Vol. 4 No. 4 Th. 2007
ISSN 1693-6027

JURNAL HAM
2007

Diterbitkan oleh : KOMISI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA ©2007
JURNAL HAM • Vol. 4 No. 4 Th. 2007

i

JURNAL HAM
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Semua artikel dalam Jurnal HAM ini dapat digandakan untuk keperluan pemajuan hak asasi manusia dengan menyebutkan sumbernya. Pemberitahuan akan sangat dihargai.

Penanggung Jawab Pemimpin Redaksi

: Yoseph Adi Prasetyo Saharudin Daming : Atikah Nuraini

Redaktur Pelaksana : S.M.Gusrini Tambunan Dewan Redaksi : Rusman Widodo Kurniasari Novita Dewi Sasanti Amisani : Banu Abdillah : J. Eddy Juwono : J. Eddy Juwono

Distribusi Rancangan sampul Tata Letak

162 halaman, 16 x 24 cm

Diterbitkan oleh

: Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) JL. Latuharhary No. 4 B Menteng Jakarta 10310 Tel. +62-21-3925230 ext 218/219 Fax. +62-21-3912026 Email: info@komnasham.go.id Website: http://www.komnasham.go.id : Perkumpulan Omega
JURNAL HAM • Vol. 4 No. 4 Th. 2007

Dicetak oleh

ii

......................................................................................................................................... Jonny Sinaga Prospek dan Tantangan Implementasi ICCPR ............................................................................. A.... Patra M........ 2007 iii . Yosep Adi Prasetyo Kovenan HAM Internasional : Pandangan Umum mengenai Signifikasi dan Perkembangan ................................................................ Hafner-Burton & Kiyoteru Tsutsui 1 4 12 22 38 48 68 Lembar Fakta Perserikatan Bangsa-Bangsa No.................................. Henry Simarmata Pelaksanaan ICCPR dan ICESCR dalam Konteks Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN-HAM) 2004-2009 ..................................... Hendardi Hak Asasi Manusia di Dunia yang Terglobalisasi : Paradoks Janji-janji Kosong ......... 4 No..................... 102 Resensi Buku .. Emilie M.......... 30 Sistem Perjanjian Hak Asasi Manusia: Pengantar terhadap Perjanjian Hak Asasi Manusia Utama dan Badan-Badan Perjanjian ................... Adhi Santika Bukan Sekedar Menandatangani: Obligasi Negara Berdasarkan Kovenan Hak Ekosob ...........................................................................................Daftar Isi Editorial ................................................................ 4 Th....................................... 152 Tentang Penulis ....................................... 155 JURNAL HAM • Vol............................ Zen dan Andik Hardiyanto Kewajiban Negara dalam ICCPR ...............

4 No. 2007 .iv JURNAL HAM • Vol. 4 Th.

Pada 2005. Pemerintah tak boleh lagi berleha-leha menjalankan tugas-tugasnya. Tapi sudah sudah meliputi hak ekonomi. Sejumlah negara tetangga kita seperti Singapura berada pada urutan ke-25. Di berbagai wilayah di Indonesia masih banyak terdapat kantong-kantong kemiskinan. Wacana hak asasi manusia kini bukan lagi sekadar wacana tentang kebebasan sipil. tapi harus bekerja keras untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Yang jelas sejak didera krisis ekonomi melanda JURNAL HAM • Vol. Negara tetangga seperti Korea. menarik investor luar negeri untuk menanamkan modalnya di Indonesia. atau mendorong komoditi ekspor semata. menjaga kestabilan ekonomi makro. sosial. 2007 kawasan Asia pada Juni 1997. sulitnya akses pekerjaan (akibat praktek kolusi dan nepotisme). Jumlah orang miskin justru terus membengkak. Negara yang memiliki HDI tertinggi dan berada di urutan satu adalah Norwegia. Bolivia. dan budaya. Bila diteliti lebih mendalam faktor-faktor penentu kemiskinan secara esensial ternyata memiliki korelasi dengan hal-hal yang lebih mendasar. Thailand. Filipina.Editorial Yosep Adi Prasetyo* Memperbaiki kualitas hidup manusia Indonesia kini bukan sekadar slogan saja. Hal ini sejalan dengan amanat Pembukaan UUD 45 yaitu mewujudkan negara yang adil-makmur berdasarkan Pancasila. Angka-angka optimisistis tentang pertumbuhan ekonomi ternyata tak berbanding lurus dengan kenyataan kemiskinan. sulitnya akses terhadap pelayanan dan infrastuktur dasar. Menyedihkan memang mendapatkan kenyataan bahwa Indonesia terpuruk di bawah dan berada dalam peringkat yang hampir sama dengan negara seperti Vietnam. HDI Indonesia adalah sebesar 0.692 dan berada di urutan 111. Tentunya ini bukan sebuah pekerjaan yang mudah. Indonesia adalah negeri satu-satunya yang masih merangkak dan berupaya ke luar dari belitan krisis. Apa yang salah dengan proses pembangunan yang digembar-gemborkan selama ini? Tak mudah menjawabnya. menekan angka inflasi. Negara yang baru ke luar dari cengkraman konflik seperti Bosnia Herzegovina berada pada urutan ke-66. Dalam catatan UNDP. dan Honduras. sulitnya masyarakat memperoleh pendidikan. Moldova. Yang mengejutkan adalah negara sosialis yang mengalami pengucilan semacam Kuba mampu menempati uturan ke-52. Thailand urutan ke-76. 4 • Th. Subkomisi Pendidikan dan Penyuluhan periode 2007-2012 1 . Malaysia urutan ke-59. Atau sekadar janji-janji kampanye pada saat menjelang pemilihan presiden. Disusul oleh Swedia (urutan 2) dan Australia (urutan 3). dan Filipina urutan ke-83. diskrimansi gender. Memecahkan persoalan kemiskinan ternyata bukan sekadar menciptakan lapangan kerja. Malaysia sudah terlebih dulu bangkit. United Nation Development Program (UNDP) mengumumkan temuan mereka akan kemajuan berbagai negara dalam mensejahterakan masyarakatnya yang ditunjukkan melalui Human Development Index (HDI). tak meratanya pembangunan infrasutruktur. serta hak atas pembangunan. Sosial dan Budaya (International Covenant * Komisioner Komnas HAM. Upaya perwujudan kesejahteraan masyarakat ini harus dilakukan pemerintah yang telah meratifikasi Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. Antara lain.

Khususnya dalam merealisasikan kewajiban pemerintah Indonesia untuk memenuhi dan menjalankan kewajibannya sebagai negara yang telah meratifikasi ICESCR dan ICCPR. 12/2005. Selain ICESCR. Contoh yang paling aktual adalah pemberlakuan Perda Ketertiban Umum oleh Pemda DKI Jakarta pada 8 September 2007 lalu. Bagaimana mencermati ini semua? Negara yang meratifikasi kovenan ICESCR dan ICCPR harus menghormati hak-hak manusia. Dalam implementasi ini akan tampak apakah pemerintah memang tidak mampu (inability) atau tidak mau (unwilling) untuk menunaikan kewajibannya. Laporan tersebut harus memuat langkah-langkah dan model kebijakan yang telah diambil. 39/Th 1999.000. Berbagai macam perda yang tumpang-tindih dan bertabrakan dengan kedua undang-undang tersebut harus segera dicabut karena berpotensi menghambat pelaksanaan hak ekosob dan juga sipol. Bisa saja yang terjadi adalah kemajuan dalam langkah-langkahnya. 11/2005 dan UU No. 2007 . Jurnal edisi ini sengaja mengangkat masalah dan konsekuensi yang bakal me- 2 JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. tapi lemah atau gagal dalam implementasinya. pasal-pasal dalam perda ini ternyata berlepotan dan bertentangan dengan ketiga undang-undang tersebut. Perda ini secara nyata tak mencantumkan UU No. Bukan hanya itu. Juga hasil-hasil yang dicapai dalam implementasi perjanjian tersebut kepada badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). negara bisa dituduh telah melakukan pelanggaran melalui tindakan pembiaran (violation by omission). dan UU No 12/Th 2005 sebagai salah satu konsideransnya. Apabila negara justru tak melakukan apa-apa baik karena lalai dan lupa maupun absent. Pemerintah punya pekerjaan untuk mencermati kembali berbagai peraturan daerah (perda) yang kini jumlahnya telah melebihi angka 1. Juga bertentangan dengan Pasal 33 Ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945 serta nilai-nilai sebagaimana pernah diajarkan dalam pelajaran mengenai Pancasila. sosial dan budaya di Indonesia. Social and Cultural Rights – ICESCR) pada 30 September 2005 melalui proses legislasi yang disetujui DPR. serta hasil yang telah dicapai dalam pelaksanaan hak-hak ekonomi.on Economic. selain bertugas mengimplementasikan ICESCR. 12/2005. maupun perda ketertiban yang berpotensi menghambat pelaksanaan UU No. 11/2005 dan ICCPR menjadi UU No. ICESCR disahkan menjadi UU No. perda syariah. negara harus aktif untuk melindungi hakhak – melalui tindakannya. UU No. 11/Th 2005. pemerintah Indonesia harus membuat laporan dalam periode empat tahun sekali. Dan apabila negara terus saja memberlakukan ketentuan hukum yang bertentangan dengan ICCPR dan ICESCR maka negara akan dikenai tuduhan telah melakukan pelanggaran melalui hukum (violation by judicial). tapi juga akan menghambat tujuan dan upaya pemerintah. Bukan hanya itu. Dalam hal ini kepada sebuah komite ditunjuk untuk menangani perjanjian tersebut Secara regular. Perda Ketertiban Umum ini bila diimplementasikan bukan tak mungkin bukan hanya akan mengabaikan hak-hak masyarakat. Negara yang melakukan tindakan yang dilarang atau bertentangan ICCPR melalui campur tangannya akan dikenai tuduhan melakukan pelanggaran melalui tindakan (violation by action). pemerintah juga meratifikasi Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights – ICCPR) pada 28 Oktober 2005. Yang lain. Baik yang berupa perda otonomi. langkah-langkah. kebijakan dan tindakan yang dilakukan. pemerintah Indonesia harus membuat laporan yang bertalian dengan penyesuaian hukum.

Stony Brook. Juga pembahasan mengenai tema “pelanggaran hak ekosob”.nyertai implementasi UU No. penghormatan. kini telah meningkat menjadi kenyataan sosiologis yang keras dan konkrit seperti yang dirasakan sebagian orang dalam kasus-kasus perselisihan perburuhan. dan tantangan bagi penerapan ICESCR sebagai UU No. 2007 3 . termasuk indikator keberhasilan dan kegagalan. 11/2005 dan ICCPR sebagai UU No. Pembuatan RANHAM tak lain merupakan sebuah upaya pembuatan pedoman dan rancangan kebijakan untuk mendorong upaya penerapan. 12/Tahun 2005. “Pelaksanaan ICCPR dan ICESCR dalam Konteks Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN-HAM) 2004-2009”. Semua tulisan dalam edisi ini diharapkan bisa menyumbangkan sebuah wacana konkrit tentang cara pengimplementasian. 12/2005. lebih banyak menguraikan gambaran seputar RANHAM. dan sudah seharus rejim hak asasi manusia internasional memperbaiki sistem dan mekanisme perlindungan HAM di tingkat internasional. pemajuan pemenuhan. Selamat membaca. Serangkaian kontradiksi dalam realitas sosio-ekonomi dan sosio-politik yang sebelumnya hanya dibahas dan diprediksi secara akademis di lembaga-lembaga studi. Persoalan hak-hak manusia di Indonesia telah memasuki tahap di mana kebutuhan untuk menerapkannya telah melampaui kepentingan untuk memperdebatkannya. Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia 20042009 sesungguhnya merupakan kelanjutan dari Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia sebelumnya yang dibuat untuk tahun 1998-2003. Juga konflik pertanahan atau penghancuran rumah-rumah penduduk dan pendidikan maupun kebebasan bergerak. persoalan. berkumpul. Tulisan Adhi Santika. JURNAL HAM • Vol. Di Jurnal HAM edisi 2007 ini juga disajikan tulisa karya Emilie M. berserikat. 11/Tahun 2005 dan UU No. Hafner-Burton dari Oxford University dan Kiyoteru Tsutsui dari State University of New York. Patra M. Dengan suatu sistem penilaian tertentu keduanya mencoba melihat sejauhmana perjanjian internasional hak asasi manusia ketika perjanjian tersebut dapat atau tidak dapat memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia di tingkat negara-negara pihak. berpendapat. Pada tulisan yang lain. sehingga berbagai sasaran yang belum dapat dipenuhi pada periode yang lalu dapat dilanjutkan pada periode berikutnya. serta penyiksaan. partisipasi dalam politik. dan perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia di Indonesia. Zen dan Andik Hardiyanto melalui tulisan “Bukan Sekedar Menandatangani: Obligasi Negara Berdasarkan Kovenan Hak Ekosob” mengangkat masalah obligasi (kewajiban) internasional yang melekat pada Negara pasca meratifikasi kedua kovenan tersebut. Hendardi melalui tulisan “Pelaksanaan ICCPR dan ICESCR dalam Konteks Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN-HAM) 2004-2009” konsekuensi yang muncul sebagai akibat diratifikasinya dua kovenan internasional tersebut oleh pemerintah Indonesia. 4 • Th. hukuman mati atau pembunuhan di luar proses hukum. yang dapat digunakan untuk menilai pelaksanaan obligasi negara.

Sosial. The implications of these ratifications are enormous. either Charter-based or Treaty-based. the United Nations. 2003-2006 bekerja di Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi manusia Indonesia. the International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) and the International Covenant on Economic. Sosial. dan sebanyak 150 negara atau lebih menjadi pihak Kovenan Ekosob. dengan resolusi 2200a (XXI). Sejak tahun 1976. Otoritas 2 Kovenan: Mengapa perlu? Dua kovenan ini menjadi bagian yang integral dari sistem PBB. negara pihak (artinya ne* Riwayat Singkat Penulis: 1995-2002 bekerja di Institut Sosial Jakarta. yang sekarang ini sudah diratifikasi dengan Undang-Undang 11 tahun 2005 (untuk Kovenan Ekonomi. dan sistem PBB ini mengikat semua negara anggota PBB. The human rights law was developed as mechanisms. dan 23 maret 1976 untuk Kovenan Internasional Sipil dan Politik (selanjutnya disebut Kovenan Sipol). Social and Cultural Rights (ICESCR). kovenan ini menjadi mekanisme yang bersifat mengikat. either for the government and other state’s institutions or for the victims of human rights violation as well as human rights defenders. in this regard the international human rights law. Sebanyak 148 negara atau lebih menjadi pihak Kovenan Ekosob. 2007 4 . Lebih khusus lagi. The two Covenants are related with the history of the world organization. Budaya (selanjutnya disebut Kovenan Ekosob). Setelah resolusi itu. Fakta pertama yang paling jelas adalah bahwa 2 (dua) Kovenan Internasional ini terkait dengan mekanisme Komisi HAM PBB. namely. The two Covenants could become part of the effort of legal reform to improve human rights condition in Indonesia. Sejak saat itu. dan disahkan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 16 Desember 1966. semakin banyak negara yang menjadi ‘pihak’ dalam 2 kovenan tersebut. Budaya). mempunyai muatan sejarah dan ‘otoritas yang mengikat’. in developing the what so called the international law. Dua Kovenan HAM internasional. dan dengan Undang-Undang 12 tahun 2005 (untuk Kovenan Sipil dan Politik). Kovenan itu diberlakukan masing-masing 3 Januari 1976 untuk Kovenan Internasional Ekonomi. yang membuat dua Kovenan ini sebagaimana adanya sekarang. 4 • Th. namely.Kovenan HAM Internasional: Pandangan Umum mengenai Signifikasi dan Perkembangan Henry Simarmata* Abstract Indonesia has just ratified the two most important international human rights covenants. 1999 dan 2005 mengikuti sesi sidang Komisi HAM. 2004-2006 menjadi anggota Komite Eksekutif Forum Asia sebagai wakil PBHI – termasuk menjadi Ketua Komite Eksekutif (November 2005-Februari 2006) JURNAL HAM • Vol. The main purposes of the Indonesian are to maintain peace and prevent violence.

Dalam tulisan lain dalam jurnal ini. antara lain. Melihat hal ini. karena melewati 1 Dalam penulisan artikel ini. dan tantangan dari masing-masing Kovenan. baik jika dapat kita ulas dan lihat secara khusus sisi lain dalam tulisan ini. Dengan ini. Namun. setelah Pembantaian Masyarakat Armenia di masa Perang Dunia I). baik sebagai organisasi dunia maupun dalam mempromosikan perdamaian. setidaknya.gara yang meratifikasi) terikat dengan mekanisme dalam Komisi HAM PBB. adalah suatu fenomena transnasional. dalan tulisan ini. Artikel ini. mempunyai struktur sebagai berikut: 1. Hal itu diwujudkan dengan pendirian PBB. Lebih lanjut dapat dijabarkan bahwa sistem hukum dunia yang fractured dianggap sebagai salah satu masalah yang harus ditangani dengan mendorong efektivitas PBB. Artinya. Tidak ada satu negarapun yang sanggup menanganinya secara sendiri. 2007 5 . evaluasi terhadap indivisibility dari 2 kovenan (dengan mengelaborasi pemikiran Amartya Sen) JURNAL HAM • Vol. karena sifatnya yang evaluatif. 2. ada alasan untuk me- naruh pertanyaaan ‘mengapa’ di bagian terakhir artikel. Mendorong terwujudnya hukum internasional Penjelasan di atas juga berlaku dalam hal kedua ini. Perang II yang jauh lebih dahsyat dan jauh lebih sistematis dianggap sebagai sesuatu yang tidak bisa ditolerir. Hukum internasional dapat secara terus-menerus bertentangan dengan hukum nasional. tetapi juga batas ‘akal sehat’. terutama dibandingkan dengan Liga Bangsa-Bangsa. yaitu terbentuknya rejim perdamaian dan deterrent (daya tangkal) atas kekerasan. Jika tidak ada 1. dan tentu dengan mekanismenya yang diharapkan bisa lebih efektif. antara lain. ijinkan saya untuk menaruhnya di depan. saya berharap pembaca mendapat ‘clue’ terhadap artikel-artikel berikutnya. Untuk itu. fakta dasar (yang singkat) 2. Persoalannya adalah bahwa jika kemudian kekerasan dilakukan dan menjadi pola. jelas bahwa yang menjadi penghubung dari kesemuanya itu adalah persoalan otoritas 2 kovenan itu. misalnya. dijelaskan secara lebih rinci mengenai soal kewajiban negara pihak. Pendiri PBB. signifikasi dari 2 kovenan (‘mengapa’) 3. perdagangan gelap senjata. kemerosotan kondisi hak asasi manusia yang terjadi amat cepat menjadi bahan ekspos media. implementasi. akan menjalankan mekanisme tersebut. yang mulai Juni 2006 akan penuh menjadi Dewan HAM (dengan demikian sejajar. Dengan ini. agresi bersenjata. akan membuat kovenan itu efektif mencegah dan/atau menangani pelanggaran HAM. ada beberapa hal yang patut dilihat untuk menggali dimensi “mengapa”nya. minus otoritas veto). terutama dengan peristiwa Holocaust (dan ini yang kedua terbesar. 4 • Th. PBB didirikan dengan kesadaran bawah Liga BangsaBangsa tidak efektif. amat sulit untuk menanganinya karena ada pertentangan tersebut. ada 2 hal yang dapat dipenuhi dengan pendirian PBB dan mekanismenya. dinamika dalam enforcement 4. dengan Dewan Keamanan PBB. Namun. mengingat tulisan ini ditaruh dalam bagian pertama bunga rampai (dalam jurnal). Bagaimana Dewan HAM PBB. dan kemudian anggota PBB menyadari bahwa perlu ada satu rejim yang dapat memberikan promosi dan perlindungan terhadap perdamaian dan kemanusiaan warga dunia. Persoalan seperti human trafficking. Mendorong terwujudnya rejim dan deterrent PBB dibentuk semasa akhir Perang Dunia II. dengan ini.1 bukan hanya batas kemanusiaan. Dalam konteks hak asasi manusia.

memotret 2 Special Session ini adalah suatu sesi dimana hanya 3. dibahas baik di dalam Komisi HAM PBB. Dalam hal hak asasi manusia secara umum. JURNAL HAM • Vol. Mekanisme di dalam Human Rights Committee (badan treaty yang menjalankan enforcement ICCPR) menyediakan informasi. Kelaparan sering berkepanjangan karena tidak ada informasi yang dapat diakses. dapat dengan mudah diakses masyarakat luas. maupun dalam badan treaty untuk ICCPR serta hak anak. Dari informasi dan proses acara ini kemudian dilaksanakan special session2 di dalam sidang Komisi HAM PBB di tahun 1992. 2000) untuk melihat soal ‘mengapa’. Inform-consent dan public action Ijinkan juga saya menggunakan pemikiran Amartya Sen (Sen. maka special session berarti bahwa pembahasan reguler berhenti. Jika saat itu sedang terjadi persidangan dengan agenda reguler. Peran dan sumbangan terbesar mekanisme HAM PBB. Tindakan remedial muncul dalam kebijakan PBB untuk melakukan demobilisasi serdadu anak dan Pemerintah Negara Kongo dipaksa untuk turut dalam kebijakan PBB tersebut. Jika sedang tidak ada sidang. secara sederhana. misalnya. amat penting ada suatu tindakan remedial dimana pemerintah negara anggota dan atau negara pihak wajib untuk menyediakannya. maka seluruh diplomat akan dipanggil untuk untuk datang dalam sidang special session. Tindakan remedial Informasi dan rejim (point 1) kemudian mendorong tindakan. Contoh yang menarik misalnya bisa dirujuk pada persoalan Bosnia-Herzegovina (Michael O’Flaherty. dapat dikatakan bahwa pelanggaran HAM seringkali terjadi berlarut-larut karena tidak ada informasi. menjadi hukum internasional. (Witness. Kondisi inilah yang membuat banyak pembela hak asasi manusia mencita-citakan suatu mekanisme. 2007 6 . dalam kasus lain. dan masuk pada proses acara special session (misalnya. Mekanisme ini dimulai dan dikembangkan. but menghasilkan comment. dan pada korban. pada situasi. East Timor pernah dijadikan agenda di tahun 1999) 4. apakah itu tindakan diarahkan pada pelaku (perpetrator). saat penulis menjadi seorang intern dalam sidang ke-55 Komisi HAM PBB. Proses acara (proceeding) HRC terse- dibahas satu item selama persidangan. (Untuk proses acara special session. Informasi yang dapat diakses menjadi dasar public action. terutama dalam hal 2 kovenan ini. dalam Alston 2000). di tahun 1999. Kosovo menjadi special session dan itu menghentikan pembahasan reguler yang waktu itu sedang berlangsung). Dua kovenan ini mempunyai seperangkat instrumen yang memungkinkan untuk diambilnya suatu tindakan – apalagi ada implikasi ‘naik’nya mekanisme HAM PBB dari komisi (Commission) ke dewan (Council). dan lama-kelamaan. 4 • Th. Sen menunjuk bahwa tersedianya informasi membuat suatu hal dapat direspon dengan segera (sooner than later).mekanisme dan hukum internasional maka kondisi hak asasi manusia yang merosot dapat menjadi spekulasi bertahun-tahun. disertai dengan catatan-catatan penting dari mekanisme yang dijalankan. Kasus serdadu anak (child soldiers) di DRC/Kongo (dalam istilah setempat dikenal dengan istilah kadogo). Khususnya menyangkut korban. Kasus kelaparan dijadikan contoh dalam penelitiannya bersama Jean Dreze. terutama sebagai mekanisme PBB. sebuah NGO yang mengembangkan dokumentasi HAM. adalah bahwa tersedia informasi yang diusahakan secara teratur.

boleh dibilang. justru karena sistem hukum pidana domestik sudah lebih efektif. sebagai gambaran dan contoh. kovenan ekosob seringkali 7 . 4 • Th. Dengan otoritasnya yang terbatas. dapat dilihat sebagai berikut di bawah ini : 1. Kovenan sipol amat persis dan tajam dalam menganalisis konteks pidana. Hal ini membuat proses enforcement dari kovenan tidak efektif dalam merespon kasus tertentu (tetapi masih bisa menjadi bahan bahasan yang panas dalam sidang Komisi HAM dan sub-Komisi HAM). 2. 2007 contoh. apakah pemerintah negara pelaku kekerasan memang akan comply pada mekanisme PBB? Tentu saja. maka negara pelaku pelanggaran seringkali tidak merasa ditekan. atau tindakan remedial.fenomena demobilisasi serdadu anak ini dengan amat tajam). sebagai JURNAL HAM • Vol. Kovenan Ekosob Contoh untuk penggambaran efektivitas kovenan ekosob. penetapan dari PBB seringkali tidak begitu berpengaruh. seperti penetapan PBB yang lain. Artinya. Dinamikanya. Kasus yang dibahas dalam HRC-Human Rights Committee (badan enforcement kovenan sipol) akan melecut negara pihak untuk serius baik dengan proses domestik maupun dengan proses di PBB. Kalau memang dibahas dalam sidang komisi. Dengan situasi yang sama. negara Eropa-Amerika Utara mempunyai perangkat hukum pidana yang lebih efektif dibandingkan negara di kawasan lainnya. Kovenan Sipol (ICCPR) Contoh di bawah ini sekedar memberikan gambaran soal efektivitas kovenan (tentu masih banyak contoh lain) Dalam mekanisme PBB. Negara yang bukan pihak dalam kovenan sipol tentu saja luput dari enforcement kovenan sipol. apakah badan treaty PBB (yang menjalankan fungsi monitoring dan semi-judisial) memang punya gigi sehingga hasilnya akan segera diangkat ke tingkat sidang Komisi HAM PBB untuk dijadikan pembahasan secara lebih ‘panas’. Kasus Irlandia Utara. ada suatu relativitas dari 2 kovenan ini terhadap hukum atau kebijakan di tingkat domestik. seringkali diajukan secara bersamaan. sehingga proses di PBB lebih menjadi ‘catatan’ atas proses domestik. hukum domestik lebih cepat. baik dalam proses pidana domestik di Inggris maupun di mekanisme PBB. Terutama karena muatan ‘hukum darurat Irlandia Utara’ yang membuat terjadi pelonggaran enforcement kovenan sipol. Sebagai kebalikan dari kovenan sipol. maka proses di PBB menjadi pelecut yang efektif. Otoritas 2 Kovenan: Mengapa ditolak? Mengapa diterima? Seberapa efektif? Pertanyaan berikut adalah apakah mekanisme dari 2 kovenan tersebut memang efektif. Karena memakan waktu yang lama. dan tidak melakukan tindakan penanganan. tetapi bagaimana jika kasus itu kemudian menjadi amat banyak (terutama jika membahas kasus kejahatan perang) sehingga amat makan waktu dalam melakukan pembahasannya. Hal ini memungkinkan mekanisme kovenan Sipol dapat dengan cepat memberikan pengaruh terhadap kasus yang bersangkutan.

Penjualan permata. sekali lagi. misalnya. sebenarnya juga adalah pelanggaran hak sipol. dan dalam hal ini mempunyai tingkat keabsahan yang memadai. dan juga untuk berargumen apakah memang sipol dan ekosob ini memang bisa secara filosofi dan hukum dijelaskan. Negara pemberi hutang. Dalam kasus yang amat contentious. Dalam persoalan Afrika. lapangan kerja. misalnya. Seringkali hal ini menimbulkan efek kebijakan luar negeri yang kira-kira berbunyi ‘emang gue pikirin’. beberapa hal di antaranya. Namun juga. Secara khusus. Mekanisme enforcement baik dalam tingkat PBB maupun di dalam tingkat domestik berbeda lebih karena alasan sejarah perang dingin (blok barat mementingkan sipol. Kewenangan dan penanganan dalam soal hutang ada dalam IMF (Badan Moneter Dunia) atau murni masalah bilateral. Atau juga untuk berargumen bahwa pelanggaran hak ekosob. negara berkembang justru membawa persoalan kemaslahatan sebagai pembahasan publik. Persoalan penghapusan hutang. Gagasan Amartya Sen Perkenankanlah. Alasan yang dipakai. melihat masa- lah itu tidak absah dibahas oleh ‘badan HAM PBB. saya mempergunakan gagasan Amartya Sen untuk membahasa bagaimana dua dimensi hak (sipol dan ekosob) sebenarnya utuh. menjadi masalah penting. JURNAL HAM • Vol. 2007 8 . 4 • Th. beras. bahwa pemerintah negara berkembang juga tidak mengatakan apapun mengenai kelalaiannya (omission) dan kesengajaan (commission) dalam menciptakan masalah kemaslahatan warga negaranya. Masalah seperti hutang luar negeri.dipakai oleh negara berkembang untuk mengangkat kasus ‘kemaslahatan’. negara berkembang tidak ragu-ragu mempergunakan mekanisme PBB termasuk mekanisme kovenan ekosob untuk memecahkan masalah tersebut. Universitas Harvard per- nah membuat studi soal odious debt. Rumusan odius debt3 dianggap tidak memadai untuk masuk dalam kerangka pemecahan masalah hutang. sebaliknya. atau ladang minyak adalah bagian dari tindakan pemerintah negara yang bersangkutan yang menimbulkan masalah menurunya kualitas hidup warga negaranya. Indivisibility 2 Kovenan: komentar evaluatif 1. Sen membuat argumen yang kuat dan tajam (compelling argument) meski dia tidak secara khusus menggeluti mekanisme 3 Sebagai suatu masalah. di tingkat masyarakat. kondisi pascakolonial seringkali diangkat dengan mengorbankan fakta bahwa pemerintah negara yang bersangkutan tidak melakukan kebijakan yang perlu dalam persoalan ekosob. dengan sengaja. menjadi catatan kritis pula. dan blok komunis mementingkan ekosob) dan lebih karena alasan presisi dan profesionalitas. adalah bahwa kondisi kemaslahatan masyarakat negara mereka tidak luput dari situasi pascakolonialisme dan tingkah-polah pelaku privat dari negara Eropa-Amerika Utara. saya memakai argumen Sen ini untuk menjelaskan.

Sen melakukan usaha terus-menerus berusaha memecahkan conundrum antara 2 hal: freedom dan justice. Singapura yang amat makmur secara ekonomi dengan welfare-state yang nyaris sempurna. Penggambarannya adalah sebagai berikut: Menjadi pengetahuan umum bahwa freedom juga dapat digunakan untuk merugikan orang lain. sebagian perdebatan ini dicerminkan pada perdebatan founding fathers dalam merumuskan antara hak individu dan pemajuan sosial dalam konstitusi (UUD ’45) – dengan rumusan pertanyaan “untuk apa individu dilindungi kalau hal tersebut tidak memajukan kemakmuran masyarakat” Hayek melihat bahwa sebenarnya layanan publik negara (bahkan jika itu memang bertujuan melindungi warga negara) hanya akan membuat warga negara hidup dalam perbudakan modern (serfdom). 4 • Th. JURNAL HAM • Vol. dan mendorong konsep prioritas keadilan. Konsep prioritas keadilan membawa pada tindakan khusus (special tretment). Keadilan yang dirumuskan dalam prioritas itu memang tidak perlu diperdebatkan. perdagangan senjata. Freedom menjadi dasar argumen dari kovenan sipol. Dalam soal justice. dan terhadap fenomena free rider.dan hukum hak asasi manusia internasional. Kelemahan argumen. Freedom dalam pengertian klasik. ada baik dalam prioritas itu sendiri maupun dalam eksesnya bersifat draconian dan/atau pemaksaan. dan justice menjadi dasar argumen kovenan ekosob. dan Friederich von Hayek (road to serfdom). Lebih lanjut. dapat dilihat bahwa tindakan privat dapat menyebabkan kesengsaraan banyak orang. perdagangan valuta asing. perdagangan senjata. sekuritas (dengan Glass-Steagal Act). bahkan jika hal itu atas nama kebaikan. David Hume. 9 . State and Utopia). Sedang Nozick melihat bahwa hak milik adalah mutlak. namun dalam konteks hak ber4 Salah satu penyebab penting adalah bahwa diha- puskannya regulasi pembatasan bank. mengarah pada konsep individu yang biasanya merujuk pada pemikiran Adam Smith. Tindakan spekulasi (penimbunan beras. eksploitasi sumber daya alam) jutru sering dilakukan dengan sadar dan sengaja di atas (at the expense) kehidupan dan penghidupan masyarakat. dan dalam bagian tertentu John Locke). John Rawls (juga dengan amat sukses) membantah kemutlakan hak milik. Ambil contoh. eksploitasi sumber daya alam) semuanya tidak tahan dengan argumen bahwa itu semua justru menjadi penyebab kehidupan manusia – kalau tidak dalam jangka pendek. dinamika ekonomi AS juga mengalami downturn karenanya. 2007 Tindakan spekulasi (penimbunan beras. perdagangan valuta asing. dan bertemu dengan derivatif market yang tidak diregulasi. secara intelektual freedom dirumuskan (dengan amat sukses) oleh Robert Nozick (Anarchy. asuransi. Dalam sejarah Indonesia. Barulah setelah Enron kolaps dengan segala akibatnya. tidak soal bagaimana manusia mendapatkan hak miliknya itu. misalnya. menurut Sen. kemudian dilakukan regulasi dan penegasan indikator keamanan investasi. Kelemahan terbesar dari konsep ini adalah sifatnya yang indifferent terhadap pewujudan freedom dalam kehidupan praktis dan sehari-hari. Menarik mengamati ketika Enron kolaps.4 Dengan ini. bisa dalam jangka panjang).

Seperti kita tahu bahwa setiap pelanggaran HAM termunculkan (implies) bentuk-bentuk pidana. Nulla Crimen Sine Lege. Cultural Rights (badan enforcement kove5 (terjemahan longgar) “…dapat ditunjuk fakta yang nan ekosob). juga menyatakan pentingnya ‘perdebatan publik’ (public discourse) dan proses komunikasi yang menghasilkan nilai dan norma sosial. tidak ada kejahatan yang ditindak di luar hukum. menurut pengamatan. meski tentu kita tidak bisa langsung ‘menikmati’ pembahasan mekanisme 2 kovenan (mungkin suatu saat nanti sampai ke sana). 2007 10 . dan dengan ini mendorong akuntabilitas pemerintah negara anggota dengan warga negara anggota. Jika ada keberatan dari negara pihak. Sebagai benchmarking. dan kemudian pada hukum domestik. Argumen Sen dalam merumuskan indivisibility hak sipol dan ekosob dapat dirumuskan sebagai berikut: p. 2. in the form of extreme poverty. Ada anggapan bahwa ekonomi dan welfare yang sudah diwujudkan dengan otomatis akan mewujudkan hak sipol. dalam bentuk kemiskinan ekstrem. dari yang mild sampai yang serius. JURNAL HAM • Vol. atau negara anggota PBB pada umumnya. maka kita bisa melihat bahwa mekanisme 2 kovenan ini memunculkan banyak implikasi pada hukum internasiona. dapat membuat orang menjadi mangsa pelanggaran hak yang lain …tidak adanya hak ekonomi dapat memunculkan tidak adany hak sosial. 4 • Th. ada rencana penyeleng- amat jelas bahwa tidak adanya hak ekonomi. Social.8 “…[i]t also pointed to the remarkable fact that economic unfreedom. …Economic unfreedom can breed social unfreedom. karena segala sesuatunya selalu dibahas (contested) dan terukur. Dua kovenan ini berkembang seturut bentuk-bentuk pidana tersebut. Nulla Crimen Sine Lege Dua kovenan ini pun sebenarnya masih dalam perkembangan progresif untuk menerjemahkan persoalan pidana. just as social or political unfreedom can also foster economic unfreedom”5 Sen.pendapat dan berpolitik dibatasi dengan amat tajam. maka para judiciary justru berargumen bahwa hal ini membuat perkembangan hukum berlangsung secara sehat. Hak Perempuan-Anak dan Masalah Migran akan menjadi 2 isu yang dikembangkan untuk dibahas (ini karena dibentuk 2 kelompok kerja di ASEAN untuk membahas 2 hal tersebut). sebagaimana juga bahwa tidak adanya hak sosial dan politik dapat menimbulkan tidak adanya hak ekonomi” garaan pembahasan mekanisme HAM regional ini di Kuala Lumpur. dengan ini. Dengan alasan bahwa sekarang sudah saatnya bagi ASEAN untuk mempunyai piagam. Mekanisme HAM Regional: Perkembangan Mekanisme 2 Kovenan Perkembangan terbaru saat ini yang patut diamati adalah proses ASEAN untuk merurmuskan Piagam ASEAN (ASEAN Charter). Jika kita melihat dokumen dalam Human Rights Committee (HRC – badan enforcement kovenan sipol) maupun Committee on Economic.6 Sebagai titik mula. Salah satu yang menjadi pengembangan di dalam soal mekanisme HAM regional ASEAN. Mekanisme HAM regional di ASEAN adalah sesuatu yang perlu didorong. dan dengan ini sebenarnya ditegaskan prinsip imparsialitas dari hak asasi manusia. kita dapat melihat mekanisme serupa di Uni-Eropa (Europan 6 Di akhir bulan Juni 2006. can make a person a helpless prey in the violation of other kinds of freedom.

Centre on Democracy. Cambridge University Press. Alston. Divided World. Filipina dan Malaysia juga menjadi anggota Dewan HAM) – bersamaan dengan implikasi dari ratifikasi 2 kovenan oleh pemerintah Indonesia Desember 2005 lalu. Oxford University Press. Seperti yang kita lihat dalam proses dan dokumentasi European Court on Human Rights. Karen.Convention on Human Rights. Rodley. Mekanisme regional ini penting sebagai pengembangan dari enforcement 2 kovenan tersebut. Oxford 1993. The UN’s Roles in International Law. The International Covenant on Civil and Political Rights and United Kingdom Law. Oxford 1999. Oxford University Press. beserta courtnya) dan di kawasan Amerika Latin (InterAmerican Human Rights Mechanism). Bagi korban. Stephen (ed. London 1998. Indonesia yang dipilih dengan angka voting kedua tertinggi di Asia (sesudah In- dia) di dalam Dewan HAM mempunyai kesempatan juga untuk mengembangkan mekanisme enforcement HAM di tingkat regional. with Bustelo. Wade M. The Future of UN Human Rights Treaty Monitoring. New York 2000. James. California 2004 Harris. Philip and Crawford (ed. (Bersama Indonesia. A Practitioner’s Guide to the European Convention of Human Rights. Knopf. Benedict.). The EU and Human Rights. Development as Freedom.). untuk menyebut di antara aktor penting. Amartya. Roberts. and Heenan (ed. and Kingsbury. Oxford 1999. dan Komnas HAM. dan membuat mekanisme regional HAM ASEAN mendapatkan dampak dari enforcement domestik tersebut.. Oxford 1998.). Cambridge 2000. and The Rule of Law. The Treatment of Prisoners under International Law (second edition). DAFTAR PUSTAKA Alston. and Joseph.. David. 2007 11 . Sweet & Maxwell. Sen. Sarah (ed. David. Mara. pekerja HAM. Adam. Clarendon Press Oxford. Clarendon Press Oxford. Alfred A. Cole. James. United Nations. 4 • Th.). Development. Stanford Institute on International Studies. Oxford 1995. Harris. JURNAL HAM • Vol. Sovereignty Relinquished: Explaining Commitment to International Human Rights. and Livingstone. Clarendon Press Oxford. Philip. kasus-kasus di dalam negeri ini dibahas juga di tingkat Eropa – sehingga korban dan pekerja HAM dapat semakin menegaskan compliance negara terhadap ketentuan HAM internasional. Nigel S. The Inter-American System of Human Rights. Reid. harus aktif untuk menerjemahkan 2 kovenan itu dalam sistem dan praktik hukum di Indonesia.

keberadaan ICCPR dan ICESCR di Indonesia merupakan hal penting untuk diketahui. Individual must be able to enjoy freedom of wants as well as freedom from fear. economic. fulfillment and protection human rights. 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Economic. tetapi juga pada tataran yang mengatur subyek hukum beraktivitas yang dikenal dengan peraturan-perundangan. The ultimate goal of ensuring respect for the dignity of individual cannot be achieved without that person’s enjoying all of his or her rights. social and cultural rights. religion. politics. The 2004-2009 Nation Plan of Action on Human Rights is a continuation of the Nation Plan of Action on Human Rights for the year 1998-2003. 4 • Th.Pelaksanaan ICCPR dan ICESCR dalam Konteks Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN-HAM) 2004-2009 Adhi Santika* Abstract Indonesia’s diverse geography. Social and Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. promotion. Sosial. The new plan of action is intended to complete the unfinished works in the previous period. 40 Tahun 2004 tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia tahun 2004-2009. Departemen Hukum dan HAM JURNAL HAM • Vol. tidak dapat dipungkiri akan dihadapkan pada keragaman masalah dalam implementasinya di Indonesia. Social and Cultural Rights (ICESCR) yang keduanya telah Indonesia ratifikasi pada tahun 2005. culture and language contribute to wide diversity in the enjoyment of human rights. dianalisis * Penulis bekerja di Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan HAM. PENDAHULUAN Keberadaan instrumen HAM internasional seperti halnya International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) dan International Covenant on Economic. Keragaman masalah dimaksud ternyata tidak hanya akan terjadi pada perilaku kehidupan sehari-hari setiap subyek hukum. Adapun peraturan perundangan dimaksud antara lain: UU No. The National Plan of Action on Human Rights in Indonesia is intended as a guidance and general plan to enhance the efforts in increasing the respect. Sekalipun ICCPR dan ICESCR telah diratifikasi masing-masing melalui UU No. The dignity of individual cannot and should not be divided into two spheres – that of civil and political rights and that of economic. Dalam konteks waktu. 2007 12 . 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan Keputusan Presiden (Keppres) No. dan Budaya). 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik) dan UU No. pada kenyataannya Indonesia telah memiliki peraturan perundangan yang secara implisit dan/atau eksplisit sudah menginternalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam dua kovenan tersebut.

sangat jelas diketahui bahwa RANHAM lebih berorientasi ke masa depan. sehingga evaluasi yang dilakukan seharusnya tidak hanya dibatasi oleh waktu pascaratifikasi kedua kovenan tersebut tetapi juga mencakup semua kegiatan yang dilakukan selama kurun waktu praratifikasi. Dalam hubungan ini Pemerintah menempati posisi strategis sesuai dengan amanat yang tercantum dalam Pasal 8 UU No. penegakan. (5) Penerapan norma dan standar HAM. 1. 4 • Th. Oleh karena itu. Persyaratan ini mengemuka karena ada alasan yang 13 . dan pemenuhan HAM sebelum ratifikasi. seyogyanya evaluasi harus dilakukan sejak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia sampai pascaratifikasi sekalipun ratifikasi kedua kovenan tersebut baru dilakukan pada tahun 2005. Apabila mengamati Program Utama RANHAM dan menghubungkannya dengan ratifikasi ICCPR dan ICESCR. pemenuhan dan perlindungan HAM. bahwa RANHAM Indonesia dimaksudkan sebagai panduan dan rencana umum untuk meningkatkan penghormatan. dan pemenuhan hak asasi manusia terutama menjadi tanggung jawab Pemerintah”. 7 Tahun 1984 tentang CEDAW. Berdasarkan pertimbangan tersebut di JURNAL HAM • Vol.dan dirumuskan langkah-langkah nyata yang perlu dilaksanakan oleh berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) termasuk Pemerintah. Pertimbangan dimensi waktu merupakan salah satu faktor penting dalam evaluasi pelaksanaan ICCPR dan ICESCR di Indonesia. penegakan. (4) Diseminasi dan pendidikan HAM. KONSEKUENSI RASIONAL DARI RATIFIKASI Secara eksplisit Lampiran I Keppres No. maka ruang lingkup keenam Program Utama merupakan rangkaian tindakan konkrit yang perlu dan akan dilakukan oleh negara dalam aktualisasi pencapaian tujuan ICCPR dan ICESCR di Indonesia. UU No. di mana Indonesia termasuk sebagai negara peserta yang turut menandatanganinya. Di samping itu terdapat pula beberapa kesepakatan internasional yang secara langsung atau tidak langsung bernuansa HAM. yaitu: (1) Pembentukan dan penguatan institusi pelaksanaan RANHAM. pemajuan. 2007 atas. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia: ”Perlindungan. seperti halnya UU No. 29 Tahun 1999 tentang CERD. maka pelaksanaan ICCPR dan ICESCR pascaratifikasi di Indonesia tidak dapat dilepaskan keberadaannya dari upaya perlindungan. UU No. (2) Persiapan Ratifikasi instrumen HAM internasional. Program Utama yang pertama yaitu Pembentukan dan Penguatan Institusi Pelaksana RANHAM merupakan program yang penting dan merupakan satu syarat keharusan (a necessary condition). pemajuan. evaluasi dan pelaporan. dan (6) Pemantauan. 40 Tahun 2004 menyebutkan. dan Keppres No. seperti ICPD dan MDGs. Pembentukan dan penguatan institusi pelaksanaan RANHAM. pemajuan. (3) Persiapan Harmonisasi peraturan perundang-undangan. 5 Tahun 1998 tentang CAT. Pertimbangan dimensi waktu akan terasa benar adanya manakala mempertimbangkan beberapa instrumen HAM internasional yang telah diratifikasi Indonesia melalui sejumlah Undang-Undang yang dikeluarkan pemerintah sebelum Indonesia meratifikasi ICCPR dan ICESCR pada tahun 2005. termasuk untuk melindungi masyarakat yang rentan terhadap pelanggaran HAM. yaitu kesungguhan dan kendala yang dihadapi Pemerintah selama ini. dengan penetapan 6 (enam) Program Utama di dalamnya. Dari materi yang tercantum. Hal ini perlu diperhatikan untuk mengetahui secara obyektif mengenai dua hal utama dalam evaluasi. 36 Tahun 1990 tentang CRC.

seringkali aparat negara dan masyarakat kurang bahkan tidak mampu mengetahui dan mengerti maksud keduanya. Masalah HAM di lapangan yang terjadi sangat bervariatif dan struktur organisasi kepemerintahan yang berbeda di setiap provinsi. efisien. maupun budaya. juga memberikan pengaruh pada kemampuan aparat negara dan masyarakat dalam kecepatan “pembentukan” institusi pelaksana HAM. Kompleksitas masalah HAM di lapangan yang memiliki karakteristik antara lain: ruang lingkup substansinya sangat luas. 2007 14 . dan (2) Pemberi materi “penguatan” perlu lebih membekali diri dengan kecukupan penguasaan substansi dalam pengertian mampu menyeimbangkan materi yang bersifat konseptual dan kontekstual. Kompetensi merupakan satu kata kunci yang sulit untuk diwujudkan pada tataran lapangan dalam kurun waktu yang cukup singkat. cenderung membuat orang memerlukan waktu tambahan untuk sepenuhnya mengerti permasalahan yang ada. Atas dasar ini maka pelaksanaan RANHAM hanya dapat berjalan sesuai dengan rencana. ekonomi. yaitu: (1) Pemilihan dan penetapan peserta yang akan menerima materi “penguatan” agar lebih representatif. Dalam hubungan ini. “Penguatan” hanya dapat dilakukan apabila “pembentukan” institusinya sudah dilakukan. melibatkan lebih dari satu subyek hukum. “Penguatan” institusi pelaksana RANHAM adalah satu kegiatan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan (multi-stakeholders) karena memerlukan kerjasama dari banyak pihak dengan latar belakang yang beraneka ragam.sangat rasional. yaitu 5 (lima) program lainnya sangat tidak mungkin terlaksana dengan baik apabila program pertama ini tidak terwujud lebih awal. 4 • Th. Program Pembentukan dan Penguatan Institusi Pelaksana RANHAM memJURNAL HAM • Vol. sosial. Guna membentuk institusi baru ternyata seringkali dihadapkan pada berbagai kendala yang umumnya berupa kekurangmampuan sumber daya manusia untuk mengetahui dan mengerti substansi HAM yang secara bersamaan waktunya harus memiliki kecakapan dalam mengelola organisasi untuk menggerakkan program kerja. pekerjaan. “Pembentukan” dan “penguatan” institusi merupakan dua kata penting dalam program ini. baik dari sisi pendidikan. apabila terdapat institusi bentukan baru dan mengalami “penguatan” sehingga memiliki kompetensi untuk melaksanakan seluruh programnya. Di samping itu struktur organisasi kepemerintahan yang cukup beragam antar wilayah administrasi sejalan dengan adanya UU No. kabupaten dan kota memberikan kontribusi pada cepat atau lambatnya “pembentukan” institusi pelaksana RANHAM di pusat dan daerah. 32 Tentang Pemerintahan Daerah. mencakup lintas batas administratif (spatial) dan mencakup lintas batas waktu (temporal). program “penguatan” sudah seharusnya selalu dibarengi dengan kegiatan evaluasi yang berkesinambungan berdasarkan pendekatan “post-training evaluation”. Berdasarkan Keppres 40 Tahun 2004. Program “penguatan” seringkali dihadapkan pada 2 (dua) masalah yang cukup serius untuk dapat segera diselesaikan dalam waktu singkat. Keanekaragaman ini memberikan konsekuensi pada cara “penguatan” yang akan dilakukan agar materi dan pesan yang akan diberikan tepat sasaran. frekuensi dan intensitas kejadiannya sangat berfluktuatif. dan efektif.

termasuk Konvensi Internasional Perlindungan Hak-hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. dan Jerman. Hukum internasional seperti halnya ICCPR dan ICESCR merupakan keseluruhan kaidah yang sangat diperlukan untuk mengatur sebagian besar hubungan antar negara. Departemen Hukum dan HAM) telah melakukan kerja sama antar negara dan dengan sejumlah lembaga internasional di bawah payung Perserikatan Bangsa Bangsa. (2) Pembentukan dan penguatan Panitia Pelaksana RANHAM Daerah. RANHAM telah mengagendakan ratifikasi 12 instrumen HAM yang akan dirampungkan sebelum akhir tahun 2009. 2. Australia. (4) Pembentukan dan Penguatan Kelembagaan HAM di daerah. Berbagai kegiatan dalam rangka “penguatan” institusi. Sebagai anggota masyarakat internasional. persiapan ratifikasi sejumlah instrumen HAM internasional ditetapkan dengan skala prioritas sebagai berikut. dapat diketahui bahwa cakupan kegiatan program pertama tersebut dinilai sangat berat. Kovenan Hak Sipil dan Hak Politik (2004). yaitu: Afrika Selatan.punyai tujuan/sasaran sebagai berikut: (1) Pembentukan dan penguatan Panitia Nasional. Namun. Konvensi Penghentian Perdagangan Manusia dan Eksploitasi Pros- 15 . Kanada. Tanpa adanya kaidah-kaidah ini sungguh tidak JURNAL HAM • Vol. Belum lagi dinamika masyarakat yang juga diwarnai pro-kontra terhadap suatu isu HAM tentu akan menimbulkan persoalan tersendiri dari setiap proses ratifikasi itu. karena harus melibatkan berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) dengan segala keragaman karakteristiknya disamping substansi HAM merupakan hal baru bagi sebagian besar pemangku kepentingan. kerja sama dengan lembaga internasional antara lain dilakukan dengan UNHCR. Mesir. IDLO. semua ini merupakan bagian dari tradisi demokrasi yang harus dilalui. Norwegia. pemenuhan dan perlindungan HAM agar sesuai dengan harapan. Di samping itu. (3) Sosialisasi RANHAM kepada berbagai pihak. Melalui pengesahan yang diwujudkan dalam bentuk ratifikasi. perangkat-perangkat HAM internasional tersebut diharapkan akan memperkuat hukum nasional dalam upaya menjamin penghormatan. Proses ini semua bukan tanpa rintangan atau halangan. Italia. Swedia. yaitu: Kovenan Internasional Hak Ekososbud (2004). Swiss. Perancis. pemerintah (dalam hal ini Direktorat Jenderal Perlindungan HAM. Selandia Baru. dan ILO. Secara garis besar. 2007 mungkin bagi negara-negara tersebut untuk saling berhubungan secara tetap dan terus menerus. UNICEF. IOM. Sesungguhnya hukum internasional merupakan persoalan dengan keperluan hubungan timbal-balik antar negara. pemajuan. dan (5) Meningkatkan kerja sama dengan berbagai pihak untuk memperkuat kelembagaan HAM yang telah ada. Indonesia melakukan ratifikasi instrumen-instrumen HAM internasional. Berdasarkan Keppres 40 Tahun 2004. Persiapan Ratifikasi Instrumen Hak Asasi Manusia Internasional. apalagi setelah terpilihnya Indonesia sebagai anggota Dewan HAM PBB. 4 • Th. Situasi perdebatan dan pro-kontra atas dasar identifikasi dan inventarisasi masalah dari setiap proses pembahasan lahirnya suatu produk perundangundangan seringkali juga menimbulkan kekecewaan masyarakat. Kerjasama pemajuan HAM telah dijalin dengan 11 (sebelas) negara dan kerjasama regional dengan ASEAN dan Asia Pasifik.

Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Keterlibatan Anak dalam Konflik Bersenjata (2006). Aspek-aspek apa yang harus diharmonisasikan dan bagaimana pengharmonisasian tersebut dilakukan? 3. Peraturan Pemerintah. yaitu: a. mengingat setelah proses ratifikasi pengertian “legally binding” menjadi berlaku dengan segala konsekuensinya. Keberadaan faktor pembatas tersebut sangat mungkin dapat diatasi apabila Program Pembentukan dan Penguatan Institusi Pelaksana RANHAM terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama. Mengapa perlu dilakukan pengharmonisasian? 2. Salah satu hal yang perlu mendapat perhatian khusus adalah Pasal 7 UU No. Persiapan Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang menegaskan jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan di Indonesia. Di samping itu. Langkah dimaksud seringkali dihadapkan pada faktor pembatas berupa kemampuan melaksanakan kajian akademik yang bersifat obyektif dan cepat pelaksanaannya. Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Perdagangan Anak. 3. 4 • Th. Permasalahan apa yang dihadapi dalam pelaksanaan pengharmonisasian? Sebelum memahami ketiga permasalahan tersebut. yaitu: a. Satu hal yang paling mendasar untuk dipertimbangkan dengan seksama adalah langkah melakukan pengkajian terhadap instrumen internasional yang akan diratifikasi berupa penyempurnaan naskah akademik. Protokol Opsional Konvensi Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan (2005). Konvensi Status Pengungsi (2009). Pengharmonisasian atau kegiatan untuk mengharmonisasikan atau menyelaraskan. faktor keterbatasan pengetahuan dan jumlah pemerhati substansi instrumen yang akan diratifikasi juga merupakan hal yang kerap terjadi. Protokol Opsional Konvensi Anti Penyiksaan (2008). Terdapat beberapa permasalahan yang terlebih dahulu perlu dipahami sehubungan dengan harmonisasi peraturan perundang-undangan di Indonesia yaitu: 1. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah adalah landasan yuridis yang digunakan. d. Peraturan Presiden. Konvensi Pencegahan dan Penghukuman Kejahatan Genosida (2007). e. Peraturan Daerah. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan Protokol Opsional Tahun 1967 Konvensi Status Pengungsi (2009). Faktor keterbatasan pengetahuan ini seharusnya tidak boleh dibiarkan karena akan memperparah ketidaksiapan Pemerintah dalam menerima segala konsekuensi ratifikasi. Konvensi Perlindungan Hak-Hak Pekerja Migran dan anggotaanggota keluarga-nya (2005). Pornografi Anak dan Prostitusi Anak (2005). 2007 16 . Era otonomi daerah merupakan satu ciri dalam pemerintahan sekarang ini dan UU No. c. Statuta Roma (2008).titusi (2004). Undang-undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang. Atau dalam bahasa Inggrisnya “harmonize” diJURNAL HAM • Vol. b. terlebih dahulu perlu dijelaskan pengertian dari beberapa istilah kunci.

keutuhan sebagai suatu keseluruhan. karena jabatan fungsional Perancang Peraturan Perundang-undangan dianggap tidak cukup menarik untuk ditekuni oleh pegawai. c. diperlukan penyelarasan. Dalam bahasa Inggris “conception” diberi arti sebagai “conceiving of an idea” 3. 2. pembulatan dan pemantapan konsepsi rancangan undang-undang yang berasal dari Presiden. yang disebabkan oleh belum adanya persamaan persepsi tentang rancangan undang-undang sebagai suatu sistem yang terintegrasi. Sehingga. pengharmonisasian peraturan perundang-undangan memiliki arti strategis dalam mewujudkan sistem hukum nasional. sebelum proses pengharmonisasian perundangan yang ada agar sejalan dengan RANHAM dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian. sejalan dengan ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang No. Konsepsi diartikan sebagai pengertian. (b) Tidak jarang ditemui berbagai inkonsistensi antara satu pasal dengan pasal lainnya di dalam Undang-undang yang sama. artikan sebagai “bring into harmony” dan”“harmony” diartikan sebagai “pleasing combination of related things”. tetapi bersifat parsial dan terfragmentasi menurut kepentingan dari masing-masing instansi. dan (d) Produk hukum yang ada di Indonesia lebih cenderung bersifat reaktif dari antisipatif. atau rancangan yang telah ada dalam pikiran (ide).b. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dan Undang-Undang No. Dari pengamatan. Sehingga. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. (c) Keterlambatan penyusunan aturan pelaksanaan dari Undang-undang yang telah disahkan. Perlu disadari bahwa. juga terlihat bahwa peraturan perundangan di Indonesia cenderung memiliki sejumlah kelemahan yang mendasar. 2007 17 . Sehubungan dengan itu. 4 • Th. langkah yang sedang dilakukan dalam persiapan harmonisasi peraturan perundangundangan adalah mengagendakan JURNAL HAM • Vol. dan tidak mengatur rancangan undang-undang yang berasal dari DPR atau rancangan peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang. Masih adanya sikap egoisme sektoral dari masing-masing instansi terkait. serta konvensi/ perjanjian internasional hak asasi manusia. Pasal 18 ayat (2) Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 hanya mengatur pengharmonisasian. Tantangan yang dimaksud antara lain meliputi: 1. Pembulatan mengandung makna untuk membentuk menjadi bulat atau membentuk kepaduan. agar menghasilkan peraturan perundang-undangan yang tidak saling bertentangan atau tumpang tindih. yaitu: (a) Antara Undang-undang yang satu dengan yang lainnya seringkali saling bertentangan. sebenarnya masih terdapat sejumlah tantangan yang harus diatasi terlebih dahulu. Tenaga fungsional Perancang Peraturan Perundang-undangan masih terbatas jumlahnya serta belum memiliki spesialisasi pada bidang hukum yang spesifik. pembahasan oleh wakil-wakil instansi terkait tidak bersifat menyeluruh. baik dengan berbagai peraturan perundang-undangan vertikal maupun horisontal. pemahaman.

aspek pendidikan menjadi elemen kunci dalam upaya melaksanakan program diseminasi Hak Asasi Manusia di Indonesia. aktivis HAM. dan tokoh masyarakat/agama). Universitas Padjajaran. dan budaya. Diseminasi dan Pendidikan Hak Asasi Manusia Kiranya sulit dibantah. serta Undang-Undang tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. 2007 . Universitas Samratulangi. lembaga nonpemerintah. lembaga nonpemerintah. Other Cruel and Inhumance or Degrading Treatment or Punishment (CAT). UndangUndang tentang Hak Asasi Manusia. Afrika Selatan. kejaksaan. pendidikan di luar jalur sekolah. Di samping itu. Norwegia. hak untuk memilih dan dipilih. dan perguruan tinggi merupakan langkah yang sangat strategis untuk mendukung diseminasi dan pendidikan HAM di Indonesia. Australia. hak hukum. serta lokakarya dan diskusi HAM dengan organisasi sosial dan LSM. dan Convention Against Torture. Convention on the Rights of the Child (CRC). Selain itu. Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination (CERD). meskipun di dalam agenda RANHAM hanya 3 (tiga) undang-undang tersebut yang dikaji. bahwa pendidikan merupakan syarat bagi pemenuhan hak-hak sipil dan politik serta hak-hak ekonomi.pengkajian terhadap Kitab UndangUndang Hukum Pidana. pemerintah berupaya melakukan sosialisasi berbagai instrumen hak asasi manusia internasional yang telah diratifikasi oleh Indonesia. Convention on the Political Rights of Women. Pelaksanaan pendidikan hak asasi manusia yang difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Perlindungan HAM Departemen Hukum dan HAM meliputi pembentukan dan perpustakaan HAM di Universitas dan Komnas HAM. 4 • Th. sebagaimana yang diamanatkan dalam RANHAM 2004-2009. kegiatan simposium hak asasi manusia tingkat nasional dan daerah untuk promosi pendidikan hak asasi manusia yang dilaksanakan oleh anggota Panitia Nasional RANHAM. tenaga pengajar/ dosen perguruan tinggi. pelatihan HAM di luar negeri (Swedia. kurikulum HAM untuk SD s/d SMA. 18 JURNAL HAM • Vol. Dalam hubungan ini. dan perguruan tinggi juga merupakan hal yang harus dilaksanakan secara terus menerus. serta hak atas kebebasan informasi dan berkomunikasi. dan petugas pemasyarakatan). dan Perancis bagi pegawai negeri. Oleh sebab itu. hak atas kebebasan berkumpul. social. Suatu tingkat pendidikan minimal atau setidaknya melek aksara sangat diperlukan bagi perjuangan untuk mewujudkan pemenuhan hak-hak sipil dan politik. pengembangan dan penyebarluasan bahan pengajaran hak asasi manusia yang dilaksanakan oleh anggota Nasional RANHAM. Menyadari hal tersebut. namun telah dikaji pula Undang-Undang tentang Kewarganegaraan dan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. 4. antara lain Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW). pelatihan bagi aparat penegak hukum (kepolisian. program studi S2 HAM (Universitas Indonesia. dan Universitas Pelita Harapan). berorganisasi dan berekspresi. dan pendidikan HAM di Fakultas Hukum. hak untuk turut serta dalam pemerintahan. hakim.

Indonesia sebagai negara modern tidak mungkin menghindar dari realitas bahwa masyarakatnya menjadi lebih individual daripada masyarakat tradisional. Pemerintah Indonesia sedang melakukan proses penyusunan norma dan standar perlindungan. Saat ini. pamong praja dan petugas pemasyarakatan berdasarkan hasil kegiatan yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan HAM. Selain itu. tidak boleh menjadi alasan untuk tidak melaksanakan HAM. seorang ahli filsafat yang beraliran Neo Kantian. (c) Berpartisipasi dalam pelaksanaan Nota Kesepahaman Pemerintah Indonesia dengan GAM dalam bentuk memfasilitasi pelaksanaan amnesti dan integrasi anggota GAM bekerjasama dengan IOM dan. secara substansi. antara lain: (a) Menghasilkan sejumlah buku saku mengenai HAM yang diperuntukkan. dan mekanisme kerjasama pemajuan hak sipil dan politik. norma HAM yang terdapat dalam UUD adalah sebagai bintang pemandu (leitstren) bagi pembuat undang-undang di bawahnya agar selaras dengan nilai-nilai HAM. 19 . 4 • Th. dan pemenuhan HAM. sedangkan dikatakan kontekstual apabila sudah berbicara tentang relevansinya (aktualisasi). Dengan demikian. Norma tersebut dapat mengalir dalam perundangundangan yang lebih rendah hierarki atau perundangan yang lebih rendah dapat memberikan norma tafsiran dari peraturan perundangan yang lebih tinggi tersebut. meminjam istilah dari Rudolf Steammler. Jika diamati lebih jauh. (b) Penyampaian rekomendasi kepada instansi terkait atas pengaduan masyarakat tentang pelanggaran hak asasi manusia (yang tidak termasuk pelanggaran hak asasi manusia yang berat). Selain itu. dan tenaga kerja. 2007 dalam masyarakat yang bersangkutan. pengawas ketenagakerjaan. pedoman pemenuhan hak anak. HAM adalah universal. HAM justru tidak memuat individualisme. Hak asasi manusia adalah persoalan universal. pemajuan. Pandangan keliru bahwa HAM identik dengan pandangan dunia barat. juga dibentuk Tim Konsultasi Hak Asasi Manusia. Dengan kata lain. bagi pegawai Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM.5. Sebaliknya. Konstruksi ini merupakan makna bahwa norma-norma yang ada dalam UUD harus mengalir dalam perundang-undangan di bawahnya. penegakan. apakah berupa norma original atau norma jabaran yang lebih konkrit. polisi. antara lain. HAM merupakan pengertian modern. jaminan terhadap HAM merupakan tanda solidaritas dan kepedulian sosial JURNAL HAM • Vol. beberapa kegiatan yang telah dilakukan oleh Departemen Hukum dan HAM dalam mendukung pelaksanaan RANHAM. Sebagaimana dikatakan Magnis Suseno (1994: 11-12). tetapi sekaligus juga kontekstual. seperti perlindungan terhadap mereka yang kurang beruntung secara sosial dan ekonomi. Dalam masyarakat tradisional. HAM tidak banyak dipertanyakan karena struktur sosial tradisional itu masih mampu melindungi hak-hak individu di dalamnya. Penerapan Norma dan Standard Hak Asasi Manusia Dalam perspektif hukum tata negara. norma yang terkandung dalam UUD merupakan sumber hukum (rechtsgulle) bagi aturan yang ada di bawahnya.

Oleh karena itu. evaluasi dan pelaporan. Pada kenyataannya. Pemerintah harus terus mengupayakan agar perlindungan terhadap setiap subyek hukum dapat dilakukan sebagaimana tercantum dalam RANHAM. 2007 . Paling tidak pemerintah mempunyai ikatan moral dan ikatan hukum untuk menerapkan kewajibankewajiban dalam Kovenan tersebut ke dalam hukum nasional. objektif dan dapat dipertanggung jawabkan. Ambon. 20 JURNAL HAM • Vol. berarti Pemerintah Republik Indonesia telah terikat secara hukum untuk menerima kewajiban membuat laporan penerapan norma dan standar Hak Asasi Manusia yang terkandung dalam instrumen hak asasi manusia internasional yang telah diratifikasi tersebut kepada badan PBB yang terkait. Menjadi kewajiban pemerintah atau negara hukum untuk mengatur pelaksanaan hak-hak asasi ini yang berarti menjamin pelaksanaannya. terkini. dan Maluku Utara). Pemantauan. Penandatanganan yang dilakukan Indonesia atas 2 (dua) Kovenan HAM Internasional (ICCPR dan ICESCR) untuk saat ini harus dinilai penting.(d) Pelaksanaan Focus Group Discussion di beberapa daerah pasca konflik (Kalimantan Barat. 6. kepentingan bangsa dan negara. (a) Pengumpulan data dan informasi yang akurat. (b) Pengorganisasian data dimaksud serta mekanisme pelaporannya. dengan tujuan terciptanya perdamaian yang abadi. terutama untuk menjamin terlaksananya program kegiatan RANHAM sesuai dengan yang telah direncanakan. Sulawesi Tengah. Untuk itu. penyusunan laporan perkembangan pelaksanaan HAM di Indonesia dihadapkan pada sejumlah tantangan yang cukup berat yaitu: PENUTUP Hak asasi manusia adalah hak dasar atau hak pokok yang dibawa manusia sejak lahir sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Hak asasi ini menjadi dasar hak dan kewajiban yang lain. mengatur pembatasan-pembatasannya demi kepentingan umum. Kalimantan Tengah. Evaluasi dan Pelaporan Pemantauan. NAD. 4 • Th. dipandang perlu untuk mengembangkan suatu mekanisme yang tepat untuk melakukan kegiatan pemantauan. Sebagai konsekuensi dari telah diratifikasinya instrumen hak asasi manusia internasional. upaya pembentukan dan penguatan kelembagaan RANHAM merupakan satu prasyarat utama yang harus dipenuhi demi menghasilkan laporan pelaksanaan dan perkembangan HAM di Indonesia. evaluasi dan pelaporan merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dari seluruh rangkaian kegiatan RANHAM.

2001. CESDA-LP3ES. Annual Human Rights Report 2000. Juwana. Konvensi Pekerja Migran: Perlukah Indonesia Meratifikasi?. Jurnal Legislasi Indonesia.). Makarim. and Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. Starke. Human Rights Manual. 11 Juli 2006. DPR-RI dan Yayasan Kesehatan Perempuan.al. Implikasi Pengaturan HAM Dalam UUD terhadap Ius Constituendum. Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak-hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. Jakarta. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Australia.DAFTAR PUSTAKA Bahan Rapat Kerja Komisi III DPR-RI Dengan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI Tanggal 12 Juni 2006. Anharudin. Sosial. Mahendra. Pengantar Hukum Internasional. Meneropong Hak Atas Pendidikan dan Layanan Kesehatan: Analisis Situasi di Tiga Kabupaten : Indramayu. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 40 tahun 2004 tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Indonesia Tahun 2004-2004. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik). Darmodihardjo. Forum Asia.H. Oka. Pokok-pokok Filsafat Hukum: Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Wibowo. 2005. Januari 2005. Hakekat. Bandung. J. Economic. 2000. Darji dan Shidarta. hal. Departemen Hukum dan HAM Republik Indonesia. Jakarta. Department of Foreign Affairs and Trade. PT Refika Aditama.. Harmonisasi dan Sinkronisasi Rancangan Undang-undang dalam Rangka Pemantapan dan Pembulatan Konsepsi. 2003. Wibisono. Social. (terj.A. et. Mardiniah. 3. Social and Cultural Rights Activism: A Training Resource. Harry. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan-International Covenant on Economic. Forum Asia. Seminar “Memperkuat Sinergi Antar Pemangku Kepentingan Perlindungan HAM Pekerja Migran Perempuan Indonesia”. Vol. Jakarta. hal. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Jakarta. Human Rights in Asia. Bambang Iriana Djajaatmaja. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Diterbitkan atas kerjasama Forum Parlemen Indonesia dan Kependudukan Pembangunan. 2007 21 . 2004. Konsep dan Implikasinya dalam Perspektif Hukum dan Masyarakat. Kumpulan Makalah dan Tanggapan Fraksifraksi DPR-RI Mengenai Perubahan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992. 11 Juli 2006. Sinar Grafika. Hikmahanto.. S. 123–134. Jakarta. 2 No.G. Circle of Rights. Naning. Seminar “Memperkuat Sinergi Antar Pemangku Kepentingan Perlindungan HAM Pekerja Migran Perempuan Indonesia”. Jakarta. 1998. JURNAL HAM • Vol. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Firdaus. 9-13. 2006. 2004. Sikka dan Jayapura. A. dan Budaya). 4 • Th. edisi kesepuluh. Hak Asasi Manusia. September 2005.

Sosial dan Budaya – selanjutnya dalam tulisan ini disingkat dengan Kovenan Hak Ekosob – dan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik. Dibagian ini akan dicakup rumpun obligasi pokok Negara dan secara khusus membahas obligasi negara berdasarkan Pasal 2 ayat (1) Kovenan Hak Ekosob. Di bagian pertama. pembahasan akan difokuskan pada obligasi Negara pasca ratifikasi Kovenan Ekosob. Tentu saja pengesahan tersebut. pada 28 Oktober 2005. violation of the obligation. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengesahkan UU No. Pembuka Babak baru itu. Indonesia are legally binding to implement all state parties obligation as contained in the Covenant. khususnya berkaitan dengan tema “realisasi bertahap” (“progresif realization”) dan “sumber daya” (“resources”). Selanjutnya. 4 • Th. Dibagian ini. explain definition and mean of State obligation.Bukan Sekedar Menandatangani: Obligasi Negara Berdasarkan Kovenan Hak Ekosob A. dilakukan dengan sadar. including its indicators. 2007 22 . Dalam sidang Paripurna. akan dipaparkan “kelirumologi” 3 sesat pendapat berkaitan dengan ketentuan dan implentasi Kovenan Hak Ekosob. Selanjutnya. This article describes and analyzes as well as shows example and practical illustration regarding State’s obligation. monitoring procedure and mechanism based on the Covenant. Social and Cultural Rights dan International Covenant on Civil and Political Rights. * Kedua penulis saat ini bekerja di Yayasan Lembaga Batuan Hukum Indonesia JURNAL HAM • Vol. Dalam tulisan ini. dibacakan hasil sidang untuk meratifikasi piagam hak asasi manusia: International Covenant on Economic. dimuat tema “pelanggaran hak ekosob”. bagian kedua. 11/2005. Ratifikasi terhadap the bill of human rights ini membangkitkan harapan baru bagi lahirnya tindakan yang lebih nyata bagi pemajuan penghormatan dan perlindungan hak asasi manusia di negeri ini. 11 dan No. Social and Cultural Rights by Law No. Patra M. Zen dan Andik Hardiyanto* Abstract After incorporation of International Covenant on Economic. It’s formulated into 4 section. terdapat obligasi (kewajiban) internasional yang melekat pada Negara pasca meratifikasi kedua kovenan tersebut. dibahas juga mekanisme pelaksanaan obligasi negara berdasarkan klausula Kovenan Hak Ekosob. yang dapat digunakan untuk menilai pelaksanaan obligasi Negara. akan dideskripsikan dan dianalisis obligasi (kewajiban) Negara berdasarkan ketentuanketentuan dalam Kovenan Ekosob. Bagian ketiga. termasuk indikator keberhasilan dan kekagalan. Artikel ini disusun kedalam 4 bagian. kemudian. ditandai dengan persetujuan bersama antara DPR dan Pemerintah pada 30 September 2005. 12 tentang Pengesahan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. and.

Obligasi Negara dalam Pasal 2 ayat (2) Kovenan adalah menjamin hak-hak dalam Kovenan Hak Ekosob dilaksanakan tanpa diskriminasi apa pun seperti ras.2. A. General Comment No. Semua pemenuhan hak ekosob mesti menunggu sumber daya yang berlimpah Komite Hak Ekosob pernah menyatakan dalam pemenuhan hak ekosob. bahasa. yakni: menghancurkan hak-hak dan kebebasan-kebebasan yang diakui dan melakukan pembatasan-pembatasan melebihi prinsip yang diperbolehkan Kovenan. obligasi dalam Pasal 5 Kovenan juga dapat dipenuhi oleh Negara secara seketika. Lihat juga secara khusus CESCR. 2007 23 . pemerintah memberikan perhatian dan mencarikan tempat untuk sampah. Sixteenth session (1997). General Comment No. dipaku untuk tonggak upaya mewujudkan keadilan sosial dan kebebasan masyarakat. sebaliknya apakah masyarakat miskin kota lebih hina dari sampah. Baru-baru ini Pemda DKI Jakarta dan Pemda Bandung sibuk mencari wilayah untuk tempat pembuatan akhir sampah-sampah penduduk kota. paras. agama. asal-usul kebangsaan atau status sosial.1. termasuk memastikan persamaan laki-laki dan perempuan menikmati semua hak-hak ekosob yang dijamin dalam Pasal 3 Kovenan. politik atau pendapat lainnya. 8 (a). kekayaan atau lainnya. Seluruh prinsip dan pemenuhan Hak Ekosob dipenuhi secara bertahap (progressive realization) Prinsip non-diskriminasi merupakan sebuah prinsip yang secara otomatis menjadi kewajiban negara dalam pemenuhannya. sehingga pemerintah daerah hanya main gusur. merupakan catatan penutup. 11 (1) of the Covenant): Forced Evictions. seluruh sumber daya yang ada harus 1 Lihat juga CESCR. Obligasi Negara dalam konteks ini adalah pernyataan “komitmen” dan “kemauan baik”. Selain obligasi dalam Pasal 2 ayat (2) tersebut. jenis kelamin. warna kulit. Tidak dikenal implementasi prinsip non-diskriminasi secara bertahap. 4 • Th. 13 and 18. A. Sixth session (1991). paling tidak ada 3 kesalahan dan sesat pandang yang berkaitan dengan implementasi hak ekosob. tanpa mencarikan solusi agar mereka mendapatkan tempat untuk bernaung? A. Keliru Pandang Ketentuan dalam Kovenan Hak-Ekosob Meminjam istilah “kelirumologi”-nya Djaya Suprana. 4: The right to adequate housing (art. JURNAL HAM • Vol.3. Artinya. Negara dalam hal ini dapat mengimplementasikan obligasinya dengan seketika.Di bagian akhir. Semua pemenuhan hak ekosob membutuhkan biaya Ilustrasi ini dapat dijadikan contoh: jika pemerintah daerah (Pemda) belum mampu untuk memberikan fasilitas perumahan yang layak dalam bentuk apapun. yang tidak mengenal “setengah komitmen” atau “komitmen setengah-setengah” melainkan “komitmen penuh” untuk menjamin prinsip non-diskriminasi. A. 7: The right to adequate housing (art. 11(1) of the Covenant). Karenanya. pemenuhannya dilakukan secara seketika. memuat harapan: peristiwa peratifikasian Kovenan Hak Ekosob. sebagaimana menjadi obligasi Negara berdasarkan Pasal 11 Kovenan maka Pemda jangan melakukan penggusuran!1 Tidak melakukan penggusuran paksa merupakan sebuah praktik yang tidak membutuhkan dana.

02% Berkurang menyelesaikan 75% sekolah (drop-out) Sekolah Dasar Sumber: Diolah dari Yayasan TIFA.008 205. 2005: 5. Juga perwujudan obligasi yang ditentukan oleh Pasal 13 Kovenan. langsung dan tidak langsung: menghantarkan I Gde Winarsa mencapai rekor MURI baru: memperoleh prosentase suara terbanyak dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) pada 12 Oktober 2005. seperti mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). tetapi mampu menjalankan core-obligation dalam pemenuhan hak-hak ekosob. 2004: 218.688.000 Tabel 2 Contoh Indikator Pemenuhan Hak-hak Ekosob di Kabupaten Jembrana Indikator Keluarga Miskin Tahun Perubahan 2001 2002 19.419 171.4% 10.548 11.540.224. mencapai 88.286 5. Fact Sheet No. suka atau tidak.703. paling baik untuk mencontoh apa yang dilakukan I Gde Winarsa. yakni: (1) menjadi pelopor perwujudan program pendidikan dasar yang diwajibkan dan cuma-cuma (compulsory and free of charge). Sumber: Dharma Santika Putra dan Nanoq da Kansas.digunakan dengan cara yang paling efektif (all existing resources must be devoted in the most effective way).634 9. (3) untuk mendukung hak atas pekerjaan.2 Dalam konteks ini.246. 1).500. 4 • Th. Tabel 1 Jumlah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah serta Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Jembrana (2000 – 2004) Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 APBD PAD (dalam Rupiah) 66. (2) memenuhi hak kesehatan masyarakat: menyediakan dan memfasilitasi pelayanan kesehatan gratis melalui program. Bupati I Gde Winarsa.691 2.395 11.609 193. pada dasarnya telah memenuhi obligasi yang dinyatakan dalam Pasal 10 Kovenan – memberikan perlindungan dan fasilitas bantuan pada keluarga.956. The Com- mittee on Economic.9% Berkurang 44% Kematian Bayi 15.000.911.147. Selain itu. utamanya hak atas pendidikan dan kesehatan.785..401. Implementasi obligasi pemerintah dalam memenuhi hak ekosob. juga membebaskan pajak bumi dan bangunan (PBB) bagi lahan sawah. Dengan jumlah APBD dan PAD tersebut. 16 (Rev.08% 0. 2007 2 Lihat OHCHR. tercatat sebagai pimpinan daerah yang mendapat pengakuan rekognisi publik.551. Bupati Jembrana: sebuah kabaputen yang “tidak gemuk” PADnya (lihat tabel 1).000 lahir 45% hidup) Tingkat kegagalan 0.526.055. sebagaimana contoh-contoh tersebut.599.287.56 JURNAL HAM • Vol. Social and Cultural Rights. 24 . Jaminan Kesehatan Jembrana (JKJ).749 131. (3) dalam skala tertentu berupaya menyediakan air bersih. di kabupaten ini.157. utamanya hak anak-anak untuk mendapatkan akses pendidikan dasar: menurunkan angka drop-out pelajar (lihat Tabel 2). I Gde Winarsa.562. dengan menjalankan proyek pengolahan air mineral dari air laut.39 Berkurang (per 1.25 8.555.

yang pada prinsipnya memperbolehkan komersialisasi air untuk keuntungan orang seorang dan badan usaha privat. jika terdapat perbedaan penafsiran terhadap terjemahannya dalam bahasa Indonesia.Twenty-ninth session (2002). 23-25 Februari 2006. of the Covenant). right to water” sebagaimana dijabarkan dalam Komentar Umum (General Comment) Komite Ekosob No. JURNAL HAM • Vol.3 B. 7/2004 tentang Sumber Daya Air. Obligasi Negara Berdasarkan Ketentuan Kovenan Hak Ekosob Dengan pengikatan Indonesia sebagai Negara Pihak Kovenan Hak Ekosob. sebagai Bupati Banyuwangi. maka DPR dan Pemerintah. 25 . para. 10. 11/ 2005. Zen. disiplin hukum internasional hak asasi manusia mengenalkan “minimum core obligation” atau obligasi pokok yang paling minimum yang harus dipatuhi dan diimplementasikan Negara. Bandar Lampung. mesti merujuk pada pengertian – “the 3 Tentang hal tersebut. termasuk DPR dan Pemerintah. 2. yang bisa dicapai manusia. MURI mencatat rekor: I Gde Winarsa dan Ratna Ani Lestari sebagai pasangan suami-isteri (Pasutri) pertama yang menjadi Kepala Daerah. para. 5 Lihat UN doc. lihat antara lain A.persen dari total suara yang sah. lagi-lagi langsung dan tidak langsung menghantarkan Ratna Ani Lestari.5 Karenanya. CESCR. Disinilah kerangka kerja Negara mesti disusun agar meningkatkan penikmatan hak-hak ekosob semua orang. Patra M. 3: The Nature of State parties’ obligations (art. 15 yang menjelaskan Pasal 11 dan 12 Kovenan. seperti penjelasan yang diadopsi Komite Hak-hak Ekonomi Sosial dan Budaya (Komite Hak Ekosob) yang dibentuk berdasarkan ketentuan Kovenan. akan dieksaminasi dan diperiksa apakah negara yang bersangkutan telah melakukan segala upaya menggunakan segala sumber daya untuk melakukan obligasi pokoknya dalam pemenuhan hak ekosob. Selanjutnya. 11 and 12 of the Covenant). CESCR. UU No. naskah yang berlaku adalah naskah asli dalam bahasa Inggris serta pernyataan (declaration) terhadap Pasal 1 Kovenan Hak Ekosob. Hal tersebut penting kembali diingatkan. maka penafsiran tentang isi kovenan ini tidak dapat “secara sewenang-wenang” diklaim oleh lembaga-lembaga Negara. yang mengizinkan hak guna pakai dan hak guna usaha atas air. Kovenan Hak Ekosob disusun. paper pada Pendidikan Kritis untuk Aktivis Partai Politik (Penegakan Demokrasi dan Pemenuhan Hak Ekosob). Sebagai contoh berkaitan dengan “hak atas air” sebagai “hak asasi manusia”– sebagai elemen hak yang utama dalam Pasal 11 dan 12 Kovenan. 15: The right to water (arts.4 DPR dan Pemerintah tidak dapat semena-mena menafsirkan hak atas air sebagai “water rights” a la Bank Dunia (World Bank) atau penafsiran yang dianut UU No. Untuk tujuan tersebut. Jika didalami. tidak lain dan tidak bukan untuk perlindungan dan pemenuhan hak. bukan sebaliknya malah Negara berkontribusi terhadap penurunan (degradasi) penikmatan hak ekosob warga-negaranya. 4 • Th. “Cara Mudah Menjadi Kepala Daerah: Dari Komitmen Pemenuhan Hak Ekosob Rakyat”. General Comment No. namun mesti merujuk pada naskah asli dan sumber-sumber yang diakui. 2007 4 Lihat UN doc. Fifth Session (1990). agar setiap orang dan kelompok masyarakat dapat menikmati semua katalog hak ekosob. apakah terjadi pelanggaran obligasi Negara atau tidak. 1. maka penafsiran pasal-pasal dalam Kovenan. Dalam konteks ini. General Comment No. kerjasama LBH Bandar Lampung dan FES Jakarta. setinggi-tingginya dan semaksimal mungkin. Penjelasan Pasal 1 ayat (2) dinyatakan.

para. 36-47. 11. 4 • Th. 19. Patra M. Lima Layer Obligasi Pokok: Rumpun Obligasi yang Saling Berkait Atas jasa International Law Commission. dinyatakan: “Article 14 …requires each State party which has not been able to secure compulsory primary education.cit.Contoh dalam pemenuhan hak atas pendidikan dasar yang diwajibkan dan cuma-cuma sebagaimana dijamin dalam Pasal 14 Kovenan. Dalam Komentar Umum Komite Ekosob No. Negara berkewajiban untuk menerima “the essential importance of international cooperation based on free consent”. to work out and adopt a detailed plan of action for the progressive implementation. seperti jika terjadi pelanggaran atau kejahatan hak-hak sipil politik. a. 7. General Comment No. Sebagai contoh. 1 Oktober 2003. Ge- dan menyediakan (to provide) – penikmatan hak-hak ekosob. JURNAL HAM • Vol.6 Ironis. Lihat juga A. neral comment No. semua upaya dan segala tindakan untuk menerima (to mempromosikan (to promote). maka semestinya Negara mengakui semua mekanisme dan konsekwensi yang mesti ditanggung para pelaku pelanggaran hak ekosob. pejabat yang berkompeten dalam hal ini.9 Obligasi Negara dalam hal mengakui prinsip-prinsip pemenuhan hak ekosob. pp. General Comment No. 3. “Justisiabilitas Hak-hak Ekonomi.. 14). to undertake. merupakan obligasi atau kewajiban Negara untuk melakukan sesuatu. 10-11. para. CESCR. of the principle of compulsory primary education free of charge for all”. 7 Ibid. Zen.7 B.” dalam Jurnal HAM (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia). termasuk aparat penegak hukum dan birokrasi mesti melakukan promosi hak-hak ekosob. melindungi (to protect) dan memenuhi (to fulfill) – memfasilitasi (to facilitate) 6 Periksa juga CESCR. Twentieth session (1999). disiplin hukum hak asasi manusia mengenal 2 bentuk obligasi Negara yang pokok berdasarkan Kovenan Hak Ekosob: obligations of conduct dan obligation of result. Sixth session (1991). Mempraktikannya di Indonesia. Sosial dan Budaya: Menarik Pengalaman Internasional. CESCR.8 Obligation of conduct. 2007 26 . 11: Plans of action for primary education (art.1. Sehingga. menghormati (to respect). Vol. Misalnya: jika banyak keluarga miskin yang tidak dapat memperoleh akses terhadap pelayanan kesehatan. 1.. 8 Lihat UN doc. Mempromosikan (to promote) Aparat Negara. Op. 9.. sebaliknya para anggota DPR dan DPRD malah menikmati studi banding yang menghabiskan bukan saja ratusan juga bahkan miliar rupiah setiap periode 5 tahun keanggotaan sebagai “wakil rakyat”. 11 (1) of the Covenant). to be fixed in the plan. within a reasonable number of years. maka.. paras. 1. 10 UN doc. tidak dapat memasukan anak-anaknya ke sekolah karena mahalnya biaya pendidikan. Promosi bukan saja dilakukan melalui penyebaran iklan layanan masyarakat 9 Ibid. 1 No. mesti mempertanggunjawabkannya dalam sistem hukum di Indonesia (justiciable). para. 4: The right to adequate housing (art.10 b. free of charge. Mengakui (to recognize) Klasifikasi obligasi Negara dalam mengakui bahwa hak ekosob merupakan hak asasi manusia. juga secara tegas dinyatakan dalam hal upaya-upaya bantuan teknis internasional. within two years. anak-anak dari keluarga miskin tidak dapat menikmati pendidikan dasar.

4 • Th. 26 September 2002. Kompas. “Perpres tentang Pengadaan Tanah.cit. mempunyai makna. Menghormati (to respect) juan sukarela calon mempelai untuk melangsungkan perkawinan (Pasal 10 ayat (1) Kovenan). Essex University. Negara wajib menghormati persetu11 Bahasan yang rinci tentang prinsip full and mean- Op. Pembatasan hanya dapat dilakukan dengan maksud agar terpenuhinya hak-hak itu sendiri.14 Dalam Perpres ini seharusnya dimuat jaminan reparasi (rehabilitasi. Revisi Perpres Tanah.M in International Human Rights Law. telah menjadi perhatian yang pokok oleh Komite Hak Ekosob. h. Dissertation for LL. restitusi dan kompensasi) bagi si pemilik tanah. Walhi. Third session (1989). para. 6 Juni 2006. maupun campur tangan langsung hak seseorang atau kelompok untuk membentuk serikat buruh/pekerja atas pilihannya sendiri atau melakukan pemogokan (Pasal 8 Kovenan) d. 9 Mei 2005 tentang Penetapan Peraturan Presiden No. “Selesai. Melindungi (to protect) Salah satu contoh yang paling prudent obligasi Negara untuk melindungi hak ekosob. 10 Mei 2005. Pemerintah Dinilai Lebih Represif”. Dalam klasifikasi ini. paper diskusi pada “Development and Human Rights”. 1: Reporting by States parties. “Pemerintahan SBY-Kalla Menunjukkan Watak Aslinya: Mendahulukan Kepentingan Pemilik Modal Daripada Kepentingan Masyarakat”. 4.13 keamanan hukum kepemilikan atas tanah. Program-program promosi atau seringkali disebut dengan sosialisasi mutlak wajib dilakukan. Patra M. 7 Juni 2006. pelaksanaan. 10 Mei 2005. Sejumlah Kalangan Nilai yang Direvisi Tak Signifikan”. Lihat juga Kompas. 8(a). termasuk dalam hal Pelaporan yang dilakukan Negara Pihak. University of Essex (2002). “A critical contextual human rights analysis of Kedung Ombo Large Dam Project in Indonesia”. Contoh lain. Suara Pembaruan.12 c. JURNAL HAM • Vol. pada dasarnya bertentangan dengan obligasi Negara untuk melindungi hak atas tanah: karena tidak diatur dengan jelas mekanisme perlindungan bagi seseorang atau kelompok masyarakat yang tanahnya diambilalih. 27 . 2007 LBH Indonesia. Hal ini agar dimungkinkan adanya partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan. 35/2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Untuk Kepentingan Umum. General Comment No.tetapi juga melalui pelibatan masyarakat sipil secara aktif. 14 Lihat antara lain Siaran Pers Bersama Yayasan ingful participation dalam proses pembangunan. 13 Lihat UN doc. “YLBHI Minta Revisi Perpres Diwaspadai”. yakni memastikan adanya “legal security of tenure”. CESCR.. antara lain lihat A. 36/2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Partisipasi masyarakat semacam ini (full and meaningful participation). peraturan atau kebijakan “pembangunan” secara luas agar dapat diketahui dan dipahami oleh publik. 9. CESCR. KSPA dan ELSAM. lihat juga “What does the rights to participate mean”. Negara tidak diperkenankan untuk melakukan intervensi baik melalui peraturan perundangan atau kebijakan. Obligasi penghormatan yang mesti dilakukan Negara. antara lain. para. negara tidak melakukan tindakan yang justru membatasi sebagian atau seluruhnya hak-hak ekosob masyarakat. Tidak Dipublikasikan. “Lebih Represif.11 Pentingnya Negara dalam menjalankan obligasi promosi. Keluarnya Peraturan Presiden (Perpres) No. Perpres Nomor 36/2005 Harus Dibatalkan”. General Comment No. 2628. Zen. pengawasan dan distribusi manfaat atau hasil-hasil yang ingin dicapai oleh program pemenuhan hak ekosob. Kompas. dimungkinkan jika Negara mensosialisasikan rencana. 12 Lihat UN doc.

sandang dan perumahan. program-program pelatihan. Perlindungan. kesempatan memperoleh promosi ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan kerjasama internasional.Contoh lain adalah memberikan perlindungan dalam bentuk peraturan perundang-undangan agar setiap orang dapat menikmati kondisi kerja yang adil dan menguntungkan. Sementara Pasal 10 ayat (3) Kovenan. Menyediakan dan memfasilitasi (akses) atas standar kesehatan fisik dan mental setinggi-tingginya yang dapat dicapai (Pasal 12 Kovenan). termasuk memenuhi hak setiap orang menikmati pendidikan dasar yang wajib dan cuma-cuma (compulsory and free of charge) (Pasal 13 dan 14 Kovenan). 4 • Th. Perwujudan obligasi Negara untuk pemenuhan hak ekosob. Negara menyediakan dan memfasilitasi (akses) atas pangan. 28 JURNAL HAM • Vol. dan perbaikan kondisi hidup semua orang secara terus menerus (Pasal 11 Kovenan). dan seterusnya pungutan yang membebani siswa dan orang tua murid. Menyediakan dan memfasilitasi jaminan sosial termasuk asuransi sosial bagi setiap warga negara (Pasal 9 Kovenan). Memenuhi: memfasilitasi dan menyediakan (to fulfill: to facilitate and to provide) Obligasi untuk memenuhi hak asasi manusia secara inheren mempunyai makna Negara melakukan upaya untuk memfasilitasi dan menyediakan hak-hak ekosob setiap warga negaranya. Selanjutnya. liburan dan pembatasan kerja yang wajar dan hak-hak yang melekat didalamnya (Pasal 7 Kovenan). Menyediakan bantuan kepada keluarga untuk merawat dan mendidik anak-anak yang masih dalam tanggungannya (Pasal 10 Kovenan). “cuma” bayar buku. karenanya berhak mendapat cuti dengan upah/gaji dan jaminan sosial yang memadai. juga dilakukan seperti memastikan setiap orang bebas dari kelaparan (Pasal 11 ayat (2) Kovenan) dan bebas untuk berpartisipasi dalam kehidupan budaya (Pasal 15 ayat (1) Kovenan). meminta Negara untuk melakukan perlindungan bagi anak-anak dan remaja dari semua bentuk eksploitasi ekonomi dan sosial. Menyediakan dan memfasilitasi (akses) semua orang untuk menikmati manfaat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan penerapannya (Pasal 15 ayat (1) Kovenan). dan kegiatan ekonomi produktif (Pasal 6 Kovenan). sebagaimana dimuat dalam Kovenan sebagai berikut: Menyediakan lapangan kerja dan memfasilitasi bimbingan teknis. sebagai obligasi Negara. Negara berdasarkan Pasal 10 ayat (2) Kovenan wajib memberikan perlindungan khusus kepada para ibu selama jangka waktu yang wajar sebelum dan sesudah melahirkan. kondisi kerja yang aman dan sehat. yang dapat menghidupi keluarganya secara layak. serta menikmati istirahat. “cuma” bayar SPP. e. termasuk memastikan pekerja/buruh memperoleh upah yang adil. Menyediakan dan memfasilitasi (akses) atas pendidikan. 2007 . Tidak seperti sekarang.

General Comment No.B. 2007 29 .. Pasal 2 tersebut mengandung kepentingan khusus untuk mencapai pemahaman seutuhnya atas Kovenan dan harus dilihat dalam hubungannya yang dinamis dengan semua ketentuan Kovenan lainnya. susnya dengan mengadopsi langkah-langkah legislatif (by all appropriate means including particularly adoption of legislative measures)’ adalah bersifat unik dan tidak terdapat. para.. 3. termasuk pada khu15 UN doc. 1.. JURNAL HAM • Vol. pencapaian secara bertahap demi realisasi sepenuhnya (achieving progressively the full realization). berupaya mengambil langkahlangkah” sebagaimana tersebut dalam Pasal 2 (1) Kovenan Hak Ekosob. para. konkrit dan diarahkan kepada sasaran-sasaran yang dirumuskan sejelas mungkin dalam rangka memenuhi kewajiban-kewajiban Kovenan. Istilah-istilah seperti: berupaya mengambil langkah-langkah (undertakes to take steps). Pasal 2 ini menjelaskan sifat dari kewajiban yang umum ditempuh oleh Negara Peserta Kovenan. memang biasanya ditafsirkan dengan kandungan arti implementasi Kovenan secara bertahap. laporan Negara Peserta harus menyebutkan tidak hanya langkah-langkah yang telah ditempuh namun juga alasan mengapa langkah-langkah tersebut dianggap sebagai paling tepat berikut situasisituasinya. 4. Komite Hak Ekosob melalui Komentar No. namun langkahlangkah kearah itu harus diambil dalam waktu yang tidak lama setelah Kovenan berlaku bagi Negara Peserta bersangkutan. dan dengan semua cara yang tepat.17 Interpretasi Komite terhadap istilah ‘all appropriate measures’ jelas berkaitan baik dengan kewajiban melakukan 16 Ibid. 2. termasuk pada khususnya dengan mengadopsi langkah-langkah legislatif”. Menurut Komite Hak Ekonomi. 4 • Th. khususnya dalam bidang ekonomi dan teknis. yang mengarah pada pencapaian secara bertahap demi realisasi sepenuhnya dari hak-hak yang diakui dalam Kovenan ini dengan semua cara yang tepat.cit. para. sejauh dimungkinkan oleh sumberdaya yang tersedia. Sosial dan Budaya (Komite Hak Ekosob). CESCR.’ Komite Hak Ekosob mengakui bahwa negaralah yang harus memutuskan langkah-langkah yang tepat dan hal tersebut bergantung pada hak yang hendak diimplementasikan. 17 Ibid.”16 Langkah-langkah tersebut haruslah dilakukan secara terencana. Selanjutnya Komite menegaskan bahwa. Op. Namun demikian. nampak penting di sini untuk memahami arti dari istilah-istilah yang digunakan dalam Pasal 2 Kovenan untuk memahami bagaimana implementasi kewajiban Negara seharusnya dijalankan. Mengenal Lebih Dekat: Obligasi Negara Menurut Pasal 2 ayat (1) Kovenan Hak Ekosob Pasal 2 ayat (1) Kovenan Hak Ekosob menyatakan: “Setiap Negara Peserta Kovenan ini berupaya untuk mengambil langkahlangkah. Penggunaan istilah “Setiap Negara Peserta. “…walaupun realisasi sepenuhnya atas hak-hak yang relevan bisa dicapai secara bertahap. secara sendiri maupun melalui bantuan dan kerjasama internasional. sejauh dimungkinkan oleh sumberdaya yang tersedia (to the maximum available resources).. atau tidak digunakan dalam obligasi yang dimuat dalam Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik (Kovenan Hak Sipol). 3 telah menjelaskan bahwa..15 Selain itu.2.

jika laporan difokuskan secara sempit pada aspek-aspek legal semata. para. jika terdapat penduduk secara massal. maka harus dijalankan dengan pertimbangan yang sangat hati-hati.18 Lebih jauh Komite menjelaskan bahwa sekalipun didapati kenyataan tidak cukupnya sumberdaya yang ada. kewajiban Negara tetap dijalankan untuk menjamin pemenuhan hak yang seluas-luasnya dalam kondisi yang sangat terbatas itu. tetapi mereka tidak dapat dibuat menunggu pemenuhan hak-hak asasinya sampai klaim “pertumbuhan ekonomi” memungkinkan hal itu. Kini ratifikasi Kovenan Hak Ekosob memberi pemahaman mendasar bahwa peningkatan ekonomi haruslah secara nyata didasarkan pada penghormatan dan realisasi hak asasi manusia. 30 JURNAL HAM • Vol. tetapi tidak menganggap bahwa ketersediaan sumberdaya sebagai alasan untuk lepaskan kewajibannya. Pada titik ini. maka Negara harus membuktikan bahwa kegagalannya memenuhi hak-hak orangorang ini memang diluar kendali. 4 • Th. Jika hal itu pun terpaksa dilakukan dan terjadi. tidak memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan. dalam kasus dimana sejumlah cukup signifikan rakyat hidup dalam kemiskinan dan kelaparan. atau tidak menikmati pendidikan dasar. anggota masyarakat yang rentan dapat dan memang harus mendapatkan perlindungan dengan diadopsinya programprogram yang dirancang relatif murah.(obligations of conduct) maupun kewajiban hasil (obligation of result). Dalam kenyataan. Komite melihat bahwa setiap Negara Peserta mempunyai kewajiban minimum untuk memenuhi tingkat pemenuhan yang minimum dari setiap hak yang terdapat dalam Kovenan. Disinilah konteks gagasan kewajiban minimum (minimum core obligation) yang dikembangkan oleh Komite. maka kecurigaan biasanya akan muncul berkenaan dengan adanya kesenjangan antara peraturan perundang-undangan dengan praktik. Komite menyatakan bahwa. 10. Suatu kebijakan ekonomi atau pembangunan memang untuk mencapai kesejahteraan warganegaranya. juga menegaskan tentang perlunya kerjasama dan bantuan internasional berkait dengan upaya realisasi hak. Pada kenyataannya 18 Ibid. pembelajaran dan ekspresi dari banyak Negara Peserta dalam mengimplementasikan kewajibannya telah mendorong pentingnya aplikasi pendekatan berbasis hak dalam “pembangunan”. Sementara itu berkait istilah ‘mengadopsi langkah-langkah legislatif’’(adoption of legislative measures) Komite memberi peringatan bahwa keberadaan hukum jelas penting tetapi hal tersebut belumlah cukup membuktikan Negara Peserta telah menjalankan kewajibannya sesuai Kovenan. pada saat terjadi keterbatasan sumberdaya yang akut. Komentar Umum No. Komite sekali lagi memberi peringatan bahwa klausul realisasi secara progresif sepatutnya juga dicerminkan pada pelaksanaan kewajiban yang menjamin agar tidak terjadi perkembangan regresif atau kemunduran. 3 memberi ilustrasi yang sangat jelas untuk hal ini. Pasal 2 ayat (1) Kovenan. menderita kelaparan. tak mempunyai tempat bernaung dan perumahan. Dalam kasus semacam ini.. Sebagai contoh. 2007 . Bahkan. maka dapat dinyatakan Negara gagal menjalankan obligasinya berdasarkan Kovenan. Komite mengakui pentingnya sumberdaya bagi pemenuhan hak-hak ini. dibutuhkan justifikasi penuh dengan mengacu pada inti hak yang ditentukan dalam Kovenan dan dalam konteks pemanfaatan sejauh mungkin atas sumberdaya yang ada. Berdasarkan pengalaman Komite ketika membahas laporan Kanada menyatakan.

GAPRI. terjebak pada hutang luar negeri yang sangat besar. Problemnya. Jakarta. Dalam perkembangannya. pada banyak Negara. 2007 31 .20 Tetapi yang penting dipahami di sini adalah bahwa kegagalan Negara Peserta untuk memenuhi kewajiban yang terkandung dalam Kovenan jelas merupakan pelanggaran terhadap Kovenan. Dibutuhkan keterlibatan pihak ketiga. atau tiada akses terhadap pendidikan dasar merupakan petunjuk awal bagi kegagalan Negara untuk memenuhi kewajiban sebagaimana diatur Kovenan. Kesulitan utama dari persoalan ini adalah operasional dari lembaga atau badan pembangunan multilateral dan keuangan internasional itu lepas dari kerangka kerja hak asasi manusia. yang biasanya menunjuk pada keterlibatan lembaga atau badan pembangunan multilateral dan keuangan internasional. tiada akses terhadap pemukiman dan perumahan yang layak.memang Negara Peserta mengalami kesulitan dalam melaksanakan kewajiban untuk melindungi dan memenuhi hak secara penuh.. et. Pelanggaran Hak Ekosob: Indikator Keberhasilan dan Kegagalan Obligasi Negara Komite menegaskan bahwa Negara Peserta yang penduduknya dalam jumlah yang signifikan mengalami kekurangan bahan pangan. Tetapi terpisahnya logika globalisasi ekonomi dengan kerangka kerja hak asasi manusia menjadikan harapan akan membaiknya situasi derita dunia menjadi pupus kembali. untuk mendukung bantuan teknis dan pinjaman dana. Konsep kewajiban minimum diajukan oleh Komite untuk menyangkal alasan tidak adanya sumberdaya sebagai faktor yang mencegah pemenuhan kewajiban.1. 4 • Th.19 C. penguatan konsep pelanggaran Hak Ekosob terus dilakukan oleh banyak ahli hukum hak asasi manusia internasional yang kemudian dituangkan dan dikenal sebagai Prinsip-Prinsip Limburg (the Limburg Principles). Prinsip-prinsip ini memberikan kerangka dasar bagi pengembangan lebih lanjut atas berbagai asumsi dan konsep pelanggaran Hak Ekosob. JURNAL HAM • Vol. Pemahaman ini didasarkan pada keberadaan gagasan kewajiban minimum (minimum core obligation) yang dikembangkan oleh Komite. Pada suatu titik momentum ketika kelaparan dan kemiskinan menjadi musuh nomor satu dari semua Negara di dunia ini. 19 Andik Hardiyanto. 2005. dan sementara itu sebagian besar penduduknya tetap dan jatuh miskin.. Pelanggaran Hak dalam Kovenan Hak Ekosob dan Monitoring Obligasi Negara C. bahwa pada akhirnya mereka menjadi sangat tergantung pada aliran dana luar negeri. Kegagalan untuk memenuhi kewajiban minimum dapat disebut sebagai pelanggaran terhadap hak yang termuat dalam Kovenan Hak Ekosob. Empat Pilar Demokrati- sasi Melawan Kemiskinan dan Pemiskinan. Komite menegaskan bahwa Negara mempunyai kewajiban minimum guna memenuhi realisasi setiap hak yang terdapat dalam Kovenan pada tingkat yang minimum. kekurangan pelayanan kesehatan dasar. kerjasama pembangunan internasional ditandai oleh berbagai perubahan cara pandang dan kebijakan yang merujuk pada pemahaman bahwa realisasi hak asasi manusia merupakan kunci untuk lepas dari situasi ini. dan Negara pengutang tidak berdaya karena situasi ketergantungan dan keterjebakan hutang yang dialaminya.al.

perlu dibuat blue-print untuk masing-masing pemenuhan hak ekosob. karena pengembangan konsep pelanggaran hak banyak difokuskan pada pemenuhan kewajiban.Pelanggaran terhadap Kovenan tersebut. Belanda pada Juni 1986. (v) sengaja menghambat atau menghalangi realisasi bertahap atas hak-hak yang diakui dalam Kovenan. May 1987. 32 . E/CN. Social and Cultural Rights. dapat menggunakan kebijakan dan standard yang sudah ada.4/1987/17. dalam situasi dan kondisi dimana Negara Peserta: (i) gagal mengambil langkah-langkah seperti yang disyaratkan dalam Kovenan. pendidikan dasar (Pasal 13 angka (2) huruf (a) Kovenan). (vi) gagal menyampaikan laporan sebagai ditentukan dalam Kovenan. dapat dimaknai. upah yang adil dan setara. dan budaya merupakan wilayah eksekutif dengan berbagai kebijakan dan programnya. (ii) gagal menyingkirkan segera atas berbagai hambatan yang menghalangi realisasi hak secara penuh.3 telah mengidentifikasi beberapa ketentuan Kovenan yang bisa ditangani segera oleh pihak yudikatif. (iv) menerapkan pembatasan atas hak yang diakui dalam Kovenan dengan alasan-alasan yang tidak sesuai seperti yang disyaratkan Kovenan. hak untuk membentuk serikat buruh dan hak mogok (Pasal 8 Kovenan). Human Rights Quarterly. 4 • Th. upah yang sama bagi pekerjaan yang sama antara laki-laki dan perempuan (Pasal 7 huruf (a) angka (i) Kovenan). Untuk mengukur apakah Negara berhasil atau sebaliknya gagal dalam menjalankan obligasinya. Dapat juga ditemukan pada UN doc. Vol. maka pemahaman akan penegakan realisasi hak ekonomi. annex. 122. hak untuk mendirikan dan mengarahkan sekolah (Pasal 13 ayat (4) Kovenan). seperti: non-diskriminasi dalam realisasi hak (Pasal 3 Kovenan). sosial. No. Komite jelas menolak pemahaman ini. Sementara itu. kebebasan melakukan penelitian ilmu pengetahuan serta kegiatan kreatif (Pasal 15 ayat (3) Kovenan). p. menurut Komite. di sisi lain. 9. seperti termuat dalam Kovenan Hak Ekosob. perlindungan anak dari eksploitasi ekonomi dan sosial (Pasal 10 ayat (3) Kovenan). penegakan hak-hak yang terkandung dalam Kovenan Hak Ekosob ini bisa ditangani oleh pihak yudikatif. atau lebih dikenal dengan Limburg Principles. Jika belum maka. Komite Hak Ekosob melalui Ko20 The Limburg Principles on the Implementation of mentar Umum No. yang dimuat dalam katalog hak Kovenan – utamanya dalam Bab III (Pasal 6 sampai dengan 15 Kovenan) Sebagai contoh. dalam rangka pemeJURNAL HAM • Vol. 2. Komite menyatakan bahwa hak ekosob juga menjadi urusan pengadilan. dihasilkan dalam sebuah pertemuan pakar hukum internasional di Maastricht. 2007 the International Covenant on Economic. Dengan begitu. hak orang tua untuk memilihkan sekolah bagi anak-anaknya guna menjamin pendidikan agama serta moral yang sesuai dengan keyakinan mereka (Pasal 13 ayat (3) Kovenan). (iii) gagal untuk mengimplementasikan hak yang perlu segera direalisasikan.

termasuk ketercukupan pangan. utamanya hak-hak ekosob. SPNK juga memuat rekomendasi caracara penghapusan kemiskinan dan pencapaian tujuan Millenium Development Goals (MDGs) dengan mekanisme implementasi yang diadopsi oleh Kovenan Hak Ekosob. dibandingkan “Komite Hak Asasi Manusia”. melakukan pemantauan terhadap implementasi obligasi Negara Pihak dalam mempromosikan. Mekanisme monitoring implementasi ketentuan dalam Kovenan Hak Ekosob. Menjadi menarik di sini. melindungi dan memenuhi (memfasilitasi dan menyediakan) hak-hak ekosob masyarakat. Selain itu. Oktober 2005. Memeriksa. peristiwa kemiskinan adalah masalah hak asasi manusia.nuhan hak setiap orang untuk menikmati standard hidup yang layak bagi dirinya dan keluarganya. kualitas kehidupan seseorang sangat bergantung pada realisasi hak-hak asasinya. Stra- dokumen SPNK mesti diletakan pada dokumen yang semestinya membawa implikasi bukan saja ekonomi. pelaksanaan dan evaluasi semestinya dapat dimintai pertanggunjawaban secara politik dan hukum. dan termasuk pula sebagai rujukan penyusunan Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD) dan RPJM Daerah JURNAL HAM • Vol. dokumen SNPK ini. dalam Human Development Index (HDI) naik dan terjadi peningkatan indikatorindikator kesejahteraan. tapi juga politik dan hukum. dokmen ini disusun dengan perspektif. Karenanya. Dokumen kebijakan ini menggunakan pendekatan berbasis hak untuk memahami kemiskinan dan mengembangkan upaya-upaya penanggulangannya. tegi Nasional Penanggulangan Kemiskinan.21 SPNK dapat dikatakan berhasil antara lain jika peringkat Indonesia. menghormati. di satu sisi. dapat dikatakan. yang memandang problem kemiskinan berkait langsung dengan tidak terpenuhinya hak-hak dasar. atau disebut dengan mekanisme berdasarkan perjanjian (treatybased mechanism). fungsi utama Komite Ekosob. Walaupun “terlambat” lahir. menggantikan sebuah Kelompok Kerja (Working Group) yang dibentuk Dewan Ekonomi dan Sosial – Economic and Social Council (ECOSOC). dan di sisi lain adalah menjadi kewajiban Negara untuk melaksanakan realisasi hak-hak asasi itu sepenuhnya. karena dokumen ini kemudian dijadikan rujukan bagi penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009. Dalam dokumen ini juga ditegaskan. serta peningkatan kondisi kehidupan secara terusmenerus. pemerintah misalnya telah merumuskan kebijakan Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SPNK).2. pakaian dan perumahan yang layak. kebijakan ini merupakan bentuk pengakuan. dilakukan antara lain melalui pengawasan yang dilakukan Komite Hak Ekosob yang dibentuk berdasarkan Kovenan. Mekanisme Monitoring Pelaksanaan Obligasi Negara Selain memberikan penafsiran dan elaborasi terhadap pasal-pasal dalam Kovenan. Komite ini terdiri dari 18 pakar independen yang bekerja untuk memeriksa (mengeksaminasi) laporan Negara Pihak dalam menjalankan obligasi (kewajiban) yang tercantum di Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. C. 4 • Th. Sosial dan Budaya (Kovenan Hak Ekosob). Menariknya. 2007 33 . Komite Hak Ekosob mulai menjalankan fungsinya sebagai lembaga pengawas pada 1986. 21 Komite Penanggulangan Kemiskinan (KPK). Para penanggungjawab dan aparat Negara yang terlibat dalam perencanaan.

Komite mengambil manfaat dan bekerjasama dengan para pakar yang bekerja pada Organisasi Pendidikan. Social and Cultural Rights. dalam memeriksa laporan yang berkaitan dengan obligasi negara untuk memenuhi hak atas pangan. Dalam hal ini. Scientific and Cultural Organisation (UNESCO). Tabel 3 Prosedur Khusus dibawah Komisi Hak Asasi Manusia. Miloon KOTHARI (India) 1998 1998 1998/33 1998/25 Vernor MUOZ VILLALOBOS (Kosta Rika) Arjun SENGUPTA (India) 34 JURNAL HAM • Vol.22 Selain treaty-based mechanism tersebut.4/1987/17. E/CN. dengan Mandat Tematik yang relevan dengan Hak-hak Ekosob (Per 1 Februari 2006) Nama/Mandat Dasar Pemberian Nama dan asal negara Mandat pemegang mandat Tahun Nomor Resolusi 2000 2000/9 Pelapor khusus untuk perumahan yang layak – sebagai komponen hak atas standar hidup yang tinggi Pelapor Khusus untuk hak atas pendidikan Pakar independen tentang masalah hak asasi manusia dan kemiskinan yang ekstrim Mr. 2007 . yang kemudian dikembangkan di Maastricht pada 1986. seperti dinyatakan dalam Pasal 11 Kovenan. Komite juga memperhatikan dokumen yang berkaitan dengan hak-hak ekosob. annex. dalam memeriksa obligasi pemenuhan hak atas pendidikan.Dalam menjalankan fungsinya. Komite bekerjasama dengan lembaga-lembaga khusus PBB yang lain. untuk selanjutnya Komite memberikan rekomendasi tentang hal-hal yang perlu dilakukan Negara selanjut- nya. Dalam melaksanakan fungsinya. Dialog yang terjadi antara Komite dengan perwakilan Negara dikembangkan. 4 • Th. Demikian juga kerjasama dengan Organisasi Buruh Internasional – International Labor Organisation (ILO) dalam kaitan dengan hak-hak buruh atau bekerjasama dengan UN Centre for Human Settlement (Habitat) berkaitan dengan hak setiap orang untuk menikmati perumahan yang layak. Limburg Principles on the Implementation of the International Covenant on Economic. Komite dituntut selalu mengembangkan praktik kreatif untuk mendorong Negara Pihak benarbenar menjalankan kewajibannya. Dokumen ini dirumuskan dan disetujui oleh kelompok ahli dalam pertemuan hukum internasional di Maastricht Belanda. 22 Lihat UN doc. Sebagai contoh. seperti Prinsip-prinsip Limburg (Limburg Principles). Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB – United Nations Educational. Komite Hak Ekosob dalam menjalankan fungsinya juga mendengarkan pendapat dan masukan dari para pelapor khusus ini (lihat Tabel 3). Contoh lain. maka dimungkinkan juga pengawasan dilakukan berdasarkan nontreaty based seperti prosedur khusus (special procedure) dibawah Komisi Hak Asasi Manusia (Commission on Human Rights) – yang sekarang diganti oleh Dewan Hak Asasi Manusia (Human Rights Council). Komite bekerja sama dengan Organisasi Pangan dan Pertanian – Food and Agriculture Organisation (FAO).

Namun. 2007 Begitu juga obligasi atau kewajiban dari Negara dalam pemenuhan hak ekosob. berdasarkan Kovenan Hak Ekosob. partisipasi dan keterlibatan masyarakat dimungkinkan secara penuh. Penutup: Preferensi Ideologi Kerakyatan. dapat dikatakan. JURNAL HAM • Vol. tidak lain tidak bukan adalah ideologi yang mendasari orde ekonomi. Rodolfo STAVENHAGEN (Meksiko) Mr. Paul HUNT (Selandia Baru) Mr. bahan bakar pemenuhan hak ekosob ini.Pelapor khusus untuk hak atas pangan Pelapor khusus tentang hak setiap orang menikmati standar fisik dan mental tertinggi yang dapat dicapai Pelapor khusus tentang situasi hak asasi manusia dan kebebasan fundamental penduduk asli/adat Perwakilan Sekretaris Jenderal untuk hak-hak asasi pengungsi didalam negeri Pelapor Khusus tentang hak-hak penduduk migran Pakar independen untuk isu-isu minoritas Pakar independen tentang hak asasi manusia dan solidaritas internasional Pakar independen untuk dampak pembaharuan kebijakan ekonomi dan utang luar negeri Pelapor khusus tentang dampak yang ditimbulkan pemindahan dan pembuangan produk dan limbah beracun dan berbahaya terhadap penikmatan hak asasi manusia Pelapor khusus tentang perdagangan manusia. maka norma dan standar hak asasi manusia hanya menjadi tumpukan kertas tebal yang dibinding apik: sebagai bahan rujukan tanpa tindakan. sa- 35 . Keadilan Sosial dan Kebebasan Masyarakat Secara normatif. dimana Komite senantiasa meminta atau terbuka untuk menerima masukan dari organisasi-organisasi non-pemerintah ketika memeriksa laporan yang disampaikan Negara Pihak. politik dan hukum. DPR dan lembaga yudikatif. khususnya perempuan dan anak Perwakilan khusus Sekretaris Jenderal tentang hak asasi manusia dan korporasi trans-nasional dan perusahaan bisnis lainnya 2000 2002 2001 2000/10 2002/31 (untuk 3 tahun) 2001/57 Jean ZIEGLER (Swis) Mr. BUSTAMANTE (Meksiko) Gay MCDOUGALL (Amerika Serikat) Rudi Muhammad RIZKI (Indonesia) Bernards Andrew NYAMWAYA MUDHO (Kenya) Okechukwu IBEANU (Nigeria) 2000 1995 Resolution 1995/81 2004 2005 2004/110 (untuk 3 tahun) 2005/69 (untuk 2 tahun) Sigma HUDA (Bangladesh) John Ruggie (Amerika Serikat) Penting untuk diingatkan lagi. Walter K‰lin (Swis) 2004 1999 2005 2005 2004/55 (untuk 2 tahun) 1999/44 2005/79 (2 tahun) 2005/55 (untuk 3 tahun) 2000/82 Jorge A. D. jelas apa yang menjadi hak setiap warga negara. Tidak hanya pemerintah yang tengah berkuasa. Tanpa kehadiran atau absennya pilihan idelogi yang benar-benar hendak membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik: kesejateraan rakyat dan keadilan sosial. 4 • Th.

1 No. Mempraktikannya di Indonesia. annex. paper diskusi pada”“Development and Human Rights”. Artikel/paper A. 2007 . Andik Hardiyanto. Vol. “Justisiabilitas Hak-hak Ekonomi. Tantangannya tidak lain: melahirkan kembali para pemimpin.. 35/2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Untuk Kepentingan Umum Kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009. Zen. 11/2005 tentang Pengesahan International Covenant on Economic. UN docs. —————. antara lain: menentang imperialisme dan menyejahterakan semua rakyat Indonesia. dalam UU No. Social dan Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. Sosial dan Budaya: Menarik Pengalaman Internasional. Dissertation for LL. 36 – 47. 11/2005.. Social and Cultural Rights. E/CN. University of Essex (2002). yang seharusnya menjadi obligasi Negara. perlu dicatat. GAPRI: Jakarta.lah satunya dapat membawa masalah tersendiri dalam upaya pemenuhan hak ekosob. 23”– 25 Februari 2006. atau putusan-putusan Mahkamah Agung juga membawa implikasi terhadap jaminan hak-hak ekosob. 4 • Th. kerjasama LBH Bandar Lampung dan FES Jakarta. Patra M.M in International Human Rights Law. Sebaliknya putusan Mahkamah Agung yang memenangkan pengujian Peraturan Daerah (Pemda) yang merubah status sejumlah rumah sakit umum daerah (RSUD) Jakarta – menjadi Perseroan Terbatas (PT) justru dapat dikatakan sebagai sebuah benteng terhadap komersialisasi pelayanan kesehatan. Bandar Lampung. misalnya justeru malah melapangkan jalan bagi komersialisasi air dan mampetnya akses masyarakat terhadap sumber-sumber air. International Covenant on Economic. “Cara Mudah Menjadi Kepala Daerah: Dari Komitmen Pemenuhan Hak Ekosob Rakyat”. 16 December 1966. Essex University. Sebagai akhir. UN doc. 2005. Social and Cultural Rights. Mudah-mudahan janin yang ada tak lama lagi lahir! Daftar Pustaka Peraturan Perundang-undangan UU No.” dalam Jurnal HAM (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia). et.“What does the rights to participate mean”. —————. “A critical contextual human rights analysis of Kedung Ombo Large Dam Project in Indonesia”. 1 Oktober 2003. dinyatakan bahwa pertimbangan Indonesia menjadi Negara Pihak Kovenan Hak Ekosob karena “Indonesia adalah negara hukum dan sejak kelahirannya pada 1945 menjunjung tinggi HAM”. Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SPNK). 2200A (XXI). Sosial dan Budaya). para anggota parlemen. dan para hakim yang menyadari benar dan mampu menyelami suasan kebatinan dan tujuan berdirinya Republik ini. 7/2004 tentang Sumber Daya Air Peraturan Presiden No.. 7/2004 tentang Sumber Daya Air. Entry into force 3 January 1976. in accordance with article 27. 26 September 2002. paper pada Pendidikan Kritis untuk Aktivis Partai Politik (Penegakan Demokrasi dan Pemenuhan Hak Ekosob). The Limburg Principles on the Implementation of the International Covenant on Economic. Putusan Mahkamah Konstitusi yang menolak permohonan pengujian UU No. UU No. Empat Pilar Demokratisasi Melawan Kemiskinan dan Pemiskinan. GA Res.al. Putusan-putusan Mahkamah Konstitusi.4/1987/17. Tidak Dipublikasikan —————. pp. —————. 36 JURNAL HAM • Vol.

————. Fact Sheet No. Lainnya Siaran Pers Bersama Yayasan LBH Indonesia. “Pemerintahan SBY-Kalla Menunjukkan Watak Aslinya: Mendahulukan Kepentingan Pemilik Modal Daripada Kepentingan Masyarakat”. “Lebih Represif. 10 Mei 2005. 11: Plans of action for primary education. Social and Cultural Rights CESCR. 9: the domestic application of the Covenant. Perpres Nomor 36/2005 Harus Dibatalkan”. Twenty-ninth session (2002). Sixteenth session (1997). Social and Cultural Rights. 1 of the Covenant). 11 (1) of the Covenant): Forced Evictions. General Comment No. The Committee on Economic. ————. Third session (1989). 16 (Rev. Suara Pembaruan. Twentieth session (1999). Walhi. General Comment 3: The Nature of States partie’s obligations (art. 2007 37 . General Comment No. 6 Juni 2006. Kompas. 4 • Th. 11 (1) of the Covenant). JURNAL HAM • Vol.General Comment Committee on Economic. para. “YLBHI Minta Revisi Perpres Diwaspadai”. Fifth Session. General comment No. 4: The right to adequate housing (art. 9 Mei 2005 tentang Penetapan Peraturan Presiden No. “Perpres tentang Pengadaan Tanah. “Selesai. 7 Juni 2006. 2. General Comment No. Kompas. Pemerintah Dinilai Lebih Represif”. Nineteenth session (1998). General Comment No. ————. KSPA dan ELSAM. ————. Revisi Perpres Tanah. Sixth session (1991). Kompas. General Comment No. 7: The right to adequate housing (art. 1: Reporting by States parties. ————. Fact sheet OHCHR. ————. 1990. 1). 10 Mei 2005. 11 and 12 of the Covenant). Sejumlah Kalangan Nilai yang Direvisi Tak Signifikan”. 36/ 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. 15: The right to water (arts.

KEWAJIBAN NEGARA DALAM ICCPR Jonny Sinaga* Abstract The ratification of the International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) has brought new obligations for the Government of the Republic of Indonesia. 4 • Th. In addition. I. Jakarta 25 June 1998. Direktorat Organisasi Internasional. Direktorat Organisasi Internasional. Direktorat Hak Asasi Manusia dan Kemanusiaan. JURNAL HAM • Vol. Latar Belakang Ratifikasi ICCPR Gagasan pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) secara resmi dapat dilihat dari RAN-HAM 1998-2003 di mana disebutkan bahwa kovenan itu akan diratifikasi pada tahun ke-lima (2003)1 sedangkan International Covenant on Economic. Pembahasan mengenai HAM ini semakin mengemuka setelah berdirinya PBB tahun 1945 yang dilatarbelakangi kesadaran masyarakat internasional untuk menghentikan perang yang ternyata hanya menimbulkan penderitaan bagi umat manusia. 2 Revisi The Indonesian National Plan of Action on Human Rights 1998-2003. Jakarta 25 Juni 1998. Tahun 1946 PBB membentuk sebuah Komisi khusus menangani upaya pemajuan dan perlindungan HAM dan tahun 1948 berhasil menyusun Deklarasi Universal HAM. Departemen Luar Negeri. The general obligation of the Indonesian Government is to take appropriate measures and to develop appropriate policies so as to give effects to the rights in the Covenant. 2007 38 . Sosial dan Budaya yang diterima Majelis Umum PBB tahun 1966. a. Berdirinya PBB diharapkan akan dapat mengurangi penderitaan umat manusia melalui penghormatan harkat dan martabat manusia itu sendiri. Dalam RAN-HAM periode 2004-2009 kedua kovenan kembali dicantumkan sebagai * Penulis adalah Kepala Sub-Direktorat Hak Sipil dan Politik. Karena itu tidak mengherankan sedikitnya 7 ketentuan Piagam PBB yang menyangkut HAM dan kebebasan mendasar.2 Namun hingga RAN-HAM pertama tersebut berakhir tahun 2003 ICCPR belum dapat diratifikasi. orang tersebut akan menjadi manusia yang tidak normal lagi. Menurut catatan sejarah Perang Dunia II saja menelan korban 60 juta jiwa. the Indonesian Government is also expected to fulfill its reporting obligations to the Secretary General of the United Nations with regard to the implementation of the Covenant. These obligations consist of general obligation and specific obligation. Namun dalam perkembangannya terutama setelah memperoleh masukan dari berbagai lapisan masyarakat akhirnya kedua kovenan disepakati untuk diratifikasi pada tahun ketiga yakni tahun 2001. Ketentuan dalam Deklarasi tersebut kemudian dituangkan dalam Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik dan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. Pendahuluan Hak asasi manusia adalah hak yang melekat pada seseorang dan kalau diambil. Direktorat Jenderal Multilateral. 1 The Indonesian National Plan of Action on Human Rights 1998-2003. Social and Cultural Rights (ICESCR) pada tahun pertama.

2200A (XXI) tanggal 16 Desember 1966. 8 Paragraf 4 pembukaan Kovenan. Kewajiban umum negara pihak Ketika suatu negara menjadi pihak pada perangkat HAM internasional. Departemen Hukum dan HAM. dan memenuhi hak-hak asasi sebagaimana diatur dalam perangkat HAM internasional dimaksud.7 Negara-negara pihak pada ICCPR di dalam pertimbangannya menyatakan bahwa sesuai dengan Piagam PBB negara mempunyai kewajiban untuk memajukan penghargaan universal dan pengasawan hak dan kebebasan manusia.N. 6 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2005 Tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional Tentang Hak-hak Sipil dan Politik). 206. maka terpaksa disusun dua kovenan. Kewajiban negara pihak ini dapat digolongkan ke dalam dua bagian yakni kewajiban berupa langkah atau kebijakan yang harus diambil Pemerintah guna menjamin pelaksanaan hak-hak yang ditur dalam kovenan.5 Kedua kovenan tersebut baru pada tahun 1966 dapat disepakati oleh sidang Majelis Umum PBB. Baik ratifikasi maupun aksesi mempunyai dampak hukum yang sama. 2006. b.2006. a. Permanent Mission of the Republic of Indonesia to the United Nations. Diterbitkan oleh Departemen Luar Negeri. Segera setelah Deklarasi Universal HAM diterima oleh Majelis Umum PBB tahun 1948. Initial edition 2005. 4 Resolusi Majelis Umum PBB No.prioritas ratifikasi yang dijadwalkan diratifikasi tahun 2004. 39 . Berlakunya ICCPR bagi Indonesia Indonesia mengesahkan Kovenan tersebut melalui UU No. 5 Indonesia and the United Nations: Working for Peace and Development. Kewa- 2009. upaya menyusun sebuah kovenan tunggal HAM dimulai tetapi karena dominasi negara-negara tertentu di Komisi HAM. maka Pemerintahnya mempunyai tiga kewajiban yakni menghormati. JURNAL HAM • Vol. TREATIES-6. melindungi. New York. 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik) tanggal 28 Oktober 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 nomor 119). serta kewajiban khusus negara pihak untuk menyampaikan laporan kepada Sekjen PBB mengenai pelaksanaan kovenan.3 Sebagaimana dimaklumi Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (ICCPR) yang disahkan oleh Majelis Umum PBB tahun 19664 merupakan dokumen internasional penting yang mengikat secara hukum bagi negara-negara yang telah mengesahkannya. 2007 7 Sesuai dengan pasal 49 (2) Kovenan Internasional Hak-hak Sipil dan Politik. 4 • Th. Depositary notification tanggal 3 Marte 2006. Kovenan tersebut berlaku bagi Indonesia mulai tanggal 23 Mei 2006 yakni 3 bulan setelah Sekjen PBB menerima piagam pengesahannya. 9 Pengesahan mencakup dua hal yakni ratifikasi (mengesahkan dan ikut sebagai penanda-tangan) dan aksesi (mengesahkan tetapi tidak ikut sebagai penanda-tangan). Pemerintah kemudian menyerahkan piagam pengesahan kepada Sekjen PBB tanggal 23 Februari 2006. Reference: C. Direktorat Jenderal Perlindungan HAM.6 Sesuai dengan penegasan Sekjen PBB ter3 Rencana Aksi Hak Asasi Manusia Indonesia 2004- tanggal 3 Maret 2006. Kewajiban Negara Pihak pada ICCPR Dengan disahkannya9 ICCPR maka sudah barang tentu akan menimbulkan kewajiban baru bagi negara yang mengesahkan perangkat internasional tersebut.8 II.

11 Fact Sheet No. Sebagai contoh Deklarasi Universal HAM tahun 194813 yang sudah diter10 Disadur dari : Promoting and Defending Economic.19. Dari ke-53 pasal tersebut terdapat beberapa ketentuan yang meminta negara pihak untuk menjamin hak-hak sipil dan politik warganya. published by AAAS and HURIDOCS. Karena ketentuan dalam ICCPR ini adalah ketentuan pokok. Hal ini tentunya sekaligus merupakan salah satu jawaban terhadap pertanyaan yang sering muncul di kalangan masyarakat yakni mengapa Indonesia baru mengesahkan kovenan penting dimaksud pada tahun 2005 padahal kovenannya sudah diterima tahun 1996 dan kovenan itu memuat berbagai ketentuan penting dalam upaya pemajuan dan pelindungan HAM. maka negara-negara itu biasanya akan memasukkan ketentuan-ketentuan di dalamnya ke dalam hukum domestik secara langsung. National Institutions for the Promotion and Protection of Human Rights. Dalam hal ini termasuk pembuatan peraturan. Kewajiban melindungi hak asasi manusia berarti negara berkewajiban untuk melakukan tindakan tindakan guna mencegah pelanggaran HAM terhadap warga negara. maka di dalam perkembangannya beberapa jaminan itu dikembangkan lagi di kemudian hari ke dalam beberapa konvensi baru. badan peradilan dan administratif. 2000 Washington. 2007 40 . JURNAL HAM • Vol. Social and Cultural Rights: A Handbook.10 Menurut PBB. ketika negara-negara mengesahkan suatu perangkat HAM internasional.11 Dengan demikian dapat dipahami bahwa hingga bulan Juni 2006 baru 156 negara12 yang mengesahkan kovenan dimaksud karena memang negara-negara yang mengesahkan tersebut akan mempunyai kewajiban baru sebagaimana disebutkan dalam Kovenan.ch/html/menu6/2/fs19. ICCPR yang mulai berlaku tanggal 23 Maret 1976 sesuai dengan pasal 49 ICCPR. Artinya selama ini Pemerintah Indonesia belum dalam keadaan siap untuk mengemban kewajiban baru yang timbul akibat pengesahasan kovenan dimaksud. 12 http://www.aaas. langkah anggaran atau ekonomi. by Allan McChesney.ohchr. (http:// www. Chapter 2. 4 • Th. 13 Paragraf 5 Deklarasi Universal HAM Tahun 1948. dan mengatur sanksi terhadap pelanggaran yang dilakukan individu atau kelompok. atau dengan cara lain sebagai pelaksanaan kewajiban yang diatur di dalam perangkat HAM dimaksud. Dalam kewajiban ini termasuk upaya untuk mendorong warga negara untuk menghormati HAM orang lain. Dengan demikian. Office of the High Commissioner for Human Rights. Artinya negara tidak boleh melakukan tindakan yang bertentangan dengan hak-hak asasi manusia warganya. online: AAAS Huridocs: http://shr. pembentukan komisi-komisi nasional. DC.htm). standar dan noma HAM yang universal saat ini dapat dilihat dalam ketentuan hukum domestik hampir di seluruh negara-negara anggota PBB.org/english/countries/ratification/ 4. daripada negara itu terburu-buru mengesahkannya padahal setelah disahkan sesungguhnya belum siap untuk melaksanakannya. Kewajiban memenuhi hak asasi manusia berarti negara berkewajiban untuk mengambil tindakan guna mewujudkan pelaksanaan HAM secara penuh.jiban menghormati hak asasi manusia berarti negara berkewajiban untuk menahan diri dari tindakan yang mencampuri atau mengurangi pemenuhan hak-hak warga negaranya.htm. Tentunya akan lebih baik menunggu sampai suatu negara pihak siap melakukan isi suatu perangkat internasional.org/escr/handbook/. terdiri dari enam bagian dan memuat 53 pasal.unhchr.

16 Negara pihak juga diharapkan memberikan perlindungan atas hak untuk hidup.21 kebebasan bergerak dan kebebasan untuk memilih tempat tinggal.17 hak untuk tidak disiksa. 22 Pasal 11 ICCPR. 24 Pasal 14 ICPPR. Sekalipun sudah mengikat secara hukum. sehingga diperlukan suatu ketentuan yang bersifat mengikat secara hukum. 20 Pasal 9 ICCPR. karena ketika itu banyak negara atau bangsa yang masih dijajah dan penjajahan nampaknya masih dianggap sesuatu yang lumrah. 2007 Selanjutnya negara pihak pada ICCPR mempunyai kewajiban untuk menghormati hak-hak asasi manusia sebagaimana diakui oleh Kovenan dan menjamin bahwa pelaksanaannya tidak akan diskriminatif baik berdasarkan ras. 18 Pasal 7 ICCPR. pandangan politik ataupun pandangan lainnya.19 penangkapan dan penahanan yang sewenang-wenang. rumah. warna kulit. Madura. 21 Pasal 10 ICCPR.23 Di samping itu ICCPR memberikan kewajiban bagi negara pihak untuk menerapkan persamaan setiap orang di depan hukum. termasuk apabila bercerai. keluarga. agama. jenis kelamin.jemahkan ke dalam lebih 300 bahasa (termasuk bahasa Bali.20 perlakuan yang manusiawi. hak milik. Jawa. Akhirnya pada tahun 1979 Majelis Umum PBB menerima Konvensi Penghapusan Diskriminasi Terhadap Wanita (CEDAW) yang memuat 30 pasal mengenai ketentuan yang menjamin hak-hak wanita.15 Begitu pentingnya ketentuan ini sehingga pada tahun 1966 lahirlah Konvensi Penghapusan Diskriminasi Rasial Dalam Segala Bentuknya. pelarangan peraturan perundang-undangan kriminal yang bersifat retroaktif. namun ketentuan ICCPR tersebut ternyata oleh masyrakat internasional dianggap belum cukup memadai untuk menjamin tidak adanya diskriminasi tersebut. bahasa. dan Bahasa Indonesia) antara lain memuat deklarasi atau pernyataan yang menyatakan persamaan hak antara pria dan wanita. JURNAL HAM • Vol.2106 (XX) tanggal 21 Desember 1965.22 dan batasan-batasan untuk melakukan pengusiran orang-orang asing secara hukum dari negara pihak. suratmenyurat seseorang dan serangan 14 Pasal 1 ICCPR.24 pelarangan campur tangan tanpa dasar hukum atas privasi. Namun pernyataan tersebut tidak mengikat secara hukum. serta mempunyai hak yang sama di dalam perkawinan. asal usul kebangsaan atau sosial. 41 . melalui Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 34/180 tanggal 18 Desember 1979. 17 Pasal 6 ICCPR. Pasal 16 DUHAM juga menyatakan bahwa wanita dewasa mempunyai hak yang sama untuk kawin dan membentuk keluarga. 16 Diterima oleh Majelis Umum PBB melalui resolusi no. status kelahiran atau status lainnya. 4 • Th.14 Pasal ini mempunyai arti yang sangat penting pada saat perumusan Kovenan tahun 1966.18 pelarangan terhadap perbudakan. 15 Pasal 2 ICCPR. Kewajiban lain bagi Pemerintah dengan mengesahkan ICCPR adalah menjamin agar semua bangsa berhak untuk menentukan nasibnya sendiri. baik sewaktu perkawinan maupun setelah perkawinan. Ketentuan yang berupada pernyataan dalam DUHAM tersebut kemudian diatur dalam Pasal 3 ICCPR yang mengikat secara hukum yang menjamin bahwa antara pria dan wanita tidak boleh dilakukan diskriminasi. 23 Pasal 13 ICCPR. Sunda. 19 Pasal 8 ICCPR.

Kewajiban Pelaporan Pelaksanaan ICCPR Salah satu kewajiban Pemerintah yang timbul akibat pengesahan ICCPR35 adalah kesediaan Pemerintah menyampaikan laporan pelaksanaannya HAM merupakan Komite yang dibentuk untuk mengawasi pelaksanaan ICCPR oleh negara-negara pihak pada ICCPR dan anggotanya merupakan individu-individu dalam kapasitas pribadi.30 Di samping itu ICCPR juga meletakkan landasan bagi perlindungan hakhak untuk anak-anak.33 serta perlindungan terhadap kelompok minoritas. 35 Pasal 40 ICCPR. Setelah itu kewajiban pelaporan Negara pihak tergantung pada permintaan Komite.37 Tahun 2006 Komite HAM yang terdiri dari 18 anggota dalam kapasitas pribadi. 36 Komite HAM berbeda dengan Komisi HAM. 33 Pasal 26 ICCPR. 30 Pasal 23 ICCPR. Komite b.25 perlindungan terhadap hak untuk kebebasan berpikir. diketuai oleh Ms Christine Chanet (Perancis) yang masa keanggotaannya berakhir tanggal 31 Desember 2006. Komisi HAM ini kemudian dibubarkan tanggal 16 Juni 2006 dan digantikan oleh Dewan HAM di bawah Majelis Umum PBB dengan 47 negara anggota. Laporan Pendahuluan (initial report) pelaksanaan Kovenan sudah harus disampaikan kepada Sekjen PBB dalam kurun waktu satu tahun setelah Kovenan berlaku bagi negara pihak. kepada Sekjen PBB.htm.38 Sesuai dengan pasal 40 ICCPR.28 hak kebebasan untuk bersekutu. 37 Pasal 28 ICCPR. 32 Pasal 25 ICCPR. Terdapat pemikiran di kalangan masyarakat hukum Indonesia bahwa dengan mengesahkan suatu perangkat hukum internasional seperti traktat. tetapi bagi negara manapun yang telah meratifikasi kovenan dimaksud. 34 Pasal 27 ICCPR. 25 Pasal 17 ICCPR. 27 Pasal 19 ICCPR. Hal ini akan menjadi tantangan bukan saja bagi Indonesia.ohchr. 29 Pasal 22 ICCPR. 28 Pasal 21 ICCPR. 4 • Th. 31 Pasal 24 ICCPR.26 serta kebebasan berpendapat dan berekspresi. 2007 42 . JURNAL HAM • Vol. maka Negara dimaksud diwajibkan untuk membuat ketentuan atau kebijakan baru sehingga hak-hak yang ditaur dalam kovenan dapat dijamin atau dilindungi. Sedangkan Komisi HAM adalah badan PBB di bawah ECOSOC di bidang HAM yang terdiri dari 53 negara anggota. Sekjen PBB kemudian akan menyerahkan laporan tersebut kepada Komite Hak Asasi Manusia36 yang dibentuk para negara pihak untuk mengawasi pelaksanaan kovenan. serta memilih dan dipilih.31 pengakuan terhadap hak dari setiap warga negara untuk mengambil bagian dalam pelayanan umum. hati nurani (conscience) dan agama.tanpa dasar hukum atas kehormatan dan reputasinya.34 Jika Negara pihak pada ICCPR belum memiliki peraturan perundang-undangan atau kebijakan yang mengatur jaminan terhadap hak-hak tersebut.org/english/bodies/hrc/members.29 hak pria dan wanita atau usia kawin untuk menikah dan mendirikan suatu keluarga dan prinsip persamaan atas hak-hak dan kewajiban pasangan suatu perkawinan juga diatur dalam bagian ini.27 Selanjutnya ICCPR mengharapkan negara pihak untuk mengakui hak berkumpul secara damai. 38 http://www. 26 Pasal 18 ICCPR.32 Selanjutnya diatur agar semua orang mendapatkan perlakuan yang sama di depan hukum.

fasilitas. maka perangkat internasional tersebut sudah berlaku. bukan berarti bahwa perangkat internasional tersebut sudah berlaku bagi Indonesia. namun di dalam kenyataannya dengan adanya kewajiban negara pihak untuk menyampaikan laporan pelaksanaan perangkat internasional tersebut.39 Para anggotanya dipilih dari calon-calon negaranegara pihak dalam kapasitas pribadi. pengambilan sumpah. Yang lebih penting adalah bagaimana seoptimal mungkin menerapkan. Hal itu kemudian akan tercermin dalam kesimpulan Komite mengenai pelaksanaan kovenan di negara yang bersangkutan. termasuk di dalamnya mengenai nominasi anggota. Sebaliknya terdapat pandangan lain yang mengatakan bahwa kalau perangkat hukum internasional sudah disahkan melalui peraturan perundangundangan yang sah. ICCPR juga memuat ketentuan-ketentuan mengenai pembentukan Komite Hak-hak Asasi Manusia. Proses pencalonan pemilihan calon dengan suara terbanyak oleh wakil-wakil negara-negara pihak didasarkan pada keseimbangan geografis. Sebaiknya Indonesia tidak perlu mempertentangkan apakah perangkat internasional yang sudah disahkan sudah berlaku atau belum tanpa adanya JURNAL HAM • Vol. Bagian ini juga memuat berbagai ketentuan tentang Komite yang akan mengawasi pelaksanaan ICCPR. bahkan memanfaatkan perangkat tersebut untuk kepentingan masyarakat banyak. Bahkan bukan saja Komite akan menganggap negara pihak hanya menjadikan upaya pengesahan sebagai retorika saja. pemilihan pegawai. peradaban dan sistem hukum. tetapi sekalipun negara pihak sudah berupaya optimal. pembentukan Komisi Konsiliasi (conciliation commission) oleh Komite. namun Komite akan melihat secara kritis apa yang dilakukan oleh negara pihak dan apa kekurangannya. bagian ini juga memuat kewajiban Komite untuk memperoleh hasil penelitian atas laporan kepada Sekjen PBB dan tanggapan negara pihak atas laporan Komite tersebut. masih diperlukan peraturan pemerintah untuk melaksanakannya. 4 • Th. pembuatan anggaran rumah tangga. serta kewajiban negara pihak untuk menyampaikan laporan pelaksanaan kovenan satu tahun setelah berlakunya kovenan di negara pihak. Bagian ini juga meminta negara pihak mendeklarasikan pengakuan kepada Komite untuk menerima pengaduan. Terlepas dari kebenaran dua pandangan di atas. tempat pertemuan. 2007 peraturan pemerintah sebagai pelaksanaannya. maka sesungguhnya ada atau tidaknya peraturan pemerintah sebagai pelaksana undang-undang dimaksud tidak merupakan masalah mengingat di dalam penyusunan laporan dimaksud tedapat ukuran atau patokan yang sangat rinci yang dibuat oleh Komite pengawas mengenai pelaksanaan perangkat internasional tersebut. Pendapat semacam ini sesungguhnya dapat merugikan Negara pihak karena dapat dianggap tidak sungguh-sungguh atau tulus melaksanakan isi perangkat internasional.konvensi atau kovenan internasional. Selanjutnya bagian ini memuat ketentuan tentang anggota-anggota Komite 39 Bagian IV (Pasal 28-47) ICCPR. secara rahasia dan calon-calon negara pihak (dua tiap negara) berhak untuk dipilih kembali. Di samping itu. dan penetapan quorum. 43 .

Karena itu banyak negara yang meminta dukungan Indonesia terhadap pencalonannya di Komite HAM yang pemilihannya hanya ditentukan oleh negara-ne40 Dr. 15 Agustus 1950-4 Juli 1959 bahkan lebih maju lagi dengan dicantumkannya 38 pasal dalam UUDS RI (dari keseluruhan 146 pasal. Masyarakat Indonesia patut bersyukur bahwa para pendiri bangsa mampu mempunyai pemikiran yang luas dan jauh ke depan sehingga sejak kemerdekaan tahun 1945 telah meletakkan dan memikirkan hak-hak sipil dan politik warga negara Indonesia yang kiranya sejalan. Makalah guna memenuhi permintaan Dewan Perwakilan Rakyat RI sehubungan dengan pembahasan dan pemilihan Calon Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia 11 Maret 2002.id/pls/portal/url/ITEM/ FCB23A753754E5BFE030010A3001576D+ komnas+ham+iccpr&hl=id&gl=id&ct=clnk&cd=4) JURNAL HAM • Vol. 4 • Th.104/search?q=cache:mEqseaJ3zCIJ:portal. Hassan Wirajuda. dan budaya.komnasham. Pelaksanaan HAM dalam sejarah Indonesia menunjukkan grafik naik turun. 2007 44 . N. Bahkan di masa Republik Indonesia Serikat (RIS) (27 Desember 1949-15 Agustus 1950) pengakuan dan penghormatan HAM sangat maju dengan dicantumkannya 35 pasal dalam konstitusi RIS dari keseluruhan 197 pasal. banyak negara yang menganggap bahwa Indonesia sudah sejak lama meratifikasi kedua kovenan tersebut.dan Komisi Konsiliasi. dengan jiwa Deklarasi Umum HAM maupun ICCPR. laporan kegiatan tahunan Komite kepada Sidang Umum PBB. 41 Dr Enny Soeprapto. Namun menjelang berdirinya Indonesia sebenarnya para pendiri bangsa telah melakukan perdebatan tentang HAM yang kemudian tercermin dari diterimanya beberapa pasal mengenai HAM dalam UUD 1945. Penegakan Hak Asasi Manusia di Indonesia. atau sekitar 26 persen). Pandangan Dunia Inter- nasional Terhadap Perkembangan HAM di Indonesia. serta penjelasan mengenai keberadaan kovenan yang tidak boleh dipertentangkan dengan hak-hak rakyat untuk menikmati kekayaan alam mereka.41 Barulah sejak era reformasi tahun 1997 penghormatan HAM di tanah ai semakin membaik. Namun sejak berlakunya kembali UUD 1945 pada 5 Juli 1959 Indonesia mengalami kemunduran dalam penikmatan HAM-nya. sosial. fasilitas. c. atau setidaknya tidak bertentangan. Melihat berbagai kemajuan di Tanah Air di berbagai bidang kehidupan politik. pidato pada Rapat Koordinasi Panitia RAN HAM Daerah Kawasan Timur Indonesia. imunitas dan keistimewaan mereka sesuai dengan Konvensi mengenai keistimewaan dan imunitas PBB.203. terutama setelah era reformasi tahun 1999. Segera setelah merdeka Indonesia dianggap negara yang menghormati HAM. (http:/ /72. ketentuan-ketentuan kovenan agar tidak dipisahkan dari Piagam PBB dan konstitusi badan-badan PBB lainnya. atau sekitar 18 persen yang mengatur HAM.40 Awal-awal kehidupan bernegara sesungguhnya merupakan saatsaat penentuan sekaligus pelaksanaan hak-hak sipil dan politik di Indonesia. Indonesia dan ICCPR Membicarakan latar belakang sejarah dan perkembangan HAM di Indonesia selalu tidak mudah. Surabaya 2006.14. Dalam masa UndangUndang Dasar Sementara RI (UUDSRI). Bahkan sejak 1966 hingga akhir Orde Baru bangsa Indonesia mengalami kemunduran dalam penikmatan HAM-nya di semua bidang yang diakui oleh UUD 1945. ekonomi.go. Ketentuan untuk pelaksanaan kovenan tidak dipertentangkan dengan ketentuan-ketentuan HAM yang telah ada di dalam peraturan perundang-undangan.

2007 45 . UU No 39 Tahun 1999 tentang HAM dan UU No. Sayangnya TAP MPR ini kemudian dicabut dan dianggap tidak berlaku karena materinya dianggap telah diatur dalam peraturan perundang-undangan khususnya Amandemen UUD 1945. membuat mereka berpikir bahwa Indonesia pasti sudah menjadi pihak pada kedua kovenan sehingga mampu melaksanakan pemilu sedemokratis itu. Termasuk ketika Indonesia sempat dianggap sebagai negara paling bebas di bidang pers di kawasan Asia.” (http://www. Hal itu terjadi mungkin karena melihat sendiri berbagai contoh nyata yang sering dianggap sebagai pencerminan kedua kovenan tersebut di tanah air. VII/MPR/1998). 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat pada tanggal 28 September 1998 (melalui UU Nomor 5 Tahun 1998). Indonesia mencanangkan Rencana Aksi Nasional di bidang HAM 1998-2003 (melalui Keppres No. Indonesia dibangun berlandaskan pada penghormatan HAM. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM).42 Sebagaimana diketahui. 4 • Th.cfm?page=70&release=317). Indonesia telah meratifikasi Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam. HAM penting tersebut kemudian dipatrikan dalam kedua Kovenan ini pada tahun 1966 sebagai hak menentukan nasib sendiri (selfdetermination). 129 tahun 1998). Selain itu. Misalnya pelaksanaan pemilu yang demokratis khususnya tahun 2004 lalu.org/template.gara yang sudah menjadi pihak pada kovenan tersebut. Sesungguhnya perjuangan dan perlindungan HAM di Indonesia tidak pernah berubah. Indonesia telah berjuang selama kurang lebih 350 tahun untuk melawan penjajahan atau memperjuangkan hak untuk merdeka yang kemudian diakui oleh PBB sebagai salah satu HAM penting.freedomhouse. Komitmen Indonesia untuk pemajuan dan perlindungan HAM juga telah ditunjukkan melalui pengesahan beberapa Konvensi Internasional di bidang HAM lainnya seperti Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial pada gal 19 Desember 2005 status kebebasan pers Indonesia untuk tahun 2006 meningkat dari “sebagian bebas” menjadi “bebas. Dengan menetapkan peraturan tersebut Indonesia semakin mengokohkan upaya pemajuan dan perlindungan HAM yakni dengan menjamin bahwa setiap pelaku pelanggaran HAM akan diajukan ke pengadilan khusus (Undang-undang No. terutama untuk kembali menjunjung tinggi dan menegakkan penghormatan HAM sebagaimana telah diamanatkan MPR dalam ketetapannya tahun 1998 yang juga memuat Piagam HAM Indonesia (TAP MPR No. Namun hanya pelaksanaannya yang berbeda bahkan timbul kesan seolah-olah penghormatan HAM itu tidak penting bagi Indonesia. Masih dalam semangat reformasi itu pula. JURNAL HAM • Vol. 42 Dalam Siaran Pers Freedom House New York tang- Gerakan reformasi yang dimulai tahun 1997 telah membangkitkan semangat bangsa Indonesia untuk melakukan koreksi terhadap sistem dan praktekpraktek masa lalu. Namun pandangan ini sebenarnya keliru karena upaya pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia sebenarnya telah dilaksanakan sejak Republik ini berdiri dengan dibangunnya landasan konstitusional UUD 1945 dan landasan idiil Pancasila.

apabila masyarakat internasional mempunyai prasasti HAM internasional. 2007 . 43 Media Indonesia. termasuk langkah-langkah yang diambil Pemerintah seperti pengesahan konvensi HAM internasional. Hal yang tidak kalah penting dalam upaya pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia adalah perhatian khusus para anggota MPR untuk memasukkan pasal-pasal tambahan menyangkut HAM pada amendemen ke4 UUD 1945. 12 Mei 2006. 4 • Th.tanggal 25 Mei 1999 (melalui UndangUndang No. 46 JURNAL HAM • Vol. 29 tahun 1999). III. khususnya Pemerintah. Penutup Langkah yang diambil oleh Pemerintah dan DPR untuk mengesahkan ICCPR tahun 2005 kiranya sudah tepat dan pasti akan sangat bermanfaat bagi upaya pemajuan dan perlindungan HAM di tanah air. Sebagaimana dikemukakan oleh Menlu RI bahwa terpilihnya Indonesia dalam Dewan HAM tahun 2006 merupakan pengakuan internasional atas kemajuan demokrasi dan HAM di tanah air. Namun pengesahan ICCPR tersebut sekalipun merupakan langkah yang sangat penting dan telah melewati rintangan yang tidak ringan. Namun keanggotaan Indonesia pada Dewan HAM ini juga membawa kewajiban bagi Pemerintah Indonesia untuk bersama-sama semua pemangku kepentingan (stakeholders) lainnya memperkuat upaya pemajuan dan perlindungan HAM di dalam negeri. Prasasti HAM nasional ini merupakan modal penting bagi generasi mendatang dalam upaya memajukan dan melindungi HAM bagi seluruh warga Indonesia.43 Guna menindak-lanjuti pelaksanaan ICCPR yang sudah disahkan tahun 2005 tersebut kiranya seluruh aparat pemerintah. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. UU No. 12 Tahun 2005. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia dan UU No. sekaligus peningkatan citra Indonesia di mata masyarakat internasional. jaminan penghormatan HAM di Indonesia kini sudah sangat baik. Dalam semangat ingin menerapkan ICCPR yang sudah menjadi bagian hukum nasional melalui UU No. Dengan demikian secara konstitusi dan peraturan perundangundangan. Sebuah Tim interdepartemen plus telah disiapkan sejak Februari 2006 dengan demikian diharapkan laporan dimaksud dapat disampaikan Pemerintah tepat pada waktunya. Pemerintah saat ini telah menyiapkan laporan pelaksanaan ICCPR dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan HAM di tanah air. maka Indonesia juga kiranya memiliki prasasti HAM nasional yakni UUD 1945. pengusaha dan lapisan masyarakat perlu melakukan upaya optimal agar mengetahui dan memahami serta menjamin pelaksanaan hak-hak sipil dan politik yang diatur dalam ICCPR tersebut. namun masih banyak yang perlu ditindak-lanjuti oleh seluruh pemangku kepentingan HAM di tanah air. Dengan demikian.

go. Initial edition 2005. Indonesia and the United Nations: Working for Peace and Development. New York.htm). 2000 Washington. 2007 47 . Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional Tentang Hak-hak Sipil dan Politik). Promoting and Defending Economic. 4 • Th.19. by Allan McChesney. JURNAL HAM • Vol. (http:/ /www. Enny. online: AAAS Huridocs: http://shr. Rencana Aksi Hak Asasi Manusia Indonesia 2004-2009.aaas.ch/html/menu6/ 2/fs19.cfm? page=70 & release=317).org/template. Makalah guna memenuhi permintaan Dewan Perwakilan Rakyat RI sehubungan dengan pembahasan dan pemilihan Calon Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia 11 Maret 2002. Direktorat Organisasi Internasional. Surabaya 2006. DC. Siaran Pers Freedom House New York tanggal 19 Desember 2005 tentang status kebebasan pers Indonesia untuk tahun 2006 meningkat dari “sebagian bebas” menjadi “bebas”. Office of the High Commissioner for Human Rights.DAFTAR PUSTAKA Fact Sheet No. Social and Cultural Rights: A Handbook.freedomhouse.id/pls/portal/url/ITEM/ FCB23A753754E5BFE030010A3001 576D+ komnas+ham+iccpr&hl=id&gl=id&ct=clnk&cd=4) The Indonesian National Plan of Action on Human Rights 1998-2003. National Institutions for the Promotion and Protection of Human Rights.org/escr/ handbook/. 104/search? q=cache:mEqseaJ3z CIJ: portal. N. Jakarta 25 June 1998.unhchr. Soeprapto. (http://www. The Indonesian National Plan of Action on Human Rights 1998-2003 (Revisi). Wirajuda. Pandangan Dunia Internasional Terhadap Perkembangan HAM di Indonesia. Pidato pada Rapat Koordinasi Panitia RAN HAM Daerah Kawasan Timur Indonesia. Resolusi Majelis Umum PBB No. komnasham. Media Indonesia.(http://72. Jakarta 25 Juni 1998. Direktorat Organisasi Internasional. 2200A (XXI) tanggal 16 Desember 1966.203. Diterbitkan oleh Departemen Luar Negeri. 2006.14. Departemen Hukum dan HAM. published by AAAS and HURIDOCS. Chapter 2. Hassan. Penegakan Hak Asasi Manusia di Indonesia. 12 Mei 2006. Direktorat Jenderal Perlindungan HAM. Permanent Mission of the Republic of Indonesia to the United Nations.

kewajiban untuk mengadopsi perjanjian yang telah diratifikasi ini ke dalam perundang-undangan baik yang dirancang maupun yang telah diberlakukan sebagai UU. ICESCR disahkan menjadi UU No. Selain mengikat secara hukum. kedua kovenan ini sekaligus melengkapi empat perjanjian pokok yang telah diratifikasi sebelumnya.” Suara Pembaruan. Dengan Reservasi pada Hak Menentukan Nasib Sendiri. Sosial dan Budaya (International Covenant on Economic. 4 • Th. The challenges faced by the Indonesian Government to comply with its international legal obligations has to be dealt with the continuity of legal reform and immediate realization of the provisions in ICCPR as well as the socialization of the Covenant itself. membuat laporan yang bertalian dengan penyesuaian hukum. langkah-langkah.2 Pada 28 Oktober 2005. 1 Oktober 2005. Sabtu. 11 tercantum dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 118 3 serta UU No. karena Negara RI telah mengikatkan diri secara hukum. Ratifikasi itu menimbulkan konsekuensi terhadap pelaksanaan hak-hak manusia. “Indonesia Ratifikasi Kovenan Hak-hak Sipil dan Politik.3 Selain menjadi bagian dari sistem hukum nasional.4 Pertama. Despite of this progressive episode in the history of human rights development in Indonesia. 12/2005. 3 Pengesahan ini ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Hamid Awaludin. melindungi (to protect) dan memenuhi (to fullfil) hak-hak manusia. agar menghilangkan kesan seolah-olah ada hak-hak yang “tak asasi”. JURNAL HAM • Vol. necessary infrastructure should be provided and further promotion of the Covenant should be advanced. mengambil langkah-langkah dan kebijakan dalam melaksanakan kewajiban untuk menghormati (to respect).PROSPEK DAN TANTANGAN IMPLEMENTASI ICCPR Hendardi Abstract Ratification of the International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) is considered as an important achievement of the human rights struggle in Indonesia. 11/2005 dan ICCPR menjadi UU No. Ketiga. 2007 48 . 2 Lihat “Dua Kovenan HAM Diratifikasi. Kedua. 12 dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 119 3. juga ada ikatan lainnya. whereas the victims of human rights violations in this country still await for the settlement of their cases. CAT (penyiksaan). kebijakan dan tindakan yang dilakukan 1 Terjemahan yang tepat dari human rights adalah hak- hak manusia tanpa kata “asasi”. 4 Ratifikasi adalah tingkatan paling kuat dalam perikatan yang dilakukan setiap negara. Sabtu. CRC (anak). the prospect of its implementation remains uncertain. Negara Republik Indonesia (RI) telah meratifikasi dua perjanjian internasional tentang hak-hak manusia (human rights)1 – Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. In doing so.” Kompas. yaitu CEDAW (penghapusan diskriminasi perempuan). dan CERD (penghapusan diskriminasi rasial). Social and Cultural Rights – ICESCR) serta Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights – ICCPR) – pada 30 September 2005 melalui proses legislasi yang disetujui DPR. UU No. 1 Oktober 2005. yaitu terikat secara moral (deklarasi) dan secara politik (menandatangani).

8 Juni 2005. Rabu. Dengan begitu. 8 Relasi yang diletakkan berada dalam wilayah hukumnya adalah perjanjian internasional tentang hak-hak manusia (international law of human rights). memang terdapat pernyataan (declaration) 5 Hikmahanto Juwana. 1996. berkumpul. No. Dalam ratifikasi ICCPR. London: Cambridge University. 1. wilayah relasi hak (right) dan kewajiban (obligation) diletakkan dalam hubungan hukum antara individu sebagai pemegang hak dengan negara sebagai pengemban/pelaksana kewajiban. hukuman mati atau pembunuhan di luar proses hukum. Serangkain kontradiksi dalam realitas sosio-ekonomi dan sosio-politik yang sebelumnya hanya dibahas dan diprediksi secara akademis di lembaga-lembaga studi. wilayah relasi diletakkan antara individu (manusia) dan negara (state). 7 Dalam konsep dan norma hak-hak manusia. serta penyiksaan.8 Di sinilah prinsip kewajiban negara (state obligation) diletakkan dengan beberapa konsekuensinya. 2. partisipasi dalam politik. Januari 1997. Hak-hak ini mencakup mulai dari hak untuk hidup (right to life) hingga hak untuk menikah dan membentuk keluarga ataupun hak kelompok minoritas. The Age of Rights. Judul ini sama seperti yang ditulis Norberto Bobbio. 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) maupun ratifikasi CAT dan ICERD dalam memajukan atau memperjuangkan posisi individu dengan hak-hak sipil dan politiknya di hadapan kekuasaan negara (state power) maupun orang lain.” Imparsial.7 Dalam konsep dan norma hak-hak manusia. terlepas UUD 1945 (telah diamandemen empat kali) dan UU No. tentu saja lain lagi relasinya seperti halnya Konvensi (Perjanjian) Geneva yang dikenal juga sebagai hukum kebiasaan perang (humaniter).” Kompas. akan dibayangkan bagaimana prospek dalam pelaksanaan kewajiban negara untuk menghormati dan melindungi hak-hak sipil dan politik sebagaimana yang terkandung dalam ICCPR atau UU No.maupun hasil-hasil yang dicapai dalam implementasi perjanjian tersebut kepada badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) – disebut Komite – yang menangani perjanjian tersebut. 49 . Bobbio mengandaikan masa kini memasuki zaman hak. Pertama. Apakah terdapat hambatan dari aparat negara (state apparatus)? Apakah ada kemungkinan diambil langkah yang lebih maju untuk meratifikasi Protokol Opsional ICCPR? Setelah itu. Hak negara hanya sesama negara-negara yang menjadi peserta – bukan hak negara atas individu. sosial dan budaya – berada di pundak negara. Dasar hukumnya adalah perjanjian internasional di mana negara-negaralah yang mengikat janji. 12/2005? ini yang bersifat mengikat secara hukum. berpendapat. Dari janji inilah timbul kewajiban (obligation) pada negara-negara dan sekaligus tanggung jawab (responsibility) bertalian dengan pelaksanaan kewajiban. setiap orang dapat berpegang pada UU No. 4 • Th. berserikat. Vol. kini telah meningkat menjadi kenyataan sosiologis yang keras dan kongkrit seperti yang dirasakan sebagian orang dalam kasus-kasus perselisihan perburuhan.6 Setelah diratifikasinya ICCPR menjadi UU – perjanjian internasional yang diadopsi PBB pada 16 Desember 1966 dan mulai berlaku sejak 1976 – maka segera dengan itu ia menjadi ketentuan hukum yang berlaku di seluruh Indonesia. 2007 ICCPR. 12/2005 sebagai hak-hak sipil dan politik yang dijamin. “The Age of Rights. tanggung jawab dalam implementasi hak-hak sipil dan politik – sebagaimana juga hak-hak ekonomi. 6 Lihat Rocky Gerung. konflik pertanahan atau penghancuran rumahrumah penduduk dan pendidikan maupun kebebasan bergerak. RI sendiri menjadi negara peserta (state party) dalam perjanjian JURNAL HAM • Vol. Wilayah hukum yan lain. “Konsekuensi Ratifikasi Konsekuensi ratifikasi ICCPR Kini persoalan hak-hak manusia di Indonesia telah memasuki tahap di mana kebutuhan untuk menerapkannya telah melampaui kepentingan untuk memperdebatkannya.5 Perihal yang akan dibahas dalam tulisan ini bertalian dengan hambatan atau tantangan atas pelaksanaan ICCPR di Indonesia.

yang menihilkan Pasal 1 mengenai hak untuk menentukan nasib sendiri (right to self-determination) sebagai upaya mencegah disintegrasi dan sekaligus “senjata pemukul” bagi gerakan separatisme.9 Kedua, negara berkewajiban melindungi atau menjamin hak-hak sipil dan politik yang tercantum dalam ICCPR mulai dari hak-hak untuk hidup dan tidak disiksa hingga hak-hak kelompok minoritas dan orang yang dirampas kemerdekaannya karena suatu tindak pidana.10 Kewajiban ini pertama-tama bertalian dengan langkah yang harus dijalankan untuk melakukan pembenahan secara substansial dari segi perundang-undangan atau sistem hukum. Setiap rancangan UU harus disesuaikan atau merujuk pada ICCPR, sementara ketentuan-ketentuan hukum yang tak sesuai dengannya harus dibongkar atau direvisi. Dengan begitu, seharusnya tak ada lagi kandungan dalam ketentuan hukum yang bertentangan atau menyalahi ICCPR. Di sinilah arti penting transformasi ICCPR ke dalam hukum nasional. Ketiga, selain kewajiban negara dalam menyesuaikan perundang-undangan dengan ICCPR setelah meratifikasi, juga kewajiban dalam implementasinya. Negara RI beserta semua aparatnya diharapkan menunaikan kewajiban untuk menghormati dan melindungi hak-hak sipil dan politik tanpa diskriminasi. Negara menghormati hak-hak setiap orang tanpa melakukan campur tangan dengan berdasarkan atas ICCPR dan UUD (konstitusi). Campur tangan terbatas dapat dilakukan untuk melindungi hak setiap orang seperti mencegah tindakan sekelompok orang yang sewenangwenang dan menyeret orang yang diduga melakukan tindak pidana ke muka hukum. Mengenai pembatasan (limitation) atau pengekangan (restriction) hak-hak dan kebebasan – tergolong hak-hak dan kebebasan yang boleh ditangguhkan (derogable rights) – hanya dapat dilakukan dalam situasi atau

alasan tertentu berdasarkan UU. Keempat, ratifikasi juga menambah kewajiban pemerintah RI untuk melaporkan langkah-langkah, kebijakan dan tindakan yang dijalankan kepada Komite Hak Manusia PBB.11 Secara regular, pemerintah membuat laporan dalam periode empat tahun sekali. Isinya mencakup langkah-langkah dan kebijakan apa yang telah diambil, serta bagaimana hasil yang telah dicapai dalam pelaksanaan hak-hak sipil dan politik di Indonesia. Apakah terdapat kemajuan baik langkah yang telah diambil maupun pelaksanaan hak-hak sipil dan politik. Bisa saja yang terjadi adalah kemajuan dalam langkah-langkahnya, tapi lemah atau gagal dalam implementasinya. Dalam implementasi ini akan tampak apakah negara tidak mau (unwilling) atau tidak mampu (inability) menunaikan kewajibannya. Dalam hak-hak sipil dan politik, ada batas antara hak-hak yang tak dapat ditangguhkan (non-derogable rights) dengan hakhak yang dapat ditangguhkan. Yang termasuk dalam kategori hak-hak yang tidak dapat ditangguhkan adalah hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak untuk tidak diperbudak, hak atas kebebasan berpikir dan beragama serta berkeyakinan, hak untuk diperlakukan sama di muka hukum, hak untuk tidak dipenjara karena kegagalan memenuhi kewajiban kontraktual, serta hak untuk tidak dipidana berdasarkan hukum yang berlaku surut (retroactive).12 Mengenai implementasi antara
9 Lihat “Ratifikasi Dua Kovenan Internasional Dinilai

Setengah Hati,” Hukumonline.com, Kamis, 29 September 2005; “Ratifikasi 2 Kovenan HAM oleh RI Dianggap Masih Setengah Hati,” detikInet, Kamis , 29/09/2005 14:25 WIB. 10 Hikmahanto Juwana, Op. cit. 11 Hikmahanto Juwana, Ibid. 12 Harry Wibowo, “Hak-hak Manusia: Menjernihkan Berbagai Konsep Dasar,” makalah yang disampaikan dalam Pelatihan Investigasi yang diselenggarakan PBHI (Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia) pada 27-30 Desember 2005 di Megamendung Permai, Megamendung, Bogor. JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

50

Tabel 1: Hak-hak yang Dijamin dan Dilindungi UU No. 12/2005
No Pasal 1 Pasal 6 2 Pasal 7 Hak-hak Sipil dan Politik Hak untuk hidup (tidak dibunuh/dihukum mati setidaknya bagi anak di bawah 18 tahun) Hak untuk tidak disiksa, diperlakukan atau dihukum secara keji, tak manusiawi atau merendahkan martabat manusia (termasuk tidak diculik/dihilangkan secara paksa, diperkosa) Hak untuk tidak diperbudak (larangan segela bentuk perbudakan, perdagangan orang, dan kerja paksa,) Hak atas kebebasan dan keamanan pribadi (tidak ditangkap atau ditahan dengan sewenang-wenang, didasarkan pada ketentuan hukum acara pidana) Hak sebagai tersangka dan terdakwa (diperlakukan manusiawi, anak dipisahkan dari orang dewasa, sistem penjara bertujuan reformasi dan rehabilitasi) Hak untuk tidak dipenjara atas kegagalan memenuhi kewajiban kontraktual (utang atau perjanjian lainnya) Hak atas kebebasan bergerak dan berdomisili (termasuk meninggalkan dan kembali ke negerinya sendiri) Hak sebagai orang asing (dapat diusir hanya sesuai hukum atau alasan yang meyakinkan mengenai kepentingan keamanan nasional) Hak atas kedudukan yang sama di muka hukum (dibuktikan kesalahannya oleh pengadilan yang berwenang dan tidak memihak, jaminan minimal, dapat ditinjau kembali, tidak diadili dua kali dalam perkara yang sama) Hak untuk tidak dipidana berdasarkan hukum yang berlaku surut (jika keluar ketentuan hukum sebelum tindak pidana, si pelaku harus mendapatkan keringanannya) Hak sebagai subyek hukum (hak perdata setiap orang seperti kewarganegaraan) Hak pribadi (tidak dicampuri atau diganggu urusan pribadi seperti kerahasiaan, keluarga atau rumah tangga, kehormatan, surat-menyurat atau komunikasi pribadi) Hak atas kebebasan berpikir, beragama dan berkeyakinan (menganut ideologi atau orientasi politik, memeluk agama dan kepercayaan) Hak atas kebebasan berpendapat (termasuk mencari, menerima dan menyebarkan informasi, dalam bentuk karya seni/ekspresi atau melalui sarana lainnya) Hak untuk bebas dari propaganda perang dan hasutan rasial (kebencian atas dasar kebangsaan, ras, agama atau golongan) Hak atas kebebasan berkumpul (mengadakan pertemuan, arak-arakan atau keramaian)

3 4

Pasal 8 Pasal 9

5

Pasal 10

6 7 8 9

Pasal 11 Pasal 12 Pasal 13 Pasal 14

10 Pasal 15

11 Pasal 16 12 Pasal 17

13 Pasal 18 14 Pasal 19

15 Pasal 20 16 Pasal 21

JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

51

17 Pasal 22 18 Pasal 23 19 Pasal 24

20 Pasal 25 21 Pasal 26 22 Pasal 27

Hak atas kebebasan berserikat (bergabung dalam perkumpulan, partai politik atau serikat buruh) Hak untuk menikah dan membentuk keluarga (tidak dipaksa, termasuk tanggung jawab atas anak) Hak anak untuk mendapatkan perlindungan dan jaminan (setiap kelahiran anak didaftarkan dan memperoleh kewarganegaraan tanpa diskriminasi) Hak untuk berpartisipasi dalam politik (termasuk memilih, dipilih dan tidak memilih) Hak untuk bebas dari diskriminasi dalam hukum (semua orang dilindungi hukum tanpa diskriminasi) Hak kelompok minoritas (perlu mendapatkan perlindungan khusus) by omission).13 Jenis pelanggaran lainnya adalah tetap memberlakukan ketentuan hukum yang bertentangan dengan ICCPR yang disebut pelanggaran melalui hukum (violation by judicial).

kedua kategori hak-hak ini juga terdapat batas-batasnya, yaitu pada batas mana negara tak melakukan intervensi dan pada batas mana pula intervensi harus dilakukan. Negara tak melakukan intervensi dalam rangka menghormati hak-hak setiap orang, terutama hak-hak yang tak dapat ditangguhkan. Karena campur tangan negara justru mengakibatkan terjadinya pelanggaran atas hak-hak individu/kelompok. Sebaliknya, intervensi dapat dilakukan atas dua hal; pertama, dalam situasi atau alasan khusus untuk membatasi atau mengekang hak-hak atau kebebasan berdasarkan UU; kedua, dalam rangka untuk menegakkan hukum atau keadilan bagi korban tindak pidana. Karena itu, dalam menghormati dan melindungi hak-hak sipil dan politik, ada dua jenis pelanggaran yang bertalian dengan kewajiban negara. Pertama, seharusnya menghormati hak-hak manusia, tapi negara justru melakukan tindakan yang dilarang atau bertentangan ICCPR melalui campur tangannya dan disebut pelanggaran melalui tindakan (violation by action). Kedua, seharusnya aktif secara terbatas untuk melindungi hak-hak – melalui tindakannya – negara justru tak melakukan apa-apa baik karena lalai dan lupa maupun absent, disebut pelanggaran melalui pembiaran (violation

Tantangan Negara
Setelah ratifikasi ICCPR, membuat negara RI meningkatkan komitmennya karena telah terikat secara hukum. Segera dengan itu, negara menghadapi tantangan untuk menyiapkan beberapa langkah, dan langkah yang diambil bertalian dengan berbagai persoalan sebagai berikut. Pertama, negara harus melakukan reformasi hukum dengan menerjemahkan prinsip dan ketentuan yang terkandung dalam ICCPR ke dalam hukum nasional. Berbagai peraturan perundang-undangan yang tak sesuai dengan ICCPR haruslah dicabut dan direvisi.14 Begitu juga dengan RUU yang disiapkan seperti perdebatan sengit hingga pengerahan massa serta intimidasi dan teror bertalian RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi, haruslah selaras dengan ICCPR.15 Tantangan ini bukan saja terdapat sekitar 30 persen UU justru bertentangan dengan UUD 1945,16 tapi juga karena dalam menyusun RUU tanpa didasarkan pada kajian mendalam dan berimpit dengan kepentingan politik koalisi.17
JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

52

10 Mei 2006 | 13:04 WIB.Tabel 2: Spektrum Hak Individu/Kelompok dan Kewajiban Negara HAK INDIVIDU/KELOMPOK Kebebasan Kebebasan Dasar/Hak yang Tak Dapat Ditangguhkan (freedom/right in itself) Mutlak: Tak boleh ditangguhkan (ditunda) maupun dibatasi atau dikekang. “MMI: Jika Terus Menolak.” Detikcom.or. 100 Pendemo Cantik Tolak RUU APP. 6 Maret 2006. “DPR Pusing Pro Kontra RUU APP.com. Kamis. “MUI Sayangkan Adanya Penolakan RUU Anti Pornografi. “Peringati Hari Perempuan. Anggota Pansus RUU APP DPR FPKS: RUU APP Lindungi Kaum Perempuan. “RUU Pornografi Berpotensi Jadi Alat Pemerasan Baru. Senin.” TEMPO Interaktif. 12 Maret 2006. atau program atas sumber daya Memenuhi (+) Intervensi (commission) Melalui: Norma hak-hak manusia. dari 77 perkara peninjauan UU (PUU) yang berkenaan dengan 42 UU selama 2003-2006 yang ditangani MK. MUI Akan Kumpulkan 1.” Detikcom. 15 Maret 2006.” Detikcom.” Detikcom. 15 Hikmahanto Juwana. 2005 13 Harry Wibowo. sistem peradilan dan pengadilan Melindungi Kebutuhan Berhak atas Kemauan/niat: Batas minimum tertentu. Minggu. Rabu. Senin. Rabu.” Detikcom. Berbeda dengan di Belanda. dapat diundur pemenuhannya berdasarkan prioritas tapi direalisasikan secara bertahap Melalui: Perencanaan. kebijakan. Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqqie melaporkan kepada DPR. Saldi Isra mengemukakan. “Draf RUU APP Adalah Buah dari Sebuah Kemunafikan.” Sinar Harapan.” Detikcom. Rabu. lihat juga “Bahas RUU APP. 28 April 2006 17:05. “Menolak RUU APP. hampir 30 persen di antaranya berpotensi bertentangan dengan konstitusi.” Kompas. 27 Januari 2006 19:11:53.net. Syamsuddin Haris juga menambahkan. Kamis. “5000 Orang Akan Demonstrasi Tolak RUU Anti Pornografi. Aktivis dan Artis Diteror.” Detikcom. Hongkong. boleh dibatasi atau dikekang berdasarkan hukum (UU) Melalui: Konstitusi. Jadikan Bali Daerah Khusus Pornografi. Rabu. 15 Maret 2006. Senin. 14 Maret 2006. konstitusi Menghormati K E WA J I B A N N E G A R A (-) Tanpa intervensi (omission) Sumber: Harry Wibowo. 144 Setuju RUU APP. 16 Lihat “Hampir 30 Persen UU Bertentangan dengan Konstitusi. UU. 53 .” Detikcom. Rabu. Op. 16 Maret 2006.ahrchk. 8 Maret 2006.” Metrotvnews. 8 Maret 2006. Jumat. Jumat. “Slamet Rahardjo: RUU APP Tempatkan Perempuan Seolah Hantu. banyak UU tumpang tindih dan banyak yang hanya tambal sulam. 17 Lihat “Banyak UU Tanpa Kajian: Tidak Ada Desain Besar Legislasi Nasional. Kamis.” www. Banyak yang Tumpang Tindih. 8 Maret 2006. Kebebasan/Hak Sosial (freedom/right for itself) Relatif: Dalam situasi dan alasan tertentu. selain banyak undang-undang lahir tanpa ada penelitian mendalam.” Detikcom. 22 Mei 2006.” Detikcom.” www. juga dilakukan untuk mendukung kebijakan pemerintah baru sehingga banyak UU di Indonesia cepat berubah atau direvisi. 16 Maret 2006. 4 • Th. Kamis. Jumat. 9 Maret 2006. Rabu. cit. “Ratusan Mahasiswa Yogya Demo Tolak RUU APP. 8 Mei 2006.” Detikcom. “Hilman Rosyad Syihab. 2007 Tolak RUU APP. 10 Maret 2006. “Aksi Seribu Tayub JURNAL HAM • Vol. 16 Februari 2006.fpksdpr.000 Ulama di Gontor. “Dari 167 Lembaga Tamu Pansus. yang terus melakukan kajian mendalam jika hendak melakukan revisi atau membuat UU. Ibid.” Detikcom. Kamis. 14 Lihat “Pernyataan Asian Human Rights Commis- sion: Ratifikasi Instrumen Utama Hak Manusia Harus Ditindaklanjuti dengan Reformasi Hukum.id.” Detikcom. 9 Februari 2006. “30 Elemen Islam Malang Demo Dukung RUU APP. dan “Gus Dur Siap Upayakan Amandemen Jika RUU APP Jadi UU.

Senin. setelah negara RI meratifikasi CAT (konvensi menentang penyiksaan).22 UU No.20 Di sinilah pentingnya ditempuh atau diambil langkah-langkah untuk meningkatkan profesionalisme melalui pendidikan dan pelatihan bagi polisi untuk melindungi hak-hak setiap orang yang dirampas kemerdekaannya karena suatu tindak pidana. “Komnas Perempuan Tolak Perda Tangerang Tentang Pelacuran. Akibatnya membabi buta. 22 Mei 2006: “Syariat Islam. apalagi tesangka dilumpuhkan dengan menggunakan senjata api.” Kompas. serta beberapa daerah kabupaten seperti Cianjur dan Tangerang. Pemerintah pusat dicurigai memang tak mau mengeluarkan PP untuk menciptakan kondisi yang tidak jelas di daerah. yang berbeda dengan banyak kategori hakhak sipil dan politik. Tanpa pemahaman yang memadai bagi aparat penegak hukum. 4 Maret 2004. masih saja diberlakukan ketentuan TAP MPRS No. 2007 . 6 April 2006. “Syariat Islam dalam KUHP Bermuatan Politis. Lihat juga “Pemerintahan Daerah: 393 Perda Bermasalah Akan Dibatalkan. 2 Oktober 2003.” Kompas. 25 Mei 2006 10:02:05. dan “Polisi Tembak Buron Pelaku Curas. Kamis. Kasus-kasus ini dapat diperhatikan mengenai penerapan Syariat Islam di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. “Polisi Tembak Penjahat Kambuhan. Di dalamnya berisi banyak pasal yang tidak jelas dan terbelakang. Op. 12 Mei 2006. (c) Principles for Protection of All Persons under Any Form of Detention for Imprisonment. “Polisi Tembak Buronan LP Saat Mencoba Melarikan Diri dari Kejaran Petugas. Lihat “Pernyataan Asian Human Rights Commission:…. Rabu. serta (d) Standard Minimum Rules for the Treatment of Prisoners. Rabu.” Republika Online. 24 April 2004. Hak atas kebebasan berpikir. 22 November 2003. yang merupakan batu pertama dari seluruh sistem legal. Rabu. 12/2005 diberlakukan secara seragam di seluruh negeri dan diharapkan tak ada yang bertentangan dengannya. cit. bahkan ada yang mengusulkannya dalam revisi KUHP. termasuk 18 Hikmahanto Juwana. pemerintah ditantang pula untuk melakukan sosialisasi atas ICCPR yang telah diratifikasi. dibuat pada tahun 1918.” TEM- 20 21 22 23 24 PO Interaktif.24 Persoalannya adalah banyak langkah dan kebijakan yang tak konsekuen dari pemerintah dan aparat negara dalam implementasinya.” Sinar Harapan. Eksplorasi Perspektif Elite Penyelenggara Pemerintahan Daerah tentang Otonomi. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). terungkap banyak anggota DPRD tidak berkemampuan memahami konsep otonomi daerah. Lihat “Pelaksanaan Otonomi Daerah Kebablasan. maka akan sulit dibayangkan efek ICCPR bagi setiap orang. Hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang dilakukan Syarif Hidayat dan Carunia Mulya Firdausy.” Sriwijaya Post Online. Selasa. Cit.” Sinar Harapan.21 Ketiga. 22 Mei 2006. 8 Maret 2006. implementasi berbagai peraturan perundang-undangan yang didasarkan pada ICCPR. Persoalan yang dihadapi adalah bagaimana aparat penegak hukum (law enforcement officials) memahami berbagai peraturan perundang-undangannya. Lihat “RUU Pemerintahan Aceh: Diusulkan Polisi dan Jaksa Khusus Syariat. beragama dan berkeyakinan sebagai kebebasan mutlak (freedom in itself). 30 Juni 2004. Empat instrument yang perlu diadopsi adalah (a) Code of Conduct for Law Enforcement Officials.” Sinar Harapan. dalam pelaksanaannya aparat kepolisian cenderung gagal memperlakukan seorang tersangka secara manusiawi. Kamis.” Cenderawasih Pos.18 Satu contoh saja. (b) Basic Principles on the Use of Force and Firearms by Law Enforcement Officials. termasuk yang bertalian dengan kekhawatiran mengenai kelemahan otonomi daerah atau otonomi khusus. Kamis. Op. Sabtu. “Perda Larangan Pelacuran Akan Diterapkan di Jakarta.” Sinar Harapan. Rabu. dan “Direktur ICIP Syafii Anwar: Perda Syariat Bisa Picu Disintegrasi.” Detikcom. Senin. 4 • Th. solusinya bagaimana meningkatkan kualitas elite penyelenggara pemerintah daerah. pada saat kolonial Belanda berkuasa. 54 JURNAL HAM • Vol. “Yusril Bantah Revisi KUHP Mengadopsi Syariat Islam. Jumat. Sabtu. XXV/1966 maupun pelarangan suatu ajaran (dikatakan sesat) dan pemidanaan atas orang yang menyebarkannya. terutama dalam penggunaan kekuatan dan senjata api. sehingga banyak orang akan mengetahui apa saja hak-hak sipil dan politik yang seharusnya dinikmati. 19 Lihat “Polisi Tembak Mati Perampas Motor.23 Beberapa provinsi dan kabupaten pun telah menerapkan pelaksanaan syariat Islam dalam Peraturan Daerah (Perda). 1 Oktober 2003.” Detikcom.” Kompas. dari Desa Mengepung Kota. 7 Maret 2006. Padahal. Banyak terjadi praktik politik uang.Kedua.19 Dalam penegakan hukum seharusnya ditekankan standar minimumnya.

24 Mei 2006. kelak pemerintah harus membuat laporan mengenai pelaksanaan hak-hak sipil dan politik yang disampaikan JURNAL HAM • Vol.” gusdur. 12/2005. “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah. 2007 pada Komite di PBB. juga campur tangan aparat penegak hukum (polisi) untuk melindungi hak dan kebebasan setiap orang dari berbagai tindakan orang atau kelompok lain. 55 . tantangan besar yang dihadapi adalah mata rantai impunitas (cycle of impunity) sebagai penghalang dalam menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran hak-hak.26 Kebiasaan pemerintah tanpa menyediakan infrastruktur pendukung atas langkah-langkah implementasi hasil ratifikasi berbagai perjanjian hak-hak manusia dapat dipandang sebagai sikap tak mau (unwilling) atau abai untuk berbuat sesuatu. 16 Agustus 2005.28 Persoalan kelemahan ini menjadi tantangan bagi pemerintah dan aparat penegak hukum atau keamanan pasca-ratifikasi agar hak-hak sipil dan politik setiap orang terlindungi. tantangan untuk menyediakan infrastruktur pendukung bagi terlaksananya UU No. Panitia Penyelenggara” – INCRESS. Sehingga nyaris tak diketahui umum yang bertalian dengan apa kemajuan yang dicapai. Selasa. sehingga terasa kurang berefek pada pelaksanaannya.net. “Gus Dur Hadapi Teror Gerombolan Islam Radikal.net. Syarikat Indonesia dan Komnas Perempuan – serta para peserta mengalami gangguan dan perlakuan yang sewenangwenang dari sekelompok oknum yang mengaku PAGAR (Persatuan Anti Gangguan Regional) dan PPM (Patriot Panca Marga) pada 20 Mei 2006.” Pikiran Rakyat. 27 Lihat “Pernyataan PBHI Jawa Barat: Protes atas Pembubaran Paksa Pertemuan di Wisma Brantas Bandung. peraturan perundang-undangan tidak tersedia bagi para hakim dan banyak lagi persoalan lainnya. Sejauh ini tak pernah diketahui umum atau sangat kurang disosialisasikan bagaimana sesungguhnya isi laporan pemerintah mengenai pelaksanaan setiap perjanjian internasional tentang hak-hak manusia yang telah diratifikasi.” gusdur. Belakangan ini adalah sering gagalnya aparat keamanan melindungi kebebasan berkumpul dan berpendapat. pada tingkat MUI dan kejaksaan sudah ada larangan terhadap kegiatan Ahmadiyah. dan “Dialog Lintas Etnis Nyaris Rusuh: Gus dur Tuding Gerakan Ormas Islam Ada yang Mendanai. 22 Mei 2006. 26 Hikmahanto Juwana. 24 Mei 2006.dalam urusan hak atas kebebasan beragama dan berkeyakinan seperti kasus pelarangan Ahmadiyah.” Detikcom. Op. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjelaskan. 4 • Th. termasuk laporan mengenai pelaksanaan CAT dan ICERD yang telah menjadi UU. Penjara dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Lihat juga.” Bandung. cit. Keenam.25 Keempat. termasuk bagaimana seharusnya semua aparatur berperilaku yang dipertalikan dengan ICCPR tanpa kecuali pada lembaga-lembaga peradilan dan pengadilan. Rabu. Kelima. Selasa. Tapi kenyataannya masih banyak kantong-kantong Ahmadiyah di daerah.27 bahkan ancaman atas kebebasan beragama dan berkeyakinan. Selasa. 23 Mei 2006. tapi penting pula didesak untuk juga melakukan sosialisasi laporan-laporannya kepada warganya. Impunitas dan pelanggaran hak Bagi masyarakat Indonesia. 23 Mei 2006. Impunitas telah menjadi penghalang yang serius bagi tegaknya 25 Lihat “SBY: Ahmadiyah Sudah Resmi Dilarang Pemerintah. seiring dengan telah diratifikasinya ICCPR.” Bandung. lebih lanjut selain tantangan untuk memajukan praktek penghormatan dan perlindungan hak-hak sipil dan politik dengan meratifikasi Protokol Pilihan (Optional Protocol to the Covenant on Civil and Political Rights). 28 Lihat “Siaran Pers PBHI Jawa Barat tentang Pengusiran Gus Dur dan Intimidasi Kegiatan Forum Dialog Lintas Agama di Purwakarta. Kerap dijumpai aparat penegak hukum harus bekerja dengan infrastruktur pendukung hukum yang minim. selain apa langkah-langkah yang telah diambil untuk meningkatkan penghormatan dan perlindungan hak-hak sipil dan politik.

14 Februari 2006. 21-22. pengadilan dan apabila dianggap bersalah dikenakan hukuman yang sesuai norma hukum positif. 2007 . administratif. Jumat.35 tapi para pejabat MA – termasuk hakim agungnya – mengambil keputusan yang aneh dengan memperpanjang usia pensiun Bagir Manan.31 Terlepas dari kesalahannya memahami konsep hukum internasional. bahkan berlanjutnya pelanggaran hak-hak manusia. hal. “KPK Terlambat Geledah Ruang Ketua MA. dan “Konflik MA-KY Hanya Untungkan Mafia Peradilan.” Kompas Cyber Media.32 Kegagalan ini diikuti pula dengan perkara-perkara Tanjungpriok dan Abepura. Kesalahan ini mungkin salah satunya terletak dari kegagalan para penyusunnya dalam memahami perbedaan antara hukum internasional tentang hak-hak manusia dan hukum humaniter internasional. Lebih dari itu mereka juga telah memilihnya 29 Lihat “Kerangka Acuan Perencanaan Strategis 30 31 32 33 34 35 Impunitas. 26/2000. Hendardi. atau disipliner karena mereka tidak dapat diperiksa yang memungkinkan berlangsungnya penuntutan. tapi pada intinya pengadilan HAM Ad Hoc untuk Timor Timur berlangsung dengan kegagalan untuk menghukum orang-orang yang terlibat dan bertanggungjawab dalam kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanity). Cacat mendasar ini terjadi ketika Kejaksaan Agung mengambil alih penyelidikan setelah diterimanya laporan KPP HAM yang ditunjuk Komnas HAM. perbaikan kondisi. vii-ix.com. 23 Januari 2006 22:30 WIB.” Waspada Online. 13:29 WIB. 28 Oktober 2005. Kamis. “Mafia Peradilan di Indonesia.33 Salah satu kasus yang cukup menggegerkan adalah dugaan suap atas hakim agung yang menangani perkara penyelewengan dana reboisasi dengan terdakwa Probosutedjo. Senin.” Republika. Sejumlah jaksa telah bertindak di luar kebiasaan karena menuntut terdakwa bebas dari hukuman. Rabu. Dalam kerangka hukum internasional. “Ruang Kerja Bagir Digeledah. 28 Oktober 2005. Selasa. Berkeley: International Center for Transitional Justice. 56 JURNAL HAM • Vol. Jumat. Lihat juga “Liku-liku Percaloan dan Mafia Peradilan di Indonesia. Pengadilan hak-hak manusia. The Scope of Impunity in Indonesia (draft). Utrecht: The Netherlands Humanist Committee on Human Rights. sekurangkurangnya pada tingkat kawasan seperti Pengadilan Eropa tentang Hak-hak Manusia (European Court of Human Rights) dan Pengadilan AntarAmerika tentang Hak-hak Manusia (Inter-American Court of Human Rights) David Cohen. 27 Oktober 2005 13:32.” Suara Pembaruan. Kamis. Sistem peradilan di Indonesia dituding telah dikuasai sebagian mereka yang menjalankan tugas sebagai aparat penegak hukum dan pengadilan. Intended to Fail: The Trial Before the Ad Hoc Human Rights Court in Jakarta. juga Ketua Pengadilan Jakarta Pusat Cicut Sutiarso terkait kasus suap tersebut. impunitas adalah ketidakmungkinan secara de facto atau de jure untuk membawa pelaku kejahatan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. baik dalam proses peradilan kriminal. Selain Harini Wijoso.” Riau Pos Online. 4 • Th.” Gatra. 10 Mei 2006. 8 Oktober 2005.” Suara Pembaruan. Rapim darurat digelar saat penggeledahan berlangsung. Ruang kerja Ketua Mahkamah Agung (MA) Bagir Manan digeledah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Persoalan dengan impunitas bukan hanya pada proses peradilan HAM saja.29 Secara harfiah. Lihat “Majelis Hakim Masih Musyawarah Bahas Soal Bagir Manan. Martha Meijer.30 Negara RI memang aneh karena merupakan satu-satunya negara yang mendirikan dan mengoperasikan pengadilan hakhak manusia (human rights court) berdasarkan UU No. impunitas dapat diartikan sebagai “bebas dari hukuman”. 2 Februari 2006. Bogor.34 Kendati Probosutedjo telah memberikan keterangan dan Harini Wijoso pun disidangkan sebagai terdakwa. Sikap ini menampakkan tak punya itikad untuk mendakwa kendati sejumlah hakim berusaha membuktikan adanya kejahatan. melainkan juga peradilan pidana. hal.” lokakarya yang diselenggarakan PBHI dan HOM pada 29-30 Mei 2006 di Cipayung. sipil. “Mafia Peradilan Di Mana-mana.” Kompas. 2006.keadilan. 2004. penahanan. Mereka dijuluki sebagai “mafia pe- radilan”. Sabtu. Lihat “KPK Geledah Ruang Kerja Bagir Manan.

“Bagir Manan jadi ketua MA lagi. “Massa Bubarkan Pertemuan Perempuan Eks Napi PKI.36 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono – melalui Keputusan Presiden No 17/P/2006 – pun melantik Ketua MA yang dipilih oleh hakim agung. Senin. 02 Mei. Lihat “Diskusi Korban Kekerasan Perempuan Tahun 1965 Dibubarkan. Jumat. Komnas Perempuan dan Syarikat (Santri untuk Advokasi Masyarakat) Indonesia pada 20 Mei 2006 di Bandung telah menemui penghalangnya.” Fahmina menyayangkan aparat kepolisian lamban menangani kasus penyegelan itu.” Republika Online. Senin. “Komnas Perempuan akan Minta Klarifikasi Kapolri. Selasa. 2006 .37 Lainnya yang bertalian dengan persoalan impunitas adalah situasi yang menghalangi proses perlindungan dan perbaikan kondisi hak-hak manusia. Menurut Ketua Dewan Kebijakan Fahmina KH Husein Muhammad. Rabu. Senin. Minggu. 22 Mei 2006. Selasa. selain disertai dengan ancaman dan intimidasi atas panitia dan para peserta. Polisi Bengong. Sulawesi Selatan. dan “Bagir Terpilih. Pertemuan yang diadakan INCReS (Institute for Culture and Religion Studies).” Rakyat Merdeka.” Riau Pos Online. 4 • Th. Kantor mereka diserbu puluhan oknum yang berasal dari PPSI (Pemuda Penegak Syariat Islam). 18:18:45 WIB.” Suara Pembaruan. 22 Mei 2006 19:19:00.41 36 Lihat “Bagir Manan Perpanjang Usia Pensiun Diri- 37 38 39 40 41 nya: Disebutkan.” Kompas Cyber Media.” juga tulisan “LSM raJURNAL HAM • Vol. dan “Kapolri Harus Klarifikasi Pembubaran Kegiatan Mantan Tapol PKI.” Kompas. Fahmina dituduh merusak aqidah dan menjual ayat-ayat Al Quran dengan murah. Jumat.” Media Indonesia Online.” Rakyat Merdeka. Massa demonstran pendukung RUU APP yang beratribut FPI (Front Pembela Islam). 20 Januari 2006. 13 Oktober 2005. 02 Mei 2006 11:15 WIB. 18 Mei 2006 14:52 WIB. 20 Mei 2006 22:31:32.40 Pengalaman buruk atas kebebasan berserikat ini juga pernah dialami sebelumnya ornop LAPAR (Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat) pada 22 Februari 2006 di Bulukumba. 12:09 WIB.kembali sebagai Ketua MA tanpa melalui proses seleksi lagi. “Bagir Manan Siap Pensiun Tahun 2008.” Detikcom. Cirebon Sesalkan Sikap LSM Fahmina. Halangan kebebasan berserikat juga menandai kasus yang menimpa Fahmina Institute di Cirebon. 2 Juni 2006 | 13:05:43 WIB.com. dan “FPI Segel Fahmina Institute Cirebon. FUI (Forum Umat Islam) dan MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) menyegel Kantor Fahmina. 16 Mei 2006. 12 Oktober 2005. Kamis. Lihat “Demonstran Dukung RUU APP di Cirebon Segel LSM Fahmina. Jumat.38 Sebelumnya juga terjadi larangan seminar tentang Tuntutan Penutupan PT Freeport di Jayapura. Selain ditempelkan tulisan “Kantor ini disegel. 10 Maret 2006. 2007 cun” dan “antek asing.” Kompas. Tunggakan Perkara di MA Masih Banyak. 22 Mei 2006. 22 Mei 2006.Published 13:11 GMT. 21 Mei 2006.” Tribun Jabar. 22 Mei 2006. 26 Mei 2006. Selain adanya dugaan kuat mengenai campur tangan aparat militer. Lihat “Presiden Lantik Bagir Manan Jadi Ketua Mahkamah Agung. 57 .org. juga aparat Polres Bandung Tengah terlibat dalam membubarkan pertemuan. “Muladi: Perpanjangan Pensiun Bagir Manan Keliru.” Kompas.” Antara News. Kamis.” Media Indonesia Online. “FUI Wil.” Media Indonesia Online.” KabarBaru. Senin. 23 Mei 2006. “Bagir Manan: Tak Ada Alasan untuk Mundur. Selasa. Sabtu. Jumat. 02 Mei 2006. Dianggap Tolak RUU APP. Lihat “LSM Fahmina Diserbu Massa Pendukung RUU APP. Seminar Incres Dibubarkan. Jumat.” Pikiran Rakyat.” BBCIndonesia. Senin. Selasa. Kamis.” wahidinstitute.39 Kedua peristiwa ini dapat diduga sebagai pelanggaran hak atas kebebasan berkumpul dan berpendapat. 15:03 WIB. 26 Mei 2006. bahkan empat orang panitia dibawa dan diinterogasi ke markasnya. “Bagir Terpilih Kembali Sebagai Ketua MA. 04:18:30 WIB. 18 Mei 2006. Lihat “Komnas HAM Sesalkan Larangan Seminar. Bagir Ditolak. “Bangkitkan Semangat “PKI”.” TEMPO Interaktif. Tolak Usulan untuk Nonaktif. “Presiden Lantik Bagir Manan Sebagai Ketua MA.” Kompas Cyber Media. “Massa Segel Kantor LSM. Gangguan dan ancaman hak atas kebebasan berkumpul dan berpendapat maupun kebebasan berserikat dan beragama semakin nyata. “Bagir Manan Merasa Difitnah. Kegiatan mereka dibubarkan secara paksa oleh sekelompok oknum dari PAGAR (Persatuan Anti Gangguan Regional) dan PPM (Patriot Panca Marga).

Kamis. kampus ini kembali dikepung ribuan orang dari Masyarakat dan Umat Islam Parung 42 Lihat “Gus Dur Hadapi Teror Gerombolan Islam 43 44 45 46 47 Radikal. “Gus Dur vs Ormas Radikal: Polisi Minta Semua Pihak Menahan Diri. Massa LPPI dan FPI melempari arena pertemuan tahunan JAI. Massa ormas ini menyerang ribuan jamaah di Kampus Al-Mubarok di Parung.46 Fatwa ini berubah menjadi aksi kekerasan yang dilakukan ribuan orang yang mengaku dari LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) dan FPI pada Sabtu. MMI dan HTI pada 23 Mei 2006 di Purwakarta ketika diadakan acara Forum Dialog Lintas Agama di mana Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi keynote speaker. “Pemerintah Dikritik Tak Tegas. Kampus ini juga mengalami kerusakan. Lihat “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah.” Rakyat Merdeka. 26 Mei 2006.” Rakyat Merdeka. 24 Mei 2006. Jawa Barat. 26 Mei 2006.Tak hanya kebebasan berkumpul. Jum’at. 25 Mei 2006. 13 Agustus 2005 19:04. Kamis. “GP Ansor Minta Ormas Liar Dibubarkan. 28 Juli 2005 20:26 WIB “Fatwa-fatwa Haram Ala MUI. karena menuduh JAI bertentangan dengan ajaran Islam.” gusdur. “13 Terdakwa Kasus Pengrusakan Kampus Mubarok Ahmadiyah Disidangkan di PN Cibinong Jabar. Kamis.com.” gusdur. 9 Juli 2005. 6 Maret 2006 13:05 WIB. “DPP PBB Dukung fatwa MUI Soal Ahmadiyah.” elshinta. Jumat. Kamis. 23 Mei 2006. 10:03:13 WIB.” elshinta.” Pikiran Rakyat.com. “Dialog Lintas Etnis Nyaris Rusuh. Sabtu. 2007 . 26 Mei 2006. dan “Massa NU Akan Survei di Slipi Apa FPI Lakukan Syiar Agama. 26 Mei 2006. Lihat “Massa Pencinta Gus Dur Berdemonstrasi. “FBR Gabung FPI Hadang NU. 23 Mei 2006. Jumat.” Liputan6. Kamis. 29 Juli 2005 | 06:38 WIB.” Liputan6. 14:14:51 WIB. Dalam peristiwa ini bukan saja panitia dan peserta forum dialog merasa terganggu dan terteror. 26 Mei 2006. tapi lebih dari itu ancaman serius atas kebebasan beragama pun merebak. Rabu. Lihat “SBY-JK Didesak Bubarkan FPI. Selasa. “Garda Bangsa Minta Habib Rizieq Ditangkap.” Suara Pembaruan. Warga Bentrok dengan Pengikut Ahmadiyah. “Sejumlah Ormas Islam Gelar Tabligh Akbar Dukung Fatwa MUI. Todung: Saya Protes Keras Terhadap FPI. Jumat.net. 9 Juli 2005 18:04. 25 Mei 2006. 4 • Th.net.” Pikiran Rakyat.” Rakyat Merdeka. 26 Mei 2006. Rabu.com. 24 Mei 2006. Sejumlah oknum dari ormas Islam membuat kegaduhan dan masuk ke dalam ruangan acara untuk membubarkan forum. “Massa FPI-FBR Bersiap Menghadapi Serbuan Garda Bangsa. Jumat.” Detikcom. 25 Mei 2006 05:59.” Gatra.com. 24 Mei 2006.42 Peristiwa ini bukan saja mendapat reaksi dari basis-basis massa NU dan PKB. Selasa.47 Selang enam hari.” Rakyat Merdeka. Jumat. “NU Tuntut FPI Minta Maaf. Ormas Islam Buat Pernyataan. Jumat. dan “Saat Pidato.com. Rabu. Sabtu. 31 Mei 2006.44 Bahkan memunculkan desakan mereka untuk membubarkan beberapa ormas Islam radikal tersebut. “NU vs FPI: Polisi Barikade Jl KS Tubun. dan “Banteng Jakarta Dukung Gus Dur Hadapi FPI Cs. Sebelumnya MUI Purwakarta dilaporkan melakukan intervensi. Kamis.” Rakyat Merdeka.” Rakyat Merdeka. Gus Dur Diserang Massa FPI dan HTI. Jumat. Jumat. Aksi FPI Cs Meresahkan: Massa NU dan Prodemokrasi Demo ke Mabes Polri.” Rakyat Merdeka. 25 Mei 2006 01:54. “MUI Tetapkan 11 Fatwa. 10 Juli 2005. Buntut Acara Dialog Lintas Etnis dan Agama. dan “Tuntut Milisi Sipil Dibubarkan.” gusdur. Fatwa ini didukung sejumlah ormas dan partai Islam seperti PBB (Partai Bulan Bintang).” Detikcom.” Kompas. Kamis. MUI mengeluarkan fatwa yang menyatakan Ahmadiyah sebagai “aliran sesat”. 25 Mei 2006 10:26. 26 Mei 2006.” Pikiran Rakyat. 15:48:40 WIB. 25 Mei 2006. Aksi Kekerasan dan Perusakan Terus Dibiarkan.43 tapi juga dari beberapa kalangan lainnya yang menyatakan “lawan preman berjubah”.net.net.” detikInet. Senin. Lihat “MUI Kembali Fatwakan Ahmadiyah Sebagai Aliran Sesat. melainkan juga Gus Dur diperlakukan secara tak pantas. 5 Agustus 2005 13:08 WIB Lihat “Dua Kelompok Massa Islam Bentrok. 11:36:46 WIB. dan “Saat Mencoba Membubarkan Pertemuan di Kemang. “Azyumardi Azra Menuntut Pengusir Gus Dur Diusut. “Aliansi Masyarakat Anti-Kekerasan Luruk Markas FPI Besok Siang. “Pengusiran Gus Dur. Kamis. Minggu. 27 Mei 2006. 26 Mei 2006. Jumat. 58 JURNAL HAM • Vol. Polisi Biarkan FPI Bertindak Anarkis.” Liputan6.com.” TEMPO Interaktif. 28/07/2005 20:11 WIB.” Liputan6. Haram Hukumnya Perdukunan dan Peramalan.” Detikcom.com. WIB. 26 Mei 2006. Rabu. Yang paling menderita adalah jamaah Ahmadiyah.” Media Indonesia Online. Kasus paling hangat adalah aksi sejumlah oknum dari FPI. 17:24:23 WIB.45 Sebelumnya juga banyak terjadi peristiwa yang telah mengancam kebebasan beragama dari berbagai ormas Islam. Bogor.” gusdur. “Disesalkan. Sabtu.” Jumat. Gus dur Tuding Gerakan Ormas Islam Ada yang Mendanai. Akibat bentrokan itu. 19:16:05 WIB. 12:16:50 WIB. sedikitnya delapan orang luka-luka terkena lemparan batu dan kayu.

Lihat “Ratusan Ulama Sukabumi Menolak Ahmadiyah. Lihat “GARIS Bertanggung Jawab Atas Serangan Perkampungan JAI.” Detikcom. Jum’at. Lihat “SBY: Ahmadiyah Sudah Resmi Dilarang Pemerintah.” elshinta.48 Peristiwa ini mendapat reaksi dari berbagai kalangan. “Jemaah Ahmadiyah Sambut Baik Keberadaan Satgas Garda Bangsa. 30 Pengungsi Jemaat Ahmadiyah di Lombok Tengah Ingin Kembali ke Rumah. “12 Pengrusak Masjid Ahmadiyah di Cianjur Dibekuk. 15 Jul 2005 13:11:12.” elshinta. Senin.58 Pernyataan ini disesalkan oleh perwakilan Ahmadiyah.” Hidayatullah. Muspida Garut Sepakat Melarang Ahmadiyah. dan “Keluarga Ahmadiyah Bulukumba Mengungsi. juga dari GUII (Gerakan Umat Islam Indonesia) yang dipimpin Habib Abdurrahman.com. 2 Agustus 2005. dan “Mengekang Kebebasan Beragama.net.htm.com.indomedia. Selasa. Gus Dur: Itu Pidana.” elshinta. Rabu 5 April 2006. “Fatwa MUI Dituding Melegitimasi Penyerangan Terhadap Ahmadiyah.” Metrotvnews.” Detikcom. 4 • Th. Lihat “Ahmadiyah Makin Terzalimi dengan Fatwa MUI. Jumat. 21 Agustus 2005 16:17 WIB. Sabtu. Rabu.” http://www. 15/07/2005 17:57 WIB. dan “Kejaksaan Telah Mendata Asetnya. Sebagian mempersenjatai diri dengan tongkat bambu. Jumat.” Metrotvnews. 7 Agustus 2005 13:27 WIB. “Negara Hukum Ataukah Kekuasaan.com.” gusdur. Lihat “Rumah Ketua Ahmadiyah Kab.com. Lihat “Ahmadiyah Bulukumba Diancam Demo Besar-besaran. Lihat “Jaksa Agung: Larangan Ajaran Ahmadiyah Bersifat Parsial. Selasa.” detikInet. “Gus Dur Sesalkan Penyerangan Masjid Ahmadiyah di Cianjur.51 Garut. “Warga Ahmadiyah NTB Mengucapkan Syahadat.” Kapanlagi. ancaman. Rabu. 17 Februari 2006.” detikInet. 21:12 WIB. 49 Lihat “Tokoh Antaragama Kutuk Penyerangan Jemaat Ahmadiyah.” Media Indonesia Online. Kepolisian Resor (Polres) Bogor menyegel kampus setelah unsur Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) Kabupaten Bogor menyetujui keputusan bersama untuk menutup kampus.” Liputan6. 5 Februari 2006. Kamis.Com.” Gatra. 2 Agustus 2005.” Pikiran Rakyat.com.” Detikcom. juga pemerintah pusat tetap melarangnya sebagaimana yang dikemukakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Rabu. Sejumlah massa melempari para JAI dengan batu dan kayu saat dievakuasi dari Kampus Mubarok. Jumat. 22 Februari 2006 23:50. 16 Juli 2005.com/id/index. Gus Dur: Yang Membakar Harus Ditangkap. memang terjadi peningkatan berbagai aksi penolakan. 21 Juli 2005 18:54 WIB.” Li- 50 51 52 53 54 55 putan6.” Pikiran Rakyat.net.49 Sejak peristiwa itu. Jumat. Jumat. 05 Agustus 2005. 18 Juli 2005 19:26 WIB.” Kompas Cyber Media. Abdurrahman Wahid. Lihat “Ahmadiyah Sesalkan Pernyataan Presiden SBY Soal Kejaksaan Pernah Larang Ahmadiyah. “Gus Dur Meminta Masjid Milik Ahmadiyah Dibuka. Minggu.” Kompas Cyber Media. Sabtu. 20 56 57 58 59 60 Juli 2005 (tulisan ini ditulisnya ketika dirawat di RSCM). Rabu. Kejengkelan terhadap Ketidakpastian Sikap Pemerintah.Bogor dan Jakarta. intimidasi dan teror kekerasan terhadap JAI di berbagai daerah seperti yang dialami jamaah ini di Sukabumi. Jumat. “Sejumlah Sarana Ibadah Ahmadiyah di Kuningan Disegel.” Tribun Timur. 22 September 2005. Rabu.com. Garut Diamuk Massa. Lihat “Pembakaran Rumah Jama’ah Ahmadiyah NTB.” Detikcom. Lihat “Teror: Belasan Rumah Ahmadiyah Dibakar. Garis adalah singkatan dari Gerakan Reformis Islam.” gusdur. 18:05 WIB.com/bpost/072005/16/nusantara/nusa1. JURNAL HAM • Vol. “72 Anggota Ahmadiyah Nyatakan Keluar. “Jemaah Ahmadiyah Kuningan Bantah Ada Bentrokan. Jumat. 16 Agustus 2005. September 2005. Kamis. Minggu.50 Cianjur. 06:57. M. 15 Juli 2005 20:20.52 Kuningan. dan “Markas Ahmadiyah Diserbu Massa.” gusdur.” Media Indonesia Online. Jumat. 9 Agustus 2005.” detikInet. 20 Juli 2005 08:02 WIB.” Koran Tempo. 21 September 2005.56 Pernyataan ini mungkin setelah keluar pernyataan Jaksa Agung yang menegaskan larangan atas Ahmadiyah. Sabtu.php?page= article&id=850. 30/07/2005 16:55 WIB. Selasa. “Teror atas Ahmadiyah dan Problem Kebebasan Beragama.net.” Tribun Timur. Rabu. 24 Pebruari 2006. 26 April 2006 10:12 WIB.60 48 Lihat “Kampus Ahmadiyah Dikepung Massa.59 Mereka menjadi korban kesewenang-wenangan atau kezaliman. 18 Februari 2006. Massa yang menyerbu selain dari FPI. 14 Pebruari 2003 16:22.com. 30 Juli 2005.” ttp://islamlib.55 Selain beberapa pemerintah di daerah telah melarang aktivitas JAI. 29 Juli 2005 20:00. “Kegiatan Jemaat Ahmadiyah di Kuningan-Bogor Dilarang. Sabtu. 18 Jul 2005 19:49:51.57 selain diperkuat oleh Menteri Agama Maftuh Basyuni. 5 Agustus 2005 15:31. “Dievakuasi Jemaat Ahmadiyah Dilempari Batu & Kayu. 2007 59 .53 serta beberapa daerah lainnya terutama yang dialami jamaah Ahmadiyah di Bulukumba (Sulsel)54 dan Lombok Barat (NTB). Lihat “Pemerintah Tetap Larang Ajaran Ahmadiyah.com.com. Dawam Rahardjo. dan “Desak Pemda Lombok Tengah. Minggu.

Kecamatan Genuk (31 Juli 2005). 9 Oktober 2004 8:45:00 WIB. Selasa.61 Pada 12 September 2004 terjadi aksi warga berdasarkan Maklumat Forum Silahturahmi Ulama Cendikiawan Muslim (FSUCM) yang melarang ibadah di Gereja-gereja Rancaekek. Rabu. 6 Pebruari 2004. Gereja Kristen Pasundan (GKP) di Katapang (Kab. 2007 60 . tapi juga sekaligus menjadi bagian dari terus langgengnya impunitas. 7 September 2005 01:34:26. “Massa Datangi Kontras dan PBHI.” Kompas. Lihat “Camat Dayeuhkolot Tutup Gereja Ilegal. 15 Agustus 2005. FKKU (Forum Komunikasi Kemaslahatan Umat) dan FSPI (Forum Silaturahmi Pemuda Islam) serta ormas kedaerahan seperti FBR (Forum Betawi Rempug) yang kerap melakukan penyisiran (sweeping) dan kekerasan baik atas pemeluk agama dan orang lain maupun tempat-tempat hiburan. terutama oleh sekelompok orang dari ormas Islam seperti FPI. Senin. Bogor). 4 • Th. Senin. Prospek implementasi ICCPR Kendati negara RI telah meratifikasi ICCPR. Pendidik- 62 63 64 65 66 an Jangan Jadi Korban. Sekolah milik Yayasan Sang Timur yang terletak di Kabupaten Tangerang menjadi sasaran aksi penutupan gerbang oleh sekelompok orang yang mengaku dari FPI. 2 Juni 2006.” Republika.” Gatra.” kristianipos. Gereja Isa Almasih (GIA) di Karangroto.62 Antara Juni-Agustus 2005.” Sinar Harapan. Kabupaten Indramayu dan tiga orang pembinanya ditahan di LP. tapi juga oleh sekelompok orang dari ormas Islam seperti AGAP (Aliansi Gerakan Anti Pemurtadan) dan FPI. 27 Mei 2003 14:52. Selasa. Jumat. sejumlah gereja ditutup. JURNAL HAM • Vol. Selasa. Lihat “Sejumlah Ormas Islam Tutup Gereja Ilegal. 31 Maret 2003.co. Gereja Kristen Kemah Daud (GKKD) di Kampung Warung Mekar.” TEMPO Interaktif.com. Lihat “PBHI Desak Kapolri Usut Kasus Kekerasan di Garut. dan “Wardah Hafidz Kecewa dengan Putusan Hakim. 23 Agustus 2005. Kabupaten Bandung. Desa Bungursari (Kab.com.Kasus gagalnya perlindungan hak atas kebebeasan beragama juga dialami oleh pemeluk agama Protestan dan Katolik.” TEMPO Interaktif. Kelurahan Tani Mulya. “Gus Dur: Hentikan Aksi Penutupan Gereja. tapi kenyataannya tak ada jaminan hak-hak sipil dan politik setiap orang dihormati. Senin. 1 Juni 2006 di Garut. Kecamatan Ngamprah (Kab.63 Aksi penutupan gereja ini tak hanya oleh pemerintah lokal. “Kantor Kontras Diserbu Massa. Pernyataan ini ditujukan kepada Bupati Kabupaten Bandung. Bandung). Sabtu. Selasa. Bandung). yaitu Gereja Kristen Kemah Daud (GKKD) di Kecamatan Haurgeulis.” christianpost.64 Kasus lainnya adalah konflik pertanahan antara petani penggarap dengan pihak perkebunan yang ditandai dengan tindak kekerasan tak hanya oleh aparat keamanan.” Crossmap News. dan “Gus Dur Meminta Walikota Tangerang Memberikan Izin Membangun Gereja. Kamis. Purwakarta) serta enam gereja di Kompleks Permata Cimahi. Jawa Barat. 28 Oktober 2004 10:00:03. PBHI dan Kontras. dan “Penjelasan FPI : Kronologis Kejadian Penutupan “Gereja Liar” di Bandung.id. 26 Juni 2001. Jumat.” Suara Pembaruan.” TEMPO Interaktif.65 Selain itu. 23 Agustus 2005. terdapat pula kasus-kasus penyerangan atas beberapa ornop/LSM seperti UPC. Jakarta. Jumat. Senin. juga ribuan penduduk terpaksa mengungsi akibat aksi kekerasan tersebut. 4 Oktober 2004. Selain rusak lahan garapan para petani yang berdampak pada hak atas pekerjaan dan penghasilan. dan “Tokoh Agama dan Gus Dur: Hentikan Aksi Penutupan Gereja. “Tembok Sang Timur Dirobohkan. Lihat “Kantor PBHI Jabar Didatangi Massa. Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) dan Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Perum Gading Tutukan Soreang (Kab. “Gus Dur Perintahkan Banser untuk Menjaga Sang Timur.” eben-network. 25 Oktober 2004 | 10:09 WIB. 25 Oktober 2004 | 11:52 WIB.” Republika. 26 Agustus 2005. Lihat “Pernyataan Forum Komunikasi Kristiani Indonesia Jawa Barat tentang Penutupan Kegiatan Ibadah Kristen di Perumnas Bumi Rancaekek Kencana. tapi juga sejumlah oknum preman seperti yang terjadi pada Kamis.” Bandung.66 Semua ini bukan saja terus berlangsung kegagalan dalam melindungi hak-hak. AGAP.” TEMPO Interaktif. kafe dan 61 Lihat “Penembokan Sekolah Sang Timur.

Kamis.” Gatra.” Detikcom.net. “Puluhan Orang Berseragam FBR Keroyok Pedagang Pasar Senen. sejumlah ornop melancarkan kampanye menolak hukuman mati. 24 Mei 2006. JURNAL HAM • Vol.” Kaltim Post. 29 Oktober 2005.” TEMPO Interaktif. “Penyerangan Tempo: Aparat Dikangkangi Premanisme. Kamis.” TEMPO Interaktif.70 melainkan juga atas para demonstran atau orang-orang yang sedang merealisasi hak atas kebebasan berkumpul dan berpendapat. Senin. “Aksi Premanisme terhadap Pers. Selasa. Polisi Hajar Wartawan. Ahmad Suaedy. Lihat “Keluarga Korban Pelanggaran HAM Tuntut Soeharto Diadili. “Premanisme dan Wartawan Kita. Decky Natalis Pigay. dan “Wartawan Surabaya Demo UPN Veteran. Kamis.” Liputan6. 12 Mei 2006 09:16. dan “Soeharto Perlu Juga Diadili dalam Kasus Pelanggaran HAM. Selasa. Lihat “Polisi Tembak ‘Raja Jambret’ Samarinda. “Preman Pukul Wartawan dan Rusak Kantor Indopos. “Peristiwa 12 Februari dan Kekerasan Polisi. Kamis. 10 Pebruari 2005 | 17:27 WIB. “Polres Jakarta Timur ‘Diserbu’ FBR. 4 • Th.” gusdur. Selasa. “Massa Gabungan Ormas ‘Sweeping’ Toko Miras. Lima Luka-luka. Distia Aviandari dan Suryadi Radjab. 13 Apr 2006.com. Massa FPI Purwakarta Razia Miras dan PSK.” Pikiran Rakyat. 17 November 2005 | 01:07 WIB.” Warta Kota. 19 Maret 2004.” detikInet. Rabu. Rabu. 2007 61 . Senin. 26 Maret 2003. Polda Metro Tindak Tegas FPI dan FBR. Selasa. 04 April 2005 | 14:01 WIB.” Kompas Cyber Media.” Kompas.” Pikiran Rakyat. 18 Maret 2003.75 67 Lihat “FPI Rusak Kantor Komnas HAM dan Kafe 68 69 70 71 72 Jimbani.Com. 16 Mei 2006 14:52 WIB. Hak Manusia dan Polisi.” Sinar Harapan. Suryadi Radjab. “Demokrasi dan Perlindungan Kaum Minoritas.72 kalangan pekerja pers mengeluarkan pernyataan perang melawan premanisme.indymedia. Jumat. dan “Polisi Tembak Buronan Pencuri Sarang Walet. Senin.” Pikiran Rakyat. “FPI: Perda Tempat Hiburan Tumpul. “Polisi Nias Gelar Perkaranya Hilangnya Wartawan Berita Sore. “Pelanggaran HAM Soeharto Harus Tetap Diusut.Com.com. “Rusak Tempat Hiburan.pedagang.68 Apalagi jika aparat keamanan dan penegak hukum justru lebih sering gagal melindungi hak-hak tersebut.” TEMPO Interaktif. 27 Mei 2006. 20 September 2005. Bandung: PBHI Jawa Barat. “Tawuran FBR-Benteng Banten. Rabu. “Masyarakat Kemang Kutuk Aksi FPI. dan “Polisi Membubarkan Paksa Demonstrasi di DPRD Bengkulu. dan “Istri Gus Dur Dilaporkan FBR ke Polda. 10 Mei 2006. “FPI Akan Terus Sweeping Tempat Hiburan. 23 Oktober 2004 11:20 WIB.” TEMPO Interaktif. “FPI Sweeping Tempat Maksiat. 23 Oktober 2004 | 00:00 WIB.” TEMPO Interaktif. Selasa.” jakarta. “Massa FPI Rusak kantor Playboy. Harry Ganda Asi. 23 Oktober 2004 01:30 WIB.” detikInet. tetap tumbuh semangat dan partisipasi masyarakat dalam membela hak-haknya.” Gatra. 31 Agustus 2005 15:00.” Rakyat Merdeka. keluarga korban dan beberapa kalangan yang prihatin atas pelanggaran hak-hak manusia tetap mendesak proses hukum atas orang-orang yang terlibat dan bertanggung jawab.” INDO POS Online. 02 Juli 2002. 25 Juli 2005.” Kompas Cyber Media. Misalnya.74 Begitu juga. “Tujuh Anggota FBR Divonis Enam Bulan. 9 Mei 2006. Kamis. Selasa. Senin.” Hukumonline.” TEMPO Interaktif. 17:57:46 WIB. Sabtu. dan “Empat LSM Desak Moratorium Hukuman Mati Tibo Cs. 16:26 WIB. 12:54am.71 Memang harapan untuk mendapatkan intervensi negara untuk melindungi hakhak sipil dan politik yang terancam oleh perilaku sejumlah orang maupun halangan dari aparat militer dan kekerasan polisi. “Wartawan TEMPO Dipukul.” detikInet.” TEMPO Interaktif. Sweeping Jalan Terus. 9:07 WIB.org. Jumat. dan “Masyarakat Solo Keluarkan Petisi Perang terhadap Premanisme. 23 Mei 2006.” Sinar Harapan. 20 Desember 2005 | 00:20 WIB. 30 Maret 2006. 3 Oktober 2003. Lihat “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah.73 dan mereka yang memperjuangkan dihormatinya pluralisme menyatakan lawan preman berjubah.69 Kekerasan polisi tak hanya menjadi kebiasaan dalam penangkapan dan penahanan tersangka.67 Kasus penyerangan dan tindak kekerasan atas pekerja pers masih saja terjadi setelah kasus Udin. Sabtu . Selasa.” SeKetika.” TEMPO Interaktif. “Preman Berjubah itu. Nadirsyah Hosen. 23 Juni 2003. 11 Maret 2003. 18 Mei 2006 11:34.net. Rabu. 14 Maret 2003. Kamis. 06 April 2006. 28 Oktober 2004 | 19:45 WIB. 37 Luka Tembak. Selasa.” TEMPO Interaktif. Sabtu.” Sinar Harapan. lihat juga “Polisi bubarkan Rapat Umum Petani. “FPI Gerebek Tempat Hiburan di Kemang. 24 Juni 2000.” islamlib.” TEMPO Interaktif. 31 Maret 2003. 17 Oktober 2005” – 09:46. 2005. Lihat “Pada HUT-nya Ke-56. Lihat “Kasus Wamena Tunjukkan Lemahnya Perlindungan HAM di Papua. 1 Muntah Darah. Terkait Pemukulan Kontributor TV. 26 April 2006.” dalam Hendardi.com. 23 Oktober 2004 16:13 73 74 75 WIB.” detikInet. 4 Luka-luka. Jum’at. 26 Januari 2005. Sabtu. Sabtu. 1 Meninggal. Sabtu. 08:38 WIB.” gusdur. Jumat. Kamis. Rabu. Sabtu. “Diakui Sebagai Tindakan Konkret Berantas Pekat. Lihat “LSM HAM Tolak Hukuman Mati.

4 Maret 2004. terlebih lagi konsolidasi masyarakat. DAFTAR PUSTAKA Antara News. “12 Pengrusak Masjid Ahmadiyah di Cianjur Dibekuk” Rabu. Rabu. Jadikan Bali Daerah Khusus Pornografi” Rabu. 26 Mei 2006. 26 Agustus 2005. MUI Akan Kumpulkan 1. 100 Pendemo Cantik Tolak RUU APP” Rabu. “NU vs FPI: Polisi Barikade Jl KS Tubun” Jumat. Detikcom. 9 Mei 2006. 16 Februari 2006. 26 Maret 2003. negara – pemerintah dan aparat penegak hukum – harus selalu diingatkan dan didesak terus-menerus untuk melindungi hak-hak sipil dan politik bagi setiap orang ketika ancaman atasnya sedang berlangsung. Rabu. “SBY: Ahmadiyah Sudah Resmi Dilarang Pemerintah” Selasa. sangatlah penting dalam menagih bukan saja kewajiban. 30 Juli 2005. 2006 . 144 Setuju RUU APP” Kamis. Detikcom. 8 Maret 2006. Detikcom. 7 Maret 2006.com. “30 Elemen Islam Malang Demo Dukung RUU APP. 8 Maret 2006. Detikcom. Asi. 21 Mei 2006. Detikcom.000 Ulama di Gontor” Senin. 8 Maret 2006. Cendrawasih Pos. 15 Maret 2006. 2007 62 . Detikcom. “Slamet Rahardjo: RUU APP Tempatkan Perempuan Seolah Hantu” Minggu. 16 Maret 2006. Detikcom. “Massa NU Akan Survei di Slipi Apa FPI Lakukan Syiar Agama” Jumat. Detikcom. Detikcom. 18 Mei 2006. “Komnas Perempuan Tolak Perda Tangerang Tentang Pelacuran” Rabu. “Bahas RUU APP. “Presiden Lantik Bagir Manan Jadi Ketua Mahkamah Agung” Kamis.” Detikcom. “MMI: Jika Terus Menolak. Detikcom. 8 Maret 2006. Detikcom. “Perda Larangan Pelacuran Akan Diterapkan di Jakarta” Selasa.Published 13:11 GMT. Berbagai partisipasi. 12 Maret 2006. Detikcom. “Pelanggaran HAM Soeharto Harus Tetap Diusut” Selasa. 16 Maret 2006. 16 Agustus 2005. “Aksi Seribu Tayub Tolak RUU APP” Rabu. 22 September 2005. 6 Maret 2006 Detikcom. Detikcom. 9 Maret 2006. Crossmap News. “Polisi Tembak Buronan LP Saat Mencoba Melarikan Diri dari Kejaran Petugas” Rabu. “RUU Pornografi Berpotensi Jadi Alat Pemerasan Baru” Kamis. Detikcom. September 2005. Detikcom. 06:57. 4 • Th. BBCIndonesia. 2004. Harry Ganda. Detikcom. Detikcom. Detikcom. 16 Agustus 2005. Detikcom. Detikcom. 26 Mei 2006. 22 Mei 2006. Intended to Fail: The Trial Before the Ad Hoc Human Rights Court in Jakarta. “MUI Sayangkan Adanya Penolakan RUU Anti Pornografi” Senin. “DPR Pusing Pro Kontra RUU APP” Kamis. Berkeley: International Center for Transitional Justice. Detikcom. Detikcom. 26 Mei 2006.Selain itu. “Gus Dur Sesalkan Penyerangan Masjid Ahmadiyah di Cianjur” Kamis. “SBY: Ahmadiyah Sudah Resmi Dilarang Pemerintah” Selasa. “Bagir Manan jadi ketua MA lagi” 02 Mei. Detikcom. “Demonstran Dukung RUU APP di Cirebon Segel LSM Fahmina” Minggu. “Peringati Hari Perempuan. tapi juga tanggung jawab negara. “Dari 167 Lembaga Tamu Pansus. “Ratusan Mahasiswa Yogya Demo Tolak RUU APP” Rabu. “Premanisme dan Wartawan Kita” dalam Sinar Harapan. David. “FBR Gabung FPI Hadang NU” Jumat. “Ahmadiyah Makin Terzalimi dengan Fatwa MUI. JURNAL HAM • Vol. Detikcom. “Gus Dur Siap Upayakan Amandemen Jika RUU APP Jadi UU” Kamis.” Sabtu. “Tokoh Agama dan Gus Dur: Hentikan Aksi Penutupan Gereja” Jumat. “Draf RUU APP Adalah Buah dari Sebuah Kemunafikan” Kamis. Cohen. 9 Februari 2006. 15 Maret 2006.

Todung: Saya Protes Keras Terhadap FPI” Kamis. Gatra.net. “KPK Geledah Ruang Kerja Bagir Manan” Kamis. 2 Februari 2006.com. “Soeharto Perlu Juga Diadili dalam Kasus Pelanggaran HAM” Selasa. 30/07/2005 16:55 WIB. Gus Dur: Itu Pidana” Rabu 5 April 2006. 2007 63 . “MUI Kembali Fatwakan Ahmadiyah Sebagai Aliran Sesat” Kamis. detikInet. 4 • Th.com. Gatra. 23 Oktober 2004 16:13 WIB. detikInet. Selasa. Gerung. Polda Metro Tindak Tegas FPI dan FBR” Sabtu . 24 Pebruari 2006. “Gus Dur Hadapi Teror Gerombolan Islam Radikal” Selasa.net. No. JURNAL HAM • Vol. 13 Agustus 2005 19:04 WIB. Gatra. “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah” Selasa. 16 Mei 2006 14:52 WIB. Hidayatullah. “DPP PBB Dukung fatwa MUI Soal Ahmadiyah” Sabtu. Januari 1997. “Penjelasan FPI : Kronologis Kejadian Penutupan “Gereja Liar” di Bandung” Rabu. Rocky. “Jemaah Ahmadiyah Sambut Baik Keberadaan Satgas Garda Bangsa” Minggu. “Desak Pemda Lombok Tengah. elshinta. 7 September 2005 01:34:26.net. “Ratifikasi 2 Kovenan HAM oleh RI Dianggap Masih Setengah Hati” Kamis . gusdur. “Ratusan Ulama Sukabumi Menolak Ahmadiyah” Jum’at. 26 April 2006 10:12 WIB.net. 23 Mei 2006. “Pembakaran Rumah Jama’ah Ahmadiyah NTB. gusdur. 21 Agustus 2005 16:17 WIB. Kamis. elshinta. 23 Mei 2006. “Gus Dur Hadapi Teror Gerombolan Islam Radikal” Selasa. “Masyarakat Solo Keluarkan Petisi Perang terhadap Premanisme” Selasa. 15/07/2005 17:57 WIB.com. 5 Februari 2006. 23 Oktober 2004 11:20 WIB. “Kegiatan Jemaat Ahmadiyah di Kuningan-Bogor Dilarang” Sabtu. 29/ 09/2005 14:25 WIB. Gatra. 27 Mei 2003 14:52. 10 Mei 2006. “Pengusiran Gus Dur. “Dievakuasi Jemaat Ahmadiyah Dilempari Batu & Kayu” Jumat. 23 Mei 2006. Hosen. 23 Oktober 2004 01:30 WIB. “FPI Gerebek Tempat Hiburan di Kemang” Sabtu. 2. gusdur. gusdur.net. gusdur. “Mafia Peradilan di Indonesia. detikInet. 31 Mei 2006. detikInet. 18 Mei 2006 11:34.com.detikInet.com. 30 Pengungsi Jemaat Ahmadiyah di Lombok Tengah Ingin Kembali ke Rumah” Rabu.net. detikInet. “Ahmadiyah Sesalkan Pernyataan Presiden SBY Soal Kejaksaan Pernah Larang Ahmadiyah” Minggu.net. Nadirsyah.net. 7 Agustus 2005 13:27 WIB. detikInet.com.net.com. Sweeping Jalan Terus” Sabtu. “Jaksa Agung: Larangan Ajaran Ahmadiyah Bersifat Parsial” Kamis. 26 Mei 2006. “Teror: Belasan Rumah Ahmadiyah Dibakar” Jumat. “FPI: Perda Tempat Hiburan Tumpul. “The Age of Rights” Imparsial. Gus Dur: Yang Membakar Harus Ditangkap” Minggu. “Kantor Kontras Diserbu Massa” Jakarta.net. “Keluarga Korban Pelanggaran HAM Tuntut Soeharto Diadili” Kamis. 1. “Tuntut Milisi Sipil Dibubarkan” Rabu. “Demokrasi dan Perlindungan Kaum Minoritas” dalam islamlib. 28/07/2005 20:11 WIB. elshinta. elshinta. Gatra. 21 Juli 2005 18:54 WIB. gusdur. 27 Oktober 2005 13:32.com. 6 Maret 2006 13:05 WIB. gusdur. gusdur. “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah” Selasa.com. eben-network. “Rusak Tempat Hiburan. “Mengekang Kebebasan Beragama. 23 Mei 2006. 25 Mei 2006 10:26. elshinta. “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah” Selasa. “13 Terdakwa Kasus Pengrusakan Kampus Mubarok Ahmadiyah Disidangkan di PN Cibinong Jabar” Senin. detikInet.com. 23 Mei 2006. Vol. Hendardi. Aksi FPI Cs Meresahkan: Massa NU dan Prodemokrasi Demo ke Mabes Polri” Jumat.com. 12 Mei 2006 09:16. gusdur. 14 Pebruari 2003 16:22. detikInet.” Kompas. Gatra. gusdur. Rabu. 18 Maret 2003.com. “Polisi Tembak ‘Raja Jambret’ Samarinda” Jumat.com.

INCRESS. 13 Apr 2006.” Selasa. 15 Jul 2005 13:11:12. 12:54am. Kompas Cyber Media. 08:38 WIB. Kompas. “Tokoh Antaragama Kutuk Penyerangan Jemaat Ahmadiyah” Sabtu. Juwana. Kompas. 64 JURNAL HAM • Vol. 14 Februari 2006. “Markas Ahmadiyah Diserbu Massa” Jumat. “Massa FPI Rusak kantor Playboy” Kamis.” Kamis.com. “Gus Dur Meminta Walikota Tangerang Memberikan Izin Membangun Gereja. 24 Juni 2000. Kompas. “Pemerintahan Daerah: 393 Perda Bermasalah Akan Dibatalkan” Kamis. “Pernyataan PBHI Jawa Barat: Protes atas INDO POS Online. 17 Oktober 2005 – 09:46. Kompas Cyber Media. 20 Mei 2006 22:31:32. 11 Maret 2003. 20 September 2005. 13:29 WIB. “Pelaksanaan Otonomi Daerah Kebablasan” Sabtu. 02 Mei 2006. Kompas Cyber Media. “Kantor PBHI Jabar Didatangi Massa. Rabu. Kompas Cyber Media. 5 Agustus 2005 15:31. Kompas. Aksi Kekerasan dan Perusakan Terus Dibiarkan” Jumat. 6 April 2006. dan “Istri Gus Dur Dilaporkan FBR ke Polda” Rabu. jakarta. Syarikat Indonesia. 24 April 2004. “Penyerangan Tempo : Aparat Dikangkangi Premanisme” Selasa. Tolak Usulan untuk Non-aktif” Kamis. Kompas. 22 Mei 2006. “Dua Kovenan HAM Diratifikasi. “Gus Dur Meminta Masjid Milik Ahmadiyah Dibuka” Jumat. 13 Oktober 2005. 2007 . Kompas. “FPI Sweeping Tempat Maksiat” Senin. 28 Oktober 2004 10:00:03. Hukumonline.com.org. Kompas. 29 September 2005 Hukumonline. “RUU Pemerintahan Aceh: Diusulkan Polisi dan Jaksa Khusus Syariat” Jumat. Tunggakan Perkara di MA Masih Banyak” Jumat. “FPI Rusak Kantor Komnas HAM dan Kafe Jimbani” Sabtu. “Jemaah Ahmadiyah Kuningan Bantah Ada Bentrokan” Jumat. “LSM HAM Tolak Hukuman Mati” Kamis.” Bandung. Kompas Cyber Media. “Konsekuensi Ratifikasi ICCPR” Kompas. Koran Tempo.http://www. 05 Agustus 2005. Banyak yang Tumpang Tindih” Senin. Liputan6. “Bagir Manan Perpanjang Usia Pensiun Dirinya: Disebutkan. 8 Mei 2006.com. Kompas. Kompas. “Banyak UU Tanpa Kajian: Tidak Ada Desain Besar Legislasi Nasional. 18:05 WIB. Bogor. “Bagir Manan: Tak Ada Alasan untuk Mundur” Rabu. KabarBaru. 16 Mei 2006. 21:12 WIB. “Konflik MA-KY Hanya Untungkan Mafia Peradilan” Selasa. 26 Mei 2006. 21 September 2005. Pendidikan Jangan Jadi Korban” Sabtu.indymedia. “Komnas HAM Sesalkan Larangan Seminar” Selasa. “Penembokan Sekolah Sang Timur. Kaltim Post. 16 Juli 2005. “72 Anggota Ahmadiyah Nyatakan Keluar” 2 Agustus 2005 kristianipos. “Polisi bubarkan Rapat Umum Petani. “GARIS Bertanggung Jawab Atas Serangan Perkampungan JAI” Rabu. Kompas. Kompas Cyber Media. 20 Januari 2006. “Diskusi Korban Kekerasan Perempuan Tahun 1965 Dibubarkan” Sabtu. dan Komnas Perempuan. 24 Mei 2006.” lokakarya yang diselenggarakan PBHI dan HOM pada 29-30 Mei 2006 di Cipayung. 16:26 WIB. 06 April 2006. Dengan Reservasi pada Hak Menentukan Nasib Sendiri” Sabtu. 12:09 WIB. 1 Meninggal. 4 • Th. Kapanlagi. 1 Oktober 2005. 37 Luka Tembak” Selasa. 12 Mei 2006.com.com/bpost/072005/16/ nusantara/nusa1. “Ratifikasi Dua Kovenan Internasional Dinilai Setengah Hati” Kamis. Kompas. “Bagir Manan Merasa Difitnah.com. Hikmahanto. “Bagir Manan Siap Pensiun Tahun 2008” Selasa. “Pemerintah Dikritik Tak Tegas. kristianipos.htm. 9 Oktober 2004 8:45:00 WIB. “Kerangka Acuan Perencanaan Strategis Impunitas.indomedia. Pembubaran Paksa Pertemuan di Wisma Brantas Bandung. 26 Juni 2001. 15:03 WIB. 8 Juni 2005. 12 Oktober 2005. Kompas Cyber Media.

29 Oktober 2005. Aktivis dan Artis Diteror” Jumat. 2005. Media Indonesia Online.”. 15 Juli 2005 20:20. Dawam. Pikiran Rakyat. 22 Februari 2006 23:50. Cirebon Sesalkan Sikap LSM Fahmina” Jumat. Muspida Garut Sepakat Melarang Ahmadiyah” Selasa. 22 Mei 2006. Senin.”. Media Indonesia Online. 2 Agustus 2005. “Dua Kelompok Massa Islam Bentrok” Sabtu.php?page= article&id=850. Martha. 22 Mei 2006. “Presiden Lantik Bagir Manan Sebagai Ketua MA” Kamis. 28 Juli 2005 20:26 WIB. “Warga Ahmadiyah NTB Mengucapkan Syahadat” Rabu. Rahardjo. 29 Juli 2005 20:00. Pikiran Rakyat. Pikiran Rakyat. Haram Hukumnya Perdukunan dan Peramalan” Kamis. Jum’at. 9 Agustus 2005.Liputan6. “Massa Gabungan Ormas ‘Sweeping’ Toko Miras” Senin. “Massa FPI-FBR Bersiap Menghadapi Serbuan Garda Bangsa” Jumat. 26 Mei 2006.com. Media Indonesia Online. 24 Mei 2006. 20 Juli 2005 08:02 WIB. Pikiran Rakyat. 25 Mei 2006 01:54. “Kampus Ahmadiyah Dikepung Massa” Jumat. Rakyat Merdeka.com. 26 Mei 2006. “Rumah Ketua Ahmadiyah Kab. 25 Mei 2006. Rakyat Merdeka. Bandung: PBHI Jawa Barat.com. “Kejaksaan Telah Mendata Asetnya. 18 Juli 2005 19:26 WIB. 65 . “NU Tuntut FPI Minta Maaf. 26 Mei 2006. “Dialog Lintas Etnis Nyaris Rusuh: Gus dur Tuding Gerakan Ormas Islam Ada yang Mendanai” Rabu.com. 31 Agustus 2005 15:00.com. JURNAL HAM • Vol. 25 Juli 2005.com/id/index. Pikiran Rakyat. 24 Mei 2006. “Peristiwa 12 Februari dan Kekerasan Polisi” dalam Hendardi. 04:18:30 WIB. Gus dur Tuding Gerakan Ormas Islam Ada yang Mendanai” Rabu. 2007 Pikiran Rakyat. “Saat Mencoba Membubarkan Pertemuan di Kemang. “Pernyataan Forum Komunikasi Kristiani Indonesia Jawa Barat tentang Penutupan Kegiatan Ibadah Kristen di Perumnas Bumi Rancaekek Kencana. 28 April 2006 17:05. M. 4 Oktober 2004. 4 • Th. Kejengkelan terhadap Ketidakpastian Sikap Pemerintah” Selasa. 25 Mei 2006 05:59. Liputan6. Distia Aviandari dan Suryadi Radjab. Metrotvnews. Meijer. “Polisi Tembak Buronan Pencuri Sarang Walet” Rabu.com. “Teror atas Ahmadiyah dan Problem Kebebasan Beragama” dalam http://islamlib. “Massa Bubarkan Pertemuan Perempuan Eks Napi PKI. Pikiran Rakyat. Pikiran Rakyat. 26 Mei 2006. Pigay. “FPI Segel Fahmina Institute Cirebon. Ormas Islam Buat Pernyataan. Warga Bentrok dengan Pengikut Ahmadiyah” Minggu. 2006. Utrecht: The Netherlands Humanist Committee on Human Rights. Liputan6. “Sejumlah Sarana Ibadah Ahmadiyah di Kuningan Disegel” Jumat. Rakyat Merdeka “Bangkitkan Semangat “PKI”. Liputan6. “Massa Pencinta Gus Dur Berdemonstrasi” Kamis. “MUI Tetapkan 11 Fatwa. “Azyumardi Azra Menuntut Pengusir Gus Dur Diusut” Kamis.com. 19:16:05 WIB. Buntut Acara Dialog Lintas Etnis dan Agama” Jumat. “Menolak RUU APP. Pikiran Rakyat. 14 Maret 2003. 26 Januari 2005. “Diakui Sebagai Tindakan Konkret Berantas Pekat. The Scope of Impunity in Indonesia (draft). 18:18:45 WIB. Liputan6. Hak Manusia dan Polisi. Media Indonesia Online. Metrotvnews. Media Indonesia Online. Radjab. Decky Natalis. 9 Juli 2005 18:04. “Gus Dur vs Ormas Radikal: Polisi Minta Semua Pihak Menahan Diri” Kamis.com. “FUI Wil. Liputan6.com. 10 Juli 2005. “Pemerintah Tetap Larang Ajaran Ahmadiyah” Rabu. “Dialog Lintas Etnis Nyaris Rusuh. Polisi Bengong” Jumat. Pikiran Rakyat. Garut Diamuk Massa. Massa FPI Purwakarta Razia Miras dan PSK” Sabtu. Seminar Incres Dibubarkan. “Polisi Membubarkan Paksa Demonstrasi di DPRD Bengkulu” Rabu.” Bandung. “Aksi Premanisme terhadap Pers” dalam Sinar Harapan. Suryadi. Senin. Metrotvnews. “Fatwa MUI Dituding Melegitimasi Penyerangan Terhadap Ahmadiyah” Senin. 18 Jul 2005 19:49:51. 18 Mei 2006 14:52 WIB.

23 Agustus 2005. 10 Maret 2006. Riau Pos Online. 1 Oktober 2005.“Muladi: Perpanjangan Pensiun Bagir Manan Keliru” Jumat. 24 Mei 2006. Sabtu. TEMPO Interaktif. “Siaran Pers PBHI Jawa Barat tentang Pengusiran Gus Dur dan Intimidasi Kegiatan Forum Dialog Lintas Agama di Purwakarta. Ahmad. 15 Agustus 2005. “Fatwa-fatwa Haram Ala MUI” Jum’at. 12:16:50 WIB. Suara Pembaruan. Rapim darurat digelar saat penggeledahan berlangsung” Jumat. Republika Online “Komnas Perempuan akan Minta Klarifikasi Kapolri. Rakyat Merdeka. 14:14:51 WIB Rakyat Merdeka.” Kamis. TEMPO Interaktif. 2007 . 27 Mei 2006. 30 Maret 2006. “Kapolri Harus Klarifikasi Pembubaran Kegiatan Mantan Tapol PKI. Rakyat Merdeka. “Saat Pidato. 23 Mei 2006. 30 Juni 2004. 17:57:46 WIB. “Garda Bangsa Minta Habib Rizieq Ditangkap” Jumat. 8 Oktober 2005. Sinar Harapan. “Indonesia Ratifikasi Kovenan Hak-hak Sipil dan Politik” Sabtu. 24 Mei 2006. 2 Juni 2006 | 13:05:43 WIB. Rakyat Merdeka. “Sejumlah Ormas Islam Tutup Gereja Ilegal” Senin. Sinar Harapan. Republika. “Syariat Islam. TEMPO Interaktif. 6 Pebruari 2004. 11:36:46 WIB. Riau Pos Online. Republika. “Syariat Islam dalam KUHP Bermuatan Politis” Kamis. “Direktur ICIP Syafii Anwar: Perda Syariat Bisa Picu Disintegrasi” Senin. Sinar Harapan. Suara Pembaruan. Sriwijaya Post Online. 22 Mei 2006.“Hampir 30 Persen UU Bertentangan dengan Konstitusi” Jumat. “Preman Berjubah itu” dalam gusdur. 24 Mei 2006. Selasa. “Disesalkan. SeKetika. Rakyat Merdeka. Sinar Harapan. 29 Juli 2005 | 06:38 WIB. Terkait Pemukulan Kontributor TV” 26 April 2006. “Majelis Hakim Masih Musyawarah Bahas Soal Bagir Manan” Rabu. 22 November 2003. 17:24:23 WIB. Polisi Biarkan FPI Bertindak Anarkis” Rabu. TEMPO Interaktif. “Massa Datangi Kontras dan PBHI” Jumat. 2 Juni 2006. 66 JURNAL HAM • Vol. 2 Oktober 2003. “SBY-JK Didesak Bubarkan FPI” Rabu. “PBHI Desak Kapolri Usut Kasus Kekerasan di Garut”. “Polisi Tembak Penjahat Kambuhan” Rabu. 26 Mei 2006. 10:03:13 WIB. Republika. dari Desa Mengepung Kota” Senin. Gus Dur Diserang Massa FPI dan HTI” Kamis. Suara Pembaruan. “Wartawan Surabaya Demo UPN Veteran.” Sabtu. Sinar Harapan. “Camat Dayeuhkolot Tutup Gereja Ilegal” Selasa. 28 Oktober 2005. Suara Pembaruan. “Gus Dur: Hentikan Aksi Penutupan Gereja” Selasa. TEMPO Interaktif. 26 Mei 2006.“Ruang Kerja Bagir Digeledah.“Polisi Tembak Buron Pelaku Curas” Kamis. 23 Agustus 2005. “Bagir Terpilih. Bagir Ditolak” Jumat. “Aliansi Masyarakat AntiKekerasan Luruk Markas FPI Besok Siang” Kamis. 23 Juni 2003. “Gus Dur Perintahkan Banser untuk Menjaga Sang Timur” Senin.Rakyat Merdeka.” n.net. “5000 Orang Akan Demonstrasi Tolak RUU Anti Pornografi” Rabu.. TEMPO Interaktif. 25 Mei 2006.” Bandung. Suaedy. “KPK Terlambat Geledah Ruang Ketua MA” Jumat. Senin. “Liku-liku Percaloan dan Mafia Peradilan di Indonesia” Sabtu. “Kasus Wamena Tunjukkan Lemahnya Perlindungan HAM di Papua” Senin. Rakyat Merdeka. 28 Oktober 2005. 4 • Th. 15:48:40 WIB. Suara Pembaruan. Sinar Harapan. 1 Oktober 2003. “Polisi Tembak Mati Perampas Motor” Sabtu. “GP Ansor Minta Ormas Liar Dibubarkan” Jumat. Jumat. 22 Mei 2006 19:19:00. “Banteng Jakarta Dukung Gus Dur Hadapi FPI Cs. “Yusril Bantah Revisi KUHP Mengadopsi Syariat Islam” Rabu. 25 Oktober 2004 | 11:52 WIB. 10 Mei 2006 | 13:04 WIB. 10 Mei 2006.com. 25 Mei 2006. 27 Mei 2006. 10 Maret 2006. 25 Mei 2006 10:02:05.”. Sinar Harapan. “Empat LSM Desak Moratorium Hukuman Mati Tibo Cs. 22 Mei 2006. Suara Pembaruan. Republika Online.

“Ahmadiyah Bulukumba Diancam Demo Besar-besaran” Jumat. “Pernyataan Asian Human Rights Commission: Ratifikasi Instrumen Utama Hak Manusia Harus Ditindaklanjuti dengan Reformasi Hukum”. 23 Oktober 2004 | 00:00 WIB. “Mafia Peradilan Di Manamana”. Warta Kota. “Tawuran FBR-Benteng Banten. TEMPO Interaktif. 17 November 2005 | 01:07 WIB. TEMPO Interaktif. wahidinstitute. Hongkong. 18 Februari 2006. “Tembok Sang Timur Dirobohkan” Senin. Rabu. 9:07 WIB.” Sabtu. 19 Maret 2004. Senin. 4 • Th. www. JURNAL HAM • Vol. “Negara Hukum Ataukah Kekuasaan. 14 Maret 2006. “LSM Fahmina Diserbu Massa Pendukung RUU APP” Senin. 20 Juli 2005. 2007 67 . Dianggap Tolak RUU APP” Senin. 25 Oktober 2004 | 10:09 WIB. “Puluhan Orang Berseragam FBR Keroyok Pedagang Pasar Senen” Kamis. “Keluarga Ahmadiyah Bulukumba Mengungsi” Sabtu.ahrchk. “Polres Jakarta Timur ‘Diserbu’ FBR” Jumat. 22 Mei 2006. “Hilman Rosyad Syihab. “Masyarakat Kemang Kutuk Aksi FPI.or.org. “Tujuh Anggota FBR Divonis Enam Bulan” 31 Maret 2003. 17 Februari 2006. 02 Juli 2002. “Wardah Hafidz Kecewa dengan Putusan Hakim” Senin. 04 April 2005 | 14:01 WIB. TEMPO Interaktif. “Wartawan TEMPO Dipukul” Jumat. Waspada Online. 23 Januari 2006 22:30 WIB. 4 Luka-luka. 22 Mei 2006. www. Polisi Hajar Wartawan. TEMPO Interaktif. 3 Oktober 2003. Abdurrahman.net. Wahid. 20 Desember 2005 | 00:20 WIB. “Pada HUT-nya Ke-56. Anggota Pansus RUU APP DPR FPKS: RUU APP Lindungi Kaum Perempuan” Jumat. “Polisi Nias Gelar Perkaranya Hilangnya Wartawan Berita Sore” Kamis. TEMPO Interaktif. TEMPO Interaktif.” dalam gusdur. 31 Maret 2003. TEMPO Interaktif. Wibowo. 1 Muntah Darah” Selasa. TEMPO Interaktif. “FPI Akan Terus Sweeping Tempat Hiburan” Kamis.fpks-dpr. 10 Pebruari 2005 | 17:27 WIB. “Hak-hak Manusia: Menjernihkan Berbagai Konsep Dasar” makalah yang disampaikan dalam Pelatihan Investigasi yang diselenggarakan PBHI (Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia) pada 27-30 Desember 2005 di Megamendung Permai. Harry. “Massa Segel Kantor LSM.net. 27 Januari 2006 19:11:53. Tribun Timur. “Preman Pukul Wartawan dan Rusak Kantor Indopos” Selasa. Tribun Timur. Tribun Jabar.TEMPO Interaktif. Megamendung. 28 Oktober 2004 | 19:45 WIB.id. Bogor. TEMPO Interaktif. Lima Luka-luka” Senin. TEMPO Interaktif.

nama mereka diurut berdasarkan abjad. New Road. organisasi internasional.ox.ac. Hafner-Burton . Proyek ini didukung oleh bantuan dana dari National Science Foundation (SES 2CDZ414) dan Bechtel Center di Stanford’s Institute for International Studies. dan khususnya kepada John Meyer dan Francisco Ramirez (dan juga peserta Global Research Seminar di Stony Brook University) atas komentar-komentar mereka yang penuh pemahaman. 4 • Th. Kiyoteru Tsutsui menerima dukungan yang besar dari Stony Brook University. 2 Contoh-contoh mencakup pelarangan formal terhadap perdagangan budak oleh Perjanjian Wina (1815) dan General Act of Brussel. Oxford. PENDAHULUAN Perlindungan hak asasi manusia yang mendasar adalah tujuan yang paling mendesak tetapi paling sulit dicapai oleh masyarakat internasional. upayaupaya tersebut telah terakumulasi dalam pembentukan dan perluasan suatu sistem hukum internasional mendunia yang dirancang untuk mengidentifikasi dan melin1 Para penulis membagi tanggung jawab yang sama dalam pekerjaan ini. Saat ini.State University of New York. but (2) the emergent global legitimacy of human rights exerts independent global civil society effects that improve states’ actual human rights practices. E-mail: Emilie. Negara-negara membatasi kewajiban hukum internasional dengan menyatakan keinginan untuk membatasi kewajibannya berdasarkan sejumlah perjanjian dan konvensi.Hak Asasi Manusia di Dunia yang Terglobalisasi: Paradoks Janji-janji Kosong1 Emilie M. Nuffield College. Universitas Oxford. They propose an explanation that highlights a “paradox of empty promises”. Their core arguments are that the global institutionalization of human rights has created an international context in which (1) governments often ratify human rights treaties as a matter of window dressing.uk atau Kiyoteru Tsutsui di ktsutsui@notes.sunysb. Korespondensi langsung kepada Emilie Hafter-Burton. Inggris. Sebelum Perang Dunia II. Oxford OXI 1 NF. 2007 68 . JURNAL HAM • Vol. Diciptakan setelah kehancuran yang disebabkan oleh Perang Dunia II. Stony Brook Abstract The authors examine the impact of the international human rights regime on governments’ human rights practices.Oxford University Kiyoteru Tsutsui . Emilie Hafner-Burton juga menerima dukungan yang besar dari National Science Foundation (SES 0135422). radically decoupling policy from practice and at times exacerbating negative human rights practices. dan Nuffield College. Para penulis sangat berterima kasih kepada para peserta Comparative Workshop di Stanford University. dan aktor masyarakat serta aktor organisasi sipil untuk menempatkan hak asasi manusia dalam agenda hukum internasional. adopsi Piagam PBB 1945 dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia tiga tahun kemudian membuka suatu jendela kesempatan bagi berbagai negara. The authors’ statistical analyses on a comprehensive sample of government repression from 1976 to 1999 find support for their argument.2 Namun. sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara-negara anggotanya untuk pertama kalinya membangun suatu dasar bagi upaya bersama untuk melindungi hak asasi manusia semua orang.hafner-burton@nuffield. hukum internasional yang melindungi hak asasi manusia sangat jarang ada.cc. Stanford’s Center for Security and Cooperation.edu.

Bagi banyak ilmuwan dan aktivis. dan budaya. untuk menjamin kebebasan dari penyiksaan dan perlindungan terhadap kelompok ras minoritas dan anak-anak. praktik-praktik hak asasi manusia tetap tidak berubah. pelanggaran hak asasi manusia di Irak adalah suatu hal yang umum terjadi. sosial.dungi sejumlah hak asasi manusia mendasar yang terus bertambah. perempuan. Namun. serta penahanan karena pandangan politik. sistematis. Pada 1994. Namun. Ada banyak contoh. ekonomi. apa gunanya perjanjian internasional hak asasi manusia ketika perjanjian tersebut tidak dapat memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia? 3 Irak belum meratifikasi atau menandatangani CAT. sementara (2) prosentase negara-negara yang dilaporkan melanggar hak asasi manusia juga bertambah dari waktu ke waktu. Guatemala meratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional guna melindungi perempuan dari diskriminasi pada 1982. suatu masa di mana Pemerintah Guatemala dilaporkan telah melakukan pemenjaraan. 1994). memperluas komitmennya untuk melindungi semua warga negaranya dari pelanggaran atas hak sipil. di mana pelanggaran hak asasi manusia mencapai puncaknya pada 1994 dan 1995. politik. Dengan bertambah banyaknya bangsa yang secara sukarela mengikat diri pada rejim internasional ini. Ketika pemerintah Irak meratifikasi perjanjian internasional pertamanya pada 1970 serta berkomitmen terhadap penghapusan segala bentuk diskriminasi rasial. Contoh lain yang relevan adalah Irak. pelanggaran hak asasi manusia oleh pemerintah bersifat epidemis. Menjelang 1992. menantang efektivitas hukum internasional dan menimbulkan pertanyaan akan keabsahan komitmen hukum negara-negara untuk melindungi kehidupan warga negaranya. 2007 membawa praktik hak asasi manusianya agar sesuai dengan rejim tersebut. Kebanyakan negara sekarang mengikat dirinya pada suatu rejim internasional yang dirancang untuk melindungi hak-hak mendasar setiap anak. penghukuman mati. Namun. komitmen hukum dari negara-negara untuk melindungi hak asasi manusia yang terus meningkat menandakan adanya suatu pergeseran yang fundamental dalam struktur masyarakat internasional. rejim tersebut juga memperluas dirinya untuk mengikutsertakan hak-hak asasi manusia utama yang baru (lihat tabel 1). dan pembunuhan politik secara meluas. Meningkatnya kesenjangan antara keinginan negara untuk bergabung dalam rejim hak asasi manusia internasional dan untuk JURNAL HAM • Vol. Pemerintah Guatemala telah meratifikasi seluruh enam perjanjian penting hak asasi manusia (lihat tabel 1). 69 . Sebagai yang pertama. 4 • Th. Diagram 1 membandingkan prosentase perjanjian hak asasi manusia internasional yang ada saat ini yang rata-rata telah diratifikasi oleh negara-negara dengan prosentase negara-negara yang dilaporkan bersifat refresif dalam jangka waktu tertentu. dan seringkali melalui kerja sama dengan aktivis nonpemerintah. dan tersebar-luas (Amnesty International. walaupun pertambahan jumlah tersebut mulai berkurang selama beberapa tahun belakangan ini. Jelas terlihat bahwa (1) rata-rata terjadi peningkatan prosentase negara yang telah meratifikasi sejumlah perjanjian hak asasi manusia.3 Dengan demikian. pemerintah telah meratifikasi lima dari enam perjanjian inti yang melindungi hak asasi manusia. pada tahun yang sama Amnesty International juga melaporkan bahwa tindakan represif telah menjadi begitu ekstrim. dan laki-laki melalui hukum. Perjanjian-perjanjian ini menyediakan berbagai lembaga pengawasan yang bekerja untuk memperbaiki praktik-praktik pemerintah dalam bidangbidang hak asasi manusia tertentu melalui pengumpulan dan diseminasi informasi.

* Per tahun 2001 Para ilmuwan hubungan internasional. 2007 . Sosial. telah memperkirakan kesenjangan antara komitmen negara-negara terhadap hukum internasional dengan praktik negara-negara tersebut. khususnya yang mengembangkan tradisi realisme dan neoliberalisme. Perjanjian-perjanjian pada dasarnya tidak dirancang untuk membuat pemerintah-pemerintah yang meratifikasinya dapat dimintai pertanggungjawaban atas komitmen mereka. dan Budaya Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan Konvensi Menentang Penyiksaan dan Segala Bentuk Perlakuan atau Penghukuman yang Kejam. Banyak ilmuwan hukum internasional dan konstrukvisionis hubungan internasional justru sangat menentang hal-hal di atas: negara-negara pada dasarnya berusaha untuk menaati prinsip-prinsip hukum internasional yang mereka dukung (Henkin. Sosial. Pengarusutamaan perspektif hubungan internasional ini seringkali menganggap bahwa perkembangan proses legalisasi prinsipprinsip hak asasi manusia sebagai suatu epiphenomenal [suatu fenomena yang muncul sebagai akibat dari suatu hal yang lain] (Mearsheimer 1994/1995). – Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa 2001.Tabel 1 PERJANJIAN HAK ASASI MANUSIA INTERNASIONAL Perjanjian CERD Nama Badan Pengawas Tahun Tahun Negara diadopsi diberla.Pihak* kukan 1965 1969 157 Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala bentuk Diskriminasi Rasial Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. dan Barsoom 1996). mereka mengasumsikan bahwa negara-negara hanya taat pada prinsip-prinsip hukum internasional ketika hal tersebut sesuai dengan kepentingan nasional mereka dan ketika ada institusi-institusi internasional yang dibentuk untuk menegakkan ketaatan terhadap hukum (Downs. tradisi rasionalis telah membuat para ilmuwan menganggap bahwa rejim hak asasi manusia hanya berdampak sedikit pada praktik hak asasi manusia secara nyata. Pendeknya. Organisasi internasional dan aktor-aktor nonpemerintah dapat mengajarkan dan mensosialisasikan kepada para pemimpin pemerintahan agar mengadopsi praktik- 70 JURNAL HAM • Vol. Tidak Manusiawi. 4 • Th. dan Merendahkan Martabat Manusia Konvensi tentang Hak Anak Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial Komite Hak Ekonomi. dan Budaya Komite Hak Asasi Manusia Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan Komite Menentang Penyiksaan ICESCR ICCPR CEDAW 1966 1966 1979 1976 1976 1981 144 147 167 CAT 1984 1987 124 CRC Komite Hak Anak 1989 1990 191 SUMBER. Hal tersebut juga berlaku untuk rejim hak asasi manusia internasional. 1979). atau. Rocke.

Kemudian. 71 . kecenderungan untuk mengisolasi kedua aspek utama dari proses penaatan telah membuat para ilmuwan gagal melihat gambaran yang lebih besar. 103-110). 2007 Persoalan dalam penelitian ini sangatlah jelas: sudut pandang teoritis mengarah pada kedua pandangan tersebut. dan Konvensi Menentang Penyiksaan telah mengubah cara yang digunakan oleh Pemerintah Israel dalam menginterogasi orang-orang yang dicurigai sebagai teroris (Ron 1997). Misalnya.Diagram 1. JURNAL HAM • Vol. menunjukkan bahwa institusionalisasi hak asasi manusia secara global memiliki dampak langsung dan positif terhadap praktikpraktik negara. Lutz dan Sikkink 2000. Data ratifikasi dijelaskan secara detil pada bagian data dari tulisan ini. Perhatian terhadap dampak langsung dari ratifikasi perjanjian formal telah mengarah pada kekhawatiran yang pesimis pada kesenjangan yang ada antara ratifikasi dan praktikpraktik domestik. 4 • Th. ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional mengarah pada pengurangan hambatan legal bagi orang-orang Korea di Jepang (Iwasawa 1986). Ratifikasi perjanjian hak asasi manusia versus praktik hak asasi manusia pada periode 1976 sampai 1998. Cerita-cerita seperti di atas. Clarck 2001). 2. Kepercayaan bahwa advokasi masyarakat sipil internasional dapat mendorong praktik-praktik yang lebih baik telah mengarah pada kepedulian yang lebih optimis ketimbang sifat dari kegiatan itu sendiri. yang banyak terdapat di berbagai literatur (Risse. Kami mendefinisikan suatu pelaku tindakan represif sebagai negara mana pun yang memiliki nilai 1. hal. dan jarang ada bukti empiris yang sistematis untuk mendukung kedua pandangan tersebut. Ropp.–% perjanjian yang diratifikasi (treaties ratified) mengukur prosentase perjanjianperjanjian internasional hak asasi manusia yang tersedia yang telah diratifikasi oleh negara pada periode tersebut. dan Sikkink 1999. praktik baru (Finnemore 1966a). atau 3 dari ukuran standar represif kami yang dijelaskan secara lengkap pada bagian data dari tulisan ini. % represif (repressive) mengukur prosentase negara-negara yang dilaporkan melanggar hak asasi manusia pada periode tersebut. tekanan internasional turut menyumbang pada penurunan tingkat kasus penghilangan paksa di Argentina (Keck dan Sikkink 1998.

Argumentasi utama kami adalah bahwa institusionalisasi hak asasi manusia secara global telah menjadi pedang yang memiliki dua ujung. Ketika tekanan dari pihak luar menurun. JURNAL HAM • Vol. kami meninjau nilai-nilai empiris dari argumentasi 4 Dalam kajian ini. kami menjelaskan dampak perjanjian hak asasi manusia sebagai suatu “paradoks janji-janji kosong”. namun aktor-aktor nonnegara dapat mengambil keuntungan dengan menggunakan tekanan pada pemerintah dan menghasilkan perubahan politik. yang tidak satu pun menjelaskan tentang kedua proses tersebut dalam satu model yang sama dan oleh karenanya gagal untuk menjelaskan dampak yang bersifat bertentangan dari institusi-institusi hak asasi manusia global atas praktik-praktik lokal. Kemudian. perjanjian internasional ini terkadang digunakan oleh pemerintah sebagai tameng atas perilaku yang semakin represif karena ratifikasi perjanjian tersebut memberikan suatu legitimasi hak asasi manusia yang justru mempersulit pihak-pihak lain untuk melakukan penekanan agar pemerintah-pemerintah semacam itu mau melakukan tindakan yang lebih baik. Di sisi lain. 2007 72 . aturan. 4 • Th. pendekatan kami menjadi bertentangan dengan pandangan-pandangan teoritis saat ini. yang kemudian menawarkan insentif yang kuat untuk meratifikasi perjanjian internasional kepada pemerintah-pemerintah hanya untuk menciptakan image publik yang penuh kepura-puraan (window dressing) ketimbang sebagai suatu komitmen yang serius untuk melaksanakan praktik penghormatan terhadap hak asasi manusia.4 Sebagai akibatnya. dan praktik-praktik yang dikembangkan di seputar struktur organisasional dan hukum internasional (March dan Olsen 1998). yang mengatur semakin meningkatnya legitimasi hak asasi manusia sebagai norma global perilaku negara yang selayaknya dalam rangka menekan negara-negara untuk memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusianya. maka komitmen institusional yang “kosong” atas rejim yang lemah tersebut justru terlihat ironis. Ketika negara bangsa membuat komitmen legal formal untuk menjadikan penaatan terhadap hak asasi manusia sebagai suatu simbol sementara mereka justru melakukan pelanggaran hak asasi manusia. Oleh karenanya. maka pemerintah seringkali menjadi lebih represif setelah melakukan ratifikasi. perjanjian hak asasi manusia internasional memang memiliki suatu mekanisme institusional yang lemah untuk memonitor dan menegakkan norma-norma rejim. kami menggunakan istilah “insti- tusi” untuk merujuk pada pengharapan normatif yang luas. dan rejim hukum hak asasi manusia tetap tidak memiliki kekuasaan lebih untuk menghentikan hal tersebut. tetapi tidak hanya terbatas pada.Kami menarik pandangan-pandangan dari rasional institusionalisme dalam hubungan internasional dan pendekatan masyarakat dunia dalam sosiologi untuk menjelaskan temuan-temuan yang kelihatannya saling bertentangan serta untuk merekonsiliasi kedua prediksi yang bertentangan tersebut. kami akan menjelaskan tentang pendekatan teoritis dalam konteks perspektif saat ini yang menggambarkan tentang represi pemerintah atas hak asasi manusia. Kemudian. 5 Hasil pekerjaan terbaru Daniel Thomas (2001) merupakan sesuatu yang khusus dan menawarkan argumentasi yang hampir sama. Kajian tersebut memeriksa dampak Helsinki Final Act 1975 pada perkembangan politik setelahnya di negara-negara sosialis dengan menggunakan teknik kualitatif dan menyatakan bahwa partisipasi pemerintah dalam perjanjian hak asasi manusia internasional cenderung merupakan komitmen yang “kosong”. Dengan demikian. istilah “institusi” mencakup. Di satu sisi.5 Di bagian berikutnya. setelah diratifikasi. hak asasi manusia yang diadvokasi secara regular justru bergerak di seputar perjanjian-perjanjian tersebut. perjanjian-perjanjian internasional. dalam hal rejim tersebut memberikan kekuatan bagi advokasi aktor-aktor nonnegara melalui alat-alat untuk menekan pemerintah-pemerintah agar menaati perjanjian-perjanjian tersebut.

Untuk lebih lanjutnya. 2007 domestik. tidak manusiawi. atau perlakuan atau penghukuman yang kejam. bebas dari penghilangan atau penahanan yang tidak sesuai dengan hukum. data kami memungkinkan dilakukan penyelidikan yang menyeluruh atas politik hak asasi manusia di negara-negara pasca Perang Dingin dan adanya dasar untuk analisa komparatif terhadap perilaku represi pemerintah di berbagai masa. Untuk pertama kalinya. dan bebas dari pelanggaran lain yang disengaja atas hak untuk hidup dan kebebasan seseorang. 4 • Th. hukum internasional adalah bersifat epiphenomenal [suatu fenomena yang muncul sebagai akibat dari suatu hal yang lain] bagi kekuasaan negara: sehingga tunduknya negara pada kewajiban hukum mereka untuk melindungi hak asasi manusia hanya merupakan suatu kebetulan belaka.6 Secara menyeluruh. kami menekankan pada bagaimana kekuatan global telah membentuk perilaku represif pemerintah pada hak asasi manusia yang paling mendasar: yaitu hak atas keamanan. 7 Kami menekankan pada hak-hak ini karena hakhak ini sangat mendasar bagi martabat manusia – hak untuk bebas dari pembunuhan. 73 . atau merendahkan martabat manusia. Apodaca (2001) menguji hipotesis tentang dampak globalisasi ekonomi pada periode 1990–1996. lihat HafnerBurton (2005). penyiksaan. dan posisi tawar-menawar di tingkat JURNAL HAM • Vol. yaitu mulai periode 1976 sampai 1999. Bagi yang lain. Bagi beberapa negara. dan kami meninjau kontribusi kajian empiris lintas-negara yang ada tentang hak asasi manusia untuk mengidentifikasikan variabel kontrol bagi analisa empiris kami. dan kepentingan ini ditentukan oleh struktur kekuasaan dalam sistem internasional (Waltz 1979). terutama ketika perjanjian ini tidak memiliki mekanisme penegakan (HafnerBurton dalam cetakan). dan hanya ada sedikit harapan bahwa perjanjian ini dapat mengubah perilaku negara. dengan argumentasi bahwa pemerintah tunduk pada hukum internasional hanya ketika hukum tersebut sesuai dengan kepentingan nasionalnya.7 TEORI-TEORI Dibagian ini kami membandingkan perspektif-perspektif teoritis yang saling bertentangan mengenai ketaatan terhadap hukum internasional. Kami mendiskusikan bagaimana pendekatan kami dapat menjelaskan dinamika ketaatan terhadap perjanjian-perjanjian hak asasi manusia internasional yang diinterpretasikan dengan dua cara (bersifat double-edge) dengan lebih baik. Kebanyakan ilmuwan politik menekankan pada peran negara. (2001) memeriksa dampak masuknya ekonomi asing pada perilaku represif pemerintah dengan menggunakan sample 43 negara-bangsa dalam jangka waktu 1981–1995. Teori-teori tentang Ketaatan secara Umum dalam Hubungan Internasional dan Hukum Internasional Pertanyaan tentang apakah hukum hak asasi manusia internasional mempengaruhi praktik hak asasi manusia pemerintah mengandung suatu pertanyaan politik yang lebih dalam mengenai ketaatan negara terhadap rejim hak asasi manusia internasional. Perilaku negara dimotivasi oleh kepentingan-pribadi mereka. kepentingan nasional. Kemudian. rejim hukum internasional dapat mempengaruhi perilaku negara dalam beberapa hal penting: rejim memfasilitasi kerja sama antar negara-negara berdaulat dengan meyediakan suatu mekanisme koordinasi dan mekanisme komitmen yang mengidentifikasi kewajiban negara 6 Kami mencatat bahwa beberapa kajian terbaru mencakup data di masa pasca Perang Dingin.kami dengan menggunakan analisa periode waktu praktik hak asasi manusia dengan jangka waktu panjang yang berbeda dari pekerjaan-pekerjaan yang pernah dilakukan sebelumnya. Misalnya. Perjanjian hak asasi manusia internasional hanyalah sekedar sarana yang diciptakan oleh negara-negara liberal yang berkuasa untuk memajukan kepentingan mereka. Richards dkk.

kami melihat bahwa kesenjangan antara ratifikasi dan perilaku untuk melaksanakan perjanjian hak asasi manusia internasional disebabkan karena adanya insentif bagi pemerintah yang meratifikasi perjanjian tersebut. 2007 . Walaupun pendekatan ini tidak pernah diuji secara sistematis. yang oleh karenanya sulit untuk diperkirakan sebelumnya. kami berargumen bahwa persoalan utama dalam pendekatan ini adalah bahwa pendekatan ini tidak melihat dampak positif dari institusionalisasi rejim hak asasi manusia internasional terhadap praktik-praktik di tingkat lokal yang bekerja bukan melalui sistem perjanjian namun melalui aktor-aktor nonpemerintah. Downs dkk. Pihak lain juga menyatakan bahwa ketaatan negara pada hukum internasional adalah suatu fungsi dari preferensi negara yang ditentukan oleh posisi tawar-menawar politik di tingkat domestik: institusi politik dan aktor negara menentukan apakah pemerintah dapat menyatakan komitmennya pada hukum internasional dan apakah negara dapat tunduk pada komitmen tersebut dalam jangka waktu panjang (Moravcsik 1997). baik secara langsung maupun tidak langsung. Negara-negara mengetahui tentang kekurangan ini. dan ketaatan pada rejim akan sangat tergantung pada rancangan rejim tersebut. Memang. negara-negara hanya bergabung dengan dan tunduk pada rejim ketika hal tersebut sesuai dengan kepentingan rasional mereka (Keohane 1984. Pendekatan pengarusutamaan seperti ini dalam hubungan internasional menekankan pada kekuasaan dan kepentingan sebagai faktor pendorong negara untuk me- ratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional dan menganggap bahwa ratifikasi tersebut hanya akan berdampak sedikit terhadap praktik-praktik hak asasi manusia. Apakah negara sungguh-sungguh menaati komitmen mereka pada perjanjian ini tergantung pada mobilisasi para aktor di tingkat domestik yang mendukung ketaatan terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional. dan Meyer 2004). Tsutsui. rejim hak asasi manusia tidak dirancang untuk menyediakan sarana institusional yang kuat bagi anggotanya untuk menegakkan ketaatan terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional. 74 JURNAL HAM • Vol. walaupun rejim hak asasi manusia internasional dapat mendorong kerja sama antarnegara dan membatasi perilaku represif pemerintah terhadap hak asasi manusia. Karena konfigurasi kepentingan dan kekuasaan politik di dalam dan di seputar negara berubah seiring waktu. 1996).8 Sebagaimana argumentasi kami di bawah ini. 4 • Th. Namun demikian. walaupun pemerintah tersebut sebenarnya tidak memiliki keinginan ataupun kapasitas untuk melaksanakan kewajiban berdasarkan perjanjian hak asasi manusia internasional tersebut (HafnerBurton. namun jumlah negara yang menyatakan komitmennya pada institusi semacam itu tetap harus dibatasi. maka ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional tidak dapat selalu diterjemahkan sebagai ketaatan terhadap perjanjian tersebut.serta menyediakan suatu sarana untuk penegakan kewajiban tersebut. dan para pemimpin pemerintahan menyadari bahwa rejim tersebut lemah serta bahwa berbagai badan monitoring tidak memiliki alat untuk menegakkan hukumnya (Cleveland 2001). Perjanjian hak asasi manusia internasional merupakan institusi yang dihasilkan dari permainan tawar-menawar kolektif semacam itu (Moravcsik 2000). Oleh karenanya. Oleh karenanya. pendekatan ini sepenuhnya mengabaikan aktor-aktor nonpemerintah dan menghasilkan penjelasan yang bersifat 8 Lihat Hafner-Burton dalam cetakan. kami menganggap bahwa argumentasi kelompok rasionalis mengenai dampak langsung ratifikasi tetap memiliki nilai yang berarti. Namun demikian.

Sejauh ini. Young 1979). maka negara-negara cenderung tunduk pada perjanjian hak asasi manusia internasional ketika tidak ada hambatan yang signifikan bagi penaatan tersebut. di mana hal ini mencerminkan proses tawar-menawar di tingkat domestik. tetapi juga mensosialisasikan negara-negara agar menerima norma dan nilai-nilai baru seperti hak asasi manusia yang diabadikan dalam hukum internasional di masa ini. menyatakan bahwa ada tiga alasan untuk mengharapkan ketaatan negara pada perjanjian internasional. Suatu aliran teori yang disebut sebagai neo-institusionalisme dalam sosiologi telah mempengaruhi kecen- 75 .sangat pesimistis tentang dampak rejim hak asasi manusia. Pendekatan Masyarakat Dunia Pada satu atau dua dekade terakhir ini. kecenderungan global yang diringkas dalam diagram 1 berlawanan dengan argumentasi-argumentasi tersebut. sistem perjanjian formal dan kegiatan aktor nonpemerintah. Keck dan Sikkink 1998. Sebagaimana orang-orang cenderung mengikuti hukum ketika tidak ada insentif untuk melakukan sebaliknya. untuk pertama kalinya. Akhirnya. Pendekatan teoritis lain dalam literatur yang relevan membuat asumsi-asumsi yang berbeda. 4 • Th. Kedua. Pertama. 1999). 2007 kuat untuk tidak tunduk pada rejim tersebut. Organisasi internasional tidak hanya membatasi perilaku negara melalui sanksisanksi hukum yang diterapkan oleh hukum internasional. kami mengusulkan suatu argumentasi sosiologis yang membedakan antara sistem perjanjian dan aktor nonpemerintah guna menjelaskan dinamika ketaatan pada perjanjian hak asasi manusia yang bersifat kompleks. Salah satu model hukum yang paling berpengaruh saat ini. yang disajikan oleh Chayes dan Chayes (1995). mereka cenderung tunduk pada perjanjian yang mereka pilih. Para ilmuwan konstruksivionis hak asasi manusia menekankan pada caracara di mana organisasi internasional dapat mensosialisasikan atau mengajarkan negara-negara agar menerima tujuan dan nilai-nilai yang tertanam dalam hukum internasional. berbagai dampak normatif hukum terhadap individu yang terdokumentasi dengan baik dapat diterapkan terhadap perilaku pemerintahan di tingkat nasional (Kratochwill 1989. Berangkat dari asumsi utama mereka bahwa kepentingan negara didefinisikan dalam konteks norma-norma internasional yang dipegang oleh negara tersebut – yaitu norma-norma yang seringkali tertanam dalam hukum internasional dan dilaksanakan oleh pemerintah serta aktoraktor nonpemerintah – maka para konstruktivionis berpendapat bahwa negaranegara tunduk pada hukum internasional ketika para elit pemerintahan dapat belajar menerima dan memasukkan norma-norma dan nilai-nilai bersama yang membentuk kehidupan politik internasional (Finnemore 1996a. Karena pemerintah hanya meratifikasi perjanjian ketika hal tersebut sesuai dengan kepentingan nasionalnya. organisasi yang tidak aktif tersebut menyebabkan penaatan menjadi lebih tidak mahal dan menjadi pilihan yang lebih menarik karena ketika tidak ada alasan-alasan yang JURNAL HAM • Vol. Berangkat baik dari pendekatan rasionalis maupun pendekatan masyarakat dunia. Risse dkk. dimensi normatif dan budaya politik internasional telah semakin menarik perhatian ilmu-ilmu sosial. Para ilmuwan hukum internasional seringkali mengira bahwa negara-negara cenderung menaati komitmen mereka atas perjanjian internasional. perjanjian internasional merupakan hasil negosiasi komprehensif yang mencerminkan kepentingan nasional negara-negara anggota. karena mereka gagal untuk menguraikan dua dimensi utama dari dinamika dari ketaatan terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional – yaitu.

dan normatif dari realita organisasional (Meyer dan Rowan 1977. Sementara prediksi hasil yang bersifat isomorphic ini seringkali terbatas pada bentuk organisasional dan adopsi kebijakan. Jacobson 1998. karena organisasi membuat naskah yang memuat elemen-elemen standar yang dianggap sah di lingkungannya. pendekatan neo-institusionalisme mengacu pada suatu pendekatan teoritis yang memberikan perhatian khusus terhadap dimensi kognitif. Krasner 1999). Meyer dan Scoot 1992. 1992. dkk. Soysal 1994. Brunsson 1989. yaitu bahwa perubahan kebijakan formal seringkali bersifat nominal dan tidak memiliki dampak yang diharapkan pada praktik nyata (Meyer dan Rowan 1977. Katzenstein 1996. dan bahwa ratifikasi tersebut tidak sepenuhnya mengarah JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. Sebagaimana para peneliti kemudian berusaha mengembangkan upaya yang dipelopori oleh Meyer dan Rowan (1977). 1987. Berkovitch 1999. dkk. budaya. Penerapan pendekatan ini dalam pengkajian tentang proses politik internasional. Argumentasi utamanya adalah bahwa model dan norma yang terinstitusionalisasi di tingkat global mendapatkan status yang diinginkannya setelah jangka waktu tertentu dan mempengaruhi pembuat kebijakan di tingkat nasional. Kecenderungan semakin meningkatnya tindakan bersatunya negara-negara dari arah yang berbeda-beda atas dasar struktur domestik yang sama ini seiring dengan semakin meningkatnya integrasi negaranegara ke dalam suatu masyarakat internasional. penelitian tentang diseminasi kurikulum sekolah (Meyer dkk. Boli. Boli dan Thomas 1999). 1992). Powell dan DiMaggio 1991. 1997). penelitian tentang gelombang dekolonisasi. Meyer dkk. Boli. literatur menunjukkan kemungkinan terjadinya pemisahan antara kebijakan dan praktik. dkk. Frank. maka semakin banyak pula negara-negara yang sama-sama menerapkan struktur politik dan sosial yang memiliki tampilan yang sama namun asalnya berbeda [bersifat isomorphic] (atau yang menyatukan diri dari asal yang berbeda-beda) pada berkesesuaian dengan model internasional (McNeely 1995.derungan tersebut. Penelitian-penelitian semacam ini menjelaskan tentang bagaimana standar global dan model-model yang telah ada dan diterima begitu saja membatasi politik nasional. Beberapa topik dari penelitianpenelitian pendekatan ini antara lain. Finnemore 1996b. mempunyai pengaruh tersendiri. Dalam hal ratifikasi perjanjian-perjanjian internasional. Meyer. Scott 2000). 1997. Karena kemudian banyak pemerintah yang mengorganisir dan merestrukturisasi politik nasionalnya di seputar model global dan standar perilaku yang selayaknya. Institusionalisasi semacam ini cenderung mengurangi adanya keragaman dalam organisasi karena kebanyakan dari mereka tunduk pada standar-standar yang telah diterima. penelitian tentang penyebaranluasan pemberian hak suara kepada perempuan. Meyer. Pendekatan ini menantang asumsi rasionalitas tujuan perilaku organisasional dan berargumentasi bahwa organisasi secara rutin mengikuti model dan standar yang telah ada apa pun kebutuhan fungsionalnya. pendekatan masyarakat dunia beranggapan bahwa keputusan untuk meratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional seringkali hanya merupakan sikap simbolis guna menunjukkan bahwa pemerintah bukanlah aktor yang menyimpang. Boli dan Thomas 1999). dan penelitian tentang ekspansi rejim lingkungan hidup di tingkat global (Meyer. Elemen utama pendekatan ini adalah legitimasi. pendekatan teoritis ini telah mempengaruhi banyak bidang dalam penelitian ilmiah sosial (Thomas dkk. 2007 76 . 1997). Berkembang dari kajian organisasional. seringkali disebut sebagai pendekatan masyarakat dunia atau perspektif politik dunia.

Seperti halnya pendekatan nasional dalam hubungan internasional. Ketika legitimasi suatu perjanjian mengalami perkembangan sampai pada suatu tingkat di mana negaranegara yang tidak meratifikasi terlihat sebagai sesuatu yang menyimpang dari kebiasaan yang normal. Oleh karena itu. 2007 komite PBB yang memberikan pelaporan formal dan melakukan fungsi monitoring. Dalam upaya menjelaskan dinamika penaatan yang bersifat tidak konsisten ini. dengan hanya melakukan sedikit upaya untuk menyesuaikan perilaku mereka dengan ketentuanketentuan dalam perjanjian tersebut. serta untuk mendiseminasikan informasi tersebut di tingkat global. kami memperluas pendekatan ini pada kajian hak asasi manusia dan membuat dua prediksi utama. Pada dasarnya. tindakan ratifikasi suatu perjanjian seringkali tidak seiring dengan praktik yang relevan. legitimasi negara tanpa adanya penegakan – dapat mengarahkan pemerintah untuk menggunakan hukum internasional sebagai tameng bagi semakin meningkatnya perilaku kekerasan di tingkat domestik. Selama beberapa tahun ini. kami memperluas konsep pemisahan (decoupling) kepada proses instiJURNAL HAM • Vol. 4 • Th. yang oleh karenanya semakin meningkatkan kemungkinan terjadinya pemisahan sebagaimana disebutkan di atas. terutama ketika perjanjian tersebut tidak memiliki mekanisme penegakan yang efektif dan pemerintah nasional dibiarkan begitu saja untuk melaksanakan perjanjian tersebut di tingkat domestik – ini merupakan hal yang pada umumnya terjadi dalam kebanyakan perjanjian internasional. Dengan demikian terbentuk suatu dasar yang kuat atas apa yang disebut sebagai “pemisahan (decoupling) yang radikal”.9 9 Perjanjian-perjanjian utama melengkapi komite- ARGUMENTASI Pertama. di mana perjanjian-perjanjian memiliki dampak yang terbalik dengan apa yang diinginkan sebelumnya. rejim hak asasi manusia dibuat untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasi hak-hak mana yang sah di tingkat global. elit yang berkuasa mungkin meratifikasi suatu perjanjian untuk memperoleh legitimasi di masyarakat internasional. Tsutsui dan Wotipka 2001). Downs dkk. 77 . untuk menyediakan suatu forum guna pertukaran informasi berkaitan dengan pelanggaran hak asasi manusia. maka pemerintah-pemerintah akan cenderung meratifikasi tanpa adanya keinginan dan kapasitas untuk tunduk pada ketentuan-ketentuan dalam perjanjian hak asasi manusia internasional. rejim hak asasi manusia internasional telah membuktikan bahwa rejim ini semakin kompeten dalam menyediakan instrumen-instrumen yang dibutuhkan guna mengumpulkan dan bertukar informasi tentang pelanggaran hak asasi manusia. tusional dan hal-hal yang terjadi secara kebetulan dalam sejarah politik hak asasi manusia global. dan untuk meyakinkan pemerintah serta pelaku pelanggaran bahwa hukum yang memberikan perlindungan bagi hak asasi manusia cukup untuk membatasi perilaku negara-bangsa sehingga oleh karenanya hukum tersebut harus dihormati. Dengan kata lain. Dari waktu ke waktu. Kami berargumen bahwa perjanjian hak asasi manusia internasional tidak cukup memiliki mekanisme penegakan yang dapat memberikan insentif bagi pemerintahpemerintah agar tidak menyimpang dari kebijakan mereka untuk berkomitmen pada perjanjian-perjanjian tersebut (Hathaway 2002.pada praktik-praktik ketaatan pada perjanjian tersebut. yang menggarisbawahi kurangnya dampak dari model global terhadap praktik nyata. 1996. kedua sifat rejim ini – yaitu. penelitian dalam pendekatan masyarakat dunia telah cenderung menekankan pada proses pemisahan ini.

Dengan semakin bertambahnya jumlah negara yang mendapatkan keuntungan dari legitimasi atas ratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional namun gagal untuk memenuhi komitmennya. JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. Dalam analisa data antarbangsa. maupun politik atas praktik-praktik hak asasi manusia yang lebih baik. Kemungkinan proses pemisahan yang radikal ini membawa kita pada dua dampak yang dapat diamati: ratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional akan memiliki baik (1) dampak positif terhadap 10 Beberapa kajian empiris digunakan untuk mendu- kung bukti-bukti argumentasi ini. rejim ini tidak memberikan suatu mekanisme penegakan formal guna menyediakan atau mengacaukan pertukaran informasi yang berharga dengan negara target (Cottier 2002. rejim perjanjian hak asasi manusia internasional tidak berdaya untuk mengubahnya. yang dipersenjatai dengan banyak informasi bahwa komitmen mereka terhadap rejim tidak akan mengarah pada penegakan yang serius tetapi justru memberikan mereka legitimasi di mata negara-negara lain. dan secara retoris. dan sementara itu. Goodman dan Jinks dalam cetakan). sekarang bebas untuk menyembunyikan praktik-praktik hak asasi manusia domestiknya di belakang hukum internasional. Permasalahan dalam upaya penegakan ini semakin diperkuat oleh kenyataan historis bahwa kebanyakan perjanjian hak asasi manusia utama mulai diberlakukan pada saat Perang Dingin. yaitu suatu masa di mana banyak pemerintahan menganggap ratifikasi terhadap perjanjian semacam ini hanya sebagai suatu hal politik yang tidak signifikan. Oleh karena itu. Namun. baik dengan mengkritik kekuatan-kekuatan poros dalam Perang Dunia II atau dengan memperjuangkan kemerdekaan dari pihak penjajah. bentuk pengaruh yang langsung ini bersifat lemah dan seringkali tidak efektif. rejim hak asasi manusia internasional sebenarnya telah memberikan kesempatan bagi pemerintah untuk mendapatkan legitimasi internasional dengan mendukung prinsip-prinsip hak asasi manusia tanpa benar-benar melaksanakan praktik-praktik hak asasi manusia di negaranya (Mullerson 1997). hukum. Yang terbaik yang dapat dilakukan adalah bahwa instrumen hukum dari rejim ini dapat mempengaruhi praktik-praktik secara langsung dengan memberikan informasi kepada negara-negara yang represif agar termotivasi untuk mengadopsi normanorma baru agar berperilaku lebih baik (Hafner-Burton dalam cetakan). Ratifikasi atas perjanjian hak asasi manusia internasional mengarah pada kemungkinan adanya hubungan yang negatif antara kebijakan dan praktik. Camp Keith (1999) menemukan bahwa tidak terdapat hubungan antara ratifikasi ICCPR dengan praktik-praktik hak asasi manusia. sebagaimana akan kami bahas di bawah ini.10 Pemerintah-pemerintah. Praktik-praktik yang bersifat represif ini semakin diperburuk setelah ratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional. 2007 78 . telah ditempatkan pada posisi mendukung perjanjian hak asasi manusia (Lauren 1998). dan Hathaway (2002) melaporkan suatu dampak negatif dari ratifikasi perjanjian atas praktikpraktik hak asasi manusia pemerintah di beberapa contoh. yang berada di bawah payung suatu kekuatan superpower yang mungkin membela atau mengabaikan kebijakan domestik mereka berkaitan dengan hak asasi manusia. di samping kapasitas penyebarluasan informasi tersebut. Perjanjianperjanjian tidak menawarkan adanya kompensasi materi. maka kesenjangan antara kebijakan dan praktik ini telah mengarah pada proses pemisahan yang semakin gawat dan radikal.Namun. dan perjanjian-perjanjian ini juga tidak dapat menghukum pelaku pelanggaran secara langsung dengan melakukan penahanan atas barang-barang berharga. Banyak pemerintah yang menyatakan dukungan mereka terhadap ide-ide hak asasi manusia.

hal. yang bekerja melalui organisasi nonpemerintah internasional yang menyebarluaskan dan memajukan prinsip-prinsip hak asasi maJURNAL HAM • Vol. maka ide-ide yang dikodifikasi dalam perjanjian-perjanjian ini telah mendapatkan status yang bersifat biasa (taken-for-granted) dalam politik global. 2007 nusia di tingkat global (Tsutsui dan Wotipka 2004). dengan bantuan Amnesty International dan kelompok-kelompok lainnya. jika tidak dimungkinkan. dan kelompok-kelompok hak asasi manusia di Indonesia bertukar informasi dengan International Commission of Jurists dan organisasi-organisasi internasional lainnya dalam mengkampanyekan pembebasan para tahanan politik (Jetschke 1999. janji kosong ini seringkali tidak konsisten. Semakin banyaknya jumlah negara yang meratifikasi perjanjian hak asasi manusia. Legitimasi prinsip hak asasi manusia yang semakin berkembang ini membawa dua akibat. Kedua. karena pemerintah yang represif meratifikasi lebih banyak lagi perjanjian hak asasi manusia internasional dan semakin melakukan pelanggaran hak asasi manusia di mana rejim perjanjian hak asasi manusia tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan hal tersebut. para aktivis Chili. Organisasi nonpemerintah internasional. Proses ini dibantu oleh kegiatankegiatan aktor nonpemerintah. aktif dalam mempublikasikan pelanggaran hak asasi manusia guna menekan pemerintah yang represif. 73-74). seperti Amnesty International dan Human Rights Watch. namun rejim perjanjian itu sendiri bukan merupakan penyebab perilaku tersebut. menjadi semakin tidak layak. Misalnya. semakin meningkat dan meluasnya komitmen negaranegara pada rejim hak asasi manusia global telah mengarah pada meningkatnya prinsip-prinsip hak asasi manusia yang pada saat yang sama mengubah perilaku pemerintah melalui upaya-upaya penekanan secara normatif. menurut kami. mempublikasikan kasus-kasus penghilangan paksa yang dilakukan oleh pemerintahnya (Clarck 2001. hal. Dampak negatif ini dapat bersifat langsung – yaitu ketika pemerintah secara sengaja menggunakan komitmennya terhadap rejim perjanjian hak asasi manusia internasional sebagai tameng bagi praktik-praktik hak asasi manusia mereka yang semakin memburuk dari pemeriksaan yang cermat dunia internasional – atau secara tidak langsung – yaitu ketika rejim perjanjian hak asasi manusia internasional tidak memiliki kapasitas untuk menghentikan negara yang meratifikasi dari perilaku represif yang semakin meningkat. Kelompokkelompok di tingkat domestik juga meminta pertolongan aktor-aktor eksternal untuk mempublikasikan pelanggaran yang terjadi di negaranya.praktik-praktik domestik atau (2) dampak negatif. Tsutsui 2004). Pertama. Dalam lingkungan politik global baru yang dicirikan oleh semakin meningkatnya kesadaran akan prinsip-prinsip hak asasi manusia. legitimasi prinsip-prinsip hak asasi manusia menyebabkan pemerintah yang menjadi target rentan terhadap rasa malu yang mungkin timbul dan kehilangan legitimasi dalam masyarakat internasional sebagai hasil dari ketidaktaatannya pada hukum hak asasi manusia internasional. semakin banyak organisasi nonpemerintah internasional menggunakan norma-norma hak asasi manusia global sebagai alat untuk melakukan lobi dan menekan pemerintah di tingkat nasional agar memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia mereka (Ron 1997. Walaupun terdapat kesenjangan institusional antara perjanjian hak asasi manusia dengan insentif bagi pemerintah-pemerintah untuk tunduk pada perjanjian tersebut. Kedua. Keck dan Sikkink 1998. bagi pemerintah di tingkat nasional untuk menganggap tuduhan atas pelanggaran hak asasi manusia hanya seba- 79 . 4 • Th. 140-141).

maka aktor nonpemerintah internasional akan sangat mungkin dapat mengetahui dan melaporkan pelanggaran yang terjadi dalam negara tersebut. tanpa mempertimbangkan apakah mereka secara individual menyepakati prinsip-prinsip yang tercakup di dalamnya. tetapi secara bertentangan. Untuk memastikannya. kami berpendapat bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia mungkin bisa tidak memiliki dampak yang signifikan atau pun memiliki dampak negatif terhadap praktik-praktik hak asasi manusia. negara yang memiliki jumlah keanggotaan dalam lebih banyak organisasi nonpemerintah internasional) akan lebih menghormati hak asasi manusia masyarakatnya. tradisi. Ratifikasi pemerintah terhadap hukum internasional tidak cukup untuk memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia. 4 • Th. serta dalam jangka waktu pendek seringkali memperburuk pelanggaran hak asasi manusia. Ritual. Namun. 1999. Dengan demikian. negara-negara yang lebih melekat pada masyarakat sipil internasional (misalnya. Tema ini digunakan dan ditekankan dalam pekerjaan Randall Collins (1992). Jika suatu negara memiliki hubungan yang erat dengan masyarakat sipil global. publisitas yang buruk yang dilakukan oleh aktor nonpemerintah seringkali memaksa pemerintah untuk menangani persoalan-persoalan hak asasi domestik mereka (Risse dkk. Aktor-aktor di tingkat domestik dalam negara yang memiliki hubungan erat dengan masyakat sipil global tersebut cenderung memiliki kesadaran lebih atas hakhak yang mereka miliki dan akan sangat mungkin menemukan cara-cara untuk mempublikasikan persoalan-persoalan mereka serta menekan pemerintahnya agar menangani persoalan-persoalan tersebut. masyarakat sipil menyediakan mekanisme penegakan yang tidak dimiliki oleh perjanjian hak asasi manusia internasional. (2) meningkatnya legitimasi prinsip-prinsip hak asasi manusia yang ditawarkan oleh masyarakat sipil internasional telah memberikan tekanan pada pemerintah-pemerintah agar memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia baik apakah mereka telah meratifikasi perjanjian hak asasi manusia atau pun tidak.gai intervensi terhadap persoalan domestik mereka. 80 JURNAL HAM • Vol. dan masyarakat sipil seringkali dapat menekan semakin banyak pemerintahan yang rentan agar tunduk pada rejim hak asasi manusia internasional. hubungan negara dengan masyarakat internasional memiliki dampak positif. Kami berargumen bahwa perluasan rejim hak asasi manusia internasional telah menciptakan suatu konteks global di mana (1) pemerintah mungkin meratifikasi perjanjianperjanjian hak asasi manusia walaupun mereka tidak siap untuk tunduk pada ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. tetapi hubungan suatu negara dengan masyarakat sipil internasional (melalui keanggotaan dalam organisasi nonpemerintah internasional) dapat mempengaruhi pemerintah untuk memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusianya. Dengan demikian.11 Kesimpulannya. kami sepakat dengan pengarusutamaan teori hubungan internasional bahwa perjanjian memiliki 11 Patut dicatat bahwa dampak dari masyarakat sipil internasional terjadi di banyak negara baik apakah pemerintahnya telah meratifikasi perjanjian hak asasi manusia atau belum. kami memgunakan pemahaman dari institusionalisasi rasional dalam hukum internasional dan pendekatan masyarakat dunia dalam sosiologi. 2007 . [1912] 1995). Keck dan Sikkink 1998). sebagai akibatnya. sehingga menyebabkan terjadinya pemisahan yang radikal antara kebijakan dan praktik. Proses utamanya adalah tema utama yang dikemukakan oleh Durkheim ([1985] 1982. dan norma-norma bersama pada umumnya mendasari kegiatan orang-orang dan kelompok-kelompok orang. Walaupun sulit bagi badan-badan internasional untuk melakukan penuntutan hukum terhadap pelanggaran di tingkat domestik. Dengan demikian.

Sejumlah kajian berikutnya juga menegaskan variasi dari prediksi-prediksi tersebut. Hipotesis ini memperoleh dukungan dalam beberapa kajian tambahan (Mitchell dan McCormick 1988. Tate. yang dalam banyak kasus mendorong pemerintah-pemerintah untuk melakukan represi politik. Mitchell dan McCormick (1988. hal. yaitu suatu pandangan yang diterima secara umum bahwa kurangnya sumber daya ekonomi merupakan dasar subur bagi konflik politik. Poe dkk. – Banyak pengkajian tentang praktik-praktik hak asasi manusia mengkaji tentang dampak pembaJURNAL HAM • Vol. Kami tidak sepakat dengan argumentasi konstruktivis dan hukum internasional. stabilitas politik seringkali lebih mudah dicapai. ngunan ekonomi. namun demikian. 4 • Th. yang menunjukkan dampak positif demokrasi terhadap praktik hak asasi Teori-teori Praktik Hak Asasi Manusia Dalam beberapa dekade terakhir. Pritchard 1989). Faktor-faktor ini kemudian kami sertakan dalam analisis empiris yang dijelaskan di bagian berikut ini. Faktor-faktor politik. para ilmuwan ini berargumen bahwa negara-negara demokratis akan lebih kecil kemungkinannya merepresi hak asasi manusia. Jeane Kirkpatrick (1979) berargumen bahwa rejim totalitarian kiri lebih mungkin melakukan pelanggaran hak asasi manusia karena mereka hampir memiliki kontrol penuh atas kehidupan warga negaranya. praktik-praktik tersebut dipengaruhi secara positif oleh hubungan dengan masyarakat internasional. Namun. Faktor-faktor ekonomi. karena kami membedakan dua dimensi dari rejim hak asasi manusia internasional yang dibaurkan dalam tulisan ini – sistem perjanjian dan hubungan dengan organisasi nonpemerintah internasional – dan prediksi bahwa sistem perjanjian tidak memiliki dampak atau memiliki dampak negatif serta organisasi nonpemerintah internasional memiliki dampak positif. argumentasi kami berbeda dari pengarusutamaan teori hubungan internasional karena kami memprediksikan bahwa ratifikasi akan seringkali diamati memiliki dampak negatif dengan praktik-praktik hak asasi manusia dan meningkatkan perilaku represif. 2007 81 . telah muncul beberapa kajian komparatif yang melihat banyak faktor yang membentuk praktik-praktik hak asasi manusia di tingkat lokal.mekanisme penegakan institusional yang lemah dan oleh karenanya tidak mungkin memiliki dampak positif terhadap perilaku hak asasi manusia. Dalam perekonomian maju di mana hanya sedikit orang yang merasa diperlakukan tidak adil. Henderson (1991) juga menyatakan bahwa pemerintahan yang demokratis akan lebih responsif terhadap warga negaranya ketimbang pemerintahan yang otoriter. 1999. kajian-kajian komparatif ini menunjukkan keragaman faktor-faktor yang diperlukan untuk menjelaskan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh pemerintah. Park 1987. Poe dan Tate 1994. yang mengurangi kemungkinan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia (Henderson 1991). 478) menawarkan suatu “tesis kemiskinan yang sederhana”. serta Howard dan Donelly (1986) bersikeras bahwa perlindungan hak asasi manusia membutuhkan suatu rejim negara yang liberal yang menghormati “konsepsi substantif dari martabat manusia”. Walaupun terdapat banyak variasi analisis. – Berbagai kajian menemukan bahwa demokrasi sangat kecil kemungkinannya melakukan pelanggaran hak asasi manusia ketimbang otokrasi. dan Camp Keith (1999). dan oleh karenanya akan lebih mengakomodir permintaan warga negaranya tanpa konflik kekerasan. Dari kajian seminal McKinlay dan Cohan (1975) dan Strouse dan Claude (1976) sampai analisa periode-waktu kolektif yang rumit dari Poe.

– Akhirnya. kurangnya sumber daya akan cepat menjadi masalah yang serius. lebih menginginkan adanya stabilitas politik di negara-negara berkembang dan oleh karenanya memperkuat rejim-rejim yang ada walaupun pada saat represi pemerintahan bersifat endemik (Chomsky dan Herman 1979). Berbeda dengan pendapat di atas. Perusahaan multinasional memiliki dampak langsung terhadap hak ekonomi dan sosial. yang menyatakan bahwa perusahaan multinasional mendorong baik hak sosio-ekonomi maupun hak sipil dan politik. yaitu mendorong pembangunan dan oleh karenanya memperbaiki kualitas hidup. yang akan meningkatkan kemungkinan pemerintah menggunakan tindakan-tindakan represif. Kajian-kajian berikutnya melaporkan bahwa besarnya populasi juga mempengaruhi represi politik. Dua kajian terkemuka memeriksa tentang dampak faktorfaktor ekonomi ekternal terhadap hak asasi manusia. didorong oleh kepentingan ekonominya. mereka mendapatkan dukungan bagi hipotesa tersebut – yaitu bahwa sejumlah besar pemerintahan dengan catatan hak asasi manusia yang buruk ternyata tergantung secara ekonomi kepada negara-negara kapitalis. Faktor-faktor global. Berangkat dari analisa ini. Stohl 1975). Analisa regresinya mendukung sebagian dari “tesis mesin pembangunan”.manusia (Mitchell dan McCormick 1988. pemerintah juga cenderung lebih koersif dalam mempertahankan kekuasaan mereka dari ancaman-ancaman internal terhadap negara. Poe dkk 1999). Ketika pemerintah negara berkembang di Dunia Ketiga menerima bantuan ekonomi dari negara kapitalis yang tujuan utamanya adalah untuk mempertahankan kondisi yang lebih menguntungkan bagi investasi. negara-negara dengan tingkat populasi yang lebih besar lebih mungkin melanggar hak asasi manusia (Poe dan Tate 1994. Faktor-faktor demografi. Dalam analisa pemeriksaan datanya. Poe dan Tate 1994. pemerintah akan lebih mungkin menerapkan kontrol yang kuat terhadap warga negaranya dan oleh karenanya akan lebih mudah menggunakan kekuatan untuk mempertahankan kekuasaan domestiknya (Poe dan Tate 1994. Henderson (1993) berargumen bahwa tekanan populasi dapat mengarah pada tekanan terhadap sumber daya. kemungkinan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia meningkat. Beberapa kajian juga mengidentifikasi hubungan antara keterlibatan dalam perang dengan pelanggaran hak asasi manusia. – Sebagai tambahan dari faktor-faktor domestik tersebut. Ketika suatu negara mengalami peningkatan populasi yang cepat. Mitchell dan McCormick (1988) membuat hipotesa bahwa ekonomi yang terkait dengan Amerika Serikat dan negara kapitalis maju lainnya mendorong pelanggaran hak asasi manusia di negara-negara pinggiran (periphery). Pada saat perang internasional. Poe dkk. 2007 82 . para ilmuwan mengindentifikasi sejumlah kecil faktor global yang dapat mempengaruhi represi pemerintahan. Mitchell dan McCormick (1988) memperkenalkan suatu argumentasi Marxis yang diambil dari argumentasi Chomsky dan Herman bahwa negara-negara kapitalis. Perusahaan multinasional juga secara tidak langsung memperbaiki hak politik sebab perusahaan multinasional mendorong perluasan kelas menengah masyaraJURNAL HAM • Vol. Kajian awal menunjukkan bahwa ada hubungan yang kuat antara partisipasi negara dalam perang internasional dan peningkatan kekerasan politik di tingkat domestik (Rasler 1986. 1999). Poe dkk 1999). Meyer (1996) memeriksa dampak perusahaan multinasional terhadap praktik-praktik hak asasi manusia. Pada saat perang sipil. yang oleh karenanya menekan pemerintah untuk menjadi otoritarian. 4 • Th.

Bolyard. kami mengembangkan kajian klasik dari Poe. sambil secara berkesinambungan mengontrol kemungkinan bahwa ketaatan negara terhadap hukum internasional dapat saja beragam berdasarkan tipe negara yang berbeda-beda. maka sampel yang komprehensif dari para pengarang tersebut menawarkan suatu titik awal yang ideal bagi analisa empiris kami. Kemudian. yang oleh karenanya meningkatkan stabilitas dan toleransi politik dalam masyarakat yang lebih luas. – Hubungan dengan masyarakat sipil internasional memiliki dampak positif terhadap perilaku hak asasi manusia dari negara-negara. 2007 Analisa Dalam rangka menentukan dampak hukum internasional dan institusi masyarakat sipil global terhadap praktik hak asasi manusia. dan Camp Keith (1999) yang mencoba menjelaskan keragaman negara dalam perilaku represif pemerintah. kami mengembangkan suatu model tunggal proses pengumpulan data yang kami ukur berdasarkan analisa berikut ini dengan menggunakan ordered probit yang layak bagi struktur ordinal dari variabel dependen kami (Long 1997): Yit = a + ßY Yit-1 + ßP Zit + ßX Xit + µ it (1) Y adalah tingkat perilaku represif 83 . Namun. Dari upaya-upaya penting tersebut kami mencoba untuk memahami penyebab domestik dan global dari perilaku represif pemerintah. Dengan melakukannya. Tate. ANALISA EMPIRIS Tujuan mendasar kami di bagian ini adalah untuk menguji hipotesis kami: Hipotesis 1. kami mengembangkan data mereka guna mendorong perbandingan antara temuan-temuan kami tentang dampak perjanjian internasional terhadap penjelasan-penjelasan sebelumnya tentang perilaku represif pemerintah. kami berupaya mengisi aspek utama politik global hak asasi manusia yang terlewatkan oleh semua literatur kuantitatif yang ada – yaitu pengaruh rejim global hak asasi manusia dan masyarakat sipil. yang memperingatkan para ilmuwan bahwa pandangan optimistis tentang peran perusahaan multinasional mungkin tidak terjustifikasi. Oleh karenanya. Walaupun kami meminjam beberapa data dari Poe dan kawan-kawan. dan Ippolito (1999) melaporkan temuan-temuan yang bertentangan dengan hal tersebut. Karena baik ratifikasi negara terhadap perjanjian hak asasi manusia maupun perilaku represif negara terhadap hak asasi manusia beragam anJURNAL HAM • Vol. suatu kumpulan literatur kuantitatif penting yang semakin berkembang sangat bergantung pada kajian Poe dan kawan-kawan tersebut. Untuk menguji hipotesis tersebut. dan kami memperkenalkan variabel-variabel baru untuk mengukur partisipasi 153 negara dalam masyarakat internasional sejak 1976 sampai 1999. tarnegara dan antarwaktu. Smith. kami memperbaharui data periode-waktu yang bersifat lintas-negara ini dengan memasukkan periode Pasca Perang Dingin. Hipotesis 2.kat kota yang stabil secara politik. 4 • Th. Data-data ini memampukan kami untuk menilai dampak ratifikasi negara terhadap perjanjian hak asasi manusia di jangka waktu dan lingkup yang lebih luas ketimbang kajian-kajian sebelumnya. – Ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia tidak memiliki dampak positif langsung terhadap ketaatan negara dalam praktik dan bahkan memiliki dampak negatif yang signifikan berkaitan dengan meningkatnya perilaku represif. dengan menurunkan perilaku represif.

matriks-Z mencakup ratifikasi negara terhadap perjanjian dan keanggotaan dalam organisasi nonpemerintah internasional. Dengan demikian. Kami mengontrol faktor-faktor lain yang dipercayai oleh kebanyakan ilmuwan hak asasi manusia membentuk perilaku represif pemerintah guna memahami apakah perjanjian hak asasi manusia internasional. Dengan demikian. a adalah intercept term. dan m adalah stochastic term. Untuk melakukannya. perdagangan. serta masyarakat sipil internasional.pemerintah terhadap hak asasi manusia yang diamati. persamaan (equation) 1 menegaskan bahwa represi terhadap hak asasi manusia bagi setiap negara di setiap tahun pengamatan merupakan suatu fungsi tentang pengalaman masa lalu negara tersebut berkaitan dengan represi. i dan t adalah tulisan di bawah garis (subscript) yang mewakili negara dan tahun pengamatan. ßS adalah matriks pengukuran parameter. Kami mempertimbangkan dua kelompok variabel sustantif utama untuk menguji teori kami. keanggotaan dalam organisasi nonpemerintah internasional. Kami meninjau kelompok-kelompok variabel ini secara lebih detil di bawah ini. suatu intercept term. kami membagi atau memisahkan variabel kompleks ratifikasi terhadap perjanjian oleh negara sebagaimana yang dilaporkan di model 1 menjadi beberapa komponen variabel yang baru dan menganalisa apakah ratifikasi negara terhadap enam perjanjian inti PBB mempengaruhi ketaatJURNAL HAM • Vol. ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia. demokrasi. Z adalah matriks variabel hukum internasional dan masyarakat sipil yang kami tawarkan untuk menguji teori paradoks kami. dalam model 1. sementara X adalah matriks dari semua faktor kontrol lainnya yang digunakan oleh para ilmuwan sebelum kami mengenai pengaruhi perilaku represif terhadap hak asasi manusia. dan populasi(log): Yit = a + ßY Yit-1 + ßP Zit + ßX Xit + µit (1) Represi pemerintah terhadap hak asasi manusia it = a + ßy-1 (praktik masa laluit) + ßz1 (ratifikasi perjanjian oleh Negarait) + ßz2 (keanggotaan pada organisasi nonpemerintah internasionalit) + ßx1 ([log] GDPit) + ßx2 ([log] perdaganganit) + ßx3 (demokrasiit) + ßx4 (populasiit) + µ it Walaupun kami menawarkan hipotesis yang berhubungan langsung – khususnya bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional akan mengarah pada tidak adanya perubahan atau semakin memburuknya perilaku hak asasi manusia – kami melakukan pengujian duaakhir bagi setiap dalil untuk mempertimbangkan hipotesis-hipotesis yang bertentangan yang ditawarkan oleh banyak ilmuwan politik. mempengaruhi perilaku represif pemerintah di luar dan melebihi (above and beyond) penjelasan yang ada dalam literaturliteratur saat ini. Kami memulai dengan menguji dua dalil utama dari teori kami: (1) apakah ratifikasi negara terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional mempengaruhi ketaatan negara terhadap norma-norma hak asasi manusia. suatu serial variabel kontrol. Dalam model 2 – model 7 kami melihat sifat dari ratifikasi terhadap perjanjian oleh negara secara lebih detil. dan matriks-X mencakup GDP(log). dan (2) apakah hubungan negara dengan organisasi nonpemerintah internasional mempengaruhi perilaku hak asasi manusia. 4 • Th. 2007 84 . dan suatu stochastic term.

16 Kami meng-kode-kan lima nilai-nilai variabel dependen berikut ini seba12 Kami mengucapkan terima kasih pada para pem- 13 14 15 16 baca AJS yang membawa variabel ini pada perhatian kami. – Untuk mengestimasi model-model. dengan menguji apakah bangsa-bangsa yang usianya lebih tua dan lebih mapan akan lebih menghormati hak-hak warga negaranya.) Dalam semua kasus kami memasukkan variabel dependen keterlambatan ai (kecuali dampak tetap).15 Secara khusus. [1] memasukkan intercept variasi-waktu: ai. kami memperkirakan dampak waktu tetap untuk menjamin bahwa dampak tahuntahun individual dalam sampel kami tidak berpengaruh terhadap hasil temuan. kami mempertimbangkan kemungkinan bahwa temuan-temuan kami adalah suatu benda peninggalan akhir Perang Dingin. Beberapa rekan kerja mengusulkan agar kami memasukkan ukuran jumlah ratifikasi negara-negara di tingkat-dunia untuk semua perjanjian hak asasi manusia internasional dalam jangka waktu tertentu guna mempertimbangkan dampak diperolehnya legitimasi hak asasi manusia pada periode waktu tertentu. dan Vockell (1992). Dalam melakukannya. sementara dalam model 12. dan Hafner-Burton (dalam cetakan). dari Amnesty International) yang menggunakan analisa isi. kami mempertimbangkan suatu susunan argumentasi alternatif yang dibuat oleh para ilmuwan hak asasi manusia dengan memodifikasi matriks-X. Poe. yang kami masukkan sebagai kontrol standar bagi varian tingkat-dunia pada periode waktu tertentu. Dalam model 8 dan model 9. melaporkan standar kesalahan Huber/White untuk menggantikan perhitungan tradisional. kami menjelaskan dampak potensial dari usia negara.14 Data Hak asasi manusia (Y). Akhirnya. 2007 politik pada setiap tahunnya. 13 (Oleh karenanya. Kami tidak memasukkan ukuran ini dalam temuan-temuan di tabel akhir karena variabel ini memberikan fungsi struktural yang sama seperti halnya dampak waktu tetap. kedua. kami menambahkan beberapa variabel baru ke dalam matriks-Z. Carey. 85 . kami mengukur perilaku represif pemerintah terhadap rasa aman seseorang. diantaranya: Cingranelli dan Pasquarello (1985). McCormick dan Mitchell (1988). Namun. penghilangan paksa. Stohl dan Carleton (1985).12 Dalam model 11. Dalam kajian terbaru. dan kami menggambarkan data-data tersebut di bagian berikut ini. kami mengubah misalnya. kami melanjutkan pendapat para ilmuwan hak asasi manusia yang lain dalam menggunakan skala ordinal standardasar perilaku represif yang digambarkan secara sistematis dalam laporan hak asasi manusia tahunan Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat (dan. Dalton. Melalui pengelompokan ini kami mengasumsikan bahwa pengamatan kami bersifat independen untuk jenis-jenis negara (atau kelompok negara) yang berbeda tetapi tidak hanya di suatu negara pada periode waktu tertentu.an pemerintah terhadap norma-norma hak asasi manusia. Dalam model 10. penyiksaan. kami menguji apakah pengalaman negara dalam perang sipil atau internasional dapat menjelaskan ketaatan pemerintah terhadap norma-norma hak asasi manusia. Gibney. 4 • Th. dan mengelompokkan negara-negara guna membahas persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh heteroscedasticity yang umum terjadi pada data kami (Beck dan Katz 1995). Para pengarang ini menemukan bahwa kecenderungan Amnesty International untuk melaporkan kondisi hak asasi manusia di negara yang catatan hak asasi manusianya paling buruk telah menurun dalam periode waktu belakangan ini. dan bahwa laporan-laporan Amnesty International dan Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat telah menjadi hampir serupa dalam periode waktu belakangan ini. Para ilmuwan lain yang memeriksa integritas hakhak tersebut termasuk. kami tetap menghitung dan mengukur variabel legitimasi dunia yang diusulkan pada dampak waktu tetap dan menemukan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hal dampak antara kedua pengukuran tersebut. dan pemenjaraan JURNAL HAM • Vol. Poe (1991). dan Vazquez (2001) menganalisa perbedaan laporan hak asasi manusia yang dibuat oleh Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat dengan Amnesty International guna menentukan apakah terhadap bias yang jelas dalam kedua sumber tersebut. dan kami melakukannya sebagai suatu kombinasi tingkatan negara dalam hal pembunuhan.

Hasilnya yang berkaitan dengan indikasi dan signifikasi konsisten dengan tingkatan ratifikasi negara terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional (model 1). Pengukuran ini disimpulkan dalam tabel 2 di bawah ini. CAT. CEDAW. – Ketika negara-negara berada pada kondisi aturan hukum yang aman. CRC. dan penahanan (dengan atau tanpa pengadilan) akibat pandangan politik dapat diterima. – Ketika praktik-praktik di tingkat 3 diperluas ke sejumlah besar populasi. Kami menawarkan beberapa pengukuran yang berbeda terhadap ratifikasi perjanjian oleh negara untuk menguji hipotesis-hipotesis yang diusulkan. kami menghitung suatu ukuran ordinal dari variabel perjanjian yang menghitung total jumlah perjanjian yang diratifikasi oleh suatu negara dalam suatu tahun tertentu. Pertama. Kami telah memperbaharui data yang ada. – Kami memperkenalkan delapan variabel baru dari ratifikasi negara terhadap hukum hak asasi manusia internasional dan keanggotaan negara dalam organisasi nonpemerintah internasional yang kami kumpulkan dari sumber-sumber primer dan sekunder perjanjian dan perkumpulan internasional. ICESCR. sedangkan angka enam menunjukkan bahwa suatu negara telah meratifikasi seluruh perjanjian hak asasi manusia utama.gaimana diilustrasikan di diagram 2 dan digambarkan di lampiran A: 1. Y = 1 (represi yang sistematis atau systematic repression). 86 JURNAL HAM • Vol. kami mempertimbangkan enam perjanjian utama (yang diuraikan di tabel 1): ICCPR. – Ketika penahanan atas kegiatan politik yang bersifat nonkekerasan terbatas. hukuman mati dan pembunuhan politik mungkin sering terjadi. Berkaitan dengan perjanjian-perjanjian hak asasi manusia internasional. penahanan politik dan penyiksaan jarang terjadi. Kami menggunakan variabel ini dalam model dasar kami (model 1). Banyak dari data ini berasal dari kolaborasi sejumlah hasil para ilmuwan hak asasi manusia ternama. 4. dan pembunuhan politik sangat jarang terjadi. dengan menggunakan metode analisa isi yang sesuai dengan metode pengumpulan data sebelumnya. 4 • Th. tetapi teror hanya mempengaruhi mereka yang berkepentingan dalam hal praktik atau ide politik. Y = 5 (represi yang jarang atau rare repression). Angka nol menunjukkan bahwa suatu negara tidak meratifikasi perjanjian hak asasi internasional utama mana pun. jika dimungkinkan. Y = 2 (represi yang massif atau extensif repression). rata-rata ratifikasi perjanjian oleh negara – yaitu jumlah total tahun di mana suatu negara telah meratifikasi suatu perjanjian – mempengaruhi ketaatan pemerintah terhadap norma-norma hak asasi manusia. – Ketika tingkat teror bersifat meluas di masyarakat dan pengambil kebijakan tidak membatasi sarana yang mereka gunakan untuk mendapatkan tujuan pribadi atau tujuan ideologi. – Ketika penahanan politik bersifat massif. pembunuhan dan penghilangan paksa sering terjadi. Y = 4 (represi yang terbatas atau limited repression). 2007 . Y = 3 (represi yang meluas atau widespread repression). dan pembunuhan politik jarang terjadi. 5. 2. penyiksaan dan pemukulan bersifat sangat khusus. dan CERD. Paradoks janji-janji kosong (Z).17 Kami juga membagi atau memisahkan variabel perjanjian menjadi komponenkomponen konstituennya dan memberikan kode pada enam indikator yang berbeda yang menangkap jangka waktu sejak suatu negara meratifikasi setiap salah satu dari 17 Kami juga mengukur dan memeriksa apakah waktu 3.

jumlah warga negara-negara yang tergabung dalam organisasi nonpemerintah internasional).htm dan http://www. CAT. 4 • Th.1200 1000 800 # 600 400 200 0 1 Systematic Repression 2 Extensive Repression 3 Widespread Repression 4 Limited Repression 5 Rare Repression Diagram 2. suatu publikasi tahunan dari Union of International Associations. dan penahanan secara sewenang-wenang. dan kami mencatat keduanya. 20 Walaupun baik pembangunan dan demokrasi seringkali diklaim sebagai hak asasi manusia yang mendasar. CERD. dan perilaku represif negara atas hak-hak mendasar untuk bebas dari pembunuhan.18 Kami menyebut variabel-variabel ini ICCPR. org/legal/undocs. penghilangan paksa. – Variabel dependen: represi terhadap hak asasi manusia (pengamatan tahun-negara). kami menawarkan suatu ukuran kalkulasi keanggotaan negara dalam organisasi nonpemerintah internasional dalam suatu periode tertentu (misalnya.19 Pengukuran ini dikumpulkan dari data yang tersedia dalam Buku Tahunan Organisasi-organisasi Internasional. Yang sangat penting bagi tujuan kami adalah lima karakteristik institusional utama yang membedakan antara demokrasi dengan otokrasi: tingkat kompetitif dari proses pemilihan pemimpin. penyiksaan. sesuai dengan urutannya. CEDAW. sistem pemerintahan negara. Khususnya lihat Apodaca (2001). Akhirnya.uia. – Kami mengikuti para ilmuwan hak asasi manusia lain dalam menggunakan ukuran Bank Dunia tentang Gross Domestic Product atau GDP pada nilai pasar dan perdagangan (sebagai persentase GDP). 87 . 19 Lihat Buku Tahunan Organisasi Internasional (Yearbook of International Organizations). Faktor-faktor kontrol (X).hrweb. Ukuran-ukuran ini adalah data konvensional yang dikumpulkan dari Bank Dunia dan hanya membutuhkan sedikit koJURNAL HAM • Vol.org.website. keterbukaan proses tersebut 18 Kami juga melakukan analisa dengan mengguna- kan variabel pura-pura (dummy) guna menggambarkan ratifikasi yang bertentangan dengan lama waktu keanggotaan. kami mengikuti yang lain dalam membedakan konseptual yang penting antara tingkat pembangunan negara. dan CRC. kami mengambil data dari proyek Polity IV dan menggunakan demokrasi berdasarkan karakteristik institusionalnya. 2007 mentar. ICESCR. Batang yang solid mewakili jumlah tahun-negara yang diamati dalam kumpulan data periode waktu lintas-seksi bagi setiap dari lima tingkat penghormatan negara terhadap hak asasi manusia yang diukur.20 Khususnya.html. enam perjanjian hak asasi manusia internasional. http:// www. Kami juga menerapkan pengukuran demokrasi dan tingkat perilaku represif pemerintah di masa lalu.

... INGO.. Sebaliknya. Pengukuran ini mulai dari -10 (paling otokratis) sampai 10 (paling demokratis). yang justru memperburuk pelanggaran hak asasi manusia.. kami mempertimbangkan berbagai ragam variabel tambahan yang mungkin telah digunakan di kajiankajian sebelumnya mengenai perilaku represif pemerintahan..34 0. baik CAT maupun ICCPR secara eksplisit menga- 88 JURNAL HAM • Vol... tingkat hambatan institusional atas kewenangan pengambilan keputusan pimpinan.16 0......... Jangka waktu sejak ratifikasi CRC Model 1-7 495... CAT.. tingkat kompetitif dari partisipasi politik... Pertama... Hasil Tabel 3 di bawah menunjukkan temuantemuan utama kami.. komitmen negara terhadap rejim hukum hak asasi manusia internasional tidak secara otomatis dapat diterjemahkan menjadi penghormatan pemerintah terhadap hak asasi manusia. Data-data ini mencakup keterlibatan negara dalam perang sipil atau perang internasional (proyek Correlates of War). CERD......17 0 3.. ICESCR... CRC ICCPR... (1999).27 0....... dan tingkatan di mana aturan-aturan yang mengikat mengatur partisipasi politik (Jaggers dan Gurr 1995). populasi negara pada tahun tertentu (diambil dari Bank Dunia).2 0 0 0 0 0 0 0 6 33 33 15 39 27 19 Jangka waktu sejak ratifikasi ICESCR Model 3 Jangka waktu sejak ratifikasi CEDAW Model 6 Jumlah organisasi nonpemerintah internasional (INGO) di mana warga negara menjadi anggota CRC.. 2007 ...127 bagi kelompok-kelompok sosial.. namun kami tetap melaporkan dampak signifikan dari variabel-variabel ini terhadap model kami tentang perilaku represif pemerintah di catatan kaki. Jumlah ratifikasi keseluruhan enam perjanjian : ICCPR...88 0. CEDAW.. CERD.. Namun demikian.. model 1 mengusulkan bahwa ratifikasi seringkali berkaitan dengan perilaku tidak taat negara-negara dan bahwa komitmen negara terhadap rejim hukum hak asasi manusia internasional dari waktu ke waktu mengarah pada pemisahan (decoupling) yang radikal. Negara yang meratifikasi sejumlah besar perjanjian hak asasi manusia tidak sepenuhnya melindungi hak asasi manusia ketimbang negara yang hanya meratifikasi sejumlah kecil perjanjian tersebut........ Walaupun kami tidak memasukkan semua variabel kontrol tambahan yang ada dalam model kami karena alasan-alasan teoritis.. 4 • Th.....21 21 Adalah mungkin bahwa temuan-temuan ini menun- jukkan bahwa sejumlah perjanjian utama menginstitusionalisasikan norma-norma yang tidak termasuk dalam kategori-kategori hak asasi manusia mendasar yang diteliti di sini. ECESCR......... Dalam analisa.45 0.35 0...... Jangka waktu sejak ratifikasi ICCPR Jangka waktu sejak ratifikasi CAT Jangka waktu sejak ratifikasi CERD Model 1 Model 2 Model 4 Model 5 Model 7 1..... serta usia negara dan data tambahan yang dikumpulkan oleh Poe dkk. CEDAW. CAT.....TABEL 2 DESKRIPSI VARIABEL: PARADOKS JANJI-JANJI KOSONG Variabel Isi Model Rata-rata Minimum Maksimum Perjanjian... Ada dua hasil temuan yang sangat luas biasa...

536.47*** (0.021*** (0. 4 • Th.9 2.537.067) 0.0002* (0.013* (0.1.1.045) (0.109** (0.0001) -0.0001) 1.5 2.063) 0. 2007 sebelumnya (Hathaway 2002).058 .022*** (0.006) Model 5 0.044) (0.2 P < 0.058 1.047) 1.117** (0. Kajian sebelumnya tentang ICCPR menunjukkan tidak adanya dampak ratifikasi terhadap perjanjian (Camp Keith 1999).069) 0.005) -0.01 (0.27*** (0.006) 0.0002* (0.0001) (0.02) -0.072 1.64* (0.042 .05 ** P < 0.0002* (0.023** (0.2 2.042 .136*** (0.261*** -0.05) Model 3 0.0001) 1.063) 0.024*** (0.069** (0.025*** (0.022*** (0.063) 0.035) 0.0002* (0.0004** (0.009) (0.069) 0.47*** (0.012* (0.262*** (0.026 (0.032*** -0.0001) 1.116** (0.542.072) 0. kebebasan.34) 0.058 1.112** (0. maka dampaknya tetap negatif tetapi kehilangan signifikansinya.006) Model 7 0.064) 0. dan keamanan seseorang yang digambarkan oleh variabel dependen kami.024*** (0.46*** (0.139*** (0.283*** -0. 89 .038 (0.0003** (0.045) (0.005) Model 6 0.02 (0.0001) -0.0006) -0.005) Model 4 0.550.3 2.01 *** P < 0.46*** (0.1.006) -0.058 .037) 0. Temuan ini konsisten dengan kajian CAT JURNAL HAM • Vol.064) 0.33) 0.27*** (0. yang mewajibkan negaranegara yang meratifikasi untuk menghormati hakhak ini.529.284*** -0.7 2. Kami juga mencatat bahwa ketika kami memasukkan dampak waktu tetap.1.1.48*** (0.07) 0.004) -0.275*** -0.005 (0.0001) -0.TABEL 3 ANALISA KUMPULAN PERIODE WAKTU LINTAS-SEKSI TENTANG PRAKTIK HAK ASASI MANUSIA DARI NEGARA. Bukti yang ditunjukkan di tabel 3 menunjukkan bahwa negara yang meratifikasi kedua perjanjian ini akan lebih mungkin melakukan tindakan represif terhadap hak-hak warga negaranya ketimbang negara yang bukan anggota pada perjanjian.049) (0.036) 0.001 kui hak-hak utama untuk hidup.012) -0. 1978 – 1999 Model 1 GDP per kapita (log) Demokrasi Populasi (log) Praktik masa lalu Perdagangan (log) Organisasi nonpemerintah internasional Perjanjian ICCPR ICESCR CAT CERD CEDAW CRC N Pengamatan Log kemungkinan + Model 2 0.068) 0.543.6 2. yang juga menunjukkan dampak negatif ratifikasi perjanjian.10 * P < 0.0003*** 0.033) 0.047) 1.045 (0.064) 0.024 (0.017) 2.049 (0.049) 1.546.042 .45*** (0. sementara temuan kami menunjukkan adanya dampak negatif.063*** (0.036) 0.45*** (0.138*** (0.064) 0.

23 Namun. kami mempertimbangkan sejumlah pengukuran alternatif bagi variabel-variabel yang kami laporkan di sini. temuan-temuan ini menunjukkan suatu gambaran yang mengkhawatirkan: perjanjian hak asasi manusia internasional hanya sedikit mendorong praktik-praktik yang lebih baik dan tidak dapat menghentikan banyak pemerintah dari suatu spiral perilaku represif yang meningkat. ratifikasi terhadap keseluruhan enam perjanjian tersebut memiliki dampak negatif terhadap perilaku negaranegara penandatangan: pihak-pihak pada perjanjian akan lebih mungkin melakukan represi terhadap warga negaranya ketimbang negara yang tidak meratifikasi.22 Secara bersamaan. hubungan negara dengan masyarakat sipil internasional menciptakan kekuatan lawan yang besar bagi pemisahan (decoupling) yang radikal tersebut: negaranegara yang warga negaranya menjadi anggota sejumlah besar organisasi nonpemerintah internasional akan lebih mungkin melindungi hak-hak warga negaranya. 1999) – sebagaimana halnya dengan negara-negara yang memiliki tingkat keterbukaan yang lebih tinggi terhadap ekonomi internasional (Meyer 1996. Kedua. Konsistensi dampak ini di lintas model menunjukkan bahwa dampak institusional umum masyarakat sipil global cukup stabil. 2007 90 . dan mungkin bahkan memperburuk praktik-praktik yang tidak baik tersebut. salah satu ramalan (predictors) yang paling penting dari represi adalah sejarah negara dalam kondisi represif (Apodaca 2001. Poe dkk. Gelleny. Poe dan Tate 1994. JURNAL HAM • Vol. kami tidak dapat membedakan antara dampak negatif langsung – ketika ratifikasi justru memberikan insentif lebih bagi perilaku represif yang lebih jauh – dan dampak negatif tidak langsung – ketika ratifikasi tidak memiliki dampak pada praktik-praktik negara yang mengarah pada semakin kuatnya perilaku kekerasan. 4 • Th. Di tabel 4 kami memverifikasi bahwa temuan-temuan kami sifatnya kuat bagi sejumlah penjelasan alternatif terhadap represi pemerintah terhadap hak asasi manusia. 24 Walaupun perang sipil memang 22 Ketika kami menambahkan dummy pasca Perang Dingin dan dampak waktu tetap dalam model 11 dan model 12. 24 Kami mempertimbangkan sejumlah variabel kontrol tambahan untuk menguji kekuatan temuantemuan ini. Richards. Namun.23 Kami menggunakan probabilitas yang diperkirakan untuk membongkar dampak-dampak negatif ini lebih jauh lagi di lampiran B. Konsisten dengan penelitian terbaru di bidang ini. Mitchell dan McCormick 1988. dan Sacko 2001) dan negara-negara yang tingkat pembangunan ekonominya lebih tinggi.Temuan ini sangat konsisten ketika kami memisahkan keseluruhan komitmen pada rejim hak asasi manusia dan meneliti ratifikasi terhadap perjanjian PBB yang spesifik (model 2 – model 7). Demokrasi adalah pelindung yang paling baik dari hak asasi manusia – menyepakati mayoritas ilmuwan hak asasi manusia (Henderson 1991. Walaupun kami menemukan bahwa institusionalisasi hak asasi manusia global tidak memiliki dampak positif yang sistematis melalui sistem perjanjian. Tabel 3 juga menegaskan bahwa perkiraan kami konsisten dengan temuan-temuan umum dalam berbagai literatur hak asasi manusia mengenai variabel kunci. Kemudian. dampak perjanjian menjadi kurang signifikan tetapi tetap negatif. yang melekat pada perjanjian hak asasi manusia internasional dan ditawarkan oleh masyarakat sipil internasional memberikan kontribusi terhadap perbaikan praktik-praktik hak asasi manusia secara nyata. 1999). Variabel ini tidak mengubah temuantemuan kami dan oleh karenanya tidak dilaporkan di sini. Poe dkk. kami juga menemukan bahwa norma-norma global hak asasi manusia. Tidak satu kasus pun menunjukkan bahwa ratifikasi negara terhadap enam perjanjian hak asasi manusia utama dari PBB yang mana pun dapat memperkirakan kemungkinan penghormatan pemerintah terhadap hak asasi manusia.

2001). Akhirnya. yang tidak mengubah hasil kami. Akhirnya. Kami mempertimbangkan kemungkinan ini dengan serius dan oleh karenanya telah melakukan suatu proses pemeriksaan terhadap kelayakannya. perang internasional dan usia negara tidak memiliki dampak apa pun terhadap perilaku represif pemerintah. 91 . Kami menemukan bahwa model yang mengalami penundaan sama persis secara subtantif dengan model yang kami laporkan di tabel 3. 2007 yang secara strategis mempengaruhi rejim hukum hak asasi manusia untuk menekan pemerintah agar mengubah perilaku hak asasi manusia mereka. dampak ini berada di luar temuan-temuan kami bahwa negara yang meratifikasi hukum hak asasi manusia internasional cenderung tidak menaati hukum tersebut dalam praktiknya.26 Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa terdapat korelasi sistematis yang positif antara penerimaan pemerintahan secara resmi terhadap hukum internasional untuk melindungi hak asasi manusia dengan perilaku nyata dari para elit pemerintahan untuk melindungi hak-hak tersebut. Kami mengulangi penundaan atau interval ini selama beberapa tahun kemudian untuk menjamin kekuatan temuan-temuan tersebut. periode sejarah tampaknya memberikan perubahan. 25 Dalam rangka mempertimbangkan kemungkinan suatu dampak pilihan. Variabel ini tidak signifikan dan tidak mengubah hasil temuan secara substantif. kami memasukkan suatu dummy variabel pengukuran mengenai apakah suatu pemerintahan dikuasi oleh rejim beraliran kiri. kami dapat menawarkan bukti awal yang menyatakan bahwa temuantemuan kami tidak hanya sekedar hasil dari perhatian media yang meningkat terhadap pelanggaran hak asasi manusia setelah ratifikasi terhadap perjanjian. 26 Temuan-temuan ini bukan merupakan hasil karya multicollinearity. Di sisi lain. Walaupun kami tidak bisa menawarkan suatu jawaban yang pasti terhadap pertanyaan tersebut. Dalam rangka mempertimbangkan kemungkinan bahwa dampak Perang Dingin dihasilkan oleh suatu bias praktik-praktik hak asasi manusia oleh pemerintahan-pemerintahan beraliran kiri (Poe dkk. Yang lebih mengkhawatirkan adalah bukti yang menyatakan bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional justru memperburuk ketaatan negara terhadap norma-norma hak asasi manusia yang dilindungi oleh perjanjian tersebut.sangat mendorong perilaku represif negara. kami menunda semua variabel independen selama satu tahun dan menguji kembali model ini. bukti juga menunjukkan bahwa hubungan dengan masyarakat sipil global memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia. suatu fenomena yang mungkin dapat dijelaskan oleh munculnya banyak negara baru yang relatif lemah.25 Dipertimbangkan bersama. dan matriks korelasi ini tersedia dari para pengarang atas dasar permintaan. namun norma-norma yang dikodifikasi dalam perjanjian ini menyebarluas di kalangan organisasi nonpemerintah internasional JURNAL HAM • Vol. bahwa sumber-sumber laporan kami yang menjadi sumber data kami tentang perilaku represif terhadap hak asasi manusia lebih memberikan perhatian pada negara-negara yang lebih terbuka terhadap pertukaran informasi atau yang baru saja menandatangani suatu perjanjian hak asasi manusia internasional. setidaknya pada jangka pendek. walaupun hasil substantif kami pada umumnya konsisten ketika kami memasukkan dampak waktu tetap. sejumlah ilmuwan telah mengidentifikasi kemungkinan yang sangat nyata bahwa temuan-temuan kami dipengaruhi oleh suatu “dampak informasi”. 4 • Th. Negaranegara di dunia pasca-Perang Dingin lebih kecil kemungkinannya tunduk pada komitmen terhadap rejim hak asasi manusia internasional. Bertentangan dengan hal tersebut. Walaupun perjanjian-perjanjian seringkali tidak secara langsung memberikan kontribusi pada perbaikan di tingkat praktik. temuantemuan ini menawarkan dukungan yang besar terhadap argumentasi kami.

072) 0.46*** (0.10 * P < 0.TABEL 4 ANALISA KUMPULAN PERIODE WAKTU LINTAS-SEKSI TENTANG PRAKTIK HAK ASASI MANUSIA DARI NEGARA DENGAN VARIABEL INDEPENDEN TAMBAHAN.524.121** (0.0.0.065) 0.819 .074+ (0.026*** (0.4 1.01 *** P < 0.05) 1.0.1** (0.006) .279*** (0.064) .0.027*** (0. c Melalui konvensi.05 ** P < 0.0.0001) .069** (0.0.083) 0.0001) .021) Model 11 0.8 2.071** (0.0.037) 0.328.058 .1.065** (0.913*** (0. 1978-99 Model 8 GDP per kapita (log) Demokrasi Populasi (log) Praktik masa lalu Perdagangan (log) Organisasi nonpemerintah internasional Perjanjian Perang sipilb Perang internasionalb Usia negara Dummy pasca Perang Dingin Dampak waktu yang tetap (1976-99)c N Pengamatan Log kemungkinan a b Model 9 0.080) 1.006) .036) 0.003 (0. 4 • Th.002 (0.006) .256*** (0. koefisien dampak waktu tetap tidak dilaporkan secara individual untuk menghemat tempat + P < 0.0004** (0.058 .815 .047) 1.5 Perhatikan bahwa model 12 termasuk dampak waktu tetap tidak memasukkan variabel interval yang dependen.525.4*** (0.0006 (0.0005) .028*** (0.0001) .092* (0.0.007) .0005** (0.1. 2007 .024) .626*** (0.1.035) 0.038) 0.043+ (0. Ukuran perang sipil dan internasional dibatasi pada periode waktu 1976 ––1993.024 (0.0005* (0.2 2.049) 1.0.16 (0.075) 0.079) 0.0001) .0.0004** (0.0.0.027f (0.082 (0.44*** (0.1.542.022) Model 10 0.0004** (0.279*** (0.1.001 92 JURNAL HAM • Vol.023) Model 12a 0.006) .0.077) 0.7 2.267*** (0.048) 0.025) .077 (0.o.0.052) 0.16) 0.0.092* (0.034 (0.356.135) .058 .067) .0001) .041) 0.022*** (0.45*** (0.048) 1.257*** (0.

dan tiga tahun setelah ratifikasi terhadap CAT. Temuan kunci pertama kami tentang dampak perjanjian hak asasi manusia mengulangi temuan-temuan kajian terbaru mengenai topik yang sama. Sebagai akibatnya. memperkirakan bahwa rejim hukum tidak memiliki dampak atau memiliki dampak negatif terhadap praktik hak asasi manusia. atau terbatas. tetapi juga mengembangkan lebih jauh dari hasil temuan tersebut dalam hal cakupan waktu dan jumlah perjanjian hak asasi manusia internasional. 4 • Th. Temuan-temuan ini menggambarkan beberapa keraguan tentang argumen- KESIMPULAN Dasar analisa kami adalah dua set pengharapan dan bukti yang saling bertentangan tentang berkembangnya dampak rejim hak asasi manusia internasional. kami membandingkan isi dari sumber laporan tersebut berdasarkan jumlah kata-kata yang didedikasikan terhadap isu penyiksaan. memberikan kekuatan lebih bagi aktor-aktor nonpemerintah untuk menekan pemerintah-pemerintah yang melanggar hak asasi manusia agar mengubah perilaku mereka. kami menemukan bahwa dampak negatif dari ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional terhadap hak atas keamanan individu berlaku bagi keenam perjanjian hak asasi manusia utama. tetapi semakin berkembangnya legitimasi ide-ide hak asasi manusia dalam masyarakat internasional. namun para ilmuwan konstruktivis dan hukum internasional menunjukkan JURNAL HAM • Vol. Sifat dari laporanlaporan ini kelihatannya tidak mengalami perubahan yang signifikan setelah ratifikasi. Kami mencoba menemukan tentang dua aspek rejim hak asasi manusia yang ditemukan dalam kebanyakan literatur yang ada: yaitu sistem perjanjian hak asasi manusia internasional dan masyarakat sipil internasional. sejumlah bukti bahwa rejim tersebut memiliki dampak positif terhadap praktikpraktik lokal. tetapi masyarakat sipil global memliki dampak positif terhadap praktik hak asasi manusia. sebagaimana dipresentasikan di lampiran C. kami mengambil sampel acak 15 negara dari sampel yang lebih besar yaitu 153 bangsa. yang didasari oleh pendekatan institusional rasional dan masyarakat dunia.Bukti-bukti ini dikumpulkan melalui suatu percobaan kecil. Kami menganalisa laporan tahunan hak asasi manusia dari Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat untuk setiap negara yang telah meratifikasi CAT. tidak ada bias sistematik pada meningkatnya jumlah kata dalam pelaporan atau dalam jenis informasi setelah ratifikasi terhadap perjanjian. walaupun sumber laporan tentang pelanggaran hak asasi manusia bervariasi setiap tahunnya. yang pembentukannya didukung oleh rejim hukum internasional. yang oleh karenanya menyarankan bahwa kecil kemungkinannya temuantemuan kami merupakan hasil yang unik dari meningkatnya pelaporan yang ada setelah dilakukannya ratifikasi. dan bahwa kecenderungan ini berlanjut sampai akhir 1990an. Kami menemukan bahwa. Kerangka teori kami. Untuk setiap negara. Sementara para ilmuwan pengarusutamaan hubungan internasional berargumentasi bahwa rejim hak asasi manusia internasional tidak memperbaiki praktik hak asasi manusia. Pertama. Analisis empiris kami memperkuat tesis paradoks janji-janji kosong ini. dan juga jenis informasi yang diberikan oleh laporan – informasi yang luas. 2007 93 . menengah. periode saat ratifikasi terhadap CAT. Tidak terdapat bukti sistematik yang menunjukkan bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia dalam sistem PBB memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia. Kami meneliti tiga periode waktu untuk setiap negara: tiga tahun sebelum ratifikasi terhadap CAT.

Aktor-aktor masyarakat sipil pada dasarnya melakukan fungsi mekanisme penegakan yang sangat diperlukan tersebut. Walaupun banyak studi kasus telah mendokumentasikan dampak prinsip-prinsip hak asasi manusia global dan aktor-aktor internasional yang mendukung prinsip-prinsip ini dalam praktik-praktik lokal. banyak pemerintah meratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional tanpa adanya keinginan ataupun kapabilitas untuk menyelaraskan perilaku domestik mereka dengan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian hak asasi manusia internasional. temuan kami menunjukkan bahwa walaupun institusinya lemah. namun hanya sedikit yang telah mengkaji dampak kegiatan internasional di luar sistem perjanjian ini secara sistematis. Karena adanya tekanan kuat untuk meratifikasi perjanjian hak asasi manusia dan relatif rendahnya biaya ratifikasi. kami menggarisbawahi dampak yang berbeda dari kedua jenis hubungan tersebut terhadap praktikpraktik hak asasi manusia di tingkat lokal. Berdasarkan pada panduan pengkodean yang diberikan oleh Poe dan Tate (1994). Para ilmuwan dan aktivis seringkali mengkritisi kurangnya mekanisme penegakan yang efektif dalam perjanjian hak asasi manusia internasional. Tindakan ratifikasi memberikan suatu karakter legitimasi pada pemerintah. maka tindakan ratifikasi tersebut juga memberikan suatu penyamaran atas pelanggaran hak asasi manusia warga negaranya. bagi pendekatan masyarakat dunia. Temuan kunci kedua kami tentang dampak positif hubungan dengan masyarakat global merupakan kontribusi penting baik bagi kajian empiris politik hak asasi manusia dan. 1976-1993. Namun. kami menerapkan metode analisis isi pada laporan tahunan hak asasi manusia dari Departemen Dalam Negeri Amerika SeriJURNAL HAM • Vol. Analisis statistik kami memberikan dukungan kuat bagi para ilmuwan dan pengamat yang berargumen bahwa kegiatan-kegiatan hak asasi manusia global berkontribusi pada perbaikan dalam praktik-praktik hak asasi manusia di tingkat lokal. 2007 94 . Aktor-aktor masyarakat sipil ini. seringkali mengubah arah dari “janji-janji kosong” pemerintah-perintah nasional yang ada di kepala mereka menjadi suatu “paradoks” global: yaitu perbaikan praktik-praktik hak asasi manusia. LAMPIRAN A Kumpulan Data tentang Hak Asasi Manusia (Y) Kami telah memperbaharui data yang ada tentang perilaku represif terhadap hak asasi manusia yang dikumpulkan oleh sejumlah ilmuwan sebelum kami dan yang ditawarkan oleh Steven Poe. yang jika digabungkan dengan kurangnya institusionalisasi mekanisme penegakan. walaupun aktor-aktor ini bukan merupakan pengganti bagi institusi yang lebih kuat yang dapat melindungi hak asasi manusia.tasi-argumentasi optimis yang dikemukakan oleh para ilmuwan hukum internasional dan konstruksivionis. yang semakin berkembang dalam hal jumlah dan kekuatan. Kedua temuan menunjukkan pentingnya untuk memisahkan mekanisme-mekanisme yang berbeda di mana kekuatan-kekuatan global beroperasi guna memberikan dampak pada tindakan-tindakan di tingkat lokal. Dengan memeriksa hubungan dengan masyarakat sipil internasional secara terpisah dari hubungan dengan rejim hak asasi manusia global. 4 • Th. masyarakat sipil internasional telah menggunakan legitimasi norma-norma hak asasi manusia yang dinyatakan dan dikodifikasi dalam perjanjianperjanjian hak asasi manusia internasional tersebut untuk menekan pemerintah-pemerintah agar memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusianya. dari sudut pandang teoritis.

kami menggunakan dua coders dalam menganalisa isi dari setiap sumber dan menggunakan suatu nilai angka. temuan-temuan kami mungkin tidak sama bagi semua negara secara signifikan dan. Kami mengakui bahwa argumentasi institusional kami mungkin juga menawarkan pengaruh bagi beberapa jenis kebijakan negara yang dapat lebih dijelaskan – misalJURNAL HAM • Vol. Jika demikian.29 Kami mengintepretasikan tabel tersebut sebagai berikut. Sejak saat itu. kami mengartikan suatu negara “rata-rata” sebagai Negara yang memiliki nilai rata-rata GDP. Prediksi-prediksi ini merupakan alat yang berguna untuk memeriksa apakah argumentasi kami konsisten di seluruh kategori variabel dependen untuk jenis-jenis negara yang berbeda-beda. dan yang pada saat yang bersamaan mempertimbangkan variasi dalam hal tingkatan ratifikasi perjanjian hak asasi manusia oleh negara dan hubungan dengan organisasi nonpemerintah internasional. Guna menjamin konsistensi dengan metode pengkodean sebelumnya. kami menggunakan prosedur statis yang dibahas secara detil dalam Long (1997) untuk menghitung probabilitas-probabilitas yang diperkirakan bahwa suatu negara rata-rata biasa diamati jarang menggunakan represi [prob(Y p 5FX)] dan menggunakan represi secara luas [prob(Y p 3FX)]. 28 Walaupun kami memperhitungkan probabilitasprobabilitas yang diperkirakan pada kelima kategori variabel dependen. perdagangan.28 Tabel B1 melaporkan probabilitas-probabilitas yang diperkirakan (berdasarkan model dan data kami) yang kami amati dari negara demokratis rata-rata yang jarang menggunakan represi atau yang menggunakan represi secara luas. kami mengukur probabilitas-probabilitas yang diperkirakan dari estimasi yang digambarkan di model 1 (tabel 3 di atas). Baris dan kolom pertama menunjukkan bahwa suatu negara demokratis yang tidak meratifikasi satu pun perjanjian hak asasi manusia (0) dan tidak berhubungan dengan ma27 Kami mengucapkan terima kasih kepada Steven Probabilitas yang Diperkirakan (Predicted Probabilities) Dalam rangka membongkar temuantemuan empiris utama lebih jauh. mungkin tidak bisa digeneralisasi begitu saja. kami hanya melaporkan dua kategori saja untuk menunjukkan argumentasi kami sesederhana mungkin. Konsistensi antar coder dicatat sekitar 90%. Oleh karena itu kami mencoba memahami apakah dampak yang telah diidentifikasi dalam analisa serial-waktu berlaku untuk jenis-jenis negara yang berbeda secara konsisten. otokrasi – ketimbang jenis lainnya – misalnya. kami menempatkan suatu nilai hak asasi manusia dengan skala lima. demokrasi. populasi. 29 Untuk tujuan perhitungan atau kalkulasi. didorong oleh pengalaman dari jenis negara tertentu. yang awalnya diterapkan dalam Gastil (1980) dan digambarkan di bagian tentang data.kat. dan praktik masa lalu. 4 • Th. Bagi semua kasus negara dari 1994 sampai 1999.27 LAMPIRAN B nya. Dalam rangka melakukan hal tersebut. pelaku represi yang jarang (Y p 5) – ketimbang untuk jenis-jenis yang lain – seperti misalnya pelaku represi yang luas (Y p 3). 2007 Poe dan Mark Gibney atas data yang mereka berikan pada kami. Mark Gibney dengan baik hati berbagi datanya (1980-2000) dengan kami. Analisis ini sangat bernilai karena sejumlah ilmuwan telah dengan benar menyatakan bahwa ratifikasi terhadap perjanjian dan hubungan dengan masyarakat sipil internasional mungkin memiliki dampak yang lebih besar bagi beberapa jenis pelanggaran hak asasi manusia tertentu – misalnya. dan kami menggunakan pihak ketiga untuk menyelesaikan persoalan ketidakkonsistenan antar coders. 95 . dan kami telah menggunakannya sebagai pengujian ketika pada pengkodean kami.

syarakat sipil internasional (tidak satu pun) memiliki 21% kemungkinan melakukan tindakan represif secara meluas dan hanya 12% kemungkinan jarang melakukan tindakan represif. Ketika negara tersebut semakin banyak meratifikasi perjanjian hak asasi manusia (yang dijelaskan di tabel oleh pergeseran horisontal dari kiri ke kanan), negara tersebut secara bertahap lebih mungkin untuk melakukan tindakan represif secara meluas dan lebih kecil kemungkinannya untuk jarang melakukan tindakan represif. Ketika negara tersebut semakin berhubungan dengan masyarakat sipil internasional (yang dijelaskan di tabel oleh pergeseran vertikal dari atas ke bawah), negara tersebut secara bertahap lebih mungkin untuk melakukan tindakan represif secara meluas dan lebih kecil kemungkinannya untuk jarang melakukan tindakan represif. Probabilitas-probabibilitas ini mengijinkan kami untuk memeriksa besarnya pergeseran tersebut. Tabel B2 melaporkan probabilitas-probabilitas yang diperkirakan untuk negara otokratis rata-rata. Kami mengintepretasikan tabel tersebut dengan cara yang sama seperti tabel sebelumnya: suatu negara otokratis rata-rata yang diambil dari sampel yang tidak meratifikasi satu pun perjanjian hak asasi manusia (0) dan tidak berhubungan dengan masyarakat sipil internasional (tidak satu pun) memiliki 32% kemungkinan melakukan tindakan represif secara meluas dan hanya 6% kemungkinan jarang melakukan tindakan represif. Jika dilakukan pergeseran secara horisontal dalam baris tabel, dapat dilihat bahwa semakin banyak negara ini meratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional, maka semakin lebih mungkin negara melakukan praktik hak asasi manusia yang buruk. Jika dilakukan pergeseran secara vertikal dalam kolom tabel, dapat dilihat bahwa semakin banyak negara ini berhubungan dengan masyarakat sipil global,

maka semakin lebih mungkin perbaikan praktik hak asasi manusia di negara ini. Hasil ini menjelaskan tentang temuantemuan kami bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional terpisah secara radikal dari ketaatan negara terhadap norma-norma hak asasi manusia, namun hubungan dengan masyarakat sipil internasional memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia. Tabel B1 dan B2 membawa perhatian pada tiga aspek dari paradoks ini. Pertama, dampak negatif perjanjian hak asasi manusia lebih besar pada negaranegara yang melakukan tindakan represif secara meluas ketimbang pada negara-negara yang jarang melakukan tindakan represif. Negara-negara represif yang bergabung dalam rejim hak asasi manusia menjadi semakin represif ketika mereka meratifikasi lebih banyak perjanjian hak asasi manusia internasional. Bahkan dalam banyak kasus, tabel-tabel ini menunjukkan bahwa lebih dari 10% negara lebih mungkin menggunakan tindakan represif yang meluas ketika mereka telah meratifikasi keenam perjanjian hak asasi manusia ketimbang ketika mereka tidak meratifikasi satu pun perjanjian hak asasi manusia. Dampak negatif pada rejim yang nonrepresif, yang ditunjukkan dengan menurunnya probabilitas-probabilitas yang diperkirakan bagi kategori negara yang jarang melakukan tindakan represif, dimulai dari tiga sampai sembilan persen perubahan. Temuan semacam ini berguna untuk memverifikasi bahwa dampak yang telah kami identifikasi bersifat sangat besar. Kedua, dampak positif hubungan negara dengan masyarakat sipil internasional lebih besar pada perilaku hak asasi manusia negara-negara yang melakukan tindakan represif secara meluas ketimbang negara-negara yang jarang melakukan tindakan represif. Ketika negara-negara represif
JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

96

membuka perbatasan mereka dan mengijinkan warga negaranya untuk bergabung dengan semakin banyak organisasi nonpemerintah internasional, maka negaranegara ini akan lebih kecil kemungkinannya menggunakan tindakan represif. Dampak pada rejim yang represif adalah tujuh sampai sembilan persen, sedangkan dampak pada negara-negara nonrepresif mulai dari dua sampai enam persen. Ketiga, dengan mengherankan hasilhasil ini konsisten bagi negara-negara demokratis maupun otokrasi (tabel B1 dan tabel B2). Walaupun pemerintahan-pemerintahan demokratis lebih mungkin menghormati hak asasi manusia ketimbang pemerintahan-pemerintahan otokratis (dan oleh karenanya adalah negara-negara yang jarang melakukan tindakan represif), namun kedua jenis pemerintahan tersebut mengalami paradoks janji-janji kosong yang sama. Temuan ini mungkin tidak diperkirakan oleh mereka yang percaya bahwa pemerintahan demokratis lebih responsif terhadap hukum hak asasi manusia internasional ketimbang pemerintahan otokratis, dan hal ini mengarah pada dukungan lebih terhadap ide bahwa paradoks tersebut merupakan fenomena global yang nyata. LAMPIRAN C

Dampak dari Informasi
Dalam tabel C kami menyediakan data yang dikumpulkan untuk memeriksa kemungkinan bahwa temuan-temuan kami dipengaruhi oleh dampak dari informasi. Kami memilih 15 negara secara acak dari sampel yang ada dan memeriksa laporan Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat untuk memilih data dari tiga jangka waktu: tiga tahun sebelum ratifikasi, tahun ratifikasi, dan tiga tahun setelah ratifikasi. Untuk setiap jangka waktu, kami melaporkan jumlah total kata-kata yang ada dalam laporan hak asasi manusia tentang PenyikJURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

saan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, atau Merendahkan Martabat Manusia (Amnesty International, berbagai tahun), serta jenis informasi yang diberikan dalam laporan tersebut. Kami mempertimbangkan tiga kategori: (1) pelaporan yang luas, yang memberikan informasi detil mengenai individu tertentu yang disiksa, individu atau unit pemerintahan tertentu yang dituduh melakukan penyiksaan, atau kondisi-kondisi khusus penyiksaan seperti demonstrasi dan kerusuhan, serta pengesahan dan pelaksanaan peraturan perundang-undangan tentang hak asasi manusia, komisi hak asasi manusia, kebijakan tentang hak asasi manusia, dan program hak asasi manusia lainnya di tingkat nasional; (2) pelaporan menengah, yang memberikan informasi yang cukup detil mengenai individu yang mengalami penyiksaan ataupun yang dituduh melakukan penyiksaan, serta pengesahan dan pelaksanaan peraturan perundang-undangan tentang hak asasi manusia; dan (3) pelaporan yang terbatas, yang memberikan informasi berkaitan dengan peristiwa penyiksaan secara umum tanpa memberikan informasi secara detil mengenai individu tertentu yang mengalami penyiksaan, individu atau unit pemerintahan tertentu yang dituduh melakukan penyiksaan, atau kondisi-kondisi khusus penyiksaan seperti demonstrasi dan kerusuhan, serta pengesahan dan pelaksanaan peraturan perundang-undangan tentang hak asasi manusia, komisi hak asasi manusia, kebijakan tentang hak asasi manusia, dan program hak asasi manusia lainnya. Kami juga memberikan laporan tentang nilai variabel independen untuk setiap kasus. Hasil menunjukkan bahwa tidak ada hubungan sistematik yang dapat diamati antara ratifikasi negara terhadap CAT dengan panjang ataupun jenis informasi yang dilaporkan oleh sumber hak asasi manusia tahunan Departemen Dalam Negeri

97

Amerika Serikat yang kami gunakan untuk mengkodekan variabel dependen kami, walaupun negara-negara terkadang dilaporkan telah meningkatkan perilaku represif mereka setelah ratifikasi, sebagaimana telah kami prediksikan. Baik panjang maupun jenis informasi lebih berhubungan dengan tingkat represi ketimbang ratifikasi negara terhadap CAT: ketika pelanggaran negara terhadap hak asasi manusia sangat besar, maka laporan cenderung lebih panjang dan lebih detil. Ketika pemerintah

tidak melakukan tindakan represif, laporan menjadi lebih pendek, dan jenis informasi yang diberikan dengan demikian menjadi lebih terbatas. Percobaan ini menunjukkan bahwa perubahan dalam nilai praktik hak asasi manusia tidak bisa dikaitkan dengan peningkatan atau penurunan perhatian sebagai suatu hasil ratifikasi terhadap perjanjian dan lebih menekankan pada pentingnya paradoks yang kami temukan dalam analisa data kami.

DAFTAR PUSTAKA
Amnesty International. 1994. Amnesty International Report. London: Amnesty International Publications. –. Berbagai tahun. Amnesty International Report. London: Amnesty International Publications. Apodaca, Clair. 2001. “Global Economic Patterns and Personal Integrity Rights after the Cold War.” International Studies Quarterly 45:587–602. Beck, Nathaniel, and Jonathan N. Katz. 1995. “What To Do (and Not To Do) with–TimeSeries Cross-Section Data.”–American Political Science Review 89:634–50. Berkovitch, Nitza. 1999. From Motherhood to Citizenship: Women’s Rights and International Organizations. Baltimore: Johns Hopkins University Press. Boli, John, dan George M. Thomas, eds. 1999. Constructing World Culture: International Nongovernmental Organizations since 1875. Stanford, Calif.: Stanford University Press. Brunsson, Nils. 1989. The Organization of Hypocrisy: Talk, Decisions and Actions in Organizations. Crichester: John Wiley and Sons. Camp Keith, Linda. 1999. “The United Nations International Covenant on Civil and Political Rights: Does it Make a Difference in Human Rights Behavior?” Journal of Peace Research 36:95–118.

Chayes, Abram, dan Antonia Chayes. 1995. The New Sovereignty: Compliance With International Regulatory Agreements. Cambridge, Mass.: Harvard University Press. Chomsky, Noam, dan Edward S. Herman. 1979. The Political Economy of Human Rights: The Washington Connection and Third World Fascism. Boston: South End Press. Cingranelli, David, dan Thomas Pasquarello. 1985. “Human Rights Practices and the Distribution of U.S. Foreign Aid to Latin American Countries.” American Journal of Political Science 27:539–63. Clark, Ann Marie. 2001. Diplomacy of Conscience: Amnesty International and Changing Human Rights Norms. Princeton, N.J.: Princeton University Press. Cleveland, Sarah H. 2001. “Human Rights Sanctions and the World Trade Organization.” In Environment, Human Rights and International Trade, edited by F. Francioni. Portland, Ore.: Hart Publishing. Collins, Randall. 1992. Sociological Insight: An Introduction to Non-obvious Sociology. Edisi kedua. New York: Oxford University Press. Cottier, Thomas. 2002. “Trade and Human Rights: A Relationship toDiscover.” Journal of International Economic Law 5:111–32. Downs, George, David M. Rocke, dan Peter Barsoom. 1996. “Is the Good News about Compliance Good News for Cooperation?” International Organization 50:379–406. Durkheim, Emile. (1895) 1982. The Rules of Sociological Methods. New York: Free Press.

98

JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

dan Kathryn Sikkink.” International Organization. Raymond. “USA Refugee Policy: A Human Rights Analysis Update. Robert O. Krasner. Yuji. 1998. –.” Journal of Peace Research 32:469–82.” Journal of Refugee Studies 5:33–46. dan Kathryn Sikkink. 1992. dan Ted Robert Gurr. “Tracking Democracy’s Third Wave with’the Polity III Data.” International Organization 50:325–47. 1980. “Population Pressures and Political Repression. Mark. “Conditions Affecting the Use of Political Repression. Princeton. 1979. Stephen C. David. New York: Cambridge University Press. 2005. San Francisco. 1998. Keck. Howard. 1980. Norms. The Elementary Forms of Religious Life. Henkin. ed. Ithaca. –. “Norms. How Nations Behave: Law and Foreign Policy. Oona A. Baltimore: Johns Hopkins University Press. Dalam cetakan.: Princeton University Press. Activists Beyond Borders: Advocacy Networks in International Politics.” Commentary 68: 34–45. Katzenstein. Emilie.” Journal of Peace Research 42(6). Rules. Peter J. dan Jack Donnelly. (1912) 1995. Culture.. –. “Right or Robust? The Sensitive Nature of Government Repression in an Era of Globalization.” Journal of Conflict Resolution 35:120–42. dan Derek Jinks. Emilie. Gibney. and World Politics: Insights from Sociology’s’ Institutionalism. Sovereignty: Organized Hypocrisy. “Human Dignity.” Duke Law Journal 54.: Transaction Books.” Dalam The Power of Human Rights: International Norms and Domestic Change. “Dictatorships and Double Standards.Y. 1998. Iwasawa. Ryan. Kiyoteru Tsutsui.J. “Linking the Unlinkable? International Norms and Nationalism in Indonesia and the Philippines. Keith. Friedrich V. 1995. Human Rights. and Decisions: On the Conditions of Practical and Legal Reasoning in International Relations and Domestic Affairs. Stephen D. Jacobson. 1996b.: Cornell University Press. Louis.”—Social Science Quarterly74:322– 33. Rights Across Borders: Immigration and the Decline of Citizenship. Keohane. 1989. “Mechanisms of Social Influence and Regime Design in Human Rights Law: Toward a Sociological Theory of International Law. Gastil. Margaret E.–.J. Anja. dan John Meyer. 1999. Ropp.J. JURNAL HAM • Vol. N. The Evolution of International Human Rights: Visions Seen. N.: Cornell University Press. 2007 99 . August. 2002. and Political Regimes. The Culture of National Security: Norms and Identity in World Politics. N.. 1986. Hathaway. Jetschke. “Even Bad States Do Good Things: International Human Rights Law and the Politics of Legitimation. Lauren. Martha. Henderson. 2004. Rep. diedit oleh Thomas Risse. Paul Gordon. New York: Free Press. Princeton. ed. Cambridge: Cambridge University Press. National Interest in International Society. Ithaca. dan Marc Vockell. New York: Columbia University Press. 4 • Th. Kirkpatrick. 1979. N. Goodman. 1984.” American Political Science Review 80:801–18. New York: Columbia University Press. 1991. Freedom in the World: Political Rights and Civil Liberties. Hafner-Burton. “Legal Treatment of Koreans in Japan: The Impact of International Human Rights Law on Japanese Law. 1993. “Trading Human Rights? How Preferential Trade Agreements Influence Government Repression. Dalam cetakan. After Hegemony. Hafner-Burton. 1999. Finnemore. Rhoda. Kratochwil. Conway W. 1996. 1996a. N. Jeane.: Princeton University Press. “Do Human Rights Treaties Make a Difference?” The Yale Law Journal 111:1935–2042. New Brunswick.” Human Rights Quarterly 18: 131–79.” Makalah dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Sociological Association. Philadelphia: University of Pennsylvania Press. 1986. Vanessa Dalton. Jaggers.Y.

” International Organization 54:633–59.Long. New York: Routledge. Poe. dan Tanya C.. Cohan.unhchr.” The American Political Science Review 88:853–72. Olsen. “The Origins of Human Rights Regimes: Democratic Delegation in Postwar Europe..S. Meyer. “Human Rights and the Allocation of U. Rein. James M. Steven C. London: Falmer Press. Calif. Lutz. Han S. Sabine C. Park. “The False Promise of International Institutions. 1975. McKinlay. dan Francisco O. “Institutionalized Organizations: Formal Structure as Myth and Ceremony.” Human Rights Quarterly 18:368–97. 100 JURNAL HAM • Vol.” American Journal of Sociology 103:144–81. Organizational Environments: Ritual and Rationality. Carey. State Department and Amnesty International Human Rights Reports. 1870–1990.” Human Rights Quarterly 23: 650–77. “Repression of Human Rights to Personal Integrity in the 1980s: A Global Analysis. William H. Thousand Oaks. dan Neil Mitchell. dan W.” International Organization 52:943–69. Scott. 1976– 1995. 1998. Neil.” World Politics 40:476–98.. Regression Models for Categorical and Limited Dependent Variables.. “The Structuring of a World Environmental Regime. DiMaggio. JohnW. 1996. 1992. 1992. McNeely. Powell. Poe. John W. Steven.” Journal of Peace Research 28:205–16. Meyer. dan Linda Camp Keith. Meyer. Richard Scott. D. Mullerson.” Comparative Politics 8:1–30. McCormick. 1997.S. 2001. 1994/1995. 1997. dan Brian Rowan. J. Vazquez. Ellen L.ch/pdf/ report. 2d ed. Meyer. –. The New Institutionalism in Organizational Analysis. Neal Tate. 1997. Westport. Mitchell. 1997. “The Institutional Dynamics of International Political Orders.. 1991. 4 • Th. James G. Andrew. Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights. 1997. Ramirez. dan Nancy Brandon Tuma. dan Johan P.: Sage Publications.” International Organization 51:623–51. Calif. John J. Chicago: University of Chicago Press. “Is U. “World Society and the Nation-State.S. March. 2007 . “Human Rights and MNCs: Theory Versus Quantitative Analysis. 2002. Meyer. George M. Neal Tate. School Knowledge for the Masses: World Models and National Primary Curricular Categories in the Twentieth Century..” American Journal of Sociology 83:340–63..pdf..: Greenwood Press. 1987. Conn.” International Security 19:5–49. Military Assistance.” International Studies Quarterly 43:291–313. “How Are These Pictures Different? A Quantitative Comparison of the U. 1999. Meyer. dan Aaron Benavot. dan James McCormick. Moravcsik. R. “Economic and Political Explanations of Human Rights Violations. dan Paul J.: Sage Publications. 1995. David Kamens.” International Organization 54:217–52. John W. David John Frank. “International Human Rights Law and Practice in Latin America.. Human Rights Diplomacy. 1988. “Taking Preferences Seriously: A Liberal Theory of International Politics. Status of Ratifications of the Principal International Human Rights Treaties. Steven C. “A Comparative Analysis of the Political and Economic Performance of Military and Civilian Regimes. dan A. 1991.. John W. John W. “Repression of the Human Right to Personal Integrity Revisited: A Global Cross-National Study Covering the Years 1976–1993. Steven C. Ann Hironaka. Poe. Mearsheimer. 1977. 1994.. Walter W. 2000. Thomas. Evan Schofer.” International Organization 51:514– 55. Connie L. dan C. C.. http://www. Aid Really Linked to Human Rights in Latin America?” American Journal of Political Science 32:231–39. dan Kathryn Sikkink. Beverly Hills. John Boli. eds. Constructing the Nation-State: International Organization and Prescriptive Action.. Poe. 2000. “Correlates of Human Rights: Global Tendencies. S.” Human Rights Quarterly 9:405–13. 1988.

’1965– 1999. dan Christine MinWotipka. Tsutsui. dan Kathryn Sikkink. Accommodation. dan Anna Ippolito. Calif. Calif. “War. 1890– 1970. James.–Institutions and Organizations. “Human Rights and the Global Economy: A Response to Meyer. dan David Carleton. Meyer. N. Claude. Thomas. Stohl. Thousand Oaks. Smith. 1985. The Power of Human Rights: International Norms and Domestic Change. David L. dan David H. 2d ed. 2001. John W. Anaheim. 2004. 2004. Waltz. Daniel C. Scott. Baltimore: Johns Hopkins University Press. 2007 101 .” Pp. P. Kenneth. 1976.” Human Rights Quarterly 7:205–29. Reading. Thomas.: Sage Publications. New York: Cambridge University Press. “Global Human Rights and State Sovereignty: Nation-States’ Ratification of International Human Rights Treaties. Forsythe. Princeton. 1975. Karen.: Princeton University Press. Sacko. and the Demise of Communism.– –. “Human Rights and Development: Theory and Data.” Social Forces 83:587–620. “War and Domestic Violence: The Case of the United States. 1999. August. Human Rights. 1989.” In Comparative Human Rights. edited by R. Claude. Richard. Michael.” Human Rights Quarterly 21:207–19. 1890–1970. Ropp. 1987. Gelleny.: Addison. Strouse. Beverly Hills. 2001. dan Richard P. 329– 45 in Human Rights and Development: International Views. Ron. Society.Pritchard. Oran R. Thomas. Michael. The Helsinki Effect: International Norms. 1979. 1999.. 1994.. dan John Boli. W. London: Macmillan. and the Individual. Baltimore: Johns Hopkins University Press. Young. Yasemin. 2000.” Journal of Conflict Resolution 19:379– 416. “The Foreign Policy of Human Rights: Rhetoric and Reality from Jimmy Carter to Ronald Reagan. Kiyoteru. 4 • Th. Soysal. Institutional Structure: Constituting State. Ramirez.Wesley.” International Organization 51:275–301. P.. “Varying Methods of State Violence. James C.” Paper presented at the annual meeting of the American Sociological–Association. Rasler. 1979. 1986. 1997. Stephen C. Limits of Citizenship: Migrants and Postnational Membership in Europe. Kathleen. Kiyoteru. 2001. George M.” Sociological Forum 19:63–88. Tsutsui. Compliance and Public Authority: A Theory with International Applications.J. “Empirical Comparative Rights Research: Some Preliminary Tests of Development Hypotheses. edited by D.: Sage Publications. Francisco O.” International Studies Quarterly 45:219–39. Ronald D. “Global Civil Society and Ethnic Social Movements in the Contemporary World. Mass. Risse.” American Political Science Review 80:921– 45. Chicago: University of Chicago Press. Jackie. JURNAL HAM • Vol. “Money with a Mean Streak? Foreign Economic Penetration and Government Respect for Human Rights in Developing Countries. “Global Civil Society and the International Human Rights Movement: Citizen Participation in International Human Rights Nongovernmental Organizations. Melissa Bolyard. Richards. Theory of International Politics. and Violence in the United States. Stohl.

Negara harus menerima semua perjanjian HAM internasional utama secara sistematis dan melaksanakan ketentuanketentuannya (ratifikasi universal dan efektif). Lembar fakta ini menggunakan pendekatan yang lebih umum. 4 • Th. 102 . Sosial. Sosial. istilah “badan perjanjian” diadopsi untuk tujuan-tujuan berikut ini. buku ini menggambarkan tentang suatu “sistem perjanjian” HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Walaupun setiap perjanjian merupakan instrumen hukum yang terpisahpisah. Namun demikian. kedua. Sejauh mana perjanjian dan badan perjanjian dapat bekerja bersama-sama sebagai suatu sistem tergantung pada dua faktor: pertama. yang setiap lembar faktanya mencantumkan informasi mengenai badan perjanjiannya. dan Budaya (Committee on Economic. Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (Office of the High Commissioner for Human Rights/OHCHR) telah menerbitkan lembar fakta yang spesifik mengenai ketujuh perjanjian utama. badan-badan perjanjian harus mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan mereka untuk menghasilkan suatu pendekatan yang konsisten dan sistematis terhadap monitoring pelaksanaan HAM di tingkat nasional. yaitu untuk menggambarkan setiap komite yang memonitor pelaksanaan perjanjian HAM. atau “badan perjanjian” yang memonitor pelaksanaan perjanjian oleh Negara-negara Pihak. yang meninjau semua perjanjian dan badan perjanjian. dan terintegrasi bagi pemajuan dan perlindungan HAM. Badan perjanjian membantu Negara-negara Pihak melakukan hal tersebut dengan memonitor pelaksanaannya dan merekomendasikan langkah-langkah selanjutnya. dan Budaya (Economic. 30 Sistem Perjanjian Hak Asasi Manusia: Pengantar terhadap Perjanjian Hak Asasi Manusia Utama dan Badan-Badan Perjanjian Lembar Fakta ini merupakan suatu pengantar umum terhadap perjanjian dan komite internasional hak asasi manusia (HAM) utama. Social and Cultural Council/ECOSOC). melainkan dibentuk oleh resolusi Dewan Ekonomi. dan walaupun setiap badan perjanjian merupakan suatu komite yang ter1 Penyebutan komite yang dibentuk berdasarkan diri dari para ahli yang independen dari komite-komite lainnya. holistik. dan. Social and Cultural Rights/ CESCR) secara teknis bukan merupakan suatu badan perjanjian karena tidak secara langsung dibentuk berdasarkan Kovenannya. Bagian I menggambarkan tentang tujuh perjanjian HAM utama yang saat ini JURNAL HAM • Vol. 2007 perjanjian sebagai “badan perjanjian” HAM telah diterima secara luas.Lembar Fakta Perserikatan Bangsa-Bangsa No. Bagi mereka yang tertarik pada suatu perjanjian atau badan perjanjian tertentu dapat merujuk pada terbitan-terbitan tersebut. Harus diperhatikan bahwa Komite Hak Ekonomi.1 Tujuh perjanjian utama hak HAM menetapkan standar-standar internasional bagi perlindungan dan pemajuan HAM di mana Negara-negara dapat mendaftarkan diri menjadi pihak pada setiap perjanjian tersebut. yang mana setiap Negara dapat memilih untuk menerima ataupun tidak menerimanya. Setiap Negara Pihak memiliki kewajiban untuk mengambil langkah-langkah yang menjamin bahwa setiap orang di Negara tersebut dapat menikmati hak-hak yang diatur dalam perjanjian. dengan tujuan untuk melihat sejauh mana mereka dapat berfungsi atau bekerja bersama sebagai suatu sistem yang menyatu. walaupun ketentuan-ketentuan di setiap perjanjian merujuk secara spesifik pada “komite”nya.

Termasuk di dalamnya. Semua badan perjanjian akan dipertimbangkan secara sama. 4 • Th.berlaku. termasuk mekanisme monitoring internasionalnya. khususnya melalui pengarusutamaan (streamlining) prosedur pelaporan Negara. Badan perjanjian ini memonitor pelaksanaan hak-hak yang diatur dalam perjanjian tersebut oleh Negaranegara yang telah menerimanya. Bagian II menjelaskan tentang pekerjaan tujuh badan perjanjian HAM yang dibentuk berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. 103 . BAGIAN I Membangun standar-standar HAM: perjanjian dan protokol opsionalnya Pada awal abad ke-20. upaya-upaya untuk meningkatkan efektivitas sistem. baik di tingkat nasional maupun internasional. dalam suatu dialog antarnegara yang bersifat keras tetapi konstruktif. Kekejaman dan ketakutan yang terjadi pada Perang Dunia Kedua telah memotivasi masyarakat internasional untuk berupaya menjamin bahwa kekejaman seperti itu tidak lagi terulang dan menyediakan daya pendorong bagi gerakan modern untuk membentuk suatu sistem perlindungan HAM internasional yang bersifat mengikat. Perjanjian-perjanjian ini merupakan produk lebih dari setengah abad elaborasi atau penjelasan yang berkesinambungan sejak adopsi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia atau DUHAM (Universal Declaration of Human Rights) dengan suara bulat oleh Majelis Umum PBB pada 1948. Sistem badan perjanjian terdiri dari hal-hal utama yang wajib dilakukan oleh Negara-negara di forum internasional. Selain itu juga didiskusikan tentang dampak penekanan baru atas pembentukan dan dukungan sistem perlindungan di tingkat nasional terhadap sistem perjanjian di tingkat internasional. dengan berfokus pada elemen-elemen yang serupa dalam mandat dan metode kerja mereka. Ketujuh perjanjian HAM menjelaskan lebih lanjut suatu kerangka hukum yang komprehensif di mana setiap Negara dapat memenuhi komitmennya dalam pemajuan dan perlindungan HAM secara universal dengan bantuan badanbadan perjanjian. Suatu glossary mengenai istilah-istilah teknis yang digunakan berkaitan dengan baik perjanjian-perjanjian maupun badanbadan perjanjian juga disediakan guna membantu pembaca dalam hal terminologi yang digunakan berkaitan dengan perjanjian-perjanjian dan badan-badan perjanjian. 2007 DUHAM menyatakan dengan jelas bahwa semua HAM bersifat tidak terbagi (indivisible) dan saling berkaitan (interrelated). Semua Negara memiliki komitmen untuk memajukan penghormatan bagi hak dan kebebasan yang dicantumkan dalam Deklarasi dan untuk mengambil langkah-langkah untuk menjamin pengakuan dan ketaatan terhadap hak dan kebebasan tersebut secara universal dan efektif. JURNAL HAM • Vol. mengenai pelaksanaan HAM di negara-negara mereka. perlindungan HAM telah mulai berkembang sebagai suatu wacana penting bagi masyarakat internasional. Bagian III menggambarkan tentang tantangan-tantangan yang dihadapi oleh sistem perjanjian HAM. Upaya-upaya telah dilakukan oleh Liga Bangsa-Bangsa (LBB) yang dibentuk pada akhir Perang Dunia Kedua untuk membangun suatu kerangka hukum internasional guna melindungi kelompok minoritas. dan bahwa setiap hak harus ditekankan kepentingannya secara sama. perbedaan-perbedaan dalam praktik dapat ditemukan di lembar fakta yang spesifik.

Sebagaimana tercerminkan dalam namanya. walaupun tidak ditentukan dalam suatu perjanjian. Dokumen ini memiliki kekuatan moral yang tinggi. Tidak hanya itu. namun pentingnya dokumen ini tidak boleh diremehkan. Upaya ini telah menghasilkan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM). dan sosial. 4 • Th. Contohnya termasuk larangan terhadap penyiksaan dan diskriminasi rasial. Deklarasi menyebutkan satu demi satu pengelompokan hak-hak secara spesifik: sipil. yang kemudian dikenal sebagai Hari Hak Asasi Manusia Internasional. politik. Apakah Deklarasi merupakan Hukum Kebiasaan? Telah diterima secara luas bahwa beberapa ketentuan dalam Deklarasi saat ini telah menjadi aturan dalam hukum kebiasaan internasional. menetapkan serangkaian hak yang mencakup semua aspek kehidupan. Pasal pertamanya dengan terkenal menggambarkan ide hak asasi manusia yang mendasar. Ini adalah norma-norma yang. melalui penggambarannya yang komprehensif mengenai berbagai jenis hak. sosial. Deklarasi juga menyediakan secara tegas dasar bagi struktur perjanjian untuk ditegakkan di dekade-dekade berikutnya. yang diadopsi dalam bayang-bayang masa pelanggaran yang sedemikian masif terhadap hak-hak yang dicantumkan dalam dokumen tersebut. dan John Humphrey. ekonomi. yang merepresentasikan sebagaimana disepakati untuk pertama kalinya secara internasional definisi hak-hak semua orang. telah menjadi aturan-aturan yang mengikat secara hukum melalui praktikpraktik di Negara-negara. 2007 . Dengan de- mikian. yang diadopsi dengan suara bulat oleh Majelis Umum PBB pada 10 Desember 1948. Peng Chun Chang. dan interdependensi semua hak tersebut. dan budaya. Charles Malik. dengan pengakuan penting di pasal 28 bahwa “Setiap orang berhak atas ketertiban sosial dan internasional. Dengan dorongan yang kuat dari Elenor Roosevelt. Pasal 22 sampai pasal 28 menjamin sejumlah hak ekonomi. 104 JURNAL HAM • Vol. budaya. walaupun Deklarasi bukan merupakan perjanjian yang mengikat secara hukum. Setelah membuat suatu ketentuan umum mengenai diskriminasi. beberapa komentator berkomentar bahwa keseluruhan Deklarasi ini memiliki status demikian. Deklarasi menekankan pada kesatuan. Pasal 3 sampai pasal 21 menggambarkan hak sipil dan politik yang klasik (termasuk hak suaka dan hak atas kepemilikan). di mana hak dan kebebasan yang diatur dalam Deklarasi ini dapat diwujudkan sepenuhnya”. maka untuk pertama kalinya Negara-negara berupaya mencari jalan untuk membuat suatu dokumen tunggal yang berisikan berbagai hak dan kebebasan mendasar yang dimiliki oleh setiap individu karena status mereka sebagai manusia. bersama dengan tokoh-tokoh lain seperti Rene Cassin. yang digambarkan sebagai “suatu standar umum bagi pencapaian semua orang dan semua bangsa”. yaitu: “Semua manusia dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak yang sama”. Hal ini merupakan suatu penekanan yang kemudian diafirmasikan kembali bertahun-bertahun kemudian pada Deklarasi Konferensi Dunia tentang Hak Asasi Manusia di Wina pada 1993. Dokumen ini.Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (1948) Piagam PBB 1945 memproklamasikan bahwa salah satu tujuan PBB adalah untuk memajukan dan mendorong penghormatan terhadap HAM dan kebebasan mendasar bagi semua orang. kesaling-terkaitan.

4 • Th. 2007 INSTRUMEN OP OP* Laporan Laporan Pengaduan Individual & penyelidikan SCP Kunjungan & Laporan Laporan OP2 OP SC KIHESB 1966 ICERD 1965 CEDAW 1979 CAT 1984 CRC 1989 KIHSP 1966 ICPMW 1990 OP AC PROTOKOL OPSIONAL OP1 Laporan Laporan Laporan Laporan Pengaduan Individu ECOSOC Pengaduan individual berdasarkan pasal 14 Pengaduan individual berdasarkan pasal 22 dan penyelidikan Pengaduan individual berdasarkan pasal 77 (belum berlaku) BADAN PERJANJIAN Komite Hak Ekonomi. Sosial dan Budaya Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial Komite Hak Asasi Manusia Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan Komite Menentang Penyiksaan Komite Hak Anak Komite Pekerja Migran 105 SCP = Subkomite Pencegahan *OPCAT belum berlaku .Sistem Perjanjian Hak Asasi Manusia PBB: menunjukkan perjanjian dan mandat badan perjanjian DEKLARASI UNIVERSAL HAK ASASI MANUSIA Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia JURNAL HAM • Vol.

Nondiskriminasi dalam penikmatan hak asasi manusia Semua perjanjian hak asasi manusia utama mencerminkan prinsip umum yang diadopsi oleh Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia bahwa hak-hak yang diatur dalam perjanjian-perjanjian harus dapat dinikmati tanpa diskriminasi dalam bentuk apa pun. dan budaya dan kebanyakan diantaranya disebutkan satu per satu dalam Deklarasi – yang harus dijamin tanpa pembedaan JURNAL HAM • Vol. yang secara langsung mengikat Negara-negara yang menyetujui ketentuanketentuan di dalamnya. Dua perjanjian. Hal ini mengarah pada negosiasi-negosiasi yang panjang di Komisi Hak Asasi Manusia. perjanjian pertama yang disepakati mengatur tentang fenomena khusus diskriminasi rasial: Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. ada kesepakatan bersama bahwa hak-hak yang tercantum di dalamnya harus diterjemahkan pada bentuk legal sebagai perjanjian-perjanjian. Informasi lebih lanjut mengenai DUHAM dapat ditemukan di Lembar Fakta No. Pendapat politik atau lainnya. Bahasa. Pasal 2 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia menentukan suatu daftar yang bersifat non-exhaustive mengenai dasar-dasar yang dilarang bagi diskriminasi: Ras atau warna kulit. yaitu diskriminasi rasial dan diskriminasi terhadap perempuan. Status kepemilikan. Konvensi juga menetapkan suatu rangkaian hak asasi manusia spesifik yang ekstensif – baik dalam bidang sipil dan politi serta ekonomi. Perjanjian-perjanjian selanjutnya memperluas daftar tersebut lebih lanjut. Agama. keturunan serta asal usul kebangsaan dan etnis. Mengingat pentingnya secara politis kebangkitan rejim apartheid di Afrika Selatan. kelahiran. termasuk dilakukannya propaganda ide-ide rasial yang dilakukan oleh kelompok-kelompok dan organisasi-organisasi. 4 • Th. yang melarang pembedaan berdasarkan ras. Konvensi ini mengatur kewajiban Negara-negara Pihak secara detil untuk memerangi momok tersebut dalam enam pasal. Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial dan Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan dibuat secara spesifik untuk menghapuskan bentuk-bentuk khusus diskriminasi. sosial. Selain kewajiban yang nyata bahwa Negara harus menahan diri dari tindakan-tindakan semacam itu di semua tingkatan. Daftar yang sama tercantum di pasal 2 dari kedua Kovenan Internasional. yaitu suatu badan politik yang terdiri dari perwakilan Negara-negara. yang diadopsi oleh Majelis Umum pada Desember 1965. yang bertemu setiap tahunnya di Jenewa untuk membicarakan berbagai persoalan HAM. Asal-usul kebangsaan atau sosial. 2: Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial (1965) Ketika DUHAM diadopsi. Konvensi juga mewajibkan untuk mengambil langkah-langkah yang selayaknya untuk mencegah diskriminasi rasial mengakar di masyarakat. Setelah mendefinisikan diskriminasi rasial. atau lainnya. warna kulit. 2007 106 . Jenis kelamin.

Proses pembuatan suatu instrumen yang mengikat secara hukum yang mengabadikan hak-hak yang ada dalam DUHAM telah dimulai segera setelah diadopsinya Deklarasi pada 1948. budaya. Bagian I dari kedua Kovenan sama-sama menentukan tentang hak semua orang untuk menentukan nasibnya sendiri dan untuk secara bebas mengelola kekayaan dan sumber daya alamnya. 2007 107 . dan kebebasan mendasar dalam bidang politik. Berdasarkan pasal 14. Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia Pada saat yang sama dengan disepakatinya Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. atas dasar persamaan. pembatasan. hak asasi manusia. yang meminta agar kedua instrumen tersebut sedapat mungkin memuat sebanyak mungkin ketentuan-ketentuan yang sama guna “menekankan kesatuan dari tujuan yang ada”. setelah diskusi yang panjang.2 Kedua Kovenan akhirnya diadopsi oleh Majelis Umum pada Desember 1966 dan mulai berlaku pada 1976. Sosial. ekonomi. Sosial. yang dibentuk oleh Konvensi untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. Pada awalnya. dibayangkan adanya suatu kovenan tunggal yang mencakup semua HAM. Namun. atau pengutamaan berdasarkan ras. budaya atau bidang kehidupan masyarakat yang lain” (pasal 1) Bagian II Konvensi mewajibkan semua Negara Pihak untuk melapor kepada Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial secara berkala. sional tentang Hak Sipil dan Politik (KIHSP) serta Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Majelis Umum meminta Komisi Hak Asasi Manusia untuk membuat dua kovenan yang terpisah. 2 Resolusi 543 (V). Informasi lebih lanjut mengenai Konvensi ini dapat ditemukan di Lembar Fakta No. Bagian mukadimah atau pembukaan kedua instrumen mengakui kesalingtergantungan semua HAM. Kedua Kovenan memiliki struktur yang sama dan mengadopsi kata-kata yang sama atau serupa di beberapa pasal. Negara-negara juga dapat memilih untuk mengakui kompetensi Komite untuk mempertimbangkan pengaduan dari individual (pasal 14). 4 • Th. sipil. negosiasi sedang berlanjut mengenai dua perjanjian utama: Kovenan Interna- JURNAL HAM • Vol. sosial. dan Budaya (KIHESB). paragraf 1.berdasarkan ras. yang mempunyai maksud atau dampak meniadakan atau merusak pengakuan. warna kulit. keturunan atau kebangsaan atau suku bangsa. Konvensi juga menentukan perbaikan (remedy) yang efektif terhadap tindakan diskriminasi rasial sebagai suatu hak mendasar. kedua Kovenan ini dirujuk sebagai “Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia atau International Bill of Human Rights”. Bagian II dari kedua Kovenan mencantumkan ketentuan-ketentuan umum yang melarang diskriminasi (pasal 2 (1) Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik dan pasal 2 (2) Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. pengecualian. Apa yang dimaksud dengan diskriminasi rasial? “segala bentuk pembedaan. dan politiknya. Akhirnya. pencapaian atau pelaksanaan. 12: Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. baik melalui pengadilan ataupun institusi-institusi lainnya. sosial. dengan menyatakan bahwa HAM yang ideal hanya bisa dicapai jika dibentuk kondisi-kondisi di mana setiap orang bisa menikmati hak ekonomi. Bersama dengan DUHAM.

mengijinkan Negara-negara untuk menerima kewajiban-kewajiban tambahan. Bagian IV dari Kovenan mewajibkan semua Negara untuk melapor secara berkala kepada Komite Hak Asasi Manusia. tetapi menyediakan dua pasal (pasal 13 dan pasal 14) bagi dimensi-dimensinya yang berbeda. Oleh karena itu. Protokol Opsional Kedua 1989 memajukan penghapusan hukuman mati. dan Budaya meniru bahasa yang digunakan dalam DUHAM. Sebagai tambahan. yang menjelaskan lebih lanjut mengenai hak-hak yang tercantum dalam DUHAM. dengan pengecualian hak atas kepemilikan dan hak suaka (yang dilindungi terpisah dalam Konvensi tentang Status Pengungsi pada 1951). Dua protokol opsional tambahan pada Kovenan. 15: Komite Hak Asasi Manusia. termasuk suatu forum yang mandiri dan imparsial di mana tuduhan-tuduhan terhadap pelanggaran-pelanggaran semacam itu bisa dimajukan. Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. dan Budaya. Hak atas kesehatan yang dicakup oleh DUHAM sebagai suatu aspek dari standar kehidupan yang JURNAL HAM • Vol. Kovenan juga memuat suatu katalog yang panjang mengenai hak dan kebebasan sipil dan politik utama. mengenai hak atas pendidikan. adil dan berkala. Informasi lebih lanjut mengenai Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik ini dapat ditemukan di Lembar Fakta No. Sosial. 4 • Th. berkaitan dengan penikmatan hak-hak Kovenan sebagaimana juga pembatasan yang diijinkan terhadap penikmatan tersebut. 2007 108 . Bagian III dari setiap Kovenan memuat ketentuan-ketentuan yang substantif. Kovenan ini juga memasukkan hak-hak tambahan. Sosial. dan Budaya). misalnya.dan Budaya). dan Budaya (1966) Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. pasal 2 menyediakan hak atas perbaikan (remedy) efektif terhadap pelanggaran hakhak yang dijamin oleh Kovenan. dan perlindungan terhadap minoritas di pasal 27. yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam Kovenan. membangun hak-hak yang sesuai dengan DUHAM dalam detil yang lebih lengkap. Pasal 25 memuat jaminan terhadap hak politik: hak untuk mengambil bagian dalam urusan-urusan publik. Sebagai tambahan terhadap pasal 2 (1) dan pasal 3 tentang nondiskriminasi (yang sama dengan di Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. pasal 26 menjamin kesetaraan di depan hukum dan nondiskriminasi atas perlindungan hukum yang pada umumnya diberlakukan di suatu Negara. Protokol Opsional Pertama 1966 menyediakan hak atas pengaduan individual kepada Komite Hak Asasi Manusia. yang menentukan langkahlangkah yang harus diambil guna realisasinya secara penuh. seperti hak-hak tahanan di pasal 10. yang menentukan kewajiban bagi pendidikan dasar yang bersifat wajib dan tersedia secara cuma-cuma serta untuk mengambil langkah-langkah guna mencapai pendidikan lanjutan dan pendidikan tinggi yang tersedia secara cuma-cuma. dan menegaskan kesetaraan hak laki-laki dan perempuan (pasal 3 kedua Kovenan). seperti halnya Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. khususnya melalui pemilihan yang Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (1966) Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik menjelaskan mengenai hak sipil dan politik yang tercantum dalam Deklarasi. Sosial. Sosial. seperti halnya Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial.

pasal 22. pasal 15 (4). dan Budaya. kesetaraan dalam hal promosi ke jenjang yang lebih tinggi. 4 • Th. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (1979) Pada 1979 masyarakat internasional mengadopsi suatu perjanjian baru yang menangani fenomena khusus: diskriminasi terhadap perempuan atas dasar jenis kelamin. dilarang di dalam kedua Kovenan. [. dan Budaya. serta termasuk persoalan-persoalan spesifik yang berkaitan dengan kesehatan seperti kesehatan lingkungan serta penyakit-penyakit menular dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan. pasal 11 (2). tetapi Konvensi ini memuat sejumlah inovasi yang mencerminkan perkembangan selama lima belas tahun setelah 109 . Namun demikian. Namun demikian. Hak Ekonomi. Pasal 2 (1) menyatakan bahwa Negara Pihak “mengambil langkah-langkah. dengan maksud untuk mencapai secara bertahap perwujudan penuh dari hak-hak yang diakui dalam [Kovenan]”. 16: Komite Hak Ekonomi. dan bertarget yang mengarah pada perwujudan penuh hak-hak yang diatur dalam Kovenan.. Informasi lebih lanjut mengenai Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Sosial. dalam Kovenan diberikan pasal tersendiri: pasal 12 yang mengakui hak atas standar tertinggi yang dapat dicapai dalam hal kesehatan fisik dan mental. konkret. Prinsip pencapaian secara bertahap mengakui hamJURNAL HAM • Vol.] sepanjang tersedia sumber dayanya. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan mengatur secara detil mengenai apa yang dimaksud dengan pelarangan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin dari perspektif kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Pasal 6 mengenai hak atas pekerjaan dilengkapi oleh pasal 7 yang memuat ketentuan tentang hak atas kondisi kerja yang adil dan baik. Kovenan juga menentukan suatu kewajiban segera (immediate obligation) untuk mengambil langkah-langkah yang disengaja. Konvensi mengadopsi suatu bentuk yang diperagakan dalam Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial. Diskriminasi berdasarkan jenis kelamin.layak. Konvensi ini memuat berbagai aspek kebijakan dan program dari persoalan-persoalan spesifik.. yang menjamin keselamatan dan kesehatan dalam pekerjaan. dan Budaya utama: Hak atas nondiskriminasi Hak atas pekerjaan Kondisi pekerjaan yang adil dan baik Hak-hak pekerja Hak atas jaminan sosial Perlindungan terhadap keluarga Hak atas standar kehidupan yang layak Hak atas kesehatan Hak atas pendidikan Hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan budaya Salah satu perbedaan yang terlihat diantara kedua Kovenan adalah prinsip pencapaian secara bertahap (progressive realization) di Bagian II dari Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Sosial. 2007 batan-hambatan yang mungkin dihadapi oleh Negara-negara Pihak berkaitan dengan keterbatasan sumber daya. Kovenan juga mengakui peran yang lebih luas dari masyarakat internasional (pasal 2 (1). dan pembayaran pada saat hari-hari libur umum. seperti halnya diskriminasi rasial. Sosial. dan pasal 23) yang dibangun dari prinsip-prinsip di pasal 22 dan 28 DUHAM. Sosial. dan Budaya ini dapat ditemukan di Lembar Fakta No.

kebiasaan. Apa yang dimaksud dengan diskriminasi terhadap perempuan? “pembedaan. ekonomi. atau merendahkan martabat. pasal 12. atau Merendahkan Martabat (1984) Pada 1984 perjanjian lain diadopsi yang mengatur tentang suatu fenomena spesifik: penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi lainnya. Pasal 9 dan pasal 10 memperluas konsep kesetaraan dalam hal kewarganegaraan dan pendidikan. tidak manusiawi. Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam. penikmatan. dan praktik-praktik diskriminasi dalam masyarakat. Pasal 7 Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik memuat larangan terhadap penyiksaan dan perlakuan atau penghukuman yang kejam. atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan mendasar di bidang politik. walaupun fenomena ini secara implisit dapat termasuk dalam pelarangan perbudakan dan kerja paksa yang termuat di instrumen lain. 22: Diskriminasi terhadap Perempuan: Konvensi dan Komite. dan pasal 13 menjelaskan tentang hak-hak perempuan atas pekerjan. Dengan mengaplikasi prinsip-prinsip umum dalam suatu fenomena khusus. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan memulai dengan mendefinisikan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin. Pasal 7 dan pasal 8 merinci kewajiban-kewajiban untuk menjamin partisipasi yang setara antara perempuan dan laki-laki dalam kehidupan publik dan politik. Tidak Manusiawi. sementara pasal 11. kesehatan. atau lainnya oleh kaum perempuan” (pasal 1) Bagian V dari Konvensi mewajibkan semua Negara Pihak untuk melapor secara berkala kepada Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan. tetapi Konvensi yang memiliki nama yang sama dengan lebih lanjut membangun suatu skema hukum yang ditujukan baik untuk pelarangan maupun penghukuman JURNAL HAM • Vol. yang berakibat atau atau bertujuan untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan. Pasal 6 secara eksplisit mewajibkan Negara-negara untuk memberangus segala bentuk perdagangan perempuan dan eksploitasi pelacuran. Pasal 15 dan pasal 16 memperluas hakhak atas kesetaraan di hadapan hukum serta dalam hal perkawinan dan hubungan keluarga.Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial diadopsi. Informasi lebih lanjut mengenai Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan ini dapat ditemukan di Lembar Fakta No. termasuk dengan memusnahkan perilaku. Pasal-pasal awal mewajibkan Negara-negara untuk menahan diri dari diskriminasi berdasarkan jenis kelamin dalam penyelenggaraan Negara dan mengambil langkah-langkah guna mencapai kesetaraan yang faktual dan legal dalam segala bidang kehidupan. yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. sipil. pasal 14 adalah satu-satunya ketentuan dalam perjanjian-perjanjian yang menangani persoalan-persoalan khusus yang dihadapi oleh perempuan di daerah-daerah pedesaan. dan bidang-bidang lain dalam kehidupan ekonomi dan sosial. 2007 110 . budaya. Seperti halnya Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. 4 • Th. sosial. pengucilan atau pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin.

Konvensi Menentang Penyiksaan dalam pasal 12 sampai pasal 14 mengatur hak atas penyelidikan yang segera dan imparsial terhadap tuduhan terjadinya penyiksaan. Negara-negara juga dapat memilih menerima kompetensi Komite untuk mempertimbangkan pengaduan dari Negara-negara lain atau pengaduan individual. bukti-bukti yang dikumpulkan melalui penyiksaan tidak boleh digunakan di pengadilan. Tujuan dari ketentuan-ketentuan ini adalah untuk menjamin bahwa tidak ada tempat bersembunyi bagi pelaku tindakantindakan yang dilarang oleh perjanjian. Sebuah protokol opsional pada Konvensi disepakati pada 2002 dan akan mulai berlaku ketika telah diterima oleh 20 Ne- 111 . maka orang tersebut tidak boleh diekstradisi. Bagian II dari Konvensi mewajibkan setiap Negara Pihak untuk melapor secara berkala kepada Komite Menentang Penyiksaan. dengan menghukumnya atas suatu perbuatan yang telah dilakukan atau diduga telah dilakukan oleh orang itu atau orang ketiga. atas hasutan dari.terhadap praktik-praktik tersebut. Ketimbang memuat tentang “hak atas perbaikan (remedy) yang efektif” yang umum bagi pelanggaran-pelanggaran sebagaimana tercantum dalam perjanjian-perjanjian lain. baik jasmani maupun rohani. dengan kompensasi yang adil dan layak sebagaimana juga rehabilitasi penuh kepada korban penyiksaan. Apa yang dimaksud dengan penyiksaan? “setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja sehingga menimbulkan rasa sakit atau penderitaan yang hebat. 4 • Th. atau dikembalikan ke negara tersebut. termasuk perintah atasan. Berdasarkan pasal 21 dan pasal 22. Pasal 10 dan pasal 11 memuat tentang pendidikan bagi para penegak hukum dan peninjauan terhadap metode-metode mereka. deportasi. Ketika kebutuhan untuk menghukum penyiksaan mulai melintasi batas negara. atau yang warga negaranya terlibat sebagai pelaku atau korban. Setelah mendefinisikan penyiksaan. Negara tersebut dapat meminta ekstradisi terhadap orang yang dituduh sebagai pelaku dari negara lain. pasal 16 mewajibkan Negara-negara untuk mencegah perlakuan atau penghukuman yang kejam. dapat menjustifikasi suatu tindak penyiksaan – larangan ini bersifat absolut. apabila rasa sakit dan penderitaan tersebut ditimbulkan oleh. pasal 4 dan pasal 9 membentuk suatu skema di mana suatu Negara di mana penyiksaan telah terjadi. Kemudian. Negara Pihak harus mengkriminalisasi penyiksaan dan menghukumnya secara layak. pada seseorang untuk memperoleh pengakuan atau keterangan dari orang itu atau dari orang ketiga. tidak manusiawi atau merendahkan martabat agar tidak meningkat menjadi penyiksaan. yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam Konvensi. maka Negara tersebut memiliki yurisdiksi JURNAL HAM • Vol. dengan persetujuan. Konvensi menyatakan dengan jelas bahwa tidak ada kondisi apa pun. yang – jika permintaan ekstradisi ditolak – maka negara lain tersebut harus melakukan proses hukum terhadap orang yang dituduh sebagai pelaku tersebut. atau sepengetahuan pejabat pemerintah” (pasal 1). Berdasarkan pasal 15. atau mengancam atau memaksa orang itu atau orang ketiga. 2007 terhadap tindak pidana tersebut. Yang secara dekat berkaitan dengan hal ini adalah pelarangan utama yang termuat dalam pasal 3 berkaitan dengan pengembalian atau ekstradisi “non-refoulment”: jika terdapat alasan yang kuat untuk percaya bahwa seorang individu akan mengalami penyiksaan di suatu negara. atau untuk suatu alasan yang didasarkan pada diskriminasi.

2. 4 • Th. Pasal 22 menyebutkan mengenai situasi khusus anak-anak pengungsi. perlindungan dari penganiayaan (pasal 19). penyalahgunaan obat-obatan (pasal 33). perpindahan secara gelap (pasal 11). penyatuan kembali dengan keluarga (pasal 10). misalnya. Empat “Prinsip-Prinsip Umum” bagi implementasi hak anak Komite Hak Anak telah mengidentifikasikan empat prinsip-prinsip umum yang termuat dalam Konvensi yang dapat memandu Negara-negara dalam melaksanakan hak anak: 1. dan adopsi (pasal 21). perlindungan dari eksploitasi ekonomi (pasal 32). 3. Baik pasal 24 dari Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik dan pasal 10 dari Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Konvensi Hak Anak (1989) Perjanjian pertama yang menangani secara komprehensif hak suatu kelompok khusus adalah Konvensi Hak Anak. Protokol opsional ini menyediakan suatu sistem kunjungan berkala oleh badan-badan internasional dan nasional ke tempat-tempat penahanan dengan tujuan untuk mencegah penyiksaan dan perlakuan kejam lainnya. 112 JURNAL HAM • Vol. sebagai manusia yang berusia kurang dari 18 tahun. pernyataan kembali hak-hak ini dengan penekanan pada situasi-situasi khusus anak-anak dalam satu dokumen yang komprehensif memberikan suatu kesempatan untuk membentuk ketentuan-ketentuan tambahan yang relevan dengan anak-anak. dan mewajiban mereka untuk tidak merekrut maupun menggunakan anak-anak di bawah usia 15 tahun. memang menikmati semua HAM yang diatur dalam perjanjian-perjanjian lain. Mengakui kerentan- an khusus pada anak-anak. Pasal 38 menegaskan kembali kewajiban Negara-negara Pihak dalam konflik bersenjata berdasarkan hukum humaniter internasional. dan Budaya menentukan bahwa anak-anak berhak atas langkah-langkah perlindungan khusus yang mereka butuhkan sebagai anak-anak. dan perdagangan anak-anak (pasal 35) secara eksplisit diatur dalam Konvensi ini. kelangsungan hidup. dan perkembangan: hak yang melekat pada seorang anak untuk hidup dan kewajiban Negara-negara Pihak untuk menjamin semaksimal mungkin kelangsungan hidup dan perkembangan anak (pasal 6). Sosial. Pasal 23 mengatur secara khusus perawatan anak-anak penyandang cacat. Nondiskriminasi: kewajiban Negara-negara untuk menghormati dan menjamin hak-hak yang diatur dalam Konvensi bagi setiap anak di wilayah yurisdiksi mereka tanpa diskriminasi dalam bentuk apa pun (pasal 2). Hak hidup. Konvensi Hak Anak mengatur langkahlangkah ini secara lebih detil. Informasi lebih lanjut mengenai Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam. sebagai prajurit dalam konflik. penjualan. Sementara anak-anak. ketentuan-ketentuan tertentu mencakup hak anak atas identitas (pasal 7 dan pasal 8). Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat dapat ditemukan di Lembar Fakta No. serta penculikan. Oleh karena itu. jika dimungkinkan. 2007 .gara. Kepentingan terbaik bagi seorang anak: bahwa kepentingan terbaik bagi seorang anak harus menjadi pertimbangan utama dalam semua tindakan berkaitan dengan seorang anak (pasal 3). 17: Komite Menentang Penyiksaan. eksploitasi seksual (pasal 34). perpisahan dari orang tua (pasal 9).

Oleh karena itu. yang dibentuk oleh Konvensi untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. Konvensi kemudian diatur dalam dua bagian hak yang terpisah. Mayoritas hak-hak dalam Konvensi ini berkaitan dengan Negara penerima. yang diadopsi pada 2000. 10: Hak Anak. seperti hak atas pemberitahuan konsuler berkaitan dengan penangkapan dan ketentuan-ketentuan khusus berkaitan dengan pelanggaran terhadap hukum migrasi dan pemusnahan dokumen-dokumen identitas serta larangan pengembalian secara kolektif. apa pun usia dan kematangan mereka. Persoalan keterlibatan anak-anak dalam konflik bersenjata. Sebagai tambahan. Informasi lebih lanjut mengenai Kon- vensi Hak Anak dapat ditemukan di Lembar Fakta No. diatur secara detil dalam dua protokol opsional Konvensi.4. misalnya. Konvensi diawali dengan laranganlarangan diskriminasi yang sudah dikenal terhadap penikmatan hak-hak dalam Konvensi. hak atas JURNAL HAM • Vol. pendapat tersebut harus menjadi pertimbangan : sesuai dengan usia dan kematangan anak” (pasal 12). kedua. berkeyakinan. serta penjualan anak. dan keseluruhan masa tinggal dan kegiatan yang mendapatkan pembayaran di Negara yang mempekerjakan. Konvensi ini berlaku bagi seluruh proses migrasi. Konvensi mengikuti bahasa dalam Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. dan. Beberapa pasal menyatakan kembali hak-hak yang dipertimbangkan dalam situasi khusus pekerja migran. semua pekerja migran dan anggota keluarganya. pelacuran anak. apa pun status migrasi mereka. sosial. kebebasan berserikat dan berkumpul dengan damai (pasal 15) dan privasi (pasal 16). termasuk persiapan migrasi. 4 • Th. lihat Komentar Umum Konvensi Hak Anak No. keberangkatan. dan juga kesehatan (pasal 24). yang mengatur tentang hak-hak kelompok tertentu yang membutuhkan perlindungan: semua pekerja migran dan anggota keluarganya. 5 (CRC/GC/2003/5) Di luar ketentuan-ketentuan yang menegaskan hak anak dalam hal perlindungan. transit. Informasi lebih lanjut. kebebasan berpikir. serta standar kehidupan yang layak (pasal 27). dan Budaya. serta hak ekonomi. hak-hak tambahan pekerja migran dan keluarganya yang memiliki dokumen. dan pronografi anak. Konvensi Hak Anak juga menyediakan dasar baru dengan mengelaborasi perspektif anak-anak berkaitan dengan hak sipil dan politik klasik yang termuat dalam Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. akses terhadap informasi (pasal 17). 2007 113 . Bagian II Konvensi mewajibkan semua Negara Pihak untuk melapor secara berkala kepada Komite Hak Anak. pertama. Konvensi Internasional tentang Perlindungan terhadap Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya (1990) Perjanjian HAM yang terbaru adalah Konvensi Pekerja Migran. jaminan sosial (pasal 26). dan budaya yang diatur dalam Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Dalam mendefinisikan hak sipil dan politik pekerja migran. anakanak memiliki hak penuh atas kebebasan berekspresi (pasal 13). Pendapat anak tentang situasinya sendiri: hak anak untuk mengungkapkan pendapatnya secara bebas “dalam semua hal yang mempengaruhi anak tersebut”. dan beragama (pasal 14). walaupun hak-hak ini juga memberikan kewajiban-kewajiban khusus kepada Negara-negara pengirim. Sosial. serta saat kembali ke Negara asal atau Negara tempat tinggal asalnya.

Pasal 76 dan pasal 77 juga menyediakan suatu hak atas pengaduan oleh Negara-negara Pihak lain atau pengaduan individu. setidaknya harus disediakan perawatan medis sebagaimana hal tersebut disediakan bagi seorang warga negara. yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. perjanjian-perjanjian lain. Hak-hak tambahan berlaku bagi pekerja-pekerja yang memiliki dokumen yang sah. 4 • Th. ketimbang sebagai obyek pasif dari keputusan-keputusan pihak berwenang. sosial. saling berkaitan. Konvensi mendefinisikan hak ekonomi. perjanjian yang terpisah-pisah. dan anak-anak pekerja migran memiliki hak dasar atas akses terhadap pendidikan apa pun status hukum mereka. dan pemahaman bahwa manusia adalah mahluk yang aktif dan merupakan partisipan yang terlibat dalam kehidupan publik dalam Negara di mana ia berlokasi dan dalam keputusan-keputusan yang mempengaruhinya. Sebagai tambahan. Ketimbang sebagai perjanjian- 114 . dapat memperluas lebih lanjut perlindungan yang ditawarkan kepada orang-orang dalam yurisdiksi Negara tersebut. atau KonJURNAL HAM • Vol. perlindungan khusus bagi kelompok rentan tertentu. dan budaya pekerja migran dalam hal situasi khusus mereka. sebenarnya perjanjian-perjanjian tersebut saling melengkapi satu sama lain. dengan hasil bahwa tidak ada satu hak pun yang dapat dinikmati sepenuhnya jika terisolasi. khususnya dengan mendorong Negara-negara untuk memandang pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam semua perjanjian tersebut sebagai bagian dari tujuan yang satu. Ketujuh perjanjian PBB tidak dimaksudkan menjadi suatu katalog yang pasti mengenai kewajiban HAM suatu Negara. perlindungan efektif atas pelanggaran terhadap hak-hak. secara spesifik disebutkan secara satu persatu bagi pekerja migran. saling bergantung. dengan sejumlah prinsip yang mengikat mereka bersama-sama. berdasarkan prinsip-prinsip bersama tersebut. Bagian VII dari Konvensi mewajibkan semua Negara Pihak melapor secara berkala kepada Komite Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya.kepemilikan. Oleh karena itu. Kesalingtergantungan ini adalah salah satu alasan untuk membuat suatu pendekatan yang lebih terkoordinasi oleh badan perjanjian HAM atas kegiatankegiatan mereka. dan pekerja yang berbasis-proyek. tetapi tergantung pada penikmatan semua hak lainnya. Setiap perjanjian mencantumkan baik secara eksplisit maupun implisit prinsip-prinsip dasar nondiskriminasi dan kesetaraan. dan bagi kelompok pekerja migran tertentu seperti pekerja frontier. selama Negara Pihak menerima kompetensi Komite dalam hal tersebut. seperti Konvensi ILO 182 tentang pelarangan bentukbentuk terburuk pekerjaan anak. misalnya. yang pada awalnya dilindungi dalam Deklarasi tetapi tidak termuat dalam Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. Kebanyakan Negara. pekerja yang berpindah-pindah (itinerant). Informasi lebih lanjut mengenai pekerja migran dan Konvensinya dapat ditemukan di Lembar Fakta No. pekerja musiman. dan saling menguatkan. 24: Hak Pekerja Migran. termasuk Konvensi tentang Status Pengungsi dan Konvensi-konvensi ILO. adalah penting untuk membaca seluruh perjanjian HAM di mana suatu Negara menjadi pihak sebagai suatu kesatuan. 2007 Membaca keseluruhan perjanjian sebagai suatu kesatuan Untuk sepenuhnya memahami kewajiban-kewajiban Negara berdasarkan perjanjian-perjanjian ini. Semua perjanjian tersebut. di luar keterlibatan mereka dalam sistem perjanjian HAM PBB. berdiri sendiri-sendiri.

maupun suksesi. aksesi.vensi ILO 169 tentang hak-hak masyarakat adat. 2007 3. Komite Menentang Penyiksaan (Committee against Torture/CAT). pelaksanaan dari ketentuan-ketentuannya. Sosial. dibentuk pada 1987. melalui berbagai sarana. Komite Hak Ekonomi. 4. yang memonitor pelaksanaan Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial sejak 1969. 2. merupakan badan perjanjian pertama yang dibentuk. Bagian II menjelaskan pekerjaan badan perjanjian tersebut dan mengapa pekerjaan mereka berkaitan dengan kehidupan orang-orang di seluruh dunia. Semua kewajiban hukum internasional ini harus dipertimbangkan bersama ketika mengevaluasi tanggung jawab suatu Negara untuk melindungi HAM. perjanjian tersebut mengakui bahwa Negara-negara Pihak membutuhkan dorongan dan bantuan dalam memenuhi penikmatan hak-hak yang diatur dalam perjanjian oleh setiap orang yang ada di Negara tersebut. merupakan instrumen-instrumen yang jelas-jelas memiliki dimensi HAM. Sosial. Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Committee on the Elimination of Discrimination against Women/ CEDAW) telah memonitor pelaksanaan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan oleh Negara-negara Pihaknya sejak 1982. dan Budaya (Committee on Economic. Tetapi hal ini hanya merupakan langkah pertama. Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial (Committee on the Elimination of Racial Discrimination/CERD). maka Negara tersebut memikul suatu kewajiban hukum untuk melaksanakan hak-hak yang diatur dalam perjanjian tersebut. 5. perjanjian membentuk suatu komite internasional yang terdiri dari ahli-ahli independen guna memonitor. dan Budaya. Ketika perjanjian pertama diadopsi. karena pengakuan terhadap hak-hak di atas kertas tidak cukup untuk menjamin bahwa hak-hak ini akan dapat dinikmati dalam praktiknya. Komite Hak Asasi Manusia (Committee on Human Rights/HRC) dibentuk pada 1976 untuk memonitor pelaksanaan Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. 4 • Th. setiap JURNAL HAM • Vol. Oleh karenanya. Ketika suatu negara menerima salah satu dari perjanjian-perjanjian ini melalui ratifikasi. 115 . memonitor pelaksanaan Konvensi Menentang Penyik- BAGIAN II Monitoring pelaksanaan standarstandar HAM: badan perjanjian Badan perjanjian adalah komite para ahli yang memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian HAM utama oleh Negara-negara Pihak. Pelaksanaan ketujuh perjanjian hak asasi manusia utama dimonitor oleh tujuh badan monitoring perjanjian hak asasi manusia: 1. Apa yang dimaksud dengan badan-badan perjanjian? Ketujuh perjanjian HAM internasional utama menciptakan kewajiban hukum bagi Negara-negara Pihak untuk memajukan dan melindungi HAM di tingkat nasional. Social and Cultural Rights/CESCR) dibentuk pada 1987 untuk melaksanakan mandat monitoring Dewan Ekonomi dan Sosial (ECOSOC) berdasarkan Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi.

saan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam. walaupun Komite Hak Asasi Manusia biasanya menyelenggarakan pertemuan bulan Maret-nya di New York. 4 • Th. sebagaimana juga kedua protokol opsionalnya yang berkaitan dengan tentara anak dan eksploitasi anak. badan perjanjian juga melaksanakan sejumlah fungsi tambahan yang ditujukan untuk memperkuat pelaksanaan perjanjian oleh Negara-negara Pihak. Komposisi badan-badan perjanjian CERD HRC CESCR CEDAW CAT CRC CRC CMW : : : : : : : : 18 anggota 18 anggota 18 anggota 23 anggota 10 anggota 18 anggota 18 anggota 10 anggota 7. Anggota-anggota dipilih untuk jangka waktu empat tahun. mengelaborasi komentar umum yang mengintepretasikan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. CEDAW bertemu di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York. 116 . serta menyelenggarakan diskusi tentang tema-tema yang berkaitan dengan perjanjian. Komite Pekerja Migran (Committee on Migrant Workers/CMW) menyelenggarakan pertemuan pertamanya pada Maret 2004 dan akan memonitor pelaksanaan Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. 2007 Setiap komite terdiri dari ahli-ahli independen (dengan jumlah anggota antara 10 sampai 23 orang) yang kompetensinya di bidang hak asasi manusia diakui. Badan-badan perjanjian mengeluarkan panduan guna membantu Negara-negara dalam persiapan pembuatan laporannya. yang dinominasikan dan dipilih untuk jangka waktu empat tahun (tetap dan dapat diperbaharui) oleh negara-negara Pihak. sejak 1990 telah memonitor pelaksanaan Konvensi Hak Anak oleh Negara-negara Pihaknya. Pemilihan bagi setengah dari jumlah anggota diselenggarakan setiap dua tahun sekali. 6. Apa yang dilakukan oleh badan perjanjian? Badan perjanjian melaksanakan sejumlah fungsi yang ditujukan pada monitoring bagaimana perjanjian dilaksanakan oleh Negara-negara Pihak. Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat. Semua badan perjanjian menerima dukungan dari Perwakilan Perjanjian dan Komisi (Treaties and Commissions Branch) Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) di Jenewa. dengan pengecualian CEDAW yang dilayani oleh Bagian Pengembangan Perempuan (Division for the Advancement of Women atau DAW) di New York. badanbadan perjanjian lainnya pada umumnya bertemua di Kantor Perserikatan BangsaBangsa di Jenewa. Komite Hak Anak (Committee on the Rights of the Child atau CRC). Beberapa badan perjanjian dapat mempertimbangkan pengaduan atau komunikasi individual yang mengadukan bahwa hak-hak mereka telah dilanggar oleh JURNAL HAM • Vol. Beberapa. namun tidak semua. Semua badan perjanjian diberikan mandat untuk menerima dan mempertimbangkan laporanlaporan yang diserahkan secara berkala oleh Negara-negara Pihak yang memberikan secara detil pelaksanaan ketentuanketentuan dalam perjanjian di negara yang bersangkutan.

suatu Negara Pihak. Walaupun ketujuh badan perjanjian dijelaskan bersama sebagai bagian dari suatu sistem koordinasi perjanjian. Berikut ini diuraikan mengenai elemen-elemen umum yang utama dari proses pertimbangan terhadap laporan-laporan Negara oleh badanbadan perjanjian.4 Model tersebut digunakan dalam Kovenan Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial 1965. Kewajiban Negara untuk melapor Sebagai tambahan kewajiban mereka untuk melaksanakan ketentuan substantif dalam perjanjian. berlaku umum bagi semua komite. JURNAL HAM • Vol. dan setiap konvensi hak asasi manusia internasional utama setelah itu. Berikut ini diuraikan mengenai kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh badan perjanjian sesuai dengan mandat individual mereka. setiap Negara Pihak juga memiliki kewajiban untuk menyerahkan laporan secara berkala kepada badan perjanjian yang bersangkutan tentang bagaimana hak-hak telah dilaksanakan. kewajiban mereka berdasarkan perjanjian HAM di mana mereka menjadi pihak. 117 .3 sar ini. 4 • Th. badan-badan perjanjian membentuk praktik dan prosedur yang telah terbukti cukup efektif untuk menganalisa sejauh mana Negara telah memenuhi. Walaupun badan perjanjian melanjutkan upaya mereka untuk mengkoordinasikan kegiatannya. 2007 4 E/Res/624 B (XXII). Ide monitoring HAM melalui peninjauan laporan ini berawal dari resolusi Dewan Ekonomi dan Sosial pada 1956 yang meminta Negara-negara Anggota PBB untuk menyerahkan laporan berkala mengenai perkembangan yang dibuat dalam rangka pemajuan HAM di negaranya masing-masing. adalah memonitor pelaksanaan perjanjian yang bersangkutan melalui peninjauan terhadap laporan-laporan yang diserahkan secara berkala oleh Negara-negara Pihak sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian tersebut. 1 Agustus 1956. namun harus dicatat bahwa setiap badan perjanjian adalah suatu komite para ahli yang independen yang memiliki suatu mandat untuk memonitor pelaksanaan suatu perjanjian yang khusus. dan mendorong lebih lanjut pelaksanaan. Pertimbangan terhadap laporan Negara Pihak oleh badan perjanjian Mandat utama badan-badan perjanjian. dengan ketentuan bahwa Negara tersebut telah menerima prosedur ini. kedua Kovenan Internasional 1966. Beberapa badan perjanjian juga dapat melakukan penyelidikan. prosedur dan praktik dapat berbeda-beda antara satu komite dengan komite lainnya sebagai akibat variasi mandat setiap komite berdasarkan perjanjian dan protokol opsional yang berkaitan. Dalam mandat menda- 3 Mereka yang tertarik pada prosedur yang seleng- kapnya dari suatu badan perjanjian disarankan untuk melihat lembar fakta bagi komite tersebut.

Sosial. Sosial. administratif. Laporanlaporan harus memuat langkah-langkah hukum. Pada umumnya. 4 • Th. + Pasal 41 dari Kovenan memberikan diskresi kepada Komite Hak Asasi Manusia untuk menentukan kapan laporan berkala harus diserahkan. dan Budaya* Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan Konvensi Menentang Penyiksaan Konvensi Hak Anak Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Penjualan Anak (CRC-OPSC) Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Tentara Anak (CRC-OPAC) Laporan awal dalam 1 tahun Laporan berkala setiap 2 tahun 2 tahun 1 tahun 1 tahun 1 tahun 2 tahun 1 tahun 5 tahun 4 tahun+ 4 tahun 4 tahun 5 tahun 5 tahun 2 tahun 5 tahun atau bersama dengan laporan CRC berikutnya 5 tahun atau bersama dengan laporan CRC berikutnya 2 tahun * Pasal 17 dari Kovenan tidak menentukan adanya pelaporan yang bersifat berkala. dan yudisial yang diambil oleh Negara untuk memberikan dampak pada ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. laporan tersebut disyaratkan setiap empat tahun sekali. perjanjian (biasanya antara empat sampai lima tahun) mengenai langkah-langkah lebih lanjut yang telah diambil guna melaksanakan perjanjian tersebut. dan Budaya serta Konvensi Hak Anak). Laporan itu kemudian harus ditindaklanjuti dengan laporan berkala sesuai dengan ketentuan dalam 118 . setiap Negara Pihak harus menyerahkan suatu laporan awal yang komprehensif biasanya satu tahun setelah perjanjian mulai diberlakukan di Negara tersebut (dua tahun dalam kasus Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. tetapi pasal ini memberikan Dewan Ekonomi dan Sosial diskresi untuk membuat program pelaporannya sendiri.Periode pelaporan berdasarkan perjanjian-perjanjian Perjanjian Kovenan Internasioanl tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. 2007 Guna memenuhi kewajiban pelaporannya. dan juga harus menyebutkan faktor-faktor atau hambatan-hambatan yang JURNAL HAM • Vol.

dan keterlibatan yang konstruktif dari masyarakat sipil yang dilakukan dalam semangat kerja sama dan saling menghormati di tingkat nasional. Tujuan pelaporan Negara-negara Pihak didorong untuk melihat proses persiapan pembuatan laporan mereka bagi badan perjanjian. tetapi juga sebagai suatu kesempatan untuk memeriksa kondisi perlindungan HAM di dalam yurisdiksi mereka dalam rangka perencanaan dan pelaksanaan kebijakan. 1. (b) Memonitor perkembangan yang dibuat dalam rangka pemajuan penikmatan hak-hak yang diatur dalam perjanjian dalam konteks pemajuan HAM secara umum. beberapa menyerahkan laporannya terlebih dahulu kepada parlemen untuk dikritisi sebelum akhirnya diserahkan kepada Sekretaris Jenderal PBB guna dipertimbangkan oleh badan perjanjian yang bersangkutan. dan apa yang harus dilakukan lebih lanjut. Penjelasan lebih lengkap mengenai tujuantujuan pelaporan dapat ditemukan di komentar umum Komite Hak Ekonomi. tahap-tahap mendasar berikut ini adalah umum bagi semua badan 5 Tujuan-tujuan ini diambil dari dokumen HRI/MC/ 2004/3. Proses pelaporan harus mendorong dan memfasilitasi partisipasi publik. setiap badan perjanjian mengeluarkan panduan mengenai bentuk dan isi laporan Negara. dan Budaya No. 2007 119 . dengan tujuan untuk memajukan penikmatan semua hak yang dilindungi oleh konvensi yang bersangkutan. Sosial. guna memajukan dan melindungi HAM di negaranya. Dalam rangka menjamin bahwa laporan memuat informasi yang cukup bagi komite agar dapat melaksanakan pekerjaannya. sistem pelaporan adalah suatu alat yang penting bagi suatu Negara dalam melakukan penilaian mengenai apa yang telah dicapai. Badan-badan perjanjian saat ini sedang dalam proses menyiapkan suatu draft panduan yang terharmonisasi dalam pelaporan berdasarkan perjanjian HAM internasional. Beberapa Negara memasukkan komentar dan kritik dari organisasi nonpemerintah dalam laporan mereka. 4 • Th. penilaian publik terhadap kebijakan-kebijakan dan program-program pemerintah. Proses persiapan pembuatan laporan menawarkan suatu kesempatan bagi setiap Negara Pihak untuk: (a) Melakukan peninjauan yang komprehensif mengenai langkah-langkah yang telah diambil untuk mengharmonisasikan hukum dan kebijakan nasional dengan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian HAM yang bersangkutan di mana Negara tersebut menjadi pihak. Bagaimana setiap badan perjanjian memeriksa laporan suatu Negara Pihak? Walaupun terdapat variasi dalam prosedur yang diadopsi oleh setiap komite dalam mempertimbangkan laporan suatu Negara Pihak. JURNAL HAM • Vol. (d) Menilai kebutuhan dan tujuan di masa mendatang bagi pelaksanaan perjanjian yang lebih efektif. Panduan-panduan ini dihasilkan dalam suatu dokumen kompilasi (HRI/GEN/3) yang diperbaharui secara berkala. dan (e) Merencanakan dan membentuk kebijakan yang lebih layak guna mencapai tujuan-tujuan tersebut. tidak hanya sebagai suatu pemenuhan kewajiban internasional. (c) Mengidentifikasi persoalan dan kegagalan dalam pendekatannya untuk melaksanakan perjanjian.5 Dilihat dari hal tersebut.dihadapi dalam melaksanakan hak-hak tersebut.

Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. Konvensi Hak Anak.perjanjian. Badan perjanjian memberikan daftar persoalan dan pertanyaan kepada Negara Pihak berdasarkan persoalan yang ditimbulkan oleh laporan Kesempatan bagi masukan dari sistem PBB. dan Konvensi Menentang Penyiksaan. Dialog konstruktif antara Komite dan delegasi Negara Pihak pada saat pertemuan Siklus dimulai satu tahun setelah perjanjian mulai diberlakukan (dua tahun untuk Konvensi Hak Anak dan Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. termasuk rekomendasi 3. Keba- nyakan komite juga menyebutkan metode kerja mereka dalam laporan tahunannya. yang dapat diakses dari situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR). komisi nasional. 120 JURNAL HAM • Vol. Negara Pihak dapat menyerahkan jawaban tertulis terhadap daftar persoalan dan pertanyaan 4. Prosedur tindak lanjut pelaksanaan rekomendasi badan perjanjian 2. dan Budaya) dan berulang sesuai dengan periodenya: setiap dua tahun untuk Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. dan setiap lima tahun untuk Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. setiap empat tahun untuk Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. Sosial. Badan perjanjian mengeluarkan kesimpulan pengamatannya mengenai laporan. dan LSM 5. Sosial. Negara Pihak menyerahkan laporannya 6. 4 • Th. dan Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. dan Budaya. Siklus pelaporan berdasarkan perjanjian hak asasi manusia 1. Informasi yang lebih lengkap mengenai prosedur badan perjanjian tertentu dapat ditemukan di lembar fakta yang berkaitan dengan komite tersebut. 2007 .

sistem konstitusi dan hukumnya. Apa yang dimaksud dengan dokumen inti/utama? Beberapa informasi – fakta-fakta mendasar dan statistik tentang negara.1. Hal ini membantu mengurangi volume laporan Negara-ne2. dan diterjemahkan ke bahasabahasa kerja komite. yang menimbulkan pertanyaan apakah harus diberlakukan pembatasan jumlah halaman. gara. Banyak Negara Pihak menganggap bahwa daftar persoalan dapat menjadi panduan yang berguna bagi kemungkinan adanya pertanyaan-pertanyaan yang muncul ketika laporan mereka dipertimbangkan secara formal. Daftar persoalan menyediakan suatu kesempatan kepada komite untuk meminta informasi tambahan dari Negara Pihak yang mungkin tidak dimasukkan dalam laporannya atau yang dipandang perlu oleh anggota komite guna menilai negara tersebut berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian di negara yang bersangkutan. Laporan tersebut akan diproses oleh Sekretariat. Penyerahan laporan awal Laporan harus diserahkan kepada Sekretaris Jenderal dalam salah satu dari enam bahasa resmi PBB. Badan-badan perjanjian saat ini sedang mempertimbangkan suatu proposal untuk memperluas ruang lingkup dokumen inti/utama mengenai informasi tentang hak-hak substantif yang relevan dengan lebih dari satu perjanjian. Kebanyakan komite mencoba untuk memberikan prioritas pada laporan awal atau laporan dari Negara-negara yang tidak melaporkan dalam jangka waktu yang lama. pada 1991 badan-badan perjanjian memutuskan mengijinkan Negara untuk menyerahkan suatu “dokumen inti/utama” yang membentuk laporan awal yang sama bagi setiap laporan badan perjanjian mana pun. 2007 121 . dan konkret. komite membuat suatu daftar persoalan dan pertanyaan. Guna menghindari Negaranegara harus mengulang-ulang informasi yang sama di setiap laporan. dan lain-lain – dicantumkan dalam laporan Negara-negara kepada badan perjanjian yang berkaitan dengan semua perjanjian. Akan terdapat banyak variasi bentuk laporan. 4 • Th. informatif. yang diserahkan kepada Negara Pihak. Mungkin saja terdapat penundaan sebelum suatu laporan dapat dipertimbangkan. Daftar persoalan dan pertanyaan Sebelum pertemuan di mana komite akan mempertimbangkan laporan secara formal. karena beberapa badan perjanjian menghadapi backlog sampai dua tahun masa laporan yang menunggu untuk dipertimbangkan. Hal ini mengijinkan delegasi Negara Pihak untuk mempersiapkan diri dan membuat dialog antara Negara Pihak dengan komite menjadi lebih konstruktif. tetapi Negara-negara harus memastikan bahw ainformasi di dokumen inti/utamanya sudah ter-up-to-date atau mereka harus menyerahkan laporan yang baru. JURNAL HAM • Vol. Pada saat diproses. Banyak laporan bentuknya panjang. laporan dijadwalkan untuk pertimbangan komite pada salah satu pertemuan berkalanya. Daftar persoalan juga mengijinkan komite untuk memulai proses pengajuan pertanyaan kepada Negara Pihak secara lebih detil mengenai persoalanpersoalan khusus yang muncul dalam laporan yang menjadi perhatian utama para anggota komite.

3. kecuali Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial yang tidak menggunakan bahasa Arab. Daftar persoalan dibuat sebelum sesi pertemuan di mana laporan akan dipertimbangkan. Berdasarkan semua informasi yang tersedia. Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dan Komite Menentang Penyiksaan: E. dan media massa. komite memeriksa suatu laporan. dan Komite Menentang Penyiksaan tidak menggunakan bahasa Arab dan bahasa Cina. kecuali jika komite secara terbuka memutuskan bahwa suatu dokumen harus disediakan dalam semua bahasa resmi. Sosial. Dokumen-dokumen komite pada umumnya hanya diterjemahkan ke bahasa kerja. organisasi nonpemerintah (baik internasional maupun nasional). institusi-institusi akademis. Kebanyakan komite menunjuk salah seorang dari anggotanya untuk bertindak sebagai pelapor negara (country rapporteur) untuk memimpin pembuatan daftar persoalan untuk suatu negara tertentu. Sejumlah perjanjian menyediakan suatu peran khusus bagi badan-badan PBB tertentu dalam proses pertimJURNAL HAM • Vol. F & S. Tergantung pada kapan informasi tersebut diserahkan. Lima komite juga mengadopsi sejumlah kecil bahasa kerja sebagai berikut: Komite Hak Ekonomi. organisasi antarpemerintah lainnya. bahasa Cina (C). F. Sumber-sumber informasi lain yang tersedia bagi komite Sebagai tambahan terhadap laporan Negara Pihak. Tanggapan tertulis akan menjadi suplemen atau lampiran pada laporannya. dan bahasa Spanyol (S). termasuk badan-badan PBB. Komite Hak Asasi Manusia dan Komite Hak Anak: E. R. Tanggapan tertulis terhadap daftar persoalan Seringkali Negara Pihak dapat memberikan tanggapan terhadap daftar persoalan dan pertanyaannya dalam bentuk tertulis. daftar persoalan dibuat baik dalam kelompok kerja prapertemuan yang diselenggarakan segera sebelum atau setelah suatu sesi pertemuan berkala atau pada saat pertemuan-pertemuan pleno. R & S. badan perjanjian dapat menerima informasi mengenai situasi HAM di suatu negara dari sumbersumber lain. 4. E. R &S. dan Budaya: A. bahasa Inggris (E).Bahasa resmi dan bahasa kerja Bahasa resmi Perserikatan BangsaBangsa adalah bahasa Arab (A). bahasa Rusia (R). Badan-badan perjanjian telah mengadopsi semua bahasa tersebut sebagai bahasa resmi mereka. dan sangat penting ketika terdapat penundaan yang cukup panjang antara tanggal laporan asli diserahkan dan tanggal ketika komite akhirnya dapat mempertimbangkan laporan tersebut secara formal. bahasa Perancis (F). Kebanyakan komite mengalokasikan waktu di pertemuan plenonya untuk melakukan dengar pendapat dengan badan-badan PBB dan kebanyakan juga menerima organisasi nonpemerintah. 4 • Th. Tergantung pada badan perjanjiannya. 2007 122 . persoalan-persoalan yang dimunculkan oleh organisasi-organisasi ini dapat dimasukkan dalam daftar persoalan atau menginformasikan pertanyaan yang diajukan oleh anggota-anggota ketika bertemu dengan delagasi Negara.

4 • Th. sementara badan perjanjian lainnya membutuhkan kehadiran delegasi. 2007 diakan dorongan dan nasihat kepada Negara-negara. Negara tidak diwajibkan mengirimkan delegasi untuk menghadiri sesi pertemuan. 7. Pertimbangan formal terhadap laporan: dialog konstruktif antara badan perjanjian dengan Negara Pihak Semua badan perjanjian telah membangun praktik. Tujuannya adalah untuk terlibat dalam suatu dialog konstruktif guna membantu Pemerintah dalam upayanya melaksanakan perjanjian secara penuh dan seefektif mungkin.bangan terhadap laporan-laporan. tetapi juga mengidentifikasi bidang-bidang yang membutuhkan tindakan lebih lanjut guna mengefektifkan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. Kesimpulan pengamatan dan rekomendasi Pemeriksaan terhadap laporan mencapai puncaknya pada adopsi “kesimpulan pengamatan atau concluding observation” (disebut sebagai “komentar kesimpulan atau“concluding comment” oleh beberapa komite) dimaksudkan untuk memberikan nasihat praktis kepada Negara yang melaporkan dan mendorong langkah-langkah lebih lanjut dalam melaksanakan hak-hak yang tercantum dalam perjanjian. walaupun mereka didorong untuk melakukannya. tetapi diciptakan untuk memonitor pelaksanaan perjanjian serta menyeJURNAL HAM • Vol. 5. Pelaksanaan kesimpulan pengamatan dan penyerahan laporan berkala berikutnya 123 . Dalam concluding observation-nya. Beberapa badan perjanjian dapat melanjutkan pertimbangan terhadap laporan suatu Negara Pihak walaupun tanpa kehadiran delegasi dari Negara tersebut. Prosedur ini tidak bertentangan dan komite tidak melakukan penilaian mengenai Negara Pihak berdasarkan prosedur ini. Badan perjanjian mencoba membuat rekomendasinya se-konkret dan se-praktis mungkin. badan perjanjian mengakui langkahlangkah positif yang telah diambil oelh Negara. Pasal 45 Konvensi Hak Anak secara spesifik menyebutkan peran Dana Bantuan Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Children’s Fund atau UNICEF). 6. mengundang Negara-negara Pihak untuk mengirimkan delegasinya untuk menghadiri pertemuan di mana komite mempertimbangkan laporannya guna mengijinkan mereka menanggapi pertanyaan anggota komite dan menyediakan informasi tambahan mengenai upaya mereka untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian yang bersangkutan. bersama dengan badan-badan PBB lainnya. Gagasan mengenai dialog yang konstruktif mencerminkan kenyataan bahwa badan-badan perjanjian bukan merupakan badan yudisial. yang dimulai oleh Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. Negaranegara diminta untuk mempublikasikan concluding observation di negaranya guna menginformasikan pada debat publik mengenai bagaimana cara bergerak maju dalam pelaksanaan HAM. Pasal 74 dari Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya juga memungkinkan partisipasi Kantor/Organisasi Buruh Internasional (International Labour Office/Organization atau ILO).

Adopsi concluding observation oleh komite mengakhiri pertimbangan formal terhadap laporan. yang membawa siklus pelaporan ke titik awalnya. pengadilan. Dalam rangka membantu Negara dalam melaksanakan rekomendasinya. Thailand. tetapi harus memuat semua informasi yang dibutuhkan oleh komite untuk melanjutkan pekerjaan monitoringnya terhadap kelanjutan pelaksanaan perjanjian di negara yang bersangkutan. 4 • Th. Beberapa anggota badan perjanjian telah melakukan kunjungan ke negara-ne- 124 JURNAL HAM • Vol. Rapporteur kemudian melaporkan kembali kepada komite. bahwa ketentuan-ketentuan dalam suatu perjanjian tidak sepenuhnya bisa dilaksanakan. Sebuah elemen penting dalam laporan berkala adalah pelaporan kembali kepada komite mengenai langkah-langkah yang telah diambil oleh Negara Pihak berkaitan dengan pelaksanaan rekomendasi badan perjanjian dalam concluding observation di laporan sebelumnya. telah diselenggarakan di sejumlah negara guna membangun dialog bagi tindak lanjut concluding observations. Lokakarya-lokakarya lebih lanjut sedang dalam tahap persiapan untuk badan-badan perjanjian lainnya. maka proses pelaksanaan hak-hak yang termuat dalam perjanjian membutuhkan upaya-upaya berkelanjutan dari Negara-negara. dan badan-badan lainnya yang tertarik dengan hal ini. sebagaimana juga perwakilan komisi-komisi nasional hak asasi manusia. Laporan berkala pada umumnya tidak sepanjang dan se-komprehensif laporan awal. Karena disadari. Ekuador pada Agustus 2002 mengenai concluding observations Komite Hak Asasi Manusia. 2007 . Pentingnya tindak lanjut terhadap rekomendasi badan perjanjian Badan perjanjian tidak memiliki sarana untuk menegakkan rekomendasi mereka. badan perjanjian telah mulai memperkenalkan prosedur guna menjamin tindak lanjut yang efektif terhadap concluding observationsnya. Republik Arab Syria. Beberapa komite menyebutkan dalam concluding observations-nya agar Negara melaporkan kembali ke negaranya atau menindaklanjuti pelapor (rapporteur) dalam jangka waktu yang disepakati mengenai langkah-langkah yang diambil sebagai tanggapan terhadap rekomendasi spesifik atau “keprihatinan utama”. kebanyakan Negara memperhatikan dengan serius proses pelaporan ini. Lokakarya tindak lanjut Lokakarya regional yang melibatkan perwakilan Negara-negara yang laporannya baru saja dipertimbangkan oleh suatu badan perjanjian. dan oleh karenanya dapat dinyatakan. Negara diminta untuk menyerahkan laporan lebih lanjut kepada badan perjanjian dalam jangka waktu tertentu. Lokakarya pertama diselenggarakan di Quito. organisasi nonpemerintah. tetapi prosesnya tidak berhenti di situ. dan komite telah terbukti berhasil dalam mengangkat persoalan berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian di banyak Negara. Laporan-laporan dari lokakarya ini tersedia di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR). dan di Bangkok. Namun demikian. Dua lokakarya berfokus pada concluding observations Komite Hak Anak telah diselenggarakan di Damaskus. Setelah penyerahan laporan awal. Hal ini disebut sebagai “laporan berkala”.

atau bahkan dalam beberapa kasus gagal melaporkan. untuk menindaklanjuti laporan dan pelaksanaan concluding observations. “Prosedur Peninjauan” – pertimbangan terhadap pelaksanaan di suatu negara jika tidak terdapat laporan Berdasarkan prosedur ini. Negara-negara dapat meminta bantuan teknis dari Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) dan Divisi Pengembangan Perempuan (DAW) ketika mereka menghadapi kesulitan tertentu. Tetapi. Peninjauan dapat dilanjutkan bahkan jika Negara Pihak menolak mengirimkan delegasi ke pertemuan. komite yang bersangkutan dapat melanjutkan dengan pemeriksaan kondisi pelaksanaan perjanjian yang bersangkutan oleh Negara Pihak walaupun belum ada satu pun laporan Negara yang diterima. 2007 dan tidak merespon permintaan komite untuk melapor. Prosedur peninjauan hanya digunakan untuk kasus-kasus istimewa. Negara yang telah meratifikasi ketujuh perjanjian HAM utama diharapkan membuat lebih dari 20 laporan HAM dalam jangka waktu 10 tahun: berarti satu setiap enam bulannya. berdasarkan informasi tersebut dan dialog dengan Negara Pihak. 125 . dalam banyak kasus. dan telah berupaya mencari cara-cara memfasilitasi tugas ini (lihat Bagian III di bawah). Namun demikian. dalam hal Negara telah gagal melaporkan dalam jangka waktu yang panjang JURNAL HAM • Vol. Hal ini menjadi beban yang sangat besar. sehingga mungkin tidak mengherankan jika Negara-negara seringkali terlambat dalam jadwal pelaporan mereka. Komite dapat membuat daftar persoalan dan pertanyaan untuk Negara Pihak. Informasi dapat diterima dari rekanan PBB dan organisasi nonpemerintah serta. Badan perjanjian mencoba mendorong Negara-negara untuk melaporkan dengan tepat waktu. Badan perjanjian mengakui kesulitan yang dihadapi oleh banyak Negara dalam memenuhi kewajiban pelaporan mereka. Apa yang terjadi jika Negara tidak melapor? Pelaporan pada badan perjanjian dapat dianggap sebagai suatu tantangan oleh Negara-negara Pihak. sebagaimana kewajiban-kewajiban lainnya yang muncul dari ratifikasi terhadap perjanjian internasional. komite akan mengeluarkan concluding observations-nya. yang diundang untuk mengirim delegasinya guna menghadiri pertemuan. Negaranegara juga harus membuat respon terhadap daftar persoalan dan mempersiapkan diri untuk menghadiri pertemuan badan perjanjian. pemberitahuan oleh komite bahwa komite berniat untuk mempertimbangkan situasi di suatu negara tanpa adanya suatu laporan adalah cukup untuk mendorong Negara Pihak agar membuat laporan dalam jangka waktu yang pendek. 4 • Th.gara. termasuk rekomendasi. maka badan perjanjian telah mengadopsi prosedur untuk mempertimbangkan situasi di suatu negara tanpa adanya laporan – seringkali disebut sebagai “prosedur peninjauan” (“review procedure”). serta kemudian mungkin harus menyerahkan laporan lebih lanjut mengenai tindak lanjut terhadap concluding observations. atas undangan Negara Pihak. maka kewajiban untuk melapor adalah kewajiban hukum internasional yang dipilih oleh Negara secara bebas.

Konvensi Pekerja Migran juga memuat ketentuan-ketentuan yang mengijin- kan komunikasi individual untuk dipertimbangkan oleh Komite Pekerja Migran. dan Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan) dapat mempertimbangkan pengaduan atau komunikasi dari individu yang percaya bahwa hak-hak mereka telah dilanggar oleh Negara Pihak: Komite Hak Asasi Manusia dapat mempertimbangkan komunikasi individual terhadap Negara Pihak pada Protokol Opsional Pertama Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. dan Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dapat mempertimbangkan komunikasi individual terhadap Negara Pihak yang telah membuat deklarasi yang disyaratkan berdasarkan pasal 14 Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. Negara-negara Pihak telah melaksanakan rekomendasi-rekomendasi Komite dan memberikan perbaikan (remedy) kepada si pengadu. Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan dapat mempertimbangkan komunikasi individual terhadap Negara Pihak pada Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. Siapa yang dapat mengadu? Setiap individu yang menyatakan bahwa hak-haknya berdasarkan kovenan atau konvensi telah dilanggar oleh Negara Pihak pada perjanjian tersebut dapat membawa komunikasinya di hadapan komite yang bersangkutan. baik melalui deklarasi berdasarkan pasal yang relevan dari perjanjian atau dengan menerima protokol opsional yang relevan. Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. dan Budaya diberikan mandat untuk mempertimbangkan komunikasi individual berkaitan dengan Kovenan.6 Prosedur ini bersifat opsional (pilihan) bagi Negara-negara Pihak: badan perjanjian tidak bisa mempertimbangkan pengaduan berkaitan dengan suatu Negara Pihak kecuali jika Negara tersebut telah secara terbuka mengakui kompetensi badan perjanjian yang bersangkutan. Namun dalam banyak kasus. Sosial. ketentuan-ketentuan ini akan mulai berlaku ketika sepuluh Negara Pihak telah membuat deklarasi yang diperlukan berdasarkan pasal 77. empat badan perjanjian (Komite Hak Asasi Manusia. 4 • Th. 6 Saat ini protokol opsional pada Kovenan Internasio- nal tentang Hak Ekonomi. JURNAL HAM • Vol. Walaupun dalam beberapa hal prosedur ini bersifat “quasi-yudisial”. Pengaduan juga dapat diajukan oleh pihak ketiga atas nama individuindividu. dan Budaya sedang dalam pertimbangan dan dapat menghasilkan keputusan bahwa Komite Hak Ekonomi. 2007 126 . dengan persyaratan bahwa Negara tersebut telah mengakui kompetensi komite untuk menerima komunikasi semacam itu. Komite Menentang Penyiksaan dapat mempertimbangkan komunikasi individual terhadap Negara Pihak yang telah membuat deklarasi yang disyaratkan berdasarkan pasal 22 Konvensi Menentang Penyiksaan. selama mereka telah memberikan ijin tertulis (written consent) atau ketika mereka tidak dapat memberikan ijin semacam itu. keputusan-keputusan komite tidak bisa dipaksakan.Pertimbangan terhadap pengaduan individual yang menyatakan bahwa hak-hak mereka telah dilanggar oleh Negara Pihak Dalam kondisi tertentu. Komite Menentang Penyiksaan. Sosial.

informasi harus memuat indikasi-indikasi yang kuat bahwa penyiksaan telah dipraktikkan secara sistematis di wilayah suatu Negara Pihak. 7: Prosedur Pengaduan atau di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR). Negara mana saja yang dapat menjadi subyek penyelidikan? Penyelidikan hanya dapat dilakukan terhadap Negara-negara Pihak yang telah mengakui kompetensi komite yang bersangkutan. Prosedur penyelidikan Pasal 20 Konvensi Menentang Penyiksaan dan pasal 8 sampai pasal 10 Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan menetapkan prosedur mendasar berikut ini bagi komite yang bersangkutan untuk melakukan penyelidikan yang mendesak: 1. Komite dapat memutuskan untuk menugaskan satu atau lebih anggotanya guna melakukan penyelidikan secara konfidensial dan melaporkan kepada komite dengan segera. Negara mana pun yang memilih untuk menghindari prosedur dapat memutuskan untuk menerima prosedur tersebut di masa mendatang. Prosedur Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan secara spesifik mengijinkan kunjungan ke wilayah Negara yang bersangkutan. 4 • Th. dua badan perjanjian – Komite Menentang Penyiksaan dan Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan – dapat melakukan penyelidikan jika komite menerima informasi yang dapat dipercaya mengenai indikasi yang kuat bahwa telah terjadi pelanggaran yang serius. berat. dapat ditemukan di Lembar Fakta No. informasi harus mengindikasikan pelanggaran yang berat atau sistematis terhadap hak-hak yang diatur dalam Konvensi oleh Negara Pihak. dalam hal Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan.Bagaimana saya mengadu? Informasi lebih lengkap mengenai prosedur pengaduan individual dari badanbadan perjanjian. Negara-negara Pihak pada Konvensi Menentang Penyiksaan dapat menghindarkan diri dengan membuat deklarasi berdasarkan pasal 28. jika hal tersebut dibenarkan Penyelidikan Atas dasar inisiatif mereka. Pada saat ratifikasi atau aksesi. atau sistematis terhadap konvensi oleh suatu Negara Pihak. 2. 2007 127 . JURNAL HAM • Vol. Negara-negara Pihak pada Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan juga dapat meniadakan kompetensi Komite yang bersangkutan dengan membuat deklarasi berdasarkan pasal 10. termasuk nasihat dan instruksi tentang bagaimana cara mengadu. Langkah pertama adalah komite mengundang Negara Pihak untuk bekerja sama dalam pemeriksaan mengenai informasi tersebut dengan menyerahkan hasil pengamatan. 3. Dalam hal Konvensi Menentang Penyiksaan. Prosedur dapat dilakukan jika komite menerima informasi yang dapat dipercaya tentang indikasi bahwa hak-hak yang termuat dalam konvensi telah dilanggar secara sistematis oleh Negara Pihak. Berdasarkan hasil pengamatan Negara Pihak dan informasi lain yang tersedia yang dapat dipercaya.

Protokol Opsional Konvensi Menentang Penyiksaan dan Subkomite Pencegahan Protokol Opsional Konvensi Menentang Penyiksaan (OPCAT). 2007 Dalam kedua kasus. yang akan diberlakukan ketika telah memiliki 20 Negara Pihak. lembaga ombudsman. Prosedur Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan menetapkan tenggat waktu enam-bulan kepada Negara Pihak untuk menanggapi hasil temuan. 17: Komite Menentang Penyiksaan. 5. dan rekomendasi komite tersebut dengan hasil pengamatannya sendiri dan untuk menginformasikan kepada komite mengenai langkah-langkah yang telah diambil sebagai respon terhadap penyelidikan jika diminta oleh Komite. Bersama dengan badan internasional ini. empat dari perjanjian HAM memuat ketentuan-ketentuan yang mengijinkan Negara-negara Pihak untuk mengajukan pengaduan kepada badan perjanjian tentang tuduhan pelanggaran terhadap perjanjian oleh Negara Pihak lain. Suatu badan internasional yang baru. Pasal 21 Konvensi Menentang Penyiksaan dan pasal 76 Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Pekerja Migran dan Semua Anggota Keluarganya menetapkan suatu prosedur bagi komite yang bersangkutan untuk mempertimbangkan pengaduan dari satu Negara pihak yang menganggap bahwa Negara Pihak lain tidak memenuhi ketentuan-ketentuan dalam konvensi. Hasil-hasil temuan dari anggota (atau anggota-anggota) komite kemudian diperiksa oleh komite dan diserahkan kepada Negara Pihak bersama dengan komentar atau saran/rekomendasi yang selayaknya. komite dapat memutuskan memasukkan suatu kesimpulan akhir (summary account) dari hasil prosiding tersebut di laporan tahunannya. yang disebut “Subkomite Pencegahan”. atau komisi parlementer) yang akan melakukan kunjungan berkala ke tempat-tempat penahanan sesuai dengan Protokol tersebut. lihat Lembar Fakta No. Pengaduan antarnegara Walaupun prosedur ini tidak pernah digunakan. Negara-negara Pihak harus membentuk suatu mekanisme pencegahan nasional yang independen (seperti Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. 4. yang terdiri dari sepuluh praktisi independen di bidang administrasi peradilan atau penahanan. prosedur ini bersifat rahasia dan harus diperoleh kerja sama dari Negara Pihak selama keseluruhan prosiding. Informasi lebih lanjut megnenai OPCAT dan Subkomite Pencegahan. OPCAT membentuk suatu sistem 128 . Prosedur ini mensyaratkan bahwa perbaikan di tingkat domestik (domestic remedies) JURNAL HAM • Vol. Berdasarkan konsultasi dengan Negara Pihak. kunjungan berkala ke tempat-tempat penahanan yang dilakukan oleh badan internasional dan nasional tambahan. 6. 4 • Th. komentar. dapat melakukan kunjungan-kunjungan ke tempat-tempat penahanan di semua Negara Pihak. memperkenalkan suatu mekanisme baru guna pencapaian tujuan-tujuan Konvensi yaitu mencegah penyiksaan dan bentuk-bentuk perlakuan kejam lainnya. kunjungan juga diperkirakan dapat dilakukan berdasarkan prosedur Konvensi Menentang Penyiksaan.dan dilakukan dengan persetujuan Negara. Subkomite akan menyerahkan laporan konfidensialnya yang memuat rekomendasi kepada Negara-negara Pihak.

harus exhausted (sudah dilakukan seluruhnya tanpa membuahkan hasil) lebih dahulu dan prosedur hanya berlaku pada Negaranegara Pihak yang telah membuat deklarasi menerima kompetensi komite dalam hal ini. Pasal 11 sampai pasal 13 Kovenan Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dan pasal 41 sampai pasal 43 Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik menetapkan suatu prosedur yang lebih terperinci untuk menyelesaikan pertikaian antarNegara Pihak mengenai pemenuhan satu Negara terhadap kewajibannya berdasarkan konvensi/kovenan yang relevan melalui pembentukan suatu komisi konsiliasi ad hoc. Prosedur ini juga mensyaratkan bahwa perbaikan domestik (domestic remedies) harus exhausted lebih dahulu. Prosedur ini pada umumnya tidak hanya berlaku bagi semua Negara Pihak pada Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial, tetapi hanya berlaku bagi Negara-negara Pihak pada Kovenan Internasioal tentang Hak Sipil dan Politik yang telah membuat deklarasi menerima kompetensi Komite dalam hal tersebut.

tional Court of Justice) jika pihak-pihak yang bertikai gagal menyepakati ketentuan-ketentuan dalam arbitrasi dalam jangka waktu enam bulan. Negara-negara Pihak dapat menarik diri dari prosedur semacam ini dengan membuat deklarasi pada saat ratifikasi atau aksesi, yang mana sesuai dengan prinsip timbal-balik (resiprositas), maka mereka tidak diperkenankan mengajukan kasus-kasus menentang Negara Pihak lainnya. Prosedur ini, seperti halnya prosedur pengaduan antarNegara, tidak pernah digunakan.

Komentar-komentar umum
Setiap badan perjanjian mempublikasikan interpretasinya tentang ketentuanketentuan dalam perjanjian HAM yang dimonitornya dalam bentuk komentar umum (Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dan Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan menggunakan istilah “rekomendasi umum”). Komentar umum dari badan perjanjian mencakup berbagai subyek, mulai dari interpretasi yang komprehensif mengenai ketentuan-ketentuan substantif, seperti hak hidup atau hak atas makanan yang cukup, sampai panduan umum tentang informasi yang harus diberikan dalam laporan Negara berkaitan dengan pasal-pasal tertentu dari perjanjian. Komentar umum juga menangani persoalan-persoalan yang saling bertabrakan (cross-cutting issues) yang lebih luas, seperti peran institusi-institusi nasional HAM, hak orang-orang penyandang cacat, kekerasan terhadap perempuan, dan hak kelompok minoritas. Suatu kompilasi komentar umum dan rekomendasi umum diadopsi oleh badan perjanjian dihasilkan dan diperbaharui secara berkala (lihat revisi terakhir dokumen HRI/GEN/1).

Penyelesaian pertikaian antar Negara berkaitan dengan interpretasi atau aplikasi konvensi
Pasal 29 Konvensi tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan, pasal 30 Konvensi Menentang Penyiksaan, dan pasal 92 Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya menyatakan bahwa pertikaian antarNegara berkaitan dengan interpretasi atau aplikasi konvensi akan diselesaikan pertama melalui negosiasi atau, jika negosiasi gagal, melalui arbitrasi. Salah satu Negara yang terlibat dalam pertikaian dapat merujuk pertikaian tersebut kepada Pengadilan Internasional (InternaJURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

129

Diskusi umum atau debat tematis
Sejumlah badan perjanjian menyelenggarakan diskusi umum mengenai suatu tema atau persoalan tertentu bagi badan perjanjian tersebut selama beberapa hari. Diskusi tematis ini biasanya terbuka bagi partisipan dari luar, seperti rekanan PBB, delegasi Negara Pihak, organisasi nonpemerintah, dan para ahli individual. Hasil dari diskusi dapat membantu badan perjanjian dalam membuat komentar umum yang baru.

jelis Umum meminta para ketua badan perjanjian HAM untuk bertemu guna membahas tentang bagaimana mereka bisa meningkatkan kinerja mereka. Pertemuan pertama pada ketua ini berlangsung pada 1984. Sejak 1995, para ketua badan perjanjian telah melakukan pertemuan setiap tahunnya. Pertemuan ini merupakan suatu forum bagi para ketua ketujuh badan perjanjian HAM untuk membahas mengenai pekerjaan mereka dan mempertimbangkan cara-cara guna meningkatkan efektivitas sistem badan perjanjian sebagai suatu kesatuan. Persoalan-persoalan yang diangkat dalam pertemuan ini antara lain: pengarusutamaan dan perbaikan secara menyeluruh prosedur pelaporan HAM; harmonisasi metode kerja komite-komite; tindak lanjut Konferensi Dunia; dan persoalan finansial. Konsultasi-konsultasi informal dengan Negara-negara Pihak sebagaimana juga dengan rekanan PBB dan organisasi nonpemerintah juga telah menjadi suatu ciri khas dalam pertemuan antara para ketua badan perjanjian. Sejak 1999, para ketua badan perjanjian telah bertemua dengan pemegang mandat prosedur khusus (baik mandat tematis maupun mandat negara) Komisi Hak Asasi Manusia. Pembahasannya berfokus pada pertanyaan-pertanyaan teknis, seperti meningkatkan pertukaran informasi antara badan perjanjian dan prosedur khusus. Persoalan-persoalan substantif, termasuk dampak globalisasi terhadap penikmatan HAM (2003) serta langkahlangkah penanganan terorisme (counter-terrorism) dan HAM (2004), juga telah dibahas. Pertemuan antarkomite Sejak 2002, pertemuan tahunan para ketua badan perjanjian telah dilengkapi dengan suatu “pertemuan antarkomite”, yang termasuk di dalamnya para ketua dan tamJURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

Pertemuan Negara-negara Pihak dan pertemuan dengan Negaranegara Pihak
Setiap perjanjian (kecuali Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya) menyelenggarakan pertemuan formal Negara-negara Pihak setiap dua tahun sekali, biasanya di Markas Besar PBB, guna memilih setengah dari anggota badan perjanjiannya. Pasal 50 Konvensi Hak Anak menyelenggarakan suatu konferensi Negaranegara Pihak guna menentukan usulan amendemen terhadap Konvensi. Kebanyakan komite juga mengadopsi praktik penyelenggaraan pertemuan informal secara berkala dengan Negara-negara Pihak pada perjanjian mereka guna mendiskusikan persoalan-persoalan bersama berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian dan pekerjaan badan perjanjian.

Koordinasi antara badan-badan perjanjian
Pertemuan tahunan para ketua badan perjanjian Kebutuhan akan koordinasi antara badan-badan perjanjian HAM diakui oleh Majelis Umum pada 1983, yaitu ketika Ma-

130

bahan dua anggota dari setiap komite. Harmonisasi metode kerja di antara para komite menjadi fokus utama pertemuan antarkomite pertama. Pelaksanaan pertemuan antarkomite disambut baik oleh Negaranegara Pihak. Meningkatnya keterlibatan setiap komite telah membuka pembahasan yang lebih detil tentang rekomendasi terhadap persoalan-persoalan berkaitan dengan metode kerja ketimbang yang dibahas dalam pertemuan para ketua badan perjanjian. Pertemuan antarkomite dan pertemuan para ketua badan perjanjian biasanya dipimpin oleh orang yang sama, yaitu seseorang yang menjadi ketua badan perjanjian HAM atas dasar rotasi.

Perluasan sistem perjanjian HAM: membuat instrumen baru
Sejak 2000, sejumlah instrumen HAM yang baru telah disepakati atau telah mulai berlaku. Pada Mei 2000, dua protokol opsional pada Konvensi Hak Anak diadopsi, tentang penjualan anak, pelacuran anak, dan pornografi anak (CRC-OPSC) dan tentang keterlibatan anak-anak dalam konflik bersenjata (CRC-OPAC). Keduanya mulai berlaku pada 2002. Pada Desember 2002, Protokol Opsional Konvensi Menentang Penyiksaan diadopsi (OPCAT). Protokol ini akan mulai berlaku ketika sudah diterima oleh 20 Negara Pihak. Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya mulai berlaku pada Juli 2003, dan Komite Pekerja Migran telah menyelenggarakan pertemuan pertamanya pada Maret 2004. Instrumen-instrumen HAM internasional lainnya sedang dibahas oleh Negaranegara dan dapat diadopsi pada tahuntahun mendatang. Suatu komite ad hoc Majelis Umum telah dibentuk pada 2002 dengan tujuan membuat “suatu konvensi internasional yang komprehensif dan integral tentang perlindungan dan pemajuan hak-hak dan martabat orang-orang penyandang cacat”. Komite”Ad Hoc ini bertujuan untuk mengadopsi suatu konvensi, yang akan memasukkan mekanisme monitoring pada akhir 2005. Pada 2002, Komisi Hak Asasi Manusia memutuskan untuk membentuk “kelompok kerja terbuka dengan tujuan untuk mempertimbangkan pilihanpilihan berkaitan dengan elaborasi protokol opsional pada Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya”.7 Protokol opsional tersebut akan memberikan kompetensi pada Komite Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya untuk mempertimbangkan pengaduan individual dan melakukan penyelidikan. Suatu kelompok kerja menge7 Resolusi Komisi 2002/24 dan 2003/18.

BAGIAN III
Perkembangan lebih lanjut dari sistem perjanjian HAM PBB
Walaupun DUHAM telah dibuat lebih dari 50 tahun yang lalu, dan proses pembuatan ketentuan internasional HAM atau International Bill of Human Rights (DUHAM dan kedua Kovenan) telah diselesaikan pada 1966, sistem perjanjian HAM internasional telah terus berkembang dengan adanya adopsi instrumen baru dan pembentukan badan perjanjian yang baru. Berbagai instrumen dan badan perjanjian yang semakin luas tersebut telah menjamin adanya perlindungan HAM yang lebih besar di sejumlah bidang yang menjadi perhatian utama masyarakat internasional, dan juga telah memberikan suatu tantangan penting bagi sistem perjanjian HAM internasional: bagaimana cara terbaik untuk menjamin bahwa perbedaan elemen-elemen dalam sistem yang semakin berkembang ini bisa bekerja secara efektif secara bersama-sama bagi pemajuan dan perlindungan HAM.

JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

131

2007 . “Memperkuat Perserikatan Bangsa-Bangsa: suatu agenda untuk perubahan lebih lanjut”. khususnya melibatkan Negara-negara dalam diskusi yang terbuka mengenai persoalan dalam melaksanakan perjanjian HAM melalui proses pelaporan. walaupun kegiatan-kegiatan mereka saling tumpang tindih di banyak bidang. sampai baru-baru ini. Badan-badan perjanjian menanggapi hal ini dengan melakukan suatu proses konsultasi dan reformasi yang ditujukan untuk menjawab dua bidang persoalan yang diangkat oleh usulan Sekretaris Jenderal: (1) meningkatkan koordinasi antara badan-badan perjanjian. 4 • Th. dan kedua. untuk mengijinkan Negara menghasilkan suatu laporan tunggal yang menyimpulkan semua ketaatannya pada sejumlah perjanjian HAM di mana Negara tersebut menjadi pihak. untuk membuat suatu pendekatan yang lebih terkoordinasi dalam hal kegiatan dan membuat standardisasi ketentuan pelaporan mereka yang bervariasi.nai rancangan instrumen tentang penghilangan paksa juga mungkin akan menghasilkan suatu instrumen baru. atau bahkan diperlukan karena sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian yang bersangkutan. Saran Sekretaris Jenderal telah memberikan motivasi baru bagi proses ini. dan (2) pengembangan proses pelaporan perjanjian. Pada saat yang sama. 8 A/57/387. Dalam laporannya tahun 2002. Namun demikian. (1) Meningkatkan koordinasi antara badan-badan perjanjian Badan-badan perjanjian telah dengan sukses mengerjakan mandat mereka. Meningkatkan efektivitas sistem perjanjian Dengan perkembangan yang berkelanjutan dalam sejumlah instrumen HAM internasional. Proposalproposal di bidang seperti standardisasi terminologi dan simbol-simbol dokumen telah dibahas dalam pertemuan antarkomite dan pertemuan para ketua badan perjanjian. juga diakui bahwa beberapa variasi dalam praktik dapat dibenarkan. maka penting agar ditekankan bahwa instrumen-instrumen tersebut saling melengkapi satu sama lain. Ia meminta badan-badan perjanjian HAM untuk mempertimbangkan dua langkah: pertama. serta bahwa perjanjian dan badan yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaannya dapat bekerja bersama-sama secara efektif sebagai suatu sistem yang terintegrasi guna pemajuan dan perlindungan HAM. juga terdapat banyak keragaman. termasuk pengarusutamaan metode kerja. dan setiap komite secara individual telah meninjau metode kerjanya dengan tujuan untuk mengadopsi praktik-praktik terbaik dari komite lain. Cara ad hoc di mana setiap komite dibentuk berdasarkan perjanjiannya berarti bahwa mereka memiliki kekebebasan untuk membangun prosedur dan praktiknya sendiri. 132 JURNAL HAM • Vol. setiap badan perjanjian cenderung melakukan pekerjaannya secara independen dari badan perjanjian lainnya.8 Sekretaris Jenderal PBB mengidentifikasi pembaruan lebih lanjut terhadap sistem perjanjian sebagai elemen utama dalam tujuan PBB untuk memajukan dan melindungi HAM. dan walaupun ada banyak kesamaan dalam hal fungsi badan-badan perjanjian. yang seringkali mengarah pada kebingungan dan ketidak-konsistenan. Badan-badan perjanjian telah terlibat secara berkelanjutan dalam pencarian cara untuk meningkatkan efektivitas melalui pengarusutamaan dan harmonisasi metode kerja dan praktik selama beberapa tahun. termasuk harmonisasi ketentuan pelaporan.

badan-badan PBB. Dengan meratifikasi perjanjian. organisasi nonpemerintah. Standar-standar internasional yang telah disepakati dalam perjanjian memerlukan adanya pelaksanaan yang efektif di tingkat nasional guna menjamin bahwa hak-hak tersebut dinikmati oleh semua 133 . Mereka memilih untuk memperluas ruang lingkup dokumen inti/utama dengan memasukkan presentasi penuh kerangka hukum bagi pemajuan dan perlindungan HAM secara umum di Negara. maka badan-badan perjanjian menyimpulkan bahwa laporan tunggal justru akan menjadi tantangan yang begitu besar bagi Negara-negara Pihak dan tidak akan dapat memenuhi tujuan yang memotivasi usulan Sekretaris JendeJURNAL HAM • Vol. serta duplikasi ketentuan pelaporan di antara badan-badan perjanjian. dan Majelis Umum. pertemuan para ketua badan perjanjian. Panduan ini mendorong Negara-negara Pihak untuk memenuhi sejumlah kewajiban perjanjian HAM di mana mereka telah menjadi bagian dari suatu sistem yang terkoordinasi. Laporan Negara-negara kepada badan-badan perjanjian oleh karenanya akan terdiri dari suatu dokumen umum yang menggambarkan pandangan yang holistik dari pelaksanaan HAM dan suatu dokumen perjanjian yang spesifik yang berfokus pada persoalan-persoalan yang menjadi perhatian komite berkaitan dengan perjanjiannya. sebagaimana juga informasi mengenai pelaksanaan ketentuan-ketentuan substantif HAM yang serupa dalam beberapa perjanjian. Menanggapi permintaan Sekretaris Jenderal untuk ketentuan pelaporan yang terharmonisasi dan kemungkinan penyerahan suatu laporan tunggal. Komisi Hak Asasi Manusia. 2007 ral tersebut. Setelah konsultasi yang mendalam dengan Negara Pihak. Memperbaiki efektivitas sistem perjanjian HAM telah menjadi perhatian yang berkelanjutan masing-masing badan perjanjian. Dokumen inti/utama yang diperluas ini harus diserahkan kepada semua badan perjanjian bersama dengan laporan target (targeted report) bagi setiap badan perjanjian yang berisi informasi spesifik mengenai perjanjian tersebut. Sebagaimana sistem berkembang. tetapi jelas bahwa pemajuan dan perlindungan HAM merupakan persoalan paling penting di tingkat nasional. Negara menjanjikan dirinya pada standar-standar ini dan mewajibkan dirinya untuk melaksanakan hakhak tersebut di tingkat nasional. Sistem perjanjian HAM ini kelihatannya terfokus pada tingkat internasional.(2) Pengembangan sistem pelaporan perjanjian Fokus utama upaya untuk menjamin pelaksanaan perjanjian HAM yang lebih efektif di tahun-tahun belakangan ini adalah pelaporan Negara. Peran sistem perjanjian HAM dalam memperkuat sistem perlindungan HAM di tingkat nasional Perjanjian-perjanjian HAM adalah instrumen hukum yang menetapkan standarstandar internasional bagi pemajuan dan perlindungan HAM di dunia. Laporan-laporan yang dikompilasi sesuai dengan panduan dapat menyediakan suatu kerangka pelaporan yang seragam di mana komite-komite dapat menghindari duplikasi dalam pekerjaannya dan menetapkan suatu standar pelaporan yang konsisten bagi semua komite. ketimbang memperlakukan masing-masing perjanjian secara terpisah-pisah. tantangan-tantangan muncul dari keterlambatan penyerahan dan/atau pertimbangan terhadap laporan. badan-badan perjanjian mulai membuat panduan harmonisasi pelaporan berdasarkan ketujuh perjanjian HAM utama. terlambat dan tidak-melaporkan. Badan perjanjian mendorong dan mendukung Negara dalam upaya ini. dan pihak-pihak lain yang berminat. 4 • Th.

Proses pengumpulan informasi mengenai pelaksanaan HAM di tingkat nasional menjadi alat yang penting untuk membantu Pemerintah merencanakan dan menempatkan program-program pembangunan berdasarkan HAM (rights-based development). yang oleh karenanya akan menjamin pelaksanaan standar HAM nasional yang lebih efektif. yang berfokus pada bidang persoalan tertentu yang memerlukan tindakan. Nasihat praktis dan bantuan dari badan perjanjian Hasil dari badan perjanjian. dan pelaksanaan perencanaan pembangunan nasional. proses pelaporan kepada badan perjanjian itu sendiri merupakan bagian yang penting dalam pembentukan suatu sistem perlindungan HAM di tingkat nasional. Kedua. badan perjanjian memberikan pada Negara-negara nasihat-nasihat praktis dan bantuan tentang bagaimana melaksanakan perjanjian dengan baik. 4 • Th. sampai tanggapan negara terhadap rekomendasi badan perjanjian. juga dapat digunakan untuk menstimulasi debat nasional mengenai HAM dengan masyarakat sipil dan menciptakan konstituensi HAM yang baru. dari mulai persiapan pembuatan laporan. Karena badan perjanjian dibentuk untuk memonitor pelaksanaan standarstandar HAM internasional yang ditentukan oleh perjanjian HAM. Komentar umum dari badan perjanjian menyediakan informasi tambahan untuk suatu sifat yang lebih terelaborasi mengenai bagaimana perjanjian harus dilaksanakan. Mengaitkan proses-proses tersebut dapat menjamin bahwa HAM ditempatkan di tengah-tengah perencanaan strategis nasional. melalui proses pertimbangan di tingkat internasional. Dalam memenuhi kewajiban pelaporan mereka berdasarkan perjanjian internasional.laki-laki. Pendapat-pendapat yang diungkapkan oleh komite sebagai tanggapn terhadap pengaduan individual juga merupakan sumber panduan yang lain. dapat memberikan bantuan yang berguna bagi tindakan-tindakan yang diperlukan guna memperkuat perlindungan HAM. perempuan. Ketika telah dihasilkan suatu laporan Negara Pihak dan telah dipertimbangkan oleh badan perjanjian. 134 JURNAL HAM • Vol. maka badan perjanjian memiliki peranan penting dalam membantu upaya memperkuat perlindungan HAM di tingkat nasional. Negara-negara terlibat dalam suatu proses penilaian terhadap dirinya sendiri (self-assessment) guna menentukan sejauh mana HAM telah dilindungi di negaranya. Proses pelaporan. maka concluding observations dan rekomendasi yang praktis dan bertarget dapat memberikan nasihat yang tepat tentang bidang-bidang tertentu yang perlu diperhatikan oleh Negara yang bersangkutan. Pertama. Pentingnya proses pelaporan di tingkat nasional Upaya mendorong Negara-negara untuk mengambil pendekatan yang holistik dalam pelaporan dengan melihat pada serangkaian kewajiban pada perjanjian yang mana mereka menjadi pihak tidak hanya ditujukan untuk mempermudah Negara dalam membuat pelaporan kepada badan perjanjian internasional. yaitu pelaporan perjanjian. Walaupun badan internasional memang meminta laporan-laporan. sebagaimana halnya tim negara dan donor PBB. namun proses pembuatan laporan di tingkat nasional juga penting. 2007 . dan anak-anak di setiap negara. Banyak Negara terlibat dalam proses paralel. pembuatan rencana aksi nasional HAM.

dan Konvensi Hak Anak (pasal 24(c) dan Komentar Umum 3). Sosial. Konvensi Hak Anak (pasal 24(c)). pasal 12(1). Tujuan 2 untuk mencapai pendidikan dasar universal: Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. 4 • Th. dan pasal 32(2). serta Komentar Umum 11). dan Budaya (Komentar Umum 14). Tujuan 4 untuk mengurangi tingkat kematian anak-anak: Konvensi Hak Anak (pasal 6 dan pasal 24(2)(a)). Keseluruhan delapan MDGs dapat dikaitkan dengan ketentuan-ketentuan perjanjian hak asasi manusia atau komentar-komentar umum badan-badan perjanjian (GCs). Konvensi Hak Anak (pasal 24(2) dan pasal 27(3)). Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. dan Budaya (pasal 12(2)(a)) dan Komentar Umum 14). Sosial. Tujuan 5 untuk memperbaiki tingkat kesehatan maternal: Konvensi tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan (pasal 10(h). dan Budaya (Komentar Umum 4 dan 7). Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. dan Komentar Umum 24). Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial (Komentar Umum 25). Sosial. Sosial. Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Sosial. Tempat tinggal kumuh: Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi.Tujuan Pembangunan Millenium (Millenium Development Goals) dan Hak Asasi Manusia Pada 2000. Konvensi Hak Anak (pasal 24(d)). negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa menyepakati delapan tujuan – atau Millenium Development Goals (MDGs) – di mana semua bangsa. dan Budaya (pasal 13 dan pasal 14. Konvensi Hak Anak (pasal 2). Sosial. Tujuan 8 untuk membangun suatu kemitraan global untuk pembangunan: Piagam PBB (pasal 1(3)). Tujuan 6 untuk memerangi HIV/AIDS. Konvenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (pasal 3. dan Budaya (Komentar Umum 14). misalnya melalui usulan legislasi baru atau keten- JURNAL HAM • Vol. Sosial. Sosial. Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial (pasal 5 dan pasal 7). dan Budaya (Komentar Umum 15 dan 14). Tujuan 1 untuk menghapuskan kemiskinan dan kelaparan: Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. pasal6(5). malaria. Sosial. Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial (pasal 5(e)(iv)). Tujuan 3 untuk memajukan kesetaraan genjer dan pemberdayaan perempuan: Konvensi tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan. Tujuan 7 untuk menjamin keberlangsungan lingkungan. dan Budaya (pasal 3 dan pasal 7(a) (i)). dan Budaya (pasal 2). pasal 11(f). pasal 14(b). Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Konvensi Hak Anak (pasal 4). yaitu membantu menjamin pelaksanaan perjanjian-perjanjian yang lebih efektif. 2007 135 . baik yang maju maupun berkembang. dan Budaya (pasal 11 dan Komentar Umum 12). dan penyakit-penyakit lainnya: Panduan Internasional tentang HIV/AIDS dan Hak Asasi Manusia. Konvensi Hak Anak (pasal 28(a) dan Komentar Umum1). akan bekerja bersamasama untuk mencapainya pada 2015. Air minum yang aman dikonsumsi: Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Hasil badan perjanjian dapat memiliki dampak yang signifikan bagi Negara.

2007 136 . Untuk mendaftarkan diri. dan pengacara. Sosial. termasuk laporan-laporan Negara Pihak dan concluding observations dapat diperoleh di situs ini. dan kegiatan-kegiatan lainnya. termasuk status pelaporan oleh negara. dan Budaya (No. beberapa badan perjanjian juga menghadapi kesulitan untuk menangani jumlah laporan yang harus mereka pertimbangkan setiap tahun. kenapa tidak mendaftarkan diri ke “listserv” badan perjanjian secara cuma-cuma? Anda akan menerima pemberitahuan berkala melalui e-mail mengenai rekomendasi badan perjanjian. 10). 17). komentar umum yang menginterpretasikan perjanjian yang bersangkutan. Perluasan dampak tergantung tidak hanya pada Pemerintah. termasuk concluding observations yang dikeluarkan setelah pemeriksaan terhadap laporan Negara Pihak. Lembar Fakta ini tersedia secara cumacuma dari kantor publikasi OHCHR. Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) juga mempublikasi beberapa Lembar Fakta berkaitan dengan pekerjaan badan-badan perjanjian: Prosedur Pengaduan (No. org/english/bodies/treaty/subscribe. keputusan yang diambil mengenai pengaduan individual (jika tersedia). serta masyarakat sipil. atau online di http://www. Pemberitahuan melalui e-mail mengenai rekomendasi badan perjanjian Jika anda tertarik pada pekerjaan badan-badan perjanjian dan ingin mendapatkan informasi mengenai kegiatankegiatan mereka. Diskriminasi terhadap Perempuan: Konvensi dan Komite (No.org/english/ Istilah-istilah teknis berkaitan dengan badan perjanjian Backlog Di samping persoalan keterlambatan dan tidak-adanya pelaporan oleh Negara-negara Pihak. Informasi lebih lanjut mengenai sistem perjanjian HAM PBB Untuk informasi lebih lanjut mengenai perjanjian dan badan perjanjian. 22). kunjungi situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia OHCHR di http://www. 15). Hak Anak (No. 24). Dokumen-dokumen badan perjanjian. Backlog terhadap begitu banyak laporan yang yang menunggu untuk dipertimbangkan oleh komite dapat berarti penundaan sampai dua tahun lamanya dari tanggal penyerahan laporan tersebut oleh Negara Pihak sampai waktu komite memulai pemeriksaan terhadap isi dari laporan. Kebutuhan untuk meminta informasi yang terkini adalah salah satu JURNAL HAM • Vol. Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial (No. tetapi juga pada aktor-aktor lain yang mampu mempengaruhi cara di mana HAM dilindungi dan dimajukan di negara tersebut. 12). Komite Hak Ekonomi. Situs ini memuat informasi mengenai proses pelaporan Negara. 7). dan Hak Pekerja Migran (No. about/publications/sheets/htm. institusi nasional HAM. kunjungi situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) dan masuk ke “badanbadan perjanjian” (“human rights bodies”).ohchr.tuan tentang pelatihan HAM bagi pejabat/ pegawai Negara. termasuk parlemen nasional dan regional. 4 • Th. hakim-hakim. Komite Menentang Penyiksaan (No. 16). Hak Sipil dan Politik: Komite Hak Asasi Manusia (No. htm.ohchr.

Dokumen inti/utama Suatu dokumen yang diserahkan oleh Negara Pihak kepada Sekretaris Jenderal yang memuat informasi hal-hal umum mengenai negara yang relevan dengan semua perjanjian. Komentar kesimpulan (concluding comments) Lihat “concluding observations”. struktur politik umum. dan juga berpartisipasi bersama dua orang anggota komite lainnya dalam pertemuan antarkomite. pelapor (rapporteur) atau anggota lain yang ditugaskan oleh komite. Metode kerja yang lebih efisien dapat mengurangi backlog tersebut. Biro Biro biasanya terdiri dari ketua. Gagasan dialog konstruktif menekankan pada kenyataan bahwa badan perjanjian bukan merupakan badan yudisial (walaupun beberapa di antaranya memiliki fungsi quasi-yudisial). Juga dirujuk sebagai “concluding comments” oleh beberapa komite sesuai dengan pengistilahan di perjanjiannya. 2007 kan bahwa tindakan lebih lanjut perlu diambil oleh Negara. Concluding observations Pengamatan dan rekomendasi yang dikeluarkan oleh suatu badan perjanjian setelah mempertimbangkan laporan Negara Pihak. dan dapat dilaksanakan. pertemuan secara paralel di dua tempat untuk mempertimbangkan laporanlaporan dari tahun 2005. Dialog konstruktif Praktik yang diadopsi oleh semua badan perjanjian dengan mengundang Negaranegara Pihak untuk mengirimkan delegasinya guna menghadiri pertemuan di mana laporan mereka dipertimbangkan dalam rangka memberikan kesempatan kepada Negara-negara Pihak tersebut untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan anggota dan menyediakan informasi tambahan mengenai upaya mereka dalam melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian yang relevan. Dokumen inti/utama diperkenalkan pertama kalinya pada 1991 di pertemuan para ketua 137 . misalnya. terfokus. serta harus memberikan perhatian bagi langkah-langkah guna menjamin tindak lanjut efektif terhadap concluding observations-nya.alasan mengapa praktik pembuatan daftar pertanyaan diadopsi oleh kebanyakan badan perjanjian. Badan perjanjian bertugas menghasilkan concluding observations yang konkret. Orang tersebut mengetuai pertemuan sesuai dengan peraturan tata tertib yang telah disepakati. Dokumen umum Istilah alternatif untuk “dokumen inti/ utama yang diperluas”. Ketua Setiap badan perjanjian memilih salah satu anggotanya untuk bertindak sebagai ketua untuk jangka waktu dua tahun. Concluding observations mengacu baik pada aspek positif pelaksanaan perjanjian oleh suatu negara maupun bidang-bidang di mana badan perjanjian merekomendasiJURNAL HAM • Vol. yang bertemu untuk memutuskan tentang persoalan-persoalan prosedural dan administratif yang berkaitan dengan pekerjaan komite. Para ketua badan perjanjian bertemu setiap tahunnya untuk mengkoordinasikan kegiatan badan perjanjian. wakil ketua. dan kerangka hukum umum yang melindungi HAM di Negara tersebut. 4 • Th. termasuk informasi mengenai tanah dan penduduk. Pertimbangan terhadap kondisi negara tanpa adanya laporan Lihat “prosedur peninjauan”. tetapi hanya dibentuk untuk memonitor pelaksanaan perjanjian.

Deklarasi Negara dapat memilih atau diwajibkan untuk membuat deklarasi berkaitan dengan perjanjian di mana Negara menjadi pihak. Tujuan dari deklarasi interpretasi adalah untuk mengklarifikasi arti beberapa ketentuan atau keseluruhan perjanjian. yaitu sebagai berikut: Deklarasi tentang interpretasi Negara dapat membuat deklarasi tentang pemahamannya terhadap persoalan yang tercantum dalam. mengajukan pertanyaan kepada delegasi pada saat pertemuan. misalnya. yang secara keseluruhan bertanggung jawab terhadap pembuatan daftar persoalan. Dokumen ini memuat suatu bagian awal yang umum di semua laporan ke badan perjanjian. salah satu di antara mereka adalah pelapor negara. Negara Pihak tidak boleh membuat derogasi terhadap hak-hak tertentu dan tidak boleh mengambil langJURNAL HAM • Vol.badan perjanjian sebagai suatu cara untuk mengurangi pengulangan informasi yang ditemukan di laporan Negara-negara ke berbagai badan perjanjian. berdasarkan pasal 41 Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. Hal yang sama. ketentuan tertentu di perjanjian. Ada beberapa jenis deklarasi. Pelapor negara biasanya memimpin dalam membuat daftar persoalan. Negaranegara Pihak pada Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang keterlibatan anakanak dalam konflik bersenjata diharuskan membuat deklarasi wajib berdasarkan pasal 3(2) yang menetapkan usia minimum yang mengijinkan rekrutmen berdasarkan pilihan bebas (voluntary) di angkatan bersenjata nasionalnya serta suatu deskripsi jaminan yang diadopsi guna menjamin bahwa rekrutmen semacam itu tidak dipaksakan. Negara dapat membuat deklarasi opsional bahwa Negara menerima kompetensi Komite Hak Asasi Manusia untuk mempertimbangkan pengaduan antarNegara. Satuan kerja laporan Negara (country report task force) Komite Hak Asasi Manusia telah menugaskan satuan kerja laporan Negara untuk mengerjakan persiapan pertimbangan laporan-laporan yang sebelumnya dilakukan oleh kelompok kerja prapertemuan. 2007 138 . Deklarasi tentang interpretasi seperti ini. untuk membuat derogasi yang bersifat khusus dan sementara terhadap beberapa hak sejauh yang dibutuhkan oleh situasi di Negara tersebut. Beberapa perjanjian hak asasi manusia mengijinkan Negara-negara Pihak. dan membuat concluding observations untuk dibahas dan diadopsi oleh komite. Satuan kerja ini bertemu pada saat pertemuan pleno. setidaknya untuk jangka waktu sementara. dalam hal darurat publik yang mengancam kehidupan bangsa. Deklarasi opsional dan wajib Perjanjian dapat membiarkan Negara membuat deklarasi opsional dan/atau wajib. 4 • Th. Deklarasi ini bersifat mengikat secara hukum bagi yang membuat deklarasi. Pelapor negara (country rapporteur) Kebanyakan komite menunjuk seorang anggotanya sebagai pelapor negara untuk setiap Negara Pihak yang sedang dipertimbangkan. Oleh karena itu. yang dinominasikan oleh Ketua. Derogasi Derogasi adalah langkah yang diadopsi oleh Negara Pihak yang menangguhkan sebagian pelaksanaan satu atau lebih ketentuan dari perjanjian. Satuan kerja laporan Negara terdiri dari empat sampai enam anggota. tidak berarti meniadakan atau memodifikasi dampak hukum dari perjanjian. Namun. tidak se- perti halnya reservasi. atau interpretasi tentang.

29 Komite Hak Asasi Manusia) Divisi Pengembangan Perempuan (DAW) Bertempat di Departemen Bidang Ekonomi dan Sosial (Department of Economic and Social Affairs atau DESA). Tindak lanjut Prosedur yang dibuat guna menjamin bahwa Negara-negara Pihak menindaklanjuti rekomendasi yang ada dalam concluding observations badan perjanjian atau keputusan badan perjanjian terhadap kasuskasus yang diangkat dalam prosedur pengaduan. Institusi-institusi Nasional HAM. Parlemen. Beberapa komite telah mengadopsi prosedur tindak lanjut formal dan semua komite mewajibkan Negara-negara untuk mencantumkan tindak lanjut tersebut dalam laporan berkala mereka. dari seorang individual yang menyatakan bahwa hakhaknya berdasarkan salah satu perjanjian telah dilanggar oleh Negara Pihak. Dokumen inti/utama yang diperluas bertujuan untuk semakin mengurangi pengulangan informasi dalam berbagai laporan dengan menyediakan informasi mengenai ketentuan-ketentuan tentang hak-hak yang substantif di seluruh atau beberapa perjanjian. Rekomendasi umum Lihat “komentar umum”. Diprediksikan bahwa dokumen inti/utama yang diperluas akan diserahkan kepada setiap badan perjanjian bersama dengan laporan khusus perjanjian yang lebih terfokus. Biasanya Negara-negara diwajibkan untuk menginformasikan kepada Negara Pihak lainnya tentang derogasi tersebut. serta ada kekhawatiran bahwa informasi spesifik yang biasanya ditemukan di laporan perjanjian yang terpisah akan hilang dalam suatu laporan yang menyimpulkan secara luas. Komentar umum Interpretasi suatu badan perjanjian terhadap isi ketentuan-ketentuan HAM. di mana JURNAL HAM • Vol. (Lihat Komentar Umum No.kah-langkah yang bersifat diskriminatif. dan masyarakat sipil memiliki peranan penting dalam tindak lanjut tersebut. serta Komisi untuk Status Perempuan. Komentar Umum juga sering disebut “rekomendasi umum” (Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial dan Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan). dan menentukan tanggal habisnya masa berlaku derogasi tersebut. 2007 139 . Komentar umum seringkali digunakan untuk memperjelas kewajiban pelaporan Negara-negara Pihak berkaitan dengan ketentuan-ketentuan tertentu dan menyarankan pendekatan-pendekatan dalam melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. Pengaduan individual Suatu pengaduan formal. organisasi nonpemerintah. Komunikasi individual Lihat “pengaduan individual”. Dokumen inti/utama yang diperluas Gagasan untuk memperluas ruang lingkup dokumen inti/utama muncul pada saat proses konsultasi yang dilakukan oleh badan perjanjian sebagai respon terhadap usulan Sekretaris Jenderal bahwa Negaranegara diijinkan untuk menyerahkan laporan tunggal kepada semua badan perjanjian. memberikan alasan mengenai derogasi. DAW berkantor di Markas Besar Perserikatan BangsaBangsa di New York dan memberikan dukungan terhadap Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan. baik yang terkait dengan suatu artikel khusus atau suatu persoalan tematis yang lebih luas. Suatu laporan tunggal dianggap akan mempersulit prosedur dan akan sulit digunakan. 4 • Th.

misalnya dengan pengarusutamaan proses pelaporan melalui dokumen inti/utama yang diperluas. Hak yang akan dipertimbangkan dalam pengaduan individual harus dinyatakan diterima oleh Negara Pihak yang bersangkutan dengan membuat suatu deklarasi berdasarkan pasal perjanjian yang relevan (bagi Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dan Komite Menentang Penyiksaan) atau dengan meratifikasi atau mengaksesi protokol opsional pada perjanjian yang memberikan hak bagi pengaduan individual (Protokol Opsional Pertama pada Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik serta Protokol Opsional Kovenan tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan). Daftar persoalan dan/atau pertanyaan Suatu daftar persoalan atau pertanyaan yang dibuat oleh suatu badan perjanjian berdasarkan laporan Negara Pihak dan informasi lain yang tersedia bagi badan perjanjian tersebut (informasi dari badanbadan khusus PBB. Informasi mengenai status pelaporan Negara-negara Pihak pada setiap perjanjian tersedia dari database badan-badan perjanjian di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) atau dalam dokumen HRI/GEN/4. yang diserahkan kepada Negara Pihak jauh-jauh hari sebelum pertemuan di mana badan perjanjian akan mempertimbangkan laporan tersebut. dan sebagainya). Institusi-institusi Nasional HAM (National Human Rights Institutions/ NHRI) Banyak negara telah membentuk institusi nasional HAM untuk memajukan dan melindungi HAM. Suatu standar internasional yang dikenal sebagai Prinsip-prinsip Paris telah disepakati untuk mengukur independensi dan integritas institusi-institusi nasional HAM ini. Beberapa komite mendorong Negara Pihak untuk menyerahkan tanggapan tertulis sebelum pertemuan dilaksanakan. Ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan pengaduan individual berdasarkan Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya belum berlaku. dalam praktiknya. Institusi-institusi semacam ini semakin diakui sebagai bagian yang penting dalam sistem perlindungan HAM di tingkat nasional. dan Budaya serta Konvensi Hak Anak. 2007 140 . Informasi lebih lanjut mengenai NHRIs. Keterlambatan pelaporan Setiap perjanjian memperkirakan penyerahan laporan secara berkala. Daftar persoalan merupakan sumber informasi yang up-to-date bagi komite berkaitan dengan Negara yang laporannya mungkin sudah menunggu selama dua tahun untuk dipertimbangkan. yang memungkinkan dialog membicarakan hal-hal yang spesifik dengan lebih cepat. tergantung pada sejauh mana independensinya dari kontrol pemerintah dapat dijamin. 19: JURNAL HAM • Vol. organisasi nonpemerintah. Daftar persoalan menyediakan suatu kerangka bagi dialog yang konstruktif dengan delegasi Negara Pihak. banyak Negara menghadapi kesulitan dalam melaksanakan kewajiban pelaporan yang sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan oleh perjanjian di mana mereka menjadi pihak. yang diperbaharui setiap tahunnya. Lihat Lembar Fakta Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) No. dan badan perjanjian telah berupaya mencari cara untuk mempermudah Negaranegara membuat laporan. Persoalan keterlambatan pelaporan ini diidentifikasi sebagai salah satu dari banyak tantangan yang dihadapi oleh sistem pelaporan perjanjian. Saat ini belum ada hak pengaduan individual di Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Sosial.beberapa badan perjanjian memiliki kompetensi untuk mempertimbangkannya. 4 • Th.

Institusi-institusi Nasional untuk Pemajuan dan Perlindungan Hak Asasi Manusia. Organisasi nonpemerintah Organisasi nonpemerintah dapat terlibat dalam pemajuan HAM, baik secara umum maupun berfokus pada suatu persoalan tertentu. Terdapat suatu kerangka bagi partisipasi organisasi nonpemerintah di berbagai mekanisme HAM PBB, seperti pemberian status konsultatif di Dewan Ekonomi, Sosial, dan Budaya yang memberikan kesempatan kepada organisasi nonpemerintah untuk berpartisipasi dalam Komisi Hak Asasi Manusia. Organisasi nonpemerintah internasional dan nasional mengikuti pekerjaan badan-badan perjanjian dari dekat dan kebanyakan badan perjanjian memberikan kesempatan pada mereka untuk memberikan masukan dalam proses pelaporan, misalnya melalui pemberian informasi tambahan berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian di suatu negara (seringkali dirujuk sebagai laporan “bayangan” atau “paralel”). Terdapat perbedaan dalam bagaimana setiap badan perjanjian memperlakukan informasi ini. Hal ini tergantung pada apakah organisasi memiliki status konsultatif dari Dewan Ekonomi, Sosial, dan Budaya atau tidak. Organisasi nonpemerintah internasional dan nasional juga memiliki peranan penting dalam mengawasi tindak lanjut pelaksanaan rekomendasi yang di tingkat nasional termuat dalam concluding observations badan perjanjian dan dalam mendorong debat publik di tingkat nasional mengenai pelaksanaan HAM pada masa proses pembuatan laporan dan setelahnya. Organisasi nonpemerintah juga memberikan kontribusi yang penting dalam pemajuan pengesahan perjanjian-perjanjian HAM di dunia.

Tidak-melaporkan (non-reporting) Walaupun sudah dengan bebas menerima kewajiban hukum yang melekat pada perjanjian HAM yang telah mereka ratifikasi, beberapa Negara gagal menyerahkan laporan mereka kepada badan perjanjian yang bersangkutan. Terdapat banyak alasan mengapa Negara-negara gagal melapor, mulai dari adanya perang dan konflik sipil sampai pada keterbatasan sumber daya. Bantuan teknis tersedia dari Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) dan Divisi Pengembangan Perempuan (DAW) untuk membantu Negara-negara dalam memenuhi kewajiban pelaporan mereka. Badan perjanjian juga telah mengadopsi prosedur untuk menjamin bahwa pelaksanaan perjanjian oleh Negara-negara Pihak yang tidak-melapor juga dapat ditinjau, yaitu ketika Negara tersebut tidak memberikan tanggapan terhadap permintaan informasi dari badan perjanjian. Komite juga secara khusus dapat mempertimbangkan situasi di suatu negara tanpa adanya laporan. Informasi mengenai status pelaporan Negara Pihak terhadap setiap perjanjian tersedia dari database badan perjanjian di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) atau dalam dokumen HRI/ GEN/4, yang diperbaharui setiap tahunnya. Situs tersebut juga menyediakan informasi mengenai bantuan teknis yang tersedia bagi Negara-negara Pihak. Protokol opsional Suatu instrumen internasional yang berhubungan dengan suatu dokumen utama dan memberikan kewajiban hukum tambahan bagi Negara-negara yang memilih untuk menerimanya. Protokol opsional dapat dirancang pada saat yang bersamaan dengan perjanjian utamanya, atau dirancang setelah perjanjian utamanya mulai diberlakukan. Protokol opsional pada perjanjian HAM diadopsi untuk sejumlah alasan: memberikan kesempatan bagi Negara-negara Pihak

JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

141

untuk mendaftarkan diri pada kewajiban tambahan berkaitan dengan monitoring internasional terhadap pelaksanaan perjanjian (Protokol Opsional Pertama pada Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, Protokol Opsional pada Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan, Protokol Opsional pada Konvensi Menentang Penyiksaan); memberikan kesempatan pada Negaranegara untuk mengambil kewajiban tambahan ketika hal-hal tersebut tidak termasuk dalam perjanjian utama (Protokol Opsional Kedua pada Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik); atau menanggapi persoalan-persoalan khusus secara lebih detil (kedua protokol opsional pada Konvensi Hak Anak). Periode pelaporan Jangka waktu untuk penyerahan laporan awal dan laporan berkala oleh Negara Pihak pada badan perjanjian ditentukan di setiap perjanjian atau ditentukan oleh komite sesuai dengan jangka waktu perjanjian. Suatu laporan awal diwajibkan dalam suatu jangka waktu tertentu setelah perjanjian mulai diberlakukan di Negara yang bersangkutan; laporan berkala kemudian diwajibkan untuk jangka waktu tertentu. Periode pelaporan berbeda dari satu perjanjian ke perjanjian lainnya. Petisi Suatu istilah kolektif yang mencakup berbagai prosedur untuk mengajukan pengaduan ke hadapan badan perjanjian yang kompeten. Petisi dapat terdiri dari pengaduan individual atau dari Negara Pihak mengenai pelanggaran terhadap ketentuan perjanjian oleh Negara Pihak lainnya. Kelompok kerja prapertemuan Suatu kelompok kerja dibentuk oleh beberapa badan perjanjian sebelum atau setelah pertemuan pleno guna merencanakan pe-

kerjaan mereka di pertemuan-pertemuan selanjutnya. Pekerjaan yang dilakukan oleh kelompok kerja prapertemuan berbeda dari satu komite ke komite lainnya: beberapa komite membuat daftar persoalan dan pertanyaan melalui kelompok kerjanya untuk kemudian diserahkan kepada setiap negara Pihak sebelum pertimbangan terhadap laporannya dilaksanakan; beberapa komite dengan kompentensi untuk mempertimbangkan pengaduan individual menggunakan kelompok kerja untuk membuat rekomendasi awal terhadap kasus dan persoalan lain yang terkait dengan prosedur pengaduan. Kelompok kerja prapertemuan biasanya dilaksanakan secara tertutup. Rekomendasi Suatu rekomendasi atau keputusan formal yang dikeluarkan oleh badan perjanjian. Istilah ini telah digunakan secara tidak konsisten, yaitu digunakan untuk menggambarkan keputusan formal mengenai persoalan-persoalan tertentu, atau resolusi yang lebih umum seperti yang dihasilkan dari diskusi umum. Concluding observations memuat rekomendasi spesifik, dan isitilah “rekomendasi badan perjanjian” sering digunakan secara bersamaan dengan “concluding observations”. Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial dan Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan juga merujuk pada komentar umum mereka sebagai “rekomendasi umum”. Panduan pelaporan bagi Negaranegara Pihak Panduan tertulis yang dihasilkan bagi Negara-negara Pihak oleh setiap badan perjanjian, yang memberikan nasihat mengenai bentuk dan isi dari laporan yang wajib diserahkan oleh Negara-negara berdasarkan perjanjian yang bersangkutan. Panduan yang terbaru bervariasi pendekatannya: beberapa komite menyediakan panduan yang detil berdasarkan pasal-per-pasal
JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

142

sementara komite lainnya memberikan panduan secara lebih umum (lihat Kompilasi Panduan Pelaporan HRI/GEN/2/ Rev.2). Dalam laporan reformasi keduanya (A/57/387), Sekretaris Jenderal meminta badan-badan perjanjian agar mengadopsi panduan pelaporan yang terharmonisasi. Draf panduan pelaporan yang terharmonisasi ini sedang dibuat oleh komite-komite. Reservasi Reservasi adalah suatu pernyataan yang dibuat oleh Negara yang menyatakan bahwa Negara tersebut meniadakan atau menambahkan dampak hukum beberapa ketentuan dalamperjanjian berkaitan dengan pelaksanaannya di Negara tersebut. Reservasi dapat memfasilitasi Negara untuk berpartisipasi dalam perjanjian multilateral di mana Negara tersebut dapat tidak mampu ataupun tidak bersedia melakukannya. Negara-negara dapat membuat reservasi terhadap suatu perjanjian ketika mereka menandatangani, meratifikasi, menerima, menyetujui, atau mengaksesinya. Ketika suatu Negara membuat reservasi ketika penandatanganan, maka Negara harus menegaskan kembali reservasi tersebut pada saat ratifikasi, penerimaan, atau persetujuan. Reservasi diatur oleh Konvensi Wina tentang Hukum Perjanjian, dan tidak bisa bertentangan dengan tujuan perjanjian. Oleh karena itu, Negara-negara dapat membuat reservasi ketika menandatangani, meratifikasi, menerima, menyetujui, atau mengaksesi suatu perjanjian, kecuali jika (a) reservasi dilarang oleh perjanjian; atau (b) perjanjian mensyaratkan bahwa hanya dapat dilakukan reservasi spesifik, yang tidak termasuk reservasi yang dimaksudkan. Negara-negara Pihak lain dapat mengajukan keberatan terhadap reservasi suatu negara Pihak. Kapan pun, reservasi dapat ditarik atau dibatalkan secara penuh atau sebagian oleh Negara Pihak.
JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

Prosedur peninjauan Suatu prosedur di mana badan perjanjian akan mempertimbangkan situasi di negara tanpa adanya laporan dari Negara Pihak tersebut. Prosedur ini digunakan dalam hal ketika laporan terlambat untuk jangka waktu yang lama dan Negara Pihak tidak menanggapi permintaan badan perjanjian akan laporan tersebut. Di banyak kasus, Negara-negara Pihak menyerahkan laporan mereka untuk menghindari prosedur peninjauan; di kasus lainnya, Negara-negara memilih untuk mengirimkan delegasinya ke pertemuan badan perjanjian dan menjawab pertanyaan dari para ahli badan perjanjian walaupun mereka belum dapat menyerahkan laporannya. Prosedur peninjauan pertama kali diadopsi oleh Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial pada 1991. Komite lain menggunakan istilah “pertimbangan terhadap situasi suatu negara tanpa adanya laporan”. Beberapa Komite memberikan suatu daftar persoalan kepada Negara Pihak walaupun tidak ada laporan. Kebanyakan komite menghasilkan concluding observations di akhir proses, namun hal ini dapat dirahasiakan untuk jangka waktu tertentu jika Negara tersebut berkeinginan menyerahkan laporannya. Peraturan tata tertib (rules of procedure) Aturan-aturan formal yang diadopsi oleh badan perjanjian guna mengatur cara-cara bagaimana badan perjanjian tersebut melakukan pekerjaannya. Setiap komite diberikan kewenangan oleh perjanjian yang bersangkutan untuk mengadopsi peraturan tata tertibnya sendiri. Peraturan tata terbit biasanya mencakup permasalahan seperti pemilihan pejabat dan prosedur pengambilan keputusan khususnya ketika tidak bisa dicapai konsensus. Peraturan tata tertib berkaitan, tetapi berbeda, dengan metode kerja.

143

TCB juga memberikan dukungan bagi Komisi Hak Asasi Manusia. Laporan bertarget atau terfokus Lihat “laporan-khusus perjanjian”. Subkomisi Pemajuan dan Perlindungan Hak Asasi Manusia. Badan-badan khusus. tidak terdapat perbedaan antara perjanjian. yang mengindikasinya langkah-langkah yang diadopsi guna melaksanakan perjanjian serta faktor-faktor dan hambatan-hambatan yang ditemuinya. Dana Bantuan Anak-Anak Perserikatan BangsaBangsa (UNICEF). dan Dana Sukarela Perserikatan Bangsa-Bangsa bagi Korban Penyiksaan. dalam hukum internasional. konvensi. Komisi Tinggi untuk Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR). UNAIDS. Semua merupakan instrumen hukum internasional yang mengikat secara hukum. konvensi atau kovenan. UNFPA. yang diikuti oleh laporan berkala secara periodik. Organisasi Buruh Internasional (ILO). Semua badan perjanjian mengijinkan partisipasi formal badan-badan PBB dalam proses pertimbangan laporan melalui ketentuan tentang informasi tambahan mengenai negara berkaitan dengan laporan Negara tersebut. 4 • Th. dan program dalam sistem PBB yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan PBB. baik dalam pelaksanaan kewajiban berdasarkan perjanjian maupun dalam proses penulisan laporan bagi badan-badan perjanjian. yang harus diserahkan secara berkala kepada badan perjanjian. Perjanjian dan Cabang Komisi (Treaties and Commision Branch/TCB) Di Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia(OHCHR). dan program Berbagai badan khusus. Setiap badan perjanjian memiliki sekretariat. Sekretariat Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan adalah bagian dari Divisi Pengembangan Perempuan (DAW) dalam Departemen Bidang Ekonomi dan Sosial (DESA) yang berkantor di New York. dan program PBB terlibat dalam sistem perjanjian HAM. termasuk memajukan dan melindungi HAM. OCHA. kovenan. yang terdiri dari seorang sekretaris dan pegawai internasional lainnya. dan Organi- sasi Kesehatan Dunia (WHO). Badan-badan khusus. dana. JURNAL HAM • Vol. UNESCO. Sebelumnya disebut sebagai “Perwakilan Pelayanan Dukungan” (“Support Service Branch/SSB”). atau instrumen Secara hukum. berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian tersebut. Perjanjian. 2007 144 . yang mengatur agenda komite dan mengkoordinasikan program kerjanya. termasuk FAO. Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP). Negara-negara yang memilih untuk menerima kewajiban yang termuat di dalamnya. UNIFEM.Sekretaris/sekretariat Setiap perjanjian mewajibkan Sekretaris Jenderal PBB untuk menyediakan dukungan sekretariat bagi badan perjanjian tersebut. TCB berkantor di Palais Wilson di Jenewa. yang berkantor di Sekretariat PBB. Beberapa badan khusus juga memberikan bantuan teknis kepada Negara-negara. UN-HABITAT. Setiap perjanjian mewajibkan adanya suatu laporan awal yang komprehensif dalam jangka waktu tertentu setelah ratifikasi. dana. Laporan Negara Pihak Laporan yang diwajibkan kepada setiap Negara Pihak pada suatu badan perjanjian. TCB memberikan dukungan pada sekretariat bagi semua badan perjanjian kecuali Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. dana. Sekretariat badan-badan perjanjian lainnya berkantor di Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) di Jenewa.

Beberapa perjanjian. Dalam banyak hal. hanya terbuka bagi Negara-negara. Metode kerja setiap badan perjanjian berubah sesuai dengan beban kerja dan faktor-faktor lainnya. persetujuan. Negara tersebut harus (1) menyatakan kesediaannya untuk diikat oleh suatu perjanjian melalui tindakan ratifikasi. Kedua dokumen. 4 • Th. Perjanjian menggunakan istilah “komite”. Beberapa juga disebut sebagai “badan monitoring-perjanjian”. tetapi komite juga dikenal sebagai “badan perjanjian” karena setiap komite dibentuk sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian yang diawasinya.untreaty. jika dibaca bersama. Praktik-praktik semacam itu tidak selalu diadopsi secara formal dalam peraturan tata tertib. penerimaan. akan membentuk suatu laporan Negara Pihak. atau aksesi.un. Untuk menjadi pihak. Kedua Kovenan dan Kovenan Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial terbuka bagi penandatanganan dan ratifikasi oleh “Negara Anggota PBB atau 145 . Tanggapan tertulis terhadap daftar persoalan merupakan lampiran atau pembaharuan dari laporan Negara Pihak. sementara beberapa lainnya juga terbuka bagi entitas-entitas lain yang memiliki kapasitas untuk membuat perjanjian. Penjelasan lebih lanjut dapat diperoleh dari Kantor Urusan Hukum Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Office of Legal Affairs (http://www. Walaupun sering dirujuk sebagai “laporan khusus-perjanjian”. laporan kepada setiap badan perjanjian akan terdiri dari suatu dokumen umum bagi semua komite dan suatu dokumen khusus-perjanjian bagi setiap badan perjanjian. walaupun mereka menerima dukungan dari Sekretariat PBB dan melapor kepada Majelis Umum. Negara Pihak Negara Pihak adalah suatu Negara yang sepakat untuk diikat oleh suatu perjanjian berdasarkan hukum internasional. terdapat gerakan untuk mengarusutamakan dan mengharmonisasikan metode kerja dalam pertemuan tahunan para ketua badan perjanjian. Laporan/dokumen khusus-perjanjian Usulan dokumen inti/utama atau umum yang diperluas akan diserahkan kepada setiap badan perjanjian secara bersamaan dengan dokumen khusus-perjanjian yang berfokus pada persoalan-persoalan yang berkaitan secara khusus dengan perjanjian yang bersangkutan.Badan perjanjian atau komite Suatu komite yang terdiri dari ahli-ahli independen yang ditugaskan untuk memonitor pelaksanaan Negara-negara Pihak atas setiap perjanjian internasional hak asasi manusia yang utama.org). komite bersifat independen dari sistem PBB. khususnya karena pendekatan-pendekatan JURNAL HAM • Vol. seperti perjanjian-perjanjian hak asasi manusia. Metode kerja Prosedur dan praktik yang dikembangkan oleh setiap badan perjanjian untuk memfasilitasi pekerjaannya. dan (2) tanggal mulai berlaku perjanjian yang bersangkutan di Negara tersebut. Tanggapan/jawaban tertulis terhadap daftar persoalan Jawaban tertulis Negara Pihak terhadap daftar persoalan dan pertanyaan badan perjanjian yang diserahkan sebelum pertemuan di mana laporan tersebut akan dipertimbangkan oleh komite. 2007 yang berbeda dari setiap komite telah menyebabkan kebingungan dan ketidak-konsistenan. Bagaimana suatu Negara dapat menjadi Negara Pihak pada perjanjian Berikut dijelaskan mengenai proses bagaimana suatu Negara mengikat dirinya pada ketentuan-ketentuan perjanjian dalam hukum internasional sebagai Negara Pihak. Akhir-akhir ini.

seperti halnya perjanjian-perjanjian hak asasi manusia. penerimaan. Perjanjian HAM utama lainnya terbuka bagi semua Negara. atau persetujuan. penerimaan. penandatanganan mengindikasikan keinginan Negara untuk mengambil langkah-langkah untuk diikat oleh perjanjian di kemudian hari. penerimaan. penerimaan. Untuk meratifikasi perjanjian. Bagaimana caranya suatu Negara bisa menjadi pihak pada suatu perjanjian? Setiap perjanjian HAM memuat ketentuanketentuan yang menentukan. Penandatanganan juga menciptakan kewajiban untuk menahan diri dalam niatan yang baik dari tindakan-tindakan yang bertentangan dengan tujuan perjanjian dalam jangka waktu antara penandatanganan dan ratifikasi. biasanya menjadi ditandatangani yang kemudian diikuti oleh ratifikasi. 2007 . Negara melakukan hal tersebut dengan menyerahkan “instrumen ratifikasi” kepada Sekretaris Jenderal PBB. Dengan mensyaratkan bahwa penandatanganan harus diikuti oleh ratifikasi maka Negara-negara memiliki waktu untuk mencari kesepakatan bagi perjanjian di tingkat domestik dan untuk menegakkan peraturan-peraturan yang diperlukan guna melaksanakan perjanjian di tingkat nasional.anggota badan-badan khususnya. oleh Negara Pihak mana pun pada Statuta Pengadilan Internasional. kecuali Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang keterlibatan anak-anak dalam konflik bersenjata yang terbuka bagi Negara mana pun yang menyetujuinya. kapan perjanjian tersebut akan mulai diberlakukan. atau melalui aksesi. dan kedua. dan oleh Negara mana pun yang telah diundang oleh Majelis Umum PBB”. jika Negara menyatakan persetu- 146 JURNAL HAM • Vol. Negara harus menyatakan persetujuannya untuk diikat oleh perjanjian. Dalam hal tersebut. sesuai denga pasal-pasal terakhir dari perjanjian tersebut. pertama. bagaimana Negara-negara harus melanjutkan proses mengikat diri terhadap ketentuanketentuan substantif perjanjian. Perjanjian HAM menentukan bahwa persetujuan dapat diberikan baik melalui penandatanganan yang diikuti dengan ratifikasi. atau persetujuan Ratifikasi. Dengan kata lain. penandatanganan adalah langkah persiapan guna mencapai ratifikasi perjanjian oleh Negara. pertama kali. atau persetujuan. penerimaan. Ratifikasi. tindakan penandatanganan tidak menentukan adanya kewajiban hukum positif terhadap Negara. Protokol opsional dibatasi hanya bagi Negara-negara Pihak pada perjanjiannya. Namun. Negara harus menandatangani perjanjian. suatu Negara harus menunjukkan keinginannya untuk melaksanakan semua hak dan kewajiban hukum yang termuat dalam perjanjian melalui tindakan nyata. Dengan kata lain. atau persetujuan. yaitu ketika suatu Negara memberikan persetujuannya untuk diikat oleh perjanjian yang telah ditandatanganinya. Untuk menjadi pihak pada perjanjian multilateral. 4 • Th. Penandatanganan Perjanjian-perjanjian multilateral. sebelum mengambil kewajiban hukum berdasarkan perjanjian di tingkat internasional. Suatu Negara dapat menyatakan persetujuannya untuk diikat oleh perjanjian dengan beberapa cara. Dalam kondisi tertentu Negara juga dapat mengikat dirinya melalui suksesi. Banyak perjanjian mensyaratkan jumlah minimum Negara Pihak sebelum perjanjian tersebut mulai berlaku sebagai hukum internasional. atau persetujuan mengacu pada tindakan definitif yang diambil di tingkat internasional.

maka Negara terikat secara hukum oleh perjanjian sebagai salah satu Negara Pihaknya. Negara penggantinya dapat memilih meratifikasi atau mengaksesi perjanjian yang bersangkutan dalam kapasitasnya sendiri. Suksesi Suksesi terjadi hanya dalam kasus-kasus di mana suatu Negara yang menjadi pihak pada perjanjian mengalami transformasi konstitusional yang besar yang menimbulkan keraguan apakah pernyataan persetujuan untuk diikat oleh perjanjian yang telah diberikan sebelumnya tetap sahih. Namun. tidak seperti ratifikasi. Namun. Negara yang bersangkutan harus memberitahukan Sekretaris Jenderal PBB mengenai niatnya untuk menggantikan kewajiban hukum tersebut. Negara menunjukkan keinginannya untuk melaksanakan hak dan 147 . 2007 kin terjadi dan prosedur yang dipakai tergantung pada ketentuan-ketentuan dalam perjanjian yang bersangkutan. 4 • Th. yang mungkin diperlukan oleh Negara sesuai dengan ketentuan-ketentuan konstitusionalnya sebelum Negara tersebut menyatakan persetujuan untuk diikat secara internasional. Tindakan yang diperlukan di tingkat internasional juga perlu dilakukan. Pada umumnya. maka proses tersebut disebut aksesi (lihat di bawah). atau persetujuan. Aksesi biasanya digunakan oleh Negara-negara yang ingin menyatakan persetujuan mereka untuk diikat oleh perjanjian ketika tenggat waktu penandatanganan telah lewat. penyatuan negara federasi atau serikat. banyak perjanjian multilateral modern dapat diaksesi bahkan pada masa perjanjian terbuka bagi penandatanganan. Pembedaan antara ratifikasi/aksesi dengan mulai berlaku Tindakan di mana Negara menyatakan persetujuannya untuk diikat oleh perjanjian berbeda dengan mulai berlakunya perjanjian tersebut. aksesi hanya mensyaratkan satu langkah. yang harus diawali dengan penandatanganan untuk menciptakan kewajiban hukum yang mengikat berdasarkan hukum internasional. maka Negara harus melaksanakan perjanjian tersebut di tingkat nasional. Negara tersebut dapat menyatakan persetujuannya untuk terus diikat oleh kewajiban hukum sebagaimana dilakukan oleh Negara Pihak yang asli yang berlaku untuk wilayah teritorial yang sama melalui tindakan suksesi.juannya untuk diikat tanpa pertama kali menandatangani perjanjian. tidak boleh disamakan dengan ratifikasi di tingkat nasional. Dalam kondisi-kondisi tersebut. yang mengindikasikan komitmen Negara kepada masyarakat internasional untuk melaksanakan kewajibannya. Ratifikasi di tingkat internasional. Ratifikasi di tingkat nasional tidak cukup kuat sebagai pernyataan keinginan Negara untuk diikat di tingkat internasional. yaitu penyerahan instrumen aksesi. Dalam hal ini. atau sebagai alternatif. Kondisi semacam ini termasuk kemerdekaan (misalnya. penerimaan. Kondisi-kondisi di mana aksesi mungJURNAL HAM • Vol. Ketika suatu Negara telah meratifikasi perjanjian di tingkat internasional. Aksesi Aksesi adalah tindakan ketika suatu Negara yang belum menandatangani suatu perjanjian menyatakan persetujuannya untuk menjadi pihak pada perjanjian tersebut dengan menyerahkan “instrumen aksesi” kepada Sekretaris Jenderal PBB. dan penarikan diri suatu Negara atau entitas dari Negara atau federasi. melalui dekolonialisasi). Aksesi memiliki dampak hukum yang sama seperti ratifikasi. tidak ada pembatasan waktu untuk meminta Negara meratifikasi perjanjian yang telah ditandatanganinya. Setelah ratifikasi.

Kebanyakan perjanjian memperkirakan bahwa perjanjian akan mulai berlaku setelah adanya ratifikasi. Bagaimana saya bisa mengetahui apakah suatu perjanjian sudah mulai berlaku di suatu Negara? Sumber yang pasti adalah Tempat Penyimpanan Perserikatan BangsaBangsa. atau aksesi. mulai berlakunya perjanjian berkaitan dengan suatu Negara adalah saat di mana perjanjian tersebut benar-benar mengikat secara hukum bagi Negara Pihak tersebut. Siapa pun yang ingin mengajukan pengaduan terhadap Negara Pihak kepada badan perjanjian berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian atau protokol opsionalnya harus memastikan bahwa instrumen tersebut telah diberlakukan di Negara yang bersangkutan. Tanggal ini juga menentukan tanggal-tanggal Negara harus menyerahkan laporannya kepada badan perjanjian.org. perjanjian tidak mengikat secara hukum bagi Negara mana pun. Perjanjian tidak dengan serta merta mulai berlaku: biasanya ada masa tunggu yang diatur dalam perjanjian antara tanggal penyerahan instrumen dan tanggal mulai berlakunya. maka mungkin akan terdapat beberapa tanggal pada perjanjian berkaitan deJURNAL HAM • Vol. Tanggal Sebagai konsekuensi dari hal tersebut di atas. yang mempunyai daftar perjanjian multilateral yang diserahkan kepada Sekretaris Jenderal. Mulai berlaku secara pasti Masa mulai berlakunya suatu perjanjian secara pasti adalah waktu yang menetapkan perjanjian baru tersebut sebagai instrumen hukum yang mengikat bagi Negaranegara yang telah menyatakan persetujuannya untuk diikat oleh ketentuan-ketentuan dalam perjanjian tersebut. Mulai berlaku bagi suatu Negara Ketika perjanjian sudah mulai berlaku secara umum. penerimaan.un. Mengapa tanggal mulai berlaku penting? Ini adalah tanggal di mana hak-hak yang diatur dalam perjanjian mengikat Negara dalam hukum internasional. dan masa mulai berlaku khusus bagi Negara tertentu. penerimaan. Ada dua jenis mulai berlakunya perjanjian: mulai berlakunya perjanjian sebagai instrumen hukum internasional secara pasti. Situsnya http://untreaty. maka ketentuan-ketentuan tambahan menentukan kapan perjanjian mulai berlaku bagi Negara atau organisasi internasional tambahan yang ingin terikat dengan perjanjian tersebut. Ketentuan-ketentuan perjanjian menentukan saat mulai berlaku tersebut. baik yang sudah meratifikasi maupun mengaksesinya (walaupun Negara-negara tersebut tetap berkewajiban untuk menahan diri dalam niatan yang baik dari tindakan-tin- dakan yang bertentangan dengan tujuan perjanjian tersebut). 2007 148 . atau aksesi yang diserahkan kepada Sekretaris Jenderal dalam jumlah tertentu. biasanya dengan masa tunggu satu bulan atau sekitarnya.kewajiban hukum berdasarkan suatu perjanjian melalui penyerahan instrumen ratifikasi. persetujuan. Sampai tanggal tersebut. Mulai berlaku Mulai berlakunya suatu perjanjian adalah saat ketika suatu perjanjian benar-benar mengikat secara hukum negara-negara yang menjadi pihaknya. Daftar ratifikasi perjanjian HAM utama tersedia di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR). persetujuan. Sedangkan. 4 • Th.

ngan suatu Negara: Tanggal mulai berlakunya suatu perjanjian secara pasti: yaitu tanggal yang ditentukan dalam perjanjian yang menunjukkan kapan perjanjian mulai berlaku secara umum dalam hukum internasional dan mulai mengikat Negara-negara yang telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan. Jangka waktu tersebut beragam antara satu perjanjian dengan perjanjian lainnya. Tanggal mulai berlaku bagi Negara: yaitu tanggal yang ditetapkan oleh perjanjian tentang kapan perjanjian mulai secara formal mengikat Negara dalam hukum internasional. Sosial. Kebanyakan perjanjian mensyaratkan jangka waktu tertentu antara tanggal penyerahan instrumen sebelum perjanjian mulai berlaku dan mengikat secara hukum. 4 • Th. Hal ini tidak memiliki dampak hukum kecuali menahan diri dari tindakantindakan yang bertentangan dengan tujuan perjanjian. Kalkulasi tanggal mulai berlakunya perjanjian Perjanjian Kovenan Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. 2007 149 . Tanggal penyerahan instrumen ratifikasi atau aksesi: yaitu tanggal kapan tempat penyimpanan perjanjian PBB menerima instrumen hukum yang menyatakan persetujuan Negara untuk terikat pada perjanjian. dan Budaya Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan Konvensi Menentang Penyiksaan Konvensi Hak Anak Diadopsi 21 Desember 1965 Tanggal mulai berlaku 4 Januari 1969 Tanggal mulai berlaku bagi Negara Pihak Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan 16 Desember 1966 16 Desember 1966 18 Desember 1979 3 Januari 1976 3 bulan setelah tanggal penyerahan 23 Maret 1976 3 bulan setelah tanggal penyerahan Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan 3 September 1981 10 Desember 1984 20 November 1989 26 Juni 1987 2 September 1990 Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan JURNAL HAM • Vol. Tanggal penandatanganan: yaitu tanggal kapan Negara menandatangani perjanjian.

Konvensi Internasional tentang Perlindungan terhadap Hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya Protokol Opsional Pertama Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Protokol Opsional Kedua Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Tentara Anak Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Penjualan Anak Protokol Opsional Konvensi Menentang Penyiksaan 18 Desember 1990 1 Juli 2003 Pada hari pertama bulan berikutnya setelah 3 bulan setelah tanggal penyerahan 3 bulan setelah tanggal penyerahan 16 Desember 1966 23 Maret 1976 15 Desember 1989 11 Juli 1991 3 bulan setelah tanggal penyerahan 6 Oktober 1999 22 Desember 2000 3 bulan setelah tanggal penyerahan 25 Mei 2000 18 Januari 2002 12 Februari 2002 Belum diberlakukan (dibutuhkan 20 Negara Pihak) 1 bulan setelah tanggal penyerahan 1 bulan setelah tanggal penyerahan Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan 25 Mei 2000 18 Desember 2002 150 JURNAL HAM • Vol. 2007 . 4 • Th.

Sosial dan Budaya (Revisi 1) No. 3 : Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia (Revisi 1) : Layanan Penasihat dan Kerja Sama Teknis di Bidang Hak Asasi Manusia (Revisi 1) : Metode-metode Menentang Penyiksaan (Revisi 1) : Penghilangan Orang Secara Paksa atau Tidak dengan Sukarela (Revisi 2) : Prosedur Komunikasi (Revisi 1) : Hak Penduduk Asli (Revisi 1) No. 24 : Hak Pekerja Migran No. 9 No. 25 : Penyingkiran Secara Paksa dan Hak Asasi Manusia No. 18 : Hak Kelompok Minoritas JURNAL HAM • Vol. 5. 26 : Kelompok Kerja untuk Penahanan Sewenang-wenang No. 29 : Pegiat Hak Asasi Manusia: Perlindungan Hak Untuk Membela Hak Asasi Manusia No. 4 No. 27 : Tujuh Belas Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Pelapor Khusus PBB No. No. 19 : Lembaga Nasional untuk Memajukan dan Melindungi Hak Asasi Manusia No. 1. 13 : Hukum Humaniter Internasional dan Hak Asasi Manusia No.Daftar Lembar Fakta Hak Asasi Manusia:* No. 15 : Hak Sipil dan Politik: Komite Hak Asasi Manusia (Revisi 1) No. 4 • Th. 20 : Hak Asasi Manusia dan Pengungsi No. 10 : Hak Anak (Revisi 1) No. No. 12 : Komite Penghapusan Dikriminasi Rasial No. 2 No. 14 : Bentuk-Bentuk Perbudakan Masa Kini No. 17 : Komite Menentang Penyiksaan No. 30 : Sistem Perjanjian Hak Asasi Manusia Perserikatan BangsaBangsa:Pengantar terhadap Perjanjian Hak Asasi Manusia Utama dan Badan-badan Perjanjian * Lembar Fakta No. 28 : Dampak Kegiatan Tentara Bayaran terhadap Hak Orang-orang Untuk Menentukan Nasibnya Sendiri No. 2007 151 . 22 : Diskriminasi terhadap Perempuan: Konvensi dan Komite No. 21 : Hak atas Perumahan yang Layak No. 8 tidak lagi dipublikasikan. 11 : Hukuman Mati di Luar Hukum Secara Cepat dan Sewenang-wenang (Revisi 1) No. 7 No. 16 : Komite Hak Ekonomi. 6 No. dan No. 23 : Praktik Tradisional yang Berbahaya bagi Kesehatan Perempuan dan Anak No.

lebih rendah lagi. Di Kabupaten Sikka lebih parah lagi. soal kewajiban minimum. Masing-masing bidang memiliki indikator. melindungi dan melaksanakan. Sementara di Kabupaten Sikka dan Jayapura. Harry Wibowo. merupakan hak penting yang satu sama lain saling terkait dan menentukan. Sementara untuk masalah pelayanan kesehatan indikatornya adalah ketersediaan. Indramayu mencapai 4. keteraksesan. Untuk masalah hak pendidikan ada empat hal. Kedua. bertindak (obligation of conduct) dan berkewajiban mencapai hasil (obligation of result). 103). keterimaan dan kualitas. Penelitian dari tiga daerah ini menunjukkan bahwa terjadinya keterlambatan dalam pelayanan pendidikan. Gambaran di mana Negara. Potret di tiga lokasi penelitian yang menjadi locus. ketersediaan. Ketiga. Pengantar : Abdul Hakim Garuda Nusantara Editor : Harry Wibowo dan Anharudin Penerbit : CESDA-LP3ES. dalam kadar serta intensitas tertentu. Wildan Pramudya. Banyak kondisi fisik bangunan sekolah dan sarana pendukung yang kurang memadai. lebih rendah dibandingkan angka rata-rata di Jawa Barat yang 24%. keteraksesan. Rahadi’T Wiratama. Burhanudin. Angka-angka berikut mengkonfirmasi fakta itu. Ketersediaan sarana pendidikan masih menjadi problem. menggambarkan situasi umum di negeri ini. 195+xxiv Hasil survey yang kemudian diterbitkan menjadi buku ini. Peluang kebebasan untuk mendirikan lemJURNAL HAM • Vol. 2005. Widodo Dwi Putro. dan Jayapura Penulis : Naning Mardiniah. Pendidikan dan kesehatan. mengkonfirmasi persepsi yang berkembang selama ini mengenai pelayanan kesehatan dan pendidikan yang masih jauh dari harapan.Akses Terhadap Pendidikan dan Kesehatan: Peristiwa Tiga Daerah Judul Buku : Meneropong Hak Atas Pendidikan dan Layanan Kesehatan: Analisis Situasi di Tiga Kabupaten: Indramayu. Keterlambatan ini. Sikka. Negara memiliki kewajiban untuk. Setiap Negara dituntut untuk memenuhi kebutuhan minimum untuk bertindak secara komisi maupun secara omisi. lebih-lebih jika dilihat bahwa angka putus sekolah itu terjadi pada jenjang pendidikan SD (h. Angka ini jelas sangat tinggi. Tingkat layanan pendidikan di Indramayu. 4 • Th. yaitu soal kebebasan. penghormatan dan promosi terhadap terpenuhinya Hak Ekonomi Sosial Budaya (HESB). Angka putus sekolah di Kab. menghormati. pertama. dan kebersesuaian. 2007 152 . Abdul Mun’im Dz.5%. khususnya pelayanan pendidikan kepada anak. belum mampu menjamin penegakan. Seperti diketahui bersama. menunjukkan rendahnya kualitas kepedulian pemerintah daerah dan masyarakat.

Banyak faktor yang melatar belakangi mengapa pelaksanaan pelayanan pendidikan dasar belum memenuhi standar minimum.baga pendidikan tidak dimanfaatkan oleh masyarakat. akan tetapi tidak dengan sendirinya bisa menghentikan laju angka putus sekolah. 149). fasilitas buku pelajaran yang minim. Tidak semua Puskesmas memiliki tenaga dokter. Secara lebih spesifik di Kabupaten Jayapura. Di Kabupetan Sikka. Jadi. ada tiga kewajiban utama pemerintah terkait hal tersebut. Hal ini terjadi karena beberapa sebab. telah menghapuskan biaya pendidikan dasar. minimnya tenaga pengajar sehingga banyak kelas yang kosong. buruknya ruang belajar dan banyaknya siswa yang kurang gizi sehingga sulit menangkap pelajaran dari gurunya. Siswa yang sudah lulus SD pun. Sebagian besar prasarana jalan raya di Kab. 159). 27 dokter umum. Untuk bisa memenuhi standar minimum saja masih jauh. sulitnya lokasi baik untuk dijangkau tenaga pengajar maupun siswa. melindungi dan memenuhi. problem mendasarnya adalah masalah keteraksesan dari segi jarak. salah satunya adalah konflik status kepemilikan tanah yang tidak kunjung diselesaikan oleh Pemda. Tidak semua kondisi Puskesmas dalam kondisi siap pakai. Sikka dan Jayapura masih rendah jika diukur dari standar minumum. meskipun pendidikan dasar merupakan suatu yang wajib dan harus dilakukan secara gratis. 154). menjadikan kebijakan Pemda/Pemerintah menggratiskan layanan kesehatan. sebagaimana ditemukan pada SD Distrik Genyem. Temuan yang diungkapkan dalam buku ini mengindikasikan bahwa masalah kesehatan mengindikasikan pemerintah. 7 dokter gigi dan 175 bidan desa. Terjadi ketimpangan dalam rasio distribusi. Aspek pelayanan minimumpun. Pada satu Puskesmas misalnya. 166) Hal yang sama juga terjadi dalam masalah pelayanan kesehatan. yaitu to respect. 4 • Th. Kualitas layanan JURNAL HAM • Vol. tanggung jawab pemerintah ini akan dilihat dari aspek ketersediaan.137). Di tingkat kabupetan. masyarakat mengalami kesulitan untuk mendapatkan akses pelayanan kesehatan (h. Banyak bangunan sekolah yang tanahnya dalam status sengketa dengan masyarakat adat (h. Gambaran lebih dramatis terjadi di Kabupaten Jayapura. Apa yang terjadi di Kab. 107). Prasarana jalan sulit itu. menjadi tidak mengena. Paling tidak. keteraksesan dan keberterimaan. banyak yang belum bisa baca-tulis dan berhitung (h. Dibandingkan kabupaten sekitarnya. banyak problem yang terjadi. belum memenuhi tanggung jawabnya dalam memenuhi hak-hak kesehatan dasar bagi masyarakat. terjadi konsentrasi te- 153 . kemudian buku ini menarik benang merah. Pada level masyarakat masih ditemui kasus-kasus yang menghambat pelaksanaan pendidikan. to protect dan to fulfill. Menghargai atau menghormati. Kendati Pemda Jayapura. ada yang kondisi bangunannya rusak berat dan tidak bisa dipakai (h. akan tetapi masih jauh dari harapan. belum tersedia Rumah Sakit Umum dan tidak semua kecamatan memiliki Puskesmas. Tenaga medis yang tersedia. dan sebagai akibatnya. problem yang menghambat terpenuhinya hak kesehatan masyarakat adalah distribusi tenaga medis yang tidak merata. pada aspek pemenuhan ini. 2007 kesehatan di Kabupaten Indramayu. tampaknya belum terpenuhi (h. sementara pemerintah sendiri belum mampu menyediakan sarana dan prasarana pendidikan dasar yang memadai (h. Jayapura adalah gambaran yang paling menyedihkan. Jayapura belum selesai. Dari sini. kondisinya sangat jauh dari kabupaten lain.

Ellyasa KH Darwis 154 JURNAL HAM • Vol. 2007 . sebagian besar masyarakat tidak memiliki akses terhadap air bersih sebagai akibatnya derajat kesehatan masyarakat juga rendah. Dari aspek ketersediaan. Jadi tidak akses ke pelayanan kesehatan memang masih belum merata dan bisa dibayangkan bagaimana masyarakat yang ada di desa (h. untuk bisa mengakses harus ke Puskesmas Kecamatan lain. Namun dari sisi kualitas layanan. tidak ada dokter sama sekali. masih perlu dilihat lagi. bidang kesehatan hanya mendapat alokasi anggaran sejumlah 0. pembangunan kesehatan masih bersifat kuratif. Akan tetapi penerapan prinsip-prinsipnya yang kemudian dianggap sebagai bagian dari pelaksanaan otonomi daerah. Tak hanya itu. 4 • Th. 125-131). di sana sini terjadi ambivalensi dan tidak jarang reductive. Pertama. Sementara untuk Kab. Dan untuk pembangunan kesehatannya hanya sekitar 7 milyar per tahunnya. Pada kebijakan kesehatan. meskipun secara nasional telah tegas akan tetapi banyak daerah tingkat dua yang tidak menjadikannya sebagai mainstream dalam pembangunan. kebijakan pemerintah masih banyak mene- kankan aspek kuratif daripada promotif dan preventif. jika dilihat dari standard minimum. pelaksanaannya di daerah belum diiringi perspektive dan komitment mendalam untuk memenuhi hak-hak rakyat. setidaknya pemerintah telah menyediakan secara memadai sarana dan prasarana kesehatan. Meskipun di tingkat nasional telah digariskan dengan sejumlah peraturan hukum dan kebijakan politik. Itu sebabnya. upaya pelaksanaan di lapangan yang terjadi sekadar memenuhi kuantitas dan belum ditunjukkan kearah peningkatan kualitas. Sementara dalam masalah pendidikan. Indramayu. akses tentu tampak lebih dibanding Kab. Temuan di lapangan menunjukkan ada dua problem dalam akses kesehatan.naga dokter sementara pada Puskesmas tertentu. Mun’im menyarankan agar Puskesmas yang berfungsi sebagai pusat kesehatan masyarakat mengubah paradigma layanannya dari aspek kuratif ke promotif dan preventif. Pasalnya. Laporan tiga daerah itu secara tegas menyuratkan kenyataan bahwa masalah pendidikan dan kesehatan. dan perlindungan bagi masyarakat miskin juga masih rendah. Sayangnya. rendahnya keteraksesan masyarakat terhadap informasi tentang kesehatan yang melahirkan munculnya perilaku hidup yang tidak sehat dan rendahnya keterjangkauan masyarakat untuk mengakses layanan kesehatan yang disediakan pemerintah. masyarakat di kecataman yang Puskesmasnya tidak tersedia tenaga dokter. Kedua. pembangunan kesehatan belum menjadi arus utama pembangunan. Problem kesehatan yang terjadi adalah soal akses untuk hidup sehat. Kebijakan Pemerintah dari sisi anggaran. Memang lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Sikka. Karenanya. Oleh karena itu. secara umum.4 % dari APBD. Dari segi infrastruktur. Banyaknya kasus diare dan demam berdarah di Indramayu akibat sanitasi lingkungan yang buruk. sosialisasi kebijakan kesehatan masih rendah. masih belum menjadi mainstream dalam program pembangunan di negeri ini. Jayapura maupun Sikka. Salah satu kasusnya adalah akses masyarakat terhadap air bersih. ketersediaan tenaga medis.

Beberapa kali terlibat dalam pekerjaan Komnas HAM antara lain menjadi evaluator majalah Komnas HAM “SUAR”. 1999 dan 2005 mengikuti sesi sidang Komisi HAM. Sengketa Konstitusional Lembaga-lembaga Negara (2005).TENTANG PENULIS Yoseph Adi Prasetyo. 2003-2006 bekerja di Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi manusia Indonesia. 4 • Th. Beliau juga aktif dalam beberapa penelitian. Naskah Akademik JURNAL HAM • Vol. Membangun Koalisi yang Otoritatif Dalam Menilai Proses Pembentukkan Perundang-undangan yang Partisipatif (2005). Email : stanley@komnasham. Penerima Beasiswa the British Chevening Scholarship (2001/2002) untuk LL. Inkonsistensi dan Separatisme Jakarta: Mengapa Tanah Papua Terus Bergolak? (2005). anggota Tim Ad Hoc Kerusuhan 13-14 Mei 1998 (2003). antara lain: Buku Panduan Bantuan Hukum di Indonesia (2006). Juga menjadi penyelia penerbitan sejumlah ornop yang disandangnya sejak 1996.M in International Human Rights Law di University of Essex. menjadi fasilitator dalam menyusun rencana kerja Komnas HAM. menjadi fasilitator dan pendamping kelompok minoritas (antara lain masyarakat adat dan orang Tionghoa) dan memimpin tim riset dan penelitian kekerasan yang dilakukan Polri untuk Subkomisi Pemantauan Komnas HAM (2004). 60 Menit Memahami (Mengawasi) Penyusunan Peraturan Perundang-undangan (2005). 1995-2002 bekerja di Institut Sosial Jakarta. jabatan terakhirnya adalah Direktur Eksekutif Institut Studi Arus Informasi (ISAI) dan penulis lepas.id Henri Simarmata. Zen. 2007 155 . Inggris. Aktif dalam berbagai seminar dan lokakarya HAM serta menulis sejumlah makalah berkaitan dengan HAM di Indonesia A. 2004-2006 menjadi anggota Komite Eksekutif Forum Asia sebagai wakil PBHI – termasuk menjadi Ketua Komite Eksekutif (November 2005-Februari 2006) Adhi Santika saat ini menjabat Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hak-hak Kelompok Rentan Badan Penelitian dan Pengembangan HAM. Sekarang menjadi Anggota Komnas HAM pada Subkomisi Pendidikan dan Penyuluhan (2007-2012).go. Buku Pintar. yaitu mengkoordinir penelitian Gerakan Demokrasi di Indonesia (2002-2003) dan mengkoordinir survei dan penelitian “Aktor Demokrasi di Indonesia” (2000-2002). Beliau juga adalah salah satu anggota Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Penulis. Tak Ada Hak Asasi yang Diberi (2005). Ketua Ad Interim Badan Pengurus Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia. Dalam bidang organisasi beliau menjadi Majelis Etik AJI Jakarta (2003-2005) serta menjadi anggota Pokja Reformasi Polri yang dibentuk oleh POLRI-Kemitraan sejak 2003. Patra M. Refleksi dan Penyusunan Strategi Mewujudkan Partisipasi Masyarakat dalam Penyusunan Peraturan Perundang-undangan (2005). Departemen Hukum dan HAM. editor dan co-editor buku.

29 September 1999). Aceh dan Timor Timur (Timor Leste). Hendardi pernah menerima berbagai penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri. Recent Developments in Human Rights in Indonesia after the Adoption of the National Plan of Action of Human Rights 1998 – 2003 (Preparatory Workshop on the Capacity Building in International Labour Standard and Human Rights in Indonesia. Yang bersangkutan sebelumnya bertugas menangani isu-isu HAM di Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) pada Perserikatan Bangsa-Bangsa New York. Sejak tahun 1996. April 18. July 2003 (with Distinction) dengan area spesiali- 156 JURNAL HAM • Vol.M dari Tulane Law School. Indonesia and the New Human Rights Council (The Jakarta Post. saat ini Direktur Eksekutif Social and Economic Rights Action Centre (SiDAN).Madison. dalam bidang political science. Lesson learnt from world leaders’ school diplomacy (The Jakarta Post. 4 • Th. seperti di Lampung. Pernah menjadi Ketua Komite Pembelaan Mahasiswa (KPM ITB)1979-1981 yang ditangkap oleh rejim Soeharto. May 20.D. Australia. Shameful modern slavery (The Jakarta Post. Emilie Hafner-Burton mendapatkan gelar Ph. 2006). dan Hukum Perdata di Indonesia (2001).Rancangan Undang-undang tentang Pengadaan Barang dan Jasa Publik (2004). dan kerap melakukan investigasi di daerahdaerah konflik. 2006). Jakarta. dan juga penghargaan HAM dari Menteri Negara Urusan Hak Asasi Manusia RI (29Agustus 2000). South Africa (The United Nations Chronicle. 2005). New York. 2006). 2006). November 8. Diantaranya dari lembaga prestisius seperti Human Rights Watch(1993). Bogor: 28 . Kritik dan saran dapat melalui patra. Koalisi Partisipasi (2003). The quiet revolution in Indonesia’s human rights (The Jakarta Post. The World Conference against Racism. May 10.m. Tahun 1997 hingga tahun 2004 Jonny Sinaga bekerja di Direktorat Organisasi Internasional Departemen Luar Negeri sekaligus menjadi anggota Kelompok Kerja HAM Deplu. Hendardi. Hendardi menjabat sebagai ketua Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI). Tahun 1993-1997 bertugas di Bagian Politik Kedutaan Besar RI di Canberra. Durban. Kemudian aktif dilingkaran Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Waktu senggangnya digunakan untuk menulis yang antara lain muncul dalam Jurnal PBB New York dan harian the Jakarta Post. conducted by ILO. Reforming the UN Human Rights Commission (dengan Mulyadi) (The Jakarta Post.dari University of Wisconsin . Jonny Sinaga saat ini bekerja di Departemen Luar Negeri Republik Indonesia sebagai Kepala Sub-Direktorat Hak Sipil dan Politik. 2005). June-August 2001 edition). Tulisannya antara lain: The spirit of May 20 (The Jakarta Post. April 19. dari tahun 2000-2004. Tahun 1987 menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan tahun 1992 memperoleh gelar LL. New Orleans.zen@gmail. March 28. Hasil Studi Identifikasi Potensi Land Reform di Indonesia (1998). Tahun 19881993 bertugas di Direktorat Perjanjian Internasional Departemen Luar Negeri. Amerika Serikat. Considering General Election in Aceh under the Martial Law (2004). Land Reform by Leverage In Indonesia (1998). 2007 .com Andik Hardiyanto. Penulis Agenda Land Reform di Indonesia Sekarang.

Korespondensi langsung kepada Emilie Hafter-Burton. pp. “International Human Rights Law and the Politics of Legitimation: Repressive States and Human Rights Treaties. eds.ac. special edition of the Journal of Conflict Resolution. April 2008.” Co-authored with Kiyo Tsutsui.. pp. forthcoming (under revision). 593-629. Journal of Peace Research. 42(6).” With Dimitris Assimakopoulos and Sean Everton. 2007 157 . American Journal of Sociology. E-mail: Emilie.” Coauthored with Kiyoteru Tsutsui. Forthcoming.uk Kiyoteru Tsutsui.” Cornell University Press. State University of New York. 83. eds. April 2008. Saat ini menjadi Assistant Professor.. 2008. 1. Vol. 110(5). adalah peneliti utama dengan spesialisasi bidang politik. Publikasinya antara lain: “Redressing Past Human Rights Violations: Global Dimensions of Contemporary Social Movements.” International Organization. 2005.” With Emilie Hafner-Burton. 587-620.ox.” With Christine Min Wotipka.” Co-authored with James Ron. Montgomery. American Journal of Sociology. Hafner-Burton and Ron. “Preventing Human Rights Abuse. 115-141. forthcoming. 19... “Justice Lost! The Failure of International Human Rights Law to Matter Where Needed Most. Montgomery. 2004. Journal of Conflict Resolution. 2006. 50(1).” Co-authored with Alexander H.1986). forthcoming (under revision). 3-27. International Journal of Technology JURNAL HAM • Vol. Woodrow Wilson School of Public and International Affairs and the Department of Politics. sejarah. 44(4). 23(1). dan hak asasi manusia di Stony Brook. “The Semiconductor Community in Silicon Valley: A Network Analysis of the Semi Genealogy Chart (1047 . “The Hegemon’s Purse: No Economic Peace Between Democracies. 2. forthcoming. Beberapa karya tulisannya adalah: Agreements. Journal of Peace Research. 379-383. 4 • Th. Oxford OXI 1 NF. 63-88. “Global Civil Society and the International Human Rights Movement: Citizen Participation in Human Rights International Nongovernmental Organizations. “Human Rights in a Globalizing World: The Paradox of Empty Promises. Saat ini tengah mengkaji mengenai ekspansi global hak asasi manusia dan dampaknya terhadap politik lokal. sosiologi.sasi International Relations and Methodology. pp. Vol. “Human Rights Practices in a Globalizing World: The Paradox of Empty Promises.. Journal of Conflict Resolution.. 2007. pp. Inggris. 59(3). Universitas Oxford. “Power or Plenty: Do International Trade Organizations Shape Economic Sanctions?” Co-authored with Alexander H..” Journal of Peace Research.hafner-burton@nuffield.” Sociological Forum. “Sticks and Stones: Naming and Shaming and the Problem of Human Rights Enforcement” International Organization.” Coauthored’with Jana von Stein. 2005. 13731411. and Conflict. pp. 44(4). “Global Civil Society and Ethnic Social Movements in the Contemporary World. “International Organizations Count: What Statistics Show Us (and Don’t Show Us) About IOs. Dia mendapatkan Social Science Research Council Abe Fellow pada 2004-2005 dan Visiting Assistant Professor di Stanford University for the 2005-2006. 2005. “Trading Human Rights: How Preferential Trade Agreements Influence Government Repression. 2007.679-698. pp. No. New Road. 99-108.. No. 5.. Princeton University.. Journal of Peace Research. 2004. 2005. gerakan sosial. “Power Positions: International Organizations.” Social Forces. pp. 1373-1411. Hafner-Burton. pp. International Sociology. 45(1). “Right or Robust? The Sensitive Nature of Political Repression in an era of Globalization. Social Networks. 110. von Stein and Gartzke.” Co-authored with Alexander Montgomery. Social Forces. 407-425.2008. Vol. No.” Co-authored with Kiyoteru Tsutsui and John Meyer. Nuffield College.

Management. Vol. No. CPSM. 181-199. 6. menjadi tenaga analis data pada Desk Aceh Komnas HAM. 2003.sunysb. “Status in the World System and Ethnic Mobilization. 691-720. praktisi media dan peneliti pada Swamedia Research and Communication (SRC) Jakarta . 158 JURNAL HAM • Vol. Pernah aktif di LKIS Yogyakarta. Saat darurat militer. 2007 . WALHI. 4 • Th. Journal of Conflict Resolution. 1/2. No.edu Ellyasa KH Darwis. 42. Vol.cc.” With Susan Olzak. December 1998. Korespondensi dapat ditujukan ke ktsutsui@notes. 25. KIPP Indonesia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful