60604184-hinduklsXIsmk

MATERI PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU

KELAS XI SMK Oleh : Drs. I Wayan Pura Ys BAB I HUKUM KARMA DAN PUNARBHAWA Standar kompetensi Memahami Hukum Karma dan Punarbhawa Tujuan Pembelajaran Akhir Setelah mempelajari materi ini siswa diharapkan mampu : Mengerti dan memahami hukum karma . Mampu menjelaskan bagian –bagian hukum karma Mampu menguraikan hubungan hukum karma dengan punarbhawa Menjadikan hukum karma sebagai pegangan dalam prilaku Uraian Materi A. Pengertian Hukum Karma Karma berasal dari Bahasa Sansekerta yang artinya kerja atau berbuat. Konsep hukum karma adalah bahwa setiap perbuatan akan memberikan hasil yang disebut ( phala ). Sehingga setiap hasil yang dipetik atau diterima oleh seseorang atas perbuatannya disebut karma phala. Hukum karma adalah hukum Tuhan yang berlaku bagi semua orang. Tidak memandang apakah orang tersebut percaya atau tidak hukum karma tetap berlaku. Seperti hukum terbitnya matahari dari timur, orang buta ataupun orang eskimo yang tidak pernah melihat matahari, bukan berarti matahari tidak ada. Matahari tetap terbit dari timur. Demikianlah hukum karma berlaku bagi semua umat manusia dari semua negara, semua suku bangsa dan semua agama. Dalam ajaran Hindu , hukum karma merupakan ajaran sebagai landasan ajaran etika dan pegangan dalam mencapai tujuan hidup. Karma atau perbuatan ini ada tiga bentuk yaitu karma yang dilakukan oleh pikiran ( Manah ), karma dalam bentuk ucapan (waca ), dan karma dalam bentuk tindakan jasmanani ( kaya ). Jadi apapun bentuk aktivitas seseorang pasti ada phalanya (hasilnya) .Ini berarti tidak ada perbuatan yang tanpa membuahkan hasil, sekecil apapun kegiatan tersebut. Sedangkan jika dilihat dari baik buruknya maka perbuatan yang baik disebut Subha karma dan perbuatan yang buruk disebut Asubha karma. Materi Pelajaran Pendidikan Agama Hindu 1 1/76

B. Proses berlakunya karma phala Setiap aktivitas karma seseorang didasari oleh keinginan ( Iccha ). Timbulnya keinginan akan direspon oleh pikiran. Pikiran inilah yang akan mengambil keputusan untuk melakukan tindakan dalam bentuk ucapan ataupun tindakan jasmani. Keputusan pikiran sangat ditentukan oleh pengetahuan (jnana), kebijaksanaan ( wiweka), serta pengalaman hidup serta karmawasana seseorang. Jika digambarkan maka proses karma seseorang sebagai berikut : KEINGINAN

Pengetahuan PIKIRAN Pengalaman Hidup KARMA

Wiweka karmawasana

KARMA PHALA C. Wujud Karma phala Banyak orang menafsirkan bahwa wujud dari karma phala ( hasil perbuatan ) seseorang adalah berbentuk materi, seperti kekayaan, kecantikan atau ketampanan, jabatan, kehormatan dan sebagainya yang semata-mata diukur dari segi materi. Secara garis besar memang wujud karmaphala ada dua yaitu berbentuk fisik dan psikis( batin). Artinya hasil dari perbuatan tersebut dapat dirasakan secara langsung oleh badan jasmani melalui panca indria atau juga bisa memberikan suasana batin tertentu pada seseorang. Contoh: Jika seseorang pernah berbuat baik misalnya membantu orang yang jatuh di jalan , suatu saat ketika dia terjatuh di jalan akan ada orang lain yang menolong. Ini adalah phala secara fisik. Contoh lain mungkin ada orang yang suka menipu justru akan membuat hatinya tersiksa karena selalu was-was, selalu berprasangka bahwa tipu dayanya akan ketahuan oleh orang lain. Ini berarti secara psikis dia menderita. Pendidikan Agama Hindu 2/76

Wujud dari karmaphala yang akan diterima seseorang tidak dapat dipastikan. Artinya hasil karma tersebut bisa saja berbentuk fisik, atau psikis, ataupun kedua nya yaitu fisik dan psikis. Demikian pula kapan waktunya akan diterima seseorang atas perbuatannya juga merupakan rahasia Hyang Widhi. Yang jelas bahwa karmaphala itu ada dan akan hadir tepat pada waktunya. Diatas kedua wujud karmaphala di atas yang terpenting untuk menjadi tolok ukur atas hasil perbuatan seseorang adalah akibat dari wujud karmaphala tersebut. Artinya seseorang yang menerima karmaphala baik berwujud fisik maupun psikis apakah mengakibatkan adanya peningkatan kualitas sradha atau tidak. Apakah menyebabkan kebahagiaan atau penderitaan? Contoh : Seseorang yang mendapatkan uang sangat banyak dari hasil judi, diukur dari segi fisik tentu menyenangkan. Tetapi kemenangan itu justru menyebabkan dia semakin tergila-gila pada judi, suka berfoya-foya semata-mata memenuhi nafsu keinginannya. Suatu saat jika dia kalah berjudi maka kekesalan dan kemarahannya akan dilempahkan pada orang lain, seperti anak atau istrinya. Ini menunjukkan bahwa uang yang diperoleh dari hasil judi tersebut bukan karmaphala yang baik, karena akibat dari uang yang diterima terebut justrui menjerumuskan dirinya pada karma-karma yang lebih buruk. Contoh lain mungkin ada seseorang yang secara fisik cacat jasmani, tetapi dengan kekurangannya tersebut memberikan dia inspirasi dan kesadaran bahwa hidup ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan fisik, sehingga dia menjadi orang yang teguh sradha bhakti, serta senantiasa merasa tentram . Jadi cacat jasmani tersebut bukan hasil karma buruk tetapi merupakan hasil karma baik yang membawa kebahagiaan bagi dirinya. Seperti halnya seseorang minum obat pahit untuk kesembuhan dari penyakitnya. Kesimpulannya: Karmaphala yang baik adalah yang dapat meningkatkan kualitas sradha bhakti untuk mencapai kebahagiaan lahir batin ( moksartham jagat hita ) Karmaphala yang buruk adalah yang menyebabkan seseorang menderita lahir batin dan menurunkan kualitas sradha bhakti. D. Dampak karma bagi seseorang Setiap karma yang dilakukan setidak-tidaknya ada tiga akibat yang terjadi : 1. Karma akan memberi akibat atau balasan atas setiap perbuatan manusia. Baik atau buruk yang akan diterima sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya. 2. Karma akan memberi kesan tersendiri kepada pelakunya yang akan melekat pada pikiran pelakunya. Pendidikan Agama Hindu 3/76

Pendidikan Agama Hindu 4/76 . sebagaimana wahyu Beliau dalam Kitab Bhagawad Gita Bab IX Sloka 22 : Mereka yang memuja-Ku dan hanya bermeditasi kepada-Ku saja. Kita harus yakin bahwa apapun yang kita alami pada kehidupan ini adalah hasil perbuatan diri sendiri. Oleh karena itu yang terbaik harus dilakukan adalah melaksanakan tugas sebaik-baiknya. atas pahala atas karma kita masa kini. Prarabdha Karma 3.3. Karma akan membentuk kepribadian seseorang. Bukan karena orang lain. Kramana karma adalah pahala yang diterima seseorang pada kehidupan ini atas hasil dari perbuatan ( karmanya ) pada kehidupan yang lampau. selalu berbuat kebaikan serta tetap yakin dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Karma yang memberi kesan dan menjadi kepribadian jiwatman inilah yang merupakan karmawasana setiap orang. akan Aku bawakan segala apa yang belum dimilikinya dan akan menjaga yang sudah dimilikinya. Mengenai kapan waktu kita akan menerima pahala atas karma yang kita lakukan juga merupakan rahasia Ida sang Hyang Widhi. Kryamana Karma Sancitha karma adalah karma atau perbuatan yang dilakukan pada masa hidup di dunia baru akan menerima pahalanya setelah meninggal dunia Prarabdha karma adalah karma atau perbuatan seseorang yang pahalanya langsung diterima pada kehidupan ini. Laksanakan semua kewajiban sebagai yadnya dan bhakti kepada Ida sang Hyang Widhi. Apa yang seharusnya kita butuhkan pasti akan terpenuhi. selalu melekat pada setiap kelahirannya. Bisa saja merupakan pahala atas karma kita pada kehidupan terdahulu. Meskipun kita menggolongkan karma tersebut seperti di atas tetapi dalam kenyataan sangat sulit bagi kita untuk mengidentifikasi setiap karma yang kita terima saat ini. kepada mereka yang senantiasa gigih demikian itu. Tiga Macam Karma Jika dilihat dari segi waktu hasil karma seseorang maka dapat digolongkan menjadi tiga macam yaitu : 1. Jika hal itu sudah dilakukan maka Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik bagi kita. Manfaat kita mengetahui jenis-jenis karma tersebut adalah untuk meningkatkan sradha dan bhakti kepada Hyang Widhi. Sanchita Karma 2. E.

Demikian pula alam bisa saja sebagai alat pembalas karma. Meskipun Andi sebagai alat . c. tetapi juga sebagai alat untuk membalas karma orang lain. serta bisa juga dari alam. tetapi semua itu akibat perbuatan manusia sendiri. Itu adalah hasil karma kita yang mungkin kita sudah lupa kapan melakukannya. Dalam peristiwa tersebut Budi menerima pahala dalam bentuk pertolongan dari Andi. b. Pahala karma di dunia bisa diterima melalui tangan manusia atau alam lingkungan. d. sehingga disaat yang tepat kita akan menerimanya. atas perbuatannya menolong budi dia juga akan mendapat pahala atas karma tersebut. Pelaksana Karmaphala Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa wujud karmaphala bisa berbentuk fisik bisa juga berbentuk psikis. Contoh sederhana mungkin suatu ketika kita menerima bantuan dari orang lain dimana pada waktu tersebut kita benar-benar memerlukan pertolongan tersebut. Setiap peristiwa karma yang melibatkan lebih dari satu manusia maka akan ada pihak penerima pahala atas karmanya dan ada pihak sebagai pembalas karma sekaligus pelaku karma untuk dirinya. Misalkan Andi menolong Budi yang terjatuh dari sepeda motor. Pahala karma bisa saja dirasakan melalui tangan manusia. pahala tersebut mungkin saja atas kebaikan Budi di waktu lalu Dalam kasus ini Andi adalah sebagai alat pembalas karma perbuatan Budi di masa lalu. Meskipun manusia adalah alat pembalas karma. Tetapi bagaimana bentuk pahala dari karma yang harus dinikmati pada kehidupan ini? Tentu saja akibat karma akan dirasakan oleh seseorang melalui interaksi dengan lingkungan. Kejadian ini buakanlah suatu kebetulan. bukan berarti dia terbebas atas karma yang diperbuatnya itu tetapi pahala akan selalu mengikuti karma yang dilakukannya. Bencana alam bukanlah hukuman Tuhan. Pendidikan Agama Hindu 5/76 . baik alam maupun sesama manusia. Setiap karma yang terjadi akan menjadi penyebab untuk karma-karma berikutnya. Jadi setiap peristiwa karma yang melibatkan lebih dari satu orang maka dalam peristiwa tersebut ada dua jenis proses karma yang terjadi yaitu ada pihak yang menerima hasil karmanya dan ada orang yang yang berkarma dimana hasilnya belum diketahui kapan akan diterima. Kesimpulannya : a. Dalam peristiwa tersebut yang menjadi alat Tuhan untuk menyampaikan pahala atas karma tersebut adallah manusia ( orang lain). tumbuhan. Pahala atas karma seseorang dapat diterima di alam niskala ( sorga atau neraka ) juga bisa dinikmati pada saat hidup. Jika karma seseorang harus diterima setelah meninggal dunia maka atmannya akan menuju sorga atau neraka.F. binatang. Sehingga manusia disamping akan menerima pahala atas karmanya.

Pendidikan Agama Hindu 6/76 . Pengertian sederhana adalah bahwa pada saat seseorang meninggal dunia maka jiwatman akan melepaskan badan jasmaninya ( stula sarira ). tumbuh besar. Perputaran waktu. Intinya bahwa segala sesuatu di alam ini mengalami perputaran sehingga bisa stabil. Jika kita perhatikan bahwa alam ini semuanya mengalami siklus ( perputaran ). G. sloka 27). demikianlah jiwatman yang berwujud mencampakkan badan lama yang telah usang dan mengenakan badan jasmani baru. perputaran rantai makanan. ( BabII. dan masih banyak lagi jenis-jenis perputaran kehidupan. antara lain : Seperti halnya sang jiwatman yang melewatkan waktunya dalam badan ini dari masa kanak-kanak. kematian sudahlah pasti dan pasti ada kelahiran bagi mereka yang mati. Untuk meningkatkan kualitas jiwatman maka setelah waktu tertentu jiwatman kembali kedunia dengan menggunakan badan jasmani yang baru. demikian juga bila ia berpindah ke badan yang lainnya. Ada perputaran siang dan malam. kemudian meninggal maka akan mengalami perputaran untuk lahir kembali. Bahkan planet-planet ini bisa stabil pada tempatnya karena berputar. perputaran dari air laut mejadi awan. ( Bab II. Orang bijaksana tak akan terbingungkan oleh hal ini. sloka 22 ) Bagi seseorang yang lahir. PUNARBHAWA Punarbbhawa atau tumimbal lahir atau samsara adalah bagian keempat dari Panca Sradha sebagai dasar keyakinan Umat Hindu. Dari pemahaman ini jelas bahwa manusia akan mengalami punarbhawa. sehingga terhadap hal yang tak terrelakkan ini janganlah engkau berduka. Demikian juga manusia yang lahir. remaja dan usia tua. Kemudian dalam Kitab Suci Bhagawad gita beberapa sloka menyiratkan secara jelas tentang punarbhawa . kemudian turun hujan dan kembali ke laut. ( Bab II.e. sloka 13 ) Bagaikan seseorang yang menanggalkan pakaian usang dan mengenakan pakaian lain yang baru. Untuk memahami dan meyakini hukum punarbhawa bisa kita lakukan secara logika maupun dengan meyakini Wahyu Tuhan melalui kitab-kitab suci. Proses jiwatman meninggalkan stula sarira kemudian lahir kembali menggunakan jasmani yang baru inilah disebut Punarbhawa. menuju sorga atau neraka. Dalam rangka meningkatkan karma baik maka pada saat berdoa mohonlah agar kita senantiasa menjadi alat pembalas karma yang baik.

Demikian juga bila semasa hidupnya banyak berbuat dosa maka kelahiran berikutnya akan menurun kualitasnya.Masih banyak sloka-sloka lain yang menjelaskan tentang punarbhawa ini. Jadi bila manusia semasa hidupnya banyak berbuat baik maka kelahiran berikutnya akan meningkat kualitasnya. H. karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara ( lahir dan mati berulang-ulang ) dengan jalan berbuat baik. Oleh karena itu setiap menjalani kehidupan kewajiban manusia adalah untuk meningkatkan Subhakarma sehingga setiap kelahiran berikutnya bisa meningkat kualitasnya sampai akhirnya tujuan hidup yaitu moksartham jagathita tercapai. Berbuat baik ( Subha karma ) adalah cara untuk melepaskan diri dari keadaan samsara ( punarbhawa ). 2. Dari sloka di atas ada dua point yang dapat kita petik penekannya yaitu : 1. demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia. Jika digambarkan proses hidup manusia dan kelahirannya sampai bersatunya atman dengan brahman ( Brahman Atman aikyam) seperti di bawah ini : Ket : Gari tebal adalah kehidupan saat ini Garis tipis kehidupan kelahiran dengan kualitas meningkat yang menuju bersatunya Brahman Pendidikan Agama Hindu 7/76 . sebabnya demikian. Hubungan Karmaphala dengan Punarbhawa Dalam Kitab Sarasamuscaya sloka 4 dikatakan : Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan terlahir sebagai binatang atau tumbuhan. Untuk berbuat baik kesempatan yang paling luas adalah bila menjelma menjadi manusia.

Kesimpulan : Gunakan hidup ini sebaik-baiknya untuk meningkatkan karma sehingga setiap kelahiran berikutnya bisa meningkatkan kualitas dan kesucian jiwatman.Garis putus-putus kehidupan kelahiran dengan kualitas menurun yang semakin jauh dari Brahman. Pendidikan Agama Hindu 8/76 .

Jadi semua yang ada di alam semesta ini termasuk gugusan bintang. atau brahmanda. Mampu menguraikan hubungan bhuana agung dan bhuana alit Uraian Materi A. Mampu menjelaskan proses terciptanya bhuana agung dan bhuana alit. mengingat keterbatasan kemampuan dan umur manusia. Bebrapa peneliti dan ilmuwan mencoba untuk membuat teori tentang penciptaan alam semesta tetapi tidak satupun dapat memastikan kapan alam ini tercipta. Agastya Parwa dan sebagainya. Penggambaran jagat raya termasuk proses penciptaannya banyak diuraikan dalam beberapa kitab suci Hindu Seperti Brhad Aranyaka Upanisad. c. Brahmanda Purana. makrokosmos. matahari. Kapan sesungguhnya alam semesta ini tercipta. Pada saat alam semesta ini meng”ada” disebut masa “Srsti “ atau “ Brahma diwa “ ( siang hari Brahma ). demikian seterusnya berulang-ulang. dari jenjang yang amat halus dan tidak berwujud ( gaib / niskala ) sampai pada jenjang yang berwujud dan sangat kasar ( nyata / sekala ) Pendidikan Agama Hindu 9/76 . sangat sulit dipastikan. Istilah lainnya adalah jagat raya. kemudian tidak ada lagi. Sedangkan pada waktu alam ini meniada disebut “Pralaya” atau “Brahma nakta” ( malam hari Bharma ). b. BHUWANA AGUNG Pengertian Bhuana Agung artinya alam raya ( besar ). Mampu mengklasifikasi unsur-unsur bhuana agung dan bhuana alit d. Proses dari tidak ada menjadi ada alam semesta ini berlangsung secara berjenjang. Mampu menjelaskan proses pralaya. Menurut Ktab-kitab suci Hindu teori penciptaan jagat raya banyak diuraikan yang jika dicermati dan dipelajari dengan penuh keyakinan maka alam semesta ini mengalami keadaan dimana jagat raya ini pernah tidak ada. lalu ada. planet.BAB II ALAM SEMESTA Standar Kompetensi Memahami proses penciptaan dan pralaya alam semesta Tujuan Akhir Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan : a. Masa Srsti digabungkan dengan masa Pralaya disebut satu Kalpa atau satu hari Brahman. bumi dengan segala isinya ini yang disebut bhuana agung.

Pralaya Pralaya adalah masa dimana alam semesta ini tidak ada. Budhi bersifat sattwam sehingga setiap keputusannya bersifat bijaksana. 6. Rajas unsur yang memiliki sifat dasar dinamis dan aktif. 2. Pendidikan Agama Hindu 10/76 . Semua mahluk hidup mati dan hancur. kosong dan hampa. 7. Padamulanya Unsur Sattwam yang mendominasi maka lahirlah yang disebut Mahat yang berarti Maha Agung. Tuhan Paramasiwa atau Nirguna Brahma menjadikan diri-Nya Sada Siwa ( Saguna Brahma ) yang berwujud Purusa dan Prakiti . Perpaduan Purusa dan Prakirti menyebabkan Triguna tidak seimbang. Pada saat alam ini tidak ada Tuhan menarik kembali semua manifestasi beliau di alam kemudian menjadikan diri dalam wujud sepi. 6. Proses pralaya menurut beberapa kitab suci Hindu digambarkan sebagai berikut . Dari sebaran api yang sangat dahsyat ini menyebabkan semua zat cair menguap. Alam citta yang pertama muncul adalah Buddhi. Sattwam adalah unsur yang bversifat terang dan tenang. dan Tamas.Hal ini disebutkan dalam Bhagawad Gita. Fungsinya adalah untuk merasakan. 5. Unsur-unsur Panca Maha Bhuta kembali menjadi atom yang amat halus sekali. Dari Mahat terciptalah alam Citta yang didalamnya terdiri dari tiga unsur yaitu Budhi. 4. 2. Rajas. Sattwam. manah dan ahamkara yang tercipta secara berurutan. Purusa dan prakirti keduanya sangat halus dan tidak bisa diamati. Bab XIII sloka 20. 1. tanpa permulaan dan tanpa akhir. Selanjutnya alam semesta menjadi tidak ada selama satu kalpa atau kurang lebih 432 juta tahun manusia. Dari Unsur Prakirti lahirlah Triguna yaitu. Purusa adalah unsur dasar kejiwaan atau rohani. proses terciptanya alam semesta dapat digambarkan sebagai berikut : 1. 5. 3. Sedangkan Tamas adalah unsur yang meiliki sifat dasar gelap dan berat 4. 3. Dimulai dari hancurnya ikatan api atau matahari yang kemudian menyebar keseluruh alam semesta. sedangkan prakirti adalah unsur dasar kebendaan atau jasmani. Alam jagat raya dipenuhi hawa panas kemerahan dan dentuman halilintar yang sambung-menyambung dengan dahsyat. Pada kondisi seperti ini beliau disebut Paramasiwa atau Nirguna Brahman. Dari Buddhi selanjutnya lahir Ahamkara. yaitu unsur kejiwaan tertinggi yang berfungsi untuk menentukan keputusan. semua zat pada meleleh kemudian menguap. yaitu benih kejiwaan yang bersifat kedirian atau individu. Srsti Setelah alam ini tidak ada pada masa pralaya .

Padendriya ( yangsang penggerak kaki ) d. Selanjutnya dari Ahamkara lahirlah yang disebut Manas. Ganda Tanmatra ( sari bau ) 11. Payundrita ( rangsang penggerak pelepasan ) e. Srotendriya ( rangsang pendengar ) b. Panindriya ( rangsang penggerak tangan ) c. Jihwendriya ( rangsang pengecap ) e. Dari Panca Tanmatra selanjutnya muncul Panca Maha Bhuta . Upasthendriya / Bhagendriya ( rangsang penggerak kelamin ) 10. Rupa Tanmatra ( sari warna ) d. terdiri dari: a. Garbhendriya ( rangsang penggerak perut ) b. Apah ( zat cair ) e. Wayu ( hawa atau udara ) c. Evolusi berikutnya dengan pengaruh triguna dengan imbangan yang berbeda terciptalah Dasendriya .8. Caksundriya ( rangsang penglihatan ) d. a. Sabda Tanmatra ( sari suara ) b. Pendidikan Agama Hindu 11/76 . a. yang terdiri dari Panca Buddhindriya terdiri dari . Rasa Tanmatra ( sari rasa ) e. yaitu akal atau pikiran yang berfungsi untuk berpikir. yaitu lima macam unsur zat alam yang bersifat kasar. 9. Dari uraian di atas jelaslah bahwa semua yang ada di alam ini mengalir dan lahir dari Tuhan dan pada saatnya nanti akan kembali lagi ke dalam tubuhNya yang menjadi kosong dan hampa. Twakindriya ( rangsang perasa ) c. Akasa ( ether atau ruang ) b. Teja ( api ) d. Granendriya ( rangsang pencium ) Panca Karmendriya terdiri dari. Sparsa Tanmatra ( sari rabaan ) c. Prthiwi ( zat padat ) 12. Selanjutnya lahirlah Panca Tanmatra yaitu lima unsur zat yang sangat halus terdiri dari : a. Dari Panca Maha Bhuta inilah kemudian berkembang menjadi alam semesta beserta isinya yaitu mahluk hidup yang ada di bumi termasuk manusia.

Jika digambarkan dalam skema maka proses terciptanya alam semesta sebagai berikut : Ida Sang Hyang Widhi Purusa Prakirti / Pradana Memiliki Triguna Mahat Citta Buddhi Ahamkara Manah Dasendriya Panca Tanmatra Panca Maha Butha Brahmanda Pendidikan Agama Hindu 12/76 .

Lapisan bumi menuju ruang jagat raya disebut Sapta Loka. manusia. Rasa tala Lebih dalam dari sapta patala masih terdapat dua lapisan lagi yaitu : a. Sapta 1. Mahatala 5. Hanya saja ada perbedaan perkembangan penciptaannya sesuai perimbangan triguna. Sutala 6. seperti. 7. Nitala 4. BHUWANA ALIT Pengertian Bhuwana alit sering juga disebut Mikrokosmos adalah alam kecil atau dunia kecil yaitu isi dari alam semesta. 2. Patala ( kulit bumi ) 2. 5. Lapisan-lapisan ini berdasarkan kuat atau lemahnya pengaruh Panca Maha Bhuta. Setelah tercipta Brahmanda-brahmanda termasuk bumi maka selanjutnya diciptakanlah mahluk hidup yang berawal dari mahluk hidup yang terrendah sampai dengan mahluk hidup yang tertinggi. hewan dan tumbuhan. Asal mula atau proses penciptaan bhuwana alit Bhuwana alit adalah bagian dari bhuwana agung. Tala-tala 7. oleh karena itu proses penciptaan sama termasuk unsur-unsur pembentukannya. Balagarba maha naraka ( ruang perantara di dalam bumi ) b. Kalagni Rudra ( ruang inti bumi ) B. 4. 3. Pendidikan Agama Hindu 13/76 .Sapta Loka Bumi sebagai salah satu Brahmanda hasil pembentukan Panca Maha Bhuta memiliki lapisan-lapisan. terdiri atas : 1. 6. Watala 3. Loka terdiri dari : Bhur loka ( alam manusia ) Bhuwah loka ( alam pitara ) Swah Loka ( alam dewa ) Maha loka Jana loka Tapa loka Satya loka ( ruang vakum= Nirguna Brahma ) Sapta Patala Sapta patala adalah lapisan bumi dari permukaan sampai dengan inti bumi.

Mahluk ini dikenal dengan nama Satwa atau Sato. Swedaya yaitu binatang bersel Satu. 4. 3. 2. 3. Andaya yaitu binatang bertelur. rajas. Jangama yaitu tumbuhan yang hidupnya menumpang pada pohon lain. Kelompok Dwi Pramana Adalah mahluk hidup yang memiliki dua kekuatan hidup yaitu Bayu dan Sabda. Trna yaitu bangsa rumput baik yang hidup di air maupun di darat. Lata adalah tumbuhan menjalar di tanah atau di pohon. 2. Purusa yaitu atman sebagai sumber kehidupan 2. Yang membedakan antara manusia yang satu dengan yang lain adalah komposisi dan perimbangan unsur-unsur pembentukannya serta karmawasana yang telah dibentuknya. Baik unsur terhalus sampai unsur paling kasar.. 5. Pradana terdiri dari : Pendidikan Agama Hindu 14/76 . Sabda dan Idep. Bayu adalah kekuatan nafas. Adapun yang tergolong dalam Sato adalah : 1. Kelompok Eka Pramana Yaitu mahluk hidup yang hanya memiliki satu kekuatan dalam hidupnya yaitu Bayu. Mahluk hidup ini juga dikenal dengan nama Sthawara yaitu mahluk hidup yang tidak berpindah-pindah seperti tumbuhan. Diantara mahluk hidup hanya manusialah yang memiliki semua unsur ciptaan Tuhan secara lengkap. Kelompok Tri Pramana Adalah mahluk hidup yang memiliki tiga kekuatan hidup yaitu. Sabda adalah kekuatan suara dan Idep kekuatan pikiran. dengan sifat tamas yang mendominasi terciptalah kelompok Eka Pramana atau tumbuh-tumbuhan. Manusia memiliki unsur : 1. Jarayuja yaitu binatang menyusui. Termasuk dalam golongan Sthawara adalah : 1. tamas yang sesuai dan seimbang tercipta Kelompok Tri Pramana atau manusia. Terakhir dengan perimbangan satwam. Taru yaitu semak dan pepohonan. Mahluk ini disebut juga Manusya.Dari proses penciptaan Purusa dan prakirti dengan unsur-unsurnya sampai panca maha bhuta. Bayu. Gulma adalah bangsa tumbuhan yang bagian luar pohon berkayu keras dan bagian dalam berongga atau kosong. Selanjutnya jika semua unsur penciptaan tersebut lebih banyak guna rajas maka terciptalah kelompok Dwi Pramana atau hewan/ binatang.

Sumsum ( sumsum) 4). budhi. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Ida Sang Hyang Widhi pada masa Srsti dan akan kembali kepada-Nya pada masa pralaya. Pranamaya Kosa yaitu badan dari sari nafas. sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Bhagawad Gita Bab VII. Annamaya kosa yaitu badan dari sari makanan 2). Hubungan itu dapat diuraikan minimal sebagai berikut : 1. 5). Dasendria. Sad Kosa terdiri dari : 1). Bhuwana Agung dan bhuwana alit diciptakan oleh pencipta yang sama. 2. Mamsa ( daging).a. ahamkara. Manomaya Kosa yaitu badan dari sari pikiran. Wijnanamaya Kosa yaitu badan dari sari pengetahuan. Asti ( tulang) 2). Bhuwana Agung dan bhuana alit memiliki unsur-unsur yang sama. dan Panca Tanmatra. Panca Maya Kosa terdiri dari : 1). manah. Jiwatman inilah yang selalu mengalami reinkarnasi jika selama bersatu dengan stula sarira sebagai manusia hidup di dunia belum berhasil melepaskan ikatan-ikatan karma untuk mencapai moksa yaitu bersatunya Atman dengan Brahman. Stula sarira yang berasal dari unsur Panca Maha Bhuta. Pendidikan Agama Hindu 15/76 . Odwad ( Otot ) 3). Suksma sarira dari unsur Cita. 5). HUBUNGAN BHUWANA AGUNG DENGAN BHUWANA ALIT Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit memiliki hubungan yang sangat erat satu sama lain. Rudhira ( darah ) 6). Bentukan hasil karma manusia antara suksma sarira dengan stula sarira menghasilkan Panca Maya Kosa yaitu lima lapisan halus badan manusia. Dari hasil karma dan konsumsi makanan manusia membentuk Sad Kosa yaitu enam lapis pembungkus stula sarira. 4). Carma ( kulit ) C. b. 3). sloka 6. Anandamaya Kosa yaitu badan dari sari kebahagiaan Suksma sarira yang dihidupi dengan unsur purusa ( atman ) disebut jiwatman.

Dalam proses penciptaan meskipun ada perbedaan waktu antara penciptaan alam semesta dengan mahluk yang ada di dalamnya . Skema itu dalat digambarkan sebagai berikut : Pendidikan Agama Hindu 16/76 . tetapi unsur-unsur pembentukannya adalah sama.

Brahman ( Nirguna Brahma ) melaksanakn Tapa Nirguna Brahma ( Sada Siwa ) Purusa Prakirti ( pradhana ) Bhuwana Agung 1. Panca Maha Bhuta 9. Sedangkan manusia ditata dan diatur dengan hukum karma yang didalamnya dibekali ilmu pengetahuan dan ajaran agama. Proses saling melengkapi ini telah diatur dengan hukum Tuhan ( Rta ). Parama Anu 8. Pendidikan Agama Hindu 17/76 . Buddhi 3. Panca Tanmatra 7. Ahamkara 5. siklus perputaran musim dan sebagainya. Mahluk hidup diciptakan berada dan berkembang pada alam semesta. Ahamkara 5. siklus perputaran air ( hidrologi ). Panca Maha Bhuta 9. Manah 4. Benih (Sukla/Swanita) Manusia 3. Panca Tanmatra 7. Dasendriya 6. Brahmanda Sapta Loka Sapta Patala Bhuwana Alit 1. Buddhi 3. Citta 2. Alam dilengkapi untuk kehidupan dan perkembangan mahluk hidup dan mahluk hidup memiliki kemampuan untuk mengatur alam. Bhuwana agung dan bhuawana alit saling melengkapi. Manah 4. Dasendriya 6. Parama Anu 8. seperti rotasi bumi dan matahari. Citta 2. Untuk alam ditata dan diatur dengan hukum alam.

Sehingga di Bali kita mengenal pedewasan ( hari baik/buruk untuk aktivitas tertentu) yang bersumber pada pengaruh guna masing-masing posisi planet tersebut. Sebaliknya segala aktivitas manusia juga dapat mempengaruhi kondisi alam. Pribadi. Pembangunan yang tidak memperhitungkan tata lingkungan menyebabkan bencana alam banjir dan kebakaran. Contoh sederhana manusia menciptakan kalender untuk pengaturan bercocok tanam bagi masyarakat agraris. Masing-masing posisi ini akan memberikan pengaruh yang berbeda pada manusia di bumi. perputaran planet-planet ini mempengaruhi posisi kedekatan dengan bumi.Dengan demikian alam akan melengkapi kebutuhan manusia dan manusia akan melengkapi isi alam. Karena bhuana agung dan bhuana alit memiliki unsur-unsur yang sama maka dalam proses hubungannya akan saling mempengarui. Bhuana agung dan bhuana alit saling mempengaruhi. budaya masyarakat serta kegiatan fisik manusia sangat dipengaruhi oleh alam. Manusia menciptakan berbagai alat untuk menyesuaikan diri dengan kondisi alam. Kondisi sekarang dengan ulah sebagian manusia yang merusak alam dan membabat habis hutan menyebabkan rusaknya siklus perputaran air. 4. Intinya bahwa aktivitas manusia dipengaruhi oleh alam dan sebaliknya juga hasil aktivitas manusia tersebut akan mempengaruhi alam Pendidikan Agama Hindu 18/76 . Matahari serta planet-planet di semesta memiliki jenis guna yang berbeda-beda. Penggunaan zat kimia yang merusak lapisan ozon dan polusi dari hasil pembakaran yang dilakukan manusia menciptakan rumah kaca sehingga terjadi pemanasan global. Alam memiliki unsur Triguna juga akan mempengaruhi semua pribadi dan aktivitas manusia. Alam memiliki musim maka manusia akan mengatur hidup dan fisiknya menyesuaikan dengan musim yang ada.

Raja Dharma. Dengan memiliki idep ( pikiran ) maka manusia dalam hidupnya selalu memiliki tujuan serta memiliki upaya untuk mencapai tujuan tersebut. keluarga. Kemampuan dalam hal memimpin suatu organisasi ini disebut kepemimpinan/ Leadership. Kelompok ini bisa dalam lingkungan rumah tangga. Kepemimpinan dalam Hindu banyak dijabarkan dalam berbagai kitab antara lain Kitab Arthasastra. Tujuan manusia bisa bersifat individu maupun kelompok. Kitab ini dikenal juga dengan nama Danda Niti. RT. PENDAHULUAN Manusia adalah mahluk paling sempurna yang diciptakan Hyang Widhi di muka bumi dengan memiliki tri pramana yaitu sabda. Mampu neneladani sifat-sifat kepemimpinan Hindu. Kelompok dalam hal ini juga termasuk lingkungan profesi.RW. Ilmu kepemimpinan tidak saja diperlukan oleh pemimpin kelompok atau organisasi. Dalam usaha mencapai tujuan kelompok/organisasi tersebut perlu adanya pemimpin yang akan mengarahkan dan membawa kelompoknya untuk mencapai tujuan. Mampu menjelaskan pentingnya mempelajari ilmu kepemimpinan. bahkan untuk mencapai tujuan secara pribadi kita harus dapat memimpin diri sendiri. Disisi lain manusia adalah mahluk sosial yang hidup dalam kelompok tertentu. c. serta organisasi sosial lainnya. bayu dan idep. Mampu menguraikan Teori dasar kepemimpinan. Kitab ini berisi tentang ilmu Pendidikan Agama Hindu 19/76 . atau Raja Niti. Tujuan yang bersifat individu adalah sesuatu yang ingin dicapai secara pribadi bagi diri sendiri. serta Kautalira Arthasastra. Mampu menguraikan konsep dasar kepemimpinan menurut ajaran Hindu. sebab setiap orang suatu saat pasti akan menjadi pemimpin. dan seterusnya hingga kelompok negara bahkan dunia. URAIAN MATERI A. setiap orang perlu mempelajari kepemimpinan. kantor. Agar usaha seorang pemimpin berhasil menghantarkan kelompok/organisasi yang dipimpinnya mencapai tujuan maka diperlukan kemampuan untuk memimpin. b. Kelurahan/Desa. Minimal akan menjadi pemimpin dalam keluarga. Semua kelompok ini dari kelompok yang terkecil hingga yang terbesar memiliki tujuan tertentu.BAB III KEPEMIMPINAN Standar Kompetensi Memahami hakekat kepemimpinan Hindu Tujuan Pembelajaran akhir Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan : a. d.

namun inti dari semua teori itu adalah sama yakni bertujuan agar seorang pemimpin berhasil membawa kelompoknya mencapai tujuan yang diinginkan. dalam bukunya The Art of Leadership mengatakan bahwa kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau manusia sehingga tergerak untuk mengikuti kemauannya dengan ikhlas dalam rangka mencapai tujuan bersama. pertimbangan atau kebijakan. politik. Dalam kaitan ini Nitisastra juga dapat diartikan sebagai konsep penataan pemerintahan dan pembangunan negara. Di Indonesia dalam Kitab Nagara Kertagama disusun oleh Empu Prapanca juga memuat tentang kepemimpinan Hindu. dari kata Niti dan Sastra. Dalam kaitan perbedaan karakter pribadi ini Howart W. Kata pimpin medapat awal pe. PENGERTIAN Kepemimpinan berasal dari kata pimpin yang artinya bimbing atau tuntun. B. Sedangkan sastra artinya perintah. pengetahuan. Dalam berbagai kitab nitisastra banyak mengulas tentang kepemimpinan suatu masyarakat atau tata pemerintahan. Di Bali beberapa lontar juga memuat tentang konsep kepemimpinan Hindu. oleh karena itu penerapan konsep kepeimpinan juga berbeda dengan hasil yang berbeda pula. Sumber lain tentang kepemimpinan Hindu juga tertuang dalam Itihasa Mahabarata dan Ramayana. Menurut Hindu diberi istilah Nitisastra. Nitisastra berasal dari Bahasa Sansekerta.pemerintahan Hindu yang disusun oleh Maha Rsi Kautilya atau dikenal juga dengan nama Maha Rsi Chanakya. serta kelebihan tertentu dari bawahannya memiliki Kelebihan-kelebihan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin antara lain : Pendidikan Agama Hindu 20/76 . Banyak teori dan konsep modern tentang kepemimpinan.menjadi kata benda “pemimpin” yang artinya orang yang berfungsi memimpin atau menuntun atau orang yang membimbing. Keberhasilan seorang pemimpin tidak saja ditentukan oleh penguasaan terhadap ilmu memimpin tetapi juga ditentukan oleh karakter atau pribadi pemimpin tersebut.dan akhiran –an menjadi kata sifat yaitu sifat-sifat atau kemampuan seorang pemimpin. Untuk keberhasilan tersebut maka seorang pemimpin harus kemampuan. Istilah lain tentang kepeminpinan adalah Leadership. Niti artinya pemimpin. Dalam hal ini karakter dan pribadi setiap pemimpin adalah berbeda. Selanjutnya kata pemimpin ditambah awalan ke. dalam bukunya Principles of Management menyebutkan bahwa kepemimpinan adalah keseluruhan aktivitas untuk mempengaruhi serta menggiatkan orang dalam usaha untuk mencapai tujuan. ajaran. Jadi Nitisastra artinya ajaran tentang kepemimpinan. Menurut Gorge Terry. aturan atau teori. Heyt.

Dalam rangka mencapai tujuan tersebut maka konsep Catur Purusha Artha menjadi landasan. Planning / Perencana Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk merencanakan segala sesuatu yang harus dikerjakan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pengertiannya adalah bahwa dalam mencapai tujuan tertinggi yaitu moksa ( kebahagiaan tertinggi). Kelebihan dalam bidang rohaniah. Kelebihan dalam menggunakan rasio atau pikiran. C. maka kepemimpinan Hindu bertujuan agar seorang pemimpin dapat menghantarkan kelompok. Dharma. Jadi sangatlah keliru jika harta yang telah diperoleh dengan Dharma hanya digunakan untuk memenuhi keinginan ( kama ) di luar hukum dharma. 2. TUJUAN KEPEMIMPINAN HINDU Sebagaimana tujuan hidup menurut konsep Hindu yaitu moksartham jagat hita. 3. Artha yang diperoleh berdasarkan dharma digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup ( kama). 2. masyarakat atau negara yang dipimpinnya mencapai keadaan bahagia lahir dan batin. Tugas dan wewang pemimpin adalah : 1. Kelebihan dalam bidang jasmaniah. Direkting / Penanggung jawab pelaksana Pendidikan Agama Hindu 21/76 . Catur Purushartha yaitu empat tujuan hidup manusia yang utama yaitu . D. Organisation / Penataan Seorang pemimpin memiliki tugas untuk mampu menata dan menempatkan anggota /orang-orang dibawah pimpinannya pada tugas dan fungsi yang tepat sesuai dengan tingkat pengetahuan dan kompetensinya. Artha. Berlandaskan Dharma kemudian mencari artha ( materi ). TUGAS DAN WEWENANG PEMIMPIN. Seorang pemimpin disamping memiliki tugas dan tanggung jawab dia juga warus memiliki wewenang untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya tersebut. Selanjutnya kebutuhan hidup yang utama harus dicapai adalah moksa / kebahagiaan. 3. harus diawali dengan menjalankan Dharma ( kebenaran agama). Kama dan Moksa. FUNGSI.1.

Candra Brata. Indra Brata. artinya seorang pemimpin harus memiliki sifat seperti Dewa Indra. Surya Brata. sertinya seorang pemimpin harus adil dalam menegakkan hukum dan peraturan. seorang pemimpin harus memberikan keteduhan dan rasa aman dan nyaman bagi rakyatnya. sebagaimana hujan yang berasal dari air laut menguap keatas menjadi awan. kemudian menjadi hujan. Yama Brata. c. serta menjadi simbol semangat dan kekuatan hidup bagi negerinya. sehingga tujuan dapat tercapai dengan baik. Controlling / Pengawasan Setiap pelaksanaan tugas yang didelegasikan kepada bawahan harus diawasi dan dievaluasi oleh pimpinan. terdiri dari : a. 5. Dalam kaitan ini pemimpin harus memiliki kepekaan atas segala masukan positif dari bawahan. d. Asta Brata artinya delapan sikap mental seorang pemimpin yang merupakan cerminan dari delapan sifat dewa. b.Pemimpin bertanggung jawab dan berusaha agar rencana yang telah ditetapkan dapat berhasil dengan baik. Oleh karena itu tiap bagian tidak dapat bekerja sendiri harus ada koordinasi dengan bagian yang lain. Seorang pemimpin harus mampu memberikan kemakmuran pada rakyatnya. Coodination / Koordinasi Pemimpin bertugas untuk mengkoordinir semua anggota agar dapat bekerjasama sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. KEPEMIMPINAN HINDU Dalam ajaran Hindu banyak konsep-konsep serta pedoman-pedoman yang harus menjadi tuntunan bagi seorang pemimpin. Ajaran tentang kepemimpinan Hindu antara lain : 1. E. artinya seorang pemimpin harus memberikan pencerahan dan penerangan bagi rakyatnya. artinya sebagaimana sifat bulan. Asta Brata Asta Brata adalah ajaran Sri Rama Kepada Gunawan Wibisana pada saat akan menjadi Raja Alengka Pura setelah Rahwana mati. 4. Tidak melupakan bahwa raja juga berasal dari rakyat biasa. penguasa hujan. Setiap bagian dalam organisasi memiliki keterkaitan dengan bagian yang lain. Pengawasan yang lemah serta tidak ada evaluasi maka dapat dipastikan bahwa tujuan tidak akan dapat tercapai. Pendidikan Agama Hindu 22/76 .

artinya seorang pemimpin harus dapat membersihkan segala penyakit masyarakat seperti kemiskinan. h. pengangguran. Agni Brata. f. atau dibalik meja . tidak boros dan tidak korupsi. Kuwera Brata. artinya pemimpin harus berani dan pantang mundur menghadapi segala tantangan. Bayu Brata. tetapi harus mengetahui secara detail terutama kondisi rakyat jelata. artinya seorang pemimpin harus dapat mengelola keuangan secara tepat. maka seorang pemimpin harus mengetahui segala keadaan rakyatnya. Pendidikan Agama Hindu 23/76 . g.e. Pemimpin tidak hanya duduk di singgasana. Baruna Brata. sebagaimana sifat angin selalu ada dimana-mana dan bergerak ke segala arah. kejahatan dan sebagainya.

yaitu penuh pertimbangan dan jeli dalam menghadapi setiap masalah. d. Panca Dasa Pramiteng Prabu Adalah 15 ( lima belas ) sifat kepemimpinan yang ditulis oleh Empu Prapanca dalam Kitab Nagara Kertagama. l. o. d. hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. yaitu pandai berkomunikasidan diplomasi. i. Aksudra Parisatha. Sumantri. terdiri dari : a. g. Sarjawa upasama. c. k. 3. Panca Upaya Sandhi Pendidikan Agama Hindu 24/76 . Mantri Wira. artinya mampu membersihkan musuh-musuh negara. Atma sampad. Abhigainika yaitu mampu menarik perhatian yang positif dari masyarakat.2. Masihi samasta bhuwana. b. artinya mampu memimpin sidang dan mengambil keputusan yang bijaksana. yaitu sabar dan rendah hati. Nayaken Musuh. Tansatrsna. Panca dasa Pramiteng Prabu terdiri dari : a. bangsa dan negara. yaitu mendapat kepercayaan dari bawahan. toleransi dan menghargai pendapat orang lain. j. yaitu bijaksana dalam memimpin. artinya menjadi penasehat dan abdi negara yang baik. teguh iman. artinya bijaksana c. mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau golongan. yaitu setia dan taan pada atasan. Wijayana. Wicaksanengnaya. h. teguh hati dalam segala usaha. Ginengpatigina. f. optimis dan antusias. Teulelana. Natangguan. Wagmiwak. m. Sakya Samanta. e. f. Dibyacitta. n. Sifat-sifat inilah yang menjadi pedoman Maha Patih Gajah Mada sehingga berhasil mengawal Majapahit jaya. artinya memiliki kreativitas yang tinggi untuk memajukan kepentingan masyarakat. yaitu pembrani dalam membela negara. memiliki moral yang luhur. menyayangi isi alam. Dhirotsaha. e. Sad Warnaning Rajaniti Artinya enam sifat utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Utsaha. artinya memiliki kemampuan mengontrol bawahan sekaligus memperbaiki hal-hal yang dipandang kurang baik. Prajna. b. 4. Satya bhakti prabhu.

Panca Upaya Sandhi. Pragiwakia. Upeksa. c. yaitu teguh pendirian . Paramartha. d. dan Nawa Natya. i. artinya menganalisa data-data yang telah dikumpulkan kemudian mengklasifikasi data secara proporsional. artinya melaksanakan upaya penyelesaian sesuai dengan solusi yang telah ditetapkan. artinya setiap tindakan yang diambil harus berdasarkan pertimbangan akal sehat. Wikrama. artinya upaya untuk mencari solusi pemecahan masalah yang ada. 5. b. Dhirotsaha. Sad Warnaning Rajaniti. Wruh ring sarwa bastra. yaitu tidak pamrih pada harta benda. tidak berdasarkan emosi. terdiri dari : a. Keberhasilan seorang pemimpin tergantung pada kemampuan ilmu kepemimpinan yang dimiliki serta kemampuan secara pribadi dalam mempedomani dan mengaktualisasikan syarat-syarat kepemimpinan. terdiri dari : a. Asta Brata. Tugas dan fungsi seorang pemimpin adalah mampu untuk merencanakan (planning) . yaitu tahu cara mengatasi kerusuhan. memimpin langsung ( direkting ). d.Artinya lima cara seorang pemimpin untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah. Indra Jala. f. Maya. g. yaitu pandai berbicara di depan umum dan pandai berdiplomasi. artinya kemampuan untuk mengumpulkan data-data permasalahan yang belum jelas kedudukannya. yaitu memiliki kemampuan membedakan yang benar dan salah. dan data yang akurat. Nawa Natya Artinya sembilan sikap teguh dan pekerti seorang pemimpin. menata ( organisation). yaitu tekun dan ulet. Wiweka. yaitu memiliki sifat mulia dan luhur. e. Panca Dasa Pramiteng Prabu. dan mengawasi ( kontroling). Sama upaya. yaitu pemberani dan pantang menyerah. Pradnya Widagda. Panca Upaya Sandhi tersurat dalam lontar Siwabudha Gama Tattwa. Dalam ajaran Hindu berbagai sifat dan syarat kepemimpinan antara lain. Logika. h. Pendidikan Agama Hindu 25/76 . yaitu Selalu setia pada janji. mengkoordinasikan ( coordination). bijaksana dan memiliki berbagai ilmu pengetahuan. Lagawangartha. b. c. e. Wira Sarwa Yudha. Rangkuman Kepemimpinan adalah sifat dan prilaku pemimpin dalam upaya membawa kelompok atau masyarakat yang dipimpin menuju cita-cita atau tujuan bersama yang telah ditetapkan.

suara kidung ( Dharma Gita ). B. Pendidikan Agama Hindu 26/76 . yaitu lima jenis suara dalam Upacara Yadnya. Umat Hindu dimana saja termasuk di Indonesia memiliki Dharma Gita sesuai dengan budaya setempat. Secara umum materi dari Dharma gita biasanya berisi tentang : 1. Dari pemahaman di atas tujuan dan fungsi Dharma Gita adalah : 1. estetika dan etika moral dalam Dharma Gita. Oleh karena itu setiap kegiatan ritual pemujaan kepada Hyang Widhi seni budaya menyatu di dalamnya.BAB IV DHARMA GITA Standar Kompetensi Memahami nilai-nilai budaya dalam Dharma Gita Tujuan Akhir Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan mampu :  Menguraikan nilai-nilai kebenaran. Kalimantan . Di India Dharma gita tentu saja memiliki irama khas India. Kisah-kisah sejarah kepahlawanan ( itihasa ). TUJUAN DAN FUNGSI DHARMA GITA Dharma gita adalah hasil kreasi budaya luhur umat Hindu. A. suara mantra. demikian juga di Indonesia Dharma Gita memiliki ragam yang berbeda untuk Daerah Bali.  Menunjukkan contoh-contoh nilai kebenaran. dan etika moral dalam Dharma Gita. suara genta/bajra. PENGERTIAN Dharma gita adalah suatu nyanyian kebenaran yang dinyanyikan dalam pelaksanaan upacara Agama Hindu. Kidung tergolong juga salah satu Dharma Gita. Cerita-cerita/dongeng yang berisi ajaran kebenaran.  Menyanyikan Dharma Gita yang mengandung nilai-nilai budaya. Jawa. jadi jelas bahwa Dharma Gita sebagai pelengkap Upacara Yadnya. Oleh karena itu maka seni dan budaya masyarakat Hindu tetap dijaga dan dikembangkan tetapi nilai-nilai ajaran kebenaran tetap mewarnainya. Panca Paginda terdiri dari. Pujian kebesaran Hyang Widhi beserta seluruh ciptaannya 2. termasuk dalam hal ini Dharma Gita. estetika. suara kul-kul ( kentongan). Dalam konsep Hindu bahwa seni budaya merupakan sarana untuk meningkatkan cipta dan rasa dalam rangka meningkatkan sradha bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi. Pelengkap pelaksanaan Upacara Agama ( Yadnya ) Dalam pelaksanaan upacara agama. 4. dan suara gamelan. ( khususnya di Bali ) ada yang namanya Panca Paginda. Lombok dan sebagainya. Petuah-petuah luhur sebagai ajaran moral bagi umat Hindu 3.

Sarana untuk meningkatkan sradha bhakti Syair-syair Dharma Gita ada yang bersumber langsung dari kitab-kitab suci seperti. Hal ini disebabkan karena syair-syair Dharma Gita sesuai dengan jenis Upacara Yadnya yang dilaksanakan. Palawakya Palawakya menggunakan Bahasa Jawa kuno dan berbentuk prosa. serta konsentrasi pemujaan kepada Hyang Widhi. Dalam membaca dan melantunkan irama ditentukan pada intonasi serta ketepatan pengejaan dan pemenggalan kata. C. 4. Dengan demikian maka dengan melantunkan Dharma gita berarti juga mengingatkan setiap orang tentang ajaran-ajaran agama. Juga di kalimantan ada kidung-kidung daerah yang diangkat dalam kelompok Dharma gita. Sarana ajaran moral Disamping untuk kegiatan upacara / yadnya Dharma Gita juga mengandung nasihat-nasihat tentang kesusilaan sehingga dapat dikatakan bahwa dharma gita juga sebagai sarana untuk pendidikan moral bagi masyarakat. Sloka biasanya bersumber dari kitab suci yang umumnya berbahasa Sansekerta. Setelah penyebaran Hindu semakin meluas di nusantara maka budaya-budaya lokal mewarnai kegiatan upacara/Yadnya termasuk Dharma gita. oleh karena itu pengelompokan Dharma gita lebih banyak mengacu pada budaya Bali. Kekawin/Kidung/Tembang Pendidikan Agama Hindu 27/76 . Pada masa kini di beberapa daerah dharma gita muncul dari budaya lokal. Sarasamuscaya. Ada pula merupakan hasil cipta para kawi berisi tentang pemujaan kepada Hyang Widhi. Bhagawad Gita.2. Beberapa contoh Dharma Gita : a. Sloka Biasanya terdiri dari empat baris dalam satu bait dengan jumlah suku kata yang sama setiap barisnya. Disamping itu irama Dharma gita juga biasanya mampu membawa suasana hati yang hening dan tentram 3. Manawa Dharma sastra dan sebagainya. Sarana untuk menciptakan suana suci dan konsentrasi pemujaan Melantunkan Dharma Gita pada pelaksanaan Upacara agama akan menciptakan suana batin yang suci. c. JENIS-JENIS DHARMA GITA Pada awalnya istilah dharma gita lebih dikenal di Bali. b. seperti di Jawa pada setiap kegiatan upacara dilantunkan tembang-tembang jawa . sehingga semakin sering orang melantunkan atau mendengar Dharma Gita maka diharapkan pemahaman tentang ajaran agama semakin meningkat.

Sekar Agung / Kekawin 2). di Bali kidung dikelompokkan menjadi : 1). Sekar alit / pupuh Pendidikan Agama Hindu 28/76 .Di setiap daerah memiliki jenis-jenis kidung/tembang tersendiri. Sekar Madya/ kidung 3).

Pendidikan Agama Hindu 29/76 . tingkat provinsi dan tingkat nasional. Nusa Tenggara Barat pernah sebagai pelaksana Utsawa Dharma Gita Tingkat nasional pada tahun 2004 yang dipusatkan Kota Mataram. Namun perkembangan berikutnya juga sebagai sarana peningkatan sumber daya manusia umat Hindu dalam pembinaan sradha bhakti maka materi Utsawa Dharma Gita tidak saja lomba untuk Dharma gita tetapi juga ada lomba Dharma Wacana dan Dharma Widya yaitu lomba penguasaan pengetahuan agama bagi siswa tingkat sekolah dasar ( SD ) sampai tingkat sekolah menengah atas ( SMA/SMK ). Carilah di berbagai sumber tentang jenis-jenis sekar agung. Pelaksanaan Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional biasanya dilaksanakan secara bergilir di beberapa daerah propinsi. UTSAWA DHARMA GITA Lembaga tertingi Agama Hindu di Indonesia yaitu Parisada Hindu Dharma Indonesia ( PHDI ).D. Utsawa Dharma gita pada awalnya bertujuan untuk melestarikan. Kegiatan ini dilaksanakan secara berjenjang dari tingkat kota/kabupaten. yaitu Dharma gita yang dilombakan. Pelajari dan lantunkan kidung Kawitan Wargasari c. sekar madya dan sekar alit. secara berkala melaksanakan Utsawa Dharma Gita. Tuliskan tiga bait kidung dengan jenis pupuh yang berbeda. PENDALAMAN Guna meningkatkan pengetahuan dan kompetensi lakukanlah kegiatan kegiatan berikut : a. E. mengembangkan dan memasyarakatkan Dharma gita bagi umat Hindu Indonesia. b.

Pada dasarnya Yadnya bukanlah sekedar upacara keagamaan. Secara etimologi pengertian Yadnya adalah korban suci secara tulus ikhlas dalam rangka memuja Hyang Widhi. Pemahaman ini tentu tidak salah karena upacara ritual keagamaan adalah bagian dari yadnya. Dari satu sloka di atas jelas bahwa manusia saja diciptakan melalui yadnya maka untuk kepentingan hidup dan berkembang serta memenuhi segala keinginannya semestinya dengan yadnya. A. anena prasawiûyadham eûa wo ‘stw iûþa-kàma-dhuk artinya : Dahulu kala Prajapati ( Hyang Widhi ) menciptakan manusia dengan yajnya dan bersabda. Mengaplikasikan nilai-nilai Yadnya dalam kehidupan nyata dan kehidupan masyarakat. sloka 10 disebutkan : saha-yajòàá prajàh såûþwà purowàca prajàpatih. Pada masa srsti yaitu penciptaan alam Hyang Hidhi dalam kondisi Nirguna Brahma ( Tuhan dalam wujud tanpa sifat ) melakukan Tapa menjadikan diri beliau Saguna Brahma ( Tuhan dalam wujud sifat Purusha dan Pradhana ).BAB V YADNYA Standar Kompetensi Memahami Pelaksanaan Yadnya dalam kehidupan Tujuan Akhir Pembelajaran a. lebih dari itu segala aktivitas manusia dalam rangka sujud bhakti kepada hyang Widhi adalah Yadnya. Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan mampu : b. Menguraikan hakikat dan tujuan yadnya c. dengan ini engkau akan berkembang dan akan menjadi kamadhuk keinginanmu. d. Menyebutkan bentuk-bentuk pelaksanaan Yadnya dalam kehidupan nyata dan kehidupan masyarakat. PENGERTIAN DAN HAKEKAT YADNYA Pada awalnya banyak orang mengartikan bahwa yadnya semata upacara ritual keagamaan. Pada dasarnya Yadnya adalah penyangga dunia dan alam semesta. Manusia harus berkorban untuk mencapai tujuan dan keinginannya. karena alam dan manusia diciptakan oleh Hyang Widhi melalui Yadnya. Kesempurnaan dan kebahagiaan tak Pendidikan Agama Hindu 30/76 . Selanjutnya semua alam diciptakan secara evolusi melalui Yadnya. Yadnya berasal dari Bahasa Sansekerta dari akar kata “Yaj” yang artinya memuja. Dari proses awal ini jelas bahwa awal penciptaan awal dilakukan Yadnya yaitu pengorbanan diri Hyang Widhi dari Nirguna Brahma menjadi Saguna Brahma . Dalam Bhagawadgita Bab III.

Empat hal di atas semuanya dapat dicapai melalui Yadnya. maka kain yang utuh tersebut harus direlakan untuk dipotong sesuai dengan pola yang selanjutnya potongan-potongan tersebut dijahit kembali sehingga berwujud baju. Guna ( sifat satwam. Oleh karena itu tujuan Yadnya adalah : 1. ucapan. Untuk mencapai kebahagiaan maka manusia harus memiliki imbangan Guna Satwam yang tinggi. Oleh karena itu maka yadnya yang dilakukan oleh manusia tentu bertujuan untuk mencapai tujuan hidup manusia menurut konsep Hindu yakni Moksartham jagat hita ( Kebahagiaan sekala dan niskala ). Dari gambaran sederhana di atas dapat diambil kesimpulan bahwa demi mencapai kebahagiaan dan kesempurnaan hidup maka kita harus rela mengorbankan sebagian dari milik kita. sembahyang. Tanpa kesucian sangat mustahil keharmonisan dan kebahagiaan itu dapat tercapai. dan tamas ) orang akan saling mempengaruhi. Tanpa dasar tersebut maka suatu pengorbanan bukanlah yadnya. Sedangkan potongan yang tidak diperlukan tentu harus dibuang. B. peningkatan kualitas diri. dan senantiasa bersyukur dan berterima kasih kepada Sang Pencipta. Contoh sederhana bila kita memiliki secarik kain dan berniat untuk menjadikannya sepotong baju. demikian juga “guna” alam akan mempengaruhi manusia. sifat. korban pikiran. penyucian diri. Pribadi dan jiwa manusia dalam aktivitasnya setiap hari berinteraksi dengan sesama manusia dan alam lingkungan akan saling berpengaruh. dan lain-lain termasuk nyawa sendiri dapat digunakan sebagai korban.mungkin akan tercapai tanpa ada pengorbanan. Hyang Widhi akan merajut potonganpotongan pengorbanan kita dan menjadikannya sesuai dengan keinginan kita. seperti. Paling tidak empat hal yang harus dilakukan manusia yaitu. Dalam rangka mencapai tujuan tertinggi tersebut manusia harus melakukan aktivitas dan berkarma. Untuk Penyucian Untuk mencapai kebahagiaan maka hidup ini harus suci. Jika manusia dan alam memiliki tingkatan guna satwam yang lebih banyak maka keharmonisan alam akan terjadi. Segala aspek yang dimiliki manusia dapat dikorbankan sebagai yadnya. Jika kita bersikukuh tidak rela kainnya dipotong dan dibuang sebagian maka sangat mustahil akan memperoleh sepotong baju. Melalui Yadnya kita dapat menyucikan diri dan juga menyucikan lingkungan alam sekitar. dipelihara dan dikembangkan melalui yadnya. Pendidikan Agama Hindu 31/76 . Pengorbanan dalam hal ini bukan saja dalam bentuk materi. diciptakan . tindakan . pengetahuan. tulus dan ikhlas. Tentu saja pengorbanan ini harus dilandasi rasa cinta. TUJUAN YADNYA Dalam banyak sloka dari berbagai kitab menyatakan bahwa alam semesta beserta segala isinya termasuk manusia. rajas. Pribadi dan jiwa manusia harus dibersihkan dari guna rajas dan guna tamas.

Kitab Manawa Dharmasastra V. Widyatapobhyam bhutatma buddhir jnanena suddhayanti” Pendidikan Agama Hindu 32/76 .109 menyatakan : “ Adbhirgatrani suddhayanti mana satyena suddhayanti.

iking janma wwang juga wénang gumawayakén ikang çubhàçubhakarma. Lingkungan yang suci akan memberikan kehidupan yang suci juga bagi manusia. Dengan demikian setiap yadnya yang kita lakukan hasilnya adalah terjadinya peningkatan kualitas jiwatman. sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Sarasamuscaya sloka 2 sebagai berikut : Ri sakwehning sarwa bhùta. Hanya dilahirkan sebagai manusia memiliki sabda. jiwa manusia dibersihkan dengan pelajaran suci dan tapa brata. 3. Dengan demikian maka setiap kegiatan yang kita lakukan selalu memberikan kesucian pada diri pribadi. hanya yang dilahirkan sebagai manusia saja yang dapat melaksanakan perbuatan baik atau perbuatan buruk. Oleh karena itu jadikanlah aktivitas sehari-hari kita sebagai yadnya. Perbuatan baik yang paling utama adalah melalui Yadnya. demikianlah gunanya menjadi manusia. kunéng panéntasakéna ring çubhakarma juga ikangaçubhakarma. Artinya : Diantara semua mahluk hidup . bayu . Demikian juga untuk kesucian alam dan lingkungan lakukan upacara/ ritual sesuai dengan sastra agama sehingga kita akan senantiasa berada pada lingkungan yang suci. segala perbuatan yang buruk itu. oleh karena itu leburlah ke dalam perbuatan baik . dan idep dapat melakukan perbuatan baik sebagai cara untuk meningkatkan kualitas jiwatman. 2. Laksanakan kewajiban diri sendiri dengan penuh kesadaran dan keihlasan sehingga masuk dalam kelompok yadnya.Artinya : Tubuh dibersihkan dengan air. Sebagai sarana menghubungkan diri dengan Tuhan Pendidikan Agama Hindu 33/76 . phalaning dadi wwang. Demikian pula setiap kelahiran bertujuan untuk meningkatkan kualitas jiwatman sehingga tujuan tertinggi yaitu bersatunya atman dengan brahman ( brahman atman aikyam ) dapat tercapai. kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan yang benar. Dari sloka di atas jelas kewajiban hidup manusia adalah untuk selalu meningkatkan kualitas diri melalui perbuatan baik. pikiran disucikan dengan kebenaran. Untuk meningkatkan kualitas diri Setiap kelahiran manusia selalu disertai oleh karma wasana.

odalan. dilahirkan pada keluarga yang satwam. berada pada lingkungan sosial yang baik . sebagaimana dalam ajaran Tri Hita Karana. memahami dan melaksanakan Yadnya. adalah suatu yang luar biasa. Yadnya dalam kegiatan karma keseharian adalah sarana untuk menghubungkan diri dengan Tuhan. Perlu kedisiplinan dan keihlasan dalam menjalaninya. Ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Hyang Widhi itulah dilakukan dengan Yadnya Bekerja dengan benar dan giat. Satusatunya cara agar kita selalu dapat menghubungkan diri dengan Maha Pencipta adalah dengan mempelajari. dan kegiatan lain yang didasari pengabdian dan rasa ikhlas adalah salah satu contoh ungkapan rasa syukur dan ucapan terima kasih atas anugrah Tuhan untuk kesehatan. Jika dalam kehidupan kita senantiasa dapat memusatkan pikiran. belajar giat. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi manusia bijak untuk tidak bersyukur dan tidak berterima kasih kepada Sang Pencipta. memuja Hyang widhi maka tujuan tertinggi pasti akan tercapai sebagaimana sabda Tuhan dalam Bhagawad Gita Bab IX sloka 34 : Pusatkan pikiranmu pada-Ku. Terlebih Yadnya dalam bentuk Upacara/ritual jelas merupakan wujud nyata usaha menghubungkan manusia dengan Sang Penciptanya. serta kehidupan yang kita terima. Untuk menjaga agar senantiasa jalan kehidupan kita pada arah yang benar dan selalu mendapat sinar suci serta tuntunan Hyang Widhi maka haruslah kita selalu menjalin hubungan yang harmonis dengan Tuhan. Cara paling sederhana menghubungkan diri dengan Tuhan adalah sembahyang. maturan sehari-hari dsb ). dan tunduklah padaKu.Alam semesta dengan segala isinya termasuk manusia adalah ciptaan Hyang Widhi. Oleh karena itu hidup manusia dalam rangka mencapai tujuannya tidak akan lepas dari tuntunan dan kekuasaan Tuhan. serta hari suci lainnya ) salah satu tujuan utamanya sebagai Pendidikan Agama Hindu 34/76 . Untuk senantiasa dapat memusatkan pikiran dan memuja Hyang Widhi tidaklah mudah. menolong orang yang kesusahan. berbaktilah pada-Ku. 4. engkau akan sampai kepada-Ku. Sebagai ungkapan rasa terima kasih. maupun berkala ( rahinan. Kita diberikan hidup sebagai manusia. Sembahyang artinya menyembah Hyang Widhi. dan diciptakan bersama bumi yang penuh keindahan dan kedamaian. Upacara/ritual yang dilakukan Umat Hindu baik yang bersifat rutin (contohnya ngejot. keselamatan diri. dan dengan mendisiplinkan dirimu serta menjadikan-Ku sebagai tujuan. Dengan olah rasa yang baik maka rasa syukur merupakan salah satu motivasi utama untuk selalu berbuat kebajikan. rejeki. Manusia memiliki rasa dan pikiran dan dalam tatanan kehidupan sosial terikat pada aturan susila dan moral.

Dewa. III. memperturutkan nafsu semata Pàrtha dan mengalami penderitaan. 5. Alam dengan segala isinya memiliki keterkaitan dan ketergantungan satu sama lain. yaitu hutang kepada para Rsi yang mengorbankan kehidupannya sehingga dapat memberikan pencerahan kepada manusia melalui ajaran-ajarannya sehingga manusia dapat menjalani hidup dengan lebih baik.ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Hyang Widhi atas semua anugrah Beliau. bulan. yaitu hutang kepada orang tua dan leluhur. Jika manusia dalam melakoni hidup penuh keserakahan dan mengabaikan prinsip-prinsip Dharma maka kehancuran pasti terjadi. Karma leluhur dan orang tua berpengaruh terhadap keberadaan Pendidikan Agama Hindu 35/76 . bintang. Tri Rna ini dibayar dengan pelaksanaan Panca Yadnya. yaitu hutang hidup kepada Hyang Widhi yang telah menciptakan alam semesta termasuk diri kita. Pitra Rna.16 dijelaskan : Di dunia ini. Tri Rna terdiri dari : a. binatang. manusia dengan sesamanya dan keharmonisan hubungan manusia dengan alam. pada dasarnya bersifat jahat. Dalam Bhagawad Gita . Oleh karena itu manusia sebagai bagian alam semesta mempunyai kewajiban untuk menjalankan tugas dan fungsinya untuk ikut menciptakan keharmonisan kehidupan. tumbuhan. Dewa Yadnya dalam bentuk pemujaan kepada Hyang Widhi serta melaksanakan Dharma. Sekecil apapun ciptaan-Nya memiliki fungsi tersendiri dalam kehidupan ini. b. manusia. Untuk menciptakan kehidupan yang harmonis Hyang Widhi menciptakan alam dengan segala isinya untuk memutar kehidupan. Yadnya menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Hyang Widhi. Leluhur dan orang tua sangat memiliki peranan besar atas kehidupan kita saat ini. c. wahai Agar perputaran roda kehidupan ini berjalan dengan harmonsi maka peranan manusia sangat penting. Untuk semua ini wajib kita bayar dengan Dewa Yanya dan Bhuta Yadnya. Asura. Rsi Rna dilunasi dengan melaksanakan Rsi Yadnya. Butha Yadnya dilakukan untuk memelihara alam lingkungan sebagai tempat kehidupan semua mahluk. mereka yang tidak ikut memutar roda kehidupan ini. Dewa Rna. Perlu diingat bahwa Yadnya tidak semata-mata dilaksanakan dengan upakara/ritual. Dalam melaksanakan Yadnya ada tiga kewajiban utama yang harus dilunasi manusia atas keberadaannya di dunia ini yang disebut Tri Rna ( tiga hutang hidup). Rsi Rna. bahkan bakteri dan kumanpun semuanya memiliki tugas dan fungsi tersendiri dalam memutar kehidupan ini. Hanya dengan Yadnya keharmonisan alam dapat tercipta.

Membayar hutang kepada orang tua dan leluhur dilakukan dengan Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya Pendidikan Agama Hindu 36/76 .setiap orang. Oleh karena itu maka sudah menjadi kewajiban untuk membalas hutang tersebut. Paling tidak kelahiran kita di dunia karena adanya leluhur dan orang tua.

C. BENTUK DAN JENIS YADNYA 1. Bentuk – bentuk Yadnya Kitab Bhagawad Gita dalam berbagai sloka menjelaskan bahwa bentuk-bentuk yadnya terdiri dari : a. Yadnya dalam bentuk persembahan/Upakara b. Yadnya dalam bentuk pengendalian diri/tapa c. Yadnya dalam bentuk aktivitas/karma d. Yadnya dalam bentuk harta benda / kekayaan/punia e. Yadnya dalam bentuk ilmu pengetahuan/jnana Sampai saat ini di Indonesia khususnya di Bali hampir sebagian besar umat Hindu masih mengartikan dan mengutamakan bahwa yadnya adalah upacara/ritual. Padahal upakara/ritual itu adalah salah satu bagian dari bentukbentuk yadnya. Sangat sedikit Umat Hindu di Indonesia yang memberikan proporsional untuk melaksanakan bentuk-bentuk yadnya yang lainnya. Hindu memberikan keluasan kepada pemeluknya dalam beryadnya sesuai dengan kondisi dan kemampuan yang ada dengan peluang kesempatan hasil yang sama. Dengan demikian apapun bentuk yadnya yang kita lakukan sepanjang sesuai dengan konsep Dharma maka akan memperoleh hasil yang maksimal. 2. Jenis-jenis Yadnya Secara garis besar yadnya dapat kelompokkan sebagai berikut : a. Dari segi waktu pelaksanaan Yadnya dapat dibedakan : 1). Nitya Yadnya Yaitu yadnya yang dilakukan secara rutin setiap hari. Yadnya ini antara lain; dalam bentuk persembahan yang berupa yadnya sesa, atau persembahyangan sehari-hari. Sedangkan bagi sulinggih melakukan Surya Sewana. Yadnya dalam bentuk yang lain dapat dilaksanakan melalui aktivitas sehari-hari. Bagi seorang siswa kewajiban sehari-hari adalah belajar , bila dilakukan dengan penuh ikhlas merupakan yadnya. Bagi seorang petani, tukang, pegawai dan sebagainya yang melaksanakan tugas sehari-hari dengan konsentrasi persembahan kepada Tuhan disertai keikhlasan juga merupakan Nitya Yadnya. 2). Naimitika Yadnya Yaitu Yadnya yang dilaksanakan secara berkala/ waktu-waktu tertentu. Khusus untuk yadnya ini terutama yadnya dalam bentuk persembahan /upakara yaitu Upacara Piodalan, Sembahyang Purnama dan Tilem, Hari Raya baik menurut wewaran maupun sasih. Bagi bentuk yadnya yang lain tergantung kebiasaan pribadi perorangan/kelompok orang. Ada orang pada setiap hari raya tertentu Pendidikan Agama Hindu 37/76

melaksanakan tapa brata sebagai wujud yadnya pengendalian diri. Ada pula yang pada waktu tertentu setiap tahun atau setiap bulan melakukan dana punia baik dihaturkan kepada sulinggih, orang tidak mampu dan sebagainya. Disamping itu ada juga bentuk yadnya yang dilaksanakan secara insidental sesuai kebutuhan dengan waktu yang tidak tetap/ tidak rutin. Contohnya upacara ngaben, nangluk merana, tirtayatra. Demikian juga bentuk yadnya yang lain adakalanya dilakukan tidak dengan jadwal waktu tertentu. Misalkan jika ada ujian sekolah ada siswa / mahasiswa yang puasa. Ada orang yang tanpa diduga memperoleh rejeki yang lebih , maka sebagian dipuniakan untuk pura atau untuk panti asuhan.

b. Berdasarkan nilai materi / jenis bebantenan suatu yadnya digolongkan menjadi : 1). Nista, artinya yadnya tingkatan kecil yang dapat di bagi lagi menjadi :  Nistaning nista, adalah terkecil dari yang kecil  Madyaning nista, adalah tingkatan sedang dari yang kecil.  Utamaning Nista, adalah tingkatan terbesar dari yang kecil 2). Madya, yaitu yandnya tingkatan sedang yang dapat dibagi lagi menjadi :  Nistaning Madya, adalah tingkatan terkecil dari yang sedang.  Madyaning madya, adalah tingkatan sedang dari yang sedang.  Utamaning madya, adalah tingkatan terbesar dari yang sedang. 3). Utama, yaitu yadnya tingkatan besar yang dapat dibagi menjadi :  Nistaning utama, adalah tingkatan terkecil dari yang besar  Madyaning Utama, adalah tingkatan sedang dari yang besar.  Utamaning Utama, adalah tingkatan terbesar dari yang besar.

c. Sedangkan apabila ditinjau dari tujuan pelaksanaan atau kepada siapa yadnya tersebut dilaksanakan, dapat digolongkan menjadi : 1). Dewa Yadnya 2). Rsi Yadnya 3). Pitra Yadnya 4). Manusa Yadnya 5). Bhuta Yadnya Kelima jenis yadnya di atas dikenal dengan istilah Panca Yadnya. Uraian mengenai Panca Yadnya akan dibahas tersendiri setelah bagian ini.

Pendidikan Agama Hindu

38/76

d. Dari segi kualitas yadnya dapat dibedakan atas: 1). Satwika Yadnya yaitu yadnya yang dilaksanakan dasar utama sradha bakti, lascarya, dan semata melaksanakan sebagai kewajiban. Apapun bentuk yadnya yang dilakukan seperti; persembahan, pengendalian diri, punia, maupun jnana jika dilandasi bakti dan tanpa pamrih maka tergolong Satwika Yadnya. Yadnya dalam bentuk persembahan / upakara akan sangat mulia dan termasuk satwika jika sesuai dengan sastra agama, daksina, mantra, Annasewa, dan nasmita. 2). Rajasika Yadnya yaitu yadnya dilakukan dengan motif pamrih serta pamer kemewahan, pamer harga diri, bagi yang melakukan punia berharap agar dirinya dianggap dermawan. Seorang guru/pendarmawacana memberikan ceramah panjang lebar dan berapi-api dengan maksud agar dianggap pintar; semua bentuk yadnya dengan motif di atas tergolong rajasika yadnya. Seorang yang melakukan tapa, puasa tetapi dengan tujuan untuk memperoleh kekayaan, kesaktian fisik, atau agar dianggap sebagai orang suci juga tergolong yadnya rajasik. 3). Tamasika Yadnya yaitu yadnya yang dilaksanakan tanpa sastra, tanpa punia, tanpa mantra dan tanpa keyakinan. Ini adalah kelompok orang yang beryadnya tanpa arah tujuan yang jelas,hanya ikut-ikutan. Contoh orang-orang yang tegolong melaksanakan tamasikan yadnya antara lain orang yang pergi sembahyang ke pura hanya ikut-ikutan, malu tidak ke pura karena semua tetangga pergi ke pura, orang gotong royong di pura atau di tempat umum juga hanya ikut-ikutan tanpa menyadari manfaatnya. Termasuk dalam katagori ini adalah orang yang beryadnya karena terpaksa. Terpaksa maturan karena semua orang maturan. Terpaksa memberikan punia karena semua orang melakukan punia. Terpaksa puasa karena orang-orang berpuasa. Jadi apapun yang dilaksanakannya adalah sia-sia, tiada manfaat bagi peningkatan karmanya. Jenis-jenis yadnya di atas diuraikan dalam Kitab Bhagawad Gita dalam beberapa sloka. Untuk Yadnya yang berbentuk persembahan/upakara akan tergolong kualitas Satwika bila yadnya dilaksanakan berdasarkan :  Sradha, artinya yadnya dilaksanakan dengan penuh keyakinan  Lascarya, yaitu yadnya dilaksanakan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sedikitpun.  Sastra, bahwa pelaksanaan yadnya sesuai dengan sumber-sumber sastra yang benar.  Daksina, yaitu yadnya dilaksanakan dengan sarana upacara serta punia kepada pemuput yadnya/manggala yadnya. Pendidikan Agama Hindu 39/76

e. d. c. b. Kitab Sathapata Brahmana. adalah persembahan minyak dan susu kepada para dewa. c. namun pada intinya memiliki kesatuan tujuan yang sama. 2. Pendidikan Agama Hindu 40/76 .  Annasewa. yaitu persembahan kepada para dewa ( disebut swaha ). Brahma Yadnya. yaitu persembahan makanan untuk sesama manusia. e. Jamuan ini penting karena setiap tamu yang datang ikut berdoa agar pelaksanaan yadnya berhasil. adalah penerimaan tamu dengan ramah-tamah. adalah persembahan yang dilaksanakan dengan belajar dan mengajar secara tulus ikhlas. yaitu dengan melantunkan doa-doa serta kidung suci sebagai pemujaan. Bhuta Yadnya. Brahma yadnya. Pitra Yadnya. yaitu persembahan yang ditujukan untuk leluhur ( disebut swadha). artinya memberikan jamuan kepada tamu yang menghadiri upacara. Nara Yadnya . Dewa yadnya. adalah pelaksanaan upacara bali untuk butha. yaitu yadnya untuk para bhuta b. PANCA YADNYA Panca Yadnya adalah lima macam korban suci dengan tulus ikhlas yang wajib dilakukan oleh umat Hindu. d. Sedangkan kualitas yadnya yang harus dicapai setiap pelaksanaan yadnya adalah Satwika Yadnya. Kitab Manawa Dharmasastra Kitab Manawa Dharmasastra memberikan penjelasan tentang Panca Yadnya sebagai berikut : a. bahwa yadnya yang dilaksanakan bukan untuk memamerkan kekayaan dan kemewahan Apapun jenis yadnya yang kita lakukan seharusnya yang menjadi tolok ukur adalah kualitas yadnya. Penjelasan-penjelasan tersebut antara lain : 1. yaitu yang dilaksanakan dengan mempelajari pengucapan mantram cusi weda. Dewa Yadnya. Bhuta Yadnya. Pelaksanaan Panca yadnya adalah sebagai realisasi dalam melunasi kewajiban manusia yang hakiki yaitu Tri Rna ( tiga hutang hidup ). Dengan jamuan maka karma dari doa para tamu undangan menjadi milik sang yajamana. Pitra Yadnya. Dalam beberapa kitab dan pustaka memberikan penjelasan tentang Panca Yadnya yang berbeda. menjelaskan panca yadnya sebagai berikut : a.  D.  Nasmita.Mantra dan gita. Tidak ada gunanya yadnya yang besar tetapi bersifat rajas atau tamas. Kitab ini merupakan bagian dari Reg Weda. Manusa Yadnya. adalah persembahan tarpana dan air kepada leluhur.

Tetapi dalam konteks pengertian dan pelaksanaannya mengacu pada penjelasan-penjelasan Kitab Weda sehingga di Indonesia Panca Yadnya dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Menurut lontar ini Panca yadnya adalah : a. Dari beberapa sumber di atas yang lebih tepat digunakan sebagai dasar pelaksanaan yadnya di Indonesia adalah Lontas Agastya Parwa. Dalam lontar Korawa Srama terdapat penjelasan Panca yadnya sebagai berikut: b. Bhuta Yadnya. Dewa Yadnya. Pitra Yadnya. Rsi Yadnya. c. buah-buahan. Dewa Yadnya. Manusa Yadnya. f. yakni hutang hidup kepada Ida Sang Hyang Widhi. Lontar Korawa Srama a. 4. adalah persembahan dengan sesajen dan mengucapkan Sruti dan Stawa pada waktu bulan purnama. Dewa Yadnya dilaksanakan terutama dalam rangka memenuhi kewajiban Dewa Rna. d. c. dan barang yang tidak mudah rusak kepada para Maha Rsi. yaitu persembahan dengan minyak dan biji-bijian kehadapan Dewa Siwa dan Dewa Agni di tempat pemujaan dewa. e. makanan. Pelaksanaan Dewa Yadnya dapat dilakukan dengan berbagai bentuk. Bhuta Yadnya. Aktivitas kehidupan sehari-hari dapat diwujudkan menjadi yadnya dengan cara melaksanakan semua aktivitas yang didasari oleh kesadaran. b. adalah persembahan yang tulus iklhas kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya. Dewa Yadya. Pitra Yadnya adalah mempersembahkan puja dan banetn kepada leluhur. keikhlasan. Lontar Agastya Parwa Penjelasan tentang Panca Yadnya dari lontar Agastya Parwa adalah yang menjadi acuan utama pelaksanaan yadnya di Indonesia. yaitu upacara kematian agar roh yang meninggal mencapai alam Siwa. penuh tanggung jawab dan menjadikan aktivitas tersebut sebagai persembahan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagaimana sabda Tuhan melalui Bahagawad Gita dalam beberapa sloka seperti : Pendidikan Agama Hindu 41/76 .3. adalah mempersembahkan puja dan banten kepada bhuta. yaitu persembahan dengan mensejahterakan tumbuhan dan menyelenggarakan upacara tawur serta upacara panca wali krama. yaitu persembahan dengan menghormati pendeta dan membaca kitab suci. d. Rsi Yadnya. e. yaitu persembahan dengan memberi makanan kepada masyarakat. adalah persembahan punia. Manusa Yadnya adalah persembahan makanan kepada masyarakat.

lakukanlah selalu kegiatan kerja yang harus dilakukan. Oleh karena itu. Tasmàd asaktaá satataý kàryaý karmasamàcara. lakukanlah kegiatanmu sebagai pengorbanan dan jangan terikat dengan hasilnya. tetapi tanpa pamrih dan semata-mata dengan keinginan untuk memelihara kesejahteraan tatanan dunia ini saja. Asakto hy àcaran karma param àpnoti pùrsaá ( Bhagawad Gita.25 ) Artinya: Seperti orang bodoh yang bekerja karena pamrih dari kegiatannya. Pendidikan Agama Hindu 42/76 . wahai ( Arjuna ). wahai putra Kunti ( Arjuna). tanpa keterikatan.19 ) Artinya: Oleh karena itu.Yajòàathàt karmano ‘nyatra loko ‘yaý karma-bandhanah. dunia ini terbelenggu oleh kegiatan kerja.9 ) Artinya: Kecuali kerja yang dilakukan sebagai dan untuk tujuan pengorbanan. Saktàá karmaóy awidwàmso yathà kurwanti bhæata. III. III. demikian pula hendaknya orang Bhàrata terpelajar bekerja. karena dengan melakukan kerja tanpa pamrih seperti itu membuat manusia mencapai tingkatan tertinggi. III. Kuryàd widwàýs tathàsaktaú cikìrûur loka-saògraham ( Bhagawad Gita. Tad-artham karma kaunteya mukta-saògaá samàcara ( Bhagawad Gita.

atau beryadnya dalam bentuk jnana (pengetahuan). hormat dan bakti serta melayani para sulinggih/ orang suci secara tulus ikhlas. Atma Wedana. atau yadnya dalam bentuk tapa serta yadnya dalam bentuk persembahan/upakara haruslah dilakukan dengan ikhlas dan tanpa pamrih. adalah persembahan yang tulus ikhlas kepada para rsi dan orang suci. Dalam melaksanakan upacara seharusnya sang yajamana menghaturkan punia daksina pada sulinggih/ pemuput karya yang sesuai.  Ngerca Wedana yaitu upaca ngaben dengan membakar simbol sebagai pengganti tulang/jenasah orang yang sudah meninggal. Sawa Prateka. Di Bali Upacara Pitra Yadnya dikenal memiliki beberapa tingkatan seperti : a. Oleh karena itu hutang hidup ini harus dibayar dengan bentuk Upacara Pitra Yadnya. b. ngeroras. Rsi Yadnya. mukur. Contoh Rsi Yadnya yang berbentuk Upakara adalah Rsi Bojana. sebab jika tidak maka karma baik atas upacara yadnya yang dilaksanakan akan menjadi milik sang pemuput karya. Bentuk asti wedana adalah :  Sawa Wedana yaitu upacara ngaben bila yang dibakar adalah jenasah. 2. Bentuk atma wedana antara lain. atau juga jenasah yang dikubur tetapi tulangnya tidak ditemukan. Sedangkan bentuk lain Rsi Yadnya adalah dengan melaksanakan ajaran-ajaran suci para rsi. adalah pengorbanan yang tulus ikhlas untuk para leluhur dan orang tua. Pelaksanaan yadnya ini sebagai wujud terima kasih atas segala jasa yang telah diberikan oleh para rsi dan orang suci pada kita . 3. Pitra yadnya wajib dilakukan untuk membayar hutang hidup kepada orang tua dan leluhur yang disebut Pitra Rna.  Asti Wedana yaitu upacara pengabenan dengan membakar jenasah yang sudah berbentuk tulang ( sudah dikubur terlebih dahulu). Asti Wedana yaitu tingkatan upacara pitra yadnya yang lebih tinggi yang umumnya disebut NGABEN. Upacara ini biasanya dilakukan untuk orang yang waktu meninggal telah mekingsan ring geni. Dalam Kitab Suci Bhagawad Gita banyak dijelaskan berbagai bentuk yadnya yang Satwika. atau meninggal tetapi jenasahnya tidak ditemukan ( misalnya meninggal di laut atau di hutan ). Menurut Hindu atas jasa para rsi dan orang suci ini menyebabkan kita memiliki hutang yang disebut Rsi Rna. yaitu upacara tingkat berikutnya yang bertujuan lebih menyempurnakan jiwatman yang telah diabenkan dari alam surga menuju alam dewa/moksa.Selanjutnya jika kita beryadnya dalam bentuk dana/harta . Pitra Yadnya. Jika semua yadnya yang dilaksanakan dengan tujuan sebagai persembahan kepada Tuhan maka jadilah yadnya tersebut Satwika. yakni upacara perawatan dan penyelesaian jenasah seperti dikubur ( mekingsan ring pertiwi ). Upacara ini dikenal juga dengan nama SWASTA. dibakar ( mekingsan ring geni) dsb. maligia.Tanpa ada leluhur dan orang tua sangat mustahil kita akan lahir di dunia ini. c. Pendidikan Agama Hindu 43/76 .

Menurut konsep Hindu bahwa semua yang ada di dunia ini adalah ciptaan Hyang Widhi yang memiliki fungsi tersendiri dalam memutar roda kehidupan. serta tindakantindakan lain yang dapat menjadi penyebab bencana alam. sejak dalam kandungan sampai menuju grahasta ( perkawinan). E. serta peruntukannya bukan hanya untuk anak ( keturunan sendiri). 5. dan karma sepanjang tujuan yadnya tersebut adalah untuk kebahagiaan hidup manusia. 4.Disamping bentuk upacara pitra yadnya sebagaimana dijelaskan di atas yang lebih penting dilakukan masa kini adalah bagaimana usaha kita untuk menjunjung nama baik dan kehormatan leluhur dan orang tua. jnana. Melayani orang tua semasih hidup dengan ikhlas serta tidak mengecewakan dan menyakiti hati orang tua adalah merupakan pitra yadnya utama. Manusa Yadnya. Demikian pula memberikan dana punia untuk pendidikan anak bagi keluarga tidak mampu atau melaksanakan bhakti sosial pengobatan bagi masayarakat kurang mampu juga termasuk manusa yadnya. Jadi pitra yadnya dalam kaitan kewajiban sebagai siswa adalah dengan belajar sebaikbaiknya sebagaimana harapan orang tua. sempurna kembali menuju alamnya sendiri dan tidak mengganggu kehidupan manusia. Bentuk manusa yadnya bisa bermacam-macam seperti yadnya dalam bentuk dana. Jadi semua mahluk termasuk para bhuta memiliki hak hidup. bayu dan idep memiliki peranan penting dalam menciptakan keharmonisan kehidupan. adalah pengorbanan yang tulus iklhas untuk para butha agar tercipta kedamaian dan keharmonisan hidup di dunia. Tujuan bhuta yadnya adalah agar para bhuta kala “somya”. Dengan demikian maka sasaran manusa yadnya bukan hanya untuk anak/ keturunan sendiri. hutan lindung. Selama ini pemahaman sebagian umat Hindu bahwa manusa yadnya semata-mata upacara yang dilaksanakan oleh orang tua bagi anak-anaknya. Artinya jika kita memberikan nasehat atau ilmu kepada orang lain yang menyebabkan orang tersebut memperoleh kebahagiaan hidup maka itu tergolong juga manusa yadnya. agama maupun golongan. Jika memahami pengertian manusa yadnya. Butha Yadnya. tidak merusak mata air. upacara. maka bentuknya tidak selalu upacara. Manusia sebagai mahluk yang memiliki sabda. tetapi bagi semua manusia tanpa memandang suku. adalah pengorbanan yang tulus ikhlas untuk kebahagiaan hidup manusia. Secara sekala wujud bhuta yadnya adalah usaha kita agar menjaga kelestarian alam. Sesuai dengan pengertian tersebut maka segala bentuk pengobanan yang bertujuan untuk kebahagiaan hidup manusia adalah tergolong manusa yadnya. PENILAIAN YADNYA Pendidikan Agama Hindu 44/76 . Oleh karena itu manusia melaksanakan bhuta yadnya agar keseimbangan hidup tercipta.

Untuk itu kita perlu secara jujur menjawab beberapa pertanyaan untuk dianalisa kemudian menilai atas yadnya yang kita laksanakan. Manusia. madya. Hidup ini adalah untuk meningkatkan kwalitas karma jiwatman sebagaimana yang disampaikan dalam kitab Sarasamuscaya . Rajas ataukah Tamas? Dengan melakukan penilaian diri terhadap setiap tindakan karma. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah : Bentuk apakah yadnya yang kita lakukan? Selanjutnya kita dapat bertanya apakah yandya yang kita lakukan tergoong Nitya Yadnya ataukah Naimitika Yadnya? Jika Yadnya tersebut berkaitan dengan materi. Rsi. sloka 2. maka kita dapat berharap bahwa hidup ini tidak akan sia-sia.Dari uraian di atas maka kita akan dapat menilai diri sendiri tentang yadnya yang kita lakukan. Pendidikan Agama Hindu 45/76 . ataukah Bhuta? Terakhir sebagai tolok ukur karma yang paling penting harus kita nilai apakah yadnya yang kita lakukan bersifat Satwam. ataukah nista? Selanjutnya kita harus menggoongkan lagi kepada siapakah yadnya tersebut ditujukan? Apakah kepada Ida Sang Hyang Widhi. apakah tergolong utma. Pitra.

Penilaian NO Penialaian 1 Bentuk : 2 3 4 5 Waktu Pelaksanaan : Materi : Tujuan : Kwalitas : Alasan Pendidikan Agama Hindu 46/76 . Kegiatan/Peristiwa b.F. PENGALAMAN YADNYA a. Carilah sloka-sloka Bhagawad Gita yang berkaitan dengan bentuk-bentuk yadnya 2. PENDALAMAN MATERI Tugas siswa : 1. Buatlah tulisan tentang pengalaman pribadi anda minimal dua pengalaman yang dapat digolongkan sebagai yadnya. Kemudian berikan penilaian atas pengalaman yadnya tersebut dengan alasannya masingmasing. Untuk memudahkan dapat digunakan format berikut ini.

karena pada hakekatnya pahala karma hanya akan diperoleh melalui kerja ( yadnya).BAB VI SUSILA Standar Kompetensi Memahami Tat Twam Asi sebagai landasan etika dan moral Tujuan akhir pembelajaran 1. Susila ( etika ) . Pendidikan Agama Hindu 47/76 .petunjuk . berbagai jalan atau arah yang bisa dilalui menuju tempat tujuan. Menunjukkan prilaku sebagai implementasi ajaran Tat Twam Asi Uraian Materi A. Umat Hindu harus memahami tattwa dan mematuhi susila setiap yadnya/upacara yang dilaksanakan. Susila adalah aturan-aturan moral dalam segala tindakan serta komunikasi manusia dengan Tuhan. Sedangkan Yadnya/Upacara adalah aktivitas nyata umat Hindu dalam merealisasikan Tattwa Agama dalam kehidupan sehari-hari. PENDAHULUAN Susila adalah bagian dari tiga kerangka Agama Hindu yakni. Tatwa. dan sila yang berarti tingkah laku/perbuatan. maka tattwa akan memberikan pengetahuan pada kita tentang situasi daerah yang akan dituju. Sedangkan Susila adalah rambu-rambu . maka pengetahuan tattwa dan susilanya tidak memberikan karma apapun. Dalam konsep Hindu aktivitas kehidupan manusia khususnya dalam kaitan keagamaan maka tiga kerangka tersebut harus merupakan satu kesatuan dalam pelaksanaannya. Susila berasal dari kata Su yang berarti baik. Jadi susila adalah perbuatan atau tingkah laku yang baik dan benar. dan Upacara ( Yadnya ). serta interaksi dengan alam. Istilah lain dai Susila adalah Etika/Etiket. serta berbagai fasilitas yang dapat digunakan untuk menuju tempat tersebut. Tattwa adalah hakekat atau filsafat agama. Jika rambu-rambu dan aturan ini dilanggar kemungkinan kita akan tersesat atau bahkan celaka. sesama manusia . Kemudian seseorang yang memiliki tattwa tinggi juga mengetahui aturan susila tetapi tanpa diikuti dengan tindakan nyata ( dalam bentuk yadnya). Peserta didik mampu menjelaskan pengertian tat twam asi 2. serta aturan yang harus diikuti dan dipatuhi sehingga dapat sampai pada tujuan dengan selamat. Sebaliknya meskipun pelaksanaan yadnya secara tattwa benar. Contoh sederhana penggambarannya adalah jika kita akan menuju suatu tempat. Tanpa pemahaman tattwa yang benar maka yadnya bisa menyimpang dari tujuan utama. tetapi mengabaikan etika maka yadnya menjadi tidak sempurna.

Demikian juga dalam kehidupan di dunia. sehingga tercipta keseimbangan dan keharmonisan antara konsep dengan pelaksanaannya.Contohnya adalah saling menghormati hak asasi manusia ( HAM).Akhirnya berdasarkan pengetahuan tattwa yang dimiliki haruslah kita bergerak. Alam semesta memiliki aturan / hukum tersendiri dalam pergerakannya yang disebut RTA ( hukum alam). Ada juga aturan / etika dalam berprilaku sosial kemasyarakan. peraturan pemerintah dan sebagainya. dan agama. manusia memiliki kelebihan dalam menerima ajaran-ajaran susila/ etika dalam menghubungkandiri dengan Tuhan (sembahyang). dan manusia dengan alam . Manusia dengan kecerdasan yang dimilikinya dapat membuat aturan-aturan dalam berinteraksi sesama manusia. Artinya berlaku bagi semua manusia di seluruh dunia tanpa memandang suku. Manusia memiliki peranan utama dalam mewujudkan keharmonisan antara ketiga faktor tersebut. Inilah Yadnya. jika tidak bergerak/ diam di tempat maka selamanya kita tidak akan pernah sampai pada tujuan. Dalam kehidupan ini semua aktivitas memiliki aturan/etika/susila. Aturan/susila itu dapat bersifat universal/global. Contohnya bumi berputar pada porosnya dan mengitari matahari. manusia dengan Tuhan . Meskipun kita mengetahui secara jelas gambaran tentang lokasi yang akan dituju serta semua aturan dan rambunya. Dalam mewujudkan keharmonisan antara manusia dengan Tuhan. Manusia sebagai mahluk yang paling sempurna diantara mahluk lainnya di bumi memiliki peranan utama dalam menegakkan aturan. Semua yang ada di alam bebas maupun di dunia harus mengikuti aturan dalam pergerakannya. Tuhan menciptakan RTA ( hukum alam ) untuk kehidupan. B. dimana setiap daerah memiliki kekhasan tersendiri sebagai budaya lokal. Dari ketiga kerangka tersebut SUSILA memegang peranan penting yang menjembatani antara Tattwa dengan Yadnya. Ajaran ini disebut Tri Hita Karana ( tiga faktor penyebab terwujudnya kebahagiaan ). semua aktivitasnya memiliki aturan. Dengan susila maka manusia dapat melaksanakan yadnya dengan berbagai kondisi tanpa menyimpang dari tattwanya. Jika salah satu bagian alam ini tidak mengikuti aturan maka akan terjadi kehancuran. Jika aturan ini tidak diikuti maka pasti akan terjadi kekacauan. PERANAN SUSILA DALAM MEWUJUDKAN TRI HITA KARANA Dalam konsep ajaran Hindu bahwa kebahagiaan hanya akan terwujud jika adanya hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia. ras. Disamping itu ada juga aturan dalam bernegara dan berbangsa dalam bentuk hukum negara/ udang-undang. berjalan sesuai dengan fasilitas yang tersedia dan mengikuti aturan ( susila) yang ada barulah kita bisa mencapai tujuan. Planet-planet berputar mengelilingi bumi dan bersama bumi mengelilingi matahari. bangsa. Ada etika/aturan yang harus Pendidikan Agama Hindu 48/76 . .

Manusia dengan kecerdasan yang dimilikinya dapat menciptakan aturan/etika dalam hubungan dengan sesama manusia. Untuk jenis-jenis persembahyangan tertentu juga memiliki aturan yang berbeda. jika ditelusuri maka semua itu adalah akibat ulah manusia sendiri yang tidak mengikuti aturan / etika dalam mengelola alam. saling menolong sehingga terwujud kedamaian dan kebahagiaan. misalnya persembahyangan di pura. sifat. maupun secara kolektif ( bersama-sama). seperti banjir bandang . Selanjutnya mahluk hidup memilki atman sebagai percikan suci Ida Sang Hyang Widhi. Sedangkan hubungan manusia dengan alam jelas yang paling menentukan adalah manusia itu sendiri. dan Asi artinya adalah. manusia dengan Tuhan dan manusia dengan alam maka manusia harus memahami dan mengikuti aturan/susila dalam melaksanakan masingmasing hubungan tersebut. dan wujud manusia karena perbedaan pengaruh Triguna dan karma wasana. Jika aturan/etika ini dilanggar maka dipastikan keharmonisan tidak akan terwujud. yaitu percikan suci Tuhan. Twam artinya kamu.Tat artinya itu (dia). Dengan pemahaman ini maka Hindu mengajarkan agar manusia tidak Pendidikan Agama Hindu 49/76 . TAT TWAM ASI Konsep dasar ajaran kesusilaan Hindu dalam hubungan antara sesama manusia dikupas dalam Kitab Candogya Upanishad yang dalam salah satu sloka ada disebutkan Tat Twam Asi. 2. serta hubungan dengan alam C. Perbedaan pribadi . saling menghormati. Jadi Tat Twam Asi berarti dia adalah engkau. Penggundulan hutan dengan ilegal loging maka terjadilah banjir bandang. Tat twam asi bersumber pada ajaran Hindu bahwa Tuhan / Brahman menciptakan alam semesta beserta segala isinya dari diriNYa sendiri melalui tapa/yadnya. Tat Twam Asi adalah esensial filsafat Hindu dalam ajaran susila yang bersifat universal dan tanpa batas. merusak sempadan sungai. pemanasan global . baik hubungan secara pribadi. Alam secara kodrati hanya akan memberikan reaksi terhadap segala perlakuan manusia kepada alam itu sendiri.diikuti dalam melakukan hubungan dengan Tuhan. Membuang sampah pada aliran sungai. demikian juga sebaliknya. serta pembangunan gedung/perumahan tanpa memperhatikan penyerapan dan saluran sanitasi yang baik maka terjadi banjir disetiap musim hujan. Tat Twam Asi adalah sumber utama ajaran cinta kasih agar manusia dapat saling menghargai. dan sebagainya. Jadi di setiap mahluk hidup khususnya manusia memiliki unsur kekuatan hidup yang sama. Dewasa ini banyak terjadi bencana alam. hubungan dengan Tuhan. Etika persembahyangan pribadi tidak dapat diterapkan pada persembahyangan bersama. Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan bahwa : 1. Agar terwujud keharmonisan antara manusia dengan manusia.

memandang manusia lainnya hanya dari segi fisiknya saja. Pendidikan Agama Hindu 50/76 . Bahwa dalam setiap kehidupan ada percikan suci Ida Sang Hyang Widhi sehingga wajib dihormati dan dikasihi tanpa memandang batasan tertentu. Hindu mengajarkan agar kita memandang semua mahluk hidup diciptakan dan bersumber dari asal yang sama.

hak memiliki. Secara individu manusia memiliki rasa keakuan ( ahamkara ). kita punya hak untuk mendengarkan musik dari tape milik kita sendiri. Pendidikan Agama Hindu 51/76 . Dalam rangka mengatur hubungan sosial masyarakat maka dibutuhkan aturan tingkah laku yang disebut tata susila. hak untuk hidup .  Agar cinta kasih dalam diri dapat tumbuh dan berkembang maka kita harus belajar mengurangi keakuan ( egoisme). Pelanggaran tata susila terjadi biasanya dilakukan oleh orang-orang yang kurang mampu mengedalikan diri. yang paling utama harus dilakukan adalah:  Mengembangkan cinta kasih sesama. Contoh. Demikian juga untuk memenuhi kebutuhan pribadi yang sama orang melakukan kerjasama. kapanpun kita suka. Jadi dalam memenuhi kebutuhan pribadi kita harus membatasi diri jangan sampai melanggar hak orang lain. hak perlindungan. Dengan demikian maka diharapkan dalam hubungan sosial manusia dapat mencapai kebahagiaan.Untuk bisa mengimplementasikan ajaran Tat Twam Asi. Meskipun di masyarakat secara umum sudah dikenal tentang tata susila yang berlaku namun seringkali orang melanggar tata susila itu. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka setiap individu memiliki hak secara pribadi. hak mendapatkan kasih sayang dan sebagainya. Hal ini tentu saja akan menimbulkan ketidak harmonisan dalam sosial kemasyarakatan. Manusia adalah mahluk individu sekaligus mahluk sosial. agar setiap individu dalam satu lingkungan aman/terhindar dari serangan penyakit demam berdarah maka mereka bekerjasama bergotong royong membersihkan lingkungan dari kemungkinan tempat-tempat nyamuk bersarang. apalagi di jaman sekarang sangatlah mustahil manusia hidup tanpa berhubungan dengan orang lain. untuk ini kita perlu melatih pengekangan diri untuk mengurangi rasa ego. Hak-hak tersebut antara lain. Secara jasmani setiap individu ingin mencapai kesenangan dan secara rohani setiap orang ingin mendapatkan kebahagiaan. Manusia memiliki kebutuhan pribadi baik kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani. Hanya mengutamakan kepentingan pribadi tanpa memperhatikan adanya kepentingan orang lain. Dalam memenuhi kebutuhan pribadi tidak boleh mengorbankan hak pribadi orang lain. Jadi dalam hal ini orang-orang bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan pribadi yang sama. Oleh karena itu maka jika ita mendengarkan musik dengan suara keras pada waktu orang lain istirahat berarti melanggar hak pribadi orang lain. Contohnya. Untuk memenuhi kebutuhan pribadi seseorang membutuhkan pertolongan orang lain. Sebagai mahluk sosial manusia tidak dapat hidup sendiri. Tetapi harus diingat bahwa ada hak orang lain untuk beristirahaT dan tidak diganggu oleh kebisingan. Dalam hubungan sosial maka hak pribadi merupakan batas bagi orang lain untuk memenuhi kebutuhan pribadinya.

Dalam ranka membina hubungan harmonis sesama manusia. anak.  Merasakan penderitaan orang lain.Konsep ajaran Tat Twam Asi jika dimaknai dan dihayati dengan benar maka dapat dijadikan sebagai kunci pembuka kasih di hati sehingga dapat secara perlahan mengurangi rasa keakuan/ego ( ahamkara ). Sang Pencipta. Dalam ajaran Hindu dinyatakan bahwa manusia itu pada dasarnya adalah sama dan berasal dari sumber yang sama. sloka 7 disebukan : Pendidikan Agama Hindu 52/76 . 1. Dalam membina hubungan sosial inilah kita perlu memahami dan mengamalkan ajaran Tat Twam Asi. D. IMPLEMENTASI TAT TWAM ASI Di dunia manusia memegang peranan utama dalam mewujudkan hubungan harmonis antara manusia. Dalam memenuhi kebutuhan pangan misalnya. Demikian juga dalam memenuhi kebutuhan kasih sayang kita memerlukan suami/istri. Sebagai individu kita memiliki kebutuhan-kebutuhan pribadi yang harus dipenuhi. Dengan daya pikir tersebut kita dapat melakukan yadnya utuk menyucikan diri sendiri serta menyucikan alam. Dalam kaitan memenuhi kebutuhan pribadi yang berhubungan dengan orang lain inilah kita disebut sebagai mahluk sosial. Dalam rangka memenuhi kebutuhan pribadi tersebut kita sebagai mahluk pribadi tidak dapat memenuhi semuanya sendiri. alam lingkungan serta Tuhan. Setiap individu berhak untuk memenuhi kebutuhan tersebut. papan. Sebagai implementasi ajaran tat twam asi ada beberapa konsep yang dapat kita pedomani antara lain :  Memandang semua manusia adalah sama.  Melaksanakan ajaran Tri Parartha. kita perlu orang yang menjual makanan atau bahan untuk membuat makanan. dan ahamkara ( rasa keakuan sebagai motivasi bertindak) yang ada dalam diri sehingga menjadi seimbang dan mengutamakan bahwa hubungan harmonis sesama manusia adalah kebutuhan utama dalam hidup ini. orang tua. seperti kebutuhan sandang. Hal ini karena diantara semua mahluk ciptaan Ida Sang Hyang Widhi hanya manusia yang diberikan idep ( daya pikir ).  Melaksanakan Tri Kaya Parisudha. kita harus bisa mengolah manah ( pikiran ). serta kebutuhan kasih sayang.  Melaksanakan ajaran Catur Paramita. kita perlu bantuan dan kerjasama dengan orang lain. Memandang semua manusia adalah sama. Dalam Kitab Yajur Weda Adyaya 40. pangan. keluarga serta tetangga atau teman. Dalam memenuhi sandang kita perlu orang yang menjual pakaian atau bahan untuk membuat pakaian. budhi (kemampuan mengambil keputusan benar atau salah ). Manusia adalah mahluk individu sekaligus mahluk sosial.

dan ahamkara. Karena atman berasal dari Brahman maka pada tingkat kesadaran tertinggi semua atman-atman yang menghidupi semua manusia di dunia adalah sama. Hanya saja pengaruh pola pikir yang sempit serta mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompoknya saja. Jadi jika kita membeda-bedakan orang berarti kita membeda-bedakan Hyang Widhi. Manusia diciptakan lengkap dengan manas. budhi. kita tidak boleh membedakan derajat manusia hanya dari sisi luarnya saja. Merasakan penderitaan orang lain. bahwa di setIap manusia terdapat unsur utama yang sama yaitu atman. seperti suku. ini berarti bahwa atman-atman yang ada pada setiap manusia adalah sama. Pada dasarnya tidak ada satu orangpun di dunia ini yang ingin hidup dalam kekacauan. Dalam satu keluarga besar . maka timbul tindakan-tindakan yang merugikan pihak lain. Atman adalah percikan-percikan terkecil dari Brahman ( Hyang Widhi). sedangkan ahamkara lebih menitik beratkan Pendidikan Agama Hindu 53/76 . Warna kulit bisa berbeda. Manas adalah pikiran sedangkan budhi adalah kemampuan manusia untuk mengolah dan merasakan baik dan benar. antar kelompok serta tindakan-tindakan yang merendahkan martabat kelompok lain juga sebagai contoh pengaruh ego ( rasa keakuan) menguasai manusia. semua memilik keinginan untuk hidup berdampingan secara damai. bangsa. Sifat ego yang berlebihan cenderung mendorong manusia untuk mempertajam perbedaan-perbedaan. Terjadinya sejarah penjajahan suatu bangsa adalah contoh perlakuan yang membedakan derajat manusia. Semua manusia pada dasarnya adalah saudara. orang tersebut tidak terikat dalam ikatan dan bebas dari kesedihan. Perbedaannya hanyalah pembungkus luarnya saja yakni. Dari sinilah mulai timbul ketidakharmonisan. budaya dan tradisi bisa berbeda. ras. warna kulit. Dalam sloka di atas tersirat dua konsep pandangan Hindu atas keberadaan umat manusia. tingkat ekonomi dan sosial juga bisa berbeda. Sama-sama memiliki sinar Tuhan. kasta dan sebagainya. badan jasmani serta pribadinya. disana ada sinar Tuhan yaitu Atman. Banyak contoh-contoh penajamanpenajaman kelompok dan ras yang terjadi baik sebagai catatan sejarah maupun tradisi yang melekat di masyarakat sampai saat ini. Terjadinya kerusuhan dan perkelahian antar warga. Kenapa? Karena semua bersumber dari yang satu yaitu Brahman.Seseorang yang menganggap seluruh umat manusia memiliki Atman yang sama dan dapat melihat semua manusia sebagai saudaranya. Pertama . Dengan pemahaman ini maka kita seharusnya belajar untuk memandang setiap orang adalah sama. Selanjutnya konsep kedua dalam sloka di atas juga mengajarkan pada kita bahwa semua manusia di seluruh dunia adalah sebuah keluarga besar. tetapi spirit kehidupan setiap orang sama. Atman adalah kesadaran kesadaran murni yang memuliki sifat sama dengan Brahman ( Atman Brahman Aikyam). Semua ingin hidup damai dan harmonis. 2.

Inilah hakekat dan ajaran Tat Twam Asi. Berikutnya jika seseorang memiliki perimbangan dalam penguasaan ahamkara dan memiliki budhi ang tinggi maka orang tersebut akan senantiasa memikirkan rasa dan kepentingan orang lain sebelum bertindak untuk kepentingan pribadinya. Melaksanakan Tri Kaya Parisudha (tiga prilaku yang disucikan). empat untuk menjaga kesucian kata-kata. patut dikembangkan sehingga dapat didayagunakan untuk mengatasi persoalan hidup masa kini dan masa yang akan datang. Tiap orang selalu mengalami suka dan duka dalam kehidupannya di dunia in Saat suka dan duka itu. Tiga untuk menjaga kesucian pikiran. Type orang seperti ini adalah selalu menuntut hak terlebih dahulu tetapi mengabaikan kewajibannya. Pendidikan Agama Hindu 54/76 . Ada orang yang mengalami duka paa saat tertenu. yang disebut Karma Patha. dan pada saat itu juga ada orang lain yang mengalami keadaan suka. 3. Justru penderitaan orang lain sering dijadikan ajang untuk mencari keuntungan guna memperkaya diri sendiri. Dalam sistem kehidupan yang modem dewasa mi sesungguhnya banyak pihak yang mendapat kesempatan untuk mengamalkan rasa kemanusiaannya. Hanya mementingkan diri sendiri tanpa peduli pada keadaan maupun perasaan orang lain. dan tiga untuk menyucikan perbuatan/prilaku.pada rasa keakuan sebagai motivasi dasar untuk bertindak. Ikut serta menanggulangi penderitaan orang lain adalah sesuai dengan kemampuan dan swadharma masing-masing. Jika seseorang memiliki ahamkara yang tinggi tanpa dibarengi dengan olah budhi yang matang cenderung melahirkan sifat keakuan / ego yang tinggi. Nilai-nilai tradisi yang dikandung oleh lembaga suka duka tradisional itu. Sayang kebanyakan orang tidak menggunakan kesempátan mi untuk mengamalkan rasa kemanusiaannya. Dalam kehidupan tradisional di Bali. Karena dirasakan sebagai penderitaannya maka ia sendiri akan ikut aktif menanggulangi penderitaan orang lain. Perpaduan antara budhi dan ahamkara pada seseorang sangat menentukan kualitas rasa/perasaan orang tersebut. Di dalam kitab Sarasamuscaya 73-76 disebut sepuluh hal untuk menjaga kesucian Tri Kaya agar menjadi suci. tidak dapat dirasakan secara bersamaan oleh semua manusia. Ukuran rasa kemanusiaan seseorang adalah apabila dia dapat merasakan pendertaan orang lain sebagai penderitaannya. maka berbagai beban hidup itu akan dirasakan ringan dan tidak terlalu menyusahkan. Karena itu orang yang dalam keadaan suka seharusnya belapang dada membantu sesame yang sedang dirundung penderitaan. Kalau keadaan suka dan duka itu diatasi secara bersama-sama. uamt Hindu mengatasi keadaan suka dan duka sudah sangat melembaga.

109 sebagai berikut: “Adbhirgatrani çuddhyanti manah satyena çuddhyati. Kalau raja ini tidak baik maka indria pun akan tampil tidak baik. pat prawrttyaning käya. Sucikanlah pikiran dengan satya. Artinya: Adalah karmapatha namanya. yaitu pengendalian hawa nafsu. Pikiran yang masih suci tanpa dicemari oleh hawa nafsu disebut citta. tiga banyaknya. sapuluh kwehnya. kecerdasan dengan dengan pengetahuan yang benar. sepuluh banyaknya yang patut dilaksanakan. prawrttyaning manah sakarèng. tèlu. manah kengèta. gerak tindakan. sehingga pikiran sering disebut Rajendria. (Manawa Dharmasastra. Demikianlah pada hakekatnya pikiran tersebut selalu dijaga kesuciannya dengan satya/kebenaran/kejujuran. pikiran disucikan den gan kebenaran. perilaku perkataan. perbuatan yang timbul dari gerak badan. Karena itu proses penyucian pikiran disebut “manacika parisudha”. widyatapobhyam bhutatma budhir jnanena cuddhyati “. sapuluh. tiga banyaknya. wak.jadi sepuluh banyaknya. perkataan dan pikiran itulah patut diperhatikan . Oleh karena itu kuatkanlah pikiran agar pikiran tersebut yang mengatur laku indria. pnda. kramanya. Manacika. ulahakèna. empat jumlahnya. Ada tiga cara melakukan manacika atau penyucian pikiran yaitu: 1) Tidak menginginkan dan tidak dengki terhadap milik orang lain Pendidikan Agama Hindu 55/76 . tèlu kwehnya. seperti diuraikan dalam kitab Manawa Dharmasastra. Di dalam kitab Sarasamuscaya.a. 73-74 disebutkan: Hana karmapatha ngaranya kahrtaningindriya. prawrttyaning káya. perinciannya gerak pikiran. ulahaning wàk. jiwa manusia dengan pelajaran suci dan tapa brata. V. dan setelah dicemari oleh hawa nafsu disebut manah. Dalam kehidupan manusia di dunia mi Pikiran paling menentukan kualitas prilaku manusia Pikiranlah yang mengatur gerak sepuluh indria. V109) Artinya: Tubuh dibersihkan den gan air.

Sedangkan perbuatan buruk yang dilakukan saat ini sudah pasti akibatnya akan diterima kelak. Semua makhluk hidup berasal dan atma yang sama yaitu Ida Sang Hyang Widhi. Meskipun kita melihat orang berbuat buruk pada saat ini dan kenyataannya ia bemasib baik. Sifat ini timbul karena kurang tumbuhnya rasa kasih sayang terhadap sesama. entah kapan. manemu mitra Artinya: Oleh perkataan engkau akan mendapatkan bahagia. Nasib baik yang ia tenima saat ini pasti karena perbuatan baik sebelumnya yang ia lakukan. Harus kita yakini benar kesungguhan hukum Tuhan tersebut. Beliau mentakdirkan ada makhluk yang bernasib baik dan ada yang bernasib buruk sesuai dan karmanya masingmasing. Hidup dalam keadaan in akan membuat kita menderita.Perbuatan ini dapat menimbulkan kecendrungan yang negatif. Pendidikan Agama Hindu 56/76 . seperti termuat dalam kitab Nitisastra sargah V. manemu duhka. b.3 sebagai berikut: Wasita Wasita Wasita Wasita nimittanta nimittanta nimittanta nimittanta manemu laksmi. Wacika. Orang yang selalu berusaha mengedalikan pikiran dan diarahkan pada niat SUCi akan jarang mendapat persoalan sulit dalam kehidupannya dimasyarakat. 3) Tidak mengingkari hukum karmaphala. pati kapangguh. disatu pihak akan bisa mendatangkan kebahagiaan dan dilain pihak akan bisa mendatangkan penderitaan bahkan kematian. Oleh perkataan engkau akan mendapatkan sahabat. siapa yang berbuat baik akan mendapat pahala yang baik dan siapa yang berbuat buruk sudah dapat dipastikan akan mendapatkan hasil yang buruk. 2) Tidak berpikir buruk terhadap orang lain dan kepada semua makhluk. seperti rasa in. Oleh perkataan engkau akan menemui ajalmu. Oleh perkataan engkau akan men dapatkan kesusahan. itu pun karena hukum karma phala juga. Orang yang hidup sehat dan berumur panjang salah satu penyebabnya karena ia menumbuhkan rasa cinta kasih pada semua makhluk. Hal ini sangat penting untuk dipahami dan dihayati. Pikiran akan menjadi suci (ning) bila tidak menginginkan milik orang lain serta tidak membenci milik orang lain . Kata-kata ibarat pisau bermata dua. Wacika adalah perkataan yang baik (suci).

sebab hal tersebut akan bisa mendatangkan penderitaan bahkan lebih fatal lagi bisa menyebabkan kematian. Ada empat cara (karma patha) untuk menyucikan perkataan yaitu: 1) Tidak berkatajahat (ujar ahala). Cegahlah lidah agar tidak mengucapkan kata-kata fitnah. Karena dalam kata-kata yang jahat itu ada gelombang yang mengganggu keseimbangan vibrasi kesucian. berbohong dan sebagainya tidak usah dipelihara. dan mencela.Demikianlah akibat dan perkataan yang diucapkan ada yang baik dan ada yang buruk. seperti menghardik. 3) Tidak memfitnah (raja pisuna). karena katakata yang suci mi akan dapat mengantarkan kita kepada sahabat atau mitra dan kepada kebahagiaan atau laksmi. Ada pepatah mengata’kan fitnah itu lebih kejam dan pembunuhan. Perlu diperhatikan. 2) Tidak berkata kasar (ujar aprgas). Kata-kata kotor atau buruk disebut Mada (dalam Tri Mala). 4) Tidak mengeluarkan kata-kata yang mengandung kebohongan. meskipun fiat baik. baik kesucian yang mengucapkan maupun yang mendengarkan. Menghilangkan kebiasaan berbohong mi haruslah dibiasakan untuk rela menerima apa adanya sesuai dengan karma Pendidikan Agama Hindu 57/76 . wak purusya (berkata kasar). Dalam persaingan hidup orang sering mengalahkan persaingan dengan cara memfitnah agar lawan dengan mudah dikalahkan. mencaci. Agar ia kelihatan lebih dan orang lain bohongpun sering dilakukan.dan sesungguhnya akan dapat mengurangi vibrasi kesucian bagi yang mengucapkan. Kebiasaan berbohong mi juga sering didorong oleh nafsu distinksi tadi. Bagi yang mempunyai kebiasaan berkata kasar. Kalau ia tidak mampu berbuat lebih dan kenyataan maka fitnahpun akan dipakai senjata agar ia kelihatan lebih dan yang lain. Berbohong juga sering dilakukan untuk menutupi kekurangan din. kalau diucapkan dengan kata-kata yang kasar maka fiat baik itu akan turun nilainya (menjadi tidak baik). Kata-kata yang kotor seperti raja pisuna (fitnah). berjuanglah untuk merubahnya. Kata-kata yang jahat yang terucap akan dapat mencemarkan vibrasi kesucian. Kata-kata kasar itu sangat menyakitkan bagi yang mendengarkan . Salah sam sifat manusia yang dapat menimbulkan akibat negatif adalah yang disebut “distinksi” yaitu suatu dorongan untuk lebih dan orang lain. Oleh karena itu marilah kita sucikan wak/katakata sehingga menjadi “wacika” yaitu kata-kata yang suci.

karena mengubah kebiasaan jelek memang tidak mudah. Artinya bila pikirannya dilandasi oleh fiat yang baik. maka seseorang akan mampu mngendalikan indrianya dan akan menyebabkan orang lain senang dan bahagia. sampai kebiasaan itu dapat dihapuskan. Hal mi sangat ditentukan oleh pross berpikir scseorang. Hal mi memang memerlukan kesungguhan. itikad yang baik. Kayika (perbuatan). Demikianlah empat hal yang harus dibiasakan agar tidak keluar dan lidah kita katakata yang tidak baik atau menyakitkan. c.kita. Dalam kaitannya dengan memelihara tindakan kitab Sarasamuscaya sloka 76 menegaskan sebagai berikut: Pendidikan Agama Hindu 58/76 . Tindakan atau perbuatan jasmani atau pisik merupakan upaya seseorang untuk mengaktualisasikan hasil proses berpikir dan apa yang diucapkan dengan kata-kata. bahagia dan atau sebaliknya menyakiti hati orang lain. tapi lama kelamaan akan menjadi kebutuhan. Orang yang demikian itu disebut “Sadhu” yaitu orang yang tidak melakukan kekerasan. Tindakan-tindakan yang suci mi perlu dipelihara. Tindakan seseorang dapat menyebabkan orang menjadi senang. Pada mulanya memang dirasakan beban. Untuk melatih itu biasakanlah menyanyikan namanama Tuhan atau Dharmagita atau Mantram-mantram tertentu secara tents menerus. Kebaikan itu hanya dapat diwujudkan dengan cara membiasakannya sampai melembaga dalam tingkah laku.

Ahimsa tergolong sifat-sifat kedewataan (daiwi sampat). baik secara berolok-olok. Intinya disini seseorang tidak terlalu terikat oleh bendabenda duniawi. Jika seseorang melakukan tindakan sebaliknya yaitu melakukan tindakan kekerasan maka akan terjadi pelanggaranpelanggaran hak asasi manusia seperti mempropokator umat agama lain untuk pindah ke agamanya sendiri. mencuri berbuat zinah. bersendagurau. merendahkan martabat umat agama yang lain dan sebagainya. Dengan terpeliharanya ajaran ahimsa berarti tidak ada kekerasan dalam kehidupan bersama didunia mi. melecehkan kesucian agama. Artinya: Inilah yang tidak patut dilakukan : membunuh. agar tidak mclakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang atau asubha karma. keadaan darurat dalam khayalan sekalipun.Nihan yang tan ulahakena. Ring apatkala. namun sebenarnya walaupun tidak secara pisik tetapi bila segala perilaku itu menyebabkan orang lain sakit hatinya juga tergolong perbuatan himsa. ketiganya jut jangan hendaknya dilakukan terhadap siapapun. Orang yang berhasil menumbuh kembangkan sifat-sifat kedewataan akan lebih mudah meraih karunia dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Pada umumnya ahimsa diartikan tidak boleh membunuh atau tidak menyakiti secara pisik. 2) Tidak mencuri. nahan tang telu tan ulahakena ring asing ring paribasa. menerima suap dan tidak nepotisme serta tidak rakus. mengambil hak orang lain secara tidak sah. Siparadara. Kutipan sloka mi memberikan informasi tentang pentingnya kesucian tindakan seseorang. hendaknya dihindari saja ketiganya itu. Hakekat dan manusia hidup didunia mi adalah bersaudara. syamatimati man gahalahal. Jika kesucian perbuatan tidak dijaga akan berakibat terjadinya pemaksaan terhadap orang lain yang berimbas kepada tidak adanya hubungan yang harmonis sehingga tidak akan tercapai kedamaian dihati. Ahimsa merupakan pengejawantahan masyarakat yang damai atau santih. baik dalam keadaan dirundung malang. Adapun tiga tindakan suci tersebut adalah: 1) Tidak menyakiti atau tidak membunuh (ahimsa). merampok. kedamaian dibumi dan kedamaian Pendidikan Agama Hindu 59/76 . serta senang melakukan amal. ri pan gipyan tuwi singgahana jugeka.

. b. Dan jika kesucian perbuatannya tidak dijaga maka baik terhadap sipelaku maupun orang lain akan mengalami kerugian. Mengadakan hubungan kelamin (sex) antara pria dan wanita dengan jalan tidak sah. Mengadakan hubungan kelamin dengan paksa. Karuna artinya belas kasihan. karena kalau itu dibiarkan maka kemerosotan moral akan makin memuncak. bagian-bagian dan ajaran catur paramita tersebut adalah a. Mudita artinya selalu memperlihatkan wajah yang riang gembira dan sopan d. c. d. ramah tamah. walaupun disinggung perasaannya oleh orang lain. Mengadakan hubungan kelamin atau sex yang dilarang oleh agama. serta menarik hati segala prilakunya sehingga menyenangkan orang lain dan din pribadinya b. ‘. ia tetap tenang dan selalu berusaha membalas kejahatan dengan kebaikan (suka memaafkan) Guna lebih mudah dapat memahami ajaran catur paramita. artinya tidak atas dasar cinta sama cinta (perkosaan). yakni tahu menempatkan diri dalam masyarakat. 4. Larangan melakukan zinah itu memang wajar. Upeksa artinya senantiasa mengalah demi kebaikan. Banyak terjadi pelacuran atau tuna susila maka kehidupan kita sebagai manusia yang menjuiijung tinggi budaya dan agama akan menjadi hancur. Berzinah artinya sikap suka memperkosa wanita atau istri orang lain Adapun yang temasuk perbuatan berzinah (paradara) adalah: a. Catur paramita merupakan salah satu dan landasan atau pedoman untuk melaksanakan ajaran susila atau etika dalam ajaran agama Hindu. Maitri artinya senang mencari kawan dan bergaul. maksudnya selalu memupuk rasa kasih sayang terhadap semua mahluk c. Mengadakan hubungan kelamin dengan suami/istri orang lain. Tidak berzinah. Adapun .3) diakhirat. Perbuatan ini harus dikendalikan karena bisa menimbulkan kemerosotan moral. Catur Paramita. dibawah ini disajikan beberapa bentuk larangan-larangan yang harus dipatuhi oleh umat manusia sebagai berikut: Pendidikan Agama Hindu 60/76 . Berzinah merupakan perbuatan yang sangat hina dan terkutuk.

Untuk dapat berbuat maitri. maka pantang melakukan perbuatan yang menyebabkan terjadinya penderitaan. Pendidikan Agama Hindu 61/76 . maka kita jangan melakukan perbuatan yang membahayakan dan jangan membenci. jangan melakukan perbuatan yang dapat menyebabkan orang lain susah. b. atau jangan memiliki rasa dengki dan in hati terhadap orang lain. tersiksa. c.a. kesengsaraan atau jangan bengis. Untuk dapat berbuat karuna. Untk dapat berbuat mudita.

menindas orang lain atau selalu berusaha untuk mengendalikan dorongan hawa nafsu jahat. kesejahteraan dan kebahagiaan adalah merupakan kebutuhan hidup umat manusia yang vital mesti dinikmati dalam hidup dan kehidupannya. maka pantang menghina orang lain. dan kesukaaan hidup umat manusia. Untuk dapat berbuat upeksa. Tri Parartha. Demikianlah ajaran Catur Paramita patut kita realisasikan dalam hidup dan kehidupan mi. kebahagiaan. 5. manusia itu dapat menyelamatkan dirinya dengan jalan mengamalkan ajaran Tri Parartha. punya. 3. Tri Parartha berarti tiga prihal yang dapat menyebabkan terwujudnya kesempurnaan. Kitab Rg Weda menyebutkan sebagai berikut: Ajaran berdhana punia yang didasari dengan cara bhakti dan rasa cinta kasih mempunyai suatu manfaat yang amat penting dalam hidup dan kehidupan mi. umat manusia tidak akan dapat berbuat banyak dalam hidup dan kehidupan mi. Keselamatan. Hidup saling mengasihi diantara kita adalah merupakan prilaku umat manusia utama yang dapat mengantarkan tercapainya kebahagiaan yang abadi (moksa). Berdasarkan ajaran agama Hindu. Asih artinya cinta kasth. Adapun ajaran Tri Paratha yang dimaksud dapat mengantarkan umat manusia mencapai keselamatan dan kebahagiaan serta kesejahteraan hidupnya.d. terdiri dari : 1. Ajaran Catur Paramita sebagai realisasi dan ajaran Tat Twam Asi patut dijadikan pedoman oleh manusia untuk mewujudkan kehidupan mi yang sempurna. sujud. memandang rendah orang lain. keselamatan. Asih . tulus ikhlas. keagungan. guna tetap tegaknya dharma. dan bhakti merupakan ajaran agama Hindu yang patut dihayati dan diamalkan dalam hidup dan kehidupan mi. Tri Parartha adalah ajaran agama Hindu untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. kesejahteraan. Punya artinya dermawan. Dengan demikian diantara kita sesama makhluk ciptaan Tuhan hendaknya dapat hidup berdampingan serasi. 2. Bhakti artinya hormat. Tanpa keselamatan dalam hidupnya. dan semuanya itu hendaknya diwujudkan sebagai amal dan ibadah (yajna Pendidikan Agama Hindu 62/76 . selaras. harmonis dan damai.

dan bhakti) ini adalah menumbuhkan sikap mental masing-masing pribadi umat manusia. 7. 2. Situasi dan kondisi rumah tangga yang kurang stabil/baik. ekonomi. Sesungguhnya banyak sekali tanda-tanda kemerosotan moral yang terjadi di lingkungan masyarakat baik itu dialami oleh anak-anak. sosial. maupun di tingkat rumah tangga. punia. Namun dewasa ini rupa-rupanya kalau secara jujur kita akui kemerosotan moral semakin hari semakin bertambah. Kurang adanya individu/organisasi/lembaga yang memfasilitasi tempattempat bimbingan dan penyuluhan moral bagi anak-anak/remaja yang menganggur. Kemerosotan moral dapat dilihat di dalam tayangan-tayangan criminal seperti Sergap. mewujudkan ajaran wairagya (tidak terikat akan pengaruh benda-benda duniawillahiriah) yang dapat memuaskan indria/nafsu belaka manusia secara pribadi. gambar-gambar. Patroli. Kurang tertanamnya jiwa agama pada setiap individu yang ada dalam masyarakat. Pendidikan Agama Hindu 63/76 . baik di lingkungan sekolah. Adapun penyebabnya antara lain: 1. siaran-siaran. masyarakat. Tujuan pokok dan ajaran Tri Parartha (asih. Semua umat Hindu hendaknya melakukan hal itu. karena itu adalah merupakan kewajibannya untuk menegakkan dharma. Keadaan masyarakat yang kurang stabil. Itu suatu pertanda bahwa banyak orang sudah mulai melepaskan konsep etika yang ada pada dirinya. para remaja. dan sebagainya. itu mungkin baru sebagian kecil yang diungkap. Buser. Pendidikan moral belum terlaksana sebagaimana mestinya. 3. 5. 4. Diperkenalkannya secara populer obat-obatan dan sarana anti hamil. baik dalam bidang pendidikan. politik. norma-norma/aturan tentang tuntunan moral. dan keamanan. 6. Ajaran Tat Twam Asi sudah ditinggalkan menjadi individualistis. keseniankesenian yang kurang mengindahkan dasar-dasar. maupun orang tha.karma). Banyaknya tulisan-tulisan.

1. II.BAB VI KITAB SUCI WEDA SRUTI DAN WEDA SMRTI Rsi Manu membagi jenis isi Weda itu kedalam dua kelompok besar yang disebut. 10) 1. sebagai berikut: Srutistu Weda Wijneyo dharmacastram tu wai Smrtih. Weda Sruti Kata Sruti sesungguhnya berasal dan bahasa Sanskerta. keduanya harus tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga karena keduanya adalah kitab suci yang menjadi sumber dari agama Hindu. Menurut sifat isinya weda ini dibagi atas tiga bagian yaitu: 1) Bagian Mantra 2) Bagian Brahmana (Karma Kanda) 3) Bagian Upanisad/ Arnyaka (Jnana Kanda) Pendidikan Agama Hindu 64/76 . Pelaksanaannya adalah Nibandha. Weda Smrti Pembagian dalam dua jenis ini dipakai selanjutnya untuk menamakan semua jenis buku yang dikelompokkan sebagai kitab Weda balk secara tradisional maupun secara institusional ilmiah. Kedua-duanya merupakan sumber Hukum yang mengikat yang harus diterima. te sartwarhawam imamsyo tabhyam dharmohi nirha bhau Artinya: Sesungguhnya Sruti (wahyu) adalah Weda demikian pula Smrti itu adalah Dharmasastra. Oleh karena itu “Bhagawan Manu” menegaskan dalam kitabnya “Manawa Dharmasastra” 1110. dari akar kata Crt Yang berarti mendengar langsung. Kelompok Weda Sruti menurut Bhagawan Manu merupakan Weda yang sebenarnya ada Weda orisinal. buku pedoman yang isinya tidak bertentangan dengan Sruti. Jadi Weda Sruti adalah Kelompok Weda yang ditulis oleh para Maha Rsi melalui pendengaran langsung dan wahyu Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan. (MDs. Weda Sruti 2. Jadi Smrti merupakan. Kelompok Weda Sruti isinya hanya memuat wahyu sedangkan kelompok Smrti isinya adalah sebagai ingatan kembali terhadap Sruti. Bila dibandingkan dengan ilmu politik Sruti adalah merupakan UUD nya Hindu sedangkan Smrti adalah UU Pokok dan UU. (Dharma).

yang juga disebut Maitraneyi samhita. Wedasamhita 2) Sama Weda atau Samawedasamhita 3) Yayur Weda atau Yayurwedasamhita 4) Atharwa Weda atau Atharwawedasamhita Dari keempat kelompok Weda itu. Mantra Bagian mantra terdiri dan empat himpunan (samhita) yang disebut catur weda samhita. Pembagian empat kelompok isi weda itu yaitu: 1) Rg Weda Samhita . sedangkan mantra-mantra didalam Yajurweda hitam terdapat pula mantra-mantra yang menguraikan arti Yajna. Yajur Weda hitam (Kresna yajurweda) yang terdiri atas beberapa resensi antara lain. atau saman 3) Yayur Weda Samhita . juga dikenal Wajasaneyi samhita). pluralnya Yajumsi). Menurut penelitian Samaweda terdiri atas 1810 mantra. kitab ini terdiri atas 101 resensi yang sebagian besar sudah lenyap. yaitu: 1) Rg. atau kadang-kadang ada yang mengatakan 1875. 4) Atharwa Weda samhita . Kitab mi terbagi atas dua aliran. yaitu: 1) Yajur Weda hitam (krsna Yajur Weda). merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran-ajaran umum dalam bentuk pujaan 2) Sama Weda Samhita . Pendidikan Agama Hindu 65/76 . Weda atau Rg. Jenis Weda ini ada dua macam yaitu: a. Tambahan ini umumnya berbentuk prosa.1. Karena itu disebut Trayi Weda atau “Tri Weda” Pengenalan catur weda hanya karena kenyataan Weda ini secara sistimatik telah dikelompokkan atas empat Weda. Taitiriya samhita dan Maitrayanisamhita. merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran yang bersifat magis (Atharwan).) 2) Yajur Weda putih (Sukla yajur weda. Yajur Weda putih terdiri atas mantra-mantra dan doa-doa yang harus diucapkan pendeta di dalam upacara. Menurut Bhagawan Patanjali. ditambah dengan beberapa mantra tambahan baru.Ad. Weda. Bagian terakhir ini merupakan bagian tertua dari Yayur Weda itu. Yajur Weda terdiri atas mantra-mantra yang sebagian besar berasal dan Rg. merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran umum mengenai pokok-pokok yajnya (yajus. Weda. Yajur Weda putih (Sukla yajurweda). merupakan kumpulan mantra-mantra memuat ajaran umum mengenai lagu-lagu pujaan. tiga kelompok pertama sering disebut-sebut sebagai mantra yang berdiri sendiri. Perbedaan pokok antara Yajur Weda Putih dengan Yajur Weda hitam hanya sedikit saja. b. Samaweda terdiri atas mantra-mantra yang berasal dari Rg.

Kitab Rg. Pendidikan Agama Hindu 66/76 . Weda. Punirawa. Bagian Upanisad/Aranyaka Aranyaka atau Upanisad adalah himpunan mantra-mantra yang membahas berbagai aspek teori mengenai ke Tuhanan. Himpunan ini merupakan bagian teori mengenai ke Tuhanan.2. Kitab Samaweda memiliki kitab Tandnya Brahmana yang juga sering dikenal dengan nama “Pancawimsa “.Atharwa Weda yang disebut atharwawedangira. Bagian Brahmana (Karma Kanda) Bagian kedua yang terpenting dan kitab Sruti ini adalah bagian yang disebut “Brahmana” atau “Karma Kanda”. Urwasi dan ceritra-ceritra tentang ikan. Nama ini disebut demikian karena kitab ini terdiri atas 100 adhyana. Kadang-kadang Brahmana diartikan penjelasan yang menjelaskan arti kata ucapan mantra. Kitab mi memiliki 5987 mantra (puisi dan prosa). Resensi ini paling terkenal dan terbagi atas 21 buku b. Kitab Yajur weda memiliki beberapa kitab “Brahamana” Yajur weda hitam (krsna Yajur Weda) memiliki Taittiriya Brahmana. Resensi Paipplada ad. Kitab mi terpelihara dalam dua resensi yaitu: a. Di dalam kitab Brahmana ini mula-mula kita jumpai ceritra Sakuntala. Weda. Resensi Saunaka. Brahmana berarti doa. merupakan kumpulankumpulan mantra-mantra yang juga banyak berasal dan Rp. Yajur Weda dan Atharwa Weda) memiliki Brahmana. Yajur Weda putih (Sukia Yajurweda) memiliki Satapatha Brahmana. Jadi kitab Brahmana adalah kitab yang berisi himpunan doa-doa yang dipergunakan untuk keperluan upacara yajna. Himpunan mi merupakan bagian Jnana Kanda dari pada Weda Sruti. Himpunan buku-buku ini disebut Brahmana. Weda memiliki dua jenis buku Brahmana yaitu Aitareya Brahmana dan Kausitaki Brahmana (Sankyana Brahmana). Disamping itu ada pula “Sadwimsa Brahmana” Kitab ini terbagi atas 25 buku dimana bagian terakhir yang terkenal adalah kitab “Adhuta Brahmana” merupakan jenis “Wedangga” yang memuat mengenai ramalan-ramalan dan penjelasan mengenai berbagai mujijat. Atharwa Weda mi memiliki kitab “Gopatha Brahmana” Ad. Bagian terakhir dan kitab mi merupakan sumber bagian kitab “Brhadaranyakapanisad”. Sebagaimana halnya dengan tiap-tiap mantra memiliki kitab Brahmana. Tiap-tiap mantra (Rg. Demikian pula tiap-tiap mantra memiliki kitab-kitab Aranyaka atau Upanisad. Sama Weda. 3. Kitab mi memuat legenda (ceritera-ceritera kuno) yang dikaitkan dengan upacara Yajna.

Mandala brahmana. Maitrayani. Pasupata. jumlah upanisad yang disebut secara tegas adalah sebanyak 108 buah buku. Dattatreya. Adapun perincian dan pada kitab-kitab Upanisad itu adalah sebagai berikut: 1. 2. yaitu antara lain: Prana. Trisikhibrahmana. Aksi. Sita. Atharwa sikha. Yogacudamani. Surya. dan Bahwrca Upanisad. Tarasara. Brahma. dan Atharwa Weda terdiri atas 50 sakha Berdasarkan jumlah sakha itu. Mandukya. Adwanyataraka. Subata. Pranagnikotra. Gopalatapini. Aruni. b. Dari catatan yang ada: 1. Brhajjabala. Awyaka. 2. Dewi. Parabrahma. Wasudewa. Untuk jenis Yajur Weda putih. Asartanada. Sarwasara. Munduka. Semuanya berjumlah enambelas Upanisad. Untuk jenis Yajur Weda Hitam. Pinggalabhiksu. Tripura. Saubhagya. Kausika. Sukharahasya. terdiri dan: Isawasya. Kausitaki. Chandogya. Weda yaitu antara lain: Aitareya. yaitu antara lain: a. Awadhuta. Nada-bindu. Rg. yaitu 1180 sakha. Mahawakya. terdiri atas Kathawali. Nrsimhatapini. Hamsa. Kaiwalya. Narayana. Kondika. G. Niralambha. Turiyatita. Sandilya. dan Saraswatirahasya. dan Garuda Upanisad. 4. Garbha. Krsna. Atma. Wajrasucika. Sawitri. Nirwana. Sakanda. Upanisad yang tergolong jenis Yajurweda. Upanisad yang tergolong jenis Atharwa Weda. maka jumlah upanisad seyogyanya ada banyak 1180 buah buku tetapi berdasarkan catatan Muktikopanisad. Mahanarayana. Aksamalika.Kelompok kitab-kitab ini disebut rahasya Jnana karena isinya membahas hal-hal yang bersifat rahasia. Yajnawalkya. Matrika. Mudgala. Naradapariwrajaka. Bhawana. Weda terdiri dan 21 sakha Sama Weda terdiri atas 1000 sakha Yajur Weda terdiri atas 109 sakha. Wahara. Yogasikha. yang semuanya berjumlah sepuluh Upanisad. Hayagriwa. Atharwasira. Sariraka. Atmaprabedha. Brhadaranyaka. Semuanya berjumlah tiga Pendidikan Agama Hindu 67/76 . 4. Brahma. Ramatapini. Jabala. Sarabha. Maitreyi. Darsana dan Jabali. Swetaswastara. Di dalam penelitian berbagai naskah kitab suci Hindu Dr. Mahat. Ekaksara. Paramahamsapariwrajaka. Katagnirudra. 3. Adhyatma. Upanisad yang tergolong jenis Rg. Tripuratapini. Sanyasa. semuanya berjumlah tigapuluh dua Upanisad. Kalisandarana. Semuanya berjumlah sembilan belas Upanisad. Prramahamsa. Ramarahasya. Sriniwasa Murti didalam introdusi kitab saiwa Upanisad mengemukakan bahwa tiap-tiap sakha (cabang ilmu) Weda merupakan satu upanisad. Taittriyaka. Satyayani dan Muktika. Rudrasajabala. Upanisad yang tergolong jenis Sama Weda yaitu antara lain: Kena. Gamapati. Amrtabindu. Tejebindu. 3. Annapurna.

Kitab Smrti adalah kitab Veda juga. kedua macam pustaka suci mi tidak boleh diragu ragukan kebenarannya mengenai apapun juga karena dan keduanya itu hukum inL Berdasarkan uraian di atas. Kitab Smrti adalah kitab suci Veda yang ditulis berdasarkan ingatan oleh para Maharesi dan wahyu Sang Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa. Kata Smrti berasal dari bahasa Sansekerta. menjadi kata smrti (feminime) berarti: ingatan. antara lain: Kitab Menawa Dharma Castra. Brahmana. karena fungsi dan kedudukannya dipersamakan dengan kitab Veda Cruti. Oleh karena itu pergunakanlah Pendidikan Agama Hindu 68/76 . dari kata smrta (neuter) berarti: ingatan. Bab 11. sesudah Veda Sruti. Dengan memperhatikan deretan nama nama kelompok Mantra. jelas bahwa kitab Sruti meliputi jumlah yang cukup banyak. Smrti adalah kitab suci Weda yang ditulis berdasarkan ingatan oleh para Maharesi bersumberkan pada Veda Cruti. Kitab Smrti memuat tentang ajaran hukum agama Hindu. Dharma berarti hukum dan sastra berarti ilmu. yang ditulis oleh banyak Maharesi. Kitab Smrti adalah merupakan kitab pendukung dan penjelasan dan kitab Weda Cruti. Untuk mendalami dharma.puluh satu upanisad. dan Upanisad diats. Dharma Sastra berarti Ilmu Hukum Agama Hindu. yang juga disebut Dharma atau Dharma Sastra.10 menyebutkan sebagai berikut: Crutistu Wedo Wzjneyo dharmacastram tu wai smrtih te sarwarthes wamimansye tabhyam dharmohi nirbabhau artinya: yang dimaksud dengan Cruti ia!ah Weda dan dengan Smrti adalah Dharma Sastra. Keterangan tentang hal tersebut di atas. semua buku-buku itu adalah merupakan sumber utama dan kedudukannya mutlak perlu dihayati. tradisi yang berwenang. dengan jelas dapat kita pahami bahwa Smrti merupakan kitab suci agama Hindu. kita temukan dalam beberapa kitab agama Hindu. Weda Smrti Smrti merupakan kitab suci agama Hindu. kenangan. 2. Dengan demikian kitab-kitab Smrti tidak boleh bertentangan dengan Weda Cruti.

Veda berarti ilmu pengetahuan suci dan angga berarti bagian.kitab kitab sastra sebagai petunjuk untuk menentukan tentang segala sesuatu yang harus kita kerjakan dan untuk dapat mengetahui apa yang patut kita kerjakan. Untuk dapat mengamalkan Veda secara benar di dalam upaya mewujudkan tujuan hidup secara rohani dan jasmani. Beberapa kitab suci agama Hindu yang termasuk kitab Smrti. Clokantara. juga disebut dengan nama Pratisakhya. sumber. jenis kitab-kitab Smrti perlu dipergunakan sebagai pedoman hidup (dipedomani). Sarasamuccaya. memahami. Cilakrama. Ramayana. Niti Sastra. anggota. kecil kemungkinannya dapat diketahui. tanpa mengerti dan mengetaui tata bahasanya. dan mendalami Veda dengan baik. dasar. Oleh karenanya kitab Wyakarana ini memiliki fungsi yang sangat penting di dalam kita mempelajari Veda. Jenis atau kelompok Vedangga Kata Vedangga. Kelompok Vedangga b. Vedangga sebagai kitab Smrti. Hal semacam ini disebabkan oleh munculnya berbagai macam kebutuhan masyarakat (umat Hindu) yang diisarakat oleh Veda dalam mencapai keadilan. Pendidikan Agama Hindu 69/76 . Bharatayudhya. keamanan. 2) Wyakarana (Tata Bahasa) Kitab Wyakarana isinya menguraikan tentang tata bahasa. dan penulisnyapun banyak pula. Manu Smrti. untuk dapat menghayati Veda dengan benar. Kitab-kitab suci yang tergolong jenis kitab Smrti itu banyak jumlahnya. Dalam hubungannya dengan mempelajari mantra (Weda Cruti) kitabkitab siksa. kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. badan. Jadi Vedangga berarti batang tubuh dari Veda. terdiri dan beberapa kitab. Kelompok Upaveda Smrti a. antara lain: Manawa Dharma Sastra. Untuk dapat mempelajari. Yajna Pawitra dan Brahmanda Purana. kita hendaknya terlebih dahulu mendalami Vedangga. jenis kitab-kitab dikelompokkan menjadi dua (2) kelompok besar. fungsi kitab siksa ini adalah sangat penting. yang terdiri dan: a. Yoga Sutra. Berdasarkan kebiasaan yang telah berjalan. Tattwa Suksma. terdiri dan kata: Veda dan Angga (bahasa Sansekerta). antara lain 1) Siksa (Phonetika) Siksa adalah kitab Vedangga yang isinya menguraikan tentang petunjukpetunjuk tata cara mengucapkan mantra yang tepat sesuai dengan tinggi-rendahnya tekanan suara. Untuk dapat mengucapkan mantra (Weda Cruti) dengan baik.

Maharesi Patanjali. yang menguraikan tentang pokokpokok pengetahuan dalam bidang astronomi. Veda. Dalam mempelajari Veda kita perlu mendalami kitab Chanda. bulan dan badan angkasa lainnya yang dipandang dan dianggap memiliki pengaruh dalam pelaksanaan yadnya. Kitab Nirukta ditulis oleh Begawan Yaska pada tahun ± 800 SM. yang terkenal adalah Begawan Panini. 4) Nirukta Kitab-kitab Nirukta berisikan tentang penafsiran otentik yang berhubungan dengan kata-kata yang terdapat dalam Veda. Kitab Kalpa mi terdiri dan beberapa bidang kitab antara lain: Pendidikan Agama Hindu 70/76 . yang masih terdapat utuh sampai sekarang ada dua buah buku. Kitab Jyotisa adalah kitab pendukung Veda. karena bersumberkan pada pendalaman kitab Chanda semua ayat-ayat Veda dapat dipelajari secara turun temurun. Rg.Para Maharesi yang mendalami tentang tata bahasa (Veda) adalah : Maharesi Sakatayana. 6) Kalpa Kitab Kalpa adalah jenis kitab Smrti (Vedangga) yang isinya berhubungan dengan kitab Brahmana dan kitab-kitab mantra. 3) Chanda (Lagu) Chanda adalah cabang Veda yang secara khusus membicarakan tentang aspek ikatan bahasa dalam Veda yang disebut lagu. Begawan Panini adalah orang suci yang pertama kali mengenalkan kata bahasa Sanskerta popular (bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat) dan bahasa Daiwak yaitu bahasa para Dewa-Dewa. yang terdapat masih sampai sekarang adalah kitab Jyotisa Wedangga. Begawan Panini. bahwa bagaimana Veda mengajarkan kepada umatnya untuk dapat berhubungan secara harmonis dengan alam dan lingkungannya berdasarkan yadnya. Hal ini kita dapat persamakan dengan berbagai macam nyanyian yang dapat dinyanyikan dan mudah diingat. Beliau menulis Kitab Asta Dhyayi dan Patanjali Bhasa. Kitab mi memiliki hubungan dengan kitab Veda Cruti. Di antara kitab Jyotisa. yaitu : Midana Sutra dan Chanda Sutra. Kitab 5) Jyotisa (Antronomi) Kitab Jyotisa. dan Begawan Yaska. Di antara orang suci tersebut di atas. Kedua kitab ini dihimpun oleh Begawan Pinggala. Melalui pengetahuan yang terdapat dalam kitab Jyotisa juga kita dapat memahami. Dan berbagai macam kitab-kitab Chanda. isinya yang terutama adalah menguraikan tentang peredaran tata surya. dan Yajur Veda.

Bhagawan Sankhalikhita. Kitab Sulwa Sutra ini. isinya menguraikan tentang berbagai macam aspek mengenai peraturan hidup bermasyarakat dan bernegara. (4) Pasa masa Kaliyuga dipergunakanlah Dharma Sastra yang ditulis oleh Bhagawan Parasara. (3) Pada masa Dwapara Yuga berlaku kitab Dharma Sastra buah karya Bhagawan Sankha Likhita. d) Bidang Suliwa Kitab Suliwa Sutra adalah merupakan bagian terakhir dan kitab-kitab Kalpa. isinya menguraikan tentang berbagai ajaran mengenai aturan pelaksanaan yadnya yang mesti dilaksanakan oleh orang-orang / masyarakat (umat Hindu) yang telah hidup berumah tangga c) Bidang Dharma Sutra Kitab Dharma Sutra. maka terdapatlah kesan bahwa Veda Smrti itu adalah Dharma Sastra.a) Bidang Srauta Kitab Srauta atau juga disebut Srauta Sutra. Kitab Dharma Sutra juga disebut Dharma Sastra. isinya memuat berbagai macam ajaran mengenai tata cara melakukan yadnya. bahwa dalam hidup dan kehidupan kita ini. Karena dipandang sangat penting. isinya memuat tentang petunjuk dan peraturanperaturan mengenai tata cara membuat dan mendirikan tempat suci untuk beribadat (Pura. Candi). Agama Hindu mengajarkan kepada umatnya. seperti: (1) Pada masa Satya / Krtha Yuga berlaku kitab Manawa Dharma Sastra karya sastra dan Bhagawan Manu. bangunan—bangunan lainnya yang berhubungan dengan arsitektur. Di antara keempat kitab Dharma Sastra tersebut. (2) Pada masa Trita Yuga berlaku kitab Dharma sastra yang ditulis oleh Bhagawan Yajnawalkhya. bahwa masing-masing yuga dan Catur Yuga mempunyai Dharma Sastranya tersendiri. b) Bidang Grhya Kitab Grhya Sutra. dilalui oleh empat zaman atau juga disebut Catur Yuga. Pendidikan Agama Hindu 71/76 . yang diterapkan untuk masing-masing bagian Catur Yuga adalah memiliki sifat saling mengisi atau melengkapi di antara sam dengan yang lainnya. Kitab Dharma Sutra dipandang sebagai kitab yang sangat penting di antara kitab-kitab jenis Kalpa.

Wisnugupta. Kitab Itihasa terdiri dan kitab Ramayana (terdiri dan 7 kanda) dan Mahabharata ( terdiri dan 18 parwa). yang isinya menguraikan tentang bidang ilmu kedokteran atau kesehatan baik rohani maupun jasmani. Kitab Upaweda memiliki fungsi sama pentingnya dengan kitab-kitab Smrtti yang lainnya. Kitab Upaweda terdiri dan beberapa cabang ilmu. Itihasa adalah sebuah epos yang menceritakan sejarah perkembangan raja—raja dan kerajaan Hindu di masa lampait. yaitu : kata upa dan veda. Nama Itihasa pada mulanya diberikan oleh penulis kitab Mahabharata pada bagian Adiparwa yaitu Bhagawan Wiyasa. Jenis atau Kelompok Upaweda Kitab-kitab Upaweda merupakan kitab kelompok kedua dan Veda Smrti. antara lain . Upaweda berarti dekat dengan Veda (Pengetahuan suci). Kitab-kitab yang tergolong kitab Artha Sastra yang lainnya adalah Niti Sastra atau Rajadharma (Dandaniti). 3) Artha Sastra Kitab Artha Sastra mi berisikan tentang pokok-pokok pemikiran bidang ilmu politik. seperti : Bhagawan Usana dan Bhagawan Parasara. ditulis oleh Bhagawan Brhaspati. Upaweda juga diartikan Veda tambahan. Kata upaweda berasal dan bahasa Sanskerta. Jejak beliau di dalam tulis-menulis kitab-kitab “Artha Sastra” diikuti oleh Maharesi Kautilya (Canakhya). Itihasa adalah karya sastra yang bersifat spiritual.b. 4) AyurWeda Kitab Ayur Weda kelompok kitab Upaweda. serta Sukraniti. yang terdiri dan dua kata. di mana ceriteranya penuh filsafat. dan Wisalaksa. Bharadwaja. yakni “Iti-ha-sa” yang artinya “sesungguhnya kejadian itu begitulah nyatanya. Kata “upa” dapat diartikan “dekat” dan kata “veda” berarti “pengetahuan suci (kitab suci)”. Adapun nama kitab yang termasuk kelompok kitab Ayur weda Pendidikan Agama Hindu 72/76 . Artha Sastra sebagai bagian dan kitab Upaweda. kewiraan dan mitologi. Jenis kitab Artha Sastra yang digubah di Indonesia adalah jenis Usana dan Niti Sastra. Kata Ityihasa terdiri dan tiga suku kata. roman. Danding. 1) Itihasa Kitab Itihasa dikelompokkan dalam kitab-kitab Upaweda. Di samping Maharesi Kautilya yang mengikuti Bhagawan Brhaspati dalam menulis kitab-kitab Artha Sastra. 2) Purana Kitab Purana adalah bagian dan kitab—kitab Upaweda. setelah kitab-kitab Vedangga. Kitab Purana berisikan berbagai macam cerita dan keterangan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku pada zaman dahulu kala (kuno). adajuga Bhagawan yang lainnya.

dan merupakan dasar bagi ilmu jiwa anak-anak f) Agada Tantra yaitu ilmu toxikologi g) Rasayama Tantra yaitu ilmu mujizat. Kitab tersebut mernuat delapan bidang ajaran. Kitab mi isinya menguraikan tentang pentingnya ajaran umum di bidang ilmu bedah. Kitab mi isinya menguraikan tentang pentingnya ajaran umum di bidang ilmu bedah. yaitu: a) Salya yaitu ajaran mengenai ilmu bedah b) Salkya adalah ajaran mengenai ilmu penyakit c) Kayakitsa yaitu ajaran mengenai ilmu obat-obatan d) Bhuta Widya yaitu ajaran mengenai ilmu psikoteraphy e) Kaumara Bhrtya yaitu ajaran mengenai pendidikan anak-anak.adalah kitab Caraka Samhita. Susruta Samhita. Pendidikan Agama Hindu 73/76 . Kitab Susruta Samhita ditulis oleh Bhagawan Susanta. dan h) Wajikarana Tantra yaitu ilmu jiwa remaja Kitab Caraka Samhita merupakan baginn dan kitab Ayur Weda. Di samping itu pula kitab Susruta Samhita mencatatkan berbagai macam alat-alat yang dapat dipergunakan dalam pembedahan. Berdasarkan catatan yang ada kitab Kalpasthana dan Kitab Siddhistana telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan Persia pada tahun 800 Masehi. Disamping itu pula kita Susruta Samhita mencatatkan berbagai macam alat-alat yang dapat dipergunakan dalam pembedahan. Berdasarkan materai yang terdapat dalam kitab Ayur Weda maka isi kitab Ayur Weda meliputi delapan bidang ajaran umum. Kitab Susruta Samhita ditulis oleh Bhagawan Susanta. Yogasara dan Kama Sutra. antara lain: a) Sutrathana : isinya menguraikan tentang ilmu pengobatan b) Nidanasthana : isinya memuat tentang berbagai penyakit yang bersifat umum c) Wimanasthana : isinya menguraikan tentang ilmu pathologi d) Sarithana : isinya menguraikan tentang ilmu anatomi dan embriology e) Indiyasthana : isinya menguraikan tentang materia diagnosa dan prognosa f) Cikitasasthana : isinya menguraikan tentang ajaran khusus mengenai pokok-pokok ilmu therapy g) Kalpasthnana : isinya menguraikan tentang ajaran di bidang theraphy secara umum h) Siddistana : isinya juga menguraikan tentang pokok-pokok di bidang therapy secara umum. Kasyapa Samhita. Astanggahrdaya.

Di dalam upaya untuk mewujudkan salah sath tujuan hidup. Pendidikan Agama Hindu 74/76 . Kedua kitab mi isinya menguraikan tentang pokok-pokok ilmu yoga yang berhubungan dengan sistem anatomi dalam pembinaan kesehatan. 5) Gandharwa Weda Kitab Gandharwa Weda merupakan bagian dan kitab-kitab Upaweda. Kitab Kama Sutra ditulis oleh Bhagawan Watsyayana pada abad ke10 Masehi. Diantara kitab-kitab Kama Sastra yang terkenal adalah karya dan Bhagawan Watsyayana. umat beragama dipandang perlu untuk membangkitkan rasa indah tersebut. kaum Sudra. kepada kaum Brahmana. juga memiliki beberapa bagian kitab-kitab lagi. agama Hindu boleh dan dapat dipelajari oleh seluruh umat manusia. Hal mi termuat dalam kitab Yajur Veda sebagai berikut: “Yaatkeram wacam kalyanin awadonijanebhyah. Kama Sastra sebagai bagian dan jenis kitab Upaweda isinya menguraikan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan asmara. seperti: Natya Sastra. 6) Kama Sastra Kitab Kama Sastra adalah termasuk kitab suci agama Hindu pada bagian Smrti (Upaweda). kaum Ksatrya. Brahma Rajanyabhyam cudraya caryaya ca siwaya caranayaca” Artinya: “Biar kunyatakan disini kitab suni ini kepada orang-orang banyak. kitab Natya Wedagama. Gandharwa Weda sebagai kitab Smrti. hendaknya dipedomani oleh Kama Sastra. isisnya menguraikan tentang berbagai aspek cabang ilmu seni. dan yang lainnya. Dewa Dasa Sahasri. Kebangkitan dan rasa indah manusia terbentuk untuk berbakti kepada Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa. seni atau rasa indah. Menurut Veda. baik jasmani maupun rohani. Isinya menguraikan tentang ajaran ilmu jiwa remaja. 7) Agama Kitab agama itu baru ada setelah Agama Hindu ada dan berkembang di dunia. Kitab Kamasutra berhubungan dengan kitab Wajikarana Tantra. Kitab Gandharwa Weda. dan kaum Waisya dan bahkan kepada orang-orangKu dan kepada mereka (orang-orang asing) sekalipun.Kitab Yogasara dan Yogasastra ditulis oleh Bhagawan Nagarjuna. Karena dengan demikian asmara dan rasa indah yang muncul itu tentu terarahlbernilai positif adanya. Rasaratnasamucaya. Rasarnawa.

6) B. Kitab agama isinya memuat ajaran tentang keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa dan petunjuk-petunjuk untuk melaksanakan tata cara persembahyangan. Kelompok mantra didasarkan atas pertimbangan fungsi dan kegunaannya di bagi menjadi empat. Namum menyadari akan kekurang sempurnaan kita sebagai umatnya. Bagi mereka yang belum dapat mempelajari Veda dapat belajar agama Hindu berdasarkan kitab-kitab agama.(Yajur Veda XVI. Semua ayatayat yang terdapat didalamnya merupakan Wahyu dan Tuhan yang kemudian dihimpun dalam beberapa buah buku menurut umurnya dan peruntukannya. maka tidak akan semuanya dapat mempelajarinya dengan sempuma. 18) Berdasarkan bunyi Cloka tersebut di atas dinyatakan bahwa kitab suci Veda (Hindu) dapat dipelajari oleh siapa saja. Menurut sifat dan isinya Weda çruti dibedakan atas kelompok mantra. menghayati dan mengamalkan ajaran Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa yang dianut oleh umat Hindu. Hal mi sesuai dengan ucapan kitab Smrti (Dharma Sastra) sebagai berikut: “Wedo ‘khilo dharma mulam smrti cue ca tad widam acaracca iwa sadhunam atmanastustir ceva ca” Artinya: Seluruh Weda merupakan sumber utama daripada dharma (agama Hindu) kemudian barulah Smrti. kelompok Brahmana. Veda sebagai sumber ajaran agama Hindu mengandung ajaran yang sangat tinggi. berdasarkan pengelompokannya ada yang disebut dengan nama Weda çruti dan Weda Smrti. yang disebut kitab suci Weda. tidak terkecuali. kelompok Ananyaka dan Upanisad. yang Pendidikan Agama Hindu 75/76 . Weda çruti adalah kitab Wahyu Tuhan. RANGKUMAN Kitab suci adalah cara yang baik untuk memahami. banyak jenisnya. Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa mewahyukan ajaran-Nya melalui orang-orang Suci untuk disebarkan pada kita semua. Weda sebagai kitab suci umat beragama Hindu. Disamping itu kita juga perlu menyadari bahwa. Ajaran beliau yang diwahyukan kepada Maha Rsi dituliskan pada buku. Istilah cruti berarti Wahyu. Dan uraian di atas dapatlah kita simpulkan bahwa jumlah kitab-kitab Smrti yang dapat kita pergunakan sebagai petunjuk untuk menata kehidupan berhubungan dengan Sang Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa. disamping kebiasaan-kebiasaan yang baik dan orang-orang yang rnenghayati Veda (sila) dan kemudian tradisi-tradisi dan orang-orang suci (acara) serta yang terakhir ada!ah rasa puas din sendiri (atmanastusti) (Manawa Dharrna Sastra 11.

Sebagai insan Tuhan. yang terkandung dalam kitab suci Weda Sruti maupun Smrti untuk dipergunakan didalam menuntun kehidupan kita sehari-hari. Sama Weda Samhita dan Atharwa Weda Samhita. Smrti.budaya. Smrti (Dharma Sastra) . Itihasa dan Purana berisikan-berbagai macam ajaran yang berhubungan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi beliau dan ciptaanNya.dan engamalkan ajaran agama.politik dan pertahanan/keamanan) serta upacara (ritual) agama.disebut Catur n Weda Samhita yaitu Rg. Yajur Weda Samhita. Manusia adalah mahiuk hidup yang diciptakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Itihasa. bersumber dan Wahyu Ida Sang Hyang Widhi Wasa.Weda Samhita. Sudah menjadi kodratnya manusia untuk melaksanakan kewajiban hidupnya. Mari kita dalami sastra-sastra agama.ekonom i.sehingga kita dapat meningkatkan budi pekerti dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kebenaran beliau dapat kita laksanakan dengan jalan memahami. manusia memiliki beberapa kewajiban yang mesti dilaksanakan dalam kehidupan mi. Ethika (sosial. Pendidikan Agama Hindu 76/76 . dan Purana adalah kitab-kitab Weda yang ditulis oleh para Rsi berdasarkan ingatannya. Kebenaran yang utama adalah kebenaran yang ada pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Salah satu kewajiban hidup manusia yang harus dikerjakan adalah menegakkan kebenaran.menghayati.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful