PTK

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan semakin kelihatan nyata.

Dengan kesadaran ini, pemerintah dan masyarakat, terutama pendidik, mencurahkan sebagian besar tenaga, dana dan pikirannya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Misalnya melakukan perubahan kurikulum, perubahan teknik pengajaran dan penyelenggaraan kerja sama antara lembaga pendidikan dengan lembaga lain (Kadir dan Ma’sum, 1982, 1991-1992). Untuk meningkatkan mutu pendidikan, pemerintah telah melakukan berbagai upaya antara lain, (1) meningkatkan kualitas guru SLTP/MTs dari lulusan D1 dan D2 menjadi lulusan S1 penyetaraan, (2) menerbitkan suplemen kurikulum SLTP/MTs 1994 yang berisi tentang materi pelajaran mana yang masih tetap diajarkan pada kelas-kelas tertentu dan materi mana yang tidak perlu lagi diajarkan serta materi yang wajib diajarkan (Depdikbud, 1999:5), (3) mendirikan sekolah-sekolah baru, dan (4) meningkatkan perbaikan proses belajar mengajar dan hasil belajar melalui pelatihan-pelatihan guru SD, SLTP, dan SMU. Sejaran Kebudayaan Islam (SKI) merupakan salah satu pelajaran yang diberikan sejak dari tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) sampai Perguruan Tinggi (PT), khususnya Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI). Pada umumnya Sejarah Kebudayaan Islam dirasakan lebih sulit untuk dipahami daripada ilmu-ilmu lainnya. Salah satu penyebabnya adalah karena sejarah mempelajari sesuatu yang sudah terjadi dan tidak dialami oleh peserta didik, dan tidak adanya kesesuaian antara kemampuan peserta didik dengan cara penyajian materi sehingga SKI dirasakan sebagai pelajaran yang sulit untuk diterima. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Madrasah Tsanawiyah Negeri Pamoyanan menyebutkan salah satu Standar kompetensi Sejarah Kebudayaan Islam adalah “memahami kemajuan Dinasti Umayah dibidang Ilmu Agama Islam dan kompetensi dasarnya adalah “menganalisis kemajuan-kemajuan Dinasti Umayah di Bidang Ilmu Agana Islam merupakan salah satu materi pokok yang diberikan di MTs. Kelas VIII semester 1. Seorang guru harus dapat menentukan strategi pengajaran yang sesuai dengan kemampuan peserta didiknya sehingga mudah dipahami, mengingat bahwa pelajaran sejaran adalah pelajaran yang mendalami dan mepelajari sesuatu yang sudah terjadi di masa lampau dan yang pasti tidak dialami oleh peserta didik. Secara khusus ada sebagian masyarakat yang tidak peduli dengan peristiwa sejarah terutama sejarah Kebudayaan Islam, karena memandang bahwa hal tersebut hanyalah peristiwa yang tidak mungkin akan terjadi kembali, selain itu pula bahwa sejarah tidak implementatif dalam dunia kerja dan tidak implementatif pula dalam disiplin ilmu lain. Mengajarkan SKI merupakan suatu kegiatan pengajaran sedemikian sehingga peserta didik belajar untuk mendapatkan kemampuan dan pengetahuan tentang Sejarah Kebudayaan Islam. Kemampuan dan pengetahuan tersebut ditandai dengan adanya interaksi yang positif antara guru dengan peserta didik, peserta

2. Ubay bin Kaab d. Namun dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran khususnya yang berhubungan dengan Sejarah Kebudayaan Islam. karena pada saat ini daerah kekuasaan Dinasti Umayyah sudah tidak ada. Mujahid bin Zubae c. Shabat yang menjadi guru di bidang tafsir adalah : a. Ibu Kota Dinasti Umayyah adalah a. Seperti yang terjadi di MTs. seperti : 1. Ubay bin Kaab d. sebab soal kedua nomor tersebut sangat mirip nama tokoh yang ditanyakan.didik dengan peserta didik. Damaskus b Jeddah. sehingga tidak sedikit peserta didik yang keliru dalam menyebutkan dan menjawab soal yang diberikan guru.. Dari contoh di atas banyak peserta didik sulit untuk menjawab soal tenpenerapan ang menyebutkan nama tokoh dan disiplin ilmu yang diberikan serta nama ibu kotanya. hasil Karya. Nama Ulama dari tabi’in dibidang fiqih adalah a. peserta didik kebingungan untuk memilih salah satu jawaban yang benar. karena peserta didik tidak menganalisis persiatiwa sejarah berdasarkan periodisasi sejarah Islam. sebab dalam sejarah Kebudayaan Islam terjadi periodisasi dan kajian illmu-ilmu islamyang bengi banyak. khususnya kemajuan Dinasti Umayyah. Salah satu hambatan yang terjadi adalah kesulitan dalam memahami dan menghafal hal-ha yang berkaitan dengan Sejarah Kebudayaan Islam. Mereka kurang dalam memilah-milah materi sejarah antara dinasti yang satu dengan dinasti yang lain. ternyata masih banyak mengalami hambatan-hambatan baik yang dialami peserta didik maupun guru. 1988:122). sehingga mereka harus menghafal nama ibu kota tersebut. karena peserta didik tidak hafal dengan jelas mengenai nama dan persitiwa yang terjadi. 3. c. Bagdad d. yang sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan (Hudya. Negeri Pamoyanan. didapatkan latar belakang peserta didik sangat bervariasi dalam motivasi belajarnya. bentukbentuk kesalahan dalam menjawab pertanyaan terutama dalam hal nama tokoh. dan tahun peristiwa sejarah. Mesir Jawaban yang diberikan peserta didik adalah kebanyakan mereka merasa tidak mengetahui nama ibu kota Dinasti Umayyah. Mujaihid bin Zubaer c. Hammad bin Abi Sulaeman Siswa kebingungan mengenai periodisasi tokoh dan disiplin illmu yang didalaminya. sehingga mereka menjawab dengan salah. sehingga mereka (peserta didik) harus meghafal seluruh tokoh-tokoh yang mungkin ada beserta disiplin ilmu yang dikajinya. Mereka rata-rata dalam belajar tanpa dibekali keinginan untuk memahami dan mengetahui materi-materi yang diajarkan oleh guru. Hasa al Basri b. Hammad bin Sulaeman Jawaban yang diberikan siswa rata-rata merasa kebingungan dengan soal nomor 2. . Selain itu pula satu tokoh tidak hanya mendalami satu disiplin ilmu. Berdasarkan pengalaman peneliti. Said bin Musayyad b. dari beberapa materi/pokok bahasan yang disajikan di kelas VIII MTs adalah pokok bahasan Dinasti Umayyah.

Peserta didik mendapatkan fasilitas yang sama dari sekolah. khusus peserta didik kelas VIII MTs. khususnya pada pokok bahasan Kemajuan Dinasti Umayyah. Negeri Pamoyanan Pelajaran 2006/2007. Tujuan Penelitian Mengacu pada rumusan masalah. Negeri Pamoyanan 2. maka tujuan penelitian ini agar dapat: 1. Bagaimana mengajarkan Kemajuan Dinasti Umayyah dengan pendekatan Kntruktivisme di kelas VIII MTs. Kesalahan-kesalahan peserta didik dalam menjawab setiap soal merupakan indikator kesulitan dalam memahami periodisasi dan klasifikasi keilmuan yang menjadi kajian tokoh keislaman pada masa Dinasti Umayyah 3. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas. Bahan pertimbangan penelitian lebih lanjut guna peningkatan prestasi belajar peserta didik.akana tetapi lebih menekankan kepada semata. Sebagai bahan pertimbangan untuk memilih metode pengajaran yang sesuai dalam menyelesaikan soal Sejarah Kebudayaan Islam khususnya pada pokok bahasan Kemajuan Dinasti Umayyah. Bahan informasi bagi guru Sejarah Kebudayaan Islam guna peningkatan prestasi peserta didik setelah guru mengetahui letak kesalahan dan kekeliruan yang dialami peserta didik. Bagaimana prestasi belajar peserta didik pada pokok bahasan Kemajuan Dinasti Umayyah dengan pendekatan kontrtuktivisme ? C. 3. tanpa peduli periodisasi dan klasifikai kaeilmuan yang dikajinya. Meningkatkan prestasi peserta didik dalam belajar Kemajuan Dinasti Umayyah. Menerapkan metode/pendekatan kontruktivisme dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam pada pokok bahasan Kemajuan Dinasti Umayyah secara berkelompok di kelas VIII MTs. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk: 1. 2. Asumsi Penelitian Asumsi dalam penelitian ini adalah: 1. Setiap pokok bahasan yang disajikan dalam Sejarah Kebudayaan Islam itu selalu berkesinambungan. maka masalah yang akan diteliti adalah sebagai berikut: 1. E. maka peneliti ingin memperbaiki pembelajaran dengan mengadakan penelitian yang berjudul: “Mengajarkan Sejarah Kebudayaan Islam dengan Pendekatan Kontruksitivisme pada Pokok Bahasan Kemajuan DInasti Umayyah di Kelas VIII MTs. Hasil tes sesuai dengan kemampuan yang dimiliki peserta didik. . Negeri Pamoyanan D.” B. 2. Negeri Pamoyanan ? 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful