Vol. 4 No. 4 Th. 2007
ISSN 1693-6027

JURNAL HAM
2007

Diterbitkan oleh : KOMISI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA ©2007
JURNAL HAM • Vol. 4 No. 4 Th. 2007

i

JURNAL HAM
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Semua artikel dalam Jurnal HAM ini dapat digandakan untuk keperluan pemajuan hak asasi manusia dengan menyebutkan sumbernya. Pemberitahuan akan sangat dihargai.

Penanggung Jawab Pemimpin Redaksi

: Yoseph Adi Prasetyo Saharudin Daming : Atikah Nuraini

Redaktur Pelaksana : S.M.Gusrini Tambunan Dewan Redaksi : Rusman Widodo Kurniasari Novita Dewi Sasanti Amisani : Banu Abdillah : J. Eddy Juwono : J. Eddy Juwono

Distribusi Rancangan sampul Tata Letak

162 halaman, 16 x 24 cm

Diterbitkan oleh

: Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) JL. Latuharhary No. 4 B Menteng Jakarta 10310 Tel. +62-21-3925230 ext 218/219 Fax. +62-21-3912026 Email: info@komnasham.go.id Website: http://www.komnasham.go.id : Perkumpulan Omega
JURNAL HAM • Vol. 4 No. 4 Th. 2007

Dicetak oleh

ii

.............................. A.. 152 Tentang Penulis ..... Henry Simarmata Pelaksanaan ICCPR dan ICESCR dalam Konteks Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN-HAM) 2004-2009 .... Patra M................................................ 2007 iii ............................................................. Adhi Santika Bukan Sekedar Menandatangani: Obligasi Negara Berdasarkan Kovenan Hak Ekosob . 4 Th................................... Jonny Sinaga Prospek dan Tantangan Implementasi ICCPR ..................................... Hafner-Burton & Kiyoteru Tsutsui 1 4 12 22 38 48 68 Lembar Fakta Perserikatan Bangsa-Bangsa No.......................................................................................... Zen dan Andik Hardiyanto Kewajiban Negara dalam ICCPR .................................................................................................. 4 No......... 155 JURNAL HAM • Vol....... 30 Sistem Perjanjian Hak Asasi Manusia: Pengantar terhadap Perjanjian Hak Asasi Manusia Utama dan Badan-Badan Perjanjian ......... Emilie M............................ Yosep Adi Prasetyo Kovenan HAM Internasional : Pandangan Umum mengenai Signifikasi dan Perkembangan .............................................................................................................................Daftar Isi Editorial ...................... Hendardi Hak Asasi Manusia di Dunia yang Terglobalisasi : Paradoks Janji-janji Kosong ........................ 102 Resensi Buku ................................................................

2007 . 4 No.iv JURNAL HAM • Vol. 4 Th.

dan Filipina urutan ke-83. Apa yang salah dengan proses pembangunan yang digembar-gemborkan selama ini? Tak mudah menjawabnya. HDI Indonesia adalah sebesar 0. Angka-angka optimisistis tentang pertumbuhan ekonomi ternyata tak berbanding lurus dengan kenyataan kemiskinan. Thailand urutan ke-76. Negara yang baru ke luar dari cengkraman konflik seperti Bosnia Herzegovina berada pada urutan ke-66. tak meratanya pembangunan infrasutruktur. Bolivia. Hal ini sejalan dengan amanat Pembukaan UUD 45 yaitu mewujudkan negara yang adil-makmur berdasarkan Pancasila. Disusul oleh Swedia (urutan 2) dan Australia (urutan 3). serta hak atas pembangunan. Dalam catatan UNDP. Negara tetangga seperti Korea. Atau sekadar janji-janji kampanye pada saat menjelang pemilihan presiden. Tapi sudah sudah meliputi hak ekonomi. menekan angka inflasi. Upaya perwujudan kesejahteraan masyarakat ini harus dilakukan pemerintah yang telah meratifikasi Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. United Nation Development Program (UNDP) mengumumkan temuan mereka akan kemajuan berbagai negara dalam mensejahterakan masyarakatnya yang ditunjukkan melalui Human Development Index (HDI).Editorial Yosep Adi Prasetyo* Memperbaiki kualitas hidup manusia Indonesia kini bukan sekadar slogan saja. menarik investor luar negeri untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Menyedihkan memang mendapatkan kenyataan bahwa Indonesia terpuruk di bawah dan berada dalam peringkat yang hampir sama dengan negara seperti Vietnam. sulitnya akses terhadap pelayanan dan infrastuktur dasar. Antara lain. Sosial dan Budaya (International Covenant * Komisioner Komnas HAM. atau mendorong komoditi ekspor semata. Malaysia sudah terlebih dulu bangkit. Malaysia urutan ke-59. Pemerintah tak boleh lagi berleha-leha menjalankan tugas-tugasnya. sosial. Negara yang memiliki HDI tertinggi dan berada di urutan satu adalah Norwegia. Indonesia adalah negeri satu-satunya yang masih merangkak dan berupaya ke luar dari belitan krisis. Subkomisi Pendidikan dan Penyuluhan periode 2007-2012 1 . Yang jelas sejak didera krisis ekonomi melanda JURNAL HAM • Vol. diskrimansi gender. Moldova. Wacana hak asasi manusia kini bukan lagi sekadar wacana tentang kebebasan sipil.692 dan berada di urutan 111. sulitnya masyarakat memperoleh pendidikan. Bila diteliti lebih mendalam faktor-faktor penentu kemiskinan secara esensial ternyata memiliki korelasi dengan hal-hal yang lebih mendasar. Tentunya ini bukan sebuah pekerjaan yang mudah. sulitnya akses pekerjaan (akibat praktek kolusi dan nepotisme). 4 • Th. dan budaya. menjaga kestabilan ekonomi makro. Di berbagai wilayah di Indonesia masih banyak terdapat kantong-kantong kemiskinan. Memecahkan persoalan kemiskinan ternyata bukan sekadar menciptakan lapangan kerja. Filipina. 2007 kawasan Asia pada Juni 1997. tapi harus bekerja keras untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Pada 2005. dan Honduras. Yang mengejutkan adalah negara sosialis yang mengalami pengucilan semacam Kuba mampu menempati uturan ke-52. Sejumlah negara tetangga kita seperti Singapura berada pada urutan ke-25. Jumlah orang miskin justru terus membengkak. Thailand.

000. Negara yang melakukan tindakan yang dilarang atau bertentangan ICCPR melalui campur tangannya akan dikenai tuduhan melakukan pelanggaran melalui tindakan (violation by action). pasal-pasal dalam perda ini ternyata berlepotan dan bertentangan dengan ketiga undang-undang tersebut. 11/2005 dan UU No. Dalam implementasi ini akan tampak apakah pemerintah memang tidak mampu (inability) atau tidak mau (unwilling) untuk menunaikan kewajibannya. Contoh yang paling aktual adalah pemberlakuan Perda Ketertiban Umum oleh Pemda DKI Jakarta pada 8 September 2007 lalu. selain bertugas mengimplementasikan ICESCR. negara harus aktif untuk melindungi hakhak – melalui tindakannya. Yang lain. Dan apabila negara terus saja memberlakukan ketentuan hukum yang bertentangan dengan ICCPR dan ICESCR maka negara akan dikenai tuduhan telah melakukan pelanggaran melalui hukum (violation by judicial). langkah-langkah. Bisa saja yang terjadi adalah kemajuan dalam langkah-langkahnya. Juga hasil-hasil yang dicapai dalam implementasi perjanjian tersebut kepada badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Bukan hanya itu. Perda ini secara nyata tak mencantumkan UU No. ICESCR disahkan menjadi UU No. sosial dan budaya di Indonesia. serta hasil yang telah dicapai dalam pelaksanaan hak-hak ekonomi. perda syariah. Dalam hal ini kepada sebuah komite ditunjuk untuk menangani perjanjian tersebut Secara regular. Bagaimana mencermati ini semua? Negara yang meratifikasi kovenan ICESCR dan ICCPR harus menghormati hak-hak manusia. Social and Cultural Rights – ICESCR) pada 30 September 2005 melalui proses legislasi yang disetujui DPR.on Economic. maupun perda ketertiban yang berpotensi menghambat pelaksanaan UU No. pemerintah Indonesia harus membuat laporan dalam periode empat tahun sekali. 11/2005 dan ICCPR menjadi UU No. Bukan hanya itu. tapi lemah atau gagal dalam implementasinya. Selain ICESCR. kebijakan dan tindakan yang dilakukan. 4 • Th. Pemerintah punya pekerjaan untuk mencermati kembali berbagai peraturan daerah (perda) yang kini jumlahnya telah melebihi angka 1. Perda Ketertiban Umum ini bila diimplementasikan bukan tak mungkin bukan hanya akan mengabaikan hak-hak masyarakat. pemerintah Indonesia harus membuat laporan yang bertalian dengan penyesuaian hukum. Khususnya dalam merealisasikan kewajiban pemerintah Indonesia untuk memenuhi dan menjalankan kewajibannya sebagai negara yang telah meratifikasi ICESCR dan ICCPR. 39/Th 1999. tapi juga akan menghambat tujuan dan upaya pemerintah. Berbagai macam perda yang tumpang-tindih dan bertabrakan dengan kedua undang-undang tersebut harus segera dicabut karena berpotensi menghambat pelaksanaan hak ekosob dan juga sipol. 12/2005. 12/2005. pemerintah juga meratifikasi Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights – ICCPR) pada 28 Oktober 2005. Apabila negara justru tak melakukan apa-apa baik karena lalai dan lupa maupun absent. Juga bertentangan dengan Pasal 33 Ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945 serta nilai-nilai sebagaimana pernah diajarkan dalam pelajaran mengenai Pancasila. UU No. 2007 . Laporan tersebut harus memuat langkah-langkah dan model kebijakan yang telah diambil. negara bisa dituduh telah melakukan pelanggaran melalui tindakan pembiaran (violation by omission). Baik yang berupa perda otonomi. dan UU No 12/Th 2005 sebagai salah satu konsideransnya. Jurnal edisi ini sengaja mengangkat masalah dan konsekuensi yang bakal me- 2 JURNAL HAM • Vol. 11/Th 2005.

Patra M. lebih banyak menguraikan gambaran seputar RANHAM. persoalan. Hendardi melalui tulisan “Pelaksanaan ICCPR dan ICESCR dalam Konteks Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN-HAM) 2004-2009” konsekuensi yang muncul sebagai akibat diratifikasinya dua kovenan internasional tersebut oleh pemerintah Indonesia. penghormatan. berserikat. Semua tulisan dalam edisi ini diharapkan bisa menyumbangkan sebuah wacana konkrit tentang cara pengimplementasian. 4 • Th. 12/Tahun 2005. partisipasi dalam politik. Zen dan Andik Hardiyanto melalui tulisan “Bukan Sekedar Menandatangani: Obligasi Negara Berdasarkan Kovenan Hak Ekosob” mengangkat masalah obligasi (kewajiban) internasional yang melekat pada Negara pasca meratifikasi kedua kovenan tersebut. Stony Brook. kini telah meningkat menjadi kenyataan sosiologis yang keras dan konkrit seperti yang dirasakan sebagian orang dalam kasus-kasus perselisihan perburuhan.nyertai implementasi UU No. pemajuan pemenuhan. “Pelaksanaan ICCPR dan ICESCR dalam Konteks Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN-HAM) 2004-2009”. 11/Tahun 2005 dan UU No. Pembuatan RANHAM tak lain merupakan sebuah upaya pembuatan pedoman dan rancangan kebijakan untuk mendorong upaya penerapan. Di Jurnal HAM edisi 2007 ini juga disajikan tulisa karya Emilie M. Tulisan Adhi Santika. yang dapat digunakan untuk menilai pelaksanaan obligasi negara. hukuman mati atau pembunuhan di luar proses hukum. Dengan suatu sistem penilaian tertentu keduanya mencoba melihat sejauhmana perjanjian internasional hak asasi manusia ketika perjanjian tersebut dapat atau tidak dapat memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia di tingkat negara-negara pihak. Serangkaian kontradiksi dalam realitas sosio-ekonomi dan sosio-politik yang sebelumnya hanya dibahas dan diprediksi secara akademis di lembaga-lembaga studi. termasuk indikator keberhasilan dan kegagalan. Juga pembahasan mengenai tema “pelanggaran hak ekosob”. JURNAL HAM • Vol. Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia 20042009 sesungguhnya merupakan kelanjutan dari Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia sebelumnya yang dibuat untuk tahun 1998-2003. berkumpul. Selamat membaca. Hafner-Burton dari Oxford University dan Kiyoteru Tsutsui dari State University of New York. dan sudah seharus rejim hak asasi manusia internasional memperbaiki sistem dan mekanisme perlindungan HAM di tingkat internasional. 2007 3 . dan perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia di Indonesia. 11/2005 dan ICCPR sebagai UU No. berpendapat. Juga konflik pertanahan atau penghancuran rumah-rumah penduduk dan pendidikan maupun kebebasan bergerak. dan tantangan bagi penerapan ICESCR sebagai UU No. 12/2005. serta penyiksaan. Persoalan hak-hak manusia di Indonesia telah memasuki tahap di mana kebutuhan untuk menerapkannya telah melampaui kepentingan untuk memperdebatkannya. Pada tulisan yang lain. sehingga berbagai sasaran yang belum dapat dipenuhi pada periode yang lalu dapat dilanjutkan pada periode berikutnya.

dan disahkan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 16 Desember 1966. Social and Cultural Rights (ICESCR). Sosial. semakin banyak negara yang menjadi ‘pihak’ dalam 2 kovenan tersebut. 2007 4 . negara pihak (artinya ne* Riwayat Singkat Penulis: 1995-2002 bekerja di Institut Sosial Jakarta. Dua Kovenan HAM internasional. in developing the what so called the international law. Lebih khusus lagi. Sejak tahun 1976. dan 23 maret 1976 untuk Kovenan Internasional Sipil dan Politik (selanjutnya disebut Kovenan Sipol). Budaya). mempunyai muatan sejarah dan ‘otoritas yang mengikat’. dan dengan Undang-Undang 12 tahun 2005 (untuk Kovenan Sipil dan Politik). yang sekarang ini sudah diratifikasi dengan Undang-Undang 11 tahun 2005 (untuk Kovenan Ekonomi. The implications of these ratifications are enormous. namely. 4 • Th. Kovenan itu diberlakukan masing-masing 3 Januari 1976 untuk Kovenan Internasional Ekonomi. Otoritas 2 Kovenan: Mengapa perlu? Dua kovenan ini menjadi bagian yang integral dari sistem PBB. 2004-2006 menjadi anggota Komite Eksekutif Forum Asia sebagai wakil PBHI – termasuk menjadi Ketua Komite Eksekutif (November 2005-Februari 2006) JURNAL HAM • Vol. 2003-2006 bekerja di Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi manusia Indonesia. Sejak saat itu. the International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) and the International Covenant on Economic. The two Covenants are related with the history of the world organization. the United Nations. dan sistem PBB ini mengikat semua negara anggota PBB. The human rights law was developed as mechanisms. dan sebanyak 150 negara atau lebih menjadi pihak Kovenan Ekosob. either Charter-based or Treaty-based. namely. kovenan ini menjadi mekanisme yang bersifat mengikat. 1999 dan 2005 mengikuti sesi sidang Komisi HAM. The two Covenants could become part of the effort of legal reform to improve human rights condition in Indonesia. yang membuat dua Kovenan ini sebagaimana adanya sekarang. Budaya (selanjutnya disebut Kovenan Ekosob). either for the government and other state’s institutions or for the victims of human rights violation as well as human rights defenders. Sosial. dengan resolusi 2200a (XXI). Setelah resolusi itu. in this regard the international human rights law. Fakta pertama yang paling jelas adalah bahwa 2 (dua) Kovenan Internasional ini terkait dengan mekanisme Komisi HAM PBB. The main purposes of the Indonesian are to maintain peace and prevent violence. Sebanyak 148 negara atau lebih menjadi pihak Kovenan Ekosob.Kovenan HAM Internasional: Pandangan Umum mengenai Signifikasi dan Perkembangan Henry Simarmata* Abstract Indonesia has just ratified the two most important international human rights covenants.

Dengan ini.gara yang meratifikasi) terikat dengan mekanisme dalam Komisi HAM PBB. dengan ini. mempunyai struktur sebagai berikut: 1. akan menjalankan mekanisme tersebut. saya berharap pembaca mendapat ‘clue’ terhadap artikel-artikel berikutnya. signifikasi dari 2 kovenan (‘mengapa’) 3. Lebih lanjut dapat dijabarkan bahwa sistem hukum dunia yang fractured dianggap sebagai salah satu masalah yang harus ditangani dengan mendorong efektivitas PBB. dinamika dalam enforcement 4. implementasi. setelah Pembantaian Masyarakat Armenia di masa Perang Dunia I). dan tentu dengan mekanismenya yang diharapkan bisa lebih efektif. Mendorong terwujudnya rejim dan deterrent PBB dibentuk semasa akhir Perang Dunia II. adalah suatu fenomena transnasional. Dalam tulisan lain dalam jurnal ini. karena melewati 1 Dalam penulisan artikel ini. yaitu terbentuknya rejim perdamaian dan deterrent (daya tangkal) atas kekerasan. evaluasi terhadap indivisibility dari 2 kovenan (dengan mengelaborasi pemikiran Amartya Sen) JURNAL HAM • Vol. Pendiri PBB. yang mulai Juni 2006 akan penuh menjadi Dewan HAM (dengan demikian sejajar. misalnya. mengingat tulisan ini ditaruh dalam bagian pertama bunga rampai (dalam jurnal). terutama dibandingkan dengan Liga Bangsa-Bangsa. Jika tidak ada 1. ijinkan saya untuk menaruhnya di depan. perdagangan gelap senjata. setidaknya. jelas bahwa yang menjadi penghubung dari kesemuanya itu adalah persoalan otoritas 2 kovenan itu. terutama dengan peristiwa Holocaust (dan ini yang kedua terbesar. Tidak ada satu negarapun yang sanggup menanganinya secara sendiri. 2. dan tantangan dari masing-masing Kovenan. ada beberapa hal yang patut dilihat untuk menggali dimensi “mengapa”nya. minus otoritas veto). Perang II yang jauh lebih dahsyat dan jauh lebih sistematis dianggap sebagai sesuatu yang tidak bisa ditolerir. akan membuat kovenan itu efektif mencegah dan/atau menangani pelanggaran HAM. kemerosotan kondisi hak asasi manusia yang terjadi amat cepat menjadi bahan ekspos media. Dengan ini. Dalam konteks hak asasi manusia. ada alasan untuk me- naruh pertanyaaan ‘mengapa’ di bagian terakhir artikel. Artinya. Bagaimana Dewan HAM PBB. Hukum internasional dapat secara terus-menerus bertentangan dengan hukum nasional. Mendorong terwujudnya hukum internasional Penjelasan di atas juga berlaku dalam hal kedua ini. tetapi juga batas ‘akal sehat’. baik jika dapat kita ulas dan lihat secara khusus sisi lain dalam tulisan ini. dijelaskan secara lebih rinci mengenai soal kewajiban negara pihak. dengan Dewan Keamanan PBB.1 bukan hanya batas kemanusiaan. Melihat hal ini. Artikel ini. agresi bersenjata. 4 • Th. fakta dasar (yang singkat) 2. ada 2 hal yang dapat dipenuhi dengan pendirian PBB dan mekanismenya. Untuk itu. PBB didirikan dengan kesadaran bawah Liga BangsaBangsa tidak efektif. 2007 5 . antara lain. Namun. baik sebagai organisasi dunia maupun dalam mempromosikan perdamaian. amat sulit untuk menanganinya karena ada pertentangan tersebut. karena sifatnya yang evaluatif. Hal itu diwujudkan dengan pendirian PBB. Persoalan seperti human trafficking. dalan tulisan ini. Namun. antara lain. dan kemudian anggota PBB menyadari bahwa perlu ada satu rejim yang dapat memberikan promosi dan perlindungan terhadap perdamaian dan kemanusiaan warga dunia. Persoalannya adalah bahwa jika kemudian kekerasan dilakukan dan menjadi pola.

Dua kovenan ini mempunyai seperangkat instrumen yang memungkinkan untuk diambilnya suatu tindakan – apalagi ada implikasi ‘naik’nya mekanisme HAM PBB dari komisi (Commission) ke dewan (Council). terutama dalam hal 2 kovenan ini. dapat dengan mudah diakses masyarakat luas. maupun dalam badan treaty untuk ICCPR serta hak anak. dalam kasus lain. adalah bahwa tersedia informasi yang diusahakan secara teratur. Kosovo menjadi special session dan itu menghentikan pembahasan reguler yang waktu itu sedang berlangsung). sebuah NGO yang mengembangkan dokumentasi HAM. dibahas baik di dalam Komisi HAM PBB. Khususnya menyangkut korban. Kelaparan sering berkepanjangan karena tidak ada informasi yang dapat diakses. disertai dengan catatan-catatan penting dari mekanisme yang dijalankan. Dalam hal hak asasi manusia secara umum. 2000) untuk melihat soal ‘mengapa’. maka special session berarti bahwa pembahasan reguler berhenti. amat penting ada suatu tindakan remedial dimana pemerintah negara anggota dan atau negara pihak wajib untuk menyediakannya. dalam Alston 2000). but menghasilkan comment. dan masuk pada proses acara special session (misalnya. Kasus kelaparan dijadikan contoh dalam penelitiannya bersama Jean Dreze. menjadi hukum internasional. Informasi yang dapat diakses menjadi dasar public action. apakah itu tindakan diarahkan pada pelaku (perpetrator). dan pada korban. Mekanisme ini dimulai dan dikembangkan. secara sederhana. JURNAL HAM • Vol. pada situasi.mekanisme dan hukum internasional maka kondisi hak asasi manusia yang merosot dapat menjadi spekulasi bertahun-tahun. Kondisi inilah yang membuat banyak pembela hak asasi manusia mencita-citakan suatu mekanisme. saat penulis menjadi seorang intern dalam sidang ke-55 Komisi HAM PBB. Mekanisme di dalam Human Rights Committee (badan treaty yang menjalankan enforcement ICCPR) menyediakan informasi. Tindakan remedial Informasi dan rejim (point 1) kemudian mendorong tindakan. di tahun 1999. maka seluruh diplomat akan dipanggil untuk untuk datang dalam sidang special session. misalnya. Inform-consent dan public action Ijinkan juga saya menggunakan pemikiran Amartya Sen (Sen. Proses acara (proceeding) HRC terse- dibahas satu item selama persidangan. memotret 2 Special Session ini adalah suatu sesi dimana hanya 3. (Witness. Peran dan sumbangan terbesar mekanisme HAM PBB. dan lama-kelamaan. Kasus serdadu anak (child soldiers) di DRC/Kongo (dalam istilah setempat dikenal dengan istilah kadogo). 4 • Th. dapat dikatakan bahwa pelanggaran HAM seringkali terjadi berlarut-larut karena tidak ada informasi. terutama sebagai mekanisme PBB. Contoh yang menarik misalnya bisa dirujuk pada persoalan Bosnia-Herzegovina (Michael O’Flaherty. Jika saat itu sedang terjadi persidangan dengan agenda reguler. Dari informasi dan proses acara ini kemudian dilaksanakan special session2 di dalam sidang Komisi HAM PBB di tahun 1992. (Untuk proses acara special session. Tindakan remedial muncul dalam kebijakan PBB untuk melakukan demobilisasi serdadu anak dan Pemerintah Negara Kongo dipaksa untuk turut dalam kebijakan PBB tersebut. 2007 6 . East Timor pernah dijadikan agenda di tahun 1999) 4. Sen menunjuk bahwa tersedianya informasi membuat suatu hal dapat direspon dengan segera (sooner than later). Jika sedang tidak ada sidang.

Kalau memang dibahas dalam sidang komisi. Hal ini memungkinkan mekanisme kovenan Sipol dapat dengan cepat memberikan pengaruh terhadap kasus yang bersangkutan. Negara yang bukan pihak dalam kovenan sipol tentu saja luput dari enforcement kovenan sipol. kovenan ekosob seringkali 7 . Kovenan Ekosob Contoh untuk penggambaran efektivitas kovenan ekosob. Hal ini membuat proses enforcement dari kovenan tidak efektif dalam merespon kasus tertentu (tetapi masih bisa menjadi bahan bahasan yang panas dalam sidang Komisi HAM dan sub-Komisi HAM). apakah pemerintah negara pelaku kekerasan memang akan comply pada mekanisme PBB? Tentu saja. Terutama karena muatan ‘hukum darurat Irlandia Utara’ yang membuat terjadi pelonggaran enforcement kovenan sipol. sebagai gambaran dan contoh. Kovenan Sipol (ICCPR) Contoh di bawah ini sekedar memberikan gambaran soal efektivitas kovenan (tentu masih banyak contoh lain) Dalam mekanisme PBB. tetapi bagaimana jika kasus itu kemudian menjadi amat banyak (terutama jika membahas kasus kejahatan perang) sehingga amat makan waktu dalam melakukan pembahasannya. seringkali diajukan secara bersamaan.fenomena demobilisasi serdadu anak ini dengan amat tajam). penetapan dari PBB seringkali tidak begitu berpengaruh. seperti penetapan PBB yang lain. Kasus Irlandia Utara. hukum domestik lebih cepat. dapat dilihat sebagai berikut di bawah ini : 1. maka proses di PBB menjadi pelecut yang efektif. Kovenan sipol amat persis dan tajam dalam menganalisis konteks pidana. maka negara pelaku pelanggaran seringkali tidak merasa ditekan. 4 • Th. Dinamikanya. 2007 contoh. Dengan otoritasnya yang terbatas. Sebagai kebalikan dari kovenan sipol. atau tindakan remedial. apakah badan treaty PBB (yang menjalankan fungsi monitoring dan semi-judisial) memang punya gigi sehingga hasilnya akan segera diangkat ke tingkat sidang Komisi HAM PBB untuk dijadikan pembahasan secara lebih ‘panas’. Otoritas 2 Kovenan: Mengapa ditolak? Mengapa diterima? Seberapa efektif? Pertanyaan berikut adalah apakah mekanisme dari 2 kovenan tersebut memang efektif. Artinya. dan tidak melakukan tindakan penanganan. Kasus yang dibahas dalam HRC-Human Rights Committee (badan enforcement kovenan sipol) akan melecut negara pihak untuk serius baik dengan proses domestik maupun dengan proses di PBB. 2. sebagai JURNAL HAM • Vol. boleh dibilang. sehingga proses di PBB lebih menjadi ‘catatan’ atas proses domestik. Dengan situasi yang sama. Karena memakan waktu yang lama. justru karena sistem hukum pidana domestik sudah lebih efektif. negara Eropa-Amerika Utara mempunyai perangkat hukum pidana yang lebih efektif dibandingkan negara di kawasan lainnya. ada suatu relativitas dari 2 kovenan ini terhadap hukum atau kebijakan di tingkat domestik. baik dalam proses pidana domestik di Inggris maupun di mekanisme PBB.

Mekanisme enforcement baik dalam tingkat PBB maupun di dalam tingkat domestik berbeda lebih karena alasan sejarah perang dingin (blok barat mementingkan sipol.dipakai oleh negara berkembang untuk mengangkat kasus ‘kemaslahatan’. bahwa pemerintah negara berkembang juga tidak mengatakan apapun mengenai kelalaiannya (omission) dan kesengajaan (commission) dalam menciptakan masalah kemaslahatan warga negaranya. Indivisibility 2 Kovenan: komentar evaluatif 1. JURNAL HAM • Vol. adalah bahwa kondisi kemaslahatan masyarakat negara mereka tidak luput dari situasi pascakolonialisme dan tingkah-polah pelaku privat dari negara Eropa-Amerika Utara. Persoalan penghapusan hutang. Namun juga. Negara pemberi hutang. atau ladang minyak adalah bagian dari tindakan pemerintah negara yang bersangkutan yang menimbulkan masalah menurunya kualitas hidup warga negaranya. dan dalam hal ini mempunyai tingkat keabsahan yang memadai. kondisi pascakolonial seringkali diangkat dengan mengorbankan fakta bahwa pemerintah negara yang bersangkutan tidak melakukan kebijakan yang perlu dalam persoalan ekosob. menjadi catatan kritis pula. di tingkat masyarakat. sebaliknya. Sen membuat argumen yang kuat dan tajam (compelling argument) meski dia tidak secara khusus menggeluti mekanisme 3 Sebagai suatu masalah. Atau juga untuk berargumen bahwa pelanggaran hak ekosob. Penjualan permata. Alasan yang dipakai. saya mempergunakan gagasan Amartya Sen untuk membahasa bagaimana dua dimensi hak (sipol dan ekosob) sebenarnya utuh. Seringkali hal ini menimbulkan efek kebijakan luar negeri yang kira-kira berbunyi ‘emang gue pikirin’. Gagasan Amartya Sen Perkenankanlah. misalnya. lapangan kerja. beras. negara berkembang tidak ragu-ragu mempergunakan mekanisme PBB termasuk mekanisme kovenan ekosob untuk memecahkan masalah tersebut. dengan sengaja. beberapa hal di antaranya. sebenarnya juga adalah pelanggaran hak sipol. dan juga untuk berargumen apakah memang sipol dan ekosob ini memang bisa secara filosofi dan hukum dijelaskan. menjadi masalah penting. Masalah seperti hutang luar negeri. negara berkembang justru membawa persoalan kemaslahatan sebagai pembahasan publik. saya memakai argumen Sen ini untuk menjelaskan. Rumusan odius debt3 dianggap tidak memadai untuk masuk dalam kerangka pemecahan masalah hutang. Dalam kasus yang amat contentious. 2007 8 . Universitas Harvard per- nah membuat studi soal odious debt. melihat masa- lah itu tidak absah dibahas oleh ‘badan HAM PBB. dan blok komunis mementingkan ekosob) dan lebih karena alasan presisi dan profesionalitas. Secara khusus. Kewenangan dan penanganan dalam soal hutang ada dalam IMF (Badan Moneter Dunia) atau murni masalah bilateral. misalnya. 4 • Th. Dalam persoalan Afrika. sekali lagi.

Barulah setelah Enron kolaps dengan segala akibatnya. Freedom dalam pengertian klasik. State and Utopia). Sen melakukan usaha terus-menerus berusaha memecahkan conundrum antara 2 hal: freedom dan justice. misalnya. asuransi. Konsep prioritas keadilan membawa pada tindakan khusus (special tretment). Kelemahan terbesar dari konsep ini adalah sifatnya yang indifferent terhadap pewujudan freedom dalam kehidupan praktis dan sehari-hari. ada baik dalam prioritas itu sendiri maupun dalam eksesnya bersifat draconian dan/atau pemaksaan. JURNAL HAM • Vol. John Rawls (juga dengan amat sukses) membantah kemutlakan hak milik. dan dalam bagian tertentu John Locke). Lebih lanjut. 9 . Freedom menjadi dasar argumen dari kovenan sipol. kemudian dilakukan regulasi dan penegasan indikator keamanan investasi. Kelemahan argumen. 2007 Tindakan spekulasi (penimbunan beras. sekuritas (dengan Glass-Steagal Act). secara intelektual freedom dirumuskan (dengan amat sukses) oleh Robert Nozick (Anarchy. eksploitasi sumber daya alam) jutru sering dilakukan dengan sadar dan sengaja di atas (at the expense) kehidupan dan penghidupan masyarakat. dapat dilihat bahwa tindakan privat dapat menyebabkan kesengsaraan banyak orang.4 Dengan ini. perdagangan senjata. sebagian perdebatan ini dicerminkan pada perdebatan founding fathers dalam merumuskan antara hak individu dan pemajuan sosial dalam konstitusi (UUD ’45) – dengan rumusan pertanyaan “untuk apa individu dilindungi kalau hal tersebut tidak memajukan kemakmuran masyarakat” Hayek melihat bahwa sebenarnya layanan publik negara (bahkan jika itu memang bertujuan melindungi warga negara) hanya akan membuat warga negara hidup dalam perbudakan modern (serfdom). bisa dalam jangka panjang). mengarah pada konsep individu yang biasanya merujuk pada pemikiran Adam Smith. menurut Sen. tidak soal bagaimana manusia mendapatkan hak miliknya itu. Keadilan yang dirumuskan dalam prioritas itu memang tidak perlu diperdebatkan. namun dalam konteks hak ber4 Salah satu penyebab penting adalah bahwa diha- puskannya regulasi pembatasan bank. perdagangan senjata. Dalam sejarah Indonesia. dinamika ekonomi AS juga mengalami downturn karenanya. Menarik mengamati ketika Enron kolaps. Ambil contoh. eksploitasi sumber daya alam) semuanya tidak tahan dengan argumen bahwa itu semua justru menjadi penyebab kehidupan manusia – kalau tidak dalam jangka pendek.dan hukum hak asasi manusia internasional. dan justice menjadi dasar argumen kovenan ekosob. Sedang Nozick melihat bahwa hak milik adalah mutlak. Dalam soal justice. 4 • Th. dan terhadap fenomena free rider. David Hume. Penggambarannya adalah sebagai berikut: Menjadi pengetahuan umum bahwa freedom juga dapat digunakan untuk merugikan orang lain. dan bertemu dengan derivatif market yang tidak diregulasi. dan Friederich von Hayek (road to serfdom). perdagangan valuta asing. dan mendorong konsep prioritas keadilan. Singapura yang amat makmur secara ekonomi dengan welfare-state yang nyaris sempurna. Tindakan spekulasi (penimbunan beras. perdagangan valuta asing. bahkan jika hal itu atas nama kebaikan.

just as social or political unfreedom can also foster economic unfreedom”5 Sen. Sebagai benchmarking.6 Sebagai titik mula. 2. Social. sebagaimana juga bahwa tidak adanya hak sosial dan politik dapat menimbulkan tidak adanya hak ekonomi” garaan pembahasan mekanisme HAM regional ini di Kuala Lumpur. tidak ada kejahatan yang ditindak di luar hukum.8 “…[i]t also pointed to the remarkable fact that economic unfreedom. 2007 10 . dapat membuat orang menjadi mangsa pelanggaran hak yang lain …tidak adanya hak ekonomi dapat memunculkan tidak adany hak sosial. dengan ini. atau negara anggota PBB pada umumnya. kita dapat melihat mekanisme serupa di Uni-Eropa (Europan 6 Di akhir bulan Juni 2006. Nulla Crimen Sine Lege. ada rencana penyeleng- amat jelas bahwa tidak adanya hak ekonomi. maka para judiciary justru berargumen bahwa hal ini membuat perkembangan hukum berlangsung secara sehat. Salah satu yang menjadi pengembangan di dalam soal mekanisme HAM regional ASEAN. Dua kovenan ini berkembang seturut bentuk-bentuk pidana tersebut. Mekanisme HAM regional di ASEAN adalah sesuatu yang perlu didorong. dan kemudian pada hukum domestik. 4 • Th. meski tentu kita tidak bisa langsung ‘menikmati’ pembahasan mekanisme 2 kovenan (mungkin suatu saat nanti sampai ke sana). …Economic unfreedom can breed social unfreedom. Argumen Sen dalam merumuskan indivisibility hak sipol dan ekosob dapat dirumuskan sebagai berikut: p. menurut pengamatan. Hak Perempuan-Anak dan Masalah Migran akan menjadi 2 isu yang dikembangkan untuk dibahas (ini karena dibentuk 2 kelompok kerja di ASEAN untuk membahas 2 hal tersebut). karena segala sesuatunya selalu dibahas (contested) dan terukur. dan dengan ini mendorong akuntabilitas pemerintah negara anggota dengan warga negara anggota. Seperti kita tahu bahwa setiap pelanggaran HAM termunculkan (implies) bentuk-bentuk pidana. juga menyatakan pentingnya ‘perdebatan publik’ (public discourse) dan proses komunikasi yang menghasilkan nilai dan norma sosial. Dengan alasan bahwa sekarang sudah saatnya bagi ASEAN untuk mempunyai piagam. maka kita bisa melihat bahwa mekanisme 2 kovenan ini memunculkan banyak implikasi pada hukum internasiona. can make a person a helpless prey in the violation of other kinds of freedom. Jika ada keberatan dari negara pihak. Ada anggapan bahwa ekonomi dan welfare yang sudah diwujudkan dengan otomatis akan mewujudkan hak sipol. Jika kita melihat dokumen dalam Human Rights Committee (HRC – badan enforcement kovenan sipol) maupun Committee on Economic. Mekanisme HAM Regional: Perkembangan Mekanisme 2 Kovenan Perkembangan terbaru saat ini yang patut diamati adalah proses ASEAN untuk merurmuskan Piagam ASEAN (ASEAN Charter). JURNAL HAM • Vol. dalam bentuk kemiskinan ekstrem. dari yang mild sampai yang serius. in the form of extreme poverty. Nulla Crimen Sine Lege Dua kovenan ini pun sebenarnya masih dalam perkembangan progresif untuk menerjemahkan persoalan pidana.pendapat dan berpolitik dibatasi dengan amat tajam. dan dengan ini sebenarnya ditegaskan prinsip imparsialitas dari hak asasi manusia. Cultural Rights (badan enforcement kove5 (terjemahan longgar) “…dapat ditunjuk fakta yang nan ekosob).

James. kasus-kasus di dalam negeri ini dibahas juga di tingkat Eropa – sehingga korban dan pekerja HAM dapat semakin menegaskan compliance negara terhadap ketentuan HAM internasional. Bagi korban. Cole. Mekanisme regional ini penting sebagai pengembangan dari enforcement 2 kovenan tersebut. JURNAL HAM • Vol. The Treatment of Prisoners under International Law (second edition). Stanford Institute on International Studies. Reid. (Bersama Indonesia. Cambridge University Press. and Joseph. A Practitioner’s Guide to the European Convention of Human Rights. with Bustelo. Harris. Seperti yang kita lihat dalam proses dan dokumentasi European Court on Human Rights. The EU and Human Rights. Clarendon Press Oxford. Oxford 1995. Cambridge 2000. Adam. beserta courtnya) dan di kawasan Amerika Latin (InterAmerican Human Rights Mechanism). Oxford University Press. Amartya. untuk menyebut di antara aktor penting. The Inter-American System of Human Rights.Convention on Human Rights. Development. The Future of UN Human Rights Treaty Monitoring. Alfred A. David. Divided World. Oxford University Press. Nigel S. Oxford 1999. Development as Freedom. Oxford 1999. DAFTAR PUSTAKA Alston. Knopf. Wade M. Centre on Democracy. The International Covenant on Civil and Political Rights and United Kingdom Law. Sweet & Maxwell. Oxford 1998.).. 4 • Th. New York 2000. Clarendon Press Oxford. dan Komnas HAM.. Sarah (ed. James. London 1998. Alston. Clarendon Press Oxford.).). Roberts. harus aktif untuk menerjemahkan 2 kovenan itu dalam sistem dan praktik hukum di Indonesia. David. pekerja HAM. Benedict. Sen. dan membuat mekanisme regional HAM ASEAN mendapatkan dampak dari enforcement domestik tersebut. Philip. Karen. and Kingsbury. and Livingstone. Mara. Oxford 1993. Filipina dan Malaysia juga menjadi anggota Dewan HAM) – bersamaan dengan implikasi dari ratifikasi 2 kovenan oleh pemerintah Indonesia Desember 2005 lalu. Stephen (ed. Indonesia yang dipilih dengan angka voting kedua tertinggi di Asia (sesudah In- dia) di dalam Dewan HAM mempunyai kesempatan juga untuk mengembangkan mekanisme enforcement HAM di tingkat regional. Philip and Crawford (ed.). and Heenan (ed. United Nations. The UN’s Roles in International Law. Rodley. and The Rule of Law. Sovereignty Relinquished: Explaining Commitment to International Human Rights. 2007 11 . California 2004 Harris.

promotion. 40 Tahun 2004 tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia tahun 2004-2009. Social and Cultural Rights (ICESCR) yang keduanya telah Indonesia ratifikasi pada tahun 2005. economic. politics. dianalisis * Penulis bekerja di Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan HAM. Individual must be able to enjoy freedom of wants as well as freedom from fear. The new plan of action is intended to complete the unfinished works in the previous period. religion. tetapi juga pada tataran yang mengatur subyek hukum beraktivitas yang dikenal dengan peraturan-perundangan.Pelaksanaan ICCPR dan ICESCR dalam Konteks Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN-HAM) 2004-2009 Adhi Santika* Abstract Indonesia’s diverse geography. Keragaman masalah dimaksud ternyata tidak hanya akan terjadi pada perilaku kehidupan sehari-hari setiap subyek hukum. The National Plan of Action on Human Rights in Indonesia is intended as a guidance and general plan to enhance the efforts in increasing the respect. 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Economic. 2007 12 . tidak dapat dipungkiri akan dihadapkan pada keragaman masalah dalam implementasinya di Indonesia. Social and Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan Keputusan Presiden (Keppres) No. keberadaan ICCPR dan ICESCR di Indonesia merupakan hal penting untuk diketahui. Adapun peraturan perundangan dimaksud antara lain: UU No. The ultimate goal of ensuring respect for the dignity of individual cannot be achieved without that person’s enjoying all of his or her rights. Dalam konteks waktu. PENDAHULUAN Keberadaan instrumen HAM internasional seperti halnya International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) dan International Covenant on Economic. 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik) dan UU No. social and cultural rights. Departemen Hukum dan HAM JURNAL HAM • Vol. Sosial. Sekalipun ICCPR dan ICESCR telah diratifikasi masing-masing melalui UU No. dan Budaya). The 2004-2009 Nation Plan of Action on Human Rights is a continuation of the Nation Plan of Action on Human Rights for the year 1998-2003. fulfillment and protection human rights. 4 • Th. culture and language contribute to wide diversity in the enjoyment of human rights. pada kenyataannya Indonesia telah memiliki peraturan perundangan yang secara implisit dan/atau eksplisit sudah menginternalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam dua kovenan tersebut. The dignity of individual cannot and should not be divided into two spheres – that of civil and political rights and that of economic.

29 Tahun 1999 tentang CERD. Pembentukan dan penguatan institusi pelaksanaan RANHAM. seyogyanya evaluasi harus dilakukan sejak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia sampai pascaratifikasi sekalipun ratifikasi kedua kovenan tersebut baru dilakukan pada tahun 2005. dengan penetapan 6 (enam) Program Utama di dalamnya. dan Keppres No. dan pemenuhan hak asasi manusia terutama menjadi tanggung jawab Pemerintah”. Apabila mengamati Program Utama RANHAM dan menghubungkannya dengan ratifikasi ICCPR dan ICESCR. seperti halnya UU No. yaitu: (1) Pembentukan dan penguatan institusi pelaksanaan RANHAM. di mana Indonesia termasuk sebagai negara peserta yang turut menandatanganinya. penegakan. (5) Penerapan norma dan standar HAM. (4) Diseminasi dan pendidikan HAM. UU No. 1. (3) Persiapan Harmonisasi peraturan perundang-undangan. KONSEKUENSI RASIONAL DARI RATIFIKASI Secara eksplisit Lampiran I Keppres No. Pertimbangan dimensi waktu akan terasa benar adanya manakala mempertimbangkan beberapa instrumen HAM internasional yang telah diratifikasi Indonesia melalui sejumlah Undang-Undang yang dikeluarkan pemerintah sebelum Indonesia meratifikasi ICCPR dan ICESCR pada tahun 2005. termasuk untuk melindungi masyarakat yang rentan terhadap pelanggaran HAM. 4 • Th. Di samping itu terdapat pula beberapa kesepakatan internasional yang secara langsung atau tidak langsung bernuansa HAM. sangat jelas diketahui bahwa RANHAM lebih berorientasi ke masa depan. 40 Tahun 2004 menyebutkan. evaluasi dan pelaporan. 7 Tahun 1984 tentang CEDAW. sehingga evaluasi yang dilakukan seharusnya tidak hanya dibatasi oleh waktu pascaratifikasi kedua kovenan tersebut tetapi juga mencakup semua kegiatan yang dilakukan selama kurun waktu praratifikasi. seperti ICPD dan MDGs. 2007 atas. pemajuan. Hal ini perlu diperhatikan untuk mengetahui secara obyektif mengenai dua hal utama dalam evaluasi. dan (6) Pemantauan. Pertimbangan dimensi waktu merupakan salah satu faktor penting dalam evaluasi pelaksanaan ICCPR dan ICESCR di Indonesia. Persyaratan ini mengemuka karena ada alasan yang 13 . 5 Tahun 1998 tentang CAT. dan pemenuhan HAM sebelum ratifikasi. maka ruang lingkup keenam Program Utama merupakan rangkaian tindakan konkrit yang perlu dan akan dilakukan oleh negara dalam aktualisasi pencapaian tujuan ICCPR dan ICESCR di Indonesia. (2) Persiapan Ratifikasi instrumen HAM internasional. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia: ”Perlindungan. 36 Tahun 1990 tentang CRC. pemajuan. UU No. maka pelaksanaan ICCPR dan ICESCR pascaratifikasi di Indonesia tidak dapat dilepaskan keberadaannya dari upaya perlindungan. pemenuhan dan perlindungan HAM. Oleh karena itu. Dalam hubungan ini Pemerintah menempati posisi strategis sesuai dengan amanat yang tercantum dalam Pasal 8 UU No. bahwa RANHAM Indonesia dimaksudkan sebagai panduan dan rencana umum untuk meningkatkan penghormatan. Dari materi yang tercantum. Program Utama yang pertama yaitu Pembentukan dan Penguatan Institusi Pelaksana RANHAM merupakan program yang penting dan merupakan satu syarat keharusan (a necessary condition). Berdasarkan pertimbangan tersebut di JURNAL HAM • Vol. yaitu kesungguhan dan kendala yang dihadapi Pemerintah selama ini. pemajuan.dan dirumuskan langkah-langkah nyata yang perlu dilaksanakan oleh berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) termasuk Pemerintah. penegakan.

32 Tentang Pemerintahan Daerah. sosial. mencakup lintas batas administratif (spatial) dan mencakup lintas batas waktu (temporal). “Penguatan” hanya dapat dilakukan apabila “pembentukan” institusinya sudah dilakukan. Kompleksitas masalah HAM di lapangan yang memiliki karakteristik antara lain: ruang lingkup substansinya sangat luas. Berdasarkan Keppres 40 Tahun 2004. baik dari sisi pendidikan. ekonomi. pekerjaan.sangat rasional. Program Pembentukan dan Penguatan Institusi Pelaksana RANHAM memJURNAL HAM • Vol. Masalah HAM di lapangan yang terjadi sangat bervariatif dan struktur organisasi kepemerintahan yang berbeda di setiap provinsi. juga memberikan pengaruh pada kemampuan aparat negara dan masyarakat dalam kecepatan “pembentukan” institusi pelaksana HAM. program “penguatan” sudah seharusnya selalu dibarengi dengan kegiatan evaluasi yang berkesinambungan berdasarkan pendekatan “post-training evaluation”. Program “penguatan” seringkali dihadapkan pada 2 (dua) masalah yang cukup serius untuk dapat segera diselesaikan dalam waktu singkat. Keanekaragaman ini memberikan konsekuensi pada cara “penguatan” yang akan dilakukan agar materi dan pesan yang akan diberikan tepat sasaran. Kompetensi merupakan satu kata kunci yang sulit untuk diwujudkan pada tataran lapangan dalam kurun waktu yang cukup singkat. efisien. Dalam hubungan ini. seringkali aparat negara dan masyarakat kurang bahkan tidak mampu mengetahui dan mengerti maksud keduanya. yaitu 5 (lima) program lainnya sangat tidak mungkin terlaksana dengan baik apabila program pertama ini tidak terwujud lebih awal. kabupaten dan kota memberikan kontribusi pada cepat atau lambatnya “pembentukan” institusi pelaksana RANHAM di pusat dan daerah. apabila terdapat institusi bentukan baru dan mengalami “penguatan” sehingga memiliki kompetensi untuk melaksanakan seluruh programnya. 4 • Th. Atas dasar ini maka pelaksanaan RANHAM hanya dapat berjalan sesuai dengan rencana. cenderung membuat orang memerlukan waktu tambahan untuk sepenuhnya mengerti permasalahan yang ada. frekuensi dan intensitas kejadiannya sangat berfluktuatif. yaitu: (1) Pemilihan dan penetapan peserta yang akan menerima materi “penguatan” agar lebih representatif. Guna membentuk institusi baru ternyata seringkali dihadapkan pada berbagai kendala yang umumnya berupa kekurangmampuan sumber daya manusia untuk mengetahui dan mengerti substansi HAM yang secara bersamaan waktunya harus memiliki kecakapan dalam mengelola organisasi untuk menggerakkan program kerja. “Penguatan” institusi pelaksana RANHAM adalah satu kegiatan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan (multi-stakeholders) karena memerlukan kerjasama dari banyak pihak dengan latar belakang yang beraneka ragam. dan efektif. “Pembentukan” dan “penguatan” institusi merupakan dua kata penting dalam program ini. 2007 14 . melibatkan lebih dari satu subyek hukum. Di samping itu struktur organisasi kepemerintahan yang cukup beragam antar wilayah administrasi sejalan dengan adanya UU No. dan (2) Pemberi materi “penguatan” perlu lebih membekali diri dengan kecukupan penguasaan substansi dalam pengertian mampu menyeimbangkan materi yang bersifat konseptual dan kontekstual. maupun budaya.

Perancis. apalagi setelah terpilihnya Indonesia sebagai anggota Dewan HAM PBB. Mesir. Proses ini semua bukan tanpa rintangan atau halangan. Belum lagi dinamika masyarakat yang juga diwarnai pro-kontra terhadap suatu isu HAM tentu akan menimbulkan persoalan tersendiri dari setiap proses ratifikasi itu. dan Jerman. Namun. Secara garis besar. yaitu: Afrika Selatan. semua ini merupakan bagian dari tradisi demokrasi yang harus dilalui. Kanada. Berbagai kegiatan dalam rangka “penguatan” institusi. yaitu: Kovenan Internasional Hak Ekososbud (2004). Tanpa adanya kaidah-kaidah ini sungguh tidak JURNAL HAM • Vol. Italia.punyai tujuan/sasaran sebagai berikut: (1) Pembentukan dan penguatan Panitia Nasional. karena harus melibatkan berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) dengan segala keragaman karakteristiknya disamping substansi HAM merupakan hal baru bagi sebagian besar pemangku kepentingan. Situasi perdebatan dan pro-kontra atas dasar identifikasi dan inventarisasi masalah dari setiap proses pembahasan lahirnya suatu produk perundangundangan seringkali juga menimbulkan kekecewaan masyarakat. dapat diketahui bahwa cakupan kegiatan program pertama tersebut dinilai sangat berat. UNICEF. Swedia. pemajuan. Sebagai anggota masyarakat internasional. pemerintah (dalam hal ini Direktorat Jenderal Perlindungan HAM. Berdasarkan Keppres 40 Tahun 2004. Sesungguhnya hukum internasional merupakan persoalan dengan keperluan hubungan timbal-balik antar negara. Melalui pengesahan yang diwujudkan dalam bentuk ratifikasi. 2. persiapan ratifikasi sejumlah instrumen HAM internasional ditetapkan dengan skala prioritas sebagai berikut. Departemen Hukum dan HAM) telah melakukan kerja sama antar negara dan dengan sejumlah lembaga internasional di bawah payung Perserikatan Bangsa Bangsa. Kovenan Hak Sipil dan Hak Politik (2004). Persiapan Ratifikasi Instrumen Hak Asasi Manusia Internasional. pemenuhan dan perlindungan HAM agar sesuai dengan harapan. perangkat-perangkat HAM internasional tersebut diharapkan akan memperkuat hukum nasional dalam upaya menjamin penghormatan. Selandia Baru. dan (5) Meningkatkan kerja sama dengan berbagai pihak untuk memperkuat kelembagaan HAM yang telah ada. (3) Sosialisasi RANHAM kepada berbagai pihak. IDLO. RANHAM telah mengagendakan ratifikasi 12 instrumen HAM yang akan dirampungkan sebelum akhir tahun 2009. Australia. termasuk Konvensi Internasional Perlindungan Hak-hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. Indonesia melakukan ratifikasi instrumen-instrumen HAM internasional. (4) Pembentukan dan Penguatan Kelembagaan HAM di daerah. Swiss. Di samping itu. kerja sama dengan lembaga internasional antara lain dilakukan dengan UNHCR. Hukum internasional seperti halnya ICCPR dan ICESCR merupakan keseluruhan kaidah yang sangat diperlukan untuk mengatur sebagian besar hubungan antar negara. 4 • Th. IOM. Konvensi Penghentian Perdagangan Manusia dan Eksploitasi Pros- 15 . Kerjasama pemajuan HAM telah dijalin dengan 11 (sebelas) negara dan kerjasama regional dengan ASEAN dan Asia Pasifik. dan ILO. 2007 mungkin bagi negara-negara tersebut untuk saling berhubungan secara tetap dan terus menerus. (2) Pembentukan dan penguatan Panitia Pelaksana RANHAM Daerah. Norwegia.

Era otonomi daerah merupakan satu ciri dalam pemerintahan sekarang ini dan UU No. Salah satu hal yang perlu mendapat perhatian khusus adalah Pasal 7 UU No. Langkah dimaksud seringkali dihadapkan pada faktor pembatas berupa kemampuan melaksanakan kajian akademik yang bersifat obyektif dan cepat pelaksanaannya.titusi (2004). e. terlebih dahulu perlu dijelaskan pengertian dari beberapa istilah kunci. Faktor keterbatasan pengetahuan ini seharusnya tidak boleh dibiarkan karena akan memperparah ketidaksiapan Pemerintah dalam menerima segala konsekuensi ratifikasi. Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Keterlibatan Anak dalam Konflik Bersenjata (2006). Peraturan Pemerintah. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang menegaskan jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan di Indonesia. Persiapan Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan. Peraturan Daerah. c. dan Protokol Opsional Tahun 1967 Konvensi Status Pengungsi (2009). faktor keterbatasan pengetahuan dan jumlah pemerhati substansi instrumen yang akan diratifikasi juga merupakan hal yang kerap terjadi. yaitu: a. Undang-undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang. Protokol Opsional Konvensi Anti Penyiksaan (2008). Protokol Opsional Konvensi Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan (2005). 2007 16 . Konvensi Perlindungan Hak-Hak Pekerja Migran dan anggotaanggota keluarga-nya (2005). Aspek-aspek apa yang harus diharmonisasikan dan bagaimana pengharmonisasian tersebut dilakukan? 3. Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Perdagangan Anak. 3. b. Peraturan Presiden. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah adalah landasan yuridis yang digunakan. Pengharmonisasian atau kegiatan untuk mengharmonisasikan atau menyelaraskan. Pornografi Anak dan Prostitusi Anak (2005). Konvensi Pencegahan dan Penghukuman Kejahatan Genosida (2007). Satu hal yang paling mendasar untuk dipertimbangkan dengan seksama adalah langkah melakukan pengkajian terhadap instrumen internasional yang akan diratifikasi berupa penyempurnaan naskah akademik. Di samping itu. Konvensi Status Pengungsi (2009). 4 • Th. Mengapa perlu dilakukan pengharmonisasian? 2. Statuta Roma (2008). yaitu: a. Terdapat beberapa permasalahan yang terlebih dahulu perlu dipahami sehubungan dengan harmonisasi peraturan perundang-undangan di Indonesia yaitu: 1. mengingat setelah proses ratifikasi pengertian “legally binding” menjadi berlaku dengan segala konsekuensinya. Atau dalam bahasa Inggrisnya “harmonize” diJURNAL HAM • Vol. Keberadaan faktor pembatas tersebut sangat mungkin dapat diatasi apabila Program Pembentukan dan Penguatan Institusi Pelaksana RANHAM terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama. d. Permasalahan apa yang dihadapi dalam pelaksanaan pengharmonisasian? Sebelum memahami ketiga permasalahan tersebut. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

(b) Tidak jarang ditemui berbagai inkonsistensi antara satu pasal dengan pasal lainnya di dalam Undang-undang yang sama. pemahaman. Pasal 18 ayat (2) Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 hanya mengatur pengharmonisasian. artikan sebagai “bring into harmony” dan”“harmony” diartikan sebagai “pleasing combination of related things”. Sehubungan dengan itu. sebelum proses pengharmonisasian perundangan yang ada agar sejalan dengan RANHAM dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. baik dengan berbagai peraturan perundang-undangan vertikal maupun horisontal. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dan Undang-Undang No. Tenaga fungsional Perancang Peraturan Perundang-undangan masih terbatas jumlahnya serta belum memiliki spesialisasi pada bidang hukum yang spesifik. sebenarnya masih terdapat sejumlah tantangan yang harus diatasi terlebih dahulu. sejalan dengan ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang No. juga terlihat bahwa peraturan perundangan di Indonesia cenderung memiliki sejumlah kelemahan yang mendasar. dan tidak mengatur rancangan undang-undang yang berasal dari DPR atau rancangan peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang. pembahasan oleh wakil-wakil instansi terkait tidak bersifat menyeluruh. Dari pengamatan. Masih adanya sikap egoisme sektoral dari masing-masing instansi terkait. dan (d) Produk hukum yang ada di Indonesia lebih cenderung bersifat reaktif dari antisipatif. agar menghasilkan peraturan perundang-undangan yang tidak saling bertentangan atau tumpang tindih. tetapi bersifat parsial dan terfragmentasi menurut kepentingan dari masing-masing instansi. serta konvensi/ perjanjian internasional hak asasi manusia. 4 • Th.b. Perlu disadari bahwa. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. c. Dalam bahasa Inggris “conception” diberi arti sebagai “conceiving of an idea” 3. langkah yang sedang dilakukan dalam persiapan harmonisasi peraturan perundangundangan adalah mengagendakan JURNAL HAM • Vol. 2007 17 . 2. yaitu: (a) Antara Undang-undang yang satu dengan yang lainnya seringkali saling bertentangan. Pembulatan mengandung makna untuk membentuk menjadi bulat atau membentuk kepaduan. (c) Keterlambatan penyusunan aturan pelaksanaan dari Undang-undang yang telah disahkan. pengharmonisasian peraturan perundang-undangan memiliki arti strategis dalam mewujudkan sistem hukum nasional. yang disebabkan oleh belum adanya persamaan persepsi tentang rancangan undang-undang sebagai suatu sistem yang terintegrasi. karena jabatan fungsional Perancang Peraturan Perundang-undangan dianggap tidak cukup menarik untuk ditekuni oleh pegawai. Tantangan yang dimaksud antara lain meliputi: 1. Konsepsi diartikan sebagai pengertian. keutuhan sebagai suatu keseluruhan. atau rancangan yang telah ada dalam pikiran (ide). Dengan demikian. Sehingga. pembulatan dan pemantapan konsepsi rancangan undang-undang yang berasal dari Presiden. Sehingga. diperlukan penyelarasan.

bahwa pendidikan merupakan syarat bagi pemenuhan hak-hak sipil dan politik serta hak-hak ekonomi. pelatihan HAM di luar negeri (Swedia. hak untuk turut serta dalam pemerintahan. antara lain Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW). dan petugas pemasyarakatan). kejaksaan. dan perguruan tinggi merupakan langkah yang sangat strategis untuk mendukung diseminasi dan pendidikan HAM di Indonesia. hak hukum. tenaga pengajar/ dosen perguruan tinggi. Convention on the Political Rights of Women. dan perguruan tinggi juga merupakan hal yang harus dilaksanakan secara terus menerus. aspek pendidikan menjadi elemen kunci dalam upaya melaksanakan program diseminasi Hak Asasi Manusia di Indonesia. Di samping itu. 2007 . berorganisasi dan berekspresi. Pelaksanaan pendidikan hak asasi manusia yang difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Perlindungan HAM Departemen Hukum dan HAM meliputi pembentukan dan perpustakaan HAM di Universitas dan Komnas HAM. Norwegia. kegiatan simposium hak asasi manusia tingkat nasional dan daerah untuk promosi pendidikan hak asasi manusia yang dilaksanakan oleh anggota Panitia Nasional RANHAM. Menyadari hal tersebut. Convention on the Rights of the Child (CRC). Australia. dan Universitas Pelita Harapan). 18 JURNAL HAM • Vol. dan tokoh masyarakat/agama). serta hak atas kebebasan informasi dan berkomunikasi. hak untuk memilih dan dipilih. namun telah dikaji pula Undang-Undang tentang Kewarganegaraan dan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. dan pendidikan HAM di Fakultas Hukum. serta Undang-Undang tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. pemerintah berupaya melakukan sosialisasi berbagai instrumen hak asasi manusia internasional yang telah diratifikasi oleh Indonesia. 4. pelatihan bagi aparat penegak hukum (kepolisian. UndangUndang tentang Hak Asasi Manusia. Oleh sebab itu. meskipun di dalam agenda RANHAM hanya 3 (tiga) undang-undang tersebut yang dikaji. hak atas kebebasan berkumpul. dan Perancis bagi pegawai negeri. Afrika Selatan. 4 • Th. Universitas Padjajaran. serta lokakarya dan diskusi HAM dengan organisasi sosial dan LSM. kurikulum HAM untuk SD s/d SMA. aktivis HAM. sebagaimana yang diamanatkan dalam RANHAM 2004-2009. Diseminasi dan Pendidikan Hak Asasi Manusia Kiranya sulit dibantah. Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination (CERD). Selain itu. program studi S2 HAM (Universitas Indonesia. lembaga nonpemerintah. social.pengkajian terhadap Kitab UndangUndang Hukum Pidana. dan Convention Against Torture. lembaga nonpemerintah. Suatu tingkat pendidikan minimal atau setidaknya melek aksara sangat diperlukan bagi perjuangan untuk mewujudkan pemenuhan hak-hak sipil dan politik. pengembangan dan penyebarluasan bahan pengajaran hak asasi manusia yang dilaksanakan oleh anggota Nasional RANHAM. dan budaya. hakim. Other Cruel and Inhumance or Degrading Treatment or Punishment (CAT). Dalam hubungan ini. Universitas Samratulangi. pendidikan di luar jalur sekolah.

Pemerintah Indonesia sedang melakukan proses penyusunan norma dan standar perlindungan. Selain itu. polisi. HAM adalah universal. antara lain. bagi pegawai Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM. tidak boleh menjadi alasan untuk tidak melaksanakan HAM. Indonesia sebagai negara modern tidak mungkin menghindar dari realitas bahwa masyarakatnya menjadi lebih individual daripada masyarakat tradisional. 19 .5. beberapa kegiatan yang telah dilakukan oleh Departemen Hukum dan HAM dalam mendukung pelaksanaan RANHAM. dan mekanisme kerjasama pemajuan hak sipil dan politik. Hak asasi manusia adalah persoalan universal. pemajuan. pamong praja dan petugas pemasyarakatan berdasarkan hasil kegiatan yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan HAM. pengawas ketenagakerjaan. Pandangan keliru bahwa HAM identik dengan pandangan dunia barat. 4 • Th. Norma tersebut dapat mengalir dalam perundangundangan yang lebih rendah hierarki atau perundangan yang lebih rendah dapat memberikan norma tafsiran dari peraturan perundangan yang lebih tinggi tersebut. meminjam istilah dari Rudolf Steammler. Jika diamati lebih jauh. antara lain: (a) Menghasilkan sejumlah buku saku mengenai HAM yang diperuntukkan. Sebagaimana dikatakan Magnis Suseno (1994: 11-12). pedoman pemenuhan hak anak. seorang ahli filsafat yang beraliran Neo Kantian. penegakan. (b) Penyampaian rekomendasi kepada instansi terkait atas pengaduan masyarakat tentang pelanggaran hak asasi manusia (yang tidak termasuk pelanggaran hak asasi manusia yang berat). dan pemenuhan HAM. Sebaliknya. HAM merupakan pengertian modern. Dengan demikian. Saat ini. Dengan kata lain. sedangkan dikatakan kontekstual apabila sudah berbicara tentang relevansinya (aktualisasi). juga dibentuk Tim Konsultasi Hak Asasi Manusia. seperti perlindungan terhadap mereka yang kurang beruntung secara sosial dan ekonomi. dan tenaga kerja. jaminan terhadap HAM merupakan tanda solidaritas dan kepedulian sosial JURNAL HAM • Vol. Konstruksi ini merupakan makna bahwa norma-norma yang ada dalam UUD harus mengalir dalam perundang-undangan di bawahnya. norma HAM yang terdapat dalam UUD adalah sebagai bintang pemandu (leitstren) bagi pembuat undang-undang di bawahnya agar selaras dengan nilai-nilai HAM. Dalam masyarakat tradisional. Selain itu. 2007 dalam masyarakat yang bersangkutan. (c) Berpartisipasi dalam pelaksanaan Nota Kesepahaman Pemerintah Indonesia dengan GAM dalam bentuk memfasilitasi pelaksanaan amnesti dan integrasi anggota GAM bekerjasama dengan IOM dan. HAM justru tidak memuat individualisme. HAM tidak banyak dipertanyakan karena struktur sosial tradisional itu masih mampu melindungi hak-hak individu di dalamnya. secara substansi. apakah berupa norma original atau norma jabaran yang lebih konkrit. tetapi sekaligus juga kontekstual. Penerapan Norma dan Standard Hak Asasi Manusia Dalam perspektif hukum tata negara. norma yang terkandung dalam UUD merupakan sumber hukum (rechtsgulle) bagi aturan yang ada di bawahnya.

Kalimantan Tengah. evaluasi dan pelaporan. 6. Pemerintah harus terus mengupayakan agar perlindungan terhadap setiap subyek hukum dapat dilakukan sebagaimana tercantum dalam RANHAM. Penandatanganan yang dilakukan Indonesia atas 2 (dua) Kovenan HAM Internasional (ICCPR dan ICESCR) untuk saat ini harus dinilai penting. Pada kenyataannya. terkini. Menjadi kewajiban pemerintah atau negara hukum untuk mengatur pelaksanaan hak-hak asasi ini yang berarti menjamin pelaksanaannya. NAD. Untuk itu. kepentingan bangsa dan negara. penyusunan laporan perkembangan pelaksanaan HAM di Indonesia dihadapkan pada sejumlah tantangan yang cukup berat yaitu: PENUTUP Hak asasi manusia adalah hak dasar atau hak pokok yang dibawa manusia sejak lahir sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa. 20 JURNAL HAM • Vol. Pemantauan. 2007 . terutama untuk menjamin terlaksananya program kegiatan RANHAM sesuai dengan yang telah direncanakan. dan Maluku Utara). upaya pembentukan dan penguatan kelembagaan RANHAM merupakan satu prasyarat utama yang harus dipenuhi demi menghasilkan laporan pelaksanaan dan perkembangan HAM di Indonesia. (a) Pengumpulan data dan informasi yang akurat. Sulawesi Tengah. Oleh karena itu. (b) Pengorganisasian data dimaksud serta mekanisme pelaporannya. objektif dan dapat dipertanggung jawabkan. Paling tidak pemerintah mempunyai ikatan moral dan ikatan hukum untuk menerapkan kewajibankewajiban dalam Kovenan tersebut ke dalam hukum nasional. mengatur pembatasan-pembatasannya demi kepentingan umum. Ambon. dipandang perlu untuk mengembangkan suatu mekanisme yang tepat untuk melakukan kegiatan pemantauan. evaluasi dan pelaporan merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dari seluruh rangkaian kegiatan RANHAM. Hak asasi ini menjadi dasar hak dan kewajiban yang lain. 4 • Th. dengan tujuan terciptanya perdamaian yang abadi. Sebagai konsekuensi dari telah diratifikasinya instrumen hak asasi manusia internasional. Evaluasi dan Pelaporan Pemantauan. berarti Pemerintah Republik Indonesia telah terikat secara hukum untuk menerima kewajiban membuat laporan penerapan norma dan standar Hak Asasi Manusia yang terkandung dalam instrumen hak asasi manusia internasional yang telah diratifikasi tersebut kepada badan PBB yang terkait.(d) Pelaksanaan Focus Group Discussion di beberapa daerah pasca konflik (Kalimantan Barat.

Makarim. Jakarta. 2003. S.al. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Darmodihardjo. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 40 tahun 2004 tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Indonesia Tahun 2004-2004. DPR-RI dan Yayasan Kesehatan Perempuan. Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak-hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. 9-13. 2004. 11 Juli 2006. 2001. Jurnal Legislasi Indonesia. Konsep dan Implikasinya dalam Perspektif Hukum dan Masyarakat. 2005. JURNAL HAM • Vol.. Pengantar Hukum Internasional. Sinar Grafika. Kumpulan Makalah dan Tanggapan Fraksifraksi DPR-RI Mengenai Perubahan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992. et. Human Rights in Asia. Darji dan Shidarta. Bambang Iriana Djajaatmaja. Jakarta. Diterbitkan atas kerjasama Forum Parlemen Indonesia dan Kependudukan Pembangunan. PT Refika Aditama.G. Jakarta. Wibisono. Harmonisasi dan Sinkronisasi Rancangan Undang-undang dalam Rangka Pemantapan dan Pembulatan Konsepsi. Jakarta. 11 Juli 2006. Pokok-pokok Filsafat Hukum: Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Meneropong Hak Atas Pendidikan dan Layanan Kesehatan: Analisis Situasi di Tiga Kabupaten : Indramayu. Juwana.H. Firdaus. Januari 2005. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan-International Covenant on Economic. 2000. Social. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Jakarta. Jakarta. 2 No. Wibowo. 4 • Th. 2004. Social and Cultural Rights Activism: A Training Resource. edisi kesepuluh. Oka. 3. (terj. Jakarta. Forum Asia. Department of Foreign Affairs and Trade. Australia. Starke. Hakekat. Hikmahanto. Seminar “Memperkuat Sinergi Antar Pemangku Kepentingan Perlindungan HAM Pekerja Migran Perempuan Indonesia”. 123–134. Mahendra. 1998. Sikka dan Jayapura.). Annual Human Rights Report 2000. 2007 21 . Forum Asia. Harry. Vol. PT Gramedia Pustaka Utama. J. dan Budaya). Human Rights Manual. Hak Asasi Manusia. Economic.. Implikasi Pengaturan HAM Dalam UUD terhadap Ius Constituendum.A. 2006. Anharudin. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik). Naning. CESDA-LP3ES. Circle of Rights. and Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. Seminar “Memperkuat Sinergi Antar Pemangku Kepentingan Perlindungan HAM Pekerja Migran Perempuan Indonesia”. Sosial.DAFTAR PUSTAKA Bahan Rapat Kerja Komisi III DPR-RI Dengan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI Tanggal 12 Juni 2006. hal. A. September 2005. Mardiniah. Departemen Hukum dan HAM Republik Indonesia. Bandung. hal. Konvensi Pekerja Migran: Perlukah Indonesia Meratifikasi?.

Indonesia are legally binding to implement all state parties obligation as contained in the Covenant. Sosial dan Budaya – selanjutnya dalam tulisan ini disingkat dengan Kovenan Hak Ekosob – dan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik. akan dipaparkan “kelirumologi” 3 sesat pendapat berkaitan dengan ketentuan dan implentasi Kovenan Hak Ekosob. termasuk indikator keberhasilan dan kekagalan. dibahas juga mekanisme pelaksanaan obligasi negara berdasarkan klausula Kovenan Hak Ekosob. violation of the obligation. ditandai dengan persetujuan bersama antara DPR dan Pemerintah pada 30 September 2005. Dalam sidang Paripurna. Social and Cultural Rights dan International Covenant on Civil and Political Rights. Patra M. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengesahkan UU No. Bagian ketiga. It’s formulated into 4 section. Dibagian ini akan dicakup rumpun obligasi pokok Negara dan secara khusus membahas obligasi negara berdasarkan Pasal 2 ayat (1) Kovenan Hak Ekosob. 4 • Th. pembahasan akan difokuskan pada obligasi Negara pasca ratifikasi Kovenan Ekosob. explain definition and mean of State obligation. Dibagian ini. bagian kedua. Tentu saja pengesahan tersebut. khususnya berkaitan dengan tema “realisasi bertahap” (“progresif realization”) dan “sumber daya” (“resources”). Ratifikasi terhadap the bill of human rights ini membangkitkan harapan baru bagi lahirnya tindakan yang lebih nyata bagi pemajuan penghormatan dan perlindungan hak asasi manusia di negeri ini. Pembuka Babak baru itu. 11 dan No. * Kedua penulis saat ini bekerja di Yayasan Lembaga Batuan Hukum Indonesia JURNAL HAM • Vol. 12 tentang Pengesahan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. 2007 22 . yang dapat digunakan untuk menilai pelaksanaan obligasi Negara. dibacakan hasil sidang untuk meratifikasi piagam hak asasi manusia: International Covenant on Economic. kemudian.Bukan Sekedar Menandatangani: Obligasi Negara Berdasarkan Kovenan Hak Ekosob A. Di bagian pertama. pada 28 Oktober 2005. dimuat tema “pelanggaran hak ekosob”. Selanjutnya. Selanjutnya. including its indicators. Zen dan Andik Hardiyanto* Abstract After incorporation of International Covenant on Economic. terdapat obligasi (kewajiban) internasional yang melekat pada Negara pasca meratifikasi kedua kovenan tersebut. and. Social and Cultural Rights by Law No. monitoring procedure and mechanism based on the Covenant. dilakukan dengan sadar. Artikel ini disusun kedalam 4 bagian. Dalam tulisan ini. akan dideskripsikan dan dianalisis obligasi (kewajiban) Negara berdasarkan ketentuanketentuan dalam Kovenan Ekosob. This article describes and analyzes as well as shows example and practical illustration regarding State’s obligation. 11/2005.

agama. 4: The right to adequate housing (art. paling tidak ada 3 kesalahan dan sesat pandang yang berkaitan dengan implementasi hak ekosob. merupakan catatan penutup.3. Semua pemenuhan hak ekosob membutuhkan biaya Ilustrasi ini dapat dijadikan contoh: jika pemerintah daerah (Pemda) belum mampu untuk memberikan fasilitas perumahan yang layak dalam bentuk apapun. dipaku untuk tonggak upaya mewujudkan keadilan sosial dan kebebasan masyarakat. Baru-baru ini Pemda DKI Jakarta dan Pemda Bandung sibuk mencari wilayah untuk tempat pembuatan akhir sampah-sampah penduduk kota.2. sebagaimana menjadi obligasi Negara berdasarkan Pasal 11 Kovenan maka Pemda jangan melakukan penggusuran!1 Tidak melakukan penggusuran paksa merupakan sebuah praktik yang tidak membutuhkan dana. tanpa mencarikan solusi agar mereka mendapatkan tempat untuk bernaung? A. A. yakni: menghancurkan hak-hak dan kebebasan-kebebasan yang diakui dan melakukan pembatasan-pembatasan melebihi prinsip yang diperbolehkan Kovenan. Keliru Pandang Ketentuan dalam Kovenan Hak-Ekosob Meminjam istilah “kelirumologi”-nya Djaya Suprana. JURNAL HAM • Vol. memuat harapan: peristiwa peratifikasian Kovenan Hak Ekosob. warna kulit. termasuk memastikan persamaan laki-laki dan perempuan menikmati semua hak-hak ekosob yang dijamin dalam Pasal 3 Kovenan. kekayaan atau lainnya. Karenanya. Sixth session (1991). Tidak dikenal implementasi prinsip non-diskriminasi secara bertahap. 11 (1) of the Covenant): Forced Evictions. A. Seluruh prinsip dan pemenuhan Hak Ekosob dipenuhi secara bertahap (progressive realization) Prinsip non-diskriminasi merupakan sebuah prinsip yang secara otomatis menjadi kewajiban negara dalam pemenuhannya. Artinya. bahasa. 13 and 18. 8 (a). obligasi dalam Pasal 5 Kovenan juga dapat dipenuhi oleh Negara secara seketika. Negara dalam hal ini dapat mengimplementasikan obligasinya dengan seketika.Di bagian akhir. Semua pemenuhan hak ekosob mesti menunggu sumber daya yang berlimpah Komite Hak Ekosob pernah menyatakan dalam pemenuhan hak ekosob. pemerintah memberikan perhatian dan mencarikan tempat untuk sampah. pemenuhannya dilakukan secara seketika. A. paras. seluruh sumber daya yang ada harus 1 Lihat juga CESCR. General Comment No. General Comment No. Obligasi Negara dalam konteks ini adalah pernyataan “komitmen” dan “kemauan baik”. politik atau pendapat lainnya. 2007 23 . Sixteenth session (1997). Obligasi Negara dalam Pasal 2 ayat (2) Kovenan adalah menjamin hak-hak dalam Kovenan Hak Ekosob dilaksanakan tanpa diskriminasi apa pun seperti ras. 11(1) of the Covenant).1. yang tidak mengenal “setengah komitmen” atau “komitmen setengah-setengah” melainkan “komitmen penuh” untuk menjamin prinsip non-diskriminasi. Selain obligasi dalam Pasal 2 ayat (2) tersebut. Lihat juga secara khusus CESCR. 4 • Th. sebaliknya apakah masyarakat miskin kota lebih hina dari sampah. asal-usul kebangsaan atau status sosial. jenis kelamin. 7: The right to adequate housing (art. sehingga pemerintah daerah hanya main gusur.

246. juga membebaskan pajak bumi dan bangunan (PBB) bagi lahan sawah.25 8. dengan menjalankan proyek pengolahan air mineral dari air laut.000. 1). Social and Cultural Rights. utamanya hak anak-anak untuk mendapatkan akses pendidikan dasar: menurunkan angka drop-out pelajar (lihat Tabel 2). (3) untuk mendukung hak atas pekerjaan.395 11. Dengan jumlah APBD dan PAD tersebut. Tabel 1 Jumlah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah serta Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Jembrana (2000 – 2004) Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 APBD PAD (dalam Rupiah) 66. Jaminan Kesehatan Jembrana (JKJ).551. Selain itu. Bupati I Gde Winarsa.2 Dalam konteks ini.4% 10. 24 . 2005: 5.digunakan dengan cara yang paling efektif (all existing resources must be devoted in the most effective way).599.. yakni: (1) menjadi pelopor perwujudan program pendidikan dasar yang diwajibkan dan cuma-cuma (compulsory and free of charge). di kabupaten ini.555. 16 (Rev.157. sebagaimana contoh-contoh tersebut.419 171. Fact Sheet No.9% Berkurang 44% Kematian Bayi 15.526. 2007 2 Lihat OHCHR. suka atau tidak. (2) memenuhi hak kesehatan masyarakat: menyediakan dan memfasilitasi pelayanan kesehatan gratis melalui program.000 lahir 45% hidup) Tingkat kegagalan 0. tercatat sebagai pimpinan daerah yang mendapat pengakuan rekognisi publik.634 9. pada dasarnya telah memenuhi obligasi yang dinyatakan dalam Pasal 10 Kovenan – memberikan perlindungan dan fasilitas bantuan pada keluarga.785.609 193.08% 0.548 11.691 2.008 205.401.287. langsung dan tidak langsung: menghantarkan I Gde Winarsa mencapai rekor MURI baru: memperoleh prosentase suara terbanyak dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) pada 12 Oktober 2005.000 Tabel 2 Contoh Indikator Pemenuhan Hak-hak Ekosob di Kabupaten Jembrana Indikator Keluarga Miskin Tahun Perubahan 2001 2002 19. utamanya hak atas pendidikan dan kesehatan. (3) dalam skala tertentu berupaya menyediakan air bersih.286 5. Sumber: Dharma Santika Putra dan Nanoq da Kansas. paling baik untuk mencontoh apa yang dilakukan I Gde Winarsa. I Gde Winarsa. tetapi mampu menjalankan core-obligation dalam pemenuhan hak-hak ekosob. 2004: 218. 4 • Th. Implementasi obligasi pemerintah dalam memenuhi hak ekosob.56 JURNAL HAM • Vol.688.39 Berkurang (per 1.540.703.911. mencapai 88.02% Berkurang menyelesaikan 75% sekolah (drop-out) Sekolah Dasar Sumber: Diolah dari Yayasan TIFA.749 131.224.956.562.055. Bupati Jembrana: sebuah kabaputen yang “tidak gemuk” PADnya (lihat tabel 1). seperti mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI).147.500. Juga perwujudan obligasi yang ditentukan oleh Pasal 13 Kovenan. The Com- mittee on Economic.

namun mesti merujuk pada naskah asli dan sumber-sumber yang diakui. Obligasi Negara Berdasarkan Ketentuan Kovenan Hak Ekosob Dengan pengikatan Indonesia sebagai Negara Pihak Kovenan Hak Ekosob. Kovenan Hak Ekosob disusun. yang pada prinsipnya memperbolehkan komersialisasi air untuk keuntungan orang seorang dan badan usaha privat. 15: The right to water (arts. maka penafsiran pasal-pasal dalam Kovenan. “Cara Mudah Menjadi Kepala Daerah: Dari Komitmen Pemenuhan Hak Ekosob Rakyat”. yang bisa dicapai manusia. General Comment No. termasuk DPR dan Pemerintah. CESCR. Fifth Session (1990).5 Karenanya. Bandar Lampung. 10. UU No.4 DPR dan Pemerintah tidak dapat semena-mena menafsirkan hak atas air sebagai “water rights” a la Bank Dunia (World Bank) atau penafsiran yang dianut UU No. akan dieksaminasi dan diperiksa apakah negara yang bersangkutan telah melakukan segala upaya menggunakan segala sumber daya untuk melakukan obligasi pokoknya dalam pemenuhan hak ekosob. MURI mencatat rekor: I Gde Winarsa dan Ratna Ani Lestari sebagai pasangan suami-isteri (Pasutri) pertama yang menjadi Kepala Daerah. lihat antara lain A. Untuk tujuan tersebut. Zen. seperti penjelasan yang diadopsi Komite Hak-hak Ekonomi Sosial dan Budaya (Komite Hak Ekosob) yang dibentuk berdasarkan ketentuan Kovenan. Dalam konteks ini. 5 Lihat UN doc. setinggi-tingginya dan semaksimal mungkin. 2. bukan sebaliknya malah Negara berkontribusi terhadap penurunan (degradasi) penikmatan hak ekosob warga-negaranya. lagi-lagi langsung dan tidak langsung menghantarkan Ratna Ani Lestari. 23-25 Februari 2006. of the Covenant). para. 2007 4 Lihat UN doc. CESCR. 3: The Nature of State parties’ obligations (art. yang mengizinkan hak guna pakai dan hak guna usaha atas air. Sebagai contoh berkaitan dengan “hak atas air” sebagai “hak asasi manusia”– sebagai elemen hak yang utama dalam Pasal 11 dan 12 Kovenan. maka penafsiran tentang isi kovenan ini tidak dapat “secara sewenang-wenang” diklaim oleh lembaga-lembaga Negara. Hal tersebut penting kembali diingatkan. right to water” sebagaimana dijabarkan dalam Komentar Umum (General Comment) Komite Ekosob No. jika terdapat perbedaan penafsiran terhadap terjemahannya dalam bahasa Indonesia. JURNAL HAM • Vol. Patra M. 25 . maka DPR dan Pemerintah. disiplin hukum internasional hak asasi manusia mengenalkan “minimum core obligation” atau obligasi pokok yang paling minimum yang harus dipatuhi dan diimplementasikan Negara. Disinilah kerangka kerja Negara mesti disusun agar meningkatkan penikmatan hak-hak ekosob semua orang. 7/2004 tentang Sumber Daya Air. 4 • Th. paper pada Pendidikan Kritis untuk Aktivis Partai Politik (Penegakan Demokrasi dan Pemenuhan Hak Ekosob).persen dari total suara yang sah. mesti merujuk pada pengertian – “the 3 Tentang hal tersebut. kerjasama LBH Bandar Lampung dan FES Jakarta. 11/ 2005. Penjelasan Pasal 1 ayat (2) dinyatakan. agar setiap orang dan kelompok masyarakat dapat menikmati semua katalog hak ekosob. 15 yang menjelaskan Pasal 11 dan 12 Kovenan. Selanjutnya. 11 and 12 of the Covenant).3 B. tidak lain dan tidak bukan untuk perlindungan dan pemenuhan hak. naskah yang berlaku adalah naskah asli dalam bahasa Inggris serta pernyataan (declaration) terhadap Pasal 1 Kovenan Hak Ekosob. Jika didalami. apakah terjadi pelanggaran obligasi Negara atau tidak. para. 1.Twenty-ninth session (2002). sebagai Bupati Banyuwangi. General Comment No.

para. 3. maka semestinya Negara mengakui semua mekanisme dan konsekwensi yang mesti ditanggung para pelaku pelanggaran hak ekosob. 4: The right to adequate housing (art. 8 Lihat UN doc. Mempraktikannya di Indonesia. 11. maka.10 b.. dinyatakan: “Article 14 …requires each State party which has not been able to secure compulsory primary education. 11 (1) of the Covenant).. Twentieth session (1999). 1. 1. “Justisiabilitas Hak-hak Ekonomi. Negara berkewajiban untuk menerima “the essential importance of international cooperation based on free consent”. 4 • Th. mesti mempertanggunjawabkannya dalam sistem hukum di Indonesia (justiciable). 11: Plans of action for primary education (art. Sixth session (1991). Promosi bukan saja dilakukan melalui penyebaran iklan layanan masyarakat 9 Ibid. para. Lima Layer Obligasi Pokok: Rumpun Obligasi yang Saling Berkait Atas jasa International Law Commission. a. Zen. Mengakui (to recognize) Klasifikasi obligasi Negara dalam mengakui bahwa hak ekosob merupakan hak asasi manusia.6 Ironis. Ge- dan menyediakan (to provide) – penikmatan hak-hak ekosob.8 Obligation of conduct.1. pejabat yang berkompeten dalam hal ini. CESCR.7 B. 14). to work out and adopt a detailed plan of action for the progressive implementation. termasuk aparat penegak hukum dan birokrasi mesti melakukan promosi hak-hak ekosob. 1 Oktober 2003. Dalam Komentar Umum Komite Ekosob No.Contoh dalam pemenuhan hak atas pendidikan dasar yang diwajibkan dan cuma-cuma sebagaimana dijamin dalam Pasal 14 Kovenan. anak-anak dari keluarga miskin tidak dapat menikmati pendidikan dasar. tidak dapat memasukan anak-anaknya ke sekolah karena mahalnya biaya pendidikan. pp. to be fixed in the plan. Sosial dan Budaya: Menarik Pengalaman Internasional.. Mempromosikan (to promote) Aparat Negara. within two years. 36-47. neral comment No. sebaliknya para anggota DPR dan DPRD malah menikmati studi banding yang menghabiskan bukan saja ratusan juga bahkan miliar rupiah setiap periode 5 tahun keanggotaan sebagai “wakil rakyat”. Sebagai contoh. General Comment No. 9. juga secara tegas dinyatakan dalam hal upaya-upaya bantuan teknis internasional. CESCR. paras. Lihat juga A. menghormati (to respect). JURNAL HAM • Vol. within a reasonable number of years.9 Obligasi Negara dalam hal mengakui prinsip-prinsip pemenuhan hak ekosob. Op.. melindungi (to protect) dan memenuhi (to fulfill) – memfasilitasi (to facilitate) 6 Periksa juga CESCR. Misalnya: jika banyak keluarga miskin yang tidak dapat memperoleh akses terhadap pelayanan kesehatan. 7. semua upaya dan segala tindakan untuk menerima (to mempromosikan (to promote). Sehingga. disiplin hukum hak asasi manusia mengenal 2 bentuk obligasi Negara yang pokok berdasarkan Kovenan Hak Ekosob: obligations of conduct dan obligation of result. 19.” dalam Jurnal HAM (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia). seperti jika terjadi pelanggaran atau kejahatan hak-hak sipil politik.cit. merupakan obligasi atau kewajiban Negara untuk melakukan sesuatu. 10-11. free of charge. 2007 26 . to undertake. 1 No. of the principle of compulsory primary education free of charge for all”. Patra M. 10 UN doc. General Comment No. Vol. para. 7 Ibid.

dimungkinkan jika Negara mensosialisasikan rencana. antara lain lihat A. Partisipasi masyarakat semacam ini (full and meaningful participation). termasuk dalam hal Pelaporan yang dilakukan Negara Pihak. Dissertation for LL. 35/2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Untuk Kepentingan Umum. peraturan atau kebijakan “pembangunan” secara luas agar dapat diketahui dan dipahami oleh publik. Dalam klasifikasi ini. Tidak Dipublikasikan. CESCR. yakni memastikan adanya “legal security of tenure”. General Comment No.14 Dalam Perpres ini seharusnya dimuat jaminan reparasi (rehabilitasi. Keluarnya Peraturan Presiden (Perpres) No. 9. Sejumlah Kalangan Nilai yang Direvisi Tak Signifikan”. pengawasan dan distribusi manfaat atau hasil-hasil yang ingin dicapai oleh program pemenuhan hak ekosob. “Perpres tentang Pengadaan Tanah.13 keamanan hukum kepemilikan atas tanah. 26 September 2002. Suara Pembaruan. 2628. Lihat juga Kompas. 12 Lihat UN doc. 13 Lihat UN doc. 2007 LBH Indonesia. Menghormati (to respect) juan sukarela calon mempelai untuk melangsungkan perkawinan (Pasal 10 ayat (1) Kovenan).M in International Human Rights Law.12 c. Kompas. Negara wajib menghormati persetu11 Bahasan yang rinci tentang prinsip full and mean- Op. “Selesai. Obligasi penghormatan yang mesti dilakukan Negara. para. Program-program promosi atau seringkali disebut dengan sosialisasi mutlak wajib dilakukan. KSPA dan ELSAM. 14 Lihat antara lain Siaran Pers Bersama Yayasan ingful participation dalam proses pembangunan. lihat juga “What does the rights to participate mean”.cit. pada dasarnya bertentangan dengan obligasi Negara untuk melindungi hak atas tanah: karena tidak diatur dengan jelas mekanisme perlindungan bagi seseorang atau kelompok masyarakat yang tanahnya diambilalih. Walhi.. JURNAL HAM • Vol. Zen. paper diskusi pada “Development and Human Rights”. pelaksanaan. “Lebih Represif. 8(a). 6 Juni 2006. “A critical contextual human rights analysis of Kedung Ombo Large Dam Project in Indonesia”. 7 Juni 2006. Third session (1989). antara lain. maupun campur tangan langsung hak seseorang atau kelompok untuk membentuk serikat buruh/pekerja atas pilihannya sendiri atau melakukan pemogokan (Pasal 8 Kovenan) d. para. 4. 1: Reporting by States parties. Essex University. Contoh lain. Pembatasan hanya dapat dilakukan dengan maksud agar terpenuhinya hak-hak itu sendiri. h. Perpres Nomor 36/2005 Harus Dibatalkan”. telah menjadi perhatian yang pokok oleh Komite Hak Ekosob. University of Essex (2002). 36/2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Kompas.11 Pentingnya Negara dalam menjalankan obligasi promosi. Melindungi (to protect) Salah satu contoh yang paling prudent obligasi Negara untuk melindungi hak ekosob. Revisi Perpres Tanah. Hal ini agar dimungkinkan adanya partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan. 10 Mei 2005. “Pemerintahan SBY-Kalla Menunjukkan Watak Aslinya: Mendahulukan Kepentingan Pemilik Modal Daripada Kepentingan Masyarakat”. negara tidak melakukan tindakan yang justru membatasi sebagian atau seluruhnya hak-hak ekosob masyarakat. mempunyai makna. CESCR. General Comment No. 10 Mei 2005. 27 .tetapi juga melalui pelibatan masyarakat sipil secara aktif. restitusi dan kompensasi) bagi si pemilik tanah. “YLBHI Minta Revisi Perpres Diwaspadai”. 4 • Th. Patra M. 9 Mei 2005 tentang Penetapan Peraturan Presiden No. Negara tidak diperkenankan untuk melakukan intervensi baik melalui peraturan perundangan atau kebijakan. Pemerintah Dinilai Lebih Represif”.

4 • Th. Perlindungan. Memenuhi: memfasilitasi dan menyediakan (to fulfill: to facilitate and to provide) Obligasi untuk memenuhi hak asasi manusia secara inheren mempunyai makna Negara melakukan upaya untuk memfasilitasi dan menyediakan hak-hak ekosob setiap warga negaranya. sebagai obligasi Negara. e. Menyediakan dan memfasilitasi jaminan sosial termasuk asuransi sosial bagi setiap warga negara (Pasal 9 Kovenan).Contoh lain adalah memberikan perlindungan dalam bentuk peraturan perundang-undangan agar setiap orang dapat menikmati kondisi kerja yang adil dan menguntungkan. dan kegiatan ekonomi produktif (Pasal 6 Kovenan). serta menikmati istirahat. karenanya berhak mendapat cuti dengan upah/gaji dan jaminan sosial yang memadai. Dengan kerjasama internasional. Menyediakan dan memfasilitasi (akses) semua orang untuk menikmati manfaat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan penerapannya (Pasal 15 ayat (1) Kovenan). Menyediakan bantuan kepada keluarga untuk merawat dan mendidik anak-anak yang masih dalam tanggungannya (Pasal 10 Kovenan). Perwujudan obligasi Negara untuk pemenuhan hak ekosob. Negara menyediakan dan memfasilitasi (akses) atas pangan. “cuma” bayar buku. meminta Negara untuk melakukan perlindungan bagi anak-anak dan remaja dari semua bentuk eksploitasi ekonomi dan sosial. dan perbaikan kondisi hidup semua orang secara terus menerus (Pasal 11 Kovenan). kondisi kerja yang aman dan sehat. kesempatan memperoleh promosi ke jenjang yang lebih tinggi. juga dilakukan seperti memastikan setiap orang bebas dari kelaparan (Pasal 11 ayat (2) Kovenan) dan bebas untuk berpartisipasi dalam kehidupan budaya (Pasal 15 ayat (1) Kovenan). dan seterusnya pungutan yang membebani siswa dan orang tua murid. Sementara Pasal 10 ayat (3) Kovenan. program-program pelatihan. termasuk memastikan pekerja/buruh memperoleh upah yang adil. sebagaimana dimuat dalam Kovenan sebagai berikut: Menyediakan lapangan kerja dan memfasilitasi bimbingan teknis. Selanjutnya. “cuma” bayar SPP. 2007 . Menyediakan dan memfasilitasi (akses) atas standar kesehatan fisik dan mental setinggi-tingginya yang dapat dicapai (Pasal 12 Kovenan). Tidak seperti sekarang. liburan dan pembatasan kerja yang wajar dan hak-hak yang melekat didalamnya (Pasal 7 Kovenan). yang dapat menghidupi keluarganya secara layak. Menyediakan dan memfasilitasi (akses) atas pendidikan. termasuk memenuhi hak setiap orang menikmati pendidikan dasar yang wajib dan cuma-cuma (compulsory and free of charge) (Pasal 13 dan 14 Kovenan). sandang dan perumahan. Negara berdasarkan Pasal 10 ayat (2) Kovenan wajib memberikan perlindungan khusus kepada para ibu selama jangka waktu yang wajar sebelum dan sesudah melahirkan. 28 JURNAL HAM • Vol.

JURNAL HAM • Vol. para. Mengenal Lebih Dekat: Obligasi Negara Menurut Pasal 2 ayat (1) Kovenan Hak Ekosob Pasal 2 ayat (1) Kovenan Hak Ekosob menyatakan: “Setiap Negara Peserta Kovenan ini berupaya untuk mengambil langkahlangkah. Namun demikian. sejauh dimungkinkan oleh sumberdaya yang tersedia. Komite Hak Ekosob melalui Komentar No. berupaya mengambil langkahlangkah” sebagaimana tersebut dalam Pasal 2 (1) Kovenan Hak Ekosob. 3. para. namun langkahlangkah kearah itu harus diambil dalam waktu yang tidak lama setelah Kovenan berlaku bagi Negara Peserta bersangkutan. 3 telah menjelaskan bahwa. 4 • Th. dan dengan semua cara yang tepat. pencapaian secara bertahap demi realisasi sepenuhnya (achieving progressively the full realization). General Comment No.. khususnya dalam bidang ekonomi dan teknis. Pasal 2 ini menjelaskan sifat dari kewajiban yang umum ditempuh oleh Negara Peserta Kovenan. 4.. termasuk pada khususnya dengan mengadopsi langkah-langkah legislatif”. 17 Ibid.cit. sejauh dimungkinkan oleh sumberdaya yang tersedia (to the maximum available resources). memang biasanya ditafsirkan dengan kandungan arti implementasi Kovenan secara bertahap..B. para. susnya dengan mengadopsi langkah-langkah legislatif (by all appropriate means including particularly adoption of legislative measures)’ adalah bersifat unik dan tidak terdapat. nampak penting di sini untuk memahami arti dari istilah-istilah yang digunakan dalam Pasal 2 Kovenan untuk memahami bagaimana implementasi kewajiban Negara seharusnya dijalankan. Pasal 2 tersebut mengandung kepentingan khusus untuk mencapai pemahaman seutuhnya atas Kovenan dan harus dilihat dalam hubungannya yang dinamis dengan semua ketentuan Kovenan lainnya.17 Interpretasi Komite terhadap istilah ‘all appropriate measures’ jelas berkaitan baik dengan kewajiban melakukan 16 Ibid. Istilah-istilah seperti: berupaya mengambil langkah-langkah (undertakes to take steps). Selanjutnya Komite menegaskan bahwa. Penggunaan istilah “Setiap Negara Peserta. secara sendiri maupun melalui bantuan dan kerjasama internasional.. 2007 29 .. termasuk pada khu15 UN doc.”16 Langkah-langkah tersebut haruslah dilakukan secara terencana. Sosial dan Budaya (Komite Hak Ekosob).2. atau tidak digunakan dalam obligasi yang dimuat dalam Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik (Kovenan Hak Sipol). “…walaupun realisasi sepenuhnya atas hak-hak yang relevan bisa dicapai secara bertahap. konkrit dan diarahkan kepada sasaran-sasaran yang dirumuskan sejelas mungkin dalam rangka memenuhi kewajiban-kewajiban Kovenan. Op. yang mengarah pada pencapaian secara bertahap demi realisasi sepenuhnya dari hak-hak yang diakui dalam Kovenan ini dengan semua cara yang tepat. Menurut Komite Hak Ekonomi. 2. CESCR. laporan Negara Peserta harus menyebutkan tidak hanya langkah-langkah yang telah ditempuh namun juga alasan mengapa langkah-langkah tersebut dianggap sebagai paling tepat berikut situasisituasinya.15 Selain itu. 1.’ Komite Hak Ekosob mengakui bahwa negaralah yang harus memutuskan langkah-langkah yang tepat dan hal tersebut bergantung pada hak yang hendak diimplementasikan.

maka dapat dinyatakan Negara gagal menjalankan obligasinya berdasarkan Kovenan. Dalam kenyataan. maka harus dijalankan dengan pertimbangan yang sangat hati-hati. Komite mengakui pentingnya sumberdaya bagi pemenuhan hak-hak ini. Pada titik ini. anggota masyarakat yang rentan dapat dan memang harus mendapatkan perlindungan dengan diadopsinya programprogram yang dirancang relatif murah. Kini ratifikasi Kovenan Hak Ekosob memberi pemahaman mendasar bahwa peningkatan ekonomi haruslah secara nyata didasarkan pada penghormatan dan realisasi hak asasi manusia. 10.(obligations of conduct) maupun kewajiban hasil (obligation of result). Bahkan. Disinilah konteks gagasan kewajiban minimum (minimum core obligation) yang dikembangkan oleh Komite. tetapi tidak menganggap bahwa ketersediaan sumberdaya sebagai alasan untuk lepaskan kewajibannya. Jika hal itu pun terpaksa dilakukan dan terjadi. tak mempunyai tempat bernaung dan perumahan. 4 • Th. dalam kasus dimana sejumlah cukup signifikan rakyat hidup dalam kemiskinan dan kelaparan. 3 memberi ilustrasi yang sangat jelas untuk hal ini. maka Negara harus membuktikan bahwa kegagalannya memenuhi hak-hak orangorang ini memang diluar kendali. Sebagai contoh.18 Lebih jauh Komite menjelaskan bahwa sekalipun didapati kenyataan tidak cukupnya sumberdaya yang ada. Pasal 2 ayat (1) Kovenan. para. Komite sekali lagi memberi peringatan bahwa klausul realisasi secara progresif sepatutnya juga dicerminkan pada pelaksanaan kewajiban yang menjamin agar tidak terjadi perkembangan regresif atau kemunduran. dibutuhkan justifikasi penuh dengan mengacu pada inti hak yang ditentukan dalam Kovenan dan dalam konteks pemanfaatan sejauh mungkin atas sumberdaya yang ada. menderita kelaparan. Komite melihat bahwa setiap Negara Peserta mempunyai kewajiban minimum untuk memenuhi tingkat pemenuhan yang minimum dari setiap hak yang terdapat dalam Kovenan. jika terdapat penduduk secara massal. juga menegaskan tentang perlunya kerjasama dan bantuan internasional berkait dengan upaya realisasi hak. Suatu kebijakan ekonomi atau pembangunan memang untuk mencapai kesejahteraan warganegaranya. tidak memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan. pembelajaran dan ekspresi dari banyak Negara Peserta dalam mengimplementasikan kewajibannya telah mendorong pentingnya aplikasi pendekatan berbasis hak dalam “pembangunan”. Dalam kasus semacam ini.. Berdasarkan pengalaman Komite ketika membahas laporan Kanada menyatakan. 30 JURNAL HAM • Vol. Komentar Umum No. jika laporan difokuskan secara sempit pada aspek-aspek legal semata. pada saat terjadi keterbatasan sumberdaya yang akut. tetapi mereka tidak dapat dibuat menunggu pemenuhan hak-hak asasinya sampai klaim “pertumbuhan ekonomi” memungkinkan hal itu. kewajiban Negara tetap dijalankan untuk menjamin pemenuhan hak yang seluas-luasnya dalam kondisi yang sangat terbatas itu. maka kecurigaan biasanya akan muncul berkenaan dengan adanya kesenjangan antara peraturan perundang-undangan dengan praktik. Sementara itu berkait istilah ‘mengadopsi langkah-langkah legislatif’’(adoption of legislative measures) Komite memberi peringatan bahwa keberadaan hukum jelas penting tetapi hal tersebut belumlah cukup membuktikan Negara Peserta telah menjalankan kewajibannya sesuai Kovenan. 2007 . Komite menyatakan bahwa. Pada kenyataannya 18 Ibid. atau tidak menikmati pendidikan dasar.

GAPRI. JURNAL HAM • Vol. dan sementara itu sebagian besar penduduknya tetap dan jatuh miskin. 19 Andik Hardiyanto. Empat Pilar Demokrati- sasi Melawan Kemiskinan dan Pemiskinan.al. Komite menegaskan bahwa Negara mempunyai kewajiban minimum guna memenuhi realisasi setiap hak yang terdapat dalam Kovenan pada tingkat yang minimum.. kerjasama pembangunan internasional ditandai oleh berbagai perubahan cara pandang dan kebijakan yang merujuk pada pemahaman bahwa realisasi hak asasi manusia merupakan kunci untuk lepas dari situasi ini. atau tiada akses terhadap pendidikan dasar merupakan petunjuk awal bagi kegagalan Negara untuk memenuhi kewajiban sebagaimana diatur Kovenan. Dalam perkembangannya. kekurangan pelayanan kesehatan dasar. pada banyak Negara. tiada akses terhadap pemukiman dan perumahan yang layak. Pada suatu titik momentum ketika kelaparan dan kemiskinan menjadi musuh nomor satu dari semua Negara di dunia ini. Tetapi terpisahnya logika globalisasi ekonomi dengan kerangka kerja hak asasi manusia menjadikan harapan akan membaiknya situasi derita dunia menjadi pupus kembali. Pelanggaran Hak Ekosob: Indikator Keberhasilan dan Kegagalan Obligasi Negara Komite menegaskan bahwa Negara Peserta yang penduduknya dalam jumlah yang signifikan mengalami kekurangan bahan pangan.. Pemahaman ini didasarkan pada keberadaan gagasan kewajiban minimum (minimum core obligation) yang dikembangkan oleh Komite. Jakarta. bahwa pada akhirnya mereka menjadi sangat tergantung pada aliran dana luar negeri. Prinsip-prinsip ini memberikan kerangka dasar bagi pengembangan lebih lanjut atas berbagai asumsi dan konsep pelanggaran Hak Ekosob. et. terjebak pada hutang luar negeri yang sangat besar. 2005. Kegagalan untuk memenuhi kewajiban minimum dapat disebut sebagai pelanggaran terhadap hak yang termuat dalam Kovenan Hak Ekosob.1.19 C. penguatan konsep pelanggaran Hak Ekosob terus dilakukan oleh banyak ahli hukum hak asasi manusia internasional yang kemudian dituangkan dan dikenal sebagai Prinsip-Prinsip Limburg (the Limburg Principles).20 Tetapi yang penting dipahami di sini adalah bahwa kegagalan Negara Peserta untuk memenuhi kewajiban yang terkandung dalam Kovenan jelas merupakan pelanggaran terhadap Kovenan. untuk mendukung bantuan teknis dan pinjaman dana. dan Negara pengutang tidak berdaya karena situasi ketergantungan dan keterjebakan hutang yang dialaminya. 2007 31 . 4 • Th. yang biasanya menunjuk pada keterlibatan lembaga atau badan pembangunan multilateral dan keuangan internasional. Pelanggaran Hak dalam Kovenan Hak Ekosob dan Monitoring Obligasi Negara C. Dibutuhkan keterlibatan pihak ketiga.memang Negara Peserta mengalami kesulitan dalam melaksanakan kewajiban untuk melindungi dan memenuhi hak secara penuh. Kesulitan utama dari persoalan ini adalah operasional dari lembaga atau badan pembangunan multilateral dan keuangan internasional itu lepas dari kerangka kerja hak asasi manusia. Konsep kewajiban minimum diajukan oleh Komite untuk menyangkal alasan tidak adanya sumberdaya sebagai faktor yang mencegah pemenuhan kewajiban. Problemnya.

Jika belum maka. hak untuk mendirikan dan mengarahkan sekolah (Pasal 13 ayat (4) Kovenan). dalam situasi dan kondisi dimana Negara Peserta: (i) gagal mengambil langkah-langkah seperti yang disyaratkan dalam Kovenan. (vi) gagal menyampaikan laporan sebagai ditentukan dalam Kovenan. Komite jelas menolak pemahaman ini. 2. upah yang adil dan setara. annex. Untuk mengukur apakah Negara berhasil atau sebaliknya gagal dalam menjalankan obligasinya. (v) sengaja menghambat atau menghalangi realisasi bertahap atas hak-hak yang diakui dalam Kovenan. dihasilkan dalam sebuah pertemuan pakar hukum internasional di Maastricht. hak untuk membentuk serikat buruh dan hak mogok (Pasal 8 Kovenan). di sisi lain. seperti termuat dalam Kovenan Hak Ekosob. May 1987. dalam rangka pemeJURNAL HAM • Vol.4/1987/17. upah yang sama bagi pekerjaan yang sama antara laki-laki dan perempuan (Pasal 7 huruf (a) angka (i) Kovenan). kebebasan melakukan penelitian ilmu pengetahuan serta kegiatan kreatif (Pasal 15 ayat (3) Kovenan). p. hak orang tua untuk memilihkan sekolah bagi anak-anaknya guna menjamin pendidikan agama serta moral yang sesuai dengan keyakinan mereka (Pasal 13 ayat (3) Kovenan). pendidikan dasar (Pasal 13 angka (2) huruf (a) Kovenan). dan budaya merupakan wilayah eksekutif dengan berbagai kebijakan dan programnya. Human Rights Quarterly. 122. Komite menyatakan bahwa hak ekosob juga menjadi urusan pengadilan. Dengan begitu. maka pemahaman akan penegakan realisasi hak ekonomi. perlindungan anak dari eksploitasi ekonomi dan sosial (Pasal 10 ayat (3) Kovenan). Dapat juga ditemukan pada UN doc. seperti: non-diskriminasi dalam realisasi hak (Pasal 3 Kovenan). 4 • Th. No. 2007 the International Covenant on Economic. sosial. perlu dibuat blue-print untuk masing-masing pemenuhan hak ekosob. karena pengembangan konsep pelanggaran hak banyak difokuskan pada pemenuhan kewajiban. menurut Komite. penegakan hak-hak yang terkandung dalam Kovenan Hak Ekosob ini bisa ditangani oleh pihak yudikatif. dapat menggunakan kebijakan dan standard yang sudah ada. 32 . (iv) menerapkan pembatasan atas hak yang diakui dalam Kovenan dengan alasan-alasan yang tidak sesuai seperti yang disyaratkan Kovenan. 9. (ii) gagal menyingkirkan segera atas berbagai hambatan yang menghalangi realisasi hak secara penuh. Belanda pada Juni 1986. Vol. dapat dimaknai. Sementara itu. (iii) gagal untuk mengimplementasikan hak yang perlu segera direalisasikan. Komite Hak Ekosob melalui Ko20 The Limburg Principles on the Implementation of mentar Umum No.3 telah mengidentifikasi beberapa ketentuan Kovenan yang bisa ditangani segera oleh pihak yudikatif. atau lebih dikenal dengan Limburg Principles. E/CN.Pelanggaran terhadap Kovenan tersebut. yang dimuat dalam katalog hak Kovenan – utamanya dalam Bab III (Pasal 6 sampai dengan 15 Kovenan) Sebagai contoh. Social and Cultural Rights.

pakaian dan perumahan yang layak. pelaksanaan dan evaluasi semestinya dapat dimintai pertanggunjawaban secara politik dan hukum. menggantikan sebuah Kelompok Kerja (Working Group) yang dibentuk Dewan Ekonomi dan Sosial – Economic and Social Council (ECOSOC). Sosial dan Budaya (Kovenan Hak Ekosob). kebijakan ini merupakan bentuk pengakuan.21 SPNK dapat dikatakan berhasil antara lain jika peringkat Indonesia. Memeriksa. dokmen ini disusun dengan perspektif. 4 • Th.2. Komite ini terdiri dari 18 pakar independen yang bekerja untuk memeriksa (mengeksaminasi) laporan Negara Pihak dalam menjalankan obligasi (kewajiban) yang tercantum di Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. Komite Hak Ekosob mulai menjalankan fungsinya sebagai lembaga pengawas pada 1986. dokumen SNPK ini. fungsi utama Komite Ekosob. Walaupun “terlambat” lahir. Mekanisme Monitoring Pelaksanaan Obligasi Negara Selain memberikan penafsiran dan elaborasi terhadap pasal-pasal dalam Kovenan. dilakukan antara lain melalui pengawasan yang dilakukan Komite Hak Ekosob yang dibentuk berdasarkan Kovenan. pemerintah misalnya telah merumuskan kebijakan Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SPNK). yang memandang problem kemiskinan berkait langsung dengan tidak terpenuhinya hak-hak dasar. Selain itu. 21 Komite Penanggulangan Kemiskinan (KPK). Karenanya.nuhan hak setiap orang untuk menikmati standard hidup yang layak bagi dirinya dan keluarganya. melindungi dan memenuhi (memfasilitasi dan menyediakan) hak-hak ekosob masyarakat. Menariknya. karena dokumen ini kemudian dijadikan rujukan bagi penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009. SPNK juga memuat rekomendasi caracara penghapusan kemiskinan dan pencapaian tujuan Millenium Development Goals (MDGs) dengan mekanisme implementasi yang diadopsi oleh Kovenan Hak Ekosob. kualitas kehidupan seseorang sangat bergantung pada realisasi hak-hak asasinya. atau disebut dengan mekanisme berdasarkan perjanjian (treatybased mechanism). dapat dikatakan. Mekanisme monitoring implementasi ketentuan dalam Kovenan Hak Ekosob. di satu sisi. menghormati. Stra- dokumen SPNK mesti diletakan pada dokumen yang semestinya membawa implikasi bukan saja ekonomi. utamanya hak-hak ekosob. tegi Nasional Penanggulangan Kemiskinan. Para penanggungjawab dan aparat Negara yang terlibat dalam perencanaan. serta peningkatan kondisi kehidupan secara terusmenerus. dalam Human Development Index (HDI) naik dan terjadi peningkatan indikatorindikator kesejahteraan. Oktober 2005. tapi juga politik dan hukum. 2007 33 . dibandingkan “Komite Hak Asasi Manusia”. dan termasuk pula sebagai rujukan penyusunan Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD) dan RPJM Daerah JURNAL HAM • Vol. C. peristiwa kemiskinan adalah masalah hak asasi manusia. Dalam dokumen ini juga ditegaskan. Menjadi menarik di sini. dan di sisi lain adalah menjadi kewajiban Negara untuk melaksanakan realisasi hak-hak asasi itu sepenuhnya. melakukan pemantauan terhadap implementasi obligasi Negara Pihak dalam mempromosikan. termasuk ketercukupan pangan. Dokumen kebijakan ini menggunakan pendekatan berbasis hak untuk memahami kemiskinan dan mengembangkan upaya-upaya penanggulangannya.

22 Selain treaty-based mechanism tersebut.4/1987/17. Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB – United Nations Educational. Dialog yang terjadi antara Komite dengan perwakilan Negara dikembangkan. seperti Prinsip-prinsip Limburg (Limburg Principles). annex. 4 • Th. 2007 . dengan Mandat Tematik yang relevan dengan Hak-hak Ekosob (Per 1 Februari 2006) Nama/Mandat Dasar Pemberian Nama dan asal negara Mandat pemegang mandat Tahun Nomor Resolusi 2000 2000/9 Pelapor khusus untuk perumahan yang layak – sebagai komponen hak atas standar hidup yang tinggi Pelapor Khusus untuk hak atas pendidikan Pakar independen tentang masalah hak asasi manusia dan kemiskinan yang ekstrim Mr. Komite bekerja sama dengan Organisasi Pangan dan Pertanian – Food and Agriculture Organisation (FAO). dalam memeriksa laporan yang berkaitan dengan obligasi negara untuk memenuhi hak atas pangan. untuk selanjutnya Komite memberikan rekomendasi tentang hal-hal yang perlu dilakukan Negara selanjut- nya. Komite juga memperhatikan dokumen yang berkaitan dengan hak-hak ekosob. Contoh lain. Komite mengambil manfaat dan bekerjasama dengan para pakar yang bekerja pada Organisasi Pendidikan. Demikian juga kerjasama dengan Organisasi Buruh Internasional – International Labor Organisation (ILO) dalam kaitan dengan hak-hak buruh atau bekerjasama dengan UN Centre for Human Settlement (Habitat) berkaitan dengan hak setiap orang untuk menikmati perumahan yang layak. yang kemudian dikembangkan di Maastricht pada 1986. Miloon KOTHARI (India) 1998 1998 1998/33 1998/25 Vernor MUOZ VILLALOBOS (Kosta Rika) Arjun SENGUPTA (India) 34 JURNAL HAM • Vol. Dalam melaksanakan fungsinya. Scientific and Cultural Organisation (UNESCO).Dalam menjalankan fungsinya. 22 Lihat UN doc. Komite Hak Ekosob dalam menjalankan fungsinya juga mendengarkan pendapat dan masukan dari para pelapor khusus ini (lihat Tabel 3). Limburg Principles on the Implementation of the International Covenant on Economic. Dokumen ini dirumuskan dan disetujui oleh kelompok ahli dalam pertemuan hukum internasional di Maastricht Belanda. Komite dituntut selalu mengembangkan praktik kreatif untuk mendorong Negara Pihak benarbenar menjalankan kewajibannya. Tabel 3 Prosedur Khusus dibawah Komisi Hak Asasi Manusia. dalam memeriksa obligasi pemenuhan hak atas pendidikan. Social and Cultural Rights. seperti dinyatakan dalam Pasal 11 Kovenan. Komite bekerjasama dengan lembaga-lembaga khusus PBB yang lain. maka dimungkinkan juga pengawasan dilakukan berdasarkan nontreaty based seperti prosedur khusus (special procedure) dibawah Komisi Hak Asasi Manusia (Commission on Human Rights) – yang sekarang diganti oleh Dewan Hak Asasi Manusia (Human Rights Council). Sebagai contoh. Dalam hal ini. E/CN.

bahan bakar pemenuhan hak ekosob ini. Rodolfo STAVENHAGEN (Meksiko) Mr. Tanpa kehadiran atau absennya pilihan idelogi yang benar-benar hendak membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik: kesejateraan rakyat dan keadilan sosial. Paul HUNT (Selandia Baru) Mr. dapat dikatakan. JURNAL HAM • Vol. dimana Komite senantiasa meminta atau terbuka untuk menerima masukan dari organisasi-organisasi non-pemerintah ketika memeriksa laporan yang disampaikan Negara Pihak. Penutup: Preferensi Ideologi Kerakyatan. 2007 Begitu juga obligasi atau kewajiban dari Negara dalam pemenuhan hak ekosob. Walter K‰lin (Swis) 2004 1999 2005 2005 2004/55 (untuk 2 tahun) 1999/44 2005/79 (2 tahun) 2005/55 (untuk 3 tahun) 2000/82 Jorge A. partisipasi dan keterlibatan masyarakat dimungkinkan secara penuh. 4 • Th. jelas apa yang menjadi hak setiap warga negara. sa- 35 . D. DPR dan lembaga yudikatif. Namun. maka norma dan standar hak asasi manusia hanya menjadi tumpukan kertas tebal yang dibinding apik: sebagai bahan rujukan tanpa tindakan. Keadilan Sosial dan Kebebasan Masyarakat Secara normatif.Pelapor khusus untuk hak atas pangan Pelapor khusus tentang hak setiap orang menikmati standar fisik dan mental tertinggi yang dapat dicapai Pelapor khusus tentang situasi hak asasi manusia dan kebebasan fundamental penduduk asli/adat Perwakilan Sekretaris Jenderal untuk hak-hak asasi pengungsi didalam negeri Pelapor Khusus tentang hak-hak penduduk migran Pakar independen untuk isu-isu minoritas Pakar independen tentang hak asasi manusia dan solidaritas internasional Pakar independen untuk dampak pembaharuan kebijakan ekonomi dan utang luar negeri Pelapor khusus tentang dampak yang ditimbulkan pemindahan dan pembuangan produk dan limbah beracun dan berbahaya terhadap penikmatan hak asasi manusia Pelapor khusus tentang perdagangan manusia. BUSTAMANTE (Meksiko) Gay MCDOUGALL (Amerika Serikat) Rudi Muhammad RIZKI (Indonesia) Bernards Andrew NYAMWAYA MUDHO (Kenya) Okechukwu IBEANU (Nigeria) 2000 1995 Resolution 1995/81 2004 2005 2004/110 (untuk 3 tahun) 2005/69 (untuk 2 tahun) Sigma HUDA (Bangladesh) John Ruggie (Amerika Serikat) Penting untuk diingatkan lagi. berdasarkan Kovenan Hak Ekosob. khususnya perempuan dan anak Perwakilan khusus Sekretaris Jenderal tentang hak asasi manusia dan korporasi trans-nasional dan perusahaan bisnis lainnya 2000 2002 2001 2000/10 2002/31 (untuk 3 tahun) 2001/57 Jean ZIEGLER (Swis) Mr. politik dan hukum. tidak lain tidak bukan adalah ideologi yang mendasari orde ekonomi. Tidak hanya pemerintah yang tengah berkuasa.

. perlu dicatat. 36 – 47. Mudah-mudahan janin yang ada tak lama lagi lahir! Daftar Pustaka Peraturan Perundang-undangan UU No. UN docs. para anggota parlemen. Essex University. Bandar Lampung. 2200A (XXI). 26 September 2002. 11/2005 tentang Pengesahan International Covenant on Economic. —————. pp. Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SPNK). yang seharusnya menjadi obligasi Negara. Dissertation for LL.” dalam Jurnal HAM (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia). misalnya justeru malah melapangkan jalan bagi komersialisasi air dan mampetnya akses masyarakat terhadap sumber-sumber air. Entry into force 3 January 1976. —————. dan para hakim yang menyadari benar dan mampu menyelami suasan kebatinan dan tujuan berdirinya Republik ini. Putusan-putusan Mahkamah Konstitusi. Sebaliknya putusan Mahkamah Agung yang memenangkan pengujian Peraturan Daerah (Pemda) yang merubah status sejumlah rumah sakit umum daerah (RSUD) Jakarta – menjadi Perseroan Terbatas (PT) justru dapat dikatakan sebagai sebuah benteng terhadap komersialisasi pelayanan kesehatan. dinyatakan bahwa pertimbangan Indonesia menjadi Negara Pihak Kovenan Hak Ekosob karena “Indonesia adalah negara hukum dan sejak kelahirannya pada 1945 menjunjung tinggi HAM”. Zen. 2007 . Social and Cultural Rights. 1 Oktober 2003. “Justisiabilitas Hak-hak Ekonomi.. et. E/CN.. The Limburg Principles on the Implementation of the International Covenant on Economic. Artikel/paper A. Social and Cultural Rights. Social dan Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. —————. annex. 4 • Th. “Cara Mudah Menjadi Kepala Daerah: Dari Komitmen Pemenuhan Hak Ekosob Rakyat”. UU No. 23”– 25 Februari 2006. GAPRI: Jakarta. UN doc. 16 December 1966. 7/2004 tentang Sumber Daya Air Peraturan Presiden No. Putusan Mahkamah Konstitusi yang menolak permohonan pengujian UU No. antara lain: menentang imperialisme dan menyejahterakan semua rakyat Indonesia.4/1987/17. 7/2004 tentang Sumber Daya Air. paper diskusi pada”“Development and Human Rights”. 11/2005.M in International Human Rights Law. paper pada Pendidikan Kritis untuk Aktivis Partai Politik (Penegakan Demokrasi dan Pemenuhan Hak Ekosob). “A critical contextual human rights analysis of Kedung Ombo Large Dam Project in Indonesia”. Sosial dan Budaya). GA Res. 36 JURNAL HAM • Vol. University of Essex (2002). Andik Hardiyanto. Mempraktikannya di Indonesia.“What does the rights to participate mean”. in accordance with article 27. kerjasama LBH Bandar Lampung dan FES Jakarta. 35/2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Untuk Kepentingan Umum Kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009. Empat Pilar Demokratisasi Melawan Kemiskinan dan Pemiskinan. Sosial dan Budaya: Menarik Pengalaman Internasional. Patra M. atau putusan-putusan Mahkamah Agung juga membawa implikasi terhadap jaminan hak-hak ekosob. dalam UU No. Tidak Dipublikasikan —————. Tantangannya tidak lain: melahirkan kembali para pemimpin. International Covenant on Economic.al.lah satunya dapat membawa masalah tersendiri dalam upaya pemenuhan hak ekosob. 2005. Sebagai akhir. Vol. 1 No.

General Comment Committee on Economic. ————. 4: The right to adequate housing (art. 11 (1) of the Covenant): Forced Evictions. 10 Mei 2005. Nineteenth session (1998). Sixth session (1991). Kompas. Fact Sheet No. 2. 4 • Th. JURNAL HAM • Vol. ————. 9 Mei 2005 tentang Penetapan Peraturan Presiden No. 1990. General Comment No. The Committee on Economic. 36/ 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. General Comment No. ————. Sejumlah Kalangan Nilai yang Direvisi Tak Signifikan”. General Comment No. Revisi Perpres Tanah. para. General comment No. 9: the domestic application of the Covenant. “YLBHI Minta Revisi Perpres Diwaspadai”. Kompas. 10 Mei 2005. General Comment No. Walhi. ————. “Lebih Represif. 11 and 12 of the Covenant). 2007 37 . KSPA dan ELSAM. Sixteenth session (1997). Lainnya Siaran Pers Bersama Yayasan LBH Indonesia. “Pemerintahan SBY-Kalla Menunjukkan Watak Aslinya: Mendahulukan Kepentingan Pemilik Modal Daripada Kepentingan Masyarakat”. 1). 6 Juni 2006. ————. 1: Reporting by States parties. 15: The right to water (arts. Pemerintah Dinilai Lebih Represif”. “Selesai. 11: Plans of action for primary education. 7 Juni 2006. Suara Pembaruan. Fact sheet OHCHR. Fifth Session. Perpres Nomor 36/2005 Harus Dibatalkan”. 11 (1) of the Covenant). “Perpres tentang Pengadaan Tanah. Twenty-ninth session (2002). Social and Cultural Rights CESCR. ————. 7: The right to adequate housing (art. 16 (Rev. General Comment No. Kompas. Twentieth session (1999). General Comment 3: The Nature of States partie’s obligations (art. 1 of the Covenant). Social and Cultural Rights. Third session (1989).

orang tersebut akan menjadi manusia yang tidak normal lagi. Direktorat Jenderal Multilateral. Sosial dan Budaya yang diterima Majelis Umum PBB tahun 1966.KEWAJIBAN NEGARA DALAM ICCPR Jonny Sinaga* Abstract The ratification of the International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) has brought new obligations for the Government of the Republic of Indonesia. JURNAL HAM • Vol. Namun dalam perkembangannya terutama setelah memperoleh masukan dari berbagai lapisan masyarakat akhirnya kedua kovenan disepakati untuk diratifikasi pada tahun ketiga yakni tahun 2001. Jakarta 25 Juni 1998. a. 2007 38 . 1 The Indonesian National Plan of Action on Human Rights 1998-2003. Pembahasan mengenai HAM ini semakin mengemuka setelah berdirinya PBB tahun 1945 yang dilatarbelakangi kesadaran masyarakat internasional untuk menghentikan perang yang ternyata hanya menimbulkan penderitaan bagi umat manusia. Departemen Luar Negeri. Social and Cultural Rights (ICESCR) pada tahun pertama. the Indonesian Government is also expected to fulfill its reporting obligations to the Secretary General of the United Nations with regard to the implementation of the Covenant. Ketentuan dalam Deklarasi tersebut kemudian dituangkan dalam Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik dan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. Dalam RAN-HAM periode 2004-2009 kedua kovenan kembali dicantumkan sebagai * Penulis adalah Kepala Sub-Direktorat Hak Sipil dan Politik. In addition. Direktorat Organisasi Internasional. I. 4 • Th. Berdirinya PBB diharapkan akan dapat mengurangi penderitaan umat manusia melalui penghormatan harkat dan martabat manusia itu sendiri. Latar Belakang Ratifikasi ICCPR Gagasan pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) secara resmi dapat dilihat dari RAN-HAM 1998-2003 di mana disebutkan bahwa kovenan itu akan diratifikasi pada tahun ke-lima (2003)1 sedangkan International Covenant on Economic. Direktorat Hak Asasi Manusia dan Kemanusiaan. Direktorat Organisasi Internasional. Jakarta 25 June 1998. Tahun 1946 PBB membentuk sebuah Komisi khusus menangani upaya pemajuan dan perlindungan HAM dan tahun 1948 berhasil menyusun Deklarasi Universal HAM. The general obligation of the Indonesian Government is to take appropriate measures and to develop appropriate policies so as to give effects to the rights in the Covenant. Menurut catatan sejarah Perang Dunia II saja menelan korban 60 juta jiwa. These obligations consist of general obligation and specific obligation. Karena itu tidak mengherankan sedikitnya 7 ketentuan Piagam PBB yang menyangkut HAM dan kebebasan mendasar. Pendahuluan Hak asasi manusia adalah hak yang melekat pada seseorang dan kalau diambil.2 Namun hingga RAN-HAM pertama tersebut berakhir tahun 2003 ICCPR belum dapat diratifikasi. 2 Revisi The Indonesian National Plan of Action on Human Rights 1998-2003.

upaya menyusun sebuah kovenan tunggal HAM dimulai tetapi karena dominasi negara-negara tertentu di Komisi HAM.prioritas ratifikasi yang dijadwalkan diratifikasi tahun 2004. Initial edition 2005. 4 Resolusi Majelis Umum PBB No.5 Kedua kovenan tersebut baru pada tahun 1966 dapat disepakati oleh sidang Majelis Umum PBB. Kewajiban umum negara pihak Ketika suatu negara menjadi pihak pada perangkat HAM internasional. Departemen Hukum dan HAM. Kewa- 2009. 2200A (XXI) tanggal 16 Desember 1966. 6 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2005 Tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional Tentang Hak-hak Sipil dan Politik). Segera setelah Deklarasi Universal HAM diterima oleh Majelis Umum PBB tahun 1948.2006. JURNAL HAM • Vol. 2006. serta kewajiban khusus negara pihak untuk menyampaikan laporan kepada Sekjen PBB mengenai pelaksanaan kovenan. Diterbitkan oleh Departemen Luar Negeri. a. melindungi. b. 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik) tanggal 28 Oktober 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 nomor 119). TREATIES-6.6 Sesuai dengan penegasan Sekjen PBB ter3 Rencana Aksi Hak Asasi Manusia Indonesia 2004- tanggal 3 Maret 2006. dan memenuhi hak-hak asasi sebagaimana diatur dalam perangkat HAM internasional dimaksud. 8 Paragraf 4 pembukaan Kovenan. Depositary notification tanggal 3 Marte 2006. Direktorat Jenderal Perlindungan HAM. Pemerintah kemudian menyerahkan piagam pengesahan kepada Sekjen PBB tanggal 23 Februari 2006.8 II. Reference: C. Baik ratifikasi maupun aksesi mempunyai dampak hukum yang sama. 2007 7 Sesuai dengan pasal 49 (2) Kovenan Internasional Hak-hak Sipil dan Politik. Permanent Mission of the Republic of Indonesia to the United Nations. 9 Pengesahan mencakup dua hal yakni ratifikasi (mengesahkan dan ikut sebagai penanda-tangan) dan aksesi (mengesahkan tetapi tidak ikut sebagai penanda-tangan). maka terpaksa disusun dua kovenan. 206. 39 . New York. maka Pemerintahnya mempunyai tiga kewajiban yakni menghormati. 5 Indonesia and the United Nations: Working for Peace and Development. Kewajiban Negara Pihak pada ICCPR Dengan disahkannya9 ICCPR maka sudah barang tentu akan menimbulkan kewajiban baru bagi negara yang mengesahkan perangkat internasional tersebut.3 Sebagaimana dimaklumi Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (ICCPR) yang disahkan oleh Majelis Umum PBB tahun 19664 merupakan dokumen internasional penting yang mengikat secara hukum bagi negara-negara yang telah mengesahkannya.N.7 Negara-negara pihak pada ICCPR di dalam pertimbangannya menyatakan bahwa sesuai dengan Piagam PBB negara mempunyai kewajiban untuk memajukan penghargaan universal dan pengasawan hak dan kebebasan manusia. 4 • Th. Kovenan tersebut berlaku bagi Indonesia mulai tanggal 23 Mei 2006 yakni 3 bulan setelah Sekjen PBB menerima piagam pengesahannya. Kewajiban negara pihak ini dapat digolongkan ke dalam dua bagian yakni kewajiban berupa langkah atau kebijakan yang harus diambil Pemerintah guna menjamin pelaksanaan hak-hak yang ditur dalam kovenan. Berlakunya ICCPR bagi Indonesia Indonesia mengesahkan Kovenan tersebut melalui UU No.

unhchr. 2007 40 .11 Dengan demikian dapat dipahami bahwa hingga bulan Juni 2006 baru 156 negara12 yang mengesahkan kovenan dimaksud karena memang negara-negara yang mengesahkan tersebut akan mempunyai kewajiban baru sebagaimana disebutkan dalam Kovenan.19. Office of the High Commissioner for Human Rights.org/escr/handbook/. 12 http://www. terdiri dari enam bagian dan memuat 53 pasal. badan peradilan dan administratif. Dari ke-53 pasal tersebut terdapat beberapa ketentuan yang meminta negara pihak untuk menjamin hak-hak sipil dan politik warganya.ohchr.ch/html/menu6/2/fs19. Dalam kewajiban ini termasuk upaya untuk mendorong warga negara untuk menghormati HAM orang lain. daripada negara itu terburu-buru mengesahkannya padahal setelah disahkan sesungguhnya belum siap untuk melaksanakannya. dan mengatur sanksi terhadap pelanggaran yang dilakukan individu atau kelompok.htm. pembentukan komisi-komisi nasional. Dalam hal ini termasuk pembuatan peraturan. 13 Paragraf 5 Deklarasi Universal HAM Tahun 1948. langkah anggaran atau ekonomi. maka di dalam perkembangannya beberapa jaminan itu dikembangkan lagi di kemudian hari ke dalam beberapa konvensi baru. maka negara-negara itu biasanya akan memasukkan ketentuan-ketentuan di dalamnya ke dalam hukum domestik secara langsung. by Allan McChesney. 11 Fact Sheet No. Kewajiban melindungi hak asasi manusia berarti negara berkewajiban untuk melakukan tindakan tindakan guna mencegah pelanggaran HAM terhadap warga negara. DC. Sebagai contoh Deklarasi Universal HAM tahun 194813 yang sudah diter10 Disadur dari : Promoting and Defending Economic. Artinya negara tidak boleh melakukan tindakan yang bertentangan dengan hak-hak asasi manusia warganya. National Institutions for the Promotion and Protection of Human Rights. (http:// www. Tentunya akan lebih baik menunggu sampai suatu negara pihak siap melakukan isi suatu perangkat internasional.aaas. atau dengan cara lain sebagai pelaksanaan kewajiban yang diatur di dalam perangkat HAM dimaksud.htm).10 Menurut PBB. online: AAAS Huridocs: http://shr. published by AAAS and HURIDOCS. Dengan demikian. 2000 Washington. Karena ketentuan dalam ICCPR ini adalah ketentuan pokok. 4 • Th. ketika negara-negara mengesahkan suatu perangkat HAM internasional. JURNAL HAM • Vol. Hal ini tentunya sekaligus merupakan salah satu jawaban terhadap pertanyaan yang sering muncul di kalangan masyarakat yakni mengapa Indonesia baru mengesahkan kovenan penting dimaksud pada tahun 2005 padahal kovenannya sudah diterima tahun 1996 dan kovenan itu memuat berbagai ketentuan penting dalam upaya pemajuan dan pelindungan HAM. Kewajiban memenuhi hak asasi manusia berarti negara berkewajiban untuk mengambil tindakan guna mewujudkan pelaksanaan HAM secara penuh. standar dan noma HAM yang universal saat ini dapat dilihat dalam ketentuan hukum domestik hampir di seluruh negara-negara anggota PBB. Artinya selama ini Pemerintah Indonesia belum dalam keadaan siap untuk mengemban kewajiban baru yang timbul akibat pengesahasan kovenan dimaksud. Social and Cultural Rights: A Handbook. ICCPR yang mulai berlaku tanggal 23 Maret 1976 sesuai dengan pasal 49 ICCPR.org/english/countries/ratification/ 4. Chapter 2.jiban menghormati hak asasi manusia berarti negara berkewajiban untuk menahan diri dari tindakan yang mencampuri atau mengurangi pemenuhan hak-hak warga negaranya.

pandangan politik ataupun pandangan lainnya. 18 Pasal 7 ICCPR.18 pelarangan terhadap perbudakan. Madura. sehingga diperlukan suatu ketentuan yang bersifat mengikat secara hukum.16 Negara pihak juga diharapkan memberikan perlindungan atas hak untuk hidup. Pasal 16 DUHAM juga menyatakan bahwa wanita dewasa mempunyai hak yang sama untuk kawin dan membentuk keluarga. 15 Pasal 2 ICCPR.17 hak untuk tidak disiksa. Jawa. pelarangan peraturan perundang-undangan kriminal yang bersifat retroaktif.2106 (XX) tanggal 21 Desember 1965. Ketentuan yang berupada pernyataan dalam DUHAM tersebut kemudian diatur dalam Pasal 3 ICCPR yang mengikat secara hukum yang menjamin bahwa antara pria dan wanita tidak boleh dilakukan diskriminasi. 24 Pasal 14 ICPPR. warna kulit. 21 Pasal 10 ICCPR. 22 Pasal 11 ICCPR. termasuk apabila bercerai.20 perlakuan yang manusiawi.24 pelarangan campur tangan tanpa dasar hukum atas privasi. Namun pernyataan tersebut tidak mengikat secara hukum. suratmenyurat seseorang dan serangan 14 Pasal 1 ICCPR. rumah.15 Begitu pentingnya ketentuan ini sehingga pada tahun 1966 lahirlah Konvensi Penghapusan Diskriminasi Rasial Dalam Segala Bentuknya. 16 Diterima oleh Majelis Umum PBB melalui resolusi no. agama. 4 • Th.19 penangkapan dan penahanan yang sewenang-wenang. Sunda. 41 . namun ketentuan ICCPR tersebut ternyata oleh masyrakat internasional dianggap belum cukup memadai untuk menjamin tidak adanya diskriminasi tersebut. 23 Pasal 13 ICCPR. 2007 Selanjutnya negara pihak pada ICCPR mempunyai kewajiban untuk menghormati hak-hak asasi manusia sebagaimana diakui oleh Kovenan dan menjamin bahwa pelaksanaannya tidak akan diskriminatif baik berdasarkan ras.jemahkan ke dalam lebih 300 bahasa (termasuk bahasa Bali. Akhirnya pada tahun 1979 Majelis Umum PBB menerima Konvensi Penghapusan Diskriminasi Terhadap Wanita (CEDAW) yang memuat 30 pasal mengenai ketentuan yang menjamin hak-hak wanita. serta mempunyai hak yang sama di dalam perkawinan. keluarga. 20 Pasal 9 ICCPR. 17 Pasal 6 ICCPR. asal usul kebangsaan atau sosial. Sekalipun sudah mengikat secara hukum. melalui Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 34/180 tanggal 18 Desember 1979. Kewajiban lain bagi Pemerintah dengan mengesahkan ICCPR adalah menjamin agar semua bangsa berhak untuk menentukan nasibnya sendiri. hak milik.14 Pasal ini mempunyai arti yang sangat penting pada saat perumusan Kovenan tahun 1966. jenis kelamin.23 Di samping itu ICCPR memberikan kewajiban bagi negara pihak untuk menerapkan persamaan setiap orang di depan hukum. JURNAL HAM • Vol. bahasa. baik sewaktu perkawinan maupun setelah perkawinan. status kelahiran atau status lainnya. 19 Pasal 8 ICCPR.21 kebebasan bergerak dan kebebasan untuk memilih tempat tinggal. karena ketika itu banyak negara atau bangsa yang masih dijajah dan penjajahan nampaknya masih dianggap sesuatu yang lumrah.22 dan batasan-batasan untuk melakukan pengusiran orang-orang asing secara hukum dari negara pihak. dan Bahasa Indonesia) antara lain memuat deklarasi atau pernyataan yang menyatakan persamaan hak antara pria dan wanita.

32 Pasal 25 ICCPR.31 pengakuan terhadap hak dari setiap warga negara untuk mengambil bagian dalam pelayanan umum. Terdapat pemikiran di kalangan masyarakat hukum Indonesia bahwa dengan mengesahkan suatu perangkat hukum internasional seperti traktat. Hal ini akan menjadi tantangan bukan saja bagi Indonesia. 34 Pasal 27 ICCPR. kepada Sekjen PBB. 37 Pasal 28 ICCPR.ohchr. 30 Pasal 23 ICCPR. serta memilih dan dipilih.27 Selanjutnya ICCPR mengharapkan negara pihak untuk mengakui hak berkumpul secara damai. Komite b. Sedangkan Komisi HAM adalah badan PBB di bawah ECOSOC di bidang HAM yang terdiri dari 53 negara anggota. 25 Pasal 17 ICCPR.26 serta kebebasan berpendapat dan berekspresi. 2007 42 . JURNAL HAM • Vol. 36 Komite HAM berbeda dengan Komisi HAM.org/english/bodies/hrc/members.34 Jika Negara pihak pada ICCPR belum memiliki peraturan perundang-undangan atau kebijakan yang mengatur jaminan terhadap hak-hak tersebut. diketuai oleh Ms Christine Chanet (Perancis) yang masa keanggotaannya berakhir tanggal 31 Desember 2006. Sekjen PBB kemudian akan menyerahkan laporan tersebut kepada Komite Hak Asasi Manusia36 yang dibentuk para negara pihak untuk mengawasi pelaksanaan kovenan. 38 http://www. Setelah itu kewajiban pelaporan Negara pihak tergantung pada permintaan Komite. maka Negara dimaksud diwajibkan untuk membuat ketentuan atau kebijakan baru sehingga hak-hak yang ditaur dalam kovenan dapat dijamin atau dilindungi.29 hak pria dan wanita atau usia kawin untuk menikah dan mendirikan suatu keluarga dan prinsip persamaan atas hak-hak dan kewajiban pasangan suatu perkawinan juga diatur dalam bagian ini.30 Di samping itu ICCPR juga meletakkan landasan bagi perlindungan hakhak untuk anak-anak. 29 Pasal 22 ICCPR. Kewajiban Pelaporan Pelaksanaan ICCPR Salah satu kewajiban Pemerintah yang timbul akibat pengesahan ICCPR35 adalah kesediaan Pemerintah menyampaikan laporan pelaksanaannya HAM merupakan Komite yang dibentuk untuk mengawasi pelaksanaan ICCPR oleh negara-negara pihak pada ICCPR dan anggotanya merupakan individu-individu dalam kapasitas pribadi.33 serta perlindungan terhadap kelompok minoritas.25 perlindungan terhadap hak untuk kebebasan berpikir.32 Selanjutnya diatur agar semua orang mendapatkan perlakuan yang sama di depan hukum. 26 Pasal 18 ICCPR. 28 Pasal 21 ICCPR. tetapi bagi negara manapun yang telah meratifikasi kovenan dimaksud. 35 Pasal 40 ICCPR.28 hak kebebasan untuk bersekutu.htm. 31 Pasal 24 ICCPR.tanpa dasar hukum atas kehormatan dan reputasinya. Laporan Pendahuluan (initial report) pelaksanaan Kovenan sudah harus disampaikan kepada Sekjen PBB dalam kurun waktu satu tahun setelah Kovenan berlaku bagi negara pihak. Komisi HAM ini kemudian dibubarkan tanggal 16 Juni 2006 dan digantikan oleh Dewan HAM di bawah Majelis Umum PBB dengan 47 negara anggota.37 Tahun 2006 Komite HAM yang terdiri dari 18 anggota dalam kapasitas pribadi. hati nurani (conscience) dan agama.38 Sesuai dengan pasal 40 ICCPR. 27 Pasal 19 ICCPR. 33 Pasal 26 ICCPR. 4 • Th.

pemilihan pegawai. 43 .konvensi atau kovenan internasional. dan penetapan quorum. bagian ini juga memuat kewajiban Komite untuk memperoleh hasil penelitian atas laporan kepada Sekjen PBB dan tanggapan negara pihak atas laporan Komite tersebut. Yang lebih penting adalah bagaimana seoptimal mungkin menerapkan. Hal itu kemudian akan tercermin dalam kesimpulan Komite mengenai pelaksanaan kovenan di negara yang bersangkutan. 4 • Th. pembuatan anggaran rumah tangga. pengambilan sumpah. Pendapat semacam ini sesungguhnya dapat merugikan Negara pihak karena dapat dianggap tidak sungguh-sungguh atau tulus melaksanakan isi perangkat internasional. Terlepas dari kebenaran dua pandangan di atas. peradaban dan sistem hukum. Selanjutnya bagian ini memuat ketentuan tentang anggota-anggota Komite 39 Bagian IV (Pasal 28-47) ICCPR.39 Para anggotanya dipilih dari calon-calon negaranegara pihak dalam kapasitas pribadi. termasuk di dalamnya mengenai nominasi anggota. Bagian ini juga memuat berbagai ketentuan tentang Komite yang akan mengawasi pelaksanaan ICCPR. Bahkan bukan saja Komite akan menganggap negara pihak hanya menjadikan upaya pengesahan sebagai retorika saja. bukan berarti bahwa perangkat internasional tersebut sudah berlaku bagi Indonesia. pembentukan Komisi Konsiliasi (conciliation commission) oleh Komite. bahkan memanfaatkan perangkat tersebut untuk kepentingan masyarakat banyak. fasilitas. maka sesungguhnya ada atau tidaknya peraturan pemerintah sebagai pelaksana undang-undang dimaksud tidak merupakan masalah mengingat di dalam penyusunan laporan dimaksud tedapat ukuran atau patokan yang sangat rinci yang dibuat oleh Komite pengawas mengenai pelaksanaan perangkat internasional tersebut. Di samping itu. namun Komite akan melihat secara kritis apa yang dilakukan oleh negara pihak dan apa kekurangannya. Sebaiknya Indonesia tidak perlu mempertentangkan apakah perangkat internasional yang sudah disahkan sudah berlaku atau belum tanpa adanya JURNAL HAM • Vol. Bagian ini juga meminta negara pihak mendeklarasikan pengakuan kepada Komite untuk menerima pengaduan. 2007 peraturan pemerintah sebagai pelaksanaannya. tempat pertemuan. secara rahasia dan calon-calon negara pihak (dua tiap negara) berhak untuk dipilih kembali. Sebaliknya terdapat pandangan lain yang mengatakan bahwa kalau perangkat hukum internasional sudah disahkan melalui peraturan perundangundangan yang sah. maka perangkat internasional tersebut sudah berlaku. ICCPR juga memuat ketentuan-ketentuan mengenai pembentukan Komite Hak-hak Asasi Manusia. Proses pencalonan pemilihan calon dengan suara terbanyak oleh wakil-wakil negara-negara pihak didasarkan pada keseimbangan geografis. namun di dalam kenyataannya dengan adanya kewajiban negara pihak untuk menyampaikan laporan pelaksanaan perangkat internasional tersebut. masih diperlukan peraturan pemerintah untuk melaksanakannya. tetapi sekalipun negara pihak sudah berupaya optimal. serta kewajiban negara pihak untuk menyampaikan laporan pelaksanaan kovenan satu tahun setelah berlakunya kovenan di negara pihak.

Bahkan di masa Republik Indonesia Serikat (RIS) (27 Desember 1949-15 Agustus 1950) pengakuan dan penghormatan HAM sangat maju dengan dicantumkannya 35 pasal dalam konstitusi RIS dari keseluruhan 197 pasal. Dalam masa UndangUndang Dasar Sementara RI (UUDSRI). c. Surabaya 2006. Bahkan sejak 1966 hingga akhir Orde Baru bangsa Indonesia mengalami kemunduran dalam penikmatan HAM-nya di semua bidang yang diakui oleh UUD 1945. fasilitas. pidato pada Rapat Koordinasi Panitia RAN HAM Daerah Kawasan Timur Indonesia. 15 Agustus 1950-4 Juli 1959 bahkan lebih maju lagi dengan dicantumkannya 38 pasal dalam UUDS RI (dari keseluruhan 146 pasal. Makalah guna memenuhi permintaan Dewan Perwakilan Rakyat RI sehubungan dengan pembahasan dan pemilihan Calon Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia 11 Maret 2002. (http:/ /72. Penegakan Hak Asasi Manusia di Indonesia. Indonesia dan ICCPR Membicarakan latar belakang sejarah dan perkembangan HAM di Indonesia selalu tidak mudah.40 Awal-awal kehidupan bernegara sesungguhnya merupakan saatsaat penentuan sekaligus pelaksanaan hak-hak sipil dan politik di Indonesia. Segera setelah merdeka Indonesia dianggap negara yang menghormati HAM. Namun menjelang berdirinya Indonesia sebenarnya para pendiri bangsa telah melakukan perdebatan tentang HAM yang kemudian tercermin dari diterimanya beberapa pasal mengenai HAM dalam UUD 1945. Namun sejak berlakunya kembali UUD 1945 pada 5 Juli 1959 Indonesia mengalami kemunduran dalam penikmatan HAM-nya. dengan jiwa Deklarasi Umum HAM maupun ICCPR. ketentuan-ketentuan kovenan agar tidak dipisahkan dari Piagam PBB dan konstitusi badan-badan PBB lainnya.id/pls/portal/url/ITEM/ FCB23A753754E5BFE030010A3001576D+ komnas+ham+iccpr&hl=id&gl=id&ct=clnk&cd=4) JURNAL HAM • Vol. serta penjelasan mengenai keberadaan kovenan yang tidak boleh dipertentangkan dengan hak-hak rakyat untuk menikmati kekayaan alam mereka. Ketentuan untuk pelaksanaan kovenan tidak dipertentangkan dengan ketentuan-ketentuan HAM yang telah ada di dalam peraturan perundang-undangan. terutama setelah era reformasi tahun 1999. atau sekitar 26 persen). Pandangan Dunia Inter- nasional Terhadap Perkembangan HAM di Indonesia.komnasham.41 Barulah sejak era reformasi tahun 1997 penghormatan HAM di tanah ai semakin membaik. sosial. 2007 44 .dan Komisi Konsiliasi. atau sekitar 18 persen yang mengatur HAM. Hassan Wirajuda.104/search?q=cache:mEqseaJ3zCIJ:portal. Masyarakat Indonesia patut bersyukur bahwa para pendiri bangsa mampu mempunyai pemikiran yang luas dan jauh ke depan sehingga sejak kemerdekaan tahun 1945 telah meletakkan dan memikirkan hak-hak sipil dan politik warga negara Indonesia yang kiranya sejalan. Melihat berbagai kemajuan di Tanah Air di berbagai bidang kehidupan politik.203. ekonomi. 41 Dr Enny Soeprapto. N. laporan kegiatan tahunan Komite kepada Sidang Umum PBB. imunitas dan keistimewaan mereka sesuai dengan Konvensi mengenai keistimewaan dan imunitas PBB.go. 4 • Th. Karena itu banyak negara yang meminta dukungan Indonesia terhadap pencalonannya di Komite HAM yang pemilihannya hanya ditentukan oleh negara-ne40 Dr.14. dan budaya. Pelaksanaan HAM dalam sejarah Indonesia menunjukkan grafik naik turun. banyak negara yang menganggap bahwa Indonesia sudah sejak lama meratifikasi kedua kovenan tersebut. atau setidaknya tidak bertentangan.

Dengan menetapkan peraturan tersebut Indonesia semakin mengokohkan upaya pemajuan dan perlindungan HAM yakni dengan menjamin bahwa setiap pelaku pelanggaran HAM akan diajukan ke pengadilan khusus (Undang-undang No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM.42 Sebagaimana diketahui.org/template. Sesungguhnya perjuangan dan perlindungan HAM di Indonesia tidak pernah berubah. 42 Dalam Siaran Pers Freedom House New York tang- Gerakan reformasi yang dimulai tahun 1997 telah membangkitkan semangat bangsa Indonesia untuk melakukan koreksi terhadap sistem dan praktekpraktek masa lalu. HAM penting tersebut kemudian dipatrikan dalam kedua Kovenan ini pada tahun 1966 sebagai hak menentukan nasib sendiri (selfdetermination). 2007 45 .cfm?page=70&release=317). Indonesia dibangun berlandaskan pada penghormatan HAM. Namun hanya pelaksanaannya yang berbeda bahkan timbul kesan seolah-olah penghormatan HAM itu tidak penting bagi Indonesia. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM). Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat pada tanggal 28 September 1998 (melalui UU Nomor 5 Tahun 1998). Masih dalam semangat reformasi itu pula. Namun pandangan ini sebenarnya keliru karena upaya pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia sebenarnya telah dilaksanakan sejak Republik ini berdiri dengan dibangunnya landasan konstitusional UUD 1945 dan landasan idiil Pancasila.freedomhouse. Indonesia telah berjuang selama kurang lebih 350 tahun untuk melawan penjajahan atau memperjuangkan hak untuk merdeka yang kemudian diakui oleh PBB sebagai salah satu HAM penting. Indonesia mencanangkan Rencana Aksi Nasional di bidang HAM 1998-2003 (melalui Keppres No. 4 • Th. VII/MPR/1998). membuat mereka berpikir bahwa Indonesia pasti sudah menjadi pihak pada kedua kovenan sehingga mampu melaksanakan pemilu sedemokratis itu.gara yang sudah menjadi pihak pada kovenan tersebut. Sayangnya TAP MPR ini kemudian dicabut dan dianggap tidak berlaku karena materinya dianggap telah diatur dalam peraturan perundang-undangan khususnya Amandemen UUD 1945.” (http://www. Selain itu. Hal itu terjadi mungkin karena melihat sendiri berbagai contoh nyata yang sering dianggap sebagai pencerminan kedua kovenan tersebut di tanah air. Indonesia telah meratifikasi Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam. Komitmen Indonesia untuk pemajuan dan perlindungan HAM juga telah ditunjukkan melalui pengesahan beberapa Konvensi Internasional di bidang HAM lainnya seperti Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial pada gal 19 Desember 2005 status kebebasan pers Indonesia untuk tahun 2006 meningkat dari “sebagian bebas” menjadi “bebas. 129 tahun 1998). UU No 39 Tahun 1999 tentang HAM dan UU No. terutama untuk kembali menjunjung tinggi dan menegakkan penghormatan HAM sebagaimana telah diamanatkan MPR dalam ketetapannya tahun 1998 yang juga memuat Piagam HAM Indonesia (TAP MPR No. Termasuk ketika Indonesia sempat dianggap sebagai negara paling bebas di bidang pers di kawasan Asia. JURNAL HAM • Vol. Misalnya pelaksanaan pemilu yang demokratis khususnya tahun 2004 lalu.

2007 . UU No. Dengan demikian. maka Indonesia juga kiranya memiliki prasasti HAM nasional yakni UUD 1945. Sebuah Tim interdepartemen plus telah disiapkan sejak Februari 2006 dengan demikian diharapkan laporan dimaksud dapat disampaikan Pemerintah tepat pada waktunya. Dalam semangat ingin menerapkan ICCPR yang sudah menjadi bagian hukum nasional melalui UU No. 12 Mei 2006. 43 Media Indonesia. apabila masyarakat internasional mempunyai prasasti HAM internasional. 46 JURNAL HAM • Vol. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. khususnya Pemerintah. sekaligus peningkatan citra Indonesia di mata masyarakat internasional. 4 • Th. namun masih banyak yang perlu ditindak-lanjuti oleh seluruh pemangku kepentingan HAM di tanah air. Penutup Langkah yang diambil oleh Pemerintah dan DPR untuk mengesahkan ICCPR tahun 2005 kiranya sudah tepat dan pasti akan sangat bermanfaat bagi upaya pemajuan dan perlindungan HAM di tanah air. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia dan UU No. Namun keanggotaan Indonesia pada Dewan HAM ini juga membawa kewajiban bagi Pemerintah Indonesia untuk bersama-sama semua pemangku kepentingan (stakeholders) lainnya memperkuat upaya pemajuan dan perlindungan HAM di dalam negeri. Prasasti HAM nasional ini merupakan modal penting bagi generasi mendatang dalam upaya memajukan dan melindungi HAM bagi seluruh warga Indonesia. Pemerintah saat ini telah menyiapkan laporan pelaksanaan ICCPR dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan HAM di tanah air.43 Guna menindak-lanjuti pelaksanaan ICCPR yang sudah disahkan tahun 2005 tersebut kiranya seluruh aparat pemerintah. Hal yang tidak kalah penting dalam upaya pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia adalah perhatian khusus para anggota MPR untuk memasukkan pasal-pasal tambahan menyangkut HAM pada amendemen ke4 UUD 1945. termasuk langkah-langkah yang diambil Pemerintah seperti pengesahan konvensi HAM internasional. jaminan penghormatan HAM di Indonesia kini sudah sangat baik. Namun pengesahan ICCPR tersebut sekalipun merupakan langkah yang sangat penting dan telah melewati rintangan yang tidak ringan. III. 12 Tahun 2005. 29 tahun 1999).tanggal 25 Mei 1999 (melalui UndangUndang No. Sebagaimana dikemukakan oleh Menlu RI bahwa terpilihnya Indonesia dalam Dewan HAM tahun 2006 merupakan pengakuan internasional atas kemajuan demokrasi dan HAM di tanah air. Dengan demikian secara konstitusi dan peraturan perundangundangan. pengusaha dan lapisan masyarakat perlu melakukan upaya optimal agar mengetahui dan memahami serta menjamin pelaksanaan hak-hak sipil dan politik yang diatur dalam ICCPR tersebut.

Pidato pada Rapat Koordinasi Panitia RAN HAM Daerah Kawasan Timur Indonesia. published by AAAS and HURIDOCS. Jakarta 25 June 1998. The Indonesian National Plan of Action on Human Rights 1998-2003 (Revisi). Social and Cultural Rights: A Handbook. 12 Mei 2006. Direktorat Jenderal Perlindungan HAM. JURNAL HAM • Vol. Promoting and Defending Economic.org/template. Makalah guna memenuhi permintaan Dewan Perwakilan Rakyat RI sehubungan dengan pembahasan dan pemilihan Calon Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia 11 Maret 2002. 2006. online: AAAS Huridocs: http://shr. Hassan.go. New York.aaas. Permanent Mission of the Republic of Indonesia to the United Nations. Indonesia and the United Nations: Working for Peace and Development.(http://72. Wirajuda. Departemen Hukum dan HAM. Chapter 2. Penegakan Hak Asasi Manusia di Indonesia. 4 • Th. Rencana Aksi Hak Asasi Manusia Indonesia 2004-2009. Initial edition 2005.id/pls/portal/url/ITEM/ FCB23A753754E5BFE030010A3001 576D+ komnas+ham+iccpr&hl=id&gl=id&ct=clnk&cd=4) The Indonesian National Plan of Action on Human Rights 1998-2003. Soeprapto. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional Tentang Hak-hak Sipil dan Politik).unhchr. 104/search? q=cache:mEqseaJ3z CIJ: portal.14.203. DC. (http://www. Direktorat Organisasi Internasional. National Institutions for the Promotion and Protection of Human Rights.htm). Pandangan Dunia Internasional Terhadap Perkembangan HAM di Indonesia.freedomhouse. Media Indonesia. Surabaya 2006. 2200A (XXI) tanggal 16 Desember 1966. Siaran Pers Freedom House New York tanggal 19 Desember 2005 tentang status kebebasan pers Indonesia untuk tahun 2006 meningkat dari “sebagian bebas” menjadi “bebas”.DAFTAR PUSTAKA Fact Sheet No. 2000 Washington. Diterbitkan oleh Departemen Luar Negeri. N. Office of the High Commissioner for Human Rights.cfm? page=70 & release=317). Resolusi Majelis Umum PBB No.ch/html/menu6/ 2/fs19. komnasham.org/escr/ handbook/.19. Enny. Jakarta 25 Juni 1998. (http:/ /www. 2007 47 . by Allan McChesney. Direktorat Organisasi Internasional.

CAT (penyiksaan). Social and Cultural Rights – ICESCR) serta Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights – ICCPR) – pada 30 September 2005 melalui proses legislasi yang disetujui DPR. UU No. JURNAL HAM • Vol. dan CERD (penghapusan diskriminasi rasial). Dengan Reservasi pada Hak Menentukan Nasib Sendiri. karena Negara RI telah mengikatkan diri secara hukum. Ketiga. 12 dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 119 3. Negara Republik Indonesia (RI) telah meratifikasi dua perjanjian internasional tentang hak-hak manusia (human rights)1 – Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. Sabtu. In doing so. 1 Oktober 2005.4 Pertama. 3 Pengesahan ini ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Hamid Awaludin. Sosial dan Budaya (International Covenant on Economic. mengambil langkah-langkah dan kebijakan dalam melaksanakan kewajiban untuk menghormati (to respect). Despite of this progressive episode in the history of human rights development in Indonesia. the prospect of its implementation remains uncertain. Ratifikasi itu menimbulkan konsekuensi terhadap pelaksanaan hak-hak manusia. kewajiban untuk mengadopsi perjanjian yang telah diratifikasi ini ke dalam perundang-undangan baik yang dirancang maupun yang telah diberlakukan sebagai UU.PROSPEK DAN TANTANGAN IMPLEMENTASI ICCPR Hendardi Abstract Ratification of the International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) is considered as an important achievement of the human rights struggle in Indonesia.3 Selain menjadi bagian dari sistem hukum nasional. membuat laporan yang bertalian dengan penyesuaian hukum. ICESCR disahkan menjadi UU No. 1 Oktober 2005. 2 Lihat “Dua Kovenan HAM Diratifikasi. juga ada ikatan lainnya. kedua kovenan ini sekaligus melengkapi empat perjanjian pokok yang telah diratifikasi sebelumnya. 11/2005 dan ICCPR menjadi UU No. agar menghilangkan kesan seolah-olah ada hak-hak yang “tak asasi”. langkah-langkah. CRC (anak). yaitu CEDAW (penghapusan diskriminasi perempuan). 4 Ratifikasi adalah tingkatan paling kuat dalam perikatan yang dilakukan setiap negara. kebijakan dan tindakan yang dilakukan 1 Terjemahan yang tepat dari human rights adalah hak- hak manusia tanpa kata “asasi”. whereas the victims of human rights violations in this country still await for the settlement of their cases. yaitu terikat secara moral (deklarasi) dan secara politik (menandatangani). 11 tercantum dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 118 3 serta UU No. Sabtu.” Suara Pembaruan. 4 • Th. Selain mengikat secara hukum. The challenges faced by the Indonesian Government to comply with its international legal obligations has to be dealt with the continuity of legal reform and immediate realization of the provisions in ICCPR as well as the socialization of the Covenant itself.” Kompas. 12/2005. “Indonesia Ratifikasi Kovenan Hak-hak Sipil dan Politik.2 Pada 28 Oktober 2005. necessary infrastructure should be provided and further promotion of the Covenant should be advanced. 2007 48 . Kedua. melindungi (to protect) dan memenuhi (to fullfil) hak-hak manusia.

maupun hasil-hasil yang dicapai dalam implementasi perjanjian tersebut kepada badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) – disebut Komite – yang menangani perjanjian tersebut. “Konsekuensi Ratifikasi Konsekuensi ratifikasi ICCPR Kini persoalan hak-hak manusia di Indonesia telah memasuki tahap di mana kebutuhan untuk menerapkannya telah melampaui kepentingan untuk memperdebatkannya. partisipasi dalam politik. 1996. Pertama. 49 . tanggung jawab dalam implementasi hak-hak sipil dan politik – sebagaimana juga hak-hak ekonomi. 1. Hak negara hanya sesama negara-negara yang menjadi peserta – bukan hak negara atas individu. Dasar hukumnya adalah perjanjian internasional di mana negara-negaralah yang mengikat janji. No. “The Age of Rights. 8 Juni 2005. Judul ini sama seperti yang ditulis Norberto Bobbio. Bobbio mengandaikan masa kini memasuki zaman hak. sosial dan budaya – berada di pundak negara. Wilayah hukum yan lain. berserikat. serta penyiksaan. 12/2005 sebagai hak-hak sipil dan politik yang dijamin. berkumpul. Vol. wilayah relasi diletakkan antara individu (manusia) dan negara (state). 12/2005? ini yang bersifat mengikat secara hukum. Dengan begitu. Apakah terdapat hambatan dari aparat negara (state apparatus)? Apakah ada kemungkinan diambil langkah yang lebih maju untuk meratifikasi Protokol Opsional ICCPR? Setelah itu.5 Perihal yang akan dibahas dalam tulisan ini bertalian dengan hambatan atau tantangan atas pelaksanaan ICCPR di Indonesia. Dari janji inilah timbul kewajiban (obligation) pada negara-negara dan sekaligus tanggung jawab (responsibility) bertalian dengan pelaksanaan kewajiban.8 Di sinilah prinsip kewajiban negara (state obligation) diletakkan dengan beberapa konsekuensinya. Serangkain kontradiksi dalam realitas sosio-ekonomi dan sosio-politik yang sebelumnya hanya dibahas dan diprediksi secara akademis di lembaga-lembaga studi.7 Dalam konsep dan norma hak-hak manusia. Rabu.6 Setelah diratifikasinya ICCPR menjadi UU – perjanjian internasional yang diadopsi PBB pada 16 Desember 1966 dan mulai berlaku sejak 1976 – maka segera dengan itu ia menjadi ketentuan hukum yang berlaku di seluruh Indonesia. wilayah relasi hak (right) dan kewajiban (obligation) diletakkan dalam hubungan hukum antara individu sebagai pemegang hak dengan negara sebagai pengemban/pelaksana kewajiban. konflik pertanahan atau penghancuran rumahrumah penduduk dan pendidikan maupun kebebasan bergerak. memang terdapat pernyataan (declaration) 5 Hikmahanto Juwana. terlepas UUD 1945 (telah diamandemen empat kali) dan UU No. hukuman mati atau pembunuhan di luar proses hukum. Januari 1997. London: Cambridge University. kini telah meningkat menjadi kenyataan sosiologis yang keras dan kongkrit seperti yang dirasakan sebagian orang dalam kasus-kasus perselisihan perburuhan. 8 Relasi yang diletakkan berada dalam wilayah hukumnya adalah perjanjian internasional tentang hak-hak manusia (international law of human rights). 4 • Th. Hak-hak ini mencakup mulai dari hak untuk hidup (right to life) hingga hak untuk menikah dan membentuk keluarga ataupun hak kelompok minoritas. The Age of Rights.” Imparsial. 7 Dalam konsep dan norma hak-hak manusia.” Kompas. 2007 ICCPR. akan dibayangkan bagaimana prospek dalam pelaksanaan kewajiban negara untuk menghormati dan melindungi hak-hak sipil dan politik sebagaimana yang terkandung dalam ICCPR atau UU No. 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) maupun ratifikasi CAT dan ICERD dalam memajukan atau memperjuangkan posisi individu dengan hak-hak sipil dan politiknya di hadapan kekuasaan negara (state power) maupun orang lain. RI sendiri menjadi negara peserta (state party) dalam perjanjian JURNAL HAM • Vol. 2. setiap orang dapat berpegang pada UU No. 6 Lihat Rocky Gerung. tentu saja lain lagi relasinya seperti halnya Konvensi (Perjanjian) Geneva yang dikenal juga sebagai hukum kebiasaan perang (humaniter). Dalam ratifikasi ICCPR. berpendapat.

yang menihilkan Pasal 1 mengenai hak untuk menentukan nasib sendiri (right to self-determination) sebagai upaya mencegah disintegrasi dan sekaligus “senjata pemukul” bagi gerakan separatisme.9 Kedua, negara berkewajiban melindungi atau menjamin hak-hak sipil dan politik yang tercantum dalam ICCPR mulai dari hak-hak untuk hidup dan tidak disiksa hingga hak-hak kelompok minoritas dan orang yang dirampas kemerdekaannya karena suatu tindak pidana.10 Kewajiban ini pertama-tama bertalian dengan langkah yang harus dijalankan untuk melakukan pembenahan secara substansial dari segi perundang-undangan atau sistem hukum. Setiap rancangan UU harus disesuaikan atau merujuk pada ICCPR, sementara ketentuan-ketentuan hukum yang tak sesuai dengannya harus dibongkar atau direvisi. Dengan begitu, seharusnya tak ada lagi kandungan dalam ketentuan hukum yang bertentangan atau menyalahi ICCPR. Di sinilah arti penting transformasi ICCPR ke dalam hukum nasional. Ketiga, selain kewajiban negara dalam menyesuaikan perundang-undangan dengan ICCPR setelah meratifikasi, juga kewajiban dalam implementasinya. Negara RI beserta semua aparatnya diharapkan menunaikan kewajiban untuk menghormati dan melindungi hak-hak sipil dan politik tanpa diskriminasi. Negara menghormati hak-hak setiap orang tanpa melakukan campur tangan dengan berdasarkan atas ICCPR dan UUD (konstitusi). Campur tangan terbatas dapat dilakukan untuk melindungi hak setiap orang seperti mencegah tindakan sekelompok orang yang sewenangwenang dan menyeret orang yang diduga melakukan tindak pidana ke muka hukum. Mengenai pembatasan (limitation) atau pengekangan (restriction) hak-hak dan kebebasan – tergolong hak-hak dan kebebasan yang boleh ditangguhkan (derogable rights) – hanya dapat dilakukan dalam situasi atau

alasan tertentu berdasarkan UU. Keempat, ratifikasi juga menambah kewajiban pemerintah RI untuk melaporkan langkah-langkah, kebijakan dan tindakan yang dijalankan kepada Komite Hak Manusia PBB.11 Secara regular, pemerintah membuat laporan dalam periode empat tahun sekali. Isinya mencakup langkah-langkah dan kebijakan apa yang telah diambil, serta bagaimana hasil yang telah dicapai dalam pelaksanaan hak-hak sipil dan politik di Indonesia. Apakah terdapat kemajuan baik langkah yang telah diambil maupun pelaksanaan hak-hak sipil dan politik. Bisa saja yang terjadi adalah kemajuan dalam langkah-langkahnya, tapi lemah atau gagal dalam implementasinya. Dalam implementasi ini akan tampak apakah negara tidak mau (unwilling) atau tidak mampu (inability) menunaikan kewajibannya. Dalam hak-hak sipil dan politik, ada batas antara hak-hak yang tak dapat ditangguhkan (non-derogable rights) dengan hakhak yang dapat ditangguhkan. Yang termasuk dalam kategori hak-hak yang tidak dapat ditangguhkan adalah hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak untuk tidak diperbudak, hak atas kebebasan berpikir dan beragama serta berkeyakinan, hak untuk diperlakukan sama di muka hukum, hak untuk tidak dipenjara karena kegagalan memenuhi kewajiban kontraktual, serta hak untuk tidak dipidana berdasarkan hukum yang berlaku surut (retroactive).12 Mengenai implementasi antara
9 Lihat “Ratifikasi Dua Kovenan Internasional Dinilai

Setengah Hati,” Hukumonline.com, Kamis, 29 September 2005; “Ratifikasi 2 Kovenan HAM oleh RI Dianggap Masih Setengah Hati,” detikInet, Kamis , 29/09/2005 14:25 WIB. 10 Hikmahanto Juwana, Op. cit. 11 Hikmahanto Juwana, Ibid. 12 Harry Wibowo, “Hak-hak Manusia: Menjernihkan Berbagai Konsep Dasar,” makalah yang disampaikan dalam Pelatihan Investigasi yang diselenggarakan PBHI (Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia) pada 27-30 Desember 2005 di Megamendung Permai, Megamendung, Bogor. JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

50

Tabel 1: Hak-hak yang Dijamin dan Dilindungi UU No. 12/2005
No Pasal 1 Pasal 6 2 Pasal 7 Hak-hak Sipil dan Politik Hak untuk hidup (tidak dibunuh/dihukum mati setidaknya bagi anak di bawah 18 tahun) Hak untuk tidak disiksa, diperlakukan atau dihukum secara keji, tak manusiawi atau merendahkan martabat manusia (termasuk tidak diculik/dihilangkan secara paksa, diperkosa) Hak untuk tidak diperbudak (larangan segela bentuk perbudakan, perdagangan orang, dan kerja paksa,) Hak atas kebebasan dan keamanan pribadi (tidak ditangkap atau ditahan dengan sewenang-wenang, didasarkan pada ketentuan hukum acara pidana) Hak sebagai tersangka dan terdakwa (diperlakukan manusiawi, anak dipisahkan dari orang dewasa, sistem penjara bertujuan reformasi dan rehabilitasi) Hak untuk tidak dipenjara atas kegagalan memenuhi kewajiban kontraktual (utang atau perjanjian lainnya) Hak atas kebebasan bergerak dan berdomisili (termasuk meninggalkan dan kembali ke negerinya sendiri) Hak sebagai orang asing (dapat diusir hanya sesuai hukum atau alasan yang meyakinkan mengenai kepentingan keamanan nasional) Hak atas kedudukan yang sama di muka hukum (dibuktikan kesalahannya oleh pengadilan yang berwenang dan tidak memihak, jaminan minimal, dapat ditinjau kembali, tidak diadili dua kali dalam perkara yang sama) Hak untuk tidak dipidana berdasarkan hukum yang berlaku surut (jika keluar ketentuan hukum sebelum tindak pidana, si pelaku harus mendapatkan keringanannya) Hak sebagai subyek hukum (hak perdata setiap orang seperti kewarganegaraan) Hak pribadi (tidak dicampuri atau diganggu urusan pribadi seperti kerahasiaan, keluarga atau rumah tangga, kehormatan, surat-menyurat atau komunikasi pribadi) Hak atas kebebasan berpikir, beragama dan berkeyakinan (menganut ideologi atau orientasi politik, memeluk agama dan kepercayaan) Hak atas kebebasan berpendapat (termasuk mencari, menerima dan menyebarkan informasi, dalam bentuk karya seni/ekspresi atau melalui sarana lainnya) Hak untuk bebas dari propaganda perang dan hasutan rasial (kebencian atas dasar kebangsaan, ras, agama atau golongan) Hak atas kebebasan berkumpul (mengadakan pertemuan, arak-arakan atau keramaian)

3 4

Pasal 8 Pasal 9

5

Pasal 10

6 7 8 9

Pasal 11 Pasal 12 Pasal 13 Pasal 14

10 Pasal 15

11 Pasal 16 12 Pasal 17

13 Pasal 18 14 Pasal 19

15 Pasal 20 16 Pasal 21

JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

51

17 Pasal 22 18 Pasal 23 19 Pasal 24

20 Pasal 25 21 Pasal 26 22 Pasal 27

Hak atas kebebasan berserikat (bergabung dalam perkumpulan, partai politik atau serikat buruh) Hak untuk menikah dan membentuk keluarga (tidak dipaksa, termasuk tanggung jawab atas anak) Hak anak untuk mendapatkan perlindungan dan jaminan (setiap kelahiran anak didaftarkan dan memperoleh kewarganegaraan tanpa diskriminasi) Hak untuk berpartisipasi dalam politik (termasuk memilih, dipilih dan tidak memilih) Hak untuk bebas dari diskriminasi dalam hukum (semua orang dilindungi hukum tanpa diskriminasi) Hak kelompok minoritas (perlu mendapatkan perlindungan khusus) by omission).13 Jenis pelanggaran lainnya adalah tetap memberlakukan ketentuan hukum yang bertentangan dengan ICCPR yang disebut pelanggaran melalui hukum (violation by judicial).

kedua kategori hak-hak ini juga terdapat batas-batasnya, yaitu pada batas mana negara tak melakukan intervensi dan pada batas mana pula intervensi harus dilakukan. Negara tak melakukan intervensi dalam rangka menghormati hak-hak setiap orang, terutama hak-hak yang tak dapat ditangguhkan. Karena campur tangan negara justru mengakibatkan terjadinya pelanggaran atas hak-hak individu/kelompok. Sebaliknya, intervensi dapat dilakukan atas dua hal; pertama, dalam situasi atau alasan khusus untuk membatasi atau mengekang hak-hak atau kebebasan berdasarkan UU; kedua, dalam rangka untuk menegakkan hukum atau keadilan bagi korban tindak pidana. Karena itu, dalam menghormati dan melindungi hak-hak sipil dan politik, ada dua jenis pelanggaran yang bertalian dengan kewajiban negara. Pertama, seharusnya menghormati hak-hak manusia, tapi negara justru melakukan tindakan yang dilarang atau bertentangan ICCPR melalui campur tangannya dan disebut pelanggaran melalui tindakan (violation by action). Kedua, seharusnya aktif secara terbatas untuk melindungi hak-hak – melalui tindakannya – negara justru tak melakukan apa-apa baik karena lalai dan lupa maupun absent, disebut pelanggaran melalui pembiaran (violation

Tantangan Negara
Setelah ratifikasi ICCPR, membuat negara RI meningkatkan komitmennya karena telah terikat secara hukum. Segera dengan itu, negara menghadapi tantangan untuk menyiapkan beberapa langkah, dan langkah yang diambil bertalian dengan berbagai persoalan sebagai berikut. Pertama, negara harus melakukan reformasi hukum dengan menerjemahkan prinsip dan ketentuan yang terkandung dalam ICCPR ke dalam hukum nasional. Berbagai peraturan perundang-undangan yang tak sesuai dengan ICCPR haruslah dicabut dan direvisi.14 Begitu juga dengan RUU yang disiapkan seperti perdebatan sengit hingga pengerahan massa serta intimidasi dan teror bertalian RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi, haruslah selaras dengan ICCPR.15 Tantangan ini bukan saja terdapat sekitar 30 persen UU justru bertentangan dengan UUD 1945,16 tapi juga karena dalam menyusun RUU tanpa didasarkan pada kajian mendalam dan berimpit dengan kepentingan politik koalisi.17
JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

52

2007 Tolak RUU APP. Jumat. juga dilakukan untuk mendukung kebijakan pemerintah baru sehingga banyak UU di Indonesia cepat berubah atau direvisi. “30 Elemen Islam Malang Demo Dukung RUU APP. “RUU Pornografi Berpotensi Jadi Alat Pemerasan Baru. 9 Maret 2006. 15 Maret 2006.com. 15 Maret 2006.” Detikcom. Senin. 6 Maret 2006. konstitusi Menghormati K E WA J I B A N N E G A R A (-) Tanpa intervensi (omission) Sumber: Harry Wibowo. 100 Pendemo Cantik Tolak RUU APP. 8 Mei 2006. Rabu. Kebebasan/Hak Sosial (freedom/right for itself) Relatif: Dalam situasi dan alasan tertentu. 8 Maret 2006. Kamis. 27 Januari 2006 19:11:53. 28 April 2006 17:05.” Detikcom. 15 Hikmahanto Juwana. Syamsuddin Haris juga menambahkan. Minggu.ahrchk. “Draf RUU APP Adalah Buah dari Sebuah Kemunafikan. Senin. 2005 13 Harry Wibowo.” Detikcom. Aktivis dan Artis Diteror.” Kompas. “5000 Orang Akan Demonstrasi Tolak RUU Anti Pornografi. boleh dibatasi atau dikekang berdasarkan hukum (UU) Melalui: Konstitusi. “Dari 167 Lembaga Tamu Pansus. banyak UU tumpang tindih dan banyak yang hanya tambal sulam. MUI Akan Kumpulkan 1.” Detikcom.” Detikcom.” Detikcom. Kamis. 53 . cit. hampir 30 persen di antaranya berpotensi bertentangan dengan konstitusi.Tabel 2: Spektrum Hak Individu/Kelompok dan Kewajiban Negara HAK INDIVIDU/KELOMPOK Kebebasan Kebebasan Dasar/Hak yang Tak Dapat Ditangguhkan (freedom/right in itself) Mutlak: Tak boleh ditangguhkan (ditunda) maupun dibatasi atau dikekang.000 Ulama di Gontor.” Detikcom. Banyak yang Tumpang Tindih. Hongkong. “Aksi Seribu Tayub JURNAL HAM • Vol. 9 Februari 2006. “Peringati Hari Perempuan. 16 Februari 2006. 10 Mei 2006 | 13:04 WIB. “MMI: Jika Terus Menolak. Berbeda dengan di Belanda. Kamis. Jumat. Rabu. 10 Maret 2006. Jumat. Rabu. “Ratusan Mahasiswa Yogya Demo Tolak RUU APP. “MUI Sayangkan Adanya Penolakan RUU Anti Pornografi. Kamis. Kamis. Op. yang terus melakukan kajian mendalam jika hendak melakukan revisi atau membuat UU.or.” www. lihat juga “Bahas RUU APP. 4 • Th. Ibid.net.” Detikcom. dan “Gus Dur Siap Upayakan Amandemen Jika RUU APP Jadi UU. Jadikan Bali Daerah Khusus Pornografi. kebijakan. 12 Maret 2006. “DPR Pusing Pro Kontra RUU APP. Rabu.” Metrotvnews. “Menolak RUU APP. Senin.” Detikcom.” TEMPO Interaktif. 14 Lihat “Pernyataan Asian Human Rights Commis- sion: Ratifikasi Instrumen Utama Hak Manusia Harus Ditindaklanjuti dengan Reformasi Hukum. 8 Maret 2006. sistem peradilan dan pengadilan Melindungi Kebutuhan Berhak atas Kemauan/niat: Batas minimum tertentu. 16 Maret 2006. 16 Maret 2006.” www.” Detikcom.fpksdpr. 17 Lihat “Banyak UU Tanpa Kajian: Tidak Ada Desain Besar Legislasi Nasional. Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqqie melaporkan kepada DPR. selain banyak undang-undang lahir tanpa ada penelitian mendalam. dapat diundur pemenuhannya berdasarkan prioritas tapi direalisasikan secara bertahap Melalui: Perencanaan. 144 Setuju RUU APP. 16 Lihat “Hampir 30 Persen UU Bertentangan dengan Konstitusi.” Detikcom. 14 Maret 2006. UU. Rabu. Saldi Isra mengemukakan. “Hilman Rosyad Syihab.” Detikcom. 22 Mei 2006.” Detikcom. “Slamet Rahardjo: RUU APP Tempatkan Perempuan Seolah Hantu. Anggota Pansus RUU APP DPR FPKS: RUU APP Lindungi Kaum Perempuan. Rabu. 8 Maret 2006.id. dari 77 perkara peninjauan UU (PUU) yang berkenaan dengan 42 UU selama 2003-2006 yang ditangani MK.” Sinar Harapan. atau program atas sumber daya Memenuhi (+) Intervensi (commission) Melalui: Norma hak-hak manusia.

Lihat “RUU Pemerintahan Aceh: Diusulkan Polisi dan Jaksa Khusus Syariat. 4 • Th. 22 November 2003. Hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang dilakukan Syarif Hidayat dan Carunia Mulya Firdausy.” TEM- 20 21 22 23 24 PO Interaktif. Kamis. Tanpa pemahaman yang memadai bagi aparat penegak hukum. 4 Maret 2004. “Yusril Bantah Revisi KUHP Mengadopsi Syariat Islam. dari Desa Mengepung Kota. 30 Juni 2004. pada saat kolonial Belanda berkuasa. 7 Maret 2006.22 UU No. Op. Padahal. Senin. masih saja diberlakukan ketentuan TAP MPRS No. terungkap banyak anggota DPRD tidak berkemampuan memahami konsep otonomi daerah. Rabu.” Sinar Harapan. serta beberapa daerah kabupaten seperti Cianjur dan Tangerang. Di dalamnya berisi banyak pasal yang tidak jelas dan terbelakang.” Kompas. bahkan ada yang mengusulkannya dalam revisi KUHP. 1 Oktober 2003. Cit.” Cenderawasih Pos.18 Satu contoh saja. “Polisi Tembak Penjahat Kambuhan. Empat instrument yang perlu diadopsi adalah (a) Code of Conduct for Law Enforcement Officials. 22 Mei 2006.23 Beberapa provinsi dan kabupaten pun telah menerapkan pelaksanaan syariat Islam dalam Peraturan Daerah (Perda).” Kompas.” Kompas. 12 Mei 2006. termasuk yang bertalian dengan kekhawatiran mengenai kelemahan otonomi daerah atau otonomi khusus.24 Persoalannya adalah banyak langkah dan kebijakan yang tak konsekuen dari pemerintah dan aparat negara dalam implementasinya. XXV/1966 maupun pelarangan suatu ajaran (dikatakan sesat) dan pemidanaan atas orang yang menyebarkannya.19 Dalam penegakan hukum seharusnya ditekankan standar minimumnya.” Detikcom. yang berbeda dengan banyak kategori hakhak sipil dan politik. dibuat pada tahun 1918. Rabu. 6 April 2006. Kasus-kasus ini dapat diperhatikan mengenai penerapan Syariat Islam di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Hak atas kebebasan berpikir. Banyak terjadi praktik politik uang. Selasa. 19 Lihat “Polisi Tembak Mati Perampas Motor. (c) Principles for Protection of All Persons under Any Form of Detention for Imprisonment. terutama dalam penggunaan kekuatan dan senjata api. Akibatnya membabi buta. Rabu.” Sriwijaya Post Online. Senin. “Polisi Tembak Buronan LP Saat Mencoba Melarikan Diri dari Kejaran Petugas. beragama dan berkeyakinan sebagai kebebasan mutlak (freedom in itself). cit. Pemerintah pusat dicurigai memang tak mau mengeluarkan PP untuk menciptakan kondisi yang tidak jelas di daerah. sehingga banyak orang akan mengetahui apa saja hak-hak sipil dan politik yang seharusnya dinikmati. 54 JURNAL HAM • Vol. dan “Direktur ICIP Syafii Anwar: Perda Syariat Bisa Picu Disintegrasi.20 Di sinilah pentingnya ditempuh atau diambil langkah-langkah untuk meningkatkan profesionalisme melalui pendidikan dan pelatihan bagi polisi untuk melindungi hak-hak setiap orang yang dirampas kemerdekaannya karena suatu tindak pidana.” Detikcom. pemerintah ditantang pula untuk melakukan sosialisasi atas ICCPR yang telah diratifikasi. Persoalan yang dihadapi adalah bagaimana aparat penegak hukum (law enforcement officials) memahami berbagai peraturan perundang-undangannya. (b) Basic Principles on the Use of Force and Firearms by Law Enforcement Officials. Lihat “Pernyataan Asian Human Rights Commission:….21 Ketiga.Kedua. 8 Maret 2006. yang merupakan batu pertama dari seluruh sistem legal. Jumat. Kamis. Rabu. 2 Oktober 2003. dan “Polisi Tembak Buron Pelaku Curas. 12/2005 diberlakukan secara seragam di seluruh negeri dan diharapkan tak ada yang bertentangan dengannya. Lihat juga “Pemerintahan Daerah: 393 Perda Bermasalah Akan Dibatalkan. Kamis. Op. Lihat “Pelaksanaan Otonomi Daerah Kebablasan. “Perda Larangan Pelacuran Akan Diterapkan di Jakarta. 2007 . Sabtu. 24 April 2004.” Sinar Harapan. 22 Mei 2006: “Syariat Islam. setelah negara RI meratifikasi CAT (konvensi menentang penyiksaan).” Republika Online. dalam pelaksanaannya aparat kepolisian cenderung gagal memperlakukan seorang tersangka secara manusiawi. Sabtu. solusinya bagaimana meningkatkan kualitas elite penyelenggara pemerintah daerah. termasuk 18 Hikmahanto Juwana. “Komnas Perempuan Tolak Perda Tangerang Tentang Pelacuran. 25 Mei 2006 10:02:05.” Sinar Harapan. serta (d) Standard Minimum Rules for the Treatment of Prisoners. apalagi tesangka dilumpuhkan dengan menggunakan senjata api. implementasi berbagai peraturan perundang-undangan yang didasarkan pada ICCPR. Eksplorasi Perspektif Elite Penyelenggara Pemerintahan Daerah tentang Otonomi. “Syariat Islam dalam KUHP Bermuatan Politis. maka akan sulit dibayangkan efek ICCPR bagi setiap orang.” Sinar Harapan.

Sehingga nyaris tak diketahui umum yang bertalian dengan apa kemajuan yang dicapai. kelak pemerintah harus membuat laporan mengenai pelaksanaan hak-hak sipil dan politik yang disampaikan JURNAL HAM • Vol. 26 Hikmahanto Juwana. termasuk laporan mengenai pelaksanaan CAT dan ICERD yang telah menjadi UU. Kerap dijumpai aparat penegak hukum harus bekerja dengan infrastruktur pendukung hukum yang minim.28 Persoalan kelemahan ini menjadi tantangan bagi pemerintah dan aparat penegak hukum atau keamanan pasca-ratifikasi agar hak-hak sipil dan politik setiap orang terlindungi. 28 Lihat “Siaran Pers PBHI Jawa Barat tentang Pengusiran Gus Dur dan Intimidasi Kegiatan Forum Dialog Lintas Agama di Purwakarta. dan “Dialog Lintas Etnis Nyaris Rusuh: Gus dur Tuding Gerakan Ormas Islam Ada yang Mendanai. termasuk bagaimana seharusnya semua aparatur berperilaku yang dipertalikan dengan ICCPR tanpa kecuali pada lembaga-lembaga peradilan dan pengadilan. Impunitas telah menjadi penghalang yang serius bagi tegaknya 25 Lihat “SBY: Ahmadiyah Sudah Resmi Dilarang Pemerintah. 12/2005.27 bahkan ancaman atas kebebasan beragama dan berkeyakinan. 24 Mei 2006.” gusdur. seiring dengan telah diratifikasinya ICCPR. Tapi kenyataannya masih banyak kantong-kantong Ahmadiyah di daerah. Selasa. juga campur tangan aparat penegak hukum (polisi) untuk melindungi hak dan kebebasan setiap orang dari berbagai tindakan orang atau kelompok lain. tantangan untuk menyediakan infrastruktur pendukung bagi terlaksananya UU No. Syarikat Indonesia dan Komnas Perempuan – serta para peserta mengalami gangguan dan perlakuan yang sewenangwenang dari sekelompok oknum yang mengaku PAGAR (Persatuan Anti Gangguan Regional) dan PPM (Patriot Panca Marga) pada 20 Mei 2006. selain apa langkah-langkah yang telah diambil untuk meningkatkan penghormatan dan perlindungan hak-hak sipil dan politik. Belakangan ini adalah sering gagalnya aparat keamanan melindungi kebebasan berkumpul dan berpendapat. 16 Agustus 2005. Rabu. Panitia Penyelenggara” – INCRESS. Sejauh ini tak pernah diketahui umum atau sangat kurang disosialisasikan bagaimana sesungguhnya isi laporan pemerintah mengenai pelaksanaan setiap perjanjian internasional tentang hak-hak manusia yang telah diratifikasi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjelaskan. cit.26 Kebiasaan pemerintah tanpa menyediakan infrastruktur pendukung atas langkah-langkah implementasi hasil ratifikasi berbagai perjanjian hak-hak manusia dapat dipandang sebagai sikap tak mau (unwilling) atau abai untuk berbuat sesuatu.” Bandung. 23 Mei 2006. pada tingkat MUI dan kejaksaan sudah ada larangan terhadap kegiatan Ahmadiyah. 55 . Selasa. “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah. Op. tapi penting pula didesak untuk juga melakukan sosialisasi laporan-laporannya kepada warganya.” gusdur. peraturan perundang-undangan tidak tersedia bagi para hakim dan banyak lagi persoalan lainnya. Lihat juga. 22 Mei 2006. 23 Mei 2006.” Bandung. 27 Lihat “Pernyataan PBHI Jawa Barat: Protes atas Pembubaran Paksa Pertemuan di Wisma Brantas Bandung. Impunitas dan pelanggaran hak Bagi masyarakat Indonesia. “Gus Dur Hadapi Teror Gerombolan Islam Radikal. Kelima.” Pikiran Rakyat. lebih lanjut selain tantangan untuk memajukan praktek penghormatan dan perlindungan hak-hak sipil dan politik dengan meratifikasi Protokol Pilihan (Optional Protocol to the Covenant on Civil and Political Rights). 2007 pada Komite di PBB.net. Keenam. tantangan besar yang dihadapi adalah mata rantai impunitas (cycle of impunity) sebagai penghalang dalam menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran hak-hak. Penjara dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Selasa.net.dalam urusan hak atas kebebasan beragama dan berkeyakinan seperti kasus pelarangan Ahmadiyah. 4 • Th. 24 Mei 2006. sehingga terasa kurang berefek pada pelaksanaannya.25 Keempat.” Detikcom.

tapi pada intinya pengadilan HAM Ad Hoc untuk Timor Timur berlangsung dengan kegagalan untuk menghukum orang-orang yang terlibat dan bertanggungjawab dalam kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanity). Lebih dari itu mereka juga telah memilihnya 29 Lihat “Kerangka Acuan Perencanaan Strategis 30 31 32 33 34 35 Impunitas. 10 Mei 2006. 4 • Th. 56 JURNAL HAM • Vol. Martha Meijer. sipil.33 Salah satu kasus yang cukup menggegerkan adalah dugaan suap atas hakim agung yang menangani perkara penyelewengan dana reboisasi dengan terdakwa Probosutedjo. “Ruang Kerja Bagir Digeledah. 8 Oktober 2005. Hendardi. Lihat juga “Liku-liku Percaloan dan Mafia Peradilan di Indonesia.” Suara Pembaruan. Berkeley: International Center for Transitional Justice. Kamis. melainkan juga peradilan pidana. Intended to Fail: The Trial Before the Ad Hoc Human Rights Court in Jakarta. Rapim darurat digelar saat penggeledahan berlangsung. Cacat mendasar ini terjadi ketika Kejaksaan Agung mengambil alih penyelidikan setelah diterimanya laporan KPP HAM yang ditunjuk Komnas HAM. Selain Harini Wijoso. Kamis.keadilan. Kesalahan ini mungkin salah satunya terletak dari kegagalan para penyusunnya dalam memahami perbedaan antara hukum internasional tentang hak-hak manusia dan hukum humaniter internasional. Persoalan dengan impunitas bukan hanya pada proses peradilan HAM saja. Pengadilan hak-hak manusia. “Mafia Peradilan Di Mana-mana. 2006. 27 Oktober 2005 13:32.32 Kegagalan ini diikuti pula dengan perkara-perkara Tanjungpriok dan Abepura. Sabtu. Sikap ini menampakkan tak punya itikad untuk mendakwa kendati sejumlah hakim berusaha membuktikan adanya kejahatan. 2007 . sekurangkurangnya pada tingkat kawasan seperti Pengadilan Eropa tentang Hak-hak Manusia (European Court of Human Rights) dan Pengadilan AntarAmerika tentang Hak-hak Manusia (Inter-American Court of Human Rights) David Cohen.29 Secara harfiah. impunitas adalah ketidakmungkinan secara de facto atau de jure untuk membawa pelaku kejahatan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. 2 Februari 2006. Sejumlah jaksa telah bertindak di luar kebiasaan karena menuntut terdakwa bebas dari hukuman. 2004. 28 Oktober 2005.31 Terlepas dari kesalahannya memahami konsep hukum internasional.30 Negara RI memang aneh karena merupakan satu-satunya negara yang mendirikan dan mengoperasikan pengadilan hakhak manusia (human rights court) berdasarkan UU No. hal. baik dalam proses peradilan kriminal. Mereka dijuluki sebagai “mafia pe- radilan”. Bogor.” Waspada Online.35 tapi para pejabat MA – termasuk hakim agungnya – mengambil keputusan yang aneh dengan memperpanjang usia pensiun Bagir Manan. vii-ix. The Scope of Impunity in Indonesia (draft). Lihat “KPK Geledah Ruang Kerja Bagir Manan. 14 Februari 2006. Jumat.com. 13:29 WIB.” lokakarya yang diselenggarakan PBHI dan HOM pada 29-30 Mei 2006 di Cipayung.34 Kendati Probosutedjo telah memberikan keterangan dan Harini Wijoso pun disidangkan sebagai terdakwa. “Mafia Peradilan di Indonesia.” Suara Pembaruan. pengadilan dan apabila dianggap bersalah dikenakan hukuman yang sesuai norma hukum positif. impunitas dapat diartikan sebagai “bebas dari hukuman”. Ruang kerja Ketua Mahkamah Agung (MA) Bagir Manan digeledah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). “KPK Terlambat Geledah Ruang Ketua MA. juga Ketua Pengadilan Jakarta Pusat Cicut Sutiarso terkait kasus suap tersebut. Selasa. Senin. administratif. bahkan berlanjutnya pelanggaran hak-hak manusia.” Kompas Cyber Media.” Riau Pos Online. Dalam kerangka hukum internasional.” Kompas.” Republika. Jumat. Sistem peradilan di Indonesia dituding telah dikuasai sebagian mereka yang menjalankan tugas sebagai aparat penegak hukum dan pengadilan. dan “Konflik MA-KY Hanya Untungkan Mafia Peradilan. hal. 23 Januari 2006 22:30 WIB. Lihat “Majelis Hakim Masih Musyawarah Bahas Soal Bagir Manan. Rabu. 28 Oktober 2005. penahanan.” Gatra. 21-22. perbaikan kondisi. Utrecht: The Netherlands Humanist Committee on Human Rights. 26/2000. atau disipliner karena mereka tidak dapat diperiksa yang memungkinkan berlangsungnya penuntutan.

12 Oktober 2005. FUI (Forum Umat Islam) dan MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) menyegel Kantor Fahmina.” Rakyat Merdeka. 02 Mei. Kamis. Seminar Incres Dibubarkan. “FUI Wil.” Detikcom. Jumat.” wahidinstitute. 18 Mei 2006. Senin. Senin.40 Pengalaman buruk atas kebebasan berserikat ini juga pernah dialami sebelumnya ornop LAPAR (Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat) pada 22 Februari 2006 di Bulukumba. juga aparat Polres Bandung Tengah terlibat dalam membubarkan pertemuan. “Muladi: Perpanjangan Pensiun Bagir Manan Keliru. 02 Mei 2006.” Kompas Cyber Media. “Bagir Terpilih Kembali Sebagai Ketua MA.” Kompas. Selain ditempelkan tulisan “Kantor ini disegel. “Bagir Manan jadi ketua MA lagi. 2007 cun” dan “antek asing. dan “FPI Segel Fahmina Institute Cirebon. Lihat “Presiden Lantik Bagir Manan Jadi Ketua Mahkamah Agung. Sulawesi Selatan. “Bangkitkan Semangat “PKI”. 22 Mei 2006.” Rakyat Merdeka. 10 Maret 2006.” Republika Online. 23 Mei 2006.org. Fahmina dituduh merusak aqidah dan menjual ayat-ayat Al Quran dengan murah.” Kompas Cyber Media. 2006 . “Komnas Perempuan akan Minta Klarifikasi Kapolri. Polisi Bengong. Selain adanya dugaan kuat mengenai campur tangan aparat militer.” Media Indonesia Online.39 Kedua peristiwa ini dapat diduga sebagai pelanggaran hak atas kebebasan berkumpul dan berpendapat. Gangguan dan ancaman hak atas kebebasan berkumpul dan berpendapat maupun kebebasan berserikat dan beragama semakin nyata.” Antara News. 02 Mei 2006 11:15 WIB. Lihat “Komnas HAM Sesalkan Larangan Seminar. “Massa Bubarkan Pertemuan Perempuan Eks Napi PKI. Jumat. bahkan empat orang panitia dibawa dan diinterogasi ke markasnya. Kamis. 57 . Kegiatan mereka dibubarkan secara paksa oleh sekelompok oknum dari PAGAR (Persatuan Anti Gangguan Regional) dan PPM (Patriot Panca Marga). “Bagir Manan: Tak Ada Alasan untuk Mundur.” Fahmina menyayangkan aparat kepolisian lamban menangani kasus penyegelan itu.” Pikiran Rakyat. Selasa. Selasa. 22 Mei 2006.” Kompas. 26 Mei 2006.” juga tulisan “LSM raJURNAL HAM • Vol. Bagir Ditolak.38 Sebelumnya juga terjadi larangan seminar tentang Tuntutan Penutupan PT Freeport di Jayapura. 18 Mei 2006 14:52 WIB. 2 Juni 2006 | 13:05:43 WIB. Selasa. Jumat. 22 Mei 2006. Senin.” TEMPO Interaktif. Sabtu. 15:03 WIB.” BBCIndonesia. Lihat “Demonstran Dukung RUU APP di Cirebon Segel LSM Fahmina. Tolak Usulan untuk Nonaktif.com. Pertemuan yang diadakan INCReS (Institute for Culture and Religion Studies). Kamis. 12:09 WIB. 20 Mei 2006 22:31:32. Dianggap Tolak RUU APP. Halangan kebebasan berserikat juga menandai kasus yang menimpa Fahmina Institute di Cirebon. “Presiden Lantik Bagir Manan Sebagai Ketua MA.Published 13:11 GMT.” Suara Pembaruan. Kantor mereka diserbu puluhan oknum yang berasal dari PPSI (Pemuda Penegak Syariat Islam). 16 Mei 2006. dan “Bagir Terpilih.” Kompas. 04:18:30 WIB. dan “Kapolri Harus Klarifikasi Pembubaran Kegiatan Mantan Tapol PKI. Selasa. 22 Mei 2006 19:19:00. Komnas Perempuan dan Syarikat (Santri untuk Advokasi Masyarakat) Indonesia pada 20 Mei 2006 di Bandung telah menemui penghalangnya. 18:18:45 WIB.41 36 Lihat “Bagir Manan Perpanjang Usia Pensiun Diri- 37 38 39 40 41 nya: Disebutkan. 13 Oktober 2005.kembali sebagai Ketua MA tanpa melalui proses seleksi lagi. Menurut Ketua Dewan Kebijakan Fahmina KH Husein Muhammad.” KabarBaru.36 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono – melalui Keputusan Presiden No 17/P/2006 – pun melantik Ketua MA yang dipilih oleh hakim agung. “Bagir Manan Merasa Difitnah. Jumat. Cirebon Sesalkan Sikap LSM Fahmina. “Massa Segel Kantor LSM. Massa demonstran pendukung RUU APP yang beratribut FPI (Front Pembela Islam). Rabu. 20 Januari 2006. Jumat. Senin. Senin. 22 Mei 2006.37 Lainnya yang bertalian dengan persoalan impunitas adalah situasi yang menghalangi proses perlindungan dan perbaikan kondisi hak-hak manusia. Lihat “LSM Fahmina Diserbu Massa Pendukung RUU APP. 26 Mei 2006. “Bagir Manan Siap Pensiun Tahun 2008. 21 Mei 2006. Tunggakan Perkara di MA Masih Banyak.” Media Indonesia Online. Minggu. 4 • Th. Lihat “Diskusi Korban Kekerasan Perempuan Tahun 1965 Dibubarkan.” Riau Pos Online.” Media Indonesia Online. selain disertai dengan ancaman dan intimidasi atas panitia dan para peserta.” Tribun Jabar.

47 Selang enam hari.46 Fatwa ini berubah menjadi aksi kekerasan yang dilakukan ribuan orang yang mengaku dari LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) dan FPI pada Sabtu. MUI mengeluarkan fatwa yang menyatakan Ahmadiyah sebagai “aliran sesat”. Kasus paling hangat adalah aksi sejumlah oknum dari FPI.” Pikiran Rakyat. Kamis.” detikInet.” elshinta. 12:16:50 WIB. Kamis. “GP Ansor Minta Ormas Liar Dibubarkan.” Rakyat Merdeka. 2007 . Polisi Biarkan FPI Bertindak Anarkis.com. 26 Mei 2006. Kamis.” Pikiran Rakyat. Lihat “SBY-JK Didesak Bubarkan FPI. kampus ini kembali dikepung ribuan orang dari Masyarakat dan Umat Islam Parung 42 Lihat “Gus Dur Hadapi Teror Gerombolan Islam 43 44 45 46 47 Radikal.” gusdur. dan “Saat Pidato.” Rakyat Merdeka. Bogor.” Liputan6. Jumat.” Rakyat Merdeka. Minggu. 11:36:46 WIB. 29 Juli 2005 | 06:38 WIB. Dalam peristiwa ini bukan saja panitia dan peserta forum dialog merasa terganggu dan terteror. 24 Mei 2006. Sabtu. 23 Mei 2006. 26 Mei 2006. “Gus Dur vs Ormas Radikal: Polisi Minta Semua Pihak Menahan Diri.” gusdur. 26 Mei 2006. 26 Mei 2006. 24 Mei 2006. “Azyumardi Azra Menuntut Pengusir Gus Dur Diusut.com.” Rakyat Merdeka. “Pemerintah Dikritik Tak Tegas.” Rakyat Merdeka. “Disesalkan. 27 Mei 2006.” Liputan6. Haram Hukumnya Perdukunan dan Peramalan.com. Gus Dur Diserang Massa FPI dan HTI.” Media Indonesia Online.45 Sebelumnya juga banyak terjadi peristiwa yang telah mengancam kebebasan beragama dari berbagai ormas Islam.” Rakyat Merdeka.com. “FBR Gabung FPI Hadang NU. Buntut Acara Dialog Lintas Etnis dan Agama. Kamis.” Detikcom. Jum’at. 25 Mei 2006 01:54.net. Sejumlah oknum dari ormas Islam membuat kegaduhan dan masuk ke dalam ruangan acara untuk membubarkan forum.com. “Garda Bangsa Minta Habib Rizieq Ditangkap.” gusdur. “Sejumlah Ormas Islam Gelar Tabligh Akbar Dukung Fatwa MUI. Fatwa ini didukung sejumlah ormas dan partai Islam seperti PBB (Partai Bulan Bintang). 28 Juli 2005 20:26 WIB “Fatwa-fatwa Haram Ala MUI. Jumat. “13 Terdakwa Kasus Pengrusakan Kampus Mubarok Ahmadiyah Disidangkan di PN Cibinong Jabar. Senin. Ormas Islam Buat Pernyataan. Sabtu. Todung: Saya Protes Keras Terhadap FPI. 26 Mei 2006. Selasa. Kamis. Kampus ini juga mengalami kerusakan. karena menuduh JAI bertentangan dengan ajaran Islam.” gusdur. 4 • Th. Akibat bentrokan itu. 28/07/2005 20:11 WIB. 9 Juli 2005. “NU Tuntut FPI Minta Maaf. Jumat.” Jumat. Kamis. Jumat. Rabu. 26 Mei 2006. Selasa. 26 Mei 2006. Gus dur Tuding Gerakan Ormas Islam Ada yang Mendanai. 58 JURNAL HAM • Vol. MMI dan HTI pada 23 Mei 2006 di Purwakarta ketika diadakan acara Forum Dialog Lintas Agama di mana Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi keynote speaker.42 Peristiwa ini bukan saja mendapat reaksi dari basis-basis massa NU dan PKB. 26 Mei 2006.com.” Detikcom. “DPP PBB Dukung fatwa MUI Soal Ahmadiyah. Rabu. “MUI Tetapkan 11 Fatwa. “NU vs FPI: Polisi Barikade Jl KS Tubun. Jumat. Jumat. dan “Saat Mencoba Membubarkan Pertemuan di Kemang. Jawa Barat. 6 Maret 2006 13:05 WIB. Jumat. Kamis.43 tapi juga dari beberapa kalangan lainnya yang menyatakan “lawan preman berjubah”. Rabu. Jumat. 10 Juli 2005. 15:48:40 WIB.” Rakyat Merdeka.” elshinta. Lihat “MUI Kembali Fatwakan Ahmadiyah Sebagai Aliran Sesat.” TEMPO Interaktif.net.Tak hanya kebebasan berkumpul. Rabu.” Kompas.” Pikiran Rakyat. 17:24:23 WIB. Yang paling menderita adalah jamaah Ahmadiyah. Lihat “Massa Pencinta Gus Dur Berdemonstrasi. 25 Mei 2006 05:59. Sabtu.” Detikcom. 24 Mei 2006.44 Bahkan memunculkan desakan mereka untuk membubarkan beberapa ormas Islam radikal tersebut. Kamis. 25 Mei 2006. “Massa FPI-FBR Bersiap Menghadapi Serbuan Garda Bangsa. 25 Mei 2006 10:26.” Gatra.com. “Aliansi Masyarakat Anti-Kekerasan Luruk Markas FPI Besok Siang. “Pengusiran Gus Dur. Warga Bentrok dengan Pengikut Ahmadiyah. dan “Massa NU Akan Survei di Slipi Apa FPI Lakukan Syiar Agama. 13 Agustus 2005 19:04. tapi lebih dari itu ancaman serius atas kebebasan beragama pun merebak.” Suara Pembaruan.” Liputan6. Sebelumnya MUI Purwakarta dilaporkan melakukan intervensi. 25 Mei 2006. Lihat “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah. dan “Banteng Jakarta Dukung Gus Dur Hadapi FPI Cs. dan “Tuntut Milisi Sipil Dibubarkan. Massa LPPI dan FPI melempari arena pertemuan tahunan JAI. melainkan juga Gus Dur diperlakukan secara tak pantas. 23 Mei 2006. 26 Mei 2006.net. Jumat. 25 Mei 2006. sedikitnya delapan orang luka-luka terkena lemparan batu dan kayu. Massa ormas ini menyerang ribuan jamaah di Kampus Al-Mubarok di Parung. 31 Mei 2006.net. 10:03:13 WIB. 5 Agustus 2005 13:08 WIB Lihat “Dua Kelompok Massa Islam Bentrok. 9 Juli 2005 18:04. Aksi FPI Cs Meresahkan: Massa NU dan Prodemokrasi Demo ke Mabes Polri. 14:14:51 WIB. 19:16:05 WIB. WIB.” Liputan6. Aksi Kekerasan dan Perusakan Terus Dibiarkan. “Dialog Lintas Etnis Nyaris Rusuh.

05 Agustus 2005.com. Rabu. Sabtu.59 Mereka menjadi korban kesewenang-wenangan atau kezaliman. Lihat “GARIS Bertanggung Jawab Atas Serangan Perkampungan JAI. Jumat.net.49 Sejak peristiwa itu. Rabu.” ttp://islamlib.” detikInet. 24 Pebruari 2006.53 serta beberapa daerah lainnya terutama yang dialami jamaah Ahmadiyah di Bulukumba (Sulsel)54 dan Lombok Barat (NTB). 18 Februari 2006. Minggu.com. 26 April 2006 10:12 WIB.” Detikcom.” gusdur. “12 Pengrusak Masjid Ahmadiyah di Cianjur Dibekuk. September 2005. Kamis. Lihat “Ratusan Ulama Sukabumi Menolak Ahmadiyah.” http://www. “Sejumlah Sarana Ibadah Ahmadiyah di Kuningan Disegel. 2 Agustus 2005. 15/07/2005 17:57 WIB. “Gus Dur Meminta Masjid Milik Ahmadiyah Dibuka. 21 Juli 2005 18:54 WIB.” Koran Tempo.com.com.” elshinta.” detikInet.” detikInet. M. 21 Agustus 2005 16:17 WIB.52 Kuningan.net. Lihat “Pembakaran Rumah Jama’ah Ahmadiyah NTB. Lihat “Pemerintah Tetap Larang Ajaran Ahmadiyah. 17 Februari 2006. Sabtu.Bogor dan Jakarta. dan “Kejaksaan Telah Mendata Asetnya. “Jemaah Ahmadiyah Sambut Baik Keberadaan Satgas Garda Bangsa. “Jemaah Ahmadiyah Kuningan Bantah Ada Bentrokan. Jum’at. 30/07/2005 16:55 WIB.” Liputan6. Lihat “Teror: Belasan Rumah Ahmadiyah Dibakar.com. 21:12 WIB. 29 Juli 2005 20:00. Selasa.56 Pernyataan ini mungkin setelah keluar pernyataan Jaksa Agung yang menegaskan larangan atas Ahmadiyah. 15 Juli 2005 20:20. Jumat. 7 Agustus 2005 13:27 WIB. Rabu. Rabu. 22 Februari 2006 23:50. Sebagian mempersenjatai diri dengan tongkat bambu. 16 Juli 2005. dan “Markas Ahmadiyah Diserbu Massa. Jumat. Garut Diamuk Massa. Sabtu.com.” Metrotvnews. 4 • Th. 06:57.com/bpost/072005/16/nusantara/nusa1.” Hidayatullah.60 48 Lihat “Kampus Ahmadiyah Dikepung Massa.” Detikcom. 18 Juli 2005 19:26 WIB. Rabu.com/id/index. Lihat “Jaksa Agung: Larangan Ajaran Ahmadiyah Bersifat Parsial. Sejumlah massa melempari para JAI dengan batu dan kayu saat dievakuasi dari Kampus Mubarok. memang terjadi peningkatan berbagai aksi penolakan. intimidasi dan teror kekerasan terhadap JAI di berbagai daerah seperti yang dialami jamaah ini di Sukabumi. Lihat “Rumah Ketua Ahmadiyah Kab. Lihat “Ahmadiyah Bulukumba Diancam Demo Besar-besaran. 9 Agustus 2005.com. 18 Jul 2005 19:49:51.net. “Kegiatan Jemaat Ahmadiyah di Kuningan-Bogor Dilarang. “72 Anggota Ahmadiyah Nyatakan Keluar. Selasa.50 Cianjur.com. Gus Dur: Yang Membakar Harus Ditangkap. 5 Februari 2006.” Media Indonesia Online.” Tribun Timur.” Pikiran Rakyat.” Li- 50 51 52 53 54 55 putan6.htm. Jumat.” Gatra. juga dari GUII (Gerakan Umat Islam Indonesia) yang dipimpin Habib Abdurrahman. Jumat.” Metrotvnews. Kamis. 30 Pengungsi Jemaat Ahmadiyah di Lombok Tengah Ingin Kembali ke Rumah.” Media Indonesia Online. Sabtu.” elshinta. Abdurrahman Wahid. Jumat.” Kompas Cyber Media.” Detikcom.” Pikiran Rakyat.php?page= article&id=850. Minggu. Minggu. “Fatwa MUI Dituding Melegitimasi Penyerangan Terhadap Ahmadiyah.” gusdur. Lihat “Ahmadiyah Makin Terzalimi dengan Fatwa MUI. 15 Jul 2005 13:11:12. Lihat “Ahmadiyah Sesalkan Pernyataan Presiden SBY Soal Kejaksaan Pernah Larang Ahmadiyah.58 Pernyataan ini disesalkan oleh perwakilan Ahmadiyah. 30 Juli 2005. 20 Juli 2005 08:02 WIB. Muspida Garut Sepakat Melarang Ahmadiyah. Jumat.” Detikcom.” Kompas Cyber Media. dan “Keluarga Ahmadiyah Bulukumba Mengungsi.55 Selain beberapa pemerintah di daerah telah melarang aktivitas JAI.Com. “Gus Dur Sesalkan Penyerangan Masjid Ahmadiyah di Cianjur.48 Peristiwa ini mendapat reaksi dari berbagai kalangan.” Tribun Timur.” elshinta.indomedia. 5 Agustus 2005 15:31.” gusdur. dan “Mengekang Kebebasan Beragama. “Teror atas Ahmadiyah dan Problem Kebebasan Beragama. Dawam Rahardjo.com. 16 Agustus 2005.51 Garut. 21 September 2005. “Dievakuasi Jemaat Ahmadiyah Dilempari Batu & Kayu. Selasa. Rabu 5 April 2006. Senin. 2 Agustus 2005. Rabu. JURNAL HAM • Vol. “Negara Hukum Ataukah Kekuasaan.” Kapanlagi. 14 Pebruari 2003 16:22. “Warga Ahmadiyah NTB Mengucapkan Syahadat. Jumat. Garis adalah singkatan dari Gerakan Reformis Islam.57 selain diperkuat oleh Menteri Agama Maftuh Basyuni. 49 Lihat “Tokoh Antaragama Kutuk Penyerangan Jemaat Ahmadiyah. 20 56 57 58 59 60 Juli 2005 (tulisan ini ditulisnya ketika dirawat di RSCM). Lihat “SBY: Ahmadiyah Sudah Resmi Dilarang Pemerintah. 18:05 WIB. 2007 59 . 22 September 2005. dan “Desak Pemda Lombok Tengah. ancaman. juga pemerintah pusat tetap melarangnya sebagaimana yang dikemukakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kepolisian Resor (Polres) Bogor menyegel kampus setelah unsur Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) Kabupaten Bogor menyetujui keputusan bersama untuk menutup kampus. Massa yang menyerbu selain dari FPI. Kejengkelan terhadap Ketidakpastian Sikap Pemerintah. Gus Dur: Itu Pidana.

28 Oktober 2004 10:00:03. terdapat pula kasus-kasus penyerangan atas beberapa ornop/LSM seperti UPC. dan “Penjelasan FPI : Kronologis Kejadian Penutupan “Gereja Liar” di Bandung. 27 Mei 2003 14:52. Rabu.co. Pernyataan ini ditujukan kepada Bupati Kabupaten Bandung.62 Antara Juni-Agustus 2005.” Suara Pembaruan. AGAP. sejumlah gereja ditutup.” Kompas. Lihat “Kantor PBHI Jabar Didatangi Massa. Lihat “Camat Dayeuhkolot Tutup Gereja Ilegal. Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) dan Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Perum Gading Tutukan Soreang (Kab. Lihat “Pernyataan Forum Komunikasi Kristiani Indonesia Jawa Barat tentang Penutupan Kegiatan Ibadah Kristen di Perumnas Bumi Rancaekek Kencana. Jumat. terutama oleh sekelompok orang dari ormas Islam seperti FPI.” TEMPO Interaktif.” eben-network. Sabtu.” TEMPO Interaktif. 26 Agustus 2005. “Gus Dur Perintahkan Banser untuk Menjaga Sang Timur.65 Selain itu. Pendidik- 62 63 64 65 66 an Jangan Jadi Korban. “Gus Dur: Hentikan Aksi Penutupan Gereja.” Republika. 9 Oktober 2004 8:45:00 WIB. 6 Pebruari 2004. Bandung). Senin.64 Kasus lainnya adalah konflik pertanahan antara petani penggarap dengan pihak perkebunan yang ditandai dengan tindak kekerasan tak hanya oleh aparat keamanan. Desa Bungursari (Kab. Kabupaten Bandung. Prospek implementasi ICCPR Kendati negara RI telah meratifikasi ICCPR. Bandung). Senin. Jumat. Jawa Barat.” Bandung.” kristianipos. 4 • Th. Selasa.com. Gereja Kristen Pasundan (GKP) di Katapang (Kab. 15 Agustus 2005. 23 Agustus 2005. Selasa.61 Pada 12 September 2004 terjadi aksi warga berdasarkan Maklumat Forum Silahturahmi Ulama Cendikiawan Muslim (FSUCM) yang melarang ibadah di Gereja-gereja Rancaekek.” Gatra. tapi juga sekaligus menjadi bagian dari terus langgengnya impunitas. dan “Tokoh Agama dan Gus Dur: Hentikan Aksi Penutupan Gereja. tapi juga sejumlah oknum preman seperti yang terjadi pada Kamis. PBHI dan Kontras. Lihat “Sejumlah Ormas Islam Tutup Gereja Ilegal. 2 Juni 2006.” Sinar Harapan. Bogor). 26 Juni 2001. Senin. Senin.66 Semua ini bukan saja terus berlangsung kegagalan dalam melindungi hak-hak.” TEMPO Interaktif. yaitu Gereja Kristen Kemah Daud (GKKD) di Kecamatan Haurgeulis. 31 Maret 2003.Kasus gagalnya perlindungan hak atas kebebeasan beragama juga dialami oleh pemeluk agama Protestan dan Katolik.” Crossmap News. 7 September 2005 01:34:26. “Massa Datangi Kontras dan PBHI. 25 Oktober 2004 | 10:09 WIB.63 Aksi penutupan gereja ini tak hanya oleh pemerintah lokal. tapi kenyataannya tak ada jaminan hak-hak sipil dan politik setiap orang dihormati. dan “Wardah Hafidz Kecewa dengan Putusan Hakim.id. Purwakarta) serta enam gereja di Kompleks Permata Cimahi. 23 Agustus 2005. Gereja Kristen Kemah Daud (GKKD) di Kampung Warung Mekar. Selain rusak lahan garapan para petani yang berdampak pada hak atas pekerjaan dan penghasilan.com. JURNAL HAM • Vol. Selasa. “Tembok Sang Timur Dirobohkan.” TEMPO Interaktif. 2007 60 . Sekolah milik Yayasan Sang Timur yang terletak di Kabupaten Tangerang menjadi sasaran aksi penutupan gerbang oleh sekelompok orang yang mengaku dari FPI. Kecamatan Ngamprah (Kab. 4 Oktober 2004. Kelurahan Tani Mulya. kafe dan 61 Lihat “Penembokan Sekolah Sang Timur. Kamis. Jumat. Jakarta. Kecamatan Genuk (31 Juli 2005). Selasa. Kabupaten Indramayu dan tiga orang pembinanya ditahan di LP. Lihat “PBHI Desak Kapolri Usut Kasus Kekerasan di Garut. tapi juga oleh sekelompok orang dari ormas Islam seperti AGAP (Aliansi Gerakan Anti Pemurtadan) dan FPI. Gereja Isa Almasih (GIA) di Karangroto. juga ribuan penduduk terpaksa mengungsi akibat aksi kekerasan tersebut. 25 Oktober 2004 | 11:52 WIB.” christianpost. “Kantor Kontras Diserbu Massa. dan “Gus Dur Meminta Walikota Tangerang Memberikan Izin Membangun Gereja.” Republika. FKKU (Forum Komunikasi Kemaslahatan Umat) dan FSPI (Forum Silaturahmi Pemuda Islam) serta ormas kedaerahan seperti FBR (Forum Betawi Rempug) yang kerap melakukan penyisiran (sweeping) dan kekerasan baik atas pemeluk agama dan orang lain maupun tempat-tempat hiburan. 1 Juni 2006 di Garut.

“FPI Akan Terus Sweeping Tempat Hiburan. Selasa. 1 Muntah Darah.” TEMPO Interaktif. Sabtu. 16 Mei 2006 14:52 WIB.75 67 Lihat “FPI Rusak Kantor Komnas HAM dan Kafe 68 69 70 71 72 Jimbani. Bandung: PBHI Jawa Barat.” Warta Kota. 16:26 WIB. Senin. Kamis. Jumat. Suryadi Radjab.” jakarta.” Sinar Harapan.” Pikiran Rakyat. 10 Mei 2006. Selasa. 3 Oktober 2003. Kamis.” TEMPO Interaktif.com. JURNAL HAM • Vol. Rabu. “Polres Jakarta Timur ‘Diserbu’ FBR. Senin. Sabtu. 23 Oktober 2004 | 00:00 WIB. Kamis. 2005.com. Distia Aviandari dan Suryadi Radjab. 11 Maret 2003. “Rusak Tempat Hiburan. 04 April 2005 | 14:01 WIB. lihat juga “Polisi bubarkan Rapat Umum Petani.” detikInet.” Detikcom. 25 Juli 2005. 20 September 2005. 17 Oktober 2005” – 09:46. “FPI: Perda Tempat Hiburan Tumpul. dan “Polisi Tembak Buronan Pencuri Sarang Walet. Selasa. 26 Maret 2003. Senin. Lihat “Keluarga Korban Pelanggaran HAM Tuntut Soeharto Diadili. “Diakui Sebagai Tindakan Konkret Berantas Pekat. Massa FPI Purwakarta Razia Miras dan PSK.Com.” TEMPO Interaktif.Com.net. Lihat “Kasus Wamena Tunjukkan Lemahnya Perlindungan HAM di Papua.” TEMPO Interaktif.pedagang.” TEMPO Interaktif. dan “Masyarakat Solo Keluarkan Petisi Perang terhadap Premanisme. Rabu. “Wartawan TEMPO Dipukul. 19 Maret 2004. 29 Oktober 2005. 23 Oktober 2004 11:20 WIB.” Pikiran Rakyat.” gusdur.” TEMPO Interaktif. 9 Mei 2006. “Preman Pukul Wartawan dan Rusak Kantor Indopos. 4 • Th.” TEMPO Interaktif. Terkait Pemukulan Kontributor TV. tetap tumbuh semangat dan partisipasi masyarakat dalam membela hak-haknya. 4 Luka-luka. 10 Pebruari 2005 | 17:27 WIB.net. 27 Mei 2006. 18 Maret 2003.68 Apalagi jika aparat keamanan dan penegak hukum justru lebih sering gagal melindungi hak-hak tersebut. 26 April 2006. Lihat “Polisi Tembak ‘Raja Jambret’ Samarinda.” TEMPO Interaktif. Selasa. 1 Meninggal.” gusdur. 08:38 WIB. dan “Polisi Membubarkan Paksa Demonstrasi di DPRD Bengkulu. Jumat. dan “Empat LSM Desak Moratorium Hukuman Mati Tibo Cs.” Liputan6.” SeKetika. dan “Soeharto Perlu Juga Diadili dalam Kasus Pelanggaran HAM. “Premanisme dan Wartawan Kita.” Hukumonline. Sweeping Jalan Terus. 02 Juli 2002.” detikInet.” Sinar Harapan. 24 Juni 2000. “Massa FPI Rusak kantor Playboy. dan “Wartawan Surabaya Demo UPN Veteran. Kamis. Decky Natalis Pigay. Rabu.indymedia. Polda Metro Tindak Tegas FPI dan FBR. Jumat.” Gatra. Sabtu. 37 Luka Tembak. Selasa. 12 Mei 2006 09:16. 17 November 2005 | 01:07 WIB. Kamis. 23 Juni 2003. 17:57:46 WIB.” Kompas Cyber Media. Selasa. dan “Istri Gus Dur Dilaporkan FBR ke Polda.” Gatra. 30 Maret 2006. “Masyarakat Kemang Kutuk Aksi FPI. “Penyerangan Tempo: Aparat Dikangkangi Premanisme. 14 Maret 2003.71 Memang harapan untuk mendapatkan intervensi negara untuk melindungi hakhak sipil dan politik yang terancam oleh perilaku sejumlah orang maupun halangan dari aparat militer dan kekerasan polisi. 23 Mei 2006. Senin. Ahmad Suaedy. “Demokrasi dan Perlindungan Kaum Minoritas. Selasa.” Kompas. 20 Desember 2005 | 00:20 WIB. 24 Mei 2006.74 Begitu juga. Sabtu.com. Jum’at. 28 Oktober 2004 | 19:45 WIB. Lihat “LSM HAM Tolak Hukuman Mati. Lihat “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah. Kamis. 12:54am.” Kaltim Post.” detikInet.69 Kekerasan polisi tak hanya menjadi kebiasaan dalam penangkapan dan penahanan tersangka.” detikInet.” Rakyat Merdeka. sejumlah ornop melancarkan kampanye menolak hukuman mati.” Kompas Cyber Media.” Sinar Harapan. “Polisi Nias Gelar Perkaranya Hilangnya Wartawan Berita Sore.” Pikiran Rakyat. “FPI Gerebek Tempat Hiburan di Kemang. Rabu. Sabtu . Lihat “Pada HUT-nya Ke-56.” islamlib.” TEMPO Interaktif. keluarga korban dan beberapa kalangan yang prihatin atas pelanggaran hak-hak manusia tetap mendesak proses hukum atas orang-orang yang terlibat dan bertanggung jawab. “Preman Berjubah itu. “FPI Sweeping Tempat Maksiat. “Aksi Premanisme terhadap Pers. Selasa. 23 Oktober 2004 16:13 73 74 75 WIB. Nadirsyah Hosen.72 kalangan pekerja pers mengeluarkan pernyataan perang melawan premanisme. 26 Januari 2005. “Puluhan Orang Berseragam FBR Keroyok Pedagang Pasar Senen. “Pelanggaran HAM Soeharto Harus Tetap Diusut. Kamis. 2007 61 . Rabu. Hak Manusia dan Polisi. “Massa Gabungan Ormas ‘Sweeping’ Toko Miras. 18 Mei 2006 11:34. Sabtu.73 dan mereka yang memperjuangkan dihormatinya pluralisme menyatakan lawan preman berjubah.” dalam Hendardi. Misalnya. 06 April 2006.70 melainkan juga atas para demonstran atau orang-orang yang sedang merealisasi hak atas kebebasan berkumpul dan berpendapat. 31 Maret 2003. “Peristiwa 12 Februari dan Kekerasan Polisi. 31 Agustus 2005 15:00. Lima Luka-luka. 23 Oktober 2004 01:30 WIB. Harry Ganda Asi.67 Kasus penyerangan dan tindak kekerasan atas pekerja pers masih saja terjadi setelah kasus Udin.” TEMPO Interaktif. “Tujuh Anggota FBR Divonis Enam Bulan. “Tawuran FBR-Benteng Banten.” INDO POS Online. 13 Apr 2006. Polisi Hajar Wartawan.org. Sabtu. 9:07 WIB.

100 Pendemo Cantik Tolak RUU APP” Rabu. Detikcom. “Slamet Rahardjo: RUU APP Tempatkan Perempuan Seolah Hantu” Minggu. Detikcom. Cohen. Cendrawasih Pos. Detikcom. “SBY: Ahmadiyah Sudah Resmi Dilarang Pemerintah” Selasa. “RUU Pornografi Berpotensi Jadi Alat Pemerasan Baru” Kamis. “DPR Pusing Pro Kontra RUU APP” Kamis.” Detikcom. September 2005. Detikcom. “Bagir Manan jadi ketua MA lagi” 02 Mei. “Bahas RUU APP.Published 13:11 GMT. “Pelanggaran HAM Soeharto Harus Tetap Diusut” Selasa. 2007 62 . Berbagai partisipasi. 26 Mei 2006. 8 Maret 2006. Detikcom. “Gus Dur Sesalkan Penyerangan Masjid Ahmadiyah di Cianjur” Kamis. David. 16 Februari 2006. Harry Ganda. 16 Agustus 2005. 4 • Th. 8 Maret 2006. “Massa NU Akan Survei di Slipi Apa FPI Lakukan Syiar Agama” Jumat. “Gus Dur Siap Upayakan Amandemen Jika RUU APP Jadi UU” Kamis.com. “Aksi Seribu Tayub Tolak RUU APP” Rabu. 26 Agustus 2005. Detikcom. Detikcom. “Perda Larangan Pelacuran Akan Diterapkan di Jakarta” Selasa. Jadikan Bali Daerah Khusus Pornografi” Rabu. JURNAL HAM • Vol. Detikcom. BBCIndonesia. 26 Mei 2006. “12 Pengrusak Masjid Ahmadiyah di Cianjur Dibekuk” Rabu. 16 Agustus 2005. 26 Maret 2003.000 Ulama di Gontor” Senin. 12 Maret 2006. Detikcom. “Presiden Lantik Bagir Manan Jadi Ketua Mahkamah Agung” Kamis. 15 Maret 2006. 26 Mei 2006. terlebih lagi konsolidasi masyarakat. 2004. 9 Februari 2006. Detikcom. “Komnas Perempuan Tolak Perda Tangerang Tentang Pelacuran” Rabu. “Premanisme dan Wartawan Kita” dalam Sinar Harapan. Intended to Fail: The Trial Before the Ad Hoc Human Rights Court in Jakarta. Berkeley: International Center for Transitional Justice. “30 Elemen Islam Malang Demo Dukung RUU APP. 16 Maret 2006. 4 Maret 2004. 8 Maret 2006. Detikcom. 144 Setuju RUU APP” Kamis. Rabu. MUI Akan Kumpulkan 1. Detikcom. “Tokoh Agama dan Gus Dur: Hentikan Aksi Penutupan Gereja” Jumat. 15 Maret 2006. “Ahmadiyah Makin Terzalimi dengan Fatwa MUI. 21 Mei 2006. “Peringati Hari Perempuan. sangatlah penting dalam menagih bukan saja kewajiban. tapi juga tanggung jawab negara. “NU vs FPI: Polisi Barikade Jl KS Tubun” Jumat. 9 Maret 2006. 7 Maret 2006. Detikcom. 16 Maret 2006. Detikcom. 30 Juli 2005. Crossmap News. “Demonstran Dukung RUU APP di Cirebon Segel LSM Fahmina” Minggu. Detikcom. 9 Mei 2006. 06:57. “SBY: Ahmadiyah Sudah Resmi Dilarang Pemerintah” Selasa. 22 September 2005. Detikcom. “MMI: Jika Terus Menolak. “Polisi Tembak Buronan LP Saat Mencoba Melarikan Diri dari Kejaran Petugas” Rabu. 8 Maret 2006. Asi. “FBR Gabung FPI Hadang NU” Jumat. Detikcom. Detikcom. DAFTAR PUSTAKA Antara News. 2006 . Detikcom. Detikcom. Detikcom. negara – pemerintah dan aparat penegak hukum – harus selalu diingatkan dan didesak terus-menerus untuk melindungi hak-hak sipil dan politik bagi setiap orang ketika ancaman atasnya sedang berlangsung. Detikcom.Selain itu. 18 Mei 2006. 22 Mei 2006. “Draf RUU APP Adalah Buah dari Sebuah Kemunafikan” Kamis. 6 Maret 2006 Detikcom. “Dari 167 Lembaga Tamu Pansus. “MUI Sayangkan Adanya Penolakan RUU Anti Pornografi” Senin. Detikcom.” Sabtu. “Ratusan Mahasiswa Yogya Demo Tolak RUU APP” Rabu. Rabu. Detikcom.

“Jemaah Ahmadiyah Sambut Baik Keberadaan Satgas Garda Bangsa” Minggu. “Tuntut Milisi Sipil Dibubarkan” Rabu.net. gusdur. gusdur. “Gus Dur Hadapi Teror Gerombolan Islam Radikal” Selasa. 25 Mei 2006 10:26. “Ahmadiyah Sesalkan Pernyataan Presiden SBY Soal Kejaksaan Pernah Larang Ahmadiyah” Minggu. 18 Maret 2003. elshinta.net. 26 Mei 2006. 15/07/2005 17:57 WIB. 23 Mei 2006. “13 Terdakwa Kasus Pengrusakan Kampus Mubarok Ahmadiyah Disidangkan di PN Cibinong Jabar” Senin.net. elshinta. “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah” Selasa.net.com. “Keluarga Korban Pelanggaran HAM Tuntut Soeharto Diadili” Kamis. Gatra. detikInet. 26 April 2006 10:12 WIB. gusdur.com. 5 Februari 2006. elshinta. 7 September 2005 01:34:26. 23 Mei 2006. “Mafia Peradilan di Indonesia. 23 Mei 2006. “DPP PBB Dukung fatwa MUI Soal Ahmadiyah” Sabtu. “Ratifikasi 2 Kovenan HAM oleh RI Dianggap Masih Setengah Hati” Kamis . “Pembakaran Rumah Jama’ah Ahmadiyah NTB.com. eben-network. elshinta. 2. “The Age of Rights” Imparsial. 13 Agustus 2005 19:04 WIB. detikInet. 30 Pengungsi Jemaat Ahmadiyah di Lombok Tengah Ingin Kembali ke Rumah” Rabu.net.net. Gatra. detikInet.detikInet. JURNAL HAM • Vol. detikInet. 27 Mei 2003 14:52.com.com. Todung: Saya Protes Keras Terhadap FPI” Kamis. 21 Agustus 2005 16:17 WIB. 4 • Th.” Kompas. Gus Dur: Itu Pidana” Rabu 5 April 2006. 29/ 09/2005 14:25 WIB. Selasa.net. Nadirsyah. gusdur. 28/07/2005 20:11 WIB. elshinta. Hidayatullah. 31 Mei 2006. gusdur. Aksi FPI Cs Meresahkan: Massa NU dan Prodemokrasi Demo ke Mabes Polri” Jumat. 23 Oktober 2004 11:20 WIB. detikInet. “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah” Selasa. 7 Agustus 2005 13:27 WIB. Gatra. Gatra. 14 Pebruari 2003 16:22.com. “Kegiatan Jemaat Ahmadiyah di Kuningan-Bogor Dilarang” Sabtu.com. “Desak Pemda Lombok Tengah. 24 Pebruari 2006. “Pengusiran Gus Dur. 12 Mei 2006 09:16.com. gusdur.com. 30/07/2005 16:55 WIB. Januari 1997. “Rusak Tempat Hiburan. 21 Juli 2005 18:54 WIB. Rabu. “Jaksa Agung: Larangan Ajaran Ahmadiyah Bersifat Parsial” Kamis. Polda Metro Tindak Tegas FPI dan FBR” Sabtu . 10 Mei 2006. 18 Mei 2006 11:34. Kamis. “Masyarakat Solo Keluarkan Petisi Perang terhadap Premanisme” Selasa. “Penjelasan FPI : Kronologis Kejadian Penutupan “Gereja Liar” di Bandung” Rabu. detikInet.net. gusdur.com. No. detikInet. “MUI Kembali Fatwakan Ahmadiyah Sebagai Aliran Sesat” Kamis. Gatra. Gatra. “Soeharto Perlu Juga Diadili dalam Kasus Pelanggaran HAM” Selasa.com. “Ratusan Ulama Sukabumi Menolak Ahmadiyah” Jum’at. “Mengekang Kebebasan Beragama. 2 Februari 2006. “Gus Dur Hadapi Teror Gerombolan Islam Radikal” Selasa. Rocky. Gus Dur: Yang Membakar Harus Ditangkap” Minggu. gusdur. “FPI Gerebek Tempat Hiburan di Kemang” Sabtu.net. “FPI: Perda Tempat Hiburan Tumpul. 23 Mei 2006. Hendardi. 23 Mei 2006. 27 Oktober 2005 13:32. 6 Maret 2006 13:05 WIB. “Demokrasi dan Perlindungan Kaum Minoritas” dalam islamlib.com. 23 Oktober 2004 16:13 WIB. 1. Gerung. Sweeping Jalan Terus” Sabtu. 2007 63 .com. “Dievakuasi Jemaat Ahmadiyah Dilempari Batu & Kayu” Jumat. “Teror: Belasan Rumah Ahmadiyah Dibakar” Jumat. “Kantor Kontras Diserbu Massa” Jakarta. “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah” Selasa. gusdur. gusdur. 23 Oktober 2004 01:30 WIB. “KPK Geledah Ruang Kerja Bagir Manan” Kamis. Hosen. detikInet. Vol. “Polisi Tembak ‘Raja Jambret’ Samarinda” Jumat.net. 16 Mei 2006 14:52 WIB.

“Bagir Manan Siap Pensiun Tahun 2008” Selasa. Kompas Cyber Media. 6 April 2006. 08:38 WIB. 12 Mei 2006.com/bpost/072005/16/ nusantara/nusa1. 05 Agustus 2005. INCRESS. 1 Meninggal. Kompas Cyber Media. Kompas. 26 Juni 2001. Aksi Kekerasan dan Perusakan Terus Dibiarkan” Jumat. “Kantor PBHI Jabar Didatangi Massa. “Pernyataan PBHI Jawa Barat: Protes atas INDO POS Online. 24 April 2004. Kompas. 15:03 WIB. “Gus Dur Meminta Walikota Tangerang Memberikan Izin Membangun Gereja. Kompas Cyber Media. 14 Februari 2006.” Bandung. 20 Mei 2006 22:31:32. KabarBaru.” Kamis. Kompas Cyber Media. 18:05 WIB. 9 Oktober 2004 8:45:00 WIB. “Banyak UU Tanpa Kajian: Tidak Ada Desain Besar Legislasi Nasional. “Kerangka Acuan Perencanaan Strategis Impunitas. “LSM HAM Tolak Hukuman Mati” Kamis. Tolak Usulan untuk Non-aktif” Kamis. Kompas Cyber Media. “Bagir Manan Perpanjang Usia Pensiun Dirinya: Disebutkan. 5 Agustus 2005 15:31. 26 Mei 2006. Hikmahanto. Kompas Cyber Media. jakarta. “Ratifikasi Dua Kovenan Internasional Dinilai Setengah Hati” Kamis. “Konsekuensi Ratifikasi ICCPR” Kompas. 20 Januari 2006. Dengan Reservasi pada Hak Menentukan Nasib Sendiri” Sabtu. 13:29 WIB. “Konflik MA-KY Hanya Untungkan Mafia Peradilan” Selasa. Kapanlagi. 15 Jul 2005 13:11:12. Kompas Cyber Media.org. 20 September 2005. “Pemerintah Dikritik Tak Tegas.com. Syarikat Indonesia. Juwana. 24 Mei 2006. Kompas. 12:09 WIB. 29 September 2005 Hukumonline. 17 Oktober 2005 – 09:46. 4 • Th.com. Rabu. Kaltim Post. Kompas.com. Kompas. 21:12 WIB. Tunggakan Perkara di MA Masih Banyak” Jumat. 22 Mei 2006. 13 Oktober 2005.indomedia. 16 Mei 2006. 28 Oktober 2004 10:00:03. Banyak yang Tumpang Tindih” Senin. Kompas. 06 April 2006. Kompas. “Bagir Manan: Tak Ada Alasan untuk Mundur” Rabu. 13 Apr 2006. 21 September 2005. dan “Istri Gus Dur Dilaporkan FBR ke Polda” Rabu.” lokakarya yang diselenggarakan PBHI dan HOM pada 29-30 Mei 2006 di Cipayung. “Dua Kovenan HAM Diratifikasi. “FPI Rusak Kantor Komnas HAM dan Kafe Jimbani” Sabtu. 37 Luka Tembak” Selasa. Pembubaran Paksa Pertemuan di Wisma Brantas Bandung. “72 Anggota Ahmadiyah Nyatakan Keluar” 2 Agustus 2005 kristianipos. “Pemerintahan Daerah: 393 Perda Bermasalah Akan Dibatalkan” Kamis. Kompas. “Markas Ahmadiyah Diserbu Massa” Jumat.com.com. Kompas. Liputan6. 12 Oktober 2005. “Penembokan Sekolah Sang Timur. “RUU Pemerintahan Aceh: Diusulkan Polisi dan Jaksa Khusus Syariat” Jumat. 12:54am. 64 JURNAL HAM • Vol. “Penyerangan Tempo : Aparat Dikangkangi Premanisme” Selasa. Kompas. Bogor. 16:26 WIB. Koran Tempo. 8 Juni 2005. Kompas. Hukumonline. “Tokoh Antaragama Kutuk Penyerangan Jemaat Ahmadiyah” Sabtu. 11 Maret 2003. 1 Oktober 2005. “GARIS Bertanggung Jawab Atas Serangan Perkampungan JAI” Rabu. 02 Mei 2006. 24 Juni 2000. “Polisi bubarkan Rapat Umum Petani. 16 Juli 2005. “Pelaksanaan Otonomi Daerah Kebablasan” Sabtu. “Diskusi Korban Kekerasan Perempuan Tahun 1965 Dibubarkan” Sabtu. kristianipos.http://www.htm. Pendidikan Jangan Jadi Korban” Sabtu. “Bagir Manan Merasa Difitnah. 2007 . 8 Mei 2006. “Gus Dur Meminta Masjid Milik Ahmadiyah Dibuka” Jumat. “Massa FPI Rusak kantor Playboy” Kamis. dan Komnas Perempuan.indymedia. “Komnas HAM Sesalkan Larangan Seminar” Selasa. “Jemaah Ahmadiyah Kuningan Bantah Ada Bentrokan” Jumat.” Selasa. “FPI Sweeping Tempat Maksiat” Senin.

Warga Bentrok dengan Pengikut Ahmadiyah” Minggu. Cirebon Sesalkan Sikap LSM Fahmina” Jumat. Jum’at. Radjab. Media Indonesia Online. Rahardjo. Liputan6. “Dua Kelompok Massa Islam Bentrok” Sabtu. Aktivis dan Artis Diteror” Jumat. 22 Februari 2006 23:50. “Menolak RUU APP.com.com/id/index. “Polisi Tembak Buronan Pencuri Sarang Walet” Rabu. Media Indonesia Online.com. Pikiran Rakyat. 14 Maret 2003. “Kejaksaan Telah Mendata Asetnya. Liputan6. Kejengkelan terhadap Ketidakpastian Sikap Pemerintah” Selasa. Rakyat Merdeka. “Gus Dur vs Ormas Radikal: Polisi Minta Semua Pihak Menahan Diri” Kamis. “MUI Tetapkan 11 Fatwa. 9 Juli 2005 18:04. Media Indonesia Online. Pikiran Rakyat. 18 Juli 2005 19:26 WIB.Liputan6. Media Indonesia Online. Garut Diamuk Massa. “Kampus Ahmadiyah Dikepung Massa” Jumat. Metrotvnews. 25 Mei 2006. “Dialog Lintas Etnis Nyaris Rusuh: Gus dur Tuding Gerakan Ormas Islam Ada yang Mendanai” Rabu. 28 April 2006 17:05.” Bandung. “Massa Gabungan Ormas ‘Sweeping’ Toko Miras” Senin. 25 Mei 2006 01:54. “NU Tuntut FPI Minta Maaf. “Sejumlah Sarana Ibadah Ahmadiyah di Kuningan Disegel” Jumat. 25 Mei 2006 05:59. 4 Oktober 2004. 18 Mei 2006 14:52 WIB. Media Indonesia Online. “Aksi Premanisme terhadap Pers” dalam Sinar Harapan. “Presiden Lantik Bagir Manan Sebagai Ketua MA” Kamis. JURNAL HAM • Vol. M. 2006. Seminar Incres Dibubarkan. 24 Mei 2006. “Diakui Sebagai Tindakan Konkret Berantas Pekat. Senin. Metrotvnews. “Polisi Membubarkan Paksa Demonstrasi di DPRD Bengkulu” Rabu. “Massa Bubarkan Pertemuan Perempuan Eks Napi PKI. “Fatwa MUI Dituding Melegitimasi Penyerangan Terhadap Ahmadiyah” Senin. Polisi Bengong” Jumat. 65 . Ormas Islam Buat Pernyataan. Muspida Garut Sepakat Melarang Ahmadiyah” Selasa. 26 Mei 2006. Pikiran Rakyat.”. Liputan6. Pikiran Rakyat.com. Haram Hukumnya Perdukunan dan Peramalan” Kamis. 29 Juli 2005 20:00. “FUI Wil. Liputan6. 4 • Th. 25 Juli 2005. “Pernyataan Forum Komunikasi Kristiani Indonesia Jawa Barat tentang Penutupan Kegiatan Ibadah Kristen di Perumnas Bumi Rancaekek Kencana. Pikiran Rakyat. Rakyat Merdeka “Bangkitkan Semangat “PKI”. The Scope of Impunity in Indonesia (draft). 22 Mei 2006.”.com. Liputan6. 2005. “Warga Ahmadiyah NTB Mengucapkan Syahadat” Rabu. Pigay. “Azyumardi Azra Menuntut Pengusir Gus Dur Diusut” Kamis. 26 Mei 2006. Gus dur Tuding Gerakan Ormas Islam Ada yang Mendanai” Rabu.php?page= article&id=850. Pikiran Rakyat. 2007 Pikiran Rakyat. “Saat Mencoba Membubarkan Pertemuan di Kemang. Utrecht: The Netherlands Humanist Committee on Human Rights. “Massa Pencinta Gus Dur Berdemonstrasi” Kamis. 28 Juli 2005 20:26 WIB. Massa FPI Purwakarta Razia Miras dan PSK” Sabtu. Rakyat Merdeka. 26 Mei 2006. 24 Mei 2006. Suryadi.com.com. Martha. 22 Mei 2006. 18:18:45 WIB. “FPI Segel Fahmina Institute Cirebon. 04:18:30 WIB. “Dialog Lintas Etnis Nyaris Rusuh. Distia Aviandari dan Suryadi Radjab. 29 Oktober 2005. 31 Agustus 2005 15:00. 9 Agustus 2005. 10 Juli 2005. 20 Juli 2005 08:02 WIB. “Teror atas Ahmadiyah dan Problem Kebebasan Beragama” dalam http://islamlib.com. 15 Juli 2005 20:20. Metrotvnews. 2 Agustus 2005. Pikiran Rakyat. Hak Manusia dan Polisi. 26 Januari 2005. 26 Mei 2006. Pikiran Rakyat. 18 Jul 2005 19:49:51. Decky Natalis.com. “Massa FPI-FBR Bersiap Menghadapi Serbuan Garda Bangsa” Jumat.com. Dawam. Bandung: PBHI Jawa Barat. Senin. “Rumah Ketua Ahmadiyah Kab. “Pemerintah Tetap Larang Ajaran Ahmadiyah” Rabu. Meijer. 19:16:05 WIB. “Peristiwa 12 Februari dan Kekerasan Polisi” dalam Hendardi. Pikiran Rakyat. Buntut Acara Dialog Lintas Etnis dan Agama” Jumat.

” Bandung. Republika Online. “Sejumlah Ormas Islam Tutup Gereja Ilegal” Senin. Suaedy. “Direktur ICIP Syafii Anwar: Perda Syariat Bisa Picu Disintegrasi” Senin.com. Sriwijaya Post Online. 2 Juni 2006. “Wartawan Surabaya Demo UPN Veteran. 22 Mei 2006 19:19:00. Riau Pos Online. 24 Mei 2006. Sinar Harapan. Selasa.” n. “Garda Bangsa Minta Habib Rizieq Ditangkap” Jumat. “SBY-JK Didesak Bubarkan FPI” Rabu. “Massa Datangi Kontras dan PBHI” Jumat. Suara Pembaruan. 27 Mei 2006. Rapim darurat digelar saat penggeledahan berlangsung” Jumat. “GP Ansor Minta Ormas Liar Dibubarkan” Jumat. 12:16:50 WIB. TEMPO Interaktif. 25 Mei 2006. Suara Pembaruan. 27 Mei 2006. 10:03:13 WIB. 28 Oktober 2005.“Muladi: Perpanjangan Pensiun Bagir Manan Keliru” Jumat.Rakyat Merdeka. Republika.” Kamis. 1 Oktober 2005. 22 Mei 2006. “Majelis Hakim Masih Musyawarah Bahas Soal Bagir Manan” Rabu. 23 Agustus 2005. Rakyat Merdeka. “Fatwa-fatwa Haram Ala MUI” Jum’at. “Camat Dayeuhkolot Tutup Gereja Ilegal” Selasa. 15:48:40 WIB. 10 Maret 2006. dari Desa Mengepung Kota” Senin. “Bagir Terpilih. Republika. “Empat LSM Desak Moratorium Hukuman Mati Tibo Cs. 11:36:46 WIB. Riau Pos Online. “Disesalkan. 10 Mei 2006 | 13:04 WIB.net. “Gus Dur Perintahkan Banser untuk Menjaga Sang Timur” Senin. “Yusril Bantah Revisi KUHP Mengadopsi Syariat Islam” Rabu. “Saat Pidato. Sinar Harapan. “5000 Orang Akan Demonstrasi Tolak RUU Anti Pornografi” Rabu. “PBHI Desak Kapolri Usut Kasus Kekerasan di Garut”. Jumat. 24 Mei 2006. 26 Mei 2006. Suara Pembaruan. 23 Agustus 2005. “Syariat Islam dalam KUHP Bermuatan Politis” Kamis. Sabtu. TEMPO Interaktif. 1 Oktober 2003. 22 Mei 2006. 25 Mei 2006. 15 Agustus 2005. “Kapolri Harus Klarifikasi Pembubaran Kegiatan Mantan Tapol PKI. “Banteng Jakarta Dukung Gus Dur Hadapi FPI Cs. “Kasus Wamena Tunjukkan Lemahnya Perlindungan HAM di Papua” Senin. 17:24:23 WIB. Sinar Harapan. Terkait Pemukulan Kontributor TV” 26 April 2006. 2 Oktober 2003. 26 Mei 2006.“Polisi Tembak Buron Pelaku Curas” Kamis.”. Suara Pembaruan. 6 Pebruari 2004. “Liku-liku Percaloan dan Mafia Peradilan di Indonesia” Sabtu. 24 Mei 2006. Ahmad. 29 Juli 2005 | 06:38 WIB. 2007 . “KPK Terlambat Geledah Ruang Ketua MA” Jumat.. 23 Mei 2006. Sinar Harapan. 30 Juni 2004. 14:14:51 WIB Rakyat Merdeka. “Polisi Tembak Mati Perampas Motor” Sabtu. 10 Mei 2006. Republika. Gus Dur Diserang Massa FPI dan HTI” Kamis. 66 JURNAL HAM • Vol. “Gus Dur: Hentikan Aksi Penutupan Gereja” Selasa. TEMPO Interaktif.“Ruang Kerja Bagir Digeledah. 23 Juni 2003. 2 Juni 2006 | 13:05:43 WIB. SeKetika. Senin. Bagir Ditolak” Jumat. 25 Oktober 2004 | 11:52 WIB. Rakyat Merdeka. Republika Online “Komnas Perempuan akan Minta Klarifikasi Kapolri. Rakyat Merdeka. “Aliansi Masyarakat AntiKekerasan Luruk Markas FPI Besok Siang” Kamis. Sinar Harapan. TEMPO Interaktif. 25 Mei 2006 10:02:05. Sinar Harapan. “Syariat Islam. 22 November 2003.“Hampir 30 Persen UU Bertentangan dengan Konstitusi” Jumat. 17:57:46 WIB. 8 Oktober 2005. 30 Maret 2006. Suara Pembaruan.” Sabtu. “Polisi Tembak Penjahat Kambuhan” Rabu. Rakyat Merdeka. 10 Maret 2006. 4 • Th. Suara Pembaruan. TEMPO Interaktif. Rakyat Merdeka. “Preman Berjubah itu” dalam gusdur. TEMPO Interaktif. “Siaran Pers PBHI Jawa Barat tentang Pengusiran Gus Dur dan Intimidasi Kegiatan Forum Dialog Lintas Agama di Purwakarta. Polisi Biarkan FPI Bertindak Anarkis” Rabu. “Indonesia Ratifikasi Kovenan Hak-hak Sipil dan Politik” Sabtu. 28 Oktober 2005. Sinar Harapan.

4 • Th. “LSM Fahmina Diserbu Massa Pendukung RUU APP” Senin. “Preman Pukul Wartawan dan Rusak Kantor Indopos” Selasa. 9:07 WIB. Tribun Timur. 2007 67 . TEMPO Interaktif. 17 November 2005 | 01:07 WIB. “Masyarakat Kemang Kutuk Aksi FPI.or. 25 Oktober 2004 | 10:09 WIB. Megamendung. “Ahmadiyah Bulukumba Diancam Demo Besar-besaran” Jumat. www. TEMPO Interaktif. Tribun Jabar. Tribun Timur. TEMPO Interaktif.ahrchk. 28 Oktober 2004 | 19:45 WIB. Wahid.” Sabtu. 31 Maret 2003. 18 Februari 2006. Dianggap Tolak RUU APP” Senin. “Massa Segel Kantor LSM. www. 20 Juli 2005. 4 Luka-luka. 3 Oktober 2003.fpks-dpr. 19 Maret 2004. TEMPO Interaktif.net. “Pada HUT-nya Ke-56. “Hak-hak Manusia: Menjernihkan Berbagai Konsep Dasar” makalah yang disampaikan dalam Pelatihan Investigasi yang diselenggarakan PBHI (Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia) pada 27-30 Desember 2005 di Megamendung Permai.TEMPO Interaktif. Bogor.id. “Mafia Peradilan Di Manamana”. Harry. 17 Februari 2006. TEMPO Interaktif. 02 Juli 2002. 14 Maret 2006.” dalam gusdur. “Tawuran FBR-Benteng Banten. TEMPO Interaktif. Rabu. “Tujuh Anggota FBR Divonis Enam Bulan” 31 Maret 2003. “Wardah Hafidz Kecewa dengan Putusan Hakim” Senin. Hongkong. TEMPO Interaktif. 23 Januari 2006 22:30 WIB. “Keluarga Ahmadiyah Bulukumba Mengungsi” Sabtu. “Wartawan TEMPO Dipukul” Jumat. 22 Mei 2006. TEMPO Interaktif. Abdurrahman. Wibowo. 10 Pebruari 2005 | 17:27 WIB.net. “Pernyataan Asian Human Rights Commission: Ratifikasi Instrumen Utama Hak Manusia Harus Ditindaklanjuti dengan Reformasi Hukum”. 27 Januari 2006 19:11:53. 22 Mei 2006. Warta Kota. Senin. “Negara Hukum Ataukah Kekuasaan. TEMPO Interaktif. TEMPO Interaktif. “Polres Jakarta Timur ‘Diserbu’ FBR” Jumat. “Hilman Rosyad Syihab. Lima Luka-luka” Senin. Anggota Pansus RUU APP DPR FPKS: RUU APP Lindungi Kaum Perempuan” Jumat. “Polisi Nias Gelar Perkaranya Hilangnya Wartawan Berita Sore” Kamis. “Puluhan Orang Berseragam FBR Keroyok Pedagang Pasar Senen” Kamis. “FPI Akan Terus Sweeping Tempat Hiburan” Kamis. “Tembok Sang Timur Dirobohkan” Senin. 20 Desember 2005 | 00:20 WIB. 04 April 2005 | 14:01 WIB. JURNAL HAM • Vol. wahidinstitute. Waspada Online. 1 Muntah Darah” Selasa. Polisi Hajar Wartawan. 23 Oktober 2004 | 00:00 WIB.org.

ox. hukum internasional yang melindungi hak asasi manusia sangat jarang ada.State University of New York.edu. Universitas Oxford. JURNAL HAM • Vol.uk atau Kiyoteru Tsutsui di ktsutsui@notes. E-mail: Emilie. Proyek ini didukung oleh bantuan dana dari National Science Foundation (SES 2CDZ414) dan Bechtel Center di Stanford’s Institute for International Studies. Korespondensi langsung kepada Emilie Hafter-Burton. 4 • Th.Oxford University Kiyoteru Tsutsui . Sebelum Perang Dunia II.2 Namun.Hak Asasi Manusia di Dunia yang Terglobalisasi: Paradoks Janji-janji Kosong1 Emilie M. Negara-negara membatasi kewajiban hukum internasional dengan menyatakan keinginan untuk membatasi kewajibannya berdasarkan sejumlah perjanjian dan konvensi. Emilie Hafner-Burton juga menerima dukungan yang besar dari National Science Foundation (SES 0135422). Hafner-Burton . Kiyoteru Tsutsui menerima dukungan yang besar dari Stony Brook University. Stony Brook Abstract The authors examine the impact of the international human rights regime on governments’ human rights practices.sunysb. They propose an explanation that highlights a “paradox of empty promises”. Stanford’s Center for Security and Cooperation. but (2) the emergent global legitimacy of human rights exerts independent global civil society effects that improve states’ actual human rights practices. New Road.ac. nama mereka diurut berdasarkan abjad.hafner-burton@nuffield. Nuffield College. PENDAHULUAN Perlindungan hak asasi manusia yang mendasar adalah tujuan yang paling mendesak tetapi paling sulit dicapai oleh masyarakat internasional. Oxford. Oxford OXI 1 NF. dan Nuffield College. Inggris. Saat ini. Diciptakan setelah kehancuran yang disebabkan oleh Perang Dunia II. Their core arguments are that the global institutionalization of human rights has created an international context in which (1) governments often ratify human rights treaties as a matter of window dressing. radically decoupling policy from practice and at times exacerbating negative human rights practices. upayaupaya tersebut telah terakumulasi dalam pembentukan dan perluasan suatu sistem hukum internasional mendunia yang dirancang untuk mengidentifikasi dan melin1 Para penulis membagi tanggung jawab yang sama dalam pekerjaan ini. organisasi internasional. Para penulis sangat berterima kasih kepada para peserta Comparative Workshop di Stanford University. The authors’ statistical analyses on a comprehensive sample of government repression from 1976 to 1999 find support for their argument. 2 Contoh-contoh mencakup pelarangan formal terhadap perdagangan budak oleh Perjanjian Wina (1815) dan General Act of Brussel. adopsi Piagam PBB 1945 dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia tiga tahun kemudian membuka suatu jendela kesempatan bagi berbagai negara. dan khususnya kepada John Meyer dan Francisco Ramirez (dan juga peserta Global Research Seminar di Stony Brook University) atas komentar-komentar mereka yang penuh pemahaman. sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara-negara anggotanya untuk pertama kalinya membangun suatu dasar bagi upaya bersama untuk melindungi hak asasi manusia semua orang.cc. 2007 68 . dan aktor masyarakat serta aktor organisasi sipil untuk menempatkan hak asasi manusia dalam agenda hukum internasional.

ekonomi. sistematis. Contoh lain yang relevan adalah Irak. penghukuman mati. 2007 membawa praktik hak asasi manusianya agar sesuai dengan rejim tersebut. suatu masa di mana Pemerintah Guatemala dilaporkan telah melakukan pemenjaraan. 69 . pemerintah telah meratifikasi lima dari enam perjanjian inti yang melindungi hak asasi manusia. pada tahun yang sama Amnesty International juga melaporkan bahwa tindakan represif telah menjadi begitu ekstrim. Namun. dan budaya. perempuan. 1994). Namun. rejim tersebut juga memperluas dirinya untuk mengikutsertakan hak-hak asasi manusia utama yang baru (lihat tabel 1). sosial. komitmen hukum dari negara-negara untuk melindungi hak asasi manusia yang terus meningkat menandakan adanya suatu pergeseran yang fundamental dalam struktur masyarakat internasional. Meningkatnya kesenjangan antara keinginan negara untuk bergabung dalam rejim hak asasi manusia internasional dan untuk JURNAL HAM • Vol. di mana pelanggaran hak asasi manusia mencapai puncaknya pada 1994 dan 1995. Pada 1994. serta penahanan karena pandangan politik.3 Dengan demikian. Guatemala meratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional guna melindungi perempuan dari diskriminasi pada 1982. Dengan bertambah banyaknya bangsa yang secara sukarela mengikat diri pada rejim internasional ini. untuk menjamin kebebasan dari penyiksaan dan perlindungan terhadap kelompok ras minoritas dan anak-anak.dungi sejumlah hak asasi manusia mendasar yang terus bertambah. praktik-praktik hak asasi manusia tetap tidak berubah. Pemerintah Guatemala telah meratifikasi seluruh enam perjanjian penting hak asasi manusia (lihat tabel 1). 4 • Th. apa gunanya perjanjian internasional hak asasi manusia ketika perjanjian tersebut tidak dapat memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia? 3 Irak belum meratifikasi atau menandatangani CAT. pelanggaran hak asasi manusia di Irak adalah suatu hal yang umum terjadi. walaupun pertambahan jumlah tersebut mulai berkurang selama beberapa tahun belakangan ini. pelanggaran hak asasi manusia oleh pemerintah bersifat epidemis. politik. menantang efektivitas hukum internasional dan menimbulkan pertanyaan akan keabsahan komitmen hukum negara-negara untuk melindungi kehidupan warga negaranya. Perjanjian-perjanjian ini menyediakan berbagai lembaga pengawasan yang bekerja untuk memperbaiki praktik-praktik pemerintah dalam bidangbidang hak asasi manusia tertentu melalui pengumpulan dan diseminasi informasi. sementara (2) prosentase negara-negara yang dilaporkan melanggar hak asasi manusia juga bertambah dari waktu ke waktu. Kebanyakan negara sekarang mengikat dirinya pada suatu rejim internasional yang dirancang untuk melindungi hak-hak mendasar setiap anak. dan tersebar-luas (Amnesty International. Ketika pemerintah Irak meratifikasi perjanjian internasional pertamanya pada 1970 serta berkomitmen terhadap penghapusan segala bentuk diskriminasi rasial. dan seringkali melalui kerja sama dengan aktivis nonpemerintah. Jelas terlihat bahwa (1) rata-rata terjadi peningkatan prosentase negara yang telah meratifikasi sejumlah perjanjian hak asasi manusia. Sebagai yang pertama. dan pembunuhan politik secara meluas. dan laki-laki melalui hukum. Namun. Bagi banyak ilmuwan dan aktivis. Diagram 1 membandingkan prosentase perjanjian hak asasi manusia internasional yang ada saat ini yang rata-rata telah diratifikasi oleh negara-negara dengan prosentase negara-negara yang dilaporkan bersifat refresif dalam jangka waktu tertentu. Menjelang 1992. Ada banyak contoh. memperluas komitmennya untuk melindungi semua warga negaranya dari pelanggaran atas hak sipil.

* Per tahun 2001 Para ilmuwan hubungan internasional. Banyak ilmuwan hukum internasional dan konstrukvisionis hubungan internasional justru sangat menentang hal-hal di atas: negara-negara pada dasarnya berusaha untuk menaati prinsip-prinsip hukum internasional yang mereka dukung (Henkin. Tidak Manusiawi. khususnya yang mengembangkan tradisi realisme dan neoliberalisme. Pengarusutamaan perspektif hubungan internasional ini seringkali menganggap bahwa perkembangan proses legalisasi prinsipprinsip hak asasi manusia sebagai suatu epiphenomenal [suatu fenomena yang muncul sebagai akibat dari suatu hal yang lain] (Mearsheimer 1994/1995). 1979).Pihak* kukan 1965 1969 157 Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala bentuk Diskriminasi Rasial Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. dan Merendahkan Martabat Manusia Konvensi tentang Hak Anak Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial Komite Hak Ekonomi. Perjanjian-perjanjian pada dasarnya tidak dirancang untuk membuat pemerintah-pemerintah yang meratifikasinya dapat dimintai pertanggungjawaban atas komitmen mereka. telah memperkirakan kesenjangan antara komitmen negara-negara terhadap hukum internasional dengan praktik negara-negara tersebut. tradisi rasionalis telah membuat para ilmuwan menganggap bahwa rejim hak asasi manusia hanya berdampak sedikit pada praktik hak asasi manusia secara nyata. mereka mengasumsikan bahwa negara-negara hanya taat pada prinsip-prinsip hukum internasional ketika hal tersebut sesuai dengan kepentingan nasional mereka dan ketika ada institusi-institusi internasional yang dibentuk untuk menegakkan ketaatan terhadap hukum (Downs. Sosial. dan Barsoom 1996). 4 • Th. atau. Sosial. Organisasi internasional dan aktor-aktor nonpemerintah dapat mengajarkan dan mensosialisasikan kepada para pemimpin pemerintahan agar mengadopsi praktik- 70 JURNAL HAM • Vol. – Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa 2001. dan Budaya Komite Hak Asasi Manusia Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan Komite Menentang Penyiksaan ICESCR ICCPR CEDAW 1966 1966 1979 1976 1976 1981 144 147 167 CAT 1984 1987 124 CRC Komite Hak Anak 1989 1990 191 SUMBER. Hal tersebut juga berlaku untuk rejim hak asasi manusia internasional. 2007 .Tabel 1 PERJANJIAN HAK ASASI MANUSIA INTERNASIONAL Perjanjian CERD Nama Badan Pengawas Tahun Tahun Negara diadopsi diberla. Rocke. dan Budaya Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan Konvensi Menentang Penyiksaan dan Segala Bentuk Perlakuan atau Penghukuman yang Kejam. Pendeknya.

JURNAL HAM • Vol. Clarck 2001). praktik baru (Finnemore 1966a). 103-110). 2007 Persoalan dalam penelitian ini sangatlah jelas: sudut pandang teoritis mengarah pada kedua pandangan tersebut. Ropp. Cerita-cerita seperti di atas. yang banyak terdapat di berbagai literatur (Risse. Data ratifikasi dijelaskan secara detil pada bagian data dari tulisan ini. kecenderungan untuk mengisolasi kedua aspek utama dari proses penaatan telah membuat para ilmuwan gagal melihat gambaran yang lebih besar. Kami mendefinisikan suatu pelaku tindakan represif sebagai negara mana pun yang memiliki nilai 1. dan jarang ada bukti empiris yang sistematis untuk mendukung kedua pandangan tersebut. menunjukkan bahwa institusionalisasi hak asasi manusia secara global memiliki dampak langsung dan positif terhadap praktikpraktik negara. ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional mengarah pada pengurangan hambatan legal bagi orang-orang Korea di Jepang (Iwasawa 1986). hal. 71 . Kemudian.–% perjanjian yang diratifikasi (treaties ratified) mengukur prosentase perjanjianperjanjian internasional hak asasi manusia yang tersedia yang telah diratifikasi oleh negara pada periode tersebut. Ratifikasi perjanjian hak asasi manusia versus praktik hak asasi manusia pada periode 1976 sampai 1998. dan Sikkink 1999. % represif (repressive) mengukur prosentase negara-negara yang dilaporkan melanggar hak asasi manusia pada periode tersebut. Lutz dan Sikkink 2000.Diagram 1. atau 3 dari ukuran standar represif kami yang dijelaskan secara lengkap pada bagian data dari tulisan ini. Misalnya. 4 • Th. dan Konvensi Menentang Penyiksaan telah mengubah cara yang digunakan oleh Pemerintah Israel dalam menginterogasi orang-orang yang dicurigai sebagai teroris (Ron 1997). tekanan internasional turut menyumbang pada penurunan tingkat kasus penghilangan paksa di Argentina (Keck dan Sikkink 1998. Perhatian terhadap dampak langsung dari ratifikasi perjanjian formal telah mengarah pada kekhawatiran yang pesimis pada kesenjangan yang ada antara ratifikasi dan praktikpraktik domestik. Kepercayaan bahwa advokasi masyarakat sipil internasional dapat mendorong praktik-praktik yang lebih baik telah mengarah pada kepedulian yang lebih optimis ketimbang sifat dari kegiatan itu sendiri. 2.

5 Hasil pekerjaan terbaru Daniel Thomas (2001) merupakan sesuatu yang khusus dan menawarkan argumentasi yang hampir sama. istilah “institusi” mencakup.5 Di bagian berikutnya. dan rejim hukum hak asasi manusia tetap tidak memiliki kekuasaan lebih untuk menghentikan hal tersebut.4 Sebagai akibatnya. perjanjian internasional ini terkadang digunakan oleh pemerintah sebagai tameng atas perilaku yang semakin represif karena ratifikasi perjanjian tersebut memberikan suatu legitimasi hak asasi manusia yang justru mempersulit pihak-pihak lain untuk melakukan penekanan agar pemerintah-pemerintah semacam itu mau melakukan tindakan yang lebih baik. dalam hal rejim tersebut memberikan kekuatan bagi advokasi aktor-aktor nonnegara melalui alat-alat untuk menekan pemerintah-pemerintah agar menaati perjanjian-perjanjian tersebut. JURNAL HAM • Vol. yang mengatur semakin meningkatnya legitimasi hak asasi manusia sebagai norma global perilaku negara yang selayaknya dalam rangka menekan negara-negara untuk memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusianya. namun aktor-aktor nonnegara dapat mengambil keuntungan dengan menggunakan tekanan pada pemerintah dan menghasilkan perubahan politik. Kemudian. Kemudian. 4 • Th.Kami menarik pandangan-pandangan dari rasional institusionalisme dalam hubungan internasional dan pendekatan masyarakat dunia dalam sosiologi untuk menjelaskan temuan-temuan yang kelihatannya saling bertentangan serta untuk merekonsiliasi kedua prediksi yang bertentangan tersebut. hak asasi manusia yang diadvokasi secara regular justru bergerak di seputar perjanjian-perjanjian tersebut. tetapi tidak hanya terbatas pada. Di satu sisi. 2007 72 . Argumentasi utama kami adalah bahwa institusionalisasi hak asasi manusia secara global telah menjadi pedang yang memiliki dua ujung. kami akan menjelaskan tentang pendekatan teoritis dalam konteks perspektif saat ini yang menggambarkan tentang represi pemerintah atas hak asasi manusia. Kajian tersebut memeriksa dampak Helsinki Final Act 1975 pada perkembangan politik setelahnya di negara-negara sosialis dengan menggunakan teknik kualitatif dan menyatakan bahwa partisipasi pemerintah dalam perjanjian hak asasi manusia internasional cenderung merupakan komitmen yang “kosong”. Di sisi lain. Dengan demikian. perjanjian hak asasi manusia internasional memang memiliki suatu mekanisme institusional yang lemah untuk memonitor dan menegakkan norma-norma rejim. kami menggunakan istilah “insti- tusi” untuk merujuk pada pengharapan normatif yang luas. maka komitmen institusional yang “kosong” atas rejim yang lemah tersebut justru terlihat ironis. kami meninjau nilai-nilai empiris dari argumentasi 4 Dalam kajian ini. kami menjelaskan dampak perjanjian hak asasi manusia sebagai suatu “paradoks janji-janji kosong”. pendekatan kami menjadi bertentangan dengan pandangan-pandangan teoritis saat ini. Oleh karenanya. perjanjian-perjanjian internasional. yang tidak satu pun menjelaskan tentang kedua proses tersebut dalam satu model yang sama dan oleh karenanya gagal untuk menjelaskan dampak yang bersifat bertentangan dari institusi-institusi hak asasi manusia global atas praktik-praktik lokal. maka pemerintah seringkali menjadi lebih represif setelah melakukan ratifikasi. dan praktik-praktik yang dikembangkan di seputar struktur organisasional dan hukum internasional (March dan Olsen 1998). Ketika negara bangsa membuat komitmen legal formal untuk menjadikan penaatan terhadap hak asasi manusia sebagai suatu simbol sementara mereka justru melakukan pelanggaran hak asasi manusia. yang kemudian menawarkan insentif yang kuat untuk meratifikasi perjanjian internasional kepada pemerintah-pemerintah hanya untuk menciptakan image publik yang penuh kepura-puraan (window dressing) ketimbang sebagai suatu komitmen yang serius untuk melaksanakan praktik penghormatan terhadap hak asasi manusia. aturan. Ketika tekanan dari pihak luar menurun. setelah diratifikasi.

Untuk lebih lanjutnya. Perjanjian hak asasi manusia internasional hanyalah sekedar sarana yang diciptakan oleh negara-negara liberal yang berkuasa untuk memajukan kepentingan mereka. Richards dkk. 7 Kami menekankan pada hak-hak ini karena hakhak ini sangat mendasar bagi martabat manusia – hak untuk bebas dari pembunuhan. Apodaca (2001) menguji hipotesis tentang dampak globalisasi ekonomi pada periode 1990–1996. tidak manusiawi. hukum internasional adalah bersifat epiphenomenal [suatu fenomena yang muncul sebagai akibat dari suatu hal yang lain] bagi kekuasaan negara: sehingga tunduknya negara pada kewajiban hukum mereka untuk melindungi hak asasi manusia hanya merupakan suatu kebetulan belaka. dan kepentingan ini ditentukan oleh struktur kekuasaan dalam sistem internasional (Waltz 1979). rejim hukum internasional dapat mempengaruhi perilaku negara dalam beberapa hal penting: rejim memfasilitasi kerja sama antar negara-negara berdaulat dengan meyediakan suatu mekanisme koordinasi dan mekanisme komitmen yang mengidentifikasi kewajiban negara 6 Kami mencatat bahwa beberapa kajian terbaru mencakup data di masa pasca Perang Dingin. Teori-teori tentang Ketaatan secara Umum dalam Hubungan Internasional dan Hukum Internasional Pertanyaan tentang apakah hukum hak asasi manusia internasional mempengaruhi praktik hak asasi manusia pemerintah mengandung suatu pertanyaan politik yang lebih dalam mengenai ketaatan negara terhadap rejim hak asasi manusia internasional. 4 • Th. dan kami meninjau kontribusi kajian empiris lintas-negara yang ada tentang hak asasi manusia untuk mengidentifikasikan variabel kontrol bagi analisa empiris kami. atau perlakuan atau penghukuman yang kejam. dan posisi tawar-menawar di tingkat JURNAL HAM • Vol. penyiksaan. dan hanya ada sedikit harapan bahwa perjanjian ini dapat mengubah perilaku negara. bebas dari penghilangan atau penahanan yang tidak sesuai dengan hukum. kami menekankan pada bagaimana kekuatan global telah membentuk perilaku represif pemerintah pada hak asasi manusia yang paling mendasar: yaitu hak atas keamanan. kepentingan nasional. Bagi yang lain. yaitu mulai periode 1976 sampai 1999. Kami mendiskusikan bagaimana pendekatan kami dapat menjelaskan dinamika ketaatan terhadap perjanjian-perjanjian hak asasi manusia internasional yang diinterpretasikan dengan dua cara (bersifat double-edge) dengan lebih baik. dan bebas dari pelanggaran lain yang disengaja atas hak untuk hidup dan kebebasan seseorang. data kami memungkinkan dilakukan penyelidikan yang menyeluruh atas politik hak asasi manusia di negara-negara pasca Perang Dingin dan adanya dasar untuk analisa komparatif terhadap perilaku represi pemerintah di berbagai masa. Untuk pertama kalinya. (2001) memeriksa dampak masuknya ekonomi asing pada perilaku represif pemerintah dengan menggunakan sample 43 negara-bangsa dalam jangka waktu 1981–1995. 2007 domestik. Bagi beberapa negara. 73 .6 Secara menyeluruh. Misalnya.kami dengan menggunakan analisa periode waktu praktik hak asasi manusia dengan jangka waktu panjang yang berbeda dari pekerjaan-pekerjaan yang pernah dilakukan sebelumnya.7 TEORI-TEORI Dibagian ini kami membandingkan perspektif-perspektif teoritis yang saling bertentangan mengenai ketaatan terhadap hukum internasional. Kemudian. dengan argumentasi bahwa pemerintah tunduk pada hukum internasional hanya ketika hukum tersebut sesuai dengan kepentingan nasionalnya. Kebanyakan ilmuwan politik menekankan pada peran negara. lihat HafnerBurton (2005). terutama ketika perjanjian ini tidak memiliki mekanisme penegakan (HafnerBurton dalam cetakan). atau merendahkan martabat manusia. Perilaku negara dimotivasi oleh kepentingan-pribadi mereka.

maka ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional tidak dapat selalu diterjemahkan sebagai ketaatan terhadap perjanjian tersebut. dan Meyer 2004). baik secara langsung maupun tidak langsung. Karena konfigurasi kepentingan dan kekuasaan politik di dalam dan di seputar negara berubah seiring waktu. Downs dkk. Pendekatan pengarusutamaan seperti ini dalam hubungan internasional menekankan pada kekuasaan dan kepentingan sebagai faktor pendorong negara untuk me- ratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional dan menganggap bahwa ratifikasi tersebut hanya akan berdampak sedikit terhadap praktik-praktik hak asasi manusia. Memang. Namun demikian. walaupun pemerintah tersebut sebenarnya tidak memiliki keinginan ataupun kapasitas untuk melaksanakan kewajiban berdasarkan perjanjian hak asasi manusia internasional tersebut (HafnerBurton. 74 JURNAL HAM • Vol. namun jumlah negara yang menyatakan komitmennya pada institusi semacam itu tetap harus dibatasi. Tsutsui. walaupun rejim hak asasi manusia internasional dapat mendorong kerja sama antarnegara dan membatasi perilaku represif pemerintah terhadap hak asasi manusia. Apakah negara sungguh-sungguh menaati komitmen mereka pada perjanjian ini tergantung pada mobilisasi para aktor di tingkat domestik yang mendukung ketaatan terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional. dan para pemimpin pemerintahan menyadari bahwa rejim tersebut lemah serta bahwa berbagai badan monitoring tidak memiliki alat untuk menegakkan hukumnya (Cleveland 2001). 2007 . Perjanjian hak asasi manusia internasional merupakan institusi yang dihasilkan dari permainan tawar-menawar kolektif semacam itu (Moravcsik 2000). Oleh karenanya.8 Sebagaimana argumentasi kami di bawah ini. Negara-negara mengetahui tentang kekurangan ini. rejim hak asasi manusia tidak dirancang untuk menyediakan sarana institusional yang kuat bagi anggotanya untuk menegakkan ketaatan terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional. 1996). negara-negara hanya bergabung dengan dan tunduk pada rejim ketika hal tersebut sesuai dengan kepentingan rasional mereka (Keohane 1984. kami menganggap bahwa argumentasi kelompok rasionalis mengenai dampak langsung ratifikasi tetap memiliki nilai yang berarti. Oleh karenanya. yang oleh karenanya sulit untuk diperkirakan sebelumnya. pendekatan ini sepenuhnya mengabaikan aktor-aktor nonpemerintah dan menghasilkan penjelasan yang bersifat 8 Lihat Hafner-Burton dalam cetakan.serta menyediakan suatu sarana untuk penegakan kewajiban tersebut. Walaupun pendekatan ini tidak pernah diuji secara sistematis. dan ketaatan pada rejim akan sangat tergantung pada rancangan rejim tersebut. Namun demikian. 4 • Th. kami melihat bahwa kesenjangan antara ratifikasi dan perilaku untuk melaksanakan perjanjian hak asasi manusia internasional disebabkan karena adanya insentif bagi pemerintah yang meratifikasi perjanjian tersebut. kami berargumen bahwa persoalan utama dalam pendekatan ini adalah bahwa pendekatan ini tidak melihat dampak positif dari institusionalisasi rejim hak asasi manusia internasional terhadap praktik-praktik di tingkat lokal yang bekerja bukan melalui sistem perjanjian namun melalui aktor-aktor nonpemerintah. Pihak lain juga menyatakan bahwa ketaatan negara pada hukum internasional adalah suatu fungsi dari preferensi negara yang ditentukan oleh posisi tawar-menawar politik di tingkat domestik: institusi politik dan aktor negara menentukan apakah pemerintah dapat menyatakan komitmennya pada hukum internasional dan apakah negara dapat tunduk pada komitmen tersebut dalam jangka waktu panjang (Moravcsik 1997).

Pertama. 2007 kuat untuk tidak tunduk pada rejim tersebut. berbagai dampak normatif hukum terhadap individu yang terdokumentasi dengan baik dapat diterapkan terhadap perilaku pemerintahan di tingkat nasional (Kratochwill 1989. Sebagaimana orang-orang cenderung mengikuti hukum ketika tidak ada insentif untuk melakukan sebaliknya. Keck dan Sikkink 1998. Para ilmuwan konstruksivionis hak asasi manusia menekankan pada caracara di mana organisasi internasional dapat mensosialisasikan atau mengajarkan negara-negara agar menerima tujuan dan nilai-nilai yang tertanam dalam hukum internasional. Suatu aliran teori yang disebut sebagai neo-institusionalisme dalam sosiologi telah mempengaruhi kecen- 75 . Akhirnya. Karena pemerintah hanya meratifikasi perjanjian ketika hal tersebut sesuai dengan kepentingan nasionalnya. perjanjian internasional merupakan hasil negosiasi komprehensif yang mencerminkan kepentingan nasional negara-negara anggota. Sejauh ini. kami mengusulkan suatu argumentasi sosiologis yang membedakan antara sistem perjanjian dan aktor nonpemerintah guna menjelaskan dinamika ketaatan pada perjanjian hak asasi manusia yang bersifat kompleks. Para ilmuwan hukum internasional seringkali mengira bahwa negara-negara cenderung menaati komitmen mereka atas perjanjian internasional. Berangkat baik dari pendekatan rasionalis maupun pendekatan masyarakat dunia.sangat pesimistis tentang dampak rejim hak asasi manusia. Pendekatan teoritis lain dalam literatur yang relevan membuat asumsi-asumsi yang berbeda. sistem perjanjian formal dan kegiatan aktor nonpemerintah. 4 • Th. Organisasi internasional tidak hanya membatasi perilaku negara melalui sanksisanksi hukum yang diterapkan oleh hukum internasional. di mana hal ini mencerminkan proses tawar-menawar di tingkat domestik. tetapi juga mensosialisasikan negara-negara agar menerima norma dan nilai-nilai baru seperti hak asasi manusia yang diabadikan dalam hukum internasional di masa ini. 1999). Kedua. yang disajikan oleh Chayes dan Chayes (1995). Salah satu model hukum yang paling berpengaruh saat ini. mereka cenderung tunduk pada perjanjian yang mereka pilih. maka negara-negara cenderung tunduk pada perjanjian hak asasi manusia internasional ketika tidak ada hambatan yang signifikan bagi penaatan tersebut. menyatakan bahwa ada tiga alasan untuk mengharapkan ketaatan negara pada perjanjian internasional. dimensi normatif dan budaya politik internasional telah semakin menarik perhatian ilmu-ilmu sosial. untuk pertama kalinya. Risse dkk. Young 1979). karena mereka gagal untuk menguraikan dua dimensi utama dari dinamika dari ketaatan terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional – yaitu. Pendekatan Masyarakat Dunia Pada satu atau dua dekade terakhir ini. kecenderungan global yang diringkas dalam diagram 1 berlawanan dengan argumentasi-argumentasi tersebut. Berangkat dari asumsi utama mereka bahwa kepentingan negara didefinisikan dalam konteks norma-norma internasional yang dipegang oleh negara tersebut – yaitu norma-norma yang seringkali tertanam dalam hukum internasional dan dilaksanakan oleh pemerintah serta aktoraktor nonpemerintah – maka para konstruktivionis berpendapat bahwa negaranegara tunduk pada hukum internasional ketika para elit pemerintahan dapat belajar menerima dan memasukkan norma-norma dan nilai-nilai bersama yang membentuk kehidupan politik internasional (Finnemore 1996a. organisasi yang tidak aktif tersebut menyebabkan penaatan menjadi lebih tidak mahal dan menjadi pilihan yang lebih menarik karena ketika tidak ada alasan-alasan yang JURNAL HAM • Vol.

penelitian tentang penyebaranluasan pemberian hak suara kepada perempuan. 4 • Th. Meyer dkk. Penelitian-penelitian semacam ini menjelaskan tentang bagaimana standar global dan model-model yang telah ada dan diterima begitu saja membatasi politik nasional. yaitu bahwa perubahan kebijakan formal seringkali bersifat nominal dan tidak memiliki dampak yang diharapkan pada praktik nyata (Meyer dan Rowan 1977. Sebagaimana para peneliti kemudian berusaha mengembangkan upaya yang dipelopori oleh Meyer dan Rowan (1977). Kecenderungan semakin meningkatnya tindakan bersatunya negara-negara dari arah yang berbeda-beda atas dasar struktur domestik yang sama ini seiring dengan semakin meningkatnya integrasi negaranegara ke dalam suatu masyarakat internasional. maka semakin banyak pula negara-negara yang sama-sama menerapkan struktur politik dan sosial yang memiliki tampilan yang sama namun asalnya berbeda [bersifat isomorphic] (atau yang menyatukan diri dari asal yang berbeda-beda) pada berkesesuaian dengan model internasional (McNeely 1995. Boli. pendekatan neo-institusionalisme mengacu pada suatu pendekatan teoritis yang memberikan perhatian khusus terhadap dimensi kognitif. Elemen utama pendekatan ini adalah legitimasi. dan penelitian tentang ekspansi rejim lingkungan hidup di tingkat global (Meyer. Scott 2000). Boli. seringkali disebut sebagai pendekatan masyarakat dunia atau perspektif politik dunia. budaya. Karena kemudian banyak pemerintah yang mengorganisir dan merestrukturisasi politik nasionalnya di seputar model global dan standar perilaku yang selayaknya. Jacobson 1998. Berkembang dari kajian organisasional. Argumentasi utamanya adalah bahwa model dan norma yang terinstitusionalisasi di tingkat global mendapatkan status yang diinginkannya setelah jangka waktu tertentu dan mempengaruhi pembuat kebijakan di tingkat nasional. Boli dan Thomas 1999). 1992). 1987. Brunsson 1989. Frank. dan bahwa ratifikasi tersebut tidak sepenuhnya mengarah JURNAL HAM • Vol. penelitian tentang diseminasi kurikulum sekolah (Meyer dkk. Dalam hal ratifikasi perjanjian-perjanjian internasional. Finnemore 1996b. Meyer dan Scoot 1992. mempunyai pengaruh tersendiri. Berkovitch 1999. Katzenstein 1996. dkk. Institusionalisasi semacam ini cenderung mengurangi adanya keragaman dalam organisasi karena kebanyakan dari mereka tunduk pada standar-standar yang telah diterima. 1992. 1997. Beberapa topik dari penelitianpenelitian pendekatan ini antara lain. Meyer. Krasner 1999). dan normatif dari realita organisasional (Meyer dan Rowan 1977. dkk. Soysal 1994. Sementara prediksi hasil yang bersifat isomorphic ini seringkali terbatas pada bentuk organisasional dan adopsi kebijakan. karena organisasi membuat naskah yang memuat elemen-elemen standar yang dianggap sah di lingkungannya. pendekatan masyarakat dunia beranggapan bahwa keputusan untuk meratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional seringkali hanya merupakan sikap simbolis guna menunjukkan bahwa pemerintah bukanlah aktor yang menyimpang. 2007 76 . 1997). Meyer. Boli dan Thomas 1999). literatur menunjukkan kemungkinan terjadinya pemisahan antara kebijakan dan praktik. Penerapan pendekatan ini dalam pengkajian tentang proses politik internasional. Powell dan DiMaggio 1991.derungan tersebut. 1997). penelitian tentang gelombang dekolonisasi. dkk. pendekatan teoritis ini telah mempengaruhi banyak bidang dalam penelitian ilmiah sosial (Thomas dkk. Pendekatan ini menantang asumsi rasionalitas tujuan perilaku organisasional dan berargumentasi bahwa organisasi secara rutin mengikuti model dan standar yang telah ada apa pun kebutuhan fungsionalnya.

Selama beberapa tahun ini. maka pemerintah-pemerintah akan cenderung meratifikasi tanpa adanya keinginan dan kapasitas untuk tunduk pada ketentuan-ketentuan dalam perjanjian hak asasi manusia internasional. dan untuk meyakinkan pemerintah serta pelaku pelanggaran bahwa hukum yang memberikan perlindungan bagi hak asasi manusia cukup untuk membatasi perilaku negara-bangsa sehingga oleh karenanya hukum tersebut harus dihormati. kami memperluas konsep pemisahan (decoupling) kepada proses instiJURNAL HAM • Vol. rejim hak asasi manusia dibuat untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasi hak-hak mana yang sah di tingkat global. serta untuk mendiseminasikan informasi tersebut di tingkat global. Downs dkk. Ketika legitimasi suatu perjanjian mengalami perkembangan sampai pada suatu tingkat di mana negaranegara yang tidak meratifikasi terlihat sebagai sesuatu yang menyimpang dari kebiasaan yang normal. Kami berargumen bahwa perjanjian hak asasi manusia internasional tidak cukup memiliki mekanisme penegakan yang dapat memberikan insentif bagi pemerintahpemerintah agar tidak menyimpang dari kebijakan mereka untuk berkomitmen pada perjanjian-perjanjian tersebut (Hathaway 2002. tusional dan hal-hal yang terjadi secara kebetulan dalam sejarah politik hak asasi manusia global. legitimasi negara tanpa adanya penegakan – dapat mengarahkan pemerintah untuk menggunakan hukum internasional sebagai tameng bagi semakin meningkatnya perilaku kekerasan di tingkat domestik. Tsutsui dan Wotipka 2001). Dalam upaya menjelaskan dinamika penaatan yang bersifat tidak konsisten ini. tindakan ratifikasi suatu perjanjian seringkali tidak seiring dengan praktik yang relevan. Dari waktu ke waktu. rejim hak asasi manusia internasional telah membuktikan bahwa rejim ini semakin kompeten dalam menyediakan instrumen-instrumen yang dibutuhkan guna mengumpulkan dan bertukar informasi tentang pelanggaran hak asasi manusia. 77 . 4 • Th. 2007 komite PBB yang memberikan pelaporan formal dan melakukan fungsi monitoring. Oleh karena itu. 1996. di mana perjanjian-perjanjian memiliki dampak yang terbalik dengan apa yang diinginkan sebelumnya. kami memperluas pendekatan ini pada kajian hak asasi manusia dan membuat dua prediksi utama. penelitian dalam pendekatan masyarakat dunia telah cenderung menekankan pada proses pemisahan ini. Seperti halnya pendekatan nasional dalam hubungan internasional.9 9 Perjanjian-perjanjian utama melengkapi komite- ARGUMENTASI Pertama.pada praktik-praktik ketaatan pada perjanjian tersebut. Dengan demikian terbentuk suatu dasar yang kuat atas apa yang disebut sebagai “pemisahan (decoupling) yang radikal”. dengan hanya melakukan sedikit upaya untuk menyesuaikan perilaku mereka dengan ketentuanketentuan dalam perjanjian tersebut. elit yang berkuasa mungkin meratifikasi suatu perjanjian untuk memperoleh legitimasi di masyarakat internasional. untuk menyediakan suatu forum guna pertukaran informasi berkaitan dengan pelanggaran hak asasi manusia. Dengan kata lain. yang menggarisbawahi kurangnya dampak dari model global terhadap praktik nyata. Pada dasarnya. kedua sifat rejim ini – yaitu. terutama ketika perjanjian tersebut tidak memiliki mekanisme penegakan yang efektif dan pemerintah nasional dibiarkan begitu saja untuk melaksanakan perjanjian tersebut di tingkat domestik – ini merupakan hal yang pada umumnya terjadi dalam kebanyakan perjanjian internasional. yang oleh karenanya semakin meningkatkan kemungkinan terjadinya pemisahan sebagaimana disebutkan di atas.

dan Hathaway (2002) melaporkan suatu dampak negatif dari ratifikasi perjanjian atas praktikpraktik hak asasi manusia pemerintah di beberapa contoh. Praktik-praktik yang bersifat represif ini semakin diperburuk setelah ratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional. 2007 78 .10 Pemerintah-pemerintah. yang dipersenjatai dengan banyak informasi bahwa komitmen mereka terhadap rejim tidak akan mengarah pada penegakan yang serius tetapi justru memberikan mereka legitimasi di mata negara-negara lain. Dalam analisa data antarbangsa. baik dengan mengkritik kekuatan-kekuatan poros dalam Perang Dunia II atau dengan memperjuangkan kemerdekaan dari pihak penjajah. maka kesenjangan antara kebijakan dan praktik ini telah mengarah pada proses pemisahan yang semakin gawat dan radikal. sebagaimana akan kami bahas di bawah ini. Kemungkinan proses pemisahan yang radikal ini membawa kita pada dua dampak yang dapat diamati: ratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional akan memiliki baik (1) dampak positif terhadap 10 Beberapa kajian empiris digunakan untuk mendu- kung bukti-bukti argumentasi ini. dan secara retoris. JURNAL HAM • Vol. Perjanjianperjanjian tidak menawarkan adanya kompensasi materi. Namun. rejim hak asasi manusia internasional sebenarnya telah memberikan kesempatan bagi pemerintah untuk mendapatkan legitimasi internasional dengan mendukung prinsip-prinsip hak asasi manusia tanpa benar-benar melaksanakan praktik-praktik hak asasi manusia di negaranya (Mullerson 1997). Oleh karena itu. rejim ini tidak memberikan suatu mekanisme penegakan formal guna menyediakan atau mengacaukan pertukaran informasi yang berharga dengan negara target (Cottier 2002. Yang terbaik yang dapat dilakukan adalah bahwa instrumen hukum dari rejim ini dapat mempengaruhi praktik-praktik secara langsung dengan memberikan informasi kepada negara-negara yang represif agar termotivasi untuk mengadopsi normanorma baru agar berperilaku lebih baik (Hafner-Burton dalam cetakan). rejim perjanjian hak asasi manusia internasional tidak berdaya untuk mengubahnya. Goodman dan Jinks dalam cetakan). hukum. telah ditempatkan pada posisi mendukung perjanjian hak asasi manusia (Lauren 1998). Dengan semakin bertambahnya jumlah negara yang mendapatkan keuntungan dari legitimasi atas ratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional namun gagal untuk memenuhi komitmennya. yaitu suatu masa di mana banyak pemerintahan menganggap ratifikasi terhadap perjanjian semacam ini hanya sebagai suatu hal politik yang tidak signifikan.Namun. yang berada di bawah payung suatu kekuatan superpower yang mungkin membela atau mengabaikan kebijakan domestik mereka berkaitan dengan hak asasi manusia. maupun politik atas praktik-praktik hak asasi manusia yang lebih baik. sekarang bebas untuk menyembunyikan praktik-praktik hak asasi manusia domestiknya di belakang hukum internasional. Camp Keith (1999) menemukan bahwa tidak terdapat hubungan antara ratifikasi ICCPR dengan praktik-praktik hak asasi manusia. Permasalahan dalam upaya penegakan ini semakin diperkuat oleh kenyataan historis bahwa kebanyakan perjanjian hak asasi manusia utama mulai diberlakukan pada saat Perang Dingin. Ratifikasi atas perjanjian hak asasi manusia internasional mengarah pada kemungkinan adanya hubungan yang negatif antara kebijakan dan praktik. dan perjanjian-perjanjian ini juga tidak dapat menghukum pelaku pelanggaran secara langsung dengan melakukan penahanan atas barang-barang berharga. Banyak pemerintah yang menyatakan dukungan mereka terhadap ide-ide hak asasi manusia. bentuk pengaruh yang langsung ini bersifat lemah dan seringkali tidak efektif. di samping kapasitas penyebarluasan informasi tersebut. dan sementara itu. 4 • Th.

dengan bantuan Amnesty International dan kelompok-kelompok lainnya. para aktivis Chili. menjadi semakin tidak layak.praktik-praktik domestik atau (2) dampak negatif. Dalam lingkungan politik global baru yang dicirikan oleh semakin meningkatnya kesadaran akan prinsip-prinsip hak asasi manusia. bagi pemerintah di tingkat nasional untuk menganggap tuduhan atas pelanggaran hak asasi manusia hanya seba- 79 . 4 • Th. dan kelompok-kelompok hak asasi manusia di Indonesia bertukar informasi dengan International Commission of Jurists dan organisasi-organisasi internasional lainnya dalam mengkampanyekan pembebasan para tahanan politik (Jetschke 1999. Misalnya. yang bekerja melalui organisasi nonpemerintah internasional yang menyebarluaskan dan memajukan prinsip-prinsip hak asasi maJURNAL HAM • Vol. seperti Amnesty International dan Human Rights Watch. mempublikasikan kasus-kasus penghilangan paksa yang dilakukan oleh pemerintahnya (Clarck 2001. 140-141). janji kosong ini seringkali tidak konsisten. Walaupun terdapat kesenjangan institusional antara perjanjian hak asasi manusia dengan insentif bagi pemerintah-pemerintah untuk tunduk pada perjanjian tersebut. Kedua. namun rejim perjanjian itu sendiri bukan merupakan penyebab perilaku tersebut. hal. legitimasi prinsip-prinsip hak asasi manusia menyebabkan pemerintah yang menjadi target rentan terhadap rasa malu yang mungkin timbul dan kehilangan legitimasi dalam masyarakat internasional sebagai hasil dari ketidaktaatannya pada hukum hak asasi manusia internasional. Organisasi nonpemerintah internasional. Dampak negatif ini dapat bersifat langsung – yaitu ketika pemerintah secara sengaja menggunakan komitmennya terhadap rejim perjanjian hak asasi manusia internasional sebagai tameng bagi praktik-praktik hak asasi manusia mereka yang semakin memburuk dari pemeriksaan yang cermat dunia internasional – atau secara tidak langsung – yaitu ketika rejim perjanjian hak asasi manusia internasional tidak memiliki kapasitas untuk menghentikan negara yang meratifikasi dari perilaku represif yang semakin meningkat. maka ide-ide yang dikodifikasi dalam perjanjian-perjanjian ini telah mendapatkan status yang bersifat biasa (taken-for-granted) dalam politik global. jika tidak dimungkinkan. hal. semakin banyak organisasi nonpemerintah internasional menggunakan norma-norma hak asasi manusia global sebagai alat untuk melakukan lobi dan menekan pemerintah di tingkat nasional agar memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia mereka (Ron 1997. 73-74). Pertama. Kelompokkelompok di tingkat domestik juga meminta pertolongan aktor-aktor eksternal untuk mempublikasikan pelanggaran yang terjadi di negaranya. Proses ini dibantu oleh kegiatankegiatan aktor nonpemerintah. Legitimasi prinsip hak asasi manusia yang semakin berkembang ini membawa dua akibat. Keck dan Sikkink 1998. Tsutsui 2004). Semakin banyaknya jumlah negara yang meratifikasi perjanjian hak asasi manusia. semakin meningkat dan meluasnya komitmen negaranegara pada rejim hak asasi manusia global telah mengarah pada meningkatnya prinsip-prinsip hak asasi manusia yang pada saat yang sama mengubah perilaku pemerintah melalui upaya-upaya penekanan secara normatif. karena pemerintah yang represif meratifikasi lebih banyak lagi perjanjian hak asasi manusia internasional dan semakin melakukan pelanggaran hak asasi manusia di mana rejim perjanjian hak asasi manusia tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan hal tersebut. aktif dalam mempublikasikan pelanggaran hak asasi manusia guna menekan pemerintah yang represif. 2007 nusia di tingkat global (Tsutsui dan Wotipka 2004). menurut kami. Kedua.

80 JURNAL HAM • Vol. serta dalam jangka waktu pendek seringkali memperburuk pelanggaran hak asasi manusia. Untuk memastikannya. tanpa mempertimbangkan apakah mereka secara individual menyepakati prinsip-prinsip yang tercakup di dalamnya. negara yang memiliki jumlah keanggotaan dalam lebih banyak organisasi nonpemerintah internasional) akan lebih menghormati hak asasi manusia masyarakatnya. negara-negara yang lebih melekat pada masyarakat sipil internasional (misalnya. kami sepakat dengan pengarusutamaan teori hubungan internasional bahwa perjanjian memiliki 11 Patut dicatat bahwa dampak dari masyarakat sipil internasional terjadi di banyak negara baik apakah pemerintahnya telah meratifikasi perjanjian hak asasi manusia atau belum. tradisi.gai intervensi terhadap persoalan domestik mereka. Namun. tetapi hubungan suatu negara dengan masyarakat sipil internasional (melalui keanggotaan dalam organisasi nonpemerintah internasional) dapat mempengaruhi pemerintah untuk memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusianya. Dengan demikian. sebagai akibatnya. hubungan negara dengan masyarakat internasional memiliki dampak positif. Jika suatu negara memiliki hubungan yang erat dengan masyarakat sipil global. Kami berargumen bahwa perluasan rejim hak asasi manusia internasional telah menciptakan suatu konteks global di mana (1) pemerintah mungkin meratifikasi perjanjianperjanjian hak asasi manusia walaupun mereka tidak siap untuk tunduk pada ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. [1912] 1995).11 Kesimpulannya. Keck dan Sikkink 1998). Proses utamanya adalah tema utama yang dikemukakan oleh Durkheim ([1985] 1982. Tema ini digunakan dan ditekankan dalam pekerjaan Randall Collins (1992). (2) meningkatnya legitimasi prinsip-prinsip hak asasi manusia yang ditawarkan oleh masyarakat sipil internasional telah memberikan tekanan pada pemerintah-pemerintah agar memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia baik apakah mereka telah meratifikasi perjanjian hak asasi manusia atau pun tidak. tetapi secara bertentangan. kami berpendapat bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia mungkin bisa tidak memiliki dampak yang signifikan atau pun memiliki dampak negatif terhadap praktik-praktik hak asasi manusia. kami memgunakan pemahaman dari institusionalisasi rasional dalam hukum internasional dan pendekatan masyarakat dunia dalam sosiologi. 2007 . Ratifikasi pemerintah terhadap hukum internasional tidak cukup untuk memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia. sehingga menyebabkan terjadinya pemisahan yang radikal antara kebijakan dan praktik. maka aktor nonpemerintah internasional akan sangat mungkin dapat mengetahui dan melaporkan pelanggaran yang terjadi dalam negara tersebut. 4 • Th. Aktor-aktor di tingkat domestik dalam negara yang memiliki hubungan erat dengan masyakat sipil global tersebut cenderung memiliki kesadaran lebih atas hakhak yang mereka miliki dan akan sangat mungkin menemukan cara-cara untuk mempublikasikan persoalan-persoalan mereka serta menekan pemerintahnya agar menangani persoalan-persoalan tersebut. Dengan demikian. Dengan demikian. publisitas yang buruk yang dilakukan oleh aktor nonpemerintah seringkali memaksa pemerintah untuk menangani persoalan-persoalan hak asasi domestik mereka (Risse dkk. Ritual. masyarakat sipil menyediakan mekanisme penegakan yang tidak dimiliki oleh perjanjian hak asasi manusia internasional. Walaupun sulit bagi badan-badan internasional untuk melakukan penuntutan hukum terhadap pelanggaran di tingkat domestik. dan norma-norma bersama pada umumnya mendasari kegiatan orang-orang dan kelompok-kelompok orang. 1999. dan masyarakat sipil seringkali dapat menekan semakin banyak pemerintahan yang rentan agar tunduk pada rejim hak asasi manusia internasional.

– Banyak pengkajian tentang praktik-praktik hak asasi manusia mengkaji tentang dampak pembaJURNAL HAM • Vol. argumentasi kami berbeda dari pengarusutamaan teori hubungan internasional karena kami memprediksikan bahwa ratifikasi akan seringkali diamati memiliki dampak negatif dengan praktik-praktik hak asasi manusia dan meningkatkan perilaku represif. telah muncul beberapa kajian komparatif yang melihat banyak faktor yang membentuk praktik-praktik hak asasi manusia di tingkat lokal. Faktor-faktor ekonomi. Poe dan Tate 1994. Jeane Kirkpatrick (1979) berargumen bahwa rejim totalitarian kiri lebih mungkin melakukan pelanggaran hak asasi manusia karena mereka hampir memiliki kontrol penuh atas kehidupan warga negaranya. Dari kajian seminal McKinlay dan Cohan (1975) dan Strouse dan Claude (1976) sampai analisa periode-waktu kolektif yang rumit dari Poe. dan Camp Keith (1999). stabilitas politik seringkali lebih mudah dicapai. yang menunjukkan dampak positif demokrasi terhadap praktik hak asasi Teori-teori Praktik Hak Asasi Manusia Dalam beberapa dekade terakhir. 478) menawarkan suatu “tesis kemiskinan yang sederhana”. dan oleh karenanya akan lebih mengakomodir permintaan warga negaranya tanpa konflik kekerasan. karena kami membedakan dua dimensi dari rejim hak asasi manusia internasional yang dibaurkan dalam tulisan ini – sistem perjanjian dan hubungan dengan organisasi nonpemerintah internasional – dan prediksi bahwa sistem perjanjian tidak memiliki dampak atau memiliki dampak negatif serta organisasi nonpemerintah internasional memiliki dampak positif. 2007 81 . Poe dkk. yaitu suatu pandangan yang diterima secara umum bahwa kurangnya sumber daya ekonomi merupakan dasar subur bagi konflik politik. Mitchell dan McCormick (1988. Walaupun terdapat banyak variasi analisis. serta Howard dan Donelly (1986) bersikeras bahwa perlindungan hak asasi manusia membutuhkan suatu rejim negara yang liberal yang menghormati “konsepsi substantif dari martabat manusia”. yang mengurangi kemungkinan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia (Henderson 1991). Faktor-faktor ini kemudian kami sertakan dalam analisis empiris yang dijelaskan di bagian berikut ini. Henderson (1991) juga menyatakan bahwa pemerintahan yang demokratis akan lebih responsif terhadap warga negaranya ketimbang pemerintahan yang otoriter. Tate. 1999. Hipotesis ini memperoleh dukungan dalam beberapa kajian tambahan (Mitchell dan McCormick 1988. 4 • Th. – Berbagai kajian menemukan bahwa demokrasi sangat kecil kemungkinannya melakukan pelanggaran hak asasi manusia ketimbang otokrasi. namun demikian.mekanisme penegakan institusional yang lemah dan oleh karenanya tidak mungkin memiliki dampak positif terhadap perilaku hak asasi manusia. para ilmuwan ini berargumen bahwa negara-negara demokratis akan lebih kecil kemungkinannya merepresi hak asasi manusia. praktik-praktik tersebut dipengaruhi secara positif oleh hubungan dengan masyarakat internasional. Namun. Park 1987. Sejumlah kajian berikutnya juga menegaskan variasi dari prediksi-prediksi tersebut. ngunan ekonomi. kajian-kajian komparatif ini menunjukkan keragaman faktor-faktor yang diperlukan untuk menjelaskan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh pemerintah. hal. Pritchard 1989). Faktor-faktor politik. Dalam perekonomian maju di mana hanya sedikit orang yang merasa diperlakukan tidak adil. Kami tidak sepakat dengan argumentasi konstruktivis dan hukum internasional. yang dalam banyak kasus mendorong pemerintah-pemerintah untuk melakukan represi politik.

Kajian-kajian berikutnya melaporkan bahwa besarnya populasi juga mempengaruhi represi politik. Berbeda dengan pendapat di atas. yaitu mendorong pembangunan dan oleh karenanya memperbaiki kualitas hidup. Poe dkk. Perusahaan multinasional memiliki dampak langsung terhadap hak ekonomi dan sosial. 2007 82 . para ilmuwan mengindentifikasi sejumlah kecil faktor global yang dapat mempengaruhi represi pemerintahan. 1999). Ketika pemerintah negara berkembang di Dunia Ketiga menerima bantuan ekonomi dari negara kapitalis yang tujuan utamanya adalah untuk mempertahankan kondisi yang lebih menguntungkan bagi investasi. Beberapa kajian juga mengidentifikasi hubungan antara keterlibatan dalam perang dengan pelanggaran hak asasi manusia. Ketika suatu negara mengalami peningkatan populasi yang cepat. yang menyatakan bahwa perusahaan multinasional mendorong baik hak sosio-ekonomi maupun hak sipil dan politik. Perusahaan multinasional juga secara tidak langsung memperbaiki hak politik sebab perusahaan multinasional mendorong perluasan kelas menengah masyaraJURNAL HAM • Vol. kemungkinan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia meningkat. yang akan meningkatkan kemungkinan pemerintah menggunakan tindakan-tindakan represif. Kajian awal menunjukkan bahwa ada hubungan yang kuat antara partisipasi negara dalam perang internasional dan peningkatan kekerasan politik di tingkat domestik (Rasler 1986. Henderson (1993) berargumen bahwa tekanan populasi dapat mengarah pada tekanan terhadap sumber daya. yang oleh karenanya menekan pemerintah untuk menjadi otoritarian. Pada saat perang internasional. Dalam analisa pemeriksaan datanya. Faktor-faktor demografi. didorong oleh kepentingan ekonominya. Dua kajian terkemuka memeriksa tentang dampak faktorfaktor ekonomi ekternal terhadap hak asasi manusia. 4 • Th. Analisa regresinya mendukung sebagian dari “tesis mesin pembangunan”. Faktor-faktor global. – Sebagai tambahan dari faktor-faktor domestik tersebut. Meyer (1996) memeriksa dampak perusahaan multinasional terhadap praktik-praktik hak asasi manusia. Berangkat dari analisa ini. Poe dkk 1999). Poe dkk 1999). Mitchell dan McCormick (1988) membuat hipotesa bahwa ekonomi yang terkait dengan Amerika Serikat dan negara kapitalis maju lainnya mendorong pelanggaran hak asasi manusia di negara-negara pinggiran (periphery). kurangnya sumber daya akan cepat menjadi masalah yang serius. pemerintah juga cenderung lebih koersif dalam mempertahankan kekuasaan mereka dari ancaman-ancaman internal terhadap negara. pemerintah akan lebih mungkin menerapkan kontrol yang kuat terhadap warga negaranya dan oleh karenanya akan lebih mudah menggunakan kekuatan untuk mempertahankan kekuasaan domestiknya (Poe dan Tate 1994. Stohl 1975). negara-negara dengan tingkat populasi yang lebih besar lebih mungkin melanggar hak asasi manusia (Poe dan Tate 1994. lebih menginginkan adanya stabilitas politik di negara-negara berkembang dan oleh karenanya memperkuat rejim-rejim yang ada walaupun pada saat represi pemerintahan bersifat endemik (Chomsky dan Herman 1979). Mitchell dan McCormick (1988) memperkenalkan suatu argumentasi Marxis yang diambil dari argumentasi Chomsky dan Herman bahwa negara-negara kapitalis.manusia (Mitchell dan McCormick 1988. – Akhirnya. Poe dan Tate 1994. Pada saat perang sipil. mereka mendapatkan dukungan bagi hipotesa tersebut – yaitu bahwa sejumlah besar pemerintahan dengan catatan hak asasi manusia yang buruk ternyata tergantung secara ekonomi kepada negara-negara kapitalis.

Walaupun kami meminjam beberapa data dari Poe dan kawan-kawan. kami mengembangkan data mereka guna mendorong perbandingan antara temuan-temuan kami tentang dampak perjanjian internasional terhadap penjelasan-penjelasan sebelumnya tentang perilaku represif pemerintah. – Ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia tidak memiliki dampak positif langsung terhadap ketaatan negara dalam praktik dan bahkan memiliki dampak negatif yang signifikan berkaitan dengan meningkatnya perilaku represif. kami berupaya mengisi aspek utama politik global hak asasi manusia yang terlewatkan oleh semua literatur kuantitatif yang ada – yaitu pengaruh rejim global hak asasi manusia dan masyarakat sipil.kat kota yang stabil secara politik. 2007 Analisa Dalam rangka menentukan dampak hukum internasional dan institusi masyarakat sipil global terhadap praktik hak asasi manusia. Namun. Karena baik ratifikasi negara terhadap perjanjian hak asasi manusia maupun perilaku represif negara terhadap hak asasi manusia beragam anJURNAL HAM • Vol. Bolyard. ANALISA EMPIRIS Tujuan mendasar kami di bagian ini adalah untuk menguji hipotesis kami: Hipotesis 1. kami mengembangkan suatu model tunggal proses pengumpulan data yang kami ukur berdasarkan analisa berikut ini dengan menggunakan ordered probit yang layak bagi struktur ordinal dari variabel dependen kami (Long 1997): Yit = a + ßY Yit-1 + ßP Zit + ßX Xit + µ it (1) Y adalah tingkat perilaku represif 83 . Smith. kami mengembangkan kajian klasik dari Poe. dan Camp Keith (1999) yang mencoba menjelaskan keragaman negara dalam perilaku represif pemerintah. yang oleh karenanya meningkatkan stabilitas dan toleransi politik dalam masyarakat yang lebih luas. suatu kumpulan literatur kuantitatif penting yang semakin berkembang sangat bergantung pada kajian Poe dan kawan-kawan tersebut. dan kami memperkenalkan variabel-variabel baru untuk mengukur partisipasi 153 negara dalam masyarakat internasional sejak 1976 sampai 1999. Oleh karenanya. Dengan melakukannya. Hipotesis 2. Data-data ini memampukan kami untuk menilai dampak ratifikasi negara terhadap perjanjian hak asasi manusia di jangka waktu dan lingkup yang lebih luas ketimbang kajian-kajian sebelumnya. 4 • Th. Dari upaya-upaya penting tersebut kami mencoba untuk memahami penyebab domestik dan global dari perilaku represif pemerintah. yang memperingatkan para ilmuwan bahwa pandangan optimistis tentang peran perusahaan multinasional mungkin tidak terjustifikasi. Untuk menguji hipotesis tersebut. sambil secara berkesinambungan mengontrol kemungkinan bahwa ketaatan negara terhadap hukum internasional dapat saja beragam berdasarkan tipe negara yang berbeda-beda. dan Ippolito (1999) melaporkan temuan-temuan yang bertentangan dengan hal tersebut. dengan menurunkan perilaku represif. maka sampel yang komprehensif dari para pengarang tersebut menawarkan suatu titik awal yang ideal bagi analisa empiris kami. tarnegara dan antarwaktu. – Hubungan dengan masyarakat sipil internasional memiliki dampak positif terhadap perilaku hak asasi manusia dari negara-negara. kami memperbaharui data periode-waktu yang bersifat lintas-negara ini dengan memasukkan periode Pasca Perang Dingin. Kemudian. Tate.

dan suatu stochastic term. mempengaruhi perilaku represif pemerintah di luar dan melebihi (above and beyond) penjelasan yang ada dalam literaturliteratur saat ini. i dan t adalah tulisan di bawah garis (subscript) yang mewakili negara dan tahun pengamatan. sementara X adalah matriks dari semua faktor kontrol lainnya yang digunakan oleh para ilmuwan sebelum kami mengenai pengaruhi perilaku represif terhadap hak asasi manusia. perdagangan. Z adalah matriks variabel hukum internasional dan masyarakat sipil yang kami tawarkan untuk menguji teori paradoks kami. dan m adalah stochastic term. persamaan (equation) 1 menegaskan bahwa represi terhadap hak asasi manusia bagi setiap negara di setiap tahun pengamatan merupakan suatu fungsi tentang pengalaman masa lalu negara tersebut berkaitan dengan represi. kami membagi atau memisahkan variabel kompleks ratifikasi terhadap perjanjian oleh negara sebagaimana yang dilaporkan di model 1 menjadi beberapa komponen variabel yang baru dan menganalisa apakah ratifikasi negara terhadap enam perjanjian inti PBB mempengaruhi ketaatJURNAL HAM • Vol. Dalam model 2 – model 7 kami melihat sifat dari ratifikasi terhadap perjanjian oleh negara secara lebih detil. dan (2) apakah hubungan negara dengan organisasi nonpemerintah internasional mempengaruhi perilaku hak asasi manusia. dan matriks-X mencakup GDP(log). ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia. demokrasi. ßS adalah matriks pengukuran parameter. Kami mempertimbangkan dua kelompok variabel sustantif utama untuk menguji teori kami. serta masyarakat sipil internasional. dalam model 1. matriks-Z mencakup ratifikasi negara terhadap perjanjian dan keanggotaan dalam organisasi nonpemerintah internasional. Dengan demikian. 2007 84 . Untuk melakukannya. 4 • Th. Kami memulai dengan menguji dua dalil utama dari teori kami: (1) apakah ratifikasi negara terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional mempengaruhi ketaatan negara terhadap norma-norma hak asasi manusia. dan populasi(log): Yit = a + ßY Yit-1 + ßP Zit + ßX Xit + µit (1) Represi pemerintah terhadap hak asasi manusia it = a + ßy-1 (praktik masa laluit) + ßz1 (ratifikasi perjanjian oleh Negarait) + ßz2 (keanggotaan pada organisasi nonpemerintah internasionalit) + ßx1 ([log] GDPit) + ßx2 ([log] perdaganganit) + ßx3 (demokrasiit) + ßx4 (populasiit) + µ it Walaupun kami menawarkan hipotesis yang berhubungan langsung – khususnya bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional akan mengarah pada tidak adanya perubahan atau semakin memburuknya perilaku hak asasi manusia – kami melakukan pengujian duaakhir bagi setiap dalil untuk mempertimbangkan hipotesis-hipotesis yang bertentangan yang ditawarkan oleh banyak ilmuwan politik. a adalah intercept term. Dengan demikian. keanggotaan dalam organisasi nonpemerintah internasional. suatu serial variabel kontrol. suatu intercept term. Kami meninjau kelompok-kelompok variabel ini secara lebih detil di bawah ini. Kami mengontrol faktor-faktor lain yang dipercayai oleh kebanyakan ilmuwan hak asasi manusia membentuk perilaku represif pemerintah guna memahami apakah perjanjian hak asasi manusia internasional.pemerintah terhadap hak asasi manusia yang diamati.

dan Hafner-Burton (dalam cetakan). Dalam melakukannya.) Dalam semua kasus kami memasukkan variabel dependen keterlambatan ai (kecuali dampak tetap). dan bahwa laporan-laporan Amnesty International dan Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat telah menjadi hampir serupa dalam periode waktu belakangan ini. Para pengarang ini menemukan bahwa kecenderungan Amnesty International untuk melaporkan kondisi hak asasi manusia di negara yang catatan hak asasi manusianya paling buruk telah menurun dalam periode waktu belakangan ini. kami mempertimbangkan suatu susunan argumentasi alternatif yang dibuat oleh para ilmuwan hak asasi manusia dengan memodifikasi matriks-X. [1] memasukkan intercept variasi-waktu: ai. kami memperkirakan dampak waktu tetap untuk menjamin bahwa dampak tahuntahun individual dalam sampel kami tidak berpengaruh terhadap hasil temuan. 4 • Th.an pemerintah terhadap norma-norma hak asasi manusia. Poe (1991). dan kami menggambarkan data-data tersebut di bagian berikut ini. Melalui pengelompokan ini kami mengasumsikan bahwa pengamatan kami bersifat independen untuk jenis-jenis negara (atau kelompok negara) yang berbeda tetapi tidak hanya di suatu negara pada periode waktu tertentu. – Untuk mengestimasi model-model. 85 . kami tetap menghitung dan mengukur variabel legitimasi dunia yang diusulkan pada dampak waktu tetap dan menemukan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hal dampak antara kedua pengukuran tersebut. Dalam model 10. 2007 politik pada setiap tahunnya. kami mengubah misalnya. Poe. dan pemenjaraan JURNAL HAM • Vol. melaporkan standar kesalahan Huber/White untuk menggantikan perhitungan tradisional. Kami tidak memasukkan ukuran ini dalam temuan-temuan di tabel akhir karena variabel ini memberikan fungsi struktural yang sama seperti halnya dampak waktu tetap. dan Vazquez (2001) menganalisa perbedaan laporan hak asasi manusia yang dibuat oleh Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat dengan Amnesty International guna menentukan apakah terhadap bias yang jelas dalam kedua sumber tersebut.16 Kami meng-kode-kan lima nilai-nilai variabel dependen berikut ini seba12 Kami mengucapkan terima kasih pada para pem- 13 14 15 16 baca AJS yang membawa variabel ini pada perhatian kami. kami melanjutkan pendapat para ilmuwan hak asasi manusia yang lain dalam menggunakan skala ordinal standardasar perilaku represif yang digambarkan secara sistematis dalam laporan hak asasi manusia tahunan Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat (dan. Stohl dan Carleton (1985). kami mengukur perilaku represif pemerintah terhadap rasa aman seseorang.12 Dalam model 11. penyiksaan. Dalam model 8 dan model 9. kedua. Akhirnya. kami menambahkan beberapa variabel baru ke dalam matriks-Z. dan mengelompokkan negara-negara guna membahas persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh heteroscedasticity yang umum terjadi pada data kami (Beck dan Katz 1995). Namun. dan Vockell (1992). dari Amnesty International) yang menggunakan analisa isi. Para ilmuwan lain yang memeriksa integritas hakhak tersebut termasuk. sementara dalam model 12. yang kami masukkan sebagai kontrol standar bagi varian tingkat-dunia pada periode waktu tertentu. dan kami melakukannya sebagai suatu kombinasi tingkatan negara dalam hal pembunuhan. Dalam kajian terbaru.15 Secara khusus. Gibney. kami menguji apakah pengalaman negara dalam perang sipil atau internasional dapat menjelaskan ketaatan pemerintah terhadap norma-norma hak asasi manusia. kami mempertimbangkan kemungkinan bahwa temuan-temuan kami adalah suatu benda peninggalan akhir Perang Dingin. Dalton. dengan menguji apakah bangsa-bangsa yang usianya lebih tua dan lebih mapan akan lebih menghormati hak-hak warga negaranya.14 Data Hak asasi manusia (Y). diantaranya: Cingranelli dan Pasquarello (1985). Carey. kami menjelaskan dampak potensial dari usia negara. 13 (Oleh karenanya. Beberapa rekan kerja mengusulkan agar kami memasukkan ukuran jumlah ratifikasi negara-negara di tingkat-dunia untuk semua perjanjian hak asasi manusia internasional dalam jangka waktu tertentu guna mempertimbangkan dampak diperolehnya legitimasi hak asasi manusia pada periode waktu tertentu. penghilangan paksa. McCormick dan Mitchell (1988).

Pengukuran ini disimpulkan dalam tabel 2 di bawah ini. Y = 3 (represi yang meluas atau widespread repression). dan pembunuhan politik jarang terjadi.gaimana diilustrasikan di diagram 2 dan digambarkan di lampiran A: 1. pembunuhan dan penghilangan paksa sering terjadi. CEDAW. dan CERD. rata-rata ratifikasi perjanjian oleh negara – yaitu jumlah total tahun di mana suatu negara telah meratifikasi suatu perjanjian – mempengaruhi ketaatan pemerintah terhadap norma-norma hak asasi manusia. – Ketika penahanan politik bersifat massif. Hasilnya yang berkaitan dengan indikasi dan signifikasi konsisten dengan tingkatan ratifikasi negara terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional (model 1). 2. kami menghitung suatu ukuran ordinal dari variabel perjanjian yang menghitung total jumlah perjanjian yang diratifikasi oleh suatu negara dalam suatu tahun tertentu.17 Kami juga membagi atau memisahkan variabel perjanjian menjadi komponenkomponen konstituennya dan memberikan kode pada enam indikator yang berbeda yang menangkap jangka waktu sejak suatu negara meratifikasi setiap salah satu dari 17 Kami juga mengukur dan memeriksa apakah waktu 3. 86 JURNAL HAM • Vol. hukuman mati dan pembunuhan politik mungkin sering terjadi. – Kami memperkenalkan delapan variabel baru dari ratifikasi negara terhadap hukum hak asasi manusia internasional dan keanggotaan negara dalam organisasi nonpemerintah internasional yang kami kumpulkan dari sumber-sumber primer dan sekunder perjanjian dan perkumpulan internasional. – Ketika negara-negara berada pada kondisi aturan hukum yang aman. penyiksaan dan pemukulan bersifat sangat khusus. dan pembunuhan politik sangat jarang terjadi. Paradoks janji-janji kosong (Z). kami mempertimbangkan enam perjanjian utama (yang diuraikan di tabel 1): ICCPR. tetapi teror hanya mempengaruhi mereka yang berkepentingan dalam hal praktik atau ide politik. – Ketika penahanan atas kegiatan politik yang bersifat nonkekerasan terbatas. jika dimungkinkan. Kami telah memperbaharui data yang ada. Kami menggunakan variabel ini dalam model dasar kami (model 1). Y = 4 (represi yang terbatas atau limited repression). 4 • Th. Pertama. Y = 1 (represi yang sistematis atau systematic repression). – Ketika praktik-praktik di tingkat 3 diperluas ke sejumlah besar populasi. 4. Berkaitan dengan perjanjian-perjanjian hak asasi manusia internasional. dengan menggunakan metode analisa isi yang sesuai dengan metode pengumpulan data sebelumnya. CRC. – Ketika tingkat teror bersifat meluas di masyarakat dan pengambil kebijakan tidak membatasi sarana yang mereka gunakan untuk mendapatkan tujuan pribadi atau tujuan ideologi. Y = 5 (represi yang jarang atau rare repression). 5. Banyak dari data ini berasal dari kolaborasi sejumlah hasil para ilmuwan hak asasi manusia ternama. dan penahanan (dengan atau tanpa pengadilan) akibat pandangan politik dapat diterima. sedangkan angka enam menunjukkan bahwa suatu negara telah meratifikasi seluruh perjanjian hak asasi manusia utama. Angka nol menunjukkan bahwa suatu negara tidak meratifikasi perjanjian hak asasi internasional utama mana pun. Y = 2 (represi yang massif atau extensif repression). ICESCR. CAT. 2007 . penahanan politik dan penyiksaan jarang terjadi. Kami menawarkan beberapa pengukuran yang berbeda terhadap ratifikasi perjanjian oleh negara untuk menguji hipotesis-hipotesis yang diusulkan.

Khususnya lihat Apodaca (2001).uia. 19 Lihat Buku Tahunan Organisasi Internasional (Yearbook of International Organizations). sesuai dengan urutannya. 87 . 20 Walaupun baik pembangunan dan demokrasi seringkali diklaim sebagai hak asasi manusia yang mendasar. penyiksaan. kami menawarkan suatu ukuran kalkulasi keanggotaan negara dalam organisasi nonpemerintah internasional dalam suatu periode tertentu (misalnya.htm dan http://www. Akhirnya.website. CAT. jumlah warga negara-negara yang tergabung dalam organisasi nonpemerintah internasional). CERD.hrweb. Yang sangat penting bagi tujuan kami adalah lima karakteristik institusional utama yang membedakan antara demokrasi dengan otokrasi: tingkat kompetitif dari proses pemilihan pemimpin. 2007 mentar. ICESCR. 4 • Th.20 Khususnya. penghilangan paksa. kami mengikuti yang lain dalam membedakan konseptual yang penting antara tingkat pembangunan negara. enam perjanjian hak asasi manusia internasional.18 Kami menyebut variabel-variabel ini ICCPR. dan CRC. org/legal/undocs. – Variabel dependen: represi terhadap hak asasi manusia (pengamatan tahun-negara).org. dan kami mencatat keduanya. dan penahanan secara sewenang-wenang. Batang yang solid mewakili jumlah tahun-negara yang diamati dalam kumpulan data periode waktu lintas-seksi bagi setiap dari lima tingkat penghormatan negara terhadap hak asasi manusia yang diukur. http:// www. Faktor-faktor kontrol (X). kami mengambil data dari proyek Polity IV dan menggunakan demokrasi berdasarkan karakteristik institusionalnya. CEDAW. Ukuran-ukuran ini adalah data konvensional yang dikumpulkan dari Bank Dunia dan hanya membutuhkan sedikit koJURNAL HAM • Vol. keterbukaan proses tersebut 18 Kami juga melakukan analisa dengan mengguna- kan variabel pura-pura (dummy) guna menggambarkan ratifikasi yang bertentangan dengan lama waktu keanggotaan.1200 1000 800 # 600 400 200 0 1 Systematic Repression 2 Extensive Repression 3 Widespread Repression 4 Limited Repression 5 Rare Repression Diagram 2. – Kami mengikuti para ilmuwan hak asasi manusia lain dalam menggunakan ukuran Bank Dunia tentang Gross Domestic Product atau GDP pada nilai pasar dan perdagangan (sebagai persentase GDP).19 Pengukuran ini dikumpulkan dari data yang tersedia dalam Buku Tahunan Organisasi-organisasi Internasional. Kami juga menerapkan pengukuran demokrasi dan tingkat perilaku represif pemerintah di masa lalu. sistem pemerintahan negara. dan perilaku represif negara atas hak-hak mendasar untuk bebas dari pembunuhan. suatu publikasi tahunan dari Union of International Associations.html.

34 0. Dalam analisa... namun kami tetap melaporkan dampak signifikan dari variabel-variabel ini terhadap model kami tentang perilaku represif pemerintah di catatan kaki.. Namun demikian... Negara yang meratifikasi sejumlah besar perjanjian hak asasi manusia tidak sepenuhnya melindungi hak asasi manusia ketimbang negara yang hanya meratifikasi sejumlah kecil perjanjian tersebut..... ICESCR. CERD.... 2007 ... populasi negara pada tahun tertentu (diambil dari Bank Dunia)...21 21 Adalah mungkin bahwa temuan-temuan ini menun- jukkan bahwa sejumlah perjanjian utama menginstitusionalisasikan norma-norma yang tidak termasuk dalam kategori-kategori hak asasi manusia mendasar yang diteliti di sini............... CEDAW.17 0 3.. Hasil Tabel 3 di bawah menunjukkan temuantemuan utama kami...16 0.... CEDAW. (1999). Walaupun kami tidak memasukkan semua variabel kontrol tambahan yang ada dalam model kami karena alasan-alasan teoritis.. serta usia negara dan data tambahan yang dikumpulkan oleh Poe dkk. Pengukuran ini mulai dari -10 (paling otokratis) sampai 10 (paling demokratis).. Sebaliknya.. Data-data ini mencakup keterlibatan negara dalam perang sipil atau perang internasional (proyek Correlates of War)....... CAT. Jumlah ratifikasi keseluruhan enam perjanjian : ICCPR.. Jangka waktu sejak ratifikasi ICCPR Jangka waktu sejak ratifikasi CAT Jangka waktu sejak ratifikasi CERD Model 1 Model 2 Model 4 Model 5 Model 7 1........2 0 0 0 0 0 0 0 6 33 33 15 39 27 19 Jangka waktu sejak ratifikasi ICESCR Model 3 Jangka waktu sejak ratifikasi CEDAW Model 6 Jumlah organisasi nonpemerintah internasional (INGO) di mana warga negara menjadi anggota CRC... CERD.. CAT. dan tingkatan di mana aturan-aturan yang mengikat mengatur partisipasi politik (Jaggers dan Gurr 1995). Jangka waktu sejak ratifikasi CRC Model 1-7 495.... tingkat kompetitif dari partisipasi politik.... Pertama... 4 • Th... tingkat hambatan institusional atas kewenangan pengambilan keputusan pimpinan.TABEL 2 DESKRIPSI VARIABEL: PARADOKS JANJI-JANJI KOSONG Variabel Isi Model Rata-rata Minimum Maksimum Perjanjian.88 0. model 1 mengusulkan bahwa ratifikasi seringkali berkaitan dengan perilaku tidak taat negara-negara dan bahwa komitmen negara terhadap rejim hukum hak asasi manusia internasional dari waktu ke waktu mengarah pada pemisahan (decoupling) yang radikal......27 0... kami mempertimbangkan berbagai ragam variabel tambahan yang mungkin telah digunakan di kajiankajian sebelumnya mengenai perilaku represif pemerintahan. komitmen negara terhadap rejim hukum hak asasi manusia internasional tidak secara otomatis dapat diterjemahkan menjadi penghormatan pemerintah terhadap hak asasi manusia. yang justru memperburuk pelanggaran hak asasi manusia... ECESCR.. CRC ICCPR.. baik CAT maupun ICCPR secara eksplisit menga- 88 JURNAL HAM • Vol.. Ada dua hasil temuan yang sangat luas biasa. INGO.127 bagi kelompok-kelompok sosial...35 0...45 0.....

262*** (0.0001) -0.0006) -0. sementara temuan kami menunjukkan adanya dampak negatif. 1978 – 1999 Model 1 GDP per kapita (log) Demokrasi Populasi (log) Praktik masa lalu Perdagangan (log) Organisasi nonpemerintah internasional Perjanjian ICCPR ICESCR CAT CERD CEDAW CRC N Pengamatan Log kemungkinan + Model 2 0.0003** (0. kebebasan.025*** (0.068) 0.136*** (0.037) 0.3 2.01 (0.529.042 .072 1.550. maka dampaknya tetap negatif tetapi kehilangan signifikansinya.045) (0.005) -0.1.283*** -0.542.021*** (0.012) -0.05) Model 3 0.069) 0. Bukti yang ditunjukkan di tabel 3 menunjukkan bahwa negara yang meratifikasi kedua perjanjian ini akan lebih mungkin melakukan tindakan represif terhadap hak-hak warga negaranya ketimbang negara yang bukan anggota pada perjanjian.006) Model 7 0.117** (0.047) 1.063*** (0.064) 0.0001) 1.063) 0.069) 0.46*** (0.0002* (0.0003*** 0.067) 0.064) 0.047) 1.TABEL 3 ANALISA KUMPULAN PERIODE WAKTU LINTAS-SEKSI TENTANG PRAKTIK HAK ASASI MANUSIA DARI NEGARA.013* (0.005) Model 4 0.10 * P < 0.07) 0.004) -0.022*** (0.049) 1.543. Kajian sebelumnya tentang ICCPR menunjukkan tidak adanya dampak ratifikasi terhadap perjanjian (Camp Keith 1999).072) 0.109** (0.1.069** (0.035) 0. Kami juga mencatat bahwa ketika kami memasukkan dampak waktu tetap.34) 0.058 1.33) 0.058 .005) Model 6 0.47*** (0.112** (0. yang mewajibkan negaranegara yang meratifikasi untuk menghormati hakhak ini. 89 .0002* (0.006) Model 5 0.27*** (0.045) (0.024*** (0.042 . dan keamanan seseorang yang digambarkan oleh variabel dependen kami.536.058 .9 2.026 (0.032*** -0.0002* (0.038 (0.2 2.036) 0.01 *** P < 0.261*** -0.45*** (0.049) (0.042 .05 ** P < 0.058 1.64* (0.537.0004** (0.064) 0.064) 0.0001) 1.049 (0.022*** (0.044) (0.009) (0.5 2.006) -0.138*** (0. yang juga menunjukkan dampak negatif ratifikasi perjanjian.6 2.012* (0.46*** (0.275*** -0.7 2.063) 0.024*** (0.1.063) 0.2 P < 0.033) 0.0001) 1.116** (0.546.005 (0.1.47*** (0.45*** (0.023** (0. 2007 sebelumnya (Hathaway 2002).0001) -0. Temuan ini konsisten dengan kajian CAT JURNAL HAM • Vol.02) -0.02 (0.1.139*** (0.024 (0.036) 0.017) 2.48*** (0.284*** -0.27*** (0.0002* (0.0001) -0.0001) (0.006) 0. 4 • Th.001 kui hak-hak utama untuk hidup.045 (0.

Walaupun kami menemukan bahwa institusionalisasi hak asasi manusia global tidak memiliki dampak positif yang sistematis melalui sistem perjanjian. Variabel ini tidak mengubah temuantemuan kami dan oleh karenanya tidak dilaporkan di sini.23 Kami menggunakan probabilitas yang diperkirakan untuk membongkar dampak-dampak negatif ini lebih jauh lagi di lampiran B. Kedua. yang melekat pada perjanjian hak asasi manusia internasional dan ditawarkan oleh masyarakat sipil internasional memberikan kontribusi terhadap perbaikan praktik-praktik hak asasi manusia secara nyata. 24 Walaupun perang sipil memang 22 Ketika kami menambahkan dummy pasca Perang Dingin dan dampak waktu tetap dalam model 11 dan model 12. Gelleny. temuan-temuan ini menunjukkan suatu gambaran yang mengkhawatirkan: perjanjian hak asasi manusia internasional hanya sedikit mendorong praktik-praktik yang lebih baik dan tidak dapat menghentikan banyak pemerintah dari suatu spiral perilaku represif yang meningkat. Poe dkk. 2007 90 . dan mungkin bahkan memperburuk praktik-praktik yang tidak baik tersebut. hubungan negara dengan masyarakat sipil internasional menciptakan kekuatan lawan yang besar bagi pemisahan (decoupling) yang radikal tersebut: negaranegara yang warga negaranya menjadi anggota sejumlah besar organisasi nonpemerintah internasional akan lebih mungkin melindungi hak-hak warga negaranya.Temuan ini sangat konsisten ketika kami memisahkan keseluruhan komitmen pada rejim hak asasi manusia dan meneliti ratifikasi terhadap perjanjian PBB yang spesifik (model 2 – model 7). Tabel 3 juga menegaskan bahwa perkiraan kami konsisten dengan temuan-temuan umum dalam berbagai literatur hak asasi manusia mengenai variabel kunci. kami mempertimbangkan sejumlah pengukuran alternatif bagi variabel-variabel yang kami laporkan di sini. Demokrasi adalah pelindung yang paling baik dari hak asasi manusia – menyepakati mayoritas ilmuwan hak asasi manusia (Henderson 1991. dampak perjanjian menjadi kurang signifikan tetapi tetap negatif. Mitchell dan McCormick 1988. JURNAL HAM • Vol. Kemudian. Tidak satu kasus pun menunjukkan bahwa ratifikasi negara terhadap enam perjanjian hak asasi manusia utama dari PBB yang mana pun dapat memperkirakan kemungkinan penghormatan pemerintah terhadap hak asasi manusia. Namun. Poe dkk. salah satu ramalan (predictors) yang paling penting dari represi adalah sejarah negara dalam kondisi represif (Apodaca 2001. dan Sacko 2001) dan negara-negara yang tingkat pembangunan ekonominya lebih tinggi. Poe dan Tate 1994. 23 Namun. 1999) – sebagaimana halnya dengan negara-negara yang memiliki tingkat keterbukaan yang lebih tinggi terhadap ekonomi internasional (Meyer 1996. 1999). Konsisten dengan penelitian terbaru di bidang ini. Richards. ratifikasi terhadap keseluruhan enam perjanjian tersebut memiliki dampak negatif terhadap perilaku negaranegara penandatangan: pihak-pihak pada perjanjian akan lebih mungkin melakukan represi terhadap warga negaranya ketimbang negara yang tidak meratifikasi. 24 Kami mempertimbangkan sejumlah variabel kontrol tambahan untuk menguji kekuatan temuantemuan ini. Di tabel 4 kami memverifikasi bahwa temuan-temuan kami sifatnya kuat bagi sejumlah penjelasan alternatif terhadap represi pemerintah terhadap hak asasi manusia.22 Secara bersamaan. 4 • Th. kami tidak dapat membedakan antara dampak negatif langsung – ketika ratifikasi justru memberikan insentif lebih bagi perilaku represif yang lebih jauh – dan dampak negatif tidak langsung – ketika ratifikasi tidak memiliki dampak pada praktik-praktik negara yang mengarah pada semakin kuatnya perilaku kekerasan. kami juga menemukan bahwa norma-norma global hak asasi manusia. Konsistensi dampak ini di lintas model menunjukkan bahwa dampak institusional umum masyarakat sipil global cukup stabil.

91 . Walaupun kami tidak bisa menawarkan suatu jawaban yang pasti terhadap pertanyaan tersebut. bahwa sumber-sumber laporan kami yang menjadi sumber data kami tentang perilaku represif terhadap hak asasi manusia lebih memberikan perhatian pada negara-negara yang lebih terbuka terhadap pertukaran informasi atau yang baru saja menandatangani suatu perjanjian hak asasi manusia internasional. periode sejarah tampaknya memberikan perubahan. Negaranegara di dunia pasca-Perang Dingin lebih kecil kemungkinannya tunduk pada komitmen terhadap rejim hak asasi manusia internasional. dan matriks korelasi ini tersedia dari para pengarang atas dasar permintaan.sangat mendorong perilaku represif negara. suatu fenomena yang mungkin dapat dijelaskan oleh munculnya banyak negara baru yang relatif lemah. Di sisi lain. bukti juga menunjukkan bahwa hubungan dengan masyarakat sipil global memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia. Bertentangan dengan hal tersebut. Kami mempertimbangkan kemungkinan ini dengan serius dan oleh karenanya telah melakukan suatu proses pemeriksaan terhadap kelayakannya. 26 Temuan-temuan ini bukan merupakan hasil karya multicollinearity.26 Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa terdapat korelasi sistematis yang positif antara penerimaan pemerintahan secara resmi terhadap hukum internasional untuk melindungi hak asasi manusia dengan perilaku nyata dari para elit pemerintahan untuk melindungi hak-hak tersebut. sejumlah ilmuwan telah mengidentifikasi kemungkinan yang sangat nyata bahwa temuan-temuan kami dipengaruhi oleh suatu “dampak informasi”. Akhirnya. dampak ini berada di luar temuan-temuan kami bahwa negara yang meratifikasi hukum hak asasi manusia internasional cenderung tidak menaati hukum tersebut dalam praktiknya. Yang lebih mengkhawatirkan adalah bukti yang menyatakan bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional justru memperburuk ketaatan negara terhadap norma-norma hak asasi manusia yang dilindungi oleh perjanjian tersebut. Dalam rangka mempertimbangkan kemungkinan bahwa dampak Perang Dingin dihasilkan oleh suatu bias praktik-praktik hak asasi manusia oleh pemerintahan-pemerintahan beraliran kiri (Poe dkk. Akhirnya. Kami mengulangi penundaan atau interval ini selama beberapa tahun kemudian untuk menjamin kekuatan temuan-temuan tersebut. 2001). setidaknya pada jangka pendek. perang internasional dan usia negara tidak memiliki dampak apa pun terhadap perilaku represif pemerintah. namun norma-norma yang dikodifikasi dalam perjanjian ini menyebarluas di kalangan organisasi nonpemerintah internasional JURNAL HAM • Vol. Walaupun perjanjian-perjanjian seringkali tidak secara langsung memberikan kontribusi pada perbaikan di tingkat praktik. Kami menemukan bahwa model yang mengalami penundaan sama persis secara subtantif dengan model yang kami laporkan di tabel 3. temuantemuan ini menawarkan dukungan yang besar terhadap argumentasi kami. Variabel ini tidak signifikan dan tidak mengubah hasil temuan secara substantif.25 Dipertimbangkan bersama. kami memasukkan suatu dummy variabel pengukuran mengenai apakah suatu pemerintahan dikuasi oleh rejim beraliran kiri. 25 Dalam rangka mempertimbangkan kemungkinan suatu dampak pilihan. 2007 yang secara strategis mempengaruhi rejim hukum hak asasi manusia untuk menekan pemerintah agar mengubah perilaku hak asasi manusia mereka. 4 • Th. kami dapat menawarkan bukti awal yang menyatakan bahwa temuantemuan kami tidak hanya sekedar hasil dari perhatian media yang meningkat terhadap pelanggaran hak asasi manusia setelah ratifikasi terhadap perjanjian. yang tidak mengubah hasil kami. kami menunda semua variabel independen selama satu tahun dan menguji kembali model ini. walaupun hasil substantif kami pada umumnya konsisten ketika kami memasukkan dampak waktu tetap.

0006 (0.0.034 (0.074+ (0.4 1.16 (0.026*** (0.049) 1.525.035) 0.1.0. c Melalui konvensi.121** (0.069** (0.5 Perhatikan bahwa model 12 termasuk dampak waktu tetap tidak memasukkan variabel interval yang dependen.279*** (0.065) 0.022) Model 10 0.077 (0.0.0004** (0.1.002 (0.0001) .067) .328.0001) . koefisien dampak waktu tetap tidak dilaporkan secara individual untuk menghemat tempat + P < 0.065** (0.025) .0. 4 • Th.0005) .819 .0.0005** (0.01 *** P < 0.064) .048) 0.0.071** (0.027*** (0.542.05) 1.257*** (0.082 (0.0001) .043+ (0.2 2.027f (0.075) 0.058 .0.626*** (0.0001) .44*** (0.135) .028*** (0.TABEL 4 ANALISA KUMPULAN PERIODE WAKTU LINTAS-SEKSI TENTANG PRAKTIK HAK ASASI MANUSIA DARI NEGARA DENGAN VARIABEL INDEPENDEN TAMBAHAN.0.006) .007) .0.1** (0.001 92 JURNAL HAM • Vol.8 2.052) 0.058 .024) .10 * P < 0.279*** (0.037) 0.0.047) 1.05 ** P < 0.006) . 1978-99 Model 8 GDP per kapita (log) Demokrasi Populasi (log) Praktik masa lalu Perdagangan (log) Organisasi nonpemerintah internasional Perjanjian Perang sipilb Perang internasionalb Usia negara Dummy pasca Perang Dingin Dampak waktu yang tetap (1976-99)c N Pengamatan Log kemungkinan a b Model 9 0.092* (0.022*** (0.45*** (0.0.024 (0.267*** (0.913*** (0.023) Model 12a 0.7 2.0. Ukuran perang sipil dan internasional dibatasi pada periode waktu 1976 ––1993.524.080) 1.0.006) .083) 0.003 (0.16) 0.079) 0.1.256*** (0.0.092* (0.46*** (0.038) 0.041) 0.4*** (0.1.048) 1.0005* (0.356.0004** (0.036) 0.0004** (0.021) Model 11 0.0001) . 2007 .072) 0.006) .077) 0.058 .0.1.815 .o.

walaupun sumber laporan tentang pelanggaran hak asasi manusia bervariasi setiap tahunnya. tetapi juga mengembangkan lebih jauh dari hasil temuan tersebut dalam hal cakupan waktu dan jumlah perjanjian hak asasi manusia internasional. Kami menemukan bahwa. 2007 93 . tetapi masyarakat sipil global memliki dampak positif terhadap praktik hak asasi manusia. kami menemukan bahwa dampak negatif dari ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional terhadap hak atas keamanan individu berlaku bagi keenam perjanjian hak asasi manusia utama.Bukti-bukti ini dikumpulkan melalui suatu percobaan kecil. dan juga jenis informasi yang diberikan oleh laporan – informasi yang luas. Sementara para ilmuwan pengarusutamaan hubungan internasional berargumentasi bahwa rejim hak asasi manusia internasional tidak memperbaiki praktik hak asasi manusia. Kami meneliti tiga periode waktu untuk setiap negara: tiga tahun sebelum ratifikasi terhadap CAT. namun para ilmuwan konstruktivis dan hukum internasional menunjukkan JURNAL HAM • Vol. tetapi semakin berkembangnya legitimasi ide-ide hak asasi manusia dalam masyarakat internasional. Pertama. Analisis empiris kami memperkuat tesis paradoks janji-janji kosong ini. memperkirakan bahwa rejim hukum tidak memiliki dampak atau memiliki dampak negatif terhadap praktik hak asasi manusia. periode saat ratifikasi terhadap CAT. Sebagai akibatnya. Temuan kunci pertama kami tentang dampak perjanjian hak asasi manusia mengulangi temuan-temuan kajian terbaru mengenai topik yang sama. yang didasari oleh pendekatan institusional rasional dan masyarakat dunia. kami mengambil sampel acak 15 negara dari sampel yang lebih besar yaitu 153 bangsa. Temuan-temuan ini menggambarkan beberapa keraguan tentang argumen- KESIMPULAN Dasar analisa kami adalah dua set pengharapan dan bukti yang saling bertentangan tentang berkembangnya dampak rejim hak asasi manusia internasional. kami membandingkan isi dari sumber laporan tersebut berdasarkan jumlah kata-kata yang didedikasikan terhadap isu penyiksaan. atau terbatas. sebagaimana dipresentasikan di lampiran C. yang pembentukannya didukung oleh rejim hukum internasional. menengah. sejumlah bukti bahwa rejim tersebut memiliki dampak positif terhadap praktikpraktik lokal. yang oleh karenanya menyarankan bahwa kecil kemungkinannya temuantemuan kami merupakan hasil yang unik dari meningkatnya pelaporan yang ada setelah dilakukannya ratifikasi. Kami mencoba menemukan tentang dua aspek rejim hak asasi manusia yang ditemukan dalam kebanyakan literatur yang ada: yaitu sistem perjanjian hak asasi manusia internasional dan masyarakat sipil internasional. dan bahwa kecenderungan ini berlanjut sampai akhir 1990an. Tidak terdapat bukti sistematik yang menunjukkan bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia dalam sistem PBB memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia. 4 • Th. dan tiga tahun setelah ratifikasi terhadap CAT. tidak ada bias sistematik pada meningkatnya jumlah kata dalam pelaporan atau dalam jenis informasi setelah ratifikasi terhadap perjanjian. Sifat dari laporanlaporan ini kelihatannya tidak mengalami perubahan yang signifikan setelah ratifikasi. Kami menganalisa laporan tahunan hak asasi manusia dari Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat untuk setiap negara yang telah meratifikasi CAT. memberikan kekuatan lebih bagi aktor-aktor nonpemerintah untuk menekan pemerintah-pemerintah yang melanggar hak asasi manusia agar mengubah perilaku mereka. Kerangka teori kami. Untuk setiap negara.

yang semakin berkembang dalam hal jumlah dan kekuatan. banyak pemerintah meratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional tanpa adanya keinginan ataupun kapabilitas untuk menyelaraskan perilaku domestik mereka dengan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian hak asasi manusia internasional. Aktor-aktor masyarakat sipil pada dasarnya melakukan fungsi mekanisme penegakan yang sangat diperlukan tersebut. 4 • Th. masyarakat sipil internasional telah menggunakan legitimasi norma-norma hak asasi manusia yang dinyatakan dan dikodifikasi dalam perjanjianperjanjian hak asasi manusia internasional tersebut untuk menekan pemerintah-pemerintah agar memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusianya. LAMPIRAN A Kumpulan Data tentang Hak Asasi Manusia (Y) Kami telah memperbaharui data yang ada tentang perilaku represif terhadap hak asasi manusia yang dikumpulkan oleh sejumlah ilmuwan sebelum kami dan yang ditawarkan oleh Steven Poe. walaupun aktor-aktor ini bukan merupakan pengganti bagi institusi yang lebih kuat yang dapat melindungi hak asasi manusia. Analisis statistik kami memberikan dukungan kuat bagi para ilmuwan dan pengamat yang berargumen bahwa kegiatan-kegiatan hak asasi manusia global berkontribusi pada perbaikan dalam praktik-praktik hak asasi manusia di tingkat lokal. Berdasarkan pada panduan pengkodean yang diberikan oleh Poe dan Tate (1994). Tindakan ratifikasi memberikan suatu karakter legitimasi pada pemerintah. maka tindakan ratifikasi tersebut juga memberikan suatu penyamaran atas pelanggaran hak asasi manusia warga negaranya. Temuan kunci kedua kami tentang dampak positif hubungan dengan masyarakat global merupakan kontribusi penting baik bagi kajian empiris politik hak asasi manusia dan.tasi-argumentasi optimis yang dikemukakan oleh para ilmuwan hukum internasional dan konstruksivionis. 2007 94 . kami menerapkan metode analisis isi pada laporan tahunan hak asasi manusia dari Departemen Dalam Negeri Amerika SeriJURNAL HAM • Vol. yang jika digabungkan dengan kurangnya institusionalisasi mekanisme penegakan. Karena adanya tekanan kuat untuk meratifikasi perjanjian hak asasi manusia dan relatif rendahnya biaya ratifikasi. Kedua temuan menunjukkan pentingnya untuk memisahkan mekanisme-mekanisme yang berbeda di mana kekuatan-kekuatan global beroperasi guna memberikan dampak pada tindakan-tindakan di tingkat lokal. temuan kami menunjukkan bahwa walaupun institusinya lemah. Namun. namun hanya sedikit yang telah mengkaji dampak kegiatan internasional di luar sistem perjanjian ini secara sistematis. bagi pendekatan masyarakat dunia. kami menggarisbawahi dampak yang berbeda dari kedua jenis hubungan tersebut terhadap praktikpraktik hak asasi manusia di tingkat lokal. 1976-1993. Para ilmuwan dan aktivis seringkali mengkritisi kurangnya mekanisme penegakan yang efektif dalam perjanjian hak asasi manusia internasional. Dengan memeriksa hubungan dengan masyarakat sipil internasional secara terpisah dari hubungan dengan rejim hak asasi manusia global. dari sudut pandang teoritis. Aktor-aktor masyarakat sipil ini. seringkali mengubah arah dari “janji-janji kosong” pemerintah-perintah nasional yang ada di kepala mereka menjadi suatu “paradoks” global: yaitu perbaikan praktik-praktik hak asasi manusia. Walaupun banyak studi kasus telah mendokumentasikan dampak prinsip-prinsip hak asasi manusia global dan aktor-aktor internasional yang mendukung prinsip-prinsip ini dalam praktik-praktik lokal.

Guna menjamin konsistensi dengan metode pengkodean sebelumnya.28 Tabel B1 melaporkan probabilitas-probabilitas yang diperkirakan (berdasarkan model dan data kami) yang kami amati dari negara demokratis rata-rata yang jarang menggunakan represi atau yang menggunakan represi secara luas. kami mengartikan suatu negara “rata-rata” sebagai Negara yang memiliki nilai rata-rata GDP. temuan-temuan kami mungkin tidak sama bagi semua negara secara signifikan dan. Analisis ini sangat bernilai karena sejumlah ilmuwan telah dengan benar menyatakan bahwa ratifikasi terhadap perjanjian dan hubungan dengan masyarakat sipil internasional mungkin memiliki dampak yang lebih besar bagi beberapa jenis pelanggaran hak asasi manusia tertentu – misalnya. didorong oleh pengalaman dari jenis negara tertentu. 29 Untuk tujuan perhitungan atau kalkulasi. Baris dan kolom pertama menunjukkan bahwa suatu negara demokratis yang tidak meratifikasi satu pun perjanjian hak asasi manusia (0) dan tidak berhubungan dengan ma27 Kami mengucapkan terima kasih kepada Steven Probabilitas yang Diperkirakan (Predicted Probabilities) Dalam rangka membongkar temuantemuan empiris utama lebih jauh. Sejak saat itu. dan yang pada saat yang bersamaan mempertimbangkan variasi dalam hal tingkatan ratifikasi perjanjian hak asasi manusia oleh negara dan hubungan dengan organisasi nonpemerintah internasional.27 LAMPIRAN B nya. mungkin tidak bisa digeneralisasi begitu saja. Kami mengakui bahwa argumentasi institusional kami mungkin juga menawarkan pengaruh bagi beberapa jenis kebijakan negara yang dapat lebih dijelaskan – misalJURNAL HAM • Vol. kami menggunakan dua coders dalam menganalisa isi dari setiap sumber dan menggunakan suatu nilai angka. kami menggunakan prosedur statis yang dibahas secara detil dalam Long (1997) untuk menghitung probabilitas-probabilitas yang diperkirakan bahwa suatu negara rata-rata biasa diamati jarang menggunakan represi [prob(Y p 5FX)] dan menggunakan represi secara luas [prob(Y p 3FX)]. 28 Walaupun kami memperhitungkan probabilitasprobabilitas yang diperkirakan pada kelima kategori variabel dependen. perdagangan.kat. dan praktik masa lalu. Mark Gibney dengan baik hati berbagi datanya (1980-2000) dengan kami. Prediksi-prediksi ini merupakan alat yang berguna untuk memeriksa apakah argumentasi kami konsisten di seluruh kategori variabel dependen untuk jenis-jenis negara yang berbeda-beda. kami hanya melaporkan dua kategori saja untuk menunjukkan argumentasi kami sesederhana mungkin. demokrasi. dan kami menggunakan pihak ketiga untuk menyelesaikan persoalan ketidakkonsistenan antar coders. yang awalnya diterapkan dalam Gastil (1980) dan digambarkan di bagian tentang data. kami menempatkan suatu nilai hak asasi manusia dengan skala lima. 95 . dan kami telah menggunakannya sebagai pengujian ketika pada pengkodean kami.29 Kami mengintepretasikan tabel tersebut sebagai berikut. Oleh karena itu kami mencoba memahami apakah dampak yang telah diidentifikasi dalam analisa serial-waktu berlaku untuk jenis-jenis negara yang berbeda secara konsisten. otokrasi – ketimbang jenis lainnya – misalnya. kami mengukur probabilitas-probabilitas yang diperkirakan dari estimasi yang digambarkan di model 1 (tabel 3 di atas). Bagi semua kasus negara dari 1994 sampai 1999. Jika demikian. populasi. Konsistensi antar coder dicatat sekitar 90%. 4 • Th. Dalam rangka melakukan hal tersebut. pelaku represi yang jarang (Y p 5) – ketimbang untuk jenis-jenis yang lain – seperti misalnya pelaku represi yang luas (Y p 3). 2007 Poe dan Mark Gibney atas data yang mereka berikan pada kami.

syarakat sipil internasional (tidak satu pun) memiliki 21% kemungkinan melakukan tindakan represif secara meluas dan hanya 12% kemungkinan jarang melakukan tindakan represif. Ketika negara tersebut semakin banyak meratifikasi perjanjian hak asasi manusia (yang dijelaskan di tabel oleh pergeseran horisontal dari kiri ke kanan), negara tersebut secara bertahap lebih mungkin untuk melakukan tindakan represif secara meluas dan lebih kecil kemungkinannya untuk jarang melakukan tindakan represif. Ketika negara tersebut semakin berhubungan dengan masyarakat sipil internasional (yang dijelaskan di tabel oleh pergeseran vertikal dari atas ke bawah), negara tersebut secara bertahap lebih mungkin untuk melakukan tindakan represif secara meluas dan lebih kecil kemungkinannya untuk jarang melakukan tindakan represif. Probabilitas-probabibilitas ini mengijinkan kami untuk memeriksa besarnya pergeseran tersebut. Tabel B2 melaporkan probabilitas-probabilitas yang diperkirakan untuk negara otokratis rata-rata. Kami mengintepretasikan tabel tersebut dengan cara yang sama seperti tabel sebelumnya: suatu negara otokratis rata-rata yang diambil dari sampel yang tidak meratifikasi satu pun perjanjian hak asasi manusia (0) dan tidak berhubungan dengan masyarakat sipil internasional (tidak satu pun) memiliki 32% kemungkinan melakukan tindakan represif secara meluas dan hanya 6% kemungkinan jarang melakukan tindakan represif. Jika dilakukan pergeseran secara horisontal dalam baris tabel, dapat dilihat bahwa semakin banyak negara ini meratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional, maka semakin lebih mungkin negara melakukan praktik hak asasi manusia yang buruk. Jika dilakukan pergeseran secara vertikal dalam kolom tabel, dapat dilihat bahwa semakin banyak negara ini berhubungan dengan masyarakat sipil global,

maka semakin lebih mungkin perbaikan praktik hak asasi manusia di negara ini. Hasil ini menjelaskan tentang temuantemuan kami bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional terpisah secara radikal dari ketaatan negara terhadap norma-norma hak asasi manusia, namun hubungan dengan masyarakat sipil internasional memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia. Tabel B1 dan B2 membawa perhatian pada tiga aspek dari paradoks ini. Pertama, dampak negatif perjanjian hak asasi manusia lebih besar pada negaranegara yang melakukan tindakan represif secara meluas ketimbang pada negara-negara yang jarang melakukan tindakan represif. Negara-negara represif yang bergabung dalam rejim hak asasi manusia menjadi semakin represif ketika mereka meratifikasi lebih banyak perjanjian hak asasi manusia internasional. Bahkan dalam banyak kasus, tabel-tabel ini menunjukkan bahwa lebih dari 10% negara lebih mungkin menggunakan tindakan represif yang meluas ketika mereka telah meratifikasi keenam perjanjian hak asasi manusia ketimbang ketika mereka tidak meratifikasi satu pun perjanjian hak asasi manusia. Dampak negatif pada rejim yang nonrepresif, yang ditunjukkan dengan menurunnya probabilitas-probabilitas yang diperkirakan bagi kategori negara yang jarang melakukan tindakan represif, dimulai dari tiga sampai sembilan persen perubahan. Temuan semacam ini berguna untuk memverifikasi bahwa dampak yang telah kami identifikasi bersifat sangat besar. Kedua, dampak positif hubungan negara dengan masyarakat sipil internasional lebih besar pada perilaku hak asasi manusia negara-negara yang melakukan tindakan represif secara meluas ketimbang negara-negara yang jarang melakukan tindakan represif. Ketika negara-negara represif
JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

96

membuka perbatasan mereka dan mengijinkan warga negaranya untuk bergabung dengan semakin banyak organisasi nonpemerintah internasional, maka negaranegara ini akan lebih kecil kemungkinannya menggunakan tindakan represif. Dampak pada rejim yang represif adalah tujuh sampai sembilan persen, sedangkan dampak pada negara-negara nonrepresif mulai dari dua sampai enam persen. Ketiga, dengan mengherankan hasilhasil ini konsisten bagi negara-negara demokratis maupun otokrasi (tabel B1 dan tabel B2). Walaupun pemerintahan-pemerintahan demokratis lebih mungkin menghormati hak asasi manusia ketimbang pemerintahan-pemerintahan otokratis (dan oleh karenanya adalah negara-negara yang jarang melakukan tindakan represif), namun kedua jenis pemerintahan tersebut mengalami paradoks janji-janji kosong yang sama. Temuan ini mungkin tidak diperkirakan oleh mereka yang percaya bahwa pemerintahan demokratis lebih responsif terhadap hukum hak asasi manusia internasional ketimbang pemerintahan otokratis, dan hal ini mengarah pada dukungan lebih terhadap ide bahwa paradoks tersebut merupakan fenomena global yang nyata. LAMPIRAN C

Dampak dari Informasi
Dalam tabel C kami menyediakan data yang dikumpulkan untuk memeriksa kemungkinan bahwa temuan-temuan kami dipengaruhi oleh dampak dari informasi. Kami memilih 15 negara secara acak dari sampel yang ada dan memeriksa laporan Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat untuk memilih data dari tiga jangka waktu: tiga tahun sebelum ratifikasi, tahun ratifikasi, dan tiga tahun setelah ratifikasi. Untuk setiap jangka waktu, kami melaporkan jumlah total kata-kata yang ada dalam laporan hak asasi manusia tentang PenyikJURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

saan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, atau Merendahkan Martabat Manusia (Amnesty International, berbagai tahun), serta jenis informasi yang diberikan dalam laporan tersebut. Kami mempertimbangkan tiga kategori: (1) pelaporan yang luas, yang memberikan informasi detil mengenai individu tertentu yang disiksa, individu atau unit pemerintahan tertentu yang dituduh melakukan penyiksaan, atau kondisi-kondisi khusus penyiksaan seperti demonstrasi dan kerusuhan, serta pengesahan dan pelaksanaan peraturan perundang-undangan tentang hak asasi manusia, komisi hak asasi manusia, kebijakan tentang hak asasi manusia, dan program hak asasi manusia lainnya di tingkat nasional; (2) pelaporan menengah, yang memberikan informasi yang cukup detil mengenai individu yang mengalami penyiksaan ataupun yang dituduh melakukan penyiksaan, serta pengesahan dan pelaksanaan peraturan perundang-undangan tentang hak asasi manusia; dan (3) pelaporan yang terbatas, yang memberikan informasi berkaitan dengan peristiwa penyiksaan secara umum tanpa memberikan informasi secara detil mengenai individu tertentu yang mengalami penyiksaan, individu atau unit pemerintahan tertentu yang dituduh melakukan penyiksaan, atau kondisi-kondisi khusus penyiksaan seperti demonstrasi dan kerusuhan, serta pengesahan dan pelaksanaan peraturan perundang-undangan tentang hak asasi manusia, komisi hak asasi manusia, kebijakan tentang hak asasi manusia, dan program hak asasi manusia lainnya. Kami juga memberikan laporan tentang nilai variabel independen untuk setiap kasus. Hasil menunjukkan bahwa tidak ada hubungan sistematik yang dapat diamati antara ratifikasi negara terhadap CAT dengan panjang ataupun jenis informasi yang dilaporkan oleh sumber hak asasi manusia tahunan Departemen Dalam Negeri

97

Amerika Serikat yang kami gunakan untuk mengkodekan variabel dependen kami, walaupun negara-negara terkadang dilaporkan telah meningkatkan perilaku represif mereka setelah ratifikasi, sebagaimana telah kami prediksikan. Baik panjang maupun jenis informasi lebih berhubungan dengan tingkat represi ketimbang ratifikasi negara terhadap CAT: ketika pelanggaran negara terhadap hak asasi manusia sangat besar, maka laporan cenderung lebih panjang dan lebih detil. Ketika pemerintah

tidak melakukan tindakan represif, laporan menjadi lebih pendek, dan jenis informasi yang diberikan dengan demikian menjadi lebih terbatas. Percobaan ini menunjukkan bahwa perubahan dalam nilai praktik hak asasi manusia tidak bisa dikaitkan dengan peningkatan atau penurunan perhatian sebagai suatu hasil ratifikasi terhadap perjanjian dan lebih menekankan pada pentingnya paradoks yang kami temukan dalam analisa data kami.

DAFTAR PUSTAKA
Amnesty International. 1994. Amnesty International Report. London: Amnesty International Publications. –. Berbagai tahun. Amnesty International Report. London: Amnesty International Publications. Apodaca, Clair. 2001. “Global Economic Patterns and Personal Integrity Rights after the Cold War.” International Studies Quarterly 45:587–602. Beck, Nathaniel, and Jonathan N. Katz. 1995. “What To Do (and Not To Do) with–TimeSeries Cross-Section Data.”–American Political Science Review 89:634–50. Berkovitch, Nitza. 1999. From Motherhood to Citizenship: Women’s Rights and International Organizations. Baltimore: Johns Hopkins University Press. Boli, John, dan George M. Thomas, eds. 1999. Constructing World Culture: International Nongovernmental Organizations since 1875. Stanford, Calif.: Stanford University Press. Brunsson, Nils. 1989. The Organization of Hypocrisy: Talk, Decisions and Actions in Organizations. Crichester: John Wiley and Sons. Camp Keith, Linda. 1999. “The United Nations International Covenant on Civil and Political Rights: Does it Make a Difference in Human Rights Behavior?” Journal of Peace Research 36:95–118.

Chayes, Abram, dan Antonia Chayes. 1995. The New Sovereignty: Compliance With International Regulatory Agreements. Cambridge, Mass.: Harvard University Press. Chomsky, Noam, dan Edward S. Herman. 1979. The Political Economy of Human Rights: The Washington Connection and Third World Fascism. Boston: South End Press. Cingranelli, David, dan Thomas Pasquarello. 1985. “Human Rights Practices and the Distribution of U.S. Foreign Aid to Latin American Countries.” American Journal of Political Science 27:539–63. Clark, Ann Marie. 2001. Diplomacy of Conscience: Amnesty International and Changing Human Rights Norms. Princeton, N.J.: Princeton University Press. Cleveland, Sarah H. 2001. “Human Rights Sanctions and the World Trade Organization.” In Environment, Human Rights and International Trade, edited by F. Francioni. Portland, Ore.: Hart Publishing. Collins, Randall. 1992. Sociological Insight: An Introduction to Non-obvious Sociology. Edisi kedua. New York: Oxford University Press. Cottier, Thomas. 2002. “Trade and Human Rights: A Relationship toDiscover.” Journal of International Economic Law 5:111–32. Downs, George, David M. Rocke, dan Peter Barsoom. 1996. “Is the Good News about Compliance Good News for Cooperation?” International Organization 50:379–406. Durkheim, Emile. (1895) 1982. The Rules of Sociological Methods. New York: Free Press.

98

JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

diedit oleh Thomas Risse.” Commentary 68: 34–45.” Journal of Peace Research 32:469–82. Philadelphia: University of Pennsylvania Press. “Conditions Affecting the Use of Political Repression. August.Y. Louis. 1980. Ithaca. 1989. Oona A. Emilie. “Do Human Rights Treaties Make a Difference?” The Yale Law Journal 111:1935–2042. The Culture of National Security: Norms and Identity in World Politics. 1992. Baltimore: Johns Hopkins University Press. New York: Columbia University Press. Ithaca.” American Political Science Review 80:801–18. Keohane.” International Organization. Gastil. New Brunswick. ed. dan John Meyer. Jacobson. Norms. Cambridge: Cambridge University Press. Rules. Howard. Finnemore. 2004. 1979. Princeton. 1999.: Princeton University Press. ed. Dalam cetakan. “Human Dignity. “Tracking Democracy’s Third Wave with’the Polity III Data. Kiyoteru Tsutsui. “Dictatorships and Double Standards.: Princeton University Press. “USA Refugee Policy: A Human Rights Analysis Update. New York: Free Press. Princeton. 1998.Y. N.”—Social Science Quarterly74:322– 33. –.” Dalam The Power of Human Rights: International Norms and Domestic Change. Mark. dan Kathryn Sikkink. How Nations Behave: Law and Foreign Policy. Friedrich V. Rhoda. (1912) 1995. Conway W. 1996b. Raymond.” Duke Law Journal 54. Ryan. 1999. Hafner-Burton. National Interest in International Society. 1993. Freedom in the World: Political Rights and Civil Liberties. Lauren. 4 • Th. David. Dalam cetakan. 1996a. N. 2007 99 . N.J. 1986.. Culture.” Journal of Peace Research 42(6). 2005. Rep. “Right or Robust? The Sensitive Nature of Government Repression in an Era of Globalization. The Elementary Forms of Religious Life. Martha.” International Organization 50:325–47. “Legal Treatment of Koreans in Japan: The Impact of International Human Rights Law on Japanese Law.–. Goodman. Hathaway. After Hegemony. Henkin. and Decisions: On the Conditions of Practical and Legal Reasoning in International Relations and Domestic Affairs. 1996. Ropp. Gibney. dan Marc Vockell. Paul Gordon. 1979. 1980.: Cornell University Press. dan Derek Jinks. Emilie. Iwasawa. “Norms. Human Rights. Robert O. Jaggers. 1991. Yuji. Jetschke. Vanessa Dalton.. Katzenstein. N. –.: Cornell University Press. “Population Pressures and Political Repression. Jeane. Sovereignty: Organized Hypocrisy. Henderson. Stephen D. dan Jack Donnelly. Stephen C. Keith. “Even Bad States Do Good Things: International Human Rights Law and the Politics of Legitimation. Kirkpatrick. N. Margaret E. 1998. “Mechanisms of Social Influence and Regime Design in Human Rights Law: Toward a Sociological Theory of International Law. “Linking the Unlinkable? International Norms and Nationalism in Indonesia and the Philippines.” Makalah dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Sociological Association. 1998. 2002.J. Peter J. dan Kathryn Sikkink. San Francisco. “Trading Human Rights? How Preferential Trade Agreements Influence Government Repression. Hafner-Burton.: Transaction Books. 1984. 1995.” Human Rights Quarterly 18: 131–79. New York: Columbia University Press. Kratochwil. The Evolution of International Human Rights: Visions Seen. –. 1986. and Political Regimes. Anja. Keck. Rights Across Borders: Immigration and the Decline of Citizenship. JURNAL HAM • Vol. Activists Beyond Borders: Advocacy Networks in International Politics. New York: Cambridge University Press. dan Ted Robert Gurr.” Journal of Refugee Studies 5:33–46. Krasner. and World Politics: Insights from Sociology’s’ Institutionalism.” Journal of Conflict Resolution 35:120–42.J.

Vazquez.” Comparative Politics 8:1–30. “Repression of Human Rights to Personal Integrity in the 1980s: A Global Analysis. dan Linda Camp Keith. “Repression of the Human Right to Personal Integrity Revisited: A Global Cross-National Study Covering the Years 1976–1993. 1987.” Human Rights Quarterly 18:368–97. 2007 . “The Origins of Human Rights Regimes: Democratic Delegation in Postwar Europe. John W... 2002. “Human Rights and MNCs: Theory Versus Quantitative Analysis..” Human Rights Quarterly 9:405–13. “Is U. “A Comparative Analysis of the Political and Economic Performance of Military and Civilian Regimes. 1997. “How Are These Pictures Different? A Quantitative Comparison of the U. Steven C. John Boli.” International Organization 51:623–51. dan Tanya C..ch/pdf/ report. William H. McKinlay. 2d ed. JohnW. 1998. Meyer. Steven.S.S. “Taking Preferences Seriously: A Liberal Theory of International Politics. Conn. Calif. Scott. dan Kathryn Sikkink. Beverly Hills. Poe. Neal Tate. Olsen. dan Nancy Brandon Tuma. David John Frank. dan Francisco O. John W.. C. Evan Schofer.” International Security 19:5–49. –.” International Organization 51:514– 55. 2001.Long. “Human Rights and the Allocation of U. Westport. R.. Military Assistance. 1988. “Economic and Political Explanations of Human Rights Violations. 1975. Poe. Chicago: University of Chicago Press. Human Rights Diplomacy. Mitchell.” Human Rights Quarterly 23: 650–77. Cohan. eds. Constructing the Nation-State: International Organization and Prescriptive Action. 1976– 1995. John W. Ellen L. Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights. David Kamens. John J. dan Johan P. School Knowledge for the Masses: World Models and National Primary Curricular Categories in the Twentieth Century. Poe. Neil. James G. S.: Sage Publications. “World Society and the Nation-State. “The Structuring of a World Environmental Regime. dan Paul J. Rein. 1995. 1994/1995.S. Status of Ratifications of the Principal International Human Rights Treaties. Steven C. Meyer. Han S.” International Organization 54:633–59. Carey. 1997..” The American Political Science Review 88:853–72. D. Thomas. Walter W. 1994. 1997. Neal Tate. 1999.” American Journal of Sociology 83:340–63. Richard Scott. dan James McCormick. Organizational Environments: Ritual and Rationality. Mullerson.” International Organization 52:943–69. The New Institutionalism in Organizational Analysis.” Journal of Peace Research 28:205–16. Andrew. dan C. 1997.” International Studies Quarterly 43:291–313. “Institutionalized Organizations: Formal Structure as Myth and Ceremony. “The False Promise of International Institutions. Meyer. McCormick. John W. 100 JURNAL HAM • Vol.. Ramirez. dan A.” American Journal of Sociology 103:144–81.unhchr. Regression Models for Categorical and Limited Dependent Variables. Thousand Oaks. Powell. 1992. Steven C. 4 • Th. McNeely. 1870–1990. Aid Really Linked to Human Rights in Latin America?” American Journal of Political Science 32:231–39. James M.. http://www. 1988. March. “Correlates of Human Rights: Global Tendencies. Mearsheimer. Poe.pdf. dan W. Meyer. Ann Hironaka. Meyer. Park.. dan Aaron Benavot. dan Neil Mitchell. J.. 1996. Sabine C. “The Institutional Dynamics of International Political Orders.. George M.: Greenwood Press. Moravcsik. Meyer. London: Falmer Press.” World Politics 40:476–98. “International Human Rights Law and Practice in Latin America. 1992. 2000. 1991. 1977. State Department and Amnesty International Human Rights Reports.. 1997. 2000. New York: Routledge.” International Organization 54:217–52. Lutz. Connie L. dan Brian Rowan. 1991. Calif. DiMaggio.: Sage Publications.

1986. Reading.” American Political Science Review 80:921– 45. Ron. Claude. W. 1975. 1976. Beverly Hills. James C. “Global Human Rights and State Sovereignty: Nation-States’ Ratification of International Human Rights Treaties. Accommodation.J. Rasler. Meyer. 2007 101 . Waltz. 1999.” In Comparative Human Rights. Thomas. “Global Civil Society and Ethnic Social Movements in the Contemporary World. “Human Rights and Development: Theory and Data. “War and Domestic Violence: The Case of the United States. Young. Theory of International Politics. 1989. Sacko. dan Kathryn Sikkink. 1999. Mass. 2001. Stohl. David L.” Pp. and the Demise of Communism. P. “Varying Methods of State Violence. London: Macmillan.” International Organization 51:275–301.. Michael. Strouse. George M. The Power of Human Rights: International Norms and Domestic Change. Ronald D. James. Gelleny.” Human Rights Quarterly 21:207–19. Melissa Bolyard. Calif. Ramirez. 2d ed.– –. 2004. dan David Carleton. Claude. “Human Rights and the Global Economy: A Response to Meyer. Jackie.’1965– 1999. Princeton. Risse. Compliance and Public Authority: A Theory with International Applications. Society. Francisco O. Thousand Oaks. “War. and Violence in the United States.. 1997. Tsutsui. 329– 45 in Human Rights and Development: International Views. 2001.” Social Forces 83:587–620.” International Studies Quarterly 45:219–39. 1890– 1970. August. Oran R. dan Christine MinWotipka. 2001. 2004. Baltimore: Johns Hopkins University Press. and the Individual.. Kenneth. Thomas.” Journal of Conflict Resolution 19:379– 416. 2000.–Institutions and Organizations. 1987.Wesley. Thomas.: Sage Publications. Kiyoteru. Soysal. Stephen C. Smith.” Paper presented at the annual meeting of the American Sociological–Association. “Global Civil Society and the International Human Rights Movement: Citizen Participation in International Human Rights Nongovernmental Organizations. dan David H. 1979. Tsutsui. Richard. “The Foreign Policy of Human Rights: Rhetoric and Reality from Jimmy Carter to Ronald Reagan. P. Human Rights. N. New York: Cambridge University Press.Pritchard.: Sage Publications. 1994. John W. Chicago: University of Chicago Press. Scott.” Sociological Forum 19:63–88. edited by D. “Money with a Mean Streak? Foreign Economic Penetration and Government Respect for Human Rights in Developing Countries. Michael. Stohl. Kathleen. 1979. dan Richard P. 1890–1970.” Human Rights Quarterly 7:205–29. Kiyoteru. Karen. Richards. JURNAL HAM • Vol. Limits of Citizenship: Migrants and Postnational Membership in Europe.: Addison. edited by R. Baltimore: Johns Hopkins University Press. Institutional Structure: Constituting State.: Princeton University Press. Calif. 4 • Th. dan Anna Ippolito. Anaheim. Forsythe. The Helsinki Effect: International Norms. Daniel C. Ropp. 1985. dan John Boli. “Empirical Comparative Rights Research: Some Preliminary Tests of Development Hypotheses. Yasemin.

kedua. yang mana setiap Negara dapat memilih untuk menerima ataupun tidak menerimanya. dan terintegrasi bagi pemajuan dan perlindungan HAM. 2007 perjanjian sebagai “badan perjanjian” HAM telah diterima secara luas.Lembar Fakta Perserikatan Bangsa-Bangsa No. Bagi mereka yang tertarik pada suatu perjanjian atau badan perjanjian tertentu dapat merujuk pada terbitan-terbitan tersebut. yaitu untuk menggambarkan setiap komite yang memonitor pelaksanaan perjanjian HAM. buku ini menggambarkan tentang suatu “sistem perjanjian” HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Namun demikian. 4 • Th. Social and Cultural Rights/ CESCR) secara teknis bukan merupakan suatu badan perjanjian karena tidak secara langsung dibentuk berdasarkan Kovenannya. 30 Sistem Perjanjian Hak Asasi Manusia: Pengantar terhadap Perjanjian Hak Asasi Manusia Utama dan Badan-Badan Perjanjian Lembar Fakta ini merupakan suatu pengantar umum terhadap perjanjian dan komite internasional hak asasi manusia (HAM) utama. dengan tujuan untuk melihat sejauh mana mereka dapat berfungsi atau bekerja bersama sebagai suatu sistem yang menyatu. dan walaupun setiap badan perjanjian merupakan suatu komite yang ter1 Penyebutan komite yang dibentuk berdasarkan diri dari para ahli yang independen dari komite-komite lainnya. Setiap Negara Pihak memiliki kewajiban untuk mengambil langkah-langkah yang menjamin bahwa setiap orang di Negara tersebut dapat menikmati hak-hak yang diatur dalam perjanjian. istilah “badan perjanjian” diadopsi untuk tujuan-tujuan berikut ini. badan-badan perjanjian harus mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan mereka untuk menghasilkan suatu pendekatan yang konsisten dan sistematis terhadap monitoring pelaksanaan HAM di tingkat nasional.1 Tujuh perjanjian utama hak HAM menetapkan standar-standar internasional bagi perlindungan dan pemajuan HAM di mana Negara-negara dapat mendaftarkan diri menjadi pihak pada setiap perjanjian tersebut. Harus diperhatikan bahwa Komite Hak Ekonomi. atau “badan perjanjian” yang memonitor pelaksanaan perjanjian oleh Negara-negara Pihak. Walaupun setiap perjanjian merupakan instrumen hukum yang terpisahpisah. Bagian I menggambarkan tentang tujuh perjanjian HAM utama yang saat ini JURNAL HAM • Vol. Negara harus menerima semua perjanjian HAM internasional utama secara sistematis dan melaksanakan ketentuanketentuannya (ratifikasi universal dan efektif). Social and Cultural Council/ECOSOC). Sosial. dan Budaya (Committee on Economic. Sejauh mana perjanjian dan badan perjanjian dapat bekerja bersama-sama sebagai suatu sistem tergantung pada dua faktor: pertama. Badan perjanjian membantu Negara-negara Pihak melakukan hal tersebut dengan memonitor pelaksanaannya dan merekomendasikan langkah-langkah selanjutnya. Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (Office of the High Commissioner for Human Rights/OHCHR) telah menerbitkan lembar fakta yang spesifik mengenai ketujuh perjanjian utama. walaupun ketentuan-ketentuan di setiap perjanjian merujuk secara spesifik pada “komite”nya. holistik. Sosial. dan. yang meninjau semua perjanjian dan badan perjanjian. melainkan dibentuk oleh resolusi Dewan Ekonomi. 102 . Lembar fakta ini menggunakan pendekatan yang lebih umum. yang setiap lembar faktanya mencantumkan informasi mengenai badan perjanjiannya. dan Budaya (Economic.

dengan berfokus pada elemen-elemen yang serupa dalam mandat dan metode kerja mereka. Selain itu juga didiskusikan tentang dampak penekanan baru atas pembentukan dan dukungan sistem perlindungan di tingkat nasional terhadap sistem perjanjian di tingkat internasional. Bagian III menggambarkan tentang tantangan-tantangan yang dihadapi oleh sistem perjanjian HAM. upaya-upaya untuk meningkatkan efektivitas sistem. Ketujuh perjanjian HAM menjelaskan lebih lanjut suatu kerangka hukum yang komprehensif di mana setiap Negara dapat memenuhi komitmennya dalam pemajuan dan perlindungan HAM secara universal dengan bantuan badanbadan perjanjian. Upaya-upaya telah dilakukan oleh Liga Bangsa-Bangsa (LBB) yang dibentuk pada akhir Perang Dunia Kedua untuk membangun suatu kerangka hukum internasional guna melindungi kelompok minoritas. Termasuk di dalamnya. Kekejaman dan ketakutan yang terjadi pada Perang Dunia Kedua telah memotivasi masyarakat internasional untuk berupaya menjamin bahwa kekejaman seperti itu tidak lagi terulang dan menyediakan daya pendorong bagi gerakan modern untuk membentuk suatu sistem perlindungan HAM internasional yang bersifat mengikat. baik di tingkat nasional maupun internasional. Semua Negara memiliki komitmen untuk memajukan penghormatan bagi hak dan kebebasan yang dicantumkan dalam Deklarasi dan untuk mengambil langkah-langkah untuk menjamin pengakuan dan ketaatan terhadap hak dan kebebasan tersebut secara universal dan efektif. Perjanjian-perjanjian ini merupakan produk lebih dari setengah abad elaborasi atau penjelasan yang berkesinambungan sejak adopsi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia atau DUHAM (Universal Declaration of Human Rights) dengan suara bulat oleh Majelis Umum PBB pada 1948.berlaku. termasuk mekanisme monitoring internasionalnya. khususnya melalui pengarusutamaan (streamlining) prosedur pelaporan Negara. Badan perjanjian ini memonitor pelaksanaan hak-hak yang diatur dalam perjanjian tersebut oleh Negaranegara yang telah menerimanya. 103 . perlindungan HAM telah mulai berkembang sebagai suatu wacana penting bagi masyarakat internasional. Sistem badan perjanjian terdiri dari hal-hal utama yang wajib dilakukan oleh Negara-negara di forum internasional. Bagian II menjelaskan tentang pekerjaan tujuh badan perjanjian HAM yang dibentuk berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. dalam suatu dialog antarnegara yang bersifat keras tetapi konstruktif. BAGIAN I Membangun standar-standar HAM: perjanjian dan protokol opsionalnya Pada awal abad ke-20. dan bahwa setiap hak harus ditekankan kepentingannya secara sama. perbedaan-perbedaan dalam praktik dapat ditemukan di lembar fakta yang spesifik. Semua badan perjanjian akan dipertimbangkan secara sama. Suatu glossary mengenai istilah-istilah teknis yang digunakan berkaitan dengan baik perjanjian-perjanjian maupun badanbadan perjanjian juga disediakan guna membantu pembaca dalam hal terminologi yang digunakan berkaitan dengan perjanjian-perjanjian dan badan-badan perjanjian. mengenai pelaksanaan HAM di negara-negara mereka. JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007 DUHAM menyatakan dengan jelas bahwa semua HAM bersifat tidak terbagi (indivisible) dan saling berkaitan (interrelated).

telah menjadi aturan-aturan yang mengikat secara hukum melalui praktikpraktik di Negara-negara. Peng Chun Chang. dan budaya. melalui penggambarannya yang komprehensif mengenai berbagai jenis hak. bersama dengan tokoh-tokoh lain seperti Rene Cassin. Apakah Deklarasi merupakan Hukum Kebiasaan? Telah diterima secara luas bahwa beberapa ketentuan dalam Deklarasi saat ini telah menjadi aturan dalam hukum kebiasaan internasional. menetapkan serangkaian hak yang mencakup semua aspek kehidupan. Dokumen ini memiliki kekuatan moral yang tinggi. Setelah membuat suatu ketentuan umum mengenai diskriminasi. yang diadopsi dalam bayang-bayang masa pelanggaran yang sedemikian masif terhadap hak-hak yang dicantumkan dalam dokumen tersebut. yang merepresentasikan sebagaimana disepakati untuk pertama kalinya secara internasional definisi hak-hak semua orang. yang kemudian dikenal sebagai Hari Hak Asasi Manusia Internasional. 2007 . Dokumen ini. kesaling-terkaitan. sosial. yang digambarkan sebagai “suatu standar umum bagi pencapaian semua orang dan semua bangsa”. 104 JURNAL HAM • Vol. Ini adalah norma-norma yang. walaupun Deklarasi bukan merupakan perjanjian yang mengikat secara hukum. dan sosial. yaitu: “Semua manusia dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak yang sama”. Pasal 22 sampai pasal 28 menjamin sejumlah hak ekonomi. namun pentingnya dokumen ini tidak boleh diremehkan. dengan pengakuan penting di pasal 28 bahwa “Setiap orang berhak atas ketertiban sosial dan internasional. yang diadopsi dengan suara bulat oleh Majelis Umum PBB pada 10 Desember 1948. Dengan de- mikian. di mana hak dan kebebasan yang diatur dalam Deklarasi ini dapat diwujudkan sepenuhnya”. 4 • Th. politik. Hal ini merupakan suatu penekanan yang kemudian diafirmasikan kembali bertahun-bertahun kemudian pada Deklarasi Konferensi Dunia tentang Hak Asasi Manusia di Wina pada 1993. Upaya ini telah menghasilkan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM). Pasal pertamanya dengan terkenal menggambarkan ide hak asasi manusia yang mendasar.Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (1948) Piagam PBB 1945 memproklamasikan bahwa salah satu tujuan PBB adalah untuk memajukan dan mendorong penghormatan terhadap HAM dan kebebasan mendasar bagi semua orang. beberapa komentator berkomentar bahwa keseluruhan Deklarasi ini memiliki status demikian. ekonomi. Charles Malik. maka untuk pertama kalinya Negara-negara berupaya mencari jalan untuk membuat suatu dokumen tunggal yang berisikan berbagai hak dan kebebasan mendasar yang dimiliki oleh setiap individu karena status mereka sebagai manusia. Deklarasi menekankan pada kesatuan. dan interdependensi semua hak tersebut. Deklarasi menyebutkan satu demi satu pengelompokan hak-hak secara spesifik: sipil. dan John Humphrey. Pasal 3 sampai pasal 21 menggambarkan hak sipil dan politik yang klasik (termasuk hak suaka dan hak atas kepemilikan). Deklarasi juga menyediakan secara tegas dasar bagi struktur perjanjian untuk ditegakkan di dekade-dekade berikutnya. budaya. Contohnya termasuk larangan terhadap penyiksaan dan diskriminasi rasial. walaupun tidak ditentukan dalam suatu perjanjian. Sebagaimana tercerminkan dalam namanya. Dengan dorongan yang kuat dari Elenor Roosevelt. Tidak hanya itu.

Sistem Perjanjian Hak Asasi Manusia PBB: menunjukkan perjanjian dan mandat badan perjanjian DEKLARASI UNIVERSAL HAK ASASI MANUSIA Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007 INSTRUMEN OP OP* Laporan Laporan Pengaduan Individual & penyelidikan SCP Kunjungan & Laporan Laporan OP2 OP SC KIHESB 1966 ICERD 1965 CEDAW 1979 CAT 1984 CRC 1989 KIHSP 1966 ICPMW 1990 OP AC PROTOKOL OPSIONAL OP1 Laporan Laporan Laporan Laporan Pengaduan Individu ECOSOC Pengaduan individual berdasarkan pasal 14 Pengaduan individual berdasarkan pasal 22 dan penyelidikan Pengaduan individual berdasarkan pasal 77 (belum berlaku) BADAN PERJANJIAN Komite Hak Ekonomi. Sosial dan Budaya Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial Komite Hak Asasi Manusia Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan Komite Menentang Penyiksaan Komite Hak Anak Komite Pekerja Migran 105 SCP = Subkomite Pencegahan *OPCAT belum berlaku .

yang melarang pembedaan berdasarkan ras. keturunan serta asal usul kebangsaan dan etnis. Dua perjanjian. atau lainnya. Asal-usul kebangsaan atau sosial. Selain kewajiban yang nyata bahwa Negara harus menahan diri dari tindakan-tindakan semacam itu di semua tingkatan. Daftar yang sama tercantum di pasal 2 dari kedua Kovenan Internasional. 4 • Th. perjanjian pertama yang disepakati mengatur tentang fenomena khusus diskriminasi rasial: Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. Pendapat politik atau lainnya. ada kesepakatan bersama bahwa hak-hak yang tercantum di dalamnya harus diterjemahkan pada bentuk legal sebagai perjanjian-perjanjian. termasuk dilakukannya propaganda ide-ide rasial yang dilakukan oleh kelompok-kelompok dan organisasi-organisasi. Agama. 2: Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial (1965) Ketika DUHAM diadopsi. yang secara langsung mengikat Negara-negara yang menyetujui ketentuanketentuan di dalamnya. Bahasa. dan budaya dan kebanyakan diantaranya disebutkan satu per satu dalam Deklarasi – yang harus dijamin tanpa pembedaan JURNAL HAM • Vol. Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial dan Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan dibuat secara spesifik untuk menghapuskan bentuk-bentuk khusus diskriminasi. Konvensi ini mengatur kewajiban Negara-negara Pihak secara detil untuk memerangi momok tersebut dalam enam pasal. Jenis kelamin. yaitu suatu badan politik yang terdiri dari perwakilan Negara-negara. 2007 106 . sosial. yang diadopsi oleh Majelis Umum pada Desember 1965.Nondiskriminasi dalam penikmatan hak asasi manusia Semua perjanjian hak asasi manusia utama mencerminkan prinsip umum yang diadopsi oleh Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia bahwa hak-hak yang diatur dalam perjanjian-perjanjian harus dapat dinikmati tanpa diskriminasi dalam bentuk apa pun. Mengingat pentingnya secara politis kebangkitan rejim apartheid di Afrika Selatan. Konvensi juga menetapkan suatu rangkaian hak asasi manusia spesifik yang ekstensif – baik dalam bidang sipil dan politi serta ekonomi. yang bertemu setiap tahunnya di Jenewa untuk membicarakan berbagai persoalan HAM. kelahiran. Konvensi juga mewajibkan untuk mengambil langkah-langkah yang selayaknya untuk mencegah diskriminasi rasial mengakar di masyarakat. Hal ini mengarah pada negosiasi-negosiasi yang panjang di Komisi Hak Asasi Manusia. warna kulit. Perjanjian-perjanjian selanjutnya memperluas daftar tersebut lebih lanjut. Setelah mendefinisikan diskriminasi rasial. yaitu diskriminasi rasial dan diskriminasi terhadap perempuan. Status kepemilikan. Pasal 2 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia menentukan suatu daftar yang bersifat non-exhaustive mengenai dasar-dasar yang dilarang bagi diskriminasi: Ras atau warna kulit. Informasi lebih lanjut mengenai DUHAM dapat ditemukan di Lembar Fakta No.

sosial. Konvensi juga menentukan perbaikan (remedy) yang efektif terhadap tindakan diskriminasi rasial sebagai suatu hak mendasar. Majelis Umum meminta Komisi Hak Asasi Manusia untuk membuat dua kovenan yang terpisah. pencapaian atau pelaksanaan. 2007 107 .berdasarkan ras. Berdasarkan pasal 14. negosiasi sedang berlanjut mengenai dua perjanjian utama: Kovenan Interna- JURNAL HAM • Vol. Akhirnya. budaya. 2 Resolusi 543 (V). Namun. Bagian mukadimah atau pembukaan kedua instrumen mengakui kesalingtergantungan semua HAM. Informasi lebih lanjut mengenai Konvensi ini dapat ditemukan di Lembar Fakta No. keturunan atau kebangsaan atau suku bangsa. Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia Pada saat yang sama dengan disepakatinya Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. warna kulit. hak asasi manusia. Negara-negara juga dapat memilih untuk mengakui kompetensi Komite untuk mempertimbangkan pengaduan dari individual (pasal 14). Bersama dengan DUHAM. atas dasar persamaan. Proses pembuatan suatu instrumen yang mengikat secara hukum yang mengabadikan hak-hak yang ada dalam DUHAM telah dimulai segera setelah diadopsinya Deklarasi pada 1948. yang mempunyai maksud atau dampak meniadakan atau merusak pengakuan. 4 • Th. yang dibentuk oleh Konvensi untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. Pada awalnya. Sosial. yang meminta agar kedua instrumen tersebut sedapat mungkin memuat sebanyak mungkin ketentuan-ketentuan yang sama guna “menekankan kesatuan dari tujuan yang ada”. 12: Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. Bagian I dari kedua Kovenan sama-sama menentukan tentang hak semua orang untuk menentukan nasibnya sendiri dan untuk secara bebas mengelola kekayaan dan sumber daya alamnya. pengecualian. budaya atau bidang kehidupan masyarakat yang lain” (pasal 1) Bagian II Konvensi mewajibkan semua Negara Pihak untuk melapor kepada Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial secara berkala. setelah diskusi yang panjang. sipil. dan kebebasan mendasar dalam bidang politik. atau pengutamaan berdasarkan ras. Sosial. Apa yang dimaksud dengan diskriminasi rasial? “segala bentuk pembedaan. baik melalui pengadilan ataupun institusi-institusi lainnya. Kedua Kovenan memiliki struktur yang sama dan mengadopsi kata-kata yang sama atau serupa di beberapa pasal.2 Kedua Kovenan akhirnya diadopsi oleh Majelis Umum pada Desember 1966 dan mulai berlaku pada 1976. kedua Kovenan ini dirujuk sebagai “Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia atau International Bill of Human Rights”. paragraf 1. dan Budaya (KIHESB). dan politiknya. dengan menyatakan bahwa HAM yang ideal hanya bisa dicapai jika dibentuk kondisi-kondisi di mana setiap orang bisa menikmati hak ekonomi. Bagian II dari kedua Kovenan mencantumkan ketentuan-ketentuan umum yang melarang diskriminasi (pasal 2 (1) Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik dan pasal 2 (2) Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. ekonomi. dibayangkan adanya suatu kovenan tunggal yang mencakup semua HAM. pembatasan. sosial. sional tentang Hak Sipil dan Politik (KIHSP) serta Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi.

Hak atas kesehatan yang dicakup oleh DUHAM sebagai suatu aspek dari standar kehidupan yang JURNAL HAM • Vol. dan Budaya). Protokol Opsional Kedua 1989 memajukan penghapusan hukuman mati. dan perlindungan terhadap minoritas di pasal 27. yang menentukan kewajiban bagi pendidikan dasar yang bersifat wajib dan tersedia secara cuma-cuma serta untuk mengambil langkah-langkah guna mencapai pendidikan lanjutan dan pendidikan tinggi yang tersedia secara cuma-cuma. seperti hak-hak tahanan di pasal 10. mengijinkan Negara-negara untuk menerima kewajiban-kewajiban tambahan. Sosial. Sebagai tambahan terhadap pasal 2 (1) dan pasal 3 tentang nondiskriminasi (yang sama dengan di Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Bagian III dari setiap Kovenan memuat ketentuan-ketentuan yang substantif. 2007 108 . Sosial. yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam Kovenan. yang menentukan langkahlangkah yang harus diambil guna realisasinya secara penuh. tetapi menyediakan dua pasal (pasal 13 dan pasal 14) bagi dimensi-dimensinya yang berbeda. Informasi lebih lanjut mengenai Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik ini dapat ditemukan di Lembar Fakta No. dan Budaya meniru bahasa yang digunakan dalam DUHAM. Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (1966) Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik menjelaskan mengenai hak sipil dan politik yang tercantum dalam Deklarasi. Sebagai tambahan. Pasal 25 memuat jaminan terhadap hak politik: hak untuk mengambil bagian dalam urusan-urusan publik. dan Budaya (1966) Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. adil dan berkala. Protokol Opsional Pertama 1966 menyediakan hak atas pengaduan individual kepada Komite Hak Asasi Manusia. 15: Komite Hak Asasi Manusia. yang menjelaskan lebih lanjut mengenai hak-hak yang tercantum dalam DUHAM. dan Budaya. seperti halnya Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik.dan Budaya). Sosial. Dua protokol opsional tambahan pada Kovenan. Sosial. 4 • Th. berkaitan dengan penikmatan hak-hak Kovenan sebagaimana juga pembatasan yang diijinkan terhadap penikmatan tersebut. termasuk suatu forum yang mandiri dan imparsial di mana tuduhan-tuduhan terhadap pelanggaran-pelanggaran semacam itu bisa dimajukan. membangun hak-hak yang sesuai dengan DUHAM dalam detil yang lebih lengkap. Bagian IV dari Kovenan mewajibkan semua Negara untuk melapor secara berkala kepada Komite Hak Asasi Manusia. misalnya. pasal 2 menyediakan hak atas perbaikan (remedy) efektif terhadap pelanggaran hakhak yang dijamin oleh Kovenan. seperti halnya Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial. mengenai hak atas pendidikan. Oleh karena itu. pasal 26 menjamin kesetaraan di depan hukum dan nondiskriminasi atas perlindungan hukum yang pada umumnya diberlakukan di suatu Negara. Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Kovenan juga memuat suatu katalog yang panjang mengenai hak dan kebebasan sipil dan politik utama. dengan pengecualian hak atas kepemilikan dan hak suaka (yang dilindungi terpisah dalam Konvensi tentang Status Pengungsi pada 1951). Kovenan ini juga memasukkan hak-hak tambahan. dan menegaskan kesetaraan hak laki-laki dan perempuan (pasal 3 kedua Kovenan). khususnya melalui pemilihan yang Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi.

dan Budaya utama: Hak atas nondiskriminasi Hak atas pekerjaan Kondisi pekerjaan yang adil dan baik Hak-hak pekerja Hak atas jaminan sosial Perlindungan terhadap keluarga Hak atas standar kehidupan yang layak Hak atas kesehatan Hak atas pendidikan Hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan budaya Salah satu perbedaan yang terlihat diantara kedua Kovenan adalah prinsip pencapaian secara bertahap (progressive realization) di Bagian II dari Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Hak Ekonomi. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan mengatur secara detil mengenai apa yang dimaksud dengan pelarangan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin dari perspektif kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Prinsip pencapaian secara bertahap mengakui hamJURNAL HAM • Vol. 16: Komite Hak Ekonomi. serta termasuk persoalan-persoalan spesifik yang berkaitan dengan kesehatan seperti kesehatan lingkungan serta penyakit-penyakit menular dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan. Konvensi ini memuat berbagai aspek kebijakan dan program dari persoalan-persoalan spesifik. Sosial. seperti halnya diskriminasi rasial. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (1979) Pada 1979 masyarakat internasional mengadopsi suatu perjanjian baru yang menangani fenomena khusus: diskriminasi terhadap perempuan atas dasar jenis kelamin. dan pembayaran pada saat hari-hari libur umum. dilarang di dalam kedua Kovenan. dan Budaya ini dapat ditemukan di Lembar Fakta No. Pasal 6 mengenai hak atas pekerjaan dilengkapi oleh pasal 7 yang memuat ketentuan tentang hak atas kondisi kerja yang adil dan baik. tetapi Konvensi ini memuat sejumlah inovasi yang mencerminkan perkembangan selama lima belas tahun setelah 109 .. Namun demikian. dan pasal 23) yang dibangun dari prinsip-prinsip di pasal 22 dan 28 DUHAM. Kovenan juga menentukan suatu kewajiban segera (immediate obligation) untuk mengambil langkah-langkah yang disengaja. Diskriminasi berdasarkan jenis kelamin. Sosial. Informasi lebih lanjut mengenai Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. pasal 11 (2). 4 • Th. pasal 22. [. kesetaraan dalam hal promosi ke jenjang yang lebih tinggi. Namun demikian. Sosial. dan Budaya. dan Budaya. pasal 15 (4). Kovenan juga mengakui peran yang lebih luas dari masyarakat internasional (pasal 2 (1). yang menjamin keselamatan dan kesehatan dalam pekerjaan.layak. 2007 batan-hambatan yang mungkin dihadapi oleh Negara-negara Pihak berkaitan dengan keterbatasan sumber daya. dan bertarget yang mengarah pada perwujudan penuh hak-hak yang diatur dalam Kovenan. dengan maksud untuk mencapai secara bertahap perwujudan penuh dari hak-hak yang diakui dalam [Kovenan]”. dalam Kovenan diberikan pasal tersendiri: pasal 12 yang mengakui hak atas standar tertinggi yang dapat dicapai dalam hal kesehatan fisik dan mental. Pasal 2 (1) menyatakan bahwa Negara Pihak “mengambil langkah-langkah. Konvensi mengadopsi suatu bentuk yang diperagakan dalam Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial.] sepanjang tersedia sumber dayanya. konkret. Sosial..

kesehatan. Pasal 7 dan pasal 8 merinci kewajiban-kewajiban untuk menjamin partisipasi yang setara antara perempuan dan laki-laki dalam kehidupan publik dan politik. pasal 12. atau lainnya oleh kaum perempuan” (pasal 1) Bagian V dari Konvensi mewajibkan semua Negara Pihak untuk melapor secara berkala kepada Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan. 2007 110 . sipil. Apa yang dimaksud dengan diskriminasi terhadap perempuan? “pembedaan. Pasal 15 dan pasal 16 memperluas hakhak atas kesetaraan di hadapan hukum serta dalam hal perkawinan dan hubungan keluarga. Pasal 7 Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik memuat larangan terhadap penyiksaan dan perlakuan atau penghukuman yang kejam. kebiasaan. pasal 14 adalah satu-satunya ketentuan dalam perjanjian-perjanjian yang menangani persoalan-persoalan khusus yang dihadapi oleh perempuan di daerah-daerah pedesaan. yang berakibat atau atau bertujuan untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan. atau merendahkan martabat. tetapi Konvensi yang memiliki nama yang sama dengan lebih lanjut membangun suatu skema hukum yang ditujukan baik untuk pelarangan maupun penghukuman JURNAL HAM • Vol. Dengan mengaplikasi prinsip-prinsip umum dalam suatu fenomena khusus. sosial. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan memulai dengan mendefinisikan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin. Informasi lebih lanjut mengenai Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan ini dapat ditemukan di Lembar Fakta No. yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian.Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial diadopsi. Pasal 6 secara eksplisit mewajibkan Negara-negara untuk memberangus segala bentuk perdagangan perempuan dan eksploitasi pelacuran. penikmatan. budaya. dan bidang-bidang lain dalam kehidupan ekonomi dan sosial. tidak manusiawi. Seperti halnya Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. sementara pasal 11. walaupun fenomena ini secara implisit dapat termasuk dalam pelarangan perbudakan dan kerja paksa yang termuat di instrumen lain. Tidak Manusiawi. pengucilan atau pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin. Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam. 4 • Th. Pasal-pasal awal mewajibkan Negara-negara untuk menahan diri dari diskriminasi berdasarkan jenis kelamin dalam penyelenggaraan Negara dan mengambil langkah-langkah guna mencapai kesetaraan yang faktual dan legal dalam segala bidang kehidupan. dan pasal 13 menjelaskan tentang hak-hak perempuan atas pekerjan. ekonomi. dan praktik-praktik diskriminasi dalam masyarakat. atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan mendasar di bidang politik. atau Merendahkan Martabat (1984) Pada 1984 perjanjian lain diadopsi yang mengatur tentang suatu fenomena spesifik: penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi lainnya. Pasal 9 dan pasal 10 memperluas konsep kesetaraan dalam hal kewarganegaraan dan pendidikan. termasuk dengan memusnahkan perilaku. 22: Diskriminasi terhadap Perempuan: Konvensi dan Komite.

Negara-negara juga dapat memilih menerima kompetensi Komite untuk mempertimbangkan pengaduan dari Negara-negara lain atau pengaduan individual. Tujuan dari ketentuan-ketentuan ini adalah untuk menjamin bahwa tidak ada tempat bersembunyi bagi pelaku tindakantindakan yang dilarang oleh perjanjian. deportasi. apabila rasa sakit dan penderitaan tersebut ditimbulkan oleh. Pasal 10 dan pasal 11 memuat tentang pendidikan bagi para penegak hukum dan peninjauan terhadap metode-metode mereka. termasuk perintah atasan. atau untuk suatu alasan yang didasarkan pada diskriminasi. yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam Konvensi. Setelah mendefinisikan penyiksaan. Sebuah protokol opsional pada Konvensi disepakati pada 2002 dan akan mulai berlaku ketika telah diterima oleh 20 Ne- 111 . pasal 16 mewajibkan Negara-negara untuk mencegah perlakuan atau penghukuman yang kejam. bukti-bukti yang dikumpulkan melalui penyiksaan tidak boleh digunakan di pengadilan. dengan persetujuan. Ketika kebutuhan untuk menghukum penyiksaan mulai melintasi batas negara. dengan menghukumnya atas suatu perbuatan yang telah dilakukan atau diduga telah dilakukan oleh orang itu atau orang ketiga. yang – jika permintaan ekstradisi ditolak – maka negara lain tersebut harus melakukan proses hukum terhadap orang yang dituduh sebagai pelaku tersebut. maka Negara tersebut memiliki yurisdiksi JURNAL HAM • Vol. tidak manusiawi atau merendahkan martabat agar tidak meningkat menjadi penyiksaan. dapat menjustifikasi suatu tindak penyiksaan – larangan ini bersifat absolut. atau dikembalikan ke negara tersebut. atau sepengetahuan pejabat pemerintah” (pasal 1). 2007 terhadap tindak pidana tersebut. Berdasarkan pasal 21 dan pasal 22. Negara tersebut dapat meminta ekstradisi terhadap orang yang dituduh sebagai pelaku dari negara lain. Apa yang dimaksud dengan penyiksaan? “setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja sehingga menimbulkan rasa sakit atau penderitaan yang hebat.terhadap praktik-praktik tersebut. atau yang warga negaranya terlibat sebagai pelaku atau korban. maka orang tersebut tidak boleh diekstradisi. dengan kompensasi yang adil dan layak sebagaimana juga rehabilitasi penuh kepada korban penyiksaan. Ketimbang memuat tentang “hak atas perbaikan (remedy) yang efektif” yang umum bagi pelanggaran-pelanggaran sebagaimana tercantum dalam perjanjian-perjanjian lain. pasal 4 dan pasal 9 membentuk suatu skema di mana suatu Negara di mana penyiksaan telah terjadi. 4 • Th. Berdasarkan pasal 15. atas hasutan dari. Kemudian. Yang secara dekat berkaitan dengan hal ini adalah pelarangan utama yang termuat dalam pasal 3 berkaitan dengan pengembalian atau ekstradisi “non-refoulment”: jika terdapat alasan yang kuat untuk percaya bahwa seorang individu akan mengalami penyiksaan di suatu negara. Konvensi menyatakan dengan jelas bahwa tidak ada kondisi apa pun. pada seseorang untuk memperoleh pengakuan atau keterangan dari orang itu atau dari orang ketiga. Konvensi Menentang Penyiksaan dalam pasal 12 sampai pasal 14 mengatur hak atas penyelidikan yang segera dan imparsial terhadap tuduhan terjadinya penyiksaan. Bagian II dari Konvensi mewajibkan setiap Negara Pihak untuk melapor secara berkala kepada Komite Menentang Penyiksaan. Negara Pihak harus mengkriminalisasi penyiksaan dan menghukumnya secara layak. atau mengancam atau memaksa orang itu atau orang ketiga. baik jasmani maupun rohani.

misalnya. penjualan. serta penculikan. dan adopsi (pasal 21). Oleh karena itu. Empat “Prinsip-Prinsip Umum” bagi implementasi hak anak Komite Hak Anak telah mengidentifikasikan empat prinsip-prinsip umum yang termuat dalam Konvensi yang dapat memandu Negara-negara dalam melaksanakan hak anak: 1. eksploitasi seksual (pasal 34). perpisahan dari orang tua (pasal 9). Konvensi Hak Anak (1989) Perjanjian pertama yang menangani secara komprehensif hak suatu kelompok khusus adalah Konvensi Hak Anak. dan mewajiban mereka untuk tidak merekrut maupun menggunakan anak-anak di bawah usia 15 tahun.gara. Pasal 38 menegaskan kembali kewajiban Negara-negara Pihak dalam konflik bersenjata berdasarkan hukum humaniter internasional. dan Budaya menentukan bahwa anak-anak berhak atas langkah-langkah perlindungan khusus yang mereka butuhkan sebagai anak-anak. penyatuan kembali dengan keluarga (pasal 10). Hak hidup. jika dimungkinkan. penyalahgunaan obat-obatan (pasal 33). Konvensi Hak Anak mengatur langkahlangkah ini secara lebih detil. ketentuan-ketentuan tertentu mencakup hak anak atas identitas (pasal 7 dan pasal 8). pernyataan kembali hak-hak ini dengan penekanan pada situasi-situasi khusus anak-anak dalam satu dokumen yang komprehensif memberikan suatu kesempatan untuk membentuk ketentuan-ketentuan tambahan yang relevan dengan anak-anak. Nondiskriminasi: kewajiban Negara-negara untuk menghormati dan menjamin hak-hak yang diatur dalam Konvensi bagi setiap anak di wilayah yurisdiksi mereka tanpa diskriminasi dalam bentuk apa pun (pasal 2). Informasi lebih lanjut mengenai Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam. kelangsungan hidup. 3. Baik pasal 24 dari Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik dan pasal 10 dari Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat dapat ditemukan di Lembar Fakta No. 4 • Th. 17: Komite Menentang Penyiksaan. sebagai prajurit dalam konflik. Mengakui kerentan- an khusus pada anak-anak. perpindahan secara gelap (pasal 11). Sementara anak-anak. 2007 . 112 JURNAL HAM • Vol. dan perdagangan anak-anak (pasal 35) secara eksplisit diatur dalam Konvensi ini. Sosial. Pasal 22 menyebutkan mengenai situasi khusus anak-anak pengungsi. perlindungan dari eksploitasi ekonomi (pasal 32). Kepentingan terbaik bagi seorang anak: bahwa kepentingan terbaik bagi seorang anak harus menjadi pertimbangan utama dalam semua tindakan berkaitan dengan seorang anak (pasal 3). memang menikmati semua HAM yang diatur dalam perjanjian-perjanjian lain. sebagai manusia yang berusia kurang dari 18 tahun. Protokol opsional ini menyediakan suatu sistem kunjungan berkala oleh badan-badan internasional dan nasional ke tempat-tempat penahanan dengan tujuan untuk mencegah penyiksaan dan perlakuan kejam lainnya. 2. dan perkembangan: hak yang melekat pada seorang anak untuk hidup dan kewajiban Negara-negara Pihak untuk menjamin semaksimal mungkin kelangsungan hidup dan perkembangan anak (pasal 6). Pasal 23 mengatur secara khusus perawatan anak-anak penyandang cacat. perlindungan dari penganiayaan (pasal 19).

pendapat tersebut harus menjadi pertimbangan : sesuai dengan usia dan kematangan anak” (pasal 12). hak-hak tambahan pekerja migran dan keluarganya yang memiliki dokumen. yang dibentuk oleh Konvensi untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. serta hak ekonomi. Konvensi ini berlaku bagi seluruh proses migrasi. Bagian II Konvensi mewajibkan semua Negara Pihak untuk melapor secara berkala kepada Komite Hak Anak. walaupun hak-hak ini juga memberikan kewajiban-kewajiban khusus kepada Negara-negara pengirim. yang mengatur tentang hak-hak kelompok tertentu yang membutuhkan perlindungan: semua pekerja migran dan anggota keluarganya. transit. Oleh karena itu. seperti hak atas pemberitahuan konsuler berkaitan dengan penangkapan dan ketentuan-ketentuan khusus berkaitan dengan pelanggaran terhadap hukum migrasi dan pemusnahan dokumen-dokumen identitas serta larangan pengembalian secara kolektif. kebebasan berpikir. dan keseluruhan masa tinggal dan kegiatan yang mendapatkan pembayaran di Negara yang mempekerjakan. pertama. Konvensi kemudian diatur dalam dua bagian hak yang terpisah. Informasi lebih lanjut mengenai Kon- vensi Hak Anak dapat ditemukan di Lembar Fakta No. akses terhadap informasi (pasal 17). kedua. termasuk persiapan migrasi. serta standar kehidupan yang layak (pasal 27). Sosial. Dalam mendefinisikan hak sipil dan politik pekerja migran. Konvensi Internasional tentang Perlindungan terhadap Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya (1990) Perjanjian HAM yang terbaru adalah Konvensi Pekerja Migran. 2007 113 . kebebasan berserikat dan berkumpul dengan damai (pasal 15) dan privasi (pasal 16). berkeyakinan. misalnya. dan. Persoalan keterlibatan anak-anak dalam konflik bersenjata. Konvensi mengikuti bahasa dalam Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. serta penjualan anak. semua pekerja migran dan anggota keluarganya. Pendapat anak tentang situasinya sendiri: hak anak untuk mengungkapkan pendapatnya secara bebas “dalam semua hal yang mempengaruhi anak tersebut”. yang diadopsi pada 2000. Beberapa pasal menyatakan kembali hak-hak yang dipertimbangkan dalam situasi khusus pekerja migran.4. Konvensi Hak Anak juga menyediakan dasar baru dengan mengelaborasi perspektif anak-anak berkaitan dengan hak sipil dan politik klasik yang termuat dalam Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. apa pun usia dan kematangan mereka. apa pun status migrasi mereka. Sebagai tambahan. diatur secara detil dalam dua protokol opsional Konvensi. pelacuran anak. keberangkatan. hak atas JURNAL HAM • Vol. 5 (CRC/GC/2003/5) Di luar ketentuan-ketentuan yang menegaskan hak anak dalam hal perlindungan. Mayoritas hak-hak dalam Konvensi ini berkaitan dengan Negara penerima. serta saat kembali ke Negara asal atau Negara tempat tinggal asalnya. dan pronografi anak. Konvensi diawali dengan laranganlarangan diskriminasi yang sudah dikenal terhadap penikmatan hak-hak dalam Konvensi. Informasi lebih lanjut. dan Budaya. 10: Hak Anak. jaminan sosial (pasal 26). lihat Komentar Umum Konvensi Hak Anak No. sosial. 4 • Th. anakanak memiliki hak penuh atas kebebasan berekspresi (pasal 13). dan budaya yang diatur dalam Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. dan juga kesehatan (pasal 24). dan beragama (pasal 14).

dapat memperluas lebih lanjut perlindungan yang ditawarkan kepada orang-orang dalam yurisdiksi Negara tersebut. dengan hasil bahwa tidak ada satu hak pun yang dapat dinikmati sepenuhnya jika terisolasi. perjanjian-perjanjian lain. saling berkaitan. berdasarkan prinsip-prinsip bersama tersebut. yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. selama Negara Pihak menerima kompetensi Komite dalam hal tersebut. berdiri sendiri-sendiri. pekerja musiman. Informasi lebih lanjut mengenai pekerja migran dan Konvensinya dapat ditemukan di Lembar Fakta No. Konvensi mendefinisikan hak ekonomi. sosial. ketimbang sebagai obyek pasif dari keputusan-keputusan pihak berwenang. termasuk Konvensi tentang Status Pengungsi dan Konvensi-konvensi ILO. dan anak-anak pekerja migran memiliki hak dasar atas akses terhadap pendidikan apa pun status hukum mereka.kepemilikan. pekerja yang berpindah-pindah (itinerant). Hak-hak tambahan berlaku bagi pekerja-pekerja yang memiliki dokumen yang sah. Ketimbang sebagai perjanjian- 114 . yang pada awalnya dilindungi dalam Deklarasi tetapi tidak termuat dalam Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. adalah penting untuk membaca seluruh perjanjian HAM di mana suatu Negara menjadi pihak sebagai suatu kesatuan. Kebanyakan Negara. 2007 Membaca keseluruhan perjanjian sebagai suatu kesatuan Untuk sepenuhnya memahami kewajiban-kewajiban Negara berdasarkan perjanjian-perjanjian ini. Ketujuh perjanjian PBB tidak dimaksudkan menjadi suatu katalog yang pasti mengenai kewajiban HAM suatu Negara. Kesalingtergantungan ini adalah salah satu alasan untuk membuat suatu pendekatan yang lebih terkoordinasi oleh badan perjanjian HAM atas kegiatankegiatan mereka. Sebagai tambahan. dan bagi kelompok pekerja migran tertentu seperti pekerja frontier. seperti Konvensi ILO 182 tentang pelarangan bentukbentuk terburuk pekerjaan anak. Bagian VII dari Konvensi mewajibkan semua Negara Pihak melapor secara berkala kepada Komite Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. 24: Hak Pekerja Migran. khususnya dengan mendorong Negara-negara untuk memandang pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam semua perjanjian tersebut sebagai bagian dari tujuan yang satu. dengan sejumlah prinsip yang mengikat mereka bersama-sama. misalnya. saling bergantung. perlindungan efektif atas pelanggaran terhadap hak-hak. perjanjian yang terpisah-pisah. sebenarnya perjanjian-perjanjian tersebut saling melengkapi satu sama lain. secara spesifik disebutkan secara satu persatu bagi pekerja migran. dan saling menguatkan. perlindungan khusus bagi kelompok rentan tertentu. Semua perjanjian tersebut. Oleh karena itu. di luar keterlibatan mereka dalam sistem perjanjian HAM PBB. 4 • Th. dan pekerja yang berbasis-proyek. Setiap perjanjian mencantumkan baik secara eksplisit maupun implisit prinsip-prinsip dasar nondiskriminasi dan kesetaraan. atau KonJURNAL HAM • Vol. dan pemahaman bahwa manusia adalah mahluk yang aktif dan merupakan partisipan yang terlibat dalam kehidupan publik dalam Negara di mana ia berlokasi dan dalam keputusan-keputusan yang mempengaruhinya. Pasal 76 dan pasal 77 juga menyediakan suatu hak atas pengaduan oleh Negara-negara Pihak lain atau pengaduan individu. tetapi tergantung pada penikmatan semua hak lainnya. dan budaya pekerja migran dalam hal situasi khusus mereka. setidaknya harus disediakan perawatan medis sebagaimana hal tersebut disediakan bagi seorang warga negara.

maka Negara tersebut memikul suatu kewajiban hukum untuk melaksanakan hak-hak yang diatur dalam perjanjian tersebut. Ketika suatu negara menerima salah satu dari perjanjian-perjanjian ini melalui ratifikasi. Komite Menentang Penyiksaan (Committee against Torture/CAT). Sosial. memonitor pelaksanaan Konvensi Menentang Penyik- BAGIAN II Monitoring pelaksanaan standarstandar HAM: badan perjanjian Badan perjanjian adalah komite para ahli yang memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian HAM utama oleh Negara-negara Pihak. Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial (Committee on the Elimination of Racial Discrimination/CERD). dan Budaya. maupun suksesi. merupakan instrumen-instrumen yang jelas-jelas memiliki dimensi HAM. perjanjian tersebut mengakui bahwa Negara-negara Pihak membutuhkan dorongan dan bantuan dalam memenuhi penikmatan hak-hak yang diatur dalam perjanjian oleh setiap orang yang ada di Negara tersebut. Apa yang dimaksud dengan badan-badan perjanjian? Ketujuh perjanjian HAM internasional utama menciptakan kewajiban hukum bagi Negara-negara Pihak untuk memajukan dan melindungi HAM di tingkat nasional. Komite Hak Asasi Manusia (Committee on Human Rights/HRC) dibentuk pada 1976 untuk memonitor pelaksanaan Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. 115 . setiap JURNAL HAM • Vol. aksesi. dibentuk pada 1987. 2. Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Committee on the Elimination of Discrimination against Women/ CEDAW) telah memonitor pelaksanaan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan oleh Negara-negara Pihaknya sejak 1982. Bagian II menjelaskan pekerjaan badan perjanjian tersebut dan mengapa pekerjaan mereka berkaitan dengan kehidupan orang-orang di seluruh dunia. Semua kewajiban hukum internasional ini harus dipertimbangkan bersama ketika mengevaluasi tanggung jawab suatu Negara untuk melindungi HAM. Komite Hak Ekonomi. Tetapi hal ini hanya merupakan langkah pertama. 4 • Th.vensi ILO 169 tentang hak-hak masyarakat adat. dan Budaya (Committee on Economic. 2007 3. yang memonitor pelaksanaan Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial sejak 1969. perjanjian membentuk suatu komite internasional yang terdiri dari ahli-ahli independen guna memonitor. 4. Pelaksanaan ketujuh perjanjian hak asasi manusia utama dimonitor oleh tujuh badan monitoring perjanjian hak asasi manusia: 1. Oleh karenanya. karena pengakuan terhadap hak-hak di atas kertas tidak cukup untuk menjamin bahwa hak-hak ini akan dapat dinikmati dalam praktiknya. melalui berbagai sarana. Ketika perjanjian pertama diadopsi. pelaksanaan dari ketentuan-ketentuannya. Sosial. 5. Social and Cultural Rights/CESCR) dibentuk pada 1987 untuk melaksanakan mandat monitoring Dewan Ekonomi dan Sosial (ECOSOC) berdasarkan Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. merupakan badan perjanjian pertama yang dibentuk.

yang dinominasikan dan dipilih untuk jangka waktu empat tahun (tetap dan dapat diperbaharui) oleh negara-negara Pihak. serta menyelenggarakan diskusi tentang tema-tema yang berkaitan dengan perjanjian. 2007 Setiap komite terdiri dari ahli-ahli independen (dengan jumlah anggota antara 10 sampai 23 orang) yang kompetensinya di bidang hak asasi manusia diakui. Beberapa. Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat. 4 • Th. CEDAW bertemu di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York. Apa yang dilakukan oleh badan perjanjian? Badan perjanjian melaksanakan sejumlah fungsi yang ditujukan pada monitoring bagaimana perjanjian dilaksanakan oleh Negara-negara Pihak. Komite Hak Anak (Committee on the Rights of the Child atau CRC). Komposisi badan-badan perjanjian CERD HRC CESCR CEDAW CAT CRC CRC CMW : : : : : : : : 18 anggota 18 anggota 18 anggota 23 anggota 10 anggota 18 anggota 18 anggota 10 anggota 7. Anggota-anggota dipilih untuk jangka waktu empat tahun. mengelaborasi komentar umum yang mengintepretasikan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. walaupun Komite Hak Asasi Manusia biasanya menyelenggarakan pertemuan bulan Maret-nya di New York. namun tidak semua.saan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam. Badan-badan perjanjian mengeluarkan panduan guna membantu Negara-negara dalam persiapan pembuatan laporannya. dengan pengecualian CEDAW yang dilayani oleh Bagian Pengembangan Perempuan (Division for the Advancement of Women atau DAW) di New York. badanbadan perjanjian lainnya pada umumnya bertemua di Kantor Perserikatan BangsaBangsa di Jenewa. Komite Pekerja Migran (Committee on Migrant Workers/CMW) menyelenggarakan pertemuan pertamanya pada Maret 2004 dan akan memonitor pelaksanaan Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. sebagaimana juga kedua protokol opsionalnya yang berkaitan dengan tentara anak dan eksploitasi anak. 116 . sejak 1990 telah memonitor pelaksanaan Konvensi Hak Anak oleh Negara-negara Pihaknya. Semua badan perjanjian diberikan mandat untuk menerima dan mempertimbangkan laporanlaporan yang diserahkan secara berkala oleh Negara-negara Pihak yang memberikan secara detil pelaksanaan ketentuanketentuan dalam perjanjian di negara yang bersangkutan. badan perjanjian juga melaksanakan sejumlah fungsi tambahan yang ditujukan untuk memperkuat pelaksanaan perjanjian oleh Negara-negara Pihak. Beberapa badan perjanjian dapat mempertimbangkan pengaduan atau komunikasi individual yang mengadukan bahwa hak-hak mereka telah dilanggar oleh JURNAL HAM • Vol. Semua badan perjanjian menerima dukungan dari Perwakilan Perjanjian dan Komisi (Treaties and Commissions Branch) Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) di Jenewa. 6. Pemilihan bagi setengah dari jumlah anggota diselenggarakan setiap dua tahun sekali.

dengan ketentuan bahwa Negara tersebut telah menerima prosedur ini. 1 Agustus 1956. Beberapa badan perjanjian juga dapat melakukan penyelidikan.3 sar ini. adalah memonitor pelaksanaan perjanjian yang bersangkutan melalui peninjauan terhadap laporan-laporan yang diserahkan secara berkala oleh Negara-negara Pihak sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian tersebut. JURNAL HAM • Vol. 2007 4 E/Res/624 B (XXII). kedua Kovenan Internasional 1966. 117 . namun harus dicatat bahwa setiap badan perjanjian adalah suatu komite para ahli yang independen yang memiliki suatu mandat untuk memonitor pelaksanaan suatu perjanjian yang khusus. setiap Negara Pihak juga memiliki kewajiban untuk menyerahkan laporan secara berkala kepada badan perjanjian yang bersangkutan tentang bagaimana hak-hak telah dilaksanakan.suatu Negara Pihak. Pertimbangan terhadap laporan Negara Pihak oleh badan perjanjian Mandat utama badan-badan perjanjian. Dalam mandat menda- 3 Mereka yang tertarik pada prosedur yang seleng- kapnya dari suatu badan perjanjian disarankan untuk melihat lembar fakta bagi komite tersebut. kewajiban mereka berdasarkan perjanjian HAM di mana mereka menjadi pihak. berlaku umum bagi semua komite. prosedur dan praktik dapat berbeda-beda antara satu komite dengan komite lainnya sebagai akibat variasi mandat setiap komite berdasarkan perjanjian dan protokol opsional yang berkaitan. 4 • Th. dan setiap konvensi hak asasi manusia internasional utama setelah itu. Ide monitoring HAM melalui peninjauan laporan ini berawal dari resolusi Dewan Ekonomi dan Sosial pada 1956 yang meminta Negara-negara Anggota PBB untuk menyerahkan laporan berkala mengenai perkembangan yang dibuat dalam rangka pemajuan HAM di negaranya masing-masing. Walaupun ketujuh badan perjanjian dijelaskan bersama sebagai bagian dari suatu sistem koordinasi perjanjian. dan mendorong lebih lanjut pelaksanaan. Kewajiban Negara untuk melapor Sebagai tambahan kewajiban mereka untuk melaksanakan ketentuan substantif dalam perjanjian. Berikut ini diuraikan mengenai kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh badan perjanjian sesuai dengan mandat individual mereka. Walaupun badan perjanjian melanjutkan upaya mereka untuk mengkoordinasikan kegiatannya. Berikut ini diuraikan mengenai elemen-elemen umum yang utama dari proses pertimbangan terhadap laporan-laporan Negara oleh badanbadan perjanjian.4 Model tersebut digunakan dalam Kovenan Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial 1965. badan-badan perjanjian membentuk praktik dan prosedur yang telah terbukti cukup efektif untuk menganalisa sejauh mana Negara telah memenuhi.

setiap Negara Pihak harus menyerahkan suatu laporan awal yang komprehensif biasanya satu tahun setelah perjanjian mulai diberlakukan di Negara tersebut (dua tahun dalam kasus Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. administratif. Pada umumnya. perjanjian (biasanya antara empat sampai lima tahun) mengenai langkah-langkah lebih lanjut yang telah diambil guna melaksanakan perjanjian tersebut. 2007 Guna memenuhi kewajiban pelaporannya. Sosial. 4 • Th. laporan tersebut disyaratkan setiap empat tahun sekali. dan Budaya* Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan Konvensi Menentang Penyiksaan Konvensi Hak Anak Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Penjualan Anak (CRC-OPSC) Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Tentara Anak (CRC-OPAC) Laporan awal dalam 1 tahun Laporan berkala setiap 2 tahun 2 tahun 1 tahun 1 tahun 1 tahun 2 tahun 1 tahun 5 tahun 4 tahun+ 4 tahun 4 tahun 5 tahun 5 tahun 2 tahun 5 tahun atau bersama dengan laporan CRC berikutnya 5 tahun atau bersama dengan laporan CRC berikutnya 2 tahun * Pasal 17 dari Kovenan tidak menentukan adanya pelaporan yang bersifat berkala. Laporanlaporan harus memuat langkah-langkah hukum. dan yudisial yang diambil oleh Negara untuk memberikan dampak pada ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. dan juga harus menyebutkan faktor-faktor atau hambatan-hambatan yang JURNAL HAM • Vol. dan Budaya serta Konvensi Hak Anak). Laporan itu kemudian harus ditindaklanjuti dengan laporan berkala sesuai dengan ketentuan dalam 118 .Periode pelaporan berdasarkan perjanjian-perjanjian Perjanjian Kovenan Internasioanl tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Sosial. tetapi pasal ini memberikan Dewan Ekonomi dan Sosial diskresi untuk membuat program pelaporannya sendiri. + Pasal 41 dari Kovenan memberikan diskresi kepada Komite Hak Asasi Manusia untuk menentukan kapan laporan berkala harus diserahkan.

setiap badan perjanjian mengeluarkan panduan mengenai bentuk dan isi laporan Negara. 1. Dalam rangka menjamin bahwa laporan memuat informasi yang cukup bagi komite agar dapat melaksanakan pekerjaannya. 2007 119 . sistem pelaporan adalah suatu alat yang penting bagi suatu Negara dalam melakukan penilaian mengenai apa yang telah dicapai. penilaian publik terhadap kebijakan-kebijakan dan program-program pemerintah. JURNAL HAM • Vol. Panduan-panduan ini dihasilkan dalam suatu dokumen kompilasi (HRI/GEN/3) yang diperbaharui secara berkala. Beberapa Negara memasukkan komentar dan kritik dari organisasi nonpemerintah dalam laporan mereka. Proses pelaporan harus mendorong dan memfasilitasi partisipasi publik. guna memajukan dan melindungi HAM di negaranya. 4 • Th. dan Budaya No.5 Dilihat dari hal tersebut. (c) Mengidentifikasi persoalan dan kegagalan dalam pendekatannya untuk melaksanakan perjanjian. tetapi juga sebagai suatu kesempatan untuk memeriksa kondisi perlindungan HAM di dalam yurisdiksi mereka dalam rangka perencanaan dan pelaksanaan kebijakan. Penjelasan lebih lengkap mengenai tujuantujuan pelaporan dapat ditemukan di komentar umum Komite Hak Ekonomi. tidak hanya sebagai suatu pemenuhan kewajiban internasional. Bagaimana setiap badan perjanjian memeriksa laporan suatu Negara Pihak? Walaupun terdapat variasi dalam prosedur yang diadopsi oleh setiap komite dalam mempertimbangkan laporan suatu Negara Pihak. dan apa yang harus dilakukan lebih lanjut. dan keterlibatan yang konstruktif dari masyarakat sipil yang dilakukan dalam semangat kerja sama dan saling menghormati di tingkat nasional.dihadapi dalam melaksanakan hak-hak tersebut. Badan-badan perjanjian saat ini sedang dalam proses menyiapkan suatu draft panduan yang terharmonisasi dalam pelaporan berdasarkan perjanjian HAM internasional. (d) Menilai kebutuhan dan tujuan di masa mendatang bagi pelaksanaan perjanjian yang lebih efektif. dengan tujuan untuk memajukan penikmatan semua hak yang dilindungi oleh konvensi yang bersangkutan. Sosial. Proses persiapan pembuatan laporan menawarkan suatu kesempatan bagi setiap Negara Pihak untuk: (a) Melakukan peninjauan yang komprehensif mengenai langkah-langkah yang telah diambil untuk mengharmonisasikan hukum dan kebijakan nasional dengan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian HAM yang bersangkutan di mana Negara tersebut menjadi pihak. (b) Memonitor perkembangan yang dibuat dalam rangka pemajuan penikmatan hak-hak yang diatur dalam perjanjian dalam konteks pemajuan HAM secara umum. tahap-tahap mendasar berikut ini adalah umum bagi semua badan 5 Tujuan-tujuan ini diambil dari dokumen HRI/MC/ 2004/3. Tujuan pelaporan Negara-negara Pihak didorong untuk melihat proses persiapan pembuatan laporan mereka bagi badan perjanjian. beberapa menyerahkan laporannya terlebih dahulu kepada parlemen untuk dikritisi sebelum akhirnya diserahkan kepada Sekretaris Jenderal PBB guna dipertimbangkan oleh badan perjanjian yang bersangkutan. dan (e) Merencanakan dan membentuk kebijakan yang lebih layak guna mencapai tujuan-tujuan tersebut.

komisi nasional. Sosial. Prosedur tindak lanjut pelaksanaan rekomendasi badan perjanjian 2. Negara Pihak dapat menyerahkan jawaban tertulis terhadap daftar persoalan dan pertanyaan 4. Badan perjanjian memberikan daftar persoalan dan pertanyaan kepada Negara Pihak berdasarkan persoalan yang ditimbulkan oleh laporan Kesempatan bagi masukan dari sistem PBB. 4 • Th. yang dapat diakses dari situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR). dan LSM 5. Siklus pelaporan berdasarkan perjanjian hak asasi manusia 1. Keba- nyakan komite juga menyebutkan metode kerja mereka dalam laporan tahunannya. dan Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. Dialog konstruktif antara Komite dan delegasi Negara Pihak pada saat pertemuan Siklus dimulai satu tahun setelah perjanjian mulai diberlakukan (dua tahun untuk Konvensi Hak Anak dan Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. Informasi yang lebih lengkap mengenai prosedur badan perjanjian tertentu dapat ditemukan di lembar fakta yang berkaitan dengan komite tersebut. Sosial. 120 JURNAL HAM • Vol. Badan perjanjian mengeluarkan kesimpulan pengamatannya mengenai laporan. setiap empat tahun untuk Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik.perjanjian. dan Konvensi Menentang Penyiksaan. dan Budaya. Negara Pihak menyerahkan laporannya 6. dan Budaya) dan berulang sesuai dengan periodenya: setiap dua tahun untuk Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. Konvensi Hak Anak. termasuk rekomendasi 3. dan setiap lima tahun untuk Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. 2007 .

Apa yang dimaksud dengan dokumen inti/utama? Beberapa informasi – fakta-fakta mendasar dan statistik tentang negara. karena beberapa badan perjanjian menghadapi backlog sampai dua tahun masa laporan yang menunggu untuk dipertimbangkan. Penyerahan laporan awal Laporan harus diserahkan kepada Sekretaris Jenderal dalam salah satu dari enam bahasa resmi PBB. laporan dijadwalkan untuk pertimbangan komite pada salah satu pertemuan berkalanya. 4 • Th. yang diserahkan kepada Negara Pihak. sistem konstitusi dan hukumnya. komite membuat suatu daftar persoalan dan pertanyaan. Daftar persoalan juga mengijinkan komite untuk memulai proses pengajuan pertanyaan kepada Negara Pihak secara lebih detil mengenai persoalanpersoalan khusus yang muncul dalam laporan yang menjadi perhatian utama para anggota komite.1. yang menimbulkan pertanyaan apakah harus diberlakukan pembatasan jumlah halaman. Pada saat diproses. Daftar persoalan menyediakan suatu kesempatan kepada komite untuk meminta informasi tambahan dari Negara Pihak yang mungkin tidak dimasukkan dalam laporannya atau yang dipandang perlu oleh anggota komite guna menilai negara tersebut berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian di negara yang bersangkutan. JURNAL HAM • Vol. Akan terdapat banyak variasi bentuk laporan. Kebanyakan komite mencoba untuk memberikan prioritas pada laporan awal atau laporan dari Negara-negara yang tidak melaporkan dalam jangka waktu yang lama. Daftar persoalan dan pertanyaan Sebelum pertemuan di mana komite akan mempertimbangkan laporan secara formal. Banyak laporan bentuknya panjang. informatif. Hal ini membantu mengurangi volume laporan Negara-ne2. Laporan tersebut akan diproses oleh Sekretariat. pada 1991 badan-badan perjanjian memutuskan mengijinkan Negara untuk menyerahkan suatu “dokumen inti/utama” yang membentuk laporan awal yang sama bagi setiap laporan badan perjanjian mana pun. gara. tetapi Negara-negara harus memastikan bahw ainformasi di dokumen inti/utamanya sudah ter-up-to-date atau mereka harus menyerahkan laporan yang baru. Badan-badan perjanjian saat ini sedang mempertimbangkan suatu proposal untuk memperluas ruang lingkup dokumen inti/utama mengenai informasi tentang hak-hak substantif yang relevan dengan lebih dari satu perjanjian. Mungkin saja terdapat penundaan sebelum suatu laporan dapat dipertimbangkan. Banyak Negara Pihak menganggap bahwa daftar persoalan dapat menjadi panduan yang berguna bagi kemungkinan adanya pertanyaan-pertanyaan yang muncul ketika laporan mereka dipertimbangkan secara formal. 2007 121 . Hal ini mengijinkan delegasi Negara Pihak untuk mempersiapkan diri dan membuat dialog antara Negara Pihak dengan komite menjadi lebih konstruktif. dan diterjemahkan ke bahasabahasa kerja komite. dan konkret. Guna menghindari Negaranegara harus mengulang-ulang informasi yang sama di setiap laporan. dan lain-lain – dicantumkan dalam laporan Negara-negara kepada badan perjanjian yang berkaitan dengan semua perjanjian.

kecuali jika komite secara terbuka memutuskan bahwa suatu dokumen harus disediakan dalam semua bahasa resmi. kecuali Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial yang tidak menggunakan bahasa Arab. Sumber-sumber informasi lain yang tersedia bagi komite Sebagai tambahan terhadap laporan Negara Pihak. badan perjanjian dapat menerima informasi mengenai situasi HAM di suatu negara dari sumbersumber lain. Kebanyakan komite mengalokasikan waktu di pertemuan plenonya untuk melakukan dengar pendapat dengan badan-badan PBB dan kebanyakan juga menerima organisasi nonpemerintah. bahasa Rusia (R). persoalan-persoalan yang dimunculkan oleh organisasi-organisasi ini dapat dimasukkan dalam daftar persoalan atau menginformasikan pertanyaan yang diajukan oleh anggota-anggota ketika bertemu dengan delagasi Negara. bahasa Inggris (E). 4 • Th. komite memeriksa suatu laporan. 4. F & S. organisasi antarpemerintah lainnya. Dokumen-dokumen komite pada umumnya hanya diterjemahkan ke bahasa kerja. R & S. institusi-institusi akademis. Lima komite juga mengadopsi sejumlah kecil bahasa kerja sebagai berikut: Komite Hak Ekonomi.Bahasa resmi dan bahasa kerja Bahasa resmi Perserikatan BangsaBangsa adalah bahasa Arab (A). R. Sosial. bahasa Cina (C). Daftar persoalan dibuat sebelum sesi pertemuan di mana laporan akan dipertimbangkan. Tanggapan tertulis akan menjadi suplemen atau lampiran pada laporannya. dan Budaya: A. dan sangat penting ketika terdapat penundaan yang cukup panjang antara tanggal laporan asli diserahkan dan tanggal ketika komite akhirnya dapat mempertimbangkan laporan tersebut secara formal. termasuk badan-badan PBB. R &S. Komite Hak Asasi Manusia dan Komite Hak Anak: E. Kebanyakan komite menunjuk salah seorang dari anggotanya untuk bertindak sebagai pelapor negara (country rapporteur) untuk memimpin pembuatan daftar persoalan untuk suatu negara tertentu. F. daftar persoalan dibuat baik dalam kelompok kerja prapertemuan yang diselenggarakan segera sebelum atau setelah suatu sesi pertemuan berkala atau pada saat pertemuan-pertemuan pleno. dan media massa. dan Komite Menentang Penyiksaan tidak menggunakan bahasa Arab dan bahasa Cina. organisasi nonpemerintah (baik internasional maupun nasional). Badan-badan perjanjian telah mengadopsi semua bahasa tersebut sebagai bahasa resmi mereka. 3. E. dan bahasa Spanyol (S). Tergantung pada badan perjanjiannya. bahasa Perancis (F). 2007 122 . Tanggapan tertulis terhadap daftar persoalan Seringkali Negara Pihak dapat memberikan tanggapan terhadap daftar persoalan dan pertanyaannya dalam bentuk tertulis. Sejumlah perjanjian menyediakan suatu peran khusus bagi badan-badan PBB tertentu dalam proses pertimJURNAL HAM • Vol. Berdasarkan semua informasi yang tersedia. Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dan Komite Menentang Penyiksaan: E. Tergantung pada kapan informasi tersebut diserahkan.

Badan perjanjian mencoba membuat rekomendasinya se-konkret dan se-praktis mungkin. tetapi diciptakan untuk memonitor pelaksanaan perjanjian serta menyeJURNAL HAM • Vol. 2007 diakan dorongan dan nasihat kepada Negara-negara. Negara tidak diwajibkan mengirimkan delegasi untuk menghadiri sesi pertemuan. Pasal 74 dari Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya juga memungkinkan partisipasi Kantor/Organisasi Buruh Internasional (International Labour Office/Organization atau ILO). bersama dengan badan-badan PBB lainnya. 7. Prosedur ini tidak bertentangan dan komite tidak melakukan penilaian mengenai Negara Pihak berdasarkan prosedur ini. Dalam concluding observation-nya. badan perjanjian mengakui langkahlangkah positif yang telah diambil oelh Negara. Pertimbangan formal terhadap laporan: dialog konstruktif antara badan perjanjian dengan Negara Pihak Semua badan perjanjian telah membangun praktik. tetapi juga mengidentifikasi bidang-bidang yang membutuhkan tindakan lebih lanjut guna mengefektifkan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. mengundang Negara-negara Pihak untuk mengirimkan delegasinya untuk menghadiri pertemuan di mana komite mempertimbangkan laporannya guna mengijinkan mereka menanggapi pertanyaan anggota komite dan menyediakan informasi tambahan mengenai upaya mereka untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian yang bersangkutan. Tujuannya adalah untuk terlibat dalam suatu dialog konstruktif guna membantu Pemerintah dalam upayanya melaksanakan perjanjian secara penuh dan seefektif mungkin. Gagasan mengenai dialog yang konstruktif mencerminkan kenyataan bahwa badan-badan perjanjian bukan merupakan badan yudisial. Beberapa badan perjanjian dapat melanjutkan pertimbangan terhadap laporan suatu Negara Pihak walaupun tanpa kehadiran delegasi dari Negara tersebut. yang dimulai oleh Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. Kesimpulan pengamatan dan rekomendasi Pemeriksaan terhadap laporan mencapai puncaknya pada adopsi “kesimpulan pengamatan atau concluding observation” (disebut sebagai “komentar kesimpulan atau“concluding comment” oleh beberapa komite) dimaksudkan untuk memberikan nasihat praktis kepada Negara yang melaporkan dan mendorong langkah-langkah lebih lanjut dalam melaksanakan hak-hak yang tercantum dalam perjanjian. walaupun mereka didorong untuk melakukannya. Pasal 45 Konvensi Hak Anak secara spesifik menyebutkan peran Dana Bantuan Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Children’s Fund atau UNICEF).bangan terhadap laporan-laporan. 5. 4 • Th. 6. Negaranegara diminta untuk mempublikasikan concluding observation di negaranya guna menginformasikan pada debat publik mengenai bagaimana cara bergerak maju dalam pelaksanaan HAM. Pelaksanaan kesimpulan pengamatan dan penyerahan laporan berkala berikutnya 123 . sementara badan perjanjian lainnya membutuhkan kehadiran delegasi.

maka proses pelaksanaan hak-hak yang termuat dalam perjanjian membutuhkan upaya-upaya berkelanjutan dari Negara-negara. Laporan berkala pada umumnya tidak sepanjang dan se-komprehensif laporan awal. Dua lokakarya berfokus pada concluding observations Komite Hak Anak telah diselenggarakan di Damaskus. Karena disadari. bahwa ketentuan-ketentuan dalam suatu perjanjian tidak sepenuhnya bisa dilaksanakan. Ekuador pada Agustus 2002 mengenai concluding observations Komite Hak Asasi Manusia. dan komite telah terbukti berhasil dalam mengangkat persoalan berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian di banyak Negara. Setelah penyerahan laporan awal. Beberapa anggota badan perjanjian telah melakukan kunjungan ke negara-ne- 124 JURNAL HAM • Vol. Lokakarya tindak lanjut Lokakarya regional yang melibatkan perwakilan Negara-negara yang laporannya baru saja dipertimbangkan oleh suatu badan perjanjian. dan di Bangkok. Beberapa komite menyebutkan dalam concluding observations-nya agar Negara melaporkan kembali ke negaranya atau menindaklanjuti pelapor (rapporteur) dalam jangka waktu yang disepakati mengenai langkah-langkah yang diambil sebagai tanggapan terhadap rekomendasi spesifik atau “keprihatinan utama”. tetapi harus memuat semua informasi yang dibutuhkan oleh komite untuk melanjutkan pekerjaan monitoringnya terhadap kelanjutan pelaksanaan perjanjian di negara yang bersangkutan. sebagaimana juga perwakilan komisi-komisi nasional hak asasi manusia. Republik Arab Syria. 2007 .Adopsi concluding observation oleh komite mengakhiri pertimbangan formal terhadap laporan. tetapi prosesnya tidak berhenti di situ. kebanyakan Negara memperhatikan dengan serius proses pelaporan ini. Sebuah elemen penting dalam laporan berkala adalah pelaporan kembali kepada komite mengenai langkah-langkah yang telah diambil oleh Negara Pihak berkaitan dengan pelaksanaan rekomendasi badan perjanjian dalam concluding observation di laporan sebelumnya. dan badan-badan lainnya yang tertarik dengan hal ini. Negara diminta untuk menyerahkan laporan lebih lanjut kepada badan perjanjian dalam jangka waktu tertentu. Dalam rangka membantu Negara dalam melaksanakan rekomendasinya. Thailand. Pentingnya tindak lanjut terhadap rekomendasi badan perjanjian Badan perjanjian tidak memiliki sarana untuk menegakkan rekomendasi mereka. 4 • Th. dan oleh karenanya dapat dinyatakan. Rapporteur kemudian melaporkan kembali kepada komite. Laporan-laporan dari lokakarya ini tersedia di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR). Hal ini disebut sebagai “laporan berkala”. badan perjanjian telah mulai memperkenalkan prosedur guna menjamin tindak lanjut yang efektif terhadap concluding observationsnya. telah diselenggarakan di sejumlah negara guna membangun dialog bagi tindak lanjut concluding observations. Lokakarya-lokakarya lebih lanjut sedang dalam tahap persiapan untuk badan-badan perjanjian lainnya. Namun demikian. yang membawa siklus pelaporan ke titik awalnya. organisasi nonpemerintah. Lokakarya pertama diselenggarakan di Quito. pengadilan.

Namun demikian.gara. dalam hal Negara telah gagal melaporkan dalam jangka waktu yang panjang JURNAL HAM • Vol. 125 . Negara-negara dapat meminta bantuan teknis dari Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) dan Divisi Pengembangan Perempuan (DAW) ketika mereka menghadapi kesulitan tertentu. maka badan perjanjian telah mengadopsi prosedur untuk mempertimbangkan situasi di suatu negara tanpa adanya laporan – seringkali disebut sebagai “prosedur peninjauan” (“review procedure”). pemberitahuan oleh komite bahwa komite berniat untuk mempertimbangkan situasi di suatu negara tanpa adanya suatu laporan adalah cukup untuk mendorong Negara Pihak agar membuat laporan dalam jangka waktu yang pendek. Prosedur peninjauan hanya digunakan untuk kasus-kasus istimewa. atas undangan Negara Pihak. Badan perjanjian mencoba mendorong Negara-negara untuk melaporkan dengan tepat waktu. atau bahkan dalam beberapa kasus gagal melaporkan. untuk menindaklanjuti laporan dan pelaksanaan concluding observations. Badan perjanjian mengakui kesulitan yang dihadapi oleh banyak Negara dalam memenuhi kewajiban pelaporan mereka. termasuk rekomendasi. sebagaimana kewajiban-kewajiban lainnya yang muncul dari ratifikasi terhadap perjanjian internasional. komite yang bersangkutan dapat melanjutkan dengan pemeriksaan kondisi pelaksanaan perjanjian yang bersangkutan oleh Negara Pihak walaupun belum ada satu pun laporan Negara yang diterima. Peninjauan dapat dilanjutkan bahkan jika Negara Pihak menolak mengirimkan delegasi ke pertemuan. 4 • Th. Negara yang telah meratifikasi ketujuh perjanjian HAM utama diharapkan membuat lebih dari 20 laporan HAM dalam jangka waktu 10 tahun: berarti satu setiap enam bulannya. 2007 dan tidak merespon permintaan komite untuk melapor. dan telah berupaya mencari cara-cara memfasilitasi tugas ini (lihat Bagian III di bawah). Komite dapat membuat daftar persoalan dan pertanyaan untuk Negara Pihak. komite akan mengeluarkan concluding observations-nya. dalam banyak kasus. maka kewajiban untuk melapor adalah kewajiban hukum internasional yang dipilih oleh Negara secara bebas. Apa yang terjadi jika Negara tidak melapor? Pelaporan pada badan perjanjian dapat dianggap sebagai suatu tantangan oleh Negara-negara Pihak. serta kemudian mungkin harus menyerahkan laporan lebih lanjut mengenai tindak lanjut terhadap concluding observations. yang diundang untuk mengirim delegasinya guna menghadiri pertemuan. Informasi dapat diterima dari rekanan PBB dan organisasi nonpemerintah serta. Negaranegara juga harus membuat respon terhadap daftar persoalan dan mempersiapkan diri untuk menghadiri pertemuan badan perjanjian. Tetapi. sehingga mungkin tidak mengherankan jika Negara-negara seringkali terlambat dalam jadwal pelaporan mereka. berdasarkan informasi tersebut dan dialog dengan Negara Pihak. “Prosedur Peninjauan” – pertimbangan terhadap pelaksanaan di suatu negara jika tidak terdapat laporan Berdasarkan prosedur ini. Hal ini menjadi beban yang sangat besar.

Komite Menentang Penyiksaan dapat mempertimbangkan komunikasi individual terhadap Negara Pihak yang telah membuat deklarasi yang disyaratkan berdasarkan pasal 22 Konvensi Menentang Penyiksaan. Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. Pengaduan juga dapat diajukan oleh pihak ketiga atas nama individuindividu. dan Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dapat mempertimbangkan komunikasi individual terhadap Negara Pihak yang telah membuat deklarasi yang disyaratkan berdasarkan pasal 14 Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. Siapa yang dapat mengadu? Setiap individu yang menyatakan bahwa hak-haknya berdasarkan kovenan atau konvensi telah dilanggar oleh Negara Pihak pada perjanjian tersebut dapat membawa komunikasinya di hadapan komite yang bersangkutan. ketentuan-ketentuan ini akan mulai berlaku ketika sepuluh Negara Pihak telah membuat deklarasi yang diperlukan berdasarkan pasal 77. dan Budaya diberikan mandat untuk mempertimbangkan komunikasi individual berkaitan dengan Kovenan. selama mereka telah memberikan ijin tertulis (written consent) atau ketika mereka tidak dapat memberikan ijin semacam itu. Negara-negara Pihak telah melaksanakan rekomendasi-rekomendasi Komite dan memberikan perbaikan (remedy) kepada si pengadu. empat badan perjanjian (Komite Hak Asasi Manusia. Konvensi Pekerja Migran juga memuat ketentuan-ketentuan yang mengijin- kan komunikasi individual untuk dipertimbangkan oleh Komite Pekerja Migran. Sosial. baik melalui deklarasi berdasarkan pasal yang relevan dari perjanjian atau dengan menerima protokol opsional yang relevan. dan Budaya sedang dalam pertimbangan dan dapat menghasilkan keputusan bahwa Komite Hak Ekonomi. dan Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan) dapat mempertimbangkan pengaduan atau komunikasi dari individu yang percaya bahwa hak-hak mereka telah dilanggar oleh Negara Pihak: Komite Hak Asasi Manusia dapat mempertimbangkan komunikasi individual terhadap Negara Pihak pada Protokol Opsional Pertama Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik.6 Prosedur ini bersifat opsional (pilihan) bagi Negara-negara Pihak: badan perjanjian tidak bisa mempertimbangkan pengaduan berkaitan dengan suatu Negara Pihak kecuali jika Negara tersebut telah secara terbuka mengakui kompetensi badan perjanjian yang bersangkutan. 6 Saat ini protokol opsional pada Kovenan Internasio- nal tentang Hak Ekonomi.Pertimbangan terhadap pengaduan individual yang menyatakan bahwa hak-hak mereka telah dilanggar oleh Negara Pihak Dalam kondisi tertentu. JURNAL HAM • Vol. Sosial. Namun dalam banyak kasus. Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan dapat mempertimbangkan komunikasi individual terhadap Negara Pihak pada Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. Walaupun dalam beberapa hal prosedur ini bersifat “quasi-yudisial”. dengan persyaratan bahwa Negara tersebut telah mengakui kompetensi komite untuk menerima komunikasi semacam itu. Komite Menentang Penyiksaan. 2007 126 . keputusan-keputusan komite tidak bisa dipaksakan. 4 • Th.

Prosedur dapat dilakukan jika komite menerima informasi yang dapat dipercaya tentang indikasi bahwa hak-hak yang termuat dalam konvensi telah dilanggar secara sistematis oleh Negara Pihak. 4 • Th. JURNAL HAM • Vol. Negara-negara Pihak pada Konvensi Menentang Penyiksaan dapat menghindarkan diri dengan membuat deklarasi berdasarkan pasal 28. 2007 127 . Negara mana pun yang memilih untuk menghindari prosedur dapat memutuskan untuk menerima prosedur tersebut di masa mendatang. dapat ditemukan di Lembar Fakta No. Negara-negara Pihak pada Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan juga dapat meniadakan kompetensi Komite yang bersangkutan dengan membuat deklarasi berdasarkan pasal 10. Prosedur penyelidikan Pasal 20 Konvensi Menentang Penyiksaan dan pasal 8 sampai pasal 10 Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan menetapkan prosedur mendasar berikut ini bagi komite yang bersangkutan untuk melakukan penyelidikan yang mendesak: 1. Pada saat ratifikasi atau aksesi. Dalam hal Konvensi Menentang Penyiksaan. berat. Langkah pertama adalah komite mengundang Negara Pihak untuk bekerja sama dalam pemeriksaan mengenai informasi tersebut dengan menyerahkan hasil pengamatan. termasuk nasihat dan instruksi tentang bagaimana cara mengadu. Negara mana saja yang dapat menjadi subyek penyelidikan? Penyelidikan hanya dapat dilakukan terhadap Negara-negara Pihak yang telah mengakui kompetensi komite yang bersangkutan. Prosedur Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan secara spesifik mengijinkan kunjungan ke wilayah Negara yang bersangkutan. informasi harus mengindikasikan pelanggaran yang berat atau sistematis terhadap hak-hak yang diatur dalam Konvensi oleh Negara Pihak. dalam hal Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan.Bagaimana saya mengadu? Informasi lebih lengkap mengenai prosedur pengaduan individual dari badanbadan perjanjian. dua badan perjanjian – Komite Menentang Penyiksaan dan Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan – dapat melakukan penyelidikan jika komite menerima informasi yang dapat dipercaya mengenai indikasi yang kuat bahwa telah terjadi pelanggaran yang serius. Berdasarkan hasil pengamatan Negara Pihak dan informasi lain yang tersedia yang dapat dipercaya. informasi harus memuat indikasi-indikasi yang kuat bahwa penyiksaan telah dipraktikkan secara sistematis di wilayah suatu Negara Pihak. 7: Prosedur Pengaduan atau di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR). atau sistematis terhadap konvensi oleh suatu Negara Pihak. 2. 3. Komite dapat memutuskan untuk menugaskan satu atau lebih anggotanya guna melakukan penyelidikan secara konfidensial dan melaporkan kepada komite dengan segera. jika hal tersebut dibenarkan Penyelidikan Atas dasar inisiatif mereka.

2007 Dalam kedua kasus. Pengaduan antarnegara Walaupun prosedur ini tidak pernah digunakan. Pasal 21 Konvensi Menentang Penyiksaan dan pasal 76 Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Pekerja Migran dan Semua Anggota Keluarganya menetapkan suatu prosedur bagi komite yang bersangkutan untuk mempertimbangkan pengaduan dari satu Negara pihak yang menganggap bahwa Negara Pihak lain tidak memenuhi ketentuan-ketentuan dalam konvensi. yang akan diberlakukan ketika telah memiliki 20 Negara Pihak. 4 • Th. 5. Prosedur ini mensyaratkan bahwa perbaikan di tingkat domestik (domestic remedies) JURNAL HAM • Vol. prosedur ini bersifat rahasia dan harus diperoleh kerja sama dari Negara Pihak selama keseluruhan prosiding. Subkomite akan menyerahkan laporan konfidensialnya yang memuat rekomendasi kepada Negara-negara Pihak. yang disebut “Subkomite Pencegahan”. atau komisi parlementer) yang akan melakukan kunjungan berkala ke tempat-tempat penahanan sesuai dengan Protokol tersebut. empat dari perjanjian HAM memuat ketentuan-ketentuan yang mengijinkan Negara-negara Pihak untuk mengajukan pengaduan kepada badan perjanjian tentang tuduhan pelanggaran terhadap perjanjian oleh Negara Pihak lain. kunjungan juga diperkirakan dapat dilakukan berdasarkan prosedur Konvensi Menentang Penyiksaan.dan dilakukan dengan persetujuan Negara. Suatu badan internasional yang baru. 17: Komite Menentang Penyiksaan. komentar. Protokol Opsional Konvensi Menentang Penyiksaan dan Subkomite Pencegahan Protokol Opsional Konvensi Menentang Penyiksaan (OPCAT). 6. Informasi lebih lanjut megnenai OPCAT dan Subkomite Pencegahan. yang terdiri dari sepuluh praktisi independen di bidang administrasi peradilan atau penahanan. Berdasarkan konsultasi dengan Negara Pihak. kunjungan berkala ke tempat-tempat penahanan yang dilakukan oleh badan internasional dan nasional tambahan. Hasil-hasil temuan dari anggota (atau anggota-anggota) komite kemudian diperiksa oleh komite dan diserahkan kepada Negara Pihak bersama dengan komentar atau saran/rekomendasi yang selayaknya. dan rekomendasi komite tersebut dengan hasil pengamatannya sendiri dan untuk menginformasikan kepada komite mengenai langkah-langkah yang telah diambil sebagai respon terhadap penyelidikan jika diminta oleh Komite. lihat Lembar Fakta No. Bersama dengan badan internasional ini. OPCAT membentuk suatu sistem 128 . komite dapat memutuskan memasukkan suatu kesimpulan akhir (summary account) dari hasil prosiding tersebut di laporan tahunannya. dapat melakukan kunjungan-kunjungan ke tempat-tempat penahanan di semua Negara Pihak. memperkenalkan suatu mekanisme baru guna pencapaian tujuan-tujuan Konvensi yaitu mencegah penyiksaan dan bentuk-bentuk perlakuan kejam lainnya. Prosedur Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan menetapkan tenggat waktu enam-bulan kepada Negara Pihak untuk menanggapi hasil temuan. 4. Negara-negara Pihak harus membentuk suatu mekanisme pencegahan nasional yang independen (seperti Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. lembaga ombudsman.

harus exhausted (sudah dilakukan seluruhnya tanpa membuahkan hasil) lebih dahulu dan prosedur hanya berlaku pada Negaranegara Pihak yang telah membuat deklarasi menerima kompetensi komite dalam hal ini. Pasal 11 sampai pasal 13 Kovenan Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dan pasal 41 sampai pasal 43 Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik menetapkan suatu prosedur yang lebih terperinci untuk menyelesaikan pertikaian antarNegara Pihak mengenai pemenuhan satu Negara terhadap kewajibannya berdasarkan konvensi/kovenan yang relevan melalui pembentukan suatu komisi konsiliasi ad hoc. Prosedur ini juga mensyaratkan bahwa perbaikan domestik (domestic remedies) harus exhausted lebih dahulu. Prosedur ini pada umumnya tidak hanya berlaku bagi semua Negara Pihak pada Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial, tetapi hanya berlaku bagi Negara-negara Pihak pada Kovenan Internasioal tentang Hak Sipil dan Politik yang telah membuat deklarasi menerima kompetensi Komite dalam hal tersebut.

tional Court of Justice) jika pihak-pihak yang bertikai gagal menyepakati ketentuan-ketentuan dalam arbitrasi dalam jangka waktu enam bulan. Negara-negara Pihak dapat menarik diri dari prosedur semacam ini dengan membuat deklarasi pada saat ratifikasi atau aksesi, yang mana sesuai dengan prinsip timbal-balik (resiprositas), maka mereka tidak diperkenankan mengajukan kasus-kasus menentang Negara Pihak lainnya. Prosedur ini, seperti halnya prosedur pengaduan antarNegara, tidak pernah digunakan.

Komentar-komentar umum
Setiap badan perjanjian mempublikasikan interpretasinya tentang ketentuanketentuan dalam perjanjian HAM yang dimonitornya dalam bentuk komentar umum (Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dan Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan menggunakan istilah “rekomendasi umum”). Komentar umum dari badan perjanjian mencakup berbagai subyek, mulai dari interpretasi yang komprehensif mengenai ketentuan-ketentuan substantif, seperti hak hidup atau hak atas makanan yang cukup, sampai panduan umum tentang informasi yang harus diberikan dalam laporan Negara berkaitan dengan pasal-pasal tertentu dari perjanjian. Komentar umum juga menangani persoalan-persoalan yang saling bertabrakan (cross-cutting issues) yang lebih luas, seperti peran institusi-institusi nasional HAM, hak orang-orang penyandang cacat, kekerasan terhadap perempuan, dan hak kelompok minoritas. Suatu kompilasi komentar umum dan rekomendasi umum diadopsi oleh badan perjanjian dihasilkan dan diperbaharui secara berkala (lihat revisi terakhir dokumen HRI/GEN/1).

Penyelesaian pertikaian antar Negara berkaitan dengan interpretasi atau aplikasi konvensi
Pasal 29 Konvensi tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan, pasal 30 Konvensi Menentang Penyiksaan, dan pasal 92 Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya menyatakan bahwa pertikaian antarNegara berkaitan dengan interpretasi atau aplikasi konvensi akan diselesaikan pertama melalui negosiasi atau, jika negosiasi gagal, melalui arbitrasi. Salah satu Negara yang terlibat dalam pertikaian dapat merujuk pertikaian tersebut kepada Pengadilan Internasional (InternaJURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

129

Diskusi umum atau debat tematis
Sejumlah badan perjanjian menyelenggarakan diskusi umum mengenai suatu tema atau persoalan tertentu bagi badan perjanjian tersebut selama beberapa hari. Diskusi tematis ini biasanya terbuka bagi partisipan dari luar, seperti rekanan PBB, delegasi Negara Pihak, organisasi nonpemerintah, dan para ahli individual. Hasil dari diskusi dapat membantu badan perjanjian dalam membuat komentar umum yang baru.

jelis Umum meminta para ketua badan perjanjian HAM untuk bertemu guna membahas tentang bagaimana mereka bisa meningkatkan kinerja mereka. Pertemuan pertama pada ketua ini berlangsung pada 1984. Sejak 1995, para ketua badan perjanjian telah melakukan pertemuan setiap tahunnya. Pertemuan ini merupakan suatu forum bagi para ketua ketujuh badan perjanjian HAM untuk membahas mengenai pekerjaan mereka dan mempertimbangkan cara-cara guna meningkatkan efektivitas sistem badan perjanjian sebagai suatu kesatuan. Persoalan-persoalan yang diangkat dalam pertemuan ini antara lain: pengarusutamaan dan perbaikan secara menyeluruh prosedur pelaporan HAM; harmonisasi metode kerja komite-komite; tindak lanjut Konferensi Dunia; dan persoalan finansial. Konsultasi-konsultasi informal dengan Negara-negara Pihak sebagaimana juga dengan rekanan PBB dan organisasi nonpemerintah juga telah menjadi suatu ciri khas dalam pertemuan antara para ketua badan perjanjian. Sejak 1999, para ketua badan perjanjian telah bertemua dengan pemegang mandat prosedur khusus (baik mandat tematis maupun mandat negara) Komisi Hak Asasi Manusia. Pembahasannya berfokus pada pertanyaan-pertanyaan teknis, seperti meningkatkan pertukaran informasi antara badan perjanjian dan prosedur khusus. Persoalan-persoalan substantif, termasuk dampak globalisasi terhadap penikmatan HAM (2003) serta langkahlangkah penanganan terorisme (counter-terrorism) dan HAM (2004), juga telah dibahas. Pertemuan antarkomite Sejak 2002, pertemuan tahunan para ketua badan perjanjian telah dilengkapi dengan suatu “pertemuan antarkomite”, yang termasuk di dalamnya para ketua dan tamJURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

Pertemuan Negara-negara Pihak dan pertemuan dengan Negaranegara Pihak
Setiap perjanjian (kecuali Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya) menyelenggarakan pertemuan formal Negara-negara Pihak setiap dua tahun sekali, biasanya di Markas Besar PBB, guna memilih setengah dari anggota badan perjanjiannya. Pasal 50 Konvensi Hak Anak menyelenggarakan suatu konferensi Negaranegara Pihak guna menentukan usulan amendemen terhadap Konvensi. Kebanyakan komite juga mengadopsi praktik penyelenggaraan pertemuan informal secara berkala dengan Negara-negara Pihak pada perjanjian mereka guna mendiskusikan persoalan-persoalan bersama berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian dan pekerjaan badan perjanjian.

Koordinasi antara badan-badan perjanjian
Pertemuan tahunan para ketua badan perjanjian Kebutuhan akan koordinasi antara badan-badan perjanjian HAM diakui oleh Majelis Umum pada 1983, yaitu ketika Ma-

130

bahan dua anggota dari setiap komite. Harmonisasi metode kerja di antara para komite menjadi fokus utama pertemuan antarkomite pertama. Pelaksanaan pertemuan antarkomite disambut baik oleh Negaranegara Pihak. Meningkatnya keterlibatan setiap komite telah membuka pembahasan yang lebih detil tentang rekomendasi terhadap persoalan-persoalan berkaitan dengan metode kerja ketimbang yang dibahas dalam pertemuan para ketua badan perjanjian. Pertemuan antarkomite dan pertemuan para ketua badan perjanjian biasanya dipimpin oleh orang yang sama, yaitu seseorang yang menjadi ketua badan perjanjian HAM atas dasar rotasi.

Perluasan sistem perjanjian HAM: membuat instrumen baru
Sejak 2000, sejumlah instrumen HAM yang baru telah disepakati atau telah mulai berlaku. Pada Mei 2000, dua protokol opsional pada Konvensi Hak Anak diadopsi, tentang penjualan anak, pelacuran anak, dan pornografi anak (CRC-OPSC) dan tentang keterlibatan anak-anak dalam konflik bersenjata (CRC-OPAC). Keduanya mulai berlaku pada 2002. Pada Desember 2002, Protokol Opsional Konvensi Menentang Penyiksaan diadopsi (OPCAT). Protokol ini akan mulai berlaku ketika sudah diterima oleh 20 Negara Pihak. Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya mulai berlaku pada Juli 2003, dan Komite Pekerja Migran telah menyelenggarakan pertemuan pertamanya pada Maret 2004. Instrumen-instrumen HAM internasional lainnya sedang dibahas oleh Negaranegara dan dapat diadopsi pada tahuntahun mendatang. Suatu komite ad hoc Majelis Umum telah dibentuk pada 2002 dengan tujuan membuat “suatu konvensi internasional yang komprehensif dan integral tentang perlindungan dan pemajuan hak-hak dan martabat orang-orang penyandang cacat”. Komite”Ad Hoc ini bertujuan untuk mengadopsi suatu konvensi, yang akan memasukkan mekanisme monitoring pada akhir 2005. Pada 2002, Komisi Hak Asasi Manusia memutuskan untuk membentuk “kelompok kerja terbuka dengan tujuan untuk mempertimbangkan pilihanpilihan berkaitan dengan elaborasi protokol opsional pada Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya”.7 Protokol opsional tersebut akan memberikan kompetensi pada Komite Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya untuk mempertimbangkan pengaduan individual dan melakukan penyelidikan. Suatu kelompok kerja menge7 Resolusi Komisi 2002/24 dan 2003/18.

BAGIAN III
Perkembangan lebih lanjut dari sistem perjanjian HAM PBB
Walaupun DUHAM telah dibuat lebih dari 50 tahun yang lalu, dan proses pembuatan ketentuan internasional HAM atau International Bill of Human Rights (DUHAM dan kedua Kovenan) telah diselesaikan pada 1966, sistem perjanjian HAM internasional telah terus berkembang dengan adanya adopsi instrumen baru dan pembentukan badan perjanjian yang baru. Berbagai instrumen dan badan perjanjian yang semakin luas tersebut telah menjamin adanya perlindungan HAM yang lebih besar di sejumlah bidang yang menjadi perhatian utama masyarakat internasional, dan juga telah memberikan suatu tantangan penting bagi sistem perjanjian HAM internasional: bagaimana cara terbaik untuk menjamin bahwa perbedaan elemen-elemen dalam sistem yang semakin berkembang ini bisa bekerja secara efektif secara bersama-sama bagi pemajuan dan perlindungan HAM.

JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

131

(1) Meningkatkan koordinasi antara badan-badan perjanjian Badan-badan perjanjian telah dengan sukses mengerjakan mandat mereka. 2007 .nai rancangan instrumen tentang penghilangan paksa juga mungkin akan menghasilkan suatu instrumen baru. 4 • Th. dan kedua. setiap badan perjanjian cenderung melakukan pekerjaannya secara independen dari badan perjanjian lainnya. juga diakui bahwa beberapa variasi dalam praktik dapat dibenarkan. yang seringkali mengarah pada kebingungan dan ketidak-konsistenan. maka penting agar ditekankan bahwa instrumen-instrumen tersebut saling melengkapi satu sama lain. Badan-badan perjanjian telah terlibat secara berkelanjutan dalam pencarian cara untuk meningkatkan efektivitas melalui pengarusutamaan dan harmonisasi metode kerja dan praktik selama beberapa tahun. dan (2) pengembangan proses pelaporan perjanjian. Namun demikian.8 Sekretaris Jenderal PBB mengidentifikasi pembaruan lebih lanjut terhadap sistem perjanjian sebagai elemen utama dalam tujuan PBB untuk memajukan dan melindungi HAM. Cara ad hoc di mana setiap komite dibentuk berdasarkan perjanjiannya berarti bahwa mereka memiliki kekebebasan untuk membangun prosedur dan praktiknya sendiri. Dalam laporannya tahun 2002. Ia meminta badan-badan perjanjian HAM untuk mempertimbangkan dua langkah: pertama. khususnya melibatkan Negara-negara dalam diskusi yang terbuka mengenai persoalan dalam melaksanakan perjanjian HAM melalui proses pelaporan. “Memperkuat Perserikatan Bangsa-Bangsa: suatu agenda untuk perubahan lebih lanjut”. atau bahkan diperlukan karena sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian yang bersangkutan. Pada saat yang sama. dan walaupun ada banyak kesamaan dalam hal fungsi badan-badan perjanjian. serta bahwa perjanjian dan badan yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaannya dapat bekerja bersama-sama secara efektif sebagai suatu sistem yang terintegrasi guna pemajuan dan perlindungan HAM. sampai baru-baru ini. termasuk pengarusutamaan metode kerja. termasuk harmonisasi ketentuan pelaporan. juga terdapat banyak keragaman. untuk mengijinkan Negara menghasilkan suatu laporan tunggal yang menyimpulkan semua ketaatannya pada sejumlah perjanjian HAM di mana Negara tersebut menjadi pihak. dan setiap komite secara individual telah meninjau metode kerjanya dengan tujuan untuk mengadopsi praktik-praktik terbaik dari komite lain. 132 JURNAL HAM • Vol. 8 A/57/387. untuk membuat suatu pendekatan yang lebih terkoordinasi dalam hal kegiatan dan membuat standardisasi ketentuan pelaporan mereka yang bervariasi. walaupun kegiatan-kegiatan mereka saling tumpang tindih di banyak bidang. Proposalproposal di bidang seperti standardisasi terminologi dan simbol-simbol dokumen telah dibahas dalam pertemuan antarkomite dan pertemuan para ketua badan perjanjian. Badan-badan perjanjian menanggapi hal ini dengan melakukan suatu proses konsultasi dan reformasi yang ditujukan untuk menjawab dua bidang persoalan yang diangkat oleh usulan Sekretaris Jenderal: (1) meningkatkan koordinasi antara badan-badan perjanjian. Saran Sekretaris Jenderal telah memberikan motivasi baru bagi proses ini. Meningkatkan efektivitas sistem perjanjian Dengan perkembangan yang berkelanjutan dalam sejumlah instrumen HAM internasional.

tantangan-tantangan muncul dari keterlambatan penyerahan dan/atau pertimbangan terhadap laporan. 4 • Th. maka badan-badan perjanjian menyimpulkan bahwa laporan tunggal justru akan menjadi tantangan yang begitu besar bagi Negara-negara Pihak dan tidak akan dapat memenuhi tujuan yang memotivasi usulan Sekretaris JendeJURNAL HAM • Vol. dan pihak-pihak lain yang berminat. organisasi nonpemerintah. Negara menjanjikan dirinya pada standar-standar ini dan mewajibkan dirinya untuk melaksanakan hakhak tersebut di tingkat nasional. Memperbaiki efektivitas sistem perjanjian HAM telah menjadi perhatian yang berkelanjutan masing-masing badan perjanjian. sebagaimana juga informasi mengenai pelaksanaan ketentuan-ketentuan substantif HAM yang serupa dalam beberapa perjanjian.(2) Pengembangan sistem pelaporan perjanjian Fokus utama upaya untuk menjamin pelaksanaan perjanjian HAM yang lebih efektif di tahun-tahun belakangan ini adalah pelaporan Negara. Sistem perjanjian HAM ini kelihatannya terfokus pada tingkat internasional. badan-badan PBB. Sebagaimana sistem berkembang. Laporan-laporan yang dikompilasi sesuai dengan panduan dapat menyediakan suatu kerangka pelaporan yang seragam di mana komite-komite dapat menghindari duplikasi dalam pekerjaannya dan menetapkan suatu standar pelaporan yang konsisten bagi semua komite. badan-badan perjanjian mulai membuat panduan harmonisasi pelaporan berdasarkan ketujuh perjanjian HAM utama. Dengan meratifikasi perjanjian. tetapi jelas bahwa pemajuan dan perlindungan HAM merupakan persoalan paling penting di tingkat nasional. Laporan Negara-negara kepada badan-badan perjanjian oleh karenanya akan terdiri dari suatu dokumen umum yang menggambarkan pandangan yang holistik dari pelaksanaan HAM dan suatu dokumen perjanjian yang spesifik yang berfokus pada persoalan-persoalan yang menjadi perhatian komite berkaitan dengan perjanjiannya. serta duplikasi ketentuan pelaporan di antara badan-badan perjanjian. Setelah konsultasi yang mendalam dengan Negara Pihak. ketimbang memperlakukan masing-masing perjanjian secara terpisah-pisah. Panduan ini mendorong Negara-negara Pihak untuk memenuhi sejumlah kewajiban perjanjian HAM di mana mereka telah menjadi bagian dari suatu sistem yang terkoordinasi. 2007 ral tersebut. pertemuan para ketua badan perjanjian. Standar-standar internasional yang telah disepakati dalam perjanjian memerlukan adanya pelaksanaan yang efektif di tingkat nasional guna menjamin bahwa hak-hak tersebut dinikmati oleh semua 133 . Menanggapi permintaan Sekretaris Jenderal untuk ketentuan pelaporan yang terharmonisasi dan kemungkinan penyerahan suatu laporan tunggal. Badan perjanjian mendorong dan mendukung Negara dalam upaya ini. dan Majelis Umum. Komisi Hak Asasi Manusia. Mereka memilih untuk memperluas ruang lingkup dokumen inti/utama dengan memasukkan presentasi penuh kerangka hukum bagi pemajuan dan perlindungan HAM secara umum di Negara. terlambat dan tidak-melaporkan. Peran sistem perjanjian HAM dalam memperkuat sistem perlindungan HAM di tingkat nasional Perjanjian-perjanjian HAM adalah instrumen hukum yang menetapkan standarstandar internasional bagi pemajuan dan perlindungan HAM di dunia. Dokumen inti/utama yang diperluas ini harus diserahkan kepada semua badan perjanjian bersama dengan laporan target (targeted report) bagi setiap badan perjanjian yang berisi informasi spesifik mengenai perjanjian tersebut.

dapat memberikan bantuan yang berguna bagi tindakan-tindakan yang diperlukan guna memperkuat perlindungan HAM. maka concluding observations dan rekomendasi yang praktis dan bertarget dapat memberikan nasihat yang tepat tentang bidang-bidang tertentu yang perlu diperhatikan oleh Negara yang bersangkutan. proses pelaporan kepada badan perjanjian itu sendiri merupakan bagian yang penting dalam pembentukan suatu sistem perlindungan HAM di tingkat nasional. perempuan. Pertama. dan anak-anak di setiap negara. Walaupun badan internasional memang meminta laporan-laporan. 134 JURNAL HAM • Vol. sampai tanggapan negara terhadap rekomendasi badan perjanjian. maka badan perjanjian memiliki peranan penting dalam membantu upaya memperkuat perlindungan HAM di tingkat nasional. Negara-negara terlibat dalam suatu proses penilaian terhadap dirinya sendiri (self-assessment) guna menentukan sejauh mana HAM telah dilindungi di negaranya. Komentar umum dari badan perjanjian menyediakan informasi tambahan untuk suatu sifat yang lebih terelaborasi mengenai bagaimana perjanjian harus dilaksanakan. Ketika telah dihasilkan suatu laporan Negara Pihak dan telah dipertimbangkan oleh badan perjanjian. yang oleh karenanya akan menjamin pelaksanaan standar HAM nasional yang lebih efektif. Proses pengumpulan informasi mengenai pelaksanaan HAM di tingkat nasional menjadi alat yang penting untuk membantu Pemerintah merencanakan dan menempatkan program-program pembangunan berdasarkan HAM (rights-based development). Proses pelaporan. badan perjanjian memberikan pada Negara-negara nasihat-nasihat praktis dan bantuan tentang bagaimana melaksanakan perjanjian dengan baik. Kedua. juga dapat digunakan untuk menstimulasi debat nasional mengenai HAM dengan masyarakat sipil dan menciptakan konstituensi HAM yang baru. Dalam memenuhi kewajiban pelaporan mereka berdasarkan perjanjian internasional. yang berfokus pada bidang persoalan tertentu yang memerlukan tindakan. Karena badan perjanjian dibentuk untuk memonitor pelaksanaan standarstandar HAM internasional yang ditentukan oleh perjanjian HAM. dan pelaksanaan perencanaan pembangunan nasional. 4 • Th. 2007 . namun proses pembuatan laporan di tingkat nasional juga penting. sebagaimana halnya tim negara dan donor PBB. pembuatan rencana aksi nasional HAM. yaitu pelaporan perjanjian. dari mulai persiapan pembuatan laporan. Banyak Negara terlibat dalam proses paralel. Pentingnya proses pelaporan di tingkat nasional Upaya mendorong Negara-negara untuk mengambil pendekatan yang holistik dalam pelaporan dengan melihat pada serangkaian kewajiban pada perjanjian yang mana mereka menjadi pihak tidak hanya ditujukan untuk mempermudah Negara dalam membuat pelaporan kepada badan perjanjian internasional. Nasihat praktis dan bantuan dari badan perjanjian Hasil dari badan perjanjian. Mengaitkan proses-proses tersebut dapat menjamin bahwa HAM ditempatkan di tengah-tengah perencanaan strategis nasional. melalui proses pertimbangan di tingkat internasional.laki-laki. Pendapat-pendapat yang diungkapkan oleh komite sebagai tanggapn terhadap pengaduan individual juga merupakan sumber panduan yang lain.

Tujuan Pembangunan Millenium (Millenium Development Goals) dan Hak Asasi Manusia Pada 2000. Tujuan 1 untuk menghapuskan kemiskinan dan kelaparan: Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. dan Budaya (Komentar Umum 14). dan Konvensi Hak Anak (pasal 24(c) dan Komentar Umum 3). Konvensi Hak Anak (pasal 24(d)). dan Budaya (pasal 3 dan pasal 7(a) (i)). Tujuan 4 untuk mengurangi tingkat kematian anak-anak: Konvensi Hak Anak (pasal 6 dan pasal 24(2)(a)). dan pasal 32(2). dan Budaya (Komentar Umum 15 dan 14). Hasil badan perjanjian dapat memiliki dampak yang signifikan bagi Negara. yaitu membantu menjamin pelaksanaan perjanjian-perjanjian yang lebih efektif. Sosial. dan Budaya (pasal 12(2)(a)) dan Komentar Umum 14). dan Budaya (Komentar Umum 4 dan 7). Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa menyepakati delapan tujuan – atau Millenium Development Goals (MDGs) – di mana semua bangsa. Sosial. pasal 12(1). Air minum yang aman dikonsumsi: Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. pasal 14(b). Konvensi Hak Anak (pasal 2). serta Komentar Umum 11). Tujuan 5 untuk memperbaiki tingkat kesehatan maternal: Konvensi tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan (pasal 10(h). misalnya melalui usulan legislasi baru atau keten- JURNAL HAM • Vol. dan Budaya (Komentar Umum 14). Keseluruhan delapan MDGs dapat dikaitkan dengan ketentuan-ketentuan perjanjian hak asasi manusia atau komentar-komentar umum badan-badan perjanjian (GCs). Sosial. Tujuan 6 untuk memerangi HIV/AIDS. Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. 2007 135 . 4 • Th. Tujuan 8 untuk membangun suatu kemitraan global untuk pembangunan: Piagam PBB (pasal 1(3)). Sosial. Konvensi Hak Anak (pasal 24(2) dan pasal 27(3)). Konvenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (pasal 3. baik yang maju maupun berkembang. Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial (Komentar Umum 25). Sosial. pasal6(5). Tujuan 3 untuk memajukan kesetaraan genjer dan pemberdayaan perempuan: Konvensi tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan. Sosial. Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial (pasal 5(e)(iv)). Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. pasal 11(f). Tempat tinggal kumuh: Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Sosial. Konvensi Hak Anak (pasal 28(a) dan Komentar Umum1). Sosial. akan bekerja bersamasama untuk mencapainya pada 2015. Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. dan Komentar Umum 24). malaria. Konvensi Hak Anak (pasal 24(c)). Sosial. Tujuan 2 untuk mencapai pendidikan dasar universal: Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. dan Budaya (pasal 11 dan Komentar Umum 12). Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. dan Budaya (pasal 2). dan Budaya (pasal 13 dan pasal 14. Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial (pasal 5 dan pasal 7). Konvensi Hak Anak (pasal 4). Tujuan 7 untuk menjamin keberlangsungan lingkungan. dan penyakit-penyakit lainnya: Panduan Internasional tentang HIV/AIDS dan Hak Asasi Manusia.

beberapa badan perjanjian juga menghadapi kesulitan untuk menangani jumlah laporan yang harus mereka pertimbangkan setiap tahun.ohchr. 24). Perluasan dampak tergantung tidak hanya pada Pemerintah. dan Budaya (No. termasuk status pelaporan oleh negara. Diskriminasi terhadap Perempuan: Konvensi dan Komite (No. atau online di http://www. Lembar Fakta ini tersedia secara cumacuma dari kantor publikasi OHCHR. termasuk concluding observations yang dikeluarkan setelah pemeriksaan terhadap laporan Negara Pihak.ohchr. Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) juga mempublikasi beberapa Lembar Fakta berkaitan dengan pekerjaan badan-badan perjanjian: Prosedur Pengaduan (No. 15). Kebutuhan untuk meminta informasi yang terkini adalah salah satu JURNAL HAM • Vol. kunjungi situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) dan masuk ke “badanbadan perjanjian” (“human rights bodies”). institusi nasional HAM. tetapi juga pada aktor-aktor lain yang mampu mempengaruhi cara di mana HAM dilindungi dan dimajukan di negara tersebut. Komite Menentang Penyiksaan (No. Informasi lebih lanjut mengenai sistem perjanjian HAM PBB Untuk informasi lebih lanjut mengenai perjanjian dan badan perjanjian. 17). kenapa tidak mendaftarkan diri ke “listserv” badan perjanjian secara cuma-cuma? Anda akan menerima pemberitahuan berkala melalui e-mail mengenai rekomendasi badan perjanjian. hakim-hakim. 7). dan kegiatan-kegiatan lainnya. Hak Anak (No. 16). termasuk laporan-laporan Negara Pihak dan concluding observations dapat diperoleh di situs ini. Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial (No. serta masyarakat sipil. Komite Hak Ekonomi. termasuk parlemen nasional dan regional. about/publications/sheets/htm. dan Hak Pekerja Migran (No. 10). 2007 136 . 22). Dokumen-dokumen badan perjanjian. Sosial. keputusan yang diambil mengenai pengaduan individual (jika tersedia).tuan tentang pelatihan HAM bagi pejabat/ pegawai Negara. htm. 4 • Th. dan pengacara. komentar umum yang menginterpretasikan perjanjian yang bersangkutan.org/english/ Istilah-istilah teknis berkaitan dengan badan perjanjian Backlog Di samping persoalan keterlambatan dan tidak-adanya pelaporan oleh Negara-negara Pihak. org/english/bodies/treaty/subscribe. Situs ini memuat informasi mengenai proses pelaporan Negara. Hak Sipil dan Politik: Komite Hak Asasi Manusia (No. Untuk mendaftarkan diri. Pemberitahuan melalui e-mail mengenai rekomendasi badan perjanjian Jika anda tertarik pada pekerjaan badan-badan perjanjian dan ingin mendapatkan informasi mengenai kegiatankegiatan mereka. kunjungi situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia OHCHR di http://www. Backlog terhadap begitu banyak laporan yang yang menunggu untuk dipertimbangkan oleh komite dapat berarti penundaan sampai dua tahun lamanya dari tanggal penyerahan laporan tersebut oleh Negara Pihak sampai waktu komite memulai pemeriksaan terhadap isi dari laporan. 12).

2007 kan bahwa tindakan lebih lanjut perlu diambil oleh Negara. terfokus. yang bertemu untuk memutuskan tentang persoalan-persoalan prosedural dan administratif yang berkaitan dengan pekerjaan komite. Badan perjanjian bertugas menghasilkan concluding observations yang konkret. Concluding observations Pengamatan dan rekomendasi yang dikeluarkan oleh suatu badan perjanjian setelah mempertimbangkan laporan Negara Pihak. Ketua Setiap badan perjanjian memilih salah satu anggotanya untuk bertindak sebagai ketua untuk jangka waktu dua tahun. Dokumen inti/utama Suatu dokumen yang diserahkan oleh Negara Pihak kepada Sekretaris Jenderal yang memuat informasi hal-hal umum mengenai negara yang relevan dengan semua perjanjian. wakil ketua. Para ketua badan perjanjian bertemu setiap tahunnya untuk mengkoordinasikan kegiatan badan perjanjian. Dokumen umum Istilah alternatif untuk “dokumen inti/ utama yang diperluas”. termasuk informasi mengenai tanah dan penduduk. pertemuan secara paralel di dua tempat untuk mempertimbangkan laporanlaporan dari tahun 2005. dan juga berpartisipasi bersama dua orang anggota komite lainnya dalam pertemuan antarkomite. 4 • Th. Concluding observations mengacu baik pada aspek positif pelaksanaan perjanjian oleh suatu negara maupun bidang-bidang di mana badan perjanjian merekomendasiJURNAL HAM • Vol. dan dapat dilaksanakan. struktur politik umum. dan kerangka hukum umum yang melindungi HAM di Negara tersebut.alasan mengapa praktik pembuatan daftar pertanyaan diadopsi oleh kebanyakan badan perjanjian. Gagasan dialog konstruktif menekankan pada kenyataan bahwa badan perjanjian bukan merupakan badan yudisial (walaupun beberapa di antaranya memiliki fungsi quasi-yudisial). Dokumen inti/utama diperkenalkan pertama kalinya pada 1991 di pertemuan para ketua 137 . Pertimbangan terhadap kondisi negara tanpa adanya laporan Lihat “prosedur peninjauan”. Dialog konstruktif Praktik yang diadopsi oleh semua badan perjanjian dengan mengundang Negaranegara Pihak untuk mengirimkan delegasinya guna menghadiri pertemuan di mana laporan mereka dipertimbangkan dalam rangka memberikan kesempatan kepada Negara-negara Pihak tersebut untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan anggota dan menyediakan informasi tambahan mengenai upaya mereka dalam melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian yang relevan. Juga dirujuk sebagai “concluding comments” oleh beberapa komite sesuai dengan pengistilahan di perjanjiannya. Biro Biro biasanya terdiri dari ketua. serta harus memberikan perhatian bagi langkah-langkah guna menjamin tindak lanjut efektif terhadap concluding observations-nya. Metode kerja yang lebih efisien dapat mengurangi backlog tersebut. tetapi hanya dibentuk untuk memonitor pelaksanaan perjanjian. Orang tersebut mengetuai pertemuan sesuai dengan peraturan tata tertib yang telah disepakati. misalnya. Komentar kesimpulan (concluding comments) Lihat “concluding observations”. pelapor (rapporteur) atau anggota lain yang ditugaskan oleh komite.

4 • Th. Deklarasi Negara dapat memilih atau diwajibkan untuk membuat deklarasi berkaitan dengan perjanjian di mana Negara menjadi pihak. Oleh karena itu. untuk membuat derogasi yang bersifat khusus dan sementara terhadap beberapa hak sejauh yang dibutuhkan oleh situasi di Negara tersebut. Satuan kerja ini bertemu pada saat pertemuan pleno. berdasarkan pasal 41 Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. Pelapor negara biasanya memimpin dalam membuat daftar persoalan. Derogasi Derogasi adalah langkah yang diadopsi oleh Negara Pihak yang menangguhkan sebagian pelaksanaan satu atau lebih ketentuan dari perjanjian. Satuan kerja laporan Negara terdiri dari empat sampai enam anggota. Deklarasi opsional dan wajib Perjanjian dapat membiarkan Negara membuat deklarasi opsional dan/atau wajib. ketentuan tertentu di perjanjian.badan perjanjian sebagai suatu cara untuk mengurangi pengulangan informasi yang ditemukan di laporan Negara-negara ke berbagai badan perjanjian. atau interpretasi tentang. Namun. Deklarasi ini bersifat mengikat secara hukum bagi yang membuat deklarasi. Tujuan dari deklarasi interpretasi adalah untuk mengklarifikasi arti beberapa ketentuan atau keseluruhan perjanjian. Beberapa perjanjian hak asasi manusia mengijinkan Negara-negara Pihak. dalam hal darurat publik yang mengancam kehidupan bangsa. yaitu sebagai berikut: Deklarasi tentang interpretasi Negara dapat membuat deklarasi tentang pemahamannya terhadap persoalan yang tercantum dalam. Negara Pihak tidak boleh membuat derogasi terhadap hak-hak tertentu dan tidak boleh mengambil langJURNAL HAM • Vol. Dokumen ini memuat suatu bagian awal yang umum di semua laporan ke badan perjanjian. Hal yang sama. setidaknya untuk jangka waktu sementara. 2007 138 . Satuan kerja laporan Negara (country report task force) Komite Hak Asasi Manusia telah menugaskan satuan kerja laporan Negara untuk mengerjakan persiapan pertimbangan laporan-laporan yang sebelumnya dilakukan oleh kelompok kerja prapertemuan. tidak se- perti halnya reservasi. tidak berarti meniadakan atau memodifikasi dampak hukum dari perjanjian. Deklarasi tentang interpretasi seperti ini. Negaranegara Pihak pada Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang keterlibatan anakanak dalam konflik bersenjata diharuskan membuat deklarasi wajib berdasarkan pasal 3(2) yang menetapkan usia minimum yang mengijinkan rekrutmen berdasarkan pilihan bebas (voluntary) di angkatan bersenjata nasionalnya serta suatu deskripsi jaminan yang diadopsi guna menjamin bahwa rekrutmen semacam itu tidak dipaksakan. Negara dapat membuat deklarasi opsional bahwa Negara menerima kompetensi Komite Hak Asasi Manusia untuk mempertimbangkan pengaduan antarNegara. dan membuat concluding observations untuk dibahas dan diadopsi oleh komite. Ada beberapa jenis deklarasi. mengajukan pertanyaan kepada delegasi pada saat pertemuan. Pelapor negara (country rapporteur) Kebanyakan komite menunjuk seorang anggotanya sebagai pelapor negara untuk setiap Negara Pihak yang sedang dipertimbangkan. yang secara keseluruhan bertanggung jawab terhadap pembuatan daftar persoalan. misalnya. yang dinominasikan oleh Ketua. salah satu di antara mereka adalah pelapor negara.

Komentar Umum juga sering disebut “rekomendasi umum” (Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial dan Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan). 2007 139 . Komentar umum Interpretasi suatu badan perjanjian terhadap isi ketentuan-ketentuan HAM. Dokumen inti/utama yang diperluas Gagasan untuk memperluas ruang lingkup dokumen inti/utama muncul pada saat proses konsultasi yang dilakukan oleh badan perjanjian sebagai respon terhadap usulan Sekretaris Jenderal bahwa Negaranegara diijinkan untuk menyerahkan laporan tunggal kepada semua badan perjanjian. Komentar umum seringkali digunakan untuk memperjelas kewajiban pelaporan Negara-negara Pihak berkaitan dengan ketentuan-ketentuan tertentu dan menyarankan pendekatan-pendekatan dalam melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. Suatu laporan tunggal dianggap akan mempersulit prosedur dan akan sulit digunakan. 4 • Th. Tindak lanjut Prosedur yang dibuat guna menjamin bahwa Negara-negara Pihak menindaklanjuti rekomendasi yang ada dalam concluding observations badan perjanjian atau keputusan badan perjanjian terhadap kasuskasus yang diangkat dalam prosedur pengaduan. Parlemen. Diprediksikan bahwa dokumen inti/utama yang diperluas akan diserahkan kepada setiap badan perjanjian bersama dengan laporan khusus perjanjian yang lebih terfokus. Komunikasi individual Lihat “pengaduan individual”. di mana JURNAL HAM • Vol. baik yang terkait dengan suatu artikel khusus atau suatu persoalan tematis yang lebih luas. 29 Komite Hak Asasi Manusia) Divisi Pengembangan Perempuan (DAW) Bertempat di Departemen Bidang Ekonomi dan Sosial (Department of Economic and Social Affairs atau DESA). Dokumen inti/utama yang diperluas bertujuan untuk semakin mengurangi pengulangan informasi dalam berbagai laporan dengan menyediakan informasi mengenai ketentuan-ketentuan tentang hak-hak yang substantif di seluruh atau beberapa perjanjian. memberikan alasan mengenai derogasi. organisasi nonpemerintah. dari seorang individual yang menyatakan bahwa hakhaknya berdasarkan salah satu perjanjian telah dilanggar oleh Negara Pihak. Beberapa komite telah mengadopsi prosedur tindak lanjut formal dan semua komite mewajibkan Negara-negara untuk mencantumkan tindak lanjut tersebut dalam laporan berkala mereka. serta Komisi untuk Status Perempuan. DAW berkantor di Markas Besar Perserikatan BangsaBangsa di New York dan memberikan dukungan terhadap Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan.kah-langkah yang bersifat diskriminatif. dan masyarakat sipil memiliki peranan penting dalam tindak lanjut tersebut. Institusi-institusi Nasional HAM. (Lihat Komentar Umum No. Pengaduan individual Suatu pengaduan formal. Rekomendasi umum Lihat “komentar umum”. Biasanya Negara-negara diwajibkan untuk menginformasikan kepada Negara Pihak lainnya tentang derogasi tersebut. dan menentukan tanggal habisnya masa berlaku derogasi tersebut. serta ada kekhawatiran bahwa informasi spesifik yang biasanya ditemukan di laporan perjanjian yang terpisah akan hilang dalam suatu laporan yang menyimpulkan secara luas.

Daftar persoalan dan/atau pertanyaan Suatu daftar persoalan atau pertanyaan yang dibuat oleh suatu badan perjanjian berdasarkan laporan Negara Pihak dan informasi lain yang tersedia bagi badan perjanjian tersebut (informasi dari badanbadan khusus PBB. Sosial. dalam praktiknya. banyak Negara menghadapi kesulitan dalam melaksanakan kewajiban pelaporan yang sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan oleh perjanjian di mana mereka menjadi pihak. Daftar persoalan merupakan sumber informasi yang up-to-date bagi komite berkaitan dengan Negara yang laporannya mungkin sudah menunggu selama dua tahun untuk dipertimbangkan. 19: JURNAL HAM • Vol. Informasi lebih lanjut mengenai NHRIs. Daftar persoalan menyediakan suatu kerangka bagi dialog yang konstruktif dengan delegasi Negara Pihak. dan Budaya serta Konvensi Hak Anak.beberapa badan perjanjian memiliki kompetensi untuk mempertimbangkannya. Persoalan keterlambatan pelaporan ini diidentifikasi sebagai salah satu dari banyak tantangan yang dihadapi oleh sistem pelaporan perjanjian. yang diperbaharui setiap tahunnya. tergantung pada sejauh mana independensinya dari kontrol pemerintah dapat dijamin. organisasi nonpemerintah. Informasi mengenai status pelaporan Negara-negara Pihak pada setiap perjanjian tersedia dari database badan-badan perjanjian di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) atau dalam dokumen HRI/GEN/4. Keterlambatan pelaporan Setiap perjanjian memperkirakan penyerahan laporan secara berkala. Saat ini belum ada hak pengaduan individual di Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Lihat Lembar Fakta Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) No. Institusi-institusi semacam ini semakin diakui sebagai bagian yang penting dalam sistem perlindungan HAM di tingkat nasional. dan badan perjanjian telah berupaya mencari cara untuk mempermudah Negaranegara membuat laporan. yang memungkinkan dialog membicarakan hal-hal yang spesifik dengan lebih cepat. 2007 140 . Beberapa komite mendorong Negara Pihak untuk menyerahkan tanggapan tertulis sebelum pertemuan dilaksanakan. dan sebagainya). 4 • Th. Suatu standar internasional yang dikenal sebagai Prinsip-prinsip Paris telah disepakati untuk mengukur independensi dan integritas institusi-institusi nasional HAM ini. misalnya dengan pengarusutamaan proses pelaporan melalui dokumen inti/utama yang diperluas. Institusi-institusi Nasional HAM (National Human Rights Institutions/ NHRI) Banyak negara telah membentuk institusi nasional HAM untuk memajukan dan melindungi HAM. Ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan pengaduan individual berdasarkan Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya belum berlaku. Hak yang akan dipertimbangkan dalam pengaduan individual harus dinyatakan diterima oleh Negara Pihak yang bersangkutan dengan membuat suatu deklarasi berdasarkan pasal perjanjian yang relevan (bagi Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dan Komite Menentang Penyiksaan) atau dengan meratifikasi atau mengaksesi protokol opsional pada perjanjian yang memberikan hak bagi pengaduan individual (Protokol Opsional Pertama pada Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik serta Protokol Opsional Kovenan tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan). yang diserahkan kepada Negara Pihak jauh-jauh hari sebelum pertemuan di mana badan perjanjian akan mempertimbangkan laporan tersebut.

Institusi-institusi Nasional untuk Pemajuan dan Perlindungan Hak Asasi Manusia. Organisasi nonpemerintah Organisasi nonpemerintah dapat terlibat dalam pemajuan HAM, baik secara umum maupun berfokus pada suatu persoalan tertentu. Terdapat suatu kerangka bagi partisipasi organisasi nonpemerintah di berbagai mekanisme HAM PBB, seperti pemberian status konsultatif di Dewan Ekonomi, Sosial, dan Budaya yang memberikan kesempatan kepada organisasi nonpemerintah untuk berpartisipasi dalam Komisi Hak Asasi Manusia. Organisasi nonpemerintah internasional dan nasional mengikuti pekerjaan badan-badan perjanjian dari dekat dan kebanyakan badan perjanjian memberikan kesempatan pada mereka untuk memberikan masukan dalam proses pelaporan, misalnya melalui pemberian informasi tambahan berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian di suatu negara (seringkali dirujuk sebagai laporan “bayangan” atau “paralel”). Terdapat perbedaan dalam bagaimana setiap badan perjanjian memperlakukan informasi ini. Hal ini tergantung pada apakah organisasi memiliki status konsultatif dari Dewan Ekonomi, Sosial, dan Budaya atau tidak. Organisasi nonpemerintah internasional dan nasional juga memiliki peranan penting dalam mengawasi tindak lanjut pelaksanaan rekomendasi yang di tingkat nasional termuat dalam concluding observations badan perjanjian dan dalam mendorong debat publik di tingkat nasional mengenai pelaksanaan HAM pada masa proses pembuatan laporan dan setelahnya. Organisasi nonpemerintah juga memberikan kontribusi yang penting dalam pemajuan pengesahan perjanjian-perjanjian HAM di dunia.

Tidak-melaporkan (non-reporting) Walaupun sudah dengan bebas menerima kewajiban hukum yang melekat pada perjanjian HAM yang telah mereka ratifikasi, beberapa Negara gagal menyerahkan laporan mereka kepada badan perjanjian yang bersangkutan. Terdapat banyak alasan mengapa Negara-negara gagal melapor, mulai dari adanya perang dan konflik sipil sampai pada keterbatasan sumber daya. Bantuan teknis tersedia dari Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) dan Divisi Pengembangan Perempuan (DAW) untuk membantu Negara-negara dalam memenuhi kewajiban pelaporan mereka. Badan perjanjian juga telah mengadopsi prosedur untuk menjamin bahwa pelaksanaan perjanjian oleh Negara-negara Pihak yang tidak-melapor juga dapat ditinjau, yaitu ketika Negara tersebut tidak memberikan tanggapan terhadap permintaan informasi dari badan perjanjian. Komite juga secara khusus dapat mempertimbangkan situasi di suatu negara tanpa adanya laporan. Informasi mengenai status pelaporan Negara Pihak terhadap setiap perjanjian tersedia dari database badan perjanjian di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) atau dalam dokumen HRI/ GEN/4, yang diperbaharui setiap tahunnya. Situs tersebut juga menyediakan informasi mengenai bantuan teknis yang tersedia bagi Negara-negara Pihak. Protokol opsional Suatu instrumen internasional yang berhubungan dengan suatu dokumen utama dan memberikan kewajiban hukum tambahan bagi Negara-negara yang memilih untuk menerimanya. Protokol opsional dapat dirancang pada saat yang bersamaan dengan perjanjian utamanya, atau dirancang setelah perjanjian utamanya mulai diberlakukan. Protokol opsional pada perjanjian HAM diadopsi untuk sejumlah alasan: memberikan kesempatan bagi Negara-negara Pihak

JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

141

untuk mendaftarkan diri pada kewajiban tambahan berkaitan dengan monitoring internasional terhadap pelaksanaan perjanjian (Protokol Opsional Pertama pada Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, Protokol Opsional pada Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan, Protokol Opsional pada Konvensi Menentang Penyiksaan); memberikan kesempatan pada Negaranegara untuk mengambil kewajiban tambahan ketika hal-hal tersebut tidak termasuk dalam perjanjian utama (Protokol Opsional Kedua pada Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik); atau menanggapi persoalan-persoalan khusus secara lebih detil (kedua protokol opsional pada Konvensi Hak Anak). Periode pelaporan Jangka waktu untuk penyerahan laporan awal dan laporan berkala oleh Negara Pihak pada badan perjanjian ditentukan di setiap perjanjian atau ditentukan oleh komite sesuai dengan jangka waktu perjanjian. Suatu laporan awal diwajibkan dalam suatu jangka waktu tertentu setelah perjanjian mulai diberlakukan di Negara yang bersangkutan; laporan berkala kemudian diwajibkan untuk jangka waktu tertentu. Periode pelaporan berbeda dari satu perjanjian ke perjanjian lainnya. Petisi Suatu istilah kolektif yang mencakup berbagai prosedur untuk mengajukan pengaduan ke hadapan badan perjanjian yang kompeten. Petisi dapat terdiri dari pengaduan individual atau dari Negara Pihak mengenai pelanggaran terhadap ketentuan perjanjian oleh Negara Pihak lainnya. Kelompok kerja prapertemuan Suatu kelompok kerja dibentuk oleh beberapa badan perjanjian sebelum atau setelah pertemuan pleno guna merencanakan pe-

kerjaan mereka di pertemuan-pertemuan selanjutnya. Pekerjaan yang dilakukan oleh kelompok kerja prapertemuan berbeda dari satu komite ke komite lainnya: beberapa komite membuat daftar persoalan dan pertanyaan melalui kelompok kerjanya untuk kemudian diserahkan kepada setiap negara Pihak sebelum pertimbangan terhadap laporannya dilaksanakan; beberapa komite dengan kompentensi untuk mempertimbangkan pengaduan individual menggunakan kelompok kerja untuk membuat rekomendasi awal terhadap kasus dan persoalan lain yang terkait dengan prosedur pengaduan. Kelompok kerja prapertemuan biasanya dilaksanakan secara tertutup. Rekomendasi Suatu rekomendasi atau keputusan formal yang dikeluarkan oleh badan perjanjian. Istilah ini telah digunakan secara tidak konsisten, yaitu digunakan untuk menggambarkan keputusan formal mengenai persoalan-persoalan tertentu, atau resolusi yang lebih umum seperti yang dihasilkan dari diskusi umum. Concluding observations memuat rekomendasi spesifik, dan isitilah “rekomendasi badan perjanjian” sering digunakan secara bersamaan dengan “concluding observations”. Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial dan Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan juga merujuk pada komentar umum mereka sebagai “rekomendasi umum”. Panduan pelaporan bagi Negaranegara Pihak Panduan tertulis yang dihasilkan bagi Negara-negara Pihak oleh setiap badan perjanjian, yang memberikan nasihat mengenai bentuk dan isi dari laporan yang wajib diserahkan oleh Negara-negara berdasarkan perjanjian yang bersangkutan. Panduan yang terbaru bervariasi pendekatannya: beberapa komite menyediakan panduan yang detil berdasarkan pasal-per-pasal
JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

142

sementara komite lainnya memberikan panduan secara lebih umum (lihat Kompilasi Panduan Pelaporan HRI/GEN/2/ Rev.2). Dalam laporan reformasi keduanya (A/57/387), Sekretaris Jenderal meminta badan-badan perjanjian agar mengadopsi panduan pelaporan yang terharmonisasi. Draf panduan pelaporan yang terharmonisasi ini sedang dibuat oleh komite-komite. Reservasi Reservasi adalah suatu pernyataan yang dibuat oleh Negara yang menyatakan bahwa Negara tersebut meniadakan atau menambahkan dampak hukum beberapa ketentuan dalamperjanjian berkaitan dengan pelaksanaannya di Negara tersebut. Reservasi dapat memfasilitasi Negara untuk berpartisipasi dalam perjanjian multilateral di mana Negara tersebut dapat tidak mampu ataupun tidak bersedia melakukannya. Negara-negara dapat membuat reservasi terhadap suatu perjanjian ketika mereka menandatangani, meratifikasi, menerima, menyetujui, atau mengaksesinya. Ketika suatu Negara membuat reservasi ketika penandatanganan, maka Negara harus menegaskan kembali reservasi tersebut pada saat ratifikasi, penerimaan, atau persetujuan. Reservasi diatur oleh Konvensi Wina tentang Hukum Perjanjian, dan tidak bisa bertentangan dengan tujuan perjanjian. Oleh karena itu, Negara-negara dapat membuat reservasi ketika menandatangani, meratifikasi, menerima, menyetujui, atau mengaksesi suatu perjanjian, kecuali jika (a) reservasi dilarang oleh perjanjian; atau (b) perjanjian mensyaratkan bahwa hanya dapat dilakukan reservasi spesifik, yang tidak termasuk reservasi yang dimaksudkan. Negara-negara Pihak lain dapat mengajukan keberatan terhadap reservasi suatu negara Pihak. Kapan pun, reservasi dapat ditarik atau dibatalkan secara penuh atau sebagian oleh Negara Pihak.
JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

Prosedur peninjauan Suatu prosedur di mana badan perjanjian akan mempertimbangkan situasi di negara tanpa adanya laporan dari Negara Pihak tersebut. Prosedur ini digunakan dalam hal ketika laporan terlambat untuk jangka waktu yang lama dan Negara Pihak tidak menanggapi permintaan badan perjanjian akan laporan tersebut. Di banyak kasus, Negara-negara Pihak menyerahkan laporan mereka untuk menghindari prosedur peninjauan; di kasus lainnya, Negara-negara memilih untuk mengirimkan delegasinya ke pertemuan badan perjanjian dan menjawab pertanyaan dari para ahli badan perjanjian walaupun mereka belum dapat menyerahkan laporannya. Prosedur peninjauan pertama kali diadopsi oleh Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial pada 1991. Komite lain menggunakan istilah “pertimbangan terhadap situasi suatu negara tanpa adanya laporan”. Beberapa Komite memberikan suatu daftar persoalan kepada Negara Pihak walaupun tidak ada laporan. Kebanyakan komite menghasilkan concluding observations di akhir proses, namun hal ini dapat dirahasiakan untuk jangka waktu tertentu jika Negara tersebut berkeinginan menyerahkan laporannya. Peraturan tata tertib (rules of procedure) Aturan-aturan formal yang diadopsi oleh badan perjanjian guna mengatur cara-cara bagaimana badan perjanjian tersebut melakukan pekerjaannya. Setiap komite diberikan kewenangan oleh perjanjian yang bersangkutan untuk mengadopsi peraturan tata tertibnya sendiri. Peraturan tata terbit biasanya mencakup permasalahan seperti pemilihan pejabat dan prosedur pengambilan keputusan khususnya ketika tidak bisa dicapai konsensus. Peraturan tata tertib berkaitan, tetapi berbeda, dengan metode kerja.

143

yang terdiri dari seorang sekretaris dan pegawai internasional lainnya. Sebelumnya disebut sebagai “Perwakilan Pelayanan Dukungan” (“Support Service Branch/SSB”). yang diikuti oleh laporan berkala secara periodik. TCB berkantor di Palais Wilson di Jenewa. yang harus diserahkan secara berkala kepada badan perjanjian. dan program PBB terlibat dalam sistem perjanjian HAM. TCB juga memberikan dukungan bagi Komisi Hak Asasi Manusia. Setiap badan perjanjian memiliki sekretariat. Semua badan perjanjian mengijinkan partisipasi formal badan-badan PBB dalam proses pertimbangan laporan melalui ketentuan tentang informasi tambahan mengenai negara berkaitan dengan laporan Negara tersebut. Laporan Negara Pihak Laporan yang diwajibkan kepada setiap Negara Pihak pada suatu badan perjanjian. yang berkantor di Sekretariat PBB. dan Dana Sukarela Perserikatan Bangsa-Bangsa bagi Korban Penyiksaan. UNAIDS. konvensi atau kovenan. Perjanjian. OCHA. 2007 144 . UN-HABITAT. Setiap perjanjian mewajibkan adanya suatu laporan awal yang komprehensif dalam jangka waktu tertentu setelah ratifikasi. dana. Subkomisi Pemajuan dan Perlindungan Hak Asasi Manusia. 4 • Th. dana. yang mengatur agenda komite dan mengkoordinasikan program kerjanya. Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP). dana. Dana Bantuan Anak-Anak Perserikatan BangsaBangsa (UNICEF). Laporan bertarget atau terfokus Lihat “laporan-khusus perjanjian”. berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian tersebut. UNIFEM. Sekretariat badan-badan perjanjian lainnya berkantor di Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) di Jenewa. Badan-badan khusus. dan Organi- sasi Kesehatan Dunia (WHO). Badan-badan khusus. yang mengindikasinya langkah-langkah yang diadopsi guna melaksanakan perjanjian serta faktor-faktor dan hambatan-hambatan yang ditemuinya. Semua merupakan instrumen hukum internasional yang mengikat secara hukum. konvensi. Sekretariat Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan adalah bagian dari Divisi Pengembangan Perempuan (DAW) dalam Departemen Bidang Ekonomi dan Sosial (DESA) yang berkantor di New York. UNESCO.Sekretaris/sekretariat Setiap perjanjian mewajibkan Sekretaris Jenderal PBB untuk menyediakan dukungan sekretariat bagi badan perjanjian tersebut. Perjanjian dan Cabang Komisi (Treaties and Commision Branch/TCB) Di Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia(OHCHR). termasuk memajukan dan melindungi HAM. baik dalam pelaksanaan kewajiban berdasarkan perjanjian maupun dalam proses penulisan laporan bagi badan-badan perjanjian. TCB memberikan dukungan pada sekretariat bagi semua badan perjanjian kecuali Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. JURNAL HAM • Vol. tidak terdapat perbedaan antara perjanjian. kovenan. dan program Berbagai badan khusus. dan program dalam sistem PBB yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan PBB. Beberapa badan khusus juga memberikan bantuan teknis kepada Negara-negara. UNFPA. Organisasi Buruh Internasional (ILO). termasuk FAO. Komisi Tinggi untuk Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR). dalam hukum internasional. atau instrumen Secara hukum. Negara-negara yang memilih untuk menerima kewajiban yang termuat di dalamnya.

walaupun mereka menerima dukungan dari Sekretariat PBB dan melapor kepada Majelis Umum.Badan perjanjian atau komite Suatu komite yang terdiri dari ahli-ahli independen yang ditugaskan untuk memonitor pelaksanaan Negara-negara Pihak atas setiap perjanjian internasional hak asasi manusia yang utama. akan membentuk suatu laporan Negara Pihak. seperti perjanjian-perjanjian hak asasi manusia. Metode kerja setiap badan perjanjian berubah sesuai dengan beban kerja dan faktor-faktor lainnya. 4 • Th. khususnya karena pendekatan-pendekatan JURNAL HAM • Vol. penerimaan. Negara Pihak Negara Pihak adalah suatu Negara yang sepakat untuk diikat oleh suatu perjanjian berdasarkan hukum internasional. sementara beberapa lainnya juga terbuka bagi entitas-entitas lain yang memiliki kapasitas untuk membuat perjanjian. Walaupun sering dirujuk sebagai “laporan khusus-perjanjian”.untreaty. Beberapa perjanjian. jika dibaca bersama. Bagaimana suatu Negara dapat menjadi Negara Pihak pada perjanjian Berikut dijelaskan mengenai proses bagaimana suatu Negara mengikat dirinya pada ketentuan-ketentuan perjanjian dalam hukum internasional sebagai Negara Pihak. dan (2) tanggal mulai berlaku perjanjian yang bersangkutan di Negara tersebut. Untuk menjadi pihak. tetapi komite juga dikenal sebagai “badan perjanjian” karena setiap komite dibentuk sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian yang diawasinya. Beberapa juga disebut sebagai “badan monitoring-perjanjian”. Negara tersebut harus (1) menyatakan kesediaannya untuk diikat oleh suatu perjanjian melalui tindakan ratifikasi. Akhir-akhir ini. Penjelasan lebih lanjut dapat diperoleh dari Kantor Urusan Hukum Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Office of Legal Affairs (http://www. terdapat gerakan untuk mengarusutamakan dan mengharmonisasikan metode kerja dalam pertemuan tahunan para ketua badan perjanjian. Kedua dokumen. Perjanjian menggunakan istilah “komite”. atau aksesi. 2007 yang berbeda dari setiap komite telah menyebabkan kebingungan dan ketidak-konsistenan. persetujuan.org). laporan kepada setiap badan perjanjian akan terdiri dari suatu dokumen umum bagi semua komite dan suatu dokumen khusus-perjanjian bagi setiap badan perjanjian.un. hanya terbuka bagi Negara-negara. Kedua Kovenan dan Kovenan Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial terbuka bagi penandatanganan dan ratifikasi oleh “Negara Anggota PBB atau 145 . Metode kerja Prosedur dan praktik yang dikembangkan oleh setiap badan perjanjian untuk memfasilitasi pekerjaannya. Tanggapan/jawaban tertulis terhadap daftar persoalan Jawaban tertulis Negara Pihak terhadap daftar persoalan dan pertanyaan badan perjanjian yang diserahkan sebelum pertemuan di mana laporan tersebut akan dipertimbangkan oleh komite. Praktik-praktik semacam itu tidak selalu diadopsi secara formal dalam peraturan tata tertib. Tanggapan tertulis terhadap daftar persoalan merupakan lampiran atau pembaharuan dari laporan Negara Pihak. Dalam banyak hal. komite bersifat independen dari sistem PBB. Laporan/dokumen khusus-perjanjian Usulan dokumen inti/utama atau umum yang diperluas akan diserahkan kepada setiap badan perjanjian secara bersamaan dengan dokumen khusus-perjanjian yang berfokus pada persoalan-persoalan yang berkaitan secara khusus dengan perjanjian yang bersangkutan.

atau persetujuan Ratifikasi. Negara melakukan hal tersebut dengan menyerahkan “instrumen ratifikasi” kepada Sekretaris Jenderal PBB. 2007 . seperti halnya perjanjian-perjanjian hak asasi manusia. penerimaan. Dengan kata lain. Dalam hal tersebut. penerimaan. Perjanjian HAM menentukan bahwa persetujuan dapat diberikan baik melalui penandatanganan yang diikuti dengan ratifikasi. Dengan mensyaratkan bahwa penandatanganan harus diikuti oleh ratifikasi maka Negara-negara memiliki waktu untuk mencari kesepakatan bagi perjanjian di tingkat domestik dan untuk menegakkan peraturan-peraturan yang diperlukan guna melaksanakan perjanjian di tingkat nasional. Banyak perjanjian mensyaratkan jumlah minimum Negara Pihak sebelum perjanjian tersebut mulai berlaku sebagai hukum internasional. Protokol opsional dibatasi hanya bagi Negara-negara Pihak pada perjanjiannya. suatu Negara harus menunjukkan keinginannya untuk melaksanakan semua hak dan kewajiban hukum yang termuat dalam perjanjian melalui tindakan nyata. kapan perjanjian tersebut akan mulai diberlakukan. penerimaan. dan kedua. bagaimana Negara-negara harus melanjutkan proses mengikat diri terhadap ketentuanketentuan substantif perjanjian. Untuk menjadi pihak pada perjanjian multilateral. Dengan kata lain. kecuali Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang keterlibatan anak-anak dalam konflik bersenjata yang terbuka bagi Negara mana pun yang menyetujuinya. tindakan penandatanganan tidak menentukan adanya kewajiban hukum positif terhadap Negara. Penandatanganan juga menciptakan kewajiban untuk menahan diri dalam niatan yang baik dari tindakan-tindakan yang bertentangan dengan tujuan perjanjian dalam jangka waktu antara penandatanganan dan ratifikasi. Suatu Negara dapat menyatakan persetujuannya untuk diikat oleh perjanjian dengan beberapa cara. atau melalui aksesi. penerimaan. Penandatanganan Perjanjian-perjanjian multilateral. dan oleh Negara mana pun yang telah diundang oleh Majelis Umum PBB”. yaitu ketika suatu Negara memberikan persetujuannya untuk diikat oleh perjanjian yang telah ditandatanganinya. pertama. jika Negara menyatakan persetu- 146 JURNAL HAM • Vol. atau persetujuan mengacu pada tindakan definitif yang diambil di tingkat internasional. oleh Negara Pihak mana pun pada Statuta Pengadilan Internasional. atau persetujuan. Namun.anggota badan-badan khususnya. pertama kali. biasanya menjadi ditandatangani yang kemudian diikuti oleh ratifikasi. Negara harus menandatangani perjanjian. 4 • Th. Bagaimana caranya suatu Negara bisa menjadi pihak pada suatu perjanjian? Setiap perjanjian HAM memuat ketentuanketentuan yang menentukan. Perjanjian HAM utama lainnya terbuka bagi semua Negara. Untuk meratifikasi perjanjian. atau persetujuan. Dalam kondisi tertentu Negara juga dapat mengikat dirinya melalui suksesi. sebelum mengambil kewajiban hukum berdasarkan perjanjian di tingkat internasional. sesuai denga pasal-pasal terakhir dari perjanjian tersebut. Negara harus menyatakan persetujuannya untuk diikat oleh perjanjian. penandatanganan adalah langkah persiapan guna mencapai ratifikasi perjanjian oleh Negara. atau persetujuan. penandatanganan mengindikasikan keinginan Negara untuk mengambil langkah-langkah untuk diikat oleh perjanjian di kemudian hari. Ratifikasi. penerimaan.

Kondisi-kondisi di mana aksesi mungJURNAL HAM • Vol. Negara penggantinya dapat memilih meratifikasi atau mengaksesi perjanjian yang bersangkutan dalam kapasitasnya sendiri. penerimaan. tidak seperti ratifikasi. aksesi hanya mensyaratkan satu langkah. Kondisi semacam ini termasuk kemerdekaan (misalnya. Setelah ratifikasi. Negara tersebut dapat menyatakan persetujuannya untuk terus diikat oleh kewajiban hukum sebagaimana dilakukan oleh Negara Pihak yang asli yang berlaku untuk wilayah teritorial yang sama melalui tindakan suksesi. Ketika suatu Negara telah meratifikasi perjanjian di tingkat internasional. yaitu penyerahan instrumen aksesi. Dalam hal ini. Tindakan yang diperlukan di tingkat internasional juga perlu dilakukan. yang mungkin diperlukan oleh Negara sesuai dengan ketentuan-ketentuan konstitusionalnya sebelum Negara tersebut menyatakan persetujuan untuk diikat secara internasional. 2007 kin terjadi dan prosedur yang dipakai tergantung pada ketentuan-ketentuan dalam perjanjian yang bersangkutan. Dalam kondisi-kondisi tersebut.juannya untuk diikat tanpa pertama kali menandatangani perjanjian. dan penarikan diri suatu Negara atau entitas dari Negara atau federasi. melalui dekolonialisasi). Pembedaan antara ratifikasi/aksesi dengan mulai berlaku Tindakan di mana Negara menyatakan persetujuannya untuk diikat oleh perjanjian berbeda dengan mulai berlakunya perjanjian tersebut. Namun. tidak boleh disamakan dengan ratifikasi di tingkat nasional. Negara menunjukkan keinginannya untuk melaksanakan hak dan 147 . tidak ada pembatasan waktu untuk meminta Negara meratifikasi perjanjian yang telah ditandatanganinya. 4 • Th. maka Negara harus melaksanakan perjanjian tersebut di tingkat nasional. Pada umumnya. Aksesi memiliki dampak hukum yang sama seperti ratifikasi. yang mengindikasikan komitmen Negara kepada masyarakat internasional untuk melaksanakan kewajibannya. maka proses tersebut disebut aksesi (lihat di bawah). Ratifikasi di tingkat internasional. Aksesi Aksesi adalah tindakan ketika suatu Negara yang belum menandatangani suatu perjanjian menyatakan persetujuannya untuk menjadi pihak pada perjanjian tersebut dengan menyerahkan “instrumen aksesi” kepada Sekretaris Jenderal PBB. Namun. Aksesi biasanya digunakan oleh Negara-negara yang ingin menyatakan persetujuan mereka untuk diikat oleh perjanjian ketika tenggat waktu penandatanganan telah lewat. penyatuan negara federasi atau serikat. yang harus diawali dengan penandatanganan untuk menciptakan kewajiban hukum yang mengikat berdasarkan hukum internasional. maka Negara terikat secara hukum oleh perjanjian sebagai salah satu Negara Pihaknya. Suksesi Suksesi terjadi hanya dalam kasus-kasus di mana suatu Negara yang menjadi pihak pada perjanjian mengalami transformasi konstitusional yang besar yang menimbulkan keraguan apakah pernyataan persetujuan untuk diikat oleh perjanjian yang telah diberikan sebelumnya tetap sahih. atau sebagai alternatif. banyak perjanjian multilateral modern dapat diaksesi bahkan pada masa perjanjian terbuka bagi penandatanganan. atau persetujuan. Ratifikasi di tingkat nasional tidak cukup kuat sebagai pernyataan keinginan Negara untuk diikat di tingkat internasional. Negara yang bersangkutan harus memberitahukan Sekretaris Jenderal PBB mengenai niatnya untuk menggantikan kewajiban hukum tersebut.

persetujuan. Situsnya http://untreaty. Ada dua jenis mulai berlakunya perjanjian: mulai berlakunya perjanjian sebagai instrumen hukum internasional secara pasti. atau aksesi. biasanya dengan masa tunggu satu bulan atau sekitarnya. Mulai berlaku bagi suatu Negara Ketika perjanjian sudah mulai berlaku secara umum. Kebanyakan perjanjian memperkirakan bahwa perjanjian akan mulai berlaku setelah adanya ratifikasi. Tanggal Sebagai konsekuensi dari hal tersebut di atas. persetujuan. 2007 148 . atau aksesi yang diserahkan kepada Sekretaris Jenderal dalam jumlah tertentu. mulai berlakunya perjanjian berkaitan dengan suatu Negara adalah saat di mana perjanjian tersebut benar-benar mengikat secara hukum bagi Negara Pihak tersebut. Ketentuan-ketentuan perjanjian menentukan saat mulai berlaku tersebut. Siapa pun yang ingin mengajukan pengaduan terhadap Negara Pihak kepada badan perjanjian berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian atau protokol opsionalnya harus memastikan bahwa instrumen tersebut telah diberlakukan di Negara yang bersangkutan. perjanjian tidak mengikat secara hukum bagi Negara mana pun. Mengapa tanggal mulai berlaku penting? Ini adalah tanggal di mana hak-hak yang diatur dalam perjanjian mengikat Negara dalam hukum internasional. Mulai berlaku secara pasti Masa mulai berlakunya suatu perjanjian secara pasti adalah waktu yang menetapkan perjanjian baru tersebut sebagai instrumen hukum yang mengikat bagi Negaranegara yang telah menyatakan persetujuannya untuk diikat oleh ketentuan-ketentuan dalam perjanjian tersebut. Mulai berlaku Mulai berlakunya suatu perjanjian adalah saat ketika suatu perjanjian benar-benar mengikat secara hukum negara-negara yang menjadi pihaknya. Daftar ratifikasi perjanjian HAM utama tersedia di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR). Sedangkan. maka mungkin akan terdapat beberapa tanggal pada perjanjian berkaitan deJURNAL HAM • Vol. baik yang sudah meratifikasi maupun mengaksesinya (walaupun Negara-negara tersebut tetap berkewajiban untuk menahan diri dalam niatan yang baik dari tindakan-tin- dakan yang bertentangan dengan tujuan perjanjian tersebut). Tanggal ini juga menentukan tanggal-tanggal Negara harus menyerahkan laporannya kepada badan perjanjian. Bagaimana saya bisa mengetahui apakah suatu perjanjian sudah mulai berlaku di suatu Negara? Sumber yang pasti adalah Tempat Penyimpanan Perserikatan BangsaBangsa. yang mempunyai daftar perjanjian multilateral yang diserahkan kepada Sekretaris Jenderal. Sampai tanggal tersebut. Perjanjian tidak dengan serta merta mulai berlaku: biasanya ada masa tunggu yang diatur dalam perjanjian antara tanggal penyerahan instrumen dan tanggal mulai berlakunya.un.org. penerimaan. penerimaan. dan masa mulai berlaku khusus bagi Negara tertentu. 4 • Th. maka ketentuan-ketentuan tambahan menentukan kapan perjanjian mulai berlaku bagi Negara atau organisasi internasional tambahan yang ingin terikat dengan perjanjian tersebut.kewajiban hukum berdasarkan suatu perjanjian melalui penyerahan instrumen ratifikasi.

ngan suatu Negara: Tanggal mulai berlakunya suatu perjanjian secara pasti: yaitu tanggal yang ditentukan dalam perjanjian yang menunjukkan kapan perjanjian mulai berlaku secara umum dalam hukum internasional dan mulai mengikat Negara-negara yang telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan. Tanggal penyerahan instrumen ratifikasi atau aksesi: yaitu tanggal kapan tempat penyimpanan perjanjian PBB menerima instrumen hukum yang menyatakan persetujuan Negara untuk terikat pada perjanjian. Jangka waktu tersebut beragam antara satu perjanjian dengan perjanjian lainnya. Sosial. Kalkulasi tanggal mulai berlakunya perjanjian Perjanjian Kovenan Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Tanggal mulai berlaku bagi Negara: yaitu tanggal yang ditetapkan oleh perjanjian tentang kapan perjanjian mulai secara formal mengikat Negara dalam hukum internasional. 4 • Th. dan Budaya Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan Konvensi Menentang Penyiksaan Konvensi Hak Anak Diadopsi 21 Desember 1965 Tanggal mulai berlaku 4 Januari 1969 Tanggal mulai berlaku bagi Negara Pihak Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan 16 Desember 1966 16 Desember 1966 18 Desember 1979 3 Januari 1976 3 bulan setelah tanggal penyerahan 23 Maret 1976 3 bulan setelah tanggal penyerahan Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan 3 September 1981 10 Desember 1984 20 November 1989 26 Juni 1987 2 September 1990 Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan JURNAL HAM • Vol. 2007 149 . Tanggal penandatanganan: yaitu tanggal kapan Negara menandatangani perjanjian. Hal ini tidak memiliki dampak hukum kecuali menahan diri dari tindakantindakan yang bertentangan dengan tujuan perjanjian. Kebanyakan perjanjian mensyaratkan jangka waktu tertentu antara tanggal penyerahan instrumen sebelum perjanjian mulai berlaku dan mengikat secara hukum.

2007 .Konvensi Internasional tentang Perlindungan terhadap Hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya Protokol Opsional Pertama Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Protokol Opsional Kedua Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Tentara Anak Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Penjualan Anak Protokol Opsional Konvensi Menentang Penyiksaan 18 Desember 1990 1 Juli 2003 Pada hari pertama bulan berikutnya setelah 3 bulan setelah tanggal penyerahan 3 bulan setelah tanggal penyerahan 16 Desember 1966 23 Maret 1976 15 Desember 1989 11 Juli 1991 3 bulan setelah tanggal penyerahan 6 Oktober 1999 22 Desember 2000 3 bulan setelah tanggal penyerahan 25 Mei 2000 18 Januari 2002 12 Februari 2002 Belum diberlakukan (dibutuhkan 20 Negara Pihak) 1 bulan setelah tanggal penyerahan 1 bulan setelah tanggal penyerahan Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan 25 Mei 2000 18 Desember 2002 150 JURNAL HAM • Vol. 4 • Th.

No. 5. 4 • Th. 20 : Hak Asasi Manusia dan Pengungsi No. 7 No. 6 No. 17 : Komite Menentang Penyiksaan No. 19 : Lembaga Nasional untuk Memajukan dan Melindungi Hak Asasi Manusia No. 13 : Hukum Humaniter Internasional dan Hak Asasi Manusia No. 22 : Diskriminasi terhadap Perempuan: Konvensi dan Komite No. dan No. 1. 18 : Hak Kelompok Minoritas JURNAL HAM • Vol. 29 : Pegiat Hak Asasi Manusia: Perlindungan Hak Untuk Membela Hak Asasi Manusia No. 11 : Hukuman Mati di Luar Hukum Secara Cepat dan Sewenang-wenang (Revisi 1) No. 2 No. Sosial dan Budaya (Revisi 1) No. 21 : Hak atas Perumahan yang Layak No. 14 : Bentuk-Bentuk Perbudakan Masa Kini No.Daftar Lembar Fakta Hak Asasi Manusia:* No. 24 : Hak Pekerja Migran No. 15 : Hak Sipil dan Politik: Komite Hak Asasi Manusia (Revisi 1) No. 27 : Tujuh Belas Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Pelapor Khusus PBB No. No. 16 : Komite Hak Ekonomi. 30 : Sistem Perjanjian Hak Asasi Manusia Perserikatan BangsaBangsa:Pengantar terhadap Perjanjian Hak Asasi Manusia Utama dan Badan-badan Perjanjian * Lembar Fakta No. 25 : Penyingkiran Secara Paksa dan Hak Asasi Manusia No. 2007 151 . 12 : Komite Penghapusan Dikriminasi Rasial No. 8 tidak lagi dipublikasikan. 10 : Hak Anak (Revisi 1) No. 26 : Kelompok Kerja untuk Penahanan Sewenang-wenang No. 4 No. 28 : Dampak Kegiatan Tentara Bayaran terhadap Hak Orang-orang Untuk Menentukan Nasibnya Sendiri No. 23 : Praktik Tradisional yang Berbahaya bagi Kesehatan Perempuan dan Anak No. 3 : Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia (Revisi 1) : Layanan Penasihat dan Kerja Sama Teknis di Bidang Hak Asasi Manusia (Revisi 1) : Metode-metode Menentang Penyiksaan (Revisi 1) : Penghilangan Orang Secara Paksa atau Tidak dengan Sukarela (Revisi 2) : Prosedur Komunikasi (Revisi 1) : Hak Penduduk Asli (Revisi 1) No. 9 No.

Negara memiliki kewajiban untuk. menggambarkan situasi umum di negeri ini. Seperti diketahui bersama. Potret di tiga lokasi penelitian yang menjadi locus. soal kewajiban minimum. Wildan Pramudya. keterimaan dan kualitas. Harry Wibowo. dan kebersesuaian. menunjukkan rendahnya kualitas kepedulian pemerintah daerah dan masyarakat. Angka-angka berikut mengkonfirmasi fakta itu. Indramayu mencapai 4. 2007 152 . Di Kabupaten Sikka lebih parah lagi. mengkonfirmasi persepsi yang berkembang selama ini mengenai pelayanan kesehatan dan pendidikan yang masih jauh dari harapan.5%. belum mampu menjamin penegakan. dalam kadar serta intensitas tertentu. bertindak (obligation of conduct) dan berkewajiban mencapai hasil (obligation of result). penghormatan dan promosi terhadap terpenuhinya Hak Ekonomi Sosial Budaya (HESB). Abdul Mun’im Dz. Sementara di Kabupaten Sikka dan Jayapura. menghormati. keteraksesan. Ketersediaan sarana pendidikan masih menjadi problem. Masing-masing bidang memiliki indikator. Untuk masalah hak pendidikan ada empat hal.Akses Terhadap Pendidikan dan Kesehatan: Peristiwa Tiga Daerah Judul Buku : Meneropong Hak Atas Pendidikan dan Layanan Kesehatan: Analisis Situasi di Tiga Kabupaten: Indramayu. Pendidikan dan kesehatan. Ketiga. Gambaran di mana Negara. Kedua. Tingkat layanan pendidikan di Indramayu. merupakan hak penting yang satu sama lain saling terkait dan menentukan. melindungi dan melaksanakan. ketersediaan. Sementara untuk masalah pelayanan kesehatan indikatornya adalah ketersediaan. 4 • Th. Sikka. yaitu soal kebebasan. pertama. lebih rendah lagi. Angka putus sekolah di Kab. Rahadi’T Wiratama. Angka ini jelas sangat tinggi. Widodo Dwi Putro. keteraksesan. 103). Setiap Negara dituntut untuk memenuhi kebutuhan minimum untuk bertindak secara komisi maupun secara omisi. Banyak kondisi fisik bangunan sekolah dan sarana pendukung yang kurang memadai. khususnya pelayanan pendidikan kepada anak. 2005. dan Jayapura Penulis : Naning Mardiniah. Penelitian dari tiga daerah ini menunjukkan bahwa terjadinya keterlambatan dalam pelayanan pendidikan. Burhanudin. lebih rendah dibandingkan angka rata-rata di Jawa Barat yang 24%. 195+xxiv Hasil survey yang kemudian diterbitkan menjadi buku ini. Pengantar : Abdul Hakim Garuda Nusantara Editor : Harry Wibowo dan Anharudin Penerbit : CESDA-LP3ES. lebih-lebih jika dilihat bahwa angka putus sekolah itu terjadi pada jenjang pendidikan SD (h. Keterlambatan ini. Peluang kebebasan untuk mendirikan lemJURNAL HAM • Vol.

to protect dan to fulfill. Apa yang terjadi di Kab. Dari sini. akan tetapi masih jauh dari harapan.baga pendidikan tidak dimanfaatkan oleh masyarakat. Tidak semua Puskesmas memiliki tenaga dokter. Terjadi ketimpangan dalam rasio distribusi. ada yang kondisi bangunannya rusak berat dan tidak bisa dipakai (h. salah satunya adalah konflik status kepemilikan tanah yang tidak kunjung diselesaikan oleh Pemda. Siswa yang sudah lulus SD pun. 166) Hal yang sama juga terjadi dalam masalah pelayanan kesehatan. problem mendasarnya adalah masalah keteraksesan dari segi jarak. menjadikan kebijakan Pemda/Pemerintah menggratiskan layanan kesehatan. Dibandingkan kabupaten sekitarnya. Gambaran lebih dramatis terjadi di Kabupaten Jayapura. banyak problem yang terjadi. banyak yang belum bisa baca-tulis dan berhitung (h. melindungi dan memenuhi. Hal ini terjadi karena beberapa sebab. sementara pemerintah sendiri belum mampu menyediakan sarana dan prasarana pendidikan dasar yang memadai (h. sebagaimana ditemukan pada SD Distrik Genyem. belum tersedia Rumah Sakit Umum dan tidak semua kecamatan memiliki Puskesmas. masyarakat mengalami kesulitan untuk mendapatkan akses pelayanan kesehatan (h. 7 dokter gigi dan 175 bidan desa. kondisinya sangat jauh dari kabupaten lain. Untuk bisa memenuhi standar minimum saja masih jauh. 27 dokter umum. 4 • Th.137). Secara lebih spesifik di Kabupaten Jayapura. Temuan yang diungkapkan dalam buku ini mengindikasikan bahwa masalah kesehatan mengindikasikan pemerintah. 159). Jayapura adalah gambaran yang paling menyedihkan. 149). akan tetapi tidak dengan sendirinya bisa menghentikan laju angka putus sekolah. 154). Di tingkat kabupetan. terjadi konsentrasi te- 153 . Pada satu Puskesmas misalnya. telah menghapuskan biaya pendidikan dasar. kemudian buku ini menarik benang merah. tanggung jawab pemerintah ini akan dilihat dari aspek ketersediaan. buruknya ruang belajar dan banyaknya siswa yang kurang gizi sehingga sulit menangkap pelajaran dari gurunya. Di Kabupetan Sikka. Kualitas layanan JURNAL HAM • Vol. Jadi. Jayapura belum selesai. fasilitas buku pelajaran yang minim. Aspek pelayanan minimumpun. sulitnya lokasi baik untuk dijangkau tenaga pengajar maupun siswa. meskipun pendidikan dasar merupakan suatu yang wajib dan harus dilakukan secara gratis. Sebagian besar prasarana jalan raya di Kab. Kendati Pemda Jayapura. 107). Banyak faktor yang melatar belakangi mengapa pelaksanaan pelayanan pendidikan dasar belum memenuhi standar minimum. 2007 kesehatan di Kabupaten Indramayu. tampaknya belum terpenuhi (h. belum memenuhi tanggung jawabnya dalam memenuhi hak-hak kesehatan dasar bagi masyarakat. Prasarana jalan sulit itu. keteraksesan dan keberterimaan. Sikka dan Jayapura masih rendah jika diukur dari standar minumum. Tenaga medis yang tersedia. yaitu to respect. ada tiga kewajiban utama pemerintah terkait hal tersebut. dan sebagai akibatnya. Menghargai atau menghormati. Banyak bangunan sekolah yang tanahnya dalam status sengketa dengan masyarakat adat (h. problem yang menghambat terpenuhinya hak kesehatan masyarakat adalah distribusi tenaga medis yang tidak merata. Tidak semua kondisi Puskesmas dalam kondisi siap pakai. Pada level masyarakat masih ditemui kasus-kasus yang menghambat pelaksanaan pendidikan. Paling tidak. pada aspek pemenuhan ini. menjadi tidak mengena. minimnya tenaga pengajar sehingga banyak kelas yang kosong.

Pada kebijakan kesehatan. masyarakat di kecataman yang Puskesmasnya tidak tersedia tenaga dokter. tidak ada dokter sama sekali. Sayangnya. ketersediaan tenaga medis.naga dokter sementara pada Puskesmas tertentu. Ellyasa KH Darwis 154 JURNAL HAM • Vol. Dan untuk pembangunan kesehatannya hanya sekitar 7 milyar per tahunnya. Oleh karena itu. Jadi tidak akses ke pelayanan kesehatan memang masih belum merata dan bisa dibayangkan bagaimana masyarakat yang ada di desa (h. Salah satu kasusnya adalah akses masyarakat terhadap air bersih. setidaknya pemerintah telah menyediakan secara memadai sarana dan prasarana kesehatan. Namun dari sisi kualitas layanan.4 % dari APBD. Pertama. jika dilihat dari standard minimum. Meskipun di tingkat nasional telah digariskan dengan sejumlah peraturan hukum dan kebijakan politik. Karenanya. Akan tetapi penerapan prinsip-prinsipnya yang kemudian dianggap sebagai bagian dari pelaksanaan otonomi daerah. meskipun secara nasional telah tegas akan tetapi banyak daerah tingkat dua yang tidak menjadikannya sebagai mainstream dalam pembangunan. masih perlu dilihat lagi. rendahnya keteraksesan masyarakat terhadap informasi tentang kesehatan yang melahirkan munculnya perilaku hidup yang tidak sehat dan rendahnya keterjangkauan masyarakat untuk mengakses layanan kesehatan yang disediakan pemerintah. Kedua. Itu sebabnya. Dari segi infrastruktur. Tak hanya itu. Jayapura maupun Sikka. Pasalnya. sebagian besar masyarakat tidak memiliki akses terhadap air bersih sebagai akibatnya derajat kesehatan masyarakat juga rendah. Memang lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Sikka. secara umum. Indramayu. Temuan di lapangan menunjukkan ada dua problem dalam akses kesehatan. Banyaknya kasus diare dan demam berdarah di Indramayu akibat sanitasi lingkungan yang buruk. akses tentu tampak lebih dibanding Kab. Sementara dalam masalah pendidikan. Mun’im menyarankan agar Puskesmas yang berfungsi sebagai pusat kesehatan masyarakat mengubah paradigma layanannya dari aspek kuratif ke promotif dan preventif. Sementara untuk Kab. bidang kesehatan hanya mendapat alokasi anggaran sejumlah 0. 125-131). pembangunan kesehatan belum menjadi arus utama pembangunan. 2007 . 4 • Th. upaya pelaksanaan di lapangan yang terjadi sekadar memenuhi kuantitas dan belum ditunjukkan kearah peningkatan kualitas. kebijakan pemerintah masih banyak mene- kankan aspek kuratif daripada promotif dan preventif. masih belum menjadi mainstream dalam program pembangunan di negeri ini. dan perlindungan bagi masyarakat miskin juga masih rendah. pembangunan kesehatan masih bersifat kuratif. pelaksanaannya di daerah belum diiringi perspektive dan komitment mendalam untuk memenuhi hak-hak rakyat. sosialisasi kebijakan kesehatan masih rendah. Laporan tiga daerah itu secara tegas menyuratkan kenyataan bahwa masalah pendidikan dan kesehatan. Kebijakan Pemerintah dari sisi anggaran. di sana sini terjadi ambivalensi dan tidak jarang reductive. Problem kesehatan yang terjadi adalah soal akses untuk hidup sehat. untuk bisa mengakses harus ke Puskesmas Kecamatan lain. Dari aspek ketersediaan.

Buku Pintar. menjadi fasilitator dan pendamping kelompok minoritas (antara lain masyarakat adat dan orang Tionghoa) dan memimpin tim riset dan penelitian kekerasan yang dilakukan Polri untuk Subkomisi Pemantauan Komnas HAM (2004). Beliau juga aktif dalam beberapa penelitian. 1999 dan 2005 mengikuti sesi sidang Komisi HAM. anggota Tim Ad Hoc Kerusuhan 13-14 Mei 1998 (2003). Email : stanley@komnasham. 1995-2002 bekerja di Institut Sosial Jakarta. Penerima Beasiswa the British Chevening Scholarship (2001/2002) untuk LL.id Henri Simarmata. Naskah Akademik JURNAL HAM • Vol. 2004-2006 menjadi anggota Komite Eksekutif Forum Asia sebagai wakil PBHI – termasuk menjadi Ketua Komite Eksekutif (November 2005-Februari 2006) Adhi Santika saat ini menjabat Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hak-hak Kelompok Rentan Badan Penelitian dan Pengembangan HAM. Inkonsistensi dan Separatisme Jakarta: Mengapa Tanah Papua Terus Bergolak? (2005). Departemen Hukum dan HAM. Beberapa kali terlibat dalam pekerjaan Komnas HAM antara lain menjadi evaluator majalah Komnas HAM “SUAR”. Beliau juga adalah salah satu anggota Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Ketua Ad Interim Badan Pengurus Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia. Inggris. menjadi fasilitator dalam menyusun rencana kerja Komnas HAM. Refleksi dan Penyusunan Strategi Mewujudkan Partisipasi Masyarakat dalam Penyusunan Peraturan Perundang-undangan (2005). jabatan terakhirnya adalah Direktur Eksekutif Institut Studi Arus Informasi (ISAI) dan penulis lepas. antara lain: Buku Panduan Bantuan Hukum di Indonesia (2006). Zen. 2007 155 . Penulis. Juga menjadi penyelia penerbitan sejumlah ornop yang disandangnya sejak 1996. Dalam bidang organisasi beliau menjadi Majelis Etik AJI Jakarta (2003-2005) serta menjadi anggota Pokja Reformasi Polri yang dibentuk oleh POLRI-Kemitraan sejak 2003. Membangun Koalisi yang Otoritatif Dalam Menilai Proses Pembentukkan Perundang-undangan yang Partisipatif (2005).TENTANG PENULIS Yoseph Adi Prasetyo. yaitu mengkoordinir penelitian Gerakan Demokrasi di Indonesia (2002-2003) dan mengkoordinir survei dan penelitian “Aktor Demokrasi di Indonesia” (2000-2002). Sengketa Konstitusional Lembaga-lembaga Negara (2005). Patra M. Sekarang menjadi Anggota Komnas HAM pada Subkomisi Pendidikan dan Penyuluhan (2007-2012). 4 • Th. 2003-2006 bekerja di Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi manusia Indonesia.M in International Human Rights Law di University of Essex. editor dan co-editor buku.go. Tak Ada Hak Asasi yang Diberi (2005). Aktif dalam berbagai seminar dan lokakarya HAM serta menulis sejumlah makalah berkaitan dengan HAM di Indonesia A. 60 Menit Memahami (Mengawasi) Penyusunan Peraturan Perundang-undangan (2005).

2006). Recent Developments in Human Rights in Indonesia after the Adoption of the National Plan of Action of Human Rights 1998 – 2003 (Preparatory Workshop on the Capacity Building in International Labour Standard and Human Rights in Indonesia. Hendardi pernah menerima berbagai penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri.D. Shameful modern slavery (The Jakarta Post.29 September 1999). Penulis Agenda Land Reform di Indonesia Sekarang. April 19. May 10. Hendardi. 2006). 4 • Th. saat ini Direktur Eksekutif Social and Economic Rights Action Centre (SiDAN). Hasil Studi Identifikasi Potensi Land Reform di Indonesia (1998). Considering General Election in Aceh under the Martial Law (2004). Tahun 1997 hingga tahun 2004 Jonny Sinaga bekerja di Direktorat Organisasi Internasional Departemen Luar Negeri sekaligus menjadi anggota Kelompok Kerja HAM Deplu. Land Reform by Leverage In Indonesia (1998). Yang bersangkutan sebelumnya bertugas menangani isu-isu HAM di Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) pada Perserikatan Bangsa-Bangsa New York. dan kerap melakukan investigasi di daerahdaerah konflik. Jonny Sinaga saat ini bekerja di Departemen Luar Negeri Republik Indonesia sebagai Kepala Sub-Direktorat Hak Sipil dan Politik. The quiet revolution in Indonesia’s human rights (The Jakarta Post. seperti di Lampung. July 2003 (with Distinction) dengan area spesiali- 156 JURNAL HAM • Vol. dari tahun 2000-2004. Kritik dan saran dapat melalui patra.M dari Tulane Law School. Indonesia and the New Human Rights Council (The Jakarta Post.Madison. April 18. Pernah menjadi Ketua Komite Pembelaan Mahasiswa (KPM ITB)1979-1981 yang ditangkap oleh rejim Soeharto. dan Hukum Perdata di Indonesia (2001). June-August 2001 edition). 2007 . Aceh dan Timor Timur (Timor Leste). Tahun 1993-1997 bertugas di Bagian Politik Kedutaan Besar RI di Canberra.Rancangan Undang-undang tentang Pengadaan Barang dan Jasa Publik (2004). Tahun 19881993 bertugas di Direktorat Perjanjian Internasional Departemen Luar Negeri. Diantaranya dari lembaga prestisius seperti Human Rights Watch(1993). Tahun 1987 menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan tahun 1992 memperoleh gelar LL. March 28.com Andik Hardiyanto. 2005). Tulisannya antara lain: The spirit of May 20 (The Jakarta Post. Hendardi menjabat sebagai ketua Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI). conducted by ILO. Emilie Hafner-Burton mendapatkan gelar Ph. 2005). South Africa (The United Nations Chronicle. Australia. Amerika Serikat. Kemudian aktif dilingkaran Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). 2006). Sejak tahun 1996. May 20. Bogor: 28 . New Orleans.dari University of Wisconsin .m. dan juga penghargaan HAM dari Menteri Negara Urusan Hak Asasi Manusia RI (29Agustus 2000). Reforming the UN Human Rights Commission (dengan Mulyadi) (The Jakarta Post. Koalisi Partisipasi (2003). November 8. Lesson learnt from world leaders’ school diplomacy (The Jakarta Post. New York. Jakarta.zen@gmail. Waktu senggangnya digunakan untuk menulis yang antara lain muncul dalam Jurnal PBB New York dan harian the Jakarta Post. 2006). Durban. The World Conference against Racism. dalam bidang political science.

International Sociology. pp. sosiologi. 407-425. pp.. 19.hafner-burton@nuffield. 83. Journal of Peace Research. von Stein and Gartzke. “Global Civil Society and Ethnic Social Movements in the Contemporary World. “Justice Lost! The Failure of International Human Rights Law to Matter Where Needed Most..” Co-authored with Alexander Montgomery. 59(3). 587-620.” Co-authored with Kiyo Tsutsui. Korespondensi langsung kepada Emilie Hafter-Burton. Journal of Peace Research.” Co-authored with Alexander H.. 2005.” Sociological Forum. Nuffield College. 63-88. New Road. April 2008.” With Dimitris Assimakopoulos and Sean Everton. April 2008. 42(6). Beberapa karya tulisannya adalah: Agreements.” Coauthored with Kiyoteru Tsutsui. 1. 2. Universitas Oxford. Journal of Conflict Resolution.. “Human Rights Practices in a Globalizing World: The Paradox of Empty Promises. pp. Saat ini tengah mengkaji mengenai ekspansi global hak asasi manusia dan dampaknya terhadap politik lokal. Publikasinya antara lain: “Redressing Past Human Rights Violations: Global Dimensions of Contemporary Social Movements.1986). Oxford OXI 1 NF.” With Christine Min Wotipka. State University of New York. “Human Rights in a Globalizing World: The Paradox of Empty Promises.” Social Forces. pp.. Vol. forthcoming. International Journal of Technology JURNAL HAM • Vol. 593-629. No.. 45(1). “Global Civil Society and the International Human Rights Movement: Citizen Participation in Human Rights International Nongovernmental Organizations. Journal of Conflict Resolution. forthcoming (under revision). “The Hegemon’s Purse: No Economic Peace Between Democracies. 99-108.” Co-authored with James Ron. Hafner-Burton and Ron. 5. 110. Hafner-Burton. Princeton University.” Journal of Peace Research. pp. 115-141. Saat ini menjadi Assistant Professor..uk Kiyoteru Tsutsui. 4 • Th. eds. and Conflict. 2004. Vol.” With Emilie Hafner-Burton. 2007. No. Forthcoming. Journal of Peace Research. pp.” Co-authored with Kiyoteru Tsutsui and John Meyer. pp.” Coauthored’with Jana von Stein. Inggris. “The Semiconductor Community in Silicon Valley: A Network Analysis of the Semi Genealogy Chart (1047 . Social Networks. 13731411.” International Organization. 2005.” Cornell University Press. No.ac. 379-383. pp. 2005. “Preventing Human Rights Abuse. 50(1). “International Organizations Count: What Statistics Show Us (and Don’t Show Us) About IOs.. forthcoming (under revision). Dia mendapatkan Social Science Research Council Abe Fellow pada 2004-2005 dan Visiting Assistant Professor di Stanford University for the 2005-2006. 2005. adalah peneliti utama dengan spesialisasi bidang politik. “Sticks and Stones: Naming and Shaming and the Problem of Human Rights Enforcement” International Organization. 110(5). gerakan sosial. 2006. “Power Positions: International Organizations. 1373-1411. American Journal of Sociology. 44(4). 23(1). 44(4).ox. eds. Vol. 2004. forthcoming.2008. Social Forces. “Right or Robust? The Sensitive Nature of Political Repression in an era of Globalization. 2007. Woodrow Wilson School of Public and International Affairs and the Department of Politics. 2008.sasi International Relations and Methodology. dan hak asasi manusia di Stony Brook. “Trading Human Rights: How Preferential Trade Agreements Influence Government Repression. “International Human Rights Law and the Politics of Legitimation: Repressive States and Human Rights Treaties. 2007 157 . Montgomery. American Journal of Sociology. “Power or Plenty: Do International Trade Organizations Shape Economic Sanctions?” Co-authored with Alexander H.. E-mail: Emilie. special edition of the Journal of Conflict Resolution.679-698. 3-27. Montgomery. sejarah..

cc. 42.Management. praktisi media dan peneliti pada Swamedia Research and Communication (SRC) Jakarta . 6. 2003.edu Ellyasa KH Darwis. 181-199. Saat darurat militer. Korespondensi dapat ditujukan ke ktsutsui@notes. menjadi tenaga analis data pada Desk Aceh Komnas HAM. 1/2. 2007 . Pernah aktif di LKIS Yogyakarta. “Status in the World System and Ethnic Mobilization. No. Vol. 25. 691-720. 158 JURNAL HAM • Vol.sunysb. Journal of Conflict Resolution. WALHI. CPSM. December 1998. Vol. 4 • Th.” With Susan Olzak. No. KIPP Indonesia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful