P. 1
Pembelajaran Membaca Permulaan Melalui Permainan

Pembelajaran Membaca Permulaan Melalui Permainan

|Views: 66|Likes:
Published by Ari Panjang

More info:

Published by: Ari Panjang on Nov 05, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/05/2011

pdf

text

original

Boss jo lali nimq(om rory :07140061) PEMBELAJARAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI PERMAINAN BAHASA DI KELAS AWAL SEKOLAH DASAR

Sri Nuryati Abstrak: Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi siswa sekolah dasar kelas awal. Siswa belajar untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. oLeh karena itu guru perlu merancang pembelajaran membaca dengan baik sehingga mampu menumbuhkan kebiasan membaca sebagai suatu yang menyenangkan. Suasana belajar harus dapat diciptakan melalui kegiatan permainan bahasa dalam pembelajaran membaca. Hal itu sesuai dengan karakteristik anak yang masih senang bermain. Permainan memiliki peran penting dalam perkembangan kognitif dan sosial anak. Kata kunci: Membaca permulaan, permainan, sekolah dasar.Membaca merupakan salah satu ketrampilan berbahasa yang diajarkan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar. Keempat aspek tersebut dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu (1) ketrampilan yang bersifat menerima (reseptif) yang meliputi ketrampilan membaca dan menyimak, (2) ketrampilan yang bersifat mengungkap (produktif) yang meliputi ketrampilan menulis dan berbicara (Muchlisoh, 1992: 119). Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (SD) bertujuan meningkatkan kemampuan siswa berkomunikasi secara efektif, baik lisan maupun tertulis. Ketrampilan membaca sebagai salah satu ketrampilan berbahasa tulis yang bersifat reseptif perlu dimiliki siswa SD agar mampu berkomunikasi secara tertulis. oLeh karena itu, peranan pengajaran Bahasa Indonesia khususnya pengajaran membaca di SD menjadi sangat penting. Peran tersebut semakin penting bila dikaitkan dengan tuntutan pemilikan kemahirwacanaan dalam abad informasi (Joni, 1990). Pengajaran Bahasa Indonesia di SD yang bertumpu pada kemampuan dasar membaca dan menulis juga perlu diarahkan pada tercapainya kemahirwacanaan. Ketrampilan membaca dan menulis, khususnya ketrampilan membaca harus segera dikuasai oleh para siswa di SD karena ketrampilan ini secara langsung berkaitan dengan seluruh proses belajar siswa di SD. Keberhasilan belajar siswa dalam mengikuti proses kegiatan belajar-mengajar di sekolah sangat ditentukan oleh penguasaan

sedangkan dikelas-kelas tinggi disebut pelajaran membaca dan menulis lanjut. kartu kata dan kartu kalimat. Dengan kata lain. yaitu membaca periode tanpa buku dan membaca dengan menggunakan buku. kemajuan belajarnya juga lamban jika dibandingkan dengan teman-temannya yang tidak mengalami kesulitan dalam membaca. ketrampilan berbahasa tertentu dapat dikaitkan dengan ketrampilan berbahasa yang lain. guru yang berkompetensi tinggi akan sanggup menyelenggarakan tugas untuk mencerdaskan bangsa. Akibatnya. Peranan strategis tersebut menyangkut peran guru sebagai fasilitator. Kelancaran dan ketepatan anak membaca pada tahap belajar membaca permulaan dipengaruhi oleh keaktifan dan kreativitas guru yang mengajar di kelas I. guru memegang peranan yang strategis dalam meningkatkan ketrampilan membaca siswa. Pelaksanaan membaca permulaan di kelas I sekolah dasar dilakukan dalam dua tahap. Tujuan membaca permulaan di kelas I adalah agar “Siswa dapat membaca kata-kata dan kalimat sederhana dengan lancar dan tepat (Depdikbud. motivator. Pelajaran membaca dan menulis di kelas-kelas awal disebut pelajaran membaca dan menulis permulaan. 1994/1995:4). kartu huruf. . Pembelajaran membaca tanpa buku dilakukan dengan cara mengajar dengan menggunakan media atau alat peraga selain buku misalnya kartu gambar.Kenyataan tersebut dapat dilihat bahwa dalam proses pembelajaran bahasa. Pembelajaran membaca di SD dilaksanakan sesuai dengan pembedaan atas kelaskelas awal dan kelas-kelas tinggi. Pengaitan ketrampilan berbahasa yang dimaksud tidak selalu melibatkan keempat ketrampilan berbahsa sekaligus. sedangkan membaca dengan buku merupakan kegiatan membaca dengan menggunakan buku sebagai bahan pelajaran. dan organisator dalam proses pembelajaran. Siswa akan mengalami kesulitan dalam menangkap dan memahami informasi yang disajikan dalam berbagai buku pelajaran. buku-buku bahan penunjang dan sumbersumber belajar tertulis yang lain.kemampuan membaca mereka. Menurut pandangan “whole language” membaca tidak diajarkan sebagai suatu pokok bahasan yang berdiri sendiri. Siswa yang tidak mampu membaca dengan baik akan mengalami kesulitan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran untuk semua mata pelajaran. melainkan dapat hanya mengakut dua ketrampilan saja sepanjang aktivitas berbahasa yang dilakukan bermakna. melainkan merupakan satu kesatuan dalam pembelajaran bahasa bersama dengan ketrampilan berbahasa yang lain. sumber belajar.

tetapi kurang menyuruh siswa aktif membaca. 1996). Permainan memiliki peranan penting dalam perkembangan kognitif dan sosial anak (Dworetzky.8 tahun) berada pada fase bermain. Guru perlu menyediakan bahan yang menarik yang dapat menyajikan tantangan bagisiswa untuk giat secara aktif dan kreatif “mengotak-atik” apa yang dihadapinya. Anak di kelas permulaan (usia 6 . anak sejak kelas awal SD perlu memperoleh latihan membaca dengan baik khususnya membaca permulaan.mengembangkan pribadi manusia Indonesia seutuhnya dan membentuk ilmuwan dan tenaga ahli. Proses belajar-mengajar dikelas tidak relevan dengan yang diharapkan. akibatnya kemampuan membaca siswa rendah. Membaca merupakan kegiatan yang penting dalam kehidupan sehari-hari. pembaca memroses informasi dari teks yang dibaca untuk memperoleh makna (Vacca. Bahan tersebut hasrulah sesuai dengan perkembangan emosi dan sosial anak. semakin senang anak semakin banyak yang diperolehnya. tetapi berfungsi sebagai alat untuk memperluas pengetahuan bahasa seseorang. 1991: 172). a.Pemahaman atau makna dalam membaca lahir dari interaksi antara persepsi terhadap simbol grafis dan ketrampilan bahasa serta pengetahuan pembaca. Dalam kegiatan membaca. Untuk mengoptimalkan pembelajaran membaca permulaan di SD salah satu alternatif yang dapat dilakukan ialah melalui permainan bahasa. Karena dalam bermain guru mendukung anak belajar dan mengembangkannya (Wood. Dalam interaksi ini. Menurut Badudu (1993: 131) pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia di SD – SMU ialah guru terlalu banyak menyuapi. 1990). menulis dan berbicara. Para ahli telah mendefiniskan tentang membaca dan tidak ada criteria tertentu untuk menentukan suatu definisi yang dianggap paling benar. karena membaca tidak hanya untuk memperoleh informasi. menyimak. Dengan bermain anak akan senang belajar. Menurut Harris dan Sipay (1980: 8) memebaca sebagai suatu kegiatan yang memebrikan respon makna secara tepat terhadap lambang verbal yang tercetak atau tertulis. Dengan demikian. pembaca berusaha menciptakan . Hakikat Membaca Membaca adalah proses aktif dari pikiran yang dilakukan melalui mata terhadap bacaan.

Informasi visual. dan konteks situasi yang kemudian diperkuat atau ditolak sesuai dengan isi bacaan yang diperoleh.maka isi bacaan itu akan berubah-ubah sesuai dengan pengalamn penafsirannya(Anderson. merupakan informasi yang dapat diperoleh melalui indera penglihatan. Kegiatan membaca bukan sekedar aktivitas yang bersifat pasif dan reseptfi saja. Gibbon (1993: 70-71) mendefinisikan membaca sebagai proses memperoleh m. Pembaca yang telah lancar pada umumnya meramalkan apa yang dibacanya dan kemudian menguatkan atau menolak ramalannya itu berdasarkan apa yang terdapat dalam bacaan. Permaalan dibuat berdasarkan pada tiga kategori sistem yaitu aspek sistematis. 1985: 12). Dalam kegiatan membaca terjadi proses pengolahan informasi yang terdiri atas informasi visual dan informasi nonvisual (Smith. dan konteks situasi pembaca. 1993: 284) bahwa membaca merupakan suatu proses menysun makna melalui interaksi dinamis diantara pengetahuan pembaca yang telah ada. sintaksis dan grafologis.kembali makna sebagaimana makna yang ingin disampikan oleh penulis dan tulisannya. dapat dikatakan bahwa membaca adalah proses interaksi antara pembaca dengan teks bacaan.Dalam proses pemahaman bacaan tersebut. pembaca pada umumnya membuat ramalan-ramalan berdasarkan sistem semantik. grafologis. . sedangkan informasi nonvisual merupakan informasi yang sudah ada dalam benak pembaca. Dilain pihak. Tanpa hal-hal tersebut selembar teks tidak berarti apa-apa bagi pembaca.Untuk memperoleh makna dari teks. Dalam proses membaca itu pembaca mencoba mengkreasikan apa yang dimaksud oleh penulis. Berdasarkan uraian diatas. 1972: 211). melainkan mengehdaki pembaca untuk aktif berpikir. dan pemahaman terhadap sistem bahasa itu sendiri.akna dari cetakan. Menurut Wilson dan peters (dalam Cleary. Pembaca berusaha memahami isi bacaan berdasarkan latar belakang pengetahuan dan kompetensi kebahasaannya. informasi yang telah dinyatakan oleh bahasa tulis. topik.Karena setiap pembaca memiliki pengalaman yang berbeda-beda dan dia menggunakan pengalaman itu untuk menafsirkan informasi visual dalam bacaan. sintaksis. pembaca harus menyertakan latar belakang “bidang” pengetahuannya.

1999: 7). gambar-gambar bunyi dan kombinasinya diidentifikasi.b. Menurut La Barge dan Samuels (dalam Downing and Leong. Pada tingkat VM. dan kalimat yang bermakna. Disamping itu. maksudnya menekankan pada proses penyandian membaca secara mekanikal. Pada tingkatan membaca permulaan. yaitu (a) visual memory (vm). dan (c) semantic memory (sm). 1972: 209). Lambang tersebut juga dalam bentuk kata. Dengan indera visual. Proses pada tingkat ini bersumber dari VM dan PM. pembaca belum memiliki ketrampilan kemampuan membaca yang . pembaca mengamati tanda-tanda baca untuk mrmbantu memahami maksud baris-baris tulisan. (b) phonological memory (pm). dan kata dibentuk menjadi kalimat. Dengan proses tersebut. pembaca mengasosiasikan gambargambar bunyi beserta kombinasinya itu dengan bunyi-bunyinya. Akhirnya pada tingkat SM terjadi proses pemahaman terhadap kata dan kalimat. dan kalimat. diuraikan kemudian diberi makna. kata dan kalimat terlihat sebagai lambang grafis. Membaca permulaan yang menjadi acuan adalah membaca merupakan proses recoding dan decoding (Anderson. Melalui proses recoding. Proses pembentukan tersebut terjadi pada ketiganya. yaitu kemampuan membunyikan (a) lambang-lambang tulis. Selanjutnya dikemukakan bahwa untuk memperoleh kemampuan membaca diperlukan tiga syarat. Proses yang bersifat fisik berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual. 1982: 206) proses membaca permulaan melibatkan tiga komponen. dan (c) memasukkan makna dalam kemahiran bahasa. rangkaian tulisan yang dibacanya menjelma menjadi rangkaian bunyi bahasa dalam kombinasi kata. Melalui proses decoding. (b) penguasaan kosakata untuk memberi arti. sedangkan pada tingkat PM terjadi proses pembunyian lambang. pembaca mengenali dan membedakan gambargambar bunyi serta kombinasinya.Membaca merupakan suatu proses yang bersifat fisik dan psikologis. Proses psikologis berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi. Lambang lambang fonem tersebut adalah kata. huruf. kelompok kata. Proses ini melibatkan knowledge of the world dalam skemata yang berupa kategorisasi sejumlah pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan dalam gudang ingatan (Syafi’ie. Pengertian Membaca Permulaan Membaca permulaan dalam pengertian ini adalah membaca permulaan dalam teori ketrampilan.

d. dan (c) memasukkan makna dalam kemahiran bahasa.sesungguhnya. Membaca pada tingkatan ini merupakan kegiatan belajar mengenal bahasa tulis. masih perlu perbaikan dan penyempurnaan penguasaan teknik membaca permulaan (Syafi’ie. tetapi masih dalam tahap belajar untuk memperoleh ketrampilan / kemampuan membaca. c. yaitu kemampuan membunyikan (a) lambang-lambang tulis. Tingkatan ini sering disebut dengan tingkatan belajar membaca (learning to read).Pembelajaran Membaca Permulaan Pembelajaran memabaca permulaan diberikan di kelas I dan II. Membaca lanjut merupakan tingkatan proses penguasaan membaca untuk memperoleh isi pesan yang terkandung dalam tulisan.Membaca permulaan merupakan suatu proses ketrampilan dan kognitif.untuk memperoleh kemampuan membaca diperlukan tiga syarat. Pada permulaan setiap pengalaman bermain memiliki resiko. sedangkan proses kognitif menunjuk pada penggunaan lambang-lambang fonem yang sudah dikenal untuk memahami makna suatu kata atau kalimat. 1991/1992: 31). Ada resiko bagi anak untuk belajar misalnya naik sepeda . Pembelajaran membaca permulaan merupakan tingkatan proses pembelajaran membaca untuk menguasai sistem tulisan sebagai representasi visual bahasa. dari yang tidak dikenali sampai pada yang diketahui. telah dimulai pula pembelajaran membaca lanjut dengan pemahaman walaupun terbatas. (b) penguasaan kosakata untuk memberi arti. Demikian juga pada membaca lanjut menekankan pada pemahaman isi bacaan. dan dari yang tidak dapat diperbuatnya sampai mampu melakukannya.Pengertian Permainan Permainan merupakan alat bagi anak untuk menjelajahi dunianya.Tingkatan ini disebut sebagai membaca untuk belajar (reading to learn). Kedua tingkatan tersebut bersifat kontinum.1999: 16). Proses ketrampilan menunjuk pada pengenalan dan penguasaan lambang-lambang fonem. Bermain bagi anak memiliki nilai dan ciri yang penting dalam kemajuan perkembangan kehidupan sehari-hari. artinya pada tingkatan membaca permulaan yang fokus kegiatannya penguasaan sistem tulisan. Melalui tulisan itulah siswa dituntut dapat menyuarakan lambang-lambang bunyi bahasa tersebut. sebagai dasar untuk dapat membaca lanjut (Akhadiah. Tujuannya adalah agar siswa memiliki kemampuan memahami dan menyuarakan tulisan dengan intonasi yang wajar.

Apabila suatu permainan menimbulkan kesenangan tetapi tidak memperoleh ketrampilan berbahasa tertentu. Dengan cara ini anak memperoleh pengalaman tambahan untuk melakukan aktivitas lain.1996:3) permainan memiliki sifat sebagai berikut: (1) Permaianan dimotivasi secara personal. Berkaitan dengan permainan Pellegrini dan Saracho. Anak mengkonsolidasikan ketrampilannya yang harus diwujudkannya dalam berbagai permainan dengan nuansa yang berbeda.berbicara. bahkan ketika siswa terlibat dalam permainan secara serius dan menegangkan sifat sukarela dan motivasi datang dari dalam diri siswa sendiri secara spontan. 1991 (dalam Wood. membaca dan menulis). Sebaliknya. (2) adanya tujuan yang harus dicapai pemain atau tugas yang mesti dilaksanakan. Permainan Bahasa Permainan bahasa merupakan perminan untuk memperoleh kesenangan dan untuk melatih ketrampilan berbahasa (menyimak. . apabila suatu kegiatan melatih ketrampilan bahasa tertentu. (3) Aktivitas permainan dapat bersifat nonliteral. e. Unsur lain adalah pengulangan. membaca dan menulis). apabila suatu aktivitas tersebut mengandung kedua unsur kesenangan dan melatih ketrampilan berbahasa (menyimak. 2002: 21). (2) pemain lebih asyik dengan aktivitas permainan (sifatnya spontan) ketimbang pada tujuannya. (5) Permainan memerlukan keterlibatan aktif dari pihak pemainnya. bagaimana jika. berbicara. Menurut Hidayat (1980:5) permainan memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) adanya seperangkat peraturan yang eksplisit yang mesti diindahkan oleh para pemain. Menurut Framberg (dalam Berky. Dalam hal ini permainan dapat menghubungkan pengalaman-pengalaman menyenangkan atau mengasyikkan. dan aturan-aturan yang ada dapat dimotivasi oleh para pemainnya. 1995) permainan merupakan aktivitas yang bersifat simbolik. karena memberi rasa kepuasan.sendiri. tetapi tidak ada unsur kesenangan maka bukan disebut permainan bahasa. atau apakah jika yang penuh makna. (4) Permainan bersifat bebas dari aturan aturan yang dipaksakan dari luar. belajar meloncat. Melalui permainan anak dapat menyatakan kebutuhannya tanpa dihukum atau terkena teguran misalnya bermain boneka diumpamakan sebagai adik yang sesungguhnya (Semiawan. Dapat disebut permainan bahasa. maka permainan tersebut bukan permainan bahasa. yang menghadirkan kembali realitas dalam bentukpengandaian misalnya.

Setiap permainan bahasa yang dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran harus secara langsung dapat menunjang tercapainya tujuan pembelajaran. buatan pabrik maupun alamiah memiliki peranan yang cukup besar dalam membantu merangsang anak dalam menggunakan bahasa. melainkan pengetahuan diperoleh melalui suatu dialog yang ditandai oleh suasana belajar yang bercirikan pengalaman dua sisi. melainkan oleh keterlibatan emosi dan kemampuan kreatif. Tujuan utama permainan bahasa bukan semata-mata untuk memperoleh kesenangan. Pada usia tersebut. Menang dan kalah bukan merupakan tujuan utama permainan. 2002:5). Masalah yang harus diselesaikan itulah yang dapat melatih ketrampilan berbahasa. Dengan demikian proses belajar membaca perlu disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan siswa (Semiawan. Aktivitas permainan digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan cara yang menyenangkan. bakat dan minat masing-masing. Keberadaan alatalat permainan dapat memabntu dan meningkatkan daya imajinasi anak. remaja. berbicara.Alat permainan baik realistik maupun imajinatif. Ini berarti bahwa penekanan bukan pada kuantitas materi. f. Permainan hampir tak terpisahkan dengan kehidupan manusia. Dalam setiap permainan terdapat unsur rintangan atau tantangan yang harus dihadapi. 1994) bahwa interaksi antara permainan dengan pembelajaran akan memberikan pengalaman belajar yang sangat penting bagi anak-anak. Tentunya dengan jenis dan sifat permainan yang berbeda-beda sesuai dengan jenis kelamin. tetapi untuk belajar ketrampilan berbahasa tertentu misalnya menyimak. Menurut Dewey (dalam Polito. Pembelajaran Membaca Melalui Permainan Bahasa Belajar konstrultivisme mengisyaratkan bahwa guru tidak memompakan pengetahuan ke dalam kepala pebelajar. anak-anak. . membaca dan menulis. Tantangan tersebut kadang-kadang berupa masalah yang harus diselesaikan atau diatasi. orang dewasa semua membutuhkan permainan. kadang pula berupa kompetisi. anak-anak mudah merasa jenuh belajar di kelas apabila dijauhkan dari dunianya yaitu dunia bermain. Baik bayi. Anak-anak pada usia 6 – 8 tahun masih memerlukan dunia permainan untuk membantu menumbuhkan pemahaman terhadap diri mereka. melainkan pada upaya agar siswa mampu menggunakan otaknya secara efektif dan efisien sehingga tidak ditandai oleh segi kognitif belaka.

2003). Siswa diajak bermain dengan menyusun huruf-huruf menjadi sebuah kata yang berdasarkan teka-teki atau soal-soal yang dibuat oleh guru. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia. kartu kata. dengan bermain siswa dapat berbuat agak santai. tetapi justru belajar dengan rasa keharmonisan. melainkan harus dapat menginterpretasi dan mengembangkan kurikulum menjadi bentuk pembelajaran yang menarik. pembelajaran yang diinginkan. Permainan dapat menjadi kekuatan yang memberikan konteks pembelajaran dan perkembangan masa kanak-kanak awal. 1993 dalam Rofi’uddin. . Penggunaan bentuk-bentuk permainan dalam pembelajaran akan memberi iklim yang menyenangkan dalam proses belajar. Kartu huruf.Dalam hal ini guru tidak hanya sekedar melaksanakan apa yang ada dalam kurikulum. diperhatikan struktur dan isi kurikulum sehingga guru dapat membangun kerangka Struktur kurikulum terdiri atas : (1) Perencanaan yang mencakup penetapan sasaran dan tujuan. Dalam pembelajaran membaca permulaan guru dapat menggunakan Strategi bermain dengan memanfaatkan kartu-kartu huruf. sumber. Selain itu. sehingga siswa akan belajar seolah-olah proses belajar siswa dilakukan tanpa adanya keterpaksaan. Pembelajaran dapat menarik apabila guru memiliki kreativitas dengan memasukkan aktivitas permainan ke dalam aktivtas belajar siswa. dan memperoleh kesan yang mendalam terhadap materi pelajaran. Untuk itu perlu. Materi pelajaran dapat disimpan terus dalam ingatan jangka panjang (Rubin. Kartu-kartu berseri tersebut dapat berupa kartu bergambar. (2) Pengorganisasian. sel-sel otak siswa dapat berkembang akhirnya siswa dapat menyerap informasi. kartu kalimat. pedagogis bagi permainan. Kartu-kartu huruf tersebut digunakan sebagai media dalam permainan menemukan kata. 1996:87). Dengan cara santai tersebut. dengan mempertimbangkan ruang. guru dapat melakukan simulasi pembelajaran dengan menggunakan kartu berseri (flash card). (3)Pelaksanaan. yang mencakup aktivitas dan perencanaan. dan (4) assesmen dan evaluasi yang meliputi alur umpan balik pada perencanaan (Wood. waktu dan peran orang dewasa.

Kartu-kartu kata maupun kalimat digunakan sebagai media dalam permainan kontes ucapan.2003:44) guru dapat menggunakan strategi permainan membaca. Pelafalan kata-kata tersebut dapat diperluas dalam bentuk pelafalan kalimat bahasa Indonesia. 1980). Misalnya. guru perlu mempertimbangkan tujuan pembelajaran. maka guru perlu membantu agar siswa merasa senang dan berhasil dalam belajar. temukan kata itu. Yang dipentingkan dalam latihan ini adalah melatih siswa mengucapkan bunyi-bunyi bahasa (vokal. ucapkan kata itu. Dalam tujuan pembelajaran. untuk ketrampilan berbicara guru dapat menyediakan jenis permainan dua boneka. Untuk memilih dan menentukan jenis permainan dalam pembelajaran membaca permulaan di kelas. dan cluster) sesuai dengan daerah artikulasinya (Hidayat dkk. karena dengan permainan ini dapat mendorong siswa berani tampil secara ekspresif. g. Siswa dengan aktif dilibatkan dan dituntut untuk memberikan tanggapan dan keputusan. kontes ucapan. siswa dapat melihat sejumlah kata berkali-kali. Para siswa diajak bermain dengan mengucapkan atau melafalkan kata-kata yang tertulis pada kartu kata. Dalam memainkan suatu permainan. baca dan berbuat dan sebagainya. Dalam pembelajaran membaca teknis menurut Mackey (dalam Rofi’uddin. dialog. 1990).Titik berat latihan menyusun huruf ini adalah ketrampilan mengeja suatu kata (Rose and Roe. namun tidak dengan cara yang membosankan. . materi pembelajaran dan kondisi siswa maupun sekolah. Guru juga perlu mempertimbangkan materi pembelajaran. Hindari kesan bahwa siswa melakukan kegagalan. misalnya cocokkan kartu. karena bentuk permainan tertentu cocok untuk materi tertentu. psikomotor atau sosial atau memadukan berbagai aspek tersebut. Permainan Kata Permainan kata dan huruf dapat memberikan suatu situasi belajar yang santai dan menyenagkan. temukan kalimat itu. Guru perlu banyak memberikan sanjungan dan semangat. Jika permainan sukar dilakukan oleh siswa. konsonan. guru dapat mengembangkan salah satu aspek kognitif.

Batu Loncatan Cara Membuat Karton atau kertas digunting menjadi sejumlah bundaran.1. Cara membuat Sebuah kalimat ditulis diatas kartu panjang dengan satu kata dihilangkan. 2. Kertas dapat bermacam-macam warna. Cara Bermain Guru melakukan suatu perintah. satu yang sesuai dengan gambar dan dua yang mirip dengan gambar. Kemudian siswa menyelipkan kartu kata yang cocok pada celah kartu kalimat. Kemudian membuat kartu-kartu kata yang salah satunya cocok untuk celah pada kartu kalimat. Pada bundaran tersebut ditulis nama anggota keluarga atau teman-teman. Dapat juga diubah menjadi sebuah permainan pembentukan kalimat. Kemudian disediakan jepit kertas. Di samping gambar ditulis suatu pilihan tiga kata.Pada kata yang dihilangkan tersebut dilubangi untuk menyelipkan kartu yang cocok untuk melengkapi kalimat.Melengkapi Kalimat Pada kartu yang panjang tertulis kalimat dengan satu kata hilang. kemudian menaruh jepit di samping kartu kata itu. Cara Bermain Dua orang siswa memutuskan kata mana yang sepadan dengan gambar. Siswa harus menemukan bundaran yang benar dan melompat disitu sambil menunggu perintah selanjutnya. misalnya “Loncat ke Ayah”. Kemudian membuat kartu gambar yang cocok dengan celah itu.Memilih Kata Cara membuat Pada kartu yang panjang ditempeli sebuah gambar sederhana. Pada kartu tersebut diberi celah untuk kata-kata yang hilang. Cara Bermain Satu atau dua orang membaca kalimat dan mencocokkan kartu-kartu gambar dalam spasi yang kosong. Pada punggung kartu warnai suatu ruang untuk menyatakan kata yang benar. Untuk mengecek baliklah kartu. Dengan .

malas. gembira sehingga dapat membebaskan dari berbagai kendala psikologis yang menghambat pembelajaran membaca. SIMPULAN Dalam melakukan pembelajaran membaca permulaan bagi siswa SD perlu diselingi permainan-permainan. Aktivitas permainan digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan cara yang menyenangkan. .Disamping dapat melatih siswa memiliki kepekaan daya nalar. misalnya rasa takut. siswa mudah merasa jenuh belajar di kelas apabila dijauhkan dari dunianya yaitu dunia bermain. Tantangan tersebut berupa masalah yang harus diatasi atau diselesaikan. bosan.memasukkan kata kerja dan bagian-bagian lain dari bahasa lisan. berbicara. Bahkan dapat berupa kompetisi yang memunculkan potensi baru. emosional. tetapi untuk belajar ketrampilan berbahasa tertentu. Tujuan utama pembelajaran dengan permainan bahasa adalah bukan semata-mata untuk memperoleh kesenangan.Siswa kelas awal SD masih memerlukan dunia permainan untuk membantu menumbuhkan pemahaman terhadap diri mereka. dansosial. misalnya menyimak. Setiap permainan terdapat unsur rintangan atau tantangan yang harus dihadapi. Disamping itu permainan dapat digunakan sebagai penguatan (reinforcement). Siswa harus melompat ke bundaran-bundaran itu dalam urutan yang benar agar tersusun sebuah kalimat. membaca dan menulis. Pada usia tersebut. sebab dengan permainan siswa dapat belajar dengan senang.Tantangan yang diselesaikan tersebut dapat melatih ketrampilan berbahasa siswa.

Introduction to Child Development. Joanne. 2002. Rofi’uddin. Jakarta: PT Ikrar Mandiri Abadi. Australia: Heinemann Portmourth NH. 1972. Dworetzky. P. 2003. Journal of Research in Childhood Education. Materi Pokok Bahasa Indonesia 3. • • • • • Gibbons. 9 No. 1995. 1. Cambridge University Press. 1988. Kenneth. • • • • Baradja. Linguistics For Teachers. 1993.Daftar Rujukan • • Anderson. Faktor Kreativitas Dalam Kemampuan Membaca dan Menulis Siswa Kelas 5 Sekolah Dasar Islam Sabilillah Malang. Jakarta: Periplus. 1985. New York: West Publishing Company. Cleary. David E (eds). The Reading Process. Muchlisoh. Malang: IKIP Malang. Cambridge: Camoridge University Press. Pollit. J. 1992. Reading. Root. Devine. Pengajaran Membaca di Kelas – Kelas Awal Sekolah Dasar. Linn. 1999. 1990. Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pengajaran Bahasa Indonesia pada FPBS Universitas Negeri Malang. & Eskey. Malang: Universitas Negeri Malang. Vol. Pelba 6. Dalam Carrell. New York: Macmillan Publishing Co. New York: Mc Graw-Hill. • • Smith. Badudu. Bambang Kaswanti Purwo (ed). Goodman. Pengajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah: Tinjauan dari Masa ke Masa. How Play and Work are Organized in Kindergarten Classroom. 1994. S. • Syafi’ie. Imam. Language Skills in Elementary Education. Betty. R. 1990. Theodora. Paulina. F. Yogyakarta: Kanasius. Learning to Learn in a Second Language. C. M. Membantu Putra Anda Belajar Membaca. 1993. Kapita Selekta Pengajaran Bahasa. John. Linda Miller dan Michael D. Lemlit Universitas Negeri Malang. Ahmad. Conny. 1993. Jakarta: Depdikbud. Semiawan. F. Belajar dan Pembelajaran dalam Taraf Usia Dini. Patricia L. R. . Interactive Approaches to Second Language Reading. Inc.

1996. All. Elizabeth. .Bodd. London: Paul Charman Publishing. et. Play Learning and The Early Childhood Curriculum.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->