widhi maka tujuan tertinggi pasti akan tercapai sebagaimana sabda Tuhan dalam Bhagawad Gita Bab IX sloka 34 : Pusatkan pikiranmu pada-Ku. engkau akan sampai kepada-Ku. Ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Hyang Widhi itulah dilakukan dengan Yadnya Bekerja dengan benar dan giat.Alam semesta dengan segala isinya termasuk manusia adalah ciptaan Hyang Widhi. keselamatan diri. dan kegiatan lain yang didasari pengabdian dan rasa ikhlas adalah salah satu contoh ungkapan rasa syukur dan ucapan terima kasih atas anugrah Tuhan untuk kesehatan. serta hari suci lainnya ) salah satu tujuan utamanya sebagai Pendidikan Agama Hindu 34/76 . Kita diberikan hidup sebagai manusia. Untuk senantiasa dapat memusatkan pikiran dan memuja Hyang Widhi tidaklah mudah.

memperturutkan nafsu semata Pàrtha dan mengalami penderitaan. Oleh karena itu manusia sebagai bagian alam semesta mempunyai kewajiban untuk menjalankan tugas dan fungsinya untuk ikut menciptakan keharmonisan kehidupan. Rsi Rna dilunasi dengan melaksanakan Rsi Yadnya. pada dasarnya bersifat jahat. Leluhur dan orang tua sangat memiliki peranan besar atas kehidupan kita saat ini. Untuk semua ini wajib kita bayar dengan Dewa Yanya dan Bhuta Yadnya. Yadnya menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Hyang Widhi. Sekecil apapun ciptaan-Nya memiliki fungsi tersendiri dalam kehidupan ini. Asura. wahai Agar perputaran roda kehidupan ini berjalan dengan harmonsi maka peranan manusia sangat penting. Hanya dengan Yadnya keharmonisan alam dapat tercipta. Jika manusia dalam melakoni hidup penuh keserakahan dan mengabaikan prinsip-prinsip Dharma maka kehancuran pasti terjadi. yaitu hutang kepada orang tua dan leluhur. yaitu hutang kepada para Rsi yang mengorbankan kehidupannya sehingga dapat memberikan pencerahan kepada manusia melalui ajaran-ajarannya sehingga manusia dapat menjalani hidup dengan lebih baik. Alam dengan segala isinya memiliki keterkaitan dan ketergantungan satu sama lain. Dewa. Dewa Rna. manusia dengan sesamanya dan keharmonisan hubungan manusia dengan alam. mereka yang tidak ikut memutar roda kehidupan ini. Perlu diingat bahwa Yadnya tidak semata-mata dilaksanakan dengan upakara/ritual. bulan. c. III. 5. Tri Rna terdiri dari : a.ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Hyang Widhi atas semua anugrah Beliau. Pitra Rna. manusia. tumbuhan. b. Karma leluhur dan orang tua berpengaruh terhadap keberadaan Pendidikan Agama Hindu 35/76 . Rsi Rna. Butha Yadnya dilakukan untuk memelihara alam lingkungan sebagai tempat kehidupan semua mahluk. bintang. yaitu hutang hidup kepada Hyang Widhi yang telah menciptakan alam semesta termasuk diri kita. Dalam Bhagawad Gita .16 dijelaskan : Di dunia ini. bahkan bakteri dan kumanpun semuanya memiliki tugas dan fungsi tersendiri dalam memutar kehidupan ini. Tri Rna ini dibayar dengan pelaksanaan Panca Yadnya. Dewa Yadnya dalam bentuk pemujaan kepada Hyang Widhi serta melaksanakan Dharma. binatang. Untuk menciptakan kehidupan yang harmonis Hyang Widhi menciptakan alam dengan segala isinya untuk memutar kehidupan. Dalam melaksanakan Yadnya ada tiga kewajiban utama yang harus dilunasi manusia atas keberadaannya di dunia ini yang disebut Tri Rna ( tiga hutang hidup).

setiap orang. Membayar hutang kepada orang tua dan leluhur dilakukan dengan Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya Pendidikan Agama Hindu 36/76 . Oleh karena itu maka sudah menjadi kewajiban untuk membalas hutang tersebut. Paling tidak kelahiran kita di dunia karena adanya leluhur dan orang tua.

C. BENTUK DAN JENIS YADNYA 1. Bentuk – bentuk Yadnya Kitab Bhagawad Gita dalam berbagai sloka menjelaskan bahwa bentuk-bentuk yadnya terdiri dari : a. Yadnya dalam bentuk persembahan/Upakara b. Yadnya dalam bentuk pengendalian diri/tapa c. Yadnya dalam bentuk aktivitas/karma d. Yadnya dalam bentuk harta benda / kekayaan/punia e. Yadnya dalam bentuk ilmu pengetahuan/jnana Sampai saat ini di Indonesia khususnya di Bali hampir sebagian besar umat Hindu masih mengartikan dan mengutamakan bahwa yadnya adalah upacara/ritual. Padahal upakara/ritual itu adalah salah satu bagian dari bentukbentuk yadnya. Sangat sedikit Umat Hindu di Indonesia yang memberikan proporsional untuk melaksanakan bentuk-bentuk yadnya yang lainnya. Hindu memberikan keluasan kepada pemeluknya dalam beryadnya sesuai dengan kondisi dan kemampuan yang ada dengan peluang kesempatan hasil yang sama. Dengan demikian apapun bentuk yadnya yang kita lakukan sepanjang sesuai dengan konsep Dharma maka akan memperoleh hasil yang maksimal. 2. Jenis-jenis Yadnya Secara garis besar yadnya dapat kelompokkan sebagai berikut : a. Dari segi waktu pelaksanaan Yadnya dapat dibedakan : 1). Nitya Yadnya Yaitu yadnya yang dilakukan secara rutin setiap hari. Yadnya ini antara lain; dalam bentuk persembahan yang berupa yadnya sesa, atau persembahyangan sehari-hari. Sedangkan bagi sulinggih melakukan Surya Sewana. Yadnya dalam bentuk yang lain dapat dilaksanakan melalui aktivitas sehari-hari. Bagi seorang siswa kewajiban sehari-hari adalah belajar , bila dilakukan dengan penuh ikhlas merupakan yadnya. Bagi seorang petani, tukang, pegawai dan sebagainya yang melaksanakan tugas sehari-hari dengan konsentrasi persembahan kepada Tuhan disertai keikhlasan juga merupakan Nitya Yadnya. 2). Naimitika Yadnya Yaitu Yadnya yang dilaksanakan secara berkala/ waktu-waktu tertentu. Khusus untuk yadnya ini terutama yadnya dalam bentuk persembahan /upakara yaitu Upacara Piodalan, Sembahyang Purnama dan Tilem, Hari Raya baik menurut wewaran maupun sasih. Bagi bentuk yadnya yang lain tergantung kebiasaan pribadi perorangan/kelompok orang. Ada orang pada setiap hari raya tertentu Pendidikan Agama Hindu 37/76

melaksanakan tapa brata sebagai wujud yadnya pengendalian diri. Ada pula yang pada waktu tertentu setiap tahun atau setiap bulan melakukan dana punia baik dihaturkan kepada sulinggih, orang tidak mampu dan sebagainya. Disamping itu ada juga bentuk yadnya yang dilaksanakan secara insidental sesuai kebutuhan dengan waktu yang tidak tetap/ tidak rutin. Contohnya upacara ngaben, nangluk merana, tirtayatra. Demikian juga bentuk yadnya yang lain adakalanya dilakukan tidak dengan jadwal waktu tertentu. Misalkan jika ada ujian sekolah ada siswa / mahasiswa yang puasa. Ada orang yang tanpa diduga memperoleh rejeki yang lebih , maka sebagian dipuniakan untuk pura atau untuk panti asuhan.

b. Berdasarkan nilai materi / jenis bebantenan suatu yadnya digolongkan menjadi : 1). Nista, artinya yadnya tingkatan kecil yang dapat di bagi lagi menjadi :  Nistaning nista, adalah terkecil dari yang kecil  Madyaning nista, adalah tingkatan sedang dari yang kecil.  Utamaning Nista, adalah tingkatan terbesar dari yang kecil 2). Madya, yaitu yandnya tingkatan sedang yang dapat dibagi lagi menjadi :  Nistaning Madya, adalah tingkatan terkecil dari yang sedang.  Madyaning madya, adalah tingkatan sedang dari yang sedang.  Utamaning madya, adalah tingkatan terbesar dari yang sedang. 3). Utama, yaitu yadnya tingkatan besar yang dapat dibagi menjadi :  Nistaning utama, adalah tingkatan terkecil dari yang besar  Madyaning Utama, adalah tingkatan sedang dari yang besar.  Utamaning Utama, adalah tingkatan terbesar dari yang besar.

c. Sedangkan apabila ditinjau dari tujuan pelaksanaan atau kepada siapa yadnya tersebut dilaksanakan, dapat digolongkan menjadi : 1). Dewa Yadnya 2). Rsi Yadnya 3). Pitra Yadnya 4). Manusa Yadnya 5). Bhuta Yadnya Kelima jenis yadnya di atas dikenal dengan istilah Panca Yadnya. Uraian mengenai Panca Yadnya akan dibahas tersendiri setelah bagian ini.

Pendidikan Agama Hindu

38/76

d. Dari segi kualitas yadnya dapat dibedakan atas: 1). Satwika Yadnya yaitu yadnya yang dilaksanakan dasar utama sradha bakti, lascarya, dan semata melaksanakan sebagai kewajiban. Apapun bentuk yadnya yang dilakukan seperti; persembahan, pengendalian diri, punia, maupun jnana jika dilandasi bakti dan tanpa pamrih maka tergolong Satwika Yadnya. Yadnya dalam bentuk persembahan / upakara akan sangat mulia dan termasuk satwika jika sesuai dengan sastra agama, daksina, mantra, Annasewa, dan nasmita. 2). Rajasika Yadnya yaitu yadnya dilakukan dengan motif pamrih serta pamer kemewahan, pamer harga diri, bagi yang melakukan punia berharap agar dirinya dianggap dermawan. Seorang guru/pendarmawacana memberikan ceramah panjang lebar dan berapi-api dengan maksud agar dianggap pintar; semua bentuk yadnya dengan motif di atas tergolong rajasika yadnya. Seorang yang melakukan tapa, puasa tetapi dengan tujuan untuk memperoleh kekayaan, kesaktian fisik, atau agar dianggap sebagai orang suci juga tergolong yadnya rajasik. 3). Tamasika Yadnya yaitu yadnya yang dilaksanakan tanpa sastra, tanpa punia, tanpa mantra dan tanpa keyakinan. Ini adalah kelompok orang yang beryadnya tanpa arah tujuan yang jelas,hanya ikut-ikutan. Contoh orang-orang yang tegolong melaksanakan tamasikan yadnya antara lain orang yang pergi sembahyang ke pura hanya ikut-ikutan, malu tidak ke pura karena semua tetangga pergi ke pura, orang gotong royong di pura atau di tempat umum juga hanya ikut-ikutan tanpa menyadari manfaatnya. Termasuk dalam katagori ini adalah orang yang beryadnya karena terpaksa. Terpaksa maturan karena semua orang maturan. Terpaksa memberikan punia karena semua orang melakukan punia. Terpaksa puasa karena orang-orang berpuasa. Jadi apapun yang dilaksanakannya adalah sia-sia, tiada manfaat bagi peningkatan karmanya. Jenis-jenis yadnya di atas diuraikan dalam Kitab Bhagawad Gita dalam beberapa sloka. Untuk Yadnya yang berbentuk persembahan/upakara akan tergolong kualitas Satwika bila yadnya dilaksanakan berdasarkan :  Sradha, artinya yadnya dilaksanakan dengan penuh keyakinan  Lascarya, yaitu yadnya dilaksanakan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sedikitpun.  Sastra, bahwa pelaksanaan yadnya sesuai dengan sumber-sumber sastra yang benar.  Daksina, yaitu yadnya dilaksanakan dengan sarana upacara serta punia kepada pemuput yadnya/manggala yadnya. Pendidikan Agama Hindu 39/76

Dewa yadnya. adalah persembahan minyak dan susu kepada para dewa. c. yaitu persembahan kepada para dewa ( disebut swaha ). adalah persembahan yang dilaksanakan dengan belajar dan mengajar secara tulus ikhlas. Manusa Yadnya. Tidak ada gunanya yadnya yang besar tetapi bersifat rajas atau tamas. menjelaskan panca yadnya sebagai berikut : a. adalah penerimaan tamu dengan ramah-tamah. Brahma yadnya. yaitu dengan melantunkan doa-doa serta kidung suci sebagai pemujaan. e. Pelaksanaan Panca yadnya adalah sebagai realisasi dalam melunasi kewajiban manusia yang hakiki yaitu Tri Rna ( tiga hutang hidup ). 2. Pitra Yadnya.  D. Pitra Yadnya. yaitu yang dilaksanakan dengan mempelajari pengucapan mantram cusi weda. yaitu persembahan yang ditujukan untuk leluhur ( disebut swadha). Penjelasan-penjelasan tersebut antara lain : 1. Jamuan ini penting karena setiap tamu yang datang ikut berdoa agar pelaksanaan yadnya berhasil. Nara Yadnya .  Nasmita. c. Kitab Manawa Dharmasastra Kitab Manawa Dharmasastra memberikan penjelasan tentang Panca Yadnya sebagai berikut : a. yaitu yadnya untuk para bhuta b.Mantra dan gita. Bhuta Yadnya. Dengan jamuan maka karma dari doa para tamu undangan menjadi milik sang yajamana. d. Brahma Yadnya. Kitab ini merupakan bagian dari Reg Weda. yaitu persembahan makanan untuk sesama manusia. adalah pelaksanaan upacara bali untuk butha. adalah persembahan tarpana dan air kepada leluhur. Sedangkan kualitas yadnya yang harus dicapai setiap pelaksanaan yadnya adalah Satwika Yadnya.  Annasewa. Dewa Yadnya. e. bahwa yadnya yang dilaksanakan bukan untuk memamerkan kekayaan dan kemewahan Apapun jenis yadnya yang kita lakukan seharusnya yang menjadi tolok ukur adalah kualitas yadnya. b. Pendidikan Agama Hindu 40/76 . PANCA YADNYA Panca Yadnya adalah lima macam korban suci dengan tulus ikhlas yang wajib dilakukan oleh umat Hindu. Dalam beberapa kitab dan pustaka memberikan penjelasan tentang Panca Yadnya yang berbeda. Kitab Sathapata Brahmana. Bhuta Yadnya. artinya memberikan jamuan kepada tamu yang menghadiri upacara. d. namun pada intinya memiliki kesatuan tujuan yang sama.

Dewa Yadnya. c. adalah persembahan punia. adalah persembahan dengan sesajen dan mengucapkan Sruti dan Stawa pada waktu bulan purnama. yaitu persembahan dengan memberi makanan kepada masyarakat. e. Lontar Korawa Srama a. d. Dewa Yadnya dilaksanakan terutama dalam rangka memenuhi kewajiban Dewa Rna. yaitu persembahan dengan minyak dan biji-bijian kehadapan Dewa Siwa dan Dewa Agni di tempat pemujaan dewa. Rsi Yadnya. Manusa Yadnya. Pitra Yadnya. Tetapi dalam konteks pengertian dan pelaksanaannya mengacu pada penjelasan-penjelasan Kitab Weda sehingga di Indonesia Panca Yadnya dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. e. buah-buahan. 4. Menurut lontar ini Panca yadnya adalah : a.3. d. Dewa Yadnya. yaitu persembahan dengan menghormati pendeta dan membaca kitab suci. Bhuta Yadnya. dan barang yang tidak mudah rusak kepada para Maha Rsi. Dewa Yadya. adalah mempersembahkan puja dan banten kepada bhuta. Bhuta Yadnya. Dalam lontar Korawa Srama terdapat penjelasan Panca yadnya sebagai berikut: b. yaitu persembahan dengan mensejahterakan tumbuhan dan menyelenggarakan upacara tawur serta upacara panca wali krama. keikhlasan. penuh tanggung jawab dan menjadikan aktivitas tersebut sebagai persembahan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagaimana sabda Tuhan melalui Bahagawad Gita dalam beberapa sloka seperti : Pendidikan Agama Hindu 41/76 . yaitu upacara kematian agar roh yang meninggal mencapai alam Siwa. Manusa Yadnya adalah persembahan makanan kepada masyarakat. c. Lontar Agastya Parwa Penjelasan tentang Panca Yadnya dari lontar Agastya Parwa adalah yang menjadi acuan utama pelaksanaan yadnya di Indonesia. b. Rsi Yadnya. makanan. Pelaksanaan Dewa Yadnya dapat dilakukan dengan berbagai bentuk. yakni hutang hidup kepada Ida Sang Hyang Widhi. adalah persembahan yang tulus iklhas kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya. Dari beberapa sumber di atas yang lebih tepat digunakan sebagai dasar pelaksanaan yadnya di Indonesia adalah Lontas Agastya Parwa. Aktivitas kehidupan sehari-hari dapat diwujudkan menjadi yadnya dengan cara melaksanakan semua aktivitas yang didasari oleh kesadaran. Pitra Yadnya adalah mempersembahkan puja dan banetn kepada leluhur. f.

demikian pula hendaknya orang Bhàrata terpelajar bekerja. dunia ini terbelenggu oleh kegiatan kerja. Tad-artham karma kaunteya mukta-saògaá samàcara ( Bhagawad Gita. tanpa keterikatan. wahai ( Arjuna ). III.19 ) Artinya: Oleh karena itu. Kuryàd widwàýs tathàsaktaú cikìrûur loka-saògraham ( Bhagawad Gita. karena dengan melakukan kerja tanpa pamrih seperti itu membuat manusia mencapai tingkatan tertinggi. Oleh karena itu. III. Pendidikan Agama Hindu 42/76 . III.Yajòàathàt karmano ‘nyatra loko ‘yaý karma-bandhanah. Asakto hy àcaran karma param àpnoti pùrsaá ( Bhagawad Gita. Tasmàd asaktaá satataý kàryaý karmasamàcara. Saktàá karmaóy awidwàmso yathà kurwanti bhæata.9 ) Artinya: Kecuali kerja yang dilakukan sebagai dan untuk tujuan pengorbanan. lakukanlah selalu kegiatan kerja yang harus dilakukan.25 ) Artinya: Seperti orang bodoh yang bekerja karena pamrih dari kegiatannya. tetapi tanpa pamrih dan semata-mata dengan keinginan untuk memelihara kesejahteraan tatanan dunia ini saja. wahai putra Kunti ( Arjuna). lakukanlah kegiatanmu sebagai pengorbanan dan jangan terikat dengan hasilnya.

maligia. sebab jika tidak maka karma baik atas upacara yadnya yang dilaksanakan akan menjadi milik sang pemuput karya. Bentuk asti wedana adalah :  Sawa Wedana yaitu upacara ngaben bila yang dibakar adalah jenasah. Dalam Kitab Suci Bhagawad Gita banyak dijelaskan berbagai bentuk yadnya yang Satwika. Atma Wedana. yaitu upacara tingkat berikutnya yang bertujuan lebih menyempurnakan jiwatman yang telah diabenkan dari alam surga menuju alam dewa/moksa. atau meninggal tetapi jenasahnya tidak ditemukan ( misalnya meninggal di laut atau di hutan ). atau juga jenasah yang dikubur tetapi tulangnya tidak ditemukan. hormat dan bakti serta melayani para sulinggih/ orang suci secara tulus ikhlas.  Ngerca Wedana yaitu upaca ngaben dengan membakar simbol sebagai pengganti tulang/jenasah orang yang sudah meninggal. 2. Di Bali Upacara Pitra Yadnya dikenal memiliki beberapa tingkatan seperti : a. Pendidikan Agama Hindu 43/76 . ngeroras. Oleh karena itu hutang hidup ini harus dibayar dengan bentuk Upacara Pitra Yadnya. Asti Wedana yaitu tingkatan upacara pitra yadnya yang lebih tinggi yang umumnya disebut NGABEN. Menurut Hindu atas jasa para rsi dan orang suci ini menyebabkan kita memiliki hutang yang disebut Rsi Rna. Sawa Prateka. yakni upacara perawatan dan penyelesaian jenasah seperti dikubur ( mekingsan ring pertiwi ). Pitra Yadnya. Upacara ini dikenal juga dengan nama SWASTA. 3. Pelaksanaan yadnya ini sebagai wujud terima kasih atas segala jasa yang telah diberikan oleh para rsi dan orang suci pada kita . dibakar ( mekingsan ring geni) dsb. Pitra yadnya wajib dilakukan untuk membayar hutang hidup kepada orang tua dan leluhur yang disebut Pitra Rna. Bentuk atma wedana antara lain. Sedangkan bentuk lain Rsi Yadnya adalah dengan melaksanakan ajaran-ajaran suci para rsi. atau yadnya dalam bentuk tapa serta yadnya dalam bentuk persembahan/upakara haruslah dilakukan dengan ikhlas dan tanpa pamrih. Dalam melaksanakan upacara seharusnya sang yajamana menghaturkan punia daksina pada sulinggih/ pemuput karya yang sesuai. Rsi Yadnya.  Asti Wedana yaitu upacara pengabenan dengan membakar jenasah yang sudah berbentuk tulang ( sudah dikubur terlebih dahulu). atau beryadnya dalam bentuk jnana (pengetahuan). mukur. adalah pengorbanan yang tulus ikhlas untuk para leluhur dan orang tua.Selanjutnya jika kita beryadnya dalam bentuk dana/harta . Jika semua yadnya yang dilaksanakan dengan tujuan sebagai persembahan kepada Tuhan maka jadilah yadnya tersebut Satwika. Upacara ini biasanya dilakukan untuk orang yang waktu meninggal telah mekingsan ring geni. adalah persembahan yang tulus ikhlas kepada para rsi dan orang suci.Tanpa ada leluhur dan orang tua sangat mustahil kita akan lahir di dunia ini. Contoh Rsi Yadnya yang berbentuk Upakara adalah Rsi Bojana. b. c.

Demikian pula memberikan dana punia untuk pendidikan anak bagi keluarga tidak mampu atau melaksanakan bhakti sosial pengobatan bagi masayarakat kurang mampu juga termasuk manusa yadnya. jnana. sempurna kembali menuju alamnya sendiri dan tidak mengganggu kehidupan manusia. bayu dan idep memiliki peranan penting dalam menciptakan keharmonisan kehidupan. Jadi semua mahluk termasuk para bhuta memiliki hak hidup. agama maupun golongan. Artinya jika kita memberikan nasehat atau ilmu kepada orang lain yang menyebabkan orang tersebut memperoleh kebahagiaan hidup maka itu tergolong juga manusa yadnya. Jadi pitra yadnya dalam kaitan kewajiban sebagai siswa adalah dengan belajar sebaikbaiknya sebagaimana harapan orang tua.Disamping bentuk upacara pitra yadnya sebagaimana dijelaskan di atas yang lebih penting dilakukan masa kini adalah bagaimana usaha kita untuk menjunjung nama baik dan kehormatan leluhur dan orang tua. Selama ini pemahaman sebagian umat Hindu bahwa manusa yadnya semata-mata upacara yang dilaksanakan oleh orang tua bagi anak-anaknya. Secara sekala wujud bhuta yadnya adalah usaha kita agar menjaga kelestarian alam. Sesuai dengan pengertian tersebut maka segala bentuk pengobanan yang bertujuan untuk kebahagiaan hidup manusia adalah tergolong manusa yadnya. serta tindakantindakan lain yang dapat menjadi penyebab bencana alam. hutan lindung. Manusia sebagai mahluk yang memiliki sabda. Menurut konsep Hindu bahwa semua yang ada di dunia ini adalah ciptaan Hyang Widhi yang memiliki fungsi tersendiri dalam memutar roda kehidupan. Jika memahami pengertian manusa yadnya. Melayani orang tua semasih hidup dengan ikhlas serta tidak mengecewakan dan menyakiti hati orang tua adalah merupakan pitra yadnya utama. Bentuk manusa yadnya bisa bermacam-macam seperti yadnya dalam bentuk dana. Butha Yadnya. Tujuan bhuta yadnya adalah agar para bhuta kala “somya”. upacara. 4. adalah pengorbanan yang tulus ikhlas untuk kebahagiaan hidup manusia. 5. Manusa Yadnya. tetapi bagi semua manusia tanpa memandang suku. maka bentuknya tidak selalu upacara. dan karma sepanjang tujuan yadnya tersebut adalah untuk kebahagiaan hidup manusia. tidak merusak mata air. sejak dalam kandungan sampai menuju grahasta ( perkawinan). PENILAIAN YADNYA Pendidikan Agama Hindu 44/76 . Oleh karena itu manusia melaksanakan bhuta yadnya agar keseimbangan hidup tercipta. E. Dengan demikian maka sasaran manusa yadnya bukan hanya untuk anak/ keturunan sendiri. adalah pengorbanan yang tulus iklhas untuk para butha agar tercipta kedamaian dan keharmonisan hidup di dunia. serta peruntukannya bukan hanya untuk anak ( keturunan sendiri).

Manusia. Untuk itu kita perlu secara jujur menjawab beberapa pertanyaan untuk dianalisa kemudian menilai atas yadnya yang kita laksanakan. apakah tergolong utma. Rajas ataukah Tamas? Dengan melakukan penilaian diri terhadap setiap tindakan karma. maka kita dapat berharap bahwa hidup ini tidak akan sia-sia. ataukah Bhuta? Terakhir sebagai tolok ukur karma yang paling penting harus kita nilai apakah yadnya yang kita lakukan bersifat Satwam.Dari uraian di atas maka kita akan dapat menilai diri sendiri tentang yadnya yang kita lakukan. Rsi. madya. Pitra. ataukah nista? Selanjutnya kita harus menggoongkan lagi kepada siapakah yadnya tersebut ditujukan? Apakah kepada Ida Sang Hyang Widhi. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah : Bentuk apakah yadnya yang kita lakukan? Selanjutnya kita dapat bertanya apakah yandya yang kita lakukan tergoong Nitya Yadnya ataukah Naimitika Yadnya? Jika Yadnya tersebut berkaitan dengan materi. sloka 2. Pendidikan Agama Hindu 45/76 . Hidup ini adalah untuk meningkatkan kwalitas karma jiwatman sebagaimana yang disampaikan dalam kitab Sarasamuscaya .

Carilah sloka-sloka Bhagawad Gita yang berkaitan dengan bentuk-bentuk yadnya 2. PENDALAMAN MATERI Tugas siswa : 1. PENGALAMAN YADNYA a.F. Untuk memudahkan dapat digunakan format berikut ini. Kegiatan/Peristiwa b. Kemudian berikan penilaian atas pengalaman yadnya tersebut dengan alasannya masingmasing. Penilaian NO Penialaian 1 Bentuk : 2 3 4 5 Waktu Pelaksanaan : Materi : Tujuan : Kwalitas : Alasan Pendidikan Agama Hindu 46/76 . Buatlah tulisan tentang pengalaman pribadi anda minimal dua pengalaman yang dapat digolongkan sebagai yadnya.

Jika rambu-rambu dan aturan ini dilanggar kemungkinan kita akan tersesat atau bahkan celaka. Sedangkan Yadnya/Upacara adalah aktivitas nyata umat Hindu dalam merealisasikan Tattwa Agama dalam kehidupan sehari-hari. Tattwa adalah hakekat atau filsafat agama. Sebaliknya meskipun pelaksanaan yadnya secara tattwa benar. Pendidikan Agama Hindu 47/76 . Dalam konsep Hindu aktivitas kehidupan manusia khususnya dalam kaitan keagamaan maka tiga kerangka tersebut harus merupakan satu kesatuan dalam pelaksanaannya. berbagai jalan atau arah yang bisa dilalui menuju tempat tujuan. serta berbagai fasilitas yang dapat digunakan untuk menuju tempat tersebut.BAB VI SUSILA Standar Kompetensi Memahami Tat Twam Asi sebagai landasan etika dan moral Tujuan akhir pembelajaran 1. maka pengetahuan tattwa dan susilanya tidak memberikan karma apapun. serta interaksi dengan alam. Susila berasal dari kata Su yang berarti baik. Tanpa pemahaman tattwa yang benar maka yadnya bisa menyimpang dari tujuan utama. dan Upacara ( Yadnya ). Susila ( etika ) . sesama manusia . Peserta didik mampu menjelaskan pengertian tat twam asi 2. serta aturan yang harus diikuti dan dipatuhi sehingga dapat sampai pada tujuan dengan selamat. Istilah lain dai Susila adalah Etika/Etiket. maka tattwa akan memberikan pengetahuan pada kita tentang situasi daerah yang akan dituju. karena pada hakekatnya pahala karma hanya akan diperoleh melalui kerja ( yadnya). Menunjukkan prilaku sebagai implementasi ajaran Tat Twam Asi Uraian Materi A.petunjuk . Kemudian seseorang yang memiliki tattwa tinggi juga mengetahui aturan susila tetapi tanpa diikuti dengan tindakan nyata ( dalam bentuk yadnya). Susila adalah aturan-aturan moral dalam segala tindakan serta komunikasi manusia dengan Tuhan. PENDAHULUAN Susila adalah bagian dari tiga kerangka Agama Hindu yakni. dan sila yang berarti tingkah laku/perbuatan. Tatwa. tetapi mengabaikan etika maka yadnya menjadi tidak sempurna. Jadi susila adalah perbuatan atau tingkah laku yang baik dan benar. Umat Hindu harus memahami tattwa dan mematuhi susila setiap yadnya/upacara yang dilaksanakan. Contoh sederhana penggambarannya adalah jika kita akan menuju suatu tempat. Sedangkan Susila adalah rambu-rambu .

Aturan/susila itu dapat bersifat universal/global. semua aktivitasnya memiliki aturan. Meskipun kita mengetahui secara jelas gambaran tentang lokasi yang akan dituju serta semua aturan dan rambunya. ras. manusia dengan Tuhan . jika tidak bergerak/ diam di tempat maka selamanya kita tidak akan pernah sampai pada tujuan. Ada juga aturan / etika dalam berprilaku sosial kemasyarakan. . bangsa. Planet-planet berputar mengelilingi bumi dan bersama bumi mengelilingi matahari. B. berjalan sesuai dengan fasilitas yang tersedia dan mengikuti aturan ( susila) yang ada barulah kita bisa mencapai tujuan.Contohnya adalah saling menghormati hak asasi manusia ( HAM). Ajaran ini disebut Tri Hita Karana ( tiga faktor penyebab terwujudnya kebahagiaan ). Jika salah satu bagian alam ini tidak mengikuti aturan maka akan terjadi kehancuran. Manusia sebagai mahluk yang paling sempurna diantara mahluk lainnya di bumi memiliki peranan utama dalam menegakkan aturan. Ada etika/aturan yang harus Pendidikan Agama Hindu 48/76 . Disamping itu ada juga aturan dalam bernegara dan berbangsa dalam bentuk hukum negara/ udang-undang. Dalam kehidupan ini semua aktivitas memiliki aturan/etika/susila. manusia memiliki kelebihan dalam menerima ajaran-ajaran susila/ etika dalam menghubungkandiri dengan Tuhan (sembahyang). Contohnya bumi berputar pada porosnya dan mengitari matahari. Semua yang ada di alam bebas maupun di dunia harus mengikuti aturan dalam pergerakannya. Jika aturan ini tidak diikuti maka pasti akan terjadi kekacauan. Inilah Yadnya. dan manusia dengan alam . dimana setiap daerah memiliki kekhasan tersendiri sebagai budaya lokal. PERANAN SUSILA DALAM MEWUJUDKAN TRI HITA KARANA Dalam konsep ajaran Hindu bahwa kebahagiaan hanya akan terwujud jika adanya hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia. Artinya berlaku bagi semua manusia di seluruh dunia tanpa memandang suku. Dengan susila maka manusia dapat melaksanakan yadnya dengan berbagai kondisi tanpa menyimpang dari tattwanya. peraturan pemerintah dan sebagainya. Demikian juga dalam kehidupan di dunia. sehingga tercipta keseimbangan dan keharmonisan antara konsep dengan pelaksanaannya.Akhirnya berdasarkan pengetahuan tattwa yang dimiliki haruslah kita bergerak. Dari ketiga kerangka tersebut SUSILA memegang peranan penting yang menjembatani antara Tattwa dengan Yadnya. dan agama. Dalam mewujudkan keharmonisan antara manusia dengan Tuhan. Alam semesta memiliki aturan / hukum tersendiri dalam pergerakannya yang disebut RTA ( hukum alam). Manusia dengan kecerdasan yang dimilikinya dapat membuat aturan-aturan dalam berinteraksi sesama manusia. Tuhan menciptakan RTA ( hukum alam ) untuk kehidupan. Manusia memiliki peranan utama dalam mewujudkan keharmonisan antara ketiga faktor tersebut.

sifat. jika ditelusuri maka semua itu adalah akibat ulah manusia sendiri yang tidak mengikuti aturan / etika dalam mengelola alam. misalnya persembahyangan di pura. dan sebagainya. Untuk jenis-jenis persembahyangan tertentu juga memiliki aturan yang berbeda. Selanjutnya mahluk hidup memilki atman sebagai percikan suci Ida Sang Hyang Widhi. Jadi di setiap mahluk hidup khususnya manusia memiliki unsur kekuatan hidup yang sama. Jadi Tat Twam Asi berarti dia adalah engkau. Dewasa ini banyak terjadi bencana alam. Tat Twam Asi adalah sumber utama ajaran cinta kasih agar manusia dapat saling menghargai. Membuang sampah pada aliran sungai. Dengan pemahaman ini maka Hindu mengajarkan agar manusia tidak Pendidikan Agama Hindu 49/76 . Agar terwujud keharmonisan antara manusia dengan manusia. saling menghormati. dan wujud manusia karena perbedaan pengaruh Triguna dan karma wasana. manusia dengan Tuhan dan manusia dengan alam maka manusia harus memahami dan mengikuti aturan/susila dalam melaksanakan masingmasing hubungan tersebut. Tat Twam Asi adalah esensial filsafat Hindu dalam ajaran susila yang bersifat universal dan tanpa batas. hubungan dengan Tuhan.Tat artinya itu (dia). seperti banjir bandang . pemanasan global . maupun secara kolektif ( bersama-sama). Manusia dengan kecerdasan yang dimilikinya dapat menciptakan aturan/etika dalam hubungan dengan sesama manusia. dan Asi artinya adalah. saling menolong sehingga terwujud kedamaian dan kebahagiaan. Twam artinya kamu. yaitu percikan suci Tuhan.diikuti dalam melakukan hubungan dengan Tuhan. demikian juga sebaliknya. Penggundulan hutan dengan ilegal loging maka terjadilah banjir bandang. Alam secara kodrati hanya akan memberikan reaksi terhadap segala perlakuan manusia kepada alam itu sendiri. 2. Jika aturan/etika ini dilanggar maka dipastikan keharmonisan tidak akan terwujud. Sedangkan hubungan manusia dengan alam jelas yang paling menentukan adalah manusia itu sendiri. TAT TWAM ASI Konsep dasar ajaran kesusilaan Hindu dalam hubungan antara sesama manusia dikupas dalam Kitab Candogya Upanishad yang dalam salah satu sloka ada disebutkan Tat Twam Asi. merusak sempadan sungai. serta hubungan dengan alam C. Tat twam asi bersumber pada ajaran Hindu bahwa Tuhan / Brahman menciptakan alam semesta beserta segala isinya dari diriNYa sendiri melalui tapa/yadnya. serta pembangunan gedung/perumahan tanpa memperhatikan penyerapan dan saluran sanitasi yang baik maka terjadi banjir disetiap musim hujan. baik hubungan secara pribadi. Etika persembahyangan pribadi tidak dapat diterapkan pada persembahyangan bersama. Perbedaan pribadi . Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan bahwa : 1.

Hindu mengajarkan agar kita memandang semua mahluk hidup diciptakan dan bersumber dari asal yang sama. Bahwa dalam setiap kehidupan ada percikan suci Ida Sang Hyang Widhi sehingga wajib dihormati dan dikasihi tanpa memandang batasan tertentu.memandang manusia lainnya hanya dari segi fisiknya saja. Pendidikan Agama Hindu 50/76 .

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka setiap individu memiliki hak secara pribadi.  Agar cinta kasih dalam diri dapat tumbuh dan berkembang maka kita harus belajar mengurangi keakuan ( egoisme). Dengan demikian maka diharapkan dalam hubungan sosial manusia dapat mencapai kebahagiaan. Dalam rangka mengatur hubungan sosial masyarakat maka dibutuhkan aturan tingkah laku yang disebut tata susila. Jadi dalam hal ini orang-orang bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan pribadi yang sama. kita punya hak untuk mendengarkan musik dari tape milik kita sendiri. Contoh. hak mendapatkan kasih sayang dan sebagainya. Hanya mengutamakan kepentingan pribadi tanpa memperhatikan adanya kepentingan orang lain. kapanpun kita suka. agar setiap individu dalam satu lingkungan aman/terhindar dari serangan penyakit demam berdarah maka mereka bekerjasama bergotong royong membersihkan lingkungan dari kemungkinan tempat-tempat nyamuk bersarang. hak untuk hidup . Hak-hak tersebut antara lain. Dalam hubungan sosial maka hak pribadi merupakan batas bagi orang lain untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Pendidikan Agama Hindu 51/76 . yang paling utama harus dilakukan adalah:  Mengembangkan cinta kasih sesama. Sebagai mahluk sosial manusia tidak dapat hidup sendiri. Dalam memenuhi kebutuhan pribadi tidak boleh mengorbankan hak pribadi orang lain. untuk ini kita perlu melatih pengekangan diri untuk mengurangi rasa ego. apalagi di jaman sekarang sangatlah mustahil manusia hidup tanpa berhubungan dengan orang lain.Untuk bisa mengimplementasikan ajaran Tat Twam Asi. hak memiliki. Manusia memiliki kebutuhan pribadi baik kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani. Meskipun di masyarakat secara umum sudah dikenal tentang tata susila yang berlaku namun seringkali orang melanggar tata susila itu. Hal ini tentu saja akan menimbulkan ketidak harmonisan dalam sosial kemasyarakatan. Manusia adalah mahluk individu sekaligus mahluk sosial. Contohnya. Secara jasmani setiap individu ingin mencapai kesenangan dan secara rohani setiap orang ingin mendapatkan kebahagiaan. Pelanggaran tata susila terjadi biasanya dilakukan oleh orang-orang yang kurang mampu mengedalikan diri. Oleh karena itu maka jika ita mendengarkan musik dengan suara keras pada waktu orang lain istirahat berarti melanggar hak pribadi orang lain. Jadi dalam memenuhi kebutuhan pribadi kita harus membatasi diri jangan sampai melanggar hak orang lain. hak perlindungan. Demikian juga untuk memenuhi kebutuhan pribadi yang sama orang melakukan kerjasama. Untuk memenuhi kebutuhan pribadi seseorang membutuhkan pertolongan orang lain. Secara individu manusia memiliki rasa keakuan ( ahamkara ). Tetapi harus diingat bahwa ada hak orang lain untuk beristirahaT dan tidak diganggu oleh kebisingan.

D. Sebagai implementasi ajaran tat twam asi ada beberapa konsep yang dapat kita pedomani antara lain :  Memandang semua manusia adalah sama. Dalam memenuhi sandang kita perlu orang yang menjual pakaian atau bahan untuk membuat pakaian. Dalam rangka memenuhi kebutuhan pribadi tersebut kita sebagai mahluk pribadi tidak dapat memenuhi semuanya sendiri.Konsep ajaran Tat Twam Asi jika dimaknai dan dihayati dengan benar maka dapat dijadikan sebagai kunci pembuka kasih di hati sehingga dapat secara perlahan mengurangi rasa keakuan/ego ( ahamkara ). budhi (kemampuan mengambil keputusan benar atau salah ). kita perlu orang yang menjual makanan atau bahan untuk membuat makanan. Dalam membina hubungan sosial inilah kita perlu memahami dan mengamalkan ajaran Tat Twam Asi. pangan. dan ahamkara ( rasa keakuan sebagai motivasi bertindak) yang ada dalam diri sehingga menjadi seimbang dan mengutamakan bahwa hubungan harmonis sesama manusia adalah kebutuhan utama dalam hidup ini.  Melaksanakan ajaran Catur Paramita. Dalam memenuhi kebutuhan pangan misalnya. Sebagai individu kita memiliki kebutuhan-kebutuhan pribadi yang harus dipenuhi. Manusia adalah mahluk individu sekaligus mahluk sosial. 1. papan. Dalam ranka membina hubungan harmonis sesama manusia. Demikian juga dalam memenuhi kebutuhan kasih sayang kita memerlukan suami/istri. alam lingkungan serta Tuhan. serta kebutuhan kasih sayang. kita harus bisa mengolah manah ( pikiran ).  Merasakan penderitaan orang lain. Dalam ajaran Hindu dinyatakan bahwa manusia itu pada dasarnya adalah sama dan berasal dari sumber yang sama. Dengan daya pikir tersebut kita dapat melakukan yadnya utuk menyucikan diri sendiri serta menyucikan alam. Memandang semua manusia adalah sama.  Melaksanakan Tri Kaya Parisudha. Dalam Kitab Yajur Weda Adyaya 40. Hal ini karena diantara semua mahluk ciptaan Ida Sang Hyang Widhi hanya manusia yang diberikan idep ( daya pikir ). orang tua. seperti kebutuhan sandang.  Melaksanakan ajaran Tri Parartha. Setiap individu berhak untuk memenuhi kebutuhan tersebut. IMPLEMENTASI TAT TWAM ASI Di dunia manusia memegang peranan utama dalam mewujudkan hubungan harmonis antara manusia. anak. sloka 7 disebukan : Pendidikan Agama Hindu 52/76 . keluarga serta tetangga atau teman. kita perlu bantuan dan kerjasama dengan orang lain. Sang Pencipta. Dalam kaitan memenuhi kebutuhan pribadi yang berhubungan dengan orang lain inilah kita disebut sebagai mahluk sosial.

badan jasmani serta pribadinya. Merasakan penderitaan orang lain. warna kulit. Sifat ego yang berlebihan cenderung mendorong manusia untuk mempertajam perbedaan-perbedaan. Dari sinilah mulai timbul ketidakharmonisan. tetapi spirit kehidupan setiap orang sama. disana ada sinar Tuhan yaitu Atman. Terjadinya kerusuhan dan perkelahian antar warga. Selanjutnya konsep kedua dalam sloka di atas juga mengajarkan pada kita bahwa semua manusia di seluruh dunia adalah sebuah keluarga besar. antar kelompok serta tindakan-tindakan yang merendahkan martabat kelompok lain juga sebagai contoh pengaruh ego ( rasa keakuan) menguasai manusia. Pertama . Dengan pemahaman ini maka kita seharusnya belajar untuk memandang setiap orang adalah sama.Seseorang yang menganggap seluruh umat manusia memiliki Atman yang sama dan dapat melihat semua manusia sebagai saudaranya. kita tidak boleh membedakan derajat manusia hanya dari sisi luarnya saja. bangsa. Pada dasarnya tidak ada satu orangpun di dunia ini yang ingin hidup dalam kekacauan. Semua ingin hidup damai dan harmonis. Dalam sloka di atas tersirat dua konsep pandangan Hindu atas keberadaan umat manusia. Banyak contoh-contoh penajamanpenajaman kelompok dan ras yang terjadi baik sebagai catatan sejarah maupun tradisi yang melekat di masyarakat sampai saat ini. semua memilik keinginan untuk hidup berdampingan secara damai. Dalam satu keluarga besar . ras. Atman adalah kesadaran kesadaran murni yang memuliki sifat sama dengan Brahman ( Atman Brahman Aikyam). Terjadinya sejarah penjajahan suatu bangsa adalah contoh perlakuan yang membedakan derajat manusia. Karena atman berasal dari Brahman maka pada tingkat kesadaran tertinggi semua atman-atman yang menghidupi semua manusia di dunia adalah sama. orang tersebut tidak terikat dalam ikatan dan bebas dari kesedihan. Sama-sama memiliki sinar Tuhan. maka timbul tindakan-tindakan yang merugikan pihak lain. dan ahamkara. kasta dan sebagainya. Atman adalah percikan-percikan terkecil dari Brahman ( Hyang Widhi). sedangkan ahamkara lebih menitik beratkan Pendidikan Agama Hindu 53/76 . Warna kulit bisa berbeda. seperti suku. bahwa di setIap manusia terdapat unsur utama yang sama yaitu atman. tingkat ekonomi dan sosial juga bisa berbeda. Manusia diciptakan lengkap dengan manas. ini berarti bahwa atman-atman yang ada pada setiap manusia adalah sama. budaya dan tradisi bisa berbeda. Kenapa? Karena semua bersumber dari yang satu yaitu Brahman. Semua manusia pada dasarnya adalah saudara. 2. budhi. Jadi jika kita membeda-bedakan orang berarti kita membeda-bedakan Hyang Widhi. Perbedaannya hanyalah pembungkus luarnya saja yakni. Hanya saja pengaruh pola pikir yang sempit serta mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompoknya saja. Manas adalah pikiran sedangkan budhi adalah kemampuan manusia untuk mengolah dan merasakan baik dan benar.

Kalau keadaan suka dan duka itu diatasi secara bersama-sama. Inilah hakekat dan ajaran Tat Twam Asi. Jika seseorang memiliki ahamkara yang tinggi tanpa dibarengi dengan olah budhi yang matang cenderung melahirkan sifat keakuan / ego yang tinggi. uamt Hindu mengatasi keadaan suka dan duka sudah sangat melembaga. dan tiga untuk menyucikan perbuatan/prilaku. 3. Ikut serta menanggulangi penderitaan orang lain adalah sesuai dengan kemampuan dan swadharma masing-masing. Ukuran rasa kemanusiaan seseorang adalah apabila dia dapat merasakan pendertaan orang lain sebagai penderitaannya. Ada orang yang mengalami duka paa saat tertenu. Perpaduan antara budhi dan ahamkara pada seseorang sangat menentukan kualitas rasa/perasaan orang tersebut. Di dalam kitab Sarasamuscaya 73-76 disebut sepuluh hal untuk menjaga kesucian Tri Kaya agar menjadi suci. empat untuk menjaga kesucian kata-kata. dan pada saat itu juga ada orang lain yang mengalami keadaan suka. Dalam sistem kehidupan yang modem dewasa mi sesungguhnya banyak pihak yang mendapat kesempatan untuk mengamalkan rasa kemanusiaannya. Karena itu orang yang dalam keadaan suka seharusnya belapang dada membantu sesame yang sedang dirundung penderitaan. Hanya mementingkan diri sendiri tanpa peduli pada keadaan maupun perasaan orang lain. Melaksanakan Tri Kaya Parisudha (tiga prilaku yang disucikan). Tiap orang selalu mengalami suka dan duka dalam kehidupannya di dunia in Saat suka dan duka itu. Justru penderitaan orang lain sering dijadikan ajang untuk mencari keuntungan guna memperkaya diri sendiri. Sayang kebanyakan orang tidak menggunakan kesempátan mi untuk mengamalkan rasa kemanusiaannya. Berikutnya jika seseorang memiliki perimbangan dalam penguasaan ahamkara dan memiliki budhi ang tinggi maka orang tersebut akan senantiasa memikirkan rasa dan kepentingan orang lain sebelum bertindak untuk kepentingan pribadinya. Nilai-nilai tradisi yang dikandung oleh lembaga suka duka tradisional itu.pada rasa keakuan sebagai motivasi dasar untuk bertindak. Karena dirasakan sebagai penderitaannya maka ia sendiri akan ikut aktif menanggulangi penderitaan orang lain. maka berbagai beban hidup itu akan dirasakan ringan dan tidak terlalu menyusahkan. Tiga untuk menjaga kesucian pikiran. Dalam kehidupan tradisional di Bali. yang disebut Karma Patha. Type orang seperti ini adalah selalu menuntut hak terlebih dahulu tetapi mengabaikan kewajibannya. Pendidikan Agama Hindu 54/76 . tidak dapat dirasakan secara bersamaan oleh semua manusia. patut dikembangkan sehingga dapat didayagunakan untuk mengatasi persoalan hidup masa kini dan masa yang akan datang.

73-74 disebutkan: Hana karmapatha ngaranya kahrtaningindriya. Ada tiga cara melakukan manacika atau penyucian pikiran yaitu: 1) Tidak menginginkan dan tidak dengki terhadap milik orang lain Pendidikan Agama Hindu 55/76 . Demikianlah pada hakekatnya pikiran tersebut selalu dijaga kesuciannya dengan satya/kebenaran/kejujuran.109 sebagai berikut: “Adbhirgatrani çuddhyanti manah satyena çuddhyati. (Manawa Dharmasastra. pnda. tiga banyaknya. Artinya: Adalah karmapatha namanya. manah kengèta. kecerdasan dengan dengan pengetahuan yang benar. perkataan dan pikiran itulah patut diperhatikan . Dalam kehidupan manusia di dunia mi Pikiran paling menentukan kualitas prilaku manusia Pikiranlah yang mengatur gerak sepuluh indria.jadi sepuluh banyaknya. V109) Artinya: Tubuh dibersihkan den gan air. perinciannya gerak pikiran. V. Oleh karena itu kuatkanlah pikiran agar pikiran tersebut yang mengatur laku indria. tèlu. sehingga pikiran sering disebut Rajendria. tèlu kwehnya. sapuluh kwehnya. prawrttyaning manah sakarèng. gerak tindakan. Sucikanlah pikiran dengan satya. widyatapobhyam bhutatma budhir jnanena cuddhyati “. jiwa manusia dengan pelajaran suci dan tapa brata. dan setelah dicemari oleh hawa nafsu disebut manah. pat prawrttyaning käya. wak. Manacika. Karena itu proses penyucian pikiran disebut “manacika parisudha”. seperti diuraikan dalam kitab Manawa Dharmasastra. Pikiran yang masih suci tanpa dicemari oleh hawa nafsu disebut citta. perilaku perkataan. perbuatan yang timbul dari gerak badan. ulahakèna. tiga banyaknya. sapuluh. kramanya. ulahaning wàk. empat jumlahnya. Kalau raja ini tidak baik maka indria pun akan tampil tidak baik. prawrttyaning káya. yaitu pengendalian hawa nafsu. sepuluh banyaknya yang patut dilaksanakan. pikiran disucikan den gan kebenaran.a. Di dalam kitab Sarasamuscaya.

siapa yang berbuat baik akan mendapat pahala yang baik dan siapa yang berbuat buruk sudah dapat dipastikan akan mendapatkan hasil yang buruk. entah kapan.Perbuatan ini dapat menimbulkan kecendrungan yang negatif.3 sebagai berikut: Wasita Wasita Wasita Wasita nimittanta nimittanta nimittanta nimittanta manemu laksmi. Pikiran akan menjadi suci (ning) bila tidak menginginkan milik orang lain serta tidak membenci milik orang lain . itu pun karena hukum karma phala juga. seperti termuat dalam kitab Nitisastra sargah V. pati kapangguh. Orang yang hidup sehat dan berumur panjang salah satu penyebabnya karena ia menumbuhkan rasa cinta kasih pada semua makhluk. b. 2) Tidak berpikir buruk terhadap orang lain dan kepada semua makhluk. Oleh perkataan engkau akan mendapatkan sahabat. disatu pihak akan bisa mendatangkan kebahagiaan dan dilain pihak akan bisa mendatangkan penderitaan bahkan kematian. seperti rasa in. Oleh perkataan engkau akan men dapatkan kesusahan. Sifat ini timbul karena kurang tumbuhnya rasa kasih sayang terhadap sesama. Sedangkan perbuatan buruk yang dilakukan saat ini sudah pasti akibatnya akan diterima kelak. Harus kita yakini benar kesungguhan hukum Tuhan tersebut. Oleh perkataan engkau akan menemui ajalmu. Hidup dalam keadaan in akan membuat kita menderita. Hal ini sangat penting untuk dipahami dan dihayati. manemu mitra Artinya: Oleh perkataan engkau akan mendapatkan bahagia. Wacika. Wacika adalah perkataan yang baik (suci). 3) Tidak mengingkari hukum karmaphala. Meskipun kita melihat orang berbuat buruk pada saat ini dan kenyataannya ia bemasib baik. manemu duhka. Pendidikan Agama Hindu 56/76 . Nasib baik yang ia tenima saat ini pasti karena perbuatan baik sebelumnya yang ia lakukan. Semua makhluk hidup berasal dan atma yang sama yaitu Ida Sang Hyang Widhi. Kata-kata ibarat pisau bermata dua. Orang yang selalu berusaha mengedalikan pikiran dan diarahkan pada niat SUCi akan jarang mendapat persoalan sulit dalam kehidupannya dimasyarakat. Beliau mentakdirkan ada makhluk yang bernasib baik dan ada yang bernasib buruk sesuai dan karmanya masingmasing.

Perlu diperhatikan. berbohong dan sebagainya tidak usah dipelihara.Demikianlah akibat dan perkataan yang diucapkan ada yang baik dan ada yang buruk. Kalau ia tidak mampu berbuat lebih dan kenyataan maka fitnahpun akan dipakai senjata agar ia kelihatan lebih dan yang lain. Agar ia kelihatan lebih dan orang lain bohongpun sering dilakukan. dan mencela. Kebiasaan berbohong mi juga sering didorong oleh nafsu distinksi tadi. Oleh karena itu marilah kita sucikan wak/katakata sehingga menjadi “wacika” yaitu kata-kata yang suci. Ada pepatah mengata’kan fitnah itu lebih kejam dan pembunuhan. berjuanglah untuk merubahnya. sebab hal tersebut akan bisa mendatangkan penderitaan bahkan lebih fatal lagi bisa menyebabkan kematian. Berbohong juga sering dilakukan untuk menutupi kekurangan din. Salah sam sifat manusia yang dapat menimbulkan akibat negatif adalah yang disebut “distinksi” yaitu suatu dorongan untuk lebih dan orang lain. Kata-kata kotor atau buruk disebut Mada (dalam Tri Mala). Dalam persaingan hidup orang sering mengalahkan persaingan dengan cara memfitnah agar lawan dengan mudah dikalahkan. 4) Tidak mengeluarkan kata-kata yang mengandung kebohongan. baik kesucian yang mengucapkan maupun yang mendengarkan. meskipun fiat baik. Cegahlah lidah agar tidak mengucapkan kata-kata fitnah. Bagi yang mempunyai kebiasaan berkata kasar. Menghilangkan kebiasaan berbohong mi haruslah dibiasakan untuk rela menerima apa adanya sesuai dengan karma Pendidikan Agama Hindu 57/76 . karena katakata yang suci mi akan dapat mengantarkan kita kepada sahabat atau mitra dan kepada kebahagiaan atau laksmi. 3) Tidak memfitnah (raja pisuna). seperti menghardik. wak purusya (berkata kasar). Kata-kata yang jahat yang terucap akan dapat mencemarkan vibrasi kesucian. Kata-kata kasar itu sangat menyakitkan bagi yang mendengarkan .dan sesungguhnya akan dapat mengurangi vibrasi kesucian bagi yang mengucapkan. kalau diucapkan dengan kata-kata yang kasar maka fiat baik itu akan turun nilainya (menjadi tidak baik). 2) Tidak berkata kasar (ujar aprgas). Ada empat cara (karma patha) untuk menyucikan perkataan yaitu: 1) Tidak berkatajahat (ujar ahala). Karena dalam kata-kata yang jahat itu ada gelombang yang mengganggu keseimbangan vibrasi kesucian. mencaci. Kata-kata yang kotor seperti raja pisuna (fitnah).

c. Tindakan seseorang dapat menyebabkan orang menjadi senang. Tindakan atau perbuatan jasmani atau pisik merupakan upaya seseorang untuk mengaktualisasikan hasil proses berpikir dan apa yang diucapkan dengan kata-kata. maka seseorang akan mampu mngendalikan indrianya dan akan menyebabkan orang lain senang dan bahagia. Orang yang demikian itu disebut “Sadhu” yaitu orang yang tidak melakukan kekerasan. Demikianlah empat hal yang harus dibiasakan agar tidak keluar dan lidah kita katakata yang tidak baik atau menyakitkan. Untuk melatih itu biasakanlah menyanyikan namanama Tuhan atau Dharmagita atau Mantram-mantram tertentu secara tents menerus.kita. Artinya bila pikirannya dilandasi oleh fiat yang baik. Hal mi sangat ditentukan oleh pross berpikir scseorang. tapi lama kelamaan akan menjadi kebutuhan. karena mengubah kebiasaan jelek memang tidak mudah. Dalam kaitannya dengan memelihara tindakan kitab Sarasamuscaya sloka 76 menegaskan sebagai berikut: Pendidikan Agama Hindu 58/76 . Hal mi memang memerlukan kesungguhan. Pada mulanya memang dirasakan beban. itikad yang baik. sampai kebiasaan itu dapat dihapuskan. Kebaikan itu hanya dapat diwujudkan dengan cara membiasakannya sampai melembaga dalam tingkah laku. Tindakan-tindakan yang suci mi perlu dipelihara. bahagia dan atau sebaliknya menyakiti hati orang lain. Kayika (perbuatan).

Intinya disini seseorang tidak terlalu terikat oleh bendabenda duniawi. agar tidak mclakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang atau asubha karma. Jika kesucian perbuatan tidak dijaga akan berakibat terjadinya pemaksaan terhadap orang lain yang berimbas kepada tidak adanya hubungan yang harmonis sehingga tidak akan tercapai kedamaian dihati. keadaan darurat dalam khayalan sekalipun. Artinya: Inilah yang tidak patut dilakukan : membunuh. mengambil hak orang lain secara tidak sah. serta senang melakukan amal. baik secara berolok-olok. Ahimsa tergolong sifat-sifat kedewataan (daiwi sampat). melecehkan kesucian agama. Dengan terpeliharanya ajaran ahimsa berarti tidak ada kekerasan dalam kehidupan bersama didunia mi. Adapun tiga tindakan suci tersebut adalah: 1) Tidak menyakiti atau tidak membunuh (ahimsa). mencuri berbuat zinah. ri pan gipyan tuwi singgahana jugeka. Orang yang berhasil menumbuh kembangkan sifat-sifat kedewataan akan lebih mudah meraih karunia dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Hakekat dan manusia hidup didunia mi adalah bersaudara. 2) Tidak mencuri. nahan tang telu tan ulahakena ring asing ring paribasa. ketiganya jut jangan hendaknya dilakukan terhadap siapapun. bersendagurau. Jika seseorang melakukan tindakan sebaliknya yaitu melakukan tindakan kekerasan maka akan terjadi pelanggaranpelanggaran hak asasi manusia seperti mempropokator umat agama lain untuk pindah ke agamanya sendiri. Pada umumnya ahimsa diartikan tidak boleh membunuh atau tidak menyakiti secara pisik. hendaknya dihindari saja ketiganya itu. Ring apatkala. baik dalam keadaan dirundung malang. merendahkan martabat umat agama yang lain dan sebagainya. kedamaian dibumi dan kedamaian Pendidikan Agama Hindu 59/76 . Siparadara. menerima suap dan tidak nepotisme serta tidak rakus. merampok. Ahimsa merupakan pengejawantahan masyarakat yang damai atau santih. namun sebenarnya walaupun tidak secara pisik tetapi bila segala perilaku itu menyebabkan orang lain sakit hatinya juga tergolong perbuatan himsa.Nihan yang tan ulahakena. Kutipan sloka mi memberikan informasi tentang pentingnya kesucian tindakan seseorang. syamatimati man gahalahal.

Perbuatan ini harus dikendalikan karena bisa menimbulkan kemerosotan moral. Adapun . Mudita artinya selalu memperlihatkan wajah yang riang gembira dan sopan d. Maitri artinya senang mencari kawan dan bergaul. c. artinya tidak atas dasar cinta sama cinta (perkosaan). ia tetap tenang dan selalu berusaha membalas kejahatan dengan kebaikan (suka memaafkan) Guna lebih mudah dapat memahami ajaran catur paramita. Banyak terjadi pelacuran atau tuna susila maka kehidupan kita sebagai manusia yang menjuiijung tinggi budaya dan agama akan menjadi hancur.3) diakhirat. Mengadakan hubungan kelamin dengan paksa. maksudnya selalu memupuk rasa kasih sayang terhadap semua mahluk c. Berzinah merupakan perbuatan yang sangat hina dan terkutuk. Tidak berzinah. Mengadakan hubungan kelamin (sex) antara pria dan wanita dengan jalan tidak sah. yakni tahu menempatkan diri dalam masyarakat. Berzinah artinya sikap suka memperkosa wanita atau istri orang lain Adapun yang temasuk perbuatan berzinah (paradara) adalah: a. Mengadakan hubungan kelamin dengan suami/istri orang lain. Mengadakan hubungan kelamin atau sex yang dilarang oleh agama. ‘.. Larangan melakukan zinah itu memang wajar. Upeksa artinya senantiasa mengalah demi kebaikan. Dan jika kesucian perbuatannya tidak dijaga maka baik terhadap sipelaku maupun orang lain akan mengalami kerugian. Karuna artinya belas kasihan. bagian-bagian dan ajaran catur paramita tersebut adalah a. dibawah ini disajikan beberapa bentuk larangan-larangan yang harus dipatuhi oleh umat manusia sebagai berikut: Pendidikan Agama Hindu 60/76 . b. ramah tamah. karena kalau itu dibiarkan maka kemerosotan moral akan makin memuncak. Catur paramita merupakan salah satu dan landasan atau pedoman untuk melaksanakan ajaran susila atau etika dalam ajaran agama Hindu. Catur Paramita. d. walaupun disinggung perasaannya oleh orang lain. 4. serta menarik hati segala prilakunya sehingga menyenangkan orang lain dan din pribadinya b.

Untuk dapat berbuat karuna. maka kita jangan melakukan perbuatan yang membahayakan dan jangan membenci. kesengsaraan atau jangan bengis. tersiksa. maka pantang melakukan perbuatan yang menyebabkan terjadinya penderitaan. Pendidikan Agama Hindu 61/76 . Untk dapat berbuat mudita. jangan melakukan perbuatan yang dapat menyebabkan orang lain susah. atau jangan memiliki rasa dengki dan in hati terhadap orang lain. c. b.a. Untuk dapat berbuat maitri.

memandang rendah orang lain. guna tetap tegaknya dharma. Tri Parartha adalah ajaran agama Hindu untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. umat manusia tidak akan dapat berbuat banyak dalam hidup dan kehidupan mi. dan bhakti merupakan ajaran agama Hindu yang patut dihayati dan diamalkan dalam hidup dan kehidupan mi. Bhakti artinya hormat. 5. dan kesukaaan hidup umat manusia. maka pantang menghina orang lain. kebahagiaan. selaras. Demikianlah ajaran Catur Paramita patut kita realisasikan dalam hidup dan kehidupan mi. manusia itu dapat menyelamatkan dirinya dengan jalan mengamalkan ajaran Tri Parartha. Tri Parartha berarti tiga prihal yang dapat menyebabkan terwujudnya kesempurnaan. Tri Parartha. 2. Kitab Rg Weda menyebutkan sebagai berikut: Ajaran berdhana punia yang didasari dengan cara bhakti dan rasa cinta kasih mempunyai suatu manfaat yang amat penting dalam hidup dan kehidupan mi. terdiri dari : 1. 3. Dengan demikian diantara kita sesama makhluk ciptaan Tuhan hendaknya dapat hidup berdampingan serasi. Untuk dapat berbuat upeksa. harmonis dan damai. Ajaran Catur Paramita sebagai realisasi dan ajaran Tat Twam Asi patut dijadikan pedoman oleh manusia untuk mewujudkan kehidupan mi yang sempurna. kesejahteraan. Berdasarkan ajaran agama Hindu. keagungan. tulus ikhlas. menindas orang lain atau selalu berusaha untuk mengendalikan dorongan hawa nafsu jahat. Punya artinya dermawan.d. keselamatan. Asih . Adapun ajaran Tri Paratha yang dimaksud dapat mengantarkan umat manusia mencapai keselamatan dan kebahagiaan serta kesejahteraan hidupnya. Keselamatan. Hidup saling mengasihi diantara kita adalah merupakan prilaku umat manusia utama yang dapat mengantarkan tercapainya kebahagiaan yang abadi (moksa). Asih artinya cinta kasth. kesejahteraan dan kebahagiaan adalah merupakan kebutuhan hidup umat manusia yang vital mesti dinikmati dalam hidup dan kehidupannya. Tanpa keselamatan dalam hidupnya. dan semuanya itu hendaknya diwujudkan sebagai amal dan ibadah (yajna Pendidikan Agama Hindu 62/76 . punya. sujud.

Kurang adanya individu/organisasi/lembaga yang memfasilitasi tempattempat bimbingan dan penyuluhan moral bagi anak-anak/remaja yang menganggur. 6. Diperkenalkannya secara populer obat-obatan dan sarana anti hamil. para remaja. Situasi dan kondisi rumah tangga yang kurang stabil/baik. Semua umat Hindu hendaknya melakukan hal itu. Kemerosotan moral dapat dilihat di dalam tayangan-tayangan criminal seperti Sergap. gambar-gambar. baik dalam bidang pendidikan. sosial. politik. 5. karena itu adalah merupakan kewajibannya untuk menegakkan dharma. baik di lingkungan sekolah. 4. Ajaran Tat Twam Asi sudah ditinggalkan menjadi individualistis. Patroli. Buser. Adapun penyebabnya antara lain: 1. punia. Tujuan pokok dan ajaran Tri Parartha (asih. dan bhakti) ini adalah menumbuhkan sikap mental masing-masing pribadi umat manusia. Itu suatu pertanda bahwa banyak orang sudah mulai melepaskan konsep etika yang ada pada dirinya. itu mungkin baru sebagian kecil yang diungkap. siaran-siaran.karma). ekonomi. Pendidikan moral belum terlaksana sebagaimana mestinya. maupun orang tha. Keadaan masyarakat yang kurang stabil. Sesungguhnya banyak sekali tanda-tanda kemerosotan moral yang terjadi di lingkungan masyarakat baik itu dialami oleh anak-anak. 2. dan keamanan. Pendidikan Agama Hindu 63/76 . 3. masyarakat. mewujudkan ajaran wairagya (tidak terikat akan pengaruh benda-benda duniawillahiriah) yang dapat memuaskan indria/nafsu belaka manusia secara pribadi. keseniankesenian yang kurang mengindahkan dasar-dasar. Namun dewasa ini rupa-rupanya kalau secara jujur kita akui kemerosotan moral semakin hari semakin bertambah. maupun di tingkat rumah tangga. norma-norma/aturan tentang tuntunan moral. 7. dan sebagainya. Banyaknya tulisan-tulisan. Kurang tertanamnya jiwa agama pada setiap individu yang ada dalam masyarakat.

sebagai berikut: Srutistu Weda Wijneyo dharmacastram tu wai Smrtih. Weda Sruti 2. II. Oleh karena itu “Bhagawan Manu” menegaskan dalam kitabnya “Manawa Dharmasastra” 1110. Weda Smrti Pembagian dalam dua jenis ini dipakai selanjutnya untuk menamakan semua jenis buku yang dikelompokkan sebagai kitab Weda balk secara tradisional maupun secara institusional ilmiah. Bila dibandingkan dengan ilmu politik Sruti adalah merupakan UUD nya Hindu sedangkan Smrti adalah UU Pokok dan UU. Jadi Smrti merupakan. buku pedoman yang isinya tidak bertentangan dengan Sruti. dari akar kata Crt Yang berarti mendengar langsung. (MDs. te sartwarhawam imamsyo tabhyam dharmohi nirha bhau Artinya: Sesungguhnya Sruti (wahyu) adalah Weda demikian pula Smrti itu adalah Dharmasastra. Kelompok Weda Sruti menurut Bhagawan Manu merupakan Weda yang sebenarnya ada Weda orisinal. Jadi Weda Sruti adalah Kelompok Weda yang ditulis oleh para Maha Rsi melalui pendengaran langsung dan wahyu Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan. Weda Sruti Kata Sruti sesungguhnya berasal dan bahasa Sanskerta. Kedua-duanya merupakan sumber Hukum yang mengikat yang harus diterima. Menurut sifat isinya weda ini dibagi atas tiga bagian yaitu: 1) Bagian Mantra 2) Bagian Brahmana (Karma Kanda) 3) Bagian Upanisad/ Arnyaka (Jnana Kanda) Pendidikan Agama Hindu 64/76 . Pelaksanaannya adalah Nibandha. 1. keduanya harus tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga karena keduanya adalah kitab suci yang menjadi sumber dari agama Hindu.BAB VI KITAB SUCI WEDA SRUTI DAN WEDA SMRTI Rsi Manu membagi jenis isi Weda itu kedalam dua kelompok besar yang disebut. (Dharma). 10) 1. Kelompok Weda Sruti isinya hanya memuat wahyu sedangkan kelompok Smrti isinya adalah sebagai ingatan kembali terhadap Sruti.

Bagian terakhir ini merupakan bagian tertua dari Yayur Weda itu. Menurut Bhagawan Patanjali. Weda. Yajur Weda terdiri atas mantra-mantra yang sebagian besar berasal dan Rg. b. Menurut penelitian Samaweda terdiri atas 1810 mantra. Yajur Weda putih (Sukla yajurweda). Taitiriya samhita dan Maitrayanisamhita. juga dikenal Wajasaneyi samhita). Tambahan ini umumnya berbentuk prosa. yaitu: 1) Rg. 4) Atharwa Weda samhita . pluralnya Yajumsi). sedangkan mantra-mantra didalam Yajurweda hitam terdapat pula mantra-mantra yang menguraikan arti Yajna. Pembagian empat kelompok isi weda itu yaitu: 1) Rg Weda Samhita . merupakan kumpulan mantra-mantra memuat ajaran umum mengenai lagu-lagu pujaan.Ad. merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran umum mengenai pokok-pokok yajnya (yajus. Wedasamhita 2) Sama Weda atau Samawedasamhita 3) Yayur Weda atau Yayurwedasamhita 4) Atharwa Weda atau Atharwawedasamhita Dari keempat kelompok Weda itu. Jenis Weda ini ada dua macam yaitu: a. atau saman 3) Yayur Weda Samhita . Weda atau Rg.) 2) Yajur Weda putih (Sukla yajur weda. Weda. Mantra Bagian mantra terdiri dan empat himpunan (samhita) yang disebut catur weda samhita. yang juga disebut Maitraneyi samhita. merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran-ajaran umum dalam bentuk pujaan 2) Sama Weda Samhita . kitab ini terdiri atas 101 resensi yang sebagian besar sudah lenyap. Kitab mi terbagi atas dua aliran. ditambah dengan beberapa mantra tambahan baru.1. Samaweda terdiri atas mantra-mantra yang berasal dari Rg. Yajur Weda putih terdiri atas mantra-mantra dan doa-doa yang harus diucapkan pendeta di dalam upacara. Yajur Weda hitam (Kresna yajurweda) yang terdiri atas beberapa resensi antara lain. Perbedaan pokok antara Yajur Weda Putih dengan Yajur Weda hitam hanya sedikit saja. yaitu: 1) Yajur Weda hitam (krsna Yajur Weda). atau kadang-kadang ada yang mengatakan 1875. merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran yang bersifat magis (Atharwan). Karena itu disebut Trayi Weda atau “Tri Weda” Pengenalan catur weda hanya karena kenyataan Weda ini secara sistimatik telah dikelompokkan atas empat Weda. tiga kelompok pertama sering disebut-sebut sebagai mantra yang berdiri sendiri. Pendidikan Agama Hindu 65/76 .

Atharwa Weda mi memiliki kitab “Gopatha Brahmana” Ad. Kitab mi terpelihara dalam dua resensi yaitu: a. Urwasi dan ceritra-ceritra tentang ikan. Kitab Rg. Pendidikan Agama Hindu 66/76 .2. Disamping itu ada pula “Sadwimsa Brahmana” Kitab ini terbagi atas 25 buku dimana bagian terakhir yang terkenal adalah kitab “Adhuta Brahmana” merupakan jenis “Wedangga” yang memuat mengenai ramalan-ramalan dan penjelasan mengenai berbagai mujijat. Bagian Upanisad/Aranyaka Aranyaka atau Upanisad adalah himpunan mantra-mantra yang membahas berbagai aspek teori mengenai ke Tuhanan.Atharwa Weda yang disebut atharwawedangira. Sama Weda. Bagian terakhir dan kitab mi merupakan sumber bagian kitab “Brhadaranyakapanisad”. Weda. Di dalam kitab Brahmana ini mula-mula kita jumpai ceritra Sakuntala. Resensi Paipplada ad. Himpunan buku-buku ini disebut Brahmana. Himpunan ini merupakan bagian teori mengenai ke Tuhanan. Resensi Saunaka. Weda memiliki dua jenis buku Brahmana yaitu Aitareya Brahmana dan Kausitaki Brahmana (Sankyana Brahmana). Weda. Brahmana berarti doa. Punirawa. Tiap-tiap mantra (Rg. Bagian Brahmana (Karma Kanda) Bagian kedua yang terpenting dan kitab Sruti ini adalah bagian yang disebut “Brahmana” atau “Karma Kanda”. Demikian pula tiap-tiap mantra memiliki kitab-kitab Aranyaka atau Upanisad. Kitab Yajur weda memiliki beberapa kitab “Brahamana” Yajur weda hitam (krsna Yajur Weda) memiliki Taittiriya Brahmana. Resensi ini paling terkenal dan terbagi atas 21 buku b. merupakan kumpulankumpulan mantra-mantra yang juga banyak berasal dan Rp. Himpunan mi merupakan bagian Jnana Kanda dari pada Weda Sruti. Nama ini disebut demikian karena kitab ini terdiri atas 100 adhyana. Yajur Weda dan Atharwa Weda) memiliki Brahmana. Kitab Samaweda memiliki kitab Tandnya Brahmana yang juga sering dikenal dengan nama “Pancawimsa “. Kadang-kadang Brahmana diartikan penjelasan yang menjelaskan arti kata ucapan mantra. Kitab mi memiliki 5987 mantra (puisi dan prosa). Sebagaimana halnya dengan tiap-tiap mantra memiliki kitab Brahmana. 3. Jadi kitab Brahmana adalah kitab yang berisi himpunan doa-doa yang dipergunakan untuk keperluan upacara yajna. Yajur Weda putih (Sukia Yajurweda) memiliki Satapatha Brahmana. Kitab mi memuat legenda (ceritera-ceritera kuno) yang dikaitkan dengan upacara Yajna.

Ekaksara. dan Bahwrca Upanisad. Upanisad yang tergolong jenis Sama Weda yaitu antara lain: Kena. 2. Satyayani dan Muktika. Yogasikha. yaitu antara lain: a. Gamapati. jumlah upanisad yang disebut secara tegas adalah sebanyak 108 buah buku. Weda yaitu antara lain: Aitareya. dan Garuda Upanisad. Untuk jenis Yajur Weda Hitam. semuanya berjumlah tigapuluh dua Upanisad. Brahma. Pranagnikotra. Adwanyataraka. Gopalatapini. Sariraka. Chandogya. Trisikhibrahmana. Kausika. Maitrayani. Kausitaki. Annapurna. Di dalam penelitian berbagai naskah kitab suci Hindu Dr. Matrika. Mandala brahmana. Garbha. Katagnirudra. Pasupata. Darsana dan Jabali. Dewi. Saubhagya. Kondika. Sarwasara. Prramahamsa. Aksamalika. Krsna. Sanyasa. Amrtabindu. Yajnawalkya. yaitu 1180 sakha. dan Atharwa Weda terdiri atas 50 sakha Berdasarkan jumlah sakha itu. dan Saraswatirahasya. Sawitri. Brhajjabala. Paramahamsapariwrajaka. Semuanya berjumlah sembilan belas Upanisad. Parabrahma. Naradapariwrajaka. Wasudewa. Yogacudamani. Sita. 4. Tripuratapini. Rudrasajabala. Bhawana. Wajrasucika. Pinggalabhiksu. Mandukya. maka jumlah upanisad seyogyanya ada banyak 1180 buah buku tetapi berdasarkan catatan Muktikopanisad. Asartanada. 2. Atma. Hamsa. Niralambha. terdiri dan: Isawasya. Upanisad yang tergolong jenis Atharwa Weda. Upanisad yang tergolong jenis Yajurweda. Hayagriwa. yaitu antara lain: Prana. Mudgala. Adhyatma. Swetaswastara. Sakanda. Awadhuta. Mahat. Untuk jenis Yajur Weda putih. Dattatreya. Nrsimhatapini. Turiyatita. Mahanarayana. Taittriyaka. terdiri atas Kathawali. Aruni. yang semuanya berjumlah sepuluh Upanisad. Tripura. Sarabha. Aksi. Semuanya berjumlah tiga Pendidikan Agama Hindu 67/76 . Adapun perincian dan pada kitab-kitab Upanisad itu adalah sebagai berikut: 1. Maitreyi. 3. Kalisandarana. Atmaprabedha. Tejebindu. Atharwasira. b. Brahma. Narayana. 4. Mahawakya. Tarasara. Jabala. Weda terdiri dan 21 sakha Sama Weda terdiri atas 1000 sakha Yajur Weda terdiri atas 109 sakha. Surya. Dari catatan yang ada: 1. Atharwa sikha. Awyaka. Rg. Subata. Brhadaranyaka.Kelompok kitab-kitab ini disebut rahasya Jnana karena isinya membahas hal-hal yang bersifat rahasia. Ramatapini. Sukharahasya. Kaiwalya. 3. Upanisad yang tergolong jenis Rg. Wahara. Ramarahasya. Nada-bindu. Sandilya. Sriniwasa Murti didalam introdusi kitab saiwa Upanisad mengemukakan bahwa tiap-tiap sakha (cabang ilmu) Weda merupakan satu upanisad. G. Nirwana. Munduka. Semuanya berjumlah enambelas Upanisad.

10 menyebutkan sebagai berikut: Crutistu Wedo Wzjneyo dharmacastram tu wai smrtih te sarwarthes wamimansye tabhyam dharmohi nirbabhau artinya: yang dimaksud dengan Cruti ia!ah Weda dan dengan Smrti adalah Dharma Sastra. Kata Smrti berasal dari bahasa Sansekerta.puluh satu upanisad. Weda Smrti Smrti merupakan kitab suci agama Hindu. menjadi kata smrti (feminime) berarti: ingatan. Dharma berarti hukum dan sastra berarti ilmu. dengan jelas dapat kita pahami bahwa Smrti merupakan kitab suci agama Hindu. Oleh karena itu pergunakanlah Pendidikan Agama Hindu 68/76 . yang ditulis oleh banyak Maharesi. Dengan memperhatikan deretan nama nama kelompok Mantra. Kitab Smrti adalah kitab suci Veda yang ditulis berdasarkan ingatan oleh para Maharesi dan wahyu Sang Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa. Smrti adalah kitab suci Weda yang ditulis berdasarkan ingatan oleh para Maharesi bersumberkan pada Veda Cruti. Kitab Smrti adalah merupakan kitab pendukung dan penjelasan dan kitab Weda Cruti. antara lain: Kitab Menawa Dharma Castra. Brahmana. jelas bahwa kitab Sruti meliputi jumlah yang cukup banyak. dan Upanisad diats. Kitab Smrti memuat tentang ajaran hukum agama Hindu. 2. semua buku-buku itu adalah merupakan sumber utama dan kedudukannya mutlak perlu dihayati. kenangan. karena fungsi dan kedudukannya dipersamakan dengan kitab Veda Cruti. Dharma Sastra berarti Ilmu Hukum Agama Hindu. yang juga disebut Dharma atau Dharma Sastra. Keterangan tentang hal tersebut di atas. tradisi yang berwenang. Untuk mendalami dharma. kedua macam pustaka suci mi tidak boleh diragu ragukan kebenarannya mengenai apapun juga karena dan keduanya itu hukum inL Berdasarkan uraian di atas. kita temukan dalam beberapa kitab agama Hindu. dari kata smrta (neuter) berarti: ingatan. Kitab Smrti adalah kitab Veda juga. Bab 11. Dengan demikian kitab-kitab Smrti tidak boleh bertentangan dengan Weda Cruti. sesudah Veda Sruti.

Veda berarti ilmu pengetahuan suci dan angga berarti bagian. Sarasamuccaya. Vedangga sebagai kitab Smrti. kecil kemungkinannya dapat diketahui. Tattwa Suksma. kita hendaknya terlebih dahulu mendalami Vedangga. Yoga Sutra. Berdasarkan kebiasaan yang telah berjalan. Kelompok Vedangga b. jenis kitab-kitab dikelompokkan menjadi dua (2) kelompok besar. Niti Sastra. antara lain 1) Siksa (Phonetika) Siksa adalah kitab Vedangga yang isinya menguraikan tentang petunjukpetunjuk tata cara mengucapkan mantra yang tepat sesuai dengan tinggi-rendahnya tekanan suara. Yajna Pawitra dan Brahmanda Purana. Kelompok Upaveda Smrti a. untuk dapat menghayati Veda dengan benar. juga disebut dengan nama Pratisakhya. Bharatayudhya. Clokantara. memahami. 2) Wyakarana (Tata Bahasa) Kitab Wyakarana isinya menguraikan tentang tata bahasa. Jenis atau kelompok Vedangga Kata Vedangga. Oleh karenanya kitab Wyakarana ini memiliki fungsi yang sangat penting di dalam kita mempelajari Veda. fungsi kitab siksa ini adalah sangat penting. terdiri dan beberapa kitab. antara lain: Manawa Dharma Sastra. tanpa mengerti dan mengetaui tata bahasanya.kitab kitab sastra sebagai petunjuk untuk menentukan tentang segala sesuatu yang harus kita kerjakan dan untuk dapat mengetahui apa yang patut kita kerjakan. jenis kitab-kitab Smrti perlu dipergunakan sebagai pedoman hidup (dipedomani). terdiri dan kata: Veda dan Angga (bahasa Sansekerta). dasar. Beberapa kitab suci agama Hindu yang termasuk kitab Smrti. Dalam hubungannya dengan mempelajari mantra (Weda Cruti) kitabkitab siksa. Manu Smrti. Ramayana. dan mendalami Veda dengan baik. Pendidikan Agama Hindu 69/76 . dan penulisnyapun banyak pula. Cilakrama. Untuk dapat mengamalkan Veda secara benar di dalam upaya mewujudkan tujuan hidup secara rohani dan jasmani. keamanan. Kitab-kitab suci yang tergolong jenis kitab Smrti itu banyak jumlahnya. Untuk dapat mempelajari. kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Jadi Vedangga berarti batang tubuh dari Veda. anggota. badan. sumber. Untuk dapat mengucapkan mantra (Weda Cruti) dengan baik. Hal semacam ini disebabkan oleh munculnya berbagai macam kebutuhan masyarakat (umat Hindu) yang diisarakat oleh Veda dalam mencapai keadilan. yang terdiri dan: a.

Veda. yaitu : Midana Sutra dan Chanda Sutra. bulan dan badan angkasa lainnya yang dipandang dan dianggap memiliki pengaruh dalam pelaksanaan yadnya. Kedua kitab ini dihimpun oleh Begawan Pinggala. 6) Kalpa Kitab Kalpa adalah jenis kitab Smrti (Vedangga) yang isinya berhubungan dengan kitab Brahmana dan kitab-kitab mantra. Melalui pengetahuan yang terdapat dalam kitab Jyotisa juga kita dapat memahami. karena bersumberkan pada pendalaman kitab Chanda semua ayat-ayat Veda dapat dipelajari secara turun temurun. 4) Nirukta Kitab-kitab Nirukta berisikan tentang penafsiran otentik yang berhubungan dengan kata-kata yang terdapat dalam Veda. yang masih terdapat utuh sampai sekarang ada dua buah buku. Di antara kitab Jyotisa. Maharesi Patanjali. Begawan Panini. Kitab Jyotisa adalah kitab pendukung Veda. Kitab 5) Jyotisa (Antronomi) Kitab Jyotisa. Kitab Kalpa mi terdiri dan beberapa bidang kitab antara lain: Pendidikan Agama Hindu 70/76 . Di antara orang suci tersebut di atas. yang menguraikan tentang pokokpokok pengetahuan dalam bidang astronomi. Dalam mempelajari Veda kita perlu mendalami kitab Chanda. yang terkenal adalah Begawan Panini. dan Yajur Veda. dan Begawan Yaska. Rg. bahwa bagaimana Veda mengajarkan kepada umatnya untuk dapat berhubungan secara harmonis dengan alam dan lingkungannya berdasarkan yadnya. Beliau menulis Kitab Asta Dhyayi dan Patanjali Bhasa. Dan berbagai macam kitab-kitab Chanda. yang terdapat masih sampai sekarang adalah kitab Jyotisa Wedangga. isinya yang terutama adalah menguraikan tentang peredaran tata surya. Hal ini kita dapat persamakan dengan berbagai macam nyanyian yang dapat dinyanyikan dan mudah diingat. 3) Chanda (Lagu) Chanda adalah cabang Veda yang secara khusus membicarakan tentang aspek ikatan bahasa dalam Veda yang disebut lagu. Kitab Nirukta ditulis oleh Begawan Yaska pada tahun ± 800 SM.Para Maharesi yang mendalami tentang tata bahasa (Veda) adalah : Maharesi Sakatayana. Begawan Panini adalah orang suci yang pertama kali mengenalkan kata bahasa Sanskerta popular (bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat) dan bahasa Daiwak yaitu bahasa para Dewa-Dewa. Kitab mi memiliki hubungan dengan kitab Veda Cruti.

yang diterapkan untuk masing-masing bagian Catur Yuga adalah memiliki sifat saling mengisi atau melengkapi di antara sam dengan yang lainnya. d) Bidang Suliwa Kitab Suliwa Sutra adalah merupakan bagian terakhir dan kitab-kitab Kalpa. (3) Pada masa Dwapara Yuga berlaku kitab Dharma Sastra buah karya Bhagawan Sankha Likhita. isinya memuat tentang petunjuk dan peraturanperaturan mengenai tata cara membuat dan mendirikan tempat suci untuk beribadat (Pura. Agama Hindu mengajarkan kepada umatnya. Di antara keempat kitab Dharma Sastra tersebut. Pendidikan Agama Hindu 71/76 . bangunan—bangunan lainnya yang berhubungan dengan arsitektur. dilalui oleh empat zaman atau juga disebut Catur Yuga. maka terdapatlah kesan bahwa Veda Smrti itu adalah Dharma Sastra. Kitab Dharma Sutra juga disebut Dharma Sastra. isinya memuat berbagai macam ajaran mengenai tata cara melakukan yadnya. (4) Pasa masa Kaliyuga dipergunakanlah Dharma Sastra yang ditulis oleh Bhagawan Parasara. isinya menguraikan tentang berbagai ajaran mengenai aturan pelaksanaan yadnya yang mesti dilaksanakan oleh orang-orang / masyarakat (umat Hindu) yang telah hidup berumah tangga c) Bidang Dharma Sutra Kitab Dharma Sutra. b) Bidang Grhya Kitab Grhya Sutra. Kitab Dharma Sutra dipandang sebagai kitab yang sangat penting di antara kitab-kitab jenis Kalpa. seperti: (1) Pada masa Satya / Krtha Yuga berlaku kitab Manawa Dharma Sastra karya sastra dan Bhagawan Manu. (2) Pada masa Trita Yuga berlaku kitab Dharma sastra yang ditulis oleh Bhagawan Yajnawalkhya. isinya menguraikan tentang berbagai macam aspek mengenai peraturan hidup bermasyarakat dan bernegara. Bhagawan Sankhalikhita. Candi). Karena dipandang sangat penting. bahwa masing-masing yuga dan Catur Yuga mempunyai Dharma Sastranya tersendiri.a) Bidang Srauta Kitab Srauta atau juga disebut Srauta Sutra. bahwa dalam hidup dan kehidupan kita ini. Kitab Sulwa Sutra ini.

Kitab Purana berisikan berbagai macam cerita dan keterangan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku pada zaman dahulu kala (kuno). Di samping Maharesi Kautilya yang mengikuti Bhagawan Brhaspati dalam menulis kitab-kitab Artha Sastra. Jenis kitab Artha Sastra yang digubah di Indonesia adalah jenis Usana dan Niti Sastra. yang terdiri dan dua kata. 2) Purana Kitab Purana adalah bagian dan kitab—kitab Upaweda. yakni “Iti-ha-sa” yang artinya “sesungguhnya kejadian itu begitulah nyatanya. Jenis atau Kelompok Upaweda Kitab-kitab Upaweda merupakan kitab kelompok kedua dan Veda Smrti. Kitab Upaweda memiliki fungsi sama pentingnya dengan kitab-kitab Smrtti yang lainnya. Artha Sastra sebagai bagian dan kitab Upaweda. Upaweda berarti dekat dengan Veda (Pengetahuan suci). dan Wisalaksa. 4) AyurWeda Kitab Ayur Weda kelompok kitab Upaweda. Kata Ityihasa terdiri dan tiga suku kata. yang isinya menguraikan tentang bidang ilmu kedokteran atau kesehatan baik rohani maupun jasmani. Kata “upa” dapat diartikan “dekat” dan kata “veda” berarti “pengetahuan suci (kitab suci)”. 1) Itihasa Kitab Itihasa dikelompokkan dalam kitab-kitab Upaweda. 3) Artha Sastra Kitab Artha Sastra mi berisikan tentang pokok-pokok pemikiran bidang ilmu politik.b. Upaweda juga diartikan Veda tambahan. ditulis oleh Bhagawan Brhaspati. Kata upaweda berasal dan bahasa Sanskerta. Adapun nama kitab yang termasuk kelompok kitab Ayur weda Pendidikan Agama Hindu 72/76 . Wisnugupta. Bharadwaja. Danding. Kitab Itihasa terdiri dan kitab Ramayana (terdiri dan 7 kanda) dan Mahabharata ( terdiri dan 18 parwa). Kitab-kitab yang tergolong kitab Artha Sastra yang lainnya adalah Niti Sastra atau Rajadharma (Dandaniti). adajuga Bhagawan yang lainnya. Itihasa adalah karya sastra yang bersifat spiritual. kewiraan dan mitologi. Jejak beliau di dalam tulis-menulis kitab-kitab “Artha Sastra” diikuti oleh Maharesi Kautilya (Canakhya). setelah kitab-kitab Vedangga. di mana ceriteranya penuh filsafat. seperti : Bhagawan Usana dan Bhagawan Parasara. Nama Itihasa pada mulanya diberikan oleh penulis kitab Mahabharata pada bagian Adiparwa yaitu Bhagawan Wiyasa. Kitab Upaweda terdiri dan beberapa cabang ilmu. yaitu : kata upa dan veda. roman. serta Sukraniti. antara lain . Itihasa adalah sebuah epos yang menceritakan sejarah perkembangan raja—raja dan kerajaan Hindu di masa lampait.

Susruta Samhita. Kitab mi isinya menguraikan tentang pentingnya ajaran umum di bidang ilmu bedah. Berdasarkan materai yang terdapat dalam kitab Ayur Weda maka isi kitab Ayur Weda meliputi delapan bidang ajaran umum.adalah kitab Caraka Samhita. Berdasarkan catatan yang ada kitab Kalpasthana dan Kitab Siddhistana telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan Persia pada tahun 800 Masehi. Pendidikan Agama Hindu 73/76 . yaitu: a) Salya yaitu ajaran mengenai ilmu bedah b) Salkya adalah ajaran mengenai ilmu penyakit c) Kayakitsa yaitu ajaran mengenai ilmu obat-obatan d) Bhuta Widya yaitu ajaran mengenai ilmu psikoteraphy e) Kaumara Bhrtya yaitu ajaran mengenai pendidikan anak-anak. dan h) Wajikarana Tantra yaitu ilmu jiwa remaja Kitab Caraka Samhita merupakan baginn dan kitab Ayur Weda. Di samping itu pula kitab Susruta Samhita mencatatkan berbagai macam alat-alat yang dapat dipergunakan dalam pembedahan. dan merupakan dasar bagi ilmu jiwa anak-anak f) Agada Tantra yaitu ilmu toxikologi g) Rasayama Tantra yaitu ilmu mujizat. Astanggahrdaya. Kitab tersebut mernuat delapan bidang ajaran. Kitab Susruta Samhita ditulis oleh Bhagawan Susanta. Disamping itu pula kita Susruta Samhita mencatatkan berbagai macam alat-alat yang dapat dipergunakan dalam pembedahan. Yogasara dan Kama Sutra. Kitab Susruta Samhita ditulis oleh Bhagawan Susanta. Kitab mi isinya menguraikan tentang pentingnya ajaran umum di bidang ilmu bedah. Kasyapa Samhita. antara lain: a) Sutrathana : isinya menguraikan tentang ilmu pengobatan b) Nidanasthana : isinya memuat tentang berbagai penyakit yang bersifat umum c) Wimanasthana : isinya menguraikan tentang ilmu pathologi d) Sarithana : isinya menguraikan tentang ilmu anatomi dan embriology e) Indiyasthana : isinya menguraikan tentang materia diagnosa dan prognosa f) Cikitasasthana : isinya menguraikan tentang ajaran khusus mengenai pokok-pokok ilmu therapy g) Kalpasthnana : isinya menguraikan tentang ajaran di bidang theraphy secara umum h) Siddistana : isinya juga menguraikan tentang pokok-pokok di bidang therapy secara umum.

seni atau rasa indah. kaum Ksatrya. Rasarnawa. Kedua kitab mi isinya menguraikan tentang pokok-pokok ilmu yoga yang berhubungan dengan sistem anatomi dalam pembinaan kesehatan. hendaknya dipedomani oleh Kama Sastra.Kitab Yogasara dan Yogasastra ditulis oleh Bhagawan Nagarjuna. agama Hindu boleh dan dapat dipelajari oleh seluruh umat manusia. Karena dengan demikian asmara dan rasa indah yang muncul itu tentu terarahlbernilai positif adanya. isisnya menguraikan tentang berbagai aspek cabang ilmu seni. juga memiliki beberapa bagian kitab-kitab lagi. Hal mi termuat dalam kitab Yajur Veda sebagai berikut: “Yaatkeram wacam kalyanin awadonijanebhyah. dan yang lainnya. Di dalam upaya untuk mewujudkan salah sath tujuan hidup. kepada kaum Brahmana. seperti: Natya Sastra. Brahma Rajanyabhyam cudraya caryaya ca siwaya caranayaca” Artinya: “Biar kunyatakan disini kitab suni ini kepada orang-orang banyak. Kitab Kama Sutra ditulis oleh Bhagawan Watsyayana pada abad ke10 Masehi. Kitab Gandharwa Weda. Kama Sastra sebagai bagian dan jenis kitab Upaweda isinya menguraikan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan asmara. dan kaum Waisya dan bahkan kepada orang-orangKu dan kepada mereka (orang-orang asing) sekalipun. Dewa Dasa Sahasri. umat beragama dipandang perlu untuk membangkitkan rasa indah tersebut. 7) Agama Kitab agama itu baru ada setelah Agama Hindu ada dan berkembang di dunia. Kitab Kamasutra berhubungan dengan kitab Wajikarana Tantra. baik jasmani maupun rohani. kitab Natya Wedagama. Gandharwa Weda sebagai kitab Smrti. Isinya menguraikan tentang ajaran ilmu jiwa remaja. Pendidikan Agama Hindu 74/76 . Menurut Veda. Diantara kitab-kitab Kama Sastra yang terkenal adalah karya dan Bhagawan Watsyayana. kaum Sudra. 5) Gandharwa Weda Kitab Gandharwa Weda merupakan bagian dan kitab-kitab Upaweda. 6) Kama Sastra Kitab Kama Sastra adalah termasuk kitab suci agama Hindu pada bagian Smrti (Upaweda). Kebangkitan dan rasa indah manusia terbentuk untuk berbakti kepada Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa. Rasaratnasamucaya.

Veda sebagai sumber ajaran agama Hindu mengandung ajaran yang sangat tinggi. 18) Berdasarkan bunyi Cloka tersebut di atas dinyatakan bahwa kitab suci Veda (Hindu) dapat dipelajari oleh siapa saja. Hal mi sesuai dengan ucapan kitab Smrti (Dharma Sastra) sebagai berikut: “Wedo ‘khilo dharma mulam smrti cue ca tad widam acaracca iwa sadhunam atmanastustir ceva ca” Artinya: Seluruh Weda merupakan sumber utama daripada dharma (agama Hindu) kemudian barulah Smrti. menghayati dan mengamalkan ajaran Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa yang dianut oleh umat Hindu.6) B. Disamping itu kita juga perlu menyadari bahwa. Menurut sifat dan isinya Weda çruti dibedakan atas kelompok mantra. tidak terkecuali. Weda çruti adalah kitab Wahyu Tuhan. kelompok Brahmana. berdasarkan pengelompokannya ada yang disebut dengan nama Weda çruti dan Weda Smrti. Ajaran beliau yang diwahyukan kepada Maha Rsi dituliskan pada buku. Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa mewahyukan ajaran-Nya melalui orang-orang Suci untuk disebarkan pada kita semua. Kitab agama isinya memuat ajaran tentang keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa dan petunjuk-petunjuk untuk melaksanakan tata cara persembahyangan. Dan uraian di atas dapatlah kita simpulkan bahwa jumlah kitab-kitab Smrti yang dapat kita pergunakan sebagai petunjuk untuk menata kehidupan berhubungan dengan Sang Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa. yang disebut kitab suci Weda. maka tidak akan semuanya dapat mempelajarinya dengan sempuma. Namum menyadari akan kekurang sempurnaan kita sebagai umatnya. disamping kebiasaan-kebiasaan yang baik dan orang-orang yang rnenghayati Veda (sila) dan kemudian tradisi-tradisi dan orang-orang suci (acara) serta yang terakhir ada!ah rasa puas din sendiri (atmanastusti) (Manawa Dharrna Sastra 11. kelompok Ananyaka dan Upanisad. RANGKUMAN Kitab suci adalah cara yang baik untuk memahami. banyak jenisnya. Kelompok mantra didasarkan atas pertimbangan fungsi dan kegunaannya di bagi menjadi empat.(Yajur Veda XVI. Bagi mereka yang belum dapat mempelajari Veda dapat belajar agama Hindu berdasarkan kitab-kitab agama. Weda sebagai kitab suci umat beragama Hindu. yang Pendidikan Agama Hindu 75/76 . Semua ayatayat yang terdapat didalamnya merupakan Wahyu dan Tuhan yang kemudian dihimpun dalam beberapa buah buku menurut umurnya dan peruntukannya. Istilah cruti berarti Wahyu.

Pendidikan Agama Hindu 76/76 . manusia memiliki beberapa kewajiban yang mesti dilaksanakan dalam kehidupan mi.Weda Samhita. Itihasa dan Purana berisikan-berbagai macam ajaran yang berhubungan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi beliau dan ciptaanNya.menghayati. bersumber dan Wahyu Ida Sang Hyang Widhi Wasa.politik dan pertahanan/keamanan) serta upacara (ritual) agama. Mari kita dalami sastra-sastra agama. Sudah menjadi kodratnya manusia untuk melaksanakan kewajiban hidupnya. yang terkandung dalam kitab suci Weda Sruti maupun Smrti untuk dipergunakan didalam menuntun kehidupan kita sehari-hari. Smrti. dan Purana adalah kitab-kitab Weda yang ditulis oleh para Rsi berdasarkan ingatannya. Kebenaran beliau dapat kita laksanakan dengan jalan memahami. Manusia adalah mahiuk hidup yang diciptakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Yajur Weda Samhita. Ethika (sosial.disebut Catur n Weda Samhita yaitu Rg. Kebenaran yang utama adalah kebenaran yang ada pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.dan engamalkan ajaran agama. Salah satu kewajiban hidup manusia yang harus dikerjakan adalah menegakkan kebenaran. Itihasa.ekonom i. Sama Weda Samhita dan Atharwa Weda Samhita. Sebagai insan Tuhan.budaya. Smrti (Dharma Sastra) .sehingga kita dapat meningkatkan budi pekerti dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful