Manajemen Nyeri (disertai Tips Mengatasi Nyeri) Posted on 24 November 2010 by andaners

Keluhan nyeri merupakan keluahan yang paling umum kita temukan/dapatkan ketika kita sedang melakukan tugas kita sebagai bagian dari tim kesehatan, baik itu di tataran pelayanan rawat jalan maupun rawat inap, yang karena seringnya keluhan itu kita temukan kadang kala kita sering menganggap hal itu sebagai hal yang biasa sehingga perhatian yang kita berikan tidak cukup memberikan hasil yang memuaskan di mata pasien. Nyeri sesunggguhnya tidak hanya melibatkan persepsi dari suatu sensasi, tetapi berkaitan juga dengan respon fisiologis, psikologis, sosial, kognitif, emosi dan perilaku, sehingga dalam penangananyapun memerlukan perhatian yang serius dari semua unsur yang terlibat di dalam pelayanan kesehatan, untuk itu pemahaman tentang nyeri dan penanganannya sudah menjadi keharusan bagi setiap tenaga kesehatan, terutama perawat yang dalam rentang waktu 24 jam sehari berinteraksi dengan pasien. DEFINISI Menurut IASP 1979 (International Association for the Study of Pain) nyeri adalah “ suatu pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan, yang berkaitan dengan kerusakan jaringan yang nyata atau yang berpotensi untuk menimbulkan kerusakan jaringan “, dari definisi tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa nyeri bersifat subyektif dimana individu mempelajari apa itu nyeri, melalui pengalaman yang langsung berhubungan dengan luka (injuri), yang dimulai dari awal masa kehidupannya. Pada tahun 1999, the Veteran’s Health Administration mengeluarkan kebijakan untuk memasukan nyeri sebagai tanda vital ke lima, jadi perawat tidak hanya mengkaji suhu tubuh, nadi, tekanan darah dan respirasi tetapi juga harus mengkaji tentang nyeri. Sternbach (1968) mengatakan nyeri sebagai “konsep yang abstrak” yang merujuk kepada sensasi pribadi tentang sakit, suatu stimulus berbahaya yang menggambarkan akan terjadinya kerusakan jaringan, suatu pola respon untuk melindungi organisme dari bahaya. McCaffery (1979) mengatakan nyeri sebagai penjelasan pribadi tentang nyeri ketika dia mengatakan tentang nyeri “ apapun yang dikatakan tentang nyeri dan ada dimanapun ketika dia mengatakan hal itu ada “.

TIPE NYERI Pada tahun 1986, the National Institutes of Health Consensus Conference on Pain mengkategorisasikan nyeri menjadi tiga tipe yaitu Nyeri akut merupakan hasil dari injuri akut, penyakit atau pembedahan, Nyeri kronik non keganasan dihubungkan dengan kerusakan jaringan yang dalam masa penyembuhan atau tidak progresif dan Nyeri kronik keganasan adalah nyeri yang dihubungkan dengan kanker atau proses penyakit lain yang progresif. RESPON TERHADAP NYERI Respon terhadap nyeri meliputi respon fisiologis dan respon perilaku. Untuk nyeri akut repon fisiologisnya adalah adanya peningkatan tekanan darah (awal), peningkatan denyut nadi, peningkatan pernapasan, dilatasi pupil, dan keringat dingin, respon perilakunya adalah gelisah, ketidakmampuan berkonsentrasi, ketakutan dan disstress. Sedangkan pada nyeri kronis respon fisiologisnya adalah tekanan darah normal, denyut nadi normal, respirasi normal, pupil normal, kulit kering, dan respon perilakunya berupa imobilisasi atau ketidak aktifan fisik, menarik diri, dan putus asa, karena tidak ditemukan gejala dan tanda yang mencolok dari nyeri kronis ini maka tugas tim kesehatan, perawat khususnya menjadi tidak mudah untuk dapat mengidentifikasinya.. HAMBATAN DALAM MEMBERIKAN MANAJEMEN NYERI YANG TEPAT Menurut Blumenfield (2003), secara garis besar ada 2 hambatan dalam manajemen nyeri yaitu : 1. Ketakutan akan timbulnya adiksi Seringkali pasien, keluarga, bahkan tenaga kesehatanpun mempunyai asumsi akan terjadinya adiksi terhadap penggunaan analgetik bagi pasien yang mengalami nyeri, adiksi sering persepsikan sama dengan pengertian toleransi dan ketergantungan fisik. Ketergantungan fisik adalah munculnya sindrom putus zat akibat penurunan dosis zat psikoaktif atau penghentian zat psikoaktif secara mendadak. Toleransi adalah kebutuhan untuk terus meningkatkan dosis zat psikoaktif guna mendapatkan efek yang sama, sedangkan adiksi adalah suatu perilaku yang merujuk kepada penggunaan yang berulang dari suatu zat psikoaktif, meskipun telah diketahui adanya efek yang merugikan. Ketakutan tersebut akan lebih nyata pada pasien atau keluarga dengan riwayat penyalahgunaan alkohol atau zat psikoaktif lainnya, mereka biasanya takut untuk mendapatkan pengobatan nyeri dengan menggunakan analgetik apalagi bila obat itu merupakan golongan narkotika. Hal ini salah satunya disebabkan oleh minimnya informasi yang mereka dapatkan mengenai hal itu, sebagai bagian dari tim yang terlibat dalam pelayanan kesehatan perawat semestinya mempunyai kapasitas yang cukup hal tersebut diatas. 2. Pengetahuan yang tidak adekuat dalam manajemen nyeri Pengetahuan yang tidak memadai tentang manajemen nyeri merupakan alasan yang paling umum yang memicu terjadinya manjemen nyeri yang tidak memadai tersebut, untuk itu perbaikan kualitas pendidikan sangat diperlukan sehingga tercipta tenaga kesehatan yang handal, salah satu terobosan yang sudah dilakukan adalah dengan masuknya topik nyeri dalam modul PBL dalam pendidikan keperawatan, hal ini diharapkan dapat menjadi percepatan dalam pendidikan profesi keperawatan menuju kepada perawat yang profesional. Dalam penanganan nyeri, pengkajian merupakan hal yang mendasar yang menentukan dalam kualitas penanganan nyeri, pengkajian yang terus menerus harus dilakukan baik pada saat awal mulai teridentifikasi nyeri sampai saat

Faktor-faktor yang berhubungan dengan staf medis Petugas kesehatan (dokter. dsb) seringkali cenderung berpikiran bahwa pasien seharusnya dapat menahan terlebih dahulu nyerinya selama yang mereka bisa. kultural dan spiritual. baik itu yang memang dapat kita terima dengan kajian logika maupun yang sama sekali tidak bisa kita nalar walaupun kita telah berusaha memaksakan untuk menalarkannya. pada kondisi CKB misalnya. diantara kelima metode tersebut diatas 0 – 10 Numeric Pain Distress Scale yang paling sering digunakan. Nyeri bukan hanya unik karena sangat berbeda satu dengan yang lainnya mengingat sifatnya yang individual. Pendekatan non farmakologik biasanya menggunakan terapi perilaku (hipnotis. karena bisa saja nyeri itu menjadi nyeri sedang atau bahkan nyeri yang berat. dimana pasien dengan ca serviks stadium IIIa merasa nyeri pada kuadran kiri bawah abdomennya. pelemas otot/relaksasi. biofeedback). perawat. apakah kondisi seperti ini dapat terus dibiarkan tanpa penanganan? Apakah ketakutan untuk terjadinya adiksi apabila mendapatkan analgetik dapat menyelesaikan masalah ? b. sedangkan 5 adalah nyeri yang dirasakan sudah bertaraf sedang PENANGANAN NYERI 1. sosial. Manajemen nyeri non farmakologik. Visual Analog Scale (VAS). sehingga perlu dinilai secara berulang-ulang dan berkesinambungan. nyeri itu dapat diselesaikan tanpa dengan medikasi sama sekali. Percent Relief Scale serta 0 – 10 Numeric Pain Distress Scale . yang dipengaruhi oleh faktor biologis. Sebuah kasus . Ketika pasien masuk ke dunia rumah sakit sebenarnya ia telah “siap” untuk menerima aturan dan konsekuensi di dunia tersebut. Pain Relief Visual Analog Scale. imajinasi dan terapi fisik.akupuntur. pernah suatu ketika saya dinas di ruang perawatan penyakit kanker pada sistem reproduksi/DDS. restrukturisasi kognisi. Ada beberapa perangkat yang dapat digunakan untuk menilai nyeri yaitu Simple Descriptive Pain Distress Scale. Faktor-faktor yang berhubungan dengan pasien Pasien adalah manusia yang mempunyai kemampuan adaptif. Hal tersebut jelas menggambarkan bahwa kadang-kadang. karena “takut” dianggap tidak menyenangkan oleh “petugas” atau biar dapat menyenangkan dimata “petugas” maka ia akan “menahan” informasi yang menyatakan bahwa ia sekarang sedang mengalami nyeri. berikut ini adalah faktorfaktor yang mungkin dapat menerangkan mengapa nyeri tidak mendapatkan medikasi sama sekali: a. sehingga kadang-kadang. atau karena kondisi fisiknya yang menyebabkan ia tidak mampu untuk mengatakan bahwa ia nyeri.setelah intervensi. Pada beberapa kasus seringkali nyeri ini juga merupakan suatu cara agar ia mendapatkan perhatian yang lebih dari petugas kesehatan. dimana pasien diminta untuk “merating” rasa nyeri tersebut berdasarkan skala penilaian numerik mulai angka 0 yang berarti tidak da nyeri sampai angka 10 yang berarti puncak dari rasa nyeri. dan itupun harus kita evaluasi secara komprehensif. terapi kognitif (distraksi). psikologis. mengingat nyeri adalah suatu proses yang bersifat dinamik. apalagi apabila ia merasa sudah melakukan apa yang menjadi kewajibannya sebagai seorang . sebelum meminta obat atau penangannya. hal ini mungkin dapat dibenarkan ketika kita telah mengetahui dengan pasti bahwa nyeri itu adalah nyeri ringan. termasuk dalam penanganannya pun kita seringkali menemukan keunikan tersebut. dan dia merasa nyerinya berkurang hanya dengan menggenggam erat-erat sebuah kerikil warna kelabu !!.

3. untuk itu pengkajian harus selalu dilakukan secara berkesinambungan. c. keduanya harus dipadukan dan saling mengisi dalam rangka mengatasi/ penanganan nyeri pasien. Pasien adalah individu-individu yang berbeda yang berrespon secara berbeda terhadap nyeri. cra ini dapat memberikan efek analgesik yang kuat tetapi dosisnya lebih sedikit. pada kondisi ini mungkin ada perbedaan yang mencolok antara pasien kelas III dengan pasien yang di rawat di VVIP pada kondisi jeis nyeri yang sama. . sebagai upaya mencari gambaran yang terbaru dari nyeri yang dirasakan oleh pasien.pasien. Kesimpulan Manajemen nyeri harus menggunakan pendekatan yang holistik/ menyeluruh. dan banyaknya keluhan ini ditemukan pada pasien maka sudah saatnya perawat membentuk suatu tim keperawatan yang khusus yang menangani nyeri baik di tatanan rawat jalan maupun rawat inap. hal ini karena nyeri mempengaruhi keseluruhan aspek kehidupan manusia. Faktor-faktor yang berhubungan dengan sistem Sebagian pasien di rumah sakit adalah pasien dengan asuransi. yang telah mempunyai standart tertentu di dalam paket pelayanan mereka. oleh karena itu kita tidak boleh hanya terpaku hanya pada satu pendekatan saja tetapi juga menggunakan pendekatan-pendekatan yang lain yang mengacu kepada aspek kehidupan manusia yaitu biopsikososialkultural dan spiritual. Adjuvan 3. terkadang pasien membutuhkan obat yang tidak termasuk dalam paket yang telah ditentukan. Manajemen nyeri dengan pendekatan farmakologik Ada tiga kelompok utama obat yang digunakan untuk menangani rasa nyeri : a. sehingga ia harus mengeluarkan dana ekstra untuk itu. Prosedur invasif yang lain adalah blok saraf. Prosedur invasif Prosedur invasif yang biasanya dilakukan adalah dengan memasukan opioid ke dalam ruang epidural atau subarakhnoid melalui intraspinal. Pengkajian yang tepat. 4. stimulasi columna dorsalis. ceritanya menjadi lain ketika ia tidak mempunyai dana ekstra yang dibutuhkan. akurat tentang nyeri sangat diperlukan sebagai upaya untuk mencari solusi yang tepat untuk menanganinya. Implikasi keperawatan 1. 2. pembedahan (rhizotomy. Analgetika golongan narkotika c. Pengetahuan dan ketrampilan mengenai penanganan nyeri baik pendekatan non farmakologis maupun farmakologis serta tindakan yang lainnya mutlak diperlukan dan dikuasai oleh perawat. sehingga penangananyapun tidak bisa disamakan antar individu yang satu dengan yang lainnya. Analgetika golongan non narkotika b. 2. untuk itu diperlukan suatu pendidikan khusus mengenai nyeri dan penangannya dimana hal ini bisa dilakukan dalam masa pendidikan maupun dalam bentuk pelatihan-pelatihan secara terpadu. stimulasi spinal. Mengingat kompleknya aspek nyeri.cordotomy) teknik stimulasi. pendekatan non farmakologik dan pendekatan farmakologik tidak akan berjalan efektif bila digunakan sendiri-sendiri. Perawat dituntut untuk mempunyai kapasitas yang memadai sebagai upaya untuk memberikan asuhan keperawatan yang adekuat terhadap nyeri yang dirasakan oleh pasien. Perawat dituntut untuk mampu menjembatani kepentingan pasien terkait dengan nyeri dan penanganannya sesuai dengan kebutuhan pasien.

sehingga jaringan tidak bertambah rusak. Langkah ini bertujuan menghentikan atau menghilangkan rasa nyeri. Mengapa nyeri disebut sebagai reflek perlindungan? Coba kita bayangkan seandainya tubuh tidak memiliki rasa nyeri. tertusuk-tusuk. Jelasnya rasa yang tidak mengenakkan itu merupakan isyarat bahwa jaringan tubuh minta diperhatikan atau minta penanganan khusus. dan ketiga memotong transmisi nyeri. rasa nyeri bisa diobati dengan tiga cara. lakukan pijat massage pada pinggul kanan. Jika rasa nyeri terasa pada salah satu jaringan otot urat. itu berarti pertanda ada kerusakan atau kelainan pada jaringan tersebut. Pertama. kemudian bereaksi untuk menghindar. pegal. atau pantat terjepit kursi. Kedua. Misalnya nyeri/ngilu pada otot belakang bagian tengah kaki kanan. lakukan pijat massage pada bagian paha belakang. urat dan otot pinggul. perlu pijat massage guna memotong saluran penyebab nyeri. Menghilangkan Penyebab Nyeri Nyeri akibat infeksi atau bakteri dapat dihilangkan dengan mengobati atau . pedih. pergelangan kaki keseleo. Jadi rasa nyeri dapat timbul jika ada rangsangan. Nyeri adalah perasaan spesifik seseorang yang diinformasikan oleh mekanisme pertahanan organisasi tubuh terhadap suatu lesi (kerusakan jaringan). Pertama menghilangkan penyebabnya. cekot-cekot dan sebagainya. linu. Langkah ini bertujuan memberi rangsangan menyeluruh pada saraf. semua ungkapan yang tidak enak bagi tubuh adalah nyeri. Kedua. Pada prinsipnya. sehingga ketika kita mengalami kejadian seperti di atas kita akan merasa nyeri. kita tentu tidak merasakan apa-apa dan tidak ada reaksi tubuh. Barangkali mudah sekali terjadi kerusakan pada jaringan tubuh. Misalnya. serta melancarkan peredaran darah agar seluruh jaringan menjadi lentur. Reflek perlindungan itu muncul agar jaringan tidak bertambah rusak atau terhindar dari kerusakan. jika kaki terkena paku. yaitu musculus biset pemoris (otot paha besar). dan ada yang menerima rangsangan. Pokoknya.TIPS MENGATASI NYERI. lidah minum air panas. meningkatkan daya tahan tubuh. Nyeri merupakan reflek perlindungan (proteksi) yang disebabkan oleh adanya gejala/potensi kerusakan jaringan tubuh akibat suatu rangsangan. Untuk perawatan/pemulihannya. Untunglah kita diberi rasa nyeri. Itulah kegunaan rasa nyeri. Kemudian reaksi yang muncul dari tubuh adalah rasa nyeri yang diungkapkan dengan bermacam istilah: ngilu. jari terkena api rokok.

Lenturkan dan hancurkan kristal-kristal pada jaringan tubuh agar larut dalam peredaran darah. Rahang atas dan bawah rawat dengan pijat. Nyeri juga dapat ditekan dengan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit. Lakukan pemijatan pada urat otot bahu dan leher. memberikan vitamin. Misalnya. Rangsang urat dan saraf rahang atas serta bawah sampai lentur dan rileks sehingga saraf dapat berfungsi baik. terapi media. dapat dilakukan dengan pelepasan adrenalin neurogenik (kepala kelenjar yang memberi perintah) yang mengakibatkan getaran (fasokontraksi) dan dapat dibantu dengan depresi emosi (penurunan kadar emosi). yakni dengan pemberian obat guna membunuh kuman/bakteri. http://andaners. terapi massage (pijat) dan lain-lain. Sedangkan untuk menekan peningkatan aliran pembuluh darah pada saraf fasomotor (saraf penggerak). Menurunkan Rasa Nyeri dengan Massage Contohnya. Karena itu. Memotong Jalur Transmisi Nyeri Pada dasarnya segala bentuk pengobatan terhadap nyeri adalah dengan melakukan blokade syaraf sensorik.melenyapkan faktor penyebabnya. nyeri akibat sakit gigi (odontalgin) yakni nyeri gigi atau geraham. Ini dapat dilakukan dengan pemberian obatobatan yang sifatnya menekan fungsi nociceptor (saraf nyeri). kelenjar tyroid (kelenjar gondok) dan kelenjar adrenalin (generator syaraf sensorik). rawatlah tubuh agar tidak terjadi infeksi dan tahan terhadap gangguan penyakit.com/2010/11/24/manajemen-nyeri-disertai-tipsmengatasi-nyeri/ . Meningkatkan Daya Tahan Tubuh.wordpress. Ini dapat dilakukan dengan pemberian terapi. Ada tiga kelenjar yang diterapi yakni kelenjar pituilarian (memproduksi lendir dan air ludah).

Joko Murdiyanto. pada korda spinalis. Nyeri nosiseptif diakibatkan oleh aktivasi atau sensitisasi nosiseptor perifer yang merupakan reseptor khusus yang menghantarkan stimulus noxious. periodenya dapat bervariasi dari 1 hingga 6 bulan. etiologinya (misal: nyeri postoperatif dan nyeri kanker). Nyeri patologis merupakan sensasi yang timbul sebagai konsekuensi dari adanya kerusakan jaringan atau akibat adanya kerusakan saraf. ataupun area yang dipengaruhinya (misal: nyeri kepala dan nyeri punggung bawah). Nyeri akut dapat didefinisikan sebagai nyeri yang dihasilkan oleh stimulus noxious karena suatu cidera.MANAJEMEN NYERI AKUT DAN NYERI REFRAKTER Posted by joe pada 29/08/2009 dr. Di pihak lain. Modulasi ini dapat diinhibisi ataupun difasilitasi. dan lazim dikenal sebagai neuropathic pain. Nyeri kronis didefinisikan sebagai nyeri yang menetap melebihi rentang waktu suatu proses akut atau melebihi kurun waktu normal tercapainya suatu penyembuhan. disebut sebagai maladaptive pain. Sp. Nyeri kronik dapat bersifat nosiseptif. Perbedaan utama antara kedua jenis nyeri adalah bahwa nyeri fisiologis adalah sensor normal yang berfungsi sebagai alat proteksi tubuh. lanjut KONSEP UTAMA —————————————————————————— Nyeri dapat diklasifikasikan berdasarkan patofisiologinya (misal: nyeri nosiseptif dan nyeri neuropatik). Nyeri ini hampir selalu bersifat nosiseptif. atau gabungan keduanya. Nyeri neuropatik merupakan hasil suatu cidera atau abnormalitas yang didapat pada struktur saraf perifer maupun sentral. atau abnormalitas struktur otot maupun visera. proses penyakit. kerusakan saraf justru berkembang menjadi intractable pain setelah penyembuhan usai. sedangkan nyeri patologis merupakan sensor abnormal yang menderitakan seseorang. Jika proses inflamasi mengalami proses penyembuhan normal sehingga menghilang sesuai dengan penyembuhan disebut sebagai adaptive pain yang lazim dikenal sebagai nyeri akut. Modulasi nyeri terjadi secara periferal pada nosiseptor. . atau struktur supra spinal. An PENDAHULUAN ———————————————————————– Woolf (1989) secara kualitatif membagi nyeri menjadi dua jenis yakni nyeri fisiologis dan nyeri patologis. neuropatik.

terutama neuralgia trigeminal dan neuropati diabetika. Sensasi epiritik (sentuhan ringan. propriosepsi. phantom limb pain.Nyeri akut moderate sampai berat. Pasien sering berespon secara dramatis terhadap blok simpatis. tekanan. tergantung lokasinya. namun yang lebih penting. Tingkat penyembuhan sangat tinggi (lebih dari 90%) jika terapi dimulai dalam 1 bulan sejak ditemukannya gejala. Sensasi tersebut sering didekripsikan sebagai protopatik (noxious) dan epikritik (non-noxious). Pasien yang berusia tua atau mereka yang mengalami sleep apnea tampaknya lebih rentan terhadap efek samping tersebut. Agen ini memperlihatkan efek analgesik pada dosis yang lebih rendah daripada dosis efek antidepresannya. sensasi protopatik (nyeri) ditandai dengan reseptor ambang tinggi yang dihantarkan oleh serabut saraf bermielin yang lebih kecil (A delta) serta serabut saraf tak bermielin (serabut C). Multiple trigger dapat menginduksi terjadinya sympathetically maintained pain. persepsi nyeri dihantarkan oleh neuron khusus yang bertindak sebagai reseptor. DEFINISI dan KLASIFIKASI NYERI ——————————————————– Seperti halnya berbagai stimulus yang disadari lainnya. Stimulasi corda spinalis paling efektif untuk nyeri neuropatik. Indikasi stimulasi corda spinalis yang dapat diterima meliputi sympathetically mediated pain. serta adhesive arachnoiditis. peran antidepresan yang utama adalah mengatasi keluhan pasien dengan nyeri neuropatik seperti postherpetik neuralgia dan neuropati diabetika. pendeteksi stimulus. . Efek samping yang serius dari penggunaan opioid epidural atau intratekal adalah dose-dependent dan depresi respirasi. Blokade neural dengan anestesi lokal dapat digunakan untuk membatasi mekanisme nyeri. dan perbedaan temperatur) ditandai dengan reseptor ambang rendah yang secara umum dihantarkan oleh serabut saraf besar bermielin. Dependensi fisik terjadi pada semua pasien yang menggunakan opioid dosis besar dalam waktu yang lama. Mekanisme yang diajukan adalah aktivasi descending modulating system dan inhibisi symphatetic outflow. Secara umum. blokade ini memainkan peran penting dalam manajemen pasien dengan nyeri akut maupun kronis. thorax maupun ortopedik. Penggunaan gabungan anestetika lokal dan opioid adalah teknik yang sangat bagus untuk menangani nyeri postoperatif setelah suatu prosedur yang melibatkan abdomen. sehingga memerlukan pengurangan dosis. lesi korda spinalis dengan nyeri segmental terlokalisasi. dapat mempengaruh fungsi organ di sekitarnya dan memiliki peran pada morbiditas maupun mortalitas perioperatif. penguat dan penghantar menuju sistem saraf pusat. Kebanyakan kasus depresi respirasi terjadi pada pasien yang mendapatkan terapi opioid parenteral atau sedatif. Sebaliknya. yang seringkali mengalami overlooked atau misdiagnosis. Antikonvulsan biasanya digunakan pada pasien dengan nyeri neuropatik. Fenomena withdrawl dapat dipresipitasi dengan pemberian antagonis opioid. iskemia ekstremitas bawah karena penyakt vaskular perifer. pelvis.

proses penyakit atau fungsi abnormal otot dan visera. modulasi dan persepsi. secara klinis kita membagi nyeri ke dalam dua kategori yaitu (1) nyeri akut. -Transduksi Perubahan potensial nosiseptor menjadi arus elektro-biokimia / impuls sepanjang akson. Tipe nyeri ini biasanya dihubungkan dengan stress neuro-endokrin (berkeringat. Banyak pasien merasakan nyeri tanpa suatu stimulus noxious. Terminologi “nosisepsi” yang diambil dari kata noci yang berarti “cidera”.Menurut IASP (The International Association for Study of Pain). bradikinin dari plasma. pankreatitis. A. Rekonstruksi merupakan hasil kerja sistem saraf sensoris. Empat proses fisiologis yang terlibat adalah transduksi. namun dengan faktor psikologis dan behavioral sebagai faktor utama. nyeri dapat berkembang menjadi kronis. Terjadi karena pelepasan mediator kimia seperti prostaglandin dari sel rusak. Ketika nyeri gagal menyembuh baik karena abnormalitas proses penyembuhan maupun pengobatan yang tidak adekuat. aspek psikologis nyeri serta faktor subjektif dan emosi. nyeri obstetri. Respon terhadap nyeri dapat sangat bervariasi antara orang yang satu dengan orang yang lain dan pada orang yang sama dalam waktu yang berbeda. Nyeri ini dapat berupa nyeri postoperatif. . dapat meningkatkan atau mengurangi impuls nyeri. Sifatnya hampir selalu nosisepsi. melokalisasi dan membatasi kerusakan jaringan. nyeri pada penyakit medis akut (AMI. namun tidak semua nyeri merupakan hasil nosisepsi. Semua nosisepsi menghasilkan nyeri. Definisi ini menggambarkan adanya suatu gabungan antara komponen objektif. Dua tipe nyeri akut — nyeri somatik dan nyeri viseral — dibedakan berdasarkan asal nyeri dan gambaran klinisnya. -Transmisi Proses penerusan impuls nyeri dari nosiseptor saraf perifer melewati cornu dorsalis korda spinalis menuju korteks serebri. -Persepsi Hasil rekonstruksi SSP tentang impuls nyeri yang diterima. Nyeri akut Nyeri akut dapat didefinisikan sebagai nyeri yang disebabkan stimulus noxious karena suatu cidera. biasanya karena nosisepsi dan (2) nyeri kronis. dll. -Modulasi Proses pengendalian interna oleh sistem saraf. digunakan untuk mendeskripsikan respon neural terhadap stimulus traumatik maupun noxious. serotonin dari trombosit dan substansi P dari ujung saraf. transmisi. nyeri adalah “pengalaman dan emosi sensori yang tidak menyenangkan dihubungkan dengan kerusakan jaringan atau potensial rusak”. berdebar-debar) yang proporsional dengan intensitasnya. informasi kognitif dan pengalaman emosional. histamin dari sel mast. mungkin karena nosisepsi. Kebanyakan nyeri akut dapat sembuh sendiri (self limited) atau menyembuh dengan pengobatan selama beberapa hari atau minggu. Karenanya. Nyeri nosiseptif dihadirkan untuk mendeteksi. batu ginjal).

Nosiseptor . intraartikular. atau parenteral (intravena.8 5 12-36 Methyl-prednisolone O. oral. myopati proximal. dan (jarang) psikosis. I. T 25 0 0.Merupakan serabut saraf bebas (free nerve ending / serabut C).B.Tipenya: Mekanonosiseptor. hiperglikemi. Nyeri kronik dapat bersifat nosiseptif. subkutan. I. menghantarkan nyeri dari medula spinals ke thalamus 3. terutama rangsang pada jaringan yang rusak. I : injectable. menghantarkan nyeri dari perifer ke medula spinalis 2.Reseptornya untuk rangsangan suhu. Second order neuron. mekanik dan kimia. menghantarkan nyeri dari thalamus ke korteks Fisiologi Nosisepsi 1. T 5 0. Agen ini dapat diberikan secara topikal.75 36-72 O : oral. osteoporosis. peningkatan kerentanan terhadap infeksi. I. First order neuron. I 4 0. intra bursa. ANATOMI dan FISIOLOGI NOSISEPSI —————————————————Pain pathway Ada tiga neuron yang terlibat dalam jalur nyeri 1. I. nekrosis aseptik caput femoral. pada sentuhan dan tusukan Silent nosiseptor. I. peningkatan suhu (>42°C dan 2 Lamotrigine 24 25-400 2-20 Phenytoin 22 200-600 10-20 Topiramate 20-30 25-200 Unknown Valproic acid 6-16 750-1250 50-100 Kortikosteroid Glukokortikoid digunakan secara luas dalam manajemen nyeri karena efek antiinflamasi dan analgesik yang dimiliki. ulkus peptik. Third order neuron. T 5 0 4 12-36 Betamethasone O. atau gabungan keduanya. pada tekanan kuat. dan epidural). periodenya dapat bervariasi dari 1 hingga 6 bulan. T 25 0 0. .75 36-72 Dexamethasone O. T : topical . pada reaksi inflamasi Polimodal mekano-heat-nosiseptor. katarak.8 5 12-36 Prednisolone O. Nyeri kronis Nyeri kronis didefinisikan sebagai nyeri yang menetap melebihi rentang waktu suatu proses akut atau melebihi kurun waktu normal tercapainya suatu penyembuhan. bersifat aferen (sensoris) . T 1 1 20 8-12 Prednisone O 4 0. Kelebihan glukokortikoid dapat menimbulkan hipertensi. Kortikosteroid Rute pemberian Aktivitas glukokortikoid Aktivitas mineralokortikoid Dosis equivalen (mg) Waktu paruh (jam) Hydrocortisone O. neuropatik.5 4 12-36 Triamcinolone O.

di perifer. Pengetahuan mengenai patofisiologi terjadinya nyeri serta blokade terhadap nyeri merupakan dasar dari terapi. Lidokain. neuropatik. prokain 200-400 mg dapat diberikan secara intravena selama 1-2 jam. transmisi. terjadi empat proses dasar yaitu transduksi. Setiap tahunnya. respirasi dan status mental. Agen ini menghasilkan efek sedasi dan analgesi sentral. Penanganan yang tidak adekuat terhadap nyeri dapat menimbulkan kerugian secara fisik. Nyeri kronik adalah penyebab tersering dari disabilitas dalam jangka waktu yang lama. selain komponen sensori. Melibatkan saraf sensoris untuk nyeri. nosiseptif. tekanan darah. modulasi dan persepsi. Blokade nyeri yang merupakan dasar dari terapi nyeri. Pendahuluan Pemahaman mengenai sensasi nyeri serta usaha untuk mengontrol atau mereduksi level nyeri. psikologis dan finansial. slurring. emosional dan tingkah laku. Alat resusitasi harus selalu tersedia. Monitoring yang harus dilakukan meliputi elektrokardiogram (EKG). Bahkan tidak jarang menjadi keluhan utama yang membuat pasien datang menemui dokter. nyeri adalah masalah medis yang sering ditemui. selalu menjadi salah satu aspek penting dari terapi medis. dan hampir sepertiga dari orang di Amerika mengalami nyeri kronik yang berat pada masa hidupnya. sedasi esksesif dan nistagmus. Sebagai dasar dari mekanisme terjadinya nyeri melalui jaras nyeri. Tanda-tanda toksisitas meliputi tinnitus. Paling sering. diklasifikasikan berdasarkan satu dimensi yaitu berdasarkan patofisiologi (nosiseptif vs neuropatik) ataupun berdasarkan durasinya (nyeri akut vs kronik). transmisi.Systemic Local Anaesthetics Anestetika lokal dapat digunakan secara sistemik pada pasien dengan nyeri neuropatik. medulla spinalis. PATOFISIOLOGI DAN BLOKADE NYERI Abstrak Usaha untuk mengontrol atau mereduksi level nyeri. persepsi. Lidokain diberikan melalui infus selama 5-30 menit untuk dosis total 1-5 mg/kg. Dari data yang ada. patofisiologi. Klorprokain (i% solution) diinfuskan dengan kecepatan 1 mg/kg/min untuk total dosis 10-20 mg/kg. modulasi.1 Pemahaman akan mekanisme nyeri yang baik . blokade. nosiseptor. nyeri memiliki komponen kognitif. Proses yang kompleks ini melibatkan banyak mediator kimia dan reseptor. I. 9 dari 10 orang di Amerika secara reguler mengalami nyeri. nosiseptor. Dari definisi yang dibuat oleh IASP (International Association for the Study of Pain). 25 juta orang di Amerika mengalami nyeri akut karena trauma ataupun pembedahan dan 50 juta orang mengalami nyeri kronik.1 Masalah lain adalah kenyataan bahwa sering kali penanganan terhadap nyeri tidak memadai. prokain. dapat terjadi di semua tingkat. diberikan secara slow bolus maupun infus kontinyu. dan klorprokain adalah agen yang paling sering digunakan. transduksi. spinal dan supraspinal. Dalam praktek. selalu menjadi salah satu aspek penting dari terapi medis. dan struktural yang lebih tinggi di otak melalui serangkaian proses yang kompleks untuk menghasilkan sebuah persepsi berupa sensasi yang tidak menyenangkan atau mengancam. baik perifer. Melibatkan banyak proses yang dapat dicapai dengan adanya intervensi farmakologis atau non-farmakologis. Kata kunci: nyeri.

serta menghantarkannya ke susunan saraf pusat sehingga dapat diterjemahkan sebagai sebuah persepsi yang sensasi yang tidak menyenangkan atau mengancam. tingkat spinal ataupun supraspinal. Namun pemahaman tentang nyeri saat ini telah mengalami revolusi. Demikian pula dengan proses blokade nyeri yang berkaitan dengan usaha mengontrol atau mereduksi nyeri. Proses ini menyangkut empat kejadian yaitu transduksi. Pengertian ini memicu berkembangnya teori psikis dari nyeri. IASP (International Association for the Study of Pain) memberikan definisi Nyeri sebagai “unpleasant sensory and emotional experience associated with actual or potential damage. medula spinalis serta struktur yang lebih tinggi di batang otak dan korteks. or discribe in terms of such damage. II. yang melibatkan berbagai macam struktural baik saraf sensoris perifer. Blokade nyeri ini dapat merupakan hasil dari intervensi secara farmakologis ataupun nonfarmakologis.2. Karena itu pemahaman yang baik mengenai patofisiologi dan juga blokade nyeri menjadi suatu keharusan sebagai bekal penanganan nyeri. rasa dan sentuhan. aktifitas menarik tali disatu sisi akan menimbulkan lonceng berdentang di sisi lain. transmisi. existing whenever s/he says it does”. Bahkan penjelasan mengenai terjadinya nyeri selama bertahun-tahun hanya berkisar pada proses pada jaras ini. Saat ini telah berkembang dengan penjelasan mengenai proses yang lebih kompleks dan mengikutsertakan dimensi emosi dan kognitif selain sensorik. terutama nyeri akut akibat pembedahan. Banyak pula orang yang setuju dengan penjelasan nyeri sebagai proses fisiologis. And pain is always subjectif. ia mencoba menjelaskan nyeri sebagai sebuah proses fisiologis. Blokade ini dapat terjadi pada setiap tingkatan proses dari mekanisme terjadinya nyeri. yaitu bahwa secara normal nyeri dianggap . Ia menyatakan bahwa proses nyeri seperti kejadian dimana orang membunyikan lonceng gereja.2 Konsep ini membawa teori spesifik mengenai jaras nyeri.3 Definisi ini menggambarkan nyeri sebagai pengalaman yang kompleks menyangkut multidimensional. yaitu pengelihatan. suatu respon terhadap rangsangan. Aristoteles yang mendeskripsikan bahwa ada lima indra yang dimiliki manusia. yang bekerja menerima impuls dari perifer. penciuman. Each indifidual learns the application of the word through experience related injury in early life”. Proses yang kompleks ini melibatkan berbagai mediator kimia dan reseptornya. persepsi dan modulasi.1 Definisi ini mengutamakan nyeri sebagai pengalaman subjektif tanpa adanya ukuran yang objektif. pendengaran. nyeri adalah hal yang dihadapi dalam praktek sehari-hari. Nyeri telah lama menjadi subjek yang sulit dimengerti. baik di perifer. Mc Caffery mendefinisikan nyeri sebagai “whatever the experiencing person says it is.2 Beberapa ahli setelahnya banyak pula yang mendeskripsikan nyeri sebagai sebuah emosi. Awalnya pengertian nyeri hanya menitik beratkan pada sensasi yang disebabkan oleh adanya cedera atau penyakit. Definisi Nyeri Pengertian nyeri telah coba dijelaskan sejak lama. Sebagai dokter anestesiologi. dimana pendapat pasien adalah indikator utama dari ada atau tidaknya nyeri serta intensitasnya. Pada tahun 1968. Definisi diatas mengandung dua poin penting.dapat meningkatkan kualitas penanganan terhadap nyeri.1. Sebagai dasar dari mekanisme nyeri adalah adanya jaras penghantar nyeri. Lain halnya dengan Rene Descartes. mendeskripsikan nyeri sebagai “passion of the soul”.

deafferentation pain. Nyeri somatik sendiri dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu superfisial (dari kulit) dan dalam (dari yang lain). Nyeri somatik dalam digambarkan sebagai sensasi tumpul yang difus. Perbedaan yang terjadi dari bagaimana stimuli diproses melalui tipe jaringan menyebabkan timbulnya perbedaan karakteristik. Beberapa hal yang mungkin berpengaruh pada terjadinya nyeri neuropatik yaitu sensitisasi perifer.4 Penyebabnya adalah trauma. tulang atau sendi. remasan. penyakit atau proses radang). Pada nyeri nosiseptik system saraf nyeri berfungsi secara normal. atau rasa terbakar. dimana serabut saraf membuat koneksi yang lebih luas dari yang normal.1 Nyeri neuropatik adalah nyeri dengan impuls yang berasal dari adanya kerusakan atau disfungsi dari sistim saraf baik perifer atau pusat. infeksi (herpes zooster). Sedang nyeri viseral digambarkan sebagai sensasi cramping dalam yang sering disertai nyeri alih (nyerinya pada daerah lain). DM).1.sebagai indikator sedang atau telah terjadinya cedera fisik. tertusuk. serta terjadinya gangguan pada koneksi neural. timbulnya aktifitas listrik ektopik secara spontan. Walaupun proses sensitisasi sentral akan berhenti bila tidak ada sinyal stimuli noksius. Nyeri neuropatik sering dikatakan nyeri yang patologis karena tidak bertujuan atau tidak jelas kerusakan organnya. reorganisasi struktur. emosional dan tingkah laku dari nyeri dipengaruhi oleh proses belajar dari pengalaman yang lalu tentang nyeri baik yang dialami ataupun yang orang lain alami. adanya proses disinhibisi sentral. Sensitisasi menjelaskan mengapa pada nyeri neuropatik memberikan gejala hiperalgesia.3. sensitisasi sentral. Sebagai contoh nyeri somatik superfisial digambarkan sebagai sensasi tajam dengan lokasi yang jelas. Yang kedua bahwa komponen kognitif.1. secara umum ada hubungan yang jelas antara persepsi dan intensitas stimuli dan nyerinya mengindikasikan kerusakan jaringan. Kondisi kronik dapat terjadi bila terjadi perubahan patofisiologis yang menetap setelah penyebab utama nyeri hilang. Sensitisasi berperan dalam proses ini. shooting. alodinia ataupun nyeri yang persisten. penyakit metabolik (diabetes mellitus. otot. atau nyeri somatik.4 . toksin.1. dan penyakit neurologis primer. Klasifikasi Nyeri Penggolongan nyeri yang sering digunakan adalah klasifikasi berdasarkan satu dimensi yaitu berdasarkan patofisiologi (nosiseptif vs neuropatik) ataupun berdasarkan durasinya (nyeri akut vs kronik). spasme atau dingin. Dapat dikategorikan berdasarkan sumber atau letak terjadinya gangguan utama yaitu sentral dan perifer. bila berasal dari jaringan seperti kulit. Dapat juga dibagi menjadi peripheral mononeuropathy dan polyneuropathy.3 Dapat diklasifikasikan menjadi nyeri viseral. radang. III. tumor. III. sympathetically maintained pain. Nosiseptik vs Neuropatik Berdasarkan patofisiologinya nyeri dibagi menjadi nyeri nosiseptik dan nyeri neuropatik. pukulan. dimana mekanisme inhibisi dari sentral yang normal menghilang. dan central pain. Namun tidak berarti bahwa pasti terjadi cedera fisik dan intensitas yang dirasakan dapat jauh lebih besar dari cedera yang dialami. Nyeri nosiseptif adalah nyeri yang disebabkan oleh adanya stimuli noksius (trauma.1. bila berasal dari rangsangan pada organ viseral. seperti kejutan listrik. Nyeri neuropatik dapat bersifat terus menerus atau episodik dan digambarkan dalam banyak gambaran seperti rasa terbakar. namun cedera saraf dapat membuat perubahan di SSP yang menetap.

Nyeri kronik diartikan sebagai nyeri yang menetap melebihi proses yang terjadi akibat penyakitnya atau melebihi waktu yang dibutuhkan untuk penyembuhan. dapat terjadi di setiap tingkat. 1.6 Deskripsi makasnisme dasar terjadinya nyeri secara klasik dijelaskan dengan empat proses yaitu transduksi. transmisi. infeksi ataupun radang yang ditimbulkan). atau fungsi abnormal dari otot atau organ visera.2.III. Secara patofisiologi yang mendasari dapat berupa nyeri nosiseptif ataupun nyeri neuropatik. obstruksi organ. dan akson (berupa proyeksi panjang dari membran dan .5.5 Pengertian transduksi adalah proses konversi energi dari rangsangan noksius (suhu. proses penyakit. yang dapat berupa rangsangan mekanik. Rangsangan noksius adalah rangsangan yang berpotensi atau merupakan akibat terjadinya cedera jaringan. bahkan pada beberapa kasus dapat timbul secara de novo tanpa penyebab yang jelas. Penyebabnya bermacam-macam dan dipengaruhi oleh factor multidimensi.1. persepsi. mekanik. etiologinya yang sangat beragam. suhu dan kimia. Mekanisme Dasar Nyeri Mekanisme dasar terjadinya nyeri adalah proses nosisepsi. tidak memiliki fungsi protektif.3 Nyeri akut berperan sebagai alarm protektif terhadap cedera jaringan. spasme otot. Nyeri kanker ini disebabkan oleh banyak faktor yaitu karena penyakitnya sendiri (invasi tumor ke jaringan lain. Modulasi adalah proses pengaturan impuls yang dihantarkan.1. Sedangkan transmisi yaitu proses penyampaian impuls saraf yang terjadi akibat adanya rangsangan di perifer ke pusat.1. dan berbeda dalam secara signifikan dari CNCP baik dari segi waktu. Anatomi Jaras Nyeri Sebuah sel saraf secara umum terdiri dari badan sel (dimana terdapat inti sel). Reflek protektif (reflek menjauhi sumber stimuli. Akut vs Kronik Nyeri akut diartikan sebagai pengalaman tidak menyenangkan yang kompleks berkaitan dengan sensorik.3 Nyeri kronik juga diartikan sebagai nyeri yang menetap yang mengganggu tidur dan kehidupan sehari-hari. atau kimia) menjadi energi listrik (impuls saraf) oleh reseptor sensorik untuk nyeri (nosiseptor).1. Bagaimana informasi ini di terjemahkan sebagai nyeri melibatkan proses yang kompleks dan masih banyak yang belum dapat dijelaskan. dan respon autonom) sering mengikuti nyeri akut. patologi dan strategi penatalaksanaannya.1 IV. namun biasanya diartikan sebagai pengaturan yang dilakukan oleh otak terhadap proses di kornu dorsalis medulla spinalis.1 IV. Nyeri kronik sering di bagi menjadi nyeri kanker (pain associated with cancer) dan nyeri bukan kanker (chronic non-cancer pain. serta menurunkan kesehatan dan fungsional seseorang. dendrit (berupa cabang kecil). dan modulasi. atau karena prosedur diagnostik atau terapi (biopsy. Nyeri kronik dapat berupa nyeri nosiseptif atau nyeri neuropatik ataupun keduanya. post operasi. efek toksik dari kemoterapi atau radioterapi). Banyak ahli yang berpendapat bahwa nyeri kanker diklasifikasi terpisah karena komponen akut dan kronik yang dimilikinya. biasanya 1 atau 6 bulan setelah onset. dengan kesulitan ditemukannya patologi yang dapat menjelaskan tentang adanya nyeri atau tentang mengapa nyeri tersebut masih dirasakan setelah proses penyembuhan selesai. di perifer. ke sistim saraf pusat. kognitif dan emosional yang berkaitan dengan trauma jaringan. efek kompresi atau invasi ke saraf atau pembuluh darah. Persepsi merupakan proses apresiasi atau pemahaman dari impuls saraf yang sampai ke SSP sebagai nyeri. Nosisepsi adalah proses penyampaian informasi adanya stimuli noksius. CNCP).

memasuki spinal melalui jalur ventral.8δ yang berbentuk badan pacini pada mesenterium. yang menerima rangsangan di organ dalam. Badan pacini dan muscle spindle adalah nosiseptor yang menerima rangsangan berupa distorsi mekanik ambang rendah dari jaringan. secara berurutan. Sedangkan ujung yang berada di kornu dorsalis membentuk hubungan dengan neuron di kornu dorsalis melalui sinaps. Nervus vagus dan pelvic membawa persarafan parasimpatis untuk organ visera. umumnya adalah ujung saraf bebas dari serabut Aβ Nosiseptor yang terletak di viseral.7 (gambar 1) Gambar 1. peningkatan kadar kalium. Glossofaringeal (IX). type C. dan memiliki satu akson dengan cabang yang pendek menuju medulla spinalis di kornu dorsalis dan cabang yang panjang menuju ke perifer yang berakhir pada jaringan. dapat naik atau turun beberapa dermatom atau menyebrang ke kontra lateral.7 dan C. sisanya berupa ujung saraf bebas. bradykinin dan prostaglandin).7 Hal ini menjelaskan rasa nyeri yang timbul pada perangsangan di ventral dan menetapnya rasa nyeri walau telah terjadi transeksi dari serabut saraf dorsalis (rhyzotomi). tempat keluarnya serabut motorik. serta ganglion jugular (somatic) dan nodusum (visceral). selain serabut saraf tipe A Untuk persarafan viseral memiliki kekhususan. Serabut saraf nyeri yang berasal dari daerah kepala dibawa oleh saraf cranial Trigeminus (V). spasme otot polos. dan Vagal (X). asam lemak. Ujung saraf bebas berfungsi sebagai nosiseptor terhadap distorsi mekanik ambang tinggi pada jaringan juga rangsangan yang disebabkan oleh suhu dan kimia (disebut juga alogen). sehingga mempengaruhi fungsi. dekat dengan medulla spinalis.6. yang menerima rangsangan dari luar tubuh. Sel saraf yang berperan dalam nosisepsi adalah sel saraf sensorik. Sel ini merupakan sel unipolar. Nervus spinalisnya sering ditemui berjalan bersama dengan nervus simpatik eferen. Selain berakhir di lamina rexed . secara berurutan letaknya ada di kulit dan otot rangka. Beberapa nosiseptor berbentuk reseptor khusus.7 Badan sel dari sel saraf sensorik terletak di ganglia dorsalis.3. Badan sarafnya terletak pada. dimana akson dan dendrit bersambung. yaitu memiliki dua jalur persarafan baik vagus dan nervus spinalis atau nervus pelvic dan nervus spinalis. Sel saraf ini juga disebut sebagai sel ordo pertama atau sel afferen primer.3 Ujung saraf aferen primer yang berfungsi menerima rangsangan nyeri dikenal sebagai nosiseptor. tarikan pada mesenterium.6.1.sitoplasma. dapat dibungkus dengan myelin atau tidak). Nosiseptor ini dapat berupa interoseptor. Ujung serabut perifernya berfungsi menerima rangsangan sensorik dan mengubahnya menjadi impuls saraf. dan badan sel terletak disalah satu sisinya. Serabut saraf aferen primer6 Namun beberapa serabut saraf afferen primer ini. dapat pula berprojeksi ke atas atau ke bawah di trunkus simpatikus. dan kimia endogen yang berkaitan dengan inflamasi. ganglia superior dan petrosa. seperti asam. sebelum akhirnya menuju kornu dorsalis. Rangsangan noksius di viseral agak sedikit berbeda yaitu distensi dari organ berlumen. dan bermacam peptida (serotonin. sehingga melalui ganglia prevertebra (simpatik) sebelum ganglia paravertebra (dorsalis). Fasial (VII). Persarafan oleh vagus saat ini terbukti berperan dalam kemonosisepsi dan aspek afektif dari nyeri. Di kornu dorsalis sendiri projeksinya sangat difus. ganglia gasserian.3. Serabut sarafnya dapat berprojeksi dengan saraf simpatik. ganglia genikulata. atau eksteroseptor. iskemia.

Akson yang dilapisi sel mielin ini memiliki jeda atau bagian yang tidak bermielin. Sedangkan tipe C memiliki ukuran kurang dari 2µ . Serabut tipe A dibagi lagi menjadi serabut Aµ Akson diklasifikasikan berdasarkan hubungan dari ukuran. Serabut yang besar akan masuk dengan posisi di medial sedangkan yang kecil akan ada di lateral.8 Pada dasarnya semua akson. dimana lapisan myelin selanjutnya berasal dari sel schwan yang berbeda. dan kecepatan hantaran. diselubungi oleh lapisan myelin. . serabutnya juga berakhir di lamina X. yang secara berurutan menggambarkan derajat mielinisasi dari paling tinggi ke rendah. Serabut tipe A. dan memiliki kecepatan hantar 140 meter per detik (mps).β memberikan informasi dengan frekuensi impuls yang lebih. dan C. serabut saraf secara teratur memiliki tendensi untuk berkumpul dengan golongannya. nosiseptor Aδ menghantarkan informasi tentang stimulus mekanik baik yang ambang rendah atau yang ambang tinggi sering kali memiliki ujung saraf khusus. yang umumnya mengantarkan impuls nosiseptif adalah serabut saraf Aδ . Secara mudahnya sebagai aturan umum untuk membuat perbedaan antara nosiseptor Aδ dan C. baik yang bermielin atau tidak. Sebagian yang lain juga menghantarkan sensasi dari rangsang suhu. Ujungnya umumnya tidak berdiferensiasi khusus.6.10 Karakteristik Tipe I Tipe II Ambang rangsang panas terhadap stimuli singkat Tinggi Rendah Ambang rangsang panas terhadap stimuli lama Rendah Rendah Respon terhadap panas yang intens Meningkat perlahan Adaptasi Latensi respon terhadap panas yang intens Panjang Pendek Puncak latensi terhadap panas yang intens Lambat Cepat Ambang rangsang terhadap stimuli mekanik Sensitif Kurang sensitif Conduction velosity Serabut Aδ dan Aβ Serabut Aδ Sensitisasi terhadap cedera akibat panas Ya Tidak Lokasi Kulit berambut dan glabrous skin Kulit berambut akhirnya berhubungan dengan neuron di kornu dorsalis (neuron Ordo 2) melalui sinaps. m dan kecepatan hantaran 1 mps.5.7 Beberapa serabut yang tidak bermielin diselubungi oleh satu lapis myelin dari satu sel schwan. Sering disebut C-polimodal nosiseptor. Aα m. sering juga disebut “first pain”. Aβ Serabut saraf sensorik biasanya adalah serabut saraf tipe A Pada saat akan memasuki kornu dorsalis.I dan II.1 Serabut saraf aferen untuk tipe A dapat juga diklasifikasikan menjadi tipe 1 dan tipe 2. berukuran 2-4 δ dan Aβ . derajat mielinisasi.3µ m dan kecepatan hantaran 18 mps. Perbandingan antara serabut nosiseptor A tipe I dan tipe II. Serabut C menghantarkan impuls dari stimulus mekanik ambang tinggi. serabut ini bermielin. Serabut Aδ dan C. sedangkan akson yang bermielin diselubungi oleh beberapa lapisan myelin dari satu sel schwan. sedangkan serabut C sebaliknya atau sering disebut “second pain” . Neuron di kornu dorsalis secara mikroskopik membentuk lapisan-lapisan yang disebut lamina Rexed. memiliki serabut paling besar yaitu 4-20 yang biasanya menyampaikan informasi sentuhan terkadang dapat pula berperan sebagai nosiseptor bila disensitisasi. hantaran yang lebih cepat dan informasinya lebih spesifik atau lebih mudah di diskriminasikan.3.3. Jeda ini disebut nodus ranvier. Sifat dari dua tipe ini dapat dilihat pada tabel 1.6 Beberapa dapat naik atau turun 1-3 segmen medulaspinalis membentuk traktus dorsolateralis (lissauer) sebelum Tabel 1.7 Serabut Aδ .1. Ada empat lamina yang berperan utama dalam nosiseptif yaitu lamina I. Beberapa berhubungan dengan neuron ordo 2 melalui interneuron. suhu dan kimia.6. Serabut tipe B adalah serabut bermielin yang lebih kecil.

vasokonstriksi. melayani integrasi dari somatosensori dan Gambar 2. HT=Hypothalamus. hipothalamus. sehingga dinamakan neuron wide-dynamic-range (WDR). beberapa serabut saraf yang memprojeksikan sinyal ke thalamus melalui traktus spinotalamikus. melalui traktus spinoretikular. dari yang tidak berbahaya hingga yang paling berbahaya. baik secara langsung ataupun melalui interneuron. WDR=wide dynamic range. Nukleus thalamus medial berhubungan dengan input dari viseral.9 Projeksi dan mekanisme yang terjadi di atas tingkat medulla spinalis sangat kompleks. Neuron ini sebagian akan menyeberang dan memproyeksikan ke thalamus melaluai jalur yang disebut traktus spinothalamikus. Jaras ini dianggap sebagai jaras utama penghantaran nyeri. PAG=periaquaductal grey. Hubungan ini memperantarai terjadinya reflek respon segmental. sebagian yang lain berproyeksi intra dan intersegmen sebagai interneuron yang memperantai refleks. Impuls yang telah melalui proses modulasi di kornu dorsalis akan dihantarkan melalui bundle yang disebut traktus ascenden. atau yang merespon input dari stimulus yang bervariasi yang dibawa serabut saraf tipe A Neuron di kornu dorsalis berperan menghantarkan impuls dari kornu dorsalis ke bagisnbagian yang lebih tinggi di SSP. AMYG=amygdala.3 Selain berprojeksi dengan neuron yang akan menghantarkan impuls ke susunan saraf pusat yang diatas.6 Lamina I atau disebut lapisan marginal. M1=primary motor area. Neuron ini spesifik menerima input nosisepsi. IV dan V. dan memiliki informasi lapangan somatic yang diskret. PF=prefrontal cortex. yang responsive terhadap nyeri.2.S2=first. PB=parabrachial nukleus. yang memperantarai . aktifitas limbik. Dari kornu dorsalis. dan nucleus servikalis lateral. yaitu aktifitas otot. Jarasjaras ini dianggap sebagai jaras alternatif. NS=nociceftif specific. PPC=posterior parietal complex. PCC=posterior cingulate cortex. Jaras asenden2 ACC=anterior cingulate cortex.second somatosensory cortical areas.2. Ada pula yang memprojeksikan ke formasio reticularis. Pada tingkat ini terjadi pula hubungan dengan sitem saraf simpatis. (gambar 2) Projeksi ke formasio retikularis akan diteruskan lagi menuju thalamus. PO=posterior Nuclear Complex.3. VPL=ventro posterior lateral nukleus. kompleks ventrobasal menerima input yang secara somatotipikal terorganisasi baik. SMA=suplementary motor area. Ada pula beberapa serabut di kolumna dorsalis. Aβ Lamina II disebut substansia gelatinosa. 1. Dengan derajat yang sedikit lamina X menerima input dari serabut saraf nosisepsi tipe Aδ . atau C. serabut saraf aferen primer juga berprojeksi dengan dengan serabut motorik baik somatik ataupun simpatis. . menurunnya tonus atau spasme otot gastrointestinal dan traktus urinarius dan pelepasan katekolamin. yang terutama menghantarkan input sensorik non-nosiseptif. menerima input dari serabut Aδ dan C. Sedangkan lamina IV dan V diebut nucleus propius. mengandung neuron yang besar. MDvc=ventrocaudal medial dorsal nucleus. kimia dan mekanik. Projeksi ke thalamus diterima dibeberapa bagian. spinothelensefalik serta spinoservikalis. neuronnya terbagi dua golongan besar yaitu yang merespon input dari serabut Aβ (stimuli suhu dan mekanik ambang rendah).II. thelensefalon. Sedangkan nukleus intralaminaria menerima projeksi dari traktus spinothalamikus dan mengirimkannya ke area luas di kortek serebral. S1. yaitu stimuli suhu. mesensefalon. namun tidak kalah penting.δ . spinomesensefalik dan spinohipothalamik.

10 Proses diterimanya rangsangan oleh nosiseptor hingga menyebabkan timbulnya impuls disebut proses transduksi. Serabut ini akan memfasilitasi terjadinya vasodilatasi perifer lokal. daerah abuabu periakuaduktal. insula serta korteks singulata. 33–39°C untuk TRPV 3. Lobus parietal berperan dalam menentukan lokalisasi dari nyeri. yang memiliki pembagian batasan rangsangan yaitu suhu ~27–34°C untuk TRPV 4. leukotrien. melibatkan banyak substrat dan reseptor. Ada tidaknya myelin berpengaruh pada proses penghantaran impuls saraf yang melalui akson.11 Selain itu kerusakan jaringan menyebabkan dilepaskannya bermacam byproduct jaringan seperti prostaglandin. dengan cara melepaskan substansia P. Pada tingkat ini bahkan terdapat mekanisme modulasi perifer. baik mekanik. kortisol. yang akan meningkatkan pula pelepasan katekolamin dan kortisol. terjadi sangat rumit. neurokinin. dan pleksus saraf).9 Beberapa bagian yang dianggap berperan penting dalam proses ini yaitu thalamus.pada nosiseptor yang paling utama adalah TRPV1. Untuk rangsang suhu terdapat reseptor TRPV1-4 (Transien Reseptor Potential Vaniloid 1-4). glokagon dan aldosteron. plasma ekstravasasi. Fisiologi Nyeri Rangsangan noksius. (gambar 3) Tidak semua nyeri yang berasal dari perifer adalah nyeri nosiseptif.6. Pada neuron yang tidak bermielin impuls saraf atau potensial aksi menjalar sebagai gelombang yang tidak terputus. serta menyebabkan pelepasan hormon katabolik seperti katekolamin. serta proses imunologi dan stimulasi terhadap sel epidermis. tumor necrotizing factor dan neurotropin). histamin.6 IV. serta memiliki efek sinergistik. camphor. suhu atau kimia. Pada kerusakan saraf maka proses utama yang terjadi hampir sama dengan kerusakan jaringan lain.2. dan asam (proton). Proses ini.4. Beberapa substrat ini dapat merangsang nosiseptor (menyebabkan impuls) secara langsung atau tidak langsung melalui sel inflamator dan kebanyakan akan mensensitisasi (meningkatkan frekwensi on off impuls) nosiseptor.2.9 Daerah luas di korteks serebri menerima projeksi dari thalamus. calcitonin gene related peptide (CGRP). (gambar 4) Adanya rangsangan akan meyebabkan terjadinya potensial aksi pada membran yang selanjutnya akan diteruskan melalui akson. beberapa nyeri neuropatik disebabkan oleh kerusakan atau disfungsi dari system saraf perifer (serabut saraf perifer. >42°C untuk TRPV1 yang juga dirangsang oleh capsaicin. sehingga penjalaran akan . metabolisme dan kebutuhan akan oksigen.apa yang disebut respon refleks suprasegmental. bradikinin. Serabut saraf afferen primer juga memiliki fungsi sebagai efektor yang bekerja lokal serta berperan dalam proses penyembuhan. atau reseptor TRPA1 (Transien Reseptor Potential A 1) untuk suhu <18°C. serotonin. Melalui hubungan ini dapat terjadi pula aktifitas simpatis. dan >52°C untuk TRPV2.4 Saluran ion ini dapat bekerja dengan adanya perubahan struktur membran setelah adanya stimuli mekanik. ganglia. substansia P. Sedangkan lobus frontalis yang menerima projeksi dari nukleus thalamus medial berperan dalam aspek afektif dari nyeri melalui hubungannya dengan sistim limbik. adrenodiuretic hormone (ADH).11 Untuk rangsang dingin ditengarai adanya reseptor TRPM8 (Transien Reseptor Potential M 8) untuk suhu <28°C dan juga mentol. secara langsung akan merangsang nosiseptor melalui bekerjanya saluran natrium atau kation non-selektif. adrenocorticotropic hormone (ACTH).10. Sedangkan pada akson yang bermielin impuls akan menjalar dengan potensial aksi hanya pada daerah yang tidak bermielin atau nodus ranvier. Reflek ini akan meningkatkan lebih lanjut aktifitas jantung. somatostatin dan vasoaktif polipeptid intestinal. dan sitokin (interleukin.

proses ini disebut depolarisasi. Impuls yang terjadi di nosiseptor akan menjalar melalui akson dari serabut aferen primer menuju kornu dorsalis di medula spinalis. saluran ion spesifik terhadap natrium akan terbuka dan menyebabkan masuknya natrium dan membuat membran potensial naik. Proses penghantaran impuls dari perifer hingga ke SSP hingga impuls dapat diterjemahkan disebut transmisi. LIF=leukimia inhibitor factor Pada saat aktifasi. dan neuropeptida. Neuropeptida ini akan merangsang sel epidermal(1). yang menyebabkan kembali ke membran potensial istirahat. PG=prostaglandin.1. dan Neurokinin A (NkA). Sedangkan Substansia P berperan mengaktifkan neuron spinal serta meningkatkan respon neuron spinal terhadap EAAs. terutama glutamat dan aspartat. sel imun(2). dan kontraksi otot polos(5). Fase pertama yaitu dari perifer menuju medulla spinalis. SSTR2A=somatostatin reseptor 2A. ekstravasasi plasma(4). EAAs. Potensial aksi ini akan menyebabkan pelepasan neuropeptida seperti substansia P. PK=protein kinase. di sinaps. Konsentrasi ion kalium di dalam sel sekitar 10 kali lebih besar dibandingkan diluar sel sedangkan untuk ion natrium kebalikannya. CRH=corticotropin releasing hormone. glutamat dan aspartat. Di membran terdapat pompa ion (Na+/K+ pump) yang menggunakan energi ATP untuk menjaga perbedaan gradien ini disaat istirahat.3 Pelepasan neurotransmitter ini difasilitasi oleh teraktifasinya voltage gated Ca chanel. Pada saat istirahat membran potensial adalah –70 sampai –80 mV. atau menyebabkan vasodilatasi(3). Hal ini disebut sebagai penghantaran saltatori. Hingga mengaktifkan saluran ion kalium spesifik yang bergantung pada voltage yang akan menyebabkan keluarnya kalium. PAF=platelet activating factor.berlangsung lebih cepat. pada saraf aferen primer terutama saluran ion . Mekanisme perifer. yang akan menimbulkan impuls saraf di kornu dorsalis yang akan diteruskan ke sistim yang berada diatasnya. Transmisi terjadi dalam beberapa fase.7 Timbulnya impuls yaitu dengan mekanisme depolarisasi dan repolarisasi dari membran sel. IL=interleukin. mGluR=metabotropik glutamate receptor. Di kornu dorsalis serabut aferen primer ini akan melepaskan asam amino eksitatoris (EAAs). Peran nosiseptor sebagai efektor. iGluR=ionotropic glutamate receptor. dengan mengeluarkan natrium dan memasukkan kalium. TrkA=tirokinase receptor A. Gambar 4. Hal ini terjadi karena perbedaan gradien konsentrasi ion di dalam dan di luar membran serta sifat selektif permeabilitas dari membran.10 Stimuli noksius akan menyebabkan timbulnya potensial aksi yang tidak hanya mengaktifkan proses di susunan saraf pusat namun juga menimbulkan proses di perifer melalui cabang aksonnya. GIRK=G-proteincoupled inward potasium chanel. NGF=nerve grow factor. Lalu pompa Na+/K+ akan bekerja mengembalikan ke keadaan semula. CGRP. Gambar 3.10 ASIC=acid sensing ion chanel. TNF=tumor necrosis factor. berperan sebagai mediator pada transmisi eksitasi di SSP. TTXr=tetrodotoksin resistent sodium chanel. substansia P dan calcitonin gene related peptide (CGRP).

δ. Reseptor opioid Informasi yang diteruskan ke sistim yang lebih tinggi pada akhirnya akan diterjemahkan sebagai persepsi nyeri. Modulasi dari transmisi nosiseptif terjadi pada level yang multipel. intensitas dan kualitas dari nyeri. serta reseptor δ juga dapat ditemukan disini. yaitu opioid endogen. 2-adrenergik. κ Inhibisi Β-endorfin μ. dan δ . Hal ini berkaitan dengan kondisi sosial dan lingkungan. baik perifer. kainite. κ Inhibisi Norepinefrin α2 Inhibisi Adenosin A1 Inhibisi Serotonin 5-HT1. dan reseptor neurokinin1 (NK1). Terbukti dengan berbedanya persepsi nyeri pada tiap individu dengan rangsang nyeri yang sama. Persepsi ini berupa rasa tidak nyaman pada bagian dari tubuh. Input ini bersama dengan input yang sampai di sistim retikuler dan mesensefalon akan Tabel 2. B Inhibisi Glisin Inhibisi membuat aspek afektif dari nyeri. serta pengalaman yang lalu dan kebudayaan mempengaruhi persepsi individu terhadap nyeri. δ.dan post-sinaps. spinal ataupun supraspinal. Selain itu ditemukan pula reseptor kolinergik baik nikotinik maupun muskarinik. Selain itu ada pula input inhibisi yang berasal dari otak. Terdapat reseptor N-mehyil D-aspartat (NMDA) dan alfa-amino-3-hidroxy-5-methyl-4-isoxazolepropionic acid (AMPA) yang merupakan reseptor ionotropik dan metabotropik dari glutamat. yang sensitive terhadap substansia P. Serabut saraf dari kornu dorsalis akan melalui thalamus dan menuju area somatosensoris korteks serebri kontralateral. NMPA. quisqualate Eksitasi Aspartat NMDA. memiliki karakteristik sebagai sensasi tidak menyenangkan dan emosi negatif yang diartikan sebagai ancaman. (5-HT3) Inhibisi GABA A. NMPA. yaitu gama-aminobutiric acid (GABA) dan neuropeptida. yang akan mengikat reseptor pada serabut aferen primer dan serabut saraf di kornu dorsalis yang akan mencegah transmisi dengan mekanisme pre. dimana reseptor GABAB terlokalisir di presinaps. quisqualate Eksitasi Adenosin triphosphat(ATP) P1.kalsium tipe N.11 Tetapi tidak semua proses yang terjadi di sini memfasilitasi nosiseptif.12 Beberapa neurotransmitter dan neuromodulator yang berperan dalam proses ini dapat dilihat pada tabel 2. Terdapat pula reseptor GABAA dan GABAB. yang akan memodulasi proses transmisi. µ Neurotransmitter mempengaruhi sel saraf melalui reseptornya. reseptor κ . P2 Eksitasi Somatostatin Inhibisi Asetilcholin Muskarinik Inhibisi Enkefalin μ. kainite.α hanya ditemukan di terminal dari serabut aferen primer. Baik korteks atau sistim limbik terlibat dalam proses persepsi. Sebagian serabut ini di thalamus akan direlay menuju sistim limbik. Neurotransmiter nyeri3 Neurotransmitter Reseptor Efek Substansia P NK-1 Eksitasi CGRP Eksitasi Glutamat NMDA. Interneuron spinal melepaskan asam amino inhibisi. Namun secara klasik modulasi terjadi pada kornu dorsalis dimana . dimana akan menghasilkan informasi mengenai lokasi.

berulang atau berkepanjangan dari mediator inflamasi ataupun rangsangan noksius (suhu. seperti pelepasan alogen dari jaringan yang rusak. Modulasi yang terjadi di perifer salah satunya adalah fenomena sensitisasi perifer. proses modulasi di perifer juga memiliki komponen inhibisi. Mereka menjadi lebih mudah dan lebih sering menimbulkan impuls saraf. Yang pada akhirnya melepaskan mediator-mediator kimia yang akan merangsang nosiseptor dan memperluas keterlibatan nosiseptor lainnya. Ini akan menyebabkan hiperalgesia primer dan alodinia pada daerah yang terkena cedera. Kerena nosiseptor akan melepaskan substansia P dan CGRP maka menyebabkan ekstravasasi plasma. adalah suatu keadaan hipereksitabilitas neuron spinal. Nosiseptor yang tersensitisasi menjadi lebih mudah untuk teraktifasi karena ambang rangsangnya menjadi rendah dan memiliki frekuensi aktifitas yang berlebih. monosit dan limfosit mengandung opioid peptida. Sel inflamasi seperti makrofag. ) dan corticotropin releasing hormone dari jaringan. yang melibatkan faktor transkripsi serta menimbulkan perubahan dari proses transkripsi dan ekspresi gen. Selain itu fungsi nosiseptor sebagai efektor juga memberikan kontribusi terhadap terjadinya sensitisasi perifer. Karakteristik lain yaitu sifat konvergensi dimana neuron ini menerima input dari jaringan yang secara anatomic terpisah. terdiri dari efek inhibisi dan fasilitas. Yang kedua (fase lanjut) adalah proses yang bergantung pada transkripsi. Ada dua bentuk dari sensitisasi sentral. Efek fasilitasi ini diperantarai oleh mekanisme sensitisasi sentral. serta alodinia. yang akan dilepaskan dengan rangsangan dari interleukin1 Modulasi pada tingkat spinal cukup kompleks. vasodilatasi dan mengaktifkan sel mast.mekanik atau kimia). Hal ini dapat disebabkan oleh kerusakan jaringan atau radang atau injury saraf dan input dari perifer yang berjalan terus dibutuhkan untuk mempertahankannya. Selain itu juga terdapat pengaruh dari somatostatin. Terjadinya sensitisasi sentral berkaitan stimuli yang berulang dari c-nosiseptor yang akan menimbulkan peningkatan secara gradual frekuensi aktifasi neuron kornu dorsalis . dan platelet. Sensitisasi perifer berperan terhadap terjadinya sensitisasi sentral.4 Beberapa karakteristik dari neuron di kornu dorsalis yaitu mereka akan meningkatkan frekwensi potensial aksi seiring dengan pengulangan input dari serabut C-nosiseptif. hal ini disebut sebagai fenomena “windup”. serotonin. Hal ini terjadi dengan adanya reseptor opioid di perifer. Sensitisasi sentral. basofil.terdapat pengaruh dari otak melalui jalur descenden. Selain itu nosiseptor uang tersensitisasi ini mengalami penurunan latensi respon dan spontan aktifitas bahkan sesudah tidak adanya stimuli. dan kondisi klinis hiperalgesia (respon yang berlebihan terhadap rangsangan nyeri) primer dan allodinia (nyeri yang disebabkan oleh rangsangan yang secara normal tidak menimbulkan nyeri). Dasar dari sensitisasi perifer adalah pelepasan mediator kimia yang akan merangsang lebih lanjut niosiseptor. Proses ini dapat disebabkan oleh adanya impuls dari nosiseptor atau diperantarai sinyal humoral. (gambar 3)β (IL1β Selain fasilitasi. histamin dari sel mast. Sensitisasi di perifer terjadi karena tersensitisasinya nosiseptor oleh karena adanya rangsangan yang intens. Selain itu diikuti pula dengan perluasan daerah penerimaan dari serabut aferen. Hal ini menyebabkan hiperalgesia sekunder. GABA. dimana rasa nyeri dirasakan juga meluas ke daerah yang seharusnya tidak sakit. bradikinin dan metabolit asam arachnoid. yang pertama (fase akut) adalah proses yang bergantung pada adanya aktifitas dari nosiseptor. yang menyebabkan nyeri alih. serta adanya reseptor muskarinik pada proses inhibisi ini. yang bermanifestasi sebagai allodinia pada daerah sekeliling yang cedera.

dimana rasa nyeri dirasakan juga meluas ke daerah yang tidak sakit. Prosesnya adalah terjadinya inhibisi terhadap WDR neuron. Keadaan ini biasanya terjadi setelah adanya cedera saraf. Gate pain theory yang diperluas. substansia P) setelah adanya stimuli noksius.13 2-adrenergik pada terminal saraf simpatis. Dimulai dengan pelepasan substansi eksitatoris (glutamat.4 Hal ini ditunjang dengan ditemukannya reseptor 5-HT3 pada neuron eksitatori di kornu dorsalis. Pada akhirnya akan meningkatkan eksitabilitas neuron kornu dorsalis. Proses ini di perantarai dengan aktifasi reseptor N-metil D-aspartat (NMDA). walau tidak selalu. Namun bisa tidak hilang setelah penyembuhan dan menjadi nyeri kronik. Hal ini dapat disebabkan impuls noksius yang berkepanjangan dari nosiseptor atau sinyal humoral.2 Modulasi yang merupakan inhibisi pada tingkat ini di selain inhibisi segmental juga inhibisi yang melibatkan daerah yang lebih tinggi. dan memfosforisasi ion chanel dan reseptor NMDA. Proses ini diperantarai oleh GABA dan glysin serta adenosin. Substansi ini mengaktifkan NMDA dan neurokinin1 (NK1) reseptor yang meningkatkan kadar kalsium intraseluler. Pengaruh fasilitasi dari struktural supra spinal masih belum dimengerti dengan jelas. dan nyeri alih ke daerah yang tidak sakit. atau memproteksi pada saat penyembuhan. sedangkan proses kedua menyebabkan efek yang lebih luas. Efek yang timbul adalah peningkatan rasa nyeri yang progresif dengan stimuli berulang. koneksi saraf yang berubah (neuron yang biasanya hanya teraktifasi dengan stimulus yang rendah intensitasnya dapat teraktifasi). allodinia.(wind-up). aktifitas spontan neuron kornu dorsalis. dimana saraf simpatis merangsang aktifnya nosiseptor. Secara umum modulasi ini digambarkan dengan teori “gerbang” (gate pain theory) yang pertama kali diajukan oleh Walls dan Melzak pada tahun 1965.4 Sensitisasi sentral berhubungan dengan berkurangnya inhibisi sentral. yang dapat berlangsung selama beberapa menit hingga beberapa jam. Mekanismenya diperantarai oleh reseptor Gambar 5. Perubahan yang terjadi termasuk peniadaan blokade magnesium voltage-dependent dari reseptor NMDA. yang akan menginhibisi impuls noksius. seperti ekspresi adanya siklooksigenase-2 (COX 2) pada SSP beberapa jam setelah adnya kerusakan jaringan. Proses pertama hanya melibatkan sistim yang menerima input.3β Inhibisi segmental terjadi dengan .10α 1-adrenergik pada nosiseptor yang dirangsang oleh pelepasan noradrenalin dari saraf simpatis. Hal ini dapat bermanifestasi sebagai hiperalgesia sekunder.12 Ditenggarai jaras ini berhubungan dengan PGA (daerah abu-abu periakuaduktal)-RVM (rostroventral medulla) sistim. Hal ini menyebabkan glutamat dapat mengaktifasi reseptor NMDA. Pada model hewan ditemukan adanya jaras desenden fasilitori bulbospinal yang diperantarai oleh serotonin dan dihambat oleh antagonis 5-hidroksitriptamin-3 (5-HT3). Sensitisasi pada dasarnya bertujuan untuk adaptasi. dan aktifasi kalsium dependen kinase intraselular. bila teraktifasi. Kinase ini memecah asam arachnoid. perluasan area penerimaan di neuron kornu dorsalis. nyeri persisten. Proses ini dilengkapi dengan adanya penghambatan pelepasan noradrenergik bila ada rangsangan terhadap reseptor α Pada beberapa keadaan terjadi hubungan antara nosiseptor dengan serabut saraf simpatis yang lebih jauh. yaitu jalur inhibitoris desenden. Bentuk kedua atau fase lambat yang menyebabkan terjadinya sensitisasi berkaitan dengan perubahan dari proses transkripsi dan ekspresi gen. (gambar 5) serta serabut dari segment (daerah) lain.

Serabut saraf ini bersinap dengan saraf di kornu dorsalis. Blokade Nyeri Blokade nyeri dapat terjadi di semua tingkat.1. dari perifer hingga sentral.13β Jaras inhibitori adrenergik berasal dari PAG dan formasio retikularis. Mekanisme kerja dari obat golongan NSAID yang paling utama adalah inhibisi dari enzim siklooksigenase (COX) yang akan menyebabkan terhambatnya sintesis prostaglandin. leusin enkefalin dan Modulasi oleh aspek psikologis juga dapat terjadi. dimana ia berfungsi menghasilkan prostaglandin dengan effek kerja yang . Status emosi mempengaruhi melalui aktifitas sistim limbik.3. Penatalaksanaan nyeri menyangkut farmakologi dan non-farmakologi. Daerah abu-abu periakuaduktal (PAG). COX-1 umumnya terdapat pada semua jaringan secara normal. ginjal dan pada platelet. namun bekerja pula di postsinaps.melibatkan neuron WDR yang selain menerima impuls dari nosiseptor.13 -endorfin. Mekanismenya melibatkan banyak bagian di otak. Intervensi farmakologis terutama menggunakan obat yang kerja utamanya memberikan anti-nyeri atau disebut analgesik. Sistim opioid endogen. Sebagai contoh obat antiinflamasi nonsteroid (NSAIDs) menghambat siklooksigenase (COX) yang akan menghambat sintesis prostaglandin. terutama di NRM dan formasio retikularis. Hipnotik sugesti berperan dalam modulasi nyeri dengan melibatkan sistim limbik dan korteks frontal. II dan V. mekanismenya dipengaruhi oleh aktifnya daerah PAG dan kotex orbitofrontal. Jaras ini bertransmisi ke NRM (nuklues raphe magnus) dan medulary reticular formation. Beberapa afek yang memodulasi nyeri antaralain factor pengalihan perhatian yang dapat mengurangi rasa sakit. korteks singulata anterior (ACC). Kedua daerah ini saling berhubungan dan berhubungan secara anatomi dengan rostroventral medulla. GABA dan opioid berperan meningkatkan aktifasi jaras ini.6. Dari daerah rostroventral medulla (RVM) ini mengirim projeksi ke bawah melalui funikulus dorsolateralis menuju lamina I. dan melepaskan substansi inhibisi yang akan berikatan dengan reseptornya pada neuron aferen primer atau neuron di kornu dorsalis. Daerah multipel di otak berperan dalam descending inhibitory pathway ini. di midbrain dan periventrikular dekat hypothalamus mengandung banyak neurotransmitter opioid endogen. bekerja melalui methionin enkefalin. Disisi lain aktifnya daerah thalamus. Mekanisme terjadinya blokade nyeri merupakan kunci utama dari manajemen atau penatalaksanaan nyeri. Norepinefrin.dan post-sinaps. juga menerima impuls non-noksius dari serabut A Proses modulasi supraspinal diperantarai dengan pengaruh dari otak melalui serabut inhibitor descenden. Beberapa analgesik bekerja dengan target meredakan proses radang yang menyebabkan sensitisasi. Opioid endogen ini bekerja primer di presinaptik dengan menginhibisi influks kalsium yang akan menginhibisi pelepasan substansia P. tetapi juga menggunakan obat lain yang memiliki efek blokade nyeri walau itu bukan potensi utamnya. Diketahui COX memiliki tiga isomer. korteks insular (IC) dan korteks somatosensori primer (SI) terlihat pada perhatian terhadap rasa sakit. yang akan merangsang nosiseptor sehingga menimbulkan impuls nosiseptif. Prostaglandin adalah salah satu substansia yang dihasilkan dari adanya proses inflamasi. serotonin.14 V. tetapi memainkan peran di traktus gastrointestinal (GIT). Aktifasinys diperantarai norepinefrin melalui mekanisme pre. secara garis besar tiap isomer ini memiliki karakteristik kerja masing-masing. Efek sebagai anti nyeri atau anti nosisepsi dikenal sebagai sfat analgesik. Serabut saraf serotonergik dari NRM akan meneruskannya ke kornu dorsalis.

dan neuralgia post-herpes. Capsaicin. selain secara umum meningkatkan kerja GABA sebagai mediator inhibisi. Dengan adanya pengaruh inflamasi terhadap mekanisme terjadinya nyeri maka Kortikosteroids. memiliki efek dengan berikatan pada reseptornya. namun beberapa penelitian menunjukan pengaruhnya pada proses di spinal dan korteks yang dapat membawa pada fakta yang lain. osteoartritis. Baclofen. Pada anestesi inhalasi.3. Obat anestetik non-volatil seperti propofol.16. bekerja dengan berikatan dengan reseptornya. Yang akan meningkatkan mekanisme inhibisi di kornu dorsalis. memiliki tempat seb opioid 200 kali lipat dari induknya. lebih banyak bekerja di sentral. sehingga meningkatkan aktifitas dari system modulasi nyeri endogen. obat ini memiliki sifat analgesik dengan mekanisme kerja yang tidak spesifik.1. penghambatan terhadap COX-3 di sentral diperlihatkan sebagai mekanisme kerja utama dari asetaminofen. diduga juga bekerja pada reseptor opioid. N-type calcium channel blocker. yaitu GABA agonis. Tramadol. Efeknya adalah menimbulkan inhibisi transmisi input nosiseptif di kornu dorsalis. Botulinum toksin saat ini sering dipakai untuk nyeri yang berkaitan dengan spasme otot. Rizatriptan. Mixed 2-adrenergik agonis. barbiturat bekerja dengan mekanisme inhibisi melalui GABA. seperti clonidin. Sumatriptan. efeknya akan menyerupai kerja dari opioid endogen. suatu varian dari COX1. yang berarti memfasilitasi kerja reseptor . serta merubah aktifitas sistim limbik. Berguna pada neuropati DM. Zolmitriptan. Proses utamanya adalah inhibisi pada tingkat spinal. Obat antiepilepsy (AED) memiliki kemampuan mengurangi eksitabilitas membran dan menekan terjadinya impuls saraf abnormal pada neuron.µ -opioid.17α Selective 5-HT1B/1D (5-hydroxytryptamine receptor subtypes 1B/1D) receptor agonist. sehingga memblok terjadinya konduksi impuls saraf. Dexamethasone. bekerja dengan cara berikatan dengan GABA reseptor dan menginhibisi proses transmisi. Almotriptan. sehingga sering digunakan pada nyeri neuropatik. NE (norepinephrine)/5-HT atau 5-hydroxytryptamine (serotonin) reuptake inhibitor. Selain itu opioid mengaktifkan modulasi sinyal di medulla spinalis melalui pengaktifan inhibisi sentral. etomidate. bekerja pada reseptornya dan menghasilkan hambatan pada pelepasan neurotransmiter. Ia bekerja dengan memfasilitasi peningkatan konduktansi ion klor melalui membran. Anti-depresan memiliki efek memblok reuptake dari serotonin dan norepinefrin di SSP.15 Mekanisme kerja utama opioid adalah dengan berikatan dengan reseptor opioid di SSP. yang memiliki afinitas terhadap reseptor µ agai anti-nyeri. Zat ini diberikan secara topikal. bekerja mendeplesi substansia P pada terminal saraf sensorik lokal. Benzodiazepin tidak memiliki sifat analgesik langsung. Obat anestesi lokal bekerja dengan memblok saluran natrium pada membran sel saraf. dengan berikatan dengan reseptor opioid di serabut saraf aferen primer dan serabut saraf di kornu dorsalis. Namun capsaicin juga memberikan rasa panas. COX-2 ini menghasilkan prostaglandin yang menimbulkan stimuli pada nosiseptor. Ziconotide. memiliki efek anti-nyeri dengan bekerja pada reseptor-reseptor tersebut. alkaloid yang disintesis dari cabai. Sedangkan COX-2 umumnya tidak ada kecuali apabila ada proses radang. COX-3. Jadi opioid tidak hanya mempengaruhi nyeri secara sensorik tetapi juga secara afektif. Obat Obat-obat anestesi pada umumnya memiliki sifat analgesia dengan mekanisme yang berbeda. Selain itu efektifitas dari tramadol berkaitan pula pada metabolitnya o-desmetiltramadol. Beberapa obat lain diketahui memiliki efek analgesik selain efek utamanya.menguntungkan yaitu mengatur aliran darah ke mukosa gaster dan ginjal. Hai ini terutama berperan menekan proses yang terjadi pada sensitisasi. Methylprednisolone.

3 Pada sebuah studi menggunakan MRI menyatakan area korteks singulata anterior dan thalamus yang teraktifasi saat adanya rangsang noksius akan mengalami deaktifasi setelah akupuntur. Nyeri merupakan sebuah persepsi yang tidak hanya memiliki aspek sensori tetapi juga emosi. electroanalgesia (transcutaneous electrical stimulation). Masih banyaknya mekanisme yang belum terjawab dalam proses terjadinya nyeri. Katz JA. akupuntur atau therapeutic massage. Thermotherapi (aplikasi panas). Pain: Current Understanding of Assessment. Dahl JL. bekerja memblokade nyeri diduga dengan penjelasan pada pain gate theory yang diajukan wall dan melzack. 3. counterirritation. Berry PH. Diakses dari www. Dengan adanya rangsangan noksius atau non-noksius akan memberikan inhibisi pada neuron WDR di kornu dorsalis. 4.20 Dalam penelitian yang dilakukan oleh Tsuchiya dkk. London: Elsevier Chuchill . Metode non-farmakologis biasanya digunakan sebagai ajuvan terhadap terapi farmakologis. Management. Ketamin selain bekerja mendisosiasi thalamus juga memiliki mekanisme kerja sebagai antagonis reseptor NMDA. Pengetahuan akan mekanisme terjadinya nyeri dan blokade nyeri merupakan dasar dari penatalaksanaan nyeri. Terutama pada saluran yang teraktifasi atau terbuka. 2. sehingga memiliki kelebihan sebagai analgetik. membuka peluang yang luas untuk penelitian untuk peningkatan tatalaksana nyeri. Blokade nyeri dapat terjadi akibat interfensi secara farmakologis maupun non farmakologis yang mempengaruhi mekanisme pembentukan persepsi nyeri. dikatakan terjadi peningkatan produksi dari nitrit oksida (NO) perifer pada daerah yang nyeri sehingga menyebabkan meningkatnya sirkulasi lokal yang membantu mengurangi rasa nyeri. secara sederhana digambarkan dengan empat proses besar yaitu transduksi.org. Bond MR. obat anestesi lokal akan membentuk ikatan dengan bagian dalam dari saluran ion. Simpson KH. Covington EC. Potensi analgesik ini lebih tinggi pada S(+) ketamine. Selain itu ada juga dugaan ketamin berhubungan dengan opioid reseptor. Hal ini akan membuat saluran ion menjadi stabil dan terjadi blokade dari timbulnya atau penghantaran impuls. kryotherapi (aplikasi dingin). Daftar Pustaka 1. dimana efek analgesiknya dapat diantagonis dengan nalokson. pada tanggal 1 Mei 2007. and Treatments. prosedur neuroaugmentasi. dan operasi neuroablatif (gangguan terhadap impuls saraf dan atau pengangkatan struktur yang berkaitan dengan nyeri). Proses sensitisasi perifer dan sentral. menjadi dasar dari nyeri patologis. transmisi. Pembentukan sebuah persepsi nyeri melalui proses yang sangat kompleks. yang berperan juga dalam proses sensitisasi. 2. 6.npcnow. Miaskowski C. Pain It’s Nature and Treatment.21 Prosedur bedah saraf untuk mengatasi nyeri termasuk neurolisis (injeksi kimia atau penghasil panas atau dingin untuk merusak neuron). kognitif dan tingkah laku.18 Obat anestesi lokal bekerja dengan berikatan dengan saluran ion. karena ia memiliki afinitas lebih besar terhadap reseptor NMDA. Kesimpulan 1.GABAA. 5.19 Pada akupuntur diduga adanya peranan dari opioid endogen. modulasi dan persepsi.

1990. Dalam: McMahon SB. F H. Wall and Melzack’s Textbook of Pain. Wall and Melzack’s Textbook of Pain. 102(1) : 211-220. 2006. Koltzenberg M. London: Elsevier Chuchill Livingstone. An Introduction of Neuoanatomy and Neurophysiology Relevant to Pain and Regional Anasthesia. Ketamine for Perioperative Pain Management. eds. Frizelle H. Puig MM. 2006. Rathmell J F. Dalam: Hines. Gebhart GF. ed. London: Elsevier Chuchill Livingstone. Carr DB. McCrory CR. 9. Wall and Melzack’s Textbook of Pain. Muray MJ. Streitová H. Dalam: McMahon SB. Kakigi R. Morgan GE. eds. Regional Anasthesia: The Requisites in Anesthesiology. 15. eds. Peripherial Mecanisms of Cutaneous Nosiseption. Himmelseher S. Michail MS. Dalam: McMahon SB. eds. Neuroanatomical substrates of spinal nosiception. Visceral Pain: Basic Mecanisms. 3. Koltzenberg M. Browne J. 55: 282-286. Fundamental of Anatomy and Physiology. 4. Harmon D. Dalam: Shorten G. Central Nervous System mechanisms of Pain Modulation. Koltzenberg M. Dufek J. Representation of Pain in the Brain. Humm AM. Mov Disord 1998. Fields HL. Philadelpia: Saunders Elsevier. and Psychiatry 1992. Puig MM. 4th ed. Wall and Melzack’s Textbook of Pain. Koltzenberg M. Philadelpia: Elsevier Mosby. Anesthesiology Jan 2005. 5. Chapman CR. Kanovský P. 7. 2006. Koerber HR. 18. Neurosurgery. Ringkamp M. Durieux ME. . San Francisco: Pearson Benjamin Cummings. 161:361-72. Postoperative Pain Management:An Evidence-Based Guide to Practice. 11. Raja SN. 13:108-17. 2006. 8. 2006. Basbaum AI.Livingstone. Martini. Daniel P. Dalam: McMahon SB. 2006. 2006. Postoperative Pain Management:An Evidence-Based Guide to Practice. The Management of Pain. Heinricher MM. Bushnell MC. Apkarian AV. 2006. 5th ed. NSAIDS and Coxibs: Clinical Use. Shibasaki H. Znojil V. 14. eds. New York: Lange. eds. Wall and Melzack’s Textbook of Pain. Bielefeld K. 19. 2006. Cellular and Molecular Properties of Primary Afferent Neurons. Clinical Anesthesiology. Philadelpia: Saunders Elsevier. Todd AJ. Harmon D. McQuay HJ. 12. 10. eds. 2006. 2004. 6. 5th ed. 16. Change in lateralization of the P22/N30 cortical component of median nerve somatosensory evoked potentials in patients with cervical dystonia after successful treatment with botulinum toxin A. Philadelpia: Saunders Elsevier. London: Elsevier Chuchill Livingstone. London: Elsevier Chuchill Livingstone. 13. Wall and Melzack’s Textbook of Pain. 2006. McCleskey EW. Dalam: McMahon SB. Dalam: Shorten G. Julius D. Postoperative pain. Dalam: Shorten G. Carr DB. Dalam Bonica JJ. Exp Neurol 2000. Bonica JJ. Postoperative Pain Management:An Evidence-Based Guide to Practice. Meyer RA. Loeser JD. 5th ed. eds. Mechanisms of Postoperative Pain-Nociceptive. Mechanisms of Postoperative Pain-Neuropathic. 7th ed. Burgunder JM. 5th ed. eds. Lauterburg T. Carr DB. 17. 5th ed. Dalam: McMahon SB. 5th ed. London: Elsevier Chuchill Livingstone. Journal of Neurology. Moore A. Puig MM. Tabolt RM. Mechanisms of Pain Relief by Vibration and Movement. 1st ed. Harmon D. Koltzenberg M. Pabst C. Enkephalin and aFGF are differentially regulated in rat spinal motoneurons after chemodenervation with botulinum toxin. Browne J. Browne J. Campbell JN. 2006. Rektor I. R L. eds. Pennsylvania: Lea and Fibiger. Koltzenberg M. London: Elsevier Chuchill Livingstone.

html. Asada A. fMRI Neurophysiological Evidence of Acupuncture Mechanisms. pada tanggal 2 mei 2007. Tsuchiya M. dkk. Anesth Analg 2007.org/aama_marf/journal/article1.20. 21. Taso EF. . Diakses dari www. Acupuncture Enhances Generation of Nitric Oxide and Increases Local Circulation.medicalacupuncture.104:301-307. Inoue M. Cho ZH.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful