BAB 4 LIKUIDASI PENGERTIAN DAN PROSE LIKUIDASI 1. Pengertian dan proses likuidasi Dalam bab 3 sudah dijelaskan pembububaran persekutuan yang disebabkan oleh perubahan keemilikan, akan terjadi jika ada sekutu baru yang masuk atau sekutu lama yang keluar. Di dalam pembubaran persekutuan karena perubahan pemilikan tersebut persektuan lama bubar dan persekutuan baru berdiri, akan tetapi perusahahan masih jalan. Terdapat beberapa pengertian tentang likuidasi diantaranya adalah sebagai berikut ini: Black’s Law Dictionary memberikan definisi likuidasi : “Liquidation is (1) the act of determining by agreement or by litigation the exact amount of something (as debt or damages) that before was not certain (2) The act of settling a debt by payment or other satisfaction (3) The act or process of converting asets into cash, to settle debts. Menurut Rachmadi Usman, Liquidation adalah pembubaran perusahaan diikuti dengan proses penjualan harta perusahaan, penagihan piutang, pelunasan utang, serta penyelesaian sisa harta atau utang antara para pemegang saham. Namun secara umum likuidasi didefinisikan sebagai proses penjualan aktiva non-kas dari persekutuan karena perusahaan persekutuan sudah tidak memungkinkan untuk melunasi kewajiban jangka pendek maupun jangka panjangnya dan operasional perusahaan juga sudah tidak menguntungkan. Jadi perusahaan tetap berjalan hanya sekutu atau pemilikannya yang berubah yaitu: a) Sekutu bertambah, hal ini terjadi dengan masuknya sekutu baru. b) Sekutu berkurang, hal ini terjadi seubungan pengunduran sekutu. Asumsi dasar: Solvensi vs Insolvensi. Persekutuan likuidasi akan terjadi pada persekutuan yang solven dan tidak solven (insolven). Persekutuan dianggap tidak solven apabila aktiva tercatat tidak memadai untuk melunasi kewajiban persekutuan yang ada. Hal ini merupakan pendekatan entitas terhadap masalahinsolvensi. Dari segi hukum insolvensi persekutuan dilihat dari sisi agregat atau kumpulan yaitu persekutuan yang dinyatakan tidak solven jika harta masing-masing sekutu ditambah harta persekutuan tidak mencukupi untuk melunasi kewajiban persekutuan. Didalam likuidasi semua sekutu mengundurkan diri sehingga baik persekutuan maupun perusahaan bubar. Proses likuidasi terdiri atas 4 tahap yaitu: i. Menghitung dan membagi laba atau rugi persekutuan sampai saat likuidasi. Pembagian laba ini dilakukan sesuai dengan metode pembagian laba. Tahap ini hanya diperlukan apabila likuidasi tidak dilakukan pada awal atau akhir periode. ii. Menguangkan (menjual semua aktiva selain kas). Tahap yang kedua ini sering disebut dengan istilah realisasi. Apaabila nilai realisasi aktiva tersebut tidak sama (berbeda) dengan nilai bukunya, maka selisihnya dakui sebagai laba atau rugi realisasi. Laba atau rugi realisasi ini dibagikan pada para sekutu sesuai dengan rasio atau metode pembagian laba yang dipakai. iii. Melunasi utang kepada pihak ketiga. Setelah tersedia kas, maka kas tersebut pertam-tama dipakai untuk melunaasi utang. Menurut kitab undang-undang hukum dagang (KUHD) urutan pelunasan utang dalam hal likuidasi dalam pelunasan utang adalah: a. utang pada pihak ketiga (bukan sekutu) utang yang mempunyai hak prioritas untuk dilunasi terlebih dahulu adalah utang kepada pihak ketiga. Utang pada pihak ketiga ini pun mempunyai prioritas yang tidak sama. b. Utang kepada sekutu. Setelah semua utang utang kepada pihak ketiga dilunasi maka yang mempunyai prioritas berikutnya adalah utang kepada sekutu. Dalam praktek sering kali kepada sekutu ini dilakukan secara bersama-sama dengan pengembalian modal.hal ini dilakukan karena sesuai dengan sifat persekutuan, yaitu tanggung jawab tidak terbatas maka apabila kemudian terbukti bhawa modalnya tidak cukup untuk menanggung rugi sekutu yang bersangutan harus membayar dengan harta pribadi. iv. Membagi sisa kas yang masih ada kepada para sekutu setelah semua utang pada pihak ketiga dilunasi, sisa kas yang ada akan dibagi kepada para sekutu sesuai dengan isi perjanjian persekutuan. Kas yang dibagikan kepada para sekutu terdiri atas dua unsur yaitu pembayaran utang dan pengembalian modal kepada sekutu. Secara hukum, pembayaran utang kepada sekutu lebih diprioritaskan daripada pengembalian modal. Mengingat tanggung jawab para sekutu adalah tidak terbatas dan untuk melindungi kepentingan sekutu yang lain, pada umunya pembayaran utang kepada sekutu dan pengembalian modal dilaksakan bersama. Pembagian kas ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu: a. Secara serentak atau sekaligus yaitu setelah realisasi selesai b. Secara bertahap sesuai dengan tersedianya kas tanpa menunggu selesainya realisasi. 2. Penggolongan likuidasi Berdasarkan saat dan frekuensi pembagian atau distribusi kas dilaksanakan maka likuidasi dapat dilelompaokkan menjadi 2 yaitu: • • Likuidasi sederhana (simple liquidation) Likidasi berangsur (installment lliquidation)  Likudasi sekaligus atau sederhana Likuidasi sedarhana sering juga disebut dengan istilah likuidasi tunggal Likuidasi sekaligus atau likuidasi serentak. Didalam likudasi sekaligus ini pembagian kas hanya dilakukan sekali saja, setelah semua aktiva non kas berhasil direalisir dan semua utang pada pihak ketiga dilunasi. Setelah semua utang dilinasi maka semua kas yang tersedia tersebut selalu dibagi sama sengan jumlah modal bersih persekutuan. Oleh karena itu kas tersebut akan dibagikan kepada para sekutu sesuai dengan saldo modal bersih masing-masing sekutu diperhitungan dengan laba atau rugi realisasi dan utang piutang kepada persekutuan. Modal bersih masingmasing sekutu tersebut ada 5 kemungkinan, yaitu: • • • • • Semua sektu modalnya bersaldo positif Ada sekutu yang modalnya bersaldo negtif Ada sekutu yang modalnya bersaldo negatif dan tidak dapat ditutup. Ada sekutu yang harus menyetor modal dalam keadaan tidak mampu. Kas yang tersedia tidak cukup untuk melunasi utang pada pihak ketiga. Semua sekutu modalnya bersaldo positif. Apabila setelah rugi realisasi saldo modal semua sekutu adalah poositif maka semua sekutu akan menerima bagian kas. Dalam keadaan seperti ini masing-masing sekutu akan menerima bagian kas terbesar saldo modal bersih sekutu yang bersangkutan. Contoh 1 Persekuuan ABCD dengan para sekutu A, B, C, D membagi laba atau rugi dengan ratio 15:20:35:30. Pada awal tahun 1991 persekutuan tersebut sepakat untuk dilikuidasi. Neraca persekutuan per 31 Desember 1990 sebagai berikut: Neraca persekutuan ABCD Persekutuan ABCD NERACA Per 31 Desember 1990 Aktiva kas 25.000.000 Aktiva non-Kas Piutang dagang Persediaan Aktiva Tetap Total aktiva 90.000.000 100.000.000 85.000.000 300.000.000 Pasiva Utang dagang Utang A Modal A Modal B Modal C Modal D Total Pasiva 90.000.000 13.000.000 20.000.000 32.000.000 70.000.000 75.000.000 300.000.000 Dalam likuidasi tersebut semua aktiva non kas (piutang dagang, persediaan, aktiva tetap) dapat terealisasi bersih sekitar Rp. 235.000.000,00 . Semua utang dilunasi dan sisa kas yang akan dibagikan kepada para sekutu. Laporan likuidasinya dapat dilihat sebagai berikut: PERSEKUTUAN ABCD Laporan Likuidasi Daam ribuan rupiah Aktiva kterangan kas Akiva non kas Utang dagang utangA Modal A(15%) Pasiva Modal B (20%) Sblum realisasi Realisasi 235.000 (275.000 ) (6.000) 8.000) (14.000 ) (12.000) 25.000 275.000 90.000 13.000 20.000 32.000 70.000 75000 Moda C Modal (35%) (30%) D Saldo stlh 260.000 realisasi Pelunasan (90.000 utang ) - 90.000 13.000 14.000 24.000 56.000 63.000 - (90.000 ) - - - -- -- Saldo stlh 170.000 plunasan utang Pembgian 170.000 kas Setelah slsai pmbgian kas - - - 13.000 14.000 24.000 56.000 63.000 - - (13.000 ) (14.000 ) - (24.000 ) - (56.000 ) - (63.000) - - - - Jurnal yang dibuat oleh perusahaan sehubungan dengan likuidasi tersebut adalh:  Untuk mencatat realisasi aktiva non kas Kas Modal A Modal B Modal C Modal D 235.000.000 6.000.000 8.000.000 14.000.000 12.000.000 Piutang Persediaan Aktiva tetap Keterangan: Besarnya rugi realisasi adalah: Niaibku aktiva non kas yang terealisir: 90.000.000 100.000.00 85.000.000 Piutang Persediaan Aktiva tetap Jumlah Nilai realisasi: Rugi realisasi: 90.000.000 100.000.000 85.000.000 + 275.000.000 235.000.000 _40.000.000 Pembagian rugi realisasi: A= 15% x 40.000.000= 6.000.000 B= 20% x 40.000.000= 8.000.000 C=35% x 40.000.000= 14.000.000 D=30% x 40.000.000= 12.000.000  Mencatat pelunasan piutang kpda pihk ketiga: Utang dagang 90.000.000 Kas  90.000.000 Mencatat pembagian kas: utangA modal A modal B modal C modal D 13.000.000 14.000.000 24.000.000 56.000.000 63.000.000 kas 170.000.000 Ada Sekutu yang Modalnya Bersaldo Negatif Akan Tetapi Dapat Ditutup dengan Utang kepada Sekutu yang Bersangkutan Kadang-kadang rugi realisasi demikian besarnya sehingga ada sekutu yang modalnya defissit. Apabila persekutuan mempunyai utang kepada sekutu yang bersangkutan (sekutu yang modalnya defisit mempunyai piutang kepada persekutuan) maka modal defisit tersebut akan ditutup (diperhitungkan ) dengan utang kepada sekutu Contoh 2 Dari data pada contoh 1 yaitu persekutuan ABCD ang membagi rgi laba dapat direalisasi sebesar 135.000.000, laporan likuidasi nya sebagai berikut: PERSEKUTUAN ABCD Laporan Likuidasi ket kas Akiva non kas Sblum realisasi Realisasi 135.000 Saldo stlh realisasi Pelunasa n utang Saldo stlh plunasan utang Mnutup modal defist (1.000) 1.000 70.000 13.000 (1.000) 4.000 21.000 33.000 (90.000) (90.000) 160.000 (275.000) 90.000 13.000 (21.000) (1.000) (28.000) (4.000) (49.000) (21.000) (42.000) (33.000) 25.000 275.000 Utang dagang 90.000 13.000 utangA Modal A(15%) 20.000 Modal B Moda C Modal D (20%) 32.000 (35%) 70.000 (30%) 75000 dngan rasio 15:20:35:30 dengan neraca seperti pada tabel dilikuidasi dan seluru aktiva non kas hanya Saldo stelh dfisit dittup Pembgia n kas Setelah slse pmbgian kas 70.000 - - 12,000 -- 4.000 21.000 33.000 (70.000) -- - (12.000) - (4.000) (21.000) (33.000) - - - - - - - - Jurnal yang dibuat oleh perusahaan dalam rangka likuidasi adalah :  Untuk mecatat ralisasi dan mengakui rugi realisasi: Kas Modal A Modal B Modal C Modal D 135.000.000 21.000.000 28.000.000 49.000.000 42.000.000 Piutang dagang Persediaan Aktiva tetap keterangan: dalam realisasi tersebut terjadi rugi: piutang dagang persediaan aktiva tetap 90.000.000 100.000.000 85.000.000 + 90.000.000 100.000.000 85.000.000 jumlah nilai realisasi rugi realisasi 275.000.000 135.000.000 140.000.000  pembagian rugi realisasi: A= 15% x 140.000.000= 21.000.000 B= 20% x 140.000.000= 28.000.000 C=35% x 140.000.000= 49.000.000 D=30% x 140.000.000= 42.000.000  Untuk mencatat pelunasan piutang Utang dagang 90.000.000 Kas  90.000.000 Mentransfer utang kepada A ke Modal A Utang A Modal A 1000.000 1.000.000  Mencatat pembagian kas: Utang kepada A moal B modal C modal D 12.000.000 4.000.000 21.000.000 33.000.000 kas 70.000.000 Ada sekutu yang modalnya bersaldo negatif akan tetapi tidak dapat di tutup dengan utang piutang. Seperti telah diuraikan dimuka bahwa apabila kerugian realisasi sangat besar dapat berakibat modal sekutu dapat defisit. Moda yang defisit tersebut harus ditutup dengan modal kepada sekutu yang bersangkutan apabila utang kepada sekutu tidak cukup untuk menutup defisit atau persektuan tidak mempunyai utang kepada sekutu yang modalnya defisit maka sekutu yang bersangkutan harus menutup dengan cara menyetorkna kas atau aktiva yang lain asal disetuji oleh sekutu yang lain. Penyetoran dapat saat langsung kepada sekutu yang lain dan dapat juga melaui persekutuan. Pembagian kas yang ada dapat menunggu setoran dari sekutu yang defisit dan dapat juga langsung dilakukan tergantung pada perjanjian persekutuan. Apabila kas dibagi tanpa menunggu setoran kas maka saldo defisit tersebut untuk sementara ditanggung oleh sekutu yang lain. Contoh 3 Dari data pada contoh 1 yaitu persekutuan ABCD ang membagi rugi laba dengan rasio 15:20:35:30 dengan neraca seperti pada tabel dilikuidasi dan seluru aktiva non kas hanya dapat direalisasi sebesar 95.000.000 dan semua sekutu dalam keadaan mampu. Laporan likuidasi nya sebagai berikut: PERSEKUTUAN ABCD Laporan Likuidasi Ket kas Akiva non kas Sblum realisasi Realisasi 95.000 (275.000 ) Saldo stlh 120.000 realisasi Pelunasan (90.000) utang Saldo stlh 30.000 (90.000 ) 13.000 (7.000) (4.000) 7.000 21.000 90.000 13.000 (27.000 ) (7.000) (4.000) (36.000) (63.000 ) (7.000) (21.000) (54.000) 25.000 275.000 Utang dagang 90.000 13.000 utangA Modal A(15%) 20.000 Modal B Moda C Modal (20%) 32.000 (35%) 70.000 (30%) 75.000 D plunasan utang penutupn defistA Saldo stelh dfisitA dittup Pembgian (30.000) kas Saldo setelah pmbgian kas Setoran kas dariB Saldo stlh 4.000 storn B Pmbagian (4.000) kas dari B Stlh pmbgian kas dri B jurnal yang dibuat oleh perusahaan dalam angka likuidasi adalah :  - - - (7.000) 7.000 - - - 30.000 - - 6,000 -- (4.000) 7.000 21.000 -- - (5.250) - - (5.250) (19.500) - - - 750 - (4.000) 1.750 1.500 4.000 - - - - 4.000 - - - - 750 - - 1.750 1.500 - - (750) - - (1.750) (1.500) - - - - - - - - Untuk mecatat ralisasi dan mengakui rugi realisasi: Kas modalA modal B modal C 95.000.000 27.000.000 36.000.000 63.000.000 modal D 54.000.000 piutang dagang persediaan aktva tetap 90.000.000 100.000.000 85.000.000 keterangan: dalam realisasi tersebut terjadi rugi: - nilai buku aktiva non kas yang direalisir 90.000.000 100.000.000 85.000.000 + 275.000.000 95.000.000 180.000.000 piutang dagang persediaan aktva tetap jumlah - nilai realisasi rugi realisasi  pembagian rugi realisasi: A= 15% x 180.000.000= 27.000.000 B= 20% x 180.000.000= 36.000.000 C=35% x 180.000.000= 63.000.000 D=30% x 180.000.000= 54.000.000  Untuk mencatat pelunasan piutang Utang dagag 90.000.000 Kas  90.000.000 Menutup defisit A seesar 7.000.000 dengan utang A dengan jumlah sama: Utang A Modal A 7.000.000 7.000.000  Mencatat pembagian kas kepada para sekutu: Utang kepada A modal C modal D 5.250.000 5.250.000 19.500.000 kas 30.000.000  Mencatat setoran kas dari B Kas 4.000.000 Modal B 4.000.000  mencatat pembagian kas dari B: Utang kepada A modal C modal D 750.000 1.750.000 1.500.000 kas 4.000.000 apabila setoran kas B tersebut langsung pada sekutu yang lain,maka akan dicatat: Utang kepada A modal C modal D 750.000 1.750.000 1.500.000 modal B 4.000.000 Sekutu yang Harus Menyetor Modal Secara Pribadi dalam Keadaan Tidak Mampu Apabila sekutu yang saldonya defisit tersebut secara pribadi dalam keadaan tidak mampu maka kewajibanya akan ditanggung oleh sekutu yang lain yang mampu, masingmasing secara proporsional dengan rasio perbandingan rugi laba . contoh 4 Dari data contoh 3 akan tetapi sekutu B secara pribadi dalam keadaan tidak mampu dalam bidang ekonomi. Laporan likuidasinya sebagai berikut: ket kas Akiva non Utang kas Sblum realisasi Realisasi Saldo stlh realisasi Pelunasa n utang Saldo stlh plunasan utang penutupn defistA Saldo stelh dfisitA dittup Defisit yg -(750) 4.000 (1.750) (1.500) 30.000 6,000 -(4.000) 7.000 21.000 (7.000) 7.000 30.000 13.000 (7.000) (4.000) 7.000 21.000 (90.000) (90.000) 95.000 120.000 (275.000) 90.000 13.000 (27.000) (7.000) (36.000) (4.000) (63.000) (7.000) (54.000) (21.000) 25.000 275.000 dagang 90.000 13.000 utangA Modal A(15%) 20.000 Modal B Modal C Modal D (20%) 32.000 (35%) 70.000 (30%) 75.000 ditanggu ng A C D Saldo Pnutupn dfisit A dg utang Saldo Pmbagia n kas Stlh pmbgian kas dri B jurnal yang dibuat oleh perusahaan dalam rangka likuidasi adalah :  30.000 - - - 6.000 750 (750) 750 - 5.250 - 1.500 - 30.000 (30.000) - - 5.250 (5.250) - - 5.250 (5.250) 19.500 (19.500) - - - - - - - - Untuk mencatat realisasi dan mengaki rugi realisasi: Kas modalA modal B modal C modal D 95.000.000 27.000.000 36.000.000 63.000.000 54.000.000 piutang dagang persediaan aktiva tetap 90.000.000 100.000.000 85.000.000 Kas yang Ada Tidak Cukup untuk Melunasi Utang Pihak Ketiga Kadang-kadang hasil realisasi pihak ketiga sangat kecil sehingga untuk melunasi hutang kepada pihak ketiga saja tidak cukup. Daam keadaan demikian, jumlah modal secara keseluruhan sudah pasti negatif. Walaupun demkian ada kemungkinan ada sekutu tertentu yang modalnya positif.  Likuidasi berangsur Seringkali proses realisasi memerlukan waktu yang cukup lama. Dalam keadaan seperti ini sebaiknya pembagian kas tidak usah menunggu selesainya relisasi. Setelah semua utang pada pihak ketiga selesai berarti sisa kas yang ada adalah hak sekutu. Oleh karena itu pembagian kas akan dilakukan setiap saat tersedia kas, tanpa menunggu selesainya realisasi. Untuk menentukan besarnya bagian kas masingmasing sekutu dapat dihitung dengan2 cara yaitu: o Membuat perhitungan pembagian o Membuat program pembagian Perhitungan pembagian kas Prosedur perhitungan pembagian kas adaah: a) b) Menghitung saldo modal bersih masing-masing sekutu. Menghitung rugi potensial Membagi rugi potensial d) Menghitung saldo modal bersih masing-masing sekutu seteah diperhitungkan dengan c) rugi potensial. e) Membagi modal bersih sekutu yang defisit. Progam Pembagian kas Membuat perhitungan pembagian kas setiap saat akan dilakuakn pembagian kas adalah tidak praktis. Ketidakpraktisan cara pertama tersebut dimuka dapat diatasi dengan membuat program (rencana) pembagian kas. Dalam cara yang kedua ini rencana pmbagian kas cukup dibuat sekali saja yaitu sebelum pembagian kas. Besarnya bagian kas dengan cara yang kedua ini tidak berbeda dengan cara yang pertama. Prosedur penyusunan rencana (program) pembagian kas adalah sbb: a) Menghitung saldo modal bersih masing-masing sekutu. b) Menghitung kemampuan masing-masing sekutu untuk menanggung rugi persekutuan. Besarnya rugi maksimal persekutuan yang masih dapat ditanggung oleh masngmasing sekutu adalah sama dengan : saldo modal bersih (hasil langkah 1) dibagi dengan rasio pembagian laba sekutu. c) Menyusun urutan rangking kemampuan masing-masing sekutu didalam mengnggng rugi dan menghitung selisih antar rangking tersebut. d) Menyusun urutan prioritas pembagian kas dan besarna bagian kas untuk masing- masing sekutu. Setelah selesai menyusun program distribusi kas ini maka setiap tersedia kas yang siap dibagi, maka pembagiannya dapat dilakukan sesuai dengan program trsebut. Hasil pembagian kas dengan membuat program pembagian kas ini akan sama dengan hasil pembagian kas dengan cara membuat perhitungan setiap saat akan dilakukan pembagian kas. BAB III KESIMPULAN Liquidation is (1) the act of determining by agreement or by litigation the exact amount of something (as debt or damages) that before was not certain (2) The act of settling a debt by payment or other satisfaction (3) The act or process of converting asets into cash, to settle debts. Proses likuidasi terdiri atas 4 tahap yaitu: 1. Menghitung dan membagi laba atau rugi persekutuan sampai saat likuidasi. Pembagian laba ini dilakukan sesuai dengan metode pembagian laba.. 2. Menguangkan (menjual semua aktiva selain kas). Tahp yang kedua ini sering disebut dengan istilah realisasi. 3. Melunasi utang kepada pihak ketiga. Menurut kitab undang-undang hukum dagang (KUHD) urutan pelunasan utang dalam hal likuidasi dalam pelunasan utang adalah:   utang pada pihak ketiga (bukan sekutu) Utang kepada sekutu. 4. Membagi sisa kas yang masih ada kepada para sekutu setelah semua utang pada pihak ketiga dilunasi, sisa kas yang ada akan dibagi kepada para sekutu sesuai dengan isi perjanjian persekutuan. Modal bersih masing-masing sekutu tersebut ada 5 kemungkinan, yaitu: • • • • • Semua sektu modalnya bersaldo positif Ada sekutu yang modalnya bersaldo negtif Ada sekutu yang modalnya bersaldo negatif dan tidak dapat ditutup. Ada sekutu yang harus menyetor modal dalam keadaan tidak mampu. Kas yang tersedia tidak cukup untuk melunasi utang pada pihak ketiga. Untuk menentukan besarnya bagian kas masing-masing sekutu dapat dihitung dengan 2 cara yaitu: o Membuat perhitungan pembagian o Membuat program pembagian BAB IV DAFTAR PUSTAKA L. suparwoto, Msc. 2009. Akuntansi Keuangan Lanjutan Bagian I. Yogyakarta : BPFEYogyakarta. Bryan A. Garner (ed.) Black’s Law Dictionary Seventh Edition, St. Paul Minn, West Publishing Co., 1999, hlm. 942. Fransisca PoPeraturan Pemerintahy Melati, Likuidasi Bank dan Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Penyimpan Dana, Jakarta, Tesis Magister Kenotariatan Universitas Indonesia, 2004, hlm. 35-36. Rachmadi Usman, Aspek-Aspek Hukum Perbankan di Indonesia, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2001, hlm. 197. BAB I PENDAHULUAN Likuiditas adalah kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Pengertian lain adalah kemampuan seseorang atau perusahaan untuk memenuhi kewajiban atau utang yang segera harus dibayar dengan harta lancarnya Menurut PP 25 tahun 1999 pasal 1 Likuiditas diukur dengan rasio aktiva lancar dibagi dengan kewajiban lancar. Perusahaan yang memiliki likuiditas sehat paling tidak memiliki rasio lancar sebesar 100%. Ukuran likuiditas perusahaan yang lebih menggambarkan tingkat likuiditas perusahaan ditunjukkan dengan rasio kas (kas terhadap kewajiban lancar). Rasio likuiditas antara lain terdiri dari: Current Ratio : adalah membandingkan antara total aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Quick Ratio: adalah membandingkan antara (total aktiva lancar – inventory) dengan kewajiban lancar. Jika suatu perusahaan sudah tidak dapat menghasilkan laba dan cenderung merugi maka para sekutu dalam perusahaan tersebut dapat membubarkan perusahaan. Dengan bubarnya perusahaan tersebut akan diperhitungkan berapa jumlah utang piutang yang dimiliki dan apabila mempunyai utang kepada pihak ketiga, seluruh aktiva yang ada harus dijual untuk membayar semua kewajiban perusahaan. Jika masih ada sisa kas selanjutnya akan dibagikan kepada para sekut. Untuki tu dalam bab ini kita akan membahas lebih lanjut tentang likuidasi, proses ikuidasi dan macam-macam likuidasi tersebut beserta contohnya.
Sign up to vote on this title
UsefulNot useful