Vol. 4 No. 4 Th. 2007
ISSN 1693-6027

JURNAL HAM
2007

Diterbitkan oleh : KOMISI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA ©2007
JURNAL HAM • Vol. 4 No. 4 Th. 2007

i

JURNAL HAM
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Semua artikel dalam Jurnal HAM ini dapat digandakan untuk keperluan pemajuan hak asasi manusia dengan menyebutkan sumbernya. Pemberitahuan akan sangat dihargai.

Penanggung Jawab Pemimpin Redaksi

: Yoseph Adi Prasetyo Saharudin Daming : Atikah Nuraini

Redaktur Pelaksana : S.M.Gusrini Tambunan Dewan Redaksi : Rusman Widodo Kurniasari Novita Dewi Sasanti Amisani : Banu Abdillah : J. Eddy Juwono : J. Eddy Juwono

Distribusi Rancangan sampul Tata Letak

162 halaman, 16 x 24 cm

Diterbitkan oleh

: Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) JL. Latuharhary No. 4 B Menteng Jakarta 10310 Tel. +62-21-3925230 ext 218/219 Fax. +62-21-3912026 Email: info@komnasham.go.id Website: http://www.komnasham.go.id : Perkumpulan Omega
JURNAL HAM • Vol. 4 No. 4 Th. 2007

Dicetak oleh

ii

........................... Patra M........ Hendardi Hak Asasi Manusia di Dunia yang Terglobalisasi : Paradoks Janji-janji Kosong ...................... 102 Resensi Buku ............................................................................................................................. 4 No. Yosep Adi Prasetyo Kovenan HAM Internasional : Pandangan Umum mengenai Signifikasi dan Perkembangan ................................................................ 2007 iii ....................... 30 Sistem Perjanjian Hak Asasi Manusia: Pengantar terhadap Perjanjian Hak Asasi Manusia Utama dan Badan-Badan Perjanjian .......................... Jonny Sinaga Prospek dan Tantangan Implementasi ICCPR ......................................................... 155 JURNAL HAM • Vol...... Adhi Santika Bukan Sekedar Menandatangani: Obligasi Negara Berdasarkan Kovenan Hak Ekosob .... 4 Th.. Hafner-Burton & Kiyoteru Tsutsui 1 4 12 22 38 48 68 Lembar Fakta Perserikatan Bangsa-Bangsa No.................................................................................. Henry Simarmata Pelaksanaan ICCPR dan ICESCR dalam Konteks Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN-HAM) 2004-2009 ............................................................................................ Emilie M.. 152 Tentang Penulis .............................................................. A.......... Zen dan Andik Hardiyanto Kewajiban Negara dalam ICCPR ...........................................................Daftar Isi Editorial ...........................

2007 .iv JURNAL HAM • Vol. 4 Th. 4 No.

dan budaya. 4 • Th. dan Honduras. Subkomisi Pendidikan dan Penyuluhan periode 2007-2012 1 . Moldova. serta hak atas pembangunan. Yang mengejutkan adalah negara sosialis yang mengalami pengucilan semacam Kuba mampu menempati uturan ke-52. Angka-angka optimisistis tentang pertumbuhan ekonomi ternyata tak berbanding lurus dengan kenyataan kemiskinan.Editorial Yosep Adi Prasetyo* Memperbaiki kualitas hidup manusia Indonesia kini bukan sekadar slogan saja. Indonesia adalah negeri satu-satunya yang masih merangkak dan berupaya ke luar dari belitan krisis. United Nation Development Program (UNDP) mengumumkan temuan mereka akan kemajuan berbagai negara dalam mensejahterakan masyarakatnya yang ditunjukkan melalui Human Development Index (HDI). dan Filipina urutan ke-83. tak meratanya pembangunan infrasutruktur. menarik investor luar negeri untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Menyedihkan memang mendapatkan kenyataan bahwa Indonesia terpuruk di bawah dan berada dalam peringkat yang hampir sama dengan negara seperti Vietnam. Disusul oleh Swedia (urutan 2) dan Australia (urutan 3). Bolivia. Di berbagai wilayah di Indonesia masih banyak terdapat kantong-kantong kemiskinan.692 dan berada di urutan 111. Upaya perwujudan kesejahteraan masyarakat ini harus dilakukan pemerintah yang telah meratifikasi Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. Hal ini sejalan dengan amanat Pembukaan UUD 45 yaitu mewujudkan negara yang adil-makmur berdasarkan Pancasila. diskrimansi gender. Malaysia sudah terlebih dulu bangkit. Antara lain. Pemerintah tak boleh lagi berleha-leha menjalankan tugas-tugasnya. menjaga kestabilan ekonomi makro. menekan angka inflasi. atau mendorong komoditi ekspor semata. Bila diteliti lebih mendalam faktor-faktor penentu kemiskinan secara esensial ternyata memiliki korelasi dengan hal-hal yang lebih mendasar. Yang jelas sejak didera krisis ekonomi melanda JURNAL HAM • Vol. Dalam catatan UNDP. Pada 2005. Tentunya ini bukan sebuah pekerjaan yang mudah. Tapi sudah sudah meliputi hak ekonomi. sulitnya akses pekerjaan (akibat praktek kolusi dan nepotisme). Apa yang salah dengan proses pembangunan yang digembar-gemborkan selama ini? Tak mudah menjawabnya. HDI Indonesia adalah sebesar 0. Sejumlah negara tetangga kita seperti Singapura berada pada urutan ke-25. Sosial dan Budaya (International Covenant * Komisioner Komnas HAM. Atau sekadar janji-janji kampanye pada saat menjelang pemilihan presiden. Wacana hak asasi manusia kini bukan lagi sekadar wacana tentang kebebasan sipil. Malaysia urutan ke-59. 2007 kawasan Asia pada Juni 1997. Memecahkan persoalan kemiskinan ternyata bukan sekadar menciptakan lapangan kerja. sulitnya masyarakat memperoleh pendidikan. Negara yang memiliki HDI tertinggi dan berada di urutan satu adalah Norwegia. Thailand urutan ke-76. Thailand. Negara yang baru ke luar dari cengkraman konflik seperti Bosnia Herzegovina berada pada urutan ke-66. sosial. Jumlah orang miskin justru terus membengkak. sulitnya akses terhadap pelayanan dan infrastuktur dasar. tapi harus bekerja keras untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Filipina. Negara tetangga seperti Korea.

ICESCR disahkan menjadi UU No. Juga bertentangan dengan Pasal 33 Ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945 serta nilai-nilai sebagaimana pernah diajarkan dalam pelajaran mengenai Pancasila. Apabila negara justru tak melakukan apa-apa baik karena lalai dan lupa maupun absent. pasal-pasal dalam perda ini ternyata berlepotan dan bertentangan dengan ketiga undang-undang tersebut. langkah-langkah. 11/2005 dan ICCPR menjadi UU No. pemerintah juga meratifikasi Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights – ICCPR) pada 28 Oktober 2005. Perda Ketertiban Umum ini bila diimplementasikan bukan tak mungkin bukan hanya akan mengabaikan hak-hak masyarakat. UU No. Perda ini secara nyata tak mencantumkan UU No. Jurnal edisi ini sengaja mengangkat masalah dan konsekuensi yang bakal me- 2 JURNAL HAM • Vol. Bukan hanya itu. serta hasil yang telah dicapai dalam pelaksanaan hak-hak ekonomi. Juga hasil-hasil yang dicapai dalam implementasi perjanjian tersebut kepada badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Laporan tersebut harus memuat langkah-langkah dan model kebijakan yang telah diambil. Yang lain.000. 4 • Th. pemerintah Indonesia harus membuat laporan dalam periode empat tahun sekali. Bisa saja yang terjadi adalah kemajuan dalam langkah-langkahnya. perda syariah.on Economic. Dan apabila negara terus saja memberlakukan ketentuan hukum yang bertentangan dengan ICCPR dan ICESCR maka negara akan dikenai tuduhan telah melakukan pelanggaran melalui hukum (violation by judicial). maupun perda ketertiban yang berpotensi menghambat pelaksanaan UU No. Bukan hanya itu. 12/2005. selain bertugas mengimplementasikan ICESCR. Selain ICESCR. kebijakan dan tindakan yang dilakukan. tapi juga akan menghambat tujuan dan upaya pemerintah. tapi lemah atau gagal dalam implementasinya. Bagaimana mencermati ini semua? Negara yang meratifikasi kovenan ICESCR dan ICCPR harus menghormati hak-hak manusia. Dalam hal ini kepada sebuah komite ditunjuk untuk menangani perjanjian tersebut Secara regular. dan UU No 12/Th 2005 sebagai salah satu konsideransnya. pemerintah Indonesia harus membuat laporan yang bertalian dengan penyesuaian hukum. sosial dan budaya di Indonesia. negara harus aktif untuk melindungi hakhak – melalui tindakannya. Pemerintah punya pekerjaan untuk mencermati kembali berbagai peraturan daerah (perda) yang kini jumlahnya telah melebihi angka 1. 11/Th 2005. negara bisa dituduh telah melakukan pelanggaran melalui tindakan pembiaran (violation by omission). 39/Th 1999. Negara yang melakukan tindakan yang dilarang atau bertentangan ICCPR melalui campur tangannya akan dikenai tuduhan melakukan pelanggaran melalui tindakan (violation by action). 2007 . Dalam implementasi ini akan tampak apakah pemerintah memang tidak mampu (inability) atau tidak mau (unwilling) untuk menunaikan kewajibannya. Baik yang berupa perda otonomi. Khususnya dalam merealisasikan kewajiban pemerintah Indonesia untuk memenuhi dan menjalankan kewajibannya sebagai negara yang telah meratifikasi ICESCR dan ICCPR. Berbagai macam perda yang tumpang-tindih dan bertabrakan dengan kedua undang-undang tersebut harus segera dicabut karena berpotensi menghambat pelaksanaan hak ekosob dan juga sipol. Contoh yang paling aktual adalah pemberlakuan Perda Ketertiban Umum oleh Pemda DKI Jakarta pada 8 September 2007 lalu. Social and Cultural Rights – ICESCR) pada 30 September 2005 melalui proses legislasi yang disetujui DPR. 11/2005 dan UU No. 12/2005.

berpendapat. sehingga berbagai sasaran yang belum dapat dipenuhi pada periode yang lalu dapat dilanjutkan pada periode berikutnya. kini telah meningkat menjadi kenyataan sosiologis yang keras dan konkrit seperti yang dirasakan sebagian orang dalam kasus-kasus perselisihan perburuhan. Tulisan Adhi Santika. partisipasi dalam politik. Zen dan Andik Hardiyanto melalui tulisan “Bukan Sekedar Menandatangani: Obligasi Negara Berdasarkan Kovenan Hak Ekosob” mengangkat masalah obligasi (kewajiban) internasional yang melekat pada Negara pasca meratifikasi kedua kovenan tersebut. dan tantangan bagi penerapan ICESCR sebagai UU No. Pada tulisan yang lain. Selamat membaca. Juga pembahasan mengenai tema “pelanggaran hak ekosob”. lebih banyak menguraikan gambaran seputar RANHAM. Patra M. 12/2005. Persoalan hak-hak manusia di Indonesia telah memasuki tahap di mana kebutuhan untuk menerapkannya telah melampaui kepentingan untuk memperdebatkannya. 2007 3 . Di Jurnal HAM edisi 2007 ini juga disajikan tulisa karya Emilie M. hukuman mati atau pembunuhan di luar proses hukum. 12/Tahun 2005. penghormatan. Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia 20042009 sesungguhnya merupakan kelanjutan dari Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia sebelumnya yang dibuat untuk tahun 1998-2003. “Pelaksanaan ICCPR dan ICESCR dalam Konteks Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN-HAM) 2004-2009”. dan perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia di Indonesia. dan sudah seharus rejim hak asasi manusia internasional memperbaiki sistem dan mekanisme perlindungan HAM di tingkat internasional. Pembuatan RANHAM tak lain merupakan sebuah upaya pembuatan pedoman dan rancangan kebijakan untuk mendorong upaya penerapan. berserikat. 11/2005 dan ICCPR sebagai UU No. Hendardi melalui tulisan “Pelaksanaan ICCPR dan ICESCR dalam Konteks Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN-HAM) 2004-2009” konsekuensi yang muncul sebagai akibat diratifikasinya dua kovenan internasional tersebut oleh pemerintah Indonesia. serta penyiksaan. pemajuan pemenuhan. persoalan. Semua tulisan dalam edisi ini diharapkan bisa menyumbangkan sebuah wacana konkrit tentang cara pengimplementasian. yang dapat digunakan untuk menilai pelaksanaan obligasi negara.nyertai implementasi UU No. 11/Tahun 2005 dan UU No. Dengan suatu sistem penilaian tertentu keduanya mencoba melihat sejauhmana perjanjian internasional hak asasi manusia ketika perjanjian tersebut dapat atau tidak dapat memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia di tingkat negara-negara pihak. JURNAL HAM • Vol. Hafner-Burton dari Oxford University dan Kiyoteru Tsutsui dari State University of New York. 4 • Th. Juga konflik pertanahan atau penghancuran rumah-rumah penduduk dan pendidikan maupun kebebasan bergerak. Serangkaian kontradiksi dalam realitas sosio-ekonomi dan sosio-politik yang sebelumnya hanya dibahas dan diprediksi secara akademis di lembaga-lembaga studi. Stony Brook. termasuk indikator keberhasilan dan kegagalan. berkumpul.

either Charter-based or Treaty-based. yang membuat dua Kovenan ini sebagaimana adanya sekarang. Sosial. Fakta pertama yang paling jelas adalah bahwa 2 (dua) Kovenan Internasional ini terkait dengan mekanisme Komisi HAM PBB. yang sekarang ini sudah diratifikasi dengan Undang-Undang 11 tahun 2005 (untuk Kovenan Ekonomi. namely. mempunyai muatan sejarah dan ‘otoritas yang mengikat’. namely. Otoritas 2 Kovenan: Mengapa perlu? Dua kovenan ini menjadi bagian yang integral dari sistem PBB. Budaya). Sosial. Dua Kovenan HAM internasional. dan disahkan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 16 Desember 1966. The main purposes of the Indonesian are to maintain peace and prevent violence. in developing the what so called the international law. The implications of these ratifications are enormous. The two Covenants could become part of the effort of legal reform to improve human rights condition in Indonesia. Kovenan itu diberlakukan masing-masing 3 Januari 1976 untuk Kovenan Internasional Ekonomi. Sejak saat itu. The human rights law was developed as mechanisms. 4 • Th. dan sebanyak 150 negara atau lebih menjadi pihak Kovenan Ekosob. 2007 4 . dan 23 maret 1976 untuk Kovenan Internasional Sipil dan Politik (selanjutnya disebut Kovenan Sipol). Sejak tahun 1976. 1999 dan 2005 mengikuti sesi sidang Komisi HAM. 2004-2006 menjadi anggota Komite Eksekutif Forum Asia sebagai wakil PBHI – termasuk menjadi Ketua Komite Eksekutif (November 2005-Februari 2006) JURNAL HAM • Vol. negara pihak (artinya ne* Riwayat Singkat Penulis: 1995-2002 bekerja di Institut Sosial Jakarta. Social and Cultural Rights (ICESCR). either for the government and other state’s institutions or for the victims of human rights violation as well as human rights defenders. Setelah resolusi itu. the International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) and the International Covenant on Economic. dan dengan Undang-Undang 12 tahun 2005 (untuk Kovenan Sipil dan Politik). Sebanyak 148 negara atau lebih menjadi pihak Kovenan Ekosob. 2003-2006 bekerja di Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi manusia Indonesia. semakin banyak negara yang menjadi ‘pihak’ dalam 2 kovenan tersebut. The two Covenants are related with the history of the world organization. dan sistem PBB ini mengikat semua negara anggota PBB.Kovenan HAM Internasional: Pandangan Umum mengenai Signifikasi dan Perkembangan Henry Simarmata* Abstract Indonesia has just ratified the two most important international human rights covenants. dengan resolusi 2200a (XXI). Budaya (selanjutnya disebut Kovenan Ekosob). the United Nations. Lebih khusus lagi. in this regard the international human rights law. kovenan ini menjadi mekanisme yang bersifat mengikat.

Tidak ada satu negarapun yang sanggup menanganinya secara sendiri. akan membuat kovenan itu efektif mencegah dan/atau menangani pelanggaran HAM. Namun. Mendorong terwujudnya hukum internasional Penjelasan di atas juga berlaku dalam hal kedua ini. ada alasan untuk me- naruh pertanyaaan ‘mengapa’ di bagian terakhir artikel. 2007 5 . dengan Dewan Keamanan PBB. Melihat hal ini. misalnya. signifikasi dari 2 kovenan (‘mengapa’) 3. tetapi juga batas ‘akal sehat’. ada 2 hal yang dapat dipenuhi dengan pendirian PBB dan mekanismenya. dengan ini. jelas bahwa yang menjadi penghubung dari kesemuanya itu adalah persoalan otoritas 2 kovenan itu. amat sulit untuk menanganinya karena ada pertentangan tersebut. dinamika dalam enforcement 4. setelah Pembantaian Masyarakat Armenia di masa Perang Dunia I). setidaknya. Bagaimana Dewan HAM PBB. yang mulai Juni 2006 akan penuh menjadi Dewan HAM (dengan demikian sejajar. implementasi. 4 • Th. akan menjalankan mekanisme tersebut. Untuk itu. Hukum internasional dapat secara terus-menerus bertentangan dengan hukum nasional. Artinya. evaluasi terhadap indivisibility dari 2 kovenan (dengan mengelaborasi pemikiran Amartya Sen) JURNAL HAM • Vol. baik jika dapat kita ulas dan lihat secara khusus sisi lain dalam tulisan ini. terutama dibandingkan dengan Liga Bangsa-Bangsa. Dengan ini. dan kemudian anggota PBB menyadari bahwa perlu ada satu rejim yang dapat memberikan promosi dan perlindungan terhadap perdamaian dan kemanusiaan warga dunia. Mendorong terwujudnya rejim dan deterrent PBB dibentuk semasa akhir Perang Dunia II. antara lain. Dengan ini. Artikel ini. Persoalannya adalah bahwa jika kemudian kekerasan dilakukan dan menjadi pola. dan tentu dengan mekanismenya yang diharapkan bisa lebih efektif. mempunyai struktur sebagai berikut: 1. fakta dasar (yang singkat) 2. saya berharap pembaca mendapat ‘clue’ terhadap artikel-artikel berikutnya. PBB didirikan dengan kesadaran bawah Liga BangsaBangsa tidak efektif. Pendiri PBB. karena sifatnya yang evaluatif.gara yang meratifikasi) terikat dengan mekanisme dalam Komisi HAM PBB. perdagangan gelap senjata. kemerosotan kondisi hak asasi manusia yang terjadi amat cepat menjadi bahan ekspos media. dan tantangan dari masing-masing Kovenan. mengingat tulisan ini ditaruh dalam bagian pertama bunga rampai (dalam jurnal). Lebih lanjut dapat dijabarkan bahwa sistem hukum dunia yang fractured dianggap sebagai salah satu masalah yang harus ditangani dengan mendorong efektivitas PBB. yaitu terbentuknya rejim perdamaian dan deterrent (daya tangkal) atas kekerasan. baik sebagai organisasi dunia maupun dalam mempromosikan perdamaian. ada beberapa hal yang patut dilihat untuk menggali dimensi “mengapa”nya. Persoalan seperti human trafficking. ijinkan saya untuk menaruhnya di depan. Jika tidak ada 1. minus otoritas veto). antara lain. Namun. Dalam tulisan lain dalam jurnal ini. dalan tulisan ini. 2.1 bukan hanya batas kemanusiaan. Perang II yang jauh lebih dahsyat dan jauh lebih sistematis dianggap sebagai sesuatu yang tidak bisa ditolerir. dijelaskan secara lebih rinci mengenai soal kewajiban negara pihak. Dalam konteks hak asasi manusia. Hal itu diwujudkan dengan pendirian PBB. agresi bersenjata. adalah suatu fenomena transnasional. terutama dengan peristiwa Holocaust (dan ini yang kedua terbesar. karena melewati 1 Dalam penulisan artikel ini.

East Timor pernah dijadikan agenda di tahun 1999) 4. Jika saat itu sedang terjadi persidangan dengan agenda reguler. 2000) untuk melihat soal ‘mengapa’. saat penulis menjadi seorang intern dalam sidang ke-55 Komisi HAM PBB. JURNAL HAM • Vol. Tindakan remedial Informasi dan rejim (point 1) kemudian mendorong tindakan. dalam Alston 2000). Contoh yang menarik misalnya bisa dirujuk pada persoalan Bosnia-Herzegovina (Michael O’Flaherty. amat penting ada suatu tindakan remedial dimana pemerintah negara anggota dan atau negara pihak wajib untuk menyediakannya. Sen menunjuk bahwa tersedianya informasi membuat suatu hal dapat direspon dengan segera (sooner than later). dapat dikatakan bahwa pelanggaran HAM seringkali terjadi berlarut-larut karena tidak ada informasi. terutama dalam hal 2 kovenan ini. Dua kovenan ini mempunyai seperangkat instrumen yang memungkinkan untuk diambilnya suatu tindakan – apalagi ada implikasi ‘naik’nya mekanisme HAM PBB dari komisi (Commission) ke dewan (Council). dibahas baik di dalam Komisi HAM PBB. disertai dengan catatan-catatan penting dari mekanisme yang dijalankan. maka seluruh diplomat akan dipanggil untuk untuk datang dalam sidang special session. sebuah NGO yang mengembangkan dokumentasi HAM. di tahun 1999. pada situasi. Kasus serdadu anak (child soldiers) di DRC/Kongo (dalam istilah setempat dikenal dengan istilah kadogo). Kasus kelaparan dijadikan contoh dalam penelitiannya bersama Jean Dreze. apakah itu tindakan diarahkan pada pelaku (perpetrator). secara sederhana. Tindakan remedial muncul dalam kebijakan PBB untuk melakukan demobilisasi serdadu anak dan Pemerintah Negara Kongo dipaksa untuk turut dalam kebijakan PBB tersebut. (Witness. misalnya. maka special session berarti bahwa pembahasan reguler berhenti. Jika sedang tidak ada sidang. Dalam hal hak asasi manusia secara umum. dapat dengan mudah diakses masyarakat luas. Kosovo menjadi special session dan itu menghentikan pembahasan reguler yang waktu itu sedang berlangsung). dan pada korban. Proses acara (proceeding) HRC terse- dibahas satu item selama persidangan. but menghasilkan comment. 2007 6 . 4 • Th. Kondisi inilah yang membuat banyak pembela hak asasi manusia mencita-citakan suatu mekanisme.mekanisme dan hukum internasional maka kondisi hak asasi manusia yang merosot dapat menjadi spekulasi bertahun-tahun. adalah bahwa tersedia informasi yang diusahakan secara teratur. Dari informasi dan proses acara ini kemudian dilaksanakan special session2 di dalam sidang Komisi HAM PBB di tahun 1992. dan masuk pada proses acara special session (misalnya. Inform-consent dan public action Ijinkan juga saya menggunakan pemikiran Amartya Sen (Sen. memotret 2 Special Session ini adalah suatu sesi dimana hanya 3. Mekanisme ini dimulai dan dikembangkan. dalam kasus lain. Khususnya menyangkut korban. terutama sebagai mekanisme PBB. (Untuk proses acara special session. dan lama-kelamaan. Mekanisme di dalam Human Rights Committee (badan treaty yang menjalankan enforcement ICCPR) menyediakan informasi. Peran dan sumbangan terbesar mekanisme HAM PBB. Kelaparan sering berkepanjangan karena tidak ada informasi yang dapat diakses. menjadi hukum internasional. Informasi yang dapat diakses menjadi dasar public action. maupun dalam badan treaty untuk ICCPR serta hak anak.

dan tidak melakukan tindakan penanganan. sebagai gambaran dan contoh. penetapan dari PBB seringkali tidak begitu berpengaruh. Kalau memang dibahas dalam sidang komisi. Otoritas 2 Kovenan: Mengapa ditolak? Mengapa diterima? Seberapa efektif? Pertanyaan berikut adalah apakah mekanisme dari 2 kovenan tersebut memang efektif. kovenan ekosob seringkali 7 .fenomena demobilisasi serdadu anak ini dengan amat tajam). baik dalam proses pidana domestik di Inggris maupun di mekanisme PBB. Kasus yang dibahas dalam HRC-Human Rights Committee (badan enforcement kovenan sipol) akan melecut negara pihak untuk serius baik dengan proses domestik maupun dengan proses di PBB. sebagai JURNAL HAM • Vol. sehingga proses di PBB lebih menjadi ‘catatan’ atas proses domestik. apakah badan treaty PBB (yang menjalankan fungsi monitoring dan semi-judisial) memang punya gigi sehingga hasilnya akan segera diangkat ke tingkat sidang Komisi HAM PBB untuk dijadikan pembahasan secara lebih ‘panas’. boleh dibilang. 2. Karena memakan waktu yang lama. hukum domestik lebih cepat. Kovenan Ekosob Contoh untuk penggambaran efektivitas kovenan ekosob. maka negara pelaku pelanggaran seringkali tidak merasa ditekan. Dinamikanya. justru karena sistem hukum pidana domestik sudah lebih efektif. Kovenan Sipol (ICCPR) Contoh di bawah ini sekedar memberikan gambaran soal efektivitas kovenan (tentu masih banyak contoh lain) Dalam mekanisme PBB. Artinya. atau tindakan remedial. Dengan otoritasnya yang terbatas. Dengan situasi yang sama. tetapi bagaimana jika kasus itu kemudian menjadi amat banyak (terutama jika membahas kasus kejahatan perang) sehingga amat makan waktu dalam melakukan pembahasannya. seperti penetapan PBB yang lain. Hal ini memungkinkan mekanisme kovenan Sipol dapat dengan cepat memberikan pengaruh terhadap kasus yang bersangkutan. 4 • Th. apakah pemerintah negara pelaku kekerasan memang akan comply pada mekanisme PBB? Tentu saja. maka proses di PBB menjadi pelecut yang efektif. Terutama karena muatan ‘hukum darurat Irlandia Utara’ yang membuat terjadi pelonggaran enforcement kovenan sipol. Negara yang bukan pihak dalam kovenan sipol tentu saja luput dari enforcement kovenan sipol. negara Eropa-Amerika Utara mempunyai perangkat hukum pidana yang lebih efektif dibandingkan negara di kawasan lainnya. Kasus Irlandia Utara. Sebagai kebalikan dari kovenan sipol. Hal ini membuat proses enforcement dari kovenan tidak efektif dalam merespon kasus tertentu (tetapi masih bisa menjadi bahan bahasan yang panas dalam sidang Komisi HAM dan sub-Komisi HAM). seringkali diajukan secara bersamaan. 2007 contoh. Kovenan sipol amat persis dan tajam dalam menganalisis konteks pidana. ada suatu relativitas dari 2 kovenan ini terhadap hukum atau kebijakan di tingkat domestik. dapat dilihat sebagai berikut di bawah ini : 1.

Mekanisme enforcement baik dalam tingkat PBB maupun di dalam tingkat domestik berbeda lebih karena alasan sejarah perang dingin (blok barat mementingkan sipol. saya mempergunakan gagasan Amartya Sen untuk membahasa bagaimana dua dimensi hak (sipol dan ekosob) sebenarnya utuh. melihat masa- lah itu tidak absah dibahas oleh ‘badan HAM PBB. 2007 8 . saya memakai argumen Sen ini untuk menjelaskan. Atau juga untuk berargumen bahwa pelanggaran hak ekosob. Kewenangan dan penanganan dalam soal hutang ada dalam IMF (Badan Moneter Dunia) atau murni masalah bilateral. Seringkali hal ini menimbulkan efek kebijakan luar negeri yang kira-kira berbunyi ‘emang gue pikirin’. lapangan kerja. beras. JURNAL HAM • Vol. di tingkat masyarakat.dipakai oleh negara berkembang untuk mengangkat kasus ‘kemaslahatan’. dengan sengaja. misalnya. sekali lagi. menjadi catatan kritis pula. 4 • Th. Alasan yang dipakai. bahwa pemerintah negara berkembang juga tidak mengatakan apapun mengenai kelalaiannya (omission) dan kesengajaan (commission) dalam menciptakan masalah kemaslahatan warga negaranya. Namun juga. negara berkembang tidak ragu-ragu mempergunakan mekanisme PBB termasuk mekanisme kovenan ekosob untuk memecahkan masalah tersebut. Masalah seperti hutang luar negeri. Dalam kasus yang amat contentious. Gagasan Amartya Sen Perkenankanlah. menjadi masalah penting. Dalam persoalan Afrika. dan blok komunis mementingkan ekosob) dan lebih karena alasan presisi dan profesionalitas. Persoalan penghapusan hutang. Sen membuat argumen yang kuat dan tajam (compelling argument) meski dia tidak secara khusus menggeluti mekanisme 3 Sebagai suatu masalah. Negara pemberi hutang. adalah bahwa kondisi kemaslahatan masyarakat negara mereka tidak luput dari situasi pascakolonialisme dan tingkah-polah pelaku privat dari negara Eropa-Amerika Utara. sebaliknya. Indivisibility 2 Kovenan: komentar evaluatif 1. Universitas Harvard per- nah membuat studi soal odious debt. dan juga untuk berargumen apakah memang sipol dan ekosob ini memang bisa secara filosofi dan hukum dijelaskan. Secara khusus. atau ladang minyak adalah bagian dari tindakan pemerintah negara yang bersangkutan yang menimbulkan masalah menurunya kualitas hidup warga negaranya. Penjualan permata. beberapa hal di antaranya. negara berkembang justru membawa persoalan kemaslahatan sebagai pembahasan publik. sebenarnya juga adalah pelanggaran hak sipol. dan dalam hal ini mempunyai tingkat keabsahan yang memadai. Rumusan odius debt3 dianggap tidak memadai untuk masuk dalam kerangka pemecahan masalah hutang. misalnya. kondisi pascakolonial seringkali diangkat dengan mengorbankan fakta bahwa pemerintah negara yang bersangkutan tidak melakukan kebijakan yang perlu dalam persoalan ekosob.

bisa dalam jangka panjang). Singapura yang amat makmur secara ekonomi dengan welfare-state yang nyaris sempurna.dan hukum hak asasi manusia internasional. Sen melakukan usaha terus-menerus berusaha memecahkan conundrum antara 2 hal: freedom dan justice. Tindakan spekulasi (penimbunan beras. JURNAL HAM • Vol. dinamika ekonomi AS juga mengalami downturn karenanya. asuransi. Ambil contoh. namun dalam konteks hak ber4 Salah satu penyebab penting adalah bahwa diha- puskannya regulasi pembatasan bank. eksploitasi sumber daya alam) semuanya tidak tahan dengan argumen bahwa itu semua justru menjadi penyebab kehidupan manusia – kalau tidak dalam jangka pendek. dan justice menjadi dasar argumen kovenan ekosob. Menarik mengamati ketika Enron kolaps. dan mendorong konsep prioritas keadilan. ada baik dalam prioritas itu sendiri maupun dalam eksesnya bersifat draconian dan/atau pemaksaan. secara intelektual freedom dirumuskan (dengan amat sukses) oleh Robert Nozick (Anarchy. Konsep prioritas keadilan membawa pada tindakan khusus (special tretment). perdagangan senjata. Kelemahan argumen.4 Dengan ini. kemudian dilakukan regulasi dan penegasan indikator keamanan investasi. dan terhadap fenomena free rider. misalnya. sebagian perdebatan ini dicerminkan pada perdebatan founding fathers dalam merumuskan antara hak individu dan pemajuan sosial dalam konstitusi (UUD ’45) – dengan rumusan pertanyaan “untuk apa individu dilindungi kalau hal tersebut tidak memajukan kemakmuran masyarakat” Hayek melihat bahwa sebenarnya layanan publik negara (bahkan jika itu memang bertujuan melindungi warga negara) hanya akan membuat warga negara hidup dalam perbudakan modern (serfdom). Freedom menjadi dasar argumen dari kovenan sipol. dan dalam bagian tertentu John Locke). David Hume. perdagangan senjata. Dalam soal justice. Lebih lanjut. Dalam sejarah Indonesia. 4 • Th. Kelemahan terbesar dari konsep ini adalah sifatnya yang indifferent terhadap pewujudan freedom dalam kehidupan praktis dan sehari-hari. perdagangan valuta asing. dan Friederich von Hayek (road to serfdom). Sedang Nozick melihat bahwa hak milik adalah mutlak. State and Utopia). perdagangan valuta asing. dan bertemu dengan derivatif market yang tidak diregulasi. sekuritas (dengan Glass-Steagal Act). Freedom dalam pengertian klasik. mengarah pada konsep individu yang biasanya merujuk pada pemikiran Adam Smith. Keadilan yang dirumuskan dalam prioritas itu memang tidak perlu diperdebatkan. 2007 Tindakan spekulasi (penimbunan beras. menurut Sen. John Rawls (juga dengan amat sukses) membantah kemutlakan hak milik. Penggambarannya adalah sebagai berikut: Menjadi pengetahuan umum bahwa freedom juga dapat digunakan untuk merugikan orang lain. tidak soal bagaimana manusia mendapatkan hak miliknya itu. 9 . eksploitasi sumber daya alam) jutru sering dilakukan dengan sadar dan sengaja di atas (at the expense) kehidupan dan penghidupan masyarakat. bahkan jika hal itu atas nama kebaikan. dapat dilihat bahwa tindakan privat dapat menyebabkan kesengsaraan banyak orang. Barulah setelah Enron kolaps dengan segala akibatnya.

menurut pengamatan. Nulla Crimen Sine Lege. Hak Perempuan-Anak dan Masalah Migran akan menjadi 2 isu yang dikembangkan untuk dibahas (ini karena dibentuk 2 kelompok kerja di ASEAN untuk membahas 2 hal tersebut). dalam bentuk kemiskinan ekstrem. maka para judiciary justru berargumen bahwa hal ini membuat perkembangan hukum berlangsung secara sehat. 4 • Th. in the form of extreme poverty. sebagaimana juga bahwa tidak adanya hak sosial dan politik dapat menimbulkan tidak adanya hak ekonomi” garaan pembahasan mekanisme HAM regional ini di Kuala Lumpur. Mekanisme HAM regional di ASEAN adalah sesuatu yang perlu didorong. Seperti kita tahu bahwa setiap pelanggaran HAM termunculkan (implies) bentuk-bentuk pidana. JURNAL HAM • Vol. just as social or political unfreedom can also foster economic unfreedom”5 Sen. Ada anggapan bahwa ekonomi dan welfare yang sudah diwujudkan dengan otomatis akan mewujudkan hak sipol. dengan ini. can make a person a helpless prey in the violation of other kinds of freedom. dan dengan ini sebenarnya ditegaskan prinsip imparsialitas dari hak asasi manusia. Jika ada keberatan dari negara pihak. atau negara anggota PBB pada umumnya. juga menyatakan pentingnya ‘perdebatan publik’ (public discourse) dan proses komunikasi yang menghasilkan nilai dan norma sosial. Argumen Sen dalam merumuskan indivisibility hak sipol dan ekosob dapat dirumuskan sebagai berikut: p. dan kemudian pada hukum domestik. Dua kovenan ini berkembang seturut bentuk-bentuk pidana tersebut. 2007 10 . karena segala sesuatunya selalu dibahas (contested) dan terukur.pendapat dan berpolitik dibatasi dengan amat tajam.8 “…[i]t also pointed to the remarkable fact that economic unfreedom. meski tentu kita tidak bisa langsung ‘menikmati’ pembahasan mekanisme 2 kovenan (mungkin suatu saat nanti sampai ke sana). Salah satu yang menjadi pengembangan di dalam soal mekanisme HAM regional ASEAN. dari yang mild sampai yang serius. dan dengan ini mendorong akuntabilitas pemerintah negara anggota dengan warga negara anggota. Mekanisme HAM Regional: Perkembangan Mekanisme 2 Kovenan Perkembangan terbaru saat ini yang patut diamati adalah proses ASEAN untuk merurmuskan Piagam ASEAN (ASEAN Charter). 2. Dengan alasan bahwa sekarang sudah saatnya bagi ASEAN untuk mempunyai piagam. …Economic unfreedom can breed social unfreedom.6 Sebagai titik mula. Sebagai benchmarking. Cultural Rights (badan enforcement kove5 (terjemahan longgar) “…dapat ditunjuk fakta yang nan ekosob). Social. ada rencana penyeleng- amat jelas bahwa tidak adanya hak ekonomi. Nulla Crimen Sine Lege Dua kovenan ini pun sebenarnya masih dalam perkembangan progresif untuk menerjemahkan persoalan pidana. Jika kita melihat dokumen dalam Human Rights Committee (HRC – badan enforcement kovenan sipol) maupun Committee on Economic. dapat membuat orang menjadi mangsa pelanggaran hak yang lain …tidak adanya hak ekonomi dapat memunculkan tidak adany hak sosial. tidak ada kejahatan yang ditindak di luar hukum. kita dapat melihat mekanisme serupa di Uni-Eropa (Europan 6 Di akhir bulan Juni 2006. maka kita bisa melihat bahwa mekanisme 2 kovenan ini memunculkan banyak implikasi pada hukum internasiona.

Indonesia yang dipilih dengan angka voting kedua tertinggi di Asia (sesudah In- dia) di dalam Dewan HAM mempunyai kesempatan juga untuk mengembangkan mekanisme enforcement HAM di tingkat regional. James. Clarendon Press Oxford. (Bersama Indonesia. Oxford 1998. The EU and Human Rights. and The Rule of Law. Alston. Seperti yang kita lihat dalam proses dan dokumentasi European Court on Human Rights. and Livingstone. Oxford University Press. Reid. Philip and Crawford (ed. Stephen (ed. David. Oxford 1993. and Heenan (ed. 2007 11 . Stanford Institute on International Studies. kasus-kasus di dalam negeri ini dibahas juga di tingkat Eropa – sehingga korban dan pekerja HAM dapat semakin menegaskan compliance negara terhadap ketentuan HAM internasional. Mekanisme regional ini penting sebagai pengembangan dari enforcement 2 kovenan tersebut. Clarendon Press Oxford. Roberts. Sovereignty Relinquished: Explaining Commitment to International Human Rights. Mara. The Inter-American System of Human Rights. Cambridge University Press. David.). Amartya. Divided World. Bagi korban. Oxford 1999. 4 • Th. Sweet & Maxwell. DAFTAR PUSTAKA Alston. Filipina dan Malaysia juga menjadi anggota Dewan HAM) – bersamaan dengan implikasi dari ratifikasi 2 kovenan oleh pemerintah Indonesia Desember 2005 lalu. Centre on Democracy. Wade M. The Treatment of Prisoners under International Law (second edition). and Kingsbury. and Joseph. with Bustelo. Nigel S. pekerja HAM. United Nations. Sarah (ed.). dan membuat mekanisme regional HAM ASEAN mendapatkan dampak dari enforcement domestik tersebut. London 1998. Rodley. Sen. James. Cole. Oxford 1999. JURNAL HAM • Vol. Development. A Practitioner’s Guide to the European Convention of Human Rights. harus aktif untuk menerjemahkan 2 kovenan itu dalam sistem dan praktik hukum di Indonesia. Oxford 1995.Convention on Human Rights. beserta courtnya) dan di kawasan Amerika Latin (InterAmerican Human Rights Mechanism).). Clarendon Press Oxford.). Karen. Knopf. The Future of UN Human Rights Treaty Monitoring.. Cambridge 2000. California 2004 Harris.. untuk menyebut di antara aktor penting. Philip. Oxford University Press. Harris. Alfred A. Adam. dan Komnas HAM. Development as Freedom. Benedict. The International Covenant on Civil and Political Rights and United Kingdom Law. The UN’s Roles in International Law. New York 2000.

dan Budaya). culture and language contribute to wide diversity in the enjoyment of human rights. tidak dapat dipungkiri akan dihadapkan pada keragaman masalah dalam implementasinya di Indonesia. Sekalipun ICCPR dan ICESCR telah diratifikasi masing-masing melalui UU No. dianalisis * Penulis bekerja di Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan HAM. social and cultural rights. politics. 2007 12 . 40 Tahun 2004 tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia tahun 2004-2009. economic. promotion. The 2004-2009 Nation Plan of Action on Human Rights is a continuation of the Nation Plan of Action on Human Rights for the year 1998-2003.Pelaksanaan ICCPR dan ICESCR dalam Konteks Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN-HAM) 2004-2009 Adhi Santika* Abstract Indonesia’s diverse geography. Social and Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. Departemen Hukum dan HAM JURNAL HAM • Vol. The new plan of action is intended to complete the unfinished works in the previous period. 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik) dan UU No. Dalam konteks waktu. 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Economic. Keragaman masalah dimaksud ternyata tidak hanya akan terjadi pada perilaku kehidupan sehari-hari setiap subyek hukum. PENDAHULUAN Keberadaan instrumen HAM internasional seperti halnya International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) dan International Covenant on Economic. Social and Cultural Rights (ICESCR) yang keduanya telah Indonesia ratifikasi pada tahun 2005. 4 • Th. The dignity of individual cannot and should not be divided into two spheres – that of civil and political rights and that of economic. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan Keputusan Presiden (Keppres) No. religion. Individual must be able to enjoy freedom of wants as well as freedom from fear. pada kenyataannya Indonesia telah memiliki peraturan perundangan yang secara implisit dan/atau eksplisit sudah menginternalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam dua kovenan tersebut. fulfillment and protection human rights. Sosial. keberadaan ICCPR dan ICESCR di Indonesia merupakan hal penting untuk diketahui. tetapi juga pada tataran yang mengatur subyek hukum beraktivitas yang dikenal dengan peraturan-perundangan. The National Plan of Action on Human Rights in Indonesia is intended as a guidance and general plan to enhance the efforts in increasing the respect. Adapun peraturan perundangan dimaksud antara lain: UU No. The ultimate goal of ensuring respect for the dignity of individual cannot be achieved without that person’s enjoying all of his or her rights.

dan pemenuhan HAM sebelum ratifikasi. evaluasi dan pelaporan. Dalam hubungan ini Pemerintah menempati posisi strategis sesuai dengan amanat yang tercantum dalam Pasal 8 UU No. Hal ini perlu diperhatikan untuk mengetahui secara obyektif mengenai dua hal utama dalam evaluasi. pemenuhan dan perlindungan HAM. UU No. penegakan. Oleh karena itu. bahwa RANHAM Indonesia dimaksudkan sebagai panduan dan rencana umum untuk meningkatkan penghormatan. Persyaratan ini mengemuka karena ada alasan yang 13 . 4 • Th. 5 Tahun 1998 tentang CAT.dan dirumuskan langkah-langkah nyata yang perlu dilaksanakan oleh berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) termasuk Pemerintah. sangat jelas diketahui bahwa RANHAM lebih berorientasi ke masa depan. 7 Tahun 1984 tentang CEDAW. dan pemenuhan hak asasi manusia terutama menjadi tanggung jawab Pemerintah”. Pertimbangan dimensi waktu akan terasa benar adanya manakala mempertimbangkan beberapa instrumen HAM internasional yang telah diratifikasi Indonesia melalui sejumlah Undang-Undang yang dikeluarkan pemerintah sebelum Indonesia meratifikasi ICCPR dan ICESCR pada tahun 2005. (3) Persiapan Harmonisasi peraturan perundang-undangan. seyogyanya evaluasi harus dilakukan sejak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia sampai pascaratifikasi sekalipun ratifikasi kedua kovenan tersebut baru dilakukan pada tahun 2005. 1. yaitu kesungguhan dan kendala yang dihadapi Pemerintah selama ini. maka pelaksanaan ICCPR dan ICESCR pascaratifikasi di Indonesia tidak dapat dilepaskan keberadaannya dari upaya perlindungan. 2007 atas. (5) Penerapan norma dan standar HAM. pemajuan. pemajuan. maka ruang lingkup keenam Program Utama merupakan rangkaian tindakan konkrit yang perlu dan akan dilakukan oleh negara dalam aktualisasi pencapaian tujuan ICCPR dan ICESCR di Indonesia. sehingga evaluasi yang dilakukan seharusnya tidak hanya dibatasi oleh waktu pascaratifikasi kedua kovenan tersebut tetapi juga mencakup semua kegiatan yang dilakukan selama kurun waktu praratifikasi. Di samping itu terdapat pula beberapa kesepakatan internasional yang secara langsung atau tidak langsung bernuansa HAM. pemajuan. Program Utama yang pertama yaitu Pembentukan dan Penguatan Institusi Pelaksana RANHAM merupakan program yang penting dan merupakan satu syarat keharusan (a necessary condition). seperti halnya UU No. Pertimbangan dimensi waktu merupakan salah satu faktor penting dalam evaluasi pelaksanaan ICCPR dan ICESCR di Indonesia. dengan penetapan 6 (enam) Program Utama di dalamnya. KONSEKUENSI RASIONAL DARI RATIFIKASI Secara eksplisit Lampiran I Keppres No. 40 Tahun 2004 menyebutkan. UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia: ”Perlindungan. (2) Persiapan Ratifikasi instrumen HAM internasional. yaitu: (1) Pembentukan dan penguatan institusi pelaksanaan RANHAM. penegakan. Apabila mengamati Program Utama RANHAM dan menghubungkannya dengan ratifikasi ICCPR dan ICESCR. 29 Tahun 1999 tentang CERD. 36 Tahun 1990 tentang CRC. Dari materi yang tercantum. dan Keppres No. seperti ICPD dan MDGs. di mana Indonesia termasuk sebagai negara peserta yang turut menandatanganinya. dan (6) Pemantauan. Berdasarkan pertimbangan tersebut di JURNAL HAM • Vol. Pembentukan dan penguatan institusi pelaksanaan RANHAM. (4) Diseminasi dan pendidikan HAM. termasuk untuk melindungi masyarakat yang rentan terhadap pelanggaran HAM.

apabila terdapat institusi bentukan baru dan mengalami “penguatan” sehingga memiliki kompetensi untuk melaksanakan seluruh programnya. Berdasarkan Keppres 40 Tahun 2004. seringkali aparat negara dan masyarakat kurang bahkan tidak mampu mengetahui dan mengerti maksud keduanya. dan efektif. Kompetensi merupakan satu kata kunci yang sulit untuk diwujudkan pada tataran lapangan dalam kurun waktu yang cukup singkat. yaitu: (1) Pemilihan dan penetapan peserta yang akan menerima materi “penguatan” agar lebih representatif. juga memberikan pengaruh pada kemampuan aparat negara dan masyarakat dalam kecepatan “pembentukan” institusi pelaksana HAM. sosial. program “penguatan” sudah seharusnya selalu dibarengi dengan kegiatan evaluasi yang berkesinambungan berdasarkan pendekatan “post-training evaluation”. Program Pembentukan dan Penguatan Institusi Pelaksana RANHAM memJURNAL HAM • Vol. Guna membentuk institusi baru ternyata seringkali dihadapkan pada berbagai kendala yang umumnya berupa kekurangmampuan sumber daya manusia untuk mengetahui dan mengerti substansi HAM yang secara bersamaan waktunya harus memiliki kecakapan dalam mengelola organisasi untuk menggerakkan program kerja. “Penguatan” institusi pelaksana RANHAM adalah satu kegiatan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan (multi-stakeholders) karena memerlukan kerjasama dari banyak pihak dengan latar belakang yang beraneka ragam. Keanekaragaman ini memberikan konsekuensi pada cara “penguatan” yang akan dilakukan agar materi dan pesan yang akan diberikan tepat sasaran. Dalam hubungan ini.sangat rasional. pekerjaan. Atas dasar ini maka pelaksanaan RANHAM hanya dapat berjalan sesuai dengan rencana. maupun budaya. Di samping itu struktur organisasi kepemerintahan yang cukup beragam antar wilayah administrasi sejalan dengan adanya UU No. ekonomi. mencakup lintas batas administratif (spatial) dan mencakup lintas batas waktu (temporal). cenderung membuat orang memerlukan waktu tambahan untuk sepenuhnya mengerti permasalahan yang ada. Masalah HAM di lapangan yang terjadi sangat bervariatif dan struktur organisasi kepemerintahan yang berbeda di setiap provinsi. 2007 14 . kabupaten dan kota memberikan kontribusi pada cepat atau lambatnya “pembentukan” institusi pelaksana RANHAM di pusat dan daerah. 4 • Th. Kompleksitas masalah HAM di lapangan yang memiliki karakteristik antara lain: ruang lingkup substansinya sangat luas. Program “penguatan” seringkali dihadapkan pada 2 (dua) masalah yang cukup serius untuk dapat segera diselesaikan dalam waktu singkat. “Penguatan” hanya dapat dilakukan apabila “pembentukan” institusinya sudah dilakukan. efisien. 32 Tentang Pemerintahan Daerah. “Pembentukan” dan “penguatan” institusi merupakan dua kata penting dalam program ini. yaitu 5 (lima) program lainnya sangat tidak mungkin terlaksana dengan baik apabila program pertama ini tidak terwujud lebih awal. dan (2) Pemberi materi “penguatan” perlu lebih membekali diri dengan kecukupan penguasaan substansi dalam pengertian mampu menyeimbangkan materi yang bersifat konseptual dan kontekstual. frekuensi dan intensitas kejadiannya sangat berfluktuatif. melibatkan lebih dari satu subyek hukum. baik dari sisi pendidikan.

pemenuhan dan perlindungan HAM agar sesuai dengan harapan. Selandia Baru. IDLO. karena harus melibatkan berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) dengan segala keragaman karakteristiknya disamping substansi HAM merupakan hal baru bagi sebagian besar pemangku kepentingan. Australia. kerja sama dengan lembaga internasional antara lain dilakukan dengan UNHCR. Namun. 4 • Th. IOM. Kerjasama pemajuan HAM telah dijalin dengan 11 (sebelas) negara dan kerjasama regional dengan ASEAN dan Asia Pasifik. 2. Departemen Hukum dan HAM) telah melakukan kerja sama antar negara dan dengan sejumlah lembaga internasional di bawah payung Perserikatan Bangsa Bangsa. Swiss. Belum lagi dinamika masyarakat yang juga diwarnai pro-kontra terhadap suatu isu HAM tentu akan menimbulkan persoalan tersendiri dari setiap proses ratifikasi itu. Sesungguhnya hukum internasional merupakan persoalan dengan keperluan hubungan timbal-balik antar negara. perangkat-perangkat HAM internasional tersebut diharapkan akan memperkuat hukum nasional dalam upaya menjamin penghormatan. Kovenan Hak Sipil dan Hak Politik (2004). Berdasarkan Keppres 40 Tahun 2004. Konvensi Penghentian Perdagangan Manusia dan Eksploitasi Pros- 15 . RANHAM telah mengagendakan ratifikasi 12 instrumen HAM yang akan dirampungkan sebelum akhir tahun 2009. Proses ini semua bukan tanpa rintangan atau halangan. dan Jerman. Tanpa adanya kaidah-kaidah ini sungguh tidak JURNAL HAM • Vol. (3) Sosialisasi RANHAM kepada berbagai pihak. Hukum internasional seperti halnya ICCPR dan ICESCR merupakan keseluruhan kaidah yang sangat diperlukan untuk mengatur sebagian besar hubungan antar negara. Perancis. (4) Pembentukan dan Penguatan Kelembagaan HAM di daerah. dan ILO. yaitu: Afrika Selatan. Norwegia. persiapan ratifikasi sejumlah instrumen HAM internasional ditetapkan dengan skala prioritas sebagai berikut. Kanada. Persiapan Ratifikasi Instrumen Hak Asasi Manusia Internasional. Italia. 2007 mungkin bagi negara-negara tersebut untuk saling berhubungan secara tetap dan terus menerus. UNICEF. Situasi perdebatan dan pro-kontra atas dasar identifikasi dan inventarisasi masalah dari setiap proses pembahasan lahirnya suatu produk perundangundangan seringkali juga menimbulkan kekecewaan masyarakat. apalagi setelah terpilihnya Indonesia sebagai anggota Dewan HAM PBB. Sebagai anggota masyarakat internasional. yaitu: Kovenan Internasional Hak Ekososbud (2004). Di samping itu. Swedia. Berbagai kegiatan dalam rangka “penguatan” institusi. pemerintah (dalam hal ini Direktorat Jenderal Perlindungan HAM. dan (5) Meningkatkan kerja sama dengan berbagai pihak untuk memperkuat kelembagaan HAM yang telah ada. Secara garis besar. semua ini merupakan bagian dari tradisi demokrasi yang harus dilalui. Melalui pengesahan yang diwujudkan dalam bentuk ratifikasi. dapat diketahui bahwa cakupan kegiatan program pertama tersebut dinilai sangat berat. (2) Pembentukan dan penguatan Panitia Pelaksana RANHAM Daerah. Indonesia melakukan ratifikasi instrumen-instrumen HAM internasional. Mesir. termasuk Konvensi Internasional Perlindungan Hak-hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. pemajuan.punyai tujuan/sasaran sebagai berikut: (1) Pembentukan dan penguatan Panitia Nasional.

dan Protokol Opsional Tahun 1967 Konvensi Status Pengungsi (2009). Pornografi Anak dan Prostitusi Anak (2005). Peraturan Daerah. Satu hal yang paling mendasar untuk dipertimbangkan dengan seksama adalah langkah melakukan pengkajian terhadap instrumen internasional yang akan diratifikasi berupa penyempurnaan naskah akademik. faktor keterbatasan pengetahuan dan jumlah pemerhati substansi instrumen yang akan diratifikasi juga merupakan hal yang kerap terjadi. mengingat setelah proses ratifikasi pengertian “legally binding” menjadi berlaku dengan segala konsekuensinya. Langkah dimaksud seringkali dihadapkan pada faktor pembatas berupa kemampuan melaksanakan kajian akademik yang bersifat obyektif dan cepat pelaksanaannya. Faktor keterbatasan pengetahuan ini seharusnya tidak boleh dibiarkan karena akan memperparah ketidaksiapan Pemerintah dalam menerima segala konsekuensi ratifikasi. Salah satu hal yang perlu mendapat perhatian khusus adalah Pasal 7 UU No. e. Peraturan Pemerintah. yaitu: a. Permasalahan apa yang dihadapi dalam pelaksanaan pengharmonisasian? Sebelum memahami ketiga permasalahan tersebut.titusi (2004). Statuta Roma (2008). Persiapan Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan. Atau dalam bahasa Inggrisnya “harmonize” diJURNAL HAM • Vol. c. 2007 16 . Peraturan Presiden. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang menegaskan jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan di Indonesia. 3. Protokol Opsional Konvensi Anti Penyiksaan (2008). Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Keterlibatan Anak dalam Konflik Bersenjata (2006). 4 • Th. Aspek-aspek apa yang harus diharmonisasikan dan bagaimana pengharmonisasian tersebut dilakukan? 3. Keberadaan faktor pembatas tersebut sangat mungkin dapat diatasi apabila Program Pembentukan dan Penguatan Institusi Pelaksana RANHAM terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama. terlebih dahulu perlu dijelaskan pengertian dari beberapa istilah kunci. b. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah adalah landasan yuridis yang digunakan. Terdapat beberapa permasalahan yang terlebih dahulu perlu dipahami sehubungan dengan harmonisasi peraturan perundang-undangan di Indonesia yaitu: 1. Konvensi Perlindungan Hak-Hak Pekerja Migran dan anggotaanggota keluarga-nya (2005). Pengharmonisasian atau kegiatan untuk mengharmonisasikan atau menyelaraskan. Konvensi Status Pengungsi (2009). Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Perdagangan Anak. Mengapa perlu dilakukan pengharmonisasian? 2. Undang-undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang. Di samping itu. Konvensi Pencegahan dan Penghukuman Kejahatan Genosida (2007). d. yaitu: a. Protokol Opsional Konvensi Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan (2005). Era otonomi daerah merupakan satu ciri dalam pemerintahan sekarang ini dan UU No.

Masih adanya sikap egoisme sektoral dari masing-masing instansi terkait. pengharmonisasian peraturan perundang-undangan memiliki arti strategis dalam mewujudkan sistem hukum nasional. Perlu disadari bahwa. sebelum proses pengharmonisasian perundangan yang ada agar sejalan dengan RANHAM dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. karena jabatan fungsional Perancang Peraturan Perundang-undangan dianggap tidak cukup menarik untuk ditekuni oleh pegawai. sejalan dengan ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang No. 2007 17 . keutuhan sebagai suatu keseluruhan. langkah yang sedang dilakukan dalam persiapan harmonisasi peraturan perundangundangan adalah mengagendakan JURNAL HAM • Vol. baik dengan berbagai peraturan perundang-undangan vertikal maupun horisontal. pembahasan oleh wakil-wakil instansi terkait tidak bersifat menyeluruh. Sehingga. Sehubungan dengan itu. pembulatan dan pemantapan konsepsi rancangan undang-undang yang berasal dari Presiden. sebenarnya masih terdapat sejumlah tantangan yang harus diatasi terlebih dahulu. tetapi bersifat parsial dan terfragmentasi menurut kepentingan dari masing-masing instansi. diperlukan penyelarasan. yang disebabkan oleh belum adanya persamaan persepsi tentang rancangan undang-undang sebagai suatu sistem yang terintegrasi. yaitu: (a) Antara Undang-undang yang satu dengan yang lainnya seringkali saling bertentangan. (c) Keterlambatan penyusunan aturan pelaksanaan dari Undang-undang yang telah disahkan. Pembulatan mengandung makna untuk membentuk menjadi bulat atau membentuk kepaduan. (b) Tidak jarang ditemui berbagai inkonsistensi antara satu pasal dengan pasal lainnya di dalam Undang-undang yang sama. 4 • Th. Sehingga. Dari pengamatan. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Tantangan yang dimaksud antara lain meliputi: 1. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dan Undang-Undang No. atau rancangan yang telah ada dalam pikiran (ide). Konsepsi diartikan sebagai pengertian. dan (d) Produk hukum yang ada di Indonesia lebih cenderung bersifat reaktif dari antisipatif. juga terlihat bahwa peraturan perundangan di Indonesia cenderung memiliki sejumlah kelemahan yang mendasar. Dalam bahasa Inggris “conception” diberi arti sebagai “conceiving of an idea” 3.b. Pasal 18 ayat (2) Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 hanya mengatur pengharmonisasian. Tenaga fungsional Perancang Peraturan Perundang-undangan masih terbatas jumlahnya serta belum memiliki spesialisasi pada bidang hukum yang spesifik. pemahaman. 2. dan tidak mengatur rancangan undang-undang yang berasal dari DPR atau rancangan peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang. artikan sebagai “bring into harmony” dan”“harmony” diartikan sebagai “pleasing combination of related things”. serta konvensi/ perjanjian internasional hak asasi manusia. agar menghasilkan peraturan perundang-undangan yang tidak saling bertentangan atau tumpang tindih. Dengan demikian. c.

pendidikan di luar jalur sekolah. bahwa pendidikan merupakan syarat bagi pemenuhan hak-hak sipil dan politik serta hak-hak ekonomi. 18 JURNAL HAM • Vol. Other Cruel and Inhumance or Degrading Treatment or Punishment (CAT). pelatihan bagi aparat penegak hukum (kepolisian. hak untuk memilih dan dipilih. dan tokoh masyarakat/agama). serta Undang-Undang tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. Universitas Samratulangi. dan perguruan tinggi merupakan langkah yang sangat strategis untuk mendukung diseminasi dan pendidikan HAM di Indonesia. kegiatan simposium hak asasi manusia tingkat nasional dan daerah untuk promosi pendidikan hak asasi manusia yang dilaksanakan oleh anggota Panitia Nasional RANHAM. lembaga nonpemerintah. serta hak atas kebebasan informasi dan berkomunikasi. dan Convention Against Torture. Pelaksanaan pendidikan hak asasi manusia yang difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Perlindungan HAM Departemen Hukum dan HAM meliputi pembentukan dan perpustakaan HAM di Universitas dan Komnas HAM. Norwegia. Di samping itu. aspek pendidikan menjadi elemen kunci dalam upaya melaksanakan program diseminasi Hak Asasi Manusia di Indonesia. antara lain Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW). hak hukum. hak untuk turut serta dalam pemerintahan. Suatu tingkat pendidikan minimal atau setidaknya melek aksara sangat diperlukan bagi perjuangan untuk mewujudkan pemenuhan hak-hak sipil dan politik. dan pendidikan HAM di Fakultas Hukum. sebagaimana yang diamanatkan dalam RANHAM 2004-2009. UndangUndang tentang Hak Asasi Manusia. meskipun di dalam agenda RANHAM hanya 3 (tiga) undang-undang tersebut yang dikaji. Afrika Selatan. hak atas kebebasan berkumpul. Convention on the Political Rights of Women. dan perguruan tinggi juga merupakan hal yang harus dilaksanakan secara terus menerus. Universitas Padjajaran. kejaksaan. berorganisasi dan berekspresi. Australia. social. 4 • Th. dan Universitas Pelita Harapan). dan petugas pemasyarakatan). 2007 . hakim. namun telah dikaji pula Undang-Undang tentang Kewarganegaraan dan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. Dalam hubungan ini. 4. kurikulum HAM untuk SD s/d SMA. tenaga pengajar/ dosen perguruan tinggi. pengembangan dan penyebarluasan bahan pengajaran hak asasi manusia yang dilaksanakan oleh anggota Nasional RANHAM. Menyadari hal tersebut. lembaga nonpemerintah. Convention on the Rights of the Child (CRC). program studi S2 HAM (Universitas Indonesia. Selain itu.pengkajian terhadap Kitab UndangUndang Hukum Pidana. pelatihan HAM di luar negeri (Swedia. dan Perancis bagi pegawai negeri. dan budaya. Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination (CERD). serta lokakarya dan diskusi HAM dengan organisasi sosial dan LSM. Oleh sebab itu. pemerintah berupaya melakukan sosialisasi berbagai instrumen hak asasi manusia internasional yang telah diratifikasi oleh Indonesia. Diseminasi dan Pendidikan Hak Asasi Manusia Kiranya sulit dibantah. aktivis HAM.

bagi pegawai Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM. 4 • Th. Pemerintah Indonesia sedang melakukan proses penyusunan norma dan standar perlindungan. Konstruksi ini merupakan makna bahwa norma-norma yang ada dalam UUD harus mengalir dalam perundang-undangan di bawahnya. HAM justru tidak memuat individualisme. pengawas ketenagakerjaan. antara lain. Sebaliknya. pemajuan. jaminan terhadap HAM merupakan tanda solidaritas dan kepedulian sosial JURNAL HAM • Vol. Penerapan Norma dan Standard Hak Asasi Manusia Dalam perspektif hukum tata negara. meminjam istilah dari Rudolf Steammler. beberapa kegiatan yang telah dilakukan oleh Departemen Hukum dan HAM dalam mendukung pelaksanaan RANHAM. pamong praja dan petugas pemasyarakatan berdasarkan hasil kegiatan yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan HAM. Sebagaimana dikatakan Magnis Suseno (1994: 11-12). HAM tidak banyak dipertanyakan karena struktur sosial tradisional itu masih mampu melindungi hak-hak individu di dalamnya. Hak asasi manusia adalah persoalan universal. seorang ahli filsafat yang beraliran Neo Kantian. Selain itu. Pandangan keliru bahwa HAM identik dengan pandangan dunia barat. dan mekanisme kerjasama pemajuan hak sipil dan politik. norma HAM yang terdapat dalam UUD adalah sebagai bintang pemandu (leitstren) bagi pembuat undang-undang di bawahnya agar selaras dengan nilai-nilai HAM. polisi. 19 . Saat ini. HAM merupakan pengertian modern. HAM adalah universal. tidak boleh menjadi alasan untuk tidak melaksanakan HAM. (b) Penyampaian rekomendasi kepada instansi terkait atas pengaduan masyarakat tentang pelanggaran hak asasi manusia (yang tidak termasuk pelanggaran hak asasi manusia yang berat). apakah berupa norma original atau norma jabaran yang lebih konkrit. penegakan. dan pemenuhan HAM.5. Dalam masyarakat tradisional. secara substansi. Jika diamati lebih jauh. Selain itu. seperti perlindungan terhadap mereka yang kurang beruntung secara sosial dan ekonomi. Dengan demikian. Indonesia sebagai negara modern tidak mungkin menghindar dari realitas bahwa masyarakatnya menjadi lebih individual daripada masyarakat tradisional. dan tenaga kerja. 2007 dalam masyarakat yang bersangkutan. antara lain: (a) Menghasilkan sejumlah buku saku mengenai HAM yang diperuntukkan. juga dibentuk Tim Konsultasi Hak Asasi Manusia. tetapi sekaligus juga kontekstual. Dengan kata lain. sedangkan dikatakan kontekstual apabila sudah berbicara tentang relevansinya (aktualisasi). Norma tersebut dapat mengalir dalam perundangundangan yang lebih rendah hierarki atau perundangan yang lebih rendah dapat memberikan norma tafsiran dari peraturan perundangan yang lebih tinggi tersebut. norma yang terkandung dalam UUD merupakan sumber hukum (rechtsgulle) bagi aturan yang ada di bawahnya. (c) Berpartisipasi dalam pelaksanaan Nota Kesepahaman Pemerintah Indonesia dengan GAM dalam bentuk memfasilitasi pelaksanaan amnesti dan integrasi anggota GAM bekerjasama dengan IOM dan. pedoman pemenuhan hak anak.

objektif dan dapat dipertanggung jawabkan. Paling tidak pemerintah mempunyai ikatan moral dan ikatan hukum untuk menerapkan kewajibankewajiban dalam Kovenan tersebut ke dalam hukum nasional. Pemerintah harus terus mengupayakan agar perlindungan terhadap setiap subyek hukum dapat dilakukan sebagaimana tercantum dalam RANHAM. 2007 .(d) Pelaksanaan Focus Group Discussion di beberapa daerah pasca konflik (Kalimantan Barat. Menjadi kewajiban pemerintah atau negara hukum untuk mengatur pelaksanaan hak-hak asasi ini yang berarti menjamin pelaksanaannya. terutama untuk menjamin terlaksananya program kegiatan RANHAM sesuai dengan yang telah direncanakan. Sebagai konsekuensi dari telah diratifikasinya instrumen hak asasi manusia internasional. Evaluasi dan Pelaporan Pemantauan. dan Maluku Utara). Oleh karena itu. Pemantauan. Penandatanganan yang dilakukan Indonesia atas 2 (dua) Kovenan HAM Internasional (ICCPR dan ICESCR) untuk saat ini harus dinilai penting. evaluasi dan pelaporan merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dari seluruh rangkaian kegiatan RANHAM. NAD. evaluasi dan pelaporan. berarti Pemerintah Republik Indonesia telah terikat secara hukum untuk menerima kewajiban membuat laporan penerapan norma dan standar Hak Asasi Manusia yang terkandung dalam instrumen hak asasi manusia internasional yang telah diratifikasi tersebut kepada badan PBB yang terkait. (a) Pengumpulan data dan informasi yang akurat. 4 • Th. Pada kenyataannya. Ambon. Sulawesi Tengah. 20 JURNAL HAM • Vol. dipandang perlu untuk mengembangkan suatu mekanisme yang tepat untuk melakukan kegiatan pemantauan. upaya pembentukan dan penguatan kelembagaan RANHAM merupakan satu prasyarat utama yang harus dipenuhi demi menghasilkan laporan pelaksanaan dan perkembangan HAM di Indonesia. (b) Pengorganisasian data dimaksud serta mekanisme pelaporannya. terkini. 6. Kalimantan Tengah. Hak asasi ini menjadi dasar hak dan kewajiban yang lain. penyusunan laporan perkembangan pelaksanaan HAM di Indonesia dihadapkan pada sejumlah tantangan yang cukup berat yaitu: PENUTUP Hak asasi manusia adalah hak dasar atau hak pokok yang dibawa manusia sejak lahir sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa. dengan tujuan terciptanya perdamaian yang abadi. kepentingan bangsa dan negara. Untuk itu. mengatur pembatasan-pembatasannya demi kepentingan umum.

Jakarta. Jurnal Legislasi Indonesia. Department of Foreign Affairs and Trade. et. PT Refika Aditama. CESDA-LP3ES. Darmodihardjo. Mahendra.H. Juwana. Hakekat. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Darji dan Shidarta. Jakarta. Pengantar Hukum Internasional. Jakarta. Human Rights Manual. 4 • Th. 2005.al.A. Hikmahanto. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik). Circle of Rights. Meneropong Hak Atas Pendidikan dan Layanan Kesehatan: Analisis Situasi di Tiga Kabupaten : Indramayu. dan Budaya). A. 123–134. Januari 2005. 2006. Social. 9-13. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. 1998.G. Starke. Wibisono. Kumpulan Makalah dan Tanggapan Fraksifraksi DPR-RI Mengenai Perubahan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992. edisi kesepuluh. and Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. hal. Vol. Harmonisasi dan Sinkronisasi Rancangan Undang-undang dalam Rangka Pemantapan dan Pembulatan Konsepsi. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 40 tahun 2004 tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Indonesia Tahun 2004-2004. Australia. 2003. Seminar “Memperkuat Sinergi Antar Pemangku Kepentingan Perlindungan HAM Pekerja Migran Perempuan Indonesia”. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. S. J. Sikka dan Jayapura. Bandung.DAFTAR PUSTAKA Bahan Rapat Kerja Komisi III DPR-RI Dengan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI Tanggal 12 Juni 2006. hal.). 11 Juli 2006. Jakarta. 2001. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan-International Covenant on Economic. Sinar Grafika. Bambang Iriana Djajaatmaja. Human Rights in Asia. 2004. Jakarta. 2007 21 . Wibowo. Diterbitkan atas kerjasama Forum Parlemen Indonesia dan Kependudukan Pembangunan. PT Gramedia Pustaka Utama. 11 Juli 2006. Jakarta. Makarim. Forum Asia. Anharudin. Seminar “Memperkuat Sinergi Antar Pemangku Kepentingan Perlindungan HAM Pekerja Migran Perempuan Indonesia”. Naning. Departemen Hukum dan HAM Republik Indonesia. Konvensi Pekerja Migran: Perlukah Indonesia Meratifikasi?. Konsep dan Implikasinya dalam Perspektif Hukum dan Masyarakat. Economic. Sosial. Pokok-pokok Filsafat Hukum: Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Implikasi Pengaturan HAM Dalam UUD terhadap Ius Constituendum. (terj. Oka. Harry. Annual Human Rights Report 2000. Jakarta. Mardiniah. 2004. Forum Asia. September 2005... Hak Asasi Manusia. DPR-RI dan Yayasan Kesehatan Perempuan. JURNAL HAM • Vol. 3. 2000. Social and Cultural Rights Activism: A Training Resource. Firdaus. Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak-hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. 2 No.

4 • Th. and. monitoring procedure and mechanism based on the Covenant. kemudian. Di bagian pertama. including its indicators. violation of the obligation. terdapat obligasi (kewajiban) internasional yang melekat pada Negara pasca meratifikasi kedua kovenan tersebut. Dalam tulisan ini. bagian kedua. dibacakan hasil sidang untuk meratifikasi piagam hak asasi manusia: International Covenant on Economic. Selanjutnya. This article describes and analyzes as well as shows example and practical illustration regarding State’s obligation. Dibagian ini. pembahasan akan difokuskan pada obligasi Negara pasca ratifikasi Kovenan Ekosob. ditandai dengan persetujuan bersama antara DPR dan Pemerintah pada 30 September 2005. Pembuka Babak baru itu. 11/2005. Ratifikasi terhadap the bill of human rights ini membangkitkan harapan baru bagi lahirnya tindakan yang lebih nyata bagi pemajuan penghormatan dan perlindungan hak asasi manusia di negeri ini. akan dideskripsikan dan dianalisis obligasi (kewajiban) Negara berdasarkan ketentuanketentuan dalam Kovenan Ekosob. Bagian ketiga. yang dapat digunakan untuk menilai pelaksanaan obligasi Negara. Dibagian ini akan dicakup rumpun obligasi pokok Negara dan secara khusus membahas obligasi negara berdasarkan Pasal 2 ayat (1) Kovenan Hak Ekosob. dilakukan dengan sadar. 11 dan No. termasuk indikator keberhasilan dan kekagalan. Selanjutnya. dimuat tema “pelanggaran hak ekosob”. pada 28 Oktober 2005. Indonesia are legally binding to implement all state parties obligation as contained in the Covenant. Dalam sidang Paripurna. * Kedua penulis saat ini bekerja di Yayasan Lembaga Batuan Hukum Indonesia JURNAL HAM • Vol. 2007 22 . Sosial dan Budaya – selanjutnya dalam tulisan ini disingkat dengan Kovenan Hak Ekosob – dan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik. Zen dan Andik Hardiyanto* Abstract After incorporation of International Covenant on Economic. Artikel ini disusun kedalam 4 bagian. khususnya berkaitan dengan tema “realisasi bertahap” (“progresif realization”) dan “sumber daya” (“resources”).Bukan Sekedar Menandatangani: Obligasi Negara Berdasarkan Kovenan Hak Ekosob A. Patra M. dibahas juga mekanisme pelaksanaan obligasi negara berdasarkan klausula Kovenan Hak Ekosob. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengesahkan UU No. It’s formulated into 4 section. akan dipaparkan “kelirumologi” 3 sesat pendapat berkaitan dengan ketentuan dan implentasi Kovenan Hak Ekosob. Social and Cultural Rights dan International Covenant on Civil and Political Rights. explain definition and mean of State obligation. Social and Cultural Rights by Law No. Tentu saja pengesahan tersebut. 12 tentang Pengesahan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi.

4 • Th. asal-usul kebangsaan atau status sosial. yang tidak mengenal “setengah komitmen” atau “komitmen setengah-setengah” melainkan “komitmen penuh” untuk menjamin prinsip non-diskriminasi. JURNAL HAM • Vol. 2007 23 . 11(1) of the Covenant).2. obligasi dalam Pasal 5 Kovenan juga dapat dipenuhi oleh Negara secara seketika. merupakan catatan penutup. Selain obligasi dalam Pasal 2 ayat (2) tersebut. General Comment No. sebagaimana menjadi obligasi Negara berdasarkan Pasal 11 Kovenan maka Pemda jangan melakukan penggusuran!1 Tidak melakukan penggusuran paksa merupakan sebuah praktik yang tidak membutuhkan dana. 11 (1) of the Covenant): Forced Evictions. paras. Keliru Pandang Ketentuan dalam Kovenan Hak-Ekosob Meminjam istilah “kelirumologi”-nya Djaya Suprana. Karenanya. warna kulit. sehingga pemerintah daerah hanya main gusur. General Comment No. yakni: menghancurkan hak-hak dan kebebasan-kebebasan yang diakui dan melakukan pembatasan-pembatasan melebihi prinsip yang diperbolehkan Kovenan. Obligasi Negara dalam konteks ini adalah pernyataan “komitmen” dan “kemauan baik”. Sixteenth session (1997). termasuk memastikan persamaan laki-laki dan perempuan menikmati semua hak-hak ekosob yang dijamin dalam Pasal 3 Kovenan. Seluruh prinsip dan pemenuhan Hak Ekosob dipenuhi secara bertahap (progressive realization) Prinsip non-diskriminasi merupakan sebuah prinsip yang secara otomatis menjadi kewajiban negara dalam pemenuhannya. seluruh sumber daya yang ada harus 1 Lihat juga CESCR. Semua pemenuhan hak ekosob mesti menunggu sumber daya yang berlimpah Komite Hak Ekosob pernah menyatakan dalam pemenuhan hak ekosob. Negara dalam hal ini dapat mengimplementasikan obligasinya dengan seketika. A. sebaliknya apakah masyarakat miskin kota lebih hina dari sampah. politik atau pendapat lainnya. pemenuhannya dilakukan secara seketika. dipaku untuk tonggak upaya mewujudkan keadilan sosial dan kebebasan masyarakat. 7: The right to adequate housing (art.3. Lihat juga secara khusus CESCR. kekayaan atau lainnya. pemerintah memberikan perhatian dan mencarikan tempat untuk sampah. paling tidak ada 3 kesalahan dan sesat pandang yang berkaitan dengan implementasi hak ekosob. memuat harapan: peristiwa peratifikasian Kovenan Hak Ekosob. Semua pemenuhan hak ekosob membutuhkan biaya Ilustrasi ini dapat dijadikan contoh: jika pemerintah daerah (Pemda) belum mampu untuk memberikan fasilitas perumahan yang layak dalam bentuk apapun. Tidak dikenal implementasi prinsip non-diskriminasi secara bertahap. Obligasi Negara dalam Pasal 2 ayat (2) Kovenan adalah menjamin hak-hak dalam Kovenan Hak Ekosob dilaksanakan tanpa diskriminasi apa pun seperti ras. jenis kelamin. tanpa mencarikan solusi agar mereka mendapatkan tempat untuk bernaung? A. 13 and 18. A. bahasa.Di bagian akhir. agama. A. 8 (a).1. Sixth session (1991). Baru-baru ini Pemda DKI Jakarta dan Pemda Bandung sibuk mencari wilayah untuk tempat pembuatan akhir sampah-sampah penduduk kota. Artinya. 4: The right to adequate housing (art.

suka atau tidak.000. seperti mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI).785.911. (3) untuk mendukung hak atas pekerjaan.000 Tabel 2 Contoh Indikator Pemenuhan Hak-hak Ekosob di Kabupaten Jembrana Indikator Keluarga Miskin Tahun Perubahan 2001 2002 19.25 8.224.395 11. mencapai 88.555. Bupati Jembrana: sebuah kabaputen yang “tidak gemuk” PADnya (lihat tabel 1). paling baik untuk mencontoh apa yang dilakukan I Gde Winarsa.691 2. juga membebaskan pajak bumi dan bangunan (PBB) bagi lahan sawah. utamanya hak atas pendidikan dan kesehatan. Implementasi obligasi pemerintah dalam memenuhi hak ekosob.. Tabel 1 Jumlah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah serta Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Jembrana (2000 – 2004) Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 APBD PAD (dalam Rupiah) 66.055.562.688.540. tetapi mampu menjalankan core-obligation dalam pemenuhan hak-hak ekosob. I Gde Winarsa.000 lahir 45% hidup) Tingkat kegagalan 0.02% Berkurang menyelesaikan 75% sekolah (drop-out) Sekolah Dasar Sumber: Diolah dari Yayasan TIFA. Jaminan Kesehatan Jembrana (JKJ). 16 (Rev.56 JURNAL HAM • Vol. 2005: 5.4% 10. Juga perwujudan obligasi yang ditentukan oleh Pasal 13 Kovenan. Sumber: Dharma Santika Putra dan Nanoq da Kansas.634 9.703.401. sebagaimana contoh-contoh tersebut. dengan menjalankan proyek pengolahan air mineral dari air laut.526. Fact Sheet No. langsung dan tidak langsung: menghantarkan I Gde Winarsa mencapai rekor MURI baru: memperoleh prosentase suara terbanyak dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) pada 12 Oktober 2005. utamanya hak anak-anak untuk mendapatkan akses pendidikan dasar: menurunkan angka drop-out pelajar (lihat Tabel 2). 2004: 218.419 171.39 Berkurang (per 1. Selain itu.008 205.157. (2) memenuhi hak kesehatan masyarakat: menyediakan dan memfasilitasi pelayanan kesehatan gratis melalui program. Bupati I Gde Winarsa.956.548 11.9% Berkurang 44% Kematian Bayi 15. 1).609 193. (3) dalam skala tertentu berupaya menyediakan air bersih. yakni: (1) menjadi pelopor perwujudan program pendidikan dasar yang diwajibkan dan cuma-cuma (compulsory and free of charge). Dengan jumlah APBD dan PAD tersebut.147.551. 24 .246. The Com- mittee on Economic.digunakan dengan cara yang paling efektif (all existing resources must be devoted in the most effective way). 2007 2 Lihat OHCHR. pada dasarnya telah memenuhi obligasi yang dinyatakan dalam Pasal 10 Kovenan – memberikan perlindungan dan fasilitas bantuan pada keluarga. Social and Cultural Rights. tercatat sebagai pimpinan daerah yang mendapat pengakuan rekognisi publik.286 5.500.287.2 Dalam konteks ini. di kabupaten ini. 4 • Th.08% 0.749 131.599.

of the Covenant). 3: The Nature of State parties’ obligations (art. mesti merujuk pada pengertian – “the 3 Tentang hal tersebut. seperti penjelasan yang diadopsi Komite Hak-hak Ekonomi Sosial dan Budaya (Komite Hak Ekosob) yang dibentuk berdasarkan ketentuan Kovenan. 15: The right to water (arts. tidak lain dan tidak bukan untuk perlindungan dan pemenuhan hak. Zen. sebagai Bupati Banyuwangi. lagi-lagi langsung dan tidak langsung menghantarkan Ratna Ani Lestari. maka DPR dan Pemerintah. Disinilah kerangka kerja Negara mesti disusun agar meningkatkan penikmatan hak-hak ekosob semua orang. 1. Untuk tujuan tersebut. 2007 4 Lihat UN doc. CESCR. Penjelasan Pasal 1 ayat (2) dinyatakan. maka penafsiran tentang isi kovenan ini tidak dapat “secara sewenang-wenang” diklaim oleh lembaga-lembaga Negara. naskah yang berlaku adalah naskah asli dalam bahasa Inggris serta pernyataan (declaration) terhadap Pasal 1 Kovenan Hak Ekosob. right to water” sebagaimana dijabarkan dalam Komentar Umum (General Comment) Komite Ekosob No. termasuk DPR dan Pemerintah. 7/2004 tentang Sumber Daya Air.5 Karenanya. yang mengizinkan hak guna pakai dan hak guna usaha atas air. 11 and 12 of the Covenant). apakah terjadi pelanggaran obligasi Negara atau tidak. kerjasama LBH Bandar Lampung dan FES Jakarta. 25 . Kovenan Hak Ekosob disusun. yang bisa dicapai manusia. agar setiap orang dan kelompok masyarakat dapat menikmati semua katalog hak ekosob. setinggi-tingginya dan semaksimal mungkin. JURNAL HAM • Vol. Dalam konteks ini. 4 • Th. Sebagai contoh berkaitan dengan “hak atas air” sebagai “hak asasi manusia”– sebagai elemen hak yang utama dalam Pasal 11 dan 12 Kovenan. 11/ 2005. Fifth Session (1990). Jika didalami. maka penafsiran pasal-pasal dalam Kovenan. Patra M. 23-25 Februari 2006. 2. Selanjutnya. CESCR. Obligasi Negara Berdasarkan Ketentuan Kovenan Hak Ekosob Dengan pengikatan Indonesia sebagai Negara Pihak Kovenan Hak Ekosob.Twenty-ninth session (2002). paper pada Pendidikan Kritis untuk Aktivis Partai Politik (Penegakan Demokrasi dan Pemenuhan Hak Ekosob). Hal tersebut penting kembali diingatkan. Bandar Lampung. “Cara Mudah Menjadi Kepala Daerah: Dari Komitmen Pemenuhan Hak Ekosob Rakyat”. jika terdapat perbedaan penafsiran terhadap terjemahannya dalam bahasa Indonesia. para. General Comment No. namun mesti merujuk pada naskah asli dan sumber-sumber yang diakui. General Comment No. 5 Lihat UN doc.persen dari total suara yang sah. akan dieksaminasi dan diperiksa apakah negara yang bersangkutan telah melakukan segala upaya menggunakan segala sumber daya untuk melakukan obligasi pokoknya dalam pemenuhan hak ekosob. 15 yang menjelaskan Pasal 11 dan 12 Kovenan.3 B. bukan sebaliknya malah Negara berkontribusi terhadap penurunan (degradasi) penikmatan hak ekosob warga-negaranya. para. disiplin hukum internasional hak asasi manusia mengenalkan “minimum core obligation” atau obligasi pokok yang paling minimum yang harus dipatuhi dan diimplementasikan Negara.4 DPR dan Pemerintah tidak dapat semena-mena menafsirkan hak atas air sebagai “water rights” a la Bank Dunia (World Bank) atau penafsiran yang dianut UU No. yang pada prinsipnya memperbolehkan komersialisasi air untuk keuntungan orang seorang dan badan usaha privat. UU No. MURI mencatat rekor: I Gde Winarsa dan Ratna Ani Lestari sebagai pasangan suami-isteri (Pasutri) pertama yang menjadi Kepala Daerah. lihat antara lain A. 10.

Sixth session (1991). Negara berkewajiban untuk menerima “the essential importance of international cooperation based on free consent”. 10 UN doc. 1 Oktober 2003. to work out and adopt a detailed plan of action for the progressive implementation. free of charge. Lima Layer Obligasi Pokok: Rumpun Obligasi yang Saling Berkait Atas jasa International Law Commission. 4 • Th. to undertake. Dalam Komentar Umum Komite Ekosob No.10 b. dinyatakan: “Article 14 …requires each State party which has not been able to secure compulsory primary education. Patra M. merupakan obligasi atau kewajiban Negara untuk melakukan sesuatu. Sehingga. CESCR. General Comment No.cit. semua upaya dan segala tindakan untuk menerima (to mempromosikan (to promote). Lihat juga A. 36-47. 7 Ibid. General Comment No. para. Zen. Misalnya: jika banyak keluarga miskin yang tidak dapat memperoleh akses terhadap pelayanan kesehatan. JURNAL HAM • Vol. pejabat yang berkompeten dalam hal ini. “Justisiabilitas Hak-hak Ekonomi.8 Obligation of conduct. within two years. within a reasonable number of years.6 Ironis. seperti jika terjadi pelanggaran atau kejahatan hak-hak sipil politik. melindungi (to protect) dan memenuhi (to fulfill) – memfasilitasi (to facilitate) 6 Periksa juga CESCR. Promosi bukan saja dilakukan melalui penyebaran iklan layanan masyarakat 9 Ibid. Ge- dan menyediakan (to provide) – penikmatan hak-hak ekosob. Mempraktikannya di Indonesia.. mesti mempertanggunjawabkannya dalam sistem hukum di Indonesia (justiciable). CESCR. termasuk aparat penegak hukum dan birokrasi mesti melakukan promosi hak-hak ekosob. of the principle of compulsory primary education free of charge for all”. 11 (1) of the Covenant). 1. 1.. 11: Plans of action for primary education (art. 11. 4: The right to adequate housing (art. para. pp. Mengakui (to recognize) Klasifikasi obligasi Negara dalam mengakui bahwa hak ekosob merupakan hak asasi manusia.Contoh dalam pemenuhan hak atas pendidikan dasar yang diwajibkan dan cuma-cuma sebagaimana dijamin dalam Pasal 14 Kovenan. 10-11. anak-anak dari keluarga miskin tidak dapat menikmati pendidikan dasar. juga secara tegas dinyatakan dalam hal upaya-upaya bantuan teknis internasional. 9. paras. maka.9 Obligasi Negara dalam hal mengakui prinsip-prinsip pemenuhan hak ekosob. a. Twentieth session (1999). menghormati (to respect)... 14). 1 No.” dalam Jurnal HAM (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia).1. Vol. neral comment No.7 B. tidak dapat memasukan anak-anaknya ke sekolah karena mahalnya biaya pendidikan. 19. para. Sosial dan Budaya: Menarik Pengalaman Internasional. Mempromosikan (to promote) Aparat Negara. 8 Lihat UN doc. 3. to be fixed in the plan. 7. 2007 26 . sebaliknya para anggota DPR dan DPRD malah menikmati studi banding yang menghabiskan bukan saja ratusan juga bahkan miliar rupiah setiap periode 5 tahun keanggotaan sebagai “wakil rakyat”. Sebagai contoh. Op. disiplin hukum hak asasi manusia mengenal 2 bentuk obligasi Negara yang pokok berdasarkan Kovenan Hak Ekosob: obligations of conduct dan obligation of result. maka semestinya Negara mengakui semua mekanisme dan konsekwensi yang mesti ditanggung para pelaku pelanggaran hak ekosob.

14 Lihat antara lain Siaran Pers Bersama Yayasan ingful participation dalam proses pembangunan. Tidak Dipublikasikan. Dissertation for LL. antara lain. 9 Mei 2005 tentang Penetapan Peraturan Presiden No. Sejumlah Kalangan Nilai yang Direvisi Tak Signifikan”. telah menjadi perhatian yang pokok oleh Komite Hak Ekosob. pelaksanaan. 10 Mei 2005. Walhi. pada dasarnya bertentangan dengan obligasi Negara untuk melindungi hak atas tanah: karena tidak diatur dengan jelas mekanisme perlindungan bagi seseorang atau kelompok masyarakat yang tanahnya diambilalih. 12 Lihat UN doc. University of Essex (2002). Kompas. Patra M. negara tidak melakukan tindakan yang justru membatasi sebagian atau seluruhnya hak-hak ekosob masyarakat. maupun campur tangan langsung hak seseorang atau kelompok untuk membentuk serikat buruh/pekerja atas pilihannya sendiri atau melakukan pemogokan (Pasal 8 Kovenan) d. 4 • Th. 13 Lihat UN doc. Revisi Perpres Tanah. 7 Juni 2006. para. “Pemerintahan SBY-Kalla Menunjukkan Watak Aslinya: Mendahulukan Kepentingan Pemilik Modal Daripada Kepentingan Masyarakat”. 9. Obligasi penghormatan yang mesti dilakukan Negara. “Perpres tentang Pengadaan Tanah.13 keamanan hukum kepemilikan atas tanah. CESCR. Contoh lain. Dalam klasifikasi ini. peraturan atau kebijakan “pembangunan” secara luas agar dapat diketahui dan dipahami oleh publik. Melindungi (to protect) Salah satu contoh yang paling prudent obligasi Negara untuk melindungi hak ekosob. CESCR. Pemerintah Dinilai Lebih Represif”. restitusi dan kompensasi) bagi si pemilik tanah. “A critical contextual human rights analysis of Kedung Ombo Large Dam Project in Indonesia”. mempunyai makna. Hal ini agar dimungkinkan adanya partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan. 10 Mei 2005. “Lebih Represif.tetapi juga melalui pelibatan masyarakat sipil secara aktif.12 c. para. Menghormati (to respect) juan sukarela calon mempelai untuk melangsungkan perkawinan (Pasal 10 ayat (1) Kovenan). Negara wajib menghormati persetu11 Bahasan yang rinci tentang prinsip full and mean- Op. Third session (1989). 2007 LBH Indonesia. dimungkinkan jika Negara mensosialisasikan rencana. “Selesai. 8(a). Essex University. Perpres Nomor 36/2005 Harus Dibatalkan”. lihat juga “What does the rights to participate mean”. Kompas. “YLBHI Minta Revisi Perpres Diwaspadai”. General Comment No. yakni memastikan adanya “legal security of tenure”. 35/2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Untuk Kepentingan Umum. Program-program promosi atau seringkali disebut dengan sosialisasi mutlak wajib dilakukan. Negara tidak diperkenankan untuk melakukan intervensi baik melalui peraturan perundangan atau kebijakan. h. 36/2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum.M in International Human Rights Law. Lihat juga Kompas. Partisipasi masyarakat semacam ini (full and meaningful participation). 27 . Keluarnya Peraturan Presiden (Perpres) No. General Comment No. 2628. Zen. KSPA dan ELSAM.cit. antara lain lihat A. Suara Pembaruan. JURNAL HAM • Vol. 4. 26 September 2002. pengawasan dan distribusi manfaat atau hasil-hasil yang ingin dicapai oleh program pemenuhan hak ekosob. termasuk dalam hal Pelaporan yang dilakukan Negara Pihak. Pembatasan hanya dapat dilakukan dengan maksud agar terpenuhinya hak-hak itu sendiri.. 6 Juni 2006.14 Dalam Perpres ini seharusnya dimuat jaminan reparasi (rehabilitasi. paper diskusi pada “Development and Human Rights”.11 Pentingnya Negara dalam menjalankan obligasi promosi. 1: Reporting by States parties.

Selanjutnya. Perlindungan. Negara menyediakan dan memfasilitasi (akses) atas pangan. kondisi kerja yang aman dan sehat. sandang dan perumahan. sebagaimana dimuat dalam Kovenan sebagai berikut: Menyediakan lapangan kerja dan memfasilitasi bimbingan teknis. e. Menyediakan dan memfasilitasi (akses) semua orang untuk menikmati manfaat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan penerapannya (Pasal 15 ayat (1) Kovenan). 2007 . meminta Negara untuk melakukan perlindungan bagi anak-anak dan remaja dari semua bentuk eksploitasi ekonomi dan sosial. Tidak seperti sekarang. Menyediakan dan memfasilitasi (akses) atas pendidikan. Perwujudan obligasi Negara untuk pemenuhan hak ekosob.Contoh lain adalah memberikan perlindungan dalam bentuk peraturan perundang-undangan agar setiap orang dapat menikmati kondisi kerja yang adil dan menguntungkan. 28 JURNAL HAM • Vol. Menyediakan dan memfasilitasi jaminan sosial termasuk asuransi sosial bagi setiap warga negara (Pasal 9 Kovenan). Sementara Pasal 10 ayat (3) Kovenan. “cuma” bayar SPP. juga dilakukan seperti memastikan setiap orang bebas dari kelaparan (Pasal 11 ayat (2) Kovenan) dan bebas untuk berpartisipasi dalam kehidupan budaya (Pasal 15 ayat (1) Kovenan). dan perbaikan kondisi hidup semua orang secara terus menerus (Pasal 11 Kovenan). dan kegiatan ekonomi produktif (Pasal 6 Kovenan). yang dapat menghidupi keluarganya secara layak. Negara berdasarkan Pasal 10 ayat (2) Kovenan wajib memberikan perlindungan khusus kepada para ibu selama jangka waktu yang wajar sebelum dan sesudah melahirkan. karenanya berhak mendapat cuti dengan upah/gaji dan jaminan sosial yang memadai. program-program pelatihan. termasuk memenuhi hak setiap orang menikmati pendidikan dasar yang wajib dan cuma-cuma (compulsory and free of charge) (Pasal 13 dan 14 Kovenan). kesempatan memperoleh promosi ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan kerjasama internasional. dan seterusnya pungutan yang membebani siswa dan orang tua murid. termasuk memastikan pekerja/buruh memperoleh upah yang adil. Menyediakan bantuan kepada keluarga untuk merawat dan mendidik anak-anak yang masih dalam tanggungannya (Pasal 10 Kovenan). liburan dan pembatasan kerja yang wajar dan hak-hak yang melekat didalamnya (Pasal 7 Kovenan). serta menikmati istirahat. “cuma” bayar buku. Memenuhi: memfasilitasi dan menyediakan (to fulfill: to facilitate and to provide) Obligasi untuk memenuhi hak asasi manusia secara inheren mempunyai makna Negara melakukan upaya untuk memfasilitasi dan menyediakan hak-hak ekosob setiap warga negaranya. 4 • Th. Menyediakan dan memfasilitasi (akses) atas standar kesehatan fisik dan mental setinggi-tingginya yang dapat dicapai (Pasal 12 Kovenan). sebagai obligasi Negara.

B. Namun demikian. JURNAL HAM • Vol.”16 Langkah-langkah tersebut haruslah dilakukan secara terencana. laporan Negara Peserta harus menyebutkan tidak hanya langkah-langkah yang telah ditempuh namun juga alasan mengapa langkah-langkah tersebut dianggap sebagai paling tepat berikut situasisituasinya.. berupaya mengambil langkahlangkah” sebagaimana tersebut dalam Pasal 2 (1) Kovenan Hak Ekosob. khususnya dalam bidang ekonomi dan teknis..’ Komite Hak Ekosob mengakui bahwa negaralah yang harus memutuskan langkah-langkah yang tepat dan hal tersebut bergantung pada hak yang hendak diimplementasikan.. 4. Pasal 2 ini menjelaskan sifat dari kewajiban yang umum ditempuh oleh Negara Peserta Kovenan. para. atau tidak digunakan dalam obligasi yang dimuat dalam Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik (Kovenan Hak Sipol).17 Interpretasi Komite terhadap istilah ‘all appropriate measures’ jelas berkaitan baik dengan kewajiban melakukan 16 Ibid. Menurut Komite Hak Ekonomi.. General Comment No. memang biasanya ditafsirkan dengan kandungan arti implementasi Kovenan secara bertahap. para. nampak penting di sini untuk memahami arti dari istilah-istilah yang digunakan dalam Pasal 2 Kovenan untuk memahami bagaimana implementasi kewajiban Negara seharusnya dijalankan.. Sosial dan Budaya (Komite Hak Ekosob). dan dengan semua cara yang tepat. termasuk pada khususnya dengan mengadopsi langkah-langkah legislatif”. 2007 29 . “…walaupun realisasi sepenuhnya atas hak-hak yang relevan bisa dicapai secara bertahap. Komite Hak Ekosob melalui Komentar No. 4 • Th. secara sendiri maupun melalui bantuan dan kerjasama internasional. 3 telah menjelaskan bahwa. pencapaian secara bertahap demi realisasi sepenuhnya (achieving progressively the full realization). sejauh dimungkinkan oleh sumberdaya yang tersedia (to the maximum available resources). susnya dengan mengadopsi langkah-langkah legislatif (by all appropriate means including particularly adoption of legislative measures)’ adalah bersifat unik dan tidak terdapat. Mengenal Lebih Dekat: Obligasi Negara Menurut Pasal 2 ayat (1) Kovenan Hak Ekosob Pasal 2 ayat (1) Kovenan Hak Ekosob menyatakan: “Setiap Negara Peserta Kovenan ini berupaya untuk mengambil langkahlangkah. 3. 17 Ibid. 1.2.15 Selain itu. Pasal 2 tersebut mengandung kepentingan khusus untuk mencapai pemahaman seutuhnya atas Kovenan dan harus dilihat dalam hubungannya yang dinamis dengan semua ketentuan Kovenan lainnya.cit. yang mengarah pada pencapaian secara bertahap demi realisasi sepenuhnya dari hak-hak yang diakui dalam Kovenan ini dengan semua cara yang tepat. konkrit dan diarahkan kepada sasaran-sasaran yang dirumuskan sejelas mungkin dalam rangka memenuhi kewajiban-kewajiban Kovenan. Istilah-istilah seperti: berupaya mengambil langkah-langkah (undertakes to take steps). namun langkahlangkah kearah itu harus diambil dalam waktu yang tidak lama setelah Kovenan berlaku bagi Negara Peserta bersangkutan. Selanjutnya Komite menegaskan bahwa. Op. termasuk pada khu15 UN doc. sejauh dimungkinkan oleh sumberdaya yang tersedia. Penggunaan istilah “Setiap Negara Peserta. CESCR. para. 2.

. kewajiban Negara tetap dijalankan untuk menjamin pemenuhan hak yang seluas-luasnya dalam kondisi yang sangat terbatas itu. 3 memberi ilustrasi yang sangat jelas untuk hal ini. maka kecurigaan biasanya akan muncul berkenaan dengan adanya kesenjangan antara peraturan perundang-undangan dengan praktik. 30 JURNAL HAM • Vol.(obligations of conduct) maupun kewajiban hasil (obligation of result). maka harus dijalankan dengan pertimbangan yang sangat hati-hati. Jika hal itu pun terpaksa dilakukan dan terjadi. maka Negara harus membuktikan bahwa kegagalannya memenuhi hak-hak orangorang ini memang diluar kendali. para. Pasal 2 ayat (1) Kovenan. menderita kelaparan. Kini ratifikasi Kovenan Hak Ekosob memberi pemahaman mendasar bahwa peningkatan ekonomi haruslah secara nyata didasarkan pada penghormatan dan realisasi hak asasi manusia. anggota masyarakat yang rentan dapat dan memang harus mendapatkan perlindungan dengan diadopsinya programprogram yang dirancang relatif murah. Komentar Umum No. juga menegaskan tentang perlunya kerjasama dan bantuan internasional berkait dengan upaya realisasi hak. Suatu kebijakan ekonomi atau pembangunan memang untuk mencapai kesejahteraan warganegaranya. 2007 . Berdasarkan pengalaman Komite ketika membahas laporan Kanada menyatakan. Dalam kenyataan. Bahkan. 10. jika terdapat penduduk secara massal. Sebagai contoh. Pada titik ini. Komite mengakui pentingnya sumberdaya bagi pemenuhan hak-hak ini. Pada kenyataannya 18 Ibid. tetapi mereka tidak dapat dibuat menunggu pemenuhan hak-hak asasinya sampai klaim “pertumbuhan ekonomi” memungkinkan hal itu. tak mempunyai tempat bernaung dan perumahan. dalam kasus dimana sejumlah cukup signifikan rakyat hidup dalam kemiskinan dan kelaparan. 4 • Th. tidak memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan. Komite sekali lagi memberi peringatan bahwa klausul realisasi secara progresif sepatutnya juga dicerminkan pada pelaksanaan kewajiban yang menjamin agar tidak terjadi perkembangan regresif atau kemunduran. pembelajaran dan ekspresi dari banyak Negara Peserta dalam mengimplementasikan kewajibannya telah mendorong pentingnya aplikasi pendekatan berbasis hak dalam “pembangunan”. dibutuhkan justifikasi penuh dengan mengacu pada inti hak yang ditentukan dalam Kovenan dan dalam konteks pemanfaatan sejauh mungkin atas sumberdaya yang ada. atau tidak menikmati pendidikan dasar. pada saat terjadi keterbatasan sumberdaya yang akut. jika laporan difokuskan secara sempit pada aspek-aspek legal semata. Dalam kasus semacam ini. Disinilah konteks gagasan kewajiban minimum (minimum core obligation) yang dikembangkan oleh Komite. maka dapat dinyatakan Negara gagal menjalankan obligasinya berdasarkan Kovenan. tetapi tidak menganggap bahwa ketersediaan sumberdaya sebagai alasan untuk lepaskan kewajibannya. Komite melihat bahwa setiap Negara Peserta mempunyai kewajiban minimum untuk memenuhi tingkat pemenuhan yang minimum dari setiap hak yang terdapat dalam Kovenan. Sementara itu berkait istilah ‘mengadopsi langkah-langkah legislatif’’(adoption of legislative measures) Komite memberi peringatan bahwa keberadaan hukum jelas penting tetapi hal tersebut belumlah cukup membuktikan Negara Peserta telah menjalankan kewajibannya sesuai Kovenan. Komite menyatakan bahwa.18 Lebih jauh Komite menjelaskan bahwa sekalipun didapati kenyataan tidak cukupnya sumberdaya yang ada.

dan sementara itu sebagian besar penduduknya tetap dan jatuh miskin.20 Tetapi yang penting dipahami di sini adalah bahwa kegagalan Negara Peserta untuk memenuhi kewajiban yang terkandung dalam Kovenan jelas merupakan pelanggaran terhadap Kovenan.. tiada akses terhadap pemukiman dan perumahan yang layak. Kegagalan untuk memenuhi kewajiban minimum dapat disebut sebagai pelanggaran terhadap hak yang termuat dalam Kovenan Hak Ekosob. untuk mendukung bantuan teknis dan pinjaman dana. Pelanggaran Hak dalam Kovenan Hak Ekosob dan Monitoring Obligasi Negara C. GAPRI. dan Negara pengutang tidak berdaya karena situasi ketergantungan dan keterjebakan hutang yang dialaminya. 2007 31 . bahwa pada akhirnya mereka menjadi sangat tergantung pada aliran dana luar negeri. penguatan konsep pelanggaran Hak Ekosob terus dilakukan oleh banyak ahli hukum hak asasi manusia internasional yang kemudian dituangkan dan dikenal sebagai Prinsip-Prinsip Limburg (the Limburg Principles). Pada suatu titik momentum ketika kelaparan dan kemiskinan menjadi musuh nomor satu dari semua Negara di dunia ini. kerjasama pembangunan internasional ditandai oleh berbagai perubahan cara pandang dan kebijakan yang merujuk pada pemahaman bahwa realisasi hak asasi manusia merupakan kunci untuk lepas dari situasi ini. Pemahaman ini didasarkan pada keberadaan gagasan kewajiban minimum (minimum core obligation) yang dikembangkan oleh Komite. Problemnya. 19 Andik Hardiyanto. kekurangan pelayanan kesehatan dasar. Dibutuhkan keterlibatan pihak ketiga. yang biasanya menunjuk pada keterlibatan lembaga atau badan pembangunan multilateral dan keuangan internasional. Kesulitan utama dari persoalan ini adalah operasional dari lembaga atau badan pembangunan multilateral dan keuangan internasional itu lepas dari kerangka kerja hak asasi manusia.1. terjebak pada hutang luar negeri yang sangat besar. pada banyak Negara. Komite menegaskan bahwa Negara mempunyai kewajiban minimum guna memenuhi realisasi setiap hak yang terdapat dalam Kovenan pada tingkat yang minimum. et. Pelanggaran Hak Ekosob: Indikator Keberhasilan dan Kegagalan Obligasi Negara Komite menegaskan bahwa Negara Peserta yang penduduknya dalam jumlah yang signifikan mengalami kekurangan bahan pangan.memang Negara Peserta mengalami kesulitan dalam melaksanakan kewajiban untuk melindungi dan memenuhi hak secara penuh. Konsep kewajiban minimum diajukan oleh Komite untuk menyangkal alasan tidak adanya sumberdaya sebagai faktor yang mencegah pemenuhan kewajiban. Tetapi terpisahnya logika globalisasi ekonomi dengan kerangka kerja hak asasi manusia menjadikan harapan akan membaiknya situasi derita dunia menjadi pupus kembali. atau tiada akses terhadap pendidikan dasar merupakan petunjuk awal bagi kegagalan Negara untuk memenuhi kewajiban sebagaimana diatur Kovenan. Empat Pilar Demokrati- sasi Melawan Kemiskinan dan Pemiskinan.19 C.. 4 • Th. Prinsip-prinsip ini memberikan kerangka dasar bagi pengembangan lebih lanjut atas berbagai asumsi dan konsep pelanggaran Hak Ekosob. Jakarta. JURNAL HAM • Vol. Dalam perkembangannya.al. 2005.

Komite menyatakan bahwa hak ekosob juga menjadi urusan pengadilan. Social and Cultural Rights. upah yang sama bagi pekerjaan yang sama antara laki-laki dan perempuan (Pasal 7 huruf (a) angka (i) Kovenan). hak untuk mendirikan dan mengarahkan sekolah (Pasal 13 ayat (4) Kovenan). (vi) gagal menyampaikan laporan sebagai ditentukan dalam Kovenan.3 telah mengidentifikasi beberapa ketentuan Kovenan yang bisa ditangani segera oleh pihak yudikatif. No. Jika belum maka. Dengan begitu. May 1987. atau lebih dikenal dengan Limburg Principles. dan budaya merupakan wilayah eksekutif dengan berbagai kebijakan dan programnya. Vol. pendidikan dasar (Pasal 13 angka (2) huruf (a) Kovenan). 2007 the International Covenant on Economic. Human Rights Quarterly. maka pemahaman akan penegakan realisasi hak ekonomi. Sementara itu. seperti: non-diskriminasi dalam realisasi hak (Pasal 3 Kovenan). (iii) gagal untuk mengimplementasikan hak yang perlu segera direalisasikan. Komite Hak Ekosob melalui Ko20 The Limburg Principles on the Implementation of mentar Umum No. p. (iv) menerapkan pembatasan atas hak yang diakui dalam Kovenan dengan alasan-alasan yang tidak sesuai seperti yang disyaratkan Kovenan. di sisi lain. E/CN. Dapat juga ditemukan pada UN doc.4/1987/17. 2. Untuk mengukur apakah Negara berhasil atau sebaliknya gagal dalam menjalankan obligasinya. annex. 122. perlu dibuat blue-print untuk masing-masing pemenuhan hak ekosob.Pelanggaran terhadap Kovenan tersebut. hak orang tua untuk memilihkan sekolah bagi anak-anaknya guna menjamin pendidikan agama serta moral yang sesuai dengan keyakinan mereka (Pasal 13 ayat (3) Kovenan). dapat dimaknai. dalam situasi dan kondisi dimana Negara Peserta: (i) gagal mengambil langkah-langkah seperti yang disyaratkan dalam Kovenan. 9. sosial. menurut Komite. (ii) gagal menyingkirkan segera atas berbagai hambatan yang menghalangi realisasi hak secara penuh. karena pengembangan konsep pelanggaran hak banyak difokuskan pada pemenuhan kewajiban. upah yang adil dan setara. dihasilkan dalam sebuah pertemuan pakar hukum internasional di Maastricht. hak untuk membentuk serikat buruh dan hak mogok (Pasal 8 Kovenan). penegakan hak-hak yang terkandung dalam Kovenan Hak Ekosob ini bisa ditangani oleh pihak yudikatif. yang dimuat dalam katalog hak Kovenan – utamanya dalam Bab III (Pasal 6 sampai dengan 15 Kovenan) Sebagai contoh. perlindungan anak dari eksploitasi ekonomi dan sosial (Pasal 10 ayat (3) Kovenan). Komite jelas menolak pemahaman ini. dalam rangka pemeJURNAL HAM • Vol. seperti termuat dalam Kovenan Hak Ekosob. 4 • Th. Belanda pada Juni 1986. kebebasan melakukan penelitian ilmu pengetahuan serta kegiatan kreatif (Pasal 15 ayat (3) Kovenan). dapat menggunakan kebijakan dan standard yang sudah ada. (v) sengaja menghambat atau menghalangi realisasi bertahap atas hak-hak yang diakui dalam Kovenan. 32 .

pakaian dan perumahan yang layak.nuhan hak setiap orang untuk menikmati standard hidup yang layak bagi dirinya dan keluarganya. Selain itu. dokmen ini disusun dengan perspektif. dalam Human Development Index (HDI) naik dan terjadi peningkatan indikatorindikator kesejahteraan. Mekanisme Monitoring Pelaksanaan Obligasi Negara Selain memberikan penafsiran dan elaborasi terhadap pasal-pasal dalam Kovenan. Menariknya. menggantikan sebuah Kelompok Kerja (Working Group) yang dibentuk Dewan Ekonomi dan Sosial – Economic and Social Council (ECOSOC). kualitas kehidupan seseorang sangat bergantung pada realisasi hak-hak asasinya. Mekanisme monitoring implementasi ketentuan dalam Kovenan Hak Ekosob. dibandingkan “Komite Hak Asasi Manusia”. melindungi dan memenuhi (memfasilitasi dan menyediakan) hak-hak ekosob masyarakat.2. atau disebut dengan mekanisme berdasarkan perjanjian (treatybased mechanism). 4 • Th. 21 Komite Penanggulangan Kemiskinan (KPK). dokumen SNPK ini. peristiwa kemiskinan adalah masalah hak asasi manusia. menghormati. Komite ini terdiri dari 18 pakar independen yang bekerja untuk memeriksa (mengeksaminasi) laporan Negara Pihak dalam menjalankan obligasi (kewajiban) yang tercantum di Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. Walaupun “terlambat” lahir.21 SPNK dapat dikatakan berhasil antara lain jika peringkat Indonesia. Menjadi menarik di sini. SPNK juga memuat rekomendasi caracara penghapusan kemiskinan dan pencapaian tujuan Millenium Development Goals (MDGs) dengan mekanisme implementasi yang diadopsi oleh Kovenan Hak Ekosob. C. yang memandang problem kemiskinan berkait langsung dengan tidak terpenuhinya hak-hak dasar. tegi Nasional Penanggulangan Kemiskinan. melakukan pemantauan terhadap implementasi obligasi Negara Pihak dalam mempromosikan. 2007 33 . Karenanya. serta peningkatan kondisi kehidupan secara terusmenerus. Memeriksa. kebijakan ini merupakan bentuk pengakuan. dilakukan antara lain melalui pengawasan yang dilakukan Komite Hak Ekosob yang dibentuk berdasarkan Kovenan. fungsi utama Komite Ekosob. Para penanggungjawab dan aparat Negara yang terlibat dalam perencanaan. pelaksanaan dan evaluasi semestinya dapat dimintai pertanggunjawaban secara politik dan hukum. Dalam dokumen ini juga ditegaskan. dan di sisi lain adalah menjadi kewajiban Negara untuk melaksanakan realisasi hak-hak asasi itu sepenuhnya. dapat dikatakan. di satu sisi. Komite Hak Ekosob mulai menjalankan fungsinya sebagai lembaga pengawas pada 1986. pemerintah misalnya telah merumuskan kebijakan Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SPNK). termasuk ketercukupan pangan. tapi juga politik dan hukum. karena dokumen ini kemudian dijadikan rujukan bagi penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009. Sosial dan Budaya (Kovenan Hak Ekosob). Stra- dokumen SPNK mesti diletakan pada dokumen yang semestinya membawa implikasi bukan saja ekonomi. utamanya hak-hak ekosob. Oktober 2005. Dokumen kebijakan ini menggunakan pendekatan berbasis hak untuk memahami kemiskinan dan mengembangkan upaya-upaya penanggulangannya. dan termasuk pula sebagai rujukan penyusunan Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD) dan RPJM Daerah JURNAL HAM • Vol.

Komite Hak Ekosob dalam menjalankan fungsinya juga mendengarkan pendapat dan masukan dari para pelapor khusus ini (lihat Tabel 3). Tabel 3 Prosedur Khusus dibawah Komisi Hak Asasi Manusia. annex. Dialog yang terjadi antara Komite dengan perwakilan Negara dikembangkan. dengan Mandat Tematik yang relevan dengan Hak-hak Ekosob (Per 1 Februari 2006) Nama/Mandat Dasar Pemberian Nama dan asal negara Mandat pemegang mandat Tahun Nomor Resolusi 2000 2000/9 Pelapor khusus untuk perumahan yang layak – sebagai komponen hak atas standar hidup yang tinggi Pelapor Khusus untuk hak atas pendidikan Pakar independen tentang masalah hak asasi manusia dan kemiskinan yang ekstrim Mr. seperti dinyatakan dalam Pasal 11 Kovenan. yang kemudian dikembangkan di Maastricht pada 1986. Scientific and Cultural Organisation (UNESCO). Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB – United Nations Educational. Komite bekerjasama dengan lembaga-lembaga khusus PBB yang lain. 2007 . Komite bekerja sama dengan Organisasi Pangan dan Pertanian – Food and Agriculture Organisation (FAO). Komite juga memperhatikan dokumen yang berkaitan dengan hak-hak ekosob. Sebagai contoh. Miloon KOTHARI (India) 1998 1998 1998/33 1998/25 Vernor MUOZ VILLALOBOS (Kosta Rika) Arjun SENGUPTA (India) 34 JURNAL HAM • Vol.22 Selain treaty-based mechanism tersebut. seperti Prinsip-prinsip Limburg (Limburg Principles).4/1987/17. untuk selanjutnya Komite memberikan rekomendasi tentang hal-hal yang perlu dilakukan Negara selanjut- nya. Limburg Principles on the Implementation of the International Covenant on Economic. Contoh lain. 4 • Th. Demikian juga kerjasama dengan Organisasi Buruh Internasional – International Labor Organisation (ILO) dalam kaitan dengan hak-hak buruh atau bekerjasama dengan UN Centre for Human Settlement (Habitat) berkaitan dengan hak setiap orang untuk menikmati perumahan yang layak. dalam memeriksa laporan yang berkaitan dengan obligasi negara untuk memenuhi hak atas pangan. maka dimungkinkan juga pengawasan dilakukan berdasarkan nontreaty based seperti prosedur khusus (special procedure) dibawah Komisi Hak Asasi Manusia (Commission on Human Rights) – yang sekarang diganti oleh Dewan Hak Asasi Manusia (Human Rights Council). Social and Cultural Rights. Dalam hal ini. 22 Lihat UN doc. Dalam melaksanakan fungsinya. Dokumen ini dirumuskan dan disetujui oleh kelompok ahli dalam pertemuan hukum internasional di Maastricht Belanda. Komite dituntut selalu mengembangkan praktik kreatif untuk mendorong Negara Pihak benarbenar menjalankan kewajibannya. dalam memeriksa obligasi pemenuhan hak atas pendidikan.Dalam menjalankan fungsinya. E/CN. Komite mengambil manfaat dan bekerjasama dengan para pakar yang bekerja pada Organisasi Pendidikan.

4 • Th. DPR dan lembaga yudikatif. berdasarkan Kovenan Hak Ekosob. Tanpa kehadiran atau absennya pilihan idelogi yang benar-benar hendak membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik: kesejateraan rakyat dan keadilan sosial. politik dan hukum. dimana Komite senantiasa meminta atau terbuka untuk menerima masukan dari organisasi-organisasi non-pemerintah ketika memeriksa laporan yang disampaikan Negara Pihak. Penutup: Preferensi Ideologi Kerakyatan. Walter K‰lin (Swis) 2004 1999 2005 2005 2004/55 (untuk 2 tahun) 1999/44 2005/79 (2 tahun) 2005/55 (untuk 3 tahun) 2000/82 Jorge A. sa- 35 .Pelapor khusus untuk hak atas pangan Pelapor khusus tentang hak setiap orang menikmati standar fisik dan mental tertinggi yang dapat dicapai Pelapor khusus tentang situasi hak asasi manusia dan kebebasan fundamental penduduk asli/adat Perwakilan Sekretaris Jenderal untuk hak-hak asasi pengungsi didalam negeri Pelapor Khusus tentang hak-hak penduduk migran Pakar independen untuk isu-isu minoritas Pakar independen tentang hak asasi manusia dan solidaritas internasional Pakar independen untuk dampak pembaharuan kebijakan ekonomi dan utang luar negeri Pelapor khusus tentang dampak yang ditimbulkan pemindahan dan pembuangan produk dan limbah beracun dan berbahaya terhadap penikmatan hak asasi manusia Pelapor khusus tentang perdagangan manusia. Rodolfo STAVENHAGEN (Meksiko) Mr. dapat dikatakan. BUSTAMANTE (Meksiko) Gay MCDOUGALL (Amerika Serikat) Rudi Muhammad RIZKI (Indonesia) Bernards Andrew NYAMWAYA MUDHO (Kenya) Okechukwu IBEANU (Nigeria) 2000 1995 Resolution 1995/81 2004 2005 2004/110 (untuk 3 tahun) 2005/69 (untuk 2 tahun) Sigma HUDA (Bangladesh) John Ruggie (Amerika Serikat) Penting untuk diingatkan lagi. maka norma dan standar hak asasi manusia hanya menjadi tumpukan kertas tebal yang dibinding apik: sebagai bahan rujukan tanpa tindakan. khususnya perempuan dan anak Perwakilan khusus Sekretaris Jenderal tentang hak asasi manusia dan korporasi trans-nasional dan perusahaan bisnis lainnya 2000 2002 2001 2000/10 2002/31 (untuk 3 tahun) 2001/57 Jean ZIEGLER (Swis) Mr. D. 2007 Begitu juga obligasi atau kewajiban dari Negara dalam pemenuhan hak ekosob. Paul HUNT (Selandia Baru) Mr. JURNAL HAM • Vol. Namun. bahan bakar pemenuhan hak ekosob ini. partisipasi dan keterlibatan masyarakat dimungkinkan secara penuh. Keadilan Sosial dan Kebebasan Masyarakat Secara normatif. jelas apa yang menjadi hak setiap warga negara. Tidak hanya pemerintah yang tengah berkuasa. tidak lain tidak bukan adalah ideologi yang mendasari orde ekonomi.

dan para hakim yang menyadari benar dan mampu menyelami suasan kebatinan dan tujuan berdirinya Republik ini. perlu dicatat.4/1987/17. Social and Cultural Rights. Tantangannya tidak lain: melahirkan kembali para pemimpin. Social and Cultural Rights. 23”– 25 Februari 2006. “Cara Mudah Menjadi Kepala Daerah: Dari Komitmen Pemenuhan Hak Ekosob Rakyat”. para anggota parlemen.. Entry into force 3 January 1976. —————.. Mempraktikannya di Indonesia. “Justisiabilitas Hak-hak Ekonomi.M in International Human Rights Law. pp. 4 • Th. 36 – 47. antara lain: menentang imperialisme dan menyejahterakan semua rakyat Indonesia. Essex University. 2007 . 35/2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Untuk Kepentingan Umum Kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009. —————. misalnya justeru malah melapangkan jalan bagi komersialisasi air dan mampetnya akses masyarakat terhadap sumber-sumber air. The Limburg Principles on the Implementation of the International Covenant on Economic. “A critical contextual human rights analysis of Kedung Ombo Large Dam Project in Indonesia”. paper pada Pendidikan Kritis untuk Aktivis Partai Politik (Penegakan Demokrasi dan Pemenuhan Hak Ekosob). 7/2004 tentang Sumber Daya Air Peraturan Presiden No. in accordance with article 27. 2005. 11/2005. atau putusan-putusan Mahkamah Agung juga membawa implikasi terhadap jaminan hak-hak ekosob. Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SPNK). Sebagai akhir. —————. UN docs. UU No. annex. Dissertation for LL. Zen. Sebaliknya putusan Mahkamah Agung yang memenangkan pengujian Peraturan Daerah (Pemda) yang merubah status sejumlah rumah sakit umum daerah (RSUD) Jakarta – menjadi Perseroan Terbatas (PT) justru dapat dikatakan sebagai sebuah benteng terhadap komersialisasi pelayanan kesehatan. 36 JURNAL HAM • Vol. GA Res. et. GAPRI: Jakarta.al. UN doc. paper diskusi pada”“Development and Human Rights”. kerjasama LBH Bandar Lampung dan FES Jakarta. Artikel/paper A.lah satunya dapat membawa masalah tersendiri dalam upaya pemenuhan hak ekosob. dalam UU No. Vol. 7/2004 tentang Sumber Daya Air. Sosial dan Budaya). Putusan-putusan Mahkamah Konstitusi. University of Essex (2002). 2200A (XXI). 16 December 1966. International Covenant on Economic. Sosial dan Budaya: Menarik Pengalaman Internasional. Bandar Lampung. dinyatakan bahwa pertimbangan Indonesia menjadi Negara Pihak Kovenan Hak Ekosob karena “Indonesia adalah negara hukum dan sejak kelahirannya pada 1945 menjunjung tinggi HAM”. Tidak Dipublikasikan —————. Empat Pilar Demokratisasi Melawan Kemiskinan dan Pemiskinan. yang seharusnya menjadi obligasi Negara. 11/2005 tentang Pengesahan International Covenant on Economic.” dalam Jurnal HAM (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia). Mudah-mudahan janin yang ada tak lama lagi lahir! Daftar Pustaka Peraturan Perundang-undangan UU No. Andik Hardiyanto.“What does the rights to participate mean”. 1 No. 26 September 2002. Putusan Mahkamah Konstitusi yang menolak permohonan pengujian UU No. 1 Oktober 2003. Social dan Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. E/CN.. Patra M.

“Pemerintahan SBY-Kalla Menunjukkan Watak Aslinya: Mendahulukan Kepentingan Pemilik Modal Daripada Kepentingan Masyarakat”. Sejumlah Kalangan Nilai yang Direvisi Tak Signifikan”.General Comment Committee on Economic. ————. Perpres Nomor 36/2005 Harus Dibatalkan”. 2. Twentieth session (1999). General Comment No. Fact Sheet No. 15: The right to water (arts. “YLBHI Minta Revisi Perpres Diwaspadai”. 2007 37 . Kompas. Pemerintah Dinilai Lebih Represif”. ————. Revisi Perpres Tanah. General Comment No. KSPA dan ELSAM. Kompas. ————. 1). Third session (1989). “Perpres tentang Pengadaan Tanah. 36/ 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Fact sheet OHCHR. Twenty-ninth session (2002). “Selesai. 16 (Rev. Social and Cultural Rights CESCR. para. Sixteenth session (1997). 4: The right to adequate housing (art. Fifth Session. Social and Cultural Rights. “Lebih Represif. ————. 11 and 12 of the Covenant). 11 (1) of the Covenant): Forced Evictions. Lainnya Siaran Pers Bersama Yayasan LBH Indonesia. ————. General Comment No. 9: the domestic application of the Covenant. General Comment No. 11: Plans of action for primary education. 6 Juni 2006. General Comment 3: The Nature of States partie’s obligations (art. Sixth session (1991). Kompas. 10 Mei 2005. General comment No. 10 Mei 2005. 11 (1) of the Covenant). 9 Mei 2005 tentang Penetapan Peraturan Presiden No. Suara Pembaruan. JURNAL HAM • Vol. The Committee on Economic. Walhi. 4 • Th. 7 Juni 2006. 1: Reporting by States parties. ————. General Comment No. Nineteenth session (1998). 1 of the Covenant). 1990. 7: The right to adequate housing (art.

Tahun 1946 PBB membentuk sebuah Komisi khusus menangani upaya pemajuan dan perlindungan HAM dan tahun 1948 berhasil menyusun Deklarasi Universal HAM. Social and Cultural Rights (ICESCR) pada tahun pertama. 1 The Indonesian National Plan of Action on Human Rights 1998-2003. 2 Revisi The Indonesian National Plan of Action on Human Rights 1998-2003. Ketentuan dalam Deklarasi tersebut kemudian dituangkan dalam Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik dan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. Direktorat Organisasi Internasional. orang tersebut akan menjadi manusia yang tidak normal lagi. 4 • Th. Berdirinya PBB diharapkan akan dapat mengurangi penderitaan umat manusia melalui penghormatan harkat dan martabat manusia itu sendiri. Direktorat Jenderal Multilateral. I. Jakarta 25 June 1998. Pembahasan mengenai HAM ini semakin mengemuka setelah berdirinya PBB tahun 1945 yang dilatarbelakangi kesadaran masyarakat internasional untuk menghentikan perang yang ternyata hanya menimbulkan penderitaan bagi umat manusia. Sosial dan Budaya yang diterima Majelis Umum PBB tahun 1966. JURNAL HAM • Vol. the Indonesian Government is also expected to fulfill its reporting obligations to the Secretary General of the United Nations with regard to the implementation of the Covenant. a. Karena itu tidak mengherankan sedikitnya 7 ketentuan Piagam PBB yang menyangkut HAM dan kebebasan mendasar. Latar Belakang Ratifikasi ICCPR Gagasan pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) secara resmi dapat dilihat dari RAN-HAM 1998-2003 di mana disebutkan bahwa kovenan itu akan diratifikasi pada tahun ke-lima (2003)1 sedangkan International Covenant on Economic.2 Namun hingga RAN-HAM pertama tersebut berakhir tahun 2003 ICCPR belum dapat diratifikasi. Pendahuluan Hak asasi manusia adalah hak yang melekat pada seseorang dan kalau diambil. Jakarta 25 Juni 1998. Direktorat Hak Asasi Manusia dan Kemanusiaan. Namun dalam perkembangannya terutama setelah memperoleh masukan dari berbagai lapisan masyarakat akhirnya kedua kovenan disepakati untuk diratifikasi pada tahun ketiga yakni tahun 2001.KEWAJIBAN NEGARA DALAM ICCPR Jonny Sinaga* Abstract The ratification of the International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) has brought new obligations for the Government of the Republic of Indonesia. Menurut catatan sejarah Perang Dunia II saja menelan korban 60 juta jiwa. In addition. Direktorat Organisasi Internasional. 2007 38 . Departemen Luar Negeri. Dalam RAN-HAM periode 2004-2009 kedua kovenan kembali dicantumkan sebagai * Penulis adalah Kepala Sub-Direktorat Hak Sipil dan Politik. These obligations consist of general obligation and specific obligation. The general obligation of the Indonesian Government is to take appropriate measures and to develop appropriate policies so as to give effects to the rights in the Covenant.

Departemen Hukum dan HAM. 8 Paragraf 4 pembukaan Kovenan. 4 Resolusi Majelis Umum PBB No. 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik) tanggal 28 Oktober 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 nomor 119). Pemerintah kemudian menyerahkan piagam pengesahan kepada Sekjen PBB tanggal 23 Februari 2006. 2006. upaya menyusun sebuah kovenan tunggal HAM dimulai tetapi karena dominasi negara-negara tertentu di Komisi HAM. a. 2200A (XXI) tanggal 16 Desember 1966.3 Sebagaimana dimaklumi Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (ICCPR) yang disahkan oleh Majelis Umum PBB tahun 19664 merupakan dokumen internasional penting yang mengikat secara hukum bagi negara-negara yang telah mengesahkannya. TREATIES-6.N. Depositary notification tanggal 3 Marte 2006. Kewajiban umum negara pihak Ketika suatu negara menjadi pihak pada perangkat HAM internasional. dan memenuhi hak-hak asasi sebagaimana diatur dalam perangkat HAM internasional dimaksud. Berlakunya ICCPR bagi Indonesia Indonesia mengesahkan Kovenan tersebut melalui UU No.6 Sesuai dengan penegasan Sekjen PBB ter3 Rencana Aksi Hak Asasi Manusia Indonesia 2004- tanggal 3 Maret 2006. Segera setelah Deklarasi Universal HAM diterima oleh Majelis Umum PBB tahun 1948.prioritas ratifikasi yang dijadwalkan diratifikasi tahun 2004. maka terpaksa disusun dua kovenan. 39 . melindungi. Permanent Mission of the Republic of Indonesia to the United Nations. Initial edition 2005. 5 Indonesia and the United Nations: Working for Peace and Development. Kovenan tersebut berlaku bagi Indonesia mulai tanggal 23 Mei 2006 yakni 3 bulan setelah Sekjen PBB menerima piagam pengesahannya. Direktorat Jenderal Perlindungan HAM.5 Kedua kovenan tersebut baru pada tahun 1966 dapat disepakati oleh sidang Majelis Umum PBB. Reference: C. Kewajiban Negara Pihak pada ICCPR Dengan disahkannya9 ICCPR maka sudah barang tentu akan menimbulkan kewajiban baru bagi negara yang mengesahkan perangkat internasional tersebut. Baik ratifikasi maupun aksesi mempunyai dampak hukum yang sama. maka Pemerintahnya mempunyai tiga kewajiban yakni menghormati. serta kewajiban khusus negara pihak untuk menyampaikan laporan kepada Sekjen PBB mengenai pelaksanaan kovenan. 4 • Th. JURNAL HAM • Vol. b. 206. Diterbitkan oleh Departemen Luar Negeri. 6 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2005 Tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional Tentang Hak-hak Sipil dan Politik).8 II.7 Negara-negara pihak pada ICCPR di dalam pertimbangannya menyatakan bahwa sesuai dengan Piagam PBB negara mempunyai kewajiban untuk memajukan penghargaan universal dan pengasawan hak dan kebebasan manusia. New York.2006. 2007 7 Sesuai dengan pasal 49 (2) Kovenan Internasional Hak-hak Sipil dan Politik. 9 Pengesahan mencakup dua hal yakni ratifikasi (mengesahkan dan ikut sebagai penanda-tangan) dan aksesi (mengesahkan tetapi tidak ikut sebagai penanda-tangan). Kewa- 2009. Kewajiban negara pihak ini dapat digolongkan ke dalam dua bagian yakni kewajiban berupa langkah atau kebijakan yang harus diambil Pemerintah guna menjamin pelaksanaan hak-hak yang ditur dalam kovenan.

by Allan McChesney. dan mengatur sanksi terhadap pelanggaran yang dilakukan individu atau kelompok. Chapter 2. 2000 Washington. Social and Cultural Rights: A Handbook. standar dan noma HAM yang universal saat ini dapat dilihat dalam ketentuan hukum domestik hampir di seluruh negara-negara anggota PBB. 2007 40 . DC. atau dengan cara lain sebagai pelaksanaan kewajiban yang diatur di dalam perangkat HAM dimaksud. Office of the High Commissioner for Human Rights.10 Menurut PBB. daripada negara itu terburu-buru mengesahkannya padahal setelah disahkan sesungguhnya belum siap untuk melaksanakannya. Kewajiban melindungi hak asasi manusia berarti negara berkewajiban untuk melakukan tindakan tindakan guna mencegah pelanggaran HAM terhadap warga negara.ch/html/menu6/2/fs19. Dengan demikian. langkah anggaran atau ekonomi.unhchr. Hal ini tentunya sekaligus merupakan salah satu jawaban terhadap pertanyaan yang sering muncul di kalangan masyarakat yakni mengapa Indonesia baru mengesahkan kovenan penting dimaksud pada tahun 2005 padahal kovenannya sudah diterima tahun 1996 dan kovenan itu memuat berbagai ketentuan penting dalam upaya pemajuan dan pelindungan HAM. Tentunya akan lebih baik menunggu sampai suatu negara pihak siap melakukan isi suatu perangkat internasional. Artinya selama ini Pemerintah Indonesia belum dalam keadaan siap untuk mengemban kewajiban baru yang timbul akibat pengesahasan kovenan dimaksud. 13 Paragraf 5 Deklarasi Universal HAM Tahun 1948. published by AAAS and HURIDOCS. 4 • Th. Sebagai contoh Deklarasi Universal HAM tahun 194813 yang sudah diter10 Disadur dari : Promoting and Defending Economic. JURNAL HAM • Vol. ICCPR yang mulai berlaku tanggal 23 Maret 1976 sesuai dengan pasal 49 ICCPR. National Institutions for the Promotion and Protection of Human Rights.19.htm.11 Dengan demikian dapat dipahami bahwa hingga bulan Juni 2006 baru 156 negara12 yang mengesahkan kovenan dimaksud karena memang negara-negara yang mengesahkan tersebut akan mempunyai kewajiban baru sebagaimana disebutkan dalam Kovenan.jiban menghormati hak asasi manusia berarti negara berkewajiban untuk menahan diri dari tindakan yang mencampuri atau mengurangi pemenuhan hak-hak warga negaranya. Dalam kewajiban ini termasuk upaya untuk mendorong warga negara untuk menghormati HAM orang lain. Artinya negara tidak boleh melakukan tindakan yang bertentangan dengan hak-hak asasi manusia warganya. badan peradilan dan administratif. pembentukan komisi-komisi nasional. 12 http://www. 11 Fact Sheet No. maka negara-negara itu biasanya akan memasukkan ketentuan-ketentuan di dalamnya ke dalam hukum domestik secara langsung.htm).org/english/countries/ratification/ 4.org/escr/handbook/. Kewajiban memenuhi hak asasi manusia berarti negara berkewajiban untuk mengambil tindakan guna mewujudkan pelaksanaan HAM secara penuh.aaas. (http:// www. maka di dalam perkembangannya beberapa jaminan itu dikembangkan lagi di kemudian hari ke dalam beberapa konvensi baru. ketika negara-negara mengesahkan suatu perangkat HAM internasional. terdiri dari enam bagian dan memuat 53 pasal. Dalam hal ini termasuk pembuatan peraturan. Dari ke-53 pasal tersebut terdapat beberapa ketentuan yang meminta negara pihak untuk menjamin hak-hak sipil dan politik warganya. online: AAAS Huridocs: http://shr. Karena ketentuan dalam ICCPR ini adalah ketentuan pokok.ohchr.

16 Diterima oleh Majelis Umum PBB melalui resolusi no. pandangan politik ataupun pandangan lainnya. jenis kelamin.24 pelarangan campur tangan tanpa dasar hukum atas privasi. suratmenyurat seseorang dan serangan 14 Pasal 1 ICCPR. 2007 Selanjutnya negara pihak pada ICCPR mempunyai kewajiban untuk menghormati hak-hak asasi manusia sebagaimana diakui oleh Kovenan dan menjamin bahwa pelaksanaannya tidak akan diskriminatif baik berdasarkan ras. agama. pelarangan peraturan perundang-undangan kriminal yang bersifat retroaktif.19 penangkapan dan penahanan yang sewenang-wenang.23 Di samping itu ICCPR memberikan kewajiban bagi negara pihak untuk menerapkan persamaan setiap orang di depan hukum. namun ketentuan ICCPR tersebut ternyata oleh masyrakat internasional dianggap belum cukup memadai untuk menjamin tidak adanya diskriminasi tersebut. melalui Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 34/180 tanggal 18 Desember 1979. Jawa. warna kulit. 24 Pasal 14 ICPPR.16 Negara pihak juga diharapkan memberikan perlindungan atas hak untuk hidup. sehingga diperlukan suatu ketentuan yang bersifat mengikat secara hukum. status kelahiran atau status lainnya. 20 Pasal 9 ICCPR.2106 (XX) tanggal 21 Desember 1965. 22 Pasal 11 ICCPR.18 pelarangan terhadap perbudakan. 4 • Th.14 Pasal ini mempunyai arti yang sangat penting pada saat perumusan Kovenan tahun 1966. asal usul kebangsaan atau sosial. baik sewaktu perkawinan maupun setelah perkawinan. 19 Pasal 8 ICCPR. JURNAL HAM • Vol. Madura.21 kebebasan bergerak dan kebebasan untuk memilih tempat tinggal.20 perlakuan yang manusiawi. hak milik. Ketentuan yang berupada pernyataan dalam DUHAM tersebut kemudian diatur dalam Pasal 3 ICCPR yang mengikat secara hukum yang menjamin bahwa antara pria dan wanita tidak boleh dilakukan diskriminasi. Sunda. 23 Pasal 13 ICCPR. 15 Pasal 2 ICCPR.15 Begitu pentingnya ketentuan ini sehingga pada tahun 1966 lahirlah Konvensi Penghapusan Diskriminasi Rasial Dalam Segala Bentuknya.jemahkan ke dalam lebih 300 bahasa (termasuk bahasa Bali. rumah. 17 Pasal 6 ICCPR. termasuk apabila bercerai. 18 Pasal 7 ICCPR. Sekalipun sudah mengikat secara hukum. 21 Pasal 10 ICCPR. bahasa.22 dan batasan-batasan untuk melakukan pengusiran orang-orang asing secara hukum dari negara pihak. Namun pernyataan tersebut tidak mengikat secara hukum. Kewajiban lain bagi Pemerintah dengan mengesahkan ICCPR adalah menjamin agar semua bangsa berhak untuk menentukan nasibnya sendiri. serta mempunyai hak yang sama di dalam perkawinan. 41 . Akhirnya pada tahun 1979 Majelis Umum PBB menerima Konvensi Penghapusan Diskriminasi Terhadap Wanita (CEDAW) yang memuat 30 pasal mengenai ketentuan yang menjamin hak-hak wanita. Pasal 16 DUHAM juga menyatakan bahwa wanita dewasa mempunyai hak yang sama untuk kawin dan membentuk keluarga.17 hak untuk tidak disiksa. karena ketika itu banyak negara atau bangsa yang masih dijajah dan penjajahan nampaknya masih dianggap sesuatu yang lumrah. keluarga. dan Bahasa Indonesia) antara lain memuat deklarasi atau pernyataan yang menyatakan persamaan hak antara pria dan wanita.

org/english/bodies/hrc/members.30 Di samping itu ICCPR juga meletakkan landasan bagi perlindungan hakhak untuk anak-anak. 31 Pasal 24 ICCPR.37 Tahun 2006 Komite HAM yang terdiri dari 18 anggota dalam kapasitas pribadi. hati nurani (conscience) dan agama. 38 http://www. 33 Pasal 26 ICCPR.29 hak pria dan wanita atau usia kawin untuk menikah dan mendirikan suatu keluarga dan prinsip persamaan atas hak-hak dan kewajiban pasangan suatu perkawinan juga diatur dalam bagian ini. serta memilih dan dipilih. Laporan Pendahuluan (initial report) pelaksanaan Kovenan sudah harus disampaikan kepada Sekjen PBB dalam kurun waktu satu tahun setelah Kovenan berlaku bagi negara pihak.htm. 37 Pasal 28 ICCPR. 32 Pasal 25 ICCPR.ohchr.31 pengakuan terhadap hak dari setiap warga negara untuk mengambil bagian dalam pelayanan umum.25 perlindungan terhadap hak untuk kebebasan berpikir. 25 Pasal 17 ICCPR. Terdapat pemikiran di kalangan masyarakat hukum Indonesia bahwa dengan mengesahkan suatu perangkat hukum internasional seperti traktat.38 Sesuai dengan pasal 40 ICCPR.32 Selanjutnya diatur agar semua orang mendapatkan perlakuan yang sama di depan hukum. 27 Pasal 19 ICCPR. 36 Komite HAM berbeda dengan Komisi HAM.28 hak kebebasan untuk bersekutu. JURNAL HAM • Vol. Sekjen PBB kemudian akan menyerahkan laporan tersebut kepada Komite Hak Asasi Manusia36 yang dibentuk para negara pihak untuk mengawasi pelaksanaan kovenan. maka Negara dimaksud diwajibkan untuk membuat ketentuan atau kebijakan baru sehingga hak-hak yang ditaur dalam kovenan dapat dijamin atau dilindungi. tetapi bagi negara manapun yang telah meratifikasi kovenan dimaksud. 26 Pasal 18 ICCPR.27 Selanjutnya ICCPR mengharapkan negara pihak untuk mengakui hak berkumpul secara damai. 34 Pasal 27 ICCPR. 4 • Th. 35 Pasal 40 ICCPR. 29 Pasal 22 ICCPR. 30 Pasal 23 ICCPR. diketuai oleh Ms Christine Chanet (Perancis) yang masa keanggotaannya berakhir tanggal 31 Desember 2006.33 serta perlindungan terhadap kelompok minoritas. Komite b.34 Jika Negara pihak pada ICCPR belum memiliki peraturan perundang-undangan atau kebijakan yang mengatur jaminan terhadap hak-hak tersebut.26 serta kebebasan berpendapat dan berekspresi. Setelah itu kewajiban pelaporan Negara pihak tergantung pada permintaan Komite. 2007 42 . 28 Pasal 21 ICCPR.tanpa dasar hukum atas kehormatan dan reputasinya. Sedangkan Komisi HAM adalah badan PBB di bawah ECOSOC di bidang HAM yang terdiri dari 53 negara anggota. Hal ini akan menjadi tantangan bukan saja bagi Indonesia. kepada Sekjen PBB. Kewajiban Pelaporan Pelaksanaan ICCPR Salah satu kewajiban Pemerintah yang timbul akibat pengesahan ICCPR35 adalah kesediaan Pemerintah menyampaikan laporan pelaksanaannya HAM merupakan Komite yang dibentuk untuk mengawasi pelaksanaan ICCPR oleh negara-negara pihak pada ICCPR dan anggotanya merupakan individu-individu dalam kapasitas pribadi. Komisi HAM ini kemudian dibubarkan tanggal 16 Juni 2006 dan digantikan oleh Dewan HAM di bawah Majelis Umum PBB dengan 47 negara anggota.

namun di dalam kenyataannya dengan adanya kewajiban negara pihak untuk menyampaikan laporan pelaksanaan perangkat internasional tersebut. Pendapat semacam ini sesungguhnya dapat merugikan Negara pihak karena dapat dianggap tidak sungguh-sungguh atau tulus melaksanakan isi perangkat internasional. 4 • Th. bukan berarti bahwa perangkat internasional tersebut sudah berlaku bagi Indonesia. pengambilan sumpah. pembentukan Komisi Konsiliasi (conciliation commission) oleh Komite.39 Para anggotanya dipilih dari calon-calon negaranegara pihak dalam kapasitas pribadi. Hal itu kemudian akan tercermin dalam kesimpulan Komite mengenai pelaksanaan kovenan di negara yang bersangkutan. namun Komite akan melihat secara kritis apa yang dilakukan oleh negara pihak dan apa kekurangannya. fasilitas. Di samping itu. tempat pertemuan. masih diperlukan peraturan pemerintah untuk melaksanakannya. peradaban dan sistem hukum. Bagian ini juga meminta negara pihak mendeklarasikan pengakuan kepada Komite untuk menerima pengaduan. 2007 peraturan pemerintah sebagai pelaksanaannya. Sebaiknya Indonesia tidak perlu mempertentangkan apakah perangkat internasional yang sudah disahkan sudah berlaku atau belum tanpa adanya JURNAL HAM • Vol. pembuatan anggaran rumah tangga. Terlepas dari kebenaran dua pandangan di atas. bahkan memanfaatkan perangkat tersebut untuk kepentingan masyarakat banyak. tetapi sekalipun negara pihak sudah berupaya optimal. pemilihan pegawai. Yang lebih penting adalah bagaimana seoptimal mungkin menerapkan. bagian ini juga memuat kewajiban Komite untuk memperoleh hasil penelitian atas laporan kepada Sekjen PBB dan tanggapan negara pihak atas laporan Komite tersebut. ICCPR juga memuat ketentuan-ketentuan mengenai pembentukan Komite Hak-hak Asasi Manusia. Proses pencalonan pemilihan calon dengan suara terbanyak oleh wakil-wakil negara-negara pihak didasarkan pada keseimbangan geografis. maka sesungguhnya ada atau tidaknya peraturan pemerintah sebagai pelaksana undang-undang dimaksud tidak merupakan masalah mengingat di dalam penyusunan laporan dimaksud tedapat ukuran atau patokan yang sangat rinci yang dibuat oleh Komite pengawas mengenai pelaksanaan perangkat internasional tersebut. maka perangkat internasional tersebut sudah berlaku. dan penetapan quorum. serta kewajiban negara pihak untuk menyampaikan laporan pelaksanaan kovenan satu tahun setelah berlakunya kovenan di negara pihak. 43 .konvensi atau kovenan internasional. Bagian ini juga memuat berbagai ketentuan tentang Komite yang akan mengawasi pelaksanaan ICCPR. secara rahasia dan calon-calon negara pihak (dua tiap negara) berhak untuk dipilih kembali. Sebaliknya terdapat pandangan lain yang mengatakan bahwa kalau perangkat hukum internasional sudah disahkan melalui peraturan perundangundangan yang sah. Bahkan bukan saja Komite akan menganggap negara pihak hanya menjadikan upaya pengesahan sebagai retorika saja. termasuk di dalamnya mengenai nominasi anggota. Selanjutnya bagian ini memuat ketentuan tentang anggota-anggota Komite 39 Bagian IV (Pasal 28-47) ICCPR.

Pandangan Dunia Inter- nasional Terhadap Perkembangan HAM di Indonesia.40 Awal-awal kehidupan bernegara sesungguhnya merupakan saatsaat penentuan sekaligus pelaksanaan hak-hak sipil dan politik di Indonesia. Karena itu banyak negara yang meminta dukungan Indonesia terhadap pencalonannya di Komite HAM yang pemilihannya hanya ditentukan oleh negara-ne40 Dr. (http:/ /72.go. Dalam masa UndangUndang Dasar Sementara RI (UUDSRI). Melihat berbagai kemajuan di Tanah Air di berbagai bidang kehidupan politik. banyak negara yang menganggap bahwa Indonesia sudah sejak lama meratifikasi kedua kovenan tersebut. N.203. 2007 44 . atau sekitar 18 persen yang mengatur HAM. dan budaya. pidato pada Rapat Koordinasi Panitia RAN HAM Daerah Kawasan Timur Indonesia. Surabaya 2006. Bahkan di masa Republik Indonesia Serikat (RIS) (27 Desember 1949-15 Agustus 1950) pengakuan dan penghormatan HAM sangat maju dengan dicantumkannya 35 pasal dalam konstitusi RIS dari keseluruhan 197 pasal. Hassan Wirajuda. Pelaksanaan HAM dalam sejarah Indonesia menunjukkan grafik naik turun. atau sekitar 26 persen). serta penjelasan mengenai keberadaan kovenan yang tidak boleh dipertentangkan dengan hak-hak rakyat untuk menikmati kekayaan alam mereka. c. atau setidaknya tidak bertentangan. Bahkan sejak 1966 hingga akhir Orde Baru bangsa Indonesia mengalami kemunduran dalam penikmatan HAM-nya di semua bidang yang diakui oleh UUD 1945. dengan jiwa Deklarasi Umum HAM maupun ICCPR. 15 Agustus 1950-4 Juli 1959 bahkan lebih maju lagi dengan dicantumkannya 38 pasal dalam UUDS RI (dari keseluruhan 146 pasal. ekonomi.id/pls/portal/url/ITEM/ FCB23A753754E5BFE030010A3001576D+ komnas+ham+iccpr&hl=id&gl=id&ct=clnk&cd=4) JURNAL HAM • Vol. Penegakan Hak Asasi Manusia di Indonesia. Indonesia dan ICCPR Membicarakan latar belakang sejarah dan perkembangan HAM di Indonesia selalu tidak mudah. Makalah guna memenuhi permintaan Dewan Perwakilan Rakyat RI sehubungan dengan pembahasan dan pemilihan Calon Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia 11 Maret 2002.41 Barulah sejak era reformasi tahun 1997 penghormatan HAM di tanah ai semakin membaik.komnasham. Namun sejak berlakunya kembali UUD 1945 pada 5 Juli 1959 Indonesia mengalami kemunduran dalam penikmatan HAM-nya. laporan kegiatan tahunan Komite kepada Sidang Umum PBB.14. sosial. fasilitas. Ketentuan untuk pelaksanaan kovenan tidak dipertentangkan dengan ketentuan-ketentuan HAM yang telah ada di dalam peraturan perundang-undangan. Masyarakat Indonesia patut bersyukur bahwa para pendiri bangsa mampu mempunyai pemikiran yang luas dan jauh ke depan sehingga sejak kemerdekaan tahun 1945 telah meletakkan dan memikirkan hak-hak sipil dan politik warga negara Indonesia yang kiranya sejalan. imunitas dan keistimewaan mereka sesuai dengan Konvensi mengenai keistimewaan dan imunitas PBB. Namun menjelang berdirinya Indonesia sebenarnya para pendiri bangsa telah melakukan perdebatan tentang HAM yang kemudian tercermin dari diterimanya beberapa pasal mengenai HAM dalam UUD 1945.dan Komisi Konsiliasi. Segera setelah merdeka Indonesia dianggap negara yang menghormati HAM. terutama setelah era reformasi tahun 1999.104/search?q=cache:mEqseaJ3zCIJ:portal. ketentuan-ketentuan kovenan agar tidak dipisahkan dari Piagam PBB dan konstitusi badan-badan PBB lainnya. 4 • Th. 41 Dr Enny Soeprapto.

Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat pada tanggal 28 September 1998 (melalui UU Nomor 5 Tahun 1998). 129 tahun 1998). 4 • Th. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM). 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. JURNAL HAM • Vol.gara yang sudah menjadi pihak pada kovenan tersebut. membuat mereka berpikir bahwa Indonesia pasti sudah menjadi pihak pada kedua kovenan sehingga mampu melaksanakan pemilu sedemokratis itu.freedomhouse. HAM penting tersebut kemudian dipatrikan dalam kedua Kovenan ini pada tahun 1966 sebagai hak menentukan nasib sendiri (selfdetermination). Masih dalam semangat reformasi itu pula. 42 Dalam Siaran Pers Freedom House New York tang- Gerakan reformasi yang dimulai tahun 1997 telah membangkitkan semangat bangsa Indonesia untuk melakukan koreksi terhadap sistem dan praktekpraktek masa lalu. Hal itu terjadi mungkin karena melihat sendiri berbagai contoh nyata yang sering dianggap sebagai pencerminan kedua kovenan tersebut di tanah air. terutama untuk kembali menjunjung tinggi dan menegakkan penghormatan HAM sebagaimana telah diamanatkan MPR dalam ketetapannya tahun 1998 yang juga memuat Piagam HAM Indonesia (TAP MPR No. Dengan menetapkan peraturan tersebut Indonesia semakin mengokohkan upaya pemajuan dan perlindungan HAM yakni dengan menjamin bahwa setiap pelaku pelanggaran HAM akan diajukan ke pengadilan khusus (Undang-undang No.cfm?page=70&release=317).org/template. Selain itu. VII/MPR/1998). Indonesia telah berjuang selama kurang lebih 350 tahun untuk melawan penjajahan atau memperjuangkan hak untuk merdeka yang kemudian diakui oleh PBB sebagai salah satu HAM penting. Misalnya pelaksanaan pemilu yang demokratis khususnya tahun 2004 lalu. Indonesia mencanangkan Rencana Aksi Nasional di bidang HAM 1998-2003 (melalui Keppres No.42 Sebagaimana diketahui. Komitmen Indonesia untuk pemajuan dan perlindungan HAM juga telah ditunjukkan melalui pengesahan beberapa Konvensi Internasional di bidang HAM lainnya seperti Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial pada gal 19 Desember 2005 status kebebasan pers Indonesia untuk tahun 2006 meningkat dari “sebagian bebas” menjadi “bebas.” (http://www. Sesungguhnya perjuangan dan perlindungan HAM di Indonesia tidak pernah berubah. UU No 39 Tahun 1999 tentang HAM dan UU No. Namun hanya pelaksanaannya yang berbeda bahkan timbul kesan seolah-olah penghormatan HAM itu tidak penting bagi Indonesia. Namun pandangan ini sebenarnya keliru karena upaya pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia sebenarnya telah dilaksanakan sejak Republik ini berdiri dengan dibangunnya landasan konstitusional UUD 1945 dan landasan idiil Pancasila. Termasuk ketika Indonesia sempat dianggap sebagai negara paling bebas di bidang pers di kawasan Asia. 2007 45 . Indonesia dibangun berlandaskan pada penghormatan HAM. Sayangnya TAP MPR ini kemudian dicabut dan dianggap tidak berlaku karena materinya dianggap telah diatur dalam peraturan perundang-undangan khususnya Amandemen UUD 1945. Indonesia telah meratifikasi Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam.

43 Media Indonesia. Pemerintah saat ini telah menyiapkan laporan pelaksanaan ICCPR dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan HAM di tanah air.43 Guna menindak-lanjuti pelaksanaan ICCPR yang sudah disahkan tahun 2005 tersebut kiranya seluruh aparat pemerintah. maka Indonesia juga kiranya memiliki prasasti HAM nasional yakni UUD 1945. jaminan penghormatan HAM di Indonesia kini sudah sangat baik. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. Dalam semangat ingin menerapkan ICCPR yang sudah menjadi bagian hukum nasional melalui UU No. UU No. Penutup Langkah yang diambil oleh Pemerintah dan DPR untuk mengesahkan ICCPR tahun 2005 kiranya sudah tepat dan pasti akan sangat bermanfaat bagi upaya pemajuan dan perlindungan HAM di tanah air.tanggal 25 Mei 1999 (melalui UndangUndang No. 46 JURNAL HAM • Vol. 12 Tahun 2005. Namun keanggotaan Indonesia pada Dewan HAM ini juga membawa kewajiban bagi Pemerintah Indonesia untuk bersama-sama semua pemangku kepentingan (stakeholders) lainnya memperkuat upaya pemajuan dan perlindungan HAM di dalam negeri. Sebuah Tim interdepartemen plus telah disiapkan sejak Februari 2006 dengan demikian diharapkan laporan dimaksud dapat disampaikan Pemerintah tepat pada waktunya. 12 Mei 2006. Dengan demikian secara konstitusi dan peraturan perundangundangan. Prasasti HAM nasional ini merupakan modal penting bagi generasi mendatang dalam upaya memajukan dan melindungi HAM bagi seluruh warga Indonesia. 29 tahun 1999). III. apabila masyarakat internasional mempunyai prasasti HAM internasional. khususnya Pemerintah. namun masih banyak yang perlu ditindak-lanjuti oleh seluruh pemangku kepentingan HAM di tanah air. Hal yang tidak kalah penting dalam upaya pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia adalah perhatian khusus para anggota MPR untuk memasukkan pasal-pasal tambahan menyangkut HAM pada amendemen ke4 UUD 1945. sekaligus peningkatan citra Indonesia di mata masyarakat internasional. Sebagaimana dikemukakan oleh Menlu RI bahwa terpilihnya Indonesia dalam Dewan HAM tahun 2006 merupakan pengakuan internasional atas kemajuan demokrasi dan HAM di tanah air. termasuk langkah-langkah yang diambil Pemerintah seperti pengesahan konvensi HAM internasional. Namun pengesahan ICCPR tersebut sekalipun merupakan langkah yang sangat penting dan telah melewati rintangan yang tidak ringan. Dengan demikian. 4 • Th. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia dan UU No. pengusaha dan lapisan masyarakat perlu melakukan upaya optimal agar mengetahui dan memahami serta menjamin pelaksanaan hak-hak sipil dan politik yang diatur dalam ICCPR tersebut. 2007 .

org/template. Resolusi Majelis Umum PBB No. The Indonesian National Plan of Action on Human Rights 1998-2003 (Revisi).cfm? page=70 & release=317). 2006.DAFTAR PUSTAKA Fact Sheet No. Initial edition 2005. Office of the High Commissioner for Human Rights. Diterbitkan oleh Departemen Luar Negeri. 4 • Th. Hassan. Indonesia and the United Nations: Working for Peace and Development. komnasham. DC. N.(http://72. online: AAAS Huridocs: http://shr. Makalah guna memenuhi permintaan Dewan Perwakilan Rakyat RI sehubungan dengan pembahasan dan pemilihan Calon Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia 11 Maret 2002. Penegakan Hak Asasi Manusia di Indonesia. Chapter 2. Social and Cultural Rights: A Handbook. New York.203. Jakarta 25 June 1998. published by AAAS and HURIDOCS. Direktorat Organisasi Internasional. Enny.htm).19.id/pls/portal/url/ITEM/ FCB23A753754E5BFE030010A3001 576D+ komnas+ham+iccpr&hl=id&gl=id&ct=clnk&cd=4) The Indonesian National Plan of Action on Human Rights 1998-2003. Jakarta 25 Juni 1998. Rencana Aksi Hak Asasi Manusia Indonesia 2004-2009. 12 Mei 2006.org/escr/ handbook/.ch/html/menu6/ 2/fs19. by Allan McChesney. Soeprapto.unhchr. (http:/ /www. Permanent Mission of the Republic of Indonesia to the United Nations.freedomhouse. 2007 47 . 2200A (XXI) tanggal 16 Desember 1966. Departemen Hukum dan HAM. Pandangan Dunia Internasional Terhadap Perkembangan HAM di Indonesia. JURNAL HAM • Vol. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional Tentang Hak-hak Sipil dan Politik). Promoting and Defending Economic. 2000 Washington.aaas. National Institutions for the Promotion and Protection of Human Rights.go. Direktorat Organisasi Internasional. Media Indonesia. Pidato pada Rapat Koordinasi Panitia RAN HAM Daerah Kawasan Timur Indonesia. Siaran Pers Freedom House New York tanggal 19 Desember 2005 tentang status kebebasan pers Indonesia untuk tahun 2006 meningkat dari “sebagian bebas” menjadi “bebas”. Surabaya 2006. Direktorat Jenderal Perlindungan HAM. (http://www. Wirajuda. 104/search? q=cache:mEqseaJ3z CIJ: portal.14.

CAT (penyiksaan). Ketiga. the prospect of its implementation remains uncertain.” Suara Pembaruan. Sabtu. Sabtu. In doing so. whereas the victims of human rights violations in this country still await for the settlement of their cases.3 Selain menjadi bagian dari sistem hukum nasional. Negara Republik Indonesia (RI) telah meratifikasi dua perjanjian internasional tentang hak-hak manusia (human rights)1 – Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. Kedua. langkah-langkah. 3 Pengesahan ini ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Hamid Awaludin. Despite of this progressive episode in the history of human rights development in Indonesia.2 Pada 28 Oktober 2005. ICESCR disahkan menjadi UU No. The challenges faced by the Indonesian Government to comply with its international legal obligations has to be dealt with the continuity of legal reform and immediate realization of the provisions in ICCPR as well as the socialization of the Covenant itself. Sosial dan Budaya (International Covenant on Economic. Ratifikasi itu menimbulkan konsekuensi terhadap pelaksanaan hak-hak manusia. kebijakan dan tindakan yang dilakukan 1 Terjemahan yang tepat dari human rights adalah hak- hak manusia tanpa kata “asasi”. mengambil langkah-langkah dan kebijakan dalam melaksanakan kewajiban untuk menghormati (to respect). UU No. 12 dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 119 3. membuat laporan yang bertalian dengan penyesuaian hukum. yaitu terikat secara moral (deklarasi) dan secara politik (menandatangani). 11 tercantum dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 118 3 serta UU No. karena Negara RI telah mengikatkan diri secara hukum. dan CERD (penghapusan diskriminasi rasial). CRC (anak). kewajiban untuk mengadopsi perjanjian yang telah diratifikasi ini ke dalam perundang-undangan baik yang dirancang maupun yang telah diberlakukan sebagai UU.PROSPEK DAN TANTANGAN IMPLEMENTASI ICCPR Hendardi Abstract Ratification of the International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) is considered as an important achievement of the human rights struggle in Indonesia. JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 1 Oktober 2005.4 Pertama. Social and Cultural Rights – ICESCR) serta Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights – ICCPR) – pada 30 September 2005 melalui proses legislasi yang disetujui DPR. 2 Lihat “Dua Kovenan HAM Diratifikasi. melindungi (to protect) dan memenuhi (to fullfil) hak-hak manusia.” Kompas. 12/2005. Selain mengikat secara hukum. 1 Oktober 2005. 2007 48 . agar menghilangkan kesan seolah-olah ada hak-hak yang “tak asasi”. juga ada ikatan lainnya. 11/2005 dan ICCPR menjadi UU No. Dengan Reservasi pada Hak Menentukan Nasib Sendiri. “Indonesia Ratifikasi Kovenan Hak-hak Sipil dan Politik. necessary infrastructure should be provided and further promotion of the Covenant should be advanced. 4 Ratifikasi adalah tingkatan paling kuat dalam perikatan yang dilakukan setiap negara. kedua kovenan ini sekaligus melengkapi empat perjanjian pokok yang telah diratifikasi sebelumnya. yaitu CEDAW (penghapusan diskriminasi perempuan).

7 Dalam konsep dan norma hak-hak manusia. Pertama. terlepas UUD 1945 (telah diamandemen empat kali) dan UU No. Bobbio mengandaikan masa kini memasuki zaman hak. Judul ini sama seperti yang ditulis Norberto Bobbio. 1996. akan dibayangkan bagaimana prospek dalam pelaksanaan kewajiban negara untuk menghormati dan melindungi hak-hak sipil dan politik sebagaimana yang terkandung dalam ICCPR atau UU No. 12/2005? ini yang bersifat mengikat secara hukum. Vol.6 Setelah diratifikasinya ICCPR menjadi UU – perjanjian internasional yang diadopsi PBB pada 16 Desember 1966 dan mulai berlaku sejak 1976 – maka segera dengan itu ia menjadi ketentuan hukum yang berlaku di seluruh Indonesia. hukuman mati atau pembunuhan di luar proses hukum. berpendapat. London: Cambridge University. Dasar hukumnya adalah perjanjian internasional di mana negara-negaralah yang mengikat janji. Dari janji inilah timbul kewajiban (obligation) pada negara-negara dan sekaligus tanggung jawab (responsibility) bertalian dengan pelaksanaan kewajiban. Apakah terdapat hambatan dari aparat negara (state apparatus)? Apakah ada kemungkinan diambil langkah yang lebih maju untuk meratifikasi Protokol Opsional ICCPR? Setelah itu. kini telah meningkat menjadi kenyataan sosiologis yang keras dan kongkrit seperti yang dirasakan sebagian orang dalam kasus-kasus perselisihan perburuhan.” Imparsial. 2. The Age of Rights. tanggung jawab dalam implementasi hak-hak sipil dan politik – sebagaimana juga hak-hak ekonomi. 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) maupun ratifikasi CAT dan ICERD dalam memajukan atau memperjuangkan posisi individu dengan hak-hak sipil dan politiknya di hadapan kekuasaan negara (state power) maupun orang lain. No. serta penyiksaan. 6 Lihat Rocky Gerung. 8 Juni 2005.8 Di sinilah prinsip kewajiban negara (state obligation) diletakkan dengan beberapa konsekuensinya. konflik pertanahan atau penghancuran rumahrumah penduduk dan pendidikan maupun kebebasan bergerak.7 Dalam konsep dan norma hak-hak manusia. memang terdapat pernyataan (declaration) 5 Hikmahanto Juwana. Serangkain kontradiksi dalam realitas sosio-ekonomi dan sosio-politik yang sebelumnya hanya dibahas dan diprediksi secara akademis di lembaga-lembaga studi.5 Perihal yang akan dibahas dalam tulisan ini bertalian dengan hambatan atau tantangan atas pelaksanaan ICCPR di Indonesia.maupun hasil-hasil yang dicapai dalam implementasi perjanjian tersebut kepada badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) – disebut Komite – yang menangani perjanjian tersebut. 12/2005 sebagai hak-hak sipil dan politik yang dijamin. Rabu.” Kompas. tentu saja lain lagi relasinya seperti halnya Konvensi (Perjanjian) Geneva yang dikenal juga sebagai hukum kebiasaan perang (humaniter). 2007 ICCPR. wilayah relasi hak (right) dan kewajiban (obligation) diletakkan dalam hubungan hukum antara individu sebagai pemegang hak dengan negara sebagai pengemban/pelaksana kewajiban. 1. setiap orang dapat berpegang pada UU No. 4 • Th. Hak negara hanya sesama negara-negara yang menjadi peserta – bukan hak negara atas individu. Januari 1997. sosial dan budaya – berada di pundak negara. RI sendiri menjadi negara peserta (state party) dalam perjanjian JURNAL HAM • Vol. wilayah relasi diletakkan antara individu (manusia) dan negara (state). Hak-hak ini mencakup mulai dari hak untuk hidup (right to life) hingga hak untuk menikah dan membentuk keluarga ataupun hak kelompok minoritas. “Konsekuensi Ratifikasi Konsekuensi ratifikasi ICCPR Kini persoalan hak-hak manusia di Indonesia telah memasuki tahap di mana kebutuhan untuk menerapkannya telah melampaui kepentingan untuk memperdebatkannya. 49 . berserikat. Dalam ratifikasi ICCPR. Wilayah hukum yan lain. “The Age of Rights. partisipasi dalam politik. Dengan begitu. 8 Relasi yang diletakkan berada dalam wilayah hukumnya adalah perjanjian internasional tentang hak-hak manusia (international law of human rights). berkumpul.

yang menihilkan Pasal 1 mengenai hak untuk menentukan nasib sendiri (right to self-determination) sebagai upaya mencegah disintegrasi dan sekaligus “senjata pemukul” bagi gerakan separatisme.9 Kedua, negara berkewajiban melindungi atau menjamin hak-hak sipil dan politik yang tercantum dalam ICCPR mulai dari hak-hak untuk hidup dan tidak disiksa hingga hak-hak kelompok minoritas dan orang yang dirampas kemerdekaannya karena suatu tindak pidana.10 Kewajiban ini pertama-tama bertalian dengan langkah yang harus dijalankan untuk melakukan pembenahan secara substansial dari segi perundang-undangan atau sistem hukum. Setiap rancangan UU harus disesuaikan atau merujuk pada ICCPR, sementara ketentuan-ketentuan hukum yang tak sesuai dengannya harus dibongkar atau direvisi. Dengan begitu, seharusnya tak ada lagi kandungan dalam ketentuan hukum yang bertentangan atau menyalahi ICCPR. Di sinilah arti penting transformasi ICCPR ke dalam hukum nasional. Ketiga, selain kewajiban negara dalam menyesuaikan perundang-undangan dengan ICCPR setelah meratifikasi, juga kewajiban dalam implementasinya. Negara RI beserta semua aparatnya diharapkan menunaikan kewajiban untuk menghormati dan melindungi hak-hak sipil dan politik tanpa diskriminasi. Negara menghormati hak-hak setiap orang tanpa melakukan campur tangan dengan berdasarkan atas ICCPR dan UUD (konstitusi). Campur tangan terbatas dapat dilakukan untuk melindungi hak setiap orang seperti mencegah tindakan sekelompok orang yang sewenangwenang dan menyeret orang yang diduga melakukan tindak pidana ke muka hukum. Mengenai pembatasan (limitation) atau pengekangan (restriction) hak-hak dan kebebasan – tergolong hak-hak dan kebebasan yang boleh ditangguhkan (derogable rights) – hanya dapat dilakukan dalam situasi atau

alasan tertentu berdasarkan UU. Keempat, ratifikasi juga menambah kewajiban pemerintah RI untuk melaporkan langkah-langkah, kebijakan dan tindakan yang dijalankan kepada Komite Hak Manusia PBB.11 Secara regular, pemerintah membuat laporan dalam periode empat tahun sekali. Isinya mencakup langkah-langkah dan kebijakan apa yang telah diambil, serta bagaimana hasil yang telah dicapai dalam pelaksanaan hak-hak sipil dan politik di Indonesia. Apakah terdapat kemajuan baik langkah yang telah diambil maupun pelaksanaan hak-hak sipil dan politik. Bisa saja yang terjadi adalah kemajuan dalam langkah-langkahnya, tapi lemah atau gagal dalam implementasinya. Dalam implementasi ini akan tampak apakah negara tidak mau (unwilling) atau tidak mampu (inability) menunaikan kewajibannya. Dalam hak-hak sipil dan politik, ada batas antara hak-hak yang tak dapat ditangguhkan (non-derogable rights) dengan hakhak yang dapat ditangguhkan. Yang termasuk dalam kategori hak-hak yang tidak dapat ditangguhkan adalah hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak untuk tidak diperbudak, hak atas kebebasan berpikir dan beragama serta berkeyakinan, hak untuk diperlakukan sama di muka hukum, hak untuk tidak dipenjara karena kegagalan memenuhi kewajiban kontraktual, serta hak untuk tidak dipidana berdasarkan hukum yang berlaku surut (retroactive).12 Mengenai implementasi antara
9 Lihat “Ratifikasi Dua Kovenan Internasional Dinilai

Setengah Hati,” Hukumonline.com, Kamis, 29 September 2005; “Ratifikasi 2 Kovenan HAM oleh RI Dianggap Masih Setengah Hati,” detikInet, Kamis , 29/09/2005 14:25 WIB. 10 Hikmahanto Juwana, Op. cit. 11 Hikmahanto Juwana, Ibid. 12 Harry Wibowo, “Hak-hak Manusia: Menjernihkan Berbagai Konsep Dasar,” makalah yang disampaikan dalam Pelatihan Investigasi yang diselenggarakan PBHI (Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia) pada 27-30 Desember 2005 di Megamendung Permai, Megamendung, Bogor. JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

50

Tabel 1: Hak-hak yang Dijamin dan Dilindungi UU No. 12/2005
No Pasal 1 Pasal 6 2 Pasal 7 Hak-hak Sipil dan Politik Hak untuk hidup (tidak dibunuh/dihukum mati setidaknya bagi anak di bawah 18 tahun) Hak untuk tidak disiksa, diperlakukan atau dihukum secara keji, tak manusiawi atau merendahkan martabat manusia (termasuk tidak diculik/dihilangkan secara paksa, diperkosa) Hak untuk tidak diperbudak (larangan segela bentuk perbudakan, perdagangan orang, dan kerja paksa,) Hak atas kebebasan dan keamanan pribadi (tidak ditangkap atau ditahan dengan sewenang-wenang, didasarkan pada ketentuan hukum acara pidana) Hak sebagai tersangka dan terdakwa (diperlakukan manusiawi, anak dipisahkan dari orang dewasa, sistem penjara bertujuan reformasi dan rehabilitasi) Hak untuk tidak dipenjara atas kegagalan memenuhi kewajiban kontraktual (utang atau perjanjian lainnya) Hak atas kebebasan bergerak dan berdomisili (termasuk meninggalkan dan kembali ke negerinya sendiri) Hak sebagai orang asing (dapat diusir hanya sesuai hukum atau alasan yang meyakinkan mengenai kepentingan keamanan nasional) Hak atas kedudukan yang sama di muka hukum (dibuktikan kesalahannya oleh pengadilan yang berwenang dan tidak memihak, jaminan minimal, dapat ditinjau kembali, tidak diadili dua kali dalam perkara yang sama) Hak untuk tidak dipidana berdasarkan hukum yang berlaku surut (jika keluar ketentuan hukum sebelum tindak pidana, si pelaku harus mendapatkan keringanannya) Hak sebagai subyek hukum (hak perdata setiap orang seperti kewarganegaraan) Hak pribadi (tidak dicampuri atau diganggu urusan pribadi seperti kerahasiaan, keluarga atau rumah tangga, kehormatan, surat-menyurat atau komunikasi pribadi) Hak atas kebebasan berpikir, beragama dan berkeyakinan (menganut ideologi atau orientasi politik, memeluk agama dan kepercayaan) Hak atas kebebasan berpendapat (termasuk mencari, menerima dan menyebarkan informasi, dalam bentuk karya seni/ekspresi atau melalui sarana lainnya) Hak untuk bebas dari propaganda perang dan hasutan rasial (kebencian atas dasar kebangsaan, ras, agama atau golongan) Hak atas kebebasan berkumpul (mengadakan pertemuan, arak-arakan atau keramaian)

3 4

Pasal 8 Pasal 9

5

Pasal 10

6 7 8 9

Pasal 11 Pasal 12 Pasal 13 Pasal 14

10 Pasal 15

11 Pasal 16 12 Pasal 17

13 Pasal 18 14 Pasal 19

15 Pasal 20 16 Pasal 21

JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

51

17 Pasal 22 18 Pasal 23 19 Pasal 24

20 Pasal 25 21 Pasal 26 22 Pasal 27

Hak atas kebebasan berserikat (bergabung dalam perkumpulan, partai politik atau serikat buruh) Hak untuk menikah dan membentuk keluarga (tidak dipaksa, termasuk tanggung jawab atas anak) Hak anak untuk mendapatkan perlindungan dan jaminan (setiap kelahiran anak didaftarkan dan memperoleh kewarganegaraan tanpa diskriminasi) Hak untuk berpartisipasi dalam politik (termasuk memilih, dipilih dan tidak memilih) Hak untuk bebas dari diskriminasi dalam hukum (semua orang dilindungi hukum tanpa diskriminasi) Hak kelompok minoritas (perlu mendapatkan perlindungan khusus) by omission).13 Jenis pelanggaran lainnya adalah tetap memberlakukan ketentuan hukum yang bertentangan dengan ICCPR yang disebut pelanggaran melalui hukum (violation by judicial).

kedua kategori hak-hak ini juga terdapat batas-batasnya, yaitu pada batas mana negara tak melakukan intervensi dan pada batas mana pula intervensi harus dilakukan. Negara tak melakukan intervensi dalam rangka menghormati hak-hak setiap orang, terutama hak-hak yang tak dapat ditangguhkan. Karena campur tangan negara justru mengakibatkan terjadinya pelanggaran atas hak-hak individu/kelompok. Sebaliknya, intervensi dapat dilakukan atas dua hal; pertama, dalam situasi atau alasan khusus untuk membatasi atau mengekang hak-hak atau kebebasan berdasarkan UU; kedua, dalam rangka untuk menegakkan hukum atau keadilan bagi korban tindak pidana. Karena itu, dalam menghormati dan melindungi hak-hak sipil dan politik, ada dua jenis pelanggaran yang bertalian dengan kewajiban negara. Pertama, seharusnya menghormati hak-hak manusia, tapi negara justru melakukan tindakan yang dilarang atau bertentangan ICCPR melalui campur tangannya dan disebut pelanggaran melalui tindakan (violation by action). Kedua, seharusnya aktif secara terbatas untuk melindungi hak-hak – melalui tindakannya – negara justru tak melakukan apa-apa baik karena lalai dan lupa maupun absent, disebut pelanggaran melalui pembiaran (violation

Tantangan Negara
Setelah ratifikasi ICCPR, membuat negara RI meningkatkan komitmennya karena telah terikat secara hukum. Segera dengan itu, negara menghadapi tantangan untuk menyiapkan beberapa langkah, dan langkah yang diambil bertalian dengan berbagai persoalan sebagai berikut. Pertama, negara harus melakukan reformasi hukum dengan menerjemahkan prinsip dan ketentuan yang terkandung dalam ICCPR ke dalam hukum nasional. Berbagai peraturan perundang-undangan yang tak sesuai dengan ICCPR haruslah dicabut dan direvisi.14 Begitu juga dengan RUU yang disiapkan seperti perdebatan sengit hingga pengerahan massa serta intimidasi dan teror bertalian RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi, haruslah selaras dengan ICCPR.15 Tantangan ini bukan saja terdapat sekitar 30 persen UU justru bertentangan dengan UUD 1945,16 tapi juga karena dalam menyusun RUU tanpa didasarkan pada kajian mendalam dan berimpit dengan kepentingan politik koalisi.17
JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

52

selain banyak undang-undang lahir tanpa ada penelitian mendalam. “Draf RUU APP Adalah Buah dari Sebuah Kemunafikan.or. MUI Akan Kumpulkan 1. “Slamet Rahardjo: RUU APP Tempatkan Perempuan Seolah Hantu.” Detikcom. Anggota Pansus RUU APP DPR FPKS: RUU APP Lindungi Kaum Perempuan. “MMI: Jika Terus Menolak. Banyak yang Tumpang Tindih. 16 Maret 2006.” Detikcom. banyak UU tumpang tindih dan banyak yang hanya tambal sulam. Rabu.” Detikcom. “Dari 167 Lembaga Tamu Pansus. 16 Februari 2006. Rabu.” Detikcom. 2007 Tolak RUU APP.id. 15 Hikmahanto Juwana. 4 • Th.” Detikcom.” Detikcom.” Detikcom. “MUI Sayangkan Adanya Penolakan RUU Anti Pornografi. Kamis. Rabu. 9 Februari 2006. “Peringati Hari Perempuan.” www. boleh dibatasi atau dikekang berdasarkan hukum (UU) Melalui: Konstitusi. 10 Mei 2006 | 13:04 WIB. sistem peradilan dan pengadilan Melindungi Kebutuhan Berhak atas Kemauan/niat: Batas minimum tertentu. 28 April 2006 17:05. Saldi Isra mengemukakan. Jadikan Bali Daerah Khusus Pornografi. lihat juga “Bahas RUU APP. 22 Mei 2006. Rabu.com. Kebebasan/Hak Sosial (freedom/right for itself) Relatif: Dalam situasi dan alasan tertentu. Kamis. 17 Lihat “Banyak UU Tanpa Kajian: Tidak Ada Desain Besar Legislasi Nasional. Senin. Berbeda dengan di Belanda. 16 Lihat “Hampir 30 Persen UU Bertentangan dengan Konstitusi. atau program atas sumber daya Memenuhi (+) Intervensi (commission) Melalui: Norma hak-hak manusia. Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqqie melaporkan kepada DPR. Kamis. Jumat. 53 .” Detikcom. 16 Maret 2006.net.Tabel 2: Spektrum Hak Individu/Kelompok dan Kewajiban Negara HAK INDIVIDU/KELOMPOK Kebebasan Kebebasan Dasar/Hak yang Tak Dapat Ditangguhkan (freedom/right in itself) Mutlak: Tak boleh ditangguhkan (ditunda) maupun dibatasi atau dikekang. 9 Maret 2006.” www. “RUU Pornografi Berpotensi Jadi Alat Pemerasan Baru. 15 Maret 2006. kebijakan. juga dilakukan untuk mendukung kebijakan pemerintah baru sehingga banyak UU di Indonesia cepat berubah atau direvisi. dan “Gus Dur Siap Upayakan Amandemen Jika RUU APP Jadi UU. “DPR Pusing Pro Kontra RUU APP. 8 Maret 2006. 2005 13 Harry Wibowo. “Menolak RUU APP. Kamis. Ibid. Jumat. 15 Maret 2006. Minggu. Op. Rabu.” Detikcom. UU. 144 Setuju RUU APP. 14 Maret 2006. “5000 Orang Akan Demonstrasi Tolak RUU Anti Pornografi.” Sinar Harapan.ahrchk. dapat diundur pemenuhannya berdasarkan prioritas tapi direalisasikan secara bertahap Melalui: Perencanaan.” Detikcom. Hongkong. “Hilman Rosyad Syihab. yang terus melakukan kajian mendalam jika hendak melakukan revisi atau membuat UU. Rabu. Senin. 12 Maret 2006.” Detikcom. 10 Maret 2006. 8 Mei 2006. 100 Pendemo Cantik Tolak RUU APP. cit. “Aksi Seribu Tayub JURNAL HAM • Vol.” Metrotvnews. Aktivis dan Artis Diteror. Jumat.” Detikcom. “30 Elemen Islam Malang Demo Dukung RUU APP.” Detikcom. 27 Januari 2006 19:11:53. Syamsuddin Haris juga menambahkan. “Ratusan Mahasiswa Yogya Demo Tolak RUU APP.fpksdpr. hampir 30 persen di antaranya berpotensi bertentangan dengan konstitusi. 14 Lihat “Pernyataan Asian Human Rights Commis- sion: Ratifikasi Instrumen Utama Hak Manusia Harus Ditindaklanjuti dengan Reformasi Hukum. konstitusi Menghormati K E WA J I B A N N E G A R A (-) Tanpa intervensi (omission) Sumber: Harry Wibowo. Senin. 6 Maret 2006.000 Ulama di Gontor.” TEMPO Interaktif. Kamis. 8 Maret 2006. dari 77 perkara peninjauan UU (PUU) yang berkenaan dengan 42 UU selama 2003-2006 yang ditangani MK. 8 Maret 2006.” Kompas.

Cit. terutama dalam penggunaan kekuatan dan senjata api. Empat instrument yang perlu diadopsi adalah (a) Code of Conduct for Law Enforcement Officials. XXV/1966 maupun pelarangan suatu ajaran (dikatakan sesat) dan pemidanaan atas orang yang menyebarkannya. yang berbeda dengan banyak kategori hakhak sipil dan politik. Tanpa pemahaman yang memadai bagi aparat penegak hukum.18 Satu contoh saja. (b) Basic Principles on the Use of Force and Firearms by Law Enforcement Officials. beragama dan berkeyakinan sebagai kebebasan mutlak (freedom in itself). (c) Principles for Protection of All Persons under Any Form of Detention for Imprisonment. 12 Mei 2006. termasuk 18 Hikmahanto Juwana. Sabtu. 22 November 2003. serta (d) Standard Minimum Rules for the Treatment of Prisoners. dibuat pada tahun 1918. Jumat. Lihat “Pelaksanaan Otonomi Daerah Kebablasan. “Perda Larangan Pelacuran Akan Diterapkan di Jakarta.21 Ketiga. “Komnas Perempuan Tolak Perda Tangerang Tentang Pelacuran. pemerintah ditantang pula untuk melakukan sosialisasi atas ICCPR yang telah diratifikasi. 7 Maret 2006. “Syariat Islam dalam KUHP Bermuatan Politis. Op. Rabu. Lihat “RUU Pemerintahan Aceh: Diusulkan Polisi dan Jaksa Khusus Syariat. Lihat “Pernyataan Asian Human Rights Commission:…. implementasi berbagai peraturan perundang-undangan yang didasarkan pada ICCPR. 19 Lihat “Polisi Tembak Mati Perampas Motor. 8 Maret 2006.” Detikcom.” Detikcom. Hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang dilakukan Syarif Hidayat dan Carunia Mulya Firdausy. Kamis. Senin. Di dalamnya berisi banyak pasal yang tidak jelas dan terbelakang. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Lihat juga “Pemerintahan Daerah: 393 Perda Bermasalah Akan Dibatalkan. 24 April 2004. “Yusril Bantah Revisi KUHP Mengadopsi Syariat Islam. Persoalan yang dihadapi adalah bagaimana aparat penegak hukum (law enforcement officials) memahami berbagai peraturan perundang-undangannya. 4 • Th. Rabu. apalagi tesangka dilumpuhkan dengan menggunakan senjata api.” Kompas. Kamis. Kasus-kasus ini dapat diperhatikan mengenai penerapan Syariat Islam di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. sehingga banyak orang akan mengetahui apa saja hak-hak sipil dan politik yang seharusnya dinikmati.20 Di sinilah pentingnya ditempuh atau diambil langkah-langkah untuk meningkatkan profesionalisme melalui pendidikan dan pelatihan bagi polisi untuk melindungi hak-hak setiap orang yang dirampas kemerdekaannya karena suatu tindak pidana. pada saat kolonial Belanda berkuasa.22 UU No.24 Persoalannya adalah banyak langkah dan kebijakan yang tak konsekuen dari pemerintah dan aparat negara dalam implementasinya. 30 Juni 2004.” Republika Online.” TEM- 20 21 22 23 24 PO Interaktif. Pemerintah pusat dicurigai memang tak mau mengeluarkan PP untuk menciptakan kondisi yang tidak jelas di daerah. 22 Mei 2006. serta beberapa daerah kabupaten seperti Cianjur dan Tangerang. 12/2005 diberlakukan secara seragam di seluruh negeri dan diharapkan tak ada yang bertentangan dengannya. 22 Mei 2006: “Syariat Islam.” Kompas. cit.” Sinar Harapan. Op.” Sinar Harapan. 2007 . dan “Polisi Tembak Buron Pelaku Curas.” Sinar Harapan. maka akan sulit dibayangkan efek ICCPR bagi setiap orang. 2 Oktober 2003. “Polisi Tembak Buronan LP Saat Mencoba Melarikan Diri dari Kejaran Petugas. “Polisi Tembak Penjahat Kambuhan. 25 Mei 2006 10:02:05. dan “Direktur ICIP Syafii Anwar: Perda Syariat Bisa Picu Disintegrasi. dari Desa Mengepung Kota. Hak atas kebebasan berpikir. Rabu. 6 April 2006.” Kompas.Kedua.23 Beberapa provinsi dan kabupaten pun telah menerapkan pelaksanaan syariat Islam dalam Peraturan Daerah (Perda). setelah negara RI meratifikasi CAT (konvensi menentang penyiksaan). solusinya bagaimana meningkatkan kualitas elite penyelenggara pemerintah daerah.19 Dalam penegakan hukum seharusnya ditekankan standar minimumnya. masih saja diberlakukan ketentuan TAP MPRS No.” Cenderawasih Pos. bahkan ada yang mengusulkannya dalam revisi KUHP. Rabu.” Sinar Harapan. Eksplorasi Perspektif Elite Penyelenggara Pemerintahan Daerah tentang Otonomi. terungkap banyak anggota DPRD tidak berkemampuan memahami konsep otonomi daerah. 54 JURNAL HAM • Vol. Padahal. Selasa. Kamis.” Sriwijaya Post Online. Akibatnya membabi buta. dalam pelaksanaannya aparat kepolisian cenderung gagal memperlakukan seorang tersangka secara manusiawi. 4 Maret 2004. termasuk yang bertalian dengan kekhawatiran mengenai kelemahan otonomi daerah atau otonomi khusus. 1 Oktober 2003. Sabtu. Banyak terjadi praktik politik uang. yang merupakan batu pertama dari seluruh sistem legal. Senin.

” Bandung. dan “Dialog Lintas Etnis Nyaris Rusuh: Gus dur Tuding Gerakan Ormas Islam Ada yang Mendanai.net. 28 Lihat “Siaran Pers PBHI Jawa Barat tentang Pengusiran Gus Dur dan Intimidasi Kegiatan Forum Dialog Lintas Agama di Purwakarta. “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah. Kerap dijumpai aparat penegak hukum harus bekerja dengan infrastruktur pendukung hukum yang minim. kelak pemerintah harus membuat laporan mengenai pelaksanaan hak-hak sipil dan politik yang disampaikan JURNAL HAM • Vol.” Detikcom. 27 Lihat “Pernyataan PBHI Jawa Barat: Protes atas Pembubaran Paksa Pertemuan di Wisma Brantas Bandung. lebih lanjut selain tantangan untuk memajukan praktek penghormatan dan perlindungan hak-hak sipil dan politik dengan meratifikasi Protokol Pilihan (Optional Protocol to the Covenant on Civil and Political Rights). selain apa langkah-langkah yang telah diambil untuk meningkatkan penghormatan dan perlindungan hak-hak sipil dan politik. Syarikat Indonesia dan Komnas Perempuan – serta para peserta mengalami gangguan dan perlakuan yang sewenangwenang dari sekelompok oknum yang mengaku PAGAR (Persatuan Anti Gangguan Regional) dan PPM (Patriot Panca Marga) pada 20 Mei 2006. Sehingga nyaris tak diketahui umum yang bertalian dengan apa kemajuan yang dicapai. 24 Mei 2006. 22 Mei 2006. Tapi kenyataannya masih banyak kantong-kantong Ahmadiyah di daerah. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjelaskan. 23 Mei 2006. Penjara dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. termasuk laporan mengenai pelaksanaan CAT dan ICERD yang telah menjadi UU. juga campur tangan aparat penegak hukum (polisi) untuk melindungi hak dan kebebasan setiap orang dari berbagai tindakan orang atau kelompok lain. Selasa. Keenam. Belakangan ini adalah sering gagalnya aparat keamanan melindungi kebebasan berkumpul dan berpendapat. cit.” Bandung.dalam urusan hak atas kebebasan beragama dan berkeyakinan seperti kasus pelarangan Ahmadiyah. tantangan untuk menyediakan infrastruktur pendukung bagi terlaksananya UU No. 16 Agustus 2005.27 bahkan ancaman atas kebebasan beragama dan berkeyakinan. 24 Mei 2006. Lihat juga. Selasa. Impunitas dan pelanggaran hak Bagi masyarakat Indonesia.” gusdur. sehingga terasa kurang berefek pada pelaksanaannya. termasuk bagaimana seharusnya semua aparatur berperilaku yang dipertalikan dengan ICCPR tanpa kecuali pada lembaga-lembaga peradilan dan pengadilan. Kelima. Selasa. peraturan perundang-undangan tidak tersedia bagi para hakim dan banyak lagi persoalan lainnya. seiring dengan telah diratifikasinya ICCPR. tantangan besar yang dihadapi adalah mata rantai impunitas (cycle of impunity) sebagai penghalang dalam menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran hak-hak. 55 . Op. 2007 pada Komite di PBB. 4 • Th. Impunitas telah menjadi penghalang yang serius bagi tegaknya 25 Lihat “SBY: Ahmadiyah Sudah Resmi Dilarang Pemerintah.net. 26 Hikmahanto Juwana. Rabu.26 Kebiasaan pemerintah tanpa menyediakan infrastruktur pendukung atas langkah-langkah implementasi hasil ratifikasi berbagai perjanjian hak-hak manusia dapat dipandang sebagai sikap tak mau (unwilling) atau abai untuk berbuat sesuatu. “Gus Dur Hadapi Teror Gerombolan Islam Radikal.” gusdur. 12/2005. tapi penting pula didesak untuk juga melakukan sosialisasi laporan-laporannya kepada warganya. pada tingkat MUI dan kejaksaan sudah ada larangan terhadap kegiatan Ahmadiyah. Sejauh ini tak pernah diketahui umum atau sangat kurang disosialisasikan bagaimana sesungguhnya isi laporan pemerintah mengenai pelaksanaan setiap perjanjian internasional tentang hak-hak manusia yang telah diratifikasi.” Pikiran Rakyat.28 Persoalan kelemahan ini menjadi tantangan bagi pemerintah dan aparat penegak hukum atau keamanan pasca-ratifikasi agar hak-hak sipil dan politik setiap orang terlindungi.25 Keempat. 23 Mei 2006. Panitia Penyelenggara” – INCRESS.

23 Januari 2006 22:30 WIB.” Kompas Cyber Media. “Mafia Peradilan Di Mana-mana. “KPK Terlambat Geledah Ruang Ketua MA. tapi pada intinya pengadilan HAM Ad Hoc untuk Timor Timur berlangsung dengan kegagalan untuk menghukum orang-orang yang terlibat dan bertanggungjawab dalam kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanity). Jumat. Sikap ini menampakkan tak punya itikad untuk mendakwa kendati sejumlah hakim berusaha membuktikan adanya kejahatan. Sistem peradilan di Indonesia dituding telah dikuasai sebagian mereka yang menjalankan tugas sebagai aparat penegak hukum dan pengadilan. administratif.30 Negara RI memang aneh karena merupakan satu-satunya negara yang mendirikan dan mengoperasikan pengadilan hakhak manusia (human rights court) berdasarkan UU No. 2007 . Pengadilan hak-hak manusia. 28 Oktober 2005. Mereka dijuluki sebagai “mafia pe- radilan”. baik dalam proses peradilan kriminal.34 Kendati Probosutedjo telah memberikan keterangan dan Harini Wijoso pun disidangkan sebagai terdakwa.” Suara Pembaruan. 26/2000. Utrecht: The Netherlands Humanist Committee on Human Rights. Dalam kerangka hukum internasional. Kamis. perbaikan kondisi. Rapim darurat digelar saat penggeledahan berlangsung. Rabu. Lihat “KPK Geledah Ruang Kerja Bagir Manan. Sejumlah jaksa telah bertindak di luar kebiasaan karena menuntut terdakwa bebas dari hukuman. 10 Mei 2006. Kesalahan ini mungkin salah satunya terletak dari kegagalan para penyusunnya dalam memahami perbedaan antara hukum internasional tentang hak-hak manusia dan hukum humaniter internasional. Berkeley: International Center for Transitional Justice. 14 Februari 2006. Ruang kerja Ketua Mahkamah Agung (MA) Bagir Manan digeledah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). bahkan berlanjutnya pelanggaran hak-hak manusia. Senin.keadilan. 27 Oktober 2005 13:32.31 Terlepas dari kesalahannya memahami konsep hukum internasional. Martha Meijer. juga Ketua Pengadilan Jakarta Pusat Cicut Sutiarso terkait kasus suap tersebut. sekurangkurangnya pada tingkat kawasan seperti Pengadilan Eropa tentang Hak-hak Manusia (European Court of Human Rights) dan Pengadilan AntarAmerika tentang Hak-hak Manusia (Inter-American Court of Human Rights) David Cohen. Selain Harini Wijoso.33 Salah satu kasus yang cukup menggegerkan adalah dugaan suap atas hakim agung yang menangani perkara penyelewengan dana reboisasi dengan terdakwa Probosutedjo. Kamis. dan “Konflik MA-KY Hanya Untungkan Mafia Peradilan. impunitas dapat diartikan sebagai “bebas dari hukuman”. 4 • Th.” Waspada Online. sipil.” Kompas.” Gatra. Sabtu. Cacat mendasar ini terjadi ketika Kejaksaan Agung mengambil alih penyelidikan setelah diterimanya laporan KPP HAM yang ditunjuk Komnas HAM.” lokakarya yang diselenggarakan PBHI dan HOM pada 29-30 Mei 2006 di Cipayung. 8 Oktober 2005. penahanan.” Suara Pembaruan. 2004. 2006. hal. 13:29 WIB. Jumat. 28 Oktober 2005.” Republika. Bogor. 21-22.com. Intended to Fail: The Trial Before the Ad Hoc Human Rights Court in Jakarta. Lihat “Majelis Hakim Masih Musyawarah Bahas Soal Bagir Manan.” Riau Pos Online. Lebih dari itu mereka juga telah memilihnya 29 Lihat “Kerangka Acuan Perencanaan Strategis 30 31 32 33 34 35 Impunitas. atau disipliner karena mereka tidak dapat diperiksa yang memungkinkan berlangsungnya penuntutan. 2 Februari 2006. Hendardi.35 tapi para pejabat MA – termasuk hakim agungnya – mengambil keputusan yang aneh dengan memperpanjang usia pensiun Bagir Manan. pengadilan dan apabila dianggap bersalah dikenakan hukuman yang sesuai norma hukum positif. Persoalan dengan impunitas bukan hanya pada proses peradilan HAM saja. “Ruang Kerja Bagir Digeledah.32 Kegagalan ini diikuti pula dengan perkara-perkara Tanjungpriok dan Abepura. melainkan juga peradilan pidana. hal. “Mafia Peradilan di Indonesia. The Scope of Impunity in Indonesia (draft).29 Secara harfiah. Selasa. 56 JURNAL HAM • Vol. impunitas adalah ketidakmungkinan secara de facto atau de jure untuk membawa pelaku kejahatan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Lihat juga “Liku-liku Percaloan dan Mafia Peradilan di Indonesia. vii-ix.

Selasa.kembali sebagai Ketua MA tanpa melalui proses seleksi lagi.” TEMPO Interaktif. “Massa Bubarkan Pertemuan Perempuan Eks Napi PKI.” Kompas. Jumat.com. selain disertai dengan ancaman dan intimidasi atas panitia dan para peserta. “Bagir Manan Merasa Difitnah. Rabu. Kamis. Bagir Ditolak. Jumat. 02 Mei 2006 11:15 WIB.37 Lainnya yang bertalian dengan persoalan impunitas adalah situasi yang menghalangi proses perlindungan dan perbaikan kondisi hak-hak manusia. Kantor mereka diserbu puluhan oknum yang berasal dari PPSI (Pemuda Penegak Syariat Islam). Pertemuan yang diadakan INCReS (Institute for Culture and Religion Studies). 18:18:45 WIB. Selasa. 22 Mei 2006. bahkan empat orang panitia dibawa dan diinterogasi ke markasnya.” Fahmina menyayangkan aparat kepolisian lamban menangani kasus penyegelan itu. 26 Mei 2006. 04:18:30 WIB. Jumat. 22 Mei 2006.” Riau Pos Online.” Kompas Cyber Media. Kamis.” Kompas.38 Sebelumnya juga terjadi larangan seminar tentang Tuntutan Penutupan PT Freeport di Jayapura. Senin. 12 Oktober 2005.” Detikcom. “Bagir Manan jadi ketua MA lagi. Halangan kebebasan berserikat juga menandai kasus yang menimpa Fahmina Institute di Cirebon. FUI (Forum Umat Islam) dan MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) menyegel Kantor Fahmina. Lihat “LSM Fahmina Diserbu Massa Pendukung RUU APP.36 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono – melalui Keputusan Presiden No 17/P/2006 – pun melantik Ketua MA yang dipilih oleh hakim agung.” Rakyat Merdeka. 02 Mei.” juga tulisan “LSM raJURNAL HAM • Vol.” Kompas Cyber Media.” Rakyat Merdeka. “Bagir Manan: Tak Ada Alasan untuk Mundur. 18 Mei 2006 14:52 WIB. Cirebon Sesalkan Sikap LSM Fahmina.” BBCIndonesia.” Media Indonesia Online. 20 Januari 2006.” wahidinstitute. Senin. 2007 cun” dan “antek asing.Published 13:11 GMT.40 Pengalaman buruk atas kebebasan berserikat ini juga pernah dialami sebelumnya ornop LAPAR (Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat) pada 22 Februari 2006 di Bulukumba. Massa demonstran pendukung RUU APP yang beratribut FPI (Front Pembela Islam).org.” Tribun Jabar. Tolak Usulan untuk Nonaktif. 22 Mei 2006 19:19:00. Polisi Bengong. dan “FPI Segel Fahmina Institute Cirebon. Minggu. Senin. 23 Mei 2006. dan “Bagir Terpilih.” Pikiran Rakyat.” KabarBaru. Kamis. 22 Mei 2006. Sulawesi Selatan. juga aparat Polres Bandung Tengah terlibat dalam membubarkan pertemuan. 10 Maret 2006. 4 • Th. Selain adanya dugaan kuat mengenai campur tangan aparat militer. 16 Mei 2006. Selasa.” Kompas.” Suara Pembaruan. Tunggakan Perkara di MA Masih Banyak. Senin. 2 Juni 2006 | 13:05:43 WIB. Menurut Ketua Dewan Kebijakan Fahmina KH Husein Muhammad. dan “Kapolri Harus Klarifikasi Pembubaran Kegiatan Mantan Tapol PKI.39 Kedua peristiwa ini dapat diduga sebagai pelanggaran hak atas kebebasan berkumpul dan berpendapat. 13 Oktober 2005. 02 Mei 2006.41 36 Lihat “Bagir Manan Perpanjang Usia Pensiun Diri- 37 38 39 40 41 nya: Disebutkan. “Bagir Terpilih Kembali Sebagai Ketua MA. Seminar Incres Dibubarkan. 26 Mei 2006. “FUI Wil.” Media Indonesia Online. 12:09 WIB. 20 Mei 2006 22:31:32. 57 . 18 Mei 2006. “Komnas Perempuan akan Minta Klarifikasi Kapolri. Komnas Perempuan dan Syarikat (Santri untuk Advokasi Masyarakat) Indonesia pada 20 Mei 2006 di Bandung telah menemui penghalangnya. 2006 . “Bagir Manan Siap Pensiun Tahun 2008. 22 Mei 2006. Fahmina dituduh merusak aqidah dan menjual ayat-ayat Al Quran dengan murah.” Republika Online. Lihat “Komnas HAM Sesalkan Larangan Seminar. Lihat “Diskusi Korban Kekerasan Perempuan Tahun 1965 Dibubarkan. Kegiatan mereka dibubarkan secara paksa oleh sekelompok oknum dari PAGAR (Persatuan Anti Gangguan Regional) dan PPM (Patriot Panca Marga).” Media Indonesia Online. Gangguan dan ancaman hak atas kebebasan berkumpul dan berpendapat maupun kebebasan berserikat dan beragama semakin nyata. Selain ditempelkan tulisan “Kantor ini disegel. Lihat “Demonstran Dukung RUU APP di Cirebon Segel LSM Fahmina. “Bangkitkan Semangat “PKI”. Jumat. Sabtu. Senin. Jumat. 21 Mei 2006. Dianggap Tolak RUU APP. “Presiden Lantik Bagir Manan Sebagai Ketua MA.” Antara News. “Muladi: Perpanjangan Pensiun Bagir Manan Keliru. Lihat “Presiden Lantik Bagir Manan Jadi Ketua Mahkamah Agung. 15:03 WIB. “Massa Segel Kantor LSM. Selasa.

Sabtu. MMI dan HTI pada 23 Mei 2006 di Purwakarta ketika diadakan acara Forum Dialog Lintas Agama di mana Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi keynote speaker. 9 Juli 2005. Kamis. Bogor.com. Kamis.42 Peristiwa ini bukan saja mendapat reaksi dari basis-basis massa NU dan PKB. “Dialog Lintas Etnis Nyaris Rusuh. 19:16:05 WIB. Rabu.” Pikiran Rakyat. 26 Mei 2006. 26 Mei 2006. 26 Mei 2006.” Suara Pembaruan. Aksi Kekerasan dan Perusakan Terus Dibiarkan.46 Fatwa ini berubah menjadi aksi kekerasan yang dilakukan ribuan orang yang mengaku dari LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) dan FPI pada Sabtu. “Pengusiran Gus Dur. “Gus Dur vs Ormas Radikal: Polisi Minta Semua Pihak Menahan Diri. Kamis. Sejumlah oknum dari ormas Islam membuat kegaduhan dan masuk ke dalam ruangan acara untuk membubarkan forum.” Rakyat Merdeka. Yang paling menderita adalah jamaah Ahmadiyah.net. Lihat “MUI Kembali Fatwakan Ahmadiyah Sebagai Aliran Sesat. “Aliansi Masyarakat Anti-Kekerasan Luruk Markas FPI Besok Siang. “13 Terdakwa Kasus Pengrusakan Kampus Mubarok Ahmadiyah Disidangkan di PN Cibinong Jabar. kampus ini kembali dikepung ribuan orang dari Masyarakat dan Umat Islam Parung 42 Lihat “Gus Dur Hadapi Teror Gerombolan Islam 43 44 45 46 47 Radikal.Tak hanya kebebasan berkumpul. Buntut Acara Dialog Lintas Etnis dan Agama. melainkan juga Gus Dur diperlakukan secara tak pantas. 28 Juli 2005 20:26 WIB “Fatwa-fatwa Haram Ala MUI.47 Selang enam hari. Lihat “Massa Pencinta Gus Dur Berdemonstrasi. Fatwa ini didukung sejumlah ormas dan partai Islam seperti PBB (Partai Bulan Bintang).” Rakyat Merdeka. Minggu. 12:16:50 WIB. WIB. dan “Tuntut Milisi Sipil Dibubarkan.com.” Detikcom. dan “Saat Pidato. 10:03:13 WIB. Jumat. Rabu. 25 Mei 2006. 4 • Th. Akibat bentrokan itu. Sabtu.43 tapi juga dari beberapa kalangan lainnya yang menyatakan “lawan preman berjubah”.” Rakyat Merdeka. 15:48:40 WIB. Jawa Barat. dan “Banteng Jakarta Dukung Gus Dur Hadapi FPI Cs.” detikInet. dan “Massa NU Akan Survei di Slipi Apa FPI Lakukan Syiar Agama. 27 Mei 2006. 24 Mei 2006. Massa LPPI dan FPI melempari arena pertemuan tahunan JAI. “FBR Gabung FPI Hadang NU. “Massa FPI-FBR Bersiap Menghadapi Serbuan Garda Bangsa.com. 28/07/2005 20:11 WIB.” Pikiran Rakyat.com. “Azyumardi Azra Menuntut Pengusir Gus Dur Diusut.” Gatra.” Kompas. 13 Agustus 2005 19:04.” Rakyat Merdeka. Lihat “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah. Aksi FPI Cs Meresahkan: Massa NU dan Prodemokrasi Demo ke Mabes Polri. 25 Mei 2006. “MUI Tetapkan 11 Fatwa. Kamis.” Detikcom. “Disesalkan. 14:14:51 WIB. Selasa. Lihat “SBY-JK Didesak Bubarkan FPI.45 Sebelumnya juga banyak terjadi peristiwa yang telah mengancam kebebasan beragama dari berbagai ormas Islam. “GP Ansor Minta Ormas Liar Dibubarkan. 2007 . Jumat. Selasa.net. Dalam peristiwa ini bukan saja panitia dan peserta forum dialog merasa terganggu dan terteror. Sabtu.” Jumat.” gusdur. Jumat.” Rakyat Merdeka.” Liputan6. 11:36:46 WIB. 24 Mei 2006.com. Jumat. karena menuduh JAI bertentangan dengan ajaran Islam.” Detikcom.” elshinta. Sebelumnya MUI Purwakarta dilaporkan melakukan intervensi. 25 Mei 2006 01:54. 10 Juli 2005. Massa ormas ini menyerang ribuan jamaah di Kampus Al-Mubarok di Parung. 25 Mei 2006.” elshinta. Rabu. 26 Mei 2006. Ormas Islam Buat Pernyataan.” Media Indonesia Online. 9 Juli 2005 18:04. Gus Dur Diserang Massa FPI dan HTI. Jumat. tapi lebih dari itu ancaman serius atas kebebasan beragama pun merebak.” Liputan6. “Sejumlah Ormas Islam Gelar Tabligh Akbar Dukung Fatwa MUI. Senin. “Pemerintah Dikritik Tak Tegas.” gusdur. Haram Hukumnya Perdukunan dan Peramalan.” Pikiran Rakyat. 25 Mei 2006 05:59. Jumat. 58 JURNAL HAM • Vol.” TEMPO Interaktif. Kampus ini juga mengalami kerusakan. 25 Mei 2006 10:26.com. 6 Maret 2006 13:05 WIB.” Liputan6. Kamis. Todung: Saya Protes Keras Terhadap FPI. dan “Saat Mencoba Membubarkan Pertemuan di Kemang. Kasus paling hangat adalah aksi sejumlah oknum dari FPI.” gusdur. sedikitnya delapan orang luka-luka terkena lemparan batu dan kayu. Jumat. 26 Mei 2006. “DPP PBB Dukung fatwa MUI Soal Ahmadiyah. 23 Mei 2006. 5 Agustus 2005 13:08 WIB Lihat “Dua Kelompok Massa Islam Bentrok. MUI mengeluarkan fatwa yang menyatakan Ahmadiyah sebagai “aliran sesat”.” Rakyat Merdeka.” Liputan6. Jum’at.” gusdur. “Garda Bangsa Minta Habib Rizieq Ditangkap. Polisi Biarkan FPI Bertindak Anarkis. 29 Juli 2005 | 06:38 WIB. “NU Tuntut FPI Minta Maaf. 26 Mei 2006. 23 Mei 2006. “NU vs FPI: Polisi Barikade Jl KS Tubun. 24 Mei 2006. Rabu. 26 Mei 2006. 26 Mei 2006. Kamis. Jumat. Kamis. 26 Mei 2006.” Rakyat Merdeka.com.net.net. Gus dur Tuding Gerakan Ormas Islam Ada yang Mendanai.44 Bahkan memunculkan desakan mereka untuk membubarkan beberapa ormas Islam radikal tersebut. Kamis. 31 Mei 2006. Warga Bentrok dengan Pengikut Ahmadiyah. 17:24:23 WIB. Jumat.

48 Peristiwa ini mendapat reaksi dari berbagai kalangan. Garut Diamuk Massa. Rabu 5 April 2006. 18 Juli 2005 19:26 WIB.com/bpost/072005/16/nusantara/nusa1. Lihat “Ahmadiyah Makin Terzalimi dengan Fatwa MUI.” Media Indonesia Online. Jumat. Kamis. Jumat. 20 Juli 2005 08:02 WIB.” gusdur. 29 Juli 2005 20:00.indomedia.” Kapanlagi. Sabtu. Selasa. Sejumlah massa melempari para JAI dengan batu dan kayu saat dievakuasi dari Kampus Mubarok.” elshinta. Kejengkelan terhadap Ketidakpastian Sikap Pemerintah. 30 Juli 2005. Selasa. 18 Februari 2006.php?page= article&id=850.” Detikcom. “Fatwa MUI Dituding Melegitimasi Penyerangan Terhadap Ahmadiyah. 26 April 2006 10:12 WIB. Minggu.” detikInet. Abdurrahman Wahid. 15 Jul 2005 13:11:12. 21:12 WIB.55 Selain beberapa pemerintah di daerah telah melarang aktivitas JAI. Rabu. Jumat.com. intimidasi dan teror kekerasan terhadap JAI di berbagai daerah seperti yang dialami jamaah ini di Sukabumi.com. 06:57. 20 56 57 58 59 60 Juli 2005 (tulisan ini ditulisnya ketika dirawat di RSCM).com. “Warga Ahmadiyah NTB Mengucapkan Syahadat. 17 Februari 2006.” Li- 50 51 52 53 54 55 putan6. 16 Juli 2005.com/id/index. 22 September 2005. M. Selasa. dan “Keluarga Ahmadiyah Bulukumba Mengungsi. “Gus Dur Sesalkan Penyerangan Masjid Ahmadiyah di Cianjur.51 Garut.” Liputan6. dan “Desak Pemda Lombok Tengah.com.net. 49 Lihat “Tokoh Antaragama Kutuk Penyerangan Jemaat Ahmadiyah. Kamis. Jumat. juga dari GUII (Gerakan Umat Islam Indonesia) yang dipimpin Habib Abdurrahman.58 Pernyataan ini disesalkan oleh perwakilan Ahmadiyah. 22 Februari 2006 23:50.52 Kuningan. “Sejumlah Sarana Ibadah Ahmadiyah di Kuningan Disegel.” Hidayatullah. Lihat “Ahmadiyah Bulukumba Diancam Demo Besar-besaran. Lihat “GARIS Bertanggung Jawab Atas Serangan Perkampungan JAI. “Kegiatan Jemaat Ahmadiyah di Kuningan-Bogor Dilarang. Garis adalah singkatan dari Gerakan Reformis Islam. 2 Agustus 2005.” Kompas Cyber Media. Dawam Rahardjo. 7 Agustus 2005 13:27 WIB. 21 September 2005.” detikInet.com. Jumat. 15/07/2005 17:57 WIB. Minggu.” Kompas Cyber Media. Muspida Garut Sepakat Melarang Ahmadiyah.Com. Lihat “Rumah Ketua Ahmadiyah Kab. 21 Agustus 2005 16:17 WIB. 4 • Th.htm. “12 Pengrusak Masjid Ahmadiyah di Cianjur Dibekuk. Lihat “Teror: Belasan Rumah Ahmadiyah Dibakar.59 Mereka menjadi korban kesewenang-wenangan atau kezaliman. Rabu.53 serta beberapa daerah lainnya terutama yang dialami jamaah Ahmadiyah di Bulukumba (Sulsel)54 dan Lombok Barat (NTB). Senin. Massa yang menyerbu selain dari FPI.” Media Indonesia Online.” Pikiran Rakyat. 5 Agustus 2005 15:31. 24 Pebruari 2006.com.” Gatra. Lihat “Pemerintah Tetap Larang Ajaran Ahmadiyah. Jumat. 16 Agustus 2005.” gusdur.” Metrotvnews. juga pemerintah pusat tetap melarangnya sebagaimana yang dikemukakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. memang terjadi peningkatan berbagai aksi penolakan. Rabu. Minggu.” elshinta. Lihat “Jaksa Agung: Larangan Ajaran Ahmadiyah Bersifat Parsial.net. 5 Februari 2006. Gus Dur: Itu Pidana.” http://www.” Koran Tempo.net.” gusdur. September 2005. “Jemaah Ahmadiyah Sambut Baik Keberadaan Satgas Garda Bangsa.” detikInet.50 Cianjur.” Tribun Timur. “Dievakuasi Jemaat Ahmadiyah Dilempari Batu & Kayu.60 48 Lihat “Kampus Ahmadiyah Dikepung Massa. 05 Agustus 2005. Jumat. Lihat “Ahmadiyah Sesalkan Pernyataan Presiden SBY Soal Kejaksaan Pernah Larang Ahmadiyah. Rabu. 18 Jul 2005 19:49:51.” Detikcom.” Pikiran Rakyat. Jum’at. Sabtu. “72 Anggota Ahmadiyah Nyatakan Keluar. Lihat “Pembakaran Rumah Jama’ah Ahmadiyah NTB.” elshinta. 2 Agustus 2005. 30 Pengungsi Jemaat Ahmadiyah di Lombok Tengah Ingin Kembali ke Rumah.” Detikcom. “Gus Dur Meminta Masjid Milik Ahmadiyah Dibuka.” Metrotvnews. Jumat. 2007 59 .” Detikcom. 9 Agustus 2005.56 Pernyataan ini mungkin setelah keluar pernyataan Jaksa Agung yang menegaskan larangan atas Ahmadiyah.com. 18:05 WIB. dan “Markas Ahmadiyah Diserbu Massa. dan “Kejaksaan Telah Mendata Asetnya.Bogor dan Jakarta. dan “Mengekang Kebebasan Beragama. “Jemaah Ahmadiyah Kuningan Bantah Ada Bentrokan.” Tribun Timur. Sebagian mempersenjatai diri dengan tongkat bambu. 30/07/2005 16:55 WIB. Sabtu. Lihat “SBY: Ahmadiyah Sudah Resmi Dilarang Pemerintah. JURNAL HAM • Vol. Kepolisian Resor (Polres) Bogor menyegel kampus setelah unsur Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) Kabupaten Bogor menyetujui keputusan bersama untuk menutup kampus. 15 Juli 2005 20:20. “Teror atas Ahmadiyah dan Problem Kebebasan Beragama. Sabtu. Rabu. ancaman. Lihat “Ratusan Ulama Sukabumi Menolak Ahmadiyah. “Negara Hukum Ataukah Kekuasaan. Rabu.” ttp://islamlib.57 selain diperkuat oleh Menteri Agama Maftuh Basyuni. 21 Juli 2005 18:54 WIB.com. Gus Dur: Yang Membakar Harus Ditangkap.com.49 Sejak peristiwa itu. 14 Pebruari 2003 16:22.

4 Oktober 2004. PBHI dan Kontras. tapi juga oleh sekelompok orang dari ormas Islam seperti AGAP (Aliansi Gerakan Anti Pemurtadan) dan FPI. 2 Juni 2006.” Bandung. 7 September 2005 01:34:26.” Suara Pembaruan. Kecamatan Genuk (31 Juli 2005). 28 Oktober 2004 10:00:03. terdapat pula kasus-kasus penyerangan atas beberapa ornop/LSM seperti UPC. 2007 60 . 26 Juni 2001. “Gus Dur Perintahkan Banser untuk Menjaga Sang Timur. Selain rusak lahan garapan para petani yang berdampak pada hak atas pekerjaan dan penghasilan. 27 Mei 2003 14:52. kafe dan 61 Lihat “Penembokan Sekolah Sang Timur. Lihat “PBHI Desak Kapolri Usut Kasus Kekerasan di Garut.65 Selain itu. tapi juga sekaligus menjadi bagian dari terus langgengnya impunitas. 23 Agustus 2005. 1 Juni 2006 di Garut. Jakarta.” Crossmap News. Sekolah milik Yayasan Sang Timur yang terletak di Kabupaten Tangerang menjadi sasaran aksi penutupan gerbang oleh sekelompok orang yang mengaku dari FPI. Purwakarta) serta enam gereja di Kompleks Permata Cimahi. Jumat. Senin. Senin. Jumat. JURNAL HAM • Vol.” Republika.64 Kasus lainnya adalah konflik pertanahan antara petani penggarap dengan pihak perkebunan yang ditandai dengan tindak kekerasan tak hanya oleh aparat keamanan. dan “Gus Dur Meminta Walikota Tangerang Memberikan Izin Membangun Gereja.id. Jumat. Kamis. 23 Agustus 2005. Kabupaten Bandung. Jawa Barat. tapi kenyataannya tak ada jaminan hak-hak sipil dan politik setiap orang dihormati.” Sinar Harapan. 6 Pebruari 2004. Bogor). dan “Wardah Hafidz Kecewa dengan Putusan Hakim. Kelurahan Tani Mulya. “Massa Datangi Kontras dan PBHI. Selasa. Lihat “Kantor PBHI Jabar Didatangi Massa.” TEMPO Interaktif. 25 Oktober 2004 | 10:09 WIB. “Gus Dur: Hentikan Aksi Penutupan Gereja.co. Selasa. Bandung). 25 Oktober 2004 | 11:52 WIB. 4 • Th.com. 26 Agustus 2005. Prospek implementasi ICCPR Kendati negara RI telah meratifikasi ICCPR.66 Semua ini bukan saja terus berlangsung kegagalan dalam melindungi hak-hak. Lihat “Sejumlah Ormas Islam Tutup Gereja Ilegal. Pernyataan ini ditujukan kepada Bupati Kabupaten Bandung. Kecamatan Ngamprah (Kab. terutama oleh sekelompok orang dari ormas Islam seperti FPI. FKKU (Forum Komunikasi Kemaslahatan Umat) dan FSPI (Forum Silaturahmi Pemuda Islam) serta ormas kedaerahan seperti FBR (Forum Betawi Rempug) yang kerap melakukan penyisiran (sweeping) dan kekerasan baik atas pemeluk agama dan orang lain maupun tempat-tempat hiburan. sejumlah gereja ditutup.63 Aksi penutupan gereja ini tak hanya oleh pemerintah lokal. dan “Tokoh Agama dan Gus Dur: Hentikan Aksi Penutupan Gereja.” Kompas. 9 Oktober 2004 8:45:00 WIB. Lihat “Pernyataan Forum Komunikasi Kristiani Indonesia Jawa Barat tentang Penutupan Kegiatan Ibadah Kristen di Perumnas Bumi Rancaekek Kencana.” Gatra. Gereja Kristen Pasundan (GKP) di Katapang (Kab. Gereja Kristen Kemah Daud (GKKD) di Kampung Warung Mekar.” TEMPO Interaktif. “Tembok Sang Timur Dirobohkan. Lihat “Camat Dayeuhkolot Tutup Gereja Ilegal. 31 Maret 2003. Senin.Kasus gagalnya perlindungan hak atas kebebeasan beragama juga dialami oleh pemeluk agama Protestan dan Katolik. juga ribuan penduduk terpaksa mengungsi akibat aksi kekerasan tersebut.61 Pada 12 September 2004 terjadi aksi warga berdasarkan Maklumat Forum Silahturahmi Ulama Cendikiawan Muslim (FSUCM) yang melarang ibadah di Gereja-gereja Rancaekek.” kristianipos. Selasa. Bandung).” eben-network. Kabupaten Indramayu dan tiga orang pembinanya ditahan di LP. tapi juga sejumlah oknum preman seperti yang terjadi pada Kamis.” christianpost. yaitu Gereja Kristen Kemah Daud (GKKD) di Kecamatan Haurgeulis. Pendidik- 62 63 64 65 66 an Jangan Jadi Korban. Senin. Sabtu.com.” Republika. “Kantor Kontras Diserbu Massa. Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) dan Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Perum Gading Tutukan Soreang (Kab.62 Antara Juni-Agustus 2005. Desa Bungursari (Kab.” TEMPO Interaktif. Selasa. dan “Penjelasan FPI : Kronologis Kejadian Penutupan “Gereja Liar” di Bandung. Rabu. 15 Agustus 2005. AGAP. Gereja Isa Almasih (GIA) di Karangroto.” TEMPO Interaktif.

lihat juga “Polisi bubarkan Rapat Umum Petani. Terkait Pemukulan Kontributor TV. “Preman Pukul Wartawan dan Rusak Kantor Indopos. 12:54am.indymedia.72 kalangan pekerja pers mengeluarkan pernyataan perang melawan premanisme.” TEMPO Interaktif. Misalnya. 23 Oktober 2004 01:30 WIB. Jum’at. 1 Muntah Darah. 11 Maret 2003. 23 Mei 2006.” Sinar Harapan. 14 Maret 2003. 28 Oktober 2004 | 19:45 WIB.” Warta Kota. dan “Polisi Tembak Buronan Pencuri Sarang Walet.73 dan mereka yang memperjuangkan dihormatinya pluralisme menyatakan lawan preman berjubah.” Kompas. Selasa. dan “Istri Gus Dur Dilaporkan FBR ke Polda.” Detikcom. Kamis. 9 Mei 2006.net.” TEMPO Interaktif. 12 Mei 2006 09:16. Hak Manusia dan Polisi. “FPI: Perda Tempat Hiburan Tumpul.” Gatra. “Premanisme dan Wartawan Kita. “Aksi Premanisme terhadap Pers.” TEMPO Interaktif. 30 Maret 2006. dan “Polisi Membubarkan Paksa Demonstrasi di DPRD Bengkulu. 26 April 2006. Sabtu. “Puluhan Orang Berseragam FBR Keroyok Pedagang Pasar Senen.” Sinar Harapan. “Massa Gabungan Ormas ‘Sweeping’ Toko Miras. 29 Oktober 2005.” Kompas Cyber Media. Bandung: PBHI Jawa Barat. “Tujuh Anggota FBR Divonis Enam Bulan.” detikInet. 24 Juni 2000. 18 Mei 2006 11:34. “Demokrasi dan Perlindungan Kaum Minoritas. Sabtu. Senin. Rabu. Senin.” gusdur. “Diakui Sebagai Tindakan Konkret Berantas Pekat. 37 Luka Tembak. Harry Ganda Asi. Polisi Hajar Wartawan. dan “Empat LSM Desak Moratorium Hukuman Mati Tibo Cs. 1 Meninggal. 20 September 2005. Sabtu.” Pikiran Rakyat.” jakarta.” detikInet.Com. 23 Oktober 2004 | 00:00 WIB. Suryadi Radjab. 02 Juli 2002. 25 Juli 2005. Kamis.com.” INDO POS Online.” SeKetika.” TEMPO Interaktif.pedagang. 3 Oktober 2003.75 67 Lihat “FPI Rusak Kantor Komnas HAM dan Kafe 68 69 70 71 72 Jimbani.74 Begitu juga.” Kaltim Post. JURNAL HAM • Vol. “FPI Gerebek Tempat Hiburan di Kemang. 23 Oktober 2004 11:20 WIB.” Pikiran Rakyat. “Tawuran FBR-Benteng Banten. Rabu.” gusdur. Jumat. 19 Maret 2004. 17:57:46 WIB. Senin. Kamis. Rabu. Kamis. “Rusak Tempat Hiburan. “Penyerangan Tempo: Aparat Dikangkangi Premanisme. Polda Metro Tindak Tegas FPI dan FBR. sejumlah ornop melancarkan kampanye menolak hukuman mati. Sabtu.” TEMPO Interaktif. 31 Maret 2003. Jumat. “Wartawan TEMPO Dipukul. 10 Pebruari 2005 | 17:27 WIB.Com. Lihat “LSM HAM Tolak Hukuman Mati. Lihat “Keluarga Korban Pelanggaran HAM Tuntut Soeharto Diadili. Rabu. tetap tumbuh semangat dan partisipasi masyarakat dalam membela hak-haknya. “Polres Jakarta Timur ‘Diserbu’ FBR.com.” Pikiran Rakyat.net. “Preman Berjubah itu. Massa FPI Purwakarta Razia Miras dan PSK. 10 Mei 2006. 2007 61 . 2005. keluarga korban dan beberapa kalangan yang prihatin atas pelanggaran hak-hak manusia tetap mendesak proses hukum atas orang-orang yang terlibat dan bertanggung jawab. Kamis. Ahmad Suaedy. 16:26 WIB.” TEMPO Interaktif. “FPI Sweeping Tempat Maksiat. Selasa. Kamis.71 Memang harapan untuk mendapatkan intervensi negara untuk melindungi hakhak sipil dan politik yang terancam oleh perilaku sejumlah orang maupun halangan dari aparat militer dan kekerasan polisi. Selasa. Lima Luka-luka.69 Kekerasan polisi tak hanya menjadi kebiasaan dalam penangkapan dan penahanan tersangka. dan “Soeharto Perlu Juga Diadili dalam Kasus Pelanggaran HAM. Sweeping Jalan Terus. Distia Aviandari dan Suryadi Radjab. Rabu. 13 Apr 2006. “Massa FPI Rusak kantor Playboy. Lihat “Kasus Wamena Tunjukkan Lemahnya Perlindungan HAM di Papua. Lihat “Polisi Tembak ‘Raja Jambret’ Samarinda.68 Apalagi jika aparat keamanan dan penegak hukum justru lebih sering gagal melindungi hak-hak tersebut. “Pelanggaran HAM Soeharto Harus Tetap Diusut.” Liputan6. dan “Masyarakat Solo Keluarkan Petisi Perang terhadap Premanisme. Jumat. Nadirsyah Hosen.com.70 melainkan juga atas para demonstran atau orang-orang yang sedang merealisasi hak atas kebebasan berkumpul dan berpendapat. 20 Desember 2005 | 00:20 WIB. 23 Oktober 2004 16:13 73 74 75 WIB.” dalam Hendardi. 24 Mei 2006. Lihat “Pada HUT-nya Ke-56. 9:07 WIB. 08:38 WIB. “FPI Akan Terus Sweeping Tempat Hiburan. “Polisi Nias Gelar Perkaranya Hilangnya Wartawan Berita Sore. Decky Natalis Pigay.” TEMPO Interaktif. dan “Wartawan Surabaya Demo UPN Veteran. “Peristiwa 12 Februari dan Kekerasan Polisi. 06 April 2006.” Gatra.67 Kasus penyerangan dan tindak kekerasan atas pekerja pers masih saja terjadi setelah kasus Udin.” Kompas Cyber Media. Selasa. 31 Agustus 2005 15:00.” detikInet. 4 • Th.” Hukumonline. 18 Maret 2003. Sabtu .” islamlib.” TEMPO Interaktif. Selasa. 26 Januari 2005. Senin. 04 April 2005 | 14:01 WIB.” TEMPO Interaktif. 23 Juni 2003. 17 Oktober 2005” – 09:46. 17 November 2005 | 01:07 WIB. 27 Mei 2006. Sabtu. 16 Mei 2006 14:52 WIB. “Masyarakat Kemang Kutuk Aksi FPI.org. 4 Luka-luka.” detikInet. Selasa.” Sinar Harapan.” Rakyat Merdeka. Kamis. Lihat “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah. Selasa. Sabtu. Selasa.” TEMPO Interaktif. 26 Maret 2003.

Detikcom. 8 Maret 2006.” Sabtu. 7 Maret 2006. Detikcom. Detikcom. “Draf RUU APP Adalah Buah dari Sebuah Kemunafikan” Kamis. “Peringati Hari Perempuan. DAFTAR PUSTAKA Antara News. Detikcom. “Premanisme dan Wartawan Kita” dalam Sinar Harapan. Intended to Fail: The Trial Before the Ad Hoc Human Rights Court in Jakarta. 16 Februari 2006. 4 • Th. Detikcom. 15 Maret 2006. MUI Akan Kumpulkan 1. Cendrawasih Pos. Detikcom. “Komnas Perempuan Tolak Perda Tangerang Tentang Pelacuran” Rabu. Detikcom. 16 Agustus 2005. Crossmap News. 21 Mei 2006. 30 Juli 2005. Cohen. Berkeley: International Center for Transitional Justice. 100 Pendemo Cantik Tolak RUU APP” Rabu. Jadikan Bali Daerah Khusus Pornografi” Rabu. 12 Maret 2006. Detikcom. “MMI: Jika Terus Menolak. Detikcom.Published 13:11 GMT. 9 Februari 2006. “Polisi Tembak Buronan LP Saat Mencoba Melarikan Diri dari Kejaran Petugas” Rabu. Rabu. 16 Maret 2006. Detikcom. September 2005. “Tokoh Agama dan Gus Dur: Hentikan Aksi Penutupan Gereja” Jumat. Detikcom. “Gus Dur Sesalkan Penyerangan Masjid Ahmadiyah di Cianjur” Kamis. 22 Mei 2006. 22 September 2005. Detikcom. 16 Maret 2006. 2007 62 . “Ratusan Mahasiswa Yogya Demo Tolak RUU APP” Rabu. 26 Agustus 2005. “Slamet Rahardjo: RUU APP Tempatkan Perempuan Seolah Hantu” Minggu. 6 Maret 2006 Detikcom.com. “Aksi Seribu Tayub Tolak RUU APP” Rabu. 4 Maret 2004. JURNAL HAM • Vol. “MUI Sayangkan Adanya Penolakan RUU Anti Pornografi” Senin. BBCIndonesia. 16 Agustus 2005. Detikcom. 9 Mei 2006. “Demonstran Dukung RUU APP di Cirebon Segel LSM Fahmina” Minggu. “FBR Gabung FPI Hadang NU” Jumat. tapi juga tanggung jawab negara. Berbagai partisipasi. “Ahmadiyah Makin Terzalimi dengan Fatwa MUI. Harry Ganda. “RUU Pornografi Berpotensi Jadi Alat Pemerasan Baru” Kamis. terlebih lagi konsolidasi masyarakat. “SBY: Ahmadiyah Sudah Resmi Dilarang Pemerintah” Selasa. 8 Maret 2006. 9 Maret 2006. “SBY: Ahmadiyah Sudah Resmi Dilarang Pemerintah” Selasa. “NU vs FPI: Polisi Barikade Jl KS Tubun” Jumat. Detikcom. “Gus Dur Siap Upayakan Amandemen Jika RUU APP Jadi UU” Kamis. “DPR Pusing Pro Kontra RUU APP” Kamis. 2004. Detikcom. 8 Maret 2006. 18 Mei 2006. Detikcom. Detikcom. Detikcom. Detikcom. Asi. “Massa NU Akan Survei di Slipi Apa FPI Lakukan Syiar Agama” Jumat. 8 Maret 2006. Rabu. 2006 . “Bagir Manan jadi ketua MA lagi” 02 Mei. “12 Pengrusak Masjid Ahmadiyah di Cianjur Dibekuk” Rabu. Detikcom. 144 Setuju RUU APP” Kamis.000 Ulama di Gontor” Senin. Detikcom. “Pelanggaran HAM Soeharto Harus Tetap Diusut” Selasa. “Presiden Lantik Bagir Manan Jadi Ketua Mahkamah Agung” Kamis. 06:57. “Perda Larangan Pelacuran Akan Diterapkan di Jakarta” Selasa.Selain itu. Detikcom. Detikcom. 26 Maret 2003. 15 Maret 2006. “Dari 167 Lembaga Tamu Pansus. “30 Elemen Islam Malang Demo Dukung RUU APP. negara – pemerintah dan aparat penegak hukum – harus selalu diingatkan dan didesak terus-menerus untuk melindungi hak-hak sipil dan politik bagi setiap orang ketika ancaman atasnya sedang berlangsung. “Bahas RUU APP. 26 Mei 2006.” Detikcom. Detikcom. 26 Mei 2006. David. 26 Mei 2006. sangatlah penting dalam menagih bukan saja kewajiban.

“Demokrasi dan Perlindungan Kaum Minoritas” dalam islamlib. “Gus Dur Hadapi Teror Gerombolan Islam Radikal” Selasa.com. Rabu. gusdur.com. Rocky. detikInet. Januari 1997. 27 Mei 2003 14:52. “Ahmadiyah Sesalkan Pernyataan Presiden SBY Soal Kejaksaan Pernah Larang Ahmadiyah” Minggu. Gus Dur: Yang Membakar Harus Ditangkap” Minggu. gusdur.” Kompas. 13 Agustus 2005 19:04 WIB. “Teror: Belasan Rumah Ahmadiyah Dibakar” Jumat. “KPK Geledah Ruang Kerja Bagir Manan” Kamis. “13 Terdakwa Kasus Pengrusakan Kampus Mubarok Ahmadiyah Disidangkan di PN Cibinong Jabar” Senin. Gatra.com. detikInet. 25 Mei 2006 10:26. 23 Mei 2006. detikInet. “FPI: Perda Tempat Hiburan Tumpul.net. Gus Dur: Itu Pidana” Rabu 5 April 2006. “Kantor Kontras Diserbu Massa” Jakarta.net.com. 24 Pebruari 2006. detikInet. “Keluarga Korban Pelanggaran HAM Tuntut Soeharto Diadili” Kamis.net. 26 Mei 2006. Gatra.com. Aksi FPI Cs Meresahkan: Massa NU dan Prodemokrasi Demo ke Mabes Polri” Jumat. Gatra. 23 Oktober 2004 16:13 WIB. Hidayatullah. Polda Metro Tindak Tegas FPI dan FBR” Sabtu .com. elshinta. “Desak Pemda Lombok Tengah. 12 Mei 2006 09:16. 27 Oktober 2005 13:32. “Mengekang Kebebasan Beragama. “MUI Kembali Fatwakan Ahmadiyah Sebagai Aliran Sesat” Kamis. Hendardi. gusdur. 23 Mei 2006.net. “Mafia Peradilan di Indonesia.net. gusdur. Kamis. “Gus Dur Hadapi Teror Gerombolan Islam Radikal” Selasa. 23 Oktober 2004 11:20 WIB. “The Age of Rights” Imparsial. 30/07/2005 16:55 WIB. 26 April 2006 10:12 WIB. 23 Mei 2006. 2007 63 .detikInet. Gatra. “Penjelasan FPI : Kronologis Kejadian Penutupan “Gereja Liar” di Bandung” Rabu. 31 Mei 2006. “Tuntut Milisi Sipil Dibubarkan” Rabu.net. Gatra. “Kegiatan Jemaat Ahmadiyah di Kuningan-Bogor Dilarang” Sabtu. detikInet. elshinta. 2. 23 Mei 2006. “Soeharto Perlu Juga Diadili dalam Kasus Pelanggaran HAM” Selasa. 28/07/2005 20:11 WIB. “Jaksa Agung: Larangan Ajaran Ahmadiyah Bersifat Parsial” Kamis. elshinta. Nadirsyah. 18 Mei 2006 11:34. 2 Februari 2006. 1. elshinta.com. 6 Maret 2006 13:05 WIB. gusdur. JURNAL HAM • Vol. 18 Maret 2003. detikInet. 15/07/2005 17:57 WIB. detikInet. Vol. Gatra.com. 10 Mei 2006. “Masyarakat Solo Keluarkan Petisi Perang terhadap Premanisme” Selasa. gusdur. “FPI Gerebek Tempat Hiburan di Kemang” Sabtu. 23 Mei 2006. 30 Pengungsi Jemaat Ahmadiyah di Lombok Tengah Ingin Kembali ke Rumah” Rabu. 16 Mei 2006 14:52 WIB. “Rusak Tempat Hiburan. “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah” Selasa. 21 Juli 2005 18:54 WIB.com.com.com. 7 September 2005 01:34:26. “Dievakuasi Jemaat Ahmadiyah Dilempari Batu & Kayu” Jumat. gusdur. gusdur.net. “DPP PBB Dukung fatwa MUI Soal Ahmadiyah” Sabtu. Hosen.com. 23 Oktober 2004 01:30 WIB. No. “Polisi Tembak ‘Raja Jambret’ Samarinda” Jumat. “Jemaah Ahmadiyah Sambut Baik Keberadaan Satgas Garda Bangsa” Minggu. “Pengusiran Gus Dur.net. “Ratifikasi 2 Kovenan HAM oleh RI Dianggap Masih Setengah Hati” Kamis . “Pembakaran Rumah Jama’ah Ahmadiyah NTB. Selasa. “Ratusan Ulama Sukabumi Menolak Ahmadiyah” Jum’at. 4 • Th. gusdur. detikInet. Gerung. gusdur. eben-network. Todung: Saya Protes Keras Terhadap FPI” Kamis. 21 Agustus 2005 16:17 WIB.com. 7 Agustus 2005 13:27 WIB.net. elshinta. Sweeping Jalan Terus” Sabtu.net. “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah” Selasa. “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah” Selasa. 5 Februari 2006. 14 Pebruari 2003 16:22. 29/ 09/2005 14:25 WIB.

Kaltim Post. “Massa FPI Rusak kantor Playboy” Kamis. 02 Mei 2006. Kompas. “GARIS Bertanggung Jawab Atas Serangan Perkampungan JAI” Rabu. 06 April 2006. 6 April 2006. 9 Oktober 2004 8:45:00 WIB. 2007 . Kapanlagi. 22 Mei 2006. 16:26 WIB. Hukumonline. 13:29 WIB. “RUU Pemerintahan Aceh: Diusulkan Polisi dan Jaksa Khusus Syariat” Jumat.” Bandung. Kompas. “Pemerintah Dikritik Tak Tegas. Dengan Reservasi pada Hak Menentukan Nasib Sendiri” Sabtu. “Konflik MA-KY Hanya Untungkan Mafia Peradilan” Selasa. 13 Apr 2006. 21 September 2005.org. Kompas.com. “Bagir Manan: Tak Ada Alasan untuk Mundur” Rabu. 12:54am. “Banyak UU Tanpa Kajian: Tidak Ada Desain Besar Legislasi Nasional. Koran Tempo.” Selasa. 37 Luka Tembak” Selasa. “FPI Rusak Kantor Komnas HAM dan Kafe Jimbani” Sabtu. “Gus Dur Meminta Walikota Tangerang Memberikan Izin Membangun Gereja. 1 Oktober 2005.htm. 26 Mei 2006. “FPI Sweeping Tempat Maksiat” Senin. 64 JURNAL HAM • Vol. Kompas. Liputan6. “Penyerangan Tempo : Aparat Dikangkangi Premanisme” Selasa. Aksi Kekerasan dan Perusakan Terus Dibiarkan” Jumat. 26 Juni 2001. 20 Mei 2006 22:31:32. Rabu. Kompas Cyber Media.” lokakarya yang diselenggarakan PBHI dan HOM pada 29-30 Mei 2006 di Cipayung. “Kerangka Acuan Perencanaan Strategis Impunitas.” Kamis. Kompas Cyber Media. “Markas Ahmadiyah Diserbu Massa” Jumat. Hikmahanto. “Tokoh Antaragama Kutuk Penyerangan Jemaat Ahmadiyah” Sabtu.com. 24 April 2004.com. “Penembokan Sekolah Sang Timur. Kompas.http://www. “Pemerintahan Daerah: 393 Perda Bermasalah Akan Dibatalkan” Kamis. “Pernyataan PBHI Jawa Barat: Protes atas INDO POS Online. Tunggakan Perkara di MA Masih Banyak” Jumat. “Konsekuensi Ratifikasi ICCPR” Kompas. 24 Mei 2006. 12 Oktober 2005. Kompas. “Ratifikasi Dua Kovenan Internasional Dinilai Setengah Hati” Kamis. Kompas. Bogor. Kompas Cyber Media.indomedia. jakarta. “Polisi bubarkan Rapat Umum Petani. 11 Maret 2003. Kompas Cyber Media. Pembubaran Paksa Pertemuan di Wisma Brantas Bandung. 8 Mei 2006.com. 05 Agustus 2005. Kompas. 12:09 WIB. “LSM HAM Tolak Hukuman Mati” Kamis. “Komnas HAM Sesalkan Larangan Seminar” Selasa. 13 Oktober 2005. 16 Mei 2006.com/bpost/072005/16/ nusantara/nusa1. 16 Juli 2005. 08:38 WIB. “Diskusi Korban Kekerasan Perempuan Tahun 1965 Dibubarkan” Sabtu. 17 Oktober 2005 – 09:46. “Gus Dur Meminta Masjid Milik Ahmadiyah Dibuka” Jumat. 20 September 2005. “Dua Kovenan HAM Diratifikasi. INCRESS. 29 September 2005 Hukumonline. 12 Mei 2006. 18:05 WIB. 24 Juni 2000. Kompas Cyber Media. 15:03 WIB. “Bagir Manan Siap Pensiun Tahun 2008” Selasa. Pendidikan Jangan Jadi Korban” Sabtu. “Pelaksanaan Otonomi Daerah Kebablasan” Sabtu. 14 Februari 2006. “72 Anggota Ahmadiyah Nyatakan Keluar” 2 Agustus 2005 kristianipos. Syarikat Indonesia. kristianipos.com. Kompas. Kompas Cyber Media. 20 Januari 2006. Banyak yang Tumpang Tindih” Senin. 15 Jul 2005 13:11:12. 28 Oktober 2004 10:00:03. “Bagir Manan Merasa Difitnah. 1 Meninggal. Kompas Cyber Media. Kompas. dan “Istri Gus Dur Dilaporkan FBR ke Polda” Rabu. dan Komnas Perempuan. Kompas. Tolak Usulan untuk Non-aktif” Kamis. “Jemaah Ahmadiyah Kuningan Bantah Ada Bentrokan” Jumat. 5 Agustus 2005 15:31. 21:12 WIB. 8 Juni 2005.indymedia. KabarBaru. “Kantor PBHI Jabar Didatangi Massa. “Bagir Manan Perpanjang Usia Pensiun Dirinya: Disebutkan. Juwana. 4 • Th.

Suryadi. Liputan6. Pikiran Rakyat. 26 Mei 2006. Pikiran Rakyat. “Polisi Tembak Buronan Pencuri Sarang Walet” Rabu. “Polisi Membubarkan Paksa Demonstrasi di DPRD Bengkulu” Rabu.com. 15 Juli 2005 20:20. Metrotvnews. Metrotvnews. Media Indonesia Online. Distia Aviandari dan Suryadi Radjab. Pikiran Rakyat. Media Indonesia Online. Rahardjo. Ormas Islam Buat Pernyataan. Metrotvnews. 9 Juli 2005 18:04. Polisi Bengong” Jumat. Decky Natalis. 26 Januari 2005. 10 Juli 2005. Meijer. 25 Mei 2006 01:54. Massa FPI Purwakarta Razia Miras dan PSK” Sabtu. Rakyat Merdeka.com. Buntut Acara Dialog Lintas Etnis dan Agama” Jumat. 31 Agustus 2005 15:00. 20 Juli 2005 08:02 WIB.com/id/index. 25 Mei 2006 05:59. Martha. Liputan6. 22 Mei 2006. Liputan6. “Peristiwa 12 Februari dan Kekerasan Polisi” dalam Hendardi. 14 Maret 2003. Pikiran Rakyat. Cirebon Sesalkan Sikap LSM Fahmina” Jumat. 18 Juli 2005 19:26 WIB.com. “Warga Ahmadiyah NTB Mengucapkan Syahadat” Rabu. “Sejumlah Sarana Ibadah Ahmadiyah di Kuningan Disegel” Jumat. 19:16:05 WIB. Radjab. 25 Juli 2005. Liputan6. Utrecht: The Netherlands Humanist Committee on Human Rights. 2007 Pikiran Rakyat. “Diakui Sebagai Tindakan Konkret Berantas Pekat.com. “MUI Tetapkan 11 Fatwa. Pigay. 26 Mei 2006. 65 . 28 April 2006 17:05.Liputan6. “Teror atas Ahmadiyah dan Problem Kebebasan Beragama” dalam http://islamlib. 18 Mei 2006 14:52 WIB. Media Indonesia Online. “Rumah Ketua Ahmadiyah Kab. 24 Mei 2006. JURNAL HAM • Vol. 18:18:45 WIB. “Dialog Lintas Etnis Nyaris Rusuh.” Bandung. “Gus Dur vs Ormas Radikal: Polisi Minta Semua Pihak Menahan Diri” Kamis. “Massa FPI-FBR Bersiap Menghadapi Serbuan Garda Bangsa” Jumat. Bandung: PBHI Jawa Barat. 4 Oktober 2004. Garut Diamuk Massa. Muspida Garut Sepakat Melarang Ahmadiyah” Selasa. Warga Bentrok dengan Pengikut Ahmadiyah” Minggu.com. 26 Mei 2006. 2006. “Dialog Lintas Etnis Nyaris Rusuh: Gus dur Tuding Gerakan Ormas Islam Ada yang Mendanai” Rabu. Seminar Incres Dibubarkan. “Menolak RUU APP. Media Indonesia Online. Pikiran Rakyat. “NU Tuntut FPI Minta Maaf. “Pernyataan Forum Komunikasi Kristiani Indonesia Jawa Barat tentang Penutupan Kegiatan Ibadah Kristen di Perumnas Bumi Rancaekek Kencana. Pikiran Rakyat. 29 Juli 2005 20:00. Haram Hukumnya Perdukunan dan Peramalan” Kamis. “Dua Kelompok Massa Islam Bentrok” Sabtu. Pikiran Rakyat. 25 Mei 2006. 9 Agustus 2005. The Scope of Impunity in Indonesia (draft). “Azyumardi Azra Menuntut Pengusir Gus Dur Diusut” Kamis. “Massa Gabungan Ormas ‘Sweeping’ Toko Miras” Senin. Jum’at. Dawam.com. “FUI Wil. 22 Februari 2006 23:50. Media Indonesia Online. “FPI Segel Fahmina Institute Cirebon. “Presiden Lantik Bagir Manan Sebagai Ketua MA” Kamis. Kejengkelan terhadap Ketidakpastian Sikap Pemerintah” Selasa. “Fatwa MUI Dituding Melegitimasi Penyerangan Terhadap Ahmadiyah” Senin. “Massa Bubarkan Pertemuan Perempuan Eks Napi PKI. Aktivis dan Artis Diteror” Jumat. Hak Manusia dan Polisi. Senin. 28 Juli 2005 20:26 WIB. Senin. Liputan6. 22 Mei 2006. 24 Mei 2006. 29 Oktober 2005. Rakyat Merdeka.”. Gus dur Tuding Gerakan Ormas Islam Ada yang Mendanai” Rabu. Pikiran Rakyat. “Kejaksaan Telah Mendata Asetnya. “Pemerintah Tetap Larang Ajaran Ahmadiyah” Rabu. “Aksi Premanisme terhadap Pers” dalam Sinar Harapan.”. “Saat Mencoba Membubarkan Pertemuan di Kemang. 2005. 04:18:30 WIB. “Massa Pencinta Gus Dur Berdemonstrasi” Kamis. Rakyat Merdeka “Bangkitkan Semangat “PKI”. Pikiran Rakyat. “Kampus Ahmadiyah Dikepung Massa” Jumat.com.com. M. 4 • Th. 18 Jul 2005 19:49:51.com. 26 Mei 2006. 2 Agustus 2005.php?page= article&id=850.

10 Maret 2006. TEMPO Interaktif. Jumat. “Kasus Wamena Tunjukkan Lemahnya Perlindungan HAM di Papua” Senin.“Ruang Kerja Bagir Digeledah. “Camat Dayeuhkolot Tutup Gereja Ilegal” Selasa. “Disesalkan. “Polisi Tembak Mati Perampas Motor” Sabtu. TEMPO Interaktif. 24 Mei 2006. Rakyat Merdeka. 8 Oktober 2005. 29 Juli 2005 | 06:38 WIB. SeKetika. Sinar Harapan. Sinar Harapan. 17:57:46 WIB.”. 15:48:40 WIB. Suara Pembaruan. “Banteng Jakarta Dukung Gus Dur Hadapi FPI Cs. 23 Juni 2003.” Bandung. 6 Pebruari 2004. Rakyat Merdeka. “Gus Dur: Hentikan Aksi Penutupan Gereja” Selasa. Republika.“Polisi Tembak Buron Pelaku Curas” Kamis. “Sejumlah Ormas Islam Tutup Gereja Ilegal” Senin. 11:36:46 WIB. “Direktur ICIP Syafii Anwar: Perda Syariat Bisa Picu Disintegrasi” Senin. 30 Juni 2004. 17:24:23 WIB. Suara Pembaruan. Suara Pembaruan. “Yusril Bantah Revisi KUHP Mengadopsi Syariat Islam” Rabu. 2 Juni 2006 | 13:05:43 WIB. TEMPO Interaktif. “Massa Datangi Kontras dan PBHI” Jumat. Gus Dur Diserang Massa FPI dan HTI” Kamis. Sinar Harapan. TEMPO Interaktif. “Aliansi Masyarakat AntiKekerasan Luruk Markas FPI Besok Siang” Kamis. 2 Juni 2006. 15 Agustus 2005. 23 Mei 2006. Suara Pembaruan. 14:14:51 WIB Rakyat Merdeka.net. Rapim darurat digelar saat penggeledahan berlangsung” Jumat. 26 Mei 2006.” Sabtu.. “Syariat Islam dalam KUHP Bermuatan Politis” Kamis.com. Republika. Terkait Pemukulan Kontributor TV” 26 April 2006. 10 Maret 2006. Suara Pembaruan. 30 Maret 2006. 10 Mei 2006. 22 November 2003. 27 Mei 2006. 24 Mei 2006. “KPK Terlambat Geledah Ruang Ketua MA” Jumat. “Syariat Islam. “Majelis Hakim Masih Musyawarah Bahas Soal Bagir Manan” Rabu. “Siaran Pers PBHI Jawa Barat tentang Pengusiran Gus Dur dan Intimidasi Kegiatan Forum Dialog Lintas Agama di Purwakarta. 22 Mei 2006 19:19:00. “Garda Bangsa Minta Habib Rizieq Ditangkap” Jumat. Polisi Biarkan FPI Bertindak Anarkis” Rabu. 12:16:50 WIB. Sinar Harapan. Republika Online. “Bagir Terpilih.Rakyat Merdeka.“Hampir 30 Persen UU Bertentangan dengan Konstitusi” Jumat. Rakyat Merdeka. 27 Mei 2006. Sinar Harapan. “SBY-JK Didesak Bubarkan FPI” Rabu. 10:03:13 WIB. 28 Oktober 2005. “Wartawan Surabaya Demo UPN Veteran. “Empat LSM Desak Moratorium Hukuman Mati Tibo Cs. Riau Pos Online. “Liku-liku Percaloan dan Mafia Peradilan di Indonesia” Sabtu. 25 Mei 2006 10:02:05. “Gus Dur Perintahkan Banser untuk Menjaga Sang Timur” Senin. “PBHI Desak Kapolri Usut Kasus Kekerasan di Garut”. “Kapolri Harus Klarifikasi Pembubaran Kegiatan Mantan Tapol PKI. dari Desa Mengepung Kota” Senin. Sinar Harapan. Republika Online “Komnas Perempuan akan Minta Klarifikasi Kapolri. Suaedy. Selasa. 26 Mei 2006. TEMPO Interaktif. 2 Oktober 2003. 1 Oktober 2005. 24 Mei 2006. 28 Oktober 2005. Ahmad. 4 • Th. 66 JURNAL HAM • Vol. “GP Ansor Minta Ormas Liar Dibubarkan” Jumat. Sabtu.” Kamis. “Polisi Tembak Penjahat Kambuhan” Rabu. “5000 Orang Akan Demonstrasi Tolak RUU Anti Pornografi” Rabu. 22 Mei 2006. 23 Agustus 2005. 2007 . “Saat Pidato. 22 Mei 2006. 25 Mei 2006. 25 Mei 2006. 1 Oktober 2003. Republika. Sinar Harapan. “Preman Berjubah itu” dalam gusdur. Sriwijaya Post Online. Bagir Ditolak” Jumat.“Muladi: Perpanjangan Pensiun Bagir Manan Keliru” Jumat. “Indonesia Ratifikasi Kovenan Hak-hak Sipil dan Politik” Sabtu. “Fatwa-fatwa Haram Ala MUI” Jum’at. Suara Pembaruan. 10 Mei 2006 | 13:04 WIB.” n. 25 Oktober 2004 | 11:52 WIB. Riau Pos Online. Rakyat Merdeka. Rakyat Merdeka. 23 Agustus 2005. Senin. TEMPO Interaktif.

Senin. Megamendung. 19 Maret 2004. “Ahmadiyah Bulukumba Diancam Demo Besar-besaran” Jumat. 17 Februari 2006.id. Polisi Hajar Wartawan. Wahid. “Polres Jakarta Timur ‘Diserbu’ FBR” Jumat. 02 Juli 2002. TEMPO Interaktif. 2007 67 . “Pada HUT-nya Ke-56. TEMPO Interaktif. 22 Mei 2006. JURNAL HAM • Vol.TEMPO Interaktif. 23 Oktober 2004 | 00:00 WIB. “Polisi Nias Gelar Perkaranya Hilangnya Wartawan Berita Sore” Kamis. Tribun Timur. Tribun Timur. “Tujuh Anggota FBR Divonis Enam Bulan” 31 Maret 2003. 20 Juli 2005. TEMPO Interaktif. TEMPO Interaktif.” dalam gusdur.fpks-dpr. TEMPO Interaktif. “Puluhan Orang Berseragam FBR Keroyok Pedagang Pasar Senen” Kamis. “Wartawan TEMPO Dipukul” Jumat. 9:07 WIB. “LSM Fahmina Diserbu Massa Pendukung RUU APP” Senin. Anggota Pansus RUU APP DPR FPKS: RUU APP Lindungi Kaum Perempuan” Jumat. “Tembok Sang Timur Dirobohkan” Senin. Harry. Bogor. “Hilman Rosyad Syihab. “FPI Akan Terus Sweeping Tempat Hiburan” Kamis.ahrchk. 04 April 2005 | 14:01 WIB. Dianggap Tolak RUU APP” Senin. 10 Pebruari 2005 | 17:27 WIB. “Tawuran FBR-Benteng Banten. 25 Oktober 2004 | 10:09 WIB. www. “Pernyataan Asian Human Rights Commission: Ratifikasi Instrumen Utama Hak Manusia Harus Ditindaklanjuti dengan Reformasi Hukum”. Tribun Jabar. 4 • Th. “Masyarakat Kemang Kutuk Aksi FPI. 22 Mei 2006. Wibowo. TEMPO Interaktif. TEMPO Interaktif. www. “Negara Hukum Ataukah Kekuasaan. 17 November 2005 | 01:07 WIB. Waspada Online. “Keluarga Ahmadiyah Bulukumba Mengungsi” Sabtu.net.” Sabtu.net. 4 Luka-luka.or. Abdurrahman. Hongkong. “Preman Pukul Wartawan dan Rusak Kantor Indopos” Selasa. 27 Januari 2006 19:11:53. Lima Luka-luka” Senin. “Hak-hak Manusia: Menjernihkan Berbagai Konsep Dasar” makalah yang disampaikan dalam Pelatihan Investigasi yang diselenggarakan PBHI (Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia) pada 27-30 Desember 2005 di Megamendung Permai. wahidinstitute. TEMPO Interaktif. Warta Kota. “Massa Segel Kantor LSM. 18 Februari 2006. 28 Oktober 2004 | 19:45 WIB. “Wardah Hafidz Kecewa dengan Putusan Hakim” Senin. 20 Desember 2005 | 00:20 WIB. 1 Muntah Darah” Selasa. TEMPO Interaktif. 31 Maret 2003. 23 Januari 2006 22:30 WIB. “Mafia Peradilan Di Manamana”.org. 3 Oktober 2003. Rabu. 14 Maret 2006. TEMPO Interaktif.

Nuffield College.ac. Saat ini.2 Namun. hukum internasional yang melindungi hak asasi manusia sangat jarang ada.sunysb. E-mail: Emilie. Diciptakan setelah kehancuran yang disebabkan oleh Perang Dunia II. PENDAHULUAN Perlindungan hak asasi manusia yang mendasar adalah tujuan yang paling mendesak tetapi paling sulit dicapai oleh masyarakat internasional. 4 • Th. dan Nuffield College. nama mereka diurut berdasarkan abjad.hafner-burton@nuffield. The authors’ statistical analyses on a comprehensive sample of government repression from 1976 to 1999 find support for their argument. sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara-negara anggotanya untuk pertama kalinya membangun suatu dasar bagi upaya bersama untuk melindungi hak asasi manusia semua orang. Oxford OXI 1 NF. Stony Brook Abstract The authors examine the impact of the international human rights regime on governments’ human rights practices.edu. 2 Contoh-contoh mencakup pelarangan formal terhadap perdagangan budak oleh Perjanjian Wina (1815) dan General Act of Brussel. Inggris. adopsi Piagam PBB 1945 dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia tiga tahun kemudian membuka suatu jendela kesempatan bagi berbagai negara. Negara-negara membatasi kewajiban hukum internasional dengan menyatakan keinginan untuk membatasi kewajibannya berdasarkan sejumlah perjanjian dan konvensi. Emilie Hafner-Burton juga menerima dukungan yang besar dari National Science Foundation (SES 0135422).State University of New York. They propose an explanation that highlights a “paradox of empty promises”.uk atau Kiyoteru Tsutsui di ktsutsui@notes. organisasi internasional. New Road.Hak Asasi Manusia di Dunia yang Terglobalisasi: Paradoks Janji-janji Kosong1 Emilie M. 2007 68 . but (2) the emergent global legitimacy of human rights exerts independent global civil society effects that improve states’ actual human rights practices. Sebelum Perang Dunia II. Kiyoteru Tsutsui menerima dukungan yang besar dari Stony Brook University. upayaupaya tersebut telah terakumulasi dalam pembentukan dan perluasan suatu sistem hukum internasional mendunia yang dirancang untuk mengidentifikasi dan melin1 Para penulis membagi tanggung jawab yang sama dalam pekerjaan ini. radically decoupling policy from practice and at times exacerbating negative human rights practices.ox. Their core arguments are that the global institutionalization of human rights has created an international context in which (1) governments often ratify human rights treaties as a matter of window dressing. Oxford. Stanford’s Center for Security and Cooperation.cc. Hafner-Burton . dan aktor masyarakat serta aktor organisasi sipil untuk menempatkan hak asasi manusia dalam agenda hukum internasional. dan khususnya kepada John Meyer dan Francisco Ramirez (dan juga peserta Global Research Seminar di Stony Brook University) atas komentar-komentar mereka yang penuh pemahaman. Universitas Oxford. JURNAL HAM • Vol. Korespondensi langsung kepada Emilie Hafter-Burton. Proyek ini didukung oleh bantuan dana dari National Science Foundation (SES 2CDZ414) dan Bechtel Center di Stanford’s Institute for International Studies. Para penulis sangat berterima kasih kepada para peserta Comparative Workshop di Stanford University.Oxford University Kiyoteru Tsutsui .

Ada banyak contoh. Contoh lain yang relevan adalah Irak.3 Dengan demikian. komitmen hukum dari negara-negara untuk melindungi hak asasi manusia yang terus meningkat menandakan adanya suatu pergeseran yang fundamental dalam struktur masyarakat internasional. perempuan. pemerintah telah meratifikasi lima dari enam perjanjian inti yang melindungi hak asasi manusia. politik. pelanggaran hak asasi manusia oleh pemerintah bersifat epidemis. dan tersebar-luas (Amnesty International. Namun. Ketika pemerintah Irak meratifikasi perjanjian internasional pertamanya pada 1970 serta berkomitmen terhadap penghapusan segala bentuk diskriminasi rasial. walaupun pertambahan jumlah tersebut mulai berkurang selama beberapa tahun belakangan ini. untuk menjamin kebebasan dari penyiksaan dan perlindungan terhadap kelompok ras minoritas dan anak-anak. sementara (2) prosentase negara-negara yang dilaporkan melanggar hak asasi manusia juga bertambah dari waktu ke waktu. 4 • Th. Pada 1994. Perjanjian-perjanjian ini menyediakan berbagai lembaga pengawasan yang bekerja untuk memperbaiki praktik-praktik pemerintah dalam bidangbidang hak asasi manusia tertentu melalui pengumpulan dan diseminasi informasi. dan laki-laki melalui hukum. Kebanyakan negara sekarang mengikat dirinya pada suatu rejim internasional yang dirancang untuk melindungi hak-hak mendasar setiap anak. Bagi banyak ilmuwan dan aktivis. Meningkatnya kesenjangan antara keinginan negara untuk bergabung dalam rejim hak asasi manusia internasional dan untuk JURNAL HAM • Vol. ekonomi. Dengan bertambah banyaknya bangsa yang secara sukarela mengikat diri pada rejim internasional ini. Namun. Diagram 1 membandingkan prosentase perjanjian hak asasi manusia internasional yang ada saat ini yang rata-rata telah diratifikasi oleh negara-negara dengan prosentase negara-negara yang dilaporkan bersifat refresif dalam jangka waktu tertentu. pada tahun yang sama Amnesty International juga melaporkan bahwa tindakan represif telah menjadi begitu ekstrim. 2007 membawa praktik hak asasi manusianya agar sesuai dengan rejim tersebut. Sebagai yang pertama. 1994). dan seringkali melalui kerja sama dengan aktivis nonpemerintah. Menjelang 1992. menantang efektivitas hukum internasional dan menimbulkan pertanyaan akan keabsahan komitmen hukum negara-negara untuk melindungi kehidupan warga negaranya. suatu masa di mana Pemerintah Guatemala dilaporkan telah melakukan pemenjaraan. dan pembunuhan politik secara meluas. rejim tersebut juga memperluas dirinya untuk mengikutsertakan hak-hak asasi manusia utama yang baru (lihat tabel 1). Pemerintah Guatemala telah meratifikasi seluruh enam perjanjian penting hak asasi manusia (lihat tabel 1). 69 . sosial. praktik-praktik hak asasi manusia tetap tidak berubah. Guatemala meratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional guna melindungi perempuan dari diskriminasi pada 1982. serta penahanan karena pandangan politik. apa gunanya perjanjian internasional hak asasi manusia ketika perjanjian tersebut tidak dapat memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia? 3 Irak belum meratifikasi atau menandatangani CAT. sistematis. dan budaya. Jelas terlihat bahwa (1) rata-rata terjadi peningkatan prosentase negara yang telah meratifikasi sejumlah perjanjian hak asasi manusia. Namun. di mana pelanggaran hak asasi manusia mencapai puncaknya pada 1994 dan 1995.dungi sejumlah hak asasi manusia mendasar yang terus bertambah. pelanggaran hak asasi manusia di Irak adalah suatu hal yang umum terjadi. memperluas komitmennya untuk melindungi semua warga negaranya dari pelanggaran atas hak sipil. penghukuman mati.

Pihak* kukan 1965 1969 157 Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala bentuk Diskriminasi Rasial Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Rocke. Banyak ilmuwan hukum internasional dan konstrukvisionis hubungan internasional justru sangat menentang hal-hal di atas: negara-negara pada dasarnya berusaha untuk menaati prinsip-prinsip hukum internasional yang mereka dukung (Henkin. Pengarusutamaan perspektif hubungan internasional ini seringkali menganggap bahwa perkembangan proses legalisasi prinsipprinsip hak asasi manusia sebagai suatu epiphenomenal [suatu fenomena yang muncul sebagai akibat dari suatu hal yang lain] (Mearsheimer 1994/1995). dan Budaya Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan Konvensi Menentang Penyiksaan dan Segala Bentuk Perlakuan atau Penghukuman yang Kejam. Hal tersebut juga berlaku untuk rejim hak asasi manusia internasional. – Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa 2001. Pendeknya.Tabel 1 PERJANJIAN HAK ASASI MANUSIA INTERNASIONAL Perjanjian CERD Nama Badan Pengawas Tahun Tahun Negara diadopsi diberla. mereka mengasumsikan bahwa negara-negara hanya taat pada prinsip-prinsip hukum internasional ketika hal tersebut sesuai dengan kepentingan nasional mereka dan ketika ada institusi-institusi internasional yang dibentuk untuk menegakkan ketaatan terhadap hukum (Downs. telah memperkirakan kesenjangan antara komitmen negara-negara terhadap hukum internasional dengan praktik negara-negara tersebut. Sosial. Organisasi internasional dan aktor-aktor nonpemerintah dapat mengajarkan dan mensosialisasikan kepada para pemimpin pemerintahan agar mengadopsi praktik- 70 JURNAL HAM • Vol. Tidak Manusiawi. * Per tahun 2001 Para ilmuwan hubungan internasional. dan Barsoom 1996). khususnya yang mengembangkan tradisi realisme dan neoliberalisme. dan Budaya Komite Hak Asasi Manusia Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan Komite Menentang Penyiksaan ICESCR ICCPR CEDAW 1966 1966 1979 1976 1976 1981 144 147 167 CAT 1984 1987 124 CRC Komite Hak Anak 1989 1990 191 SUMBER. dan Merendahkan Martabat Manusia Konvensi tentang Hak Anak Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial Komite Hak Ekonomi. 4 • Th. tradisi rasionalis telah membuat para ilmuwan menganggap bahwa rejim hak asasi manusia hanya berdampak sedikit pada praktik hak asasi manusia secara nyata. Perjanjian-perjanjian pada dasarnya tidak dirancang untuk membuat pemerintah-pemerintah yang meratifikasinya dapat dimintai pertanggungjawaban atas komitmen mereka. 2007 . atau. 1979). Sosial.

71 . 2007 Persoalan dalam penelitian ini sangatlah jelas: sudut pandang teoritis mengarah pada kedua pandangan tersebut. yang banyak terdapat di berbagai literatur (Risse. Ratifikasi perjanjian hak asasi manusia versus praktik hak asasi manusia pada periode 1976 sampai 1998. 2. Lutz dan Sikkink 2000. kecenderungan untuk mengisolasi kedua aspek utama dari proses penaatan telah membuat para ilmuwan gagal melihat gambaran yang lebih besar. 103-110). Data ratifikasi dijelaskan secara detil pada bagian data dari tulisan ini. JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. % represif (repressive) mengukur prosentase negara-negara yang dilaporkan melanggar hak asasi manusia pada periode tersebut. menunjukkan bahwa institusionalisasi hak asasi manusia secara global memiliki dampak langsung dan positif terhadap praktikpraktik negara. Clarck 2001). Perhatian terhadap dampak langsung dari ratifikasi perjanjian formal telah mengarah pada kekhawatiran yang pesimis pada kesenjangan yang ada antara ratifikasi dan praktikpraktik domestik. tekanan internasional turut menyumbang pada penurunan tingkat kasus penghilangan paksa di Argentina (Keck dan Sikkink 1998. Ropp. atau 3 dari ukuran standar represif kami yang dijelaskan secara lengkap pada bagian data dari tulisan ini. Cerita-cerita seperti di atas. Misalnya. Kemudian. ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional mengarah pada pengurangan hambatan legal bagi orang-orang Korea di Jepang (Iwasawa 1986). dan Sikkink 1999. dan Konvensi Menentang Penyiksaan telah mengubah cara yang digunakan oleh Pemerintah Israel dalam menginterogasi orang-orang yang dicurigai sebagai teroris (Ron 1997). Kepercayaan bahwa advokasi masyarakat sipil internasional dapat mendorong praktik-praktik yang lebih baik telah mengarah pada kepedulian yang lebih optimis ketimbang sifat dari kegiatan itu sendiri.Diagram 1. praktik baru (Finnemore 1966a). hal. dan jarang ada bukti empiris yang sistematis untuk mendukung kedua pandangan tersebut. Kami mendefinisikan suatu pelaku tindakan represif sebagai negara mana pun yang memiliki nilai 1.–% perjanjian yang diratifikasi (treaties ratified) mengukur prosentase perjanjianperjanjian internasional hak asasi manusia yang tersedia yang telah diratifikasi oleh negara pada periode tersebut.

Di satu sisi. kami meninjau nilai-nilai empiris dari argumentasi 4 Dalam kajian ini. yang tidak satu pun menjelaskan tentang kedua proses tersebut dalam satu model yang sama dan oleh karenanya gagal untuk menjelaskan dampak yang bersifat bertentangan dari institusi-institusi hak asasi manusia global atas praktik-praktik lokal. maka komitmen institusional yang “kosong” atas rejim yang lemah tersebut justru terlihat ironis. Argumentasi utama kami adalah bahwa institusionalisasi hak asasi manusia secara global telah menjadi pedang yang memiliki dua ujung. perjanjian-perjanjian internasional. perjanjian internasional ini terkadang digunakan oleh pemerintah sebagai tameng atas perilaku yang semakin represif karena ratifikasi perjanjian tersebut memberikan suatu legitimasi hak asasi manusia yang justru mempersulit pihak-pihak lain untuk melakukan penekanan agar pemerintah-pemerintah semacam itu mau melakukan tindakan yang lebih baik. Kemudian. kami menggunakan istilah “insti- tusi” untuk merujuk pada pengharapan normatif yang luas. istilah “institusi” mencakup.4 Sebagai akibatnya. Ketika tekanan dari pihak luar menurun. Kemudian. pendekatan kami menjadi bertentangan dengan pandangan-pandangan teoritis saat ini. Ketika negara bangsa membuat komitmen legal formal untuk menjadikan penaatan terhadap hak asasi manusia sebagai suatu simbol sementara mereka justru melakukan pelanggaran hak asasi manusia. kami menjelaskan dampak perjanjian hak asasi manusia sebagai suatu “paradoks janji-janji kosong”. dan rejim hukum hak asasi manusia tetap tidak memiliki kekuasaan lebih untuk menghentikan hal tersebut. 5 Hasil pekerjaan terbaru Daniel Thomas (2001) merupakan sesuatu yang khusus dan menawarkan argumentasi yang hampir sama. dalam hal rejim tersebut memberikan kekuatan bagi advokasi aktor-aktor nonnegara melalui alat-alat untuk menekan pemerintah-pemerintah agar menaati perjanjian-perjanjian tersebut. Oleh karenanya.5 Di bagian berikutnya. dan praktik-praktik yang dikembangkan di seputar struktur organisasional dan hukum internasional (March dan Olsen 1998). perjanjian hak asasi manusia internasional memang memiliki suatu mekanisme institusional yang lemah untuk memonitor dan menegakkan norma-norma rejim. 4 • Th. yang kemudian menawarkan insentif yang kuat untuk meratifikasi perjanjian internasional kepada pemerintah-pemerintah hanya untuk menciptakan image publik yang penuh kepura-puraan (window dressing) ketimbang sebagai suatu komitmen yang serius untuk melaksanakan praktik penghormatan terhadap hak asasi manusia. hak asasi manusia yang diadvokasi secara regular justru bergerak di seputar perjanjian-perjanjian tersebut. kami akan menjelaskan tentang pendekatan teoritis dalam konteks perspektif saat ini yang menggambarkan tentang represi pemerintah atas hak asasi manusia. Kajian tersebut memeriksa dampak Helsinki Final Act 1975 pada perkembangan politik setelahnya di negara-negara sosialis dengan menggunakan teknik kualitatif dan menyatakan bahwa partisipasi pemerintah dalam perjanjian hak asasi manusia internasional cenderung merupakan komitmen yang “kosong”. maka pemerintah seringkali menjadi lebih represif setelah melakukan ratifikasi. tetapi tidak hanya terbatas pada. aturan. 2007 72 . yang mengatur semakin meningkatnya legitimasi hak asasi manusia sebagai norma global perilaku negara yang selayaknya dalam rangka menekan negara-negara untuk memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusianya. JURNAL HAM • Vol. setelah diratifikasi. Di sisi lain. Dengan demikian. namun aktor-aktor nonnegara dapat mengambil keuntungan dengan menggunakan tekanan pada pemerintah dan menghasilkan perubahan politik.Kami menarik pandangan-pandangan dari rasional institusionalisme dalam hubungan internasional dan pendekatan masyarakat dunia dalam sosiologi untuk menjelaskan temuan-temuan yang kelihatannya saling bertentangan serta untuk merekonsiliasi kedua prediksi yang bertentangan tersebut.

dan kepentingan ini ditentukan oleh struktur kekuasaan dalam sistem internasional (Waltz 1979). dan bebas dari pelanggaran lain yang disengaja atas hak untuk hidup dan kebebasan seseorang. Untuk pertama kalinya. Misalnya. 2007 domestik. tidak manusiawi. dan kami meninjau kontribusi kajian empiris lintas-negara yang ada tentang hak asasi manusia untuk mengidentifikasikan variabel kontrol bagi analisa empiris kami. Kemudian. kami menekankan pada bagaimana kekuatan global telah membentuk perilaku represif pemerintah pada hak asasi manusia yang paling mendasar: yaitu hak atas keamanan.kami dengan menggunakan analisa periode waktu praktik hak asasi manusia dengan jangka waktu panjang yang berbeda dari pekerjaan-pekerjaan yang pernah dilakukan sebelumnya. Kami mendiskusikan bagaimana pendekatan kami dapat menjelaskan dinamika ketaatan terhadap perjanjian-perjanjian hak asasi manusia internasional yang diinterpretasikan dengan dua cara (bersifat double-edge) dengan lebih baik. dengan argumentasi bahwa pemerintah tunduk pada hukum internasional hanya ketika hukum tersebut sesuai dengan kepentingan nasionalnya. yaitu mulai periode 1976 sampai 1999. atau merendahkan martabat manusia. terutama ketika perjanjian ini tidak memiliki mekanisme penegakan (HafnerBurton dalam cetakan). bebas dari penghilangan atau penahanan yang tidak sesuai dengan hukum. atau perlakuan atau penghukuman yang kejam. Teori-teori tentang Ketaatan secara Umum dalam Hubungan Internasional dan Hukum Internasional Pertanyaan tentang apakah hukum hak asasi manusia internasional mempengaruhi praktik hak asasi manusia pemerintah mengandung suatu pertanyaan politik yang lebih dalam mengenai ketaatan negara terhadap rejim hak asasi manusia internasional. hukum internasional adalah bersifat epiphenomenal [suatu fenomena yang muncul sebagai akibat dari suatu hal yang lain] bagi kekuasaan negara: sehingga tunduknya negara pada kewajiban hukum mereka untuk melindungi hak asasi manusia hanya merupakan suatu kebetulan belaka. Untuk lebih lanjutnya. (2001) memeriksa dampak masuknya ekonomi asing pada perilaku represif pemerintah dengan menggunakan sample 43 negara-bangsa dalam jangka waktu 1981–1995. Kebanyakan ilmuwan politik menekankan pada peran negara.6 Secara menyeluruh. Perjanjian hak asasi manusia internasional hanyalah sekedar sarana yang diciptakan oleh negara-negara liberal yang berkuasa untuk memajukan kepentingan mereka. Perilaku negara dimotivasi oleh kepentingan-pribadi mereka. Richards dkk.7 TEORI-TEORI Dibagian ini kami membandingkan perspektif-perspektif teoritis yang saling bertentangan mengenai ketaatan terhadap hukum internasional. Apodaca (2001) menguji hipotesis tentang dampak globalisasi ekonomi pada periode 1990–1996. 73 . dan hanya ada sedikit harapan bahwa perjanjian ini dapat mengubah perilaku negara. data kami memungkinkan dilakukan penyelidikan yang menyeluruh atas politik hak asasi manusia di negara-negara pasca Perang Dingin dan adanya dasar untuk analisa komparatif terhadap perilaku represi pemerintah di berbagai masa. penyiksaan. 7 Kami menekankan pada hak-hak ini karena hakhak ini sangat mendasar bagi martabat manusia – hak untuk bebas dari pembunuhan. rejim hukum internasional dapat mempengaruhi perilaku negara dalam beberapa hal penting: rejim memfasilitasi kerja sama antar negara-negara berdaulat dengan meyediakan suatu mekanisme koordinasi dan mekanisme komitmen yang mengidentifikasi kewajiban negara 6 Kami mencatat bahwa beberapa kajian terbaru mencakup data di masa pasca Perang Dingin. 4 • Th. Bagi yang lain. kepentingan nasional. lihat HafnerBurton (2005). Bagi beberapa negara. dan posisi tawar-menawar di tingkat JURNAL HAM • Vol.

Pendekatan pengarusutamaan seperti ini dalam hubungan internasional menekankan pada kekuasaan dan kepentingan sebagai faktor pendorong negara untuk me- ratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional dan menganggap bahwa ratifikasi tersebut hanya akan berdampak sedikit terhadap praktik-praktik hak asasi manusia. Tsutsui. kami menganggap bahwa argumentasi kelompok rasionalis mengenai dampak langsung ratifikasi tetap memiliki nilai yang berarti. namun jumlah negara yang menyatakan komitmennya pada institusi semacam itu tetap harus dibatasi. kami melihat bahwa kesenjangan antara ratifikasi dan perilaku untuk melaksanakan perjanjian hak asasi manusia internasional disebabkan karena adanya insentif bagi pemerintah yang meratifikasi perjanjian tersebut. dan para pemimpin pemerintahan menyadari bahwa rejim tersebut lemah serta bahwa berbagai badan monitoring tidak memiliki alat untuk menegakkan hukumnya (Cleveland 2001). Walaupun pendekatan ini tidak pernah diuji secara sistematis. yang oleh karenanya sulit untuk diperkirakan sebelumnya. Pihak lain juga menyatakan bahwa ketaatan negara pada hukum internasional adalah suatu fungsi dari preferensi negara yang ditentukan oleh posisi tawar-menawar politik di tingkat domestik: institusi politik dan aktor negara menentukan apakah pemerintah dapat menyatakan komitmennya pada hukum internasional dan apakah negara dapat tunduk pada komitmen tersebut dalam jangka waktu panjang (Moravcsik 1997). pendekatan ini sepenuhnya mengabaikan aktor-aktor nonpemerintah dan menghasilkan penjelasan yang bersifat 8 Lihat Hafner-Burton dalam cetakan. 74 JURNAL HAM • Vol. Namun demikian. maka ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional tidak dapat selalu diterjemahkan sebagai ketaatan terhadap perjanjian tersebut. dan Meyer 2004). Memang. negara-negara hanya bergabung dengan dan tunduk pada rejim ketika hal tersebut sesuai dengan kepentingan rasional mereka (Keohane 1984. walaupun pemerintah tersebut sebenarnya tidak memiliki keinginan ataupun kapasitas untuk melaksanakan kewajiban berdasarkan perjanjian hak asasi manusia internasional tersebut (HafnerBurton. Perjanjian hak asasi manusia internasional merupakan institusi yang dihasilkan dari permainan tawar-menawar kolektif semacam itu (Moravcsik 2000). Downs dkk. Apakah negara sungguh-sungguh menaati komitmen mereka pada perjanjian ini tergantung pada mobilisasi para aktor di tingkat domestik yang mendukung ketaatan terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional. Namun demikian. kami berargumen bahwa persoalan utama dalam pendekatan ini adalah bahwa pendekatan ini tidak melihat dampak positif dari institusionalisasi rejim hak asasi manusia internasional terhadap praktik-praktik di tingkat lokal yang bekerja bukan melalui sistem perjanjian namun melalui aktor-aktor nonpemerintah. Oleh karenanya. Oleh karenanya. rejim hak asasi manusia tidak dirancang untuk menyediakan sarana institusional yang kuat bagi anggotanya untuk menegakkan ketaatan terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional. 1996). dan ketaatan pada rejim akan sangat tergantung pada rancangan rejim tersebut. Negara-negara mengetahui tentang kekurangan ini. walaupun rejim hak asasi manusia internasional dapat mendorong kerja sama antarnegara dan membatasi perilaku represif pemerintah terhadap hak asasi manusia. 2007 . Karena konfigurasi kepentingan dan kekuasaan politik di dalam dan di seputar negara berubah seiring waktu. baik secara langsung maupun tidak langsung. 4 • Th.8 Sebagaimana argumentasi kami di bawah ini.serta menyediakan suatu sarana untuk penegakan kewajiban tersebut.

Suatu aliran teori yang disebut sebagai neo-institusionalisme dalam sosiologi telah mempengaruhi kecen- 75 . maka negara-negara cenderung tunduk pada perjanjian hak asasi manusia internasional ketika tidak ada hambatan yang signifikan bagi penaatan tersebut. Keck dan Sikkink 1998. untuk pertama kalinya. kecenderungan global yang diringkas dalam diagram 1 berlawanan dengan argumentasi-argumentasi tersebut. Para ilmuwan hukum internasional seringkali mengira bahwa negara-negara cenderung menaati komitmen mereka atas perjanjian internasional. 4 • Th. kami mengusulkan suatu argumentasi sosiologis yang membedakan antara sistem perjanjian dan aktor nonpemerintah guna menjelaskan dinamika ketaatan pada perjanjian hak asasi manusia yang bersifat kompleks. Akhirnya. menyatakan bahwa ada tiga alasan untuk mengharapkan ketaatan negara pada perjanjian internasional. mereka cenderung tunduk pada perjanjian yang mereka pilih. sistem perjanjian formal dan kegiatan aktor nonpemerintah. Young 1979). Salah satu model hukum yang paling berpengaruh saat ini. organisasi yang tidak aktif tersebut menyebabkan penaatan menjadi lebih tidak mahal dan menjadi pilihan yang lebih menarik karena ketika tidak ada alasan-alasan yang JURNAL HAM • Vol. karena mereka gagal untuk menguraikan dua dimensi utama dari dinamika dari ketaatan terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional – yaitu. Sejauh ini.sangat pesimistis tentang dampak rejim hak asasi manusia. berbagai dampak normatif hukum terhadap individu yang terdokumentasi dengan baik dapat diterapkan terhadap perilaku pemerintahan di tingkat nasional (Kratochwill 1989. yang disajikan oleh Chayes dan Chayes (1995). Kedua. Organisasi internasional tidak hanya membatasi perilaku negara melalui sanksisanksi hukum yang diterapkan oleh hukum internasional. Risse dkk. Sebagaimana orang-orang cenderung mengikuti hukum ketika tidak ada insentif untuk melakukan sebaliknya. Berangkat dari asumsi utama mereka bahwa kepentingan negara didefinisikan dalam konteks norma-norma internasional yang dipegang oleh negara tersebut – yaitu norma-norma yang seringkali tertanam dalam hukum internasional dan dilaksanakan oleh pemerintah serta aktoraktor nonpemerintah – maka para konstruktivionis berpendapat bahwa negaranegara tunduk pada hukum internasional ketika para elit pemerintahan dapat belajar menerima dan memasukkan norma-norma dan nilai-nilai bersama yang membentuk kehidupan politik internasional (Finnemore 1996a. di mana hal ini mencerminkan proses tawar-menawar di tingkat domestik. Pendekatan teoritis lain dalam literatur yang relevan membuat asumsi-asumsi yang berbeda. Pendekatan Masyarakat Dunia Pada satu atau dua dekade terakhir ini. Para ilmuwan konstruksivionis hak asasi manusia menekankan pada caracara di mana organisasi internasional dapat mensosialisasikan atau mengajarkan negara-negara agar menerima tujuan dan nilai-nilai yang tertanam dalam hukum internasional. Karena pemerintah hanya meratifikasi perjanjian ketika hal tersebut sesuai dengan kepentingan nasionalnya. dimensi normatif dan budaya politik internasional telah semakin menarik perhatian ilmu-ilmu sosial. tetapi juga mensosialisasikan negara-negara agar menerima norma dan nilai-nilai baru seperti hak asasi manusia yang diabadikan dalam hukum internasional di masa ini. 2007 kuat untuk tidak tunduk pada rejim tersebut. Berangkat baik dari pendekatan rasionalis maupun pendekatan masyarakat dunia. 1999). perjanjian internasional merupakan hasil negosiasi komprehensif yang mencerminkan kepentingan nasional negara-negara anggota. Pertama.

budaya. Katzenstein 1996. Elemen utama pendekatan ini adalah legitimasi. Brunsson 1989. 1997. Frank. pendekatan masyarakat dunia beranggapan bahwa keputusan untuk meratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional seringkali hanya merupakan sikap simbolis guna menunjukkan bahwa pemerintah bukanlah aktor yang menyimpang. Argumentasi utamanya adalah bahwa model dan norma yang terinstitusionalisasi di tingkat global mendapatkan status yang diinginkannya setelah jangka waktu tertentu dan mempengaruhi pembuat kebijakan di tingkat nasional. Boli dan Thomas 1999). dan normatif dari realita organisasional (Meyer dan Rowan 1977. 4 • Th. Dalam hal ratifikasi perjanjian-perjanjian internasional.derungan tersebut. Karena kemudian banyak pemerintah yang mengorganisir dan merestrukturisasi politik nasionalnya di seputar model global dan standar perilaku yang selayaknya. pendekatan neo-institusionalisme mengacu pada suatu pendekatan teoritis yang memberikan perhatian khusus terhadap dimensi kognitif. penelitian tentang gelombang dekolonisasi. pendekatan teoritis ini telah mempengaruhi banyak bidang dalam penelitian ilmiah sosial (Thomas dkk. Boli. karena organisasi membuat naskah yang memuat elemen-elemen standar yang dianggap sah di lingkungannya. dkk. 1997). penelitian tentang penyebaranluasan pemberian hak suara kepada perempuan. Pendekatan ini menantang asumsi rasionalitas tujuan perilaku organisasional dan berargumentasi bahwa organisasi secara rutin mengikuti model dan standar yang telah ada apa pun kebutuhan fungsionalnya. Berkembang dari kajian organisasional. Meyer dkk. dan bahwa ratifikasi tersebut tidak sepenuhnya mengarah JURNAL HAM • Vol. 1992). yaitu bahwa perubahan kebijakan formal seringkali bersifat nominal dan tidak memiliki dampak yang diharapkan pada praktik nyata (Meyer dan Rowan 1977. Jacobson 1998. Meyer. Finnemore 1996b. seringkali disebut sebagai pendekatan masyarakat dunia atau perspektif politik dunia. penelitian tentang diseminasi kurikulum sekolah (Meyer dkk. mempunyai pengaruh tersendiri. maka semakin banyak pula negara-negara yang sama-sama menerapkan struktur politik dan sosial yang memiliki tampilan yang sama namun asalnya berbeda [bersifat isomorphic] (atau yang menyatukan diri dari asal yang berbeda-beda) pada berkesesuaian dengan model internasional (McNeely 1995. Sementara prediksi hasil yang bersifat isomorphic ini seringkali terbatas pada bentuk organisasional dan adopsi kebijakan. 1997). Institusionalisasi semacam ini cenderung mengurangi adanya keragaman dalam organisasi karena kebanyakan dari mereka tunduk pada standar-standar yang telah diterima. 1987. Beberapa topik dari penelitianpenelitian pendekatan ini antara lain. dkk. Boli. Powell dan DiMaggio 1991. literatur menunjukkan kemungkinan terjadinya pemisahan antara kebijakan dan praktik. dan penelitian tentang ekspansi rejim lingkungan hidup di tingkat global (Meyer. Kecenderungan semakin meningkatnya tindakan bersatunya negara-negara dari arah yang berbeda-beda atas dasar struktur domestik yang sama ini seiring dengan semakin meningkatnya integrasi negaranegara ke dalam suatu masyarakat internasional. Berkovitch 1999. Soysal 1994. Sebagaimana para peneliti kemudian berusaha mengembangkan upaya yang dipelopori oleh Meyer dan Rowan (1977). 1992. Boli dan Thomas 1999). Penerapan pendekatan ini dalam pengkajian tentang proses politik internasional. 2007 76 . dkk. Scott 2000). Krasner 1999). Meyer. Penelitian-penelitian semacam ini menjelaskan tentang bagaimana standar global dan model-model yang telah ada dan diterima begitu saja membatasi politik nasional. Meyer dan Scoot 1992.

Ketika legitimasi suatu perjanjian mengalami perkembangan sampai pada suatu tingkat di mana negaranegara yang tidak meratifikasi terlihat sebagai sesuatu yang menyimpang dari kebiasaan yang normal. Tsutsui dan Wotipka 2001). 77 . yang oleh karenanya semakin meningkatkan kemungkinan terjadinya pemisahan sebagaimana disebutkan di atas. kedua sifat rejim ini – yaitu. kami memperluas pendekatan ini pada kajian hak asasi manusia dan membuat dua prediksi utama. Seperti halnya pendekatan nasional dalam hubungan internasional. elit yang berkuasa mungkin meratifikasi suatu perjanjian untuk memperoleh legitimasi di masyarakat internasional. Dengan demikian terbentuk suatu dasar yang kuat atas apa yang disebut sebagai “pemisahan (decoupling) yang radikal”. Dalam upaya menjelaskan dinamika penaatan yang bersifat tidak konsisten ini.9 9 Perjanjian-perjanjian utama melengkapi komite- ARGUMENTASI Pertama. yang menggarisbawahi kurangnya dampak dari model global terhadap praktik nyata. Oleh karena itu. tindakan ratifikasi suatu perjanjian seringkali tidak seiring dengan praktik yang relevan. Dari waktu ke waktu. Pada dasarnya. serta untuk mendiseminasikan informasi tersebut di tingkat global. Selama beberapa tahun ini. untuk menyediakan suatu forum guna pertukaran informasi berkaitan dengan pelanggaran hak asasi manusia. rejim hak asasi manusia dibuat untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasi hak-hak mana yang sah di tingkat global. dan untuk meyakinkan pemerintah serta pelaku pelanggaran bahwa hukum yang memberikan perlindungan bagi hak asasi manusia cukup untuk membatasi perilaku negara-bangsa sehingga oleh karenanya hukum tersebut harus dihormati. dengan hanya melakukan sedikit upaya untuk menyesuaikan perilaku mereka dengan ketentuanketentuan dalam perjanjian tersebut. Downs dkk. legitimasi negara tanpa adanya penegakan – dapat mengarahkan pemerintah untuk menggunakan hukum internasional sebagai tameng bagi semakin meningkatnya perilaku kekerasan di tingkat domestik. 4 • Th. tusional dan hal-hal yang terjadi secara kebetulan dalam sejarah politik hak asasi manusia global. penelitian dalam pendekatan masyarakat dunia telah cenderung menekankan pada proses pemisahan ini.pada praktik-praktik ketaatan pada perjanjian tersebut. Dengan kata lain. 1996. rejim hak asasi manusia internasional telah membuktikan bahwa rejim ini semakin kompeten dalam menyediakan instrumen-instrumen yang dibutuhkan guna mengumpulkan dan bertukar informasi tentang pelanggaran hak asasi manusia. 2007 komite PBB yang memberikan pelaporan formal dan melakukan fungsi monitoring. maka pemerintah-pemerintah akan cenderung meratifikasi tanpa adanya keinginan dan kapasitas untuk tunduk pada ketentuan-ketentuan dalam perjanjian hak asasi manusia internasional. di mana perjanjian-perjanjian memiliki dampak yang terbalik dengan apa yang diinginkan sebelumnya. Kami berargumen bahwa perjanjian hak asasi manusia internasional tidak cukup memiliki mekanisme penegakan yang dapat memberikan insentif bagi pemerintahpemerintah agar tidak menyimpang dari kebijakan mereka untuk berkomitmen pada perjanjian-perjanjian tersebut (Hathaway 2002. terutama ketika perjanjian tersebut tidak memiliki mekanisme penegakan yang efektif dan pemerintah nasional dibiarkan begitu saja untuk melaksanakan perjanjian tersebut di tingkat domestik – ini merupakan hal yang pada umumnya terjadi dalam kebanyakan perjanjian internasional. kami memperluas konsep pemisahan (decoupling) kepada proses instiJURNAL HAM • Vol.

JURNAL HAM • Vol. maupun politik atas praktik-praktik hak asasi manusia yang lebih baik. Namun. dan perjanjian-perjanjian ini juga tidak dapat menghukum pelaku pelanggaran secara langsung dengan melakukan penahanan atas barang-barang berharga. maka kesenjangan antara kebijakan dan praktik ini telah mengarah pada proses pemisahan yang semakin gawat dan radikal. yaitu suatu masa di mana banyak pemerintahan menganggap ratifikasi terhadap perjanjian semacam ini hanya sebagai suatu hal politik yang tidak signifikan. rejim hak asasi manusia internasional sebenarnya telah memberikan kesempatan bagi pemerintah untuk mendapatkan legitimasi internasional dengan mendukung prinsip-prinsip hak asasi manusia tanpa benar-benar melaksanakan praktik-praktik hak asasi manusia di negaranya (Mullerson 1997). Goodman dan Jinks dalam cetakan).Namun. hukum. Praktik-praktik yang bersifat represif ini semakin diperburuk setelah ratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional.10 Pemerintah-pemerintah. Kemungkinan proses pemisahan yang radikal ini membawa kita pada dua dampak yang dapat diamati: ratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional akan memiliki baik (1) dampak positif terhadap 10 Beberapa kajian empiris digunakan untuk mendu- kung bukti-bukti argumentasi ini. bentuk pengaruh yang langsung ini bersifat lemah dan seringkali tidak efektif. dan Hathaway (2002) melaporkan suatu dampak negatif dari ratifikasi perjanjian atas praktikpraktik hak asasi manusia pemerintah di beberapa contoh. Banyak pemerintah yang menyatakan dukungan mereka terhadap ide-ide hak asasi manusia. Oleh karena itu. rejim perjanjian hak asasi manusia internasional tidak berdaya untuk mengubahnya. baik dengan mengkritik kekuatan-kekuatan poros dalam Perang Dunia II atau dengan memperjuangkan kemerdekaan dari pihak penjajah. Dengan semakin bertambahnya jumlah negara yang mendapatkan keuntungan dari legitimasi atas ratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional namun gagal untuk memenuhi komitmennya. di samping kapasitas penyebarluasan informasi tersebut. yang dipersenjatai dengan banyak informasi bahwa komitmen mereka terhadap rejim tidak akan mengarah pada penegakan yang serius tetapi justru memberikan mereka legitimasi di mata negara-negara lain. Ratifikasi atas perjanjian hak asasi manusia internasional mengarah pada kemungkinan adanya hubungan yang negatif antara kebijakan dan praktik. dan sementara itu. Permasalahan dalam upaya penegakan ini semakin diperkuat oleh kenyataan historis bahwa kebanyakan perjanjian hak asasi manusia utama mulai diberlakukan pada saat Perang Dingin. sekarang bebas untuk menyembunyikan praktik-praktik hak asasi manusia domestiknya di belakang hukum internasional. yang berada di bawah payung suatu kekuatan superpower yang mungkin membela atau mengabaikan kebijakan domestik mereka berkaitan dengan hak asasi manusia. dan secara retoris. sebagaimana akan kami bahas di bawah ini. 2007 78 . Yang terbaik yang dapat dilakukan adalah bahwa instrumen hukum dari rejim ini dapat mempengaruhi praktik-praktik secara langsung dengan memberikan informasi kepada negara-negara yang represif agar termotivasi untuk mengadopsi normanorma baru agar berperilaku lebih baik (Hafner-Burton dalam cetakan). Dalam analisa data antarbangsa. Camp Keith (1999) menemukan bahwa tidak terdapat hubungan antara ratifikasi ICCPR dengan praktik-praktik hak asasi manusia. rejim ini tidak memberikan suatu mekanisme penegakan formal guna menyediakan atau mengacaukan pertukaran informasi yang berharga dengan negara target (Cottier 2002. 4 • Th. Perjanjianperjanjian tidak menawarkan adanya kompensasi materi. telah ditempatkan pada posisi mendukung perjanjian hak asasi manusia (Lauren 1998).

Organisasi nonpemerintah internasional. semakin banyak organisasi nonpemerintah internasional menggunakan norma-norma hak asasi manusia global sebagai alat untuk melakukan lobi dan menekan pemerintah di tingkat nasional agar memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia mereka (Ron 1997. legitimasi prinsip-prinsip hak asasi manusia menyebabkan pemerintah yang menjadi target rentan terhadap rasa malu yang mungkin timbul dan kehilangan legitimasi dalam masyarakat internasional sebagai hasil dari ketidaktaatannya pada hukum hak asasi manusia internasional. Tsutsui 2004). seperti Amnesty International dan Human Rights Watch. maka ide-ide yang dikodifikasi dalam perjanjian-perjanjian ini telah mendapatkan status yang bersifat biasa (taken-for-granted) dalam politik global. 73-74). Kedua. Legitimasi prinsip hak asasi manusia yang semakin berkembang ini membawa dua akibat. Pertama. Misalnya. yang bekerja melalui organisasi nonpemerintah internasional yang menyebarluaskan dan memajukan prinsip-prinsip hak asasi maJURNAL HAM • Vol. semakin meningkat dan meluasnya komitmen negaranegara pada rejim hak asasi manusia global telah mengarah pada meningkatnya prinsip-prinsip hak asasi manusia yang pada saat yang sama mengubah perilaku pemerintah melalui upaya-upaya penekanan secara normatif. dan kelompok-kelompok hak asasi manusia di Indonesia bertukar informasi dengan International Commission of Jurists dan organisasi-organisasi internasional lainnya dalam mengkampanyekan pembebasan para tahanan politik (Jetschke 1999. namun rejim perjanjian itu sendiri bukan merupakan penyebab perilaku tersebut. Kedua. dengan bantuan Amnesty International dan kelompok-kelompok lainnya. hal. 4 • Th. 2007 nusia di tingkat global (Tsutsui dan Wotipka 2004). Keck dan Sikkink 1998.praktik-praktik domestik atau (2) dampak negatif. Dalam lingkungan politik global baru yang dicirikan oleh semakin meningkatnya kesadaran akan prinsip-prinsip hak asasi manusia. jika tidak dimungkinkan. mempublikasikan kasus-kasus penghilangan paksa yang dilakukan oleh pemerintahnya (Clarck 2001. menurut kami. Proses ini dibantu oleh kegiatankegiatan aktor nonpemerintah. 140-141). karena pemerintah yang represif meratifikasi lebih banyak lagi perjanjian hak asasi manusia internasional dan semakin melakukan pelanggaran hak asasi manusia di mana rejim perjanjian hak asasi manusia tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan hal tersebut. para aktivis Chili. Kelompokkelompok di tingkat domestik juga meminta pertolongan aktor-aktor eksternal untuk mempublikasikan pelanggaran yang terjadi di negaranya. Walaupun terdapat kesenjangan institusional antara perjanjian hak asasi manusia dengan insentif bagi pemerintah-pemerintah untuk tunduk pada perjanjian tersebut. Dampak negatif ini dapat bersifat langsung – yaitu ketika pemerintah secara sengaja menggunakan komitmennya terhadap rejim perjanjian hak asasi manusia internasional sebagai tameng bagi praktik-praktik hak asasi manusia mereka yang semakin memburuk dari pemeriksaan yang cermat dunia internasional – atau secara tidak langsung – yaitu ketika rejim perjanjian hak asasi manusia internasional tidak memiliki kapasitas untuk menghentikan negara yang meratifikasi dari perilaku represif yang semakin meningkat. Semakin banyaknya jumlah negara yang meratifikasi perjanjian hak asasi manusia. janji kosong ini seringkali tidak konsisten. menjadi semakin tidak layak. hal. aktif dalam mempublikasikan pelanggaran hak asasi manusia guna menekan pemerintah yang represif. bagi pemerintah di tingkat nasional untuk menganggap tuduhan atas pelanggaran hak asasi manusia hanya seba- 79 .

negara-negara yang lebih melekat pada masyarakat sipil internasional (misalnya. serta dalam jangka waktu pendek seringkali memperburuk pelanggaran hak asasi manusia. Jika suatu negara memiliki hubungan yang erat dengan masyarakat sipil global. Keck dan Sikkink 1998).gai intervensi terhadap persoalan domestik mereka. Tema ini digunakan dan ditekankan dalam pekerjaan Randall Collins (1992). maka aktor nonpemerintah internasional akan sangat mungkin dapat mengetahui dan melaporkan pelanggaran yang terjadi dalam negara tersebut. dan norma-norma bersama pada umumnya mendasari kegiatan orang-orang dan kelompok-kelompok orang. tetapi secara bertentangan. tanpa mempertimbangkan apakah mereka secara individual menyepakati prinsip-prinsip yang tercakup di dalamnya. 80 JURNAL HAM • Vol. 2007 . kami berpendapat bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia mungkin bisa tidak memiliki dampak yang signifikan atau pun memiliki dampak negatif terhadap praktik-praktik hak asasi manusia. publisitas yang buruk yang dilakukan oleh aktor nonpemerintah seringkali memaksa pemerintah untuk menangani persoalan-persoalan hak asasi domestik mereka (Risse dkk. Kami berargumen bahwa perluasan rejim hak asasi manusia internasional telah menciptakan suatu konteks global di mana (1) pemerintah mungkin meratifikasi perjanjianperjanjian hak asasi manusia walaupun mereka tidak siap untuk tunduk pada ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. Untuk memastikannya. sebagai akibatnya. hubungan negara dengan masyarakat internasional memiliki dampak positif. [1912] 1995). negara yang memiliki jumlah keanggotaan dalam lebih banyak organisasi nonpemerintah internasional) akan lebih menghormati hak asasi manusia masyarakatnya. 4 • Th. Ratifikasi pemerintah terhadap hukum internasional tidak cukup untuk memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia. dan masyarakat sipil seringkali dapat menekan semakin banyak pemerintahan yang rentan agar tunduk pada rejim hak asasi manusia internasional. 1999. Proses utamanya adalah tema utama yang dikemukakan oleh Durkheim ([1985] 1982. Dengan demikian. Aktor-aktor di tingkat domestik dalam negara yang memiliki hubungan erat dengan masyakat sipil global tersebut cenderung memiliki kesadaran lebih atas hakhak yang mereka miliki dan akan sangat mungkin menemukan cara-cara untuk mempublikasikan persoalan-persoalan mereka serta menekan pemerintahnya agar menangani persoalan-persoalan tersebut. tradisi.11 Kesimpulannya. masyarakat sipil menyediakan mekanisme penegakan yang tidak dimiliki oleh perjanjian hak asasi manusia internasional. kami sepakat dengan pengarusutamaan teori hubungan internasional bahwa perjanjian memiliki 11 Patut dicatat bahwa dampak dari masyarakat sipil internasional terjadi di banyak negara baik apakah pemerintahnya telah meratifikasi perjanjian hak asasi manusia atau belum. tetapi hubungan suatu negara dengan masyarakat sipil internasional (melalui keanggotaan dalam organisasi nonpemerintah internasional) dapat mempengaruhi pemerintah untuk memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusianya. kami memgunakan pemahaman dari institusionalisasi rasional dalam hukum internasional dan pendekatan masyarakat dunia dalam sosiologi. Walaupun sulit bagi badan-badan internasional untuk melakukan penuntutan hukum terhadap pelanggaran di tingkat domestik. Namun. Dengan demikian. (2) meningkatnya legitimasi prinsip-prinsip hak asasi manusia yang ditawarkan oleh masyarakat sipil internasional telah memberikan tekanan pada pemerintah-pemerintah agar memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia baik apakah mereka telah meratifikasi perjanjian hak asasi manusia atau pun tidak. sehingga menyebabkan terjadinya pemisahan yang radikal antara kebijakan dan praktik. Dengan demikian. Ritual.

hal. yang dalam banyak kasus mendorong pemerintah-pemerintah untuk melakukan represi politik. Poe dkk. Poe dan Tate 1994. Faktor-faktor ekonomi. Hipotesis ini memperoleh dukungan dalam beberapa kajian tambahan (Mitchell dan McCormick 1988. yang menunjukkan dampak positif demokrasi terhadap praktik hak asasi Teori-teori Praktik Hak Asasi Manusia Dalam beberapa dekade terakhir. – Banyak pengkajian tentang praktik-praktik hak asasi manusia mengkaji tentang dampak pembaJURNAL HAM • Vol. Sejumlah kajian berikutnya juga menegaskan variasi dari prediksi-prediksi tersebut. serta Howard dan Donelly (1986) bersikeras bahwa perlindungan hak asasi manusia membutuhkan suatu rejim negara yang liberal yang menghormati “konsepsi substantif dari martabat manusia”. Tate. para ilmuwan ini berargumen bahwa negara-negara demokratis akan lebih kecil kemungkinannya merepresi hak asasi manusia. 478) menawarkan suatu “tesis kemiskinan yang sederhana”. Faktor-faktor ini kemudian kami sertakan dalam analisis empiris yang dijelaskan di bagian berikut ini. Dari kajian seminal McKinlay dan Cohan (1975) dan Strouse dan Claude (1976) sampai analisa periode-waktu kolektif yang rumit dari Poe. 1999. Walaupun terdapat banyak variasi analisis. 4 • Th. Dalam perekonomian maju di mana hanya sedikit orang yang merasa diperlakukan tidak adil. stabilitas politik seringkali lebih mudah dicapai. Mitchell dan McCormick (1988. yaitu suatu pandangan yang diterima secara umum bahwa kurangnya sumber daya ekonomi merupakan dasar subur bagi konflik politik.mekanisme penegakan institusional yang lemah dan oleh karenanya tidak mungkin memiliki dampak positif terhadap perilaku hak asasi manusia. Park 1987. Jeane Kirkpatrick (1979) berargumen bahwa rejim totalitarian kiri lebih mungkin melakukan pelanggaran hak asasi manusia karena mereka hampir memiliki kontrol penuh atas kehidupan warga negaranya. kajian-kajian komparatif ini menunjukkan keragaman faktor-faktor yang diperlukan untuk menjelaskan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh pemerintah. Pritchard 1989). argumentasi kami berbeda dari pengarusutamaan teori hubungan internasional karena kami memprediksikan bahwa ratifikasi akan seringkali diamati memiliki dampak negatif dengan praktik-praktik hak asasi manusia dan meningkatkan perilaku represif. dan Camp Keith (1999). telah muncul beberapa kajian komparatif yang melihat banyak faktor yang membentuk praktik-praktik hak asasi manusia di tingkat lokal. yang mengurangi kemungkinan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia (Henderson 1991). Namun. dan oleh karenanya akan lebih mengakomodir permintaan warga negaranya tanpa konflik kekerasan. praktik-praktik tersebut dipengaruhi secara positif oleh hubungan dengan masyarakat internasional. Kami tidak sepakat dengan argumentasi konstruktivis dan hukum internasional. Faktor-faktor politik. Henderson (1991) juga menyatakan bahwa pemerintahan yang demokratis akan lebih responsif terhadap warga negaranya ketimbang pemerintahan yang otoriter. – Berbagai kajian menemukan bahwa demokrasi sangat kecil kemungkinannya melakukan pelanggaran hak asasi manusia ketimbang otokrasi. 2007 81 . karena kami membedakan dua dimensi dari rejim hak asasi manusia internasional yang dibaurkan dalam tulisan ini – sistem perjanjian dan hubungan dengan organisasi nonpemerintah internasional – dan prediksi bahwa sistem perjanjian tidak memiliki dampak atau memiliki dampak negatif serta organisasi nonpemerintah internasional memiliki dampak positif. ngunan ekonomi. namun demikian.

didorong oleh kepentingan ekonominya. Henderson (1993) berargumen bahwa tekanan populasi dapat mengarah pada tekanan terhadap sumber daya.manusia (Mitchell dan McCormick 1988. 4 • Th. 1999). Pada saat perang internasional. Pada saat perang sipil. pemerintah akan lebih mungkin menerapkan kontrol yang kuat terhadap warga negaranya dan oleh karenanya akan lebih mudah menggunakan kekuatan untuk mempertahankan kekuasaan domestiknya (Poe dan Tate 1994. 2007 82 . – Sebagai tambahan dari faktor-faktor domestik tersebut. yang oleh karenanya menekan pemerintah untuk menjadi otoritarian. Poe dan Tate 1994. negara-negara dengan tingkat populasi yang lebih besar lebih mungkin melanggar hak asasi manusia (Poe dan Tate 1994. Ketika pemerintah negara berkembang di Dunia Ketiga menerima bantuan ekonomi dari negara kapitalis yang tujuan utamanya adalah untuk mempertahankan kondisi yang lebih menguntungkan bagi investasi. yaitu mendorong pembangunan dan oleh karenanya memperbaiki kualitas hidup. Poe dkk 1999). Mitchell dan McCormick (1988) membuat hipotesa bahwa ekonomi yang terkait dengan Amerika Serikat dan negara kapitalis maju lainnya mendorong pelanggaran hak asasi manusia di negara-negara pinggiran (periphery). lebih menginginkan adanya stabilitas politik di negara-negara berkembang dan oleh karenanya memperkuat rejim-rejim yang ada walaupun pada saat represi pemerintahan bersifat endemik (Chomsky dan Herman 1979). Faktor-faktor global. Meyer (1996) memeriksa dampak perusahaan multinasional terhadap praktik-praktik hak asasi manusia. Mitchell dan McCormick (1988) memperkenalkan suatu argumentasi Marxis yang diambil dari argumentasi Chomsky dan Herman bahwa negara-negara kapitalis. Poe dkk. Ketika suatu negara mengalami peningkatan populasi yang cepat. Perusahaan multinasional memiliki dampak langsung terhadap hak ekonomi dan sosial. para ilmuwan mengindentifikasi sejumlah kecil faktor global yang dapat mempengaruhi represi pemerintahan. Kajian-kajian berikutnya melaporkan bahwa besarnya populasi juga mempengaruhi represi politik. – Akhirnya. kemungkinan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia meningkat. Faktor-faktor demografi. yang akan meningkatkan kemungkinan pemerintah menggunakan tindakan-tindakan represif. Stohl 1975). Perusahaan multinasional juga secara tidak langsung memperbaiki hak politik sebab perusahaan multinasional mendorong perluasan kelas menengah masyaraJURNAL HAM • Vol. Poe dkk 1999). yang menyatakan bahwa perusahaan multinasional mendorong baik hak sosio-ekonomi maupun hak sipil dan politik. Analisa regresinya mendukung sebagian dari “tesis mesin pembangunan”. Kajian awal menunjukkan bahwa ada hubungan yang kuat antara partisipasi negara dalam perang internasional dan peningkatan kekerasan politik di tingkat domestik (Rasler 1986. Dua kajian terkemuka memeriksa tentang dampak faktorfaktor ekonomi ekternal terhadap hak asasi manusia. Berangkat dari analisa ini. Berbeda dengan pendapat di atas. Beberapa kajian juga mengidentifikasi hubungan antara keterlibatan dalam perang dengan pelanggaran hak asasi manusia. pemerintah juga cenderung lebih koersif dalam mempertahankan kekuasaan mereka dari ancaman-ancaman internal terhadap negara. kurangnya sumber daya akan cepat menjadi masalah yang serius. mereka mendapatkan dukungan bagi hipotesa tersebut – yaitu bahwa sejumlah besar pemerintahan dengan catatan hak asasi manusia yang buruk ternyata tergantung secara ekonomi kepada negara-negara kapitalis. Dalam analisa pemeriksaan datanya.

kami mengembangkan kajian klasik dari Poe. Walaupun kami meminjam beberapa data dari Poe dan kawan-kawan. yang oleh karenanya meningkatkan stabilitas dan toleransi politik dalam masyarakat yang lebih luas. 2007 Analisa Dalam rangka menentukan dampak hukum internasional dan institusi masyarakat sipil global terhadap praktik hak asasi manusia. Karena baik ratifikasi negara terhadap perjanjian hak asasi manusia maupun perilaku represif negara terhadap hak asasi manusia beragam anJURNAL HAM • Vol. yang memperingatkan para ilmuwan bahwa pandangan optimistis tentang peran perusahaan multinasional mungkin tidak terjustifikasi. dan Ippolito (1999) melaporkan temuan-temuan yang bertentangan dengan hal tersebut. kami mengembangkan suatu model tunggal proses pengumpulan data yang kami ukur berdasarkan analisa berikut ini dengan menggunakan ordered probit yang layak bagi struktur ordinal dari variabel dependen kami (Long 1997): Yit = a + ßY Yit-1 + ßP Zit + ßX Xit + µ it (1) Y adalah tingkat perilaku represif 83 . Bolyard. suatu kumpulan literatur kuantitatif penting yang semakin berkembang sangat bergantung pada kajian Poe dan kawan-kawan tersebut. tarnegara dan antarwaktu. Kemudian. Namun. – Ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia tidak memiliki dampak positif langsung terhadap ketaatan negara dalam praktik dan bahkan memiliki dampak negatif yang signifikan berkaitan dengan meningkatnya perilaku represif. dan kami memperkenalkan variabel-variabel baru untuk mengukur partisipasi 153 negara dalam masyarakat internasional sejak 1976 sampai 1999. Untuk menguji hipotesis tersebut. Oleh karenanya. Smith. kami memperbaharui data periode-waktu yang bersifat lintas-negara ini dengan memasukkan periode Pasca Perang Dingin. kami mengembangkan data mereka guna mendorong perbandingan antara temuan-temuan kami tentang dampak perjanjian internasional terhadap penjelasan-penjelasan sebelumnya tentang perilaku represif pemerintah. Data-data ini memampukan kami untuk menilai dampak ratifikasi negara terhadap perjanjian hak asasi manusia di jangka waktu dan lingkup yang lebih luas ketimbang kajian-kajian sebelumnya. Dari upaya-upaya penting tersebut kami mencoba untuk memahami penyebab domestik dan global dari perilaku represif pemerintah. maka sampel yang komprehensif dari para pengarang tersebut menawarkan suatu titik awal yang ideal bagi analisa empiris kami. Hipotesis 2. – Hubungan dengan masyarakat sipil internasional memiliki dampak positif terhadap perilaku hak asasi manusia dari negara-negara. Tate. 4 • Th.kat kota yang stabil secara politik. dengan menurunkan perilaku represif. kami berupaya mengisi aspek utama politik global hak asasi manusia yang terlewatkan oleh semua literatur kuantitatif yang ada – yaitu pengaruh rejim global hak asasi manusia dan masyarakat sipil. ANALISA EMPIRIS Tujuan mendasar kami di bagian ini adalah untuk menguji hipotesis kami: Hipotesis 1. sambil secara berkesinambungan mengontrol kemungkinan bahwa ketaatan negara terhadap hukum internasional dapat saja beragam berdasarkan tipe negara yang berbeda-beda. Dengan melakukannya. dan Camp Keith (1999) yang mencoba menjelaskan keragaman negara dalam perilaku represif pemerintah.

kami membagi atau memisahkan variabel kompleks ratifikasi terhadap perjanjian oleh negara sebagaimana yang dilaporkan di model 1 menjadi beberapa komponen variabel yang baru dan menganalisa apakah ratifikasi negara terhadap enam perjanjian inti PBB mempengaruhi ketaatJURNAL HAM • Vol. 4 • Th. i dan t adalah tulisan di bawah garis (subscript) yang mewakili negara dan tahun pengamatan. suatu serial variabel kontrol. persamaan (equation) 1 menegaskan bahwa represi terhadap hak asasi manusia bagi setiap negara di setiap tahun pengamatan merupakan suatu fungsi tentang pengalaman masa lalu negara tersebut berkaitan dengan represi. suatu intercept term. ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia. dalam model 1. Kami memulai dengan menguji dua dalil utama dari teori kami: (1) apakah ratifikasi negara terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional mempengaruhi ketaatan negara terhadap norma-norma hak asasi manusia. Z adalah matriks variabel hukum internasional dan masyarakat sipil yang kami tawarkan untuk menguji teori paradoks kami. a adalah intercept term. Dalam model 2 – model 7 kami melihat sifat dari ratifikasi terhadap perjanjian oleh negara secara lebih detil. sementara X adalah matriks dari semua faktor kontrol lainnya yang digunakan oleh para ilmuwan sebelum kami mengenai pengaruhi perilaku represif terhadap hak asasi manusia. serta masyarakat sipil internasional. dan m adalah stochastic term. Kami meninjau kelompok-kelompok variabel ini secara lebih detil di bawah ini. dan matriks-X mencakup GDP(log). ßS adalah matriks pengukuran parameter. dan (2) apakah hubungan negara dengan organisasi nonpemerintah internasional mempengaruhi perilaku hak asasi manusia. keanggotaan dalam organisasi nonpemerintah internasional. 2007 84 . matriks-Z mencakup ratifikasi negara terhadap perjanjian dan keanggotaan dalam organisasi nonpemerintah internasional. perdagangan. Untuk melakukannya. Dengan demikian. mempengaruhi perilaku represif pemerintah di luar dan melebihi (above and beyond) penjelasan yang ada dalam literaturliteratur saat ini. Dengan demikian. dan suatu stochastic term.pemerintah terhadap hak asasi manusia yang diamati. Kami mengontrol faktor-faktor lain yang dipercayai oleh kebanyakan ilmuwan hak asasi manusia membentuk perilaku represif pemerintah guna memahami apakah perjanjian hak asasi manusia internasional. dan populasi(log): Yit = a + ßY Yit-1 + ßP Zit + ßX Xit + µit (1) Represi pemerintah terhadap hak asasi manusia it = a + ßy-1 (praktik masa laluit) + ßz1 (ratifikasi perjanjian oleh Negarait) + ßz2 (keanggotaan pada organisasi nonpemerintah internasionalit) + ßx1 ([log] GDPit) + ßx2 ([log] perdaganganit) + ßx3 (demokrasiit) + ßx4 (populasiit) + µ it Walaupun kami menawarkan hipotesis yang berhubungan langsung – khususnya bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional akan mengarah pada tidak adanya perubahan atau semakin memburuknya perilaku hak asasi manusia – kami melakukan pengujian duaakhir bagi setiap dalil untuk mempertimbangkan hipotesis-hipotesis yang bertentangan yang ditawarkan oleh banyak ilmuwan politik. Kami mempertimbangkan dua kelompok variabel sustantif utama untuk menguji teori kami. demokrasi.

16 Kami meng-kode-kan lima nilai-nilai variabel dependen berikut ini seba12 Kami mengucapkan terima kasih pada para pem- 13 14 15 16 baca AJS yang membawa variabel ini pada perhatian kami. [1] memasukkan intercept variasi-waktu: ai. kami memperkirakan dampak waktu tetap untuk menjamin bahwa dampak tahuntahun individual dalam sampel kami tidak berpengaruh terhadap hasil temuan. Para pengarang ini menemukan bahwa kecenderungan Amnesty International untuk melaporkan kondisi hak asasi manusia di negara yang catatan hak asasi manusianya paling buruk telah menurun dalam periode waktu belakangan ini. Dalam kajian terbaru. 13 (Oleh karenanya. dan Vockell (1992). dan Vazquez (2001) menganalisa perbedaan laporan hak asasi manusia yang dibuat oleh Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat dengan Amnesty International guna menentukan apakah terhadap bias yang jelas dalam kedua sumber tersebut. Akhirnya. Stohl dan Carleton (1985). penyiksaan. dan Hafner-Burton (dalam cetakan). Kami tidak memasukkan ukuran ini dalam temuan-temuan di tabel akhir karena variabel ini memberikan fungsi struktural yang sama seperti halnya dampak waktu tetap. Carey. sementara dalam model 12. dan kami melakukannya sebagai suatu kombinasi tingkatan negara dalam hal pembunuhan. kami mempertimbangkan kemungkinan bahwa temuan-temuan kami adalah suatu benda peninggalan akhir Perang Dingin. Poe. dari Amnesty International) yang menggunakan analisa isi.14 Data Hak asasi manusia (Y). dengan menguji apakah bangsa-bangsa yang usianya lebih tua dan lebih mapan akan lebih menghormati hak-hak warga negaranya.an pemerintah terhadap norma-norma hak asasi manusia. dan mengelompokkan negara-negara guna membahas persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh heteroscedasticity yang umum terjadi pada data kami (Beck dan Katz 1995). Gibney. penghilangan paksa. dan pemenjaraan JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. kedua. kami tetap menghitung dan mengukur variabel legitimasi dunia yang diusulkan pada dampak waktu tetap dan menemukan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hal dampak antara kedua pengukuran tersebut. 2007 politik pada setiap tahunnya. Para ilmuwan lain yang memeriksa integritas hakhak tersebut termasuk.) Dalam semua kasus kami memasukkan variabel dependen keterlambatan ai (kecuali dampak tetap).15 Secara khusus. Namun. Dalam model 10. Dalam melakukannya. – Untuk mengestimasi model-model. dan kami menggambarkan data-data tersebut di bagian berikut ini. dan bahwa laporan-laporan Amnesty International dan Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat telah menjadi hampir serupa dalam periode waktu belakangan ini. 85 . Poe (1991). Dalton. melaporkan standar kesalahan Huber/White untuk menggantikan perhitungan tradisional. kami mempertimbangkan suatu susunan argumentasi alternatif yang dibuat oleh para ilmuwan hak asasi manusia dengan memodifikasi matriks-X. McCormick dan Mitchell (1988). Beberapa rekan kerja mengusulkan agar kami memasukkan ukuran jumlah ratifikasi negara-negara di tingkat-dunia untuk semua perjanjian hak asasi manusia internasional dalam jangka waktu tertentu guna mempertimbangkan dampak diperolehnya legitimasi hak asasi manusia pada periode waktu tertentu. kami menjelaskan dampak potensial dari usia negara. kami menambahkan beberapa variabel baru ke dalam matriks-Z. kami mengukur perilaku represif pemerintah terhadap rasa aman seseorang. Dalam model 8 dan model 9. yang kami masukkan sebagai kontrol standar bagi varian tingkat-dunia pada periode waktu tertentu. Melalui pengelompokan ini kami mengasumsikan bahwa pengamatan kami bersifat independen untuk jenis-jenis negara (atau kelompok negara) yang berbeda tetapi tidak hanya di suatu negara pada periode waktu tertentu.12 Dalam model 11. diantaranya: Cingranelli dan Pasquarello (1985). kami menguji apakah pengalaman negara dalam perang sipil atau internasional dapat menjelaskan ketaatan pemerintah terhadap norma-norma hak asasi manusia. kami melanjutkan pendapat para ilmuwan hak asasi manusia yang lain dalam menggunakan skala ordinal standardasar perilaku represif yang digambarkan secara sistematis dalam laporan hak asasi manusia tahunan Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat (dan. kami mengubah misalnya.

Angka nol menunjukkan bahwa suatu negara tidak meratifikasi perjanjian hak asasi internasional utama mana pun. dan pembunuhan politik sangat jarang terjadi. rata-rata ratifikasi perjanjian oleh negara – yaitu jumlah total tahun di mana suatu negara telah meratifikasi suatu perjanjian – mempengaruhi ketaatan pemerintah terhadap norma-norma hak asasi manusia. – Kami memperkenalkan delapan variabel baru dari ratifikasi negara terhadap hukum hak asasi manusia internasional dan keanggotaan negara dalam organisasi nonpemerintah internasional yang kami kumpulkan dari sumber-sumber primer dan sekunder perjanjian dan perkumpulan internasional. tetapi teror hanya mempengaruhi mereka yang berkepentingan dalam hal praktik atau ide politik. Y = 5 (represi yang jarang atau rare repression). – Ketika negara-negara berada pada kondisi aturan hukum yang aman. – Ketika penahanan atas kegiatan politik yang bersifat nonkekerasan terbatas. dan CERD.17 Kami juga membagi atau memisahkan variabel perjanjian menjadi komponenkomponen konstituennya dan memberikan kode pada enam indikator yang berbeda yang menangkap jangka waktu sejak suatu negara meratifikasi setiap salah satu dari 17 Kami juga mengukur dan memeriksa apakah waktu 3.gaimana diilustrasikan di diagram 2 dan digambarkan di lampiran A: 1. CRC. 2. kami mempertimbangkan enam perjanjian utama (yang diuraikan di tabel 1): ICCPR. CEDAW. dan penahanan (dengan atau tanpa pengadilan) akibat pandangan politik dapat diterima. Kami telah memperbaharui data yang ada. Pengukuran ini disimpulkan dalam tabel 2 di bawah ini. 4 • Th. ICESCR. dan pembunuhan politik jarang terjadi. Y = 1 (represi yang sistematis atau systematic repression). jika dimungkinkan. hukuman mati dan pembunuhan politik mungkin sering terjadi. – Ketika tingkat teror bersifat meluas di masyarakat dan pengambil kebijakan tidak membatasi sarana yang mereka gunakan untuk mendapatkan tujuan pribadi atau tujuan ideologi. pembunuhan dan penghilangan paksa sering terjadi. Y = 2 (represi yang massif atau extensif repression). 2007 . Pertama. dengan menggunakan metode analisa isi yang sesuai dengan metode pengumpulan data sebelumnya. penahanan politik dan penyiksaan jarang terjadi. kami menghitung suatu ukuran ordinal dari variabel perjanjian yang menghitung total jumlah perjanjian yang diratifikasi oleh suatu negara dalam suatu tahun tertentu. 86 JURNAL HAM • Vol. Paradoks janji-janji kosong (Z). – Ketika praktik-praktik di tingkat 3 diperluas ke sejumlah besar populasi. Banyak dari data ini berasal dari kolaborasi sejumlah hasil para ilmuwan hak asasi manusia ternama. Kami menggunakan variabel ini dalam model dasar kami (model 1). Hasilnya yang berkaitan dengan indikasi dan signifikasi konsisten dengan tingkatan ratifikasi negara terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional (model 1). sedangkan angka enam menunjukkan bahwa suatu negara telah meratifikasi seluruh perjanjian hak asasi manusia utama. Y = 4 (represi yang terbatas atau limited repression). 4. Kami menawarkan beberapa pengukuran yang berbeda terhadap ratifikasi perjanjian oleh negara untuk menguji hipotesis-hipotesis yang diusulkan. CAT. Berkaitan dengan perjanjian-perjanjian hak asasi manusia internasional. penyiksaan dan pemukulan bersifat sangat khusus. – Ketika penahanan politik bersifat massif. 5. Y = 3 (represi yang meluas atau widespread repression).

jumlah warga negara-negara yang tergabung dalam organisasi nonpemerintah internasional). Ukuran-ukuran ini adalah data konvensional yang dikumpulkan dari Bank Dunia dan hanya membutuhkan sedikit koJURNAL HAM • Vol. 2007 mentar. 4 • Th. org/legal/undocs. Batang yang solid mewakili jumlah tahun-negara yang diamati dalam kumpulan data periode waktu lintas-seksi bagi setiap dari lima tingkat penghormatan negara terhadap hak asasi manusia yang diukur.hrweb. CERD. Kami juga menerapkan pengukuran demokrasi dan tingkat perilaku represif pemerintah di masa lalu. Khususnya lihat Apodaca (2001). dan penahanan secara sewenang-wenang.18 Kami menyebut variabel-variabel ini ICCPR. 19 Lihat Buku Tahunan Organisasi Internasional (Yearbook of International Organizations).19 Pengukuran ini dikumpulkan dari data yang tersedia dalam Buku Tahunan Organisasi-organisasi Internasional. dan perilaku represif negara atas hak-hak mendasar untuk bebas dari pembunuhan. Faktor-faktor kontrol (X). dan CRC. penyiksaan.org.20 Khususnya. sesuai dengan urutannya. kami mengambil data dari proyek Polity IV dan menggunakan demokrasi berdasarkan karakteristik institusionalnya. Akhirnya. dan kami mencatat keduanya. CAT. 20 Walaupun baik pembangunan dan demokrasi seringkali diklaim sebagai hak asasi manusia yang mendasar. suatu publikasi tahunan dari Union of International Associations. enam perjanjian hak asasi manusia internasional. kami menawarkan suatu ukuran kalkulasi keanggotaan negara dalam organisasi nonpemerintah internasional dalam suatu periode tertentu (misalnya. ICESCR. CEDAW. – Variabel dependen: represi terhadap hak asasi manusia (pengamatan tahun-negara).uia.htm dan http://www. keterbukaan proses tersebut 18 Kami juga melakukan analisa dengan mengguna- kan variabel pura-pura (dummy) guna menggambarkan ratifikasi yang bertentangan dengan lama waktu keanggotaan. http:// www. sistem pemerintahan negara.website. penghilangan paksa.1200 1000 800 # 600 400 200 0 1 Systematic Repression 2 Extensive Repression 3 Widespread Repression 4 Limited Repression 5 Rare Repression Diagram 2.html. 87 . Yang sangat penting bagi tujuan kami adalah lima karakteristik institusional utama yang membedakan antara demokrasi dengan otokrasi: tingkat kompetitif dari proses pemilihan pemimpin. kami mengikuti yang lain dalam membedakan konseptual yang penting antara tingkat pembangunan negara. – Kami mengikuti para ilmuwan hak asasi manusia lain dalam menggunakan ukuran Bank Dunia tentang Gross Domestic Product atau GDP pada nilai pasar dan perdagangan (sebagai persentase GDP).

34 0... CRC ICCPR.. serta usia negara dan data tambahan yang dikumpulkan oleh Poe dkk. dan tingkatan di mana aturan-aturan yang mengikat mengatur partisipasi politik (Jaggers dan Gurr 1995)...... (1999)...16 0...127 bagi kelompok-kelompok sosial.... Dalam analisa..88 0.. 2007 .. Namun demikian. namun kami tetap melaporkan dampak signifikan dari variabel-variabel ini terhadap model kami tentang perilaku represif pemerintah di catatan kaki.......2 0 0 0 0 0 0 0 6 33 33 15 39 27 19 Jangka waktu sejak ratifikasi ICESCR Model 3 Jangka waktu sejak ratifikasi CEDAW Model 6 Jumlah organisasi nonpemerintah internasional (INGO) di mana warga negara menjadi anggota CRC.TABEL 2 DESKRIPSI VARIABEL: PARADOKS JANJI-JANJI KOSONG Variabel Isi Model Rata-rata Minimum Maksimum Perjanjian.45 0. Negara yang meratifikasi sejumlah besar perjanjian hak asasi manusia tidak sepenuhnya melindungi hak asasi manusia ketimbang negara yang hanya meratifikasi sejumlah kecil perjanjian tersebut. Walaupun kami tidak memasukkan semua variabel kontrol tambahan yang ada dalam model kami karena alasan-alasan teoritis. tingkat hambatan institusional atas kewenangan pengambilan keputusan pimpinan. INGO.35 0. Jangka waktu sejak ratifikasi CRC Model 1-7 495........ baik CAT maupun ICCPR secara eksplisit menga- 88 JURNAL HAM • Vol..... kami mempertimbangkan berbagai ragam variabel tambahan yang mungkin telah digunakan di kajiankajian sebelumnya mengenai perilaku represif pemerintahan... Jangka waktu sejak ratifikasi ICCPR Jangka waktu sejak ratifikasi CAT Jangka waktu sejak ratifikasi CERD Model 1 Model 2 Model 4 Model 5 Model 7 1...... CERD.27 0.... CERD. model 1 mengusulkan bahwa ratifikasi seringkali berkaitan dengan perilaku tidak taat negara-negara dan bahwa komitmen negara terhadap rejim hukum hak asasi manusia internasional dari waktu ke waktu mengarah pada pemisahan (decoupling) yang radikal.... 4 • Th... CEDAW. CEDAW. Pengukuran ini mulai dari -10 (paling otokratis) sampai 10 (paling demokratis).... Pertama... Sebaliknya...... Jumlah ratifikasi keseluruhan enam perjanjian : ICCPR...... ECESCR. Data-data ini mencakup keterlibatan negara dalam perang sipil atau perang internasional (proyek Correlates of War)... yang justru memperburuk pelanggaran hak asasi manusia.. populasi negara pada tahun tertentu (diambil dari Bank Dunia). Hasil Tabel 3 di bawah menunjukkan temuantemuan utama kami.... CAT.21 21 Adalah mungkin bahwa temuan-temuan ini menun- jukkan bahwa sejumlah perjanjian utama menginstitusionalisasikan norma-norma yang tidak termasuk dalam kategori-kategori hak asasi manusia mendasar yang diteliti di sini. ICESCR... Ada dua hasil temuan yang sangat luas biasa..... komitmen negara terhadap rejim hukum hak asasi manusia internasional tidak secara otomatis dapat diterjemahkan menjadi penghormatan pemerintah terhadap hak asasi manusia... tingkat kompetitif dari partisipasi politik.......17 0 3.. CAT.

023** (0.529.02 (0. maka dampaknya tetap negatif tetapi kehilangan signifikansinya.546.543.0001) -0.3 2.139*** (0.005) Model 6 0.036) 0.0002* (0.072 1. Kami juga mencatat bahwa ketika kami memasukkan dampak waktu tetap.063) 0.022*** (0. 4 • Th.032*** -0.109** (0.33) 0.2 2.46*** (0.049 (0.045 (0.058 1.033) 0.024*** (0.48*** (0.042 .064) 0.036) 0.27*** (0.024 (0. kebebasan.068) 0.47*** (0.7 2.064) 0.1.006) -0.542.283*** -0.013* (0.042 .0001) 1.02) -0.261*** -0.064) 0.1.0003*** 0.058 1.049) (0.072) 0.047) 1.1.0002* (0.017) 2.1.550.058 .2 P < 0.006) Model 5 0.021*** (0.067) 0.0002* (0.006) Model 7 0.0002* (0.9 2.138*** (0.005) -0.136*** (0.004) -0.07) 0.064) 0.009) (0.0001) 1.01 *** P < 0.45*** (0. dan keamanan seseorang yang digambarkan oleh variabel dependen kami.TABEL 3 ANALISA KUMPULAN PERIODE WAKTU LINTAS-SEKSI TENTANG PRAKTIK HAK ASASI MANUSIA DARI NEGARA.01 (0.34) 0. 2007 sebelumnya (Hathaway 2002).005) Model 4 0.022*** (0.27*** (0.275*** -0. yang mewajibkan negaranegara yang meratifikasi untuk menghormati hakhak ini.001 kui hak-hak utama untuk hidup.005 (0.037) 0.116** (0.012) -0.0001) -0.262*** (0.10 * P < 0.0003** (0.047) 1.05) Model 3 0.0004** (0. sementara temuan kami menunjukkan adanya dampak negatif.006) 0.0001) -0.044) (0. yang juga menunjukkan dampak negatif ratifikasi perjanjian.0006) -0.05 ** P < 0.058 .069** (0.069) 0.64* (0.063*** (0.1. 1978 – 1999 Model 1 GDP per kapita (log) Demokrasi Populasi (log) Praktik masa lalu Perdagangan (log) Organisasi nonpemerintah internasional Perjanjian ICCPR ICESCR CAT CERD CEDAW CRC N Pengamatan Log kemungkinan + Model 2 0.5 2.117** (0.0001) 1.6 2.025*** (0.112** (0.063) 0.045) (0. Kajian sebelumnya tentang ICCPR menunjukkan tidak adanya dampak ratifikasi terhadap perjanjian (Camp Keith 1999).069) 0.063) 0.45*** (0.042 .47*** (0.024*** (0. Temuan ini konsisten dengan kajian CAT JURNAL HAM • Vol.284*** -0.537.0001) (0. 89 .045) (0.46*** (0.012* (0.026 (0.049) 1. Bukti yang ditunjukkan di tabel 3 menunjukkan bahwa negara yang meratifikasi kedua perjanjian ini akan lebih mungkin melakukan tindakan represif terhadap hak-hak warga negaranya ketimbang negara yang bukan anggota pada perjanjian.038 (0.536.035) 0.

Kemudian. 24 Kami mempertimbangkan sejumlah variabel kontrol tambahan untuk menguji kekuatan temuantemuan ini. 1999). Namun. Walaupun kami menemukan bahwa institusionalisasi hak asasi manusia global tidak memiliki dampak positif yang sistematis melalui sistem perjanjian. kami juga menemukan bahwa norma-norma global hak asasi manusia. 24 Walaupun perang sipil memang 22 Ketika kami menambahkan dummy pasca Perang Dingin dan dampak waktu tetap dalam model 11 dan model 12. salah satu ramalan (predictors) yang paling penting dari represi adalah sejarah negara dalam kondisi represif (Apodaca 2001. Demokrasi adalah pelindung yang paling baik dari hak asasi manusia – menyepakati mayoritas ilmuwan hak asasi manusia (Henderson 1991. Kedua.23 Kami menggunakan probabilitas yang diperkirakan untuk membongkar dampak-dampak negatif ini lebih jauh lagi di lampiran B. 2007 90 . Konsisten dengan penelitian terbaru di bidang ini. JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. dan mungkin bahkan memperburuk praktik-praktik yang tidak baik tersebut. kami mempertimbangkan sejumlah pengukuran alternatif bagi variabel-variabel yang kami laporkan di sini. ratifikasi terhadap keseluruhan enam perjanjian tersebut memiliki dampak negatif terhadap perilaku negaranegara penandatangan: pihak-pihak pada perjanjian akan lebih mungkin melakukan represi terhadap warga negaranya ketimbang negara yang tidak meratifikasi. Gelleny. hubungan negara dengan masyarakat sipil internasional menciptakan kekuatan lawan yang besar bagi pemisahan (decoupling) yang radikal tersebut: negaranegara yang warga negaranya menjadi anggota sejumlah besar organisasi nonpemerintah internasional akan lebih mungkin melindungi hak-hak warga negaranya. yang melekat pada perjanjian hak asasi manusia internasional dan ditawarkan oleh masyarakat sipil internasional memberikan kontribusi terhadap perbaikan praktik-praktik hak asasi manusia secara nyata. dampak perjanjian menjadi kurang signifikan tetapi tetap negatif. Poe dkk. 1999) – sebagaimana halnya dengan negara-negara yang memiliki tingkat keterbukaan yang lebih tinggi terhadap ekonomi internasional (Meyer 1996. 23 Namun. Mitchell dan McCormick 1988. Konsistensi dampak ini di lintas model menunjukkan bahwa dampak institusional umum masyarakat sipil global cukup stabil.22 Secara bersamaan.Temuan ini sangat konsisten ketika kami memisahkan keseluruhan komitmen pada rejim hak asasi manusia dan meneliti ratifikasi terhadap perjanjian PBB yang spesifik (model 2 – model 7). Poe dkk. Richards. Tidak satu kasus pun menunjukkan bahwa ratifikasi negara terhadap enam perjanjian hak asasi manusia utama dari PBB yang mana pun dapat memperkirakan kemungkinan penghormatan pemerintah terhadap hak asasi manusia. Variabel ini tidak mengubah temuantemuan kami dan oleh karenanya tidak dilaporkan di sini. Poe dan Tate 1994. dan Sacko 2001) dan negara-negara yang tingkat pembangunan ekonominya lebih tinggi. Di tabel 4 kami memverifikasi bahwa temuan-temuan kami sifatnya kuat bagi sejumlah penjelasan alternatif terhadap represi pemerintah terhadap hak asasi manusia. kami tidak dapat membedakan antara dampak negatif langsung – ketika ratifikasi justru memberikan insentif lebih bagi perilaku represif yang lebih jauh – dan dampak negatif tidak langsung – ketika ratifikasi tidak memiliki dampak pada praktik-praktik negara yang mengarah pada semakin kuatnya perilaku kekerasan. temuan-temuan ini menunjukkan suatu gambaran yang mengkhawatirkan: perjanjian hak asasi manusia internasional hanya sedikit mendorong praktik-praktik yang lebih baik dan tidak dapat menghentikan banyak pemerintah dari suatu spiral perilaku represif yang meningkat. Tabel 3 juga menegaskan bahwa perkiraan kami konsisten dengan temuan-temuan umum dalam berbagai literatur hak asasi manusia mengenai variabel kunci.

91 . dampak ini berada di luar temuan-temuan kami bahwa negara yang meratifikasi hukum hak asasi manusia internasional cenderung tidak menaati hukum tersebut dalam praktiknya. suatu fenomena yang mungkin dapat dijelaskan oleh munculnya banyak negara baru yang relatif lemah. Bertentangan dengan hal tersebut.25 Dipertimbangkan bersama. Walaupun kami tidak bisa menawarkan suatu jawaban yang pasti terhadap pertanyaan tersebut. 2001). temuantemuan ini menawarkan dukungan yang besar terhadap argumentasi kami. perang internasional dan usia negara tidak memiliki dampak apa pun terhadap perilaku represif pemerintah. Akhirnya. Kami mempertimbangkan kemungkinan ini dengan serius dan oleh karenanya telah melakukan suatu proses pemeriksaan terhadap kelayakannya. 4 • Th. yang tidak mengubah hasil kami. bukti juga menunjukkan bahwa hubungan dengan masyarakat sipil global memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia. Walaupun perjanjian-perjanjian seringkali tidak secara langsung memberikan kontribusi pada perbaikan di tingkat praktik. kami menunda semua variabel independen selama satu tahun dan menguji kembali model ini.sangat mendorong perilaku represif negara. Kami mengulangi penundaan atau interval ini selama beberapa tahun kemudian untuk menjamin kekuatan temuan-temuan tersebut. 26 Temuan-temuan ini bukan merupakan hasil karya multicollinearity. kami memasukkan suatu dummy variabel pengukuran mengenai apakah suatu pemerintahan dikuasi oleh rejim beraliran kiri.26 Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa terdapat korelasi sistematis yang positif antara penerimaan pemerintahan secara resmi terhadap hukum internasional untuk melindungi hak asasi manusia dengan perilaku nyata dari para elit pemerintahan untuk melindungi hak-hak tersebut. Di sisi lain. 25 Dalam rangka mempertimbangkan kemungkinan suatu dampak pilihan. dan matriks korelasi ini tersedia dari para pengarang atas dasar permintaan. Negaranegara di dunia pasca-Perang Dingin lebih kecil kemungkinannya tunduk pada komitmen terhadap rejim hak asasi manusia internasional. Yang lebih mengkhawatirkan adalah bukti yang menyatakan bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional justru memperburuk ketaatan negara terhadap norma-norma hak asasi manusia yang dilindungi oleh perjanjian tersebut. sejumlah ilmuwan telah mengidentifikasi kemungkinan yang sangat nyata bahwa temuan-temuan kami dipengaruhi oleh suatu “dampak informasi”. kami dapat menawarkan bukti awal yang menyatakan bahwa temuantemuan kami tidak hanya sekedar hasil dari perhatian media yang meningkat terhadap pelanggaran hak asasi manusia setelah ratifikasi terhadap perjanjian. Kami menemukan bahwa model yang mengalami penundaan sama persis secara subtantif dengan model yang kami laporkan di tabel 3. Akhirnya. bahwa sumber-sumber laporan kami yang menjadi sumber data kami tentang perilaku represif terhadap hak asasi manusia lebih memberikan perhatian pada negara-negara yang lebih terbuka terhadap pertukaran informasi atau yang baru saja menandatangani suatu perjanjian hak asasi manusia internasional. periode sejarah tampaknya memberikan perubahan. Variabel ini tidak signifikan dan tidak mengubah hasil temuan secara substantif. setidaknya pada jangka pendek. 2007 yang secara strategis mempengaruhi rejim hukum hak asasi manusia untuk menekan pemerintah agar mengubah perilaku hak asasi manusia mereka. walaupun hasil substantif kami pada umumnya konsisten ketika kami memasukkan dampak waktu tetap. namun norma-norma yang dikodifikasi dalam perjanjian ini menyebarluas di kalangan organisasi nonpemerintah internasional JURNAL HAM • Vol. Dalam rangka mempertimbangkan kemungkinan bahwa dampak Perang Dingin dihasilkan oleh suatu bias praktik-praktik hak asasi manusia oleh pemerintahan-pemerintahan beraliran kiri (Poe dkk.

0.058 .525.45*** (0.022) Model 10 0.037) 0.028*** (0.0.074+ (0.048) 1.5 Perhatikan bahwa model 12 termasuk dampak waktu tetap tidak memasukkan variabel interval yang dependen.0.002 (0.065) 0.1.058 .083) 0.279*** (0.049) 1.328.0.024) .16) 0.072) 0.0001) .082 (0.0.069** (0.356.TABEL 4 ANALISA KUMPULAN PERIODE WAKTU LINTAS-SEKSI TENTANG PRAKTIK HAK ASASI MANUSIA DARI NEGARA DENGAN VARIABEL INDEPENDEN TAMBAHAN.0005* (0.0.001 92 JURNAL HAM • Vol.092* (0.1.075) 0.047) 1.913*** (0.4*** (0.626*** (0.05) 1.1** (0.0005) .46*** (0. koefisien dampak waktu tetap tidak dilaporkan secara individual untuk menghemat tempat + P < 0.006) .079) 0.038) 0.815 .065** (0.279*** (0.0.006) .003 (0.0005** (0.0.006) .05 ** P < 0.0.1.0001) .0.026*** (0.058 .024 (0.0001) .0.01 *** P < 0.064) .067) .023) Model 12a 0.1.027*** (0.036) 0.4 1.44*** (0.077 (0.542.077) 0.0001) .524. 4 • Th.0004** (0.10 * P < 0.043+ (0.025) .7 2.007) .071** (0.257*** (0.8 2.819 .1.034 (0. 1978-99 Model 8 GDP per kapita (log) Demokrasi Populasi (log) Praktik masa lalu Perdagangan (log) Organisasi nonpemerintah internasional Perjanjian Perang sipilb Perang internasionalb Usia negara Dummy pasca Perang Dingin Dampak waktu yang tetap (1976-99)c N Pengamatan Log kemungkinan a b Model 9 0. c Melalui konvensi.0006 (0.0004** (0.135) .267*** (0.080) 1.0.16 (0.022*** (0.027f (0.0.0004** (0.048) 0. 2007 .052) 0.041) 0.256*** (0.006) .0.0.2 2.0001) .o. Ukuran perang sipil dan internasional dibatasi pada periode waktu 1976 ––1993.035) 0.121** (0.092* (0.021) Model 11 0.

namun para ilmuwan konstruktivis dan hukum internasional menunjukkan JURNAL HAM • Vol. Kami mencoba menemukan tentang dua aspek rejim hak asasi manusia yang ditemukan dalam kebanyakan literatur yang ada: yaitu sistem perjanjian hak asasi manusia internasional dan masyarakat sipil internasional. yang oleh karenanya menyarankan bahwa kecil kemungkinannya temuantemuan kami merupakan hasil yang unik dari meningkatnya pelaporan yang ada setelah dilakukannya ratifikasi. tetapi semakin berkembangnya legitimasi ide-ide hak asasi manusia dalam masyarakat internasional. Sebagai akibatnya. dan tiga tahun setelah ratifikasi terhadap CAT. tetapi masyarakat sipil global memliki dampak positif terhadap praktik hak asasi manusia. Sifat dari laporanlaporan ini kelihatannya tidak mengalami perubahan yang signifikan setelah ratifikasi. atau terbatas. yang pembentukannya didukung oleh rejim hukum internasional. memperkirakan bahwa rejim hukum tidak memiliki dampak atau memiliki dampak negatif terhadap praktik hak asasi manusia. memberikan kekuatan lebih bagi aktor-aktor nonpemerintah untuk menekan pemerintah-pemerintah yang melanggar hak asasi manusia agar mengubah perilaku mereka. Tidak terdapat bukti sistematik yang menunjukkan bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia dalam sistem PBB memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia. Temuan kunci pertama kami tentang dampak perjanjian hak asasi manusia mengulangi temuan-temuan kajian terbaru mengenai topik yang sama. yang didasari oleh pendekatan institusional rasional dan masyarakat dunia. kami membandingkan isi dari sumber laporan tersebut berdasarkan jumlah kata-kata yang didedikasikan terhadap isu penyiksaan. Untuk setiap negara. sebagaimana dipresentasikan di lampiran C. sejumlah bukti bahwa rejim tersebut memiliki dampak positif terhadap praktikpraktik lokal. Kami menganalisa laporan tahunan hak asasi manusia dari Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat untuk setiap negara yang telah meratifikasi CAT. tidak ada bias sistematik pada meningkatnya jumlah kata dalam pelaporan atau dalam jenis informasi setelah ratifikasi terhadap perjanjian. dan juga jenis informasi yang diberikan oleh laporan – informasi yang luas. 4 • Th. walaupun sumber laporan tentang pelanggaran hak asasi manusia bervariasi setiap tahunnya. tetapi juga mengembangkan lebih jauh dari hasil temuan tersebut dalam hal cakupan waktu dan jumlah perjanjian hak asasi manusia internasional. Sementara para ilmuwan pengarusutamaan hubungan internasional berargumentasi bahwa rejim hak asasi manusia internasional tidak memperbaiki praktik hak asasi manusia. Pertama. Kami menemukan bahwa. dan bahwa kecenderungan ini berlanjut sampai akhir 1990an. Kami meneliti tiga periode waktu untuk setiap negara: tiga tahun sebelum ratifikasi terhadap CAT. periode saat ratifikasi terhadap CAT. kami menemukan bahwa dampak negatif dari ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional terhadap hak atas keamanan individu berlaku bagi keenam perjanjian hak asasi manusia utama. Temuan-temuan ini menggambarkan beberapa keraguan tentang argumen- KESIMPULAN Dasar analisa kami adalah dua set pengharapan dan bukti yang saling bertentangan tentang berkembangnya dampak rejim hak asasi manusia internasional. Kerangka teori kami. 2007 93 .Bukti-bukti ini dikumpulkan melalui suatu percobaan kecil. menengah. Analisis empiris kami memperkuat tesis paradoks janji-janji kosong ini. kami mengambil sampel acak 15 negara dari sampel yang lebih besar yaitu 153 bangsa.

dari sudut pandang teoritis. Temuan kunci kedua kami tentang dampak positif hubungan dengan masyarakat global merupakan kontribusi penting baik bagi kajian empiris politik hak asasi manusia dan. Dengan memeriksa hubungan dengan masyarakat sipil internasional secara terpisah dari hubungan dengan rejim hak asasi manusia global. bagi pendekatan masyarakat dunia. Tindakan ratifikasi memberikan suatu karakter legitimasi pada pemerintah. 4 • Th. Para ilmuwan dan aktivis seringkali mengkritisi kurangnya mekanisme penegakan yang efektif dalam perjanjian hak asasi manusia internasional. Analisis statistik kami memberikan dukungan kuat bagi para ilmuwan dan pengamat yang berargumen bahwa kegiatan-kegiatan hak asasi manusia global berkontribusi pada perbaikan dalam praktik-praktik hak asasi manusia di tingkat lokal. Kedua temuan menunjukkan pentingnya untuk memisahkan mekanisme-mekanisme yang berbeda di mana kekuatan-kekuatan global beroperasi guna memberikan dampak pada tindakan-tindakan di tingkat lokal. yang jika digabungkan dengan kurangnya institusionalisasi mekanisme penegakan. kami menggarisbawahi dampak yang berbeda dari kedua jenis hubungan tersebut terhadap praktikpraktik hak asasi manusia di tingkat lokal. yang semakin berkembang dalam hal jumlah dan kekuatan. LAMPIRAN A Kumpulan Data tentang Hak Asasi Manusia (Y) Kami telah memperbaharui data yang ada tentang perilaku represif terhadap hak asasi manusia yang dikumpulkan oleh sejumlah ilmuwan sebelum kami dan yang ditawarkan oleh Steven Poe. maka tindakan ratifikasi tersebut juga memberikan suatu penyamaran atas pelanggaran hak asasi manusia warga negaranya. masyarakat sipil internasional telah menggunakan legitimasi norma-norma hak asasi manusia yang dinyatakan dan dikodifikasi dalam perjanjianperjanjian hak asasi manusia internasional tersebut untuk menekan pemerintah-pemerintah agar memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusianya. walaupun aktor-aktor ini bukan merupakan pengganti bagi institusi yang lebih kuat yang dapat melindungi hak asasi manusia. banyak pemerintah meratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional tanpa adanya keinginan ataupun kapabilitas untuk menyelaraskan perilaku domestik mereka dengan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian hak asasi manusia internasional. Walaupun banyak studi kasus telah mendokumentasikan dampak prinsip-prinsip hak asasi manusia global dan aktor-aktor internasional yang mendukung prinsip-prinsip ini dalam praktik-praktik lokal. kami menerapkan metode analisis isi pada laporan tahunan hak asasi manusia dari Departemen Dalam Negeri Amerika SeriJURNAL HAM • Vol. seringkali mengubah arah dari “janji-janji kosong” pemerintah-perintah nasional yang ada di kepala mereka menjadi suatu “paradoks” global: yaitu perbaikan praktik-praktik hak asasi manusia. temuan kami menunjukkan bahwa walaupun institusinya lemah. Berdasarkan pada panduan pengkodean yang diberikan oleh Poe dan Tate (1994).tasi-argumentasi optimis yang dikemukakan oleh para ilmuwan hukum internasional dan konstruksivionis. Karena adanya tekanan kuat untuk meratifikasi perjanjian hak asasi manusia dan relatif rendahnya biaya ratifikasi. Aktor-aktor masyarakat sipil ini. Namun. Aktor-aktor masyarakat sipil pada dasarnya melakukan fungsi mekanisme penegakan yang sangat diperlukan tersebut. 2007 94 . 1976-1993. namun hanya sedikit yang telah mengkaji dampak kegiatan internasional di luar sistem perjanjian ini secara sistematis.

kami hanya melaporkan dua kategori saja untuk menunjukkan argumentasi kami sesederhana mungkin. dan yang pada saat yang bersamaan mempertimbangkan variasi dalam hal tingkatan ratifikasi perjanjian hak asasi manusia oleh negara dan hubungan dengan organisasi nonpemerintah internasional. 2007 Poe dan Mark Gibney atas data yang mereka berikan pada kami. mungkin tidak bisa digeneralisasi begitu saja. Dalam rangka melakukan hal tersebut. populasi.29 Kami mengintepretasikan tabel tersebut sebagai berikut. kami menggunakan dua coders dalam menganalisa isi dari setiap sumber dan menggunakan suatu nilai angka. Kami mengakui bahwa argumentasi institusional kami mungkin juga menawarkan pengaruh bagi beberapa jenis kebijakan negara yang dapat lebih dijelaskan – misalJURNAL HAM • Vol. kami menempatkan suatu nilai hak asasi manusia dengan skala lima. kami menggunakan prosedur statis yang dibahas secara detil dalam Long (1997) untuk menghitung probabilitas-probabilitas yang diperkirakan bahwa suatu negara rata-rata biasa diamati jarang menggunakan represi [prob(Y p 5FX)] dan menggunakan represi secara luas [prob(Y p 3FX)]. temuan-temuan kami mungkin tidak sama bagi semua negara secara signifikan dan. Bagi semua kasus negara dari 1994 sampai 1999. 95 . Mark Gibney dengan baik hati berbagi datanya (1980-2000) dengan kami. Oleh karena itu kami mencoba memahami apakah dampak yang telah diidentifikasi dalam analisa serial-waktu berlaku untuk jenis-jenis negara yang berbeda secara konsisten. perdagangan. pelaku represi yang jarang (Y p 5) – ketimbang untuk jenis-jenis yang lain – seperti misalnya pelaku represi yang luas (Y p 3). Guna menjamin konsistensi dengan metode pengkodean sebelumnya. otokrasi – ketimbang jenis lainnya – misalnya. kami mengartikan suatu negara “rata-rata” sebagai Negara yang memiliki nilai rata-rata GDP. dan kami menggunakan pihak ketiga untuk menyelesaikan persoalan ketidakkonsistenan antar coders. dan kami telah menggunakannya sebagai pengujian ketika pada pengkodean kami. kami mengukur probabilitas-probabilitas yang diperkirakan dari estimasi yang digambarkan di model 1 (tabel 3 di atas). didorong oleh pengalaman dari jenis negara tertentu. Konsistensi antar coder dicatat sekitar 90%. 28 Walaupun kami memperhitungkan probabilitasprobabilitas yang diperkirakan pada kelima kategori variabel dependen. Prediksi-prediksi ini merupakan alat yang berguna untuk memeriksa apakah argumentasi kami konsisten di seluruh kategori variabel dependen untuk jenis-jenis negara yang berbeda-beda. Baris dan kolom pertama menunjukkan bahwa suatu negara demokratis yang tidak meratifikasi satu pun perjanjian hak asasi manusia (0) dan tidak berhubungan dengan ma27 Kami mengucapkan terima kasih kepada Steven Probabilitas yang Diperkirakan (Predicted Probabilities) Dalam rangka membongkar temuantemuan empiris utama lebih jauh. demokrasi. yang awalnya diterapkan dalam Gastil (1980) dan digambarkan di bagian tentang data.27 LAMPIRAN B nya. dan praktik masa lalu.28 Tabel B1 melaporkan probabilitas-probabilitas yang diperkirakan (berdasarkan model dan data kami) yang kami amati dari negara demokratis rata-rata yang jarang menggunakan represi atau yang menggunakan represi secara luas. Analisis ini sangat bernilai karena sejumlah ilmuwan telah dengan benar menyatakan bahwa ratifikasi terhadap perjanjian dan hubungan dengan masyarakat sipil internasional mungkin memiliki dampak yang lebih besar bagi beberapa jenis pelanggaran hak asasi manusia tertentu – misalnya. 29 Untuk tujuan perhitungan atau kalkulasi. 4 • Th. Jika demikian.kat. Sejak saat itu.

syarakat sipil internasional (tidak satu pun) memiliki 21% kemungkinan melakukan tindakan represif secara meluas dan hanya 12% kemungkinan jarang melakukan tindakan represif. Ketika negara tersebut semakin banyak meratifikasi perjanjian hak asasi manusia (yang dijelaskan di tabel oleh pergeseran horisontal dari kiri ke kanan), negara tersebut secara bertahap lebih mungkin untuk melakukan tindakan represif secara meluas dan lebih kecil kemungkinannya untuk jarang melakukan tindakan represif. Ketika negara tersebut semakin berhubungan dengan masyarakat sipil internasional (yang dijelaskan di tabel oleh pergeseran vertikal dari atas ke bawah), negara tersebut secara bertahap lebih mungkin untuk melakukan tindakan represif secara meluas dan lebih kecil kemungkinannya untuk jarang melakukan tindakan represif. Probabilitas-probabibilitas ini mengijinkan kami untuk memeriksa besarnya pergeseran tersebut. Tabel B2 melaporkan probabilitas-probabilitas yang diperkirakan untuk negara otokratis rata-rata. Kami mengintepretasikan tabel tersebut dengan cara yang sama seperti tabel sebelumnya: suatu negara otokratis rata-rata yang diambil dari sampel yang tidak meratifikasi satu pun perjanjian hak asasi manusia (0) dan tidak berhubungan dengan masyarakat sipil internasional (tidak satu pun) memiliki 32% kemungkinan melakukan tindakan represif secara meluas dan hanya 6% kemungkinan jarang melakukan tindakan represif. Jika dilakukan pergeseran secara horisontal dalam baris tabel, dapat dilihat bahwa semakin banyak negara ini meratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional, maka semakin lebih mungkin negara melakukan praktik hak asasi manusia yang buruk. Jika dilakukan pergeseran secara vertikal dalam kolom tabel, dapat dilihat bahwa semakin banyak negara ini berhubungan dengan masyarakat sipil global,

maka semakin lebih mungkin perbaikan praktik hak asasi manusia di negara ini. Hasil ini menjelaskan tentang temuantemuan kami bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional terpisah secara radikal dari ketaatan negara terhadap norma-norma hak asasi manusia, namun hubungan dengan masyarakat sipil internasional memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia. Tabel B1 dan B2 membawa perhatian pada tiga aspek dari paradoks ini. Pertama, dampak negatif perjanjian hak asasi manusia lebih besar pada negaranegara yang melakukan tindakan represif secara meluas ketimbang pada negara-negara yang jarang melakukan tindakan represif. Negara-negara represif yang bergabung dalam rejim hak asasi manusia menjadi semakin represif ketika mereka meratifikasi lebih banyak perjanjian hak asasi manusia internasional. Bahkan dalam banyak kasus, tabel-tabel ini menunjukkan bahwa lebih dari 10% negara lebih mungkin menggunakan tindakan represif yang meluas ketika mereka telah meratifikasi keenam perjanjian hak asasi manusia ketimbang ketika mereka tidak meratifikasi satu pun perjanjian hak asasi manusia. Dampak negatif pada rejim yang nonrepresif, yang ditunjukkan dengan menurunnya probabilitas-probabilitas yang diperkirakan bagi kategori negara yang jarang melakukan tindakan represif, dimulai dari tiga sampai sembilan persen perubahan. Temuan semacam ini berguna untuk memverifikasi bahwa dampak yang telah kami identifikasi bersifat sangat besar. Kedua, dampak positif hubungan negara dengan masyarakat sipil internasional lebih besar pada perilaku hak asasi manusia negara-negara yang melakukan tindakan represif secara meluas ketimbang negara-negara yang jarang melakukan tindakan represif. Ketika negara-negara represif
JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

96

membuka perbatasan mereka dan mengijinkan warga negaranya untuk bergabung dengan semakin banyak organisasi nonpemerintah internasional, maka negaranegara ini akan lebih kecil kemungkinannya menggunakan tindakan represif. Dampak pada rejim yang represif adalah tujuh sampai sembilan persen, sedangkan dampak pada negara-negara nonrepresif mulai dari dua sampai enam persen. Ketiga, dengan mengherankan hasilhasil ini konsisten bagi negara-negara demokratis maupun otokrasi (tabel B1 dan tabel B2). Walaupun pemerintahan-pemerintahan demokratis lebih mungkin menghormati hak asasi manusia ketimbang pemerintahan-pemerintahan otokratis (dan oleh karenanya adalah negara-negara yang jarang melakukan tindakan represif), namun kedua jenis pemerintahan tersebut mengalami paradoks janji-janji kosong yang sama. Temuan ini mungkin tidak diperkirakan oleh mereka yang percaya bahwa pemerintahan demokratis lebih responsif terhadap hukum hak asasi manusia internasional ketimbang pemerintahan otokratis, dan hal ini mengarah pada dukungan lebih terhadap ide bahwa paradoks tersebut merupakan fenomena global yang nyata. LAMPIRAN C

Dampak dari Informasi
Dalam tabel C kami menyediakan data yang dikumpulkan untuk memeriksa kemungkinan bahwa temuan-temuan kami dipengaruhi oleh dampak dari informasi. Kami memilih 15 negara secara acak dari sampel yang ada dan memeriksa laporan Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat untuk memilih data dari tiga jangka waktu: tiga tahun sebelum ratifikasi, tahun ratifikasi, dan tiga tahun setelah ratifikasi. Untuk setiap jangka waktu, kami melaporkan jumlah total kata-kata yang ada dalam laporan hak asasi manusia tentang PenyikJURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

saan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, atau Merendahkan Martabat Manusia (Amnesty International, berbagai tahun), serta jenis informasi yang diberikan dalam laporan tersebut. Kami mempertimbangkan tiga kategori: (1) pelaporan yang luas, yang memberikan informasi detil mengenai individu tertentu yang disiksa, individu atau unit pemerintahan tertentu yang dituduh melakukan penyiksaan, atau kondisi-kondisi khusus penyiksaan seperti demonstrasi dan kerusuhan, serta pengesahan dan pelaksanaan peraturan perundang-undangan tentang hak asasi manusia, komisi hak asasi manusia, kebijakan tentang hak asasi manusia, dan program hak asasi manusia lainnya di tingkat nasional; (2) pelaporan menengah, yang memberikan informasi yang cukup detil mengenai individu yang mengalami penyiksaan ataupun yang dituduh melakukan penyiksaan, serta pengesahan dan pelaksanaan peraturan perundang-undangan tentang hak asasi manusia; dan (3) pelaporan yang terbatas, yang memberikan informasi berkaitan dengan peristiwa penyiksaan secara umum tanpa memberikan informasi secara detil mengenai individu tertentu yang mengalami penyiksaan, individu atau unit pemerintahan tertentu yang dituduh melakukan penyiksaan, atau kondisi-kondisi khusus penyiksaan seperti demonstrasi dan kerusuhan, serta pengesahan dan pelaksanaan peraturan perundang-undangan tentang hak asasi manusia, komisi hak asasi manusia, kebijakan tentang hak asasi manusia, dan program hak asasi manusia lainnya. Kami juga memberikan laporan tentang nilai variabel independen untuk setiap kasus. Hasil menunjukkan bahwa tidak ada hubungan sistematik yang dapat diamati antara ratifikasi negara terhadap CAT dengan panjang ataupun jenis informasi yang dilaporkan oleh sumber hak asasi manusia tahunan Departemen Dalam Negeri

97

Amerika Serikat yang kami gunakan untuk mengkodekan variabel dependen kami, walaupun negara-negara terkadang dilaporkan telah meningkatkan perilaku represif mereka setelah ratifikasi, sebagaimana telah kami prediksikan. Baik panjang maupun jenis informasi lebih berhubungan dengan tingkat represi ketimbang ratifikasi negara terhadap CAT: ketika pelanggaran negara terhadap hak asasi manusia sangat besar, maka laporan cenderung lebih panjang dan lebih detil. Ketika pemerintah

tidak melakukan tindakan represif, laporan menjadi lebih pendek, dan jenis informasi yang diberikan dengan demikian menjadi lebih terbatas. Percobaan ini menunjukkan bahwa perubahan dalam nilai praktik hak asasi manusia tidak bisa dikaitkan dengan peningkatan atau penurunan perhatian sebagai suatu hasil ratifikasi terhadap perjanjian dan lebih menekankan pada pentingnya paradoks yang kami temukan dalam analisa data kami.

DAFTAR PUSTAKA
Amnesty International. 1994. Amnesty International Report. London: Amnesty International Publications. –. Berbagai tahun. Amnesty International Report. London: Amnesty International Publications. Apodaca, Clair. 2001. “Global Economic Patterns and Personal Integrity Rights after the Cold War.” International Studies Quarterly 45:587–602. Beck, Nathaniel, and Jonathan N. Katz. 1995. “What To Do (and Not To Do) with–TimeSeries Cross-Section Data.”–American Political Science Review 89:634–50. Berkovitch, Nitza. 1999. From Motherhood to Citizenship: Women’s Rights and International Organizations. Baltimore: Johns Hopkins University Press. Boli, John, dan George M. Thomas, eds. 1999. Constructing World Culture: International Nongovernmental Organizations since 1875. Stanford, Calif.: Stanford University Press. Brunsson, Nils. 1989. The Organization of Hypocrisy: Talk, Decisions and Actions in Organizations. Crichester: John Wiley and Sons. Camp Keith, Linda. 1999. “The United Nations International Covenant on Civil and Political Rights: Does it Make a Difference in Human Rights Behavior?” Journal of Peace Research 36:95–118.

Chayes, Abram, dan Antonia Chayes. 1995. The New Sovereignty: Compliance With International Regulatory Agreements. Cambridge, Mass.: Harvard University Press. Chomsky, Noam, dan Edward S. Herman. 1979. The Political Economy of Human Rights: The Washington Connection and Third World Fascism. Boston: South End Press. Cingranelli, David, dan Thomas Pasquarello. 1985. “Human Rights Practices and the Distribution of U.S. Foreign Aid to Latin American Countries.” American Journal of Political Science 27:539–63. Clark, Ann Marie. 2001. Diplomacy of Conscience: Amnesty International and Changing Human Rights Norms. Princeton, N.J.: Princeton University Press. Cleveland, Sarah H. 2001. “Human Rights Sanctions and the World Trade Organization.” In Environment, Human Rights and International Trade, edited by F. Francioni. Portland, Ore.: Hart Publishing. Collins, Randall. 1992. Sociological Insight: An Introduction to Non-obvious Sociology. Edisi kedua. New York: Oxford University Press. Cottier, Thomas. 2002. “Trade and Human Rights: A Relationship toDiscover.” Journal of International Economic Law 5:111–32. Downs, George, David M. Rocke, dan Peter Barsoom. 1996. “Is the Good News about Compliance Good News for Cooperation?” International Organization 50:379–406. Durkheim, Emile. (1895) 1982. The Rules of Sociological Methods. New York: Free Press.

98

JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

After Hegemony. Martha. Human Rights. 2002. “Right or Robust? The Sensitive Nature of Government Repression in an Era of Globalization.” International Organization 50:325–47. 1999. N. 1999. Emilie. “Mechanisms of Social Influence and Regime Design in Human Rights Law: Toward a Sociological Theory of International Law. “Norms. Henkin. Ryan. How Nations Behave: Law and Foreign Policy. 2004. Sovereignty: Organized Hypocrisy. Princeton. –.” International Organization. Henderson.”—Social Science Quarterly74:322– 33. dan Jack Donnelly. 1989. Ithaca.” Journal of Peace Research 42(6). Cambridge: Cambridge University Press. Howard. “Dictatorships and Double Standards. Rules. New York: Columbia University Press. Keck.J. Katzenstein.–. “Population Pressures and Political Repression. August. Friedrich V. dan Ted Robert Gurr. Freedom in the World: Political Rights and Civil Liberties.: Princeton University Press. Princeton. Conway W. Keohane. 1998. 1996b. and Political Regimes. Keith. Baltimore: Johns Hopkins University Press.” Journal of Conflict Resolution 35:120–42. and World Politics: Insights from Sociology’s’ Institutionalism. 2005.: Cornell University Press. New York: Columbia University Press. 1979. “USA Refugee Policy: A Human Rights Analysis Update. Jetschke.” Makalah dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Sociological Association. N. The Evolution of International Human Rights: Visions Seen. Hafner-Burton.” Journal of Refugee Studies 5:33–46. Lauren.” Dalam The Power of Human Rights: International Norms and Domestic Change. “Trading Human Rights? How Preferential Trade Agreements Influence Government Repression. Louis. Raymond.” Duke Law Journal 54. Margaret E.Y.” Journal of Peace Research 32:469–82.” American Political Science Review 80:801–18. 1980. Norms. 1996. (1912) 1995. Hafner-Burton. 1998. Stephen D. dan John Meyer. Iwasawa. 1992. The Elementary Forms of Religious Life. dan Marc Vockell. Anja. ed. 1986. 1996a. Krasner. National Interest in International Society. Gibney. 1984. dan Kathryn Sikkink. New York: Cambridge University Press. 1979. Peter J. –. Goodman. San Francisco. Dalam cetakan. Vanessa Dalton. Ropp.Y. “Human Dignity. Kirkpatrick. 1993. Robert O. 1980. Activists Beyond Borders: Advocacy Networks in International Politics. ed.: Princeton University Press.” Commentary 68: 34–45. Hathaway.” Human Rights Quarterly 18: 131–79. and Decisions: On the Conditions of Practical and Legal Reasoning in International Relations and Domestic Affairs. Kratochwil.. diedit oleh Thomas Risse. 1986. Paul Gordon. Ithaca. 1991. N. 2007 99 .J. dan Derek Jinks. Rep. The Culture of National Security: Norms and Identity in World Politics. New York: Free Press. Culture. Yuji. Jaggers. 4 • Th. David. Finnemore.. Emilie. Rhoda. dan Kathryn Sikkink. Mark. Kiyoteru Tsutsui. Philadelphia: University of Pennsylvania Press. Gastil. 1995.: Cornell University Press. “Conditions Affecting the Use of Political Repression. “Even Bad States Do Good Things: International Human Rights Law and the Politics of Legitimation. “Legal Treatment of Koreans in Japan: The Impact of International Human Rights Law on Japanese Law. Rights Across Borders: Immigration and the Decline of Citizenship. Oona A. Jacobson.: Transaction Books.J. N. “Do Human Rights Treaties Make a Difference?” The Yale Law Journal 111:1935–2042. JURNAL HAM • Vol. N. “Tracking Democracy’s Third Wave with’the Polity III Data. 1998. Jeane. Dalam cetakan. Stephen C. New Brunswick. “Linking the Unlinkable? International Norms and Nationalism in Indonesia and the Philippines. –.

Meyer.: Sage Publications.” Human Rights Quarterly 9:405–13. Richard Scott. 2d ed. 1975. 1994/1995. “The Origins of Human Rights Regimes: Democratic Delegation in Postwar Europe. State Department and Amnesty International Human Rights Reports. J.. “The Institutional Dynamics of International Political Orders.pdf. 1994. Calif. Poe. dan Kathryn Sikkink. Ann Hironaka. D. Steven. dan Johan P. Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights. Connie L. McCormick. Moravcsik.” International Organization 54:633–59. Meyer. James G. 1999. 1987. “Repression of Human Rights to Personal Integrity in the 1980s: A Global Analysis. “Human Rights and the Allocation of U.” International Organization 52:943–69. 4 • Th.” Journal of Peace Research 28:205–16. Constructing the Nation-State: International Organization and Prescriptive Action. “Is U. McKinlay.. 1997. Rein. Mullerson.. Poe. Meyer..” International Security 19:5–49. JohnW.unhchr. Westport. Steven C. Neal Tate. Ellen L.. dan Nancy Brandon Tuma.” Human Rights Quarterly 18:368–97. 1870–1990.. Thomas. 1998. 1992. 1997. dan Aaron Benavot.Long. George M. dan Linda Camp Keith. The New Institutionalism in Organizational Analysis.” International Studies Quarterly 43:291–313. David Kamens. Beverly Hills. “The False Promise of International Institutions. 1996.” World Politics 40:476–98. David John Frank. John W. School Knowledge for the Masses: World Models and National Primary Curricular Categories in the Twentieth Century. Meyer. 100 JURNAL HAM • Vol. dan C. Meyer. John Boli. New York: Routledge. John J. dan A. dan W.” Comparative Politics 8:1–30. 1988. S. 1991. http://www. eds. Han S. Park. McNeely.” Human Rights Quarterly 23: 650–77.S. DiMaggio. “How Are These Pictures Different? A Quantitative Comparison of the U. Status of Ratifications of the Principal International Human Rights Treaties. “World Society and the Nation-State.. James M. Neil. dan Paul J. Steven C. Regression Models for Categorical and Limited Dependent Variables.S. 1977. dan Tanya C. “Human Rights and MNCs: Theory Versus Quantitative Analysis. dan James McCormick.” International Organization 51:514– 55. John W. Walter W. Sabine C. London: Falmer Press.. 1992. Ramirez. Calif.. –. “A Comparative Analysis of the Political and Economic Performance of Military and Civilian Regimes. 1995. Meyer. Neal Tate. Andrew.ch/pdf/ report. Scott.” American Journal of Sociology 103:144–81.S. Conn.. “International Human Rights Law and Practice in Latin America. R. Steven C. Chicago: University of Chicago Press.” American Journal of Sociology 83:340–63. 1976– 1995..” International Organization 54:217–52. “Taking Preferences Seriously: A Liberal Theory of International Politics. Thousand Oaks. William H. 1997. “Correlates of Human Rights: Global Tendencies. Mearsheimer. John W. “The Structuring of a World Environmental Regime. “Institutionalized Organizations: Formal Structure as Myth and Ceremony.: Greenwood Press. Evan Schofer. 1988. dan Brian Rowan. Vazquez. “Economic and Political Explanations of Human Rights Violations. John W. 2002. Human Rights Diplomacy.: Sage Publications.” The American Political Science Review 88:853–72. dan Francisco O. 2000.. Organizational Environments: Ritual and Rationality. Poe. Mitchell. Carey.” International Organization 51:623–51. 1991. 1997. Poe. Military Assistance. Olsen. Powell. “Repression of the Human Right to Personal Integrity Revisited: A Global Cross-National Study Covering the Years 1976–1993. Cohan. C. Aid Really Linked to Human Rights in Latin America?” American Journal of Political Science 32:231–39. 2001.. Lutz. March. 2000. dan Neil Mitchell. 1997. 2007 .

James. Kathleen. Calif. Calif. 2001. “Empirical Comparative Rights Research: Some Preliminary Tests of Development Hypotheses. “The Foreign Policy of Human Rights: Rhetoric and Reality from Jimmy Carter to Ronald Reagan. Ronald D. Baltimore: Johns Hopkins University Press. Yasemin. JURNAL HAM • Vol. George M. Francisco O. Stephen C. 2004.Wesley. 1979. Daniel C. 1890– 1970. David L.: Princeton University Press.” International Studies Quarterly 45:219–39. “Global Civil Society and Ethnic Social Movements in the Contemporary World. 1986.: Addison.” Pp. “Varying Methods of State Violence. Smith. Accommodation. 1976. Tsutsui. Oran R. Sacko. dan John Boli.Pritchard.” International Organization 51:275–301. “Global Human Rights and State Sovereignty: Nation-States’ Ratification of International Human Rights Treaties. August.. “Money with a Mean Streak? Foreign Economic Penetration and Government Respect for Human Rights in Developing Countries.” In Comparative Human Rights. The Helsinki Effect: International Norms. and the Individual. 2d ed.” Journal of Conflict Resolution 19:379– 416. Young. 1997. Melissa Bolyard.” Human Rights Quarterly 21:207–19. dan Kathryn Sikkink. Rasler. James C. Scott. dan Richard P. “War and Domestic Violence: The Case of the United States. 1999. dan Christine MinWotipka. 2000. 2001. Ron. W. 4 • Th. “War. Stohl. 2007 101 . Reading. The Power of Human Rights: International Norms and Domestic Change.” Sociological Forum 19:63–88. Meyer. Society. Ropp. 2001. New York: Cambridge University Press. “Human Rights and Development: Theory and Data. P. Michael. 2004. Thomas.: Sage Publications. London: Macmillan. Tsutsui. 1985. Baltimore: Johns Hopkins University Press. Michael. edited by R. 1979. Kiyoteru.” American Political Science Review 80:921– 45. Beverly Hills.. dan David H.– –. Gelleny.. Stohl. dan Anna Ippolito. Soysal.’1965– 1999. Mass. 329– 45 in Human Rights and Development: International Views. Theory of International Politics. N. Institutional Structure: Constituting State. and the Demise of Communism. Forsythe. Thomas. Claude.: Sage Publications. Kenneth. Richards. Anaheim. Chicago: University of Chicago Press. “Global Civil Society and the International Human Rights Movement: Citizen Participation in International Human Rights Nongovernmental Organizations. 1989.” Human Rights Quarterly 7:205–29. Claude. Limits of Citizenship: Migrants and Postnational Membership in Europe. 1994. Thomas. Compliance and Public Authority: A Theory with International Applications.” Paper presented at the annual meeting of the American Sociological–Association. 1999. “Human Rights and the Global Economy: A Response to Meyer. P. 1975. Thousand Oaks.” Social Forces 83:587–620. Human Rights.–Institutions and Organizations. Ramirez. Richard. Princeton. John W. Strouse. Karen. dan David Carleton.J. Kiyoteru. and Violence in the United States. 1890–1970. Waltz. edited by D. 1987. Jackie. Risse.

Namun demikian. Walaupun setiap perjanjian merupakan instrumen hukum yang terpisahpisah. Negara harus menerima semua perjanjian HAM internasional utama secara sistematis dan melaksanakan ketentuanketentuannya (ratifikasi universal dan efektif). walaupun ketentuan-ketentuan di setiap perjanjian merujuk secara spesifik pada “komite”nya. atau “badan perjanjian” yang memonitor pelaksanaan perjanjian oleh Negara-negara Pihak. Sosial. yang mana setiap Negara dapat memilih untuk menerima ataupun tidak menerimanya. buku ini menggambarkan tentang suatu “sistem perjanjian” HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). istilah “badan perjanjian” diadopsi untuk tujuan-tujuan berikut ini. Bagi mereka yang tertarik pada suatu perjanjian atau badan perjanjian tertentu dapat merujuk pada terbitan-terbitan tersebut. dan. Badan perjanjian membantu Negara-negara Pihak melakukan hal tersebut dengan memonitor pelaksanaannya dan merekomendasikan langkah-langkah selanjutnya. 102 . dengan tujuan untuk melihat sejauh mana mereka dapat berfungsi atau bekerja bersama sebagai suatu sistem yang menyatu. Social and Cultural Council/ECOSOC). dan Budaya (Economic. yang setiap lembar faktanya mencantumkan informasi mengenai badan perjanjiannya. Sejauh mana perjanjian dan badan perjanjian dapat bekerja bersama-sama sebagai suatu sistem tergantung pada dua faktor: pertama. melainkan dibentuk oleh resolusi Dewan Ekonomi. yaitu untuk menggambarkan setiap komite yang memonitor pelaksanaan perjanjian HAM. yang meninjau semua perjanjian dan badan perjanjian. Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (Office of the High Commissioner for Human Rights/OHCHR) telah menerbitkan lembar fakta yang spesifik mengenai ketujuh perjanjian utama. holistik.Lembar Fakta Perserikatan Bangsa-Bangsa No. Lembar fakta ini menggunakan pendekatan yang lebih umum. 30 Sistem Perjanjian Hak Asasi Manusia: Pengantar terhadap Perjanjian Hak Asasi Manusia Utama dan Badan-Badan Perjanjian Lembar Fakta ini merupakan suatu pengantar umum terhadap perjanjian dan komite internasional hak asasi manusia (HAM) utama. dan terintegrasi bagi pemajuan dan perlindungan HAM. dan Budaya (Committee on Economic. badan-badan perjanjian harus mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan mereka untuk menghasilkan suatu pendekatan yang konsisten dan sistematis terhadap monitoring pelaksanaan HAM di tingkat nasional. Sosial. 4 • Th. Bagian I menggambarkan tentang tujuh perjanjian HAM utama yang saat ini JURNAL HAM • Vol. Setiap Negara Pihak memiliki kewajiban untuk mengambil langkah-langkah yang menjamin bahwa setiap orang di Negara tersebut dapat menikmati hak-hak yang diatur dalam perjanjian.1 Tujuh perjanjian utama hak HAM menetapkan standar-standar internasional bagi perlindungan dan pemajuan HAM di mana Negara-negara dapat mendaftarkan diri menjadi pihak pada setiap perjanjian tersebut. Social and Cultural Rights/ CESCR) secara teknis bukan merupakan suatu badan perjanjian karena tidak secara langsung dibentuk berdasarkan Kovenannya. 2007 perjanjian sebagai “badan perjanjian” HAM telah diterima secara luas. dan walaupun setiap badan perjanjian merupakan suatu komite yang ter1 Penyebutan komite yang dibentuk berdasarkan diri dari para ahli yang independen dari komite-komite lainnya. Harus diperhatikan bahwa Komite Hak Ekonomi. kedua.

berlaku. BAGIAN I Membangun standar-standar HAM: perjanjian dan protokol opsionalnya Pada awal abad ke-20. baik di tingkat nasional maupun internasional. Selain itu juga didiskusikan tentang dampak penekanan baru atas pembentukan dan dukungan sistem perlindungan di tingkat nasional terhadap sistem perjanjian di tingkat internasional. dengan berfokus pada elemen-elemen yang serupa dalam mandat dan metode kerja mereka. Semua Negara memiliki komitmen untuk memajukan penghormatan bagi hak dan kebebasan yang dicantumkan dalam Deklarasi dan untuk mengambil langkah-langkah untuk menjamin pengakuan dan ketaatan terhadap hak dan kebebasan tersebut secara universal dan efektif. Upaya-upaya telah dilakukan oleh Liga Bangsa-Bangsa (LBB) yang dibentuk pada akhir Perang Dunia Kedua untuk membangun suatu kerangka hukum internasional guna melindungi kelompok minoritas. Badan perjanjian ini memonitor pelaksanaan hak-hak yang diatur dalam perjanjian tersebut oleh Negaranegara yang telah menerimanya. Termasuk di dalamnya. 4 • Th. khususnya melalui pengarusutamaan (streamlining) prosedur pelaporan Negara. Bagian III menggambarkan tentang tantangan-tantangan yang dihadapi oleh sistem perjanjian HAM. perlindungan HAM telah mulai berkembang sebagai suatu wacana penting bagi masyarakat internasional. upaya-upaya untuk meningkatkan efektivitas sistem. 103 . dan bahwa setiap hak harus ditekankan kepentingannya secara sama. Suatu glossary mengenai istilah-istilah teknis yang digunakan berkaitan dengan baik perjanjian-perjanjian maupun badanbadan perjanjian juga disediakan guna membantu pembaca dalam hal terminologi yang digunakan berkaitan dengan perjanjian-perjanjian dan badan-badan perjanjian. Semua badan perjanjian akan dipertimbangkan secara sama. Ketujuh perjanjian HAM menjelaskan lebih lanjut suatu kerangka hukum yang komprehensif di mana setiap Negara dapat memenuhi komitmennya dalam pemajuan dan perlindungan HAM secara universal dengan bantuan badanbadan perjanjian. Bagian II menjelaskan tentang pekerjaan tujuh badan perjanjian HAM yang dibentuk berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. termasuk mekanisme monitoring internasionalnya. 2007 DUHAM menyatakan dengan jelas bahwa semua HAM bersifat tidak terbagi (indivisible) dan saling berkaitan (interrelated). perbedaan-perbedaan dalam praktik dapat ditemukan di lembar fakta yang spesifik. mengenai pelaksanaan HAM di negara-negara mereka. dalam suatu dialog antarnegara yang bersifat keras tetapi konstruktif. Perjanjian-perjanjian ini merupakan produk lebih dari setengah abad elaborasi atau penjelasan yang berkesinambungan sejak adopsi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia atau DUHAM (Universal Declaration of Human Rights) dengan suara bulat oleh Majelis Umum PBB pada 1948. JURNAL HAM • Vol. Kekejaman dan ketakutan yang terjadi pada Perang Dunia Kedua telah memotivasi masyarakat internasional untuk berupaya menjamin bahwa kekejaman seperti itu tidak lagi terulang dan menyediakan daya pendorong bagi gerakan modern untuk membentuk suatu sistem perlindungan HAM internasional yang bersifat mengikat. Sistem badan perjanjian terdiri dari hal-hal utama yang wajib dilakukan oleh Negara-negara di forum internasional.

budaya. yaitu: “Semua manusia dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak yang sama”. telah menjadi aturan-aturan yang mengikat secara hukum melalui praktikpraktik di Negara-negara. 4 • Th. politik. Dokumen ini. walaupun Deklarasi bukan merupakan perjanjian yang mengikat secara hukum. 104 JURNAL HAM • Vol. dan John Humphrey. Pasal pertamanya dengan terkenal menggambarkan ide hak asasi manusia yang mendasar. Sebagaimana tercerminkan dalam namanya. Ini adalah norma-norma yang. dan sosial. Dengan de- mikian. Tidak hanya itu. yang diadopsi dalam bayang-bayang masa pelanggaran yang sedemikian masif terhadap hak-hak yang dicantumkan dalam dokumen tersebut. Pasal 22 sampai pasal 28 menjamin sejumlah hak ekonomi. 2007 . yang kemudian dikenal sebagai Hari Hak Asasi Manusia Internasional. Peng Chun Chang. ekonomi. maka untuk pertama kalinya Negara-negara berupaya mencari jalan untuk membuat suatu dokumen tunggal yang berisikan berbagai hak dan kebebasan mendasar yang dimiliki oleh setiap individu karena status mereka sebagai manusia. Hal ini merupakan suatu penekanan yang kemudian diafirmasikan kembali bertahun-bertahun kemudian pada Deklarasi Konferensi Dunia tentang Hak Asasi Manusia di Wina pada 1993. Apakah Deklarasi merupakan Hukum Kebiasaan? Telah diterima secara luas bahwa beberapa ketentuan dalam Deklarasi saat ini telah menjadi aturan dalam hukum kebiasaan internasional. menetapkan serangkaian hak yang mencakup semua aspek kehidupan. dan interdependensi semua hak tersebut. Dokumen ini memiliki kekuatan moral yang tinggi. Pasal 3 sampai pasal 21 menggambarkan hak sipil dan politik yang klasik (termasuk hak suaka dan hak atas kepemilikan). di mana hak dan kebebasan yang diatur dalam Deklarasi ini dapat diwujudkan sepenuhnya”. namun pentingnya dokumen ini tidak boleh diremehkan. bersama dengan tokoh-tokoh lain seperti Rene Cassin. yang digambarkan sebagai “suatu standar umum bagi pencapaian semua orang dan semua bangsa”. Setelah membuat suatu ketentuan umum mengenai diskriminasi. Deklarasi juga menyediakan secara tegas dasar bagi struktur perjanjian untuk ditegakkan di dekade-dekade berikutnya. walaupun tidak ditentukan dalam suatu perjanjian. kesaling-terkaitan. melalui penggambarannya yang komprehensif mengenai berbagai jenis hak. yang merepresentasikan sebagaimana disepakati untuk pertama kalinya secara internasional definisi hak-hak semua orang. Dengan dorongan yang kuat dari Elenor Roosevelt. yang diadopsi dengan suara bulat oleh Majelis Umum PBB pada 10 Desember 1948. Deklarasi menekankan pada kesatuan. Upaya ini telah menghasilkan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM). Deklarasi menyebutkan satu demi satu pengelompokan hak-hak secara spesifik: sipil.Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (1948) Piagam PBB 1945 memproklamasikan bahwa salah satu tujuan PBB adalah untuk memajukan dan mendorong penghormatan terhadap HAM dan kebebasan mendasar bagi semua orang. dengan pengakuan penting di pasal 28 bahwa “Setiap orang berhak atas ketertiban sosial dan internasional. beberapa komentator berkomentar bahwa keseluruhan Deklarasi ini memiliki status demikian. dan budaya. sosial. Charles Malik. Contohnya termasuk larangan terhadap penyiksaan dan diskriminasi rasial.

4 • Th. 2007 INSTRUMEN OP OP* Laporan Laporan Pengaduan Individual & penyelidikan SCP Kunjungan & Laporan Laporan OP2 OP SC KIHESB 1966 ICERD 1965 CEDAW 1979 CAT 1984 CRC 1989 KIHSP 1966 ICPMW 1990 OP AC PROTOKOL OPSIONAL OP1 Laporan Laporan Laporan Laporan Pengaduan Individu ECOSOC Pengaduan individual berdasarkan pasal 14 Pengaduan individual berdasarkan pasal 22 dan penyelidikan Pengaduan individual berdasarkan pasal 77 (belum berlaku) BADAN PERJANJIAN Komite Hak Ekonomi. Sosial dan Budaya Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial Komite Hak Asasi Manusia Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan Komite Menentang Penyiksaan Komite Hak Anak Komite Pekerja Migran 105 SCP = Subkomite Pencegahan *OPCAT belum berlaku .Sistem Perjanjian Hak Asasi Manusia PBB: menunjukkan perjanjian dan mandat badan perjanjian DEKLARASI UNIVERSAL HAK ASASI MANUSIA Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia JURNAL HAM • Vol.

kelahiran. atau lainnya. Bahasa.Nondiskriminasi dalam penikmatan hak asasi manusia Semua perjanjian hak asasi manusia utama mencerminkan prinsip umum yang diadopsi oleh Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia bahwa hak-hak yang diatur dalam perjanjian-perjanjian harus dapat dinikmati tanpa diskriminasi dalam bentuk apa pun. Daftar yang sama tercantum di pasal 2 dari kedua Kovenan Internasional. Hal ini mengarah pada negosiasi-negosiasi yang panjang di Komisi Hak Asasi Manusia. Konvensi juga menetapkan suatu rangkaian hak asasi manusia spesifik yang ekstensif – baik dalam bidang sipil dan politi serta ekonomi. Pasal 2 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia menentukan suatu daftar yang bersifat non-exhaustive mengenai dasar-dasar yang dilarang bagi diskriminasi: Ras atau warna kulit. termasuk dilakukannya propaganda ide-ide rasial yang dilakukan oleh kelompok-kelompok dan organisasi-organisasi. Konvensi juga mewajibkan untuk mengambil langkah-langkah yang selayaknya untuk mencegah diskriminasi rasial mengakar di masyarakat. yang melarang pembedaan berdasarkan ras. Selain kewajiban yang nyata bahwa Negara harus menahan diri dari tindakan-tindakan semacam itu di semua tingkatan. Mengingat pentingnya secara politis kebangkitan rejim apartheid di Afrika Selatan. Dua perjanjian. sosial. 2: Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial (1965) Ketika DUHAM diadopsi. Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial dan Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan dibuat secara spesifik untuk menghapuskan bentuk-bentuk khusus diskriminasi. dan budaya dan kebanyakan diantaranya disebutkan satu per satu dalam Deklarasi – yang harus dijamin tanpa pembedaan JURNAL HAM • Vol. Setelah mendefinisikan diskriminasi rasial. Jenis kelamin. 2007 106 . perjanjian pertama yang disepakati mengatur tentang fenomena khusus diskriminasi rasial: Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. Pendapat politik atau lainnya. yang secara langsung mengikat Negara-negara yang menyetujui ketentuanketentuan di dalamnya. keturunan serta asal usul kebangsaan dan etnis. Asal-usul kebangsaan atau sosial. warna kulit. 4 • Th. yang bertemu setiap tahunnya di Jenewa untuk membicarakan berbagai persoalan HAM. Status kepemilikan. yaitu diskriminasi rasial dan diskriminasi terhadap perempuan. Agama. yaitu suatu badan politik yang terdiri dari perwakilan Negara-negara. yang diadopsi oleh Majelis Umum pada Desember 1965. ada kesepakatan bersama bahwa hak-hak yang tercantum di dalamnya harus diterjemahkan pada bentuk legal sebagai perjanjian-perjanjian. Konvensi ini mengatur kewajiban Negara-negara Pihak secara detil untuk memerangi momok tersebut dalam enam pasal. Informasi lebih lanjut mengenai DUHAM dapat ditemukan di Lembar Fakta No. Perjanjian-perjanjian selanjutnya memperluas daftar tersebut lebih lanjut.

4 • Th. Berdasarkan pasal 14. 12: Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. Bagian I dari kedua Kovenan sama-sama menentukan tentang hak semua orang untuk menentukan nasibnya sendiri dan untuk secara bebas mengelola kekayaan dan sumber daya alamnya. Informasi lebih lanjut mengenai Konvensi ini dapat ditemukan di Lembar Fakta No. dan Budaya (KIHESB). Akhirnya. Negara-negara juga dapat memilih untuk mengakui kompetensi Komite untuk mempertimbangkan pengaduan dari individual (pasal 14). budaya atau bidang kehidupan masyarakat yang lain” (pasal 1) Bagian II Konvensi mewajibkan semua Negara Pihak untuk melapor kepada Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial secara berkala. yang dibentuk oleh Konvensi untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. dan politiknya. paragraf 1. Bersama dengan DUHAM. sional tentang Hak Sipil dan Politik (KIHSP) serta Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Namun. dengan menyatakan bahwa HAM yang ideal hanya bisa dicapai jika dibentuk kondisi-kondisi di mana setiap orang bisa menikmati hak ekonomi. atas dasar persamaan. Sosial. Bagian II dari kedua Kovenan mencantumkan ketentuan-ketentuan umum yang melarang diskriminasi (pasal 2 (1) Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik dan pasal 2 (2) Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. sipil. sosial. Pada awalnya. setelah diskusi yang panjang. ekonomi. negosiasi sedang berlanjut mengenai dua perjanjian utama: Kovenan Interna- JURNAL HAM • Vol. Kedua Kovenan memiliki struktur yang sama dan mengadopsi kata-kata yang sama atau serupa di beberapa pasal. kedua Kovenan ini dirujuk sebagai “Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia atau International Bill of Human Rights”. Proses pembuatan suatu instrumen yang mengikat secara hukum yang mengabadikan hak-hak yang ada dalam DUHAM telah dimulai segera setelah diadopsinya Deklarasi pada 1948. warna kulit. pencapaian atau pelaksanaan. pembatasan. dibayangkan adanya suatu kovenan tunggal yang mencakup semua HAM. keturunan atau kebangsaan atau suku bangsa. budaya. pengecualian.berdasarkan ras. baik melalui pengadilan ataupun institusi-institusi lainnya.2 Kedua Kovenan akhirnya diadopsi oleh Majelis Umum pada Desember 1966 dan mulai berlaku pada 1976. Sosial. 2 Resolusi 543 (V). sosial. Majelis Umum meminta Komisi Hak Asasi Manusia untuk membuat dua kovenan yang terpisah. 2007 107 . hak asasi manusia. dan kebebasan mendasar dalam bidang politik. yang meminta agar kedua instrumen tersebut sedapat mungkin memuat sebanyak mungkin ketentuan-ketentuan yang sama guna “menekankan kesatuan dari tujuan yang ada”. Konvensi juga menentukan perbaikan (remedy) yang efektif terhadap tindakan diskriminasi rasial sebagai suatu hak mendasar. Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia Pada saat yang sama dengan disepakatinya Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. yang mempunyai maksud atau dampak meniadakan atau merusak pengakuan. Apa yang dimaksud dengan diskriminasi rasial? “segala bentuk pembedaan. Bagian mukadimah atau pembukaan kedua instrumen mengakui kesalingtergantungan semua HAM. atau pengutamaan berdasarkan ras.

seperti halnya Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial. mengenai hak atas pendidikan. termasuk suatu forum yang mandiri dan imparsial di mana tuduhan-tuduhan terhadap pelanggaran-pelanggaran semacam itu bisa dimajukan. Protokol Opsional Pertama 1966 menyediakan hak atas pengaduan individual kepada Komite Hak Asasi Manusia. Informasi lebih lanjut mengenai Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik ini dapat ditemukan di Lembar Fakta No. mengijinkan Negara-negara untuk menerima kewajiban-kewajiban tambahan. dan perlindungan terhadap minoritas di pasal 27. Kovenan juga memuat suatu katalog yang panjang mengenai hak dan kebebasan sipil dan politik utama. yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam Kovenan. Dua protokol opsional tambahan pada Kovenan. Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. dan Budaya (1966) Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. dan menegaskan kesetaraan hak laki-laki dan perempuan (pasal 3 kedua Kovenan). Sosial. berkaitan dengan penikmatan hak-hak Kovenan sebagaimana juga pembatasan yang diijinkan terhadap penikmatan tersebut. Bagian IV dari Kovenan mewajibkan semua Negara untuk melapor secara berkala kepada Komite Hak Asasi Manusia. Sebagai tambahan terhadap pasal 2 (1) dan pasal 3 tentang nondiskriminasi (yang sama dengan di Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. seperti hak-hak tahanan di pasal 10. Bagian III dari setiap Kovenan memuat ketentuan-ketentuan yang substantif. 4 • Th. Sosial. 15: Komite Hak Asasi Manusia. misalnya. pasal 2 menyediakan hak atas perbaikan (remedy) efektif terhadap pelanggaran hakhak yang dijamin oleh Kovenan. adil dan berkala. yang menjelaskan lebih lanjut mengenai hak-hak yang tercantum dalam DUHAM. yang menentukan langkahlangkah yang harus diambil guna realisasinya secara penuh. yang menentukan kewajiban bagi pendidikan dasar yang bersifat wajib dan tersedia secara cuma-cuma serta untuk mengambil langkah-langkah guna mencapai pendidikan lanjutan dan pendidikan tinggi yang tersedia secara cuma-cuma. seperti halnya Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. dan Budaya meniru bahasa yang digunakan dalam DUHAM. membangun hak-hak yang sesuai dengan DUHAM dalam detil yang lebih lengkap. khususnya melalui pemilihan yang Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. dengan pengecualian hak atas kepemilikan dan hak suaka (yang dilindungi terpisah dalam Konvensi tentang Status Pengungsi pada 1951). Hak atas kesehatan yang dicakup oleh DUHAM sebagai suatu aspek dari standar kehidupan yang JURNAL HAM • Vol. 2007 108 . Kovenan ini juga memasukkan hak-hak tambahan. Sosial. Protokol Opsional Kedua 1989 memajukan penghapusan hukuman mati. dan Budaya. Sebagai tambahan. tetapi menyediakan dua pasal (pasal 13 dan pasal 14) bagi dimensi-dimensinya yang berbeda. Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (1966) Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik menjelaskan mengenai hak sipil dan politik yang tercantum dalam Deklarasi. Oleh karena itu. dan Budaya). Pasal 25 memuat jaminan terhadap hak politik: hak untuk mengambil bagian dalam urusan-urusan publik.dan Budaya). Sosial. pasal 26 menjamin kesetaraan di depan hukum dan nondiskriminasi atas perlindungan hukum yang pada umumnya diberlakukan di suatu Negara.

Kovenan juga menentukan suatu kewajiban segera (immediate obligation) untuk mengambil langkah-langkah yang disengaja. [. Pasal 6 mengenai hak atas pekerjaan dilengkapi oleh pasal 7 yang memuat ketentuan tentang hak atas kondisi kerja yang adil dan baik. dilarang di dalam kedua Kovenan. Konvensi mengadopsi suatu bentuk yang diperagakan dalam Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial. Konvensi ini memuat berbagai aspek kebijakan dan program dari persoalan-persoalan spesifik. pasal 15 (4). pasal 11 (2). tetapi Konvensi ini memuat sejumlah inovasi yang mencerminkan perkembangan selama lima belas tahun setelah 109 . Sosial. serta termasuk persoalan-persoalan spesifik yang berkaitan dengan kesehatan seperti kesehatan lingkungan serta penyakit-penyakit menular dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan. dengan maksud untuk mencapai secara bertahap perwujudan penuh dari hak-hak yang diakui dalam [Kovenan]”. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan mengatur secara detil mengenai apa yang dimaksud dengan pelarangan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin dari perspektif kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Informasi lebih lanjut mengenai Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi.layak. 16: Komite Hak Ekonomi. dan Budaya. 2007 batan-hambatan yang mungkin dihadapi oleh Negara-negara Pihak berkaitan dengan keterbatasan sumber daya. dan Budaya utama: Hak atas nondiskriminasi Hak atas pekerjaan Kondisi pekerjaan yang adil dan baik Hak-hak pekerja Hak atas jaminan sosial Perlindungan terhadap keluarga Hak atas standar kehidupan yang layak Hak atas kesehatan Hak atas pendidikan Hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan budaya Salah satu perbedaan yang terlihat diantara kedua Kovenan adalah prinsip pencapaian secara bertahap (progressive realization) di Bagian II dari Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. dan pasal 23) yang dibangun dari prinsip-prinsip di pasal 22 dan 28 DUHAM. dan Budaya.. Prinsip pencapaian secara bertahap mengakui hamJURNAL HAM • Vol. 4 • Th. dan pembayaran pada saat hari-hari libur umum. yang menjamin keselamatan dan kesehatan dalam pekerjaan. Namun demikian. pasal 22. kesetaraan dalam hal promosi ke jenjang yang lebih tinggi. Pasal 2 (1) menyatakan bahwa Negara Pihak “mengambil langkah-langkah. Sosial. Sosial. Diskriminasi berdasarkan jenis kelamin. seperti halnya diskriminasi rasial. Kovenan juga mengakui peran yang lebih luas dari masyarakat internasional (pasal 2 (1). Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (1979) Pada 1979 masyarakat internasional mengadopsi suatu perjanjian baru yang menangani fenomena khusus: diskriminasi terhadap perempuan atas dasar jenis kelamin. Sosial. dan bertarget yang mengarah pada perwujudan penuh hak-hak yang diatur dalam Kovenan. Hak Ekonomi..] sepanjang tersedia sumber dayanya. konkret. dalam Kovenan diberikan pasal tersendiri: pasal 12 yang mengakui hak atas standar tertinggi yang dapat dicapai dalam hal kesehatan fisik dan mental. dan Budaya ini dapat ditemukan di Lembar Fakta No. Namun demikian.

Pasal-pasal awal mewajibkan Negara-negara untuk menahan diri dari diskriminasi berdasarkan jenis kelamin dalam penyelenggaraan Negara dan mengambil langkah-langkah guna mencapai kesetaraan yang faktual dan legal dalam segala bidang kehidupan. atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan mendasar di bidang politik. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan memulai dengan mendefinisikan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin. Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam. Pasal 7 Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik memuat larangan terhadap penyiksaan dan perlakuan atau penghukuman yang kejam. 2007 110 . Pasal 9 dan pasal 10 memperluas konsep kesetaraan dalam hal kewarganegaraan dan pendidikan. atau lainnya oleh kaum perempuan” (pasal 1) Bagian V dari Konvensi mewajibkan semua Negara Pihak untuk melapor secara berkala kepada Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan. walaupun fenomena ini secara implisit dapat termasuk dalam pelarangan perbudakan dan kerja paksa yang termuat di instrumen lain. Pasal 6 secara eksplisit mewajibkan Negara-negara untuk memberangus segala bentuk perdagangan perempuan dan eksploitasi pelacuran. tidak manusiawi. pasal 14 adalah satu-satunya ketentuan dalam perjanjian-perjanjian yang menangani persoalan-persoalan khusus yang dihadapi oleh perempuan di daerah-daerah pedesaan. Seperti halnya Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. Pasal 15 dan pasal 16 memperluas hakhak atas kesetaraan di hadapan hukum serta dalam hal perkawinan dan hubungan keluarga. atau merendahkan martabat. pasal 12. sosial. sementara pasal 11. ekonomi. pengucilan atau pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin.Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial diadopsi. Dengan mengaplikasi prinsip-prinsip umum dalam suatu fenomena khusus. tetapi Konvensi yang memiliki nama yang sama dengan lebih lanjut membangun suatu skema hukum yang ditujukan baik untuk pelarangan maupun penghukuman JURNAL HAM • Vol. sipil. budaya. 4 • Th. yang berakibat atau atau bertujuan untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan. yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. atau Merendahkan Martabat (1984) Pada 1984 perjanjian lain diadopsi yang mengatur tentang suatu fenomena spesifik: penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi lainnya. Tidak Manusiawi. dan pasal 13 menjelaskan tentang hak-hak perempuan atas pekerjan. kesehatan. kebiasaan. dan praktik-praktik diskriminasi dalam masyarakat. Pasal 7 dan pasal 8 merinci kewajiban-kewajiban untuk menjamin partisipasi yang setara antara perempuan dan laki-laki dalam kehidupan publik dan politik. dan bidang-bidang lain dalam kehidupan ekonomi dan sosial. 22: Diskriminasi terhadap Perempuan: Konvensi dan Komite. Informasi lebih lanjut mengenai Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan ini dapat ditemukan di Lembar Fakta No. penikmatan. termasuk dengan memusnahkan perilaku. Apa yang dimaksud dengan diskriminasi terhadap perempuan? “pembedaan.

maka Negara tersebut memiliki yurisdiksi JURNAL HAM • Vol. Setelah mendefinisikan penyiksaan. tidak manusiawi atau merendahkan martabat agar tidak meningkat menjadi penyiksaan. termasuk perintah atasan. dengan persetujuan. yang – jika permintaan ekstradisi ditolak – maka negara lain tersebut harus melakukan proses hukum terhadap orang yang dituduh sebagai pelaku tersebut. Tujuan dari ketentuan-ketentuan ini adalah untuk menjamin bahwa tidak ada tempat bersembunyi bagi pelaku tindakantindakan yang dilarang oleh perjanjian. Yang secara dekat berkaitan dengan hal ini adalah pelarangan utama yang termuat dalam pasal 3 berkaitan dengan pengembalian atau ekstradisi “non-refoulment”: jika terdapat alasan yang kuat untuk percaya bahwa seorang individu akan mengalami penyiksaan di suatu negara. 4 • Th. Ketimbang memuat tentang “hak atas perbaikan (remedy) yang efektif” yang umum bagi pelanggaran-pelanggaran sebagaimana tercantum dalam perjanjian-perjanjian lain. bukti-bukti yang dikumpulkan melalui penyiksaan tidak boleh digunakan di pengadilan. deportasi.terhadap praktik-praktik tersebut. Negara tersebut dapat meminta ekstradisi terhadap orang yang dituduh sebagai pelaku dari negara lain. apabila rasa sakit dan penderitaan tersebut ditimbulkan oleh. atau mengancam atau memaksa orang itu atau orang ketiga. atau sepengetahuan pejabat pemerintah” (pasal 1). dengan kompensasi yang adil dan layak sebagaimana juga rehabilitasi penuh kepada korban penyiksaan. Kemudian. Bagian II dari Konvensi mewajibkan setiap Negara Pihak untuk melapor secara berkala kepada Komite Menentang Penyiksaan. Apa yang dimaksud dengan penyiksaan? “setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja sehingga menimbulkan rasa sakit atau penderitaan yang hebat. Konvensi menyatakan dengan jelas bahwa tidak ada kondisi apa pun. 2007 terhadap tindak pidana tersebut. Negara-negara juga dapat memilih menerima kompetensi Komite untuk mempertimbangkan pengaduan dari Negara-negara lain atau pengaduan individual. atau untuk suatu alasan yang didasarkan pada diskriminasi. yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam Konvensi. pada seseorang untuk memperoleh pengakuan atau keterangan dari orang itu atau dari orang ketiga. baik jasmani maupun rohani. Berdasarkan pasal 15. Negara Pihak harus mengkriminalisasi penyiksaan dan menghukumnya secara layak. atau yang warga negaranya terlibat sebagai pelaku atau korban. pasal 4 dan pasal 9 membentuk suatu skema di mana suatu Negara di mana penyiksaan telah terjadi. Konvensi Menentang Penyiksaan dalam pasal 12 sampai pasal 14 mengatur hak atas penyelidikan yang segera dan imparsial terhadap tuduhan terjadinya penyiksaan. Pasal 10 dan pasal 11 memuat tentang pendidikan bagi para penegak hukum dan peninjauan terhadap metode-metode mereka. dengan menghukumnya atas suatu perbuatan yang telah dilakukan atau diduga telah dilakukan oleh orang itu atau orang ketiga. dapat menjustifikasi suatu tindak penyiksaan – larangan ini bersifat absolut. Berdasarkan pasal 21 dan pasal 22. Ketika kebutuhan untuk menghukum penyiksaan mulai melintasi batas negara. Sebuah protokol opsional pada Konvensi disepakati pada 2002 dan akan mulai berlaku ketika telah diterima oleh 20 Ne- 111 . pasal 16 mewajibkan Negara-negara untuk mencegah perlakuan atau penghukuman yang kejam. maka orang tersebut tidak boleh diekstradisi. atas hasutan dari. atau dikembalikan ke negara tersebut.

2. perpisahan dari orang tua (pasal 9). 4 • Th. Pasal 22 menyebutkan mengenai situasi khusus anak-anak pengungsi. Pasal 23 mengatur secara khusus perawatan anak-anak penyandang cacat. Informasi lebih lanjut mengenai Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam.gara. perpindahan secara gelap (pasal 11). 112 JURNAL HAM • Vol. 3. dan Budaya menentukan bahwa anak-anak berhak atas langkah-langkah perlindungan khusus yang mereka butuhkan sebagai anak-anak. Konvensi Hak Anak mengatur langkahlangkah ini secara lebih detil. Sementara anak-anak. penjualan. Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat dapat ditemukan di Lembar Fakta No. Kepentingan terbaik bagi seorang anak: bahwa kepentingan terbaik bagi seorang anak harus menjadi pertimbangan utama dalam semua tindakan berkaitan dengan seorang anak (pasal 3). Protokol opsional ini menyediakan suatu sistem kunjungan berkala oleh badan-badan internasional dan nasional ke tempat-tempat penahanan dengan tujuan untuk mencegah penyiksaan dan perlakuan kejam lainnya. Nondiskriminasi: kewajiban Negara-negara untuk menghormati dan menjamin hak-hak yang diatur dalam Konvensi bagi setiap anak di wilayah yurisdiksi mereka tanpa diskriminasi dalam bentuk apa pun (pasal 2). dan adopsi (pasal 21). Mengakui kerentan- an khusus pada anak-anak. eksploitasi seksual (pasal 34). pernyataan kembali hak-hak ini dengan penekanan pada situasi-situasi khusus anak-anak dalam satu dokumen yang komprehensif memberikan suatu kesempatan untuk membentuk ketentuan-ketentuan tambahan yang relevan dengan anak-anak. Oleh karena itu. Konvensi Hak Anak (1989) Perjanjian pertama yang menangani secara komprehensif hak suatu kelompok khusus adalah Konvensi Hak Anak. perlindungan dari eksploitasi ekonomi (pasal 32). dan perdagangan anak-anak (pasal 35) secara eksplisit diatur dalam Konvensi ini. misalnya. ketentuan-ketentuan tertentu mencakup hak anak atas identitas (pasal 7 dan pasal 8). Empat “Prinsip-Prinsip Umum” bagi implementasi hak anak Komite Hak Anak telah mengidentifikasikan empat prinsip-prinsip umum yang termuat dalam Konvensi yang dapat memandu Negara-negara dalam melaksanakan hak anak: 1. serta penculikan. dan mewajiban mereka untuk tidak merekrut maupun menggunakan anak-anak di bawah usia 15 tahun. perlindungan dari penganiayaan (pasal 19). Baik pasal 24 dari Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik dan pasal 10 dari Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. sebagai prajurit dalam konflik. memang menikmati semua HAM yang diatur dalam perjanjian-perjanjian lain. sebagai manusia yang berusia kurang dari 18 tahun. 2007 . Sosial. jika dimungkinkan. 17: Komite Menentang Penyiksaan. Hak hidup. kelangsungan hidup. dan perkembangan: hak yang melekat pada seorang anak untuk hidup dan kewajiban Negara-negara Pihak untuk menjamin semaksimal mungkin kelangsungan hidup dan perkembangan anak (pasal 6). penyatuan kembali dengan keluarga (pasal 10). Pasal 38 menegaskan kembali kewajiban Negara-negara Pihak dalam konflik bersenjata berdasarkan hukum humaniter internasional. penyalahgunaan obat-obatan (pasal 33).

yang mengatur tentang hak-hak kelompok tertentu yang membutuhkan perlindungan: semua pekerja migran dan anggota keluarganya. kebebasan berpikir. Konvensi ini berlaku bagi seluruh proses migrasi. transit. kebebasan berserikat dan berkumpul dengan damai (pasal 15) dan privasi (pasal 16). apa pun status migrasi mereka. termasuk persiapan migrasi. Bagian II Konvensi mewajibkan semua Negara Pihak untuk melapor secara berkala kepada Komite Hak Anak. apa pun usia dan kematangan mereka. Konvensi diawali dengan laranganlarangan diskriminasi yang sudah dikenal terhadap penikmatan hak-hak dalam Konvensi. Konvensi mengikuti bahasa dalam Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. 4 • Th. berkeyakinan. dan. dan juga kesehatan (pasal 24). Persoalan keterlibatan anak-anak dalam konflik bersenjata. hak-hak tambahan pekerja migran dan keluarganya yang memiliki dokumen. anakanak memiliki hak penuh atas kebebasan berekspresi (pasal 13). diatur secara detil dalam dua protokol opsional Konvensi. 5 (CRC/GC/2003/5) Di luar ketentuan-ketentuan yang menegaskan hak anak dalam hal perlindungan. Konvensi Hak Anak juga menyediakan dasar baru dengan mengelaborasi perspektif anak-anak berkaitan dengan hak sipil dan politik klasik yang termuat dalam Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. 10: Hak Anak. serta standar kehidupan yang layak (pasal 27). kedua. serta penjualan anak. walaupun hak-hak ini juga memberikan kewajiban-kewajiban khusus kepada Negara-negara pengirim. dan budaya yang diatur dalam Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Konvensi Internasional tentang Perlindungan terhadap Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya (1990) Perjanjian HAM yang terbaru adalah Konvensi Pekerja Migran. Pendapat anak tentang situasinya sendiri: hak anak untuk mengungkapkan pendapatnya secara bebas “dalam semua hal yang mempengaruhi anak tersebut”. jaminan sosial (pasal 26). dan Budaya. Oleh karena itu. Dalam mendefinisikan hak sipil dan politik pekerja migran. serta saat kembali ke Negara asal atau Negara tempat tinggal asalnya. Sebagai tambahan. pelacuran anak. Konvensi kemudian diatur dalam dua bagian hak yang terpisah. Informasi lebih lanjut mengenai Kon- vensi Hak Anak dapat ditemukan di Lembar Fakta No. akses terhadap informasi (pasal 17).4. Beberapa pasal menyatakan kembali hak-hak yang dipertimbangkan dalam situasi khusus pekerja migran. semua pekerja migran dan anggota keluarganya. pertama. keberangkatan. yang dibentuk oleh Konvensi untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. misalnya. 2007 113 . yang diadopsi pada 2000. Sosial. dan beragama (pasal 14). lihat Komentar Umum Konvensi Hak Anak No. serta hak ekonomi. hak atas JURNAL HAM • Vol. Informasi lebih lanjut. seperti hak atas pemberitahuan konsuler berkaitan dengan penangkapan dan ketentuan-ketentuan khusus berkaitan dengan pelanggaran terhadap hukum migrasi dan pemusnahan dokumen-dokumen identitas serta larangan pengembalian secara kolektif. dan pronografi anak. dan keseluruhan masa tinggal dan kegiatan yang mendapatkan pembayaran di Negara yang mempekerjakan. sosial. Mayoritas hak-hak dalam Konvensi ini berkaitan dengan Negara penerima. pendapat tersebut harus menjadi pertimbangan : sesuai dengan usia dan kematangan anak” (pasal 12).

perjanjian yang terpisah-pisah. di luar keterlibatan mereka dalam sistem perjanjian HAM PBB. Hak-hak tambahan berlaku bagi pekerja-pekerja yang memiliki dokumen yang sah. berdasarkan prinsip-prinsip bersama tersebut. tetapi tergantung pada penikmatan semua hak lainnya. dengan sejumlah prinsip yang mengikat mereka bersama-sama. pekerja yang berpindah-pindah (itinerant). seperti Konvensi ILO 182 tentang pelarangan bentukbentuk terburuk pekerjaan anak. Ketimbang sebagai perjanjian- 114 . Pasal 76 dan pasal 77 juga menyediakan suatu hak atas pengaduan oleh Negara-negara Pihak lain atau pengaduan individu. Konvensi mendefinisikan hak ekonomi. Semua perjanjian tersebut. yang pada awalnya dilindungi dalam Deklarasi tetapi tidak termuat dalam Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. Ketujuh perjanjian PBB tidak dimaksudkan menjadi suatu katalog yang pasti mengenai kewajiban HAM suatu Negara. adalah penting untuk membaca seluruh perjanjian HAM di mana suatu Negara menjadi pihak sebagai suatu kesatuan. ketimbang sebagai obyek pasif dari keputusan-keputusan pihak berwenang. dan anak-anak pekerja migran memiliki hak dasar atas akses terhadap pendidikan apa pun status hukum mereka.kepemilikan. dapat memperluas lebih lanjut perlindungan yang ditawarkan kepada orang-orang dalam yurisdiksi Negara tersebut. dengan hasil bahwa tidak ada satu hak pun yang dapat dinikmati sepenuhnya jika terisolasi. atau KonJURNAL HAM • Vol. dan bagi kelompok pekerja migran tertentu seperti pekerja frontier. perjanjian-perjanjian lain. selama Negara Pihak menerima kompetensi Komite dalam hal tersebut. berdiri sendiri-sendiri. sebenarnya perjanjian-perjanjian tersebut saling melengkapi satu sama lain. Bagian VII dari Konvensi mewajibkan semua Negara Pihak melapor secara berkala kepada Komite Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. dan saling menguatkan. saling bergantung. setidaknya harus disediakan perawatan medis sebagaimana hal tersebut disediakan bagi seorang warga negara. Sebagai tambahan. Oleh karena itu. saling berkaitan. 4 • Th. secara spesifik disebutkan secara satu persatu bagi pekerja migran. Kebanyakan Negara. perlindungan efektif atas pelanggaran terhadap hak-hak. dan pekerja yang berbasis-proyek. perlindungan khusus bagi kelompok rentan tertentu. misalnya. Setiap perjanjian mencantumkan baik secara eksplisit maupun implisit prinsip-prinsip dasar nondiskriminasi dan kesetaraan. 2007 Membaca keseluruhan perjanjian sebagai suatu kesatuan Untuk sepenuhnya memahami kewajiban-kewajiban Negara berdasarkan perjanjian-perjanjian ini. Informasi lebih lanjut mengenai pekerja migran dan Konvensinya dapat ditemukan di Lembar Fakta No. Kesalingtergantungan ini adalah salah satu alasan untuk membuat suatu pendekatan yang lebih terkoordinasi oleh badan perjanjian HAM atas kegiatankegiatan mereka. pekerja musiman. termasuk Konvensi tentang Status Pengungsi dan Konvensi-konvensi ILO. dan pemahaman bahwa manusia adalah mahluk yang aktif dan merupakan partisipan yang terlibat dalam kehidupan publik dalam Negara di mana ia berlokasi dan dalam keputusan-keputusan yang mempengaruhinya. dan budaya pekerja migran dalam hal situasi khusus mereka. 24: Hak Pekerja Migran. sosial. yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. khususnya dengan mendorong Negara-negara untuk memandang pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam semua perjanjian tersebut sebagai bagian dari tujuan yang satu.

Ketika perjanjian pertama diadopsi. 4 • Th. Komite Hak Asasi Manusia (Committee on Human Rights/HRC) dibentuk pada 1976 untuk memonitor pelaksanaan Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. Apa yang dimaksud dengan badan-badan perjanjian? Ketujuh perjanjian HAM internasional utama menciptakan kewajiban hukum bagi Negara-negara Pihak untuk memajukan dan melindungi HAM di tingkat nasional. Sosial. dan Budaya (Committee on Economic. maupun suksesi. setiap JURNAL HAM • Vol. dan Budaya. Bagian II menjelaskan pekerjaan badan perjanjian tersebut dan mengapa pekerjaan mereka berkaitan dengan kehidupan orang-orang di seluruh dunia. melalui berbagai sarana. 2007 3. Sosial. memonitor pelaksanaan Konvensi Menentang Penyik- BAGIAN II Monitoring pelaksanaan standarstandar HAM: badan perjanjian Badan perjanjian adalah komite para ahli yang memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian HAM utama oleh Negara-negara Pihak. karena pengakuan terhadap hak-hak di atas kertas tidak cukup untuk menjamin bahwa hak-hak ini akan dapat dinikmati dalam praktiknya. yang memonitor pelaksanaan Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial sejak 1969. perjanjian membentuk suatu komite internasional yang terdiri dari ahli-ahli independen guna memonitor. merupakan instrumen-instrumen yang jelas-jelas memiliki dimensi HAM. aksesi. Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Committee on the Elimination of Discrimination against Women/ CEDAW) telah memonitor pelaksanaan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan oleh Negara-negara Pihaknya sejak 1982. 4.vensi ILO 169 tentang hak-hak masyarakat adat. Ketika suatu negara menerima salah satu dari perjanjian-perjanjian ini melalui ratifikasi. maka Negara tersebut memikul suatu kewajiban hukum untuk melaksanakan hak-hak yang diatur dalam perjanjian tersebut. Komite Hak Ekonomi. merupakan badan perjanjian pertama yang dibentuk. 2. 5. Oleh karenanya. Pelaksanaan ketujuh perjanjian hak asasi manusia utama dimonitor oleh tujuh badan monitoring perjanjian hak asasi manusia: 1. Tetapi hal ini hanya merupakan langkah pertama. Semua kewajiban hukum internasional ini harus dipertimbangkan bersama ketika mengevaluasi tanggung jawab suatu Negara untuk melindungi HAM. pelaksanaan dari ketentuan-ketentuannya. perjanjian tersebut mengakui bahwa Negara-negara Pihak membutuhkan dorongan dan bantuan dalam memenuhi penikmatan hak-hak yang diatur dalam perjanjian oleh setiap orang yang ada di Negara tersebut. Social and Cultural Rights/CESCR) dibentuk pada 1987 untuk melaksanakan mandat monitoring Dewan Ekonomi dan Sosial (ECOSOC) berdasarkan Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial (Committee on the Elimination of Racial Discrimination/CERD). 115 . Komite Menentang Penyiksaan (Committee against Torture/CAT). dibentuk pada 1987.

badanbadan perjanjian lainnya pada umumnya bertemua di Kantor Perserikatan BangsaBangsa di Jenewa. yang dinominasikan dan dipilih untuk jangka waktu empat tahun (tetap dan dapat diperbaharui) oleh negara-negara Pihak. 4 • Th. Komite Pekerja Migran (Committee on Migrant Workers/CMW) menyelenggarakan pertemuan pertamanya pada Maret 2004 dan akan memonitor pelaksanaan Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. dengan pengecualian CEDAW yang dilayani oleh Bagian Pengembangan Perempuan (Division for the Advancement of Women atau DAW) di New York. Badan-badan perjanjian mengeluarkan panduan guna membantu Negara-negara dalam persiapan pembuatan laporannya. mengelaborasi komentar umum yang mengintepretasikan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. Komite Hak Anak (Committee on the Rights of the Child atau CRC). namun tidak semua. Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat. serta menyelenggarakan diskusi tentang tema-tema yang berkaitan dengan perjanjian. 6. walaupun Komite Hak Asasi Manusia biasanya menyelenggarakan pertemuan bulan Maret-nya di New York. Beberapa badan perjanjian dapat mempertimbangkan pengaduan atau komunikasi individual yang mengadukan bahwa hak-hak mereka telah dilanggar oleh JURNAL HAM • Vol. sebagaimana juga kedua protokol opsionalnya yang berkaitan dengan tentara anak dan eksploitasi anak. Beberapa. badan perjanjian juga melaksanakan sejumlah fungsi tambahan yang ditujukan untuk memperkuat pelaksanaan perjanjian oleh Negara-negara Pihak. Komposisi badan-badan perjanjian CERD HRC CESCR CEDAW CAT CRC CRC CMW : : : : : : : : 18 anggota 18 anggota 18 anggota 23 anggota 10 anggota 18 anggota 18 anggota 10 anggota 7. Semua badan perjanjian menerima dukungan dari Perwakilan Perjanjian dan Komisi (Treaties and Commissions Branch) Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) di Jenewa. Semua badan perjanjian diberikan mandat untuk menerima dan mempertimbangkan laporanlaporan yang diserahkan secara berkala oleh Negara-negara Pihak yang memberikan secara detil pelaksanaan ketentuanketentuan dalam perjanjian di negara yang bersangkutan. CEDAW bertemu di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York. 2007 Setiap komite terdiri dari ahli-ahli independen (dengan jumlah anggota antara 10 sampai 23 orang) yang kompetensinya di bidang hak asasi manusia diakui.saan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam. Anggota-anggota dipilih untuk jangka waktu empat tahun. sejak 1990 telah memonitor pelaksanaan Konvensi Hak Anak oleh Negara-negara Pihaknya. 116 . Apa yang dilakukan oleh badan perjanjian? Badan perjanjian melaksanakan sejumlah fungsi yang ditujukan pada monitoring bagaimana perjanjian dilaksanakan oleh Negara-negara Pihak. Pemilihan bagi setengah dari jumlah anggota diselenggarakan setiap dua tahun sekali.

Walaupun ketujuh badan perjanjian dijelaskan bersama sebagai bagian dari suatu sistem koordinasi perjanjian.3 sar ini. 117 . Beberapa badan perjanjian juga dapat melakukan penyelidikan. adalah memonitor pelaksanaan perjanjian yang bersangkutan melalui peninjauan terhadap laporan-laporan yang diserahkan secara berkala oleh Negara-negara Pihak sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian tersebut. JURNAL HAM • Vol. badan-badan perjanjian membentuk praktik dan prosedur yang telah terbukti cukup efektif untuk menganalisa sejauh mana Negara telah memenuhi. dan mendorong lebih lanjut pelaksanaan. Pertimbangan terhadap laporan Negara Pihak oleh badan perjanjian Mandat utama badan-badan perjanjian. Ide monitoring HAM melalui peninjauan laporan ini berawal dari resolusi Dewan Ekonomi dan Sosial pada 1956 yang meminta Negara-negara Anggota PBB untuk menyerahkan laporan berkala mengenai perkembangan yang dibuat dalam rangka pemajuan HAM di negaranya masing-masing. Kewajiban Negara untuk melapor Sebagai tambahan kewajiban mereka untuk melaksanakan ketentuan substantif dalam perjanjian. Walaupun badan perjanjian melanjutkan upaya mereka untuk mengkoordinasikan kegiatannya. kewajiban mereka berdasarkan perjanjian HAM di mana mereka menjadi pihak. Berikut ini diuraikan mengenai elemen-elemen umum yang utama dari proses pertimbangan terhadap laporan-laporan Negara oleh badanbadan perjanjian. prosedur dan praktik dapat berbeda-beda antara satu komite dengan komite lainnya sebagai akibat variasi mandat setiap komite berdasarkan perjanjian dan protokol opsional yang berkaitan. 2007 4 E/Res/624 B (XXII). namun harus dicatat bahwa setiap badan perjanjian adalah suatu komite para ahli yang independen yang memiliki suatu mandat untuk memonitor pelaksanaan suatu perjanjian yang khusus. Berikut ini diuraikan mengenai kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh badan perjanjian sesuai dengan mandat individual mereka. 1 Agustus 1956. setiap Negara Pihak juga memiliki kewajiban untuk menyerahkan laporan secara berkala kepada badan perjanjian yang bersangkutan tentang bagaimana hak-hak telah dilaksanakan. dengan ketentuan bahwa Negara tersebut telah menerima prosedur ini. Dalam mandat menda- 3 Mereka yang tertarik pada prosedur yang seleng- kapnya dari suatu badan perjanjian disarankan untuk melihat lembar fakta bagi komite tersebut. dan setiap konvensi hak asasi manusia internasional utama setelah itu.suatu Negara Pihak. kedua Kovenan Internasional 1966. berlaku umum bagi semua komite.4 Model tersebut digunakan dalam Kovenan Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial 1965. 4 • Th.

dan juga harus menyebutkan faktor-faktor atau hambatan-hambatan yang JURNAL HAM • Vol. Pada umumnya. Sosial. dan yudisial yang diambil oleh Negara untuk memberikan dampak pada ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. perjanjian (biasanya antara empat sampai lima tahun) mengenai langkah-langkah lebih lanjut yang telah diambil guna melaksanakan perjanjian tersebut. 2007 Guna memenuhi kewajiban pelaporannya. laporan tersebut disyaratkan setiap empat tahun sekali. Sosial. + Pasal 41 dari Kovenan memberikan diskresi kepada Komite Hak Asasi Manusia untuk menentukan kapan laporan berkala harus diserahkan. dan Budaya* Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan Konvensi Menentang Penyiksaan Konvensi Hak Anak Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Penjualan Anak (CRC-OPSC) Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Tentara Anak (CRC-OPAC) Laporan awal dalam 1 tahun Laporan berkala setiap 2 tahun 2 tahun 1 tahun 1 tahun 1 tahun 2 tahun 1 tahun 5 tahun 4 tahun+ 4 tahun 4 tahun 5 tahun 5 tahun 2 tahun 5 tahun atau bersama dengan laporan CRC berikutnya 5 tahun atau bersama dengan laporan CRC berikutnya 2 tahun * Pasal 17 dari Kovenan tidak menentukan adanya pelaporan yang bersifat berkala. dan Budaya serta Konvensi Hak Anak). tetapi pasal ini memberikan Dewan Ekonomi dan Sosial diskresi untuk membuat program pelaporannya sendiri. 4 • Th. Laporanlaporan harus memuat langkah-langkah hukum. Laporan itu kemudian harus ditindaklanjuti dengan laporan berkala sesuai dengan ketentuan dalam 118 .Periode pelaporan berdasarkan perjanjian-perjanjian Perjanjian Kovenan Internasioanl tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. setiap Negara Pihak harus menyerahkan suatu laporan awal yang komprehensif biasanya satu tahun setelah perjanjian mulai diberlakukan di Negara tersebut (dua tahun dalam kasus Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. administratif.

JURNAL HAM • Vol. 2007 119 . Panduan-panduan ini dihasilkan dalam suatu dokumen kompilasi (HRI/GEN/3) yang diperbaharui secara berkala. 4 • Th. (b) Memonitor perkembangan yang dibuat dalam rangka pemajuan penikmatan hak-hak yang diatur dalam perjanjian dalam konteks pemajuan HAM secara umum. Bagaimana setiap badan perjanjian memeriksa laporan suatu Negara Pihak? Walaupun terdapat variasi dalam prosedur yang diadopsi oleh setiap komite dalam mempertimbangkan laporan suatu Negara Pihak. Penjelasan lebih lengkap mengenai tujuantujuan pelaporan dapat ditemukan di komentar umum Komite Hak Ekonomi. sistem pelaporan adalah suatu alat yang penting bagi suatu Negara dalam melakukan penilaian mengenai apa yang telah dicapai. guna memajukan dan melindungi HAM di negaranya. tahap-tahap mendasar berikut ini adalah umum bagi semua badan 5 Tujuan-tujuan ini diambil dari dokumen HRI/MC/ 2004/3. penilaian publik terhadap kebijakan-kebijakan dan program-program pemerintah. dan keterlibatan yang konstruktif dari masyarakat sipil yang dilakukan dalam semangat kerja sama dan saling menghormati di tingkat nasional. 1. (d) Menilai kebutuhan dan tujuan di masa mendatang bagi pelaksanaan perjanjian yang lebih efektif. tetapi juga sebagai suatu kesempatan untuk memeriksa kondisi perlindungan HAM di dalam yurisdiksi mereka dalam rangka perencanaan dan pelaksanaan kebijakan. beberapa menyerahkan laporannya terlebih dahulu kepada parlemen untuk dikritisi sebelum akhirnya diserahkan kepada Sekretaris Jenderal PBB guna dipertimbangkan oleh badan perjanjian yang bersangkutan. Proses persiapan pembuatan laporan menawarkan suatu kesempatan bagi setiap Negara Pihak untuk: (a) Melakukan peninjauan yang komprehensif mengenai langkah-langkah yang telah diambil untuk mengharmonisasikan hukum dan kebijakan nasional dengan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian HAM yang bersangkutan di mana Negara tersebut menjadi pihak. dan Budaya No.dihadapi dalam melaksanakan hak-hak tersebut. dan apa yang harus dilakukan lebih lanjut.5 Dilihat dari hal tersebut. Tujuan pelaporan Negara-negara Pihak didorong untuk melihat proses persiapan pembuatan laporan mereka bagi badan perjanjian. tidak hanya sebagai suatu pemenuhan kewajiban internasional. (c) Mengidentifikasi persoalan dan kegagalan dalam pendekatannya untuk melaksanakan perjanjian. setiap badan perjanjian mengeluarkan panduan mengenai bentuk dan isi laporan Negara. dengan tujuan untuk memajukan penikmatan semua hak yang dilindungi oleh konvensi yang bersangkutan. Dalam rangka menjamin bahwa laporan memuat informasi yang cukup bagi komite agar dapat melaksanakan pekerjaannya. Badan-badan perjanjian saat ini sedang dalam proses menyiapkan suatu draft panduan yang terharmonisasi dalam pelaporan berdasarkan perjanjian HAM internasional. Beberapa Negara memasukkan komentar dan kritik dari organisasi nonpemerintah dalam laporan mereka. Proses pelaporan harus mendorong dan memfasilitasi partisipasi publik. dan (e) Merencanakan dan membentuk kebijakan yang lebih layak guna mencapai tujuan-tujuan tersebut. Sosial.

Konvensi Hak Anak. dan Budaya) dan berulang sesuai dengan periodenya: setiap dua tahun untuk Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. termasuk rekomendasi 3. 120 JURNAL HAM • Vol. Sosial. Siklus pelaporan berdasarkan perjanjian hak asasi manusia 1. Negara Pihak dapat menyerahkan jawaban tertulis terhadap daftar persoalan dan pertanyaan 4. Dialog konstruktif antara Komite dan delegasi Negara Pihak pada saat pertemuan Siklus dimulai satu tahun setelah perjanjian mulai diberlakukan (dua tahun untuk Konvensi Hak Anak dan Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. yang dapat diakses dari situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR). dan Budaya. Badan perjanjian memberikan daftar persoalan dan pertanyaan kepada Negara Pihak berdasarkan persoalan yang ditimbulkan oleh laporan Kesempatan bagi masukan dari sistem PBB. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan.perjanjian. dan Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. Negara Pihak menyerahkan laporannya 6. Sosial. dan Konvensi Menentang Penyiksaan. 2007 . dan setiap lima tahun untuk Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Keba- nyakan komite juga menyebutkan metode kerja mereka dalam laporan tahunannya. dan LSM 5. setiap empat tahun untuk Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. komisi nasional. Informasi yang lebih lengkap mengenai prosedur badan perjanjian tertentu dapat ditemukan di lembar fakta yang berkaitan dengan komite tersebut. Prosedur tindak lanjut pelaksanaan rekomendasi badan perjanjian 2. 4 • Th. Badan perjanjian mengeluarkan kesimpulan pengamatannya mengenai laporan.

Akan terdapat banyak variasi bentuk laporan. Penyerahan laporan awal Laporan harus diserahkan kepada Sekretaris Jenderal dalam salah satu dari enam bahasa resmi PBB. Mungkin saja terdapat penundaan sebelum suatu laporan dapat dipertimbangkan. komite membuat suatu daftar persoalan dan pertanyaan. Guna menghindari Negaranegara harus mengulang-ulang informasi yang sama di setiap laporan. Kebanyakan komite mencoba untuk memberikan prioritas pada laporan awal atau laporan dari Negara-negara yang tidak melaporkan dalam jangka waktu yang lama. Daftar persoalan menyediakan suatu kesempatan kepada komite untuk meminta informasi tambahan dari Negara Pihak yang mungkin tidak dimasukkan dalam laporannya atau yang dipandang perlu oleh anggota komite guna menilai negara tersebut berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian di negara yang bersangkutan. karena beberapa badan perjanjian menghadapi backlog sampai dua tahun masa laporan yang menunggu untuk dipertimbangkan. dan lain-lain – dicantumkan dalam laporan Negara-negara kepada badan perjanjian yang berkaitan dengan semua perjanjian. 4 • Th. pada 1991 badan-badan perjanjian memutuskan mengijinkan Negara untuk menyerahkan suatu “dokumen inti/utama” yang membentuk laporan awal yang sama bagi setiap laporan badan perjanjian mana pun. laporan dijadwalkan untuk pertimbangan komite pada salah satu pertemuan berkalanya. Daftar persoalan juga mengijinkan komite untuk memulai proses pengajuan pertanyaan kepada Negara Pihak secara lebih detil mengenai persoalanpersoalan khusus yang muncul dalam laporan yang menjadi perhatian utama para anggota komite. Banyak Negara Pihak menganggap bahwa daftar persoalan dapat menjadi panduan yang berguna bagi kemungkinan adanya pertanyaan-pertanyaan yang muncul ketika laporan mereka dipertimbangkan secara formal. informatif. JURNAL HAM • Vol. yang diserahkan kepada Negara Pihak. yang menimbulkan pertanyaan apakah harus diberlakukan pembatasan jumlah halaman. Banyak laporan bentuknya panjang. 2007 121 . Daftar persoalan dan pertanyaan Sebelum pertemuan di mana komite akan mempertimbangkan laporan secara formal. Hal ini mengijinkan delegasi Negara Pihak untuk mempersiapkan diri dan membuat dialog antara Negara Pihak dengan komite menjadi lebih konstruktif. dan konkret. tetapi Negara-negara harus memastikan bahw ainformasi di dokumen inti/utamanya sudah ter-up-to-date atau mereka harus menyerahkan laporan yang baru. Badan-badan perjanjian saat ini sedang mempertimbangkan suatu proposal untuk memperluas ruang lingkup dokumen inti/utama mengenai informasi tentang hak-hak substantif yang relevan dengan lebih dari satu perjanjian. Laporan tersebut akan diproses oleh Sekretariat. dan diterjemahkan ke bahasabahasa kerja komite. sistem konstitusi dan hukumnya. Pada saat diproses. Apa yang dimaksud dengan dokumen inti/utama? Beberapa informasi – fakta-fakta mendasar dan statistik tentang negara. Hal ini membantu mengurangi volume laporan Negara-ne2.1. gara.

bahasa Perancis (F). Kebanyakan komite menunjuk salah seorang dari anggotanya untuk bertindak sebagai pelapor negara (country rapporteur) untuk memimpin pembuatan daftar persoalan untuk suatu negara tertentu. daftar persoalan dibuat baik dalam kelompok kerja prapertemuan yang diselenggarakan segera sebelum atau setelah suatu sesi pertemuan berkala atau pada saat pertemuan-pertemuan pleno. organisasi antarpemerintah lainnya. Sejumlah perjanjian menyediakan suatu peran khusus bagi badan-badan PBB tertentu dalam proses pertimJURNAL HAM • Vol. Komite Hak Asasi Manusia dan Komite Hak Anak: E. dan sangat penting ketika terdapat penundaan yang cukup panjang antara tanggal laporan asli diserahkan dan tanggal ketika komite akhirnya dapat mempertimbangkan laporan tersebut secara formal. 4. Lima komite juga mengadopsi sejumlah kecil bahasa kerja sebagai berikut: Komite Hak Ekonomi. 3. Berdasarkan semua informasi yang tersedia. E. bahasa Rusia (R). R & S. persoalan-persoalan yang dimunculkan oleh organisasi-organisasi ini dapat dimasukkan dalam daftar persoalan atau menginformasikan pertanyaan yang diajukan oleh anggota-anggota ketika bertemu dengan delagasi Negara. Tergantung pada kapan informasi tersebut diserahkan. organisasi nonpemerintah (baik internasional maupun nasional). Sumber-sumber informasi lain yang tersedia bagi komite Sebagai tambahan terhadap laporan Negara Pihak. komite memeriksa suatu laporan. Tanggapan tertulis akan menjadi suplemen atau lampiran pada laporannya. F. Dokumen-dokumen komite pada umumnya hanya diterjemahkan ke bahasa kerja. Badan-badan perjanjian telah mengadopsi semua bahasa tersebut sebagai bahasa resmi mereka. R &S. dan Komite Menentang Penyiksaan tidak menggunakan bahasa Arab dan bahasa Cina. 4 • Th. dan Budaya: A. bahasa Inggris (E). dan media massa. Tergantung pada badan perjanjiannya. F & S. bahasa Cina (C). R. kecuali jika komite secara terbuka memutuskan bahwa suatu dokumen harus disediakan dalam semua bahasa resmi. Sosial. 2007 122 . dan bahasa Spanyol (S).Bahasa resmi dan bahasa kerja Bahasa resmi Perserikatan BangsaBangsa adalah bahasa Arab (A). institusi-institusi akademis. kecuali Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial yang tidak menggunakan bahasa Arab. badan perjanjian dapat menerima informasi mengenai situasi HAM di suatu negara dari sumbersumber lain. termasuk badan-badan PBB. Daftar persoalan dibuat sebelum sesi pertemuan di mana laporan akan dipertimbangkan. Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dan Komite Menentang Penyiksaan: E. Tanggapan tertulis terhadap daftar persoalan Seringkali Negara Pihak dapat memberikan tanggapan terhadap daftar persoalan dan pertanyaannya dalam bentuk tertulis. Kebanyakan komite mengalokasikan waktu di pertemuan plenonya untuk melakukan dengar pendapat dengan badan-badan PBB dan kebanyakan juga menerima organisasi nonpemerintah.

Negara tidak diwajibkan mengirimkan delegasi untuk menghadiri sesi pertemuan. sementara badan perjanjian lainnya membutuhkan kehadiran delegasi. Pelaksanaan kesimpulan pengamatan dan penyerahan laporan berkala berikutnya 123 . 7.bangan terhadap laporan-laporan. Pertimbangan formal terhadap laporan: dialog konstruktif antara badan perjanjian dengan Negara Pihak Semua badan perjanjian telah membangun praktik. Kesimpulan pengamatan dan rekomendasi Pemeriksaan terhadap laporan mencapai puncaknya pada adopsi “kesimpulan pengamatan atau concluding observation” (disebut sebagai “komentar kesimpulan atau“concluding comment” oleh beberapa komite) dimaksudkan untuk memberikan nasihat praktis kepada Negara yang melaporkan dan mendorong langkah-langkah lebih lanjut dalam melaksanakan hak-hak yang tercantum dalam perjanjian. Pasal 74 dari Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya juga memungkinkan partisipasi Kantor/Organisasi Buruh Internasional (International Labour Office/Organization atau ILO). Negaranegara diminta untuk mempublikasikan concluding observation di negaranya guna menginformasikan pada debat publik mengenai bagaimana cara bergerak maju dalam pelaksanaan HAM. tetapi juga mengidentifikasi bidang-bidang yang membutuhkan tindakan lebih lanjut guna mengefektifkan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. 2007 diakan dorongan dan nasihat kepada Negara-negara. 6. Gagasan mengenai dialog yang konstruktif mencerminkan kenyataan bahwa badan-badan perjanjian bukan merupakan badan yudisial. Badan perjanjian mencoba membuat rekomendasinya se-konkret dan se-praktis mungkin. Dalam concluding observation-nya. Pasal 45 Konvensi Hak Anak secara spesifik menyebutkan peran Dana Bantuan Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Children’s Fund atau UNICEF). mengundang Negara-negara Pihak untuk mengirimkan delegasinya untuk menghadiri pertemuan di mana komite mempertimbangkan laporannya guna mengijinkan mereka menanggapi pertanyaan anggota komite dan menyediakan informasi tambahan mengenai upaya mereka untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian yang bersangkutan. Prosedur ini tidak bertentangan dan komite tidak melakukan penilaian mengenai Negara Pihak berdasarkan prosedur ini. walaupun mereka didorong untuk melakukannya. badan perjanjian mengakui langkahlangkah positif yang telah diambil oelh Negara. Tujuannya adalah untuk terlibat dalam suatu dialog konstruktif guna membantu Pemerintah dalam upayanya melaksanakan perjanjian secara penuh dan seefektif mungkin. tetapi diciptakan untuk memonitor pelaksanaan perjanjian serta menyeJURNAL HAM • Vol. 4 • Th. bersama dengan badan-badan PBB lainnya. Beberapa badan perjanjian dapat melanjutkan pertimbangan terhadap laporan suatu Negara Pihak walaupun tanpa kehadiran delegasi dari Negara tersebut. yang dimulai oleh Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. 5.

Dua lokakarya berfokus pada concluding observations Komite Hak Anak telah diselenggarakan di Damaskus. Thailand. Laporan berkala pada umumnya tidak sepanjang dan se-komprehensif laporan awal. Sebuah elemen penting dalam laporan berkala adalah pelaporan kembali kepada komite mengenai langkah-langkah yang telah diambil oleh Negara Pihak berkaitan dengan pelaksanaan rekomendasi badan perjanjian dalam concluding observation di laporan sebelumnya. bahwa ketentuan-ketentuan dalam suatu perjanjian tidak sepenuhnya bisa dilaksanakan. Beberapa komite menyebutkan dalam concluding observations-nya agar Negara melaporkan kembali ke negaranya atau menindaklanjuti pelapor (rapporteur) dalam jangka waktu yang disepakati mengenai langkah-langkah yang diambil sebagai tanggapan terhadap rekomendasi spesifik atau “keprihatinan utama”. badan perjanjian telah mulai memperkenalkan prosedur guna menjamin tindak lanjut yang efektif terhadap concluding observationsnya. Dalam rangka membantu Negara dalam melaksanakan rekomendasinya. Ekuador pada Agustus 2002 mengenai concluding observations Komite Hak Asasi Manusia. Negara diminta untuk menyerahkan laporan lebih lanjut kepada badan perjanjian dalam jangka waktu tertentu. dan komite telah terbukti berhasil dalam mengangkat persoalan berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian di banyak Negara. Lokakarya-lokakarya lebih lanjut sedang dalam tahap persiapan untuk badan-badan perjanjian lainnya. yang membawa siklus pelaporan ke titik awalnya. maka proses pelaksanaan hak-hak yang termuat dalam perjanjian membutuhkan upaya-upaya berkelanjutan dari Negara-negara. kebanyakan Negara memperhatikan dengan serius proses pelaporan ini. telah diselenggarakan di sejumlah negara guna membangun dialog bagi tindak lanjut concluding observations. Lokakarya pertama diselenggarakan di Quito. 4 • Th. Beberapa anggota badan perjanjian telah melakukan kunjungan ke negara-ne- 124 JURNAL HAM • Vol. Setelah penyerahan laporan awal. sebagaimana juga perwakilan komisi-komisi nasional hak asasi manusia. Hal ini disebut sebagai “laporan berkala”.Adopsi concluding observation oleh komite mengakhiri pertimbangan formal terhadap laporan. dan oleh karenanya dapat dinyatakan. Republik Arab Syria. Pentingnya tindak lanjut terhadap rekomendasi badan perjanjian Badan perjanjian tidak memiliki sarana untuk menegakkan rekomendasi mereka. Rapporteur kemudian melaporkan kembali kepada komite. tetapi prosesnya tidak berhenti di situ. organisasi nonpemerintah. pengadilan. tetapi harus memuat semua informasi yang dibutuhkan oleh komite untuk melanjutkan pekerjaan monitoringnya terhadap kelanjutan pelaksanaan perjanjian di negara yang bersangkutan. Namun demikian. Lokakarya tindak lanjut Lokakarya regional yang melibatkan perwakilan Negara-negara yang laporannya baru saja dipertimbangkan oleh suatu badan perjanjian. dan badan-badan lainnya yang tertarik dengan hal ini. Laporan-laporan dari lokakarya ini tersedia di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR). Karena disadari. 2007 . dan di Bangkok.

“Prosedur Peninjauan” – pertimbangan terhadap pelaksanaan di suatu negara jika tidak terdapat laporan Berdasarkan prosedur ini. Prosedur peninjauan hanya digunakan untuk kasus-kasus istimewa. Negaranegara juga harus membuat respon terhadap daftar persoalan dan mempersiapkan diri untuk menghadiri pertemuan badan perjanjian. dalam banyak kasus. dan telah berupaya mencari cara-cara memfasilitasi tugas ini (lihat Bagian III di bawah). dalam hal Negara telah gagal melaporkan dalam jangka waktu yang panjang JURNAL HAM • Vol. yang diundang untuk mengirim delegasinya guna menghadiri pertemuan. 2007 dan tidak merespon permintaan komite untuk melapor. Negara-negara dapat meminta bantuan teknis dari Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) dan Divisi Pengembangan Perempuan (DAW) ketika mereka menghadapi kesulitan tertentu. Namun demikian. termasuk rekomendasi. komite akan mengeluarkan concluding observations-nya. Hal ini menjadi beban yang sangat besar. atau bahkan dalam beberapa kasus gagal melaporkan. maka kewajiban untuk melapor adalah kewajiban hukum internasional yang dipilih oleh Negara secara bebas. Informasi dapat diterima dari rekanan PBB dan organisasi nonpemerintah serta. pemberitahuan oleh komite bahwa komite berniat untuk mempertimbangkan situasi di suatu negara tanpa adanya suatu laporan adalah cukup untuk mendorong Negara Pihak agar membuat laporan dalam jangka waktu yang pendek. sebagaimana kewajiban-kewajiban lainnya yang muncul dari ratifikasi terhadap perjanjian internasional. untuk menindaklanjuti laporan dan pelaksanaan concluding observations. Negara yang telah meratifikasi ketujuh perjanjian HAM utama diharapkan membuat lebih dari 20 laporan HAM dalam jangka waktu 10 tahun: berarti satu setiap enam bulannya. Badan perjanjian mencoba mendorong Negara-negara untuk melaporkan dengan tepat waktu. 125 .gara. 4 • Th. Komite dapat membuat daftar persoalan dan pertanyaan untuk Negara Pihak. sehingga mungkin tidak mengherankan jika Negara-negara seringkali terlambat dalam jadwal pelaporan mereka. Badan perjanjian mengakui kesulitan yang dihadapi oleh banyak Negara dalam memenuhi kewajiban pelaporan mereka. serta kemudian mungkin harus menyerahkan laporan lebih lanjut mengenai tindak lanjut terhadap concluding observations. atas undangan Negara Pihak. berdasarkan informasi tersebut dan dialog dengan Negara Pihak. Apa yang terjadi jika Negara tidak melapor? Pelaporan pada badan perjanjian dapat dianggap sebagai suatu tantangan oleh Negara-negara Pihak. Peninjauan dapat dilanjutkan bahkan jika Negara Pihak menolak mengirimkan delegasi ke pertemuan. komite yang bersangkutan dapat melanjutkan dengan pemeriksaan kondisi pelaksanaan perjanjian yang bersangkutan oleh Negara Pihak walaupun belum ada satu pun laporan Negara yang diterima. Tetapi. maka badan perjanjian telah mengadopsi prosedur untuk mempertimbangkan situasi di suatu negara tanpa adanya laporan – seringkali disebut sebagai “prosedur peninjauan” (“review procedure”).

Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. 2007 126 . Sosial. empat badan perjanjian (Komite Hak Asasi Manusia. Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan dapat mempertimbangkan komunikasi individual terhadap Negara Pihak pada Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. Siapa yang dapat mengadu? Setiap individu yang menyatakan bahwa hak-haknya berdasarkan kovenan atau konvensi telah dilanggar oleh Negara Pihak pada perjanjian tersebut dapat membawa komunikasinya di hadapan komite yang bersangkutan. Pengaduan juga dapat diajukan oleh pihak ketiga atas nama individuindividu. Komite Menentang Penyiksaan dapat mempertimbangkan komunikasi individual terhadap Negara Pihak yang telah membuat deklarasi yang disyaratkan berdasarkan pasal 22 Konvensi Menentang Penyiksaan. Komite Menentang Penyiksaan. selama mereka telah memberikan ijin tertulis (written consent) atau ketika mereka tidak dapat memberikan ijin semacam itu. dan Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan) dapat mempertimbangkan pengaduan atau komunikasi dari individu yang percaya bahwa hak-hak mereka telah dilanggar oleh Negara Pihak: Komite Hak Asasi Manusia dapat mempertimbangkan komunikasi individual terhadap Negara Pihak pada Protokol Opsional Pertama Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. Negara-negara Pihak telah melaksanakan rekomendasi-rekomendasi Komite dan memberikan perbaikan (remedy) kepada si pengadu. 4 • Th. 6 Saat ini protokol opsional pada Kovenan Internasio- nal tentang Hak Ekonomi. Walaupun dalam beberapa hal prosedur ini bersifat “quasi-yudisial”.6 Prosedur ini bersifat opsional (pilihan) bagi Negara-negara Pihak: badan perjanjian tidak bisa mempertimbangkan pengaduan berkaitan dengan suatu Negara Pihak kecuali jika Negara tersebut telah secara terbuka mengakui kompetensi badan perjanjian yang bersangkutan. dan Budaya diberikan mandat untuk mempertimbangkan komunikasi individual berkaitan dengan Kovenan. dan Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dapat mempertimbangkan komunikasi individual terhadap Negara Pihak yang telah membuat deklarasi yang disyaratkan berdasarkan pasal 14 Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. ketentuan-ketentuan ini akan mulai berlaku ketika sepuluh Negara Pihak telah membuat deklarasi yang diperlukan berdasarkan pasal 77. dan Budaya sedang dalam pertimbangan dan dapat menghasilkan keputusan bahwa Komite Hak Ekonomi. JURNAL HAM • Vol. Konvensi Pekerja Migran juga memuat ketentuan-ketentuan yang mengijin- kan komunikasi individual untuk dipertimbangkan oleh Komite Pekerja Migran. dengan persyaratan bahwa Negara tersebut telah mengakui kompetensi komite untuk menerima komunikasi semacam itu. baik melalui deklarasi berdasarkan pasal yang relevan dari perjanjian atau dengan menerima protokol opsional yang relevan.Pertimbangan terhadap pengaduan individual yang menyatakan bahwa hak-hak mereka telah dilanggar oleh Negara Pihak Dalam kondisi tertentu. Namun dalam banyak kasus. Sosial. keputusan-keputusan komite tidak bisa dipaksakan.

atau sistematis terhadap konvensi oleh suatu Negara Pihak. Prosedur penyelidikan Pasal 20 Konvensi Menentang Penyiksaan dan pasal 8 sampai pasal 10 Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan menetapkan prosedur mendasar berikut ini bagi komite yang bersangkutan untuk melakukan penyelidikan yang mendesak: 1. JURNAL HAM • Vol. Berdasarkan hasil pengamatan Negara Pihak dan informasi lain yang tersedia yang dapat dipercaya. Negara-negara Pihak pada Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan juga dapat meniadakan kompetensi Komite yang bersangkutan dengan membuat deklarasi berdasarkan pasal 10. Pada saat ratifikasi atau aksesi. Prosedur Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan secara spesifik mengijinkan kunjungan ke wilayah Negara yang bersangkutan. 2. Negara mana pun yang memilih untuk menghindari prosedur dapat memutuskan untuk menerima prosedur tersebut di masa mendatang. Negara mana saja yang dapat menjadi subyek penyelidikan? Penyelidikan hanya dapat dilakukan terhadap Negara-negara Pihak yang telah mengakui kompetensi komite yang bersangkutan. Komite dapat memutuskan untuk menugaskan satu atau lebih anggotanya guna melakukan penyelidikan secara konfidensial dan melaporkan kepada komite dengan segera. Dalam hal Konvensi Menentang Penyiksaan. 7: Prosedur Pengaduan atau di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR).Bagaimana saya mengadu? Informasi lebih lengkap mengenai prosedur pengaduan individual dari badanbadan perjanjian. termasuk nasihat dan instruksi tentang bagaimana cara mengadu. informasi harus memuat indikasi-indikasi yang kuat bahwa penyiksaan telah dipraktikkan secara sistematis di wilayah suatu Negara Pihak. dapat ditemukan di Lembar Fakta No. Negara-negara Pihak pada Konvensi Menentang Penyiksaan dapat menghindarkan diri dengan membuat deklarasi berdasarkan pasal 28. 4 • Th. 3. jika hal tersebut dibenarkan Penyelidikan Atas dasar inisiatif mereka. Prosedur dapat dilakukan jika komite menerima informasi yang dapat dipercaya tentang indikasi bahwa hak-hak yang termuat dalam konvensi telah dilanggar secara sistematis oleh Negara Pihak. dua badan perjanjian – Komite Menentang Penyiksaan dan Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan – dapat melakukan penyelidikan jika komite menerima informasi yang dapat dipercaya mengenai indikasi yang kuat bahwa telah terjadi pelanggaran yang serius. Langkah pertama adalah komite mengundang Negara Pihak untuk bekerja sama dalam pemeriksaan mengenai informasi tersebut dengan menyerahkan hasil pengamatan. dalam hal Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. berat. 2007 127 . informasi harus mengindikasikan pelanggaran yang berat atau sistematis terhadap hak-hak yang diatur dalam Konvensi oleh Negara Pihak.

Negara-negara Pihak harus membentuk suatu mekanisme pencegahan nasional yang independen (seperti Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. empat dari perjanjian HAM memuat ketentuan-ketentuan yang mengijinkan Negara-negara Pihak untuk mengajukan pengaduan kepada badan perjanjian tentang tuduhan pelanggaran terhadap perjanjian oleh Negara Pihak lain. Prosedur Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan menetapkan tenggat waktu enam-bulan kepada Negara Pihak untuk menanggapi hasil temuan. Berdasarkan konsultasi dengan Negara Pihak. OPCAT membentuk suatu sistem 128 . komentar. komite dapat memutuskan memasukkan suatu kesimpulan akhir (summary account) dari hasil prosiding tersebut di laporan tahunannya. Hasil-hasil temuan dari anggota (atau anggota-anggota) komite kemudian diperiksa oleh komite dan diserahkan kepada Negara Pihak bersama dengan komentar atau saran/rekomendasi yang selayaknya. 5. Bersama dengan badan internasional ini. lihat Lembar Fakta No. kunjungan berkala ke tempat-tempat penahanan yang dilakukan oleh badan internasional dan nasional tambahan. 4 • Th. yang terdiri dari sepuluh praktisi independen di bidang administrasi peradilan atau penahanan. 6. Protokol Opsional Konvensi Menentang Penyiksaan dan Subkomite Pencegahan Protokol Opsional Konvensi Menentang Penyiksaan (OPCAT). Pasal 21 Konvensi Menentang Penyiksaan dan pasal 76 Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Pekerja Migran dan Semua Anggota Keluarganya menetapkan suatu prosedur bagi komite yang bersangkutan untuk mempertimbangkan pengaduan dari satu Negara pihak yang menganggap bahwa Negara Pihak lain tidak memenuhi ketentuan-ketentuan dalam konvensi. Informasi lebih lanjut megnenai OPCAT dan Subkomite Pencegahan. memperkenalkan suatu mekanisme baru guna pencapaian tujuan-tujuan Konvensi yaitu mencegah penyiksaan dan bentuk-bentuk perlakuan kejam lainnya. yang akan diberlakukan ketika telah memiliki 20 Negara Pihak. Suatu badan internasional yang baru. dan rekomendasi komite tersebut dengan hasil pengamatannya sendiri dan untuk menginformasikan kepada komite mengenai langkah-langkah yang telah diambil sebagai respon terhadap penyelidikan jika diminta oleh Komite. lembaga ombudsman. 4. Subkomite akan menyerahkan laporan konfidensialnya yang memuat rekomendasi kepada Negara-negara Pihak. atau komisi parlementer) yang akan melakukan kunjungan berkala ke tempat-tempat penahanan sesuai dengan Protokol tersebut. prosedur ini bersifat rahasia dan harus diperoleh kerja sama dari Negara Pihak selama keseluruhan prosiding.dan dilakukan dengan persetujuan Negara. 2007 Dalam kedua kasus. Prosedur ini mensyaratkan bahwa perbaikan di tingkat domestik (domestic remedies) JURNAL HAM • Vol. dapat melakukan kunjungan-kunjungan ke tempat-tempat penahanan di semua Negara Pihak. Pengaduan antarnegara Walaupun prosedur ini tidak pernah digunakan. 17: Komite Menentang Penyiksaan. kunjungan juga diperkirakan dapat dilakukan berdasarkan prosedur Konvensi Menentang Penyiksaan. yang disebut “Subkomite Pencegahan”.

harus exhausted (sudah dilakukan seluruhnya tanpa membuahkan hasil) lebih dahulu dan prosedur hanya berlaku pada Negaranegara Pihak yang telah membuat deklarasi menerima kompetensi komite dalam hal ini. Pasal 11 sampai pasal 13 Kovenan Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dan pasal 41 sampai pasal 43 Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik menetapkan suatu prosedur yang lebih terperinci untuk menyelesaikan pertikaian antarNegara Pihak mengenai pemenuhan satu Negara terhadap kewajibannya berdasarkan konvensi/kovenan yang relevan melalui pembentukan suatu komisi konsiliasi ad hoc. Prosedur ini juga mensyaratkan bahwa perbaikan domestik (domestic remedies) harus exhausted lebih dahulu. Prosedur ini pada umumnya tidak hanya berlaku bagi semua Negara Pihak pada Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial, tetapi hanya berlaku bagi Negara-negara Pihak pada Kovenan Internasioal tentang Hak Sipil dan Politik yang telah membuat deklarasi menerima kompetensi Komite dalam hal tersebut.

tional Court of Justice) jika pihak-pihak yang bertikai gagal menyepakati ketentuan-ketentuan dalam arbitrasi dalam jangka waktu enam bulan. Negara-negara Pihak dapat menarik diri dari prosedur semacam ini dengan membuat deklarasi pada saat ratifikasi atau aksesi, yang mana sesuai dengan prinsip timbal-balik (resiprositas), maka mereka tidak diperkenankan mengajukan kasus-kasus menentang Negara Pihak lainnya. Prosedur ini, seperti halnya prosedur pengaduan antarNegara, tidak pernah digunakan.

Komentar-komentar umum
Setiap badan perjanjian mempublikasikan interpretasinya tentang ketentuanketentuan dalam perjanjian HAM yang dimonitornya dalam bentuk komentar umum (Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dan Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan menggunakan istilah “rekomendasi umum”). Komentar umum dari badan perjanjian mencakup berbagai subyek, mulai dari interpretasi yang komprehensif mengenai ketentuan-ketentuan substantif, seperti hak hidup atau hak atas makanan yang cukup, sampai panduan umum tentang informasi yang harus diberikan dalam laporan Negara berkaitan dengan pasal-pasal tertentu dari perjanjian. Komentar umum juga menangani persoalan-persoalan yang saling bertabrakan (cross-cutting issues) yang lebih luas, seperti peran institusi-institusi nasional HAM, hak orang-orang penyandang cacat, kekerasan terhadap perempuan, dan hak kelompok minoritas. Suatu kompilasi komentar umum dan rekomendasi umum diadopsi oleh badan perjanjian dihasilkan dan diperbaharui secara berkala (lihat revisi terakhir dokumen HRI/GEN/1).

Penyelesaian pertikaian antar Negara berkaitan dengan interpretasi atau aplikasi konvensi
Pasal 29 Konvensi tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan, pasal 30 Konvensi Menentang Penyiksaan, dan pasal 92 Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya menyatakan bahwa pertikaian antarNegara berkaitan dengan interpretasi atau aplikasi konvensi akan diselesaikan pertama melalui negosiasi atau, jika negosiasi gagal, melalui arbitrasi. Salah satu Negara yang terlibat dalam pertikaian dapat merujuk pertikaian tersebut kepada Pengadilan Internasional (InternaJURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

129

Diskusi umum atau debat tematis
Sejumlah badan perjanjian menyelenggarakan diskusi umum mengenai suatu tema atau persoalan tertentu bagi badan perjanjian tersebut selama beberapa hari. Diskusi tematis ini biasanya terbuka bagi partisipan dari luar, seperti rekanan PBB, delegasi Negara Pihak, organisasi nonpemerintah, dan para ahli individual. Hasil dari diskusi dapat membantu badan perjanjian dalam membuat komentar umum yang baru.

jelis Umum meminta para ketua badan perjanjian HAM untuk bertemu guna membahas tentang bagaimana mereka bisa meningkatkan kinerja mereka. Pertemuan pertama pada ketua ini berlangsung pada 1984. Sejak 1995, para ketua badan perjanjian telah melakukan pertemuan setiap tahunnya. Pertemuan ini merupakan suatu forum bagi para ketua ketujuh badan perjanjian HAM untuk membahas mengenai pekerjaan mereka dan mempertimbangkan cara-cara guna meningkatkan efektivitas sistem badan perjanjian sebagai suatu kesatuan. Persoalan-persoalan yang diangkat dalam pertemuan ini antara lain: pengarusutamaan dan perbaikan secara menyeluruh prosedur pelaporan HAM; harmonisasi metode kerja komite-komite; tindak lanjut Konferensi Dunia; dan persoalan finansial. Konsultasi-konsultasi informal dengan Negara-negara Pihak sebagaimana juga dengan rekanan PBB dan organisasi nonpemerintah juga telah menjadi suatu ciri khas dalam pertemuan antara para ketua badan perjanjian. Sejak 1999, para ketua badan perjanjian telah bertemua dengan pemegang mandat prosedur khusus (baik mandat tematis maupun mandat negara) Komisi Hak Asasi Manusia. Pembahasannya berfokus pada pertanyaan-pertanyaan teknis, seperti meningkatkan pertukaran informasi antara badan perjanjian dan prosedur khusus. Persoalan-persoalan substantif, termasuk dampak globalisasi terhadap penikmatan HAM (2003) serta langkahlangkah penanganan terorisme (counter-terrorism) dan HAM (2004), juga telah dibahas. Pertemuan antarkomite Sejak 2002, pertemuan tahunan para ketua badan perjanjian telah dilengkapi dengan suatu “pertemuan antarkomite”, yang termasuk di dalamnya para ketua dan tamJURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

Pertemuan Negara-negara Pihak dan pertemuan dengan Negaranegara Pihak
Setiap perjanjian (kecuali Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya) menyelenggarakan pertemuan formal Negara-negara Pihak setiap dua tahun sekali, biasanya di Markas Besar PBB, guna memilih setengah dari anggota badan perjanjiannya. Pasal 50 Konvensi Hak Anak menyelenggarakan suatu konferensi Negaranegara Pihak guna menentukan usulan amendemen terhadap Konvensi. Kebanyakan komite juga mengadopsi praktik penyelenggaraan pertemuan informal secara berkala dengan Negara-negara Pihak pada perjanjian mereka guna mendiskusikan persoalan-persoalan bersama berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian dan pekerjaan badan perjanjian.

Koordinasi antara badan-badan perjanjian
Pertemuan tahunan para ketua badan perjanjian Kebutuhan akan koordinasi antara badan-badan perjanjian HAM diakui oleh Majelis Umum pada 1983, yaitu ketika Ma-

130

bahan dua anggota dari setiap komite. Harmonisasi metode kerja di antara para komite menjadi fokus utama pertemuan antarkomite pertama. Pelaksanaan pertemuan antarkomite disambut baik oleh Negaranegara Pihak. Meningkatnya keterlibatan setiap komite telah membuka pembahasan yang lebih detil tentang rekomendasi terhadap persoalan-persoalan berkaitan dengan metode kerja ketimbang yang dibahas dalam pertemuan para ketua badan perjanjian. Pertemuan antarkomite dan pertemuan para ketua badan perjanjian biasanya dipimpin oleh orang yang sama, yaitu seseorang yang menjadi ketua badan perjanjian HAM atas dasar rotasi.

Perluasan sistem perjanjian HAM: membuat instrumen baru
Sejak 2000, sejumlah instrumen HAM yang baru telah disepakati atau telah mulai berlaku. Pada Mei 2000, dua protokol opsional pada Konvensi Hak Anak diadopsi, tentang penjualan anak, pelacuran anak, dan pornografi anak (CRC-OPSC) dan tentang keterlibatan anak-anak dalam konflik bersenjata (CRC-OPAC). Keduanya mulai berlaku pada 2002. Pada Desember 2002, Protokol Opsional Konvensi Menentang Penyiksaan diadopsi (OPCAT). Protokol ini akan mulai berlaku ketika sudah diterima oleh 20 Negara Pihak. Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya mulai berlaku pada Juli 2003, dan Komite Pekerja Migran telah menyelenggarakan pertemuan pertamanya pada Maret 2004. Instrumen-instrumen HAM internasional lainnya sedang dibahas oleh Negaranegara dan dapat diadopsi pada tahuntahun mendatang. Suatu komite ad hoc Majelis Umum telah dibentuk pada 2002 dengan tujuan membuat “suatu konvensi internasional yang komprehensif dan integral tentang perlindungan dan pemajuan hak-hak dan martabat orang-orang penyandang cacat”. Komite”Ad Hoc ini bertujuan untuk mengadopsi suatu konvensi, yang akan memasukkan mekanisme monitoring pada akhir 2005. Pada 2002, Komisi Hak Asasi Manusia memutuskan untuk membentuk “kelompok kerja terbuka dengan tujuan untuk mempertimbangkan pilihanpilihan berkaitan dengan elaborasi protokol opsional pada Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya”.7 Protokol opsional tersebut akan memberikan kompetensi pada Komite Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya untuk mempertimbangkan pengaduan individual dan melakukan penyelidikan. Suatu kelompok kerja menge7 Resolusi Komisi 2002/24 dan 2003/18.

BAGIAN III
Perkembangan lebih lanjut dari sistem perjanjian HAM PBB
Walaupun DUHAM telah dibuat lebih dari 50 tahun yang lalu, dan proses pembuatan ketentuan internasional HAM atau International Bill of Human Rights (DUHAM dan kedua Kovenan) telah diselesaikan pada 1966, sistem perjanjian HAM internasional telah terus berkembang dengan adanya adopsi instrumen baru dan pembentukan badan perjanjian yang baru. Berbagai instrumen dan badan perjanjian yang semakin luas tersebut telah menjamin adanya perlindungan HAM yang lebih besar di sejumlah bidang yang menjadi perhatian utama masyarakat internasional, dan juga telah memberikan suatu tantangan penting bagi sistem perjanjian HAM internasional: bagaimana cara terbaik untuk menjamin bahwa perbedaan elemen-elemen dalam sistem yang semakin berkembang ini bisa bekerja secara efektif secara bersama-sama bagi pemajuan dan perlindungan HAM.

JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

131

nai rancangan instrumen tentang penghilangan paksa juga mungkin akan menghasilkan suatu instrumen baru. Cara ad hoc di mana setiap komite dibentuk berdasarkan perjanjiannya berarti bahwa mereka memiliki kekebebasan untuk membangun prosedur dan praktiknya sendiri. dan (2) pengembangan proses pelaporan perjanjian. Saran Sekretaris Jenderal telah memberikan motivasi baru bagi proses ini. walaupun kegiatan-kegiatan mereka saling tumpang tindih di banyak bidang. Ia meminta badan-badan perjanjian HAM untuk mempertimbangkan dua langkah: pertama. Badan-badan perjanjian telah terlibat secara berkelanjutan dalam pencarian cara untuk meningkatkan efektivitas melalui pengarusutamaan dan harmonisasi metode kerja dan praktik selama beberapa tahun. khususnya melibatkan Negara-negara dalam diskusi yang terbuka mengenai persoalan dalam melaksanakan perjanjian HAM melalui proses pelaporan. setiap badan perjanjian cenderung melakukan pekerjaannya secara independen dari badan perjanjian lainnya. 4 • Th. dan walaupun ada banyak kesamaan dalam hal fungsi badan-badan perjanjian. sampai baru-baru ini. dan setiap komite secara individual telah meninjau metode kerjanya dengan tujuan untuk mengadopsi praktik-praktik terbaik dari komite lain. juga terdapat banyak keragaman. termasuk pengarusutamaan metode kerja. atau bahkan diperlukan karena sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian yang bersangkutan. Namun demikian. Proposalproposal di bidang seperti standardisasi terminologi dan simbol-simbol dokumen telah dibahas dalam pertemuan antarkomite dan pertemuan para ketua badan perjanjian. Badan-badan perjanjian menanggapi hal ini dengan melakukan suatu proses konsultasi dan reformasi yang ditujukan untuk menjawab dua bidang persoalan yang diangkat oleh usulan Sekretaris Jenderal: (1) meningkatkan koordinasi antara badan-badan perjanjian. serta bahwa perjanjian dan badan yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaannya dapat bekerja bersama-sama secara efektif sebagai suatu sistem yang terintegrasi guna pemajuan dan perlindungan HAM.8 Sekretaris Jenderal PBB mengidentifikasi pembaruan lebih lanjut terhadap sistem perjanjian sebagai elemen utama dalam tujuan PBB untuk memajukan dan melindungi HAM. Pada saat yang sama. Dalam laporannya tahun 2002. maka penting agar ditekankan bahwa instrumen-instrumen tersebut saling melengkapi satu sama lain. yang seringkali mengarah pada kebingungan dan ketidak-konsistenan. “Memperkuat Perserikatan Bangsa-Bangsa: suatu agenda untuk perubahan lebih lanjut”. untuk membuat suatu pendekatan yang lebih terkoordinasi dalam hal kegiatan dan membuat standardisasi ketentuan pelaporan mereka yang bervariasi. 8 A/57/387. 2007 . dan kedua. Meningkatkan efektivitas sistem perjanjian Dengan perkembangan yang berkelanjutan dalam sejumlah instrumen HAM internasional. (1) Meningkatkan koordinasi antara badan-badan perjanjian Badan-badan perjanjian telah dengan sukses mengerjakan mandat mereka. 132 JURNAL HAM • Vol. termasuk harmonisasi ketentuan pelaporan. untuk mengijinkan Negara menghasilkan suatu laporan tunggal yang menyimpulkan semua ketaatannya pada sejumlah perjanjian HAM di mana Negara tersebut menjadi pihak. juga diakui bahwa beberapa variasi dalam praktik dapat dibenarkan.

Sebagaimana sistem berkembang. Sistem perjanjian HAM ini kelihatannya terfokus pada tingkat internasional. Laporan-laporan yang dikompilasi sesuai dengan panduan dapat menyediakan suatu kerangka pelaporan yang seragam di mana komite-komite dapat menghindari duplikasi dalam pekerjaannya dan menetapkan suatu standar pelaporan yang konsisten bagi semua komite. Komisi Hak Asasi Manusia. Negara menjanjikan dirinya pada standar-standar ini dan mewajibkan dirinya untuk melaksanakan hakhak tersebut di tingkat nasional. Mereka memilih untuk memperluas ruang lingkup dokumen inti/utama dengan memasukkan presentasi penuh kerangka hukum bagi pemajuan dan perlindungan HAM secara umum di Negara. Dokumen inti/utama yang diperluas ini harus diserahkan kepada semua badan perjanjian bersama dengan laporan target (targeted report) bagi setiap badan perjanjian yang berisi informasi spesifik mengenai perjanjian tersebut. Laporan Negara-negara kepada badan-badan perjanjian oleh karenanya akan terdiri dari suatu dokumen umum yang menggambarkan pandangan yang holistik dari pelaksanaan HAM dan suatu dokumen perjanjian yang spesifik yang berfokus pada persoalan-persoalan yang menjadi perhatian komite berkaitan dengan perjanjiannya. Badan perjanjian mendorong dan mendukung Negara dalam upaya ini. Menanggapi permintaan Sekretaris Jenderal untuk ketentuan pelaporan yang terharmonisasi dan kemungkinan penyerahan suatu laporan tunggal. maka badan-badan perjanjian menyimpulkan bahwa laporan tunggal justru akan menjadi tantangan yang begitu besar bagi Negara-negara Pihak dan tidak akan dapat memenuhi tujuan yang memotivasi usulan Sekretaris JendeJURNAL HAM • Vol. Peran sistem perjanjian HAM dalam memperkuat sistem perlindungan HAM di tingkat nasional Perjanjian-perjanjian HAM adalah instrumen hukum yang menetapkan standarstandar internasional bagi pemajuan dan perlindungan HAM di dunia. dan Majelis Umum. organisasi nonpemerintah. 4 • Th. Dengan meratifikasi perjanjian. tantangan-tantangan muncul dari keterlambatan penyerahan dan/atau pertimbangan terhadap laporan. Memperbaiki efektivitas sistem perjanjian HAM telah menjadi perhatian yang berkelanjutan masing-masing badan perjanjian. badan-badan perjanjian mulai membuat panduan harmonisasi pelaporan berdasarkan ketujuh perjanjian HAM utama. Standar-standar internasional yang telah disepakati dalam perjanjian memerlukan adanya pelaksanaan yang efektif di tingkat nasional guna menjamin bahwa hak-hak tersebut dinikmati oleh semua 133 . serta duplikasi ketentuan pelaporan di antara badan-badan perjanjian. badan-badan PBB. tetapi jelas bahwa pemajuan dan perlindungan HAM merupakan persoalan paling penting di tingkat nasional. Setelah konsultasi yang mendalam dengan Negara Pihak. Panduan ini mendorong Negara-negara Pihak untuk memenuhi sejumlah kewajiban perjanjian HAM di mana mereka telah menjadi bagian dari suatu sistem yang terkoordinasi. sebagaimana juga informasi mengenai pelaksanaan ketentuan-ketentuan substantif HAM yang serupa dalam beberapa perjanjian. ketimbang memperlakukan masing-masing perjanjian secara terpisah-pisah.(2) Pengembangan sistem pelaporan perjanjian Fokus utama upaya untuk menjamin pelaksanaan perjanjian HAM yang lebih efektif di tahun-tahun belakangan ini adalah pelaporan Negara. 2007 ral tersebut. terlambat dan tidak-melaporkan. pertemuan para ketua badan perjanjian. dan pihak-pihak lain yang berminat.

maka badan perjanjian memiliki peranan penting dalam membantu upaya memperkuat perlindungan HAM di tingkat nasional. pembuatan rencana aksi nasional HAM. Ketika telah dihasilkan suatu laporan Negara Pihak dan telah dipertimbangkan oleh badan perjanjian. badan perjanjian memberikan pada Negara-negara nasihat-nasihat praktis dan bantuan tentang bagaimana melaksanakan perjanjian dengan baik. dapat memberikan bantuan yang berguna bagi tindakan-tindakan yang diperlukan guna memperkuat perlindungan HAM.laki-laki. melalui proses pertimbangan di tingkat internasional. sebagaimana halnya tim negara dan donor PBB. sampai tanggapan negara terhadap rekomendasi badan perjanjian. Pentingnya proses pelaporan di tingkat nasional Upaya mendorong Negara-negara untuk mengambil pendekatan yang holistik dalam pelaporan dengan melihat pada serangkaian kewajiban pada perjanjian yang mana mereka menjadi pihak tidak hanya ditujukan untuk mempermudah Negara dalam membuat pelaporan kepada badan perjanjian internasional. Proses pelaporan. Mengaitkan proses-proses tersebut dapat menjamin bahwa HAM ditempatkan di tengah-tengah perencanaan strategis nasional. dari mulai persiapan pembuatan laporan. yang oleh karenanya akan menjamin pelaksanaan standar HAM nasional yang lebih efektif. 2007 . Kedua. yaitu pelaporan perjanjian. Banyak Negara terlibat dalam proses paralel. proses pelaporan kepada badan perjanjian itu sendiri merupakan bagian yang penting dalam pembentukan suatu sistem perlindungan HAM di tingkat nasional. Pertama. dan pelaksanaan perencanaan pembangunan nasional. 4 • Th. Komentar umum dari badan perjanjian menyediakan informasi tambahan untuk suatu sifat yang lebih terelaborasi mengenai bagaimana perjanjian harus dilaksanakan. Karena badan perjanjian dibentuk untuk memonitor pelaksanaan standarstandar HAM internasional yang ditentukan oleh perjanjian HAM. juga dapat digunakan untuk menstimulasi debat nasional mengenai HAM dengan masyarakat sipil dan menciptakan konstituensi HAM yang baru. Dalam memenuhi kewajiban pelaporan mereka berdasarkan perjanjian internasional. dan anak-anak di setiap negara. yang berfokus pada bidang persoalan tertentu yang memerlukan tindakan. namun proses pembuatan laporan di tingkat nasional juga penting. maka concluding observations dan rekomendasi yang praktis dan bertarget dapat memberikan nasihat yang tepat tentang bidang-bidang tertentu yang perlu diperhatikan oleh Negara yang bersangkutan. 134 JURNAL HAM • Vol. Pendapat-pendapat yang diungkapkan oleh komite sebagai tanggapn terhadap pengaduan individual juga merupakan sumber panduan yang lain. Walaupun badan internasional memang meminta laporan-laporan. Negara-negara terlibat dalam suatu proses penilaian terhadap dirinya sendiri (self-assessment) guna menentukan sejauh mana HAM telah dilindungi di negaranya. Proses pengumpulan informasi mengenai pelaksanaan HAM di tingkat nasional menjadi alat yang penting untuk membantu Pemerintah merencanakan dan menempatkan program-program pembangunan berdasarkan HAM (rights-based development). perempuan. Nasihat praktis dan bantuan dari badan perjanjian Hasil dari badan perjanjian.

Sosial. dan Budaya (pasal 3 dan pasal 7(a) (i)). Konvensi Hak Anak (pasal 2). Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Konvenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (pasal 3. dan Komentar Umum 24). Tujuan 2 untuk mencapai pendidikan dasar universal: Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. yaitu membantu menjamin pelaksanaan perjanjian-perjanjian yang lebih efektif. Tujuan 3 untuk memajukan kesetaraan genjer dan pemberdayaan perempuan: Konvensi tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan. Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Tempat tinggal kumuh: Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. dan Budaya (pasal 13 dan pasal 14. 4 • Th. Tujuan 5 untuk memperbaiki tingkat kesehatan maternal: Konvensi tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan (pasal 10(h). Tujuan 4 untuk mengurangi tingkat kematian anak-anak: Konvensi Hak Anak (pasal 6 dan pasal 24(2)(a)). Sosial. Sosial. Tujuan 1 untuk menghapuskan kemiskinan dan kelaparan: Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial (Komentar Umum 25). dan Budaya (Komentar Umum 14). 2007 135 . Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial (pasal 5(e)(iv)). akan bekerja bersamasama untuk mencapainya pada 2015. Sosial. Keseluruhan delapan MDGs dapat dikaitkan dengan ketentuan-ketentuan perjanjian hak asasi manusia atau komentar-komentar umum badan-badan perjanjian (GCs). dan pasal 32(2). dan Budaya (Komentar Umum 15 dan 14). misalnya melalui usulan legislasi baru atau keten- JURNAL HAM • Vol. pasal 12(1). Konvensi Hak Anak (pasal 28(a) dan Komentar Umum1). Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. dan penyakit-penyakit lainnya: Panduan Internasional tentang HIV/AIDS dan Hak Asasi Manusia. Hasil badan perjanjian dapat memiliki dampak yang signifikan bagi Negara. Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial (pasal 5 dan pasal 7). Konvensi Hak Anak (pasal 24(d)). malaria. Tujuan 7 untuk menjamin keberlangsungan lingkungan. dan Budaya (Komentar Umum 14). pasal 11(f). Tujuan 8 untuk membangun suatu kemitraan global untuk pembangunan: Piagam PBB (pasal 1(3)). Konvensi Hak Anak (pasal 24(c)). baik yang maju maupun berkembang. Konvensi Hak Anak (pasal 24(2) dan pasal 27(3)). Sosial. dan Budaya (pasal 11 dan Komentar Umum 12). Sosial. Konvensi Hak Anak (pasal 4). serta Komentar Umum 11). Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Air minum yang aman dikonsumsi: Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa menyepakati delapan tujuan – atau Millenium Development Goals (MDGs) – di mana semua bangsa. dan Budaya (pasal 2). pasal6(5). pasal 14(b). Sosial.Tujuan Pembangunan Millenium (Millenium Development Goals) dan Hak Asasi Manusia Pada 2000. dan Budaya (Komentar Umum 4 dan 7). Tujuan 6 untuk memerangi HIV/AIDS. Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Sosial. dan Konvensi Hak Anak (pasal 24(c) dan Komentar Umum 3). dan Budaya (pasal 12(2)(a)) dan Komentar Umum 14). Sosial.

keputusan yang diambil mengenai pengaduan individual (jika tersedia).ohchr. Sosial. Hak Anak (No. 12). 15).org/english/ Istilah-istilah teknis berkaitan dengan badan perjanjian Backlog Di samping persoalan keterlambatan dan tidak-adanya pelaporan oleh Negara-negara Pihak. termasuk status pelaporan oleh negara. Dokumen-dokumen badan perjanjian. Informasi lebih lanjut mengenai sistem perjanjian HAM PBB Untuk informasi lebih lanjut mengenai perjanjian dan badan perjanjian.ohchr. Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial (No. Untuk mendaftarkan diri. termasuk concluding observations yang dikeluarkan setelah pemeriksaan terhadap laporan Negara Pihak. Perluasan dampak tergantung tidak hanya pada Pemerintah. atau online di http://www. Komite Hak Ekonomi. dan pengacara. dan kegiatan-kegiatan lainnya. termasuk laporan-laporan Negara Pihak dan concluding observations dapat diperoleh di situs ini. 10). 4 • Th. 2007 136 . dan Budaya (No. serta masyarakat sipil. Backlog terhadap begitu banyak laporan yang yang menunggu untuk dipertimbangkan oleh komite dapat berarti penundaan sampai dua tahun lamanya dari tanggal penyerahan laporan tersebut oleh Negara Pihak sampai waktu komite memulai pemeriksaan terhadap isi dari laporan. 17). kunjungi situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia OHCHR di http://www. 16). Situs ini memuat informasi mengenai proses pelaporan Negara. kenapa tidak mendaftarkan diri ke “listserv” badan perjanjian secara cuma-cuma? Anda akan menerima pemberitahuan berkala melalui e-mail mengenai rekomendasi badan perjanjian. Komite Menentang Penyiksaan (No. 7). dan Hak Pekerja Migran (No. kunjungi situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) dan masuk ke “badanbadan perjanjian” (“human rights bodies”). komentar umum yang menginterpretasikan perjanjian yang bersangkutan. termasuk parlemen nasional dan regional.tuan tentang pelatihan HAM bagi pejabat/ pegawai Negara. beberapa badan perjanjian juga menghadapi kesulitan untuk menangani jumlah laporan yang harus mereka pertimbangkan setiap tahun. institusi nasional HAM. Hak Sipil dan Politik: Komite Hak Asasi Manusia (No. hakim-hakim. 24). tetapi juga pada aktor-aktor lain yang mampu mempengaruhi cara di mana HAM dilindungi dan dimajukan di negara tersebut. about/publications/sheets/htm. Kebutuhan untuk meminta informasi yang terkini adalah salah satu JURNAL HAM • Vol. org/english/bodies/treaty/subscribe. Lembar Fakta ini tersedia secara cumacuma dari kantor publikasi OHCHR. 22). Pemberitahuan melalui e-mail mengenai rekomendasi badan perjanjian Jika anda tertarik pada pekerjaan badan-badan perjanjian dan ingin mendapatkan informasi mengenai kegiatankegiatan mereka. htm. Diskriminasi terhadap Perempuan: Konvensi dan Komite (No. Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) juga mempublikasi beberapa Lembar Fakta berkaitan dengan pekerjaan badan-badan perjanjian: Prosedur Pengaduan (No.

terfokus. Ketua Setiap badan perjanjian memilih salah satu anggotanya untuk bertindak sebagai ketua untuk jangka waktu dua tahun. Dokumen umum Istilah alternatif untuk “dokumen inti/ utama yang diperluas”. wakil ketua. 4 • Th. Dokumen inti/utama Suatu dokumen yang diserahkan oleh Negara Pihak kepada Sekretaris Jenderal yang memuat informasi hal-hal umum mengenai negara yang relevan dengan semua perjanjian.alasan mengapa praktik pembuatan daftar pertanyaan diadopsi oleh kebanyakan badan perjanjian. termasuk informasi mengenai tanah dan penduduk. 2007 kan bahwa tindakan lebih lanjut perlu diambil oleh Negara. Juga dirujuk sebagai “concluding comments” oleh beberapa komite sesuai dengan pengistilahan di perjanjiannya. Badan perjanjian bertugas menghasilkan concluding observations yang konkret. dan kerangka hukum umum yang melindungi HAM di Negara tersebut. Dialog konstruktif Praktik yang diadopsi oleh semua badan perjanjian dengan mengundang Negaranegara Pihak untuk mengirimkan delegasinya guna menghadiri pertemuan di mana laporan mereka dipertimbangkan dalam rangka memberikan kesempatan kepada Negara-negara Pihak tersebut untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan anggota dan menyediakan informasi tambahan mengenai upaya mereka dalam melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian yang relevan. struktur politik umum. Pertimbangan terhadap kondisi negara tanpa adanya laporan Lihat “prosedur peninjauan”. Metode kerja yang lebih efisien dapat mengurangi backlog tersebut. dan dapat dilaksanakan. Para ketua badan perjanjian bertemu setiap tahunnya untuk mengkoordinasikan kegiatan badan perjanjian. Concluding observations Pengamatan dan rekomendasi yang dikeluarkan oleh suatu badan perjanjian setelah mempertimbangkan laporan Negara Pihak. misalnya. Biro Biro biasanya terdiri dari ketua. tetapi hanya dibentuk untuk memonitor pelaksanaan perjanjian. Concluding observations mengacu baik pada aspek positif pelaksanaan perjanjian oleh suatu negara maupun bidang-bidang di mana badan perjanjian merekomendasiJURNAL HAM • Vol. yang bertemu untuk memutuskan tentang persoalan-persoalan prosedural dan administratif yang berkaitan dengan pekerjaan komite. Komentar kesimpulan (concluding comments) Lihat “concluding observations”. Dokumen inti/utama diperkenalkan pertama kalinya pada 1991 di pertemuan para ketua 137 . Gagasan dialog konstruktif menekankan pada kenyataan bahwa badan perjanjian bukan merupakan badan yudisial (walaupun beberapa di antaranya memiliki fungsi quasi-yudisial). Orang tersebut mengetuai pertemuan sesuai dengan peraturan tata tertib yang telah disepakati. dan juga berpartisipasi bersama dua orang anggota komite lainnya dalam pertemuan antarkomite. serta harus memberikan perhatian bagi langkah-langkah guna menjamin tindak lanjut efektif terhadap concluding observations-nya. pertemuan secara paralel di dua tempat untuk mempertimbangkan laporanlaporan dari tahun 2005. pelapor (rapporteur) atau anggota lain yang ditugaskan oleh komite.

berdasarkan pasal 41 Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. Negara dapat membuat deklarasi opsional bahwa Negara menerima kompetensi Komite Hak Asasi Manusia untuk mempertimbangkan pengaduan antarNegara. Pelapor negara biasanya memimpin dalam membuat daftar persoalan. Beberapa perjanjian hak asasi manusia mengijinkan Negara-negara Pihak. yang dinominasikan oleh Ketua. 2007 138 . yang secara keseluruhan bertanggung jawab terhadap pembuatan daftar persoalan. Satuan kerja laporan Negara terdiri dari empat sampai enam anggota. Ada beberapa jenis deklarasi. dan membuat concluding observations untuk dibahas dan diadopsi oleh komite. Negaranegara Pihak pada Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang keterlibatan anakanak dalam konflik bersenjata diharuskan membuat deklarasi wajib berdasarkan pasal 3(2) yang menetapkan usia minimum yang mengijinkan rekrutmen berdasarkan pilihan bebas (voluntary) di angkatan bersenjata nasionalnya serta suatu deskripsi jaminan yang diadopsi guna menjamin bahwa rekrutmen semacam itu tidak dipaksakan.badan perjanjian sebagai suatu cara untuk mengurangi pengulangan informasi yang ditemukan di laporan Negara-negara ke berbagai badan perjanjian. tidak berarti meniadakan atau memodifikasi dampak hukum dari perjanjian. Negara Pihak tidak boleh membuat derogasi terhadap hak-hak tertentu dan tidak boleh mengambil langJURNAL HAM • Vol. dalam hal darurat publik yang mengancam kehidupan bangsa. ketentuan tertentu di perjanjian. Oleh karena itu. setidaknya untuk jangka waktu sementara. mengajukan pertanyaan kepada delegasi pada saat pertemuan. Dokumen ini memuat suatu bagian awal yang umum di semua laporan ke badan perjanjian. Satuan kerja ini bertemu pada saat pertemuan pleno. 4 • Th. Tujuan dari deklarasi interpretasi adalah untuk mengklarifikasi arti beberapa ketentuan atau keseluruhan perjanjian. Deklarasi tentang interpretasi seperti ini. Hal yang sama. misalnya. salah satu di antara mereka adalah pelapor negara. tidak se- perti halnya reservasi. atau interpretasi tentang. Derogasi Derogasi adalah langkah yang diadopsi oleh Negara Pihak yang menangguhkan sebagian pelaksanaan satu atau lebih ketentuan dari perjanjian. yaitu sebagai berikut: Deklarasi tentang interpretasi Negara dapat membuat deklarasi tentang pemahamannya terhadap persoalan yang tercantum dalam. Namun. Pelapor negara (country rapporteur) Kebanyakan komite menunjuk seorang anggotanya sebagai pelapor negara untuk setiap Negara Pihak yang sedang dipertimbangkan. Deklarasi opsional dan wajib Perjanjian dapat membiarkan Negara membuat deklarasi opsional dan/atau wajib. Deklarasi Negara dapat memilih atau diwajibkan untuk membuat deklarasi berkaitan dengan perjanjian di mana Negara menjadi pihak. Satuan kerja laporan Negara (country report task force) Komite Hak Asasi Manusia telah menugaskan satuan kerja laporan Negara untuk mengerjakan persiapan pertimbangan laporan-laporan yang sebelumnya dilakukan oleh kelompok kerja prapertemuan. Deklarasi ini bersifat mengikat secara hukum bagi yang membuat deklarasi. untuk membuat derogasi yang bersifat khusus dan sementara terhadap beberapa hak sejauh yang dibutuhkan oleh situasi di Negara tersebut.

Komunikasi individual Lihat “pengaduan individual”. Institusi-institusi Nasional HAM. 4 • Th. Pengaduan individual Suatu pengaduan formal. Komentar umum Interpretasi suatu badan perjanjian terhadap isi ketentuan-ketentuan HAM. 2007 139 . Beberapa komite telah mengadopsi prosedur tindak lanjut formal dan semua komite mewajibkan Negara-negara untuk mencantumkan tindak lanjut tersebut dalam laporan berkala mereka. serta ada kekhawatiran bahwa informasi spesifik yang biasanya ditemukan di laporan perjanjian yang terpisah akan hilang dalam suatu laporan yang menyimpulkan secara luas. memberikan alasan mengenai derogasi. dan masyarakat sipil memiliki peranan penting dalam tindak lanjut tersebut. Tindak lanjut Prosedur yang dibuat guna menjamin bahwa Negara-negara Pihak menindaklanjuti rekomendasi yang ada dalam concluding observations badan perjanjian atau keputusan badan perjanjian terhadap kasuskasus yang diangkat dalam prosedur pengaduan. Diprediksikan bahwa dokumen inti/utama yang diperluas akan diserahkan kepada setiap badan perjanjian bersama dengan laporan khusus perjanjian yang lebih terfokus. dan menentukan tanggal habisnya masa berlaku derogasi tersebut. baik yang terkait dengan suatu artikel khusus atau suatu persoalan tematis yang lebih luas. Dokumen inti/utama yang diperluas Gagasan untuk memperluas ruang lingkup dokumen inti/utama muncul pada saat proses konsultasi yang dilakukan oleh badan perjanjian sebagai respon terhadap usulan Sekretaris Jenderal bahwa Negaranegara diijinkan untuk menyerahkan laporan tunggal kepada semua badan perjanjian.kah-langkah yang bersifat diskriminatif. Komentar Umum juga sering disebut “rekomendasi umum” (Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial dan Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan). 29 Komite Hak Asasi Manusia) Divisi Pengembangan Perempuan (DAW) Bertempat di Departemen Bidang Ekonomi dan Sosial (Department of Economic and Social Affairs atau DESA). dari seorang individual yang menyatakan bahwa hakhaknya berdasarkan salah satu perjanjian telah dilanggar oleh Negara Pihak. organisasi nonpemerintah. di mana JURNAL HAM • Vol. Parlemen. Komentar umum seringkali digunakan untuk memperjelas kewajiban pelaporan Negara-negara Pihak berkaitan dengan ketentuan-ketentuan tertentu dan menyarankan pendekatan-pendekatan dalam melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. Dokumen inti/utama yang diperluas bertujuan untuk semakin mengurangi pengulangan informasi dalam berbagai laporan dengan menyediakan informasi mengenai ketentuan-ketentuan tentang hak-hak yang substantif di seluruh atau beberapa perjanjian. (Lihat Komentar Umum No. Biasanya Negara-negara diwajibkan untuk menginformasikan kepada Negara Pihak lainnya tentang derogasi tersebut. Rekomendasi umum Lihat “komentar umum”. Suatu laporan tunggal dianggap akan mempersulit prosedur dan akan sulit digunakan. serta Komisi untuk Status Perempuan. DAW berkantor di Markas Besar Perserikatan BangsaBangsa di New York dan memberikan dukungan terhadap Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan.

Saat ini belum ada hak pengaduan individual di Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. 19: JURNAL HAM • Vol. yang memungkinkan dialog membicarakan hal-hal yang spesifik dengan lebih cepat. Ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan pengaduan individual berdasarkan Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya belum berlaku. 4 • Th. dan sebagainya). Hak yang akan dipertimbangkan dalam pengaduan individual harus dinyatakan diterima oleh Negara Pihak yang bersangkutan dengan membuat suatu deklarasi berdasarkan pasal perjanjian yang relevan (bagi Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dan Komite Menentang Penyiksaan) atau dengan meratifikasi atau mengaksesi protokol opsional pada perjanjian yang memberikan hak bagi pengaduan individual (Protokol Opsional Pertama pada Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik serta Protokol Opsional Kovenan tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan). dan Budaya serta Konvensi Hak Anak. tergantung pada sejauh mana independensinya dari kontrol pemerintah dapat dijamin. yang diperbaharui setiap tahunnya. organisasi nonpemerintah. Keterlambatan pelaporan Setiap perjanjian memperkirakan penyerahan laporan secara berkala. Persoalan keterlambatan pelaporan ini diidentifikasi sebagai salah satu dari banyak tantangan yang dihadapi oleh sistem pelaporan perjanjian.beberapa badan perjanjian memiliki kompetensi untuk mempertimbangkannya. yang diserahkan kepada Negara Pihak jauh-jauh hari sebelum pertemuan di mana badan perjanjian akan mempertimbangkan laporan tersebut. Sosial. Beberapa komite mendorong Negara Pihak untuk menyerahkan tanggapan tertulis sebelum pertemuan dilaksanakan. misalnya dengan pengarusutamaan proses pelaporan melalui dokumen inti/utama yang diperluas. 2007 140 . Daftar persoalan menyediakan suatu kerangka bagi dialog yang konstruktif dengan delegasi Negara Pihak. Suatu standar internasional yang dikenal sebagai Prinsip-prinsip Paris telah disepakati untuk mengukur independensi dan integritas institusi-institusi nasional HAM ini. banyak Negara menghadapi kesulitan dalam melaksanakan kewajiban pelaporan yang sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan oleh perjanjian di mana mereka menjadi pihak. dan badan perjanjian telah berupaya mencari cara untuk mempermudah Negaranegara membuat laporan. Lihat Lembar Fakta Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) No. dalam praktiknya. Institusi-institusi semacam ini semakin diakui sebagai bagian yang penting dalam sistem perlindungan HAM di tingkat nasional. Institusi-institusi Nasional HAM (National Human Rights Institutions/ NHRI) Banyak negara telah membentuk institusi nasional HAM untuk memajukan dan melindungi HAM. Daftar persoalan merupakan sumber informasi yang up-to-date bagi komite berkaitan dengan Negara yang laporannya mungkin sudah menunggu selama dua tahun untuk dipertimbangkan. Daftar persoalan dan/atau pertanyaan Suatu daftar persoalan atau pertanyaan yang dibuat oleh suatu badan perjanjian berdasarkan laporan Negara Pihak dan informasi lain yang tersedia bagi badan perjanjian tersebut (informasi dari badanbadan khusus PBB. Informasi mengenai status pelaporan Negara-negara Pihak pada setiap perjanjian tersedia dari database badan-badan perjanjian di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) atau dalam dokumen HRI/GEN/4. Informasi lebih lanjut mengenai NHRIs.

Institusi-institusi Nasional untuk Pemajuan dan Perlindungan Hak Asasi Manusia. Organisasi nonpemerintah Organisasi nonpemerintah dapat terlibat dalam pemajuan HAM, baik secara umum maupun berfokus pada suatu persoalan tertentu. Terdapat suatu kerangka bagi partisipasi organisasi nonpemerintah di berbagai mekanisme HAM PBB, seperti pemberian status konsultatif di Dewan Ekonomi, Sosial, dan Budaya yang memberikan kesempatan kepada organisasi nonpemerintah untuk berpartisipasi dalam Komisi Hak Asasi Manusia. Organisasi nonpemerintah internasional dan nasional mengikuti pekerjaan badan-badan perjanjian dari dekat dan kebanyakan badan perjanjian memberikan kesempatan pada mereka untuk memberikan masukan dalam proses pelaporan, misalnya melalui pemberian informasi tambahan berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian di suatu negara (seringkali dirujuk sebagai laporan “bayangan” atau “paralel”). Terdapat perbedaan dalam bagaimana setiap badan perjanjian memperlakukan informasi ini. Hal ini tergantung pada apakah organisasi memiliki status konsultatif dari Dewan Ekonomi, Sosial, dan Budaya atau tidak. Organisasi nonpemerintah internasional dan nasional juga memiliki peranan penting dalam mengawasi tindak lanjut pelaksanaan rekomendasi yang di tingkat nasional termuat dalam concluding observations badan perjanjian dan dalam mendorong debat publik di tingkat nasional mengenai pelaksanaan HAM pada masa proses pembuatan laporan dan setelahnya. Organisasi nonpemerintah juga memberikan kontribusi yang penting dalam pemajuan pengesahan perjanjian-perjanjian HAM di dunia.

Tidak-melaporkan (non-reporting) Walaupun sudah dengan bebas menerima kewajiban hukum yang melekat pada perjanjian HAM yang telah mereka ratifikasi, beberapa Negara gagal menyerahkan laporan mereka kepada badan perjanjian yang bersangkutan. Terdapat banyak alasan mengapa Negara-negara gagal melapor, mulai dari adanya perang dan konflik sipil sampai pada keterbatasan sumber daya. Bantuan teknis tersedia dari Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) dan Divisi Pengembangan Perempuan (DAW) untuk membantu Negara-negara dalam memenuhi kewajiban pelaporan mereka. Badan perjanjian juga telah mengadopsi prosedur untuk menjamin bahwa pelaksanaan perjanjian oleh Negara-negara Pihak yang tidak-melapor juga dapat ditinjau, yaitu ketika Negara tersebut tidak memberikan tanggapan terhadap permintaan informasi dari badan perjanjian. Komite juga secara khusus dapat mempertimbangkan situasi di suatu negara tanpa adanya laporan. Informasi mengenai status pelaporan Negara Pihak terhadap setiap perjanjian tersedia dari database badan perjanjian di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) atau dalam dokumen HRI/ GEN/4, yang diperbaharui setiap tahunnya. Situs tersebut juga menyediakan informasi mengenai bantuan teknis yang tersedia bagi Negara-negara Pihak. Protokol opsional Suatu instrumen internasional yang berhubungan dengan suatu dokumen utama dan memberikan kewajiban hukum tambahan bagi Negara-negara yang memilih untuk menerimanya. Protokol opsional dapat dirancang pada saat yang bersamaan dengan perjanjian utamanya, atau dirancang setelah perjanjian utamanya mulai diberlakukan. Protokol opsional pada perjanjian HAM diadopsi untuk sejumlah alasan: memberikan kesempatan bagi Negara-negara Pihak

JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

141

untuk mendaftarkan diri pada kewajiban tambahan berkaitan dengan monitoring internasional terhadap pelaksanaan perjanjian (Protokol Opsional Pertama pada Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, Protokol Opsional pada Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan, Protokol Opsional pada Konvensi Menentang Penyiksaan); memberikan kesempatan pada Negaranegara untuk mengambil kewajiban tambahan ketika hal-hal tersebut tidak termasuk dalam perjanjian utama (Protokol Opsional Kedua pada Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik); atau menanggapi persoalan-persoalan khusus secara lebih detil (kedua protokol opsional pada Konvensi Hak Anak). Periode pelaporan Jangka waktu untuk penyerahan laporan awal dan laporan berkala oleh Negara Pihak pada badan perjanjian ditentukan di setiap perjanjian atau ditentukan oleh komite sesuai dengan jangka waktu perjanjian. Suatu laporan awal diwajibkan dalam suatu jangka waktu tertentu setelah perjanjian mulai diberlakukan di Negara yang bersangkutan; laporan berkala kemudian diwajibkan untuk jangka waktu tertentu. Periode pelaporan berbeda dari satu perjanjian ke perjanjian lainnya. Petisi Suatu istilah kolektif yang mencakup berbagai prosedur untuk mengajukan pengaduan ke hadapan badan perjanjian yang kompeten. Petisi dapat terdiri dari pengaduan individual atau dari Negara Pihak mengenai pelanggaran terhadap ketentuan perjanjian oleh Negara Pihak lainnya. Kelompok kerja prapertemuan Suatu kelompok kerja dibentuk oleh beberapa badan perjanjian sebelum atau setelah pertemuan pleno guna merencanakan pe-

kerjaan mereka di pertemuan-pertemuan selanjutnya. Pekerjaan yang dilakukan oleh kelompok kerja prapertemuan berbeda dari satu komite ke komite lainnya: beberapa komite membuat daftar persoalan dan pertanyaan melalui kelompok kerjanya untuk kemudian diserahkan kepada setiap negara Pihak sebelum pertimbangan terhadap laporannya dilaksanakan; beberapa komite dengan kompentensi untuk mempertimbangkan pengaduan individual menggunakan kelompok kerja untuk membuat rekomendasi awal terhadap kasus dan persoalan lain yang terkait dengan prosedur pengaduan. Kelompok kerja prapertemuan biasanya dilaksanakan secara tertutup. Rekomendasi Suatu rekomendasi atau keputusan formal yang dikeluarkan oleh badan perjanjian. Istilah ini telah digunakan secara tidak konsisten, yaitu digunakan untuk menggambarkan keputusan formal mengenai persoalan-persoalan tertentu, atau resolusi yang lebih umum seperti yang dihasilkan dari diskusi umum. Concluding observations memuat rekomendasi spesifik, dan isitilah “rekomendasi badan perjanjian” sering digunakan secara bersamaan dengan “concluding observations”. Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial dan Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan juga merujuk pada komentar umum mereka sebagai “rekomendasi umum”. Panduan pelaporan bagi Negaranegara Pihak Panduan tertulis yang dihasilkan bagi Negara-negara Pihak oleh setiap badan perjanjian, yang memberikan nasihat mengenai bentuk dan isi dari laporan yang wajib diserahkan oleh Negara-negara berdasarkan perjanjian yang bersangkutan. Panduan yang terbaru bervariasi pendekatannya: beberapa komite menyediakan panduan yang detil berdasarkan pasal-per-pasal
JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

142

sementara komite lainnya memberikan panduan secara lebih umum (lihat Kompilasi Panduan Pelaporan HRI/GEN/2/ Rev.2). Dalam laporan reformasi keduanya (A/57/387), Sekretaris Jenderal meminta badan-badan perjanjian agar mengadopsi panduan pelaporan yang terharmonisasi. Draf panduan pelaporan yang terharmonisasi ini sedang dibuat oleh komite-komite. Reservasi Reservasi adalah suatu pernyataan yang dibuat oleh Negara yang menyatakan bahwa Negara tersebut meniadakan atau menambahkan dampak hukum beberapa ketentuan dalamperjanjian berkaitan dengan pelaksanaannya di Negara tersebut. Reservasi dapat memfasilitasi Negara untuk berpartisipasi dalam perjanjian multilateral di mana Negara tersebut dapat tidak mampu ataupun tidak bersedia melakukannya. Negara-negara dapat membuat reservasi terhadap suatu perjanjian ketika mereka menandatangani, meratifikasi, menerima, menyetujui, atau mengaksesinya. Ketika suatu Negara membuat reservasi ketika penandatanganan, maka Negara harus menegaskan kembali reservasi tersebut pada saat ratifikasi, penerimaan, atau persetujuan. Reservasi diatur oleh Konvensi Wina tentang Hukum Perjanjian, dan tidak bisa bertentangan dengan tujuan perjanjian. Oleh karena itu, Negara-negara dapat membuat reservasi ketika menandatangani, meratifikasi, menerima, menyetujui, atau mengaksesi suatu perjanjian, kecuali jika (a) reservasi dilarang oleh perjanjian; atau (b) perjanjian mensyaratkan bahwa hanya dapat dilakukan reservasi spesifik, yang tidak termasuk reservasi yang dimaksudkan. Negara-negara Pihak lain dapat mengajukan keberatan terhadap reservasi suatu negara Pihak. Kapan pun, reservasi dapat ditarik atau dibatalkan secara penuh atau sebagian oleh Negara Pihak.
JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

Prosedur peninjauan Suatu prosedur di mana badan perjanjian akan mempertimbangkan situasi di negara tanpa adanya laporan dari Negara Pihak tersebut. Prosedur ini digunakan dalam hal ketika laporan terlambat untuk jangka waktu yang lama dan Negara Pihak tidak menanggapi permintaan badan perjanjian akan laporan tersebut. Di banyak kasus, Negara-negara Pihak menyerahkan laporan mereka untuk menghindari prosedur peninjauan; di kasus lainnya, Negara-negara memilih untuk mengirimkan delegasinya ke pertemuan badan perjanjian dan menjawab pertanyaan dari para ahli badan perjanjian walaupun mereka belum dapat menyerahkan laporannya. Prosedur peninjauan pertama kali diadopsi oleh Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial pada 1991. Komite lain menggunakan istilah “pertimbangan terhadap situasi suatu negara tanpa adanya laporan”. Beberapa Komite memberikan suatu daftar persoalan kepada Negara Pihak walaupun tidak ada laporan. Kebanyakan komite menghasilkan concluding observations di akhir proses, namun hal ini dapat dirahasiakan untuk jangka waktu tertentu jika Negara tersebut berkeinginan menyerahkan laporannya. Peraturan tata tertib (rules of procedure) Aturan-aturan formal yang diadopsi oleh badan perjanjian guna mengatur cara-cara bagaimana badan perjanjian tersebut melakukan pekerjaannya. Setiap komite diberikan kewenangan oleh perjanjian yang bersangkutan untuk mengadopsi peraturan tata tertibnya sendiri. Peraturan tata terbit biasanya mencakup permasalahan seperti pemilihan pejabat dan prosedur pengambilan keputusan khususnya ketika tidak bisa dicapai konsensus. Peraturan tata tertib berkaitan, tetapi berbeda, dengan metode kerja.

143

TCB memberikan dukungan pada sekretariat bagi semua badan perjanjian kecuali Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. konvensi atau kovenan. UNAIDS. yang harus diserahkan secara berkala kepada badan perjanjian. yang berkantor di Sekretariat PBB. yang mengatur agenda komite dan mengkoordinasikan program kerjanya. Setiap perjanjian mewajibkan adanya suatu laporan awal yang komprehensif dalam jangka waktu tertentu setelah ratifikasi. JURNAL HAM • Vol. dana. dan program Berbagai badan khusus. baik dalam pelaksanaan kewajiban berdasarkan perjanjian maupun dalam proses penulisan laporan bagi badan-badan perjanjian. kovenan. 4 • Th. Setiap badan perjanjian memiliki sekretariat. termasuk FAO. Komisi Tinggi untuk Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR). OCHA. yang terdiri dari seorang sekretaris dan pegawai internasional lainnya. berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian tersebut. dalam hukum internasional. UN-HABITAT. Perjanjian dan Cabang Komisi (Treaties and Commision Branch/TCB) Di Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia(OHCHR). 2007 144 . Sekretariat badan-badan perjanjian lainnya berkantor di Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) di Jenewa. atau instrumen Secara hukum. Badan-badan khusus. konvensi. Perjanjian. tidak terdapat perbedaan antara perjanjian. Subkomisi Pemajuan dan Perlindungan Hak Asasi Manusia. TCB berkantor di Palais Wilson di Jenewa. dan program PBB terlibat dalam sistem perjanjian HAM. dana. Semua badan perjanjian mengijinkan partisipasi formal badan-badan PBB dalam proses pertimbangan laporan melalui ketentuan tentang informasi tambahan mengenai negara berkaitan dengan laporan Negara tersebut. Dana Bantuan Anak-Anak Perserikatan BangsaBangsa (UNICEF). Semua merupakan instrumen hukum internasional yang mengikat secara hukum. UNESCO. yang mengindikasinya langkah-langkah yang diadopsi guna melaksanakan perjanjian serta faktor-faktor dan hambatan-hambatan yang ditemuinya. UNIFEM. UNFPA. dan Organi- sasi Kesehatan Dunia (WHO). Negara-negara yang memilih untuk menerima kewajiban yang termuat di dalamnya. yang diikuti oleh laporan berkala secara periodik. Organisasi Buruh Internasional (ILO). Sekretariat Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan adalah bagian dari Divisi Pengembangan Perempuan (DAW) dalam Departemen Bidang Ekonomi dan Sosial (DESA) yang berkantor di New York. dan program dalam sistem PBB yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan PBB. Badan-badan khusus. Sebelumnya disebut sebagai “Perwakilan Pelayanan Dukungan” (“Support Service Branch/SSB”).Sekretaris/sekretariat Setiap perjanjian mewajibkan Sekretaris Jenderal PBB untuk menyediakan dukungan sekretariat bagi badan perjanjian tersebut. dan Dana Sukarela Perserikatan Bangsa-Bangsa bagi Korban Penyiksaan. Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP). Laporan bertarget atau terfokus Lihat “laporan-khusus perjanjian”. Laporan Negara Pihak Laporan yang diwajibkan kepada setiap Negara Pihak pada suatu badan perjanjian. termasuk memajukan dan melindungi HAM. TCB juga memberikan dukungan bagi Komisi Hak Asasi Manusia. Beberapa badan khusus juga memberikan bantuan teknis kepada Negara-negara. dana.

sementara beberapa lainnya juga terbuka bagi entitas-entitas lain yang memiliki kapasitas untuk membuat perjanjian. tetapi komite juga dikenal sebagai “badan perjanjian” karena setiap komite dibentuk sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian yang diawasinya. dan (2) tanggal mulai berlaku perjanjian yang bersangkutan di Negara tersebut. komite bersifat independen dari sistem PBB. Akhir-akhir ini. Negara tersebut harus (1) menyatakan kesediaannya untuk diikat oleh suatu perjanjian melalui tindakan ratifikasi. Kedua dokumen. Beberapa juga disebut sebagai “badan monitoring-perjanjian”. Metode kerja setiap badan perjanjian berubah sesuai dengan beban kerja dan faktor-faktor lainnya. Tanggapan tertulis terhadap daftar persoalan merupakan lampiran atau pembaharuan dari laporan Negara Pihak.un.untreaty. Tanggapan/jawaban tertulis terhadap daftar persoalan Jawaban tertulis Negara Pihak terhadap daftar persoalan dan pertanyaan badan perjanjian yang diserahkan sebelum pertemuan di mana laporan tersebut akan dipertimbangkan oleh komite. laporan kepada setiap badan perjanjian akan terdiri dari suatu dokumen umum bagi semua komite dan suatu dokumen khusus-perjanjian bagi setiap badan perjanjian. Kedua Kovenan dan Kovenan Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial terbuka bagi penandatanganan dan ratifikasi oleh “Negara Anggota PBB atau 145 . Bagaimana suatu Negara dapat menjadi Negara Pihak pada perjanjian Berikut dijelaskan mengenai proses bagaimana suatu Negara mengikat dirinya pada ketentuan-ketentuan perjanjian dalam hukum internasional sebagai Negara Pihak. Dalam banyak hal. 2007 yang berbeda dari setiap komite telah menyebabkan kebingungan dan ketidak-konsistenan. Praktik-praktik semacam itu tidak selalu diadopsi secara formal dalam peraturan tata tertib. jika dibaca bersama. akan membentuk suatu laporan Negara Pihak. terdapat gerakan untuk mengarusutamakan dan mengharmonisasikan metode kerja dalam pertemuan tahunan para ketua badan perjanjian. Untuk menjadi pihak. Beberapa perjanjian. atau aksesi. 4 • Th. persetujuan. Penjelasan lebih lanjut dapat diperoleh dari Kantor Urusan Hukum Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Office of Legal Affairs (http://www. khususnya karena pendekatan-pendekatan JURNAL HAM • Vol. penerimaan. Negara Pihak Negara Pihak adalah suatu Negara yang sepakat untuk diikat oleh suatu perjanjian berdasarkan hukum internasional. Perjanjian menggunakan istilah “komite”. hanya terbuka bagi Negara-negara. Metode kerja Prosedur dan praktik yang dikembangkan oleh setiap badan perjanjian untuk memfasilitasi pekerjaannya. Laporan/dokumen khusus-perjanjian Usulan dokumen inti/utama atau umum yang diperluas akan diserahkan kepada setiap badan perjanjian secara bersamaan dengan dokumen khusus-perjanjian yang berfokus pada persoalan-persoalan yang berkaitan secara khusus dengan perjanjian yang bersangkutan. seperti perjanjian-perjanjian hak asasi manusia.org). walaupun mereka menerima dukungan dari Sekretariat PBB dan melapor kepada Majelis Umum. Walaupun sering dirujuk sebagai “laporan khusus-perjanjian”.Badan perjanjian atau komite Suatu komite yang terdiri dari ahli-ahli independen yang ditugaskan untuk memonitor pelaksanaan Negara-negara Pihak atas setiap perjanjian internasional hak asasi manusia yang utama.

Suatu Negara dapat menyatakan persetujuannya untuk diikat oleh perjanjian dengan beberapa cara.anggota badan-badan khususnya. atau melalui aksesi. seperti halnya perjanjian-perjanjian hak asasi manusia. sesuai denga pasal-pasal terakhir dari perjanjian tersebut. atau persetujuan. yaitu ketika suatu Negara memberikan persetujuannya untuk diikat oleh perjanjian yang telah ditandatanganinya. Negara harus menandatangani perjanjian. atau persetujuan Ratifikasi. 2007 . pertama. penerimaan. penandatanganan adalah langkah persiapan guna mencapai ratifikasi perjanjian oleh Negara. Dengan kata lain. Dalam hal tersebut. penandatanganan mengindikasikan keinginan Negara untuk mengambil langkah-langkah untuk diikat oleh perjanjian di kemudian hari. Perjanjian HAM utama lainnya terbuka bagi semua Negara. Protokol opsional dibatasi hanya bagi Negara-negara Pihak pada perjanjiannya. Penandatanganan Perjanjian-perjanjian multilateral. kapan perjanjian tersebut akan mulai diberlakukan. atau persetujuan. jika Negara menyatakan persetu- 146 JURNAL HAM • Vol. dan kedua. Negara harus menyatakan persetujuannya untuk diikat oleh perjanjian. Negara melakukan hal tersebut dengan menyerahkan “instrumen ratifikasi” kepada Sekretaris Jenderal PBB. bagaimana Negara-negara harus melanjutkan proses mengikat diri terhadap ketentuanketentuan substantif perjanjian. Namun. biasanya menjadi ditandatangani yang kemudian diikuti oleh ratifikasi. pertama kali. Bagaimana caranya suatu Negara bisa menjadi pihak pada suatu perjanjian? Setiap perjanjian HAM memuat ketentuanketentuan yang menentukan. atau persetujuan. tindakan penandatanganan tidak menentukan adanya kewajiban hukum positif terhadap Negara. penerimaan. Dalam kondisi tertentu Negara juga dapat mengikat dirinya melalui suksesi. suatu Negara harus menunjukkan keinginannya untuk melaksanakan semua hak dan kewajiban hukum yang termuat dalam perjanjian melalui tindakan nyata. sebelum mengambil kewajiban hukum berdasarkan perjanjian di tingkat internasional. Dengan kata lain. penerimaan. penerimaan. kecuali Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang keterlibatan anak-anak dalam konflik bersenjata yang terbuka bagi Negara mana pun yang menyetujuinya. dan oleh Negara mana pun yang telah diundang oleh Majelis Umum PBB”. Perjanjian HAM menentukan bahwa persetujuan dapat diberikan baik melalui penandatanganan yang diikuti dengan ratifikasi. Untuk menjadi pihak pada perjanjian multilateral. oleh Negara Pihak mana pun pada Statuta Pengadilan Internasional. Untuk meratifikasi perjanjian. Ratifikasi. Dengan mensyaratkan bahwa penandatanganan harus diikuti oleh ratifikasi maka Negara-negara memiliki waktu untuk mencari kesepakatan bagi perjanjian di tingkat domestik dan untuk menegakkan peraturan-peraturan yang diperlukan guna melaksanakan perjanjian di tingkat nasional. atau persetujuan mengacu pada tindakan definitif yang diambil di tingkat internasional. penerimaan. Penandatanganan juga menciptakan kewajiban untuk menahan diri dalam niatan yang baik dari tindakan-tindakan yang bertentangan dengan tujuan perjanjian dalam jangka waktu antara penandatanganan dan ratifikasi. Banyak perjanjian mensyaratkan jumlah minimum Negara Pihak sebelum perjanjian tersebut mulai berlaku sebagai hukum internasional. 4 • Th.

Negara yang bersangkutan harus memberitahukan Sekretaris Jenderal PBB mengenai niatnya untuk menggantikan kewajiban hukum tersebut. 2007 kin terjadi dan prosedur yang dipakai tergantung pada ketentuan-ketentuan dalam perjanjian yang bersangkutan. tidak boleh disamakan dengan ratifikasi di tingkat nasional. Negara menunjukkan keinginannya untuk melaksanakan hak dan 147 . Pembedaan antara ratifikasi/aksesi dengan mulai berlaku Tindakan di mana Negara menyatakan persetujuannya untuk diikat oleh perjanjian berbeda dengan mulai berlakunya perjanjian tersebut. Dalam kondisi-kondisi tersebut. Aksesi biasanya digunakan oleh Negara-negara yang ingin menyatakan persetujuan mereka untuk diikat oleh perjanjian ketika tenggat waktu penandatanganan telah lewat. penerimaan. yaitu penyerahan instrumen aksesi. Pada umumnya. Negara penggantinya dapat memilih meratifikasi atau mengaksesi perjanjian yang bersangkutan dalam kapasitasnya sendiri. aksesi hanya mensyaratkan satu langkah. Ratifikasi di tingkat internasional. dan penarikan diri suatu Negara atau entitas dari Negara atau federasi. maka Negara terikat secara hukum oleh perjanjian sebagai salah satu Negara Pihaknya. yang mungkin diperlukan oleh Negara sesuai dengan ketentuan-ketentuan konstitusionalnya sebelum Negara tersebut menyatakan persetujuan untuk diikat secara internasional.juannya untuk diikat tanpa pertama kali menandatangani perjanjian. Dalam hal ini. Ketika suatu Negara telah meratifikasi perjanjian di tingkat internasional. Kondisi-kondisi di mana aksesi mungJURNAL HAM • Vol. Aksesi memiliki dampak hukum yang sama seperti ratifikasi. Namun. Ratifikasi di tingkat nasional tidak cukup kuat sebagai pernyataan keinginan Negara untuk diikat di tingkat internasional. Kondisi semacam ini termasuk kemerdekaan (misalnya. Tindakan yang diperlukan di tingkat internasional juga perlu dilakukan. tidak seperti ratifikasi. maka Negara harus melaksanakan perjanjian tersebut di tingkat nasional. melalui dekolonialisasi). Namun. maka proses tersebut disebut aksesi (lihat di bawah). yang mengindikasikan komitmen Negara kepada masyarakat internasional untuk melaksanakan kewajibannya. tidak ada pembatasan waktu untuk meminta Negara meratifikasi perjanjian yang telah ditandatanganinya. atau persetujuan. 4 • Th. yang harus diawali dengan penandatanganan untuk menciptakan kewajiban hukum yang mengikat berdasarkan hukum internasional. Negara tersebut dapat menyatakan persetujuannya untuk terus diikat oleh kewajiban hukum sebagaimana dilakukan oleh Negara Pihak yang asli yang berlaku untuk wilayah teritorial yang sama melalui tindakan suksesi. atau sebagai alternatif. Setelah ratifikasi. penyatuan negara federasi atau serikat. Suksesi Suksesi terjadi hanya dalam kasus-kasus di mana suatu Negara yang menjadi pihak pada perjanjian mengalami transformasi konstitusional yang besar yang menimbulkan keraguan apakah pernyataan persetujuan untuk diikat oleh perjanjian yang telah diberikan sebelumnya tetap sahih. Aksesi Aksesi adalah tindakan ketika suatu Negara yang belum menandatangani suatu perjanjian menyatakan persetujuannya untuk menjadi pihak pada perjanjian tersebut dengan menyerahkan “instrumen aksesi” kepada Sekretaris Jenderal PBB. banyak perjanjian multilateral modern dapat diaksesi bahkan pada masa perjanjian terbuka bagi penandatanganan.

yang mempunyai daftar perjanjian multilateral yang diserahkan kepada Sekretaris Jenderal. maka mungkin akan terdapat beberapa tanggal pada perjanjian berkaitan deJURNAL HAM • Vol. Mulai berlaku bagi suatu Negara Ketika perjanjian sudah mulai berlaku secara umum. persetujuan. biasanya dengan masa tunggu satu bulan atau sekitarnya. Ada dua jenis mulai berlakunya perjanjian: mulai berlakunya perjanjian sebagai instrumen hukum internasional secara pasti. Tanggal Sebagai konsekuensi dari hal tersebut di atas. Mengapa tanggal mulai berlaku penting? Ini adalah tanggal di mana hak-hak yang diatur dalam perjanjian mengikat Negara dalam hukum internasional. Mulai berlaku Mulai berlakunya suatu perjanjian adalah saat ketika suatu perjanjian benar-benar mengikat secara hukum negara-negara yang menjadi pihaknya. Perjanjian tidak dengan serta merta mulai berlaku: biasanya ada masa tunggu yang diatur dalam perjanjian antara tanggal penyerahan instrumen dan tanggal mulai berlakunya. Sampai tanggal tersebut. Tanggal ini juga menentukan tanggal-tanggal Negara harus menyerahkan laporannya kepada badan perjanjian. Kebanyakan perjanjian memperkirakan bahwa perjanjian akan mulai berlaku setelah adanya ratifikasi. mulai berlakunya perjanjian berkaitan dengan suatu Negara adalah saat di mana perjanjian tersebut benar-benar mengikat secara hukum bagi Negara Pihak tersebut. penerimaan. Situsnya http://untreaty. Bagaimana saya bisa mengetahui apakah suatu perjanjian sudah mulai berlaku di suatu Negara? Sumber yang pasti adalah Tempat Penyimpanan Perserikatan BangsaBangsa. Ketentuan-ketentuan perjanjian menentukan saat mulai berlaku tersebut. penerimaan. atau aksesi yang diserahkan kepada Sekretaris Jenderal dalam jumlah tertentu. baik yang sudah meratifikasi maupun mengaksesinya (walaupun Negara-negara tersebut tetap berkewajiban untuk menahan diri dalam niatan yang baik dari tindakan-tin- dakan yang bertentangan dengan tujuan perjanjian tersebut). Daftar ratifikasi perjanjian HAM utama tersedia di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR). Siapa pun yang ingin mengajukan pengaduan terhadap Negara Pihak kepada badan perjanjian berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian atau protokol opsionalnya harus memastikan bahwa instrumen tersebut telah diberlakukan di Negara yang bersangkutan. persetujuan. maka ketentuan-ketentuan tambahan menentukan kapan perjanjian mulai berlaku bagi Negara atau organisasi internasional tambahan yang ingin terikat dengan perjanjian tersebut.un.kewajiban hukum berdasarkan suatu perjanjian melalui penyerahan instrumen ratifikasi. Mulai berlaku secara pasti Masa mulai berlakunya suatu perjanjian secara pasti adalah waktu yang menetapkan perjanjian baru tersebut sebagai instrumen hukum yang mengikat bagi Negaranegara yang telah menyatakan persetujuannya untuk diikat oleh ketentuan-ketentuan dalam perjanjian tersebut. Sedangkan. 4 • Th. 2007 148 .org. atau aksesi. perjanjian tidak mengikat secara hukum bagi Negara mana pun. dan masa mulai berlaku khusus bagi Negara tertentu.

4 • Th. Hal ini tidak memiliki dampak hukum kecuali menahan diri dari tindakantindakan yang bertentangan dengan tujuan perjanjian. Kalkulasi tanggal mulai berlakunya perjanjian Perjanjian Kovenan Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi.ngan suatu Negara: Tanggal mulai berlakunya suatu perjanjian secara pasti: yaitu tanggal yang ditentukan dalam perjanjian yang menunjukkan kapan perjanjian mulai berlaku secara umum dalam hukum internasional dan mulai mengikat Negara-negara yang telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan. Sosial. 2007 149 . dan Budaya Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan Konvensi Menentang Penyiksaan Konvensi Hak Anak Diadopsi 21 Desember 1965 Tanggal mulai berlaku 4 Januari 1969 Tanggal mulai berlaku bagi Negara Pihak Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan 16 Desember 1966 16 Desember 1966 18 Desember 1979 3 Januari 1976 3 bulan setelah tanggal penyerahan 23 Maret 1976 3 bulan setelah tanggal penyerahan Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan 3 September 1981 10 Desember 1984 20 November 1989 26 Juni 1987 2 September 1990 Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan JURNAL HAM • Vol. Tanggal penyerahan instrumen ratifikasi atau aksesi: yaitu tanggal kapan tempat penyimpanan perjanjian PBB menerima instrumen hukum yang menyatakan persetujuan Negara untuk terikat pada perjanjian. Kebanyakan perjanjian mensyaratkan jangka waktu tertentu antara tanggal penyerahan instrumen sebelum perjanjian mulai berlaku dan mengikat secara hukum. Tanggal mulai berlaku bagi Negara: yaitu tanggal yang ditetapkan oleh perjanjian tentang kapan perjanjian mulai secara formal mengikat Negara dalam hukum internasional. Jangka waktu tersebut beragam antara satu perjanjian dengan perjanjian lainnya. Tanggal penandatanganan: yaitu tanggal kapan Negara menandatangani perjanjian.

Konvensi Internasional tentang Perlindungan terhadap Hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya Protokol Opsional Pertama Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Protokol Opsional Kedua Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Tentara Anak Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Penjualan Anak Protokol Opsional Konvensi Menentang Penyiksaan 18 Desember 1990 1 Juli 2003 Pada hari pertama bulan berikutnya setelah 3 bulan setelah tanggal penyerahan 3 bulan setelah tanggal penyerahan 16 Desember 1966 23 Maret 1976 15 Desember 1989 11 Juli 1991 3 bulan setelah tanggal penyerahan 6 Oktober 1999 22 Desember 2000 3 bulan setelah tanggal penyerahan 25 Mei 2000 18 Januari 2002 12 Februari 2002 Belum diberlakukan (dibutuhkan 20 Negara Pihak) 1 bulan setelah tanggal penyerahan 1 bulan setelah tanggal penyerahan Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan 25 Mei 2000 18 Desember 2002 150 JURNAL HAM • Vol. 2007 . 4 • Th.

29 : Pegiat Hak Asasi Manusia: Perlindungan Hak Untuk Membela Hak Asasi Manusia No. 23 : Praktik Tradisional yang Berbahaya bagi Kesehatan Perempuan dan Anak No. 28 : Dampak Kegiatan Tentara Bayaran terhadap Hak Orang-orang Untuk Menentukan Nasibnya Sendiri No. 19 : Lembaga Nasional untuk Memajukan dan Melindungi Hak Asasi Manusia No. 16 : Komite Hak Ekonomi. 18 : Hak Kelompok Minoritas JURNAL HAM • Vol. 4 No. 2 No. 11 : Hukuman Mati di Luar Hukum Secara Cepat dan Sewenang-wenang (Revisi 1) No. 15 : Hak Sipil dan Politik: Komite Hak Asasi Manusia (Revisi 1) No. 17 : Komite Menentang Penyiksaan No. 14 : Bentuk-Bentuk Perbudakan Masa Kini No. 4 • Th. 21 : Hak atas Perumahan yang Layak No. 10 : Hak Anak (Revisi 1) No. No. 1.Daftar Lembar Fakta Hak Asasi Manusia:* No. 22 : Diskriminasi terhadap Perempuan: Konvensi dan Komite No. 20 : Hak Asasi Manusia dan Pengungsi No. 12 : Komite Penghapusan Dikriminasi Rasial No. 9 No. No. 26 : Kelompok Kerja untuk Penahanan Sewenang-wenang No. dan No. 13 : Hukum Humaniter Internasional dan Hak Asasi Manusia No. Sosial dan Budaya (Revisi 1) No. 3 : Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia (Revisi 1) : Layanan Penasihat dan Kerja Sama Teknis di Bidang Hak Asasi Manusia (Revisi 1) : Metode-metode Menentang Penyiksaan (Revisi 1) : Penghilangan Orang Secara Paksa atau Tidak dengan Sukarela (Revisi 2) : Prosedur Komunikasi (Revisi 1) : Hak Penduduk Asli (Revisi 1) No. 8 tidak lagi dipublikasikan. 5. 24 : Hak Pekerja Migran No. 7 No. 30 : Sistem Perjanjian Hak Asasi Manusia Perserikatan BangsaBangsa:Pengantar terhadap Perjanjian Hak Asasi Manusia Utama dan Badan-badan Perjanjian * Lembar Fakta No. 27 : Tujuh Belas Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Pelapor Khusus PBB No. 6 No. 25 : Penyingkiran Secara Paksa dan Hak Asasi Manusia No. 2007 151 .

Ketiga. lebih rendah dibandingkan angka rata-rata di Jawa Barat yang 24%. keteraksesan. pertama. Kedua. Sikka. Ketersediaan sarana pendidikan masih menjadi problem. Peluang kebebasan untuk mendirikan lemJURNAL HAM • Vol. yaitu soal kebebasan. Banyak kondisi fisik bangunan sekolah dan sarana pendukung yang kurang memadai. Keterlambatan ini. lebih rendah lagi. Sementara untuk masalah pelayanan kesehatan indikatornya adalah ketersediaan. Pendidikan dan kesehatan. Tingkat layanan pendidikan di Indramayu. Rahadi’T Wiratama. Seperti diketahui bersama. Pengantar : Abdul Hakim Garuda Nusantara Editor : Harry Wibowo dan Anharudin Penerbit : CESDA-LP3ES.Akses Terhadap Pendidikan dan Kesehatan: Peristiwa Tiga Daerah Judul Buku : Meneropong Hak Atas Pendidikan dan Layanan Kesehatan: Analisis Situasi di Tiga Kabupaten: Indramayu. merupakan hak penting yang satu sama lain saling terkait dan menentukan. Untuk masalah hak pendidikan ada empat hal. Harry Wibowo. keteraksesan. 103). Setiap Negara dituntut untuk memenuhi kebutuhan minimum untuk bertindak secara komisi maupun secara omisi. khususnya pelayanan pendidikan kepada anak. mengkonfirmasi persepsi yang berkembang selama ini mengenai pelayanan kesehatan dan pendidikan yang masih jauh dari harapan. ketersediaan. keterimaan dan kualitas. melindungi dan melaksanakan. Burhanudin. Negara memiliki kewajiban untuk. 2005. Sementara di Kabupaten Sikka dan Jayapura. Potret di tiga lokasi penelitian yang menjadi locus. 4 • Th. Abdul Mun’im Dz. belum mampu menjamin penegakan. Wildan Pramudya. Widodo Dwi Putro. 2007 152 . dan kebersesuaian. Masing-masing bidang memiliki indikator. menghormati. dalam kadar serta intensitas tertentu.5%. dan Jayapura Penulis : Naning Mardiniah. penghormatan dan promosi terhadap terpenuhinya Hak Ekonomi Sosial Budaya (HESB). Gambaran di mana Negara. Angka ini jelas sangat tinggi. 195+xxiv Hasil survey yang kemudian diterbitkan menjadi buku ini. Angka-angka berikut mengkonfirmasi fakta itu. menggambarkan situasi umum di negeri ini. bertindak (obligation of conduct) dan berkewajiban mencapai hasil (obligation of result). Angka putus sekolah di Kab. Penelitian dari tiga daerah ini menunjukkan bahwa terjadinya keterlambatan dalam pelayanan pendidikan. Di Kabupaten Sikka lebih parah lagi. Indramayu mencapai 4. menunjukkan rendahnya kualitas kepedulian pemerintah daerah dan masyarakat. lebih-lebih jika dilihat bahwa angka putus sekolah itu terjadi pada jenjang pendidikan SD (h. soal kewajiban minimum.

2007 kesehatan di Kabupaten Indramayu. ada yang kondisi bangunannya rusak berat dan tidak bisa dipakai (h. Pada level masyarakat masih ditemui kasus-kasus yang menghambat pelaksanaan pendidikan. Tidak semua Puskesmas memiliki tenaga dokter. Jayapura belum selesai. Dibandingkan kabupaten sekitarnya. Hal ini terjadi karena beberapa sebab. kemudian buku ini menarik benang merah. 166) Hal yang sama juga terjadi dalam masalah pelayanan kesehatan. Jayapura adalah gambaran yang paling menyedihkan. menjadikan kebijakan Pemda/Pemerintah menggratiskan layanan kesehatan. kondisinya sangat jauh dari kabupaten lain.137). Apa yang terjadi di Kab. Banyak bangunan sekolah yang tanahnya dalam status sengketa dengan masyarakat adat (h. pada aspek pemenuhan ini. 7 dokter gigi dan 175 bidan desa. Menghargai atau menghormati. Prasarana jalan sulit itu. telah menghapuskan biaya pendidikan dasar. Secara lebih spesifik di Kabupaten Jayapura. banyak yang belum bisa baca-tulis dan berhitung (h. tampaknya belum terpenuhi (h. 4 • Th. Jadi. Kualitas layanan JURNAL HAM • Vol. 149). Gambaran lebih dramatis terjadi di Kabupaten Jayapura. banyak problem yang terjadi. Terjadi ketimpangan dalam rasio distribusi. Paling tidak. to protect dan to fulfill. salah satunya adalah konflik status kepemilikan tanah yang tidak kunjung diselesaikan oleh Pemda. yaitu to respect. Pada satu Puskesmas misalnya. problem yang menghambat terpenuhinya hak kesehatan masyarakat adalah distribusi tenaga medis yang tidak merata. minimnya tenaga pengajar sehingga banyak kelas yang kosong. meskipun pendidikan dasar merupakan suatu yang wajib dan harus dilakukan secara gratis. Untuk bisa memenuhi standar minimum saja masih jauh. Dari sini. dan sebagai akibatnya. akan tetapi tidak dengan sendirinya bisa menghentikan laju angka putus sekolah. terjadi konsentrasi te- 153 . Banyak faktor yang melatar belakangi mengapa pelaksanaan pelayanan pendidikan dasar belum memenuhi standar minimum. 154). menjadi tidak mengena. Sikka dan Jayapura masih rendah jika diukur dari standar minumum. Tidak semua kondisi Puskesmas dalam kondisi siap pakai. Tenaga medis yang tersedia. sementara pemerintah sendiri belum mampu menyediakan sarana dan prasarana pendidikan dasar yang memadai (h. Sebagian besar prasarana jalan raya di Kab. sulitnya lokasi baik untuk dijangkau tenaga pengajar maupun siswa. melindungi dan memenuhi. sebagaimana ditemukan pada SD Distrik Genyem. fasilitas buku pelajaran yang minim. Siswa yang sudah lulus SD pun. akan tetapi masih jauh dari harapan. 159). 27 dokter umum. belum memenuhi tanggung jawabnya dalam memenuhi hak-hak kesehatan dasar bagi masyarakat. problem mendasarnya adalah masalah keteraksesan dari segi jarak. Aspek pelayanan minimumpun. tanggung jawab pemerintah ini akan dilihat dari aspek ketersediaan. buruknya ruang belajar dan banyaknya siswa yang kurang gizi sehingga sulit menangkap pelajaran dari gurunya. keteraksesan dan keberterimaan. Kendati Pemda Jayapura.baga pendidikan tidak dimanfaatkan oleh masyarakat. ada tiga kewajiban utama pemerintah terkait hal tersebut. masyarakat mengalami kesulitan untuk mendapatkan akses pelayanan kesehatan (h. 107). Temuan yang diungkapkan dalam buku ini mengindikasikan bahwa masalah kesehatan mengindikasikan pemerintah. Di Kabupetan Sikka. Di tingkat kabupetan. belum tersedia Rumah Sakit Umum dan tidak semua kecamatan memiliki Puskesmas.

Indramayu. Ellyasa KH Darwis 154 JURNAL HAM • Vol.4 % dari APBD. Meskipun di tingkat nasional telah digariskan dengan sejumlah peraturan hukum dan kebijakan politik. Jayapura maupun Sikka. Tak hanya itu. Namun dari sisi kualitas layanan. Jadi tidak akses ke pelayanan kesehatan memang masih belum merata dan bisa dibayangkan bagaimana masyarakat yang ada di desa (h. dan perlindungan bagi masyarakat miskin juga masih rendah. Temuan di lapangan menunjukkan ada dua problem dalam akses kesehatan. 125-131). Pertama. masyarakat di kecataman yang Puskesmasnya tidak tersedia tenaga dokter. secara umum. Laporan tiga daerah itu secara tegas menyuratkan kenyataan bahwa masalah pendidikan dan kesehatan. Dan untuk pembangunan kesehatannya hanya sekitar 7 milyar per tahunnya. masih perlu dilihat lagi. setidaknya pemerintah telah menyediakan secara memadai sarana dan prasarana kesehatan. Pada kebijakan kesehatan. sebagian besar masyarakat tidak memiliki akses terhadap air bersih sebagai akibatnya derajat kesehatan masyarakat juga rendah. untuk bisa mengakses harus ke Puskesmas Kecamatan lain. bidang kesehatan hanya mendapat alokasi anggaran sejumlah 0. Pasalnya. 4 • Th. Dari segi infrastruktur. Salah satu kasusnya adalah akses masyarakat terhadap air bersih. di sana sini terjadi ambivalensi dan tidak jarang reductive. jika dilihat dari standard minimum. meskipun secara nasional telah tegas akan tetapi banyak daerah tingkat dua yang tidak menjadikannya sebagai mainstream dalam pembangunan. tidak ada dokter sama sekali. Karenanya. masih belum menjadi mainstream dalam program pembangunan di negeri ini. kebijakan pemerintah masih banyak mene- kankan aspek kuratif daripada promotif dan preventif. Sementara dalam masalah pendidikan. Oleh karena itu. pembangunan kesehatan belum menjadi arus utama pembangunan. sosialisasi kebijakan kesehatan masih rendah. Dari aspek ketersediaan. 2007 . Akan tetapi penerapan prinsip-prinsipnya yang kemudian dianggap sebagai bagian dari pelaksanaan otonomi daerah. pelaksanaannya di daerah belum diiringi perspektive dan komitment mendalam untuk memenuhi hak-hak rakyat. Mun’im menyarankan agar Puskesmas yang berfungsi sebagai pusat kesehatan masyarakat mengubah paradigma layanannya dari aspek kuratif ke promotif dan preventif. rendahnya keteraksesan masyarakat terhadap informasi tentang kesehatan yang melahirkan munculnya perilaku hidup yang tidak sehat dan rendahnya keterjangkauan masyarakat untuk mengakses layanan kesehatan yang disediakan pemerintah. ketersediaan tenaga medis. Memang lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Sikka. Problem kesehatan yang terjadi adalah soal akses untuk hidup sehat. Banyaknya kasus diare dan demam berdarah di Indramayu akibat sanitasi lingkungan yang buruk. Kedua. Kebijakan Pemerintah dari sisi anggaran. Sementara untuk Kab.naga dokter sementara pada Puskesmas tertentu. Sayangnya. pembangunan kesehatan masih bersifat kuratif. akses tentu tampak lebih dibanding Kab. Itu sebabnya. upaya pelaksanaan di lapangan yang terjadi sekadar memenuhi kuantitas dan belum ditunjukkan kearah peningkatan kualitas.

Zen.M in International Human Rights Law di University of Essex. Tak Ada Hak Asasi yang Diberi (2005).go. jabatan terakhirnya adalah Direktur Eksekutif Institut Studi Arus Informasi (ISAI) dan penulis lepas.id Henri Simarmata. Inkonsistensi dan Separatisme Jakarta: Mengapa Tanah Papua Terus Bergolak? (2005). antara lain: Buku Panduan Bantuan Hukum di Indonesia (2006). Penerima Beasiswa the British Chevening Scholarship (2001/2002) untuk LL. 4 • Th. Beberapa kali terlibat dalam pekerjaan Komnas HAM antara lain menjadi evaluator majalah Komnas HAM “SUAR”. Inggris. Sekarang menjadi Anggota Komnas HAM pada Subkomisi Pendidikan dan Penyuluhan (2007-2012). 2004-2006 menjadi anggota Komite Eksekutif Forum Asia sebagai wakil PBHI – termasuk menjadi Ketua Komite Eksekutif (November 2005-Februari 2006) Adhi Santika saat ini menjabat Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hak-hak Kelompok Rentan Badan Penelitian dan Pengembangan HAM. Aktif dalam berbagai seminar dan lokakarya HAM serta menulis sejumlah makalah berkaitan dengan HAM di Indonesia A. Buku Pintar. 2003-2006 bekerja di Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi manusia Indonesia. Sengketa Konstitusional Lembaga-lembaga Negara (2005). anggota Tim Ad Hoc Kerusuhan 13-14 Mei 1998 (2003). editor dan co-editor buku. 1999 dan 2005 mengikuti sesi sidang Komisi HAM. Naskah Akademik JURNAL HAM • Vol. Beliau juga adalah salah satu anggota Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). menjadi fasilitator dan pendamping kelompok minoritas (antara lain masyarakat adat dan orang Tionghoa) dan memimpin tim riset dan penelitian kekerasan yang dilakukan Polri untuk Subkomisi Pemantauan Komnas HAM (2004). Email : stanley@komnasham. Membangun Koalisi yang Otoritatif Dalam Menilai Proses Pembentukkan Perundang-undangan yang Partisipatif (2005). 2007 155 . Departemen Hukum dan HAM. Penulis. 1995-2002 bekerja di Institut Sosial Jakarta. menjadi fasilitator dalam menyusun rencana kerja Komnas HAM. Dalam bidang organisasi beliau menjadi Majelis Etik AJI Jakarta (2003-2005) serta menjadi anggota Pokja Reformasi Polri yang dibentuk oleh POLRI-Kemitraan sejak 2003. yaitu mengkoordinir penelitian Gerakan Demokrasi di Indonesia (2002-2003) dan mengkoordinir survei dan penelitian “Aktor Demokrasi di Indonesia” (2000-2002). Juga menjadi penyelia penerbitan sejumlah ornop yang disandangnya sejak 1996. 60 Menit Memahami (Mengawasi) Penyusunan Peraturan Perundang-undangan (2005). Beliau juga aktif dalam beberapa penelitian. Patra M.TENTANG PENULIS Yoseph Adi Prasetyo. Ketua Ad Interim Badan Pengurus Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia. Refleksi dan Penyusunan Strategi Mewujudkan Partisipasi Masyarakat dalam Penyusunan Peraturan Perundang-undangan (2005).

Recent Developments in Human Rights in Indonesia after the Adoption of the National Plan of Action of Human Rights 1998 – 2003 (Preparatory Workshop on the Capacity Building in International Labour Standard and Human Rights in Indonesia. Indonesia and the New Human Rights Council (The Jakarta Post.29 September 1999). Diantaranya dari lembaga prestisius seperti Human Rights Watch(1993). conducted by ILO. dalam bidang political science. Australia.com Andik Hardiyanto. 2006). 2005).Rancangan Undang-undang tentang Pengadaan Barang dan Jasa Publik (2004). Hendardi. 2006).m. Tahun 1993-1997 bertugas di Bagian Politik Kedutaan Besar RI di Canberra. Land Reform by Leverage In Indonesia (1998). Sejak tahun 1996. dan juga penghargaan HAM dari Menteri Negara Urusan Hak Asasi Manusia RI (29Agustus 2000). saat ini Direktur Eksekutif Social and Economic Rights Action Centre (SiDAN). April 19. Koalisi Partisipasi (2003). Shameful modern slavery (The Jakarta Post. June-August 2001 edition). Pernah menjadi Ketua Komite Pembelaan Mahasiswa (KPM ITB)1979-1981 yang ditangkap oleh rejim Soeharto. dan Hukum Perdata di Indonesia (2001). Bogor: 28 .M dari Tulane Law School. Tulisannya antara lain: The spirit of May 20 (The Jakarta Post. March 28. Kemudian aktif dilingkaran Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Tahun 1987 menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan tahun 1992 memperoleh gelar LL. New York. Jonny Sinaga saat ini bekerja di Departemen Luar Negeri Republik Indonesia sebagai Kepala Sub-Direktorat Hak Sipil dan Politik. Tahun 19881993 bertugas di Direktorat Perjanjian Internasional Departemen Luar Negeri.Madison. Aceh dan Timor Timur (Timor Leste). Lesson learnt from world leaders’ school diplomacy (The Jakarta Post.D. May 20. The World Conference against Racism. Hendardi pernah menerima berbagai penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri. November 8. 2006). dari tahun 2000-2004. 4 • Th. Yang bersangkutan sebelumnya bertugas menangani isu-isu HAM di Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) pada Perserikatan Bangsa-Bangsa New York. Reforming the UN Human Rights Commission (dengan Mulyadi) (The Jakarta Post. Tahun 1997 hingga tahun 2004 Jonny Sinaga bekerja di Direktorat Organisasi Internasional Departemen Luar Negeri sekaligus menjadi anggota Kelompok Kerja HAM Deplu. May 10. Kritik dan saran dapat melalui patra. 2006). Jakarta. New Orleans. Emilie Hafner-Burton mendapatkan gelar Ph.dari University of Wisconsin .zen@gmail. July 2003 (with Distinction) dengan area spesiali- 156 JURNAL HAM • Vol. 2005). 2007 . seperti di Lampung. Durban. Amerika Serikat. Penulis Agenda Land Reform di Indonesia Sekarang. South Africa (The United Nations Chronicle. The quiet revolution in Indonesia’s human rights (The Jakarta Post. Hasil Studi Identifikasi Potensi Land Reform di Indonesia (1998). dan kerap melakukan investigasi di daerahdaerah konflik. Hendardi menjabat sebagai ketua Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI). Considering General Election in Aceh under the Martial Law (2004). Waktu senggangnya digunakan untuk menulis yang antara lain muncul dalam Jurnal PBB New York dan harian the Jakarta Post. April 18.

44(4). 1. pp.” Journal of Peace Research. “Global Civil Society and Ethnic Social Movements in the Contemporary World.” With Dimitris Assimakopoulos and Sean Everton. State University of New York.” Cornell University Press. Journal of Peace Research. “International Human Rights Law and the Politics of Legitimation: Repressive States and Human Rights Treaties. No. New Road. “Global Civil Society and the International Human Rights Movement: Citizen Participation in Human Rights International Nongovernmental Organizations. “Justice Lost! The Failure of International Human Rights Law to Matter Where Needed Most. Journal of Conflict Resolution. Saat ini tengah mengkaji mengenai ekspansi global hak asasi manusia dan dampaknya terhadap politik lokal. Inggris. “Human Rights Practices in a Globalizing World: The Paradox of Empty Promises. 13731411. special edition of the Journal of Conflict Resolution.” Co-authored with Alexander H. Princeton University. Nuffield College. 2007. 99-108. International Sociology. 2005.” Coauthored with Kiyoteru Tsutsui. “The Semiconductor Community in Silicon Valley: A Network Analysis of the Semi Genealogy Chart (1047 .” Coauthored’with Jana von Stein.” Co-authored with Alexander Montgomery. No.” Co-authored with Kiyo Tsutsui. 110.sasi International Relations and Methodology. 593-629. Hafner-Burton and Ron.. 2007 157 . 83.” Co-authored with James Ron. Montgomery. “Human Rights in a Globalizing World: The Paradox of Empty Promises. American Journal of Sociology. 2005. 2005. April 2008. “International Organizations Count: What Statistics Show Us (and Don’t Show Us) About IOs.679-698. 2008. forthcoming. pp.hafner-burton@nuffield. pp. forthcoming (under revision). 2004. Social Networks. Oxford OXI 1 NF. E-mail: Emilie. American Journal of Sociology. Journal of Conflict Resolution... forthcoming (under revision). 19. 42(6). forthcoming. 2004. International Journal of Technology JURNAL HAM • Vol. No. 45(1). pp. 23(1). adalah peneliti utama dengan spesialisasi bidang politik. 2.” Co-authored with Kiyoteru Tsutsui and John Meyer. “Right or Robust? The Sensitive Nature of Political Repression in an era of Globalization. gerakan sosial. pp. 4 • Th. Vol. 63-88. Social Forces.ox. sejarah.. sosiologi.” With Emilie Hafner-Burton. “Preventing Human Rights Abuse. pp. “Power or Plenty: Do International Trade Organizations Shape Economic Sanctions?” Co-authored with Alexander H. “The Hegemon’s Purse: No Economic Peace Between Democracies. Universitas Oxford. eds. Journal of Peace Research.” Sociological Forum. “Trading Human Rights: How Preferential Trade Agreements Influence Government Repression.. Vol. pp.uk Kiyoteru Tsutsui. 1373-1411. Hafner-Burton. 3-27. 50(1). 59(3).ac. dan hak asasi manusia di Stony Brook.” Social Forces. Woodrow Wilson School of Public and International Affairs and the Department of Politics. eds... “Power Positions: International Organizations. pp. and Conflict.. Saat ini menjadi Assistant Professor. von Stein and Gartzke. “Sticks and Stones: Naming and Shaming and the Problem of Human Rights Enforcement” International Organization. 587-620. 115-141. 407-425. Publikasinya antara lain: “Redressing Past Human Rights Violations: Global Dimensions of Contemporary Social Movements. 44(4). 2005. Journal of Peace Research... Montgomery. April 2008. 2007. Korespondensi langsung kepada Emilie Hafter-Burton. Dia mendapatkan Social Science Research Council Abe Fellow pada 2004-2005 dan Visiting Assistant Professor di Stanford University for the 2005-2006. Vol. 2006.” International Organization. 5.1986). Beberapa karya tulisannya adalah: Agreements. 110(5).2008. Forthcoming. 379-383.” With Christine Min Wotipka.

1/2. No. Journal of Conflict Resolution. December 1998. No.sunysb.” With Susan Olzak. Vol. 2003. 25.edu Ellyasa KH Darwis. praktisi media dan peneliti pada Swamedia Research and Communication (SRC) Jakarta . Korespondensi dapat ditujukan ke ktsutsui@notes. 2007 . Saat darurat militer. Vol.Management. 691-720. 158 JURNAL HAM • Vol.cc. Pernah aktif di LKIS Yogyakarta. 42. menjadi tenaga analis data pada Desk Aceh Komnas HAM. 181-199. 6. CPSM. WALHI. KIPP Indonesia. 4 • Th. “Status in the World System and Ethnic Mobilization.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful