Artikel

PERSOALAN DEPRESI PADA REMAJA
Mardiya

Depresi merupakan penyakit yang cukup mengganggu kehidupan. Saat ini diperkirakan ratusan juta jiwa penduduk di dunia menderita depresi. Depresi dapat terjadi pada semua usia termasuk remaja. Gangguan depresi ini dapat menimbulkan penderitaan yang berat. Depresi menjadi masalah dalam kesehatan masyarakat. Biaya pengobatannya sangat besar dan bila tidak diobati dapat terjadi hal yang sangat buruk karena dapat menimbulkan gangguan serius dalam fungsi sosial, kualitas hidup penderita, hingga kematian karena bunuh diri. Istilah depresi pertama kali dikenalkan oleh Meyer (1905) untuk menggambarkan suatu penyakit jiwa dengan gejala utama sedih, yang disertai gejala-gejala psikologis lainnya, gangguan somatik (fisik) maupun gangguan psikomotor dalam kurun waktu tertentu dan digolongkan ke dalam gangguan afektif. Anak remaja yang mengalami gangguan depresi akan menunjukkan gejala-gejala seperti perasaan sedih yang berkepanjangan, suka menyendiri, sering melamun di dalam kelas/di rumah, kurang nafsu makan atau makan berlebihan, sulit tidur atau tidur berlebihan, merasa lelah, lesu atau kurang bertenaga, serasa rendah diri, sulit konsentrasi dan sulit mengambil keputusan. Selain itu merasa putus asa, gairah belajar berkurang, tidak ada inisiatif, hipo atau hiperaktif. Anak remaja dengan gejala-gejala depresi akan memperlihatkan kreativitas, inisiatif dan motivasi belajar yang menurun, sehingga akan menimbulkan kesulitan belajar sehingga membuat prestasi belajar anak menurun dari hari ke hari. Dengan demikian, depresi harus dibedakan dengan kesedihan biasa, karena depresi adalah salah satu gangguan jiwa sedangka kesedihan adalah fenomena sosial yang dapat dialami oleh setiap manusia. Dua hal itu dapat dibedakan secara kuantitatif. Pada depresi, episode lebih lama, gejala lebih intensif dibandingkan dengan kesedihan biasa. Pada depresi faktor presipitasi tidak sejelas pada kesedihan biasa dan kualitas gejala depresi ada yang khusus seperti halusinasi dan pikiran bunuh diri yang tidak terdapat pada kesedihan biasa. Menurut I Gusti Ayu Endah Ardjana (dalam Soetjiningsih, 2004) depresi yang nyata menunjukkan trias gejala, yaitu: Pertama, Tertekannya perasaan. Tertekannya perasaan dapat

1917) dan Psikodinamik (Abraham. Pada usia lebih dari 10 tahun. penyebabnya belum diketahui secara pasti. mudah menangis dan sebagainya. Kelambatan psikomotor merupakan gejala yang dapat dinilai secara obyektif oleh pengamat dan juga dirasakan oleh penderita. keluhan somatik yang yang tak menentu. Dari data penelitian di Amerika. Kesulitan berpikir. atau psikodinamika. Meskipun penyebab depresi remaja tidak diketahui secara lengkap. kimia otak. di mana superego. didapatkan gejala depresi pada remaja umur 11-13 tahun (remaja awal) lebih ringan secara bermakna dibandingkan dengan gejala depresi pada umur 14 tahun (remaja menengah) dan umur 17-18 tahun (remaja akhir). penggunaan fantasi sebagai alat pelarian makin hilang. Kesulitan berpikir nampak dalam reaksi verbalnya yang lambat. lebih berat gejala depresinya daripada remaja dengan sosio ekonomi yang lebih tinggi. Menurut teori Psikoanalitik (Freud. Penelitian untuk mengetahui mekanisme terjadinya sudah cukup banyak dilakukan. baik dalam bidang genetik. kemampuan verbal. faktor psikologis. yaitu: Pertama. dapat pula diekspresikan dalam bentuk roman muka yang sedih. kurang energi. namun telah diajukan sejumlah teori penting yang dapat digunakan sebagai gambaran sebagai faktor penyebab depresi. Remaja awal dengan gejala depresi lebih sering mengeluh dirinya kurang menarik dan ingin berat badannya turun dari pada remaja akhir. Kedua.dirasakan penderita. namun hasilnya belum memberikan kepastian. Depresi yang nyata dapat dilihat pada anak usia lebih 10 tahun terutama apada usia remaja. Berdasarkan penelitian. pencitraan otak. Setidaknya ada lima faktor yang dapat diketahui sebagai faktor penyebab depresi. semakin meningkat usia anak maka angka kejadian depresinya makin meningkat. Kelambatan psikomotor. penggunaan proses berpikir secara realistik makin berkembang. kemudian individu . 1927) depresi disebabkan karena kehilangan obyek cinta. kurang antusias. tidak mengindahkan dirinya. Ketiga. ragu-ragu. Remaja dengan sosio-ekonomi lebih rendah. sedikit sekali bicara dan penderita menyatakan dengan tegas bahwa proses berpikirnya menjadi lambat. Walaupun depresi sudah dikenal sejak beberapa abad yang lalu. kognitif dan kemampuan menyatakan perasaannya sudah berkembang lebih matang sehingga gejala depresi pada usia ini mirip dengan gejala depresi pada orang dewasa. sudah tidak menggunakan mekanisme pembelaan yang primitif dan makin berkembangnya suara hati nurani (superego) yang akan memperhebat perasaan bersalah dan rendah diri. dilaporkan secara verbal. Misalnya mudah lelah.

faktor psikososial. Keempat. kemudian merasa tidak mampu pula menguasai masa depan. Memiliki satu orangtua yang mengalami depresi. Pada orang dewasa sering ditemukan gangguan dalam bidang imunologis sehingga lebih mudah terjadi infeksi pada susunan syaraf pusat. meningkatkan resiko dua kali pada keturunannya. Faktor ini terdiri atas faktor neuro-kimia dan neuro-endokrin. . tidak ada yang menolong dirinya sendiri (helplessness). Kelima. Dapat dikatakan bahwa anak-anak dari orangtua yang depresi psikotik dan depresi non-psikotik terdapat insiden yang tinggi dari gejala depresi ini. gangguan ritme biologis. Sedangkan menurut teori belajar “merasa tidak berdaya” (learned helplessness model) dari Seligman (1975) depresi terjadi bila seorang individu mengalami suatu peristiwa yang tidak dapat dikendalikannya. Faktor neurokimia. yaitu mono-amine neurotransmitters. meningkatnya kardar hormon pertumbuhan secara berlebihan serta gangguan tiroid. Sementara Beck (1974) dengan model cognitive-behavioral nya menyatakan bahwa depresi terjadi karena pandangan yang negatif terhadap diri sendiri. Hal ini sangat jarang terjadi pada anak dan remaja. Depresi bisa disebabkan oleh faktor keturunan. Penyebab depresi apada anak usia remaja mirip dengan orang dewasa. biasanya karena triad cognitive yaitu: perasaan tidak berharga (worthlessness). Anak remaja dalam lingkungan keluarga yang broken home. rasa tidak berdaya dan putus asa. Ketiga pandangan ini menyebabkan timbulnya depresi. Kemungkinan lain adalah bahwa zat-zat imunologis tersebut terlalu aktif sehingga menimbulkan kerusakan pada susunan saraf pusat. faktor neuro-imunologis. Faktor neuro-endokrin bisa berasal dari terjadinya disfungsi dalam sistem penyaluran rangsang dari hipotalamus ke hipofise dan target organ lain. faktor biologis. jumlah saudara banyak. status ekonomi orangtua rendah. Ketiga. pemisahan orangtua dengan karena meningggal atau perceraian serta buruknya fungsi keluarga. merupakan faktor psikososial yang dapat menyebabkan anak remaja mengalami depresi. Resiko itu meningkat menjadi empat kali bila kedua orangtuanya sama-sama mengalami depresi. Kedua. kekurangan zat ini bisa menyebabkan timbulnya depresi. dan tidak ada harapan (hopelessness).mengadakan introyeksi yang ambivalen dari obyek cinta tersebut atau rasa marah diarahkan pada diri sendiri. interpretasi yang negatif terhadap pengalaman hidup dan harapan yang negatif terhadap diri sendiri dan masa depan. Resiko untuk terjadinya depresi meningkat antara 20 – 40 % untuk keluarga keturunan pertama. faktor genetik.

ada trauma psikologis berat yang mendadak sebelum timbulnya gejala depresi. (2) Kehilangan minat dan gairah pada hampir semua aktivitas. (3) mudah lelah dan menurunnya aktivitas. (6) Nafsu makan berkurang. (3) Merasa bersalah dan tidak berguna. dan . Ada gangguan dalam penyesuaian diri sosial dan emosional sebelum sakit. psikoterapi interpersonal. lamanya gejala hanya dalam waktu singkat. (3) Depresi terselubung. yang dirasakan sepanjang hari. (7) Gagasan dan perbuatan membahayakan diri atau pikiran untuk bunuh diri. (3) Bila remaja menjadi nakal. penyimpangan seksual. yaitu penanganan lingkungan. maka harus dipikirkan kemungkinan depresi terselubung. (4) Pandangan masa depan suram dan pesimistik. dan problema sekolah. Psikoterapi terapi yang dapat terapi perilaku kognitif diberikan adalah terapi keluarga. (2) Harga diri dan rasa percaya diri berkurang. Gejala utama terdiri atas: (1) Suasana perasaan yang tertekan sepanjang hari.Depresi berdasarkan karakteristiknya dapat dikelompokkan menjadi tiga macam: (1) Depresi Akut Depresi akut mempunyai ciri-ciri: manifestasi gejala depresi jelas (nyata). Depresi pada remaja sering dominan berkaitan dengan penyimpangan perilaku. (5) Imsomnia atau hipersomnia. Beberapa pegangan untuk mengetahui apakah pada anak remaja terdapat depresi atau tidak antara lain: (1) Pendekatan dan wawancara dengan remaja dengan cara diajak berceritera. Gejala-gejala yang tampak pada penderita depresi menurut Pedoman Penggolongan dan Dianognis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III dibedakan atas gejala utama dan gejala tambahan. kelainan somatik tanpa didasari kelainan fisik. (cognitive behavior theraphty). gejalanya dalam waktu lebih lama dari pada depresi akut. hiperaktif. prestasi sekolah menurun. biasanya dalam bentuk kepribadian yang kaku. Penanganan depresi pada remaja harus menggunakan konsep elektik-holistik. Gejala depresi ini minimal berlangsung dua minggu. Depresi kronik mempunyai ciri-ciri: gejala depresi jelas (nyata) tetapi tidak ada faktor pencetus yang mendadak. (2) Depresi Kronik. psikosomatik. penyalahgunaan obat. (2) Observasi afek (suasana perasaan) dan perilaku remaja. Sedangkan gejala tambahan terdiri atas: (1) Konsentrasi dan perhatian berkurang. Gejala depresi tak jelas tetapi menunjukkan gejala lain misalnya. psikoterapi dan medika mentosa. keluhan fisik tak khas. secara relatif mempunyai adaptasi dan fungsi ego yang baik sebelum sakit dan tidak ada psikopatologi yang berat dalam anggota keluarganya yang terdekat. dan sebagainya. tingkah laku agresif. ada riwayat gangguan afektif pada anggota keluarga terdekat.

.Drs. Mardiya Kasubid Advokasi Konseling dan Pembinaan Kelembagaan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BPMPDP dan KB Kabupaten Kulon Progo.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful