Boss jo lali nimq(om rory :07140061) PEMBELAJARAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI PERMAINAN BAHASA DI KELAS AWAL SEKOLAH DASAR

Sri Nuryati Abstrak: Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi siswa sekolah dasar kelas awal. Siswa belajar untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. oLeh karena itu guru perlu merancang pembelajaran membaca dengan baik sehingga mampu menumbuhkan kebiasan membaca sebagai suatu yang menyenangkan. Suasana belajar harus dapat diciptakan melalui kegiatan permainan bahasa dalam pembelajaran membaca. Hal itu sesuai dengan karakteristik anak yang masih senang bermain. Permainan memiliki peran penting dalam perkembangan kognitif dan sosial anak. Kata kunci: Membaca permulaan, permainan, sekolah dasar.Membaca merupakan salah satu ketrampilan berbahasa yang diajarkan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar. Keempat aspek tersebut dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu (1) ketrampilan yang bersifat menerima (reseptif) yang meliputi ketrampilan membaca dan menyimak, (2) ketrampilan yang bersifat mengungkap (produktif) yang meliputi ketrampilan menulis dan berbicara (Muchlisoh, 1992: 119). Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (SD) bertujuan meningkatkan kemampuan siswa berkomunikasi secara efektif, baik lisan maupun tertulis. Ketrampilan membaca sebagai salah satu ketrampilan berbahasa tulis yang bersifat reseptif perlu dimiliki siswa SD agar mampu berkomunikasi secara tertulis. oLeh karena itu, peranan pengajaran Bahasa Indonesia khususnya pengajaran membaca di SD menjadi sangat penting. Peran tersebut semakin penting bila dikaitkan dengan tuntutan pemilikan kemahirwacanaan dalam abad informasi (Joni, 1990). Pengajaran Bahasa Indonesia di SD yang bertumpu pada kemampuan dasar membaca dan menulis juga perlu diarahkan pada tercapainya kemahirwacanaan. Ketrampilan membaca dan menulis, khususnya ketrampilan membaca harus segera dikuasai oleh para siswa di SD karena ketrampilan ini secara langsung berkaitan dengan seluruh proses belajar siswa di SD. Keberhasilan belajar siswa dalam mengikuti proses kegiatan belajar-mengajar di sekolah sangat ditentukan oleh penguasaan

kartu huruf. kemajuan belajarnya juga lamban jika dibandingkan dengan teman-temannya yang tidak mengalami kesulitan dalam membaca. Pelaksanaan membaca permulaan di kelas I sekolah dasar dilakukan dalam dua tahap. Pengaitan ketrampilan berbahasa yang dimaksud tidak selalu melibatkan keempat ketrampilan berbahsa sekaligus. Pembelajaran membaca tanpa buku dilakukan dengan cara mengajar dengan menggunakan media atau alat peraga selain buku misalnya kartu gambar. Kelancaran dan ketepatan anak membaca pada tahap belajar membaca permulaan dipengaruhi oleh keaktifan dan kreativitas guru yang mengajar di kelas I.kemampuan membaca mereka. dan organisator dalam proses pembelajaran. sumber belajar. sedangkan membaca dengan buku merupakan kegiatan membaca dengan menggunakan buku sebagai bahan pelajaran. Peranan strategis tersebut menyangkut peran guru sebagai fasilitator. Akibatnya. ketrampilan berbahasa tertentu dapat dikaitkan dengan ketrampilan berbahasa yang lain. yaitu membaca periode tanpa buku dan membaca dengan menggunakan buku. Pelajaran membaca dan menulis di kelas-kelas awal disebut pelajaran membaca dan menulis permulaan. guru yang berkompetensi tinggi akan sanggup menyelenggarakan tugas untuk mencerdaskan bangsa.Kenyataan tersebut dapat dilihat bahwa dalam proses pembelajaran bahasa. kartu kata dan kartu kalimat. Dengan kata lain. Tujuan membaca permulaan di kelas I adalah agar “Siswa dapat membaca kata-kata dan kalimat sederhana dengan lancar dan tepat (Depdikbud. Siswa akan mengalami kesulitan dalam menangkap dan memahami informasi yang disajikan dalam berbagai buku pelajaran. melainkan dapat hanya mengakut dua ketrampilan saja sepanjang aktivitas berbahasa yang dilakukan bermakna. . sedangkan dikelas-kelas tinggi disebut pelajaran membaca dan menulis lanjut. melainkan merupakan satu kesatuan dalam pembelajaran bahasa bersama dengan ketrampilan berbahasa yang lain. Siswa yang tidak mampu membaca dengan baik akan mengalami kesulitan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran untuk semua mata pelajaran. 1994/1995:4). motivator. Menurut pandangan “whole language” membaca tidak diajarkan sebagai suatu pokok bahasan yang berdiri sendiri. guru memegang peranan yang strategis dalam meningkatkan ketrampilan membaca siswa. buku-buku bahan penunjang dan sumbersumber belajar tertulis yang lain. Pembelajaran membaca di SD dilaksanakan sesuai dengan pembedaan atas kelaskelas awal dan kelas-kelas tinggi.

anak sejak kelas awal SD perlu memperoleh latihan membaca dengan baik khususnya membaca permulaan. Untuk mengoptimalkan pembelajaran membaca permulaan di SD salah satu alternatif yang dapat dilakukan ialah melalui permainan bahasa. menyimak. Guru perlu menyediakan bahan yang menarik yang dapat menyajikan tantangan bagisiswa untuk giat secara aktif dan kreatif “mengotak-atik” apa yang dihadapinya. pembaca berusaha menciptakan . Dalam kegiatan membaca.8 tahun) berada pada fase bermain. a. menulis dan berbicara. Dalam interaksi ini. pembaca memroses informasi dari teks yang dibaca untuk memperoleh makna (Vacca. 1991: 172). Hakikat Membaca Membaca adalah proses aktif dari pikiran yang dilakukan melalui mata terhadap bacaan. Menurut Badudu (1993: 131) pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia di SD – SMU ialah guru terlalu banyak menyuapi. tetapi kurang menyuruh siswa aktif membaca. Bahan tersebut hasrulah sesuai dengan perkembangan emosi dan sosial anak. Dengan bermain anak akan senang belajar. tetapi berfungsi sebagai alat untuk memperluas pengetahuan bahasa seseorang. 1996). Karena dalam bermain guru mendukung anak belajar dan mengembangkannya (Wood. Para ahli telah mendefiniskan tentang membaca dan tidak ada criteria tertentu untuk menentukan suatu definisi yang dianggap paling benar. karena membaca tidak hanya untuk memperoleh informasi. 1990).mengembangkan pribadi manusia Indonesia seutuhnya dan membentuk ilmuwan dan tenaga ahli. Proses belajar-mengajar dikelas tidak relevan dengan yang diharapkan. Dengan demikian. Membaca merupakan kegiatan yang penting dalam kehidupan sehari-hari. semakin senang anak semakin banyak yang diperolehnya. Anak di kelas permulaan (usia 6 . akibatnya kemampuan membaca siswa rendah.Pemahaman atau makna dalam membaca lahir dari interaksi antara persepsi terhadap simbol grafis dan ketrampilan bahasa serta pengetahuan pembaca. Permainan memiliki peranan penting dalam perkembangan kognitif dan sosial anak (Dworetzky. Menurut Harris dan Sipay (1980: 8) memebaca sebagai suatu kegiatan yang memebrikan respon makna secara tepat terhadap lambang verbal yang tercetak atau tertulis.

Menurut Wilson dan peters (dalam Cleary. Informasi visual. Pembaca berusaha memahami isi bacaan berdasarkan latar belakang pengetahuan dan kompetensi kebahasaannya. 1972: 211). Permaalan dibuat berdasarkan pada tiga kategori sistem yaitu aspek sistematis. sedangkan informasi nonvisual merupakan informasi yang sudah ada dalam benak pembaca. merupakan informasi yang dapat diperoleh melalui indera penglihatan. dan konteks situasi yang kemudian diperkuat atau ditolak sesuai dengan isi bacaan yang diperoleh. grafologis.Dalam proses pemahaman bacaan tersebut. Pembaca yang telah lancar pada umumnya meramalkan apa yang dibacanya dan kemudian menguatkan atau menolak ramalannya itu berdasarkan apa yang terdapat dalam bacaan. 1985: 12). Dalam kegiatan membaca terjadi proses pengolahan informasi yang terdiri atas informasi visual dan informasi nonvisual (Smith. Dalam proses membaca itu pembaca mencoba mengkreasikan apa yang dimaksud oleh penulis. Dilain pihak. Kegiatan membaca bukan sekedar aktivitas yang bersifat pasif dan reseptfi saja. melainkan mengehdaki pembaca untuk aktif berpikir. dan konteks situasi pembaca. Gibbon (1993: 70-71) mendefinisikan membaca sebagai proses memperoleh m.maka isi bacaan itu akan berubah-ubah sesuai dengan pengalamn penafsirannya(Anderson.akna dari cetakan. sintaksis. Tanpa hal-hal tersebut selembar teks tidak berarti apa-apa bagi pembaca. pembaca harus menyertakan latar belakang “bidang” pengetahuannya. informasi yang telah dinyatakan oleh bahasa tulis. dapat dikatakan bahwa membaca adalah proses interaksi antara pembaca dengan teks bacaan. sintaksis dan grafologis. dan pemahaman terhadap sistem bahasa itu sendiri.Untuk memperoleh makna dari teks. Berdasarkan uraian diatas.Karena setiap pembaca memiliki pengalaman yang berbeda-beda dan dia menggunakan pengalaman itu untuk menafsirkan informasi visual dalam bacaan. . 1993: 284) bahwa membaca merupakan suatu proses menysun makna melalui interaksi dinamis diantara pengetahuan pembaca yang telah ada.kembali makna sebagaimana makna yang ingin disampikan oleh penulis dan tulisannya. topik. pembaca pada umumnya membuat ramalan-ramalan berdasarkan sistem semantik.

dan (c) semantic memory (sm). kelompok kata. Disamping itu. Selanjutnya dikemukakan bahwa untuk memperoleh kemampuan membaca diperlukan tiga syarat. kata dan kalimat terlihat sebagai lambang grafis. dan kalimat yang bermakna. (b) phonological memory (pm). gambar-gambar bunyi dan kombinasinya diidentifikasi. Pengertian Membaca Permulaan Membaca permulaan dalam pengertian ini adalah membaca permulaan dalam teori ketrampilan. yaitu kemampuan membunyikan (a) lambang-lambang tulis. pembaca mengenali dan membedakan gambargambar bunyi serta kombinasinya. dan kalimat. maksudnya menekankan pada proses penyandian membaca secara mekanikal. Lambang tersebut juga dalam bentuk kata. rangkaian tulisan yang dibacanya menjelma menjadi rangkaian bunyi bahasa dalam kombinasi kata. Proses yang bersifat fisik berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual. (b) penguasaan kosakata untuk memberi arti. Proses psikologis berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi. pembaca mengasosiasikan gambargambar bunyi beserta kombinasinya itu dengan bunyi-bunyinya.Membaca merupakan suatu proses yang bersifat fisik dan psikologis. Membaca permulaan yang menjadi acuan adalah membaca merupakan proses recoding dan decoding (Anderson. pembaca belum memiliki ketrampilan kemampuan membaca yang . Melalui proses decoding.b. huruf. Proses pembentukan tersebut terjadi pada ketiganya. diuraikan kemudian diberi makna. 1972: 209). 1999: 7). Proses pada tingkat ini bersumber dari VM dan PM. 1982: 206) proses membaca permulaan melibatkan tiga komponen. Melalui proses recoding. yaitu (a) visual memory (vm). sedangkan pada tingkat PM terjadi proses pembunyian lambang. Lambang lambang fonem tersebut adalah kata. Pada tingkatan membaca permulaan. dan (c) memasukkan makna dalam kemahiran bahasa. Akhirnya pada tingkat SM terjadi proses pemahaman terhadap kata dan kalimat. Proses ini melibatkan knowledge of the world dalam skemata yang berupa kategorisasi sejumlah pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan dalam gudang ingatan (Syafi’ie. dan kata dibentuk menjadi kalimat. Dengan indera visual. Dengan proses tersebut. Pada tingkat VM. pembaca mengamati tanda-tanda baca untuk mrmbantu memahami maksud baris-baris tulisan. Menurut La Barge dan Samuels (dalam Downing and Leong.

masih perlu perbaikan dan penyempurnaan penguasaan teknik membaca permulaan (Syafi’ie. dari yang tidak dikenali sampai pada yang diketahui. tetapi masih dalam tahap belajar untuk memperoleh ketrampilan / kemampuan membaca. (b) penguasaan kosakata untuk memberi arti. dan dari yang tidak dapat diperbuatnya sampai mampu melakukannya.1999: 16). Membaca lanjut merupakan tingkatan proses penguasaan membaca untuk memperoleh isi pesan yang terkandung dalam tulisan.sesungguhnya. Melalui tulisan itulah siswa dituntut dapat menyuarakan lambang-lambang bunyi bahasa tersebut. Proses ketrampilan menunjuk pada pengenalan dan penguasaan lambang-lambang fonem. sebagai dasar untuk dapat membaca lanjut (Akhadiah. 1991/1992: 31).Pembelajaran Membaca Permulaan Pembelajaran memabaca permulaan diberikan di kelas I dan II.Tingkatan ini disebut sebagai membaca untuk belajar (reading to learn). Demikian juga pada membaca lanjut menekankan pada pemahaman isi bacaan. Bermain bagi anak memiliki nilai dan ciri yang penting dalam kemajuan perkembangan kehidupan sehari-hari.Pengertian Permainan Permainan merupakan alat bagi anak untuk menjelajahi dunianya. Ada resiko bagi anak untuk belajar misalnya naik sepeda . Pada permulaan setiap pengalaman bermain memiliki resiko. sedangkan proses kognitif menunjuk pada penggunaan lambang-lambang fonem yang sudah dikenal untuk memahami makna suatu kata atau kalimat.Membaca permulaan merupakan suatu proses ketrampilan dan kognitif. Membaca pada tingkatan ini merupakan kegiatan belajar mengenal bahasa tulis. Pembelajaran membaca permulaan merupakan tingkatan proses pembelajaran membaca untuk menguasai sistem tulisan sebagai representasi visual bahasa. Kedua tingkatan tersebut bersifat kontinum. Tujuannya adalah agar siswa memiliki kemampuan memahami dan menyuarakan tulisan dengan intonasi yang wajar. d. artinya pada tingkatan membaca permulaan yang fokus kegiatannya penguasaan sistem tulisan.untuk memperoleh kemampuan membaca diperlukan tiga syarat. Tingkatan ini sering disebut dengan tingkatan belajar membaca (learning to read). telah dimulai pula pembelajaran membaca lanjut dengan pemahaman walaupun terbatas. c. dan (c) memasukkan makna dalam kemahiran bahasa. yaitu kemampuan membunyikan (a) lambang-lambang tulis.

belajar meloncat. Melalui permainan anak dapat menyatakan kebutuhannya tanpa dihukum atau terkena teguran misalnya bermain boneka diumpamakan sebagai adik yang sesungguhnya (Semiawan. Dengan cara ini anak memperoleh pengalaman tambahan untuk melakukan aktivitas lain.sendiri. Menurut Hidayat (1980:5) permainan memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) adanya seperangkat peraturan yang eksplisit yang mesti diindahkan oleh para pemain. (4) Permainan bersifat bebas dari aturan aturan yang dipaksakan dari luar. berbicara. . tetapi tidak ada unsur kesenangan maka bukan disebut permainan bahasa. Anak mengkonsolidasikan ketrampilannya yang harus diwujudkannya dalam berbagai permainan dengan nuansa yang berbeda. bagaimana jika. karena memberi rasa kepuasan. membaca dan menulis). Berkaitan dengan permainan Pellegrini dan Saracho. (3) Aktivitas permainan dapat bersifat nonliteral.berbicara. (2) pemain lebih asyik dengan aktivitas permainan (sifatnya spontan) ketimbang pada tujuannya. atau apakah jika yang penuh makna. 1995) permainan merupakan aktivitas yang bersifat simbolik. Apabila suatu permainan menimbulkan kesenangan tetapi tidak memperoleh ketrampilan berbahasa tertentu. Menurut Framberg (dalam Berky. maka permainan tersebut bukan permainan bahasa. Dapat disebut permainan bahasa.1996:3) permainan memiliki sifat sebagai berikut: (1) Permaianan dimotivasi secara personal. 1991 (dalam Wood. apabila suatu kegiatan melatih ketrampilan bahasa tertentu. membaca dan menulis). Sebaliknya. e. (5) Permainan memerlukan keterlibatan aktif dari pihak pemainnya. 2002: 21). (2) adanya tujuan yang harus dicapai pemain atau tugas yang mesti dilaksanakan. dan aturan-aturan yang ada dapat dimotivasi oleh para pemainnya. Unsur lain adalah pengulangan. bahkan ketika siswa terlibat dalam permainan secara serius dan menegangkan sifat sukarela dan motivasi datang dari dalam diri siswa sendiri secara spontan. apabila suatu aktivitas tersebut mengandung kedua unsur kesenangan dan melatih ketrampilan berbahasa (menyimak. yang menghadirkan kembali realitas dalam bentukpengandaian misalnya. Permainan Bahasa Permainan bahasa merupakan perminan untuk memperoleh kesenangan dan untuk melatih ketrampilan berbahasa (menyimak. Dalam hal ini permainan dapat menghubungkan pengalaman-pengalaman menyenangkan atau mengasyikkan.

Setiap permainan bahasa yang dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran harus secara langsung dapat menunjang tercapainya tujuan pembelajaran. Menang dan kalah bukan merupakan tujuan utama permainan. tetapi untuk belajar ketrampilan berbahasa tertentu misalnya menyimak. Dalam setiap permainan terdapat unsur rintangan atau tantangan yang harus dihadapi. Menurut Dewey (dalam Polito. anak-anak mudah merasa jenuh belajar di kelas apabila dijauhkan dari dunianya yaitu dunia bermain. 1994) bahwa interaksi antara permainan dengan pembelajaran akan memberikan pengalaman belajar yang sangat penting bagi anak-anak. anak-anak. f. orang dewasa semua membutuhkan permainan. Baik bayi. Pembelajaran Membaca Melalui Permainan Bahasa Belajar konstrultivisme mengisyaratkan bahwa guru tidak memompakan pengetahuan ke dalam kepala pebelajar. Ini berarti bahwa penekanan bukan pada kuantitas materi. Dengan demikian proses belajar membaca perlu disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan siswa (Semiawan. Anak-anak pada usia 6 – 8 tahun masih memerlukan dunia permainan untuk membantu menumbuhkan pemahaman terhadap diri mereka. melainkan pengetahuan diperoleh melalui suatu dialog yang ditandai oleh suasana belajar yang bercirikan pengalaman dua sisi. Tujuan utama permainan bahasa bukan semata-mata untuk memperoleh kesenangan. buatan pabrik maupun alamiah memiliki peranan yang cukup besar dalam membantu merangsang anak dalam menggunakan bahasa. kadang pula berupa kompetisi. remaja. Aktivitas permainan digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan cara yang menyenangkan. Tantangan tersebut kadang-kadang berupa masalah yang harus diselesaikan atau diatasi. Pada usia tersebut. berbicara. bakat dan minat masing-masing. .Alat permainan baik realistik maupun imajinatif. Permainan hampir tak terpisahkan dengan kehidupan manusia. melainkan oleh keterlibatan emosi dan kemampuan kreatif. 2002:5). Tentunya dengan jenis dan sifat permainan yang berbeda-beda sesuai dengan jenis kelamin. Masalah yang harus diselesaikan itulah yang dapat melatih ketrampilan berbahasa. Keberadaan alatalat permainan dapat memabntu dan meningkatkan daya imajinasi anak. membaca dan menulis. melainkan pada upaya agar siswa mampu menggunakan otaknya secara efektif dan efisien sehingga tidak ditandai oleh segi kognitif belaka.

Dalam hal ini guru tidak hanya sekedar melaksanakan apa yang ada dalam kurikulum. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia. sel-sel otak siswa dapat berkembang akhirnya siswa dapat menyerap informasi. Siswa diajak bermain dengan menyusun huruf-huruf menjadi sebuah kata yang berdasarkan teka-teki atau soal-soal yang dibuat oleh guru. pembelajaran yang diinginkan. 2003). dan (4) assesmen dan evaluasi yang meliputi alur umpan balik pada perencanaan (Wood. kartu kata. 1996:87). 1993 dalam Rofi’uddin. Dengan cara santai tersebut. dan memperoleh kesan yang mendalam terhadap materi pelajaran. yang mencakup aktivitas dan perencanaan. dengan bermain siswa dapat berbuat agak santai. diperhatikan struktur dan isi kurikulum sehingga guru dapat membangun kerangka Struktur kurikulum terdiri atas : (1) Perencanaan yang mencakup penetapan sasaran dan tujuan. waktu dan peran orang dewasa. Selain itu. Kartu-kartu huruf tersebut digunakan sebagai media dalam permainan menemukan kata. (2) Pengorganisasian. Permainan dapat menjadi kekuatan yang memberikan konteks pembelajaran dan perkembangan masa kanak-kanak awal. Kartu huruf. melainkan harus dapat menginterpretasi dan mengembangkan kurikulum menjadi bentuk pembelajaran yang menarik. guru dapat melakukan simulasi pembelajaran dengan menggunakan kartu berseri (flash card). Pembelajaran dapat menarik apabila guru memiliki kreativitas dengan memasukkan aktivitas permainan ke dalam aktivtas belajar siswa. Dalam pembelajaran membaca permulaan guru dapat menggunakan Strategi bermain dengan memanfaatkan kartu-kartu huruf. sumber. tetapi justru belajar dengan rasa keharmonisan. . Materi pelajaran dapat disimpan terus dalam ingatan jangka panjang (Rubin. dengan mempertimbangkan ruang. Penggunaan bentuk-bentuk permainan dalam pembelajaran akan memberi iklim yang menyenangkan dalam proses belajar. Kartu-kartu berseri tersebut dapat berupa kartu bergambar. sehingga siswa akan belajar seolah-olah proses belajar siswa dilakukan tanpa adanya keterpaksaan. (3)Pelaksanaan. pedagogis bagi permainan. Untuk itu perlu. kartu kalimat.

Dalam tujuan pembelajaran.Titik berat latihan menyusun huruf ini adalah ketrampilan mengeja suatu kata (Rose and Roe. Misalnya. psikomotor atau sosial atau memadukan berbagai aspek tersebut.2003:44) guru dapat menggunakan strategi permainan membaca. maka guru perlu membantu agar siswa merasa senang dan berhasil dalam belajar. guru perlu mempertimbangkan tujuan pembelajaran. temukan kalimat itu. karena bentuk permainan tertentu cocok untuk materi tertentu. temukan kata itu. Pelafalan kata-kata tersebut dapat diperluas dalam bentuk pelafalan kalimat bahasa Indonesia. dialog. Dalam memainkan suatu permainan. 1990). dan cluster) sesuai dengan daerah artikulasinya (Hidayat dkk. . Kartu-kartu kata maupun kalimat digunakan sebagai media dalam permainan kontes ucapan. kontes ucapan. 1980). Jika permainan sukar dilakukan oleh siswa. Hindari kesan bahwa siswa melakukan kegagalan. misalnya cocokkan kartu. karena dengan permainan ini dapat mendorong siswa berani tampil secara ekspresif. Permainan Kata Permainan kata dan huruf dapat memberikan suatu situasi belajar yang santai dan menyenagkan. Yang dipentingkan dalam latihan ini adalah melatih siswa mengucapkan bunyi-bunyi bahasa (vokal. g. namun tidak dengan cara yang membosankan. Siswa dengan aktif dilibatkan dan dituntut untuk memberikan tanggapan dan keputusan. untuk ketrampilan berbicara guru dapat menyediakan jenis permainan dua boneka. Guru juga perlu mempertimbangkan materi pembelajaran. baca dan berbuat dan sebagainya. ucapkan kata itu. materi pembelajaran dan kondisi siswa maupun sekolah. Dalam pembelajaran membaca teknis menurut Mackey (dalam Rofi’uddin. guru dapat mengembangkan salah satu aspek kognitif. konsonan. siswa dapat melihat sejumlah kata berkali-kali. Untuk memilih dan menentukan jenis permainan dalam pembelajaran membaca permulaan di kelas. Para siswa diajak bermain dengan mengucapkan atau melafalkan kata-kata yang tertulis pada kartu kata. Guru perlu banyak memberikan sanjungan dan semangat.

Cara Bermain Guru melakukan suatu perintah. Pada bundaran tersebut ditulis nama anggota keluarga atau teman-teman. satu yang sesuai dengan gambar dan dua yang mirip dengan gambar. Dapat juga diubah menjadi sebuah permainan pembentukan kalimat. Pada kartu tersebut diberi celah untuk kata-kata yang hilang.1.Melengkapi Kalimat Pada kartu yang panjang tertulis kalimat dengan satu kata hilang.Memilih Kata Cara membuat Pada kartu yang panjang ditempeli sebuah gambar sederhana. 2. Pada punggung kartu warnai suatu ruang untuk menyatakan kata yang benar. Cara Bermain Dua orang siswa memutuskan kata mana yang sepadan dengan gambar. Untuk mengecek baliklah kartu. Cara membuat Sebuah kalimat ditulis diatas kartu panjang dengan satu kata dihilangkan. kemudian menaruh jepit di samping kartu kata itu. Kemudian membuat kartu gambar yang cocok dengan celah itu. Dengan . Siswa harus menemukan bundaran yang benar dan melompat disitu sambil menunggu perintah selanjutnya. Kemudian membuat kartu-kartu kata yang salah satunya cocok untuk celah pada kartu kalimat. Cara Bermain Satu atau dua orang membaca kalimat dan mencocokkan kartu-kartu gambar dalam spasi yang kosong. Kertas dapat bermacam-macam warna. Kemudian disediakan jepit kertas. Kemudian siswa menyelipkan kartu kata yang cocok pada celah kartu kalimat. Di samping gambar ditulis suatu pilihan tiga kata. misalnya “Loncat ke Ayah”. Batu Loncatan Cara Membuat Karton atau kertas digunting menjadi sejumlah bundaran.Pada kata yang dihilangkan tersebut dilubangi untuk menyelipkan kartu yang cocok untuk melengkapi kalimat.

berbicara. Setiap permainan terdapat unsur rintangan atau tantangan yang harus dihadapi. Tantangan tersebut berupa masalah yang harus diatasi atau diselesaikan. bosan. Aktivitas permainan digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan cara yang menyenangkan. dansosial. membaca dan menulis. misalnya menyimak. sebab dengan permainan siswa dapat belajar dengan senang. misalnya rasa takut. Disamping itu permainan dapat digunakan sebagai penguatan (reinforcement).Tantangan yang diselesaikan tersebut dapat melatih ketrampilan berbahasa siswa. . Pada usia tersebut. emosional.memasukkan kata kerja dan bagian-bagian lain dari bahasa lisan.Siswa kelas awal SD masih memerlukan dunia permainan untuk membantu menumbuhkan pemahaman terhadap diri mereka.Disamping dapat melatih siswa memiliki kepekaan daya nalar. malas. Siswa harus melompat ke bundaran-bundaran itu dalam urutan yang benar agar tersusun sebuah kalimat. siswa mudah merasa jenuh belajar di kelas apabila dijauhkan dari dunianya yaitu dunia bermain. SIMPULAN Dalam melakukan pembelajaran membaca permulaan bagi siswa SD perlu diselingi permainan-permainan. Tujuan utama pembelajaran dengan permainan bahasa adalah bukan semata-mata untuk memperoleh kesenangan. Bahkan dapat berupa kompetisi yang memunculkan potensi baru. gembira sehingga dapat membebaskan dari berbagai kendala psikologis yang menghambat pembelajaran membaca. tetapi untuk belajar ketrampilan berbahasa tertentu.

Dworetzky. Badudu. Jakarta: Depdikbud. New York: Mc Graw-Hill. Kapita Selekta Pengajaran Bahasa. Jakarta: Periplus. Yogyakarta: Kanasius. & Eskey. Betty. The Reading Process. Lemlit Universitas Negeri Malang. • Syafi’ie. Root. Cambridge: Camoridge University Press. 1972. 1990. Malang: IKIP Malang. Pengajaran Membaca di Kelas – Kelas Awal Sekolah Dasar. Faktor Kreativitas Dalam Kemampuan Membaca dan Menulis Siswa Kelas 5 Sekolah Dasar Islam Sabilillah Malang. Muchlisoh. 1993. New York: West Publishing Company. Language Skills in Elementary Education. 2002. Dalam Carrell. M. . Linn. S. Imam. Linda Miller dan Michael D. Reading. Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pengajaran Bahasa Indonesia pada FPBS Universitas Negeri Malang. Learning to Learn in a Second Language. Semiawan. Membantu Putra Anda Belajar Membaca. 1995. Patricia L. 1. Jakarta: PT Ikrar Mandiri Abadi. F. • • • • • Gibbons. 1993. Malang: Universitas Negeri Malang. 1994. Bambang Kaswanti Purwo (ed). Kenneth. Goodman. R. • • • • Baradja. Joanne. Interactive Approaches to Second Language Reading. 1999. How Play and Work are Organized in Kindergarten Classroom. Theodora. 1988. Pollit. Cleary. Australia: Heinemann Portmourth NH. Cambridge University Press. F. Inc. Vol. Pelba 6. P. Devine. David E (eds). Rofi’uddin. Materi Pokok Bahasa Indonesia 3. Paulina. Belajar dan Pembelajaran dalam Taraf Usia Dini. Pengajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah: Tinjauan dari Masa ke Masa. J. 1992. Journal of Research in Childhood Education. 9 No.Daftar Rujukan • • Anderson. New York: Macmillan Publishing Co. C. Conny. 1985. John. 1993. 2003. R. • • Smith. Linguistics For Teachers. Introduction to Child Development. Ahmad. 1990.

Bodd. All. et. . 1996. London: Paul Charman Publishing. Play Learning and The Early Childhood Curriculum. Elizabeth.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful