P. 1
Kti Jiwa Menarik Diri

Kti Jiwa Menarik Diri

|Views: 4,615|Likes:

More info:

Published by: -Aditya Wireman Outsiderz on Nov 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/21/2015

pdf

text

original

Sections

  • BAB I
  • PENDAHULUAN
  • A.LATAR BELAKANG
  • dengan Isolasi Sosial : Menarik Diri di Wisma Antareja Rumah Sakit
  • B.TUJUAN PENULISAN
  • C.SISTEMATIKA PENULISAN
  • BAB II
  • TINJAUAN PUSTAKA
  • A.Konsep Dasar Medis
  • 1.Pengertian Menarik Diri
  • 2.Rentang respon
  • 3.Penyebab
  • 4.Manifestasi Klinik
  • 5.Patopsikologi
  • 6.Sumber Koping
  • 7.Mekanisme Koping
  • 8.Penatalaksaan medis
  • B.Konsep Dasar Keperawatan
  • 1.Pengkajian
  • 2. Pohon Masalah
  • Akibat
  • Penyebab
  • 3. Diagnosa Keperawatan
  • 4. Intervensi Keperawatan
  • I.Pasien
  • SP 1 (pasien) :
  • SP 2 (pasien) :
  • SP 3 (pasien) :
  • II.Keluarga
  • SP 1 (keluarga) :
  • SP 2 (keluarga) :
  • SP 3 (keluarga) :
  • harga diri rendah
  • I. Pasien
  • SP 1 (Pasien)
  • SP 2 (Pasien)
  • SP 1 (Keluarga)
  • SP 2 (Keluarga)
  • halusinasi
  • Tujuan :
  • SP 3 (Pasien)
  • SP IV (Pasien)
  • II. Keluarga
  • SP 3 (Keluarga)
  • Tujuan:
  • dan lingkungan
  • SP 4 (Pasien)
  • BAB III
  • TINJAUAN KASUS
  • B. ANALISA DATA
  • C.POHON MASALAH
  • D.DIAGNOSA KEPERAWATAN
  • E.PRIORITAS MASALAH
  • F.FOKUS INTERVENSI KEPERAWATAN
  • Diagnosa 1. Isolasi Sosial
  • BAB IV
  • PEMBAHASAN
  • A.Pengkajian
  • C.Intervensi
  • D.Implementasi
  • E.Evaluasi
  • F.Hambatan
  • BAB V
  • PENUTUP
  • A.KESIMPULAN
  • B.SARAN

1 BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi hidup manusia. Menurut WHO, sehat diartikan sebagai suatu keadaan sempurna baik fisik, mental dan sosial serta bukan saja keadaan terhindar dari sakit maupun kecacatan (Sujono dan Teguh 2009 : 1). Sedangkan menurut Undang-Undang Kesehatan No. 9 tahun 1960 definisi kesehatan merupakan keadaan sejahtera yang meliputi fisik, mental dan sosial, cacat dan kelemahan (Suliswati, 2005) Berdasarkan Undang-Undang No 3 tahun 1966, kesehatan jiwa adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu selaras dengan keadaan orang lain. Makna kesehatan jiwa mempunyai sifat harmonis dan memperhatikan segi kehidupan manusia dan cara berhubungan dengan orang lain (Sujono dan Teguh 2009 : 1). Menurut Rasmun (2001: 11) sehat mental adalah kemampuan individu untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Sedangkan definisi gangguan jiwa menurut Undang-Undang No 3 tahun 1966 tentang kesehatan jiwa. Gangguan jiwa adalah adanya gangguan pada fungsi kejiwaan. Fungsi kejiwaan adalah proses, emosi, kemauan dan perilaku psikomotorik termasuk bicara (Suliswati, 2005) Kehidupan manusia dewasa ini yang semakin sulit dan kompleks serta

2 semakin bertambahnya stressor psikososial akibat budaya masyarakat modern yang cenderung lebih sekuler, menyebabkan manusia tidak dapat menghindari tekanan-tekanan hidup yang mereka alami. Kondisi kritis ini membawa dampak terhadap peningkatan kualitas maupun kuantitas penyakit mental-emosional manusia. Kondisi diatas dapat menyebabkan timbulnya gangguan jiwa khususnya pada gangguan isolasi sosial : menarik diri dalam tingkat ringan ataupun berat yang memerlukan penanganan di rumah sakit baik di rumah sakit jiwa atau di unit perawatan jiwa dirumah sakit umum (Nurjannah, 2005: 1). Setiap tahun jumlah penderita gangguan jiwa semakin meningkat. Menurut data Departemen Kesehatan tahun 2007, jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia saat ini, mencapai lebih dari 28 juta orang, dengan kategori gangguan jiwa ringan 11,6 persen dan 0,46 persen menderita gangguan jiwa berat (http://www.kompas.com/ , diakses tanggal 18 Juli 2011: 11.00 WIB). Hasil penelitian WHO di Jawa Tengah tahun 2009 menyebutkan dari setiap 1.000 warga Jawa Tengah terdapat 3 orang yang mengalami ganguan jiwa. Sementara 19 orang dari setiap 1.000 warga Jawa Tengah mengalami stress (Depkes RI, 2009). Berdasarkan hasil pencatatan rekam medik di Rumah Sakit Jiwa Prof. dr. Soeroyo Magelang selama periode 2010, dari 9075 pasien yang dirawat di ruang inap terdapat pasien dengan Menarik Diri 280, Isolasi Sosial 273. (Buku Rekam Medik RSJP Prof. Dr. Soeroyo Magelang, 2010) Salah satu bentuk dari gangguan kesehatan jiwa adalah Schizophrenia.

3 Skizofrenia merupakan suatu penyakit otak persisten dan serius yang mengakibatkan perilaku psikotik, pemikiran konkret, dan kesulitan dalam memproses informasi, hubungan interpersonal, seta memecahkan masalah, menurut Gail W. Stuart (2006 : 240). Skizofrenia merupakan gangguan jiwa berupa perubahan pada psikomotor, kemauan, afek emosi dan persepsi. Akibat dari gejala yang muncul, timbul masalah-masalah bagi klien meliputi, kurang perawatan diri, resiko menciderai diri dan orang lain, menarik diri, dan harga diri rendah (Townsend, 1998: 188). Dalam hal ini penulis akan membahas masalah kejiwaan yaitu gangguan berhubungan sosial : menarik diri. Menurut Sujono Riyadi & Teguh Purwanto (2009 : 151) gangguan hubungan sosial merupakan suatu gangguan hubungan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam berhubungan sosial Dan ada juga pendapat yang mengemukakan bahwa Isolasi sosial merupakan kondisi ketika individu atau kelompok mengalami, atau merasakan kebutuhan, atau keinginan untuk lebih terlibat dalam aktivitas bersama orang lain, tetapi tidak mampu

mewujudkannya (Carpenito, 2009: 1045) Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk mengangkat masalah-masalah ini menjadi masalah keperawatan utama dalam pembuatan karya tulis ilmiah dengan judul : “Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Tn. M dengan Isolasi Sosial : Menarik Diri di Wisma Antareja Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soeroyo Magelang”.

Tujuan umum Untuk mendapatkan gambaran dan pengalaman nyata tentang pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien Tn. Untuk memperoleh pengalaman nyata dalam membuat diagnosa keperawatan dan penetapan rencana asuhan keperawatan pada klien dengan masalah utama Isolasi sosial : menarik diri. dr. Untuk memperoleh pengalaman nyata dalam melakukan tindakan keperawatan pada klien dengan masalah utama Isolasi sosial : menarik diri. Tujuan Khusus Tujuan khusus dari penulisan laporan ini adalah untuk : a.4 B. Untuk memperoleh pengalaman nyata dalam melakukan pengkajian pada klien dengan masalah utama Isolasi sosial : menarik diri. d. . c. Untuk memperoleh pengalaman nyata dalam mengevaluasi hasil tindakan keperawatan pada klien dengan masalah utama Isolasi sosial: menarik diri. Melalui pendekatan proses keperawatan. b. Soeroyo Magelang. TUJUAN PENULISAN Untuk lebih konkritnya apa yang ingin dicapai dalam karya tulis ini. penulis mengemukakan pokok tujuan penulisan sebagai berikut: 1. M dengan isolasi sosial : menarik diri selama satu hari pada tanggal 12 Juli 2011 di ruang Antareja RSJP Prof. 2.

SISTEMATIKA PENULISAN Sistematika penulisan dalam laporan pengelolaan ini terdiri dari 5 BAB. BAB V Penutup. meliputi kesimpulan dan saran. perencanaan. tujuan penulisan dan sistematika penulisan. pelaksanaan. evaluasi dan hambatan. meliputi : konsep dasar medis dan konsep dasar keperawatan. pembahasan berisi pengkajian. perencanaan. C.5 e. BAB I Pendahuluan. diagnosa. BAB II Tinjauan Pustaka. pohon masalah. meliputi : Latar belakang masalah. Dapat membandingkan kesenjangan antara teori dengan kenyataan yang penulis dapatkan. BAB III Tinjauan Kasus. Untuk memperoleh pengalaman nyata dalam pendokumentasian asuhan keperawatan pada klien dengan masalah utama Isolasi sosial : menarik diri. meliputi : pengkajian. . f. diagnose keperawatan yang muncul. analisa data. pelaksanaan dan evaluasi BAB IV Pembahasan.

Gangguan hubungan sosial merupakan suatu gangguan hubungan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan perilaku maladaptive dan mengganggu fungsi seseorang dalam berhubungan sosial. Oleh karena itu individu perlu membina hubungan interpersonal. Ada juga pendapat yang mengemukakan bahwa . 2005 : 208). Konsep Dasar Medis 1. A. Sedangkan menurut referensi yang lain mengatakan bahwa isolasi sosial adalah pengalaman kesendirian secara individu dan dirasakan segan terhadap orang lain dan sebagai keadaan yang negatif atau mengancam (Nanda. Pengertian Menarik Diri Banyak sekali pendapat mengenai menarik diri diantaranya menurut Sujono & Teguh dalam bukunya halaman 151. Keintiman saling ketergantungan dalam menghadapi dan mengatasi berbagai kebutuhan setiap hari.6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Dalam bab ini diuraikan tentang konsep dasar mengenai isolasi sosial : menarik diri yang ditinjau dari dua segi yaitu medis dan keperawatan. Tiap individu mempunyai potensi untuk terlibat dalam hubungan sosial pada berbagai tingkat hubungan. individu tidak mampu memenuhi kebutuhannya tanpa adanya hubungan dengan lingkungan sosial. yaitu hubungan intim biasa sampai hubungan saling ketergantungan.

tetapi tidak mampu mewujudkannya (Carpenito. kegagalan. 2009: 1045) Jadi isolasi sosial : menarik diri adalah gangguan berhubungan yang ditandai dengan isolasi sosial dan usaha untuk menghindari interaksi dengan orang lain. tidak fleksibel. atau keinginan untuk lebih terlibat dalam aktivitas bersama orang lain. Gangguan tersebut merupakan pola respon maladaptif. Rentang respon Menurut Gail W. atau merasakan kebutuhan. dan menetap yang cukup berat menyebabkan disfungsi perilaku atau distress yang nyata. pikiran. 2. Kondisi tersebut menjadikannya mengalami kesulitan untuk berhubungan dengan orang lain. prestasi. Stuart. Stuart (2006 : 275) Gangguan kepribadian biasanya dapat dikenali pada masa remaja atau lebih awal dan berlanjut sepanjang masa dewasa. . Individu merasa dia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi rasa.1 : Rentang respon sosial (Gail W.7 Isolasi sosial merupakan kondisi ketika individu atau kelompok mengalami. Respon adaptif Respon maladaptif Solitude Autonomi Mutuality Interdependen Kesepian Penarikan diri Tergantung Manipulasi Impulsif Narcissisme Gambar 2. 2006 : 275).

8 Respon adaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan dengan cara yang dapat diterima oleh norma-norma masyarakat. Menurut Sujono & Teguh (2009 : 155) respon ini meliputi : a. Solitude atau menyendiri Merupakan respon yang dilakukan individu untuk merenungkan apa yang telah terjadi atau dilakukan dan suatu cara mengevaluasi diri dalam menentukan rencana-rencana. b. Autonomy atau otonomi Merupakan kemampuan individu dalam menentukan dan menyampaikan ide, pikiran, perasaan dalam hubungan sosial. Individu mampu menetapkan untuk interdependen dan pengaturan diri. c. Mutuality atau kebersamaan Merupakan kemampuan individu untuk saling pengertian, saling memberi, dan menerima dalam hubungan interpersonal. d. Interdependen atau saling ketergantungan Merupakan suatu hubungan saling ketergantungan saling tergantung antar individu dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal. Respon maladaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan masalah dengan cara-cara yang bertentangan dengan norma-norma agama dan masyarakat. Menurut Sujono & Teguh (2009 : 155) respon maladaptif tersebut adalah :

9 a. Manipulasi Merupakan gangguan sosial dimana individu memperlakukan orang lain sebagai obyek, hubungan terpusat pada masalah

mengendalikan orang lain dan individu cenderung berorientasi pada diri sendiri. Tingkah laku mengontrol digunakan sebagai pertahanan terhadap kegagalan atau frustasi dan dapat menjadi alat untuk berkuasa pada orang lain. b. Impulsif Merupakan respon sosial yang ditandai dengan individu sebagai subyek yang tidak dapat diduga, tidak dapat dipercaya, tidak mampu merencanakan, tidak mampu untuk belajar dari pengalaman dan miskin penilaian. c. Narkisisme Respon sosial ditandai dengan individu memiliki tingkah laku egosentris, harga diri yang rapuh, terus menerus berusaha mendapatkan penghargaan dan mudah marah jika tidak mendapat dukungan dari orang lain. d. Isolasi sosial Adalah keadaan dimana seorang individu mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya. Pasien mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain.

10 3. Penyebab Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan timbulnya menarik diri, adapun faktor tersebut adalah, antara lain : a. Faktor predisposisi Menurut Sujono & Teguh (2009 : 156-157) faktor predisposisi pada gangguan isolasi sosial : menarik diri yaitu : 1) Faktor perkembangan Pada setiap tahap tumbuh kembang terdapat tugas-tugas perkembangan yang harus terpenuhi. Apabila tugas tersebut tidak terpenuhi maka akan mempengaruhi hubungan sosial. Misalnya anak yang kurang kasih sayang, dukungan, perhatian, dan kehangatan dari orang tua akan memberikan rasa tidak aman dan menghambat rasa percaya. 2) Faktor biologis Organ tubuh dapat mempengaruhi terjadinya gangguan hubungan sosial. Misalnya kelainan struktur otak dan struktur limbik diduga menyebabkan skizofrenia. Pada klien skizofrenia terdapat gambaran struktur otak yang abnormal otak atropi, perubahan ukuran dan bentuk sel limbik dan daerah kortikal. 3) Faktor sosial budaya Norma-norma yang salah di dalam keluarga atau

lingkungan dapat menyebabkan gangguan hubungan sosial. Misalkan pada pasien lansia, cacat, dan penyakit kronis yang

4) Faktor komunikasi dalam keluarga Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Faktor presipitasi Menurut Sujono & Teguh (2009 : 157) faktor presipitasi pada klien dengan gangguan isolasi sosial : menarik diri yaitu : 1) Stresor sosial budaya Adalah stres yang ditimbulkan oleh sosial dan budaya masyarakat. b. Dalam teori ini yang termasuk masalah dalam berkomunikasi sehingga menimbulkan ketidakjelasan (double bind) yaitu suatu keadaan dimana seorang anggota keluarga menerima pesan yang saling bertentangan dalam waktu bersamaan atau ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga yang menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan diluar keluarga. Kejadian atau perubahan dalam kehidupan sosial budaya memicu kesulitan berhubungan dengan orang lain dan cara berperilaku. 2) Stresor psikologi Adalah stres yang disebabkan karena kecemasan yang berkepanjangan dan terjadinya individu untuk tidak mempunyai kemampuan mengatasinya.11 diasingkan dari lingkungan. .

teman. Manifestasi Klinik Menurut buku panduan diagnosa keperawatan NANDA (20052006:208-209) isolasi sosial memiliki batasan karakteristik meliputi: Data Obyektif : 1) Tidak ada dukungan dari orang yang penting (keluarga. kelompok) 2) Perilaku permusuhan 3) Menarik diri 4) Tidak komunikatif 5) Menunjukan perilaku tidak diterima oleh kelompok kultural dominant 6) Mencari kesendirian atau merasa diakui di dalam sub kultur 7) Senang dengan pikirannya sendiri 8) Aktivitas berulang atau aktivitas yang kurang berarti 9) Kontak mata tidak ada 10) Aktivitas tidak sesuai dengan umur perkembangan 11) Keterbatasan mental/fisik/perubahan keadaan sejahtera 12) Sedih.12 4. afek tumpul Data Subyektif: 1) Mengekpresikan perasaan kesendirian 2) Mengekpresikan perasaan penolakan 3) Minat tidak sesuai dengan umur perkembangan 4) Tujuan hidup tidak ada atau tidak adekuat 5) Tidak mampu memenuhi harapan orang lain .

sepi dan takut ditinggal orang yang dicintai. Untuk dapat mengatasi masalahmasalah yang bekaitan dengan ansietas diperlukan suatu mekanisme koping yang adekuat. seni kesehatan dan perawatan diri. marah. Sumber koping sebagai model ekonomi dapat membantu seseorang mengintegrasikan pengalaman yang menimbulkan stres dan mengadopsi strategi koping yang berhasil. Dukungan sosial dari peningkatan respon psikofisiologis yang adaptif. Semua orang betapapun terganggu perilakunya tetap mempunyai beberapa kelebihan personal yang mungkin meliputi : aktivitas keluarga.13 6) Ekspresi nilai sesuai dengan sub kultur tetapi tidak sesuai dengan kelompok kultur dominant 7) Ekspresi peminatan tidak sesuai dengan umur perkembangan 8) Mengekpresikan perasaan berbeda dari orang lain 9) Tidak merasa aman di masyarakat 5. tekhnik pertahanan. pekerjaan kecerdasaan dan hubungan interpersonal. hobi. Patopsikologi Individu yang mengalami Isolasi Sosial sering kali beranggapan sumber / penyebab Isolasi Sosial itu berasal dari lingkungannya. tidak dapat dikatakan segala sesuatu yang dapat mengancam harga diri (self esteem) dan kebutuhan keluarga dapat meningkatkan kecemasan. motivasi berasal dari . Sumber-sumber koping meliputi ekonomi. Padahal rangsangan primer adalah kebutuhan perlindungan diri secara psikologik terhadap kejadian traumatik sehubungan dengan rasa bersalah. dukungan sosial dan motivasi. kemampuan menyelesaikan masalah.

14 dukungan keluarga ataupun individu sendiri sangat penting untuk meningkatkan kepercayaan diri pada individu (Stuart dan Sundeen. sosiobudaya) Faktor presipitasi (Sosial. Adapun rentang respon biopsikososial menurut Rasmun (2001 : 13) adalah : Faktor predisposisi (Perkembangan biologi. 1998). budaya. Stuart. 2006 : 275). . psikologi ) Penilaian terhadap stresor Sumber koping Mekanisme koping Idealisme Devaluasi Harga diri Kontruktif Peranan Destruktif Perpecahan Identifikasi diri RENTANG RESPON SOSIAL Adaptif Menyendiri Otonomi Kebersamaan Saling ketergantungan Ketergantungan Kesepian Menarik Diri Respon Maladaptif Manipulasi Impulsif - Narkisme Gambar 2.2 : Patways patopsikologi Isolasi sosial (Gail W.

finansial yang cukup. 7. 2001 : 16). Keterlibatan dalam hubungan yang luas dalam keluarga dan teman. c. Gunakan kreativitas untuk mengekspresikan stress interpersonal seperti kesenian.15 6. b. Kekuatan dapat meliputi seperti model intelegensia atau kreatifitas yang tinggi. Menurut Stuart & Sundeen (1998 : 349) Contoh sumber koping yang berhubungan dengan respon sosial maladaptif termasuk : a. Sumber Koping Sumber koping individual harus dikaji dengan pemahaman terhadap pengaruh gangguan otak pada perilaku. Mekanisme Koping Individu yang mempunyai respon sosial maladaptif menggunakan berbagai mekanisme dalam upayanya mengatasi ansietas. 1998). Ada 5 sumber koping yang dapat membantu individu beradaptasi dengan stressor yaitu ketrampilan dan kemampuan. dukungan sosial dan motivasi (Rasmun. Hubungan dengan hewan peliharaan. ekonomi. Sumber keluarga dapat berupa pengetahuan tentang penyakit. Menurut Stuart & Sundeen (1998 : 349-350) mekanisme koping yang berkaitan dengan jenis spesifik dari masalah yaitu: . ketersediaan waktu dan tenaga dan kemampuan untuk memberikan dukungan secara berkesinambungan (Stuart & Sundeen. Orang tua harus secara aktif mendidik anak dan dewasa muda tentang ketrampilan koping karena mereka biasanya tidak hanya belajar dari pengamatan. tekhnik pertahanan. musik atau tulisan.

Reaksi formasi.16 a. Menurut Depkes (2000). ia akan menggunakan berbagai cara untuk mengatasinya. Penatalaksaan medis Penatalaksanaan medis pada pasien dengan Isolasi sosial Terapi medis Psikofarmaka adalah terapi menggunakan obat dengan tujuan untuk mengurangi atau menghilangkan gejala gangguan jiwa. Idealisasi orang lain. Koping yang berhubungan dengan gangguan kepribadian “Borederline”. 2) Pemisahan.89-91) jenis obat psikofarmaka adalah . Isolasi. Koping yang berkaitan dengan gangguan kepribadian antisosial. 8. Merendahkan orang lain. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Pemisahan. Jika individu berada pada kondisi stress. menurut Rasmun (2003. individu dapat menggunakan satu atau lebih sumber koping yang tersedia (Rasmun. 1) Proyeksi. Proyeksi. Identifikasi proyektif. 2001 : 16). 3) Merendahkan orang lain. b.

febris. antikolinergik/parasimpatik. sindroma parkinsontremor. tekanan intra okuler meninggi. Largactile) Indikasi untuk syndrome psikosis yaitu berdaya berat dalam kemampuan menilai realitas. berdaya berat dalam fungsi-fungsi mental. Clorpromazine (CPZ. gangguan endokrin (amenorhoe. mata kabur. kesulitan dalam miksi dan defekasi. akatsia. Waham. tidak mampu bekerja. gangguan otonomi (hipotensi. hidung tersumbat. halusinasi gangguan perasaan dan perilkau yang aneh atau tidak terkendali. Haloperidol (Haldol. hubungan sosial dan melakukan kegiatan rutin. gangguan kesadaran disebabkan CNS depresan. epilepsy. kesadaran diri terganggu. Efek sampingnya adalah sedasi.17 a. bradikinesia rigiditas). b. kelainan jantung. metabolic (jaundice). mulut kering. Mekanisme kerja dari obat ini adalah obat anti psikosis dalam memblock dopamine pada reseptor paska sinaptik neuron di otak khususnya system limbic dan system ekstra pyramidal. penyakit darah. Serenace) Indikasinya yaitu berdaya berat dalam kemampuan menilai realita dalam fungsi netral serta dalam fungsi kehidupan sehari-hari. gangguan irama jantung). . ginekomasti). Kontra indikasinya yaitu klien dengan penyakit hati. Mekanisme kerja dopamine pada pasca sinap di otak khususnya system pyramidal. penyakit SSP. ketergantungan obat. gangguan ekstra pyramidal (dystonia akut. berdaya berat dalam fungsi kehidupan sehari-hari.

termasuk paska ensepalitis dan idiopatik. implementasi dan evaluasi ( Stuart & Sundeen. c. perumusan diagnosis keperawatan. gangguan kesadaran. Efek sampingnya adalah sedasi. Mekanisme kerja sinergis dengan linidine. epilepsy. mual. Kontra indikasnya adalah bagi pasien yang mempunyai penyakit hati. hidung tersumbat. muntah. antikolinergik/parasimpatik. hypertropi prostat dan obstruksi saluran cerna. penyakit darah. kesulitan dalam miksi dan defekasi. konstipasi. mata kabur. gangguan irama jantung). gangguan otonomi (hipotensi. Efek samping dari obat ini adalah mulut kering. bingung. mulut kering. psikoneurosis. takikardia dilatasi ginjal retensi urine. febris. agitas. sindrom Parkinson akibat obat misalnya resenpira dan fenotiazine. Tremin) Indikasinya untuk segala jenis penyakit Parkinson. glaucoma sudut sempit. penglihatan kabur. kelainan jantung. . pusing. perencanaan. Konsep Dasar Keperawatan Dalam melakukan asuhan keperawatan ada enam fase atau langkah dari proses keperawatan yaitu pengkajian. psikosis berat.18 Efeksampingnya meliputi sedasi dan inhibisi psikomotor. Trihexiphenidyl (THP. obat anti depresan trisklik dan kolinergik lainnya. ketergantungan obat. penyakit SSP. Kontra indikasinya meliputi hypersensitive terhadap Trihexiphenidyl. tekanan intra okuler meninggi. pengidentifikasian outcome. Artane. B. 1995).

Keluhan utama dan alasan masuk. intelektual. Identitas Dalam pengkajian kita mencantumkan identitas klien (nama klien. pekerjaan). Pengkajian alasan masuk kita kaji apa yang menyebabkan klien dibawa oleh keluarga ke rumah sakit untuk saat ini. apa yang sudah dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah klien dan bagaimana hasilnya. sosial dan spiritual. umur. Untuk memperoleh data yang dibutuhkan umumnya dikembangkan formulir pengkajian dan petunjuk tekhnis pengkajian agar mempermudah dalam pengkajian. isinya meliputi: a. Tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau atau masalah klien. Data yang dikumpulkan meliputi data biologis. penilaian terhadap stressor. alamat. Pengkajian Menurut Nurjannah (2005 : 30) pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan. 1998). alamat. emosional. Cara pengkajian lain berfokus pada 5 dimensi yaitu: fisik. Pengelompokan data pada pengkajian kesehatan jiwa dapat pula berupa factor predisposisi. umur. pekerjaan. sosial dan spiritual. .19 1. psikologis. pendidikan) dan identitas penanggung jawab (nama. b. jenis kelamin. factor presipitasi. sumber koping dan kemampuan koping yang dimiliki klien (Stuart & Sundeen.

.20 c. kehilangan. Faktor predisposisi 1) Faktor perkembangan Secara teori. e. kurangnya stimulasi. 3) Faktor sosiokultural Isolasi sosial dapat terjadi. tetapi ada riwayat putus obat atau berhenti minum obat. kasih sayang dan kehangatan dari ibu (pengasuh) pada bayi akan memberikan rasa tidak aman yang dapat menghambat terbentuknya rasa percaya. salah satunya pada tuntutan lingkungan yang terlalu tinggi. kematian. 3) Bila tidak ditemukan adanya kejadian atau pengalaman tersebut. d. trauma selama tumbang) yang pernah dialami klien. Aspek fisik atau biologis. 2) Faktor biologis Genetik merupakan salah satu faktor pendukung gangguan jiwa. Faktor presipitasi 1) Merupakan faktor yang dianggap menyebabkan pasien sakit jiwa atau yang menyebabkan pasien mengalami kekambuhan. 2) Pengalaman yang tidak menyenangkan yang dialami pasien selama fase perkembangan (kegagalan. maka dapat dianggap bahwa faktor presipitasi pasien mengalami kekambuhan adalah putus obat. perpisahan.

adanya anggota keluarga yang meninggal & penyebab meninggal. kulit. Pengkajian konsep diri. Status mental Beberapa hal yang perlu dikaji dari status mental yaitu 1) Penampilan fisik : kondisi rambut. gagap. f. Kita kaji juga mengenai konsep diri.21 Pada klien menarik diri didapatkan masalah nutrisi. tegang. putus asa. pasien yang autistik dan mutisme. dan tidak mampu berpartisipasi dalam kegiatan. kuku. kebersihan diri. hubungan sosial dan spiritual pasien. membisu. pasif (hipomotorik). gelisah. gembira. pasien tinggal dengan siapa. keras. gambarkan adanya riwayat perceraian. segala aktivitas sehari-hari dengan bantuan perawat atau orang lain. tidak bias tenang (hipermotorik) 4) Alam perasaan : dalam hal ini didapatkan melalui hasil wawancara dengan pasien meliputi adanya perasaan sedih. khawatiran takut (hasil wawancara . hubungan sosial dan spiritual tidak dapat dilakukan pada pasien yang masih agitasi/gaduh gelisah. Aspek psikososial. Meliputi genogram yang dibuat 3 generasi. apatis atau lambat 3) Aktivitas motorik : lesu. gigi dan cara berpakaian 2) Pembicaraan : pembicaraan pasien apakah cepat. g. bicaranya kacau. ada gangguan memori.

reeming 9) Isi pikir : kaji adanya waham 10) stupor 11) Memori : data diperoleh melalui wawancara adakah Tingkat kesadaran dan orientasi : bungung. Mekanisme koping . kehilangan asosiasi. in appropriate (tidak tepat: datar. 7) Persepsi : kaji adanya pengalaman halusinasi atau ilusi 8) Proses pikir : sirkumtansial. gangguan daya ingat jangka pendek dan saat ini 12) 13) 14) Tingkat konsentrasi dan berhitung Kemampuan penilaian Daya tilik diri h. tidak sesuai) 6) Interaksi selama wawancara : interaksi selama wawancara apakah bermusuhan. tangensial. flight of ideas.22 divalidasi dengan hasil observasi. Kebutuhan persiapan pulang Kita kaji apakah dari hasil observasi klien sudah mampu melakukan activity daily live secara mandiri atau masih dengan bantuan selama di rumah sakit dan di rumah i. tumpul. eforia) 5) Afek : appropriate (tepat). kontak mata selama wawancara. sedasi. gangguan daya ingat jangka panjang. apakah disforia. labil. tidak kooperatif atau mudah tersinggung. blocking.

Adanya penolakan di lingkungan tempat tinggal atau masyarakat. Aspek medik Diagnosa medis dan program therapy atau pengobatan yang sedang dijalani oleh pasien. adanya penolakan di tempat kerja atau sekolah. l. (Workshop Standar Asuhan & Bimbingan Keperawatan Jiwa RSJ Prof.23 Data dari hasil wawancara meliputi koping adaptif sampai dengan koping maladaptif j. Dr. 2007) . Masalah psikososial dan lingkungan. adanya penolakan dari keluarga terhadap pasien k. tentang kekambuhan. Soeroyo Magelang. Pengetahuan Berisi tentang pemahaman pasien mengenai penyakit. pemahaman tentang manajemen hidup sehat.

Diagnosa Keperawatan Keliat. 2005:20) 3.24 2. yaitu: Risiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri Akibat Ketidakefektifan penatalaksanaan program terapeutik Gangguan sensori/persepsi: halusinasi pendengaran Gangguan Penyebab pemeliharaan kesehatan Defisit perawatan diri: Mandi dan berhias Isolasi sosial: menarik diri Masalah utama Ketidakefektifan koping keluarga: ketidakmampuan keluarga merawat klien Gangguan konsep diri: Harga diri rendah kronis Penyebab di Pohon Gambar 2. (2005 : 20) merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan gangguan isolasi sosial : menarik diri. B.2 :rumah masalah isolasi sosial : menarik diri (Keliat. sebagai berikut : . A. B. A.. Pohon Masalah Pohon masalah pada klien dengan Isolasi sosial : menarik diri.

1. yaitu : a. 1.5. Perubahan persepsi sensori : halusinasi d. 2007) strategi pelaksanaan tindakan keperawatan menggunakan SP.2. Soeroyo Magelang. Isolasi Sosial berinteraksi dengan orang lain. orang.25 a. Mengajarkan pasien cara berkenalan dengan satu . 1.4. Isolasi sosial b.1. Pasien SP 1 (pasien) : 1. Defisit perawatan diri f. Membina hubungan saling percaya Mengidentifikasi penyebab isolasi sosia pasien. Koping individu tidak efektif e. Berdiskusi dengan pasien tentang kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain.3. Resiko tinggi mencederai diri. orang lain dan lingkungan 4. Berdiskusi dengan pasien tentang keuntungan Diagnosa 1. Intervensi Keperawatan Menurut (Workshop Standar Asuhan & Bimbingan Keperawatan Jiwa RSJ Prof. Dr. Tujuan: Dapat berinteraksi dengan orang lain secara bertahap I. Gangguan konsep diri : harga diri rendah c. 1.

Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien.2. Memberikan kesempatan kepada pasien berkenalan dengan dua orang atau lebih. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien. Keluarga SP 1 (keluarga) : 1. 3. 1. Menjelaskan pengertian. 2. Memberikan kesempatan kepada pasien mempraktekan cara berkenalan dengan dua orang.1.26 1.1. tanda dan gejala isolasi sosial yang dialami pasien beserta proses terjadinya. Menjelaskan cara-cara merawat pasien isolasi sosial .3. 3. Menganjurkan pasien memasukan dalam jadwal kegiatan harian. II. 1.3. 2.2. Menganjurkan pasien memasukan kegiatan latihan berbincang-bincang dengan orang lain dalam kegiatan harian.2. Membantu pasien memasukan kegiatan berbincang- bincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian. SP 3 (pasien) : 3.6.1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien.3. SP 2 (pasien) : 2.

Melatih keluarga cara merawat langsung kepada pasien isolasi sosial. 3. Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat (discharge planning).2. b.3. harga diri rendah Tujuan: Pasien mempunyai konsep diri yang positif I.4.2.2. Perubahan konsep diri : dimiliki pasien. Diagnosa 2. Membantu pasien memilih kegiatan yang akan dilatih sesuai dengan kemampuan pasien. Membantu pasien menilai kemampuan pasien yang masih dapat digunakan. Melatih pasien kegiatan yang dipilih sesuai kemampuan. Melatih keluarga mempraktekan cara merawat pasien dengan isolasi sosial.1. 1.1. SP 1 (Pasien) 1.1. Mengidenfikasi kemampuan dan aspek positif yang Pasien Menjelaskan follow up pasien setelah pulang. . 1. 2. 1. SP 3 (keluarga) : 3.27 SP 2 (keluarga) : 2.

Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan harga diri rendah 2. Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien harga diri rendah SP 3 (Keluarga) Menjelaskan cara-cara merawat pasien harga diri . tanda dan gejala harga diri rendah yang dialami pasien beserta proses terjadinya 1.28 1.1. Melatih kegiatan kedua (atau selanjutnya) yang dipilih sesuai kemampuan 2.1. SP 2 (Pasien) 2. Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya.2. Menjelaskan pengertian. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian. II. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien 1.3.1. Keluarga SP 1 (Keluarga) 1. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.2. rendah SP 2 (Keluarga) 2. 2.3.2.5.

SP 1 (Pasien) 1.8. Perubahan persepsi sensori : Pasien dapat mengontrol halusinasinya. 1.1. . halusinasi Tujuan : Diagnosa 3. 1. I. 1.4. 1.2. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian SP 2 (Pasien) 2.3.2. Menjelaskan follow up pasien setelah pulang c. 1.29 3.1.6.5. Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat (Discharge planning) 3. Mengidentifikasi respons pasien terhadap halusinasi Melatih pasien cara kontrol halusinasi dengan Mengidentifikasi jenis halusinasi pasien Mengidentifikasi isi halusinasi pasien Mengidentifikasi waktu halusinasi pasien Mengidentifikasi frekuensi halusinasi pasien Mengidentifikasi situasi yang menimbulkan Pasien menghardik 1. Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya. halusinasi 1.7.1.

2. Menjelaskan cara kontrol halusinasi dengan teratur minum obat (prinsip 5 benar minum obat) 4.3.3. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian II. 4. Melatih pasien cara kontrol halusinasi dengan berbincang dengan orang lain 2.1. Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya.2.2.1. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian. SP IV (Pasien) 4.2. 3. Melatih pasien cara kontrol halusinasi dengan kegiatan (yang biasa dilakukan pasien). tanda dan gejala halusinasi. Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya.3. Menjelaskan pengertian. SP 1 (Keluarga) 1.30 2.1. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga Keluarga dalam merawat pasien 1. dan jenis halusinasi yang dialami pasien beserta proses terjadinya . 3. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian SP 3 (Pasien) 3.

1. Membantu menilai koping yang biasa digunakan.31 1.1. Identifikasi koping yang selama ini digunakan. SP 1 (Pasien) 1.2. 1.2. Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat (discharge planning) 3. 1. Mengidentifikasi cita-cita atau tujuan yang realistis. Menjelaskan cara-cara merawat pasien halusinasi SP 2 (Keluarga) 2. Melatih koping: berbincang / assertif technics Pasien Menjelaskan follow up pasien setelah pulang Diagnosa 4. Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien halusinasi SP 3 (Keluarga) 3.2.3. Tujuan : Koping individu kembali efektif I. menolak.4. Koping individu tidak efektif (meminta. 1. Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan halusinasi 2. dan mengungkapkan / membicarakan masalah secara baik). . d.3.1.

Melatih koping: beraktivitas. 3. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga Validasi masalah dan latihan sebelumnya.1. SP 4 (Pasien) 4. II.32 1. 4. dalam merawat pasien 1. Menjelaskan pengertian.3. SP 1 (Keluarga) 1. 3. Membimbing memasukkan dalam jadwal kegiatan. Membimbing memasukkan dalam jadwal kegiatan.3. SP 3 (Pasien) 3. 4. Membimbing memasukkan dalam jadwal kegiatan.2.3. Keluarga Validasi masalah dan latihan sebelumnya. SP 2 (Pasien) 2. Membimbing memasukkan dalam jadwal kegiatan.1.3.1. Validasi masalah dan latihan sebelumnya. tanda dan gejala koping individu inefektif yang dialami pasien beserta proses terjadinya 1. 2.1. 2.2. Melatih koping: relaksasi. Menjelaskan cara-cara merawat pasien koping individu inefektif SP 2 (Keluarga) . Melatih koping: olah raga.2.2.5.

Mendiskusikan sumber rujukan yang bisa dijangkau oleh keluarga e. Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung pasien koping individu inefektif SP 3 (Keluarga) 3.1. 2. SP 1 (Pasien) 1. Tujuan: Pasien dapat mandiri melakukan perawatan diri I. Menjelaskan pentingnya kebersihan diri Menjelaskan cara menjaga kebersihan diri Melatih pasien cara menjaga kebersihan diri Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal Pasien Diagnosa 5. Menjelaskan cara makan yang baik Melatih pasien cara makan yang baik .1.3. 1. 2. Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien koping individu inefektif 2.1.2. 1.2.4. Membantu keluarga membuat jadual aktivitas di rumah termasuk minum obat 3.3. Defisit perawatan diri kegiatan harian SP 2 (Pasien) 2.33 2.1. 1.2.2. Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya.

SP 3 (Pasien) 3. Menjelaskan cara berdandan Melatih pasien cara berdandan Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian. II. 3. 3. Menjelaskan pengertian.4.1.2.1. tanda dan gejala defisit perawatan diri dan jenis defisit perawatan diri yang dialami pasien beserta proses terjadinya . 4.3. 4.4. 4. Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien 1.4. Menjelaskan cara eliminasi yang baik Melatih cara eliminasi yang baik.2. Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya.1.3.34 2. 3. SP 4 (Pasien) 4. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian. Keluarga SP 1 (Keluarga) 1.2.

Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien defisit perawatan diri SP 3 (Keluarga) 3. Mengidentifikasi penyebab PK Mengidentifikasi tanda dan gejala PK Mengidentifikasi PK yang dilakukan Mengidentifikasi akibat PK Mengajarkan cara mengontrol PK . I.3. Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan defisit perawatan diri 2.35 1.1. f.2. orang lain dan lingkungan. Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat (Discharge planning) 3.2.4. 1.3.5. Menjelaskan follow up pasien setelah pulang Diagnosa 6. orang lain dan lingkungan Tujuan: Pasien dapat mengontrol resiko tinggi mencederai diri.1. 1. Resiko tinggi mencederai diri. Pasien SP 1 (Pasien) 1. 1. 1.1.2. Menjelaskan cara-cara merawat pasien defisit perawatan diri SP 2 (Keluarga) 2.

2.2.3. 2.3. berwudhu. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian. 1. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal Melatih pasien cara kontrol PK fisik I (nafas kegiatan harian.3. menolak dan mengungkapkan marah secara baik). 4. dalam). Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya.2. Melatih pasien cara kontrol PK fisik II (memukul bantal / kasur / konversi energi).6.1. Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya. sholat).36 1. SP 4 (Pasien) 4. Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian. SP 3 (Pasien) 3. SP 5 (Pasien) . Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian. 3.1.1. Melatih pasien cara kontrol PK secara spiritual (berdoa. 3. SP 2 (Pasien) 2. Melatih pasien cara kontrol PK secara verbal (meminta. 4.7.2.

Menjelaskan pengertian PK. Membantu keluarga membuat jadual aktivitas di rumah termasuk minum obat (discharge planning).37 5.1. 2.2. 5.2. 5. SP 2 (Keluarga) 2. Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya. tanda dan gejala.1. Menjelaskan cara merawat pasien dengan PK.1.3.2. serta proses terjadinya PK. Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien PK. SP 3 (Keluarga) 3. Menjelaskan follow up pasien setelah pulang. 1. Keluarga SP 1 (Keluarga) 1. Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan PK. 3. .3. 1. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian II. Menjelaskan cara kontrol PK dengan minum obat (prinsip 5 benar minum obat).1.2.

analisa data. didokumentasikan dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan mulai dari pengkajian. PENGKAJIAN Pengkajian dilakukan tanggal 12 Juli 2011 pada pukul 08.38 BAB III TINJAUAN KASUS Asuhan keperawatan jiwa pada Tn.30 WIB di . A. implementasi sampai dengan evaluasi. M dengan isolasi sosial : menarik diri yang telah dilaksanakan selama satu hari pada tanggal 12 Juli 2011 dari pukul 08. diagnosa keperawatan. dr.30 WIB sampai pukul 13. Soeroyo Magelang.00 WIB di Bangsal P 8 Wisma Antareja RSJP Prof.

Ada pula data sekunder yang didapatkan dari status rekam medik selama klien dirawat di rumah sakit. Data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan klien dan perawat ruangan. Sedangkan dari pemeriksaan head to toe kulit kepala klien kotor. Soeroyo Magelang pada tanggal 30 Mei 2011. rambut kusam. pernafasan 25x/menit. umur 39 tahun. dr. diantar oleh keluarga dengan alasan klien sering berdiam diri. Identitas Dari pengkajian didapatkan data klien bernama Tn. pendidikan terakhir SD. M. berusia 42 tahun beralamat di Magelang. alamat di Magelang. berjenis kelamin laki-laki. Penanggung jawab klien adalah Tn. tidak mau bicara dan tidak mau beraktifitas.. suhu 37 ˚C. klien masuk rumah sakit tanggal 30 Mei 2011 dengan nomor register 60556. Riwayat Keperawatan Klien masuk RSJP Prof. Dari hasil pengkajian. dr.39 Bangsal P 8 Wisma Antareja RSJP Prof. 2. pekerjaan klien sebelum masuk ke rumah sakit sebagai buruh. 1. E. Dari hasil pemeriksan antropometri didapat tinggi badan klien 163 cm dan berat badan klien 54 kg. nadi 76x/menit. status klien bercerai. gigi klien . Soeroyo Magelang. klien telah mengalami gangguan jiwa sejak 3 tahun yang lalu setelah istrinya menceraikannya. Dari hasil pemeriksaan fisik yang didapatkan dari pengkajian pasien adalah tekanan darah 120/80 mmHg. Kemudian klien mulai mengalami perubahan perilaku. hubungan dengan klien adalah saudara kandung klien.

mudah beralih atau mengalihkan pandangannya bila diajak bicara. Ketika dilakukan waawancara. Dari pengkajian status psikososial klien sudah bercerai dengan istrinya sejak 3 tahun yang lalu. Selama di rumah sakit. peran diri. aktifitas masih dibimbing oleh perawat. klien ganti baju 2x sehari sesuai dengan aturan bangsal. klien berbicara lambat dan tidak bisa memulai pembicaraan. Dalam keluarganya ada yang menderita gangguan jiwa yaitu ayah kandungnya.40 nampak kotor dan terdapat karies gigi. a. Klien mengatakan sering merasa sedih bila mengingat masa lalu. gigi nampak kotor dan terdapat karies gigi. Saat dilakukan wawancara klien tampak tidak ada kontak mata. juga saat diberikan stimulus yang menyenangkan atau menyedihkan. klien kurang kooperatif. Konsep Diri Klien Dari hasil wawancara dengan klien gambaran diri. ideal diri dan harga diri klien tidak terkaji karena klien tidak kooperatif selama komunikasi. Status Mental Klien berpenampilan kurang rapi. identitas diri. Klien mengalami autistik dan mutisme. Klien mempunyai afek datar yaitu saat wawancara klien tidak menunjukan roman muka atau ekspresi wajah. jarang berinteraksi dengan klien lain. klien sering menyendiri dan melamun. Klien mengalami . b.

Adapun terapi per oral yang diperoleh tanggal 12 Juli 2011 yaitu Trifluoperazine 2 x 5 mg. Data objektif : klien . Klien dapat makan. berpakaian dan beraktifitas seperti teman-temannya di bangsal walaupun dengan bimbingan dari perawat. Kemudian dianalisa untuk membuat kesimpulan yang dinyatakan dalam diagnosa keperawatan: 1. Mekanisme koping Selama klien dirawat di RS. mandi 2x sehari dengan bantuan minima. Selama wawancara. ANALISA DATA Dari hasil pengumpulan data yang dilakukan pada tanggal 12 Juli 2011 pukul 08. BAB 1x sehari. klien tidur siang 2-3 jam dan tidur malam kurang lebih 7 jam. dan obat dipersiapkan oleh perawat. klien lebih banyak diam. Data Penunjang Diagnosa medis klien yaitu F 20. Klien makan 3x sehari. Triheksipenidil 2 x 2 mg. Amitriptilin 2 x 25 mg. Masalah keperawatan : Gangguan Konsep diri : harga diri rendah. klien mengatakan jika mengalami masalah. Klien minum obat secara teratur. yaitu klien tidak bisa mengingat kejadian yang lebih dari satu bulan. penulis mengelompokan data menjadi data subjektif dan data obyektif. BAK 4-5x/hari. B.41 disorientasi waktu dan gangguan daya ingat jangka panjang. Chlorpromazine 1 x 50 mg. 2. Data subjektif : klien mengatakan sering bersedih. c. porsi makan habis. 3.30 WIB. klien tidak dapat berhitung.

C. wajah klien tampak murung. Data obyektif : Aktifitas / ADL klien masih dibantu perawat. POHON MASALAH Defisit Perawatan Diri Akibat Isolasi sosial : Menarik diri Masalah utama Gangguan konsep diri : harga diri rendah Penyebab etiologi . klien tampak pendiam. Masalah keperawatan : Defisit perawatan diri Data subyektif : tidak terkaji karena klien tidak kooperatif selama diajak komunikasi.42 tampak sering duduk menyendiri. klien tidak mampu memulai pembicaraan. makan berantakan. Masalah keperawatan : isolasi sosial : menarik diri. 3. Data obyektif : Klien sering duduk menyendiri. klien tampak menundukan kepala. Data subyektif : tidak terkaji karena klien tidak kooperatif selama diajak komunikasi. klien tampak asing dengan klien lain. klien juga memiliki afek datar. 2. dan juga klien tampak kurang antusias dalam kegiatan ruangan dan kelompok. tidak ada kontak mata saat berkomunikasi. gigi dan mulut klien kotor. tidak ada kontak mata saat berkomunikasi. dandanan tidak rapi. badan tampak kotor.

.43 D. 1. Isolasi sosial : Menarik diri Gangguan konsep diri : Harga diri rendah Defisit perawatan diri E.1. Isolasi Sosial Tujuan: Dapat berinteraksi dengan orang lain secara bertahap I. Berdiskusi dengan pasien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain. FOKUS INTERVENSI KEPERAWATAN Menurut (Workshop Standar Asuhan & Bimbingan Keperawatan Jiwa RSJ Prof.2. PRIORITAS MASALAH Isolasi sosial : Menarik diri F.3. Dr. yaitu : Diagnosa 1. Soeroyo Magelang. Pasien SP 1 (pasien) : 1. 2007) strategi pelaksanaan tindakan keperawatan menggunakan SP. Berdiskusi dengan pasien tentang kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain. DIAGNOSA KEPERAWATAN Pohon masalah tersebut di atas dapat dirumuskan dalam diagnosa keperawatan di bawah ini : 1. 1. 2. 1. 3. Membina hubungan saling percaya Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial pasien.4.

1. Membantu pasien memasukan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian. Menganjurkan pasien memasukan kegiatan latihan berbincang-bincang dengan orang lain dalam kegiatan harian.2.44 1.3.1. 3. Menjelaskan cara-cara merawat pasien isolasi sosial SP 2 (keluarga) : .2. II. SP 2 (pasien) : 2.2.5. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien. 2.3. 1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien. 1. Keluarga SP 1 (keluarga) : 1. Memberikan kesempatan kepada pasien berkenalan dengan dua orang atau lebih. Menjelaskan pengertian. Mengajarkan pasien cara berkenalan dengan satu orang. SP 3 (pasien) : 3.1. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien. 1. Menganjurkan pasien memasukan dalam jadwal kegiatan harian.3. tanda dan gejala isolasi sosial yang dialami pasien beserta proses terjadinya.6. 2. Memberikan kesempatan kepada pasien mempraktekan cara berkenalan dengan satu orang. 3.

G.1. SP 3 (keluarga) : 3. SP I : membina hubungan saling percaya dengan membina hubungan terapeutik sambil berjabat tangan. IMPLEMENTASI Implementasi dilakukan selama 1 hari. memberikan kesempatan pada klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang . mengobservasi penyebab menarik diri pada klien. menganggukan kepala dan tersenyum. menberikan reinforcement positif pada klien karena mau mengungkapkan perasaannya tentang menarik diri. mendiskusikan dengan klien tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain.1. menanyakan tanda-tanda menarik diri pada klien.2. memperkenalkan nama lengkap klien dan panggilan kesukaan klien. mendiskusikan dengan klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain. Menjelaskan follow up pasien setelah pulang. 2.2. menjelaskan tujuan interaksi dengan klien dan menunjukan sikap empati. Melatih keluarga mempraktekan cara merawat pasien dengan isolasi sosial. pada tanggal 12 juli 2011 pukul 10. menanyakan pada klien tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain. 3.00 WIB. Melatih keluarga cara merawat langsung kepada pasien isolasi sosial.45 2. mendiskusikan dengan klien tentang penyebab menarik diri. Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat (discharge planning).

tidak mampu menyebutkan nama sendiri dan nama panggilan yang disukainya. mendiskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan bersama klien dalam mengisi waktu.46 lain. mendorong dan membantu klien berhubungan dengan orang lain. kontak mata tidak ada. EVALUASI Implementasi yang telah dilakukan selama satu hari pada tanggal 12 Juli 2011 penulis mengevaluasinya. Klien juga belum mengerti tentang keuntungan dari berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain ditandai dengan klien tidak menganggukan kepala saat ditanya tentang apa yang sudah dibicarakan. Selanjutnya klien masih belum bisa menceritakan karena pembicaraan yang lambat dan belum fokus pada apa yang dibicarakan. H. Klien juga belum bisa . memotivasi klien untuk memasukan kegiatan latihan berbincang – bincang dengan orang lain dalam kegiatan harian. memberikan reinforcement pada klien karena mengungkapkan perasaannya tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain. membantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan dengan orang lain. terbukti bahwa klien tidak kooperatif selama wawancara klien tidak menjawab salam. Adapun hasil evaluasi yaitu diagnosa pertama SP I menyimpulkan data obyektif yang didapat bahwa hubungan saling percaya belum dapat terjalin dengan baik. mengkaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain.

Assesment yang didapat bahwa SP I belum tercapai secara optimal. Penulis mendelegasikan kepada perawat ruangan untuk kembali melaksanakan SP I (Pasien) karena belum tercapai. laporan teman sejawat. Untuk SP Keluarga belum bisa dilaksanakan karena tidak ada keluarga yang menjenguk. M dengan masalah utama isolasi sosial : menarik diri di bangsal P 8 wisma Antareja RSJP Prof. Untuk SP II (Pasien) mengevaluasi tentang mempraktekan cara berkenalan dengan satu orang (klien lain) dan SP III (Pasien) cara berkenalan dengan dua orang atau lebih yang belum bisa terlaksana karena SP I belum tercapai sehingga belum bisa dilanjutkan ke SP II klien dan SP III klien.47 mendemonstrasikan cara berkenalan dengan orang lain. Pengkajian diperoleh melalui wawancara dengan klien. Sehingga penulis mendelegasikan kepada kepala ruang untuk melaksanakan SP I sampai klien bisa mempraktekan. BAB IV PEMBAHASAN Pada bab ini membahas tentang hasil pendokumentasian asuhan keperawatan jiwa yang telah dilakukan selama satu hari pada Tn. Soeroyo Magelang. Pembahasan ini mencakup seluruh proses asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan. dr. catatan keperawatan atau tenaga kesehatan .

kebutuhan persiapan pulang serta mekanisme koping . di ruang Antareja Rumah Sakit Jiwa Prof. membantunya dalam pengalaman kehidupan sehari-hari agar dapat melakukan kegiatan sebagaimana mestinya dan mencari tahu latar belakangnya dirawat di rumah sakit jiwa. status mental.30 WIB. sosial. Pembahasan yang diuraikan dimulai dari tahap pengkajian sampai dengan evaluasi serta ditinjau dari teori keperawatan jiwa. alasan masuk. keluhan utama. Hal-hal yang perlu dikaji pada klien menarik diri adalah biodata klien. Kesenjangan antara teori dan kondisi nyata dilahan praktek diuraikan juga pada bab ini. Tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan masalah klien. Dr.48 lainnya dan melalui pengkajian fisik. A. Menurut Nurjannah (2005) bahwa pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan. dengan cara autoanamnesa maupun alloanamnesa. Pengkajian Pengkajian dilakukan pada tanggal 12 Juli 2011 pukul 08. faktor predisposisi. Data yang dikumpulkan meliputi data biologis. psikologis. Soeroyo Magelang. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan klien. faktorfaktor psikososial. Pengkajian dengan cara alloanamnesa dengan melihat catatan medik klien. Dari hasil pengkajian yang dilakukan. dan spiritual. Autoanamnesa yaitu interaksi antara perawat-klien secara langsung dimana interaksi tersebut merupakan suatu kegiatan untuk menjalin hubungan komunikasi yang baik antara perawat-klien.

Dr. didapatkan bahwa Dari pengkajian status psikososial klien sudah bercerai dengan istrinya sejak 3 tahun yang lalu. fisik. perilaku. Dalam keluarganya ada yang menderita gangguan jiwa yaitu ayah kandungnya. Soeroyo Magelang dengan alasan klien sering berdiam diri.49 yang sering digunakan. Pada genogram dalam pengkajian psikososial. tidak mau bicara dan tidak mau beraktifitas. Faktor presipitasinya klien mengalami perubahan perilaku semenjak diceraikan istrinya 3 tahun yang lalu. faktor presipitasi. Berdasarkan data pengkajian pada Tn. status sosial dan spiritual. Dari hasil pemeriksan antropometri didapat tinggi badan klien 163 cm dan berat badan klien 54 kg. intelektual. Sedangkan menurut Stuart dan Sundeen (1998) pengkajian pada pasien dengan gangguan jiwa isolasi sosial : menarik diri meliputi faktor predisposisi. . gigi klien nampak kotor dan terdapat karies gigi. M dan data dokumentasi keperawatan yang ada didapatkan faktor predisposisi yang mendukung munculnya masalah pada klien yaitu klien telah mengalami gangguan jiwa sejak 3 tahun yang lalu. rambut kusam. Sedangkan dari pemeriksaan head to toe kulit kepala klien kotor. Dari hasil pemeriksaan fisik yang didapatkan dari pengkajian pasien adalah tidak ada kelainan pada pemeriksaan tanda-tanda vital. status emosi. klien diantar oleh keluarga tanggal 30 Mei 2011 ke Rumah Sakit Jiwa Prof.

Menurut Stuart and Sunden (1998: 230) Mengkritik diri sendiri atau orang lain. klien lebih suka memendamnya sendiri. . cinta kasih dan penghargaan dari orang lain dan tidak memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan cita-cita ideal yang ada dalam dirinya. klien selalu menyalahkan dirinya sendiri jika ada masalah yang menimpanya. identitas diri. Klien mengalami autistik dan mutisme. enggan bercerita. sehingga individu akan mengalami kesulitan dalam berinteraksi dalam hubungan interpersonalnya dengan orang lain di lingkungan sosial. peran diri dan ideal diri klien tidak terkaji karena klien tidak kooperatif selama komunikasi. rasa bersalah. Kebutuhan persiapan pulang klien masih membutuhkan sedikit bantuan perawat dalam kegiatan harian di ruangan. klien mengatakan jika ada masalah yang menimpanya. pandangan hidup yang pesimis. Pada mekanisme koping ditemukan bahwa mekanisme koping klien tidak efektif karena klien lebih suka menyendiri. gangguan dalam berhubungan. Pengkajian persepsi sensori klien bahwa dirinya tidak pernah mendengar suara-suara apapun. dan sering menyesali keadaan dirinya.50 Pengkajian konsep diri menurut Stuart dan Sundeen (1998:227). perasaan negatif tentang tubuhnya sendiri. Tn. M menganggukan kepala bahwa dirinya serba tidak mampu. ketegangan peran yang dirasakan. Sedangkan harga diri klien. Menurut Sunaryo (2004 : 34) Harga diri rendah timbul jika individu merasakan kehilangan kasih sayang. Dari hasil wawancara dengan klien gambaran diri. perasaan tidak mampu.

klien tampak diam.mendengar suarasuara/melihat bayangan. (Workshop Standar Asuhan & Bimbingan Keperawatan Jiwa RSJ Prof. merupakan manifestasi dari harga diri rendah. khawatir.51 menarik diri secara sosial. kurang perawatan diri. wajah klien tampak murung. tidak mau berkomunikasi dengan orang lain (autistik/mutisme). apatis. kurang energy. Pada perilaku klien dengan gangguan isolasi sosial: menarik diri yaitu kurang sopan. posisi tidur tampak meringkuk di tempat tidur dengan punggung menghadap ke pintu. klien tampak menundukan kepala. 2009). sedih. mondar-mandir tanpa arah. banyak menunduk saat diajak bicara. harga diri rendah dan posisi tidur seperti janin (Sujono & Teguh.curiga dengan orang lain. Dr. tidak bias memulai pembicaraan. sikap mematung. kurang peka terhadap lingkungan. tidak berinisiatif berhubungan dengan orang lain. merasa malu untuk berbicara dengan orang lain. Soeroyo Magelang. Setelah dilakukan pengkajian pada Tn. menganggap orang lain tidak mau menerima dirinya. klien tampak sedih. Dan data obyektifnya adalah klien tampak menyendiri. komunikasi verbal turun. 2007). Pengkajian tanda dan dan gejala pada klien gangguan isolasi sosial: menarik diri adalah malas berinteraksi. tidak ada kontak mata. afek tumpul. afek dapat tumpul atau datar. M didapatkan data subyektif klien yaitu klien merasa sedang sedih. menyendiri. tidak mau berkomunikasi dengan orang lain . menyendiri dalam ruangan. tidak melakukan kontak mata.

afek datar. Isolasi sosial adalah pengalaman kesendirian secara individu dan dirasakan segan terhadap orang lain dan sebagai keadaan yang negatif atau mengancam (NANDA. 1. afek datar. kurang perawatan diri. Soeroyo Magelang. klien tampak menundukan kepala. tidak mau berkomunikasi dengan orang lain (autistik/mutisme). .52 (autistik/mutisme). 2005:208). Isolasi sosial : menarik diri Penulis menetapkan diagnosa keperawatan gangguan isolasi sosial : menarik diri sebagai prioritas masalah keperawatan. Berdasarkan data pengkajian yang muncul ada kesenjangan teori dengan keadaan yang dialami oleh klien. dan defisit perawatan diri. kurang perawatan diri. klien tampak sedih. Adapun diagnosa keperawatan yang ditemukan penulis yaitu gangguan isolasi sosial : menarik diri. klien tampak diam. Dr. Data yang mendasari pengangkatan diagnosa keperawatan gangguan isolasi sosial : menarik diri berupa data obyektifnya adalah klien tampak menyendiri. tidak ada kontak mata. penulis merumuskan diagnosa keperawatan untuk membantu proses keperawatan klien selama dirawat di ruang Antareja Rumah Sakit Jiwa Prof. wajah klien tampak murung. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan hasil pengkajian dan analisa data yang didapatkan dari klien. gangguan konsep diri : harga diri rendah. B.

harga diri. Data objektif : klien tampak sering duduk menyendiri.53 Alasan kenapa diagnosa “gangguan isolasi sosial : menarik diri” menjadi prioritas pertama karena apabila masalah isolasi sosial : menarik diri tidak ditangani / tidak dilakukan intervensi lebih lanjut. tidak ada kontak mata saat berkomunikasi. gangguan berhubungan. termasuk hilangnya percaya diri. menarik . orang lain bahkan lingkungan. rasa bersalah atau khawatir. 2. tidak berdaya. maka akan menyebabkan perubahan persepi sensori : halusinasi dan resiko tinggi mencederai diri sendiri. manisfestasi fisik : tekanan darah tinggi. merasa gagal mencapai keinginan. menunda dan ragu dalam mengambil keputusan. Ada sepuluh cara individu mengekspresikan secara langsung harga diri rendah yaitu mengejek dan mengkritik diri sendiri. Menurut Keliat ( 1998 : 23 ) harga diri rendah merupakan suatu keadaan dimana evaluasi diri atau dapat di gambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri. Gangguan konsep diri : Harga diri rendah Data yang ditemukan saat pengkajian yaitu data subjektif : klien mengatakan sering bersedih. tidak ada harapan dan putus asa. dan penyalahgunaan zat. Perilaku yang tertutup dengan orang lain juga bisa menyebabkan intoleransi aktifitas yang akhirnya bisa berpengaruh terhadap ketidakmampuan untuk melakukan perawatan secara mandiri (Sujono dan Teguh. merendahkan atau mengurangi martabat diri sendiri. psikosomatik. 2009).

badan tampak kotor. dandanan tidak rapi. Defisit perawatan diri Data yang mendasari pengangkatan diagnosa keperawatan defisit perawatan diri sebagai prioritas ketiga berupa data obyektifnya adalah Data obyektif : Aktifitas harian / ADL klien masih dibantu perawat. 1998:230). Perilaku yang tertutup dengan orang lain juga bisa menyebabkan intoleransi aktifitas yang akhirnya bisa berpengaruh . merusak atau melukai orang lain (Stuart and Sundeen. merusak diri.54 diri dari kehidupan sosial. Menurut Sunaryo (2004:34) Harga diri rendah timbul jika individu merasakan kehilangan kasih sayang. menarik diri dari realitas. gigi dan mulut klien kotor. 3. makan berantakan. cinta kasih dan penghargaan dari orang lain dan tidak memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan cita-cita ideal yang ada dalam dirinya. Diagnosa ini dijadikan diagnosa kedua karena muncul Berdasarkan stressor di atas penulis menegakkan diagnosa kedua dengan adanya gangguan konsep diri karena klien merasa gagal mencapai keinginanya menikah dengan wanita yang di cintainya. sehingga individu akan mengalami kesulitan dalam berinteraksi dalam hubungan interpersonalnya dengan orang lain di lingkungan sosial. Jika tidak ditegakan klien akan tetap pendiam dan lebih suka menyendiri dan jarang berinteraksi dengan orang lain.

berdiskusi dengan pasien tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain. memberikan kesempatan pasien berkenalan dengan dua orang atau lebih. menganjurkan pasien memasukan dalam jadwal kegiatan harian. Intervensi Intervensi dan implementasi yang digunakan oleh penulis adalah menggunakan SP (Strategi Pelaksanaan) yaitu SP I sampai SP III . memberikan kesempatan kepada pasien mempraktekan cara berkenalan dengan satu orang. berdiskusi dengan pasien tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain. membantu pasien memasukan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian. SP II terdiri dari : mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien. mengajarkan pasien cara berkenalan dengan satu orang. D. Dr. 2009). C.55 terhadap ketidakmampuan untuk melakukan perawatan secara mandiri (Sujono dan Teguh. Soeroyo Magelang (2007) implementasi yang digunakan saat ini adalah menggunakan SP. SP III terdiri dari : memasukan jadwal kegiatan harian pasien. Menurut David A Tomb (2004) SP I terdiri dari : mengidentifikasi penyebab isolasi sosial pasien. Implementasi . karena berdasarkan Workshop Standar Asuhan & Bimbingan Keperawatan Jiwa Rumah Sakit Jiwa Prof. menganjurkan pasien memasukan kegiatan latihan berbincang-bincang dengan orang lain dalam kegiatan harian.

Menurut As Hornby (1974) dikutip oleh Teguh Purwanto (2009) komunikasi terapeutik merupakan kata sifat yang dihubungkan dengan seni dari penyembuhan. berlangsung secara verbal dan non verbal. Faktor yang perlu diperhatikan dalam melakukan komunikasi terapeutik secara efektif adalah pengenalan kesadaran diri sendiri dan mengenal orang lain yang akan diajak untuk berhubungan. berdiskusi dengan pasien tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain. tujuan dan kegiatannya difokuskan untuk menyembuhkan klien. Menurut Stuart dan Sundeen (1998:22). sehingga individu dapat menggunakan dirinya secara efektif dan tujuan komunikasi dapat tercapai (Nurjannah. Teknik komunikasi yang diterapkan adalah Silence atau (diam) yang bertujuan untuk memberi kesempatan berpikir dan memotivasi klien untuk bicara dengan cara memberikan waktu kepada klien untuk berpikir dan menghayati. Sedangkan menurut Wahyu Purwaningsih (2009:11) dapat diartikan pula komunikasi yang direncanakan secara sadar.56 Pada hari Selasa (12 Juli 2011) penulis melakukan implementasi SP I yaitu mengidentifikasi penyebab isolasi sosial pasien. mengajarkan pasien cara berkenalan dengan satu orang. karena penulis menggunakan komunikasi terapeutik. Implementasi tersebut dapat dilakukan cukup mudah. berdiskusi dengan pasien tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain. . menganjurkan pasien memasukan kegiatan latihan berbincang-bincang dengan orang lain dalam kegiatan harian. 2005:92).

Dengan tekhnik komunikasi terapeutik yang dilakukan maka diharapkan hubungan saling percaya dapat tercapai. Hubungan saling percaya adalah dasar yang diperlukan dalam pengelolaan klien dan kemampuan klien dalam mengikuti anjuran dan saran perawat didasarkan atas kualitas hubungan ini (Stuart & Sundeen. perasaan ini akan menurunkan perasaan negatif dan kesendirian dan isolasi. Dilakukannya identifikasi penyebab isolasi sosial : menarik diri agar dapat mengurangi beban dan tekanan yang dirasakan oleh klien. pengertian dan penerimaannya. Hal ini akan memberikan kesan bahwa perawat / komunikator mau mendengarkan. Menurut Smith (1992) dalam Intansari (2005) empati adalah kemampuan menempatkan diri kita pada diri orang lain dan bahwa kita telah memahami bagaimana perasaan orang lain tersebut dan apa yang menyebabkan reaksi mereka tanpa emosi kita terlarut dalam emosi orang lain. Tekhnik komunikasi yang dilakukan oleh penulis ketika melakukan implementasi mengidentifikasi penyebab isolasi sosial adalah mendengar dengan empati. karena dengan empati dapat meningkatkan perasaan berhubungan dengan orang lain. Dengan adanya tekhnik komunikasi tersebut mempermudah penulis dalam membina hubungan saling percaya dan mengidentifikasi penyebab isolasi sosial : menarik diri.57 memperlambat tempo interaksi dan dorong klien untuk mengawali percakapan sementara itu perawat menyampaikan dukungan. mau menerima dan mengerti. 1998). .

Triheksipenidil 2 x 2 mg. Menurut Depkes (2000) Psikofarmaka adalah terapi menggunakan obat dengan tujuan untuk mengurangi atau menghilangkan gejala gangguan jiwa.00 WIB penulis melanjutkan implementasi SP I yaitu mendiskusikan dengan klien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain dan mendiskusikan dengan klien tentang kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain. implementasi tersebut belum dapat dilakukan secara optimal. klien tampak autistik dan mutisme. Amitriptilin 2 x 25 mg. klien nampak autistik dan mutisme. E. Hal ini terlihat dari hasil evaluasi dengan data Obyektif “Klien mau berjabat tangan. Hal ini terlihat dari hasil evaluasi dengan data Obyektif “Klien belum mampu menyebutkan keuntungan berinteraksi dengan orang . tetapi kontak mata tidak ada. klien belum bisa bercerita mengenai penyebab menarik diri” sehingga SP I membina hubungan saling percaya dan mengidentifikasi penyebab isolasi sosial : menarik diri belum tercapai. Chlorpromazine 1 x 50 mg. mengajarkan klien cara berkenalan dengan satu orang dan menganjurkan klien memasukan kegiatan latihan berbincang-bincang dengan orang lain.58 Terapi psikofarmaka yang diperoleh klien yaitu Trifluoperazine 2 x 5 mg. Evaluasi Implementasi SP I yang telah dilakukan belum dapat dilakukan dengan baik karena klien tidak kooperatif selama diajak komunikasi. tidak mau berkomunikasi dengan perawat. Pada pukul 12. Dari implementasi SP I yang telah dilakukan oleh penulis.

59 lain dan belum mampu menyebutkan kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain. sehingga penulis mengalami kesulitan dalam pengumpulan data yang diperlukan. Dalam berkomunikasi suara pelan sehingga tidak jelas. saat interaksi kontak mata klien kurang. sehingga penulis belum bisa melanjutkan ke SP selanjutnya. Tindakan keperawatan untuk diagnosa I. Hambatan Hambatan yang ditemui selama proses keperawatan pada Tn. SP I belum tercapai secara optimal karena klien kurang kooperatif. Dapat disimpulkan SP I belum tercapai. Tidak lengkapnya data pendukung pada catatan keperawatan klien. M dengan Gangguan isolasi sosial : menarik diri adalah: 1. 2. . 3. Dr. F. Penulis tidak dapat melakukan SP II karena SP I masih perlu dioptimalkan lagi. Klien mau berjabat tangan dengan penulis namun belum ada kontak mata. Dari intervensi yang dilaksanakan penulis merasa masih ada hambatan yang ditemukan saat berinteraksi yaitu klien sering terdiam sehingga mengalami kesulitan dalam menggali data yang diperlukan. Soeroyo Magelang. klien masih belum mau berkomunikasi dengan orang lain”. hal ini dikarenakan pada saat itu keluarga klien tidak berada di Rumah Sakit Jiwa Prof. Klien nampak autistik dan mutisme. Implementasi (SP) yang seharusnya dilakukan pada keluarga tidak dapat penulis lakukan.

Menggunakan tekhnik komunikasi terapeutik dan Silence (diam). . pengertian dan penerimaannya. 3. M agar mengeraskan suaranya secara halus. Mendelegasikan tindakan keperawatan yang belum tercapai kepada perawat ruangan. Memberikan reinforcement positif baik verbal maupun non verbal atas setiap keberhasilan dalam intervensi. 5. 4. Dengan ini bertujuan untuk memberi kesempatan berpikir dan memotivasi klien untuk bicara dengan cara memberikan waktu kepada klien untuk berpikir dan menghayati. memperlambat tempo interaksi dan dorong klien untuk mengawali percakapan sementara itu perawat menyampaikan dukungan. Untuk mengatasi kendala tersebut telah dilakukan : 1.60 4. Memberi nasehat dan contoh kepada Tn. mau menerima dan mengerti. Keterbatasan waktu yang disediakan oleh penguji sehingga untuk mengoptimalkan SP I belum dapat dilakukan. penulis tidak melibatkan pihak keluarga sebagai sistem pendukung untuk kesembuhan klien karena tidak adanya keluarga yang menjenguknya. Hal ini akan memberikan kesan bahwa perawat / komunikator mau mendengarkan. 2. Dalam melakukan tindakan keperawatan.

dr. Soeroyo Magelang ditemukan masalah keperawatan yaitu Isolasi sosial : menarik diri didapatkan hasil bahwa menarik diri adalah suatu gangguan hubungan interpersonal yang terjadi akibat .61 BAB V PENUTUP Setelah dilakukan pembahasan mengenai asuhan keperawatan pada klien Tn. M di Ruang Antareja Rumah Sakit Prof.

. Saat melakukan pengkajian status kesehatan klien dengan gangguan hubungan social : menarik diri. supaya perawat dapat mengetahui penyebab. Perencanaan asuhan keperawatan terutama dalam perencanaan asuhan keperawatan pada klien menarik diri. disesuaikan juga dengan kondisi klien. gejala. dibuat berdasarkan yang diperoleh dari pengkajian. 2. faktor presipitasi dan jangan lupa peran aktif keluarga. tanda. Hal ini mempersulit dalam perawat melakukan asuhan keperawatan yang disesuaikan dengan teori yang ada. Dari hasil asuhan keperawatan tersebut dapat diambil kesimpulan dan saran sebagai berikut: A. 3.62 adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam berhubungan sosial (Sujono & Teguh. 2009:151). Pengkajian juga dilakukan dengan melihat status klien (dokumen rekam medis). KESIMPULAN 1. 4. Perawat kesulitan dalam berkomunikasi dengan klien karena klien masih kurang fokus dalam diskusi yang dilakukan. dengan demikian dapat membantu proses penyembuhan secara optimal. maka perlu membina hubungan saling percaya. Menyesuaikan konsep teori yang ada dimana perawat lebih mengenal dan mengetahui kondisi kliennya. sehingga dapat diperoleh data yang tepat sesuai dengan kondisi klien dan sesuai masalah yang timbul.

4. sehingga memudahkan perawat dalam menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan halusinasi penglihatan. SARAN 1. intervensi. . terutama dalam memberikan asuhan keperawatan jika hendaknya perawat menguasai konsep teori yang ada. Penerapan teori keperawatan. implementasi dan pendokumentasian. 2. 3. Dengan adanya reinforcement tersebut maka akan dapat meningkatkan harga diri klien sehingga klien akan dapat merubah perilaku menarik dirinya. Pada saat melakukan komunikasi perlu adanya reinforcement positif yang diberikan kepada klien. Saat melakukan pengkajian hendaknya dilakukan secara terperinci dan secara sistematis sehingga dapat memperoleh data yang sesuai dengan kondisi klien agar memudahkan perawat dalam melakukan analisa data.63 Diharapkan mempercepat proses penyembuhan klien dan peran perawat dapat mengimplementasikan tindakan keperawatan dengan mudah. Dalam memberikan asuhan keperawatan harus dibutuhkan ketelitian serta ketajaman dalam pengkajian dan analisa masalah. Dokumentasi yang lengkap dalam asuhan keperawatan akan mempermudah perawat dalam intervensi dan implementasi tindakan keperawatan yang sesuai kondisi klien. sangat diperlukan oleh seorang perawat. sehingga perawat mampu mengenal dan mengetahui gangguan hubungan social : menarik diri. B. 5.

. Pada saat berkomunikasi diusahakan pada tempat yang tenang. Dalam membina hubungan saling percaya dengan klien diri perlu adanya kontak sering dan singkat secara bertahap serta ciptakan lingkungan yang menyenangkan. Dalam melaksanakan komunikasi dengan klien menarik diri perlu adanya teknik komunikasi broad opening (pertanyaan terbuka). 6. Dimana dengan teknik ini perawat dapat memberi kesempatan pada klien untuk memilih topik pembicaraan yang diinginkan sehingga klien dapat mengeksplorasikan perasaannya dan pikirannya.64 5. Dengan tempat yang tenang maka klien akan dapat lebih fokus dan kontak mata tidak akan teralihkan pada hal yang terjadi di sekitar. 7.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->