ANALISIS KETEPATAN PREDIKSI POTENSI KEBANGKRUTAN MELALUI ALTMAN Z-SCORE DAN HUBUNGANNYA DENGAN HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN

PERBANKAN YANG LISTING DI BURSA EFEK JAKARTA

SKRIPSI

Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Pada Universitas Negeri Semarang

Oleh APRILIA NUGRAHENI NIM 3351401110

FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN EKONOMI 2005

1

PENGESAHAN KELULUSAN Skripsi ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang pada : Hari Tanggal : Selasa : 27 Desember 2005 Penguji Skripsi

Drs Sukirman, Msi NIP. 131967646

Anggota I

Anggota II

Drs. Subowo, MSi NIP.131658236

Drs. Agus Wahyudin, MSi NIP. 131404311

Mengetahui, Dekan Fakultas Ilmu Sosial

Drs Sunardi, MM NIP.

2

PERSETUJUAN PEMBIMBING Skripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian skripsi pada : Hari Tanggal : :

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. Subowo, MSi NIP.131658236

Drs. Agus Wahyudin, MSi NIP. 131404311

Mengetahui, Ketua Jurusan Ekonomi

Drs Kusmuryanto, MSi NIP. 131404309

3

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, 27 Oktober 2005

Aprilia Nugraheni NIM. 3351401110

i’ll prove it that they’re wrong jugde me (Simple Plan) Karya ini saya persembahkan Untuk Allah SWT yang senantiasa melimpahkan karuniaNya Untuk ayah ibu bertiga atas doa yang tidak putus-putusnya Untuk calon suamiku tercinta yang selalu memberiku kebahagiaan Untuk sahabat-sahabatku yang telah memberiku semangat dan dukungan Julia. Dewi dan semua sahabatku di Akuntansi A dan Akuntansi B Untuk anak-anak KOST VIOLLETA tercinta.4 MOTTO DAN PERSEMBAHAN ◊ Hidup adalah sebuah pilihan. maka bijaksanalah dalam membuat pilihan hidup. SEMANGAT !! . terima kasih atas segala keceriaan yang kita alami Untuk semuanya SELAMAT BERJUANG. (Olive. Warti. Umi. 2005) ◊ Kesalahan terbesar yang kita perbuat dalam hidup adalah takut membuat kesalahan (Resonansi. Intan. Mei Istianah. Suara Merdeka) ◊ Me against the world. konsekuensi dan risiko harus diterima.

5 PRAKATA Puji Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Analisis Ketepatan Prediksi Potensi Kebangkrutan Melalui Altman Z-Score dan Hubungannya Dengan Harga Saham Pada Perusahaan Perbankan Yang Listing Di Bursa Efek Jakarta”. yang telah menguji dan membimbing demi kesempurnaan hasil penelitian ini. Kaprodi Akuntansi sekaligus Dosen Pembimbing I atas bimbingan yang telah diberikan. MM.Si. Ketua Jurusan Ekonomi 4. Penelitian ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu persyaratan untuk menyelesaikan studi strata satu pada Jurusan Ekonomi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. Drs. Ayah ibu bertiga atas doa yang tidak putus-putusnya. Dekan Fakultas Ilmu Sosial 3. Agus Wayudin M. Drs. Tidak sedikit hambatan yang dihadapi baik dalam penelitian maupun penyelesaian skripsi ini. 7. Drs H Ari Tri Sugito SH. Dosen Pembimbing II atas bimbingan yang diberikan.Si. Drs. Rektor Universitas Negeri Semarang 2. Sunardi MM.Si. . Drs. Drs.Si. Subowo M. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis sampaikan terima kasih kepada yang terhormat : 1. 5. 6. Kusmuryanto M. Sukirman M.

Akhir kata. Amin. 27 Oktober 2005 Penulis .6 Semoga segala kebaikan yang diperbuat mendapat balasan dari Allah SWT dengan seluruh rahmat dan hidayah yang tiada terbatas dan terduga. Semarang. penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Altman Z-Score dan Korelasi Product Moment dari Pearson. Analisis Ketepatan Prediksi Potensi Kebangkrutan Melalui Altman Z-Score dan Hubungannya Dengan Harga Saham Pada Perusahaan Perbankan Yang Listing Di Bursa Efek Jakarta.6 % dengan taraf kepercayaaan 95 %.2 sehingga berada di wilayah ketiga yaitu yang diprediksi mengalami kebangkrutan. Jurusan Ekonomi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi mahasiswa dan peneliti lanjutan agar dapat menyempurnakan penelitian selanjutnya. . Harga Saham Perbankan adalah salah satu sektor yang penting dalam perekonomian Indonesia. Indikator kebangkrutan dapat dilihat melalui informasi keuangan yang terdapat dalam laporan keuangan. 95 h. Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.Namun pelaksanaan di Indonesia banyak kebijakan dari pemerintah dan banyak faktor yang mempengaruhinya sehingga bank yang diprediksi bangkrut kenyataanya masih menjalankan kegiatan operasi perbankan. Perkembangan baru dunia perbankan Indonesia dimulai pada tahun 1997 dimana terjadi krisis ekonomi yang parah yang berdampak negatif pada perusahaan perbankan yang bahkan beberapa perusahaan harus mengalami kebangkrutan. Kata Kunci : Altman Z-Score. Dua variabel yang dikaji dalam penelitian ini adalah Altman Z-Score dan harga saham. Simpulan hasil penelitian ini bahwa Altman Z-Score bisa diterapkan untuk memprediksi potensi kebangkrutan di Indonesia walaupun banyak perusahaan yang masih aktif yang dikarenakan oleh kebijakan pemerintah. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana metode Altaman Z–Score digunakan untuk memprediksi potensi kebangkrutan bank ? (2) Bagaimana hubungan antara potensi kebangkrutan bank dengan harga saham di perusaaan-perusahaan perbankan tersebut ?. Dan prediksi mengenai potensi kebangkrutan yang mungkin dialami perusahaan dapat menggunakan model Altman Z-Score. 2005. Hasil penelitian yang lain menunjukkan bahwa potensi kebangkrutan Altman Z-Score berhubungan dengan harga saham dengan adanya korelasi sebesar 22. Program Studi Akuntansi . Sampel dalam penelitian ini adalah 17 perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta pada tahun 1999-2003. Kebangkrutan.7 SARI Aprilia Nugraheni. Penelitian ini bertujuan (1) Untuk membuktikan bahwa metode Altman Z-Score dapat digunakan untuk memprediksi potensi kebangkrutan bank (2) Untuk mengetahui hubungan antara potensi kebangkrutan bank dengan harga saham di perusahaan-perusahaan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama lima tahun berturut-turut nilai Z-Score yang dimiliki oleh semua perusahaan perbankan masih dibawah 1. Alat pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan metode dokumentasi yang diambil dari laporan keuangan perbankan dan buku-buku yang menunjang.

...3 Kebangkrutan ... v PRAKATA .............................. i PERSETUJUAN PEMBIMBING .......................................................2 1.................. vi SARI .....................................................................................................................................................................................................................................................................................5 Pengertian Saham .. 7 BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS 2........................................................................ 32 .2 2......... 6 Tujuan Penelitian .................................................................................................................................4 Latar Belakang ......4 2............................................................................................... 20 Kerangka Berfikir ................................................. 8 Prediksi Potensi Kebangkrutan Dengan Model Altman Z-Score 14 Harga Saham 2.......3 2..............8 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .. 26 Hipotesis ........................1 1.......1 2....... 6 Manfaat Penelitian ........ viii DAFTAR ISI .............................................................3............................... iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN ........................................................................................................................................................................ ii PENGESAHAN KELULUSAN ...............3 1................................................................................ 1 Identifikasi dan Rumusan Masalah ..1 2.................................................... ix BAB I PENDAHULUAN 1............................ 19 Penilaian Harga Saham ......................2 2.................... 18 Harga Saham ...................................................................................3....... iii PERNYATAAN ............................3..........

...................1 4...2 Objek Penelitian ........................2 Metode Pengolahan Data ............ 37 2................................3 3...5... 35 3........ 33 Variabel Penelitian 3................. 53 Ketepatan Prediksi Altman Z-Score .......... Analisis Korelasi Product Moment ..........................2 Deskripsi Perusahaan ...... Koefisien Determinasi .......... 36 Metode Pengumpulan Data ....................................... 38 4......1 3...................................2 3............. Uji Hipotesis ........2 Z-Score ....9 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3......................................................1 4.... 38 3...............................................................4 3......................... 36 Metode Analisis Dan Pengolahan Data 3................1 Objek dan Subjek Penelitian 3. 41 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4....... 40 5..........................3 Altman Z-Score .1 3........5................... 46 Harga Saham .................5......2 4............................5............ 34 Harga Saham .............................. Model Altman Z-Score .......................5 Sumber Data ...................................... 33 Subjek Penelitian ................1... Uji Normalitas Data dengan Kolmogorov Smirnov ................. 42 Deskripsi Variabel Penelitian 4...............2.......................................................... 40 3........................................................................................2...................1 Metode Analisis Data 1..................... 54 ..1.........

..................................................1 5...3 5.................................. 67 Lampiran-lampiran .............3 Simpulan ...1 5................2 5.................................... 65 Keterbatasan ............................... 59 4...... 58 Koefisien Determinasi ...................................................2 5............10 4......................4 Hasil Analisis Data 5....................................................................................................................... 58 Uji Hipotesis ............................................................ 66 Daftar Pustaka .................................................................................................................... 58 Analisis Korelasi Product Moment ................5 Pembahasan ................................... 69 ................4 Uji Normalitas Data Kolmogorov Smirnov . 66 Saran ......... 59 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.........................................................

besarnya utang luar negeri yang segera jatuh tempo dan perdagangan internasional yang kurang menguntungkan. Terpuruknya kepercayaan ke titik nol membuat rupiah yang ditutup pada level Rp 4. Masih dalam UU No 10 Tahun 1998.11 BAB 1 PENDAHULUAN 1. perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank.2002:4). kegiatan usaha serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya.850 per dollar US pada tahun 1997 meluncur dengan cepat ke level Rp 17. bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup orang banyak. Babak baru perkembangan kondisi perbankan di Indonesia diawali dengan adanya krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998. Krisis moneter di Indonesia diawali dengan adanya krisis nilai tukar bath di Thailand pada tanggal 2 Juli 1998. . Faktor yang mempercepat terjadinya krisis antara lain adalah hilangnya kepercayaan masyarakat.1 Latar Belakang Perbankan merupakan lembaga yang dapat dipergunakan sebagai tempat sumber dana. mencakup kelembagaan.000 per dollar US pada 22 Januari 1998. Menurut Undang-Undang Perbankan No 10 Tahun 1998. penyimpanan dana dan mitra bagi perusahaan yang go public (Indriyo.

Krisis moneter tahun 1997 telah mengakibatkan collapsnya sejumlah bank di Indonesia karena tidak mampu mempertahankan going concernnya. manufaktur dan perbankan. Puluhan bahkan ratusan perusahaan mulai dari skala kecil hingga konglomerat bertumbangan. Perbankan mengalami negative spread dan tidak mampu menjalankan fungsinya sebagai pemasok dana ke sektor riil. bank-bank nasional dan internasional mengalami kesulitan besar bahkan surat utang pemerintah terus merosot ke level di bawah junk atau menjadi sampah.8 % dan Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) mrnjadi 60 % pada Juli 1998 (dari masing-masing 10. dinaikkannya suku bunga Serifikat Bank Indonesia (SBI) menjadi 70. Sektor yang paling terpukul terutama adalah sektor konstruksi.87 % dan 14. Ketidakmampuan atau kegagalan bank-bank tersebut disebabkan oleh dua hal utama yaitu kegagalan ekonomi dan kegagalan keuangan.12 Krisis yang membuka borok-borok kerapuhan fundamental ekonomi ini dengan cepat merambah ke semua sektor. Anjloknya rupiah menyebabkan pasar uang dan pasar modal rontok. Sedang kegagalan keuangan berarti jika perusahaan tersebut gagal . Di pasar uang. Sekitar 70 persen lebih perusahaan yang tercatat di pasar modal juga insolvent atau notabene bangkrut.75 % pada awal krisis) menyebabkan kesulitan bank semakin memuncak. Kegagalan ekonomi berkaitan dengan ketidakseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran atau bisa disebabkan oleh biaya modal perusahaan yang lebih besar dari tingkat laba atas biaya histories investasi.

hasil usaha pendapatan yang telah dicapai. Bersumber dari laporan keuangan maka dapat dijadikan dasar untuk mengukur tingkat kesehatan suatu bank. Analisa keuangan merupakan alat yang penting untuk mengetahui posisi keuangan perusahaan serta hasilhasil yang dicapai sehubungan dengan pemilihan strategi perusahaan yang telah dilaksanakan.2002 :45) Indikasi kebangkrutan suatu bank dapat dilihat melalui informasi yang terdapat dalam laporan keuangannya.13 membayar kewajibannya pada saat jatuh tempo meskipun total aktiva melebihi total kewajibannya. Kondisi yang membuat khawatir para investor dan kreditor adalah jika perusahaan mengalami penurunan kinerja. Menurut Basri (2003 : 1) Penurunan atau kemerosotan kinerja suatu perusahaan tidak serta merta terjadi dalam hitungan “sekejap” kecuali akibat suatu suatu peristiwa yang sangat fatal dan dramatis. Penurunan kinerja bank secara terus menerus dapat menyebabkan terjadinya financial distress yaitu keadaan yang sangat sulit bahkan dapat dikatakan mendekati kebangkrutan yang apabila tidak segera diselesaikan akan berdampak pada bank-bank tersebut dengan hilangnya kepercayaan dari para nasabah (Murtanto. keefektifan penggunaan aktivanya. yang sepenuhnya diluar kemampuan perusahaan untuk mengendalikannya. Kesehatan suatu bank mencerminkan kemampuan bank dalam menjalankan usahanya atau distribusi aktivanya. Untuk dapat menginterpetasikan informasi keuangan suatu perusahaan maka diperlukan suatu teknik analisa laporan keuangan. beban-beban tetap yang harus dibayar serta .

(Murtanto. Pada lampiran 2 terlihat banyaknya retained earning yang dimiliki perusahaan-perusahaan perbankan. Ini berarti bahwa perusahaanperusahaan tersebut tidak mampu menutup utang jangka pendeknya dengan asset lancar yang dimiliki. Kondisi keuangan perbankan sampai saat ini masih belum menunjukkan adanya peningkatan yang cukup baik setelah empat tahun rekapitalisasi dari pemerintah. Dan pada lampiran 8 menunjukkan working capital yang dimiliki oleh perusahaan perbankan tersebut.2002 :45). Retained earning yang dimiliki perusahaan-perusahaan tersebut mayoritas masih bernilai negative. Hal ini . Dengan adanya tindakan untuk memprediksi potensi kebangkrutan sangat mungkin potensi kebangkrutan yang dimiliki oleh setiap perusahaan dapat dihindarkan atau paling tidak mengurangi risiko kebangkrutan tersebut. Hal ini ditunjukkan dengan lampiran 6 dan 7. Lampiran 6 menunjukkan banyaknya current asset yang dimiliki oleh perusahaan perbankan dan lampiran 7 menunjukkan banyaknya current liabilities yang dimiliki oleh perusahaan perbankan. Jika dikaitkan dengan indikator kebangkrutan maka perusahaan-perusahaan tersebut mengalami pembengkakan utang dan ketidakcukupan kas dalam membayar utang-utang jangka pendeknya. Dapat kita lihat bahwa working capital yang dimiliki perusahaanperusahaan tersebut bernilai negative. Hal tersebut berarti current liabilities lebih besar dari current assetnya.14 potensi kebangkrutan yang mungkin akan dialami. Karena working capital berhubungan dengan likuiditas maka hal ini mengindikasikan bahwa tingkat likuiditas perusahaan bermasalah.

profitabilitas dan aktivitas perusahaan (Akhyar. Pada lampiran 3 terlihat banyaknya jumlah earning before interest and tax yang dimiliki sangat berfluktuatif dari tahun ke tahun.2001:189). Mengingat pentingnya sektor perbankan dalam naik turunnya perekonomian kita. . Dengan adanya informasi tersebut akan membantu banyak pihak yang berkepentingan untuk mengevaluasi dan memperbaiki kinerja perusahaan perbankan tersebut serta mengambil tindakan yang perlu dilakukan berkaitan dengan hal tersebut. informasi mengenai kejadian atau peristiwa ekonomi yang berkaitan dengan kondisi sektor perbankan di Indonesia sangat perlu diketahui. khususnya mengenai informasi potensi kebangkrutan.15 menunjukkan bahwa efisiensi usaha manajemen perusahaan kurang begitu bagus dengan adanya retained earning yang menurun atau hanya mengalami sedikit peningkatan. Salah satu cara untuk mengetahui informasi seberapa besar potensi kebangkrutan yang mungkin akan dialami oleh suatu perusahaan perbankan adalah dengan penggunaan Altman Z-Score. Ada perusahaan yang mengalami peningkatan namun pada tahun berikutnya mengalami penurunan dan tahun berikutnya mengalami peningkatan kembali. Hal ini berarti kemampuan perolehan laba perusahaanperusahaan tersebut juga kurang menentu masih berfluktuatif. Rasio-rasio tersebut merupakan rasio yang mendeteksi kondisi keuangan perusahaan yang berkaitan dengan likuiditas. Di dalam Altman Z-Score terkandung beberapa rasio.

Para investor akan memiliki pandangan bahwa jika potensi kebangkrutan besar maka laba yang diperoleh perusahaan akan menurun dan berakibat pada turunnya laba saham investor. memprediksi mengenai potensi kebangkrutan sangat penting sebagai bahan evaluasi kinerja perusahaan yang selama ini terjadi. sangat berkepentingan untuk mengetahui seberapa besar potensi kebangkrutan yang dimiliki oleh perusahaan yang bersangkutan.16 Dengan adanya kombinasi rasio-rasio tersebut dalam Altman Z-Score akan sangat membantu manajemen dalam memprediksi potensi kebangkrutan yang mungkin akan dialami oleh perusahaan. Sehingga dapat diambil suatu kebijakan untuk memperbaiki kondisi dan kinerja perusahaannya. Sedang bagi pihak pemerintah sangat penting untuk dapat mengetahui informasi potensi kebangkrutan mengingat pemegang saham terbesar adalah pemerintah. Oleh karena harga saham ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran pasar maka jika hal tersebut diatas terjadi maka permintaan terhadap saham akan menurun dan berakibat pada turunnya harga saham. Bagi calon pembeli saham potensi kebangkrutan mengindikasikan kinerja perusahaan memburuk yang berimbas pada turunnya kemampuan perolehan laba sehingga calon pembeli saham kurang tertarik untuk mengadakan pembelian saham perusahaan tersebut. Dan juga sebagai pembuat kebijakan ekonomi termasuk perbankan pemerintah melalui Bank Indonesia selalu mengawasi kinerja perusahaan-perusahaan perbankan. . Bagi manajemen. Untuk para investor saham.

3.3.2 Bagaimana hubungan antara potensi kebangkrutan bank dengan harga saham di perusahaan-perusahaan perbankan tersebut ? 1. .2 Untuk mengetahui hubungan antara potensi kebangkrutan bank dengan harga saham di perusahaan-perusahaan perbankan tersebut.2.1 Untuk membuktikan bahwa metode Altman Z Score dapat digunakan untuk memprediksi potensi kebangkrutan bank.3 Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan yang dihadapi maka tujuan diadakannya penelitian ini adalah : 1. 1.1 Bagaimana metode Altman Z Score digunakan untuk memprediksi potensi kebangkrutan bank ? 1.17 Mengingat fungsi strategis dunia perbankan di era sekarang ini maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan menggunakan model Altman Z-Score untuk memprediksi potensi kebangkrutan pada perusahaan-perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta dengan judul “Analisis Ketepatan Prediksi Potensi Kebangkrutan Melalui Altman Z-Score Dan Hubungannya Dengan Harga Saham Pada Perusahaan Perbankan Yang Listing Di Bursa Efek Jakarta” 1.2.2 Identifikasi Dan Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka permasalahan pada penelitian ini adalah : 1.

4 Manfaat Penelitian Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat berikut ini : 1.4.2 Manfaat teoritis penelitian ini adalah : Bagi peneliti adalah sebagai bahan pengetahuan dalam membandingkan antara teori yang ada dan aplikasinya di lapangan. dan bagi peneliti selanjutnya yang mengambil tema yang sama dengan penelitian ini diharapkan penelitian ini dapat memberikan manfaat. 1.18 1. .1 Manfaat praktis penelitian ini adalah : Bagi pihak pengguna laporan keuangan yaitu stakeholder adalah sebagai bahan informasi untuk mengetahui posisi perusahaan sehingga dapat mengambil suatu kebijakan sehubungan dengan hal tersebut.4.

2003:79). Menurut Martin pada tahun 1995.1 Kebangkrutan Manajemen cukup sering mengalami kegagalan dalam membesarkan perusahaan. (Supardi. Kegagalan terjadi bila arus kas sebenarnya dari perusahaan tersebut jauh dibawah arus kas yang diharapkan.19 BAB II LANDASAN TEORI 2. akibatnya prospek perusahaan tidak terlihat jelas. (dalam Supardi.2003:79) kebangkrutan sebagai suatu kegagalan yang terjadi pada sebuah perusahaan didefinisikan dalam beberapa pengertian yaitu • Kegagalan Ekonomi (Economic Distressed) Kegagalan dalam arti ekonomi biasanya berarti bahwa perusahaan kehilangan uang atau pendapatan. . 2000 dalam Murtanto. Kebangkrutan (bankruptcy) biasanya diartikan sebagai kegagalan perusahaan dalam menjalankan operasi perusahaan untuk menghasilkan laba.2002:48). Bahkan kegagalan juga dapat berarti bahwa tingkat pendapatan atas biaya historis dari investasinya lebih kecil daripada biaya modal perusahaan yang dikeluarkan untuk sebuah investasi tersebut. ini berarti tingkat labanya lebih kecil dari biaya modal atau nilai sekarang dari arus kas perusahaan lebih kecil dari kewajiban. perusahaan tidak mampu menutupi biayanya sendiri.(Adnan. Perusahaan menjadi tidak sehat bahkan berkelanjutan mengalami krisis yang berkepanjangan akhirnya akan mengarah pada kebangkrutan.

Insolvensi dalam pengertian kebangkrutan. Sedangkan menurut Adnan (2000) kegagalan keuangan biasa diartikan sebagai insolvensi yang membedakan antara dasar arus kas dan dasar saham. b.2002:48) Dan menurut Hermosillo tahun 1996 (Herliansyah. Kegagalan ofisial.2002:20) konsep kegagalan bank terbagi menjadi dua yaitu : a.20 • Kegagalan Keuangan (Financial Distressed) Pengertian financial distressed adalah kesulitan dana baik dalam arti dana dalam pengertian kas atau dalam pengertian modal kerja. Insolvensi atas dasar arus kas ada dua bentuk yaitu : a. Sebagian asset liability management sangat berperan dalam pengaturan untuk menjaga agar tidak terkena financial distressed. suatu situasi dimana kekayaan bank menjadi negative atau jika bank tersebut melanjutkan kegiatan operasinya maka akan menimbulkan kerugian dan akan segera menghasilkan kekayaan negative. tipe kegagalan bank ini disebabkan oleh ditetapkannya bank tersebut gagal kepada publik oleh badan yang . terjadi apabila perusahaan tidak dapat memenuhi kewajiban pada saat jatuh tempo walaupun total aktivanya sudah melebihi total hutangnya. b. (Murtanto. Insolvensi teknis (Technical Insolvency). Kegagalan ekonomi. dimana didefinisikan sebagai kekayaan bersih negative dalam neraca konvensional atas nilai sekarang dan arus kas yang diharapkan lebih kecil dari kewajiban.

21 berwenang mengawasi bank (bank regulators).2002:48) faktor-faktor penyebab kebangkrutan dapat dibagi menjadi tiga yaitu : • Faktor Umum a. berasal dari gejala inflasi dan deflasi dalam harga barang dan jasa. dimana yang sangat berpengaruh adalah adanya perubahan gaya hidup masyarakat yang mempengaruhi permintaan terhadap produk atau jasa ataupun yang berhubungan dengan karyawan. Sektor ekonomi. Hal ini dilakukan sehubungan dengan pengamatan yang telah dilakukan oleh lembaga pengawas bank Analisis kebangkrutan usaha sangat membantu pembuatan keputusan untuk menentukan sikap terhadap perusahaan yang mengalami kebangkrutan usaha tersebut (Payamta. suku bunga dan devaluasi atau revaluasi dengan mata uang asing. Sektor sosial. c. Sedangkan menurut Adnan (Murtanto. dimana penggunaan teknologi memerlukan biaya yang ditanggung perusahaan terutama untuk pemeliharaan dan implementasi . bencana dan kecurangan. keuangan.2003:59) Hasil penelitian Dun dan Bradstreet tahun 2000 (Ahmad. b. kebijakan keuangan. kelalaian.2003:59) mengungkapkan faktor-faktor penyebab kebangkrutan adalah adanya faktor ekonomi. Sektor teknologi. pengalaman. 1998 dalam Ahmad.

kebijakan undang-undang baru bagi perbankan atau tenaga kerja dan lain-lain. .22 d. pengalaman. dimana untuk menghindari kehilangan nasabah. b. Sektor pemerintah. Manajemen yang tidak efisien. Sektor kreditor. c. • Faktor Eksternal a. dimana kekuatannya terletak pada pemberian pinjaman dan menetapkan jangka waktu pengembalian hutang piutang yang tergantung pada kepercayaan kreditor terhadap kelikuiditan suatu bank. Sektor pelanggan/nasabah. Terlalu besarnya kredit yang diberikan kepada nasabah sehingga menyebabkan adanya penunggakan dalam pembayarannya sampai akhirnya tidak dapat membayar. b. ketrampilan. sikap adaptif dan inisiatif dari manajemen. Sektor pesaing/bank lain. dimana kebijakan poemerintah terhadap pencabutan subsidi pada perusahaan dan industri. dimana merupakan hal yang harus diperhatikan karena menyangkut perbedaan pemberian pelayanan kepada nasabah. pengenaan tarif ekspor dan impor barang berubah. bank harus melakukan identifikasi terhadap sifat konsumen atau nasabah juga menciptakan peluang untuk mendapatkan nasabah baru. • Faktor Internal Perusahaan a. yang disebabkan karena kurang adanya kemampuan.

Menurut Suwarsono tahun 1996 (Adnan dan Taufiq. Adanya beberapa indikator sudah cukup menjadi . awal pertumbuhan. Pertumbuhan ekonomi yang rendah menjadi indikator yang cukup penting pada lemahnya peluang bisnis. manajemen tidak perlu menunggu munculnya semua indikator. bahkan manajer puncak sekalipun sangat merugikan apalagi yang berhubungan dengan keuangan perusahaan.23 c. Indikator internal Sinyal kegagalan yang dapat ditemukan pada variable internal dapat dijumpai pada setiap tahapan daur kehidupan organisasi. b. Meningkatnya populasi bisnis dapat digunakan sebagai indikator meningkatnya persaingan dan semakin berkurangnya laba potensi yang dijanjikan karena adanya perubahan struktur pasar. Untuk disebut sebagai perusahaan yang sakit. Penyalahgunaan wewenang dan kecurangan-kecurangan. pertengahan dan kedewasaan. Tersedianya kredit dan aktivitas pasar modal dapat digunakan sebagai indikator mudah atau sulitnya. Indikator dari lingkungan bisnis Pertumbuhan ekonomi dan aktivitas ekonomi pembentuknya memberikan indikasi bagi manajemen dalam melakukan pengambilan keputusan ekspansi usaha. dimana sering dilakukan oleh karyawan. mahal atau murahnya dana yang diperlukan. 2001:187) ada beberapa tanda atau indikator manajerial dan operasional yang muncul ketika perusahaan akan mengalami kebangkrutan yaitu : a.

b. Pihak pemerintah. Menurut Hanafi (2003:261) informasi mengenai kebangkrutan sangat bermanfaat bagi beberapa pihak antara lain : a. Pemberi pinjaman (seperti pihak bank). c. permasalahan akan menjadi lebih kompleks jika terjadi interaksi antar indikator. Investor. c. lembaga pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk mengawasi jalannya usaha tersebut .24 tanda tidak sehatnya suatu perusahaan. Pada beberapa sektor usaha. Investor saham atau obligasi yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan tentunya akan sangat berkepentingan melihat adanya kemungkinan bangkrut atau tidaknya perusahaan yang menjual surat berharga tersebut. Tidak berbeda dengan indikator yang berasal dari lingkungan bisnis. Informasi kebangkrutan bisa bermanfaat untuk mengambil keputusan siapa yang akan diberi pinjaman dan kemudian bermanfaat untuk memonitor pinjaman yang ada. Investor yang menganut strategi aktif akan mengembangkan model prediksi kebangkrutan untuk melihat tandatanda kebangkrutan seawal mungkin dan kemudian mengantisipasi kemungkinan tersebut. Indikator kombinasi Seringkali perusahaan yang sakit disebabkan oleh interaksi atau kombinasi antara ancaman yang datang dari lingkungan bisnis dan kelemahan yang berasal dari variable internal yang mengakibatkan perusahan berkemungkinan mengalami kebangkrutan.

Akuntan mempunyai kepentingan terhadap informasi kelangsungan usaha karena akuntan akan menilai kemampuan going concern suatu perusahaan. artinya setiap rasio diuji secara terpisah. penerapan analisis rasio masih terbatas karena dilakukan secara terpisah. Suatu penelitian menunjukkan biaya kebangkrutan bisa mencapai 11-17% dari nilai perusahaan.2 Prediksi Potensi Kebangkrutan Dengan Metode Altman Z-Score Analisis Z-Score. Contoh biaya kebangkrutan yang langsung adalah biaya akuntan dan penasihat hukum. Lembaga pemerintah mempunyai kepentingan untuk melihat tanda-tanda kebangkrutan lebih awal supaya tindakan-tindakan yang perlu bisa dilakukan lebih awal. maka tindakan-tindakan penghematan bisa dilakukan. Kebangkrutan berarti munculnya biaya-biaya yang berkaitan dengan kebangkrutan dan biaya ini cukup besar. Apabila manajemen bisa mendeteksi kebangkrutan ini lebih awal. Sedang contoh biaya kebangkrutan tidak langsung adalah hilangnya kesempatan penjualan dan keuntungan karena beberapa hal seperti pembatasan yang mungkin diberlakukan oleh pengadilan. e. Akuntan. Manajemen. misalnya dengan melakukan merger atau restrukturisasi keuangan sehingga biaya kebangkrutan bisa dihindari. Juga pemerintah mempunyai badanbadan usaha (BUMN) yang harus selalu diawasi.25 (misalnya sektor perbankan). d. 2. Untuk mengatasi keterbatasan analisa rasio tersebut Altman telah mengkombinasikan beberapa rasio menjadi model prediksi kebangkrutan .

utilisasi modal (harta kekayaan) menurun. Rasio-rasio tersebut merupakan rasio yang mendeteksi kondisi keuangan perusahaan yang berkaitan dengan likuiditas.2001:189). maka indikator yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya masalah pada tingkat likuiditas perusahaan adalah indikator-indikator internal seperti ketidakcukupan kas.10X3 +0. penambahan utang yang tidak terkendali dan beberapa indikator lainnya. profitabilitas dan aktivitas perusahaan (Muh Akhyar. Z-Score adalah skor yang ditentukan dari hitungan standar kali nisbah-nisbah keuangan yang akan menunjukkan tingkat kemungkinan kebangkrutan bank (Supardi dan Mastuti. Rumus yang telah diformulasikan Altman adalah sebagai berikut : Z-Score = 0. Dimana modal kerja (working capital) diperoleh dari selisih antara aktiva lancar dengan utang lancar.847X2 + 3.26 perusahaan dengan nama Z-Score.998X5 Rasio-rasio tersebut terdiri dari : 1) Working Capital Assets/Total Assets (X1) Merupakan rasio yang mendeteksi likuiditas yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dari total aktiva dan posisi modal kerja.717X1 + 0.420X4+ 0. utang dagang membengkak. Jika dikaitkan dengan indikator-indikator kebangkrutan seperti yang disebutkan diatas. .2003:80).

27

2) Retained Earning/Total Assets (X2) Rasio ini merupakan rasio profitabilitas yang mendeteksi atau mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dalam periode tertentu. Ditinjau dari kemampuan perusahaan yang bersangkutan dalam memproleh laba dibandingkan dengan kecepatan perputaran operating assets sebagai ukuran efisiensi usaha.

Manajemen bank sangat berkepentingan untuk dapat melihat rasio ini, karena sekaligus akan terlihat tingkat efisiensi usaha dan kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba dari hasil penjualannya. 3) Earning Before Interest and Taxes/Total Assets (X3) Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam

memperoleh laba dari aktiva yang digunakan atau untuk mengukur kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk memperoleh keuntungan bagi semua investor termasuk pemegang saham dan obligasi. Beberapa indikator yang dapat digunakan dalam mendeteksi adanya masalah pada kemampuan profitabilitas perusahaan diantaranya adalah piutang dagang

meningkat, rugi terus menerus dalam beberapa kwartal, persediaan meningkat, penjualan menurun, terlambatnya hasil penagihan piutang, kredibilitas perusahaan berkurang serta kesediaan memberi kredit pada konsumen yang tak dapat membayar pada waktu yang ditetapkan.

28

4) Market Value Of Equity/Book Value Of Total Debt (X4) Rasio ini merupakan rasio yang mengukur aktivitas

perusahaan. Sering juga digunakan dalam bentuk Net Worth/Total Debt. Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam memberikan jaminan kepada setiap utangnya melalui modalnya sendiri. 5) Sales/Total Assets (X5) Rasio ini merupakan rasio yang mengukur aktivitas

perusahaan. Rasio ini mendeteksi kemampuan dana perusahaan yang tertanam dalam keseluruhan aktiva berputar dalam satu peiode tertentu. Rasio ini dapat pula dikatakan sebagai rasio yang mengukur modal yang diinvestasikan oleh perusahaan untuk menghasilkan revenue. Beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya masalah pada aktivitas perusahaan yang kemudian akan berpengaruh terhadap rasio-rasio tersebut di atas adalah pangsa pasar produk kunci menurun, berpindahnya penguasaan pangsa pasar pada pesaing, modal kerja menurun drastis, perputaran persediaan menurun drastis,

kepercayaan konsumen berkurang dan beberapa indikator lainnya. Model Altman (1984) tersebut dapat diterapkan pada masingmasing kelompok perusahaan secara individual ataupun sekelompok perusahaan. Penerapan pada kelompok perusahaan digambarkan oleh Altman dengan mengelompokkan perusahaan menjadi dua kategori yaitu bangkrut dan tidak bangkrut.

29

Berdasarkan penelitiannya tersebut Altman menemukan lima rasio untuk perusahaan bangkrut dan tidak bangkrut dan menghitung nilai Z untuk kedua kelompok tersebut. Dalam model tersebut skor 2,90 merupakan ambang batas untuk perusahaan sehat.Jadi, perusahaan yang mempunyai skor di atas 2,90 dapat dikatakan sebagai perusahaan sehat. Sedangkan perusahaan yang mempunyai skor dibawah 1,20 akan diklasifikasikan sebagai perusahaan yang potensial bangkrut. Kemudian diantara 1,20 dan 2,90 diklasifikasikan sebagai perusahaan pada grey area (daerah kelabu). Analisis diskriminan Altman diterapkan dengan menggunakan data dua sampai lima tahun sebelum perusahaan tersebut bangkrut. Analisis trend ini menunjukkan bahwa semua rasio yang diamati mempunyai X1 sampai X5 yang condong memperburuk dengan semakin mendekati kebangkrutan dengan perubahan yang paling buruk pada rasio tersebut terjadi antara tahun ketiga dan tahun kedua sebelum kebangkrutan terjadi. 2.3 Harga Saham 2.3.1 Pengertian Saham Menurut Undang-Undang No 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, saham merupakan surat berharga sebagai bukti pemilikan individu/institusi dalam suatu perusahaan (biasa dipegang

peorangan/lembaga pada suatu perusahaan). Apabila seorang membeli saham, maka ia akan menjadi pemilik dan disebut sebagai pemegang saham perusahaan tersebut. Indriyo (2002:26)

30

mendefinisikan saham sebagai tanda penyertaan modal pada perseroan terbatas. Menurut Baridwan (1992:394), apabila perusahaan

menyertakan satu macam saham maka saham itu disebut saham biasa (common stock). Apabila saham yang dikeluarkan itu dua macam yang satu adalah saham biasa dan yang lain adalah saham prioritas (preferred stock). 2.3.2 Harga Saham Harga saham menurut UU No 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal pada hakekatnya merupakan penerimaan besarnya

pengorbanan yang harus dilakukan oleh setiap investor untuk penyertaan dalam perusahaan. Berdasarkan fungsinya, nilai suatu saham dibagi menjadi tiga jenis (Anoraga, 2001 :58) yaitu : 1. Par Value (Nilai Nominal)/ Stated Value/Face Value Yaitu nilai yang tercantum pada saham untuk tujuan akuntansi. Jumlah saham yang dikeluarkan perseroan dikalikan dengan nilai nominalnya merupakan modal disetor penuh bagi suatu perseroan dan dalam pencatatan akuntansi nilai nominal dicatat sebagai modal ekuitas perseroan dalam neraca. 2. Base Price (Harga Dasar) Harga perdana dipergunakan dalam perhitungan indeks harga saham. Untuk saham baru harga dasar merupakan harga

Harga pasar inilah yang menyatakan naik turunnya suatu saham dan setiap hari diumumkan di surat kabar/media lainnya. Untuk menghitung nilai dasar yaitu harga dasar dikalikan dengan total saham yang beredar. maka kesempatan menjual . Market Price (Nilai Pasar) Merupakan harga suatu saham pada pasar yang sedang berlangsung atau jika pasar sudah tutup maka harga pasar adalah harga penutupannya (closing price).3. Untuk menghitung nilai pasar (kapitalisasi pasar) yaitu harga dasar dikalikan dengan total saham yang beredar. Menurut Anoraga (2001 :61) ada dua jenis pendekatan yang digunakan untuk menilai investasi dalam bentuk saham yaitu : 1. Pada saat harga turun atau naik diatas nilai instrinsiknya yang bersifat pasti. 2. 3. The Firm Foundation Theory Teori ini mengatakan bahwa setiap instrumen investasi apakah itu saham atau yang lain mempunyai landasan yang kuat yang disebut dengan nilai instrinsik yang dapat ditentukan melalui suatu analisis yang hati-hati terhadap kondisi pada saat sekarang dan prospeknya di masa yang akan datang.3 Penilaian Harga Saham Pada hakikatnya harga saham di pasar ditentukan oleh kekuatan pasar atau tergantung dari permintaan dan penawaran pasar.31 perdananya.

Dalam konteks ini nilai instrinsik adalah sama dengan nilai sekarang (present value) dari seluruh aliran penerimaan deviden yang akan diterima dalam periode-periode yang akan datang. kemudian dengan suatu discount factor tertentu mencerminkan tingkat return alternatif investasi yang diinginkan setelah memperhatikan unsur risiko dan waktu. Teori ini berdasarkan pada pendekatan penerimaan deviden dimana semakin besar penerimaan saat ini dan prospek pertumbuhannya di masa yang akan datang maka akan semakin besar nilai sahamnya. Dengan cara demikian tindakan investasi menjadi tindakan yang membosankan atau kurang menarik karena sederhananya sifat yang hanya merupakan hal memperbandingkan harga pasar suatu assets terhadap nilai instrinsiknya.32 atau membeli muncul. Ini berarti para pemilik saham atau investor mendiskontokan nilai uang yang akan diterima. Deviden Yield Approach Pendekatan ini didasarkan pada perkiraan deviden yang akan dibayarkan untuk satu tahun dan hasilnya . Sehingga perbedaan tingkat pertumbuhan adalah faktor utama dalam penilaian saham. Deviden Approach 1. karena perubahan harga pasar tersebut pada akhirnya akan dikoreksi. a.

33 dibandingkan dengan tingkat bunga umum di pasar (Risk Free Rate) Deviden − Yield = 2. Untuk asumsi ini rumusnya : Vo = ∑ dt Vn + (i + k ) i =1 (i + k ) n Vo dt = harga saham pada tahun ke-0 = deviden yang diberikan pada akhir tahun ke-t Vn k = harga saham setela tahun ke-n = ekspektasi tingkat investasi yang diharapkan (risiko rate ditambah risk premium) ∑ i =1 n = jumlah deviden dari tahun ke-1 samapi dengan tahun ke-n yang didiskontokan i = tingkat bunga . Discounting Model i Deviden − Per − Share Share − Pr ice Deviden diasumsikan tetap dari tahun ke-1 sampai dengan tahun ke-n.

Assets − Total.34 ii Deviden diasumsikan bertumbuh dengan persentase yang sama. juga Dalam downside pendekatan risk. Assets − (In tan gible.of .Share c.Debt ) Number. Model pendekatan ini adalah : PER = Share.Per.Share . Pr ice Earning. Net Tangible Assets Approach (NTA Approach) Pendekatan ini digunakan untuk mengetahui sampai seberapa jauh setiap saham didukung oleh Net Tangible Assets perusahaan.Share = Total. Earning Approach Pendekatan ini didasarkan pada perkiraan laba per saham di masa yang akan datang sehingga dapat diketahui berapa lama investasi suatu saham akan kembali. ini perlu yang diperhitungkan Formula digunakan dalam pendekatan ini adalah : NTA. Dengan asumsi ini maka rumusnya adalah : Vo = ∑ i =1 n do(i = g )t dt = (1 = k )t k − g g do = tingkat pertumbuhan = deviden pada tahun ke-0 b.

Estimasi nilai bisa salah karena harapan atau ekspektasi yang akan datang tidak dapat dibuktikan pada saat sekarang . Informasi dan analisis yang digunakan mempunyai kemungkinan yang tidak tepat. Investor yang rasional harus mau membayar harga yang lebih tinggi atas suatu saham yang memiliki kebijakan Deviden Pay Out yang lebih tinggi. Investor yang rasional harus mau membayar harga yang lebih tinggi untuk suatu saham yang memiliki tingkat pertumbuhan deviden yang lebih besar. c. Investor yang rasional harus mau membayar harga yang lebih tinggi atas suatu saham jika suku bunga turun atau lebih rendah. Juga untuk tingkat pertumbuhan yang berlaku dalam jangka waktu yang lebih panjang. Investor yang rasional harus mau membayar harga yang lebih tinggi atas suatu saham yang memiliki risiko yang kecil. Hasil penelitian teori ini juga mengandung kelemahan yaitu a. d.35 Asumsi-asumsi yang dipakai dalam pendekatan The Firm Foundation Theory yaitu sebagai berikut : a. b. b.

Dari pihak akademis berpendapat bahwa nilai intrinsik saham adalah suatu impian. Teori ini kurang setuju dengan pendekatan The Firm Fondation Theory yang memerlukan banyak kerja dan diragukan kebenarannya atau kewajaran dari penilaian untuk mencapai nilai instrinsiknya. Teori ini memusatkan perhatian pada nilai psikologis. The Castle In The Air Theory mempunyai banyak pendukung baik dari masyarakat keuangan maupun masyarakat akademis. 2. karena tidak seorangpun dapat mengetahui dengan pasti faktorfaktor yang akan mempengaruhi proses pendapatan dan pembayaran deviden di masa mendatang. Dalam ekonomi pertukaran nilai setiap asset tergantung pada transaksi riil atau . Pasar mempunyai kemungkinan tidak dapat memperbaiki kesalahan akibatnya tidak mencapai nilai yang ditaksirkan.36 dengan kata lain angka-angka yang tepat akan dapat diperoleh dari data yang belum pasti. c. d. The Castle In the Air Theory Teori kedua menurut Pandji Anoraga (2001 :67) adalah The Castle In The Air Theory. Pengikut teori ini lebih menekankan pendekatan tingkah laku investor di masa yang akan datang berdasarkan kebiasaan di masa lalu dan bukannya pada nilai instrinsik saham itu sendiri. Pertumbuhan tidak memberikan arti yang sama setiap saat.

Dalam penelitian sebelumnya dilakukan oleh Beaver tahun 1966 telah membuktikan bahwa secara empiris rasio keuangan dapat digunakan sebagai alat prediksi kegagalan pada sebuah perusahaan. meskipun tidak semua rasio dapat memprediksi dengan sama baiknya dan tidak dapat memprediksi dengan tingkat keberhasilan yang sama.2001:183) Studi lain dilakukan oleh Altman (1984) telah menemukan ada lima rasio keuangan yang dapat digunakan untuk mendeteksi . 2.4 Kerangka Berfikir Informasi tentang kinerja perusahaan yang tercermin dari laporan posisi keuangan. dan aliran kas perusahaan serta informasi lain yang terkait dengan laporan keuangan dapat diperoleh dari laporan keuangan perusahaan. laporan rugi laba. Contoh dari pendekatan riil adalah analisis teknis. Analisis ini didasarkan kepada anggapan yang luas bahwa harga efektif ditentukan oleh penawaran dan permintaan sehingga para analis mempelajari perubahan harga saham pada masa lalu dengan menggunakan diagram-diagram dan modelmodel. Beaver mempertemukan sampel perusahaan yang gagal dengan yang tidak gagal kemudian meneliti rasio keuangan selama lima tahun sebelum perusahaan gagal dan menemukan bahwa ternyata rasio keuangan perusahaan yang tidak gagal berbeda dengan perusahaan yang gagal (Adnan dan Taufiq. Beaver menggunakan Univariate Analysis.37 yang diharapkan.

Tingkat keakuratan tersebut turun menjadi 72 % untuk periode dua tahun sebelum bangkrut. Dari kombinasi rasio tersebut dimasukkan dalam model prediksi Altman dengan persamaan sebagai berikut : Z-Score = 0. 29 % untuk periode empat tahun sebelum bangkrut dan 36 % untuk periode lima tahun sebelum bangkrut. 2003:74) hasil analisa menunjukkan bahwa rasio keuangan (profitability. liquidity dan solvency) bermanfaat untuk memprediksi kebangkrutan dengan tingkat keakuratan 95 % setahun sebelum perusahaan bangkrut.10X3 +0.38 kebangkrutan perusahaan beberapa saat sebelum perusahaan tersebut bangkrut.847X2 + 3. 48 % untuk periode tiga tahun sebelum perusahaan bangkrut. Rasio Harga Pasar Modal Sendiri Terhadap Nilai Buku Total Kewajiban dan Rasio Penjualan Terhadap Total Aktiva.717X1 + 0. Hasil penelitian ini menunjukkan penurunan kekuatan prediksi rasio keuangan untuk periode waktu yang lebih lama (Adnan dan Taufiq. Rasio Pendapatan Sebelum Bunga Dan Pajak Terhadap Total Aktiva.420X4+ 0. Rasio Laba Ditahan Terhadap Total Aktiva.2001:184) Model untuk memprediksi potensi kebangkrutan perusahaan perbankan yang digunakan oleh Altman yaitu Rasio Modal Kerja Terhadap Total Aktiva. (Supardi dan Mastuti.998X5 Kesimpulan dari perhitungan Z-Score tersebut adalah : .

Apabila nilai Z-Score diatas 2.90) perusahaan berada dalam daerah kelabu (grey area). produktifitas dan profitabilitas.20 sampai 2.90) diklasifikasikan sebagai perusahaan yang sehat. Indikator Z-Score untuk seluruh sample 38 perusahaan. (Supardi dan Masuti. Dengan kesimpulan adanya perbedaan potensi kebangkrutan secara signifikan antara sebelum dan pada masa krisis dan analisis Z-Score yang digunakan merefer pada Altman lebih ditujukan pada sektor perbankan.20.20 < Z-Score < 2.20) diklasifikasikan sebagai perusahaan yang berpotensi bangkrut.2 dan 2. grey area (skor antara 1. Apabila nilai Z-Score antara 1. apabila dikelompokkan dalam kategori sehat (skor > 2.2003:75) Liby (1975) memperluas penelitian Altman dan Beaver menemukan bahwa rasio-rasio profitability. solvabitas.39 a. Hal ini juga sesuai dengan Robertson (1985) yang menyatakan kebangkrutan dipengaruhi oleh rasio-rasio likuiditas.90 (Z-Score > 2. Apabila nilai Z-Score dibawah 1. c.20 (Z-Score < 1.9) dan bangkrut (skor <1. Setyarini dan Abdul Halim (1999) melakukan studi potensi kebangkrutan perusahaan publik di Bursa Efek Jakarta dengan menggunakan analisis Z-Score Altman sebagai indikator tingkat kesehatan atau potensi kebangkrutan perusahaan.9). b.90 (1. activity. liquidity dan indebtness dapat memprediksi kebangkrutan bank. Studi yang dilakukan Zmijewski (1983) menambah validitas rasio keuangan .

profitabilitas suatu perusahaan. Hal ini dapat dijelaskan bahwa hasil analisis rasio dapat digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mengelola perusahaannya. Apakah perusahaan dapat membayar semua kewajibannya dari total aktiva . apabila total aktiva lebih banyak daripada total kewajibannya maka dapat diketahui bahwa perusahaan tersebut dapat memenuhi kewajibannya dan potensi kegagalan usahanya atau potensi kebangkrutannya kecil begitupun sebaliknya jika total kewajibannya lebih besar dari total aktivanya maka perusahaan dapat mengalami kegagalan usaha atau potensi kebangkrutan besar karena perusahaan tidak mampu membayar kewajiban- kewajibannya. Sebagai contohnya rasio leverage yang terdiri dari selisih antara total aktiva dan total kewajiban. Hal ini dapat dijelaskan karena dalam formula Altman tersebut mengkombinasikan beberapa rasio yang mengukur tingkat likuiditas. Rasio-rasio tersebut antara lain working capital/total assets yang mengukur tingkat likuiditas suatu perusahaan. aktivitas. Retained earning/total .2003:61) Berdasarkan teori-teori dan penelitian-penelitian diatas peneliti menegaskan bahwa rasio-rasio keuangan dapat digunakan dalam memprediksi tingkat kegagalan suatu usaha. Analisis rasio menggunakan analisis Altman Z-Score sudah terbukti dapat digunakan untuik memprediksi potensi kebangkrutan perusahaan.40 sebagai alat deteksi kegagalan keuangan perusahaan (Achmad dan Kartiko.

Berdasarkan pemahaman di atas maka analisis Altman Z-Score dapat digunakan untuk memprediksi potensi kebangkrutan suatu perusahaan perbankan. Oleh karena harga saham tergantung dari kekuatan permintaan dan penawaran pasar maka jika permintaan saham berkurang harga saham akan turun pula.41 assets yang merupakan rasio profitabilitas yang mendeteksi atau mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dalam periode tertentu. Jika potensi kebangkrutan perusahaan bernilai besar maka dapat dimungkinkan bahwa calon investor kurang tertarik untuk menanamkan sahamnya di perusahaan itu karena investor tidak mau dibebani kerugian karena colapsnya perusahaan. Salah satu pihak yang berkepentingan mengetahui seberapa besar potensi kebangkrutan yang dimiliki perusahaan adalah para calon investor saham. Sehingga dapat dirumuskan bahwa jika potensi kebangrutan yang diperoleh dengan model . Dan rasio-rasio yang lain yang dikombinasikan sehingga menghasilkan kesimpulan besar kecilnya potensi kebangkrutan perusahaan tersebut. Profit yang tinggi akan mencerminkan kinerja yang baik dari manajemen perusahaan dan akan mampu mempertahankan going concernnya. Tingkat keuntungan yang tinggi yang diharapkan oleh investor akan terpenuhi jika perusahaan mampu menghasilkan profit yang tinggi pula dalam perusahaan. Para calon investor saham akan tertarik untuk membeli saham jika saham yang ditanamkannya dalam perusahaan tersebut menghasilkan keuntungan yang tinggi bagi investor.

.42 Altman Z-Score semakin besar maka harga saham di pasar bursa akan turun.

43 Laporan Keuangan Working Capital To Total Assets Retained Earning To Total Assets Earning Before Interest and Taxes To Total Assets Market Value of Equity to Book Value of Total Debt Sales to Total Assets Perhitungan Model Altman Z-Score Analisis Prediksi Potensi Kebangkrutan BANGKRUT TERMASUK GREY AREA SEHAT (TIDAK BANGKRUT) Harga Saham Gambar 1 Kerangka Berfikir .

44 2. (Sudjana. 2002 : 219) Masih menurut Sudjana. .5 Hipotesis Hipotesis penelitian adalah asumsi atau dugaan mengenai sesuatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hal itu yang sering dituntut untuk melakukan pengecekannya. jika asumsi atau dugaan itu dikhususkan mengenai populasi umumnya mengenai nilai parameter populasi maka hipotesis itu disebut sebagai hipotesis statistik. Berdasarkan kerangka berfikir diatas maka peneliti mengajukan hipotesis penelitian yaitu bahwa nilai potensi kebangkrutan yang diperoleh dengan menggunakan Altman Z-Score berhubungan dengan harga saham di perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta.

3) Saham terus diperdagangkan selama tahun penelitian.1 Objek Dan Subjek Penelitian 3.2 Subjek Penelitian Populasi adalah keseluruhan Subjek dari subjek ini adalah penelitian laporan (Arikunto. 2000. penelitian keuangan perusahaan-perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta periode 1999. Perusahaan-perusahaan yang menjadi sampelnya adalah : 1) 2) 3) 4) PT Bank Bali Tbk PT Bank CIC International Tbk PT Bank Danamon Tbk PT Bank Danpac Tbk . 2002. 4) Data lengkap.2002:161).1. 2003. 2001.45 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Sampel adalah sebagian yang diambil dari populasi dengan menggunakan cara-cara tertentu (Sudjana.1 Objek Penelitian Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah potensi kebangkrutan dan harga saham dari perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta 3. 2) First issue mulai tahun 1999 atau sebelumnya.1998:115). Kriteria pengambilan sample dalam penelitian ini adalah : 1) Mengeluarkan annual report.

2 Variabel Penelitian Variabel penelitian adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Arikunto.2. Working capital disini dihitung dari selisih antara current assets dan current liabilities. Sedangkan current assets pada perusahaan- .1998:99) Penelitian ini menggunakan variabel-variabel sebagai berikut : 3.46 5) PT Bank Global Internasional Tbk 6) PT Bank Internasional Indonesia Tbk 7) PT Bank Inter-Pasific Tbk 8) PT Bank Lippo Tbk 9) PT Bank Mayapada Internasional Tbk 10) PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk 11) PT Bank Niaga Tbk 12) PT Bank NISP Tbk 13) PT Bank Panin Indonesia Tbk 14) PT Bank Permata Tbk 15) PT Bank Pikko Tbk 16) PT Bank Victoria International Tbk 17) PT Bank Universal Tbk 18) PT Bank Unibank Tbk Sumber : Indonesian Capital Market Directory 2001 dan 2004 3. Working Capital / Total Assets Merupakan rasio yang mendeteksi likuiditas yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dari total aktiva dan posisi modal kerja.1 Z-Score Z-Score adalah skor yang ditentukan dari hitungan standar kali nisbah-nisbah keuangan yang akan menunjukkan tingkat kemungkinan kebangkrutan bank. Dengan sub variabel : a.

notes and securities. b. c.47 perusahaan perbankan disini adalah terdiri dari cash on hand and banks. Retained Earning / Total Assets Rasio ini merupakan rasio profitabilitas yang mendeteksi atau mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dalam periode tertentu. Earrning Before Interest and Tax / Total Assets Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba dari aktiva yang digunakan atau untuk mengukur kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk memperoleh keuntungan bagi semua investor termasuk pemegang saham dan obligasi. Dan current liabilities disini terdiri dari demand deposit. time deposit. placement in other banks. dan saving deposit. . Sedangkan total assest adalah semua assets yang ada di dalam perusahaan tersebut. Retained earning adalah laba ditahan dan total assest adalah semua assets yang ada di dalam perusahaan tersebut.1997:90). Sedangkan total assest adalah semua assets yang ada di dalam perusahaan tersebut. EBIT (Earning Before Interest and Tax) adalah operating income yang diperoleh perusahaan tersebut. loans dan investment (Santoso.

Market Value of Equity disini adalah closing price tahunan dikali dengan total share tahunan dan Book Value of Total Debt adalah keseluruhan utang baik lancar maupun jangka panjang. Market Value of Equity / Book Value of Debt Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam memberikan jaminan kepada setiap utangnya melalui modalnya sendiri. Sales disini yang dipakai pada perusahaan perbankan adalah revenue. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan nilai saham jenis market price yaitu harga saham pasar penutupan (closing price) selama satu semester ke depan setelah tahun penelitian untuk semua perusahaan perbankan. 3. Sedangkan total assest adalah semua assets yang ada di dalam perusahaan tersebut. Harga saham merupakan penerimaan besarnya pengorbanan yang harus dilakukan oleh setiap investor untuk penyertaan dalam perusahaan. .2. e.2 Harga Saham Saham adalah tanda penyertaan modal pada perseroan terbatas (Indriyo.2002:265).48 d. Sales / Total Assets Rasio ini merupakan rasio yang mengukur aktivitas perusahaan.

sedang isi catatan adalah subjek penelitian atau variabel penelitian (Arikunto. 2002 dan 2003. (Arikunto. buku. agenda dan sebagainya. prasasti. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dokumentasi sehingga dokumen atau catatanlah yang menjadi sumber data. legger. transkrip. Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan. majalah. Model Altman Z-Score Dalam penelitian ini digunakan Model Altman untuk memprediksi potensi kebangkrutan perusahaan perbankan. 3.1998:236) Dalam penelitian ini metode dokumentasi yang digunakan adalah mencari data mengenai variabel yang berupa laporan keuangan serta bukubuku yang menunjang penelitian. 2000.1 Metode Analisis Data 1. surat kabar.4 Metode Pengumpulan Data Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah metode dokumentasi. Rumus Model Altman adalah sebagai berikut : .1998:114) Sumber data yang digunakan adalah informasi laporan keuangan pada tahun 1999. 2001.5.3 Sumber Data Sumber data dalam penelitian adalah subjek darimana data dapat diperoleh.5 Metode Analisis dan Pengolahan Data 3. 3. notulen rapat.49 3.

BVD : Book Value of Total Debt g.998 S/TA Keterangan : a. Apabila nilai Z-Score dibawah 1. sebagai perusahaan yang berpotensi . S : Sales Dari hasil analisa dengan model Altman akan diperoleh nilai Z-Score yang akan menjelaskan kondisi perusahaan yang dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu : a. TA c.20) diklasifikasikan bangkrut.107 EBIT/TA 0.420 MVE/BVD + 0.90 (1.20 < ZScore < 2.90) diklasifikasikan sebagai perusahaan yang sehat b. EBIT : Earning Before Interest and Taxes e.90) perusahaan berada dalam daerah kelabu (grey area) c.50 Z-Score = 0.20 (Z-Score < 1.20 sampai 2. WC b.90 (Z-Score > 2. Apabila nilai Z-Score diatas 2.717 WC/TA + 0.847 RE/TA + 3. MVE : Market Value of Equity f. RE : Working Capital : Total Assets : Retained Earning d. Apabila nilai Z-Score antara 1.

51 2. Jadi tidak mempersoalkan apakah suatu variabel tertentu tergantung kepada variabel lain. Uji ini digunakan untuk membandingkan tingkat kesesuaian sample dengan suatu distribusi tertentu yaitu normal. poison atau eksponental (Pengolahan Data Statistik dengan SPSS 12 :2004) 3. Pengujian normalitas data pada penelitian ini menggunakan uji Kolmogorov Smirnov. Analisis Korelasi Product Moment Penelitian ini termasuk dalam penelitian korelasi karena bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan dan apabila ada berapa eratnya hubungan itu dan berarti atau tidaknya hubungan itu. Koefisien korelasi adalah suatu alat statistik. Analisis korelasi berguna untuk menentukan suatu besaran yang menyatakan bagaimana kuatnya hubungan suatu variabel dengan variabel lain. uniform. yang dapat digunakan untuk membandingkan hasil pengukuran dua variabel yang berbeda agar dapat menentukan tingkat hubungan . Uji Normalitas Data Pengujian normalitas data penelitian adalah untuk menguji apakah model statistik variabel-variabel penelitian berdistribusi normal atau tidak normal. Uji satu sample Kolmogorov Smirnov merupakan salah satu uji untuk kebaik-sesuaian (goodness of fit).

1998:251). d. c. lalu dikonsultasikan ke Tabel r – Product Moment. Nilai koefisien korelasi berkisar antara -1 sampai +1 yang kriteria pemanfaatannya dijelaskan sebagai berikut : (1) Jika nilai r > 0 artinya telah terjadi hubungan yang linear positif yaitu makin besar nilai variabel X maka semakin besar pula nilai variable Y dan sebaliknya (2) Jika nilai r < 0 artinya telah terjadi hubungan yang linier negative yaitu makin kecil nilai variabel X maka makin besar nilai variabel Y dan sebaliknya ∑ XY ∑X ∑Y . Dalam penelitian ini digunakan korelasi product moment untuk menentukan hubungan antara dua variable interval. rXY b.52 antar variabel. : koefisien korelasi : Jumlah hasil dari X dan Y : Jumlah X : Jumlah Y Setelah diperoleh nilai r. Rumus korelasi product moment adalah sebagai berikut : n∑ XY − (∑ X )(∑ Y ) 2 2 rXY = {n∑ X − (∑ X ) n∑ Y 2 − (∑ Y ) }{ 2 } Keterangan : a. (Arikunto.

(Umar. Koefisien Determinasi Besarnya koefisien determinasi dapat ditentukan dari besarnya koefisien korelasi.53 (3) Jika nilai r = 0 artinya tidak ada hubungan sama sekali antara variabel X dan variable Y (4) Jika nilai r =1 atau r = -1 artinya telah terjadi hubungan linier sempurna yaitu berupa garis lurus sedangkan untuk nilai r yang makin mengarah ke angka 0 maka garis semakin tidak lurus.00 Antara 0. (Algifari. Interpretasi tersebut adalah sebagai berikut Tabel Interpretasi Nilai r Besarnya Nilai r Antara 0.800 – 1. Besarnya koefisien determinasi (r2) adalah kuadrat besarnya koefisien korelasi.1997:150) .400 Antara 0.2001:154) Menurut Arikunto (2002 :245) ada cara lain yang lebih sederhana yaitu dengan menggunakan interpretasi teradap koefisien korelasi yang diperole atau nilai r.600 Antara 0.200 Interpretasi Tinggi Cukup Agak Rendah Rendah Sangat Rendah (Tidak Berkorelasi) 4.200 – 0.600 – 0.000 – 0.800 Antara 0.400 – 0.

5. peneliti menggunakan metode pengolahan data dengan komputer dengan aplikasi Microsoft Exel 2003 dan SPSS versi 11.2 Metode Pengolahan Data Untuk memudahkan peneliti dalam pengolahan data dan mendeskripsikan hasil pengolahan data. Dalam hal pertama merupakan uji pihak kanan sedangkan yang kedua merupakan uji pihak kiri.2001:155) Selanjutnya untuk taraf nyata = α. Dalam hal lainnya Ho kita tolak. maka hipotesis kita terima jika –t(1-1/2α) < t < t(1-½α) dimana distribusi t yang digunakan mempunyai dk = (n-2). Uji Hipotesis Pengujian hipotesis penelitian menggunakan uji t dengan rumus : t= r n−2 2 (1 − r ) (Umar.2002:380) 3. Bentuk alternative untuk menguji hipotesis Ho bisa H1 : ρ > 0 atau H1 : ρ < 0.0. .54 5. (Sudjana.

Perusahaan ini berdiri pada Juli 1956 dan menerima ijin sebagai bank umum pada bulan September 1956. PT Bank Unibank Tbk. PT Bank International Indonesia Tbk. PT Bank Universal Tbk. DR Satrio Kav.55 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. 11 kantor cabang pembantu dan 8 kantor kas.dan PT Bank Victoria International Tbk. PT Bank Pikko Tbk. PT Bank Bali Tbk. PT Bank Danpac Tbk. PT Bank Negara Indonesia Tbk. PT Bank Niaga Tbk. PT Bank InterPasific Tbk. PT Bank Pan Indonesia Tbk. Status Perusahaan sebagai Badan Usaha Milik Negara. PT Bank Danamon Tbk. . PT Bank Global International Tbk. PT Bank Permata Tbk. Perusahaan ini tumbuh dengan cepat hingga menjadi bank swasta terbesar kedua di Indonesia pada pertengahan tahun 90-an.1 Deskripsi Perusahaan Objek penelitian yang diambil oleh peneliti adalah perusahaanperusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta tahun 1999 sampai dengan tahun 2003. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1989. E4/6 Mega Kuningan Jakarta 12940. PT Bank NISP Tbk. PT Bank Lippo Tbk. PT Bank Mayapada Tbk. Sampai saat ini PT Bank CIC Tbk mengoperasikan 18 kantor cabang. Perusahaan-perusahaan tersebut adalah PT Bank CIC Tbk. PT Bank CIC Tbk bertempat di Gedung Sentral Senayan Lt 16 Jl Asia Afrika No 8 Senayan Jakarta 10270. PT Bank Danamon bertempat di Menara Bank Danamon di Jl Prof.

Sudirman Kav 2 Jakarta 10220. Pada bulan September 1997 menerima sertifikat ISO9001 dari SGS International Certification Service. Jl Jend. Pada tanggal 25 November 1996 Bank BNI menjadi bank pertama yang dimiliki public ketika terdaftar di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. pemerintah Indonesia dan Belanda setuju untuk mengubah fungsi bank ini menjadi bank umum. Semarang. Terdaftar di Bursa Efek Jakarta pada tahun 1989 dan menjadi salah satu bank terbesar di Indonesia. Pada . Bank ini berdiri pada tanggal 22 Agustus 1992. PT Bank Mayapada Internatioanl Tbk bertempat di Gedung Arthaloka Ground Lt 1. Namun pada tahun 1949 di Konferensi Meja Bundar.28 Jakarta 12920. Untuk memudahkan para nasabahnya bank ini juga membuka homepage di www. Bank ini membuka kantor cabangnya di Surabaya.56 PT Bank Danpac Tbk bertempat di Wisma Bank Dharmala Lt 2 Jl Jenderal Sudirman Kav.com PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk bertempat di Gedung BNI Lt 29 Jl Jend. Solo dan Denpasar. PT Bank Global International Tbk bertempat di Menara Global Lt 3 Jl Gatot Subroto Kav 27 Jakarta 12950. Perusahaan ini didirikan pada Juli 1946. 1 Jakarta 10220. PT Bank International Indonesia Tbk bertempat di Plaza BII-Mangga Dua Lt 6. Jl MH Thamrin Kav 22 Jakarta 10350.bankmayapada. Sudirman Kav. Perusahaan ini didirikan tahun 1959. Pada mulanya bank ini difungsikan sebagai bank sentral. Perusahaan ini sebelumnya dikenal denga nama Bank Dwima Surabaya yang berdiri pada tahun 1991 di Surabaya dan mulai beroperasi dengan nama tersebut pada bulan April 1997. Perusahaan ini didirikan di Jakarta pada tahun 1989.

Surabaya dan Makasar. Sudirman Kav 1 Senayan Jakarta 10270 PO BOX 4413 Jakarta 11044. Sungailiat. PT Bank NISP Tbk bertempat di Jl Cibeunying Selatan No 31 Bandung 40114. Hal ini dapat dilihat dari kerugian yang signifikan pada tahun 1998 dan tahun 1999 dengan faktor utama adalah masalah pinjaman dan negative spread. Bank ini berdiri pada tahun 1941 di Bandung. PT Bank Pan Indonesia Tbk bertempat di Gedung Bank Panin Pusat Jl Jend. Pada tahun 1996 bank ini mendapat ijin dalam foreign exchange transaction dan tiga bulan kemudian berganti nama menjadi nama yang sekarang. Sudirman Kav 58 Jakarta 12190. Akhir tahun 1995 perusahaan ini memiliki 57 kantor cabang di seluruh Indonesia. Perusahaan ini mulai beroperasi sebagai bank tunggal tahun 1955 dan mendapat ijin untuk beroperasi dalam transaksi asing pada tahun 1974. PT Bank . Perusahaan ini didirikan pada tahun 1968 dengan nama PT Bank Maharaja Makmur. Pertama kali sebagai bank tabungan. PT Bank Pikko Tbk bertempat di kompleks Mangga Dua Plaza Blok H 1-3 Jl Mangga Dua Raya Jakarta 10730. Menerima status sebagai bank umum pada tahun 1967. Pada tahun 1972 bergabung secara keuangan dengan Daiwa Bank Jepang. Palembang. PT Bank Niaga Tbk bertempat di Gedung Graham Niaga Lt 10 Jl. Jend. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1971 sebagai merger dari tiga bank swasta yaitu PT Bank Industri dan Dagang Indonesia. Bank ini beroperasi dengan memiliki 15 kantor cabang yang tersebar di Jakarta.57 pertengahan tahun 1997 Bank BNI tidak mampu menghindari efek negative dari krisis ekonomi Asia.

Jend Sudirman No 1 Jakarta 10270. Perusahaan ini juga sukses mengeluarkan produk kartu debit yang disebut Visa Electron pada tahun 2000. PT Bank Inter-Pasific (Interpac Bank) adalah bank umum gabungan antara Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan The Sanwa Bank Limited dan Credit Commercial de France. . Semarang dan Ujung Pandang. Perusahaan ini dibangun di Jakarta pada tahun 1992 dan sampai sekarang masih tidak memiliki branch office dan akan membuka di beberapa wilayah seperti Surabaya. PT Bank Lippo Tbk bertempat di Gedung Menara Asia Jl Diponegoro No. Perusahaan menjadi go public pada bulan Agustus 1990 dengan mendaftar di Bursa Efek Jakarta dan Surabaya dengan lima juta sahamnya.58 Kemakmuran dan PT Industri Djaja Indonesia. Pada tahun yang sama bank ini diijinkan untuk beroperasi sebagai foreign exchange bank. Bandung. 101 Lippo Karawaci Tangerang 15810. Pada tahun 1987 bank ini merger dengan PT Central Commercial Bank dan pada tahun 1989 merger dengan PT Bank Umum Asia. 9 Jl Jend. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1948 dengan nama NV Bank Perniagaan Indonesia. Medan. Pada tahun 1972 mendapat ijin beroperasi sebagai bank devisa. PT Bank InterPasific Tbk bertempat di Wisma Metropolitan II Lt. Pada tahun 1999 mendapatkan sertifikat ISO 9002 untuk jasa dan operasi kartu kredit. bank ini bernama PT Inter-Pasific Financial Corporation pada 24 Februari 1993. Sudirman KAv 31 Jakarta 12920. Sebelum dikenal sebagai PT Bank Inter-Pasific. PT Bank Victoria International Tbk bertempat di Gedung Bank Panin Senayan Lantai Dasar Jl.

notes and securities. Sedangkan current assets pada perusahaan-perusahaan perbankan disini adalah terdiri dari cash on hand and banks. Formula Z-score ini terdiri dari beberapa variabel yaitu X1 sampai dengan X5. Sedangkan total assest adalah semua assets yang ada di dalam perusahaan tersebut. placement in other banks. Adapun uraian dari variabel variabel tersebut adalah sebagai berikut a. Dan current liabilities disini terdiri dari demand deposit.2 Deskripsi Variabel Penelitian 4.1 Altman Z-Score Variabel pertama dari penelitian ini adalah menggunakan variabel dari Altman pada penelitiannya pada tahun 1983 yaitu : Z-Score = 0. dan saving deposit.420X4+ 0.59 4. loans dan investment (Santoso. X1 yaitu Working Capital/ Total Assets Working capital disini dihitung dari selisih antara current assets dan current liabilities. time deposit.998X5 Z-score adalah skor yang ditentukan dari hitungan standar kali nisbah-nisbah keuangan yang akan menunjukkan tingkat kemungkinan kebangkrutan bank.847X2 + 3.1997:90). .10X3 +0.2.717X1 + 0.

717.542 (dalam jutaan rupiah).880.60 b.337 (dalam jutaan rupiah) dan total assets terendah diperoleh PT Bank Danpac Tbk yaitu sebesar 540. c.803 (dalam jutaan rupiah). X3 yaitu Earning Before Interest and Tax/Total Assets EBIT (Earning Before Interest and Tax) adalah operating income yang diperoleh perusahaan tersebut. X5 yaitu Sales/Total Assets Sales disini yang dipakai pada perusahaan perbankan adalah revenue. Sedang . dan total assets terendah diperoleh PT Bank Danpac Tbk yaitu sebesar 312. X2 yaitu Retained Earning/Total Assets Retained earning adalah laba ditahan dan total assest adalah semua assets yang ada di dalam perusahaan tersebut. d.847 (dalam jutaan rupiah). Pada tahun 2000 total assets tertinggi masih dipegang oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk sebesar 117. Sedangkan total assest adalah semua assets yang ada di dalam perusahaan tersebut. e. Pada tahun 1999 total asset tertinggi dipegang oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) dengan jumlah total assetsnya sebesar 97. X4 yaitu Market Value of Equity/Book Value of Total Debt Market Value of Equity disini adalah closing price tahunan dikali dengan total share tahunan dan Book Value of Total Debt adalah keseluruhan utang baik lancar maupun jangka panjang. Sedangkan total assest adalah semua assets yang ada di dalam perusahaan tersebut.

Untuk tahun 2001 working capital tertinggi dimiliki oleh PT Bank Danamon Tbk sebesar 9.859 (dalam jutaan rupiah).870 (dalam jutaan rupiah) dan total assets terendah diperoleh PT Bank Inter Pasific Tbk sebesar 457.61 pada tahun 2001 total assets tertinggi diperoleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk sebesar 129.316) (dalam jutaan rupiah).981.623. Working capital tertinggi pada tahun 1999 diperoleh PT Bank Panin Tbk yaitu sebesar 4. Untuk working capital terendah pada tahun tersebut diperoleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk yaitu sebesar (36.106 (dalam jutaan rupiah).053.622 (dalam jutaan rupiah). Working capital terendah dimiliki oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk sebesar (38.762. Dan pada tahun 2003 total asset tertinggi diperoleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk sebesar 131.292 (dalam jutaan rupiah).685) (dalam jutaan rupiah).203.150 (dalam jutaan rupiah) dan total assets terendah dimiliki PT Bank Inter-Pasific Tbk sebesar 719.157 (dalam jutaan rupiah) dan PT Bank Inter-Pasific Tbk memperoleh total assets terendah sebesar 528. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk memperoleh total assets tertinggi pada tahun 2002 sebesar 125. Dan terendah dimiliki oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk . Untuk lebih jelasnya lihat lampiran 1.620.804.545 (dalam jutaan rupiah).486. Pada tahun 2000 working capital tertinggi diperoleh PT Bank CIC Tbk sebesar 2.680 (dalam jutaan rupiah).

058) (dalam jutaan rupiah) Untuk tahun 2002 working capital tertinggi dimiliki oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk sebesar 22.797) (dalam jutaan rupiah). Dan PT Bank Danamon Tbk memperoleh retained earning terendah untuk dua tahun berturut-turut yaitu sebesar (48. Untuk lebih jelasnya lihat lampiran 7. Pada tahun 1999 retained earning tertinggi diperoleh PT Bank Pan Indonesia Tbk yaitu sebesar 348.468. Dan pada tahun 2003 PT Bank Negara Indonesia Tbk memperoleh working capital tertinggi sebesar 16.521) (dalam jutaan rupiah) dimiliki PT Bank International Indonesia (Persero) Tbk.903) (dalam jutaan rupiah).129 (dalam jutaan rupiah).458. untuk tahun 1999 dan (58. Pada tahun 2002 retained .328. Untuk tahun 2001 retained earning tertinggi dimiliki oleh PT Bank Pan Indonesia Tbk dengan nilai sebesar 959.473.201.910. terendah dimiliki oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk dengan nilai sebesar (58.424.254 (dalam jutaan rupiah).072 (dalam jutaan rupiah).547) (dalam jutaan rupiah) untuk tahun 2000.542.683 (dalam jutaan rupiah).135 (dalam jutaan rupiah). Pada tahun 2000 retained earning tertinggi dimiliki oleh PT Bank Panin dengan nilai sebesar Rp 142.527 (dalam jutaan rupiah) Untuk working capital terendah di tahun 2002 sebesar (23.62 sebesar (38. Sedangkan working capital terendah tahun 2003 dimiliki oleh PT Bank International Indonesia Tbk sebesar (13.

337 (dalam jutaan rupiah ) dan terendah dimiliki oleh PT Bank International Indonesia Tbk dengan nilai sebesar (14. Pada tahun 2001 EBIT tertinggi diperoleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk sebesar 15. Untuk lebih jelasnya lihat lampiran 2 Pada tahun 1999 PT Bank Unibank Tbk memperoleh EBIT tertinggi sebesar 54.950 (dalam jutaan rupiah) terendah dimiliki oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero)Tbk dengan nilai sebesar (56. Pada tahun 2000 EBIT tertinggi diperoleh PT Bank Danamon Tbk sebesar 284.517.677) (dalam jutaan rupiah) diperoleh PT Bank CIC Tbk.228. Pada tahun 2003 retained earning tertinggi dimiliki oleh PT Bank Danamon Tbk dengan nilai sebesar 3.246) (dalam jutaan rupiah). Pada tahun 2003 PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk memperoleh EBIT tertinggi sebesar 15.211 (dalam jutaan rupiah) dan PT Bank CIC Tbk memperoleh (628.520) (dalam jutaan rupiah) diperoleh PT Bank Bali Tbk.234.230.466) (dalam jutaan rupiah).858) (dalam jutaan rupiah) untuk EBIT terendah.697) (dalam jutaan rupiah). Pada tahun 2002 EBIT tertinggi diperoleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk sebesar 16.236 (dalam jutaan rupiah) dan EBIT terendah pada tahun tersebut diperoleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk sebesar (15.895.646 (dalam jutaan rupiah) dan EBIT terendah sebesar (958.63 earning tertinggi dimiliki oleh PT Bank Danamon Tbk sebesar 4.327.462 (dalam jutaan rupiah) EBIT terendah untuk tahun 2001 sebesar (121.064.604.159 .

317.64 (dalam jutaan rupiah).230.159 (dalam jutaan rupiah) pada tahun 2003.248. PT Bank Danpac Tbk memperoleh revenue terendah dua tahun berturut-turut yaitu sebesar 63.885 (dalam jutaan rupiah) untuk tahun 2003.964 (dalam jutaan rupiah) untuk tahun 2000.663 (dalam jutaan rupiah) dan tahun 2003 sebesar .102 (dalam jutaan rupiah) untuk tahun 1999 dan sebesar 59.728 (dalam jutaan rupiah) untuk tahun 2000.006 (dalam jutaan rupiah) untuk tahun 2002 dan sebesar 37.73 (dalam jutaan rupiah). Dan PT Bank CIC Tbk memperoleh EBIT terendah sebesar (1.385. Di tahun 2001 revenue terendah diperoleh PT Bank Pikko Tbk sebesar 75. 16. 15.462 (dalam jutaan rupiah) pada tahun 2001.487 (dalam jutaan rupiah ) pada tahun 2000.444 (dalam jutaan rupiah). Dan PT Bank Inter-Pasific memperoleh revenue terendah dua tahun berturut-turut sebesar 64.382.211 (dalam jutaan rupiah ) pada tahun 2002 dan 15.744.761 (dalam jutaan rupiah ) pada tahun 1999. Tahun 2002 sebesar 117. Untuk lebih jelasnya lihat lampiran 3.604.261 (dalam jutaan rupiah) untuk tahun 1999 dan sebesar 109.601) (dalam jutaan rupiah). 11. (Lihat lampiran 4) PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk lima tahun berturut-turut memiliki total liabilities tertinggi yaitu sebesar 98. Tahun 2001 sebesar 122.736. Revenue tertinggi selama 5 tahun berturut turut dimiliki oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero ) Tbk dengan nilai sebesar 9.353.

464. Sedangkan total liabilities terendah pada tahun 1999 sebesar 212.919) dengan prediksi bangkrut. Pada tahun 2001 PT Bank Danpac kembali memiliki total liabilities terendah yaitu sebesar 604. Untuk nilai Z-Score terendah pada tahun 1999 dimiliki oleh PT Bank Niaga Tbk dengan nilai (3.263 (dalam jutaan rupiah) untuk tahun 2002.236 (dalam jutaan rupiah). (Lihat lampiran 15 dan 16) Pada tahun 2001 PT Bank Pikko Tbk memiliki nilai ZScore tertinggi dengan nilai 2.65 121. PT Bank Inter Pasific Tbk memiliki nilai Z-Score terendah pada tahun 2000 dengan nilai (0. (Lihat lampiran 9) Hasil perhitungan Altman Z-Score pada perusahaan perbankan pada umumnya berpotensi mengalami kebangkrutan selama lima tahun berturut-turut.704 dengan prediksi masuk wilayah .909 (dalam jutaan rupiah).929 (dalam jutaan rupiah) diperoleh PT Bank Danpac Tbk. Pada tahun 1999 nilai Z-Score tertinggi dimiliki oleh PT Bank Danpac Tbk dengan nilai 1.954) dengan prediksi bangkrut. Sementara PT Bank Inter-Pasific memperoleh total liabilities terendah juga dalam dua tahun berturut-turut yaitu sebesar 456.224 (dalam jutaan rupiah) di tahun 2003.165 (dalam jutaan rupiah). Pada tahun 2000 nilai ZScore tertinggi sebesar 0. Pada tahun 2000 PT Bank Danpac Tbk memperoleh total liabilities terendah lagi yaitu sebesar 453.208 dengan prediksi berada di wilayah grey area. sebesar 380.556 dimiliki oleh PT Bank Global International Tbk dengan prediksi bangkrut.

Sedangkan nilai Z-Score terendah dimiliki oleh PT Bank International Indonesia Tbk (0. Pada tahun 2002 PT Bank Panin Tbk memiliki nilai Z-Score tertinggi yaitu 1.363) dengan prediksi bangkrut. Namun dari keseluruhan nilai Z-Score dapat dilihat bahwa nilai Z-Score dari tahun ke tahun mengalami peningkatan walaupun masi tetap berada di wilayah yang diprediksi bangkrut.2.704.208 dan PT Bank Pikko Tbk pada taun 2001 dengan nilai Z-Score 2. (Lihat lampiran 15 dan 16) Pada tahun 2003 nilai Z-Score tertinggi dimiliki oleh PT Bank Danamon Tbk dengan nilai 0.66 grey area. selama lima tahun (1999-2003) ada dua perusahaan yang berada dalam kategori grey area yaitu PT Bank Danpac Tbk pada tahun 1999 dengan nilai Z-Score 1. (Lihat lampiran 15 dan 16) Secara keseluruhan.2 Harga Saham Harga saham yang dipergunakan peneliti dalam penelitian ini adalah harga saham setelah laporan keuangan dipublikasikan kepada masyarakat selama bulan Januari sampai dengan bulan Juni .439) dengan prediksi bangkrut.870 dengan prediksi bangkrut.308) dengan prediksi bangkrut.072 dengan prediksi bangkrut. Untuk lebih jelasnya liat lampiran 16 4. Sedangkan PT Bank International Indonesia memiliki nilai Z-Score terendah yaitu (0. Sedangkan nilai Z-Score terendah dimiliki oleh PT Bank International Indonesia dengan nilai (0.

Sedangkan yang terendah dipegang oleh PT Bank Victoria International Tbk dengan harga saham ratarata Rp 88.67 pada tahun berikutnya.816.50 dan Rp 683. Pada dua tahun berikutnya PT Bank Danpac Tbk masih menduduki peringkat tertinggi dalam perolehan harga saham pada tahun 2000 dan 2001 dengan harga Rp 737.54 per lembarnya dan Rp 2. (Lihat lampiran 22) Pada tahun 2000 dan 2001 harga saham terendah diperoleh PT Bank International Indonesia Tbk yaitu Rp 27. PT Bank Danamon Tbk mencapai harga saham tertinggi pada tahun 2002 dan tahun 2003 dengan nilai Rp 8.00 per lembarnya . Pada tahun 1999 rata-rata harga saham tertinggi selama satu semester setelah publikasi diperoleh PT Bank Danpac Tbk pada harga Rp 761.50.5 dan Rp 39. PT Bank International Pasific memperoleh harga saham terendah untuk tahun 2002 dengan nilai sebesar Rp 17.33 per lembarnya.67 per lembar untuk tahun 2003.17 per lembarnya. Hal ini untuk mengetahui bagaimana reaksi pasar dalam pengambilan keputusannya untuk melakukan pembelian atau penjualan sahamnya. Pada tahun berikutnya tahun 2003 PT Bank Permata memiliki harga saham terendah yaitu sebesar Rp 50.33 per lembarnya.00 per lembarnya. (Lihat lampiran 22) . Namun harga saham tersebut bagi PT Bank Danpac Tbk merupakan suatu penurunan selama tiga tahun ini.

PT Bank CIC Tbk dan PT Bank Bali Tbk.3 Ketepatan Prediksi Altman Z-Score Sampai sekarang perusahaan-perusahaan perbankan tersebut masih aktif beroperasi menjalankan kegiatan usahanya. Hal ini . Demikian pula jika rasio kecukupan modalnya (CAR) jauh dibawah ketentuan minimum 4 % (berdasarkan ketentuan CAR sebelum tahun 2001) maka suatu bank terpaksa harus ditutup. Nilai Z-Score yang dimiliki oleh PT Bank Unibank Tbk adalah pada tahun 1999 sebesar 0. PT Bank Universal Tbk dan PT Bank Bali Tbk. Indikator-indikator kebangkrutan pada PT Bank Unibank tahun 1999 diantaranya adalah working capital/total asset bernilai negative yaitu sebesar -0. Hal ini bukan berarti penggunaan alat prediksi potensi kebangkrutan Altman Z-score tidak cocok digunakan di Indonesia tetapi karena adanya kebijakan dari pihak pemerintah dalam melikuidasi atau menutup suatu bank didasarkan pada kriteria bahwa bank tersebut telah menggunakan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) sama atau melebihi 75 % dari total assets dan menggunakan BLBI melampaui 500 % dari modal disetor.012.038.68 4. Dari keempat bank tersebut tiga diantaranya merger menjadi satu bank yaitu PT Bank Permata Tbk. Diantaranya adalah PT Bank Unibank Tbk. Perusahaan perbankan tersebut adalah PT Bank Unibank Tbk.113 dan tahun 2000 menurun menjadi -0.172 dan menurun kembali di tahun 2000 yaitu sebesar -0. PT Bank Universal Tbk. Hanya ada beberapa perusahaan yang mengalami financial distress yang parah yang akhirnya harus merger dengan perusahaan perbankan lain yang lebih kuat.

Dalam laporan keuangan disebutkan bahwa PT Bank Unibank mengalami kerugian pada tahun 1998 sebesar 450.167 pada tahun 1999 dan 52. Hal ini berarti pula bahwa perusahaan ini tingkat efisiensi usahanya masih kurang bagus.436 pada tahun 2000. Selama tiga tahun berturut-turut PT Bank Unibank mengalami kerugian yaitu 3.002.322 tahun 2000. . Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan profitabilitas perusahaan masih kurang baik. Pada indikator ketiga yaitu earning before interest and tax/total assets bernilai 0. Pada indikator kedua yaitu retained earning/total asset yang dimiliki PT Bank Unibank Tbk sebesar -0. Nilai Z-score pada PT Bank Universal Tbk pada tahun 1999 adalah sebesar 0.210 pada tahun 1998.876 (dalam jutaan rupiah).027 pada tahun 1999 dan menurun pada tahun 2000 yaitu sebesar -0.69 berarti bahwa PT Bank Unibank Tbk tidak mampu melunasi utang-utang jangka pendeknya dengan asset lancar yang dimilikinya.553 pada tahun 2000.356 tahun 1999 dan -0. 1.099 dan meningkat pada tahun 2000 yaitu sebesar 0.116.884.965 (dalam jutaan rupiah) namun pada tahun berikutnya meningkat menjadi 54.504 pada tahun 1999 dan -0.236 (dalam jutaan rupiah) dan pada tahun 2000 mengalami kerugian kembali sebesar 8.480. Ini berarti ada masalah pada kemampuan profitabilitas perusahaan. Hal ini berarti bahwa kemampuan perolehan laba pada perusahaan ini masih bernilai negative. Indikator-indikator kebangkrutan terlihat pada nilai working capital/total assets yang negative yaitu sebesar -0. Berikut adalah profil dari beberapa perusahaan yang harus merger dengan perusahaan lain.

767 pada tahun 2001 menjadi 0.776.739 pada tahun 1999 mengalami penurunan menjadi 0. Dengan nilai Z-Score 0. Dari hasil tersebut diatas dapat dipahami bahwa merger diantara ketiga bank tersebut merupakan langkah yang cukup baik yang dilakukan oleh pemerintah. Pada tahun 2005 PT Bank Global International Tbk mengalami pencabutan izin usaha terhitung sejak tanggal 13 Januari 2005 dengan Keputusan Gubernur Bank Indonesia No.845 (dalam jutaan rupiah) pada tahun 1999 yang tidak mampu dilunasi dengan asset lancarnya sebesar 523.7/2/KEP-6BI/2005 dan masuk delist pada tanggal 18 Januari 2005.282.648 di tahun 2000. Indikator utama penyebab rendahnya nilai Z-score adalah working capital/total assets.951. Nilai Z-Score PT Bank Danpac Tbk selama tahun 1999 sampai dengan tahun 2003 mengalami fluktuasi yang cukup beragam. Nilai Z-Score PT Bank Global International selama tahun 1999 sampai dengan 2003 temasuk wilayah yang diprediksi bangkrut. Pada tahun 2004 terhitung sejak tanggal 15 Desember 2004 PT Bank Danpac Tbk dan PT Bank Pikko Tbk masuk delist karena merger dengan PT Bank CIC Tbk. Hasil .180 di tahun 1999 dan -0. Pada tahun berikutnya pun masih sama yaitu utang jangka pendek sebesar 9.093 (dalam jutaan rupiah) tidak mampu terbayar dengan asset lancarnya sebesar 4.70 Nilai Z-Score PT Bank Bali Tbk pada tahun 1999 adalah sebesar -2. PT Bank Bali Tbk memiliki utang jangka pendek sebesar 8.556 di tahun 2000 kemudian selama tiga tahun berikutnya mengalami kenaikan yaitu 0.167 (dalam jutaan rupiah).776 di tahun 2002 dan menjadi 0.807 di tahun 2003.269.

Sedangkan PT Bank Pikko Tbk juga memiliki nilai Z-Score yang cukup fluktuatif selama tahun 1999 sampai dengan tahun 2003. Pada tahun 2002 meningkat menjadi 0. Tahun 2000 nilai Z-Score mengalami penurunan menjadi 0.71 nilai Z-Score PT Bank Danpac tahun 1999 adalah 1.704 pada level ini PT Bank Pikko Tbk masuk wilayah grey area dan hampir menjadi bank yang sehat. Namun PT Bank Pikko Tbk tidak mampu mempertahankan kinerjanya sehingga tahun 2002 nilai Z-Score mengalami penurunan yang cukup besar yaitu menjadi 0. Pada tahun 1999 nilai Z-Score yang dimiliki PT Bank Pikko Tbk adalah sebesar 0.674.900 dan mengalami penurunan kembali menjadi 0.1 Uji Normalitas Data Kolmogorov Smirnov Perumusan hipotesis adalah : Ho = data sampel berdistribusi normal HA = data sampel tidak berdistribusi normal Dengan daerah kritis : Ho Ditolak jika Sig < α Dari hasil pengolahan dengan SPSS diperoleh sign = 0.4.331 dan di tahun 2003 juga mengalami penurunan menjadi 0.4 Hasil Analisis Data 4. Pada tahun 2001 malah mengalami kenaikan yang cukup besar menjadi 2.324.905).306 kemudian mengalami penurunan yang cukup besar di tahun 2000 menjadi (0.208 sempat masuk wilayah grey area namun empat tahun kemudian masuk wilayah yang diprediksi bangkrut. 4.271 kemudian mengalami peningkatan kembali tahun 2001 menjadi 0.815 pada tahun 2003.086 .

2 Korelasi Product Moment Berdasarkan hasil perhitungan koefisien korelasi diperoleh r = 0.213 dan pada taraf kepercayaan 5 % = 0.226 adalah rendah setelah dikonsultasikan dengan tabel interpretasi nilai r.4.72 Karena sign.278. Harga korelasi adalah tidak signifikan karena 0.213 < 0. Hubungan ini merupakan hubungan linier yang positif sehinggga dapat disimpulkan bahwa kenaikan Z-Score akan diikuti kenaikan harga saham.278. 4.051 atau 5. Ini berarti ada hubungan signifikan antara variable Z-Score dan variabel harga saham karena r > 0. Jadi nilai koefisien determinasi (r2) adalah : r2 = (0. > α ( 0.051 Maka besarnya tingkat keeratan hubungan antara Z-Score (variabel X) dan harga saham (variabel Y) adalah 0. . Maka kesimpulannya adalah data sampel Z-score berdistribusi normal 4.226 < 0.3 Koefisien Determinasi Koefisien determinasi ditentukan dari besarnya koefisien korelasi.05) maka Ho diterima.226)2 = 0.086 > 0.1 %. Hubungan atau korelasi antara variable Z-Score dan harga saham yang bernilai 0. Hal ini terjadi setelah dikonsultasikan dari tabel harga kritik dari r Product Moment dengan n = 85. harga kritik untuk r pada taraf kepercayaan 1 % = 0.4.226 dengan n = 85 pada taraf signifikan 5 %.

645 . Bahkan beberapa diantara perusahaan perbankan harus mengalami merger dengan bank lain.73 Jadi 5. 4. > t tabel maka Ho diterima. jadi korelasi yang terjadi mempunyai arti.1 % variabel Y dapat dijelaskan oleh variabel X dan sisanya sebesar 49 % berhubungan faktor lain yang tidak diteliti. sehingga mempengaruhi working capital perusahaan.4.5 Pembahasan Berdasarkan hasil perhitungan Altman Z-Score kita dapat melihat bahwa pada tahun 1999 potensi perusahaan-perusahaan perbankan masih dalam posisi dikhawatirkan mengalami kebangkrutan.4 Uji Hipotesis Uji hipotesis dalam korelasi product moment adalah menggunakan Uji t dengan rumus : t= r n−2 2 (1 − r ) dengan dk = n .11 Dengan dk = n-2 = 83 dan α = 0. Hal ini bisa dipahami bahwa tahun 1999 perusahaan masih belum bisa lepas dari dampak krisis ekonomi yang melanda Indonesia.2 Dari hasil pengujian didapat t hitung = 2. terutama utang-utang jangka pendeknya. Bank-bank tersebut antara lain PT Bank Bali Tbk dan PT Bank Universal Tbk yang merger menjadi PT Bank Permata Tbk bersama PT Bank Unibank Tbk dan bank lain.05 didapat nilai t Oleh karena t hitung tabel = 1. Mayoritas . 4. Penyebab utama dari memburuknya kinerja perbankan ini adalah bertumpuknya utang yang tidak bisa dibayar.

00 per lembar pada tahun 2000 dan pada tahun 1999 rata-rata harga saham semester pertama tahun berikutnya senilai Rp112.00 menjadi Rp 75. PT Bank Bali Tbk pada tahun 1999 memiliki harga saham sebesar Rp 450.5 menjadi Rp 26.67 pada tahun berikutnya. Hal ini diperparah dengan adanya masyarakat yang menarik semua simpanannya di . PT Bank Unibank memiliki harga saham pada tahun 1999 sebesar Rp 125. Dan PT Bank Universal pada tahun 1999 memiliki harga saham Rp 125.00 per lembar dengan rata-rata semester harga saham pertama tahun berikutnya senilai Rp 437.74 perusahaan mengalami working capital negatif. Walaupun pemerintah telah menyuntikkan dana BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) namun tetap membuat bank-bank merasa kesulitan karena pengenaan suku bunga BLBI yang tinggi pula. Hal ini bisa menjadi salah satu indikator kebangkrutan karena working capital negatif menunjukkan bahwa perusahaan tidak mampu membayar utang-utang jangka pendeknya.00 per lembar di tahun 2000 dengan harga saham rata-rata semester pertama tahun berikutnya senilai Rp 166. Nilai yang ikut mempengaruhi rendahnya nilai Z-Score adalah nilai retained earning yang menurun dalam dua tahun terakhir.6 pada semester pertama pada tahun 2001.67 menjadi Rp 36.33 .00 per lembar pada tahun 2000 dengan rata-rata harga saham semester pertama tahun berikutnya senilai Rp 53.00 menjadi Rp 45. Sedang harga saham ketiga bank tersebut terus mengalami penurunan drastis. Hal ini menunjukkan reaksi pasar yang negative terhadap harga saham yang beredar di masyarakat.00 menjadi Rp 40.

Dan rata-rata harga saham semester pertama tahun berikutnya juga mengalami penurunan yaitu dari Rp 216. Sedangkan harga saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) menurun drastis dari Rp 300.75 bank secara besar-besaran (rush) yang menyebabkan aset perbankan kosong melompong.00 per lembar menjadi Rp 95. Mayoritas perusahaan memperoleh nilai Z-Score di bawah 1. Setelah BNI masuk dalam kategori BDP maka oleh BPPN kredit macet tersebut dilucuti sehingga tingkat profitabilitas BNI bisa meningkat walaupun sedikit menjadi 0. .Rata-rata harga saham pada perusahaan-perusahaan perbankan di tahun 2000 mengalami penurunan dari Rp 8.276.925.00 per lembarnya.21 menjadi Rp 143.00 per lembarnya dan reaksi pasar terhadap harga saham-saham tersebut yang dihitung dari rata-rata harga saham semester pertama tahun berikutnya juga mengalami penurunan dari Rp 262. Hal ini nampak pada nilai Z-Score yang masih sama seperti tahun 1999.67 menjadi Rp 76.3 per lembarnya Di tahun 2000 muncul kasus Bank BNI yang mengalami pengenaan Bank Dalam Pengawasan (BDP) berkaitan dengan adanya kredit macet Grup Texmaco yang mencapai Rp 10 Trilyun.67 per lembarnya.481 yang mulanya di tahun 1999 dengan nilai Z-Score sebesar -0.00 menjadi Rp 4. Tahun 2000 gelombang dampak krisis ekonomi di bidang perbankan belum juga pulih.2 yang berarti potensi kebangkrutan masih relatif besar .2 menjadi -0.25 %. Hal ini menyebabkan nilai Z-Score turun lagi di bawah 1.448.

Seiring dengan rendahnya nilai ZScore selama tiga tahun berturut turut dari -0.00 pada tahun 1999 menjadi Rp 40.3 pada tahun 2000 menjadi Rp 188.2 masih relatif sama dengan tahun sebelumnya.00 pada tahun 2000 dan di tahun 2001 menjadi Rp 25.125 di tahun 2000 dan -0. Hal ini terjadi karena Grup Sinar Mas yang merupakan pemegang saham 18 % mempunyai ketidakmampuan dalam membayar surat utang di luar negeri. Dalam lampiran 15 jelas terlihat bahwa nilai Z-Score selama tiga tahun berturut-turut yaitu tahun 1999.75 per lembarnya. -0. Sedangkan harga saham PT Bank International Indonesia Tbk pada tahun terakhir terus mengalami penurunan dari Rp 100.105 tahun 1999. Hal ini bisa kita lihat pada rata-rata harga saham yang menurun dari Rp 7.76 Pada tahun 2001 masih banyak perusahaan perbankan yang mempunyai nilai Z-Score kurang dari 1. Mayoritas harga saham pada tahun ini masih mengalami penurunan. Bahkan di tahun 2001 ini muncul kasus BII yang melibatkan pihak BPPN (Bank Penyehatan Perbankan Nasional).925.00 per lembarnya.2. Hal ini terjadi karena utang luar negeri yang jatuh tempo tidak bisa terbayar sehingga menyeret BPPN untuk turun tangan menyelesaikan persoalan tersebut. Namun reaksi pasar yang tercermin dari harga saham selama 6 bulan setelah pubilkasi malah mengalami kenaikan dari Rp 143. Untuk harga saham rata-rata semester pertama PT Bank International Indonesia Tbk mengalami kenaikan dan .00 per lembarnya.325.308 di tahun 2001.00 per lembar menjadi Rp 7. 2000 dan 2001 masih dibawah 1.

Harga saham pada tahun ini rata-rata naik dari Rp 7. Working capital tahun ini meningkat sedikit dibanding tahun sebelumnya. . Demikian pula rata-rata harga saham bulan Januari sampai bulan Juni setelah publikasi meningkat dari Rp 251. Pada tahun 2002 nilai Z-Score perusahaan-perusahaan perbankan masih saja sama dengan tahun-tahun sebelumnya yaitu masih berada di wilayah yang diprediksi bangkrut.00 per lembar pada tahun 2002. Nilai z-score yang diperoleh perusahaan-perusahaan perbankan tersebut memang mengalami peningkatan namun hanya beberapa persen saja.2. harga saham rata-rata semester pertama setelah publikasi pada tahun 1999 senilai Rp 95. Rata-rata harga saham pada tahun ini meningkat menjadi Rp 15.676.5 sedangkan pada tahun 2001 naik menjadi Rp 39.Untuk harga saham pada tahun ini semakin meningkat seiring meningkatnya nilai Z-Score. Sehingga tidak merubah keadaan dan kondisi.00 per lembarnya.67 pada tahun 2002. Hal ini terutama dipengaruhi indikator yang pertama yaitu working capital /total assets.7 menjadi Rp 421. Pada tahun 2003 kondisi perusahaan-perusahaan perbankan masih juga sama dengan tahun sebelumnya.75 pada tahun 2001 menjadi Rp 251.00 per lembar pada tahun 2001 menjadi Rp 11.985. Rata-rata harga saham 6 bulan setelah pubilkasi yang mencerminkan reaksi pasar yang terjadi pada tahun ini mengalami peningkatan yang semula Rp 188.18 pada tahun ini. Hal ini ditunjukkan dengan adanya nilai Z-Score yang masih dibawah 1.17 per lembar.325. Seperti terlihat pada lampiran 10.77 penurunan.83 dan menurun pada tahun 2000 menjadi Rp 27.

Berdasarkan hasil analisis di atas pada tahun 2001 bank-bank yang diprediksi bisa mengalami kebangkrutan dan harus merger menjadi satu bank (PT Bank Permata Tbk) adalah PT Bank Unibank Tbk. Dan pada tahun 2005 PT Bank Global International dicabut izin usahanya terhitung sejak 13 Januari 2005.78 BAB V PENUTUP 5. Hal ini bukan berarti penggunaan alat prediksi potensi kebangkrutan Altman Z-score tidak cocok digunakan di Indonesia tetapi karena adanya kebijakan dari pihak pemerintah dalam melikuidasi atau menutup suatu bank. . Pada bulan Desember 2004 PT Bank Piiko Tbk dan PT Bank Danpac Tbk merger dengan PT Bank CIC Tbk.. PT Bank Universal dan PT Bank Bali Tbk. Untuk bank-bank lain pada kenyataannya sampai sekarang masih aktif beroperasi menjalankan kegiatan usahanya.1 Simpulan Dari hasil yang diperoleh pada pembahasan di atas maka kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut : 1.

Bank Indonesia mempunyai alat ukur sendiri yaitu analisis CAMEL (Capital.3 Saran 1.226 atau 22. Management. 5.6 % berarti bahwa nilai z-score yang dimiliki oleh perusahaan perbankan untuk memprediksi potensi kebangkrutan berhubungan dengan harga saham yang dimiliki perusahaan tersebut.79 2. walaupun nilai keeratan hubungan antara dua variable tersebut kecil. Nilai korelasi product moment yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebesar 0. .2 Keterbatasan Keterbatasan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Hal utama yang mempengaruhi naik turunnya nilai Z-Score adalah faktor X1 dari Altman Z-Score yaitu working capital yang diperoleh dari selisih antara current assets dan current liabilities. Sebaiknya pada penelitian lanjutan. Untuk mengukur tingkat kesehatan suatu bank. Bagi manajemen perusahaan setelah mengetahui seberapa besar potensi kebangkrutan yang dimiliki sebaiknya mengadakan evaluasi dan meningkatkan kinerja perusahaan agar minimal potensi kebangkrutan dapat dikurangi atau bahkan dihindari. 3. Assets. Earning dan Likuidity). 2. Penelitian ini menggunakan data-data dari perusahaan yang sudah bangkrut dan belum bangkrut. Maka untuk penelitian lanjutan sebaiknya penggunaan Altman Z-Score dibandingkan dengan CAMEL 5. datadata yang diambil adalah data-data perusahaan yang sudah dilikuidasi atau bangkrut agar ketepatan penggunaan Altman Z-Score lebih akurat.

Zaki.1998. Pengantar Pasar Modal Indonesia. 1992. Yogyakarta : UPP AMP YKPN Anoraga. Manajemen Keuangan Edisi 4. Dalam Media Ekonomi Dan Bisnis vol XV No 1 Juni Adnan.80 2.2001. Jakarta : Mediasoft Indonesia Arikunto. Kasus Bank Lippo : Momentum Pembenahan Institusi Korporasi Dan Birokasi.Suharsimi. Jakarta Gitosudarmo. Jakarta : Institute For Economics And Financial Research . Indriyo Dan Basri. Faisal. Pandji dan Pakarti.2003. 2002.Analisis Ketepatan Prediksi Metode Altman Terhadap Terjadinya Likuidasi Pada Lembaga Perbankan (Kasus Likuidasi Perbankan Di Indonesia).Analisis Rasio-Rasio Keuangan Sebagai Indikator Dalam Memprediksi Potensi Kebangkrutan Perbankan Di Indonesia. Yogyakarta : BPFE ICMD : Indonesian Capital Market Directory 2004. Intermediate Accounting.Jakarta :Rineka Cipta Baridwan. 2001. 2003.Dalam Jurnal Akuntansi Dan Auditing Vol 5 No 2 Desember Algifari. 1997. Muhammad Akhyar Dan Muhammad Imam Taufiq. Statistik Induktif Untuk Ekonomi dan Bisnis. DAFTAR PUSTAKA Achmad. Yogyakarta : BPFE Basri. Tarmidzi Dan Williyanto Kartiko Kusuno.Prosedur Penelitian. Dan bagi pihak pemerintah selaku pembuat kebijakan setelah mengetahui seberapa besar potensi kebangkrutan perusahaan perbankan akan terus mengawasi perusahaan-perusahaan yang berada dalam grey area agar tidak mengalami kebangkrutan yang lebih parah lagi.

2003 Fakultas Ilmu Sosial. Yogyakarta : Liberty Murtanto. Riyanto.1995.com . 2001.Hanafi . Jakarta : Sinar Grafika Wilopo. Semarang : Unnes Press Pengolahan Data Statistik dengan SPSS 12.Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta : Penerbit ANDI Sudjana. Analisa Laporan Keuangan. Prinsip Akuntansi Perbankan.faisalbasri. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama Undang-Undang Perbankan 1998 (Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998). Santoso. Riset Akuntansi Dilengkapi Dengan Panduan Membuat Skripsi dan Empat Bahasan Kasus Bidang Akuntansi. 1997. Yogyakarta : Penerbit ANDI dan Wahana Komputer Semarang.com www. Prediksi Kebangkrutan Bank. Dalam Media Riset Akuntansi. Yogyakarta :UPP AMP YKPN Munawir.2004.2002. Rudy Tri. Validitas Penggunaan Z-Score Altman Untuk Menilai Kebangkrutan Pada Perusahaan Perbankan Go Public Di Bursa Efek Jakarta. Dalam Jurnal Riset Akuntansi Indonesia Vol 4 No 2 Mei www. Analisis Laporan Keuangan Dengan Menggunakan Rasio CAMEL Dan Metode Altman Sebagai Alat Untuk Memprediksi Tingkat Kegagalan Usaha Bank. Metode Statistika. Bandung : Penerbit Tarsito Supardi.81 Mamduh M.jsx. Husein. Auditing Dan Informasi Vol 2 No 2 Agustus Pedoman Penulisan Skripsi. Bambang.id www. Dalam KOMPAK Nomor 7 Januari-April Umar. Dasar Dasar Pembelanjaan Yogyakarta: Yayasan Penerbit Gajah Mada Perusahaan.1979. 2002.kompas.co. 2003. 2003.

82 .