MATERI PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU

KELAS XI SMK Oleh : Drs. I Wayan Pura Ys BAB I HUKUM KARMA DAN PUNARBHAWA Standar kompetensi Memahami Hukum Karma dan Punarbhawa Tujuan Pembelajaran Akhir Setelah mempelajari materi ini siswa diharapkan mampu : Mengerti dan memahami hukum karma . Mampu menjelaskan bagian –bagian hukum karma Mampu menguraikan hubungan hukum karma dengan punarbhawa Menjadikan hukum karma sebagai pegangan dalam prilaku Uraian Materi A. Pengertian Hukum Karma Karma berasal dari Bahasa Sansekerta yang artinya kerja atau berbuat. Konsep hukum karma adalah bahwa setiap perbuatan akan memberikan hasil yang disebut ( phala ). Sehingga setiap hasil yang dipetik atau diterima oleh seseorang atas perbuatannya disebut karma phala. Hukum karma adalah hukum Tuhan yang berlaku bagi semua orang. Tidak memandang apakah orang tersebut percaya atau tidak hukum karma tetap berlaku. Seperti hukum terbitnya matahari dari timur, orang buta ataupun orang eskimo yang tidak pernah melihat matahari, bukan berarti matahari tidak ada. Matahari tetap terbit dari timur. Demikianlah hukum karma berlaku bagi semua umat manusia dari semua negara, semua suku bangsa dan semua agama. Dalam ajaran Hindu , hukum karma merupakan ajaran sebagai landasan ajaran etika dan pegangan dalam mencapai tujuan hidup. Karma atau perbuatan ini ada tiga bentuk yaitu karma yang dilakukan oleh pikiran ( Manah ), karma dalam bentuk ucapan (waca ), dan karma dalam bentuk tindakan jasmanani ( kaya ). Jadi apapun bentuk aktivitas seseorang pasti ada phalanya (hasilnya) .Ini berarti tidak ada perbuatan yang tanpa membuahkan hasil, sekecil apapun kegiatan tersebut. Sedangkan jika dilihat dari baik buruknya maka perbuatan yang baik disebut Subha karma dan perbuatan yang buruk disebut Asubha karma. Materi Pelajaran Pendidikan Agama Hindu 1 1/76

B. Proses berlakunya karma phala Setiap aktivitas karma seseorang didasari oleh keinginan ( Iccha ). Timbulnya keinginan akan direspon oleh pikiran. Pikiran inilah yang akan mengambil keputusan untuk melakukan tindakan dalam bentuk ucapan ataupun tindakan jasmani. Keputusan pikiran sangat ditentukan oleh pengetahuan (jnana), kebijaksanaan ( wiweka), serta pengalaman hidup serta karmawasana seseorang. Jika digambarkan maka proses karma seseorang sebagai berikut : KEINGINAN

Pengetahuan PIKIRAN Pengalaman Hidup KARMA

Wiweka karmawasana

KARMA PHALA C. Wujud Karma phala Banyak orang menafsirkan bahwa wujud dari karma phala ( hasil perbuatan ) seseorang adalah berbentuk materi, seperti kekayaan, kecantikan atau ketampanan, jabatan, kehormatan dan sebagainya yang semata-mata diukur dari segi materi. Secara garis besar memang wujud karmaphala ada dua yaitu berbentuk fisik dan psikis( batin). Artinya hasil dari perbuatan tersebut dapat dirasakan secara langsung oleh badan jasmani melalui panca indria atau juga bisa memberikan suasana batin tertentu pada seseorang. Contoh: Jika seseorang pernah berbuat baik misalnya membantu orang yang jatuh di jalan , suatu saat ketika dia terjatuh di jalan akan ada orang lain yang menolong. Ini adalah phala secara fisik. Contoh lain mungkin ada orang yang suka menipu justru akan membuat hatinya tersiksa karena selalu was-was, selalu berprasangka bahwa tipu dayanya akan ketahuan oleh orang lain. Ini berarti secara psikis dia menderita. Pendidikan Agama Hindu 2/76

Wujud dari karmaphala yang akan diterima seseorang tidak dapat dipastikan. Artinya hasil karma tersebut bisa saja berbentuk fisik, atau psikis, ataupun kedua nya yaitu fisik dan psikis. Demikian pula kapan waktunya akan diterima seseorang atas perbuatannya juga merupakan rahasia Hyang Widhi. Yang jelas bahwa karmaphala itu ada dan akan hadir tepat pada waktunya. Diatas kedua wujud karmaphala di atas yang terpenting untuk menjadi tolok ukur atas hasil perbuatan seseorang adalah akibat dari wujud karmaphala tersebut. Artinya seseorang yang menerima karmaphala baik berwujud fisik maupun psikis apakah mengakibatkan adanya peningkatan kualitas sradha atau tidak. Apakah menyebabkan kebahagiaan atau penderitaan? Contoh : Seseorang yang mendapatkan uang sangat banyak dari hasil judi, diukur dari segi fisik tentu menyenangkan. Tetapi kemenangan itu justru menyebabkan dia semakin tergila-gila pada judi, suka berfoya-foya semata-mata memenuhi nafsu keinginannya. Suatu saat jika dia kalah berjudi maka kekesalan dan kemarahannya akan dilempahkan pada orang lain, seperti anak atau istrinya. Ini menunjukkan bahwa uang yang diperoleh dari hasil judi tersebut bukan karmaphala yang baik, karena akibat dari uang yang diterima terebut justrui menjerumuskan dirinya pada karma-karma yang lebih buruk. Contoh lain mungkin ada seseorang yang secara fisik cacat jasmani, tetapi dengan kekurangannya tersebut memberikan dia inspirasi dan kesadaran bahwa hidup ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan fisik, sehingga dia menjadi orang yang teguh sradha bhakti, serta senantiasa merasa tentram . Jadi cacat jasmani tersebut bukan hasil karma buruk tetapi merupakan hasil karma baik yang membawa kebahagiaan bagi dirinya. Seperti halnya seseorang minum obat pahit untuk kesembuhan dari penyakitnya. Kesimpulannya: Karmaphala yang baik adalah yang dapat meningkatkan kualitas sradha bhakti untuk mencapai kebahagiaan lahir batin ( moksartham jagat hita ) Karmaphala yang buruk adalah yang menyebabkan seseorang menderita lahir batin dan menurunkan kualitas sradha bhakti. D. Dampak karma bagi seseorang Setiap karma yang dilakukan setidak-tidaknya ada tiga akibat yang terjadi : 1. Karma akan memberi akibat atau balasan atas setiap perbuatan manusia. Baik atau buruk yang akan diterima sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya. 2. Karma akan memberi kesan tersendiri kepada pelakunya yang akan melekat pada pikiran pelakunya. Pendidikan Agama Hindu 3/76

Tiga Macam Karma Jika dilihat dari segi waktu hasil karma seseorang maka dapat digolongkan menjadi tiga macam yaitu : 1. kepada mereka yang senantiasa gigih demikian itu. Laksanakan semua kewajiban sebagai yadnya dan bhakti kepada Ida sang Hyang Widhi. Manfaat kita mengetahui jenis-jenis karma tersebut adalah untuk meningkatkan sradha dan bhakti kepada Hyang Widhi. Apa yang seharusnya kita butuhkan pasti akan terpenuhi. selalu berbuat kebaikan serta tetap yakin dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. atas pahala atas karma kita masa kini. E. Kramana karma adalah pahala yang diterima seseorang pada kehidupan ini atas hasil dari perbuatan ( karmanya ) pada kehidupan yang lampau. sebagaimana wahyu Beliau dalam Kitab Bhagawad Gita Bab IX Sloka 22 : Mereka yang memuja-Ku dan hanya bermeditasi kepada-Ku saja. Bisa saja merupakan pahala atas karma kita pada kehidupan terdahulu. Kita harus yakin bahwa apapun yang kita alami pada kehidupan ini adalah hasil perbuatan diri sendiri. akan Aku bawakan segala apa yang belum dimilikinya dan akan menjaga yang sudah dimilikinya. Sanchita Karma 2. Karma yang memberi kesan dan menjadi kepribadian jiwatman inilah yang merupakan karmawasana setiap orang. Jika hal itu sudah dilakukan maka Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik bagi kita. Mengenai kapan waktu kita akan menerima pahala atas karma yang kita lakukan juga merupakan rahasia Ida sang Hyang Widhi. selalu melekat pada setiap kelahirannya. Karma akan membentuk kepribadian seseorang. Prarabdha Karma 3. Bukan karena orang lain.3. Meskipun kita menggolongkan karma tersebut seperti di atas tetapi dalam kenyataan sangat sulit bagi kita untuk mengidentifikasi setiap karma yang kita terima saat ini. Oleh karena itu yang terbaik harus dilakukan adalah melaksanakan tugas sebaik-baiknya. Pendidikan Agama Hindu 4/76 . Kryamana Karma Sancitha karma adalah karma atau perbuatan yang dilakukan pada masa hidup di dunia baru akan menerima pahalanya setelah meninggal dunia Prarabdha karma adalah karma atau perbuatan seseorang yang pahalanya langsung diterima pada kehidupan ini.

Pelaksana Karmaphala Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa wujud karmaphala bisa berbentuk fisik bisa juga berbentuk psikis. Contoh sederhana mungkin suatu ketika kita menerima bantuan dari orang lain dimana pada waktu tersebut kita benar-benar memerlukan pertolongan tersebut. tumbuhan. Setiap karma yang terjadi akan menjadi penyebab untuk karma-karma berikutnya. tetapi semua itu akibat perbuatan manusia sendiri. pahala tersebut mungkin saja atas kebaikan Budi di waktu lalu Dalam kasus ini Andi adalah sebagai alat pembalas karma perbuatan Budi di masa lalu. d. Dalam peristiwa tersebut Budi menerima pahala dalam bentuk pertolongan dari Andi. binatang. bukan berarti dia terbebas atas karma yang diperbuatnya itu tetapi pahala akan selalu mengikuti karma yang dilakukannya. Jika karma seseorang harus diterima setelah meninggal dunia maka atmannya akan menuju sorga atau neraka. Tetapi bagaimana bentuk pahala dari karma yang harus dinikmati pada kehidupan ini? Tentu saja akibat karma akan dirasakan oleh seseorang melalui interaksi dengan lingkungan. serta bisa juga dari alam. Kesimpulannya : a. baik alam maupun sesama manusia. Pahala karma bisa saja dirasakan melalui tangan manusia. b. Pahala karma di dunia bisa diterima melalui tangan manusia atau alam lingkungan. tetapi juga sebagai alat untuk membalas karma orang lain. Jadi setiap peristiwa karma yang melibatkan lebih dari satu orang maka dalam peristiwa tersebut ada dua jenis proses karma yang terjadi yaitu ada pihak yang menerima hasil karmanya dan ada orang yang yang berkarma dimana hasilnya belum diketahui kapan akan diterima. Pendidikan Agama Hindu 5/76 . Bencana alam bukanlah hukuman Tuhan. Dalam peristiwa tersebut yang menjadi alat Tuhan untuk menyampaikan pahala atas karma tersebut adallah manusia ( orang lain). atas perbuatannya menolong budi dia juga akan mendapat pahala atas karma tersebut. sehingga disaat yang tepat kita akan menerimanya. Demikian pula alam bisa saja sebagai alat pembalas karma. Kejadian ini buakanlah suatu kebetulan. Itu adalah hasil karma kita yang mungkin kita sudah lupa kapan melakukannya. c. Setiap peristiwa karma yang melibatkan lebih dari satu manusia maka akan ada pihak penerima pahala atas karmanya dan ada pihak sebagai pembalas karma sekaligus pelaku karma untuk dirinya. Misalkan Andi menolong Budi yang terjatuh dari sepeda motor. Meskipun manusia adalah alat pembalas karma. Sehingga manusia disamping akan menerima pahala atas karmanya. Pahala atas karma seseorang dapat diterima di alam niskala ( sorga atau neraka ) juga bisa dinikmati pada saat hidup. Meskipun Andi sebagai alat .F.

Pendidikan Agama Hindu 6/76 . Proses jiwatman meninggalkan stula sarira kemudian lahir kembali menggunakan jasmani yang baru inilah disebut Punarbhawa. Ada perputaran siang dan malam. remaja dan usia tua. Dalam rangka meningkatkan karma baik maka pada saat berdoa mohonlah agar kita senantiasa menjadi alat pembalas karma yang baik. Demikian juga manusia yang lahir. tumbuh besar. sehingga terhadap hal yang tak terrelakkan ini janganlah engkau berduka. kematian sudahlah pasti dan pasti ada kelahiran bagi mereka yang mati. PUNARBHAWA Punarbbhawa atau tumimbal lahir atau samsara adalah bagian keempat dari Panca Sradha sebagai dasar keyakinan Umat Hindu. ( Bab II. dan masih banyak lagi jenis-jenis perputaran kehidupan. menuju sorga atau neraka. Orang bijaksana tak akan terbingungkan oleh hal ini. kemudian turun hujan dan kembali ke laut. sloka 22 ) Bagi seseorang yang lahir. sloka 27). demikian juga bila ia berpindah ke badan yang lainnya. Untuk memahami dan meyakini hukum punarbhawa bisa kita lakukan secara logika maupun dengan meyakini Wahyu Tuhan melalui kitab-kitab suci. kemudian meninggal maka akan mengalami perputaran untuk lahir kembali. ( Bab II. G. Pengertian sederhana adalah bahwa pada saat seseorang meninggal dunia maka jiwatman akan melepaskan badan jasmaninya ( stula sarira ). Perputaran waktu. sloka 13 ) Bagaikan seseorang yang menanggalkan pakaian usang dan mengenakan pakaian lain yang baru. Untuk meningkatkan kualitas jiwatman maka setelah waktu tertentu jiwatman kembali kedunia dengan menggunakan badan jasmani yang baru. perputaran rantai makanan. ( BabII. Kemudian dalam Kitab Suci Bhagawad gita beberapa sloka menyiratkan secara jelas tentang punarbhawa . Jika kita perhatikan bahwa alam ini semuanya mengalami siklus ( perputaran ). Intinya bahwa segala sesuatu di alam ini mengalami perputaran sehingga bisa stabil. Bahkan planet-planet ini bisa stabil pada tempatnya karena berputar. demikianlah jiwatman yang berwujud mencampakkan badan lama yang telah usang dan mengenakan badan jasmani baru. Dari pemahaman ini jelas bahwa manusia akan mengalami punarbhawa.e. antara lain : Seperti halnya sang jiwatman yang melewatkan waktunya dalam badan ini dari masa kanak-kanak. perputaran dari air laut mejadi awan.

Dari sloka di atas ada dua point yang dapat kita petik penekannya yaitu : 1. demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia. Hubungan Karmaphala dengan Punarbhawa Dalam Kitab Sarasamuscaya sloka 4 dikatakan : Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama. H. karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara ( lahir dan mati berulang-ulang ) dengan jalan berbuat baik. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan terlahir sebagai binatang atau tumbuhan.Masih banyak sloka-sloka lain yang menjelaskan tentang punarbhawa ini. Oleh karena itu setiap menjalani kehidupan kewajiban manusia adalah untuk meningkatkan Subhakarma sehingga setiap kelahiran berikutnya bisa meningkat kualitasnya sampai akhirnya tujuan hidup yaitu moksartham jagathita tercapai. 2. Berbuat baik ( Subha karma ) adalah cara untuk melepaskan diri dari keadaan samsara ( punarbhawa ). Jadi bila manusia semasa hidupnya banyak berbuat baik maka kelahiran berikutnya akan meningkat kualitasnya. Untuk berbuat baik kesempatan yang paling luas adalah bila menjelma menjadi manusia. sebabnya demikian. Jika digambarkan proses hidup manusia dan kelahirannya sampai bersatunya atman dengan brahman ( Brahman Atman aikyam) seperti di bawah ini : Ket : Gari tebal adalah kehidupan saat ini Garis tipis kehidupan kelahiran dengan kualitas meningkat yang menuju bersatunya Brahman Pendidikan Agama Hindu 7/76 . Demikian juga bila semasa hidupnya banyak berbuat dosa maka kelahiran berikutnya akan menurun kualitasnya.

Garis putus-putus kehidupan kelahiran dengan kualitas menurun yang semakin jauh dari Brahman. Kesimpulan : Gunakan hidup ini sebaik-baiknya untuk meningkatkan karma sehingga setiap kelahiran berikutnya bisa meningkatkan kualitas dan kesucian jiwatman. Pendidikan Agama Hindu 8/76 .

Proses dari tidak ada menjadi ada alam semesta ini berlangsung secara berjenjang. Pada saat alam semesta ini meng”ada” disebut masa “Srsti “ atau “ Brahma diwa “ ( siang hari Brahma ).BAB II ALAM SEMESTA Standar Kompetensi Memahami proses penciptaan dan pralaya alam semesta Tujuan Akhir Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan : a. b. Masa Srsti digabungkan dengan masa Pralaya disebut satu Kalpa atau satu hari Brahman. sangat sulit dipastikan. Brahmanda Purana. dari jenjang yang amat halus dan tidak berwujud ( gaib / niskala ) sampai pada jenjang yang berwujud dan sangat kasar ( nyata / sekala ) Pendidikan Agama Hindu 9/76 . Bebrapa peneliti dan ilmuwan mencoba untuk membuat teori tentang penciptaan alam semesta tetapi tidak satupun dapat memastikan kapan alam ini tercipta. demikian seterusnya berulang-ulang. bumi dengan segala isinya ini yang disebut bhuana agung. mengingat keterbatasan kemampuan dan umur manusia. planet. Jadi semua yang ada di alam semesta ini termasuk gugusan bintang. Istilah lainnya adalah jagat raya. Sedangkan pada waktu alam ini meniada disebut “Pralaya” atau “Brahma nakta” ( malam hari Bharma ). Kapan sesungguhnya alam semesta ini tercipta. lalu ada. makrokosmos. kemudian tidak ada lagi. Penggambaran jagat raya termasuk proses penciptaannya banyak diuraikan dalam beberapa kitab suci Hindu Seperti Brhad Aranyaka Upanisad. matahari. atau brahmanda. Mampu mengklasifikasi unsur-unsur bhuana agung dan bhuana alit d. BHUWANA AGUNG Pengertian Bhuana Agung artinya alam raya ( besar ). Mampu menguraikan hubungan bhuana agung dan bhuana alit Uraian Materi A. c. Mampu menjelaskan proses pralaya. Mampu menjelaskan proses terciptanya bhuana agung dan bhuana alit. Agastya Parwa dan sebagainya. Menurut Ktab-kitab suci Hindu teori penciptaan jagat raya banyak diuraikan yang jika dicermati dan dipelajari dengan penuh keyakinan maka alam semesta ini mengalami keadaan dimana jagat raya ini pernah tidak ada.

manah dan ahamkara yang tercipta secara berurutan. 6. Proses pralaya menurut beberapa kitab suci Hindu digambarkan sebagai berikut . Dari Unsur Prakirti lahirlah Triguna yaitu. Unsur-unsur Panca Maha Bhuta kembali menjadi atom yang amat halus sekali. proses terciptanya alam semesta dapat digambarkan sebagai berikut : 1. Alam jagat raya dipenuhi hawa panas kemerahan dan dentuman halilintar yang sambung-menyambung dengan dahsyat. Semua mahluk hidup mati dan hancur. Bab XIII sloka 20. Pada saat alam ini tidak ada Tuhan menarik kembali semua manifestasi beliau di alam kemudian menjadikan diri dalam wujud sepi. semua zat pada meleleh kemudian menguap. Padamulanya Unsur Sattwam yang mendominasi maka lahirlah yang disebut Mahat yang berarti Maha Agung. Rajas unsur yang memiliki sifat dasar dinamis dan aktif. Dari Mahat terciptalah alam Citta yang didalamnya terdiri dari tiga unsur yaitu Budhi. Tuhan Paramasiwa atau Nirguna Brahma menjadikan diri-Nya Sada Siwa ( Saguna Brahma ) yang berwujud Purusa dan Prakiti . dan Tamas. Srsti Setelah alam ini tidak ada pada masa pralaya . 1. Pada kondisi seperti ini beliau disebut Paramasiwa atau Nirguna Brahman. yaitu unsur kejiwaan tertinggi yang berfungsi untuk menentukan keputusan. Sedangkan Tamas adalah unsur yang meiliki sifat dasar gelap dan berat 4. 5. 4. Pendidikan Agama Hindu 10/76 . 2. Dari sebaran api yang sangat dahsyat ini menyebabkan semua zat cair menguap. 2.Pralaya Pralaya adalah masa dimana alam semesta ini tidak ada. Sattwam. Budhi bersifat sattwam sehingga setiap keputusannya bersifat bijaksana. Sattwam adalah unsur yang bversifat terang dan tenang. Fungsinya adalah untuk merasakan. kosong dan hampa. yaitu benih kejiwaan yang bersifat kedirian atau individu. Purusa adalah unsur dasar kejiwaan atau rohani. Rajas. Perpaduan Purusa dan Prakirti menyebabkan Triguna tidak seimbang. Selanjutnya alam semesta menjadi tidak ada selama satu kalpa atau kurang lebih 432 juta tahun manusia. Alam citta yang pertama muncul adalah Buddhi. 3. sedangkan prakirti adalah unsur dasar kebendaan atau jasmani. 5. 3. Dimulai dari hancurnya ikatan api atau matahari yang kemudian menyebar keseluruh alam semesta. Dari Buddhi selanjutnya lahir Ahamkara. 6. 7. tanpa permulaan dan tanpa akhir.Hal ini disebutkan dalam Bhagawad Gita. Purusa dan prakirti keduanya sangat halus dan tidak bisa diamati.

Garbhendriya ( rangsang penggerak perut ) b. Akasa ( ether atau ruang ) b. Prthiwi ( zat padat ) 12. terdiri dari: a. Upasthendriya / Bhagendriya ( rangsang penggerak kelamin ) 10. a. Pendidikan Agama Hindu 11/76 . Evolusi berikutnya dengan pengaruh triguna dengan imbangan yang berbeda terciptalah Dasendriya . Dari Panca Tanmatra selanjutnya muncul Panca Maha Bhuta . Selanjutnya lahirlah Panca Tanmatra yaitu lima unsur zat yang sangat halus terdiri dari : a. yaitu lima macam unsur zat alam yang bersifat kasar. Padendriya ( yangsang penggerak kaki ) d. Teja ( api ) d. Dari uraian di atas jelaslah bahwa semua yang ada di alam ini mengalir dan lahir dari Tuhan dan pada saatnya nanti akan kembali lagi ke dalam tubuhNya yang menjadi kosong dan hampa. Rupa Tanmatra ( sari warna ) d. Apah ( zat cair ) e. Selanjutnya dari Ahamkara lahirlah yang disebut Manas. Dari Panca Maha Bhuta inilah kemudian berkembang menjadi alam semesta beserta isinya yaitu mahluk hidup yang ada di bumi termasuk manusia. Wayu ( hawa atau udara ) c. a. Jihwendriya ( rangsang pengecap ) e. yaitu akal atau pikiran yang berfungsi untuk berpikir. Granendriya ( rangsang pencium ) Panca Karmendriya terdiri dari. Rasa Tanmatra ( sari rasa ) e. Ganda Tanmatra ( sari bau ) 11. yang terdiri dari Panca Buddhindriya terdiri dari . Sparsa Tanmatra ( sari rabaan ) c. Sabda Tanmatra ( sari suara ) b.8. Twakindriya ( rangsang perasa ) c. Panindriya ( rangsang penggerak tangan ) c. Srotendriya ( rangsang pendengar ) b. Caksundriya ( rangsang penglihatan ) d. 9. Payundrita ( rangsang penggerak pelepasan ) e.

Jika digambarkan dalam skema maka proses terciptanya alam semesta sebagai berikut : Ida Sang Hyang Widhi Purusa Prakirti / Pradana Memiliki Triguna Mahat Citta Buddhi Ahamkara Manah Dasendriya Panca Tanmatra Panca Maha Butha Brahmanda Pendidikan Agama Hindu 12/76 .

oleh karena itu proses penciptaan sama termasuk unsur-unsur pembentukannya. 7.Sapta Loka Bumi sebagai salah satu Brahmanda hasil pembentukan Panca Maha Bhuta memiliki lapisan-lapisan. Tala-tala 7. Nitala 4. Patala ( kulit bumi ) 2. manusia. hewan dan tumbuhan. 4. 5. BHUWANA ALIT Pengertian Bhuwana alit sering juga disebut Mikrokosmos adalah alam kecil atau dunia kecil yaitu isi dari alam semesta. 2. seperti. 6. Sapta 1. Loka terdiri dari : Bhur loka ( alam manusia ) Bhuwah loka ( alam pitara ) Swah Loka ( alam dewa ) Maha loka Jana loka Tapa loka Satya loka ( ruang vakum= Nirguna Brahma ) Sapta Patala Sapta patala adalah lapisan bumi dari permukaan sampai dengan inti bumi. Hanya saja ada perbedaan perkembangan penciptaannya sesuai perimbangan triguna. Rasa tala Lebih dalam dari sapta patala masih terdapat dua lapisan lagi yaitu : a. Mahatala 5. Kalagni Rudra ( ruang inti bumi ) B. 3. Lapisan-lapisan ini berdasarkan kuat atau lemahnya pengaruh Panca Maha Bhuta. Lapisan bumi menuju ruang jagat raya disebut Sapta Loka. Balagarba maha naraka ( ruang perantara di dalam bumi ) b. Pendidikan Agama Hindu 13/76 . Watala 3. terdiri atas : 1. Setelah tercipta Brahmanda-brahmanda termasuk bumi maka selanjutnya diciptakanlah mahluk hidup yang berawal dari mahluk hidup yang terrendah sampai dengan mahluk hidup yang tertinggi. Sutala 6. Asal mula atau proses penciptaan bhuwana alit Bhuwana alit adalah bagian dari bhuwana agung.

2. Gulma adalah bangsa tumbuhan yang bagian luar pohon berkayu keras dan bagian dalam berongga atau kosong. 2. Andaya yaitu binatang bertelur. Jarayuja yaitu binatang menyusui. Diantara mahluk hidup hanya manusialah yang memiliki semua unsur ciptaan Tuhan secara lengkap. Kelompok Tri Pramana Adalah mahluk hidup yang memiliki tiga kekuatan hidup yaitu. 5. Pradana terdiri dari : Pendidikan Agama Hindu 14/76 . 4.. rajas. Purusa yaitu atman sebagai sumber kehidupan 2. Trna yaitu bangsa rumput baik yang hidup di air maupun di darat. Sabda adalah kekuatan suara dan Idep kekuatan pikiran. Terakhir dengan perimbangan satwam. dengan sifat tamas yang mendominasi terciptalah kelompok Eka Pramana atau tumbuh-tumbuhan. 3. Manusia memiliki unsur : 1. tamas yang sesuai dan seimbang tercipta Kelompok Tri Pramana atau manusia. 3. Sabda dan Idep.Dari proses penciptaan Purusa dan prakirti dengan unsur-unsurnya sampai panca maha bhuta. Swedaya yaitu binatang bersel Satu. Mahluk ini disebut juga Manusya. Bayu. Adapun yang tergolong dalam Sato adalah : 1. Kelompok Eka Pramana Yaitu mahluk hidup yang hanya memiliki satu kekuatan dalam hidupnya yaitu Bayu. Mahluk ini dikenal dengan nama Satwa atau Sato. Lata adalah tumbuhan menjalar di tanah atau di pohon. Bayu adalah kekuatan nafas. Selanjutnya jika semua unsur penciptaan tersebut lebih banyak guna rajas maka terciptalah kelompok Dwi Pramana atau hewan/ binatang. Jangama yaitu tumbuhan yang hidupnya menumpang pada pohon lain. Termasuk dalam golongan Sthawara adalah : 1. Baik unsur terhalus sampai unsur paling kasar. Mahluk hidup ini juga dikenal dengan nama Sthawara yaitu mahluk hidup yang tidak berpindah-pindah seperti tumbuhan. Yang membedakan antara manusia yang satu dengan yang lain adalah komposisi dan perimbangan unsur-unsur pembentukannya serta karmawasana yang telah dibentuknya. Taru yaitu semak dan pepohonan. Kelompok Dwi Pramana Adalah mahluk hidup yang memiliki dua kekuatan hidup yaitu Bayu dan Sabda.

Sad Kosa terdiri dari : 1). Jiwatman inilah yang selalu mengalami reinkarnasi jika selama bersatu dengan stula sarira sebagai manusia hidup di dunia belum berhasil melepaskan ikatan-ikatan karma untuk mencapai moksa yaitu bersatunya Atman dengan Brahman.a. Hubungan itu dapat diuraikan minimal sebagai berikut : 1. Annamaya kosa yaitu badan dari sari makanan 2). sloka 6. sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Bhagawad Gita Bab VII. Dari hasil karma dan konsumsi makanan manusia membentuk Sad Kosa yaitu enam lapis pembungkus stula sarira. Dasendria. dan Panca Tanmatra. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Ida Sang Hyang Widhi pada masa Srsti dan akan kembali kepada-Nya pada masa pralaya. b. budhi. Pranamaya Kosa yaitu badan dari sari nafas. 2. 3). 4). Anandamaya Kosa yaitu badan dari sari kebahagiaan Suksma sarira yang dihidupi dengan unsur purusa ( atman ) disebut jiwatman. Bhuwana Agung dan bhuwana alit diciptakan oleh pencipta yang sama. manah. Manomaya Kosa yaitu badan dari sari pikiran. Mamsa ( daging). Bentukan hasil karma manusia antara suksma sarira dengan stula sarira menghasilkan Panca Maya Kosa yaitu lima lapisan halus badan manusia. Bhuwana Agung dan bhuana alit memiliki unsur-unsur yang sama. Panca Maya Kosa terdiri dari : 1). 5). Odwad ( Otot ) 3). Stula sarira yang berasal dari unsur Panca Maha Bhuta. Suksma sarira dari unsur Cita. Carma ( kulit ) C. ahamkara. Rudhira ( darah ) 6). Sumsum ( sumsum) 4). Pendidikan Agama Hindu 15/76 . Asti ( tulang) 2). HUBUNGAN BHUWANA AGUNG DENGAN BHUWANA ALIT Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit memiliki hubungan yang sangat erat satu sama lain. Wijnanamaya Kosa yaitu badan dari sari pengetahuan. 5).

Skema itu dalat digambarkan sebagai berikut : Pendidikan Agama Hindu 16/76 . tetapi unsur-unsur pembentukannya adalah sama.Dalam proses penciptaan meskipun ada perbedaan waktu antara penciptaan alam semesta dengan mahluk yang ada di dalamnya .

Panca Tanmatra 7. Ahamkara 5. Buddhi 3. Pendidikan Agama Hindu 17/76 . Panca Maha Bhuta 9. Bhuwana agung dan bhuawana alit saling melengkapi. Untuk alam ditata dan diatur dengan hukum alam. Buddhi 3. Manah 4. Mahluk hidup diciptakan berada dan berkembang pada alam semesta. Brahmanda Sapta Loka Sapta Patala Bhuwana Alit 1. Panca Maha Bhuta 9. siklus perputaran air ( hidrologi ). Citta 2. Alam dilengkapi untuk kehidupan dan perkembangan mahluk hidup dan mahluk hidup memiliki kemampuan untuk mengatur alam. Parama Anu 8. siklus perputaran musim dan sebagainya. Citta 2. Dasendriya 6. Manah 4. seperti rotasi bumi dan matahari. Parama Anu 8. Ahamkara 5. Dasendriya 6. Panca Tanmatra 7. Benih (Sukla/Swanita) Manusia 3. Proses saling melengkapi ini telah diatur dengan hukum Tuhan ( Rta ). Sedangkan manusia ditata dan diatur dengan hukum karma yang didalamnya dibekali ilmu pengetahuan dan ajaran agama.Brahman ( Nirguna Brahma ) melaksanakn Tapa Nirguna Brahma ( Sada Siwa ) Purusa Prakirti ( pradhana ) Bhuwana Agung 1.

budaya masyarakat serta kegiatan fisik manusia sangat dipengaruhi oleh alam. Sehingga di Bali kita mengenal pedewasan ( hari baik/buruk untuk aktivitas tertentu) yang bersumber pada pengaruh guna masing-masing posisi planet tersebut. 4. Kondisi sekarang dengan ulah sebagian manusia yang merusak alam dan membabat habis hutan menyebabkan rusaknya siklus perputaran air. Masing-masing posisi ini akan memberikan pengaruh yang berbeda pada manusia di bumi. Manusia menciptakan berbagai alat untuk menyesuaikan diri dengan kondisi alam.Dengan demikian alam akan melengkapi kebutuhan manusia dan manusia akan melengkapi isi alam. Pribadi. Alam memiliki unsur Triguna juga akan mempengaruhi semua pribadi dan aktivitas manusia. Karena bhuana agung dan bhuana alit memiliki unsur-unsur yang sama maka dalam proses hubungannya akan saling mempengarui. Matahari serta planet-planet di semesta memiliki jenis guna yang berbeda-beda. Penggunaan zat kimia yang merusak lapisan ozon dan polusi dari hasil pembakaran yang dilakukan manusia menciptakan rumah kaca sehingga terjadi pemanasan global. Intinya bahwa aktivitas manusia dipengaruhi oleh alam dan sebaliknya juga hasil aktivitas manusia tersebut akan mempengaruhi alam Pendidikan Agama Hindu 18/76 . Alam memiliki musim maka manusia akan mengatur hidup dan fisiknya menyesuaikan dengan musim yang ada. Contoh sederhana manusia menciptakan kalender untuk pengaturan bercocok tanam bagi masyarakat agraris. Sebaliknya segala aktivitas manusia juga dapat mempengaruhi kondisi alam. Bhuana agung dan bhuana alit saling mempengaruhi. Pembangunan yang tidak memperhitungkan tata lingkungan menyebabkan bencana alam banjir dan kebakaran. perputaran planet-planet ini mempengaruhi posisi kedekatan dengan bumi.

Kepemimpinan dalam Hindu banyak dijabarkan dalam berbagai kitab antara lain Kitab Arthasastra. setiap orang perlu mempelajari kepemimpinan. Mampu menguraikan Teori dasar kepemimpinan. Kelompok dalam hal ini juga termasuk lingkungan profesi. Kelurahan/Desa. Kemampuan dalam hal memimpin suatu organisasi ini disebut kepemimpinan/ Leadership. dan seterusnya hingga kelompok negara bahkan dunia. Mampu neneladani sifat-sifat kepemimpinan Hindu. Dengan memiliki idep ( pikiran ) maka manusia dalam hidupnya selalu memiliki tujuan serta memiliki upaya untuk mencapai tujuan tersebut. Minimal akan menjadi pemimpin dalam keluarga. URAIAN MATERI A. serta Kautalira Arthasastra. RT. Tujuan yang bersifat individu adalah sesuatu yang ingin dicapai secara pribadi bagi diri sendiri. Disisi lain manusia adalah mahluk sosial yang hidup dalam kelompok tertentu. c. Ilmu kepemimpinan tidak saja diperlukan oleh pemimpin kelompok atau organisasi.BAB III KEPEMIMPINAN Standar Kompetensi Memahami hakekat kepemimpinan Hindu Tujuan Pembelajaran akhir Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan : a. Kelompok ini bisa dalam lingkungan rumah tangga. serta organisasi sosial lainnya. Mampu menjelaskan pentingnya mempelajari ilmu kepemimpinan. Mampu menguraikan konsep dasar kepemimpinan menurut ajaran Hindu. bayu dan idep. keluarga. bahkan untuk mencapai tujuan secara pribadi kita harus dapat memimpin diri sendiri. Semua kelompok ini dari kelompok yang terkecil hingga yang terbesar memiliki tujuan tertentu. b. Raja Dharma. Dalam usaha mencapai tujuan kelompok/organisasi tersebut perlu adanya pemimpin yang akan mengarahkan dan membawa kelompoknya untuk mencapai tujuan. Agar usaha seorang pemimpin berhasil menghantarkan kelompok/organisasi yang dipimpinnya mencapai tujuan maka diperlukan kemampuan untuk memimpin. kantor.RW. atau Raja Niti. Tujuan manusia bisa bersifat individu maupun kelompok. Kitab ini berisi tentang ilmu Pendidikan Agama Hindu 19/76 . Kitab ini dikenal juga dengan nama Danda Niti. PENDAHULUAN Manusia adalah mahluk paling sempurna yang diciptakan Hyang Widhi di muka bumi dengan memiliki tri pramana yaitu sabda. sebab setiap orang suatu saat pasti akan menjadi pemimpin. d.

menjadi kata benda “pemimpin” yang artinya orang yang berfungsi memimpin atau menuntun atau orang yang membimbing. dalam bukunya Principles of Management menyebutkan bahwa kepemimpinan adalah keseluruhan aktivitas untuk mempengaruhi serta menggiatkan orang dalam usaha untuk mencapai tujuan. Selanjutnya kata pemimpin ditambah awalan ke. Dalam kaitan ini Nitisastra juga dapat diartikan sebagai konsep penataan pemerintahan dan pembangunan negara. Heyt. Kata pimpin medapat awal pe. pengetahuan. Untuk keberhasilan tersebut maka seorang pemimpin harus kemampuan.dan akhiran –an menjadi kata sifat yaitu sifat-sifat atau kemampuan seorang pemimpin. oleh karena itu penerapan konsep kepeimpinan juga berbeda dengan hasil yang berbeda pula. Menurut Gorge Terry. PENGERTIAN Kepemimpinan berasal dari kata pimpin yang artinya bimbing atau tuntun. Di Bali beberapa lontar juga memuat tentang konsep kepemimpinan Hindu. ajaran. Keberhasilan seorang pemimpin tidak saja ditentukan oleh penguasaan terhadap ilmu memimpin tetapi juga ditentukan oleh karakter atau pribadi pemimpin tersebut. Istilah lain tentang kepeminpinan adalah Leadership. Dalam kaitan perbedaan karakter pribadi ini Howart W. B. Banyak teori dan konsep modern tentang kepemimpinan. aturan atau teori. dari kata Niti dan Sastra. namun inti dari semua teori itu adalah sama yakni bertujuan agar seorang pemimpin berhasil membawa kelompoknya mencapai tujuan yang diinginkan. pertimbangan atau kebijakan. Di Indonesia dalam Kitab Nagara Kertagama disusun oleh Empu Prapanca juga memuat tentang kepemimpinan Hindu. Nitisastra berasal dari Bahasa Sansekerta. politik. Sumber lain tentang kepemimpinan Hindu juga tertuang dalam Itihasa Mahabarata dan Ramayana.pemerintahan Hindu yang disusun oleh Maha Rsi Kautilya atau dikenal juga dengan nama Maha Rsi Chanakya. Dalam hal ini karakter dan pribadi setiap pemimpin adalah berbeda. serta kelebihan tertentu dari bawahannya memiliki Kelebihan-kelebihan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin antara lain : Pendidikan Agama Hindu 20/76 . Dalam berbagai kitab nitisastra banyak mengulas tentang kepemimpinan suatu masyarakat atau tata pemerintahan. Jadi Nitisastra artinya ajaran tentang kepemimpinan. Niti artinya pemimpin. dalam bukunya The Art of Leadership mengatakan bahwa kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau manusia sehingga tergerak untuk mengikuti kemauannya dengan ikhlas dalam rangka mencapai tujuan bersama. Sedangkan sastra artinya perintah. Menurut Hindu diberi istilah Nitisastra.

2. TUGAS DAN WEWENANG PEMIMPIN. Jadi sangatlah keliru jika harta yang telah diperoleh dengan Dharma hanya digunakan untuk memenuhi keinginan ( kama ) di luar hukum dharma. Artha. Selanjutnya kebutuhan hidup yang utama harus dicapai adalah moksa / kebahagiaan. 3. Kelebihan dalam menggunakan rasio atau pikiran. Pengertiannya adalah bahwa dalam mencapai tujuan tertinggi yaitu moksa ( kebahagiaan tertinggi). Artha yang diperoleh berdasarkan dharma digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup ( kama). Kelebihan dalam bidang jasmaniah. Direkting / Penanggung jawab pelaksana Pendidikan Agama Hindu 21/76 . Tugas dan wewang pemimpin adalah : 1. TUJUAN KEPEMIMPINAN HINDU Sebagaimana tujuan hidup menurut konsep Hindu yaitu moksartham jagat hita.1. Seorang pemimpin disamping memiliki tugas dan tanggung jawab dia juga warus memiliki wewenang untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya tersebut. 3. D. harus diawali dengan menjalankan Dharma ( kebenaran agama). FUNGSI. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut maka konsep Catur Purusha Artha menjadi landasan. 2. C. Kama dan Moksa. Kelebihan dalam bidang rohaniah. masyarakat atau negara yang dipimpinnya mencapai keadaan bahagia lahir dan batin. Planning / Perencana Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk merencanakan segala sesuatu yang harus dikerjakan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dharma. Berlandaskan Dharma kemudian mencari artha ( materi ). Organisation / Penataan Seorang pemimpin memiliki tugas untuk mampu menata dan menempatkan anggota /orang-orang dibawah pimpinannya pada tugas dan fungsi yang tepat sesuai dengan tingkat pengetahuan dan kompetensinya. maka kepemimpinan Hindu bertujuan agar seorang pemimpin dapat menghantarkan kelompok. Catur Purushartha yaitu empat tujuan hidup manusia yang utama yaitu .

kemudian menjadi hujan. Pendidikan Agama Hindu 22/76 .Pemimpin bertanggung jawab dan berusaha agar rencana yang telah ditetapkan dapat berhasil dengan baik. E. Surya Brata. Pengawasan yang lemah serta tidak ada evaluasi maka dapat dipastikan bahwa tujuan tidak akan dapat tercapai. Asta Brata artinya delapan sikap mental seorang pemimpin yang merupakan cerminan dari delapan sifat dewa. Tidak melupakan bahwa raja juga berasal dari rakyat biasa. sebagaimana hujan yang berasal dari air laut menguap keatas menjadi awan. d. terdiri dari : a. KEPEMIMPINAN HINDU Dalam ajaran Hindu banyak konsep-konsep serta pedoman-pedoman yang harus menjadi tuntunan bagi seorang pemimpin. Ajaran tentang kepemimpinan Hindu antara lain : 1. Seorang pemimpin harus mampu memberikan kemakmuran pada rakyatnya. Dalam kaitan ini pemimpin harus memiliki kepekaan atas segala masukan positif dari bawahan. 4. Candra Brata. penguasa hujan. artinya seorang pemimpin harus memiliki sifat seperti Dewa Indra. Setiap bagian dalam organisasi memiliki keterkaitan dengan bagian yang lain. seorang pemimpin harus memberikan keteduhan dan rasa aman dan nyaman bagi rakyatnya. Controlling / Pengawasan Setiap pelaksanaan tugas yang didelegasikan kepada bawahan harus diawasi dan dievaluasi oleh pimpinan. Asta Brata Asta Brata adalah ajaran Sri Rama Kepada Gunawan Wibisana pada saat akan menjadi Raja Alengka Pura setelah Rahwana mati. Indra Brata. artinya seorang pemimpin harus memberikan pencerahan dan penerangan bagi rakyatnya. b. Coodination / Koordinasi Pemimpin bertugas untuk mengkoordinir semua anggota agar dapat bekerjasama sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. sehingga tujuan dapat tercapai dengan baik. Oleh karena itu tiap bagian tidak dapat bekerja sendiri harus ada koordinasi dengan bagian yang lain. artinya sebagaimana sifat bulan. Yama Brata. c. sertinya seorang pemimpin harus adil dalam menegakkan hukum dan peraturan. serta menjadi simbol semangat dan kekuatan hidup bagi negerinya. 5.

Bayu Brata. kejahatan dan sebagainya. atau dibalik meja . g.e. artinya seorang pemimpin harus dapat mengelola keuangan secara tepat. Agni Brata. tidak boros dan tidak korupsi. artinya pemimpin harus berani dan pantang mundur menghadapi segala tantangan. f. Pemimpin tidak hanya duduk di singgasana. Pendidikan Agama Hindu 23/76 . maka seorang pemimpin harus mengetahui segala keadaan rakyatnya. h. tetapi harus mengetahui secara detail terutama kondisi rakyat jelata. Kuwera Brata. pengangguran. artinya seorang pemimpin harus dapat membersihkan segala penyakit masyarakat seperti kemiskinan. sebagaimana sifat angin selalu ada dimana-mana dan bergerak ke segala arah. Baruna Brata.

Teulelana. Panca Dasa Pramiteng Prabu Adalah 15 ( lima belas ) sifat kepemimpinan yang ditulis oleh Empu Prapanca dalam Kitab Nagara Kertagama. n. artinya memiliki kemampuan mengontrol bawahan sekaligus memperbaiki hal-hal yang dipandang kurang baik. 3. Wagmiwak. artinya bijaksana c. k. Abhigainika yaitu mampu menarik perhatian yang positif dari masyarakat. Sifat-sifat inilah yang menjadi pedoman Maha Patih Gajah Mada sehingga berhasil mengawal Majapahit jaya. terdiri dari : a. yaitu sabar dan rendah hati. Utsaha. Wicaksanengnaya. yaitu setia dan taan pada atasan. g. yaitu pandai berkomunikasidan diplomasi. Aksudra Parisatha. Wijayana. d. c. Sarjawa upasama. m. f. b. e. Sumantri. teguh iman. Nayaken Musuh. Satya bhakti prabhu. menyayangi isi alam. optimis dan antusias. Sad Warnaning Rajaniti Artinya enam sifat utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Ginengpatigina. artinya memiliki kreativitas yang tinggi untuk memajukan kepentingan masyarakat. yaitu mendapat kepercayaan dari bawahan. l. hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. memiliki moral yang luhur. e. Tansatrsna. yaitu bijaksana dalam memimpin. Panca Upaya Sandhi Pendidikan Agama Hindu 24/76 . 4. Natangguan. Atma sampad. yaitu penuh pertimbangan dan jeli dalam menghadapi setiap masalah. artinya mampu membersihkan musuh-musuh negara. Masihi samasta bhuwana. Dhirotsaha. teguh hati dalam segala usaha. Dibyacitta. b. toleransi dan menghargai pendapat orang lain. yaitu pembrani dalam membela negara. Panca dasa Pramiteng Prabu terdiri dari : a. i. artinya menjadi penasehat dan abdi negara yang baik. Prajna. h. o. bangsa dan negara. j.2. d. Mantri Wira. mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau golongan. Sakya Samanta. artinya mampu memimpin sidang dan mengambil keputusan yang bijaksana. f.

yaitu tahu cara mengatasi kerusuhan. c. Lagawangartha. Wira Sarwa Yudha. c. Logika. Sama upaya. memimpin langsung ( direkting ). Panca Upaya Sandhi tersurat dalam lontar Siwabudha Gama Tattwa. b. 5. Panca Upaya Sandhi. yaitu tidak pamrih pada harta benda. dan data yang akurat. mengkoordinasikan ( coordination). f. Wruh ring sarwa bastra. Pradnya Widagda. Sad Warnaning Rajaniti. artinya upaya untuk mencari solusi pemecahan masalah yang ada. Dhirotsaha. b. Rangkuman Kepemimpinan adalah sifat dan prilaku pemimpin dalam upaya membawa kelompok atau masyarakat yang dipimpin menuju cita-cita atau tujuan bersama yang telah ditetapkan. yaitu memiliki kemampuan membedakan yang benar dan salah. Wikrama.Artinya lima cara seorang pemimpin untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah. terdiri dari : a. d. Upeksa. Asta Brata. Tugas dan fungsi seorang pemimpin adalah mampu untuk merencanakan (planning) . g. Paramartha. i. yaitu memiliki sifat mulia dan luhur. artinya kemampuan untuk mengumpulkan data-data permasalahan yang belum jelas kedudukannya. Wiweka. d. yaitu pandai berbicara di depan umum dan pandai berdiplomasi. menata ( organisation). bijaksana dan memiliki berbagai ilmu pengetahuan. dan Nawa Natya. h. Pendidikan Agama Hindu 25/76 . yaitu teguh pendirian . dan mengawasi ( kontroling). yaitu pemberani dan pantang menyerah. Dalam ajaran Hindu berbagai sifat dan syarat kepemimpinan antara lain. terdiri dari : a. e. Keberhasilan seorang pemimpin tergantung pada kemampuan ilmu kepemimpinan yang dimiliki serta kemampuan secara pribadi dalam mempedomani dan mengaktualisasikan syarat-syarat kepemimpinan. Pragiwakia. Maya. artinya menganalisa data-data yang telah dikumpulkan kemudian mengklasifikasi data secara proporsional. e. artinya setiap tindakan yang diambil harus berdasarkan pertimbangan akal sehat. yaitu Selalu setia pada janji. Nawa Natya Artinya sembilan sikap teguh dan pekerti seorang pemimpin. Panca Dasa Pramiteng Prabu. tidak berdasarkan emosi. Indra Jala. artinya melaksanakan upaya penyelesaian sesuai dengan solusi yang telah ditetapkan. yaitu tekun dan ulet.

B. Jawa. Di India Dharma gita tentu saja memiliki irama khas India. A. estetika dan etika moral dalam Dharma Gita.BAB IV DHARMA GITA Standar Kompetensi Memahami nilai-nilai budaya dalam Dharma Gita Tujuan Akhir Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan mampu :  Menguraikan nilai-nilai kebenaran. PENGERTIAN Dharma gita adalah suatu nyanyian kebenaran yang dinyanyikan dalam pelaksanaan upacara Agama Hindu. Pelengkap pelaksanaan Upacara Agama ( Yadnya ) Dalam pelaksanaan upacara agama.  Menunjukkan contoh-contoh nilai kebenaran. suara kidung ( Dharma Gita ). Pujian kebesaran Hyang Widhi beserta seluruh ciptaannya 2. Lombok dan sebagainya. Secara umum materi dari Dharma gita biasanya berisi tentang : 1. dan suara gamelan. TUJUAN DAN FUNGSI DHARMA GITA Dharma gita adalah hasil kreasi budaya luhur umat Hindu. Kalimantan . 4. Dalam konsep Hindu bahwa seni budaya merupakan sarana untuk meningkatkan cipta dan rasa dalam rangka meningkatkan sradha bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi.  Menyanyikan Dharma Gita yang mengandung nilai-nilai budaya. Dari pemahaman di atas tujuan dan fungsi Dharma Gita adalah : 1. Kidung tergolong juga salah satu Dharma Gita. Petuah-petuah luhur sebagai ajaran moral bagi umat Hindu 3. Umat Hindu dimana saja termasuk di Indonesia memiliki Dharma Gita sesuai dengan budaya setempat. demikian juga di Indonesia Dharma Gita memiliki ragam yang berbeda untuk Daerah Bali. Kisah-kisah sejarah kepahlawanan ( itihasa ). jadi jelas bahwa Dharma Gita sebagai pelengkap Upacara Yadnya. Cerita-cerita/dongeng yang berisi ajaran kebenaran. suara kul-kul ( kentongan). Oleh karena itu maka seni dan budaya masyarakat Hindu tetap dijaga dan dikembangkan tetapi nilai-nilai ajaran kebenaran tetap mewarnainya. yaitu lima jenis suara dalam Upacara Yadnya. Oleh karena itu setiap kegiatan ritual pemujaan kepada Hyang Widhi seni budaya menyatu di dalamnya. dan etika moral dalam Dharma Gita. termasuk dalam hal ini Dharma Gita. ( khususnya di Bali ) ada yang namanya Panca Paginda. Panca Paginda terdiri dari. estetika. suara mantra. suara genta/bajra. Pendidikan Agama Hindu 26/76 .

Hal ini disebabkan karena syair-syair Dharma Gita sesuai dengan jenis Upacara Yadnya yang dilaksanakan.2. 4. Sarana untuk meningkatkan sradha bhakti Syair-syair Dharma Gita ada yang bersumber langsung dari kitab-kitab suci seperti. c. Disamping itu irama Dharma gita juga biasanya mampu membawa suasana hati yang hening dan tentram 3. oleh karena itu pengelompokan Dharma gita lebih banyak mengacu pada budaya Bali. C. JENIS-JENIS DHARMA GITA Pada awalnya istilah dharma gita lebih dikenal di Bali. Sloka biasanya bersumber dari kitab suci yang umumnya berbahasa Sansekerta. sehingga semakin sering orang melantunkan atau mendengar Dharma Gita maka diharapkan pemahaman tentang ajaran agama semakin meningkat. Kekawin/Kidung/Tembang Pendidikan Agama Hindu 27/76 . seperti di Jawa pada setiap kegiatan upacara dilantunkan tembang-tembang jawa . Dalam membaca dan melantunkan irama ditentukan pada intonasi serta ketepatan pengejaan dan pemenggalan kata. Sarana ajaran moral Disamping untuk kegiatan upacara / yadnya Dharma Gita juga mengandung nasihat-nasihat tentang kesusilaan sehingga dapat dikatakan bahwa dharma gita juga sebagai sarana untuk pendidikan moral bagi masyarakat. Sarasamuscaya. Setelah penyebaran Hindu semakin meluas di nusantara maka budaya-budaya lokal mewarnai kegiatan upacara/Yadnya termasuk Dharma gita. Sloka Biasanya terdiri dari empat baris dalam satu bait dengan jumlah suku kata yang sama setiap barisnya. Beberapa contoh Dharma Gita : a. Juga di kalimantan ada kidung-kidung daerah yang diangkat dalam kelompok Dharma gita. Pada masa kini di beberapa daerah dharma gita muncul dari budaya lokal. Bhagawad Gita. Sarana untuk menciptakan suana suci dan konsentrasi pemujaan Melantunkan Dharma Gita pada pelaksanaan Upacara agama akan menciptakan suana batin yang suci. b. Ada pula merupakan hasil cipta para kawi berisi tentang pemujaan kepada Hyang Widhi. Dengan demikian maka dengan melantunkan Dharma gita berarti juga mengingatkan setiap orang tentang ajaran-ajaran agama. Manawa Dharma sastra dan sebagainya. serta konsentrasi pemujaan kepada Hyang Widhi. Palawakya Palawakya menggunakan Bahasa Jawa kuno dan berbentuk prosa.

Di setiap daerah memiliki jenis-jenis kidung/tembang tersendiri. Sekar Madya/ kidung 3). Sekar alit / pupuh Pendidikan Agama Hindu 28/76 . Sekar Agung / Kekawin 2). di Bali kidung dikelompokkan menjadi : 1).

secara berkala melaksanakan Utsawa Dharma Gita. Namun perkembangan berikutnya juga sebagai sarana peningkatan sumber daya manusia umat Hindu dalam pembinaan sradha bhakti maka materi Utsawa Dharma Gita tidak saja lomba untuk Dharma gita tetapi juga ada lomba Dharma Wacana dan Dharma Widya yaitu lomba penguasaan pengetahuan agama bagi siswa tingkat sekolah dasar ( SD ) sampai tingkat sekolah menengah atas ( SMA/SMK ).D. PENDALAMAN Guna meningkatkan pengetahuan dan kompetensi lakukanlah kegiatan kegiatan berikut : a. mengembangkan dan memasyarakatkan Dharma gita bagi umat Hindu Indonesia. b. Nusa Tenggara Barat pernah sebagai pelaksana Utsawa Dharma Gita Tingkat nasional pada tahun 2004 yang dipusatkan Kota Mataram. Utsawa Dharma gita pada awalnya bertujuan untuk melestarikan. yaitu Dharma gita yang dilombakan. Kegiatan ini dilaksanakan secara berjenjang dari tingkat kota/kabupaten. sekar madya dan sekar alit. Tuliskan tiga bait kidung dengan jenis pupuh yang berbeda. Carilah di berbagai sumber tentang jenis-jenis sekar agung. Pelaksanaan Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional biasanya dilaksanakan secara bergilir di beberapa daerah propinsi. E. tingkat provinsi dan tingkat nasional. Pendidikan Agama Hindu 29/76 . Pelajari dan lantunkan kidung Kawitan Wargasari c. UTSAWA DHARMA GITA Lembaga tertingi Agama Hindu di Indonesia yaitu Parisada Hindu Dharma Indonesia ( PHDI ).

anena prasawiûyadham eûa wo ‘stw iûþa-kàma-dhuk artinya : Dahulu kala Prajapati ( Hyang Widhi ) menciptakan manusia dengan yajnya dan bersabda. A. Pada masa srsti yaitu penciptaan alam Hyang Hidhi dalam kondisi Nirguna Brahma ( Tuhan dalam wujud tanpa sifat ) melakukan Tapa menjadikan diri beliau Saguna Brahma ( Tuhan dalam wujud sifat Purusha dan Pradhana ). Dari satu sloka di atas jelas bahwa manusia saja diciptakan melalui yadnya maka untuk kepentingan hidup dan berkembang serta memenuhi segala keinginannya semestinya dengan yadnya. PENGERTIAN DAN HAKEKAT YADNYA Pada awalnya banyak orang mengartikan bahwa yadnya semata upacara ritual keagamaan. Pemahaman ini tentu tidak salah karena upacara ritual keagamaan adalah bagian dari yadnya. karena alam dan manusia diciptakan oleh Hyang Widhi melalui Yadnya. lebih dari itu segala aktivitas manusia dalam rangka sujud bhakti kepada hyang Widhi adalah Yadnya. Kesempurnaan dan kebahagiaan tak Pendidikan Agama Hindu 30/76 . Dalam Bhagawadgita Bab III. sloka 10 disebutkan : saha-yajòàá prajàh såûþwà purowàca prajàpatih. Pada dasarnya Yadnya adalah penyangga dunia dan alam semesta. Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan mampu : b. Menguraikan hakikat dan tujuan yadnya c. Manusia harus berkorban untuk mencapai tujuan dan keinginannya. Selanjutnya semua alam diciptakan secara evolusi melalui Yadnya. Dari proses awal ini jelas bahwa awal penciptaan awal dilakukan Yadnya yaitu pengorbanan diri Hyang Widhi dari Nirguna Brahma menjadi Saguna Brahma .BAB V YADNYA Standar Kompetensi Memahami Pelaksanaan Yadnya dalam kehidupan Tujuan Akhir Pembelajaran a. Menyebutkan bentuk-bentuk pelaksanaan Yadnya dalam kehidupan nyata dan kehidupan masyarakat. d. dengan ini engkau akan berkembang dan akan menjadi kamadhuk keinginanmu. Secara etimologi pengertian Yadnya adalah korban suci secara tulus ikhlas dalam rangka memuja Hyang Widhi. Yadnya berasal dari Bahasa Sansekerta dari akar kata “Yaj” yang artinya memuja. Pada dasarnya Yadnya bukanlah sekedar upacara keagamaan. Mengaplikasikan nilai-nilai Yadnya dalam kehidupan nyata dan kehidupan masyarakat.

dan senantiasa bersyukur dan berterima kasih kepada Sang Pencipta. Dalam rangka mencapai tujuan tertinggi tersebut manusia harus melakukan aktivitas dan berkarma. tindakan . Hyang Widhi akan merajut potonganpotongan pengorbanan kita dan menjadikannya sesuai dengan keinginan kita. diciptakan . seperti. TUJUAN YADNYA Dalam banyak sloka dari berbagai kitab menyatakan bahwa alam semesta beserta segala isinya termasuk manusia. Melalui Yadnya kita dapat menyucikan diri dan juga menyucikan lingkungan alam sekitar. dan lain-lain termasuk nyawa sendiri dapat digunakan sebagai korban. demikian juga “guna” alam akan mempengaruhi manusia. dan tamas ) orang akan saling mempengaruhi. Dari gambaran sederhana di atas dapat diambil kesimpulan bahwa demi mencapai kebahagiaan dan kesempurnaan hidup maka kita harus rela mengorbankan sebagian dari milik kita. Sedangkan potongan yang tidak diperlukan tentu harus dibuang. Oleh karena itu maka yadnya yang dilakukan oleh manusia tentu bertujuan untuk mencapai tujuan hidup manusia menurut konsep Hindu yakni Moksartham jagat hita ( Kebahagiaan sekala dan niskala ). Paling tidak empat hal yang harus dilakukan manusia yaitu. Oleh karena itu tujuan Yadnya adalah : 1. Tentu saja pengorbanan ini harus dilandasi rasa cinta. rajas. Untuk Penyucian Untuk mencapai kebahagiaan maka hidup ini harus suci.mungkin akan tercapai tanpa ada pengorbanan. Contoh sederhana bila kita memiliki secarik kain dan berniat untuk menjadikannya sepotong baju. Guna ( sifat satwam. pengetahuan. Untuk mencapai kebahagiaan maka manusia harus memiliki imbangan Guna Satwam yang tinggi. Tanpa dasar tersebut maka suatu pengorbanan bukanlah yadnya. dipelihara dan dikembangkan melalui yadnya. Pribadi dan jiwa manusia dalam aktivitasnya setiap hari berinteraksi dengan sesama manusia dan alam lingkungan akan saling berpengaruh. korban pikiran. Pengorbanan dalam hal ini bukan saja dalam bentuk materi. sembahyang. Tanpa kesucian sangat mustahil keharmonisan dan kebahagiaan itu dapat tercapai. penyucian diri. Pendidikan Agama Hindu 31/76 . Jika kita bersikukuh tidak rela kainnya dipotong dan dibuang sebagian maka sangat mustahil akan memperoleh sepotong baju. Empat hal di atas semuanya dapat dicapai melalui Yadnya. Jika manusia dan alam memiliki tingkatan guna satwam yang lebih banyak maka keharmonisan alam akan terjadi. sifat. B. peningkatan kualitas diri. Segala aspek yang dimiliki manusia dapat dikorbankan sebagai yadnya. Pribadi dan jiwa manusia harus dibersihkan dari guna rajas dan guna tamas. maka kain yang utuh tersebut harus direlakan untuk dipotong sesuai dengan pola yang selanjutnya potongan-potongan tersebut dijahit kembali sehingga berwujud baju. tulus dan ikhlas. ucapan.

109 menyatakan : “ Adbhirgatrani suddhayanti mana satyena suddhayanti. Widyatapobhyam bhutatma buddhir jnanena suddhayanti” Pendidikan Agama Hindu 32/76 .Kitab Manawa Dharmasastra V.

Dengan demikian maka setiap kegiatan yang kita lakukan selalu memberikan kesucian pada diri pribadi. bayu . Oleh karena itu jadikanlah aktivitas sehari-hari kita sebagai yadnya. Sebagai sarana menghubungkan diri dengan Tuhan Pendidikan Agama Hindu 33/76 . Hanya dilahirkan sebagai manusia memiliki sabda. 3. 2. Demikian juga untuk kesucian alam dan lingkungan lakukan upacara/ ritual sesuai dengan sastra agama sehingga kita akan senantiasa berada pada lingkungan yang suci. oleh karena itu leburlah ke dalam perbuatan baik . Untuk meningkatkan kualitas diri Setiap kelahiran manusia selalu disertai oleh karma wasana. Lingkungan yang suci akan memberikan kehidupan yang suci juga bagi manusia. phalaning dadi wwang. jiwa manusia dibersihkan dengan pelajaran suci dan tapa brata. segala perbuatan yang buruk itu.Artinya : Tubuh dibersihkan dengan air. Demikian pula setiap kelahiran bertujuan untuk meningkatkan kualitas jiwatman sehingga tujuan tertinggi yaitu bersatunya atman dengan brahman ( brahman atman aikyam ) dapat tercapai. Artinya : Diantara semua mahluk hidup . Dari sloka di atas jelas kewajiban hidup manusia adalah untuk selalu meningkatkan kualitas diri melalui perbuatan baik. pikiran disucikan dengan kebenaran. kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan yang benar. dan idep dapat melakukan perbuatan baik sebagai cara untuk meningkatkan kualitas jiwatman. Dengan demikian setiap yadnya yang kita lakukan hasilnya adalah terjadinya peningkatan kualitas jiwatman. Perbuatan baik yang paling utama adalah melalui Yadnya. hanya yang dilahirkan sebagai manusia saja yang dapat melaksanakan perbuatan baik atau perbuatan buruk. sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Sarasamuscaya sloka 2 sebagai berikut : Ri sakwehning sarwa bhùta. iking janma wwang juga wénang gumawayakén ikang çubhàçubhakarma. Laksanakan kewajiban diri sendiri dengan penuh kesadaran dan keihlasan sehingga masuk dalam kelompok yadnya. kunéng panéntasakéna ring çubhakarma juga ikangaçubhakarma. demikianlah gunanya menjadi manusia.

berbaktilah pada-Ku. Satusatunya cara agar kita selalu dapat menghubungkan diri dengan Maha Pencipta adalah dengan mempelajari. Ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Hyang Widhi itulah dilakukan dengan Yadnya Bekerja dengan benar dan giat. serta kehidupan yang kita terima. sebagaimana dalam ajaran Tri Hita Karana. rejeki. engkau akan sampai kepada-Ku. odalan. dan kegiatan lain yang didasari pengabdian dan rasa ikhlas adalah salah satu contoh ungkapan rasa syukur dan ucapan terima kasih atas anugrah Tuhan untuk kesehatan. Jika dalam kehidupan kita senantiasa dapat memusatkan pikiran. dilahirkan pada keluarga yang satwam. Dengan olah rasa yang baik maka rasa syukur merupakan salah satu motivasi utama untuk selalu berbuat kebajikan. dan dengan mendisiplinkan dirimu serta menjadikan-Ku sebagai tujuan.Alam semesta dengan segala isinya termasuk manusia adalah ciptaan Hyang Widhi. Cara paling sederhana menghubungkan diri dengan Tuhan adalah sembahyang. maupun berkala ( rahinan. berada pada lingkungan sosial yang baik . serta hari suci lainnya ) salah satu tujuan utamanya sebagai Pendidikan Agama Hindu 34/76 . belajar giat. Untuk menjaga agar senantiasa jalan kehidupan kita pada arah yang benar dan selalu mendapat sinar suci serta tuntunan Hyang Widhi maka haruslah kita selalu menjalin hubungan yang harmonis dengan Tuhan. Manusia memiliki rasa dan pikiran dan dalam tatanan kehidupan sosial terikat pada aturan susila dan moral. menolong orang yang kesusahan. Kita diberikan hidup sebagai manusia. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi manusia bijak untuk tidak bersyukur dan tidak berterima kasih kepada Sang Pencipta. dan tunduklah padaKu. memahami dan melaksanakan Yadnya. dan diciptakan bersama bumi yang penuh keindahan dan kedamaian. Sebagai ungkapan rasa terima kasih. 4. Sembahyang artinya menyembah Hyang Widhi. Upacara/ritual yang dilakukan Umat Hindu baik yang bersifat rutin (contohnya ngejot. memuja Hyang widhi maka tujuan tertinggi pasti akan tercapai sebagaimana sabda Tuhan dalam Bhagawad Gita Bab IX sloka 34 : Pusatkan pikiranmu pada-Ku. Yadnya dalam kegiatan karma keseharian adalah sarana untuk menghubungkan diri dengan Tuhan. maturan sehari-hari dsb ). Untuk senantiasa dapat memusatkan pikiran dan memuja Hyang Widhi tidaklah mudah. Terlebih Yadnya dalam bentuk Upacara/ritual jelas merupakan wujud nyata usaha menghubungkan manusia dengan Sang Penciptanya. keselamatan diri. Perlu kedisiplinan dan keihlasan dalam menjalaninya. adalah suatu yang luar biasa. Oleh karena itu hidup manusia dalam rangka mencapai tujuannya tidak akan lepas dari tuntunan dan kekuasaan Tuhan.

bahkan bakteri dan kumanpun semuanya memiliki tugas dan fungsi tersendiri dalam memutar kehidupan ini. memperturutkan nafsu semata Pàrtha dan mengalami penderitaan. yaitu hutang kepada orang tua dan leluhur. pada dasarnya bersifat jahat. Dewa Yadnya dalam bentuk pemujaan kepada Hyang Widhi serta melaksanakan Dharma. Dalam melaksanakan Yadnya ada tiga kewajiban utama yang harus dilunasi manusia atas keberadaannya di dunia ini yang disebut Tri Rna ( tiga hutang hidup). Tri Rna ini dibayar dengan pelaksanaan Panca Yadnya. 5. Dewa Rna.16 dijelaskan : Di dunia ini. Asura. Alam dengan segala isinya memiliki keterkaitan dan ketergantungan satu sama lain. wahai Agar perputaran roda kehidupan ini berjalan dengan harmonsi maka peranan manusia sangat penting. Untuk semua ini wajib kita bayar dengan Dewa Yanya dan Bhuta Yadnya. binatang. mereka yang tidak ikut memutar roda kehidupan ini. Jika manusia dalam melakoni hidup penuh keserakahan dan mengabaikan prinsip-prinsip Dharma maka kehancuran pasti terjadi. Hanya dengan Yadnya keharmonisan alam dapat tercipta. Tri Rna terdiri dari : a. yaitu hutang hidup kepada Hyang Widhi yang telah menciptakan alam semesta termasuk diri kita. Butha Yadnya dilakukan untuk memelihara alam lingkungan sebagai tempat kehidupan semua mahluk. manusia dengan sesamanya dan keharmonisan hubungan manusia dengan alam. bulan. Dalam Bhagawad Gita . Pitra Rna. c. b. yaitu hutang kepada para Rsi yang mengorbankan kehidupannya sehingga dapat memberikan pencerahan kepada manusia melalui ajaran-ajarannya sehingga manusia dapat menjalani hidup dengan lebih baik. Rsi Rna. Rsi Rna dilunasi dengan melaksanakan Rsi Yadnya. bintang. Dewa. manusia. Leluhur dan orang tua sangat memiliki peranan besar atas kehidupan kita saat ini. Perlu diingat bahwa Yadnya tidak semata-mata dilaksanakan dengan upakara/ritual. III. tumbuhan. Oleh karena itu manusia sebagai bagian alam semesta mempunyai kewajiban untuk menjalankan tugas dan fungsinya untuk ikut menciptakan keharmonisan kehidupan. Untuk menciptakan kehidupan yang harmonis Hyang Widhi menciptakan alam dengan segala isinya untuk memutar kehidupan.ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Hyang Widhi atas semua anugrah Beliau. Yadnya menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Hyang Widhi. Karma leluhur dan orang tua berpengaruh terhadap keberadaan Pendidikan Agama Hindu 35/76 . Sekecil apapun ciptaan-Nya memiliki fungsi tersendiri dalam kehidupan ini.

Paling tidak kelahiran kita di dunia karena adanya leluhur dan orang tua. Membayar hutang kepada orang tua dan leluhur dilakukan dengan Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya Pendidikan Agama Hindu 36/76 . Oleh karena itu maka sudah menjadi kewajiban untuk membalas hutang tersebut.setiap orang.

C. BENTUK DAN JENIS YADNYA 1. Bentuk – bentuk Yadnya Kitab Bhagawad Gita dalam berbagai sloka menjelaskan bahwa bentuk-bentuk yadnya terdiri dari : a. Yadnya dalam bentuk persembahan/Upakara b. Yadnya dalam bentuk pengendalian diri/tapa c. Yadnya dalam bentuk aktivitas/karma d. Yadnya dalam bentuk harta benda / kekayaan/punia e. Yadnya dalam bentuk ilmu pengetahuan/jnana Sampai saat ini di Indonesia khususnya di Bali hampir sebagian besar umat Hindu masih mengartikan dan mengutamakan bahwa yadnya adalah upacara/ritual. Padahal upakara/ritual itu adalah salah satu bagian dari bentukbentuk yadnya. Sangat sedikit Umat Hindu di Indonesia yang memberikan proporsional untuk melaksanakan bentuk-bentuk yadnya yang lainnya. Hindu memberikan keluasan kepada pemeluknya dalam beryadnya sesuai dengan kondisi dan kemampuan yang ada dengan peluang kesempatan hasil yang sama. Dengan demikian apapun bentuk yadnya yang kita lakukan sepanjang sesuai dengan konsep Dharma maka akan memperoleh hasil yang maksimal. 2. Jenis-jenis Yadnya Secara garis besar yadnya dapat kelompokkan sebagai berikut : a. Dari segi waktu pelaksanaan Yadnya dapat dibedakan : 1). Nitya Yadnya Yaitu yadnya yang dilakukan secara rutin setiap hari. Yadnya ini antara lain; dalam bentuk persembahan yang berupa yadnya sesa, atau persembahyangan sehari-hari. Sedangkan bagi sulinggih melakukan Surya Sewana. Yadnya dalam bentuk yang lain dapat dilaksanakan melalui aktivitas sehari-hari. Bagi seorang siswa kewajiban sehari-hari adalah belajar , bila dilakukan dengan penuh ikhlas merupakan yadnya. Bagi seorang petani, tukang, pegawai dan sebagainya yang melaksanakan tugas sehari-hari dengan konsentrasi persembahan kepada Tuhan disertai keikhlasan juga merupakan Nitya Yadnya. 2). Naimitika Yadnya Yaitu Yadnya yang dilaksanakan secara berkala/ waktu-waktu tertentu. Khusus untuk yadnya ini terutama yadnya dalam bentuk persembahan /upakara yaitu Upacara Piodalan, Sembahyang Purnama dan Tilem, Hari Raya baik menurut wewaran maupun sasih. Bagi bentuk yadnya yang lain tergantung kebiasaan pribadi perorangan/kelompok orang. Ada orang pada setiap hari raya tertentu Pendidikan Agama Hindu 37/76

melaksanakan tapa brata sebagai wujud yadnya pengendalian diri. Ada pula yang pada waktu tertentu setiap tahun atau setiap bulan melakukan dana punia baik dihaturkan kepada sulinggih, orang tidak mampu dan sebagainya. Disamping itu ada juga bentuk yadnya yang dilaksanakan secara insidental sesuai kebutuhan dengan waktu yang tidak tetap/ tidak rutin. Contohnya upacara ngaben, nangluk merana, tirtayatra. Demikian juga bentuk yadnya yang lain adakalanya dilakukan tidak dengan jadwal waktu tertentu. Misalkan jika ada ujian sekolah ada siswa / mahasiswa yang puasa. Ada orang yang tanpa diduga memperoleh rejeki yang lebih , maka sebagian dipuniakan untuk pura atau untuk panti asuhan.

b. Berdasarkan nilai materi / jenis bebantenan suatu yadnya digolongkan menjadi : 1). Nista, artinya yadnya tingkatan kecil yang dapat di bagi lagi menjadi :  Nistaning nista, adalah terkecil dari yang kecil  Madyaning nista, adalah tingkatan sedang dari yang kecil.  Utamaning Nista, adalah tingkatan terbesar dari yang kecil 2). Madya, yaitu yandnya tingkatan sedang yang dapat dibagi lagi menjadi :  Nistaning Madya, adalah tingkatan terkecil dari yang sedang.  Madyaning madya, adalah tingkatan sedang dari yang sedang.  Utamaning madya, adalah tingkatan terbesar dari yang sedang. 3). Utama, yaitu yadnya tingkatan besar yang dapat dibagi menjadi :  Nistaning utama, adalah tingkatan terkecil dari yang besar  Madyaning Utama, adalah tingkatan sedang dari yang besar.  Utamaning Utama, adalah tingkatan terbesar dari yang besar.

c. Sedangkan apabila ditinjau dari tujuan pelaksanaan atau kepada siapa yadnya tersebut dilaksanakan, dapat digolongkan menjadi : 1). Dewa Yadnya 2). Rsi Yadnya 3). Pitra Yadnya 4). Manusa Yadnya 5). Bhuta Yadnya Kelima jenis yadnya di atas dikenal dengan istilah Panca Yadnya. Uraian mengenai Panca Yadnya akan dibahas tersendiri setelah bagian ini.

Pendidikan Agama Hindu

38/76

d. Dari segi kualitas yadnya dapat dibedakan atas: 1). Satwika Yadnya yaitu yadnya yang dilaksanakan dasar utama sradha bakti, lascarya, dan semata melaksanakan sebagai kewajiban. Apapun bentuk yadnya yang dilakukan seperti; persembahan, pengendalian diri, punia, maupun jnana jika dilandasi bakti dan tanpa pamrih maka tergolong Satwika Yadnya. Yadnya dalam bentuk persembahan / upakara akan sangat mulia dan termasuk satwika jika sesuai dengan sastra agama, daksina, mantra, Annasewa, dan nasmita. 2). Rajasika Yadnya yaitu yadnya dilakukan dengan motif pamrih serta pamer kemewahan, pamer harga diri, bagi yang melakukan punia berharap agar dirinya dianggap dermawan. Seorang guru/pendarmawacana memberikan ceramah panjang lebar dan berapi-api dengan maksud agar dianggap pintar; semua bentuk yadnya dengan motif di atas tergolong rajasika yadnya. Seorang yang melakukan tapa, puasa tetapi dengan tujuan untuk memperoleh kekayaan, kesaktian fisik, atau agar dianggap sebagai orang suci juga tergolong yadnya rajasik. 3). Tamasika Yadnya yaitu yadnya yang dilaksanakan tanpa sastra, tanpa punia, tanpa mantra dan tanpa keyakinan. Ini adalah kelompok orang yang beryadnya tanpa arah tujuan yang jelas,hanya ikut-ikutan. Contoh orang-orang yang tegolong melaksanakan tamasikan yadnya antara lain orang yang pergi sembahyang ke pura hanya ikut-ikutan, malu tidak ke pura karena semua tetangga pergi ke pura, orang gotong royong di pura atau di tempat umum juga hanya ikut-ikutan tanpa menyadari manfaatnya. Termasuk dalam katagori ini adalah orang yang beryadnya karena terpaksa. Terpaksa maturan karena semua orang maturan. Terpaksa memberikan punia karena semua orang melakukan punia. Terpaksa puasa karena orang-orang berpuasa. Jadi apapun yang dilaksanakannya adalah sia-sia, tiada manfaat bagi peningkatan karmanya. Jenis-jenis yadnya di atas diuraikan dalam Kitab Bhagawad Gita dalam beberapa sloka. Untuk Yadnya yang berbentuk persembahan/upakara akan tergolong kualitas Satwika bila yadnya dilaksanakan berdasarkan :  Sradha, artinya yadnya dilaksanakan dengan penuh keyakinan  Lascarya, yaitu yadnya dilaksanakan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sedikitpun.  Sastra, bahwa pelaksanaan yadnya sesuai dengan sumber-sumber sastra yang benar.  Daksina, yaitu yadnya dilaksanakan dengan sarana upacara serta punia kepada pemuput yadnya/manggala yadnya. Pendidikan Agama Hindu 39/76

Manusa Yadnya. adalah persembahan tarpana dan air kepada leluhur. artinya memberikan jamuan kepada tamu yang menghadiri upacara. yaitu dengan melantunkan doa-doa serta kidung suci sebagai pemujaan. c. Pitra Yadnya. yaitu persembahan kepada para dewa ( disebut swaha ). Pelaksanaan Panca yadnya adalah sebagai realisasi dalam melunasi kewajiban manusia yang hakiki yaitu Tri Rna ( tiga hutang hidup ). c. Kitab ini merupakan bagian dari Reg Weda. Kitab Manawa Dharmasastra Kitab Manawa Dharmasastra memberikan penjelasan tentang Panca Yadnya sebagai berikut : a. adalah pelaksanaan upacara bali untuk butha. adalah persembahan yang dilaksanakan dengan belajar dan mengajar secara tulus ikhlas. yaitu persembahan yang ditujukan untuk leluhur ( disebut swadha). yaitu yadnya untuk para bhuta b. 2.Mantra dan gita. d. Penjelasan-penjelasan tersebut antara lain : 1.  D. namun pada intinya memiliki kesatuan tujuan yang sama. adalah penerimaan tamu dengan ramah-tamah. menjelaskan panca yadnya sebagai berikut : a.  Annasewa. b. Pitra Yadnya. Dalam beberapa kitab dan pustaka memberikan penjelasan tentang Panca Yadnya yang berbeda. Sedangkan kualitas yadnya yang harus dicapai setiap pelaksanaan yadnya adalah Satwika Yadnya. PANCA YADNYA Panca Yadnya adalah lima macam korban suci dengan tulus ikhlas yang wajib dilakukan oleh umat Hindu. Pendidikan Agama Hindu 40/76 . Brahma Yadnya. Kitab Sathapata Brahmana. Dengan jamuan maka karma dari doa para tamu undangan menjadi milik sang yajamana. Nara Yadnya . Bhuta Yadnya. Tidak ada gunanya yadnya yang besar tetapi bersifat rajas atau tamas. d. yaitu persembahan makanan untuk sesama manusia. Brahma yadnya. adalah persembahan minyak dan susu kepada para dewa. e.  Nasmita. yaitu yang dilaksanakan dengan mempelajari pengucapan mantram cusi weda. Bhuta Yadnya. Dewa yadnya. e. bahwa yadnya yang dilaksanakan bukan untuk memamerkan kekayaan dan kemewahan Apapun jenis yadnya yang kita lakukan seharusnya yang menjadi tolok ukur adalah kualitas yadnya. Jamuan ini penting karena setiap tamu yang datang ikut berdoa agar pelaksanaan yadnya berhasil. Dewa Yadnya.

Pitra Yadnya adalah mempersembahkan puja dan banetn kepada leluhur. d. penuh tanggung jawab dan menjadikan aktivitas tersebut sebagai persembahan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagaimana sabda Tuhan melalui Bahagawad Gita dalam beberapa sloka seperti : Pendidikan Agama Hindu 41/76 . f. yakni hutang hidup kepada Ida Sang Hyang Widhi. Dewa Yadnya. Dalam lontar Korawa Srama terdapat penjelasan Panca yadnya sebagai berikut: b. Rsi Yadnya. buah-buahan. keikhlasan. yaitu persembahan dengan memberi makanan kepada masyarakat. c. Bhuta Yadnya. Dewa Yadya. yaitu persembahan dengan mensejahterakan tumbuhan dan menyelenggarakan upacara tawur serta upacara panca wali krama. Dewa Yadnya. yaitu persembahan dengan minyak dan biji-bijian kehadapan Dewa Siwa dan Dewa Agni di tempat pemujaan dewa. makanan. b. Menurut lontar ini Panca yadnya adalah : a. c. yaitu persembahan dengan menghormati pendeta dan membaca kitab suci. d. 4. Bhuta Yadnya. Lontar Korawa Srama a. Tetapi dalam konteks pengertian dan pelaksanaannya mengacu pada penjelasan-penjelasan Kitab Weda sehingga di Indonesia Panca Yadnya dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. e. Pitra Yadnya. Lontar Agastya Parwa Penjelasan tentang Panca Yadnya dari lontar Agastya Parwa adalah yang menjadi acuan utama pelaksanaan yadnya di Indonesia. Aktivitas kehidupan sehari-hari dapat diwujudkan menjadi yadnya dengan cara melaksanakan semua aktivitas yang didasari oleh kesadaran. e. adalah mempersembahkan puja dan banten kepada bhuta. Pelaksanaan Dewa Yadnya dapat dilakukan dengan berbagai bentuk. adalah persembahan yang tulus iklhas kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya. Dari beberapa sumber di atas yang lebih tepat digunakan sebagai dasar pelaksanaan yadnya di Indonesia adalah Lontas Agastya Parwa. Manusa Yadnya adalah persembahan makanan kepada masyarakat. Rsi Yadnya.3. Manusa Yadnya. Dewa Yadnya dilaksanakan terutama dalam rangka memenuhi kewajiban Dewa Rna. yaitu upacara kematian agar roh yang meninggal mencapai alam Siwa. adalah persembahan punia. dan barang yang tidak mudah rusak kepada para Maha Rsi. adalah persembahan dengan sesajen dan mengucapkan Sruti dan Stawa pada waktu bulan purnama.

9 ) Artinya: Kecuali kerja yang dilakukan sebagai dan untuk tujuan pengorbanan. tetapi tanpa pamrih dan semata-mata dengan keinginan untuk memelihara kesejahteraan tatanan dunia ini saja. Kuryàd widwàýs tathàsaktaú cikìrûur loka-saògraham ( Bhagawad Gita. III. Oleh karena itu. wahai ( Arjuna ). Saktàá karmaóy awidwàmso yathà kurwanti bhæata.19 ) Artinya: Oleh karena itu. Pendidikan Agama Hindu 42/76 . III. Asakto hy àcaran karma param àpnoti pùrsaá ( Bhagawad Gita. lakukanlah kegiatanmu sebagai pengorbanan dan jangan terikat dengan hasilnya. Tasmàd asaktaá satataý kàryaý karmasamàcara. tanpa keterikatan. dunia ini terbelenggu oleh kegiatan kerja. lakukanlah selalu kegiatan kerja yang harus dilakukan. Tad-artham karma kaunteya mukta-saògaá samàcara ( Bhagawad Gita. wahai putra Kunti ( Arjuna). karena dengan melakukan kerja tanpa pamrih seperti itu membuat manusia mencapai tingkatan tertinggi. III.Yajòàathàt karmano ‘nyatra loko ‘yaý karma-bandhanah.25 ) Artinya: Seperti orang bodoh yang bekerja karena pamrih dari kegiatannya. demikian pula hendaknya orang Bhàrata terpelajar bekerja.

c.  Asti Wedana yaitu upacara pengabenan dengan membakar jenasah yang sudah berbentuk tulang ( sudah dikubur terlebih dahulu). hormat dan bakti serta melayani para sulinggih/ orang suci secara tulus ikhlas. 2. Upacara ini biasanya dilakukan untuk orang yang waktu meninggal telah mekingsan ring geni. atau juga jenasah yang dikubur tetapi tulangnya tidak ditemukan. maligia. dibakar ( mekingsan ring geni) dsb. yaitu upacara tingkat berikutnya yang bertujuan lebih menyempurnakan jiwatman yang telah diabenkan dari alam surga menuju alam dewa/moksa. Di Bali Upacara Pitra Yadnya dikenal memiliki beberapa tingkatan seperti : a. ngeroras. Asti Wedana yaitu tingkatan upacara pitra yadnya yang lebih tinggi yang umumnya disebut NGABEN.Tanpa ada leluhur dan orang tua sangat mustahil kita akan lahir di dunia ini. Pelaksanaan yadnya ini sebagai wujud terima kasih atas segala jasa yang telah diberikan oleh para rsi dan orang suci pada kita . b. atau yadnya dalam bentuk tapa serta yadnya dalam bentuk persembahan/upakara haruslah dilakukan dengan ikhlas dan tanpa pamrih. 3. Oleh karena itu hutang hidup ini harus dibayar dengan bentuk Upacara Pitra Yadnya. Dalam Kitab Suci Bhagawad Gita banyak dijelaskan berbagai bentuk yadnya yang Satwika. Upacara ini dikenal juga dengan nama SWASTA. Atma Wedana. yakni upacara perawatan dan penyelesaian jenasah seperti dikubur ( mekingsan ring pertiwi ). atau meninggal tetapi jenasahnya tidak ditemukan ( misalnya meninggal di laut atau di hutan ). atau beryadnya dalam bentuk jnana (pengetahuan). Bentuk atma wedana antara lain. Pitra Yadnya. sebab jika tidak maka karma baik atas upacara yadnya yang dilaksanakan akan menjadi milik sang pemuput karya. Bentuk asti wedana adalah :  Sawa Wedana yaitu upacara ngaben bila yang dibakar adalah jenasah. Contoh Rsi Yadnya yang berbentuk Upakara adalah Rsi Bojana. Jika semua yadnya yang dilaksanakan dengan tujuan sebagai persembahan kepada Tuhan maka jadilah yadnya tersebut Satwika. Pitra yadnya wajib dilakukan untuk membayar hutang hidup kepada orang tua dan leluhur yang disebut Pitra Rna. Sawa Prateka. Menurut Hindu atas jasa para rsi dan orang suci ini menyebabkan kita memiliki hutang yang disebut Rsi Rna. adalah persembahan yang tulus ikhlas kepada para rsi dan orang suci.  Ngerca Wedana yaitu upaca ngaben dengan membakar simbol sebagai pengganti tulang/jenasah orang yang sudah meninggal.Selanjutnya jika kita beryadnya dalam bentuk dana/harta . mukur. Sedangkan bentuk lain Rsi Yadnya adalah dengan melaksanakan ajaran-ajaran suci para rsi. Pendidikan Agama Hindu 43/76 . adalah pengorbanan yang tulus ikhlas untuk para leluhur dan orang tua. Rsi Yadnya. Dalam melaksanakan upacara seharusnya sang yajamana menghaturkan punia daksina pada sulinggih/ pemuput karya yang sesuai.

Bentuk manusa yadnya bisa bermacam-macam seperti yadnya dalam bentuk dana. 4. serta tindakantindakan lain yang dapat menjadi penyebab bencana alam. Sesuai dengan pengertian tersebut maka segala bentuk pengobanan yang bertujuan untuk kebahagiaan hidup manusia adalah tergolong manusa yadnya. tetapi bagi semua manusia tanpa memandang suku. hutan lindung. Dengan demikian maka sasaran manusa yadnya bukan hanya untuk anak/ keturunan sendiri. PENILAIAN YADNYA Pendidikan Agama Hindu 44/76 .Disamping bentuk upacara pitra yadnya sebagaimana dijelaskan di atas yang lebih penting dilakukan masa kini adalah bagaimana usaha kita untuk menjunjung nama baik dan kehormatan leluhur dan orang tua. bayu dan idep memiliki peranan penting dalam menciptakan keharmonisan kehidupan. maka bentuknya tidak selalu upacara. Demikian pula memberikan dana punia untuk pendidikan anak bagi keluarga tidak mampu atau melaksanakan bhakti sosial pengobatan bagi masayarakat kurang mampu juga termasuk manusa yadnya. Jadi pitra yadnya dalam kaitan kewajiban sebagai siswa adalah dengan belajar sebaikbaiknya sebagaimana harapan orang tua. adalah pengorbanan yang tulus iklhas untuk para butha agar tercipta kedamaian dan keharmonisan hidup di dunia. Secara sekala wujud bhuta yadnya adalah usaha kita agar menjaga kelestarian alam. adalah pengorbanan yang tulus ikhlas untuk kebahagiaan hidup manusia. Manusia sebagai mahluk yang memiliki sabda. tidak merusak mata air. agama maupun golongan. Tujuan bhuta yadnya adalah agar para bhuta kala “somya”. Melayani orang tua semasih hidup dengan ikhlas serta tidak mengecewakan dan menyakiti hati orang tua adalah merupakan pitra yadnya utama. upacara. jnana. Menurut konsep Hindu bahwa semua yang ada di dunia ini adalah ciptaan Hyang Widhi yang memiliki fungsi tersendiri dalam memutar roda kehidupan. sejak dalam kandungan sampai menuju grahasta ( perkawinan). Selama ini pemahaman sebagian umat Hindu bahwa manusa yadnya semata-mata upacara yang dilaksanakan oleh orang tua bagi anak-anaknya. E. Oleh karena itu manusia melaksanakan bhuta yadnya agar keseimbangan hidup tercipta. serta peruntukannya bukan hanya untuk anak ( keturunan sendiri). Manusa Yadnya. dan karma sepanjang tujuan yadnya tersebut adalah untuk kebahagiaan hidup manusia. Jika memahami pengertian manusa yadnya. Artinya jika kita memberikan nasehat atau ilmu kepada orang lain yang menyebabkan orang tersebut memperoleh kebahagiaan hidup maka itu tergolong juga manusa yadnya. Jadi semua mahluk termasuk para bhuta memiliki hak hidup. 5. Butha Yadnya. sempurna kembali menuju alamnya sendiri dan tidak mengganggu kehidupan manusia.

Pitra. Pendidikan Agama Hindu 45/76 . Manusia. maka kita dapat berharap bahwa hidup ini tidak akan sia-sia. ataukah Bhuta? Terakhir sebagai tolok ukur karma yang paling penting harus kita nilai apakah yadnya yang kita lakukan bersifat Satwam.Dari uraian di atas maka kita akan dapat menilai diri sendiri tentang yadnya yang kita lakukan. ataukah nista? Selanjutnya kita harus menggoongkan lagi kepada siapakah yadnya tersebut ditujukan? Apakah kepada Ida Sang Hyang Widhi. madya. Hidup ini adalah untuk meningkatkan kwalitas karma jiwatman sebagaimana yang disampaikan dalam kitab Sarasamuscaya . Untuk itu kita perlu secara jujur menjawab beberapa pertanyaan untuk dianalisa kemudian menilai atas yadnya yang kita laksanakan. sloka 2. apakah tergolong utma. Rajas ataukah Tamas? Dengan melakukan penilaian diri terhadap setiap tindakan karma. Rsi. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah : Bentuk apakah yadnya yang kita lakukan? Selanjutnya kita dapat bertanya apakah yandya yang kita lakukan tergoong Nitya Yadnya ataukah Naimitika Yadnya? Jika Yadnya tersebut berkaitan dengan materi.

F. Kegiatan/Peristiwa b. Buatlah tulisan tentang pengalaman pribadi anda minimal dua pengalaman yang dapat digolongkan sebagai yadnya. Untuk memudahkan dapat digunakan format berikut ini. Penilaian NO Penialaian 1 Bentuk : 2 3 4 5 Waktu Pelaksanaan : Materi : Tujuan : Kwalitas : Alasan Pendidikan Agama Hindu 46/76 . Carilah sloka-sloka Bhagawad Gita yang berkaitan dengan bentuk-bentuk yadnya 2. PENGALAMAN YADNYA a. Kemudian berikan penilaian atas pengalaman yadnya tersebut dengan alasannya masingmasing. PENDALAMAN MATERI Tugas siswa : 1.

serta aturan yang harus diikuti dan dipatuhi sehingga dapat sampai pada tujuan dengan selamat. Jika rambu-rambu dan aturan ini dilanggar kemungkinan kita akan tersesat atau bahkan celaka. Susila berasal dari kata Su yang berarti baik. Sedangkan Yadnya/Upacara adalah aktivitas nyata umat Hindu dalam merealisasikan Tattwa Agama dalam kehidupan sehari-hari. Istilah lain dai Susila adalah Etika/Etiket. Jadi susila adalah perbuatan atau tingkah laku yang baik dan benar. serta interaksi dengan alam. Kemudian seseorang yang memiliki tattwa tinggi juga mengetahui aturan susila tetapi tanpa diikuti dengan tindakan nyata ( dalam bentuk yadnya). Susila ( etika ) . Sebaliknya meskipun pelaksanaan yadnya secara tattwa benar. Peserta didik mampu menjelaskan pengertian tat twam asi 2. Susila adalah aturan-aturan moral dalam segala tindakan serta komunikasi manusia dengan Tuhan. berbagai jalan atau arah yang bisa dilalui menuju tempat tujuan. Dalam konsep Hindu aktivitas kehidupan manusia khususnya dalam kaitan keagamaan maka tiga kerangka tersebut harus merupakan satu kesatuan dalam pelaksanaannya. karena pada hakekatnya pahala karma hanya akan diperoleh melalui kerja ( yadnya). maka pengetahuan tattwa dan susilanya tidak memberikan karma apapun. Tatwa. Contoh sederhana penggambarannya adalah jika kita akan menuju suatu tempat. sesama manusia . dan sila yang berarti tingkah laku/perbuatan. maka tattwa akan memberikan pengetahuan pada kita tentang situasi daerah yang akan dituju. dan Upacara ( Yadnya ). PENDAHULUAN Susila adalah bagian dari tiga kerangka Agama Hindu yakni. Tanpa pemahaman tattwa yang benar maka yadnya bisa menyimpang dari tujuan utama.BAB VI SUSILA Standar Kompetensi Memahami Tat Twam Asi sebagai landasan etika dan moral Tujuan akhir pembelajaran 1. serta berbagai fasilitas yang dapat digunakan untuk menuju tempat tersebut. Umat Hindu harus memahami tattwa dan mematuhi susila setiap yadnya/upacara yang dilaksanakan. Menunjukkan prilaku sebagai implementasi ajaran Tat Twam Asi Uraian Materi A.petunjuk . Sedangkan Susila adalah rambu-rambu . Tattwa adalah hakekat atau filsafat agama. Pendidikan Agama Hindu 47/76 . tetapi mengabaikan etika maka yadnya menjadi tidak sempurna.

berjalan sesuai dengan fasilitas yang tersedia dan mengikuti aturan ( susila) yang ada barulah kita bisa mencapai tujuan. Jika salah satu bagian alam ini tidak mengikuti aturan maka akan terjadi kehancuran. Jika aturan ini tidak diikuti maka pasti akan terjadi kekacauan. Dalam mewujudkan keharmonisan antara manusia dengan Tuhan. dimana setiap daerah memiliki kekhasan tersendiri sebagai budaya lokal. Aturan/susila itu dapat bersifat universal/global. Ada juga aturan / etika dalam berprilaku sosial kemasyarakan. Meskipun kita mengetahui secara jelas gambaran tentang lokasi yang akan dituju serta semua aturan dan rambunya. ras.Contohnya adalah saling menghormati hak asasi manusia ( HAM). dan agama. peraturan pemerintah dan sebagainya. Ada etika/aturan yang harus Pendidikan Agama Hindu 48/76 . Demikian juga dalam kehidupan di dunia. Alam semesta memiliki aturan / hukum tersendiri dalam pergerakannya yang disebut RTA ( hukum alam). sehingga tercipta keseimbangan dan keharmonisan antara konsep dengan pelaksanaannya. B. manusia memiliki kelebihan dalam menerima ajaran-ajaran susila/ etika dalam menghubungkandiri dengan Tuhan (sembahyang). manusia dengan Tuhan . Manusia dengan kecerdasan yang dimilikinya dapat membuat aturan-aturan dalam berinteraksi sesama manusia. Contohnya bumi berputar pada porosnya dan mengitari matahari. jika tidak bergerak/ diam di tempat maka selamanya kita tidak akan pernah sampai pada tujuan.Akhirnya berdasarkan pengetahuan tattwa yang dimiliki haruslah kita bergerak. Disamping itu ada juga aturan dalam bernegara dan berbangsa dalam bentuk hukum negara/ udang-undang. Artinya berlaku bagi semua manusia di seluruh dunia tanpa memandang suku. semua aktivitasnya memiliki aturan. Ajaran ini disebut Tri Hita Karana ( tiga faktor penyebab terwujudnya kebahagiaan ). Manusia memiliki peranan utama dalam mewujudkan keharmonisan antara ketiga faktor tersebut. Inilah Yadnya. PERANAN SUSILA DALAM MEWUJUDKAN TRI HITA KARANA Dalam konsep ajaran Hindu bahwa kebahagiaan hanya akan terwujud jika adanya hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia. Tuhan menciptakan RTA ( hukum alam ) untuk kehidupan. . Dalam kehidupan ini semua aktivitas memiliki aturan/etika/susila. Planet-planet berputar mengelilingi bumi dan bersama bumi mengelilingi matahari. dan manusia dengan alam . Dengan susila maka manusia dapat melaksanakan yadnya dengan berbagai kondisi tanpa menyimpang dari tattwanya. Semua yang ada di alam bebas maupun di dunia harus mengikuti aturan dalam pergerakannya. Dari ketiga kerangka tersebut SUSILA memegang peranan penting yang menjembatani antara Tattwa dengan Yadnya. Manusia sebagai mahluk yang paling sempurna diantara mahluk lainnya di bumi memiliki peranan utama dalam menegakkan aturan. bangsa.

Selanjutnya mahluk hidup memilki atman sebagai percikan suci Ida Sang Hyang Widhi.Tat artinya itu (dia). Twam artinya kamu. Jika aturan/etika ini dilanggar maka dipastikan keharmonisan tidak akan terwujud. Tat Twam Asi adalah esensial filsafat Hindu dalam ajaran susila yang bersifat universal dan tanpa batas. serta hubungan dengan alam C. Sedangkan hubungan manusia dengan alam jelas yang paling menentukan adalah manusia itu sendiri. Jadi di setiap mahluk hidup khususnya manusia memiliki unsur kekuatan hidup yang sama. baik hubungan secara pribadi.diikuti dalam melakukan hubungan dengan Tuhan. Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan bahwa : 1. seperti banjir bandang . Untuk jenis-jenis persembahyangan tertentu juga memiliki aturan yang berbeda. Penggundulan hutan dengan ilegal loging maka terjadilah banjir bandang. Etika persembahyangan pribadi tidak dapat diterapkan pada persembahyangan bersama. yaitu percikan suci Tuhan. dan wujud manusia karena perbedaan pengaruh Triguna dan karma wasana. hubungan dengan Tuhan. Membuang sampah pada aliran sungai. merusak sempadan sungai. Agar terwujud keharmonisan antara manusia dengan manusia. misalnya persembahyangan di pura. manusia dengan Tuhan dan manusia dengan alam maka manusia harus memahami dan mengikuti aturan/susila dalam melaksanakan masingmasing hubungan tersebut. pemanasan global . Alam secara kodrati hanya akan memberikan reaksi terhadap segala perlakuan manusia kepada alam itu sendiri. Tat Twam Asi adalah sumber utama ajaran cinta kasih agar manusia dapat saling menghargai. Tat twam asi bersumber pada ajaran Hindu bahwa Tuhan / Brahman menciptakan alam semesta beserta segala isinya dari diriNYa sendiri melalui tapa/yadnya. maupun secara kolektif ( bersama-sama). Perbedaan pribadi . sifat. saling menghormati. Manusia dengan kecerdasan yang dimilikinya dapat menciptakan aturan/etika dalam hubungan dengan sesama manusia. demikian juga sebaliknya. 2. TAT TWAM ASI Konsep dasar ajaran kesusilaan Hindu dalam hubungan antara sesama manusia dikupas dalam Kitab Candogya Upanishad yang dalam salah satu sloka ada disebutkan Tat Twam Asi. saling menolong sehingga terwujud kedamaian dan kebahagiaan. Dewasa ini banyak terjadi bencana alam. jika ditelusuri maka semua itu adalah akibat ulah manusia sendiri yang tidak mengikuti aturan / etika dalam mengelola alam. serta pembangunan gedung/perumahan tanpa memperhatikan penyerapan dan saluran sanitasi yang baik maka terjadi banjir disetiap musim hujan. Dengan pemahaman ini maka Hindu mengajarkan agar manusia tidak Pendidikan Agama Hindu 49/76 . dan sebagainya. Jadi Tat Twam Asi berarti dia adalah engkau. dan Asi artinya adalah.

memandang manusia lainnya hanya dari segi fisiknya saja. Hindu mengajarkan agar kita memandang semua mahluk hidup diciptakan dan bersumber dari asal yang sama. Pendidikan Agama Hindu 50/76 . Bahwa dalam setiap kehidupan ada percikan suci Ida Sang Hyang Widhi sehingga wajib dihormati dan dikasihi tanpa memandang batasan tertentu.

agar setiap individu dalam satu lingkungan aman/terhindar dari serangan penyakit demam berdarah maka mereka bekerjasama bergotong royong membersihkan lingkungan dari kemungkinan tempat-tempat nyamuk bersarang. hak memiliki. Dengan demikian maka diharapkan dalam hubungan sosial manusia dapat mencapai kebahagiaan. Jadi dalam memenuhi kebutuhan pribadi kita harus membatasi diri jangan sampai melanggar hak orang lain. yang paling utama harus dilakukan adalah:  Mengembangkan cinta kasih sesama. Jadi dalam hal ini orang-orang bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan pribadi yang sama. hak perlindungan. Sebagai mahluk sosial manusia tidak dapat hidup sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka setiap individu memiliki hak secara pribadi. hak mendapatkan kasih sayang dan sebagainya. Secara jasmani setiap individu ingin mencapai kesenangan dan secara rohani setiap orang ingin mendapatkan kebahagiaan. apalagi di jaman sekarang sangatlah mustahil manusia hidup tanpa berhubungan dengan orang lain. Manusia adalah mahluk individu sekaligus mahluk sosial. Dalam memenuhi kebutuhan pribadi tidak boleh mengorbankan hak pribadi orang lain. Pendidikan Agama Hindu 51/76 . Hal ini tentu saja akan menimbulkan ketidak harmonisan dalam sosial kemasyarakatan. Tetapi harus diingat bahwa ada hak orang lain untuk beristirahaT dan tidak diganggu oleh kebisingan. hak untuk hidup . Manusia memiliki kebutuhan pribadi baik kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani. Dalam rangka mengatur hubungan sosial masyarakat maka dibutuhkan aturan tingkah laku yang disebut tata susila. Hanya mengutamakan kepentingan pribadi tanpa memperhatikan adanya kepentingan orang lain. Hak-hak tersebut antara lain. Contoh. Dalam hubungan sosial maka hak pribadi merupakan batas bagi orang lain untuk memenuhi kebutuhan pribadinya.  Agar cinta kasih dalam diri dapat tumbuh dan berkembang maka kita harus belajar mengurangi keakuan ( egoisme). kita punya hak untuk mendengarkan musik dari tape milik kita sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan pribadi seseorang membutuhkan pertolongan orang lain. Contohnya.Untuk bisa mengimplementasikan ajaran Tat Twam Asi. untuk ini kita perlu melatih pengekangan diri untuk mengurangi rasa ego. Secara individu manusia memiliki rasa keakuan ( ahamkara ). Oleh karena itu maka jika ita mendengarkan musik dengan suara keras pada waktu orang lain istirahat berarti melanggar hak pribadi orang lain. Demikian juga untuk memenuhi kebutuhan pribadi yang sama orang melakukan kerjasama. Meskipun di masyarakat secara umum sudah dikenal tentang tata susila yang berlaku namun seringkali orang melanggar tata susila itu. kapanpun kita suka. Pelanggaran tata susila terjadi biasanya dilakukan oleh orang-orang yang kurang mampu mengedalikan diri.

seperti kebutuhan sandang.  Melaksanakan ajaran Tri Parartha. Dalam rangka memenuhi kebutuhan pribadi tersebut kita sebagai mahluk pribadi tidak dapat memenuhi semuanya sendiri.  Melaksanakan Tri Kaya Parisudha. kita perlu bantuan dan kerjasama dengan orang lain. IMPLEMENTASI TAT TWAM ASI Di dunia manusia memegang peranan utama dalam mewujudkan hubungan harmonis antara manusia. budhi (kemampuan mengambil keputusan benar atau salah ). Dalam ranka membina hubungan harmonis sesama manusia. serta kebutuhan kasih sayang. Dalam memenuhi sandang kita perlu orang yang menjual pakaian atau bahan untuk membuat pakaian. Dalam Kitab Yajur Weda Adyaya 40. Dalam kaitan memenuhi kebutuhan pribadi yang berhubungan dengan orang lain inilah kita disebut sebagai mahluk sosial. 1. kita harus bisa mengolah manah ( pikiran ). orang tua. Demikian juga dalam memenuhi kebutuhan kasih sayang kita memerlukan suami/istri. Sang Pencipta.  Merasakan penderitaan orang lain. pangan. keluarga serta tetangga atau teman. D. Dalam ajaran Hindu dinyatakan bahwa manusia itu pada dasarnya adalah sama dan berasal dari sumber yang sama. Dengan daya pikir tersebut kita dapat melakukan yadnya utuk menyucikan diri sendiri serta menyucikan alam. Dalam memenuhi kebutuhan pangan misalnya. papan. anak. Memandang semua manusia adalah sama. kita perlu orang yang menjual makanan atau bahan untuk membuat makanan. alam lingkungan serta Tuhan. sloka 7 disebukan : Pendidikan Agama Hindu 52/76 .  Melaksanakan ajaran Catur Paramita. Dalam membina hubungan sosial inilah kita perlu memahami dan mengamalkan ajaran Tat Twam Asi. Sebagai implementasi ajaran tat twam asi ada beberapa konsep yang dapat kita pedomani antara lain :  Memandang semua manusia adalah sama. Manusia adalah mahluk individu sekaligus mahluk sosial. dan ahamkara ( rasa keakuan sebagai motivasi bertindak) yang ada dalam diri sehingga menjadi seimbang dan mengutamakan bahwa hubungan harmonis sesama manusia adalah kebutuhan utama dalam hidup ini. Setiap individu berhak untuk memenuhi kebutuhan tersebut.Konsep ajaran Tat Twam Asi jika dimaknai dan dihayati dengan benar maka dapat dijadikan sebagai kunci pembuka kasih di hati sehingga dapat secara perlahan mengurangi rasa keakuan/ego ( ahamkara ). Hal ini karena diantara semua mahluk ciptaan Ida Sang Hyang Widhi hanya manusia yang diberikan idep ( daya pikir ). Sebagai individu kita memiliki kebutuhan-kebutuhan pribadi yang harus dipenuhi.

bahwa di setIap manusia terdapat unsur utama yang sama yaitu atman. Manusia diciptakan lengkap dengan manas. Dalam satu keluarga besar . budaya dan tradisi bisa berbeda. 2. maka timbul tindakan-tindakan yang merugikan pihak lain. Selanjutnya konsep kedua dalam sloka di atas juga mengajarkan pada kita bahwa semua manusia di seluruh dunia adalah sebuah keluarga besar. Semua ingin hidup damai dan harmonis. antar kelompok serta tindakan-tindakan yang merendahkan martabat kelompok lain juga sebagai contoh pengaruh ego ( rasa keakuan) menguasai manusia. Dari sinilah mulai timbul ketidakharmonisan. warna kulit. Kenapa? Karena semua bersumber dari yang satu yaitu Brahman. semua memilik keinginan untuk hidup berdampingan secara damai. seperti suku. ras. Sama-sama memiliki sinar Tuhan. kasta dan sebagainya. Karena atman berasal dari Brahman maka pada tingkat kesadaran tertinggi semua atman-atman yang menghidupi semua manusia di dunia adalah sama. bangsa. Hanya saja pengaruh pola pikir yang sempit serta mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompoknya saja. ini berarti bahwa atman-atman yang ada pada setiap manusia adalah sama. kita tidak boleh membedakan derajat manusia hanya dari sisi luarnya saja. Dengan pemahaman ini maka kita seharusnya belajar untuk memandang setiap orang adalah sama. Semua manusia pada dasarnya adalah saudara. Dalam sloka di atas tersirat dua konsep pandangan Hindu atas keberadaan umat manusia. sedangkan ahamkara lebih menitik beratkan Pendidikan Agama Hindu 53/76 . Atman adalah percikan-percikan terkecil dari Brahman ( Hyang Widhi). tetapi spirit kehidupan setiap orang sama. Merasakan penderitaan orang lain. Perbedaannya hanyalah pembungkus luarnya saja yakni. dan ahamkara. orang tersebut tidak terikat dalam ikatan dan bebas dari kesedihan. Manas adalah pikiran sedangkan budhi adalah kemampuan manusia untuk mengolah dan merasakan baik dan benar. budhi. Pertama . disana ada sinar Tuhan yaitu Atman.Seseorang yang menganggap seluruh umat manusia memiliki Atman yang sama dan dapat melihat semua manusia sebagai saudaranya. Pada dasarnya tidak ada satu orangpun di dunia ini yang ingin hidup dalam kekacauan. Sifat ego yang berlebihan cenderung mendorong manusia untuk mempertajam perbedaan-perbedaan. Banyak contoh-contoh penajamanpenajaman kelompok dan ras yang terjadi baik sebagai catatan sejarah maupun tradisi yang melekat di masyarakat sampai saat ini. Terjadinya sejarah penjajahan suatu bangsa adalah contoh perlakuan yang membedakan derajat manusia. Terjadinya kerusuhan dan perkelahian antar warga. Atman adalah kesadaran kesadaran murni yang memuliki sifat sama dengan Brahman ( Atman Brahman Aikyam). tingkat ekonomi dan sosial juga bisa berbeda. badan jasmani serta pribadinya. Jadi jika kita membeda-bedakan orang berarti kita membeda-bedakan Hyang Widhi. Warna kulit bisa berbeda.

Dalam kehidupan tradisional di Bali. Type orang seperti ini adalah selalu menuntut hak terlebih dahulu tetapi mengabaikan kewajibannya. Melaksanakan Tri Kaya Parisudha (tiga prilaku yang disucikan). 3. Ikut serta menanggulangi penderitaan orang lain adalah sesuai dengan kemampuan dan swadharma masing-masing. Kalau keadaan suka dan duka itu diatasi secara bersama-sama. Sayang kebanyakan orang tidak menggunakan kesempátan mi untuk mengamalkan rasa kemanusiaannya. Justru penderitaan orang lain sering dijadikan ajang untuk mencari keuntungan guna memperkaya diri sendiri. dan pada saat itu juga ada orang lain yang mengalami keadaan suka. maka berbagai beban hidup itu akan dirasakan ringan dan tidak terlalu menyusahkan. patut dikembangkan sehingga dapat didayagunakan untuk mengatasi persoalan hidup masa kini dan masa yang akan datang. Nilai-nilai tradisi yang dikandung oleh lembaga suka duka tradisional itu. uamt Hindu mengatasi keadaan suka dan duka sudah sangat melembaga. Di dalam kitab Sarasamuscaya 73-76 disebut sepuluh hal untuk menjaga kesucian Tri Kaya agar menjadi suci. Hanya mementingkan diri sendiri tanpa peduli pada keadaan maupun perasaan orang lain. Karena dirasakan sebagai penderitaannya maka ia sendiri akan ikut aktif menanggulangi penderitaan orang lain. Jika seseorang memiliki ahamkara yang tinggi tanpa dibarengi dengan olah budhi yang matang cenderung melahirkan sifat keakuan / ego yang tinggi. Berikutnya jika seseorang memiliki perimbangan dalam penguasaan ahamkara dan memiliki budhi ang tinggi maka orang tersebut akan senantiasa memikirkan rasa dan kepentingan orang lain sebelum bertindak untuk kepentingan pribadinya. Inilah hakekat dan ajaran Tat Twam Asi. Karena itu orang yang dalam keadaan suka seharusnya belapang dada membantu sesame yang sedang dirundung penderitaan.pada rasa keakuan sebagai motivasi dasar untuk bertindak. tidak dapat dirasakan secara bersamaan oleh semua manusia. Dalam sistem kehidupan yang modem dewasa mi sesungguhnya banyak pihak yang mendapat kesempatan untuk mengamalkan rasa kemanusiaannya. Ada orang yang mengalami duka paa saat tertenu. Pendidikan Agama Hindu 54/76 . Ukuran rasa kemanusiaan seseorang adalah apabila dia dapat merasakan pendertaan orang lain sebagai penderitaannya. dan tiga untuk menyucikan perbuatan/prilaku. Tiap orang selalu mengalami suka dan duka dalam kehidupannya di dunia in Saat suka dan duka itu. Tiga untuk menjaga kesucian pikiran. yang disebut Karma Patha. empat untuk menjaga kesucian kata-kata. Perpaduan antara budhi dan ahamkara pada seseorang sangat menentukan kualitas rasa/perasaan orang tersebut.

kecerdasan dengan dengan pengetahuan yang benar.jadi sepuluh banyaknya. prawrttyaning manah sakarèng. tèlu kwehnya. Demikianlah pada hakekatnya pikiran tersebut selalu dijaga kesuciannya dengan satya/kebenaran/kejujuran. Karena itu proses penyucian pikiran disebut “manacika parisudha”. yaitu pengendalian hawa nafsu. Di dalam kitab Sarasamuscaya. tèlu. Dalam kehidupan manusia di dunia mi Pikiran paling menentukan kualitas prilaku manusia Pikiranlah yang mengatur gerak sepuluh indria. (Manawa Dharmasastra. sehingga pikiran sering disebut Rajendria. dan setelah dicemari oleh hawa nafsu disebut manah. ulahakèna. Kalau raja ini tidak baik maka indria pun akan tampil tidak baik. widyatapobhyam bhutatma budhir jnanena cuddhyati “. kramanya. Pikiran yang masih suci tanpa dicemari oleh hawa nafsu disebut citta. V109) Artinya: Tubuh dibersihkan den gan air. tiga banyaknya. prawrttyaning káya. pikiran disucikan den gan kebenaran. tiga banyaknya. pat prawrttyaning käya. gerak tindakan. ulahaning wàk. Oleh karena itu kuatkanlah pikiran agar pikiran tersebut yang mengatur laku indria. perbuatan yang timbul dari gerak badan.a. jiwa manusia dengan pelajaran suci dan tapa brata. Sucikanlah pikiran dengan satya. 73-74 disebutkan: Hana karmapatha ngaranya kahrtaningindriya. wak. pnda. sapuluh kwehnya. perkataan dan pikiran itulah patut diperhatikan . empat jumlahnya. Manacika. sapuluh. perinciannya gerak pikiran. V. Artinya: Adalah karmapatha namanya.109 sebagai berikut: “Adbhirgatrani çuddhyanti manah satyena çuddhyati. seperti diuraikan dalam kitab Manawa Dharmasastra. Ada tiga cara melakukan manacika atau penyucian pikiran yaitu: 1) Tidak menginginkan dan tidak dengki terhadap milik orang lain Pendidikan Agama Hindu 55/76 . perilaku perkataan. sepuluh banyaknya yang patut dilaksanakan. manah kengèta.

disatu pihak akan bisa mendatangkan kebahagiaan dan dilain pihak akan bisa mendatangkan penderitaan bahkan kematian. Meskipun kita melihat orang berbuat buruk pada saat ini dan kenyataannya ia bemasib baik. Hidup dalam keadaan in akan membuat kita menderita. Kata-kata ibarat pisau bermata dua. seperti termuat dalam kitab Nitisastra sargah V. Sedangkan perbuatan buruk yang dilakukan saat ini sudah pasti akibatnya akan diterima kelak.3 sebagai berikut: Wasita Wasita Wasita Wasita nimittanta nimittanta nimittanta nimittanta manemu laksmi. entah kapan. Pendidikan Agama Hindu 56/76 . manemu mitra Artinya: Oleh perkataan engkau akan mendapatkan bahagia. siapa yang berbuat baik akan mendapat pahala yang baik dan siapa yang berbuat buruk sudah dapat dipastikan akan mendapatkan hasil yang buruk. Oleh perkataan engkau akan men dapatkan kesusahan. itu pun karena hukum karma phala juga. Orang yang hidup sehat dan berumur panjang salah satu penyebabnya karena ia menumbuhkan rasa cinta kasih pada semua makhluk. Oleh perkataan engkau akan menemui ajalmu. Pikiran akan menjadi suci (ning) bila tidak menginginkan milik orang lain serta tidak membenci milik orang lain . Harus kita yakini benar kesungguhan hukum Tuhan tersebut.Perbuatan ini dapat menimbulkan kecendrungan yang negatif. pati kapangguh. Oleh perkataan engkau akan mendapatkan sahabat. manemu duhka. b. Semua makhluk hidup berasal dan atma yang sama yaitu Ida Sang Hyang Widhi. Nasib baik yang ia tenima saat ini pasti karena perbuatan baik sebelumnya yang ia lakukan. 3) Tidak mengingkari hukum karmaphala. Orang yang selalu berusaha mengedalikan pikiran dan diarahkan pada niat SUCi akan jarang mendapat persoalan sulit dalam kehidupannya dimasyarakat. Hal ini sangat penting untuk dipahami dan dihayati. Sifat ini timbul karena kurang tumbuhnya rasa kasih sayang terhadap sesama. Beliau mentakdirkan ada makhluk yang bernasib baik dan ada yang bernasib buruk sesuai dan karmanya masingmasing. 2) Tidak berpikir buruk terhadap orang lain dan kepada semua makhluk. Wacika adalah perkataan yang baik (suci). Wacika. seperti rasa in.

Kata-kata yang kotor seperti raja pisuna (fitnah). sebab hal tersebut akan bisa mendatangkan penderitaan bahkan lebih fatal lagi bisa menyebabkan kematian. Bagi yang mempunyai kebiasaan berkata kasar. Kebiasaan berbohong mi juga sering didorong oleh nafsu distinksi tadi. Salah sam sifat manusia yang dapat menimbulkan akibat negatif adalah yang disebut “distinksi” yaitu suatu dorongan untuk lebih dan orang lain. Berbohong juga sering dilakukan untuk menutupi kekurangan din.dan sesungguhnya akan dapat mengurangi vibrasi kesucian bagi yang mengucapkan. berbohong dan sebagainya tidak usah dipelihara. kalau diucapkan dengan kata-kata yang kasar maka fiat baik itu akan turun nilainya (menjadi tidak baik). Dalam persaingan hidup orang sering mengalahkan persaingan dengan cara memfitnah agar lawan dengan mudah dikalahkan. Perlu diperhatikan. Kata-kata yang jahat yang terucap akan dapat mencemarkan vibrasi kesucian. seperti menghardik. Kalau ia tidak mampu berbuat lebih dan kenyataan maka fitnahpun akan dipakai senjata agar ia kelihatan lebih dan yang lain. wak purusya (berkata kasar). 4) Tidak mengeluarkan kata-kata yang mengandung kebohongan. Oleh karena itu marilah kita sucikan wak/katakata sehingga menjadi “wacika” yaitu kata-kata yang suci. Kata-kata kasar itu sangat menyakitkan bagi yang mendengarkan .Demikianlah akibat dan perkataan yang diucapkan ada yang baik dan ada yang buruk. karena katakata yang suci mi akan dapat mengantarkan kita kepada sahabat atau mitra dan kepada kebahagiaan atau laksmi. Agar ia kelihatan lebih dan orang lain bohongpun sering dilakukan. Karena dalam kata-kata yang jahat itu ada gelombang yang mengganggu keseimbangan vibrasi kesucian. 2) Tidak berkata kasar (ujar aprgas). Cegahlah lidah agar tidak mengucapkan kata-kata fitnah. Ada pepatah mengata’kan fitnah itu lebih kejam dan pembunuhan. 3) Tidak memfitnah (raja pisuna). Ada empat cara (karma patha) untuk menyucikan perkataan yaitu: 1) Tidak berkatajahat (ujar ahala). Menghilangkan kebiasaan berbohong mi haruslah dibiasakan untuk rela menerima apa adanya sesuai dengan karma Pendidikan Agama Hindu 57/76 . berjuanglah untuk merubahnya. dan mencela. mencaci. baik kesucian yang mengucapkan maupun yang mendengarkan. meskipun fiat baik. Kata-kata kotor atau buruk disebut Mada (dalam Tri Mala).

Orang yang demikian itu disebut “Sadhu” yaitu orang yang tidak melakukan kekerasan. Pada mulanya memang dirasakan beban. Dalam kaitannya dengan memelihara tindakan kitab Sarasamuscaya sloka 76 menegaskan sebagai berikut: Pendidikan Agama Hindu 58/76 . Tindakan atau perbuatan jasmani atau pisik merupakan upaya seseorang untuk mengaktualisasikan hasil proses berpikir dan apa yang diucapkan dengan kata-kata. karena mengubah kebiasaan jelek memang tidak mudah. Untuk melatih itu biasakanlah menyanyikan namanama Tuhan atau Dharmagita atau Mantram-mantram tertentu secara tents menerus. Artinya bila pikirannya dilandasi oleh fiat yang baik. itikad yang baik. Hal mi memang memerlukan kesungguhan. Kayika (perbuatan). maka seseorang akan mampu mngendalikan indrianya dan akan menyebabkan orang lain senang dan bahagia.kita. Demikianlah empat hal yang harus dibiasakan agar tidak keluar dan lidah kita katakata yang tidak baik atau menyakitkan. bahagia dan atau sebaliknya menyakiti hati orang lain. Tindakan seseorang dapat menyebabkan orang menjadi senang. tapi lama kelamaan akan menjadi kebutuhan. c. sampai kebiasaan itu dapat dihapuskan. Tindakan-tindakan yang suci mi perlu dipelihara. Hal mi sangat ditentukan oleh pross berpikir scseorang. Kebaikan itu hanya dapat diwujudkan dengan cara membiasakannya sampai melembaga dalam tingkah laku.

Artinya: Inilah yang tidak patut dilakukan : membunuh. merampok. ketiganya jut jangan hendaknya dilakukan terhadap siapapun. mencuri berbuat zinah. merendahkan martabat umat agama yang lain dan sebagainya. mengambil hak orang lain secara tidak sah. namun sebenarnya walaupun tidak secara pisik tetapi bila segala perilaku itu menyebabkan orang lain sakit hatinya juga tergolong perbuatan himsa. bersendagurau. Dengan terpeliharanya ajaran ahimsa berarti tidak ada kekerasan dalam kehidupan bersama didunia mi. Pada umumnya ahimsa diartikan tidak boleh membunuh atau tidak menyakiti secara pisik. nahan tang telu tan ulahakena ring asing ring paribasa. keadaan darurat dalam khayalan sekalipun. Intinya disini seseorang tidak terlalu terikat oleh bendabenda duniawi. Kutipan sloka mi memberikan informasi tentang pentingnya kesucian tindakan seseorang. menerima suap dan tidak nepotisme serta tidak rakus. agar tidak mclakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang atau asubha karma.Nihan yang tan ulahakena. kedamaian dibumi dan kedamaian Pendidikan Agama Hindu 59/76 . baik dalam keadaan dirundung malang. ri pan gipyan tuwi singgahana jugeka. Ring apatkala. Siparadara. Ahimsa tergolong sifat-sifat kedewataan (daiwi sampat). syamatimati man gahalahal. hendaknya dihindari saja ketiganya itu. melecehkan kesucian agama. Adapun tiga tindakan suci tersebut adalah: 1) Tidak menyakiti atau tidak membunuh (ahimsa). Jika seseorang melakukan tindakan sebaliknya yaitu melakukan tindakan kekerasan maka akan terjadi pelanggaranpelanggaran hak asasi manusia seperti mempropokator umat agama lain untuk pindah ke agamanya sendiri. 2) Tidak mencuri. baik secara berolok-olok. Hakekat dan manusia hidup didunia mi adalah bersaudara. Jika kesucian perbuatan tidak dijaga akan berakibat terjadinya pemaksaan terhadap orang lain yang berimbas kepada tidak adanya hubungan yang harmonis sehingga tidak akan tercapai kedamaian dihati. Ahimsa merupakan pengejawantahan masyarakat yang damai atau santih. serta senang melakukan amal. Orang yang berhasil menumbuh kembangkan sifat-sifat kedewataan akan lebih mudah meraih karunia dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

b. bagian-bagian dan ajaran catur paramita tersebut adalah a. Karuna artinya belas kasihan. Larangan melakukan zinah itu memang wajar. Dan jika kesucian perbuatannya tidak dijaga maka baik terhadap sipelaku maupun orang lain akan mengalami kerugian. d. Adapun . Perbuatan ini harus dikendalikan karena bisa menimbulkan kemerosotan moral. Mengadakan hubungan kelamin atau sex yang dilarang oleh agama. Tidak berzinah. Catur Paramita. Upeksa artinya senantiasa mengalah demi kebaikan. walaupun disinggung perasaannya oleh orang lain. ‘. yakni tahu menempatkan diri dalam masyarakat. Maitri artinya senang mencari kawan dan bergaul. maksudnya selalu memupuk rasa kasih sayang terhadap semua mahluk c. Mengadakan hubungan kelamin dengan suami/istri orang lain. Mengadakan hubungan kelamin (sex) antara pria dan wanita dengan jalan tidak sah. karena kalau itu dibiarkan maka kemerosotan moral akan makin memuncak. Mengadakan hubungan kelamin dengan paksa. c. Catur paramita merupakan salah satu dan landasan atau pedoman untuk melaksanakan ajaran susila atau etika dalam ajaran agama Hindu. ia tetap tenang dan selalu berusaha membalas kejahatan dengan kebaikan (suka memaafkan) Guna lebih mudah dapat memahami ajaran catur paramita. dibawah ini disajikan beberapa bentuk larangan-larangan yang harus dipatuhi oleh umat manusia sebagai berikut: Pendidikan Agama Hindu 60/76 . serta menarik hati segala prilakunya sehingga menyenangkan orang lain dan din pribadinya b. Banyak terjadi pelacuran atau tuna susila maka kehidupan kita sebagai manusia yang menjuiijung tinggi budaya dan agama akan menjadi hancur. Mudita artinya selalu memperlihatkan wajah yang riang gembira dan sopan d. 4. Berzinah artinya sikap suka memperkosa wanita atau istri orang lain Adapun yang temasuk perbuatan berzinah (paradara) adalah: a. ramah tamah..3) diakhirat. artinya tidak atas dasar cinta sama cinta (perkosaan). Berzinah merupakan perbuatan yang sangat hina dan terkutuk.

Pendidikan Agama Hindu 61/76 . c. tersiksa. Untuk dapat berbuat karuna.a. atau jangan memiliki rasa dengki dan in hati terhadap orang lain. kesengsaraan atau jangan bengis. Untk dapat berbuat mudita. maka pantang melakukan perbuatan yang menyebabkan terjadinya penderitaan. b. jangan melakukan perbuatan yang dapat menyebabkan orang lain susah. maka kita jangan melakukan perbuatan yang membahayakan dan jangan membenci. Untuk dapat berbuat maitri.

Kitab Rg Weda menyebutkan sebagai berikut: Ajaran berdhana punia yang didasari dengan cara bhakti dan rasa cinta kasih mempunyai suatu manfaat yang amat penting dalam hidup dan kehidupan mi. Bhakti artinya hormat. memandang rendah orang lain. sujud. umat manusia tidak akan dapat berbuat banyak dalam hidup dan kehidupan mi. Untuk dapat berbuat upeksa. tulus ikhlas. maka pantang menghina orang lain. Dengan demikian diantara kita sesama makhluk ciptaan Tuhan hendaknya dapat hidup berdampingan serasi.d. selaras. keselamatan. keagungan. Asih . Tri Parartha adalah ajaran agama Hindu untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. dan semuanya itu hendaknya diwujudkan sebagai amal dan ibadah (yajna Pendidikan Agama Hindu 62/76 . Adapun ajaran Tri Paratha yang dimaksud dapat mengantarkan umat manusia mencapai keselamatan dan kebahagiaan serta kesejahteraan hidupnya. dan bhakti merupakan ajaran agama Hindu yang patut dihayati dan diamalkan dalam hidup dan kehidupan mi. Punya artinya dermawan. 3. guna tetap tegaknya dharma. Tri Parartha. manusia itu dapat menyelamatkan dirinya dengan jalan mengamalkan ajaran Tri Parartha. Tanpa keselamatan dalam hidupnya. 2. Keselamatan. harmonis dan damai. Tri Parartha berarti tiga prihal yang dapat menyebabkan terwujudnya kesempurnaan. kesejahteraan. kebahagiaan. kesejahteraan dan kebahagiaan adalah merupakan kebutuhan hidup umat manusia yang vital mesti dinikmati dalam hidup dan kehidupannya. punya. 5. terdiri dari : 1. menindas orang lain atau selalu berusaha untuk mengendalikan dorongan hawa nafsu jahat. Ajaran Catur Paramita sebagai realisasi dan ajaran Tat Twam Asi patut dijadikan pedoman oleh manusia untuk mewujudkan kehidupan mi yang sempurna. Hidup saling mengasihi diantara kita adalah merupakan prilaku umat manusia utama yang dapat mengantarkan tercapainya kebahagiaan yang abadi (moksa). Demikianlah ajaran Catur Paramita patut kita realisasikan dalam hidup dan kehidupan mi. Berdasarkan ajaran agama Hindu. Asih artinya cinta kasth. dan kesukaaan hidup umat manusia.

Sesungguhnya banyak sekali tanda-tanda kemerosotan moral yang terjadi di lingkungan masyarakat baik itu dialami oleh anak-anak. Namun dewasa ini rupa-rupanya kalau secara jujur kita akui kemerosotan moral semakin hari semakin bertambah. Pendidikan Agama Hindu 63/76 . Tujuan pokok dan ajaran Tri Parartha (asih. Kemerosotan moral dapat dilihat di dalam tayangan-tayangan criminal seperti Sergap. masyarakat. mewujudkan ajaran wairagya (tidak terikat akan pengaruh benda-benda duniawillahiriah) yang dapat memuaskan indria/nafsu belaka manusia secara pribadi. Ajaran Tat Twam Asi sudah ditinggalkan menjadi individualistis. Kurang adanya individu/organisasi/lembaga yang memfasilitasi tempattempat bimbingan dan penyuluhan moral bagi anak-anak/remaja yang menganggur. sosial. 4. ekonomi. dan bhakti) ini adalah menumbuhkan sikap mental masing-masing pribadi umat manusia. 3. karena itu adalah merupakan kewajibannya untuk menegakkan dharma. para remaja. itu mungkin baru sebagian kecil yang diungkap. maupun di tingkat rumah tangga. Semua umat Hindu hendaknya melakukan hal itu. Itu suatu pertanda bahwa banyak orang sudah mulai melepaskan konsep etika yang ada pada dirinya. 7. politik. Buser. Banyaknya tulisan-tulisan. Situasi dan kondisi rumah tangga yang kurang stabil/baik. 2. siaran-siaran. baik dalam bidang pendidikan. dan sebagainya. gambar-gambar. Adapun penyebabnya antara lain: 1. 6. Keadaan masyarakat yang kurang stabil. maupun orang tha. Kurang tertanamnya jiwa agama pada setiap individu yang ada dalam masyarakat. Patroli. Diperkenalkannya secara populer obat-obatan dan sarana anti hamil. keseniankesenian yang kurang mengindahkan dasar-dasar. dan keamanan. baik di lingkungan sekolah. 5.karma). Pendidikan moral belum terlaksana sebagaimana mestinya. norma-norma/aturan tentang tuntunan moral. punia.

dari akar kata Crt Yang berarti mendengar langsung. te sartwarhawam imamsyo tabhyam dharmohi nirha bhau Artinya: Sesungguhnya Sruti (wahyu) adalah Weda demikian pula Smrti itu adalah Dharmasastra. Kelompok Weda Sruti isinya hanya memuat wahyu sedangkan kelompok Smrti isinya adalah sebagai ingatan kembali terhadap Sruti. 10) 1. sebagai berikut: Srutistu Weda Wijneyo dharmacastram tu wai Smrtih. Weda Smrti Pembagian dalam dua jenis ini dipakai selanjutnya untuk menamakan semua jenis buku yang dikelompokkan sebagai kitab Weda balk secara tradisional maupun secara institusional ilmiah. 1. II. Bila dibandingkan dengan ilmu politik Sruti adalah merupakan UUD nya Hindu sedangkan Smrti adalah UU Pokok dan UU. Weda Sruti 2. Oleh karena itu “Bhagawan Manu” menegaskan dalam kitabnya “Manawa Dharmasastra” 1110. Menurut sifat isinya weda ini dibagi atas tiga bagian yaitu: 1) Bagian Mantra 2) Bagian Brahmana (Karma Kanda) 3) Bagian Upanisad/ Arnyaka (Jnana Kanda) Pendidikan Agama Hindu 64/76 . Jadi Smrti merupakan. (Dharma).BAB VI KITAB SUCI WEDA SRUTI DAN WEDA SMRTI Rsi Manu membagi jenis isi Weda itu kedalam dua kelompok besar yang disebut. Jadi Weda Sruti adalah Kelompok Weda yang ditulis oleh para Maha Rsi melalui pendengaran langsung dan wahyu Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan. Kedua-duanya merupakan sumber Hukum yang mengikat yang harus diterima. buku pedoman yang isinya tidak bertentangan dengan Sruti. keduanya harus tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga karena keduanya adalah kitab suci yang menjadi sumber dari agama Hindu. Pelaksanaannya adalah Nibandha. (MDs. Weda Sruti Kata Sruti sesungguhnya berasal dan bahasa Sanskerta. Kelompok Weda Sruti menurut Bhagawan Manu merupakan Weda yang sebenarnya ada Weda orisinal.

Wedasamhita 2) Sama Weda atau Samawedasamhita 3) Yayur Weda atau Yayurwedasamhita 4) Atharwa Weda atau Atharwawedasamhita Dari keempat kelompok Weda itu. Mantra Bagian mantra terdiri dan empat himpunan (samhita) yang disebut catur weda samhita. Samaweda terdiri atas mantra-mantra yang berasal dari Rg. Menurut penelitian Samaweda terdiri atas 1810 mantra. Karena itu disebut Trayi Weda atau “Tri Weda” Pengenalan catur weda hanya karena kenyataan Weda ini secara sistimatik telah dikelompokkan atas empat Weda. Taitiriya samhita dan Maitrayanisamhita. Weda. Perbedaan pokok antara Yajur Weda Putih dengan Yajur Weda hitam hanya sedikit saja. Pendidikan Agama Hindu 65/76 . Weda atau Rg. Menurut Bhagawan Patanjali. atau saman 3) Yayur Weda Samhita . pluralnya Yajumsi). sedangkan mantra-mantra didalam Yajurweda hitam terdapat pula mantra-mantra yang menguraikan arti Yajna. Bagian terakhir ini merupakan bagian tertua dari Yayur Weda itu. atau kadang-kadang ada yang mengatakan 1875.Ad. juga dikenal Wajasaneyi samhita). kitab ini terdiri atas 101 resensi yang sebagian besar sudah lenyap. Jenis Weda ini ada dua macam yaitu: a. yang juga disebut Maitraneyi samhita. Yajur Weda putih terdiri atas mantra-mantra dan doa-doa yang harus diucapkan pendeta di dalam upacara. merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran-ajaran umum dalam bentuk pujaan 2) Sama Weda Samhita . yaitu: 1) Rg. merupakan kumpulan mantra-mantra memuat ajaran umum mengenai lagu-lagu pujaan. Yajur Weda putih (Sukla yajurweda).1. b. Yajur Weda hitam (Kresna yajurweda) yang terdiri atas beberapa resensi antara lain. Tambahan ini umumnya berbentuk prosa. ditambah dengan beberapa mantra tambahan baru. merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran umum mengenai pokok-pokok yajnya (yajus.) 2) Yajur Weda putih (Sukla yajur weda. Weda. Kitab mi terbagi atas dua aliran. tiga kelompok pertama sering disebut-sebut sebagai mantra yang berdiri sendiri. Yajur Weda terdiri atas mantra-mantra yang sebagian besar berasal dan Rg. yaitu: 1) Yajur Weda hitam (krsna Yajur Weda). Pembagian empat kelompok isi weda itu yaitu: 1) Rg Weda Samhita . 4) Atharwa Weda samhita . merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran yang bersifat magis (Atharwan).

merupakan kumpulankumpulan mantra-mantra yang juga banyak berasal dan Rp. Bagian Upanisad/Aranyaka Aranyaka atau Upanisad adalah himpunan mantra-mantra yang membahas berbagai aspek teori mengenai ke Tuhanan. Kadang-kadang Brahmana diartikan penjelasan yang menjelaskan arti kata ucapan mantra. Weda memiliki dua jenis buku Brahmana yaitu Aitareya Brahmana dan Kausitaki Brahmana (Sankyana Brahmana). Weda. Kitab Yajur weda memiliki beberapa kitab “Brahamana” Yajur weda hitam (krsna Yajur Weda) memiliki Taittiriya Brahmana. Yajur Weda putih (Sukia Yajurweda) memiliki Satapatha Brahmana. Bagian terakhir dan kitab mi merupakan sumber bagian kitab “Brhadaranyakapanisad”.2. Himpunan mi merupakan bagian Jnana Kanda dari pada Weda Sruti. Punirawa. Himpunan ini merupakan bagian teori mengenai ke Tuhanan. Resensi Paipplada ad. Kitab mi memiliki 5987 mantra (puisi dan prosa). Resensi Saunaka. Disamping itu ada pula “Sadwimsa Brahmana” Kitab ini terbagi atas 25 buku dimana bagian terakhir yang terkenal adalah kitab “Adhuta Brahmana” merupakan jenis “Wedangga” yang memuat mengenai ramalan-ramalan dan penjelasan mengenai berbagai mujijat. Resensi ini paling terkenal dan terbagi atas 21 buku b. Nama ini disebut demikian karena kitab ini terdiri atas 100 adhyana. Weda. Pendidikan Agama Hindu 66/76 . Bagian Brahmana (Karma Kanda) Bagian kedua yang terpenting dan kitab Sruti ini adalah bagian yang disebut “Brahmana” atau “Karma Kanda”.Atharwa Weda yang disebut atharwawedangira. Di dalam kitab Brahmana ini mula-mula kita jumpai ceritra Sakuntala. 3. Sama Weda. Tiap-tiap mantra (Rg. Sebagaimana halnya dengan tiap-tiap mantra memiliki kitab Brahmana. Kitab mi memuat legenda (ceritera-ceritera kuno) yang dikaitkan dengan upacara Yajna. Brahmana berarti doa. Urwasi dan ceritra-ceritra tentang ikan. Kitab mi terpelihara dalam dua resensi yaitu: a. Kitab Samaweda memiliki kitab Tandnya Brahmana yang juga sering dikenal dengan nama “Pancawimsa “. Jadi kitab Brahmana adalah kitab yang berisi himpunan doa-doa yang dipergunakan untuk keperluan upacara yajna. Demikian pula tiap-tiap mantra memiliki kitab-kitab Aranyaka atau Upanisad. Atharwa Weda mi memiliki kitab “Gopatha Brahmana” Ad. Himpunan buku-buku ini disebut Brahmana. Kitab Rg. Yajur Weda dan Atharwa Weda) memiliki Brahmana.

Hayagriwa. 4. Parabrahma. Nada-bindu. Brhadaranyaka. 3. Sukharahasya. Matrika. terdiri dan: Isawasya. Nrsimhatapini. yaitu 1180 sakha. Kalisandarana. Prramahamsa. Amrtabindu. Asartanada. Niralambha. Di dalam penelitian berbagai naskah kitab suci Hindu Dr. 2. Sakanda. Gopalatapini. Weda yaitu antara lain: Aitareya. Sarwasara. Semuanya berjumlah enambelas Upanisad. Kaiwalya. Hamsa. Pranagnikotra. dan Garuda Upanisad. Satyayani dan Muktika. Jabala. Garbha. Adapun perincian dan pada kitab-kitab Upanisad itu adalah sebagai berikut: 1. Saubhagya. Turiyatita. Brhajjabala. Sriniwasa Murti didalam introdusi kitab saiwa Upanisad mengemukakan bahwa tiap-tiap sakha (cabang ilmu) Weda merupakan satu upanisad. Untuk jenis Yajur Weda Hitam. Aksi. Atmaprabedha. Sawitri. Upanisad yang tergolong jenis Sama Weda yaitu antara lain: Kena. dan Bahwrca Upanisad. Maitrayani. dan Atharwa Weda terdiri atas 50 sakha Berdasarkan jumlah sakha itu. Aksamalika. Tripuratapini. Subata. Semuanya berjumlah tiga Pendidikan Agama Hindu 67/76 . Adwanyataraka. 2. Untuk jenis Yajur Weda putih. Pinggalabhiksu. Trisikhibrahmana. Adhyatma. Mahawakya. Nirwana. Naradapariwrajaka. G. Dattatreya. Tarasara. Wajrasucika. yaitu antara lain: a. Wahara. Brahma. Yogasikha. Narayana. Atharwasira. 3. Pasupata. Chandogya. Mudgala. Atma. Ramatapini. Upanisad yang tergolong jenis Yajurweda. Annapurna. Sariraka. Upanisad yang tergolong jenis Atharwa Weda. terdiri atas Kathawali. Kausika. yaitu antara lain: Prana. Tripura. yang semuanya berjumlah sepuluh Upanisad. Swetaswastara. Mandala brahmana. Mahanarayana. Awyaka. Sandilya. Paramahamsapariwrajaka. Tejebindu. Katagnirudra. Awadhuta. Munduka. Taittriyaka. dan Saraswatirahasya. Yogacudamani. semuanya berjumlah tigapuluh dua Upanisad. Sanyasa. Bhawana. Mandukya. Wasudewa. Krsna. Darsana dan Jabali. Sarabha. Aruni. Weda terdiri dan 21 sakha Sama Weda terdiri atas 1000 sakha Yajur Weda terdiri atas 109 sakha. Ramarahasya. Rg. jumlah upanisad yang disebut secara tegas adalah sebanyak 108 buah buku. Atharwa sikha.Kelompok kitab-kitab ini disebut rahasya Jnana karena isinya membahas hal-hal yang bersifat rahasia. Maitreyi. Surya. Rudrasajabala. Sita. b. 4. Mahat. Yajnawalkya. Brahma. Ekaksara. maka jumlah upanisad seyogyanya ada banyak 1180 buah buku tetapi berdasarkan catatan Muktikopanisad. Gamapati. Upanisad yang tergolong jenis Rg. Dari catatan yang ada: 1. Kondika. Kausitaki. Dewi. Semuanya berjumlah sembilan belas Upanisad.

dari kata smrta (neuter) berarti: ingatan. karena fungsi dan kedudukannya dipersamakan dengan kitab Veda Cruti. kita temukan dalam beberapa kitab agama Hindu. Untuk mendalami dharma. Dharma berarti hukum dan sastra berarti ilmu. kenangan. sesudah Veda Sruti. yang juga disebut Dharma atau Dharma Sastra. Smrti adalah kitab suci Weda yang ditulis berdasarkan ingatan oleh para Maharesi bersumberkan pada Veda Cruti. dan Upanisad diats. Keterangan tentang hal tersebut di atas. Dengan demikian kitab-kitab Smrti tidak boleh bertentangan dengan Weda Cruti. Weda Smrti Smrti merupakan kitab suci agama Hindu. Kitab Smrti adalah kitab Veda juga. kedua macam pustaka suci mi tidak boleh diragu ragukan kebenarannya mengenai apapun juga karena dan keduanya itu hukum inL Berdasarkan uraian di atas. Kitab Smrti memuat tentang ajaran hukum agama Hindu. dengan jelas dapat kita pahami bahwa Smrti merupakan kitab suci agama Hindu. 2. Kitab Smrti adalah kitab suci Veda yang ditulis berdasarkan ingatan oleh para Maharesi dan wahyu Sang Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa. jelas bahwa kitab Sruti meliputi jumlah yang cukup banyak. yang ditulis oleh banyak Maharesi. antara lain: Kitab Menawa Dharma Castra. Kata Smrti berasal dari bahasa Sansekerta. Dengan memperhatikan deretan nama nama kelompok Mantra. semua buku-buku itu adalah merupakan sumber utama dan kedudukannya mutlak perlu dihayati. Bab 11. menjadi kata smrti (feminime) berarti: ingatan.puluh satu upanisad. tradisi yang berwenang. Oleh karena itu pergunakanlah Pendidikan Agama Hindu 68/76 . Kitab Smrti adalah merupakan kitab pendukung dan penjelasan dan kitab Weda Cruti. Dharma Sastra berarti Ilmu Hukum Agama Hindu. Brahmana.10 menyebutkan sebagai berikut: Crutistu Wedo Wzjneyo dharmacastram tu wai smrtih te sarwarthes wamimansye tabhyam dharmohi nirbabhau artinya: yang dimaksud dengan Cruti ia!ah Weda dan dengan Smrti adalah Dharma Sastra.

terdiri dan beberapa kitab.kitab kitab sastra sebagai petunjuk untuk menentukan tentang segala sesuatu yang harus kita kerjakan dan untuk dapat mengetahui apa yang patut kita kerjakan. badan. Jenis atau kelompok Vedangga Kata Vedangga. dan mendalami Veda dengan baik. Veda berarti ilmu pengetahuan suci dan angga berarti bagian. Yajna Pawitra dan Brahmanda Purana. Vedangga sebagai kitab Smrti. Cilakrama. Untuk dapat mengucapkan mantra (Weda Cruti) dengan baik. terdiri dan kata: Veda dan Angga (bahasa Sansekerta). Bharatayudhya. kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Kitab-kitab suci yang tergolong jenis kitab Smrti itu banyak jumlahnya. antara lain 1) Siksa (Phonetika) Siksa adalah kitab Vedangga yang isinya menguraikan tentang petunjukpetunjuk tata cara mengucapkan mantra yang tepat sesuai dengan tinggi-rendahnya tekanan suara. Beberapa kitab suci agama Hindu yang termasuk kitab Smrti. kita hendaknya terlebih dahulu mendalami Vedangga. Berdasarkan kebiasaan yang telah berjalan. kecil kemungkinannya dapat diketahui. dasar. Yoga Sutra. untuk dapat menghayati Veda dengan benar. Oleh karenanya kitab Wyakarana ini memiliki fungsi yang sangat penting di dalam kita mempelajari Veda. Jadi Vedangga berarti batang tubuh dari Veda. dan penulisnyapun banyak pula. Dalam hubungannya dengan mempelajari mantra (Weda Cruti) kitabkitab siksa. memahami. juga disebut dengan nama Pratisakhya. antara lain: Manawa Dharma Sastra. jenis kitab-kitab dikelompokkan menjadi dua (2) kelompok besar. Tattwa Suksma. Ramayana. keamanan. Kelompok Vedangga b. sumber. Manu Smrti. 2) Wyakarana (Tata Bahasa) Kitab Wyakarana isinya menguraikan tentang tata bahasa. Kelompok Upaveda Smrti a. fungsi kitab siksa ini adalah sangat penting. yang terdiri dan: a. Pendidikan Agama Hindu 69/76 . jenis kitab-kitab Smrti perlu dipergunakan sebagai pedoman hidup (dipedomani). Untuk dapat mempelajari. Hal semacam ini disebabkan oleh munculnya berbagai macam kebutuhan masyarakat (umat Hindu) yang diisarakat oleh Veda dalam mencapai keadilan. anggota. Sarasamuccaya. tanpa mengerti dan mengetaui tata bahasanya. Clokantara. Niti Sastra. Untuk dapat mengamalkan Veda secara benar di dalam upaya mewujudkan tujuan hidup secara rohani dan jasmani.

yang terkenal adalah Begawan Panini. Di antara orang suci tersebut di atas. 4) Nirukta Kitab-kitab Nirukta berisikan tentang penafsiran otentik yang berhubungan dengan kata-kata yang terdapat dalam Veda. Kedua kitab ini dihimpun oleh Begawan Pinggala. Kitab Jyotisa adalah kitab pendukung Veda. dan Begawan Yaska. Dan berbagai macam kitab-kitab Chanda. karena bersumberkan pada pendalaman kitab Chanda semua ayat-ayat Veda dapat dipelajari secara turun temurun. Kitab Nirukta ditulis oleh Begawan Yaska pada tahun ± 800 SM. Kitab Kalpa mi terdiri dan beberapa bidang kitab antara lain: Pendidikan Agama Hindu 70/76 . Di antara kitab Jyotisa. isinya yang terutama adalah menguraikan tentang peredaran tata surya. Hal ini kita dapat persamakan dengan berbagai macam nyanyian yang dapat dinyanyikan dan mudah diingat. dan Yajur Veda. 6) Kalpa Kitab Kalpa adalah jenis kitab Smrti (Vedangga) yang isinya berhubungan dengan kitab Brahmana dan kitab-kitab mantra. Begawan Panini adalah orang suci yang pertama kali mengenalkan kata bahasa Sanskerta popular (bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat) dan bahasa Daiwak yaitu bahasa para Dewa-Dewa. Kitab 5) Jyotisa (Antronomi) Kitab Jyotisa. Dalam mempelajari Veda kita perlu mendalami kitab Chanda. yang terdapat masih sampai sekarang adalah kitab Jyotisa Wedangga. Beliau menulis Kitab Asta Dhyayi dan Patanjali Bhasa. Veda. Maharesi Patanjali. yaitu : Midana Sutra dan Chanda Sutra. Rg. Kitab mi memiliki hubungan dengan kitab Veda Cruti. 3) Chanda (Lagu) Chanda adalah cabang Veda yang secara khusus membicarakan tentang aspek ikatan bahasa dalam Veda yang disebut lagu. Begawan Panini. yang masih terdapat utuh sampai sekarang ada dua buah buku. yang menguraikan tentang pokokpokok pengetahuan dalam bidang astronomi. Melalui pengetahuan yang terdapat dalam kitab Jyotisa juga kita dapat memahami.Para Maharesi yang mendalami tentang tata bahasa (Veda) adalah : Maharesi Sakatayana. bulan dan badan angkasa lainnya yang dipandang dan dianggap memiliki pengaruh dalam pelaksanaan yadnya. bahwa bagaimana Veda mengajarkan kepada umatnya untuk dapat berhubungan secara harmonis dengan alam dan lingkungannya berdasarkan yadnya.

Di antara keempat kitab Dharma Sastra tersebut. isinya memuat tentang petunjuk dan peraturanperaturan mengenai tata cara membuat dan mendirikan tempat suci untuk beribadat (Pura. Candi). yang diterapkan untuk masing-masing bagian Catur Yuga adalah memiliki sifat saling mengisi atau melengkapi di antara sam dengan yang lainnya. b) Bidang Grhya Kitab Grhya Sutra. (4) Pasa masa Kaliyuga dipergunakanlah Dharma Sastra yang ditulis oleh Bhagawan Parasara. isinya menguraikan tentang berbagai macam aspek mengenai peraturan hidup bermasyarakat dan bernegara. bahwa dalam hidup dan kehidupan kita ini. seperti: (1) Pada masa Satya / Krtha Yuga berlaku kitab Manawa Dharma Sastra karya sastra dan Bhagawan Manu.a) Bidang Srauta Kitab Srauta atau juga disebut Srauta Sutra. Agama Hindu mengajarkan kepada umatnya. dilalui oleh empat zaman atau juga disebut Catur Yuga. Karena dipandang sangat penting. Bhagawan Sankhalikhita. d) Bidang Suliwa Kitab Suliwa Sutra adalah merupakan bagian terakhir dan kitab-kitab Kalpa. Kitab Dharma Sutra dipandang sebagai kitab yang sangat penting di antara kitab-kitab jenis Kalpa. isinya menguraikan tentang berbagai ajaran mengenai aturan pelaksanaan yadnya yang mesti dilaksanakan oleh orang-orang / masyarakat (umat Hindu) yang telah hidup berumah tangga c) Bidang Dharma Sutra Kitab Dharma Sutra. Kitab Sulwa Sutra ini. Kitab Dharma Sutra juga disebut Dharma Sastra. (2) Pada masa Trita Yuga berlaku kitab Dharma sastra yang ditulis oleh Bhagawan Yajnawalkhya. bahwa masing-masing yuga dan Catur Yuga mempunyai Dharma Sastranya tersendiri. isinya memuat berbagai macam ajaran mengenai tata cara melakukan yadnya. Pendidikan Agama Hindu 71/76 . maka terdapatlah kesan bahwa Veda Smrti itu adalah Dharma Sastra. bangunan—bangunan lainnya yang berhubungan dengan arsitektur. (3) Pada masa Dwapara Yuga berlaku kitab Dharma Sastra buah karya Bhagawan Sankha Likhita.

di mana ceriteranya penuh filsafat.b. Itihasa adalah karya sastra yang bersifat spiritual. Kitab Upaweda terdiri dan beberapa cabang ilmu. setelah kitab-kitab Vedangga. 2) Purana Kitab Purana adalah bagian dan kitab—kitab Upaweda. Kitab-kitab yang tergolong kitab Artha Sastra yang lainnya adalah Niti Sastra atau Rajadharma (Dandaniti). Kata upaweda berasal dan bahasa Sanskerta. yakni “Iti-ha-sa” yang artinya “sesungguhnya kejadian itu begitulah nyatanya. Wisnugupta. Kata Ityihasa terdiri dan tiga suku kata. 4) AyurWeda Kitab Ayur Weda kelompok kitab Upaweda. serta Sukraniti. Kitab Itihasa terdiri dan kitab Ramayana (terdiri dan 7 kanda) dan Mahabharata ( terdiri dan 18 parwa). Artha Sastra sebagai bagian dan kitab Upaweda. Kitab Upaweda memiliki fungsi sama pentingnya dengan kitab-kitab Smrtti yang lainnya. dan Wisalaksa. Nama Itihasa pada mulanya diberikan oleh penulis kitab Mahabharata pada bagian Adiparwa yaitu Bhagawan Wiyasa. kewiraan dan mitologi. Di samping Maharesi Kautilya yang mengikuti Bhagawan Brhaspati dalam menulis kitab-kitab Artha Sastra. Jenis atau Kelompok Upaweda Kitab-kitab Upaweda merupakan kitab kelompok kedua dan Veda Smrti. Bharadwaja. 3) Artha Sastra Kitab Artha Sastra mi berisikan tentang pokok-pokok pemikiran bidang ilmu politik. 1) Itihasa Kitab Itihasa dikelompokkan dalam kitab-kitab Upaweda. Upaweda berarti dekat dengan Veda (Pengetahuan suci). yang terdiri dan dua kata. antara lain . seperti : Bhagawan Usana dan Bhagawan Parasara. Upaweda juga diartikan Veda tambahan. yang isinya menguraikan tentang bidang ilmu kedokteran atau kesehatan baik rohani maupun jasmani. Jejak beliau di dalam tulis-menulis kitab-kitab “Artha Sastra” diikuti oleh Maharesi Kautilya (Canakhya). Jenis kitab Artha Sastra yang digubah di Indonesia adalah jenis Usana dan Niti Sastra. yaitu : kata upa dan veda. Adapun nama kitab yang termasuk kelompok kitab Ayur weda Pendidikan Agama Hindu 72/76 . Kitab Purana berisikan berbagai macam cerita dan keterangan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku pada zaman dahulu kala (kuno). Itihasa adalah sebuah epos yang menceritakan sejarah perkembangan raja—raja dan kerajaan Hindu di masa lampait. Danding. Kata “upa” dapat diartikan “dekat” dan kata “veda” berarti “pengetahuan suci (kitab suci)”. adajuga Bhagawan yang lainnya. ditulis oleh Bhagawan Brhaspati. roman.

dan merupakan dasar bagi ilmu jiwa anak-anak f) Agada Tantra yaitu ilmu toxikologi g) Rasayama Tantra yaitu ilmu mujizat. Kitab mi isinya menguraikan tentang pentingnya ajaran umum di bidang ilmu bedah. dan h) Wajikarana Tantra yaitu ilmu jiwa remaja Kitab Caraka Samhita merupakan baginn dan kitab Ayur Weda. antara lain: a) Sutrathana : isinya menguraikan tentang ilmu pengobatan b) Nidanasthana : isinya memuat tentang berbagai penyakit yang bersifat umum c) Wimanasthana : isinya menguraikan tentang ilmu pathologi d) Sarithana : isinya menguraikan tentang ilmu anatomi dan embriology e) Indiyasthana : isinya menguraikan tentang materia diagnosa dan prognosa f) Cikitasasthana : isinya menguraikan tentang ajaran khusus mengenai pokok-pokok ilmu therapy g) Kalpasthnana : isinya menguraikan tentang ajaran di bidang theraphy secara umum h) Siddistana : isinya juga menguraikan tentang pokok-pokok di bidang therapy secara umum. Kitab tersebut mernuat delapan bidang ajaran. Berdasarkan materai yang terdapat dalam kitab Ayur Weda maka isi kitab Ayur Weda meliputi delapan bidang ajaran umum. Susruta Samhita. Yogasara dan Kama Sutra. Disamping itu pula kita Susruta Samhita mencatatkan berbagai macam alat-alat yang dapat dipergunakan dalam pembedahan. Kitab Susruta Samhita ditulis oleh Bhagawan Susanta. Kasyapa Samhita. Berdasarkan catatan yang ada kitab Kalpasthana dan Kitab Siddhistana telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan Persia pada tahun 800 Masehi. Kitab mi isinya menguraikan tentang pentingnya ajaran umum di bidang ilmu bedah. Kitab Susruta Samhita ditulis oleh Bhagawan Susanta.adalah kitab Caraka Samhita. Astanggahrdaya. Pendidikan Agama Hindu 73/76 . yaitu: a) Salya yaitu ajaran mengenai ilmu bedah b) Salkya adalah ajaran mengenai ilmu penyakit c) Kayakitsa yaitu ajaran mengenai ilmu obat-obatan d) Bhuta Widya yaitu ajaran mengenai ilmu psikoteraphy e) Kaumara Bhrtya yaitu ajaran mengenai pendidikan anak-anak. Di samping itu pula kitab Susruta Samhita mencatatkan berbagai macam alat-alat yang dapat dipergunakan dalam pembedahan.

6) Kama Sastra Kitab Kama Sastra adalah termasuk kitab suci agama Hindu pada bagian Smrti (Upaweda). Dewa Dasa Sahasri. seperti: Natya Sastra. juga memiliki beberapa bagian kitab-kitab lagi. kaum Ksatrya. Kitab Kama Sutra ditulis oleh Bhagawan Watsyayana pada abad ke10 Masehi. Isinya menguraikan tentang ajaran ilmu jiwa remaja. kitab Natya Wedagama. agama Hindu boleh dan dapat dipelajari oleh seluruh umat manusia. baik jasmani maupun rohani. Rasaratnasamucaya. hendaknya dipedomani oleh Kama Sastra. umat beragama dipandang perlu untuk membangkitkan rasa indah tersebut. Hal mi termuat dalam kitab Yajur Veda sebagai berikut: “Yaatkeram wacam kalyanin awadonijanebhyah. Brahma Rajanyabhyam cudraya caryaya ca siwaya caranayaca” Artinya: “Biar kunyatakan disini kitab suni ini kepada orang-orang banyak. Kedua kitab mi isinya menguraikan tentang pokok-pokok ilmu yoga yang berhubungan dengan sistem anatomi dalam pembinaan kesehatan. Kitab Gandharwa Weda. isisnya menguraikan tentang berbagai aspek cabang ilmu seni. 5) Gandharwa Weda Kitab Gandharwa Weda merupakan bagian dan kitab-kitab Upaweda. Kama Sastra sebagai bagian dan jenis kitab Upaweda isinya menguraikan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan asmara. dan yang lainnya. Karena dengan demikian asmara dan rasa indah yang muncul itu tentu terarahlbernilai positif adanya. kepada kaum Brahmana. Kitab Kamasutra berhubungan dengan kitab Wajikarana Tantra. Pendidikan Agama Hindu 74/76 . Rasarnawa. Gandharwa Weda sebagai kitab Smrti. dan kaum Waisya dan bahkan kepada orang-orangKu dan kepada mereka (orang-orang asing) sekalipun.Kitab Yogasara dan Yogasastra ditulis oleh Bhagawan Nagarjuna. seni atau rasa indah. Kebangkitan dan rasa indah manusia terbentuk untuk berbakti kepada Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa. Menurut Veda. Diantara kitab-kitab Kama Sastra yang terkenal adalah karya dan Bhagawan Watsyayana. Di dalam upaya untuk mewujudkan salah sath tujuan hidup. 7) Agama Kitab agama itu baru ada setelah Agama Hindu ada dan berkembang di dunia. kaum Sudra.

Weda çruti adalah kitab Wahyu Tuhan. Weda sebagai kitab suci umat beragama Hindu. tidak terkecuali. 18) Berdasarkan bunyi Cloka tersebut di atas dinyatakan bahwa kitab suci Veda (Hindu) dapat dipelajari oleh siapa saja. Ajaran beliau yang diwahyukan kepada Maha Rsi dituliskan pada buku. yang Pendidikan Agama Hindu 75/76 . Dan uraian di atas dapatlah kita simpulkan bahwa jumlah kitab-kitab Smrti yang dapat kita pergunakan sebagai petunjuk untuk menata kehidupan berhubungan dengan Sang Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa. kelompok Brahmana. banyak jenisnya. Namum menyadari akan kekurang sempurnaan kita sebagai umatnya. Semua ayatayat yang terdapat didalamnya merupakan Wahyu dan Tuhan yang kemudian dihimpun dalam beberapa buah buku menurut umurnya dan peruntukannya.6) B. maka tidak akan semuanya dapat mempelajarinya dengan sempuma. disamping kebiasaan-kebiasaan yang baik dan orang-orang yang rnenghayati Veda (sila) dan kemudian tradisi-tradisi dan orang-orang suci (acara) serta yang terakhir ada!ah rasa puas din sendiri (atmanastusti) (Manawa Dharrna Sastra 11. Istilah cruti berarti Wahyu. Bagi mereka yang belum dapat mempelajari Veda dapat belajar agama Hindu berdasarkan kitab-kitab agama. menghayati dan mengamalkan ajaran Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa yang dianut oleh umat Hindu. berdasarkan pengelompokannya ada yang disebut dengan nama Weda çruti dan Weda Smrti. yang disebut kitab suci Weda. Disamping itu kita juga perlu menyadari bahwa. RANGKUMAN Kitab suci adalah cara yang baik untuk memahami. Kitab agama isinya memuat ajaran tentang keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa dan petunjuk-petunjuk untuk melaksanakan tata cara persembahyangan. Menurut sifat dan isinya Weda çruti dibedakan atas kelompok mantra.(Yajur Veda XVI. Hal mi sesuai dengan ucapan kitab Smrti (Dharma Sastra) sebagai berikut: “Wedo ‘khilo dharma mulam smrti cue ca tad widam acaracca iwa sadhunam atmanastustir ceva ca” Artinya: Seluruh Weda merupakan sumber utama daripada dharma (agama Hindu) kemudian barulah Smrti. Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa mewahyukan ajaran-Nya melalui orang-orang Suci untuk disebarkan pada kita semua. Kelompok mantra didasarkan atas pertimbangan fungsi dan kegunaannya di bagi menjadi empat. Veda sebagai sumber ajaran agama Hindu mengandung ajaran yang sangat tinggi. kelompok Ananyaka dan Upanisad.

Yajur Weda Samhita. manusia memiliki beberapa kewajiban yang mesti dilaksanakan dalam kehidupan mi.menghayati.sehingga kita dapat meningkatkan budi pekerti dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Manusia adalah mahiuk hidup yang diciptakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Smrti. Pendidikan Agama Hindu 76/76 . Sudah menjadi kodratnya manusia untuk melaksanakan kewajiban hidupnya.dan engamalkan ajaran agama. Salah satu kewajiban hidup manusia yang harus dikerjakan adalah menegakkan kebenaran.Weda Samhita. dan Purana adalah kitab-kitab Weda yang ditulis oleh para Rsi berdasarkan ingatannya.politik dan pertahanan/keamanan) serta upacara (ritual) agama. Sama Weda Samhita dan Atharwa Weda Samhita. Itihasa. Itihasa dan Purana berisikan-berbagai macam ajaran yang berhubungan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi beliau dan ciptaanNya. Sebagai insan Tuhan. Kebenaran beliau dapat kita laksanakan dengan jalan memahami.disebut Catur n Weda Samhita yaitu Rg. Kebenaran yang utama adalah kebenaran yang ada pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Ethika (sosial. Mari kita dalami sastra-sastra agama. Smrti (Dharma Sastra) . yang terkandung dalam kitab suci Weda Sruti maupun Smrti untuk dipergunakan didalam menuntun kehidupan kita sehari-hari.ekonom i.budaya. bersumber dan Wahyu Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful