MATERI PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU

KELAS XI SMK Oleh : Drs. I Wayan Pura Ys BAB I HUKUM KARMA DAN PUNARBHAWA Standar kompetensi Memahami Hukum Karma dan Punarbhawa Tujuan Pembelajaran Akhir Setelah mempelajari materi ini siswa diharapkan mampu : Mengerti dan memahami hukum karma . Mampu menjelaskan bagian –bagian hukum karma Mampu menguraikan hubungan hukum karma dengan punarbhawa Menjadikan hukum karma sebagai pegangan dalam prilaku Uraian Materi A. Pengertian Hukum Karma Karma berasal dari Bahasa Sansekerta yang artinya kerja atau berbuat. Konsep hukum karma adalah bahwa setiap perbuatan akan memberikan hasil yang disebut ( phala ). Sehingga setiap hasil yang dipetik atau diterima oleh seseorang atas perbuatannya disebut karma phala. Hukum karma adalah hukum Tuhan yang berlaku bagi semua orang. Tidak memandang apakah orang tersebut percaya atau tidak hukum karma tetap berlaku. Seperti hukum terbitnya matahari dari timur, orang buta ataupun orang eskimo yang tidak pernah melihat matahari, bukan berarti matahari tidak ada. Matahari tetap terbit dari timur. Demikianlah hukum karma berlaku bagi semua umat manusia dari semua negara, semua suku bangsa dan semua agama. Dalam ajaran Hindu , hukum karma merupakan ajaran sebagai landasan ajaran etika dan pegangan dalam mencapai tujuan hidup. Karma atau perbuatan ini ada tiga bentuk yaitu karma yang dilakukan oleh pikiran ( Manah ), karma dalam bentuk ucapan (waca ), dan karma dalam bentuk tindakan jasmanani ( kaya ). Jadi apapun bentuk aktivitas seseorang pasti ada phalanya (hasilnya) .Ini berarti tidak ada perbuatan yang tanpa membuahkan hasil, sekecil apapun kegiatan tersebut. Sedangkan jika dilihat dari baik buruknya maka perbuatan yang baik disebut Subha karma dan perbuatan yang buruk disebut Asubha karma. Materi Pelajaran Pendidikan Agama Hindu 1 1/76

B. Proses berlakunya karma phala Setiap aktivitas karma seseorang didasari oleh keinginan ( Iccha ). Timbulnya keinginan akan direspon oleh pikiran. Pikiran inilah yang akan mengambil keputusan untuk melakukan tindakan dalam bentuk ucapan ataupun tindakan jasmani. Keputusan pikiran sangat ditentukan oleh pengetahuan (jnana), kebijaksanaan ( wiweka), serta pengalaman hidup serta karmawasana seseorang. Jika digambarkan maka proses karma seseorang sebagai berikut : KEINGINAN

Pengetahuan PIKIRAN Pengalaman Hidup KARMA

Wiweka karmawasana

KARMA PHALA C. Wujud Karma phala Banyak orang menafsirkan bahwa wujud dari karma phala ( hasil perbuatan ) seseorang adalah berbentuk materi, seperti kekayaan, kecantikan atau ketampanan, jabatan, kehormatan dan sebagainya yang semata-mata diukur dari segi materi. Secara garis besar memang wujud karmaphala ada dua yaitu berbentuk fisik dan psikis( batin). Artinya hasil dari perbuatan tersebut dapat dirasakan secara langsung oleh badan jasmani melalui panca indria atau juga bisa memberikan suasana batin tertentu pada seseorang. Contoh: Jika seseorang pernah berbuat baik misalnya membantu orang yang jatuh di jalan , suatu saat ketika dia terjatuh di jalan akan ada orang lain yang menolong. Ini adalah phala secara fisik. Contoh lain mungkin ada orang yang suka menipu justru akan membuat hatinya tersiksa karena selalu was-was, selalu berprasangka bahwa tipu dayanya akan ketahuan oleh orang lain. Ini berarti secara psikis dia menderita. Pendidikan Agama Hindu 2/76

Wujud dari karmaphala yang akan diterima seseorang tidak dapat dipastikan. Artinya hasil karma tersebut bisa saja berbentuk fisik, atau psikis, ataupun kedua nya yaitu fisik dan psikis. Demikian pula kapan waktunya akan diterima seseorang atas perbuatannya juga merupakan rahasia Hyang Widhi. Yang jelas bahwa karmaphala itu ada dan akan hadir tepat pada waktunya. Diatas kedua wujud karmaphala di atas yang terpenting untuk menjadi tolok ukur atas hasil perbuatan seseorang adalah akibat dari wujud karmaphala tersebut. Artinya seseorang yang menerima karmaphala baik berwujud fisik maupun psikis apakah mengakibatkan adanya peningkatan kualitas sradha atau tidak. Apakah menyebabkan kebahagiaan atau penderitaan? Contoh : Seseorang yang mendapatkan uang sangat banyak dari hasil judi, diukur dari segi fisik tentu menyenangkan. Tetapi kemenangan itu justru menyebabkan dia semakin tergila-gila pada judi, suka berfoya-foya semata-mata memenuhi nafsu keinginannya. Suatu saat jika dia kalah berjudi maka kekesalan dan kemarahannya akan dilempahkan pada orang lain, seperti anak atau istrinya. Ini menunjukkan bahwa uang yang diperoleh dari hasil judi tersebut bukan karmaphala yang baik, karena akibat dari uang yang diterima terebut justrui menjerumuskan dirinya pada karma-karma yang lebih buruk. Contoh lain mungkin ada seseorang yang secara fisik cacat jasmani, tetapi dengan kekurangannya tersebut memberikan dia inspirasi dan kesadaran bahwa hidup ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan fisik, sehingga dia menjadi orang yang teguh sradha bhakti, serta senantiasa merasa tentram . Jadi cacat jasmani tersebut bukan hasil karma buruk tetapi merupakan hasil karma baik yang membawa kebahagiaan bagi dirinya. Seperti halnya seseorang minum obat pahit untuk kesembuhan dari penyakitnya. Kesimpulannya: Karmaphala yang baik adalah yang dapat meningkatkan kualitas sradha bhakti untuk mencapai kebahagiaan lahir batin ( moksartham jagat hita ) Karmaphala yang buruk adalah yang menyebabkan seseorang menderita lahir batin dan menurunkan kualitas sradha bhakti. D. Dampak karma bagi seseorang Setiap karma yang dilakukan setidak-tidaknya ada tiga akibat yang terjadi : 1. Karma akan memberi akibat atau balasan atas setiap perbuatan manusia. Baik atau buruk yang akan diterima sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya. 2. Karma akan memberi kesan tersendiri kepada pelakunya yang akan melekat pada pikiran pelakunya. Pendidikan Agama Hindu 3/76

Jika hal itu sudah dilakukan maka Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik bagi kita. sebagaimana wahyu Beliau dalam Kitab Bhagawad Gita Bab IX Sloka 22 : Mereka yang memuja-Ku dan hanya bermeditasi kepada-Ku saja. E. Manfaat kita mengetahui jenis-jenis karma tersebut adalah untuk meningkatkan sradha dan bhakti kepada Hyang Widhi. selalu melekat pada setiap kelahirannya. Sanchita Karma 2. Bisa saja merupakan pahala atas karma kita pada kehidupan terdahulu. Laksanakan semua kewajiban sebagai yadnya dan bhakti kepada Ida sang Hyang Widhi. Kramana karma adalah pahala yang diterima seseorang pada kehidupan ini atas hasil dari perbuatan ( karmanya ) pada kehidupan yang lampau. Meskipun kita menggolongkan karma tersebut seperti di atas tetapi dalam kenyataan sangat sulit bagi kita untuk mengidentifikasi setiap karma yang kita terima saat ini. Prarabdha Karma 3. akan Aku bawakan segala apa yang belum dimilikinya dan akan menjaga yang sudah dimilikinya. Kita harus yakin bahwa apapun yang kita alami pada kehidupan ini adalah hasil perbuatan diri sendiri. Oleh karena itu yang terbaik harus dilakukan adalah melaksanakan tugas sebaik-baiknya. Tiga Macam Karma Jika dilihat dari segi waktu hasil karma seseorang maka dapat digolongkan menjadi tiga macam yaitu : 1. Kryamana Karma Sancitha karma adalah karma atau perbuatan yang dilakukan pada masa hidup di dunia baru akan menerima pahalanya setelah meninggal dunia Prarabdha karma adalah karma atau perbuatan seseorang yang pahalanya langsung diterima pada kehidupan ini. kepada mereka yang senantiasa gigih demikian itu. Apa yang seharusnya kita butuhkan pasti akan terpenuhi. Mengenai kapan waktu kita akan menerima pahala atas karma yang kita lakukan juga merupakan rahasia Ida sang Hyang Widhi. Karma akan membentuk kepribadian seseorang. Bukan karena orang lain.3. Karma yang memberi kesan dan menjadi kepribadian jiwatman inilah yang merupakan karmawasana setiap orang. atas pahala atas karma kita masa kini. Pendidikan Agama Hindu 4/76 . selalu berbuat kebaikan serta tetap yakin dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Pahala atas karma seseorang dapat diterima di alam niskala ( sorga atau neraka ) juga bisa dinikmati pada saat hidup. Misalkan Andi menolong Budi yang terjatuh dari sepeda motor. bukan berarti dia terbebas atas karma yang diperbuatnya itu tetapi pahala akan selalu mengikuti karma yang dilakukannya. Tetapi bagaimana bentuk pahala dari karma yang harus dinikmati pada kehidupan ini? Tentu saja akibat karma akan dirasakan oleh seseorang melalui interaksi dengan lingkungan. b. Dalam peristiwa tersebut yang menjadi alat Tuhan untuk menyampaikan pahala atas karma tersebut adallah manusia ( orang lain). Dalam peristiwa tersebut Budi menerima pahala dalam bentuk pertolongan dari Andi. Meskipun manusia adalah alat pembalas karma. Kejadian ini buakanlah suatu kebetulan. Contoh sederhana mungkin suatu ketika kita menerima bantuan dari orang lain dimana pada waktu tersebut kita benar-benar memerlukan pertolongan tersebut. Pahala karma bisa saja dirasakan melalui tangan manusia. Pendidikan Agama Hindu 5/76 . tetapi juga sebagai alat untuk membalas karma orang lain. Itu adalah hasil karma kita yang mungkin kita sudah lupa kapan melakukannya. Demikian pula alam bisa saja sebagai alat pembalas karma. Setiap peristiwa karma yang melibatkan lebih dari satu manusia maka akan ada pihak penerima pahala atas karmanya dan ada pihak sebagai pembalas karma sekaligus pelaku karma untuk dirinya. Kesimpulannya : a. c. sehingga disaat yang tepat kita akan menerimanya. Sehingga manusia disamping akan menerima pahala atas karmanya. d. tumbuhan. tetapi semua itu akibat perbuatan manusia sendiri. baik alam maupun sesama manusia. binatang. Setiap karma yang terjadi akan menjadi penyebab untuk karma-karma berikutnya. Bencana alam bukanlah hukuman Tuhan. Meskipun Andi sebagai alat .F. Pahala karma di dunia bisa diterima melalui tangan manusia atau alam lingkungan. atas perbuatannya menolong budi dia juga akan mendapat pahala atas karma tersebut. pahala tersebut mungkin saja atas kebaikan Budi di waktu lalu Dalam kasus ini Andi adalah sebagai alat pembalas karma perbuatan Budi di masa lalu. Jadi setiap peristiwa karma yang melibatkan lebih dari satu orang maka dalam peristiwa tersebut ada dua jenis proses karma yang terjadi yaitu ada pihak yang menerima hasil karmanya dan ada orang yang yang berkarma dimana hasilnya belum diketahui kapan akan diterima. serta bisa juga dari alam. Jika karma seseorang harus diterima setelah meninggal dunia maka atmannya akan menuju sorga atau neraka. Pelaksana Karmaphala Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa wujud karmaphala bisa berbentuk fisik bisa juga berbentuk psikis.

Orang bijaksana tak akan terbingungkan oleh hal ini. kematian sudahlah pasti dan pasti ada kelahiran bagi mereka yang mati. G. sloka 13 ) Bagaikan seseorang yang menanggalkan pakaian usang dan mengenakan pakaian lain yang baru. Demikian juga manusia yang lahir. kemudian turun hujan dan kembali ke laut. PUNARBHAWA Punarbbhawa atau tumimbal lahir atau samsara adalah bagian keempat dari Panca Sradha sebagai dasar keyakinan Umat Hindu. Dari pemahaman ini jelas bahwa manusia akan mengalami punarbhawa. antara lain : Seperti halnya sang jiwatman yang melewatkan waktunya dalam badan ini dari masa kanak-kanak. menuju sorga atau neraka. Dalam rangka meningkatkan karma baik maka pada saat berdoa mohonlah agar kita senantiasa menjadi alat pembalas karma yang baik. dan masih banyak lagi jenis-jenis perputaran kehidupan. sehingga terhadap hal yang tak terrelakkan ini janganlah engkau berduka. demikian juga bila ia berpindah ke badan yang lainnya. Pengertian sederhana adalah bahwa pada saat seseorang meninggal dunia maka jiwatman akan melepaskan badan jasmaninya ( stula sarira ). Proses jiwatman meninggalkan stula sarira kemudian lahir kembali menggunakan jasmani yang baru inilah disebut Punarbhawa. kemudian meninggal maka akan mengalami perputaran untuk lahir kembali. Intinya bahwa segala sesuatu di alam ini mengalami perputaran sehingga bisa stabil.e. Jika kita perhatikan bahwa alam ini semuanya mengalami siklus ( perputaran ). ( Bab II. sloka 27). Pendidikan Agama Hindu 6/76 . sloka 22 ) Bagi seseorang yang lahir. demikianlah jiwatman yang berwujud mencampakkan badan lama yang telah usang dan mengenakan badan jasmani baru. Untuk memahami dan meyakini hukum punarbhawa bisa kita lakukan secara logika maupun dengan meyakini Wahyu Tuhan melalui kitab-kitab suci. remaja dan usia tua. ( Bab II. tumbuh besar. Kemudian dalam Kitab Suci Bhagawad gita beberapa sloka menyiratkan secara jelas tentang punarbhawa . Bahkan planet-planet ini bisa stabil pada tempatnya karena berputar. perputaran dari air laut mejadi awan. Untuk meningkatkan kualitas jiwatman maka setelah waktu tertentu jiwatman kembali kedunia dengan menggunakan badan jasmani yang baru. perputaran rantai makanan. Perputaran waktu. ( BabII. Ada perputaran siang dan malam.

Demikian juga bila semasa hidupnya banyak berbuat dosa maka kelahiran berikutnya akan menurun kualitasnya. Jika digambarkan proses hidup manusia dan kelahirannya sampai bersatunya atman dengan brahman ( Brahman Atman aikyam) seperti di bawah ini : Ket : Gari tebal adalah kehidupan saat ini Garis tipis kehidupan kelahiran dengan kualitas meningkat yang menuju bersatunya Brahman Pendidikan Agama Hindu 7/76 . sebabnya demikian. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan terlahir sebagai binatang atau tumbuhan. 2.Masih banyak sloka-sloka lain yang menjelaskan tentang punarbhawa ini. Berbuat baik ( Subha karma ) adalah cara untuk melepaskan diri dari keadaan samsara ( punarbhawa ). demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia. Oleh karena itu setiap menjalani kehidupan kewajiban manusia adalah untuk meningkatkan Subhakarma sehingga setiap kelahiran berikutnya bisa meningkat kualitasnya sampai akhirnya tujuan hidup yaitu moksartham jagathita tercapai. karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara ( lahir dan mati berulang-ulang ) dengan jalan berbuat baik. Jadi bila manusia semasa hidupnya banyak berbuat baik maka kelahiran berikutnya akan meningkat kualitasnya. Untuk berbuat baik kesempatan yang paling luas adalah bila menjelma menjadi manusia. H. Hubungan Karmaphala dengan Punarbhawa Dalam Kitab Sarasamuscaya sloka 4 dikatakan : Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama. Dari sloka di atas ada dua point yang dapat kita petik penekannya yaitu : 1.

Pendidikan Agama Hindu 8/76 .Garis putus-putus kehidupan kelahiran dengan kualitas menurun yang semakin jauh dari Brahman. Kesimpulan : Gunakan hidup ini sebaik-baiknya untuk meningkatkan karma sehingga setiap kelahiran berikutnya bisa meningkatkan kualitas dan kesucian jiwatman.

BAB II ALAM SEMESTA Standar Kompetensi Memahami proses penciptaan dan pralaya alam semesta Tujuan Akhir Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan : a. matahari. bumi dengan segala isinya ini yang disebut bhuana agung. c. b. Istilah lainnya adalah jagat raya. kemudian tidak ada lagi. Agastya Parwa dan sebagainya. Brahmanda Purana. planet. mengingat keterbatasan kemampuan dan umur manusia. Masa Srsti digabungkan dengan masa Pralaya disebut satu Kalpa atau satu hari Brahman. sangat sulit dipastikan. Penggambaran jagat raya termasuk proses penciptaannya banyak diuraikan dalam beberapa kitab suci Hindu Seperti Brhad Aranyaka Upanisad. Sedangkan pada waktu alam ini meniada disebut “Pralaya” atau “Brahma nakta” ( malam hari Bharma ). makrokosmos. dari jenjang yang amat halus dan tidak berwujud ( gaib / niskala ) sampai pada jenjang yang berwujud dan sangat kasar ( nyata / sekala ) Pendidikan Agama Hindu 9/76 . Proses dari tidak ada menjadi ada alam semesta ini berlangsung secara berjenjang. demikian seterusnya berulang-ulang. Jadi semua yang ada di alam semesta ini termasuk gugusan bintang. Kapan sesungguhnya alam semesta ini tercipta. Pada saat alam semesta ini meng”ada” disebut masa “Srsti “ atau “ Brahma diwa “ ( siang hari Brahma ). Mampu menjelaskan proses terciptanya bhuana agung dan bhuana alit. Mampu mengklasifikasi unsur-unsur bhuana agung dan bhuana alit d. Bebrapa peneliti dan ilmuwan mencoba untuk membuat teori tentang penciptaan alam semesta tetapi tidak satupun dapat memastikan kapan alam ini tercipta. lalu ada. Mampu menjelaskan proses pralaya. Menurut Ktab-kitab suci Hindu teori penciptaan jagat raya banyak diuraikan yang jika dicermati dan dipelajari dengan penuh keyakinan maka alam semesta ini mengalami keadaan dimana jagat raya ini pernah tidak ada. Mampu menguraikan hubungan bhuana agung dan bhuana alit Uraian Materi A. BHUWANA AGUNG Pengertian Bhuana Agung artinya alam raya ( besar ). atau brahmanda.

manah dan ahamkara yang tercipta secara berurutan.Hal ini disebutkan dalam Bhagawad Gita. yaitu benih kejiwaan yang bersifat kedirian atau individu. Dimulai dari hancurnya ikatan api atau matahari yang kemudian menyebar keseluruh alam semesta. Alam citta yang pertama muncul adalah Buddhi. 2. 5. Pada kondisi seperti ini beliau disebut Paramasiwa atau Nirguna Brahman. tanpa permulaan dan tanpa akhir. 3. Alam jagat raya dipenuhi hawa panas kemerahan dan dentuman halilintar yang sambung-menyambung dengan dahsyat. 1. sedangkan prakirti adalah unsur dasar kebendaan atau jasmani. Dari Unsur Prakirti lahirlah Triguna yaitu. dan Tamas. 7. proses terciptanya alam semesta dapat digambarkan sebagai berikut : 1. 6. yaitu unsur kejiwaan tertinggi yang berfungsi untuk menentukan keputusan. Purusa dan prakirti keduanya sangat halus dan tidak bisa diamati. Sattwam. semua zat pada meleleh kemudian menguap. Tuhan Paramasiwa atau Nirguna Brahma menjadikan diri-Nya Sada Siwa ( Saguna Brahma ) yang berwujud Purusa dan Prakiti . Selanjutnya alam semesta menjadi tidak ada selama satu kalpa atau kurang lebih 432 juta tahun manusia. Srsti Setelah alam ini tidak ada pada masa pralaya . Rajas. Perpaduan Purusa dan Prakirti menyebabkan Triguna tidak seimbang. kosong dan hampa. Semua mahluk hidup mati dan hancur. Fungsinya adalah untuk merasakan. Dari Mahat terciptalah alam Citta yang didalamnya terdiri dari tiga unsur yaitu Budhi. Purusa adalah unsur dasar kejiwaan atau rohani. Sattwam adalah unsur yang bversifat terang dan tenang. Dari sebaran api yang sangat dahsyat ini menyebabkan semua zat cair menguap. 5. Dari Buddhi selanjutnya lahir Ahamkara.Pralaya Pralaya adalah masa dimana alam semesta ini tidak ada. Proses pralaya menurut beberapa kitab suci Hindu digambarkan sebagai berikut . Sedangkan Tamas adalah unsur yang meiliki sifat dasar gelap dan berat 4. Rajas unsur yang memiliki sifat dasar dinamis dan aktif. 6. Pada saat alam ini tidak ada Tuhan menarik kembali semua manifestasi beliau di alam kemudian menjadikan diri dalam wujud sepi. Unsur-unsur Panca Maha Bhuta kembali menjadi atom yang amat halus sekali. Padamulanya Unsur Sattwam yang mendominasi maka lahirlah yang disebut Mahat yang berarti Maha Agung. 2. Budhi bersifat sattwam sehingga setiap keputusannya bersifat bijaksana. 3. 4. Pendidikan Agama Hindu 10/76 . Bab XIII sloka 20.

Prthiwi ( zat padat ) 12. a. Akasa ( ether atau ruang ) b. Dari Panca Maha Bhuta inilah kemudian berkembang menjadi alam semesta beserta isinya yaitu mahluk hidup yang ada di bumi termasuk manusia. Garbhendriya ( rangsang penggerak perut ) b. Panindriya ( rangsang penggerak tangan ) c. Rasa Tanmatra ( sari rasa ) e. Twakindriya ( rangsang perasa ) c. yaitu akal atau pikiran yang berfungsi untuk berpikir. Dari uraian di atas jelaslah bahwa semua yang ada di alam ini mengalir dan lahir dari Tuhan dan pada saatnya nanti akan kembali lagi ke dalam tubuhNya yang menjadi kosong dan hampa. Payundrita ( rangsang penggerak pelepasan ) e. Upasthendriya / Bhagendriya ( rangsang penggerak kelamin ) 10. Dari Panca Tanmatra selanjutnya muncul Panca Maha Bhuta . Sabda Tanmatra ( sari suara ) b. a. Rupa Tanmatra ( sari warna ) d. Wayu ( hawa atau udara ) c. Selanjutnya dari Ahamkara lahirlah yang disebut Manas. terdiri dari: a. 9. Sparsa Tanmatra ( sari rabaan ) c. Pendidikan Agama Hindu 11/76 .8. Jihwendriya ( rangsang pengecap ) e. yang terdiri dari Panca Buddhindriya terdiri dari . Apah ( zat cair ) e. Granendriya ( rangsang pencium ) Panca Karmendriya terdiri dari. Caksundriya ( rangsang penglihatan ) d. Teja ( api ) d. Ganda Tanmatra ( sari bau ) 11. Evolusi berikutnya dengan pengaruh triguna dengan imbangan yang berbeda terciptalah Dasendriya . yaitu lima macam unsur zat alam yang bersifat kasar. Selanjutnya lahirlah Panca Tanmatra yaitu lima unsur zat yang sangat halus terdiri dari : a. Srotendriya ( rangsang pendengar ) b. Padendriya ( yangsang penggerak kaki ) d.

Jika digambarkan dalam skema maka proses terciptanya alam semesta sebagai berikut : Ida Sang Hyang Widhi Purusa Prakirti / Pradana Memiliki Triguna Mahat Citta Buddhi Ahamkara Manah Dasendriya Panca Tanmatra Panca Maha Butha Brahmanda Pendidikan Agama Hindu 12/76 .

3. manusia. 7. Mahatala 5. Sapta 1. terdiri atas : 1. Patala ( kulit bumi ) 2. Balagarba maha naraka ( ruang perantara di dalam bumi ) b. Loka terdiri dari : Bhur loka ( alam manusia ) Bhuwah loka ( alam pitara ) Swah Loka ( alam dewa ) Maha loka Jana loka Tapa loka Satya loka ( ruang vakum= Nirguna Brahma ) Sapta Patala Sapta patala adalah lapisan bumi dari permukaan sampai dengan inti bumi. 6. Lapisan bumi menuju ruang jagat raya disebut Sapta Loka. Tala-tala 7. seperti.Sapta Loka Bumi sebagai salah satu Brahmanda hasil pembentukan Panca Maha Bhuta memiliki lapisan-lapisan. Lapisan-lapisan ini berdasarkan kuat atau lemahnya pengaruh Panca Maha Bhuta. 4. Sutala 6. oleh karena itu proses penciptaan sama termasuk unsur-unsur pembentukannya. 5. Setelah tercipta Brahmanda-brahmanda termasuk bumi maka selanjutnya diciptakanlah mahluk hidup yang berawal dari mahluk hidup yang terrendah sampai dengan mahluk hidup yang tertinggi. hewan dan tumbuhan. Asal mula atau proses penciptaan bhuwana alit Bhuwana alit adalah bagian dari bhuwana agung. Hanya saja ada perbedaan perkembangan penciptaannya sesuai perimbangan triguna. 2. BHUWANA ALIT Pengertian Bhuwana alit sering juga disebut Mikrokosmos adalah alam kecil atau dunia kecil yaitu isi dari alam semesta. Kalagni Rudra ( ruang inti bumi ) B. Rasa tala Lebih dalam dari sapta patala masih terdapat dua lapisan lagi yaitu : a. Watala 3. Nitala 4. Pendidikan Agama Hindu 13/76 .

Bayu. Adapun yang tergolong dalam Sato adalah : 1. Sabda adalah kekuatan suara dan Idep kekuatan pikiran. Mahluk hidup ini juga dikenal dengan nama Sthawara yaitu mahluk hidup yang tidak berpindah-pindah seperti tumbuhan. tamas yang sesuai dan seimbang tercipta Kelompok Tri Pramana atau manusia. Purusa yaitu atman sebagai sumber kehidupan 2. 3. Sabda dan Idep. 2. rajas. Selanjutnya jika semua unsur penciptaan tersebut lebih banyak guna rajas maka terciptalah kelompok Dwi Pramana atau hewan/ binatang. Yang membedakan antara manusia yang satu dengan yang lain adalah komposisi dan perimbangan unsur-unsur pembentukannya serta karmawasana yang telah dibentuknya. Mahluk ini dikenal dengan nama Satwa atau Sato. Trna yaitu bangsa rumput baik yang hidup di air maupun di darat. Manusia memiliki unsur : 1. Termasuk dalam golongan Sthawara adalah : 1. Kelompok Dwi Pramana Adalah mahluk hidup yang memiliki dua kekuatan hidup yaitu Bayu dan Sabda. Mahluk ini disebut juga Manusya. Terakhir dengan perimbangan satwam. Baik unsur terhalus sampai unsur paling kasar. Jarayuja yaitu binatang menyusui.. Bayu adalah kekuatan nafas. Jangama yaitu tumbuhan yang hidupnya menumpang pada pohon lain. Lata adalah tumbuhan menjalar di tanah atau di pohon. Kelompok Tri Pramana Adalah mahluk hidup yang memiliki tiga kekuatan hidup yaitu. Swedaya yaitu binatang bersel Satu. Diantara mahluk hidup hanya manusialah yang memiliki semua unsur ciptaan Tuhan secara lengkap.Dari proses penciptaan Purusa dan prakirti dengan unsur-unsurnya sampai panca maha bhuta. Taru yaitu semak dan pepohonan. 5. Kelompok Eka Pramana Yaitu mahluk hidup yang hanya memiliki satu kekuatan dalam hidupnya yaitu Bayu. 3. 2. Pradana terdiri dari : Pendidikan Agama Hindu 14/76 . dengan sifat tamas yang mendominasi terciptalah kelompok Eka Pramana atau tumbuh-tumbuhan. Andaya yaitu binatang bertelur. Gulma adalah bangsa tumbuhan yang bagian luar pohon berkayu keras dan bagian dalam berongga atau kosong. 4.

ahamkara. 5). budhi. Mamsa ( daging). Hubungan itu dapat diuraikan minimal sebagai berikut : 1. Bhuwana Agung dan bhuana alit memiliki unsur-unsur yang sama. Dari hasil karma dan konsumsi makanan manusia membentuk Sad Kosa yaitu enam lapis pembungkus stula sarira. Asti ( tulang) 2). 3). Sad Kosa terdiri dari : 1). Bentukan hasil karma manusia antara suksma sarira dengan stula sarira menghasilkan Panca Maya Kosa yaitu lima lapisan halus badan manusia. 2. sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Bhagawad Gita Bab VII. Annamaya kosa yaitu badan dari sari makanan 2). HUBUNGAN BHUWANA AGUNG DENGAN BHUWANA ALIT Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit memiliki hubungan yang sangat erat satu sama lain. Manomaya Kosa yaitu badan dari sari pikiran. dan Panca Tanmatra. Jiwatman inilah yang selalu mengalami reinkarnasi jika selama bersatu dengan stula sarira sebagai manusia hidup di dunia belum berhasil melepaskan ikatan-ikatan karma untuk mencapai moksa yaitu bersatunya Atman dengan Brahman. manah. Panca Maya Kosa terdiri dari : 1). Bhuwana Agung dan bhuwana alit diciptakan oleh pencipta yang sama. sloka 6. Pendidikan Agama Hindu 15/76 . Carma ( kulit ) C. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Ida Sang Hyang Widhi pada masa Srsti dan akan kembali kepada-Nya pada masa pralaya. Pranamaya Kosa yaitu badan dari sari nafas. Stula sarira yang berasal dari unsur Panca Maha Bhuta. b. Rudhira ( darah ) 6). Suksma sarira dari unsur Cita. 4). 5). Anandamaya Kosa yaitu badan dari sari kebahagiaan Suksma sarira yang dihidupi dengan unsur purusa ( atman ) disebut jiwatman. Dasendria. Odwad ( Otot ) 3).a. Wijnanamaya Kosa yaitu badan dari sari pengetahuan. Sumsum ( sumsum) 4).

tetapi unsur-unsur pembentukannya adalah sama. Skema itu dalat digambarkan sebagai berikut : Pendidikan Agama Hindu 16/76 .Dalam proses penciptaan meskipun ada perbedaan waktu antara penciptaan alam semesta dengan mahluk yang ada di dalamnya .

Dasendriya 6. Citta 2. Pendidikan Agama Hindu 17/76 . Citta 2. Parama Anu 8. Ahamkara 5. Panca Maha Bhuta 9. Dasendriya 6. Panca Tanmatra 7. Manah 4. seperti rotasi bumi dan matahari. Alam dilengkapi untuk kehidupan dan perkembangan mahluk hidup dan mahluk hidup memiliki kemampuan untuk mengatur alam. Panca Tanmatra 7. siklus perputaran musim dan sebagainya. Proses saling melengkapi ini telah diatur dengan hukum Tuhan ( Rta ). Panca Maha Bhuta 9. Brahmanda Sapta Loka Sapta Patala Bhuwana Alit 1. Untuk alam ditata dan diatur dengan hukum alam. Sedangkan manusia ditata dan diatur dengan hukum karma yang didalamnya dibekali ilmu pengetahuan dan ajaran agama. Mahluk hidup diciptakan berada dan berkembang pada alam semesta. Benih (Sukla/Swanita) Manusia 3.Brahman ( Nirguna Brahma ) melaksanakn Tapa Nirguna Brahma ( Sada Siwa ) Purusa Prakirti ( pradhana ) Bhuwana Agung 1. siklus perputaran air ( hidrologi ). Buddhi 3. Bhuwana agung dan bhuawana alit saling melengkapi. Parama Anu 8. Buddhi 3. Ahamkara 5. Manah 4.

4. Alam memiliki musim maka manusia akan mengatur hidup dan fisiknya menyesuaikan dengan musim yang ada. Intinya bahwa aktivitas manusia dipengaruhi oleh alam dan sebaliknya juga hasil aktivitas manusia tersebut akan mempengaruhi alam Pendidikan Agama Hindu 18/76 . Sehingga di Bali kita mengenal pedewasan ( hari baik/buruk untuk aktivitas tertentu) yang bersumber pada pengaruh guna masing-masing posisi planet tersebut. Pribadi. budaya masyarakat serta kegiatan fisik manusia sangat dipengaruhi oleh alam.Dengan demikian alam akan melengkapi kebutuhan manusia dan manusia akan melengkapi isi alam. Matahari serta planet-planet di semesta memiliki jenis guna yang berbeda-beda. perputaran planet-planet ini mempengaruhi posisi kedekatan dengan bumi. Sebaliknya segala aktivitas manusia juga dapat mempengaruhi kondisi alam. Masing-masing posisi ini akan memberikan pengaruh yang berbeda pada manusia di bumi. Pembangunan yang tidak memperhitungkan tata lingkungan menyebabkan bencana alam banjir dan kebakaran. Kondisi sekarang dengan ulah sebagian manusia yang merusak alam dan membabat habis hutan menyebabkan rusaknya siklus perputaran air. Bhuana agung dan bhuana alit saling mempengaruhi. Manusia menciptakan berbagai alat untuk menyesuaikan diri dengan kondisi alam. Penggunaan zat kimia yang merusak lapisan ozon dan polusi dari hasil pembakaran yang dilakukan manusia menciptakan rumah kaca sehingga terjadi pemanasan global. Alam memiliki unsur Triguna juga akan mempengaruhi semua pribadi dan aktivitas manusia. Karena bhuana agung dan bhuana alit memiliki unsur-unsur yang sama maka dalam proses hubungannya akan saling mempengarui. Contoh sederhana manusia menciptakan kalender untuk pengaturan bercocok tanam bagi masyarakat agraris.

Mampu neneladani sifat-sifat kepemimpinan Hindu. Kelompok ini bisa dalam lingkungan rumah tangga. Kitab ini berisi tentang ilmu Pendidikan Agama Hindu 19/76 . serta organisasi sosial lainnya. PENDAHULUAN Manusia adalah mahluk paling sempurna yang diciptakan Hyang Widhi di muka bumi dengan memiliki tri pramana yaitu sabda. Raja Dharma. sebab setiap orang suatu saat pasti akan menjadi pemimpin. c. Mampu menguraikan Teori dasar kepemimpinan. d. Kelompok dalam hal ini juga termasuk lingkungan profesi. kantor. Kepemimpinan dalam Hindu banyak dijabarkan dalam berbagai kitab antara lain Kitab Arthasastra. Dengan memiliki idep ( pikiran ) maka manusia dalam hidupnya selalu memiliki tujuan serta memiliki upaya untuk mencapai tujuan tersebut. Mampu menjelaskan pentingnya mempelajari ilmu kepemimpinan. Tujuan manusia bisa bersifat individu maupun kelompok. Agar usaha seorang pemimpin berhasil menghantarkan kelompok/organisasi yang dipimpinnya mencapai tujuan maka diperlukan kemampuan untuk memimpin. Minimal akan menjadi pemimpin dalam keluarga. Kelurahan/Desa. bahkan untuk mencapai tujuan secara pribadi kita harus dapat memimpin diri sendiri.RW. Disisi lain manusia adalah mahluk sosial yang hidup dalam kelompok tertentu. dan seterusnya hingga kelompok negara bahkan dunia. setiap orang perlu mempelajari kepemimpinan. Dalam usaha mencapai tujuan kelompok/organisasi tersebut perlu adanya pemimpin yang akan mengarahkan dan membawa kelompoknya untuk mencapai tujuan. atau Raja Niti. Tujuan yang bersifat individu adalah sesuatu yang ingin dicapai secara pribadi bagi diri sendiri. RT. Kitab ini dikenal juga dengan nama Danda Niti. Ilmu kepemimpinan tidak saja diperlukan oleh pemimpin kelompok atau organisasi. keluarga. bayu dan idep.BAB III KEPEMIMPINAN Standar Kompetensi Memahami hakekat kepemimpinan Hindu Tujuan Pembelajaran akhir Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan : a. Semua kelompok ini dari kelompok yang terkecil hingga yang terbesar memiliki tujuan tertentu. Mampu menguraikan konsep dasar kepemimpinan menurut ajaran Hindu. serta Kautalira Arthasastra. Kemampuan dalam hal memimpin suatu organisasi ini disebut kepemimpinan/ Leadership. URAIAN MATERI A. b.

dalam bukunya Principles of Management menyebutkan bahwa kepemimpinan adalah keseluruhan aktivitas untuk mempengaruhi serta menggiatkan orang dalam usaha untuk mencapai tujuan. B. Sumber lain tentang kepemimpinan Hindu juga tertuang dalam Itihasa Mahabarata dan Ramayana. serta kelebihan tertentu dari bawahannya memiliki Kelebihan-kelebihan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin antara lain : Pendidikan Agama Hindu 20/76 .menjadi kata benda “pemimpin” yang artinya orang yang berfungsi memimpin atau menuntun atau orang yang membimbing. Di Indonesia dalam Kitab Nagara Kertagama disusun oleh Empu Prapanca juga memuat tentang kepemimpinan Hindu. pertimbangan atau kebijakan. Banyak teori dan konsep modern tentang kepemimpinan. Heyt. Jadi Nitisastra artinya ajaran tentang kepemimpinan. Untuk keberhasilan tersebut maka seorang pemimpin harus kemampuan. Di Bali beberapa lontar juga memuat tentang konsep kepemimpinan Hindu. Dalam hal ini karakter dan pribadi setiap pemimpin adalah berbeda. Dalam kaitan ini Nitisastra juga dapat diartikan sebagai konsep penataan pemerintahan dan pembangunan negara. dari kata Niti dan Sastra. dalam bukunya The Art of Leadership mengatakan bahwa kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau manusia sehingga tergerak untuk mengikuti kemauannya dengan ikhlas dalam rangka mencapai tujuan bersama.pemerintahan Hindu yang disusun oleh Maha Rsi Kautilya atau dikenal juga dengan nama Maha Rsi Chanakya. pengetahuan. namun inti dari semua teori itu adalah sama yakni bertujuan agar seorang pemimpin berhasil membawa kelompoknya mencapai tujuan yang diinginkan. politik. oleh karena itu penerapan konsep kepeimpinan juga berbeda dengan hasil yang berbeda pula. Dalam kaitan perbedaan karakter pribadi ini Howart W. Nitisastra berasal dari Bahasa Sansekerta. Menurut Gorge Terry.dan akhiran –an menjadi kata sifat yaitu sifat-sifat atau kemampuan seorang pemimpin. Menurut Hindu diberi istilah Nitisastra. Keberhasilan seorang pemimpin tidak saja ditentukan oleh penguasaan terhadap ilmu memimpin tetapi juga ditentukan oleh karakter atau pribadi pemimpin tersebut. Niti artinya pemimpin. Kata pimpin medapat awal pe. ajaran. PENGERTIAN Kepemimpinan berasal dari kata pimpin yang artinya bimbing atau tuntun. Selanjutnya kata pemimpin ditambah awalan ke. Istilah lain tentang kepeminpinan adalah Leadership. aturan atau teori. Sedangkan sastra artinya perintah. Dalam berbagai kitab nitisastra banyak mengulas tentang kepemimpinan suatu masyarakat atau tata pemerintahan.

Direkting / Penanggung jawab pelaksana Pendidikan Agama Hindu 21/76 . Seorang pemimpin disamping memiliki tugas dan tanggung jawab dia juga warus memiliki wewenang untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya tersebut. Kelebihan dalam menggunakan rasio atau pikiran. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut maka konsep Catur Purusha Artha menjadi landasan. Dharma. Berlandaskan Dharma kemudian mencari artha ( materi ). FUNGSI. 3. Planning / Perencana Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk merencanakan segala sesuatu yang harus dikerjakan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Jadi sangatlah keliru jika harta yang telah diperoleh dengan Dharma hanya digunakan untuk memenuhi keinginan ( kama ) di luar hukum dharma. 2. Kelebihan dalam bidang rohaniah. maka kepemimpinan Hindu bertujuan agar seorang pemimpin dapat menghantarkan kelompok. Pengertiannya adalah bahwa dalam mencapai tujuan tertinggi yaitu moksa ( kebahagiaan tertinggi). Kelebihan dalam bidang jasmaniah. 2. C. Kama dan Moksa. Selanjutnya kebutuhan hidup yang utama harus dicapai adalah moksa / kebahagiaan. 3. Catur Purushartha yaitu empat tujuan hidup manusia yang utama yaitu .1. D. Artha. Artha yang diperoleh berdasarkan dharma digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup ( kama). Organisation / Penataan Seorang pemimpin memiliki tugas untuk mampu menata dan menempatkan anggota /orang-orang dibawah pimpinannya pada tugas dan fungsi yang tepat sesuai dengan tingkat pengetahuan dan kompetensinya. TUGAS DAN WEWENANG PEMIMPIN. TUJUAN KEPEMIMPINAN HINDU Sebagaimana tujuan hidup menurut konsep Hindu yaitu moksartham jagat hita. harus diawali dengan menjalankan Dharma ( kebenaran agama). Tugas dan wewang pemimpin adalah : 1. masyarakat atau negara yang dipimpinnya mencapai keadaan bahagia lahir dan batin.

artinya sebagaimana sifat bulan. E. Pengawasan yang lemah serta tidak ada evaluasi maka dapat dipastikan bahwa tujuan tidak akan dapat tercapai. Ajaran tentang kepemimpinan Hindu antara lain : 1. Asta Brata artinya delapan sikap mental seorang pemimpin yang merupakan cerminan dari delapan sifat dewa. penguasa hujan. 5. serta menjadi simbol semangat dan kekuatan hidup bagi negerinya.Pemimpin bertanggung jawab dan berusaha agar rencana yang telah ditetapkan dapat berhasil dengan baik. Seorang pemimpin harus mampu memberikan kemakmuran pada rakyatnya. KEPEMIMPINAN HINDU Dalam ajaran Hindu banyak konsep-konsep serta pedoman-pedoman yang harus menjadi tuntunan bagi seorang pemimpin. terdiri dari : a. b. seorang pemimpin harus memberikan keteduhan dan rasa aman dan nyaman bagi rakyatnya. Yama Brata. sehingga tujuan dapat tercapai dengan baik. Controlling / Pengawasan Setiap pelaksanaan tugas yang didelegasikan kepada bawahan harus diawasi dan dievaluasi oleh pimpinan. kemudian menjadi hujan. Pendidikan Agama Hindu 22/76 . Surya Brata. artinya seorang pemimpin harus memberikan pencerahan dan penerangan bagi rakyatnya. 4. d. Indra Brata. sertinya seorang pemimpin harus adil dalam menegakkan hukum dan peraturan. Setiap bagian dalam organisasi memiliki keterkaitan dengan bagian yang lain. Oleh karena itu tiap bagian tidak dapat bekerja sendiri harus ada koordinasi dengan bagian yang lain. Coodination / Koordinasi Pemimpin bertugas untuk mengkoordinir semua anggota agar dapat bekerjasama sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. artinya seorang pemimpin harus memiliki sifat seperti Dewa Indra. Candra Brata. Dalam kaitan ini pemimpin harus memiliki kepekaan atas segala masukan positif dari bawahan. sebagaimana hujan yang berasal dari air laut menguap keatas menjadi awan. c. Asta Brata Asta Brata adalah ajaran Sri Rama Kepada Gunawan Wibisana pada saat akan menjadi Raja Alengka Pura setelah Rahwana mati. Tidak melupakan bahwa raja juga berasal dari rakyat biasa.

tetapi harus mengetahui secara detail terutama kondisi rakyat jelata. kejahatan dan sebagainya. maka seorang pemimpin harus mengetahui segala keadaan rakyatnya. atau dibalik meja . h. Bayu Brata. sebagaimana sifat angin selalu ada dimana-mana dan bergerak ke segala arah. Baruna Brata. Kuwera Brata. artinya pemimpin harus berani dan pantang mundur menghadapi segala tantangan. pengangguran. f. Pemimpin tidak hanya duduk di singgasana. artinya seorang pemimpin harus dapat mengelola keuangan secara tepat.e. Pendidikan Agama Hindu 23/76 . Agni Brata. g. tidak boros dan tidak korupsi. artinya seorang pemimpin harus dapat membersihkan segala penyakit masyarakat seperti kemiskinan.

teguh hati dalam segala usaha. h. memiliki moral yang luhur. k. g. yaitu sabar dan rendah hati.2. Wicaksanengnaya. n. hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. b. Tansatrsna. Sakya Samanta. d. yaitu penuh pertimbangan dan jeli dalam menghadapi setiap masalah. Wagmiwak. terdiri dari : a. Panca Dasa Pramiteng Prabu Adalah 15 ( lima belas ) sifat kepemimpinan yang ditulis oleh Empu Prapanca dalam Kitab Nagara Kertagama. Dhirotsaha. menyayangi isi alam. d. o. Wijayana. Panca Upaya Sandhi Pendidikan Agama Hindu 24/76 . Sifat-sifat inilah yang menjadi pedoman Maha Patih Gajah Mada sehingga berhasil mengawal Majapahit jaya. artinya bijaksana c. f. 3. b. yaitu pandai berkomunikasidan diplomasi. bangsa dan negara. artinya memiliki kemampuan mengontrol bawahan sekaligus memperbaiki hal-hal yang dipandang kurang baik. yaitu pembrani dalam membela negara. Sad Warnaning Rajaniti Artinya enam sifat utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Sarjawa upasama. mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau golongan. teguh iman. Aksudra Parisatha. 4. Natangguan. Prajna. artinya mampu memimpin sidang dan mengambil keputusan yang bijaksana. toleransi dan menghargai pendapat orang lain. yaitu setia dan taan pada atasan. Masihi samasta bhuwana. Nayaken Musuh. i. artinya menjadi penasehat dan abdi negara yang baik. optimis dan antusias. Utsaha. Panca dasa Pramiteng Prabu terdiri dari : a. Atma sampad. Teulelana. c. f. l. m. Ginengpatigina. yaitu bijaksana dalam memimpin. Satya bhakti prabhu. artinya memiliki kreativitas yang tinggi untuk memajukan kepentingan masyarakat. Abhigainika yaitu mampu menarik perhatian yang positif dari masyarakat. yaitu mendapat kepercayaan dari bawahan. j. e. Sumantri. artinya mampu membersihkan musuh-musuh negara. e. Mantri Wira. Dibyacitta.

terdiri dari : a. Indra Jala. yaitu pandai berbicara di depan umum dan pandai berdiplomasi. Sad Warnaning Rajaniti. d. b. yaitu tekun dan ulet. Paramartha. Dalam ajaran Hindu berbagai sifat dan syarat kepemimpinan antara lain. mengkoordinasikan ( coordination). yaitu memiliki kemampuan membedakan yang benar dan salah. Upeksa. artinya melaksanakan upaya penyelesaian sesuai dengan solusi yang telah ditetapkan. i. tidak berdasarkan emosi. Panca Dasa Pramiteng Prabu. dan data yang akurat. Maya. Wruh ring sarwa bastra. yaitu teguh pendirian . dan Nawa Natya. b. Rangkuman Kepemimpinan adalah sifat dan prilaku pemimpin dalam upaya membawa kelompok atau masyarakat yang dipimpin menuju cita-cita atau tujuan bersama yang telah ditetapkan. yaitu memiliki sifat mulia dan luhur. yaitu tidak pamrih pada harta benda. artinya kemampuan untuk mengumpulkan data-data permasalahan yang belum jelas kedudukannya. f. artinya menganalisa data-data yang telah dikumpulkan kemudian mengklasifikasi data secara proporsional. Pragiwakia. Pradnya Widagda. Pendidikan Agama Hindu 25/76 . Logika. c. menata ( organisation). dan mengawasi ( kontroling). yaitu tahu cara mengatasi kerusuhan. Panca Upaya Sandhi tersurat dalam lontar Siwabudha Gama Tattwa. Keberhasilan seorang pemimpin tergantung pada kemampuan ilmu kepemimpinan yang dimiliki serta kemampuan secara pribadi dalam mempedomani dan mengaktualisasikan syarat-syarat kepemimpinan. Wira Sarwa Yudha. h.Artinya lima cara seorang pemimpin untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah. Nawa Natya Artinya sembilan sikap teguh dan pekerti seorang pemimpin. artinya upaya untuk mencari solusi pemecahan masalah yang ada. c. g. Lagawangartha. bijaksana dan memiliki berbagai ilmu pengetahuan. Asta Brata. e. artinya setiap tindakan yang diambil harus berdasarkan pertimbangan akal sehat. 5. Tugas dan fungsi seorang pemimpin adalah mampu untuk merencanakan (planning) . Sama upaya. d. Panca Upaya Sandhi. memimpin langsung ( direkting ). Wiweka. yaitu pemberani dan pantang menyerah. terdiri dari : a. yaitu Selalu setia pada janji. Dhirotsaha. Wikrama. e.

Jawa. Pendidikan Agama Hindu 26/76 . Pelengkap pelaksanaan Upacara Agama ( Yadnya ) Dalam pelaksanaan upacara agama. Dari pemahaman di atas tujuan dan fungsi Dharma Gita adalah : 1. yaitu lima jenis suara dalam Upacara Yadnya. suara mantra. Di India Dharma gita tentu saja memiliki irama khas India. estetika dan etika moral dalam Dharma Gita. suara kul-kul ( kentongan). suara kidung ( Dharma Gita ). 4. Dalam konsep Hindu bahwa seni budaya merupakan sarana untuk meningkatkan cipta dan rasa dalam rangka meningkatkan sradha bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi. Kidung tergolong juga salah satu Dharma Gita. dan etika moral dalam Dharma Gita. estetika. demikian juga di Indonesia Dharma Gita memiliki ragam yang berbeda untuk Daerah Bali. ( khususnya di Bali ) ada yang namanya Panca Paginda. Oleh karena itu maka seni dan budaya masyarakat Hindu tetap dijaga dan dikembangkan tetapi nilai-nilai ajaran kebenaran tetap mewarnainya. Secara umum materi dari Dharma gita biasanya berisi tentang : 1. Kisah-kisah sejarah kepahlawanan ( itihasa ). TUJUAN DAN FUNGSI DHARMA GITA Dharma gita adalah hasil kreasi budaya luhur umat Hindu. Cerita-cerita/dongeng yang berisi ajaran kebenaran. A. Oleh karena itu setiap kegiatan ritual pemujaan kepada Hyang Widhi seni budaya menyatu di dalamnya. PENGERTIAN Dharma gita adalah suatu nyanyian kebenaran yang dinyanyikan dalam pelaksanaan upacara Agama Hindu. termasuk dalam hal ini Dharma Gita.BAB IV DHARMA GITA Standar Kompetensi Memahami nilai-nilai budaya dalam Dharma Gita Tujuan Akhir Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan mampu :  Menguraikan nilai-nilai kebenaran. B. jadi jelas bahwa Dharma Gita sebagai pelengkap Upacara Yadnya. Petuah-petuah luhur sebagai ajaran moral bagi umat Hindu 3. Lombok dan sebagainya.  Menyanyikan Dharma Gita yang mengandung nilai-nilai budaya. Panca Paginda terdiri dari. Kalimantan .  Menunjukkan contoh-contoh nilai kebenaran. Umat Hindu dimana saja termasuk di Indonesia memiliki Dharma Gita sesuai dengan budaya setempat. suara genta/bajra. Pujian kebesaran Hyang Widhi beserta seluruh ciptaannya 2. dan suara gamelan.

Dalam membaca dan melantunkan irama ditentukan pada intonasi serta ketepatan pengejaan dan pemenggalan kata. Bhagawad Gita. Sloka biasanya bersumber dari kitab suci yang umumnya berbahasa Sansekerta. Sloka Biasanya terdiri dari empat baris dalam satu bait dengan jumlah suku kata yang sama setiap barisnya. seperti di Jawa pada setiap kegiatan upacara dilantunkan tembang-tembang jawa . Sarana untuk menciptakan suana suci dan konsentrasi pemujaan Melantunkan Dharma Gita pada pelaksanaan Upacara agama akan menciptakan suana batin yang suci. Kekawin/Kidung/Tembang Pendidikan Agama Hindu 27/76 . c.2. Palawakya Palawakya menggunakan Bahasa Jawa kuno dan berbentuk prosa. Beberapa contoh Dharma Gita : a. Sarasamuscaya. 4. Sarana untuk meningkatkan sradha bhakti Syair-syair Dharma Gita ada yang bersumber langsung dari kitab-kitab suci seperti. Manawa Dharma sastra dan sebagainya. oleh karena itu pengelompokan Dharma gita lebih banyak mengacu pada budaya Bali. Dengan demikian maka dengan melantunkan Dharma gita berarti juga mengingatkan setiap orang tentang ajaran-ajaran agama. C. Disamping itu irama Dharma gita juga biasanya mampu membawa suasana hati yang hening dan tentram 3. Setelah penyebaran Hindu semakin meluas di nusantara maka budaya-budaya lokal mewarnai kegiatan upacara/Yadnya termasuk Dharma gita. Pada masa kini di beberapa daerah dharma gita muncul dari budaya lokal. Hal ini disebabkan karena syair-syair Dharma Gita sesuai dengan jenis Upacara Yadnya yang dilaksanakan. sehingga semakin sering orang melantunkan atau mendengar Dharma Gita maka diharapkan pemahaman tentang ajaran agama semakin meningkat. JENIS-JENIS DHARMA GITA Pada awalnya istilah dharma gita lebih dikenal di Bali. Ada pula merupakan hasil cipta para kawi berisi tentang pemujaan kepada Hyang Widhi. Sarana ajaran moral Disamping untuk kegiatan upacara / yadnya Dharma Gita juga mengandung nasihat-nasihat tentang kesusilaan sehingga dapat dikatakan bahwa dharma gita juga sebagai sarana untuk pendidikan moral bagi masyarakat. b. Juga di kalimantan ada kidung-kidung daerah yang diangkat dalam kelompok Dharma gita. serta konsentrasi pemujaan kepada Hyang Widhi.

Sekar Madya/ kidung 3). Sekar alit / pupuh Pendidikan Agama Hindu 28/76 .Di setiap daerah memiliki jenis-jenis kidung/tembang tersendiri. Sekar Agung / Kekawin 2). di Bali kidung dikelompokkan menjadi : 1).

Tuliskan tiga bait kidung dengan jenis pupuh yang berbeda. tingkat provinsi dan tingkat nasional. sekar madya dan sekar alit. Nusa Tenggara Barat pernah sebagai pelaksana Utsawa Dharma Gita Tingkat nasional pada tahun 2004 yang dipusatkan Kota Mataram. UTSAWA DHARMA GITA Lembaga tertingi Agama Hindu di Indonesia yaitu Parisada Hindu Dharma Indonesia ( PHDI ).D. b. mengembangkan dan memasyarakatkan Dharma gita bagi umat Hindu Indonesia. Carilah di berbagai sumber tentang jenis-jenis sekar agung. yaitu Dharma gita yang dilombakan. Pendidikan Agama Hindu 29/76 . Kegiatan ini dilaksanakan secara berjenjang dari tingkat kota/kabupaten. Pelajari dan lantunkan kidung Kawitan Wargasari c. E. Namun perkembangan berikutnya juga sebagai sarana peningkatan sumber daya manusia umat Hindu dalam pembinaan sradha bhakti maka materi Utsawa Dharma Gita tidak saja lomba untuk Dharma gita tetapi juga ada lomba Dharma Wacana dan Dharma Widya yaitu lomba penguasaan pengetahuan agama bagi siswa tingkat sekolah dasar ( SD ) sampai tingkat sekolah menengah atas ( SMA/SMK ). PENDALAMAN Guna meningkatkan pengetahuan dan kompetensi lakukanlah kegiatan kegiatan berikut : a. secara berkala melaksanakan Utsawa Dharma Gita. Utsawa Dharma gita pada awalnya bertujuan untuk melestarikan. Pelaksanaan Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional biasanya dilaksanakan secara bergilir di beberapa daerah propinsi.

Dari proses awal ini jelas bahwa awal penciptaan awal dilakukan Yadnya yaitu pengorbanan diri Hyang Widhi dari Nirguna Brahma menjadi Saguna Brahma . Selanjutnya semua alam diciptakan secara evolusi melalui Yadnya. dengan ini engkau akan berkembang dan akan menjadi kamadhuk keinginanmu.BAB V YADNYA Standar Kompetensi Memahami Pelaksanaan Yadnya dalam kehidupan Tujuan Akhir Pembelajaran a. A. Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan mampu : b. Pada dasarnya Yadnya adalah penyangga dunia dan alam semesta. Secara etimologi pengertian Yadnya adalah korban suci secara tulus ikhlas dalam rangka memuja Hyang Widhi. Pemahaman ini tentu tidak salah karena upacara ritual keagamaan adalah bagian dari yadnya. PENGERTIAN DAN HAKEKAT YADNYA Pada awalnya banyak orang mengartikan bahwa yadnya semata upacara ritual keagamaan. sloka 10 disebutkan : saha-yajòàá prajàh såûþwà purowàca prajàpatih. Kesempurnaan dan kebahagiaan tak Pendidikan Agama Hindu 30/76 . anena prasawiûyadham eûa wo ‘stw iûþa-kàma-dhuk artinya : Dahulu kala Prajapati ( Hyang Widhi ) menciptakan manusia dengan yajnya dan bersabda. Menguraikan hakikat dan tujuan yadnya c. lebih dari itu segala aktivitas manusia dalam rangka sujud bhakti kepada hyang Widhi adalah Yadnya. Pada dasarnya Yadnya bukanlah sekedar upacara keagamaan. Dari satu sloka di atas jelas bahwa manusia saja diciptakan melalui yadnya maka untuk kepentingan hidup dan berkembang serta memenuhi segala keinginannya semestinya dengan yadnya. Menyebutkan bentuk-bentuk pelaksanaan Yadnya dalam kehidupan nyata dan kehidupan masyarakat. Mengaplikasikan nilai-nilai Yadnya dalam kehidupan nyata dan kehidupan masyarakat. karena alam dan manusia diciptakan oleh Hyang Widhi melalui Yadnya. Manusia harus berkorban untuk mencapai tujuan dan keinginannya. Dalam Bhagawadgita Bab III. Pada masa srsti yaitu penciptaan alam Hyang Hidhi dalam kondisi Nirguna Brahma ( Tuhan dalam wujud tanpa sifat ) melakukan Tapa menjadikan diri beliau Saguna Brahma ( Tuhan dalam wujud sifat Purusha dan Pradhana ). Yadnya berasal dari Bahasa Sansekerta dari akar kata “Yaj” yang artinya memuja. d.

Pengorbanan dalam hal ini bukan saja dalam bentuk materi. dan tamas ) orang akan saling mempengaruhi. Jika kita bersikukuh tidak rela kainnya dipotong dan dibuang sebagian maka sangat mustahil akan memperoleh sepotong baju. dan senantiasa bersyukur dan berterima kasih kepada Sang Pencipta. dan lain-lain termasuk nyawa sendiri dapat digunakan sebagai korban. B. Oleh karena itu tujuan Yadnya adalah : 1. Untuk Penyucian Untuk mencapai kebahagiaan maka hidup ini harus suci. Pendidikan Agama Hindu 31/76 . Pribadi dan jiwa manusia dalam aktivitasnya setiap hari berinteraksi dengan sesama manusia dan alam lingkungan akan saling berpengaruh. Tentu saja pengorbanan ini harus dilandasi rasa cinta. Tanpa dasar tersebut maka suatu pengorbanan bukanlah yadnya. TUJUAN YADNYA Dalam banyak sloka dari berbagai kitab menyatakan bahwa alam semesta beserta segala isinya termasuk manusia. maka kain yang utuh tersebut harus direlakan untuk dipotong sesuai dengan pola yang selanjutnya potongan-potongan tersebut dijahit kembali sehingga berwujud baju. pengetahuan. Dari gambaran sederhana di atas dapat diambil kesimpulan bahwa demi mencapai kebahagiaan dan kesempurnaan hidup maka kita harus rela mengorbankan sebagian dari milik kita. peningkatan kualitas diri. sembahyang. Paling tidak empat hal yang harus dilakukan manusia yaitu. dipelihara dan dikembangkan melalui yadnya.mungkin akan tercapai tanpa ada pengorbanan. Untuk mencapai kebahagiaan maka manusia harus memiliki imbangan Guna Satwam yang tinggi. Dalam rangka mencapai tujuan tertinggi tersebut manusia harus melakukan aktivitas dan berkarma. seperti. diciptakan . sifat. Tanpa kesucian sangat mustahil keharmonisan dan kebahagiaan itu dapat tercapai. Hyang Widhi akan merajut potonganpotongan pengorbanan kita dan menjadikannya sesuai dengan keinginan kita. tulus dan ikhlas. korban pikiran. Guna ( sifat satwam. Empat hal di atas semuanya dapat dicapai melalui Yadnya. Jika manusia dan alam memiliki tingkatan guna satwam yang lebih banyak maka keharmonisan alam akan terjadi. ucapan. rajas. tindakan . Oleh karena itu maka yadnya yang dilakukan oleh manusia tentu bertujuan untuk mencapai tujuan hidup manusia menurut konsep Hindu yakni Moksartham jagat hita ( Kebahagiaan sekala dan niskala ). Contoh sederhana bila kita memiliki secarik kain dan berniat untuk menjadikannya sepotong baju. Melalui Yadnya kita dapat menyucikan diri dan juga menyucikan lingkungan alam sekitar. Pribadi dan jiwa manusia harus dibersihkan dari guna rajas dan guna tamas. penyucian diri. demikian juga “guna” alam akan mempengaruhi manusia. Sedangkan potongan yang tidak diperlukan tentu harus dibuang. Segala aspek yang dimiliki manusia dapat dikorbankan sebagai yadnya.

Widyatapobhyam bhutatma buddhir jnanena suddhayanti” Pendidikan Agama Hindu 32/76 .109 menyatakan : “ Adbhirgatrani suddhayanti mana satyena suddhayanti.Kitab Manawa Dharmasastra V.

jiwa manusia dibersihkan dengan pelajaran suci dan tapa brata. Artinya : Diantara semua mahluk hidup . Dengan demikian setiap yadnya yang kita lakukan hasilnya adalah terjadinya peningkatan kualitas jiwatman. pikiran disucikan dengan kebenaran. Hanya dilahirkan sebagai manusia memiliki sabda. Lingkungan yang suci akan memberikan kehidupan yang suci juga bagi manusia. kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan yang benar. dan idep dapat melakukan perbuatan baik sebagai cara untuk meningkatkan kualitas jiwatman. 2. phalaning dadi wwang. Laksanakan kewajiban diri sendiri dengan penuh kesadaran dan keihlasan sehingga masuk dalam kelompok yadnya. kunéng panéntasakéna ring çubhakarma juga ikangaçubhakarma. iking janma wwang juga wénang gumawayakén ikang çubhàçubhakarma. Oleh karena itu jadikanlah aktivitas sehari-hari kita sebagai yadnya. bayu . oleh karena itu leburlah ke dalam perbuatan baik . sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Sarasamuscaya sloka 2 sebagai berikut : Ri sakwehning sarwa bhùta. Demikian pula setiap kelahiran bertujuan untuk meningkatkan kualitas jiwatman sehingga tujuan tertinggi yaitu bersatunya atman dengan brahman ( brahman atman aikyam ) dapat tercapai. Dari sloka di atas jelas kewajiban hidup manusia adalah untuk selalu meningkatkan kualitas diri melalui perbuatan baik. hanya yang dilahirkan sebagai manusia saja yang dapat melaksanakan perbuatan baik atau perbuatan buruk. Untuk meningkatkan kualitas diri Setiap kelahiran manusia selalu disertai oleh karma wasana. 3. Sebagai sarana menghubungkan diri dengan Tuhan Pendidikan Agama Hindu 33/76 . demikianlah gunanya menjadi manusia. Dengan demikian maka setiap kegiatan yang kita lakukan selalu memberikan kesucian pada diri pribadi. Demikian juga untuk kesucian alam dan lingkungan lakukan upacara/ ritual sesuai dengan sastra agama sehingga kita akan senantiasa berada pada lingkungan yang suci.Artinya : Tubuh dibersihkan dengan air. segala perbuatan yang buruk itu. Perbuatan baik yang paling utama adalah melalui Yadnya.

memuja Hyang widhi maka tujuan tertinggi pasti akan tercapai sebagaimana sabda Tuhan dalam Bhagawad Gita Bab IX sloka 34 : Pusatkan pikiranmu pada-Ku. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi manusia bijak untuk tidak bersyukur dan tidak berterima kasih kepada Sang Pencipta. Dengan olah rasa yang baik maka rasa syukur merupakan salah satu motivasi utama untuk selalu berbuat kebajikan. dan dengan mendisiplinkan dirimu serta menjadikan-Ku sebagai tujuan. Oleh karena itu hidup manusia dalam rangka mencapai tujuannya tidak akan lepas dari tuntunan dan kekuasaan Tuhan. Cara paling sederhana menghubungkan diri dengan Tuhan adalah sembahyang. serta hari suci lainnya ) salah satu tujuan utamanya sebagai Pendidikan Agama Hindu 34/76 . Ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Hyang Widhi itulah dilakukan dengan Yadnya Bekerja dengan benar dan giat. 4. odalan. Jika dalam kehidupan kita senantiasa dapat memusatkan pikiran. berada pada lingkungan sosial yang baik . maupun berkala ( rahinan. Manusia memiliki rasa dan pikiran dan dalam tatanan kehidupan sosial terikat pada aturan susila dan moral. serta kehidupan yang kita terima. Untuk menjaga agar senantiasa jalan kehidupan kita pada arah yang benar dan selalu mendapat sinar suci serta tuntunan Hyang Widhi maka haruslah kita selalu menjalin hubungan yang harmonis dengan Tuhan.Alam semesta dengan segala isinya termasuk manusia adalah ciptaan Hyang Widhi. berbaktilah pada-Ku. Yadnya dalam kegiatan karma keseharian adalah sarana untuk menghubungkan diri dengan Tuhan. memahami dan melaksanakan Yadnya. menolong orang yang kesusahan. rejeki. Sebagai ungkapan rasa terima kasih. Satusatunya cara agar kita selalu dapat menghubungkan diri dengan Maha Pencipta adalah dengan mempelajari. dilahirkan pada keluarga yang satwam. maturan sehari-hari dsb ). sebagaimana dalam ajaran Tri Hita Karana. Untuk senantiasa dapat memusatkan pikiran dan memuja Hyang Widhi tidaklah mudah. adalah suatu yang luar biasa. dan tunduklah padaKu. Kita diberikan hidup sebagai manusia. Perlu kedisiplinan dan keihlasan dalam menjalaninya. Terlebih Yadnya dalam bentuk Upacara/ritual jelas merupakan wujud nyata usaha menghubungkan manusia dengan Sang Penciptanya. dan kegiatan lain yang didasari pengabdian dan rasa ikhlas adalah salah satu contoh ungkapan rasa syukur dan ucapan terima kasih atas anugrah Tuhan untuk kesehatan. Sembahyang artinya menyembah Hyang Widhi. dan diciptakan bersama bumi yang penuh keindahan dan kedamaian. belajar giat. engkau akan sampai kepada-Ku. Upacara/ritual yang dilakukan Umat Hindu baik yang bersifat rutin (contohnya ngejot. keselamatan diri.

Jika manusia dalam melakoni hidup penuh keserakahan dan mengabaikan prinsip-prinsip Dharma maka kehancuran pasti terjadi.16 dijelaskan : Di dunia ini. yaitu hutang hidup kepada Hyang Widhi yang telah menciptakan alam semesta termasuk diri kita. Yadnya menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Hyang Widhi. Butha Yadnya dilakukan untuk memelihara alam lingkungan sebagai tempat kehidupan semua mahluk. Dewa. Dewa Yadnya dalam bentuk pemujaan kepada Hyang Widhi serta melaksanakan Dharma. bahkan bakteri dan kumanpun semuanya memiliki tugas dan fungsi tersendiri dalam memutar kehidupan ini. memperturutkan nafsu semata Pàrtha dan mengalami penderitaan. Leluhur dan orang tua sangat memiliki peranan besar atas kehidupan kita saat ini. manusia. bintang. III. 5. Tri Rna terdiri dari : a. b. Alam dengan segala isinya memiliki keterkaitan dan ketergantungan satu sama lain. Dalam Bhagawad Gita . pada dasarnya bersifat jahat. Oleh karena itu manusia sebagai bagian alam semesta mempunyai kewajiban untuk menjalankan tugas dan fungsinya untuk ikut menciptakan keharmonisan kehidupan. binatang. Hanya dengan Yadnya keharmonisan alam dapat tercipta. Tri Rna ini dibayar dengan pelaksanaan Panca Yadnya. Untuk semua ini wajib kita bayar dengan Dewa Yanya dan Bhuta Yadnya. Perlu diingat bahwa Yadnya tidak semata-mata dilaksanakan dengan upakara/ritual. wahai Agar perputaran roda kehidupan ini berjalan dengan harmonsi maka peranan manusia sangat penting. tumbuhan. Sekecil apapun ciptaan-Nya memiliki fungsi tersendiri dalam kehidupan ini. Asura. bulan. Rsi Rna dilunasi dengan melaksanakan Rsi Yadnya. yaitu hutang kepada para Rsi yang mengorbankan kehidupannya sehingga dapat memberikan pencerahan kepada manusia melalui ajaran-ajarannya sehingga manusia dapat menjalani hidup dengan lebih baik. Dewa Rna. Dalam melaksanakan Yadnya ada tiga kewajiban utama yang harus dilunasi manusia atas keberadaannya di dunia ini yang disebut Tri Rna ( tiga hutang hidup). Pitra Rna. Rsi Rna. manusia dengan sesamanya dan keharmonisan hubungan manusia dengan alam.ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Hyang Widhi atas semua anugrah Beliau. Karma leluhur dan orang tua berpengaruh terhadap keberadaan Pendidikan Agama Hindu 35/76 . Untuk menciptakan kehidupan yang harmonis Hyang Widhi menciptakan alam dengan segala isinya untuk memutar kehidupan. c. yaitu hutang kepada orang tua dan leluhur. mereka yang tidak ikut memutar roda kehidupan ini.

Paling tidak kelahiran kita di dunia karena adanya leluhur dan orang tua. Membayar hutang kepada orang tua dan leluhur dilakukan dengan Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya Pendidikan Agama Hindu 36/76 . Oleh karena itu maka sudah menjadi kewajiban untuk membalas hutang tersebut.setiap orang.

C. BENTUK DAN JENIS YADNYA 1. Bentuk – bentuk Yadnya Kitab Bhagawad Gita dalam berbagai sloka menjelaskan bahwa bentuk-bentuk yadnya terdiri dari : a. Yadnya dalam bentuk persembahan/Upakara b. Yadnya dalam bentuk pengendalian diri/tapa c. Yadnya dalam bentuk aktivitas/karma d. Yadnya dalam bentuk harta benda / kekayaan/punia e. Yadnya dalam bentuk ilmu pengetahuan/jnana Sampai saat ini di Indonesia khususnya di Bali hampir sebagian besar umat Hindu masih mengartikan dan mengutamakan bahwa yadnya adalah upacara/ritual. Padahal upakara/ritual itu adalah salah satu bagian dari bentukbentuk yadnya. Sangat sedikit Umat Hindu di Indonesia yang memberikan proporsional untuk melaksanakan bentuk-bentuk yadnya yang lainnya. Hindu memberikan keluasan kepada pemeluknya dalam beryadnya sesuai dengan kondisi dan kemampuan yang ada dengan peluang kesempatan hasil yang sama. Dengan demikian apapun bentuk yadnya yang kita lakukan sepanjang sesuai dengan konsep Dharma maka akan memperoleh hasil yang maksimal. 2. Jenis-jenis Yadnya Secara garis besar yadnya dapat kelompokkan sebagai berikut : a. Dari segi waktu pelaksanaan Yadnya dapat dibedakan : 1). Nitya Yadnya Yaitu yadnya yang dilakukan secara rutin setiap hari. Yadnya ini antara lain; dalam bentuk persembahan yang berupa yadnya sesa, atau persembahyangan sehari-hari. Sedangkan bagi sulinggih melakukan Surya Sewana. Yadnya dalam bentuk yang lain dapat dilaksanakan melalui aktivitas sehari-hari. Bagi seorang siswa kewajiban sehari-hari adalah belajar , bila dilakukan dengan penuh ikhlas merupakan yadnya. Bagi seorang petani, tukang, pegawai dan sebagainya yang melaksanakan tugas sehari-hari dengan konsentrasi persembahan kepada Tuhan disertai keikhlasan juga merupakan Nitya Yadnya. 2). Naimitika Yadnya Yaitu Yadnya yang dilaksanakan secara berkala/ waktu-waktu tertentu. Khusus untuk yadnya ini terutama yadnya dalam bentuk persembahan /upakara yaitu Upacara Piodalan, Sembahyang Purnama dan Tilem, Hari Raya baik menurut wewaran maupun sasih. Bagi bentuk yadnya yang lain tergantung kebiasaan pribadi perorangan/kelompok orang. Ada orang pada setiap hari raya tertentu Pendidikan Agama Hindu 37/76

melaksanakan tapa brata sebagai wujud yadnya pengendalian diri. Ada pula yang pada waktu tertentu setiap tahun atau setiap bulan melakukan dana punia baik dihaturkan kepada sulinggih, orang tidak mampu dan sebagainya. Disamping itu ada juga bentuk yadnya yang dilaksanakan secara insidental sesuai kebutuhan dengan waktu yang tidak tetap/ tidak rutin. Contohnya upacara ngaben, nangluk merana, tirtayatra. Demikian juga bentuk yadnya yang lain adakalanya dilakukan tidak dengan jadwal waktu tertentu. Misalkan jika ada ujian sekolah ada siswa / mahasiswa yang puasa. Ada orang yang tanpa diduga memperoleh rejeki yang lebih , maka sebagian dipuniakan untuk pura atau untuk panti asuhan.

b. Berdasarkan nilai materi / jenis bebantenan suatu yadnya digolongkan menjadi : 1). Nista, artinya yadnya tingkatan kecil yang dapat di bagi lagi menjadi :  Nistaning nista, adalah terkecil dari yang kecil  Madyaning nista, adalah tingkatan sedang dari yang kecil.  Utamaning Nista, adalah tingkatan terbesar dari yang kecil 2). Madya, yaitu yandnya tingkatan sedang yang dapat dibagi lagi menjadi :  Nistaning Madya, adalah tingkatan terkecil dari yang sedang.  Madyaning madya, adalah tingkatan sedang dari yang sedang.  Utamaning madya, adalah tingkatan terbesar dari yang sedang. 3). Utama, yaitu yadnya tingkatan besar yang dapat dibagi menjadi :  Nistaning utama, adalah tingkatan terkecil dari yang besar  Madyaning Utama, adalah tingkatan sedang dari yang besar.  Utamaning Utama, adalah tingkatan terbesar dari yang besar.

c. Sedangkan apabila ditinjau dari tujuan pelaksanaan atau kepada siapa yadnya tersebut dilaksanakan, dapat digolongkan menjadi : 1). Dewa Yadnya 2). Rsi Yadnya 3). Pitra Yadnya 4). Manusa Yadnya 5). Bhuta Yadnya Kelima jenis yadnya di atas dikenal dengan istilah Panca Yadnya. Uraian mengenai Panca Yadnya akan dibahas tersendiri setelah bagian ini.

Pendidikan Agama Hindu

38/76

d. Dari segi kualitas yadnya dapat dibedakan atas: 1). Satwika Yadnya yaitu yadnya yang dilaksanakan dasar utama sradha bakti, lascarya, dan semata melaksanakan sebagai kewajiban. Apapun bentuk yadnya yang dilakukan seperti; persembahan, pengendalian diri, punia, maupun jnana jika dilandasi bakti dan tanpa pamrih maka tergolong Satwika Yadnya. Yadnya dalam bentuk persembahan / upakara akan sangat mulia dan termasuk satwika jika sesuai dengan sastra agama, daksina, mantra, Annasewa, dan nasmita. 2). Rajasika Yadnya yaitu yadnya dilakukan dengan motif pamrih serta pamer kemewahan, pamer harga diri, bagi yang melakukan punia berharap agar dirinya dianggap dermawan. Seorang guru/pendarmawacana memberikan ceramah panjang lebar dan berapi-api dengan maksud agar dianggap pintar; semua bentuk yadnya dengan motif di atas tergolong rajasika yadnya. Seorang yang melakukan tapa, puasa tetapi dengan tujuan untuk memperoleh kekayaan, kesaktian fisik, atau agar dianggap sebagai orang suci juga tergolong yadnya rajasik. 3). Tamasika Yadnya yaitu yadnya yang dilaksanakan tanpa sastra, tanpa punia, tanpa mantra dan tanpa keyakinan. Ini adalah kelompok orang yang beryadnya tanpa arah tujuan yang jelas,hanya ikut-ikutan. Contoh orang-orang yang tegolong melaksanakan tamasikan yadnya antara lain orang yang pergi sembahyang ke pura hanya ikut-ikutan, malu tidak ke pura karena semua tetangga pergi ke pura, orang gotong royong di pura atau di tempat umum juga hanya ikut-ikutan tanpa menyadari manfaatnya. Termasuk dalam katagori ini adalah orang yang beryadnya karena terpaksa. Terpaksa maturan karena semua orang maturan. Terpaksa memberikan punia karena semua orang melakukan punia. Terpaksa puasa karena orang-orang berpuasa. Jadi apapun yang dilaksanakannya adalah sia-sia, tiada manfaat bagi peningkatan karmanya. Jenis-jenis yadnya di atas diuraikan dalam Kitab Bhagawad Gita dalam beberapa sloka. Untuk Yadnya yang berbentuk persembahan/upakara akan tergolong kualitas Satwika bila yadnya dilaksanakan berdasarkan :  Sradha, artinya yadnya dilaksanakan dengan penuh keyakinan  Lascarya, yaitu yadnya dilaksanakan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sedikitpun.  Sastra, bahwa pelaksanaan yadnya sesuai dengan sumber-sumber sastra yang benar.  Daksina, yaitu yadnya dilaksanakan dengan sarana upacara serta punia kepada pemuput yadnya/manggala yadnya. Pendidikan Agama Hindu 39/76

Tidak ada gunanya yadnya yang besar tetapi bersifat rajas atau tamas. b. bahwa yadnya yang dilaksanakan bukan untuk memamerkan kekayaan dan kemewahan Apapun jenis yadnya yang kita lakukan seharusnya yang menjadi tolok ukur adalah kualitas yadnya. Kitab Manawa Dharmasastra Kitab Manawa Dharmasastra memberikan penjelasan tentang Panca Yadnya sebagai berikut : a. yaitu yadnya untuk para bhuta b. Pelaksanaan Panca yadnya adalah sebagai realisasi dalam melunasi kewajiban manusia yang hakiki yaitu Tri Rna ( tiga hutang hidup ). namun pada intinya memiliki kesatuan tujuan yang sama. adalah persembahan yang dilaksanakan dengan belajar dan mengajar secara tulus ikhlas.  D. adalah persembahan tarpana dan air kepada leluhur. Bhuta Yadnya. Pendidikan Agama Hindu 40/76 . adalah pelaksanaan upacara bali untuk butha.Mantra dan gita. Brahma yadnya. yaitu persembahan yang ditujukan untuk leluhur ( disebut swadha). Bhuta Yadnya. adalah persembahan minyak dan susu kepada para dewa. yaitu dengan melantunkan doa-doa serta kidung suci sebagai pemujaan. Dengan jamuan maka karma dari doa para tamu undangan menjadi milik sang yajamana. e. e. Penjelasan-penjelasan tersebut antara lain : 1. yaitu persembahan kepada para dewa ( disebut swaha ). Pitra Yadnya. Dalam beberapa kitab dan pustaka memberikan penjelasan tentang Panca Yadnya yang berbeda.  Annasewa. yaitu persembahan makanan untuk sesama manusia. Kitab ini merupakan bagian dari Reg Weda. c. menjelaskan panca yadnya sebagai berikut : a. Kitab Sathapata Brahmana. Manusa Yadnya. Brahma Yadnya. d. yaitu yang dilaksanakan dengan mempelajari pengucapan mantram cusi weda. Jamuan ini penting karena setiap tamu yang datang ikut berdoa agar pelaksanaan yadnya berhasil. adalah penerimaan tamu dengan ramah-tamah.  Nasmita. c. Sedangkan kualitas yadnya yang harus dicapai setiap pelaksanaan yadnya adalah Satwika Yadnya. Dewa Yadnya. PANCA YADNYA Panca Yadnya adalah lima macam korban suci dengan tulus ikhlas yang wajib dilakukan oleh umat Hindu. 2. d. artinya memberikan jamuan kepada tamu yang menghadiri upacara. Dewa yadnya. Pitra Yadnya. Nara Yadnya .

Lontar Agastya Parwa Penjelasan tentang Panca Yadnya dari lontar Agastya Parwa adalah yang menjadi acuan utama pelaksanaan yadnya di Indonesia. Dewa Yadya. adalah persembahan yang tulus iklhas kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya. d. Dewa Yadnya. Bhuta Yadnya. d. Pelaksanaan Dewa Yadnya dapat dilakukan dengan berbagai bentuk. 4. e. f. Dalam lontar Korawa Srama terdapat penjelasan Panca yadnya sebagai berikut: b. Rsi Yadnya. Manusa Yadnya. Bhuta Yadnya. yaitu upacara kematian agar roh yang meninggal mencapai alam Siwa. Pitra Yadnya. adalah persembahan punia. Tetapi dalam konteks pengertian dan pelaksanaannya mengacu pada penjelasan-penjelasan Kitab Weda sehingga di Indonesia Panca Yadnya dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. yaitu persembahan dengan menghormati pendeta dan membaca kitab suci. dan barang yang tidak mudah rusak kepada para Maha Rsi. Manusa Yadnya adalah persembahan makanan kepada masyarakat. yaitu persembahan dengan minyak dan biji-bijian kehadapan Dewa Siwa dan Dewa Agni di tempat pemujaan dewa. Dewa Yadnya dilaksanakan terutama dalam rangka memenuhi kewajiban Dewa Rna. e. yakni hutang hidup kepada Ida Sang Hyang Widhi. keikhlasan. Dari beberapa sumber di atas yang lebih tepat digunakan sebagai dasar pelaksanaan yadnya di Indonesia adalah Lontas Agastya Parwa. yaitu persembahan dengan memberi makanan kepada masyarakat. Aktivitas kehidupan sehari-hari dapat diwujudkan menjadi yadnya dengan cara melaksanakan semua aktivitas yang didasari oleh kesadaran. Rsi Yadnya. makanan. Pitra Yadnya adalah mempersembahkan puja dan banetn kepada leluhur. penuh tanggung jawab dan menjadikan aktivitas tersebut sebagai persembahan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagaimana sabda Tuhan melalui Bahagawad Gita dalam beberapa sloka seperti : Pendidikan Agama Hindu 41/76 . c. Dewa Yadnya. Menurut lontar ini Panca yadnya adalah : a. buah-buahan. adalah persembahan dengan sesajen dan mengucapkan Sruti dan Stawa pada waktu bulan purnama. c.3. b. adalah mempersembahkan puja dan banten kepada bhuta. Lontar Korawa Srama a. yaitu persembahan dengan mensejahterakan tumbuhan dan menyelenggarakan upacara tawur serta upacara panca wali krama.

III. wahai putra Kunti ( Arjuna). Oleh karena itu. Saktàá karmaóy awidwàmso yathà kurwanti bhæata. lakukanlah selalu kegiatan kerja yang harus dilakukan. Kuryàd widwàýs tathàsaktaú cikìrûur loka-saògraham ( Bhagawad Gita.9 ) Artinya: Kecuali kerja yang dilakukan sebagai dan untuk tujuan pengorbanan. tanpa keterikatan.19 ) Artinya: Oleh karena itu. karena dengan melakukan kerja tanpa pamrih seperti itu membuat manusia mencapai tingkatan tertinggi. dunia ini terbelenggu oleh kegiatan kerja.Yajòàathàt karmano ‘nyatra loko ‘yaý karma-bandhanah. tetapi tanpa pamrih dan semata-mata dengan keinginan untuk memelihara kesejahteraan tatanan dunia ini saja. Pendidikan Agama Hindu 42/76 . Tad-artham karma kaunteya mukta-saògaá samàcara ( Bhagawad Gita. III. Asakto hy àcaran karma param àpnoti pùrsaá ( Bhagawad Gita. lakukanlah kegiatanmu sebagai pengorbanan dan jangan terikat dengan hasilnya.25 ) Artinya: Seperti orang bodoh yang bekerja karena pamrih dari kegiatannya. wahai ( Arjuna ). demikian pula hendaknya orang Bhàrata terpelajar bekerja. Tasmàd asaktaá satataý kàryaý karmasamàcara. III.

adalah pengorbanan yang tulus ikhlas untuk para leluhur dan orang tua. atau beryadnya dalam bentuk jnana (pengetahuan). yaitu upacara tingkat berikutnya yang bertujuan lebih menyempurnakan jiwatman yang telah diabenkan dari alam surga menuju alam dewa/moksa. mukur. 3. Dalam melaksanakan upacara seharusnya sang yajamana menghaturkan punia daksina pada sulinggih/ pemuput karya yang sesuai. Bentuk atma wedana antara lain. Sedangkan bentuk lain Rsi Yadnya adalah dengan melaksanakan ajaran-ajaran suci para rsi. dibakar ( mekingsan ring geni) dsb. Pendidikan Agama Hindu 43/76 . Oleh karena itu hutang hidup ini harus dibayar dengan bentuk Upacara Pitra Yadnya. ngeroras. maligia. Pitra yadnya wajib dilakukan untuk membayar hutang hidup kepada orang tua dan leluhur yang disebut Pitra Rna. Bentuk asti wedana adalah :  Sawa Wedana yaitu upacara ngaben bila yang dibakar adalah jenasah. sebab jika tidak maka karma baik atas upacara yadnya yang dilaksanakan akan menjadi milik sang pemuput karya. Upacara ini dikenal juga dengan nama SWASTA. Pitra Yadnya. Di Bali Upacara Pitra Yadnya dikenal memiliki beberapa tingkatan seperti : a.  Asti Wedana yaitu upacara pengabenan dengan membakar jenasah yang sudah berbentuk tulang ( sudah dikubur terlebih dahulu). yakni upacara perawatan dan penyelesaian jenasah seperti dikubur ( mekingsan ring pertiwi ).  Ngerca Wedana yaitu upaca ngaben dengan membakar simbol sebagai pengganti tulang/jenasah orang yang sudah meninggal. atau meninggal tetapi jenasahnya tidak ditemukan ( misalnya meninggal di laut atau di hutan ).Selanjutnya jika kita beryadnya dalam bentuk dana/harta . hormat dan bakti serta melayani para sulinggih/ orang suci secara tulus ikhlas. adalah persembahan yang tulus ikhlas kepada para rsi dan orang suci. Upacara ini biasanya dilakukan untuk orang yang waktu meninggal telah mekingsan ring geni. c. Rsi Yadnya. Sawa Prateka. atau yadnya dalam bentuk tapa serta yadnya dalam bentuk persembahan/upakara haruslah dilakukan dengan ikhlas dan tanpa pamrih. atau juga jenasah yang dikubur tetapi tulangnya tidak ditemukan.Tanpa ada leluhur dan orang tua sangat mustahil kita akan lahir di dunia ini. Dalam Kitab Suci Bhagawad Gita banyak dijelaskan berbagai bentuk yadnya yang Satwika. Contoh Rsi Yadnya yang berbentuk Upakara adalah Rsi Bojana. Menurut Hindu atas jasa para rsi dan orang suci ini menyebabkan kita memiliki hutang yang disebut Rsi Rna. Asti Wedana yaitu tingkatan upacara pitra yadnya yang lebih tinggi yang umumnya disebut NGABEN. b. Pelaksanaan yadnya ini sebagai wujud terima kasih atas segala jasa yang telah diberikan oleh para rsi dan orang suci pada kita . Atma Wedana. Jika semua yadnya yang dilaksanakan dengan tujuan sebagai persembahan kepada Tuhan maka jadilah yadnya tersebut Satwika. 2.

4. Manusia sebagai mahluk yang memiliki sabda. Tujuan bhuta yadnya adalah agar para bhuta kala “somya”. Demikian pula memberikan dana punia untuk pendidikan anak bagi keluarga tidak mampu atau melaksanakan bhakti sosial pengobatan bagi masayarakat kurang mampu juga termasuk manusa yadnya. upacara. PENILAIAN YADNYA Pendidikan Agama Hindu 44/76 . hutan lindung. Jika memahami pengertian manusa yadnya. Menurut konsep Hindu bahwa semua yang ada di dunia ini adalah ciptaan Hyang Widhi yang memiliki fungsi tersendiri dalam memutar roda kehidupan. adalah pengorbanan yang tulus iklhas untuk para butha agar tercipta kedamaian dan keharmonisan hidup di dunia. Jadi pitra yadnya dalam kaitan kewajiban sebagai siswa adalah dengan belajar sebaikbaiknya sebagaimana harapan orang tua. tidak merusak mata air. Dengan demikian maka sasaran manusa yadnya bukan hanya untuk anak/ keturunan sendiri. jnana. bayu dan idep memiliki peranan penting dalam menciptakan keharmonisan kehidupan. sejak dalam kandungan sampai menuju grahasta ( perkawinan). Bentuk manusa yadnya bisa bermacam-macam seperti yadnya dalam bentuk dana. Jadi semua mahluk termasuk para bhuta memiliki hak hidup. Manusa Yadnya. tetapi bagi semua manusia tanpa memandang suku. adalah pengorbanan yang tulus ikhlas untuk kebahagiaan hidup manusia. 5. Butha Yadnya. sempurna kembali menuju alamnya sendiri dan tidak mengganggu kehidupan manusia. serta tindakantindakan lain yang dapat menjadi penyebab bencana alam. Melayani orang tua semasih hidup dengan ikhlas serta tidak mengecewakan dan menyakiti hati orang tua adalah merupakan pitra yadnya utama. Selama ini pemahaman sebagian umat Hindu bahwa manusa yadnya semata-mata upacara yang dilaksanakan oleh orang tua bagi anak-anaknya. maka bentuknya tidak selalu upacara. Secara sekala wujud bhuta yadnya adalah usaha kita agar menjaga kelestarian alam. E. Artinya jika kita memberikan nasehat atau ilmu kepada orang lain yang menyebabkan orang tersebut memperoleh kebahagiaan hidup maka itu tergolong juga manusa yadnya. dan karma sepanjang tujuan yadnya tersebut adalah untuk kebahagiaan hidup manusia. agama maupun golongan. Oleh karena itu manusia melaksanakan bhuta yadnya agar keseimbangan hidup tercipta.Disamping bentuk upacara pitra yadnya sebagaimana dijelaskan di atas yang lebih penting dilakukan masa kini adalah bagaimana usaha kita untuk menjunjung nama baik dan kehormatan leluhur dan orang tua. serta peruntukannya bukan hanya untuk anak ( keturunan sendiri). Sesuai dengan pengertian tersebut maka segala bentuk pengobanan yang bertujuan untuk kebahagiaan hidup manusia adalah tergolong manusa yadnya.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah : Bentuk apakah yadnya yang kita lakukan? Selanjutnya kita dapat bertanya apakah yandya yang kita lakukan tergoong Nitya Yadnya ataukah Naimitika Yadnya? Jika Yadnya tersebut berkaitan dengan materi. Hidup ini adalah untuk meningkatkan kwalitas karma jiwatman sebagaimana yang disampaikan dalam kitab Sarasamuscaya . Rajas ataukah Tamas? Dengan melakukan penilaian diri terhadap setiap tindakan karma. ataukah nista? Selanjutnya kita harus menggoongkan lagi kepada siapakah yadnya tersebut ditujukan? Apakah kepada Ida Sang Hyang Widhi. Pitra. sloka 2. Untuk itu kita perlu secara jujur menjawab beberapa pertanyaan untuk dianalisa kemudian menilai atas yadnya yang kita laksanakan. apakah tergolong utma. Pendidikan Agama Hindu 45/76 . Manusia. madya. Rsi. maka kita dapat berharap bahwa hidup ini tidak akan sia-sia. ataukah Bhuta? Terakhir sebagai tolok ukur karma yang paling penting harus kita nilai apakah yadnya yang kita lakukan bersifat Satwam.Dari uraian di atas maka kita akan dapat menilai diri sendiri tentang yadnya yang kita lakukan.

Penilaian NO Penialaian 1 Bentuk : 2 3 4 5 Waktu Pelaksanaan : Materi : Tujuan : Kwalitas : Alasan Pendidikan Agama Hindu 46/76 . PENGALAMAN YADNYA a. Untuk memudahkan dapat digunakan format berikut ini. Kemudian berikan penilaian atas pengalaman yadnya tersebut dengan alasannya masingmasing.F. PENDALAMAN MATERI Tugas siswa : 1. Buatlah tulisan tentang pengalaman pribadi anda minimal dua pengalaman yang dapat digolongkan sebagai yadnya. Carilah sloka-sloka Bhagawad Gita yang berkaitan dengan bentuk-bentuk yadnya 2. Kegiatan/Peristiwa b.

Tattwa adalah hakekat atau filsafat agama. maka pengetahuan tattwa dan susilanya tidak memberikan karma apapun. Susila ( etika ) . serta interaksi dengan alam.petunjuk . serta aturan yang harus diikuti dan dipatuhi sehingga dapat sampai pada tujuan dengan selamat. Peserta didik mampu menjelaskan pengertian tat twam asi 2. serta berbagai fasilitas yang dapat digunakan untuk menuju tempat tersebut.BAB VI SUSILA Standar Kompetensi Memahami Tat Twam Asi sebagai landasan etika dan moral Tujuan akhir pembelajaran 1. PENDAHULUAN Susila adalah bagian dari tiga kerangka Agama Hindu yakni. Umat Hindu harus memahami tattwa dan mematuhi susila setiap yadnya/upacara yang dilaksanakan. Kemudian seseorang yang memiliki tattwa tinggi juga mengetahui aturan susila tetapi tanpa diikuti dengan tindakan nyata ( dalam bentuk yadnya). Contoh sederhana penggambarannya adalah jika kita akan menuju suatu tempat. Sedangkan Yadnya/Upacara adalah aktivitas nyata umat Hindu dalam merealisasikan Tattwa Agama dalam kehidupan sehari-hari. dan sila yang berarti tingkah laku/perbuatan. tetapi mengabaikan etika maka yadnya menjadi tidak sempurna. Tatwa. sesama manusia . Sebaliknya meskipun pelaksanaan yadnya secara tattwa benar. Jadi susila adalah perbuatan atau tingkah laku yang baik dan benar. Pendidikan Agama Hindu 47/76 . Menunjukkan prilaku sebagai implementasi ajaran Tat Twam Asi Uraian Materi A. Sedangkan Susila adalah rambu-rambu . karena pada hakekatnya pahala karma hanya akan diperoleh melalui kerja ( yadnya). dan Upacara ( Yadnya ). Dalam konsep Hindu aktivitas kehidupan manusia khususnya dalam kaitan keagamaan maka tiga kerangka tersebut harus merupakan satu kesatuan dalam pelaksanaannya. Istilah lain dai Susila adalah Etika/Etiket. Susila berasal dari kata Su yang berarti baik. maka tattwa akan memberikan pengetahuan pada kita tentang situasi daerah yang akan dituju. berbagai jalan atau arah yang bisa dilalui menuju tempat tujuan. Jika rambu-rambu dan aturan ini dilanggar kemungkinan kita akan tersesat atau bahkan celaka. Susila adalah aturan-aturan moral dalam segala tindakan serta komunikasi manusia dengan Tuhan. Tanpa pemahaman tattwa yang benar maka yadnya bisa menyimpang dari tujuan utama.

Dalam kehidupan ini semua aktivitas memiliki aturan/etika/susila. Inilah Yadnya. Manusia memiliki peranan utama dalam mewujudkan keharmonisan antara ketiga faktor tersebut. Aturan/susila itu dapat bersifat universal/global. PERANAN SUSILA DALAM MEWUJUDKAN TRI HITA KARANA Dalam konsep ajaran Hindu bahwa kebahagiaan hanya akan terwujud jika adanya hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia. sehingga tercipta keseimbangan dan keharmonisan antara konsep dengan pelaksanaannya. dan manusia dengan alam . Manusia sebagai mahluk yang paling sempurna diantara mahluk lainnya di bumi memiliki peranan utama dalam menegakkan aturan. manusia memiliki kelebihan dalam menerima ajaran-ajaran susila/ etika dalam menghubungkandiri dengan Tuhan (sembahyang). berjalan sesuai dengan fasilitas yang tersedia dan mengikuti aturan ( susila) yang ada barulah kita bisa mencapai tujuan. Contohnya bumi berputar pada porosnya dan mengitari matahari. Jika salah satu bagian alam ini tidak mengikuti aturan maka akan terjadi kehancuran. jika tidak bergerak/ diam di tempat maka selamanya kita tidak akan pernah sampai pada tujuan. semua aktivitasnya memiliki aturan. Ada juga aturan / etika dalam berprilaku sosial kemasyarakan. Tuhan menciptakan RTA ( hukum alam ) untuk kehidupan. Ada etika/aturan yang harus Pendidikan Agama Hindu 48/76 . dan agama. Meskipun kita mengetahui secara jelas gambaran tentang lokasi yang akan dituju serta semua aturan dan rambunya. Manusia dengan kecerdasan yang dimilikinya dapat membuat aturan-aturan dalam berinteraksi sesama manusia. .Contohnya adalah saling menghormati hak asasi manusia ( HAM). B. Alam semesta memiliki aturan / hukum tersendiri dalam pergerakannya yang disebut RTA ( hukum alam). peraturan pemerintah dan sebagainya. Planet-planet berputar mengelilingi bumi dan bersama bumi mengelilingi matahari. Demikian juga dalam kehidupan di dunia. manusia dengan Tuhan . bangsa. Jika aturan ini tidak diikuti maka pasti akan terjadi kekacauan. Dari ketiga kerangka tersebut SUSILA memegang peranan penting yang menjembatani antara Tattwa dengan Yadnya. Dengan susila maka manusia dapat melaksanakan yadnya dengan berbagai kondisi tanpa menyimpang dari tattwanya. Ajaran ini disebut Tri Hita Karana ( tiga faktor penyebab terwujudnya kebahagiaan ).Akhirnya berdasarkan pengetahuan tattwa yang dimiliki haruslah kita bergerak. Semua yang ada di alam bebas maupun di dunia harus mengikuti aturan dalam pergerakannya. Disamping itu ada juga aturan dalam bernegara dan berbangsa dalam bentuk hukum negara/ udang-undang. Dalam mewujudkan keharmonisan antara manusia dengan Tuhan. Artinya berlaku bagi semua manusia di seluruh dunia tanpa memandang suku. ras. dimana setiap daerah memiliki kekhasan tersendiri sebagai budaya lokal.

dan sebagainya. 2. misalnya persembahyangan di pura. Jadi di setiap mahluk hidup khususnya manusia memiliki unsur kekuatan hidup yang sama. Selanjutnya mahluk hidup memilki atman sebagai percikan suci Ida Sang Hyang Widhi. Manusia dengan kecerdasan yang dimilikinya dapat menciptakan aturan/etika dalam hubungan dengan sesama manusia. demikian juga sebaliknya. serta hubungan dengan alam C. Perbedaan pribadi . sifat. Untuk jenis-jenis persembahyangan tertentu juga memiliki aturan yang berbeda. hubungan dengan Tuhan. Alam secara kodrati hanya akan memberikan reaksi terhadap segala perlakuan manusia kepada alam itu sendiri. Penggundulan hutan dengan ilegal loging maka terjadilah banjir bandang. dan Asi artinya adalah. serta pembangunan gedung/perumahan tanpa memperhatikan penyerapan dan saluran sanitasi yang baik maka terjadi banjir disetiap musim hujan. baik hubungan secara pribadi. Dewasa ini banyak terjadi bencana alam. saling menolong sehingga terwujud kedamaian dan kebahagiaan. Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan bahwa : 1. yaitu percikan suci Tuhan. Jadi Tat Twam Asi berarti dia adalah engkau. manusia dengan Tuhan dan manusia dengan alam maka manusia harus memahami dan mengikuti aturan/susila dalam melaksanakan masingmasing hubungan tersebut. jika ditelusuri maka semua itu adalah akibat ulah manusia sendiri yang tidak mengikuti aturan / etika dalam mengelola alam. merusak sempadan sungai. Etika persembahyangan pribadi tidak dapat diterapkan pada persembahyangan bersama. Membuang sampah pada aliran sungai. Tat Twam Asi adalah sumber utama ajaran cinta kasih agar manusia dapat saling menghargai. saling menghormati.Tat artinya itu (dia). pemanasan global . Tat Twam Asi adalah esensial filsafat Hindu dalam ajaran susila yang bersifat universal dan tanpa batas.diikuti dalam melakukan hubungan dengan Tuhan. Sedangkan hubungan manusia dengan alam jelas yang paling menentukan adalah manusia itu sendiri. Agar terwujud keharmonisan antara manusia dengan manusia. Dengan pemahaman ini maka Hindu mengajarkan agar manusia tidak Pendidikan Agama Hindu 49/76 . Jika aturan/etika ini dilanggar maka dipastikan keharmonisan tidak akan terwujud. TAT TWAM ASI Konsep dasar ajaran kesusilaan Hindu dalam hubungan antara sesama manusia dikupas dalam Kitab Candogya Upanishad yang dalam salah satu sloka ada disebutkan Tat Twam Asi. seperti banjir bandang . Twam artinya kamu. dan wujud manusia karena perbedaan pengaruh Triguna dan karma wasana. maupun secara kolektif ( bersama-sama). Tat twam asi bersumber pada ajaran Hindu bahwa Tuhan / Brahman menciptakan alam semesta beserta segala isinya dari diriNYa sendiri melalui tapa/yadnya.

memandang manusia lainnya hanya dari segi fisiknya saja. Hindu mengajarkan agar kita memandang semua mahluk hidup diciptakan dan bersumber dari asal yang sama. Bahwa dalam setiap kehidupan ada percikan suci Ida Sang Hyang Widhi sehingga wajib dihormati dan dikasihi tanpa memandang batasan tertentu. Pendidikan Agama Hindu 50/76 .

 Agar cinta kasih dalam diri dapat tumbuh dan berkembang maka kita harus belajar mengurangi keakuan ( egoisme). Hak-hak tersebut antara lain. Pelanggaran tata susila terjadi biasanya dilakukan oleh orang-orang yang kurang mampu mengedalikan diri. Meskipun di masyarakat secara umum sudah dikenal tentang tata susila yang berlaku namun seringkali orang melanggar tata susila itu. Tetapi harus diingat bahwa ada hak orang lain untuk beristirahaT dan tidak diganggu oleh kebisingan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka setiap individu memiliki hak secara pribadi. apalagi di jaman sekarang sangatlah mustahil manusia hidup tanpa berhubungan dengan orang lain. Jadi dalam memenuhi kebutuhan pribadi kita harus membatasi diri jangan sampai melanggar hak orang lain. Hal ini tentu saja akan menimbulkan ketidak harmonisan dalam sosial kemasyarakatan. Manusia memiliki kebutuhan pribadi baik kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani. hak mendapatkan kasih sayang dan sebagainya.Untuk bisa mengimplementasikan ajaran Tat Twam Asi. Hanya mengutamakan kepentingan pribadi tanpa memperhatikan adanya kepentingan orang lain. Sebagai mahluk sosial manusia tidak dapat hidup sendiri. untuk ini kita perlu melatih pengekangan diri untuk mengurangi rasa ego. Dengan demikian maka diharapkan dalam hubungan sosial manusia dapat mencapai kebahagiaan. Dalam hubungan sosial maka hak pribadi merupakan batas bagi orang lain untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Untuk memenuhi kebutuhan pribadi seseorang membutuhkan pertolongan orang lain. Dalam rangka mengatur hubungan sosial masyarakat maka dibutuhkan aturan tingkah laku yang disebut tata susila. hak perlindungan. kapanpun kita suka. Dalam memenuhi kebutuhan pribadi tidak boleh mengorbankan hak pribadi orang lain. Pendidikan Agama Hindu 51/76 . Secara individu manusia memiliki rasa keakuan ( ahamkara ). Jadi dalam hal ini orang-orang bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan pribadi yang sama. hak memiliki. Manusia adalah mahluk individu sekaligus mahluk sosial. yang paling utama harus dilakukan adalah:  Mengembangkan cinta kasih sesama. kita punya hak untuk mendengarkan musik dari tape milik kita sendiri. Contoh. hak untuk hidup . Contohnya. Oleh karena itu maka jika ita mendengarkan musik dengan suara keras pada waktu orang lain istirahat berarti melanggar hak pribadi orang lain. Secara jasmani setiap individu ingin mencapai kesenangan dan secara rohani setiap orang ingin mendapatkan kebahagiaan. Demikian juga untuk memenuhi kebutuhan pribadi yang sama orang melakukan kerjasama. agar setiap individu dalam satu lingkungan aman/terhindar dari serangan penyakit demam berdarah maka mereka bekerjasama bergotong royong membersihkan lingkungan dari kemungkinan tempat-tempat nyamuk bersarang.

alam lingkungan serta Tuhan. D. Dalam ranka membina hubungan harmonis sesama manusia. Dalam rangka memenuhi kebutuhan pribadi tersebut kita sebagai mahluk pribadi tidak dapat memenuhi semuanya sendiri. Memandang semua manusia adalah sama. papan. Dalam ajaran Hindu dinyatakan bahwa manusia itu pada dasarnya adalah sama dan berasal dari sumber yang sama.  Melaksanakan ajaran Catur Paramita. Dalam kaitan memenuhi kebutuhan pribadi yang berhubungan dengan orang lain inilah kita disebut sebagai mahluk sosial. Hal ini karena diantara semua mahluk ciptaan Ida Sang Hyang Widhi hanya manusia yang diberikan idep ( daya pikir ). Dalam memenuhi kebutuhan pangan misalnya. Dalam Kitab Yajur Weda Adyaya 40. 1. budhi (kemampuan mengambil keputusan benar atau salah ). Manusia adalah mahluk individu sekaligus mahluk sosial. dan ahamkara ( rasa keakuan sebagai motivasi bertindak) yang ada dalam diri sehingga menjadi seimbang dan mengutamakan bahwa hubungan harmonis sesama manusia adalah kebutuhan utama dalam hidup ini. Setiap individu berhak untuk memenuhi kebutuhan tersebut.  Merasakan penderitaan orang lain. anak.  Melaksanakan Tri Kaya Parisudha. Sebagai individu kita memiliki kebutuhan-kebutuhan pribadi yang harus dipenuhi. orang tua. IMPLEMENTASI TAT TWAM ASI Di dunia manusia memegang peranan utama dalam mewujudkan hubungan harmonis antara manusia. Demikian juga dalam memenuhi kebutuhan kasih sayang kita memerlukan suami/istri.  Melaksanakan ajaran Tri Parartha. seperti kebutuhan sandang. serta kebutuhan kasih sayang. kita perlu bantuan dan kerjasama dengan orang lain.Konsep ajaran Tat Twam Asi jika dimaknai dan dihayati dengan benar maka dapat dijadikan sebagai kunci pembuka kasih di hati sehingga dapat secara perlahan mengurangi rasa keakuan/ego ( ahamkara ). kita harus bisa mengolah manah ( pikiran ). Sebagai implementasi ajaran tat twam asi ada beberapa konsep yang dapat kita pedomani antara lain :  Memandang semua manusia adalah sama. Sang Pencipta. Dalam membina hubungan sosial inilah kita perlu memahami dan mengamalkan ajaran Tat Twam Asi. Dengan daya pikir tersebut kita dapat melakukan yadnya utuk menyucikan diri sendiri serta menyucikan alam. pangan. Dalam memenuhi sandang kita perlu orang yang menjual pakaian atau bahan untuk membuat pakaian. keluarga serta tetangga atau teman. sloka 7 disebukan : Pendidikan Agama Hindu 52/76 . kita perlu orang yang menjual makanan atau bahan untuk membuat makanan.

kita tidak boleh membedakan derajat manusia hanya dari sisi luarnya saja. badan jasmani serta pribadinya. kasta dan sebagainya. Pertama . Sifat ego yang berlebihan cenderung mendorong manusia untuk mempertajam perbedaan-perbedaan. 2. tingkat ekonomi dan sosial juga bisa berbeda. Atman adalah percikan-percikan terkecil dari Brahman ( Hyang Widhi). Banyak contoh-contoh penajamanpenajaman kelompok dan ras yang terjadi baik sebagai catatan sejarah maupun tradisi yang melekat di masyarakat sampai saat ini. ini berarti bahwa atman-atman yang ada pada setiap manusia adalah sama. Dengan pemahaman ini maka kita seharusnya belajar untuk memandang setiap orang adalah sama. antar kelompok serta tindakan-tindakan yang merendahkan martabat kelompok lain juga sebagai contoh pengaruh ego ( rasa keakuan) menguasai manusia. Semua manusia pada dasarnya adalah saudara. ras. Warna kulit bisa berbeda. Terjadinya kerusuhan dan perkelahian antar warga. Terjadinya sejarah penjajahan suatu bangsa adalah contoh perlakuan yang membedakan derajat manusia. Merasakan penderitaan orang lain. Pada dasarnya tidak ada satu orangpun di dunia ini yang ingin hidup dalam kekacauan. Hanya saja pengaruh pola pikir yang sempit serta mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompoknya saja. budaya dan tradisi bisa berbeda. bangsa. sedangkan ahamkara lebih menitik beratkan Pendidikan Agama Hindu 53/76 .Seseorang yang menganggap seluruh umat manusia memiliki Atman yang sama dan dapat melihat semua manusia sebagai saudaranya. Kenapa? Karena semua bersumber dari yang satu yaitu Brahman. Dalam satu keluarga besar . Semua ingin hidup damai dan harmonis. semua memilik keinginan untuk hidup berdampingan secara damai. disana ada sinar Tuhan yaitu Atman. Sama-sama memiliki sinar Tuhan. warna kulit. Dalam sloka di atas tersirat dua konsep pandangan Hindu atas keberadaan umat manusia. Atman adalah kesadaran kesadaran murni yang memuliki sifat sama dengan Brahman ( Atman Brahman Aikyam). orang tersebut tidak terikat dalam ikatan dan bebas dari kesedihan. Manas adalah pikiran sedangkan budhi adalah kemampuan manusia untuk mengolah dan merasakan baik dan benar. Karena atman berasal dari Brahman maka pada tingkat kesadaran tertinggi semua atman-atman yang menghidupi semua manusia di dunia adalah sama. budhi. bahwa di setIap manusia terdapat unsur utama yang sama yaitu atman. Jadi jika kita membeda-bedakan orang berarti kita membeda-bedakan Hyang Widhi. seperti suku. Selanjutnya konsep kedua dalam sloka di atas juga mengajarkan pada kita bahwa semua manusia di seluruh dunia adalah sebuah keluarga besar. Manusia diciptakan lengkap dengan manas. maka timbul tindakan-tindakan yang merugikan pihak lain. tetapi spirit kehidupan setiap orang sama. Dari sinilah mulai timbul ketidakharmonisan. Perbedaannya hanyalah pembungkus luarnya saja yakni. dan ahamkara.

Hanya mementingkan diri sendiri tanpa peduli pada keadaan maupun perasaan orang lain. Di dalam kitab Sarasamuscaya 73-76 disebut sepuluh hal untuk menjaga kesucian Tri Kaya agar menjadi suci. Pendidikan Agama Hindu 54/76 . Melaksanakan Tri Kaya Parisudha (tiga prilaku yang disucikan). Dalam kehidupan tradisional di Bali. Type orang seperti ini adalah selalu menuntut hak terlebih dahulu tetapi mengabaikan kewajibannya. Justru penderitaan orang lain sering dijadikan ajang untuk mencari keuntungan guna memperkaya diri sendiri. Inilah hakekat dan ajaran Tat Twam Asi. uamt Hindu mengatasi keadaan suka dan duka sudah sangat melembaga. Nilai-nilai tradisi yang dikandung oleh lembaga suka duka tradisional itu. tidak dapat dirasakan secara bersamaan oleh semua manusia. Dalam sistem kehidupan yang modem dewasa mi sesungguhnya banyak pihak yang mendapat kesempatan untuk mengamalkan rasa kemanusiaannya. 3. Karena itu orang yang dalam keadaan suka seharusnya belapang dada membantu sesame yang sedang dirundung penderitaan. Karena dirasakan sebagai penderitaannya maka ia sendiri akan ikut aktif menanggulangi penderitaan orang lain. empat untuk menjaga kesucian kata-kata. Ikut serta menanggulangi penderitaan orang lain adalah sesuai dengan kemampuan dan swadharma masing-masing. Tiap orang selalu mengalami suka dan duka dalam kehidupannya di dunia in Saat suka dan duka itu. maka berbagai beban hidup itu akan dirasakan ringan dan tidak terlalu menyusahkan. Jika seseorang memiliki ahamkara yang tinggi tanpa dibarengi dengan olah budhi yang matang cenderung melahirkan sifat keakuan / ego yang tinggi. dan pada saat itu juga ada orang lain yang mengalami keadaan suka. Perpaduan antara budhi dan ahamkara pada seseorang sangat menentukan kualitas rasa/perasaan orang tersebut.pada rasa keakuan sebagai motivasi dasar untuk bertindak. Kalau keadaan suka dan duka itu diatasi secara bersama-sama. Ukuran rasa kemanusiaan seseorang adalah apabila dia dapat merasakan pendertaan orang lain sebagai penderitaannya. Berikutnya jika seseorang memiliki perimbangan dalam penguasaan ahamkara dan memiliki budhi ang tinggi maka orang tersebut akan senantiasa memikirkan rasa dan kepentingan orang lain sebelum bertindak untuk kepentingan pribadinya. dan tiga untuk menyucikan perbuatan/prilaku. patut dikembangkan sehingga dapat didayagunakan untuk mengatasi persoalan hidup masa kini dan masa yang akan datang. Ada orang yang mengalami duka paa saat tertenu. Tiga untuk menjaga kesucian pikiran. yang disebut Karma Patha. Sayang kebanyakan orang tidak menggunakan kesempátan mi untuk mengamalkan rasa kemanusiaannya.

prawrttyaning manah sakarèng. Kalau raja ini tidak baik maka indria pun akan tampil tidak baik. manah kengèta. sapuluh kwehnya. tèlu kwehnya.109 sebagai berikut: “Adbhirgatrani çuddhyanti manah satyena çuddhyati. tiga banyaknya. Karena itu proses penyucian pikiran disebut “manacika parisudha”. ulahaning wàk. prawrttyaning káya. V109) Artinya: Tubuh dibersihkan den gan air. pat prawrttyaning käya. pikiran disucikan den gan kebenaran. (Manawa Dharmasastra.jadi sepuluh banyaknya. 73-74 disebutkan: Hana karmapatha ngaranya kahrtaningindriya. seperti diuraikan dalam kitab Manawa Dharmasastra. gerak tindakan. dan setelah dicemari oleh hawa nafsu disebut manah. jiwa manusia dengan pelajaran suci dan tapa brata. Dalam kehidupan manusia di dunia mi Pikiran paling menentukan kualitas prilaku manusia Pikiranlah yang mengatur gerak sepuluh indria. perinciannya gerak pikiran. perilaku perkataan.a. Manacika. Di dalam kitab Sarasamuscaya. sehingga pikiran sering disebut Rajendria. Pikiran yang masih suci tanpa dicemari oleh hawa nafsu disebut citta. kecerdasan dengan dengan pengetahuan yang benar. perkataan dan pikiran itulah patut diperhatikan . Artinya: Adalah karmapatha namanya. perbuatan yang timbul dari gerak badan. sapuluh. sepuluh banyaknya yang patut dilaksanakan. Oleh karena itu kuatkanlah pikiran agar pikiran tersebut yang mengatur laku indria. pnda. V. ulahakèna. kramanya. widyatapobhyam bhutatma budhir jnanena cuddhyati “. yaitu pengendalian hawa nafsu. tèlu. Sucikanlah pikiran dengan satya. empat jumlahnya. Ada tiga cara melakukan manacika atau penyucian pikiran yaitu: 1) Tidak menginginkan dan tidak dengki terhadap milik orang lain Pendidikan Agama Hindu 55/76 . Demikianlah pada hakekatnya pikiran tersebut selalu dijaga kesuciannya dengan satya/kebenaran/kejujuran. tiga banyaknya. wak.

Sedangkan perbuatan buruk yang dilakukan saat ini sudah pasti akibatnya akan diterima kelak. manemu duhka. pati kapangguh. Meskipun kita melihat orang berbuat buruk pada saat ini dan kenyataannya ia bemasib baik. Oleh perkataan engkau akan mendapatkan sahabat. Beliau mentakdirkan ada makhluk yang bernasib baik dan ada yang bernasib buruk sesuai dan karmanya masingmasing. manemu mitra Artinya: Oleh perkataan engkau akan mendapatkan bahagia. Hidup dalam keadaan in akan membuat kita menderita. Wacika. siapa yang berbuat baik akan mendapat pahala yang baik dan siapa yang berbuat buruk sudah dapat dipastikan akan mendapatkan hasil yang buruk. 3) Tidak mengingkari hukum karmaphala.3 sebagai berikut: Wasita Wasita Wasita Wasita nimittanta nimittanta nimittanta nimittanta manemu laksmi. itu pun karena hukum karma phala juga. Pikiran akan menjadi suci (ning) bila tidak menginginkan milik orang lain serta tidak membenci milik orang lain . 2) Tidak berpikir buruk terhadap orang lain dan kepada semua makhluk. Wacika adalah perkataan yang baik (suci). seperti termuat dalam kitab Nitisastra sargah V. b. Oleh perkataan engkau akan men dapatkan kesusahan. Nasib baik yang ia tenima saat ini pasti karena perbuatan baik sebelumnya yang ia lakukan. Orang yang hidup sehat dan berumur panjang salah satu penyebabnya karena ia menumbuhkan rasa cinta kasih pada semua makhluk. disatu pihak akan bisa mendatangkan kebahagiaan dan dilain pihak akan bisa mendatangkan penderitaan bahkan kematian. Sifat ini timbul karena kurang tumbuhnya rasa kasih sayang terhadap sesama. Semua makhluk hidup berasal dan atma yang sama yaitu Ida Sang Hyang Widhi. Harus kita yakini benar kesungguhan hukum Tuhan tersebut. Orang yang selalu berusaha mengedalikan pikiran dan diarahkan pada niat SUCi akan jarang mendapat persoalan sulit dalam kehidupannya dimasyarakat. Hal ini sangat penting untuk dipahami dan dihayati.Perbuatan ini dapat menimbulkan kecendrungan yang negatif. seperti rasa in. Kata-kata ibarat pisau bermata dua. Oleh perkataan engkau akan menemui ajalmu. Pendidikan Agama Hindu 56/76 . entah kapan.

Kata-kata yang kotor seperti raja pisuna (fitnah). Kebiasaan berbohong mi juga sering didorong oleh nafsu distinksi tadi. dan mencela. Menghilangkan kebiasaan berbohong mi haruslah dibiasakan untuk rela menerima apa adanya sesuai dengan karma Pendidikan Agama Hindu 57/76 .Demikianlah akibat dan perkataan yang diucapkan ada yang baik dan ada yang buruk. mencaci. 2) Tidak berkata kasar (ujar aprgas). Berbohong juga sering dilakukan untuk menutupi kekurangan din. Perlu diperhatikan. wak purusya (berkata kasar). 4) Tidak mengeluarkan kata-kata yang mengandung kebohongan. Kalau ia tidak mampu berbuat lebih dan kenyataan maka fitnahpun akan dipakai senjata agar ia kelihatan lebih dan yang lain. seperti menghardik. Kata-kata yang jahat yang terucap akan dapat mencemarkan vibrasi kesucian. Oleh karena itu marilah kita sucikan wak/katakata sehingga menjadi “wacika” yaitu kata-kata yang suci. sebab hal tersebut akan bisa mendatangkan penderitaan bahkan lebih fatal lagi bisa menyebabkan kematian. Kata-kata kasar itu sangat menyakitkan bagi yang mendengarkan . 3) Tidak memfitnah (raja pisuna). Salah sam sifat manusia yang dapat menimbulkan akibat negatif adalah yang disebut “distinksi” yaitu suatu dorongan untuk lebih dan orang lain. Kata-kata kotor atau buruk disebut Mada (dalam Tri Mala). Ada pepatah mengata’kan fitnah itu lebih kejam dan pembunuhan. Karena dalam kata-kata yang jahat itu ada gelombang yang mengganggu keseimbangan vibrasi kesucian.dan sesungguhnya akan dapat mengurangi vibrasi kesucian bagi yang mengucapkan. Cegahlah lidah agar tidak mengucapkan kata-kata fitnah. meskipun fiat baik. berjuanglah untuk merubahnya. karena katakata yang suci mi akan dapat mengantarkan kita kepada sahabat atau mitra dan kepada kebahagiaan atau laksmi. Ada empat cara (karma patha) untuk menyucikan perkataan yaitu: 1) Tidak berkatajahat (ujar ahala). Agar ia kelihatan lebih dan orang lain bohongpun sering dilakukan. Dalam persaingan hidup orang sering mengalahkan persaingan dengan cara memfitnah agar lawan dengan mudah dikalahkan. kalau diucapkan dengan kata-kata yang kasar maka fiat baik itu akan turun nilainya (menjadi tidak baik). Bagi yang mempunyai kebiasaan berkata kasar. berbohong dan sebagainya tidak usah dipelihara. baik kesucian yang mengucapkan maupun yang mendengarkan.

Tindakan seseorang dapat menyebabkan orang menjadi senang. bahagia dan atau sebaliknya menyakiti hati orang lain. sampai kebiasaan itu dapat dihapuskan. Pada mulanya memang dirasakan beban. Orang yang demikian itu disebut “Sadhu” yaitu orang yang tidak melakukan kekerasan. Tindakan-tindakan yang suci mi perlu dipelihara. tapi lama kelamaan akan menjadi kebutuhan. itikad yang baik. Kayika (perbuatan). Kebaikan itu hanya dapat diwujudkan dengan cara membiasakannya sampai melembaga dalam tingkah laku. Untuk melatih itu biasakanlah menyanyikan namanama Tuhan atau Dharmagita atau Mantram-mantram tertentu secara tents menerus. Tindakan atau perbuatan jasmani atau pisik merupakan upaya seseorang untuk mengaktualisasikan hasil proses berpikir dan apa yang diucapkan dengan kata-kata.kita. karena mengubah kebiasaan jelek memang tidak mudah. maka seseorang akan mampu mngendalikan indrianya dan akan menyebabkan orang lain senang dan bahagia. c. Hal mi memang memerlukan kesungguhan. Hal mi sangat ditentukan oleh pross berpikir scseorang. Dalam kaitannya dengan memelihara tindakan kitab Sarasamuscaya sloka 76 menegaskan sebagai berikut: Pendidikan Agama Hindu 58/76 . Artinya bila pikirannya dilandasi oleh fiat yang baik. Demikianlah empat hal yang harus dibiasakan agar tidak keluar dan lidah kita katakata yang tidak baik atau menyakitkan.

Ring apatkala. mengambil hak orang lain secara tidak sah. Artinya: Inilah yang tidak patut dilakukan : membunuh. Pada umumnya ahimsa diartikan tidak boleh membunuh atau tidak menyakiti secara pisik. ri pan gipyan tuwi singgahana jugeka. 2) Tidak mencuri. Kutipan sloka mi memberikan informasi tentang pentingnya kesucian tindakan seseorang. syamatimati man gahalahal. Adapun tiga tindakan suci tersebut adalah: 1) Tidak menyakiti atau tidak membunuh (ahimsa). keadaan darurat dalam khayalan sekalipun. mencuri berbuat zinah. namun sebenarnya walaupun tidak secara pisik tetapi bila segala perilaku itu menyebabkan orang lain sakit hatinya juga tergolong perbuatan himsa. baik secara berolok-olok. ketiganya jut jangan hendaknya dilakukan terhadap siapapun. serta senang melakukan amal. merendahkan martabat umat agama yang lain dan sebagainya. kedamaian dibumi dan kedamaian Pendidikan Agama Hindu 59/76 . Hakekat dan manusia hidup didunia mi adalah bersaudara. hendaknya dihindari saja ketiganya itu. Siparadara. Ahimsa merupakan pengejawantahan masyarakat yang damai atau santih. Orang yang berhasil menumbuh kembangkan sifat-sifat kedewataan akan lebih mudah meraih karunia dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. merampok. baik dalam keadaan dirundung malang. Dengan terpeliharanya ajaran ahimsa berarti tidak ada kekerasan dalam kehidupan bersama didunia mi. bersendagurau. nahan tang telu tan ulahakena ring asing ring paribasa. Jika seseorang melakukan tindakan sebaliknya yaitu melakukan tindakan kekerasan maka akan terjadi pelanggaranpelanggaran hak asasi manusia seperti mempropokator umat agama lain untuk pindah ke agamanya sendiri. Jika kesucian perbuatan tidak dijaga akan berakibat terjadinya pemaksaan terhadap orang lain yang berimbas kepada tidak adanya hubungan yang harmonis sehingga tidak akan tercapai kedamaian dihati. Ahimsa tergolong sifat-sifat kedewataan (daiwi sampat). melecehkan kesucian agama. Intinya disini seseorang tidak terlalu terikat oleh bendabenda duniawi. agar tidak mclakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang atau asubha karma.Nihan yang tan ulahakena. menerima suap dan tidak nepotisme serta tidak rakus.

Mengadakan hubungan kelamin (sex) antara pria dan wanita dengan jalan tidak sah. Mengadakan hubungan kelamin dengan paksa. Adapun .. maksudnya selalu memupuk rasa kasih sayang terhadap semua mahluk c. d. Catur paramita merupakan salah satu dan landasan atau pedoman untuk melaksanakan ajaran susila atau etika dalam ajaran agama Hindu. Mudita artinya selalu memperlihatkan wajah yang riang gembira dan sopan d. Karuna artinya belas kasihan. karena kalau itu dibiarkan maka kemerosotan moral akan makin memuncak. Berzinah merupakan perbuatan yang sangat hina dan terkutuk. Larangan melakukan zinah itu memang wajar. ia tetap tenang dan selalu berusaha membalas kejahatan dengan kebaikan (suka memaafkan) Guna lebih mudah dapat memahami ajaran catur paramita. Mengadakan hubungan kelamin dengan suami/istri orang lain. 4. serta menarik hati segala prilakunya sehingga menyenangkan orang lain dan din pribadinya b. yakni tahu menempatkan diri dalam masyarakat. Mengadakan hubungan kelamin atau sex yang dilarang oleh agama. bagian-bagian dan ajaran catur paramita tersebut adalah a.3) diakhirat. artinya tidak atas dasar cinta sama cinta (perkosaan). b. ramah tamah. Banyak terjadi pelacuran atau tuna susila maka kehidupan kita sebagai manusia yang menjuiijung tinggi budaya dan agama akan menjadi hancur. Catur Paramita. Maitri artinya senang mencari kawan dan bergaul. dibawah ini disajikan beberapa bentuk larangan-larangan yang harus dipatuhi oleh umat manusia sebagai berikut: Pendidikan Agama Hindu 60/76 . Dan jika kesucian perbuatannya tidak dijaga maka baik terhadap sipelaku maupun orang lain akan mengalami kerugian. walaupun disinggung perasaannya oleh orang lain. Upeksa artinya senantiasa mengalah demi kebaikan. Perbuatan ini harus dikendalikan karena bisa menimbulkan kemerosotan moral. ‘. c. Berzinah artinya sikap suka memperkosa wanita atau istri orang lain Adapun yang temasuk perbuatan berzinah (paradara) adalah: a. Tidak berzinah.

maka pantang melakukan perbuatan yang menyebabkan terjadinya penderitaan.a. maka kita jangan melakukan perbuatan yang membahayakan dan jangan membenci. Pendidikan Agama Hindu 61/76 . kesengsaraan atau jangan bengis. jangan melakukan perbuatan yang dapat menyebabkan orang lain susah. Untk dapat berbuat mudita. tersiksa. Untuk dapat berbuat maitri. c. Untuk dapat berbuat karuna. b. atau jangan memiliki rasa dengki dan in hati terhadap orang lain.

harmonis dan damai. menindas orang lain atau selalu berusaha untuk mengendalikan dorongan hawa nafsu jahat. kebahagiaan. Tri Parartha. Hidup saling mengasihi diantara kita adalah merupakan prilaku umat manusia utama yang dapat mengantarkan tercapainya kebahagiaan yang abadi (moksa). Asih artinya cinta kasth.d. 3. maka pantang menghina orang lain. tulus ikhlas. keagungan. manusia itu dapat menyelamatkan dirinya dengan jalan mengamalkan ajaran Tri Parartha. guna tetap tegaknya dharma. selaras. Dengan demikian diantara kita sesama makhluk ciptaan Tuhan hendaknya dapat hidup berdampingan serasi. memandang rendah orang lain. Kitab Rg Weda menyebutkan sebagai berikut: Ajaran berdhana punia yang didasari dengan cara bhakti dan rasa cinta kasih mempunyai suatu manfaat yang amat penting dalam hidup dan kehidupan mi. Tri Parartha adalah ajaran agama Hindu untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. dan kesukaaan hidup umat manusia. dan semuanya itu hendaknya diwujudkan sebagai amal dan ibadah (yajna Pendidikan Agama Hindu 62/76 . Keselamatan. Adapun ajaran Tri Paratha yang dimaksud dapat mengantarkan umat manusia mencapai keselamatan dan kebahagiaan serta kesejahteraan hidupnya. Ajaran Catur Paramita sebagai realisasi dan ajaran Tat Twam Asi patut dijadikan pedoman oleh manusia untuk mewujudkan kehidupan mi yang sempurna. Demikianlah ajaran Catur Paramita patut kita realisasikan dalam hidup dan kehidupan mi. umat manusia tidak akan dapat berbuat banyak dalam hidup dan kehidupan mi. 2. terdiri dari : 1. keselamatan. Berdasarkan ajaran agama Hindu. kesejahteraan. kesejahteraan dan kebahagiaan adalah merupakan kebutuhan hidup umat manusia yang vital mesti dinikmati dalam hidup dan kehidupannya. sujud. Punya artinya dermawan. 5. Bhakti artinya hormat. Tri Parartha berarti tiga prihal yang dapat menyebabkan terwujudnya kesempurnaan. Tanpa keselamatan dalam hidupnya. Asih . punya. Untuk dapat berbuat upeksa. dan bhakti merupakan ajaran agama Hindu yang patut dihayati dan diamalkan dalam hidup dan kehidupan mi.

Keadaan masyarakat yang kurang stabil. siaran-siaran. Kurang adanya individu/organisasi/lembaga yang memfasilitasi tempattempat bimbingan dan penyuluhan moral bagi anak-anak/remaja yang menganggur. Namun dewasa ini rupa-rupanya kalau secara jujur kita akui kemerosotan moral semakin hari semakin bertambah. itu mungkin baru sebagian kecil yang diungkap. Patroli. Kurang tertanamnya jiwa agama pada setiap individu yang ada dalam masyarakat. keseniankesenian yang kurang mengindahkan dasar-dasar. gambar-gambar. maupun di tingkat rumah tangga. 5. politik. 2. baik di lingkungan sekolah. Pendidikan Agama Hindu 63/76 . Kemerosotan moral dapat dilihat di dalam tayangan-tayangan criminal seperti Sergap. 6. baik dalam bidang pendidikan. sosial. maupun orang tha. masyarakat. karena itu adalah merupakan kewajibannya untuk menegakkan dharma. Pendidikan moral belum terlaksana sebagaimana mestinya. ekonomi. Ajaran Tat Twam Asi sudah ditinggalkan menjadi individualistis. 4. Adapun penyebabnya antara lain: 1. Diperkenalkannya secara populer obat-obatan dan sarana anti hamil. mewujudkan ajaran wairagya (tidak terikat akan pengaruh benda-benda duniawillahiriah) yang dapat memuaskan indria/nafsu belaka manusia secara pribadi. Semua umat Hindu hendaknya melakukan hal itu. Situasi dan kondisi rumah tangga yang kurang stabil/baik. para remaja.karma). Itu suatu pertanda bahwa banyak orang sudah mulai melepaskan konsep etika yang ada pada dirinya. punia. Tujuan pokok dan ajaran Tri Parartha (asih. Buser. dan bhakti) ini adalah menumbuhkan sikap mental masing-masing pribadi umat manusia. dan sebagainya. 3. Banyaknya tulisan-tulisan. dan keamanan. norma-norma/aturan tentang tuntunan moral. Sesungguhnya banyak sekali tanda-tanda kemerosotan moral yang terjadi di lingkungan masyarakat baik itu dialami oleh anak-anak. 7.

BAB VI KITAB SUCI WEDA SRUTI DAN WEDA SMRTI Rsi Manu membagi jenis isi Weda itu kedalam dua kelompok besar yang disebut. dari akar kata Crt Yang berarti mendengar langsung. Kelompok Weda Sruti isinya hanya memuat wahyu sedangkan kelompok Smrti isinya adalah sebagai ingatan kembali terhadap Sruti. Jadi Weda Sruti adalah Kelompok Weda yang ditulis oleh para Maha Rsi melalui pendengaran langsung dan wahyu Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan. keduanya harus tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga karena keduanya adalah kitab suci yang menjadi sumber dari agama Hindu. Kedua-duanya merupakan sumber Hukum yang mengikat yang harus diterima. te sartwarhawam imamsyo tabhyam dharmohi nirha bhau Artinya: Sesungguhnya Sruti (wahyu) adalah Weda demikian pula Smrti itu adalah Dharmasastra. buku pedoman yang isinya tidak bertentangan dengan Sruti. (Dharma). 10) 1. Weda Sruti Kata Sruti sesungguhnya berasal dan bahasa Sanskerta. Menurut sifat isinya weda ini dibagi atas tiga bagian yaitu: 1) Bagian Mantra 2) Bagian Brahmana (Karma Kanda) 3) Bagian Upanisad/ Arnyaka (Jnana Kanda) Pendidikan Agama Hindu 64/76 . Oleh karena itu “Bhagawan Manu” menegaskan dalam kitabnya “Manawa Dharmasastra” 1110. Weda Smrti Pembagian dalam dua jenis ini dipakai selanjutnya untuk menamakan semua jenis buku yang dikelompokkan sebagai kitab Weda balk secara tradisional maupun secara institusional ilmiah. Kelompok Weda Sruti menurut Bhagawan Manu merupakan Weda yang sebenarnya ada Weda orisinal. Weda Sruti 2. sebagai berikut: Srutistu Weda Wijneyo dharmacastram tu wai Smrtih. Pelaksanaannya adalah Nibandha. II. Jadi Smrti merupakan. (MDs. Bila dibandingkan dengan ilmu politik Sruti adalah merupakan UUD nya Hindu sedangkan Smrti adalah UU Pokok dan UU. 1.

yaitu: 1) Yajur Weda hitam (krsna Yajur Weda). Bagian terakhir ini merupakan bagian tertua dari Yayur Weda itu. Karena itu disebut Trayi Weda atau “Tri Weda” Pengenalan catur weda hanya karena kenyataan Weda ini secara sistimatik telah dikelompokkan atas empat Weda.) 2) Yajur Weda putih (Sukla yajur weda. Jenis Weda ini ada dua macam yaitu: a. Yajur Weda putih (Sukla yajurweda). kitab ini terdiri atas 101 resensi yang sebagian besar sudah lenyap. Menurut Bhagawan Patanjali. Yajur Weda hitam (Kresna yajurweda) yang terdiri atas beberapa resensi antara lain. yaitu: 1) Rg. Weda atau Rg. Samaweda terdiri atas mantra-mantra yang berasal dari Rg.Ad. yang juga disebut Maitraneyi samhita. atau kadang-kadang ada yang mengatakan 1875. Weda. juga dikenal Wajasaneyi samhita). b. pluralnya Yajumsi). Perbedaan pokok antara Yajur Weda Putih dengan Yajur Weda hitam hanya sedikit saja. Yajur Weda putih terdiri atas mantra-mantra dan doa-doa yang harus diucapkan pendeta di dalam upacara. Weda. merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran-ajaran umum dalam bentuk pujaan 2) Sama Weda Samhita . Pendidikan Agama Hindu 65/76 . atau saman 3) Yayur Weda Samhita . Yajur Weda terdiri atas mantra-mantra yang sebagian besar berasal dan Rg. merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran umum mengenai pokok-pokok yajnya (yajus. Wedasamhita 2) Sama Weda atau Samawedasamhita 3) Yayur Weda atau Yayurwedasamhita 4) Atharwa Weda atau Atharwawedasamhita Dari keempat kelompok Weda itu. merupakan kumpulan mantra-mantra memuat ajaran umum mengenai lagu-lagu pujaan. Pembagian empat kelompok isi weda itu yaitu: 1) Rg Weda Samhita .1. 4) Atharwa Weda samhita . merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran yang bersifat magis (Atharwan). sedangkan mantra-mantra didalam Yajurweda hitam terdapat pula mantra-mantra yang menguraikan arti Yajna. Taitiriya samhita dan Maitrayanisamhita. Kitab mi terbagi atas dua aliran. Tambahan ini umumnya berbentuk prosa. tiga kelompok pertama sering disebut-sebut sebagai mantra yang berdiri sendiri. Menurut penelitian Samaweda terdiri atas 1810 mantra. ditambah dengan beberapa mantra tambahan baru. Mantra Bagian mantra terdiri dan empat himpunan (samhita) yang disebut catur weda samhita.

Resensi Paipplada ad. Kitab mi memiliki 5987 mantra (puisi dan prosa). Urwasi dan ceritra-ceritra tentang ikan.Atharwa Weda yang disebut atharwawedangira. Weda. Punirawa. Yajur Weda putih (Sukia Yajurweda) memiliki Satapatha Brahmana. Weda memiliki dua jenis buku Brahmana yaitu Aitareya Brahmana dan Kausitaki Brahmana (Sankyana Brahmana). Bagian terakhir dan kitab mi merupakan sumber bagian kitab “Brhadaranyakapanisad”. merupakan kumpulankumpulan mantra-mantra yang juga banyak berasal dan Rp.2. Resensi ini paling terkenal dan terbagi atas 21 buku b. Atharwa Weda mi memiliki kitab “Gopatha Brahmana” Ad. 3. Pendidikan Agama Hindu 66/76 . Jadi kitab Brahmana adalah kitab yang berisi himpunan doa-doa yang dipergunakan untuk keperluan upacara yajna. Sebagaimana halnya dengan tiap-tiap mantra memiliki kitab Brahmana. Kitab mi terpelihara dalam dua resensi yaitu: a. Brahmana berarti doa. Resensi Saunaka. Disamping itu ada pula “Sadwimsa Brahmana” Kitab ini terbagi atas 25 buku dimana bagian terakhir yang terkenal adalah kitab “Adhuta Brahmana” merupakan jenis “Wedangga” yang memuat mengenai ramalan-ramalan dan penjelasan mengenai berbagai mujijat. Himpunan ini merupakan bagian teori mengenai ke Tuhanan. Weda. Sama Weda. Nama ini disebut demikian karena kitab ini terdiri atas 100 adhyana. Di dalam kitab Brahmana ini mula-mula kita jumpai ceritra Sakuntala. Yajur Weda dan Atharwa Weda) memiliki Brahmana. Kitab Rg. Tiap-tiap mantra (Rg. Kadang-kadang Brahmana diartikan penjelasan yang menjelaskan arti kata ucapan mantra. Kitab mi memuat legenda (ceritera-ceritera kuno) yang dikaitkan dengan upacara Yajna. Demikian pula tiap-tiap mantra memiliki kitab-kitab Aranyaka atau Upanisad. Kitab Samaweda memiliki kitab Tandnya Brahmana yang juga sering dikenal dengan nama “Pancawimsa “. Bagian Upanisad/Aranyaka Aranyaka atau Upanisad adalah himpunan mantra-mantra yang membahas berbagai aspek teori mengenai ke Tuhanan. Himpunan mi merupakan bagian Jnana Kanda dari pada Weda Sruti. Bagian Brahmana (Karma Kanda) Bagian kedua yang terpenting dan kitab Sruti ini adalah bagian yang disebut “Brahmana” atau “Karma Kanda”. Himpunan buku-buku ini disebut Brahmana. Kitab Yajur weda memiliki beberapa kitab “Brahamana” Yajur weda hitam (krsna Yajur Weda) memiliki Taittiriya Brahmana.

Nrsimhatapini. Dattatreya. dan Saraswatirahasya. Ekaksara. Semuanya berjumlah enambelas Upanisad. Krsna. Di dalam penelitian berbagai naskah kitab suci Hindu Dr. G. Sarwasara. Sakanda. Pranagnikotra. Adhyatma. 2. semuanya berjumlah tigapuluh dua Upanisad. Sriniwasa Murti didalam introdusi kitab saiwa Upanisad mengemukakan bahwa tiap-tiap sakha (cabang ilmu) Weda merupakan satu upanisad. dan Atharwa Weda terdiri atas 50 sakha Berdasarkan jumlah sakha itu. Surya. Turiyatita. Sandilya. Wasudewa. Atharwasira. Dari catatan yang ada: 1. Brhajjabala. yaitu 1180 sakha. Wahara. Gopalatapini. Upanisad yang tergolong jenis Atharwa Weda. Sanyasa. Asartanada. Satyayani dan Muktika. Munduka. terdiri atas Kathawali. Mahanarayana. Adapun perincian dan pada kitab-kitab Upanisad itu adalah sebagai berikut: 1. Prramahamsa. Garbha. Kausitaki. Tarasara. Sariraka. jumlah upanisad yang disebut secara tegas adalah sebanyak 108 buah buku. Niralambha. maka jumlah upanisad seyogyanya ada banyak 1180 buah buku tetapi berdasarkan catatan Muktikopanisad. Tejebindu. Yajnawalkya. Narayana. Awyaka. Darsana dan Jabali. Chandogya. yaitu antara lain: Prana. Yogasikha. Atmaprabedha. Mandala brahmana. Kalisandarana. Nada-bindu. Sita. Kondika. Tripuratapini. Saubhagya. yang semuanya berjumlah sepuluh Upanisad. dan Garuda Upanisad. Weda terdiri dan 21 sakha Sama Weda terdiri atas 1000 sakha Yajur Weda terdiri atas 109 sakha. Gamapati. dan Bahwrca Upanisad. Swetaswastara. Tripura. Sawitri. Brhadaranyaka. Upanisad yang tergolong jenis Rg. Subata. Amrtabindu. 3. Nirwana. Annapurna. Atharwa sikha. Weda yaitu antara lain: Aitareya. Naradapariwrajaka. 4. Adwanyataraka. b. Mandukya.Kelompok kitab-kitab ini disebut rahasya Jnana karena isinya membahas hal-hal yang bersifat rahasia. Semuanya berjumlah sembilan belas Upanisad. Untuk jenis Yajur Weda putih. Taittriyaka. Awadhuta. Aksamalika. Rudrasajabala. Katagnirudra. Bhawana. Hamsa. yaitu antara lain: a. Maitrayani. Hayagriwa. Aruni. Dewi. Kaiwalya. Untuk jenis Yajur Weda Hitam. terdiri dan: Isawasya. Rg. Wajrasucika. Mahat. Atma. Upanisad yang tergolong jenis Sama Weda yaitu antara lain: Kena. Parabrahma. Jabala. Ramatapini. Sukharahasya. Brahma. Pinggalabhiksu. Kausika. Brahma. Pasupata. 2. Trisikhibrahmana. 4. Maitreyi. Mudgala. Yogacudamani. Sarabha. 3. Upanisad yang tergolong jenis Yajurweda. Paramahamsapariwrajaka. Mahawakya. Ramarahasya. Semuanya berjumlah tiga Pendidikan Agama Hindu 67/76 . Matrika. Aksi.

Untuk mendalami dharma. Dengan memperhatikan deretan nama nama kelompok Mantra. dan Upanisad diats. Brahmana. tradisi yang berwenang. karena fungsi dan kedudukannya dipersamakan dengan kitab Veda Cruti. Kata Smrti berasal dari bahasa Sansekerta. dari kata smrta (neuter) berarti: ingatan. Dharma Sastra berarti Ilmu Hukum Agama Hindu. yang juga disebut Dharma atau Dharma Sastra. Kitab Smrti memuat tentang ajaran hukum agama Hindu. Keterangan tentang hal tersebut di atas. Oleh karena itu pergunakanlah Pendidikan Agama Hindu 68/76 . Bab 11. Kitab Smrti adalah kitab suci Veda yang ditulis berdasarkan ingatan oleh para Maharesi dan wahyu Sang Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa. Dharma berarti hukum dan sastra berarti ilmu. sesudah Veda Sruti. dengan jelas dapat kita pahami bahwa Smrti merupakan kitab suci agama Hindu. Smrti adalah kitab suci Weda yang ditulis berdasarkan ingatan oleh para Maharesi bersumberkan pada Veda Cruti. antara lain: Kitab Menawa Dharma Castra. Weda Smrti Smrti merupakan kitab suci agama Hindu. menjadi kata smrti (feminime) berarti: ingatan. Kitab Smrti adalah merupakan kitab pendukung dan penjelasan dan kitab Weda Cruti.10 menyebutkan sebagai berikut: Crutistu Wedo Wzjneyo dharmacastram tu wai smrtih te sarwarthes wamimansye tabhyam dharmohi nirbabhau artinya: yang dimaksud dengan Cruti ia!ah Weda dan dengan Smrti adalah Dharma Sastra. jelas bahwa kitab Sruti meliputi jumlah yang cukup banyak. semua buku-buku itu adalah merupakan sumber utama dan kedudukannya mutlak perlu dihayati. kita temukan dalam beberapa kitab agama Hindu. Kitab Smrti adalah kitab Veda juga. yang ditulis oleh banyak Maharesi. Dengan demikian kitab-kitab Smrti tidak boleh bertentangan dengan Weda Cruti.puluh satu upanisad. 2. kenangan. kedua macam pustaka suci mi tidak boleh diragu ragukan kebenarannya mengenai apapun juga karena dan keduanya itu hukum inL Berdasarkan uraian di atas.

yang terdiri dan: a. terdiri dan kata: Veda dan Angga (bahasa Sansekerta). Oleh karenanya kitab Wyakarana ini memiliki fungsi yang sangat penting di dalam kita mempelajari Veda. Ramayana. Clokantara. Veda berarti ilmu pengetahuan suci dan angga berarti bagian. antara lain: Manawa Dharma Sastra. Untuk dapat mengucapkan mantra (Weda Cruti) dengan baik. Cilakrama. Dalam hubungannya dengan mempelajari mantra (Weda Cruti) kitabkitab siksa. Manu Smrti. memahami. Jenis atau kelompok Vedangga Kata Vedangga. Yajna Pawitra dan Brahmanda Purana. untuk dapat menghayati Veda dengan benar. badan. Kitab-kitab suci yang tergolong jenis kitab Smrti itu banyak jumlahnya. antara lain 1) Siksa (Phonetika) Siksa adalah kitab Vedangga yang isinya menguraikan tentang petunjukpetunjuk tata cara mengucapkan mantra yang tepat sesuai dengan tinggi-rendahnya tekanan suara. Niti Sastra. Kelompok Upaveda Smrti a. Berdasarkan kebiasaan yang telah berjalan. terdiri dan beberapa kitab. Bharatayudhya. Tattwa Suksma. tanpa mengerti dan mengetaui tata bahasanya. sumber. juga disebut dengan nama Pratisakhya. dan penulisnyapun banyak pula. keamanan. Pendidikan Agama Hindu 69/76 . Vedangga sebagai kitab Smrti. dan mendalami Veda dengan baik. Untuk dapat mengamalkan Veda secara benar di dalam upaya mewujudkan tujuan hidup secara rohani dan jasmani. 2) Wyakarana (Tata Bahasa) Kitab Wyakarana isinya menguraikan tentang tata bahasa. anggota. dasar. fungsi kitab siksa ini adalah sangat penting. jenis kitab-kitab dikelompokkan menjadi dua (2) kelompok besar. Jadi Vedangga berarti batang tubuh dari Veda. Untuk dapat mempelajari. Yoga Sutra. Hal semacam ini disebabkan oleh munculnya berbagai macam kebutuhan masyarakat (umat Hindu) yang diisarakat oleh Veda dalam mencapai keadilan. Kelompok Vedangga b.kitab kitab sastra sebagai petunjuk untuk menentukan tentang segala sesuatu yang harus kita kerjakan dan untuk dapat mengetahui apa yang patut kita kerjakan. kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. jenis kitab-kitab Smrti perlu dipergunakan sebagai pedoman hidup (dipedomani). Sarasamuccaya. kecil kemungkinannya dapat diketahui. Beberapa kitab suci agama Hindu yang termasuk kitab Smrti. kita hendaknya terlebih dahulu mendalami Vedangga.

Di antara kitab Jyotisa. dan Begawan Yaska. Kitab mi memiliki hubungan dengan kitab Veda Cruti. Veda. Beliau menulis Kitab Asta Dhyayi dan Patanjali Bhasa. Kitab 5) Jyotisa (Antronomi) Kitab Jyotisa.Para Maharesi yang mendalami tentang tata bahasa (Veda) adalah : Maharesi Sakatayana. Rg. yang terdapat masih sampai sekarang adalah kitab Jyotisa Wedangga. bulan dan badan angkasa lainnya yang dipandang dan dianggap memiliki pengaruh dalam pelaksanaan yadnya. 4) Nirukta Kitab-kitab Nirukta berisikan tentang penafsiran otentik yang berhubungan dengan kata-kata yang terdapat dalam Veda. 6) Kalpa Kitab Kalpa adalah jenis kitab Smrti (Vedangga) yang isinya berhubungan dengan kitab Brahmana dan kitab-kitab mantra. Di antara orang suci tersebut di atas. Kitab Jyotisa adalah kitab pendukung Veda. dan Yajur Veda. Kedua kitab ini dihimpun oleh Begawan Pinggala. yang terkenal adalah Begawan Panini. karena bersumberkan pada pendalaman kitab Chanda semua ayat-ayat Veda dapat dipelajari secara turun temurun. yang menguraikan tentang pokokpokok pengetahuan dalam bidang astronomi. yaitu : Midana Sutra dan Chanda Sutra. Begawan Panini. Kitab Nirukta ditulis oleh Begawan Yaska pada tahun ± 800 SM. Melalui pengetahuan yang terdapat dalam kitab Jyotisa juga kita dapat memahami. Hal ini kita dapat persamakan dengan berbagai macam nyanyian yang dapat dinyanyikan dan mudah diingat. yang masih terdapat utuh sampai sekarang ada dua buah buku. Kitab Kalpa mi terdiri dan beberapa bidang kitab antara lain: Pendidikan Agama Hindu 70/76 . isinya yang terutama adalah menguraikan tentang peredaran tata surya. Begawan Panini adalah orang suci yang pertama kali mengenalkan kata bahasa Sanskerta popular (bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat) dan bahasa Daiwak yaitu bahasa para Dewa-Dewa. 3) Chanda (Lagu) Chanda adalah cabang Veda yang secara khusus membicarakan tentang aspek ikatan bahasa dalam Veda yang disebut lagu. Dalam mempelajari Veda kita perlu mendalami kitab Chanda. Maharesi Patanjali. Dan berbagai macam kitab-kitab Chanda. bahwa bagaimana Veda mengajarkan kepada umatnya untuk dapat berhubungan secara harmonis dengan alam dan lingkungannya berdasarkan yadnya.

Kitab Sulwa Sutra ini.a) Bidang Srauta Kitab Srauta atau juga disebut Srauta Sutra. Kitab Dharma Sutra dipandang sebagai kitab yang sangat penting di antara kitab-kitab jenis Kalpa. dilalui oleh empat zaman atau juga disebut Catur Yuga. bahwa dalam hidup dan kehidupan kita ini. (4) Pasa masa Kaliyuga dipergunakanlah Dharma Sastra yang ditulis oleh Bhagawan Parasara. d) Bidang Suliwa Kitab Suliwa Sutra adalah merupakan bagian terakhir dan kitab-kitab Kalpa. b) Bidang Grhya Kitab Grhya Sutra. isinya menguraikan tentang berbagai macam aspek mengenai peraturan hidup bermasyarakat dan bernegara. Pendidikan Agama Hindu 71/76 . Candi). Agama Hindu mengajarkan kepada umatnya. Karena dipandang sangat penting. (3) Pada masa Dwapara Yuga berlaku kitab Dharma Sastra buah karya Bhagawan Sankha Likhita. (2) Pada masa Trita Yuga berlaku kitab Dharma sastra yang ditulis oleh Bhagawan Yajnawalkhya. isinya memuat tentang petunjuk dan peraturanperaturan mengenai tata cara membuat dan mendirikan tempat suci untuk beribadat (Pura. seperti: (1) Pada masa Satya / Krtha Yuga berlaku kitab Manawa Dharma Sastra karya sastra dan Bhagawan Manu. Di antara keempat kitab Dharma Sastra tersebut. isinya menguraikan tentang berbagai ajaran mengenai aturan pelaksanaan yadnya yang mesti dilaksanakan oleh orang-orang / masyarakat (umat Hindu) yang telah hidup berumah tangga c) Bidang Dharma Sutra Kitab Dharma Sutra. Bhagawan Sankhalikhita. Kitab Dharma Sutra juga disebut Dharma Sastra. maka terdapatlah kesan bahwa Veda Smrti itu adalah Dharma Sastra. bangunan—bangunan lainnya yang berhubungan dengan arsitektur. isinya memuat berbagai macam ajaran mengenai tata cara melakukan yadnya. yang diterapkan untuk masing-masing bagian Catur Yuga adalah memiliki sifat saling mengisi atau melengkapi di antara sam dengan yang lainnya. bahwa masing-masing yuga dan Catur Yuga mempunyai Dharma Sastranya tersendiri.

Kata Ityihasa terdiri dan tiga suku kata. seperti : Bhagawan Usana dan Bhagawan Parasara. Upaweda berarti dekat dengan Veda (Pengetahuan suci). yakni “Iti-ha-sa” yang artinya “sesungguhnya kejadian itu begitulah nyatanya. yang terdiri dan dua kata. Danding. Kitab Purana berisikan berbagai macam cerita dan keterangan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku pada zaman dahulu kala (kuno). Di samping Maharesi Kautilya yang mengikuti Bhagawan Brhaspati dalam menulis kitab-kitab Artha Sastra. Kitab Upaweda terdiri dan beberapa cabang ilmu. Kitab Upaweda memiliki fungsi sama pentingnya dengan kitab-kitab Smrtti yang lainnya. roman. 1) Itihasa Kitab Itihasa dikelompokkan dalam kitab-kitab Upaweda. Jenis atau Kelompok Upaweda Kitab-kitab Upaweda merupakan kitab kelompok kedua dan Veda Smrti. ditulis oleh Bhagawan Brhaspati. adajuga Bhagawan yang lainnya. Nama Itihasa pada mulanya diberikan oleh penulis kitab Mahabharata pada bagian Adiparwa yaitu Bhagawan Wiyasa. Itihasa adalah karya sastra yang bersifat spiritual. kewiraan dan mitologi. Upaweda juga diartikan Veda tambahan.b. dan Wisalaksa. Kata upaweda berasal dan bahasa Sanskerta. antara lain . Wisnugupta. serta Sukraniti. Kata “upa” dapat diartikan “dekat” dan kata “veda” berarti “pengetahuan suci (kitab suci)”. Kitab Itihasa terdiri dan kitab Ramayana (terdiri dan 7 kanda) dan Mahabharata ( terdiri dan 18 parwa). Itihasa adalah sebuah epos yang menceritakan sejarah perkembangan raja—raja dan kerajaan Hindu di masa lampait. Adapun nama kitab yang termasuk kelompok kitab Ayur weda Pendidikan Agama Hindu 72/76 . setelah kitab-kitab Vedangga. Bharadwaja. 2) Purana Kitab Purana adalah bagian dan kitab—kitab Upaweda. Jenis kitab Artha Sastra yang digubah di Indonesia adalah jenis Usana dan Niti Sastra. Kitab-kitab yang tergolong kitab Artha Sastra yang lainnya adalah Niti Sastra atau Rajadharma (Dandaniti). Artha Sastra sebagai bagian dan kitab Upaweda. di mana ceriteranya penuh filsafat. 4) AyurWeda Kitab Ayur Weda kelompok kitab Upaweda. yang isinya menguraikan tentang bidang ilmu kedokteran atau kesehatan baik rohani maupun jasmani. Jejak beliau di dalam tulis-menulis kitab-kitab “Artha Sastra” diikuti oleh Maharesi Kautilya (Canakhya). yaitu : kata upa dan veda. 3) Artha Sastra Kitab Artha Sastra mi berisikan tentang pokok-pokok pemikiran bidang ilmu politik.

Di samping itu pula kitab Susruta Samhita mencatatkan berbagai macam alat-alat yang dapat dipergunakan dalam pembedahan. Yogasara dan Kama Sutra. dan merupakan dasar bagi ilmu jiwa anak-anak f) Agada Tantra yaitu ilmu toxikologi g) Rasayama Tantra yaitu ilmu mujizat. Disamping itu pula kita Susruta Samhita mencatatkan berbagai macam alat-alat yang dapat dipergunakan dalam pembedahan.adalah kitab Caraka Samhita. yaitu: a) Salya yaitu ajaran mengenai ilmu bedah b) Salkya adalah ajaran mengenai ilmu penyakit c) Kayakitsa yaitu ajaran mengenai ilmu obat-obatan d) Bhuta Widya yaitu ajaran mengenai ilmu psikoteraphy e) Kaumara Bhrtya yaitu ajaran mengenai pendidikan anak-anak. Kitab Susruta Samhita ditulis oleh Bhagawan Susanta. Kitab tersebut mernuat delapan bidang ajaran. Kitab mi isinya menguraikan tentang pentingnya ajaran umum di bidang ilmu bedah. Susruta Samhita. Kitab mi isinya menguraikan tentang pentingnya ajaran umum di bidang ilmu bedah. antara lain: a) Sutrathana : isinya menguraikan tentang ilmu pengobatan b) Nidanasthana : isinya memuat tentang berbagai penyakit yang bersifat umum c) Wimanasthana : isinya menguraikan tentang ilmu pathologi d) Sarithana : isinya menguraikan tentang ilmu anatomi dan embriology e) Indiyasthana : isinya menguraikan tentang materia diagnosa dan prognosa f) Cikitasasthana : isinya menguraikan tentang ajaran khusus mengenai pokok-pokok ilmu therapy g) Kalpasthnana : isinya menguraikan tentang ajaran di bidang theraphy secara umum h) Siddistana : isinya juga menguraikan tentang pokok-pokok di bidang therapy secara umum. Berdasarkan catatan yang ada kitab Kalpasthana dan Kitab Siddhistana telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan Persia pada tahun 800 Masehi. Berdasarkan materai yang terdapat dalam kitab Ayur Weda maka isi kitab Ayur Weda meliputi delapan bidang ajaran umum. Pendidikan Agama Hindu 73/76 . dan h) Wajikarana Tantra yaitu ilmu jiwa remaja Kitab Caraka Samhita merupakan baginn dan kitab Ayur Weda. Kasyapa Samhita. Astanggahrdaya. Kitab Susruta Samhita ditulis oleh Bhagawan Susanta.

Kitab Kama Sutra ditulis oleh Bhagawan Watsyayana pada abad ke10 Masehi. isisnya menguraikan tentang berbagai aspek cabang ilmu seni. juga memiliki beberapa bagian kitab-kitab lagi. Diantara kitab-kitab Kama Sastra yang terkenal adalah karya dan Bhagawan Watsyayana.Kitab Yogasara dan Yogasastra ditulis oleh Bhagawan Nagarjuna. baik jasmani maupun rohani. Gandharwa Weda sebagai kitab Smrti. seperti: Natya Sastra. Dewa Dasa Sahasri. Kitab Kamasutra berhubungan dengan kitab Wajikarana Tantra. Brahma Rajanyabhyam cudraya caryaya ca siwaya caranayaca” Artinya: “Biar kunyatakan disini kitab suni ini kepada orang-orang banyak. Rasarnawa. kitab Natya Wedagama. agama Hindu boleh dan dapat dipelajari oleh seluruh umat manusia. Isinya menguraikan tentang ajaran ilmu jiwa remaja. Pendidikan Agama Hindu 74/76 . Kedua kitab mi isinya menguraikan tentang pokok-pokok ilmu yoga yang berhubungan dengan sistem anatomi dalam pembinaan kesehatan. 7) Agama Kitab agama itu baru ada setelah Agama Hindu ada dan berkembang di dunia. seni atau rasa indah. kaum Ksatrya. Hal mi termuat dalam kitab Yajur Veda sebagai berikut: “Yaatkeram wacam kalyanin awadonijanebhyah. 5) Gandharwa Weda Kitab Gandharwa Weda merupakan bagian dan kitab-kitab Upaweda. Kama Sastra sebagai bagian dan jenis kitab Upaweda isinya menguraikan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan asmara. kaum Sudra. hendaknya dipedomani oleh Kama Sastra. Kitab Gandharwa Weda. Karena dengan demikian asmara dan rasa indah yang muncul itu tentu terarahlbernilai positif adanya. 6) Kama Sastra Kitab Kama Sastra adalah termasuk kitab suci agama Hindu pada bagian Smrti (Upaweda). dan yang lainnya. dan kaum Waisya dan bahkan kepada orang-orangKu dan kepada mereka (orang-orang asing) sekalipun. umat beragama dipandang perlu untuk membangkitkan rasa indah tersebut. Di dalam upaya untuk mewujudkan salah sath tujuan hidup. Menurut Veda. kepada kaum Brahmana. Rasaratnasamucaya. Kebangkitan dan rasa indah manusia terbentuk untuk berbakti kepada Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa.

menghayati dan mengamalkan ajaran Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa yang dianut oleh umat Hindu.(Yajur Veda XVI. yang Pendidikan Agama Hindu 75/76 . RANGKUMAN Kitab suci adalah cara yang baik untuk memahami. banyak jenisnya. Ajaran beliau yang diwahyukan kepada Maha Rsi dituliskan pada buku. Istilah cruti berarti Wahyu. Dan uraian di atas dapatlah kita simpulkan bahwa jumlah kitab-kitab Smrti yang dapat kita pergunakan sebagai petunjuk untuk menata kehidupan berhubungan dengan Sang Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa. kelompok Brahmana. Weda sebagai kitab suci umat beragama Hindu. Disamping itu kita juga perlu menyadari bahwa. Bagi mereka yang belum dapat mempelajari Veda dapat belajar agama Hindu berdasarkan kitab-kitab agama. 18) Berdasarkan bunyi Cloka tersebut di atas dinyatakan bahwa kitab suci Veda (Hindu) dapat dipelajari oleh siapa saja. Semua ayatayat yang terdapat didalamnya merupakan Wahyu dan Tuhan yang kemudian dihimpun dalam beberapa buah buku menurut umurnya dan peruntukannya. Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa mewahyukan ajaran-Nya melalui orang-orang Suci untuk disebarkan pada kita semua. Namum menyadari akan kekurang sempurnaan kita sebagai umatnya. Veda sebagai sumber ajaran agama Hindu mengandung ajaran yang sangat tinggi. tidak terkecuali. Kelompok mantra didasarkan atas pertimbangan fungsi dan kegunaannya di bagi menjadi empat. kelompok Ananyaka dan Upanisad.6) B. berdasarkan pengelompokannya ada yang disebut dengan nama Weda çruti dan Weda Smrti. Weda çruti adalah kitab Wahyu Tuhan. yang disebut kitab suci Weda. disamping kebiasaan-kebiasaan yang baik dan orang-orang yang rnenghayati Veda (sila) dan kemudian tradisi-tradisi dan orang-orang suci (acara) serta yang terakhir ada!ah rasa puas din sendiri (atmanastusti) (Manawa Dharrna Sastra 11. maka tidak akan semuanya dapat mempelajarinya dengan sempuma. Menurut sifat dan isinya Weda çruti dibedakan atas kelompok mantra. Kitab agama isinya memuat ajaran tentang keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa dan petunjuk-petunjuk untuk melaksanakan tata cara persembahyangan. Hal mi sesuai dengan ucapan kitab Smrti (Dharma Sastra) sebagai berikut: “Wedo ‘khilo dharma mulam smrti cue ca tad widam acaracca iwa sadhunam atmanastustir ceva ca” Artinya: Seluruh Weda merupakan sumber utama daripada dharma (agama Hindu) kemudian barulah Smrti.

Manusia adalah mahiuk hidup yang diciptakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sama Weda Samhita dan Atharwa Weda Samhita.sehingga kita dapat meningkatkan budi pekerti dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Itihasa dan Purana berisikan-berbagai macam ajaran yang berhubungan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi beliau dan ciptaanNya.politik dan pertahanan/keamanan) serta upacara (ritual) agama. manusia memiliki beberapa kewajiban yang mesti dilaksanakan dalam kehidupan mi. yang terkandung dalam kitab suci Weda Sruti maupun Smrti untuk dipergunakan didalam menuntun kehidupan kita sehari-hari.Weda Samhita. Pendidikan Agama Hindu 76/76 . Smrti. bersumber dan Wahyu Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Itihasa. Sebagai insan Tuhan. Sudah menjadi kodratnya manusia untuk melaksanakan kewajiban hidupnya.budaya. Smrti (Dharma Sastra) .dan engamalkan ajaran agama. Kebenaran yang utama adalah kebenaran yang ada pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Yajur Weda Samhita. Ethika (sosial.menghayati. Mari kita dalami sastra-sastra agama. Kebenaran beliau dapat kita laksanakan dengan jalan memahami. dan Purana adalah kitab-kitab Weda yang ditulis oleh para Rsi berdasarkan ingatannya.ekonom i.disebut Catur n Weda Samhita yaitu Rg. Salah satu kewajiban hidup manusia yang harus dikerjakan adalah menegakkan kebenaran.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful