P. 1
Askep SEctio CAesarEa

Askep SEctio CAesarEa

|Views: 378|Likes:
Published by Meymeyla Meymey

More info:

Published by: Meymeyla Meymey on Nov 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/24/2014

pdf

text

original

SECTIO CAESAREA

BAB II TINJAUAN TEORI A. PENGERTIAN Section caesarea adalah lahirnya janin melalui insisi didinding abdomen (laparotomi) dan dinding uterus (histerektomi). (cuningham, F garry, 2005 ; 592) Operasi Caesar atau sectio caesarea adalah proses persalinan yang dilakukan dengan cara mengiris perut hingga rahim seorang ibu untuk mengeluarkan bayi. (www.mikoraharja.wordpress.com) Ketuban Pecah Dini adalah pecahnya selaput ketuban sebelum ada tanda-tanda persalinan (Mansjoer, Arif, 1999: 310). Ketuban Pecah Dini didefinisikan sebagai amnioreksis sebelum permulaan pesalinan pada setiap tahapan kehamilan. (Hecker, 2001: 304). Ketuban Pecah Dini yaitu apabila ketuban pecah spontan dan tidak diikuti tanda-tanda persalinan, beberapa jam sebelum inpartu, misalnya 1 jam atau 6 jam sebelum inpartu. Ada juga yang menyatakan dalam ukuran pembukaan servik pada kala I, misalnya ketuban pecah sebelum pembukaan servik pada primigravida 3 cm dan pada multigravida kurang dari 5 cm. (www.medlinux.blogspot.com) Masa nifas adalah periode setelah kelahiran bayi dan plasenta sampai sekitar 6 minggu setelah post partum (Hecker, 2001: 145). Sectio caesarea merupakan tindakan operatif yang bertujuan menyelamatkan janin dan ibu. B. ETIOLOGI 1. Etiologi ketuban pecah dini Penyebab dari ketuban pecah dini (KPD) masih belum jelas ada berbagai faktor ikut serta dalam kejadiannya. (Hecker, 2001 ; 304) a. Infeksi vagina dan servik b. Fisiologi selaput ketuban yang abnormal c. Inkompetensi serviks d. Defisiensi gizi dari tembaga atau asam askorbat (vtaimn C). Menurut Mansjoer Arif, faktor presdisposisi KPD yaitu infeksi genitalia, servik inkompeten, gamelia, hidramnion kehamilan pre term, dan disproporsi sepalo pelvik. 2. Indikasi section caesarea Indikasi sectio caesarea (Cuningham, F Garry, 2005: 595) a. Riwayat sectio caesarea Uterus yang memiliki jaringan parut dianggap sebagai kontraindikasi untuk melahirkan karena dikhawatirkan akan terjadi rupture uteri. Resiko ruptur uteri meningkat seiring dengan jumlah insisi sebelumnya, klien dengan jaringan perut melintang yang terbatas disegmen uterus bawah , kemungknan mengalami robekan jaringan parut simtomatik pada kehamilan berikutnya. Wanita yang mengalami ruptur uteri beresiko mengalami kekambuhan , sehingga tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan persalinan pervaginam tetapi dengan beresiko ruptur uteri dengan akibat buruk bagi ibu dan janin, american collage of obstetrician and ginecologistc (1999) b. Distosia persalinan

infeksi menyeluruh). . maka persalinan per vagina dianjurkan. persalinan kurang bulan terkena indikasi ketuban pecah dini daripada 10% klien persalinan cukup bulan indikasi ketuban pecah dini akan menjadi tahap karioamnionitis (sepsis. posisi janin 4) Kelainna jaringan lemak saluran reproduksi yang menghalangi turunnya janin c. persalinan abnormal sering terjadi terdapat disproporsi antara bagian presentasi janin dan jalan lahir. dilatasi servik (disfungsi uterus) dan kurangnya upaya utot volunter selama persalinan kala dua. jika penentuan waktu sectio caesarea terlambat. kelainan neurologis seperti cerebral palsy dapat dihindari dengan waktu yang tepat untuk sectio caesarea. maka tindakan sectio caesarea tepat dilakukan secepat mungkin untuk menghindari kecacatan atau terinfeksinya janin lebih parah. Letak sungsang Janin dengan presetasi bokong mengalami peningkatan resiko prolaps tali pusat dan terperangkapnya kepala apabila dilahirka pervaginam dibandingkan dengan janin presentasi kepala. C.Distosia berarti persalinan yang sulit dan ditandai oleh terlalu lambatnya kemajuan persalinan. Keadaan cerviks yang baik pada kontraksi uterus yang baik. Gawat janin Keadaan gawat janin bisa mempengaruhi keadaan keadaan janin. tetapi apabila terjadi gagal induksi cerviks atau induksi cerviks tidak baik. Atau disebut juga sawar mekanik terhadap infeksi. 2) Panggul sepit 3) Kelainan presentasi. kelainan persalinan terdiri dari : 1) Ekspulsi (kelainan gaya dorong) Oleh karena gaya uterus yang kurang kuat. d. Setelah amnion terinfeksi oleh bakteri dan disebut kolonisasi bakteri maka janin akan berpotensi untuk terinfeksi juga pada 25% klien cukup bulan yang terkena infeksi amnion. PATOFISIOLOGI Amnion terdapat pada plasenta dan berisi cairan yang didalamnya adalah sifat dari kantung amnion adalah bakteriostatik yaitu untuk mencegah karioamnionistis dan infeksi pada janin.

E. terletak melintang. Oleh karena itu. atau apabila teardapat karsinoma invasik diservik b) Janin berukuran besar. Sebagian besar insisi dibuat di segmen bawah uterus secara melintang. segman bawah uterus tidak menipis e) Obesitas berat 2) Insisi caesarea transversal Insisi tranversal melalui segman bawah uterus merupakan tindakan untuk presentasi kepala. GAMBARAN KLINIS 1. Tahapan dan Teknik Sectio Caesarea a. insisi melintang disegman bawah memiliki keunggulan yaitu hanya memerlukan sedikit pemisahan kandung kemih dari miometrium dibawahnya.D. Inspekula tampak air ketuban mengalir atau selaput ketuban sudah kering dan tidak ada. Janin mudah diraba 4. kuning. 1999: 310) : 1. Arif. Insisi Uterus 1) Insisi caesarea klasik Insisi caesarea klasik adalah suatu insisi vertikal ke dalam korpus uterus diatas segmen bawa uterus dan mencapai fundus uterus. Dapat disertai demam apabila disertai infeksi 3. b. insisi ini harus cukup pajang agar janin dapat lahir tanpa kesulitan. diantaranya : a) Lebih mudah diperbaiki b) Kemungkinan ruptur disrtai keluarnya janin kerongga abdomen pada kehamilan berikutnya c) Tidak mengakibatkan perlekatan usus Insisi uterus harus dibuat cukup lebar agar kepala dan badan janin dapat lahir tanpa merobek atau harus memotong arteri dan vena uterina yang bejalan sepanjang batas lateral uterus. presentasi bokong. MANIFESTASI KLINIK Adapun tanda-tanda KPD yaitu (Mansjoer. Pada pemeriksaan dalam selaput ketuban tidak ada. Insisi dibuat setinggi garis rambut pubis dan diperluar sedikit melebihi batas lateral otot rektus. panjang insisi harus sesuai dengan taksiran ukuran janin 2) Insisi transversal atau lintang Kulit dan jaringan subkutan disayat dengan menggunakan insisi transversal rendah sedikit melengkung. Indikasi untuk dilakukan insisi klasik untuk melahirkan janin : a) Apabila segman bawah uterus tidak bisa dipajankan atau dimasuki dengan aman karena kandung kemih melekat dengan erat akibat pembedahan sebelumnya. Pelahiran janin : . selaput ketuban sudah pecah dan bahu terjepit jalan lahir c) Plasenta previra dengan implantasi anterior d) Janian kecil. Keluar air ketuban warna keruh. jernih. air ketuban sudah kering 5. Insisi Abdomen 1) Insisi vertikal Insisi vertikal garis tengan intra umbilikus. hijau atau kecoklatan sedikit atau sekaligus banyak 2.

e. dilakukan sebelum thorak dilahirkan. f. maupun tidak mengurangi aliran darah rahim. Tali pusat diklem. c. resiko aspirasi paru-paru oleh isi lambung atau hipoksia yang kecil dan mengurangi efek obat pada neonatus. satu tangan diselipkan kedalam rongga uterus diantara simpisis dan kepala janin kepala diangkat secara hati-hati denga jari da telapak tangan melalui lubanginsisi melalui lubang insisi dibantu oleh penekanan sedang transabdomen pada fundus. Bagian tubuh lainnya segera menyusul. Section Caesarea Ektra Peritoneum Diindikasikan bila terjadi kehamilandengan infeksi isi uterus. tujuan operasi adalah untuk membuka uterus secara ektra peritoneum. atau yang diperkirakan tidak lama lagi akan meninggal. a. b. Plasenta dikelurkan dari uterus.a. dan keempat (S 2 sampai S 4). . nyeri kepala tidak akan terjadi pasca operasi karena dura tidak ditusuk. b. Serat syaraf aferen viseral yang membawa impuls sensorik dari rahim memasuki medula spinalis pada segman torakal kesepuluh. Anestesia Sectio Caesarea Analgesia dan anestesia harus diberikan pada ibu yang akan melahirkan dengan cara tidak mengurangi aktifitas rahim. ketiga. kesebelas. g. h. dan keduabelas serta segman lumbal yang pertama (T 10 sampai L 1). Section Caesarea Post Mortum Terkadang section caesarea dilakukan pada seorang wanita yang baru saja meninggal. yang akan dapatmengakibatkan gawat darurat janin atau depresi neonatal. Jenis anestesia untuk sectio caesarea 1) Anestesia Regional Memungkinkan ibu hamil dalam keadaan tetap sadar dan mengurangi kehilangan darah. b. Dengan melakukan insisi melalui ruang retziuz dan kemudian disepanjang salah satu sisi dan dibelakang kandung kemih untuk mencapai segman bawah uterus. Bahu dilahirkan dengan tanpa ringan disertai penekanan pada fundus d. adapun nyeri dari perineum melalui segman sakral kedua. Jalur nyeri pada proses persalinan Nyeri adalah rasa tak enak akibat perangsangan ujung-ujung syaraf khusus. Hidung dan mulut diaspirasi dengan bola penghisap (bulb syringe) untuk mencegah teraspirasinya cairan amnion dan isis nya oleh janin. Pada presentasi kepala. setelahbahu dilarirkan. Indikasi Dilakukan Section Caesarea yang Lain Diantaranya : a. Macam-macam sectio caesarea yang lain 2. yang dapat mengubah kemajuan persalinan. 3) Anestesia Umum Di indikasikan bila dibutuhkan section caesarea yang mendesak pada perdarahan ibu. bayi dipegang setinggi dinding abdoment. 2) Anestesia Epidural Anesthesia ini lebih dapat dikendalikan oleh kateter epidural. ibu atau pasien diberi oksitosin 20 unit/liter dengan kecepatan 10 lml/menit sampai uterus berkontraksi dengan baik. 3. Penjahitan uterus dan dinding abdoment.

Fase Proliferatif Proses kegiatan seluler yang penting pada fase ini adalah memperbaiki dan menyembuhkan luka sectio caesare dan ditandai dengan proliferasi sel. pemaparan sel fibroblas sangat jarang dan biasanya bersembunyi di matriks jaringan penunjang. kandung kemih. yang dikarakteristikkan dengan lima tanda utama: bengkak (swelling). . b. Komplikasi Pada anak Seperti halnya dengan ibunya. Menurut statistik di negara – negara dengan pengawasan antenatal dan intra natal yang baik. Peran fibroblas sangat besar pada proses perbaikan yaitu bertanggung jawab pada persiapan menghasilkan produk struktur protein yang akan digunakan selama proses reonstruksi jaringan. Proses penyembuhannya mencakup beberapa fase: a. terutama cenderung terjadi cedera. panas (heat). kemerahan (redness). 2001 . hangat pada kulit. Komplikasi Komplikasi sectio caesarea mencakup periode masa nifas yang normal dan komplikasi setiap prosedur pembedahan utama. pembuluh didalam ligamen yang lebar. sel-sel mati dan bakteri untuk mempersiapkan dimulainya proses penyembuhan.4. Tujuan yang hendak dicapai adalah menghentikan perdarahan dan membersihkan area luka dari benda asing. Kelainan presentasi janin d. Komplikasi dari Ketuban Pecah Dini diantaranya : a. Infeksi intra uteri b. Secara klinis fase inflamasi ini ditandai dengan : eritema. nasib anak yang dilahirkan dengan sectio caesarea banyak tergantung dari keadaan yang menjadi alasan untuk melakukan sectio caesaria. Nyeri (pain) dan kerusakan fungsi (impaired function). (Sarwono. dan ureter. Kompikasi sectio caesarea (Hecker. 341) a. oedema dan rasa sakit yang berlangsung sampai hari ke-3 atau hari ke-4. Hematuria yang singkat dapat terjadi akibatterlalu antusias dalam menggunakan retraktor didaerah dinding kandung kemih. Persalinan per vaginam tidak diindikasikan 5. Antibiotik profilaksis selama 24 jam diberikan untuk mengurangi sepsis. Sepsis sesudah pembedahan Frekuensi dan komplikasi ini jauh lebih besar bila sectio caesarea dilakukan selama persalinan atau bila terdapat infeksi dalam rahim. Sesudah terjadi luka. Cedera pada sekeliling stuktur Beberapa organ didalam abdomen seperti usus besar. b. kematian perinatal pasca sectio caesaria berkisar antara 4 dan 7 %. Prola tali pusat c. 1999). Perdarahan Perdarahan primer kemungkinan terjadi akibat kegagalan mencapai hemostasis ditempat insisi rahim atau akibat atonia uteri. yang dapat terjadi setelah pemanjangan masa persalinan. Pada jaringan lunak yang normal (tanpa perlukaan). Proses Penyembuhan Luka Tubuh secara normal akan berespon terhadap cedera dengan dilkukan proses sectio cesrea “proses peradangan”. Fase Inflamasi Fase inflamasi adalah adanya respon vaskuler dan seluler yang terjadi akibat perlukaan yang terjadi pada jaringan lunak. c.

Kekuatan dari jaringan parut akan mencapai puncaknya pada minggu ke-10 setelah perlukaan sectio caesarea. warna kemerahan dari jaringa mulai berkurang karena pembuluh mulai regresi dan serat fibrin dari kolagen bertambah banyak untuk memperkuat jaringan parut. Hematokrit. Fase proliferasi akan berakhir jika epitel dermis dan lapisan kolagen telah terbentuk. Perdarahan dari vagina harus dipantau dengan cermat 2. (haemoglobin. terlihat proses kontraksi dan akan dipercepat oleh berbagai growth faktor yang dibentuk oleh makrofag dan platelet. USG. Tes lakmus merah mejadi biru 3. Fungsi kolagen yang lebih spesifik adalah membentuk cikal bakal jaringan baru (connective tissue matrix) dan dengan dikeluarkannya substrat oleh fibroblas. Fibroblas sudah mulai meninggalkan jaringan granulasi. kemudian akan berkembang (proliferasi) serta mengeluarkan beberapa substansi (kolagen. Analgesia meperidin 75-100 mg atau morfin 10-15 mg diberikan. indeks caira amnion berkurang 5. Darah lengkap. 1999 : 271) 1. Fundus uteri harus sering dipalpasi untuk memastikan bahwa uterus tetap berkontraksi dengan kuat 3. Luka dikatakan sembuh jika terjadi kontinuitas lapisan kulit dan kekuatan jaringan parut mampu atau tidak mengganggu untuk melakukan aktifitas normal. namun outcome atau hasil yang dicapai sangat tergantung pada kondisi biologis masing-masing individu.fibroblas akan aktif bergerak dari jaringan sekitar luka ke dalam daerah luka. Amnias sintetis (dengan cara amnion yang cukup diperoleh dari vagina untuk pemeriksaan pematangna paru-paru jain. fibronectin dan proteoglycans) yang berperan dalam membangun (rekontruksi) jaringan baru. Arif. Fase Maturasi Fase ini dimulai pada minggu ke-3 setelah perlukaan dan berakhir sampai kurang lebih 12 bulan. diantaranya (Manjoer. 2005 : 614) 1. pemberian narkotik . Sejumlah sel dan pembuluh darah baru yang tertanam didalam jaringan baru tersebut disebut sebagai jaringan “granulasi”. TATALAKSANA MEDIS Penatalaksanaan medis dan perawatan setelah dilakukan sectio caesarea (Cuningham. hyaluronic acid. leukosit. pembuluh darah baru dan juga fibroblas sebagai kesatuan unit dapat memasuki kawasan luka. lokasi serta luasnya luka. dan dilakukan pemeriksaan pewarnaan gram dan biakan) 4. Penderita muda dan sehat akan mencapai proses yang cepat dibandingkan dengan kurang gizi. trombosit. bila terjadi nyeri 2. Tujuan dari fase maturasi adalah menyempurnakan terbentuknya jaringan baru menjadi jaringan penyembuhan yang kuat dan bermutu. dll) G. diserta penyakit sistemik (diabetes mellitus) F. Leukosit darah kurang dari 1500 permikro darah liter. Meskipun proses penyembuhan luka sama bagi setiap penderita. memberikan pertanda bahwa makrofag. c. PEMERIKSAAN PENUNJANG Untuk mengetahui ketuban pecah dini dapat dilakukan pemeriksaan. F Garry. elastin.

Nyeri yang berhubungan dengan kondisi pasca operasi. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang perawatan melahirkan caesar. Eriksa aliran darah uterus palingsedikit 30 ml/jam 5. seperti perubahan posisi . atau penisilin spekrum luas setelahjanin lahir H. sefalosporin. c. Ambulasi. (Tucker. Pemberian cairan intra vaskuler. Kurang volume cairan berhubungna dengan perdarahan (Doenges. DIAGNOSA KEPERAWATAN Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Pelaksanaan asuhan keperawatan masa nifas pada post operasi sectio caesaria melalui pendekatan proses keperawatan dengan melaksanakan : 1. Kriteria Hasil : Klien mengungkapkan bahwa klien nyaman Intervensi : 1) Antisipasi kebutuhan terhadap obat nyeri dan atau metode tambahan penghilang nyeri. Pemeriksaan laboratorium. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada klien dengan post operasi sectio caesaria diantaranya : a. 2) Perhatikan dokumentasikan. misalnya prometazin 25 mg 4. Kurang pengetahuan perawatan diri dan bayi berhubungan dengan kurang informasi (Doenges. hematokrit diukur pagi hari setelah pembedahan untuk memastikan perdarahan pasca operasi atau mengisyaratkan hipovolemia 9. kegagalan untuk melanjutkan persalinan. Susan Martin. insisi diperiksa setiap hari. 1998). abdomen. b. Resiko terhadap infeksi atau cedera yang berhubungan dengan prosedur pembedahan. prolaps tali pust.biasanya disertai anti emetik. Mencegah infeksi pasca operasi. Resiko terhadap perubahan pola eliminasi perkemihan dan/atau konstipasi yang berhubungan dengan manipulasi dan/atau trauma sekunder terhadap sectio caesaria. dan identifikasi keluhan nyeri pada sisi insisi. jahitan kulit (klip) diangkat pada hari keempat setelah pembedahan 8. perilaku distraksi/penghilang. 4) Berikan tindakan kenyamanan lain yang dapat membantu. Pengkajian Pada pengkajian klien dengan sectio caesaria. 3 liter cairan biasanya memadai untuk 24 jam pertama setelah pembedahan 6. Kurang pengetahuan perawatan diri dan bayi berhubungan dengan kurang informasi (Doenges. e. ampisilin 29 dosis tunggal. Fokus Intervensi a. data yang dapat ditemukan meliputi distress janin. penurunan mobilitas. Perawatan luka. abrupsio plasenta dan plasenta previa. wajah meringis terhadap nyeri. 2000) f. satu hari setelahpembedahan klien dapat turun sebertar dari tempat tidur dengan bantuan orang lain 7. malposisi janin. 2000) 3. Nyeri yang berhubungan dengan kondisi pasca operasi. d. 2. 2000) g. Tujuan : Nyeri diminimalkan / dikontrol dan pasien mengungkapkan bahwa ia nyaman. 3) Berikan obat nyeri sesuai pesanan dan evaluasi efektivitasnya.

Tujuan : Insisi bedah dan kering.37º C Intervensi : 1) Pantau terhadap peningkatan suhu atau takikardia sebagai tanda infeksi. lochia. c. 2000) Tujuan : memenuhi kebutuhan cairan sesuai kebutuhan tubuh Kriteria Hasil : intake dan out put seimbang Intervensi : 1) Observasi perdarahan dan kontraksi uterus 2) Monitor intake dan out put cairan 3) Monitor tanda-tanda vital 4) Observasi pengeluaran lochea. karakteristik dan jumlah 5) Kolaborasi pemberian cairan elektrolit sesuai program . warna. 2) Berikan tekhnik untuk mendorong berkemih sesuai kebutuhan. 3) Jelaskan bahwa lochia dapat berlanjut selama 3 – 4 minggu. dan klien dapat istiraht dengan cukup. tidak ada eksudat. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang perawatan melahirkan caesar. Kriteria Hasil : Klien tidk ad permasalahn dengan pola eliminss Intervensi : 1) Anjurkan berkemih setiap 4 jam sampai 6 jam bila mungkin. Intervensi : 1) Diskusikan tentang perawatan insisi. b. dan kandung kemih dengan tanda vital sesuai pesanan. Kriteria Hsil : Klien mengerti kebutuhan nutrisinya. klien mengerti tentang lochea.atau menyokong dengan bantal. 2) Jelaskan tentang pentingnya periode istirahat terencana. 4) Jelaskan pentingnya latihan. 3) Penggantian pembalut atau sesuai pesanan 4) Kaji fundus. 5) Jelaskan tentang perawatan payudara dan ekspresi manual bila menyusui. e. 5) Anjurkan ibu untuk ambulasi sesuai toleransi. Involusi uterus berlanjut secara normal Kriteria Hasil : tidak ada tanda-tanda nfeksi. berubah dari merah ke coklat sampai putih. 3) Jelaskan prosedur perawatan perineal per kebijakan rumah sakit. 2) Observasi insisi terhadap infeksi. Kurang volume cairan berhubungna dengan perdarahan (Doenges. dan suhu normal 36º C . tidak mulai latiha keras sampai diizinkan oleh dokter. Tujuan : Klien mengungkapkan pemahaman tentang perawatan melahirkan sesar. tanpa tanda atau gejala infeksi. Resiko terhadap perubahan pola eliminasi perkemihan dan/atau konstipasi yang berhubungan dengan manipulasi dan/atau trauma sekunder terhadap sectio caesaria. bau. Tujuan : Berkemih secara spontan tanpa ketidaknyamanan Mengalami defeksi dalam 3 sampai 4 hari setelah pembedahan. Resiko terhadap infeksi atau cedera yang berhubungan dengan prosedur pembedahan. 5) Massage fundus uteri bila menggembung dan tidak tetap keras d. 4) Palpasi abdomen bawah bila pasien melaporkan distensi kandung kemih dan ketidakmampuan untuk berkemih. gejala infeksi dan pentingnya diet nutrisi.

2000) Tujuan : Pengetahuan klien meningkat Kriteria hasil : klien mampu mengungkapkan pemahaman tentag perawatan setelahoperasi sectio caesarea Intervensi : 1) Kaji tingkat pengetahuan klien 2) Berikan tentang perawatan diri 3) Perlunya perawatan payudara dan ekpresi manual bila menyusui 4) Jelaskan pentingnya ASI bagi bayi di 22:15 Diposkan oleh aroeL_ .f. hindarikegiatan yang melelahkan 5) Jelaskan pentingnya mobilisasi dini g. Kurang pengetahuan perawatan diri dan bayi berhubungan dengan kurang informasi (Doenges. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik (Doenges. 2000) Tujuan : aktivitas kembali sesuai kemampuan klien Kriteria hasil : klien bisa beraktivitas seperti biasa Intervensi : 1) Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari seminimal mungkin 2) Berikan posisi yang nyaman 3) Bantu klien dalam ambulasi dini 4) Anjurkan menghemat energi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->