P. 1
Etika Profesi Dan Hukum Kesehatan Bayi Tabung

Etika Profesi Dan Hukum Kesehatan Bayi Tabung

|Views: 295|Likes:
Published by vinasti g. hermawan

More info:

Published by: vinasti g. hermawan on Nov 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/02/2014

pdf

text

original

GESIT KUSUMA WARDHANI P.174.24.210.034 GINANTI VINASTITI P.174.24.210.035 HESTI RAHAYU P.174.24.

210.036 IIN SRI LESTARI P.174.24.210.037

 in vitro = gelas / tabung gelas (bahasa Latin)  vertilization = pembuahan (bahasa Inggris)  Hasil konsepsinya (pertemuan sel telur dan sperma) dilakukan dalam sebuah tabung (cawan petri) yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa di laboratorium dan dilakukan oleh petugas medis. . Bayi tabung adalah proses pembuahan sel telur dan sperma di luar tubuh wanita. Sering disebut “in vitro vertilization”.

Selanjutnya diharapkan embrio itu akan tumbuh dalam rahim wanita. Setelah itu kehamilan akan dialami wanita dan perkembangannya akan berlangsung seperti biasa.  Setelah pembuahan hasil konsepsi tersebut dipelihara beberapa saat dalam tabung sampai pada suatu saat tertentu akan dicangkokkan ke dalam rahim wanita tersebut. . dibuahi dengan sperma yang sudah dipersiapkan dalam tabung yang suasananya dibuat persis seperti didalam rahim. Kemudian sel telur yang diambil. Prosesnya mula – mula dengan suatu alat khusus semacam alat untuk laporoskopi dilakukan pengambilan sel telur dari wanita yang baru saja mengalami ovulasi.

norma kesusilaan. Pada sarana kesehatan tertentu. Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu. dan norma kesopanan. Ketentuan mengenai persyaratan penyelenggaraan kehamilan diluar cara alami sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dan ayat 2 ditetapkan dengan peraturan pemerintah. ditanamkan dalam rahim istri darimana ovum berasal. c. Hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami istri yang bersangkutan. b. 23 Tahun 1992 atau 127 (1) UU No. Pasal 16 ayat 1. Sarana kesehatan tertentu adalah sarana kesehatan yang memiliki tenaga dan peralatan yang telah memenuhi persyaratan untuk penyelenggaraan upaya kehamilan diluar cara alami dan ditunjuk oleh pemerintah. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.Dasar hukum pelaksanaan bayi tabung di Indonesia adalah Undang-Undang Kesehatan No. “ . Upaya kehamilan diluar cara alami sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah dengan ketentuan : a. Pelaksanaan upaya kehamilan di luar cara alami harus dilakukan sesuai norma hukum. “Kehamilan diluar cara alami dapat dilaksanakan sebagai upaya terakhir untuk membantu sua mi istri mendapatkan keturunan.

 Jika ketika embrio diimplantasikan ke dalam rahim ibunya di saat ibunya telah bercerai dari suaminya maka jika anak itu lahir sebelum 300 hari perceraian mempunyai status sebagai anak sah dari pasangan tersebut. Dasar hukum ps. dilakukan proses fertilisasi-in-vitro transfer embrio dan diimplantasikan ke dalam rahim Istri maka anak tersebut baik secara biologis ataupun yuridis mempunyai satus sebagai anak sah (keturunan genetik) dari pasangan tersebut. 255 KUHPer. Namun jika dilahirkan setelah masa 300 hari. Jika benihnya berasal dari Suami Istri. . maka anak itu bukan anak sah bekas suami ibunya dan tidak memiliki hubungan keperdataan apapun dengan bekas suami ibunya. Akibatnya memiliki hubungan mewaris dan hubungan keperdataan lainnya.

1320 dan 1338 KUHPer. (Biasanya dilakukan perjanjian antara kedua pasangan tersebut dan perjanjian semacam itu dinilai sah secara perdata barat. Jika embrio diimplantasikan ke dalam rahim wanita lain yang bersuami. Dasar hukum ps. maka dapat dilakukan fertilisasi-in-vitro transfer embrio dengan persetujuan pasangan tersebut. 250 KUHPer. maka secara yuridis status anak itu adalah anak sah dari pasangan penghamil. bukan pasangan yang mempunyai benih. Anak yang dilahirkan memiliki status anak sah dan memiliki hubungan mewaris dan hubungan keperdataan lainnya sepanjang si Suami tidak menyangkalnya dengan melakukan tes golongan darah atau tes DNA.)  Jika salah satu benihnya berasal dari donor Jika Suami mandul dan Istrinya subur. 1/1974 dan ps. 42 UU No. . Dasar hukum ps. Dalam hal ini Suami dari Istri penghamil dapat menyangkal anak tersebut sebagai anak sah-nya melalui tes golongan darah atau dengan jalan tes DNA. sesuai dengan ps. 250 KUHPer. Sel telur Istri akan dibuahi dengan Sperma dari donor di dalam tabung petri dan setelah terjadi pembuahan diimplantasikan ke dalam rahim Istri.

. Dasar hukum ps. 250 KUHPer. tapi embrio diimplantasikan ke dalam rahim seorang wanita yang terikat dalam perkawinan maka anak yang lahir mempunyai status anak sah dari pasangan Suami Istri tersebut karena dilahirkan oleh seorang perempuan yang terikat dalam perkawinan yang sah. Jika embrio diimplantasikan ke dalam rahim wanita lain yang bersuami maka anak yang dilahirkan merupakan anak sah dari pasangan penghamil tersebut. 1/1974 dan ps. Jika sel telur berasal darinya maka anak tersebut sah secara yuridis dan biologis sebagai anaknya.  Jika semua benihnya dari donor Jika sel sperma maupun sel telurnya berasal dari orang yang tidak terikat pada perkawinan.  Jika diimplantasikan ke dalam rahim seorang gadis maka anak tersebut memiliki status sebagai anak luar kawin karena gadis tersebut tidak terikat perkawinan secara sah dan pada hakekatnya anak tersebut bukan pula anaknya secara biologis kecuali sel telur berasal darinya. 42 UU No.

Status anak yang dilahirkan tidak dalam ikatan perkawinan adalah anak diluar nikah. Apabila dokter melakukan inseminasi buatan dengan donor bukan suami tanpa sepengetahuan klien dan tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada adalah tindak pidana kejahatan yang diancam dengan hukuman penjara atau denda. Apabila sperma dari pemesan disebut Surrogate Mother. Anak diluar nikah hanya mempunyai hubungan hukum dengan ibu dan keluarga ibu. Setelah anak dilahirkan maka anak adalah anak sah si ibu dan suaminya. .

Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia memutuskan :  Bayi tabung dengan sperma dan ovum dari pasangan suami isteri yang sah hukumnya mubah (boleh). sebab hak ini termasuk ikhtiar berdasarkan kaidah-kaidah agama.  Bayi tabung dari pasangan suami-isteri dengan titipan rahim isteri yang lain (misalnya dari isteri kedua dititipkan pada isteri pertama) hukumnya haram berdasarkan kaidah Sadd az-zari’ah.Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang bayi tabung/inseminasi buatan. dan sebaliknya). sebab hal ini akan menimbulkan masalah yang rumit dalam kaitannya dengan masalah warisan (khususnya antara anak yang dilahirkan dengan ibu yang mempunyai ovum dan ibu yang mengandung kemudian melahirkannya. .

yaitu untuk menghindarkan terjadinya perbuatan zina. Bayi tabung dari sperma yang dibekukan dari suami yang telah meninggal dunia hukumnya haram berdasarkan kaidah Sadd a zzari’ah. baik dalam kaitannya dengan penentuan nasab maupun dalam kaitannya dengan hal kewarisan. dan berdasarkan kaidah Sadd az-zari’ah. .  Bayi tabung yang sperma dan ovumnya diambil dari selain pasangan suami isteri yang sah hukumnya haram. sebab hal ini akan menimbulkan masalah yang pelik. karena itu statusnya sama dengan hubungan kelamin antar lawan jenis di luar pernikahan yang sah (zina).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->