P. 1
RESPIRASI

RESPIRASI

|Views: 701|Likes:
Published by Fitri Utami Hasan

More info:

Published by: Fitri Utami Hasan on Nov 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/25/2012

pdf

text

original

RESPIRASI

Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Dasar Ilmu Tanaman

Disusun oleh: Kelompok 7 Dylis Hartanto (150510100196) Indra Permana (150510100205) Fitri Utami Hasan (150510100207) Fathi Habibatur Rahman (150510100217) Ujang Rohimat (150510100218)

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJAJARAN 2010

BAB I
Respirasi | Kelompok 7 1

PENDAHULUAN

I.

Latar Belakang Substrat untuk respirasi yang berasal dari proses seluler lainnya, masuk ke dalam

lintasan respiratory. Glikolisis dan PPP (Pentose Phospate Pathway) berlangsung di dalam sitosol maupun plastida, merombak gula (sugars) menjadi asam-asam organic (organic acids) melalui heksosa fosfat dan triose fosfat menghasilkan NADH / NAPDH dan ATP. Selanjutnya NAPDH dan FADH
2

yang diperoleh dari oksidasi asam-asam

organic pada siklus asam sitrat (dalam mithokondria), maupun NADH yang dihasilkan dari glikosis (di sitosil) menyediakan energy untuk sintesis ATP yang melibatkan rantai transport electron dan ATP sintase. Selain tiu, karbon (hasil perombakan lipid di glioksisom) dapat digunakan untuk mensintesis gula (sugars) melalui siklus asam sitrat, yang dikenal dengan glukoneogenesis (merupakan proses kebalikan glikolisis). II. Tujuan Tujuan dibuatnya makalah ini adah untuk memahami proses dan manfaat respirasi, memahami tahapan-tahapan respirasi (glikolisis, PPP, siklus asam sitrat, fosforilasi oksidatif beserta lokasinya), memahami perbedaan respirasi aerob dan anaerob, memahami energy respirasi, memahami faktor-faktor yang berpengaruh terhadap respirasi.

III.

Rumusan Masalah 1. Glikolisis 2. PPP (Pentose Phospate Pathway) 3. Siklus Asam Sitrat 4. Fosforilasi Oksidatif 5. Respirasi Aerob dan Anaerob 6. Energi Respirasi 7. Faktor-faktor yang Berpengaruh pada Respirasi

Respirasi | Kelompok 7

2

BAB II I. Glikolisis Glikolisis merupakan proses pengubahan molekul sumber energi, yaitu glukosa yang mempunyai 6 atom C manjadi senyawa yang lebih sederhana, yaitu asam piruvat yang mempunyai 3 atom C. Reaksi ini berlangsung di dalam sitosol (sitoplasma). Reaksi glikolisis mempunyai sembilan tahapan reaksi yang dikatalisis oleh enzim tertentu, tetapi disini tidak akan dibahas enzim-enzim yang berperan dalam proses glikolisis ini. Dari sembilan tahapan reaksi tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua fase, yaitu fase investasi energi, yaitu dari tahap 1 sampai tahap 4, dan fase pembelanjaan energi, yaitu dari tahap 5 sampai tahap 9. Pertama-tama, glukosa mendapat tambahan satu gugus fosfat dari satu molekul ATP, yang kemudian berubah menjadi ADP, membentuk glukosa 6-fosfat. Setelah itu, glukosa 6-fosfat diubah oleh enzim menjadi isomernya, yaitu fruktosa 6-fosfat. Satu molekul ATP yang lain memberikan satu gugus fosfatnya kepada fruktosa 6-fosfat, yang membuat ATP tersebut menjadi ADP dan fruktosa 6fosfat menjadi fruktosa 1,6-difosfat. Kemudian, fruktosa 1,6-difosfat dipecah menjadi dua senyawa yang saling isomer satu sama lain, yaitu dihidroksi aseton fosfat dan PGAL (fosfogliseraldehid atau gliseraldehid 3-fosfat). Tahapantahapan reaksi diatas itulah yang disebut dengan fase investasi energi. Selanjutnya, dihidroksi aseton fosfat dan PGAL masing-masing mengalami oksidasi dan mereduksi NAD+, sehingga terbentuk NADH, dan mengalami penambahan molekul fosfat anorganik (Pi) sehingga terbentuk 1,3-

difosfogliserat. Kemudian masing-masing 1,3-difosfogliserat melepaskan satu gugus fosfatnya dan berubah menjadi 3-fosfogliserat, dimana gugus fosfat yang dilepas oleh masing-masing 1,3-difosfogliserat dipindahkan ke dua molekul ADP dan membentuk dua molekul ATP. Setelah itu, 3-fosfogliserat mengalami isomerisasi menjadi 2-fosfogliserat. Setelah menjadi 2-fosfogliserat, sebuah molekul air dari masing-masing 2-fosfogliserat dipisahkan, menghasilkan fosfoenolpiruvat. Terakhir, masing-masing fosfoenolpiruvat melepaskan gugus fosfat terakhirnya, yang kemudian diterima oleh dua molekul ADP untuk membentuk ATP, dan berubah menjadi asam piruvat.
Respirasi | Kelompok 7 3

Setiap pemecahan 1 molekul glukosa pada reaksi glikolisis akan menghasilkan produk kotor berupa 2 molekul asam piruvat, 2 molekul NADH, 4 molekul ATP, dan 2 molekul air. Akan tetapi, pada awal reaksi ini telah digunakan 2 molekul ATP, sehingga hasil bersih reaksi ini adalah 2 molekul asam piruvat (C3H4O3), 2 molekul NADH, 2 molekul ATP, dan 2 molekul air. Perlu dicatat, pencantuman air sebagai hasil glikolisis bersifat opsional, karena ada sumber lain yang tidak mencantumkan air sebagai hasil glikolisis.

Respirasi | Kelompok 7

4

II.

PPP (Pentose Phospate Pathway) Reaksi dari pentosa Pathway Fosfat

Respirasi | Kelompok 7

5

Reaksi dari PPP beroperasi secara eksklusif dalam sitoplasma. Dari perspektif ini dapat dimengerti bahwa sintesis asam lemak (sebagai lawan dari oksidasi) berlangsung di sitoplasma. Jalur pentosa fosfat memiliki baik sebagai oksidatif dan lengan non-oksidatif. langkah oksidasi, memanfaatkan glukosa-6-fosfat

(G6P) sebagai substrat, terjadi pada awal jalur dan merupakan reaksi yang menghasilkan NADPH. Reaksi dikatalisis oleh-6-fosfat dehidrogenase glukosa dan-phosphogluconate dehidrogenase 6 masing-masing satu mol NADPH enerate dari masing-masing untuk setiap mol glukosa-6-fosfat (G6P) yang masuk ke PPP. Hasil bersih dari kedua reaksi oksidatif adalah 2 mol NADPH per mol G6P. Reaksi non oksidatif PPP terutama dirancang untuk menghasilkan R5P. Sama reaksi penting dari PPP adalah untuk mengkonversi diet gula 5 karbon ke kedua 6
Respirasi | Kelompok 7 6

(fruktosa-6-fosfat) dan 3 (gliseraldehida-3-fosfat) karbon gula yang kemudian dapat dimanfaatkan oleh jalur glikolisis. Enzim-enzim utama yang terlibat dalam langkah-langkah non-oksidatif dari PPP transaldolase dan transketolase: Fungsi Transketolase untuk mentransfer 2 kelompok karbon dari substrat dari PPP, sehingga mengatur ulang atom karbon yang masuk jalur ini. Seperti enzim lain yang mentransfer 2 kelompok karbon, transketolase membutuhkan tiamin pirofosfat (TPP) sebagai faktor-rekan dalam reaksi transfer. Transaldolase transfer 3 kelompok karbon dan dengan demikian juga terlibat dalam penyusunan kembali kerangka karbon dari substrat dari PPP. Reaksi

transaldolase melibatkan Schiff pembentukan dasar antara substrat dan residu lisin dalam enzim. Hasil bersih dari PPP, jika tidak digunakan semata-mata untuk produksi R5P, adalah oksidasi G6P, gula karbon 6, ke dalam gula 5 karbon. Pada gilirannya, 3 mol karbon gula 5 dikonversi, melalui enzim dari PPP, kembali ke dua mol gula 6 karbon dan satu mol 3 gula karbon. The gula 6 karbon dapat diolah kembali menjadi jalur dalam bentuk G6P, menghasilkan NADPH lebih. Gula yang

dihasilkan adalah karbon 3 gliseraldehida-3-phsphate yang dapat didorong untuk glikolisis dan teroksidasi menjadi piruvat. Atau, dapat dimanfaatkan oleh enzim untuk menghasilkan karbon gluconeogenic gula 6 lebih (fruktosa-6-fosfat atau glukosa-6-fosfat).

III.

Siklus Asam Sitrat Siklus ini merupakan kelanjutan dari glikolisis, yang terjadi dalam matriks mitokondria. Dengan urutan sebagai berikut : Reaksi 1 : Kondensasi Gugus berkarbon 2, asetil KoA, bergabung dengan molekul berkarbon 4, oksaloasetat, membentuk molekul berkarbon 6, yaitu sitrat. Reaksi ini tidak dapat balik (irreversible). Reaksi 2 dan 3 : Isomerasi

Respirasi | Kelompok 7

7

Supaya reaksi oksidasi dapat berlangsung, gugus hidroksil (-OH) pada sitrat harus diatur kembali. Ini terjadi melalui dua tahap. Pertama, molekul air dibuang dari satu karbon. Kemudian, air ditambahkan ke karbon yang berbeda. Hasilnya, gugus –H dan –OH bertukar posisi. Produknya adalah isomer sitrat yang disebut isositrat. Reaksi 4 : Oksidasi pertama Isositrat mengalami reaksi dekarboksilasi oksidatif. Mula-mula isositrat dioksidasi, menghasilkan sepasang elektron, dan mengubah NAD+ menjadi NADH. Kemudian terjadi dekarboksilasi. Atom karbon membelah membentuk CO2 , menghasilkan molekul berkarbon 5, yaitu α-ketoglutarat. Reaksi 5 : Oksidasi kedua Α-ketoglutarat didekarboksilasi oleh kompleks multi enzim yang mirip dengan piruvat dihidrogenase. Setelah CO2 terbuang, yang tersisa adalah gugus suksinil yang bergabung dengan koA membentuk suksinil-KoA. Dalam proses tersebut, terjadi reduksi NAD+ menjadi NADH dan dihasilkan 2 elektron. Reaksi 6 : Fosforilasi Ikatan antar gugus berkarbon 4 suksinil dan KoA adalah ikatan berenergi tinggi. Melalui reaksi yang mirip dengan yang terjadi pada glikolosis, ikatan ini memisah. Energi yang dilepaskan memicu fosforilasi guanosin difosfat (GDP)menjadi guanosin trisfosfat (GTP). GTP siap diubah menjadi ATP. Fragmen berkarbon 4 yang terbentuk disebut suksinat. Reaksi 7 : Oksidasi Ketiga Suksinat dioksidasi menjadi fumarat. Yang ber[eran sebagai penerima elektron adalah flavin adenin dinukleotida (FAD). FAD merupakan bagian dari membran dalam mitokondria. FAD melepaskan elektron dan menjadi FADH2. Reaksi 8 dan 9 : Pembentukan kembali Oksaloasetat Pada reksi terakhir, molekul air ditambahkan pada fumarat untuk memebentuk malat. Malat kemudian teroksidasi menghasilkanosaloasetat berkarbon 4 dan 2 elektron sehingga NAD+ berubah menjadi NADH. Oksaloasetat dapat bergabung dengan gugus asetil berkarbon 2, asetil KoA, dan siklus kembali berulang (Raven et al. 2005). Atau yang lebih sederhana

Respirasi | Kelompok 7

8

1. Asam piruvat (dari glikolisis) bereaksi dengan NAD + KoA → Asetil KoA dengan mengeluarkan CO2 dan NADH2. 2. Asetil KoA + Asam oksaloasetat → Asam sitrat dengan mengeluarkan KoA. 3. Asam sitrat + NAD → Asam α ketoglutarat dengan mengeluarkan CO2. 4. Asam α ketoglutarat + NAD → Asam suksinat dengan mengelurkan NADH2 dan CO2. 5. Asam suksinat + FAD → Asam Malat dengan mengeluarkan FADH2 (a). 6. Asam malat + NAD → Asam Oksaloasetat dengan mengeluarkan NADH2 (b). (a) dan (b) akan masuk kedalam TER. PRODUK Menghasilkan 2 molekul ATP per molekul glukosa, sama dengan yang dihasilkan Glikolisis, Asam oksaloasetat (OAA) berfungsi sebagai ―karier‖ (pembawa) bagi asam piruvat masuk kedalam lintasan. Senyawa intermediet pada siklus krebs : asam piruvat, asam sitrat, α-ketoglutarat, asam suksinat, asam fumarat, asam malat, asam oksaloasetat.

IV.

Fosforilasi Oksidatif Fosforilasi oksidatif adalah suatu lintasan metabolisme yang menggunakan energi yang dilepaskan oleh oksidasi nutrien untuk menghasilkan adenosina trifosfat

Respirasi | Kelompok 7

9

(ATP). Walaupun banyak bentuk kehidupan di bumi menggunakan berbagai jenis nutrien, hampir semuanya menjalankan fosforilasi oksidatif untuk menghasilkan ATP. Lintasan ini sangat umum digunakan karena ia merupakan cara yang sangat efisien untuk melepaskan energi, dibandingkan dengan proses fermentasi alternatif lainnya seperti glikolisis anaerobik. Selama fosforilasi oksidatif, elektron ditransfer dari pendonor elektron ke penerima elektron melalui reaksi redoks. Reaksi redoks ini melepaskan energi yang digunakan untuk membentuk ATP. Pada eukariota, reaksi redoks ini dijalankan oleh serangkaian kompleks protein di dalam mitokondria, manakala pada prokariota, protein-protein ini berada di membran dalam sel. Enzim-enzim yang saling berhubungan ini disebut sebagai rantai transpor elektron. Pada eukariota, lima kompleks protein utama terlibat dalam proses ini, manakala pada prokariota, terdapat banyak enzim-enzim berbeda yang terlibat. Energi yang dilepaskan oleh perpindahan elektron melalui rantai transpor elektron ini digunakan untuk mentranspor proton melewati membran dalam mitokondria. Proses ini disebut kemiosmosis. Transpor ini menghasilkan energi potensial dalam bentuk gradien pH dan potensial listrik di sepanjang membran ini. Energi yang tersimpan dalam bentuk ini dimanfaatkan dengan cara mengijinkan proton mengalir balik melewati membran melalui enzim yang disebut ATP sintase. Enzim ini menggunakan energi seperti ini untuk menghasilkan ATP dari adenosina difosfat (ADP) melalui reaksi fosforilasi. Reaksi ini didorong oleh aliran proton, yang mendorong rotasi salah satu bagian enzim. Walaupun fosforilasi oksidatif adalah bagian vital metabolisme, ia menghasilkan spesi oksigen reaktif seperti superoksida dan hidrogen peroksida. Hal ini dapat mengakibatkan pembentukan radikal bebas, merusak sel tubuh, dan kemungkinan juga menyebabkan penuaan. Enzim-enzim yang terlibat dalam lintasan metabolisme ini juga merupakan target dari banyak obat dan racun yang dapat menghambat aktivitas enzim.

V.

Respirasi Aerob dan Anaerob Pada hakikatnya, respirasi adalah pemanfaatan energi bebas dalam makanan menjadi energi bebas yang ditimbun dalam bentuk ATP. Dalam sel, ATP digunakan sebagai sumber energi bagi seluruh aktivitas hidup yang memerlukan energi. Menurut Campbell et al. (2002), aktivitas hidup yang memerlukan energi antara lain, kerja mekanis (kontraktil dan motilitas), transpor aktif (mengangkut molekul zat atau ion yang melawan gradien konsentrasi zat), produksi panas (bagi tubuh burung dan hewan menyusui). Namun, selain ketiga tujuan tersebut, energi dibutuhkan oleh tubuh untuk transfer materi genetik dan metabolisme sendiri. Respirasi merupakan fungsi kumulatif dari tiga tahapan metabolik yaitu glikolisis, siklus krebs, rantai transport electron dan fosforilasi oksidatif (gambar 4). Dua tahapan yang pertama, glikolisis dan siklus krebs merupakan jalur katabolic yang menguraikan glukosa dan bahan bakar organik

Respirasi | Kelompok 7

10

lainnya.

Gambar 4. Gambaran umum respirasi seluler pada eukarioti. Sumber: Pearson education inc. Gambar 4 menunjukkan bahwa glikolisis terjadi dalam sitosol dan mengawali perombakan dengan pemecahan glukosa menjadi dua molekul senyawa piruvat. Siklus krebs terjadi dalam mitokondria dengan menguraikan turunan piruvat menjadi karbodioksida. Dengan demikian, karbondioksida yang dihasilkan respirasi dan biasanya dikeluarkan oleh organisme ke udara merupakan fragmen dari molekul organik yang teroksidasi. Sebagian tahap glikolisis dan daur krebs merupakan reaksi redoks di mana enzim dehidrogenase mentransfer electron dari substrat ke NAD+ dan membentuk NADH. Pada langkah ketiga respirasi, rantai transport elektron menerima elektron dari produk hasil perombakan kedua langkah yang pertama tersebut dan melewatkan electron ini dari satu molekul ke molekul yang lain. pada akhir rantai ini, elektron digabungkan dengan ion hydrogen dan oksigen melekuler untuk membentuk air. Energi yang dilepas dari rantai tersebut disimpan dalam suatu bentuk dan digunakan oleh mitokondria untuk membuat ATP. Modus sintesis ATP ini disebut fosforilasi oksidatif karena digerakkan oleh reaksi redoks yang mentransfer elektron dari makanan oksigen. Selama respirasi seluler, pemanenan energi makanan untuk sintesis ATP jika satu molekul glukosa terurai secara sempurna maka fosforilasi tingkat substrat menghasilkan 4 ATP dan fosforilasi oksidatif menghasilkan 34 ATP. Proses
Respirasi | Kelompok 7 11

oksidasi satu molekul glukosa dapat memanen energi sebanyak 38 ATP. Sementara itu, dalam oksidasi sempurna satu molekul glukosa melepaskan 686 kkal (DG = -686 kkal/mol), dan fosforilasi ADP menjadi ATP menyimpan sedikitnya 7,3 kkal per mol ATP. Oleh karena itu, efisiensi respirasi adalah 7,3 kali 38 dibagi 686, atau kira-kira 40%. Sedangkan sisa energi simpanan hilang sebagai panas untuk mempertahankan suhu tubuh, dan menghamburkan sisanya melalui keringat dan mekanisme pendinginan lainnya Dalam keadaan normal, respirasi seluler organisme dilakukan melalui proses fosforilasi oksidatif yang memerlukan oksigen bebas. Sehingga hasil ATP respirasi sangat tergantung pada pasokan oksigen yang cukup bagi selnya. Tanpa oksigen elektronegatif untuk menarik electron pada rantai transport electron, fosforilasi oksidatif akan terhenti. Akan tetapi, fermentasi memberikan suatu mekanisme sehingga sebagian sel dapat mengoksidasi makanan dan menghasilkan ATP tanpa bantuan oksgen. Misalnya, pada tumbuhan darat yang tanahnya tergenang air sehingga akar tidak dapat melakukan respirasi aerob karena kadar oksigen dalam rongga tanah sangat rendah. Secara prosedural, fermentasi merupakan suatu perluasan glikolisis yang dapat menghasilkan ATP hanya dengan fosforilasi tingkat substrat sepanjang terdapat pasokan NAD+ yang cukup untuk menerima electron selama langkah oksidasi dalam glikolisis. Mekanisme fermentasi tidak dapat mendaur ulang NAD+ dari NADH karena tidak mempunyai agen pengoksidasi (kondisi anaerob). Sehingga yang terjadi adalah NADH melakukan transfer electron ke piruvat atau turunan piruvat. Berikut bahasan terhadap dua macam fermentasi yang umum yaitu fermentasi alcohol dan fermentasi asam laktat. Fermentasi alkohol Fermentasi alkohol biasanya dilakukan oleh ragi dan bakteri yang banyak digunakan dalam pembuatan bir dan anggur. Pada Fermentasi alkohol, piruvat diubah menjadi etanol dalam dua langkah. Langkah pertama menghidrolisis piruvat dengan molekul air sehingga melepaskan karbondioksida dari piruvat dan mengubahnya menjadi asetaldehida berkarbon dua. Dalam langkah kedua, asetaldehida direduksi oleh NADH menjadi etanol sehingga meregenerasi pasokan NAD+ yang dibutuhkan untuk glikolisis. Fermentasi asam laktat Fermentasi asam laktat banyak dilakukan oleh fungi dan bakteri tertentu digunakan dalam industri susu untuk membuat keju dan yogurt. Aseton dan methanol merupakan beberapa produk samping fermentasi mikroba jenis lain yang penting secara komersil. Dalam fermentasi asam laktat, piruvat direduksi langsung oleh NADH untuk membentuk laktat sebagai produk limbahnya, tanpa melepaskan CO2. Pada sel otot manusia, fermentasi asam laktat dilakukan apabila suplay oksigen tubuh kurang. Laktat yang terakumulasi sebagai produk limbah dapat menyebabkan otot letih dan nyeri, namun secara perlahan diangkut oleh darah ke hati untuk diubah kembali menjadi piruvat.

Respirasi | Kelompok 7

12

VI.

Energi Respirasi Respirasi yaitu suatu proses pembebasan energi yang tersimpan dalam zat sumber energi melalui proses kimia dengan menggunakan oksigen. Dari respirasi akan dihasilkan energi kimia ATP untak kegiatan kehidupan, seperti sintesis (anabolisme), gerak, pertumbuhan. Contoh: Respirasi pada Glukosa, reaksi sederhananya: C6H,206 + 6 02———————————> 6 H2O + 6 CO2 + Energi (gluLosa) Reaksi pembongkaran glukosa sampai menjadi H20 + CO2 + Energi, melalui tiga tahap : 1. Glikolisis. 2. Daur Krebs. 3. Transpor elektron respirasi. 1. Glikolisis: Peristiwa perubahan : Glukosa Þ Glulosa - 6 - fosfat Þ Fruktosa 1,6 difosfat Þ 3 fosfogliseral dehid (PGAL) / Triosa fosfat Þ Asam piravat. Jadi hasil dari glikolisis : - 2 molekul asam piravat. - 2 molekul NADH yang berfungsi sebagai sumber elektron berenergi tinggi. - 2 molekul ATP untuk setiap molekul glukosa. 2. Daur Krebs (daur trikarbekdlat): Daur Krebs (daur trikarboksilat) atau daur asam sitrat merupakan pembongkaran asam piravat secara aerob menjadi CO2 dan H2O serta energi kimia 3. Kemosintesis Tidak semua tumbuhan dapat melakukan asimilasi C menggunakan cahaya sebagai sumber energi. Beberapa macam bakteri yang tidak mempunyai klorofil dapat mengadakan asimilasi C dengan menggunakan energi yang berasal dan reaksi-reaksi kimia, misalnya bakteri sulfur, bakteri nitrat, bakteri nitrit, bakteri besi dan lain-lain. Bakteri-bakteri tersebut memperoleh energi dari hasil oksidasi senyawa-senyawa tertentu. Bakteri besi memperoleh energi kimia dengan cara oksidasi Fe2+ (ferro) menjadi Fe3+ .

Respirasi | Kelompok 7

13

Bakteri Nitrosomonas dan Nitrosococcus memperoleh energi dengan cara mengoksidasi NH3, tepatnya Amonium Karbonat menjadi asam nitrit dengan reaksi: Nitrosomonas (NH4)2CO3 + 3 O2—————> 2 HNO2 + CO2 + 3 H20 + Energi Nitrosococcus 1. Sintesis Lemak Lemak dapat disintesis dari karbohidrat dan protein, karena dalam metabolisme, ketiga zat tersebut bertemu di dalarn daur Krebs. Sebagian besar pertemuannya berlangsung melalui pintu gerbang utama siklus (daur) Krebs, yaitu Asetil Koenzim A. Akibatnya ketiga macam senyawa tadi dapat saling mengisi sebagai bahan pembentuk semua zat tersebut. Lemak dapat dibentuk dari protein dan karbohidrat, karbohidrat dapat dibentuk dari lemak dan protein dan seterusnya. Sintesis Lemak dari Karbohidrat : Glukosa diurai menjadi piruvat ———> gliserol. Glukosa diubah ———> gula fosfat ———> asetilKo-A ———> asam lemak. Gliserol + asam lemak ———> lemak. Sintesis Lemak dari Protein: Protein———————> Asam Amino (protease) Sebelum terbentuk lemak asam amino mengalami deaminasi lebih dabulu, setelah itu memasuki daur Krebs. Banyak jenis asam amino yang langsung ke asam piravat ———> Asetil Ko-A. Asam amino Serin, Alanin, Valin, Leusin, Isoleusin dapat terurai menjadi Asam pirovat, selanjutnya asam piruvat ——> gliserol —— > fosfogliseroldehid Fosfogliseraldehid dengan asam lemak akan mengalami esterifkasi membentuk lemak. Lemak berperan sebagai sumber tenaga (kalori) cadangan. Nilai kalorinya lebih tinggi daripada karbohidrat. 1 gram lemak menghasilkan 9,3 kalori, sedangkan 1 gram karbohidrat hanya menghasilkan 4,1 kalori saja. 2. Sintesis Protein Sintesis protein yang berlangsung di dalam sel, melibatkan DNA, RNA dan Ribosom. Penggabungan molekul-molekul asam amino dalam jumlah besar akan membentuk molekul polipeptida. Pada dasarnya protein adalah suatu polipeptida. Setiap sel dari organisme mampu untuk mensintesis protein-protein tertentu yang sesuai dengan keperluannya. Sintesis protein dalam sel dapat terjadi karena pada
Respirasi | Kelompok 7 14

inti sel terdapat suatu zat (substansi) yang berperan penting sebagai "pengatur sintesis protein". Substansi- substansi tersebut adalah DNA dan RNA

VII.

Faktor-faktor yang Berpengaruh pada Respirasi

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap respirasi yaitu : 1. Temperatur Karena respirasi adalah reaksi kimia murni, maka prosesnya sangat dipengaruhi temperature Q10 respirasi = 2-3 untuk kecambah menunjukkan bahwa Q10 dan diatas 400C respirasi menurun dengan jelas, karena protein enzim rusak. 2. Oksigen a. Mengoksidasi:    NAD NAPH2 FADH2

b. Mengurangi respirasi anaerobic c. Siklus krebs berlangsung Oksigen berkurang respirasi aerob terhambat

Ketersediaan oksigen akan mempengaruhi laju respirasi, namun besarnya pengaruh tersebut berbeda bagi masing-masing spesies dan bahkan berbeda antara organ pada tumbuhan yang sama. Fluktuasi normal kandungan oksigen di udara tidak banyak mempengaruhi laju respirasi, karena jumlah oksigen yang dibutuhkan tumbuhan untuk berrespirasi jauh lebih rendah dari oksigen yang tersedia di udara. 3. Kadar CO2 a. CO2 b. CO2 4. Cahaya respirasi meracuni tanaman dan respirasi fotorespirasi

5. Garam-garam anorganik 6. Stimulasi mekanik 7. Luka dan infeksi
Respirasi | Kelompok 7 15

8. Keadaan protoplasma 9. Bahan bakar 10. Hidrasi 11. Tipe dan Umur Tumbuhan Masing-masing spesies tumbuhan memiliki perbedaan metabolsme, dengan demikian kebutuhan tumbuhan untuk berespirasi akan berbeda pada masingmasing spesies. Tumbuhan muda menunjukkan laju respirasi yang lebih tinggi dibanding tumbuhan yang tua. Demikian pula pada organ tumbuhan yang sedang dalam masa pertumbuhan.

Respirasi | Kelompok 7

16

BAB III I. Pertanyaan 1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan glikolisis dan dimana berlangsungnya glikolisis tersebut? 2. a. Apa yang dimaksud dengan PPP (Pentose Phospate Pathway), dan dimana berlangsungnya? b. Bagaimana hubungan antara PPP dan glikolisis. Jelaskan! 3. a. Jelaskan mengapa siklus Krebs dinamakan juga siklus Krebs dinamakan juga siklus asam sitrat, dan dimana berlangsungnya proses tersebut! b. Berapa ATP yang dihasilkan dari 1 molekul glukosa pada tahapan siklus Krebs? 4. a. Jelaskan mengenai Fosforilasi oksidatif dan dimana berlangsungnya proses tersebut! b. Tuliskan di bagian mana pada mithokondria terdapat pembentukan ATP! 5. a. Apa yang dimaksud dengan respirasi aerob dan anaerob? b. berapa ATP yang dihasilkan dari respirasi aerob dan anaerob? 6. Saat ini sedang terjadi curah hujan yang cukup tinggi, sehingga banyak tanaman tergenang, yang mengakibatkan ketersediaan oksigen bagi akar berkurang (Hipoksia). Jelaskan bagaimana dampak negative pada tanaman yang mengalami hipoksia yang dihubungkan dengan produktivitas tanaman.

II.

Jawaban

1. Glikolisis adalah serangkaian reaksi biokimia di mana glukosa dioksidasi menjadi molekul asam piruvat. Glikolisis adalah salah satu proses metabolisme yang paling universal yang kita kenal, dan terjadi (dengan berbagai variasi) di banyak jenis sel dalam hampir seluruh bentuk organisme. Proses glikolisis sendiri menghasilkan lebih sedikit energi per molekul glukosa dibandingkan dengan oksidasi aerobik yang sempurna. Energi yang dihasilkan disimpan dalam senyawa organik berupa ATP dan NADH. Produk yang dihasilkan : 2 molekul asam piruvat, 2 molekul ATP, 2 molekul NADH
Respirasi | Kelompok 7 17

2. a. Pentosa phospate pathway merupakan jaur alternatif glikolisis dalam katabolisme glukosa yang melibatkan perubahan awal glikosa-fosfat menjadi fosfo glukonat. b. Jalur pentosa fosfat (juga disebut jalur phosphogluconate dan heksosa monofosfat shunt) adalah proses yang menghasilkan NADPH dan pentosa (5 karbon gula ).. Ada dua tahap yang berbeda dalam jalur. Yang pertama adalah oksidatif fase, di mana NADPH dihasilkan, dan yang kedua adalah sintesisoksidatif non-karbon gula 5. Jalur ini adalah sebuah alternatif untuk glikolisis . Sementara hal itu melibatkan oksidasi glukosa pada tahap glikolisis gukosa membutuhkan 2 ATP untuk menjadi Glukosa fosfat. Dalam proses tersebut dibantu oleh hexoginase dan glukoginase. Kemudian Glukosa fosfat akan diubah menjadi triosa fosfat (yang ekuivalensinya 2) menjadi piruvat. Piruvat kemudian diubah menjadi asetil KoA dibantu oleh enzim PDH (piruvat dehid)

Respirasi | Kelompok 7

18

3. a. Siklus Krebs adalah reaksi antara asetil ko-A dengan asam oksaloasetat, yang kemudian membentuk asam sitrat. Siklus Krebs disebut juga dengan siklus asam sitrat, karena menggambarkan langkah pertama dari siklus tersebut, yaitu penyatuan asetil ko-A dengan asam oksaloasetat untuk membentuk asam sitrat. Tempat terjadinya siklus kerbs adalah di matriks mitokondria. b. Dari siklus Krebs ini, dari setiap molekul glukosa akan dihasilkan 2 ATP, 6 NADH, 2 FADH2, dan 4 CO2.

4. a. Fosforilasi oksidatif adalah suatu lintasan metabolisme yang menggunakan energi yang dilepaskan oleh oksidasi nutrien untuk menghasilkan ATP, dan mereduksi gas oksigen menjadi air b. Fosforilisasi oksidatif terjadi dalam kompleks protein membrane dalam mitokondria.

5. a. Respirasi aerob adalah suatu proses pernapasan yang membutuhkan iksigen dari udara. Ada beberapa tumbuhan yang kegiatan respirasinya menurun bila konsentrasi oksigen di udara dibawah normal, misalnya bayam, wortel dan bebrapa tumbuhan lainnya

Respirasi | Kelompok 7

19

Respirasi anaerob dapat pula disebut fermentasi atau respirasi intramolekul. Tujuan fermentasi sama dengan respirasi aerob, yaitu mendapatkan energy. Hanya saja energi yang dihasilkan jauh lebih sedikit dari respirasi aerob.

Respirasi anaerob: C6H12O6 ------ 2 C2H5OH + 2CO2 + 21 kal + 2 ATP

Respirasi aerob : C6H12O6 ---- 6 CO2 + 6 H2O + 675 kal + 38 ATP
Respirasi | Kelompok 7 20

b. Dari proses ini dihasilkan CO2 dan H2O serta energy yang lebih banyak , yaitu 38 ATP.

6. Molekul-kekurangan oksigen menyebabkan metabolisme sel berubah dan secara dramatis dapat mengurangi produktivitas tanaman. dan durasi konsumsi karbohidrat dan metabolisme anaerobik.. Peningkatan produksi alkohol dehidrogenase, yang diperlukan untuk fermentasi anaerob, paradoks melibatkan pembentukan spesies oksigen reaktif. Aktivasi Rho tanaman (ROP) G-protein menghasilkan peningkatan hidrogen peroksida yang berkorelasi dengan ketinggian ekspresi alkohol dehidrogenase. Toleransi kekurangan oksigen membutuhkan baik aktivasi dan inaktivasi protein-G dengan peraturan negatif-umpan balik, bahwa besarnya dan durasi sinyal dapat memberikan toleransi terhadap kekurangan oksigen melalui manajemen konsumsi karbohidrat dan mencegah terjadinya stres oksidatif.

III.

Kesimpulan Respirasi dalam biologi adalah proses mobilisasi energi yang dilakukan jasad hidup melalui pemecahan senyawa berenergi tinggi (SET) untuk digunakan dalam menjalankan fungsi hidup. Dalam pengertian kegiatan kehidupan sehari-hari, respirasi dapat disamakan dengan pernapasan. Namun demikian, istilah respirasi mencakup proses-proses yang juga tidak tercakup pada istilah pernapasan. Respirasi terjadi pada semua tingkatan organisme hidup, mulai dari individu hingga satuan terkecil, sel. Apabila pernapasan biasanya diasosiasikan dengan penggunaan oksigen sebagai senyawa pemecah, respirasi tidak melulu melibatkan oksigen. Pada dasarnya, respirasi adalah proses oksidasi yang dialami SET sebagai unit penyimpan energi kimia pada organisme hidup. SET, seperti molekul gula atau asam-asam lemak, dapat dipecah dengan bantuan enzim dan beberapa molekul sederhana. Karena proses ini adalah reaksi eksoterm (melepaskan energi), energi yang dilepas ditangkap oleh ADP atau NADP membentuk ATP atau NADPH. Pada gilirannya, berbagai reaksi biokimia endotermik (memerlukan energi) dipasok kebutuhan energinya dari kedua kelompok senyawa terakhir ini. Kebanyakan respirasi yang dapat disaksikan manusia memerlukan oksigen sebagai oksidatornya. Reaksi yang demikian ini disebut sebagai respirasi aerob. Namun demikian, banyak proses respirasi yang tidak melibatkan oksigen, yang disebut respirasi anaerob. Yang paling biasa dikenal orang adalah dalam proses

Respirasi | Kelompok 7

21

pembuatan alkohol oleh khamir Saccharomyces cerevisiae. Berbagai bakteri anaerob menggunakan belerang (atau senyawanya) atau beberapa logam sebagai oksidator. Respirasi dilakukan pada satuan sel. Proses respirasi pada organisme eukariotik terjadi di dalam mitokondria.

Respirasi | Kelompok 7

22

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->