P. 1
ANTIBIOTIK linkosamid, polien, antramisin dan antrasiklin

ANTIBIOTIK linkosamid, polien, antramisin dan antrasiklin

|Views: 583|Likes:
Published by Bayyinah Ardian

More info:

Published by: Bayyinah Ardian on Nov 01, 2011
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/05/2014

pdf

text

original

KELOMPOK VII

One step for one thousand action…

TURUNAN LINKOSAMIDA
Turunan linkosamid adalah antibiotika yang mengandung sulfur, dikarakterisasi oleh 4-alkil asam pipekolat atau asam higrat yang terikat pada alkil 6-amino-α-tiooktopiranosida melalui sambungan amida. Turunan ini mengandung gugus yang bersifat basa, yaitu N-pirolidin atau Npiperidin, dan dapat membentuk garam yang mudah larut dalam air.

MEKANISME KERJA
Turunan linkosamida dapat mengikat secara kuat ribosom subunit 50-S bakteri dan menghambat reaksi enzim peptidil transferase sehingga mencegah pembentukan ikatan peptida dan menghambat sintesis protein bakteri. Linkosamid terutama bersifat bakteriostatik, tetapi dapat juga bakterisid, tergantung pada kadar antibiotika, organisme penyebab dan besarnya inokulum. Linkosamid aktif terhadap sebagian besar bakteria Gram positif dan Gram negatif yang anaerobik

EFEK SAMPING
Turunan linkosamida menimbulkan efek samping “antibioticassociated pseudomembranous colitis” (AAPMC), dengan gejalagejala diare, nyeri abdominal, demam, tinja berlendir dan ada darah, yang kadang-kadang berakibat fatal. Insiden AAPMC terjadi pada 1-10% penderita. AAPMC disebabkan oleh toksin yang dikeluarkan oleh Clostridium difficile yang telah tahan terhadap klindamisin. Olehnkarena itu turunan linkosamida hanya digunakan bila ada indikasi yang jelas. Efek samping lain dari turunan linkosamida adalah mual, pusing dan reaksi alergi, iritasi gastrointestinal, stomatitis

Linkomisin HCl (Lincobiotic, Lincocin, Lincomec, Nichomycin) → Absorpsi obat dalam saluran cerna cepat (+ 40%), kadar darah tertinggi dicapai dalam 2-4 jam setelah pemberian secara oral dan efektif selama 6-8 jam. Pada pemberian secara intramuskular, kadar dalah tertinggi obat dicapai dalam waktu 0,5 jam dan tetap efektif selama 24 jam. Waktu paro biologisnya + 5,4 jam. Dosis oral : 500 mg 3 dd, I.M. atau I.V. : 600 mg 1 dd.

• Klindamisin HCl ( Albiotin, Dalacin C, Xeldac)

Absorpsi obat dalam saluran cerna cepat dan hampir sempurna (+ 90%), kadar darah tertinggi dicapai dalam 4560 menit setelah pemberian secara oral dan efektif selama + 6 jam. Pada pemberian obat secara intramuskular, kadar darah tertinggi dicapai dalam waktu 3 jam dan tetap efektif selama 8-12 jam. Waktu paro biologis obat + 3 jam. Bentuk pra-obatnya, misal garam fosfat atau palmitat, tidak aktif pada in vitro, tetapi pada in vivo akan terhidrolisis melepaskan antibiotik aktif. Dosis oral : 150-300 mg 4 dd, I.M. atau I.V. : 600-1200 mg/hari, dalam dosis terbagi 2-4 kali.
• Klindamisin menghambat tahap dini sintesis protein dengan mekanisme yang serupa dengan kerja makrolida.

TURUNAN POLIEN
 Dihasilkan oleh Streptomyces sp. (Actinomycetales)

 Karakteristik : Cincin lakton dan ikatan rangkap terkonjugasi
 Aktivitas : (-)antibakteri, (-)antiriketsia, (+)anti jamur dan yeast  Contoh : Amfoterisin B, kandisidin dan nistatin.

ANTIBIOTIKA POLIEN
1. AMFOTERISIN B 2. KANDISIDIN 3. NISTATIN

STRUKTUR KIMIA

Nistatin

Amfoterisin B

Ergosterol

AMFOTERISIN B
• Merupakan hasil fermentasi dari Streptomyces nodosus

• Menyerang sel yang sedang tumbuh dan selmatang
• Bersifat fungistatik atau fungisidal tergantung dosis. • Efektif menghambat Histoplasmacapsulatum • Cryptococcus neoformans, Candida, Blastomyces dermatiditis, dan Aspergillus.

LANJUTAN....
• Mekanisme kerja : berikatan kuat dengan ergosterol yang terdapat pada membran sel jamur sehingga menyebabkan kebocoran dari membran sel, dan akhirnya lisis. • Farmakokinetik : sangat sedikit diserap melalui saluran cerna, diberikan secara IV, distribusi ke cairan pleura, peritoneal , sinovial dan akuosa. Ekskresi melalui ginjal sangat lambat.

LANJUTAN........
• INDIKASI : mikosis sistemik sepertikoksidioidomikosis, parakoksidiomikosis, aspergilosis, kandidiosi, blastomikosis, histoplasmosis. • EFEK SAMPING : demam dan menggigil, gangguan ginjal, hipotensi, anemia, efekneurologik, tromboflebitis.

• Penderita yang diobati amfoterisin B harus dirawat di rumah sakit karena diperlukan pengamatan yang ketat selama pemberian obat.

MEKANISME KERJA
 Antibiotik turunan polien memiliki ikatan rangkap terkonjugasi, isomer trans (cis tidak aktif) yang bersifat hidrofob dan memiliki rantai β-hidroksilasi yang bersifat hidrofil.  Amfoterisin B efektif pada berbagai infeksi jamur, Nistatin efektif pada infeksi mikosis sistemik oleh candida sp.  Adanya afinitas antibiotik yang besar terhadap membran sel jamur, yaitu sterol (ergosterol).  Terjadi interaksi antibiotik dan ergosterol oleh ikatan rangkap terkonjugasi membentuk kompleks yang mengakibatkan perubahan permeabilitas sel jamur.

 Terjadi pengeluaran ion K, fosfat anorganik, asam karboksilat, asam amino dan ester fosfat sel jamur.

NISTATIN
ANTIBIOTIKA POLIEN UNTUK KANDIDA DAN DERMATOFIT

HAMPIR TIDAK DIABSORPSI MELALUI KULIT
PER ORAL - DIEKSKRESIKAN 100%

LANJUTAN...
• MEKANISME KERJA : berikatan dengan ergosterol pada membran jamur permeabilitas meningkat, sel jamur mati. • INDIKASI : kandidiasis kulit, selaput lendir, dan saluran cerna. • EFEK SAMPING : jarang ditemukan mual, muntah, diare ringan.

KANDISIDIN
Kandisidin merupakan antibiotik polien topikal untuk vaginal SALEP WHITFIELD : CAMPURAN ASAM SALISILAT + ASAM BENZOAT (1:2) (6% :12%)

 Dihasilkan oleh Streptomyces sp  Dikarakterisasi dengan adanya struktur siklik yang mengandung gugus aromatik dan jembatan makrosiklik alifatik panjang ( ansa ), diantara posisi dua inti aromatik yang tidak saling berdekatan.  Umumnya turunan ansamisin menimbulkan toksisitas tinggi dan hanya satu yg digunakan dalam klinik, yaitu : rifampisin, dengan struktur kimia :

RIFAMPISIN
 Merupakan derivat semisintetik Rifamisin B yaitu salah satu anggota kelompok antibiotik makrosiklik yang disebut Rifamisin.  Sering disebut sbg “obat ajaib” dimana mengandung 17 anggota rantai ansa & memiliki spektrum antibakteri yang luas.  Merupakan produk fermentasi dari dimana pada tahun 1969 telah Streptomyces mediterranea.

Nocardia mediterranea
direklasifikasi sebagai

 Pada tahun 1991 RIF digunakan sebagai obat lini pertama dalam terapi antituberkolosis , bersama dengan isoniazid (INH), pyrazimanid, dan streptomisin (atau etambutol), seperti yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

MEKANISME KERJA RIFAMPISIN
Terutama aktif terhadap sel yang sedang tumbuh. Kerjanya menghambat DNA-dependent RNA polymerase dari mikrobakteri dan mikroorganisme lain dengan menekan mula terbentuknya (bukan pemanjangan) rantai dalam sintesis RNA. Inti RNA polymerase dari berbagai sel eukariotik tidak mengikat rifampisin dan sintesis RNAnya tidak dipengaruhi. Rifampisin dapat menghambat sintesis RNA mitokondria mamalia tetapi diperlukan kadar yang lebih tinggi dari kadar untuk penghambatan pada kuman.

RIFABUTIN
 Antibiotik turunan rifamisin  Aktif terhadap M. tuberculosis, M. avium-intraseluler dan M. fortuitum.  Aktivitasnya mirip dengan Rifampisin tetapi sering terjadi resistensi silang dengan Rifampisin. Rifabutin suatu substrat dan induktor dari Sitokrom P450, tetapi lebih lemah daripada Rifampisin sehingga diindikasikan untuk pengobatan Tuberculosis pada pasien HIV yang juga menggunakan antiretroviral golongan protease inhibitor atau NNRTI (nonnucleoside reverse tanscriptase inhibitor), misalnya efafirenz yang merupakan obat juga substrat Sitokrom P450.  Efektif untuk terapi pencegahan dan pengobatan infeksi disseminated atypical mycobakteria Rifamisin

RIFAPENTIN
• • Merupakan suatu analog Rifampisin Aktif terhadap M. tuberculosis dan M. avium. Rifapentin suatu induktor poten enzim Sitokrom P450. Bersama dengan metabolitnya, waktu paruh eliminasi obat ini 13 jam. Rifapentin diindikasikan untuk pengobatan Tuberculosis oleh mikobakteria yang sensitif terhadap Rifampisin. Dosis dewasa 600 mg sekali atau dua kali seminggu

PENGERTIAN
• Antibiotik Anthracycline pertama kali diisolasi sebagai zat merah dari mikroorganisme pada tahun 1939, dan sifat antibiotiknya dipelajari pada tahun 1950. Antibiotik ini membunuh bakteri cukup mudah, namun terlalu beracun untuk digunakan untuk infeksi pada manusia. Ia tidak sampai tahun 1960-an bahwa antibiotik anthracycline diuji untuk antitumor dan ditemukan aktif terhadap sel kanker.

Turunan antrasiklin adalah antibiotika turunan antrasiklinon, pada umumnya tetrasiklik, dan dihasilkan oleh Streptomyces sp. Mengandung gula pada konfigurasi L yang terikat pada gugus 7-hidroksil antrasiklinon melalui ikatan glikosidik.

Antrasiklinon adalah aglikon yang mengandung kromofor antrakuinon dalam rangka hidrokarbon yang linier, mirip dengan tetrasiklin. Perbedaan struktur diantara turunan antrasiklin adalah pada jumlah dan posisi gugus hidroksil fenol, derajat oksidasi dari dua atom C rantai samping pada posisi 9 dan adanya ester asam karboksilat pada posisi 10. Pada umumnya turunan antrasiklin digunakan sebagai obat antikanker. Selain inhibisi topoisomerase mereka juga intercalate antara pasangan basa dalam DNA dan menyebabkan pembentukan radikal bebas. Siklus sel non-spesifik

Struktur Planar → interaksi pada DNA dan ss break DNA


Amino Gula → menstabilkan ikatan dengan DNA
Menghasilkan radikal → merusak sel dan ss / ds break DNA

http://elisa1.ugm.ac.id/files/Arie_BS/qnAKShQ A/ANTIKANKER.pdf

1. DAUNORUBICIN HYDROCHLORIDE

(8S,10S)-8-Acetyl-10-[(3-amino-2,3,6-trideoxy-α-L-lyxohexopyransoyl)oxy]-7,8,9,10-tetrahydro-6,8,11-trihydroxy-1-methoxy5,12-naphthacenedione hydrochloride

CON’T
• Daunorubisin adalah anti kanker ("antineoplastik" atau "sitotoksik") obat kemoterapi. Obat ini diklasifikasikan sebagai "antibiotik antitumor anthracycline."
• Berasal dari strain Streptomyces coeruleorubidus, interkalasi antara pasangan basa membentuk kompleks dengan DNA. Ia memelihara stabilitas DNA topoisomerase-kompleks II yang mencegah topoisomerase II dari katalis bagian religation dari reaksi ligasi-religation terkemuka untuk istirahat untai DNA tunggal dan ganda. Hal ini juga blok aktivitas polimerase, mempengaruhi regulasi ekspresi gen dan menghasilkan radikal bebas merusak DNA.

Daunorubisin bekerja untuk mencegah pertumbuhan sel dengan mencegah replikasi DNA. Mekanisme yang tepat efek ini masih sedang dipelajari oleh ahli kimia dan biologi molekular. Satu teori yaitu inhibitor topoisomerase. Untuk dapat direplikasi, helix ganda DNA harus ditarik terpisah. Dalam hal ini enzim topoisomerase akan membelah salah satu untai DNA dan melewati untai lain melalui istirahat, kemudian menyambung kembali potonganpotongan DNA. Daunorubisin mencegah topoisomerase menyambung kembali potongan tersebut. Penelitian telah menunjukkan bahwa antibiotik anthracycline intercalate pada DNA beruntai ganda, ini dapat mengganggu DNA dan dengan demikian replikasi DNA. Anthracyclines juga menyebabkan kerusakan radikal bebas pada DNA dalam diri mereka. Oleh karena itu, banyak sel mati. Daunorubisin juga kadang-kadang dapat menyebabkan mutasi pada sel normal. Seseorang yang diberikan daunorubisin jangka panjang untuk mengobati kanker akan berisiko besar. Daunorubisin dapat menyebabkan luka dan bengkak karena mengandung bahan kimia yang menyebabkan kerusakan jaringan luas jika lolos dari vena.

http://www.pfeist.net/ALL/anth.html

• •

Daunorubisin lebih efektif melawan sel-sel leukemia dari sel-sel tumor. Daunorubisin hidroklorida digunakan untuk: - Untuk mengobati leukemia myelogenous akut (AML) - Juga untuk mengobati leukemia limfoblastik akut (ALL)

• •

Daunorubisin diberikan melalui IV dan obat diberikan selama beberapa menit, larutan berwarna oranye. Efek samping yang berikut ini umum (terjadi di lebih dari 30%) untuk pasien yang memakai daunorubisin: - Nyeri di sepanjang situs di mana obat itu diberikan. - Urin mungkin tampak merah, merah-cokelat, oranye atau pink dari

warna obat selama satu sampai dua hari setelah menerima dosis.
- mual dan muntah (biasanya ringan, terjadi dalam 1-2 jam pengobatan). - Mulut luka (dalam minggu pertama setelah terapi) - kelainan ritme jantung, biasanya tanpa gejala dan singkat

- Kerontokan rambut sementara pada kulit kepala atau di tempat lain
pada tubuh

2. DOKSORUBISIN HCL

(8S,10S)-10-[3-Amino-2,3,6-trideoxy-a-L-lyxohexopyranosyl)-oxy-8-glycoloyl]-7,8,9,10-tetrahydro6,8,11-trihydroxy-1-methoxy-5,12-naphthacenedione hydrochloride
http://www.newdruginfo.com/pharmacopeia/u sp28/v28230/usp28nf23s0_m28180.htm

• Doksorubisin adalah Antrasiklin yang terisolasi dari strain Streptomyces peucetius caesius var.
• Berinterkalasi di antara basa-basa dalam DNA rantai ganda, meracuni topoisomerase II yang menyebabkan penghambatan aktivitas mitosis, sintesis asam nucleid, mutagenesis dan penyimpangan kromosom. • Bereaksi dengan sitokrom P450 melepaskan hidrogen peroksida dan radikal hidroksil, dan mungkin merusak fungsi membran sel. • DNA topoisomerase II sangat penting untuk replikasi DNA. Doksorubisin akan menghambat enzim ini dengan menstabilkan kompleks kovalen DNA intermediat-enzim, mencegah potongan-potongan DNA bersatu lagi sehingga terjadi kematian sel.
http://farmakologi.files.wordpress.com/2008/11/ antineoplastik.pdf

3. EPIRUBICIN


• •

Memiliki kelompok HO- menunjuk dalam arah yang berlawanan dari doxorubicin. Epidoxoform memiliki struktur yang berbeda dari Doxoform karena perubahan dalam stereokimia pada posisi 4'-. Konsekuensi utama dari perubahan struktural adalah tingkat yang lebih tinggi stabilitas hidrolitik. Meskipun kurang aktif daripada Doxoform terhadap sel kanker, tetapi mereka lebih stabil. Epidoxoform dapat meningkatkan lipofilisitas dan penetrasi sel karena mempunyai stabilitas hidrolitik yaitu untuk mencegah air berpenetrasi Pada Jalur glukoronidasi Kliren Lebih cepat Waktu paruh lebih pendek Dosis dapat ditingkatkan sampai 180 mg/m2

Diindikasikan sebagai komponen terapi pembantu pada pasien tumor dengan pembengkakan aksila diikuti dengan kanker payudara primer (Tahap II & III) Mulai dosis 100 sampai 120 mg/m2 Diindikasikan untuk terapi pasien dengan kanker payudara stadium lanjut atau metastasis Mulai dosis 100-135 mg/m2

www.fda.gov/ohrms/dockets/ac/99/slides/3 521S1_03_PharmaciaUpjohn.ppt

5. PLIKAMISIN (MITRAMYCIN)

Berinteraksi ke dalam DNA terutama pada pasangan basa guanin-sitosin; menghambat sintesis RNA

http://farmakologi.files.wordpress.com/2008/ 11/antineoplastik.pdf

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->