Apakah Itu Vaksinasi?

Vaksinasi, atau imunisasi, adalah suntikan yang merangsang ketahanan tubuh kita terhadap infeksi tertentu. Misalnya, sebagian besar orang diimunisasi terhadap beberapa infeksi waktu bayi. Dibutuhkan beberapa minggu setelah disuntik sehingga sistem kekebalan tubuh bereaksi pada vaksin yang disuntikkan. Sebagian besar vaksin dipakai unjtuk mencegah infeksi. Tetapi, beberapa yang lain membantu tubuh kita untuk melawan infeksi yang sudah ada. Vaksin ini disebut ‘vaksin terapeutik.’ Ada beberapa vaksin terapeutik sedang ditelitikan dan diuji coba terhadap HIV. Vaksin ‘hidup’ memakai bentuk kuman yang dilemahkan. Vaksin jenis ini dapat menimbulkan penyakit yang ringan, kemudian sistem kekebalan mengambil alih untuk mencegah terhadap penyakit yang parah. Vaksin lain yang ‘dinonaktifkan’ (inactivated) tidak memakai kuman yang hidup. Dengan vaksin jenis ini, kita tidak mengalami penyakit, tetapi tubuh kita masih dapat membentuk keamanannya. Vaksin dapat menimbulkan efek samping. Dengan vaksin hidup, kita mungkin mengalami penyakit yang ringan. Bahkan dengan vaksin yang dinonaktifkan, sistem kekebalan kita akan bereaksi. Kita mungkin mengalami kesakitan, kemerahan, dan bengkak di tempat yang disuntik. Kita juga mungkin merasa lemas, kelelahan, atau mual selama satu-dua hari. Apa yang Berbeda untuk Odha? Sistem kekebalan tubuh mungkin tidak dapat bereaksi secara baik pada vaksin bila sudah dilemahkan oleh HIV. Mungkin juga jangka waktu vaksinnya efektif dapat lebih singkat. Juga, vaksin dapat menyebabkan efek samping yang lebih parah untuk Odha. Bahkan, vaksin dapat mengakibatkan penyakit yang seharusnya dicegahnya. Hanya sedikit penelitian dilakukan terhadap penggunaan vaksin oleh Odha, apalagi sejak terapi antiretroviral sudah terpakai. Namun ada beberapa pedoman penting untuk Odha:

Vaksinasi dapat meningkatkan viral load untuk sementara. Namun jatuh sakit dengan penyakit yang dicegah oleh vaksin lebih buruk. Jangan tes viral load dalam empat minggu setelah vaksinasi apa pun. Vaksinasi terhadap flu lebih ditelitikan dengan Odha dibandingkan vaksinasi yang lain. Vaksin flu dianggap aman dan efektif. Namun Odha tidak boleh memakai vaksin flu semprot hidung “FluMist”.

Bila belum mempunyai antibodi terhadap hepatitis B. Tetanus dan Difteri: Tetanus adalah penyakit gawat disebabkan oleh bakteri yang umum. Pneumonia: Risiko penumonia pneumokokal jauh lebih tinggi untuk Odha. Infeksi tetanus dapat terjadi melalui luka pada kulit. Flu: Vaksin flu harus diperbarui setiap tahun. tetapi dapat lebih gawat untuk orang dengan hati yang lemah. Hepatitis A biasanya bukan masalah. Hepatitis disebabkan oleh berbagai macam virus. Vaksin terhadap diteri biasanya digabungkan dengan vaksin tetanus. Difteri juga adalah penyakit bakteri. berdasarkan tipe flu yang paling aktif saat itu. Sebuah seri tiga suntikan vakinasi hepatitis B seharusnya melindungi kita selama sepuluh tahun. Tetanus tidak menularkan dari orang ke orang. Odha tidak boleh menerima sebagian besar vaksin hidup termasuk vaksin cacar (smallpox).• • Bila jumlah CD4-nya sangat rendah. Hepatitis: Lihat Lembaran Informasi (LI) 505. Para IDU lebih berisiko terhadap tetanus. Vaksinasi Apakah Disarankan? Saat ini di Indonesia. Sebaiknya dibahas dengan dokter sebelum melakukan vaksinasi apa pun. Depkes mengusulkan vaksinasi terhadap flu setiap tahun untuk semua orang. Hepatitis B dapat menyebabkan penyakit gawat. Beberapa vaksin flu dapat menyebabkan reaksi alergi pada orang yang mempunyai alergi terhadap telur. Walaupun tidak umum dilakukan di Indonesia. gondong rubela dianggap aman asal jumlah CD4-nya di atas 200. Yang berikut berdasarkan pedoman di AS dan pedoman Indonesia umum untuk orang dewasa. Pelindungan bertahan lima tahun untuk Odha. memperkuatkan sistem kekebalan tubuhnya dengan memakai terapi antiretroviral (ART) sebelum divaksinisasikan. dan rawan pada tunawisma. Infeksi ini dapat menular dari orang ke orang. Ada vaksin terhadap hepatitis A dan B. . terutama untuk jemaah haji. Namun vaksin campak. belum ada pedoman khusus mengenai vaksinasi untuk Odha dewasa. Bila kita pernah terpajan pada hepatitis B. Flu dapat mengembangkan menjadi pneumonia. Yang lebih berisiko terinfeksi hepatitis A atau B termasuk pria yang berhubungan seks dengan pria dan pengguna narkoba suntikan (IDU). Vaksin membutuhkan 2-3 minggu untuk menjadi efektif. sebaiknya kita mendapatkan vaksinasi terhadapnya. Dua suntikan vaksin hepatitis melindungi selama 20 tahun. vaksin mungkin tidak berhasil. termasuk orang dengan hepatitis B atau C. Bila mungkin. kita sudah mempunyai antibodi terhadapnya.

Tifoid: Demam tifoid (‘tifus’) disebabkan oleh bakteri. kita sebaiknya minta pernyataan dokter yang menjelaskan bahwa kita mempunyai alasan medis untuk tidak diberikan vaksinasi tersebut. Bila belum divaksinasi pada masa kanak-kanak.spiritia. Campak. kecuali yang dibahas di atas. tetapi kadang kala ada sedikit rasa sakit pada bekas suntikan yang akan segera hilang. dan disebarkan melalui batuk dan bersin. Satu suntikan ulang diberikan setiap 5-10 tahun. asal CD4-nya di atas 200 (MMR adalah vaksin hidup).id . Asal vaksin tidak hidup. Surat tersebut diterima oleh yang berkuasa di sebagian besar negara. tidak lebih sering. Depkes mengusulkan semua orang Indonesia divaksinasi terhadap tifoid setiap tiga tahun. sebaiknya diberikan setiap sepuluh tahu. Gondong dan Rubela: Ketiga penyakit ini disebabkan oleh virus. Ada peraturan internasional atau nasional yang mengharuskan pejalan melakukan vaksinasi.Vaksin tetanus dan difteri (bersama dengan vakin lain terhadap petusis) biasanya diberikan pada anak sebagai seri tiga suntikan. Vaksin ini hampir tidak menimbulkan efek samping. Anak seharusnya divaksinasi terhadap penyakit ini dengan suntikan yang disebut sebagai ‘MMR’. Odha Pejalan Odha yang berjalan ke luar negeri sebaiknya divaksinasi terhadap hepatitis A dan B. Vaksin ini biasanya memberi pelindungan seumur hidup. Vaksinasi tidak berisiko untuk Odha asal tidak dipakai vaksin hidup.or. Odha sebaiknya divaksinasi. tetapi tampaknya aman untuk Odha dengan CD4 di atas 200. Untuk Odha. Infeksinya sangat menular. untuk menghindari reaksi setempat yang dapat sakit. www. biasanya ini tidak masalah. Suntikan ini dapat menyebabkan pembengkakan yang bertahan beberapa minggu. Vaksinasi untuk demam kuning (yellow fever) hidup. dan dapat menjadi gawat. Sebagai alternatif divaksinasi dengan vaksin hidup.

Keberhasilan ini dicapai meskipun ada banyak keganjilan .26 di tahun 1998.PROGRAM IMUNISASI DAN PENGEMBANGAN VAKSIN (VAKSINASI) Pokok Masalah dan Tantangan : Indonesia memulai akselerasi upaya penghapusan polio di tahun 1995 dengan Hari Imunisasi Nasional yang pertama. Pemerintah Indonesia melaksanakan Hari Imunisasi Nasional yang berhasil pada tanggal 12 September sampai dengan 9 Oktober 2002. Meskipun dengan kemajuan yang mengesankan ini. Sampai dengan bulan Mei 2001. sistem desentralisasi yang baru dicanangkan oleh pemerintah. Indikator pengamatan AFP juga mulai terputus-putus. Berikutnya. Ini meningkatkan kemungkinan bahwa wild virus atau VDPV memiliki potensi untuk terjadi di daerah yang rendah jangkauan OPV-nya dan tetap tidak terdeteksi. bahkan dengan perkiraan jangkauan OPV3 yang sekarang ini adalah 80% dan keefektifan untuk 3 dosis OPV dari 80% hanya sekitar 64% (0. Peninjauan kembali pengamatan gabungan antara nasional dan internasional AFP yang diselenggarakan di bulan Juni 2003 menyatakan keprihatinan yang serius pada turunnya kualitas pengamatan dan membuat beberapa rekomendasi pokok: .8 x 0.99 di bulan November 2002). mengalami konflik yang sedang berjalan dan/atau menghadapi hambatan dalam anggaran belanjanya untuk menyelenggarakan program EPI. sebuah jaringan pengamatan AFP dan tiga laboratorium polio. tingkat AFP non polio meningkat sedikit menjadi 1. mereka mendapatkan laporan jangkauan sebesar 103% dari 104% dari kedua putaran. menjadi 0. namun mulai turun lagi di tahun 2003 (0.sangat pendeknya lead-time untuk persiapan. Departemen Kesehatan dan WHO.8) bayi dalam setiap kelompok bayi yang lahir setiap tahunnya benar-benar terlindungi dari polio. Tidak ada wild virus yang telah diisolasikan di Indonesia sejak tahun 1995. Selanjutnya. dengan dukungan finansiil dan teknis dari sumber eksternal. tingkat AFP non-polio tahunannya telah menurun di bawah satu. Sejak itu Indonesia telah membuat kemajuan yang mantap menuju pencapaian gol dari penghapusan polio.82 dari 1.23 di tahun 2002.9 juta anak balita. krisis ekonomi yang menimpa Asia Tenggara dan desentralisasi pemerintahan mempengaruhi pelayanan imunisasi rutin secara besar. Di dalam sebuah negara yang besar seperti Indonesia. Berdasarkan informasi ini. data di tingkat nasional sering menyembunyikan propinsi dan daerah dengan kinerja yang buruk. dan tidak meratanya arus dana ke beberapa propinsi. Dengan disebarkannya 38 petugas pengamat yang didukung oleh WHO. Daerah-daerah ini umumya lebih terpencil. Kelompok Penasihat Teknis dalam pertemuannya di Myanmar di bulan Mei 2001 merekomendasikan bahwa Indonesia melaksanakan Hari Imunisasi Nasional di tahun 2002. Dengan target perkiraan sekitar 20.

desa 66%).6% dengan variasi kota-desa yang signifikan (kota 78%. Indonesia telah menetapkan tujuan dari Imunisasi Anak Universal (Universal Childhood Immunization/ UCI).59 bulan ditargetkan untuk vaksinasi campak. proporsi dari desa-desa yang mendapat jangkauan >80% telah menurun secara mantap di tahun-tahun terakhir. WHO SEARO memperkirakan bahwa ada sekitar 38. 25% dari semua penduduk desa ditargetkan untuk "vaksinasi kilat" ini selama Hari Imunisasi Nasional polio. Jangkauan yang dilaporkan dari desa-desa ini adalah 78% dibandingkan dengan polio yang hampir 100%. Dengan menganggap bahwa perbaikan ini dapat dipertahankan. Sebuah desa yang "berisiko tinggi" dijabarkan sebagai desa yang tidak mencapai UCI (<80% jangkauan campak) selama tiga tahun berturut-turut.000 kematian akibat campak per tahunnya di Indonesia. Selanjutnya. Sejak tahun 1992. Upaya-upaya telah dibuat untuk mencapai desa-desa yang "berisiko tinggi" dengan kegiatan vaksin campak pelengkap. jangkauan vaksin campak yang 80% digunakan sebagai indikator tujuan ini. Ini akan membutuhkan pengawasan dan bantuan teknis terhadap petugas pengamat yang ditingkatkan. Strategi ini harus mengikutsertakan kegiatan-kegiatan vaksinasi untuk mengurangi secara mencolok dan mempertahankan . Kegiatan-kegiatan ini disebut "vaksinasi kilat". Pemerintah mungkin tidak perlu melakukan Kegiatan Imunisasi Pelengkap tambahan untuk polio selama dua tahun ke depan. Pengamatan cacar dan Neonatal Tetanus dapat digabungkan dengan pengamatan AFP. Strategi vaksinasi yang lengkap dan jangka panjang diperlukan untuk memecahkan dan memelihara pemecahan sirkulasi virus campak. Pemerintah pusat harus menjamin sertifikat pengamatan standar. jangkauan vaksin campak yang dilaporkan berada di kisaran 28-90%. PROGRAM IMUNISASI DAN PENGEMBANGAN VAKSIN 2 Pokok Masalah dan Tantangan : Vaksin campak diperkenalkan ke dalam program EPI di tahun 1984. Di tahun 2002. Semua anak yang berusia 6 . meskipun Susenas yang paling terakhir 2002-03 memperkirakan bahwa jangkauan hanya akan sebesar 71. Memperbaiki ketrampilan staf pengamat di propinsi dan daerah dalam hal penyelidikan dan tindakan lanjut dan dalam penggunaan data pengamatan untuk pembuatan keputusan.• • • Struktur pengamatan dengan jaringan petugas pengamat perlu dipelihara sedikitnya selama 3-5 tahun ke depan. Sasaran : • Mencapai dan memelihara Indonesia bebas polio.

Sasaran : Menyediakan bantuan yang cukup untuk menjalankan strategi: • • • Untuk mencapai pengurangan yang berkesinambungan dalam kematian akibat campak. pengawasan kinerja vaksin di kondisi lapangan dan tunduk pada GMP (Good Manufacturing Practices) dan evaluasi data klinis percobaan dalam mendaftarkan keputusan. akan menjadi penting untuk mempersiapkan kesempatan kedua untuk imunisasi campak untuk semua anak berusia 9 . Untuk mencapai penghapusan campak. Kualitas vaksin yang diberikan kepada anak-anak juga tergantung pada kualitas dari cold chain dan pengelolaannya dalam hal penyimpanan dan transportasi dari pabrik ke sesi vaksinasi. campak dan NT yang terpadu dimulai di tahun 2004 dan ada 4 laboratorium campak yang sedang dibangun. National Regulatory Authority (NRA) yang kompeten dan berfungsi secara independen telah hadir. Pemerintah Indonesia berencana untuk menyelenggarakan pengawasan AFP. PROGRAM IMUNISASI DAN PENGEMBANGAN VAKSIN 3 Pokok Masalah dan Tantangan : Untuk menjamin kualitas vaksin. DPT dan DT. TT. Namun demikian. Maka. Untuk memecahkan penularan di daerah-daerah dimana tujuan penghapusan campak telah ditetapkan. dengan tingkat jangkauan vaksinasi kini dan wabah campak yang sekarang ini. imunisasi campak yang rutin tetap menjadi dasar dari pengurangan kematian akibat campak yang berkesinambungan serta strategi untuk menghapuskan campak. Kualitas pengawasan campak adalah komponen penting dari strategi penghapusan campak.54 bulan. Sebuah studi di tahun 2001-2002 oleh PATH dan DepKes memperlihatkan bahwa 75% dari vaksin Indonesia mungkin telah terpapar ke suhu yang membeku selama distribusi. Untuk mencapai penghapusan Maternal dan Neonatal Tetanus. Indonesia telah meletakkan suatu sistem pendaftaran produk dan fasilitas produk.tingkat kerentanan di anak-anak usia pra-sekolah dan usia sekolah. bukan hanya bagi mereka yang tinggal di desa-desa yang tinggi risikonya. Ini dapat mempengaruhi potensi dari vaksin yang peka terhadap pembekuan seperti HB. kegiatan prioritas selama dua tahun berikut adalah untuk mendapatkan penilaian dari . Banyak dari teknisi cold chain yang kini dalam pekerjaannya telah bekerja selama beberapa tahun dan mungkin mereka memerlukan pelatihan penyegaran dengan prosedur/ panduan operasi yang telah diperbarui.

Pemerintah Indonesia juga menerapkan suatu sistem pengawasan dan investigasi yang tepat untuk Adverse Event Following Immunization (AEFI) (Kejadian yang Merugikan Setelah Imunisasi). Sasaran : • Menjamin kualitas vaksin. turun dari 90% daerah yang melaporkan 80% jangkauan di tahun 1999. ini belum mengadopsi kebijakan nasional akan pembuangan yang aman dari barang-barang tajam dan jarum. Namun. Ini mengakibatkan pengaruh yang merugikan pada EPI dan pada pelayanan kesehatan . pedoman/ prosedur pengoperasian yang direvisi dan pelatihan penyegaran bagi staf cold chain. Sasaran : • Menjamin keamanan imunisasi. Ini dengan menggunakan jarum suntik dari Uniject untuk Hepatitis B dosis pada saat baru lahir dan jarum suntik AD untuk dosis lainnya dengan menggunakan dana dari GAVI. ada kekurangan kejelasan pada peranan dan tanggung jawab dari pembuatan keputusan yang telah pindah ke daerah. Dengan desentralisasi dana dan otoritas. PROGRAM IMUNISASI DAN PENGEMBANGAN VAKSIN 4 Pokok Masalah dan Tantangan : Indonesia telah menetapkan kebijakan penyuntikan yang aman dan menggunakan hanya jarum suntik AD untuk imunisasi dan meningkatkan penggunaan jarum suntik AD dan jarum suntik sekali pakai (disposable) untuk perawatan kuratif juga. PROGRAM IMUNISASI DAN PENGEMBANGAN VAKSIN 5 Pokok Masalah dan Tantangan : Indonesia dilaporkan 78% dari daerahnya melaporkan 85% jangkauan di tahun 2000. WHO akan mendukung inisiatif untuk mengembangkan sebuah kebijakan nasional untuk pembuangan yang aman dari barang tajam dan jarum dan membantu menerapkan kebijakan tersebut melalui sokongan dan panduan teknis.pengelolaan cold chain.

radiasi. imunoglobulin.sedang sakit .Hib : Hiberix & Act Hib thimerosal free . tujuan dari dukungan WHO adalah akan menyediakan panduan teknis yang cukup tentang penggunaan dana GAVI secara efektif untuk memperkuat rutin EPI.hamil . AIDS . analisa dan penggunaan data imunisasi untuk pembuatan keputusan dan perbaikan program.alergi berat . sedangkan Euvax-nya Aventis trace 0. Pengembangan model di tingkat daerah/ propinsi akan pengumpulan.mengalami penyakit yang menurunkan kekebalan : leukemia.Hepatitis : Engerix-B-nya Glaxo/GSK thimerosal free. adanya kebutuhan yang mendesak untuk memperkuat kapasitas pengelolaan dan teknis dari pengelola EPI di tingkat daerah dan propinsi. transfusi darah . Sasaran : • Memperkuat sistem pelaporan. GAVI telah memberikan bantuan sebesar $40 juta untuk memperkenalkan vaksin Hep B dalam EPI rutin dan untuk memperkuat pelayanan imunisasi ($12 juta).BCG : thimerosal free .lainnya karena kurangnya panduan yang jelas dan kurangnya ketrampilan teknis/ mengelola di antara para staf daerah. Seorang konsultan nasional yang didukung oleh WHO untuk memberikan bantuan teknis dalam penggunaan dana GAVI secara efektif.5 ug. Maka dari itu.mendapat pengobatan steroid.tinggal dengan seseorang yang mengalami penurunan kekebalan . Maka. Rencananya termasuk dua komponen.DPT & DT : yang diproduksi oleh BioFarma masih ada thimerosalnya 25 ug.Thiperix : thimerosal free . DTPa Infanrix (Glaxo Smith Klaine/GSK) thimerosal free.Varilrix : thimerosal free Untuk MMR : .ada keluarga yang mengalami autisme Pilihan vaksin : .05 ug/dosis .efek samping vaksinasi sebelumnya yang berat .Polio : thimerosal free . Harga sekitar 300-400 ribu . Tetract Hib Aventis (gabungan DPT dengan Hib) masih ada thimerosal < 0. Bagaimana imunisasi yang aman ? Beritahu dokter bila : . Begitu juga dengan DTPa Tripacel Aventis thimerosal free.

Pilih vaksin yang tidak mengandung merkuri atau kandungan merkurinya sesedikit mungkin. mereka malah tidak memperhatikan akan bahaya yang terjadi dengan hasil riset yang menyimpulkan bahwa vaksin MMR aman dipakai. Kutipan terjemahan tulisan dr Tom Heller. Tetapi dengan alasan tertentu. Hati-hati bila anak telah menunjukkan ciri-ciri abnormal sejak dini ( tak mau tatap mata. catatan : mungkin bisa dilihat sejak usia 3 . Beberapa jenis vaksin seperti MMR adalah pilihan ortu. Program NHS mengkhususkan diri dalam memberikan pelayanan dan pengobatan pada masyarakat luas. Situs Departemen Kesehatan memberikan banyak bukti dan links mengenai vaksin ini hanya menghasilkan satu isu baru yaitu vaksin MMR mempunyai efek samping yang buruk. Ortu harus lebih bijaksana dalam memutuskan. Semoga bermanfaat. tak ada senyum sosial... ADHD. Tapi belakangan ini saya semakin tidak yakin ketika memberikan vaksinasi kombinasi MMR dan berpikir apakah saya juga harus memberikan vaksinasi ini pada anak-anak saya jika mereka ada pada usia semuda itu. disleksia. ketika mencoba untuk mendiskusikan . Sulit bagi saya untuk merasa yakin bahwa vaksin itu aman seperti yang di-umumkan pemerintah.Menurut IDAI perlu tetap diberikan Menurut pendapat pribadi Dr.4 bulan ) 5. Sementara sekian sharingnya.. retardasi mental. Hati-hati bila salah seorang kakak atau saudara sepupu menderita gangguan ASD. menolak interaksi) . Pada saat yang sama. Vaksinasi sebaiknya dilakukan dalam keadaan anak sedang sehat 2. SpKJ Memberikan vaksinasi seaman mungkin Beberapa hal yang harus diwaspadai : 1. Kemungkinan adanya faktor genetik kuat 4. Semakin keras suara para ahli saya merasa semakin ragu akan kebenarannya.. Penggunaan bukti klinis secara tidak lengkap juga dikumandangkan oleh para ahli lainnya. mewakili para orang tua dan dokter atau praktisi autisme: Salah satu tugas saya sehari hari sebagai seorang praktisi atau dokter di Inggris adalah memberikan imunisasi pada bayi dan balita.. Hardiono : silakan tunda bila ada kekuatiran (bisa saja tunda sampai anak sudah bicara dan tidak ada gejala gangguan perkembangan lainnya) Dr. 3. Melly Budhiman. gangguan perkembangan wicara. Seperti pada Elliman dan Bedford yang menyerang metode riset yang digunakan oleh orang orang yang prihatin terhadap efek samping vaksin MMR.

Namun kami tahu bahwa untuk measles saja angka kematian 1 . tidaklah mudah untuk mempertanyakan hal ini pada pemerintah. penanggung jawab dari beberapa riset yang mempertanyakan mengenai pengembangan vaksin MMR telah di-vonis melakukan penyalah gunaan etika profesional.1999 dibeberapa daerah terlihat hanya 75% Saat ini. mungkinkah hasil observasi seperti ini dapat dijadikan bukti? Saya tidak sendirian dalam keprihatinan dan mungkin kebingungan mengenai pemberian vaksinasi MMR. Awareness and Basic support. Yang kita dapati saat ini adalah hipotesis yang berdasarkan anekdot tanpa bukti klinis. Angka angka menunjukkan bahwa tiap 100 000 anak terdapat 91 penyandang gangguan spektrum autisme. Berapa banyak kasus penyakit mumps . Keprihatinan publik terjadi akibat ketidak mampuan untuk mengerti dan meng-ekspresikan bukti-bukti klinis. Justice. Ketika beberapa hasil observasi yang dilakukan oleh keluarga yang terkena dampak buruk vaksinasi kemudian di-kategorikan sebagai insiden terisolir. Sekelompok orang tua lain merasa yakin akan hubungan antara vaksin MMR dan anak mereka dan telah membentuk kelompok dan organisasi untuk meloby. Adapun bukti bukti lemah yang ada tidak dapat menunjang hipotesis. kelihatan sangat dibatasi. organisasi ini dikenal dengan nama JABS. Membandingkan resiko autisme dan resiko pemberian vaksinasi pada anak Sangat sulit untuk mengerti. Namun hal ini tidak berpengaruh banyak terhadap jumlah anak yang divaksinasi MMR yang secara nasional pada tahun 1994 dan 1995 hanya turun dari 91% ke 88%. mengukur dan mengekspresikan resiko.mengenai masalah vaksinasi MMR. Anekdot atau cerita mengada ada dari seseorang tidak akan dapat berbuat banyak selain hanya menghasilkan sebuah hipotesis yang memerlukan penyelidikan lebih lanjut secara klinis.2 dari tiap 1000 orang yang terinfeksi di Amerika . measles dan rubella akan timbul jika anak tidak di-vaksinasi MMR? Bagaimana rate komplikasi ? Sayang sekali. Dan mereka yang mempunyai anak penyandang autisme menjadi semakin kuatir karena merasa kemungkinan keadaan ini disebabkab oleh vaksinasi. Para orang tua menjadi cemas. mewakili pemerintah: Para orang tua sering tidak akurat dalam mengidentifikasikan penyebab dari penyakit mereka. Jika 15% dari anak-anak ini menjadi penyandang autisme sebagai akibat divaksinasi MMR maka sebanyak 7326 anak harus divaksinasi untuk dapat satu anak penyandang autisme. Mungkin pilihan yang paling mudah adalah dengan menundukkan kepala anda dan tidak membicarakan isu ini. Pada tahun 1998 . Beberapa penelitian mengenai pemberian vaksinasi MMR dosis kedua telah dilakukan di daerah north Wales dengan hasil menunjukkan hanya 45% profesional yang terdiri dari 54% praktisi atau dokter umum setuju untuk memberikan dosis kedua MMR pada anak. Contohnya. Di Inggris. kami tidak mempunyai sistim intelejen yang canggih untuk menyelidiki efek dari perubahan pemberian imunisasi terhadap kesehatan masyarakat. Kutipan terjemahan tulisan dr Dick Heller. Andrew Wakefield.

Dan juga bagaimana keraguannya semakin tinggi yang mana bertolak belakang dengan kebanyakan ahli.Serikat dan 1 dari 1000 akan terkena encephalitis beberapa diantaranya akan terkena kerusakan otak permanen. para dokter umum dan masyarakat awam. Mereka yang bertanggung jawab terhadap kesehatan publik akan mempunyai kepentingan yang sah untuk meningkatkan pemberian vaksinasi. Secara umum dapat saya katakan tidak terdapat bukti bahwa vaksin MMR dapat menyebabkan autisme dan tidak terdapat cukup bukti pula untuk mengatakan bahwa vaksin MMR tidak menyebabkan autisme. Saya percaya bahwa dengan menyetop vaksinasi pada anak atas dasar hipotesa yang tidak lengkap akan sangat berbahaya Kutipan tulisan Stephen Pattison menanggapi tulisan dr Tom Heller dan dr Dick Heller: Beberapa kaum moralis akan berkata bahwa Tom Heller sedang dalam keadaan emosional tapi menurut saya keadaan gundah ini adalah bagian dari tanggung jawab moral. pengetahuan komposit masyarakat awam sering terlihat sebagai suatu yang tidak rasional dan suatu yang gaib sehingga harus di-buang dan dihilangkan. Jika semua anak yang tidak divaksinasi terjangkit measles maka rate komplikasi menyebutkan bahwa penyetopan vaksinasi akan sangat berbahaya jauh lebih berbahaya dari pada usaha pencegahan insiden timbulnya gangguan autisme. Ia juga menyuarakan pendapat pemerintah dengan mengatakan bahwa pemberian vaksinasi MMR itu aman. Membuat keputusan untuk tidak memberikan vaksinasi adalah suatu dilema moral bagi orang tua dan ini haruslah dihormati. dengan segala keterbatasan pengetahuan-nya dapat mengambil manfaat dan dapat hidup dengan kenyataan yang ada tanpa harus mengabaikan pentingnya kesehatan masyarakat? Walaupun ilmuwan dan peneliti hidup dalam paradigma rasional dan serba korelatif sedangkan masyarakat awam termasuk dokter mempunyai pandangan yang lebih kompleks sehingga dilihat dari kaca mata kaum rasional. Tom Heller mengaplikasikan apa yang disebut the golden rule untuk menentukan apa yang benar dan apa yang salah ketika ia mengatakan "apakah saya juga harus memberikan vaksinasi ini pada anak-anak saya pada usia semuda itu". Kini telah terjadi krisis kepercayaan terhadap penilaian teknis vaksinasi MMR dan juga krisis untuk dapat saling menghargai. Anda tidak dapat membatasi pengetahuan orang lain bahkan ketika anda sendiri ragu akan kemampuan ilmu pengetahuannya. Dalam memerangi penyakit menular umum seperti yang disarankan oleh pemerintah untuk mendapatkan vaksinasi akan sulit untuk dapat diatasi jika tingkat pemberian imunisasi di suatu komunitas turun dibawah level kritis. Perlu dibuat suatu keputusan untuk mendapatkan bukti-bukti yang dapat dipertanggung jawabkan demi untuk menegakkan kenyataan yang . Pertanyaannya adalah bagaimana rekan kerja Tom Heller. Melecehkan dilema moral orang lain tidak akan dapat menyelesaikan masalah.

Budaya berpendapat terkecuali yang berhubungan dengan agama dan filsafat haruslah tetap dilestarikan. Pihak pemerintah menentukan strategi risk management untuk menghadapi penyakit mumps. (www. Dalam hal ini telah terjadi ketidak seimbangan antara resiko dan kekuasaan.puterakembara. akan tetapi keragu raguan tetap melekat pada saya seperti juga ada pada banyak orang lain. Hal yang paling sulit adalah menciptakan keseimbangan antara hak suatu negara untuk mengontrol penyakit menular dan hak individual serta masyarakat awam untuk memilih.com) . measles dan rubella. Isu vaksinasi MMR ini sempat membuat kami prihatin akan etika klinis dan pelayanan publik yang responsif dan berguna.sebenarnya. saya sangat menghargai pendapat pihak penguasa yang menyimpulkan bahwa MMR adalah aman untuk diberikan pada anak. Kutipan tanggapan dr Tom Heller mengenai tulisan Stephen Pattison: Saya merasa telah menjalani suatu proses yang mirip dengan apa yang dialami para orang tua pada saat mereka memutuskan untuk memberikan vaksinasi pada anak mereka. Untuk melaksanakan ini pihak ilmuwan agar tidak menanggapi ketakutan dan kekuatiran sebagai bentuk ketidak pedulian dan kemudian berusaha menghancurkannya dengan menggunakan instrumen rasional mereka. Kesimpulan akhir saya adalah : " Penolakan haruslah tetap menjadi pilihan yang dapat diterima di alam demokrasi yang bebas. Tentunya. Sedangkan para dokter dan orang tua sebagai pelaksana strategi ini harus menghadapi segala konsekuensinya. Kami akan mencoba untuk mencari bentuk ideal dari bukti-bukti klinis yang dapat diterima baik oleh masyarakat maupun oleh individu yang menggangap hal tersebut sensitif. Saya akan terus mencari untuk dapat mengerti mengenai hal ini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful