MATERI PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU

KELAS XI SMK Oleh : Drs. I Wayan Pura Ys BAB I HUKUM KARMA DAN PUNARBHAWA Standar kompetensi Memahami Hukum Karma dan Punarbhawa Tujuan Pembelajaran Akhir Setelah mempelajari materi ini siswa diharapkan mampu : Mengerti dan memahami hukum karma . Mampu menjelaskan bagian –bagian hukum karma Mampu menguraikan hubungan hukum karma dengan punarbhawa Menjadikan hukum karma sebagai pegangan dalam prilaku Uraian Materi A. Pengertian Hukum Karma Karma berasal dari Bahasa Sansekerta yang artinya kerja atau berbuat. Konsep hukum karma adalah bahwa setiap perbuatan akan memberikan hasil yang disebut ( phala ). Sehingga setiap hasil yang dipetik atau diterima oleh seseorang atas perbuatannya disebut karma phala. Hukum karma adalah hukum Tuhan yang berlaku bagi semua orang. Tidak memandang apakah orang tersebut percaya atau tidak hukum karma tetap berlaku. Seperti hukum terbitnya matahari dari timur, orang buta ataupun orang eskimo yang tidak pernah melihat matahari, bukan berarti matahari tidak ada. Matahari tetap terbit dari timur. Demikianlah hukum karma berlaku bagi semua umat manusia dari semua negara, semua suku bangsa dan semua agama. Dalam ajaran Hindu , hukum karma merupakan ajaran sebagai landasan ajaran etika dan pegangan dalam mencapai tujuan hidup. Karma atau perbuatan ini ada tiga bentuk yaitu karma yang dilakukan oleh pikiran ( Manah ), karma dalam bentuk ucapan (waca ), dan karma dalam bentuk tindakan jasmanani ( kaya ). Jadi apapun bentuk aktivitas seseorang pasti ada phalanya (hasilnya) .Ini berarti tidak ada perbuatan yang tanpa membuahkan hasil, sekecil apapun kegiatan tersebut. Sedangkan jika dilihat dari baik buruknya maka perbuatan yang baik disebut Subha karma dan perbuatan yang buruk disebut Asubha karma. Materi Pelajaran Pendidikan Agama Hindu 1 1/76

B. Proses berlakunya karma phala Setiap aktivitas karma seseorang didasari oleh keinginan ( Iccha ). Timbulnya keinginan akan direspon oleh pikiran. Pikiran inilah yang akan mengambil keputusan untuk melakukan tindakan dalam bentuk ucapan ataupun tindakan jasmani. Keputusan pikiran sangat ditentukan oleh pengetahuan (jnana), kebijaksanaan ( wiweka), serta pengalaman hidup serta karmawasana seseorang. Jika digambarkan maka proses karma seseorang sebagai berikut : KEINGINAN

Pengetahuan PIKIRAN Pengalaman Hidup KARMA

Wiweka karmawasana

KARMA PHALA C. Wujud Karma phala Banyak orang menafsirkan bahwa wujud dari karma phala ( hasil perbuatan ) seseorang adalah berbentuk materi, seperti kekayaan, kecantikan atau ketampanan, jabatan, kehormatan dan sebagainya yang semata-mata diukur dari segi materi. Secara garis besar memang wujud karmaphala ada dua yaitu berbentuk fisik dan psikis( batin). Artinya hasil dari perbuatan tersebut dapat dirasakan secara langsung oleh badan jasmani melalui panca indria atau juga bisa memberikan suasana batin tertentu pada seseorang. Contoh: Jika seseorang pernah berbuat baik misalnya membantu orang yang jatuh di jalan , suatu saat ketika dia terjatuh di jalan akan ada orang lain yang menolong. Ini adalah phala secara fisik. Contoh lain mungkin ada orang yang suka menipu justru akan membuat hatinya tersiksa karena selalu was-was, selalu berprasangka bahwa tipu dayanya akan ketahuan oleh orang lain. Ini berarti secara psikis dia menderita. Pendidikan Agama Hindu 2/76

Wujud dari karmaphala yang akan diterima seseorang tidak dapat dipastikan. Artinya hasil karma tersebut bisa saja berbentuk fisik, atau psikis, ataupun kedua nya yaitu fisik dan psikis. Demikian pula kapan waktunya akan diterima seseorang atas perbuatannya juga merupakan rahasia Hyang Widhi. Yang jelas bahwa karmaphala itu ada dan akan hadir tepat pada waktunya. Diatas kedua wujud karmaphala di atas yang terpenting untuk menjadi tolok ukur atas hasil perbuatan seseorang adalah akibat dari wujud karmaphala tersebut. Artinya seseorang yang menerima karmaphala baik berwujud fisik maupun psikis apakah mengakibatkan adanya peningkatan kualitas sradha atau tidak. Apakah menyebabkan kebahagiaan atau penderitaan? Contoh : Seseorang yang mendapatkan uang sangat banyak dari hasil judi, diukur dari segi fisik tentu menyenangkan. Tetapi kemenangan itu justru menyebabkan dia semakin tergila-gila pada judi, suka berfoya-foya semata-mata memenuhi nafsu keinginannya. Suatu saat jika dia kalah berjudi maka kekesalan dan kemarahannya akan dilempahkan pada orang lain, seperti anak atau istrinya. Ini menunjukkan bahwa uang yang diperoleh dari hasil judi tersebut bukan karmaphala yang baik, karena akibat dari uang yang diterima terebut justrui menjerumuskan dirinya pada karma-karma yang lebih buruk. Contoh lain mungkin ada seseorang yang secara fisik cacat jasmani, tetapi dengan kekurangannya tersebut memberikan dia inspirasi dan kesadaran bahwa hidup ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan fisik, sehingga dia menjadi orang yang teguh sradha bhakti, serta senantiasa merasa tentram . Jadi cacat jasmani tersebut bukan hasil karma buruk tetapi merupakan hasil karma baik yang membawa kebahagiaan bagi dirinya. Seperti halnya seseorang minum obat pahit untuk kesembuhan dari penyakitnya. Kesimpulannya: Karmaphala yang baik adalah yang dapat meningkatkan kualitas sradha bhakti untuk mencapai kebahagiaan lahir batin ( moksartham jagat hita ) Karmaphala yang buruk adalah yang menyebabkan seseorang menderita lahir batin dan menurunkan kualitas sradha bhakti. D. Dampak karma bagi seseorang Setiap karma yang dilakukan setidak-tidaknya ada tiga akibat yang terjadi : 1. Karma akan memberi akibat atau balasan atas setiap perbuatan manusia. Baik atau buruk yang akan diterima sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya. 2. Karma akan memberi kesan tersendiri kepada pelakunya yang akan melekat pada pikiran pelakunya. Pendidikan Agama Hindu 3/76

akan Aku bawakan segala apa yang belum dimilikinya dan akan menjaga yang sudah dimilikinya. Prarabdha Karma 3. Meskipun kita menggolongkan karma tersebut seperti di atas tetapi dalam kenyataan sangat sulit bagi kita untuk mengidentifikasi setiap karma yang kita terima saat ini. Karma yang memberi kesan dan menjadi kepribadian jiwatman inilah yang merupakan karmawasana setiap orang. Kryamana Karma Sancitha karma adalah karma atau perbuatan yang dilakukan pada masa hidup di dunia baru akan menerima pahalanya setelah meninggal dunia Prarabdha karma adalah karma atau perbuatan seseorang yang pahalanya langsung diterima pada kehidupan ini. Apa yang seharusnya kita butuhkan pasti akan terpenuhi. Jika hal itu sudah dilakukan maka Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik bagi kita. kepada mereka yang senantiasa gigih demikian itu.3. Bisa saja merupakan pahala atas karma kita pada kehidupan terdahulu. Mengenai kapan waktu kita akan menerima pahala atas karma yang kita lakukan juga merupakan rahasia Ida sang Hyang Widhi. Oleh karena itu yang terbaik harus dilakukan adalah melaksanakan tugas sebaik-baiknya. Sanchita Karma 2. Pendidikan Agama Hindu 4/76 . E. Kramana karma adalah pahala yang diterima seseorang pada kehidupan ini atas hasil dari perbuatan ( karmanya ) pada kehidupan yang lampau. Kita harus yakin bahwa apapun yang kita alami pada kehidupan ini adalah hasil perbuatan diri sendiri. selalu melekat pada setiap kelahirannya. Laksanakan semua kewajiban sebagai yadnya dan bhakti kepada Ida sang Hyang Widhi. Karma akan membentuk kepribadian seseorang. Tiga Macam Karma Jika dilihat dari segi waktu hasil karma seseorang maka dapat digolongkan menjadi tiga macam yaitu : 1. atas pahala atas karma kita masa kini. sebagaimana wahyu Beliau dalam Kitab Bhagawad Gita Bab IX Sloka 22 : Mereka yang memuja-Ku dan hanya bermeditasi kepada-Ku saja. Manfaat kita mengetahui jenis-jenis karma tersebut adalah untuk meningkatkan sradha dan bhakti kepada Hyang Widhi. selalu berbuat kebaikan serta tetap yakin dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Bukan karena orang lain.

tumbuhan. pahala tersebut mungkin saja atas kebaikan Budi di waktu lalu Dalam kasus ini Andi adalah sebagai alat pembalas karma perbuatan Budi di masa lalu. Pahala karma bisa saja dirasakan melalui tangan manusia. c. atas perbuatannya menolong budi dia juga akan mendapat pahala atas karma tersebut. Meskipun manusia adalah alat pembalas karma. Setiap peristiwa karma yang melibatkan lebih dari satu manusia maka akan ada pihak penerima pahala atas karmanya dan ada pihak sebagai pembalas karma sekaligus pelaku karma untuk dirinya. Dalam peristiwa tersebut Budi menerima pahala dalam bentuk pertolongan dari Andi. d. sehingga disaat yang tepat kita akan menerimanya. tetapi semua itu akibat perbuatan manusia sendiri. Setiap karma yang terjadi akan menjadi penyebab untuk karma-karma berikutnya. Dalam peristiwa tersebut yang menjadi alat Tuhan untuk menyampaikan pahala atas karma tersebut adallah manusia ( orang lain). Meskipun Andi sebagai alat . Pelaksana Karmaphala Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa wujud karmaphala bisa berbentuk fisik bisa juga berbentuk psikis. tetapi juga sebagai alat untuk membalas karma orang lain. binatang. Pahala karma di dunia bisa diterima melalui tangan manusia atau alam lingkungan.F. serta bisa juga dari alam. Kesimpulannya : a. Bencana alam bukanlah hukuman Tuhan. Jika karma seseorang harus diterima setelah meninggal dunia maka atmannya akan menuju sorga atau neraka. Contoh sederhana mungkin suatu ketika kita menerima bantuan dari orang lain dimana pada waktu tersebut kita benar-benar memerlukan pertolongan tersebut. Misalkan Andi menolong Budi yang terjatuh dari sepeda motor. Sehingga manusia disamping akan menerima pahala atas karmanya. Demikian pula alam bisa saja sebagai alat pembalas karma. bukan berarti dia terbebas atas karma yang diperbuatnya itu tetapi pahala akan selalu mengikuti karma yang dilakukannya. Pahala atas karma seseorang dapat diterima di alam niskala ( sorga atau neraka ) juga bisa dinikmati pada saat hidup. Tetapi bagaimana bentuk pahala dari karma yang harus dinikmati pada kehidupan ini? Tentu saja akibat karma akan dirasakan oleh seseorang melalui interaksi dengan lingkungan. b. Itu adalah hasil karma kita yang mungkin kita sudah lupa kapan melakukannya. baik alam maupun sesama manusia. Kejadian ini buakanlah suatu kebetulan. Jadi setiap peristiwa karma yang melibatkan lebih dari satu orang maka dalam peristiwa tersebut ada dua jenis proses karma yang terjadi yaitu ada pihak yang menerima hasil karmanya dan ada orang yang yang berkarma dimana hasilnya belum diketahui kapan akan diterima. Pendidikan Agama Hindu 5/76 .

dan masih banyak lagi jenis-jenis perputaran kehidupan. Kemudian dalam Kitab Suci Bhagawad gita beberapa sloka menyiratkan secara jelas tentang punarbhawa . kemudian turun hujan dan kembali ke laut. ( BabII. kemudian meninggal maka akan mengalami perputaran untuk lahir kembali. Ada perputaran siang dan malam. ( Bab II. Jika kita perhatikan bahwa alam ini semuanya mengalami siklus ( perputaran ). perputaran rantai makanan. sloka 27). perputaran dari air laut mejadi awan. Untuk meningkatkan kualitas jiwatman maka setelah waktu tertentu jiwatman kembali kedunia dengan menggunakan badan jasmani yang baru. kematian sudahlah pasti dan pasti ada kelahiran bagi mereka yang mati. Pengertian sederhana adalah bahwa pada saat seseorang meninggal dunia maka jiwatman akan melepaskan badan jasmaninya ( stula sarira ). Bahkan planet-planet ini bisa stabil pada tempatnya karena berputar. sloka 22 ) Bagi seseorang yang lahir. menuju sorga atau neraka. Demikian juga manusia yang lahir.e. Dalam rangka meningkatkan karma baik maka pada saat berdoa mohonlah agar kita senantiasa menjadi alat pembalas karma yang baik. Proses jiwatman meninggalkan stula sarira kemudian lahir kembali menggunakan jasmani yang baru inilah disebut Punarbhawa. sloka 13 ) Bagaikan seseorang yang menanggalkan pakaian usang dan mengenakan pakaian lain yang baru. Intinya bahwa segala sesuatu di alam ini mengalami perputaran sehingga bisa stabil. remaja dan usia tua. demikianlah jiwatman yang berwujud mencampakkan badan lama yang telah usang dan mengenakan badan jasmani baru. ( Bab II. PUNARBHAWA Punarbbhawa atau tumimbal lahir atau samsara adalah bagian keempat dari Panca Sradha sebagai dasar keyakinan Umat Hindu. Dari pemahaman ini jelas bahwa manusia akan mengalami punarbhawa. G. Pendidikan Agama Hindu 6/76 . Orang bijaksana tak akan terbingungkan oleh hal ini. Untuk memahami dan meyakini hukum punarbhawa bisa kita lakukan secara logika maupun dengan meyakini Wahyu Tuhan melalui kitab-kitab suci. sehingga terhadap hal yang tak terrelakkan ini janganlah engkau berduka. demikian juga bila ia berpindah ke badan yang lainnya. tumbuh besar. antara lain : Seperti halnya sang jiwatman yang melewatkan waktunya dalam badan ini dari masa kanak-kanak. Perputaran waktu.

H. demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia. Hubungan Karmaphala dengan Punarbhawa Dalam Kitab Sarasamuscaya sloka 4 dikatakan : Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama. 2. Untuk berbuat baik kesempatan yang paling luas adalah bila menjelma menjadi manusia. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan terlahir sebagai binatang atau tumbuhan. sebabnya demikian.Masih banyak sloka-sloka lain yang menjelaskan tentang punarbhawa ini. karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara ( lahir dan mati berulang-ulang ) dengan jalan berbuat baik. Jadi bila manusia semasa hidupnya banyak berbuat baik maka kelahiran berikutnya akan meningkat kualitasnya. Berbuat baik ( Subha karma ) adalah cara untuk melepaskan diri dari keadaan samsara ( punarbhawa ). Jika digambarkan proses hidup manusia dan kelahirannya sampai bersatunya atman dengan brahman ( Brahman Atman aikyam) seperti di bawah ini : Ket : Gari tebal adalah kehidupan saat ini Garis tipis kehidupan kelahiran dengan kualitas meningkat yang menuju bersatunya Brahman Pendidikan Agama Hindu 7/76 . Dari sloka di atas ada dua point yang dapat kita petik penekannya yaitu : 1. Oleh karena itu setiap menjalani kehidupan kewajiban manusia adalah untuk meningkatkan Subhakarma sehingga setiap kelahiran berikutnya bisa meningkat kualitasnya sampai akhirnya tujuan hidup yaitu moksartham jagathita tercapai. Demikian juga bila semasa hidupnya banyak berbuat dosa maka kelahiran berikutnya akan menurun kualitasnya.

Kesimpulan : Gunakan hidup ini sebaik-baiknya untuk meningkatkan karma sehingga setiap kelahiran berikutnya bisa meningkatkan kualitas dan kesucian jiwatman.Garis putus-putus kehidupan kelahiran dengan kualitas menurun yang semakin jauh dari Brahman. Pendidikan Agama Hindu 8/76 .

Mampu mengklasifikasi unsur-unsur bhuana agung dan bhuana alit d. Brahmanda Purana. Agastya Parwa dan sebagainya. lalu ada. Mampu menjelaskan proses terciptanya bhuana agung dan bhuana alit. Mampu menguraikan hubungan bhuana agung dan bhuana alit Uraian Materi A. bumi dengan segala isinya ini yang disebut bhuana agung. atau brahmanda. b. Jadi semua yang ada di alam semesta ini termasuk gugusan bintang. dari jenjang yang amat halus dan tidak berwujud ( gaib / niskala ) sampai pada jenjang yang berwujud dan sangat kasar ( nyata / sekala ) Pendidikan Agama Hindu 9/76 . demikian seterusnya berulang-ulang. Bebrapa peneliti dan ilmuwan mencoba untuk membuat teori tentang penciptaan alam semesta tetapi tidak satupun dapat memastikan kapan alam ini tercipta. sangat sulit dipastikan. mengingat keterbatasan kemampuan dan umur manusia. c. Istilah lainnya adalah jagat raya. matahari. Kapan sesungguhnya alam semesta ini tercipta. Mampu menjelaskan proses pralaya. kemudian tidak ada lagi. Masa Srsti digabungkan dengan masa Pralaya disebut satu Kalpa atau satu hari Brahman. Pada saat alam semesta ini meng”ada” disebut masa “Srsti “ atau “ Brahma diwa “ ( siang hari Brahma ). BHUWANA AGUNG Pengertian Bhuana Agung artinya alam raya ( besar ). Penggambaran jagat raya termasuk proses penciptaannya banyak diuraikan dalam beberapa kitab suci Hindu Seperti Brhad Aranyaka Upanisad. Sedangkan pada waktu alam ini meniada disebut “Pralaya” atau “Brahma nakta” ( malam hari Bharma ).BAB II ALAM SEMESTA Standar Kompetensi Memahami proses penciptaan dan pralaya alam semesta Tujuan Akhir Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan : a. Proses dari tidak ada menjadi ada alam semesta ini berlangsung secara berjenjang. Menurut Ktab-kitab suci Hindu teori penciptaan jagat raya banyak diuraikan yang jika dicermati dan dipelajari dengan penuh keyakinan maka alam semesta ini mengalami keadaan dimana jagat raya ini pernah tidak ada. makrokosmos. planet.

Purusa adalah unsur dasar kejiwaan atau rohani. 4. proses terciptanya alam semesta dapat digambarkan sebagai berikut : 1. Sattwam. yaitu benih kejiwaan yang bersifat kedirian atau individu. yaitu unsur kejiwaan tertinggi yang berfungsi untuk menentukan keputusan. Bab XIII sloka 20. 2. Budhi bersifat sattwam sehingga setiap keputusannya bersifat bijaksana. Pendidikan Agama Hindu 10/76 . Purusa dan prakirti keduanya sangat halus dan tidak bisa diamati. Dari Unsur Prakirti lahirlah Triguna yaitu. semua zat pada meleleh kemudian menguap. Pada kondisi seperti ini beliau disebut Paramasiwa atau Nirguna Brahman. 3. Tuhan Paramasiwa atau Nirguna Brahma menjadikan diri-Nya Sada Siwa ( Saguna Brahma ) yang berwujud Purusa dan Prakiti . Sattwam adalah unsur yang bversifat terang dan tenang. 6. 5. Pada saat alam ini tidak ada Tuhan menarik kembali semua manifestasi beliau di alam kemudian menjadikan diri dalam wujud sepi. 3.Pralaya Pralaya adalah masa dimana alam semesta ini tidak ada.Hal ini disebutkan dalam Bhagawad Gita. Semua mahluk hidup mati dan hancur. Dari sebaran api yang sangat dahsyat ini menyebabkan semua zat cair menguap. Rajas unsur yang memiliki sifat dasar dinamis dan aktif. Padamulanya Unsur Sattwam yang mendominasi maka lahirlah yang disebut Mahat yang berarti Maha Agung. Rajas. Alam jagat raya dipenuhi hawa panas kemerahan dan dentuman halilintar yang sambung-menyambung dengan dahsyat. 2. Srsti Setelah alam ini tidak ada pada masa pralaya . Sedangkan Tamas adalah unsur yang meiliki sifat dasar gelap dan berat 4. Unsur-unsur Panca Maha Bhuta kembali menjadi atom yang amat halus sekali. Selanjutnya alam semesta menjadi tidak ada selama satu kalpa atau kurang lebih 432 juta tahun manusia. Alam citta yang pertama muncul adalah Buddhi. 6. sedangkan prakirti adalah unsur dasar kebendaan atau jasmani. manah dan ahamkara yang tercipta secara berurutan. kosong dan hampa. tanpa permulaan dan tanpa akhir. Dimulai dari hancurnya ikatan api atau matahari yang kemudian menyebar keseluruh alam semesta. Proses pralaya menurut beberapa kitab suci Hindu digambarkan sebagai berikut . Dari Buddhi selanjutnya lahir Ahamkara. 5. 1. dan Tamas. Fungsinya adalah untuk merasakan. Perpaduan Purusa dan Prakirti menyebabkan Triguna tidak seimbang. Dari Mahat terciptalah alam Citta yang didalamnya terdiri dari tiga unsur yaitu Budhi. 7.

yang terdiri dari Panca Buddhindriya terdiri dari . Akasa ( ether atau ruang ) b. Rasa Tanmatra ( sari rasa ) e. Upasthendriya / Bhagendriya ( rangsang penggerak kelamin ) 10. Granendriya ( rangsang pencium ) Panca Karmendriya terdiri dari. terdiri dari: a. Evolusi berikutnya dengan pengaruh triguna dengan imbangan yang berbeda terciptalah Dasendriya . yaitu akal atau pikiran yang berfungsi untuk berpikir. a. Sparsa Tanmatra ( sari rabaan ) c. Prthiwi ( zat padat ) 12. Srotendriya ( rangsang pendengar ) b. Ganda Tanmatra ( sari bau ) 11. Twakindriya ( rangsang perasa ) c. Dari Panca Tanmatra selanjutnya muncul Panca Maha Bhuta . yaitu lima macam unsur zat alam yang bersifat kasar. Teja ( api ) d. Padendriya ( yangsang penggerak kaki ) d. Rupa Tanmatra ( sari warna ) d. Apah ( zat cair ) e. Selanjutnya dari Ahamkara lahirlah yang disebut Manas. Dari Panca Maha Bhuta inilah kemudian berkembang menjadi alam semesta beserta isinya yaitu mahluk hidup yang ada di bumi termasuk manusia. a. Caksundriya ( rangsang penglihatan ) d. Panindriya ( rangsang penggerak tangan ) c. Selanjutnya lahirlah Panca Tanmatra yaitu lima unsur zat yang sangat halus terdiri dari : a. Jihwendriya ( rangsang pengecap ) e. Payundrita ( rangsang penggerak pelepasan ) e.8. Garbhendriya ( rangsang penggerak perut ) b. 9. Pendidikan Agama Hindu 11/76 . Wayu ( hawa atau udara ) c. Sabda Tanmatra ( sari suara ) b. Dari uraian di atas jelaslah bahwa semua yang ada di alam ini mengalir dan lahir dari Tuhan dan pada saatnya nanti akan kembali lagi ke dalam tubuhNya yang menjadi kosong dan hampa.

Jika digambarkan dalam skema maka proses terciptanya alam semesta sebagai berikut : Ida Sang Hyang Widhi Purusa Prakirti / Pradana Memiliki Triguna Mahat Citta Buddhi Ahamkara Manah Dasendriya Panca Tanmatra Panca Maha Butha Brahmanda Pendidikan Agama Hindu 12/76 .

Rasa tala Lebih dalam dari sapta patala masih terdapat dua lapisan lagi yaitu : a. Lapisan bumi menuju ruang jagat raya disebut Sapta Loka. oleh karena itu proses penciptaan sama termasuk unsur-unsur pembentukannya. 5. 3. hewan dan tumbuhan. Mahatala 5. manusia. Loka terdiri dari : Bhur loka ( alam manusia ) Bhuwah loka ( alam pitara ) Swah Loka ( alam dewa ) Maha loka Jana loka Tapa loka Satya loka ( ruang vakum= Nirguna Brahma ) Sapta Patala Sapta patala adalah lapisan bumi dari permukaan sampai dengan inti bumi. 7. Balagarba maha naraka ( ruang perantara di dalam bumi ) b. BHUWANA ALIT Pengertian Bhuwana alit sering juga disebut Mikrokosmos adalah alam kecil atau dunia kecil yaitu isi dari alam semesta. 4. Kalagni Rudra ( ruang inti bumi ) B. Sutala 6. Lapisan-lapisan ini berdasarkan kuat atau lemahnya pengaruh Panca Maha Bhuta. Patala ( kulit bumi ) 2. 6. Watala 3. Setelah tercipta Brahmanda-brahmanda termasuk bumi maka selanjutnya diciptakanlah mahluk hidup yang berawal dari mahluk hidup yang terrendah sampai dengan mahluk hidup yang tertinggi.Sapta Loka Bumi sebagai salah satu Brahmanda hasil pembentukan Panca Maha Bhuta memiliki lapisan-lapisan. Sapta 1. Tala-tala 7. terdiri atas : 1. Hanya saja ada perbedaan perkembangan penciptaannya sesuai perimbangan triguna. Nitala 4. Asal mula atau proses penciptaan bhuwana alit Bhuwana alit adalah bagian dari bhuwana agung. Pendidikan Agama Hindu 13/76 . 2. seperti.

Terakhir dengan perimbangan satwam. Swedaya yaitu binatang bersel Satu. Purusa yaitu atman sebagai sumber kehidupan 2. Manusia memiliki unsur : 1. 4. Bayu adalah kekuatan nafas. 2. Kelompok Eka Pramana Yaitu mahluk hidup yang hanya memiliki satu kekuatan dalam hidupnya yaitu Bayu. Mahluk ini dikenal dengan nama Satwa atau Sato. Sabda adalah kekuatan suara dan Idep kekuatan pikiran. Andaya yaitu binatang bertelur. Gulma adalah bangsa tumbuhan yang bagian luar pohon berkayu keras dan bagian dalam berongga atau kosong. Bayu. Kelompok Dwi Pramana Adalah mahluk hidup yang memiliki dua kekuatan hidup yaitu Bayu dan Sabda. Jangama yaitu tumbuhan yang hidupnya menumpang pada pohon lain. Sabda dan Idep. Trna yaitu bangsa rumput baik yang hidup di air maupun di darat. Baik unsur terhalus sampai unsur paling kasar. tamas yang sesuai dan seimbang tercipta Kelompok Tri Pramana atau manusia. 2. dengan sifat tamas yang mendominasi terciptalah kelompok Eka Pramana atau tumbuh-tumbuhan. 3. Kelompok Tri Pramana Adalah mahluk hidup yang memiliki tiga kekuatan hidup yaitu. Termasuk dalam golongan Sthawara adalah : 1. Yang membedakan antara manusia yang satu dengan yang lain adalah komposisi dan perimbangan unsur-unsur pembentukannya serta karmawasana yang telah dibentuknya. Mahluk ini disebut juga Manusya. Diantara mahluk hidup hanya manusialah yang memiliki semua unsur ciptaan Tuhan secara lengkap. 3. Pradana terdiri dari : Pendidikan Agama Hindu 14/76 . Lata adalah tumbuhan menjalar di tanah atau di pohon. 5. rajas. Jarayuja yaitu binatang menyusui. Selanjutnya jika semua unsur penciptaan tersebut lebih banyak guna rajas maka terciptalah kelompok Dwi Pramana atau hewan/ binatang. Mahluk hidup ini juga dikenal dengan nama Sthawara yaitu mahluk hidup yang tidak berpindah-pindah seperti tumbuhan. Taru yaitu semak dan pepohonan.. Adapun yang tergolong dalam Sato adalah : 1.Dari proses penciptaan Purusa dan prakirti dengan unsur-unsurnya sampai panca maha bhuta.

Odwad ( Otot ) 3). Annamaya kosa yaitu badan dari sari makanan 2). Jiwatman inilah yang selalu mengalami reinkarnasi jika selama bersatu dengan stula sarira sebagai manusia hidup di dunia belum berhasil melepaskan ikatan-ikatan karma untuk mencapai moksa yaitu bersatunya Atman dengan Brahman. Pranamaya Kosa yaitu badan dari sari nafas. b. Asti ( tulang) 2). Sad Kosa terdiri dari : 1). Wijnanamaya Kosa yaitu badan dari sari pengetahuan. 3). Hubungan itu dapat diuraikan minimal sebagai berikut : 1. Sumsum ( sumsum) 4). Stula sarira yang berasal dari unsur Panca Maha Bhuta. sloka 6. manah. Suksma sarira dari unsur Cita. Mamsa ( daging). Rudhira ( darah ) 6). 5). dan Panca Tanmatra. budhi. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Ida Sang Hyang Widhi pada masa Srsti dan akan kembali kepada-Nya pada masa pralaya. Bhuwana Agung dan bhuwana alit diciptakan oleh pencipta yang sama. Bentukan hasil karma manusia antara suksma sarira dengan stula sarira menghasilkan Panca Maya Kosa yaitu lima lapisan halus badan manusia. Dasendria.a. Dari hasil karma dan konsumsi makanan manusia membentuk Sad Kosa yaitu enam lapis pembungkus stula sarira. 5). 2. Carma ( kulit ) C. sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Bhagawad Gita Bab VII. Manomaya Kosa yaitu badan dari sari pikiran. Panca Maya Kosa terdiri dari : 1). HUBUNGAN BHUWANA AGUNG DENGAN BHUWANA ALIT Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit memiliki hubungan yang sangat erat satu sama lain. Bhuwana Agung dan bhuana alit memiliki unsur-unsur yang sama. 4). Pendidikan Agama Hindu 15/76 . Anandamaya Kosa yaitu badan dari sari kebahagiaan Suksma sarira yang dihidupi dengan unsur purusa ( atman ) disebut jiwatman. ahamkara.

Skema itu dalat digambarkan sebagai berikut : Pendidikan Agama Hindu 16/76 .Dalam proses penciptaan meskipun ada perbedaan waktu antara penciptaan alam semesta dengan mahluk yang ada di dalamnya . tetapi unsur-unsur pembentukannya adalah sama.

Pendidikan Agama Hindu 17/76 . Alam dilengkapi untuk kehidupan dan perkembangan mahluk hidup dan mahluk hidup memiliki kemampuan untuk mengatur alam. Manah 4. Citta 2. Brahmanda Sapta Loka Sapta Patala Bhuwana Alit 1. Panca Maha Bhuta 9.Brahman ( Nirguna Brahma ) melaksanakn Tapa Nirguna Brahma ( Sada Siwa ) Purusa Prakirti ( pradhana ) Bhuwana Agung 1. Panca Tanmatra 7. Ahamkara 5. Ahamkara 5. Untuk alam ditata dan diatur dengan hukum alam. seperti rotasi bumi dan matahari. Parama Anu 8. Dasendriya 6. Benih (Sukla/Swanita) Manusia 3. Parama Anu 8. Panca Tanmatra 7. Manah 4. Proses saling melengkapi ini telah diatur dengan hukum Tuhan ( Rta ). Panca Maha Bhuta 9. Bhuwana agung dan bhuawana alit saling melengkapi. Citta 2. siklus perputaran musim dan sebagainya. Buddhi 3. Mahluk hidup diciptakan berada dan berkembang pada alam semesta. Sedangkan manusia ditata dan diatur dengan hukum karma yang didalamnya dibekali ilmu pengetahuan dan ajaran agama. Buddhi 3. Dasendriya 6. siklus perputaran air ( hidrologi ).

Karena bhuana agung dan bhuana alit memiliki unsur-unsur yang sama maka dalam proses hubungannya akan saling mempengarui. 4. perputaran planet-planet ini mempengaruhi posisi kedekatan dengan bumi. Matahari serta planet-planet di semesta memiliki jenis guna yang berbeda-beda. Masing-masing posisi ini akan memberikan pengaruh yang berbeda pada manusia di bumi. Manusia menciptakan berbagai alat untuk menyesuaikan diri dengan kondisi alam. Pribadi. Sehingga di Bali kita mengenal pedewasan ( hari baik/buruk untuk aktivitas tertentu) yang bersumber pada pengaruh guna masing-masing posisi planet tersebut. Contoh sederhana manusia menciptakan kalender untuk pengaturan bercocok tanam bagi masyarakat agraris. Alam memiliki musim maka manusia akan mengatur hidup dan fisiknya menyesuaikan dengan musim yang ada. budaya masyarakat serta kegiatan fisik manusia sangat dipengaruhi oleh alam. Penggunaan zat kimia yang merusak lapisan ozon dan polusi dari hasil pembakaran yang dilakukan manusia menciptakan rumah kaca sehingga terjadi pemanasan global. Bhuana agung dan bhuana alit saling mempengaruhi.Dengan demikian alam akan melengkapi kebutuhan manusia dan manusia akan melengkapi isi alam. Alam memiliki unsur Triguna juga akan mempengaruhi semua pribadi dan aktivitas manusia. Kondisi sekarang dengan ulah sebagian manusia yang merusak alam dan membabat habis hutan menyebabkan rusaknya siklus perputaran air. Sebaliknya segala aktivitas manusia juga dapat mempengaruhi kondisi alam. Pembangunan yang tidak memperhitungkan tata lingkungan menyebabkan bencana alam banjir dan kebakaran. Intinya bahwa aktivitas manusia dipengaruhi oleh alam dan sebaliknya juga hasil aktivitas manusia tersebut akan mempengaruhi alam Pendidikan Agama Hindu 18/76 .

dan seterusnya hingga kelompok negara bahkan dunia. d. Kepemimpinan dalam Hindu banyak dijabarkan dalam berbagai kitab antara lain Kitab Arthasastra. setiap orang perlu mempelajari kepemimpinan. Dengan memiliki idep ( pikiran ) maka manusia dalam hidupnya selalu memiliki tujuan serta memiliki upaya untuk mencapai tujuan tersebut. sebab setiap orang suatu saat pasti akan menjadi pemimpin. kantor. PENDAHULUAN Manusia adalah mahluk paling sempurna yang diciptakan Hyang Widhi di muka bumi dengan memiliki tri pramana yaitu sabda.BAB III KEPEMIMPINAN Standar Kompetensi Memahami hakekat kepemimpinan Hindu Tujuan Pembelajaran akhir Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan : a. Tujuan yang bersifat individu adalah sesuatu yang ingin dicapai secara pribadi bagi diri sendiri. Kelurahan/Desa. bayu dan idep. Mampu menguraikan Teori dasar kepemimpinan. Mampu menguraikan konsep dasar kepemimpinan menurut ajaran Hindu. Dalam usaha mencapai tujuan kelompok/organisasi tersebut perlu adanya pemimpin yang akan mengarahkan dan membawa kelompoknya untuk mencapai tujuan. Semua kelompok ini dari kelompok yang terkecil hingga yang terbesar memiliki tujuan tertentu. Mampu neneladani sifat-sifat kepemimpinan Hindu. Kelompok ini bisa dalam lingkungan rumah tangga. Mampu menjelaskan pentingnya mempelajari ilmu kepemimpinan. Raja Dharma. serta Kautalira Arthasastra. Kemampuan dalam hal memimpin suatu organisasi ini disebut kepemimpinan/ Leadership. c. atau Raja Niti. Ilmu kepemimpinan tidak saja diperlukan oleh pemimpin kelompok atau organisasi. RT.RW. Kitab ini dikenal juga dengan nama Danda Niti. URAIAN MATERI A. Minimal akan menjadi pemimpin dalam keluarga. keluarga. bahkan untuk mencapai tujuan secara pribadi kita harus dapat memimpin diri sendiri. serta organisasi sosial lainnya. Tujuan manusia bisa bersifat individu maupun kelompok. Kelompok dalam hal ini juga termasuk lingkungan profesi. Disisi lain manusia adalah mahluk sosial yang hidup dalam kelompok tertentu. Agar usaha seorang pemimpin berhasil menghantarkan kelompok/organisasi yang dipimpinnya mencapai tujuan maka diperlukan kemampuan untuk memimpin. b. Kitab ini berisi tentang ilmu Pendidikan Agama Hindu 19/76 .

Banyak teori dan konsep modern tentang kepemimpinan. pertimbangan atau kebijakan. serta kelebihan tertentu dari bawahannya memiliki Kelebihan-kelebihan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin antara lain : Pendidikan Agama Hindu 20/76 .menjadi kata benda “pemimpin” yang artinya orang yang berfungsi memimpin atau menuntun atau orang yang membimbing. Sedangkan sastra artinya perintah. dari kata Niti dan Sastra. Kata pimpin medapat awal pe. Istilah lain tentang kepeminpinan adalah Leadership. Sumber lain tentang kepemimpinan Hindu juga tertuang dalam Itihasa Mahabarata dan Ramayana. Jadi Nitisastra artinya ajaran tentang kepemimpinan. oleh karena itu penerapan konsep kepeimpinan juga berbeda dengan hasil yang berbeda pula. Di Indonesia dalam Kitab Nagara Kertagama disusun oleh Empu Prapanca juga memuat tentang kepemimpinan Hindu. Dalam berbagai kitab nitisastra banyak mengulas tentang kepemimpinan suatu masyarakat atau tata pemerintahan. Selanjutnya kata pemimpin ditambah awalan ke. dalam bukunya Principles of Management menyebutkan bahwa kepemimpinan adalah keseluruhan aktivitas untuk mempengaruhi serta menggiatkan orang dalam usaha untuk mencapai tujuan. Keberhasilan seorang pemimpin tidak saja ditentukan oleh penguasaan terhadap ilmu memimpin tetapi juga ditentukan oleh karakter atau pribadi pemimpin tersebut. namun inti dari semua teori itu adalah sama yakni bertujuan agar seorang pemimpin berhasil membawa kelompoknya mencapai tujuan yang diinginkan. Untuk keberhasilan tersebut maka seorang pemimpin harus kemampuan. B. PENGERTIAN Kepemimpinan berasal dari kata pimpin yang artinya bimbing atau tuntun. ajaran. aturan atau teori. Dalam kaitan ini Nitisastra juga dapat diartikan sebagai konsep penataan pemerintahan dan pembangunan negara. Dalam kaitan perbedaan karakter pribadi ini Howart W. Di Bali beberapa lontar juga memuat tentang konsep kepemimpinan Hindu.pemerintahan Hindu yang disusun oleh Maha Rsi Kautilya atau dikenal juga dengan nama Maha Rsi Chanakya. Menurut Gorge Terry. Menurut Hindu diberi istilah Nitisastra. dalam bukunya The Art of Leadership mengatakan bahwa kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau manusia sehingga tergerak untuk mengikuti kemauannya dengan ikhlas dalam rangka mencapai tujuan bersama. Heyt.dan akhiran –an menjadi kata sifat yaitu sifat-sifat atau kemampuan seorang pemimpin. Dalam hal ini karakter dan pribadi setiap pemimpin adalah berbeda. pengetahuan. Nitisastra berasal dari Bahasa Sansekerta. politik. Niti artinya pemimpin.

3. TUJUAN KEPEMIMPINAN HINDU Sebagaimana tujuan hidup menurut konsep Hindu yaitu moksartham jagat hita. 3. Catur Purushartha yaitu empat tujuan hidup manusia yang utama yaitu . 2. FUNGSI. Kelebihan dalam bidang rohaniah.1. Artha yang diperoleh berdasarkan dharma digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup ( kama). Artha. C. D. Jadi sangatlah keliru jika harta yang telah diperoleh dengan Dharma hanya digunakan untuk memenuhi keinginan ( kama ) di luar hukum dharma. TUGAS DAN WEWENANG PEMIMPIN. Dharma. Selanjutnya kebutuhan hidup yang utama harus dicapai adalah moksa / kebahagiaan. maka kepemimpinan Hindu bertujuan agar seorang pemimpin dapat menghantarkan kelompok. Tugas dan wewang pemimpin adalah : 1. Seorang pemimpin disamping memiliki tugas dan tanggung jawab dia juga warus memiliki wewenang untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya tersebut. Direkting / Penanggung jawab pelaksana Pendidikan Agama Hindu 21/76 . Dalam rangka mencapai tujuan tersebut maka konsep Catur Purusha Artha menjadi landasan. Kelebihan dalam menggunakan rasio atau pikiran. Berlandaskan Dharma kemudian mencari artha ( materi ). masyarakat atau negara yang dipimpinnya mencapai keadaan bahagia lahir dan batin. 2. Pengertiannya adalah bahwa dalam mencapai tujuan tertinggi yaitu moksa ( kebahagiaan tertinggi). Organisation / Penataan Seorang pemimpin memiliki tugas untuk mampu menata dan menempatkan anggota /orang-orang dibawah pimpinannya pada tugas dan fungsi yang tepat sesuai dengan tingkat pengetahuan dan kompetensinya. Planning / Perencana Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk merencanakan segala sesuatu yang harus dikerjakan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kama dan Moksa. harus diawali dengan menjalankan Dharma ( kebenaran agama). Kelebihan dalam bidang jasmaniah.

Setiap bagian dalam organisasi memiliki keterkaitan dengan bagian yang lain. 4. artinya seorang pemimpin harus memberikan pencerahan dan penerangan bagi rakyatnya. serta menjadi simbol semangat dan kekuatan hidup bagi negerinya. Surya Brata. terdiri dari : a. Tidak melupakan bahwa raja juga berasal dari rakyat biasa. Coodination / Koordinasi Pemimpin bertugas untuk mengkoordinir semua anggota agar dapat bekerjasama sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. E. Seorang pemimpin harus mampu memberikan kemakmuran pada rakyatnya.Pemimpin bertanggung jawab dan berusaha agar rencana yang telah ditetapkan dapat berhasil dengan baik. sebagaimana hujan yang berasal dari air laut menguap keatas menjadi awan. Asta Brata Asta Brata adalah ajaran Sri Rama Kepada Gunawan Wibisana pada saat akan menjadi Raja Alengka Pura setelah Rahwana mati. sertinya seorang pemimpin harus adil dalam menegakkan hukum dan peraturan. penguasa hujan. Yama Brata. Oleh karena itu tiap bagian tidak dapat bekerja sendiri harus ada koordinasi dengan bagian yang lain. artinya seorang pemimpin harus memiliki sifat seperti Dewa Indra. Indra Brata. 5. d. artinya sebagaimana sifat bulan. b. Pengawasan yang lemah serta tidak ada evaluasi maka dapat dipastikan bahwa tujuan tidak akan dapat tercapai. seorang pemimpin harus memberikan keteduhan dan rasa aman dan nyaman bagi rakyatnya. sehingga tujuan dapat tercapai dengan baik. Pendidikan Agama Hindu 22/76 . kemudian menjadi hujan. Dalam kaitan ini pemimpin harus memiliki kepekaan atas segala masukan positif dari bawahan. KEPEMIMPINAN HINDU Dalam ajaran Hindu banyak konsep-konsep serta pedoman-pedoman yang harus menjadi tuntunan bagi seorang pemimpin. Candra Brata. Controlling / Pengawasan Setiap pelaksanaan tugas yang didelegasikan kepada bawahan harus diawasi dan dievaluasi oleh pimpinan. Ajaran tentang kepemimpinan Hindu antara lain : 1. Asta Brata artinya delapan sikap mental seorang pemimpin yang merupakan cerminan dari delapan sifat dewa. c.

tetapi harus mengetahui secara detail terutama kondisi rakyat jelata.e. artinya pemimpin harus berani dan pantang mundur menghadapi segala tantangan. tidak boros dan tidak korupsi. h. Baruna Brata. pengangguran. Kuwera Brata. maka seorang pemimpin harus mengetahui segala keadaan rakyatnya. kejahatan dan sebagainya. f. sebagaimana sifat angin selalu ada dimana-mana dan bergerak ke segala arah. Pemimpin tidak hanya duduk di singgasana. g. artinya seorang pemimpin harus dapat membersihkan segala penyakit masyarakat seperti kemiskinan. Agni Brata. artinya seorang pemimpin harus dapat mengelola keuangan secara tepat. atau dibalik meja . Pendidikan Agama Hindu 23/76 . Bayu Brata.

f. i. Sumantri. l. Panca Upaya Sandhi Pendidikan Agama Hindu 24/76 . teguh iman. Sad Warnaning Rajaniti Artinya enam sifat utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Tansatrsna. Satya bhakti prabhu. teguh hati dalam segala usaha. artinya memiliki kreativitas yang tinggi untuk memajukan kepentingan masyarakat. Aksudra Parisatha. k. b. memiliki moral yang luhur. j. Wagmiwak. Wijayana. artinya mampu memimpin sidang dan mengambil keputusan yang bijaksana. Dibyacitta. artinya memiliki kemampuan mengontrol bawahan sekaligus memperbaiki hal-hal yang dipandang kurang baik. Sifat-sifat inilah yang menjadi pedoman Maha Patih Gajah Mada sehingga berhasil mengawal Majapahit jaya. m. artinya mampu membersihkan musuh-musuh negara. Utsaha. b. Teulelana. Panca dasa Pramiteng Prabu terdiri dari : a. menyayangi isi alam. yaitu sabar dan rendah hati. g. yaitu pandai berkomunikasidan diplomasi. Sarjawa upasama. d. Dhirotsaha. artinya menjadi penasehat dan abdi negara yang baik. 3. hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Abhigainika yaitu mampu menarik perhatian yang positif dari masyarakat. yaitu mendapat kepercayaan dari bawahan. 4. optimis dan antusias. Sakya Samanta. Prajna. yaitu bijaksana dalam memimpin. artinya bijaksana c. e. yaitu pembrani dalam membela negara. c. h. d. n. Nayaken Musuh. f. Wicaksanengnaya. bangsa dan negara. mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau golongan. toleransi dan menghargai pendapat orang lain. Mantri Wira. Natangguan. Ginengpatigina. Panca Dasa Pramiteng Prabu Adalah 15 ( lima belas ) sifat kepemimpinan yang ditulis oleh Empu Prapanca dalam Kitab Nagara Kertagama. o. e. yaitu setia dan taan pada atasan. Atma sampad.2. Masihi samasta bhuwana. terdiri dari : a. yaitu penuh pertimbangan dan jeli dalam menghadapi setiap masalah.

artinya melaksanakan upaya penyelesaian sesuai dengan solusi yang telah ditetapkan. Tugas dan fungsi seorang pemimpin adalah mampu untuk merencanakan (planning) . yaitu pemberani dan pantang menyerah. Sama upaya. f. yaitu memiliki sifat mulia dan luhur. Wira Sarwa Yudha. e. dan data yang akurat. menata ( organisation). artinya kemampuan untuk mengumpulkan data-data permasalahan yang belum jelas kedudukannya. d. 5. Wiweka. Panca Upaya Sandhi. Wikrama. bijaksana dan memiliki berbagai ilmu pengetahuan. Pradnya Widagda. terdiri dari : a. dan mengawasi ( kontroling). Asta Brata. artinya setiap tindakan yang diambil harus berdasarkan pertimbangan akal sehat. yaitu tidak pamrih pada harta benda. Upeksa. memimpin langsung ( direkting ). Panca Dasa Pramiteng Prabu. Panca Upaya Sandhi tersurat dalam lontar Siwabudha Gama Tattwa. e. Lagawangartha. b. yaitu tahu cara mengatasi kerusuhan. Dalam ajaran Hindu berbagai sifat dan syarat kepemimpinan antara lain. Indra Jala. b. g. Logika. yaitu pandai berbicara di depan umum dan pandai berdiplomasi. Sad Warnaning Rajaniti. yaitu memiliki kemampuan membedakan yang benar dan salah. tidak berdasarkan emosi. h. Dhirotsaha. Pragiwakia. Paramartha. d. yaitu tekun dan ulet. c. Pendidikan Agama Hindu 25/76 . c. i. Rangkuman Kepemimpinan adalah sifat dan prilaku pemimpin dalam upaya membawa kelompok atau masyarakat yang dipimpin menuju cita-cita atau tujuan bersama yang telah ditetapkan. yaitu teguh pendirian . Nawa Natya Artinya sembilan sikap teguh dan pekerti seorang pemimpin. dan Nawa Natya. Maya. terdiri dari : a. yaitu Selalu setia pada janji.Artinya lima cara seorang pemimpin untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah. Keberhasilan seorang pemimpin tergantung pada kemampuan ilmu kepemimpinan yang dimiliki serta kemampuan secara pribadi dalam mempedomani dan mengaktualisasikan syarat-syarat kepemimpinan. artinya upaya untuk mencari solusi pemecahan masalah yang ada. Wruh ring sarwa bastra. mengkoordinasikan ( coordination). artinya menganalisa data-data yang telah dikumpulkan kemudian mengklasifikasi data secara proporsional.

TUJUAN DAN FUNGSI DHARMA GITA Dharma gita adalah hasil kreasi budaya luhur umat Hindu. Pelengkap pelaksanaan Upacara Agama ( Yadnya ) Dalam pelaksanaan upacara agama. estetika dan etika moral dalam Dharma Gita.  Menyanyikan Dharma Gita yang mengandung nilai-nilai budaya. dan etika moral dalam Dharma Gita. PENGERTIAN Dharma gita adalah suatu nyanyian kebenaran yang dinyanyikan dalam pelaksanaan upacara Agama Hindu. termasuk dalam hal ini Dharma Gita. A. jadi jelas bahwa Dharma Gita sebagai pelengkap Upacara Yadnya. Oleh karena itu maka seni dan budaya masyarakat Hindu tetap dijaga dan dikembangkan tetapi nilai-nilai ajaran kebenaran tetap mewarnainya. Dalam konsep Hindu bahwa seni budaya merupakan sarana untuk meningkatkan cipta dan rasa dalam rangka meningkatkan sradha bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi. dan suara gamelan. yaitu lima jenis suara dalam Upacara Yadnya. Kidung tergolong juga salah satu Dharma Gita. Pendidikan Agama Hindu 26/76 . B. Umat Hindu dimana saja termasuk di Indonesia memiliki Dharma Gita sesuai dengan budaya setempat. Dari pemahaman di atas tujuan dan fungsi Dharma Gita adalah : 1. Jawa. Pujian kebesaran Hyang Widhi beserta seluruh ciptaannya 2. suara mantra. suara kul-kul ( kentongan). Panca Paginda terdiri dari. demikian juga di Indonesia Dharma Gita memiliki ragam yang berbeda untuk Daerah Bali. 4. Lombok dan sebagainya. suara kidung ( Dharma Gita ). estetika. Kalimantan .BAB IV DHARMA GITA Standar Kompetensi Memahami nilai-nilai budaya dalam Dharma Gita Tujuan Akhir Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan mampu :  Menguraikan nilai-nilai kebenaran. Kisah-kisah sejarah kepahlawanan ( itihasa ). Oleh karena itu setiap kegiatan ritual pemujaan kepada Hyang Widhi seni budaya menyatu di dalamnya. Petuah-petuah luhur sebagai ajaran moral bagi umat Hindu 3.  Menunjukkan contoh-contoh nilai kebenaran. ( khususnya di Bali ) ada yang namanya Panca Paginda. Di India Dharma gita tentu saja memiliki irama khas India. Cerita-cerita/dongeng yang berisi ajaran kebenaran. Secara umum materi dari Dharma gita biasanya berisi tentang : 1. suara genta/bajra.

Hal ini disebabkan karena syair-syair Dharma Gita sesuai dengan jenis Upacara Yadnya yang dilaksanakan. c. Setelah penyebaran Hindu semakin meluas di nusantara maka budaya-budaya lokal mewarnai kegiatan upacara/Yadnya termasuk Dharma gita. serta konsentrasi pemujaan kepada Hyang Widhi. Kekawin/Kidung/Tembang Pendidikan Agama Hindu 27/76 . Beberapa contoh Dharma Gita : a. Sarana ajaran moral Disamping untuk kegiatan upacara / yadnya Dharma Gita juga mengandung nasihat-nasihat tentang kesusilaan sehingga dapat dikatakan bahwa dharma gita juga sebagai sarana untuk pendidikan moral bagi masyarakat. oleh karena itu pengelompokan Dharma gita lebih banyak mengacu pada budaya Bali. seperti di Jawa pada setiap kegiatan upacara dilantunkan tembang-tembang jawa . 4. Sloka Biasanya terdiri dari empat baris dalam satu bait dengan jumlah suku kata yang sama setiap barisnya. Dalam membaca dan melantunkan irama ditentukan pada intonasi serta ketepatan pengejaan dan pemenggalan kata. Sarasamuscaya. C. Bhagawad Gita. sehingga semakin sering orang melantunkan atau mendengar Dharma Gita maka diharapkan pemahaman tentang ajaran agama semakin meningkat. Pada masa kini di beberapa daerah dharma gita muncul dari budaya lokal. Sarana untuk meningkatkan sradha bhakti Syair-syair Dharma Gita ada yang bersumber langsung dari kitab-kitab suci seperti. Sarana untuk menciptakan suana suci dan konsentrasi pemujaan Melantunkan Dharma Gita pada pelaksanaan Upacara agama akan menciptakan suana batin yang suci. Sloka biasanya bersumber dari kitab suci yang umumnya berbahasa Sansekerta. Manawa Dharma sastra dan sebagainya.2. Disamping itu irama Dharma gita juga biasanya mampu membawa suasana hati yang hening dan tentram 3. Ada pula merupakan hasil cipta para kawi berisi tentang pemujaan kepada Hyang Widhi. Dengan demikian maka dengan melantunkan Dharma gita berarti juga mengingatkan setiap orang tentang ajaran-ajaran agama. b. Palawakya Palawakya menggunakan Bahasa Jawa kuno dan berbentuk prosa. JENIS-JENIS DHARMA GITA Pada awalnya istilah dharma gita lebih dikenal di Bali. Juga di kalimantan ada kidung-kidung daerah yang diangkat dalam kelompok Dharma gita.

di Bali kidung dikelompokkan menjadi : 1). Sekar alit / pupuh Pendidikan Agama Hindu 28/76 . Sekar Madya/ kidung 3).Di setiap daerah memiliki jenis-jenis kidung/tembang tersendiri. Sekar Agung / Kekawin 2).

Nusa Tenggara Barat pernah sebagai pelaksana Utsawa Dharma Gita Tingkat nasional pada tahun 2004 yang dipusatkan Kota Mataram. mengembangkan dan memasyarakatkan Dharma gita bagi umat Hindu Indonesia. Pelaksanaan Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional biasanya dilaksanakan secara bergilir di beberapa daerah propinsi. Tuliskan tiga bait kidung dengan jenis pupuh yang berbeda. yaitu Dharma gita yang dilombakan. b. sekar madya dan sekar alit. Pelajari dan lantunkan kidung Kawitan Wargasari c. tingkat provinsi dan tingkat nasional. E. Namun perkembangan berikutnya juga sebagai sarana peningkatan sumber daya manusia umat Hindu dalam pembinaan sradha bhakti maka materi Utsawa Dharma Gita tidak saja lomba untuk Dharma gita tetapi juga ada lomba Dharma Wacana dan Dharma Widya yaitu lomba penguasaan pengetahuan agama bagi siswa tingkat sekolah dasar ( SD ) sampai tingkat sekolah menengah atas ( SMA/SMK ). PENDALAMAN Guna meningkatkan pengetahuan dan kompetensi lakukanlah kegiatan kegiatan berikut : a. Kegiatan ini dilaksanakan secara berjenjang dari tingkat kota/kabupaten. secara berkala melaksanakan Utsawa Dharma Gita. Carilah di berbagai sumber tentang jenis-jenis sekar agung. UTSAWA DHARMA GITA Lembaga tertingi Agama Hindu di Indonesia yaitu Parisada Hindu Dharma Indonesia ( PHDI ).D. Pendidikan Agama Hindu 29/76 . Utsawa Dharma gita pada awalnya bertujuan untuk melestarikan.

sloka 10 disebutkan : saha-yajòàá prajàh såûþwà purowàca prajàpatih. Pada dasarnya Yadnya adalah penyangga dunia dan alam semesta. Kesempurnaan dan kebahagiaan tak Pendidikan Agama Hindu 30/76 . d. Selanjutnya semua alam diciptakan secara evolusi melalui Yadnya. karena alam dan manusia diciptakan oleh Hyang Widhi melalui Yadnya. Mengaplikasikan nilai-nilai Yadnya dalam kehidupan nyata dan kehidupan masyarakat. Manusia harus berkorban untuk mencapai tujuan dan keinginannya. PENGERTIAN DAN HAKEKAT YADNYA Pada awalnya banyak orang mengartikan bahwa yadnya semata upacara ritual keagamaan. anena prasawiûyadham eûa wo ‘stw iûþa-kàma-dhuk artinya : Dahulu kala Prajapati ( Hyang Widhi ) menciptakan manusia dengan yajnya dan bersabda. Dari proses awal ini jelas bahwa awal penciptaan awal dilakukan Yadnya yaitu pengorbanan diri Hyang Widhi dari Nirguna Brahma menjadi Saguna Brahma . lebih dari itu segala aktivitas manusia dalam rangka sujud bhakti kepada hyang Widhi adalah Yadnya. Dari satu sloka di atas jelas bahwa manusia saja diciptakan melalui yadnya maka untuk kepentingan hidup dan berkembang serta memenuhi segala keinginannya semestinya dengan yadnya. Pemahaman ini tentu tidak salah karena upacara ritual keagamaan adalah bagian dari yadnya. Secara etimologi pengertian Yadnya adalah korban suci secara tulus ikhlas dalam rangka memuja Hyang Widhi.BAB V YADNYA Standar Kompetensi Memahami Pelaksanaan Yadnya dalam kehidupan Tujuan Akhir Pembelajaran a. dengan ini engkau akan berkembang dan akan menjadi kamadhuk keinginanmu. Pada dasarnya Yadnya bukanlah sekedar upacara keagamaan. Yadnya berasal dari Bahasa Sansekerta dari akar kata “Yaj” yang artinya memuja. Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan mampu : b. Menguraikan hakikat dan tujuan yadnya c. Pada masa srsti yaitu penciptaan alam Hyang Hidhi dalam kondisi Nirguna Brahma ( Tuhan dalam wujud tanpa sifat ) melakukan Tapa menjadikan diri beliau Saguna Brahma ( Tuhan dalam wujud sifat Purusha dan Pradhana ). A. Dalam Bhagawadgita Bab III. Menyebutkan bentuk-bentuk pelaksanaan Yadnya dalam kehidupan nyata dan kehidupan masyarakat.

peningkatan kualitas diri. TUJUAN YADNYA Dalam banyak sloka dari berbagai kitab menyatakan bahwa alam semesta beserta segala isinya termasuk manusia. Pendidikan Agama Hindu 31/76 . demikian juga “guna” alam akan mempengaruhi manusia. Pribadi dan jiwa manusia harus dibersihkan dari guna rajas dan guna tamas. Oleh karena itu maka yadnya yang dilakukan oleh manusia tentu bertujuan untuk mencapai tujuan hidup manusia menurut konsep Hindu yakni Moksartham jagat hita ( Kebahagiaan sekala dan niskala ). korban pikiran. Dalam rangka mencapai tujuan tertinggi tersebut manusia harus melakukan aktivitas dan berkarma. dan lain-lain termasuk nyawa sendiri dapat digunakan sebagai korban. Segala aspek yang dimiliki manusia dapat dikorbankan sebagai yadnya. Jika manusia dan alam memiliki tingkatan guna satwam yang lebih banyak maka keharmonisan alam akan terjadi. sembahyang. Pribadi dan jiwa manusia dalam aktivitasnya setiap hari berinteraksi dengan sesama manusia dan alam lingkungan akan saling berpengaruh. Jika kita bersikukuh tidak rela kainnya dipotong dan dibuang sebagian maka sangat mustahil akan memperoleh sepotong baju. Guna ( sifat satwam. diciptakan . Oleh karena itu tujuan Yadnya adalah : 1. rajas. dan senantiasa bersyukur dan berterima kasih kepada Sang Pencipta. Empat hal di atas semuanya dapat dicapai melalui Yadnya. dan tamas ) orang akan saling mempengaruhi. Dari gambaran sederhana di atas dapat diambil kesimpulan bahwa demi mencapai kebahagiaan dan kesempurnaan hidup maka kita harus rela mengorbankan sebagian dari milik kita. Paling tidak empat hal yang harus dilakukan manusia yaitu. Sedangkan potongan yang tidak diperlukan tentu harus dibuang. B. Untuk mencapai kebahagiaan maka manusia harus memiliki imbangan Guna Satwam yang tinggi. pengetahuan. Untuk Penyucian Untuk mencapai kebahagiaan maka hidup ini harus suci. Tentu saja pengorbanan ini harus dilandasi rasa cinta. Pengorbanan dalam hal ini bukan saja dalam bentuk materi. tulus dan ikhlas. Hyang Widhi akan merajut potonganpotongan pengorbanan kita dan menjadikannya sesuai dengan keinginan kita.mungkin akan tercapai tanpa ada pengorbanan. dipelihara dan dikembangkan melalui yadnya. ucapan. Contoh sederhana bila kita memiliki secarik kain dan berniat untuk menjadikannya sepotong baju. tindakan . maka kain yang utuh tersebut harus direlakan untuk dipotong sesuai dengan pola yang selanjutnya potongan-potongan tersebut dijahit kembali sehingga berwujud baju. seperti. Melalui Yadnya kita dapat menyucikan diri dan juga menyucikan lingkungan alam sekitar. penyucian diri. Tanpa dasar tersebut maka suatu pengorbanan bukanlah yadnya. Tanpa kesucian sangat mustahil keharmonisan dan kebahagiaan itu dapat tercapai. sifat.

Kitab Manawa Dharmasastra V. Widyatapobhyam bhutatma buddhir jnanena suddhayanti” Pendidikan Agama Hindu 32/76 .109 menyatakan : “ Adbhirgatrani suddhayanti mana satyena suddhayanti.

3. dan idep dapat melakukan perbuatan baik sebagai cara untuk meningkatkan kualitas jiwatman. Perbuatan baik yang paling utama adalah melalui Yadnya. iking janma wwang juga wénang gumawayakén ikang çubhàçubhakarma. segala perbuatan yang buruk itu. 2. Dengan demikian setiap yadnya yang kita lakukan hasilnya adalah terjadinya peningkatan kualitas jiwatman. oleh karena itu leburlah ke dalam perbuatan baik . Sebagai sarana menghubungkan diri dengan Tuhan Pendidikan Agama Hindu 33/76 . Untuk meningkatkan kualitas diri Setiap kelahiran manusia selalu disertai oleh karma wasana. phalaning dadi wwang. Artinya : Diantara semua mahluk hidup . pikiran disucikan dengan kebenaran. Hanya dilahirkan sebagai manusia memiliki sabda. Laksanakan kewajiban diri sendiri dengan penuh kesadaran dan keihlasan sehingga masuk dalam kelompok yadnya. Dari sloka di atas jelas kewajiban hidup manusia adalah untuk selalu meningkatkan kualitas diri melalui perbuatan baik. hanya yang dilahirkan sebagai manusia saja yang dapat melaksanakan perbuatan baik atau perbuatan buruk. Lingkungan yang suci akan memberikan kehidupan yang suci juga bagi manusia. sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Sarasamuscaya sloka 2 sebagai berikut : Ri sakwehning sarwa bhùta. demikianlah gunanya menjadi manusia. Dengan demikian maka setiap kegiatan yang kita lakukan selalu memberikan kesucian pada diri pribadi. bayu . Oleh karena itu jadikanlah aktivitas sehari-hari kita sebagai yadnya. jiwa manusia dibersihkan dengan pelajaran suci dan tapa brata. Demikian pula setiap kelahiran bertujuan untuk meningkatkan kualitas jiwatman sehingga tujuan tertinggi yaitu bersatunya atman dengan brahman ( brahman atman aikyam ) dapat tercapai. Demikian juga untuk kesucian alam dan lingkungan lakukan upacara/ ritual sesuai dengan sastra agama sehingga kita akan senantiasa berada pada lingkungan yang suci. kunéng panéntasakéna ring çubhakarma juga ikangaçubhakarma. kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan yang benar.Artinya : Tubuh dibersihkan dengan air.

Perlu kedisiplinan dan keihlasan dalam menjalaninya. dilahirkan pada keluarga yang satwam. maturan sehari-hari dsb ). adalah suatu yang luar biasa. serta hari suci lainnya ) salah satu tujuan utamanya sebagai Pendidikan Agama Hindu 34/76 . memahami dan melaksanakan Yadnya. berbaktilah pada-Ku. Kita diberikan hidup sebagai manusia. engkau akan sampai kepada-Ku.Alam semesta dengan segala isinya termasuk manusia adalah ciptaan Hyang Widhi. dan dengan mendisiplinkan dirimu serta menjadikan-Ku sebagai tujuan. berada pada lingkungan sosial yang baik . Sebagai ungkapan rasa terima kasih. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi manusia bijak untuk tidak bersyukur dan tidak berterima kasih kepada Sang Pencipta. Oleh karena itu hidup manusia dalam rangka mencapai tujuannya tidak akan lepas dari tuntunan dan kekuasaan Tuhan. Cara paling sederhana menghubungkan diri dengan Tuhan adalah sembahyang. Jika dalam kehidupan kita senantiasa dapat memusatkan pikiran. memuja Hyang widhi maka tujuan tertinggi pasti akan tercapai sebagaimana sabda Tuhan dalam Bhagawad Gita Bab IX sloka 34 : Pusatkan pikiranmu pada-Ku. odalan. Terlebih Yadnya dalam bentuk Upacara/ritual jelas merupakan wujud nyata usaha menghubungkan manusia dengan Sang Penciptanya. Dengan olah rasa yang baik maka rasa syukur merupakan salah satu motivasi utama untuk selalu berbuat kebajikan. Manusia memiliki rasa dan pikiran dan dalam tatanan kehidupan sosial terikat pada aturan susila dan moral. belajar giat. dan diciptakan bersama bumi yang penuh keindahan dan kedamaian. dan kegiatan lain yang didasari pengabdian dan rasa ikhlas adalah salah satu contoh ungkapan rasa syukur dan ucapan terima kasih atas anugrah Tuhan untuk kesehatan. Satusatunya cara agar kita selalu dapat menghubungkan diri dengan Maha Pencipta adalah dengan mempelajari. Yadnya dalam kegiatan karma keseharian adalah sarana untuk menghubungkan diri dengan Tuhan. keselamatan diri. Untuk menjaga agar senantiasa jalan kehidupan kita pada arah yang benar dan selalu mendapat sinar suci serta tuntunan Hyang Widhi maka haruslah kita selalu menjalin hubungan yang harmonis dengan Tuhan. Sembahyang artinya menyembah Hyang Widhi. serta kehidupan yang kita terima. dan tunduklah padaKu. 4. Untuk senantiasa dapat memusatkan pikiran dan memuja Hyang Widhi tidaklah mudah. Upacara/ritual yang dilakukan Umat Hindu baik yang bersifat rutin (contohnya ngejot. rejeki. menolong orang yang kesusahan. sebagaimana dalam ajaran Tri Hita Karana. Ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Hyang Widhi itulah dilakukan dengan Yadnya Bekerja dengan benar dan giat. maupun berkala ( rahinan.

Untuk menciptakan kehidupan yang harmonis Hyang Widhi menciptakan alam dengan segala isinya untuk memutar kehidupan. yaitu hutang hidup kepada Hyang Widhi yang telah menciptakan alam semesta termasuk diri kita. bintang. Sekecil apapun ciptaan-Nya memiliki fungsi tersendiri dalam kehidupan ini. mereka yang tidak ikut memutar roda kehidupan ini. manusia. Alam dengan segala isinya memiliki keterkaitan dan ketergantungan satu sama lain. Asura. Dewa Rna. manusia dengan sesamanya dan keharmonisan hubungan manusia dengan alam. wahai Agar perputaran roda kehidupan ini berjalan dengan harmonsi maka peranan manusia sangat penting. Tri Rna terdiri dari : a. Hanya dengan Yadnya keharmonisan alam dapat tercipta. Butha Yadnya dilakukan untuk memelihara alam lingkungan sebagai tempat kehidupan semua mahluk. Jika manusia dalam melakoni hidup penuh keserakahan dan mengabaikan prinsip-prinsip Dharma maka kehancuran pasti terjadi. bahkan bakteri dan kumanpun semuanya memiliki tugas dan fungsi tersendiri dalam memutar kehidupan ini. tumbuhan. Yadnya menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Hyang Widhi. 5. Perlu diingat bahwa Yadnya tidak semata-mata dilaksanakan dengan upakara/ritual. Dalam Bhagawad Gita . Rsi Rna. Pitra Rna. Dalam melaksanakan Yadnya ada tiga kewajiban utama yang harus dilunasi manusia atas keberadaannya di dunia ini yang disebut Tri Rna ( tiga hutang hidup). Dewa Yadnya dalam bentuk pemujaan kepada Hyang Widhi serta melaksanakan Dharma. Oleh karena itu manusia sebagai bagian alam semesta mempunyai kewajiban untuk menjalankan tugas dan fungsinya untuk ikut menciptakan keharmonisan kehidupan.ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Hyang Widhi atas semua anugrah Beliau. Karma leluhur dan orang tua berpengaruh terhadap keberadaan Pendidikan Agama Hindu 35/76 . yaitu hutang kepada para Rsi yang mengorbankan kehidupannya sehingga dapat memberikan pencerahan kepada manusia melalui ajaran-ajarannya sehingga manusia dapat menjalani hidup dengan lebih baik. Untuk semua ini wajib kita bayar dengan Dewa Yanya dan Bhuta Yadnya. binatang. bulan. c. memperturutkan nafsu semata Pàrtha dan mengalami penderitaan.16 dijelaskan : Di dunia ini. Rsi Rna dilunasi dengan melaksanakan Rsi Yadnya. pada dasarnya bersifat jahat. yaitu hutang kepada orang tua dan leluhur. Tri Rna ini dibayar dengan pelaksanaan Panca Yadnya. Leluhur dan orang tua sangat memiliki peranan besar atas kehidupan kita saat ini. III. Dewa. b.

setiap orang. Membayar hutang kepada orang tua dan leluhur dilakukan dengan Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya Pendidikan Agama Hindu 36/76 . Oleh karena itu maka sudah menjadi kewajiban untuk membalas hutang tersebut. Paling tidak kelahiran kita di dunia karena adanya leluhur dan orang tua.

C. BENTUK DAN JENIS YADNYA 1. Bentuk – bentuk Yadnya Kitab Bhagawad Gita dalam berbagai sloka menjelaskan bahwa bentuk-bentuk yadnya terdiri dari : a. Yadnya dalam bentuk persembahan/Upakara b. Yadnya dalam bentuk pengendalian diri/tapa c. Yadnya dalam bentuk aktivitas/karma d. Yadnya dalam bentuk harta benda / kekayaan/punia e. Yadnya dalam bentuk ilmu pengetahuan/jnana Sampai saat ini di Indonesia khususnya di Bali hampir sebagian besar umat Hindu masih mengartikan dan mengutamakan bahwa yadnya adalah upacara/ritual. Padahal upakara/ritual itu adalah salah satu bagian dari bentukbentuk yadnya. Sangat sedikit Umat Hindu di Indonesia yang memberikan proporsional untuk melaksanakan bentuk-bentuk yadnya yang lainnya. Hindu memberikan keluasan kepada pemeluknya dalam beryadnya sesuai dengan kondisi dan kemampuan yang ada dengan peluang kesempatan hasil yang sama. Dengan demikian apapun bentuk yadnya yang kita lakukan sepanjang sesuai dengan konsep Dharma maka akan memperoleh hasil yang maksimal. 2. Jenis-jenis Yadnya Secara garis besar yadnya dapat kelompokkan sebagai berikut : a. Dari segi waktu pelaksanaan Yadnya dapat dibedakan : 1). Nitya Yadnya Yaitu yadnya yang dilakukan secara rutin setiap hari. Yadnya ini antara lain; dalam bentuk persembahan yang berupa yadnya sesa, atau persembahyangan sehari-hari. Sedangkan bagi sulinggih melakukan Surya Sewana. Yadnya dalam bentuk yang lain dapat dilaksanakan melalui aktivitas sehari-hari. Bagi seorang siswa kewajiban sehari-hari adalah belajar , bila dilakukan dengan penuh ikhlas merupakan yadnya. Bagi seorang petani, tukang, pegawai dan sebagainya yang melaksanakan tugas sehari-hari dengan konsentrasi persembahan kepada Tuhan disertai keikhlasan juga merupakan Nitya Yadnya. 2). Naimitika Yadnya Yaitu Yadnya yang dilaksanakan secara berkala/ waktu-waktu tertentu. Khusus untuk yadnya ini terutama yadnya dalam bentuk persembahan /upakara yaitu Upacara Piodalan, Sembahyang Purnama dan Tilem, Hari Raya baik menurut wewaran maupun sasih. Bagi bentuk yadnya yang lain tergantung kebiasaan pribadi perorangan/kelompok orang. Ada orang pada setiap hari raya tertentu Pendidikan Agama Hindu 37/76

melaksanakan tapa brata sebagai wujud yadnya pengendalian diri. Ada pula yang pada waktu tertentu setiap tahun atau setiap bulan melakukan dana punia baik dihaturkan kepada sulinggih, orang tidak mampu dan sebagainya. Disamping itu ada juga bentuk yadnya yang dilaksanakan secara insidental sesuai kebutuhan dengan waktu yang tidak tetap/ tidak rutin. Contohnya upacara ngaben, nangluk merana, tirtayatra. Demikian juga bentuk yadnya yang lain adakalanya dilakukan tidak dengan jadwal waktu tertentu. Misalkan jika ada ujian sekolah ada siswa / mahasiswa yang puasa. Ada orang yang tanpa diduga memperoleh rejeki yang lebih , maka sebagian dipuniakan untuk pura atau untuk panti asuhan.

b. Berdasarkan nilai materi / jenis bebantenan suatu yadnya digolongkan menjadi : 1). Nista, artinya yadnya tingkatan kecil yang dapat di bagi lagi menjadi :  Nistaning nista, adalah terkecil dari yang kecil  Madyaning nista, adalah tingkatan sedang dari yang kecil.  Utamaning Nista, adalah tingkatan terbesar dari yang kecil 2). Madya, yaitu yandnya tingkatan sedang yang dapat dibagi lagi menjadi :  Nistaning Madya, adalah tingkatan terkecil dari yang sedang.  Madyaning madya, adalah tingkatan sedang dari yang sedang.  Utamaning madya, adalah tingkatan terbesar dari yang sedang. 3). Utama, yaitu yadnya tingkatan besar yang dapat dibagi menjadi :  Nistaning utama, adalah tingkatan terkecil dari yang besar  Madyaning Utama, adalah tingkatan sedang dari yang besar.  Utamaning Utama, adalah tingkatan terbesar dari yang besar.

c. Sedangkan apabila ditinjau dari tujuan pelaksanaan atau kepada siapa yadnya tersebut dilaksanakan, dapat digolongkan menjadi : 1). Dewa Yadnya 2). Rsi Yadnya 3). Pitra Yadnya 4). Manusa Yadnya 5). Bhuta Yadnya Kelima jenis yadnya di atas dikenal dengan istilah Panca Yadnya. Uraian mengenai Panca Yadnya akan dibahas tersendiri setelah bagian ini.

Pendidikan Agama Hindu

38/76

d. Dari segi kualitas yadnya dapat dibedakan atas: 1). Satwika Yadnya yaitu yadnya yang dilaksanakan dasar utama sradha bakti, lascarya, dan semata melaksanakan sebagai kewajiban. Apapun bentuk yadnya yang dilakukan seperti; persembahan, pengendalian diri, punia, maupun jnana jika dilandasi bakti dan tanpa pamrih maka tergolong Satwika Yadnya. Yadnya dalam bentuk persembahan / upakara akan sangat mulia dan termasuk satwika jika sesuai dengan sastra agama, daksina, mantra, Annasewa, dan nasmita. 2). Rajasika Yadnya yaitu yadnya dilakukan dengan motif pamrih serta pamer kemewahan, pamer harga diri, bagi yang melakukan punia berharap agar dirinya dianggap dermawan. Seorang guru/pendarmawacana memberikan ceramah panjang lebar dan berapi-api dengan maksud agar dianggap pintar; semua bentuk yadnya dengan motif di atas tergolong rajasika yadnya. Seorang yang melakukan tapa, puasa tetapi dengan tujuan untuk memperoleh kekayaan, kesaktian fisik, atau agar dianggap sebagai orang suci juga tergolong yadnya rajasik. 3). Tamasika Yadnya yaitu yadnya yang dilaksanakan tanpa sastra, tanpa punia, tanpa mantra dan tanpa keyakinan. Ini adalah kelompok orang yang beryadnya tanpa arah tujuan yang jelas,hanya ikut-ikutan. Contoh orang-orang yang tegolong melaksanakan tamasikan yadnya antara lain orang yang pergi sembahyang ke pura hanya ikut-ikutan, malu tidak ke pura karena semua tetangga pergi ke pura, orang gotong royong di pura atau di tempat umum juga hanya ikut-ikutan tanpa menyadari manfaatnya. Termasuk dalam katagori ini adalah orang yang beryadnya karena terpaksa. Terpaksa maturan karena semua orang maturan. Terpaksa memberikan punia karena semua orang melakukan punia. Terpaksa puasa karena orang-orang berpuasa. Jadi apapun yang dilaksanakannya adalah sia-sia, tiada manfaat bagi peningkatan karmanya. Jenis-jenis yadnya di atas diuraikan dalam Kitab Bhagawad Gita dalam beberapa sloka. Untuk Yadnya yang berbentuk persembahan/upakara akan tergolong kualitas Satwika bila yadnya dilaksanakan berdasarkan :  Sradha, artinya yadnya dilaksanakan dengan penuh keyakinan  Lascarya, yaitu yadnya dilaksanakan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sedikitpun.  Sastra, bahwa pelaksanaan yadnya sesuai dengan sumber-sumber sastra yang benar.  Daksina, yaitu yadnya dilaksanakan dengan sarana upacara serta punia kepada pemuput yadnya/manggala yadnya. Pendidikan Agama Hindu 39/76

d. bahwa yadnya yang dilaksanakan bukan untuk memamerkan kekayaan dan kemewahan Apapun jenis yadnya yang kita lakukan seharusnya yang menjadi tolok ukur adalah kualitas yadnya. Manusa Yadnya. b. Brahma yadnya. adalah persembahan yang dilaksanakan dengan belajar dan mengajar secara tulus ikhlas. yaitu dengan melantunkan doa-doa serta kidung suci sebagai pemujaan. adalah persembahan tarpana dan air kepada leluhur. Pitra Yadnya. Sedangkan kualitas yadnya yang harus dicapai setiap pelaksanaan yadnya adalah Satwika Yadnya. d. yaitu yang dilaksanakan dengan mempelajari pengucapan mantram cusi weda. e. PANCA YADNYA Panca Yadnya adalah lima macam korban suci dengan tulus ikhlas yang wajib dilakukan oleh umat Hindu. artinya memberikan jamuan kepada tamu yang menghadiri upacara. yaitu persembahan makanan untuk sesama manusia. Pitra Yadnya. Bhuta Yadnya. adalah pelaksanaan upacara bali untuk butha. Dewa Yadnya. c. c. namun pada intinya memiliki kesatuan tujuan yang sama.Mantra dan gita. menjelaskan panca yadnya sebagai berikut : a.  Annasewa. Dewa yadnya. Penjelasan-penjelasan tersebut antara lain : 1. Brahma Yadnya. Jamuan ini penting karena setiap tamu yang datang ikut berdoa agar pelaksanaan yadnya berhasil. 2. Kitab ini merupakan bagian dari Reg Weda. Dengan jamuan maka karma dari doa para tamu undangan menjadi milik sang yajamana.  Nasmita. Pendidikan Agama Hindu 40/76 . Kitab Sathapata Brahmana. adalah persembahan minyak dan susu kepada para dewa. Nara Yadnya . yaitu persembahan kepada para dewa ( disebut swaha ). Bhuta Yadnya. Pelaksanaan Panca yadnya adalah sebagai realisasi dalam melunasi kewajiban manusia yang hakiki yaitu Tri Rna ( tiga hutang hidup ). yaitu persembahan yang ditujukan untuk leluhur ( disebut swadha). e.  D. Tidak ada gunanya yadnya yang besar tetapi bersifat rajas atau tamas. adalah penerimaan tamu dengan ramah-tamah. Dalam beberapa kitab dan pustaka memberikan penjelasan tentang Panca Yadnya yang berbeda. Kitab Manawa Dharmasastra Kitab Manawa Dharmasastra memberikan penjelasan tentang Panca Yadnya sebagai berikut : a. yaitu yadnya untuk para bhuta b.

Lontar Agastya Parwa Penjelasan tentang Panca Yadnya dari lontar Agastya Parwa adalah yang menjadi acuan utama pelaksanaan yadnya di Indonesia. Tetapi dalam konteks pengertian dan pelaksanaannya mengacu pada penjelasan-penjelasan Kitab Weda sehingga di Indonesia Panca Yadnya dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Dewa Yadnya dilaksanakan terutama dalam rangka memenuhi kewajiban Dewa Rna. Dewa Yadnya. penuh tanggung jawab dan menjadikan aktivitas tersebut sebagai persembahan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagaimana sabda Tuhan melalui Bahagawad Gita dalam beberapa sloka seperti : Pendidikan Agama Hindu 41/76 . b. makanan. yaitu persembahan dengan memberi makanan kepada masyarakat. Menurut lontar ini Panca yadnya adalah : a. Pitra Yadnya. Dalam lontar Korawa Srama terdapat penjelasan Panca yadnya sebagai berikut: b. yaitu persembahan dengan minyak dan biji-bijian kehadapan Dewa Siwa dan Dewa Agni di tempat pemujaan dewa. Dewa Yadya. Pelaksanaan Dewa Yadnya dapat dilakukan dengan berbagai bentuk. Bhuta Yadnya. Manusa Yadnya. Dewa Yadnya. 4. Aktivitas kehidupan sehari-hari dapat diwujudkan menjadi yadnya dengan cara melaksanakan semua aktivitas yang didasari oleh kesadaran. e. adalah mempersembahkan puja dan banten kepada bhuta. Pitra Yadnya adalah mempersembahkan puja dan banetn kepada leluhur. Rsi Yadnya. adalah persembahan yang tulus iklhas kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya. keikhlasan. Lontar Korawa Srama a. e. d. yaitu upacara kematian agar roh yang meninggal mencapai alam Siwa. yakni hutang hidup kepada Ida Sang Hyang Widhi. c. c. dan barang yang tidak mudah rusak kepada para Maha Rsi. Bhuta Yadnya. yaitu persembahan dengan menghormati pendeta dan membaca kitab suci. buah-buahan. adalah persembahan punia. Manusa Yadnya adalah persembahan makanan kepada masyarakat. d. adalah persembahan dengan sesajen dan mengucapkan Sruti dan Stawa pada waktu bulan purnama. f.3. Rsi Yadnya. Dari beberapa sumber di atas yang lebih tepat digunakan sebagai dasar pelaksanaan yadnya di Indonesia adalah Lontas Agastya Parwa. yaitu persembahan dengan mensejahterakan tumbuhan dan menyelenggarakan upacara tawur serta upacara panca wali krama.

Tad-artham karma kaunteya mukta-saògaá samàcara ( Bhagawad Gita. Asakto hy àcaran karma param àpnoti pùrsaá ( Bhagawad Gita. Oleh karena itu.19 ) Artinya: Oleh karena itu. III. wahai putra Kunti ( Arjuna). Tasmàd asaktaá satataý kàryaý karmasamàcara. wahai ( Arjuna ). dunia ini terbelenggu oleh kegiatan kerja. demikian pula hendaknya orang Bhàrata terpelajar bekerja. III. Saktàá karmaóy awidwàmso yathà kurwanti bhæata. karena dengan melakukan kerja tanpa pamrih seperti itu membuat manusia mencapai tingkatan tertinggi.25 ) Artinya: Seperti orang bodoh yang bekerja karena pamrih dari kegiatannya. Pendidikan Agama Hindu 42/76 . lakukanlah selalu kegiatan kerja yang harus dilakukan. lakukanlah kegiatanmu sebagai pengorbanan dan jangan terikat dengan hasilnya. III. tetapi tanpa pamrih dan semata-mata dengan keinginan untuk memelihara kesejahteraan tatanan dunia ini saja.9 ) Artinya: Kecuali kerja yang dilakukan sebagai dan untuk tujuan pengorbanan. tanpa keterikatan. Kuryàd widwàýs tathàsaktaú cikìrûur loka-saògraham ( Bhagawad Gita.Yajòàathàt karmano ‘nyatra loko ‘yaý karma-bandhanah.

adalah pengorbanan yang tulus ikhlas untuk para leluhur dan orang tua. Di Bali Upacara Pitra Yadnya dikenal memiliki beberapa tingkatan seperti : a. atau juga jenasah yang dikubur tetapi tulangnya tidak ditemukan. sebab jika tidak maka karma baik atas upacara yadnya yang dilaksanakan akan menjadi milik sang pemuput karya.  Asti Wedana yaitu upacara pengabenan dengan membakar jenasah yang sudah berbentuk tulang ( sudah dikubur terlebih dahulu). mukur. Asti Wedana yaitu tingkatan upacara pitra yadnya yang lebih tinggi yang umumnya disebut NGABEN. yakni upacara perawatan dan penyelesaian jenasah seperti dikubur ( mekingsan ring pertiwi ). 3. Bentuk asti wedana adalah :  Sawa Wedana yaitu upacara ngaben bila yang dibakar adalah jenasah. Pitra yadnya wajib dilakukan untuk membayar hutang hidup kepada orang tua dan leluhur yang disebut Pitra Rna. atau beryadnya dalam bentuk jnana (pengetahuan). yaitu upacara tingkat berikutnya yang bertujuan lebih menyempurnakan jiwatman yang telah diabenkan dari alam surga menuju alam dewa/moksa. Dalam Kitab Suci Bhagawad Gita banyak dijelaskan berbagai bentuk yadnya yang Satwika. maligia. Rsi Yadnya.  Ngerca Wedana yaitu upaca ngaben dengan membakar simbol sebagai pengganti tulang/jenasah orang yang sudah meninggal. Oleh karena itu hutang hidup ini harus dibayar dengan bentuk Upacara Pitra Yadnya. Atma Wedana. Menurut Hindu atas jasa para rsi dan orang suci ini menyebabkan kita memiliki hutang yang disebut Rsi Rna. atau yadnya dalam bentuk tapa serta yadnya dalam bentuk persembahan/upakara haruslah dilakukan dengan ikhlas dan tanpa pamrih. atau meninggal tetapi jenasahnya tidak ditemukan ( misalnya meninggal di laut atau di hutan ). Contoh Rsi Yadnya yang berbentuk Upakara adalah Rsi Bojana. Pelaksanaan yadnya ini sebagai wujud terima kasih atas segala jasa yang telah diberikan oleh para rsi dan orang suci pada kita . 2. ngeroras. Sedangkan bentuk lain Rsi Yadnya adalah dengan melaksanakan ajaran-ajaran suci para rsi. Pitra Yadnya. Jika semua yadnya yang dilaksanakan dengan tujuan sebagai persembahan kepada Tuhan maka jadilah yadnya tersebut Satwika. Pendidikan Agama Hindu 43/76 . dibakar ( mekingsan ring geni) dsb. c. Bentuk atma wedana antara lain. hormat dan bakti serta melayani para sulinggih/ orang suci secara tulus ikhlas. Dalam melaksanakan upacara seharusnya sang yajamana menghaturkan punia daksina pada sulinggih/ pemuput karya yang sesuai. b. Sawa Prateka. Upacara ini dikenal juga dengan nama SWASTA. adalah persembahan yang tulus ikhlas kepada para rsi dan orang suci. Upacara ini biasanya dilakukan untuk orang yang waktu meninggal telah mekingsan ring geni.Selanjutnya jika kita beryadnya dalam bentuk dana/harta .Tanpa ada leluhur dan orang tua sangat mustahil kita akan lahir di dunia ini.

Butha Yadnya. 4. tidak merusak mata air. 5. bayu dan idep memiliki peranan penting dalam menciptakan keharmonisan kehidupan. serta peruntukannya bukan hanya untuk anak ( keturunan sendiri). maka bentuknya tidak selalu upacara. Jika memahami pengertian manusa yadnya. Menurut konsep Hindu bahwa semua yang ada di dunia ini adalah ciptaan Hyang Widhi yang memiliki fungsi tersendiri dalam memutar roda kehidupan. upacara. Jadi pitra yadnya dalam kaitan kewajiban sebagai siswa adalah dengan belajar sebaikbaiknya sebagaimana harapan orang tua. Melayani orang tua semasih hidup dengan ikhlas serta tidak mengecewakan dan menyakiti hati orang tua adalah merupakan pitra yadnya utama. adalah pengorbanan yang tulus ikhlas untuk kebahagiaan hidup manusia. serta tindakantindakan lain yang dapat menjadi penyebab bencana alam. Tujuan bhuta yadnya adalah agar para bhuta kala “somya”. sejak dalam kandungan sampai menuju grahasta ( perkawinan). tetapi bagi semua manusia tanpa memandang suku. E. hutan lindung. Secara sekala wujud bhuta yadnya adalah usaha kita agar menjaga kelestarian alam.Disamping bentuk upacara pitra yadnya sebagaimana dijelaskan di atas yang lebih penting dilakukan masa kini adalah bagaimana usaha kita untuk menjunjung nama baik dan kehormatan leluhur dan orang tua. Bentuk manusa yadnya bisa bermacam-macam seperti yadnya dalam bentuk dana. Dengan demikian maka sasaran manusa yadnya bukan hanya untuk anak/ keturunan sendiri. Manusia sebagai mahluk yang memiliki sabda. PENILAIAN YADNYA Pendidikan Agama Hindu 44/76 . dan karma sepanjang tujuan yadnya tersebut adalah untuk kebahagiaan hidup manusia. Manusa Yadnya. Jadi semua mahluk termasuk para bhuta memiliki hak hidup. Selama ini pemahaman sebagian umat Hindu bahwa manusa yadnya semata-mata upacara yang dilaksanakan oleh orang tua bagi anak-anaknya. agama maupun golongan. Sesuai dengan pengertian tersebut maka segala bentuk pengobanan yang bertujuan untuk kebahagiaan hidup manusia adalah tergolong manusa yadnya. Oleh karena itu manusia melaksanakan bhuta yadnya agar keseimbangan hidup tercipta. Artinya jika kita memberikan nasehat atau ilmu kepada orang lain yang menyebabkan orang tersebut memperoleh kebahagiaan hidup maka itu tergolong juga manusa yadnya. jnana. adalah pengorbanan yang tulus iklhas untuk para butha agar tercipta kedamaian dan keharmonisan hidup di dunia. sempurna kembali menuju alamnya sendiri dan tidak mengganggu kehidupan manusia. Demikian pula memberikan dana punia untuk pendidikan anak bagi keluarga tidak mampu atau melaksanakan bhakti sosial pengobatan bagi masayarakat kurang mampu juga termasuk manusa yadnya.

Pendidikan Agama Hindu 45/76 . madya. apakah tergolong utma. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah : Bentuk apakah yadnya yang kita lakukan? Selanjutnya kita dapat bertanya apakah yandya yang kita lakukan tergoong Nitya Yadnya ataukah Naimitika Yadnya? Jika Yadnya tersebut berkaitan dengan materi. Hidup ini adalah untuk meningkatkan kwalitas karma jiwatman sebagaimana yang disampaikan dalam kitab Sarasamuscaya . Rsi. Manusia. sloka 2. Pitra.Dari uraian di atas maka kita akan dapat menilai diri sendiri tentang yadnya yang kita lakukan. ataukah nista? Selanjutnya kita harus menggoongkan lagi kepada siapakah yadnya tersebut ditujukan? Apakah kepada Ida Sang Hyang Widhi. Rajas ataukah Tamas? Dengan melakukan penilaian diri terhadap setiap tindakan karma. maka kita dapat berharap bahwa hidup ini tidak akan sia-sia. Untuk itu kita perlu secara jujur menjawab beberapa pertanyaan untuk dianalisa kemudian menilai atas yadnya yang kita laksanakan. ataukah Bhuta? Terakhir sebagai tolok ukur karma yang paling penting harus kita nilai apakah yadnya yang kita lakukan bersifat Satwam.

Kemudian berikan penilaian atas pengalaman yadnya tersebut dengan alasannya masingmasing. Penilaian NO Penialaian 1 Bentuk : 2 3 4 5 Waktu Pelaksanaan : Materi : Tujuan : Kwalitas : Alasan Pendidikan Agama Hindu 46/76 . Buatlah tulisan tentang pengalaman pribadi anda minimal dua pengalaman yang dapat digolongkan sebagai yadnya. Kegiatan/Peristiwa b. PENDALAMAN MATERI Tugas siswa : 1. Untuk memudahkan dapat digunakan format berikut ini.F. PENGALAMAN YADNYA a. Carilah sloka-sloka Bhagawad Gita yang berkaitan dengan bentuk-bentuk yadnya 2.

Tattwa adalah hakekat atau filsafat agama. Contoh sederhana penggambarannya adalah jika kita akan menuju suatu tempat. sesama manusia . serta aturan yang harus diikuti dan dipatuhi sehingga dapat sampai pada tujuan dengan selamat. serta interaksi dengan alam. maka pengetahuan tattwa dan susilanya tidak memberikan karma apapun. Sedangkan Susila adalah rambu-rambu . Kemudian seseorang yang memiliki tattwa tinggi juga mengetahui aturan susila tetapi tanpa diikuti dengan tindakan nyata ( dalam bentuk yadnya). karena pada hakekatnya pahala karma hanya akan diperoleh melalui kerja ( yadnya). Susila berasal dari kata Su yang berarti baik.BAB VI SUSILA Standar Kompetensi Memahami Tat Twam Asi sebagai landasan etika dan moral Tujuan akhir pembelajaran 1. Tatwa. tetapi mengabaikan etika maka yadnya menjadi tidak sempurna.petunjuk . Susila adalah aturan-aturan moral dalam segala tindakan serta komunikasi manusia dengan Tuhan. Sedangkan Yadnya/Upacara adalah aktivitas nyata umat Hindu dalam merealisasikan Tattwa Agama dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konsep Hindu aktivitas kehidupan manusia khususnya dalam kaitan keagamaan maka tiga kerangka tersebut harus merupakan satu kesatuan dalam pelaksanaannya. Istilah lain dai Susila adalah Etika/Etiket. serta berbagai fasilitas yang dapat digunakan untuk menuju tempat tersebut. Jadi susila adalah perbuatan atau tingkah laku yang baik dan benar. Pendidikan Agama Hindu 47/76 . Menunjukkan prilaku sebagai implementasi ajaran Tat Twam Asi Uraian Materi A. dan Upacara ( Yadnya ). Tanpa pemahaman tattwa yang benar maka yadnya bisa menyimpang dari tujuan utama. berbagai jalan atau arah yang bisa dilalui menuju tempat tujuan. dan sila yang berarti tingkah laku/perbuatan. PENDAHULUAN Susila adalah bagian dari tiga kerangka Agama Hindu yakni. maka tattwa akan memberikan pengetahuan pada kita tentang situasi daerah yang akan dituju. Peserta didik mampu menjelaskan pengertian tat twam asi 2. Jika rambu-rambu dan aturan ini dilanggar kemungkinan kita akan tersesat atau bahkan celaka. Sebaliknya meskipun pelaksanaan yadnya secara tattwa benar. Susila ( etika ) . Umat Hindu harus memahami tattwa dan mematuhi susila setiap yadnya/upacara yang dilaksanakan.

Planet-planet berputar mengelilingi bumi dan bersama bumi mengelilingi matahari. Dengan susila maka manusia dapat melaksanakan yadnya dengan berbagai kondisi tanpa menyimpang dari tattwanya. ras. berjalan sesuai dengan fasilitas yang tersedia dan mengikuti aturan ( susila) yang ada barulah kita bisa mencapai tujuan. dan agama. bangsa. Alam semesta memiliki aturan / hukum tersendiri dalam pergerakannya yang disebut RTA ( hukum alam).Contohnya adalah saling menghormati hak asasi manusia ( HAM). Aturan/susila itu dapat bersifat universal/global. Ajaran ini disebut Tri Hita Karana ( tiga faktor penyebab terwujudnya kebahagiaan ). Ada etika/aturan yang harus Pendidikan Agama Hindu 48/76 . Manusia memiliki peranan utama dalam mewujudkan keharmonisan antara ketiga faktor tersebut. Artinya berlaku bagi semua manusia di seluruh dunia tanpa memandang suku. Tuhan menciptakan RTA ( hukum alam ) untuk kehidupan. dan manusia dengan alam . Inilah Yadnya. Manusia sebagai mahluk yang paling sempurna diantara mahluk lainnya di bumi memiliki peranan utama dalam menegakkan aturan. Semua yang ada di alam bebas maupun di dunia harus mengikuti aturan dalam pergerakannya. Demikian juga dalam kehidupan di dunia. B. Manusia dengan kecerdasan yang dimilikinya dapat membuat aturan-aturan dalam berinteraksi sesama manusia. PERANAN SUSILA DALAM MEWUJUDKAN TRI HITA KARANA Dalam konsep ajaran Hindu bahwa kebahagiaan hanya akan terwujud jika adanya hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia. Ada juga aturan / etika dalam berprilaku sosial kemasyarakan. Meskipun kita mengetahui secara jelas gambaran tentang lokasi yang akan dituju serta semua aturan dan rambunya. manusia memiliki kelebihan dalam menerima ajaran-ajaran susila/ etika dalam menghubungkandiri dengan Tuhan (sembahyang). peraturan pemerintah dan sebagainya.Akhirnya berdasarkan pengetahuan tattwa yang dimiliki haruslah kita bergerak. Dalam mewujudkan keharmonisan antara manusia dengan Tuhan. dimana setiap daerah memiliki kekhasan tersendiri sebagai budaya lokal. Jika salah satu bagian alam ini tidak mengikuti aturan maka akan terjadi kehancuran. semua aktivitasnya memiliki aturan. Disamping itu ada juga aturan dalam bernegara dan berbangsa dalam bentuk hukum negara/ udang-undang. Dari ketiga kerangka tersebut SUSILA memegang peranan penting yang menjembatani antara Tattwa dengan Yadnya. Contohnya bumi berputar pada porosnya dan mengitari matahari. manusia dengan Tuhan . . jika tidak bergerak/ diam di tempat maka selamanya kita tidak akan pernah sampai pada tujuan. Jika aturan ini tidak diikuti maka pasti akan terjadi kekacauan. Dalam kehidupan ini semua aktivitas memiliki aturan/etika/susila. sehingga tercipta keseimbangan dan keharmonisan antara konsep dengan pelaksanaannya.

manusia dengan Tuhan dan manusia dengan alam maka manusia harus memahami dan mengikuti aturan/susila dalam melaksanakan masingmasing hubungan tersebut. 2. Dengan pemahaman ini maka Hindu mengajarkan agar manusia tidak Pendidikan Agama Hindu 49/76 . Membuang sampah pada aliran sungai.diikuti dalam melakukan hubungan dengan Tuhan. Jadi Tat Twam Asi berarti dia adalah engkau. dan Asi artinya adalah. seperti banjir bandang . Sedangkan hubungan manusia dengan alam jelas yang paling menentukan adalah manusia itu sendiri. TAT TWAM ASI Konsep dasar ajaran kesusilaan Hindu dalam hubungan antara sesama manusia dikupas dalam Kitab Candogya Upanishad yang dalam salah satu sloka ada disebutkan Tat Twam Asi. Dewasa ini banyak terjadi bencana alam. dan sebagainya. Agar terwujud keharmonisan antara manusia dengan manusia. maupun secara kolektif ( bersama-sama). sifat. baik hubungan secara pribadi. Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan bahwa : 1. misalnya persembahyangan di pura. saling menolong sehingga terwujud kedamaian dan kebahagiaan. Alam secara kodrati hanya akan memberikan reaksi terhadap segala perlakuan manusia kepada alam itu sendiri. Selanjutnya mahluk hidup memilki atman sebagai percikan suci Ida Sang Hyang Widhi. serta pembangunan gedung/perumahan tanpa memperhatikan penyerapan dan saluran sanitasi yang baik maka terjadi banjir disetiap musim hujan. Penggundulan hutan dengan ilegal loging maka terjadilah banjir bandang. jika ditelusuri maka semua itu adalah akibat ulah manusia sendiri yang tidak mengikuti aturan / etika dalam mengelola alam. yaitu percikan suci Tuhan. Twam artinya kamu. merusak sempadan sungai. serta hubungan dengan alam C. Perbedaan pribadi . Jadi di setiap mahluk hidup khususnya manusia memiliki unsur kekuatan hidup yang sama. Manusia dengan kecerdasan yang dimilikinya dapat menciptakan aturan/etika dalam hubungan dengan sesama manusia. demikian juga sebaliknya. Tat twam asi bersumber pada ajaran Hindu bahwa Tuhan / Brahman menciptakan alam semesta beserta segala isinya dari diriNYa sendiri melalui tapa/yadnya. Untuk jenis-jenis persembahyangan tertentu juga memiliki aturan yang berbeda. Jika aturan/etika ini dilanggar maka dipastikan keharmonisan tidak akan terwujud. Tat Twam Asi adalah sumber utama ajaran cinta kasih agar manusia dapat saling menghargai.Tat artinya itu (dia). hubungan dengan Tuhan. saling menghormati. dan wujud manusia karena perbedaan pengaruh Triguna dan karma wasana. Etika persembahyangan pribadi tidak dapat diterapkan pada persembahyangan bersama. pemanasan global . Tat Twam Asi adalah esensial filsafat Hindu dalam ajaran susila yang bersifat universal dan tanpa batas.

memandang manusia lainnya hanya dari segi fisiknya saja. Hindu mengajarkan agar kita memandang semua mahluk hidup diciptakan dan bersumber dari asal yang sama. Bahwa dalam setiap kehidupan ada percikan suci Ida Sang Hyang Widhi sehingga wajib dihormati dan dikasihi tanpa memandang batasan tertentu. Pendidikan Agama Hindu 50/76 .

Demikian juga untuk memenuhi kebutuhan pribadi yang sama orang melakukan kerjasama. Contohnya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka setiap individu memiliki hak secara pribadi. Secara jasmani setiap individu ingin mencapai kesenangan dan secara rohani setiap orang ingin mendapatkan kebahagiaan. Secara individu manusia memiliki rasa keakuan ( ahamkara ).  Agar cinta kasih dalam diri dapat tumbuh dan berkembang maka kita harus belajar mengurangi keakuan ( egoisme). Oleh karena itu maka jika ita mendengarkan musik dengan suara keras pada waktu orang lain istirahat berarti melanggar hak pribadi orang lain. Manusia adalah mahluk individu sekaligus mahluk sosial. Jadi dalam hal ini orang-orang bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan pribadi yang sama. Jadi dalam memenuhi kebutuhan pribadi kita harus membatasi diri jangan sampai melanggar hak orang lain. hak untuk hidup . Manusia memiliki kebutuhan pribadi baik kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani. Meskipun di masyarakat secara umum sudah dikenal tentang tata susila yang berlaku namun seringkali orang melanggar tata susila itu. Hanya mengutamakan kepentingan pribadi tanpa memperhatikan adanya kepentingan orang lain. Dalam memenuhi kebutuhan pribadi tidak boleh mengorbankan hak pribadi orang lain. Dalam hubungan sosial maka hak pribadi merupakan batas bagi orang lain untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. hak perlindungan. Dalam rangka mengatur hubungan sosial masyarakat maka dibutuhkan aturan tingkah laku yang disebut tata susila. Sebagai mahluk sosial manusia tidak dapat hidup sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan pribadi seseorang membutuhkan pertolongan orang lain. yang paling utama harus dilakukan adalah:  Mengembangkan cinta kasih sesama.Untuk bisa mengimplementasikan ajaran Tat Twam Asi. Hak-hak tersebut antara lain. agar setiap individu dalam satu lingkungan aman/terhindar dari serangan penyakit demam berdarah maka mereka bekerjasama bergotong royong membersihkan lingkungan dari kemungkinan tempat-tempat nyamuk bersarang. apalagi di jaman sekarang sangatlah mustahil manusia hidup tanpa berhubungan dengan orang lain. kita punya hak untuk mendengarkan musik dari tape milik kita sendiri. Pendidikan Agama Hindu 51/76 . Hal ini tentu saja akan menimbulkan ketidak harmonisan dalam sosial kemasyarakatan. untuk ini kita perlu melatih pengekangan diri untuk mengurangi rasa ego. kapanpun kita suka. Pelanggaran tata susila terjadi biasanya dilakukan oleh orang-orang yang kurang mampu mengedalikan diri. hak memiliki. hak mendapatkan kasih sayang dan sebagainya. Tetapi harus diingat bahwa ada hak orang lain untuk beristirahaT dan tidak diganggu oleh kebisingan. Contoh. Dengan demikian maka diharapkan dalam hubungan sosial manusia dapat mencapai kebahagiaan.

Sebagai individu kita memiliki kebutuhan-kebutuhan pribadi yang harus dipenuhi. serta kebutuhan kasih sayang.Konsep ajaran Tat Twam Asi jika dimaknai dan dihayati dengan benar maka dapat dijadikan sebagai kunci pembuka kasih di hati sehingga dapat secara perlahan mengurangi rasa keakuan/ego ( ahamkara ). Dalam ranka membina hubungan harmonis sesama manusia. Setiap individu berhak untuk memenuhi kebutuhan tersebut. keluarga serta tetangga atau teman.  Merasakan penderitaan orang lain. Sebagai implementasi ajaran tat twam asi ada beberapa konsep yang dapat kita pedomani antara lain :  Memandang semua manusia adalah sama. kita harus bisa mengolah manah ( pikiran ). D. 1. papan. anak. orang tua. Dalam membina hubungan sosial inilah kita perlu memahami dan mengamalkan ajaran Tat Twam Asi. Dalam Kitab Yajur Weda Adyaya 40. Dalam memenuhi sandang kita perlu orang yang menjual pakaian atau bahan untuk membuat pakaian. Dalam rangka memenuhi kebutuhan pribadi tersebut kita sebagai mahluk pribadi tidak dapat memenuhi semuanya sendiri. kita perlu bantuan dan kerjasama dengan orang lain. budhi (kemampuan mengambil keputusan benar atau salah ). Dalam memenuhi kebutuhan pangan misalnya.  Melaksanakan ajaran Tri Parartha. dan ahamkara ( rasa keakuan sebagai motivasi bertindak) yang ada dalam diri sehingga menjadi seimbang dan mengutamakan bahwa hubungan harmonis sesama manusia adalah kebutuhan utama dalam hidup ini. Dengan daya pikir tersebut kita dapat melakukan yadnya utuk menyucikan diri sendiri serta menyucikan alam. sloka 7 disebukan : Pendidikan Agama Hindu 52/76 . Hal ini karena diantara semua mahluk ciptaan Ida Sang Hyang Widhi hanya manusia yang diberikan idep ( daya pikir ). Demikian juga dalam memenuhi kebutuhan kasih sayang kita memerlukan suami/istri. IMPLEMENTASI TAT TWAM ASI Di dunia manusia memegang peranan utama dalam mewujudkan hubungan harmonis antara manusia.  Melaksanakan Tri Kaya Parisudha. seperti kebutuhan sandang. Memandang semua manusia adalah sama. pangan. Sang Pencipta. Dalam ajaran Hindu dinyatakan bahwa manusia itu pada dasarnya adalah sama dan berasal dari sumber yang sama. alam lingkungan serta Tuhan. kita perlu orang yang menjual makanan atau bahan untuk membuat makanan. Manusia adalah mahluk individu sekaligus mahluk sosial. Dalam kaitan memenuhi kebutuhan pribadi yang berhubungan dengan orang lain inilah kita disebut sebagai mahluk sosial.  Melaksanakan ajaran Catur Paramita.

Atman adalah kesadaran kesadaran murni yang memuliki sifat sama dengan Brahman ( Atman Brahman Aikyam). Dengan pemahaman ini maka kita seharusnya belajar untuk memandang setiap orang adalah sama. badan jasmani serta pribadinya. Dalam sloka di atas tersirat dua konsep pandangan Hindu atas keberadaan umat manusia. warna kulit. tetapi spirit kehidupan setiap orang sama. Dari sinilah mulai timbul ketidakharmonisan. budaya dan tradisi bisa berbeda.Seseorang yang menganggap seluruh umat manusia memiliki Atman yang sama dan dapat melihat semua manusia sebagai saudaranya. antar kelompok serta tindakan-tindakan yang merendahkan martabat kelompok lain juga sebagai contoh pengaruh ego ( rasa keakuan) menguasai manusia. budhi. Pada dasarnya tidak ada satu orangpun di dunia ini yang ingin hidup dalam kekacauan. seperti suku. Manas adalah pikiran sedangkan budhi adalah kemampuan manusia untuk mengolah dan merasakan baik dan benar. Sifat ego yang berlebihan cenderung mendorong manusia untuk mempertajam perbedaan-perbedaan. Kenapa? Karena semua bersumber dari yang satu yaitu Brahman. Atman adalah percikan-percikan terkecil dari Brahman ( Hyang Widhi). kita tidak boleh membedakan derajat manusia hanya dari sisi luarnya saja. sedangkan ahamkara lebih menitik beratkan Pendidikan Agama Hindu 53/76 . Terjadinya kerusuhan dan perkelahian antar warga. Semua manusia pada dasarnya adalah saudara. Hanya saja pengaruh pola pikir yang sempit serta mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompoknya saja. maka timbul tindakan-tindakan yang merugikan pihak lain. Dalam satu keluarga besar . orang tersebut tidak terikat dalam ikatan dan bebas dari kesedihan. Jadi jika kita membeda-bedakan orang berarti kita membeda-bedakan Hyang Widhi. ras. Warna kulit bisa berbeda. tingkat ekonomi dan sosial juga bisa berbeda. Terjadinya sejarah penjajahan suatu bangsa adalah contoh perlakuan yang membedakan derajat manusia. 2. bangsa. dan ahamkara. Semua ingin hidup damai dan harmonis. Manusia diciptakan lengkap dengan manas. semua memilik keinginan untuk hidup berdampingan secara damai. Selanjutnya konsep kedua dalam sloka di atas juga mengajarkan pada kita bahwa semua manusia di seluruh dunia adalah sebuah keluarga besar. Perbedaannya hanyalah pembungkus luarnya saja yakni. Karena atman berasal dari Brahman maka pada tingkat kesadaran tertinggi semua atman-atman yang menghidupi semua manusia di dunia adalah sama. Pertama . Banyak contoh-contoh penajamanpenajaman kelompok dan ras yang terjadi baik sebagai catatan sejarah maupun tradisi yang melekat di masyarakat sampai saat ini. Merasakan penderitaan orang lain. kasta dan sebagainya. disana ada sinar Tuhan yaitu Atman. ini berarti bahwa atman-atman yang ada pada setiap manusia adalah sama. Sama-sama memiliki sinar Tuhan. bahwa di setIap manusia terdapat unsur utama yang sama yaitu atman.

Karena itu orang yang dalam keadaan suka seharusnya belapang dada membantu sesame yang sedang dirundung penderitaan. Di dalam kitab Sarasamuscaya 73-76 disebut sepuluh hal untuk menjaga kesucian Tri Kaya agar menjadi suci. Ukuran rasa kemanusiaan seseorang adalah apabila dia dapat merasakan pendertaan orang lain sebagai penderitaannya. 3. Ada orang yang mengalami duka paa saat tertenu. Melaksanakan Tri Kaya Parisudha (tiga prilaku yang disucikan). patut dikembangkan sehingga dapat didayagunakan untuk mengatasi persoalan hidup masa kini dan masa yang akan datang. Dalam kehidupan tradisional di Bali. Tiap orang selalu mengalami suka dan duka dalam kehidupannya di dunia in Saat suka dan duka itu. Perpaduan antara budhi dan ahamkara pada seseorang sangat menentukan kualitas rasa/perasaan orang tersebut. Ikut serta menanggulangi penderitaan orang lain adalah sesuai dengan kemampuan dan swadharma masing-masing. dan tiga untuk menyucikan perbuatan/prilaku. Type orang seperti ini adalah selalu menuntut hak terlebih dahulu tetapi mengabaikan kewajibannya. Inilah hakekat dan ajaran Tat Twam Asi. Karena dirasakan sebagai penderitaannya maka ia sendiri akan ikut aktif menanggulangi penderitaan orang lain.pada rasa keakuan sebagai motivasi dasar untuk bertindak. Tiga untuk menjaga kesucian pikiran. Sayang kebanyakan orang tidak menggunakan kesempátan mi untuk mengamalkan rasa kemanusiaannya. uamt Hindu mengatasi keadaan suka dan duka sudah sangat melembaga. Kalau keadaan suka dan duka itu diatasi secara bersama-sama. Nilai-nilai tradisi yang dikandung oleh lembaga suka duka tradisional itu. Hanya mementingkan diri sendiri tanpa peduli pada keadaan maupun perasaan orang lain. maka berbagai beban hidup itu akan dirasakan ringan dan tidak terlalu menyusahkan. dan pada saat itu juga ada orang lain yang mengalami keadaan suka. yang disebut Karma Patha. empat untuk menjaga kesucian kata-kata. Jika seseorang memiliki ahamkara yang tinggi tanpa dibarengi dengan olah budhi yang matang cenderung melahirkan sifat keakuan / ego yang tinggi. Dalam sistem kehidupan yang modem dewasa mi sesungguhnya banyak pihak yang mendapat kesempatan untuk mengamalkan rasa kemanusiaannya. Pendidikan Agama Hindu 54/76 . tidak dapat dirasakan secara bersamaan oleh semua manusia. Justru penderitaan orang lain sering dijadikan ajang untuk mencari keuntungan guna memperkaya diri sendiri. Berikutnya jika seseorang memiliki perimbangan dalam penguasaan ahamkara dan memiliki budhi ang tinggi maka orang tersebut akan senantiasa memikirkan rasa dan kepentingan orang lain sebelum bertindak untuk kepentingan pribadinya.

perkataan dan pikiran itulah patut diperhatikan . perinciannya gerak pikiran. seperti diuraikan dalam kitab Manawa Dharmasastra.a. Di dalam kitab Sarasamuscaya. sapuluh. Oleh karena itu kuatkanlah pikiran agar pikiran tersebut yang mengatur laku indria. Karena itu proses penyucian pikiran disebut “manacika parisudha”. ulahakèna. sehingga pikiran sering disebut Rajendria. gerak tindakan. jiwa manusia dengan pelajaran suci dan tapa brata. Sucikanlah pikiran dengan satya. pikiran disucikan den gan kebenaran. ulahaning wàk. empat jumlahnya. tèlu. pnda. Ada tiga cara melakukan manacika atau penyucian pikiran yaitu: 1) Tidak menginginkan dan tidak dengki terhadap milik orang lain Pendidikan Agama Hindu 55/76 . sapuluh kwehnya. perbuatan yang timbul dari gerak badan. 73-74 disebutkan: Hana karmapatha ngaranya kahrtaningindriya. Dalam kehidupan manusia di dunia mi Pikiran paling menentukan kualitas prilaku manusia Pikiranlah yang mengatur gerak sepuluh indria. pat prawrttyaning käya. wak. yaitu pengendalian hawa nafsu. (Manawa Dharmasastra. tèlu kwehnya. tiga banyaknya. sepuluh banyaknya yang patut dilaksanakan. manah kengèta.109 sebagai berikut: “Adbhirgatrani çuddhyanti manah satyena çuddhyati.jadi sepuluh banyaknya. perilaku perkataan. V109) Artinya: Tubuh dibersihkan den gan air. prawrttyaning káya. widyatapobhyam bhutatma budhir jnanena cuddhyati “. Artinya: Adalah karmapatha namanya. kramanya. dan setelah dicemari oleh hawa nafsu disebut manah. V. Pikiran yang masih suci tanpa dicemari oleh hawa nafsu disebut citta. Manacika. Kalau raja ini tidak baik maka indria pun akan tampil tidak baik. tiga banyaknya. prawrttyaning manah sakarèng. Demikianlah pada hakekatnya pikiran tersebut selalu dijaga kesuciannya dengan satya/kebenaran/kejujuran. kecerdasan dengan dengan pengetahuan yang benar.

Meskipun kita melihat orang berbuat buruk pada saat ini dan kenyataannya ia bemasib baik. Sedangkan perbuatan buruk yang dilakukan saat ini sudah pasti akibatnya akan diterima kelak. Pendidikan Agama Hindu 56/76 . Oleh perkataan engkau akan mendapatkan sahabat. siapa yang berbuat baik akan mendapat pahala yang baik dan siapa yang berbuat buruk sudah dapat dipastikan akan mendapatkan hasil yang buruk. Hal ini sangat penting untuk dipahami dan dihayati. Kata-kata ibarat pisau bermata dua. b. seperti rasa in. Wacika adalah perkataan yang baik (suci). Pikiran akan menjadi suci (ning) bila tidak menginginkan milik orang lain serta tidak membenci milik orang lain . Semua makhluk hidup berasal dan atma yang sama yaitu Ida Sang Hyang Widhi. 2) Tidak berpikir buruk terhadap orang lain dan kepada semua makhluk. Wacika. disatu pihak akan bisa mendatangkan kebahagiaan dan dilain pihak akan bisa mendatangkan penderitaan bahkan kematian.Perbuatan ini dapat menimbulkan kecendrungan yang negatif. Nasib baik yang ia tenima saat ini pasti karena perbuatan baik sebelumnya yang ia lakukan. Orang yang selalu berusaha mengedalikan pikiran dan diarahkan pada niat SUCi akan jarang mendapat persoalan sulit dalam kehidupannya dimasyarakat. Oleh perkataan engkau akan men dapatkan kesusahan. Orang yang hidup sehat dan berumur panjang salah satu penyebabnya karena ia menumbuhkan rasa cinta kasih pada semua makhluk.3 sebagai berikut: Wasita Wasita Wasita Wasita nimittanta nimittanta nimittanta nimittanta manemu laksmi. manemu duhka. Hidup dalam keadaan in akan membuat kita menderita. Sifat ini timbul karena kurang tumbuhnya rasa kasih sayang terhadap sesama. itu pun karena hukum karma phala juga. manemu mitra Artinya: Oleh perkataan engkau akan mendapatkan bahagia. seperti termuat dalam kitab Nitisastra sargah V. entah kapan. Harus kita yakini benar kesungguhan hukum Tuhan tersebut. Beliau mentakdirkan ada makhluk yang bernasib baik dan ada yang bernasib buruk sesuai dan karmanya masingmasing. pati kapangguh. Oleh perkataan engkau akan menemui ajalmu. 3) Tidak mengingkari hukum karmaphala.

Cegahlah lidah agar tidak mengucapkan kata-kata fitnah.dan sesungguhnya akan dapat mengurangi vibrasi kesucian bagi yang mengucapkan. seperti menghardik. dan mencela. Kalau ia tidak mampu berbuat lebih dan kenyataan maka fitnahpun akan dipakai senjata agar ia kelihatan lebih dan yang lain. baik kesucian yang mengucapkan maupun yang mendengarkan. Ada empat cara (karma patha) untuk menyucikan perkataan yaitu: 1) Tidak berkatajahat (ujar ahala). Oleh karena itu marilah kita sucikan wak/katakata sehingga menjadi “wacika” yaitu kata-kata yang suci. karena katakata yang suci mi akan dapat mengantarkan kita kepada sahabat atau mitra dan kepada kebahagiaan atau laksmi. Berbohong juga sering dilakukan untuk menutupi kekurangan din. meskipun fiat baik. Bagi yang mempunyai kebiasaan berkata kasar. 3) Tidak memfitnah (raja pisuna). mencaci. Karena dalam kata-kata yang jahat itu ada gelombang yang mengganggu keseimbangan vibrasi kesucian.Demikianlah akibat dan perkataan yang diucapkan ada yang baik dan ada yang buruk. kalau diucapkan dengan kata-kata yang kasar maka fiat baik itu akan turun nilainya (menjadi tidak baik). Perlu diperhatikan. 4) Tidak mengeluarkan kata-kata yang mengandung kebohongan. Dalam persaingan hidup orang sering mengalahkan persaingan dengan cara memfitnah agar lawan dengan mudah dikalahkan. 2) Tidak berkata kasar (ujar aprgas). Ada pepatah mengata’kan fitnah itu lebih kejam dan pembunuhan. berbohong dan sebagainya tidak usah dipelihara. Agar ia kelihatan lebih dan orang lain bohongpun sering dilakukan. Kebiasaan berbohong mi juga sering didorong oleh nafsu distinksi tadi. Salah sam sifat manusia yang dapat menimbulkan akibat negatif adalah yang disebut “distinksi” yaitu suatu dorongan untuk lebih dan orang lain. Kata-kata yang kotor seperti raja pisuna (fitnah). wak purusya (berkata kasar). Kata-kata kotor atau buruk disebut Mada (dalam Tri Mala). Kata-kata yang jahat yang terucap akan dapat mencemarkan vibrasi kesucian. Kata-kata kasar itu sangat menyakitkan bagi yang mendengarkan . Menghilangkan kebiasaan berbohong mi haruslah dibiasakan untuk rela menerima apa adanya sesuai dengan karma Pendidikan Agama Hindu 57/76 . sebab hal tersebut akan bisa mendatangkan penderitaan bahkan lebih fatal lagi bisa menyebabkan kematian. berjuanglah untuk merubahnya.

c. Kebaikan itu hanya dapat diwujudkan dengan cara membiasakannya sampai melembaga dalam tingkah laku. Kayika (perbuatan). Dalam kaitannya dengan memelihara tindakan kitab Sarasamuscaya sloka 76 menegaskan sebagai berikut: Pendidikan Agama Hindu 58/76 . Pada mulanya memang dirasakan beban. Untuk melatih itu biasakanlah menyanyikan namanama Tuhan atau Dharmagita atau Mantram-mantram tertentu secara tents menerus. maka seseorang akan mampu mngendalikan indrianya dan akan menyebabkan orang lain senang dan bahagia. Tindakan seseorang dapat menyebabkan orang menjadi senang. Demikianlah empat hal yang harus dibiasakan agar tidak keluar dan lidah kita katakata yang tidak baik atau menyakitkan. tapi lama kelamaan akan menjadi kebutuhan. Hal mi sangat ditentukan oleh pross berpikir scseorang. Artinya bila pikirannya dilandasi oleh fiat yang baik. Tindakan-tindakan yang suci mi perlu dipelihara.kita. Tindakan atau perbuatan jasmani atau pisik merupakan upaya seseorang untuk mengaktualisasikan hasil proses berpikir dan apa yang diucapkan dengan kata-kata. itikad yang baik. Hal mi memang memerlukan kesungguhan. karena mengubah kebiasaan jelek memang tidak mudah. sampai kebiasaan itu dapat dihapuskan. Orang yang demikian itu disebut “Sadhu” yaitu orang yang tidak melakukan kekerasan. bahagia dan atau sebaliknya menyakiti hati orang lain.

hendaknya dihindari saja ketiganya itu. Artinya: Inilah yang tidak patut dilakukan : membunuh. Ahimsa tergolong sifat-sifat kedewataan (daiwi sampat). Kutipan sloka mi memberikan informasi tentang pentingnya kesucian tindakan seseorang. bersendagurau. menerima suap dan tidak nepotisme serta tidak rakus. merampok. syamatimati man gahalahal. Jika seseorang melakukan tindakan sebaliknya yaitu melakukan tindakan kekerasan maka akan terjadi pelanggaranpelanggaran hak asasi manusia seperti mempropokator umat agama lain untuk pindah ke agamanya sendiri. Dengan terpeliharanya ajaran ahimsa berarti tidak ada kekerasan dalam kehidupan bersama didunia mi. Pada umumnya ahimsa diartikan tidak boleh membunuh atau tidak menyakiti secara pisik. Orang yang berhasil menumbuh kembangkan sifat-sifat kedewataan akan lebih mudah meraih karunia dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. mengambil hak orang lain secara tidak sah. Siparadara. ketiganya jut jangan hendaknya dilakukan terhadap siapapun. Ring apatkala. baik secara berolok-olok. agar tidak mclakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang atau asubha karma. namun sebenarnya walaupun tidak secara pisik tetapi bila segala perilaku itu menyebabkan orang lain sakit hatinya juga tergolong perbuatan himsa. ri pan gipyan tuwi singgahana jugeka. serta senang melakukan amal. 2) Tidak mencuri. Jika kesucian perbuatan tidak dijaga akan berakibat terjadinya pemaksaan terhadap orang lain yang berimbas kepada tidak adanya hubungan yang harmonis sehingga tidak akan tercapai kedamaian dihati. kedamaian dibumi dan kedamaian Pendidikan Agama Hindu 59/76 . Hakekat dan manusia hidup didunia mi adalah bersaudara. melecehkan kesucian agama. keadaan darurat dalam khayalan sekalipun. baik dalam keadaan dirundung malang. nahan tang telu tan ulahakena ring asing ring paribasa. Ahimsa merupakan pengejawantahan masyarakat yang damai atau santih. Intinya disini seseorang tidak terlalu terikat oleh bendabenda duniawi.Nihan yang tan ulahakena. merendahkan martabat umat agama yang lain dan sebagainya. mencuri berbuat zinah. Adapun tiga tindakan suci tersebut adalah: 1) Tidak menyakiti atau tidak membunuh (ahimsa).

dibawah ini disajikan beberapa bentuk larangan-larangan yang harus dipatuhi oleh umat manusia sebagai berikut: Pendidikan Agama Hindu 60/76 . Mengadakan hubungan kelamin dengan suami/istri orang lain. Dan jika kesucian perbuatannya tidak dijaga maka baik terhadap sipelaku maupun orang lain akan mengalami kerugian. Mudita artinya selalu memperlihatkan wajah yang riang gembira dan sopan d. Catur Paramita. ‘. walaupun disinggung perasaannya oleh orang lain. Adapun . 4. maksudnya selalu memupuk rasa kasih sayang terhadap semua mahluk c. Mengadakan hubungan kelamin dengan paksa. Catur paramita merupakan salah satu dan landasan atau pedoman untuk melaksanakan ajaran susila atau etika dalam ajaran agama Hindu. Maitri artinya senang mencari kawan dan bergaul. ia tetap tenang dan selalu berusaha membalas kejahatan dengan kebaikan (suka memaafkan) Guna lebih mudah dapat memahami ajaran catur paramita.. d. Banyak terjadi pelacuran atau tuna susila maka kehidupan kita sebagai manusia yang menjuiijung tinggi budaya dan agama akan menjadi hancur. b. Karuna artinya belas kasihan.3) diakhirat. Berzinah artinya sikap suka memperkosa wanita atau istri orang lain Adapun yang temasuk perbuatan berzinah (paradara) adalah: a. serta menarik hati segala prilakunya sehingga menyenangkan orang lain dan din pribadinya b. c. Perbuatan ini harus dikendalikan karena bisa menimbulkan kemerosotan moral. Mengadakan hubungan kelamin (sex) antara pria dan wanita dengan jalan tidak sah. karena kalau itu dibiarkan maka kemerosotan moral akan makin memuncak. Mengadakan hubungan kelamin atau sex yang dilarang oleh agama. Berzinah merupakan perbuatan yang sangat hina dan terkutuk. bagian-bagian dan ajaran catur paramita tersebut adalah a. ramah tamah. artinya tidak atas dasar cinta sama cinta (perkosaan). yakni tahu menempatkan diri dalam masyarakat. Larangan melakukan zinah itu memang wajar. Upeksa artinya senantiasa mengalah demi kebaikan. Tidak berzinah.

Pendidikan Agama Hindu 61/76 . kesengsaraan atau jangan bengis. b. Untuk dapat berbuat karuna. maka kita jangan melakukan perbuatan yang membahayakan dan jangan membenci. c. maka pantang melakukan perbuatan yang menyebabkan terjadinya penderitaan. tersiksa.a. jangan melakukan perbuatan yang dapat menyebabkan orang lain susah. Untuk dapat berbuat maitri. atau jangan memiliki rasa dengki dan in hati terhadap orang lain. Untk dapat berbuat mudita.

umat manusia tidak akan dapat berbuat banyak dalam hidup dan kehidupan mi. terdiri dari : 1. dan semuanya itu hendaknya diwujudkan sebagai amal dan ibadah (yajna Pendidikan Agama Hindu 62/76 . tulus ikhlas. 2. kesejahteraan. Bhakti artinya hormat. dan kesukaaan hidup umat manusia. guna tetap tegaknya dharma. Tri Parartha adalah ajaran agama Hindu untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. manusia itu dapat menyelamatkan dirinya dengan jalan mengamalkan ajaran Tri Parartha. Adapun ajaran Tri Paratha yang dimaksud dapat mengantarkan umat manusia mencapai keselamatan dan kebahagiaan serta kesejahteraan hidupnya. 3. Kitab Rg Weda menyebutkan sebagai berikut: Ajaran berdhana punia yang didasari dengan cara bhakti dan rasa cinta kasih mempunyai suatu manfaat yang amat penting dalam hidup dan kehidupan mi. Dengan demikian diantara kita sesama makhluk ciptaan Tuhan hendaknya dapat hidup berdampingan serasi. Hidup saling mengasihi diantara kita adalah merupakan prilaku umat manusia utama yang dapat mengantarkan tercapainya kebahagiaan yang abadi (moksa).d. Berdasarkan ajaran agama Hindu. Keselamatan. Ajaran Catur Paramita sebagai realisasi dan ajaran Tat Twam Asi patut dijadikan pedoman oleh manusia untuk mewujudkan kehidupan mi yang sempurna. kebahagiaan. keselamatan. Punya artinya dermawan. Asih artinya cinta kasth. keagungan. Untuk dapat berbuat upeksa. kesejahteraan dan kebahagiaan adalah merupakan kebutuhan hidup umat manusia yang vital mesti dinikmati dalam hidup dan kehidupannya. Tanpa keselamatan dalam hidupnya. Tri Parartha. memandang rendah orang lain. Asih . selaras. harmonis dan damai. Tri Parartha berarti tiga prihal yang dapat menyebabkan terwujudnya kesempurnaan. menindas orang lain atau selalu berusaha untuk mengendalikan dorongan hawa nafsu jahat. Demikianlah ajaran Catur Paramita patut kita realisasikan dalam hidup dan kehidupan mi. punya. dan bhakti merupakan ajaran agama Hindu yang patut dihayati dan diamalkan dalam hidup dan kehidupan mi. maka pantang menghina orang lain. sujud. 5.

3. dan keamanan. gambar-gambar. Kurang tertanamnya jiwa agama pada setiap individu yang ada dalam masyarakat. karena itu adalah merupakan kewajibannya untuk menegakkan dharma. Diperkenalkannya secara populer obat-obatan dan sarana anti hamil. Keadaan masyarakat yang kurang stabil. 4. dan sebagainya. Semua umat Hindu hendaknya melakukan hal itu. Banyaknya tulisan-tulisan.karma). keseniankesenian yang kurang mengindahkan dasar-dasar. sosial. ekonomi. mewujudkan ajaran wairagya (tidak terikat akan pengaruh benda-benda duniawillahiriah) yang dapat memuaskan indria/nafsu belaka manusia secara pribadi. Pendidikan moral belum terlaksana sebagaimana mestinya. 2. Itu suatu pertanda bahwa banyak orang sudah mulai melepaskan konsep etika yang ada pada dirinya. 6. politik. dan bhakti) ini adalah menumbuhkan sikap mental masing-masing pribadi umat manusia. Namun dewasa ini rupa-rupanya kalau secara jujur kita akui kemerosotan moral semakin hari semakin bertambah. para remaja. Kurang adanya individu/organisasi/lembaga yang memfasilitasi tempattempat bimbingan dan penyuluhan moral bagi anak-anak/remaja yang menganggur. Pendidikan Agama Hindu 63/76 . norma-norma/aturan tentang tuntunan moral. baik di lingkungan sekolah. Kemerosotan moral dapat dilihat di dalam tayangan-tayangan criminal seperti Sergap. maupun orang tha. Patroli. Tujuan pokok dan ajaran Tri Parartha (asih. 5. maupun di tingkat rumah tangga. Sesungguhnya banyak sekali tanda-tanda kemerosotan moral yang terjadi di lingkungan masyarakat baik itu dialami oleh anak-anak. baik dalam bidang pendidikan. Ajaran Tat Twam Asi sudah ditinggalkan menjadi individualistis. 7. Buser. masyarakat. Adapun penyebabnya antara lain: 1. punia. siaran-siaran. itu mungkin baru sebagian kecil yang diungkap. Situasi dan kondisi rumah tangga yang kurang stabil/baik.

10) 1. dari akar kata Crt Yang berarti mendengar langsung. keduanya harus tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga karena keduanya adalah kitab suci yang menjadi sumber dari agama Hindu. Jadi Weda Sruti adalah Kelompok Weda yang ditulis oleh para Maha Rsi melalui pendengaran langsung dan wahyu Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan. te sartwarhawam imamsyo tabhyam dharmohi nirha bhau Artinya: Sesungguhnya Sruti (wahyu) adalah Weda demikian pula Smrti itu adalah Dharmasastra. Jadi Smrti merupakan.BAB VI KITAB SUCI WEDA SRUTI DAN WEDA SMRTI Rsi Manu membagi jenis isi Weda itu kedalam dua kelompok besar yang disebut. Weda Sruti 2. buku pedoman yang isinya tidak bertentangan dengan Sruti. Menurut sifat isinya weda ini dibagi atas tiga bagian yaitu: 1) Bagian Mantra 2) Bagian Brahmana (Karma Kanda) 3) Bagian Upanisad/ Arnyaka (Jnana Kanda) Pendidikan Agama Hindu 64/76 . (MDs. II. sebagai berikut: Srutistu Weda Wijneyo dharmacastram tu wai Smrtih. (Dharma). Oleh karena itu “Bhagawan Manu” menegaskan dalam kitabnya “Manawa Dharmasastra” 1110. Pelaksanaannya adalah Nibandha. Weda Sruti Kata Sruti sesungguhnya berasal dan bahasa Sanskerta. Weda Smrti Pembagian dalam dua jenis ini dipakai selanjutnya untuk menamakan semua jenis buku yang dikelompokkan sebagai kitab Weda balk secara tradisional maupun secara institusional ilmiah. 1. Kedua-duanya merupakan sumber Hukum yang mengikat yang harus diterima. Kelompok Weda Sruti menurut Bhagawan Manu merupakan Weda yang sebenarnya ada Weda orisinal. Bila dibandingkan dengan ilmu politik Sruti adalah merupakan UUD nya Hindu sedangkan Smrti adalah UU Pokok dan UU. Kelompok Weda Sruti isinya hanya memuat wahyu sedangkan kelompok Smrti isinya adalah sebagai ingatan kembali terhadap Sruti.

Weda atau Rg. Yajur Weda hitam (Kresna yajurweda) yang terdiri atas beberapa resensi antara lain. sedangkan mantra-mantra didalam Yajurweda hitam terdapat pula mantra-mantra yang menguraikan arti Yajna. Wedasamhita 2) Sama Weda atau Samawedasamhita 3) Yayur Weda atau Yayurwedasamhita 4) Atharwa Weda atau Atharwawedasamhita Dari keempat kelompok Weda itu. yang juga disebut Maitraneyi samhita. juga dikenal Wajasaneyi samhita). Jenis Weda ini ada dua macam yaitu: a. Mantra Bagian mantra terdiri dan empat himpunan (samhita) yang disebut catur weda samhita. Perbedaan pokok antara Yajur Weda Putih dengan Yajur Weda hitam hanya sedikit saja. Yajur Weda putih (Sukla yajurweda). ditambah dengan beberapa mantra tambahan baru. Menurut penelitian Samaweda terdiri atas 1810 mantra.Ad. atau kadang-kadang ada yang mengatakan 1875. yaitu: 1) Yajur Weda hitam (krsna Yajur Weda). merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran umum mengenai pokok-pokok yajnya (yajus. Karena itu disebut Trayi Weda atau “Tri Weda” Pengenalan catur weda hanya karena kenyataan Weda ini secara sistimatik telah dikelompokkan atas empat Weda. kitab ini terdiri atas 101 resensi yang sebagian besar sudah lenyap. Yajur Weda terdiri atas mantra-mantra yang sebagian besar berasal dan Rg. merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran-ajaran umum dalam bentuk pujaan 2) Sama Weda Samhita . Weda. yaitu: 1) Rg.) 2) Yajur Weda putih (Sukla yajur weda. Samaweda terdiri atas mantra-mantra yang berasal dari Rg. Yajur Weda putih terdiri atas mantra-mantra dan doa-doa yang harus diucapkan pendeta di dalam upacara. Taitiriya samhita dan Maitrayanisamhita. Weda. Kitab mi terbagi atas dua aliran. pluralnya Yajumsi). Tambahan ini umumnya berbentuk prosa. Menurut Bhagawan Patanjali.1. Bagian terakhir ini merupakan bagian tertua dari Yayur Weda itu. Pembagian empat kelompok isi weda itu yaitu: 1) Rg Weda Samhita . Pendidikan Agama Hindu 65/76 . tiga kelompok pertama sering disebut-sebut sebagai mantra yang berdiri sendiri. 4) Atharwa Weda samhita . atau saman 3) Yayur Weda Samhita . merupakan kumpulan mantra-mantra memuat ajaran umum mengenai lagu-lagu pujaan. merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran yang bersifat magis (Atharwan). b.

Kitab Rg. Punirawa. Bagian terakhir dan kitab mi merupakan sumber bagian kitab “Brhadaranyakapanisad”. Sebagaimana halnya dengan tiap-tiap mantra memiliki kitab Brahmana. Bagian Brahmana (Karma Kanda) Bagian kedua yang terpenting dan kitab Sruti ini adalah bagian yang disebut “Brahmana” atau “Karma Kanda”. Weda memiliki dua jenis buku Brahmana yaitu Aitareya Brahmana dan Kausitaki Brahmana (Sankyana Brahmana). Kitab Samaweda memiliki kitab Tandnya Brahmana yang juga sering dikenal dengan nama “Pancawimsa “. Weda.Atharwa Weda yang disebut atharwawedangira. Disamping itu ada pula “Sadwimsa Brahmana” Kitab ini terbagi atas 25 buku dimana bagian terakhir yang terkenal adalah kitab “Adhuta Brahmana” merupakan jenis “Wedangga” yang memuat mengenai ramalan-ramalan dan penjelasan mengenai berbagai mujijat. Himpunan buku-buku ini disebut Brahmana. Brahmana berarti doa. Pendidikan Agama Hindu 66/76 . Yajur Weda dan Atharwa Weda) memiliki Brahmana. Himpunan ini merupakan bagian teori mengenai ke Tuhanan. Di dalam kitab Brahmana ini mula-mula kita jumpai ceritra Sakuntala. Nama ini disebut demikian karena kitab ini terdiri atas 100 adhyana. Urwasi dan ceritra-ceritra tentang ikan. Bagian Upanisad/Aranyaka Aranyaka atau Upanisad adalah himpunan mantra-mantra yang membahas berbagai aspek teori mengenai ke Tuhanan. 3. Weda. Yajur Weda putih (Sukia Yajurweda) memiliki Satapatha Brahmana. Kadang-kadang Brahmana diartikan penjelasan yang menjelaskan arti kata ucapan mantra. Atharwa Weda mi memiliki kitab “Gopatha Brahmana” Ad. Resensi Paipplada ad. Jadi kitab Brahmana adalah kitab yang berisi himpunan doa-doa yang dipergunakan untuk keperluan upacara yajna. Tiap-tiap mantra (Rg. Kitab mi terpelihara dalam dua resensi yaitu: a. Sama Weda. Himpunan mi merupakan bagian Jnana Kanda dari pada Weda Sruti. merupakan kumpulankumpulan mantra-mantra yang juga banyak berasal dan Rp. Kitab Yajur weda memiliki beberapa kitab “Brahamana” Yajur weda hitam (krsna Yajur Weda) memiliki Taittiriya Brahmana.2. Resensi ini paling terkenal dan terbagi atas 21 buku b. Kitab mi memiliki 5987 mantra (puisi dan prosa). Resensi Saunaka. Kitab mi memuat legenda (ceritera-ceritera kuno) yang dikaitkan dengan upacara Yajna. Demikian pula tiap-tiap mantra memiliki kitab-kitab Aranyaka atau Upanisad.

3. Brhajjabala. Wasudewa. Kaiwalya. Brahma. Sanyasa. Dewi. Adapun perincian dan pada kitab-kitab Upanisad itu adalah sebagai berikut: 1. Aksamalika. Satyayani dan Muktika. Sukharahasya. Tripuratapini. 2. Di dalam penelitian berbagai naskah kitab suci Hindu Dr. Brahma. Niralambha. Upanisad yang tergolong jenis Rg. Pinggalabhiksu. Dattatreya. jumlah upanisad yang disebut secara tegas adalah sebanyak 108 buah buku. Munduka. Ekaksara. Krsna. Upanisad yang tergolong jenis Sama Weda yaitu antara lain: Kena. Nada-bindu. Subata. Sariraka. Ramarahasya. Weda terdiri dan 21 sakha Sama Weda terdiri atas 1000 sakha Yajur Weda terdiri atas 109 sakha.Kelompok kitab-kitab ini disebut rahasya Jnana karena isinya membahas hal-hal yang bersifat rahasia. Untuk jenis Yajur Weda Hitam. Upanisad yang tergolong jenis Atharwa Weda. yaitu antara lain: Prana. dan Saraswatirahasya. Kondika. Naradapariwrajaka. 4. Turiyatita. Parabrahma. Semuanya berjumlah sembilan belas Upanisad. Gopalatapini. Pasupata. Kausika. 2. terdiri dan: Isawasya. Mahanarayana. Pranagnikotra. Maitreyi. Sarabha. Hayagriwa. Maitrayani. dan Garuda Upanisad. Kalisandarana. Mudgala. Atma. Brhadaranyaka. Semuanya berjumlah tiga Pendidikan Agama Hindu 67/76 . Wahara. Rudrasajabala. Mandala brahmana. Yogacudamani. Mandukya. maka jumlah upanisad seyogyanya ada banyak 1180 buah buku tetapi berdasarkan catatan Muktikopanisad. Atharwasira. Matrika. Chandogya. Taittriyaka. Trisikhibrahmana. Garbha. Sarwasara. Sakanda. 4. Awadhuta. Ramatapini. Adwanyataraka. Atharwa sikha. Aruni. Swetaswastara. Narayana. Jabala. Sandilya. terdiri atas Kathawali. dan Bahwrca Upanisad. Sita. Surya. Darsana dan Jabali. Tripura. 3. Wajrasucika. Prramahamsa. dan Atharwa Weda terdiri atas 50 sakha Berdasarkan jumlah sakha itu. Weda yaitu antara lain: Aitareya. Semuanya berjumlah enambelas Upanisad. Dari catatan yang ada: 1. Sriniwasa Murti didalam introdusi kitab saiwa Upanisad mengemukakan bahwa tiap-tiap sakha (cabang ilmu) Weda merupakan satu upanisad. yaitu antara lain: a. Rg. G. b. Annapurna. Upanisad yang tergolong jenis Yajurweda. semuanya berjumlah tigapuluh dua Upanisad. Atmaprabedha. Tarasara. Asartanada. Untuk jenis Yajur Weda putih. Mahat. Awyaka. Katagnirudra. Yogasikha. Nrsimhatapini. Amrtabindu. Mahawakya. Sawitri. yang semuanya berjumlah sepuluh Upanisad. Paramahamsapariwrajaka. Kausitaki. Gamapati. Tejebindu. yaitu 1180 sakha. Nirwana. Adhyatma. Saubhagya. Hamsa. Yajnawalkya. Bhawana. Aksi.

sesudah Veda Sruti. Kata Smrti berasal dari bahasa Sansekerta. Keterangan tentang hal tersebut di atas. Kitab Smrti adalah merupakan kitab pendukung dan penjelasan dan kitab Weda Cruti. Dengan demikian kitab-kitab Smrti tidak boleh bertentangan dengan Weda Cruti. Dharma Sastra berarti Ilmu Hukum Agama Hindu. kenangan. 2. yang ditulis oleh banyak Maharesi. Oleh karena itu pergunakanlah Pendidikan Agama Hindu 68/76 .10 menyebutkan sebagai berikut: Crutistu Wedo Wzjneyo dharmacastram tu wai smrtih te sarwarthes wamimansye tabhyam dharmohi nirbabhau artinya: yang dimaksud dengan Cruti ia!ah Weda dan dengan Smrti adalah Dharma Sastra. kedua macam pustaka suci mi tidak boleh diragu ragukan kebenarannya mengenai apapun juga karena dan keduanya itu hukum inL Berdasarkan uraian di atas. yang juga disebut Dharma atau Dharma Sastra. Dharma berarti hukum dan sastra berarti ilmu.puluh satu upanisad. Bab 11. dan Upanisad diats. Kitab Smrti adalah kitab Veda juga. kita temukan dalam beberapa kitab agama Hindu. menjadi kata smrti (feminime) berarti: ingatan. dengan jelas dapat kita pahami bahwa Smrti merupakan kitab suci agama Hindu. Kitab Smrti memuat tentang ajaran hukum agama Hindu. Smrti adalah kitab suci Weda yang ditulis berdasarkan ingatan oleh para Maharesi bersumberkan pada Veda Cruti. Dengan memperhatikan deretan nama nama kelompok Mantra. Brahmana. semua buku-buku itu adalah merupakan sumber utama dan kedudukannya mutlak perlu dihayati. Untuk mendalami dharma. jelas bahwa kitab Sruti meliputi jumlah yang cukup banyak. karena fungsi dan kedudukannya dipersamakan dengan kitab Veda Cruti. Kitab Smrti adalah kitab suci Veda yang ditulis berdasarkan ingatan oleh para Maharesi dan wahyu Sang Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa. Weda Smrti Smrti merupakan kitab suci agama Hindu. antara lain: Kitab Menawa Dharma Castra. dari kata smrta (neuter) berarti: ingatan. tradisi yang berwenang.

dan penulisnyapun banyak pula. Yoga Sutra. 2) Wyakarana (Tata Bahasa) Kitab Wyakarana isinya menguraikan tentang tata bahasa. keamanan. Kelompok Vedangga b. untuk dapat menghayati Veda dengan benar. Yajna Pawitra dan Brahmanda Purana. terdiri dan beberapa kitab. Ramayana. jenis kitab-kitab Smrti perlu dipergunakan sebagai pedoman hidup (dipedomani). yang terdiri dan: a. Jadi Vedangga berarti batang tubuh dari Veda. memahami. Kitab-kitab suci yang tergolong jenis kitab Smrti itu banyak jumlahnya. fungsi kitab siksa ini adalah sangat penting. Tattwa Suksma. dasar. Vedangga sebagai kitab Smrti. Jenis atau kelompok Vedangga Kata Vedangga.kitab kitab sastra sebagai petunjuk untuk menentukan tentang segala sesuatu yang harus kita kerjakan dan untuk dapat mengetahui apa yang patut kita kerjakan. Sarasamuccaya. tanpa mengerti dan mengetaui tata bahasanya. Untuk dapat mengucapkan mantra (Weda Cruti) dengan baik. dan mendalami Veda dengan baik. jenis kitab-kitab dikelompokkan menjadi dua (2) kelompok besar. juga disebut dengan nama Pratisakhya. sumber. Untuk dapat mengamalkan Veda secara benar di dalam upaya mewujudkan tujuan hidup secara rohani dan jasmani. Veda berarti ilmu pengetahuan suci dan angga berarti bagian. anggota. Cilakrama. Bharatayudhya. Untuk dapat mempelajari. Pendidikan Agama Hindu 69/76 . kecil kemungkinannya dapat diketahui. badan. Beberapa kitab suci agama Hindu yang termasuk kitab Smrti. kita hendaknya terlebih dahulu mendalami Vedangga. terdiri dan kata: Veda dan Angga (bahasa Sansekerta). Kelompok Upaveda Smrti a. Niti Sastra. Clokantara. kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. antara lain: Manawa Dharma Sastra. Berdasarkan kebiasaan yang telah berjalan. antara lain 1) Siksa (Phonetika) Siksa adalah kitab Vedangga yang isinya menguraikan tentang petunjukpetunjuk tata cara mengucapkan mantra yang tepat sesuai dengan tinggi-rendahnya tekanan suara. Dalam hubungannya dengan mempelajari mantra (Weda Cruti) kitabkitab siksa. Hal semacam ini disebabkan oleh munculnya berbagai macam kebutuhan masyarakat (umat Hindu) yang diisarakat oleh Veda dalam mencapai keadilan. Manu Smrti. Oleh karenanya kitab Wyakarana ini memiliki fungsi yang sangat penting di dalam kita mempelajari Veda.

yaitu : Midana Sutra dan Chanda Sutra. Melalui pengetahuan yang terdapat dalam kitab Jyotisa juga kita dapat memahami. karena bersumberkan pada pendalaman kitab Chanda semua ayat-ayat Veda dapat dipelajari secara turun temurun. Maharesi Patanjali. Dalam mempelajari Veda kita perlu mendalami kitab Chanda. Begawan Panini. Rg. 3) Chanda (Lagu) Chanda adalah cabang Veda yang secara khusus membicarakan tentang aspek ikatan bahasa dalam Veda yang disebut lagu. 6) Kalpa Kitab Kalpa adalah jenis kitab Smrti (Vedangga) yang isinya berhubungan dengan kitab Brahmana dan kitab-kitab mantra.Para Maharesi yang mendalami tentang tata bahasa (Veda) adalah : Maharesi Sakatayana. 4) Nirukta Kitab-kitab Nirukta berisikan tentang penafsiran otentik yang berhubungan dengan kata-kata yang terdapat dalam Veda. Di antara kitab Jyotisa. Kitab Kalpa mi terdiri dan beberapa bidang kitab antara lain: Pendidikan Agama Hindu 70/76 . yang terdapat masih sampai sekarang adalah kitab Jyotisa Wedangga. isinya yang terutama adalah menguraikan tentang peredaran tata surya. bahwa bagaimana Veda mengajarkan kepada umatnya untuk dapat berhubungan secara harmonis dengan alam dan lingkungannya berdasarkan yadnya. yang terkenal adalah Begawan Panini. dan Begawan Yaska. Beliau menulis Kitab Asta Dhyayi dan Patanjali Bhasa. yang masih terdapat utuh sampai sekarang ada dua buah buku. Hal ini kita dapat persamakan dengan berbagai macam nyanyian yang dapat dinyanyikan dan mudah diingat. Kitab Nirukta ditulis oleh Begawan Yaska pada tahun ± 800 SM. Begawan Panini adalah orang suci yang pertama kali mengenalkan kata bahasa Sanskerta popular (bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat) dan bahasa Daiwak yaitu bahasa para Dewa-Dewa. Dan berbagai macam kitab-kitab Chanda. Kedua kitab ini dihimpun oleh Begawan Pinggala. Kitab Jyotisa adalah kitab pendukung Veda. yang menguraikan tentang pokokpokok pengetahuan dalam bidang astronomi. dan Yajur Veda. bulan dan badan angkasa lainnya yang dipandang dan dianggap memiliki pengaruh dalam pelaksanaan yadnya. Kitab mi memiliki hubungan dengan kitab Veda Cruti. Di antara orang suci tersebut di atas. Veda. Kitab 5) Jyotisa (Antronomi) Kitab Jyotisa.

dilalui oleh empat zaman atau juga disebut Catur Yuga. maka terdapatlah kesan bahwa Veda Smrti itu adalah Dharma Sastra. isinya menguraikan tentang berbagai macam aspek mengenai peraturan hidup bermasyarakat dan bernegara. Pendidikan Agama Hindu 71/76 . Bhagawan Sankhalikhita. Kitab Sulwa Sutra ini. Di antara keempat kitab Dharma Sastra tersebut.a) Bidang Srauta Kitab Srauta atau juga disebut Srauta Sutra. isinya menguraikan tentang berbagai ajaran mengenai aturan pelaksanaan yadnya yang mesti dilaksanakan oleh orang-orang / masyarakat (umat Hindu) yang telah hidup berumah tangga c) Bidang Dharma Sutra Kitab Dharma Sutra. (2) Pada masa Trita Yuga berlaku kitab Dharma sastra yang ditulis oleh Bhagawan Yajnawalkhya. bangunan—bangunan lainnya yang berhubungan dengan arsitektur. d) Bidang Suliwa Kitab Suliwa Sutra adalah merupakan bagian terakhir dan kitab-kitab Kalpa. isinya memuat berbagai macam ajaran mengenai tata cara melakukan yadnya. seperti: (1) Pada masa Satya / Krtha Yuga berlaku kitab Manawa Dharma Sastra karya sastra dan Bhagawan Manu. Kitab Dharma Sutra dipandang sebagai kitab yang sangat penting di antara kitab-kitab jenis Kalpa. yang diterapkan untuk masing-masing bagian Catur Yuga adalah memiliki sifat saling mengisi atau melengkapi di antara sam dengan yang lainnya. (4) Pasa masa Kaliyuga dipergunakanlah Dharma Sastra yang ditulis oleh Bhagawan Parasara. bahwa dalam hidup dan kehidupan kita ini. Karena dipandang sangat penting. isinya memuat tentang petunjuk dan peraturanperaturan mengenai tata cara membuat dan mendirikan tempat suci untuk beribadat (Pura. Agama Hindu mengajarkan kepada umatnya. (3) Pada masa Dwapara Yuga berlaku kitab Dharma Sastra buah karya Bhagawan Sankha Likhita. Candi). bahwa masing-masing yuga dan Catur Yuga mempunyai Dharma Sastranya tersendiri. Kitab Dharma Sutra juga disebut Dharma Sastra. b) Bidang Grhya Kitab Grhya Sutra.

Kata Ityihasa terdiri dan tiga suku kata.b. dan Wisalaksa. yakni “Iti-ha-sa” yang artinya “sesungguhnya kejadian itu begitulah nyatanya. Di samping Maharesi Kautilya yang mengikuti Bhagawan Brhaspati dalam menulis kitab-kitab Artha Sastra. serta Sukraniti. Upaweda juga diartikan Veda tambahan. Kata “upa” dapat diartikan “dekat” dan kata “veda” berarti “pengetahuan suci (kitab suci)”. Bharadwaja. 4) AyurWeda Kitab Ayur Weda kelompok kitab Upaweda. Kitab-kitab yang tergolong kitab Artha Sastra yang lainnya adalah Niti Sastra atau Rajadharma (Dandaniti). 3) Artha Sastra Kitab Artha Sastra mi berisikan tentang pokok-pokok pemikiran bidang ilmu politik. Jenis atau Kelompok Upaweda Kitab-kitab Upaweda merupakan kitab kelompok kedua dan Veda Smrti. ditulis oleh Bhagawan Brhaspati. Jenis kitab Artha Sastra yang digubah di Indonesia adalah jenis Usana dan Niti Sastra. Adapun nama kitab yang termasuk kelompok kitab Ayur weda Pendidikan Agama Hindu 72/76 . kewiraan dan mitologi. setelah kitab-kitab Vedangga. Kitab Upaweda terdiri dan beberapa cabang ilmu. Itihasa adalah karya sastra yang bersifat spiritual. antara lain . seperti : Bhagawan Usana dan Bhagawan Parasara. Kitab Upaweda memiliki fungsi sama pentingnya dengan kitab-kitab Smrtti yang lainnya. yang isinya menguraikan tentang bidang ilmu kedokteran atau kesehatan baik rohani maupun jasmani. Jejak beliau di dalam tulis-menulis kitab-kitab “Artha Sastra” diikuti oleh Maharesi Kautilya (Canakhya). di mana ceriteranya penuh filsafat. adajuga Bhagawan yang lainnya. Nama Itihasa pada mulanya diberikan oleh penulis kitab Mahabharata pada bagian Adiparwa yaitu Bhagawan Wiyasa. yang terdiri dan dua kata. Artha Sastra sebagai bagian dan kitab Upaweda. 1) Itihasa Kitab Itihasa dikelompokkan dalam kitab-kitab Upaweda. 2) Purana Kitab Purana adalah bagian dan kitab—kitab Upaweda. Danding. Kitab Purana berisikan berbagai macam cerita dan keterangan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku pada zaman dahulu kala (kuno). Kata upaweda berasal dan bahasa Sanskerta. Upaweda berarti dekat dengan Veda (Pengetahuan suci). Wisnugupta. roman. Itihasa adalah sebuah epos yang menceritakan sejarah perkembangan raja—raja dan kerajaan Hindu di masa lampait. Kitab Itihasa terdiri dan kitab Ramayana (terdiri dan 7 kanda) dan Mahabharata ( terdiri dan 18 parwa). yaitu : kata upa dan veda.

Kitab mi isinya menguraikan tentang pentingnya ajaran umum di bidang ilmu bedah. dan merupakan dasar bagi ilmu jiwa anak-anak f) Agada Tantra yaitu ilmu toxikologi g) Rasayama Tantra yaitu ilmu mujizat. Kitab Susruta Samhita ditulis oleh Bhagawan Susanta. Yogasara dan Kama Sutra. Berdasarkan materai yang terdapat dalam kitab Ayur Weda maka isi kitab Ayur Weda meliputi delapan bidang ajaran umum. Pendidikan Agama Hindu 73/76 . yaitu: a) Salya yaitu ajaran mengenai ilmu bedah b) Salkya adalah ajaran mengenai ilmu penyakit c) Kayakitsa yaitu ajaran mengenai ilmu obat-obatan d) Bhuta Widya yaitu ajaran mengenai ilmu psikoteraphy e) Kaumara Bhrtya yaitu ajaran mengenai pendidikan anak-anak. Kasyapa Samhita. Di samping itu pula kitab Susruta Samhita mencatatkan berbagai macam alat-alat yang dapat dipergunakan dalam pembedahan. Astanggahrdaya. Susruta Samhita. Kitab tersebut mernuat delapan bidang ajaran. Berdasarkan catatan yang ada kitab Kalpasthana dan Kitab Siddhistana telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan Persia pada tahun 800 Masehi. antara lain: a) Sutrathana : isinya menguraikan tentang ilmu pengobatan b) Nidanasthana : isinya memuat tentang berbagai penyakit yang bersifat umum c) Wimanasthana : isinya menguraikan tentang ilmu pathologi d) Sarithana : isinya menguraikan tentang ilmu anatomi dan embriology e) Indiyasthana : isinya menguraikan tentang materia diagnosa dan prognosa f) Cikitasasthana : isinya menguraikan tentang ajaran khusus mengenai pokok-pokok ilmu therapy g) Kalpasthnana : isinya menguraikan tentang ajaran di bidang theraphy secara umum h) Siddistana : isinya juga menguraikan tentang pokok-pokok di bidang therapy secara umum.adalah kitab Caraka Samhita. Kitab Susruta Samhita ditulis oleh Bhagawan Susanta. Disamping itu pula kita Susruta Samhita mencatatkan berbagai macam alat-alat yang dapat dipergunakan dalam pembedahan. Kitab mi isinya menguraikan tentang pentingnya ajaran umum di bidang ilmu bedah. dan h) Wajikarana Tantra yaitu ilmu jiwa remaja Kitab Caraka Samhita merupakan baginn dan kitab Ayur Weda.

seni atau rasa indah. Pendidikan Agama Hindu 74/76 . agama Hindu boleh dan dapat dipelajari oleh seluruh umat manusia. seperti: Natya Sastra.Kitab Yogasara dan Yogasastra ditulis oleh Bhagawan Nagarjuna. Rasarnawa. Kitab Gandharwa Weda. 6) Kama Sastra Kitab Kama Sastra adalah termasuk kitab suci agama Hindu pada bagian Smrti (Upaweda). kaum Ksatrya. kaum Sudra. Kama Sastra sebagai bagian dan jenis kitab Upaweda isinya menguraikan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan asmara. hendaknya dipedomani oleh Kama Sastra. Kitab Kama Sutra ditulis oleh Bhagawan Watsyayana pada abad ke10 Masehi. Menurut Veda. kitab Natya Wedagama. 7) Agama Kitab agama itu baru ada setelah Agama Hindu ada dan berkembang di dunia. Rasaratnasamucaya. dan yang lainnya. isisnya menguraikan tentang berbagai aspek cabang ilmu seni. Dewa Dasa Sahasri. juga memiliki beberapa bagian kitab-kitab lagi. Diantara kitab-kitab Kama Sastra yang terkenal adalah karya dan Bhagawan Watsyayana. Karena dengan demikian asmara dan rasa indah yang muncul itu tentu terarahlbernilai positif adanya. Isinya menguraikan tentang ajaran ilmu jiwa remaja. Kitab Kamasutra berhubungan dengan kitab Wajikarana Tantra. Hal mi termuat dalam kitab Yajur Veda sebagai berikut: “Yaatkeram wacam kalyanin awadonijanebhyah. 5) Gandharwa Weda Kitab Gandharwa Weda merupakan bagian dan kitab-kitab Upaweda. umat beragama dipandang perlu untuk membangkitkan rasa indah tersebut. Di dalam upaya untuk mewujudkan salah sath tujuan hidup. Gandharwa Weda sebagai kitab Smrti. Kedua kitab mi isinya menguraikan tentang pokok-pokok ilmu yoga yang berhubungan dengan sistem anatomi dalam pembinaan kesehatan. Kebangkitan dan rasa indah manusia terbentuk untuk berbakti kepada Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa. Brahma Rajanyabhyam cudraya caryaya ca siwaya caranayaca” Artinya: “Biar kunyatakan disini kitab suni ini kepada orang-orang banyak. baik jasmani maupun rohani. kepada kaum Brahmana. dan kaum Waisya dan bahkan kepada orang-orangKu dan kepada mereka (orang-orang asing) sekalipun.

Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa mewahyukan ajaran-Nya melalui orang-orang Suci untuk disebarkan pada kita semua. tidak terkecuali. Namum menyadari akan kekurang sempurnaan kita sebagai umatnya. Menurut sifat dan isinya Weda çruti dibedakan atas kelompok mantra. Kelompok mantra didasarkan atas pertimbangan fungsi dan kegunaannya di bagi menjadi empat. Semua ayatayat yang terdapat didalamnya merupakan Wahyu dan Tuhan yang kemudian dihimpun dalam beberapa buah buku menurut umurnya dan peruntukannya. kelompok Ananyaka dan Upanisad. banyak jenisnya.(Yajur Veda XVI. yang disebut kitab suci Weda. yang Pendidikan Agama Hindu 75/76 . maka tidak akan semuanya dapat mempelajarinya dengan sempuma. 18) Berdasarkan bunyi Cloka tersebut di atas dinyatakan bahwa kitab suci Veda (Hindu) dapat dipelajari oleh siapa saja. RANGKUMAN Kitab suci adalah cara yang baik untuk memahami. Istilah cruti berarti Wahyu. Kitab agama isinya memuat ajaran tentang keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa dan petunjuk-petunjuk untuk melaksanakan tata cara persembahyangan. Weda çruti adalah kitab Wahyu Tuhan.6) B. Ajaran beliau yang diwahyukan kepada Maha Rsi dituliskan pada buku. Disamping itu kita juga perlu menyadari bahwa. Hal mi sesuai dengan ucapan kitab Smrti (Dharma Sastra) sebagai berikut: “Wedo ‘khilo dharma mulam smrti cue ca tad widam acaracca iwa sadhunam atmanastustir ceva ca” Artinya: Seluruh Weda merupakan sumber utama daripada dharma (agama Hindu) kemudian barulah Smrti. Weda sebagai kitab suci umat beragama Hindu. disamping kebiasaan-kebiasaan yang baik dan orang-orang yang rnenghayati Veda (sila) dan kemudian tradisi-tradisi dan orang-orang suci (acara) serta yang terakhir ada!ah rasa puas din sendiri (atmanastusti) (Manawa Dharrna Sastra 11. berdasarkan pengelompokannya ada yang disebut dengan nama Weda çruti dan Weda Smrti. Bagi mereka yang belum dapat mempelajari Veda dapat belajar agama Hindu berdasarkan kitab-kitab agama. kelompok Brahmana. Dan uraian di atas dapatlah kita simpulkan bahwa jumlah kitab-kitab Smrti yang dapat kita pergunakan sebagai petunjuk untuk menata kehidupan berhubungan dengan Sang Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa. menghayati dan mengamalkan ajaran Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa yang dianut oleh umat Hindu. Veda sebagai sumber ajaran agama Hindu mengandung ajaran yang sangat tinggi.

yang terkandung dalam kitab suci Weda Sruti maupun Smrti untuk dipergunakan didalam menuntun kehidupan kita sehari-hari.sehingga kita dapat meningkatkan budi pekerti dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Smrti (Dharma Sastra) . dan Purana adalah kitab-kitab Weda yang ditulis oleh para Rsi berdasarkan ingatannya. Kebenaran beliau dapat kita laksanakan dengan jalan memahami. Manusia adalah mahiuk hidup yang diciptakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Ethika (sosial.politik dan pertahanan/keamanan) serta upacara (ritual) agama.budaya. Sama Weda Samhita dan Atharwa Weda Samhita. Mari kita dalami sastra-sastra agama.disebut Catur n Weda Samhita yaitu Rg. Itihasa dan Purana berisikan-berbagai macam ajaran yang berhubungan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi beliau dan ciptaanNya. Yajur Weda Samhita.dan engamalkan ajaran agama. Sebagai insan Tuhan. Itihasa.ekonom i. Kebenaran yang utama adalah kebenaran yang ada pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Pendidikan Agama Hindu 76/76 .menghayati. Smrti. bersumber dan Wahyu Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sudah menjadi kodratnya manusia untuk melaksanakan kewajiban hidupnya.Weda Samhita. manusia memiliki beberapa kewajiban yang mesti dilaksanakan dalam kehidupan mi. Salah satu kewajiban hidup manusia yang harus dikerjakan adalah menegakkan kebenaran.