P. 1
Penerapan metode pembelajaran

Penerapan metode pembelajaran

|Views: 867|Likes:
Published by Dedi Mukhlas

More info:

Published by: Dedi Mukhlas on Nov 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/30/2013

pdf

text

original

Sections

3.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan eksperimen semu (quasi), dengan rancangan

eksperimen tes awal tes akhir kelompok kontrol tanpa acak. Rancangan ini

dilakukan pada subyek kelompok tidak dilakukan acak (Sudjana dan Ibrahim,

2001: 44). Rancangan ini dipilih karena eksperimen dilakukan di kelas tertentu

dengan kelas yang telah ada. Dalam menentukan subyek untuk kelompok

eksperimen maupun kelompok kontrol tidak memungkinkan mengubah kelas

yang telah ada. Dengan demikian randomisasi tidak bisa dilakukan. Dalam

menetapkan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dilakukan secara acak

terhadap kelas yang ada. Rancangan eksperimen ditunjukkan seperti Gambar 3.1

Kelompok

Pretes

Ubahan Bebas

Postes

Eksperimen

Kontrol

T1

T1

X

_

T2

T2

Rancangan Tes awal Tes akhir Kelompok kontrol tanpa acak

Dimana T1 = Tes awal, T2 = Tes akhir, dan X = Perlakuan.

Pretes digunakan untuk melihat apakah kedua kelompok yang dijadikan sampel

penelitian sebelum perlakuan setara atau tidak. Untuk menguji hal ini digunakan

uji-t.

Sementara itu, penggunaan model pembelajaran dibedakan atas

penggunaan model pembelajaran inkuiri untuk kelompok eksperimen dan model

Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com

53

pembelajaran langsung untuk kelompok kontrol. Kegiatan guru dan siswa untuk

kedua model pembelajaran yang digunakan diiktisarkan dalam Tabel 3.1 dan

Tabel 3.2 berikut.

Tabel 3.1 Kegiatan Guru dan Siswa dalam Pelaksanaan Perlakuan Model

Inkuiri

No Tahap Kegiatan Guru

Kegiatan Siswa

1 Meng-

hadap-

kan

masalah

1.Menjelaskan Prosedur dan kerangka

penelitian dalam rangka siswa

melakukan penelitian dan menulis

karya ilmiah

2.Menyajikan situasi yang saling

bertentangan.

3.Mengemukakan pertanyaan / masalah

yang dapat memotivasi siswa untuk

mengemukakan pendapatnya

1.Menuliskan prosedur yang

diberikan guru

2.Menjawab

pertanyaan

guru sesuai dengan

pengetahuan awal yang

mereka miliki

2 Mencari

dan

meng-

kaji data

1.Meminta siswa berusaha untuk

mengumpulkan

data

informasi

sebanyak-sebanyaknya tentang masalah

yang mereka hadapi

2.Menyiapkan informasi yang dibutuhkan

siswa

3. Memeriksa tampilnya masalah

4.Menjawab pertanyaan siswa

5. Menetapkan hipotesis dari jawaban

siswa untuk dikaji lebih lanjut

1.Bertanya kepada guru

untuk menggali informasi

2.Melakukan diskusi untuk

merumuskan hipotesis

3.Menyampaikan hipotesis

3 Mencari

data dan

Eksperi-

mentasi

1.Membantu siswa mengisolasi variabel

yang sesuai

2.Mengarahkan siswa untuk merumuskan

hipotesis sebab akibat

3.Meminta siswa untuk menyiapkan

alat/bahan untuk eksperimen sesuai

1.Siswa

mengisolasi

variabel yang sesuai

2.Merumuskan

hipotesis

sebab akibat

3.Menyiapkan alat dan

bahan

secara

Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com

54

dengan alat /bahan yang tertera pada

panduan praktikum

4.Meminta siswa untuk merancang dan

melakukan eksperimen

5.Membimbing proses eksperimen dengan

cara menjawab pertanyaan-pertanyaan

siswa dan mengarahkan siswa untuk

menguji hipotesis melalui pertanyaan-

pertanyaan penuntun.

berkelompok

4.Secara

berkelompok

melakukan eksperimen

5.Bertanya seputar masalah

dan proses eksperimen

yang dilakukan.

6.Menganalisis data untuk

membuat kesimpulan

4. Meng-

organi-

sir,

Meru-

muskan

dan

Menje-

laskan

1.Melalui diskusi kelas guru meminta

siswa

untuk

mengemukakan

kesimpulan yang didapat setelah

melakukan eksperimen

2.Meminta siswa membandingkan hasil

yang mereka peroleh dan memberikan

tanggapan terhadap kesimpulan siswa

yang lain.

3.Mengarahkan diskusi dengan cara

mengklarifikasikan kesimpulan yang

salah, merumuskan kesimpulan ,

menjelaskan,

serta

memberikan

pertanyaan-pertanyaan

untuk

membimbing siswa pada pemecahan

masalah yang terarah

1.Memberikan tanggapan

terhadap

kesimpulan

siswa yang lain.

2.Menjawab

pertanyaan

guru sesuai dengan hasil

eksperimen

3. Menanyakan hal-hal yang

dianggap belum jelas

5. Meng-

analisis

Proses

Peneliti-

an

1.Meminta siswa untuk menganalisis

pola-pola penemuan mereka melalui

proses penulisan karya ilmiah

2. Evaluasi

1.Secara Individu siswa

menulis karya ilmiah

2.Evaluasi

Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com

55

Tabel 3.2 Kegiatan Guru dan Siswa dalam Pelaksanaan Perlakuan
Model pembelajaran langsung

No Tahap

Kegiatan Guru

Kegiatan Siswa

1 Penyampaian
Tujuan
Pembelajaran

Mempersiapkan siswa untuk
belajar dan memotivasi siswa.
Hal ini dilakukan dengan
memberi penjelasan bahwa
kita sering sekali berhubungan
dengan panas dan dingin
dalam kehidupan sehari-hari.
Dilanjutkan dengan
penyampaian

tujuan

pembelajaran

Mendengarkan penjelasan guru
tentang panas dan dingin suatu
benda yang

sebenarnya
menyatakan suhu suatu benda.
Dilanjutkan dengan mencatat
tujuan pembelajaran

2. Demontrasi
Pengetahuan
atau
keterampilan

Mendemonstrasikan

cara
melakukan percobaan seperti
tertera pada LKS

Memperhatikan Demonstrasi
yang dilakukan guru dan
mempelajari LKS

3. Membimbing
latihan

dan

pemberian
umpan balik

Membimbing pelatihan kepada
masing-masing kelompok dan
memodelkan

kembali

mengenai

cara

untuk
melakukan percobaan apabila
ada kelompok yang belum
paham

Masing-masing

kelompok

mencoba

melakukan
percobaan dan menanyakan
kepada guru apabila ada
langkah-langkah yang belum
dipahami

4. Memberikan
kesempatan
kepada siswa
untuk
melakukan
percobaan
dilanjutkan
dengan
tugas/pengerja-
jaan proyek

Menyuruh

masing-masing
kelompok untuk melakukan
percobaan.

Selanjutnya

menjelaskan

tentang
pengertian suhu, alasan
rasional mengapa tangan dan
perasaan tidak dapat digunakan
sebagai alat pengukur yang
tepat,

hubungan

antara
pengertian suhu dengan
peristiwa alam yang relevan.
Kemudian membimbing siswa
untuk membuat karya ilmiah

Masing-masing

kelompok

melakukan

percobaan

Kemudian

mendengarkan

penjelasan

guru

yang
dilanjutkan dengan membuat
karya ilmiah secara individu.

Sebelum menerapkan model pembelajaran inkuiri dan pembelajaran

langsung, guru yang mengajar di kelas eksperimen maupun di kelas kontrol

diberikan pelatihan tentang pembelajaran dengan menggunakan model inkuiri dan

pembelajaran langsung.

Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com

56

Pelaksanaan pembelajaran disesuaikan dengan jadwal pelajaran yang ada

di sekolah tempat pelaksanaan perlakuan.

3.2 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

Untuk menghindari terjadinya kesalahan penafsiran terhadap variabel-

variabel yang terlibat dalam penelitian ini, maka berikut diuraikan variabel

penelitian dan definisi operasional variabel-variabel yang dimaksud.

3.2.1 Variabel Penelitian

Pada penelitian eksperimen ini melibatkan beberapa variabel yang dapat

dikelompokkan sebagai berikut.

1) Variabel Terikat

Variabel terikat pada penelitian ini adalah penalaran formal siswa (Y1)

dan Kemampuan menulis karya ilmiah pada pelajaran sains (Y2)

2) Variabel Bebas

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pembelajaran sains dengan

model inkuiri yang dikenakan pada kelompok eksperimen sedangkan kelompok

kontrol menggunakan model pembelajaran langsung

3.2.2 Definisi Operasional

Definisi operasional masing-masing variabel penelitian ini adalah sebagai

berikut.

1. Model Inkuiri

Tahapan-tahapan yang dilalui oleh setiap pebelajar dalam pembelajaran

dengan inkuiri adalah sebagai berikut. Pada fase pertama, menghadapkan

Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com

57

masalah. Selanjutnya guru menjelaskan prosedur penelitian dan menyajikan

situasi yang saling bertentangan. Fase kedua, mencari dan mengkaji data. Dalam

mencari dan mengkaji data, guru dapat memeriksa hakikat objek dan kondisi yang

dihadapi siswa serta memeriksa tampilnya masalah. Fase ketiga, mencari data dan

eksperimentasi. Fase keempat, mengorganisasikan, merumuskan dan menjelaskan,

dan fase kelima menganalisa proses penelitian.

2. Model Pembelajaran Langsung

Model pembelajaran langsung adalah model pembelajaran yang

berpusat kepada guru. Tahap yang dilakukan dalam pembelajaran langsung

adalah: (1) menyampaikan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan siswa, (2)

mendemontrasikan pengetahuan atau keterampilan, (3) membimbing pelatihan,

mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik, (4) memberikan

kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapannya.

3. Penalaran Formal

Penalaran formal siswa adalah kemampuan berpikir yang dimiliki siswa

dalam melakukan operasi-operasi formal, yang dinyatakan dengan skor hasil

pengukuran penalaran formal. Untuk mengetahui penalaran formal siswa

digunakan operasi-operasi formal yang meliputi: berpikir kombinatorial, berpikir

proporsi, berpikir koordinasi, berpikir keseimbangan mekanik, berpikir

probabilitas, berpikir korelasi, berpikir kompensasi dan berpikir konservasi.

4. Kemampuan siswa membuat karya tulis ilmiah

Kemampuan siswa membuat karya tulis ilmiah adalah Kemampuan

menulis siswa terhadap suatu masalah secara sistematis dengan aturan tertentu

Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com

58

berdasarkan atas proses serta hasil berpikir ilmiah melalui penelitian.

Kemampuan siswa dalam membuat karya tulis ilmiah dinyatakan dengan skor

hasil pengukuran siswa terhadap pelajaran sains. Untuk mengetahui kemampuan

siswa membuat karya ilmiah digunakan penilaian yang didasarkan atas (1) proses,

yang meliputi: pemilihan topik, pembuatan map/diagram terhadap topik yang akan

diinvestigasi, pembuatan rincian terhadap proses, monitoring kerja proyek, (2) produk

akhir yang meliputi: format laporan, deskripsi temuan, pembahasan, dan

simpulan.

3.3 Populasi dan Sampel

Penelitian ini dilaksanakan di SMPN I Selong Kabupaten Lombok Timur.

Populasi penelitian ini adalah semua siswa kelas VIII yang ada di SMPN 1 Selong

Kabupaten Lombok Timur, tahun ajaran 2006/2007.

Pengambilan sampelnya menggunakan teknik random sampling. Langkah-

langkah penentuan sampel adalah sebagai berikut: pertama, dari 8 kelas VIII yang

ada di SMPN 1 Selong, dipilih dua kelas secara random sebagai kelompok

eksperimen dan kontrol. Kedua, dari dua kelas tersebut dirandom lagi untuk

mendapatkan mana kelompok yang akan dijadikan sebagai kelompok eksperimen

(kelas yang diajar dengan menggunakan model inkuiri) dan mana kelompok yang

akan dijadikan sebagai kelompok kontrol (kelas yang diajarkan dengan

menggunakan model pembelajaran langsung). Dari hasil undian yang menjadi

kelompok eksperimen adalah Kelas VIII2

dan yang menjadi kontrol adalah kelas

VIII4
.

Untuk mengetahui kesetaraan kedua kelompok yang terpilih digunakan

instrumen tes kesetaraan kelompok. Selanjutnya untuk menguji ada tidaknya

Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com

59

perbedaan rata-rata skor hasil tes kesetaraan kelompok digunakan uji-t (Sudjana,

2002) dengan rumus:

t =

n

n

x

x

S

2

1

1

1

2

1

+

S2

=

2

2

).

1

(

1

).

1

(

2

1

2

2

2

1

+

+

n

n

s

n

s

n

Keterangan:

X1

= rata-rata skor hasil tes pada kelompok eksperimen

X2

= rata-rata skor hasil tes pada kelompok kontrol

S = simpangan baku gabungan skor hasil tes kedua kelompok

S1= simpangan baku skor hasil tes kelompok eksperimen

S2 = simpangan baku skor hasil tes kelompok kontrol

n1 = jumlah siswa kelompok eksperimen

n2 = jumlah siswa kelompok kontrol

Kriteria pengujian: jika t-hitung < t-tabel pada derajat bebas n1 +n2 -2 dan taraf

signifikansi 5%, maka kelompok dinyatakan setara (tidak berbeda secara

signifikan). Dari hasil perhitungan didapat t-hitung sebesar 0,533, dan t-tabel

dengan dk = 80 pada taraf signifikansi 5% untuk uji-t dua ekor sebesar 2,00. Ini

berarti t- hitung < t-tabel, jadi kedua kelompok memiliki pengetahuan awal yang

setara (tidak berbeda secara signifikan). Hasil uji-t selengkapnya dalam Lampiran

10 halaman 146.

Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com

60

Sebagai objek penelitian adalah model pengajaran inkuiri, kemampuan

penalaran formal, model pembelajaran langsung dan kemampuan siswa dalam

menulis karya ilmiah.

3.4 Validitas Rancangan Penelitian

Pengontrolan validitas internal dilakukan untuk meyakinkan bahwa

rancangan penelitian layak untuk pengujian hipotesis. Pengontrolan validitas

internal ini dilaksanakan agar penalaran formal dan kemampuan menulis karya

ilmiah siswa pada pelajaran sains dapat dinyatakan sebagai hasil perlakuan

eksperiman dan hasil eksperimen dapat digeneralisasikan pada kondisi yang sama

di luar perlakuan. Pengontrolan validitas internal meliputi: (1) karakteristik

subyek, (2) mortalitas (3) lokasi, (4) instrumen, (5) pengukuran, (6) sejarah, (7)

kematangan, (8) sikap, (9) regresi, dan implementasi (Fraenkel and Wallen, 1993:

222-230).

1. Karakteristik Subjek

Kelompok yang dijadikan subjek penelitian merupakan kelompok yang

setara dalam hal penyebaran siswa yang berkemampuan tinggi, sedang, dan

rendah secara merata.

2. Mortalitas

Mortalitas atau kehilangan anggota sampel yang menjadi peserta

eksperimen akibat alasan tertentu. Mortalitas dikontrol dengan absen yang ketat

selama perlakuan berlangsung.

3. Lokasi

Lokasi tempat eksperimen dan fasilitas penunjang lainnya dapat

mempengaruhi hasil penelitian. Lokasi ini terkontrol karena jumlah siswa untuk

Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com

61

kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah sama, demikian juga fasilitas

pembelajaran yang ada di kelas relatif sama.

4. Instrumentasi

Pengaruh instrumentasi dikontrol dengan menggunakan alat pengumpul

data yang valid dan reliabel

5. Pengukuran

Perbedaan prilaku yang ditunjukkan oleh tes awal dan tes akhir dapat

diakibatkan oleh kejadian di luar perlakuan. Tes awal dapat membuat siswa sadar

tentang apa yang akan dipelajari, membuat siswa lebih sensitif dan responsif

terhadap materi yang dipelajari. Pengaruh perbedaan prilaku ini dikontrol dengan

hanya membandingkan tes akhir dari masing-masing kelompok. Tes awal

dilaksanakan untuk melihat kesetaraan kedua kelompok sebelum perlakuan dan

menggunakan tes yang berbeda dengan tes akhir.

6. Sejarah

Sejarah adalah kejadian-kejadian khusus yang bukan disebabkan oleh

perlakuan eksperimen tetapi dapat mempengaruhi respon subjek, dalam hal ini

penalaran formal dan kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran

sains. Faktor sejarah dikontrol dengan pemilihan kelompok eksperimen dan

kelompok kontrol secara acak.

7. Kematangan

Kematangan terjadi karena perubahan subjek penelitian sesuai dengan

perjalanan waktu. Faktor kematangan dikontrol dengan pemberian perlakuan

dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama tetapi masih memenuhi persyaratan

penelitian. Dengan demikian, subjek penelitian tidak sampai mengalami

Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com

62

perubahan fisik maupun mental yang dapat mempengaruhi penalaran formal dan

kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains.

8. Regresi

Regresi statistik muncul karena adanya skor-skor yang ekstrem dalam

penelitian . Pengaruh regresi statistik dikontrol dengan menguji kesetaraan secara

statistik terhadap kedua kelompok sebelum perlakuan dimulai melalui tes

kesetaraan kelompok.

9. Implementasi

Pengaruh implementasi adalah kejadian tidak terduga yang dapat

menguntungkan salah satu kelompok. Pengaruh implementasi dikontrol dengan

menggunakan pengajar yang setara untuk kedua kelompok baik dari segi

pendidikan maupun pengalamannya. Untuk meminimalisasi bias yang terjadi

akibat perlakuan guru dikontrol dengan melaksanakan proses pembelajaran sesuai

dengan skenario pembelajaran yang telah disusun.

3.5 Metode Pengumpulan Data dan Instrumen

Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam menjawab permasalahan

yang telah diajukan, maka dilakukan pengumpulan data dengan instrumen. Model

pengumpulan data dan instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut.

3.5.1 Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi: (1) penalaran

formal, dan (2) kemampuan menulis karya ilmiah yang dikumpulkan dengan

model tes.

Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com

63

3.5.2 Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data sebelum diujicobakan

kepada responden, indikator dan butir-butir tes dikonsultasikan kepada para pakar

untuk dilakukan penilaian. Dalam hal ini, kuesioner penalaran formal dinilai

masing-masing oleh dua pakar ( expert judges) dalam bidang sains dan pakar

bidang psikometri. Penilaian ini dilakukan untuk menentukan validitas isi (

content validity) . Validitas ini berkenaan dengan kesanggupan alat penilaian

dalam mengukur isi yang seharusnya. Artinya, tes tersebut mampu

mengungkapkan isi variabel yang akan diukur. Untuk rubrik penilaian yang

dipakai dalam penulisan karya ilmiah merupakan hasil seminar yang melibatkan

pakar sains.

Berikutnya, dilakukan uji coba instrumen untuk menguji validitas item dan

menghitung reliabilitas alat ukur. Uji coba dilakukan dengan melibatkan siswa

kelas VIII sebanyak 160 siswa di SMP Negeri 1 Selong.

1) Konsepsi Penalaran Formal

Penalaran formal merupakan kemampuan berpikir menurut suatu alur

kerangka berpikir tertentu (Suriasumantri, 2000: 40). Penalaran formal dimiliki

oleh siswa yang telah mampu berpikir formal, berpikir abstrak terhadap objek

yang diminati, sistematis, dan mempunyai tujuan yang akan dicapai.

Penalaran formal siswa diukur dengan tes penalaran formal yang disusun

dan dikembangkan peneliti dan disusun berdasarkan beberapa aspek penalaran

formal sebagai indikator yaitu: Kombinatorial, proporsi (Analogi), koordinasi,

keseimbangan, mekanik, probabilitas, korelasi, kompensasi, dan konservasi yang

dijabarkan ke dalam kisi-kisi.

Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com

64

2) Konsepsi Kemampuan Karya Tulis Ilmiah

Kemampuan siswa membuat karya tulis ilmiah adalah Kemampuan

menulis siswa terhadap suatu masalah secara sistematis dengan aturan tertentu

berdasarkan atas proses serta hasil berpikir ilmiah melalui penelitian.

Kemampuan siswa dalam membuat karya tulis ilmiah dinyatakan dengan skor

hasil pengukuran siswa terhadap kerja proyek. Skor memiliki rentangan 1-4.

Pemberian skor didasarkan atas kriteria dari masing-masing aspek pada rubrik

penilaian. Misalnya pada aspek pemilihan topik; skor 4 apabila kriteria pada topik

orisinal, kontekstual, dan sesuai dengan materi yang ada.

3.5.3 Kalibrasi Instrumen

1) Validitas isi Penalaran Formal

Untuk menentukan validitas isi (content validity) dilakukan langkah-

langkah sebagai berikut.

1. Para pakar melakukan penilaian terhadap instrumen per butir dengan

menggunakan skor 1 adalah tidak relevan, skor 2 adalah agak relevan, skor 3

adalah cukup relevan, dan skor 4 adalah sangat relevan.

2. Pengelompokan skor yaitu: skor 1 dan 2 adalah kurang relevan sedangkan skor

3 dan 4 adalah sangat relevan

3. Mentabulasikan hasil penilaian pakar ke dalam bentuk matrik tabulasi silang

(2x2)

4. Memasukkan data hasil tabulasi silang ke dalam rumus yaitu

Validitas isi =

D

C

B

A

D

+

+

+

Gable dalam Gregory (2000: 98-99)

Keterangan :

Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com

65

A = sel yang menunjukkan ketidak setujuan antara kedua

penilai/pakar

B dan C = sel yang menunjukkan perbedaan pandangan antara

penilai/pakar

D = sel yang menunjukkan persetujuan yang valid antara

kedua penilai/pakar.

Dengan perlakuan seperti di atas, hasil penilaian dari kedua pakar terhadap

tes penalaran formal siswa diperoleh validitas isi = 0,892

2) Validitas Butir Penalaran Formal

Untuk mengetahui validitas butir tes penalaran formal digunakan korelasi

point biserial (pbis

r ) dengan rumus sebagai berikut.

q

p

SDt

t
X

p

X

rpbis

)

( −

=

Keterangan :

p

X = rata-rata testi yang menjawab benar

t

X = rata-rata skor total untuk semua testi

SDt = simpangan baku total semua testi

p = proporsi testi yang dapat menjawab benar

butir soal yang bersangkutan

q = 1-p

Kriteria butir soal dalam kategori valid jika pbis

r-hitung > pbis

r- tabel pada

taraf signifikansi 5%.

Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com

66

Tes penalaran formal diujicobakan terhadap 160 siswa kelas VIII di SMP

Negeri 1 Selong. Setelah dianalisis dengan program Microsoft Excel, ringkasan

hasil analisis validitas tes penalaran formal siswa disajikan pada Tabel 3.3.

Tabel 3.3 Ringkasan Hasil Analisis Validitas Butir Instrumen Tes

Penalaran Formal Siswa pada Pelajaran Sains

No Validitas butir
(N= 160)

α= 5%; rn,α=0.159

KEPUTUSAN No Validitas butir
(N= 160)
α= 5%; rn,α=0.159

KEPUTUSAN

Hasil Kriteria

Hasil Kriteria

1 0.3356 Valid

Dipakai

16 0.3424 Valid

Dipakai

2

0.4969

Valid

Dipakai

17 0.4278 Valid

Dipakai

3

0.4229

Valid

Dipakai

18 0.4146

Valid

Dipakai

4

0.336

Valid

Dipakai

19 0.49803 Valid

Dipakai

5

0.1129

TidakValid Tidak Dipakai 20 0.2531

Valid

Dipakai

6

0.3614

Valid

Dipakai

21 0.319 Valid

Dipakai

7

0.3531

Valid

Dipakai

22 0.2936 Valid

Dipakai

8

0.4339

Valid

Dipakai

23 0.3492 Valid

Dipakai

9

0.426

Valid

Dipakai

24 0.3149 Valid

Dipakai

10 0.133

TidakValid Tidak Dipakai 25 0.15187

TidakValid TidakDipakai

11 0.2253

Valid

Dipakai

26 0.3166 Valid

Dipakai

12 0.3187

Valid

Dipakai

27 0.2551 Valid

Dipakai

13 0.29464

Valid

Dipakai

28 0.1285 TidakValid TidakDipakai

14 0.29464

Valid

Dipakai

29 0.2608 Valid

Dipakai

15 0.3443

Valid

Dipakai

30 0.4952 Valid

Dipakai

Berdasarkan Tabel 3.3 hanya 26 butir nilai r-hitung yang lebih besar nilai

r-tabel. Ini berarti hanya 26 butir tes penalaran formal adalah valid dan dapat

digunakan lebih lanjut dalam penelitian (perhitungan lengkapnya disajikan dalam

lampiran 13 halaman 158).

3) Reliabilitas Penalaran Formal

Reliabilitas penalaran formal dihitung dengan rumus Kuder- Richardson 20

(K-20), dengan rumus sebagai berikut.

KR – 20 =

( )





2

2

1

t

t

SD

pq

SD

k

k

Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com

67

Keterangan: k = banyaknya butir soal

P = proporsi peserta tes yang menjawab benar

q = 1-p

Semua butir tes penalaran formal siswa yang valid (26 butir) selanjutnya

dihitung Reliabilitasnya dengan menggunakan rumus Kuder-Richardson 20 (KR-

20) melalui program Microsoft Excel. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa

tingkat Reliabilitas tes penalaran formal adalah 0,803. Ini berarti koefisien

reliabilitas tes penalaran formal berkategori baik dan dapat digunakan lebih lanjut

dalam penelitian. Perhitungan Reliabilitas selengkapnya disajikan dalam

Lampiran 15 halaman 171.

3.5.4 Validitas isi Penilaian Proyek dalam Penulisan Karya Ilmiah

Untuk rubrik penilaian yang dipakai dalam penulisan karya ilmiah

merupakan hasil seminar yang melibatkan pakar sains. Alat evaluasi yang dipakai

selengkapnya terdapat dalam lampiran 16 halaman 181.

3.6 Metode Analisis Data

Data hasil pengukuran dianalisis secara bertahap sesuai dengan variabel

masing-masing untuk menjawab permasalahan penelitian.

3.6.1 Deskripsi Data

Untuk mendeskripsikan kualitas penalaran formal siswa, maka digunakan

analisis univariat. Kualifikasi dideskripsikan atas dasar skor rerata ideal (Mi ) dan

simpangan baku ideal (SDi). Dengan menggunakan lima jenjang kualifikasi, maka

kriterianya dapat disusun seperti Tabel 3.1 di bawah ini.

Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com

68

Tabel 3.4 Pedoman Konversi Kecendrungan Data Penalaran formal siswa

pada Pelajaran Sains

No

Kriteria

Kualifikasi

1

> (Mi + 1,5 SDi)

Sangat Tinggi

2

(Mi + 0,5 SDi) s/d (Mi + 1,5 SDi)

Tinggi

3

(Mi – 0,5 SDi) s/d (Mi + 0,5 SDi)

Sedang

4

(Mi – 1,5 SDi) s/d (Mi – 0,5 SDi)

Rendah

5

< (Mi – 1,5 SDi)

Sangat Rendah

Keterangan :

Mi = rata-rata ideal

= 2

1

( skor maksimum ideal + skor minimum ideal )

SDi = simpangan baku ideal

= 61

( skor maksimum ideal – skor minimum ideal )

Untuk mendeskripsikan kualitas kemampuan menulis karya ilmiah

siswa, maka digunakan analisis univariat. Kualifikasi dideskripsikan atas dasar

skor rerata ideal (Mi ) dan simpangan baku ideal (SDi). Dengan menggunakan

lima jenjang kualifikasi, maka kriterianya dapat disusun seperti Tabel 3.2 di

bawah ini:

Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com

69

Tabel 3.5 Pedoman Konversi Kecendrungan Data kemampuan menulis

karya ilmiah siswa pada Pelajaran Sains

No

Kriteria

Kualifikasi

1

> (Mi + 1,5 SDi)

Sangat Tinggi

2

(Mi + 0,5 SDi) s/d (Mi + 1,5 SDi)

Tinggi

3

(M – 0,5 SDi) s/d (Mi + 0,5 SDi)

Sedang

4

(Mi – 1,5 SDi) s/d (Mi – 0,5 SDi)

Rendah

5

< (Mi – 1,5 SDi)

Sangat Rendah

Keterangan :

Mi = rata-rata ideal

= 2

1

( skor maksimum ideal + sor minimum ideal )

SDi = simpangan baku ideal

= 61

( skor maksimum ideal – skor minimum ideal ).

3.6.2 Uji Persyaratan Analisis

Dalam penelitian ini diasumsikan bahwa kemampuan penalaran formal

siswa (Y1) dan kemampuan menulis karya ilmiah siswa (Y2) tidak berkorelasi

secara signifikan. Selanjutnya dilakukan pengujian asumsi untuk mengetahui

apakah data yang tersedia dapat dianalisis dengan statisitik parametrik atau tidak.

Berkaitan dengan statistik yang digunakan untuk analisis data dalam penelitian ini

maka uji asumsi yang dilakukan meliputi uji normalitas, dan uji homogenitas.

Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com

70

1) Pengujian Normalitas

Pengujian normalitas dilakukan untuk meyakinkan bahwa sampel berasal

dari populasi yang berdistribusi normal, sehingga uji hipotesis dapat dilakukan.

Uji normalitas data dilakukan pada empat kelompok data.

Kelompok pertama adalah penalaran formal siswa yang mengikuti model

inkuiri. Kelompok kedua, penalaran formal pada pelajaran sains siswa yang

mengikuti model pembelajaran langsung. Kelompok ketiga, data kemampuan

menulis karya ilmiah yang mengikuti model inkuiri . Kelompok keempat, data

kemampuan menulis karya ilmiah siswa yang mengikuti pengajaran langsung.

Uji normalitas pada keempat kelompok data menggunakan uji Liliefors.

Harga L dihitung yang diperoleh dikonsultasikan dengan harga L tabel dengan

mengambil taraf signifikansi 5%. Jika L hitung lebih kecil dari L tabel maka

sebaran frekuensi skor variabel tersebut adalah normal.

2) Pengujian Homogenitas

Uji homogenitas dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa dua atau lebih

kelompok data sampel berasal dari populasi yang memiliki variansi yang sama.

Pengujian homogenitas dilakukan dengan uji kesamaan varian-kovarian

menggunakan SPSS-10 for windows melalui uji Box’s M untuk uji homogenitas

secara bersama-sama dan dengan uji Levene’s untuk uji homogenitas secara

terpisah (Hair, at.all, 1998: 375). Keriteria pengujian: data memiliki matriks

varians-kovarian yang sama (homogen) jika signifikansi yang dihasilkan dalam uji

Box’s M dan uji Levene’s lebih dari 0,05 dan data tidak berasal dari populasi yang

Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com

71

homogen jika signifikansi yang dihasilkan dalam uji Box’ M dan uji Levene’s

kurang dari 0,05.

3.6.3 Uji Hipotesis

Hipotesis 1, yang menyatakan terdapat perbedaan penalaran formal dan

kemampuan menulis karya imiah siswa pada pelajaran sains antara siswa yang

diajar dengan model pembelajaran inkuiri dan siswa yang diajar dengan model

pembelajaran langsung, secara statistik dirumuskan:

Ho :





2

2

1

1

KMK

PF

KMK

PF

µ

µ

µ

µ

1

H :



>



2

2

1

1

KMKI

PF

KMK

PF

µ

µ

µ

µ

Keterangan :

1

PF

µ= rata-rata penalaran formal pada pelajaran sains siswa yang

diajar dengan model pembelajaran inkuiri

2

PF

µ= rata-rata penalaran formal pada pelajaran sains siswa yang

diajar dengan model pembelajaran langsung

1

KMK

µ= rata-rata kemampuan menulis karya ilmiah pada pelajaran sains

siswa yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri

2

KMK

µ= rata-rata kemampuan menulis karya ilmiah pada pelajaran sains

siswa yang diajar dengan model pembelajaran langsung

Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com

72

Untuk menguji hipotesis 1 digunakan uji F melalui Manova (Multivariate

Analysis of Variance) dengan bantuan SPSS –10 for Windows. Analisis Manova

dipakai, karena hipotesis diatas merupakan uji beda varian dimana varian yang

dibandingkan berasal lebih dari satu variabel terikat. Kriteria pengujian jika harga

F-Wilks’ Lamda menghasilkan angka signifikansi kurang dari 0,05 maka hipotesis

nol ditolak dan dalam hal lain hipotesis diterima (Santosa, 2002: 219).

Hipotesis 2, yang menyatakan penalaran formal pada pelajaran sains siswa

yang diajar dengan model inkuiri lebih baik dari pada siswa yang diajarkan

dengan model pembelajaran langsung, secara statistik dirumuskan:

Ho :

2

1

PF

PF µ

µ ≤

1

1:PF

H µ>

2

PF

µ

Keterangan :

1

PF

µ = rata – rata penalaran formal pada pelajaran sains siswa yang

diajar dengan model pembelajaran inkuiri

2

PF

µ = rata – rata penalaran formal pada pelajaran sains siswa yang

diajar dengan model pembelajaran langsung

Untuk menguji hipotesis 2, digunakan uji F melalui Manova (Multivariate

Analysis of Variance) dengan bantuan SPSS –10 for Windows. Kriteria pengujian

jika harga F-Wilks’ Lamda menghasilkan angka signifikansi kurang dari 0,05

maka hipotesis nol ditolak dan dalam hal lain hipotesis nol diterima (Santosa,

2002: 219). Sebagai tindak lanjut dari Manova, adalah uji signifikansi perbedaan

Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com

73

nilai rata-rata penalaran formal siswa antara siswa yang diajar dengan Model

Inkuiri dan siswa yang diajar dengan Model pembelajaran langsung. Uji

perbedaan nilai rata-rata antar kelompok mengunakan least significant difference

(LSD) ( Hair, et al 1995: 282; Montgomery, 1984: 64-65). Oleh karena jumlah

pengamat masing-masing sel adalah sama, maka digunakan formula Montgomery

(1984:65) LSD =

n

MS

a

N

t

ε

α

2

,
2
/ −

dengan α = taraf signifikansi, N = jumah

sampel total, n = jumlah sampel dalam kelompok, a = jumlah kelompok, dan MSε

= Mean Square Error. Kriteria yang digunakan adalah tolak Ho, artinya nilai rata-

rata penalaran formal siswa yang diajar dengan Model inkuiri lebih tinggi dari

siswa yang diajar dengan Model pembelajaran langsung jika

j
i µ

µ −

> LSD

dani

µ>j

µ.

Hipotesis 3, yang menyatakan kemampuan menulis karya ilmiah siswa

yang diajar dengan Model inkuiri lebih baik dari pada siswa yang diajar dengan

Model pembelajaran langsung, secara statistik dirumuskan:

Ho :

2

1

KMK

KMKI µ

µ ≤

1
1:KMKI

H µ>

2

KMKI

µ

Keterangan :

KMKI

µ = rata-rata kemampuan menulis karya ilmiah pada pelajaran sains

siswa yang diajar dengan model inkuiri

Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com

74

2

KMKI

µ

= rata-rata kemampuan menulis karya ilmiah pada pelajaran sains

siswa siswa yang diajar dengan model pembelajaran langsung

Untuk menguji hipotesis 3 digunakan digunakan uji F melalui Manova

(Multivariate Analysis of Variance) dengan bantuan SPSS –10 for Windows.

Kriteria pengujian jika harga F-Wilks’ Lamda menghasilkan angka signifikansi

kurang dari 0,05 maka hipotesis nol ditolak dan dalam hal lain hipotesis nol

diterima (Santosa, 2002: 219). Sebagai tindak lanjut dari Manova, adalah uji

signifikansi perbedaan nilai rata-rata kemampuan menulis karya ilmiah siswa

antara siswa yang diajar dengan Model inkuiri dan siswa yang diajar dengan

Model pembelajaran langsung. Uji perbedaan nilai rata-rata antar kelompok

menggunakan least significant difference (LSD) (Hair, et al 1995: 282;

Montgomery, 1984: 64-65). Oleh karena jumlah pengamat masing-masing sel

adalah sama, maka digunakan formula Montgomery (1984: 65) LSD =

n

MS

a

N

t

ε

α

2

,
2
/ −

dengan α = taraf signifikansi, N= jumah sampel total, n =

jumlah sampel dalam kelompok, a = jumlah kelompok, dan MSε = Mean Square

Error. Kriteria yang digunakan adalah tolak Ho, artinya nilai rata-rata

kemampuan menulis karya ilmiah siswa yang diajar dengan Model inkuiri lebih

tinggi dari siswa yang diajar dengan Model pembelajaran langsung jika

j
i µ

µ −

>

LSD dani

µ>j

µ.

Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com

75

Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com

76

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->