P. 1
Dasar-dasar Hukum Pidana Final_bab 1

Dasar-dasar Hukum Pidana Final_bab 1

|Views: 101|Likes:
Published by Susan Wohangara

More info:

Published by: Susan Wohangara on Nov 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/04/2011

pdf

text

original

Dasar-Dasar Hukum Pidana

BAB I

A. PENGERTIAN HUKUM PIDANA Merumuskan hukum pidana ke dalam rangakaian kata untuk dapat memberikan sebuah pengertian yang komprehensif tentang apa yang dimaksud dengan hukum pidana adalah sangat sukar. Namun setidaknya dengan merumuskan hukum pidana menjadi sebuah pengertian dapat membantu memberikan gambaran/deskripsi awal tentang hukum pidana. Banyak pengertian dari hukum pidana yang diberikan oleh para ahli hukum pidana diantaranya adalah sebagai berikut: W.L.G. Lemaire Hukum pidana itu itu terdiri dari norma-norma yang berisi keharusankeharusan dan larangan-larangan yang (oleh pembentuk undang-undang) telah dikaitkan dengan suatu sanksi berupa hukuman, yakni suatu penderitaan yang bersifat khusus. Dengan demikian dapat juga dikatakan, bahwa hukum pidana itu merupakan suatu sistem norma-norma yang menentukan terhadap tindakan-tindakan yang mana (hal melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dimana terdapat suatu keharusan untuk melakukan sesuatu) dan dalam keadaan-keadaan bagaimana hukum itu dapat dijatuhkan, serta hukuman yang bagaimana yang dapat dijatuhkan bagi tindakan-tindakan tersebut.1 Simons Menurut Simons hukum pidana itu dapat dibagi menjadi hukum pidana dalam arti objek tif atau strafrecht in objectieve zin dan hukum pidana dalam arti subjektif atau strafrecht in subjectieve zin. Hukum pidana dalam arti objek tif adalah hukum pidana yang berlaku, atau yang juga disebut sebagai hukum positif atau ius poenale.2 Simons merumuskan hukum pidana dalam arti objek tif sebagai:

P.A.F. Lamintang, Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia, (Bandung: Sinar Baru, 1984), h. 1-2. 2 Ibid, h. 3.

1

1

Bab I. Hukum Pidana 1. Keseluruhan larangan dan perintah yang oleh negara diancam dengan nestapa yaitu suatu pidana apabila tidak ditaati; 2. Keseluruhan peraturan yang menetapkan syarat-syarat untuk penjatuhan pidana, dan; 3. Keseluruhan ketentuan yang memberikan dasar untuk penjatuhan dan penerapan pidana.3 Hukum pidana dalam arti subjektif atau ius puniendi bisa diartikan secara luas dan sempit, yaitu sebagai berikut: 4 1. Dalam arti luas: Hak dari negara atau alat-alat perlengkapan negara untuk mengenakan atau mengancam pidana terhadap perbuatan tertentu; 2. Dalam arti sempit: Hak untuk menuntut perkara-perkara pidana, menjatuhkan dan melaksanakan pidana terhadap orang yang melakukan perbuatan yang dilarang. Hak ini dilakukan oleh badan-badan peradilan. Jadi ius puniendi adalah hak mengenakan pidana. Hukum pidana dalam arti subjektif (ius puniendi) yang merupakan peraturan yang mengatur hak negara dan alat perlengkapan negara untuk mengancam, menjatuhkan dan melaksanakan hukuman terhadap seseorang yang melanggar larangan dan perintah yang telah diatur di dalam hukum pidana itu diperoleh negara dari peraturanperaturan yang telah ditentukan oleh hukum pidana dalam arti objek tif (ius poenale). Dengan kata lain ius puniendi harus berdasarkan kepada ius poenale. W.F.C. van Hattum Hukum pidana adalah suatu keseluruhan dari asas-asas dan peraturanperaturan yang diikuti oleh negara atau suatu masyarakat hukum umum lainnya, dimana mereka itu sebagai pemelihara dari ketertiban hukum umum telah melarang dilakukannya tindakan-tindakan yang bersifat melanggar hukum dan telah mengaitkan pelanggaran terhadap peraturanperaturannya dengan suatu penderitaan yang bersifat khusus berupa hukuman.5 Moeljatno Hukum pidana adalah bagian daripada keseluruhan hukum yang berlaku di suatu negara, yang mengadakan dasar-dasar dan aturan-aturan untuk:

3 4

Sudarto, Hukum Pidana I, (Semarang: Yayasan Sudarto, 1990), h. 9. Ibid, h. 10. 5 P.A.F. Lamintang, Op.Cit., h. 2.

2

1991). Aturan umum hukum pidana dan (yang dikaitkan/berhubungan dengan) larangan melakukan perbuatan-perbuatan (aktif/positif maupun pasif/negatif) tertentu yang disertai dengan ancaman sanksi berupa pidana (straf) bagi yang melanggar larangan itu. Menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat dilaksanakan apabila ada orang yang disangka telah melanggar larangan tersebut. 4. yaitu dengan mengadakan ancaman pidana dan pemidanaan. 2.6 Van Kan Hukum pidana tidak mengadakan norma-norma baru dan tidak menimbulkan kewajiban-kewajiban yang dulunya belum ada.Dasar-Dasar Hukum Pidana 1. h. (Jakarta: Rineka Cipta. h. Tetapi tidak mengadakan norma baru. (1982). 5. Hukum pidana memberikan sanksi yang bengis dan sangat memperkuat berlakunya norma-norma hukum yang telah ada. Hukum pidana sesungguhnya adalah hukum sanksi (het straf-recht is wezenlijk sanctie-recht).9 Adami Chazawi Hukum pidana itu adalah bagian dari hukum publik yang memuat/berisi ketentuan-ketentuan tentang: 1. 3. Asas-asas Hukum Pidana. 3 . Menentukan perbuatan-perbuatan mana yang tidak boleh dilakukan. h. Hanya norma-norma yang sudah ada saja yang dipertegas. 6. Azas-azas Hukum Pidana. 1. h. Ibid. Menentukan kapan dan dalam hal-hal apa kepada mereka yang telah melanggar larangan-larangan itu dapat dikenakan atau dijatuhi pidana sebagaimana yang telah diancamkan. 8 Ibid.8 Hazewinkel-Suringa Hukum pidana adalah sejumlah peraturan hukum yang mengandung larangan dan perintah atau keharusan yang terhadap pelanggarannya diancam dengan pidana (sanksi hukum) bagi barang siapa yang membuatnya. dengan disertai ancaman atau sanksi yang berupa pidana tertentu bagi barang siapa melanggar larangan tersebut. Syarat-syarat tertentu (kapankah) yang harus dipenuhi/harus ada bagi si pelanggar untuk dapat dijatuhkannya sanksi pidana yang diancamkan pada larangan perbuatan yang dilanggarnya. 2. yang dilarang.7 Pompe Hukum pidana adalah semua aturan-aturan hukum yang menentukan terhadap perbuatan-perbuatan apa seharusnya dijatuhi pidana dan apakah macamnya pidana itu. 6 7 Moeljatno. 9 Andi Hamzah.

penuntutan. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. Perumusan ini mencakup juga hukum (pidana) adat. menjatuhkan dan melaksanakan sanksi pidana terhadap dirinya. Menentukan pula bilamana dan dalam hal apa pelaku pelanggaran tersebut dipertanggungjawabkan. tempat dan bagian penduduk.PTHM. Tindakan dan upaya-upaya yang boleh atau harus dilakukan negara melalui alat-alat perlengkapannya (misalnya Polisi. banyak tergantung kepada penghargaan nilai-nilai luhur yang merupakan kesadaran hukum masyarakat (setempat). (Jakarta: PT. terhadap yang disangka dan didakwa sebagai pelanggar hukum pidana dalam rangka usaha negara menentukan. Sejauhmana hukum (pidana) adat tercakup atau berperan mempengaruhi hukum pidana yang telah diatur dalam perundang-undangan. Kanter dan S.11 bahwa hukum pidana adat pun yang tidak dibuat oleh negara atau political authority masih mendapat tempat dalam pengertian hukum pidana. hanya dalam beberapa hal ada pengecualian. masih/tidaknya hukum adat diakui oleh undang-undang negara. Pelajaran Hukum Pidana Bagian 1.R. 2002). yang memuat dasar-dasar dan ketentuan-ketentuan mengenai tindakan larangan atau tindakan keharusan dan kepada pelanggarnya diancam dengan pidana.Bab I. Sianturi. serta ketentuan-ketentuan mengenai hak dan cara penyidikan.10 Menurut E. 15-16. maupun kepada sejauh mana hukum (pidana) adat masih dianggap sejalan atau ditolerir oleh falsafah Pancasila dan undang-undang yang berlaku. Sianturi.R. Kanter dan S.Y. dengan demikian maka perumusan hukum pidana adalah bagian dari hukum positif yang berlaku di suatu negara dengan memperhatikan waktu. Hukum adat tumbuh dan berakar dalam kesadaran dan pergaulan hidup masyarakat. 10 4 .Y. h. (Jakarta: Alumni AHM. 2. Kenyataan masih berlakunya hukum adat di Indonesia sampai saat ini tidak dapat dipungkiri. serta tindakan dan upaya-upaya yang boleh dan harus dilakukan oleh tersangka/terdakwa pelanggar hukum tersebut dalam usaha melindungi dan mempertahankan hak-haknya dari tindakan negara dalam upaya negara menegakkan hukum pidana tersebut. RajaGrafindo Persada. 1982). Hakim). penjatuhan pidana dan pelaksanaan pidana demi tegaknya hukum yang bertitik berat kepada keadilan. Dalam hal terdapat pertentangan antara hukum (pidana) adat dengan undang-undang yang berlaku. h. Hukum Pidana 3. Jaksa. maka hakim sebagai figur utama untuk Adami Chazawi. Ketergantungan yang disebut terakhir adalah merupakan pembatasan mutlak terhadap penerapan hukum (pidana) adat. 11 E. serta bertujuan mengadakan keseimbangan di antara pelbagai kepentingan atau keadilan. Dengan demikian sebenarnya asas legalitas masih tetap dianut atau dipertahankan.

4. Hukum pidana yang dikodifikasikan (gecodificeerd) dan hukum pidana yang tidak dikodifikasikan (niet gecodificeerd) 12 13 Ibid. karena itu hakim sebagai manusia yang arif dan bijaksana. 14 P. Biasanya orang menyebut jenis hukum pidana ini sebagai hukum acara pidana. Lihat halaman 1. 16. Lamintang. siapakah orangnya yang dapat dipertanggungjawabkan terhadap tindakan-tindakan tersebut dan hukuman yang bagaimana yang dapat dijatuhkan terhadap orang tersebut.A.13 2. 5 .. h. bahwa hukum pidana setidaknya merupakan hukum yang mengatur tentang: 1. disebut juga dengan hukum pidana yang abstrak. Hukum pidana dalam arti objek tif dan hukum pidana dalam arti subjektif. Larangan untuk melakukan suatu perbuatan. negara dan pribadi. yang bertanggung jawab kepada Tuhan.14 3. 3. Syarat-syarat agar seseorang dapat dikenakan sanksi pidana.. Hukum pidana formil memuat peraturan-peraturan yang mengatur tentang bagaimana caranya hukum pidana yang bersifat abstrak itu harus diberlakukan secara konkrit. Hukum pidana materiil dan hukum pidana formil Menurut van Hattum: a. 10. Hukum pidana materiil yaitu semua ketentuan dan peraturan yang menunjukkan tentang tindakan-tindakan yang mana adalah merupakan tindakan-tindakan yang dapat dihukum. Hakim dianggap mengenal hukum. 2. tidak boleh menolak memberi keadilan. Cara mempertahankan/memberlakukan hukum pidana.F. antara lain sebagai berikut: 1. Hakim mempunyai kedudukan yang tinggi dalam masyarakat. B.12 Dari beberapa pendapat yang telah dikutip tersebut dapat diambil gambaran tentang hukum pidana.Dasar-Dasar Hukum Pidana menyelesaikan suatu pertikaian/perkara banyak memegang peranan. Sanksi pidana apa yang dapat dijatuhkan kepada seseorang yang melakukan suatu perbuatan yang dilarang (delik). PEMBAGIAN HUKUM PIDANA Hukum pidana dapat dibagi/dibedakan dari berbagai segi. Op. Hakim wajib mencari dan menemukan hukum. b.cit. h.

31 Tahun 1999 jo. Hukum pidana yang tidak dikodifikasikan misalnya berbagai ketentuan pidana yang tersebar di luar KUHP. sedangkan hukum pidana khusus adalah hukum pidana yang dengan sengaja telah dibentuk untuk diberlakukan bagi orang-orang tertentu saja misalnya bagi anggota Angkatan Besenjata. Hukum Pidana a. Op. ataupun merupakan hukum pidana yang mengatur tindak pidana tertentu saja misalnya tindak pidana fiskal. Lamintang menyebutkan bahwa hukum pidana umum adalah hukum pidana yang dengan sengaja telah dibentuk untuk diberlakukan bagi setiap orang (umum). h.A. Hukum pidana bagian umum (algemene deel) dan hukum pidana bagian khusus (bijzonder deel) a. E. dan peraturan lainnya yang di dalamnya mengandung sanksi berupa pidana. Hukum adat 15 16 Ibid.Bab I. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Hukum pidana bagian khusus itu memuat/mengatur tentang Kejahatan-kejahatan dan Pelanggaran-pelanggaran. Hukum pidana umum (algemeen strafrecht) dan hukum pidana khusus bijzonder strafrecht) van Hattum dalam P. 7 Tahun 1955 tentang Tindak Pidana Ekonomi. seperti UU Tindak Pidana Korupsi (UU No. b. Sianturi.Cit. UU No. 6 .. 11. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. 17-19. UU (drt) No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi). 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang No. h. 5. UU No. b. Hukum pidana yang dikodifikasikan misalnya adalah: Kitab Undang-undang Hukum Pidana.R.Y. UU No. 12 Tahun 1951 tentang Senjata Api dan Bahan Peledak.F. dan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. 4. Hukum pidana tertulis dan hukum pidana tidak tertulis16 Hukum adat yang beraneka ragam di Indonesia masih diakui berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Pancasila.15 6. Kitab Undang-undang Hukum Pidana Militer. Hukum pidana bagian umum ini memuat asas-asas umum sebagaimana yang diatur di dalam Buku I KUHP yang mengatur tentang Ketentuan Umum. UU (drt) No. UU No. Kanter dan S. baik yang terkodifikasi maupun yang tidak terkodifikasi.

tidak ada hukum adat kebiasaan (gewoonterecht) dalam rangkaian hukum pidana.17 Hukum pidana umum adalah hukum pidana yang dibentuk oleh Pemerintah Negara Pusat yang berlaku bagi subjek hukum yang berada dan berbuat melanggar larangan hukum pidana di seluruh wilayah hukum negara. Nomor: 14/Pid/1971 tentang tindak pidana adat Persetubuhan di luar kawin. 1 Drt Tahun 1951 jo. 12. mungkin sekali hal ini berpengaruh dalam menafsirkan pasal-pasal dari KUHP. 1 Drt Tahun 1951. Dengan demikian sistim hukum pidana di Indonesia mengenal adanya hukum pidana tertulis sebagai diamanatkan di dalam Pasal 1 KUHP. Sedangkan hukum pidana lokal adalah hukum pidana yang dibuat oleh Pemerintah Daerah yang berlaku bagi subjek hukum yang melakukan perbuatan yang dilarang oleh hukum pidana di dalam wilayah hukum pemerintahan daerah tersebut. 13. 7. Pasal 284 KUHP. Hukum pidana lokal dapat dijumpai di dalam Peraturan Daerah baik tingkat Propinsi. h. Kabupaten maupun Pemerintahan Kota.Cit.Dasar-Dasar Hukum Pidana pada umumnya tidak tertulis. Berpedoman pada Pasal 5 ayat 3 b Undang-undang No. Adami Chazawi. akan tetapi dengan tidak mengesampingkan asas legalitas dikenal juga hukum pidana tidak tertulis sebagai akibat dari masih diakuinya hukum yang hidup di dalam masyarakat yaitu yang berupa hukum adat.. Ini resminya menurut Pasal 1 KUHP.18 17 18 Ibid. 7 . tetapi sekiranya di desadesa daerah pedalaman di Indonesia ada sisa-sisa dari peraturan kepidanaan yang berdasar atas kebiasaan dan yang secara konkrit. h. Hukum pidana umum (algemeen strafrecht) dan hukum pidana lokal (plaatselijk strafrecht) Hukum pidana umum atau hukum pidana biasa ini juga disebut sebagai hukum pidana nasional. Menurut Wirjono. Op. bahwa terdakwa dalam tahun 1969-1970 di kampung Lawanga kecamatan Poso kota secara berturut-turut telah melakukan persetubuhan di luar kawin dengan E yang akhirnya menyebabkan E tersebut hamil dan melahirkan anak. Contohnya adalah: Putusan pengadilan Negeri Poso tanggal 10 Juni 1971. Tertuduh telah dinyatakan bersalah melakukan delik kesusilaan berdasarkan pasal 5 ayat 3 b Undangundang No. walaupun dalam arti yang terbatas. ternyata masih dibuka jalan untuk memberlakukan delik adat. Duduk perkara pada garis besarnya ialah.

(Jakarta: Ghalia Indonesia. h.F. Konvensi Palang Merah 1949 yang berisi antara lain mengenai korban perang yang luka dan sakit di darat dan di laut. dengan fungsi sebagai ketentuan yang harus ditaati oleh setiap orang di dalam pergaulan hidup bermasyarakat dan untuk menjamin ketertiban hukum. Hukum pidana internasional adalah hukum pidana yang dibuat. seperti: a. tawanan perang.20 C. SIFAT HUKUM PIDANA Hukum pidana mempunyai dua unsur pokok yang berupa norma dan sanksi.21 P. h. Op. diakui dan diberlakukan oleh banyak atau semua negara di dunia yang didasarkan pada suatu konvensi internasional. h. berlaku dan menjadi hukum bangsa-bangsa yang harus diakui dan diberlakukan oleh bangsa-bangsa di dunia.. Hubungan hukum yang ditimbulkan oleh perbuatan orang dan menimbulkan pula dijatuhkannya pidana. Dalam melakukan penahanan. 1985).37. Asas-asas Hukum Pidana. Hukum pidana internasional yang bersumber pada Persetujuan London (8-8-1945) yang menjadi dasar bagi Mahkamah Militer Internasional di Neurenberg untuk mengadili penjahat-penjahat perang Jerman dalam perang dunia kedua. 20 19 8 . 14. Op.Bab I.. melainkan hubungan itu bersifat subordinasi dari yang bersalah terhadap pemerintah. penduduk sipil dalam peperangan. b. 21 Bambang Poernomo. pemeriksaan dan penyitaan pemerintah daerah berikut alat-alat kekuasaannya terikat kepada ketentuan yang diatur di dalam UU No.A. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. Pompe menyatakan bahwa yang dititikberatkan oleh hukum pidana dalam pertumbuhannya pada waktu sekarang adalah kepentingan umum. kepentingan masyarakat. Lamintang.19 Selain itu atas dasar wilayah berlakunya hukum. hukum pidana masih juga dapat dibedakan antara hukum pidana nasional dan hukum pidana internasional (hukum pidana supranasional).Cit. 12. Hukum Pidana Penjatuhan hukuman seperti yang diancamkan terhadap setiap pelanggar dalam peraturan daerah itu secara mutlak harus dilakukan oleh pengadilan. maka hubungan hukum yang ada dititikberatkan kepada kepentingan umum.Cit. di situ bukanlah suatu hubungan koordinasi antara yang bersalah dengan yang dirugikan. Adami Chazawi. yang ditugaskan untuk memperhatikan kepentingan rakyat.

Op. Op. 4.. 6.Cit.R. 23 Andi Hamzah.Y. Apabila diperinci sifat hukum publik dalam hubungannya dengan hukum pidana. melainkan pada umumnya negara/penguasa wajib menuntut seseorang tersebut. h. Dengan perkataan lain orang perseorangan disubordinasikan kepada penguasa.Dasar-Dasar Hukum Pidana Hazewinkel-Suringa tegas mengatakan bahwa hukum pidana itu termasuk hukum publik. Penuntutan menurut hukum pidana itu tidak digantungkan kepada keinginan dari orang yang telah dirugikan oleh suatu tindak pidana yang telah dilakukan oleh orang lain.F. 2. Kedudukan penguasa negara adalah lebih tinggi dari orang perseorangan. 24 P.25 Hukum publik adalah hukum yang mengatur kepentingan publik (masyarakat umum). h. dan penuntutannya tidak tergantung kepada mereka yang dirugikan oleh perbuatan yang dapat dipidana itu. 23. h. Mengatur hubungan antara kepentingan negara atau masyarakat dengan orang perseorangan. Hak subjektif penguasa ditimbulkan oleh peraturan-peraturan hukum pidana objektif atau hukum pidana positif.Cit. Adalah tugas hukum pidana untuk memungkinkan manusia hidup bersama. Sianturi. maka akan ditemukan ciri-ciri hukum publik yaitu: 1.23 Sifat hukum pidana sebagai hukum publik antara lain dapat diketahui berdasarkan: 1. Tetapi ini tidak berarti bahwa hukum pidana tidak memperhatikan kepentingan orang pribadi. Suatu tindak pidana itu tetap ada. Penuntutan seseorang (yang telah melakukan suatu tindakan yang terlarang) tidak tergantung kepada perseorangan (yang dirugikan). Biaya penjatuhan pidana dipikul oleh negara sedangkan pidana denda dan perampasan barang menjadi menjadi penghasilan negara.A.. 2. walaupun tindakannya itu telah mendapat persetujuan terlebih dahulu dari korbannya. Orang pribadi itu dapat menjadi pihak penuntut perdata dalam perkara pidana khususnya dalam hal ganti kerugian. 25 Andi Hamzah. 3. Lihat E. Di situ terjadi hubungan antara pelanggar hukum publik hukum pidana dalam hal dapatnya dipidana (strafbaarheid) suatu perbuatan pada umumnya tetap ada walaupun dilakukan dengan persetujuan orang yang menjadi tujuan perbuatan itu.22 Pemangku ius puniendi ialah negara sebagai perwakilan masyarakat hukum. 8. Kanter dan S.. Lamintang. Op. Op. 22 9 . 13.Cit. h..Cit.24 3.

Alasan lainnya yang dikemukakan untuk memperkuat pendapat mereka ialah. h.27 D. h. Hal ini didasarkan kepada hubungan hukum yang diatur di dalam hukum pidana titik beratnya tidak berada pada kepentingan individu. Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia. 25. ada beberapa tindak pidana yang hanya dapat diajukan ke pengadilan atas pengaduan (klacht) dari orang yang diganggu kepentingannya. Sianturi. sehingga dibutuhkan sanksi yang lebih tegas dan lebih berat yang disebut sebagai sanksi (hukuman) pidana. Lemaire dan Utrecht. 27 E. FUNGSI/TUJUAN HUKUM PIDANA Tirtaamidjaya menyatakan maksud diadakannya hukum pidana adalah untuk melindungi masyarakat. melainkan kewenangan instansi Kejaksaan sebagai alat pemerintah. seperti Van Kan. penuntutan seorang penipu tidak tergantung kepada kehendak orang yang ditipu.Y. hal ini menunjukkan bahwa hukum pidana tidak bersifat hukum publik. (Bandung: Eresco.R.. 28 Bambang Poernomo.28 Secara umum hukum pidana berfungsi untuk mengatur kehidupan masyarakat agar dapat tercipta dan terpeliharanya ketertiban umum. h. melainkan diserahkan kepada pemerintah sebagai wakil dari kepentinan umum. yang in concreto langsung dirugikan. Kanter dan S. Paul Scholten. Op. Hukum Pidana Menurut Wirjono Prodjodikoro. sanksi tersebut sudah tidak seimbang lagi. Manusia dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan hidupannya yang berbeda-beda terkadang mengalami pertentangan antara satu dengan yang lainnya.Bab I.. 26 10 . bahwa hukum pada pokoknya tidak mengadakan kaedah-kaidah (norma) baru. 11. Misalnya dalam hal terjadinya tindak pidana penipuan. misalnya tindak pidana penghinaan dan perzinahan. melainkan norma hukum pidana itu telah ada sebelumnya pada bagian hukum lainnya dan juga sudah ada sanksinya. yaitu dalam hal penerapan hukum pidana pada hakekatnya tidak tergantung kepada kehendak seorang individu. 1969). bahwa justru tidak selalu penguasa wajib menuntut suatu tindak pidana tertentu karena dipersyaratkan harus ada "pengaduan" dari pihak yang dirugikan atau yang terkena tindak pidana. Sifat ini dapat dilihat pada hukum pidana.26 Namun ada beberapa sarjana yang tidak sependapat bahwa hukum pidana bersifat hukum publik.Cit. 23.Cit. Logeman. Op. Hanya saja sebagai kekecualian. Para ahli ini berpendapat. Agar tidak menimbulkan kerugian dan mengganggu kepentingan orang lain Wirjono Prodjodikoro. yang dapat menimbulkan kerugian atau mengganggu kepentingan orang lain. melainkan pada kepentingan-kepentingan umum. Hanya pada suatu tingkatan tertentu. hukum pidana dapat dinyatakan merupakan hukum publik.

J. Penduduk tidak tahu pasti perbuatan mana yang dilarang dan beratnya pidana yang diancamkan karena hukumnya tidak tertulis. sampai terjadi peristiwa yang menggemparkan rakyat seperti di Perancis dengan kasus Jean Calas te Toulouse (1762) yang dituduh membunuh anaknya sendiri bernama Mauriac Antoine Calas. Hasil pemeriksaan ulang menyatakan Mauriac mati dengan bunuh diri. yaitu: 1. Proses pengadilan berjalan tidak baik. Rousseau dan Montesquieu turut menuntut agar kekuasaan Raja dan penguasa-penguasanya agar dibatasi oleh hukum tertulis atau undang-undang. Di dalam pemeriksaan Calas tetap tidak mengaku dan oleh hakim tetap dinyatakan bersalah dan dijatuhi pidana mati dan pelaksanaannya dengan guillotine. sehingga ia tidak bisa berbuat sekehendak hatinya.Cit. dan selanjutnya pemuka-pemuka masyarakat seperti J. h. yang ternyata tuntutan untuk memeriksa kembali perkara Calas itu dikabulkan. karena anaknya itu terdapat mati di rumah ayahnya. Masyarakat tidak puas. Dengan demikian diharapkan akan terjamin hak-hak 29 Bambang Poernomo. Masyarakat menjadi gempar karena putusan itu.Dasar-Dasar Hukum Pidana dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya tersebut maka hukum memberikan aturan-aturan yang membatasi perbuatan manusia. hukum pidana yang ada sebagian besar tidak tertulis dan di samping itu kekuasaan Raja Absolute dapat menyelenggarakan pengadilan yang sewenangwenang dengan menetapkan hukum menurut perasaan dari hakim sendiri..29 Oleh karenanya mereka menghendaki agar diadakan suatu peraturan tertulis supaya setiap orang mengetahui tindakan-tindakan mana yang terlarang atau tidak. 11 . 24. Semua peristiwa yang diabadikan itu adalah usaha untuk melindungi individu guna kepentingan hukum perseorangan. Di dalam tulisan itu menuntut agar hukum pidana harus diatur dengan undang-undang yang harus tertulis. Aliran klasik Menurut aliran klasik (de klassieke school/de klassieke richting) tujuan susunan hukum pidana itu untuk melindungi individu dari kekuasaan penguasa (Negara). Berkenaan dengan tujuan hukum pidana (Strafrechtscholen) dikenal dua aliran tujuan dibentuknya peraturan hukum pidana. sehingga Voltaire mengecam putusan pengadilan itu. yang menganggap Jean Calas tidak bersalah membunuh anaknya. Op. Peletak dasarnya adalah Markies van Beccaria yang menulis tentang "Dei delitte edelle pene" (1764). Pada zaman sebelum pengaruh tulisan Beccaria itu. apa ancaman hukumannya dan lain sebagainya.

. Pengikut-pengikut ajaran ini menganggap bahwa tujuan hukum pidana adalah untuk menjamin kepentingan hukum individu. Op. akan melahirkan kepastian hukum serta dapat menghindarkan masyarakat dari kesewenang-wenangan. 33 E.Cit. h. 25. Menurut aliran klasik. 11-12.33 Berikut ini disebutkan pula beberapa pendapat yang dikemukakan tentang fungsi/tujuan hukum pidana: Menurut Sudarto fungsi hukum pidana itu dapat dibedakan sebagai berikut:34 1. yaitu untuk mengatur hidup kemasyarakatan atau untuk menyelenggarakan tata dalam masyarakat. Op. 34 Sudarto. Op.Cit. 30 31 E.Y.30 Setiap perbuatan yang dilakukan oleh seseorang (individu) yang oleh undang-undang hukum pidana dilarang dan diancam dengan pidana harus dijatuhkan pidana. 32 Ibid. penjatuhan pidana dikenakan tanpa memperhatikan keadaan pribadi pembuat pelanggaran hukum. oleh karena itu fungsi hukum pidana juga sama dengan fungsi hukum pada umumnya. Sianturi. Kanter dan S. Kanter dan S. h. 56. Sianturi. Aliran modern Aliran modern (de moderne school/de moderne richting) mengajarkan tujuan susunan hukum pidana itu untuk melindungi masyarakat terhadap kejahatan.Y.R.32 Kriminologi yang objek penelitiannya antara lain adalah tingkah laku orang perseorangan dan atau masyarakat adalah salah satu ilmu yang memperkaya ilmu pengetahuan hukum pidana. Pengaruh kriminologi sebagai bagian dari social science menimbulkan suatu aliran baru yang menganggap bahwa tujuan hukum pidana adalah untuk memberantas kejahatan agar terlindungi kepentingan hukum masyarakat. Op. Fungsi yang umum Hukum pidana merupakan salah satu bagian dari hukum. Peraturan tertulis itu akan menjadi pedoman bagi rakyat. Hukum Pidana manusia dan kepentingan hukum perseorangan. perkembangan hukum pidana harus memperhatikan kejahatan serta keadaan penjahat. mengenai sebab-sebab yang mendorong dilakukan kejahatan (etiologi kriminil) serta pidana yang bermanfaat. h. 12 . baik bagi orang yang melakukan kejahatan maupun bagi masyarakat sendiri (politik kriminil)..31 2. Bambang Poernomo. 56.. h. Sejalan dengan tujuan tersebut..Cit.Cit.R.Bab I.

bahwa sebagai alat social control fungsi hukum pidana adalah subsidair. yang bermakna bahwa hukum pidana bertujuan untuk melindungi kepentingan-kepentingan hukum (misalnya: nyawa. 15. kepentingan hukum terhadap harga diri dan nama baik. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. dan lain sebagainya. bahwa sanksi yang tajam pada asasnya hanya akan dijatuhkan. kemerdekaan.Dasar-Dasar Hukum Pidana 2. sebagai bagian dari hukum publik hukum pidana berfungsi: 1. yaitu: a. pertama-tama nyata. harta benda. kepentingan hukum akan hak milik benda.35 artinya hukum pidana hendaknya baru diadakan (dipergunakan) apabila usaha-usaha lain kurang memadai. Hukum Pidana. mengenai bagaimana cara pidana itu harus dikenakan. kepentingan hukum atas tubuh. Adami Chazawi menyebutkan bahwa. Lihat Jan Remmelink. Fungsi yang khusus Fungsi khusus bagi hukum pidana adalah untuk melindungi kepentingan hukum terhadap perbuatan yang hendak memperkosanya (rechtsguterschutz) dengan sanksi yang berupa pidana yang sifatnya lebih tajam jika dibandingkan dengan sanksi yang terdapat pada cabang hukum lainnya. Dapat dikatakan bahwa hukum pidana itu memberi aturan-aturan untuk menaggulangi perbuatan jahat. apabila mekanisme penegakan hukum lainnya yang lebih ringan telah tidak berdaya guna atau sudah sebelumnya dipandang tidak cocok. dan reaksi hukum pidana harus setimpal secara layak atau proporsional dengan apa yang sesungguhnya diperbuat oleh pelaku tindak pidana. Dalam sanksi pidana itu terdapat suatu tragic (suatu yang menyedihkan) sehingga hukum pidana dikatakan sebagai „mengiris dagingnya sendiri‟ atau sebagai „pedang bermata dua‟. kepentingan hukum terhadap rasa susila. h. Melindungi kepentingan hukum dari perbuatan atau perbuatanperbuatan yang menyerang atau memperkosa kepentingan hukum tersebut Kepentingan hukum yang wajib dilindungi itu ada tiga macam. kehormatan). namun jika terjadi pelanggaran terhadap larangan dan perintahnya justru mengenakan perlukaan (menyakiti) kepentingan (benda) hukum si pelanggar. Dalam hal ini perlu diingat pula. 35 13 . Terhadap tindak pidana harus dimunculkan reaksi yang adil. 2003). Berkaitan dengan hal ini menurut Jan Remmelink. Kepentingan hukum perorangan (individuale belangen). misalnya kepentingan hukum terhadap hak hidup (nyawa).

Kekuasaan yang sangat besar ini. ketertiban berlalu-lintas di jalan raya. kepentingan mereka dan relasi antar mereka ditentukan dan dilindungi oleh 36 37 Adami Chazawi. dilakukan oleh negara dengan tindakan-tindakan yang sangat tidak menyenangkan. misalnya dengan dilakukan penangkapan. h. Manusia satu persatu di dalam masyarakat saling bergantung. 38 Ibid. kepentingan hukum terhadap martabat kepala negara dan wakilnya. Menurut Jan Remmelink hukum pidana (seharusnya) ditujukan untuk menegakkan tertib hukum. Op. 20. negara bisa bertindak sewenang-wenang jika tidak diatur dan dibatasi sedemikian rupa. Kepentingan hukum masyarakat (sociale of maatschappelijke belangen). 14 .Cit. 21. Hukum Pidana b. misalnya kepentingan hukum terhadap keamanan dan keselamatan negara. sehingga pengaturan hak dan kewajiban negara mutlak diperlukan. pemeriksaan sampai kepada penjatuhan sanksi pidana kepada pelakunya. dan lain sebagainya. tindakan yang justru melanggar kepentingan hukum pribadi yang mendasar bagi pihak yang bersangkutan. h. yaitu kekuasaan yang berupa hak untuk menjalankan pidana dengan menjatuhkan pidana yang menyerang kepentingan hukum manusia atau warganya ini hanya dimiliki oleh negara dan diatur di dalam hukum pidana itu sendiri terutama di dalam hukum acara pidana. melindungi masyarakat hukum. 2. Kepentingan hukum negara (staatsbelangen). Memberi dasar legitimasi bagi negara dalam rangka negara menjalankan fungsi perlindungan atas berbagai kepentingan hukum Dalam mempertahankan kepentingan hukum yang dilindungi. 16-17. agar negara dapat menjalankan fungsi menegakkan dan melindungi kepentingan hukum yang dilindungi oleh hukum pidana dengan sebaik-baiknya. Mengatur dan membatasi kekuasaan negara dalam rangka negara melaksanakan fungsi perlindungan atas kepentingan hukum.36 c.38 Kekuasaan negara yang sangat besar dalam rangka menegakkan dan melindungi kepentingan hukum itu dapat membahayakan dan menjadi bumerang bagi warganya.37 3. dan sebagainya. kepentingan hukum terhadap negara-negara sahabat..Bab I. misalnya kepentingan hukum terhadap keamanan dan ketertiban umum. Ibid. penahanan. h.

(Bandung: Binacipta. 10. h. dan harus menjaga jangan sampai terjadi obat yang diberikan lebih jahat daripada penyakit. dihaluskan. Ini semua tidak dikatakan dengan melupakan bahwa penjatuhan pidana dalam prakteknya masih juga merupakan sarana kekuasaan negara yang tertajam yang dapat dikenakan kepada pelanggar.Cit. namun memiliki fungsi pelayanan ataupun fungsi sosial. akan muncul sanksi. 14–15. yaitu dalam hukum pidana dibicarakan soal penambahan penderitaan dengan sengaja dalam bentuk pidana. Op. hukum pidana itu membentuk normanorma dan pengertian-pengertian yang diarahkan kepada tujuannya sendiri. tetapi selalu harus mempertimbangkan untung dan rugi ancaman pidana itu. barulah hukum pidana diterapkan. hukum pidana menyimpang dari bagian hukum lainnya.42 39 40 Jan Remmelink. Op. Menjadi jelas bahwa dalam pemahaman di atas hukum pidana bukan merupakan tujuan dalam dirinya sendiri. kadangkala yang berbentuk informal. bahwa hukum pidana itu sama saja dengan bagian lain dari hukum. 55.M. namun ini tidak berarti bahwa ancaman pidana akan ditiadakan. Penjagaan tertib sosial ini untuk bagian terbesar sangat tergantung pada paksaan. Jika norma-norma tidak diataati. tanpa dengan sengaja menimbulkan penderitaan. van Bemmelen. h. h.40 Van Bemmelen menyatakan. Ibid. Setiap ancaman pidana ada keberatannya. bahwa hukum pidana itu merupakan ultimum remidium (obat terakhir). Akan tetapi dalam satu segi.. misalnya perlakuan acuh tak acuh dan kehilangan status atau penghargaan sosial. walaupun juga pidana itu mempunyai fungsi yang lain dari pada menambah penderitaan. Hukum Pidana 1.Cit. artinya kalau bagian lain dari hukum itu sudah tidak cukup untuk menegakkan norma-norma yang diakui oleh hukum. kesejahteraan dan kedamaian dalam masyarakat. sanksi (hukum). 1979). Namun jika menyangkut hal yang lebih penting.. 9 -10. melalui tertib hukum negara yang melengkapi penataan sosial. Tujuan utama semua bagian hukum adalah menjaga ketertiban.Dasar-Dasar Hukum Pidana norma-norma. Sedapat mungkin dibatasi. karena seluruh bagian hukum menentukan peraturan untuk menegakkan norma-norma yang diakui oleh hukum. h. yaitu menilai tingkah laku para pelaku yang dapat dipidana. ketenangan. Ia menunjuk pidato Menteri Kehakiman Belanda Modderman yang antara lain menyatakan bahwa ancaman pidana itu harus tetap merupakan suatu ultimum remidium. J. Andi Hamzah. diperkuat dan dikenakan kepada pelanggar norma tersebut.41 Selanjutnya Van Bemmelen menyatakan.39 Menurut Van Bemmelen. 41 42 15 ..

2 menetapkan.S). sebuah Titah Raja (Koninklijk Besluit) tanggal 15 Oktober 1915 No. disebut dengan sumber hukum dalam arti formil.Cit.v. melainkan diadakan penyimpangan-penyimpangan menurut kebutuhan dan keadaan tanah jajahan Hindia Belanda dulu.Bab I. Sumber utama hukum pidana Indonesia adalah hukum yang tertulis Induk peraturan hukum pidana positif adalah KUHP. Tempat untuk menemukan hukum..v.S. h. yang selesai dibuat tahun 1881 dan mulai berlaku pada tahun 1886 tidak seratus persen sama. 22. bahwa peraturan hukum pidana yang sekarang berlaku ialah peraturan-peraturan hukum pidana yang ada pada tanggal 8 Maret 1942”. ini merupakan copie (turunan) dari Wetboek van Strafrecht Negeri Belanda. 33 dan mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1918. h.N. Namun hal ini tidak berarti hukum pidana yang ada di setiap negara di dunia. Pasal 1 berbunyi: “Dengan menyimpang seperlunya dari Peraturan Presiden RI tertanggal 10 Oktober 1945 No. Op. Ini berarti bahwa teks resmi (yang sah) untuk KUHP kita adalah Bahasa Belanda.v. KUHP atau W. Sudarto. SUMBER HUKUM PIDANA Kebutuhan masyarakat atas hukum pidana semakin nyata dan untuk keperluan itu. Hukum Pidana E. 1 Tahun 1942 (Undang-undang Pemerintah RI. 16 . akan tetapi asas-asas dan dasar filsafatnya tetap sama.43 Sumber hukum merupakan asal atau tempat untuk mencari dan menemukan hukum. KUHP yang sekarang berlaku di Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17-8-1945 mendapat perubahan-perubahan yang penting berdasarkan Undang-undang No. 43 44 Bambang Poernomo. Op. berbentuk undang-undang dan kodifikasi. para ahli hukum pidana telah memikirkan agar hukum pidana dapat “pasti” dan “adil” sehingga timbullah bentuk-bentuk hukum pidana yang dirumuskan dalam undang-undang dan atau kitab undang-undang (kodifikasi). Negara-negara yang menganut sistem hukum Anglo-Saxon hampir seluruhnya tidak mengenal hukum pidana dalam bentuk kodifikasi dan hanya sebagian kecil negara-negara itu yang mempunyai kodifikasi hukum pidana.Cit. Menurut Sudarto sumber hukum pidana Indonesia adalah sebagai berikut:44 1. Yogyakarta). 15 -19..I. yang nama aslinya adalah Wetboek van Strafrecht voor nederlandsch indie (W.

1 Tahun 1946 itu berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia.I. 3. Hal ini sesuai dengan asas legalitas yang tercantum dalam Pasal 1 KUHP. misalnya dengan Staatblad 1945 No. yang diserahkan oleh Menteri Kehakiman Belanda bersama 17 .I.N. 135 tentang ketentuan-ketentuan sementara yang luar biasa mengenai hukum pidana Pasal 570. KUHP itu merupakan kodifikasi dari hukum pidana dan berlaku untuk semua golongan penduduk. No. setelah mengungsi selama zaman pendudukan Jepang (1942-1945) juga mengadakan perubahan-perubahan terhadap W. Dengan demikian perubahan-perubahan yang diadakan oleh Pemerintah Belanda sesudah tanggal 8 Maret 1942 dianggap tidak ada. v. Hukum adat yang masih hidup sebagai delik adat masih dimungkinkan menjadi salah satu sumber hukum pidana. Namun harus disadari bahwa hukum pidana tertulis tetap mempunyai peranan yang utama sebagai sumber hukum. 2. 1958 No. adalah penjelasan atas rencana undang-undang pidana. Dengan masih berlakunya hukum pidana adat (meskipun untuk orang dan daerah tertentu saja) maka sebenarnya dalam hukum pidana pun masih ada dualisme.Dasar-Dasar Hukum Pidana Sementara itu Pemerintah Hindia Belanda yang pada tahun 1945 kembali lagi ke Indonesia.S. hal ini didasarkan kepada Undang-undang Darurat No. Jadi boleh dikatakan ada dualisme dalam KUHP (peraturan hukum pidana). Sumber hukum pidana yang tertulis lainnya adalah peraturan-peraturan pidana yang diatur di luar KUHP. yaitu peraturan-peraturan pidana yang tidak dikodifikasikan.T. dengan demikian di dalam lapangan hukum pidana telah ada unifikasi.N. 73 Tahun 1958 (L. maka dikeluarkan UU No.v. 1 Tahun 1951 (L.N. (KUHP). sehingga hal ini seolah-olah atau pada hakekatnya telah menimbulkan dua buah KUHP yang masing-masing mempunyai ruang berlakunya sendiri-sendiri. Guna melenyapkan keadaan yang ganjil ini. 127) yang antara lain menyatakan bahwa UU R. yang tersebar dalam peraturan perundangundangan hukum pidana lainnya. Sudah tentu perubahan-perubahan yang dilakukan oleh kedua pemerintahan yang saling bermusuhan itu tidak sama.v. Memorie van Toelichting (Memori Penjelasan) M. 1951-9) Pasal 5 ayat 3 sub b. Hukum pidana adat Di daerah-daerah tertentu dan untuk orang-orang tertentu hukum pidana yang tidak tertulis juga dapat menjadi sumber hukum pidana.

T. 2008). Dalam menetapkan sumber hukum atau dasar patut dipidananya suatu perbuatan. (Perkembagan Penyusunan Konsep KUHP Baru). kecuali perbuatan yang dilakukan telah ditetapkan sebagai tindak pidana dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku pada saat perbuatan itu dilakukan. di samping sumber hukum tertulis (UU) sebagai kriteria/patokan formal yang utama.S. 73-74. Konsep KUHP Baru bertolak dari pendirian bahwa sumber hukum yang utama adalah undang-undang (hukum tertulis). h. Namun berbeda dengan asas legalitas yang dirumuskan di dalam KUHP (WvS) selama ini.) ini yang mulai berlaku tanggal 1 Januari 1918 itu adalah copy dari W.Bab I. Konsep memperluas perumusannya secara materiil dengan menegaskan bahwa ketentuan dalam Pasal 1 ayat (1) itu tidak mengurangi berlakunya "hukum yang hidup" di dalam masyarakat. Hukum Pidana dengan Rencana Undang-undang itu kepada Parlemen Belanda.S. Berlakunya hukum yang hidup di dalam masyarakat itu hanya untuk delik-delik yang tidak ada bandingnya (persamaannya) atau tidak telah diatur di dalam undang-undang.I. masih disebut-sebut dalam pembicaraan KUHP karena KUHP ini adalah sebutan lain dari W. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 145 ayat (1) Konsep. W.S. M. (4) Berlakunya hukum yang hidup dalam masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sepanjang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan/atau prinsip-prinsip hukum umum yang diakui oleh masyarakat bangsa-bangsa. Konsep juga masih memberi tempat kepada sumber hukum tidak tertulis yang hidup di dalam masyarakat sebagai dasar menetapkan patut dipidananya suatu perbuatan. Oleh karena itu M.S. dari W.T. untuk Hindia Belanda.v. Dengan demikian. (1) 45 18 . 46 Barda Nawawi Arief. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak mengurangi berlakunya hukum yang hidup dalam masyarakat yang menentukan bahwa seseorang patut dipidana walaupun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan. Jadi bertolak dari asas legalitas dalam pengertian yang formal.v.v.v.s.v. Hindia Belanda (W. (2) Dalam menetapkan adanya tindak pidana dilarang menggunakan analogi.N.46 Pasal 1 Konsep KUHP Baru berbunyi: Tiada seorang pun dapat dipidana atau dikenakan tindakan. Belanda tahun 1886. RUU ini pada tahun 1881 disahkan menjadi UU dan pada tanggal 1 September 1886 mulai berlaku. Belanda tahun 1886 dapat digunakan pula untuk memperoleh penjelasan dari pasal-pasal yang tersebut di dalam KUHP yang sekarang berlaku.v.v. Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana. (Jakarta: Kencana.

yang menentukan bahwa pelanggaran atas hukum itu patut dipidana. Barda Nawawi Arief. Op. 75.Dasar-Dasar Hukum Pidana Diakuinya tindak pidana atas dasar hukum yang hidup dalam masyarakat atau yang sebelumnya dikenal sebagai tindak pidana adat adalah untuk lebih memenuhi rasa keadilan yang hidup di dalam masyarakat. Ketentuan ini merupakan pengecualian dari asas bahwa ketentuan pidana diatur dalam peraturan perundang-undangan..… Bahwa. bilamana hukuman adat yang dijatuhkan itu menurut pikiran hakim melampaui hukuman kurungan atau denda yang dimaksud di atas. Adalah suatu kenyataan bahwa di beberapa daerah di tanah air. Penjelasan Pasal 1 ayat (3) Konsep KUHP Baru menyebutkan. 1951 " .Cit. bahwa embrio atau cikalbakal dari pokok pemikiran tetap diakuinya eksistensi/berlakunya hukum tidak tertulis yang hidup di dalam masyarakat sebagai salah satu sumber hukum pidana itu sebenarnya sudah cukup lama dan tersebar di beberapa produk legislatif.. h. Pasal 5 ayat (3) sub b Undang-Undang No. masih terdapat ketentuan-ketentuan hukum yang tidak tertulis. untuk memberikan dasar hukum yang mantap mengenai berlakunya hukum pidana adat. 47 Dengan demikian dapatlah diketahui bahwa menurut Konsep KUHP Baru sumber hukum pidana itu adalah sumber hukum tertulis (undang-undang) dan sumber hukum tidak tertulis yang hidup di masyarakat. yang hidup dan diakui sebagai hukum di daerah yang bersangkutan. nilai dan norma yang hidup dalam masyarakat setempat masih tetap dilindungi untuk lebih memenuhi rasa keadilan yang hidup di dalam masyarakat tertentu.. Dalam hal ini hakim dapat menetapkan sanksi yang berupa “Pemenuhan Kewajiban Adat” setempat yang harus dilaksanakan oleh pembuat tindak pidana. maka dianggap diancam dengan hukuman yang tidak lebih dari tiga bulan penjara dan/atau denda lima ratus rupiah. Barda Nawawi Arief menyebutkan. Hal ini berarti bahwa standar. yaitu sebagai hukuman pengganti bilamana hukuman adat yang dijatuhkan tidak diikuti oleh pihak yang terhukum…. 1 Drt. 19 . 47 48 Penjelasan Buku I angka 3 Konsep KUHP Baru Tahun 2006/2007. Keadaan seperti ini tidak akan menggoyahkan dan tetap menjamin pelaksanaan asas legalitas serta larangan analogi yang dianut di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. maka hal tersebut mendapat pengaturan secara tegas dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ini.. Diakuinya tindak pidana adat tersebut untuk lebih memenuhi rasa keadilan yang hidup di dalam masyarakat tertentu. antara lain dapat dilihat sebagai berikut: 48 1. akan tetapi tiada bandingnya dalam Kitab Hukum Pidana Sipil. bahwa suatu perbuatan yang menurut hukum yang hidup harus dianggap perbuatan pidana.

Selanjutnya disebutkan.Bab I.. 20 ." 2. memuat pula pasal tertentu dari peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili. 28 ayat (1): Hakim wajib menggali. dengan pengertian bahwa hukuman adat yang…. tidak selaras lagi dengan zaman senantiasa diganti seperti tersebut di atas. 1 /Drt/ 1951 dan Undang-undang Kekuasaan Kehakiman). kecuali karena aturan hukum yang sudah ada dan berlaku terhadapnya.. 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman Pasal 16 ayat (1): Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa.. Bahkan kebijakan/ ide perumusan asas legalitas secara material pernah pula dirumuskan sebagai "kebijakan konstitusional" di dalam Pasal 14 ayat (2) UUDS'50 yang berbunyi: "Tiada seorang jua pun boleh dituntut untuk dihukum atau dijatuhi hukuman. mengadili.. Hukum Pidana maka…. UU No. mengikuti. terdakwa dapat dikenakan hukuman pengganti setinggi 10 tahun penjara.. dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas. bahwa dengan bertolak dari kebijakan perundang-undangan nasional seperti dikemukakan di atas (Undangundang No. Pasal.." Dalam pasal tersebut digunakan istilah "aturan hukum" (RECHT) yang tentunya lebih luas pengertiannya dari sekadar aturan "undangundang" (WET). karena dapat berbentuk "hukum tertulis" maupun "hukum tidak tertulis".. tetapi hanya melanjutkan dan mengimplementasikan kebijakan/ide yang sudah ada. melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya. Pasal 25 ayat (1): Segala putusan pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar putusan tersebut. 77... dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. dapat dikatakan bahwa perluasan asas legalitas secara materiil di dalam konsep sebenarnya bukanlah hal baru.49 49 Ibid. h.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->