Vol. 4 No. 4 Th. 2007
ISSN 1693-6027

JURNAL HAM
2007

Diterbitkan oleh : KOMISI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA ©2007
JURNAL HAM • Vol. 4 No. 4 Th. 2007

i

JURNAL HAM
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Semua artikel dalam Jurnal HAM ini dapat digandakan untuk keperluan pemajuan hak asasi manusia dengan menyebutkan sumbernya. Pemberitahuan akan sangat dihargai.

Penanggung Jawab Pemimpin Redaksi

: Yoseph Adi Prasetyo Saharudin Daming : Atikah Nuraini

Redaktur Pelaksana : S.M.Gusrini Tambunan Dewan Redaksi : Rusman Widodo Kurniasari Novita Dewi Sasanti Amisani : Banu Abdillah : J. Eddy Juwono : J. Eddy Juwono

Distribusi Rancangan sampul Tata Letak

162 halaman, 16 x 24 cm

Diterbitkan oleh

: Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) JL. Latuharhary No. 4 B Menteng Jakarta 10310 Tel. +62-21-3925230 ext 218/219 Fax. +62-21-3912026 Email: info@komnasham.go.id Website: http://www.komnasham.go.id : Perkumpulan Omega
JURNAL HAM • Vol. 4 No. 4 Th. 2007

Dicetak oleh

ii

............. 2007 iii .......... Zen dan Andik Hardiyanto Kewajiban Negara dalam ICCPR .................. Hafner-Burton & Kiyoteru Tsutsui 1 4 12 22 38 48 68 Lembar Fakta Perserikatan Bangsa-Bangsa No.............. Emilie M..................................................... Yosep Adi Prasetyo Kovenan HAM Internasional : Pandangan Umum mengenai Signifikasi dan Perkembangan ........... A.................................. 152 Tentang Penulis .............................................Daftar Isi Editorial .............................. 102 Resensi Buku ..... 4 Th..................... 4 No.................................................................. Patra M........................................................................................................................................................ Henry Simarmata Pelaksanaan ICCPR dan ICESCR dalam Konteks Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN-HAM) 2004-2009 ...... Jonny Sinaga Prospek dan Tantangan Implementasi ICCPR ..................................................... Adhi Santika Bukan Sekedar Menandatangani: Obligasi Negara Berdasarkan Kovenan Hak Ekosob ................................................................... 155 JURNAL HAM • Vol....................... Hendardi Hak Asasi Manusia di Dunia yang Terglobalisasi : Paradoks Janji-janji Kosong ........................... 30 Sistem Perjanjian Hak Asasi Manusia: Pengantar terhadap Perjanjian Hak Asasi Manusia Utama dan Badan-Badan Perjanjian ...................................................

4 No. 2007 .iv JURNAL HAM • Vol. 4 Th.

sulitnya akses terhadap pelayanan dan infrastuktur dasar. Antara lain. serta hak atas pembangunan. menekan angka inflasi. Hal ini sejalan dengan amanat Pembukaan UUD 45 yaitu mewujudkan negara yang adil-makmur berdasarkan Pancasila. menarik investor luar negeri untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Wacana hak asasi manusia kini bukan lagi sekadar wacana tentang kebebasan sipil. dan Filipina urutan ke-83. Tentunya ini bukan sebuah pekerjaan yang mudah. Di berbagai wilayah di Indonesia masih banyak terdapat kantong-kantong kemiskinan. Pada 2005. Memecahkan persoalan kemiskinan ternyata bukan sekadar menciptakan lapangan kerja. Yang mengejutkan adalah negara sosialis yang mengalami pengucilan semacam Kuba mampu menempati uturan ke-52. Apa yang salah dengan proses pembangunan yang digembar-gemborkan selama ini? Tak mudah menjawabnya. HDI Indonesia adalah sebesar 0. 4 • Th.Editorial Yosep Adi Prasetyo* Memperbaiki kualitas hidup manusia Indonesia kini bukan sekadar slogan saja. Negara tetangga seperti Korea. 2007 kawasan Asia pada Juni 1997. Upaya perwujudan kesejahteraan masyarakat ini harus dilakukan pemerintah yang telah meratifikasi Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. Malaysia urutan ke-59. Bolivia. dan budaya. United Nation Development Program (UNDP) mengumumkan temuan mereka akan kemajuan berbagai negara dalam mensejahterakan masyarakatnya yang ditunjukkan melalui Human Development Index (HDI). tapi harus bekerja keras untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. dan Honduras. Menyedihkan memang mendapatkan kenyataan bahwa Indonesia terpuruk di bawah dan berada dalam peringkat yang hampir sama dengan negara seperti Vietnam. Atau sekadar janji-janji kampanye pada saat menjelang pemilihan presiden. Jumlah orang miskin justru terus membengkak. Sejumlah negara tetangga kita seperti Singapura berada pada urutan ke-25. Thailand. Subkomisi Pendidikan dan Penyuluhan periode 2007-2012 1 . Disusul oleh Swedia (urutan 2) dan Australia (urutan 3). Moldova. Malaysia sudah terlebih dulu bangkit. Filipina. Bila diteliti lebih mendalam faktor-faktor penentu kemiskinan secara esensial ternyata memiliki korelasi dengan hal-hal yang lebih mendasar. Dalam catatan UNDP. Sosial dan Budaya (International Covenant * Komisioner Komnas HAM. menjaga kestabilan ekonomi makro. Negara yang baru ke luar dari cengkraman konflik seperti Bosnia Herzegovina berada pada urutan ke-66. Angka-angka optimisistis tentang pertumbuhan ekonomi ternyata tak berbanding lurus dengan kenyataan kemiskinan. Yang jelas sejak didera krisis ekonomi melanda JURNAL HAM • Vol. sosial. atau mendorong komoditi ekspor semata. Negara yang memiliki HDI tertinggi dan berada di urutan satu adalah Norwegia. Thailand urutan ke-76. diskrimansi gender. Indonesia adalah negeri satu-satunya yang masih merangkak dan berupaya ke luar dari belitan krisis. sulitnya akses pekerjaan (akibat praktek kolusi dan nepotisme). tak meratanya pembangunan infrasutruktur. sulitnya masyarakat memperoleh pendidikan.692 dan berada di urutan 111. Pemerintah tak boleh lagi berleha-leha menjalankan tugas-tugasnya. Tapi sudah sudah meliputi hak ekonomi.

Dalam hal ini kepada sebuah komite ditunjuk untuk menangani perjanjian tersebut Secara regular. Bisa saja yang terjadi adalah kemajuan dalam langkah-langkahnya. 11/Th 2005. Perda ini secara nyata tak mencantumkan UU No. Dan apabila negara terus saja memberlakukan ketentuan hukum yang bertentangan dengan ICCPR dan ICESCR maka negara akan dikenai tuduhan telah melakukan pelanggaran melalui hukum (violation by judicial). pemerintah Indonesia harus membuat laporan dalam periode empat tahun sekali. dan UU No 12/Th 2005 sebagai salah satu konsideransnya. Apabila negara justru tak melakukan apa-apa baik karena lalai dan lupa maupun absent. tapi lemah atau gagal dalam implementasinya. kebijakan dan tindakan yang dilakukan. 12/2005. ICESCR disahkan menjadi UU No. pasal-pasal dalam perda ini ternyata berlepotan dan bertentangan dengan ketiga undang-undang tersebut. langkah-langkah. maupun perda ketertiban yang berpotensi menghambat pelaksanaan UU No. Laporan tersebut harus memuat langkah-langkah dan model kebijakan yang telah diambil. Jurnal edisi ini sengaja mengangkat masalah dan konsekuensi yang bakal me- 2 JURNAL HAM • Vol. Yang lain. Dalam implementasi ini akan tampak apakah pemerintah memang tidak mampu (inability) atau tidak mau (unwilling) untuk menunaikan kewajibannya. Juga hasil-hasil yang dicapai dalam implementasi perjanjian tersebut kepada badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). sosial dan budaya di Indonesia. 4 • Th. Juga bertentangan dengan Pasal 33 Ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945 serta nilai-nilai sebagaimana pernah diajarkan dalam pelajaran mengenai Pancasila. 2007 . selain bertugas mengimplementasikan ICESCR. pemerintah juga meratifikasi Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights – ICCPR) pada 28 Oktober 2005. Baik yang berupa perda otonomi. Bukan hanya itu. UU No. Berbagai macam perda yang tumpang-tindih dan bertabrakan dengan kedua undang-undang tersebut harus segera dicabut karena berpotensi menghambat pelaksanaan hak ekosob dan juga sipol. Pemerintah punya pekerjaan untuk mencermati kembali berbagai peraturan daerah (perda) yang kini jumlahnya telah melebihi angka 1. Khususnya dalam merealisasikan kewajiban pemerintah Indonesia untuk memenuhi dan menjalankan kewajibannya sebagai negara yang telah meratifikasi ICESCR dan ICCPR. Selain ICESCR. pemerintah Indonesia harus membuat laporan yang bertalian dengan penyesuaian hukum. 39/Th 1999. negara bisa dituduh telah melakukan pelanggaran melalui tindakan pembiaran (violation by omission). serta hasil yang telah dicapai dalam pelaksanaan hak-hak ekonomi. 11/2005 dan ICCPR menjadi UU No. tapi juga akan menghambat tujuan dan upaya pemerintah. 11/2005 dan UU No.000. Negara yang melakukan tindakan yang dilarang atau bertentangan ICCPR melalui campur tangannya akan dikenai tuduhan melakukan pelanggaran melalui tindakan (violation by action). Social and Cultural Rights – ICESCR) pada 30 September 2005 melalui proses legislasi yang disetujui DPR. perda syariah. 12/2005. Contoh yang paling aktual adalah pemberlakuan Perda Ketertiban Umum oleh Pemda DKI Jakarta pada 8 September 2007 lalu. Bagaimana mencermati ini semua? Negara yang meratifikasi kovenan ICESCR dan ICCPR harus menghormati hak-hak manusia.on Economic. Perda Ketertiban Umum ini bila diimplementasikan bukan tak mungkin bukan hanya akan mengabaikan hak-hak masyarakat. negara harus aktif untuk melindungi hakhak – melalui tindakannya. Bukan hanya itu.

Di Jurnal HAM edisi 2007 ini juga disajikan tulisa karya Emilie M.nyertai implementasi UU No. 12/2005. sehingga berbagai sasaran yang belum dapat dipenuhi pada periode yang lalu dapat dilanjutkan pada periode berikutnya. “Pelaksanaan ICCPR dan ICESCR dalam Konteks Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN-HAM) 2004-2009”. termasuk indikator keberhasilan dan kegagalan. berpendapat. JURNAL HAM • Vol. pemajuan pemenuhan. Patra M. Pembuatan RANHAM tak lain merupakan sebuah upaya pembuatan pedoman dan rancangan kebijakan untuk mendorong upaya penerapan. Selamat membaca. penghormatan. Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia 20042009 sesungguhnya merupakan kelanjutan dari Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia sebelumnya yang dibuat untuk tahun 1998-2003. dan sudah seharus rejim hak asasi manusia internasional memperbaiki sistem dan mekanisme perlindungan HAM di tingkat internasional. partisipasi dalam politik. dan tantangan bagi penerapan ICESCR sebagai UU No. lebih banyak menguraikan gambaran seputar RANHAM. persoalan. yang dapat digunakan untuk menilai pelaksanaan obligasi negara. 12/Tahun 2005. 11/Tahun 2005 dan UU No. 11/2005 dan ICCPR sebagai UU No. serta penyiksaan. Tulisan Adhi Santika. Juga pembahasan mengenai tema “pelanggaran hak ekosob”. Zen dan Andik Hardiyanto melalui tulisan “Bukan Sekedar Menandatangani: Obligasi Negara Berdasarkan Kovenan Hak Ekosob” mengangkat masalah obligasi (kewajiban) internasional yang melekat pada Negara pasca meratifikasi kedua kovenan tersebut. Semua tulisan dalam edisi ini diharapkan bisa menyumbangkan sebuah wacana konkrit tentang cara pengimplementasian. Pada tulisan yang lain. dan perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia di Indonesia. Persoalan hak-hak manusia di Indonesia telah memasuki tahap di mana kebutuhan untuk menerapkannya telah melampaui kepentingan untuk memperdebatkannya. Stony Brook. 4 • Th. Hafner-Burton dari Oxford University dan Kiyoteru Tsutsui dari State University of New York. Juga konflik pertanahan atau penghancuran rumah-rumah penduduk dan pendidikan maupun kebebasan bergerak. berserikat. Dengan suatu sistem penilaian tertentu keduanya mencoba melihat sejauhmana perjanjian internasional hak asasi manusia ketika perjanjian tersebut dapat atau tidak dapat memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia di tingkat negara-negara pihak. kini telah meningkat menjadi kenyataan sosiologis yang keras dan konkrit seperti yang dirasakan sebagian orang dalam kasus-kasus perselisihan perburuhan. berkumpul. Hendardi melalui tulisan “Pelaksanaan ICCPR dan ICESCR dalam Konteks Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN-HAM) 2004-2009” konsekuensi yang muncul sebagai akibat diratifikasinya dua kovenan internasional tersebut oleh pemerintah Indonesia. Serangkaian kontradiksi dalam realitas sosio-ekonomi dan sosio-politik yang sebelumnya hanya dibahas dan diprediksi secara akademis di lembaga-lembaga studi. hukuman mati atau pembunuhan di luar proses hukum. 2007 3 .

2004-2006 menjadi anggota Komite Eksekutif Forum Asia sebagai wakil PBHI – termasuk menjadi Ketua Komite Eksekutif (November 2005-Februari 2006) JURNAL HAM • Vol. kovenan ini menjadi mekanisme yang bersifat mengikat. The implications of these ratifications are enormous. yang membuat dua Kovenan ini sebagaimana adanya sekarang. either for the government and other state’s institutions or for the victims of human rights violation as well as human rights defenders. in this regard the international human rights law. either Charter-based or Treaty-based. Sejak saat itu. Kovenan itu diberlakukan masing-masing 3 Januari 1976 untuk Kovenan Internasional Ekonomi. Budaya). dan sistem PBB ini mengikat semua negara anggota PBB. The human rights law was developed as mechanisms. 4 • Th. Otoritas 2 Kovenan: Mengapa perlu? Dua kovenan ini menjadi bagian yang integral dari sistem PBB. the United Nations. negara pihak (artinya ne* Riwayat Singkat Penulis: 1995-2002 bekerja di Institut Sosial Jakarta. Sejak tahun 1976. 2007 4 . 1999 dan 2005 mengikuti sesi sidang Komisi HAM. mempunyai muatan sejarah dan ‘otoritas yang mengikat’. dan sebanyak 150 negara atau lebih menjadi pihak Kovenan Ekosob. Sosial. namely. dengan resolusi 2200a (XXI). the International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) and the International Covenant on Economic. The two Covenants could become part of the effort of legal reform to improve human rights condition in Indonesia. yang sekarang ini sudah diratifikasi dengan Undang-Undang 11 tahun 2005 (untuk Kovenan Ekonomi. Budaya (selanjutnya disebut Kovenan Ekosob). Fakta pertama yang paling jelas adalah bahwa 2 (dua) Kovenan Internasional ini terkait dengan mekanisme Komisi HAM PBB. Lebih khusus lagi. The main purposes of the Indonesian are to maintain peace and prevent violence. dan 23 maret 1976 untuk Kovenan Internasional Sipil dan Politik (selanjutnya disebut Kovenan Sipol). dan dengan Undang-Undang 12 tahun 2005 (untuk Kovenan Sipil dan Politik). 2003-2006 bekerja di Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi manusia Indonesia. Setelah resolusi itu. namely. Dua Kovenan HAM internasional. semakin banyak negara yang menjadi ‘pihak’ dalam 2 kovenan tersebut. Sebanyak 148 negara atau lebih menjadi pihak Kovenan Ekosob. dan disahkan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 16 Desember 1966. in developing the what so called the international law. Sosial. The two Covenants are related with the history of the world organization.Kovenan HAM Internasional: Pandangan Umum mengenai Signifikasi dan Perkembangan Henry Simarmata* Abstract Indonesia has just ratified the two most important international human rights covenants. Social and Cultural Rights (ICESCR).

Mendorong terwujudnya rejim dan deterrent PBB dibentuk semasa akhir Perang Dunia II. Namun. Dengan ini. Persoalannya adalah bahwa jika kemudian kekerasan dilakukan dan menjadi pola. dengan ini. ijinkan saya untuk menaruhnya di depan. dalan tulisan ini. mempunyai struktur sebagai berikut: 1. karena sifatnya yang evaluatif. Dalam konteks hak asasi manusia. dinamika dalam enforcement 4. tetapi juga batas ‘akal sehat’. antara lain. Lebih lanjut dapat dijabarkan bahwa sistem hukum dunia yang fractured dianggap sebagai salah satu masalah yang harus ditangani dengan mendorong efektivitas PBB. baik jika dapat kita ulas dan lihat secara khusus sisi lain dalam tulisan ini. agresi bersenjata. karena melewati 1 Dalam penulisan artikel ini. Hukum internasional dapat secara terus-menerus bertentangan dengan hukum nasional. yaitu terbentuknya rejim perdamaian dan deterrent (daya tangkal) atas kekerasan. ada alasan untuk me- naruh pertanyaaan ‘mengapa’ di bagian terakhir artikel. adalah suatu fenomena transnasional. Melihat hal ini. ada 2 hal yang dapat dipenuhi dengan pendirian PBB dan mekanismenya. dan kemudian anggota PBB menyadari bahwa perlu ada satu rejim yang dapat memberikan promosi dan perlindungan terhadap perdamaian dan kemanusiaan warga dunia. dan tentu dengan mekanismenya yang diharapkan bisa lebih efektif. yang mulai Juni 2006 akan penuh menjadi Dewan HAM (dengan demikian sejajar. Bagaimana Dewan HAM PBB. antara lain. terutama dengan peristiwa Holocaust (dan ini yang kedua terbesar. evaluasi terhadap indivisibility dari 2 kovenan (dengan mengelaborasi pemikiran Amartya Sen) JURNAL HAM • Vol. dengan Dewan Keamanan PBB. fakta dasar (yang singkat) 2. saya berharap pembaca mendapat ‘clue’ terhadap artikel-artikel berikutnya. jelas bahwa yang menjadi penghubung dari kesemuanya itu adalah persoalan otoritas 2 kovenan itu. Tidak ada satu negarapun yang sanggup menanganinya secara sendiri. baik sebagai organisasi dunia maupun dalam mempromosikan perdamaian. Artikel ini. akan menjalankan mekanisme tersebut. signifikasi dari 2 kovenan (‘mengapa’) 3. 2. Perang II yang jauh lebih dahsyat dan jauh lebih sistematis dianggap sebagai sesuatu yang tidak bisa ditolerir. dijelaskan secara lebih rinci mengenai soal kewajiban negara pihak. Dalam tulisan lain dalam jurnal ini. 2007 5 . Mendorong terwujudnya hukum internasional Penjelasan di atas juga berlaku dalam hal kedua ini. akan membuat kovenan itu efektif mencegah dan/atau menangani pelanggaran HAM. Persoalan seperti human trafficking. setelah Pembantaian Masyarakat Armenia di masa Perang Dunia I). dan tantangan dari masing-masing Kovenan. perdagangan gelap senjata. terutama dibandingkan dengan Liga Bangsa-Bangsa.gara yang meratifikasi) terikat dengan mekanisme dalam Komisi HAM PBB. ada beberapa hal yang patut dilihat untuk menggali dimensi “mengapa”nya. 4 • Th. misalnya. Pendiri PBB. Namun. minus otoritas veto). implementasi. Hal itu diwujudkan dengan pendirian PBB. Artinya. Jika tidak ada 1.1 bukan hanya batas kemanusiaan. Untuk itu. kemerosotan kondisi hak asasi manusia yang terjadi amat cepat menjadi bahan ekspos media. amat sulit untuk menanganinya karena ada pertentangan tersebut. Dengan ini. mengingat tulisan ini ditaruh dalam bagian pertama bunga rampai (dalam jurnal). setidaknya. PBB didirikan dengan kesadaran bawah Liga BangsaBangsa tidak efektif.

Mekanisme ini dimulai dan dikembangkan. 2007 6 . Dua kovenan ini mempunyai seperangkat instrumen yang memungkinkan untuk diambilnya suatu tindakan – apalagi ada implikasi ‘naik’nya mekanisme HAM PBB dari komisi (Commission) ke dewan (Council). East Timor pernah dijadikan agenda di tahun 1999) 4. (Witness. JURNAL HAM • Vol. Kasus kelaparan dijadikan contoh dalam penelitiannya bersama Jean Dreze. dan masuk pada proses acara special session (misalnya. Kasus serdadu anak (child soldiers) di DRC/Kongo (dalam istilah setempat dikenal dengan istilah kadogo). Sen menunjuk bahwa tersedianya informasi membuat suatu hal dapat direspon dengan segera (sooner than later). saat penulis menjadi seorang intern dalam sidang ke-55 Komisi HAM PBB. amat penting ada suatu tindakan remedial dimana pemerintah negara anggota dan atau negara pihak wajib untuk menyediakannya. Peran dan sumbangan terbesar mekanisme HAM PBB. Jika sedang tidak ada sidang. pada situasi. menjadi hukum internasional. dan pada korban. dan lama-kelamaan. Inform-consent dan public action Ijinkan juga saya menggunakan pemikiran Amartya Sen (Sen. disertai dengan catatan-catatan penting dari mekanisme yang dijalankan. Kosovo menjadi special session dan itu menghentikan pembahasan reguler yang waktu itu sedang berlangsung). di tahun 1999. dapat dengan mudah diakses masyarakat luas. adalah bahwa tersedia informasi yang diusahakan secara teratur. Kelaparan sering berkepanjangan karena tidak ada informasi yang dapat diakses. memotret 2 Special Session ini adalah suatu sesi dimana hanya 3. 2000) untuk melihat soal ‘mengapa’. Dari informasi dan proses acara ini kemudian dilaksanakan special session2 di dalam sidang Komisi HAM PBB di tahun 1992. apakah itu tindakan diarahkan pada pelaku (perpetrator). dalam Alston 2000). Khususnya menyangkut korban. maka seluruh diplomat akan dipanggil untuk untuk datang dalam sidang special session. maka special session berarti bahwa pembahasan reguler berhenti. Kondisi inilah yang membuat banyak pembela hak asasi manusia mencita-citakan suatu mekanisme. maupun dalam badan treaty untuk ICCPR serta hak anak. Tindakan remedial muncul dalam kebijakan PBB untuk melakukan demobilisasi serdadu anak dan Pemerintah Negara Kongo dipaksa untuk turut dalam kebijakan PBB tersebut. dapat dikatakan bahwa pelanggaran HAM seringkali terjadi berlarut-larut karena tidak ada informasi. Mekanisme di dalam Human Rights Committee (badan treaty yang menjalankan enforcement ICCPR) menyediakan informasi. Informasi yang dapat diakses menjadi dasar public action. (Untuk proses acara special session. secara sederhana. terutama dalam hal 2 kovenan ini.mekanisme dan hukum internasional maka kondisi hak asasi manusia yang merosot dapat menjadi spekulasi bertahun-tahun. terutama sebagai mekanisme PBB. dibahas baik di dalam Komisi HAM PBB. Dalam hal hak asasi manusia secara umum. Tindakan remedial Informasi dan rejim (point 1) kemudian mendorong tindakan. dalam kasus lain. Proses acara (proceeding) HRC terse- dibahas satu item selama persidangan. sebuah NGO yang mengembangkan dokumentasi HAM. Contoh yang menarik misalnya bisa dirujuk pada persoalan Bosnia-Herzegovina (Michael O’Flaherty. 4 • Th. misalnya. but menghasilkan comment. Jika saat itu sedang terjadi persidangan dengan agenda reguler.

Dinamikanya. boleh dibilang. sebagai JURNAL HAM • Vol. ada suatu relativitas dari 2 kovenan ini terhadap hukum atau kebijakan di tingkat domestik. Kalau memang dibahas dalam sidang komisi.fenomena demobilisasi serdadu anak ini dengan amat tajam). Negara yang bukan pihak dalam kovenan sipol tentu saja luput dari enforcement kovenan sipol. Kasus yang dibahas dalam HRC-Human Rights Committee (badan enforcement kovenan sipol) akan melecut negara pihak untuk serius baik dengan proses domestik maupun dengan proses di PBB. hukum domestik lebih cepat. Kovenan sipol amat persis dan tajam dalam menganalisis konteks pidana. Hal ini memungkinkan mekanisme kovenan Sipol dapat dengan cepat memberikan pengaruh terhadap kasus yang bersangkutan. Terutama karena muatan ‘hukum darurat Irlandia Utara’ yang membuat terjadi pelonggaran enforcement kovenan sipol. 2007 contoh. Dengan otoritasnya yang terbatas. dan tidak melakukan tindakan penanganan. sebagai gambaran dan contoh. maka proses di PBB menjadi pelecut yang efektif. negara Eropa-Amerika Utara mempunyai perangkat hukum pidana yang lebih efektif dibandingkan negara di kawasan lainnya. Hal ini membuat proses enforcement dari kovenan tidak efektif dalam merespon kasus tertentu (tetapi masih bisa menjadi bahan bahasan yang panas dalam sidang Komisi HAM dan sub-Komisi HAM). Sebagai kebalikan dari kovenan sipol. apakah badan treaty PBB (yang menjalankan fungsi monitoring dan semi-judisial) memang punya gigi sehingga hasilnya akan segera diangkat ke tingkat sidang Komisi HAM PBB untuk dijadikan pembahasan secara lebih ‘panas’. Otoritas 2 Kovenan: Mengapa ditolak? Mengapa diterima? Seberapa efektif? Pertanyaan berikut adalah apakah mekanisme dari 2 kovenan tersebut memang efektif. justru karena sistem hukum pidana domestik sudah lebih efektif. tetapi bagaimana jika kasus itu kemudian menjadi amat banyak (terutama jika membahas kasus kejahatan perang) sehingga amat makan waktu dalam melakukan pembahasannya. atau tindakan remedial. apakah pemerintah negara pelaku kekerasan memang akan comply pada mekanisme PBB? Tentu saja. kovenan ekosob seringkali 7 . Kovenan Sipol (ICCPR) Contoh di bawah ini sekedar memberikan gambaran soal efektivitas kovenan (tentu masih banyak contoh lain) Dalam mekanisme PBB. sehingga proses di PBB lebih menjadi ‘catatan’ atas proses domestik. Dengan situasi yang sama. Artinya. Karena memakan waktu yang lama. maka negara pelaku pelanggaran seringkali tidak merasa ditekan. Kasus Irlandia Utara. dapat dilihat sebagai berikut di bawah ini : 1. 2. 4 • Th. Kovenan Ekosob Contoh untuk penggambaran efektivitas kovenan ekosob. baik dalam proses pidana domestik di Inggris maupun di mekanisme PBB. seperti penetapan PBB yang lain. seringkali diajukan secara bersamaan. penetapan dari PBB seringkali tidak begitu berpengaruh.

Dalam kasus yang amat contentious. atau ladang minyak adalah bagian dari tindakan pemerintah negara yang bersangkutan yang menimbulkan masalah menurunya kualitas hidup warga negaranya. menjadi masalah penting. Universitas Harvard per- nah membuat studi soal odious debt. misalnya. Negara pemberi hutang. Masalah seperti hutang luar negeri. Seringkali hal ini menimbulkan efek kebijakan luar negeri yang kira-kira berbunyi ‘emang gue pikirin’. dan blok komunis mementingkan ekosob) dan lebih karena alasan presisi dan profesionalitas. Alasan yang dipakai. Mekanisme enforcement baik dalam tingkat PBB maupun di dalam tingkat domestik berbeda lebih karena alasan sejarah perang dingin (blok barat mementingkan sipol. saya memakai argumen Sen ini untuk menjelaskan. Persoalan penghapusan hutang. misalnya. Namun juga. negara berkembang justru membawa persoalan kemaslahatan sebagai pembahasan publik. lapangan kerja. beras.dipakai oleh negara berkembang untuk mengangkat kasus ‘kemaslahatan’. dan juga untuk berargumen apakah memang sipol dan ekosob ini memang bisa secara filosofi dan hukum dijelaskan. menjadi catatan kritis pula. bahwa pemerintah negara berkembang juga tidak mengatakan apapun mengenai kelalaiannya (omission) dan kesengajaan (commission) dalam menciptakan masalah kemaslahatan warga negaranya. di tingkat masyarakat. melihat masa- lah itu tidak absah dibahas oleh ‘badan HAM PBB. kondisi pascakolonial seringkali diangkat dengan mengorbankan fakta bahwa pemerintah negara yang bersangkutan tidak melakukan kebijakan yang perlu dalam persoalan ekosob. 2007 8 . sebaliknya. Gagasan Amartya Sen Perkenankanlah. negara berkembang tidak ragu-ragu mempergunakan mekanisme PBB termasuk mekanisme kovenan ekosob untuk memecahkan masalah tersebut. 4 • Th. Atau juga untuk berargumen bahwa pelanggaran hak ekosob. beberapa hal di antaranya. adalah bahwa kondisi kemaslahatan masyarakat negara mereka tidak luput dari situasi pascakolonialisme dan tingkah-polah pelaku privat dari negara Eropa-Amerika Utara. Kewenangan dan penanganan dalam soal hutang ada dalam IMF (Badan Moneter Dunia) atau murni masalah bilateral. Penjualan permata. Dalam persoalan Afrika. JURNAL HAM • Vol. saya mempergunakan gagasan Amartya Sen untuk membahasa bagaimana dua dimensi hak (sipol dan ekosob) sebenarnya utuh. sebenarnya juga adalah pelanggaran hak sipol. Secara khusus. sekali lagi. Sen membuat argumen yang kuat dan tajam (compelling argument) meski dia tidak secara khusus menggeluti mekanisme 3 Sebagai suatu masalah. Rumusan odius debt3 dianggap tidak memadai untuk masuk dalam kerangka pemecahan masalah hutang. dan dalam hal ini mempunyai tingkat keabsahan yang memadai. Indivisibility 2 Kovenan: komentar evaluatif 1. dengan sengaja.

dan justice menjadi dasar argumen kovenan ekosob. 9 . asuransi. Kelemahan terbesar dari konsep ini adalah sifatnya yang indifferent terhadap pewujudan freedom dalam kehidupan praktis dan sehari-hari.4 Dengan ini. Penggambarannya adalah sebagai berikut: Menjadi pengetahuan umum bahwa freedom juga dapat digunakan untuk merugikan orang lain. perdagangan senjata. Kelemahan argumen. Tindakan spekulasi (penimbunan beras. misalnya. sebagian perdebatan ini dicerminkan pada perdebatan founding fathers dalam merumuskan antara hak individu dan pemajuan sosial dalam konstitusi (UUD ’45) – dengan rumusan pertanyaan “untuk apa individu dilindungi kalau hal tersebut tidak memajukan kemakmuran masyarakat” Hayek melihat bahwa sebenarnya layanan publik negara (bahkan jika itu memang bertujuan melindungi warga negara) hanya akan membuat warga negara hidup dalam perbudakan modern (serfdom). Freedom dalam pengertian klasik. Lebih lanjut. Dalam soal justice. David Hume. dan Friederich von Hayek (road to serfdom). dan terhadap fenomena free rider. Menarik mengamati ketika Enron kolaps. menurut Sen. sekuritas (dengan Glass-Steagal Act). Sedang Nozick melihat bahwa hak milik adalah mutlak. mengarah pada konsep individu yang biasanya merujuk pada pemikiran Adam Smith. Ambil contoh. dan dalam bagian tertentu John Locke). bahkan jika hal itu atas nama kebaikan. 2007 Tindakan spekulasi (penimbunan beras. eksploitasi sumber daya alam) semuanya tidak tahan dengan argumen bahwa itu semua justru menjadi penyebab kehidupan manusia – kalau tidak dalam jangka pendek. dapat dilihat bahwa tindakan privat dapat menyebabkan kesengsaraan banyak orang. ada baik dalam prioritas itu sendiri maupun dalam eksesnya bersifat draconian dan/atau pemaksaan. John Rawls (juga dengan amat sukses) membantah kemutlakan hak milik. perdagangan valuta asing. namun dalam konteks hak ber4 Salah satu penyebab penting adalah bahwa diha- puskannya regulasi pembatasan bank. dinamika ekonomi AS juga mengalami downturn karenanya. JURNAL HAM • Vol. Sen melakukan usaha terus-menerus berusaha memecahkan conundrum antara 2 hal: freedom dan justice. Dalam sejarah Indonesia. State and Utopia). dan bertemu dengan derivatif market yang tidak diregulasi. Freedom menjadi dasar argumen dari kovenan sipol. perdagangan valuta asing. dan mendorong konsep prioritas keadilan. eksploitasi sumber daya alam) jutru sering dilakukan dengan sadar dan sengaja di atas (at the expense) kehidupan dan penghidupan masyarakat. tidak soal bagaimana manusia mendapatkan hak miliknya itu. Keadilan yang dirumuskan dalam prioritas itu memang tidak perlu diperdebatkan.dan hukum hak asasi manusia internasional. Barulah setelah Enron kolaps dengan segala akibatnya. Konsep prioritas keadilan membawa pada tindakan khusus (special tretment). secara intelektual freedom dirumuskan (dengan amat sukses) oleh Robert Nozick (Anarchy. perdagangan senjata. bisa dalam jangka panjang). kemudian dilakukan regulasi dan penegasan indikator keamanan investasi. 4 • Th. Singapura yang amat makmur secara ekonomi dengan welfare-state yang nyaris sempurna.

Social.6 Sebagai titik mula. dan dengan ini sebenarnya ditegaskan prinsip imparsialitas dari hak asasi manusia. sebagaimana juga bahwa tidak adanya hak sosial dan politik dapat menimbulkan tidak adanya hak ekonomi” garaan pembahasan mekanisme HAM regional ini di Kuala Lumpur. Mekanisme HAM regional di ASEAN adalah sesuatu yang perlu didorong. Hak Perempuan-Anak dan Masalah Migran akan menjadi 2 isu yang dikembangkan untuk dibahas (ini karena dibentuk 2 kelompok kerja di ASEAN untuk membahas 2 hal tersebut). karena segala sesuatunya selalu dibahas (contested) dan terukur. …Economic unfreedom can breed social unfreedom. dari yang mild sampai yang serius. Argumen Sen dalam merumuskan indivisibility hak sipol dan ekosob dapat dirumuskan sebagai berikut: p. menurut pengamatan. Dua kovenan ini berkembang seturut bentuk-bentuk pidana tersebut. kita dapat melihat mekanisme serupa di Uni-Eropa (Europan 6 Di akhir bulan Juni 2006. Cultural Rights (badan enforcement kove5 (terjemahan longgar) “…dapat ditunjuk fakta yang nan ekosob). Ada anggapan bahwa ekonomi dan welfare yang sudah diwujudkan dengan otomatis akan mewujudkan hak sipol. Sebagai benchmarking. meski tentu kita tidak bisa langsung ‘menikmati’ pembahasan mekanisme 2 kovenan (mungkin suatu saat nanti sampai ke sana). Dengan alasan bahwa sekarang sudah saatnya bagi ASEAN untuk mempunyai piagam. Salah satu yang menjadi pengembangan di dalam soal mekanisme HAM regional ASEAN. 2007 10 .pendapat dan berpolitik dibatasi dengan amat tajam. can make a person a helpless prey in the violation of other kinds of freedom. dalam bentuk kemiskinan ekstrem. Nulla Crimen Sine Lege. maka kita bisa melihat bahwa mekanisme 2 kovenan ini memunculkan banyak implikasi pada hukum internasiona.8 “…[i]t also pointed to the remarkable fact that economic unfreedom. Seperti kita tahu bahwa setiap pelanggaran HAM termunculkan (implies) bentuk-bentuk pidana. Jika kita melihat dokumen dalam Human Rights Committee (HRC – badan enforcement kovenan sipol) maupun Committee on Economic. just as social or political unfreedom can also foster economic unfreedom”5 Sen. maka para judiciary justru berargumen bahwa hal ini membuat perkembangan hukum berlangsung secara sehat. in the form of extreme poverty. ada rencana penyeleng- amat jelas bahwa tidak adanya hak ekonomi. dengan ini. dan kemudian pada hukum domestik. juga menyatakan pentingnya ‘perdebatan publik’ (public discourse) dan proses komunikasi yang menghasilkan nilai dan norma sosial. JURNAL HAM • Vol. 2. Mekanisme HAM Regional: Perkembangan Mekanisme 2 Kovenan Perkembangan terbaru saat ini yang patut diamati adalah proses ASEAN untuk merurmuskan Piagam ASEAN (ASEAN Charter). dapat membuat orang menjadi mangsa pelanggaran hak yang lain …tidak adanya hak ekonomi dapat memunculkan tidak adany hak sosial. atau negara anggota PBB pada umumnya. 4 • Th. Jika ada keberatan dari negara pihak. dan dengan ini mendorong akuntabilitas pemerintah negara anggota dengan warga negara anggota. tidak ada kejahatan yang ditindak di luar hukum. Nulla Crimen Sine Lege Dua kovenan ini pun sebenarnya masih dalam perkembangan progresif untuk menerjemahkan persoalan pidana.

Mekanisme regional ini penting sebagai pengembangan dari enforcement 2 kovenan tersebut. with Bustelo. and Livingstone. California 2004 Harris. Clarendon Press Oxford. James. kasus-kasus di dalam negeri ini dibahas juga di tingkat Eropa – sehingga korban dan pekerja HAM dapat semakin menegaskan compliance negara terhadap ketentuan HAM internasional. New York 2000.). Sarah (ed. Seperti yang kita lihat dalam proses dan dokumentasi European Court on Human Rights. The Treatment of Prisoners under International Law (second edition). London 1998. harus aktif untuk menerjemahkan 2 kovenan itu dalam sistem dan praktik hukum di Indonesia. Oxford 1999. Stanford Institute on International Studies. Karen. 2007 11 . Benedict. Development as Freedom. DAFTAR PUSTAKA Alston. Oxford 1999. Stephen (ed.).)... Clarendon Press Oxford. Sweet & Maxwell. Oxford 1995. Cole. pekerja HAM. Philip. Nigel S. and The Rule of Law. Oxford University Press. Reid. James. Knopf. (Bersama Indonesia. David. Cambridge University Press. Roberts. and Heenan (ed. Mara. Clarendon Press Oxford. dan Komnas HAM.). Indonesia yang dipilih dengan angka voting kedua tertinggi di Asia (sesudah In- dia) di dalam Dewan HAM mempunyai kesempatan juga untuk mengembangkan mekanisme enforcement HAM di tingkat regional. The EU and Human Rights. Wade M. Philip and Crawford (ed. The Inter-American System of Human Rights. Harris. Oxford 1998. Divided World. Oxford 1993. Adam.Convention on Human Rights. untuk menyebut di antara aktor penting. 4 • Th. David. Bagi korban. Centre on Democracy. and Kingsbury. Oxford University Press. The UN’s Roles in International Law. Alston. United Nations. The Future of UN Human Rights Treaty Monitoring. Alfred A. Rodley. Sen. Cambridge 2000. Filipina dan Malaysia juga menjadi anggota Dewan HAM) – bersamaan dengan implikasi dari ratifikasi 2 kovenan oleh pemerintah Indonesia Desember 2005 lalu. Development. JURNAL HAM • Vol. beserta courtnya) dan di kawasan Amerika Latin (InterAmerican Human Rights Mechanism). The International Covenant on Civil and Political Rights and United Kingdom Law. and Joseph. Sovereignty Relinquished: Explaining Commitment to International Human Rights. dan membuat mekanisme regional HAM ASEAN mendapatkan dampak dari enforcement domestik tersebut. Amartya. A Practitioner’s Guide to the European Convention of Human Rights.

promotion. The National Plan of Action on Human Rights in Indonesia is intended as a guidance and general plan to enhance the efforts in increasing the respect. The ultimate goal of ensuring respect for the dignity of individual cannot be achieved without that person’s enjoying all of his or her rights. keberadaan ICCPR dan ICESCR di Indonesia merupakan hal penting untuk diketahui. 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik) dan UU No. religion. politics. Adapun peraturan perundangan dimaksud antara lain: UU No. 2007 12 . dianalisis * Penulis bekerja di Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan HAM. dan Budaya). pada kenyataannya Indonesia telah memiliki peraturan perundangan yang secara implisit dan/atau eksplisit sudah menginternalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam dua kovenan tersebut. Dalam konteks waktu. culture and language contribute to wide diversity in the enjoyment of human rights. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan Keputusan Presiden (Keppres) No. fulfillment and protection human rights. Social and Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. social and cultural rights. Sosial. 40 Tahun 2004 tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia tahun 2004-2009. 4 • Th. The 2004-2009 Nation Plan of Action on Human Rights is a continuation of the Nation Plan of Action on Human Rights for the year 1998-2003. Social and Cultural Rights (ICESCR) yang keduanya telah Indonesia ratifikasi pada tahun 2005. Individual must be able to enjoy freedom of wants as well as freedom from fear. Keragaman masalah dimaksud ternyata tidak hanya akan terjadi pada perilaku kehidupan sehari-hari setiap subyek hukum. The dignity of individual cannot and should not be divided into two spheres – that of civil and political rights and that of economic. economic. Sekalipun ICCPR dan ICESCR telah diratifikasi masing-masing melalui UU No. Departemen Hukum dan HAM JURNAL HAM • Vol. The new plan of action is intended to complete the unfinished works in the previous period. tidak dapat dipungkiri akan dihadapkan pada keragaman masalah dalam implementasinya di Indonesia. 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Economic.Pelaksanaan ICCPR dan ICESCR dalam Konteks Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN-HAM) 2004-2009 Adhi Santika* Abstract Indonesia’s diverse geography. PENDAHULUAN Keberadaan instrumen HAM internasional seperti halnya International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) dan International Covenant on Economic. tetapi juga pada tataran yang mengatur subyek hukum beraktivitas yang dikenal dengan peraturan-perundangan.

yaitu: (1) Pembentukan dan penguatan institusi pelaksanaan RANHAM. pemajuan. (4) Diseminasi dan pendidikan HAM. dengan penetapan 6 (enam) Program Utama di dalamnya. Berdasarkan pertimbangan tersebut di JURNAL HAM • Vol. (3) Persiapan Harmonisasi peraturan perundang-undangan. 29 Tahun 1999 tentang CERD. evaluasi dan pelaporan. seperti ICPD dan MDGs. dan pemenuhan HAM sebelum ratifikasi. Dari materi yang tercantum. Program Utama yang pertama yaitu Pembentukan dan Penguatan Institusi Pelaksana RANHAM merupakan program yang penting dan merupakan satu syarat keharusan (a necessary condition). penegakan. 36 Tahun 1990 tentang CRC. pemenuhan dan perlindungan HAM. Pembentukan dan penguatan institusi pelaksanaan RANHAM. sangat jelas diketahui bahwa RANHAM lebih berorientasi ke masa depan. dan (6) Pemantauan. Persyaratan ini mengemuka karena ada alasan yang 13 . penegakan. pemajuan. di mana Indonesia termasuk sebagai negara peserta yang turut menandatanganinya. Di samping itu terdapat pula beberapa kesepakatan internasional yang secara langsung atau tidak langsung bernuansa HAM. bahwa RANHAM Indonesia dimaksudkan sebagai panduan dan rencana umum untuk meningkatkan penghormatan. KONSEKUENSI RASIONAL DARI RATIFIKASI Secara eksplisit Lampiran I Keppres No. dan Keppres No. maka ruang lingkup keenam Program Utama merupakan rangkaian tindakan konkrit yang perlu dan akan dilakukan oleh negara dalam aktualisasi pencapaian tujuan ICCPR dan ICESCR di Indonesia. yaitu kesungguhan dan kendala yang dihadapi Pemerintah selama ini. 40 Tahun 2004 menyebutkan. seperti halnya UU No. Oleh karena itu. dan pemenuhan hak asasi manusia terutama menjadi tanggung jawab Pemerintah”. 2007 atas. Hal ini perlu diperhatikan untuk mengetahui secara obyektif mengenai dua hal utama dalam evaluasi. 4 • Th. (2) Persiapan Ratifikasi instrumen HAM internasional. 1. 7 Tahun 1984 tentang CEDAW.dan dirumuskan langkah-langkah nyata yang perlu dilaksanakan oleh berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) termasuk Pemerintah. sehingga evaluasi yang dilakukan seharusnya tidak hanya dibatasi oleh waktu pascaratifikasi kedua kovenan tersebut tetapi juga mencakup semua kegiatan yang dilakukan selama kurun waktu praratifikasi. Dalam hubungan ini Pemerintah menempati posisi strategis sesuai dengan amanat yang tercantum dalam Pasal 8 UU No. pemajuan. Apabila mengamati Program Utama RANHAM dan menghubungkannya dengan ratifikasi ICCPR dan ICESCR. seyogyanya evaluasi harus dilakukan sejak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia sampai pascaratifikasi sekalipun ratifikasi kedua kovenan tersebut baru dilakukan pada tahun 2005. maka pelaksanaan ICCPR dan ICESCR pascaratifikasi di Indonesia tidak dapat dilepaskan keberadaannya dari upaya perlindungan. Pertimbangan dimensi waktu akan terasa benar adanya manakala mempertimbangkan beberapa instrumen HAM internasional yang telah diratifikasi Indonesia melalui sejumlah Undang-Undang yang dikeluarkan pemerintah sebelum Indonesia meratifikasi ICCPR dan ICESCR pada tahun 2005. UU No. UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia: ”Perlindungan. 5 Tahun 1998 tentang CAT. Pertimbangan dimensi waktu merupakan salah satu faktor penting dalam evaluasi pelaksanaan ICCPR dan ICESCR di Indonesia. termasuk untuk melindungi masyarakat yang rentan terhadap pelanggaran HAM. (5) Penerapan norma dan standar HAM.

juga memberikan pengaruh pada kemampuan aparat negara dan masyarakat dalam kecepatan “pembentukan” institusi pelaksana HAM. Kompleksitas masalah HAM di lapangan yang memiliki karakteristik antara lain: ruang lingkup substansinya sangat luas. Masalah HAM di lapangan yang terjadi sangat bervariatif dan struktur organisasi kepemerintahan yang berbeda di setiap provinsi. Berdasarkan Keppres 40 Tahun 2004. 2007 14 . pekerjaan. 4 • Th. Guna membentuk institusi baru ternyata seringkali dihadapkan pada berbagai kendala yang umumnya berupa kekurangmampuan sumber daya manusia untuk mengetahui dan mengerti substansi HAM yang secara bersamaan waktunya harus memiliki kecakapan dalam mengelola organisasi untuk menggerakkan program kerja. sosial. “Penguatan” hanya dapat dilakukan apabila “pembentukan” institusinya sudah dilakukan. mencakup lintas batas administratif (spatial) dan mencakup lintas batas waktu (temporal). efisien. program “penguatan” sudah seharusnya selalu dibarengi dengan kegiatan evaluasi yang berkesinambungan berdasarkan pendekatan “post-training evaluation”. baik dari sisi pendidikan. 32 Tentang Pemerintahan Daerah. seringkali aparat negara dan masyarakat kurang bahkan tidak mampu mengetahui dan mengerti maksud keduanya. melibatkan lebih dari satu subyek hukum. ekonomi. Keanekaragaman ini memberikan konsekuensi pada cara “penguatan” yang akan dilakukan agar materi dan pesan yang akan diberikan tepat sasaran. yaitu 5 (lima) program lainnya sangat tidak mungkin terlaksana dengan baik apabila program pertama ini tidak terwujud lebih awal. Program Pembentukan dan Penguatan Institusi Pelaksana RANHAM memJURNAL HAM • Vol. Atas dasar ini maka pelaksanaan RANHAM hanya dapat berjalan sesuai dengan rencana. kabupaten dan kota memberikan kontribusi pada cepat atau lambatnya “pembentukan” institusi pelaksana RANHAM di pusat dan daerah. Di samping itu struktur organisasi kepemerintahan yang cukup beragam antar wilayah administrasi sejalan dengan adanya UU No. “Penguatan” institusi pelaksana RANHAM adalah satu kegiatan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan (multi-stakeholders) karena memerlukan kerjasama dari banyak pihak dengan latar belakang yang beraneka ragam. yaitu: (1) Pemilihan dan penetapan peserta yang akan menerima materi “penguatan” agar lebih representatif. Kompetensi merupakan satu kata kunci yang sulit untuk diwujudkan pada tataran lapangan dalam kurun waktu yang cukup singkat. maupun budaya. dan efektif. apabila terdapat institusi bentukan baru dan mengalami “penguatan” sehingga memiliki kompetensi untuk melaksanakan seluruh programnya. Dalam hubungan ini. “Pembentukan” dan “penguatan” institusi merupakan dua kata penting dalam program ini. cenderung membuat orang memerlukan waktu tambahan untuk sepenuhnya mengerti permasalahan yang ada. frekuensi dan intensitas kejadiannya sangat berfluktuatif. Program “penguatan” seringkali dihadapkan pada 2 (dua) masalah yang cukup serius untuk dapat segera diselesaikan dalam waktu singkat.sangat rasional. dan (2) Pemberi materi “penguatan” perlu lebih membekali diri dengan kecukupan penguasaan substansi dalam pengertian mampu menyeimbangkan materi yang bersifat konseptual dan kontekstual.

Berdasarkan Keppres 40 Tahun 2004. Belum lagi dinamika masyarakat yang juga diwarnai pro-kontra terhadap suatu isu HAM tentu akan menimbulkan persoalan tersendiri dari setiap proses ratifikasi itu. Swiss. Situasi perdebatan dan pro-kontra atas dasar identifikasi dan inventarisasi masalah dari setiap proses pembahasan lahirnya suatu produk perundangundangan seringkali juga menimbulkan kekecewaan masyarakat. yaitu: Kovenan Internasional Hak Ekososbud (2004). Secara garis besar. Konvensi Penghentian Perdagangan Manusia dan Eksploitasi Pros- 15 . Di samping itu. Kovenan Hak Sipil dan Hak Politik (2004). Perancis. apalagi setelah terpilihnya Indonesia sebagai anggota Dewan HAM PBB. pemenuhan dan perlindungan HAM agar sesuai dengan harapan. dan ILO. 4 • Th. Selandia Baru. Australia. dan Jerman. Persiapan Ratifikasi Instrumen Hak Asasi Manusia Internasional. yaitu: Afrika Selatan. Norwegia. kerja sama dengan lembaga internasional antara lain dilakukan dengan UNHCR. Tanpa adanya kaidah-kaidah ini sungguh tidak JURNAL HAM • Vol. Hukum internasional seperti halnya ICCPR dan ICESCR merupakan keseluruhan kaidah yang sangat diperlukan untuk mengatur sebagian besar hubungan antar negara. pemerintah (dalam hal ini Direktorat Jenderal Perlindungan HAM. Departemen Hukum dan HAM) telah melakukan kerja sama antar negara dan dengan sejumlah lembaga internasional di bawah payung Perserikatan Bangsa Bangsa. UNICEF. pemajuan. perangkat-perangkat HAM internasional tersebut diharapkan akan memperkuat hukum nasional dalam upaya menjamin penghormatan. RANHAM telah mengagendakan ratifikasi 12 instrumen HAM yang akan dirampungkan sebelum akhir tahun 2009. termasuk Konvensi Internasional Perlindungan Hak-hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. IDLO. Mesir. Swedia. (4) Pembentukan dan Penguatan Kelembagaan HAM di daerah.punyai tujuan/sasaran sebagai berikut: (1) Pembentukan dan penguatan Panitia Nasional. dan (5) Meningkatkan kerja sama dengan berbagai pihak untuk memperkuat kelembagaan HAM yang telah ada. Kanada. Indonesia melakukan ratifikasi instrumen-instrumen HAM internasional. IOM. Italia. Melalui pengesahan yang diwujudkan dalam bentuk ratifikasi. Sesungguhnya hukum internasional merupakan persoalan dengan keperluan hubungan timbal-balik antar negara. Proses ini semua bukan tanpa rintangan atau halangan. persiapan ratifikasi sejumlah instrumen HAM internasional ditetapkan dengan skala prioritas sebagai berikut. karena harus melibatkan berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) dengan segala keragaman karakteristiknya disamping substansi HAM merupakan hal baru bagi sebagian besar pemangku kepentingan. Berbagai kegiatan dalam rangka “penguatan” institusi. dapat diketahui bahwa cakupan kegiatan program pertama tersebut dinilai sangat berat. Namun. Sebagai anggota masyarakat internasional. Kerjasama pemajuan HAM telah dijalin dengan 11 (sebelas) negara dan kerjasama regional dengan ASEAN dan Asia Pasifik. 2. 2007 mungkin bagi negara-negara tersebut untuk saling berhubungan secara tetap dan terus menerus. semua ini merupakan bagian dari tradisi demokrasi yang harus dilalui. (2) Pembentukan dan penguatan Panitia Pelaksana RANHAM Daerah. (3) Sosialisasi RANHAM kepada berbagai pihak.

Satu hal yang paling mendasar untuk dipertimbangkan dengan seksama adalah langkah melakukan pengkajian terhadap instrumen internasional yang akan diratifikasi berupa penyempurnaan naskah akademik. c. Undang-undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang. Mengapa perlu dilakukan pengharmonisasian? 2. Permasalahan apa yang dihadapi dalam pelaksanaan pengharmonisasian? Sebelum memahami ketiga permasalahan tersebut. Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Perdagangan Anak. faktor keterbatasan pengetahuan dan jumlah pemerhati substansi instrumen yang akan diratifikasi juga merupakan hal yang kerap terjadi. Keberadaan faktor pembatas tersebut sangat mungkin dapat diatasi apabila Program Pembentukan dan Penguatan Institusi Pelaksana RANHAM terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama. Era otonomi daerah merupakan satu ciri dalam pemerintahan sekarang ini dan UU No. Peraturan Pemerintah. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang menegaskan jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan di Indonesia. Statuta Roma (2008). Protokol Opsional Konvensi Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan (2005). Peraturan Daerah. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah adalah landasan yuridis yang digunakan. yaitu: a. terlebih dahulu perlu dijelaskan pengertian dari beberapa istilah kunci. Atau dalam bahasa Inggrisnya “harmonize” diJURNAL HAM • Vol.titusi (2004). Aspek-aspek apa yang harus diharmonisasikan dan bagaimana pengharmonisasian tersebut dilakukan? 3. Konvensi Status Pengungsi (2009). 4 • Th. Peraturan Presiden. Konvensi Perlindungan Hak-Hak Pekerja Migran dan anggotaanggota keluarga-nya (2005). Di samping itu. Faktor keterbatasan pengetahuan ini seharusnya tidak boleh dibiarkan karena akan memperparah ketidaksiapan Pemerintah dalam menerima segala konsekuensi ratifikasi. Konvensi Pencegahan dan Penghukuman Kejahatan Genosida (2007). 2007 16 . mengingat setelah proses ratifikasi pengertian “legally binding” menjadi berlaku dengan segala konsekuensinya. yaitu: a. e. Pornografi Anak dan Prostitusi Anak (2005). d. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pengharmonisasian atau kegiatan untuk mengharmonisasikan atau menyelaraskan. dan Protokol Opsional Tahun 1967 Konvensi Status Pengungsi (2009). 3. Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Keterlibatan Anak dalam Konflik Bersenjata (2006). Langkah dimaksud seringkali dihadapkan pada faktor pembatas berupa kemampuan melaksanakan kajian akademik yang bersifat obyektif dan cepat pelaksanaannya. Terdapat beberapa permasalahan yang terlebih dahulu perlu dipahami sehubungan dengan harmonisasi peraturan perundang-undangan di Indonesia yaitu: 1. Protokol Opsional Konvensi Anti Penyiksaan (2008). Persiapan Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan. b. Salah satu hal yang perlu mendapat perhatian khusus adalah Pasal 7 UU No.

4 • Th. yang disebabkan oleh belum adanya persamaan persepsi tentang rancangan undang-undang sebagai suatu sistem yang terintegrasi. Konsepsi diartikan sebagai pengertian. langkah yang sedang dilakukan dalam persiapan harmonisasi peraturan perundangundangan adalah mengagendakan JURNAL HAM • Vol. Dengan demikian. karena jabatan fungsional Perancang Peraturan Perundang-undangan dianggap tidak cukup menarik untuk ditekuni oleh pegawai. diperlukan penyelarasan. juga terlihat bahwa peraturan perundangan di Indonesia cenderung memiliki sejumlah kelemahan yang mendasar. Perlu disadari bahwa. pemahaman. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dan Undang-Undang No. Dalam bahasa Inggris “conception” diberi arti sebagai “conceiving of an idea” 3. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Tenaga fungsional Perancang Peraturan Perundang-undangan masih terbatas jumlahnya serta belum memiliki spesialisasi pada bidang hukum yang spesifik. 2. atau rancangan yang telah ada dalam pikiran (ide). c. (b) Tidak jarang ditemui berbagai inkonsistensi antara satu pasal dengan pasal lainnya di dalam Undang-undang yang sama. (c) Keterlambatan penyusunan aturan pelaksanaan dari Undang-undang yang telah disahkan. yaitu: (a) Antara Undang-undang yang satu dengan yang lainnya seringkali saling bertentangan. pembulatan dan pemantapan konsepsi rancangan undang-undang yang berasal dari Presiden. pembahasan oleh wakil-wakil instansi terkait tidak bersifat menyeluruh. Sehingga. baik dengan berbagai peraturan perundang-undangan vertikal maupun horisontal. sebenarnya masih terdapat sejumlah tantangan yang harus diatasi terlebih dahulu. Pasal 18 ayat (2) Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 hanya mengatur pengharmonisasian. sebelum proses pengharmonisasian perundangan yang ada agar sejalan dengan RANHAM dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. sejalan dengan ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang No.b. tetapi bersifat parsial dan terfragmentasi menurut kepentingan dari masing-masing instansi. 2007 17 . agar menghasilkan peraturan perundang-undangan yang tidak saling bertentangan atau tumpang tindih. Sehingga. Dari pengamatan. dan tidak mengatur rancangan undang-undang yang berasal dari DPR atau rancangan peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang. artikan sebagai “bring into harmony” dan”“harmony” diartikan sebagai “pleasing combination of related things”. Masih adanya sikap egoisme sektoral dari masing-masing instansi terkait. Tantangan yang dimaksud antara lain meliputi: 1. pengharmonisasian peraturan perundang-undangan memiliki arti strategis dalam mewujudkan sistem hukum nasional. dan (d) Produk hukum yang ada di Indonesia lebih cenderung bersifat reaktif dari antisipatif. Sehubungan dengan itu. Pembulatan mengandung makna untuk membentuk menjadi bulat atau membentuk kepaduan. serta konvensi/ perjanjian internasional hak asasi manusia. keutuhan sebagai suatu keseluruhan.

social. hak atas kebebasan berkumpul. hakim. pelatihan HAM di luar negeri (Swedia. hak untuk turut serta dalam pemerintahan. dan budaya. sebagaimana yang diamanatkan dalam RANHAM 2004-2009. Universitas Samratulangi. dan Perancis bagi pegawai negeri. dan Convention Against Torture. hak untuk memilih dan dipilih. namun telah dikaji pula Undang-Undang tentang Kewarganegaraan dan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. serta Undang-Undang tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. meskipun di dalam agenda RANHAM hanya 3 (tiga) undang-undang tersebut yang dikaji. kejaksaan. kurikulum HAM untuk SD s/d SMA. pemerintah berupaya melakukan sosialisasi berbagai instrumen hak asasi manusia internasional yang telah diratifikasi oleh Indonesia. Dalam hubungan ini. pendidikan di luar jalur sekolah. Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination (CERD).pengkajian terhadap Kitab UndangUndang Hukum Pidana. dan tokoh masyarakat/agama). 4. UndangUndang tentang Hak Asasi Manusia. Australia. serta hak atas kebebasan informasi dan berkomunikasi. Other Cruel and Inhumance or Degrading Treatment or Punishment (CAT). dan petugas pemasyarakatan). bahwa pendidikan merupakan syarat bagi pemenuhan hak-hak sipil dan politik serta hak-hak ekonomi. antara lain Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW). aktivis HAM. serta lokakarya dan diskusi HAM dengan organisasi sosial dan LSM. berorganisasi dan berekspresi. Oleh sebab itu. Afrika Selatan. Diseminasi dan Pendidikan Hak Asasi Manusia Kiranya sulit dibantah. 4 • Th. lembaga nonpemerintah. program studi S2 HAM (Universitas Indonesia. pelatihan bagi aparat penegak hukum (kepolisian. Suatu tingkat pendidikan minimal atau setidaknya melek aksara sangat diperlukan bagi perjuangan untuk mewujudkan pemenuhan hak-hak sipil dan politik. Selain itu. Norwegia. Universitas Padjajaran. dan pendidikan HAM di Fakultas Hukum. 18 JURNAL HAM • Vol. Convention on the Rights of the Child (CRC). Menyadari hal tersebut. aspek pendidikan menjadi elemen kunci dalam upaya melaksanakan program diseminasi Hak Asasi Manusia di Indonesia. Pelaksanaan pendidikan hak asasi manusia yang difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Perlindungan HAM Departemen Hukum dan HAM meliputi pembentukan dan perpustakaan HAM di Universitas dan Komnas HAM. 2007 . Di samping itu. hak hukum. dan Universitas Pelita Harapan). kegiatan simposium hak asasi manusia tingkat nasional dan daerah untuk promosi pendidikan hak asasi manusia yang dilaksanakan oleh anggota Panitia Nasional RANHAM. dan perguruan tinggi juga merupakan hal yang harus dilaksanakan secara terus menerus. pengembangan dan penyebarluasan bahan pengajaran hak asasi manusia yang dilaksanakan oleh anggota Nasional RANHAM. lembaga nonpemerintah. dan perguruan tinggi merupakan langkah yang sangat strategis untuk mendukung diseminasi dan pendidikan HAM di Indonesia. tenaga pengajar/ dosen perguruan tinggi. Convention on the Political Rights of Women.

Pandangan keliru bahwa HAM identik dengan pandangan dunia barat. Hak asasi manusia adalah persoalan universal. pedoman pemenuhan hak anak. apakah berupa norma original atau norma jabaran yang lebih konkrit. Indonesia sebagai negara modern tidak mungkin menghindar dari realitas bahwa masyarakatnya menjadi lebih individual daripada masyarakat tradisional. 4 • Th. antara lain. seperti perlindungan terhadap mereka yang kurang beruntung secara sosial dan ekonomi. HAM tidak banyak dipertanyakan karena struktur sosial tradisional itu masih mampu melindungi hak-hak individu di dalamnya. tidak boleh menjadi alasan untuk tidak melaksanakan HAM. Dengan demikian. Sebaliknya. dan pemenuhan HAM. Saat ini. Sebagaimana dikatakan Magnis Suseno (1994: 11-12). jaminan terhadap HAM merupakan tanda solidaritas dan kepedulian sosial JURNAL HAM • Vol. HAM merupakan pengertian modern. Selain itu. 19 . (c) Berpartisipasi dalam pelaksanaan Nota Kesepahaman Pemerintah Indonesia dengan GAM dalam bentuk memfasilitasi pelaksanaan amnesti dan integrasi anggota GAM bekerjasama dengan IOM dan. dan mekanisme kerjasama pemajuan hak sipil dan politik. polisi. Norma tersebut dapat mengalir dalam perundangundangan yang lebih rendah hierarki atau perundangan yang lebih rendah dapat memberikan norma tafsiran dari peraturan perundangan yang lebih tinggi tersebut. dan tenaga kerja. norma yang terkandung dalam UUD merupakan sumber hukum (rechtsgulle) bagi aturan yang ada di bawahnya. Konstruksi ini merupakan makna bahwa norma-norma yang ada dalam UUD harus mengalir dalam perundang-undangan di bawahnya. sedangkan dikatakan kontekstual apabila sudah berbicara tentang relevansinya (aktualisasi). antara lain: (a) Menghasilkan sejumlah buku saku mengenai HAM yang diperuntukkan. Dalam masyarakat tradisional. secara substansi. norma HAM yang terdapat dalam UUD adalah sebagai bintang pemandu (leitstren) bagi pembuat undang-undang di bawahnya agar selaras dengan nilai-nilai HAM. tetapi sekaligus juga kontekstual. (b) Penyampaian rekomendasi kepada instansi terkait atas pengaduan masyarakat tentang pelanggaran hak asasi manusia (yang tidak termasuk pelanggaran hak asasi manusia yang berat). beberapa kegiatan yang telah dilakukan oleh Departemen Hukum dan HAM dalam mendukung pelaksanaan RANHAM. Dengan kata lain. pengawas ketenagakerjaan. seorang ahli filsafat yang beraliran Neo Kantian. 2007 dalam masyarakat yang bersangkutan. Selain itu. juga dibentuk Tim Konsultasi Hak Asasi Manusia. Penerapan Norma dan Standard Hak Asasi Manusia Dalam perspektif hukum tata negara. bagi pegawai Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM. HAM adalah universal. pemajuan. meminjam istilah dari Rudolf Steammler.5. Pemerintah Indonesia sedang melakukan proses penyusunan norma dan standar perlindungan. HAM justru tidak memuat individualisme. penegakan. Jika diamati lebih jauh. pamong praja dan petugas pemasyarakatan berdasarkan hasil kegiatan yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan HAM.

Sebagai konsekuensi dari telah diratifikasinya instrumen hak asasi manusia internasional. mengatur pembatasan-pembatasannya demi kepentingan umum. 2007 . Hak asasi ini menjadi dasar hak dan kewajiban yang lain. evaluasi dan pelaporan. berarti Pemerintah Republik Indonesia telah terikat secara hukum untuk menerima kewajiban membuat laporan penerapan norma dan standar Hak Asasi Manusia yang terkandung dalam instrumen hak asasi manusia internasional yang telah diratifikasi tersebut kepada badan PBB yang terkait. objektif dan dapat dipertanggung jawabkan. (b) Pengorganisasian data dimaksud serta mekanisme pelaporannya. Kalimantan Tengah.(d) Pelaksanaan Focus Group Discussion di beberapa daerah pasca konflik (Kalimantan Barat. Ambon. 4 • Th. Pemerintah harus terus mengupayakan agar perlindungan terhadap setiap subyek hukum dapat dilakukan sebagaimana tercantum dalam RANHAM. dipandang perlu untuk mengembangkan suatu mekanisme yang tepat untuk melakukan kegiatan pemantauan. Penandatanganan yang dilakukan Indonesia atas 2 (dua) Kovenan HAM Internasional (ICCPR dan ICESCR) untuk saat ini harus dinilai penting. dengan tujuan terciptanya perdamaian yang abadi. Evaluasi dan Pelaporan Pemantauan. kepentingan bangsa dan negara. penyusunan laporan perkembangan pelaksanaan HAM di Indonesia dihadapkan pada sejumlah tantangan yang cukup berat yaitu: PENUTUP Hak asasi manusia adalah hak dasar atau hak pokok yang dibawa manusia sejak lahir sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa. dan Maluku Utara). Untuk itu. 20 JURNAL HAM • Vol. Oleh karena itu. Menjadi kewajiban pemerintah atau negara hukum untuk mengatur pelaksanaan hak-hak asasi ini yang berarti menjamin pelaksanaannya. NAD. Paling tidak pemerintah mempunyai ikatan moral dan ikatan hukum untuk menerapkan kewajibankewajiban dalam Kovenan tersebut ke dalam hukum nasional. terutama untuk menjamin terlaksananya program kegiatan RANHAM sesuai dengan yang telah direncanakan. upaya pembentukan dan penguatan kelembagaan RANHAM merupakan satu prasyarat utama yang harus dipenuhi demi menghasilkan laporan pelaksanaan dan perkembangan HAM di Indonesia. Pemantauan. (a) Pengumpulan data dan informasi yang akurat. Pada kenyataannya. evaluasi dan pelaporan merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dari seluruh rangkaian kegiatan RANHAM. 6. Sulawesi Tengah. terkini.

Jakarta. 2 No. Circle of Rights. dan Budaya). Vol. Konsep dan Implikasinya dalam Perspektif Hukum dan Masyarakat.DAFTAR PUSTAKA Bahan Rapat Kerja Komisi III DPR-RI Dengan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI Tanggal 12 Juni 2006. Implikasi Pengaturan HAM Dalam UUD terhadap Ius Constituendum. Juwana. 2007 21 . Harry. Wibowo. Diterbitkan atas kerjasama Forum Parlemen Indonesia dan Kependudukan Pembangunan. Starke. Social. Darmodihardjo.. Social and Cultural Rights Activism: A Training Resource. Jakarta. hal. 11 Juli 2006. Department of Foreign Affairs and Trade. Economic. Pengantar Hukum Internasional. 2004. Seminar “Memperkuat Sinergi Antar Pemangku Kepentingan Perlindungan HAM Pekerja Migran Perempuan Indonesia”. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik). Makarim. 123–134. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 40 tahun 2004 tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Indonesia Tahun 2004-2004. JURNAL HAM • Vol. et. CESDA-LP3ES. Jakarta.G. 3. Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak-hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. Konvensi Pekerja Migran: Perlukah Indonesia Meratifikasi?. and Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. 2004. Meneropong Hak Atas Pendidikan dan Layanan Kesehatan: Analisis Situasi di Tiga Kabupaten : Indramayu. Forum Asia. Sinar Grafika. 2005. Wibisono. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Departemen Hukum dan HAM Republik Indonesia. Oka.A. Sikka dan Jayapura. 2006.. Hikmahanto. 11 Juli 2006. 2001. edisi kesepuluh. Jakarta. September 2005. Jakarta. Forum Asia. Jakarta.). Januari 2005. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Annual Human Rights Report 2000. S. Harmonisasi dan Sinkronisasi Rancangan Undang-undang dalam Rangka Pemantapan dan Pembulatan Konsepsi.H. Anharudin. Mardiniah.al. Mahendra. J. Jakarta. Pokok-pokok Filsafat Hukum: Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Kumpulan Makalah dan Tanggapan Fraksifraksi DPR-RI Mengenai Perubahan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992. Hakekat. hal. PT Refika Aditama. Seminar “Memperkuat Sinergi Antar Pemangku Kepentingan Perlindungan HAM Pekerja Migran Perempuan Indonesia”. Sosial. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan-International Covenant on Economic. Firdaus. Human Rights Manual. 9-13. 4 • Th. DPR-RI dan Yayasan Kesehatan Perempuan. (terj. Bambang Iriana Djajaatmaja. Hak Asasi Manusia. Bandung. 1998. Human Rights in Asia. Naning. 2000. A. Australia. Jurnal Legislasi Indonesia. PT Gramedia Pustaka Utama. Darji dan Shidarta. 2003.

dibahas juga mekanisme pelaksanaan obligasi negara berdasarkan klausula Kovenan Hak Ekosob. akan dideskripsikan dan dianalisis obligasi (kewajiban) Negara berdasarkan ketentuanketentuan dalam Kovenan Ekosob. Sosial dan Budaya – selanjutnya dalam tulisan ini disingkat dengan Kovenan Hak Ekosob – dan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik. termasuk indikator keberhasilan dan kekagalan. akan dipaparkan “kelirumologi” 3 sesat pendapat berkaitan dengan ketentuan dan implentasi Kovenan Hak Ekosob. Selanjutnya. including its indicators. This article describes and analyzes as well as shows example and practical illustration regarding State’s obligation. bagian kedua. * Kedua penulis saat ini bekerja di Yayasan Lembaga Batuan Hukum Indonesia JURNAL HAM • Vol.Bukan Sekedar Menandatangani: Obligasi Negara Berdasarkan Kovenan Hak Ekosob A. Di bagian pertama. Dibagian ini akan dicakup rumpun obligasi pokok Negara dan secara khusus membahas obligasi negara berdasarkan Pasal 2 ayat (1) Kovenan Hak Ekosob. dibacakan hasil sidang untuk meratifikasi piagam hak asasi manusia: International Covenant on Economic. violation of the obligation. monitoring procedure and mechanism based on the Covenant. terdapat obligasi (kewajiban) internasional yang melekat pada Negara pasca meratifikasi kedua kovenan tersebut. Ratifikasi terhadap the bill of human rights ini membangkitkan harapan baru bagi lahirnya tindakan yang lebih nyata bagi pemajuan penghormatan dan perlindungan hak asasi manusia di negeri ini. Selanjutnya. Artikel ini disusun kedalam 4 bagian. 4 • Th. It’s formulated into 4 section. Bagian ketiga. Dalam sidang Paripurna. explain definition and mean of State obligation. pada 28 Oktober 2005. Indonesia are legally binding to implement all state parties obligation as contained in the Covenant. and. khususnya berkaitan dengan tema “realisasi bertahap” (“progresif realization”) dan “sumber daya” (“resources”). Tentu saja pengesahan tersebut. 2007 22 . 12 tentang Pengesahan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. dilakukan dengan sadar. Social and Cultural Rights dan International Covenant on Civil and Political Rights. pembahasan akan difokuskan pada obligasi Negara pasca ratifikasi Kovenan Ekosob. yang dapat digunakan untuk menilai pelaksanaan obligasi Negara. 11/2005. Pembuka Babak baru itu. Social and Cultural Rights by Law No. Dibagian ini. dimuat tema “pelanggaran hak ekosob”. 11 dan No. Zen dan Andik Hardiyanto* Abstract After incorporation of International Covenant on Economic. kemudian. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengesahkan UU No. Patra M. ditandai dengan persetujuan bersama antara DPR dan Pemerintah pada 30 September 2005. Dalam tulisan ini.

7: The right to adequate housing (art.Di bagian akhir. Karenanya. JURNAL HAM • Vol. Baru-baru ini Pemda DKI Jakarta dan Pemda Bandung sibuk mencari wilayah untuk tempat pembuatan akhir sampah-sampah penduduk kota. 11 (1) of the Covenant): Forced Evictions. Sixteenth session (1997). Sixth session (1991). merupakan catatan penutup. tanpa mencarikan solusi agar mereka mendapatkan tempat untuk bernaung? A. obligasi dalam Pasal 5 Kovenan juga dapat dipenuhi oleh Negara secara seketika. bahasa. agama. pemerintah memberikan perhatian dan mencarikan tempat untuk sampah. Lihat juga secara khusus CESCR. seluruh sumber daya yang ada harus 1 Lihat juga CESCR. 8 (a). yakni: menghancurkan hak-hak dan kebebasan-kebebasan yang diakui dan melakukan pembatasan-pembatasan melebihi prinsip yang diperbolehkan Kovenan. 13 and 18. 4: The right to adequate housing (art. sebagaimana menjadi obligasi Negara berdasarkan Pasal 11 Kovenan maka Pemda jangan melakukan penggusuran!1 Tidak melakukan penggusuran paksa merupakan sebuah praktik yang tidak membutuhkan dana. paras. 2007 23 . Tidak dikenal implementasi prinsip non-diskriminasi secara bertahap. paling tidak ada 3 kesalahan dan sesat pandang yang berkaitan dengan implementasi hak ekosob. politik atau pendapat lainnya.2. Semua pemenuhan hak ekosob mesti menunggu sumber daya yang berlimpah Komite Hak Ekosob pernah menyatakan dalam pemenuhan hak ekosob. asal-usul kebangsaan atau status sosial. pemenuhannya dilakukan secara seketika. termasuk memastikan persamaan laki-laki dan perempuan menikmati semua hak-hak ekosob yang dijamin dalam Pasal 3 Kovenan. Artinya. Obligasi Negara dalam konteks ini adalah pernyataan “komitmen” dan “kemauan baik”.1. sebaliknya apakah masyarakat miskin kota lebih hina dari sampah. Keliru Pandang Ketentuan dalam Kovenan Hak-Ekosob Meminjam istilah “kelirumologi”-nya Djaya Suprana. Obligasi Negara dalam Pasal 2 ayat (2) Kovenan adalah menjamin hak-hak dalam Kovenan Hak Ekosob dilaksanakan tanpa diskriminasi apa pun seperti ras. A. dipaku untuk tonggak upaya mewujudkan keadilan sosial dan kebebasan masyarakat. 4 • Th. Semua pemenuhan hak ekosob membutuhkan biaya Ilustrasi ini dapat dijadikan contoh: jika pemerintah daerah (Pemda) belum mampu untuk memberikan fasilitas perumahan yang layak dalam bentuk apapun. General Comment No. A. kekayaan atau lainnya. 11(1) of the Covenant). sehingga pemerintah daerah hanya main gusur. Seluruh prinsip dan pemenuhan Hak Ekosob dipenuhi secara bertahap (progressive realization) Prinsip non-diskriminasi merupakan sebuah prinsip yang secara otomatis menjadi kewajiban negara dalam pemenuhannya. jenis kelamin. yang tidak mengenal “setengah komitmen” atau “komitmen setengah-setengah” melainkan “komitmen penuh” untuk menjamin prinsip non-diskriminasi.3. General Comment No. memuat harapan: peristiwa peratifikasian Kovenan Hak Ekosob. A. Negara dalam hal ini dapat mengimplementasikan obligasinya dengan seketika. warna kulit. Selain obligasi dalam Pasal 2 ayat (2) tersebut.

246. 2007 2 Lihat OHCHR.008 205. Social and Cultural Rights. Tabel 1 Jumlah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah serta Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Jembrana (2000 – 2004) Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 APBD PAD (dalam Rupiah) 66. yakni: (1) menjadi pelopor perwujudan program pendidikan dasar yang diwajibkan dan cuma-cuma (compulsory and free of charge).digunakan dengan cara yang paling efektif (all existing resources must be devoted in the most effective way).609 193. 4 • Th.500.. suka atau tidak. mencapai 88. (3) dalam skala tertentu berupaya menyediakan air bersih. Fact Sheet No.401.688.911. utamanya hak atas pendidikan dan kesehatan.02% Berkurang menyelesaikan 75% sekolah (drop-out) Sekolah Dasar Sumber: Diolah dari Yayasan TIFA.395 11.25 8.956. tetapi mampu menjalankan core-obligation dalam pemenuhan hak-hak ekosob.785.749 131. Juga perwujudan obligasi yang ditentukan oleh Pasal 13 Kovenan. Bupati Jembrana: sebuah kabaputen yang “tidak gemuk” PADnya (lihat tabel 1).634 9.548 11. Selain itu.000 lahir 45% hidup) Tingkat kegagalan 0.287.224. tercatat sebagai pimpinan daerah yang mendapat pengakuan rekognisi publik. Dengan jumlah APBD dan PAD tersebut. pada dasarnya telah memenuhi obligasi yang dinyatakan dalam Pasal 10 Kovenan – memberikan perlindungan dan fasilitas bantuan pada keluarga.56 JURNAL HAM • Vol.9% Berkurang 44% Kematian Bayi 15.4% 10.157. 2004: 218. sebagaimana contoh-contoh tersebut. Bupati I Gde Winarsa.055.2 Dalam konteks ini.562.000.703.526.599. 2005: 5. (2) memenuhi hak kesehatan masyarakat: menyediakan dan memfasilitasi pelayanan kesehatan gratis melalui program.551. 24 .691 2. juga membebaskan pajak bumi dan bangunan (PBB) bagi lahan sawah.08% 0. 16 (Rev. 1). dengan menjalankan proyek pengolahan air mineral dari air laut. langsung dan tidak langsung: menghantarkan I Gde Winarsa mencapai rekor MURI baru: memperoleh prosentase suara terbanyak dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) pada 12 Oktober 2005.147. The Com- mittee on Economic. di kabupaten ini. (3) untuk mendukung hak atas pekerjaan. seperti mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI).000 Tabel 2 Contoh Indikator Pemenuhan Hak-hak Ekosob di Kabupaten Jembrana Indikator Keluarga Miskin Tahun Perubahan 2001 2002 19. paling baik untuk mencontoh apa yang dilakukan I Gde Winarsa. Implementasi obligasi pemerintah dalam memenuhi hak ekosob. utamanya hak anak-anak untuk mendapatkan akses pendidikan dasar: menurunkan angka drop-out pelajar (lihat Tabel 2).540.39 Berkurang (per 1. Jaminan Kesehatan Jembrana (JKJ).419 171.555.286 5. I Gde Winarsa. Sumber: Dharma Santika Putra dan Nanoq da Kansas.

right to water” sebagaimana dijabarkan dalam Komentar Umum (General Comment) Komite Ekosob No. 15 yang menjelaskan Pasal 11 dan 12 Kovenan. CESCR.5 Karenanya. termasuk DPR dan Pemerintah. “Cara Mudah Menjadi Kepala Daerah: Dari Komitmen Pemenuhan Hak Ekosob Rakyat”. 2. jika terdapat perbedaan penafsiran terhadap terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Zen. CESCR. sebagai Bupati Banyuwangi. para.3 B. mesti merujuk pada pengertian – “the 3 Tentang hal tersebut. agar setiap orang dan kelompok masyarakat dapat menikmati semua katalog hak ekosob. Selanjutnya. maka penafsiran pasal-pasal dalam Kovenan. 15: The right to water (arts. 7/2004 tentang Sumber Daya Air. yang mengizinkan hak guna pakai dan hak guna usaha atas air. 3: The Nature of State parties’ obligations (art. 11/ 2005. Hal tersebut penting kembali diingatkan. kerjasama LBH Bandar Lampung dan FES Jakarta. Untuk tujuan tersebut. Kovenan Hak Ekosob disusun. Bandar Lampung. General Comment No. apakah terjadi pelanggaran obligasi Negara atau tidak. lihat antara lain A. of the Covenant). paper pada Pendidikan Kritis untuk Aktivis Partai Politik (Penegakan Demokrasi dan Pemenuhan Hak Ekosob). Disinilah kerangka kerja Negara mesti disusun agar meningkatkan penikmatan hak-hak ekosob semua orang. Fifth Session (1990). 25 . maka DPR dan Pemerintah. seperti penjelasan yang diadopsi Komite Hak-hak Ekonomi Sosial dan Budaya (Komite Hak Ekosob) yang dibentuk berdasarkan ketentuan Kovenan. disiplin hukum internasional hak asasi manusia mengenalkan “minimum core obligation” atau obligasi pokok yang paling minimum yang harus dipatuhi dan diimplementasikan Negara. UU No. 5 Lihat UN doc. JURNAL HAM • Vol.4 DPR dan Pemerintah tidak dapat semena-mena menafsirkan hak atas air sebagai “water rights” a la Bank Dunia (World Bank) atau penafsiran yang dianut UU No.persen dari total suara yang sah. namun mesti merujuk pada naskah asli dan sumber-sumber yang diakui. maka penafsiran tentang isi kovenan ini tidak dapat “secara sewenang-wenang” diklaim oleh lembaga-lembaga Negara. lagi-lagi langsung dan tidak langsung menghantarkan Ratna Ani Lestari. bukan sebaliknya malah Negara berkontribusi terhadap penurunan (degradasi) penikmatan hak ekosob warga-negaranya. 2007 4 Lihat UN doc. General Comment No. Patra M. para. Obligasi Negara Berdasarkan Ketentuan Kovenan Hak Ekosob Dengan pengikatan Indonesia sebagai Negara Pihak Kovenan Hak Ekosob. Penjelasan Pasal 1 ayat (2) dinyatakan. 11 and 12 of the Covenant). akan dieksaminasi dan diperiksa apakah negara yang bersangkutan telah melakukan segala upaya menggunakan segala sumber daya untuk melakukan obligasi pokoknya dalam pemenuhan hak ekosob. Sebagai contoh berkaitan dengan “hak atas air” sebagai “hak asasi manusia”– sebagai elemen hak yang utama dalam Pasal 11 dan 12 Kovenan. naskah yang berlaku adalah naskah asli dalam bahasa Inggris serta pernyataan (declaration) terhadap Pasal 1 Kovenan Hak Ekosob. tidak lain dan tidak bukan untuk perlindungan dan pemenuhan hak. 23-25 Februari 2006. setinggi-tingginya dan semaksimal mungkin. Dalam konteks ini. yang pada prinsipnya memperbolehkan komersialisasi air untuk keuntungan orang seorang dan badan usaha privat.Twenty-ninth session (2002). 10. MURI mencatat rekor: I Gde Winarsa dan Ratna Ani Lestari sebagai pasangan suami-isteri (Pasutri) pertama yang menjadi Kepala Daerah. Jika didalami. 1. 4 • Th. yang bisa dicapai manusia.

Patra M. paras. 7 Ibid. 1. to be fixed in the plan. mesti mempertanggunjawabkannya dalam sistem hukum di Indonesia (justiciable). 10-11. CESCR. free of charge. dinyatakan: “Article 14 …requires each State party which has not been able to secure compulsory primary education.6 Ironis. melindungi (to protect) dan memenuhi (to fulfill) – memfasilitasi (to facilitate) 6 Periksa juga CESCR. Vol. Mengakui (to recognize) Klasifikasi obligasi Negara dalam mengakui bahwa hak ekosob merupakan hak asasi manusia. “Justisiabilitas Hak-hak Ekonomi. of the principle of compulsory primary education free of charge for all”.. tidak dapat memasukan anak-anaknya ke sekolah karena mahalnya biaya pendidikan. Mempromosikan (to promote) Aparat Negara. 1 Oktober 2003. 7. Lihat juga A.cit. Sosial dan Budaya: Menarik Pengalaman Internasional. 1.. Zen. to undertake. 10 UN doc. Sebagai contoh. JURNAL HAM • Vol. merupakan obligasi atau kewajiban Negara untuk melakukan sesuatu. Misalnya: jika banyak keluarga miskin yang tidak dapat memperoleh akses terhadap pelayanan kesehatan. 8 Lihat UN doc. anak-anak dari keluarga miskin tidak dapat menikmati pendidikan dasar. CESCR.7 B. 3. 14).9 Obligasi Negara dalam hal mengakui prinsip-prinsip pemenuhan hak ekosob. seperti jika terjadi pelanggaran atau kejahatan hak-hak sipil politik. within a reasonable number of years. termasuk aparat penegak hukum dan birokrasi mesti melakukan promosi hak-hak ekosob. menghormati (to respect). disiplin hukum hak asasi manusia mengenal 2 bentuk obligasi Negara yang pokok berdasarkan Kovenan Hak Ekosob: obligations of conduct dan obligation of result. 9. pejabat yang berkompeten dalam hal ini. 11 (1) of the Covenant). Sehingga. para.10 b. 4 • Th. sebaliknya para anggota DPR dan DPRD malah menikmati studi banding yang menghabiskan bukan saja ratusan juga bahkan miliar rupiah setiap periode 5 tahun keanggotaan sebagai “wakil rakyat”. neral comment No. 4: The right to adequate housing (art. 19. pp. within two years. Sixth session (1991). General Comment No. semua upaya dan segala tindakan untuk menerima (to mempromosikan (to promote). 11.” dalam Jurnal HAM (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia). 11: Plans of action for primary education (art. Op.Contoh dalam pemenuhan hak atas pendidikan dasar yang diwajibkan dan cuma-cuma sebagaimana dijamin dalam Pasal 14 Kovenan. para.. maka semestinya Negara mengakui semua mekanisme dan konsekwensi yang mesti ditanggung para pelaku pelanggaran hak ekosob. para. Dalam Komentar Umum Komite Ekosob No. Negara berkewajiban untuk menerima “the essential importance of international cooperation based on free consent”. Promosi bukan saja dilakukan melalui penyebaran iklan layanan masyarakat 9 Ibid. Mempraktikannya di Indonesia. General Comment No. juga secara tegas dinyatakan dalam hal upaya-upaya bantuan teknis internasional.8 Obligation of conduct. Twentieth session (1999).1. Ge- dan menyediakan (to provide) – penikmatan hak-hak ekosob. Lima Layer Obligasi Pokok: Rumpun Obligasi yang Saling Berkait Atas jasa International Law Commission. maka. to work out and adopt a detailed plan of action for the progressive implementation. a. 36-47.. 1 No. 2007 26 .

4 • Th. dimungkinkan jika Negara mensosialisasikan rencana. Pembatasan hanya dapat dilakukan dengan maksud agar terpenuhinya hak-hak itu sendiri. 35/2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Untuk Kepentingan Umum. termasuk dalam hal Pelaporan yang dilakukan Negara Pihak. Hal ini agar dimungkinkan adanya partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan. pengawasan dan distribusi manfaat atau hasil-hasil yang ingin dicapai oleh program pemenuhan hak ekosob. 6 Juni 2006. Third session (1989). Program-program promosi atau seringkali disebut dengan sosialisasi mutlak wajib dilakukan.tetapi juga melalui pelibatan masyarakat sipil secara aktif. Negara tidak diperkenankan untuk melakukan intervensi baik melalui peraturan perundangan atau kebijakan. paper diskusi pada “Development and Human Rights”. Obligasi penghormatan yang mesti dilakukan Negara. 4. telah menjadi perhatian yang pokok oleh Komite Hak Ekosob. KSPA dan ELSAM. yakni memastikan adanya “legal security of tenure”. 26 September 2002. Negara wajib menghormati persetu11 Bahasan yang rinci tentang prinsip full and mean- Op. pelaksanaan. CESCR. 12 Lihat UN doc. General Comment No. 2007 LBH Indonesia. 2628. 27 . 9. “Perpres tentang Pengadaan Tanah. antara lain lihat A. antara lain. Essex University. Dissertation for LL.12 c. CESCR. 36/2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. University of Essex (2002). lihat juga “What does the rights to participate mean”. Lihat juga Kompas. Walhi. Dalam klasifikasi ini. Partisipasi masyarakat semacam ini (full and meaningful participation). Sejumlah Kalangan Nilai yang Direvisi Tak Signifikan”. “A critical contextual human rights analysis of Kedung Ombo Large Dam Project in Indonesia”. Contoh lain. Menghormati (to respect) juan sukarela calon mempelai untuk melangsungkan perkawinan (Pasal 10 ayat (1) Kovenan). “Lebih Represif. Melindungi (to protect) Salah satu contoh yang paling prudent obligasi Negara untuk melindungi hak ekosob. 10 Mei 2005. 8(a). Suara Pembaruan. “Pemerintahan SBY-Kalla Menunjukkan Watak Aslinya: Mendahulukan Kepentingan Pemilik Modal Daripada Kepentingan Masyarakat”.cit. Tidak Dipublikasikan.13 keamanan hukum kepemilikan atas tanah. pada dasarnya bertentangan dengan obligasi Negara untuk melindungi hak atas tanah: karena tidak diatur dengan jelas mekanisme perlindungan bagi seseorang atau kelompok masyarakat yang tanahnya diambilalih. Keluarnya Peraturan Presiden (Perpres) No. 14 Lihat antara lain Siaran Pers Bersama Yayasan ingful participation dalam proses pembangunan. Revisi Perpres Tanah. Perpres Nomor 36/2005 Harus Dibatalkan”. Zen. Kompas. maupun campur tangan langsung hak seseorang atau kelompok untuk membentuk serikat buruh/pekerja atas pilihannya sendiri atau melakukan pemogokan (Pasal 8 Kovenan) d. “Selesai. General Comment No. Patra M. JURNAL HAM • Vol. Kompas. para. peraturan atau kebijakan “pembangunan” secara luas agar dapat diketahui dan dipahami oleh publik.M in International Human Rights Law. 1: Reporting by States parties. Pemerintah Dinilai Lebih Represif”. “YLBHI Minta Revisi Perpres Diwaspadai”.14 Dalam Perpres ini seharusnya dimuat jaminan reparasi (rehabilitasi. 10 Mei 2005. 9 Mei 2005 tentang Penetapan Peraturan Presiden No. restitusi dan kompensasi) bagi si pemilik tanah. para. negara tidak melakukan tindakan yang justru membatasi sebagian atau seluruhnya hak-hak ekosob masyarakat. 13 Lihat UN doc. h..11 Pentingnya Negara dalam menjalankan obligasi promosi. 7 Juni 2006. mempunyai makna.

dan perbaikan kondisi hidup semua orang secara terus menerus (Pasal 11 Kovenan). dan kegiatan ekonomi produktif (Pasal 6 Kovenan). 4 • Th. kesempatan memperoleh promosi ke jenjang yang lebih tinggi.Contoh lain adalah memberikan perlindungan dalam bentuk peraturan perundang-undangan agar setiap orang dapat menikmati kondisi kerja yang adil dan menguntungkan. sandang dan perumahan. liburan dan pembatasan kerja yang wajar dan hak-hak yang melekat didalamnya (Pasal 7 Kovenan). Perwujudan obligasi Negara untuk pemenuhan hak ekosob. termasuk memastikan pekerja/buruh memperoleh upah yang adil. Negara menyediakan dan memfasilitasi (akses) atas pangan. 2007 . “cuma” bayar SPP. “cuma” bayar buku. dan seterusnya pungutan yang membebani siswa dan orang tua murid. Menyediakan bantuan kepada keluarga untuk merawat dan mendidik anak-anak yang masih dalam tanggungannya (Pasal 10 Kovenan). meminta Negara untuk melakukan perlindungan bagi anak-anak dan remaja dari semua bentuk eksploitasi ekonomi dan sosial. sebagaimana dimuat dalam Kovenan sebagai berikut: Menyediakan lapangan kerja dan memfasilitasi bimbingan teknis. kondisi kerja yang aman dan sehat. Perlindungan. Menyediakan dan memfasilitasi (akses) semua orang untuk menikmati manfaat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan penerapannya (Pasal 15 ayat (1) Kovenan). Selanjutnya. Sementara Pasal 10 ayat (3) Kovenan. sebagai obligasi Negara. program-program pelatihan. termasuk memenuhi hak setiap orang menikmati pendidikan dasar yang wajib dan cuma-cuma (compulsory and free of charge) (Pasal 13 dan 14 Kovenan). Menyediakan dan memfasilitasi (akses) atas standar kesehatan fisik dan mental setinggi-tingginya yang dapat dicapai (Pasal 12 Kovenan). Memenuhi: memfasilitasi dan menyediakan (to fulfill: to facilitate and to provide) Obligasi untuk memenuhi hak asasi manusia secara inheren mempunyai makna Negara melakukan upaya untuk memfasilitasi dan menyediakan hak-hak ekosob setiap warga negaranya. e. Tidak seperti sekarang. Menyediakan dan memfasilitasi jaminan sosial termasuk asuransi sosial bagi setiap warga negara (Pasal 9 Kovenan). juga dilakukan seperti memastikan setiap orang bebas dari kelaparan (Pasal 11 ayat (2) Kovenan) dan bebas untuk berpartisipasi dalam kehidupan budaya (Pasal 15 ayat (1) Kovenan). serta menikmati istirahat. yang dapat menghidupi keluarganya secara layak. Negara berdasarkan Pasal 10 ayat (2) Kovenan wajib memberikan perlindungan khusus kepada para ibu selama jangka waktu yang wajar sebelum dan sesudah melahirkan. 28 JURNAL HAM • Vol. Dengan kerjasama internasional. karenanya berhak mendapat cuti dengan upah/gaji dan jaminan sosial yang memadai. Menyediakan dan memfasilitasi (akses) atas pendidikan.

termasuk pada khususnya dengan mengadopsi langkah-langkah legislatif”. 17 Ibid. 3. Namun demikian. 2. konkrit dan diarahkan kepada sasaran-sasaran yang dirumuskan sejelas mungkin dalam rangka memenuhi kewajiban-kewajiban Kovenan.17 Interpretasi Komite terhadap istilah ‘all appropriate measures’ jelas berkaitan baik dengan kewajiban melakukan 16 Ibid.cit. secara sendiri maupun melalui bantuan dan kerjasama internasional. laporan Negara Peserta harus menyebutkan tidak hanya langkah-langkah yang telah ditempuh namun juga alasan mengapa langkah-langkah tersebut dianggap sebagai paling tepat berikut situasisituasinya. General Comment No. Pasal 2 tersebut mengandung kepentingan khusus untuk mencapai pemahaman seutuhnya atas Kovenan dan harus dilihat dalam hubungannya yang dinamis dengan semua ketentuan Kovenan lainnya. Komite Hak Ekosob melalui Komentar No.. “…walaupun realisasi sepenuhnya atas hak-hak yang relevan bisa dicapai secara bertahap. yang mengarah pada pencapaian secara bertahap demi realisasi sepenuhnya dari hak-hak yang diakui dalam Kovenan ini dengan semua cara yang tepat. JURNAL HAM • Vol. CESCR.. Menurut Komite Hak Ekonomi.”16 Langkah-langkah tersebut haruslah dilakukan secara terencana. Sosial dan Budaya (Komite Hak Ekosob). sejauh dimungkinkan oleh sumberdaya yang tersedia (to the maximum available resources).’ Komite Hak Ekosob mengakui bahwa negaralah yang harus memutuskan langkah-langkah yang tepat dan hal tersebut bergantung pada hak yang hendak diimplementasikan. nampak penting di sini untuk memahami arti dari istilah-istilah yang digunakan dalam Pasal 2 Kovenan untuk memahami bagaimana implementasi kewajiban Negara seharusnya dijalankan.. 4. memang biasanya ditafsirkan dengan kandungan arti implementasi Kovenan secara bertahap. Pasal 2 ini menjelaskan sifat dari kewajiban yang umum ditempuh oleh Negara Peserta Kovenan. khususnya dalam bidang ekonomi dan teknis. para. dan dengan semua cara yang tepat. para. Mengenal Lebih Dekat: Obligasi Negara Menurut Pasal 2 ayat (1) Kovenan Hak Ekosob Pasal 2 ayat (1) Kovenan Hak Ekosob menyatakan: “Setiap Negara Peserta Kovenan ini berupaya untuk mengambil langkahlangkah. susnya dengan mengadopsi langkah-langkah legislatif (by all appropriate means including particularly adoption of legislative measures)’ adalah bersifat unik dan tidak terdapat.2. berupaya mengambil langkahlangkah” sebagaimana tersebut dalam Pasal 2 (1) Kovenan Hak Ekosob. atau tidak digunakan dalam obligasi yang dimuat dalam Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik (Kovenan Hak Sipol). pencapaian secara bertahap demi realisasi sepenuhnya (achieving progressively the full realization)..15 Selain itu. Op. 3 telah menjelaskan bahwa. namun langkahlangkah kearah itu harus diambil dalam waktu yang tidak lama setelah Kovenan berlaku bagi Negara Peserta bersangkutan. sejauh dimungkinkan oleh sumberdaya yang tersedia.B. para. Istilah-istilah seperti: berupaya mengambil langkah-langkah (undertakes to take steps). Selanjutnya Komite menegaskan bahwa. Penggunaan istilah “Setiap Negara Peserta. 2007 29 . 4 • Th. 1.. termasuk pada khu15 UN doc.

Dalam kenyataan. tetapi mereka tidak dapat dibuat menunggu pemenuhan hak-hak asasinya sampai klaim “pertumbuhan ekonomi” memungkinkan hal itu. jika laporan difokuskan secara sempit pada aspek-aspek legal semata. 3 memberi ilustrasi yang sangat jelas untuk hal ini. Suatu kebijakan ekonomi atau pembangunan memang untuk mencapai kesejahteraan warganegaranya.18 Lebih jauh Komite menjelaskan bahwa sekalipun didapati kenyataan tidak cukupnya sumberdaya yang ada. 4 • Th. menderita kelaparan. Komite sekali lagi memberi peringatan bahwa klausul realisasi secara progresif sepatutnya juga dicerminkan pada pelaksanaan kewajiban yang menjamin agar tidak terjadi perkembangan regresif atau kemunduran. Disinilah konteks gagasan kewajiban minimum (minimum core obligation) yang dikembangkan oleh Komite. Pada kenyataannya 18 Ibid. atau tidak menikmati pendidikan dasar. 10. Komite mengakui pentingnya sumberdaya bagi pemenuhan hak-hak ini. tidak memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan. Dalam kasus semacam ini. juga menegaskan tentang perlunya kerjasama dan bantuan internasional berkait dengan upaya realisasi hak. 30 JURNAL HAM • Vol. maka Negara harus membuktikan bahwa kegagalannya memenuhi hak-hak orangorang ini memang diluar kendali. tetapi tidak menganggap bahwa ketersediaan sumberdaya sebagai alasan untuk lepaskan kewajibannya. Komite menyatakan bahwa. Komite melihat bahwa setiap Negara Peserta mempunyai kewajiban minimum untuk memenuhi tingkat pemenuhan yang minimum dari setiap hak yang terdapat dalam Kovenan. maka dapat dinyatakan Negara gagal menjalankan obligasinya berdasarkan Kovenan. Pada titik ini. Pasal 2 ayat (1) Kovenan. Sementara itu berkait istilah ‘mengadopsi langkah-langkah legislatif’’(adoption of legislative measures) Komite memberi peringatan bahwa keberadaan hukum jelas penting tetapi hal tersebut belumlah cukup membuktikan Negara Peserta telah menjalankan kewajibannya sesuai Kovenan. kewajiban Negara tetap dijalankan untuk menjamin pemenuhan hak yang seluas-luasnya dalam kondisi yang sangat terbatas itu. pada saat terjadi keterbatasan sumberdaya yang akut. jika terdapat penduduk secara massal. Kini ratifikasi Kovenan Hak Ekosob memberi pemahaman mendasar bahwa peningkatan ekonomi haruslah secara nyata didasarkan pada penghormatan dan realisasi hak asasi manusia.(obligations of conduct) maupun kewajiban hasil (obligation of result). Berdasarkan pengalaman Komite ketika membahas laporan Kanada menyatakan.. para. tak mempunyai tempat bernaung dan perumahan. Sebagai contoh. pembelajaran dan ekspresi dari banyak Negara Peserta dalam mengimplementasikan kewajibannya telah mendorong pentingnya aplikasi pendekatan berbasis hak dalam “pembangunan”. anggota masyarakat yang rentan dapat dan memang harus mendapatkan perlindungan dengan diadopsinya programprogram yang dirancang relatif murah. dalam kasus dimana sejumlah cukup signifikan rakyat hidup dalam kemiskinan dan kelaparan. dibutuhkan justifikasi penuh dengan mengacu pada inti hak yang ditentukan dalam Kovenan dan dalam konteks pemanfaatan sejauh mungkin atas sumberdaya yang ada. Komentar Umum No. Bahkan. maka kecurigaan biasanya akan muncul berkenaan dengan adanya kesenjangan antara peraturan perundang-undangan dengan praktik. 2007 . Jika hal itu pun terpaksa dilakukan dan terjadi. maka harus dijalankan dengan pertimbangan yang sangat hati-hati.

kerjasama pembangunan internasional ditandai oleh berbagai perubahan cara pandang dan kebijakan yang merujuk pada pemahaman bahwa realisasi hak asasi manusia merupakan kunci untuk lepas dari situasi ini. Pelanggaran Hak Ekosob: Indikator Keberhasilan dan Kegagalan Obligasi Negara Komite menegaskan bahwa Negara Peserta yang penduduknya dalam jumlah yang signifikan mengalami kekurangan bahan pangan. Jakarta. terjebak pada hutang luar negeri yang sangat besar.memang Negara Peserta mengalami kesulitan dalam melaksanakan kewajiban untuk melindungi dan memenuhi hak secara penuh. atau tiada akses terhadap pendidikan dasar merupakan petunjuk awal bagi kegagalan Negara untuk memenuhi kewajiban sebagaimana diatur Kovenan. Pada suatu titik momentum ketika kelaparan dan kemiskinan menjadi musuh nomor satu dari semua Negara di dunia ini. Problemnya.. Kegagalan untuk memenuhi kewajiban minimum dapat disebut sebagai pelanggaran terhadap hak yang termuat dalam Kovenan Hak Ekosob. kekurangan pelayanan kesehatan dasar. untuk mendukung bantuan teknis dan pinjaman dana. Konsep kewajiban minimum diajukan oleh Komite untuk menyangkal alasan tidak adanya sumberdaya sebagai faktor yang mencegah pemenuhan kewajiban. Dalam perkembangannya.1.19 C. 19 Andik Hardiyanto. Empat Pilar Demokrati- sasi Melawan Kemiskinan dan Pemiskinan. JURNAL HAM • Vol. Tetapi terpisahnya logika globalisasi ekonomi dengan kerangka kerja hak asasi manusia menjadikan harapan akan membaiknya situasi derita dunia menjadi pupus kembali. yang biasanya menunjuk pada keterlibatan lembaga atau badan pembangunan multilateral dan keuangan internasional. et.al.. dan Negara pengutang tidak berdaya karena situasi ketergantungan dan keterjebakan hutang yang dialaminya. Prinsip-prinsip ini memberikan kerangka dasar bagi pengembangan lebih lanjut atas berbagai asumsi dan konsep pelanggaran Hak Ekosob. GAPRI. 4 • Th. tiada akses terhadap pemukiman dan perumahan yang layak. bahwa pada akhirnya mereka menjadi sangat tergantung pada aliran dana luar negeri. 2007 31 . Kesulitan utama dari persoalan ini adalah operasional dari lembaga atau badan pembangunan multilateral dan keuangan internasional itu lepas dari kerangka kerja hak asasi manusia. penguatan konsep pelanggaran Hak Ekosob terus dilakukan oleh banyak ahli hukum hak asasi manusia internasional yang kemudian dituangkan dan dikenal sebagai Prinsip-Prinsip Limburg (the Limburg Principles). Komite menegaskan bahwa Negara mempunyai kewajiban minimum guna memenuhi realisasi setiap hak yang terdapat dalam Kovenan pada tingkat yang minimum. pada banyak Negara. dan sementara itu sebagian besar penduduknya tetap dan jatuh miskin. Dibutuhkan keterlibatan pihak ketiga.20 Tetapi yang penting dipahami di sini adalah bahwa kegagalan Negara Peserta untuk memenuhi kewajiban yang terkandung dalam Kovenan jelas merupakan pelanggaran terhadap Kovenan. Pemahaman ini didasarkan pada keberadaan gagasan kewajiban minimum (minimum core obligation) yang dikembangkan oleh Komite. 2005. Pelanggaran Hak dalam Kovenan Hak Ekosob dan Monitoring Obligasi Negara C.

E/CN. p. di sisi lain. menurut Komite. upah yang adil dan setara. sosial. maka pemahaman akan penegakan realisasi hak ekonomi. (iv) menerapkan pembatasan atas hak yang diakui dalam Kovenan dengan alasan-alasan yang tidak sesuai seperti yang disyaratkan Kovenan. (iii) gagal untuk mengimplementasikan hak yang perlu segera direalisasikan. kebebasan melakukan penelitian ilmu pengetahuan serta kegiatan kreatif (Pasal 15 ayat (3) Kovenan). dalam situasi dan kondisi dimana Negara Peserta: (i) gagal mengambil langkah-langkah seperti yang disyaratkan dalam Kovenan. dapat dimaknai. pendidikan dasar (Pasal 13 angka (2) huruf (a) Kovenan). penegakan hak-hak yang terkandung dalam Kovenan Hak Ekosob ini bisa ditangani oleh pihak yudikatif. (ii) gagal menyingkirkan segera atas berbagai hambatan yang menghalangi realisasi hak secara penuh. Komite jelas menolak pemahaman ini. hak untuk membentuk serikat buruh dan hak mogok (Pasal 8 Kovenan). May 1987. Komite menyatakan bahwa hak ekosob juga menjadi urusan pengadilan.Pelanggaran terhadap Kovenan tersebut. Komite Hak Ekosob melalui Ko20 The Limburg Principles on the Implementation of mentar Umum No. perlu dibuat blue-print untuk masing-masing pemenuhan hak ekosob. dapat menggunakan kebijakan dan standard yang sudah ada. 2. Dengan begitu. seperti: non-diskriminasi dalam realisasi hak (Pasal 3 Kovenan). No. upah yang sama bagi pekerjaan yang sama antara laki-laki dan perempuan (Pasal 7 huruf (a) angka (i) Kovenan). hak untuk mendirikan dan mengarahkan sekolah (Pasal 13 ayat (4) Kovenan). perlindungan anak dari eksploitasi ekonomi dan sosial (Pasal 10 ayat (3) Kovenan). 9. (v) sengaja menghambat atau menghalangi realisasi bertahap atas hak-hak yang diakui dalam Kovenan. seperti termuat dalam Kovenan Hak Ekosob. annex. karena pengembangan konsep pelanggaran hak banyak difokuskan pada pemenuhan kewajiban. Vol. Belanda pada Juni 1986. 4 • Th. (vi) gagal menyampaikan laporan sebagai ditentukan dalam Kovenan. dihasilkan dalam sebuah pertemuan pakar hukum internasional di Maastricht. Dapat juga ditemukan pada UN doc. 2007 the International Covenant on Economic. Jika belum maka. Untuk mengukur apakah Negara berhasil atau sebaliknya gagal dalam menjalankan obligasinya. Human Rights Quarterly. dalam rangka pemeJURNAL HAM • Vol. dan budaya merupakan wilayah eksekutif dengan berbagai kebijakan dan programnya. 122. Sementara itu. Social and Cultural Rights. hak orang tua untuk memilihkan sekolah bagi anak-anaknya guna menjamin pendidikan agama serta moral yang sesuai dengan keyakinan mereka (Pasal 13 ayat (3) Kovenan).3 telah mengidentifikasi beberapa ketentuan Kovenan yang bisa ditangani segera oleh pihak yudikatif. yang dimuat dalam katalog hak Kovenan – utamanya dalam Bab III (Pasal 6 sampai dengan 15 Kovenan) Sebagai contoh. 32 .4/1987/17. atau lebih dikenal dengan Limburg Principles.

tapi juga politik dan hukum. Komite Hak Ekosob mulai menjalankan fungsinya sebagai lembaga pengawas pada 1986. dapat dikatakan. pemerintah misalnya telah merumuskan kebijakan Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SPNK). Oktober 2005. Dokumen kebijakan ini menggunakan pendekatan berbasis hak untuk memahami kemiskinan dan mengembangkan upaya-upaya penanggulangannya. dibandingkan “Komite Hak Asasi Manusia”. termasuk ketercukupan pangan. Karenanya. dokumen SNPK ini. karena dokumen ini kemudian dijadikan rujukan bagi penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009. Para penanggungjawab dan aparat Negara yang terlibat dalam perencanaan. serta peningkatan kondisi kehidupan secara terusmenerus. dan termasuk pula sebagai rujukan penyusunan Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD) dan RPJM Daerah JURNAL HAM • Vol. C. dokmen ini disusun dengan perspektif.nuhan hak setiap orang untuk menikmati standard hidup yang layak bagi dirinya dan keluarganya. melakukan pemantauan terhadap implementasi obligasi Negara Pihak dalam mempromosikan. 4 • Th.2. SPNK juga memuat rekomendasi caracara penghapusan kemiskinan dan pencapaian tujuan Millenium Development Goals (MDGs) dengan mekanisme implementasi yang diadopsi oleh Kovenan Hak Ekosob. yang memandang problem kemiskinan berkait langsung dengan tidak terpenuhinya hak-hak dasar. di satu sisi. tegi Nasional Penanggulangan Kemiskinan. Stra- dokumen SPNK mesti diletakan pada dokumen yang semestinya membawa implikasi bukan saja ekonomi. pelaksanaan dan evaluasi semestinya dapat dimintai pertanggunjawaban secara politik dan hukum. pakaian dan perumahan yang layak. kebijakan ini merupakan bentuk pengakuan. dilakukan antara lain melalui pengawasan yang dilakukan Komite Hak Ekosob yang dibentuk berdasarkan Kovenan. menghormati. dan di sisi lain adalah menjadi kewajiban Negara untuk melaksanakan realisasi hak-hak asasi itu sepenuhnya. fungsi utama Komite Ekosob. Selain itu. 21 Komite Penanggulangan Kemiskinan (KPK). Dalam dokumen ini juga ditegaskan. menggantikan sebuah Kelompok Kerja (Working Group) yang dibentuk Dewan Ekonomi dan Sosial – Economic and Social Council (ECOSOC). Mekanisme Monitoring Pelaksanaan Obligasi Negara Selain memberikan penafsiran dan elaborasi terhadap pasal-pasal dalam Kovenan. atau disebut dengan mekanisme berdasarkan perjanjian (treatybased mechanism). melindungi dan memenuhi (memfasilitasi dan menyediakan) hak-hak ekosob masyarakat. Menariknya. Sosial dan Budaya (Kovenan Hak Ekosob).21 SPNK dapat dikatakan berhasil antara lain jika peringkat Indonesia. Mekanisme monitoring implementasi ketentuan dalam Kovenan Hak Ekosob. Memeriksa. 2007 33 . Walaupun “terlambat” lahir. Menjadi menarik di sini. peristiwa kemiskinan adalah masalah hak asasi manusia. Komite ini terdiri dari 18 pakar independen yang bekerja untuk memeriksa (mengeksaminasi) laporan Negara Pihak dalam menjalankan obligasi (kewajiban) yang tercantum di Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. dalam Human Development Index (HDI) naik dan terjadi peningkatan indikatorindikator kesejahteraan. utamanya hak-hak ekosob. kualitas kehidupan seseorang sangat bergantung pada realisasi hak-hak asasinya.

Komite mengambil manfaat dan bekerjasama dengan para pakar yang bekerja pada Organisasi Pendidikan. E/CN. 2007 . Komite Hak Ekosob dalam menjalankan fungsinya juga mendengarkan pendapat dan masukan dari para pelapor khusus ini (lihat Tabel 3). Contoh lain. Tabel 3 Prosedur Khusus dibawah Komisi Hak Asasi Manusia. Miloon KOTHARI (India) 1998 1998 1998/33 1998/25 Vernor MUOZ VILLALOBOS (Kosta Rika) Arjun SENGUPTA (India) 34 JURNAL HAM • Vol. Komite bekerjasama dengan lembaga-lembaga khusus PBB yang lain. yang kemudian dikembangkan di Maastricht pada 1986. 22 Lihat UN doc. annex. Dokumen ini dirumuskan dan disetujui oleh kelompok ahli dalam pertemuan hukum internasional di Maastricht Belanda. dengan Mandat Tematik yang relevan dengan Hak-hak Ekosob (Per 1 Februari 2006) Nama/Mandat Dasar Pemberian Nama dan asal negara Mandat pemegang mandat Tahun Nomor Resolusi 2000 2000/9 Pelapor khusus untuk perumahan yang layak – sebagai komponen hak atas standar hidup yang tinggi Pelapor Khusus untuk hak atas pendidikan Pakar independen tentang masalah hak asasi manusia dan kemiskinan yang ekstrim Mr. Komite dituntut selalu mengembangkan praktik kreatif untuk mendorong Negara Pihak benarbenar menjalankan kewajibannya. Dalam hal ini. Scientific and Cultural Organisation (UNESCO). dalam memeriksa obligasi pemenuhan hak atas pendidikan.4/1987/17.22 Selain treaty-based mechanism tersebut. 4 • Th. dalam memeriksa laporan yang berkaitan dengan obligasi negara untuk memenuhi hak atas pangan. untuk selanjutnya Komite memberikan rekomendasi tentang hal-hal yang perlu dilakukan Negara selanjut- nya.Dalam menjalankan fungsinya. Komite bekerja sama dengan Organisasi Pangan dan Pertanian – Food and Agriculture Organisation (FAO). Sebagai contoh. Demikian juga kerjasama dengan Organisasi Buruh Internasional – International Labor Organisation (ILO) dalam kaitan dengan hak-hak buruh atau bekerjasama dengan UN Centre for Human Settlement (Habitat) berkaitan dengan hak setiap orang untuk menikmati perumahan yang layak. Social and Cultural Rights. Dialog yang terjadi antara Komite dengan perwakilan Negara dikembangkan. Dalam melaksanakan fungsinya. Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB – United Nations Educational. maka dimungkinkan juga pengawasan dilakukan berdasarkan nontreaty based seperti prosedur khusus (special procedure) dibawah Komisi Hak Asasi Manusia (Commission on Human Rights) – yang sekarang diganti oleh Dewan Hak Asasi Manusia (Human Rights Council). Limburg Principles on the Implementation of the International Covenant on Economic. seperti Prinsip-prinsip Limburg (Limburg Principles). Komite juga memperhatikan dokumen yang berkaitan dengan hak-hak ekosob. seperti dinyatakan dalam Pasal 11 Kovenan.

Rodolfo STAVENHAGEN (Meksiko) Mr. khususnya perempuan dan anak Perwakilan khusus Sekretaris Jenderal tentang hak asasi manusia dan korporasi trans-nasional dan perusahaan bisnis lainnya 2000 2002 2001 2000/10 2002/31 (untuk 3 tahun) 2001/57 Jean ZIEGLER (Swis) Mr. DPR dan lembaga yudikatif. tidak lain tidak bukan adalah ideologi yang mendasari orde ekonomi. dimana Komite senantiasa meminta atau terbuka untuk menerima masukan dari organisasi-organisasi non-pemerintah ketika memeriksa laporan yang disampaikan Negara Pihak. Walter K‰lin (Swis) 2004 1999 2005 2005 2004/55 (untuk 2 tahun) 1999/44 2005/79 (2 tahun) 2005/55 (untuk 3 tahun) 2000/82 Jorge A. 2007 Begitu juga obligasi atau kewajiban dari Negara dalam pemenuhan hak ekosob. Namun. Penutup: Preferensi Ideologi Kerakyatan. dapat dikatakan. Tidak hanya pemerintah yang tengah berkuasa. politik dan hukum. D.Pelapor khusus untuk hak atas pangan Pelapor khusus tentang hak setiap orang menikmati standar fisik dan mental tertinggi yang dapat dicapai Pelapor khusus tentang situasi hak asasi manusia dan kebebasan fundamental penduduk asli/adat Perwakilan Sekretaris Jenderal untuk hak-hak asasi pengungsi didalam negeri Pelapor Khusus tentang hak-hak penduduk migran Pakar independen untuk isu-isu minoritas Pakar independen tentang hak asasi manusia dan solidaritas internasional Pakar independen untuk dampak pembaharuan kebijakan ekonomi dan utang luar negeri Pelapor khusus tentang dampak yang ditimbulkan pemindahan dan pembuangan produk dan limbah beracun dan berbahaya terhadap penikmatan hak asasi manusia Pelapor khusus tentang perdagangan manusia. berdasarkan Kovenan Hak Ekosob. Tanpa kehadiran atau absennya pilihan idelogi yang benar-benar hendak membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik: kesejateraan rakyat dan keadilan sosial. JURNAL HAM • Vol. Keadilan Sosial dan Kebebasan Masyarakat Secara normatif. jelas apa yang menjadi hak setiap warga negara. maka norma dan standar hak asasi manusia hanya menjadi tumpukan kertas tebal yang dibinding apik: sebagai bahan rujukan tanpa tindakan. bahan bakar pemenuhan hak ekosob ini. Paul HUNT (Selandia Baru) Mr. BUSTAMANTE (Meksiko) Gay MCDOUGALL (Amerika Serikat) Rudi Muhammad RIZKI (Indonesia) Bernards Andrew NYAMWAYA MUDHO (Kenya) Okechukwu IBEANU (Nigeria) 2000 1995 Resolution 1995/81 2004 2005 2004/110 (untuk 3 tahun) 2005/69 (untuk 2 tahun) Sigma HUDA (Bangladesh) John Ruggie (Amerika Serikat) Penting untuk diingatkan lagi. 4 • Th. partisipasi dan keterlibatan masyarakat dimungkinkan secara penuh. sa- 35 .

misalnya justeru malah melapangkan jalan bagi komersialisasi air dan mampetnya akses masyarakat terhadap sumber-sumber air. pp. atau putusan-putusan Mahkamah Agung juga membawa implikasi terhadap jaminan hak-hak ekosob. Entry into force 3 January 1976. dalam UU No. Sebagai akhir. 23”– 25 Februari 2006. annex.. University of Essex (2002). E/CN. in accordance with article 27. International Covenant on Economic. GA Res. 2005. yang seharusnya menjadi obligasi Negara. 11/2005 tentang Pengesahan International Covenant on Economic. Tantangannya tidak lain: melahirkan kembali para pemimpin.. 11/2005. Essex University. dinyatakan bahwa pertimbangan Indonesia menjadi Negara Pihak Kovenan Hak Ekosob karena “Indonesia adalah negara hukum dan sejak kelahirannya pada 1945 menjunjung tinggi HAM”.M in International Human Rights Law. Patra M. paper pada Pendidikan Kritis untuk Aktivis Partai Politik (Penegakan Demokrasi dan Pemenuhan Hak Ekosob). perlu dicatat. para anggota parlemen. “Cara Mudah Menjadi Kepala Daerah: Dari Komitmen Pemenuhan Hak Ekosob Rakyat”. —————. Artikel/paper A. The Limburg Principles on the Implementation of the International Covenant on Economic. 4 • Th. Vol.“What does the rights to participate mean”. 1 Oktober 2003. GAPRI: Jakarta. Tidak Dipublikasikan —————. Social dan Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi.al. paper diskusi pada”“Development and Human Rights”. 7/2004 tentang Sumber Daya Air Peraturan Presiden No. Social and Cultural Rights. 35/2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Untuk Kepentingan Umum Kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009. Mudah-mudahan janin yang ada tak lama lagi lahir! Daftar Pustaka Peraturan Perundang-undangan UU No. kerjasama LBH Bandar Lampung dan FES Jakarta. Putusan-putusan Mahkamah Konstitusi. Empat Pilar Demokratisasi Melawan Kemiskinan dan Pemiskinan. antara lain: menentang imperialisme dan menyejahterakan semua rakyat Indonesia.” dalam Jurnal HAM (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia). 36 JURNAL HAM • Vol. UU No. Sosial dan Budaya: Menarik Pengalaman Internasional.. Social and Cultural Rights.4/1987/17. 16 December 1966. “Justisiabilitas Hak-hak Ekonomi. Bandar Lampung. dan para hakim yang menyadari benar dan mampu menyelami suasan kebatinan dan tujuan berdirinya Republik ini. UN doc. 26 September 2002. 1 No. “A critical contextual human rights analysis of Kedung Ombo Large Dam Project in Indonesia”. Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SPNK). Dissertation for LL. Sebaliknya putusan Mahkamah Agung yang memenangkan pengujian Peraturan Daerah (Pemda) yang merubah status sejumlah rumah sakit umum daerah (RSUD) Jakarta – menjadi Perseroan Terbatas (PT) justru dapat dikatakan sebagai sebuah benteng terhadap komersialisasi pelayanan kesehatan. 2200A (XXI). 2007 . Sosial dan Budaya). Putusan Mahkamah Konstitusi yang menolak permohonan pengujian UU No. et. Mempraktikannya di Indonesia. Zen. 36 – 47. 7/2004 tentang Sumber Daya Air. —————.lah satunya dapat membawa masalah tersendiri dalam upaya pemenuhan hak ekosob. —————. UN docs. Andik Hardiyanto.

para. 9: the domestic application of the Covenant. General Comment No. 4: The right to adequate housing (art. KSPA dan ELSAM. Revisi Perpres Tanah. Fact Sheet No. Kompas. General Comment No. Social and Cultural Rights. Walhi. “Lebih Represif.General Comment Committee on Economic. 15: The right to water (arts. 10 Mei 2005. ————. Sixth session (1991). Kompas. Sixteenth session (1997). 6 Juni 2006. General Comment No. Sejumlah Kalangan Nilai yang Direvisi Tak Signifikan”. ————. “Selesai. Pemerintah Dinilai Lebih Represif”. “YLBHI Minta Revisi Perpres Diwaspadai”. 36/ 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Nineteenth session (1998). 4 • Th. ————. 7: The right to adequate housing (art. JURNAL HAM • Vol. 16 (Rev. Social and Cultural Rights CESCR. 11 (1) of the Covenant): Forced Evictions. General Comment No. ————. 2007 37 . Twentieth session (1999). ————. 1990. “Perpres tentang Pengadaan Tanah. General comment No. 11: Plans of action for primary education. Fifth Session. 2. Lainnya Siaran Pers Bersama Yayasan LBH Indonesia. Third session (1989). 7 Juni 2006. 1). 9 Mei 2005 tentang Penetapan Peraturan Presiden No. Kompas. “Pemerintahan SBY-Kalla Menunjukkan Watak Aslinya: Mendahulukan Kepentingan Pemilik Modal Daripada Kepentingan Masyarakat”. General Comment No. 1 of the Covenant). Suara Pembaruan. The Committee on Economic. 10 Mei 2005. ————. Fact sheet OHCHR. Twenty-ninth session (2002). 1: Reporting by States parties. Perpres Nomor 36/2005 Harus Dibatalkan”. General Comment 3: The Nature of States partie’s obligations (art. 11 (1) of the Covenant). 11 and 12 of the Covenant).

a. Tahun 1946 PBB membentuk sebuah Komisi khusus menangani upaya pemajuan dan perlindungan HAM dan tahun 1948 berhasil menyusun Deklarasi Universal HAM. In addition. Jakarta 25 Juni 1998. Social and Cultural Rights (ICESCR) pada tahun pertama. 2007 38 . Jakarta 25 June 1998. Pendahuluan Hak asasi manusia adalah hak yang melekat pada seseorang dan kalau diambil. 4 • Th. 2 Revisi The Indonesian National Plan of Action on Human Rights 1998-2003. Sosial dan Budaya yang diterima Majelis Umum PBB tahun 1966. JURNAL HAM • Vol. Ketentuan dalam Deklarasi tersebut kemudian dituangkan dalam Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik dan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. Berdirinya PBB diharapkan akan dapat mengurangi penderitaan umat manusia melalui penghormatan harkat dan martabat manusia itu sendiri. Menurut catatan sejarah Perang Dunia II saja menelan korban 60 juta jiwa. orang tersebut akan menjadi manusia yang tidak normal lagi.2 Namun hingga RAN-HAM pertama tersebut berakhir tahun 2003 ICCPR belum dapat diratifikasi. Direktorat Organisasi Internasional. 1 The Indonesian National Plan of Action on Human Rights 1998-2003. Pembahasan mengenai HAM ini semakin mengemuka setelah berdirinya PBB tahun 1945 yang dilatarbelakangi kesadaran masyarakat internasional untuk menghentikan perang yang ternyata hanya menimbulkan penderitaan bagi umat manusia. Direktorat Jenderal Multilateral. Namun dalam perkembangannya terutama setelah memperoleh masukan dari berbagai lapisan masyarakat akhirnya kedua kovenan disepakati untuk diratifikasi pada tahun ketiga yakni tahun 2001. the Indonesian Government is also expected to fulfill its reporting obligations to the Secretary General of the United Nations with regard to the implementation of the Covenant. Dalam RAN-HAM periode 2004-2009 kedua kovenan kembali dicantumkan sebagai * Penulis adalah Kepala Sub-Direktorat Hak Sipil dan Politik.KEWAJIBAN NEGARA DALAM ICCPR Jonny Sinaga* Abstract The ratification of the International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) has brought new obligations for the Government of the Republic of Indonesia. Direktorat Hak Asasi Manusia dan Kemanusiaan. Direktorat Organisasi Internasional. These obligations consist of general obligation and specific obligation. Karena itu tidak mengherankan sedikitnya 7 ketentuan Piagam PBB yang menyangkut HAM dan kebebasan mendasar. Latar Belakang Ratifikasi ICCPR Gagasan pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) secara resmi dapat dilihat dari RAN-HAM 1998-2003 di mana disebutkan bahwa kovenan itu akan diratifikasi pada tahun ke-lima (2003)1 sedangkan International Covenant on Economic. Departemen Luar Negeri. I. The general obligation of the Indonesian Government is to take appropriate measures and to develop appropriate policies so as to give effects to the rights in the Covenant.

maka Pemerintahnya mempunyai tiga kewajiban yakni menghormati. 8 Paragraf 4 pembukaan Kovenan. maka terpaksa disusun dua kovenan. Diterbitkan oleh Departemen Luar Negeri. Kovenan tersebut berlaku bagi Indonesia mulai tanggal 23 Mei 2006 yakni 3 bulan setelah Sekjen PBB menerima piagam pengesahannya. upaya menyusun sebuah kovenan tunggal HAM dimulai tetapi karena dominasi negara-negara tertentu di Komisi HAM.8 II. New York.N. 2200A (XXI) tanggal 16 Desember 1966. TREATIES-6. 4 • Th. Initial edition 2005. Permanent Mission of the Republic of Indonesia to the United Nations. Berlakunya ICCPR bagi Indonesia Indonesia mengesahkan Kovenan tersebut melalui UU No. b.5 Kedua kovenan tersebut baru pada tahun 1966 dapat disepakati oleh sidang Majelis Umum PBB. Departemen Hukum dan HAM. Kewajiban Negara Pihak pada ICCPR Dengan disahkannya9 ICCPR maka sudah barang tentu akan menimbulkan kewajiban baru bagi negara yang mengesahkan perangkat internasional tersebut. Kewa- 2009. Segera setelah Deklarasi Universal HAM diterima oleh Majelis Umum PBB tahun 1948. Kewajiban negara pihak ini dapat digolongkan ke dalam dua bagian yakni kewajiban berupa langkah atau kebijakan yang harus diambil Pemerintah guna menjamin pelaksanaan hak-hak yang ditur dalam kovenan. Direktorat Jenderal Perlindungan HAM. Reference: C. serta kewajiban khusus negara pihak untuk menyampaikan laporan kepada Sekjen PBB mengenai pelaksanaan kovenan.7 Negara-negara pihak pada ICCPR di dalam pertimbangannya menyatakan bahwa sesuai dengan Piagam PBB negara mempunyai kewajiban untuk memajukan penghargaan universal dan pengasawan hak dan kebebasan manusia. 6 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2005 Tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional Tentang Hak-hak Sipil dan Politik). melindungi. 9 Pengesahan mencakup dua hal yakni ratifikasi (mengesahkan dan ikut sebagai penanda-tangan) dan aksesi (mengesahkan tetapi tidak ikut sebagai penanda-tangan). JURNAL HAM • Vol. Baik ratifikasi maupun aksesi mempunyai dampak hukum yang sama. Depositary notification tanggal 3 Marte 2006. Pemerintah kemudian menyerahkan piagam pengesahan kepada Sekjen PBB tanggal 23 Februari 2006. 39 . Kewajiban umum negara pihak Ketika suatu negara menjadi pihak pada perangkat HAM internasional. 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik) tanggal 28 Oktober 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 nomor 119). 2007 7 Sesuai dengan pasal 49 (2) Kovenan Internasional Hak-hak Sipil dan Politik.2006. 2006. 206.prioritas ratifikasi yang dijadwalkan diratifikasi tahun 2004.3 Sebagaimana dimaklumi Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (ICCPR) yang disahkan oleh Majelis Umum PBB tahun 19664 merupakan dokumen internasional penting yang mengikat secara hukum bagi negara-negara yang telah mengesahkannya. 4 Resolusi Majelis Umum PBB No. 5 Indonesia and the United Nations: Working for Peace and Development.6 Sesuai dengan penegasan Sekjen PBB ter3 Rencana Aksi Hak Asasi Manusia Indonesia 2004- tanggal 3 Maret 2006. dan memenuhi hak-hak asasi sebagaimana diatur dalam perangkat HAM internasional dimaksud. a.

DC. Artinya negara tidak boleh melakukan tindakan yang bertentangan dengan hak-hak asasi manusia warganya. atau dengan cara lain sebagai pelaksanaan kewajiban yang diatur di dalam perangkat HAM dimaksud. Chapter 2.11 Dengan demikian dapat dipahami bahwa hingga bulan Juni 2006 baru 156 negara12 yang mengesahkan kovenan dimaksud karena memang negara-negara yang mengesahkan tersebut akan mempunyai kewajiban baru sebagaimana disebutkan dalam Kovenan. 2007 40 . JURNAL HAM • Vol. daripada negara itu terburu-buru mengesahkannya padahal setelah disahkan sesungguhnya belum siap untuk melaksanakannya. 13 Paragraf 5 Deklarasi Universal HAM Tahun 1948. ketika negara-negara mengesahkan suatu perangkat HAM internasional. Hal ini tentunya sekaligus merupakan salah satu jawaban terhadap pertanyaan yang sering muncul di kalangan masyarakat yakni mengapa Indonesia baru mengesahkan kovenan penting dimaksud pada tahun 2005 padahal kovenannya sudah diterima tahun 1996 dan kovenan itu memuat berbagai ketentuan penting dalam upaya pemajuan dan pelindungan HAM. National Institutions for the Promotion and Protection of Human Rights.org/english/countries/ratification/ 4. ICCPR yang mulai berlaku tanggal 23 Maret 1976 sesuai dengan pasal 49 ICCPR. 11 Fact Sheet No. Sebagai contoh Deklarasi Universal HAM tahun 194813 yang sudah diter10 Disadur dari : Promoting and Defending Economic. (http:// www. Dalam hal ini termasuk pembuatan peraturan. Office of the High Commissioner for Human Rights. Tentunya akan lebih baik menunggu sampai suatu negara pihak siap melakukan isi suatu perangkat internasional. by Allan McChesney.org/escr/handbook/. 2000 Washington. Artinya selama ini Pemerintah Indonesia belum dalam keadaan siap untuk mengemban kewajiban baru yang timbul akibat pengesahasan kovenan dimaksud. maka di dalam perkembangannya beberapa jaminan itu dikembangkan lagi di kemudian hari ke dalam beberapa konvensi baru. Kewajiban melindungi hak asasi manusia berarti negara berkewajiban untuk melakukan tindakan tindakan guna mencegah pelanggaran HAM terhadap warga negara.10 Menurut PBB. badan peradilan dan administratif. dan mengatur sanksi terhadap pelanggaran yang dilakukan individu atau kelompok. published by AAAS and HURIDOCS.jiban menghormati hak asasi manusia berarti negara berkewajiban untuk menahan diri dari tindakan yang mencampuri atau mengurangi pemenuhan hak-hak warga negaranya.aaas. terdiri dari enam bagian dan memuat 53 pasal. 12 http://www.ohchr. standar dan noma HAM yang universal saat ini dapat dilihat dalam ketentuan hukum domestik hampir di seluruh negara-negara anggota PBB. maka negara-negara itu biasanya akan memasukkan ketentuan-ketentuan di dalamnya ke dalam hukum domestik secara langsung. Dari ke-53 pasal tersebut terdapat beberapa ketentuan yang meminta negara pihak untuk menjamin hak-hak sipil dan politik warganya. Dalam kewajiban ini termasuk upaya untuk mendorong warga negara untuk menghormati HAM orang lain. Kewajiban memenuhi hak asasi manusia berarti negara berkewajiban untuk mengambil tindakan guna mewujudkan pelaksanaan HAM secara penuh.htm. Dengan demikian. 4 • Th. Karena ketentuan dalam ICCPR ini adalah ketentuan pokok.ch/html/menu6/2/fs19.19. online: AAAS Huridocs: http://shr.unhchr. langkah anggaran atau ekonomi.htm). pembentukan komisi-komisi nasional. Social and Cultural Rights: A Handbook.

pelarangan peraturan perundang-undangan kriminal yang bersifat retroaktif.16 Negara pihak juga diharapkan memberikan perlindungan atas hak untuk hidup. 21 Pasal 10 ICCPR. Akhirnya pada tahun 1979 Majelis Umum PBB menerima Konvensi Penghapusan Diskriminasi Terhadap Wanita (CEDAW) yang memuat 30 pasal mengenai ketentuan yang menjamin hak-hak wanita. JURNAL HAM • Vol. asal usul kebangsaan atau sosial. serta mempunyai hak yang sama di dalam perkawinan. Kewajiban lain bagi Pemerintah dengan mengesahkan ICCPR adalah menjamin agar semua bangsa berhak untuk menentukan nasibnya sendiri. Jawa. keluarga.23 Di samping itu ICCPR memberikan kewajiban bagi negara pihak untuk menerapkan persamaan setiap orang di depan hukum.21 kebebasan bergerak dan kebebasan untuk memilih tempat tinggal. agama. termasuk apabila bercerai. suratmenyurat seseorang dan serangan 14 Pasal 1 ICCPR.14 Pasal ini mempunyai arti yang sangat penting pada saat perumusan Kovenan tahun 1966. jenis kelamin.18 pelarangan terhadap perbudakan. melalui Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 34/180 tanggal 18 Desember 1979. 24 Pasal 14 ICPPR. sehingga diperlukan suatu ketentuan yang bersifat mengikat secara hukum. hak milik.jemahkan ke dalam lebih 300 bahasa (termasuk bahasa Bali. 4 • Th. Madura.2106 (XX) tanggal 21 Desember 1965. 41 . karena ketika itu banyak negara atau bangsa yang masih dijajah dan penjajahan nampaknya masih dianggap sesuatu yang lumrah. 19 Pasal 8 ICCPR. Sunda. Sekalipun sudah mengikat secara hukum. bahasa.24 pelarangan campur tangan tanpa dasar hukum atas privasi.19 penangkapan dan penahanan yang sewenang-wenang.15 Begitu pentingnya ketentuan ini sehingga pada tahun 1966 lahirlah Konvensi Penghapusan Diskriminasi Rasial Dalam Segala Bentuknya. dan Bahasa Indonesia) antara lain memuat deklarasi atau pernyataan yang menyatakan persamaan hak antara pria dan wanita. Namun pernyataan tersebut tidak mengikat secara hukum.22 dan batasan-batasan untuk melakukan pengusiran orang-orang asing secara hukum dari negara pihak. pandangan politik ataupun pandangan lainnya. 17 Pasal 6 ICCPR. 15 Pasal 2 ICCPR. 2007 Selanjutnya negara pihak pada ICCPR mempunyai kewajiban untuk menghormati hak-hak asasi manusia sebagaimana diakui oleh Kovenan dan menjamin bahwa pelaksanaannya tidak akan diskriminatif baik berdasarkan ras. 18 Pasal 7 ICCPR. 23 Pasal 13 ICCPR.20 perlakuan yang manusiawi. 16 Diterima oleh Majelis Umum PBB melalui resolusi no. baik sewaktu perkawinan maupun setelah perkawinan. rumah. Pasal 16 DUHAM juga menyatakan bahwa wanita dewasa mempunyai hak yang sama untuk kawin dan membentuk keluarga. namun ketentuan ICCPR tersebut ternyata oleh masyrakat internasional dianggap belum cukup memadai untuk menjamin tidak adanya diskriminasi tersebut. warna kulit. 20 Pasal 9 ICCPR. 22 Pasal 11 ICCPR.17 hak untuk tidak disiksa. Ketentuan yang berupada pernyataan dalam DUHAM tersebut kemudian diatur dalam Pasal 3 ICCPR yang mengikat secara hukum yang menjamin bahwa antara pria dan wanita tidak boleh dilakukan diskriminasi. status kelahiran atau status lainnya.

2007 42 . 26 Pasal 18 ICCPR. 28 Pasal 21 ICCPR.25 perlindungan terhadap hak untuk kebebasan berpikir.37 Tahun 2006 Komite HAM yang terdiri dari 18 anggota dalam kapasitas pribadi.27 Selanjutnya ICCPR mengharapkan negara pihak untuk mengakui hak berkumpul secara damai. Sekjen PBB kemudian akan menyerahkan laporan tersebut kepada Komite Hak Asasi Manusia36 yang dibentuk para negara pihak untuk mengawasi pelaksanaan kovenan.33 serta perlindungan terhadap kelompok minoritas.org/english/bodies/hrc/members.31 pengakuan terhadap hak dari setiap warga negara untuk mengambil bagian dalam pelayanan umum. 30 Pasal 23 ICCPR. 35 Pasal 40 ICCPR. Laporan Pendahuluan (initial report) pelaksanaan Kovenan sudah harus disampaikan kepada Sekjen PBB dalam kurun waktu satu tahun setelah Kovenan berlaku bagi negara pihak.30 Di samping itu ICCPR juga meletakkan landasan bagi perlindungan hakhak untuk anak-anak. serta memilih dan dipilih. Komite b. 33 Pasal 26 ICCPR. maka Negara dimaksud diwajibkan untuk membuat ketentuan atau kebijakan baru sehingga hak-hak yang ditaur dalam kovenan dapat dijamin atau dilindungi. Kewajiban Pelaporan Pelaksanaan ICCPR Salah satu kewajiban Pemerintah yang timbul akibat pengesahan ICCPR35 adalah kesediaan Pemerintah menyampaikan laporan pelaksanaannya HAM merupakan Komite yang dibentuk untuk mengawasi pelaksanaan ICCPR oleh negara-negara pihak pada ICCPR dan anggotanya merupakan individu-individu dalam kapasitas pribadi. 4 • Th. Komisi HAM ini kemudian dibubarkan tanggal 16 Juni 2006 dan digantikan oleh Dewan HAM di bawah Majelis Umum PBB dengan 47 negara anggota. hati nurani (conscience) dan agama. 31 Pasal 24 ICCPR. 37 Pasal 28 ICCPR. kepada Sekjen PBB. JURNAL HAM • Vol. Sedangkan Komisi HAM adalah badan PBB di bawah ECOSOC di bidang HAM yang terdiri dari 53 negara anggota. 36 Komite HAM berbeda dengan Komisi HAM. 34 Pasal 27 ICCPR. 27 Pasal 19 ICCPR. Setelah itu kewajiban pelaporan Negara pihak tergantung pada permintaan Komite.26 serta kebebasan berpendapat dan berekspresi.ohchr. 32 Pasal 25 ICCPR.32 Selanjutnya diatur agar semua orang mendapatkan perlakuan yang sama di depan hukum. Terdapat pemikiran di kalangan masyarakat hukum Indonesia bahwa dengan mengesahkan suatu perangkat hukum internasional seperti traktat. 38 http://www.28 hak kebebasan untuk bersekutu.34 Jika Negara pihak pada ICCPR belum memiliki peraturan perundang-undangan atau kebijakan yang mengatur jaminan terhadap hak-hak tersebut.htm. 29 Pasal 22 ICCPR.38 Sesuai dengan pasal 40 ICCPR. Hal ini akan menjadi tantangan bukan saja bagi Indonesia.29 hak pria dan wanita atau usia kawin untuk menikah dan mendirikan suatu keluarga dan prinsip persamaan atas hak-hak dan kewajiban pasangan suatu perkawinan juga diatur dalam bagian ini.tanpa dasar hukum atas kehormatan dan reputasinya. diketuai oleh Ms Christine Chanet (Perancis) yang masa keanggotaannya berakhir tanggal 31 Desember 2006. 25 Pasal 17 ICCPR. tetapi bagi negara manapun yang telah meratifikasi kovenan dimaksud.

bukan berarti bahwa perangkat internasional tersebut sudah berlaku bagi Indonesia. peradaban dan sistem hukum. Di samping itu. Hal itu kemudian akan tercermin dalam kesimpulan Komite mengenai pelaksanaan kovenan di negara yang bersangkutan. 4 • Th. Bahkan bukan saja Komite akan menganggap negara pihak hanya menjadikan upaya pengesahan sebagai retorika saja. tetapi sekalipun negara pihak sudah berupaya optimal. Yang lebih penting adalah bagaimana seoptimal mungkin menerapkan. Sebaliknya terdapat pandangan lain yang mengatakan bahwa kalau perangkat hukum internasional sudah disahkan melalui peraturan perundangundangan yang sah. serta kewajiban negara pihak untuk menyampaikan laporan pelaksanaan kovenan satu tahun setelah berlakunya kovenan di negara pihak.konvensi atau kovenan internasional. Bagian ini juga meminta negara pihak mendeklarasikan pengakuan kepada Komite untuk menerima pengaduan. namun Komite akan melihat secara kritis apa yang dilakukan oleh negara pihak dan apa kekurangannya. 43 . Proses pencalonan pemilihan calon dengan suara terbanyak oleh wakil-wakil negara-negara pihak didasarkan pada keseimbangan geografis. ICCPR juga memuat ketentuan-ketentuan mengenai pembentukan Komite Hak-hak Asasi Manusia. namun di dalam kenyataannya dengan adanya kewajiban negara pihak untuk menyampaikan laporan pelaksanaan perangkat internasional tersebut. termasuk di dalamnya mengenai nominasi anggota. pengambilan sumpah. bagian ini juga memuat kewajiban Komite untuk memperoleh hasil penelitian atas laporan kepada Sekjen PBB dan tanggapan negara pihak atas laporan Komite tersebut. pemilihan pegawai. 2007 peraturan pemerintah sebagai pelaksanaannya. Bagian ini juga memuat berbagai ketentuan tentang Komite yang akan mengawasi pelaksanaan ICCPR. fasilitas. Sebaiknya Indonesia tidak perlu mempertentangkan apakah perangkat internasional yang sudah disahkan sudah berlaku atau belum tanpa adanya JURNAL HAM • Vol. Terlepas dari kebenaran dua pandangan di atas. maka perangkat internasional tersebut sudah berlaku. maka sesungguhnya ada atau tidaknya peraturan pemerintah sebagai pelaksana undang-undang dimaksud tidak merupakan masalah mengingat di dalam penyusunan laporan dimaksud tedapat ukuran atau patokan yang sangat rinci yang dibuat oleh Komite pengawas mengenai pelaksanaan perangkat internasional tersebut. secara rahasia dan calon-calon negara pihak (dua tiap negara) berhak untuk dipilih kembali. tempat pertemuan. Pendapat semacam ini sesungguhnya dapat merugikan Negara pihak karena dapat dianggap tidak sungguh-sungguh atau tulus melaksanakan isi perangkat internasional. dan penetapan quorum. pembentukan Komisi Konsiliasi (conciliation commission) oleh Komite. bahkan memanfaatkan perangkat tersebut untuk kepentingan masyarakat banyak. pembuatan anggaran rumah tangga. Selanjutnya bagian ini memuat ketentuan tentang anggota-anggota Komite 39 Bagian IV (Pasal 28-47) ICCPR. masih diperlukan peraturan pemerintah untuk melaksanakannya.39 Para anggotanya dipilih dari calon-calon negaranegara pihak dalam kapasitas pribadi.

Namun sejak berlakunya kembali UUD 1945 pada 5 Juli 1959 Indonesia mengalami kemunduran dalam penikmatan HAM-nya. (http:/ /72.14. c.104/search?q=cache:mEqseaJ3zCIJ:portal. atau sekitar 18 persen yang mengatur HAM. Segera setelah merdeka Indonesia dianggap negara yang menghormati HAM. Pelaksanaan HAM dalam sejarah Indonesia menunjukkan grafik naik turun.40 Awal-awal kehidupan bernegara sesungguhnya merupakan saatsaat penentuan sekaligus pelaksanaan hak-hak sipil dan politik di Indonesia. atau setidaknya tidak bertentangan. Namun menjelang berdirinya Indonesia sebenarnya para pendiri bangsa telah melakukan perdebatan tentang HAM yang kemudian tercermin dari diterimanya beberapa pasal mengenai HAM dalam UUD 1945. Penegakan Hak Asasi Manusia di Indonesia. Surabaya 2006. ekonomi. banyak negara yang menganggap bahwa Indonesia sudah sejak lama meratifikasi kedua kovenan tersebut.41 Barulah sejak era reformasi tahun 1997 penghormatan HAM di tanah ai semakin membaik. dengan jiwa Deklarasi Umum HAM maupun ICCPR. dan budaya. Indonesia dan ICCPR Membicarakan latar belakang sejarah dan perkembangan HAM di Indonesia selalu tidak mudah. Hassan Wirajuda. Bahkan sejak 1966 hingga akhir Orde Baru bangsa Indonesia mengalami kemunduran dalam penikmatan HAM-nya di semua bidang yang diakui oleh UUD 1945. pidato pada Rapat Koordinasi Panitia RAN HAM Daerah Kawasan Timur Indonesia. laporan kegiatan tahunan Komite kepada Sidang Umum PBB. Melihat berbagai kemajuan di Tanah Air di berbagai bidang kehidupan politik. ketentuan-ketentuan kovenan agar tidak dipisahkan dari Piagam PBB dan konstitusi badan-badan PBB lainnya. Pandangan Dunia Inter- nasional Terhadap Perkembangan HAM di Indonesia. imunitas dan keistimewaan mereka sesuai dengan Konvensi mengenai keistimewaan dan imunitas PBB. N. Makalah guna memenuhi permintaan Dewan Perwakilan Rakyat RI sehubungan dengan pembahasan dan pemilihan Calon Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia 11 Maret 2002.komnasham. terutama setelah era reformasi tahun 1999. atau sekitar 26 persen). serta penjelasan mengenai keberadaan kovenan yang tidak boleh dipertentangkan dengan hak-hak rakyat untuk menikmati kekayaan alam mereka.203. 4 • Th. sosial. Ketentuan untuk pelaksanaan kovenan tidak dipertentangkan dengan ketentuan-ketentuan HAM yang telah ada di dalam peraturan perundang-undangan.go.dan Komisi Konsiliasi. fasilitas.id/pls/portal/url/ITEM/ FCB23A753754E5BFE030010A3001576D+ komnas+ham+iccpr&hl=id&gl=id&ct=clnk&cd=4) JURNAL HAM • Vol. Bahkan di masa Republik Indonesia Serikat (RIS) (27 Desember 1949-15 Agustus 1950) pengakuan dan penghormatan HAM sangat maju dengan dicantumkannya 35 pasal dalam konstitusi RIS dari keseluruhan 197 pasal. Masyarakat Indonesia patut bersyukur bahwa para pendiri bangsa mampu mempunyai pemikiran yang luas dan jauh ke depan sehingga sejak kemerdekaan tahun 1945 telah meletakkan dan memikirkan hak-hak sipil dan politik warga negara Indonesia yang kiranya sejalan. Dalam masa UndangUndang Dasar Sementara RI (UUDSRI). 15 Agustus 1950-4 Juli 1959 bahkan lebih maju lagi dengan dicantumkannya 38 pasal dalam UUDS RI (dari keseluruhan 146 pasal. Karena itu banyak negara yang meminta dukungan Indonesia terhadap pencalonannya di Komite HAM yang pemilihannya hanya ditentukan oleh negara-ne40 Dr. 2007 44 . 41 Dr Enny Soeprapto.

Selain itu.freedomhouse. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM). VII/MPR/1998). Hal itu terjadi mungkin karena melihat sendiri berbagai contoh nyata yang sering dianggap sebagai pencerminan kedua kovenan tersebut di tanah air.” (http://www. Namun hanya pelaksanaannya yang berbeda bahkan timbul kesan seolah-olah penghormatan HAM itu tidak penting bagi Indonesia. Sayangnya TAP MPR ini kemudian dicabut dan dianggap tidak berlaku karena materinya dianggap telah diatur dalam peraturan perundang-undangan khususnya Amandemen UUD 1945. terutama untuk kembali menjunjung tinggi dan menegakkan penghormatan HAM sebagaimana telah diamanatkan MPR dalam ketetapannya tahun 1998 yang juga memuat Piagam HAM Indonesia (TAP MPR No. Misalnya pelaksanaan pemilu yang demokratis khususnya tahun 2004 lalu. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Komitmen Indonesia untuk pemajuan dan perlindungan HAM juga telah ditunjukkan melalui pengesahan beberapa Konvensi Internasional di bidang HAM lainnya seperti Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial pada gal 19 Desember 2005 status kebebasan pers Indonesia untuk tahun 2006 meningkat dari “sebagian bebas” menjadi “bebas. Sesungguhnya perjuangan dan perlindungan HAM di Indonesia tidak pernah berubah. membuat mereka berpikir bahwa Indonesia pasti sudah menjadi pihak pada kedua kovenan sehingga mampu melaksanakan pemilu sedemokratis itu.org/template. 4 • Th. Indonesia mencanangkan Rencana Aksi Nasional di bidang HAM 1998-2003 (melalui Keppres No.42 Sebagaimana diketahui. UU No 39 Tahun 1999 tentang HAM dan UU No. Namun pandangan ini sebenarnya keliru karena upaya pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia sebenarnya telah dilaksanakan sejak Republik ini berdiri dengan dibangunnya landasan konstitusional UUD 1945 dan landasan idiil Pancasila.gara yang sudah menjadi pihak pada kovenan tersebut. Masih dalam semangat reformasi itu pula. Termasuk ketika Indonesia sempat dianggap sebagai negara paling bebas di bidang pers di kawasan Asia. Indonesia telah meratifikasi Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam. Indonesia dibangun berlandaskan pada penghormatan HAM. Dengan menetapkan peraturan tersebut Indonesia semakin mengokohkan upaya pemajuan dan perlindungan HAM yakni dengan menjamin bahwa setiap pelaku pelanggaran HAM akan diajukan ke pengadilan khusus (Undang-undang No. 42 Dalam Siaran Pers Freedom House New York tang- Gerakan reformasi yang dimulai tahun 1997 telah membangkitkan semangat bangsa Indonesia untuk melakukan koreksi terhadap sistem dan praktekpraktek masa lalu. 2007 45 . HAM penting tersebut kemudian dipatrikan dalam kedua Kovenan ini pada tahun 1966 sebagai hak menentukan nasib sendiri (selfdetermination). JURNAL HAM • Vol.cfm?page=70&release=317). 129 tahun 1998). Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat pada tanggal 28 September 1998 (melalui UU Nomor 5 Tahun 1998). Indonesia telah berjuang selama kurang lebih 350 tahun untuk melawan penjajahan atau memperjuangkan hak untuk merdeka yang kemudian diakui oleh PBB sebagai salah satu HAM penting.

29 tahun 1999).tanggal 25 Mei 1999 (melalui UndangUndang No. UU No. 2007 . pengusaha dan lapisan masyarakat perlu melakukan upaya optimal agar mengetahui dan memahami serta menjamin pelaksanaan hak-hak sipil dan politik yang diatur dalam ICCPR tersebut. apabila masyarakat internasional mempunyai prasasti HAM internasional. 4 • Th. Namun keanggotaan Indonesia pada Dewan HAM ini juga membawa kewajiban bagi Pemerintah Indonesia untuk bersama-sama semua pemangku kepentingan (stakeholders) lainnya memperkuat upaya pemajuan dan perlindungan HAM di dalam negeri. sekaligus peningkatan citra Indonesia di mata masyarakat internasional. namun masih banyak yang perlu ditindak-lanjuti oleh seluruh pemangku kepentingan HAM di tanah air. Prasasti HAM nasional ini merupakan modal penting bagi generasi mendatang dalam upaya memajukan dan melindungi HAM bagi seluruh warga Indonesia. Dengan demikian secara konstitusi dan peraturan perundangundangan. maka Indonesia juga kiranya memiliki prasasti HAM nasional yakni UUD 1945. Dengan demikian. Dalam semangat ingin menerapkan ICCPR yang sudah menjadi bagian hukum nasional melalui UU No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia dan UU No. khususnya Pemerintah. termasuk langkah-langkah yang diambil Pemerintah seperti pengesahan konvensi HAM internasional. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. 12 Mei 2006. Hal yang tidak kalah penting dalam upaya pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia adalah perhatian khusus para anggota MPR untuk memasukkan pasal-pasal tambahan menyangkut HAM pada amendemen ke4 UUD 1945. Pemerintah saat ini telah menyiapkan laporan pelaksanaan ICCPR dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan HAM di tanah air. Namun pengesahan ICCPR tersebut sekalipun merupakan langkah yang sangat penting dan telah melewati rintangan yang tidak ringan. jaminan penghormatan HAM di Indonesia kini sudah sangat baik. 12 Tahun 2005. III. Sebuah Tim interdepartemen plus telah disiapkan sejak Februari 2006 dengan demikian diharapkan laporan dimaksud dapat disampaikan Pemerintah tepat pada waktunya. Penutup Langkah yang diambil oleh Pemerintah dan DPR untuk mengesahkan ICCPR tahun 2005 kiranya sudah tepat dan pasti akan sangat bermanfaat bagi upaya pemajuan dan perlindungan HAM di tanah air. Sebagaimana dikemukakan oleh Menlu RI bahwa terpilihnya Indonesia dalam Dewan HAM tahun 2006 merupakan pengakuan internasional atas kemajuan demokrasi dan HAM di tanah air.43 Guna menindak-lanjuti pelaksanaan ICCPR yang sudah disahkan tahun 2005 tersebut kiranya seluruh aparat pemerintah. 46 JURNAL HAM • Vol. 43 Media Indonesia.

Makalah guna memenuhi permintaan Dewan Perwakilan Rakyat RI sehubungan dengan pembahasan dan pemilihan Calon Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia 11 Maret 2002. Soeprapto. Jakarta 25 June 1998.19. Direktorat Organisasi Internasional. Initial edition 2005. 2200A (XXI) tanggal 16 Desember 1966. 2007 47 . 4 • Th. Departemen Hukum dan HAM. Wirajuda. Permanent Mission of the Republic of Indonesia to the United Nations. National Institutions for the Promotion and Protection of Human Rights.cfm? page=70 & release=317).unhchr. 2006.aaas. by Allan McChesney. Hassan.14. Chapter 2.203. Siaran Pers Freedom House New York tanggal 19 Desember 2005 tentang status kebebasan pers Indonesia untuk tahun 2006 meningkat dari “sebagian bebas” menjadi “bebas”. Resolusi Majelis Umum PBB No. 2000 Washington. 104/search? q=cache:mEqseaJ3z CIJ: portal. Jakarta 25 Juni 1998. Penegakan Hak Asasi Manusia di Indonesia.htm).freedomhouse. Media Indonesia.go. Pidato pada Rapat Koordinasi Panitia RAN HAM Daerah Kawasan Timur Indonesia. published by AAAS and HURIDOCS.org/escr/ handbook/.ch/html/menu6/ 2/fs19. 12 Mei 2006. online: AAAS Huridocs: http://shr. Office of the High Commissioner for Human Rights. komnasham. Enny. Direktorat Jenderal Perlindungan HAM. (http://www.(http://72. Indonesia and the United Nations: Working for Peace and Development. N. New York. The Indonesian National Plan of Action on Human Rights 1998-2003 (Revisi).org/template. Surabaya 2006. Promoting and Defending Economic. Direktorat Organisasi Internasional. Diterbitkan oleh Departemen Luar Negeri. Pandangan Dunia Internasional Terhadap Perkembangan HAM di Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional Tentang Hak-hak Sipil dan Politik).id/pls/portal/url/ITEM/ FCB23A753754E5BFE030010A3001 576D+ komnas+ham+iccpr&hl=id&gl=id&ct=clnk&cd=4) The Indonesian National Plan of Action on Human Rights 1998-2003. JURNAL HAM • Vol. (http:/ /www. DC. Social and Cultural Rights: A Handbook. Rencana Aksi Hak Asasi Manusia Indonesia 2004-2009.DAFTAR PUSTAKA Fact Sheet No.

11 tercantum dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 118 3 serta UU No. “Indonesia Ratifikasi Kovenan Hak-hak Sipil dan Politik.4 Pertama. the prospect of its implementation remains uncertain. UU No. dan CERD (penghapusan diskriminasi rasial). kewajiban untuk mengadopsi perjanjian yang telah diratifikasi ini ke dalam perundang-undangan baik yang dirancang maupun yang telah diberlakukan sebagai UU. kedua kovenan ini sekaligus melengkapi empat perjanjian pokok yang telah diratifikasi sebelumnya. 4 Ratifikasi adalah tingkatan paling kuat dalam perikatan yang dilakukan setiap negara.” Kompas. 4 • Th. mengambil langkah-langkah dan kebijakan dalam melaksanakan kewajiban untuk menghormati (to respect). In doing so.3 Selain menjadi bagian dari sistem hukum nasional. Social and Cultural Rights – ICESCR) serta Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights – ICCPR) – pada 30 September 2005 melalui proses legislasi yang disetujui DPR. CRC (anak). Negara Republik Indonesia (RI) telah meratifikasi dua perjanjian internasional tentang hak-hak manusia (human rights)1 – Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. CAT (penyiksaan). langkah-langkah. 2 Lihat “Dua Kovenan HAM Diratifikasi. Sosial dan Budaya (International Covenant on Economic. Ratifikasi itu menimbulkan konsekuensi terhadap pelaksanaan hak-hak manusia.2 Pada 28 Oktober 2005. juga ada ikatan lainnya. ICESCR disahkan menjadi UU No. agar menghilangkan kesan seolah-olah ada hak-hak yang “tak asasi”.” Suara Pembaruan. 2007 48 . yaitu CEDAW (penghapusan diskriminasi perempuan). karena Negara RI telah mengikatkan diri secara hukum. JURNAL HAM • Vol. yaitu terikat secara moral (deklarasi) dan secara politik (menandatangani). Selain mengikat secara hukum. membuat laporan yang bertalian dengan penyesuaian hukum. 12 dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 119 3. 11/2005 dan ICCPR menjadi UU No. 1 Oktober 2005. necessary infrastructure should be provided and further promotion of the Covenant should be advanced. The challenges faced by the Indonesian Government to comply with its international legal obligations has to be dealt with the continuity of legal reform and immediate realization of the provisions in ICCPR as well as the socialization of the Covenant itself. Dengan Reservasi pada Hak Menentukan Nasib Sendiri. 3 Pengesahan ini ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Hamid Awaludin. melindungi (to protect) dan memenuhi (to fullfil) hak-hak manusia. kebijakan dan tindakan yang dilakukan 1 Terjemahan yang tepat dari human rights adalah hak- hak manusia tanpa kata “asasi”. 1 Oktober 2005. Despite of this progressive episode in the history of human rights development in Indonesia. whereas the victims of human rights violations in this country still await for the settlement of their cases. Kedua.PROSPEK DAN TANTANGAN IMPLEMENTASI ICCPR Hendardi Abstract Ratification of the International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) is considered as an important achievement of the human rights struggle in Indonesia. Sabtu. Sabtu. 12/2005. Ketiga.

konflik pertanahan atau penghancuran rumahrumah penduduk dan pendidikan maupun kebebasan bergerak. 7 Dalam konsep dan norma hak-hak manusia. Hak-hak ini mencakup mulai dari hak untuk hidup (right to life) hingga hak untuk menikah dan membentuk keluarga ataupun hak kelompok minoritas. The Age of Rights. Januari 1997. akan dibayangkan bagaimana prospek dalam pelaksanaan kewajiban negara untuk menghormati dan melindungi hak-hak sipil dan politik sebagaimana yang terkandung dalam ICCPR atau UU No. berkumpul. kini telah meningkat menjadi kenyataan sosiologis yang keras dan kongkrit seperti yang dirasakan sebagian orang dalam kasus-kasus perselisihan perburuhan. Apakah terdapat hambatan dari aparat negara (state apparatus)? Apakah ada kemungkinan diambil langkah yang lebih maju untuk meratifikasi Protokol Opsional ICCPR? Setelah itu. Dasar hukumnya adalah perjanjian internasional di mana negara-negaralah yang mengikat janji. Pertama.7 Dalam konsep dan norma hak-hak manusia.8 Di sinilah prinsip kewajiban negara (state obligation) diletakkan dengan beberapa konsekuensinya. “The Age of Rights. 1996. 12/2005 sebagai hak-hak sipil dan politik yang dijamin.5 Perihal yang akan dibahas dalam tulisan ini bertalian dengan hambatan atau tantangan atas pelaksanaan ICCPR di Indonesia. Hak negara hanya sesama negara-negara yang menjadi peserta – bukan hak negara atas individu. 8 Juni 2005. 49 . partisipasi dalam politik.6 Setelah diratifikasinya ICCPR menjadi UU – perjanjian internasional yang diadopsi PBB pada 16 Desember 1966 dan mulai berlaku sejak 1976 – maka segera dengan itu ia menjadi ketentuan hukum yang berlaku di seluruh Indonesia. Vol. London: Cambridge University. Wilayah hukum yan lain. 4 • Th. setiap orang dapat berpegang pada UU No. memang terdapat pernyataan (declaration) 5 Hikmahanto Juwana. berserikat. Judul ini sama seperti yang ditulis Norberto Bobbio. 1. 6 Lihat Rocky Gerung.” Imparsial. Dalam ratifikasi ICCPR. sosial dan budaya – berada di pundak negara. hukuman mati atau pembunuhan di luar proses hukum. 8 Relasi yang diletakkan berada dalam wilayah hukumnya adalah perjanjian internasional tentang hak-hak manusia (international law of human rights). tentu saja lain lagi relasinya seperti halnya Konvensi (Perjanjian) Geneva yang dikenal juga sebagai hukum kebiasaan perang (humaniter). RI sendiri menjadi negara peserta (state party) dalam perjanjian JURNAL HAM • Vol.maupun hasil-hasil yang dicapai dalam implementasi perjanjian tersebut kepada badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) – disebut Komite – yang menangani perjanjian tersebut. tanggung jawab dalam implementasi hak-hak sipil dan politik – sebagaimana juga hak-hak ekonomi. wilayah relasi diletakkan antara individu (manusia) dan negara (state). Rabu. 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) maupun ratifikasi CAT dan ICERD dalam memajukan atau memperjuangkan posisi individu dengan hak-hak sipil dan politiknya di hadapan kekuasaan negara (state power) maupun orang lain. berpendapat. serta penyiksaan. 12/2005? ini yang bersifat mengikat secara hukum. No. Serangkain kontradiksi dalam realitas sosio-ekonomi dan sosio-politik yang sebelumnya hanya dibahas dan diprediksi secara akademis di lembaga-lembaga studi. Bobbio mengandaikan masa kini memasuki zaman hak. 2. Dari janji inilah timbul kewajiban (obligation) pada negara-negara dan sekaligus tanggung jawab (responsibility) bertalian dengan pelaksanaan kewajiban. “Konsekuensi Ratifikasi Konsekuensi ratifikasi ICCPR Kini persoalan hak-hak manusia di Indonesia telah memasuki tahap di mana kebutuhan untuk menerapkannya telah melampaui kepentingan untuk memperdebatkannya. terlepas UUD 1945 (telah diamandemen empat kali) dan UU No. wilayah relasi hak (right) dan kewajiban (obligation) diletakkan dalam hubungan hukum antara individu sebagai pemegang hak dengan negara sebagai pengemban/pelaksana kewajiban.” Kompas. 2007 ICCPR. Dengan begitu.

yang menihilkan Pasal 1 mengenai hak untuk menentukan nasib sendiri (right to self-determination) sebagai upaya mencegah disintegrasi dan sekaligus “senjata pemukul” bagi gerakan separatisme.9 Kedua, negara berkewajiban melindungi atau menjamin hak-hak sipil dan politik yang tercantum dalam ICCPR mulai dari hak-hak untuk hidup dan tidak disiksa hingga hak-hak kelompok minoritas dan orang yang dirampas kemerdekaannya karena suatu tindak pidana.10 Kewajiban ini pertama-tama bertalian dengan langkah yang harus dijalankan untuk melakukan pembenahan secara substansial dari segi perundang-undangan atau sistem hukum. Setiap rancangan UU harus disesuaikan atau merujuk pada ICCPR, sementara ketentuan-ketentuan hukum yang tak sesuai dengannya harus dibongkar atau direvisi. Dengan begitu, seharusnya tak ada lagi kandungan dalam ketentuan hukum yang bertentangan atau menyalahi ICCPR. Di sinilah arti penting transformasi ICCPR ke dalam hukum nasional. Ketiga, selain kewajiban negara dalam menyesuaikan perundang-undangan dengan ICCPR setelah meratifikasi, juga kewajiban dalam implementasinya. Negara RI beserta semua aparatnya diharapkan menunaikan kewajiban untuk menghormati dan melindungi hak-hak sipil dan politik tanpa diskriminasi. Negara menghormati hak-hak setiap orang tanpa melakukan campur tangan dengan berdasarkan atas ICCPR dan UUD (konstitusi). Campur tangan terbatas dapat dilakukan untuk melindungi hak setiap orang seperti mencegah tindakan sekelompok orang yang sewenangwenang dan menyeret orang yang diduga melakukan tindak pidana ke muka hukum. Mengenai pembatasan (limitation) atau pengekangan (restriction) hak-hak dan kebebasan – tergolong hak-hak dan kebebasan yang boleh ditangguhkan (derogable rights) – hanya dapat dilakukan dalam situasi atau

alasan tertentu berdasarkan UU. Keempat, ratifikasi juga menambah kewajiban pemerintah RI untuk melaporkan langkah-langkah, kebijakan dan tindakan yang dijalankan kepada Komite Hak Manusia PBB.11 Secara regular, pemerintah membuat laporan dalam periode empat tahun sekali. Isinya mencakup langkah-langkah dan kebijakan apa yang telah diambil, serta bagaimana hasil yang telah dicapai dalam pelaksanaan hak-hak sipil dan politik di Indonesia. Apakah terdapat kemajuan baik langkah yang telah diambil maupun pelaksanaan hak-hak sipil dan politik. Bisa saja yang terjadi adalah kemajuan dalam langkah-langkahnya, tapi lemah atau gagal dalam implementasinya. Dalam implementasi ini akan tampak apakah negara tidak mau (unwilling) atau tidak mampu (inability) menunaikan kewajibannya. Dalam hak-hak sipil dan politik, ada batas antara hak-hak yang tak dapat ditangguhkan (non-derogable rights) dengan hakhak yang dapat ditangguhkan. Yang termasuk dalam kategori hak-hak yang tidak dapat ditangguhkan adalah hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak untuk tidak diperbudak, hak atas kebebasan berpikir dan beragama serta berkeyakinan, hak untuk diperlakukan sama di muka hukum, hak untuk tidak dipenjara karena kegagalan memenuhi kewajiban kontraktual, serta hak untuk tidak dipidana berdasarkan hukum yang berlaku surut (retroactive).12 Mengenai implementasi antara
9 Lihat “Ratifikasi Dua Kovenan Internasional Dinilai

Setengah Hati,” Hukumonline.com, Kamis, 29 September 2005; “Ratifikasi 2 Kovenan HAM oleh RI Dianggap Masih Setengah Hati,” detikInet, Kamis , 29/09/2005 14:25 WIB. 10 Hikmahanto Juwana, Op. cit. 11 Hikmahanto Juwana, Ibid. 12 Harry Wibowo, “Hak-hak Manusia: Menjernihkan Berbagai Konsep Dasar,” makalah yang disampaikan dalam Pelatihan Investigasi yang diselenggarakan PBHI (Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia) pada 27-30 Desember 2005 di Megamendung Permai, Megamendung, Bogor. JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

50

Tabel 1: Hak-hak yang Dijamin dan Dilindungi UU No. 12/2005
No Pasal 1 Pasal 6 2 Pasal 7 Hak-hak Sipil dan Politik Hak untuk hidup (tidak dibunuh/dihukum mati setidaknya bagi anak di bawah 18 tahun) Hak untuk tidak disiksa, diperlakukan atau dihukum secara keji, tak manusiawi atau merendahkan martabat manusia (termasuk tidak diculik/dihilangkan secara paksa, diperkosa) Hak untuk tidak diperbudak (larangan segela bentuk perbudakan, perdagangan orang, dan kerja paksa,) Hak atas kebebasan dan keamanan pribadi (tidak ditangkap atau ditahan dengan sewenang-wenang, didasarkan pada ketentuan hukum acara pidana) Hak sebagai tersangka dan terdakwa (diperlakukan manusiawi, anak dipisahkan dari orang dewasa, sistem penjara bertujuan reformasi dan rehabilitasi) Hak untuk tidak dipenjara atas kegagalan memenuhi kewajiban kontraktual (utang atau perjanjian lainnya) Hak atas kebebasan bergerak dan berdomisili (termasuk meninggalkan dan kembali ke negerinya sendiri) Hak sebagai orang asing (dapat diusir hanya sesuai hukum atau alasan yang meyakinkan mengenai kepentingan keamanan nasional) Hak atas kedudukan yang sama di muka hukum (dibuktikan kesalahannya oleh pengadilan yang berwenang dan tidak memihak, jaminan minimal, dapat ditinjau kembali, tidak diadili dua kali dalam perkara yang sama) Hak untuk tidak dipidana berdasarkan hukum yang berlaku surut (jika keluar ketentuan hukum sebelum tindak pidana, si pelaku harus mendapatkan keringanannya) Hak sebagai subyek hukum (hak perdata setiap orang seperti kewarganegaraan) Hak pribadi (tidak dicampuri atau diganggu urusan pribadi seperti kerahasiaan, keluarga atau rumah tangga, kehormatan, surat-menyurat atau komunikasi pribadi) Hak atas kebebasan berpikir, beragama dan berkeyakinan (menganut ideologi atau orientasi politik, memeluk agama dan kepercayaan) Hak atas kebebasan berpendapat (termasuk mencari, menerima dan menyebarkan informasi, dalam bentuk karya seni/ekspresi atau melalui sarana lainnya) Hak untuk bebas dari propaganda perang dan hasutan rasial (kebencian atas dasar kebangsaan, ras, agama atau golongan) Hak atas kebebasan berkumpul (mengadakan pertemuan, arak-arakan atau keramaian)

3 4

Pasal 8 Pasal 9

5

Pasal 10

6 7 8 9

Pasal 11 Pasal 12 Pasal 13 Pasal 14

10 Pasal 15

11 Pasal 16 12 Pasal 17

13 Pasal 18 14 Pasal 19

15 Pasal 20 16 Pasal 21

JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

51

17 Pasal 22 18 Pasal 23 19 Pasal 24

20 Pasal 25 21 Pasal 26 22 Pasal 27

Hak atas kebebasan berserikat (bergabung dalam perkumpulan, partai politik atau serikat buruh) Hak untuk menikah dan membentuk keluarga (tidak dipaksa, termasuk tanggung jawab atas anak) Hak anak untuk mendapatkan perlindungan dan jaminan (setiap kelahiran anak didaftarkan dan memperoleh kewarganegaraan tanpa diskriminasi) Hak untuk berpartisipasi dalam politik (termasuk memilih, dipilih dan tidak memilih) Hak untuk bebas dari diskriminasi dalam hukum (semua orang dilindungi hukum tanpa diskriminasi) Hak kelompok minoritas (perlu mendapatkan perlindungan khusus) by omission).13 Jenis pelanggaran lainnya adalah tetap memberlakukan ketentuan hukum yang bertentangan dengan ICCPR yang disebut pelanggaran melalui hukum (violation by judicial).

kedua kategori hak-hak ini juga terdapat batas-batasnya, yaitu pada batas mana negara tak melakukan intervensi dan pada batas mana pula intervensi harus dilakukan. Negara tak melakukan intervensi dalam rangka menghormati hak-hak setiap orang, terutama hak-hak yang tak dapat ditangguhkan. Karena campur tangan negara justru mengakibatkan terjadinya pelanggaran atas hak-hak individu/kelompok. Sebaliknya, intervensi dapat dilakukan atas dua hal; pertama, dalam situasi atau alasan khusus untuk membatasi atau mengekang hak-hak atau kebebasan berdasarkan UU; kedua, dalam rangka untuk menegakkan hukum atau keadilan bagi korban tindak pidana. Karena itu, dalam menghormati dan melindungi hak-hak sipil dan politik, ada dua jenis pelanggaran yang bertalian dengan kewajiban negara. Pertama, seharusnya menghormati hak-hak manusia, tapi negara justru melakukan tindakan yang dilarang atau bertentangan ICCPR melalui campur tangannya dan disebut pelanggaran melalui tindakan (violation by action). Kedua, seharusnya aktif secara terbatas untuk melindungi hak-hak – melalui tindakannya – negara justru tak melakukan apa-apa baik karena lalai dan lupa maupun absent, disebut pelanggaran melalui pembiaran (violation

Tantangan Negara
Setelah ratifikasi ICCPR, membuat negara RI meningkatkan komitmennya karena telah terikat secara hukum. Segera dengan itu, negara menghadapi tantangan untuk menyiapkan beberapa langkah, dan langkah yang diambil bertalian dengan berbagai persoalan sebagai berikut. Pertama, negara harus melakukan reformasi hukum dengan menerjemahkan prinsip dan ketentuan yang terkandung dalam ICCPR ke dalam hukum nasional. Berbagai peraturan perundang-undangan yang tak sesuai dengan ICCPR haruslah dicabut dan direvisi.14 Begitu juga dengan RUU yang disiapkan seperti perdebatan sengit hingga pengerahan massa serta intimidasi dan teror bertalian RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi, haruslah selaras dengan ICCPR.15 Tantangan ini bukan saja terdapat sekitar 30 persen UU justru bertentangan dengan UUD 1945,16 tapi juga karena dalam menyusun RUU tanpa didasarkan pada kajian mendalam dan berimpit dengan kepentingan politik koalisi.17
JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

52

“DPR Pusing Pro Kontra RUU APP. Jadikan Bali Daerah Khusus Pornografi.” Metrotvnews. 144 Setuju RUU APP. konstitusi Menghormati K E WA J I B A N N E G A R A (-) Tanpa intervensi (omission) Sumber: Harry Wibowo. Senin. 2005 13 Harry Wibowo. 22 Mei 2006. “MUI Sayangkan Adanya Penolakan RUU Anti Pornografi.” www. “5000 Orang Akan Demonstrasi Tolak RUU Anti Pornografi. 12 Maret 2006. “MMI: Jika Terus Menolak. Kamis. Syamsuddin Haris juga menambahkan. “30 Elemen Islam Malang Demo Dukung RUU APP. 15 Maret 2006. Saldi Isra mengemukakan. 16 Maret 2006. Senin. 6 Maret 2006. 14 Lihat “Pernyataan Asian Human Rights Commis- sion: Ratifikasi Instrumen Utama Hak Manusia Harus Ditindaklanjuti dengan Reformasi Hukum. juga dilakukan untuk mendukung kebijakan pemerintah baru sehingga banyak UU di Indonesia cepat berubah atau direvisi.Tabel 2: Spektrum Hak Individu/Kelompok dan Kewajiban Negara HAK INDIVIDU/KELOMPOK Kebebasan Kebebasan Dasar/Hak yang Tak Dapat Ditangguhkan (freedom/right in itself) Mutlak: Tak boleh ditangguhkan (ditunda) maupun dibatasi atau dikekang. 10 Maret 2006.” Detikcom. Kamis. Kamis. 15 Hikmahanto Juwana. Banyak yang Tumpang Tindih. “Aksi Seribu Tayub JURNAL HAM • Vol. Kebebasan/Hak Sosial (freedom/right for itself) Relatif: Dalam situasi dan alasan tertentu. Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqqie melaporkan kepada DPR. dari 77 perkara peninjauan UU (PUU) yang berkenaan dengan 42 UU selama 2003-2006 yang ditangani MK. kebijakan. Jumat. Op.” Detikcom. Jumat.000 Ulama di Gontor.” Detikcom.” Detikcom.” Detikcom. 15 Maret 2006.or. “Hilman Rosyad Syihab.” TEMPO Interaktif. 53 . dapat diundur pemenuhannya berdasarkan prioritas tapi direalisasikan secara bertahap Melalui: Perencanaan. Kamis. 100 Pendemo Cantik Tolak RUU APP.” Detikcom. 16 Maret 2006. 8 Maret 2006.” Detikcom.” www.fpksdpr. 16 Februari 2006. 17 Lihat “Banyak UU Tanpa Kajian: Tidak Ada Desain Besar Legislasi Nasional.” Detikcom.com. “Draf RUU APP Adalah Buah dari Sebuah Kemunafikan. UU. 10 Mei 2006 | 13:04 WIB. atau program atas sumber daya Memenuhi (+) Intervensi (commission) Melalui: Norma hak-hak manusia.” Kompas. yang terus melakukan kajian mendalam jika hendak melakukan revisi atau membuat UU. dan “Gus Dur Siap Upayakan Amandemen Jika RUU APP Jadi UU. 4 • Th. Ibid. 27 Januari 2006 19:11:53. “Peringati Hari Perempuan.id. selain banyak undang-undang lahir tanpa ada penelitian mendalam. Rabu. sistem peradilan dan pengadilan Melindungi Kebutuhan Berhak atas Kemauan/niat: Batas minimum tertentu. Senin. 8 Mei 2006.” Detikcom. Rabu.ahrchk. Rabu. Aktivis dan Artis Diteror. 16 Lihat “Hampir 30 Persen UU Bertentangan dengan Konstitusi. 9 Maret 2006. cit.” Sinar Harapan.” Detikcom.” Detikcom. Rabu. 8 Maret 2006. “Dari 167 Lembaga Tamu Pansus. Hongkong.” Detikcom. 2007 Tolak RUU APP. MUI Akan Kumpulkan 1. banyak UU tumpang tindih dan banyak yang hanya tambal sulam. Minggu. 14 Maret 2006. 8 Maret 2006. “RUU Pornografi Berpotensi Jadi Alat Pemerasan Baru. Kamis.” Detikcom. boleh dibatasi atau dikekang berdasarkan hukum (UU) Melalui: Konstitusi. hampir 30 persen di antaranya berpotensi bertentangan dengan konstitusi. Rabu. “Menolak RUU APP. Rabu. lihat juga “Bahas RUU APP.net. Anggota Pansus RUU APP DPR FPKS: RUU APP Lindungi Kaum Perempuan. “Slamet Rahardjo: RUU APP Tempatkan Perempuan Seolah Hantu. 28 April 2006 17:05. 9 Februari 2006. Berbeda dengan di Belanda. Jumat. “Ratusan Mahasiswa Yogya Demo Tolak RUU APP.

Lihat “RUU Pemerintahan Aceh: Diusulkan Polisi dan Jaksa Khusus Syariat. serta beberapa daerah kabupaten seperti Cianjur dan Tangerang.” Sinar Harapan. yang berbeda dengan banyak kategori hakhak sipil dan politik. dan “Polisi Tembak Buron Pelaku Curas. Rabu. Lihat “Pernyataan Asian Human Rights Commission:…. Rabu.19 Dalam penegakan hukum seharusnya ditekankan standar minimumnya. terutama dalam penggunaan kekuatan dan senjata api. 22 Mei 2006: “Syariat Islam.” Cenderawasih Pos. 2007 . Kamis. Hak atas kebebasan berpikir. dibuat pada tahun 1918. “Syariat Islam dalam KUHP Bermuatan Politis. Cit. 22 November 2003. 24 April 2004. Kamis. termasuk 18 Hikmahanto Juwana.” Sinar Harapan. termasuk yang bertalian dengan kekhawatiran mengenai kelemahan otonomi daerah atau otonomi khusus. Lihat juga “Pemerintahan Daerah: 393 Perda Bermasalah Akan Dibatalkan. Sabtu.18 Satu contoh saja. Di dalamnya berisi banyak pasal yang tidak jelas dan terbelakang.” Detikcom. Senin. Banyak terjadi praktik politik uang. pada saat kolonial Belanda berkuasa.” Kompas. Eksplorasi Perspektif Elite Penyelenggara Pemerintahan Daerah tentang Otonomi. Selasa. Jumat.20 Di sinilah pentingnya ditempuh atau diambil langkah-langkah untuk meningkatkan profesionalisme melalui pendidikan dan pelatihan bagi polisi untuk melindungi hak-hak setiap orang yang dirampas kemerdekaannya karena suatu tindak pidana. bahkan ada yang mengusulkannya dalam revisi KUHP. 4 • Th. 12/2005 diberlakukan secara seragam di seluruh negeri dan diharapkan tak ada yang bertentangan dengannya. masih saja diberlakukan ketentuan TAP MPRS No. Hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang dilakukan Syarif Hidayat dan Carunia Mulya Firdausy. Op. “Perda Larangan Pelacuran Akan Diterapkan di Jakarta. pemerintah ditantang pula untuk melakukan sosialisasi atas ICCPR yang telah diratifikasi. 19 Lihat “Polisi Tembak Mati Perampas Motor. Persoalan yang dihadapi adalah bagaimana aparat penegak hukum (law enforcement officials) memahami berbagai peraturan perundang-undangannya. “Polisi Tembak Penjahat Kambuhan. apalagi tesangka dilumpuhkan dengan menggunakan senjata api. Rabu. 6 April 2006.22 UU No.” Republika Online. (b) Basic Principles on the Use of Force and Firearms by Law Enforcement Officials. Empat instrument yang perlu diadopsi adalah (a) Code of Conduct for Law Enforcement Officials. setelah negara RI meratifikasi CAT (konvensi menentang penyiksaan). solusinya bagaimana meningkatkan kualitas elite penyelenggara pemerintah daerah. Lihat “Pelaksanaan Otonomi Daerah Kebablasan. Tanpa pemahaman yang memadai bagi aparat penegak hukum. cit. Akibatnya membabi buta.” Sinar Harapan.” Kompas. maka akan sulit dibayangkan efek ICCPR bagi setiap orang. 54 JURNAL HAM • Vol. “Komnas Perempuan Tolak Perda Tangerang Tentang Pelacuran. 2 Oktober 2003. Rabu.23 Beberapa provinsi dan kabupaten pun telah menerapkan pelaksanaan syariat Islam dalam Peraturan Daerah (Perda). 22 Mei 2006. beragama dan berkeyakinan sebagai kebebasan mutlak (freedom in itself).” Kompas. yang merupakan batu pertama dari seluruh sistem legal. (c) Principles for Protection of All Persons under Any Form of Detention for Imprisonment. 4 Maret 2004.Kedua. Pemerintah pusat dicurigai memang tak mau mengeluarkan PP untuk menciptakan kondisi yang tidak jelas di daerah. 30 Juni 2004. 7 Maret 2006. Op. Kasus-kasus ini dapat diperhatikan mengenai penerapan Syariat Islam di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. terungkap banyak anggota DPRD tidak berkemampuan memahami konsep otonomi daerah.” Sinar Harapan. sehingga banyak orang akan mengetahui apa saja hak-hak sipil dan politik yang seharusnya dinikmati. serta (d) Standard Minimum Rules for the Treatment of Prisoners. dan “Direktur ICIP Syafii Anwar: Perda Syariat Bisa Picu Disintegrasi. Padahal. “Yusril Bantah Revisi KUHP Mengadopsi Syariat Islam. Kamis. 8 Maret 2006. “Polisi Tembak Buronan LP Saat Mencoba Melarikan Diri dari Kejaran Petugas.21 Ketiga. 1 Oktober 2003. Senin. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). dari Desa Mengepung Kota. 25 Mei 2006 10:02:05. XXV/1966 maupun pelarangan suatu ajaran (dikatakan sesat) dan pemidanaan atas orang yang menyebarkannya. implementasi berbagai peraturan perundang-undangan yang didasarkan pada ICCPR. dalam pelaksanaannya aparat kepolisian cenderung gagal memperlakukan seorang tersangka secara manusiawi.” TEM- 20 21 22 23 24 PO Interaktif.” Detikcom. Sabtu. 12 Mei 2006.24 Persoalannya adalah banyak langkah dan kebijakan yang tak konsekuen dari pemerintah dan aparat negara dalam implementasinya.” Sriwijaya Post Online.

Sehingga nyaris tak diketahui umum yang bertalian dengan apa kemajuan yang dicapai. Lihat juga. “Gus Dur Hadapi Teror Gerombolan Islam Radikal.” Detikcom. 24 Mei 2006.” gusdur. Selasa. Panitia Penyelenggara” – INCRESS. 12/2005. 23 Mei 2006. lebih lanjut selain tantangan untuk memajukan praktek penghormatan dan perlindungan hak-hak sipil dan politik dengan meratifikasi Protokol Pilihan (Optional Protocol to the Covenant on Civil and Political Rights).28 Persoalan kelemahan ini menjadi tantangan bagi pemerintah dan aparat penegak hukum atau keamanan pasca-ratifikasi agar hak-hak sipil dan politik setiap orang terlindungi. cit. 26 Hikmahanto Juwana. selain apa langkah-langkah yang telah diambil untuk meningkatkan penghormatan dan perlindungan hak-hak sipil dan politik. Penjara dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Sejauh ini tak pernah diketahui umum atau sangat kurang disosialisasikan bagaimana sesungguhnya isi laporan pemerintah mengenai pelaksanaan setiap perjanjian internasional tentang hak-hak manusia yang telah diratifikasi. 4 • Th. Tapi kenyataannya masih banyak kantong-kantong Ahmadiyah di daerah. sehingga terasa kurang berefek pada pelaksanaannya. termasuk laporan mengenai pelaksanaan CAT dan ICERD yang telah menjadi UU. 24 Mei 2006.” gusdur. Syarikat Indonesia dan Komnas Perempuan – serta para peserta mengalami gangguan dan perlakuan yang sewenangwenang dari sekelompok oknum yang mengaku PAGAR (Persatuan Anti Gangguan Regional) dan PPM (Patriot Panca Marga) pada 20 Mei 2006. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjelaskan.25 Keempat. 55 . pada tingkat MUI dan kejaksaan sudah ada larangan terhadap kegiatan Ahmadiyah. termasuk bagaimana seharusnya semua aparatur berperilaku yang dipertalikan dengan ICCPR tanpa kecuali pada lembaga-lembaga peradilan dan pengadilan. Selasa. Selasa. tapi penting pula didesak untuk juga melakukan sosialisasi laporan-laporannya kepada warganya. 23 Mei 2006. seiring dengan telah diratifikasinya ICCPR.dalam urusan hak atas kebebasan beragama dan berkeyakinan seperti kasus pelarangan Ahmadiyah. Kelima.net. 28 Lihat “Siaran Pers PBHI Jawa Barat tentang Pengusiran Gus Dur dan Intimidasi Kegiatan Forum Dialog Lintas Agama di Purwakarta. kelak pemerintah harus membuat laporan mengenai pelaksanaan hak-hak sipil dan politik yang disampaikan JURNAL HAM • Vol.” Pikiran Rakyat. 22 Mei 2006. Rabu. peraturan perundang-undangan tidak tersedia bagi para hakim dan banyak lagi persoalan lainnya. Impunitas dan pelanggaran hak Bagi masyarakat Indonesia.” Bandung. “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah. Op.26 Kebiasaan pemerintah tanpa menyediakan infrastruktur pendukung atas langkah-langkah implementasi hasil ratifikasi berbagai perjanjian hak-hak manusia dapat dipandang sebagai sikap tak mau (unwilling) atau abai untuk berbuat sesuatu. tantangan untuk menyediakan infrastruktur pendukung bagi terlaksananya UU No. tantangan besar yang dihadapi adalah mata rantai impunitas (cycle of impunity) sebagai penghalang dalam menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran hak-hak.” Bandung. 27 Lihat “Pernyataan PBHI Jawa Barat: Protes atas Pembubaran Paksa Pertemuan di Wisma Brantas Bandung. Impunitas telah menjadi penghalang yang serius bagi tegaknya 25 Lihat “SBY: Ahmadiyah Sudah Resmi Dilarang Pemerintah. 16 Agustus 2005. Belakangan ini adalah sering gagalnya aparat keamanan melindungi kebebasan berkumpul dan berpendapat.net. dan “Dialog Lintas Etnis Nyaris Rusuh: Gus dur Tuding Gerakan Ormas Islam Ada yang Mendanai. juga campur tangan aparat penegak hukum (polisi) untuk melindungi hak dan kebebasan setiap orang dari berbagai tindakan orang atau kelompok lain.27 bahkan ancaman atas kebebasan beragama dan berkeyakinan. 2007 pada Komite di PBB. Kerap dijumpai aparat penegak hukum harus bekerja dengan infrastruktur pendukung hukum yang minim. Keenam.

Pengadilan hak-hak manusia. Intended to Fail: The Trial Before the Ad Hoc Human Rights Court in Jakarta. tapi pada intinya pengadilan HAM Ad Hoc untuk Timor Timur berlangsung dengan kegagalan untuk menghukum orang-orang yang terlibat dan bertanggungjawab dalam kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanity). Utrecht: The Netherlands Humanist Committee on Human Rights. Jumat.” lokakarya yang diselenggarakan PBHI dan HOM pada 29-30 Mei 2006 di Cipayung.” Suara Pembaruan. 26/2000. impunitas dapat diartikan sebagai “bebas dari hukuman”.34 Kendati Probosutedjo telah memberikan keterangan dan Harini Wijoso pun disidangkan sebagai terdakwa. Jumat.29 Secara harfiah.33 Salah satu kasus yang cukup menggegerkan adalah dugaan suap atas hakim agung yang menangani perkara penyelewengan dana reboisasi dengan terdakwa Probosutedjo. perbaikan kondisi. 2006. Lihat “KPK Geledah Ruang Kerja Bagir Manan. Bogor. Dalam kerangka hukum internasional. “Mafia Peradilan Di Mana-mana. juga Ketua Pengadilan Jakarta Pusat Cicut Sutiarso terkait kasus suap tersebut. 23 Januari 2006 22:30 WIB.35 tapi para pejabat MA – termasuk hakim agungnya – mengambil keputusan yang aneh dengan memperpanjang usia pensiun Bagir Manan. Rabu. hal.” Waspada Online. Kamis. impunitas adalah ketidakmungkinan secara de facto atau de jure untuk membawa pelaku kejahatan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. The Scope of Impunity in Indonesia (draft).” Kompas Cyber Media. Hendardi.” Suara Pembaruan. sekurangkurangnya pada tingkat kawasan seperti Pengadilan Eropa tentang Hak-hak Manusia (European Court of Human Rights) dan Pengadilan AntarAmerika tentang Hak-hak Manusia (Inter-American Court of Human Rights) David Cohen. 2 Februari 2006. Ruang kerja Ketua Mahkamah Agung (MA) Bagir Manan digeledah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 27 Oktober 2005 13:32. penahanan. 2004. 28 Oktober 2005. 10 Mei 2006. 28 Oktober 2005. 4 • Th. Sistem peradilan di Indonesia dituding telah dikuasai sebagian mereka yang menjalankan tugas sebagai aparat penegak hukum dan pengadilan. 13:29 WIB. baik dalam proses peradilan kriminal.30 Negara RI memang aneh karena merupakan satu-satunya negara yang mendirikan dan mengoperasikan pengadilan hakhak manusia (human rights court) berdasarkan UU No. 8 Oktober 2005.32 Kegagalan ini diikuti pula dengan perkara-perkara Tanjungpriok dan Abepura. bahkan berlanjutnya pelanggaran hak-hak manusia. Berkeley: International Center for Transitional Justice.31 Terlepas dari kesalahannya memahami konsep hukum internasional. sipil. Senin. Sejumlah jaksa telah bertindak di luar kebiasaan karena menuntut terdakwa bebas dari hukuman. Martha Meijer. Sabtu. administratif. “Ruang Kerja Bagir Digeledah. “Mafia Peradilan di Indonesia. Selain Harini Wijoso. Lihat juga “Liku-liku Percaloan dan Mafia Peradilan di Indonesia. Persoalan dengan impunitas bukan hanya pada proses peradilan HAM saja. “KPK Terlambat Geledah Ruang Ketua MA. atau disipliner karena mereka tidak dapat diperiksa yang memungkinkan berlangsungnya penuntutan. Cacat mendasar ini terjadi ketika Kejaksaan Agung mengambil alih penyelidikan setelah diterimanya laporan KPP HAM yang ditunjuk Komnas HAM. Selasa. Mereka dijuluki sebagai “mafia pe- radilan”. dan “Konflik MA-KY Hanya Untungkan Mafia Peradilan.com.keadilan. Lihat “Majelis Hakim Masih Musyawarah Bahas Soal Bagir Manan. 2007 . Sikap ini menampakkan tak punya itikad untuk mendakwa kendati sejumlah hakim berusaha membuktikan adanya kejahatan.” Riau Pos Online.” Kompas. pengadilan dan apabila dianggap bersalah dikenakan hukuman yang sesuai norma hukum positif.” Gatra.” Republika. Lebih dari itu mereka juga telah memilihnya 29 Lihat “Kerangka Acuan Perencanaan Strategis 30 31 32 33 34 35 Impunitas. 56 JURNAL HAM • Vol. Kesalahan ini mungkin salah satunya terletak dari kegagalan para penyusunnya dalam memahami perbedaan antara hukum internasional tentang hak-hak manusia dan hukum humaniter internasional. hal. vii-ix. Rapim darurat digelar saat penggeledahan berlangsung. Kamis. 21-22. melainkan juga peradilan pidana. 14 Februari 2006.

” Kompas. Jumat. 22 Mei 2006. Massa demonstran pendukung RUU APP yang beratribut FPI (Front Pembela Islam). Tunggakan Perkara di MA Masih Banyak. juga aparat Polres Bandung Tengah terlibat dalam membubarkan pertemuan.” juga tulisan “LSM raJURNAL HAM • Vol. 26 Mei 2006.” TEMPO Interaktif. 20 Januari 2006. Minggu.” Rakyat Merdeka. Kamis. 02 Mei 2006. Senin. Rabu. Sabtu. Lihat “Komnas HAM Sesalkan Larangan Seminar. Selain adanya dugaan kuat mengenai campur tangan aparat militer.Published 13:11 GMT.” KabarBaru. “Muladi: Perpanjangan Pensiun Bagir Manan Keliru. 57 . 22 Mei 2006. 10 Maret 2006. 4 • Th.” Media Indonesia Online.” Pikiran Rakyat. bahkan empat orang panitia dibawa dan diinterogasi ke markasnya. “Bagir Manan: Tak Ada Alasan untuk Mundur. Selasa.39 Kedua peristiwa ini dapat diduga sebagai pelanggaran hak atas kebebasan berkumpul dan berpendapat.” Kompas. Jumat. 2 Juni 2006 | 13:05:43 WIB. “Bagir Manan jadi ketua MA lagi. dan “Kapolri Harus Klarifikasi Pembubaran Kegiatan Mantan Tapol PKI.org. 2007 cun” dan “antek asing.” wahidinstitute.” Detikcom. Bagir Ditolak. dan “Bagir Terpilih. 2006 . 22 Mei 2006. 12 Oktober 2005.36 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono – melalui Keputusan Presiden No 17/P/2006 – pun melantik Ketua MA yang dipilih oleh hakim agung. “Bagir Manan Siap Pensiun Tahun 2008. 04:18:30 WIB. Lihat “Presiden Lantik Bagir Manan Jadi Ketua Mahkamah Agung. Jumat. “Presiden Lantik Bagir Manan Sebagai Ketua MA. selain disertai dengan ancaman dan intimidasi atas panitia dan para peserta. Selasa. Selain ditempelkan tulisan “Kantor ini disegel. 18 Mei 2006 14:52 WIB.kembali sebagai Ketua MA tanpa melalui proses seleksi lagi. Cirebon Sesalkan Sikap LSM Fahmina. Lihat “Diskusi Korban Kekerasan Perempuan Tahun 1965 Dibubarkan. Lihat “LSM Fahmina Diserbu Massa Pendukung RUU APP.” Tribun Jabar. Dianggap Tolak RUU APP. Senin.” Antara News. 20 Mei 2006 22:31:32.” BBCIndonesia.” Republika Online. Fahmina dituduh merusak aqidah dan menjual ayat-ayat Al Quran dengan murah. Sulawesi Selatan.” Suara Pembaruan. “Massa Bubarkan Pertemuan Perempuan Eks Napi PKI. “Massa Segel Kantor LSM. “Bangkitkan Semangat “PKI”. Senin. 13 Oktober 2005. Kantor mereka diserbu puluhan oknum yang berasal dari PPSI (Pemuda Penegak Syariat Islam).” Kompas Cyber Media. 02 Mei 2006 11:15 WIB. FUI (Forum Umat Islam) dan MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) menyegel Kantor Fahmina. 12:09 WIB. dan “FPI Segel Fahmina Institute Cirebon. 18:18:45 WIB. Halangan kebebasan berserikat juga menandai kasus yang menimpa Fahmina Institute di Cirebon.” Rakyat Merdeka. Gangguan dan ancaman hak atas kebebasan berkumpul dan berpendapat maupun kebebasan berserikat dan beragama semakin nyata. Kamis. 15:03 WIB. Senin. 22 Mei 2006 19:19:00. “Bagir Terpilih Kembali Sebagai Ketua MA. “Bagir Manan Merasa Difitnah.com.40 Pengalaman buruk atas kebebasan berserikat ini juga pernah dialami sebelumnya ornop LAPAR (Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat) pada 22 Februari 2006 di Bulukumba. Lihat “Demonstran Dukung RUU APP di Cirebon Segel LSM Fahmina.” Riau Pos Online. 16 Mei 2006. Komnas Perempuan dan Syarikat (Santri untuk Advokasi Masyarakat) Indonesia pada 20 Mei 2006 di Bandung telah menemui penghalangnya. Jumat. Jumat.” Kompas. Kamis. Senin.” Fahmina menyayangkan aparat kepolisian lamban menangani kasus penyegelan itu. 02 Mei. Tolak Usulan untuk Nonaktif. “FUI Wil. 18 Mei 2006. Seminar Incres Dibubarkan. 23 Mei 2006. “Komnas Perempuan akan Minta Klarifikasi Kapolri. Selasa.41 36 Lihat “Bagir Manan Perpanjang Usia Pensiun Diri- 37 38 39 40 41 nya: Disebutkan. 26 Mei 2006.38 Sebelumnya juga terjadi larangan seminar tentang Tuntutan Penutupan PT Freeport di Jayapura.” Media Indonesia Online.37 Lainnya yang bertalian dengan persoalan impunitas adalah situasi yang menghalangi proses perlindungan dan perbaikan kondisi hak-hak manusia. Kegiatan mereka dibubarkan secara paksa oleh sekelompok oknum dari PAGAR (Persatuan Anti Gangguan Regional) dan PPM (Patriot Panca Marga). 22 Mei 2006. 21 Mei 2006. Menurut Ketua Dewan Kebijakan Fahmina KH Husein Muhammad.” Media Indonesia Online.” Kompas Cyber Media. Selasa. Pertemuan yang diadakan INCReS (Institute for Culture and Religion Studies). Polisi Bengong.

23 Mei 2006. Lihat “SBY-JK Didesak Bubarkan FPI.” gusdur.” gusdur. MMI dan HTI pada 23 Mei 2006 di Purwakarta ketika diadakan acara Forum Dialog Lintas Agama di mana Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi keynote speaker. Kampus ini juga mengalami kerusakan. Selasa. Sebelumnya MUI Purwakarta dilaporkan melakukan intervensi.” gusdur.45 Sebelumnya juga banyak terjadi peristiwa yang telah mengancam kebebasan beragama dari berbagai ormas Islam. 26 Mei 2006. “Sejumlah Ormas Islam Gelar Tabligh Akbar Dukung Fatwa MUI.” Media Indonesia Online. Jumat.” Liputan6. 19:16:05 WIB.” Pikiran Rakyat.net. Dalam peristiwa ini bukan saja panitia dan peserta forum dialog merasa terganggu dan terteror. Kamis. Jum’at.com.” elshinta.47 Selang enam hari.” elshinta. “Disesalkan. 24 Mei 2006. 58 JURNAL HAM • Vol. 6 Maret 2006 13:05 WIB. Sabtu. karena menuduh JAI bertentangan dengan ajaran Islam. 9 Juli 2005 18:04. “Pengusiran Gus Dur.43 tapi juga dari beberapa kalangan lainnya yang menyatakan “lawan preman berjubah”. “Gus Dur vs Ormas Radikal: Polisi Minta Semua Pihak Menahan Diri.” gusdur. Yang paling menderita adalah jamaah Ahmadiyah.” Liputan6. Jumat. kampus ini kembali dikepung ribuan orang dari Masyarakat dan Umat Islam Parung 42 Lihat “Gus Dur Hadapi Teror Gerombolan Islam 43 44 45 46 47 Radikal. Lihat “MUI Kembali Fatwakan Ahmadiyah Sebagai Aliran Sesat. “Dialog Lintas Etnis Nyaris Rusuh.” Pikiran Rakyat. 26 Mei 2006.” Rakyat Merdeka. dan “Tuntut Milisi Sipil Dibubarkan. Kamis. 27 Mei 2006.” Liputan6. 9 Juli 2005. “Aliansi Masyarakat Anti-Kekerasan Luruk Markas FPI Besok Siang. 28 Juli 2005 20:26 WIB “Fatwa-fatwa Haram Ala MUI. “GP Ansor Minta Ormas Liar Dibubarkan. “DPP PBB Dukung fatwa MUI Soal Ahmadiyah. Sejumlah oknum dari ormas Islam membuat kegaduhan dan masuk ke dalam ruangan acara untuk membubarkan forum. Kamis. WIB. “NU Tuntut FPI Minta Maaf. 24 Mei 2006. Senin.” Pikiran Rakyat. Kamis. 17:24:23 WIB. 14:14:51 WIB. Lihat “Massa Pencinta Gus Dur Berdemonstrasi. Jumat. “NU vs FPI: Polisi Barikade Jl KS Tubun. 23 Mei 2006. 26 Mei 2006. Kamis.com. 26 Mei 2006. “Azyumardi Azra Menuntut Pengusir Gus Dur Diusut. Warga Bentrok dengan Pengikut Ahmadiyah. dan “Banteng Jakarta Dukung Gus Dur Hadapi FPI Cs. Kasus paling hangat adalah aksi sejumlah oknum dari FPI.” Suara Pembaruan.net. Ormas Islam Buat Pernyataan.42 Peristiwa ini bukan saja mendapat reaksi dari basis-basis massa NU dan PKB.” Kompas. 11:36:46 WIB. “Pemerintah Dikritik Tak Tegas. Jawa Barat. 26 Mei 2006. 26 Mei 2006. “MUI Tetapkan 11 Fatwa.com. Jumat. Selasa. Jumat.net. 28/07/2005 20:11 WIB. 25 Mei 2006. Polisi Biarkan FPI Bertindak Anarkis. Massa ormas ini menyerang ribuan jamaah di Kampus Al-Mubarok di Parung. Aksi Kekerasan dan Perusakan Terus Dibiarkan.” Jumat. Akibat bentrokan itu. Massa LPPI dan FPI melempari arena pertemuan tahunan JAI.” Rakyat Merdeka.” Rakyat Merdeka. Haram Hukumnya Perdukunan dan Peramalan. 25 Mei 2006 05:59. 5 Agustus 2005 13:08 WIB Lihat “Dua Kelompok Massa Islam Bentrok.” TEMPO Interaktif.” detikInet.” Gatra. 24 Mei 2006. Gus dur Tuding Gerakan Ormas Islam Ada yang Mendanai. sedikitnya delapan orang luka-luka terkena lemparan batu dan kayu. 13 Agustus 2005 19:04. 29 Juli 2005 | 06:38 WIB. Kamis. Gus Dur Diserang Massa FPI dan HTI. 4 • Th. 15:48:40 WIB.com.com. 31 Mei 2006.” Rakyat Merdeka.” Detikcom.” Rakyat Merdeka. MUI mengeluarkan fatwa yang menyatakan Ahmadiyah sebagai “aliran sesat”. Rabu. “FBR Gabung FPI Hadang NU. melainkan juga Gus Dur diperlakukan secara tak pantas.net. Jumat. Jumat. Todung: Saya Protes Keras Terhadap FPI. 26 Mei 2006.com. Kamis.46 Fatwa ini berubah menjadi aksi kekerasan yang dilakukan ribuan orang yang mengaku dari LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) dan FPI pada Sabtu. dan “Massa NU Akan Survei di Slipi Apa FPI Lakukan Syiar Agama. “Massa FPI-FBR Bersiap Menghadapi Serbuan Garda Bangsa.” Rakyat Merdeka. Rabu. dan “Saat Pidato.” Detikcom. Bogor. Kamis. 2007 . Minggu.” Liputan6. 26 Mei 2006. “13 Terdakwa Kasus Pengrusakan Kampus Mubarok Ahmadiyah Disidangkan di PN Cibinong Jabar. Fatwa ini didukung sejumlah ormas dan partai Islam seperti PBB (Partai Bulan Bintang). “Garda Bangsa Minta Habib Rizieq Ditangkap. Rabu. 25 Mei 2006 10:26. Buntut Acara Dialog Lintas Etnis dan Agama. 26 Mei 2006.Tak hanya kebebasan berkumpul. Lihat “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah. tapi lebih dari itu ancaman serius atas kebebasan beragama pun merebak.44 Bahkan memunculkan desakan mereka untuk membubarkan beberapa ormas Islam radikal tersebut. Rabu. Jumat. dan “Saat Mencoba Membubarkan Pertemuan di Kemang. 10 Juli 2005. 10:03:13 WIB. Jumat. Sabtu. 25 Mei 2006. 25 Mei 2006 01:54. Aksi FPI Cs Meresahkan: Massa NU dan Prodemokrasi Demo ke Mabes Polri.com. 25 Mei 2006. 12:16:50 WIB. Sabtu.” Detikcom.” Rakyat Merdeka.

30 Pengungsi Jemaat Ahmadiyah di Lombok Tengah Ingin Kembali ke Rumah. 22 September 2005. ancaman. “Gus Dur Meminta Masjid Milik Ahmadiyah Dibuka. Lihat “SBY: Ahmadiyah Sudah Resmi Dilarang Pemerintah.48 Peristiwa ini mendapat reaksi dari berbagai kalangan.” Hidayatullah. 21:12 WIB.” Media Indonesia Online. 15 Juli 2005 20:20.com/bpost/072005/16/nusantara/nusa1. Sebagian mempersenjatai diri dengan tongkat bambu.” gusdur. Abdurrahman Wahid. Garis adalah singkatan dari Gerakan Reformis Islam. 30 Juli 2005.” Pikiran Rakyat.57 selain diperkuat oleh Menteri Agama Maftuh Basyuni. 05 Agustus 2005. 29 Juli 2005 20:00.htm. Minggu. Rabu 5 April 2006.” Kapanlagi. Sabtu.com. Lihat “GARIS Bertanggung Jawab Atas Serangan Perkampungan JAI. Jumat. September 2005.” ttp://islamlib.” gusdur. “Fatwa MUI Dituding Melegitimasi Penyerangan Terhadap Ahmadiyah.” detikInet. Sabtu.net. 2 Agustus 2005. 18 Februari 2006.” elshinta. 14 Pebruari 2003 16:22. dan “Keluarga Ahmadiyah Bulukumba Mengungsi. Lihat “Ahmadiyah Sesalkan Pernyataan Presiden SBY Soal Kejaksaan Pernah Larang Ahmadiyah. Sabtu. 30/07/2005 16:55 WIB.Bogor dan Jakarta. Kepolisian Resor (Polres) Bogor menyegel kampus setelah unsur Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) Kabupaten Bogor menyetujui keputusan bersama untuk menutup kampus.” Metrotvnews. Gus Dur: Yang Membakar Harus Ditangkap.com.” Tribun Timur.” detikInet.59 Mereka menjadi korban kesewenang-wenangan atau kezaliman. “Warga Ahmadiyah NTB Mengucapkan Syahadat. M.56 Pernyataan ini mungkin setelah keluar pernyataan Jaksa Agung yang menegaskan larangan atas Ahmadiyah.com.Com. Muspida Garut Sepakat Melarang Ahmadiyah. “Kegiatan Jemaat Ahmadiyah di Kuningan-Bogor Dilarang.com. 20 56 57 58 59 60 Juli 2005 (tulisan ini ditulisnya ketika dirawat di RSCM). Jum’at.” gusdur.53 serta beberapa daerah lainnya terutama yang dialami jamaah Ahmadiyah di Bulukumba (Sulsel)54 dan Lombok Barat (NTB). 21 September 2005. Kejengkelan terhadap Ketidakpastian Sikap Pemerintah.net. “Teror atas Ahmadiyah dan Problem Kebebasan Beragama. Selasa. Jumat.52 Kuningan.” http://www. Sejumlah massa melempari para JAI dengan batu dan kayu saat dievakuasi dari Kampus Mubarok.” Koran Tempo.” Media Indonesia Online. 4 • Th.indomedia. 15 Jul 2005 13:11:12. Dawam Rahardjo. 16 Juli 2005. Senin. memang terjadi peningkatan berbagai aksi penolakan.” Detikcom.” Gatra. Jumat.” elshinta. “Jemaah Ahmadiyah Sambut Baik Keberadaan Satgas Garda Bangsa.com.com. 49 Lihat “Tokoh Antaragama Kutuk Penyerangan Jemaat Ahmadiyah. dan “Kejaksaan Telah Mendata Asetnya. 06:57. Lihat “Ahmadiyah Makin Terzalimi dengan Fatwa MUI.” Kompas Cyber Media. 20 Juli 2005 08:02 WIB. “12 Pengrusak Masjid Ahmadiyah di Cianjur Dibekuk.” Metrotvnews. Minggu. 24 Pebruari 2006.60 48 Lihat “Kampus Ahmadiyah Dikepung Massa. juga dari GUII (Gerakan Umat Islam Indonesia) yang dipimpin Habib Abdurrahman. Rabu. Selasa. Lihat “Ratusan Ulama Sukabumi Menolak Ahmadiyah. Lihat “Teror: Belasan Rumah Ahmadiyah Dibakar. dan “Mengekang Kebebasan Beragama. Jumat.” Detikcom. 18 Jul 2005 19:49:51.” Detikcom. 15/07/2005 17:57 WIB.” Tribun Timur. Kamis. Jumat. 18 Juli 2005 19:26 WIB. dan “Desak Pemda Lombok Tengah.” Pikiran Rakyat. “72 Anggota Ahmadiyah Nyatakan Keluar. “Gus Dur Sesalkan Penyerangan Masjid Ahmadiyah di Cianjur. 9 Agustus 2005. Garut Diamuk Massa. 22 Februari 2006 23:50.58 Pernyataan ini disesalkan oleh perwakilan Ahmadiyah. Sabtu.50 Cianjur. Lihat “Jaksa Agung: Larangan Ajaran Ahmadiyah Bersifat Parsial.net. Lihat “Pembakaran Rumah Jama’ah Ahmadiyah NTB.” Liputan6. Kamis. “Dievakuasi Jemaat Ahmadiyah Dilempari Batu & Kayu. 21 Juli 2005 18:54 WIB.” Li- 50 51 52 53 54 55 putan6.php?page= article&id=850.com. Rabu. 18:05 WIB.com. Jumat. 2007 59 .51 Garut.com/id/index. Lihat “Ahmadiyah Bulukumba Diancam Demo Besar-besaran. Rabu. Minggu.55 Selain beberapa pemerintah di daerah telah melarang aktivitas JAI. Selasa. 5 Agustus 2005 15:31. Lihat “Rumah Ketua Ahmadiyah Kab. 5 Februari 2006. 17 Februari 2006. Rabu. JURNAL HAM • Vol. “Negara Hukum Ataukah Kekuasaan.49 Sejak peristiwa itu.” elshinta. intimidasi dan teror kekerasan terhadap JAI di berbagai daerah seperti yang dialami jamaah ini di Sukabumi. Rabu. 2 Agustus 2005.” Detikcom. dan “Markas Ahmadiyah Diserbu Massa. “Sejumlah Sarana Ibadah Ahmadiyah di Kuningan Disegel. Rabu. “Jemaah Ahmadiyah Kuningan Bantah Ada Bentrokan. Jumat. 16 Agustus 2005.” Kompas Cyber Media.com. Massa yang menyerbu selain dari FPI. juga pemerintah pusat tetap melarangnya sebagaimana yang dikemukakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Jumat. 7 Agustus 2005 13:27 WIB.” detikInet. Gus Dur: Itu Pidana. 26 April 2006 10:12 WIB. 21 Agustus 2005 16:17 WIB. Lihat “Pemerintah Tetap Larang Ajaran Ahmadiyah.

Lihat “Kantor PBHI Jabar Didatangi Massa. Gereja Isa Almasih (GIA) di Karangroto. 31 Maret 2003.com. Jumat. Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) dan Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Perum Gading Tutukan Soreang (Kab. 6 Pebruari 2004. juga ribuan penduduk terpaksa mengungsi akibat aksi kekerasan tersebut. Jumat.61 Pada 12 September 2004 terjadi aksi warga berdasarkan Maklumat Forum Silahturahmi Ulama Cendikiawan Muslim (FSUCM) yang melarang ibadah di Gereja-gereja Rancaekek. Gereja Kristen Kemah Daud (GKKD) di Kampung Warung Mekar. Jawa Barat. Pernyataan ini ditujukan kepada Bupati Kabupaten Bandung. kafe dan 61 Lihat “Penembokan Sekolah Sang Timur. 2 Juni 2006.” Kompas. 27 Mei 2003 14:52. Desa Bungursari (Kab. Kecamatan Ngamprah (Kab. Selasa. 26 Agustus 2005.” Crossmap News.” Bandung. 25 Oktober 2004 | 10:09 WIB.Kasus gagalnya perlindungan hak atas kebebeasan beragama juga dialami oleh pemeluk agama Protestan dan Katolik.” Republika.62 Antara Juni-Agustus 2005. 2007 60 . sejumlah gereja ditutup. Jakarta. Jumat. dan “Tokoh Agama dan Gus Dur: Hentikan Aksi Penutupan Gereja. JURNAL HAM • Vol.” TEMPO Interaktif. Lihat “Pernyataan Forum Komunikasi Kristiani Indonesia Jawa Barat tentang Penutupan Kegiatan Ibadah Kristen di Perumnas Bumi Rancaekek Kencana. 7 September 2005 01:34:26. Senin. 23 Agustus 2005. 25 Oktober 2004 | 11:52 WIB. dan “Wardah Hafidz Kecewa dengan Putusan Hakim.” Sinar Harapan. tapi kenyataannya tak ada jaminan hak-hak sipil dan politik setiap orang dihormati. dan “Penjelasan FPI : Kronologis Kejadian Penutupan “Gereja Liar” di Bandung. 4 Oktober 2004. “Gus Dur: Hentikan Aksi Penutupan Gereja. terutama oleh sekelompok orang dari ormas Islam seperti FPI. AGAP. Gereja Kristen Pasundan (GKP) di Katapang (Kab. Sekolah milik Yayasan Sang Timur yang terletak di Kabupaten Tangerang menjadi sasaran aksi penutupan gerbang oleh sekelompok orang yang mengaku dari FPI. “Tembok Sang Timur Dirobohkan. Kamis.co.” Republika. 23 Agustus 2005. yaitu Gereja Kristen Kemah Daud (GKKD) di Kecamatan Haurgeulis.” Suara Pembaruan. Purwakarta) serta enam gereja di Kompleks Permata Cimahi. 1 Juni 2006 di Garut. Senin.63 Aksi penutupan gereja ini tak hanya oleh pemerintah lokal. FKKU (Forum Komunikasi Kemaslahatan Umat) dan FSPI (Forum Silaturahmi Pemuda Islam) serta ormas kedaerahan seperti FBR (Forum Betawi Rempug) yang kerap melakukan penyisiran (sweeping) dan kekerasan baik atas pemeluk agama dan orang lain maupun tempat-tempat hiburan. tapi juga oleh sekelompok orang dari ormas Islam seperti AGAP (Aliansi Gerakan Anti Pemurtadan) dan FPI.” TEMPO Interaktif. 26 Juni 2001.” Gatra. Lihat “PBHI Desak Kapolri Usut Kasus Kekerasan di Garut. 15 Agustus 2005. Selasa. Pendidik- 62 63 64 65 66 an Jangan Jadi Korban. Kecamatan Genuk (31 Juli 2005). Selasa. Bandung).66 Semua ini bukan saja terus berlangsung kegagalan dalam melindungi hak-hak. 4 • Th. Kelurahan Tani Mulya. PBHI dan Kontras. Kabupaten Indramayu dan tiga orang pembinanya ditahan di LP. Prospek implementasi ICCPR Kendati negara RI telah meratifikasi ICCPR.” kristianipos.65 Selain itu. tapi juga sekaligus menjadi bagian dari terus langgengnya impunitas. Bandung). tapi juga sejumlah oknum preman seperti yang terjadi pada Kamis. Rabu.” TEMPO Interaktif. Senin. Selain rusak lahan garapan para petani yang berdampak pada hak atas pekerjaan dan penghasilan. Sabtu. “Kantor Kontras Diserbu Massa. terdapat pula kasus-kasus penyerangan atas beberapa ornop/LSM seperti UPC. 28 Oktober 2004 10:00:03.com. “Massa Datangi Kontras dan PBHI. Senin. “Gus Dur Perintahkan Banser untuk Menjaga Sang Timur. Lihat “Sejumlah Ormas Islam Tutup Gereja Ilegal. dan “Gus Dur Meminta Walikota Tangerang Memberikan Izin Membangun Gereja. 9 Oktober 2004 8:45:00 WIB.” TEMPO Interaktif. Selasa.” eben-network.64 Kasus lainnya adalah konflik pertanahan antara petani penggarap dengan pihak perkebunan yang ditandai dengan tindak kekerasan tak hanya oleh aparat keamanan. Kabupaten Bandung.id.” christianpost. Bogor). Lihat “Camat Dayeuhkolot Tutup Gereja Ilegal.

” Gatra.” Pikiran Rakyat.” TEMPO Interaktif. keluarga korban dan beberapa kalangan yang prihatin atas pelanggaran hak-hak manusia tetap mendesak proses hukum atas orang-orang yang terlibat dan bertanggung jawab. “Peristiwa 12 Februari dan Kekerasan Polisi. “Masyarakat Kemang Kutuk Aksi FPI. 24 Juni 2000. “Penyerangan Tempo: Aparat Dikangkangi Premanisme. Selasa. 12:54am.net. 18 Mei 2006 11:34.” TEMPO Interaktif.” TEMPO Interaktif.org. “Demokrasi dan Perlindungan Kaum Minoritas. 37 Luka Tembak. 18 Maret 2003. Lihat “Keluarga Korban Pelanggaran HAM Tuntut Soeharto Diadili.” Warta Kota. Suryadi Radjab.67 Kasus penyerangan dan tindak kekerasan atas pekerja pers masih saja terjadi setelah kasus Udin. Sabtu. Nadirsyah Hosen. Polisi Hajar Wartawan. 26 Maret 2003. “Puluhan Orang Berseragam FBR Keroyok Pedagang Pasar Senen.” detikInet. Lima Luka-luka.” SeKetika. 19 Maret 2004.” detikInet.” islamlib. 16:26 WIB.” Rakyat Merdeka. 9:07 WIB. 28 Oktober 2004 | 19:45 WIB. Jum’at. Selasa.” gusdur. 13 Apr 2006. Sabtu. 27 Mei 2006.” Detikcom. Kamis. Sabtu. “FPI: Perda Tempat Hiburan Tumpul.73 dan mereka yang memperjuangkan dihormatinya pluralisme menyatakan lawan preman berjubah. “FPI Gerebek Tempat Hiburan di Kemang.” TEMPO Interaktif. 3 Oktober 2003. Decky Natalis Pigay. Polda Metro Tindak Tegas FPI dan FBR. Sabtu. Selasa.72 kalangan pekerja pers mengeluarkan pernyataan perang melawan premanisme. 1 Meninggal. Selasa. Lihat “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah. Ahmad Suaedy.” Sinar Harapan. dan “Polisi Tembak Buronan Pencuri Sarang Walet. 12 Mei 2006 09:16. Rabu. Rabu. 04 April 2005 | 14:01 WIB. JURNAL HAM • Vol. “Premanisme dan Wartawan Kita.” gusdur. “Polres Jakarta Timur ‘Diserbu’ FBR. sejumlah ornop melancarkan kampanye menolak hukuman mati. 23 Juni 2003.” Hukumonline. “Tawuran FBR-Benteng Banten. “Wartawan TEMPO Dipukul. 25 Juli 2005. Rabu. dan “Istri Gus Dur Dilaporkan FBR ke Polda. Rabu. Lihat “Kasus Wamena Tunjukkan Lemahnya Perlindungan HAM di Papua. Sabtu . Rabu. Jumat.” TEMPO Interaktif. Lihat “LSM HAM Tolak Hukuman Mati. Jumat.” Sinar Harapan. “Tujuh Anggota FBR Divonis Enam Bulan. Senin. 06 April 2006. 2007 61 . lihat juga “Polisi bubarkan Rapat Umum Petani.com. 20 Desember 2005 | 00:20 WIB. “Preman Pukul Wartawan dan Rusak Kantor Indopos. 20 September 2005.indymedia. “FPI Akan Terus Sweeping Tempat Hiburan. tetap tumbuh semangat dan partisipasi masyarakat dalam membela hak-haknya.Com. “Massa Gabungan Ormas ‘Sweeping’ Toko Miras. 08:38 WIB.” detikInet. Massa FPI Purwakarta Razia Miras dan PSK. Kamis. 30 Maret 2006. “Aksi Premanisme terhadap Pers. “Rusak Tempat Hiburan.” Kaltim Post. 29 Oktober 2005.” Sinar Harapan. Kamis.” Kompas. Harry Ganda Asi.” TEMPO Interaktif. 11 Maret 2003. 23 Mei 2006.75 67 Lihat “FPI Rusak Kantor Komnas HAM dan Kafe 68 69 70 71 72 Jimbani. Selasa. Senin. Sabtu.” detikInet. 23 Oktober 2004 11:20 WIB.” jakarta. dan “Polisi Membubarkan Paksa Demonstrasi di DPRD Bengkulu. Senin. “Massa FPI Rusak kantor Playboy. 24 Mei 2006.71 Memang harapan untuk mendapatkan intervensi negara untuk melindungi hakhak sipil dan politik yang terancam oleh perilaku sejumlah orang maupun halangan dari aparat militer dan kekerasan polisi.” Pikiran Rakyat.com. “Preman Berjubah itu. 4 Luka-luka. 10 Mei 2006.com. 31 Agustus 2005 15:00.Com.” Pikiran Rakyat. 16 Mei 2006 14:52 WIB. Sabtu. Selasa. Terkait Pemukulan Kontributor TV.” TEMPO Interaktif. 23 Oktober 2004 | 00:00 WIB. 9 Mei 2006. 23 Oktober 2004 16:13 73 74 75 WIB. Bandung: PBHI Jawa Barat. Distia Aviandari dan Suryadi Radjab. 02 Juli 2002.68 Apalagi jika aparat keamanan dan penegak hukum justru lebih sering gagal melindungi hak-hak tersebut. 31 Maret 2003. 26 Januari 2005.” INDO POS Online. 17:57:46 WIB. Kamis.70 melainkan juga atas para demonstran atau orang-orang yang sedang merealisasi hak atas kebebasan berkumpul dan berpendapat. 4 • Th. Sweeping Jalan Terus. Kamis.” Kompas Cyber Media. “Polisi Nias Gelar Perkaranya Hilangnya Wartawan Berita Sore.69 Kekerasan polisi tak hanya menjadi kebiasaan dalam penangkapan dan penahanan tersangka. Lihat “Pada HUT-nya Ke-56. dan “Masyarakat Solo Keluarkan Petisi Perang terhadap Premanisme.” Gatra. 1 Muntah Darah. “FPI Sweeping Tempat Maksiat.pedagang. 14 Maret 2003. Lihat “Polisi Tembak ‘Raja Jambret’ Samarinda. Selasa. 17 Oktober 2005” – 09:46. “Pelanggaran HAM Soeharto Harus Tetap Diusut. Misalnya.” TEMPO Interaktif.” TEMPO Interaktif. Hak Manusia dan Polisi.net. dan “Empat LSM Desak Moratorium Hukuman Mati Tibo Cs. 17 November 2005 | 01:07 WIB. Selasa. 23 Oktober 2004 01:30 WIB. dan “Wartawan Surabaya Demo UPN Veteran.” dalam Hendardi.” Liputan6. Kamis.” TEMPO Interaktif.74 Begitu juga. Kamis. 26 April 2006. 2005. Senin. 10 Pebruari 2005 | 17:27 WIB. dan “Soeharto Perlu Juga Diadili dalam Kasus Pelanggaran HAM.” Kompas Cyber Media. Jumat. “Diakui Sebagai Tindakan Konkret Berantas Pekat.

9 Maret 2006. “DPR Pusing Pro Kontra RUU APP” Kamis. 2006 . Detikcom. Detikcom. 8 Maret 2006. 21 Mei 2006. 26 Agustus 2005. Detikcom. “MMI: Jika Terus Menolak. “SBY: Ahmadiyah Sudah Resmi Dilarang Pemerintah” Selasa. 4 Maret 2004. “30 Elemen Islam Malang Demo Dukung RUU APP. Detikcom. 100 Pendemo Cantik Tolak RUU APP” Rabu. tapi juga tanggung jawab negara. “Bagir Manan jadi ketua MA lagi” 02 Mei. “Peringati Hari Perempuan. Detikcom. 22 Mei 2006. “Massa NU Akan Survei di Slipi Apa FPI Lakukan Syiar Agama” Jumat. 18 Mei 2006. Detikcom. “Ahmadiyah Makin Terzalimi dengan Fatwa MUI. “Perda Larangan Pelacuran Akan Diterapkan di Jakarta” Selasa. 8 Maret 2006. 9 Mei 2006. Detikcom. “Demonstran Dukung RUU APP di Cirebon Segel LSM Fahmina” Minggu. “Tokoh Agama dan Gus Dur: Hentikan Aksi Penutupan Gereja” Jumat. 16 Agustus 2005. 7 Maret 2006. Detikcom. “SBY: Ahmadiyah Sudah Resmi Dilarang Pemerintah” Selasa. “Presiden Lantik Bagir Manan Jadi Ketua Mahkamah Agung” Kamis. “Bahas RUU APP. “MUI Sayangkan Adanya Penolakan RUU Anti Pornografi” Senin. “Polisi Tembak Buronan LP Saat Mencoba Melarikan Diri dari Kejaran Petugas” Rabu. 144 Setuju RUU APP” Kamis. Rabu. Berbagai partisipasi. Detikcom. sangatlah penting dalam menagih bukan saja kewajiban. 22 September 2005.000 Ulama di Gontor” Senin. Detikcom. 15 Maret 2006. Rabu.” Sabtu. BBCIndonesia. Jadikan Bali Daerah Khusus Pornografi” Rabu. JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. Detikcom. 2004. Detikcom.Published 13:11 GMT. Intended to Fail: The Trial Before the Ad Hoc Human Rights Court in Jakarta.” Detikcom. “Premanisme dan Wartawan Kita” dalam Sinar Harapan. 8 Maret 2006. “Slamet Rahardjo: RUU APP Tempatkan Perempuan Seolah Hantu” Minggu. “NU vs FPI: Polisi Barikade Jl KS Tubun” Jumat. Detikcom. Detikcom. Harry Ganda. “12 Pengrusak Masjid Ahmadiyah di Cianjur Dibekuk” Rabu. terlebih lagi konsolidasi masyarakat. “Dari 167 Lembaga Tamu Pansus. Detikcom.Selain itu. 8 Maret 2006. “RUU Pornografi Berpotensi Jadi Alat Pemerasan Baru” Kamis.com. 26 Maret 2003. 26 Mei 2006. 16 Agustus 2005. Detikcom. “Gus Dur Sesalkan Penyerangan Masjid Ahmadiyah di Cianjur” Kamis. “Gus Dur Siap Upayakan Amandemen Jika RUU APP Jadi UU” Kamis. Detikcom. “Komnas Perempuan Tolak Perda Tangerang Tentang Pelacuran” Rabu. Detikcom. Detikcom. September 2005. Detikcom. 30 Juli 2005. “Pelanggaran HAM Soeharto Harus Tetap Diusut” Selasa. “Ratusan Mahasiswa Yogya Demo Tolak RUU APP” Rabu. DAFTAR PUSTAKA Antara News. 2007 62 . 16 Maret 2006. 16 Februari 2006. 26 Mei 2006. “Aksi Seribu Tayub Tolak RUU APP” Rabu. 12 Maret 2006. Detikcom. Detikcom. 06:57. “FBR Gabung FPI Hadang NU” Jumat. 16 Maret 2006. Cohen. MUI Akan Kumpulkan 1. Asi. 6 Maret 2006 Detikcom. Crossmap News. Detikcom. 9 Februari 2006. 26 Mei 2006. “Draf RUU APP Adalah Buah dari Sebuah Kemunafikan” Kamis. Detikcom. Cendrawasih Pos. negara – pemerintah dan aparat penegak hukum – harus selalu diingatkan dan didesak terus-menerus untuk melindungi hak-hak sipil dan politik bagi setiap orang ketika ancaman atasnya sedang berlangsung. David. 15 Maret 2006. Berkeley: International Center for Transitional Justice.

“Kegiatan Jemaat Ahmadiyah di Kuningan-Bogor Dilarang” Sabtu.net. detikInet.net. gusdur. 23 Oktober 2004 11:20 WIB. gusdur.com. “Jemaah Ahmadiyah Sambut Baik Keberadaan Satgas Garda Bangsa” Minggu. 26 Mei 2006. elshinta. gusdur.net. Aksi FPI Cs Meresahkan: Massa NU dan Prodemokrasi Demo ke Mabes Polri” Jumat. “Keluarga Korban Pelanggaran HAM Tuntut Soeharto Diadili” Kamis. gusdur.com. gusdur. 4 • Th. “Teror: Belasan Rumah Ahmadiyah Dibakar” Jumat. “Polisi Tembak ‘Raja Jambret’ Samarinda” Jumat.” Kompas. Rabu. 25 Mei 2006 10:26. Sweeping Jalan Terus” Sabtu. 2. 27 Oktober 2005 13:32. Todung: Saya Protes Keras Terhadap FPI” Kamis. “KPK Geledah Ruang Kerja Bagir Manan” Kamis. No. 23 Mei 2006. “FPI Gerebek Tempat Hiburan di Kemang” Sabtu. 2 Februari 2006. Vol.com. “Mengekang Kebebasan Beragama. “Kantor Kontras Diserbu Massa” Jakarta. 18 Mei 2006 11:34. 1. 2007 63 . “Pembakaran Rumah Jama’ah Ahmadiyah NTB. “Penjelasan FPI : Kronologis Kejadian Penutupan “Gereja Liar” di Bandung” Rabu. 31 Mei 2006. eben-network. detikInet.com. “Jaksa Agung: Larangan Ajaran Ahmadiyah Bersifat Parsial” Kamis. elshinta. gusdur. Gatra. Gatra. 10 Mei 2006. “Tuntut Milisi Sipil Dibubarkan” Rabu. “Desak Pemda Lombok Tengah. “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah” Selasa.net. “MUI Kembali Fatwakan Ahmadiyah Sebagai Aliran Sesat” Kamis. 7 Agustus 2005 13:27 WIB. “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah” Selasa. “13 Terdakwa Kasus Pengrusakan Kampus Mubarok Ahmadiyah Disidangkan di PN Cibinong Jabar” Senin. “DPP PBB Dukung fatwa MUI Soal Ahmadiyah” Sabtu.detikInet. Hidayatullah.com.net.com. “Demokrasi dan Perlindungan Kaum Minoritas” dalam islamlib.com. “The Age of Rights” Imparsial. 23 Mei 2006. detikInet.net.com. 28/07/2005 20:11 WIB. 23 Mei 2006. elshinta. 21 Juli 2005 18:54 WIB. “Pengusiran Gus Dur. Hendardi. 21 Agustus 2005 16:17 WIB.com. detikInet. gusdur. Gus Dur: Yang Membakar Harus Ditangkap” Minggu. 16 Mei 2006 14:52 WIB.com. “Rusak Tempat Hiburan. 29/ 09/2005 14:25 WIB. 30/07/2005 16:55 WIB. Polda Metro Tindak Tegas FPI dan FBR” Sabtu . gusdur. 30 Pengungsi Jemaat Ahmadiyah di Lombok Tengah Ingin Kembali ke Rumah” Rabu. detikInet. 7 September 2005 01:34:26. Gatra. 5 Februari 2006. detikInet. “Mafia Peradilan di Indonesia. Nadirsyah. Gerung. 23 Mei 2006.com. 6 Maret 2006 13:05 WIB.net. Gus Dur: Itu Pidana” Rabu 5 April 2006. Rocky. 27 Mei 2003 14:52. “Gus Dur Hadapi Teror Gerombolan Islam Radikal” Selasa. 18 Maret 2003. elshinta. 23 Oktober 2004 16:13 WIB. “Masyarakat Solo Keluarkan Petisi Perang terhadap Premanisme” Selasa. “Ratifikasi 2 Kovenan HAM oleh RI Dianggap Masih Setengah Hati” Kamis . detikInet. “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah” Selasa. 23 Mei 2006. Gatra. “Ratusan Ulama Sukabumi Menolak Ahmadiyah” Jum’at. “Ahmadiyah Sesalkan Pernyataan Presiden SBY Soal Kejaksaan Pernah Larang Ahmadiyah” Minggu. “Gus Dur Hadapi Teror Gerombolan Islam Radikal” Selasa. gusdur. Hosen. 13 Agustus 2005 19:04 WIB. elshinta.com. 23 Oktober 2004 01:30 WIB. 24 Pebruari 2006. Kamis. 15/07/2005 17:57 WIB. 14 Pebruari 2003 16:22. Gatra. detikInet. 26 April 2006 10:12 WIB.net.com.net.net. “Soeharto Perlu Juga Diadili dalam Kasus Pelanggaran HAM” Selasa. “FPI: Perda Tempat Hiburan Tumpul. JURNAL HAM • Vol. “Dievakuasi Jemaat Ahmadiyah Dilempari Batu & Kayu” Jumat. Gatra. gusdur. Januari 1997. Selasa. 12 Mei 2006 09:16.

Liputan6. “Pelaksanaan Otonomi Daerah Kebablasan” Sabtu. “Tokoh Antaragama Kutuk Penyerangan Jemaat Ahmadiyah” Sabtu. 28 Oktober 2004 10:00:03. 1 Meninggal. Dengan Reservasi pada Hak Menentukan Nasib Sendiri” Sabtu. Kompas Cyber Media. Banyak yang Tumpang Tindih” Senin. Kompas Cyber Media. 26 Juni 2001. Kompas. 20 September 2005.indymedia. “Penyerangan Tempo : Aparat Dikangkangi Premanisme” Selasa. “Bagir Manan Siap Pensiun Tahun 2008” Selasa. “FPI Sweeping Tempat Maksiat” Senin. “Konflik MA-KY Hanya Untungkan Mafia Peradilan” Selasa.” lokakarya yang diselenggarakan PBHI dan HOM pada 29-30 Mei 2006 di Cipayung. 8 Mei 2006. 12 Oktober 2005. 8 Juni 2005. “Konsekuensi Ratifikasi ICCPR” Kompas. “Markas Ahmadiyah Diserbu Massa” Jumat. 13:29 WIB. “72 Anggota Ahmadiyah Nyatakan Keluar” 2 Agustus 2005 kristianipos. “LSM HAM Tolak Hukuman Mati” Kamis. 1 Oktober 2005. “Dua Kovenan HAM Diratifikasi. Aksi Kekerasan dan Perusakan Terus Dibiarkan” Jumat. 02 Mei 2006. “Massa FPI Rusak kantor Playboy” Kamis. “Gus Dur Meminta Walikota Tangerang Memberikan Izin Membangun Gereja. 14 Februari 2006. Kompas. 24 Mei 2006. Kompas. “GARIS Bertanggung Jawab Atas Serangan Perkampungan JAI” Rabu. Kompas. “Ratifikasi Dua Kovenan Internasional Dinilai Setengah Hati” Kamis. 2007 . “Polisi bubarkan Rapat Umum Petani. Kaltim Post. 21 September 2005. 12:54am. 20 Mei 2006 22:31:32. KabarBaru. Kompas. “Jemaah Ahmadiyah Kuningan Bantah Ada Bentrokan” Jumat. Kompas. Hukumonline. “Gus Dur Meminta Masjid Milik Ahmadiyah Dibuka” Jumat.” Kamis. 18:05 WIB. 6 April 2006. “Diskusi Korban Kekerasan Perempuan Tahun 1965 Dibubarkan” Sabtu. Rabu. dan “Istri Gus Dur Dilaporkan FBR ke Polda” Rabu. Kompas.com. Tunggakan Perkara di MA Masih Banyak” Jumat.com. 22 Mei 2006. 17 Oktober 2005 – 09:46.htm. “Pernyataan PBHI Jawa Barat: Protes atas INDO POS Online. Syarikat Indonesia. Kompas Cyber Media. “Kerangka Acuan Perencanaan Strategis Impunitas.com. 20 Januari 2006. “Bagir Manan: Tak Ada Alasan untuk Mundur” Rabu. 24 April 2004. 13 Oktober 2005. Kapanlagi. Kompas. 64 JURNAL HAM • Vol.com. dan Komnas Perempuan. 13 Apr 2006. 06 April 2006. 16 Juli 2005. Juwana. 05 Agustus 2005. 9 Oktober 2004 8:45:00 WIB. 12:09 WIB. 21:12 WIB. “Bagir Manan Perpanjang Usia Pensiun Dirinya: Disebutkan. Pendidikan Jangan Jadi Korban” Sabtu. 15 Jul 2005 13:11:12. “Kantor PBHI Jabar Didatangi Massa. kristianipos. 37 Luka Tembak” Selasa. 4 • Th. “Penembokan Sekolah Sang Timur. Kompas Cyber Media. 08:38 WIB.http://www. “RUU Pemerintahan Aceh: Diusulkan Polisi dan Jaksa Khusus Syariat” Jumat. “Bagir Manan Merasa Difitnah. 5 Agustus 2005 15:31. “Pemerintah Dikritik Tak Tegas. 15:03 WIB. 26 Mei 2006. “FPI Rusak Kantor Komnas HAM dan Kafe Jimbani” Sabtu.” Selasa. INCRESS.indomedia. jakarta. Bogor. 12 Mei 2006. “Pemerintahan Daerah: 393 Perda Bermasalah Akan Dibatalkan” Kamis. 29 September 2005 Hukumonline. Kompas.com/bpost/072005/16/ nusantara/nusa1.” Bandung. 16:26 WIB. 16 Mei 2006. Kompas. Kompas Cyber Media.org. Kompas Cyber Media. Tolak Usulan untuk Non-aktif” Kamis. “Komnas HAM Sesalkan Larangan Seminar” Selasa. “Banyak UU Tanpa Kajian: Tidak Ada Desain Besar Legislasi Nasional. Koran Tempo. Kompas Cyber Media. Pembubaran Paksa Pertemuan di Wisma Brantas Bandung. Hikmahanto. 11 Maret 2003. 24 Juni 2000. Kompas.com.

Liputan6. “Presiden Lantik Bagir Manan Sebagai Ketua MA” Kamis. Decky Natalis. “Kejaksaan Telah Mendata Asetnya. Liputan6. 20 Juli 2005 08:02 WIB. Pikiran Rakyat.php?page= article&id=850. “Teror atas Ahmadiyah dan Problem Kebebasan Beragama” dalam http://islamlib. “NU Tuntut FPI Minta Maaf. Martha. 19:16:05 WIB. Suryadi. 65 . Garut Diamuk Massa. Pikiran Rakyat. Rakyat Merdeka. Senin. “Aksi Premanisme terhadap Pers” dalam Sinar Harapan. Pigay. 22 Mei 2006. Jum’at. Radjab.com. 25 Mei 2006. Meijer. 9 Juli 2005 18:04. “Azyumardi Azra Menuntut Pengusir Gus Dur Diusut” Kamis. Pikiran Rakyat. Liputan6. “Kampus Ahmadiyah Dikepung Massa” Jumat. Dawam. “Saat Mencoba Membubarkan Pertemuan di Kemang. 28 Juli 2005 20:26 WIB. 14 Maret 2003. 2005. 18 Mei 2006 14:52 WIB. “Massa Gabungan Ormas ‘Sweeping’ Toko Miras” Senin. “Massa Pencinta Gus Dur Berdemonstrasi” Kamis. “Dialog Lintas Etnis Nyaris Rusuh: Gus dur Tuding Gerakan Ormas Islam Ada yang Mendanai” Rabu.” Bandung. Distia Aviandari dan Suryadi Radjab. 25 Juli 2005. 9 Agustus 2005. “Diakui Sebagai Tindakan Konkret Berantas Pekat. 31 Agustus 2005 15:00. Media Indonesia Online. Pikiran Rakyat. The Scope of Impunity in Indonesia (draft). Kejengkelan terhadap Ketidakpastian Sikap Pemerintah” Selasa. Liputan6. 22 Februari 2006 23:50. Haram Hukumnya Perdukunan dan Peramalan” Kamis.com. “Massa Bubarkan Pertemuan Perempuan Eks Napi PKI. 26 Mei 2006. Aktivis dan Artis Diteror” Jumat.”. Rakyat Merdeka “Bangkitkan Semangat “PKI”. Polisi Bengong” Jumat.com. Rahardjo. Utrecht: The Netherlands Humanist Committee on Human Rights. 18 Jul 2005 19:49:51. Massa FPI Purwakarta Razia Miras dan PSK” Sabtu. 04:18:30 WIB. Metrotvnews. Warga Bentrok dengan Pengikut Ahmadiyah” Minggu. 2007 Pikiran Rakyat.com. “Massa FPI-FBR Bersiap Menghadapi Serbuan Garda Bangsa” Jumat. Gus dur Tuding Gerakan Ormas Islam Ada yang Mendanai” Rabu. 26 Januari 2005. 2 Agustus 2005. “Sejumlah Sarana Ibadah Ahmadiyah di Kuningan Disegel” Jumat. “MUI Tetapkan 11 Fatwa. Liputan6.com/id/index. Media Indonesia Online. 26 Mei 2006. “Peristiwa 12 Februari dan Kekerasan Polisi” dalam Hendardi. Metrotvnews.com. M. “Rumah Ketua Ahmadiyah Kab. Media Indonesia Online. “Pemerintah Tetap Larang Ajaran Ahmadiyah” Rabu. Pikiran Rakyat. Rakyat Merdeka.com. Media Indonesia Online.com. Ormas Islam Buat Pernyataan. Hak Manusia dan Polisi. Bandung: PBHI Jawa Barat. “Gus Dur vs Ormas Radikal: Polisi Minta Semua Pihak Menahan Diri” Kamis. Pikiran Rakyat. “Polisi Tembak Buronan Pencuri Sarang Walet” Rabu. Liputan6. Pikiran Rakyat. 18:18:45 WIB. Cirebon Sesalkan Sikap LSM Fahmina” Jumat. “Menolak RUU APP. 26 Mei 2006. 4 • Th.”. “FPI Segel Fahmina Institute Cirebon. “Warga Ahmadiyah NTB Mengucapkan Syahadat” Rabu.com. 26 Mei 2006. 29 Juli 2005 20:00. Media Indonesia Online. 10 Juli 2005. “Pernyataan Forum Komunikasi Kristiani Indonesia Jawa Barat tentang Penutupan Kegiatan Ibadah Kristen di Perumnas Bumi Rancaekek Kencana. 24 Mei 2006. Buntut Acara Dialog Lintas Etnis dan Agama” Jumat. 15 Juli 2005 20:20. Senin. Metrotvnews. “Dialog Lintas Etnis Nyaris Rusuh. Pikiran Rakyat. JURNAL HAM • Vol. “Dua Kelompok Massa Islam Bentrok” Sabtu. 4 Oktober 2004. 25 Mei 2006 01:54. Muspida Garut Sepakat Melarang Ahmadiyah” Selasa. “Fatwa MUI Dituding Melegitimasi Penyerangan Terhadap Ahmadiyah” Senin. Pikiran Rakyat. 25 Mei 2006 05:59. 22 Mei 2006. Seminar Incres Dibubarkan.com. 18 Juli 2005 19:26 WIB. 28 April 2006 17:05. “FUI Wil. 2006. 24 Mei 2006. “Polisi Membubarkan Paksa Demonstrasi di DPRD Bengkulu” Rabu. 29 Oktober 2005.

Bagir Ditolak” Jumat. 25 Oktober 2004 | 11:52 WIB. Terkait Pemukulan Kontributor TV” 26 April 2006.“Hampir 30 Persen UU Bertentangan dengan Konstitusi” Jumat. 15:48:40 WIB. “Bagir Terpilih. 10:03:13 WIB. 25 Mei 2006. “Kasus Wamena Tunjukkan Lemahnya Perlindungan HAM di Papua” Senin. 66 JURNAL HAM • Vol. Rakyat Merdeka. Rakyat Merdeka. 10 Maret 2006. 24 Mei 2006. Sinar Harapan. Suara Pembaruan.” Kamis. 26 Mei 2006. “Aliansi Masyarakat AntiKekerasan Luruk Markas FPI Besok Siang” Kamis. “Saat Pidato. 10 Maret 2006. 2 Juni 2006. Sinar Harapan. 10 Mei 2006. “Siaran Pers PBHI Jawa Barat tentang Pengusiran Gus Dur dan Intimidasi Kegiatan Forum Dialog Lintas Agama di Purwakarta. 22 Mei 2006 19:19:00. 11:36:46 WIB. 22 Mei 2006. Rapim darurat digelar saat penggeledahan berlangsung” Jumat. “Camat Dayeuhkolot Tutup Gereja Ilegal” Selasa. Jumat. Rakyat Merdeka. Republika. Sabtu. Sinar Harapan. Rakyat Merdeka.“Ruang Kerja Bagir Digeledah.” Sabtu. “PBHI Desak Kapolri Usut Kasus Kekerasan di Garut”. Riau Pos Online. “Garda Bangsa Minta Habib Rizieq Ditangkap” Jumat. 25 Mei 2006 10:02:05. 22 November 2003. Polisi Biarkan FPI Bertindak Anarkis” Rabu. 2 Oktober 2003. Suara Pembaruan. “Yusril Bantah Revisi KUHP Mengadopsi Syariat Islam” Rabu. Republika Online “Komnas Perempuan akan Minta Klarifikasi Kapolri. Suara Pembaruan. 24 Mei 2006. 27 Mei 2006. “Indonesia Ratifikasi Kovenan Hak-hak Sipil dan Politik” Sabtu. 4 • Th. “Majelis Hakim Masih Musyawarah Bahas Soal Bagir Manan” Rabu.com. 23 Mei 2006. Selasa. “Sejumlah Ormas Islam Tutup Gereja Ilegal” Senin. Republika Online. “GP Ansor Minta Ormas Liar Dibubarkan” Jumat. Sinar Harapan. 24 Mei 2006. “Banteng Jakarta Dukung Gus Dur Hadapi FPI Cs. “Liku-liku Percaloan dan Mafia Peradilan di Indonesia” Sabtu. dari Desa Mengepung Kota” Senin. 26 Mei 2006. Ahmad. “Direktur ICIP Syafii Anwar: Perda Syariat Bisa Picu Disintegrasi” Senin. “5000 Orang Akan Demonstrasi Tolak RUU Anti Pornografi” Rabu. Sinar Harapan.Rakyat Merdeka. Sinar Harapan. TEMPO Interaktif. Sriwijaya Post Online. Sinar Harapan. “KPK Terlambat Geledah Ruang Ketua MA” Jumat. 17:24:23 WIB. 17:57:46 WIB. TEMPO Interaktif.“Polisi Tembak Buron Pelaku Curas” Kamis. 30 Juni 2004. Suara Pembaruan. 1 Oktober 2005. 28 Oktober 2005. SeKetika. 27 Mei 2006. 2007 . 12:16:50 WIB. “Massa Datangi Kontras dan PBHI” Jumat. “Wartawan Surabaya Demo UPN Veteran. TEMPO Interaktif. 8 Oktober 2005. TEMPO Interaktif.net. “Gus Dur Perintahkan Banser untuk Menjaga Sang Timur” Senin.“Muladi: Perpanjangan Pensiun Bagir Manan Keliru” Jumat. “Gus Dur: Hentikan Aksi Penutupan Gereja” Selasa. 30 Maret 2006. “Syariat Islam. Suaedy. 23 Agustus 2005. TEMPO Interaktif.” Bandung. 2 Juni 2006 | 13:05:43 WIB. Suara Pembaruan. 15 Agustus 2005. 6 Pebruari 2004. TEMPO Interaktif. “Polisi Tembak Penjahat Kambuhan” Rabu.. “Empat LSM Desak Moratorium Hukuman Mati Tibo Cs. “Fatwa-fatwa Haram Ala MUI” Jum’at. Republika. “Preman Berjubah itu” dalam gusdur. 10 Mei 2006 | 13:04 WIB. 28 Oktober 2005. Rakyat Merdeka. “Syariat Islam dalam KUHP Bermuatan Politis” Kamis. 22 Mei 2006. Gus Dur Diserang Massa FPI dan HTI” Kamis. Senin. 23 Agustus 2005. 14:14:51 WIB Rakyat Merdeka.”. 1 Oktober 2003. “Kapolri Harus Klarifikasi Pembubaran Kegiatan Mantan Tapol PKI. “Disesalkan. “SBY-JK Didesak Bubarkan FPI” Rabu. Riau Pos Online. Republika. 25 Mei 2006. “Polisi Tembak Mati Perampas Motor” Sabtu. 23 Juni 2003.” n. 29 Juli 2005 | 06:38 WIB. Suara Pembaruan.

3 Oktober 2003. TEMPO Interaktif. TEMPO Interaktif. 1 Muntah Darah” Selasa. 14 Maret 2006. wahidinstitute. TEMPO Interaktif. 17 November 2005 | 01:07 WIB. “Keluarga Ahmadiyah Bulukumba Mengungsi” Sabtu. “Tembok Sang Timur Dirobohkan” Senin. “Pada HUT-nya Ke-56. “Wardah Hafidz Kecewa dengan Putusan Hakim” Senin. 9:07 WIB.fpks-dpr. Wibowo. “FPI Akan Terus Sweeping Tempat Hiburan” Kamis. Harry. “Massa Segel Kantor LSM. 28 Oktober 2004 | 19:45 WIB. Tribun Timur. Tribun Jabar.id. 23 Oktober 2004 | 00:00 WIB. www. Lima Luka-luka” Senin. “Wartawan TEMPO Dipukul” Jumat. 02 Juli 2002. TEMPO Interaktif. 23 Januari 2006 22:30 WIB.net. 25 Oktober 2004 | 10:09 WIB. Anggota Pansus RUU APP DPR FPKS: RUU APP Lindungi Kaum Perempuan” Jumat.” Sabtu. 18 Februari 2006. 20 Desember 2005 | 00:20 WIB.TEMPO Interaktif. TEMPO Interaktif.ahrchk. 19 Maret 2004. “Tujuh Anggota FBR Divonis Enam Bulan” 31 Maret 2003. “Tawuran FBR-Benteng Banten. 22 Mei 2006. “Polres Jakarta Timur ‘Diserbu’ FBR” Jumat. Bogor. 4 Luka-luka. www. “Ahmadiyah Bulukumba Diancam Demo Besar-besaran” Jumat. TEMPO Interaktif. JURNAL HAM • Vol. Senin. 17 Februari 2006.net. Wahid. “Pernyataan Asian Human Rights Commission: Ratifikasi Instrumen Utama Hak Manusia Harus Ditindaklanjuti dengan Reformasi Hukum”.org. 4 • Th. Polisi Hajar Wartawan. Dianggap Tolak RUU APP” Senin.” dalam gusdur. “Masyarakat Kemang Kutuk Aksi FPI. 2007 67 . Warta Kota. Rabu. Hongkong. “Puluhan Orang Berseragam FBR Keroyok Pedagang Pasar Senen” Kamis. TEMPO Interaktif. “Hilman Rosyad Syihab. 20 Juli 2005. Abdurrahman. Tribun Timur. 27 Januari 2006 19:11:53. Waspada Online. 31 Maret 2003. Megamendung. 22 Mei 2006. TEMPO Interaktif. 10 Pebruari 2005 | 17:27 WIB. “Preman Pukul Wartawan dan Rusak Kantor Indopos” Selasa. “LSM Fahmina Diserbu Massa Pendukung RUU APP” Senin. “Mafia Peradilan Di Manamana”. “Hak-hak Manusia: Menjernihkan Berbagai Konsep Dasar” makalah yang disampaikan dalam Pelatihan Investigasi yang diselenggarakan PBHI (Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia) pada 27-30 Desember 2005 di Megamendung Permai. “Negara Hukum Ataukah Kekuasaan. TEMPO Interaktif. TEMPO Interaktif. 04 April 2005 | 14:01 WIB.or. “Polisi Nias Gelar Perkaranya Hilangnya Wartawan Berita Sore” Kamis.

State University of New York. 2 Contoh-contoh mencakup pelarangan formal terhadap perdagangan budak oleh Perjanjian Wina (1815) dan General Act of Brussel. Diciptakan setelah kehancuran yang disebabkan oleh Perang Dunia II. Their core arguments are that the global institutionalization of human rights has created an international context in which (1) governments often ratify human rights treaties as a matter of window dressing.2 Namun. nama mereka diurut berdasarkan abjad. radically decoupling policy from practice and at times exacerbating negative human rights practices. Inggris. Sebelum Perang Dunia II. but (2) the emergent global legitimacy of human rights exerts independent global civil society effects that improve states’ actual human rights practices. Nuffield College. hukum internasional yang melindungi hak asasi manusia sangat jarang ada.edu. dan Nuffield College. E-mail: Emilie.ac. organisasi internasional.Oxford University Kiyoteru Tsutsui . Proyek ini didukung oleh bantuan dana dari National Science Foundation (SES 2CDZ414) dan Bechtel Center di Stanford’s Institute for International Studies. Negara-negara membatasi kewajiban hukum internasional dengan menyatakan keinginan untuk membatasi kewajibannya berdasarkan sejumlah perjanjian dan konvensi.hafner-burton@nuffield. Korespondensi langsung kepada Emilie Hafter-Burton. They propose an explanation that highlights a “paradox of empty promises”. Stanford’s Center for Security and Cooperation.ox. Saat ini.sunysb. sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara-negara anggotanya untuk pertama kalinya membangun suatu dasar bagi upaya bersama untuk melindungi hak asasi manusia semua orang. New Road. Hafner-Burton . Para penulis sangat berterima kasih kepada para peserta Comparative Workshop di Stanford University. Universitas Oxford. dan aktor masyarakat serta aktor organisasi sipil untuk menempatkan hak asasi manusia dalam agenda hukum internasional. The authors’ statistical analyses on a comprehensive sample of government repression from 1976 to 1999 find support for their argument. JURNAL HAM • Vol. 2007 68 .Hak Asasi Manusia di Dunia yang Terglobalisasi: Paradoks Janji-janji Kosong1 Emilie M. Kiyoteru Tsutsui menerima dukungan yang besar dari Stony Brook University. 4 • Th. upayaupaya tersebut telah terakumulasi dalam pembentukan dan perluasan suatu sistem hukum internasional mendunia yang dirancang untuk mengidentifikasi dan melin1 Para penulis membagi tanggung jawab yang sama dalam pekerjaan ini. PENDAHULUAN Perlindungan hak asasi manusia yang mendasar adalah tujuan yang paling mendesak tetapi paling sulit dicapai oleh masyarakat internasional. dan khususnya kepada John Meyer dan Francisco Ramirez (dan juga peserta Global Research Seminar di Stony Brook University) atas komentar-komentar mereka yang penuh pemahaman. Stony Brook Abstract The authors examine the impact of the international human rights regime on governments’ human rights practices.uk atau Kiyoteru Tsutsui di ktsutsui@notes. Emilie Hafner-Burton juga menerima dukungan yang besar dari National Science Foundation (SES 0135422).cc. Oxford OXI 1 NF. adopsi Piagam PBB 1945 dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia tiga tahun kemudian membuka suatu jendela kesempatan bagi berbagai negara. Oxford.

Menjelang 1992. Jelas terlihat bahwa (1) rata-rata terjadi peningkatan prosentase negara yang telah meratifikasi sejumlah perjanjian hak asasi manusia. apa gunanya perjanjian internasional hak asasi manusia ketika perjanjian tersebut tidak dapat memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia? 3 Irak belum meratifikasi atau menandatangani CAT. pemerintah telah meratifikasi lima dari enam perjanjian inti yang melindungi hak asasi manusia. dan budaya. walaupun pertambahan jumlah tersebut mulai berkurang selama beberapa tahun belakangan ini. dan pembunuhan politik secara meluas. Namun. penghukuman mati. di mana pelanggaran hak asasi manusia mencapai puncaknya pada 1994 dan 1995. perempuan. komitmen hukum dari negara-negara untuk melindungi hak asasi manusia yang terus meningkat menandakan adanya suatu pergeseran yang fundamental dalam struktur masyarakat internasional. Namun. dan tersebar-luas (Amnesty International. Namun. sistematis. Pada 1994. Perjanjian-perjanjian ini menyediakan berbagai lembaga pengawasan yang bekerja untuk memperbaiki praktik-praktik pemerintah dalam bidangbidang hak asasi manusia tertentu melalui pengumpulan dan diseminasi informasi. Guatemala meratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional guna melindungi perempuan dari diskriminasi pada 1982. Ada banyak contoh. rejim tersebut juga memperluas dirinya untuk mengikutsertakan hak-hak asasi manusia utama yang baru (lihat tabel 1).3 Dengan demikian. untuk menjamin kebebasan dari penyiksaan dan perlindungan terhadap kelompok ras minoritas dan anak-anak. praktik-praktik hak asasi manusia tetap tidak berubah. Contoh lain yang relevan adalah Irak. Bagi banyak ilmuwan dan aktivis. ekonomi. Sebagai yang pertama. Dengan bertambah banyaknya bangsa yang secara sukarela mengikat diri pada rejim internasional ini. pada tahun yang sama Amnesty International juga melaporkan bahwa tindakan represif telah menjadi begitu ekstrim. dan laki-laki melalui hukum. pelanggaran hak asasi manusia di Irak adalah suatu hal yang umum terjadi. dan seringkali melalui kerja sama dengan aktivis nonpemerintah. menantang efektivitas hukum internasional dan menimbulkan pertanyaan akan keabsahan komitmen hukum negara-negara untuk melindungi kehidupan warga negaranya. 1994). Meningkatnya kesenjangan antara keinginan negara untuk bergabung dalam rejim hak asasi manusia internasional dan untuk JURNAL HAM • Vol. suatu masa di mana Pemerintah Guatemala dilaporkan telah melakukan pemenjaraan. 69 . politik. serta penahanan karena pandangan politik. Pemerintah Guatemala telah meratifikasi seluruh enam perjanjian penting hak asasi manusia (lihat tabel 1). 4 • Th. memperluas komitmennya untuk melindungi semua warga negaranya dari pelanggaran atas hak sipil. Kebanyakan negara sekarang mengikat dirinya pada suatu rejim internasional yang dirancang untuk melindungi hak-hak mendasar setiap anak. sosial.dungi sejumlah hak asasi manusia mendasar yang terus bertambah. pelanggaran hak asasi manusia oleh pemerintah bersifat epidemis. 2007 membawa praktik hak asasi manusianya agar sesuai dengan rejim tersebut. sementara (2) prosentase negara-negara yang dilaporkan melanggar hak asasi manusia juga bertambah dari waktu ke waktu. Ketika pemerintah Irak meratifikasi perjanjian internasional pertamanya pada 1970 serta berkomitmen terhadap penghapusan segala bentuk diskriminasi rasial. Diagram 1 membandingkan prosentase perjanjian hak asasi manusia internasional yang ada saat ini yang rata-rata telah diratifikasi oleh negara-negara dengan prosentase negara-negara yang dilaporkan bersifat refresif dalam jangka waktu tertentu.

1979). * Per tahun 2001 Para ilmuwan hubungan internasional. Rocke. Sosial. Banyak ilmuwan hukum internasional dan konstrukvisionis hubungan internasional justru sangat menentang hal-hal di atas: negara-negara pada dasarnya berusaha untuk menaati prinsip-prinsip hukum internasional yang mereka dukung (Henkin. tradisi rasionalis telah membuat para ilmuwan menganggap bahwa rejim hak asasi manusia hanya berdampak sedikit pada praktik hak asasi manusia secara nyata. 2007 . dan Barsoom 1996). Pendeknya.Tabel 1 PERJANJIAN HAK ASASI MANUSIA INTERNASIONAL Perjanjian CERD Nama Badan Pengawas Tahun Tahun Negara diadopsi diberla.Pihak* kukan 1965 1969 157 Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala bentuk Diskriminasi Rasial Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. khususnya yang mengembangkan tradisi realisme dan neoliberalisme. dan Merendahkan Martabat Manusia Konvensi tentang Hak Anak Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial Komite Hak Ekonomi. Sosial. atau. mereka mengasumsikan bahwa negara-negara hanya taat pada prinsip-prinsip hukum internasional ketika hal tersebut sesuai dengan kepentingan nasional mereka dan ketika ada institusi-institusi internasional yang dibentuk untuk menegakkan ketaatan terhadap hukum (Downs. Pengarusutamaan perspektif hubungan internasional ini seringkali menganggap bahwa perkembangan proses legalisasi prinsipprinsip hak asasi manusia sebagai suatu epiphenomenal [suatu fenomena yang muncul sebagai akibat dari suatu hal yang lain] (Mearsheimer 1994/1995). Organisasi internasional dan aktor-aktor nonpemerintah dapat mengajarkan dan mensosialisasikan kepada para pemimpin pemerintahan agar mengadopsi praktik- 70 JURNAL HAM • Vol. Tidak Manusiawi. Hal tersebut juga berlaku untuk rejim hak asasi manusia internasional. telah memperkirakan kesenjangan antara komitmen negara-negara terhadap hukum internasional dengan praktik negara-negara tersebut. Perjanjian-perjanjian pada dasarnya tidak dirancang untuk membuat pemerintah-pemerintah yang meratifikasinya dapat dimintai pertanggungjawaban atas komitmen mereka. – Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa 2001. 4 • Th. dan Budaya Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan Konvensi Menentang Penyiksaan dan Segala Bentuk Perlakuan atau Penghukuman yang Kejam. dan Budaya Komite Hak Asasi Manusia Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan Komite Menentang Penyiksaan ICESCR ICCPR CEDAW 1966 1966 1979 1976 1976 1981 144 147 167 CAT 1984 1987 124 CRC Komite Hak Anak 1989 1990 191 SUMBER.

2007 Persoalan dalam penelitian ini sangatlah jelas: sudut pandang teoritis mengarah pada kedua pandangan tersebut. 103-110). Kepercayaan bahwa advokasi masyarakat sipil internasional dapat mendorong praktik-praktik yang lebih baik telah mengarah pada kepedulian yang lebih optimis ketimbang sifat dari kegiatan itu sendiri.Diagram 1. JURNAL HAM • Vol. menunjukkan bahwa institusionalisasi hak asasi manusia secara global memiliki dampak langsung dan positif terhadap praktikpraktik negara. Clarck 2001). 2. ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional mengarah pada pengurangan hambatan legal bagi orang-orang Korea di Jepang (Iwasawa 1986). % represif (repressive) mengukur prosentase negara-negara yang dilaporkan melanggar hak asasi manusia pada periode tersebut. Misalnya. Kemudian. dan Sikkink 1999. 71 . hal. Perhatian terhadap dampak langsung dari ratifikasi perjanjian formal telah mengarah pada kekhawatiran yang pesimis pada kesenjangan yang ada antara ratifikasi dan praktikpraktik domestik. Lutz dan Sikkink 2000. atau 3 dari ukuran standar represif kami yang dijelaskan secara lengkap pada bagian data dari tulisan ini. tekanan internasional turut menyumbang pada penurunan tingkat kasus penghilangan paksa di Argentina (Keck dan Sikkink 1998.–% perjanjian yang diratifikasi (treaties ratified) mengukur prosentase perjanjianperjanjian internasional hak asasi manusia yang tersedia yang telah diratifikasi oleh negara pada periode tersebut. yang banyak terdapat di berbagai literatur (Risse. Ropp. kecenderungan untuk mengisolasi kedua aspek utama dari proses penaatan telah membuat para ilmuwan gagal melihat gambaran yang lebih besar. Data ratifikasi dijelaskan secara detil pada bagian data dari tulisan ini. praktik baru (Finnemore 1966a). 4 • Th. Kami mendefinisikan suatu pelaku tindakan represif sebagai negara mana pun yang memiliki nilai 1. dan jarang ada bukti empiris yang sistematis untuk mendukung kedua pandangan tersebut. Cerita-cerita seperti di atas. Ratifikasi perjanjian hak asasi manusia versus praktik hak asasi manusia pada periode 1976 sampai 1998. dan Konvensi Menentang Penyiksaan telah mengubah cara yang digunakan oleh Pemerintah Israel dalam menginterogasi orang-orang yang dicurigai sebagai teroris (Ron 1997).

Kami menarik pandangan-pandangan dari rasional institusionalisme dalam hubungan internasional dan pendekatan masyarakat dunia dalam sosiologi untuk menjelaskan temuan-temuan yang kelihatannya saling bertentangan serta untuk merekonsiliasi kedua prediksi yang bertentangan tersebut. perjanjian-perjanjian internasional. pendekatan kami menjadi bertentangan dengan pandangan-pandangan teoritis saat ini. aturan. tetapi tidak hanya terbatas pada. perjanjian internasional ini terkadang digunakan oleh pemerintah sebagai tameng atas perilaku yang semakin represif karena ratifikasi perjanjian tersebut memberikan suatu legitimasi hak asasi manusia yang justru mempersulit pihak-pihak lain untuk melakukan penekanan agar pemerintah-pemerintah semacam itu mau melakukan tindakan yang lebih baik. JURNAL HAM • Vol. Argumentasi utama kami adalah bahwa institusionalisasi hak asasi manusia secara global telah menjadi pedang yang memiliki dua ujung. Kemudian. kami menjelaskan dampak perjanjian hak asasi manusia sebagai suatu “paradoks janji-janji kosong”. 2007 72 . Ketika tekanan dari pihak luar menurun.4 Sebagai akibatnya. kami menggunakan istilah “insti- tusi” untuk merujuk pada pengharapan normatif yang luas. Kemudian. dalam hal rejim tersebut memberikan kekuatan bagi advokasi aktor-aktor nonnegara melalui alat-alat untuk menekan pemerintah-pemerintah agar menaati perjanjian-perjanjian tersebut. 5 Hasil pekerjaan terbaru Daniel Thomas (2001) merupakan sesuatu yang khusus dan menawarkan argumentasi yang hampir sama. Ketika negara bangsa membuat komitmen legal formal untuk menjadikan penaatan terhadap hak asasi manusia sebagai suatu simbol sementara mereka justru melakukan pelanggaran hak asasi manusia. kami meninjau nilai-nilai empiris dari argumentasi 4 Dalam kajian ini. Di sisi lain. yang mengatur semakin meningkatnya legitimasi hak asasi manusia sebagai norma global perilaku negara yang selayaknya dalam rangka menekan negara-negara untuk memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusianya. namun aktor-aktor nonnegara dapat mengambil keuntungan dengan menggunakan tekanan pada pemerintah dan menghasilkan perubahan politik. istilah “institusi” mencakup. Kajian tersebut memeriksa dampak Helsinki Final Act 1975 pada perkembangan politik setelahnya di negara-negara sosialis dengan menggunakan teknik kualitatif dan menyatakan bahwa partisipasi pemerintah dalam perjanjian hak asasi manusia internasional cenderung merupakan komitmen yang “kosong”. setelah diratifikasi. kami akan menjelaskan tentang pendekatan teoritis dalam konteks perspektif saat ini yang menggambarkan tentang represi pemerintah atas hak asasi manusia. hak asasi manusia yang diadvokasi secara regular justru bergerak di seputar perjanjian-perjanjian tersebut. dan praktik-praktik yang dikembangkan di seputar struktur organisasional dan hukum internasional (March dan Olsen 1998). yang kemudian menawarkan insentif yang kuat untuk meratifikasi perjanjian internasional kepada pemerintah-pemerintah hanya untuk menciptakan image publik yang penuh kepura-puraan (window dressing) ketimbang sebagai suatu komitmen yang serius untuk melaksanakan praktik penghormatan terhadap hak asasi manusia. perjanjian hak asasi manusia internasional memang memiliki suatu mekanisme institusional yang lemah untuk memonitor dan menegakkan norma-norma rejim. 4 • Th.5 Di bagian berikutnya. maka pemerintah seringkali menjadi lebih represif setelah melakukan ratifikasi. Dengan demikian. Oleh karenanya. Di satu sisi. yang tidak satu pun menjelaskan tentang kedua proses tersebut dalam satu model yang sama dan oleh karenanya gagal untuk menjelaskan dampak yang bersifat bertentangan dari institusi-institusi hak asasi manusia global atas praktik-praktik lokal. dan rejim hukum hak asasi manusia tetap tidak memiliki kekuasaan lebih untuk menghentikan hal tersebut. maka komitmen institusional yang “kosong” atas rejim yang lemah tersebut justru terlihat ironis.

hukum internasional adalah bersifat epiphenomenal [suatu fenomena yang muncul sebagai akibat dari suatu hal yang lain] bagi kekuasaan negara: sehingga tunduknya negara pada kewajiban hukum mereka untuk melindungi hak asasi manusia hanya merupakan suatu kebetulan belaka.6 Secara menyeluruh. kepentingan nasional. (2001) memeriksa dampak masuknya ekonomi asing pada perilaku represif pemerintah dengan menggunakan sample 43 negara-bangsa dalam jangka waktu 1981–1995. dan hanya ada sedikit harapan bahwa perjanjian ini dapat mengubah perilaku negara. Kebanyakan ilmuwan politik menekankan pada peran negara. 73 . Bagi beberapa negara. 4 • Th. dan bebas dari pelanggaran lain yang disengaja atas hak untuk hidup dan kebebasan seseorang. kami menekankan pada bagaimana kekuatan global telah membentuk perilaku represif pemerintah pada hak asasi manusia yang paling mendasar: yaitu hak atas keamanan. dengan argumentasi bahwa pemerintah tunduk pada hukum internasional hanya ketika hukum tersebut sesuai dengan kepentingan nasionalnya. lihat HafnerBurton (2005). dan posisi tawar-menawar di tingkat JURNAL HAM • Vol. penyiksaan. terutama ketika perjanjian ini tidak memiliki mekanisme penegakan (HafnerBurton dalam cetakan). Kemudian. Richards dkk. Apodaca (2001) menguji hipotesis tentang dampak globalisasi ekonomi pada periode 1990–1996. bebas dari penghilangan atau penahanan yang tidak sesuai dengan hukum. Kami mendiskusikan bagaimana pendekatan kami dapat menjelaskan dinamika ketaatan terhadap perjanjian-perjanjian hak asasi manusia internasional yang diinterpretasikan dengan dua cara (bersifat double-edge) dengan lebih baik. 2007 domestik. yaitu mulai periode 1976 sampai 1999. Perilaku negara dimotivasi oleh kepentingan-pribadi mereka.7 TEORI-TEORI Dibagian ini kami membandingkan perspektif-perspektif teoritis yang saling bertentangan mengenai ketaatan terhadap hukum internasional. tidak manusiawi. rejim hukum internasional dapat mempengaruhi perilaku negara dalam beberapa hal penting: rejim memfasilitasi kerja sama antar negara-negara berdaulat dengan meyediakan suatu mekanisme koordinasi dan mekanisme komitmen yang mengidentifikasi kewajiban negara 6 Kami mencatat bahwa beberapa kajian terbaru mencakup data di masa pasca Perang Dingin.kami dengan menggunakan analisa periode waktu praktik hak asasi manusia dengan jangka waktu panjang yang berbeda dari pekerjaan-pekerjaan yang pernah dilakukan sebelumnya. Misalnya. Teori-teori tentang Ketaatan secara Umum dalam Hubungan Internasional dan Hukum Internasional Pertanyaan tentang apakah hukum hak asasi manusia internasional mempengaruhi praktik hak asasi manusia pemerintah mengandung suatu pertanyaan politik yang lebih dalam mengenai ketaatan negara terhadap rejim hak asasi manusia internasional. dan kami meninjau kontribusi kajian empiris lintas-negara yang ada tentang hak asasi manusia untuk mengidentifikasikan variabel kontrol bagi analisa empiris kami. atau merendahkan martabat manusia. Untuk pertama kalinya. data kami memungkinkan dilakukan penyelidikan yang menyeluruh atas politik hak asasi manusia di negara-negara pasca Perang Dingin dan adanya dasar untuk analisa komparatif terhadap perilaku represi pemerintah di berbagai masa. 7 Kami menekankan pada hak-hak ini karena hakhak ini sangat mendasar bagi martabat manusia – hak untuk bebas dari pembunuhan. Bagi yang lain. Perjanjian hak asasi manusia internasional hanyalah sekedar sarana yang diciptakan oleh negara-negara liberal yang berkuasa untuk memajukan kepentingan mereka. dan kepentingan ini ditentukan oleh struktur kekuasaan dalam sistem internasional (Waltz 1979). Untuk lebih lanjutnya. atau perlakuan atau penghukuman yang kejam.

Perjanjian hak asasi manusia internasional merupakan institusi yang dihasilkan dari permainan tawar-menawar kolektif semacam itu (Moravcsik 2000). 1996). Karena konfigurasi kepentingan dan kekuasaan politik di dalam dan di seputar negara berubah seiring waktu. Namun demikian. Pendekatan pengarusutamaan seperti ini dalam hubungan internasional menekankan pada kekuasaan dan kepentingan sebagai faktor pendorong negara untuk me- ratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional dan menganggap bahwa ratifikasi tersebut hanya akan berdampak sedikit terhadap praktik-praktik hak asasi manusia. Oleh karenanya. 2007 . walaupun pemerintah tersebut sebenarnya tidak memiliki keinginan ataupun kapasitas untuk melaksanakan kewajiban berdasarkan perjanjian hak asasi manusia internasional tersebut (HafnerBurton. kami melihat bahwa kesenjangan antara ratifikasi dan perilaku untuk melaksanakan perjanjian hak asasi manusia internasional disebabkan karena adanya insentif bagi pemerintah yang meratifikasi perjanjian tersebut.serta menyediakan suatu sarana untuk penegakan kewajiban tersebut. baik secara langsung maupun tidak langsung. Tsutsui. 4 • Th. dan Meyer 2004). yang oleh karenanya sulit untuk diperkirakan sebelumnya. Walaupun pendekatan ini tidak pernah diuji secara sistematis. rejim hak asasi manusia tidak dirancang untuk menyediakan sarana institusional yang kuat bagi anggotanya untuk menegakkan ketaatan terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional. walaupun rejim hak asasi manusia internasional dapat mendorong kerja sama antarnegara dan membatasi perilaku represif pemerintah terhadap hak asasi manusia. kami berargumen bahwa persoalan utama dalam pendekatan ini adalah bahwa pendekatan ini tidak melihat dampak positif dari institusionalisasi rejim hak asasi manusia internasional terhadap praktik-praktik di tingkat lokal yang bekerja bukan melalui sistem perjanjian namun melalui aktor-aktor nonpemerintah. namun jumlah negara yang menyatakan komitmennya pada institusi semacam itu tetap harus dibatasi. Negara-negara mengetahui tentang kekurangan ini. pendekatan ini sepenuhnya mengabaikan aktor-aktor nonpemerintah dan menghasilkan penjelasan yang bersifat 8 Lihat Hafner-Burton dalam cetakan. Namun demikian. Pihak lain juga menyatakan bahwa ketaatan negara pada hukum internasional adalah suatu fungsi dari preferensi negara yang ditentukan oleh posisi tawar-menawar politik di tingkat domestik: institusi politik dan aktor negara menentukan apakah pemerintah dapat menyatakan komitmennya pada hukum internasional dan apakah negara dapat tunduk pada komitmen tersebut dalam jangka waktu panjang (Moravcsik 1997). Oleh karenanya. dan para pemimpin pemerintahan menyadari bahwa rejim tersebut lemah serta bahwa berbagai badan monitoring tidak memiliki alat untuk menegakkan hukumnya (Cleveland 2001). Downs dkk. negara-negara hanya bergabung dengan dan tunduk pada rejim ketika hal tersebut sesuai dengan kepentingan rasional mereka (Keohane 1984. dan ketaatan pada rejim akan sangat tergantung pada rancangan rejim tersebut. kami menganggap bahwa argumentasi kelompok rasionalis mengenai dampak langsung ratifikasi tetap memiliki nilai yang berarti. Memang. 74 JURNAL HAM • Vol. Apakah negara sungguh-sungguh menaati komitmen mereka pada perjanjian ini tergantung pada mobilisasi para aktor di tingkat domestik yang mendukung ketaatan terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional.8 Sebagaimana argumentasi kami di bawah ini. maka ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional tidak dapat selalu diterjemahkan sebagai ketaatan terhadap perjanjian tersebut.

dimensi normatif dan budaya politik internasional telah semakin menarik perhatian ilmu-ilmu sosial. 4 • Th. menyatakan bahwa ada tiga alasan untuk mengharapkan ketaatan negara pada perjanjian internasional. Young 1979). Karena pemerintah hanya meratifikasi perjanjian ketika hal tersebut sesuai dengan kepentingan nasionalnya. Para ilmuwan konstruksivionis hak asasi manusia menekankan pada caracara di mana organisasi internasional dapat mensosialisasikan atau mengajarkan negara-negara agar menerima tujuan dan nilai-nilai yang tertanam dalam hukum internasional. Berangkat dari asumsi utama mereka bahwa kepentingan negara didefinisikan dalam konteks norma-norma internasional yang dipegang oleh negara tersebut – yaitu norma-norma yang seringkali tertanam dalam hukum internasional dan dilaksanakan oleh pemerintah serta aktoraktor nonpemerintah – maka para konstruktivionis berpendapat bahwa negaranegara tunduk pada hukum internasional ketika para elit pemerintahan dapat belajar menerima dan memasukkan norma-norma dan nilai-nilai bersama yang membentuk kehidupan politik internasional (Finnemore 1996a. organisasi yang tidak aktif tersebut menyebabkan penaatan menjadi lebih tidak mahal dan menjadi pilihan yang lebih menarik karena ketika tidak ada alasan-alasan yang JURNAL HAM • Vol. Pertama. Keck dan Sikkink 1998. Sebagaimana orang-orang cenderung mengikuti hukum ketika tidak ada insentif untuk melakukan sebaliknya. Berangkat baik dari pendekatan rasionalis maupun pendekatan masyarakat dunia. kecenderungan global yang diringkas dalam diagram 1 berlawanan dengan argumentasi-argumentasi tersebut. Risse dkk. yang disajikan oleh Chayes dan Chayes (1995). Suatu aliran teori yang disebut sebagai neo-institusionalisme dalam sosiologi telah mempengaruhi kecen- 75 . tetapi juga mensosialisasikan negara-negara agar menerima norma dan nilai-nilai baru seperti hak asasi manusia yang diabadikan dalam hukum internasional di masa ini. untuk pertama kalinya. Pendekatan teoritis lain dalam literatur yang relevan membuat asumsi-asumsi yang berbeda. mereka cenderung tunduk pada perjanjian yang mereka pilih. kami mengusulkan suatu argumentasi sosiologis yang membedakan antara sistem perjanjian dan aktor nonpemerintah guna menjelaskan dinamika ketaatan pada perjanjian hak asasi manusia yang bersifat kompleks. perjanjian internasional merupakan hasil negosiasi komprehensif yang mencerminkan kepentingan nasional negara-negara anggota. karena mereka gagal untuk menguraikan dua dimensi utama dari dinamika dari ketaatan terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional – yaitu. sistem perjanjian formal dan kegiatan aktor nonpemerintah. 1999). berbagai dampak normatif hukum terhadap individu yang terdokumentasi dengan baik dapat diterapkan terhadap perilaku pemerintahan di tingkat nasional (Kratochwill 1989. Organisasi internasional tidak hanya membatasi perilaku negara melalui sanksisanksi hukum yang diterapkan oleh hukum internasional. di mana hal ini mencerminkan proses tawar-menawar di tingkat domestik. maka negara-negara cenderung tunduk pada perjanjian hak asasi manusia internasional ketika tidak ada hambatan yang signifikan bagi penaatan tersebut. Kedua.sangat pesimistis tentang dampak rejim hak asasi manusia. 2007 kuat untuk tidak tunduk pada rejim tersebut. Akhirnya. Salah satu model hukum yang paling berpengaruh saat ini. Para ilmuwan hukum internasional seringkali mengira bahwa negara-negara cenderung menaati komitmen mereka atas perjanjian internasional. Pendekatan Masyarakat Dunia Pada satu atau dua dekade terakhir ini. Sejauh ini.

dan normatif dari realita organisasional (Meyer dan Rowan 1977. Scott 2000). penelitian tentang diseminasi kurikulum sekolah (Meyer dkk. dkk. Berkovitch 1999. 1992). literatur menunjukkan kemungkinan terjadinya pemisahan antara kebijakan dan praktik. Kecenderungan semakin meningkatnya tindakan bersatunya negara-negara dari arah yang berbeda-beda atas dasar struktur domestik yang sama ini seiring dengan semakin meningkatnya integrasi negaranegara ke dalam suatu masyarakat internasional. seringkali disebut sebagai pendekatan masyarakat dunia atau perspektif politik dunia. Penerapan pendekatan ini dalam pengkajian tentang proses politik internasional. pendekatan masyarakat dunia beranggapan bahwa keputusan untuk meratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional seringkali hanya merupakan sikap simbolis guna menunjukkan bahwa pemerintah bukanlah aktor yang menyimpang. dan penelitian tentang ekspansi rejim lingkungan hidup di tingkat global (Meyer. pendekatan neo-institusionalisme mengacu pada suatu pendekatan teoritis yang memberikan perhatian khusus terhadap dimensi kognitif. penelitian tentang penyebaranluasan pemberian hak suara kepada perempuan. Jacobson 1998. 1987. 1997). Katzenstein 1996. pendekatan teoritis ini telah mempengaruhi banyak bidang dalam penelitian ilmiah sosial (Thomas dkk. Sebagaimana para peneliti kemudian berusaha mengembangkan upaya yang dipelopori oleh Meyer dan Rowan (1977). dkk. budaya. Karena kemudian banyak pemerintah yang mengorganisir dan merestrukturisasi politik nasionalnya di seputar model global dan standar perilaku yang selayaknya. Frank. dan bahwa ratifikasi tersebut tidak sepenuhnya mengarah JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. Boli dan Thomas 1999). Sementara prediksi hasil yang bersifat isomorphic ini seringkali terbatas pada bentuk organisasional dan adopsi kebijakan. Boli. Krasner 1999). Meyer. Boli dan Thomas 1999). dkk. Elemen utama pendekatan ini adalah legitimasi. maka semakin banyak pula negara-negara yang sama-sama menerapkan struktur politik dan sosial yang memiliki tampilan yang sama namun asalnya berbeda [bersifat isomorphic] (atau yang menyatukan diri dari asal yang berbeda-beda) pada berkesesuaian dengan model internasional (McNeely 1995. 2007 76 . Meyer. penelitian tentang gelombang dekolonisasi. Brunsson 1989. Meyer dan Scoot 1992. Finnemore 1996b.derungan tersebut. Soysal 1994. Boli. mempunyai pengaruh tersendiri. Penelitian-penelitian semacam ini menjelaskan tentang bagaimana standar global dan model-model yang telah ada dan diterima begitu saja membatasi politik nasional. Powell dan DiMaggio 1991. yaitu bahwa perubahan kebijakan formal seringkali bersifat nominal dan tidak memiliki dampak yang diharapkan pada praktik nyata (Meyer dan Rowan 1977. Berkembang dari kajian organisasional. Dalam hal ratifikasi perjanjian-perjanjian internasional. 1997. Argumentasi utamanya adalah bahwa model dan norma yang terinstitusionalisasi di tingkat global mendapatkan status yang diinginkannya setelah jangka waktu tertentu dan mempengaruhi pembuat kebijakan di tingkat nasional. Institusionalisasi semacam ini cenderung mengurangi adanya keragaman dalam organisasi karena kebanyakan dari mereka tunduk pada standar-standar yang telah diterima. Pendekatan ini menantang asumsi rasionalitas tujuan perilaku organisasional dan berargumentasi bahwa organisasi secara rutin mengikuti model dan standar yang telah ada apa pun kebutuhan fungsionalnya. 1997). Meyer dkk. karena organisasi membuat naskah yang memuat elemen-elemen standar yang dianggap sah di lingkungannya. 1992. Beberapa topik dari penelitianpenelitian pendekatan ini antara lain.

77 . 1996. Dengan demikian terbentuk suatu dasar yang kuat atas apa yang disebut sebagai “pemisahan (decoupling) yang radikal”. Dari waktu ke waktu. elit yang berkuasa mungkin meratifikasi suatu perjanjian untuk memperoleh legitimasi di masyarakat internasional. legitimasi negara tanpa adanya penegakan – dapat mengarahkan pemerintah untuk menggunakan hukum internasional sebagai tameng bagi semakin meningkatnya perilaku kekerasan di tingkat domestik. 2007 komite PBB yang memberikan pelaporan formal dan melakukan fungsi monitoring. Dalam upaya menjelaskan dinamika penaatan yang bersifat tidak konsisten ini. rejim hak asasi manusia internasional telah membuktikan bahwa rejim ini semakin kompeten dalam menyediakan instrumen-instrumen yang dibutuhkan guna mengumpulkan dan bertukar informasi tentang pelanggaran hak asasi manusia. penelitian dalam pendekatan masyarakat dunia telah cenderung menekankan pada proses pemisahan ini. Selama beberapa tahun ini. Kami berargumen bahwa perjanjian hak asasi manusia internasional tidak cukup memiliki mekanisme penegakan yang dapat memberikan insentif bagi pemerintahpemerintah agar tidak menyimpang dari kebijakan mereka untuk berkomitmen pada perjanjian-perjanjian tersebut (Hathaway 2002. dan untuk meyakinkan pemerintah serta pelaku pelanggaran bahwa hukum yang memberikan perlindungan bagi hak asasi manusia cukup untuk membatasi perilaku negara-bangsa sehingga oleh karenanya hukum tersebut harus dihormati.pada praktik-praktik ketaatan pada perjanjian tersebut. tusional dan hal-hal yang terjadi secara kebetulan dalam sejarah politik hak asasi manusia global. maka pemerintah-pemerintah akan cenderung meratifikasi tanpa adanya keinginan dan kapasitas untuk tunduk pada ketentuan-ketentuan dalam perjanjian hak asasi manusia internasional.9 9 Perjanjian-perjanjian utama melengkapi komite- ARGUMENTASI Pertama. untuk menyediakan suatu forum guna pertukaran informasi berkaitan dengan pelanggaran hak asasi manusia. Tsutsui dan Wotipka 2001). Dengan kata lain. tindakan ratifikasi suatu perjanjian seringkali tidak seiring dengan praktik yang relevan. kami memperluas konsep pemisahan (decoupling) kepada proses instiJURNAL HAM • Vol. yang oleh karenanya semakin meningkatkan kemungkinan terjadinya pemisahan sebagaimana disebutkan di atas. rejim hak asasi manusia dibuat untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasi hak-hak mana yang sah di tingkat global. Ketika legitimasi suatu perjanjian mengalami perkembangan sampai pada suatu tingkat di mana negaranegara yang tidak meratifikasi terlihat sebagai sesuatu yang menyimpang dari kebiasaan yang normal. dengan hanya melakukan sedikit upaya untuk menyesuaikan perilaku mereka dengan ketentuanketentuan dalam perjanjian tersebut. Seperti halnya pendekatan nasional dalam hubungan internasional. terutama ketika perjanjian tersebut tidak memiliki mekanisme penegakan yang efektif dan pemerintah nasional dibiarkan begitu saja untuk melaksanakan perjanjian tersebut di tingkat domestik – ini merupakan hal yang pada umumnya terjadi dalam kebanyakan perjanjian internasional. kedua sifat rejim ini – yaitu. yang menggarisbawahi kurangnya dampak dari model global terhadap praktik nyata. serta untuk mendiseminasikan informasi tersebut di tingkat global. Downs dkk. 4 • Th. Oleh karena itu. di mana perjanjian-perjanjian memiliki dampak yang terbalik dengan apa yang diinginkan sebelumnya. Pada dasarnya. kami memperluas pendekatan ini pada kajian hak asasi manusia dan membuat dua prediksi utama.

sebagaimana akan kami bahas di bawah ini. Ratifikasi atas perjanjian hak asasi manusia internasional mengarah pada kemungkinan adanya hubungan yang negatif antara kebijakan dan praktik. Dalam analisa data antarbangsa. Yang terbaik yang dapat dilakukan adalah bahwa instrumen hukum dari rejim ini dapat mempengaruhi praktik-praktik secara langsung dengan memberikan informasi kepada negara-negara yang represif agar termotivasi untuk mengadopsi normanorma baru agar berperilaku lebih baik (Hafner-Burton dalam cetakan). telah ditempatkan pada posisi mendukung perjanjian hak asasi manusia (Lauren 1998). Praktik-praktik yang bersifat represif ini semakin diperburuk setelah ratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional. Perjanjianperjanjian tidak menawarkan adanya kompensasi materi. hukum. Kemungkinan proses pemisahan yang radikal ini membawa kita pada dua dampak yang dapat diamati: ratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional akan memiliki baik (1) dampak positif terhadap 10 Beberapa kajian empiris digunakan untuk mendu- kung bukti-bukti argumentasi ini. Camp Keith (1999) menemukan bahwa tidak terdapat hubungan antara ratifikasi ICCPR dengan praktik-praktik hak asasi manusia. yang dipersenjatai dengan banyak informasi bahwa komitmen mereka terhadap rejim tidak akan mengarah pada penegakan yang serius tetapi justru memberikan mereka legitimasi di mata negara-negara lain. dan sementara itu. 4 • Th. Banyak pemerintah yang menyatakan dukungan mereka terhadap ide-ide hak asasi manusia. 2007 78 . Permasalahan dalam upaya penegakan ini semakin diperkuat oleh kenyataan historis bahwa kebanyakan perjanjian hak asasi manusia utama mulai diberlakukan pada saat Perang Dingin. dan perjanjian-perjanjian ini juga tidak dapat menghukum pelaku pelanggaran secara langsung dengan melakukan penahanan atas barang-barang berharga.10 Pemerintah-pemerintah. dan secara retoris. rejim ini tidak memberikan suatu mekanisme penegakan formal guna menyediakan atau mengacaukan pertukaran informasi yang berharga dengan negara target (Cottier 2002. maka kesenjangan antara kebijakan dan praktik ini telah mengarah pada proses pemisahan yang semakin gawat dan radikal. bentuk pengaruh yang langsung ini bersifat lemah dan seringkali tidak efektif. JURNAL HAM • Vol. Namun. Goodman dan Jinks dalam cetakan). di samping kapasitas penyebarluasan informasi tersebut. baik dengan mengkritik kekuatan-kekuatan poros dalam Perang Dunia II atau dengan memperjuangkan kemerdekaan dari pihak penjajah. yaitu suatu masa di mana banyak pemerintahan menganggap ratifikasi terhadap perjanjian semacam ini hanya sebagai suatu hal politik yang tidak signifikan.Namun. Oleh karena itu. rejim hak asasi manusia internasional sebenarnya telah memberikan kesempatan bagi pemerintah untuk mendapatkan legitimasi internasional dengan mendukung prinsip-prinsip hak asasi manusia tanpa benar-benar melaksanakan praktik-praktik hak asasi manusia di negaranya (Mullerson 1997). rejim perjanjian hak asasi manusia internasional tidak berdaya untuk mengubahnya. dan Hathaway (2002) melaporkan suatu dampak negatif dari ratifikasi perjanjian atas praktikpraktik hak asasi manusia pemerintah di beberapa contoh. sekarang bebas untuk menyembunyikan praktik-praktik hak asasi manusia domestiknya di belakang hukum internasional. Dengan semakin bertambahnya jumlah negara yang mendapatkan keuntungan dari legitimasi atas ratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional namun gagal untuk memenuhi komitmennya. yang berada di bawah payung suatu kekuatan superpower yang mungkin membela atau mengabaikan kebijakan domestik mereka berkaitan dengan hak asasi manusia. maupun politik atas praktik-praktik hak asasi manusia yang lebih baik.

hal. Kedua. mempublikasikan kasus-kasus penghilangan paksa yang dilakukan oleh pemerintahnya (Clarck 2001. para aktivis Chili. Proses ini dibantu oleh kegiatankegiatan aktor nonpemerintah. namun rejim perjanjian itu sendiri bukan merupakan penyebab perilaku tersebut. dengan bantuan Amnesty International dan kelompok-kelompok lainnya. 73-74). Misalnya. dan kelompok-kelompok hak asasi manusia di Indonesia bertukar informasi dengan International Commission of Jurists dan organisasi-organisasi internasional lainnya dalam mengkampanyekan pembebasan para tahanan politik (Jetschke 1999. Keck dan Sikkink 1998. Semakin banyaknya jumlah negara yang meratifikasi perjanjian hak asasi manusia. bagi pemerintah di tingkat nasional untuk menganggap tuduhan atas pelanggaran hak asasi manusia hanya seba- 79 . karena pemerintah yang represif meratifikasi lebih banyak lagi perjanjian hak asasi manusia internasional dan semakin melakukan pelanggaran hak asasi manusia di mana rejim perjanjian hak asasi manusia tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan hal tersebut. maka ide-ide yang dikodifikasi dalam perjanjian-perjanjian ini telah mendapatkan status yang bersifat biasa (taken-for-granted) dalam politik global. semakin meningkat dan meluasnya komitmen negaranegara pada rejim hak asasi manusia global telah mengarah pada meningkatnya prinsip-prinsip hak asasi manusia yang pada saat yang sama mengubah perilaku pemerintah melalui upaya-upaya penekanan secara normatif. janji kosong ini seringkali tidak konsisten. menurut kami. jika tidak dimungkinkan. yang bekerja melalui organisasi nonpemerintah internasional yang menyebarluaskan dan memajukan prinsip-prinsip hak asasi maJURNAL HAM • Vol. seperti Amnesty International dan Human Rights Watch. menjadi semakin tidak layak. Dalam lingkungan politik global baru yang dicirikan oleh semakin meningkatnya kesadaran akan prinsip-prinsip hak asasi manusia. Pertama. 2007 nusia di tingkat global (Tsutsui dan Wotipka 2004). aktif dalam mempublikasikan pelanggaran hak asasi manusia guna menekan pemerintah yang represif. Legitimasi prinsip hak asasi manusia yang semakin berkembang ini membawa dua akibat. Tsutsui 2004). semakin banyak organisasi nonpemerintah internasional menggunakan norma-norma hak asasi manusia global sebagai alat untuk melakukan lobi dan menekan pemerintah di tingkat nasional agar memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia mereka (Ron 1997. hal. 4 • Th. Dampak negatif ini dapat bersifat langsung – yaitu ketika pemerintah secara sengaja menggunakan komitmennya terhadap rejim perjanjian hak asasi manusia internasional sebagai tameng bagi praktik-praktik hak asasi manusia mereka yang semakin memburuk dari pemeriksaan yang cermat dunia internasional – atau secara tidak langsung – yaitu ketika rejim perjanjian hak asasi manusia internasional tidak memiliki kapasitas untuk menghentikan negara yang meratifikasi dari perilaku represif yang semakin meningkat. legitimasi prinsip-prinsip hak asasi manusia menyebabkan pemerintah yang menjadi target rentan terhadap rasa malu yang mungkin timbul dan kehilangan legitimasi dalam masyarakat internasional sebagai hasil dari ketidaktaatannya pada hukum hak asasi manusia internasional. Organisasi nonpemerintah internasional. 140-141). Walaupun terdapat kesenjangan institusional antara perjanjian hak asasi manusia dengan insentif bagi pemerintah-pemerintah untuk tunduk pada perjanjian tersebut. Kelompokkelompok di tingkat domestik juga meminta pertolongan aktor-aktor eksternal untuk mempublikasikan pelanggaran yang terjadi di negaranya.praktik-praktik domestik atau (2) dampak negatif. Kedua.

tetapi hubungan suatu negara dengan masyarakat sipil internasional (melalui keanggotaan dalam organisasi nonpemerintah internasional) dapat mempengaruhi pemerintah untuk memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusianya. masyarakat sipil menyediakan mekanisme penegakan yang tidak dimiliki oleh perjanjian hak asasi manusia internasional. negara-negara yang lebih melekat pada masyarakat sipil internasional (misalnya. [1912] 1995). kami berpendapat bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia mungkin bisa tidak memiliki dampak yang signifikan atau pun memiliki dampak negatif terhadap praktik-praktik hak asasi manusia. Keck dan Sikkink 1998). Ratifikasi pemerintah terhadap hukum internasional tidak cukup untuk memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia. kami memgunakan pemahaman dari institusionalisasi rasional dalam hukum internasional dan pendekatan masyarakat dunia dalam sosiologi. sehingga menyebabkan terjadinya pemisahan yang radikal antara kebijakan dan praktik. (2) meningkatnya legitimasi prinsip-prinsip hak asasi manusia yang ditawarkan oleh masyarakat sipil internasional telah memberikan tekanan pada pemerintah-pemerintah agar memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia baik apakah mereka telah meratifikasi perjanjian hak asasi manusia atau pun tidak. 1999. serta dalam jangka waktu pendek seringkali memperburuk pelanggaran hak asasi manusia. negara yang memiliki jumlah keanggotaan dalam lebih banyak organisasi nonpemerintah internasional) akan lebih menghormati hak asasi manusia masyarakatnya. Ritual.11 Kesimpulannya. dan norma-norma bersama pada umumnya mendasari kegiatan orang-orang dan kelompok-kelompok orang. 4 • Th. Jika suatu negara memiliki hubungan yang erat dengan masyarakat sipil global. Aktor-aktor di tingkat domestik dalam negara yang memiliki hubungan erat dengan masyakat sipil global tersebut cenderung memiliki kesadaran lebih atas hakhak yang mereka miliki dan akan sangat mungkin menemukan cara-cara untuk mempublikasikan persoalan-persoalan mereka serta menekan pemerintahnya agar menangani persoalan-persoalan tersebut. 2007 . Dengan demikian. maka aktor nonpemerintah internasional akan sangat mungkin dapat mengetahui dan melaporkan pelanggaran yang terjadi dalam negara tersebut. publisitas yang buruk yang dilakukan oleh aktor nonpemerintah seringkali memaksa pemerintah untuk menangani persoalan-persoalan hak asasi domestik mereka (Risse dkk. tetapi secara bertentangan. Untuk memastikannya. Tema ini digunakan dan ditekankan dalam pekerjaan Randall Collins (1992). Dengan demikian. sebagai akibatnya. Proses utamanya adalah tema utama yang dikemukakan oleh Durkheim ([1985] 1982. hubungan negara dengan masyarakat internasional memiliki dampak positif.gai intervensi terhadap persoalan domestik mereka. Namun. Dengan demikian. dan masyarakat sipil seringkali dapat menekan semakin banyak pemerintahan yang rentan agar tunduk pada rejim hak asasi manusia internasional. 80 JURNAL HAM • Vol. tanpa mempertimbangkan apakah mereka secara individual menyepakati prinsip-prinsip yang tercakup di dalamnya. tradisi. Kami berargumen bahwa perluasan rejim hak asasi manusia internasional telah menciptakan suatu konteks global di mana (1) pemerintah mungkin meratifikasi perjanjianperjanjian hak asasi manusia walaupun mereka tidak siap untuk tunduk pada ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. Walaupun sulit bagi badan-badan internasional untuk melakukan penuntutan hukum terhadap pelanggaran di tingkat domestik. kami sepakat dengan pengarusutamaan teori hubungan internasional bahwa perjanjian memiliki 11 Patut dicatat bahwa dampak dari masyarakat sipil internasional terjadi di banyak negara baik apakah pemerintahnya telah meratifikasi perjanjian hak asasi manusia atau belum.

– Berbagai kajian menemukan bahwa demokrasi sangat kecil kemungkinannya melakukan pelanggaran hak asasi manusia ketimbang otokrasi. hal. Sejumlah kajian berikutnya juga menegaskan variasi dari prediksi-prediksi tersebut. 478) menawarkan suatu “tesis kemiskinan yang sederhana”. ngunan ekonomi. namun demikian. Faktor-faktor politik. Kami tidak sepakat dengan argumentasi konstruktivis dan hukum internasional. Dalam perekonomian maju di mana hanya sedikit orang yang merasa diperlakukan tidak adil. argumentasi kami berbeda dari pengarusutamaan teori hubungan internasional karena kami memprediksikan bahwa ratifikasi akan seringkali diamati memiliki dampak negatif dengan praktik-praktik hak asasi manusia dan meningkatkan perilaku represif. 1999. Poe dan Tate 1994. kajian-kajian komparatif ini menunjukkan keragaman faktor-faktor yang diperlukan untuk menjelaskan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh pemerintah. Faktor-faktor ini kemudian kami sertakan dalam analisis empiris yang dijelaskan di bagian berikut ini. yang menunjukkan dampak positif demokrasi terhadap praktik hak asasi Teori-teori Praktik Hak Asasi Manusia Dalam beberapa dekade terakhir. karena kami membedakan dua dimensi dari rejim hak asasi manusia internasional yang dibaurkan dalam tulisan ini – sistem perjanjian dan hubungan dengan organisasi nonpemerintah internasional – dan prediksi bahwa sistem perjanjian tidak memiliki dampak atau memiliki dampak negatif serta organisasi nonpemerintah internasional memiliki dampak positif. Henderson (1991) juga menyatakan bahwa pemerintahan yang demokratis akan lebih responsif terhadap warga negaranya ketimbang pemerintahan yang otoriter. dan Camp Keith (1999). yang dalam banyak kasus mendorong pemerintah-pemerintah untuk melakukan represi politik. praktik-praktik tersebut dipengaruhi secara positif oleh hubungan dengan masyarakat internasional. Pritchard 1989). 2007 81 . – Banyak pengkajian tentang praktik-praktik hak asasi manusia mengkaji tentang dampak pembaJURNAL HAM • Vol.mekanisme penegakan institusional yang lemah dan oleh karenanya tidak mungkin memiliki dampak positif terhadap perilaku hak asasi manusia. yang mengurangi kemungkinan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia (Henderson 1991). telah muncul beberapa kajian komparatif yang melihat banyak faktor yang membentuk praktik-praktik hak asasi manusia di tingkat lokal. para ilmuwan ini berargumen bahwa negara-negara demokratis akan lebih kecil kemungkinannya merepresi hak asasi manusia. Park 1987. dan oleh karenanya akan lebih mengakomodir permintaan warga negaranya tanpa konflik kekerasan. serta Howard dan Donelly (1986) bersikeras bahwa perlindungan hak asasi manusia membutuhkan suatu rejim negara yang liberal yang menghormati “konsepsi substantif dari martabat manusia”. Dari kajian seminal McKinlay dan Cohan (1975) dan Strouse dan Claude (1976) sampai analisa periode-waktu kolektif yang rumit dari Poe. Tate. Jeane Kirkpatrick (1979) berargumen bahwa rejim totalitarian kiri lebih mungkin melakukan pelanggaran hak asasi manusia karena mereka hampir memiliki kontrol penuh atas kehidupan warga negaranya. Poe dkk. Namun. Faktor-faktor ekonomi. stabilitas politik seringkali lebih mudah dicapai. Mitchell dan McCormick (1988. Walaupun terdapat banyak variasi analisis. yaitu suatu pandangan yang diterima secara umum bahwa kurangnya sumber daya ekonomi merupakan dasar subur bagi konflik politik. Hipotesis ini memperoleh dukungan dalam beberapa kajian tambahan (Mitchell dan McCormick 1988. 4 • Th.

Dalam analisa pemeriksaan datanya. Faktor-faktor demografi. Perusahaan multinasional juga secara tidak langsung memperbaiki hak politik sebab perusahaan multinasional mendorong perluasan kelas menengah masyaraJURNAL HAM • Vol. pemerintah akan lebih mungkin menerapkan kontrol yang kuat terhadap warga negaranya dan oleh karenanya akan lebih mudah menggunakan kekuatan untuk mempertahankan kekuasaan domestiknya (Poe dan Tate 1994. negara-negara dengan tingkat populasi yang lebih besar lebih mungkin melanggar hak asasi manusia (Poe dan Tate 1994. Kajian-kajian berikutnya melaporkan bahwa besarnya populasi juga mempengaruhi represi politik. didorong oleh kepentingan ekonominya. Pada saat perang internasional. Stohl 1975). 2007 82 . lebih menginginkan adanya stabilitas politik di negara-negara berkembang dan oleh karenanya memperkuat rejim-rejim yang ada walaupun pada saat represi pemerintahan bersifat endemik (Chomsky dan Herman 1979). Perusahaan multinasional memiliki dampak langsung terhadap hak ekonomi dan sosial. Mitchell dan McCormick (1988) membuat hipotesa bahwa ekonomi yang terkait dengan Amerika Serikat dan negara kapitalis maju lainnya mendorong pelanggaran hak asasi manusia di negara-negara pinggiran (periphery). Analisa regresinya mendukung sebagian dari “tesis mesin pembangunan”. Ketika pemerintah negara berkembang di Dunia Ketiga menerima bantuan ekonomi dari negara kapitalis yang tujuan utamanya adalah untuk mempertahankan kondisi yang lebih menguntungkan bagi investasi. Pada saat perang sipil. Meyer (1996) memeriksa dampak perusahaan multinasional terhadap praktik-praktik hak asasi manusia. yang menyatakan bahwa perusahaan multinasional mendorong baik hak sosio-ekonomi maupun hak sipil dan politik. Mitchell dan McCormick (1988) memperkenalkan suatu argumentasi Marxis yang diambil dari argumentasi Chomsky dan Herman bahwa negara-negara kapitalis. – Sebagai tambahan dari faktor-faktor domestik tersebut. Ketika suatu negara mengalami peningkatan populasi yang cepat. Henderson (1993) berargumen bahwa tekanan populasi dapat mengarah pada tekanan terhadap sumber daya. mereka mendapatkan dukungan bagi hipotesa tersebut – yaitu bahwa sejumlah besar pemerintahan dengan catatan hak asasi manusia yang buruk ternyata tergantung secara ekonomi kepada negara-negara kapitalis. kurangnya sumber daya akan cepat menjadi masalah yang serius. yang oleh karenanya menekan pemerintah untuk menjadi otoritarian. Poe dkk 1999). Dua kajian terkemuka memeriksa tentang dampak faktorfaktor ekonomi ekternal terhadap hak asasi manusia. Poe dkk. Kajian awal menunjukkan bahwa ada hubungan yang kuat antara partisipasi negara dalam perang internasional dan peningkatan kekerasan politik di tingkat domestik (Rasler 1986. Faktor-faktor global. Poe dkk 1999). yang akan meningkatkan kemungkinan pemerintah menggunakan tindakan-tindakan represif. yaitu mendorong pembangunan dan oleh karenanya memperbaiki kualitas hidup. Berangkat dari analisa ini. – Akhirnya. pemerintah juga cenderung lebih koersif dalam mempertahankan kekuasaan mereka dari ancaman-ancaman internal terhadap negara. Beberapa kajian juga mengidentifikasi hubungan antara keterlibatan dalam perang dengan pelanggaran hak asasi manusia. kemungkinan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia meningkat. Berbeda dengan pendapat di atas. Poe dan Tate 1994.manusia (Mitchell dan McCormick 1988. para ilmuwan mengindentifikasi sejumlah kecil faktor global yang dapat mempengaruhi represi pemerintahan. 1999). 4 • Th.

4 • Th. Dari upaya-upaya penting tersebut kami mencoba untuk memahami penyebab domestik dan global dari perilaku represif pemerintah. kami mengembangkan data mereka guna mendorong perbandingan antara temuan-temuan kami tentang dampak perjanjian internasional terhadap penjelasan-penjelasan sebelumnya tentang perilaku represif pemerintah. ANALISA EMPIRIS Tujuan mendasar kami di bagian ini adalah untuk menguji hipotesis kami: Hipotesis 1. kami memperbaharui data periode-waktu yang bersifat lintas-negara ini dengan memasukkan periode Pasca Perang Dingin. yang memperingatkan para ilmuwan bahwa pandangan optimistis tentang peran perusahaan multinasional mungkin tidak terjustifikasi. Walaupun kami meminjam beberapa data dari Poe dan kawan-kawan. Bolyard. kami mengembangkan kajian klasik dari Poe. sambil secara berkesinambungan mengontrol kemungkinan bahwa ketaatan negara terhadap hukum internasional dapat saja beragam berdasarkan tipe negara yang berbeda-beda.kat kota yang stabil secara politik. Dengan melakukannya. Oleh karenanya. Tate. dan Camp Keith (1999) yang mencoba menjelaskan keragaman negara dalam perilaku represif pemerintah. – Ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia tidak memiliki dampak positif langsung terhadap ketaatan negara dalam praktik dan bahkan memiliki dampak negatif yang signifikan berkaitan dengan meningkatnya perilaku represif. yang oleh karenanya meningkatkan stabilitas dan toleransi politik dalam masyarakat yang lebih luas. 2007 Analisa Dalam rangka menentukan dampak hukum internasional dan institusi masyarakat sipil global terhadap praktik hak asasi manusia. dan Ippolito (1999) melaporkan temuan-temuan yang bertentangan dengan hal tersebut. maka sampel yang komprehensif dari para pengarang tersebut menawarkan suatu titik awal yang ideal bagi analisa empiris kami. Untuk menguji hipotesis tersebut. Kemudian. dengan menurunkan perilaku represif. tarnegara dan antarwaktu. Smith. Data-data ini memampukan kami untuk menilai dampak ratifikasi negara terhadap perjanjian hak asasi manusia di jangka waktu dan lingkup yang lebih luas ketimbang kajian-kajian sebelumnya. Karena baik ratifikasi negara terhadap perjanjian hak asasi manusia maupun perilaku represif negara terhadap hak asasi manusia beragam anJURNAL HAM • Vol. kami berupaya mengisi aspek utama politik global hak asasi manusia yang terlewatkan oleh semua literatur kuantitatif yang ada – yaitu pengaruh rejim global hak asasi manusia dan masyarakat sipil. kami mengembangkan suatu model tunggal proses pengumpulan data yang kami ukur berdasarkan analisa berikut ini dengan menggunakan ordered probit yang layak bagi struktur ordinal dari variabel dependen kami (Long 1997): Yit = a + ßY Yit-1 + ßP Zit + ßX Xit + µ it (1) Y adalah tingkat perilaku represif 83 . suatu kumpulan literatur kuantitatif penting yang semakin berkembang sangat bergantung pada kajian Poe dan kawan-kawan tersebut. – Hubungan dengan masyarakat sipil internasional memiliki dampak positif terhadap perilaku hak asasi manusia dari negara-negara. dan kami memperkenalkan variabel-variabel baru untuk mengukur partisipasi 153 negara dalam masyarakat internasional sejak 1976 sampai 1999. Hipotesis 2. Namun.

dalam model 1. keanggotaan dalam organisasi nonpemerintah internasional. sementara X adalah matriks dari semua faktor kontrol lainnya yang digunakan oleh para ilmuwan sebelum kami mengenai pengaruhi perilaku represif terhadap hak asasi manusia. demokrasi. ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia. ßS adalah matriks pengukuran parameter. Kami mempertimbangkan dua kelompok variabel sustantif utama untuk menguji teori kami. Kami mengontrol faktor-faktor lain yang dipercayai oleh kebanyakan ilmuwan hak asasi manusia membentuk perilaku represif pemerintah guna memahami apakah perjanjian hak asasi manusia internasional. persamaan (equation) 1 menegaskan bahwa represi terhadap hak asasi manusia bagi setiap negara di setiap tahun pengamatan merupakan suatu fungsi tentang pengalaman masa lalu negara tersebut berkaitan dengan represi. dan matriks-X mencakup GDP(log). suatu intercept term. 4 • Th. i dan t adalah tulisan di bawah garis (subscript) yang mewakili negara dan tahun pengamatan. Dengan demikian. a adalah intercept term. kami membagi atau memisahkan variabel kompleks ratifikasi terhadap perjanjian oleh negara sebagaimana yang dilaporkan di model 1 menjadi beberapa komponen variabel yang baru dan menganalisa apakah ratifikasi negara terhadap enam perjanjian inti PBB mempengaruhi ketaatJURNAL HAM • Vol. matriks-Z mencakup ratifikasi negara terhadap perjanjian dan keanggotaan dalam organisasi nonpemerintah internasional. 2007 84 . suatu serial variabel kontrol. perdagangan. Kami memulai dengan menguji dua dalil utama dari teori kami: (1) apakah ratifikasi negara terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional mempengaruhi ketaatan negara terhadap norma-norma hak asasi manusia. dan (2) apakah hubungan negara dengan organisasi nonpemerintah internasional mempengaruhi perilaku hak asasi manusia. Dalam model 2 – model 7 kami melihat sifat dari ratifikasi terhadap perjanjian oleh negara secara lebih detil. dan suatu stochastic term. dan m adalah stochastic term. Dengan demikian. Kami meninjau kelompok-kelompok variabel ini secara lebih detil di bawah ini. mempengaruhi perilaku represif pemerintah di luar dan melebihi (above and beyond) penjelasan yang ada dalam literaturliteratur saat ini. Untuk melakukannya. Z adalah matriks variabel hukum internasional dan masyarakat sipil yang kami tawarkan untuk menguji teori paradoks kami. dan populasi(log): Yit = a + ßY Yit-1 + ßP Zit + ßX Xit + µit (1) Represi pemerintah terhadap hak asasi manusia it = a + ßy-1 (praktik masa laluit) + ßz1 (ratifikasi perjanjian oleh Negarait) + ßz2 (keanggotaan pada organisasi nonpemerintah internasionalit) + ßx1 ([log] GDPit) + ßx2 ([log] perdaganganit) + ßx3 (demokrasiit) + ßx4 (populasiit) + µ it Walaupun kami menawarkan hipotesis yang berhubungan langsung – khususnya bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional akan mengarah pada tidak adanya perubahan atau semakin memburuknya perilaku hak asasi manusia – kami melakukan pengujian duaakhir bagi setiap dalil untuk mempertimbangkan hipotesis-hipotesis yang bertentangan yang ditawarkan oleh banyak ilmuwan politik. serta masyarakat sipil internasional.pemerintah terhadap hak asasi manusia yang diamati.

kami memperkirakan dampak waktu tetap untuk menjamin bahwa dampak tahuntahun individual dalam sampel kami tidak berpengaruh terhadap hasil temuan. dan pemenjaraan JURNAL HAM • Vol. kami menambahkan beberapa variabel baru ke dalam matriks-Z.16 Kami meng-kode-kan lima nilai-nilai variabel dependen berikut ini seba12 Kami mengucapkan terima kasih pada para pem- 13 14 15 16 baca AJS yang membawa variabel ini pada perhatian kami.14 Data Hak asasi manusia (Y). diantaranya: Cingranelli dan Pasquarello (1985). dan kami melakukannya sebagai suatu kombinasi tingkatan negara dalam hal pembunuhan. 4 • Th. [1] memasukkan intercept variasi-waktu: ai. Akhirnya. kami tetap menghitung dan mengukur variabel legitimasi dunia yang diusulkan pada dampak waktu tetap dan menemukan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hal dampak antara kedua pengukuran tersebut.an pemerintah terhadap norma-norma hak asasi manusia. kami mempertimbangkan kemungkinan bahwa temuan-temuan kami adalah suatu benda peninggalan akhir Perang Dingin. dan bahwa laporan-laporan Amnesty International dan Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat telah menjadi hampir serupa dalam periode waktu belakangan ini. Melalui pengelompokan ini kami mengasumsikan bahwa pengamatan kami bersifat independen untuk jenis-jenis negara (atau kelompok negara) yang berbeda tetapi tidak hanya di suatu negara pada periode waktu tertentu. kami mengukur perilaku represif pemerintah terhadap rasa aman seseorang. dengan menguji apakah bangsa-bangsa yang usianya lebih tua dan lebih mapan akan lebih menghormati hak-hak warga negaranya. kedua. Para ilmuwan lain yang memeriksa integritas hakhak tersebut termasuk. penyiksaan. dan Vazquez (2001) menganalisa perbedaan laporan hak asasi manusia yang dibuat oleh Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat dengan Amnesty International guna menentukan apakah terhadap bias yang jelas dalam kedua sumber tersebut. Dalam kajian terbaru. kami menjelaskan dampak potensial dari usia negara. Dalton. kami melanjutkan pendapat para ilmuwan hak asasi manusia yang lain dalam menggunakan skala ordinal standardasar perilaku represif yang digambarkan secara sistematis dalam laporan hak asasi manusia tahunan Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat (dan. Gibney. Para pengarang ini menemukan bahwa kecenderungan Amnesty International untuk melaporkan kondisi hak asasi manusia di negara yang catatan hak asasi manusianya paling buruk telah menurun dalam periode waktu belakangan ini. dan Vockell (1992). Carey. 13 (Oleh karenanya. Kami tidak memasukkan ukuran ini dalam temuan-temuan di tabel akhir karena variabel ini memberikan fungsi struktural yang sama seperti halnya dampak waktu tetap. 85 . dan kami menggambarkan data-data tersebut di bagian berikut ini. kami menguji apakah pengalaman negara dalam perang sipil atau internasional dapat menjelaskan ketaatan pemerintah terhadap norma-norma hak asasi manusia. sementara dalam model 12. penghilangan paksa. McCormick dan Mitchell (1988). dan mengelompokkan negara-negara guna membahas persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh heteroscedasticity yang umum terjadi pada data kami (Beck dan Katz 1995). 2007 politik pada setiap tahunnya. – Untuk mengestimasi model-model. Stohl dan Carleton (1985).12 Dalam model 11.15 Secara khusus. Namun. Dalam model 10. Poe. kami mengubah misalnya. dan Hafner-Burton (dalam cetakan). Dalam model 8 dan model 9. yang kami masukkan sebagai kontrol standar bagi varian tingkat-dunia pada periode waktu tertentu.) Dalam semua kasus kami memasukkan variabel dependen keterlambatan ai (kecuali dampak tetap). Dalam melakukannya. Beberapa rekan kerja mengusulkan agar kami memasukkan ukuran jumlah ratifikasi negara-negara di tingkat-dunia untuk semua perjanjian hak asasi manusia internasional dalam jangka waktu tertentu guna mempertimbangkan dampak diperolehnya legitimasi hak asasi manusia pada periode waktu tertentu. Poe (1991). kami mempertimbangkan suatu susunan argumentasi alternatif yang dibuat oleh para ilmuwan hak asasi manusia dengan memodifikasi matriks-X. melaporkan standar kesalahan Huber/White untuk menggantikan perhitungan tradisional. dari Amnesty International) yang menggunakan analisa isi.

dan CERD. Banyak dari data ini berasal dari kolaborasi sejumlah hasil para ilmuwan hak asasi manusia ternama. dengan menggunakan metode analisa isi yang sesuai dengan metode pengumpulan data sebelumnya. Paradoks janji-janji kosong (Z). Kami menawarkan beberapa pengukuran yang berbeda terhadap ratifikasi perjanjian oleh negara untuk menguji hipotesis-hipotesis yang diusulkan. kami mempertimbangkan enam perjanjian utama (yang diuraikan di tabel 1): ICCPR. Berkaitan dengan perjanjian-perjanjian hak asasi manusia internasional. 86 JURNAL HAM • Vol. Y = 1 (represi yang sistematis atau systematic repression). – Ketika praktik-praktik di tingkat 3 diperluas ke sejumlah besar populasi. Y = 2 (represi yang massif atau extensif repression). Y = 4 (represi yang terbatas atau limited repression). Pertama. CRC. – Ketika tingkat teror bersifat meluas di masyarakat dan pengambil kebijakan tidak membatasi sarana yang mereka gunakan untuk mendapatkan tujuan pribadi atau tujuan ideologi. 2. CEDAW. kami menghitung suatu ukuran ordinal dari variabel perjanjian yang menghitung total jumlah perjanjian yang diratifikasi oleh suatu negara dalam suatu tahun tertentu. – Kami memperkenalkan delapan variabel baru dari ratifikasi negara terhadap hukum hak asasi manusia internasional dan keanggotaan negara dalam organisasi nonpemerintah internasional yang kami kumpulkan dari sumber-sumber primer dan sekunder perjanjian dan perkumpulan internasional. dan penahanan (dengan atau tanpa pengadilan) akibat pandangan politik dapat diterima. – Ketika penahanan politik bersifat massif. penahanan politik dan penyiksaan jarang terjadi. pembunuhan dan penghilangan paksa sering terjadi. Kami menggunakan variabel ini dalam model dasar kami (model 1). sedangkan angka enam menunjukkan bahwa suatu negara telah meratifikasi seluruh perjanjian hak asasi manusia utama. dan pembunuhan politik sangat jarang terjadi. jika dimungkinkan. tetapi teror hanya mempengaruhi mereka yang berkepentingan dalam hal praktik atau ide politik. Pengukuran ini disimpulkan dalam tabel 2 di bawah ini. 4 • Th. Y = 5 (represi yang jarang atau rare repression). rata-rata ratifikasi perjanjian oleh negara – yaitu jumlah total tahun di mana suatu negara telah meratifikasi suatu perjanjian – mempengaruhi ketaatan pemerintah terhadap norma-norma hak asasi manusia. Y = 3 (represi yang meluas atau widespread repression). Angka nol menunjukkan bahwa suatu negara tidak meratifikasi perjanjian hak asasi internasional utama mana pun. Hasilnya yang berkaitan dengan indikasi dan signifikasi konsisten dengan tingkatan ratifikasi negara terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional (model 1). hukuman mati dan pembunuhan politik mungkin sering terjadi. – Ketika negara-negara berada pada kondisi aturan hukum yang aman. dan pembunuhan politik jarang terjadi. penyiksaan dan pemukulan bersifat sangat khusus. 2007 . ICESCR. – Ketika penahanan atas kegiatan politik yang bersifat nonkekerasan terbatas.gaimana diilustrasikan di diagram 2 dan digambarkan di lampiran A: 1. CAT. 5. Kami telah memperbaharui data yang ada.17 Kami juga membagi atau memisahkan variabel perjanjian menjadi komponenkomponen konstituennya dan memberikan kode pada enam indikator yang berbeda yang menangkap jangka waktu sejak suatu negara meratifikasi setiap salah satu dari 17 Kami juga mengukur dan memeriksa apakah waktu 3. 4.

dan kami mencatat keduanya. 2007 mentar. ICESCR. jumlah warga negara-negara yang tergabung dalam organisasi nonpemerintah internasional). 19 Lihat Buku Tahunan Organisasi Internasional (Yearbook of International Organizations). CERD.hrweb.20 Khususnya.html. 20 Walaupun baik pembangunan dan demokrasi seringkali diklaim sebagai hak asasi manusia yang mendasar. kami menawarkan suatu ukuran kalkulasi keanggotaan negara dalam organisasi nonpemerintah internasional dalam suatu periode tertentu (misalnya. kami mengambil data dari proyek Polity IV dan menggunakan demokrasi berdasarkan karakteristik institusionalnya. dan perilaku represif negara atas hak-hak mendasar untuk bebas dari pembunuhan. org/legal/undocs. 87 . 4 • Th. sistem pemerintahan negara.website. http:// www. – Variabel dependen: represi terhadap hak asasi manusia (pengamatan tahun-negara). CAT. enam perjanjian hak asasi manusia internasional. sesuai dengan urutannya. penghilangan paksa. Kami juga menerapkan pengukuran demokrasi dan tingkat perilaku represif pemerintah di masa lalu. dan CRC. keterbukaan proses tersebut 18 Kami juga melakukan analisa dengan mengguna- kan variabel pura-pura (dummy) guna menggambarkan ratifikasi yang bertentangan dengan lama waktu keanggotaan.18 Kami menyebut variabel-variabel ini ICCPR.19 Pengukuran ini dikumpulkan dari data yang tersedia dalam Buku Tahunan Organisasi-organisasi Internasional. Ukuran-ukuran ini adalah data konvensional yang dikumpulkan dari Bank Dunia dan hanya membutuhkan sedikit koJURNAL HAM • Vol.uia. suatu publikasi tahunan dari Union of International Associations. dan penahanan secara sewenang-wenang. Batang yang solid mewakili jumlah tahun-negara yang diamati dalam kumpulan data periode waktu lintas-seksi bagi setiap dari lima tingkat penghormatan negara terhadap hak asasi manusia yang diukur.htm dan http://www.org. Khususnya lihat Apodaca (2001). – Kami mengikuti para ilmuwan hak asasi manusia lain dalam menggunakan ukuran Bank Dunia tentang Gross Domestic Product atau GDP pada nilai pasar dan perdagangan (sebagai persentase GDP).1200 1000 800 # 600 400 200 0 1 Systematic Repression 2 Extensive Repression 3 Widespread Repression 4 Limited Repression 5 Rare Repression Diagram 2. Akhirnya. CEDAW. Yang sangat penting bagi tujuan kami adalah lima karakteristik institusional utama yang membedakan antara demokrasi dengan otokrasi: tingkat kompetitif dari proses pemilihan pemimpin. kami mengikuti yang lain dalam membedakan konseptual yang penting antara tingkat pembangunan negara. penyiksaan. Faktor-faktor kontrol (X).

... tingkat hambatan institusional atas kewenangan pengambilan keputusan pimpinan... CERD...... CEDAW. CAT.. 2007 ........ CAT... model 1 mengusulkan bahwa ratifikasi seringkali berkaitan dengan perilaku tidak taat negara-negara dan bahwa komitmen negara terhadap rejim hukum hak asasi manusia internasional dari waktu ke waktu mengarah pada pemisahan (decoupling) yang radikal..17 0 3........88 0.... INGO..2 0 0 0 0 0 0 0 6 33 33 15 39 27 19 Jangka waktu sejak ratifikasi ICESCR Model 3 Jangka waktu sejak ratifikasi CEDAW Model 6 Jumlah organisasi nonpemerintah internasional (INGO) di mana warga negara menjadi anggota CRC.... ICESCR.....TABEL 2 DESKRIPSI VARIABEL: PARADOKS JANJI-JANJI KOSONG Variabel Isi Model Rata-rata Minimum Maksimum Perjanjian.. CEDAW.... (1999)......16 0. Jangka waktu sejak ratifikasi CRC Model 1-7 495. namun kami tetap melaporkan dampak signifikan dari variabel-variabel ini terhadap model kami tentang perilaku represif pemerintah di catatan kaki....45 0.. CRC ICCPR. Data-data ini mencakup keterlibatan negara dalam perang sipil atau perang internasional (proyek Correlates of War)... serta usia negara dan data tambahan yang dikumpulkan oleh Poe dkk.. baik CAT maupun ICCPR secara eksplisit menga- 88 JURNAL HAM • Vol.. 4 • Th. Walaupun kami tidak memasukkan semua variabel kontrol tambahan yang ada dalam model kami karena alasan-alasan teoritis....34 0. komitmen negara terhadap rejim hukum hak asasi manusia internasional tidak secara otomatis dapat diterjemahkan menjadi penghormatan pemerintah terhadap hak asasi manusia. Negara yang meratifikasi sejumlah besar perjanjian hak asasi manusia tidak sepenuhnya melindungi hak asasi manusia ketimbang negara yang hanya meratifikasi sejumlah kecil perjanjian tersebut. Ada dua hasil temuan yang sangat luas biasa. kami mempertimbangkan berbagai ragam variabel tambahan yang mungkin telah digunakan di kajiankajian sebelumnya mengenai perilaku represif pemerintahan..127 bagi kelompok-kelompok sosial.21 21 Adalah mungkin bahwa temuan-temuan ini menun- jukkan bahwa sejumlah perjanjian utama menginstitusionalisasikan norma-norma yang tidak termasuk dalam kategori-kategori hak asasi manusia mendasar yang diteliti di sini. Jumlah ratifikasi keseluruhan enam perjanjian : ICCPR.. Jangka waktu sejak ratifikasi ICCPR Jangka waktu sejak ratifikasi CAT Jangka waktu sejak ratifikasi CERD Model 1 Model 2 Model 4 Model 5 Model 7 1......... Sebaliknya. populasi negara pada tahun tertentu (diambil dari Bank Dunia)... yang justru memperburuk pelanggaran hak asasi manusia.35 0... CERD.. Hasil Tabel 3 di bawah menunjukkan temuantemuan utama kami. dan tingkatan di mana aturan-aturan yang mengikat mengatur partisipasi politik (Jaggers dan Gurr 1995).......27 0. Dalam analisa....... tingkat kompetitif dari partisipasi politik. Namun demikian. Pengukuran ini mulai dari -10 (paling otokratis) sampai 10 (paling demokratis). Pertama. ECESCR.

009) (0.33) 0.543.46*** (0.032*** -0.006) -0.022*** (0.042 . yang mewajibkan negaranegara yang meratifikasi untuk menghormati hakhak ini.063*** (0.042 .6 2.01 (0.1.262*** (0.058 .01 *** P < 0.013* (0.537.068) 0.02) -0. maka dampaknya tetap negatif tetapi kehilangan signifikansinya.136*** (0.1.0004** (0.46*** (0.063) 0.017) 2.112** (0.0002* (0.261*** -0.116** (0.064) 0.05 ** P < 0.006) Model 7 0.47*** (0.038 (0.063) 0.48*** (0.27*** (0.10 * P < 0.022*** (0.0001) -0.34) 0. 4 • Th.45*** (0. Kajian sebelumnya tentang ICCPR menunjukkan tidak adanya dampak ratifikasi terhadap perjanjian (Camp Keith 1999).536.7 2.024 (0.05) Model 3 0.021*** (0.02 (0.063) 0.049) (0.064) 0. 1978 – 1999 Model 1 GDP per kapita (log) Demokrasi Populasi (log) Praktik masa lalu Perdagangan (log) Organisasi nonpemerintah internasional Perjanjian ICCPR ICESCR CAT CERD CEDAW CRC N Pengamatan Log kemungkinan + Model 2 0.0001) 1.045) (0.TABEL 3 ANALISA KUMPULAN PERIODE WAKTU LINTAS-SEKSI TENTANG PRAKTIK HAK ASASI MANUSIA DARI NEGARA.005) -0.006) 0.0003** (0.0006) -0.042 .0001) (0.012) -0.024*** (0.058 1.033) 0.049) 1.284*** -0.036) 0.035) 0.139*** (0.025*** (0.069) 0.072 1.064) 0.023** (0.0001) 1.072) 0.45*** (0.9 2. dan keamanan seseorang yang digambarkan oleh variabel dependen kami.550.0002* (0.1.27*** (0.044) (0.07) 0. 89 .0001) -0.1.047) 1.005) Model 6 0.275*** -0.283*** -0.069** (0.045) (0.006) Model 5 0. Bukti yang ditunjukkan di tabel 3 menunjukkan bahwa negara yang meratifikasi kedua perjanjian ini akan lebih mungkin melakukan tindakan represif terhadap hak-hak warga negaranya ketimbang negara yang bukan anggota pada perjanjian.047) 1.529.138*** (0.069) 0. Temuan ini konsisten dengan kajian CAT JURNAL HAM • Vol. sementara temuan kami menunjukkan adanya dampak negatif.036) 0.0003*** 0.026 (0.012* (0.058 .049 (0.3 2.067) 0.0002* (0.64* (0.058 1.542. 2007 sebelumnya (Hathaway 2002).004) -0.0001) -0.005 (0.0001) 1. Kami juga mencatat bahwa ketika kami memasukkan dampak waktu tetap.045 (0.117** (0.064) 0.005) Model 4 0. kebebasan.2 P < 0.546.001 kui hak-hak utama untuk hidup.5 2.024*** (0. yang juga menunjukkan dampak negatif ratifikasi perjanjian.2 2.1.037) 0.0002* (0.47*** (0.109** (0.

4 • Th. Kemudian. dampak perjanjian menjadi kurang signifikan tetapi tetap negatif. dan Sacko 2001) dan negara-negara yang tingkat pembangunan ekonominya lebih tinggi. Tidak satu kasus pun menunjukkan bahwa ratifikasi negara terhadap enam perjanjian hak asasi manusia utama dari PBB yang mana pun dapat memperkirakan kemungkinan penghormatan pemerintah terhadap hak asasi manusia. 1999). 2007 90 . JURNAL HAM • Vol.23 Kami menggunakan probabilitas yang diperkirakan untuk membongkar dampak-dampak negatif ini lebih jauh lagi di lampiran B. temuan-temuan ini menunjukkan suatu gambaran yang mengkhawatirkan: perjanjian hak asasi manusia internasional hanya sedikit mendorong praktik-praktik yang lebih baik dan tidak dapat menghentikan banyak pemerintah dari suatu spiral perilaku represif yang meningkat. hubungan negara dengan masyarakat sipil internasional menciptakan kekuatan lawan yang besar bagi pemisahan (decoupling) yang radikal tersebut: negaranegara yang warga negaranya menjadi anggota sejumlah besar organisasi nonpemerintah internasional akan lebih mungkin melindungi hak-hak warga negaranya. kami juga menemukan bahwa norma-norma global hak asasi manusia. Tabel 3 juga menegaskan bahwa perkiraan kami konsisten dengan temuan-temuan umum dalam berbagai literatur hak asasi manusia mengenai variabel kunci. Konsistensi dampak ini di lintas model menunjukkan bahwa dampak institusional umum masyarakat sipil global cukup stabil. kami mempertimbangkan sejumlah pengukuran alternatif bagi variabel-variabel yang kami laporkan di sini. Poe dkk. ratifikasi terhadap keseluruhan enam perjanjian tersebut memiliki dampak negatif terhadap perilaku negaranegara penandatangan: pihak-pihak pada perjanjian akan lebih mungkin melakukan represi terhadap warga negaranya ketimbang negara yang tidak meratifikasi. 24 Walaupun perang sipil memang 22 Ketika kami menambahkan dummy pasca Perang Dingin dan dampak waktu tetap dalam model 11 dan model 12. salah satu ramalan (predictors) yang paling penting dari represi adalah sejarah negara dalam kondisi represif (Apodaca 2001. Kedua. Demokrasi adalah pelindung yang paling baik dari hak asasi manusia – menyepakati mayoritas ilmuwan hak asasi manusia (Henderson 1991. Di tabel 4 kami memverifikasi bahwa temuan-temuan kami sifatnya kuat bagi sejumlah penjelasan alternatif terhadap represi pemerintah terhadap hak asasi manusia.Temuan ini sangat konsisten ketika kami memisahkan keseluruhan komitmen pada rejim hak asasi manusia dan meneliti ratifikasi terhadap perjanjian PBB yang spesifik (model 2 – model 7). Variabel ini tidak mengubah temuantemuan kami dan oleh karenanya tidak dilaporkan di sini. 24 Kami mempertimbangkan sejumlah variabel kontrol tambahan untuk menguji kekuatan temuantemuan ini. 23 Namun. Gelleny. dan mungkin bahkan memperburuk praktik-praktik yang tidak baik tersebut. kami tidak dapat membedakan antara dampak negatif langsung – ketika ratifikasi justru memberikan insentif lebih bagi perilaku represif yang lebih jauh – dan dampak negatif tidak langsung – ketika ratifikasi tidak memiliki dampak pada praktik-praktik negara yang mengarah pada semakin kuatnya perilaku kekerasan. Poe dan Tate 1994. Poe dkk. Namun.22 Secara bersamaan. 1999) – sebagaimana halnya dengan negara-negara yang memiliki tingkat keterbukaan yang lebih tinggi terhadap ekonomi internasional (Meyer 1996. yang melekat pada perjanjian hak asasi manusia internasional dan ditawarkan oleh masyarakat sipil internasional memberikan kontribusi terhadap perbaikan praktik-praktik hak asasi manusia secara nyata. Walaupun kami menemukan bahwa institusionalisasi hak asasi manusia global tidak memiliki dampak positif yang sistematis melalui sistem perjanjian. Richards. Mitchell dan McCormick 1988. Konsisten dengan penelitian terbaru di bidang ini.

Variabel ini tidak signifikan dan tidak mengubah hasil temuan secara substantif. kami menunda semua variabel independen selama satu tahun dan menguji kembali model ini. Kami mempertimbangkan kemungkinan ini dengan serius dan oleh karenanya telah melakukan suatu proses pemeriksaan terhadap kelayakannya. Di sisi lain. bahwa sumber-sumber laporan kami yang menjadi sumber data kami tentang perilaku represif terhadap hak asasi manusia lebih memberikan perhatian pada negara-negara yang lebih terbuka terhadap pertukaran informasi atau yang baru saja menandatangani suatu perjanjian hak asasi manusia internasional.25 Dipertimbangkan bersama. temuantemuan ini menawarkan dukungan yang besar terhadap argumentasi kami. 91 . Akhirnya. Dalam rangka mempertimbangkan kemungkinan bahwa dampak Perang Dingin dihasilkan oleh suatu bias praktik-praktik hak asasi manusia oleh pemerintahan-pemerintahan beraliran kiri (Poe dkk.26 Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa terdapat korelasi sistematis yang positif antara penerimaan pemerintahan secara resmi terhadap hukum internasional untuk melindungi hak asasi manusia dengan perilaku nyata dari para elit pemerintahan untuk melindungi hak-hak tersebut. Negaranegara di dunia pasca-Perang Dingin lebih kecil kemungkinannya tunduk pada komitmen terhadap rejim hak asasi manusia internasional. 2001). yang tidak mengubah hasil kami. Kami mengulangi penundaan atau interval ini selama beberapa tahun kemudian untuk menjamin kekuatan temuan-temuan tersebut. Walaupun kami tidak bisa menawarkan suatu jawaban yang pasti terhadap pertanyaan tersebut. 26 Temuan-temuan ini bukan merupakan hasil karya multicollinearity. dampak ini berada di luar temuan-temuan kami bahwa negara yang meratifikasi hukum hak asasi manusia internasional cenderung tidak menaati hukum tersebut dalam praktiknya. kami dapat menawarkan bukti awal yang menyatakan bahwa temuantemuan kami tidak hanya sekedar hasil dari perhatian media yang meningkat terhadap pelanggaran hak asasi manusia setelah ratifikasi terhadap perjanjian.sangat mendorong perilaku represif negara. suatu fenomena yang mungkin dapat dijelaskan oleh munculnya banyak negara baru yang relatif lemah. 4 • Th. dan matriks korelasi ini tersedia dari para pengarang atas dasar permintaan. setidaknya pada jangka pendek. Kami menemukan bahwa model yang mengalami penundaan sama persis secara subtantif dengan model yang kami laporkan di tabel 3. Akhirnya. periode sejarah tampaknya memberikan perubahan. Walaupun perjanjian-perjanjian seringkali tidak secara langsung memberikan kontribusi pada perbaikan di tingkat praktik. namun norma-norma yang dikodifikasi dalam perjanjian ini menyebarluas di kalangan organisasi nonpemerintah internasional JURNAL HAM • Vol. 2007 yang secara strategis mempengaruhi rejim hukum hak asasi manusia untuk menekan pemerintah agar mengubah perilaku hak asasi manusia mereka. Bertentangan dengan hal tersebut. 25 Dalam rangka mempertimbangkan kemungkinan suatu dampak pilihan. walaupun hasil substantif kami pada umumnya konsisten ketika kami memasukkan dampak waktu tetap. Yang lebih mengkhawatirkan adalah bukti yang menyatakan bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional justru memperburuk ketaatan negara terhadap norma-norma hak asasi manusia yang dilindungi oleh perjanjian tersebut. kami memasukkan suatu dummy variabel pengukuran mengenai apakah suatu pemerintahan dikuasi oleh rejim beraliran kiri. bukti juga menunjukkan bahwa hubungan dengan masyarakat sipil global memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia. sejumlah ilmuwan telah mengidentifikasi kemungkinan yang sangat nyata bahwa temuan-temuan kami dipengaruhi oleh suatu “dampak informasi”. perang internasional dan usia negara tidak memiliki dampak apa pun terhadap perilaku represif pemerintah.

525.072) 0.0.001 92 JURNAL HAM • Vol.002 (0.083) 0.043+ (0.006) .071** (0.626*** (0.049) 1. Ukuran perang sipil dan internasional dibatasi pada periode waktu 1976 ––1993.074+ (0.7 2.037) 0.080) 1.065** (0.0.815 .003 (0.006) .027*** (0.356.0005** (0.0.524.047) 1.092* (0.0005) .077 (0.067) .027f (0.45*** (0. 4 • Th.8 2.024 (0.0.5 Perhatikan bahwa model 12 termasuk dampak waktu tetap tidak memasukkan variabel interval yang dependen.036) 0.035) 0.0.328.0.1.006) .0.16 (0.135) .0.279*** (0.0.092* (0.0.041) 0.034 (0.10 * P < 0.0.058 .819 .026*** (0.0006 (0.028*** (0.0001) .0001) .01 *** P < 0.1.079) 0.007) .16) 0.0.4*** (0.913*** (0.0.05 ** P < 0.065) 0.121** (0.0004** (0.279*** (0.024) .257*** (0.0004** (0.1.052) 0.0001) .048) 1. 2007 .082 (0.05) 1.267*** (0.022*** (0.021) Model 11 0.048) 0.0005* (0. 1978-99 Model 8 GDP per kapita (log) Demokrasi Populasi (log) Praktik masa lalu Perdagangan (log) Organisasi nonpemerintah internasional Perjanjian Perang sipilb Perang internasionalb Usia negara Dummy pasca Perang Dingin Dampak waktu yang tetap (1976-99)c N Pengamatan Log kemungkinan a b Model 9 0.075) 0.023) Model 12a 0.4 1.0001) .46*** (0.44*** (0.1** (0.025) .022) Model 10 0.542.069** (0.256*** (0.064) .1.0001) . c Melalui konvensi.2 2.006) .o.077) 0.038) 0.058 .0004** (0.0. koefisien dampak waktu tetap tidak dilaporkan secara individual untuk menghemat tempat + P < 0.0.1.058 .TABEL 4 ANALISA KUMPULAN PERIODE WAKTU LINTAS-SEKSI TENTANG PRAKTIK HAK ASASI MANUSIA DARI NEGARA DENGAN VARIABEL INDEPENDEN TAMBAHAN.

yang oleh karenanya menyarankan bahwa kecil kemungkinannya temuantemuan kami merupakan hasil yang unik dari meningkatnya pelaporan yang ada setelah dilakukannya ratifikasi. dan juga jenis informasi yang diberikan oleh laporan – informasi yang luas. Kerangka teori kami. Sementara para ilmuwan pengarusutamaan hubungan internasional berargumentasi bahwa rejim hak asasi manusia internasional tidak memperbaiki praktik hak asasi manusia. tetapi masyarakat sipil global memliki dampak positif terhadap praktik hak asasi manusia. tidak ada bias sistematik pada meningkatnya jumlah kata dalam pelaporan atau dalam jenis informasi setelah ratifikasi terhadap perjanjian. tetapi semakin berkembangnya legitimasi ide-ide hak asasi manusia dalam masyarakat internasional. Temuan kunci pertama kami tentang dampak perjanjian hak asasi manusia mengulangi temuan-temuan kajian terbaru mengenai topik yang sama. periode saat ratifikasi terhadap CAT. atau terbatas. memberikan kekuatan lebih bagi aktor-aktor nonpemerintah untuk menekan pemerintah-pemerintah yang melanggar hak asasi manusia agar mengubah perilaku mereka. Untuk setiap negara. Kami menemukan bahwa. 2007 93 . walaupun sumber laporan tentang pelanggaran hak asasi manusia bervariasi setiap tahunnya. memperkirakan bahwa rejim hukum tidak memiliki dampak atau memiliki dampak negatif terhadap praktik hak asasi manusia. Tidak terdapat bukti sistematik yang menunjukkan bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia dalam sistem PBB memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia. yang didasari oleh pendekatan institusional rasional dan masyarakat dunia. sejumlah bukti bahwa rejim tersebut memiliki dampak positif terhadap praktikpraktik lokal. yang pembentukannya didukung oleh rejim hukum internasional. kami mengambil sampel acak 15 negara dari sampel yang lebih besar yaitu 153 bangsa. namun para ilmuwan konstruktivis dan hukum internasional menunjukkan JURNAL HAM • Vol. Pertama. menengah. Sifat dari laporanlaporan ini kelihatannya tidak mengalami perubahan yang signifikan setelah ratifikasi. dan tiga tahun setelah ratifikasi terhadap CAT. sebagaimana dipresentasikan di lampiran C. Kami menganalisa laporan tahunan hak asasi manusia dari Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat untuk setiap negara yang telah meratifikasi CAT. tetapi juga mengembangkan lebih jauh dari hasil temuan tersebut dalam hal cakupan waktu dan jumlah perjanjian hak asasi manusia internasional. kami menemukan bahwa dampak negatif dari ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional terhadap hak atas keamanan individu berlaku bagi keenam perjanjian hak asasi manusia utama. Analisis empiris kami memperkuat tesis paradoks janji-janji kosong ini. Temuan-temuan ini menggambarkan beberapa keraguan tentang argumen- KESIMPULAN Dasar analisa kami adalah dua set pengharapan dan bukti yang saling bertentangan tentang berkembangnya dampak rejim hak asasi manusia internasional. 4 • Th. kami membandingkan isi dari sumber laporan tersebut berdasarkan jumlah kata-kata yang didedikasikan terhadap isu penyiksaan. Kami mencoba menemukan tentang dua aspek rejim hak asasi manusia yang ditemukan dalam kebanyakan literatur yang ada: yaitu sistem perjanjian hak asasi manusia internasional dan masyarakat sipil internasional. dan bahwa kecenderungan ini berlanjut sampai akhir 1990an. Sebagai akibatnya.Bukti-bukti ini dikumpulkan melalui suatu percobaan kecil. Kami meneliti tiga periode waktu untuk setiap negara: tiga tahun sebelum ratifikasi terhadap CAT.

Kedua temuan menunjukkan pentingnya untuk memisahkan mekanisme-mekanisme yang berbeda di mana kekuatan-kekuatan global beroperasi guna memberikan dampak pada tindakan-tindakan di tingkat lokal. temuan kami menunjukkan bahwa walaupun institusinya lemah. maka tindakan ratifikasi tersebut juga memberikan suatu penyamaran atas pelanggaran hak asasi manusia warga negaranya. Namun. kami menggarisbawahi dampak yang berbeda dari kedua jenis hubungan tersebut terhadap praktikpraktik hak asasi manusia di tingkat lokal. 4 • Th. Walaupun banyak studi kasus telah mendokumentasikan dampak prinsip-prinsip hak asasi manusia global dan aktor-aktor internasional yang mendukung prinsip-prinsip ini dalam praktik-praktik lokal. kami menerapkan metode analisis isi pada laporan tahunan hak asasi manusia dari Departemen Dalam Negeri Amerika SeriJURNAL HAM • Vol. 2007 94 . yang jika digabungkan dengan kurangnya institusionalisasi mekanisme penegakan. walaupun aktor-aktor ini bukan merupakan pengganti bagi institusi yang lebih kuat yang dapat melindungi hak asasi manusia.tasi-argumentasi optimis yang dikemukakan oleh para ilmuwan hukum internasional dan konstruksivionis. Aktor-aktor masyarakat sipil pada dasarnya melakukan fungsi mekanisme penegakan yang sangat diperlukan tersebut. Aktor-aktor masyarakat sipil ini. Temuan kunci kedua kami tentang dampak positif hubungan dengan masyarakat global merupakan kontribusi penting baik bagi kajian empiris politik hak asasi manusia dan. dari sudut pandang teoritis. banyak pemerintah meratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional tanpa adanya keinginan ataupun kapabilitas untuk menyelaraskan perilaku domestik mereka dengan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian hak asasi manusia internasional. 1976-1993. Berdasarkan pada panduan pengkodean yang diberikan oleh Poe dan Tate (1994). LAMPIRAN A Kumpulan Data tentang Hak Asasi Manusia (Y) Kami telah memperbaharui data yang ada tentang perilaku represif terhadap hak asasi manusia yang dikumpulkan oleh sejumlah ilmuwan sebelum kami dan yang ditawarkan oleh Steven Poe. Tindakan ratifikasi memberikan suatu karakter legitimasi pada pemerintah. Karena adanya tekanan kuat untuk meratifikasi perjanjian hak asasi manusia dan relatif rendahnya biaya ratifikasi. Dengan memeriksa hubungan dengan masyarakat sipil internasional secara terpisah dari hubungan dengan rejim hak asasi manusia global. yang semakin berkembang dalam hal jumlah dan kekuatan. bagi pendekatan masyarakat dunia. namun hanya sedikit yang telah mengkaji dampak kegiatan internasional di luar sistem perjanjian ini secara sistematis. Para ilmuwan dan aktivis seringkali mengkritisi kurangnya mekanisme penegakan yang efektif dalam perjanjian hak asasi manusia internasional. Analisis statistik kami memberikan dukungan kuat bagi para ilmuwan dan pengamat yang berargumen bahwa kegiatan-kegiatan hak asasi manusia global berkontribusi pada perbaikan dalam praktik-praktik hak asasi manusia di tingkat lokal. seringkali mengubah arah dari “janji-janji kosong” pemerintah-perintah nasional yang ada di kepala mereka menjadi suatu “paradoks” global: yaitu perbaikan praktik-praktik hak asasi manusia. masyarakat sipil internasional telah menggunakan legitimasi norma-norma hak asasi manusia yang dinyatakan dan dikodifikasi dalam perjanjianperjanjian hak asasi manusia internasional tersebut untuk menekan pemerintah-pemerintah agar memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusianya.

4 • Th. 29 Untuk tujuan perhitungan atau kalkulasi. Sejak saat itu. Prediksi-prediksi ini merupakan alat yang berguna untuk memeriksa apakah argumentasi kami konsisten di seluruh kategori variabel dependen untuk jenis-jenis negara yang berbeda-beda. Konsistensi antar coder dicatat sekitar 90%. populasi. mungkin tidak bisa digeneralisasi begitu saja. kami mengartikan suatu negara “rata-rata” sebagai Negara yang memiliki nilai rata-rata GDP. dan kami telah menggunakannya sebagai pengujian ketika pada pengkodean kami. Baris dan kolom pertama menunjukkan bahwa suatu negara demokratis yang tidak meratifikasi satu pun perjanjian hak asasi manusia (0) dan tidak berhubungan dengan ma27 Kami mengucapkan terima kasih kepada Steven Probabilitas yang Diperkirakan (Predicted Probabilities) Dalam rangka membongkar temuantemuan empiris utama lebih jauh. kami menempatkan suatu nilai hak asasi manusia dengan skala lima. Oleh karena itu kami mencoba memahami apakah dampak yang telah diidentifikasi dalam analisa serial-waktu berlaku untuk jenis-jenis negara yang berbeda secara konsisten. didorong oleh pengalaman dari jenis negara tertentu. temuan-temuan kami mungkin tidak sama bagi semua negara secara signifikan dan. Kami mengakui bahwa argumentasi institusional kami mungkin juga menawarkan pengaruh bagi beberapa jenis kebijakan negara yang dapat lebih dijelaskan – misalJURNAL HAM • Vol. dan yang pada saat yang bersamaan mempertimbangkan variasi dalam hal tingkatan ratifikasi perjanjian hak asasi manusia oleh negara dan hubungan dengan organisasi nonpemerintah internasional.29 Kami mengintepretasikan tabel tersebut sebagai berikut.28 Tabel B1 melaporkan probabilitas-probabilitas yang diperkirakan (berdasarkan model dan data kami) yang kami amati dari negara demokratis rata-rata yang jarang menggunakan represi atau yang menggunakan represi secara luas. Bagi semua kasus negara dari 1994 sampai 1999. Dalam rangka melakukan hal tersebut. kami mengukur probabilitas-probabilitas yang diperkirakan dari estimasi yang digambarkan di model 1 (tabel 3 di atas). Jika demikian. 95 . dan praktik masa lalu. kami menggunakan dua coders dalam menganalisa isi dari setiap sumber dan menggunakan suatu nilai angka. perdagangan. pelaku represi yang jarang (Y p 5) – ketimbang untuk jenis-jenis yang lain – seperti misalnya pelaku represi yang luas (Y p 3). yang awalnya diterapkan dalam Gastil (1980) dan digambarkan di bagian tentang data. otokrasi – ketimbang jenis lainnya – misalnya. Analisis ini sangat bernilai karena sejumlah ilmuwan telah dengan benar menyatakan bahwa ratifikasi terhadap perjanjian dan hubungan dengan masyarakat sipil internasional mungkin memiliki dampak yang lebih besar bagi beberapa jenis pelanggaran hak asasi manusia tertentu – misalnya. demokrasi. 28 Walaupun kami memperhitungkan probabilitasprobabilitas yang diperkirakan pada kelima kategori variabel dependen.kat. Guna menjamin konsistensi dengan metode pengkodean sebelumnya. 2007 Poe dan Mark Gibney atas data yang mereka berikan pada kami. Mark Gibney dengan baik hati berbagi datanya (1980-2000) dengan kami.27 LAMPIRAN B nya. dan kami menggunakan pihak ketiga untuk menyelesaikan persoalan ketidakkonsistenan antar coders. kami menggunakan prosedur statis yang dibahas secara detil dalam Long (1997) untuk menghitung probabilitas-probabilitas yang diperkirakan bahwa suatu negara rata-rata biasa diamati jarang menggunakan represi [prob(Y p 5FX)] dan menggunakan represi secara luas [prob(Y p 3FX)]. kami hanya melaporkan dua kategori saja untuk menunjukkan argumentasi kami sesederhana mungkin.

syarakat sipil internasional (tidak satu pun) memiliki 21% kemungkinan melakukan tindakan represif secara meluas dan hanya 12% kemungkinan jarang melakukan tindakan represif. Ketika negara tersebut semakin banyak meratifikasi perjanjian hak asasi manusia (yang dijelaskan di tabel oleh pergeseran horisontal dari kiri ke kanan), negara tersebut secara bertahap lebih mungkin untuk melakukan tindakan represif secara meluas dan lebih kecil kemungkinannya untuk jarang melakukan tindakan represif. Ketika negara tersebut semakin berhubungan dengan masyarakat sipil internasional (yang dijelaskan di tabel oleh pergeseran vertikal dari atas ke bawah), negara tersebut secara bertahap lebih mungkin untuk melakukan tindakan represif secara meluas dan lebih kecil kemungkinannya untuk jarang melakukan tindakan represif. Probabilitas-probabibilitas ini mengijinkan kami untuk memeriksa besarnya pergeseran tersebut. Tabel B2 melaporkan probabilitas-probabilitas yang diperkirakan untuk negara otokratis rata-rata. Kami mengintepretasikan tabel tersebut dengan cara yang sama seperti tabel sebelumnya: suatu negara otokratis rata-rata yang diambil dari sampel yang tidak meratifikasi satu pun perjanjian hak asasi manusia (0) dan tidak berhubungan dengan masyarakat sipil internasional (tidak satu pun) memiliki 32% kemungkinan melakukan tindakan represif secara meluas dan hanya 6% kemungkinan jarang melakukan tindakan represif. Jika dilakukan pergeseran secara horisontal dalam baris tabel, dapat dilihat bahwa semakin banyak negara ini meratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional, maka semakin lebih mungkin negara melakukan praktik hak asasi manusia yang buruk. Jika dilakukan pergeseran secara vertikal dalam kolom tabel, dapat dilihat bahwa semakin banyak negara ini berhubungan dengan masyarakat sipil global,

maka semakin lebih mungkin perbaikan praktik hak asasi manusia di negara ini. Hasil ini menjelaskan tentang temuantemuan kami bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional terpisah secara radikal dari ketaatan negara terhadap norma-norma hak asasi manusia, namun hubungan dengan masyarakat sipil internasional memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia. Tabel B1 dan B2 membawa perhatian pada tiga aspek dari paradoks ini. Pertama, dampak negatif perjanjian hak asasi manusia lebih besar pada negaranegara yang melakukan tindakan represif secara meluas ketimbang pada negara-negara yang jarang melakukan tindakan represif. Negara-negara represif yang bergabung dalam rejim hak asasi manusia menjadi semakin represif ketika mereka meratifikasi lebih banyak perjanjian hak asasi manusia internasional. Bahkan dalam banyak kasus, tabel-tabel ini menunjukkan bahwa lebih dari 10% negara lebih mungkin menggunakan tindakan represif yang meluas ketika mereka telah meratifikasi keenam perjanjian hak asasi manusia ketimbang ketika mereka tidak meratifikasi satu pun perjanjian hak asasi manusia. Dampak negatif pada rejim yang nonrepresif, yang ditunjukkan dengan menurunnya probabilitas-probabilitas yang diperkirakan bagi kategori negara yang jarang melakukan tindakan represif, dimulai dari tiga sampai sembilan persen perubahan. Temuan semacam ini berguna untuk memverifikasi bahwa dampak yang telah kami identifikasi bersifat sangat besar. Kedua, dampak positif hubungan negara dengan masyarakat sipil internasional lebih besar pada perilaku hak asasi manusia negara-negara yang melakukan tindakan represif secara meluas ketimbang negara-negara yang jarang melakukan tindakan represif. Ketika negara-negara represif
JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

96

membuka perbatasan mereka dan mengijinkan warga negaranya untuk bergabung dengan semakin banyak organisasi nonpemerintah internasional, maka negaranegara ini akan lebih kecil kemungkinannya menggunakan tindakan represif. Dampak pada rejim yang represif adalah tujuh sampai sembilan persen, sedangkan dampak pada negara-negara nonrepresif mulai dari dua sampai enam persen. Ketiga, dengan mengherankan hasilhasil ini konsisten bagi negara-negara demokratis maupun otokrasi (tabel B1 dan tabel B2). Walaupun pemerintahan-pemerintahan demokratis lebih mungkin menghormati hak asasi manusia ketimbang pemerintahan-pemerintahan otokratis (dan oleh karenanya adalah negara-negara yang jarang melakukan tindakan represif), namun kedua jenis pemerintahan tersebut mengalami paradoks janji-janji kosong yang sama. Temuan ini mungkin tidak diperkirakan oleh mereka yang percaya bahwa pemerintahan demokratis lebih responsif terhadap hukum hak asasi manusia internasional ketimbang pemerintahan otokratis, dan hal ini mengarah pada dukungan lebih terhadap ide bahwa paradoks tersebut merupakan fenomena global yang nyata. LAMPIRAN C

Dampak dari Informasi
Dalam tabel C kami menyediakan data yang dikumpulkan untuk memeriksa kemungkinan bahwa temuan-temuan kami dipengaruhi oleh dampak dari informasi. Kami memilih 15 negara secara acak dari sampel yang ada dan memeriksa laporan Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat untuk memilih data dari tiga jangka waktu: tiga tahun sebelum ratifikasi, tahun ratifikasi, dan tiga tahun setelah ratifikasi. Untuk setiap jangka waktu, kami melaporkan jumlah total kata-kata yang ada dalam laporan hak asasi manusia tentang PenyikJURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

saan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, atau Merendahkan Martabat Manusia (Amnesty International, berbagai tahun), serta jenis informasi yang diberikan dalam laporan tersebut. Kami mempertimbangkan tiga kategori: (1) pelaporan yang luas, yang memberikan informasi detil mengenai individu tertentu yang disiksa, individu atau unit pemerintahan tertentu yang dituduh melakukan penyiksaan, atau kondisi-kondisi khusus penyiksaan seperti demonstrasi dan kerusuhan, serta pengesahan dan pelaksanaan peraturan perundang-undangan tentang hak asasi manusia, komisi hak asasi manusia, kebijakan tentang hak asasi manusia, dan program hak asasi manusia lainnya di tingkat nasional; (2) pelaporan menengah, yang memberikan informasi yang cukup detil mengenai individu yang mengalami penyiksaan ataupun yang dituduh melakukan penyiksaan, serta pengesahan dan pelaksanaan peraturan perundang-undangan tentang hak asasi manusia; dan (3) pelaporan yang terbatas, yang memberikan informasi berkaitan dengan peristiwa penyiksaan secara umum tanpa memberikan informasi secara detil mengenai individu tertentu yang mengalami penyiksaan, individu atau unit pemerintahan tertentu yang dituduh melakukan penyiksaan, atau kondisi-kondisi khusus penyiksaan seperti demonstrasi dan kerusuhan, serta pengesahan dan pelaksanaan peraturan perundang-undangan tentang hak asasi manusia, komisi hak asasi manusia, kebijakan tentang hak asasi manusia, dan program hak asasi manusia lainnya. Kami juga memberikan laporan tentang nilai variabel independen untuk setiap kasus. Hasil menunjukkan bahwa tidak ada hubungan sistematik yang dapat diamati antara ratifikasi negara terhadap CAT dengan panjang ataupun jenis informasi yang dilaporkan oleh sumber hak asasi manusia tahunan Departemen Dalam Negeri

97

Amerika Serikat yang kami gunakan untuk mengkodekan variabel dependen kami, walaupun negara-negara terkadang dilaporkan telah meningkatkan perilaku represif mereka setelah ratifikasi, sebagaimana telah kami prediksikan. Baik panjang maupun jenis informasi lebih berhubungan dengan tingkat represi ketimbang ratifikasi negara terhadap CAT: ketika pelanggaran negara terhadap hak asasi manusia sangat besar, maka laporan cenderung lebih panjang dan lebih detil. Ketika pemerintah

tidak melakukan tindakan represif, laporan menjadi lebih pendek, dan jenis informasi yang diberikan dengan demikian menjadi lebih terbatas. Percobaan ini menunjukkan bahwa perubahan dalam nilai praktik hak asasi manusia tidak bisa dikaitkan dengan peningkatan atau penurunan perhatian sebagai suatu hasil ratifikasi terhadap perjanjian dan lebih menekankan pada pentingnya paradoks yang kami temukan dalam analisa data kami.

DAFTAR PUSTAKA
Amnesty International. 1994. Amnesty International Report. London: Amnesty International Publications. –. Berbagai tahun. Amnesty International Report. London: Amnesty International Publications. Apodaca, Clair. 2001. “Global Economic Patterns and Personal Integrity Rights after the Cold War.” International Studies Quarterly 45:587–602. Beck, Nathaniel, and Jonathan N. Katz. 1995. “What To Do (and Not To Do) with–TimeSeries Cross-Section Data.”–American Political Science Review 89:634–50. Berkovitch, Nitza. 1999. From Motherhood to Citizenship: Women’s Rights and International Organizations. Baltimore: Johns Hopkins University Press. Boli, John, dan George M. Thomas, eds. 1999. Constructing World Culture: International Nongovernmental Organizations since 1875. Stanford, Calif.: Stanford University Press. Brunsson, Nils. 1989. The Organization of Hypocrisy: Talk, Decisions and Actions in Organizations. Crichester: John Wiley and Sons. Camp Keith, Linda. 1999. “The United Nations International Covenant on Civil and Political Rights: Does it Make a Difference in Human Rights Behavior?” Journal of Peace Research 36:95–118.

Chayes, Abram, dan Antonia Chayes. 1995. The New Sovereignty: Compliance With International Regulatory Agreements. Cambridge, Mass.: Harvard University Press. Chomsky, Noam, dan Edward S. Herman. 1979. The Political Economy of Human Rights: The Washington Connection and Third World Fascism. Boston: South End Press. Cingranelli, David, dan Thomas Pasquarello. 1985. “Human Rights Practices and the Distribution of U.S. Foreign Aid to Latin American Countries.” American Journal of Political Science 27:539–63. Clark, Ann Marie. 2001. Diplomacy of Conscience: Amnesty International and Changing Human Rights Norms. Princeton, N.J.: Princeton University Press. Cleveland, Sarah H. 2001. “Human Rights Sanctions and the World Trade Organization.” In Environment, Human Rights and International Trade, edited by F. Francioni. Portland, Ore.: Hart Publishing. Collins, Randall. 1992. Sociological Insight: An Introduction to Non-obvious Sociology. Edisi kedua. New York: Oxford University Press. Cottier, Thomas. 2002. “Trade and Human Rights: A Relationship toDiscover.” Journal of International Economic Law 5:111–32. Downs, George, David M. Rocke, dan Peter Barsoom. 1996. “Is the Good News about Compliance Good News for Cooperation?” International Organization 50:379–406. Durkheim, Emile. (1895) 1982. The Rules of Sociological Methods. New York: Free Press.

98

JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

” Journal of Conflict Resolution 35:120–42. Goodman. dan Marc Vockell. dan Derek Jinks. 1984.” International Organization. Hafner-Burton. Mark. and World Politics: Insights from Sociology’s’ Institutionalism. How Nations Behave: Law and Foreign Policy. 1998. The Evolution of International Human Rights: Visions Seen. “Human Dignity. –. Friedrich V. “Dictatorships and Double Standards. Howard. dan Ted Robert Gurr. dan Kathryn Sikkink. –.J. 2004. Sovereignty: Organized Hypocrisy. “Norms. Human Rights. “USA Refugee Policy: A Human Rights Analysis Update. “Do Human Rights Treaties Make a Difference?” The Yale Law Journal 111:1935–2042.: Cornell University Press. N. Keohane. “Trading Human Rights? How Preferential Trade Agreements Influence Government Repression. “Linking the Unlinkable? International Norms and Nationalism in Indonesia and the Philippines. 1996b. Emilie. Kiyoteru Tsutsui. Rules. Ithaca.Y.. 1979. –. 1986. Kratochwil. 1991. Ropp. Baltimore: Johns Hopkins University Press. “Right or Robust? The Sensitive Nature of Government Repression in an Era of Globalization. Dalam cetakan. Paul Gordon. Activists Beyond Borders: Advocacy Networks in International Politics. Stephen C. 2002.” Journal of Refugee Studies 5:33–46. Ithaca. dan Kathryn Sikkink. Gastil. dan Jack Donnelly.–. Anja. David.” Dalam The Power of Human Rights: International Norms and Domestic Change. Culture.” Commentary 68: 34–45. Conway W. 1996a.: Princeton University Press. Finnemore. Keith. San Francisco. Raymond.: Princeton University Press. 1980. Philadelphia: University of Pennsylvania Press. New Brunswick. After Hegemony. Oona A. Princeton. Robert O. 1992. Princeton. JURNAL HAM • Vol. 1980. 1998. 1996. 4 • Th. 1993. Dalam cetakan. Freedom in the World: Political Rights and Civil Liberties. 1998. National Interest in International Society. Norms. Jetschke. “Mechanisms of Social Influence and Regime Design in Human Rights Law: Toward a Sociological Theory of International Law. Emilie. N. 1979. New York: Cambridge University Press. “Even Bad States Do Good Things: International Human Rights Law and the Politics of Legitimation. 1986. 1999. Vanessa Dalton. The Elementary Forms of Religious Life.” Makalah dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Sociological Association.” American Political Science Review 80:801–18. Katzenstein.” Human Rights Quarterly 18: 131–79. Henderson. Henkin. 2005. dan John Meyer. New York: Columbia University Press. Cambridge: Cambridge University Press. 1989. N. (1912) 1995. N.J. Rhoda. Louis. 2007 99 . Margaret E.: Transaction Books. ed.J. The Culture of National Security: Norms and Identity in World Politics. ed. Hathaway. “Population Pressures and Political Repression. 1999.” Duke Law Journal 54. Gibney. and Political Regimes. Jacobson.: Cornell University Press. Martha. August. Jeane. Ryan. Hafner-Burton. Stephen D. Peter J. 1995. Yuji. “Legal Treatment of Koreans in Japan: The Impact of International Human Rights Law on Japanese Law.”—Social Science Quarterly74:322– 33.” Journal of Peace Research 32:469–82. Rights Across Borders: Immigration and the Decline of Citizenship. and Decisions: On the Conditions of Practical and Legal Reasoning in International Relations and Domestic Affairs. Rep. Kirkpatrick. New York: Columbia University Press.” Journal of Peace Research 42(6). Keck. “Conditions Affecting the Use of Political Repression. Krasner. diedit oleh Thomas Risse.Y. N. Iwasawa.” International Organization 50:325–47. “Tracking Democracy’s Third Wave with’the Polity III Data. New York: Free Press. Lauren.. Jaggers.

1997. 1992. State Department and Amnesty International Human Rights Reports.S.: Sage Publications. Ellen L. “Correlates of Human Rights: Global Tendencies. Beverly Hills. Poe. John Boli. 2007 . Meyer. Poe. McNeely.. 2000. S. Steven C. Neal Tate.” International Organization 52:943–69. dan Neil Mitchell. dan Paul J.. Mitchell. Conn.. Cohan. 1997.. “Human Rights and MNCs: Theory Versus Quantitative Analysis. D.pdf. dan Nancy Brandon Tuma. Neil. New York: Routledge. London: Falmer Press. 1997.ch/pdf/ report. Calif. Thomas.” Journal of Peace Research 28:205–16. dan A. 1998. 1997. dan Tanya C. John W.” International Studies Quarterly 43:291–313. 2001. David John Frank. “World Society and the Nation-State. Calif. “Human Rights and the Allocation of U. 1870–1990.” American Journal of Sociology 103:144–81. James M. dan Francisco O. 100 JURNAL HAM • Vol.” World Politics 40:476–98. 1994. William H. “Economic and Political Explanations of Human Rights Violations.S. Meyer. 1987.” International Security 19:5–49.. Regression Models for Categorical and Limited Dependent Variables. 1992. Poe. 1996. “The Origins of Human Rights Regimes: Democratic Delegation in Postwar Europe.. Walter W. Meyer.” International Organization 54:217–52. Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights.. 1991. Westport. “A Comparative Analysis of the Political and Economic Performance of Military and Civilian Regimes. Evan Schofer. Vazquez.: Greenwood Press. dan Johan P. McCormick. John W. “Institutionalized Organizations: Formal Structure as Myth and Ceremony. “The Structuring of a World Environmental Regime.. DiMaggio. dan Brian Rowan. R. “The Institutional Dynamics of International Political Orders.” The American Political Science Review 88:853–72. “Repression of the Human Right to Personal Integrity Revisited: A Global Cross-National Study Covering the Years 1976–1993. Sabine C.. John W. http://www. 1995. 1994/1995. J.unhchr. Park. Powell.” Human Rights Quarterly 9:405–13. Status of Ratifications of the Principal International Human Rights Treaties. –. Poe. Moravcsik.” Comparative Politics 8:1–30. Meyer. eds. “How Are These Pictures Different? A Quantitative Comparison of the U. dan Linda Camp Keith. dan Aaron Benavot. Mearsheimer. Andrew. Han S. Connie L. Thousand Oaks. 4 • Th. Steven. Steven C. David Kamens. Organizational Environments: Ritual and Rationality. Steven C.Long. 1988... dan Kathryn Sikkink. George M. “Repression of Human Rights to Personal Integrity in the 1980s: A Global Analysis. Military Assistance. James G. “International Human Rights Law and Practice in Latin America. dan W. Human Rights Diplomacy.” Human Rights Quarterly 18:368–97. The New Institutionalism in Organizational Analysis. 2000.. Chicago: University of Chicago Press. “The False Promise of International Institutions. 1975. C. Olsen. Aid Really Linked to Human Rights in Latin America?” American Journal of Political Science 32:231–39. 1991. 2d ed.” American Journal of Sociology 83:340–63. John J. March. 2002. “Taking Preferences Seriously: A Liberal Theory of International Politics.” Human Rights Quarterly 23: 650–77. Scott.” International Organization 54:633–59. 1977. Richard Scott. John W.S. “Is U. 1999. Neal Tate. 1997. dan James McCormick. Ann Hironaka. Meyer. Mullerson. Carey. McKinlay. dan C. JohnW. Lutz.: Sage Publications. 1976– 1995.. Ramirez. Rein. School Knowledge for the Masses: World Models and National Primary Curricular Categories in the Twentieth Century. 1988. Meyer.” International Organization 51:514– 55. Constructing the Nation-State: International Organization and Prescriptive Action.” International Organization 51:623–51.

: Addison.” Social Forces 83:587–620. Richards. Claude. N.–Institutions and Organizations. Accommodation. Kathleen. 329– 45 in Human Rights and Development: International Views. David L. 2007 101 .: Sage Publications. New York: Cambridge University Press. 1986.– –. 1976. Stohl. “War. Kiyoteru. August. Baltimore: Johns Hopkins University Press. “The Foreign Policy of Human Rights: Rhetoric and Reality from Jimmy Carter to Ronald Reagan. Karen. 1985. dan John Boli. Reading. 2004.’1965– 1999. Limits of Citizenship: Migrants and Postnational Membership in Europe. Young. George M. Thomas. Rasler. “Money with a Mean Streak? Foreign Economic Penetration and Government Respect for Human Rights in Developing Countries. 4 • Th. Gelleny. edited by R.” International Organization 51:275–301. Thomas. Oran R. Society. dan Richard P. 2000. 2001. “Human Rights and Development: Theory and Data. Michael. Calif. Ron. Compliance and Public Authority: A Theory with International Applications.: Sage Publications.” Pp.. and Violence in the United States. Institutional Structure: Constituting State. Ropp. and the Demise of Communism. Forsythe. Kenneth.” Sociological Forum 19:63–88. P. 1997. P. dan Christine MinWotipka.Pritchard. dan David Carleton. Mass. 2004. and the Individual. “Varying Methods of State Violence. Tsutsui. 2d ed. Anaheim. Human Rights. Stephen C. dan David H. 1989. Ronald D. “War and Domestic Violence: The Case of the United States. Waltz. Yasemin. 1979. Daniel C. The Helsinki Effect: International Norms. The Power of Human Rights: International Norms and Domestic Change. Ramirez. 1975. W. Sacko. Strouse. 1999. Risse. Melissa Bolyard. 2001. Thomas. “Human Rights and the Global Economy: A Response to Meyer. 1987. Thousand Oaks. Calif. “Global Civil Society and Ethnic Social Movements in the Contemporary World. 1979.” Journal of Conflict Resolution 19:379– 416..J. 1994. James.” International Studies Quarterly 45:219–39. Michael. dan Anna Ippolito. Theory of International Politics. Claude. “Global Civil Society and the International Human Rights Movement: Citizen Participation in International Human Rights Nongovernmental Organizations. “Global Human Rights and State Sovereignty: Nation-States’ Ratification of International Human Rights Treaties. edited by D. Francisco O. 2001. Tsutsui. London: Macmillan. Richard. “Empirical Comparative Rights Research: Some Preliminary Tests of Development Hypotheses. Beverly Hills. Smith.” Human Rights Quarterly 7:205–29. James C.” Paper presented at the annual meeting of the American Sociological–Association. Stohl.: Princeton University Press. 1999. John W. dan Kathryn Sikkink. Jackie. Baltimore: Johns Hopkins University Press.” American Political Science Review 80:921– 45.Wesley. JURNAL HAM • Vol. Princeton. Meyer.” In Comparative Human Rights. Scott.” Human Rights Quarterly 21:207–19. 1890– 1970. Soysal. Chicago: University of Chicago Press. 1890–1970.. Kiyoteru.

1 Tujuh perjanjian utama hak HAM menetapkan standar-standar internasional bagi perlindungan dan pemajuan HAM di mana Negara-negara dapat mendaftarkan diri menjadi pihak pada setiap perjanjian tersebut. 30 Sistem Perjanjian Hak Asasi Manusia: Pengantar terhadap Perjanjian Hak Asasi Manusia Utama dan Badan-Badan Perjanjian Lembar Fakta ini merupakan suatu pengantar umum terhadap perjanjian dan komite internasional hak asasi manusia (HAM) utama. Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (Office of the High Commissioner for Human Rights/OHCHR) telah menerbitkan lembar fakta yang spesifik mengenai ketujuh perjanjian utama. Setiap Negara Pihak memiliki kewajiban untuk mengambil langkah-langkah yang menjamin bahwa setiap orang di Negara tersebut dapat menikmati hak-hak yang diatur dalam perjanjian. Bagian I menggambarkan tentang tujuh perjanjian HAM utama yang saat ini JURNAL HAM • Vol. melainkan dibentuk oleh resolusi Dewan Ekonomi. holistik. yang meninjau semua perjanjian dan badan perjanjian. dengan tujuan untuk melihat sejauh mana mereka dapat berfungsi atau bekerja bersama sebagai suatu sistem yang menyatu. yang setiap lembar faktanya mencantumkan informasi mengenai badan perjanjiannya. Sejauh mana perjanjian dan badan perjanjian dapat bekerja bersama-sama sebagai suatu sistem tergantung pada dua faktor: pertama. Sosial. dan. Harus diperhatikan bahwa Komite Hak Ekonomi. Walaupun setiap perjanjian merupakan instrumen hukum yang terpisahpisah. Social and Cultural Council/ECOSOC). badan-badan perjanjian harus mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan mereka untuk menghasilkan suatu pendekatan yang konsisten dan sistematis terhadap monitoring pelaksanaan HAM di tingkat nasional. Badan perjanjian membantu Negara-negara Pihak melakukan hal tersebut dengan memonitor pelaksanaannya dan merekomendasikan langkah-langkah selanjutnya. Negara harus menerima semua perjanjian HAM internasional utama secara sistematis dan melaksanakan ketentuanketentuannya (ratifikasi universal dan efektif). dan Budaya (Committee on Economic. Bagi mereka yang tertarik pada suatu perjanjian atau badan perjanjian tertentu dapat merujuk pada terbitan-terbitan tersebut. Lembar fakta ini menggunakan pendekatan yang lebih umum. Sosial. buku ini menggambarkan tentang suatu “sistem perjanjian” HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). atau “badan perjanjian” yang memonitor pelaksanaan perjanjian oleh Negara-negara Pihak. istilah “badan perjanjian” diadopsi untuk tujuan-tujuan berikut ini.Lembar Fakta Perserikatan Bangsa-Bangsa No. yaitu untuk menggambarkan setiap komite yang memonitor pelaksanaan perjanjian HAM. dan walaupun setiap badan perjanjian merupakan suatu komite yang ter1 Penyebutan komite yang dibentuk berdasarkan diri dari para ahli yang independen dari komite-komite lainnya. Namun demikian. dan terintegrasi bagi pemajuan dan perlindungan HAM. Social and Cultural Rights/ CESCR) secara teknis bukan merupakan suatu badan perjanjian karena tidak secara langsung dibentuk berdasarkan Kovenannya. dan Budaya (Economic. 102 . 2007 perjanjian sebagai “badan perjanjian” HAM telah diterima secara luas. yang mana setiap Negara dapat memilih untuk menerima ataupun tidak menerimanya. 4 • Th. kedua. walaupun ketentuan-ketentuan di setiap perjanjian merujuk secara spesifik pada “komite”nya.

BAGIAN I Membangun standar-standar HAM: perjanjian dan protokol opsionalnya Pada awal abad ke-20. perlindungan HAM telah mulai berkembang sebagai suatu wacana penting bagi masyarakat internasional. dalam suatu dialog antarnegara yang bersifat keras tetapi konstruktif. mengenai pelaksanaan HAM di negara-negara mereka. Termasuk di dalamnya. Perjanjian-perjanjian ini merupakan produk lebih dari setengah abad elaborasi atau penjelasan yang berkesinambungan sejak adopsi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia atau DUHAM (Universal Declaration of Human Rights) dengan suara bulat oleh Majelis Umum PBB pada 1948. baik di tingkat nasional maupun internasional. Suatu glossary mengenai istilah-istilah teknis yang digunakan berkaitan dengan baik perjanjian-perjanjian maupun badanbadan perjanjian juga disediakan guna membantu pembaca dalam hal terminologi yang digunakan berkaitan dengan perjanjian-perjanjian dan badan-badan perjanjian. Semua badan perjanjian akan dipertimbangkan secara sama.berlaku. perbedaan-perbedaan dalam praktik dapat ditemukan di lembar fakta yang spesifik. Semua Negara memiliki komitmen untuk memajukan penghormatan bagi hak dan kebebasan yang dicantumkan dalam Deklarasi dan untuk mengambil langkah-langkah untuk menjamin pengakuan dan ketaatan terhadap hak dan kebebasan tersebut secara universal dan efektif. Bagian III menggambarkan tentang tantangan-tantangan yang dihadapi oleh sistem perjanjian HAM. Upaya-upaya telah dilakukan oleh Liga Bangsa-Bangsa (LBB) yang dibentuk pada akhir Perang Dunia Kedua untuk membangun suatu kerangka hukum internasional guna melindungi kelompok minoritas. Ketujuh perjanjian HAM menjelaskan lebih lanjut suatu kerangka hukum yang komprehensif di mana setiap Negara dapat memenuhi komitmennya dalam pemajuan dan perlindungan HAM secara universal dengan bantuan badanbadan perjanjian. 4 • Th. 2007 DUHAM menyatakan dengan jelas bahwa semua HAM bersifat tidak terbagi (indivisible) dan saling berkaitan (interrelated). Bagian II menjelaskan tentang pekerjaan tujuh badan perjanjian HAM yang dibentuk berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. Sistem badan perjanjian terdiri dari hal-hal utama yang wajib dilakukan oleh Negara-negara di forum internasional. JURNAL HAM • Vol. dan bahwa setiap hak harus ditekankan kepentingannya secara sama. dengan berfokus pada elemen-elemen yang serupa dalam mandat dan metode kerja mereka. termasuk mekanisme monitoring internasionalnya. upaya-upaya untuk meningkatkan efektivitas sistem. Kekejaman dan ketakutan yang terjadi pada Perang Dunia Kedua telah memotivasi masyarakat internasional untuk berupaya menjamin bahwa kekejaman seperti itu tidak lagi terulang dan menyediakan daya pendorong bagi gerakan modern untuk membentuk suatu sistem perlindungan HAM internasional yang bersifat mengikat. Badan perjanjian ini memonitor pelaksanaan hak-hak yang diatur dalam perjanjian tersebut oleh Negaranegara yang telah menerimanya. Selain itu juga didiskusikan tentang dampak penekanan baru atas pembentukan dan dukungan sistem perlindungan di tingkat nasional terhadap sistem perjanjian di tingkat internasional. khususnya melalui pengarusutamaan (streamlining) prosedur pelaporan Negara. 103 .

Pasal 22 sampai pasal 28 menjamin sejumlah hak ekonomi. Upaya ini telah menghasilkan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM). bersama dengan tokoh-tokoh lain seperti Rene Cassin. Deklarasi menyebutkan satu demi satu pengelompokan hak-hak secara spesifik: sipil. yang kemudian dikenal sebagai Hari Hak Asasi Manusia Internasional. di mana hak dan kebebasan yang diatur dalam Deklarasi ini dapat diwujudkan sepenuhnya”. 104 JURNAL HAM • Vol. Deklarasi juga menyediakan secara tegas dasar bagi struktur perjanjian untuk ditegakkan di dekade-dekade berikutnya. telah menjadi aturan-aturan yang mengikat secara hukum melalui praktikpraktik di Negara-negara. Ini adalah norma-norma yang.Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (1948) Piagam PBB 1945 memproklamasikan bahwa salah satu tujuan PBB adalah untuk memajukan dan mendorong penghormatan terhadap HAM dan kebebasan mendasar bagi semua orang. kesaling-terkaitan. Dengan dorongan yang kuat dari Elenor Roosevelt. dan John Humphrey. Dengan de- mikian. yang digambarkan sebagai “suatu standar umum bagi pencapaian semua orang dan semua bangsa”. sosial. Hal ini merupakan suatu penekanan yang kemudian diafirmasikan kembali bertahun-bertahun kemudian pada Deklarasi Konferensi Dunia tentang Hak Asasi Manusia di Wina pada 1993. Peng Chun Chang. Tidak hanya itu. Sebagaimana tercerminkan dalam namanya. Dokumen ini. yang diadopsi dengan suara bulat oleh Majelis Umum PBB pada 10 Desember 1948. yang merepresentasikan sebagaimana disepakati untuk pertama kalinya secara internasional definisi hak-hak semua orang. Contohnya termasuk larangan terhadap penyiksaan dan diskriminasi rasial. politik. Charles Malik. ekonomi. budaya. namun pentingnya dokumen ini tidak boleh diremehkan. 4 • Th. walaupun Deklarasi bukan merupakan perjanjian yang mengikat secara hukum. beberapa komentator berkomentar bahwa keseluruhan Deklarasi ini memiliki status demikian. Pasal pertamanya dengan terkenal menggambarkan ide hak asasi manusia yang mendasar. Deklarasi menekankan pada kesatuan. dan interdependensi semua hak tersebut. Pasal 3 sampai pasal 21 menggambarkan hak sipil dan politik yang klasik (termasuk hak suaka dan hak atas kepemilikan). maka untuk pertama kalinya Negara-negara berupaya mencari jalan untuk membuat suatu dokumen tunggal yang berisikan berbagai hak dan kebebasan mendasar yang dimiliki oleh setiap individu karena status mereka sebagai manusia. 2007 . dan budaya. melalui penggambarannya yang komprehensif mengenai berbagai jenis hak. yang diadopsi dalam bayang-bayang masa pelanggaran yang sedemikian masif terhadap hak-hak yang dicantumkan dalam dokumen tersebut. Dokumen ini memiliki kekuatan moral yang tinggi. dan sosial. Setelah membuat suatu ketentuan umum mengenai diskriminasi. walaupun tidak ditentukan dalam suatu perjanjian. yaitu: “Semua manusia dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak yang sama”. Apakah Deklarasi merupakan Hukum Kebiasaan? Telah diterima secara luas bahwa beberapa ketentuan dalam Deklarasi saat ini telah menjadi aturan dalam hukum kebiasaan internasional. dengan pengakuan penting di pasal 28 bahwa “Setiap orang berhak atas ketertiban sosial dan internasional. menetapkan serangkaian hak yang mencakup semua aspek kehidupan.

4 • Th. 2007 INSTRUMEN OP OP* Laporan Laporan Pengaduan Individual & penyelidikan SCP Kunjungan & Laporan Laporan OP2 OP SC KIHESB 1966 ICERD 1965 CEDAW 1979 CAT 1984 CRC 1989 KIHSP 1966 ICPMW 1990 OP AC PROTOKOL OPSIONAL OP1 Laporan Laporan Laporan Laporan Pengaduan Individu ECOSOC Pengaduan individual berdasarkan pasal 14 Pengaduan individual berdasarkan pasal 22 dan penyelidikan Pengaduan individual berdasarkan pasal 77 (belum berlaku) BADAN PERJANJIAN Komite Hak Ekonomi. Sosial dan Budaya Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial Komite Hak Asasi Manusia Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan Komite Menentang Penyiksaan Komite Hak Anak Komite Pekerja Migran 105 SCP = Subkomite Pencegahan *OPCAT belum berlaku .Sistem Perjanjian Hak Asasi Manusia PBB: menunjukkan perjanjian dan mandat badan perjanjian DEKLARASI UNIVERSAL HAK ASASI MANUSIA Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia JURNAL HAM • Vol.

Perjanjian-perjanjian selanjutnya memperluas daftar tersebut lebih lanjut. Hal ini mengarah pada negosiasi-negosiasi yang panjang di Komisi Hak Asasi Manusia. Pasal 2 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia menentukan suatu daftar yang bersifat non-exhaustive mengenai dasar-dasar yang dilarang bagi diskriminasi: Ras atau warna kulit. kelahiran. Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial dan Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan dibuat secara spesifik untuk menghapuskan bentuk-bentuk khusus diskriminasi. yaitu diskriminasi rasial dan diskriminasi terhadap perempuan. Jenis kelamin. Konvensi juga mewajibkan untuk mengambil langkah-langkah yang selayaknya untuk mencegah diskriminasi rasial mengakar di masyarakat. Dua perjanjian. 4 • Th. keturunan serta asal usul kebangsaan dan etnis. yaitu suatu badan politik yang terdiri dari perwakilan Negara-negara. sosial. Bahasa. warna kulit.Nondiskriminasi dalam penikmatan hak asasi manusia Semua perjanjian hak asasi manusia utama mencerminkan prinsip umum yang diadopsi oleh Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia bahwa hak-hak yang diatur dalam perjanjian-perjanjian harus dapat dinikmati tanpa diskriminasi dalam bentuk apa pun. Daftar yang sama tercantum di pasal 2 dari kedua Kovenan Internasional. Informasi lebih lanjut mengenai DUHAM dapat ditemukan di Lembar Fakta No. Konvensi juga menetapkan suatu rangkaian hak asasi manusia spesifik yang ekstensif – baik dalam bidang sipil dan politi serta ekonomi. Pendapat politik atau lainnya. yang secara langsung mengikat Negara-negara yang menyetujui ketentuanketentuan di dalamnya. Selain kewajiban yang nyata bahwa Negara harus menahan diri dari tindakan-tindakan semacam itu di semua tingkatan. yang diadopsi oleh Majelis Umum pada Desember 1965. termasuk dilakukannya propaganda ide-ide rasial yang dilakukan oleh kelompok-kelompok dan organisasi-organisasi. Asal-usul kebangsaan atau sosial. ada kesepakatan bersama bahwa hak-hak yang tercantum di dalamnya harus diterjemahkan pada bentuk legal sebagai perjanjian-perjanjian. 2: Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial (1965) Ketika DUHAM diadopsi. atau lainnya. Mengingat pentingnya secara politis kebangkitan rejim apartheid di Afrika Selatan. yang melarang pembedaan berdasarkan ras. Setelah mendefinisikan diskriminasi rasial. perjanjian pertama yang disepakati mengatur tentang fenomena khusus diskriminasi rasial: Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. 2007 106 . Status kepemilikan. Agama. dan budaya dan kebanyakan diantaranya disebutkan satu per satu dalam Deklarasi – yang harus dijamin tanpa pembedaan JURNAL HAM • Vol. yang bertemu setiap tahunnya di Jenewa untuk membicarakan berbagai persoalan HAM. Konvensi ini mengatur kewajiban Negara-negara Pihak secara detil untuk memerangi momok tersebut dalam enam pasal.

dan politiknya. 4 • Th. negosiasi sedang berlanjut mengenai dua perjanjian utama: Kovenan Interna- JURNAL HAM • Vol. 2 Resolusi 543 (V). dan Budaya (KIHESB). baik melalui pengadilan ataupun institusi-institusi lainnya. keturunan atau kebangsaan atau suku bangsa. warna kulit. paragraf 1. yang dibentuk oleh Konvensi untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. Proses pembuatan suatu instrumen yang mengikat secara hukum yang mengabadikan hak-hak yang ada dalam DUHAM telah dimulai segera setelah diadopsinya Deklarasi pada 1948. budaya. Bagian I dari kedua Kovenan sama-sama menentukan tentang hak semua orang untuk menentukan nasibnya sendiri dan untuk secara bebas mengelola kekayaan dan sumber daya alamnya. Informasi lebih lanjut mengenai Konvensi ini dapat ditemukan di Lembar Fakta No.2 Kedua Kovenan akhirnya diadopsi oleh Majelis Umum pada Desember 1966 dan mulai berlaku pada 1976. pencapaian atau pelaksanaan. Konvensi juga menentukan perbaikan (remedy) yang efektif terhadap tindakan diskriminasi rasial sebagai suatu hak mendasar. hak asasi manusia. Majelis Umum meminta Komisi Hak Asasi Manusia untuk membuat dua kovenan yang terpisah. dengan menyatakan bahwa HAM yang ideal hanya bisa dicapai jika dibentuk kondisi-kondisi di mana setiap orang bisa menikmati hak ekonomi. ekonomi. Pada awalnya. Negara-negara juga dapat memilih untuk mengakui kompetensi Komite untuk mempertimbangkan pengaduan dari individual (pasal 14). 2007 107 . Bagian mukadimah atau pembukaan kedua instrumen mengakui kesalingtergantungan semua HAM. Sosial. Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia Pada saat yang sama dengan disepakatinya Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. kedua Kovenan ini dirujuk sebagai “Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia atau International Bill of Human Rights”. pengecualian. setelah diskusi yang panjang. pembatasan.berdasarkan ras. Sosial. sosial. sional tentang Hak Sipil dan Politik (KIHSP) serta Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. yang meminta agar kedua instrumen tersebut sedapat mungkin memuat sebanyak mungkin ketentuan-ketentuan yang sama guna “menekankan kesatuan dari tujuan yang ada”. sipil. atau pengutamaan berdasarkan ras. atas dasar persamaan. dan kebebasan mendasar dalam bidang politik. budaya atau bidang kehidupan masyarakat yang lain” (pasal 1) Bagian II Konvensi mewajibkan semua Negara Pihak untuk melapor kepada Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial secara berkala. Bersama dengan DUHAM. Akhirnya. Kedua Kovenan memiliki struktur yang sama dan mengadopsi kata-kata yang sama atau serupa di beberapa pasal. dibayangkan adanya suatu kovenan tunggal yang mencakup semua HAM. Berdasarkan pasal 14. Bagian II dari kedua Kovenan mencantumkan ketentuan-ketentuan umum yang melarang diskriminasi (pasal 2 (1) Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik dan pasal 2 (2) Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. sosial. Apa yang dimaksud dengan diskriminasi rasial? “segala bentuk pembedaan. Namun. yang mempunyai maksud atau dampak meniadakan atau merusak pengakuan. 12: Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial.

Sosial. 2007 108 . Bagian IV dari Kovenan mewajibkan semua Negara untuk melapor secara berkala kepada Komite Hak Asasi Manusia. seperti halnya Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial. dan Budaya (1966) Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. berkaitan dengan penikmatan hak-hak Kovenan sebagaimana juga pembatasan yang diijinkan terhadap penikmatan tersebut. termasuk suatu forum yang mandiri dan imparsial di mana tuduhan-tuduhan terhadap pelanggaran-pelanggaran semacam itu bisa dimajukan. Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (1966) Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik menjelaskan mengenai hak sipil dan politik yang tercantum dalam Deklarasi. seperti halnya Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. Sosial. pasal 2 menyediakan hak atas perbaikan (remedy) efektif terhadap pelanggaran hakhak yang dijamin oleh Kovenan. Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. dan menegaskan kesetaraan hak laki-laki dan perempuan (pasal 3 kedua Kovenan). Informasi lebih lanjut mengenai Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik ini dapat ditemukan di Lembar Fakta No. Sosial. 15: Komite Hak Asasi Manusia. Kovenan ini juga memasukkan hak-hak tambahan. dan perlindungan terhadap minoritas di pasal 27. yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam Kovenan. khususnya melalui pemilihan yang Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. misalnya. Oleh karena itu. membangun hak-hak yang sesuai dengan DUHAM dalam detil yang lebih lengkap. 4 • Th. mengenai hak atas pendidikan. Sosial. seperti hak-hak tahanan di pasal 10. mengijinkan Negara-negara untuk menerima kewajiban-kewajiban tambahan. dan Budaya. Sebagai tambahan terhadap pasal 2 (1) dan pasal 3 tentang nondiskriminasi (yang sama dengan di Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. adil dan berkala. dengan pengecualian hak atas kepemilikan dan hak suaka (yang dilindungi terpisah dalam Konvensi tentang Status Pengungsi pada 1951).dan Budaya). yang menentukan langkahlangkah yang harus diambil guna realisasinya secara penuh. Dua protokol opsional tambahan pada Kovenan. Kovenan juga memuat suatu katalog yang panjang mengenai hak dan kebebasan sipil dan politik utama. dan Budaya). Protokol Opsional Pertama 1966 menyediakan hak atas pengaduan individual kepada Komite Hak Asasi Manusia. yang menjelaskan lebih lanjut mengenai hak-hak yang tercantum dalam DUHAM. pasal 26 menjamin kesetaraan di depan hukum dan nondiskriminasi atas perlindungan hukum yang pada umumnya diberlakukan di suatu Negara. Sebagai tambahan. Protokol Opsional Kedua 1989 memajukan penghapusan hukuman mati. Pasal 25 memuat jaminan terhadap hak politik: hak untuk mengambil bagian dalam urusan-urusan publik. dan Budaya meniru bahasa yang digunakan dalam DUHAM. tetapi menyediakan dua pasal (pasal 13 dan pasal 14) bagi dimensi-dimensinya yang berbeda. Bagian III dari setiap Kovenan memuat ketentuan-ketentuan yang substantif. Hak atas kesehatan yang dicakup oleh DUHAM sebagai suatu aspek dari standar kehidupan yang JURNAL HAM • Vol. yang menentukan kewajiban bagi pendidikan dasar yang bersifat wajib dan tersedia secara cuma-cuma serta untuk mengambil langkah-langkah guna mencapai pendidikan lanjutan dan pendidikan tinggi yang tersedia secara cuma-cuma.

dengan maksud untuk mencapai secara bertahap perwujudan penuh dari hak-hak yang diakui dalam [Kovenan]”. Konvensi ini memuat berbagai aspek kebijakan dan program dari persoalan-persoalan spesifik. yang menjamin keselamatan dan kesehatan dalam pekerjaan. Kovenan juga menentukan suatu kewajiban segera (immediate obligation) untuk mengambil langkah-langkah yang disengaja. 4 • Th. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (1979) Pada 1979 masyarakat internasional mengadopsi suatu perjanjian baru yang menangani fenomena khusus: diskriminasi terhadap perempuan atas dasar jenis kelamin. seperti halnya diskriminasi rasial. Kovenan juga mengakui peran yang lebih luas dari masyarakat internasional (pasal 2 (1). Sosial. pasal 11 (2). Diskriminasi berdasarkan jenis kelamin. Hak Ekonomi. dan Budaya. dilarang di dalam kedua Kovenan. dan Budaya utama: Hak atas nondiskriminasi Hak atas pekerjaan Kondisi pekerjaan yang adil dan baik Hak-hak pekerja Hak atas jaminan sosial Perlindungan terhadap keluarga Hak atas standar kehidupan yang layak Hak atas kesehatan Hak atas pendidikan Hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan budaya Salah satu perbedaan yang terlihat diantara kedua Kovenan adalah prinsip pencapaian secara bertahap (progressive realization) di Bagian II dari Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. pasal 15 (4). dan bertarget yang mengarah pada perwujudan penuh hak-hak yang diatur dalam Kovenan. Pasal 2 (1) menyatakan bahwa Negara Pihak “mengambil langkah-langkah. Informasi lebih lanjut mengenai Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. tetapi Konvensi ini memuat sejumlah inovasi yang mencerminkan perkembangan selama lima belas tahun setelah 109 . Prinsip pencapaian secara bertahap mengakui hamJURNAL HAM • Vol. Pasal 6 mengenai hak atas pekerjaan dilengkapi oleh pasal 7 yang memuat ketentuan tentang hak atas kondisi kerja yang adil dan baik. kesetaraan dalam hal promosi ke jenjang yang lebih tinggi. pasal 22. Sosial.layak. 2007 batan-hambatan yang mungkin dihadapi oleh Negara-negara Pihak berkaitan dengan keterbatasan sumber daya. 16: Komite Hak Ekonomi. Namun demikian.] sepanjang tersedia sumber dayanya. dan pasal 23) yang dibangun dari prinsip-prinsip di pasal 22 dan 28 DUHAM. serta termasuk persoalan-persoalan spesifik yang berkaitan dengan kesehatan seperti kesehatan lingkungan serta penyakit-penyakit menular dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan. dan pembayaran pada saat hari-hari libur umum. konkret. Namun demikian. dan Budaya ini dapat ditemukan di Lembar Fakta No. [.. dalam Kovenan diberikan pasal tersendiri: pasal 12 yang mengakui hak atas standar tertinggi yang dapat dicapai dalam hal kesehatan fisik dan mental. Sosial. Sosial. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan mengatur secara detil mengenai apa yang dimaksud dengan pelarangan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin dari perspektif kesetaraan antara perempuan dan laki-laki.. Konvensi mengadopsi suatu bentuk yang diperagakan dalam Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial. dan Budaya.

atau merendahkan martabat. atau lainnya oleh kaum perempuan” (pasal 1) Bagian V dari Konvensi mewajibkan semua Negara Pihak untuk melapor secara berkala kepada Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan. yang berakibat atau atau bertujuan untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan. kebiasaan. Pasal 9 dan pasal 10 memperluas konsep kesetaraan dalam hal kewarganegaraan dan pendidikan. budaya. atau Merendahkan Martabat (1984) Pada 1984 perjanjian lain diadopsi yang mengatur tentang suatu fenomena spesifik: penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi lainnya. pengucilan atau pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin. tidak manusiawi. atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan mendasar di bidang politik. Pasal 6 secara eksplisit mewajibkan Negara-negara untuk memberangus segala bentuk perdagangan perempuan dan eksploitasi pelacuran. termasuk dengan memusnahkan perilaku. 22: Diskriminasi terhadap Perempuan: Konvensi dan Komite. dan bidang-bidang lain dalam kehidupan ekonomi dan sosial. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan memulai dengan mendefinisikan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin. Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam. 4 • Th. Pasal 15 dan pasal 16 memperluas hakhak atas kesetaraan di hadapan hukum serta dalam hal perkawinan dan hubungan keluarga. ekonomi. kesehatan. sipil. pasal 14 adalah satu-satunya ketentuan dalam perjanjian-perjanjian yang menangani persoalan-persoalan khusus yang dihadapi oleh perempuan di daerah-daerah pedesaan. Pasal 7 dan pasal 8 merinci kewajiban-kewajiban untuk menjamin partisipasi yang setara antara perempuan dan laki-laki dalam kehidupan publik dan politik. 2007 110 .Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial diadopsi. walaupun fenomena ini secara implisit dapat termasuk dalam pelarangan perbudakan dan kerja paksa yang termuat di instrumen lain. sementara pasal 11. Pasal 7 Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik memuat larangan terhadap penyiksaan dan perlakuan atau penghukuman yang kejam. yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. Apa yang dimaksud dengan diskriminasi terhadap perempuan? “pembedaan. penikmatan. tetapi Konvensi yang memiliki nama yang sama dengan lebih lanjut membangun suatu skema hukum yang ditujukan baik untuk pelarangan maupun penghukuman JURNAL HAM • Vol. Dengan mengaplikasi prinsip-prinsip umum dalam suatu fenomena khusus. Seperti halnya Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. Pasal-pasal awal mewajibkan Negara-negara untuk menahan diri dari diskriminasi berdasarkan jenis kelamin dalam penyelenggaraan Negara dan mengambil langkah-langkah guna mencapai kesetaraan yang faktual dan legal dalam segala bidang kehidupan. pasal 12. dan pasal 13 menjelaskan tentang hak-hak perempuan atas pekerjan. dan praktik-praktik diskriminasi dalam masyarakat. sosial. Informasi lebih lanjut mengenai Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan ini dapat ditemukan di Lembar Fakta No. Tidak Manusiawi.

apabila rasa sakit dan penderitaan tersebut ditimbulkan oleh. 4 • Th. atau yang warga negaranya terlibat sebagai pelaku atau korban. baik jasmani maupun rohani. maka Negara tersebut memiliki yurisdiksi JURNAL HAM • Vol. deportasi. Setelah mendefinisikan penyiksaan. Yang secara dekat berkaitan dengan hal ini adalah pelarangan utama yang termuat dalam pasal 3 berkaitan dengan pengembalian atau ekstradisi “non-refoulment”: jika terdapat alasan yang kuat untuk percaya bahwa seorang individu akan mengalami penyiksaan di suatu negara. Negara tersebut dapat meminta ekstradisi terhadap orang yang dituduh sebagai pelaku dari negara lain. Ketimbang memuat tentang “hak atas perbaikan (remedy) yang efektif” yang umum bagi pelanggaran-pelanggaran sebagaimana tercantum dalam perjanjian-perjanjian lain. pasal 4 dan pasal 9 membentuk suatu skema di mana suatu Negara di mana penyiksaan telah terjadi. atau mengancam atau memaksa orang itu atau orang ketiga. Negara-negara juga dapat memilih menerima kompetensi Komite untuk mempertimbangkan pengaduan dari Negara-negara lain atau pengaduan individual. bukti-bukti yang dikumpulkan melalui penyiksaan tidak boleh digunakan di pengadilan. 2007 terhadap tindak pidana tersebut. Berdasarkan pasal 21 dan pasal 22. atau untuk suatu alasan yang didasarkan pada diskriminasi. atau dikembalikan ke negara tersebut. maka orang tersebut tidak boleh diekstradisi. pasal 16 mewajibkan Negara-negara untuk mencegah perlakuan atau penghukuman yang kejam.terhadap praktik-praktik tersebut. yang – jika permintaan ekstradisi ditolak – maka negara lain tersebut harus melakukan proses hukum terhadap orang yang dituduh sebagai pelaku tersebut. Tujuan dari ketentuan-ketentuan ini adalah untuk menjamin bahwa tidak ada tempat bersembunyi bagi pelaku tindakantindakan yang dilarang oleh perjanjian. Ketika kebutuhan untuk menghukum penyiksaan mulai melintasi batas negara. atas hasutan dari. Apa yang dimaksud dengan penyiksaan? “setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja sehingga menimbulkan rasa sakit atau penderitaan yang hebat. dengan persetujuan. dengan kompensasi yang adil dan layak sebagaimana juga rehabilitasi penuh kepada korban penyiksaan. termasuk perintah atasan. Konvensi menyatakan dengan jelas bahwa tidak ada kondisi apa pun. Kemudian. dengan menghukumnya atas suatu perbuatan yang telah dilakukan atau diduga telah dilakukan oleh orang itu atau orang ketiga. Konvensi Menentang Penyiksaan dalam pasal 12 sampai pasal 14 mengatur hak atas penyelidikan yang segera dan imparsial terhadap tuduhan terjadinya penyiksaan. Negara Pihak harus mengkriminalisasi penyiksaan dan menghukumnya secara layak. yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam Konvensi. Bagian II dari Konvensi mewajibkan setiap Negara Pihak untuk melapor secara berkala kepada Komite Menentang Penyiksaan. Berdasarkan pasal 15. Sebuah protokol opsional pada Konvensi disepakati pada 2002 dan akan mulai berlaku ketika telah diterima oleh 20 Ne- 111 . Pasal 10 dan pasal 11 memuat tentang pendidikan bagi para penegak hukum dan peninjauan terhadap metode-metode mereka. dapat menjustifikasi suatu tindak penyiksaan – larangan ini bersifat absolut. pada seseorang untuk memperoleh pengakuan atau keterangan dari orang itu atau dari orang ketiga. tidak manusiawi atau merendahkan martabat agar tidak meningkat menjadi penyiksaan. atau sepengetahuan pejabat pemerintah” (pasal 1).

112 JURNAL HAM • Vol.gara. kelangsungan hidup. ketentuan-ketentuan tertentu mencakup hak anak atas identitas (pasal 7 dan pasal 8). dan Budaya menentukan bahwa anak-anak berhak atas langkah-langkah perlindungan khusus yang mereka butuhkan sebagai anak-anak. serta penculikan. sebagai prajurit dalam konflik. dan mewajiban mereka untuk tidak merekrut maupun menggunakan anak-anak di bawah usia 15 tahun. perlindungan dari eksploitasi ekonomi (pasal 32). penyalahgunaan obat-obatan (pasal 33). sebagai manusia yang berusia kurang dari 18 tahun. Sosial. 2. Konvensi Hak Anak (1989) Perjanjian pertama yang menangani secara komprehensif hak suatu kelompok khusus adalah Konvensi Hak Anak. dan perkembangan: hak yang melekat pada seorang anak untuk hidup dan kewajiban Negara-negara Pihak untuk menjamin semaksimal mungkin kelangsungan hidup dan perkembangan anak (pasal 6). Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat dapat ditemukan di Lembar Fakta No. Kepentingan terbaik bagi seorang anak: bahwa kepentingan terbaik bagi seorang anak harus menjadi pertimbangan utama dalam semua tindakan berkaitan dengan seorang anak (pasal 3). Baik pasal 24 dari Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik dan pasal 10 dari Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. 4 • Th. Pasal 23 mengatur secara khusus perawatan anak-anak penyandang cacat. 2007 . pernyataan kembali hak-hak ini dengan penekanan pada situasi-situasi khusus anak-anak dalam satu dokumen yang komprehensif memberikan suatu kesempatan untuk membentuk ketentuan-ketentuan tambahan yang relevan dengan anak-anak. Protokol opsional ini menyediakan suatu sistem kunjungan berkala oleh badan-badan internasional dan nasional ke tempat-tempat penahanan dengan tujuan untuk mencegah penyiksaan dan perlakuan kejam lainnya. dan adopsi (pasal 21). penjualan. jika dimungkinkan. perpisahan dari orang tua (pasal 9). Konvensi Hak Anak mengatur langkahlangkah ini secara lebih detil. Sementara anak-anak. Hak hidup. dan perdagangan anak-anak (pasal 35) secara eksplisit diatur dalam Konvensi ini. misalnya. Empat “Prinsip-Prinsip Umum” bagi implementasi hak anak Komite Hak Anak telah mengidentifikasikan empat prinsip-prinsip umum yang termuat dalam Konvensi yang dapat memandu Negara-negara dalam melaksanakan hak anak: 1. Mengakui kerentan- an khusus pada anak-anak. 17: Komite Menentang Penyiksaan. Oleh karena itu. perlindungan dari penganiayaan (pasal 19). perpindahan secara gelap (pasal 11). eksploitasi seksual (pasal 34). Pasal 22 menyebutkan mengenai situasi khusus anak-anak pengungsi. 3. penyatuan kembali dengan keluarga (pasal 10). Informasi lebih lanjut mengenai Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam. Pasal 38 menegaskan kembali kewajiban Negara-negara Pihak dalam konflik bersenjata berdasarkan hukum humaniter internasional. memang menikmati semua HAM yang diatur dalam perjanjian-perjanjian lain. Nondiskriminasi: kewajiban Negara-negara untuk menghormati dan menjamin hak-hak yang diatur dalam Konvensi bagi setiap anak di wilayah yurisdiksi mereka tanpa diskriminasi dalam bentuk apa pun (pasal 2).

seperti hak atas pemberitahuan konsuler berkaitan dengan penangkapan dan ketentuan-ketentuan khusus berkaitan dengan pelanggaran terhadap hukum migrasi dan pemusnahan dokumen-dokumen identitas serta larangan pengembalian secara kolektif. keberangkatan. Konvensi kemudian diatur dalam dua bagian hak yang terpisah. kebebasan berserikat dan berkumpul dengan damai (pasal 15) dan privasi (pasal 16). dan juga kesehatan (pasal 24). kebebasan berpikir. Konvensi ini berlaku bagi seluruh proses migrasi. dan beragama (pasal 14). lihat Komentar Umum Konvensi Hak Anak No. transit. serta hak ekonomi. pertama. semua pekerja migran dan anggota keluarganya. Dalam mendefinisikan hak sipil dan politik pekerja migran. sosial. 2007 113 . 5 (CRC/GC/2003/5) Di luar ketentuan-ketentuan yang menegaskan hak anak dalam hal perlindungan. Bagian II Konvensi mewajibkan semua Negara Pihak untuk melapor secara berkala kepada Komite Hak Anak. dan keseluruhan masa tinggal dan kegiatan yang mendapatkan pembayaran di Negara yang mempekerjakan. misalnya. hak-hak tambahan pekerja migran dan keluarganya yang memiliki dokumen. Pendapat anak tentang situasinya sendiri: hak anak untuk mengungkapkan pendapatnya secara bebas “dalam semua hal yang mempengaruhi anak tersebut”. anakanak memiliki hak penuh atas kebebasan berekspresi (pasal 13). diatur secara detil dalam dua protokol opsional Konvensi. Oleh karena itu. Persoalan keterlibatan anak-anak dalam konflik bersenjata. walaupun hak-hak ini juga memberikan kewajiban-kewajiban khusus kepada Negara-negara pengirim. Informasi lebih lanjut mengenai Kon- vensi Hak Anak dapat ditemukan di Lembar Fakta No. Informasi lebih lanjut. yang dibentuk oleh Konvensi untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. kedua. Konvensi mengikuti bahasa dalam Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. jaminan sosial (pasal 26). 10: Hak Anak. berkeyakinan. dan budaya yang diatur dalam Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. yang mengatur tentang hak-hak kelompok tertentu yang membutuhkan perlindungan: semua pekerja migran dan anggota keluarganya. 4 • Th. dan pronografi anak. Konvensi Internasional tentang Perlindungan terhadap Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya (1990) Perjanjian HAM yang terbaru adalah Konvensi Pekerja Migran. Konvensi Hak Anak juga menyediakan dasar baru dengan mengelaborasi perspektif anak-anak berkaitan dengan hak sipil dan politik klasik yang termuat dalam Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. serta saat kembali ke Negara asal atau Negara tempat tinggal asalnya. Konvensi diawali dengan laranganlarangan diskriminasi yang sudah dikenal terhadap penikmatan hak-hak dalam Konvensi. dan. Sebagai tambahan. akses terhadap informasi (pasal 17). Beberapa pasal menyatakan kembali hak-hak yang dipertimbangkan dalam situasi khusus pekerja migran.4. dan Budaya. pelacuran anak. Mayoritas hak-hak dalam Konvensi ini berkaitan dengan Negara penerima. hak atas JURNAL HAM • Vol. apa pun status migrasi mereka. apa pun usia dan kematangan mereka. serta standar kehidupan yang layak (pasal 27). pendapat tersebut harus menjadi pertimbangan : sesuai dengan usia dan kematangan anak” (pasal 12). serta penjualan anak. termasuk persiapan migrasi. yang diadopsi pada 2000. Sosial.

saling berkaitan. di luar keterlibatan mereka dalam sistem perjanjian HAM PBB. Ketujuh perjanjian PBB tidak dimaksudkan menjadi suatu katalog yang pasti mengenai kewajiban HAM suatu Negara. misalnya. dan anak-anak pekerja migran memiliki hak dasar atas akses terhadap pendidikan apa pun status hukum mereka. yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. sosial. pekerja musiman. Kesalingtergantungan ini adalah salah satu alasan untuk membuat suatu pendekatan yang lebih terkoordinasi oleh badan perjanjian HAM atas kegiatankegiatan mereka. Pasal 76 dan pasal 77 juga menyediakan suatu hak atas pengaduan oleh Negara-negara Pihak lain atau pengaduan individu. 4 • Th. pekerja yang berpindah-pindah (itinerant).kepemilikan. khususnya dengan mendorong Negara-negara untuk memandang pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam semua perjanjian tersebut sebagai bagian dari tujuan yang satu. Konvensi mendefinisikan hak ekonomi. seperti Konvensi ILO 182 tentang pelarangan bentukbentuk terburuk pekerjaan anak. tetapi tergantung pada penikmatan semua hak lainnya. Hak-hak tambahan berlaku bagi pekerja-pekerja yang memiliki dokumen yang sah. dan saling menguatkan. Sebagai tambahan. atau KonJURNAL HAM • Vol. saling bergantung. perlindungan efektif atas pelanggaran terhadap hak-hak. berdasarkan prinsip-prinsip bersama tersebut. selama Negara Pihak menerima kompetensi Komite dalam hal tersebut. sebenarnya perjanjian-perjanjian tersebut saling melengkapi satu sama lain. dengan hasil bahwa tidak ada satu hak pun yang dapat dinikmati sepenuhnya jika terisolasi. berdiri sendiri-sendiri. 2007 Membaca keseluruhan perjanjian sebagai suatu kesatuan Untuk sepenuhnya memahami kewajiban-kewajiban Negara berdasarkan perjanjian-perjanjian ini. dan budaya pekerja migran dalam hal situasi khusus mereka. setidaknya harus disediakan perawatan medis sebagaimana hal tersebut disediakan bagi seorang warga negara. dan bagi kelompok pekerja migran tertentu seperti pekerja frontier. Semua perjanjian tersebut. dan pekerja yang berbasis-proyek. perjanjian-perjanjian lain. adalah penting untuk membaca seluruh perjanjian HAM di mana suatu Negara menjadi pihak sebagai suatu kesatuan. ketimbang sebagai obyek pasif dari keputusan-keputusan pihak berwenang. perlindungan khusus bagi kelompok rentan tertentu. dengan sejumlah prinsip yang mengikat mereka bersama-sama. Setiap perjanjian mencantumkan baik secara eksplisit maupun implisit prinsip-prinsip dasar nondiskriminasi dan kesetaraan. Kebanyakan Negara. dapat memperluas lebih lanjut perlindungan yang ditawarkan kepada orang-orang dalam yurisdiksi Negara tersebut. secara spesifik disebutkan secara satu persatu bagi pekerja migran. Ketimbang sebagai perjanjian- 114 . termasuk Konvensi tentang Status Pengungsi dan Konvensi-konvensi ILO. 24: Hak Pekerja Migran. Bagian VII dari Konvensi mewajibkan semua Negara Pihak melapor secara berkala kepada Komite Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. perjanjian yang terpisah-pisah. Oleh karena itu. dan pemahaman bahwa manusia adalah mahluk yang aktif dan merupakan partisipan yang terlibat dalam kehidupan publik dalam Negara di mana ia berlokasi dan dalam keputusan-keputusan yang mempengaruhinya. yang pada awalnya dilindungi dalam Deklarasi tetapi tidak termuat dalam Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. Informasi lebih lanjut mengenai pekerja migran dan Konvensinya dapat ditemukan di Lembar Fakta No.

yang memonitor pelaksanaan Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial sejak 1969. maupun suksesi. Komite Menentang Penyiksaan (Committee against Torture/CAT). Semua kewajiban hukum internasional ini harus dipertimbangkan bersama ketika mengevaluasi tanggung jawab suatu Negara untuk melindungi HAM. 4 • Th. Ketika perjanjian pertama diadopsi. merupakan instrumen-instrumen yang jelas-jelas memiliki dimensi HAM.vensi ILO 169 tentang hak-hak masyarakat adat. Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Committee on the Elimination of Discrimination against Women/ CEDAW) telah memonitor pelaksanaan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan oleh Negara-negara Pihaknya sejak 1982. Sosial. Sosial. 115 . Apa yang dimaksud dengan badan-badan perjanjian? Ketujuh perjanjian HAM internasional utama menciptakan kewajiban hukum bagi Negara-negara Pihak untuk memajukan dan melindungi HAM di tingkat nasional. karena pengakuan terhadap hak-hak di atas kertas tidak cukup untuk menjamin bahwa hak-hak ini akan dapat dinikmati dalam praktiknya. 2. Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial (Committee on the Elimination of Racial Discrimination/CERD). 5. dan Budaya. perjanjian membentuk suatu komite internasional yang terdiri dari ahli-ahli independen guna memonitor. Komite Hak Ekonomi. 4. 2007 3. dan Budaya (Committee on Economic. Komite Hak Asasi Manusia (Committee on Human Rights/HRC) dibentuk pada 1976 untuk memonitor pelaksanaan Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. aksesi. maka Negara tersebut memikul suatu kewajiban hukum untuk melaksanakan hak-hak yang diatur dalam perjanjian tersebut. Oleh karenanya. melalui berbagai sarana. memonitor pelaksanaan Konvensi Menentang Penyik- BAGIAN II Monitoring pelaksanaan standarstandar HAM: badan perjanjian Badan perjanjian adalah komite para ahli yang memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian HAM utama oleh Negara-negara Pihak. merupakan badan perjanjian pertama yang dibentuk. Tetapi hal ini hanya merupakan langkah pertama. Social and Cultural Rights/CESCR) dibentuk pada 1987 untuk melaksanakan mandat monitoring Dewan Ekonomi dan Sosial (ECOSOC) berdasarkan Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. setiap JURNAL HAM • Vol. Ketika suatu negara menerima salah satu dari perjanjian-perjanjian ini melalui ratifikasi. pelaksanaan dari ketentuan-ketentuannya. perjanjian tersebut mengakui bahwa Negara-negara Pihak membutuhkan dorongan dan bantuan dalam memenuhi penikmatan hak-hak yang diatur dalam perjanjian oleh setiap orang yang ada di Negara tersebut. dibentuk pada 1987. Bagian II menjelaskan pekerjaan badan perjanjian tersebut dan mengapa pekerjaan mereka berkaitan dengan kehidupan orang-orang di seluruh dunia. Pelaksanaan ketujuh perjanjian hak asasi manusia utama dimonitor oleh tujuh badan monitoring perjanjian hak asasi manusia: 1.

badanbadan perjanjian lainnya pada umumnya bertemua di Kantor Perserikatan BangsaBangsa di Jenewa. mengelaborasi komentar umum yang mengintepretasikan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. Beberapa. Semua badan perjanjian menerima dukungan dari Perwakilan Perjanjian dan Komisi (Treaties and Commissions Branch) Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) di Jenewa. yang dinominasikan dan dipilih untuk jangka waktu empat tahun (tetap dan dapat diperbaharui) oleh negara-negara Pihak. Beberapa badan perjanjian dapat mempertimbangkan pengaduan atau komunikasi individual yang mengadukan bahwa hak-hak mereka telah dilanggar oleh JURNAL HAM • Vol. Komposisi badan-badan perjanjian CERD HRC CESCR CEDAW CAT CRC CRC CMW : : : : : : : : 18 anggota 18 anggota 18 anggota 23 anggota 10 anggota 18 anggota 18 anggota 10 anggota 7. CEDAW bertemu di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York. 6. sebagaimana juga kedua protokol opsionalnya yang berkaitan dengan tentara anak dan eksploitasi anak. Anggota-anggota dipilih untuk jangka waktu empat tahun. Badan-badan perjanjian mengeluarkan panduan guna membantu Negara-negara dalam persiapan pembuatan laporannya. Apa yang dilakukan oleh badan perjanjian? Badan perjanjian melaksanakan sejumlah fungsi yang ditujukan pada monitoring bagaimana perjanjian dilaksanakan oleh Negara-negara Pihak. 4 • Th. 116 .saan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam. namun tidak semua. Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat. Komite Hak Anak (Committee on the Rights of the Child atau CRC). sejak 1990 telah memonitor pelaksanaan Konvensi Hak Anak oleh Negara-negara Pihaknya. 2007 Setiap komite terdiri dari ahli-ahli independen (dengan jumlah anggota antara 10 sampai 23 orang) yang kompetensinya di bidang hak asasi manusia diakui. Komite Pekerja Migran (Committee on Migrant Workers/CMW) menyelenggarakan pertemuan pertamanya pada Maret 2004 dan akan memonitor pelaksanaan Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. badan perjanjian juga melaksanakan sejumlah fungsi tambahan yang ditujukan untuk memperkuat pelaksanaan perjanjian oleh Negara-negara Pihak. Pemilihan bagi setengah dari jumlah anggota diselenggarakan setiap dua tahun sekali. dengan pengecualian CEDAW yang dilayani oleh Bagian Pengembangan Perempuan (Division for the Advancement of Women atau DAW) di New York. serta menyelenggarakan diskusi tentang tema-tema yang berkaitan dengan perjanjian. Semua badan perjanjian diberikan mandat untuk menerima dan mempertimbangkan laporanlaporan yang diserahkan secara berkala oleh Negara-negara Pihak yang memberikan secara detil pelaksanaan ketentuanketentuan dalam perjanjian di negara yang bersangkutan. walaupun Komite Hak Asasi Manusia biasanya menyelenggarakan pertemuan bulan Maret-nya di New York.

dan setiap konvensi hak asasi manusia internasional utama setelah itu. namun harus dicatat bahwa setiap badan perjanjian adalah suatu komite para ahli yang independen yang memiliki suatu mandat untuk memonitor pelaksanaan suatu perjanjian yang khusus. 117 . 4 • Th. Kewajiban Negara untuk melapor Sebagai tambahan kewajiban mereka untuk melaksanakan ketentuan substantif dalam perjanjian. badan-badan perjanjian membentuk praktik dan prosedur yang telah terbukti cukup efektif untuk menganalisa sejauh mana Negara telah memenuhi. Pertimbangan terhadap laporan Negara Pihak oleh badan perjanjian Mandat utama badan-badan perjanjian. Walaupun ketujuh badan perjanjian dijelaskan bersama sebagai bagian dari suatu sistem koordinasi perjanjian. 2007 4 E/Res/624 B (XXII). dan mendorong lebih lanjut pelaksanaan. berlaku umum bagi semua komite. JURNAL HAM • Vol. Ide monitoring HAM melalui peninjauan laporan ini berawal dari resolusi Dewan Ekonomi dan Sosial pada 1956 yang meminta Negara-negara Anggota PBB untuk menyerahkan laporan berkala mengenai perkembangan yang dibuat dalam rangka pemajuan HAM di negaranya masing-masing. adalah memonitor pelaksanaan perjanjian yang bersangkutan melalui peninjauan terhadap laporan-laporan yang diserahkan secara berkala oleh Negara-negara Pihak sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian tersebut. prosedur dan praktik dapat berbeda-beda antara satu komite dengan komite lainnya sebagai akibat variasi mandat setiap komite berdasarkan perjanjian dan protokol opsional yang berkaitan.4 Model tersebut digunakan dalam Kovenan Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial 1965. 1 Agustus 1956. Berikut ini diuraikan mengenai elemen-elemen umum yang utama dari proses pertimbangan terhadap laporan-laporan Negara oleh badanbadan perjanjian. Walaupun badan perjanjian melanjutkan upaya mereka untuk mengkoordinasikan kegiatannya. Dalam mandat menda- 3 Mereka yang tertarik pada prosedur yang seleng- kapnya dari suatu badan perjanjian disarankan untuk melihat lembar fakta bagi komite tersebut. Beberapa badan perjanjian juga dapat melakukan penyelidikan. setiap Negara Pihak juga memiliki kewajiban untuk menyerahkan laporan secara berkala kepada badan perjanjian yang bersangkutan tentang bagaimana hak-hak telah dilaksanakan. kedua Kovenan Internasional 1966.suatu Negara Pihak. Berikut ini diuraikan mengenai kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh badan perjanjian sesuai dengan mandat individual mereka. dengan ketentuan bahwa Negara tersebut telah menerima prosedur ini.3 sar ini. kewajiban mereka berdasarkan perjanjian HAM di mana mereka menjadi pihak.

tetapi pasal ini memberikan Dewan Ekonomi dan Sosial diskresi untuk membuat program pelaporannya sendiri. Pada umumnya. dan yudisial yang diambil oleh Negara untuk memberikan dampak pada ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. Sosial. perjanjian (biasanya antara empat sampai lima tahun) mengenai langkah-langkah lebih lanjut yang telah diambil guna melaksanakan perjanjian tersebut. dan Budaya* Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan Konvensi Menentang Penyiksaan Konvensi Hak Anak Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Penjualan Anak (CRC-OPSC) Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Tentara Anak (CRC-OPAC) Laporan awal dalam 1 tahun Laporan berkala setiap 2 tahun 2 tahun 1 tahun 1 tahun 1 tahun 2 tahun 1 tahun 5 tahun 4 tahun+ 4 tahun 4 tahun 5 tahun 5 tahun 2 tahun 5 tahun atau bersama dengan laporan CRC berikutnya 5 tahun atau bersama dengan laporan CRC berikutnya 2 tahun * Pasal 17 dari Kovenan tidak menentukan adanya pelaporan yang bersifat berkala. Laporan itu kemudian harus ditindaklanjuti dengan laporan berkala sesuai dengan ketentuan dalam 118 . + Pasal 41 dari Kovenan memberikan diskresi kepada Komite Hak Asasi Manusia untuk menentukan kapan laporan berkala harus diserahkan. Laporanlaporan harus memuat langkah-langkah hukum. dan juga harus menyebutkan faktor-faktor atau hambatan-hambatan yang JURNAL HAM • Vol. dan Budaya serta Konvensi Hak Anak). 2007 Guna memenuhi kewajiban pelaporannya. administratif. setiap Negara Pihak harus menyerahkan suatu laporan awal yang komprehensif biasanya satu tahun setelah perjanjian mulai diberlakukan di Negara tersebut (dua tahun dalam kasus Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Sosial. 4 • Th. laporan tersebut disyaratkan setiap empat tahun sekali.Periode pelaporan berdasarkan perjanjian-perjanjian Perjanjian Kovenan Internasioanl tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi.

1. Penjelasan lebih lengkap mengenai tujuantujuan pelaporan dapat ditemukan di komentar umum Komite Hak Ekonomi. 2007 119 . dan Budaya No. tetapi juga sebagai suatu kesempatan untuk memeriksa kondisi perlindungan HAM di dalam yurisdiksi mereka dalam rangka perencanaan dan pelaksanaan kebijakan. Panduan-panduan ini dihasilkan dalam suatu dokumen kompilasi (HRI/GEN/3) yang diperbaharui secara berkala. tidak hanya sebagai suatu pemenuhan kewajiban internasional.5 Dilihat dari hal tersebut. (c) Mengidentifikasi persoalan dan kegagalan dalam pendekatannya untuk melaksanakan perjanjian. dan keterlibatan yang konstruktif dari masyarakat sipil yang dilakukan dalam semangat kerja sama dan saling menghormati di tingkat nasional. Dalam rangka menjamin bahwa laporan memuat informasi yang cukup bagi komite agar dapat melaksanakan pekerjaannya. dan (e) Merencanakan dan membentuk kebijakan yang lebih layak guna mencapai tujuan-tujuan tersebut.dihadapi dalam melaksanakan hak-hak tersebut. Sosial. Proses pelaporan harus mendorong dan memfasilitasi partisipasi publik. dengan tujuan untuk memajukan penikmatan semua hak yang dilindungi oleh konvensi yang bersangkutan. Tujuan pelaporan Negara-negara Pihak didorong untuk melihat proses persiapan pembuatan laporan mereka bagi badan perjanjian. guna memajukan dan melindungi HAM di negaranya. (d) Menilai kebutuhan dan tujuan di masa mendatang bagi pelaksanaan perjanjian yang lebih efektif. JURNAL HAM • Vol. Beberapa Negara memasukkan komentar dan kritik dari organisasi nonpemerintah dalam laporan mereka. Badan-badan perjanjian saat ini sedang dalam proses menyiapkan suatu draft panduan yang terharmonisasi dalam pelaporan berdasarkan perjanjian HAM internasional. sistem pelaporan adalah suatu alat yang penting bagi suatu Negara dalam melakukan penilaian mengenai apa yang telah dicapai. setiap badan perjanjian mengeluarkan panduan mengenai bentuk dan isi laporan Negara. dan apa yang harus dilakukan lebih lanjut. Proses persiapan pembuatan laporan menawarkan suatu kesempatan bagi setiap Negara Pihak untuk: (a) Melakukan peninjauan yang komprehensif mengenai langkah-langkah yang telah diambil untuk mengharmonisasikan hukum dan kebijakan nasional dengan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian HAM yang bersangkutan di mana Negara tersebut menjadi pihak. tahap-tahap mendasar berikut ini adalah umum bagi semua badan 5 Tujuan-tujuan ini diambil dari dokumen HRI/MC/ 2004/3. Bagaimana setiap badan perjanjian memeriksa laporan suatu Negara Pihak? Walaupun terdapat variasi dalam prosedur yang diadopsi oleh setiap komite dalam mempertimbangkan laporan suatu Negara Pihak. penilaian publik terhadap kebijakan-kebijakan dan program-program pemerintah. beberapa menyerahkan laporannya terlebih dahulu kepada parlemen untuk dikritisi sebelum akhirnya diserahkan kepada Sekretaris Jenderal PBB guna dipertimbangkan oleh badan perjanjian yang bersangkutan. 4 • Th. (b) Memonitor perkembangan yang dibuat dalam rangka pemajuan penikmatan hak-hak yang diatur dalam perjanjian dalam konteks pemajuan HAM secara umum.

setiap empat tahun untuk Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. Informasi yang lebih lengkap mengenai prosedur badan perjanjian tertentu dapat ditemukan di lembar fakta yang berkaitan dengan komite tersebut. dan Budaya) dan berulang sesuai dengan periodenya: setiap dua tahun untuk Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. Sosial.perjanjian. dan Konvensi Menentang Penyiksaan. dan Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. Prosedur tindak lanjut pelaksanaan rekomendasi badan perjanjian 2. Konvensi Hak Anak. 4 • Th. Sosial. Dialog konstruktif antara Komite dan delegasi Negara Pihak pada saat pertemuan Siklus dimulai satu tahun setelah perjanjian mulai diberlakukan (dua tahun untuk Konvensi Hak Anak dan Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Siklus pelaporan berdasarkan perjanjian hak asasi manusia 1. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. yang dapat diakses dari situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR). 120 JURNAL HAM • Vol. termasuk rekomendasi 3. komisi nasional. Keba- nyakan komite juga menyebutkan metode kerja mereka dalam laporan tahunannya. Badan perjanjian memberikan daftar persoalan dan pertanyaan kepada Negara Pihak berdasarkan persoalan yang ditimbulkan oleh laporan Kesempatan bagi masukan dari sistem PBB. dan Budaya. dan setiap lima tahun untuk Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Badan perjanjian mengeluarkan kesimpulan pengamatannya mengenai laporan. dan LSM 5. 2007 . Negara Pihak menyerahkan laporannya 6. Negara Pihak dapat menyerahkan jawaban tertulis terhadap daftar persoalan dan pertanyaan 4.

Guna menghindari Negaranegara harus mengulang-ulang informasi yang sama di setiap laporan. Akan terdapat banyak variasi bentuk laporan. dan konkret. karena beberapa badan perjanjian menghadapi backlog sampai dua tahun masa laporan yang menunggu untuk dipertimbangkan. gara. Daftar persoalan dan pertanyaan Sebelum pertemuan di mana komite akan mempertimbangkan laporan secara formal. Daftar persoalan menyediakan suatu kesempatan kepada komite untuk meminta informasi tambahan dari Negara Pihak yang mungkin tidak dimasukkan dalam laporannya atau yang dipandang perlu oleh anggota komite guna menilai negara tersebut berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian di negara yang bersangkutan. dan lain-lain – dicantumkan dalam laporan Negara-negara kepada badan perjanjian yang berkaitan dengan semua perjanjian. Hal ini membantu mengurangi volume laporan Negara-ne2. yang menimbulkan pertanyaan apakah harus diberlakukan pembatasan jumlah halaman.1. Hal ini mengijinkan delegasi Negara Pihak untuk mempersiapkan diri dan membuat dialog antara Negara Pihak dengan komite menjadi lebih konstruktif. 2007 121 . dan diterjemahkan ke bahasabahasa kerja komite. yang diserahkan kepada Negara Pihak. Kebanyakan komite mencoba untuk memberikan prioritas pada laporan awal atau laporan dari Negara-negara yang tidak melaporkan dalam jangka waktu yang lama. 4 • Th. informatif. Banyak laporan bentuknya panjang. sistem konstitusi dan hukumnya. tetapi Negara-negara harus memastikan bahw ainformasi di dokumen inti/utamanya sudah ter-up-to-date atau mereka harus menyerahkan laporan yang baru. Badan-badan perjanjian saat ini sedang mempertimbangkan suatu proposal untuk memperluas ruang lingkup dokumen inti/utama mengenai informasi tentang hak-hak substantif yang relevan dengan lebih dari satu perjanjian. pada 1991 badan-badan perjanjian memutuskan mengijinkan Negara untuk menyerahkan suatu “dokumen inti/utama” yang membentuk laporan awal yang sama bagi setiap laporan badan perjanjian mana pun. Banyak Negara Pihak menganggap bahwa daftar persoalan dapat menjadi panduan yang berguna bagi kemungkinan adanya pertanyaan-pertanyaan yang muncul ketika laporan mereka dipertimbangkan secara formal. Mungkin saja terdapat penundaan sebelum suatu laporan dapat dipertimbangkan. laporan dijadwalkan untuk pertimbangan komite pada salah satu pertemuan berkalanya. Laporan tersebut akan diproses oleh Sekretariat. JURNAL HAM • Vol. Pada saat diproses. Penyerahan laporan awal Laporan harus diserahkan kepada Sekretaris Jenderal dalam salah satu dari enam bahasa resmi PBB. Apa yang dimaksud dengan dokumen inti/utama? Beberapa informasi – fakta-fakta mendasar dan statistik tentang negara. Daftar persoalan juga mengijinkan komite untuk memulai proses pengajuan pertanyaan kepada Negara Pihak secara lebih detil mengenai persoalanpersoalan khusus yang muncul dalam laporan yang menjadi perhatian utama para anggota komite. komite membuat suatu daftar persoalan dan pertanyaan.

Tergantung pada badan perjanjiannya. termasuk badan-badan PBB. Sumber-sumber informasi lain yang tersedia bagi komite Sebagai tambahan terhadap laporan Negara Pihak. Kebanyakan komite mengalokasikan waktu di pertemuan plenonya untuk melakukan dengar pendapat dengan badan-badan PBB dan kebanyakan juga menerima organisasi nonpemerintah. persoalan-persoalan yang dimunculkan oleh organisasi-organisasi ini dapat dimasukkan dalam daftar persoalan atau menginformasikan pertanyaan yang diajukan oleh anggota-anggota ketika bertemu dengan delagasi Negara. kecuali Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial yang tidak menggunakan bahasa Arab. F. E. R & S. Berdasarkan semua informasi yang tersedia. organisasi nonpemerintah (baik internasional maupun nasional). Dokumen-dokumen komite pada umumnya hanya diterjemahkan ke bahasa kerja. Kebanyakan komite menunjuk salah seorang dari anggotanya untuk bertindak sebagai pelapor negara (country rapporteur) untuk memimpin pembuatan daftar persoalan untuk suatu negara tertentu. Komite Hak Asasi Manusia dan Komite Hak Anak: E. badan perjanjian dapat menerima informasi mengenai situasi HAM di suatu negara dari sumbersumber lain. Badan-badan perjanjian telah mengadopsi semua bahasa tersebut sebagai bahasa resmi mereka. dan sangat penting ketika terdapat penundaan yang cukup panjang antara tanggal laporan asli diserahkan dan tanggal ketika komite akhirnya dapat mempertimbangkan laporan tersebut secara formal. Sejumlah perjanjian menyediakan suatu peran khusus bagi badan-badan PBB tertentu dalam proses pertimJURNAL HAM • Vol. bahasa Cina (C). Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dan Komite Menentang Penyiksaan: E. F & S. 2007 122 . bahasa Rusia (R). Tanggapan tertulis akan menjadi suplemen atau lampiran pada laporannya. R &S. bahasa Inggris (E). organisasi antarpemerintah lainnya. institusi-institusi akademis. komite memeriksa suatu laporan. 4 • Th. dan Komite Menentang Penyiksaan tidak menggunakan bahasa Arab dan bahasa Cina. 4. Lima komite juga mengadopsi sejumlah kecil bahasa kerja sebagai berikut: Komite Hak Ekonomi. Daftar persoalan dibuat sebelum sesi pertemuan di mana laporan akan dipertimbangkan. 3. dan Budaya: A. Tergantung pada kapan informasi tersebut diserahkan. Sosial. kecuali jika komite secara terbuka memutuskan bahwa suatu dokumen harus disediakan dalam semua bahasa resmi. R. daftar persoalan dibuat baik dalam kelompok kerja prapertemuan yang diselenggarakan segera sebelum atau setelah suatu sesi pertemuan berkala atau pada saat pertemuan-pertemuan pleno.Bahasa resmi dan bahasa kerja Bahasa resmi Perserikatan BangsaBangsa adalah bahasa Arab (A). bahasa Perancis (F). Tanggapan tertulis terhadap daftar persoalan Seringkali Negara Pihak dapat memberikan tanggapan terhadap daftar persoalan dan pertanyaannya dalam bentuk tertulis. dan bahasa Spanyol (S). dan media massa.

Gagasan mengenai dialog yang konstruktif mencerminkan kenyataan bahwa badan-badan perjanjian bukan merupakan badan yudisial. 2007 diakan dorongan dan nasihat kepada Negara-negara. Prosedur ini tidak bertentangan dan komite tidak melakukan penilaian mengenai Negara Pihak berdasarkan prosedur ini. Pelaksanaan kesimpulan pengamatan dan penyerahan laporan berkala berikutnya 123 . Beberapa badan perjanjian dapat melanjutkan pertimbangan terhadap laporan suatu Negara Pihak walaupun tanpa kehadiran delegasi dari Negara tersebut. sementara badan perjanjian lainnya membutuhkan kehadiran delegasi. 5. mengundang Negara-negara Pihak untuk mengirimkan delegasinya untuk menghadiri pertemuan di mana komite mempertimbangkan laporannya guna mengijinkan mereka menanggapi pertanyaan anggota komite dan menyediakan informasi tambahan mengenai upaya mereka untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian yang bersangkutan. 4 • Th. Dalam concluding observation-nya. Kesimpulan pengamatan dan rekomendasi Pemeriksaan terhadap laporan mencapai puncaknya pada adopsi “kesimpulan pengamatan atau concluding observation” (disebut sebagai “komentar kesimpulan atau“concluding comment” oleh beberapa komite) dimaksudkan untuk memberikan nasihat praktis kepada Negara yang melaporkan dan mendorong langkah-langkah lebih lanjut dalam melaksanakan hak-hak yang tercantum dalam perjanjian. bersama dengan badan-badan PBB lainnya. yang dimulai oleh Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. Badan perjanjian mencoba membuat rekomendasinya se-konkret dan se-praktis mungkin.bangan terhadap laporan-laporan. Pasal 74 dari Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya juga memungkinkan partisipasi Kantor/Organisasi Buruh Internasional (International Labour Office/Organization atau ILO). badan perjanjian mengakui langkahlangkah positif yang telah diambil oelh Negara. tetapi juga mengidentifikasi bidang-bidang yang membutuhkan tindakan lebih lanjut guna mengefektifkan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. Pasal 45 Konvensi Hak Anak secara spesifik menyebutkan peran Dana Bantuan Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Children’s Fund atau UNICEF). Negara tidak diwajibkan mengirimkan delegasi untuk menghadiri sesi pertemuan. Pertimbangan formal terhadap laporan: dialog konstruktif antara badan perjanjian dengan Negara Pihak Semua badan perjanjian telah membangun praktik. tetapi diciptakan untuk memonitor pelaksanaan perjanjian serta menyeJURNAL HAM • Vol. 7. walaupun mereka didorong untuk melakukannya. 6. Negaranegara diminta untuk mempublikasikan concluding observation di negaranya guna menginformasikan pada debat publik mengenai bagaimana cara bergerak maju dalam pelaksanaan HAM. Tujuannya adalah untuk terlibat dalam suatu dialog konstruktif guna membantu Pemerintah dalam upayanya melaksanakan perjanjian secara penuh dan seefektif mungkin.

badan perjanjian telah mulai memperkenalkan prosedur guna menjamin tindak lanjut yang efektif terhadap concluding observationsnya. dan di Bangkok. organisasi nonpemerintah. Pentingnya tindak lanjut terhadap rekomendasi badan perjanjian Badan perjanjian tidak memiliki sarana untuk menegakkan rekomendasi mereka. dan komite telah terbukti berhasil dalam mengangkat persoalan berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian di banyak Negara. telah diselenggarakan di sejumlah negara guna membangun dialog bagi tindak lanjut concluding observations. Karena disadari. tetapi prosesnya tidak berhenti di situ. yang membawa siklus pelaporan ke titik awalnya. bahwa ketentuan-ketentuan dalam suatu perjanjian tidak sepenuhnya bisa dilaksanakan. Namun demikian. Lokakarya pertama diselenggarakan di Quito.Adopsi concluding observation oleh komite mengakhiri pertimbangan formal terhadap laporan. dan badan-badan lainnya yang tertarik dengan hal ini. dan oleh karenanya dapat dinyatakan. 4 • Th. Lokakarya tindak lanjut Lokakarya regional yang melibatkan perwakilan Negara-negara yang laporannya baru saja dipertimbangkan oleh suatu badan perjanjian. Lokakarya-lokakarya lebih lanjut sedang dalam tahap persiapan untuk badan-badan perjanjian lainnya. Laporan berkala pada umumnya tidak sepanjang dan se-komprehensif laporan awal. Republik Arab Syria. Dua lokakarya berfokus pada concluding observations Komite Hak Anak telah diselenggarakan di Damaskus. sebagaimana juga perwakilan komisi-komisi nasional hak asasi manusia. Ekuador pada Agustus 2002 mengenai concluding observations Komite Hak Asasi Manusia. Setelah penyerahan laporan awal. Beberapa komite menyebutkan dalam concluding observations-nya agar Negara melaporkan kembali ke negaranya atau menindaklanjuti pelapor (rapporteur) dalam jangka waktu yang disepakati mengenai langkah-langkah yang diambil sebagai tanggapan terhadap rekomendasi spesifik atau “keprihatinan utama”. Rapporteur kemudian melaporkan kembali kepada komite. kebanyakan Negara memperhatikan dengan serius proses pelaporan ini. Dalam rangka membantu Negara dalam melaksanakan rekomendasinya. Laporan-laporan dari lokakarya ini tersedia di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR). 2007 . maka proses pelaksanaan hak-hak yang termuat dalam perjanjian membutuhkan upaya-upaya berkelanjutan dari Negara-negara. Beberapa anggota badan perjanjian telah melakukan kunjungan ke negara-ne- 124 JURNAL HAM • Vol. Hal ini disebut sebagai “laporan berkala”. Sebuah elemen penting dalam laporan berkala adalah pelaporan kembali kepada komite mengenai langkah-langkah yang telah diambil oleh Negara Pihak berkaitan dengan pelaksanaan rekomendasi badan perjanjian dalam concluding observation di laporan sebelumnya. tetapi harus memuat semua informasi yang dibutuhkan oleh komite untuk melanjutkan pekerjaan monitoringnya terhadap kelanjutan pelaksanaan perjanjian di negara yang bersangkutan. Negara diminta untuk menyerahkan laporan lebih lanjut kepada badan perjanjian dalam jangka waktu tertentu. pengadilan. Thailand.

2007 dan tidak merespon permintaan komite untuk melapor. untuk menindaklanjuti laporan dan pelaksanaan concluding observations. Peninjauan dapat dilanjutkan bahkan jika Negara Pihak menolak mengirimkan delegasi ke pertemuan. maka badan perjanjian telah mengadopsi prosedur untuk mempertimbangkan situasi di suatu negara tanpa adanya laporan – seringkali disebut sebagai “prosedur peninjauan” (“review procedure”). Apa yang terjadi jika Negara tidak melapor? Pelaporan pada badan perjanjian dapat dianggap sebagai suatu tantangan oleh Negara-negara Pihak. Prosedur peninjauan hanya digunakan untuk kasus-kasus istimewa. termasuk rekomendasi. atas undangan Negara Pihak. komite akan mengeluarkan concluding observations-nya. Informasi dapat diterima dari rekanan PBB dan organisasi nonpemerintah serta. sebagaimana kewajiban-kewajiban lainnya yang muncul dari ratifikasi terhadap perjanjian internasional. serta kemudian mungkin harus menyerahkan laporan lebih lanjut mengenai tindak lanjut terhadap concluding observations. yang diundang untuk mengirim delegasinya guna menghadiri pertemuan. Negara-negara dapat meminta bantuan teknis dari Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) dan Divisi Pengembangan Perempuan (DAW) ketika mereka menghadapi kesulitan tertentu. berdasarkan informasi tersebut dan dialog dengan Negara Pihak. Badan perjanjian mencoba mendorong Negara-negara untuk melaporkan dengan tepat waktu. “Prosedur Peninjauan” – pertimbangan terhadap pelaksanaan di suatu negara jika tidak terdapat laporan Berdasarkan prosedur ini. dalam hal Negara telah gagal melaporkan dalam jangka waktu yang panjang JURNAL HAM • Vol. maka kewajiban untuk melapor adalah kewajiban hukum internasional yang dipilih oleh Negara secara bebas. 4 • Th. komite yang bersangkutan dapat melanjutkan dengan pemeriksaan kondisi pelaksanaan perjanjian yang bersangkutan oleh Negara Pihak walaupun belum ada satu pun laporan Negara yang diterima. dalam banyak kasus. Negaranegara juga harus membuat respon terhadap daftar persoalan dan mempersiapkan diri untuk menghadiri pertemuan badan perjanjian. Komite dapat membuat daftar persoalan dan pertanyaan untuk Negara Pihak. Hal ini menjadi beban yang sangat besar. sehingga mungkin tidak mengherankan jika Negara-negara seringkali terlambat dalam jadwal pelaporan mereka. Tetapi.gara. Badan perjanjian mengakui kesulitan yang dihadapi oleh banyak Negara dalam memenuhi kewajiban pelaporan mereka. dan telah berupaya mencari cara-cara memfasilitasi tugas ini (lihat Bagian III di bawah). pemberitahuan oleh komite bahwa komite berniat untuk mempertimbangkan situasi di suatu negara tanpa adanya suatu laporan adalah cukup untuk mendorong Negara Pihak agar membuat laporan dalam jangka waktu yang pendek. Negara yang telah meratifikasi ketujuh perjanjian HAM utama diharapkan membuat lebih dari 20 laporan HAM dalam jangka waktu 10 tahun: berarti satu setiap enam bulannya. 125 . atau bahkan dalam beberapa kasus gagal melaporkan. Namun demikian.

Komite Menentang Penyiksaan. selama mereka telah memberikan ijin tertulis (written consent) atau ketika mereka tidak dapat memberikan ijin semacam itu. Siapa yang dapat mengadu? Setiap individu yang menyatakan bahwa hak-haknya berdasarkan kovenan atau konvensi telah dilanggar oleh Negara Pihak pada perjanjian tersebut dapat membawa komunikasinya di hadapan komite yang bersangkutan.Pertimbangan terhadap pengaduan individual yang menyatakan bahwa hak-hak mereka telah dilanggar oleh Negara Pihak Dalam kondisi tertentu. ketentuan-ketentuan ini akan mulai berlaku ketika sepuluh Negara Pihak telah membuat deklarasi yang diperlukan berdasarkan pasal 77. 4 • Th. Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan dapat mempertimbangkan komunikasi individual terhadap Negara Pihak pada Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. dengan persyaratan bahwa Negara tersebut telah mengakui kompetensi komite untuk menerima komunikasi semacam itu. Pengaduan juga dapat diajukan oleh pihak ketiga atas nama individuindividu. Konvensi Pekerja Migran juga memuat ketentuan-ketentuan yang mengijin- kan komunikasi individual untuk dipertimbangkan oleh Komite Pekerja Migran. JURNAL HAM • Vol. keputusan-keputusan komite tidak bisa dipaksakan. dan Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan) dapat mempertimbangkan pengaduan atau komunikasi dari individu yang percaya bahwa hak-hak mereka telah dilanggar oleh Negara Pihak: Komite Hak Asasi Manusia dapat mempertimbangkan komunikasi individual terhadap Negara Pihak pada Protokol Opsional Pertama Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. 2007 126 . Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. Namun dalam banyak kasus. Walaupun dalam beberapa hal prosedur ini bersifat “quasi-yudisial”. Sosial. baik melalui deklarasi berdasarkan pasal yang relevan dari perjanjian atau dengan menerima protokol opsional yang relevan. Negara-negara Pihak telah melaksanakan rekomendasi-rekomendasi Komite dan memberikan perbaikan (remedy) kepada si pengadu. empat badan perjanjian (Komite Hak Asasi Manusia.6 Prosedur ini bersifat opsional (pilihan) bagi Negara-negara Pihak: badan perjanjian tidak bisa mempertimbangkan pengaduan berkaitan dengan suatu Negara Pihak kecuali jika Negara tersebut telah secara terbuka mengakui kompetensi badan perjanjian yang bersangkutan. Sosial. 6 Saat ini protokol opsional pada Kovenan Internasio- nal tentang Hak Ekonomi. Komite Menentang Penyiksaan dapat mempertimbangkan komunikasi individual terhadap Negara Pihak yang telah membuat deklarasi yang disyaratkan berdasarkan pasal 22 Konvensi Menentang Penyiksaan. dan Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dapat mempertimbangkan komunikasi individual terhadap Negara Pihak yang telah membuat deklarasi yang disyaratkan berdasarkan pasal 14 Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. dan Budaya sedang dalam pertimbangan dan dapat menghasilkan keputusan bahwa Komite Hak Ekonomi. dan Budaya diberikan mandat untuk mempertimbangkan komunikasi individual berkaitan dengan Kovenan.

Berdasarkan hasil pengamatan Negara Pihak dan informasi lain yang tersedia yang dapat dipercaya. atau sistematis terhadap konvensi oleh suatu Negara Pihak. Prosedur dapat dilakukan jika komite menerima informasi yang dapat dipercaya tentang indikasi bahwa hak-hak yang termuat dalam konvensi telah dilanggar secara sistematis oleh Negara Pihak. Prosedur penyelidikan Pasal 20 Konvensi Menentang Penyiksaan dan pasal 8 sampai pasal 10 Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan menetapkan prosedur mendasar berikut ini bagi komite yang bersangkutan untuk melakukan penyelidikan yang mendesak: 1. termasuk nasihat dan instruksi tentang bagaimana cara mengadu. JURNAL HAM • Vol. Prosedur Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan secara spesifik mengijinkan kunjungan ke wilayah Negara yang bersangkutan. jika hal tersebut dibenarkan Penyelidikan Atas dasar inisiatif mereka. Negara-negara Pihak pada Konvensi Menentang Penyiksaan dapat menghindarkan diri dengan membuat deklarasi berdasarkan pasal 28. dalam hal Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. 3. dapat ditemukan di Lembar Fakta No. Negara mana pun yang memilih untuk menghindari prosedur dapat memutuskan untuk menerima prosedur tersebut di masa mendatang. Langkah pertama adalah komite mengundang Negara Pihak untuk bekerja sama dalam pemeriksaan mengenai informasi tersebut dengan menyerahkan hasil pengamatan. 7: Prosedur Pengaduan atau di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR). Komite dapat memutuskan untuk menugaskan satu atau lebih anggotanya guna melakukan penyelidikan secara konfidensial dan melaporkan kepada komite dengan segera.Bagaimana saya mengadu? Informasi lebih lengkap mengenai prosedur pengaduan individual dari badanbadan perjanjian. 2. Dalam hal Konvensi Menentang Penyiksaan. 4 • Th. dua badan perjanjian – Komite Menentang Penyiksaan dan Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan – dapat melakukan penyelidikan jika komite menerima informasi yang dapat dipercaya mengenai indikasi yang kuat bahwa telah terjadi pelanggaran yang serius. informasi harus memuat indikasi-indikasi yang kuat bahwa penyiksaan telah dipraktikkan secara sistematis di wilayah suatu Negara Pihak. informasi harus mengindikasikan pelanggaran yang berat atau sistematis terhadap hak-hak yang diatur dalam Konvensi oleh Negara Pihak. berat. Negara-negara Pihak pada Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan juga dapat meniadakan kompetensi Komite yang bersangkutan dengan membuat deklarasi berdasarkan pasal 10. 2007 127 . Pada saat ratifikasi atau aksesi. Negara mana saja yang dapat menjadi subyek penyelidikan? Penyelidikan hanya dapat dilakukan terhadap Negara-negara Pihak yang telah mengakui kompetensi komite yang bersangkutan.

Subkomite akan menyerahkan laporan konfidensialnya yang memuat rekomendasi kepada Negara-negara Pihak. yang disebut “Subkomite Pencegahan”. Pengaduan antarnegara Walaupun prosedur ini tidak pernah digunakan. Prosedur Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan menetapkan tenggat waktu enam-bulan kepada Negara Pihak untuk menanggapi hasil temuan. Informasi lebih lanjut megnenai OPCAT dan Subkomite Pencegahan. dan rekomendasi komite tersebut dengan hasil pengamatannya sendiri dan untuk menginformasikan kepada komite mengenai langkah-langkah yang telah diambil sebagai respon terhadap penyelidikan jika diminta oleh Komite. Suatu badan internasional yang baru. komentar. dapat melakukan kunjungan-kunjungan ke tempat-tempat penahanan di semua Negara Pihak. Hasil-hasil temuan dari anggota (atau anggota-anggota) komite kemudian diperiksa oleh komite dan diserahkan kepada Negara Pihak bersama dengan komentar atau saran/rekomendasi yang selayaknya.dan dilakukan dengan persetujuan Negara. Protokol Opsional Konvensi Menentang Penyiksaan dan Subkomite Pencegahan Protokol Opsional Konvensi Menentang Penyiksaan (OPCAT). 6. Pasal 21 Konvensi Menentang Penyiksaan dan pasal 76 Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Pekerja Migran dan Semua Anggota Keluarganya menetapkan suatu prosedur bagi komite yang bersangkutan untuk mempertimbangkan pengaduan dari satu Negara pihak yang menganggap bahwa Negara Pihak lain tidak memenuhi ketentuan-ketentuan dalam konvensi. Negara-negara Pihak harus membentuk suatu mekanisme pencegahan nasional yang independen (seperti Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. yang terdiri dari sepuluh praktisi independen di bidang administrasi peradilan atau penahanan. kunjungan juga diperkirakan dapat dilakukan berdasarkan prosedur Konvensi Menentang Penyiksaan. kunjungan berkala ke tempat-tempat penahanan yang dilakukan oleh badan internasional dan nasional tambahan. OPCAT membentuk suatu sistem 128 . lihat Lembar Fakta No. prosedur ini bersifat rahasia dan harus diperoleh kerja sama dari Negara Pihak selama keseluruhan prosiding. yang akan diberlakukan ketika telah memiliki 20 Negara Pihak. 17: Komite Menentang Penyiksaan. komite dapat memutuskan memasukkan suatu kesimpulan akhir (summary account) dari hasil prosiding tersebut di laporan tahunannya. 2007 Dalam kedua kasus. lembaga ombudsman. empat dari perjanjian HAM memuat ketentuan-ketentuan yang mengijinkan Negara-negara Pihak untuk mengajukan pengaduan kepada badan perjanjian tentang tuduhan pelanggaran terhadap perjanjian oleh Negara Pihak lain. 4. 4 • Th. atau komisi parlementer) yang akan melakukan kunjungan berkala ke tempat-tempat penahanan sesuai dengan Protokol tersebut. Berdasarkan konsultasi dengan Negara Pihak. Bersama dengan badan internasional ini. memperkenalkan suatu mekanisme baru guna pencapaian tujuan-tujuan Konvensi yaitu mencegah penyiksaan dan bentuk-bentuk perlakuan kejam lainnya. 5. Prosedur ini mensyaratkan bahwa perbaikan di tingkat domestik (domestic remedies) JURNAL HAM • Vol.

harus exhausted (sudah dilakukan seluruhnya tanpa membuahkan hasil) lebih dahulu dan prosedur hanya berlaku pada Negaranegara Pihak yang telah membuat deklarasi menerima kompetensi komite dalam hal ini. Pasal 11 sampai pasal 13 Kovenan Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dan pasal 41 sampai pasal 43 Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik menetapkan suatu prosedur yang lebih terperinci untuk menyelesaikan pertikaian antarNegara Pihak mengenai pemenuhan satu Negara terhadap kewajibannya berdasarkan konvensi/kovenan yang relevan melalui pembentukan suatu komisi konsiliasi ad hoc. Prosedur ini juga mensyaratkan bahwa perbaikan domestik (domestic remedies) harus exhausted lebih dahulu. Prosedur ini pada umumnya tidak hanya berlaku bagi semua Negara Pihak pada Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial, tetapi hanya berlaku bagi Negara-negara Pihak pada Kovenan Internasioal tentang Hak Sipil dan Politik yang telah membuat deklarasi menerima kompetensi Komite dalam hal tersebut.

tional Court of Justice) jika pihak-pihak yang bertikai gagal menyepakati ketentuan-ketentuan dalam arbitrasi dalam jangka waktu enam bulan. Negara-negara Pihak dapat menarik diri dari prosedur semacam ini dengan membuat deklarasi pada saat ratifikasi atau aksesi, yang mana sesuai dengan prinsip timbal-balik (resiprositas), maka mereka tidak diperkenankan mengajukan kasus-kasus menentang Negara Pihak lainnya. Prosedur ini, seperti halnya prosedur pengaduan antarNegara, tidak pernah digunakan.

Komentar-komentar umum
Setiap badan perjanjian mempublikasikan interpretasinya tentang ketentuanketentuan dalam perjanjian HAM yang dimonitornya dalam bentuk komentar umum (Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dan Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan menggunakan istilah “rekomendasi umum”). Komentar umum dari badan perjanjian mencakup berbagai subyek, mulai dari interpretasi yang komprehensif mengenai ketentuan-ketentuan substantif, seperti hak hidup atau hak atas makanan yang cukup, sampai panduan umum tentang informasi yang harus diberikan dalam laporan Negara berkaitan dengan pasal-pasal tertentu dari perjanjian. Komentar umum juga menangani persoalan-persoalan yang saling bertabrakan (cross-cutting issues) yang lebih luas, seperti peran institusi-institusi nasional HAM, hak orang-orang penyandang cacat, kekerasan terhadap perempuan, dan hak kelompok minoritas. Suatu kompilasi komentar umum dan rekomendasi umum diadopsi oleh badan perjanjian dihasilkan dan diperbaharui secara berkala (lihat revisi terakhir dokumen HRI/GEN/1).

Penyelesaian pertikaian antar Negara berkaitan dengan interpretasi atau aplikasi konvensi
Pasal 29 Konvensi tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan, pasal 30 Konvensi Menentang Penyiksaan, dan pasal 92 Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya menyatakan bahwa pertikaian antarNegara berkaitan dengan interpretasi atau aplikasi konvensi akan diselesaikan pertama melalui negosiasi atau, jika negosiasi gagal, melalui arbitrasi. Salah satu Negara yang terlibat dalam pertikaian dapat merujuk pertikaian tersebut kepada Pengadilan Internasional (InternaJURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

129

Diskusi umum atau debat tematis
Sejumlah badan perjanjian menyelenggarakan diskusi umum mengenai suatu tema atau persoalan tertentu bagi badan perjanjian tersebut selama beberapa hari. Diskusi tematis ini biasanya terbuka bagi partisipan dari luar, seperti rekanan PBB, delegasi Negara Pihak, organisasi nonpemerintah, dan para ahli individual. Hasil dari diskusi dapat membantu badan perjanjian dalam membuat komentar umum yang baru.

jelis Umum meminta para ketua badan perjanjian HAM untuk bertemu guna membahas tentang bagaimana mereka bisa meningkatkan kinerja mereka. Pertemuan pertama pada ketua ini berlangsung pada 1984. Sejak 1995, para ketua badan perjanjian telah melakukan pertemuan setiap tahunnya. Pertemuan ini merupakan suatu forum bagi para ketua ketujuh badan perjanjian HAM untuk membahas mengenai pekerjaan mereka dan mempertimbangkan cara-cara guna meningkatkan efektivitas sistem badan perjanjian sebagai suatu kesatuan. Persoalan-persoalan yang diangkat dalam pertemuan ini antara lain: pengarusutamaan dan perbaikan secara menyeluruh prosedur pelaporan HAM; harmonisasi metode kerja komite-komite; tindak lanjut Konferensi Dunia; dan persoalan finansial. Konsultasi-konsultasi informal dengan Negara-negara Pihak sebagaimana juga dengan rekanan PBB dan organisasi nonpemerintah juga telah menjadi suatu ciri khas dalam pertemuan antara para ketua badan perjanjian. Sejak 1999, para ketua badan perjanjian telah bertemua dengan pemegang mandat prosedur khusus (baik mandat tematis maupun mandat negara) Komisi Hak Asasi Manusia. Pembahasannya berfokus pada pertanyaan-pertanyaan teknis, seperti meningkatkan pertukaran informasi antara badan perjanjian dan prosedur khusus. Persoalan-persoalan substantif, termasuk dampak globalisasi terhadap penikmatan HAM (2003) serta langkahlangkah penanganan terorisme (counter-terrorism) dan HAM (2004), juga telah dibahas. Pertemuan antarkomite Sejak 2002, pertemuan tahunan para ketua badan perjanjian telah dilengkapi dengan suatu “pertemuan antarkomite”, yang termasuk di dalamnya para ketua dan tamJURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

Pertemuan Negara-negara Pihak dan pertemuan dengan Negaranegara Pihak
Setiap perjanjian (kecuali Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya) menyelenggarakan pertemuan formal Negara-negara Pihak setiap dua tahun sekali, biasanya di Markas Besar PBB, guna memilih setengah dari anggota badan perjanjiannya. Pasal 50 Konvensi Hak Anak menyelenggarakan suatu konferensi Negaranegara Pihak guna menentukan usulan amendemen terhadap Konvensi. Kebanyakan komite juga mengadopsi praktik penyelenggaraan pertemuan informal secara berkala dengan Negara-negara Pihak pada perjanjian mereka guna mendiskusikan persoalan-persoalan bersama berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian dan pekerjaan badan perjanjian.

Koordinasi antara badan-badan perjanjian
Pertemuan tahunan para ketua badan perjanjian Kebutuhan akan koordinasi antara badan-badan perjanjian HAM diakui oleh Majelis Umum pada 1983, yaitu ketika Ma-

130

bahan dua anggota dari setiap komite. Harmonisasi metode kerja di antara para komite menjadi fokus utama pertemuan antarkomite pertama. Pelaksanaan pertemuan antarkomite disambut baik oleh Negaranegara Pihak. Meningkatnya keterlibatan setiap komite telah membuka pembahasan yang lebih detil tentang rekomendasi terhadap persoalan-persoalan berkaitan dengan metode kerja ketimbang yang dibahas dalam pertemuan para ketua badan perjanjian. Pertemuan antarkomite dan pertemuan para ketua badan perjanjian biasanya dipimpin oleh orang yang sama, yaitu seseorang yang menjadi ketua badan perjanjian HAM atas dasar rotasi.

Perluasan sistem perjanjian HAM: membuat instrumen baru
Sejak 2000, sejumlah instrumen HAM yang baru telah disepakati atau telah mulai berlaku. Pada Mei 2000, dua protokol opsional pada Konvensi Hak Anak diadopsi, tentang penjualan anak, pelacuran anak, dan pornografi anak (CRC-OPSC) dan tentang keterlibatan anak-anak dalam konflik bersenjata (CRC-OPAC). Keduanya mulai berlaku pada 2002. Pada Desember 2002, Protokol Opsional Konvensi Menentang Penyiksaan diadopsi (OPCAT). Protokol ini akan mulai berlaku ketika sudah diterima oleh 20 Negara Pihak. Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya mulai berlaku pada Juli 2003, dan Komite Pekerja Migran telah menyelenggarakan pertemuan pertamanya pada Maret 2004. Instrumen-instrumen HAM internasional lainnya sedang dibahas oleh Negaranegara dan dapat diadopsi pada tahuntahun mendatang. Suatu komite ad hoc Majelis Umum telah dibentuk pada 2002 dengan tujuan membuat “suatu konvensi internasional yang komprehensif dan integral tentang perlindungan dan pemajuan hak-hak dan martabat orang-orang penyandang cacat”. Komite”Ad Hoc ini bertujuan untuk mengadopsi suatu konvensi, yang akan memasukkan mekanisme monitoring pada akhir 2005. Pada 2002, Komisi Hak Asasi Manusia memutuskan untuk membentuk “kelompok kerja terbuka dengan tujuan untuk mempertimbangkan pilihanpilihan berkaitan dengan elaborasi protokol opsional pada Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya”.7 Protokol opsional tersebut akan memberikan kompetensi pada Komite Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya untuk mempertimbangkan pengaduan individual dan melakukan penyelidikan. Suatu kelompok kerja menge7 Resolusi Komisi 2002/24 dan 2003/18.

BAGIAN III
Perkembangan lebih lanjut dari sistem perjanjian HAM PBB
Walaupun DUHAM telah dibuat lebih dari 50 tahun yang lalu, dan proses pembuatan ketentuan internasional HAM atau International Bill of Human Rights (DUHAM dan kedua Kovenan) telah diselesaikan pada 1966, sistem perjanjian HAM internasional telah terus berkembang dengan adanya adopsi instrumen baru dan pembentukan badan perjanjian yang baru. Berbagai instrumen dan badan perjanjian yang semakin luas tersebut telah menjamin adanya perlindungan HAM yang lebih besar di sejumlah bidang yang menjadi perhatian utama masyarakat internasional, dan juga telah memberikan suatu tantangan penting bagi sistem perjanjian HAM internasional: bagaimana cara terbaik untuk menjamin bahwa perbedaan elemen-elemen dalam sistem yang semakin berkembang ini bisa bekerja secara efektif secara bersama-sama bagi pemajuan dan perlindungan HAM.

JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

131

(1) Meningkatkan koordinasi antara badan-badan perjanjian Badan-badan perjanjian telah dengan sukses mengerjakan mandat mereka. Saran Sekretaris Jenderal telah memberikan motivasi baru bagi proses ini. juga terdapat banyak keragaman. 4 • Th. dan kedua. dan walaupun ada banyak kesamaan dalam hal fungsi badan-badan perjanjian. termasuk pengarusutamaan metode kerja. Proposalproposal di bidang seperti standardisasi terminologi dan simbol-simbol dokumen telah dibahas dalam pertemuan antarkomite dan pertemuan para ketua badan perjanjian. Pada saat yang sama. untuk membuat suatu pendekatan yang lebih terkoordinasi dalam hal kegiatan dan membuat standardisasi ketentuan pelaporan mereka yang bervariasi. termasuk harmonisasi ketentuan pelaporan. 8 A/57/387. Badan-badan perjanjian telah terlibat secara berkelanjutan dalam pencarian cara untuk meningkatkan efektivitas melalui pengarusutamaan dan harmonisasi metode kerja dan praktik selama beberapa tahun. Ia meminta badan-badan perjanjian HAM untuk mempertimbangkan dua langkah: pertama. 132 JURNAL HAM • Vol. walaupun kegiatan-kegiatan mereka saling tumpang tindih di banyak bidang. maka penting agar ditekankan bahwa instrumen-instrumen tersebut saling melengkapi satu sama lain. dan (2) pengembangan proses pelaporan perjanjian. sampai baru-baru ini. setiap badan perjanjian cenderung melakukan pekerjaannya secara independen dari badan perjanjian lainnya. khususnya melibatkan Negara-negara dalam diskusi yang terbuka mengenai persoalan dalam melaksanakan perjanjian HAM melalui proses pelaporan. 2007 . serta bahwa perjanjian dan badan yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaannya dapat bekerja bersama-sama secara efektif sebagai suatu sistem yang terintegrasi guna pemajuan dan perlindungan HAM. juga diakui bahwa beberapa variasi dalam praktik dapat dibenarkan. yang seringkali mengarah pada kebingungan dan ketidak-konsistenan. Dalam laporannya tahun 2002. untuk mengijinkan Negara menghasilkan suatu laporan tunggal yang menyimpulkan semua ketaatannya pada sejumlah perjanjian HAM di mana Negara tersebut menjadi pihak.8 Sekretaris Jenderal PBB mengidentifikasi pembaruan lebih lanjut terhadap sistem perjanjian sebagai elemen utama dalam tujuan PBB untuk memajukan dan melindungi HAM. dan setiap komite secara individual telah meninjau metode kerjanya dengan tujuan untuk mengadopsi praktik-praktik terbaik dari komite lain. Meningkatkan efektivitas sistem perjanjian Dengan perkembangan yang berkelanjutan dalam sejumlah instrumen HAM internasional. Namun demikian. “Memperkuat Perserikatan Bangsa-Bangsa: suatu agenda untuk perubahan lebih lanjut”. atau bahkan diperlukan karena sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian yang bersangkutan. Cara ad hoc di mana setiap komite dibentuk berdasarkan perjanjiannya berarti bahwa mereka memiliki kekebebasan untuk membangun prosedur dan praktiknya sendiri. Badan-badan perjanjian menanggapi hal ini dengan melakukan suatu proses konsultasi dan reformasi yang ditujukan untuk menjawab dua bidang persoalan yang diangkat oleh usulan Sekretaris Jenderal: (1) meningkatkan koordinasi antara badan-badan perjanjian.nai rancangan instrumen tentang penghilangan paksa juga mungkin akan menghasilkan suatu instrumen baru.

Laporan-laporan yang dikompilasi sesuai dengan panduan dapat menyediakan suatu kerangka pelaporan yang seragam di mana komite-komite dapat menghindari duplikasi dalam pekerjaannya dan menetapkan suatu standar pelaporan yang konsisten bagi semua komite. sebagaimana juga informasi mengenai pelaksanaan ketentuan-ketentuan substantif HAM yang serupa dalam beberapa perjanjian. ketimbang memperlakukan masing-masing perjanjian secara terpisah-pisah. Sistem perjanjian HAM ini kelihatannya terfokus pada tingkat internasional. Laporan Negara-negara kepada badan-badan perjanjian oleh karenanya akan terdiri dari suatu dokumen umum yang menggambarkan pandangan yang holistik dari pelaksanaan HAM dan suatu dokumen perjanjian yang spesifik yang berfokus pada persoalan-persoalan yang menjadi perhatian komite berkaitan dengan perjanjiannya.(2) Pengembangan sistem pelaporan perjanjian Fokus utama upaya untuk menjamin pelaksanaan perjanjian HAM yang lebih efektif di tahun-tahun belakangan ini adalah pelaporan Negara. 4 • Th. Dokumen inti/utama yang diperluas ini harus diserahkan kepada semua badan perjanjian bersama dengan laporan target (targeted report) bagi setiap badan perjanjian yang berisi informasi spesifik mengenai perjanjian tersebut. Peran sistem perjanjian HAM dalam memperkuat sistem perlindungan HAM di tingkat nasional Perjanjian-perjanjian HAM adalah instrumen hukum yang menetapkan standarstandar internasional bagi pemajuan dan perlindungan HAM di dunia. badan-badan PBB. Panduan ini mendorong Negara-negara Pihak untuk memenuhi sejumlah kewajiban perjanjian HAM di mana mereka telah menjadi bagian dari suatu sistem yang terkoordinasi. Komisi Hak Asasi Manusia. maka badan-badan perjanjian menyimpulkan bahwa laporan tunggal justru akan menjadi tantangan yang begitu besar bagi Negara-negara Pihak dan tidak akan dapat memenuhi tujuan yang memotivasi usulan Sekretaris JendeJURNAL HAM • Vol. Mereka memilih untuk memperluas ruang lingkup dokumen inti/utama dengan memasukkan presentasi penuh kerangka hukum bagi pemajuan dan perlindungan HAM secara umum di Negara. badan-badan perjanjian mulai membuat panduan harmonisasi pelaporan berdasarkan ketujuh perjanjian HAM utama. pertemuan para ketua badan perjanjian. Sebagaimana sistem berkembang. dan pihak-pihak lain yang berminat. terlambat dan tidak-melaporkan. Negara menjanjikan dirinya pada standar-standar ini dan mewajibkan dirinya untuk melaksanakan hakhak tersebut di tingkat nasional. tetapi jelas bahwa pemajuan dan perlindungan HAM merupakan persoalan paling penting di tingkat nasional. Setelah konsultasi yang mendalam dengan Negara Pihak. organisasi nonpemerintah. Menanggapi permintaan Sekretaris Jenderal untuk ketentuan pelaporan yang terharmonisasi dan kemungkinan penyerahan suatu laporan tunggal. serta duplikasi ketentuan pelaporan di antara badan-badan perjanjian. Standar-standar internasional yang telah disepakati dalam perjanjian memerlukan adanya pelaksanaan yang efektif di tingkat nasional guna menjamin bahwa hak-hak tersebut dinikmati oleh semua 133 . Badan perjanjian mendorong dan mendukung Negara dalam upaya ini. Dengan meratifikasi perjanjian. Memperbaiki efektivitas sistem perjanjian HAM telah menjadi perhatian yang berkelanjutan masing-masing badan perjanjian. 2007 ral tersebut. tantangan-tantangan muncul dari keterlambatan penyerahan dan/atau pertimbangan terhadap laporan. dan Majelis Umum.

Mengaitkan proses-proses tersebut dapat menjamin bahwa HAM ditempatkan di tengah-tengah perencanaan strategis nasional. Walaupun badan internasional memang meminta laporan-laporan. 134 JURNAL HAM • Vol. 2007 . yang oleh karenanya akan menjamin pelaksanaan standar HAM nasional yang lebih efektif. pembuatan rencana aksi nasional HAM. dapat memberikan bantuan yang berguna bagi tindakan-tindakan yang diperlukan guna memperkuat perlindungan HAM. Pendapat-pendapat yang diungkapkan oleh komite sebagai tanggapn terhadap pengaduan individual juga merupakan sumber panduan yang lain. dan anak-anak di setiap negara. juga dapat digunakan untuk menstimulasi debat nasional mengenai HAM dengan masyarakat sipil dan menciptakan konstituensi HAM yang baru. 4 • Th. Ketika telah dihasilkan suatu laporan Negara Pihak dan telah dipertimbangkan oleh badan perjanjian. Dalam memenuhi kewajiban pelaporan mereka berdasarkan perjanjian internasional. Pertama. Nasihat praktis dan bantuan dari badan perjanjian Hasil dari badan perjanjian. proses pelaporan kepada badan perjanjian itu sendiri merupakan bagian yang penting dalam pembentukan suatu sistem perlindungan HAM di tingkat nasional. yang berfokus pada bidang persoalan tertentu yang memerlukan tindakan. Kedua. melalui proses pertimbangan di tingkat internasional. sampai tanggapan negara terhadap rekomendasi badan perjanjian. dari mulai persiapan pembuatan laporan. Karena badan perjanjian dibentuk untuk memonitor pelaksanaan standarstandar HAM internasional yang ditentukan oleh perjanjian HAM. Proses pelaporan. dan pelaksanaan perencanaan pembangunan nasional. maka concluding observations dan rekomendasi yang praktis dan bertarget dapat memberikan nasihat yang tepat tentang bidang-bidang tertentu yang perlu diperhatikan oleh Negara yang bersangkutan. maka badan perjanjian memiliki peranan penting dalam membantu upaya memperkuat perlindungan HAM di tingkat nasional. badan perjanjian memberikan pada Negara-negara nasihat-nasihat praktis dan bantuan tentang bagaimana melaksanakan perjanjian dengan baik. Komentar umum dari badan perjanjian menyediakan informasi tambahan untuk suatu sifat yang lebih terelaborasi mengenai bagaimana perjanjian harus dilaksanakan. Pentingnya proses pelaporan di tingkat nasional Upaya mendorong Negara-negara untuk mengambil pendekatan yang holistik dalam pelaporan dengan melihat pada serangkaian kewajiban pada perjanjian yang mana mereka menjadi pihak tidak hanya ditujukan untuk mempermudah Negara dalam membuat pelaporan kepada badan perjanjian internasional. yaitu pelaporan perjanjian. perempuan.laki-laki. namun proses pembuatan laporan di tingkat nasional juga penting. Negara-negara terlibat dalam suatu proses penilaian terhadap dirinya sendiri (self-assessment) guna menentukan sejauh mana HAM telah dilindungi di negaranya. Banyak Negara terlibat dalam proses paralel. Proses pengumpulan informasi mengenai pelaksanaan HAM di tingkat nasional menjadi alat yang penting untuk membantu Pemerintah merencanakan dan menempatkan program-program pembangunan berdasarkan HAM (rights-based development). sebagaimana halnya tim negara dan donor PBB.

Hasil badan perjanjian dapat memiliki dampak yang signifikan bagi Negara. misalnya melalui usulan legislasi baru atau keten- JURNAL HAM • Vol. akan bekerja bersamasama untuk mencapainya pada 2015. dan penyakit-penyakit lainnya: Panduan Internasional tentang HIV/AIDS dan Hak Asasi Manusia. Tujuan 8 untuk membangun suatu kemitraan global untuk pembangunan: Piagam PBB (pasal 1(3)). Konvensi Hak Anak (pasal 4). Sosial. dan Komentar Umum 24). pasal6(5). Keseluruhan delapan MDGs dapat dikaitkan dengan ketentuan-ketentuan perjanjian hak asasi manusia atau komentar-komentar umum badan-badan perjanjian (GCs). pasal 12(1). Sosial. Tujuan 4 untuk mengurangi tingkat kematian anak-anak: Konvensi Hak Anak (pasal 6 dan pasal 24(2)(a)). dan Budaya (pasal 2). Sosial. Sosial. Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial (pasal 5(e)(iv)). Konvenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (pasal 3. dan Budaya (Komentar Umum 15 dan 14).Tujuan Pembangunan Millenium (Millenium Development Goals) dan Hak Asasi Manusia Pada 2000. dan pasal 32(2). Sosial. 4 • Th. Sosial. pasal 14(b). malaria. dan Budaya (pasal 12(2)(a)) dan Komentar Umum 14). baik yang maju maupun berkembang. Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. dan Budaya (Komentar Umum 14). dan Budaya (Komentar Umum 14). serta Komentar Umum 11). Sosial. dan Budaya (pasal 3 dan pasal 7(a) (i)). Sosial. negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa menyepakati delapan tujuan – atau Millenium Development Goals (MDGs) – di mana semua bangsa. Tempat tinggal kumuh: Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. dan Budaya (pasal 13 dan pasal 14. Tujuan 7 untuk menjamin keberlangsungan lingkungan. Tujuan 2 untuk mencapai pendidikan dasar universal: Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Tujuan 3 untuk memajukan kesetaraan genjer dan pemberdayaan perempuan: Konvensi tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan. yaitu membantu menjamin pelaksanaan perjanjian-perjanjian yang lebih efektif. dan Budaya (pasal 11 dan Komentar Umum 12). Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. pasal 11(f). Tujuan 5 untuk memperbaiki tingkat kesehatan maternal: Konvensi tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan (pasal 10(h). Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Konvensi Hak Anak (pasal 24(c)). Air minum yang aman dikonsumsi: Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. 2007 135 . Konvensi Hak Anak (pasal 24(d)). Konvensi Hak Anak (pasal 28(a) dan Komentar Umum1). dan Konvensi Hak Anak (pasal 24(c) dan Komentar Umum 3). Tujuan 6 untuk memerangi HIV/AIDS. Konvensi Hak Anak (pasal 24(2) dan pasal 27(3)). Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial (pasal 5 dan pasal 7). Tujuan 1 untuk menghapuskan kemiskinan dan kelaparan: Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial (Komentar Umum 25). Konvensi Hak Anak (pasal 2). dan Budaya (Komentar Umum 4 dan 7). Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Sosial.

Lembar Fakta ini tersedia secara cumacuma dari kantor publikasi OHCHR. 15). tetapi juga pada aktor-aktor lain yang mampu mempengaruhi cara di mana HAM dilindungi dan dimajukan di negara tersebut. termasuk concluding observations yang dikeluarkan setelah pemeriksaan terhadap laporan Negara Pihak. hakim-hakim. kunjungi situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) dan masuk ke “badanbadan perjanjian” (“human rights bodies”). 4 • Th. 7). 10). Backlog terhadap begitu banyak laporan yang yang menunggu untuk dipertimbangkan oleh komite dapat berarti penundaan sampai dua tahun lamanya dari tanggal penyerahan laporan tersebut oleh Negara Pihak sampai waktu komite memulai pemeriksaan terhadap isi dari laporan. 12). keputusan yang diambil mengenai pengaduan individual (jika tersedia). termasuk laporan-laporan Negara Pihak dan concluding observations dapat diperoleh di situs ini. kunjungi situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia OHCHR di http://www. serta masyarakat sipil. Perluasan dampak tergantung tidak hanya pada Pemerintah. atau online di http://www. Hak Sipil dan Politik: Komite Hak Asasi Manusia (No.tuan tentang pelatihan HAM bagi pejabat/ pegawai Negara. Pemberitahuan melalui e-mail mengenai rekomendasi badan perjanjian Jika anda tertarik pada pekerjaan badan-badan perjanjian dan ingin mendapatkan informasi mengenai kegiatankegiatan mereka. komentar umum yang menginterpretasikan perjanjian yang bersangkutan. Dokumen-dokumen badan perjanjian. Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) juga mempublikasi beberapa Lembar Fakta berkaitan dengan pekerjaan badan-badan perjanjian: Prosedur Pengaduan (No. org/english/bodies/treaty/subscribe. Diskriminasi terhadap Perempuan: Konvensi dan Komite (No. Komite Menentang Penyiksaan (No. Untuk mendaftarkan diri.ohchr. htm. Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial (No. 17). Komite Hak Ekonomi. dan Budaya (No. 24). dan pengacara. termasuk status pelaporan oleh negara. dan kegiatan-kegiatan lainnya. Hak Anak (No. 2007 136 . institusi nasional HAM. about/publications/sheets/htm.ohchr. beberapa badan perjanjian juga menghadapi kesulitan untuk menangani jumlah laporan yang harus mereka pertimbangkan setiap tahun. Informasi lebih lanjut mengenai sistem perjanjian HAM PBB Untuk informasi lebih lanjut mengenai perjanjian dan badan perjanjian. kenapa tidak mendaftarkan diri ke “listserv” badan perjanjian secara cuma-cuma? Anda akan menerima pemberitahuan berkala melalui e-mail mengenai rekomendasi badan perjanjian. Sosial. 22). 16). termasuk parlemen nasional dan regional.org/english/ Istilah-istilah teknis berkaitan dengan badan perjanjian Backlog Di samping persoalan keterlambatan dan tidak-adanya pelaporan oleh Negara-negara Pihak. Kebutuhan untuk meminta informasi yang terkini adalah salah satu JURNAL HAM • Vol. dan Hak Pekerja Migran (No. Situs ini memuat informasi mengenai proses pelaporan Negara.

Gagasan dialog konstruktif menekankan pada kenyataan bahwa badan perjanjian bukan merupakan badan yudisial (walaupun beberapa di antaranya memiliki fungsi quasi-yudisial). Orang tersebut mengetuai pertemuan sesuai dengan peraturan tata tertib yang telah disepakati. Dokumen umum Istilah alternatif untuk “dokumen inti/ utama yang diperluas”. Ketua Setiap badan perjanjian memilih salah satu anggotanya untuk bertindak sebagai ketua untuk jangka waktu dua tahun. Dialog konstruktif Praktik yang diadopsi oleh semua badan perjanjian dengan mengundang Negaranegara Pihak untuk mengirimkan delegasinya guna menghadiri pertemuan di mana laporan mereka dipertimbangkan dalam rangka memberikan kesempatan kepada Negara-negara Pihak tersebut untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan anggota dan menyediakan informasi tambahan mengenai upaya mereka dalam melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian yang relevan. yang bertemu untuk memutuskan tentang persoalan-persoalan prosedural dan administratif yang berkaitan dengan pekerjaan komite. Biro Biro biasanya terdiri dari ketua. Concluding observations mengacu baik pada aspek positif pelaksanaan perjanjian oleh suatu negara maupun bidang-bidang di mana badan perjanjian merekomendasiJURNAL HAM • Vol. Pertimbangan terhadap kondisi negara tanpa adanya laporan Lihat “prosedur peninjauan”. Metode kerja yang lebih efisien dapat mengurangi backlog tersebut. 2007 kan bahwa tindakan lebih lanjut perlu diambil oleh Negara. terfokus. pelapor (rapporteur) atau anggota lain yang ditugaskan oleh komite.alasan mengapa praktik pembuatan daftar pertanyaan diadopsi oleh kebanyakan badan perjanjian. tetapi hanya dibentuk untuk memonitor pelaksanaan perjanjian. Badan perjanjian bertugas menghasilkan concluding observations yang konkret. struktur politik umum. Juga dirujuk sebagai “concluding comments” oleh beberapa komite sesuai dengan pengistilahan di perjanjiannya. wakil ketua. Para ketua badan perjanjian bertemu setiap tahunnya untuk mengkoordinasikan kegiatan badan perjanjian. misalnya. termasuk informasi mengenai tanah dan penduduk. dan dapat dilaksanakan. serta harus memberikan perhatian bagi langkah-langkah guna menjamin tindak lanjut efektif terhadap concluding observations-nya. dan juga berpartisipasi bersama dua orang anggota komite lainnya dalam pertemuan antarkomite. Dokumen inti/utama Suatu dokumen yang diserahkan oleh Negara Pihak kepada Sekretaris Jenderal yang memuat informasi hal-hal umum mengenai negara yang relevan dengan semua perjanjian. Concluding observations Pengamatan dan rekomendasi yang dikeluarkan oleh suatu badan perjanjian setelah mempertimbangkan laporan Negara Pihak. dan kerangka hukum umum yang melindungi HAM di Negara tersebut. pertemuan secara paralel di dua tempat untuk mempertimbangkan laporanlaporan dari tahun 2005. 4 • Th. Komentar kesimpulan (concluding comments) Lihat “concluding observations”. Dokumen inti/utama diperkenalkan pertama kalinya pada 1991 di pertemuan para ketua 137 .

Beberapa perjanjian hak asasi manusia mengijinkan Negara-negara Pihak. Oleh karena itu. Negara dapat membuat deklarasi opsional bahwa Negara menerima kompetensi Komite Hak Asasi Manusia untuk mempertimbangkan pengaduan antarNegara. Pelapor negara biasanya memimpin dalam membuat daftar persoalan. Deklarasi Negara dapat memilih atau diwajibkan untuk membuat deklarasi berkaitan dengan perjanjian di mana Negara menjadi pihak. Hal yang sama. Tujuan dari deklarasi interpretasi adalah untuk mengklarifikasi arti beberapa ketentuan atau keseluruhan perjanjian. ketentuan tertentu di perjanjian. atau interpretasi tentang. Negaranegara Pihak pada Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang keterlibatan anakanak dalam konflik bersenjata diharuskan membuat deklarasi wajib berdasarkan pasal 3(2) yang menetapkan usia minimum yang mengijinkan rekrutmen berdasarkan pilihan bebas (voluntary) di angkatan bersenjata nasionalnya serta suatu deskripsi jaminan yang diadopsi guna menjamin bahwa rekrutmen semacam itu tidak dipaksakan. Derogasi Derogasi adalah langkah yang diadopsi oleh Negara Pihak yang menangguhkan sebagian pelaksanaan satu atau lebih ketentuan dari perjanjian. 4 • Th. Deklarasi tentang interpretasi seperti ini. Satuan kerja laporan Negara (country report task force) Komite Hak Asasi Manusia telah menugaskan satuan kerja laporan Negara untuk mengerjakan persiapan pertimbangan laporan-laporan yang sebelumnya dilakukan oleh kelompok kerja prapertemuan. mengajukan pertanyaan kepada delegasi pada saat pertemuan. salah satu di antara mereka adalah pelapor negara. yang dinominasikan oleh Ketua. tidak se- perti halnya reservasi. yaitu sebagai berikut: Deklarasi tentang interpretasi Negara dapat membuat deklarasi tentang pemahamannya terhadap persoalan yang tercantum dalam. setidaknya untuk jangka waktu sementara. Pelapor negara (country rapporteur) Kebanyakan komite menunjuk seorang anggotanya sebagai pelapor negara untuk setiap Negara Pihak yang sedang dipertimbangkan. berdasarkan pasal 41 Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. Ada beberapa jenis deklarasi. Namun. Satuan kerja ini bertemu pada saat pertemuan pleno. dan membuat concluding observations untuk dibahas dan diadopsi oleh komite. Satuan kerja laporan Negara terdiri dari empat sampai enam anggota. 2007 138 . Deklarasi opsional dan wajib Perjanjian dapat membiarkan Negara membuat deklarasi opsional dan/atau wajib. misalnya. Deklarasi ini bersifat mengikat secara hukum bagi yang membuat deklarasi. dalam hal darurat publik yang mengancam kehidupan bangsa. yang secara keseluruhan bertanggung jawab terhadap pembuatan daftar persoalan. untuk membuat derogasi yang bersifat khusus dan sementara terhadap beberapa hak sejauh yang dibutuhkan oleh situasi di Negara tersebut. Negara Pihak tidak boleh membuat derogasi terhadap hak-hak tertentu dan tidak boleh mengambil langJURNAL HAM • Vol.badan perjanjian sebagai suatu cara untuk mengurangi pengulangan informasi yang ditemukan di laporan Negara-negara ke berbagai badan perjanjian. tidak berarti meniadakan atau memodifikasi dampak hukum dari perjanjian. Dokumen ini memuat suatu bagian awal yang umum di semua laporan ke badan perjanjian.

Beberapa komite telah mengadopsi prosedur tindak lanjut formal dan semua komite mewajibkan Negara-negara untuk mencantumkan tindak lanjut tersebut dalam laporan berkala mereka. Komentar umum Interpretasi suatu badan perjanjian terhadap isi ketentuan-ketentuan HAM. Komentar umum seringkali digunakan untuk memperjelas kewajiban pelaporan Negara-negara Pihak berkaitan dengan ketentuan-ketentuan tertentu dan menyarankan pendekatan-pendekatan dalam melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. Institusi-institusi Nasional HAM. Dokumen inti/utama yang diperluas bertujuan untuk semakin mengurangi pengulangan informasi dalam berbagai laporan dengan menyediakan informasi mengenai ketentuan-ketentuan tentang hak-hak yang substantif di seluruh atau beberapa perjanjian. dari seorang individual yang menyatakan bahwa hakhaknya berdasarkan salah satu perjanjian telah dilanggar oleh Negara Pihak. 4 • Th.kah-langkah yang bersifat diskriminatif. Dokumen inti/utama yang diperluas Gagasan untuk memperluas ruang lingkup dokumen inti/utama muncul pada saat proses konsultasi yang dilakukan oleh badan perjanjian sebagai respon terhadap usulan Sekretaris Jenderal bahwa Negaranegara diijinkan untuk menyerahkan laporan tunggal kepada semua badan perjanjian. (Lihat Komentar Umum No. Rekomendasi umum Lihat “komentar umum”. dan masyarakat sipil memiliki peranan penting dalam tindak lanjut tersebut. Parlemen. serta ada kekhawatiran bahwa informasi spesifik yang biasanya ditemukan di laporan perjanjian yang terpisah akan hilang dalam suatu laporan yang menyimpulkan secara luas. memberikan alasan mengenai derogasi. Diprediksikan bahwa dokumen inti/utama yang diperluas akan diserahkan kepada setiap badan perjanjian bersama dengan laporan khusus perjanjian yang lebih terfokus. dan menentukan tanggal habisnya masa berlaku derogasi tersebut. DAW berkantor di Markas Besar Perserikatan BangsaBangsa di New York dan memberikan dukungan terhadap Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan. Pengaduan individual Suatu pengaduan formal. 29 Komite Hak Asasi Manusia) Divisi Pengembangan Perempuan (DAW) Bertempat di Departemen Bidang Ekonomi dan Sosial (Department of Economic and Social Affairs atau DESA). Biasanya Negara-negara diwajibkan untuk menginformasikan kepada Negara Pihak lainnya tentang derogasi tersebut. Komentar Umum juga sering disebut “rekomendasi umum” (Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial dan Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan). Komunikasi individual Lihat “pengaduan individual”. serta Komisi untuk Status Perempuan. Suatu laporan tunggal dianggap akan mempersulit prosedur dan akan sulit digunakan. baik yang terkait dengan suatu artikel khusus atau suatu persoalan tematis yang lebih luas. Tindak lanjut Prosedur yang dibuat guna menjamin bahwa Negara-negara Pihak menindaklanjuti rekomendasi yang ada dalam concluding observations badan perjanjian atau keputusan badan perjanjian terhadap kasuskasus yang diangkat dalam prosedur pengaduan. 2007 139 . di mana JURNAL HAM • Vol. organisasi nonpemerintah.

Lihat Lembar Fakta Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) No. yang memungkinkan dialog membicarakan hal-hal yang spesifik dengan lebih cepat.beberapa badan perjanjian memiliki kompetensi untuk mempertimbangkannya. Saat ini belum ada hak pengaduan individual di Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Institusi-institusi Nasional HAM (National Human Rights Institutions/ NHRI) Banyak negara telah membentuk institusi nasional HAM untuk memajukan dan melindungi HAM. Ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan pengaduan individual berdasarkan Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya belum berlaku. dan sebagainya). 2007 140 . banyak Negara menghadapi kesulitan dalam melaksanakan kewajiban pelaporan yang sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan oleh perjanjian di mana mereka menjadi pihak. Informasi lebih lanjut mengenai NHRIs. 19: JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. dalam praktiknya. Institusi-institusi semacam ini semakin diakui sebagai bagian yang penting dalam sistem perlindungan HAM di tingkat nasional. misalnya dengan pengarusutamaan proses pelaporan melalui dokumen inti/utama yang diperluas. tergantung pada sejauh mana independensinya dari kontrol pemerintah dapat dijamin. Beberapa komite mendorong Negara Pihak untuk menyerahkan tanggapan tertulis sebelum pertemuan dilaksanakan. Keterlambatan pelaporan Setiap perjanjian memperkirakan penyerahan laporan secara berkala. yang diserahkan kepada Negara Pihak jauh-jauh hari sebelum pertemuan di mana badan perjanjian akan mempertimbangkan laporan tersebut. Daftar persoalan menyediakan suatu kerangka bagi dialog yang konstruktif dengan delegasi Negara Pihak. Daftar persoalan merupakan sumber informasi yang up-to-date bagi komite berkaitan dengan Negara yang laporannya mungkin sudah menunggu selama dua tahun untuk dipertimbangkan. Informasi mengenai status pelaporan Negara-negara Pihak pada setiap perjanjian tersedia dari database badan-badan perjanjian di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) atau dalam dokumen HRI/GEN/4. Daftar persoalan dan/atau pertanyaan Suatu daftar persoalan atau pertanyaan yang dibuat oleh suatu badan perjanjian berdasarkan laporan Negara Pihak dan informasi lain yang tersedia bagi badan perjanjian tersebut (informasi dari badanbadan khusus PBB. Hak yang akan dipertimbangkan dalam pengaduan individual harus dinyatakan diterima oleh Negara Pihak yang bersangkutan dengan membuat suatu deklarasi berdasarkan pasal perjanjian yang relevan (bagi Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dan Komite Menentang Penyiksaan) atau dengan meratifikasi atau mengaksesi protokol opsional pada perjanjian yang memberikan hak bagi pengaduan individual (Protokol Opsional Pertama pada Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik serta Protokol Opsional Kovenan tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan). yang diperbaharui setiap tahunnya. dan badan perjanjian telah berupaya mencari cara untuk mempermudah Negaranegara membuat laporan. dan Budaya serta Konvensi Hak Anak. Persoalan keterlambatan pelaporan ini diidentifikasi sebagai salah satu dari banyak tantangan yang dihadapi oleh sistem pelaporan perjanjian. organisasi nonpemerintah. Sosial. Suatu standar internasional yang dikenal sebagai Prinsip-prinsip Paris telah disepakati untuk mengukur independensi dan integritas institusi-institusi nasional HAM ini.

Institusi-institusi Nasional untuk Pemajuan dan Perlindungan Hak Asasi Manusia. Organisasi nonpemerintah Organisasi nonpemerintah dapat terlibat dalam pemajuan HAM, baik secara umum maupun berfokus pada suatu persoalan tertentu. Terdapat suatu kerangka bagi partisipasi organisasi nonpemerintah di berbagai mekanisme HAM PBB, seperti pemberian status konsultatif di Dewan Ekonomi, Sosial, dan Budaya yang memberikan kesempatan kepada organisasi nonpemerintah untuk berpartisipasi dalam Komisi Hak Asasi Manusia. Organisasi nonpemerintah internasional dan nasional mengikuti pekerjaan badan-badan perjanjian dari dekat dan kebanyakan badan perjanjian memberikan kesempatan pada mereka untuk memberikan masukan dalam proses pelaporan, misalnya melalui pemberian informasi tambahan berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian di suatu negara (seringkali dirujuk sebagai laporan “bayangan” atau “paralel”). Terdapat perbedaan dalam bagaimana setiap badan perjanjian memperlakukan informasi ini. Hal ini tergantung pada apakah organisasi memiliki status konsultatif dari Dewan Ekonomi, Sosial, dan Budaya atau tidak. Organisasi nonpemerintah internasional dan nasional juga memiliki peranan penting dalam mengawasi tindak lanjut pelaksanaan rekomendasi yang di tingkat nasional termuat dalam concluding observations badan perjanjian dan dalam mendorong debat publik di tingkat nasional mengenai pelaksanaan HAM pada masa proses pembuatan laporan dan setelahnya. Organisasi nonpemerintah juga memberikan kontribusi yang penting dalam pemajuan pengesahan perjanjian-perjanjian HAM di dunia.

Tidak-melaporkan (non-reporting) Walaupun sudah dengan bebas menerima kewajiban hukum yang melekat pada perjanjian HAM yang telah mereka ratifikasi, beberapa Negara gagal menyerahkan laporan mereka kepada badan perjanjian yang bersangkutan. Terdapat banyak alasan mengapa Negara-negara gagal melapor, mulai dari adanya perang dan konflik sipil sampai pada keterbatasan sumber daya. Bantuan teknis tersedia dari Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) dan Divisi Pengembangan Perempuan (DAW) untuk membantu Negara-negara dalam memenuhi kewajiban pelaporan mereka. Badan perjanjian juga telah mengadopsi prosedur untuk menjamin bahwa pelaksanaan perjanjian oleh Negara-negara Pihak yang tidak-melapor juga dapat ditinjau, yaitu ketika Negara tersebut tidak memberikan tanggapan terhadap permintaan informasi dari badan perjanjian. Komite juga secara khusus dapat mempertimbangkan situasi di suatu negara tanpa adanya laporan. Informasi mengenai status pelaporan Negara Pihak terhadap setiap perjanjian tersedia dari database badan perjanjian di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) atau dalam dokumen HRI/ GEN/4, yang diperbaharui setiap tahunnya. Situs tersebut juga menyediakan informasi mengenai bantuan teknis yang tersedia bagi Negara-negara Pihak. Protokol opsional Suatu instrumen internasional yang berhubungan dengan suatu dokumen utama dan memberikan kewajiban hukum tambahan bagi Negara-negara yang memilih untuk menerimanya. Protokol opsional dapat dirancang pada saat yang bersamaan dengan perjanjian utamanya, atau dirancang setelah perjanjian utamanya mulai diberlakukan. Protokol opsional pada perjanjian HAM diadopsi untuk sejumlah alasan: memberikan kesempatan bagi Negara-negara Pihak

JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

141

untuk mendaftarkan diri pada kewajiban tambahan berkaitan dengan monitoring internasional terhadap pelaksanaan perjanjian (Protokol Opsional Pertama pada Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, Protokol Opsional pada Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan, Protokol Opsional pada Konvensi Menentang Penyiksaan); memberikan kesempatan pada Negaranegara untuk mengambil kewajiban tambahan ketika hal-hal tersebut tidak termasuk dalam perjanjian utama (Protokol Opsional Kedua pada Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik); atau menanggapi persoalan-persoalan khusus secara lebih detil (kedua protokol opsional pada Konvensi Hak Anak). Periode pelaporan Jangka waktu untuk penyerahan laporan awal dan laporan berkala oleh Negara Pihak pada badan perjanjian ditentukan di setiap perjanjian atau ditentukan oleh komite sesuai dengan jangka waktu perjanjian. Suatu laporan awal diwajibkan dalam suatu jangka waktu tertentu setelah perjanjian mulai diberlakukan di Negara yang bersangkutan; laporan berkala kemudian diwajibkan untuk jangka waktu tertentu. Periode pelaporan berbeda dari satu perjanjian ke perjanjian lainnya. Petisi Suatu istilah kolektif yang mencakup berbagai prosedur untuk mengajukan pengaduan ke hadapan badan perjanjian yang kompeten. Petisi dapat terdiri dari pengaduan individual atau dari Negara Pihak mengenai pelanggaran terhadap ketentuan perjanjian oleh Negara Pihak lainnya. Kelompok kerja prapertemuan Suatu kelompok kerja dibentuk oleh beberapa badan perjanjian sebelum atau setelah pertemuan pleno guna merencanakan pe-

kerjaan mereka di pertemuan-pertemuan selanjutnya. Pekerjaan yang dilakukan oleh kelompok kerja prapertemuan berbeda dari satu komite ke komite lainnya: beberapa komite membuat daftar persoalan dan pertanyaan melalui kelompok kerjanya untuk kemudian diserahkan kepada setiap negara Pihak sebelum pertimbangan terhadap laporannya dilaksanakan; beberapa komite dengan kompentensi untuk mempertimbangkan pengaduan individual menggunakan kelompok kerja untuk membuat rekomendasi awal terhadap kasus dan persoalan lain yang terkait dengan prosedur pengaduan. Kelompok kerja prapertemuan biasanya dilaksanakan secara tertutup. Rekomendasi Suatu rekomendasi atau keputusan formal yang dikeluarkan oleh badan perjanjian. Istilah ini telah digunakan secara tidak konsisten, yaitu digunakan untuk menggambarkan keputusan formal mengenai persoalan-persoalan tertentu, atau resolusi yang lebih umum seperti yang dihasilkan dari diskusi umum. Concluding observations memuat rekomendasi spesifik, dan isitilah “rekomendasi badan perjanjian” sering digunakan secara bersamaan dengan “concluding observations”. Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial dan Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan juga merujuk pada komentar umum mereka sebagai “rekomendasi umum”. Panduan pelaporan bagi Negaranegara Pihak Panduan tertulis yang dihasilkan bagi Negara-negara Pihak oleh setiap badan perjanjian, yang memberikan nasihat mengenai bentuk dan isi dari laporan yang wajib diserahkan oleh Negara-negara berdasarkan perjanjian yang bersangkutan. Panduan yang terbaru bervariasi pendekatannya: beberapa komite menyediakan panduan yang detil berdasarkan pasal-per-pasal
JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

142

sementara komite lainnya memberikan panduan secara lebih umum (lihat Kompilasi Panduan Pelaporan HRI/GEN/2/ Rev.2). Dalam laporan reformasi keduanya (A/57/387), Sekretaris Jenderal meminta badan-badan perjanjian agar mengadopsi panduan pelaporan yang terharmonisasi. Draf panduan pelaporan yang terharmonisasi ini sedang dibuat oleh komite-komite. Reservasi Reservasi adalah suatu pernyataan yang dibuat oleh Negara yang menyatakan bahwa Negara tersebut meniadakan atau menambahkan dampak hukum beberapa ketentuan dalamperjanjian berkaitan dengan pelaksanaannya di Negara tersebut. Reservasi dapat memfasilitasi Negara untuk berpartisipasi dalam perjanjian multilateral di mana Negara tersebut dapat tidak mampu ataupun tidak bersedia melakukannya. Negara-negara dapat membuat reservasi terhadap suatu perjanjian ketika mereka menandatangani, meratifikasi, menerima, menyetujui, atau mengaksesinya. Ketika suatu Negara membuat reservasi ketika penandatanganan, maka Negara harus menegaskan kembali reservasi tersebut pada saat ratifikasi, penerimaan, atau persetujuan. Reservasi diatur oleh Konvensi Wina tentang Hukum Perjanjian, dan tidak bisa bertentangan dengan tujuan perjanjian. Oleh karena itu, Negara-negara dapat membuat reservasi ketika menandatangani, meratifikasi, menerima, menyetujui, atau mengaksesi suatu perjanjian, kecuali jika (a) reservasi dilarang oleh perjanjian; atau (b) perjanjian mensyaratkan bahwa hanya dapat dilakukan reservasi spesifik, yang tidak termasuk reservasi yang dimaksudkan. Negara-negara Pihak lain dapat mengajukan keberatan terhadap reservasi suatu negara Pihak. Kapan pun, reservasi dapat ditarik atau dibatalkan secara penuh atau sebagian oleh Negara Pihak.
JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

Prosedur peninjauan Suatu prosedur di mana badan perjanjian akan mempertimbangkan situasi di negara tanpa adanya laporan dari Negara Pihak tersebut. Prosedur ini digunakan dalam hal ketika laporan terlambat untuk jangka waktu yang lama dan Negara Pihak tidak menanggapi permintaan badan perjanjian akan laporan tersebut. Di banyak kasus, Negara-negara Pihak menyerahkan laporan mereka untuk menghindari prosedur peninjauan; di kasus lainnya, Negara-negara memilih untuk mengirimkan delegasinya ke pertemuan badan perjanjian dan menjawab pertanyaan dari para ahli badan perjanjian walaupun mereka belum dapat menyerahkan laporannya. Prosedur peninjauan pertama kali diadopsi oleh Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial pada 1991. Komite lain menggunakan istilah “pertimbangan terhadap situasi suatu negara tanpa adanya laporan”. Beberapa Komite memberikan suatu daftar persoalan kepada Negara Pihak walaupun tidak ada laporan. Kebanyakan komite menghasilkan concluding observations di akhir proses, namun hal ini dapat dirahasiakan untuk jangka waktu tertentu jika Negara tersebut berkeinginan menyerahkan laporannya. Peraturan tata tertib (rules of procedure) Aturan-aturan formal yang diadopsi oleh badan perjanjian guna mengatur cara-cara bagaimana badan perjanjian tersebut melakukan pekerjaannya. Setiap komite diberikan kewenangan oleh perjanjian yang bersangkutan untuk mengadopsi peraturan tata tertibnya sendiri. Peraturan tata terbit biasanya mencakup permasalahan seperti pemilihan pejabat dan prosedur pengambilan keputusan khususnya ketika tidak bisa dicapai konsensus. Peraturan tata tertib berkaitan, tetapi berbeda, dengan metode kerja.

143

berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian tersebut. UNAIDS. yang harus diserahkan secara berkala kepada badan perjanjian. UNESCO.Sekretaris/sekretariat Setiap perjanjian mewajibkan Sekretaris Jenderal PBB untuk menyediakan dukungan sekretariat bagi badan perjanjian tersebut. Sekretariat Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan adalah bagian dari Divisi Pengembangan Perempuan (DAW) dalam Departemen Bidang Ekonomi dan Sosial (DESA) yang berkantor di New York. Dana Bantuan Anak-Anak Perserikatan BangsaBangsa (UNICEF). dana. konvensi atau kovenan. yang terdiri dari seorang sekretaris dan pegawai internasional lainnya. kovenan. dan program Berbagai badan khusus. tidak terdapat perbedaan antara perjanjian. Perjanjian dan Cabang Komisi (Treaties and Commision Branch/TCB) Di Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia(OHCHR). Semua merupakan instrumen hukum internasional yang mengikat secara hukum. Badan-badan khusus. Organisasi Buruh Internasional (ILO). 4 • Th. dana. konvensi. Badan-badan khusus. yang mengatur agenda komite dan mengkoordinasikan program kerjanya. TCB juga memberikan dukungan bagi Komisi Hak Asasi Manusia. Laporan Negara Pihak Laporan yang diwajibkan kepada setiap Negara Pihak pada suatu badan perjanjian. Sekretariat badan-badan perjanjian lainnya berkantor di Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) di Jenewa. Setiap perjanjian mewajibkan adanya suatu laporan awal yang komprehensif dalam jangka waktu tertentu setelah ratifikasi. Beberapa badan khusus juga memberikan bantuan teknis kepada Negara-negara. Sebelumnya disebut sebagai “Perwakilan Pelayanan Dukungan” (“Support Service Branch/SSB”). 2007 144 . UN-HABITAT. dana. Laporan bertarget atau terfokus Lihat “laporan-khusus perjanjian”. termasuk memajukan dan melindungi HAM. yang berkantor di Sekretariat PBB. TCB berkantor di Palais Wilson di Jenewa. dan program PBB terlibat dalam sistem perjanjian HAM. TCB memberikan dukungan pada sekretariat bagi semua badan perjanjian kecuali Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. Komisi Tinggi untuk Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR). dan Dana Sukarela Perserikatan Bangsa-Bangsa bagi Korban Penyiksaan. Setiap badan perjanjian memiliki sekretariat. atau instrumen Secara hukum. Negara-negara yang memilih untuk menerima kewajiban yang termuat di dalamnya. Semua badan perjanjian mengijinkan partisipasi formal badan-badan PBB dalam proses pertimbangan laporan melalui ketentuan tentang informasi tambahan mengenai negara berkaitan dengan laporan Negara tersebut. UNFPA. JURNAL HAM • Vol. dalam hukum internasional. yang mengindikasinya langkah-langkah yang diadopsi guna melaksanakan perjanjian serta faktor-faktor dan hambatan-hambatan yang ditemuinya. dan program dalam sistem PBB yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan PBB. Subkomisi Pemajuan dan Perlindungan Hak Asasi Manusia. yang diikuti oleh laporan berkala secara periodik. termasuk FAO. Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP). OCHA. dan Organi- sasi Kesehatan Dunia (WHO). Perjanjian. UNIFEM. baik dalam pelaksanaan kewajiban berdasarkan perjanjian maupun dalam proses penulisan laporan bagi badan-badan perjanjian.

Untuk menjadi pihak. Penjelasan lebih lanjut dapat diperoleh dari Kantor Urusan Hukum Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Office of Legal Affairs (http://www. Tanggapan tertulis terhadap daftar persoalan merupakan lampiran atau pembaharuan dari laporan Negara Pihak.Badan perjanjian atau komite Suatu komite yang terdiri dari ahli-ahli independen yang ditugaskan untuk memonitor pelaksanaan Negara-negara Pihak atas setiap perjanjian internasional hak asasi manusia yang utama. Akhir-akhir ini.un. Perjanjian menggunakan istilah “komite”. Dalam banyak hal. tetapi komite juga dikenal sebagai “badan perjanjian” karena setiap komite dibentuk sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian yang diawasinya. Kedua dokumen. 4 • Th. Praktik-praktik semacam itu tidak selalu diadopsi secara formal dalam peraturan tata tertib. Tanggapan/jawaban tertulis terhadap daftar persoalan Jawaban tertulis Negara Pihak terhadap daftar persoalan dan pertanyaan badan perjanjian yang diserahkan sebelum pertemuan di mana laporan tersebut akan dipertimbangkan oleh komite. terdapat gerakan untuk mengarusutamakan dan mengharmonisasikan metode kerja dalam pertemuan tahunan para ketua badan perjanjian. Bagaimana suatu Negara dapat menjadi Negara Pihak pada perjanjian Berikut dijelaskan mengenai proses bagaimana suatu Negara mengikat dirinya pada ketentuan-ketentuan perjanjian dalam hukum internasional sebagai Negara Pihak. sementara beberapa lainnya juga terbuka bagi entitas-entitas lain yang memiliki kapasitas untuk membuat perjanjian. Negara Pihak Negara Pihak adalah suatu Negara yang sepakat untuk diikat oleh suatu perjanjian berdasarkan hukum internasional. dan (2) tanggal mulai berlaku perjanjian yang bersangkutan di Negara tersebut. laporan kepada setiap badan perjanjian akan terdiri dari suatu dokumen umum bagi semua komite dan suatu dokumen khusus-perjanjian bagi setiap badan perjanjian. Laporan/dokumen khusus-perjanjian Usulan dokumen inti/utama atau umum yang diperluas akan diserahkan kepada setiap badan perjanjian secara bersamaan dengan dokumen khusus-perjanjian yang berfokus pada persoalan-persoalan yang berkaitan secara khusus dengan perjanjian yang bersangkutan.untreaty. Walaupun sering dirujuk sebagai “laporan khusus-perjanjian”. akan membentuk suatu laporan Negara Pihak. seperti perjanjian-perjanjian hak asasi manusia. Kedua Kovenan dan Kovenan Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial terbuka bagi penandatanganan dan ratifikasi oleh “Negara Anggota PBB atau 145 . Metode kerja setiap badan perjanjian berubah sesuai dengan beban kerja dan faktor-faktor lainnya. Beberapa juga disebut sebagai “badan monitoring-perjanjian”. penerimaan. Beberapa perjanjian. persetujuan. atau aksesi. walaupun mereka menerima dukungan dari Sekretariat PBB dan melapor kepada Majelis Umum. jika dibaca bersama. 2007 yang berbeda dari setiap komite telah menyebabkan kebingungan dan ketidak-konsistenan. Metode kerja Prosedur dan praktik yang dikembangkan oleh setiap badan perjanjian untuk memfasilitasi pekerjaannya. Negara tersebut harus (1) menyatakan kesediaannya untuk diikat oleh suatu perjanjian melalui tindakan ratifikasi. komite bersifat independen dari sistem PBB. khususnya karena pendekatan-pendekatan JURNAL HAM • Vol. hanya terbuka bagi Negara-negara.org).

penerimaan. 2007 . penerimaan.anggota badan-badan khususnya. Bagaimana caranya suatu Negara bisa menjadi pihak pada suatu perjanjian? Setiap perjanjian HAM memuat ketentuanketentuan yang menentukan. atau persetujuan mengacu pada tindakan definitif yang diambil di tingkat internasional. kapan perjanjian tersebut akan mulai diberlakukan. biasanya menjadi ditandatangani yang kemudian diikuti oleh ratifikasi. dan kedua. Dengan kata lain. Untuk meratifikasi perjanjian. Suatu Negara dapat menyatakan persetujuannya untuk diikat oleh perjanjian dengan beberapa cara. Protokol opsional dibatasi hanya bagi Negara-negara Pihak pada perjanjiannya. Ratifikasi. sebelum mengambil kewajiban hukum berdasarkan perjanjian di tingkat internasional. Dengan kata lain. atau persetujuan. Penandatanganan juga menciptakan kewajiban untuk menahan diri dalam niatan yang baik dari tindakan-tindakan yang bertentangan dengan tujuan perjanjian dalam jangka waktu antara penandatanganan dan ratifikasi. penerimaan. pertama kali. penandatanganan adalah langkah persiapan guna mencapai ratifikasi perjanjian oleh Negara. tindakan penandatanganan tidak menentukan adanya kewajiban hukum positif terhadap Negara. Dengan mensyaratkan bahwa penandatanganan harus diikuti oleh ratifikasi maka Negara-negara memiliki waktu untuk mencari kesepakatan bagi perjanjian di tingkat domestik dan untuk menegakkan peraturan-peraturan yang diperlukan guna melaksanakan perjanjian di tingkat nasional. Dalam kondisi tertentu Negara juga dapat mengikat dirinya melalui suksesi. oleh Negara Pihak mana pun pada Statuta Pengadilan Internasional. atau persetujuan Ratifikasi. 4 • Th. pertama. Perjanjian HAM utama lainnya terbuka bagi semua Negara. suatu Negara harus menunjukkan keinginannya untuk melaksanakan semua hak dan kewajiban hukum yang termuat dalam perjanjian melalui tindakan nyata. atau persetujuan. Namun. dan oleh Negara mana pun yang telah diundang oleh Majelis Umum PBB”. kecuali Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang keterlibatan anak-anak dalam konflik bersenjata yang terbuka bagi Negara mana pun yang menyetujuinya. Negara harus menyatakan persetujuannya untuk diikat oleh perjanjian. Penandatanganan Perjanjian-perjanjian multilateral. jika Negara menyatakan persetu- 146 JURNAL HAM • Vol. bagaimana Negara-negara harus melanjutkan proses mengikat diri terhadap ketentuanketentuan substantif perjanjian. Perjanjian HAM menentukan bahwa persetujuan dapat diberikan baik melalui penandatanganan yang diikuti dengan ratifikasi. Negara harus menandatangani perjanjian. penandatanganan mengindikasikan keinginan Negara untuk mengambil langkah-langkah untuk diikat oleh perjanjian di kemudian hari. penerimaan. seperti halnya perjanjian-perjanjian hak asasi manusia. atau melalui aksesi. yaitu ketika suatu Negara memberikan persetujuannya untuk diikat oleh perjanjian yang telah ditandatanganinya. sesuai denga pasal-pasal terakhir dari perjanjian tersebut. atau persetujuan. Banyak perjanjian mensyaratkan jumlah minimum Negara Pihak sebelum perjanjian tersebut mulai berlaku sebagai hukum internasional. Untuk menjadi pihak pada perjanjian multilateral. Negara melakukan hal tersebut dengan menyerahkan “instrumen ratifikasi” kepada Sekretaris Jenderal PBB. Dalam hal tersebut. penerimaan.

tidak ada pembatasan waktu untuk meminta Negara meratifikasi perjanjian yang telah ditandatanganinya. Namun. melalui dekolonialisasi). Namun. Setelah ratifikasi. tidak seperti ratifikasi. Negara penggantinya dapat memilih meratifikasi atau mengaksesi perjanjian yang bersangkutan dalam kapasitasnya sendiri. Aksesi memiliki dampak hukum yang sama seperti ratifikasi. Aksesi Aksesi adalah tindakan ketika suatu Negara yang belum menandatangani suatu perjanjian menyatakan persetujuannya untuk menjadi pihak pada perjanjian tersebut dengan menyerahkan “instrumen aksesi” kepada Sekretaris Jenderal PBB. yang mungkin diperlukan oleh Negara sesuai dengan ketentuan-ketentuan konstitusionalnya sebelum Negara tersebut menyatakan persetujuan untuk diikat secara internasional. maka Negara terikat secara hukum oleh perjanjian sebagai salah satu Negara Pihaknya. yaitu penyerahan instrumen aksesi. Negara menunjukkan keinginannya untuk melaksanakan hak dan 147 . banyak perjanjian multilateral modern dapat diaksesi bahkan pada masa perjanjian terbuka bagi penandatanganan. penyatuan negara federasi atau serikat. Dalam kondisi-kondisi tersebut. Aksesi biasanya digunakan oleh Negara-negara yang ingin menyatakan persetujuan mereka untuk diikat oleh perjanjian ketika tenggat waktu penandatanganan telah lewat. Negara yang bersangkutan harus memberitahukan Sekretaris Jenderal PBB mengenai niatnya untuk menggantikan kewajiban hukum tersebut. maka Negara harus melaksanakan perjanjian tersebut di tingkat nasional. dan penarikan diri suatu Negara atau entitas dari Negara atau federasi. Dalam hal ini. Ratifikasi di tingkat internasional. Ratifikasi di tingkat nasional tidak cukup kuat sebagai pernyataan keinginan Negara untuk diikat di tingkat internasional. 2007 kin terjadi dan prosedur yang dipakai tergantung pada ketentuan-ketentuan dalam perjanjian yang bersangkutan. Pembedaan antara ratifikasi/aksesi dengan mulai berlaku Tindakan di mana Negara menyatakan persetujuannya untuk diikat oleh perjanjian berbeda dengan mulai berlakunya perjanjian tersebut. maka proses tersebut disebut aksesi (lihat di bawah).juannya untuk diikat tanpa pertama kali menandatangani perjanjian. atau persetujuan. Tindakan yang diperlukan di tingkat internasional juga perlu dilakukan. 4 • Th. yang harus diawali dengan penandatanganan untuk menciptakan kewajiban hukum yang mengikat berdasarkan hukum internasional. Ketika suatu Negara telah meratifikasi perjanjian di tingkat internasional. Pada umumnya. tidak boleh disamakan dengan ratifikasi di tingkat nasional. yang mengindikasikan komitmen Negara kepada masyarakat internasional untuk melaksanakan kewajibannya. penerimaan. Kondisi semacam ini termasuk kemerdekaan (misalnya. atau sebagai alternatif. Kondisi-kondisi di mana aksesi mungJURNAL HAM • Vol. Negara tersebut dapat menyatakan persetujuannya untuk terus diikat oleh kewajiban hukum sebagaimana dilakukan oleh Negara Pihak yang asli yang berlaku untuk wilayah teritorial yang sama melalui tindakan suksesi. aksesi hanya mensyaratkan satu langkah. Suksesi Suksesi terjadi hanya dalam kasus-kasus di mana suatu Negara yang menjadi pihak pada perjanjian mengalami transformasi konstitusional yang besar yang menimbulkan keraguan apakah pernyataan persetujuan untuk diikat oleh perjanjian yang telah diberikan sebelumnya tetap sahih.

atau aksesi yang diserahkan kepada Sekretaris Jenderal dalam jumlah tertentu. Tanggal Sebagai konsekuensi dari hal tersebut di atas. dan masa mulai berlaku khusus bagi Negara tertentu. mulai berlakunya perjanjian berkaitan dengan suatu Negara adalah saat di mana perjanjian tersebut benar-benar mengikat secara hukum bagi Negara Pihak tersebut. Mulai berlaku bagi suatu Negara Ketika perjanjian sudah mulai berlaku secara umum. penerimaan. biasanya dengan masa tunggu satu bulan atau sekitarnya. atau aksesi. perjanjian tidak mengikat secara hukum bagi Negara mana pun.kewajiban hukum berdasarkan suatu perjanjian melalui penyerahan instrumen ratifikasi. Siapa pun yang ingin mengajukan pengaduan terhadap Negara Pihak kepada badan perjanjian berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian atau protokol opsionalnya harus memastikan bahwa instrumen tersebut telah diberlakukan di Negara yang bersangkutan. 4 • Th. 2007 148 . Bagaimana saya bisa mengetahui apakah suatu perjanjian sudah mulai berlaku di suatu Negara? Sumber yang pasti adalah Tempat Penyimpanan Perserikatan BangsaBangsa.org. persetujuan. Sedangkan. Ketentuan-ketentuan perjanjian menentukan saat mulai berlaku tersebut. Perjanjian tidak dengan serta merta mulai berlaku: biasanya ada masa tunggu yang diatur dalam perjanjian antara tanggal penyerahan instrumen dan tanggal mulai berlakunya. Sampai tanggal tersebut. persetujuan. yang mempunyai daftar perjanjian multilateral yang diserahkan kepada Sekretaris Jenderal. Ada dua jenis mulai berlakunya perjanjian: mulai berlakunya perjanjian sebagai instrumen hukum internasional secara pasti. Mulai berlaku secara pasti Masa mulai berlakunya suatu perjanjian secara pasti adalah waktu yang menetapkan perjanjian baru tersebut sebagai instrumen hukum yang mengikat bagi Negaranegara yang telah menyatakan persetujuannya untuk diikat oleh ketentuan-ketentuan dalam perjanjian tersebut.un. Situsnya http://untreaty. maka mungkin akan terdapat beberapa tanggal pada perjanjian berkaitan deJURNAL HAM • Vol. Daftar ratifikasi perjanjian HAM utama tersedia di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR). Mengapa tanggal mulai berlaku penting? Ini adalah tanggal di mana hak-hak yang diatur dalam perjanjian mengikat Negara dalam hukum internasional. penerimaan. Kebanyakan perjanjian memperkirakan bahwa perjanjian akan mulai berlaku setelah adanya ratifikasi. Mulai berlaku Mulai berlakunya suatu perjanjian adalah saat ketika suatu perjanjian benar-benar mengikat secara hukum negara-negara yang menjadi pihaknya. baik yang sudah meratifikasi maupun mengaksesinya (walaupun Negara-negara tersebut tetap berkewajiban untuk menahan diri dalam niatan yang baik dari tindakan-tin- dakan yang bertentangan dengan tujuan perjanjian tersebut). maka ketentuan-ketentuan tambahan menentukan kapan perjanjian mulai berlaku bagi Negara atau organisasi internasional tambahan yang ingin terikat dengan perjanjian tersebut. Tanggal ini juga menentukan tanggal-tanggal Negara harus menyerahkan laporannya kepada badan perjanjian.

2007 149 . Sosial. Jangka waktu tersebut beragam antara satu perjanjian dengan perjanjian lainnya. Tanggal penyerahan instrumen ratifikasi atau aksesi: yaitu tanggal kapan tempat penyimpanan perjanjian PBB menerima instrumen hukum yang menyatakan persetujuan Negara untuk terikat pada perjanjian. 4 • Th.ngan suatu Negara: Tanggal mulai berlakunya suatu perjanjian secara pasti: yaitu tanggal yang ditentukan dalam perjanjian yang menunjukkan kapan perjanjian mulai berlaku secara umum dalam hukum internasional dan mulai mengikat Negara-negara yang telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan. dan Budaya Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan Konvensi Menentang Penyiksaan Konvensi Hak Anak Diadopsi 21 Desember 1965 Tanggal mulai berlaku 4 Januari 1969 Tanggal mulai berlaku bagi Negara Pihak Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan 16 Desember 1966 16 Desember 1966 18 Desember 1979 3 Januari 1976 3 bulan setelah tanggal penyerahan 23 Maret 1976 3 bulan setelah tanggal penyerahan Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan 3 September 1981 10 Desember 1984 20 November 1989 26 Juni 1987 2 September 1990 Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan JURNAL HAM • Vol. Hal ini tidak memiliki dampak hukum kecuali menahan diri dari tindakantindakan yang bertentangan dengan tujuan perjanjian. Tanggal penandatanganan: yaitu tanggal kapan Negara menandatangani perjanjian. Kalkulasi tanggal mulai berlakunya perjanjian Perjanjian Kovenan Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Kebanyakan perjanjian mensyaratkan jangka waktu tertentu antara tanggal penyerahan instrumen sebelum perjanjian mulai berlaku dan mengikat secara hukum. Tanggal mulai berlaku bagi Negara: yaitu tanggal yang ditetapkan oleh perjanjian tentang kapan perjanjian mulai secara formal mengikat Negara dalam hukum internasional.

2007 . 4 • Th.Konvensi Internasional tentang Perlindungan terhadap Hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya Protokol Opsional Pertama Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Protokol Opsional Kedua Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Tentara Anak Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Penjualan Anak Protokol Opsional Konvensi Menentang Penyiksaan 18 Desember 1990 1 Juli 2003 Pada hari pertama bulan berikutnya setelah 3 bulan setelah tanggal penyerahan 3 bulan setelah tanggal penyerahan 16 Desember 1966 23 Maret 1976 15 Desember 1989 11 Juli 1991 3 bulan setelah tanggal penyerahan 6 Oktober 1999 22 Desember 2000 3 bulan setelah tanggal penyerahan 25 Mei 2000 18 Januari 2002 12 Februari 2002 Belum diberlakukan (dibutuhkan 20 Negara Pihak) 1 bulan setelah tanggal penyerahan 1 bulan setelah tanggal penyerahan Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan 25 Mei 2000 18 Desember 2002 150 JURNAL HAM • Vol.

10 : Hak Anak (Revisi 1) No. 14 : Bentuk-Bentuk Perbudakan Masa Kini No. 1. 27 : Tujuh Belas Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Pelapor Khusus PBB No. 13 : Hukum Humaniter Internasional dan Hak Asasi Manusia No. 6 No. 20 : Hak Asasi Manusia dan Pengungsi No. 7 No. 23 : Praktik Tradisional yang Berbahaya bagi Kesehatan Perempuan dan Anak No. 28 : Dampak Kegiatan Tentara Bayaran terhadap Hak Orang-orang Untuk Menentukan Nasibnya Sendiri No. 19 : Lembaga Nasional untuk Memajukan dan Melindungi Hak Asasi Manusia No. 11 : Hukuman Mati di Luar Hukum Secara Cepat dan Sewenang-wenang (Revisi 1) No. 5. 9 No. 17 : Komite Menentang Penyiksaan No. 2007 151 . 24 : Hak Pekerja Migran No. 3 : Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia (Revisi 1) : Layanan Penasihat dan Kerja Sama Teknis di Bidang Hak Asasi Manusia (Revisi 1) : Metode-metode Menentang Penyiksaan (Revisi 1) : Penghilangan Orang Secara Paksa atau Tidak dengan Sukarela (Revisi 2) : Prosedur Komunikasi (Revisi 1) : Hak Penduduk Asli (Revisi 1) No. 21 : Hak atas Perumahan yang Layak No. 4 • Th. 2 No. 4 No. Sosial dan Budaya (Revisi 1) No. No.Daftar Lembar Fakta Hak Asasi Manusia:* No. dan No. 15 : Hak Sipil dan Politik: Komite Hak Asasi Manusia (Revisi 1) No. 18 : Hak Kelompok Minoritas JURNAL HAM • Vol. 30 : Sistem Perjanjian Hak Asasi Manusia Perserikatan BangsaBangsa:Pengantar terhadap Perjanjian Hak Asasi Manusia Utama dan Badan-badan Perjanjian * Lembar Fakta No. 16 : Komite Hak Ekonomi. 8 tidak lagi dipublikasikan. 25 : Penyingkiran Secara Paksa dan Hak Asasi Manusia No. 12 : Komite Penghapusan Dikriminasi Rasial No. 26 : Kelompok Kerja untuk Penahanan Sewenang-wenang No. 29 : Pegiat Hak Asasi Manusia: Perlindungan Hak Untuk Membela Hak Asasi Manusia No. No. 22 : Diskriminasi terhadap Perempuan: Konvensi dan Komite No.

Masing-masing bidang memiliki indikator. Harry Wibowo. lebih-lebih jika dilihat bahwa angka putus sekolah itu terjadi pada jenjang pendidikan SD (h. Untuk masalah hak pendidikan ada empat hal. Kedua. mengkonfirmasi persepsi yang berkembang selama ini mengenai pelayanan kesehatan dan pendidikan yang masih jauh dari harapan. 2007 152 . Potret di tiga lokasi penelitian yang menjadi locus. Seperti diketahui bersama. Rahadi’T Wiratama. keteraksesan. bertindak (obligation of conduct) dan berkewajiban mencapai hasil (obligation of result). Sikka. yaitu soal kebebasan.Akses Terhadap Pendidikan dan Kesehatan: Peristiwa Tiga Daerah Judul Buku : Meneropong Hak Atas Pendidikan dan Layanan Kesehatan: Analisis Situasi di Tiga Kabupaten: Indramayu. Pengantar : Abdul Hakim Garuda Nusantara Editor : Harry Wibowo dan Anharudin Penerbit : CESDA-LP3ES. dalam kadar serta intensitas tertentu. dan kebersesuaian.5%. ketersediaan. Banyak kondisi fisik bangunan sekolah dan sarana pendukung yang kurang memadai. Pendidikan dan kesehatan. melindungi dan melaksanakan. Ketiga. 195+xxiv Hasil survey yang kemudian diterbitkan menjadi buku ini. Setiap Negara dituntut untuk memenuhi kebutuhan minimum untuk bertindak secara komisi maupun secara omisi. soal kewajiban minimum. belum mampu menjamin penegakan. merupakan hak penting yang satu sama lain saling terkait dan menentukan. Indramayu mencapai 4. lebih rendah lagi. khususnya pelayanan pendidikan kepada anak. Abdul Mun’im Dz. Penelitian dari tiga daerah ini menunjukkan bahwa terjadinya keterlambatan dalam pelayanan pendidikan. Di Kabupaten Sikka lebih parah lagi. keteraksesan. Angka ini jelas sangat tinggi. 4 • Th. 103). 2005. Widodo Dwi Putro. Sementara untuk masalah pelayanan kesehatan indikatornya adalah ketersediaan. Angka-angka berikut mengkonfirmasi fakta itu. Peluang kebebasan untuk mendirikan lemJURNAL HAM • Vol. Sementara di Kabupaten Sikka dan Jayapura. menghormati. Keterlambatan ini. Negara memiliki kewajiban untuk. menggambarkan situasi umum di negeri ini. dan Jayapura Penulis : Naning Mardiniah. Angka putus sekolah di Kab. Wildan Pramudya. Gambaran di mana Negara. pertama. Burhanudin. Ketersediaan sarana pendidikan masih menjadi problem. menunjukkan rendahnya kualitas kepedulian pemerintah daerah dan masyarakat. lebih rendah dibandingkan angka rata-rata di Jawa Barat yang 24%. penghormatan dan promosi terhadap terpenuhinya Hak Ekonomi Sosial Budaya (HESB). keterimaan dan kualitas. Tingkat layanan pendidikan di Indramayu.

baga pendidikan tidak dimanfaatkan oleh masyarakat. tanggung jawab pemerintah ini akan dilihat dari aspek ketersediaan. Gambaran lebih dramatis terjadi di Kabupaten Jayapura. meskipun pendidikan dasar merupakan suatu yang wajib dan harus dilakukan secara gratis. 7 dokter gigi dan 175 bidan desa. buruknya ruang belajar dan banyaknya siswa yang kurang gizi sehingga sulit menangkap pelajaran dari gurunya. Tidak semua Puskesmas memiliki tenaga dokter. Secara lebih spesifik di Kabupaten Jayapura. sementara pemerintah sendiri belum mampu menyediakan sarana dan prasarana pendidikan dasar yang memadai (h. 27 dokter umum. Dari sini. Aspek pelayanan minimumpun. ada tiga kewajiban utama pemerintah terkait hal tersebut. minimnya tenaga pengajar sehingga banyak kelas yang kosong. akan tetapi masih jauh dari harapan. menjadikan kebijakan Pemda/Pemerintah menggratiskan layanan kesehatan. Jayapura belum selesai. belum tersedia Rumah Sakit Umum dan tidak semua kecamatan memiliki Puskesmas. ada yang kondisi bangunannya rusak berat dan tidak bisa dipakai (h. Kualitas layanan JURNAL HAM • Vol. Menghargai atau menghormati. Dibandingkan kabupaten sekitarnya. Jayapura adalah gambaran yang paling menyedihkan. Terjadi ketimpangan dalam rasio distribusi. Siswa yang sudah lulus SD pun. sebagaimana ditemukan pada SD Distrik Genyem. Banyak bangunan sekolah yang tanahnya dalam status sengketa dengan masyarakat adat (h. Pada satu Puskesmas misalnya. belum memenuhi tanggung jawabnya dalam memenuhi hak-hak kesehatan dasar bagi masyarakat. Sebagian besar prasarana jalan raya di Kab. 107). Pada level masyarakat masih ditemui kasus-kasus yang menghambat pelaksanaan pendidikan. akan tetapi tidak dengan sendirinya bisa menghentikan laju angka putus sekolah. kemudian buku ini menarik benang merah. problem mendasarnya adalah masalah keteraksesan dari segi jarak. Jadi. Tenaga medis yang tersedia. banyak yang belum bisa baca-tulis dan berhitung (h. Tidak semua kondisi Puskesmas dalam kondisi siap pakai. salah satunya adalah konflik status kepemilikan tanah yang tidak kunjung diselesaikan oleh Pemda. 154). 2007 kesehatan di Kabupaten Indramayu. Sikka dan Jayapura masih rendah jika diukur dari standar minumum. Paling tidak. tampaknya belum terpenuhi (h. sulitnya lokasi baik untuk dijangkau tenaga pengajar maupun siswa. Di tingkat kabupetan. to protect dan to fulfill. banyak problem yang terjadi. Apa yang terjadi di Kab. problem yang menghambat terpenuhinya hak kesehatan masyarakat adalah distribusi tenaga medis yang tidak merata. Banyak faktor yang melatar belakangi mengapa pelaksanaan pelayanan pendidikan dasar belum memenuhi standar minimum. Temuan yang diungkapkan dalam buku ini mengindikasikan bahwa masalah kesehatan mengindikasikan pemerintah. masyarakat mengalami kesulitan untuk mendapatkan akses pelayanan kesehatan (h.137). Prasarana jalan sulit itu. 4 • Th. pada aspek pemenuhan ini. Di Kabupetan Sikka. Kendati Pemda Jayapura. Untuk bisa memenuhi standar minimum saja masih jauh. dan sebagai akibatnya. Hal ini terjadi karena beberapa sebab. kondisinya sangat jauh dari kabupaten lain. 149). terjadi konsentrasi te- 153 . yaitu to respect. keteraksesan dan keberterimaan. telah menghapuskan biaya pendidikan dasar. 166) Hal yang sama juga terjadi dalam masalah pelayanan kesehatan. 159). melindungi dan memenuhi. fasilitas buku pelajaran yang minim. menjadi tidak mengena.

Kedua. Namun dari sisi kualitas layanan. Banyaknya kasus diare dan demam berdarah di Indramayu akibat sanitasi lingkungan yang buruk. jika dilihat dari standard minimum. ketersediaan tenaga medis. Kebijakan Pemerintah dari sisi anggaran. di sana sini terjadi ambivalensi dan tidak jarang reductive. meskipun secara nasional telah tegas akan tetapi banyak daerah tingkat dua yang tidak menjadikannya sebagai mainstream dalam pembangunan. Salah satu kasusnya adalah akses masyarakat terhadap air bersih. Sementara dalam masalah pendidikan. Sayangnya. bidang kesehatan hanya mendapat alokasi anggaran sejumlah 0. Oleh karena itu. masih belum menjadi mainstream dalam program pembangunan di negeri ini. pembangunan kesehatan belum menjadi arus utama pembangunan. pelaksanaannya di daerah belum diiringi perspektive dan komitment mendalam untuk memenuhi hak-hak rakyat. Laporan tiga daerah itu secara tegas menyuratkan kenyataan bahwa masalah pendidikan dan kesehatan. akses tentu tampak lebih dibanding Kab. Akan tetapi penerapan prinsip-prinsipnya yang kemudian dianggap sebagai bagian dari pelaksanaan otonomi daerah. secara umum. sosialisasi kebijakan kesehatan masih rendah. Pada kebijakan kesehatan. Ellyasa KH Darwis 154 JURNAL HAM • Vol. Sementara untuk Kab. Temuan di lapangan menunjukkan ada dua problem dalam akses kesehatan. pembangunan kesehatan masih bersifat kuratif.naga dokter sementara pada Puskesmas tertentu. rendahnya keteraksesan masyarakat terhadap informasi tentang kesehatan yang melahirkan munculnya perilaku hidup yang tidak sehat dan rendahnya keterjangkauan masyarakat untuk mengakses layanan kesehatan yang disediakan pemerintah. Jayapura maupun Sikka. Dan untuk pembangunan kesehatannya hanya sekitar 7 milyar per tahunnya. Dari aspek ketersediaan. Pertama. Pasalnya. Dari segi infrastruktur. kebijakan pemerintah masih banyak mene- kankan aspek kuratif daripada promotif dan preventif. dan perlindungan bagi masyarakat miskin juga masih rendah. Jadi tidak akses ke pelayanan kesehatan memang masih belum merata dan bisa dibayangkan bagaimana masyarakat yang ada di desa (h. untuk bisa mengakses harus ke Puskesmas Kecamatan lain. sebagian besar masyarakat tidak memiliki akses terhadap air bersih sebagai akibatnya derajat kesehatan masyarakat juga rendah. Indramayu. Itu sebabnya.4 % dari APBD. Meskipun di tingkat nasional telah digariskan dengan sejumlah peraturan hukum dan kebijakan politik. 125-131). Problem kesehatan yang terjadi adalah soal akses untuk hidup sehat. 2007 . Mun’im menyarankan agar Puskesmas yang berfungsi sebagai pusat kesehatan masyarakat mengubah paradigma layanannya dari aspek kuratif ke promotif dan preventif. Memang lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Sikka. upaya pelaksanaan di lapangan yang terjadi sekadar memenuhi kuantitas dan belum ditunjukkan kearah peningkatan kualitas. Karenanya. 4 • Th. masih perlu dilihat lagi. setidaknya pemerintah telah menyediakan secara memadai sarana dan prasarana kesehatan. tidak ada dokter sama sekali. Tak hanya itu. masyarakat di kecataman yang Puskesmasnya tidak tersedia tenaga dokter.

1999 dan 2005 mengikuti sesi sidang Komisi HAM.TENTANG PENULIS Yoseph Adi Prasetyo. Sekarang menjadi Anggota Komnas HAM pada Subkomisi Pendidikan dan Penyuluhan (2007-2012). 2007 155 . 4 • Th. Ketua Ad Interim Badan Pengurus Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia. editor dan co-editor buku. Penulis. Departemen Hukum dan HAM. Tak Ada Hak Asasi yang Diberi (2005). Membangun Koalisi yang Otoritatif Dalam Menilai Proses Pembentukkan Perundang-undangan yang Partisipatif (2005). Refleksi dan Penyusunan Strategi Mewujudkan Partisipasi Masyarakat dalam Penyusunan Peraturan Perundang-undangan (2005). 2003-2006 bekerja di Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi manusia Indonesia. Inkonsistensi dan Separatisme Jakarta: Mengapa Tanah Papua Terus Bergolak? (2005). yaitu mengkoordinir penelitian Gerakan Demokrasi di Indonesia (2002-2003) dan mengkoordinir survei dan penelitian “Aktor Demokrasi di Indonesia” (2000-2002). 60 Menit Memahami (Mengawasi) Penyusunan Peraturan Perundang-undangan (2005). 2004-2006 menjadi anggota Komite Eksekutif Forum Asia sebagai wakil PBHI – termasuk menjadi Ketua Komite Eksekutif (November 2005-Februari 2006) Adhi Santika saat ini menjabat Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hak-hak Kelompok Rentan Badan Penelitian dan Pengembangan HAM. antara lain: Buku Panduan Bantuan Hukum di Indonesia (2006).M in International Human Rights Law di University of Essex.go. anggota Tim Ad Hoc Kerusuhan 13-14 Mei 1998 (2003).id Henri Simarmata. Juga menjadi penyelia penerbitan sejumlah ornop yang disandangnya sejak 1996. Inggris. Beberapa kali terlibat dalam pekerjaan Komnas HAM antara lain menjadi evaluator majalah Komnas HAM “SUAR”. Aktif dalam berbagai seminar dan lokakarya HAM serta menulis sejumlah makalah berkaitan dengan HAM di Indonesia A. Patra M. jabatan terakhirnya adalah Direktur Eksekutif Institut Studi Arus Informasi (ISAI) dan penulis lepas. Dalam bidang organisasi beliau menjadi Majelis Etik AJI Jakarta (2003-2005) serta menjadi anggota Pokja Reformasi Polri yang dibentuk oleh POLRI-Kemitraan sejak 2003. 1995-2002 bekerja di Institut Sosial Jakarta. Zen. Penerima Beasiswa the British Chevening Scholarship (2001/2002) untuk LL. menjadi fasilitator dalam menyusun rencana kerja Komnas HAM. menjadi fasilitator dan pendamping kelompok minoritas (antara lain masyarakat adat dan orang Tionghoa) dan memimpin tim riset dan penelitian kekerasan yang dilakukan Polri untuk Subkomisi Pemantauan Komnas HAM (2004). Beliau juga adalah salah satu anggota Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Sengketa Konstitusional Lembaga-lembaga Negara (2005). Buku Pintar. Email : stanley@komnasham. Beliau juga aktif dalam beberapa penelitian. Naskah Akademik JURNAL HAM • Vol.

Hendardi. Koalisi Partisipasi (2003).Rancangan Undang-undang tentang Pengadaan Barang dan Jasa Publik (2004). Reforming the UN Human Rights Commission (dengan Mulyadi) (The Jakarta Post. The World Conference against Racism. Hasil Studi Identifikasi Potensi Land Reform di Indonesia (1998). Land Reform by Leverage In Indonesia (1998).zen@gmail. The quiet revolution in Indonesia’s human rights (The Jakarta Post. Amerika Serikat. 2007 . November 8. April 19. June-August 2001 edition). New Orleans. Waktu senggangnya digunakan untuk menulis yang antara lain muncul dalam Jurnal PBB New York dan harian the Jakarta Post. Indonesia and the New Human Rights Council (The Jakarta Post. 2005). 2006). dan juga penghargaan HAM dari Menteri Negara Urusan Hak Asasi Manusia RI (29Agustus 2000). Bogor: 28 . Kritik dan saran dapat melalui patra. July 2003 (with Distinction) dengan area spesiali- 156 JURNAL HAM • Vol. New York. Recent Developments in Human Rights in Indonesia after the Adoption of the National Plan of Action of Human Rights 1998 – 2003 (Preparatory Workshop on the Capacity Building in International Labour Standard and Human Rights in Indonesia.D. 2006).M dari Tulane Law School. dan kerap melakukan investigasi di daerahdaerah konflik. Pernah menjadi Ketua Komite Pembelaan Mahasiswa (KPM ITB)1979-1981 yang ditangkap oleh rejim Soeharto. Durban. Australia.Madison. Tulisannya antara lain: The spirit of May 20 (The Jakarta Post. Yang bersangkutan sebelumnya bertugas menangani isu-isu HAM di Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) pada Perserikatan Bangsa-Bangsa New York. Jonny Sinaga saat ini bekerja di Departemen Luar Negeri Republik Indonesia sebagai Kepala Sub-Direktorat Hak Sipil dan Politik. Hendardi menjabat sebagai ketua Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI). April 18. Jakarta. Considering General Election in Aceh under the Martial Law (2004). dan Hukum Perdata di Indonesia (2001). 2005). 2006). Emilie Hafner-Burton mendapatkan gelar Ph. May 20. Lesson learnt from world leaders’ school diplomacy (The Jakarta Post.dari University of Wisconsin .29 September 1999). conducted by ILO. Tahun 1993-1997 bertugas di Bagian Politik Kedutaan Besar RI di Canberra. Tahun 1987 menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan tahun 1992 memperoleh gelar LL.com Andik Hardiyanto. seperti di Lampung. dari tahun 2000-2004. Diantaranya dari lembaga prestisius seperti Human Rights Watch(1993). 2006). March 28.m. Hendardi pernah menerima berbagai penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri. Kemudian aktif dilingkaran Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). May 10. saat ini Direktur Eksekutif Social and Economic Rights Action Centre (SiDAN). Penulis Agenda Land Reform di Indonesia Sekarang. 4 • Th. Aceh dan Timor Timur (Timor Leste). Tahun 19881993 bertugas di Direktorat Perjanjian Internasional Departemen Luar Negeri. Tahun 1997 hingga tahun 2004 Jonny Sinaga bekerja di Direktorat Organisasi Internasional Departemen Luar Negeri sekaligus menjadi anggota Kelompok Kerja HAM Deplu. Shameful modern slavery (The Jakarta Post. South Africa (The United Nations Chronicle. Sejak tahun 1996. dalam bidang political science.

“Power or Plenty: Do International Trade Organizations Shape Economic Sanctions?” Co-authored with Alexander H. “International Human Rights Law and the Politics of Legitimation: Repressive States and Human Rights Treaties. sosiologi. 2005. 379-383. “Power Positions: International Organizations. 99-108. dan hak asasi manusia di Stony Brook. 23(1). pp. pp. Saat ini tengah mengkaji mengenai ekspansi global hak asasi manusia dan dampaknya terhadap politik lokal. Korespondensi langsung kepada Emilie Hafter-Burton.uk Kiyoteru Tsutsui. sejarah.679-698. 2004.” Sociological Forum.ox. 44(4). 63-88.1986). 2005.sasi International Relations and Methodology. Montgomery. “International Organizations Count: What Statistics Show Us (and Don’t Show Us) About IOs. 110. “The Hegemon’s Purse: No Economic Peace Between Democracies. Princeton University. Journal of Peace Research. No. forthcoming.” Journal of Peace Research. “Justice Lost! The Failure of International Human Rights Law to Matter Where Needed Most.” Co-authored with Alexander Montgomery..” Coauthored’with Jana von Stein. Woodrow Wilson School of Public and International Affairs and the Department of Politics. Dia mendapatkan Social Science Research Council Abe Fellow pada 2004-2005 dan Visiting Assistant Professor di Stanford University for the 2005-2006.ac. New Road. 2005. forthcoming (under revision). pp..hafner-burton@nuffield. pp. Saat ini menjadi Assistant Professor. Oxford OXI 1 NF. 2007 157 . 587-620. 2004. 3-27.. Journal of Peace Research. Social Networks. Inggris.” Coauthored with Kiyoteru Tsutsui. Vol. 2007. Social Forces. gerakan sosial. 45(1). 19. pp. 115-141. pp. special edition of the Journal of Conflict Resolution. Beberapa karya tulisannya adalah: Agreements. 50(1). forthcoming (under revision). 2. No.” Co-authored with James Ron. “Sticks and Stones: Naming and Shaming and the Problem of Human Rights Enforcement” International Organization.” With Dimitris Assimakopoulos and Sean Everton. American Journal of Sociology. “Human Rights in a Globalizing World: The Paradox of Empty Promises. adalah peneliti utama dengan spesialisasi bidang politik..” Social Forces.. von Stein and Gartzke. 110(5). April 2008. 59(3).. Nuffield College. 5.. Universitas Oxford... Forthcoming. “Right or Robust? The Sensitive Nature of Political Repression in an era of Globalization. 593-629. Journal of Peace Research. 2006. 1373-1411.” With Christine Min Wotipka. State University of New York. Publikasinya antara lain: “Redressing Past Human Rights Violations: Global Dimensions of Contemporary Social Movements. 2007. April 2008.” With Emilie Hafner-Burton. Montgomery. American Journal of Sociology. pp. International Sociology.. 44(4). pp. “Global Civil Society and the International Human Rights Movement: Citizen Participation in Human Rights International Nongovernmental Organizations. 83.” International Organization. Hafner-Burton. “The Semiconductor Community in Silicon Valley: A Network Analysis of the Semi Genealogy Chart (1047 . Journal of Conflict Resolution. 2008.” Co-authored with Kiyo Tsutsui. 42(6). “Human Rights Practices in a Globalizing World: The Paradox of Empty Promises.” Co-authored with Kiyoteru Tsutsui and John Meyer. 13731411. forthcoming.” Co-authored with Alexander H. 1. 407-425. 4 • Th. Journal of Conflict Resolution. Vol. eds. “Trading Human Rights: How Preferential Trade Agreements Influence Government Repression. International Journal of Technology JURNAL HAM • Vol.” Cornell University Press. eds. Vol. “Global Civil Society and Ethnic Social Movements in the Contemporary World. and Conflict. E-mail: Emilie.2008. 2005. No. “Preventing Human Rights Abuse. Hafner-Burton and Ron.

CPSM. praktisi media dan peneliti pada Swamedia Research and Communication (SRC) Jakarta . Korespondensi dapat ditujukan ke ktsutsui@notes. 158 JURNAL HAM • Vol.cc.sunysb. 1/2.” With Susan Olzak. 6. “Status in the World System and Ethnic Mobilization. 2003. Journal of Conflict Resolution. December 1998. Vol. 691-720. Pernah aktif di LKIS Yogyakarta. menjadi tenaga analis data pada Desk Aceh Komnas HAM. WALHI. 2007 . Vol. 181-199. 42.Management. No. KIPP Indonesia. 4 • Th.edu Ellyasa KH Darwis. Saat darurat militer. 25. No.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful