P. 1
4. Penyusunan Perda Inisiatif Dan Optimalisasi Pelaks Prolegda UU N0. 12 Tahun 2011

4. Penyusunan Perda Inisiatif Dan Optimalisasi Pelaks Prolegda UU N0. 12 Tahun 2011

|Views: 33|Likes:
Published by Mailan Bastari,S.Pd
enyusunan Perda Inisiatif Dan Optimalisasi Pelaks Prolegda UU N0. 12 Tahun 2011
enyusunan Perda Inisiatif Dan Optimalisasi Pelaks Prolegda UU N0. 12 Tahun 2011

More info:

Published by: Mailan Bastari,S.Pd on Nov 05, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/01/2012

pdf

text

original

OPTIMALISASI FUNGSI LEGISLASI, PENYUSUNAN PROLEGDA DAN PENYUSUNAN PERDA INISIATIF DPRD Berdasarkan UU N0. 12 Tahun 2011, UU No.

32 Tahun 2004 dan PP No. 16 Tahun 2010

KEMENTRIAN DALAM NEGERI 2011

1

1. OVERVIEW KEDUDUKAN DPRD DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH

2

LEMBAGA-LEMBAGA DALAM SISTEM KETATANEGARAAN RI Menurut UUD 1945 UUD 1945

PUSAT

BPK
kpu
bank sentral

Presiden
kementerian negara
dewan pertimbangan
TNI/POLRI

DPR MPR DPD

MA MK
badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman

KY

Perwakilan BPK Provinsi

Pemerintahan Daerah Provinsi Gubernur DPRD

Lingkungan
Peradilan Umum Lingkungan Peradilan Agama Lingkungan Peradilan Militer Lingkungan Peradilan TUN

Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota Bupati/ Walikota DPRD

DAERAH

LEMBAGA NEGARA PEMEGANG KEKUASAAN
MENURUT UUD

DPR

Presiden

MA

MK

Pasal 20 (1)* Memegang kekuasaan membentuk UU

Pasal 4 (1) Memegang kekuasaan pemerintahan

Pasal 24 (1)*** Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan

KONSEP OTONOMI DAERAH

PEMERINTAH
OTONOMI DAERAH

DAERAH BERHAK BERWENANG & BERKEWAJIBAN MENGATUR & MENGURUS RUMAH TANGGANYA SENDIRI

- MENERIMA DANA PERIMBANGAN - MENGGALI SUMBER DAYA - MENGELOLA SUMBER DAYA

PEMDA

MENINGKATKAN JAH MASY MENYEDIAKAN YAN UMUM MENINGKATKAN DAYA SAING

PEMERINTAHAN DAERAH
( UU 32 tahun 2004)

PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAHAN OLEH PEMERINTAH DAERAH & DPRD MENURUT ASAS OTONOMI DAN TUGAS PEMBANTUAN DG PRINSIP OTONOMI SELUASLUASNYA DLM SISTEM DAN PRINSIP NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM UUD 1945

SUSDUK DPRD
(UU 27 tahun 2009)

DPRD terdiri atas anggota parpol peserta pemilu yg dipilih melalui pemilu. DPRD mrp lembaga perwakilan rakyat daerah yg berkedudukan sbg unsur penyelenggara pemerintahan daerah.
7

PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN
URUSAN PEMERINTAHAN Urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi wewenang Pemerintah: {Psl 10 (1) & (3)}       Politik Luar Negeri; Pertahanan; Keamanan; Yustisi; Moneter & Fiskal Nasional; & Agama.
Urusan pemerintahan selain Psl 10 (3) dapat dikelola bersama oleh Pemerintah (Pusat), Prov, Kab/Kota Dibagi dgn kriteria Psl 11 (1):

 Eksternalitas (scope dampak)  Akuntabilitas (distance dampak)  Efisiensi (rasio untung-rugi)

Pem menyelenggarakan sendiri atau dpt melimpahkan sebagian urusannya kpd perngktnya atau kpd wakil Pem di daerah, atau menugskn kpd Pem-an Daerah/ Pemdes {Psl 10 (4)}
Standar Pelayanan Minimal {Psl 11 (4)}

Urusan Pemerintahan Daerah

Urusan Pemerintah

{Psl 10 (5)}
PILIHAN Sektor Unggulan {Psl 11 (3)} • Menyelenggarakan sendiri; • Melimpahkan sebgn ursn kpd Gub selaku wkl Pem.; • Menugaskan sebgn ursn kpda Pem-an Daerah/Pemdes.

WAJIB Pelayanan Dasar {Psl 11 (3)}

Diselenggarakan berdasarkan asas otonomi & tugas pembantuan {Psl 10 (2)}

1. Pendekatan Eksternalitas (Spill-over) Mempertimbangkan scope atau lingkup dampak atau akibat dari penyelenggaraan suatu urusan peman. Bila dampaknya bersifat lokal maka urusan pemerintahan tsb menjadi urusan peman kab/kota; bila dampaknya bersifat regional menjadi urusan peman prov; dan bila dampaknya bersifat nasional menjadi urusan Pemerintah (Pusat); 2. Pendekatan Akuntabilitas Mempertimbangkan jarak atau derajat kedekatan dampak atau akibat penyelenggaraan suatu urusan peman dg berbagai tingkatan peman yang ada. Dg demikian, akuntabilitas penyelenggaraan bagian urusan pemerintahan dimaksud kepada masyarakat akan lebih terjamin;

3. Pendekatan Efisiensi
Bila penanganan suatu bagian urusan peman dipastikan akan lebih berdayaguna dan berhasilguna dilakukan oleh strata peman tertentu, maka strata peman tersebut akan lebih tepat untuk menangani bagian urusan peman dimaksud, dibandingkan dg strata peman lainnya.

Catatan: Dayaguna dan hasilguna dpt diukur a.l. kecepatan, ketepatan, dan cost proses
diperbandingkan dengan hasil dan manfaat yg diperoleh, atau “rasio untung rugi”.

URUSAN PEMERINTAHAN YG BERSIFAT WAJIB
1. Pendidikan; 2. Kesehatan; 3. Lingkungan hidup; 4. Pekerjaan umum; 5. Penataan ruang; 6. Perencanaan pembangunan; 7. Perumahan; 8. Pemuda dan olahraga; 9. Penanaman modal; 10. Koperasi dan usaha kecil dan menengah; 11. Kependudukan dan catatan sipil; 12. Tenaga kerja; 13. Ketahanan pangan;

14. Pemberdayaan perempuan & perlindungan

anak; 15. Keluarga berencana dan keluarga sejahtera; 16. Perhubungan; 17. Komunikasi dan informatika; 18. Pertanahan; 19. Kesatuan bangsa dan politik dalam negeri; 20. Otonomi daerah, pemerintahan umum, administrasi keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaian, dan persandian; 21. Pemberdayaan masyarakat dan desa; 22. Sosial; 23. Kebudayaan; 24. Statistik; 25. Arsip; dan 26. Perpustakaan.

URUSAN PILIHAN
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Kelautan dan perikanan; Pertanian; Kehutanan; Energi dan sumber daya mineral; Pariwisata; Perindustrian; Perdagangan; dan Transmigrasi.

2. FUNGSI, TUGAS DAN WEWENANG DPRD terkait pembentukan Perda

Lingkup Tugas DPRD

Politis; Strategis.
Atau:
Tekhnis ? Administratif ?
15

Fungsi DPRD
legislasi; membentuk Perda bersama kdh.

Fungsi lain:
anggaran; menyusun & menetapkan APBD bersama Pemda. pengawasan; pengawasan thd pelaksanaan UU, Perda, Keputusan Kdh & kebijakan yg ditetapkan oleh Pemda.

16

Tugas dan Wewenang DPRD
membentuk Perda bersama Kdh; membahas & menyetujui Raperda mengenai APBD yg diajukan oleh Kdh.
Tugas lain:
melaksanakan pengawasan thd pelaksanaan Perda & APBD; mengusulkan peresmian pengangkatan & pemberhentian Kdh dan/atau WaKdh; memilih Wa Kdh dlm hal terjadi kekosongan jabatan Wa Kdh; memberikan pendapat & pertimbangan kepada pemerintah daerah thd rencana perjanjian internasional yg menyangkut kepentingan daerah;

17

Tugas dan Wewenang DPRD

Tugas lain:
memberikan persetujuan thd rencana kerjasama internasional yg dilakukan oleh pemerintah daerah; meminta LKPJ Kdh dlm penyelenggaraan pemerintahan daerah; memberikan persetujuan thd rencana kerjasama dg daerah lain atau dg pihak ketiga yg membebani masyarakat & daerah; mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah sesuai dg peraturan perUU; melaks tugas & wewenang lain yg diatur dlm peruuan.

18

FUNGSI DPRD

TERCERMIN

ALAT
KELENGAPAN

19

ALAT KELENGKAPAN
1. Pimpinan; 2. Badan Musyawarah; 3. Komisi; 4. Badan Legislasi Daerah ; 5. Badan Anggaran; 6. Badan Kehormatan; dan Alat kelengkapan lain yang diperlukan dan dibentuk oleh rapat paripurna.

20

FUNGSI
LEGISLASI

BALEG

21

FUNGSI
ANGGARAN

BADAN
ANGGARAN

22

FUNGSI
PENGAWASAN

?
23

BIDANG LEGISLASI
membentuk Perda bersama Kdh; membahas & menyetujui Raperda mengenai APBD yg diajukan oleh Kdh.

TUGAS DAN WEWENANG DPRD

24

3. tata urutan peraturan perundang-undangan dan pengajuan Raperda oleh anggota DPRD

25

TATA URUTAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN MENURUT TAP MPR NO. III/MPR/2000

UUD DAN PERUBAHAN UUD TAP MPR

UU
PERPU PP

KEPPRES YANG BERSIFAT MENGATUR
PERDA
26

TATA URUTAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN MENURUT UU NO. 10 TH 2004

UUD RI 1945 UU/PERPU PP PERPRES PERDA
27

TATA URUTAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN MENURUT UU NO. 12 TH 2011

UUD RI 1945 TAP MPR UU/PERPU PP PERPRES PERDA PROV PERDA KAB/KOTA Peraturan Lain

28

HAK ANGGOTA DPRD DALAM PENGAJUAN PERDA INISIATIF

29

HAK

ANGGOTA

DPRD

mengajukan rancangan Perda

30

PENGAJUAN RAPERDA
 Setiap anggota DPRD mempunyai hak

mengajukan Raperda.  Usul prakarsa disampaikan kpd Pimp DPRD dlm bentuk Raperda disertai penjelasan scr tertulis & diberikan Nomor Pokok oleh Set DPRD.  Usul prakarsa, oleh Pimp DPRD disampaikan kepada Baleg untuk dilakukan pengkajian.  Berdasarkan hasil pengkajian Baleg, pimpinan DPRD menyampaikan kepada rapat paripurna DPRD.  Dlm Rapat Paripurna, para pengusul diberi kesempatan memberikan penjelasan atas usul prakarsa.

31

Pengajuan Raperda (2)
 Pembahasan mengenai sesuatu usul prakarsa

dilakukan dg memberikan kesempatan kepada: a. anggota DPRD lainnya untuk memberikan pandangan; b. para pengusul memberikan jawaban atas pandangan anggota DPRD lainnya.  Usul prakarsa sebelum diputuskan menjadi prakarsa DPRD, para pengusul berhak mengajukan perubahan dan atau mencabutnya kembali.  Rapat paripurna DPRD memutuskan menerima atau menolak usul prakarsa menjadi prakarsa DPRD.  Tata cara pembahasan rancangan peraturan daerah atas prakarsa DPRD mengikuti ketentuan yang berlaku dalam pembahasan Raperda atas prakarsa kdh. 32

4. TUGAS DPRD DI BIDANG LEGISLASI

33

TUGAS DPRD DI BIDANG LEGISLASI
Penyusunan rancangan program legislasi Daerah yg memuat daftar urutan & prioritas rancangan Perda beserta alasannya untuk satu masa keanggotaan & untuk setiap Tahun Anggaran di lingkungan DPRD

34

TUGAS DPRD DI BIDANG LEGISLASI

Koordinasi penyusunan program legislasi daerah dengan Pemda

35

TUGAS DPRD DI BIDANG LEGISLASI

Menyiapkan rancangan perda usul DPRD berdasarkan program prioritas yg telah ditetapkan

36

TUGAS DPRD DI BIDANG LEGISLASI

Melakukan pembahasan perda bersama Kepala Daerah

37

TUGAS DPRD DI BIDANG LEGISLASI
Memberikan persetujuan Raperda bersama Kepala Daerah

38

5. ARAH KEBIJAKAN PROLEGDA DAN PEMBENTUKAN PERDA INISIATIF DPRD

39

PROLEGDA
1. Pasal 15 Ayat (2) UU No. 10 Thn 2004 “perencanaan penyusunan perda dilakukan dlm suatu Prolegda.”

2. Prolegda adalah instrumen perencanaan program pembentukan peraturan daerah yang disusun secara berencana, terpadu & sistematis.” 3. Prolegda disusun setiap Tahun (Kepmendagri 169 tahun 2004 tentang Pedoman Penyusunan Prolegda). 4. Aturan Prolegnas dapat diberlakukan dalam pembuatan Prolegda (Mutatis Mutandis).
40

TAHAPAN PENYUSUNAN PROLEG
1.Penyusunan Rencana Legislasi.

2.Penyusunan Program Legislasi.
41

1. Penyusunan Rencana Legislasi
Baleg dlm penyusunan Prolegda di

lingkungan DPRD dpt meminta dan memperoleh bahan dari masyarakat. pembentukan perencanaan pembangunan di instansi masing2.

Di Lingk Pemda, Biro hukum meminta

42

KRITERIA PRIORITAS PROLEGDA
1. Kriteria Substansi. Sangat urgen untuk diwujudkan. segera

2. Kriteria Teknis. a. Telah Disusun Naskah Akademik. b. Telah Disusun Rancangan. c. Telah Diharmonisasi.
43

PERDA
UU 32/2004 Pasal 136
1. Perda ditetapkan oleh Kdh setelah mendapat persetujuan bersama DPRD. 2. Perda dibentuk dalam rangka penyelenggaraan otda Prov/Kab/Kota. 3. Perda mrp penjabaran lbh lanjut dari peraturan perUU yang lbh tinggi dengan memperhatikan ciri khas daerah masing2.

4. Perda dilarang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perUU yang lebih tinggi.
44

PEMBENTUKAN PERDA
 Pembentukan Peraturan PerUUan adl proses

pembuatan Peraturan PerUUan yg pada dasarnya dimulai dari perencanaan, persiapan, teknik penyusunan, perumusan, pembahasan, pengesahan, pengundangan, penyebarluasan.  Peraturan PerUUn adl peraturan tertulis yg dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yg berwenang & mengikat scr umum.  Perda adl Peraturan PerUUan yg dibentuk oleh DPRD dg persetujuan bersama Kdh.  Pengundangan adalah penempatan PerUUan dlm Lembaran Negara RI, Tambahan Lembaran Negara RI, Berita Negara RI, Tambahan Berita RI, Lembaran Daerah, atau 45 Berita Daerah.

1. Persiapan Pembentukan Perda
 Raperda dpt berasal dari DPRD atau gubernur,

atau bupati/walikota, masing2 sbg kepala pemerintah daerah prov, kab/kota.  Raperda dapat disampaikan oleh anggota, komisi, gabungan komisi, atau alat kelengkapan dewan perwakilan rakyat daerah yang khusus menangani bidang legislasi  Raperda yg telah disiapkan oleh gub atau bup/walikota disampaikan dg surat pengantar gub atau bupati/walikota kpd DPRD oleh gub atau bupati /walikota.  Raperda yg telah disiapkan oleh DPRD disampaikan oleh pimpinan DPRD kepada gub atau 46 bupati/walikota.

Persiapan Pembentukan Perda
 Penyebarluasan Raperda yg berasal dari DPRD

dilaksanakan oleh set DPRD.  Penyebarluasan Raperda yg berasal dari gub atau bupati/walikota dilaksanakan oleh sekretaris daerah.  Apabila dalam satu masa sidang, gub atau bupati/walikota dan DPRD menyampaikan Raperda, mengenai materi yg sama, maka yg dibahas adalah Raperda yg disampaikan oleh DPRD, sedangkan Raperda yg disampaikan oleh gub atau bupati/walikota digunakan sbg bahan untuk dipersandingkan.

47

2. Pembahasan Raperda
 Pembahasan Raperda di DPRD dilakukan oleh

DPRD bersama gub atau bupati/walikota.  Pembahasan bersama dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan.  Tingkat2 pembicaraan, dilakukan dalam rapat komisi/panitia/alat kelengkapan DPRD yg khusus menangani bidang legislasi & rapat paripurna.  Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembahasan rancangan peraturan daerah, diatur dengan Peraturan Tatib DPRD.
48

Pembahasan Raperda
 Raperda dapat ditarik kembali sebelum

dibahas bersama oleh DPRD dan Gub, Bupati/Walikota.  Raperda yg sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama DPRD & gub atau bupati/walikota.  Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penarikan kembali Raperda diatur dg Peraturan Tatib DPRD.
49

3. Penetapan Raperda
 Raperda yg telah disetujui bersama oleh DPRD

dan gub atau bupati/walikota disampaikan oleh pimpinan DPRD kepada gub atau bupati/walikota untuk ditetapkan menjadi Perda.  Penyampaikan Raperda, dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama.

50

Penetapan Raperda
 Raperda

ditetapkan oleh gub atau bupati/walikota dg membubuhkan tanda tangan dlm jangka waktu paling lambat 30 hari sejak RPerda tsb disetujui bersama oleh DPRD & gub atau bupati/walikota.  Dalam hal Rpreda tdk ditandatangani oleh gub atau bupati/walikota dlm waktu paling lambat 30 hari sejak RPerda tsb disetujui bersama, maka Raperda tsb sah menjadi Perda & wajib diundangkan.  Dalam hal sahnya, maka kalimat pengesahannya berbunyi: Perda ini dinyatakan sah.  Kalimat pengesahan tsb harus dibubuhkan pada halaman terakhir Perda sebelum pengundangan naskah Perda ke dalam Lembaran Daerah. 51

4. Pengundangan Perda
 Peraturan PerUUan yg diundangkan dalam

Lembaran Daerah adalah Perda.  Peraturan Gub, Peraturan Bup/Walikota, atau peraturan lain di bawahnya dimuat dalam Berita Daerah.  Pengundangan Perda dalam Lembaran Daerah dan Berita Daerah dilaksanakan oleh sekretaris daerah.  Perda mulai berlaku dan mempunyai kekuatan mengikat pada tanggal diundangkan, kecuali ditentukan lain di dalam Perda yang bersangkutan.

52

5. Penyebarluasan Perda
 Peraturan PerUUan yg diundangkan dalam

Lembaran Daerah adalah Perda.  Peraturan Gub, Peraturan Bup/Walikota, atau peraturan lain di bawahnya dimuat dalam Berita Daerah.  Pengundangan Perda dalam Lembaran Daerah dan Berita Daerah dilaksanakan oleh sekretaris daerah.

53

Kuorum Penetapan Perda/APBD
Dihadiri min 2/3 dari jumlah anggota DPRD dan disetujui oleh 1/3 anggota yang hadir.
54

MATERI MUATAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN/ PERDA

55

1. Asas Pembentukan Peraturan PerUU
a. kejelasan Tujuan; harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai; b. kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat; Harus dibuat oleh lembaga/pejabat Pembentuk Peraturan Perundang-undangan yang berwenang. Peraturan perundangundangan dapat dibatalkan atau batal demi hukum apabila dibuat oleh lembaga/pejabat yang tidak berwenang.

56

Asas Pembentukan Peraturan PerUU
c. kesesuaian antara jenis dan materi muatan; Pembentukan Peraturan perundang-undangan harus benar-benar memperhatikan materi muatan yang tepat dengan jenis Peraturan perundang-undangannya d. dapat dilaksanakan; Pembentukan Peraturan perundang-undangan harus memperhitungkan efektivitas Peraturan perundang-undangan tersebut di dalam masyarakat, baik secara filosofis, yuridis maupun sosiologis e. kedayagunaan dan kehasilgunaan;
Peraturan perundang-undangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
57

Asas Pembentukan Peraturan PerUU
f. kejelasan rumusan; Peraturan perundang-undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan Peraturan perundang-undangan, sistematika dan pilihan kata atau terminology, serta bahasa hukum yang jelas dan mudah dimengerti, sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya g. keterbukaan. Proses Pembentukan Peraturan perundangundangan mulai dari perencanaan, persiapan, penyusunan, dan pembahasan bersifat transparan dan terbuka. Dengan demikian seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam proses pembuatan Peraturan perundang-undangan

58

2.

MATERI MUATAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN MENGANDUNG ASAS

a. Pengayoman; setiap materi muatan peraturan Perundang-undangan harus berfungsi memberikan perlindungan dalam rangka menciptakan ketentraman masyarakat. b. Kemanusiaan; setiap materi muatan peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak-hak asasi manusia serta harkat dan martabat setiap arga negara dan penduduk Indonesia secara proporsional.
59

MATERI MUATAN PERATURAN PERUNDANGUNDANGAN MENGANDUNG ASAS

c. Kebangsaan;

Setiap materi muatan Peraturan Perundangundangan harus mencerminkan sifat dan watak bangsa Indonesia yang pluralistik (kebhinekaan) dengan tetap menjaga prinsip Negara kesatuan Republik Indonesia. Setiap materi muatan Peraturan perundangundangan harus mencerminkan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam setiap pengambilan keputusan. Setiap materi muatan Peraturan perundangundangan senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh wilayah Indonesia dan materi muatan peraturan perundang-undangan yang dibuat daerah merupakan bagian dari system hokum nasional yang berdasarkan Pancasila.

d. Kekeluargaan;

e. Kenusantaraan;

60

MATERI MUATAN PERATURAN PERUNDANGUNDANGAN MENGANDUNG ASAS

f. Bhineka tunggal ika;
Materi muatan Peraturan perundangundangan harus memperhatikan keragaman penduduk, agama, suku dan golongan, kondisi khusus daerah, dan budaya khususnya yang menyangkut masalah-masalah sensitif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

g. Keadilan;
Setiap materi muatan Peraturan perundangundangan harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga Negara tanpa kecuali.

61

MATERI MUATAN PERATURAN PERUNDANGUNDANGAN MENGANDUNG ASAS h. Kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan;
Setiap materi muatan Peraturan perundangundangan tidak boleh berisi hal-hal yang bersifat membedakan berdasarkan latar belakang antara lain agama, suku, ras, golongan, gender, atau status social.

i. Ketertiban dan kepastian hukum;
Setiap materi muatan Peraturan perundangundangan harus dapat menimbulkan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan adanya kepastian hukum.
62

MATERI MUATAN PERATURAN PERUNDANGUNDANGAN MENGANDUNG ASAS

j. Keseimbangan, keserasian, dan keselarasan.
Setiap materi muatan Peraturan perundangundangan harus mencerminkan keseimbangan, keserasian, dan keselarasan antara kepentingan individu dan masyarakat dengan kepentingan bangsa dan Negara. Selain asas tersebut huruf a s.d huruf j, peraturan perundang-undangan tertentu dapat berisi asas lain sesuai dengan bidang hukum peraturan perundang-undangan yang bersangkutan. Antara lain:
dalam hukum pidana misalnya asas legalitas, asas tiada hukuman tanpa kesalahan, asas pembinaan narapidana, dan asas praduga tak bersalah; dalam hukum perdata, misalnya dalam hukum perjanjian antara lain asas kesepakatan, kebebasan berkontrak dan itikad baik.

63

3. Materi Muatan
a. Materi muatan yang harus diatur dengan

undang-undang berisi hal sebagai berikut : 1) Mengatur lebih lanjut ketentuan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang meliputi: • hak-hak asasi manusia; • hak dan kewajiban warga Negara; • pelaksanaan dan penegakan kedaulatan Negara serta pembagian kekuasaan Negara; • wilayah Negara dan pembagian daerah; • kewarganegaraan dan kependudukan; • keuangan Negara,
64

Materi Muatan
2) Diperintahkan oleh suatu UU untuk diatur dengan UU. Contoh UU yang memerintahkan untuk diatur dengan UU Penanaman Modal, dimana dalam Pasal 31 menyatakan: (1) Untuk mempercepat pengembangan ekonomi di wilayah tertentu yang bersifat strategis bagi pengembangan ekonomi nasional dan untuk menjaga keseimbangan kemajuan suatu daerah, dapat ditetapkan dan dikembangkan kawasan ekonomi khusus. (2) Pemerintah berwenang menetapkan kebijakan penanaman modal tersendiri di kawasan ekonomi khusus. (3) Ketentuan mengenai kawasan ekonomi khusus diatur dengan undang-undang.
65

Materi Muatan
b. Materi Muatan Peraturan Pemerintah Pengganti
UU Materi muatan Perpu sama dengan materi muatan UU. c. Materi Muatan Peraturan Pemerintah berisi materi untuk menjalankan UU sebagaimana mestinya.

d. Materi Muatan Perpres Berisi materi yang diperintahkan oleh UU atau untuk melaksanakan PP.
66

Materi Muatan
e. Materi Muatan Perda Seluruh materi muatan Perda adalah dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan, serta menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut PUU yang lebih tinggi. f. Materi Muatan Perdes/yang setingkat Seluruh materi Perdes/yang setingkat adalah seluruh materi dalam rangka penyelenggaraan urusan desa atau yang setingkat serta penjabaran lebih lanjut PUU yang lebih tinggi. Materi muatan mengenai ketentuan pidana hanya dapat dimuat dalam UU dan Perda.

67

EVALUASI DAN PEMBATALAN PERDA

68

PERDA PERLU DIEVALUASI GUB/MENDAGRI
(PASAL 185, 186 UU No. 32/2004)

1. 2. 3. 4.

Perda tentang APBD. Perda tentang pajak daerah. Perda tentang retribusi daerah. Perda tentang tata ruang.

69

(PASAL 185, 186 UU No. 32/2004)

EVALUASI PERDA

 Raperda tentang APBD yang telah disetujui

bersama dan Raper gub/bup/Wlkt ttg penjabaran APBD sebelum ditetapkan paling lambat 3 hari disampaikan kepada MDN/Gub untuk dievaluasi.  Hasil evaluasi disampaikan oleh MDN kepada Gub atau Gub kpd Bup/Wlkt paling lambat 15 hari terhitung sejak diterimanya rancangan dimaksud.  Apabila MDN/Gub menyatakan hasil evaluasi Raperda tentang APBD dan Raper Gub/Bup/Wlkt ttg penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepantingan umum dan peraturan PUU yang lebih tinggi, Gub/Bpt/Wlkt menetapkan rancangan dimaksud menjadi Perda dan Perbup/Perbup/Perwlkt.

70

EVALUASI PERDA
 Apabila MDN/Gub menyatakan hasil evaluasi
Raperda ttg APBD & Raper Gup/Bup/Walikota tentang penjabaran APBD bertentangan dg kepentingan umum dan PUU yang lebih tinggi, Gub/Bupati/Walikota bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 hari terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi.  Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Gub/Bupati/Walikota dan DPRD; dan Gubernur /Bupati/Walikota tetap menetapkan Raperda tentang APBD dan raPer Gub/Bupati/Walikota ttg penjabaran APBD menjadi Perda dan Peraturan Gub/Bupati/Walikota, maka MDN /Gub membatalkan Perda & Peraturan Gub/Bupati/Walikota dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya.

71

PERDA DAPAT DIBATALKAN OLEH PEMERINTAH
(PASAL 145 UU No. 32/2004)

 bertentangan dengan

kepentingan umum;  bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

72

(PASAL 145 UU No. 32/2004)
 Perda disampaikan kepada Pem paling lama 7   

PEMBATALAN PERDA

hari setelah ditetapkan. Perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perUU yang lebih tinggi dapat dibatalkan oleh Pemerintah. Keputusan pembatalan Perda ditetapkan dengan Peraturan Presiden paling lama 60 hari sejak diterimanya Perda. Paling lama 7 hari setelah keputusan pembatalan, kdh harus memberhentikan pelaksanaan Perda dan selanjutnya DPRD bersama kdh mencabut Perda dimaksud. Apabila prov/kab/kota tidak dapat menerima keputusan pembatalan Perda, dengan alasan yang dapat dibenarkan oleh peraturan perUU, kdh dapat mengajukan keberatan kepada MA.

73

SISTEM PENDUKUNG DALAM PEMBUATAN PERDA

74

SEKRETARIAT DPRD
 Dipimpin

oleh seorang sekretaris DPRD yg diangkat & diberhentikan dg keputusan Gub, Bupati/Walikota atas persetujuan pimpinan DPRD. DPRD & pegawai sekretariat DPRD berasal dari PNS.

 Sekretaris

75

KELOMPOK PAKAR/ TIM AHLI
 Paling banyak sesuai dengan jumlah alat

kelengkapan DPRD.  Dibentuk sesuai kebutuhan atas usul anggota DPRD.  Diberhentikan dengan keputusan sekretaris DPRD.  Bekerja sesuai dengan pengelompokan tugas & wewenang DPRD yg tercermin dalam alat kelengkapan DPRD.

76

KELOMPOK PAKAR/TIM AHLI
 Berpendidikan serendah-rendahnya strata    

satu (S1) dengan pengalaman kerja paling singkat 5 (lima) tahun, Pendidikan strata dua (S2) dengan pengalaman kerja paling singkat 3 (tiga) tahun, Pendidikan strata tiga (S3) dengan pengalaman kerja paling singkat 1 (satu) tahun; Menguasai bidang yang diperlukan; Menguasai tugas dan fungsi DPRD.
77

Kelompok Pakar/Tim Ahli
- Kelompok pakar/tim ahli bidang pembuatan peraturan perundang-undangan, sebaiknya: 1. Berpendidikan serendah-rendahnya S1 (hukum) 2. Menguasai legal drafting. 3. Menguasai bidang pemerintahan. 4. Menguasai tugas dan fungsi DPRD. 5. Berusia serendah-rendahnya 30 tahun. - Masa kerja paling lama sama dengan masa kerja DPRD. - Diangkat & diberhentikan dg keputusan sekretaris DPRD sesuai dg kebutuhan atas usul anggota & kemampuan daerah. - Selain kelompok pakar/tim ahli dpt diangkat tenaga ahli/pakar untuk melaksanakan kegiatan tertentu DPRD. 78

79

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->