P. 1
Dampak Krisis Moneter pada Kehidupan Sosial Masyarakat terhadap Pranata Ekonomi, Agama dan Politik

Dampak Krisis Moneter pada Kehidupan Sosial Masyarakat terhadap Pranata Ekonomi, Agama dan Politik

|Views: 1,830|Likes:
Published by asriie

More info:

Categories:Types, Research
Published by: asriie on Nov 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/20/2013

pdf

text

original

TUGAS Paper Sosiologi

Dampak Krisis Moneter pada Kehidupan Sosial Masyarakat terhadap Pranata Ekonomi, Agama dan Politik

Oleh : Riasri Nurwiretno (209000053) Intan Lestari (209000145)

Nursella Indah T (209000177) Desi Putri May I (209000284)

Program Studi PsikologiFakultas Falsafah dan Peradaban

Universitas Paramadina
Tahun 2009

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Konflik internal dan masalah kemiskinan merupakan dua fenomena yang saling berhubungan dan berpengaruh satu dengan yang lain. Data pada tahun 2003 dan 2004 menunjukan bahwa di sejumlah Negara yang pernah atau mengalami konflik internal yang cukup parah dan bernuansa kekerasan (protacted violence conflict), ternyata juga dapat dikategorikan sebagai Negara miskin atau terbelakang (Chandrawati, 2005). Pertentangan antar kelompok dalam penguasaan sumber ekonomi juga menjadi penyebab timbulnya konflik internal secara terbuka bahkan mengarah pada konflik kekerasan yang apabila dibiarkan secara terus-menerus akan membawa dampak terhadap terjadinya fenomena di wilayah konflik. Sebagai salah satu Negara yang dikategorikan sebagai Negara berkembang dengan pendapatan perkapita pasca krisis ekonomi 1998 lebih kurang 500 sampai dengan US$ 750 per bulan, Indonesia merupakan negara yang juga dipenuhi oleh fenomena konflik dan kemiskinan (Chandrawati, 2005). Meluasnya konflik internal baik yang bernuansa etnis dan agama maupun dalam kaitannya dengan perlawanan gerakan separatism seringkali juga dikaitkan dengan masalah kesenjangan ekonomi termasuk di dalamnya masalah kemiskinan. Konflik internal tersebut berkaitan terhadap pranata, norma serta nilai yang tumbuh di masyarakat. Dalam paper yang kami buat ini kami membahas mengenai hubungan pranata ekonomi, pranata politik serta pranata agama. Masing-masing pranata tersebut tidaklah berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan satu sama lain. Sebagai contoh sebuah fakta riil dari hubungan ketiga pranata tersebut, kami mengangkat studi kasus tentang krisis moneter yang terjadi di Indonesia sejak 1998 bahkan hingga saat ini. Hal tersebut tidak hanya menggoyahkan sendi-sendi perekonomian rakyat, namun sistem politik dan kehidupan beragama turut merasakan dampaknya. 1.2 Rumusan Masalah Berdasar pada studi kasus tentang krisis moneter yang kami angkat serta kaitannya dengan pranata ekonomi, pranata politik dan pranata agama, maka rumusan masalah yang terbentuk adalah :
1. Bagaimana Konflik internal menjadi penyebab terjadinya kemiskinan di Negara

berkembang? 2. Bagaimana pengaruh krisis moneter dengan kehidupan perekonomian

masyarakat perkotaan dan pedesaan?

3. Apakah kemiskinan maupun kekayaan mempengaruhi tingkat kepercayaan seseorang kepada Agama yang dianutnya? 4. Bagaimanakah permainan politik dibalik krisis ekonomi yang berkepanjangan?

1.3 Tujuan Penulisan 1. Mengetahui dampak sosial dari konflik internal dan krisis ekonomi 2. Mempelajari perbedaaan sistem ekonomi masyarakat perkotaan dan pedesaan 3. Mempelajari pengaruh krisis ekonomi terhadap perubahan sistem religi di

masyarakat tertentu
4. Mengetahui adanya campur tangan politik dibalik krisis ekonomi

1.4 Manfaat Penulisan

1. Memaparkan perbedaan sistem ekonomi pada masyarakat perkotaan dan pedesaan sehingga pembaca dapat bertindak lebih bijak dalam menanggapi masalah krisis ekonomi
2. Memberikan penjelasan mengenai adanya keterkaitan antara masing-masing

pranata yakni pranata ekonomi, pranata agama, dan pranata politik.

1.5 Sistematika Penulisan

BAB I
1.1 1.2

PENDAHULUAN

Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penulisan Manfaat Penulisan Sistematika Penulisan

1.3 1.4 1.5

BAB II 2.1

PEMBAHASAN Ringkasan Materi Pranata Ekonomi Pranata Agama

2.1.1 2.1.2

2.1.3

Pranata Politik

2.2

Studi Kasus

BAB III

PENUTUP 3.1 Kesimpulan 3.2 Saran

Daftar Pustaka

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Ringkasan Materi

Pranata adalah sistem norma atau aturan-aturan yang mengenai suatu aktivitas masyarakat yang khusus. Norma atau aturan dalam pranata berbentuk tertulis (Undang-Undang Dasar/ Undang-Undang yang berlaku, sanksi sesuai hukum resmi yang berlaku) dan tidak tertulis (hukum adat, kebiasaan yang berlaku, sanksinya ialah sanksi sosial/moral, misalkan: dikucilkan). Pranata bersifat mengikat dan relatif lama. Selain itu pranata memiliki ciri-ciri tertentu yaitu simbol, nilai, aturan main, tujuan, kelengkapan, dan umur. [http://id.wikipedia.org/wiki/Pranata] . Lalu, apa bedanya pranata, nilai, norma, hukum dan aturan?

Pranata adalah sistem norma atau aturan-aturan yang mengenai suatu aktivitas masyarakat yang khusus. Nilai adalah sesuatu yang baik, diinginkan, dicita-citakan dan dipentingkan oleh masyarakat. Sedangkan norma adalah kaidah atau pedoman, aturan berperilaku untuk mewujudkan keinginan dan cita-cita tersebut (yang seharusnya terjadi). Sementara hukum adalah suatu sistem aturan atau adat, yang secara resmi dianggap mengikat dan dikukuhkan oleh penguasa, pemerintah atau otoritas melalui lembaga atau institusi hukum. Lalu, aturan adalah seperangkat ketetapan yang diperlukan agar ada efisiensi dalam usaha mengejar sebuah tujuan. [http://id.answers.yahoo.com]

Jadi, sebenarnya nilai, norma, aturan, pranata, dan hukum merupakan suatu rentetan yang saling berhubungan satu sama lain. Yang pertama ada adalah nilai. Untuk mencapai nilai tersebut dibuatlah norma. Agar tujuan yang dicapai menjadi lebih terarah diciptakanlah aturan. Kemudian aturan-aturan ini disusun secara sistematis hingga menjadi pranata. Nah, pranata (bersifat khusus) inilah yang kemudian dikembangkan (secara sistematis) menjadi hukum yang lebih menyeluruh dan mempunyai sanksi yang jelas. Pranata sendiri sebenarnya bukan hanya terdiri dari pranata ekonomi, pranata politik dan pranata agama. Yang paling luas adalah pranata sosial. Di dalam pranata sosial tersebut terdapat beberapa pranata yaitu: pranata politik, pranata ekonomi, pranata agama, pranata hukum, pranata budaya, dan pranata pendidikan. Sisi positif dari pranata adalah masyarakat dapat lebih teratur dan bisa berkembang kearah yang lebih baik, sedangkan sisi negatifnya adalah kehidupan individu terbelenggu oleh aturan-aturan bersama.

2.1.1

Pranata Ekonomi Pranata ekonomi lahir ketika orang-orang mulai mengadakan pertukaran barang

secara rutin, membagi-bagi tugas, dan mengakui adanya tuntutan dari seseorang terhadap orang lain (Horton&Hunt, 1999:364). Menurut Jonathan M. Turner yang dimaksud pranata ekonomi adalah sekelompok status sosial,norma umum,dan peran relatif stabil dan saling berhubungan disekitar pengumpulan sumber-sumber daya produksi dan distribusi barang serta jasa.

Struktur pranata ekonomi pada dasarnya bervariasi dalam berbagai masyarakat tergantung kepada elemen dasar proses ekonomi yang ada, faktor-faktor yang menentukan struktur pranata ekonomi. Yang dimaksud elemen dasar proses ekonomi yang memengaruhi variasi struktur pranata ekonomi adalah: -tanah, indikator yang digunakan untuk menentukkan besarnya produksi dan pendapatan yang akan diperoleh pemilik atau pengelola tanah luas tanah, kualitas, produktifitas. - Tenaga kerja, adalah elemen proses ekonomi yang mempunyai peranan dalam proses produksi. - Modal, adalah barang atau uang yang bersama-sama elemen proses ekonomi lain menghasilkan barang-barang baru. - Teknologi, ialah pengetahuan tentang dunia dan lingkungan yang ada dalam kebudayaan suatu masyarakat. - Kewiraswastaan, adalah struktur dan proses dalam masyarakat yang meningkatkan organisasi dan integrasi elemen-elemen dasar dalam proses ekonomi. Faktor-faktor yang menentukan struktur pranata ekonomi, menurut Narwoko dan Bagong (2007) adalah:
-

gathering, adalah proses pengumpulan barang atau sumber daya alam dari lingkungannya.

-

Production, adalah proses mengubah sumber daya alam menjadi komoditi tertentu sehingga dapat digunakan oleh subsistem lainnya. Distributing, adalah proses pembagian komoditi pada subsistem lainnya. Servicing, adalah organisasi dari elemen-elemen ekonomi yang tidak tercakup dalam proses produksi tetapi digunakan untuk menunjang proses ekonomi lainnya.

Sejarah perkembangan masyarakat dan tipe pranata ekonomi yang berlaku dapat dilihat pada beberapa masyarakat seperti (Narwoko, 2007) : masyarakat pencari makanan dan berburu masyarakat hortikultura masyarakat prakapitalis masyarakat kapitalis masyarakat sosialis

Fungsi dari pranata ekonomi adalah untuk mengatur hubungan antarpelaku dan meningkatkan produktifitas ekonomi secara maksimal dan juga mengatur distribusi pemakaian barang dan jasa yang diperlukan untuk kelangsungan hidup masyarakat. Horton dan Hunt (1999) mencatat beberapa akibat yang tidak direncanakan dari pranata ekonomi. Contohnya: kemungkinan kehadiran pranata ekonomi merusak kebudayaan tradisional, kehadiran pranata ekonomi menyebabkan timbulnya anomi dan alienasi di antara pelaku ekonomi, meningkatnya kegiatan ekonomi dalam banyak hal telah menyebabkan timbulnya kerusakan lingkungan. Dibandingkan dengan pranat sosial yang lain, pranat ekonomi boleh jadi merupakan pranata yang paling rumit dan penuh dengan problem. Hubungan pranata ekonomi dengan pranata politik bersifat timbal balik. Pranata ekonomi memengaruhi karena menyediakan sumber-sumber daya yang penting dalam kebijaksanaan dan pengambilan keputusan dalam pranata politik. Di sisi lain, pranata politik berfungsi untuk mengatur arus dan akumulasi modal, sumber daya alam, distribusi tenaga kerja, teknologi, dan pengelolaannya.

2.1.2

Pranata Agama Kajian tentang agama terbagi ke dalam dua dimensi : Pertama teologis, berangkat dari klaim tentang kebenaran mutlak ajaran suatu

agama. Misi sesungguhnya dari teologis adalah mempertahankan doktrin agama dengan menggunakan term-term yang rasional-filosofis. Kedua sosiologis, sosiologis melihat agama sebagai salah satu dari institusi sosial, sebagai subsistem dari sistem sosial yang mempunyai fungsi sosial tertentu. Posisi agama dalam suatu masyarakat bersama-sama dengan subsistem lainnya (ekonomi, politik, kebudayaan) mendukung terhadap eksistensi suatu masyarakat. Agama tidak dilihat berdasar apa dan bagaimana isi ajaran dan doktrin suatu keyakinannya, melainkan bagaimana ajaran dan keyakinan agama itu dilakukan dan mewujud dalam perilaku para pemeluknya dalam kehidupan sehari-hari. Berikut teori tentang agama menurut beberapa tokoh (Bagong dan Narwoko dalam Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan) - Max Muler, setiap masyarakat terdapat agama, baik dari yang sangat primitif sampai yang paling maju. - Edward Taylor adalah seorang penemu animisme. Menurutnya animisme berkembang menjadi politeisme, dan dari politeisme lahirlah monoteisme sebagai bentuk agama yang paling tinggi.

- Herbert Spencer sendiri, melihat asal-usul agama dari ancestor worship, pujaan para leluhur. - Robert Marett Membahas tentang tahap perkembangan agama sebelum animisme. Konsep kekuatan gaib yang tak berwujud, yang bukan roh atau makhluk halus, melainkan semacam zat yang bisa menghuni benda atau manusia. Ia menemakan hal ini dengan mana. - Mac Lennan, berpendapat bahwa totemisme merupakan suatu kepercayaan dan sistem ritual yang mengaitkan suatu kelompok tertentu dalam mayarakat dengan suatu jenis binatang atau tumbuhan. Sedangkan menurut Emile Durkheim, agama dalah sebuah sistem

kepercayaan dan tingkah laku yang berhubungan dengan hal-hal yang dianggap sakral, yaitu hal-hal yang dipisahkan dan dilarang kepercayaan dan perilaku yang mempersatukan semua penganutnya menjadi satu komunitas moral, yaitu berdasarkan nilai-nilai bersama, yang disebut umat. Jadi dapat disimpulkan, agama adalah seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan mengatur hubungan manusia dengan lingkungannya. Dapat pula dikatakan sebagai suatu sistem terpadu antara keyakinan dan praktik yang berkaitan dengan hal-hal yang suci yang dianggap tak terjangkau. Fungsi agama adalah: Agama mengatur hubungan dengan sesama manusia, Tuhan dan alam sekitar. Agama memberikan pedoman kehidupan bagi pemeluknya. Agama mendasar perhatiannya pada sesuatu yang ada di luar jangkauan manusia yang melibatkan takdir dan kesejahteraan. Agama menawarkan hubungan secara vertikal melalui pemujaan dan upacara adat, sehingga memberikan dasar emosional. Agama menyucikan norma-norma dan nilai masyarakat yang telah terbentuk. Agama juga bisa melakukan fungsi yang bisa bertentangan dengan fungsi sebelumnya. Agama melakukan fungsi-fungsi identitas yang penting. Fungsi agama pada masyarakat yang teralienasi adalah: Bentuk dan sifat keyakinan keagamaan masyarakat kian berubah seiring dengan semakin majunya pengetahuan manusia. Pengetahuan yang semakin maju dan berkembang, menyebabkan semakin banyak fenomena-fenomena alam yang diungkap, yang sebelumnya di-Tuhan-kan. Jika agama ditempatkan dalam posisi sebagai ideologi, berarti agama dapat berfungsi sebagai faktor penyebab terhadap perubahan. Agama ada yang diperuntukkan bagi manusia dalam kehidupan sosial, bukan sebaliknya manusia untuk agama. manusia Ini artinya bagaimana agama didayagunakan dan untuk mengantarkan dalam kehidupan didunianya mengantarkannya

mempersiapkan kehidupannya di akhirat.

Lain halnya dengan fungsi pokok pranata agama: Bantuan terhadap pencarian identitas moral, memberikan penafsiran untuk menjelaskan keberadaan manusia, meningkatan kehidupan sosial dan mempererat kohesi sosial. Sedangkan fungsi pranata agama bagi individu adalah: Memberi pedoman bagi manusia, memberi identitas diri, fungsi maknawi, memberi dukungan psikologis dan rasa percaya diri. Dan fungsi pranata agama bagi masyarakat adalah: Mengintegrasikan masyarakat, menuntun terbentuknya moral sosial yg langsung dianggap dari Tuhan, pendukung adat istiadat. Unsur-unsur agama adalah: Kepercayaan agama, simbol agama, praktik agama, pemeluk agama, pengalaman agama. Pelembagaan agama pada dasarnya berlangsung pada tiga tingkat yang saling memengaruhi (Bagong dan Narwoko dalam Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan), yaitu : 1. Ibadah 2. Doktrin Doktrin merupakan keyakinan atau tingkat intelektual. Pengungkapan intelektual dalam agama ini dapat dibagi ke dalam dua bagian utama:
2.1 Mitos

Mitos dianggap “filsafat primitif” yang tampak dalam bentuk pengungkapan pemikiran yang paling sederhana, serangkaian usaha untuk memahami dunia, untuk menjelaskan kehidupan, kematian, takdir,ibadah, tuhan, dewa.
2.2 Rasional 2.3 Merupakan pernyataan yang dramatis, bukan hanya sebagai pernyataan

yang rasional.
2.4

Disebut sebagai pernyataan yang dramatis, sebab melibatkan pemikiran, sikap, sentimen.

3. Organisasi 3.1 Pelembagaan agama dengan organisasi yang khusu merupakan proses dua muka. 3.2 Mencangkup perubahan internal dalam arti gerakan keagamaan dan kebersamaan dengan masyarakat umum. 3.3 Proses penyesuaian telah membawa lembaga atau organisasi keagamaan ke dalam hubungan dengan dunia dan menempatkannya dalam hubungan itu, sehingga organisasi ini telah diwarnai dengan maslah keduniawian tidak hanya mengenai hubungan manusia dengan penciptanya, tetapi juga mengatur hubungan antarmanusia, baik dalam sosial maupun ekonomi.

2.1.3

Pranata Politik Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional

maupun nonkonstitusional untuk proses pembentukan dan pembagian kepemimpinan masyarakat guna mewujudkan proses pembuatan semua keputusan dalam yang ada pada negara. [http://nilaieka.blogspot.com] Di samping itu politik juga dapat diartikan dengan sudut pandang yang berbeda, yaitu antara lain: menurut teori klasik Aristoteles, politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara. Politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat. politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik. Karakteristik dari pranata politik adalah adanya suatu komunitas manusia yang secara sosial bersatu, adanya asosiasi politik atau biasa disebut pemerintah yang aktif, asosiasi tersebut melaksanakan fungsi-fungsi untuk kepentingan umum, asosiasi tersebut diberi kewenangan luas jangkauan kewenangan hanya dalam teritorial terntentu. Menurut beberapa tokoh, fungsi pranata politik adalah sebagai berikut [http://denikusdiansyah.wordpress.com] : James W. Vender Zanden, fungsi pemaksaan norma, fungsi merencanakan dan mengarahkan, fungsi menengahi pertentangan kepentingan, fungsi melindungi masyarakat dari serangan musuh dari luar. Gillin dan Gillin, mengatur hubungan-hubungan di dalam masyarakat yang mana customs dan tradisi sudah tidak mampu lagi diandalkan untuk mengatur kehidupan politik warga masyarakat, mengatur dan menyelenggarakan kepentingan serta kebutuhan seluruh anggota masyarakat, melindungi warganya dari serangan musuh atau negara lain. Fungsi pokok pranata politik adalah sebagai berikut: Melembagakan norma melalui UU, melaksanakan UU yg telah disetujui, menyelesaikan konflik yg terjadi, menyelenggarakan pelayanan umum, melindungi warga negara. Organisasi dan prosedur politik atau pranata politik berbeda-beda sesuai dengan tingkat pelembagaannya. Tingkat pelembagaan politik dapat diukur dengan menggunakan indikator-indikator sebagai berikut: 3.3.1 Kemampuan menyesuaikan diri • Ukuran jumlah generasi pemimpin yang telah dipunyai

 Makin

sering

organisasi

mampu damai,

menyelesaikan maka

persoalan tingkat

pergantian kepemimpinan dari generasi pemimpin yang satu ke generasi berikutnya secara tinggilah pelembagaan. • Kemampuan menyesuaikan diri terhadap fungsi yang baru
 Organisasi yang telah dapat menyesuaikan diri pada perubahan-

perubahan yang terjadi dalam lingkungannya, serta mampu mengatasi krisis satu atau lebih perubahan dalam fungsi utamanya, mka tinggilah tingkat pelembagaannya bila dibandingkan dengan organisasi yang tidak memiliki pengalaman diatas. 3.3.2 Derajat kerumitannya • Makin kompleks suatu organisasi, makin tinggi tingkat pelembagaannya. • Suatu organisasi yang mempunyai mempunyai banyak fungsi umumnya lebih mampu menyesuaikan diri daripada suatu organisasi yang memiliki satu fungsi. 3.3.3

Derajat otonominya Otonomi suatu struktur politik diukur dengan sejauh mana struktur politik tersebut mempunyai kepentingan sendiri, fungsi sendiri, dan memiliki nilai-nilai yang terpisah dan berbeda dari struktur politik lain dan kelompok social lainnya. Fungsi lembaga politik adalah pelembagaan norma melalui UU, melaksanakan UU yg disetujui, menyelesaikan konflik, menyelenggarakan pelayanan ( kesehatan, pendidikan, kesejahteraan ), melindungi warga masyarakat dari serangan bangsa lain, memelihara kesiapsiagaan dalam mengadapi bahaya.

2.2

Studi Kasus

Studi kasus yang akan dibahas berjudul “Dampak Krisis Moneter pada Kehidupan Sosial Masyarakat terhadap Pranata Ekonomi, Agama dan Politik” Seperti yang terjadi pada tahun 1998-1999 di Indonesia, krisis ekonomi terjadi dan terkenal disebut krisis moneter alias “krismon”. Krisis yang melanda bangsa Indonesia, menjadi awal terpuruknya sebuah negara dengan kekayaan alam yang melimpah ini. Dari awal 1998, sejak era orde baru mulai terlihat bahwa Indonesia terus mengalami kemerosotan, terutama dalam bidang ekonomi. Nilai tukar semakin melemah, inflasi tak terkendali, juga pertumbuhan ekonomi yang kurang berkembang di

negara ini. Pada masa itu terjadi kehancuran dalam bidang ekonomi secara serentak di seluruh Indonesia.. Krisis ekonomi ini berdampak pada banyak segi kehidupan. Banyak terjadi kerusuhan dimana mana yang mengakibatkan terjadinya penjarahan. Kondisi ini makin memburuk dengan adanya sweaping dari pribumi kepada warga keturunan Cina, pemerintah pun tidak bisa bertindak banyak untuk meredam kemarahan masyarakat yang terkena dampak krisis moneter ini. Perekonomian di Indonesia pun mati total tidak ada transaksi mata uang sementara waktu. Sampai sekarang pun dampaknya masih terasa dengan harga dolar yang melambung tinggi. Kondisi ekonomi Indonesia menjelang tahun 1998 merupakan faktor penting yang mempengaruhi kondisi sosial dan politik di Indonesia. Walaupun hal itu bukanlah faktor tunggal yang mempengaruhi situasi tersebut. Pengaruh praktek ekonomi rente sebagai akibat praktek “Korupsi, Kolusi dan Nepotisme” dengan cepat mempengaruhi jatuhnya mata uang rupiah dan bangunan perbankan Indonesia. Sejak Oktober 1997 pemerintah sudah tidak mampu lagi mempertahankan sistem kurs devisa mengambang terkendali yang telah dipraktekkan sejak lama, yaitu selama masa pemerintahan Orde Baru. Ketergantungan pemerintah terhadap utang luar negeri semakin membuat nilai rupiah jatuh. Efek selanjutnya membuat semakin parah dan merembet ke berbagai sektor. Berbagai pabrik terpaksa tutup akibat mahalnya bahan dan suku cadang impor, sehingga banyak dilakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Akibatnya pengangguran jumlahnya bertambah dengan cepat dan tersebar di berbagai wilayah, khususnya di pulau Jawa. Penggangguran yang kebanyakan pulang kampung bertemu dengan petanipetani yang gagal panen. Akibat kenaikan harga dimana-mana dan terganggunya jalur dan proses perdagangan, barang kebutuhan khususnya sembilan bahan pokok (sembako) menjadi semakin langka di pasaran. Masyarakat pun mulai resah dan panik akan kelangkaan barang-barang kebutuhan. Pemerintah melalui Bulog kemudian memberikan reaksi dengan melakukan operasi pasar dan penjualan minyak goreng dan beras murah, yang kesemuanya ternyata tetap tidak banyak menolong. Sementara itu nilai rupiah semakin anjlok memasuki angka Rp. 10.000/USD. Situasi panik semakin menjadi dan masyarakat khususnya orang-orang kaya mulai melakukan aksi borong barang khususnya sembako ( Chandrawati, 2005 ). Situasi semakin bertambah parah. Perkembangan ekonomi masyarakat semakin kompleks, sementara di sisi lain jumlah barang dan jasa yang tersedia relatif terbatas dan bahkan makin langka. Hal ini menyebabkan kehadiran pranata ekonomi yang makin rinci tak lagi bisa dihindari. Salah satu faktor yang membedakan keragaman masyarakat adalah pranata ekonomi yang berlaku di masyarakat itu, semakin kompleks perkembangan masyarakat, semakin rumit dan lengkap pranata yang berlaku. Di dalam masyarakat yang pola hubungannya kontraktual dan impersonal, hubungan ekonomi

atau perdagangan sering harus diatur secara formal melalui pranata ekonomi untuk menghindari kemungkinan munculnya perselisihan yang tidak diinginkan. Namun, kehadiran pranata ekonomi di dalam kehidupan masyarakat tidak selalu menjamin bagi terciptanya ketertiban dalam berbagai kegiatan usaha yang dilakukan antar pelaku ekonomi ( Chandrawati, 2005 ). Dalam hal menanggulangi krisis ekonomi, salah satu cara yang ditempuh pemerintah untuk menstabilkan lagi nilai mata uang rupiah dengan melakukan program Visit Indonesia. Program ini adalah menjaring para turis mancanegara untuk datang ke Indonesia dan mencari investor asing untuk menanamkan modal usaha di Indonesia sehingga perputaran uang di indonesia lebih stabil tapi tidak sepenuhnya cara tersebut berjalan dengan baik dan lancar karena memakan banyak waktu untuk bisa ketahap seperti semula 1$ = Rp2000 ( Chandrawati, 2005 ). Kebijaksanaan pembangunan yang lahir dan serba dikendalikan oleh Negara menelikung pranata-pranata komunitas desa yang tradisional, tetapi dalam banyak kasus juga makin menambah beban kemelaratan golongan miskin desa dan mengakibatkan merebaknya polarisasi sosial di kalangan masyarakat desa. Chris Manning (1986), misalnya, mencatat sejak tahun 60-an bersamaan dengan mulai merebaknya proses modernisasi dan pembangunan nasional, ternyata di Indonesia justru muncul berbagai kontradiksi. Pengangguran, setengah pengangguran dan kemiskinan, baik di kota maupun di desa, tidak berkurang secara berarti sekalipun telah tercapai pertumbuhan ekonomi yang cepat. Ada kesan kuat bahwa hasil-hasil pembangunan selama ini lebih banyak dinikmati oleh lapisan-lapisan tertentu saja, sehingga menimbulkan kesenjangan. Bahkan, kesenjangan yang terjadi bukan hanya antara yang kaya dan yang miskin dalam masyarakat, namun juga antara daerah perkotaan dan pedesaan. Kesenjangan antar kelompok pendapatan antara daerah perkotaan dan pedesaan telah memburuk sejak dibukanya perekonomian pedesaan kearah perekonomian pasar. Hanya mereka yang memiliki akses terhadap modal, kredit, informasi, dan kekuasaan yang dapat mengambil manfaat dari program-program pembangunan ( Narwoko, 2007 ). Pembangunan hanya menghasilkan suatu kesenjangan antara mereka yang kaya-raya dan masyarakyat biasa, khususnya mereka yang termiskinkan. Mereka yang secara ekonomis berhasil, apalagi dengan cara-cara yang tidak benar, telah mengkhianati mereka yang miskin. Kemiskinan ini menjadi sorotan utama konflik internal yang merupakan dampak dari krisis moneter. Terjadi pertentangan antar kelompok dalam penguasaan sumber ekonomi , juga menjadi penyebab timbulnya konflik internal secara terbuka bahkan mengarah pada konflik kekerasan yang apabila dibiarkan secara terus-menerus akan membawa dampak terhadap terjadinya fenomena kemiskinan di wilayah konflik ( Chandrawati, 2005 ).

Kemiskinan merupakan sebuah konsep yang sangat luas artinya dan dapat ditinjau dari berbagai pendekatan. Secara umum, kemiskinan dapat diartikan terjadinya degradasi dalam kemampuan individu untuk memenuhi kebutuhan standar minimal manusia seperti sandang, pangan, dan papan. Di sisi lain adapula yang lebih ngartikan makna kemiskinan dari segi tingkat taraf hidup yang didasarkan pada perhitungan financial secara kuantitatif ( Chandrawati, 2005 ). Dengan berkembangnya konsep keamanan manusia (human security) pada masa pasca perang dingin, maka muncul pendekatan baru yang mencoba memahami arti kemiskinan melalui persepsi keamanan adan politik. Berdasar kerangka keamanan dan politik yang kemudian dikaitkan dengan konsep human security, kemiskinan kemudian diartikan sebagai kondisi dimana individu kehilangan hak untuk memperoleh perlindungan secara fisik dan juga kesempatan untuk menggunakan hak-hak individunya sebagai bagian dari hak asasi manusia Dengan terjadinya krisis global cenderung membuat suatu kesenjangan sosial dan dari sana semakin terlihatlah masyarakat yang kaya akan semakin kaya dan masyarakat yang miskin akan semakin miskin. Masyarakat miskin pun secara tidak langsung akan berpikir bahwa Tuhan tidaklah adil. Mereka sudah sering berdoa, memohon agar kehidupannya tidak seperti ini namun tidak ada perubahan. Akhirnya hal tersebut mendorong mereka untuk mulai ke arah hal-hal yang negatif, seperti mulai percaya dukun, memasang togel, judi, menyembah jin dsb. Sama halnya dengan kelompok masyarakat menengah keatas yang merasa bahwa segala kebutuhan mereka telah terpenuhi. Mereka cenderung tidak mensyukuri apa yang telah didapat dan melupakan nilai-nilai agama yang mereka anut selama ini. Peranan agama, telah terseret oleh arus kepentingan yang tidak dapat menyelesaikan persoalan kehidupan dan terlalu sering dibawa ke dalam wilayah ”abuabu”, sehingga peranan humanisme yang dibangun oleh agama mati dalam retorika kepentingan. Akhirnya misi agama sebagai pembawa trasformasi tidak terurai, yang terpapar adalah era keamburadulan. Peranan agama yang tidak terurai dengan indah itu telah menyeret keraguraguan manusia terhadap agama. Frustasi sosial yang tidak terjamaah oleh agama kenyataannya juga semakin memperlebar keragu-raguan tersebut, akhirnya yang terjadi adalah pelarian diri ke luar dari agama, sehingga the end of idiolog seperti yang dikatakan Daniel Bell pada tahun 1960 menjadi fenomena sekarang ini ( dalam Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan ). Pelarian ke luar dari agama bukan semata-mata kecelakaan dari individu, tetapi kesalahan umat beragama yang menyimpangkan peranan agama dari tujuan universalnya. Peranan agama yang suci, damai, berkeadailan, pro kemanusiaan dan mencerahkan terseret ke dalam arus kepentingan, sehingga agama terlihat sebagai

sesuatu yang menakutkan dan menyangarkan. Akhirnya kefrustasian terhadap agama tidak dapat dihindari. Kefrustasian terhadap peran agama ini salah satu faktor yang menyebabkan orang memilih untuk tidak beragama. Selanjutnya, kami akan membahas sekilas kasus pranta politik yang dipengaruhi krisis moneter. Yakni kasus pidana di Bank Century yang didalangi Robert Tantular. “ Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Susno Duadji menjelaskan, kasus pidana Robert Tantular di Bank Century mencapai Rp 1,4 triliun. Sedangkan kasusnya di Antoboga menyangkut dana Rp 1,3 triliun. "Jadi Robert itu kasusnya Rp 2,8 triliun, tapi masih ada dua orang lagi pemilik bank ini yang orang asing yakni warga negara Timur Tengah dan warga negara Inggris mereka belum tertangkap," kata Susno (http://massofa.wordpress.com diakses pada 19.24 , 17 Oktober 2009 ). Kasus tersebut adalah salah satu kasus yang ada di dalam Negara Indonesia yang telah terjadi pada pranata politik yang di pengaruhi oleh krisis moneter, karena di zaman krisis global ini seharusnya para tokoh politik yang berpengaruh di masyarakat bisa menjaga kepercayaan masyarakat pada mereka, tetepi di kasus ini karena krisi globalisasi para tokoh politik menyalah gunakan tugas dan kepercayaan mereka karena “UANG”, hingga menipu rakyat. Yang pada akhirnya mereka terkait kasus korupsi, hanya karena kesenangan semata membuat mereka buta akan kewajiban mereka. Masyarakat kaya semakin tidak terkontrol perilakunya. Dengan keseringan hidup enak, mereka menjadi kurang memperhatikan masyarakat yang kurang mampu. Kebanyakan dari mereka akan bersenang-senang dengan hartanya, bahkan dari merekapun adanya yang banyak melakukan korupsi hanya untuk kepentingan pribadi, menambah harta kekayaannya saja. Korupsi sudah menjadi endemik di negeri ini. Korupsi merupakan kecurangan terbesar dalam kehidupan bangsa. Karena korupsi, orang kecil tidak dapat hidup wajar. Dengan berbagai biaya siluman yang membebani industri dan usaha di negeri ini, buruh tidak dapat dibayar dengan wajar. Hal ini bukan saja mencurangi orang kecil, melainkan juga membuat tidak berhasil usaha untuk menciptakan angkatan kerja Indonesia yang bermutu. Dari realitas yang dihadapi oleh orang miskin di negeri ini dapat dikatakan potret kehidupan sosial mereka masih suram. Mereka belum banyak memperoleh programprogram yang mensejahterakan. Nasib mereka baru tersentuh dalam permainan kampanye partai politik. Seluruh partai politik yang ikut dalam pemilihan umum pasti menawarkan janji-janji manis yang menyulap perubahan nasib para kelompok yang dijuluki wong cilik ini. Nasib orang miskin terjebak dalam komoditi politik dan masih terperangkap dalam harapan-harapan yang semu. Mereka belum ada yang memperjuangkan untuk keluar dari kemiskinan. Di Indonesia, orang miskin sedang menunggu sentuhan tangan yang sungguhsungguh tersebut dan mereka sudah bosan berada dalam janji-janji politik. Yang tersisa bagi orang miskin adalah, sebuah harapan menjadi kenyataan, bagaimana mereka untuk dapat keluar dari ”pesakitan” hidup yang tidak berpihak pada mereka itu.

BAB III PENUTUP

1.1 Kesimpulan

Pranata Ekonomi adalah seperangkat aturan yang menangani masalah kesejahteraan materi, yaitu mengatur kegiatan produksi, distribusi dan penggunaan barang dan jasa yg diperlukan bagi kelangsungan hidup bermasyarakat, sehingga semua semua lapisan mendapatkan bagian yang semestinya.

Pranata Agama adalah sistem keyakinan dan praktek keagamaan dalam masyarakt yang telah dirumuskan dan dibakukan. Pranata Politik adalah peraturan-peraturan untuk memelihara tata tertib, untuk mendamaikan pertentangan dan untuk memilih pemimpin yang berwibwa. Pranata politik juga merupakan kegiatan yang berkaitan dengan kekuasaan. Hubungan pranata ekonomi dengan pranata politik bersifat timbal balik. Pranata ekonomi memengaruhi karena menyediakan sumber-sumber daya yang penting dalam kebijaksanaan dan pengambilan keputusan dalam pranata politik. Di sisi lain, pranata politik berfungsi untuk mengatur arus dan akumulasi modal, sumber daya alam, distribusi tenaga kerja, teknologi, dan pengelolaannya. Hubungan pranata ekonomi dengan pranata agama di dalam masyarakat tradisional, pranata agama berfungsi untuk mendorong manusia terlibat dalam peranperan dan tingkah laku ekonomi karena agam mengurangi rasa cemas dan rasa takut. Pranat agama juga berfungsi menciptakan norma-norma sosial yang memengaruhi pranata ekonomi. Sedangkan di dalam masyarakat modern, keberadaan pranata ekonomi relatif terpisah dengan pranata agama. Pranat ekonomi yang umumnya menekankan pentingnya rasionalitas dan sekulerisme acap menyebabkan ia harus bersilang kepentingan dengan pranata agama yang menekankan kepercayaan supernatural.

Hubungan timbal balik dengan lembaga lain: 2. Agama dan ekonomi 3. Agama dan pemerintah 4. Agama dan kegiatan sosial

3.2 Saran

Bagi masyarakat yang hidup berkecukupan agar jangan gelap mata. Sadarlah bahwa masih banyak orang yang harus dibantu. Jangan melakukan KKN, mungkin memang itu sangat menguntungkan bagi anda tapi sangat merugikan bagi yang lainnya.

Bagi masyarakat yang kurang mampu, diharapkan untuk terus mencari pekerjaan atau bila memungkinkan mendirikan lapangan kerja sendiri. Jangan ikut menjadi beralih ke hal-hal yang negatif demi mendapatkan uang. DAFTAR PUSTAKA

Buku

Narwoko, J Dwi dan Bagong Suyanto.2007.Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan.Jakarta: Kencana. Horton, Paul B., Hunt, Chester L.1999.Sosiologi Edisi keenam Jilid 1.Jakarta:Erlangga. Hendropuspito.1983.Sosiologi Agama.Yogyakarta:Kanisius. Sen, Amartya.Development As Freedom.New York: Anchor Books.

Kertas Kerja Chandrawati, Nurani.2005. “Menelaah Hubungan Timbal Balik antara Konflik Internal dengan Masalah Kemiskinan”.GLOBAL Vol.8 No.1 November 2005. Goodhan, Jonathan.”Violent Conflict, Poverty and Chronic Poverty”.Chronic Poverty Resource Centre Working Paper 6, May 2001.

Situs Internet http://id.wikipedia.org/wiki/Politik http://id.wikipedia.org/wiki/Pranata
file:///H:/Berkas-Kasus-Bank-Century-Final..1.htm

http://massofa.wordpress.com/2007/12/14/pert-9/ http://nilaieka.blogspot.com http://denikusdiansyah.wordpress.com http://gurukomputerku.files.wordpress.com http://id.answers.yahoo.com http://dinconomy.wordpress.com/2007/06/14/awal-krisis-moneter-indonesia/

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->