Vol. 4 No. 4 Th. 2007
ISSN 1693-6027

JURNAL HAM
2007

Diterbitkan oleh : KOMISI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA ©2007
JURNAL HAM • Vol. 4 No. 4 Th. 2007

i

JURNAL HAM
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Semua artikel dalam Jurnal HAM ini dapat digandakan untuk keperluan pemajuan hak asasi manusia dengan menyebutkan sumbernya. Pemberitahuan akan sangat dihargai.

Penanggung Jawab Pemimpin Redaksi

: Yoseph Adi Prasetyo Saharudin Daming : Atikah Nuraini

Redaktur Pelaksana : S.M.Gusrini Tambunan Dewan Redaksi : Rusman Widodo Kurniasari Novita Dewi Sasanti Amisani : Banu Abdillah : J. Eddy Juwono : J. Eddy Juwono

Distribusi Rancangan sampul Tata Letak

162 halaman, 16 x 24 cm

Diterbitkan oleh

: Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) JL. Latuharhary No. 4 B Menteng Jakarta 10310 Tel. +62-21-3925230 ext 218/219 Fax. +62-21-3912026 Email: info@komnasham.go.id Website: http://www.komnasham.go.id : Perkumpulan Omega
JURNAL HAM • Vol. 4 No. 4 Th. 2007

Dicetak oleh

ii

............................. Hendardi Hak Asasi Manusia di Dunia yang Terglobalisasi : Paradoks Janji-janji Kosong .................................................................................. 155 JURNAL HAM • Vol........................................................... 4 No.. Henry Simarmata Pelaksanaan ICCPR dan ICESCR dalam Konteks Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN-HAM) 2004-2009 ............................ Zen dan Andik Hardiyanto Kewajiban Negara dalam ICCPR ........................... 102 Resensi Buku ................. Emilie M............. Yosep Adi Prasetyo Kovenan HAM Internasional : Pandangan Umum mengenai Signifikasi dan Perkembangan ....................................... 4 Th................ 152 Tentang Penulis ........................................... Patra M..... A... Adhi Santika Bukan Sekedar Menandatangani: Obligasi Negara Berdasarkan Kovenan Hak Ekosob ........................................................................................................................................... 30 Sistem Perjanjian Hak Asasi Manusia: Pengantar terhadap Perjanjian Hak Asasi Manusia Utama dan Badan-Badan Perjanjian ..........................Daftar Isi Editorial ........................... Hafner-Burton & Kiyoteru Tsutsui 1 4 12 22 38 48 68 Lembar Fakta Perserikatan Bangsa-Bangsa No................................................................................................. Jonny Sinaga Prospek dan Tantangan Implementasi ICCPR .................................. 2007 iii .............

4 Th. 2007 .iv JURNAL HAM • Vol. 4 No.

Thailand urutan ke-76. Moldova. 2007 kawasan Asia pada Juni 1997. Negara yang baru ke luar dari cengkraman konflik seperti Bosnia Herzegovina berada pada urutan ke-66. Filipina. serta hak atas pembangunan. Wacana hak asasi manusia kini bukan lagi sekadar wacana tentang kebebasan sipil. diskrimansi gender. Pada 2005. Apa yang salah dengan proses pembangunan yang digembar-gemborkan selama ini? Tak mudah menjawabnya. 4 • Th. menarik investor luar negeri untuk menanamkan modalnya di Indonesia. sulitnya akses terhadap pelayanan dan infrastuktur dasar. Upaya perwujudan kesejahteraan masyarakat ini harus dilakukan pemerintah yang telah meratifikasi Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. Indonesia adalah negeri satu-satunya yang masih merangkak dan berupaya ke luar dari belitan krisis. Angka-angka optimisistis tentang pertumbuhan ekonomi ternyata tak berbanding lurus dengan kenyataan kemiskinan. Yang mengejutkan adalah negara sosialis yang mengalami pengucilan semacam Kuba mampu menempati uturan ke-52. Bila diteliti lebih mendalam faktor-faktor penentu kemiskinan secara esensial ternyata memiliki korelasi dengan hal-hal yang lebih mendasar. Negara tetangga seperti Korea. dan Honduras. Dalam catatan UNDP. dan Filipina urutan ke-83. Subkomisi Pendidikan dan Penyuluhan periode 2007-2012 1 . Tapi sudah sudah meliputi hak ekonomi. sulitnya masyarakat memperoleh pendidikan. Sosial dan Budaya (International Covenant * Komisioner Komnas HAM. Pemerintah tak boleh lagi berleha-leha menjalankan tugas-tugasnya. atau mendorong komoditi ekspor semata. menekan angka inflasi. Disusul oleh Swedia (urutan 2) dan Australia (urutan 3).Editorial Yosep Adi Prasetyo* Memperbaiki kualitas hidup manusia Indonesia kini bukan sekadar slogan saja. Malaysia urutan ke-59. Hal ini sejalan dengan amanat Pembukaan UUD 45 yaitu mewujudkan negara yang adil-makmur berdasarkan Pancasila. tak meratanya pembangunan infrasutruktur. Sejumlah negara tetangga kita seperti Singapura berada pada urutan ke-25. sulitnya akses pekerjaan (akibat praktek kolusi dan nepotisme). dan budaya. Atau sekadar janji-janji kampanye pada saat menjelang pemilihan presiden. United Nation Development Program (UNDP) mengumumkan temuan mereka akan kemajuan berbagai negara dalam mensejahterakan masyarakatnya yang ditunjukkan melalui Human Development Index (HDI). HDI Indonesia adalah sebesar 0. Bolivia. Malaysia sudah terlebih dulu bangkit. menjaga kestabilan ekonomi makro.692 dan berada di urutan 111. Memecahkan persoalan kemiskinan ternyata bukan sekadar menciptakan lapangan kerja. Jumlah orang miskin justru terus membengkak. Antara lain. Thailand. Negara yang memiliki HDI tertinggi dan berada di urutan satu adalah Norwegia. Tentunya ini bukan sebuah pekerjaan yang mudah. Menyedihkan memang mendapatkan kenyataan bahwa Indonesia terpuruk di bawah dan berada dalam peringkat yang hampir sama dengan negara seperti Vietnam. Di berbagai wilayah di Indonesia masih banyak terdapat kantong-kantong kemiskinan. tapi harus bekerja keras untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Yang jelas sejak didera krisis ekonomi melanda JURNAL HAM • Vol. sosial.

Perda ini secara nyata tak mencantumkan UU No. serta hasil yang telah dicapai dalam pelaksanaan hak-hak ekonomi. Juga hasil-hasil yang dicapai dalam implementasi perjanjian tersebut kepada badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). perda syariah. Social and Cultural Rights – ICESCR) pada 30 September 2005 melalui proses legislasi yang disetujui DPR. Negara yang melakukan tindakan yang dilarang atau bertentangan ICCPR melalui campur tangannya akan dikenai tuduhan melakukan pelanggaran melalui tindakan (violation by action). Bukan hanya itu. sosial dan budaya di Indonesia. kebijakan dan tindakan yang dilakukan. tapi lemah atau gagal dalam implementasinya. Bukan hanya itu. ICESCR disahkan menjadi UU No. 11/2005 dan ICCPR menjadi UU No. Dalam implementasi ini akan tampak apakah pemerintah memang tidak mampu (inability) atau tidak mau (unwilling) untuk menunaikan kewajibannya. 11/2005 dan UU No. tapi juga akan menghambat tujuan dan upaya pemerintah. negara harus aktif untuk melindungi hakhak – melalui tindakannya. 12/2005. Baik yang berupa perda otonomi. Bagaimana mencermati ini semua? Negara yang meratifikasi kovenan ICESCR dan ICCPR harus menghormati hak-hak manusia.000. 11/Th 2005. pasal-pasal dalam perda ini ternyata berlepotan dan bertentangan dengan ketiga undang-undang tersebut. Perda Ketertiban Umum ini bila diimplementasikan bukan tak mungkin bukan hanya akan mengabaikan hak-hak masyarakat. UU No. Selain ICESCR. Dalam hal ini kepada sebuah komite ditunjuk untuk menangani perjanjian tersebut Secara regular. Khususnya dalam merealisasikan kewajiban pemerintah Indonesia untuk memenuhi dan menjalankan kewajibannya sebagai negara yang telah meratifikasi ICESCR dan ICCPR. 2007 . 4 • Th. Pemerintah punya pekerjaan untuk mencermati kembali berbagai peraturan daerah (perda) yang kini jumlahnya telah melebihi angka 1. Dan apabila negara terus saja memberlakukan ketentuan hukum yang bertentangan dengan ICCPR dan ICESCR maka negara akan dikenai tuduhan telah melakukan pelanggaran melalui hukum (violation by judicial). selain bertugas mengimplementasikan ICESCR. 12/2005. pemerintah juga meratifikasi Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights – ICCPR) pada 28 Oktober 2005. langkah-langkah. Jurnal edisi ini sengaja mengangkat masalah dan konsekuensi yang bakal me- 2 JURNAL HAM • Vol. Apabila negara justru tak melakukan apa-apa baik karena lalai dan lupa maupun absent.on Economic. Laporan tersebut harus memuat langkah-langkah dan model kebijakan yang telah diambil. Juga bertentangan dengan Pasal 33 Ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945 serta nilai-nilai sebagaimana pernah diajarkan dalam pelajaran mengenai Pancasila. dan UU No 12/Th 2005 sebagai salah satu konsideransnya. Bisa saja yang terjadi adalah kemajuan dalam langkah-langkahnya. Berbagai macam perda yang tumpang-tindih dan bertabrakan dengan kedua undang-undang tersebut harus segera dicabut karena berpotensi menghambat pelaksanaan hak ekosob dan juga sipol. negara bisa dituduh telah melakukan pelanggaran melalui tindakan pembiaran (violation by omission). pemerintah Indonesia harus membuat laporan dalam periode empat tahun sekali. Contoh yang paling aktual adalah pemberlakuan Perda Ketertiban Umum oleh Pemda DKI Jakarta pada 8 September 2007 lalu. 39/Th 1999. pemerintah Indonesia harus membuat laporan yang bertalian dengan penyesuaian hukum. maupun perda ketertiban yang berpotensi menghambat pelaksanaan UU No. Yang lain.

penghormatan. berkumpul. Persoalan hak-hak manusia di Indonesia telah memasuki tahap di mana kebutuhan untuk menerapkannya telah melampaui kepentingan untuk memperdebatkannya. pemajuan pemenuhan. Hafner-Burton dari Oxford University dan Kiyoteru Tsutsui dari State University of New York. partisipasi dalam politik. Pembuatan RANHAM tak lain merupakan sebuah upaya pembuatan pedoman dan rancangan kebijakan untuk mendorong upaya penerapan. sehingga berbagai sasaran yang belum dapat dipenuhi pada periode yang lalu dapat dilanjutkan pada periode berikutnya. 12/Tahun 2005. “Pelaksanaan ICCPR dan ICESCR dalam Konteks Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN-HAM) 2004-2009”. Hendardi melalui tulisan “Pelaksanaan ICCPR dan ICESCR dalam Konteks Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN-HAM) 2004-2009” konsekuensi yang muncul sebagai akibat diratifikasinya dua kovenan internasional tersebut oleh pemerintah Indonesia. Dengan suatu sistem penilaian tertentu keduanya mencoba melihat sejauhmana perjanjian internasional hak asasi manusia ketika perjanjian tersebut dapat atau tidak dapat memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia di tingkat negara-negara pihak. hukuman mati atau pembunuhan di luar proses hukum. Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia 20042009 sesungguhnya merupakan kelanjutan dari Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia sebelumnya yang dibuat untuk tahun 1998-2003. kini telah meningkat menjadi kenyataan sosiologis yang keras dan konkrit seperti yang dirasakan sebagian orang dalam kasus-kasus perselisihan perburuhan. berpendapat. Semua tulisan dalam edisi ini diharapkan bisa menyumbangkan sebuah wacana konkrit tentang cara pengimplementasian. JURNAL HAM • Vol.nyertai implementasi UU No. Serangkaian kontradiksi dalam realitas sosio-ekonomi dan sosio-politik yang sebelumnya hanya dibahas dan diprediksi secara akademis di lembaga-lembaga studi. serta penyiksaan. Zen dan Andik Hardiyanto melalui tulisan “Bukan Sekedar Menandatangani: Obligasi Negara Berdasarkan Kovenan Hak Ekosob” mengangkat masalah obligasi (kewajiban) internasional yang melekat pada Negara pasca meratifikasi kedua kovenan tersebut. 11/Tahun 2005 dan UU No. yang dapat digunakan untuk menilai pelaksanaan obligasi negara. persoalan. termasuk indikator keberhasilan dan kegagalan. Tulisan Adhi Santika. 4 • Th. lebih banyak menguraikan gambaran seputar RANHAM. 11/2005 dan ICCPR sebagai UU No. dan sudah seharus rejim hak asasi manusia internasional memperbaiki sistem dan mekanisme perlindungan HAM di tingkat internasional. dan tantangan bagi penerapan ICESCR sebagai UU No. Di Jurnal HAM edisi 2007 ini juga disajikan tulisa karya Emilie M. Juga konflik pertanahan atau penghancuran rumah-rumah penduduk dan pendidikan maupun kebebasan bergerak. 12/2005. dan perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia di Indonesia. berserikat. Stony Brook. Juga pembahasan mengenai tema “pelanggaran hak ekosob”. Patra M. 2007 3 . Selamat membaca. Pada tulisan yang lain.

Sosial. either Charter-based or Treaty-based. yang membuat dua Kovenan ini sebagaimana adanya sekarang. dan sebanyak 150 negara atau lebih menjadi pihak Kovenan Ekosob. Social and Cultural Rights (ICESCR). namely. in this regard the international human rights law. Sosial. negara pihak (artinya ne* Riwayat Singkat Penulis: 1995-2002 bekerja di Institut Sosial Jakarta. Dua Kovenan HAM internasional. dan sistem PBB ini mengikat semua negara anggota PBB. Kovenan itu diberlakukan masing-masing 3 Januari 1976 untuk Kovenan Internasional Ekonomi. in developing the what so called the international law. namely. 2003-2006 bekerja di Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi manusia Indonesia. semakin banyak negara yang menjadi ‘pihak’ dalam 2 kovenan tersebut. Lebih khusus lagi. Sejak saat itu.Kovenan HAM Internasional: Pandangan Umum mengenai Signifikasi dan Perkembangan Henry Simarmata* Abstract Indonesia has just ratified the two most important international human rights covenants. The main purposes of the Indonesian are to maintain peace and prevent violence. Otoritas 2 Kovenan: Mengapa perlu? Dua kovenan ini menjadi bagian yang integral dari sistem PBB. Sebanyak 148 negara atau lebih menjadi pihak Kovenan Ekosob. Setelah resolusi itu. dengan resolusi 2200a (XXI). Budaya). Fakta pertama yang paling jelas adalah bahwa 2 (dua) Kovenan Internasional ini terkait dengan mekanisme Komisi HAM PBB. 2007 4 . either for the government and other state’s institutions or for the victims of human rights violation as well as human rights defenders. kovenan ini menjadi mekanisme yang bersifat mengikat. The two Covenants could become part of the effort of legal reform to improve human rights condition in Indonesia. yang sekarang ini sudah diratifikasi dengan Undang-Undang 11 tahun 2005 (untuk Kovenan Ekonomi. the International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) and the International Covenant on Economic. the United Nations. The two Covenants are related with the history of the world organization. 2004-2006 menjadi anggota Komite Eksekutif Forum Asia sebagai wakil PBHI – termasuk menjadi Ketua Komite Eksekutif (November 2005-Februari 2006) JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. dan dengan Undang-Undang 12 tahun 2005 (untuk Kovenan Sipil dan Politik). Budaya (selanjutnya disebut Kovenan Ekosob). dan 23 maret 1976 untuk Kovenan Internasional Sipil dan Politik (selanjutnya disebut Kovenan Sipol). dan disahkan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 16 Desember 1966. 1999 dan 2005 mengikuti sesi sidang Komisi HAM. The human rights law was developed as mechanisms. Sejak tahun 1976. mempunyai muatan sejarah dan ‘otoritas yang mengikat’. The implications of these ratifications are enormous.

yaitu terbentuknya rejim perdamaian dan deterrent (daya tangkal) atas kekerasan. mempunyai struktur sebagai berikut: 1. Artinya. Dengan ini. dan tantangan dari masing-masing Kovenan. terutama dengan peristiwa Holocaust (dan ini yang kedua terbesar. jelas bahwa yang menjadi penghubung dari kesemuanya itu adalah persoalan otoritas 2 kovenan itu. setelah Pembantaian Masyarakat Armenia di masa Perang Dunia I). Mendorong terwujudnya hukum internasional Penjelasan di atas juga berlaku dalam hal kedua ini. 4 • Th. perdagangan gelap senjata. baik jika dapat kita ulas dan lihat secara khusus sisi lain dalam tulisan ini. dinamika dalam enforcement 4. Persoalan seperti human trafficking. Melihat hal ini. minus otoritas veto). karena melewati 1 Dalam penulisan artikel ini. ijinkan saya untuk menaruhnya di depan. implementasi. Dalam tulisan lain dalam jurnal ini. Perang II yang jauh lebih dahsyat dan jauh lebih sistematis dianggap sebagai sesuatu yang tidak bisa ditolerir. Dalam konteks hak asasi manusia. Tidak ada satu negarapun yang sanggup menanganinya secara sendiri. kemerosotan kondisi hak asasi manusia yang terjadi amat cepat menjadi bahan ekspos media. terutama dibandingkan dengan Liga Bangsa-Bangsa. dan tentu dengan mekanismenya yang diharapkan bisa lebih efektif. ada beberapa hal yang patut dilihat untuk menggali dimensi “mengapa”nya. 2007 5 . dan kemudian anggota PBB menyadari bahwa perlu ada satu rejim yang dapat memberikan promosi dan perlindungan terhadap perdamaian dan kemanusiaan warga dunia. dengan ini. antara lain. misalnya. ada alasan untuk me- naruh pertanyaaan ‘mengapa’ di bagian terakhir artikel. Hal itu diwujudkan dengan pendirian PBB. adalah suatu fenomena transnasional. Jika tidak ada 1. antara lain. setidaknya. Namun. Artikel ini. evaluasi terhadap indivisibility dari 2 kovenan (dengan mengelaborasi pemikiran Amartya Sen) JURNAL HAM • Vol. Untuk itu.1 bukan hanya batas kemanusiaan. ada 2 hal yang dapat dipenuhi dengan pendirian PBB dan mekanismenya. Pendiri PBB. yang mulai Juni 2006 akan penuh menjadi Dewan HAM (dengan demikian sejajar. dalan tulisan ini.gara yang meratifikasi) terikat dengan mekanisme dalam Komisi HAM PBB. baik sebagai organisasi dunia maupun dalam mempromosikan perdamaian. Namun. Persoalannya adalah bahwa jika kemudian kekerasan dilakukan dan menjadi pola. tetapi juga batas ‘akal sehat’. saya berharap pembaca mendapat ‘clue’ terhadap artikel-artikel berikutnya. amat sulit untuk menanganinya karena ada pertentangan tersebut. Lebih lanjut dapat dijabarkan bahwa sistem hukum dunia yang fractured dianggap sebagai salah satu masalah yang harus ditangani dengan mendorong efektivitas PBB. agresi bersenjata. Mendorong terwujudnya rejim dan deterrent PBB dibentuk semasa akhir Perang Dunia II. akan menjalankan mekanisme tersebut. dijelaskan secara lebih rinci mengenai soal kewajiban negara pihak. Bagaimana Dewan HAM PBB. mengingat tulisan ini ditaruh dalam bagian pertama bunga rampai (dalam jurnal). karena sifatnya yang evaluatif. 2. Hukum internasional dapat secara terus-menerus bertentangan dengan hukum nasional. Dengan ini. dengan Dewan Keamanan PBB. PBB didirikan dengan kesadaran bawah Liga BangsaBangsa tidak efektif. akan membuat kovenan itu efektif mencegah dan/atau menangani pelanggaran HAM. signifikasi dari 2 kovenan (‘mengapa’) 3. fakta dasar (yang singkat) 2.

(Untuk proses acara special session. maka special session berarti bahwa pembahasan reguler berhenti. Peran dan sumbangan terbesar mekanisme HAM PBB. dapat dengan mudah diakses masyarakat luas. di tahun 1999. Mekanisme ini dimulai dan dikembangkan. Dari informasi dan proses acara ini kemudian dilaksanakan special session2 di dalam sidang Komisi HAM PBB di tahun 1992. dalam Alston 2000). Jika sedang tidak ada sidang. Inform-consent dan public action Ijinkan juga saya menggunakan pemikiran Amartya Sen (Sen. Kasus serdadu anak (child soldiers) di DRC/Kongo (dalam istilah setempat dikenal dengan istilah kadogo). dapat dikatakan bahwa pelanggaran HAM seringkali terjadi berlarut-larut karena tidak ada informasi. but menghasilkan comment. Kosovo menjadi special session dan itu menghentikan pembahasan reguler yang waktu itu sedang berlangsung). Dua kovenan ini mempunyai seperangkat instrumen yang memungkinkan untuk diambilnya suatu tindakan – apalagi ada implikasi ‘naik’nya mekanisme HAM PBB dari komisi (Commission) ke dewan (Council). Kondisi inilah yang membuat banyak pembela hak asasi manusia mencita-citakan suatu mekanisme. dan pada korban. amat penting ada suatu tindakan remedial dimana pemerintah negara anggota dan atau negara pihak wajib untuk menyediakannya. 4 • Th. adalah bahwa tersedia informasi yang diusahakan secara teratur. dibahas baik di dalam Komisi HAM PBB. terutama dalam hal 2 kovenan ini. Khususnya menyangkut korban. Kelaparan sering berkepanjangan karena tidak ada informasi yang dapat diakses. (Witness. memotret 2 Special Session ini adalah suatu sesi dimana hanya 3.mekanisme dan hukum internasional maka kondisi hak asasi manusia yang merosot dapat menjadi spekulasi bertahun-tahun. Contoh yang menarik misalnya bisa dirujuk pada persoalan Bosnia-Herzegovina (Michael O’Flaherty. pada situasi. Jika saat itu sedang terjadi persidangan dengan agenda reguler. maka seluruh diplomat akan dipanggil untuk untuk datang dalam sidang special session. terutama sebagai mekanisme PBB. menjadi hukum internasional. saat penulis menjadi seorang intern dalam sidang ke-55 Komisi HAM PBB. apakah itu tindakan diarahkan pada pelaku (perpetrator). Proses acara (proceeding) HRC terse- dibahas satu item selama persidangan. Dalam hal hak asasi manusia secara umum. disertai dengan catatan-catatan penting dari mekanisme yang dijalankan. 2000) untuk melihat soal ‘mengapa’. JURNAL HAM • Vol. Kasus kelaparan dijadikan contoh dalam penelitiannya bersama Jean Dreze. dan lama-kelamaan. Sen menunjuk bahwa tersedianya informasi membuat suatu hal dapat direspon dengan segera (sooner than later). dan masuk pada proses acara special session (misalnya. Tindakan remedial Informasi dan rejim (point 1) kemudian mendorong tindakan. secara sederhana. sebuah NGO yang mengembangkan dokumentasi HAM. Tindakan remedial muncul dalam kebijakan PBB untuk melakukan demobilisasi serdadu anak dan Pemerintah Negara Kongo dipaksa untuk turut dalam kebijakan PBB tersebut. East Timor pernah dijadikan agenda di tahun 1999) 4. dalam kasus lain. maupun dalam badan treaty untuk ICCPR serta hak anak. 2007 6 . Mekanisme di dalam Human Rights Committee (badan treaty yang menjalankan enforcement ICCPR) menyediakan informasi. Informasi yang dapat diakses menjadi dasar public action. misalnya.

ada suatu relativitas dari 2 kovenan ini terhadap hukum atau kebijakan di tingkat domestik. sehingga proses di PBB lebih menjadi ‘catatan’ atas proses domestik. negara Eropa-Amerika Utara mempunyai perangkat hukum pidana yang lebih efektif dibandingkan negara di kawasan lainnya. Kasus Irlandia Utara. atau tindakan remedial. 4 • Th. seperti penetapan PBB yang lain. Hal ini memungkinkan mekanisme kovenan Sipol dapat dengan cepat memberikan pengaruh terhadap kasus yang bersangkutan. Artinya. Terutama karena muatan ‘hukum darurat Irlandia Utara’ yang membuat terjadi pelonggaran enforcement kovenan sipol. penetapan dari PBB seringkali tidak begitu berpengaruh. boleh dibilang. 2007 contoh. Kovenan sipol amat persis dan tajam dalam menganalisis konteks pidana. dan tidak melakukan tindakan penanganan. kovenan ekosob seringkali 7 . apakah badan treaty PBB (yang menjalankan fungsi monitoring dan semi-judisial) memang punya gigi sehingga hasilnya akan segera diangkat ke tingkat sidang Komisi HAM PBB untuk dijadikan pembahasan secara lebih ‘panas’. Karena memakan waktu yang lama. Kovenan Sipol (ICCPR) Contoh di bawah ini sekedar memberikan gambaran soal efektivitas kovenan (tentu masih banyak contoh lain) Dalam mekanisme PBB. Kasus yang dibahas dalam HRC-Human Rights Committee (badan enforcement kovenan sipol) akan melecut negara pihak untuk serius baik dengan proses domestik maupun dengan proses di PBB. dapat dilihat sebagai berikut di bawah ini : 1. Dengan situasi yang sama. maka negara pelaku pelanggaran seringkali tidak merasa ditekan. Negara yang bukan pihak dalam kovenan sipol tentu saja luput dari enforcement kovenan sipol. Kovenan Ekosob Contoh untuk penggambaran efektivitas kovenan ekosob. Kalau memang dibahas dalam sidang komisi. justru karena sistem hukum pidana domestik sudah lebih efektif. maka proses di PBB menjadi pelecut yang efektif. sebagai gambaran dan contoh.fenomena demobilisasi serdadu anak ini dengan amat tajam). Otoritas 2 Kovenan: Mengapa ditolak? Mengapa diterima? Seberapa efektif? Pertanyaan berikut adalah apakah mekanisme dari 2 kovenan tersebut memang efektif. Sebagai kebalikan dari kovenan sipol. Dengan otoritasnya yang terbatas. 2. sebagai JURNAL HAM • Vol. Hal ini membuat proses enforcement dari kovenan tidak efektif dalam merespon kasus tertentu (tetapi masih bisa menjadi bahan bahasan yang panas dalam sidang Komisi HAM dan sub-Komisi HAM). Dinamikanya. tetapi bagaimana jika kasus itu kemudian menjadi amat banyak (terutama jika membahas kasus kejahatan perang) sehingga amat makan waktu dalam melakukan pembahasannya. seringkali diajukan secara bersamaan. hukum domestik lebih cepat. apakah pemerintah negara pelaku kekerasan memang akan comply pada mekanisme PBB? Tentu saja. baik dalam proses pidana domestik di Inggris maupun di mekanisme PBB.

2007 8 . adalah bahwa kondisi kemaslahatan masyarakat negara mereka tidak luput dari situasi pascakolonialisme dan tingkah-polah pelaku privat dari negara Eropa-Amerika Utara. Gagasan Amartya Sen Perkenankanlah. Universitas Harvard per- nah membuat studi soal odious debt. bahwa pemerintah negara berkembang juga tidak mengatakan apapun mengenai kelalaiannya (omission) dan kesengajaan (commission) dalam menciptakan masalah kemaslahatan warga negaranya.dipakai oleh negara berkembang untuk mengangkat kasus ‘kemaslahatan’. misalnya. 4 • Th. Masalah seperti hutang luar negeri. Alasan yang dipakai. Persoalan penghapusan hutang. Indivisibility 2 Kovenan: komentar evaluatif 1. di tingkat masyarakat. Atau juga untuk berargumen bahwa pelanggaran hak ekosob. kondisi pascakolonial seringkali diangkat dengan mengorbankan fakta bahwa pemerintah negara yang bersangkutan tidak melakukan kebijakan yang perlu dalam persoalan ekosob. menjadi catatan kritis pula. Kewenangan dan penanganan dalam soal hutang ada dalam IMF (Badan Moneter Dunia) atau murni masalah bilateral. sebenarnya juga adalah pelanggaran hak sipol. Negara pemberi hutang. dengan sengaja. sebaliknya. atau ladang minyak adalah bagian dari tindakan pemerintah negara yang bersangkutan yang menimbulkan masalah menurunya kualitas hidup warga negaranya. Dalam kasus yang amat contentious. Rumusan odius debt3 dianggap tidak memadai untuk masuk dalam kerangka pemecahan masalah hutang. Seringkali hal ini menimbulkan efek kebijakan luar negeri yang kira-kira berbunyi ‘emang gue pikirin’. misalnya. Dalam persoalan Afrika. saya mempergunakan gagasan Amartya Sen untuk membahasa bagaimana dua dimensi hak (sipol dan ekosob) sebenarnya utuh. negara berkembang justru membawa persoalan kemaslahatan sebagai pembahasan publik. JURNAL HAM • Vol. melihat masa- lah itu tidak absah dibahas oleh ‘badan HAM PBB. Mekanisme enforcement baik dalam tingkat PBB maupun di dalam tingkat domestik berbeda lebih karena alasan sejarah perang dingin (blok barat mementingkan sipol. dan blok komunis mementingkan ekosob) dan lebih karena alasan presisi dan profesionalitas. dan juga untuk berargumen apakah memang sipol dan ekosob ini memang bisa secara filosofi dan hukum dijelaskan. beberapa hal di antaranya. lapangan kerja. dan dalam hal ini mempunyai tingkat keabsahan yang memadai. sekali lagi. Namun juga. negara berkembang tidak ragu-ragu mempergunakan mekanisme PBB termasuk mekanisme kovenan ekosob untuk memecahkan masalah tersebut. Sen membuat argumen yang kuat dan tajam (compelling argument) meski dia tidak secara khusus menggeluti mekanisme 3 Sebagai suatu masalah. Penjualan permata. beras. Secara khusus. saya memakai argumen Sen ini untuk menjelaskan. menjadi masalah penting.

Barulah setelah Enron kolaps dengan segala akibatnya. dan bertemu dengan derivatif market yang tidak diregulasi. misalnya. sebagian perdebatan ini dicerminkan pada perdebatan founding fathers dalam merumuskan antara hak individu dan pemajuan sosial dalam konstitusi (UUD ’45) – dengan rumusan pertanyaan “untuk apa individu dilindungi kalau hal tersebut tidak memajukan kemakmuran masyarakat” Hayek melihat bahwa sebenarnya layanan publik negara (bahkan jika itu memang bertujuan melindungi warga negara) hanya akan membuat warga negara hidup dalam perbudakan modern (serfdom). bisa dalam jangka panjang). eksploitasi sumber daya alam) semuanya tidak tahan dengan argumen bahwa itu semua justru menjadi penyebab kehidupan manusia – kalau tidak dalam jangka pendek. menurut Sen. 9 . Ambil contoh. tidak soal bagaimana manusia mendapatkan hak miliknya itu. secara intelektual freedom dirumuskan (dengan amat sukses) oleh Robert Nozick (Anarchy. dan Friederich von Hayek (road to serfdom). Dalam sejarah Indonesia. Menarik mengamati ketika Enron kolaps. Sen melakukan usaha terus-menerus berusaha memecahkan conundrum antara 2 hal: freedom dan justice. dan dalam bagian tertentu John Locke). sekuritas (dengan Glass-Steagal Act). Kelemahan argumen. 2007 Tindakan spekulasi (penimbunan beras. asuransi. namun dalam konteks hak ber4 Salah satu penyebab penting adalah bahwa diha- puskannya regulasi pembatasan bank. State and Utopia). David Hume. Konsep prioritas keadilan membawa pada tindakan khusus (special tretment). Kelemahan terbesar dari konsep ini adalah sifatnya yang indifferent terhadap pewujudan freedom dalam kehidupan praktis dan sehari-hari. Freedom dalam pengertian klasik. perdagangan senjata. dinamika ekonomi AS juga mengalami downturn karenanya. Lebih lanjut. Tindakan spekulasi (penimbunan beras. Singapura yang amat makmur secara ekonomi dengan welfare-state yang nyaris sempurna. Keadilan yang dirumuskan dalam prioritas itu memang tidak perlu diperdebatkan. perdagangan senjata. dan justice menjadi dasar argumen kovenan ekosob. bahkan jika hal itu atas nama kebaikan.dan hukum hak asasi manusia internasional. 4 • Th. JURNAL HAM • Vol. mengarah pada konsep individu yang biasanya merujuk pada pemikiran Adam Smith. eksploitasi sumber daya alam) jutru sering dilakukan dengan sadar dan sengaja di atas (at the expense) kehidupan dan penghidupan masyarakat. perdagangan valuta asing. Freedom menjadi dasar argumen dari kovenan sipol. John Rawls (juga dengan amat sukses) membantah kemutlakan hak milik. Penggambarannya adalah sebagai berikut: Menjadi pengetahuan umum bahwa freedom juga dapat digunakan untuk merugikan orang lain. Dalam soal justice. dan mendorong konsep prioritas keadilan. dapat dilihat bahwa tindakan privat dapat menyebabkan kesengsaraan banyak orang.4 Dengan ini. Sedang Nozick melihat bahwa hak milik adalah mutlak. dan terhadap fenomena free rider. kemudian dilakukan regulasi dan penegasan indikator keamanan investasi. ada baik dalam prioritas itu sendiri maupun dalam eksesnya bersifat draconian dan/atau pemaksaan. perdagangan valuta asing.

2007 10 . maka kita bisa melihat bahwa mekanisme 2 kovenan ini memunculkan banyak implikasi pada hukum internasiona. dari yang mild sampai yang serius. dengan ini. Sebagai benchmarking. Seperti kita tahu bahwa setiap pelanggaran HAM termunculkan (implies) bentuk-bentuk pidana. ada rencana penyeleng- amat jelas bahwa tidak adanya hak ekonomi. maka para judiciary justru berargumen bahwa hal ini membuat perkembangan hukum berlangsung secara sehat.pendapat dan berpolitik dibatasi dengan amat tajam. meski tentu kita tidak bisa langsung ‘menikmati’ pembahasan mekanisme 2 kovenan (mungkin suatu saat nanti sampai ke sana). juga menyatakan pentingnya ‘perdebatan publik’ (public discourse) dan proses komunikasi yang menghasilkan nilai dan norma sosial. in the form of extreme poverty. 4 • Th. Mekanisme HAM Regional: Perkembangan Mekanisme 2 Kovenan Perkembangan terbaru saat ini yang patut diamati adalah proses ASEAN untuk merurmuskan Piagam ASEAN (ASEAN Charter). Hak Perempuan-Anak dan Masalah Migran akan menjadi 2 isu yang dikembangkan untuk dibahas (ini karena dibentuk 2 kelompok kerja di ASEAN untuk membahas 2 hal tersebut). Ada anggapan bahwa ekonomi dan welfare yang sudah diwujudkan dengan otomatis akan mewujudkan hak sipol. kita dapat melihat mekanisme serupa di Uni-Eropa (Europan 6 Di akhir bulan Juni 2006. just as social or political unfreedom can also foster economic unfreedom”5 Sen. karena segala sesuatunya selalu dibahas (contested) dan terukur. Social. tidak ada kejahatan yang ditindak di luar hukum. can make a person a helpless prey in the violation of other kinds of freedom. Jika kita melihat dokumen dalam Human Rights Committee (HRC – badan enforcement kovenan sipol) maupun Committee on Economic.6 Sebagai titik mula. Jika ada keberatan dari negara pihak. sebagaimana juga bahwa tidak adanya hak sosial dan politik dapat menimbulkan tidak adanya hak ekonomi” garaan pembahasan mekanisme HAM regional ini di Kuala Lumpur. dapat membuat orang menjadi mangsa pelanggaran hak yang lain …tidak adanya hak ekonomi dapat memunculkan tidak adany hak sosial. menurut pengamatan. Nulla Crimen Sine Lege Dua kovenan ini pun sebenarnya masih dalam perkembangan progresif untuk menerjemahkan persoalan pidana. …Economic unfreedom can breed social unfreedom. Argumen Sen dalam merumuskan indivisibility hak sipol dan ekosob dapat dirumuskan sebagai berikut: p. Nulla Crimen Sine Lege. 2. Cultural Rights (badan enforcement kove5 (terjemahan longgar) “…dapat ditunjuk fakta yang nan ekosob). atau negara anggota PBB pada umumnya. Mekanisme HAM regional di ASEAN adalah sesuatu yang perlu didorong. Salah satu yang menjadi pengembangan di dalam soal mekanisme HAM regional ASEAN. Dengan alasan bahwa sekarang sudah saatnya bagi ASEAN untuk mempunyai piagam. Dua kovenan ini berkembang seturut bentuk-bentuk pidana tersebut. dan kemudian pada hukum domestik. dan dengan ini mendorong akuntabilitas pemerintah negara anggota dengan warga negara anggota. dalam bentuk kemiskinan ekstrem. JURNAL HAM • Vol.8 “…[i]t also pointed to the remarkable fact that economic unfreedom. dan dengan ini sebenarnya ditegaskan prinsip imparsialitas dari hak asasi manusia.

Adam. Sen. Filipina dan Malaysia juga menjadi anggota Dewan HAM) – bersamaan dengan implikasi dari ratifikasi 2 kovenan oleh pemerintah Indonesia Desember 2005 lalu. The Inter-American System of Human Rights. David. Harris. DAFTAR PUSTAKA Alston. Karen.). untuk menyebut di antara aktor penting. Development. Amartya. Sarah (ed. Philip and Crawford (ed. Centre on Democracy. Sovereignty Relinquished: Explaining Commitment to International Human Rights. Oxford 1999. (Bersama Indonesia. Alston. Development as Freedom. Cambridge 2000. Bagi korban. Oxford 1993. Rodley. A Practitioner’s Guide to the European Convention of Human Rights. California 2004 Harris. The International Covenant on Civil and Political Rights and United Kingdom Law. Reid. James. and Kingsbury. New York 2000. Sweet & Maxwell. James. The UN’s Roles in International Law. Oxford University Press. and Joseph.). Oxford 1995. London 1998. and The Rule of Law. dan membuat mekanisme regional HAM ASEAN mendapatkan dampak dari enforcement domestik tersebut. dan Komnas HAM.Convention on Human Rights. 4 • Th. Philip. The Treatment of Prisoners under International Law (second edition). beserta courtnya) dan di kawasan Amerika Latin (InterAmerican Human Rights Mechanism). and Heenan (ed.). kasus-kasus di dalam negeri ini dibahas juga di tingkat Eropa – sehingga korban dan pekerja HAM dapat semakin menegaskan compliance negara terhadap ketentuan HAM internasional. Clarendon Press Oxford. Clarendon Press Oxford. Oxford 1998. pekerja HAM. Cole.). Roberts. JURNAL HAM • Vol. Nigel S. Cambridge University Press. Indonesia yang dipilih dengan angka voting kedua tertinggi di Asia (sesudah In- dia) di dalam Dewan HAM mempunyai kesempatan juga untuk mengembangkan mekanisme enforcement HAM di tingkat regional. Clarendon Press Oxford. The Future of UN Human Rights Treaty Monitoring. The EU and Human Rights. Stephen (ed. Alfred A. Knopf. Benedict. and Livingstone. David.. harus aktif untuk menerjemahkan 2 kovenan itu dalam sistem dan praktik hukum di Indonesia. Wade M. Oxford University Press. Oxford 1999. with Bustelo. Seperti yang kita lihat dalam proses dan dokumentasi European Court on Human Rights. Mara. Divided World. Mekanisme regional ini penting sebagai pengembangan dari enforcement 2 kovenan tersebut. United Nations. 2007 11 .. Stanford Institute on International Studies.

pada kenyataannya Indonesia telah memiliki peraturan perundangan yang secara implisit dan/atau eksplisit sudah menginternalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam dua kovenan tersebut. 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik) dan UU No. Keragaman masalah dimaksud ternyata tidak hanya akan terjadi pada perilaku kehidupan sehari-hari setiap subyek hukum. The dignity of individual cannot and should not be divided into two spheres – that of civil and political rights and that of economic. 40 Tahun 2004 tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia tahun 2004-2009. Adapun peraturan perundangan dimaksud antara lain: UU No. Departemen Hukum dan HAM JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. Sekalipun ICCPR dan ICESCR telah diratifikasi masing-masing melalui UU No. tetapi juga pada tataran yang mengatur subyek hukum beraktivitas yang dikenal dengan peraturan-perundangan. culture and language contribute to wide diversity in the enjoyment of human rights. Social and Cultural Rights (ICESCR) yang keduanya telah Indonesia ratifikasi pada tahun 2005. promotion. The 2004-2009 Nation Plan of Action on Human Rights is a continuation of the Nation Plan of Action on Human Rights for the year 1998-2003. Sosial. dianalisis * Penulis bekerja di Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan HAM. keberadaan ICCPR dan ICESCR di Indonesia merupakan hal penting untuk diketahui.Pelaksanaan ICCPR dan ICESCR dalam Konteks Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN-HAM) 2004-2009 Adhi Santika* Abstract Indonesia’s diverse geography. dan Budaya). Dalam konteks waktu. PENDAHULUAN Keberadaan instrumen HAM internasional seperti halnya International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) dan International Covenant on Economic. The new plan of action is intended to complete the unfinished works in the previous period. Social and Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. fulfillment and protection human rights. politics. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan Keputusan Presiden (Keppres) No. The National Plan of Action on Human Rights in Indonesia is intended as a guidance and general plan to enhance the efforts in increasing the respect. Individual must be able to enjoy freedom of wants as well as freedom from fear. religion. economic. social and cultural rights. The ultimate goal of ensuring respect for the dignity of individual cannot be achieved without that person’s enjoying all of his or her rights. tidak dapat dipungkiri akan dihadapkan pada keragaman masalah dalam implementasinya di Indonesia. 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Economic. 2007 12 .

39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia: ”Perlindungan. 36 Tahun 1990 tentang CRC. (2) Persiapan Ratifikasi instrumen HAM internasional. penegakan. sehingga evaluasi yang dilakukan seharusnya tidak hanya dibatasi oleh waktu pascaratifikasi kedua kovenan tersebut tetapi juga mencakup semua kegiatan yang dilakukan selama kurun waktu praratifikasi. dan Keppres No. dengan penetapan 6 (enam) Program Utama di dalamnya. Dalam hubungan ini Pemerintah menempati posisi strategis sesuai dengan amanat yang tercantum dalam Pasal 8 UU No. yaitu: (1) Pembentukan dan penguatan institusi pelaksanaan RANHAM. Dari materi yang tercantum. dan (6) Pemantauan. Pembentukan dan penguatan institusi pelaksanaan RANHAM. di mana Indonesia termasuk sebagai negara peserta yang turut menandatanganinya. yaitu kesungguhan dan kendala yang dihadapi Pemerintah selama ini. seperti halnya UU No. 1. sangat jelas diketahui bahwa RANHAM lebih berorientasi ke masa depan. Di samping itu terdapat pula beberapa kesepakatan internasional yang secara langsung atau tidak langsung bernuansa HAM. dan pemenuhan hak asasi manusia terutama menjadi tanggung jawab Pemerintah”. UU No. 2007 atas. (5) Penerapan norma dan standar HAM. bahwa RANHAM Indonesia dimaksudkan sebagai panduan dan rencana umum untuk meningkatkan penghormatan. Pertimbangan dimensi waktu akan terasa benar adanya manakala mempertimbangkan beberapa instrumen HAM internasional yang telah diratifikasi Indonesia melalui sejumlah Undang-Undang yang dikeluarkan pemerintah sebelum Indonesia meratifikasi ICCPR dan ICESCR pada tahun 2005. Pertimbangan dimensi waktu merupakan salah satu faktor penting dalam evaluasi pelaksanaan ICCPR dan ICESCR di Indonesia. 7 Tahun 1984 tentang CEDAW. 5 Tahun 1998 tentang CAT. 29 Tahun 1999 tentang CERD. pemajuan. Hal ini perlu diperhatikan untuk mengetahui secara obyektif mengenai dua hal utama dalam evaluasi. pemajuan. maka pelaksanaan ICCPR dan ICESCR pascaratifikasi di Indonesia tidak dapat dilepaskan keberadaannya dari upaya perlindungan. 40 Tahun 2004 menyebutkan.dan dirumuskan langkah-langkah nyata yang perlu dilaksanakan oleh berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) termasuk Pemerintah. 4 • Th. Persyaratan ini mengemuka karena ada alasan yang 13 . (3) Persiapan Harmonisasi peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu. pemajuan. seyogyanya evaluasi harus dilakukan sejak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia sampai pascaratifikasi sekalipun ratifikasi kedua kovenan tersebut baru dilakukan pada tahun 2005. (4) Diseminasi dan pendidikan HAM. pemenuhan dan perlindungan HAM. evaluasi dan pelaporan. maka ruang lingkup keenam Program Utama merupakan rangkaian tindakan konkrit yang perlu dan akan dilakukan oleh negara dalam aktualisasi pencapaian tujuan ICCPR dan ICESCR di Indonesia. Berdasarkan pertimbangan tersebut di JURNAL HAM • Vol. KONSEKUENSI RASIONAL DARI RATIFIKASI Secara eksplisit Lampiran I Keppres No. Apabila mengamati Program Utama RANHAM dan menghubungkannya dengan ratifikasi ICCPR dan ICESCR. Program Utama yang pertama yaitu Pembentukan dan Penguatan Institusi Pelaksana RANHAM merupakan program yang penting dan merupakan satu syarat keharusan (a necessary condition). seperti ICPD dan MDGs. termasuk untuk melindungi masyarakat yang rentan terhadap pelanggaran HAM. UU No. penegakan. dan pemenuhan HAM sebelum ratifikasi.

apabila terdapat institusi bentukan baru dan mengalami “penguatan” sehingga memiliki kompetensi untuk melaksanakan seluruh programnya. seringkali aparat negara dan masyarakat kurang bahkan tidak mampu mengetahui dan mengerti maksud keduanya. maupun budaya. Di samping itu struktur organisasi kepemerintahan yang cukup beragam antar wilayah administrasi sejalan dengan adanya UU No.sangat rasional. pekerjaan. Kompetensi merupakan satu kata kunci yang sulit untuk diwujudkan pada tataran lapangan dalam kurun waktu yang cukup singkat. “Penguatan” institusi pelaksana RANHAM adalah satu kegiatan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan (multi-stakeholders) karena memerlukan kerjasama dari banyak pihak dengan latar belakang yang beraneka ragam. Masalah HAM di lapangan yang terjadi sangat bervariatif dan struktur organisasi kepemerintahan yang berbeda di setiap provinsi. sosial. 4 • Th. 32 Tentang Pemerintahan Daerah. Dalam hubungan ini. Program “penguatan” seringkali dihadapkan pada 2 (dua) masalah yang cukup serius untuk dapat segera diselesaikan dalam waktu singkat. baik dari sisi pendidikan. Keanekaragaman ini memberikan konsekuensi pada cara “penguatan” yang akan dilakukan agar materi dan pesan yang akan diberikan tepat sasaran. Atas dasar ini maka pelaksanaan RANHAM hanya dapat berjalan sesuai dengan rencana. Kompleksitas masalah HAM di lapangan yang memiliki karakteristik antara lain: ruang lingkup substansinya sangat luas. kabupaten dan kota memberikan kontribusi pada cepat atau lambatnya “pembentukan” institusi pelaksana RANHAM di pusat dan daerah. Guna membentuk institusi baru ternyata seringkali dihadapkan pada berbagai kendala yang umumnya berupa kekurangmampuan sumber daya manusia untuk mengetahui dan mengerti substansi HAM yang secara bersamaan waktunya harus memiliki kecakapan dalam mengelola organisasi untuk menggerakkan program kerja. ekonomi. dan efektif. yaitu: (1) Pemilihan dan penetapan peserta yang akan menerima materi “penguatan” agar lebih representatif. yaitu 5 (lima) program lainnya sangat tidak mungkin terlaksana dengan baik apabila program pertama ini tidak terwujud lebih awal. program “penguatan” sudah seharusnya selalu dibarengi dengan kegiatan evaluasi yang berkesinambungan berdasarkan pendekatan “post-training evaluation”. melibatkan lebih dari satu subyek hukum. Program Pembentukan dan Penguatan Institusi Pelaksana RANHAM memJURNAL HAM • Vol. “Penguatan” hanya dapat dilakukan apabila “pembentukan” institusinya sudah dilakukan. dan (2) Pemberi materi “penguatan” perlu lebih membekali diri dengan kecukupan penguasaan substansi dalam pengertian mampu menyeimbangkan materi yang bersifat konseptual dan kontekstual. Berdasarkan Keppres 40 Tahun 2004. mencakup lintas batas administratif (spatial) dan mencakup lintas batas waktu (temporal). “Pembentukan” dan “penguatan” institusi merupakan dua kata penting dalam program ini. cenderung membuat orang memerlukan waktu tambahan untuk sepenuhnya mengerti permasalahan yang ada. efisien. frekuensi dan intensitas kejadiannya sangat berfluktuatif. juga memberikan pengaruh pada kemampuan aparat negara dan masyarakat dalam kecepatan “pembentukan” institusi pelaksana HAM. 2007 14 .

yaitu: Afrika Selatan. Australia. Tanpa adanya kaidah-kaidah ini sungguh tidak JURNAL HAM • Vol. Indonesia melakukan ratifikasi instrumen-instrumen HAM internasional. Sebagai anggota masyarakat internasional. Secara garis besar. dan Jerman. Departemen Hukum dan HAM) telah melakukan kerja sama antar negara dan dengan sejumlah lembaga internasional di bawah payung Perserikatan Bangsa Bangsa. Hukum internasional seperti halnya ICCPR dan ICESCR merupakan keseluruhan kaidah yang sangat diperlukan untuk mengatur sebagian besar hubungan antar negara. Kovenan Hak Sipil dan Hak Politik (2004). yaitu: Kovenan Internasional Hak Ekososbud (2004). UNICEF. Di samping itu. Persiapan Ratifikasi Instrumen Hak Asasi Manusia Internasional. Konvensi Penghentian Perdagangan Manusia dan Eksploitasi Pros- 15 . 2007 mungkin bagi negara-negara tersebut untuk saling berhubungan secara tetap dan terus menerus. Namun. 2. Berdasarkan Keppres 40 Tahun 2004. Melalui pengesahan yang diwujudkan dalam bentuk ratifikasi.punyai tujuan/sasaran sebagai berikut: (1) Pembentukan dan penguatan Panitia Nasional. karena harus melibatkan berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) dengan segala keragaman karakteristiknya disamping substansi HAM merupakan hal baru bagi sebagian besar pemangku kepentingan. kerja sama dengan lembaga internasional antara lain dilakukan dengan UNHCR. Kerjasama pemajuan HAM telah dijalin dengan 11 (sebelas) negara dan kerjasama regional dengan ASEAN dan Asia Pasifik. Italia. Norwegia. Perancis. semua ini merupakan bagian dari tradisi demokrasi yang harus dilalui. dapat diketahui bahwa cakupan kegiatan program pertama tersebut dinilai sangat berat. (3) Sosialisasi RANHAM kepada berbagai pihak. Mesir. Belum lagi dinamika masyarakat yang juga diwarnai pro-kontra terhadap suatu isu HAM tentu akan menimbulkan persoalan tersendiri dari setiap proses ratifikasi itu. (4) Pembentukan dan Penguatan Kelembagaan HAM di daerah. Selandia Baru. pemajuan. termasuk Konvensi Internasional Perlindungan Hak-hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. Swiss. RANHAM telah mengagendakan ratifikasi 12 instrumen HAM yang akan dirampungkan sebelum akhir tahun 2009. perangkat-perangkat HAM internasional tersebut diharapkan akan memperkuat hukum nasional dalam upaya menjamin penghormatan. dan (5) Meningkatkan kerja sama dengan berbagai pihak untuk memperkuat kelembagaan HAM yang telah ada. persiapan ratifikasi sejumlah instrumen HAM internasional ditetapkan dengan skala prioritas sebagai berikut. 4 • Th. Proses ini semua bukan tanpa rintangan atau halangan. Berbagai kegiatan dalam rangka “penguatan” institusi. pemerintah (dalam hal ini Direktorat Jenderal Perlindungan HAM. (2) Pembentukan dan penguatan Panitia Pelaksana RANHAM Daerah. Swedia. pemenuhan dan perlindungan HAM agar sesuai dengan harapan. Sesungguhnya hukum internasional merupakan persoalan dengan keperluan hubungan timbal-balik antar negara. IOM. apalagi setelah terpilihnya Indonesia sebagai anggota Dewan HAM PBB. Situasi perdebatan dan pro-kontra atas dasar identifikasi dan inventarisasi masalah dari setiap proses pembahasan lahirnya suatu produk perundangundangan seringkali juga menimbulkan kekecewaan masyarakat. dan ILO. Kanada. IDLO.

d. Terdapat beberapa permasalahan yang terlebih dahulu perlu dipahami sehubungan dengan harmonisasi peraturan perundang-undangan di Indonesia yaitu: 1. Peraturan Pemerintah. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang menegaskan jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan di Indonesia. Pengharmonisasian atau kegiatan untuk mengharmonisasikan atau menyelaraskan. 4 • Th. Era otonomi daerah merupakan satu ciri dalam pemerintahan sekarang ini dan UU No. e. Protokol Opsional Konvensi Anti Penyiksaan (2008). Salah satu hal yang perlu mendapat perhatian khusus adalah Pasal 7 UU No. dan Protokol Opsional Tahun 1967 Konvensi Status Pengungsi (2009). Peraturan Presiden. Konvensi Perlindungan Hak-Hak Pekerja Migran dan anggotaanggota keluarga-nya (2005). Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Keterlibatan Anak dalam Konflik Bersenjata (2006). Faktor keterbatasan pengetahuan ini seharusnya tidak boleh dibiarkan karena akan memperparah ketidaksiapan Pemerintah dalam menerima segala konsekuensi ratifikasi. faktor keterbatasan pengetahuan dan jumlah pemerhati substansi instrumen yang akan diratifikasi juga merupakan hal yang kerap terjadi. Undang-undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang. Statuta Roma (2008). 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah adalah landasan yuridis yang digunakan. Atau dalam bahasa Inggrisnya “harmonize” diJURNAL HAM • Vol. Keberadaan faktor pembatas tersebut sangat mungkin dapat diatasi apabila Program Pembentukan dan Penguatan Institusi Pelaksana RANHAM terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama. 3. Di samping itu. b. c. Pornografi Anak dan Prostitusi Anak (2005). yaitu: a. 2007 16 . Aspek-aspek apa yang harus diharmonisasikan dan bagaimana pengharmonisasian tersebut dilakukan? 3. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. yaitu: a.titusi (2004). Protokol Opsional Konvensi Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan (2005). Persiapan Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan. Konvensi Pencegahan dan Penghukuman Kejahatan Genosida (2007). Langkah dimaksud seringkali dihadapkan pada faktor pembatas berupa kemampuan melaksanakan kajian akademik yang bersifat obyektif dan cepat pelaksanaannya. Konvensi Status Pengungsi (2009). Permasalahan apa yang dihadapi dalam pelaksanaan pengharmonisasian? Sebelum memahami ketiga permasalahan tersebut. Satu hal yang paling mendasar untuk dipertimbangkan dengan seksama adalah langkah melakukan pengkajian terhadap instrumen internasional yang akan diratifikasi berupa penyempurnaan naskah akademik. terlebih dahulu perlu dijelaskan pengertian dari beberapa istilah kunci. Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Perdagangan Anak. Mengapa perlu dilakukan pengharmonisasian? 2. Peraturan Daerah. mengingat setelah proses ratifikasi pengertian “legally binding” menjadi berlaku dengan segala konsekuensinya.

agar menghasilkan peraturan perundang-undangan yang tidak saling bertentangan atau tumpang tindih. c. juga terlihat bahwa peraturan perundangan di Indonesia cenderung memiliki sejumlah kelemahan yang mendasar. (b) Tidak jarang ditemui berbagai inkonsistensi antara satu pasal dengan pasal lainnya di dalam Undang-undang yang sama. pemahaman. yaitu: (a) Antara Undang-undang yang satu dengan yang lainnya seringkali saling bertentangan. Tantangan yang dimaksud antara lain meliputi: 1. dan tidak mengatur rancangan undang-undang yang berasal dari DPR atau rancangan peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang. pembulatan dan pemantapan konsepsi rancangan undang-undang yang berasal dari Presiden. serta konvensi/ perjanjian internasional hak asasi manusia. (c) Keterlambatan penyusunan aturan pelaksanaan dari Undang-undang yang telah disahkan. Pembulatan mengandung makna untuk membentuk menjadi bulat atau membentuk kepaduan. tetapi bersifat parsial dan terfragmentasi menurut kepentingan dari masing-masing instansi. Sehingga. Konsepsi diartikan sebagai pengertian. sebenarnya masih terdapat sejumlah tantangan yang harus diatasi terlebih dahulu. Sehingga. langkah yang sedang dilakukan dalam persiapan harmonisasi peraturan perundangundangan adalah mengagendakan JURNAL HAM • Vol. sejalan dengan ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang No. Dengan demikian. 2007 17 . pengharmonisasian peraturan perundang-undangan memiliki arti strategis dalam mewujudkan sistem hukum nasional. Tenaga fungsional Perancang Peraturan Perundang-undangan masih terbatas jumlahnya serta belum memiliki spesialisasi pada bidang hukum yang spesifik. atau rancangan yang telah ada dalam pikiran (ide). pembahasan oleh wakil-wakil instansi terkait tidak bersifat menyeluruh. baik dengan berbagai peraturan perundang-undangan vertikal maupun horisontal.b. Perlu disadari bahwa. Dari pengamatan. yang disebabkan oleh belum adanya persamaan persepsi tentang rancangan undang-undang sebagai suatu sistem yang terintegrasi. artikan sebagai “bring into harmony” dan”“harmony” diartikan sebagai “pleasing combination of related things”. 4 • Th. dan (d) Produk hukum yang ada di Indonesia lebih cenderung bersifat reaktif dari antisipatif. diperlukan penyelarasan. Dalam bahasa Inggris “conception” diberi arti sebagai “conceiving of an idea” 3. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dan Undang-Undang No. sebelum proses pengharmonisasian perundangan yang ada agar sejalan dengan RANHAM dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. keutuhan sebagai suatu keseluruhan. 2. Sehubungan dengan itu. karena jabatan fungsional Perancang Peraturan Perundang-undangan dianggap tidak cukup menarik untuk ditekuni oleh pegawai. Masih adanya sikap egoisme sektoral dari masing-masing instansi terkait. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Pasal 18 ayat (2) Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 hanya mengatur pengharmonisasian.

serta hak atas kebebasan informasi dan berkomunikasi. Convention on the Rights of the Child (CRC). berorganisasi dan berekspresi. Convention on the Political Rights of Women. Diseminasi dan Pendidikan Hak Asasi Manusia Kiranya sulit dibantah. serta lokakarya dan diskusi HAM dengan organisasi sosial dan LSM. Menyadari hal tersebut. pengembangan dan penyebarluasan bahan pengajaran hak asasi manusia yang dilaksanakan oleh anggota Nasional RANHAM. Other Cruel and Inhumance or Degrading Treatment or Punishment (CAT). tenaga pengajar/ dosen perguruan tinggi. pemerintah berupaya melakukan sosialisasi berbagai instrumen hak asasi manusia internasional yang telah diratifikasi oleh Indonesia. kurikulum HAM untuk SD s/d SMA. kejaksaan. meskipun di dalam agenda RANHAM hanya 3 (tiga) undang-undang tersebut yang dikaji. 18 JURNAL HAM • Vol. Norwegia. Afrika Selatan. namun telah dikaji pula Undang-Undang tentang Kewarganegaraan dan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. Oleh sebab itu. hak untuk turut serta dalam pemerintahan. dan Convention Against Torture. Dalam hubungan ini. Di samping itu. Australia. 2007 . 4. aktivis HAM. Pelaksanaan pendidikan hak asasi manusia yang difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Perlindungan HAM Departemen Hukum dan HAM meliputi pembentukan dan perpustakaan HAM di Universitas dan Komnas HAM. program studi S2 HAM (Universitas Indonesia. dan perguruan tinggi juga merupakan hal yang harus dilaksanakan secara terus menerus. sebagaimana yang diamanatkan dalam RANHAM 2004-2009. aspek pendidikan menjadi elemen kunci dalam upaya melaksanakan program diseminasi Hak Asasi Manusia di Indonesia. pendidikan di luar jalur sekolah. lembaga nonpemerintah. bahwa pendidikan merupakan syarat bagi pemenuhan hak-hak sipil dan politik serta hak-hak ekonomi. pelatihan bagi aparat penegak hukum (kepolisian. pelatihan HAM di luar negeri (Swedia. serta Undang-Undang tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. Universitas Samratulangi. lembaga nonpemerintah. social. Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination (CERD). hakim. hak hukum.pengkajian terhadap Kitab UndangUndang Hukum Pidana. Suatu tingkat pendidikan minimal atau setidaknya melek aksara sangat diperlukan bagi perjuangan untuk mewujudkan pemenuhan hak-hak sipil dan politik. dan pendidikan HAM di Fakultas Hukum. hak atas kebebasan berkumpul. UndangUndang tentang Hak Asasi Manusia. dan Universitas Pelita Harapan). antara lain Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW). dan tokoh masyarakat/agama). kegiatan simposium hak asasi manusia tingkat nasional dan daerah untuk promosi pendidikan hak asasi manusia yang dilaksanakan oleh anggota Panitia Nasional RANHAM. dan Perancis bagi pegawai negeri. Universitas Padjajaran. Selain itu. dan petugas pemasyarakatan). 4 • Th. dan perguruan tinggi merupakan langkah yang sangat strategis untuk mendukung diseminasi dan pendidikan HAM di Indonesia. dan budaya. hak untuk memilih dan dipilih.

Konstruksi ini merupakan makna bahwa norma-norma yang ada dalam UUD harus mengalir dalam perundang-undangan di bawahnya. HAM justru tidak memuat individualisme. HAM tidak banyak dipertanyakan karena struktur sosial tradisional itu masih mampu melindungi hak-hak individu di dalamnya. dan tenaga kerja. 4 • Th. antara lain. Sebaliknya. Saat ini. pengawas ketenagakerjaan. seperti perlindungan terhadap mereka yang kurang beruntung secara sosial dan ekonomi. seorang ahli filsafat yang beraliran Neo Kantian. Indonesia sebagai negara modern tidak mungkin menghindar dari realitas bahwa masyarakatnya menjadi lebih individual daripada masyarakat tradisional. dan pemenuhan HAM. beberapa kegiatan yang telah dilakukan oleh Departemen Hukum dan HAM dalam mendukung pelaksanaan RANHAM. apakah berupa norma original atau norma jabaran yang lebih konkrit. meminjam istilah dari Rudolf Steammler. HAM merupakan pengertian modern.5. (c) Berpartisipasi dalam pelaksanaan Nota Kesepahaman Pemerintah Indonesia dengan GAM dalam bentuk memfasilitasi pelaksanaan amnesti dan integrasi anggota GAM bekerjasama dengan IOM dan. pemajuan. pamong praja dan petugas pemasyarakatan berdasarkan hasil kegiatan yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan HAM. secara substansi. bagi pegawai Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM. antara lain: (a) Menghasilkan sejumlah buku saku mengenai HAM yang diperuntukkan. 2007 dalam masyarakat yang bersangkutan. tidak boleh menjadi alasan untuk tidak melaksanakan HAM. HAM adalah universal. (b) Penyampaian rekomendasi kepada instansi terkait atas pengaduan masyarakat tentang pelanggaran hak asasi manusia (yang tidak termasuk pelanggaran hak asasi manusia yang berat). Dalam masyarakat tradisional. Selain itu. tetapi sekaligus juga kontekstual. juga dibentuk Tim Konsultasi Hak Asasi Manusia. Pandangan keliru bahwa HAM identik dengan pandangan dunia barat. Pemerintah Indonesia sedang melakukan proses penyusunan norma dan standar perlindungan. polisi. Jika diamati lebih jauh. Hak asasi manusia adalah persoalan universal. Dengan demikian. dan mekanisme kerjasama pemajuan hak sipil dan politik. sedangkan dikatakan kontekstual apabila sudah berbicara tentang relevansinya (aktualisasi). norma HAM yang terdapat dalam UUD adalah sebagai bintang pemandu (leitstren) bagi pembuat undang-undang di bawahnya agar selaras dengan nilai-nilai HAM. penegakan. pedoman pemenuhan hak anak. norma yang terkandung dalam UUD merupakan sumber hukum (rechtsgulle) bagi aturan yang ada di bawahnya. Dengan kata lain. Penerapan Norma dan Standard Hak Asasi Manusia Dalam perspektif hukum tata negara. jaminan terhadap HAM merupakan tanda solidaritas dan kepedulian sosial JURNAL HAM • Vol. Norma tersebut dapat mengalir dalam perundangundangan yang lebih rendah hierarki atau perundangan yang lebih rendah dapat memberikan norma tafsiran dari peraturan perundangan yang lebih tinggi tersebut. Selain itu. 19 . Sebagaimana dikatakan Magnis Suseno (1994: 11-12).

mengatur pembatasan-pembatasannya demi kepentingan umum. Evaluasi dan Pelaporan Pemantauan.(d) Pelaksanaan Focus Group Discussion di beberapa daerah pasca konflik (Kalimantan Barat. dipandang perlu untuk mengembangkan suatu mekanisme yang tepat untuk melakukan kegiatan pemantauan. berarti Pemerintah Republik Indonesia telah terikat secara hukum untuk menerima kewajiban membuat laporan penerapan norma dan standar Hak Asasi Manusia yang terkandung dalam instrumen hak asasi manusia internasional yang telah diratifikasi tersebut kepada badan PBB yang terkait. Sebagai konsekuensi dari telah diratifikasinya instrumen hak asasi manusia internasional. dan Maluku Utara). evaluasi dan pelaporan merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dari seluruh rangkaian kegiatan RANHAM. upaya pembentukan dan penguatan kelembagaan RANHAM merupakan satu prasyarat utama yang harus dipenuhi demi menghasilkan laporan pelaksanaan dan perkembangan HAM di Indonesia. evaluasi dan pelaporan. objektif dan dapat dipertanggung jawabkan. Menjadi kewajiban pemerintah atau negara hukum untuk mengatur pelaksanaan hak-hak asasi ini yang berarti menjamin pelaksanaannya. dengan tujuan terciptanya perdamaian yang abadi. Hak asasi ini menjadi dasar hak dan kewajiban yang lain. Pada kenyataannya. penyusunan laporan perkembangan pelaksanaan HAM di Indonesia dihadapkan pada sejumlah tantangan yang cukup berat yaitu: PENUTUP Hak asasi manusia adalah hak dasar atau hak pokok yang dibawa manusia sejak lahir sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa. 20 JURNAL HAM • Vol. terkini. (a) Pengumpulan data dan informasi yang akurat. kepentingan bangsa dan negara. Kalimantan Tengah. Pemantauan. Pemerintah harus terus mengupayakan agar perlindungan terhadap setiap subyek hukum dapat dilakukan sebagaimana tercantum dalam RANHAM. terutama untuk menjamin terlaksananya program kegiatan RANHAM sesuai dengan yang telah direncanakan. 6. Penandatanganan yang dilakukan Indonesia atas 2 (dua) Kovenan HAM Internasional (ICCPR dan ICESCR) untuk saat ini harus dinilai penting. Ambon. Oleh karena itu. Paling tidak pemerintah mempunyai ikatan moral dan ikatan hukum untuk menerapkan kewajibankewajiban dalam Kovenan tersebut ke dalam hukum nasional. 4 • Th. Untuk itu. NAD. (b) Pengorganisasian data dimaksud serta mekanisme pelaporannya. Sulawesi Tengah. 2007 .

Economic. Harry. PT Refika Aditama. DPR-RI dan Yayasan Kesehatan Perempuan. Jakarta. Human Rights Manual. Starke. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Hakekat. Vol. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan-International Covenant on Economic.H. et. 2005.G. Jakarta. 1998. Harmonisasi dan Sinkronisasi Rancangan Undang-undang dalam Rangka Pemantapan dan Pembulatan Konsepsi.. Wibisono. Kumpulan Makalah dan Tanggapan Fraksifraksi DPR-RI Mengenai Perubahan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992. Mahendra. Naning. Wibowo. Meneropong Hak Atas Pendidikan dan Layanan Kesehatan: Analisis Situasi di Tiga Kabupaten : Indramayu. Januari 2005. Social. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 40 tahun 2004 tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Indonesia Tahun 2004-2004. Sosial. Jurnal Legislasi Indonesia. Konsep dan Implikasinya dalam Perspektif Hukum dan Masyarakat. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Human Rights in Asia. Circle of Rights. (terj. Forum Asia. 2004.. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. 2001. 2003. 11 Juli 2006. Darji dan Shidarta. Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak-hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. Jakarta. Anharudin. September 2005. 3. S.). Mardiniah. edisi kesepuluh. Sikka dan Jayapura. 123–134. Jakarta. Departemen Hukum dan HAM Republik Indonesia. Juwana.DAFTAR PUSTAKA Bahan Rapat Kerja Komisi III DPR-RI Dengan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI Tanggal 12 Juni 2006. Australia. 2007 21 . Konvensi Pekerja Migran: Perlukah Indonesia Meratifikasi?. JURNAL HAM • Vol. Firdaus. and Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. 4 • Th. Jakarta. Hikmahanto.al. Oka. Bandung. CESDA-LP3ES. Implikasi Pengaturan HAM Dalam UUD terhadap Ius Constituendum. Forum Asia. Makarim. Darmodihardjo. Seminar “Memperkuat Sinergi Antar Pemangku Kepentingan Perlindungan HAM Pekerja Migran Perempuan Indonesia”. Pengantar Hukum Internasional. hal. Social and Cultural Rights Activism: A Training Resource. Jakarta. Pokok-pokok Filsafat Hukum: Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia.A. 2 No. Annual Human Rights Report 2000. PT Gramedia Pustaka Utama. Seminar “Memperkuat Sinergi Antar Pemangku Kepentingan Perlindungan HAM Pekerja Migran Perempuan Indonesia”. Hak Asasi Manusia. J. 11 Juli 2006. A. Jakarta. 2006. Sinar Grafika. hal. 9-13. 2000. Diterbitkan atas kerjasama Forum Parlemen Indonesia dan Kependudukan Pembangunan. dan Budaya). Department of Foreign Affairs and Trade. 2004. Bambang Iriana Djajaatmaja.

dibahas juga mekanisme pelaksanaan obligasi negara berdasarkan klausula Kovenan Hak Ekosob. Social and Cultural Rights dan International Covenant on Civil and Political Rights. yang dapat digunakan untuk menilai pelaksanaan obligasi Negara. dilakukan dengan sadar. Bagian ketiga. 4 • Th. dimuat tema “pelanggaran hak ekosob”. violation of the obligation. Pembuka Babak baru itu. * Kedua penulis saat ini bekerja di Yayasan Lembaga Batuan Hukum Indonesia JURNAL HAM • Vol. Social and Cultural Rights by Law No. Dibagian ini. pembahasan akan difokuskan pada obligasi Negara pasca ratifikasi Kovenan Ekosob. ditandai dengan persetujuan bersama antara DPR dan Pemerintah pada 30 September 2005. kemudian. This article describes and analyzes as well as shows example and practical illustration regarding State’s obligation. akan dideskripsikan dan dianalisis obligasi (kewajiban) Negara berdasarkan ketentuanketentuan dalam Kovenan Ekosob. Zen dan Andik Hardiyanto* Abstract After incorporation of International Covenant on Economic. explain definition and mean of State obligation. Selanjutnya. Di bagian pertama. Sosial dan Budaya – selanjutnya dalam tulisan ini disingkat dengan Kovenan Hak Ekosob – dan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik. 2007 22 . termasuk indikator keberhasilan dan kekagalan. 11/2005. Dibagian ini akan dicakup rumpun obligasi pokok Negara dan secara khusus membahas obligasi negara berdasarkan Pasal 2 ayat (1) Kovenan Hak Ekosob. Indonesia are legally binding to implement all state parties obligation as contained in the Covenant. Patra M. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengesahkan UU No. akan dipaparkan “kelirumologi” 3 sesat pendapat berkaitan dengan ketentuan dan implentasi Kovenan Hak Ekosob. pada 28 Oktober 2005. Selanjutnya.Bukan Sekedar Menandatangani: Obligasi Negara Berdasarkan Kovenan Hak Ekosob A. It’s formulated into 4 section. 12 tentang Pengesahan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. Artikel ini disusun kedalam 4 bagian. and. dibacakan hasil sidang untuk meratifikasi piagam hak asasi manusia: International Covenant on Economic. bagian kedua. Dalam tulisan ini. terdapat obligasi (kewajiban) internasional yang melekat pada Negara pasca meratifikasi kedua kovenan tersebut. khususnya berkaitan dengan tema “realisasi bertahap” (“progresif realization”) dan “sumber daya” (“resources”). 11 dan No. Ratifikasi terhadap the bill of human rights ini membangkitkan harapan baru bagi lahirnya tindakan yang lebih nyata bagi pemajuan penghormatan dan perlindungan hak asasi manusia di negeri ini. Dalam sidang Paripurna. monitoring procedure and mechanism based on the Covenant. including its indicators. Tentu saja pengesahan tersebut.

General Comment No.Di bagian akhir. Obligasi Negara dalam konteks ini adalah pernyataan “komitmen” dan “kemauan baik”. sebagaimana menjadi obligasi Negara berdasarkan Pasal 11 Kovenan maka Pemda jangan melakukan penggusuran!1 Tidak melakukan penggusuran paksa merupakan sebuah praktik yang tidak membutuhkan dana. politik atau pendapat lainnya. kekayaan atau lainnya. asal-usul kebangsaan atau status sosial. obligasi dalam Pasal 5 Kovenan juga dapat dipenuhi oleh Negara secara seketika. sebaliknya apakah masyarakat miskin kota lebih hina dari sampah. yakni: menghancurkan hak-hak dan kebebasan-kebebasan yang diakui dan melakukan pembatasan-pembatasan melebihi prinsip yang diperbolehkan Kovenan. Keliru Pandang Ketentuan dalam Kovenan Hak-Ekosob Meminjam istilah “kelirumologi”-nya Djaya Suprana. Negara dalam hal ini dapat mengimplementasikan obligasinya dengan seketika. 4 • Th. A. Tidak dikenal implementasi prinsip non-diskriminasi secara bertahap. Sixteenth session (1997). Sixth session (1991). Selain obligasi dalam Pasal 2 ayat (2) tersebut. sehingga pemerintah daerah hanya main gusur.3. Baru-baru ini Pemda DKI Jakarta dan Pemda Bandung sibuk mencari wilayah untuk tempat pembuatan akhir sampah-sampah penduduk kota. warna kulit. paras. Seluruh prinsip dan pemenuhan Hak Ekosob dipenuhi secara bertahap (progressive realization) Prinsip non-diskriminasi merupakan sebuah prinsip yang secara otomatis menjadi kewajiban negara dalam pemenuhannya. jenis kelamin. pemenuhannya dilakukan secara seketika. merupakan catatan penutup. pemerintah memberikan perhatian dan mencarikan tempat untuk sampah. 8 (a). Semua pemenuhan hak ekosob mesti menunggu sumber daya yang berlimpah Komite Hak Ekosob pernah menyatakan dalam pemenuhan hak ekosob. 11(1) of the Covenant). termasuk memastikan persamaan laki-laki dan perempuan menikmati semua hak-hak ekosob yang dijamin dalam Pasal 3 Kovenan. bahasa. dipaku untuk tonggak upaya mewujudkan keadilan sosial dan kebebasan masyarakat. A.2. 11 (1) of the Covenant): Forced Evictions. 4: The right to adequate housing (art. Artinya. Lihat juga secara khusus CESCR. 2007 23 . seluruh sumber daya yang ada harus 1 Lihat juga CESCR. agama. Karenanya. Semua pemenuhan hak ekosob membutuhkan biaya Ilustrasi ini dapat dijadikan contoh: jika pemerintah daerah (Pemda) belum mampu untuk memberikan fasilitas perumahan yang layak dalam bentuk apapun. General Comment No.1. JURNAL HAM • Vol. 7: The right to adequate housing (art. 13 and 18. paling tidak ada 3 kesalahan dan sesat pandang yang berkaitan dengan implementasi hak ekosob. memuat harapan: peristiwa peratifikasian Kovenan Hak Ekosob. A. tanpa mencarikan solusi agar mereka mendapatkan tempat untuk bernaung? A. yang tidak mengenal “setengah komitmen” atau “komitmen setengah-setengah” melainkan “komitmen penuh” untuk menjamin prinsip non-diskriminasi. Obligasi Negara dalam Pasal 2 ayat (2) Kovenan adalah menjamin hak-hak dalam Kovenan Hak Ekosob dilaksanakan tanpa diskriminasi apa pun seperti ras.

16 (Rev. The Com- mittee on Economic.000 lahir 45% hidup) Tingkat kegagalan 0.785.956.703.4% 10.287. 1). Implementasi obligasi pemerintah dalam memenuhi hak ekosob. seperti mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI).609 193. utamanya hak atas pendidikan dan kesehatan. tercatat sebagai pimpinan daerah yang mendapat pengakuan rekognisi publik.224. dengan menjalankan proyek pengolahan air mineral dari air laut. Bupati I Gde Winarsa. paling baik untuk mencontoh apa yang dilakukan I Gde Winarsa. (3) untuk mendukung hak atas pekerjaan.634 9. utamanya hak anak-anak untuk mendapatkan akses pendidikan dasar: menurunkan angka drop-out pelajar (lihat Tabel 2).555. 2004: 218.000.08% 0. (3) dalam skala tertentu berupaya menyediakan air bersih.008 205. sebagaimana contoh-contoh tersebut.599. langsung dan tidak langsung: menghantarkan I Gde Winarsa mencapai rekor MURI baru: memperoleh prosentase suara terbanyak dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) pada 12 Oktober 2005.911.540.551. I Gde Winarsa.25 8.digunakan dengan cara yang paling efektif (all existing resources must be devoted in the most effective way). Social and Cultural Rights. 2005: 5. Bupati Jembrana: sebuah kabaputen yang “tidak gemuk” PADnya (lihat tabel 1).147.562. mencapai 88. 4 • Th. Sumber: Dharma Santika Putra dan Nanoq da Kansas. yakni: (1) menjadi pelopor perwujudan program pendidikan dasar yang diwajibkan dan cuma-cuma (compulsory and free of charge). suka atau tidak.419 171. Juga perwujudan obligasi yang ditentukan oleh Pasal 13 Kovenan.56 JURNAL HAM • Vol. di kabupaten ini.688.395 11. Selain itu. (2) memenuhi hak kesehatan masyarakat: menyediakan dan memfasilitasi pelayanan kesehatan gratis melalui program.401. Jaminan Kesehatan Jembrana (JKJ).. juga membebaskan pajak bumi dan bangunan (PBB) bagi lahan sawah. Tabel 1 Jumlah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah serta Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Jembrana (2000 – 2004) Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 APBD PAD (dalam Rupiah) 66. Dengan jumlah APBD dan PAD tersebut.548 11.526. 2007 2 Lihat OHCHR.39 Berkurang (per 1.500.286 5. Fact Sheet No.02% Berkurang menyelesaikan 75% sekolah (drop-out) Sekolah Dasar Sumber: Diolah dari Yayasan TIFA.157. 24 .000 Tabel 2 Contoh Indikator Pemenuhan Hak-hak Ekosob di Kabupaten Jembrana Indikator Keluarga Miskin Tahun Perubahan 2001 2002 19.2 Dalam konteks ini. tetapi mampu menjalankan core-obligation dalam pemenuhan hak-hak ekosob.9% Berkurang 44% Kematian Bayi 15. pada dasarnya telah memenuhi obligasi yang dinyatakan dalam Pasal 10 Kovenan – memberikan perlindungan dan fasilitas bantuan pada keluarga.246.749 131.691 2.055.

Hal tersebut penting kembali diingatkan. 25 .4 DPR dan Pemerintah tidak dapat semena-mena menafsirkan hak atas air sebagai “water rights” a la Bank Dunia (World Bank) atau penafsiran yang dianut UU No. apakah terjadi pelanggaran obligasi Negara atau tidak. 23-25 Februari 2006. General Comment No. disiplin hukum internasional hak asasi manusia mengenalkan “minimum core obligation” atau obligasi pokok yang paling minimum yang harus dipatuhi dan diimplementasikan Negara. akan dieksaminasi dan diperiksa apakah negara yang bersangkutan telah melakukan segala upaya menggunakan segala sumber daya untuk melakukan obligasi pokoknya dalam pemenuhan hak ekosob. UU No. 11/ 2005. Untuk tujuan tersebut. 5 Lihat UN doc. Zen. 11 and 12 of the Covenant). para.persen dari total suara yang sah. 15 yang menjelaskan Pasal 11 dan 12 Kovenan. of the Covenant). Bandar Lampung. 3: The Nature of State parties’ obligations (art. naskah yang berlaku adalah naskah asli dalam bahasa Inggris serta pernyataan (declaration) terhadap Pasal 1 Kovenan Hak Ekosob. tidak lain dan tidak bukan untuk perlindungan dan pemenuhan hak. Selanjutnya. 10. yang pada prinsipnya memperbolehkan komersialisasi air untuk keuntungan orang seorang dan badan usaha privat. bukan sebaliknya malah Negara berkontribusi terhadap penurunan (degradasi) penikmatan hak ekosob warga-negaranya. Sebagai contoh berkaitan dengan “hak atas air” sebagai “hak asasi manusia”– sebagai elemen hak yang utama dalam Pasal 11 dan 12 Kovenan.3 B. maka penafsiran tentang isi kovenan ini tidak dapat “secara sewenang-wenang” diklaim oleh lembaga-lembaga Negara. yang bisa dicapai manusia. Jika didalami. kerjasama LBH Bandar Lampung dan FES Jakarta. right to water” sebagaimana dijabarkan dalam Komentar Umum (General Comment) Komite Ekosob No. namun mesti merujuk pada naskah asli dan sumber-sumber yang diakui. CESCR.5 Karenanya. lagi-lagi langsung dan tidak langsung menghantarkan Ratna Ani Lestari. jika terdapat perbedaan penafsiran terhadap terjemahannya dalam bahasa Indonesia. sebagai Bupati Banyuwangi. maka penafsiran pasal-pasal dalam Kovenan. 15: The right to water (arts. paper pada Pendidikan Kritis untuk Aktivis Partai Politik (Penegakan Demokrasi dan Pemenuhan Hak Ekosob).Twenty-ninth session (2002). Kovenan Hak Ekosob disusun. Penjelasan Pasal 1 ayat (2) dinyatakan. “Cara Mudah Menjadi Kepala Daerah: Dari Komitmen Pemenuhan Hak Ekosob Rakyat”. setinggi-tingginya dan semaksimal mungkin. Obligasi Negara Berdasarkan Ketentuan Kovenan Hak Ekosob Dengan pengikatan Indonesia sebagai Negara Pihak Kovenan Hak Ekosob. Fifth Session (1990). maka DPR dan Pemerintah. CESCR. 4 • Th. lihat antara lain A. seperti penjelasan yang diadopsi Komite Hak-hak Ekonomi Sosial dan Budaya (Komite Hak Ekosob) yang dibentuk berdasarkan ketentuan Kovenan. Disinilah kerangka kerja Negara mesti disusun agar meningkatkan penikmatan hak-hak ekosob semua orang. 2007 4 Lihat UN doc. 2. agar setiap orang dan kelompok masyarakat dapat menikmati semua katalog hak ekosob. mesti merujuk pada pengertian – “the 3 Tentang hal tersebut. Patra M. Dalam konteks ini. termasuk DPR dan Pemerintah. MURI mencatat rekor: I Gde Winarsa dan Ratna Ani Lestari sebagai pasangan suami-isteri (Pasutri) pertama yang menjadi Kepala Daerah. 7/2004 tentang Sumber Daya Air. para. 1. JURNAL HAM • Vol. General Comment No. yang mengizinkan hak guna pakai dan hak guna usaha atas air.

disiplin hukum hak asasi manusia mengenal 2 bentuk obligasi Negara yang pokok berdasarkan Kovenan Hak Ekosob: obligations of conduct dan obligation of result. Lima Layer Obligasi Pokok: Rumpun Obligasi yang Saling Berkait Atas jasa International Law Commission.. Mempraktikannya di Indonesia. anak-anak dari keluarga miskin tidak dapat menikmati pendidikan dasar. Ge- dan menyediakan (to provide) – penikmatan hak-hak ekosob.7 B. tidak dapat memasukan anak-anaknya ke sekolah karena mahalnya biaya pendidikan. 36-47.. Negara berkewajiban untuk menerima “the essential importance of international cooperation based on free consent”. JURNAL HAM • Vol. maka. Vol. Promosi bukan saja dilakukan melalui penyebaran iklan layanan masyarakat 9 Ibid. 11: Plans of action for primary education (art. 1 Oktober 2003. pp. dinyatakan: “Article 14 …requires each State party which has not been able to secure compulsory primary education. within a reasonable number of years. para. semua upaya dan segala tindakan untuk menerima (to mempromosikan (to promote).8 Obligation of conduct. “Justisiabilitas Hak-hak Ekonomi. within two years. melindungi (to protect) dan memenuhi (to fulfill) – memfasilitasi (to facilitate) 6 Periksa juga CESCR. Op. pejabat yang berkompeten dalam hal ini. 10 UN doc. to be fixed in the plan.10 b. 19.6 Ironis. paras. Sehingga.1. maka semestinya Negara mengakui semua mekanisme dan konsekwensi yang mesti ditanggung para pelaku pelanggaran hak ekosob. 10-11.. 4 • Th.cit. Misalnya: jika banyak keluarga miskin yang tidak dapat memperoleh akses terhadap pelayanan kesehatan. 1 No. General Comment No. menghormati (to respect). 9. 7 Ibid. Twentieth session (1999). para. General Comment No. 1. of the principle of compulsory primary education free of charge for all”. Lihat juga A. Mempromosikan (to promote) Aparat Negara. neral comment No. sebaliknya para anggota DPR dan DPRD malah menikmati studi banding yang menghabiskan bukan saja ratusan juga bahkan miliar rupiah setiap periode 5 tahun keanggotaan sebagai “wakil rakyat”.9 Obligasi Negara dalam hal mengakui prinsip-prinsip pemenuhan hak ekosob. Dalam Komentar Umum Komite Ekosob No. CESCR. Mengakui (to recognize) Klasifikasi obligasi Negara dalam mengakui bahwa hak ekosob merupakan hak asasi manusia. to undertake. juga secara tegas dinyatakan dalam hal upaya-upaya bantuan teknis internasional. 4: The right to adequate housing (art. 1.” dalam Jurnal HAM (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia). 11 (1) of the Covenant). free of charge. 11. 7. 3. 8 Lihat UN doc. Zen. mesti mempertanggunjawabkannya dalam sistem hukum di Indonesia (justiciable). para. to work out and adopt a detailed plan of action for the progressive implementation. 14).. a.Contoh dalam pemenuhan hak atas pendidikan dasar yang diwajibkan dan cuma-cuma sebagaimana dijamin dalam Pasal 14 Kovenan. Sixth session (1991). seperti jika terjadi pelanggaran atau kejahatan hak-hak sipil politik. Sebagai contoh. merupakan obligasi atau kewajiban Negara untuk melakukan sesuatu. 2007 26 . Patra M. termasuk aparat penegak hukum dan birokrasi mesti melakukan promosi hak-hak ekosob. Sosial dan Budaya: Menarik Pengalaman Internasional. CESCR.

Third session (1989). “Selesai. Tidak Dipublikasikan. Partisipasi masyarakat semacam ini (full and meaningful participation). 35/2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Untuk Kepentingan Umum. lihat juga “What does the rights to participate mean”. 36/2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Negara tidak diperkenankan untuk melakukan intervensi baik melalui peraturan perundangan atau kebijakan. 13 Lihat UN doc. “Lebih Represif. para.. Patra M. 27 . 10 Mei 2005. Menghormati (to respect) juan sukarela calon mempelai untuk melangsungkan perkawinan (Pasal 10 ayat (1) Kovenan). 4.14 Dalam Perpres ini seharusnya dimuat jaminan reparasi (rehabilitasi. JURNAL HAM • Vol. Sejumlah Kalangan Nilai yang Direvisi Tak Signifikan”. 4 • Th. 2628. pengawasan dan distribusi manfaat atau hasil-hasil yang ingin dicapai oleh program pemenuhan hak ekosob. General Comment No. maupun campur tangan langsung hak seseorang atau kelompok untuk membentuk serikat buruh/pekerja atas pilihannya sendiri atau melakukan pemogokan (Pasal 8 Kovenan) d. General Comment No. Pemerintah Dinilai Lebih Represif”. 9 Mei 2005 tentang Penetapan Peraturan Presiden No.cit. Perpres Nomor 36/2005 Harus Dibatalkan”. Essex University. Contoh lain. Dissertation for LL.M in International Human Rights Law. Program-program promosi atau seringkali disebut dengan sosialisasi mutlak wajib dilakukan. 2007 LBH Indonesia. h. Negara wajib menghormati persetu11 Bahasan yang rinci tentang prinsip full and mean- Op. Zen. 14 Lihat antara lain Siaran Pers Bersama Yayasan ingful participation dalam proses pembangunan. Suara Pembaruan. antara lain lihat A.11 Pentingnya Negara dalam menjalankan obligasi promosi. yakni memastikan adanya “legal security of tenure”. peraturan atau kebijakan “pembangunan” secara luas agar dapat diketahui dan dipahami oleh publik. CESCR. “YLBHI Minta Revisi Perpres Diwaspadai”. 12 Lihat UN doc. Keluarnya Peraturan Presiden (Perpres) No. antara lain. Lihat juga Kompas. Kompas. 7 Juni 2006. negara tidak melakukan tindakan yang justru membatasi sebagian atau seluruhnya hak-hak ekosob masyarakat. restitusi dan kompensasi) bagi si pemilik tanah. telah menjadi perhatian yang pokok oleh Komite Hak Ekosob. Kompas.tetapi juga melalui pelibatan masyarakat sipil secara aktif. para. Pembatasan hanya dapat dilakukan dengan maksud agar terpenuhinya hak-hak itu sendiri. Walhi. 26 September 2002. Dalam klasifikasi ini. pelaksanaan. Melindungi (to protect) Salah satu contoh yang paling prudent obligasi Negara untuk melindungi hak ekosob. Hal ini agar dimungkinkan adanya partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan. KSPA dan ELSAM. “Pemerintahan SBY-Kalla Menunjukkan Watak Aslinya: Mendahulukan Kepentingan Pemilik Modal Daripada Kepentingan Masyarakat”. 1: Reporting by States parties. “A critical contextual human rights analysis of Kedung Ombo Large Dam Project in Indonesia”. Obligasi penghormatan yang mesti dilakukan Negara. 9. 6 Juni 2006. CESCR. “Perpres tentang Pengadaan Tanah. dimungkinkan jika Negara mensosialisasikan rencana. 8(a). Revisi Perpres Tanah. pada dasarnya bertentangan dengan obligasi Negara untuk melindungi hak atas tanah: karena tidak diatur dengan jelas mekanisme perlindungan bagi seseorang atau kelompok masyarakat yang tanahnya diambilalih. mempunyai makna. University of Essex (2002). 10 Mei 2005. paper diskusi pada “Development and Human Rights”.13 keamanan hukum kepemilikan atas tanah.12 c. termasuk dalam hal Pelaporan yang dilakukan Negara Pihak.

4 • Th. sebagaimana dimuat dalam Kovenan sebagai berikut: Menyediakan lapangan kerja dan memfasilitasi bimbingan teknis. “cuma” bayar SPP. “cuma” bayar buku. Memenuhi: memfasilitasi dan menyediakan (to fulfill: to facilitate and to provide) Obligasi untuk memenuhi hak asasi manusia secara inheren mempunyai makna Negara melakukan upaya untuk memfasilitasi dan menyediakan hak-hak ekosob setiap warga negaranya. liburan dan pembatasan kerja yang wajar dan hak-hak yang melekat didalamnya (Pasal 7 Kovenan). e. juga dilakukan seperti memastikan setiap orang bebas dari kelaparan (Pasal 11 ayat (2) Kovenan) dan bebas untuk berpartisipasi dalam kehidupan budaya (Pasal 15 ayat (1) Kovenan). Dengan kerjasama internasional. Tidak seperti sekarang. yang dapat menghidupi keluarganya secara layak. Negara menyediakan dan memfasilitasi (akses) atas pangan. Menyediakan dan memfasilitasi jaminan sosial termasuk asuransi sosial bagi setiap warga negara (Pasal 9 Kovenan). kondisi kerja yang aman dan sehat. program-program pelatihan. 28 JURNAL HAM • Vol. sandang dan perumahan. Perlindungan.Contoh lain adalah memberikan perlindungan dalam bentuk peraturan perundang-undangan agar setiap orang dapat menikmati kondisi kerja yang adil dan menguntungkan. Menyediakan bantuan kepada keluarga untuk merawat dan mendidik anak-anak yang masih dalam tanggungannya (Pasal 10 Kovenan). Menyediakan dan memfasilitasi (akses) semua orang untuk menikmati manfaat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan penerapannya (Pasal 15 ayat (1) Kovenan). dan perbaikan kondisi hidup semua orang secara terus menerus (Pasal 11 Kovenan). Menyediakan dan memfasilitasi (akses) atas standar kesehatan fisik dan mental setinggi-tingginya yang dapat dicapai (Pasal 12 Kovenan). karenanya berhak mendapat cuti dengan upah/gaji dan jaminan sosial yang memadai. dan kegiatan ekonomi produktif (Pasal 6 Kovenan). serta menikmati istirahat. Menyediakan dan memfasilitasi (akses) atas pendidikan. Negara berdasarkan Pasal 10 ayat (2) Kovenan wajib memberikan perlindungan khusus kepada para ibu selama jangka waktu yang wajar sebelum dan sesudah melahirkan. meminta Negara untuk melakukan perlindungan bagi anak-anak dan remaja dari semua bentuk eksploitasi ekonomi dan sosial. termasuk memastikan pekerja/buruh memperoleh upah yang adil. termasuk memenuhi hak setiap orang menikmati pendidikan dasar yang wajib dan cuma-cuma (compulsory and free of charge) (Pasal 13 dan 14 Kovenan). dan seterusnya pungutan yang membebani siswa dan orang tua murid. kesempatan memperoleh promosi ke jenjang yang lebih tinggi. Sementara Pasal 10 ayat (3) Kovenan. Selanjutnya. 2007 . sebagai obligasi Negara. Perwujudan obligasi Negara untuk pemenuhan hak ekosob.

B. 3. sejauh dimungkinkan oleh sumberdaya yang tersedia (to the maximum available resources). laporan Negara Peserta harus menyebutkan tidak hanya langkah-langkah yang telah ditempuh namun juga alasan mengapa langkah-langkah tersebut dianggap sebagai paling tepat berikut situasisituasinya. susnya dengan mengadopsi langkah-langkah legislatif (by all appropriate means including particularly adoption of legislative measures)’ adalah bersifat unik dan tidak terdapat. yang mengarah pada pencapaian secara bertahap demi realisasi sepenuhnya dari hak-hak yang diakui dalam Kovenan ini dengan semua cara yang tepat. Menurut Komite Hak Ekonomi. termasuk pada khu15 UN doc. 17 Ibid.15 Selain itu. Pasal 2 ini menjelaskan sifat dari kewajiban yang umum ditempuh oleh Negara Peserta Kovenan.”16 Langkah-langkah tersebut haruslah dilakukan secara terencana.’ Komite Hak Ekosob mengakui bahwa negaralah yang harus memutuskan langkah-langkah yang tepat dan hal tersebut bergantung pada hak yang hendak diimplementasikan.2. Selanjutnya Komite menegaskan bahwa. Mengenal Lebih Dekat: Obligasi Negara Menurut Pasal 2 ayat (1) Kovenan Hak Ekosob Pasal 2 ayat (1) Kovenan Hak Ekosob menyatakan: “Setiap Negara Peserta Kovenan ini berupaya untuk mengambil langkahlangkah. JURNAL HAM • Vol.cit.. Pasal 2 tersebut mengandung kepentingan khusus untuk mencapai pemahaman seutuhnya atas Kovenan dan harus dilihat dalam hubungannya yang dinamis dengan semua ketentuan Kovenan lainnya. 3 telah menjelaskan bahwa. 4 • Th. Namun demikian. CESCR. para. 2007 29 . atau tidak digunakan dalam obligasi yang dimuat dalam Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik (Kovenan Hak Sipol). 1. “…walaupun realisasi sepenuhnya atas hak-hak yang relevan bisa dicapai secara bertahap. Sosial dan Budaya (Komite Hak Ekosob). 2. 4. Penggunaan istilah “Setiap Negara Peserta. Op. dan dengan semua cara yang tepat. khususnya dalam bidang ekonomi dan teknis. nampak penting di sini untuk memahami arti dari istilah-istilah yang digunakan dalam Pasal 2 Kovenan untuk memahami bagaimana implementasi kewajiban Negara seharusnya dijalankan.. para. secara sendiri maupun melalui bantuan dan kerjasama internasional. konkrit dan diarahkan kepada sasaran-sasaran yang dirumuskan sejelas mungkin dalam rangka memenuhi kewajiban-kewajiban Kovenan. memang biasanya ditafsirkan dengan kandungan arti implementasi Kovenan secara bertahap.17 Interpretasi Komite terhadap istilah ‘all appropriate measures’ jelas berkaitan baik dengan kewajiban melakukan 16 Ibid. berupaya mengambil langkahlangkah” sebagaimana tersebut dalam Pasal 2 (1) Kovenan Hak Ekosob. sejauh dimungkinkan oleh sumberdaya yang tersedia. termasuk pada khususnya dengan mengadopsi langkah-langkah legislatif”. namun langkahlangkah kearah itu harus diambil dalam waktu yang tidak lama setelah Kovenan berlaku bagi Negara Peserta bersangkutan. Komite Hak Ekosob melalui Komentar No... pencapaian secara bertahap demi realisasi sepenuhnya (achieving progressively the full realization). General Comment No. para. Istilah-istilah seperti: berupaya mengambil langkah-langkah (undertakes to take steps)..

(obligations of conduct) maupun kewajiban hasil (obligation of result). tidak memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan. Komite melihat bahwa setiap Negara Peserta mempunyai kewajiban minimum untuk memenuhi tingkat pemenuhan yang minimum dari setiap hak yang terdapat dalam Kovenan. dalam kasus dimana sejumlah cukup signifikan rakyat hidup dalam kemiskinan dan kelaparan. Jika hal itu pun terpaksa dilakukan dan terjadi. Berdasarkan pengalaman Komite ketika membahas laporan Kanada menyatakan. Pasal 2 ayat (1) Kovenan. Dalam kenyataan. Sementara itu berkait istilah ‘mengadopsi langkah-langkah legislatif’’(adoption of legislative measures) Komite memberi peringatan bahwa keberadaan hukum jelas penting tetapi hal tersebut belumlah cukup membuktikan Negara Peserta telah menjalankan kewajibannya sesuai Kovenan. maka harus dijalankan dengan pertimbangan yang sangat hati-hati. maka kecurigaan biasanya akan muncul berkenaan dengan adanya kesenjangan antara peraturan perundang-undangan dengan praktik. 2007 . pembelajaran dan ekspresi dari banyak Negara Peserta dalam mengimplementasikan kewajibannya telah mendorong pentingnya aplikasi pendekatan berbasis hak dalam “pembangunan”. Pada titik ini. menderita kelaparan. kewajiban Negara tetap dijalankan untuk menjamin pemenuhan hak yang seluas-luasnya dalam kondisi yang sangat terbatas itu. 30 JURNAL HAM • Vol. Suatu kebijakan ekonomi atau pembangunan memang untuk mencapai kesejahteraan warganegaranya. Komentar Umum No.18 Lebih jauh Komite menjelaskan bahwa sekalipun didapati kenyataan tidak cukupnya sumberdaya yang ada. jika laporan difokuskan secara sempit pada aspek-aspek legal semata. atau tidak menikmati pendidikan dasar. Sebagai contoh. Kini ratifikasi Kovenan Hak Ekosob memberi pemahaman mendasar bahwa peningkatan ekonomi haruslah secara nyata didasarkan pada penghormatan dan realisasi hak asasi manusia. pada saat terjadi keterbatasan sumberdaya yang akut. Komite menyatakan bahwa. Komite mengakui pentingnya sumberdaya bagi pemenuhan hak-hak ini.. tetapi mereka tidak dapat dibuat menunggu pemenuhan hak-hak asasinya sampai klaim “pertumbuhan ekonomi” memungkinkan hal itu. Disinilah konteks gagasan kewajiban minimum (minimum core obligation) yang dikembangkan oleh Komite. dibutuhkan justifikasi penuh dengan mengacu pada inti hak yang ditentukan dalam Kovenan dan dalam konteks pemanfaatan sejauh mungkin atas sumberdaya yang ada. maka dapat dinyatakan Negara gagal menjalankan obligasinya berdasarkan Kovenan. Dalam kasus semacam ini. tetapi tidak menganggap bahwa ketersediaan sumberdaya sebagai alasan untuk lepaskan kewajibannya. Komite sekali lagi memberi peringatan bahwa klausul realisasi secara progresif sepatutnya juga dicerminkan pada pelaksanaan kewajiban yang menjamin agar tidak terjadi perkembangan regresif atau kemunduran. 4 • Th. maka Negara harus membuktikan bahwa kegagalannya memenuhi hak-hak orangorang ini memang diluar kendali. juga menegaskan tentang perlunya kerjasama dan bantuan internasional berkait dengan upaya realisasi hak. para. 3 memberi ilustrasi yang sangat jelas untuk hal ini. 10. Bahkan. tak mempunyai tempat bernaung dan perumahan. anggota masyarakat yang rentan dapat dan memang harus mendapatkan perlindungan dengan diadopsinya programprogram yang dirancang relatif murah. jika terdapat penduduk secara massal. Pada kenyataannya 18 Ibid.

bahwa pada akhirnya mereka menjadi sangat tergantung pada aliran dana luar negeri. Problemnya. 19 Andik Hardiyanto. Konsep kewajiban minimum diajukan oleh Komite untuk menyangkal alasan tidak adanya sumberdaya sebagai faktor yang mencegah pemenuhan kewajiban.20 Tetapi yang penting dipahami di sini adalah bahwa kegagalan Negara Peserta untuk memenuhi kewajiban yang terkandung dalam Kovenan jelas merupakan pelanggaran terhadap Kovenan. Empat Pilar Demokrati- sasi Melawan Kemiskinan dan Pemiskinan. yang biasanya menunjuk pada keterlibatan lembaga atau badan pembangunan multilateral dan keuangan internasional. kerjasama pembangunan internasional ditandai oleh berbagai perubahan cara pandang dan kebijakan yang merujuk pada pemahaman bahwa realisasi hak asasi manusia merupakan kunci untuk lepas dari situasi ini. GAPRI. Jakarta. Komite menegaskan bahwa Negara mempunyai kewajiban minimum guna memenuhi realisasi setiap hak yang terdapat dalam Kovenan pada tingkat yang minimum. et. JURNAL HAM • Vol.19 C. pada banyak Negara. Pelanggaran Hak dalam Kovenan Hak Ekosob dan Monitoring Obligasi Negara C. Dibutuhkan keterlibatan pihak ketiga. atau tiada akses terhadap pendidikan dasar merupakan petunjuk awal bagi kegagalan Negara untuk memenuhi kewajiban sebagaimana diatur Kovenan. Tetapi terpisahnya logika globalisasi ekonomi dengan kerangka kerja hak asasi manusia menjadikan harapan akan membaiknya situasi derita dunia menjadi pupus kembali. Pemahaman ini didasarkan pada keberadaan gagasan kewajiban minimum (minimum core obligation) yang dikembangkan oleh Komite. penguatan konsep pelanggaran Hak Ekosob terus dilakukan oleh banyak ahli hukum hak asasi manusia internasional yang kemudian dituangkan dan dikenal sebagai Prinsip-Prinsip Limburg (the Limburg Principles). 2005.al.. dan sementara itu sebagian besar penduduknya tetap dan jatuh miskin.. tiada akses terhadap pemukiman dan perumahan yang layak. dan Negara pengutang tidak berdaya karena situasi ketergantungan dan keterjebakan hutang yang dialaminya. terjebak pada hutang luar negeri yang sangat besar. Kesulitan utama dari persoalan ini adalah operasional dari lembaga atau badan pembangunan multilateral dan keuangan internasional itu lepas dari kerangka kerja hak asasi manusia. kekurangan pelayanan kesehatan dasar. untuk mendukung bantuan teknis dan pinjaman dana. Pada suatu titik momentum ketika kelaparan dan kemiskinan menjadi musuh nomor satu dari semua Negara di dunia ini.1. 4 • Th. Pelanggaran Hak Ekosob: Indikator Keberhasilan dan Kegagalan Obligasi Negara Komite menegaskan bahwa Negara Peserta yang penduduknya dalam jumlah yang signifikan mengalami kekurangan bahan pangan. Kegagalan untuk memenuhi kewajiban minimum dapat disebut sebagai pelanggaran terhadap hak yang termuat dalam Kovenan Hak Ekosob. Prinsip-prinsip ini memberikan kerangka dasar bagi pengembangan lebih lanjut atas berbagai asumsi dan konsep pelanggaran Hak Ekosob.memang Negara Peserta mengalami kesulitan dalam melaksanakan kewajiban untuk melindungi dan memenuhi hak secara penuh. Dalam perkembangannya. 2007 31 .

9. penegakan hak-hak yang terkandung dalam Kovenan Hak Ekosob ini bisa ditangani oleh pihak yudikatif. (v) sengaja menghambat atau menghalangi realisasi bertahap atas hak-hak yang diakui dalam Kovenan. sosial. (ii) gagal menyingkirkan segera atas berbagai hambatan yang menghalangi realisasi hak secara penuh. (vi) gagal menyampaikan laporan sebagai ditentukan dalam Kovenan. dapat menggunakan kebijakan dan standard yang sudah ada. dalam rangka pemeJURNAL HAM • Vol. Belanda pada Juni 1986. 32 . menurut Komite. Sementara itu. annex. dan budaya merupakan wilayah eksekutif dengan berbagai kebijakan dan programnya. p. perlindungan anak dari eksploitasi ekonomi dan sosial (Pasal 10 ayat (3) Kovenan). 2007 the International Covenant on Economic. Komite menyatakan bahwa hak ekosob juga menjadi urusan pengadilan. Human Rights Quarterly. May 1987. dalam situasi dan kondisi dimana Negara Peserta: (i) gagal mengambil langkah-langkah seperti yang disyaratkan dalam Kovenan. hak orang tua untuk memilihkan sekolah bagi anak-anaknya guna menjamin pendidikan agama serta moral yang sesuai dengan keyakinan mereka (Pasal 13 ayat (3) Kovenan). dihasilkan dalam sebuah pertemuan pakar hukum internasional di Maastricht. Social and Cultural Rights. hak untuk membentuk serikat buruh dan hak mogok (Pasal 8 Kovenan). upah yang sama bagi pekerjaan yang sama antara laki-laki dan perempuan (Pasal 7 huruf (a) angka (i) Kovenan). 2. Dengan begitu. E/CN. 4 • Th.Pelanggaran terhadap Kovenan tersebut. Komite Hak Ekosob melalui Ko20 The Limburg Principles on the Implementation of mentar Umum No. maka pemahaman akan penegakan realisasi hak ekonomi. hak untuk mendirikan dan mengarahkan sekolah (Pasal 13 ayat (4) Kovenan). (iii) gagal untuk mengimplementasikan hak yang perlu segera direalisasikan. yang dimuat dalam katalog hak Kovenan – utamanya dalam Bab III (Pasal 6 sampai dengan 15 Kovenan) Sebagai contoh. dapat dimaknai. kebebasan melakukan penelitian ilmu pengetahuan serta kegiatan kreatif (Pasal 15 ayat (3) Kovenan). seperti termuat dalam Kovenan Hak Ekosob.4/1987/17. pendidikan dasar (Pasal 13 angka (2) huruf (a) Kovenan). perlu dibuat blue-print untuk masing-masing pemenuhan hak ekosob. Dapat juga ditemukan pada UN doc. upah yang adil dan setara. atau lebih dikenal dengan Limburg Principles. karena pengembangan konsep pelanggaran hak banyak difokuskan pada pemenuhan kewajiban. seperti: non-diskriminasi dalam realisasi hak (Pasal 3 Kovenan). Vol. Untuk mengukur apakah Negara berhasil atau sebaliknya gagal dalam menjalankan obligasinya. Jika belum maka. 122. di sisi lain. (iv) menerapkan pembatasan atas hak yang diakui dalam Kovenan dengan alasan-alasan yang tidak sesuai seperti yang disyaratkan Kovenan. Komite jelas menolak pemahaman ini. No.3 telah mengidentifikasi beberapa ketentuan Kovenan yang bisa ditangani segera oleh pihak yudikatif.

Walaupun “terlambat” lahir. Dokumen kebijakan ini menggunakan pendekatan berbasis hak untuk memahami kemiskinan dan mengembangkan upaya-upaya penanggulangannya. dilakukan antara lain melalui pengawasan yang dilakukan Komite Hak Ekosob yang dibentuk berdasarkan Kovenan. termasuk ketercukupan pangan. Mekanisme Monitoring Pelaksanaan Obligasi Negara Selain memberikan penafsiran dan elaborasi terhadap pasal-pasal dalam Kovenan. Menariknya. karena dokumen ini kemudian dijadikan rujukan bagi penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009. dokmen ini disusun dengan perspektif. pelaksanaan dan evaluasi semestinya dapat dimintai pertanggunjawaban secara politik dan hukum. Oktober 2005. Selain itu. kualitas kehidupan seseorang sangat bergantung pada realisasi hak-hak asasinya.21 SPNK dapat dikatakan berhasil antara lain jika peringkat Indonesia. Komite ini terdiri dari 18 pakar independen yang bekerja untuk memeriksa (mengeksaminasi) laporan Negara Pihak dalam menjalankan obligasi (kewajiban) yang tercantum di Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. Karenanya. dalam Human Development Index (HDI) naik dan terjadi peningkatan indikatorindikator kesejahteraan. dokumen SNPK ini. pemerintah misalnya telah merumuskan kebijakan Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SPNK). Mekanisme monitoring implementasi ketentuan dalam Kovenan Hak Ekosob. tapi juga politik dan hukum. Sosial dan Budaya (Kovenan Hak Ekosob). di satu sisi. dan termasuk pula sebagai rujukan penyusunan Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD) dan RPJM Daerah JURNAL HAM • Vol. melakukan pemantauan terhadap implementasi obligasi Negara Pihak dalam mempromosikan.2. menghormati. Para penanggungjawab dan aparat Negara yang terlibat dalam perencanaan. utamanya hak-hak ekosob. Stra- dokumen SPNK mesti diletakan pada dokumen yang semestinya membawa implikasi bukan saja ekonomi. melindungi dan memenuhi (memfasilitasi dan menyediakan) hak-hak ekosob masyarakat. 2007 33 . dibandingkan “Komite Hak Asasi Manusia”. C. fungsi utama Komite Ekosob. Komite Hak Ekosob mulai menjalankan fungsinya sebagai lembaga pengawas pada 1986. Dalam dokumen ini juga ditegaskan. dapat dikatakan. dan di sisi lain adalah menjadi kewajiban Negara untuk melaksanakan realisasi hak-hak asasi itu sepenuhnya. yang memandang problem kemiskinan berkait langsung dengan tidak terpenuhinya hak-hak dasar. Memeriksa. 21 Komite Penanggulangan Kemiskinan (KPK). SPNK juga memuat rekomendasi caracara penghapusan kemiskinan dan pencapaian tujuan Millenium Development Goals (MDGs) dengan mekanisme implementasi yang diadopsi oleh Kovenan Hak Ekosob. serta peningkatan kondisi kehidupan secara terusmenerus. 4 • Th. kebijakan ini merupakan bentuk pengakuan. tegi Nasional Penanggulangan Kemiskinan. peristiwa kemiskinan adalah masalah hak asasi manusia. pakaian dan perumahan yang layak.nuhan hak setiap orang untuk menikmati standard hidup yang layak bagi dirinya dan keluarganya. atau disebut dengan mekanisme berdasarkan perjanjian (treatybased mechanism). menggantikan sebuah Kelompok Kerja (Working Group) yang dibentuk Dewan Ekonomi dan Sosial – Economic and Social Council (ECOSOC). Menjadi menarik di sini.

Social and Cultural Rights. E/CN. 4 • Th. Miloon KOTHARI (India) 1998 1998 1998/33 1998/25 Vernor MUOZ VILLALOBOS (Kosta Rika) Arjun SENGUPTA (India) 34 JURNAL HAM • Vol. yang kemudian dikembangkan di Maastricht pada 1986. Limburg Principles on the Implementation of the International Covenant on Economic. Demikian juga kerjasama dengan Organisasi Buruh Internasional – International Labor Organisation (ILO) dalam kaitan dengan hak-hak buruh atau bekerjasama dengan UN Centre for Human Settlement (Habitat) berkaitan dengan hak setiap orang untuk menikmati perumahan yang layak. seperti Prinsip-prinsip Limburg (Limburg Principles). Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB – United Nations Educational. Komite mengambil manfaat dan bekerjasama dengan para pakar yang bekerja pada Organisasi Pendidikan. Scientific and Cultural Organisation (UNESCO). Tabel 3 Prosedur Khusus dibawah Komisi Hak Asasi Manusia. dengan Mandat Tematik yang relevan dengan Hak-hak Ekosob (Per 1 Februari 2006) Nama/Mandat Dasar Pemberian Nama dan asal negara Mandat pemegang mandat Tahun Nomor Resolusi 2000 2000/9 Pelapor khusus untuk perumahan yang layak – sebagai komponen hak atas standar hidup yang tinggi Pelapor Khusus untuk hak atas pendidikan Pakar independen tentang masalah hak asasi manusia dan kemiskinan yang ekstrim Mr. dalam memeriksa laporan yang berkaitan dengan obligasi negara untuk memenuhi hak atas pangan. Komite Hak Ekosob dalam menjalankan fungsinya juga mendengarkan pendapat dan masukan dari para pelapor khusus ini (lihat Tabel 3). Contoh lain. untuk selanjutnya Komite memberikan rekomendasi tentang hal-hal yang perlu dilakukan Negara selanjut- nya. 22 Lihat UN doc. Komite juga memperhatikan dokumen yang berkaitan dengan hak-hak ekosob.22 Selain treaty-based mechanism tersebut. seperti dinyatakan dalam Pasal 11 Kovenan. maka dimungkinkan juga pengawasan dilakukan berdasarkan nontreaty based seperti prosedur khusus (special procedure) dibawah Komisi Hak Asasi Manusia (Commission on Human Rights) – yang sekarang diganti oleh Dewan Hak Asasi Manusia (Human Rights Council). Dalam hal ini. Sebagai contoh. Dialog yang terjadi antara Komite dengan perwakilan Negara dikembangkan. Komite dituntut selalu mengembangkan praktik kreatif untuk mendorong Negara Pihak benarbenar menjalankan kewajibannya. Dokumen ini dirumuskan dan disetujui oleh kelompok ahli dalam pertemuan hukum internasional di Maastricht Belanda. 2007 .4/1987/17. Komite bekerja sama dengan Organisasi Pangan dan Pertanian – Food and Agriculture Organisation (FAO).Dalam menjalankan fungsinya. Dalam melaksanakan fungsinya. Komite bekerjasama dengan lembaga-lembaga khusus PBB yang lain. dalam memeriksa obligasi pemenuhan hak atas pendidikan. annex.

khususnya perempuan dan anak Perwakilan khusus Sekretaris Jenderal tentang hak asasi manusia dan korporasi trans-nasional dan perusahaan bisnis lainnya 2000 2002 2001 2000/10 2002/31 (untuk 3 tahun) 2001/57 Jean ZIEGLER (Swis) Mr. Tanpa kehadiran atau absennya pilihan idelogi yang benar-benar hendak membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik: kesejateraan rakyat dan keadilan sosial. bahan bakar pemenuhan hak ekosob ini. BUSTAMANTE (Meksiko) Gay MCDOUGALL (Amerika Serikat) Rudi Muhammad RIZKI (Indonesia) Bernards Andrew NYAMWAYA MUDHO (Kenya) Okechukwu IBEANU (Nigeria) 2000 1995 Resolution 1995/81 2004 2005 2004/110 (untuk 3 tahun) 2005/69 (untuk 2 tahun) Sigma HUDA (Bangladesh) John Ruggie (Amerika Serikat) Penting untuk diingatkan lagi.Pelapor khusus untuk hak atas pangan Pelapor khusus tentang hak setiap orang menikmati standar fisik dan mental tertinggi yang dapat dicapai Pelapor khusus tentang situasi hak asasi manusia dan kebebasan fundamental penduduk asli/adat Perwakilan Sekretaris Jenderal untuk hak-hak asasi pengungsi didalam negeri Pelapor Khusus tentang hak-hak penduduk migran Pakar independen untuk isu-isu minoritas Pakar independen tentang hak asasi manusia dan solidaritas internasional Pakar independen untuk dampak pembaharuan kebijakan ekonomi dan utang luar negeri Pelapor khusus tentang dampak yang ditimbulkan pemindahan dan pembuangan produk dan limbah beracun dan berbahaya terhadap penikmatan hak asasi manusia Pelapor khusus tentang perdagangan manusia. tidak lain tidak bukan adalah ideologi yang mendasari orde ekonomi. jelas apa yang menjadi hak setiap warga negara. Penutup: Preferensi Ideologi Kerakyatan. Keadilan Sosial dan Kebebasan Masyarakat Secara normatif. Rodolfo STAVENHAGEN (Meksiko) Mr. dapat dikatakan. Tidak hanya pemerintah yang tengah berkuasa. Namun. 2007 Begitu juga obligasi atau kewajiban dari Negara dalam pemenuhan hak ekosob. DPR dan lembaga yudikatif. berdasarkan Kovenan Hak Ekosob. JURNAL HAM • Vol. sa- 35 . 4 • Th. politik dan hukum. Walter K‰lin (Swis) 2004 1999 2005 2005 2004/55 (untuk 2 tahun) 1999/44 2005/79 (2 tahun) 2005/55 (untuk 3 tahun) 2000/82 Jorge A. partisipasi dan keterlibatan masyarakat dimungkinkan secara penuh. dimana Komite senantiasa meminta atau terbuka untuk menerima masukan dari organisasi-organisasi non-pemerintah ketika memeriksa laporan yang disampaikan Negara Pihak. D. maka norma dan standar hak asasi manusia hanya menjadi tumpukan kertas tebal yang dibinding apik: sebagai bahan rujukan tanpa tindakan. Paul HUNT (Selandia Baru) Mr.

35/2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Untuk Kepentingan Umum Kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009. kerjasama LBH Bandar Lampung dan FES Jakarta.. dinyatakan bahwa pertimbangan Indonesia menjadi Negara Pihak Kovenan Hak Ekosob karena “Indonesia adalah negara hukum dan sejak kelahirannya pada 1945 menjunjung tinggi HAM”. Artikel/paper A. misalnya justeru malah melapangkan jalan bagi komersialisasi air dan mampetnya akses masyarakat terhadap sumber-sumber air. Empat Pilar Demokratisasi Melawan Kemiskinan dan Pemiskinan. “Justisiabilitas Hak-hak Ekonomi. Social dan Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. Social and Cultural Rights. Mudah-mudahan janin yang ada tak lama lagi lahir! Daftar Pustaka Peraturan Perundang-undangan UU No. 2007 . 2005. 16 December 1966. 11/2005. The Limburg Principles on the Implementation of the International Covenant on Economic. UU No. 7/2004 tentang Sumber Daya Air. UN doc. para anggota parlemen. 11/2005 tentang Pengesahan International Covenant on Economic. 23”– 25 Februari 2006. UN docs. 7/2004 tentang Sumber Daya Air Peraturan Presiden No. 2200A (XXI).lah satunya dapat membawa masalah tersendiri dalam upaya pemenuhan hak ekosob. —————. Sebagai akhir. paper pada Pendidikan Kritis untuk Aktivis Partai Politik (Penegakan Demokrasi dan Pemenuhan Hak Ekosob). Sosial dan Budaya: Menarik Pengalaman Internasional. International Covenant on Economic. GA Res. “Cara Mudah Menjadi Kepala Daerah: Dari Komitmen Pemenuhan Hak Ekosob Rakyat”. 36 JURNAL HAM • Vol. Patra M. Social and Cultural Rights. E/CN. Entry into force 3 January 1976. Essex University. dan para hakim yang menyadari benar dan mampu menyelami suasan kebatinan dan tujuan berdirinya Republik ini. dalam UU No. Sebaliknya putusan Mahkamah Agung yang memenangkan pengujian Peraturan Daerah (Pemda) yang merubah status sejumlah rumah sakit umum daerah (RSUD) Jakarta – menjadi Perseroan Terbatas (PT) justru dapat dikatakan sebagai sebuah benteng terhadap komersialisasi pelayanan kesehatan.4/1987/17. 1 Oktober 2003. Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SPNK). 36 – 47. et. Putusan-putusan Mahkamah Konstitusi. Vol. Putusan Mahkamah Konstitusi yang menolak permohonan pengujian UU No. perlu dicatat. in accordance with article 27. Zen. 26 September 2002. GAPRI: Jakarta. —————. antara lain: menentang imperialisme dan menyejahterakan semua rakyat Indonesia.. 1 No. “A critical contextual human rights analysis of Kedung Ombo Large Dam Project in Indonesia”. yang seharusnya menjadi obligasi Negara.” dalam Jurnal HAM (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia). Sosial dan Budaya).M in International Human Rights Law. Andik Hardiyanto.. Dissertation for LL. University of Essex (2002).“What does the rights to participate mean”. atau putusan-putusan Mahkamah Agung juga membawa implikasi terhadap jaminan hak-hak ekosob. Mempraktikannya di Indonesia. annex. Tantangannya tidak lain: melahirkan kembali para pemimpin. Tidak Dipublikasikan —————. Bandar Lampung. pp. paper diskusi pada”“Development and Human Rights”.al. 4 • Th. —————.

Fact sheet OHCHR. “Perpres tentang Pengadaan Tanah. Suara Pembaruan. 1). KSPA dan ELSAM. 11 (1) of the Covenant): Forced Evictions. 11: Plans of action for primary education. ————. Walhi. 6 Juni 2006. JURNAL HAM • Vol. General Comment No. General Comment No. 9: the domestic application of the Covenant. 2. 2007 37 . “Pemerintahan SBY-Kalla Menunjukkan Watak Aslinya: Mendahulukan Kepentingan Pemilik Modal Daripada Kepentingan Masyarakat”. ————. Lainnya Siaran Pers Bersama Yayasan LBH Indonesia. “YLBHI Minta Revisi Perpres Diwaspadai”. 1990. 15: The right to water (arts. 11 and 12 of the Covenant). “Lebih Represif. 4: The right to adequate housing (art. ————. Twentieth session (1999). Kompas. 7 Juni 2006. Social and Cultural Rights CESCR. Third session (1989). General Comment No. The Committee on Economic. Perpres Nomor 36/2005 Harus Dibatalkan”. General Comment No. Revisi Perpres Tanah. 9 Mei 2005 tentang Penetapan Peraturan Presiden No. General Comment No. 4 • Th. ————. General Comment 3: The Nature of States partie’s obligations (art. ————. Sixth session (1991). 11 (1) of the Covenant). General comment No. 10 Mei 2005. Fact Sheet No. 7: The right to adequate housing (art. Twenty-ninth session (2002). ————. 36/ 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Sejumlah Kalangan Nilai yang Direvisi Tak Signifikan”. Pemerintah Dinilai Lebih Represif”. 1 of the Covenant). Fifth Session. Social and Cultural Rights. 1: Reporting by States parties. Kompas. para. Sixteenth session (1997). Kompas. Nineteenth session (1998). 16 (Rev. 10 Mei 2005. “Selesai.General Comment Committee on Economic.

Tahun 1946 PBB membentuk sebuah Komisi khusus menangani upaya pemajuan dan perlindungan HAM dan tahun 1948 berhasil menyusun Deklarasi Universal HAM. Namun dalam perkembangannya terutama setelah memperoleh masukan dari berbagai lapisan masyarakat akhirnya kedua kovenan disepakati untuk diratifikasi pada tahun ketiga yakni tahun 2001. I. Pembahasan mengenai HAM ini semakin mengemuka setelah berdirinya PBB tahun 1945 yang dilatarbelakangi kesadaran masyarakat internasional untuk menghentikan perang yang ternyata hanya menimbulkan penderitaan bagi umat manusia. orang tersebut akan menjadi manusia yang tidak normal lagi. JURNAL HAM • Vol. Karena itu tidak mengherankan sedikitnya 7 ketentuan Piagam PBB yang menyangkut HAM dan kebebasan mendasar. Direktorat Hak Asasi Manusia dan Kemanusiaan. a. Menurut catatan sejarah Perang Dunia II saja menelan korban 60 juta jiwa. Social and Cultural Rights (ICESCR) pada tahun pertama. Latar Belakang Ratifikasi ICCPR Gagasan pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) secara resmi dapat dilihat dari RAN-HAM 1998-2003 di mana disebutkan bahwa kovenan itu akan diratifikasi pada tahun ke-lima (2003)1 sedangkan International Covenant on Economic. 1 The Indonesian National Plan of Action on Human Rights 1998-2003. Direktorat Organisasi Internasional. These obligations consist of general obligation and specific obligation. Jakarta 25 June 1998.2 Namun hingga RAN-HAM pertama tersebut berakhir tahun 2003 ICCPR belum dapat diratifikasi. the Indonesian Government is also expected to fulfill its reporting obligations to the Secretary General of the United Nations with regard to the implementation of the Covenant. Jakarta 25 Juni 1998. 4 • Th. Pendahuluan Hak asasi manusia adalah hak yang melekat pada seseorang dan kalau diambil. Sosial dan Budaya yang diterima Majelis Umum PBB tahun 1966. 2 Revisi The Indonesian National Plan of Action on Human Rights 1998-2003. The general obligation of the Indonesian Government is to take appropriate measures and to develop appropriate policies so as to give effects to the rights in the Covenant. Berdirinya PBB diharapkan akan dapat mengurangi penderitaan umat manusia melalui penghormatan harkat dan martabat manusia itu sendiri. Departemen Luar Negeri.KEWAJIBAN NEGARA DALAM ICCPR Jonny Sinaga* Abstract The ratification of the International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) has brought new obligations for the Government of the Republic of Indonesia. In addition. Dalam RAN-HAM periode 2004-2009 kedua kovenan kembali dicantumkan sebagai * Penulis adalah Kepala Sub-Direktorat Hak Sipil dan Politik. Direktorat Organisasi Internasional. Ketentuan dalam Deklarasi tersebut kemudian dituangkan dalam Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik dan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. Direktorat Jenderal Multilateral. 2007 38 .

Baik ratifikasi maupun aksesi mempunyai dampak hukum yang sama. New York. 2006. 4 Resolusi Majelis Umum PBB No. 8 Paragraf 4 pembukaan Kovenan. Segera setelah Deklarasi Universal HAM diterima oleh Majelis Umum PBB tahun 1948. b. Diterbitkan oleh Departemen Luar Negeri. maka Pemerintahnya mempunyai tiga kewajiban yakni menghormati.8 II. 2007 7 Sesuai dengan pasal 49 (2) Kovenan Internasional Hak-hak Sipil dan Politik. Kewajiban Negara Pihak pada ICCPR Dengan disahkannya9 ICCPR maka sudah barang tentu akan menimbulkan kewajiban baru bagi negara yang mengesahkan perangkat internasional tersebut.3 Sebagaimana dimaklumi Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (ICCPR) yang disahkan oleh Majelis Umum PBB tahun 19664 merupakan dokumen internasional penting yang mengikat secara hukum bagi negara-negara yang telah mengesahkannya. Direktorat Jenderal Perlindungan HAM. Berlakunya ICCPR bagi Indonesia Indonesia mengesahkan Kovenan tersebut melalui UU No. dan memenuhi hak-hak asasi sebagaimana diatur dalam perangkat HAM internasional dimaksud. Permanent Mission of the Republic of Indonesia to the United Nations.7 Negara-negara pihak pada ICCPR di dalam pertimbangannya menyatakan bahwa sesuai dengan Piagam PBB negara mempunyai kewajiban untuk memajukan penghargaan universal dan pengasawan hak dan kebebasan manusia.5 Kedua kovenan tersebut baru pada tahun 1966 dapat disepakati oleh sidang Majelis Umum PBB. maka terpaksa disusun dua kovenan. JURNAL HAM • Vol. 39 . Reference: C. Kovenan tersebut berlaku bagi Indonesia mulai tanggal 23 Mei 2006 yakni 3 bulan setelah Sekjen PBB menerima piagam pengesahannya. Kewa- 2009. Pemerintah kemudian menyerahkan piagam pengesahan kepada Sekjen PBB tanggal 23 Februari 2006. upaya menyusun sebuah kovenan tunggal HAM dimulai tetapi karena dominasi negara-negara tertentu di Komisi HAM. melindungi. 206.prioritas ratifikasi yang dijadwalkan diratifikasi tahun 2004. a. 6 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2005 Tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional Tentang Hak-hak Sipil dan Politik). 9 Pengesahan mencakup dua hal yakni ratifikasi (mengesahkan dan ikut sebagai penanda-tangan) dan aksesi (mengesahkan tetapi tidak ikut sebagai penanda-tangan). TREATIES-6. 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik) tanggal 28 Oktober 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 nomor 119). Departemen Hukum dan HAM. Kewajiban negara pihak ini dapat digolongkan ke dalam dua bagian yakni kewajiban berupa langkah atau kebijakan yang harus diambil Pemerintah guna menjamin pelaksanaan hak-hak yang ditur dalam kovenan. 4 • Th. 5 Indonesia and the United Nations: Working for Peace and Development. 2200A (XXI) tanggal 16 Desember 1966. Depositary notification tanggal 3 Marte 2006. Initial edition 2005.6 Sesuai dengan penegasan Sekjen PBB ter3 Rencana Aksi Hak Asasi Manusia Indonesia 2004- tanggal 3 Maret 2006.N.2006. serta kewajiban khusus negara pihak untuk menyampaikan laporan kepada Sekjen PBB mengenai pelaksanaan kovenan. Kewajiban umum negara pihak Ketika suatu negara menjadi pihak pada perangkat HAM internasional.

ketika negara-negara mengesahkan suatu perangkat HAM internasional.19.aaas. Tentunya akan lebih baik menunggu sampai suatu negara pihak siap melakukan isi suatu perangkat internasional. Sebagai contoh Deklarasi Universal HAM tahun 194813 yang sudah diter10 Disadur dari : Promoting and Defending Economic. ICCPR yang mulai berlaku tanggal 23 Maret 1976 sesuai dengan pasal 49 ICCPR.ch/html/menu6/2/fs19. Office of the High Commissioner for Human Rights. daripada negara itu terburu-buru mengesahkannya padahal setelah disahkan sesungguhnya belum siap untuk melaksanakannya. terdiri dari enam bagian dan memuat 53 pasal. standar dan noma HAM yang universal saat ini dapat dilihat dalam ketentuan hukum domestik hampir di seluruh negara-negara anggota PBB. Chapter 2. Dalam hal ini termasuk pembuatan peraturan. 2007 40 . 2000 Washington. JURNAL HAM • Vol. Dalam kewajiban ini termasuk upaya untuk mendorong warga negara untuk menghormati HAM orang lain. Artinya negara tidak boleh melakukan tindakan yang bertentangan dengan hak-hak asasi manusia warganya.org/english/countries/ratification/ 4. published by AAAS and HURIDOCS. Dengan demikian. online: AAAS Huridocs: http://shr.unhchr.htm.11 Dengan demikian dapat dipahami bahwa hingga bulan Juni 2006 baru 156 negara12 yang mengesahkan kovenan dimaksud karena memang negara-negara yang mengesahkan tersebut akan mempunyai kewajiban baru sebagaimana disebutkan dalam Kovenan. Artinya selama ini Pemerintah Indonesia belum dalam keadaan siap untuk mengemban kewajiban baru yang timbul akibat pengesahasan kovenan dimaksud. langkah anggaran atau ekonomi. Kewajiban melindungi hak asasi manusia berarti negara berkewajiban untuk melakukan tindakan tindakan guna mencegah pelanggaran HAM terhadap warga negara. Hal ini tentunya sekaligus merupakan salah satu jawaban terhadap pertanyaan yang sering muncul di kalangan masyarakat yakni mengapa Indonesia baru mengesahkan kovenan penting dimaksud pada tahun 2005 padahal kovenannya sudah diterima tahun 1996 dan kovenan itu memuat berbagai ketentuan penting dalam upaya pemajuan dan pelindungan HAM. 12 http://www. Karena ketentuan dalam ICCPR ini adalah ketentuan pokok. Kewajiban memenuhi hak asasi manusia berarti negara berkewajiban untuk mengambil tindakan guna mewujudkan pelaksanaan HAM secara penuh.htm). 4 • Th. (http:// www. 11 Fact Sheet No. National Institutions for the Promotion and Protection of Human Rights. 13 Paragraf 5 Deklarasi Universal HAM Tahun 1948. by Allan McChesney. Dari ke-53 pasal tersebut terdapat beberapa ketentuan yang meminta negara pihak untuk menjamin hak-hak sipil dan politik warganya. badan peradilan dan administratif. pembentukan komisi-komisi nasional. Social and Cultural Rights: A Handbook. atau dengan cara lain sebagai pelaksanaan kewajiban yang diatur di dalam perangkat HAM dimaksud.10 Menurut PBB.ohchr.org/escr/handbook/. maka di dalam perkembangannya beberapa jaminan itu dikembangkan lagi di kemudian hari ke dalam beberapa konvensi baru. dan mengatur sanksi terhadap pelanggaran yang dilakukan individu atau kelompok. DC.jiban menghormati hak asasi manusia berarti negara berkewajiban untuk menahan diri dari tindakan yang mencampuri atau mengurangi pemenuhan hak-hak warga negaranya. maka negara-negara itu biasanya akan memasukkan ketentuan-ketentuan di dalamnya ke dalam hukum domestik secara langsung.

Sekalipun sudah mengikat secara hukum. 21 Pasal 10 ICCPR. asal usul kebangsaan atau sosial. 19 Pasal 8 ICCPR. Namun pernyataan tersebut tidak mengikat secara hukum. 20 Pasal 9 ICCPR. termasuk apabila bercerai.22 dan batasan-batasan untuk melakukan pengusiran orang-orang asing secara hukum dari negara pihak.20 perlakuan yang manusiawi. keluarga.2106 (XX) tanggal 21 Desember 1965. dan Bahasa Indonesia) antara lain memuat deklarasi atau pernyataan yang menyatakan persamaan hak antara pria dan wanita. 22 Pasal 11 ICCPR.18 pelarangan terhadap perbudakan. baik sewaktu perkawinan maupun setelah perkawinan. Pasal 16 DUHAM juga menyatakan bahwa wanita dewasa mempunyai hak yang sama untuk kawin dan membentuk keluarga. Jawa. suratmenyurat seseorang dan serangan 14 Pasal 1 ICCPR. bahasa. sehingga diperlukan suatu ketentuan yang bersifat mengikat secara hukum. pandangan politik ataupun pandangan lainnya. 2007 Selanjutnya negara pihak pada ICCPR mempunyai kewajiban untuk menghormati hak-hak asasi manusia sebagaimana diakui oleh Kovenan dan menjamin bahwa pelaksanaannya tidak akan diskriminatif baik berdasarkan ras. Sunda. Madura. 17 Pasal 6 ICCPR. Akhirnya pada tahun 1979 Majelis Umum PBB menerima Konvensi Penghapusan Diskriminasi Terhadap Wanita (CEDAW) yang memuat 30 pasal mengenai ketentuan yang menjamin hak-hak wanita.21 kebebasan bergerak dan kebebasan untuk memilih tempat tinggal. Kewajiban lain bagi Pemerintah dengan mengesahkan ICCPR adalah menjamin agar semua bangsa berhak untuk menentukan nasibnya sendiri. rumah.24 pelarangan campur tangan tanpa dasar hukum atas privasi.19 penangkapan dan penahanan yang sewenang-wenang. Ketentuan yang berupada pernyataan dalam DUHAM tersebut kemudian diatur dalam Pasal 3 ICCPR yang mengikat secara hukum yang menjamin bahwa antara pria dan wanita tidak boleh dilakukan diskriminasi. status kelahiran atau status lainnya. jenis kelamin. warna kulit.17 hak untuk tidak disiksa. agama. karena ketika itu banyak negara atau bangsa yang masih dijajah dan penjajahan nampaknya masih dianggap sesuatu yang lumrah. 41 . hak milik. melalui Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 34/180 tanggal 18 Desember 1979. 18 Pasal 7 ICCPR.15 Begitu pentingnya ketentuan ini sehingga pada tahun 1966 lahirlah Konvensi Penghapusan Diskriminasi Rasial Dalam Segala Bentuknya. 4 • Th.16 Negara pihak juga diharapkan memberikan perlindungan atas hak untuk hidup. serta mempunyai hak yang sama di dalam perkawinan. 23 Pasal 13 ICCPR.23 Di samping itu ICCPR memberikan kewajiban bagi negara pihak untuk menerapkan persamaan setiap orang di depan hukum.jemahkan ke dalam lebih 300 bahasa (termasuk bahasa Bali.14 Pasal ini mempunyai arti yang sangat penting pada saat perumusan Kovenan tahun 1966. pelarangan peraturan perundang-undangan kriminal yang bersifat retroaktif. namun ketentuan ICCPR tersebut ternyata oleh masyrakat internasional dianggap belum cukup memadai untuk menjamin tidak adanya diskriminasi tersebut. JURNAL HAM • Vol. 16 Diterima oleh Majelis Umum PBB melalui resolusi no. 24 Pasal 14 ICPPR. 15 Pasal 2 ICCPR.

26 Pasal 18 ICCPR. Kewajiban Pelaporan Pelaksanaan ICCPR Salah satu kewajiban Pemerintah yang timbul akibat pengesahan ICCPR35 adalah kesediaan Pemerintah menyampaikan laporan pelaksanaannya HAM merupakan Komite yang dibentuk untuk mengawasi pelaksanaan ICCPR oleh negara-negara pihak pada ICCPR dan anggotanya merupakan individu-individu dalam kapasitas pribadi.25 perlindungan terhadap hak untuk kebebasan berpikir.org/english/bodies/hrc/members. 4 • Th.32 Selanjutnya diatur agar semua orang mendapatkan perlakuan yang sama di depan hukum. 33 Pasal 26 ICCPR.33 serta perlindungan terhadap kelompok minoritas. diketuai oleh Ms Christine Chanet (Perancis) yang masa keanggotaannya berakhir tanggal 31 Desember 2006. Sedangkan Komisi HAM adalah badan PBB di bawah ECOSOC di bidang HAM yang terdiri dari 53 negara anggota. maka Negara dimaksud diwajibkan untuk membuat ketentuan atau kebijakan baru sehingga hak-hak yang ditaur dalam kovenan dapat dijamin atau dilindungi. Terdapat pemikiran di kalangan masyarakat hukum Indonesia bahwa dengan mengesahkan suatu perangkat hukum internasional seperti traktat. 35 Pasal 40 ICCPR. serta memilih dan dipilih. Setelah itu kewajiban pelaporan Negara pihak tergantung pada permintaan Komite.38 Sesuai dengan pasal 40 ICCPR. Hal ini akan menjadi tantangan bukan saja bagi Indonesia. Laporan Pendahuluan (initial report) pelaksanaan Kovenan sudah harus disampaikan kepada Sekjen PBB dalam kurun waktu satu tahun setelah Kovenan berlaku bagi negara pihak. 31 Pasal 24 ICCPR.37 Tahun 2006 Komite HAM yang terdiri dari 18 anggota dalam kapasitas pribadi. 25 Pasal 17 ICCPR. 27 Pasal 19 ICCPR. Komite b.31 pengakuan terhadap hak dari setiap warga negara untuk mengambil bagian dalam pelayanan umum. JURNAL HAM • Vol. 29 Pasal 22 ICCPR. 28 Pasal 21 ICCPR.ohchr. 32 Pasal 25 ICCPR.26 serta kebebasan berpendapat dan berekspresi.30 Di samping itu ICCPR juga meletakkan landasan bagi perlindungan hakhak untuk anak-anak. kepada Sekjen PBB. 36 Komite HAM berbeda dengan Komisi HAM. hati nurani (conscience) dan agama. 2007 42 . 30 Pasal 23 ICCPR.27 Selanjutnya ICCPR mengharapkan negara pihak untuk mengakui hak berkumpul secara damai.29 hak pria dan wanita atau usia kawin untuk menikah dan mendirikan suatu keluarga dan prinsip persamaan atas hak-hak dan kewajiban pasangan suatu perkawinan juga diatur dalam bagian ini.34 Jika Negara pihak pada ICCPR belum memiliki peraturan perundang-undangan atau kebijakan yang mengatur jaminan terhadap hak-hak tersebut. 37 Pasal 28 ICCPR. 34 Pasal 27 ICCPR.tanpa dasar hukum atas kehormatan dan reputasinya. Sekjen PBB kemudian akan menyerahkan laporan tersebut kepada Komite Hak Asasi Manusia36 yang dibentuk para negara pihak untuk mengawasi pelaksanaan kovenan.28 hak kebebasan untuk bersekutu.htm. 38 http://www. Komisi HAM ini kemudian dibubarkan tanggal 16 Juni 2006 dan digantikan oleh Dewan HAM di bawah Majelis Umum PBB dengan 47 negara anggota. tetapi bagi negara manapun yang telah meratifikasi kovenan dimaksud.

Selanjutnya bagian ini memuat ketentuan tentang anggota-anggota Komite 39 Bagian IV (Pasal 28-47) ICCPR. pembuatan anggaran rumah tangga. bahkan memanfaatkan perangkat tersebut untuk kepentingan masyarakat banyak. 43 . Bagian ini juga meminta negara pihak mendeklarasikan pengakuan kepada Komite untuk menerima pengaduan. 4 • Th. Sebaliknya terdapat pandangan lain yang mengatakan bahwa kalau perangkat hukum internasional sudah disahkan melalui peraturan perundangundangan yang sah. Bagian ini juga memuat berbagai ketentuan tentang Komite yang akan mengawasi pelaksanaan ICCPR. pengambilan sumpah. Terlepas dari kebenaran dua pandangan di atas. Hal itu kemudian akan tercermin dalam kesimpulan Komite mengenai pelaksanaan kovenan di negara yang bersangkutan. fasilitas. serta kewajiban negara pihak untuk menyampaikan laporan pelaksanaan kovenan satu tahun setelah berlakunya kovenan di negara pihak. secara rahasia dan calon-calon negara pihak (dua tiap negara) berhak untuk dipilih kembali. masih diperlukan peraturan pemerintah untuk melaksanakannya. Proses pencalonan pemilihan calon dengan suara terbanyak oleh wakil-wakil negara-negara pihak didasarkan pada keseimbangan geografis. Bahkan bukan saja Komite akan menganggap negara pihak hanya menjadikan upaya pengesahan sebagai retorika saja. ICCPR juga memuat ketentuan-ketentuan mengenai pembentukan Komite Hak-hak Asasi Manusia. Di samping itu. pembentukan Komisi Konsiliasi (conciliation commission) oleh Komite. bukan berarti bahwa perangkat internasional tersebut sudah berlaku bagi Indonesia. tetapi sekalipun negara pihak sudah berupaya optimal.39 Para anggotanya dipilih dari calon-calon negaranegara pihak dalam kapasitas pribadi. maka perangkat internasional tersebut sudah berlaku. peradaban dan sistem hukum. Sebaiknya Indonesia tidak perlu mempertentangkan apakah perangkat internasional yang sudah disahkan sudah berlaku atau belum tanpa adanya JURNAL HAM • Vol. Pendapat semacam ini sesungguhnya dapat merugikan Negara pihak karena dapat dianggap tidak sungguh-sungguh atau tulus melaksanakan isi perangkat internasional. Yang lebih penting adalah bagaimana seoptimal mungkin menerapkan. dan penetapan quorum.konvensi atau kovenan internasional. tempat pertemuan. 2007 peraturan pemerintah sebagai pelaksanaannya. bagian ini juga memuat kewajiban Komite untuk memperoleh hasil penelitian atas laporan kepada Sekjen PBB dan tanggapan negara pihak atas laporan Komite tersebut. pemilihan pegawai. termasuk di dalamnya mengenai nominasi anggota. namun di dalam kenyataannya dengan adanya kewajiban negara pihak untuk menyampaikan laporan pelaksanaan perangkat internasional tersebut. namun Komite akan melihat secara kritis apa yang dilakukan oleh negara pihak dan apa kekurangannya. maka sesungguhnya ada atau tidaknya peraturan pemerintah sebagai pelaksana undang-undang dimaksud tidak merupakan masalah mengingat di dalam penyusunan laporan dimaksud tedapat ukuran atau patokan yang sangat rinci yang dibuat oleh Komite pengawas mengenai pelaksanaan perangkat internasional tersebut.

Namun menjelang berdirinya Indonesia sebenarnya para pendiri bangsa telah melakukan perdebatan tentang HAM yang kemudian tercermin dari diterimanya beberapa pasal mengenai HAM dalam UUD 1945. N. dengan jiwa Deklarasi Umum HAM maupun ICCPR. ketentuan-ketentuan kovenan agar tidak dipisahkan dari Piagam PBB dan konstitusi badan-badan PBB lainnya.go. Melihat berbagai kemajuan di Tanah Air di berbagai bidang kehidupan politik.dan Komisi Konsiliasi. laporan kegiatan tahunan Komite kepada Sidang Umum PBB. Penegakan Hak Asasi Manusia di Indonesia. imunitas dan keistimewaan mereka sesuai dengan Konvensi mengenai keistimewaan dan imunitas PBB. Namun sejak berlakunya kembali UUD 1945 pada 5 Juli 1959 Indonesia mengalami kemunduran dalam penikmatan HAM-nya. c.203. serta penjelasan mengenai keberadaan kovenan yang tidak boleh dipertentangkan dengan hak-hak rakyat untuk menikmati kekayaan alam mereka. fasilitas.41 Barulah sejak era reformasi tahun 1997 penghormatan HAM di tanah ai semakin membaik. Makalah guna memenuhi permintaan Dewan Perwakilan Rakyat RI sehubungan dengan pembahasan dan pemilihan Calon Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia 11 Maret 2002. atau setidaknya tidak bertentangan.104/search?q=cache:mEqseaJ3zCIJ:portal. Karena itu banyak negara yang meminta dukungan Indonesia terhadap pencalonannya di Komite HAM yang pemilihannya hanya ditentukan oleh negara-ne40 Dr. pidato pada Rapat Koordinasi Panitia RAN HAM Daerah Kawasan Timur Indonesia. atau sekitar 18 persen yang mengatur HAM. Surabaya 2006. (http:/ /72. 41 Dr Enny Soeprapto. Dalam masa UndangUndang Dasar Sementara RI (UUDSRI).id/pls/portal/url/ITEM/ FCB23A753754E5BFE030010A3001576D+ komnas+ham+iccpr&hl=id&gl=id&ct=clnk&cd=4) JURNAL HAM • Vol. Ketentuan untuk pelaksanaan kovenan tidak dipertentangkan dengan ketentuan-ketentuan HAM yang telah ada di dalam peraturan perundang-undangan.40 Awal-awal kehidupan bernegara sesungguhnya merupakan saatsaat penentuan sekaligus pelaksanaan hak-hak sipil dan politik di Indonesia. sosial. Segera setelah merdeka Indonesia dianggap negara yang menghormati HAM. Pelaksanaan HAM dalam sejarah Indonesia menunjukkan grafik naik turun. 15 Agustus 1950-4 Juli 1959 bahkan lebih maju lagi dengan dicantumkannya 38 pasal dalam UUDS RI (dari keseluruhan 146 pasal. Bahkan di masa Republik Indonesia Serikat (RIS) (27 Desember 1949-15 Agustus 1950) pengakuan dan penghormatan HAM sangat maju dengan dicantumkannya 35 pasal dalam konstitusi RIS dari keseluruhan 197 pasal.14. 2007 44 . 4 • Th. dan budaya. ekonomi. banyak negara yang menganggap bahwa Indonesia sudah sejak lama meratifikasi kedua kovenan tersebut. Indonesia dan ICCPR Membicarakan latar belakang sejarah dan perkembangan HAM di Indonesia selalu tidak mudah. Masyarakat Indonesia patut bersyukur bahwa para pendiri bangsa mampu mempunyai pemikiran yang luas dan jauh ke depan sehingga sejak kemerdekaan tahun 1945 telah meletakkan dan memikirkan hak-hak sipil dan politik warga negara Indonesia yang kiranya sejalan. atau sekitar 26 persen). terutama setelah era reformasi tahun 1999. Hassan Wirajuda.komnasham. Pandangan Dunia Inter- nasional Terhadap Perkembangan HAM di Indonesia. Bahkan sejak 1966 hingga akhir Orde Baru bangsa Indonesia mengalami kemunduran dalam penikmatan HAM-nya di semua bidang yang diakui oleh UUD 1945.

VII/MPR/1998). Sesungguhnya perjuangan dan perlindungan HAM di Indonesia tidak pernah berubah. Namun pandangan ini sebenarnya keliru karena upaya pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia sebenarnya telah dilaksanakan sejak Republik ini berdiri dengan dibangunnya landasan konstitusional UUD 1945 dan landasan idiil Pancasila. HAM penting tersebut kemudian dipatrikan dalam kedua Kovenan ini pada tahun 1966 sebagai hak menentukan nasib sendiri (selfdetermination). 129 tahun 1998). membuat mereka berpikir bahwa Indonesia pasti sudah menjadi pihak pada kedua kovenan sehingga mampu melaksanakan pemilu sedemokratis itu. Indonesia dibangun berlandaskan pada penghormatan HAM. 4 • Th. Masih dalam semangat reformasi itu pula. Selain itu. UU No 39 Tahun 1999 tentang HAM dan UU No. Termasuk ketika Indonesia sempat dianggap sebagai negara paling bebas di bidang pers di kawasan Asia.cfm?page=70&release=317). 2007 45 . Sayangnya TAP MPR ini kemudian dicabut dan dianggap tidak berlaku karena materinya dianggap telah diatur dalam peraturan perundang-undangan khususnya Amandemen UUD 1945. JURNAL HAM • Vol. Komitmen Indonesia untuk pemajuan dan perlindungan HAM juga telah ditunjukkan melalui pengesahan beberapa Konvensi Internasional di bidang HAM lainnya seperti Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial pada gal 19 Desember 2005 status kebebasan pers Indonesia untuk tahun 2006 meningkat dari “sebagian bebas” menjadi “bebas. Indonesia telah berjuang selama kurang lebih 350 tahun untuk melawan penjajahan atau memperjuangkan hak untuk merdeka yang kemudian diakui oleh PBB sebagai salah satu HAM penting. 42 Dalam Siaran Pers Freedom House New York tang- Gerakan reformasi yang dimulai tahun 1997 telah membangkitkan semangat bangsa Indonesia untuk melakukan koreksi terhadap sistem dan praktekpraktek masa lalu.org/template.” (http://www. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM). 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. terutama untuk kembali menjunjung tinggi dan menegakkan penghormatan HAM sebagaimana telah diamanatkan MPR dalam ketetapannya tahun 1998 yang juga memuat Piagam HAM Indonesia (TAP MPR No. Namun hanya pelaksanaannya yang berbeda bahkan timbul kesan seolah-olah penghormatan HAM itu tidak penting bagi Indonesia. Indonesia mencanangkan Rencana Aksi Nasional di bidang HAM 1998-2003 (melalui Keppres No. Misalnya pelaksanaan pemilu yang demokratis khususnya tahun 2004 lalu. Indonesia telah meratifikasi Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam. Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat pada tanggal 28 September 1998 (melalui UU Nomor 5 Tahun 1998). Hal itu terjadi mungkin karena melihat sendiri berbagai contoh nyata yang sering dianggap sebagai pencerminan kedua kovenan tersebut di tanah air.gara yang sudah menjadi pihak pada kovenan tersebut.42 Sebagaimana diketahui. Dengan menetapkan peraturan tersebut Indonesia semakin mengokohkan upaya pemajuan dan perlindungan HAM yakni dengan menjamin bahwa setiap pelaku pelanggaran HAM akan diajukan ke pengadilan khusus (Undang-undang No.freedomhouse.

4 • Th. Namun pengesahan ICCPR tersebut sekalipun merupakan langkah yang sangat penting dan telah melewati rintangan yang tidak ringan. Dengan demikian secara konstitusi dan peraturan perundangundangan. Hal yang tidak kalah penting dalam upaya pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia adalah perhatian khusus para anggota MPR untuk memasukkan pasal-pasal tambahan menyangkut HAM pada amendemen ke4 UUD 1945. namun masih banyak yang perlu ditindak-lanjuti oleh seluruh pemangku kepentingan HAM di tanah air. 12 Tahun 2005. maka Indonesia juga kiranya memiliki prasasti HAM nasional yakni UUD 1945. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia dan UU No. Dengan demikian. Prasasti HAM nasional ini merupakan modal penting bagi generasi mendatang dalam upaya memajukan dan melindungi HAM bagi seluruh warga Indonesia. 2007 . 12 Mei 2006.tanggal 25 Mei 1999 (melalui UndangUndang No. Sebuah Tim interdepartemen plus telah disiapkan sejak Februari 2006 dengan demikian diharapkan laporan dimaksud dapat disampaikan Pemerintah tepat pada waktunya. Dalam semangat ingin menerapkan ICCPR yang sudah menjadi bagian hukum nasional melalui UU No. III. Penutup Langkah yang diambil oleh Pemerintah dan DPR untuk mengesahkan ICCPR tahun 2005 kiranya sudah tepat dan pasti akan sangat bermanfaat bagi upaya pemajuan dan perlindungan HAM di tanah air. Sebagaimana dikemukakan oleh Menlu RI bahwa terpilihnya Indonesia dalam Dewan HAM tahun 2006 merupakan pengakuan internasional atas kemajuan demokrasi dan HAM di tanah air. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. pengusaha dan lapisan masyarakat perlu melakukan upaya optimal agar mengetahui dan memahami serta menjamin pelaksanaan hak-hak sipil dan politik yang diatur dalam ICCPR tersebut. UU No. Namun keanggotaan Indonesia pada Dewan HAM ini juga membawa kewajiban bagi Pemerintah Indonesia untuk bersama-sama semua pemangku kepentingan (stakeholders) lainnya memperkuat upaya pemajuan dan perlindungan HAM di dalam negeri. khususnya Pemerintah. sekaligus peningkatan citra Indonesia di mata masyarakat internasional. jaminan penghormatan HAM di Indonesia kini sudah sangat baik. Pemerintah saat ini telah menyiapkan laporan pelaksanaan ICCPR dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan HAM di tanah air. apabila masyarakat internasional mempunyai prasasti HAM internasional. 29 tahun 1999). 46 JURNAL HAM • Vol. termasuk langkah-langkah yang diambil Pemerintah seperti pengesahan konvensi HAM internasional.43 Guna menindak-lanjuti pelaksanaan ICCPR yang sudah disahkan tahun 2005 tersebut kiranya seluruh aparat pemerintah. 43 Media Indonesia.

New York. Diterbitkan oleh Departemen Luar Negeri. Direktorat Organisasi Internasional. Indonesia and the United Nations: Working for Peace and Development. Direktorat Organisasi Internasional.203.(http://72.cfm? page=70 & release=317).id/pls/portal/url/ITEM/ FCB23A753754E5BFE030010A3001 576D+ komnas+ham+iccpr&hl=id&gl=id&ct=clnk&cd=4) The Indonesian National Plan of Action on Human Rights 1998-2003. 2007 47 . komnasham.unhchr.freedomhouse. 4 • Th. published by AAAS and HURIDOCS.org/escr/ handbook/. Social and Cultural Rights: A Handbook. Promoting and Defending Economic. Office of the High Commissioner for Human Rights. Soeprapto. Rencana Aksi Hak Asasi Manusia Indonesia 2004-2009. Jakarta 25 June 1998. 2006.org/template. Initial edition 2005. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional Tentang Hak-hak Sipil dan Politik). Pandangan Dunia Internasional Terhadap Perkembangan HAM di Indonesia. (http://www.19. Makalah guna memenuhi permintaan Dewan Perwakilan Rakyat RI sehubungan dengan pembahasan dan pemilihan Calon Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia 11 Maret 2002.14. 2000 Washington. Resolusi Majelis Umum PBB No.DAFTAR PUSTAKA Fact Sheet No. online: AAAS Huridocs: http://shr. Wirajuda. Departemen Hukum dan HAM. Jakarta 25 Juni 1998. National Institutions for the Promotion and Protection of Human Rights. 2200A (XXI) tanggal 16 Desember 1966. Hassan. 104/search? q=cache:mEqseaJ3z CIJ: portal. Pidato pada Rapat Koordinasi Panitia RAN HAM Daerah Kawasan Timur Indonesia. Permanent Mission of the Republic of Indonesia to the United Nations. Direktorat Jenderal Perlindungan HAM. by Allan McChesney. Media Indonesia. (http:/ /www. JURNAL HAM • Vol. Surabaya 2006. 12 Mei 2006.ch/html/menu6/ 2/fs19. Enny.aaas. DC. The Indonesian National Plan of Action on Human Rights 1998-2003 (Revisi). Chapter 2. N.go. Penegakan Hak Asasi Manusia di Indonesia. Siaran Pers Freedom House New York tanggal 19 Desember 2005 tentang status kebebasan pers Indonesia untuk tahun 2006 meningkat dari “sebagian bebas” menjadi “bebas”.htm).

Ratifikasi itu menimbulkan konsekuensi terhadap pelaksanaan hak-hak manusia. yaitu terikat secara moral (deklarasi) dan secara politik (menandatangani). melindungi (to protect) dan memenuhi (to fullfil) hak-hak manusia.” Suara Pembaruan. the prospect of its implementation remains uncertain.4 Pertama. 12/2005. CAT (penyiksaan). 2007 48 . Selain mengikat secara hukum. UU No. kebijakan dan tindakan yang dilakukan 1 Terjemahan yang tepat dari human rights adalah hak- hak manusia tanpa kata “asasi”. kedua kovenan ini sekaligus melengkapi empat perjanjian pokok yang telah diratifikasi sebelumnya. yaitu CEDAW (penghapusan diskriminasi perempuan). 12 dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 119 3. Sabtu. 11/2005 dan ICCPR menjadi UU No. “Indonesia Ratifikasi Kovenan Hak-hak Sipil dan Politik. 1 Oktober 2005. Dengan Reservasi pada Hak Menentukan Nasib Sendiri. In doing so. Kedua. 11 tercantum dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 118 3 serta UU No. 2 Lihat “Dua Kovenan HAM Diratifikasi. Social and Cultural Rights – ICESCR) serta Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights – ICCPR) – pada 30 September 2005 melalui proses legislasi yang disetujui DPR. Negara Republik Indonesia (RI) telah meratifikasi dua perjanjian internasional tentang hak-hak manusia (human rights)1 – Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. juga ada ikatan lainnya.3 Selain menjadi bagian dari sistem hukum nasional. JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. kewajiban untuk mengadopsi perjanjian yang telah diratifikasi ini ke dalam perundang-undangan baik yang dirancang maupun yang telah diberlakukan sebagai UU.” Kompas. karena Negara RI telah mengikatkan diri secara hukum. Ketiga. whereas the victims of human rights violations in this country still await for the settlement of their cases. CRC (anak). dan CERD (penghapusan diskriminasi rasial). agar menghilangkan kesan seolah-olah ada hak-hak yang “tak asasi”. Despite of this progressive episode in the history of human rights development in Indonesia. 3 Pengesahan ini ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Hamid Awaludin. Sabtu.2 Pada 28 Oktober 2005. 4 Ratifikasi adalah tingkatan paling kuat dalam perikatan yang dilakukan setiap negara. The challenges faced by the Indonesian Government to comply with its international legal obligations has to be dealt with the continuity of legal reform and immediate realization of the provisions in ICCPR as well as the socialization of the Covenant itself. membuat laporan yang bertalian dengan penyesuaian hukum.PROSPEK DAN TANTANGAN IMPLEMENTASI ICCPR Hendardi Abstract Ratification of the International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) is considered as an important achievement of the human rights struggle in Indonesia. Sosial dan Budaya (International Covenant on Economic. mengambil langkah-langkah dan kebijakan dalam melaksanakan kewajiban untuk menghormati (to respect). langkah-langkah. 1 Oktober 2005. ICESCR disahkan menjadi UU No. necessary infrastructure should be provided and further promotion of the Covenant should be advanced.

tanggung jawab dalam implementasi hak-hak sipil dan politik – sebagaimana juga hak-hak ekonomi. berkumpul. 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) maupun ratifikasi CAT dan ICERD dalam memajukan atau memperjuangkan posisi individu dengan hak-hak sipil dan politiknya di hadapan kekuasaan negara (state power) maupun orang lain. No. kini telah meningkat menjadi kenyataan sosiologis yang keras dan kongkrit seperti yang dirasakan sebagian orang dalam kasus-kasus perselisihan perburuhan. Pertama. RI sendiri menjadi negara peserta (state party) dalam perjanjian JURNAL HAM • Vol. serta penyiksaan. Judul ini sama seperti yang ditulis Norberto Bobbio. “The Age of Rights. 7 Dalam konsep dan norma hak-hak manusia. berpendapat.5 Perihal yang akan dibahas dalam tulisan ini bertalian dengan hambatan atau tantangan atas pelaksanaan ICCPR di Indonesia. setiap orang dapat berpegang pada UU No. partisipasi dalam politik. Wilayah hukum yan lain. Hak-hak ini mencakup mulai dari hak untuk hidup (right to life) hingga hak untuk menikah dan membentuk keluarga ataupun hak kelompok minoritas. Rabu. berserikat. 12/2005 sebagai hak-hak sipil dan politik yang dijamin. Apakah terdapat hambatan dari aparat negara (state apparatus)? Apakah ada kemungkinan diambil langkah yang lebih maju untuk meratifikasi Protokol Opsional ICCPR? Setelah itu. Dasar hukumnya adalah perjanjian internasional di mana negara-negaralah yang mengikat janji. wilayah relasi hak (right) dan kewajiban (obligation) diletakkan dalam hubungan hukum antara individu sebagai pemegang hak dengan negara sebagai pengemban/pelaksana kewajiban. 12/2005? ini yang bersifat mengikat secara hukum. “Konsekuensi Ratifikasi Konsekuensi ratifikasi ICCPR Kini persoalan hak-hak manusia di Indonesia telah memasuki tahap di mana kebutuhan untuk menerapkannya telah melampaui kepentingan untuk memperdebatkannya. Januari 1997. 1996. 2. 6 Lihat Rocky Gerung. 2007 ICCPR. Bobbio mengandaikan masa kini memasuki zaman hak. 4 • Th.maupun hasil-hasil yang dicapai dalam implementasi perjanjian tersebut kepada badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) – disebut Komite – yang menangani perjanjian tersebut. akan dibayangkan bagaimana prospek dalam pelaksanaan kewajiban negara untuk menghormati dan melindungi hak-hak sipil dan politik sebagaimana yang terkandung dalam ICCPR atau UU No.” Kompas. sosial dan budaya – berada di pundak negara. Serangkain kontradiksi dalam realitas sosio-ekonomi dan sosio-politik yang sebelumnya hanya dibahas dan diprediksi secara akademis di lembaga-lembaga studi. 8 Juni 2005.8 Di sinilah prinsip kewajiban negara (state obligation) diletakkan dengan beberapa konsekuensinya. The Age of Rights. 49 .” Imparsial. konflik pertanahan atau penghancuran rumahrumah penduduk dan pendidikan maupun kebebasan bergerak. wilayah relasi diletakkan antara individu (manusia) dan negara (state). 8 Relasi yang diletakkan berada dalam wilayah hukumnya adalah perjanjian internasional tentang hak-hak manusia (international law of human rights).7 Dalam konsep dan norma hak-hak manusia. London: Cambridge University. memang terdapat pernyataan (declaration) 5 Hikmahanto Juwana. 1. Vol. terlepas UUD 1945 (telah diamandemen empat kali) dan UU No. Dengan begitu. tentu saja lain lagi relasinya seperti halnya Konvensi (Perjanjian) Geneva yang dikenal juga sebagai hukum kebiasaan perang (humaniter).6 Setelah diratifikasinya ICCPR menjadi UU – perjanjian internasional yang diadopsi PBB pada 16 Desember 1966 dan mulai berlaku sejak 1976 – maka segera dengan itu ia menjadi ketentuan hukum yang berlaku di seluruh Indonesia. Hak negara hanya sesama negara-negara yang menjadi peserta – bukan hak negara atas individu. hukuman mati atau pembunuhan di luar proses hukum. Dari janji inilah timbul kewajiban (obligation) pada negara-negara dan sekaligus tanggung jawab (responsibility) bertalian dengan pelaksanaan kewajiban. Dalam ratifikasi ICCPR.

yang menihilkan Pasal 1 mengenai hak untuk menentukan nasib sendiri (right to self-determination) sebagai upaya mencegah disintegrasi dan sekaligus “senjata pemukul” bagi gerakan separatisme.9 Kedua, negara berkewajiban melindungi atau menjamin hak-hak sipil dan politik yang tercantum dalam ICCPR mulai dari hak-hak untuk hidup dan tidak disiksa hingga hak-hak kelompok minoritas dan orang yang dirampas kemerdekaannya karena suatu tindak pidana.10 Kewajiban ini pertama-tama bertalian dengan langkah yang harus dijalankan untuk melakukan pembenahan secara substansial dari segi perundang-undangan atau sistem hukum. Setiap rancangan UU harus disesuaikan atau merujuk pada ICCPR, sementara ketentuan-ketentuan hukum yang tak sesuai dengannya harus dibongkar atau direvisi. Dengan begitu, seharusnya tak ada lagi kandungan dalam ketentuan hukum yang bertentangan atau menyalahi ICCPR. Di sinilah arti penting transformasi ICCPR ke dalam hukum nasional. Ketiga, selain kewajiban negara dalam menyesuaikan perundang-undangan dengan ICCPR setelah meratifikasi, juga kewajiban dalam implementasinya. Negara RI beserta semua aparatnya diharapkan menunaikan kewajiban untuk menghormati dan melindungi hak-hak sipil dan politik tanpa diskriminasi. Negara menghormati hak-hak setiap orang tanpa melakukan campur tangan dengan berdasarkan atas ICCPR dan UUD (konstitusi). Campur tangan terbatas dapat dilakukan untuk melindungi hak setiap orang seperti mencegah tindakan sekelompok orang yang sewenangwenang dan menyeret orang yang diduga melakukan tindak pidana ke muka hukum. Mengenai pembatasan (limitation) atau pengekangan (restriction) hak-hak dan kebebasan – tergolong hak-hak dan kebebasan yang boleh ditangguhkan (derogable rights) – hanya dapat dilakukan dalam situasi atau

alasan tertentu berdasarkan UU. Keempat, ratifikasi juga menambah kewajiban pemerintah RI untuk melaporkan langkah-langkah, kebijakan dan tindakan yang dijalankan kepada Komite Hak Manusia PBB.11 Secara regular, pemerintah membuat laporan dalam periode empat tahun sekali. Isinya mencakup langkah-langkah dan kebijakan apa yang telah diambil, serta bagaimana hasil yang telah dicapai dalam pelaksanaan hak-hak sipil dan politik di Indonesia. Apakah terdapat kemajuan baik langkah yang telah diambil maupun pelaksanaan hak-hak sipil dan politik. Bisa saja yang terjadi adalah kemajuan dalam langkah-langkahnya, tapi lemah atau gagal dalam implementasinya. Dalam implementasi ini akan tampak apakah negara tidak mau (unwilling) atau tidak mampu (inability) menunaikan kewajibannya. Dalam hak-hak sipil dan politik, ada batas antara hak-hak yang tak dapat ditangguhkan (non-derogable rights) dengan hakhak yang dapat ditangguhkan. Yang termasuk dalam kategori hak-hak yang tidak dapat ditangguhkan adalah hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak untuk tidak diperbudak, hak atas kebebasan berpikir dan beragama serta berkeyakinan, hak untuk diperlakukan sama di muka hukum, hak untuk tidak dipenjara karena kegagalan memenuhi kewajiban kontraktual, serta hak untuk tidak dipidana berdasarkan hukum yang berlaku surut (retroactive).12 Mengenai implementasi antara
9 Lihat “Ratifikasi Dua Kovenan Internasional Dinilai

Setengah Hati,” Hukumonline.com, Kamis, 29 September 2005; “Ratifikasi 2 Kovenan HAM oleh RI Dianggap Masih Setengah Hati,” detikInet, Kamis , 29/09/2005 14:25 WIB. 10 Hikmahanto Juwana, Op. cit. 11 Hikmahanto Juwana, Ibid. 12 Harry Wibowo, “Hak-hak Manusia: Menjernihkan Berbagai Konsep Dasar,” makalah yang disampaikan dalam Pelatihan Investigasi yang diselenggarakan PBHI (Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia) pada 27-30 Desember 2005 di Megamendung Permai, Megamendung, Bogor. JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

50

Tabel 1: Hak-hak yang Dijamin dan Dilindungi UU No. 12/2005
No Pasal 1 Pasal 6 2 Pasal 7 Hak-hak Sipil dan Politik Hak untuk hidup (tidak dibunuh/dihukum mati setidaknya bagi anak di bawah 18 tahun) Hak untuk tidak disiksa, diperlakukan atau dihukum secara keji, tak manusiawi atau merendahkan martabat manusia (termasuk tidak diculik/dihilangkan secara paksa, diperkosa) Hak untuk tidak diperbudak (larangan segela bentuk perbudakan, perdagangan orang, dan kerja paksa,) Hak atas kebebasan dan keamanan pribadi (tidak ditangkap atau ditahan dengan sewenang-wenang, didasarkan pada ketentuan hukum acara pidana) Hak sebagai tersangka dan terdakwa (diperlakukan manusiawi, anak dipisahkan dari orang dewasa, sistem penjara bertujuan reformasi dan rehabilitasi) Hak untuk tidak dipenjara atas kegagalan memenuhi kewajiban kontraktual (utang atau perjanjian lainnya) Hak atas kebebasan bergerak dan berdomisili (termasuk meninggalkan dan kembali ke negerinya sendiri) Hak sebagai orang asing (dapat diusir hanya sesuai hukum atau alasan yang meyakinkan mengenai kepentingan keamanan nasional) Hak atas kedudukan yang sama di muka hukum (dibuktikan kesalahannya oleh pengadilan yang berwenang dan tidak memihak, jaminan minimal, dapat ditinjau kembali, tidak diadili dua kali dalam perkara yang sama) Hak untuk tidak dipidana berdasarkan hukum yang berlaku surut (jika keluar ketentuan hukum sebelum tindak pidana, si pelaku harus mendapatkan keringanannya) Hak sebagai subyek hukum (hak perdata setiap orang seperti kewarganegaraan) Hak pribadi (tidak dicampuri atau diganggu urusan pribadi seperti kerahasiaan, keluarga atau rumah tangga, kehormatan, surat-menyurat atau komunikasi pribadi) Hak atas kebebasan berpikir, beragama dan berkeyakinan (menganut ideologi atau orientasi politik, memeluk agama dan kepercayaan) Hak atas kebebasan berpendapat (termasuk mencari, menerima dan menyebarkan informasi, dalam bentuk karya seni/ekspresi atau melalui sarana lainnya) Hak untuk bebas dari propaganda perang dan hasutan rasial (kebencian atas dasar kebangsaan, ras, agama atau golongan) Hak atas kebebasan berkumpul (mengadakan pertemuan, arak-arakan atau keramaian)

3 4

Pasal 8 Pasal 9

5

Pasal 10

6 7 8 9

Pasal 11 Pasal 12 Pasal 13 Pasal 14

10 Pasal 15

11 Pasal 16 12 Pasal 17

13 Pasal 18 14 Pasal 19

15 Pasal 20 16 Pasal 21

JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

51

17 Pasal 22 18 Pasal 23 19 Pasal 24

20 Pasal 25 21 Pasal 26 22 Pasal 27

Hak atas kebebasan berserikat (bergabung dalam perkumpulan, partai politik atau serikat buruh) Hak untuk menikah dan membentuk keluarga (tidak dipaksa, termasuk tanggung jawab atas anak) Hak anak untuk mendapatkan perlindungan dan jaminan (setiap kelahiran anak didaftarkan dan memperoleh kewarganegaraan tanpa diskriminasi) Hak untuk berpartisipasi dalam politik (termasuk memilih, dipilih dan tidak memilih) Hak untuk bebas dari diskriminasi dalam hukum (semua orang dilindungi hukum tanpa diskriminasi) Hak kelompok minoritas (perlu mendapatkan perlindungan khusus) by omission).13 Jenis pelanggaran lainnya adalah tetap memberlakukan ketentuan hukum yang bertentangan dengan ICCPR yang disebut pelanggaran melalui hukum (violation by judicial).

kedua kategori hak-hak ini juga terdapat batas-batasnya, yaitu pada batas mana negara tak melakukan intervensi dan pada batas mana pula intervensi harus dilakukan. Negara tak melakukan intervensi dalam rangka menghormati hak-hak setiap orang, terutama hak-hak yang tak dapat ditangguhkan. Karena campur tangan negara justru mengakibatkan terjadinya pelanggaran atas hak-hak individu/kelompok. Sebaliknya, intervensi dapat dilakukan atas dua hal; pertama, dalam situasi atau alasan khusus untuk membatasi atau mengekang hak-hak atau kebebasan berdasarkan UU; kedua, dalam rangka untuk menegakkan hukum atau keadilan bagi korban tindak pidana. Karena itu, dalam menghormati dan melindungi hak-hak sipil dan politik, ada dua jenis pelanggaran yang bertalian dengan kewajiban negara. Pertama, seharusnya menghormati hak-hak manusia, tapi negara justru melakukan tindakan yang dilarang atau bertentangan ICCPR melalui campur tangannya dan disebut pelanggaran melalui tindakan (violation by action). Kedua, seharusnya aktif secara terbatas untuk melindungi hak-hak – melalui tindakannya – negara justru tak melakukan apa-apa baik karena lalai dan lupa maupun absent, disebut pelanggaran melalui pembiaran (violation

Tantangan Negara
Setelah ratifikasi ICCPR, membuat negara RI meningkatkan komitmennya karena telah terikat secara hukum. Segera dengan itu, negara menghadapi tantangan untuk menyiapkan beberapa langkah, dan langkah yang diambil bertalian dengan berbagai persoalan sebagai berikut. Pertama, negara harus melakukan reformasi hukum dengan menerjemahkan prinsip dan ketentuan yang terkandung dalam ICCPR ke dalam hukum nasional. Berbagai peraturan perundang-undangan yang tak sesuai dengan ICCPR haruslah dicabut dan direvisi.14 Begitu juga dengan RUU yang disiapkan seperti perdebatan sengit hingga pengerahan massa serta intimidasi dan teror bertalian RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi, haruslah selaras dengan ICCPR.15 Tantangan ini bukan saja terdapat sekitar 30 persen UU justru bertentangan dengan UUD 1945,16 tapi juga karena dalam menyusun RUU tanpa didasarkan pada kajian mendalam dan berimpit dengan kepentingan politik koalisi.17
JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

52

9 Maret 2006. Op. 12 Maret 2006. 10 Maret 2006.” Detikcom. 15 Maret 2006.” Detikcom. Kamis.” Detikcom. kebijakan. Jadikan Bali Daerah Khusus Pornografi. Minggu. Kebebasan/Hak Sosial (freedom/right for itself) Relatif: Dalam situasi dan alasan tertentu. UU. “MMI: Jika Terus Menolak. Ibid. “Menolak RUU APP. 6 Maret 2006. 15 Maret 2006.id. Jumat. 17 Lihat “Banyak UU Tanpa Kajian: Tidak Ada Desain Besar Legislasi Nasional. 8 Maret 2006.” TEMPO Interaktif. 2005 13 Harry Wibowo. “Draf RUU APP Adalah Buah dari Sebuah Kemunafikan. “Dari 167 Lembaga Tamu Pansus. 53 . Kamis.” Detikcom.” Detikcom.” www. Kamis. Aktivis dan Artis Diteror.fpksdpr. “30 Elemen Islam Malang Demo Dukung RUU APP. Kamis. Senin. selain banyak undang-undang lahir tanpa ada penelitian mendalam. cit.” Metrotvnews.” Detikcom.ahrchk. lihat juga “Bahas RUU APP.” www. 144 Setuju RUU APP. 28 April 2006 17:05. 8 Maret 2006.” Detikcom.” Detikcom. 9 Februari 2006. 15 Hikmahanto Juwana. Jumat. “Slamet Rahardjo: RUU APP Tempatkan Perempuan Seolah Hantu. 14 Maret 2006.” Detikcom. “5000 Orang Akan Demonstrasi Tolak RUU Anti Pornografi. banyak UU tumpang tindih dan banyak yang hanya tambal sulam. 22 Mei 2006. Jumat.” Detikcom. Hongkong.or. dan “Gus Dur Siap Upayakan Amandemen Jika RUU APP Jadi UU.” Detikcom. “Ratusan Mahasiswa Yogya Demo Tolak RUU APP. Senin. Rabu. “DPR Pusing Pro Kontra RUU APP.net. 16 Februari 2006. boleh dibatasi atau dikekang berdasarkan hukum (UU) Melalui: Konstitusi. 10 Mei 2006 | 13:04 WIB. hampir 30 persen di antaranya berpotensi bertentangan dengan konstitusi. “MUI Sayangkan Adanya Penolakan RUU Anti Pornografi. Saldi Isra mengemukakan. 100 Pendemo Cantik Tolak RUU APP. Rabu.com. 8 Maret 2006.” Sinar Harapan. sistem peradilan dan pengadilan Melindungi Kebutuhan Berhak atas Kemauan/niat: Batas minimum tertentu. Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqqie melaporkan kepada DPR. Kamis. MUI Akan Kumpulkan 1.Tabel 2: Spektrum Hak Individu/Kelompok dan Kewajiban Negara HAK INDIVIDU/KELOMPOK Kebebasan Kebebasan Dasar/Hak yang Tak Dapat Ditangguhkan (freedom/right in itself) Mutlak: Tak boleh ditangguhkan (ditunda) maupun dibatasi atau dikekang. Senin. 4 • Th. “Hilman Rosyad Syihab. 16 Maret 2006. Rabu. dari 77 perkara peninjauan UU (PUU) yang berkenaan dengan 42 UU selama 2003-2006 yang ditangani MK. konstitusi Menghormati K E WA J I B A N N E G A R A (-) Tanpa intervensi (omission) Sumber: Harry Wibowo. 16 Maret 2006. 27 Januari 2006 19:11:53. yang terus melakukan kajian mendalam jika hendak melakukan revisi atau membuat UU. 14 Lihat “Pernyataan Asian Human Rights Commis- sion: Ratifikasi Instrumen Utama Hak Manusia Harus Ditindaklanjuti dengan Reformasi Hukum.” Detikcom. Rabu.” Detikcom. atau program atas sumber daya Memenuhi (+) Intervensi (commission) Melalui: Norma hak-hak manusia. Rabu. “Peringati Hari Perempuan. Syamsuddin Haris juga menambahkan. 16 Lihat “Hampir 30 Persen UU Bertentangan dengan Konstitusi. 8 Mei 2006.” Kompas. 2007 Tolak RUU APP. Berbeda dengan di Belanda. Rabu. dapat diundur pemenuhannya berdasarkan prioritas tapi direalisasikan secara bertahap Melalui: Perencanaan. Banyak yang Tumpang Tindih. juga dilakukan untuk mendukung kebijakan pemerintah baru sehingga banyak UU di Indonesia cepat berubah atau direvisi. “RUU Pornografi Berpotensi Jadi Alat Pemerasan Baru.000 Ulama di Gontor. Anggota Pansus RUU APP DPR FPKS: RUU APP Lindungi Kaum Perempuan. “Aksi Seribu Tayub JURNAL HAM • Vol.

(b) Basic Principles on the Use of Force and Firearms by Law Enforcement Officials. termasuk 18 Hikmahanto Juwana. (c) Principles for Protection of All Persons under Any Form of Detention for Imprisonment. 6 April 2006. Jumat. “Polisi Tembak Penjahat Kambuhan. 30 Juni 2004. sehingga banyak orang akan mengetahui apa saja hak-hak sipil dan politik yang seharusnya dinikmati. 25 Mei 2006 10:02:05. 8 Maret 2006.18 Satu contoh saja. setelah negara RI meratifikasi CAT (konvensi menentang penyiksaan).” TEM- 20 21 22 23 24 PO Interaktif. Rabu. dari Desa Mengepung Kota. Cit. Padahal. Kasus-kasus ini dapat diperhatikan mengenai penerapan Syariat Islam di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. dan “Direktur ICIP Syafii Anwar: Perda Syariat Bisa Picu Disintegrasi.” Sinar Harapan. Empat instrument yang perlu diadopsi adalah (a) Code of Conduct for Law Enforcement Officials.” Cenderawasih Pos. beragama dan berkeyakinan sebagai kebebasan mutlak (freedom in itself). serta (d) Standard Minimum Rules for the Treatment of Prisoners. Op.” Sriwijaya Post Online. Op. XXV/1966 maupun pelarangan suatu ajaran (dikatakan sesat) dan pemidanaan atas orang yang menyebarkannya. pada saat kolonial Belanda berkuasa.” Sinar Harapan. Tanpa pemahaman yang memadai bagi aparat penegak hukum.19 Dalam penegakan hukum seharusnya ditekankan standar minimumnya. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). implementasi berbagai peraturan perundang-undangan yang didasarkan pada ICCPR.” Kompas. dibuat pada tahun 1918.” Kompas. 54 JURNAL HAM • Vol. dan “Polisi Tembak Buron Pelaku Curas. Kamis. “Komnas Perempuan Tolak Perda Tangerang Tentang Pelacuran. Rabu.” Detikcom. Senin. pemerintah ditantang pula untuk melakukan sosialisasi atas ICCPR yang telah diratifikasi. terutama dalam penggunaan kekuatan dan senjata api. solusinya bagaimana meningkatkan kualitas elite penyelenggara pemerintah daerah. Kamis. Hak atas kebebasan berpikir. 22 Mei 2006: “Syariat Islam.” Kompas. 24 April 2004.24 Persoalannya adalah banyak langkah dan kebijakan yang tak konsekuen dari pemerintah dan aparat negara dalam implementasinya. “Perda Larangan Pelacuran Akan Diterapkan di Jakarta.” Sinar Harapan. Sabtu. Pemerintah pusat dicurigai memang tak mau mengeluarkan PP untuk menciptakan kondisi yang tidak jelas di daerah. Rabu. 1 Oktober 2003. Persoalan yang dihadapi adalah bagaimana aparat penegak hukum (law enforcement officials) memahami berbagai peraturan perundang-undangannya.Kedua. Banyak terjadi praktik politik uang. Lihat juga “Pemerintahan Daerah: 393 Perda Bermasalah Akan Dibatalkan.22 UU No. 22 November 2003. 4 • Th. Akibatnya membabi buta. serta beberapa daerah kabupaten seperti Cianjur dan Tangerang. cit. Eksplorasi Perspektif Elite Penyelenggara Pemerintahan Daerah tentang Otonomi. Sabtu. Lihat “Pelaksanaan Otonomi Daerah Kebablasan. 22 Mei 2006. 7 Maret 2006.20 Di sinilah pentingnya ditempuh atau diambil langkah-langkah untuk meningkatkan profesionalisme melalui pendidikan dan pelatihan bagi polisi untuk melindungi hak-hak setiap orang yang dirampas kemerdekaannya karena suatu tindak pidana. “Polisi Tembak Buronan LP Saat Mencoba Melarikan Diri dari Kejaran Petugas. “Syariat Islam dalam KUHP Bermuatan Politis.23 Beberapa provinsi dan kabupaten pun telah menerapkan pelaksanaan syariat Islam dalam Peraturan Daerah (Perda). 4 Maret 2004. masih saja diberlakukan ketentuan TAP MPRS No. Rabu. 19 Lihat “Polisi Tembak Mati Perampas Motor. bahkan ada yang mengusulkannya dalam revisi KUHP. maka akan sulit dibayangkan efek ICCPR bagi setiap orang. dalam pelaksanaannya aparat kepolisian cenderung gagal memperlakukan seorang tersangka secara manusiawi. apalagi tesangka dilumpuhkan dengan menggunakan senjata api. 12 Mei 2006. 2 Oktober 2003.” Republika Online. 2007 . terungkap banyak anggota DPRD tidak berkemampuan memahami konsep otonomi daerah. 12/2005 diberlakukan secara seragam di seluruh negeri dan diharapkan tak ada yang bertentangan dengannya. termasuk yang bertalian dengan kekhawatiran mengenai kelemahan otonomi daerah atau otonomi khusus. Senin.” Sinar Harapan.21 Ketiga. “Yusril Bantah Revisi KUHP Mengadopsi Syariat Islam.” Detikcom. Lihat “Pernyataan Asian Human Rights Commission:…. Selasa. yang berbeda dengan banyak kategori hakhak sipil dan politik. Hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang dilakukan Syarif Hidayat dan Carunia Mulya Firdausy. yang merupakan batu pertama dari seluruh sistem legal. Di dalamnya berisi banyak pasal yang tidak jelas dan terbelakang. Lihat “RUU Pemerintahan Aceh: Diusulkan Polisi dan Jaksa Khusus Syariat. Kamis.

“Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah. tantangan untuk menyediakan infrastruktur pendukung bagi terlaksananya UU No. 12/2005. 22 Mei 2006. 55 . selain apa langkah-langkah yang telah diambil untuk meningkatkan penghormatan dan perlindungan hak-hak sipil dan politik. 26 Hikmahanto Juwana. sehingga terasa kurang berefek pada pelaksanaannya. peraturan perundang-undangan tidak tersedia bagi para hakim dan banyak lagi persoalan lainnya. Selasa. Selasa. lebih lanjut selain tantangan untuk memajukan praktek penghormatan dan perlindungan hak-hak sipil dan politik dengan meratifikasi Protokol Pilihan (Optional Protocol to the Covenant on Civil and Political Rights). Selasa. Panitia Penyelenggara” – INCRESS. tantangan besar yang dihadapi adalah mata rantai impunitas (cycle of impunity) sebagai penghalang dalam menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran hak-hak. cit. 23 Mei 2006. 16 Agustus 2005. 27 Lihat “Pernyataan PBHI Jawa Barat: Protes atas Pembubaran Paksa Pertemuan di Wisma Brantas Bandung.” Detikcom. 24 Mei 2006. Keenam.dalam urusan hak atas kebebasan beragama dan berkeyakinan seperti kasus pelarangan Ahmadiyah.net. Belakangan ini adalah sering gagalnya aparat keamanan melindungi kebebasan berkumpul dan berpendapat. Tapi kenyataannya masih banyak kantong-kantong Ahmadiyah di daerah. pada tingkat MUI dan kejaksaan sudah ada larangan terhadap kegiatan Ahmadiyah. Penjara dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. seiring dengan telah diratifikasinya ICCPR. termasuk laporan mengenai pelaksanaan CAT dan ICERD yang telah menjadi UU. Kerap dijumpai aparat penegak hukum harus bekerja dengan infrastruktur pendukung hukum yang minim.26 Kebiasaan pemerintah tanpa menyediakan infrastruktur pendukung atas langkah-langkah implementasi hasil ratifikasi berbagai perjanjian hak-hak manusia dapat dipandang sebagai sikap tak mau (unwilling) atau abai untuk berbuat sesuatu.net. dan “Dialog Lintas Etnis Nyaris Rusuh: Gus dur Tuding Gerakan Ormas Islam Ada yang Mendanai. Impunitas dan pelanggaran hak Bagi masyarakat Indonesia. Op. 2007 pada Komite di PBB. tapi penting pula didesak untuk juga melakukan sosialisasi laporan-laporannya kepada warganya. Lihat juga.” gusdur.” gusdur. Impunitas telah menjadi penghalang yang serius bagi tegaknya 25 Lihat “SBY: Ahmadiyah Sudah Resmi Dilarang Pemerintah.” Pikiran Rakyat. “Gus Dur Hadapi Teror Gerombolan Islam Radikal. 4 • Th. Syarikat Indonesia dan Komnas Perempuan – serta para peserta mengalami gangguan dan perlakuan yang sewenangwenang dari sekelompok oknum yang mengaku PAGAR (Persatuan Anti Gangguan Regional) dan PPM (Patriot Panca Marga) pada 20 Mei 2006. Rabu.27 bahkan ancaman atas kebebasan beragama dan berkeyakinan. kelak pemerintah harus membuat laporan mengenai pelaksanaan hak-hak sipil dan politik yang disampaikan JURNAL HAM • Vol. Kelima. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjelaskan. 28 Lihat “Siaran Pers PBHI Jawa Barat tentang Pengusiran Gus Dur dan Intimidasi Kegiatan Forum Dialog Lintas Agama di Purwakarta.25 Keempat. 24 Mei 2006. Sehingga nyaris tak diketahui umum yang bertalian dengan apa kemajuan yang dicapai. juga campur tangan aparat penegak hukum (polisi) untuk melindungi hak dan kebebasan setiap orang dari berbagai tindakan orang atau kelompok lain. termasuk bagaimana seharusnya semua aparatur berperilaku yang dipertalikan dengan ICCPR tanpa kecuali pada lembaga-lembaga peradilan dan pengadilan.28 Persoalan kelemahan ini menjadi tantangan bagi pemerintah dan aparat penegak hukum atau keamanan pasca-ratifikasi agar hak-hak sipil dan politik setiap orang terlindungi. Sejauh ini tak pernah diketahui umum atau sangat kurang disosialisasikan bagaimana sesungguhnya isi laporan pemerintah mengenai pelaksanaan setiap perjanjian internasional tentang hak-hak manusia yang telah diratifikasi. 23 Mei 2006.” Bandung.” Bandung.

perbaikan kondisi. juga Ketua Pengadilan Jakarta Pusat Cicut Sutiarso terkait kasus suap tersebut. hal.” Waspada Online. “KPK Terlambat Geledah Ruang Ketua MA. melainkan juga peradilan pidana. 56 JURNAL HAM • Vol.30 Negara RI memang aneh karena merupakan satu-satunya negara yang mendirikan dan mengoperasikan pengadilan hakhak manusia (human rights court) berdasarkan UU No. Dalam kerangka hukum internasional. impunitas dapat diartikan sebagai “bebas dari hukuman”. “Mafia Peradilan Di Mana-mana.34 Kendati Probosutedjo telah memberikan keterangan dan Harini Wijoso pun disidangkan sebagai terdakwa. “Mafia Peradilan di Indonesia. 21-22. The Scope of Impunity in Indonesia (draft). vii-ix. 2006. Selain Harini Wijoso. “Ruang Kerja Bagir Digeledah. Hendardi. atau disipliner karena mereka tidak dapat diperiksa yang memungkinkan berlangsungnya penuntutan. Sejumlah jaksa telah bertindak di luar kebiasaan karena menuntut terdakwa bebas dari hukuman. 14 Februari 2006.” Riau Pos Online. 28 Oktober 2005. Lihat “Majelis Hakim Masih Musyawarah Bahas Soal Bagir Manan. penahanan. Lihat juga “Liku-liku Percaloan dan Mafia Peradilan di Indonesia. impunitas adalah ketidakmungkinan secara de facto atau de jure untuk membawa pelaku kejahatan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kamis.keadilan. bahkan berlanjutnya pelanggaran hak-hak manusia. 8 Oktober 2005. Martha Meijer. Sikap ini menampakkan tak punya itikad untuk mendakwa kendati sejumlah hakim berusaha membuktikan adanya kejahatan. 4 • Th. 10 Mei 2006. hal. Senin. Intended to Fail: The Trial Before the Ad Hoc Human Rights Court in Jakarta.” Suara Pembaruan. Selasa.” lokakarya yang diselenggarakan PBHI dan HOM pada 29-30 Mei 2006 di Cipayung. Kamis. sipil.31 Terlepas dari kesalahannya memahami konsep hukum internasional. Sabtu. sekurangkurangnya pada tingkat kawasan seperti Pengadilan Eropa tentang Hak-hak Manusia (European Court of Human Rights) dan Pengadilan AntarAmerika tentang Hak-hak Manusia (Inter-American Court of Human Rights) David Cohen. pengadilan dan apabila dianggap bersalah dikenakan hukuman yang sesuai norma hukum positif. dan “Konflik MA-KY Hanya Untungkan Mafia Peradilan. Bogor. tapi pada intinya pengadilan HAM Ad Hoc untuk Timor Timur berlangsung dengan kegagalan untuk menghukum orang-orang yang terlibat dan bertanggungjawab dalam kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanity). Pengadilan hak-hak manusia. 27 Oktober 2005 13:32. Rabu. 2007 . 2 Februari 2006. Jumat. administratif.” Republika. Ruang kerja Ketua Mahkamah Agung (MA) Bagir Manan digeledah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).35 tapi para pejabat MA – termasuk hakim agungnya – mengambil keputusan yang aneh dengan memperpanjang usia pensiun Bagir Manan. Rapim darurat digelar saat penggeledahan berlangsung.” Gatra. Jumat. 23 Januari 2006 22:30 WIB. Kesalahan ini mungkin salah satunya terletak dari kegagalan para penyusunnya dalam memahami perbedaan antara hukum internasional tentang hak-hak manusia dan hukum humaniter internasional. 26/2000.” Suara Pembaruan. Berkeley: International Center for Transitional Justice. 13:29 WIB. Cacat mendasar ini terjadi ketika Kejaksaan Agung mengambil alih penyelidikan setelah diterimanya laporan KPP HAM yang ditunjuk Komnas HAM. Mereka dijuluki sebagai “mafia pe- radilan”.” Kompas. baik dalam proses peradilan kriminal. Lebih dari itu mereka juga telah memilihnya 29 Lihat “Kerangka Acuan Perencanaan Strategis 30 31 32 33 34 35 Impunitas.” Kompas Cyber Media.33 Salah satu kasus yang cukup menggegerkan adalah dugaan suap atas hakim agung yang menangani perkara penyelewengan dana reboisasi dengan terdakwa Probosutedjo. Utrecht: The Netherlands Humanist Committee on Human Rights. Sistem peradilan di Indonesia dituding telah dikuasai sebagian mereka yang menjalankan tugas sebagai aparat penegak hukum dan pengadilan. Persoalan dengan impunitas bukan hanya pada proses peradilan HAM saja.32 Kegagalan ini diikuti pula dengan perkara-perkara Tanjungpriok dan Abepura.29 Secara harfiah. Lihat “KPK Geledah Ruang Kerja Bagir Manan. 2004. 28 Oktober 2005.com.

18 Mei 2006. Tunggakan Perkara di MA Masih Banyak. 02 Mei 2006. 21 Mei 2006. 18 Mei 2006 14:52 WIB. 4 • Th. dan “Kapolri Harus Klarifikasi Pembubaran Kegiatan Mantan Tapol PKI. Kamis. 20 Januari 2006. Pertemuan yang diadakan INCReS (Institute for Culture and Religion Studies). 02 Mei.” Kompas Cyber Media. 04:18:30 WIB. Selasa.” Antara News.40 Pengalaman buruk atas kebebasan berserikat ini juga pernah dialami sebelumnya ornop LAPAR (Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat) pada 22 Februari 2006 di Bulukumba. Lihat “Demonstran Dukung RUU APP di Cirebon Segel LSM Fahmina. “Bagir Manan jadi ketua MA lagi. “Massa Segel Kantor LSM.37 Lainnya yang bertalian dengan persoalan impunitas adalah situasi yang menghalangi proses perlindungan dan perbaikan kondisi hak-hak manusia. Jumat. 22 Mei 2006.” wahidinstitute. FUI (Forum Umat Islam) dan MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) menyegel Kantor Fahmina. Selain adanya dugaan kuat mengenai campur tangan aparat militer. 26 Mei 2006. “Presiden Lantik Bagir Manan Sebagai Ketua MA.” Kompas.” TEMPO Interaktif. Fahmina dituduh merusak aqidah dan menjual ayat-ayat Al Quran dengan murah. Senin. bahkan empat orang panitia dibawa dan diinterogasi ke markasnya. 22 Mei 2006. 20 Mei 2006 22:31:32. Minggu. Selasa. Jumat. Cirebon Sesalkan Sikap LSM Fahmina. “Muladi: Perpanjangan Pensiun Bagir Manan Keliru. Jumat. 22 Mei 2006. “Massa Bubarkan Pertemuan Perempuan Eks Napi PKI.39 Kedua peristiwa ini dapat diduga sebagai pelanggaran hak atas kebebasan berkumpul dan berpendapat. dan “Bagir Terpilih. 12 Oktober 2005.” Fahmina menyayangkan aparat kepolisian lamban menangani kasus penyegelan itu. Sulawesi Selatan.” Pikiran Rakyat. 2 Juni 2006 | 13:05:43 WIB. “FUI Wil.com. 15:03 WIB. 2007 cun” dan “antek asing. Jumat. 57 . “Komnas Perempuan akan Minta Klarifikasi Kapolri. Senin.” BBCIndonesia. “Bagir Manan: Tak Ada Alasan untuk Mundur.” Detikcom.” Riau Pos Online. Jumat. Rabu.” Rakyat Merdeka.” Media Indonesia Online. Lihat “Presiden Lantik Bagir Manan Jadi Ketua Mahkamah Agung. Kegiatan mereka dibubarkan secara paksa oleh sekelompok oknum dari PAGAR (Persatuan Anti Gangguan Regional) dan PPM (Patriot Panca Marga). Komnas Perempuan dan Syarikat (Santri untuk Advokasi Masyarakat) Indonesia pada 20 Mei 2006 di Bandung telah menemui penghalangnya.” Rakyat Merdeka. 26 Mei 2006. 16 Mei 2006. 2006 . Menurut Ketua Dewan Kebijakan Fahmina KH Husein Muhammad. Kamis.” juga tulisan “LSM raJURNAL HAM • Vol. Senin.41 36 Lihat “Bagir Manan Perpanjang Usia Pensiun Diri- 37 38 39 40 41 nya: Disebutkan. Selasa. selain disertai dengan ancaman dan intimidasi atas panitia dan para peserta. 23 Mei 2006.” Kompas. 13 Oktober 2005. Kamis. Tolak Usulan untuk Nonaktif. Senin.” Republika Online. Dianggap Tolak RUU APP.” Media Indonesia Online. 22 Mei 2006. “Bagir Terpilih Kembali Sebagai Ketua MA. Halangan kebebasan berserikat juga menandai kasus yang menimpa Fahmina Institute di Cirebon. juga aparat Polres Bandung Tengah terlibat dalam membubarkan pertemuan.36 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono – melalui Keputusan Presiden No 17/P/2006 – pun melantik Ketua MA yang dipilih oleh hakim agung.Published 13:11 GMT. “Bagir Manan Siap Pensiun Tahun 2008. dan “FPI Segel Fahmina Institute Cirebon.” KabarBaru. Kantor mereka diserbu puluhan oknum yang berasal dari PPSI (Pemuda Penegak Syariat Islam). 12:09 WIB. Selasa. “Bagir Manan Merasa Difitnah. 22 Mei 2006 19:19:00. Lihat “LSM Fahmina Diserbu Massa Pendukung RUU APP. Gangguan dan ancaman hak atas kebebasan berkumpul dan berpendapat maupun kebebasan berserikat dan beragama semakin nyata. Polisi Bengong. Massa demonstran pendukung RUU APP yang beratribut FPI (Front Pembela Islam).” Kompas Cyber Media. Seminar Incres Dibubarkan. “Bangkitkan Semangat “PKI”. 10 Maret 2006.” Media Indonesia Online.” Suara Pembaruan.” Kompas. 02 Mei 2006 11:15 WIB.38 Sebelumnya juga terjadi larangan seminar tentang Tuntutan Penutupan PT Freeport di Jayapura. Selain ditempelkan tulisan “Kantor ini disegel. Senin. 18:18:45 WIB.” Tribun Jabar. Bagir Ditolak.kembali sebagai Ketua MA tanpa melalui proses seleksi lagi. Sabtu.org. Lihat “Komnas HAM Sesalkan Larangan Seminar. Lihat “Diskusi Korban Kekerasan Perempuan Tahun 1965 Dibubarkan.

“Aliansi Masyarakat Anti-Kekerasan Luruk Markas FPI Besok Siang. Aksi Kekerasan dan Perusakan Terus Dibiarkan. Senin. Kamis.” Media Indonesia Online. 25 Mei 2006 10:26. tapi lebih dari itu ancaman serius atas kebebasan beragama pun merebak. Massa ormas ini menyerang ribuan jamaah di Kampus Al-Mubarok di Parung. 19:16:05 WIB. 14:14:51 WIB. Aksi FPI Cs Meresahkan: Massa NU dan Prodemokrasi Demo ke Mabes Polri. melainkan juga Gus Dur diperlakukan secara tak pantas. Selasa.” Detikcom.47 Selang enam hari. “13 Terdakwa Kasus Pengrusakan Kampus Mubarok Ahmadiyah Disidangkan di PN Cibinong Jabar. 27 Mei 2006.” gusdur. Jum’at. 5 Agustus 2005 13:08 WIB Lihat “Dua Kelompok Massa Islam Bentrok.com. Sabtu. “FBR Gabung FPI Hadang NU. 11:36:46 WIB.” Liputan6. 10:03:13 WIB. “Massa FPI-FBR Bersiap Menghadapi Serbuan Garda Bangsa. Kamis. Jumat. Lihat “SBY-JK Didesak Bubarkan FPI. Kamis. 26 Mei 2006. Dalam peristiwa ini bukan saja panitia dan peserta forum dialog merasa terganggu dan terteror.” gusdur. dan “Saat Mencoba Membubarkan Pertemuan di Kemang. “Pengusiran Gus Dur. Kamis.45 Sebelumnya juga banyak terjadi peristiwa yang telah mengancam kebebasan beragama dari berbagai ormas Islam. 26 Mei 2006.43 tapi juga dari beberapa kalangan lainnya yang menyatakan “lawan preman berjubah”.46 Fatwa ini berubah menjadi aksi kekerasan yang dilakukan ribuan orang yang mengaku dari LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) dan FPI pada Sabtu. Rabu. 24 Mei 2006. 26 Mei 2006.” detikInet. 26 Mei 2006. “Dialog Lintas Etnis Nyaris Rusuh.” Liputan6.net. “Sejumlah Ormas Islam Gelar Tabligh Akbar Dukung Fatwa MUI. 4 • Th. Lihat “MUI Kembali Fatwakan Ahmadiyah Sebagai Aliran Sesat.” Rakyat Merdeka. Selasa. MMI dan HTI pada 23 Mei 2006 di Purwakarta ketika diadakan acara Forum Dialog Lintas Agama di mana Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi keynote speaker. 25 Mei 2006.net. Jumat. Jumat. Gus dur Tuding Gerakan Ormas Islam Ada yang Mendanai. dan “Tuntut Milisi Sipil Dibubarkan. 25 Mei 2006 05:59.” Rakyat Merdeka. 26 Mei 2006. 26 Mei 2006. dan “Banteng Jakarta Dukung Gus Dur Hadapi FPI Cs.” Jumat. 25 Mei 2006 01:54. WIB. Rabu. 12:16:50 WIB.” Liputan6. Rabu. kampus ini kembali dikepung ribuan orang dari Masyarakat dan Umat Islam Parung 42 Lihat “Gus Dur Hadapi Teror Gerombolan Islam 43 44 45 46 47 Radikal. “MUI Tetapkan 11 Fatwa. 24 Mei 2006. 25 Mei 2006. Kamis. Rabu. Kampus ini juga mengalami kerusakan. Jumat.” Pikiran Rakyat. Sebelumnya MUI Purwakarta dilaporkan melakukan intervensi. 31 Mei 2006. 29 Juli 2005 | 06:38 WIB.Tak hanya kebebasan berkumpul.com. “GP Ansor Minta Ormas Liar Dibubarkan. “Disesalkan.” Pikiran Rakyat. “Gus Dur vs Ormas Radikal: Polisi Minta Semua Pihak Menahan Diri. Jumat. 24 Mei 2006. Jumat. 13 Agustus 2005 19:04. dan “Saat Pidato.net. 58 JURNAL HAM • Vol. Jumat. Kamis. Lihat “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah. “Pemerintah Dikritik Tak Tegas.” Rakyat Merdeka. “NU Tuntut FPI Minta Maaf. dan “Massa NU Akan Survei di Slipi Apa FPI Lakukan Syiar Agama. 26 Mei 2006. “Garda Bangsa Minta Habib Rizieq Ditangkap. MUI mengeluarkan fatwa yang menyatakan Ahmadiyah sebagai “aliran sesat”. Haram Hukumnya Perdukunan dan Peramalan. Sabtu. Warga Bentrok dengan Pengikut Ahmadiyah. Jumat. Kamis.” Liputan6.” Detikcom. Sejumlah oknum dari ormas Islam membuat kegaduhan dan masuk ke dalam ruangan acara untuk membubarkan forum. Massa LPPI dan FPI melempari arena pertemuan tahunan JAI.” elshinta.com. Yang paling menderita adalah jamaah Ahmadiyah.42 Peristiwa ini bukan saja mendapat reaksi dari basis-basis massa NU dan PKB. “DPP PBB Dukung fatwa MUI Soal Ahmadiyah. 26 Mei 2006.” Rakyat Merdeka. 15:48:40 WIB.” Rakyat Merdeka.” Suara Pembaruan. 17:24:23 WIB. 2007 . Akibat bentrokan itu.44 Bahkan memunculkan desakan mereka untuk membubarkan beberapa ormas Islam radikal tersebut. Lihat “Massa Pencinta Gus Dur Berdemonstrasi. Minggu. 26 Mei 2006.” Rakyat Merdeka. 23 Mei 2006.” TEMPO Interaktif.” elshinta. 9 Juli 2005 18:04. 6 Maret 2006 13:05 WIB. Todung: Saya Protes Keras Terhadap FPI. Gus Dur Diserang Massa FPI dan HTI. Buntut Acara Dialog Lintas Etnis dan Agama. 25 Mei 2006.com.com. sedikitnya delapan orang luka-luka terkena lemparan batu dan kayu. Ormas Islam Buat Pernyataan. 28 Juli 2005 20:26 WIB “Fatwa-fatwa Haram Ala MUI. 10 Juli 2005. karena menuduh JAI bertentangan dengan ajaran Islam. Jawa Barat.com. “Azyumardi Azra Menuntut Pengusir Gus Dur Diusut. Kasus paling hangat adalah aksi sejumlah oknum dari FPI. 28/07/2005 20:11 WIB. Kamis. Sabtu. Bogor.” gusdur. “NU vs FPI: Polisi Barikade Jl KS Tubun.” Rakyat Merdeka. Fatwa ini didukung sejumlah ormas dan partai Islam seperti PBB (Partai Bulan Bintang).net.” Detikcom.” Gatra.” Kompas.” Pikiran Rakyat. 9 Juli 2005. 23 Mei 2006. Jumat.” gusdur.com. Polisi Biarkan FPI Bertindak Anarkis.

29 Juli 2005 20:00. 22 September 2005. Minggu.” Liputan6. Jumat.net. Lihat “Pembakaran Rumah Jama’ah Ahmadiyah NTB.59 Mereka menjadi korban kesewenang-wenangan atau kezaliman. JURNAL HAM • Vol.48 Peristiwa ini mendapat reaksi dari berbagai kalangan.51 Garut.” detikInet. 16 Juli 2005.com/id/index. 15 Juli 2005 20:20.php?page= article&id=850. 5 Februari 2006. 21 Juli 2005 18:54 WIB. 30 Pengungsi Jemaat Ahmadiyah di Lombok Tengah Ingin Kembali ke Rumah.htm. Sabtu. 18 Juli 2005 19:26 WIB.” gusdur. 18 Februari 2006.55 Selain beberapa pemerintah di daerah telah melarang aktivitas JAI. 15 Jul 2005 13:11:12.net. 26 April 2006 10:12 WIB.” Detikcom. Gus Dur: Itu Pidana. Rabu. Rabu. Jumat.” Kompas Cyber Media.49 Sejak peristiwa itu. Lihat “Pemerintah Tetap Larang Ajaran Ahmadiyah. 22 Februari 2006 23:50. Lihat “Ahmadiyah Makin Terzalimi dengan Fatwa MUI.60 48 Lihat “Kampus Ahmadiyah Dikepung Massa. juga dari GUII (Gerakan Umat Islam Indonesia) yang dipimpin Habib Abdurrahman.” ttp://islamlib.com. Jumat. “Kegiatan Jemaat Ahmadiyah di Kuningan-Bogor Dilarang. Selasa. Sabtu. Rabu. “Negara Hukum Ataukah Kekuasaan. 17 Februari 2006. Lihat “Ahmadiyah Bulukumba Diancam Demo Besar-besaran. dan “Desak Pemda Lombok Tengah.52 Kuningan. “Jemaah Ahmadiyah Kuningan Bantah Ada Bentrokan.indomedia. 49 Lihat “Tokoh Antaragama Kutuk Penyerangan Jemaat Ahmadiyah. Lihat “SBY: Ahmadiyah Sudah Resmi Dilarang Pemerintah. Lihat “Jaksa Agung: Larangan Ajaran Ahmadiyah Bersifat Parsial.56 Pernyataan ini mungkin setelah keluar pernyataan Jaksa Agung yang menegaskan larangan atas Ahmadiyah. intimidasi dan teror kekerasan terhadap JAI di berbagai daerah seperti yang dialami jamaah ini di Sukabumi.” detikInet.com. Jumat.” Metrotvnews.com. 18 Jul 2005 19:49:51. Senin. 21 September 2005. 2 Agustus 2005. Sebagian mempersenjatai diri dengan tongkat bambu.” Kompas Cyber Media.com.” Koran Tempo. M. Kamis. ancaman. Minggu.58 Pernyataan ini disesalkan oleh perwakilan Ahmadiyah. Sabtu.Com. Rabu. Massa yang menyerbu selain dari FPI.” gusdur. 2 Agustus 2005.” Tribun Timur. 21:12 WIB.” Media Indonesia Online.” elshinta. “12 Pengrusak Masjid Ahmadiyah di Cianjur Dibekuk.” Metrotvnews. Sabtu. 24 Pebruari 2006. “Fatwa MUI Dituding Melegitimasi Penyerangan Terhadap Ahmadiyah. Selasa. Lihat “Ahmadiyah Sesalkan Pernyataan Presiden SBY Soal Kejaksaan Pernah Larang Ahmadiyah. Abdurrahman Wahid. Gus Dur: Yang Membakar Harus Ditangkap. Jumat.” Hidayatullah.” Detikcom. Rabu.50 Cianjur.” elshinta. Dawam Rahardjo. Jumat. Minggu.com/bpost/072005/16/nusantara/nusa1. September 2005. “Sejumlah Sarana Ibadah Ahmadiyah di Kuningan Disegel. Lihat “GARIS Bertanggung Jawab Atas Serangan Perkampungan JAI. dan “Keluarga Ahmadiyah Bulukumba Mengungsi.” Tribun Timur.Bogor dan Jakarta. 30/07/2005 16:55 WIB. 21 Agustus 2005 16:17 WIB. “72 Anggota Ahmadiyah Nyatakan Keluar. 2007 59 . Jumat. memang terjadi peningkatan berbagai aksi penolakan. Jumat. “Dievakuasi Jemaat Ahmadiyah Dilempari Batu & Kayu. Jum’at. dan “Mengekang Kebebasan Beragama.” Detikcom. 9 Agustus 2005. Kamis. Muspida Garut Sepakat Melarang Ahmadiyah. juga pemerintah pusat tetap melarangnya sebagaimana yang dikemukakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.com. Lihat “Rumah Ketua Ahmadiyah Kab. “Jemaah Ahmadiyah Sambut Baik Keberadaan Satgas Garda Bangsa. 20 56 57 58 59 60 Juli 2005 (tulisan ini ditulisnya ketika dirawat di RSCM). “Gus Dur Sesalkan Penyerangan Masjid Ahmadiyah di Cianjur. 14 Pebruari 2003 16:22.net.” Pikiran Rakyat. Kepolisian Resor (Polres) Bogor menyegel kampus setelah unsur Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) Kabupaten Bogor menyetujui keputusan bersama untuk menutup kampus. 20 Juli 2005 08:02 WIB. “Warga Ahmadiyah NTB Mengucapkan Syahadat.” Detikcom.” Pikiran Rakyat.” Li- 50 51 52 53 54 55 putan6.com.com. dan “Kejaksaan Telah Mendata Asetnya. 06:57. 5 Agustus 2005 15:31. 05 Agustus 2005.” http://www. Garis adalah singkatan dari Gerakan Reformis Islam. 30 Juli 2005. 4 • Th. Lihat “Ratusan Ulama Sukabumi Menolak Ahmadiyah. “Teror atas Ahmadiyah dan Problem Kebebasan Beragama. “Gus Dur Meminta Masjid Milik Ahmadiyah Dibuka.” detikInet. Rabu 5 April 2006.com.” gusdur.com. 16 Agustus 2005. Selasa. Sejumlah massa melempari para JAI dengan batu dan kayu saat dievakuasi dari Kampus Mubarok. 15/07/2005 17:57 WIB. Kejengkelan terhadap Ketidakpastian Sikap Pemerintah. 18:05 WIB.” Kapanlagi. Lihat “Teror: Belasan Rumah Ahmadiyah Dibakar. 7 Agustus 2005 13:27 WIB.53 serta beberapa daerah lainnya terutama yang dialami jamaah Ahmadiyah di Bulukumba (Sulsel)54 dan Lombok Barat (NTB).57 selain diperkuat oleh Menteri Agama Maftuh Basyuni.” Media Indonesia Online.” Gatra.” elshinta. Rabu. Garut Diamuk Massa. dan “Markas Ahmadiyah Diserbu Massa.

” christianpost. tapi juga oleh sekelompok orang dari ormas Islam seperti AGAP (Aliansi Gerakan Anti Pemurtadan) dan FPI. Gereja Kristen Pasundan (GKP) di Katapang (Kab. Lihat “Camat Dayeuhkolot Tutup Gereja Ilegal. Bandung).” TEMPO Interaktif. 9 Oktober 2004 8:45:00 WIB.” Sinar Harapan. Kabupaten Indramayu dan tiga orang pembinanya ditahan di LP. Sekolah milik Yayasan Sang Timur yang terletak di Kabupaten Tangerang menjadi sasaran aksi penutupan gerbang oleh sekelompok orang yang mengaku dari FPI. Kabupaten Bandung. Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) dan Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Perum Gading Tutukan Soreang (Kab. 26 Juni 2001. 27 Mei 2003 14:52. 25 Oktober 2004 | 11:52 WIB. “Gus Dur: Hentikan Aksi Penutupan Gereja.id. juga ribuan penduduk terpaksa mengungsi akibat aksi kekerasan tersebut. Bogor).com. dan “Gus Dur Meminta Walikota Tangerang Memberikan Izin Membangun Gereja.co. Pernyataan ini ditujukan kepada Bupati Kabupaten Bandung. Jumat. Gereja Isa Almasih (GIA) di Karangroto. Jakarta.Kasus gagalnya perlindungan hak atas kebebeasan beragama juga dialami oleh pemeluk agama Protestan dan Katolik. Bandung). Pendidik- 62 63 64 65 66 an Jangan Jadi Korban. Senin.” TEMPO Interaktif. kafe dan 61 Lihat “Penembokan Sekolah Sang Timur. Kelurahan Tani Mulya. Desa Bungursari (Kab. FKKU (Forum Komunikasi Kemaslahatan Umat) dan FSPI (Forum Silaturahmi Pemuda Islam) serta ormas kedaerahan seperti FBR (Forum Betawi Rempug) yang kerap melakukan penyisiran (sweeping) dan kekerasan baik atas pemeluk agama dan orang lain maupun tempat-tempat hiburan. Selain rusak lahan garapan para petani yang berdampak pada hak atas pekerjaan dan penghasilan. 1 Juni 2006 di Garut. Selasa. Jumat.com. 7 September 2005 01:34:26. sejumlah gereja ditutup. Selasa. “Massa Datangi Kontras dan PBHI. Rabu. 25 Oktober 2004 | 10:09 WIB. Gereja Kristen Kemah Daud (GKKD) di Kampung Warung Mekar.” Republika. Sabtu.” TEMPO Interaktif. 31 Maret 2003. 2 Juni 2006.” kristianipos. 2007 60 . JURNAL HAM • Vol.66 Semua ini bukan saja terus berlangsung kegagalan dalam melindungi hak-hak. Prospek implementasi ICCPR Kendati negara RI telah meratifikasi ICCPR. 23 Agustus 2005.” Gatra. dan “Penjelasan FPI : Kronologis Kejadian Penutupan “Gereja Liar” di Bandung.61 Pada 12 September 2004 terjadi aksi warga berdasarkan Maklumat Forum Silahturahmi Ulama Cendikiawan Muslim (FSUCM) yang melarang ibadah di Gereja-gereja Rancaekek. tapi juga sekaligus menjadi bagian dari terus langgengnya impunitas.64 Kasus lainnya adalah konflik pertanahan antara petani penggarap dengan pihak perkebunan yang ditandai dengan tindak kekerasan tak hanya oleh aparat keamanan. Senin. Kecamatan Genuk (31 Juli 2005).65 Selain itu. tapi kenyataannya tak ada jaminan hak-hak sipil dan politik setiap orang dihormati. 26 Agustus 2005. terdapat pula kasus-kasus penyerangan atas beberapa ornop/LSM seperti UPC.” Crossmap News. Lihat “Pernyataan Forum Komunikasi Kristiani Indonesia Jawa Barat tentang Penutupan Kegiatan Ibadah Kristen di Perumnas Bumi Rancaekek Kencana. “Gus Dur Perintahkan Banser untuk Menjaga Sang Timur. “Kantor Kontras Diserbu Massa.” eben-network. Jumat.” TEMPO Interaktif.63 Aksi penutupan gereja ini tak hanya oleh pemerintah lokal. Kamis. 23 Agustus 2005. dan “Tokoh Agama dan Gus Dur: Hentikan Aksi Penutupan Gereja.62 Antara Juni-Agustus 2005. Selasa. 4 Oktober 2004. terutama oleh sekelompok orang dari ormas Islam seperti FPI. 15 Agustus 2005. Selasa. dan “Wardah Hafidz Kecewa dengan Putusan Hakim. 28 Oktober 2004 10:00:03. PBHI dan Kontras. 6 Pebruari 2004. “Tembok Sang Timur Dirobohkan. Lihat “Sejumlah Ormas Islam Tutup Gereja Ilegal.” Republika. Senin. Jawa Barat. Lihat “Kantor PBHI Jabar Didatangi Massa. Kecamatan Ngamprah (Kab. tapi juga sejumlah oknum preman seperti yang terjadi pada Kamis. AGAP.” Bandung.” Kompas. Senin. 4 • Th. Purwakarta) serta enam gereja di Kompleks Permata Cimahi.” Suara Pembaruan. Lihat “PBHI Desak Kapolri Usut Kasus Kekerasan di Garut. yaitu Gereja Kristen Kemah Daud (GKKD) di Kecamatan Haurgeulis.

” Liputan6. 23 Oktober 2004 11:20 WIB. 18 Mei 2006 11:34.Com. Selasa. Suryadi Radjab. Senin.net. 17 Oktober 2005” – 09:46.” Kompas Cyber Media. 29 Oktober 2005. 16 Mei 2006 14:52 WIB. Nadirsyah Hosen.” Sinar Harapan. Jumat. Sweeping Jalan Terus.75 67 Lihat “FPI Rusak Kantor Komnas HAM dan Kafe 68 69 70 71 72 Jimbani. Selasa.72 kalangan pekerja pers mengeluarkan pernyataan perang melawan premanisme. Sabtu. Jumat. 1 Muntah Darah. Rabu. 2007 61 .” Warta Kota. Terkait Pemukulan Kontributor TV. Hak Manusia dan Polisi. 04 April 2005 | 14:01 WIB. 06 April 2006. Kamis. “Massa FPI Rusak kantor Playboy. 26 Januari 2005.” TEMPO Interaktif. dan “Polisi Tembak Buronan Pencuri Sarang Walet. “Diakui Sebagai Tindakan Konkret Berantas Pekat. 19 Maret 2004.” Sinar Harapan. Jumat. 12 Mei 2006 09:16. Rabu. 11 Maret 2003. “Massa Gabungan Ormas ‘Sweeping’ Toko Miras. 16:26 WIB. dan “Empat LSM Desak Moratorium Hukuman Mati Tibo Cs. sejumlah ornop melancarkan kampanye menolak hukuman mati.” Sinar Harapan. “Demokrasi dan Perlindungan Kaum Minoritas. Ahmad Suaedy. Massa FPI Purwakarta Razia Miras dan PSK.” gusdur.67 Kasus penyerangan dan tindak kekerasan atas pekerja pers masih saja terjadi setelah kasus Udin. “Penyerangan Tempo: Aparat Dikangkangi Premanisme. “Puluhan Orang Berseragam FBR Keroyok Pedagang Pasar Senen. JURNAL HAM • Vol. Jum’at.” SeKetika. Distia Aviandari dan Suryadi Radjab. Selasa.” Pikiran Rakyat. 28 Oktober 2004 | 19:45 WIB. Sabtu. 1 Meninggal. 20 Desember 2005 | 00:20 WIB. 13 Apr 2006.70 melainkan juga atas para demonstran atau orang-orang yang sedang merealisasi hak atas kebebasan berkumpul dan berpendapat. Polisi Hajar Wartawan. Lihat “Keluarga Korban Pelanggaran HAM Tuntut Soeharto Diadili. Decky Natalis Pigay.” Kompas. 23 Mei 2006. 25 Juli 2005.” TEMPO Interaktif. 23 Oktober 2004 01:30 WIB. dan “Soeharto Perlu Juga Diadili dalam Kasus Pelanggaran HAM. Rabu.” gusdur.indymedia. Selasa. 4 Luka-luka. 30 Maret 2006. dan “Masyarakat Solo Keluarkan Petisi Perang terhadap Premanisme. “Preman Pukul Wartawan dan Rusak Kantor Indopos. Selasa.” Hukumonline.” Pikiran Rakyat.” islamlib. 3 Oktober 2003.” Detikcom. lihat juga “Polisi bubarkan Rapat Umum Petani.” Pikiran Rakyat.” Kompas Cyber Media.Com.” TEMPO Interaktif. Bandung: PBHI Jawa Barat. “Pelanggaran HAM Soeharto Harus Tetap Diusut. “Premanisme dan Wartawan Kita. “Wartawan TEMPO Dipukul.71 Memang harapan untuk mendapatkan intervensi negara untuk melindungi hakhak sipil dan politik yang terancam oleh perilaku sejumlah orang maupun halangan dari aparat militer dan kekerasan polisi. Senin.69 Kekerasan polisi tak hanya menjadi kebiasaan dalam penangkapan dan penahanan tersangka. Lihat “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah. dan “Istri Gus Dur Dilaporkan FBR ke Polda.org. “Peristiwa 12 Februari dan Kekerasan Polisi. Sabtu. Sabtu. Lihat “Polisi Tembak ‘Raja Jambret’ Samarinda. 2005. 23 Oktober 2004 | 00:00 WIB. 26 Maret 2003. Lihat “Pada HUT-nya Ke-56. 23 Juni 2003.” TEMPO Interaktif. Lihat “LSM HAM Tolak Hukuman Mati.” jakarta. Sabtu . “Masyarakat Kemang Kutuk Aksi FPI. “Aksi Premanisme terhadap Pers. Kamis.74 Begitu juga. dan “Wartawan Surabaya Demo UPN Veteran. dan “Polisi Membubarkan Paksa Demonstrasi di DPRD Bengkulu. “Polres Jakarta Timur ‘Diserbu’ FBR. Selasa.” dalam Hendardi. 20 September 2005.pedagang. Rabu. “Polisi Nias Gelar Perkaranya Hilangnya Wartawan Berita Sore. 24 Juni 2000. 23 Oktober 2004 16:13 73 74 75 WIB.” detikInet. 18 Maret 2003. 9:07 WIB.com. Kamis.com. Kamis. “Rusak Tempat Hiburan. Sabtu.” Gatra.” Rakyat Merdeka. 10 Pebruari 2005 | 17:27 WIB. Kamis. tetap tumbuh semangat dan partisipasi masyarakat dalam membela hak-haknya. 4 • Th. 14 Maret 2003.” TEMPO Interaktif. keluarga korban dan beberapa kalangan yang prihatin atas pelanggaran hak-hak manusia tetap mendesak proses hukum atas orang-orang yang terlibat dan bertanggung jawab. Rabu. Kamis. Selasa.” TEMPO Interaktif. Selasa.” detikInet.” Gatra.” TEMPO Interaktif. “FPI Akan Terus Sweeping Tempat Hiburan.” detikInet.” Kaltim Post. 27 Mei 2006. 26 April 2006. 24 Mei 2006. Polda Metro Tindak Tegas FPI dan FBR. “FPI: Perda Tempat Hiburan Tumpul. Lihat “Kasus Wamena Tunjukkan Lemahnya Perlindungan HAM di Papua. 17 November 2005 | 01:07 WIB. Senin. 02 Juli 2002. Kamis. “Tujuh Anggota FBR Divonis Enam Bulan. 17:57:46 WIB.68 Apalagi jika aparat keamanan dan penegak hukum justru lebih sering gagal melindungi hak-hak tersebut. “FPI Sweeping Tempat Maksiat. Harry Ganda Asi. Lima Luka-luka.net. “Tawuran FBR-Benteng Banten. 37 Luka Tembak. “Preman Berjubah itu. Misalnya. 9 Mei 2006. 31 Agustus 2005 15:00.” INDO POS Online. 08:38 WIB.73 dan mereka yang memperjuangkan dihormatinya pluralisme menyatakan lawan preman berjubah. 10 Mei 2006.” detikInet. “FPI Gerebek Tempat Hiburan di Kemang. 31 Maret 2003.” TEMPO Interaktif. Senin.” TEMPO Interaktif. Sabtu.com.” TEMPO Interaktif. 12:54am.

Detikcom. Detikcom. Rabu. Detikcom. 9 Mei 2006. “Presiden Lantik Bagir Manan Jadi Ketua Mahkamah Agung” Kamis. BBCIndonesia. 8 Maret 2006. “Komnas Perempuan Tolak Perda Tangerang Tentang Pelacuran” Rabu. “SBY: Ahmadiyah Sudah Resmi Dilarang Pemerintah” Selasa.Published 13:11 GMT. MUI Akan Kumpulkan 1. 26 Mei 2006. 06:57. Detikcom. Detikcom. Jadikan Bali Daerah Khusus Pornografi” Rabu. “12 Pengrusak Masjid Ahmadiyah di Cianjur Dibekuk” Rabu. Detikcom. Berkeley: International Center for Transitional Justice. “FBR Gabung FPI Hadang NU” Jumat. 7 Maret 2006. “Perda Larangan Pelacuran Akan Diterapkan di Jakarta” Selasa. Detikcom. DAFTAR PUSTAKA Antara News. Berbagai partisipasi. “Tokoh Agama dan Gus Dur: Hentikan Aksi Penutupan Gereja” Jumat.” Sabtu. “Slamet Rahardjo: RUU APP Tempatkan Perempuan Seolah Hantu” Minggu. 16 Februari 2006. 26 Agustus 2005. Detikcom. 26 Maret 2003. Crossmap News. 100 Pendemo Cantik Tolak RUU APP” Rabu.Selain itu. Detikcom. Detikcom. “Premanisme dan Wartawan Kita” dalam Sinar Harapan. sangatlah penting dalam menagih bukan saja kewajiban. negara – pemerintah dan aparat penegak hukum – harus selalu diingatkan dan didesak terus-menerus untuk melindungi hak-hak sipil dan politik bagi setiap orang ketika ancaman atasnya sedang berlangsung. “Draf RUU APP Adalah Buah dari Sebuah Kemunafikan” Kamis. Detikcom. 16 Maret 2006. 22 Mei 2006. “Gus Dur Siap Upayakan Amandemen Jika RUU APP Jadi UU” Kamis. 16 Agustus 2005. David. “RUU Pornografi Berpotensi Jadi Alat Pemerasan Baru” Kamis. “Demonstran Dukung RUU APP di Cirebon Segel LSM Fahmina” Minggu. 26 Mei 2006. 16 Agustus 2005. 18 Mei 2006. Detikcom. “Pelanggaran HAM Soeharto Harus Tetap Diusut” Selasa. Detikcom.000 Ulama di Gontor” Senin. Cohen. “MMI: Jika Terus Menolak. 9 Februari 2006. 9 Maret 2006. “Massa NU Akan Survei di Slipi Apa FPI Lakukan Syiar Agama” Jumat. Cendrawasih Pos. 22 September 2005. “Ahmadiyah Makin Terzalimi dengan Fatwa MUI. “Bagir Manan jadi ketua MA lagi” 02 Mei. “SBY: Ahmadiyah Sudah Resmi Dilarang Pemerintah” Selasa. 4 Maret 2004. Detikcom. Detikcom. 15 Maret 2006. terlebih lagi konsolidasi masyarakat. “Bahas RUU APP. Rabu. “DPR Pusing Pro Kontra RUU APP” Kamis. 6 Maret 2006 Detikcom. Asi. Detikcom. 2006 . “Gus Dur Sesalkan Penyerangan Masjid Ahmadiyah di Cianjur” Kamis. Detikcom. 12 Maret 2006. 15 Maret 2006. September 2005. 8 Maret 2006. “Peringati Hari Perempuan. 30 Juli 2005. 4 • Th. Detikcom.” Detikcom. “30 Elemen Islam Malang Demo Dukung RUU APP. 16 Maret 2006. Harry Ganda. 8 Maret 2006. 26 Mei 2006. 2007 62 . JURNAL HAM • Vol. Detikcom. “MUI Sayangkan Adanya Penolakan RUU Anti Pornografi” Senin. “Aksi Seribu Tayub Tolak RUU APP” Rabu.com. “Dari 167 Lembaga Tamu Pansus. Intended to Fail: The Trial Before the Ad Hoc Human Rights Court in Jakarta. 144 Setuju RUU APP” Kamis. 8 Maret 2006. Detikcom. 21 Mei 2006. Detikcom. Detikcom. Detikcom. 2004. Detikcom. tapi juga tanggung jawab negara. “NU vs FPI: Polisi Barikade Jl KS Tubun” Jumat. “Ratusan Mahasiswa Yogya Demo Tolak RUU APP” Rabu. “Polisi Tembak Buronan LP Saat Mencoba Melarikan Diri dari Kejaran Petugas” Rabu.

23 Mei 2006. 4 • Th. “The Age of Rights” Imparsial. gusdur. 6 Maret 2006 13:05 WIB. “Masyarakat Solo Keluarkan Petisi Perang terhadap Premanisme” Selasa. 1.com. detikInet. 30 Pengungsi Jemaat Ahmadiyah di Lombok Tengah Ingin Kembali ke Rumah” Rabu. “DPP PBB Dukung fatwa MUI Soal Ahmadiyah” Sabtu. “Demokrasi dan Perlindungan Kaum Minoritas” dalam islamlib.com. Hendardi. Gatra. 23 Mei 2006. 26 April 2006 10:12 WIB. Rocky. 18 Mei 2006 11:34.detikInet.com. Hosen. 13 Agustus 2005 19:04 WIB.net. Sweeping Jalan Terus” Sabtu. Nadirsyah. Rabu. 7 Agustus 2005 13:27 WIB. elshinta. detikInet. “Mengekang Kebebasan Beragama. “Ahmadiyah Sesalkan Pernyataan Presiden SBY Soal Kejaksaan Pernah Larang Ahmadiyah” Minggu. No. eben-network. 10 Mei 2006. Gerung. detikInet. “FPI Gerebek Tempat Hiburan di Kemang” Sabtu. “FPI: Perda Tempat Hiburan Tumpul. Polda Metro Tindak Tegas FPI dan FBR” Sabtu . Aksi FPI Cs Meresahkan: Massa NU dan Prodemokrasi Demo ke Mabes Polri” Jumat. “Kantor Kontras Diserbu Massa” Jakarta. “Ratusan Ulama Sukabumi Menolak Ahmadiyah” Jum’at. 23 Mei 2006.” Kompas.net. elshinta.net. gusdur. Gatra. Gatra. detikInet. “Dievakuasi Jemaat Ahmadiyah Dilempari Batu & Kayu” Jumat. “Pembakaran Rumah Jama’ah Ahmadiyah NTB.com. Januari 1997. 23 Mei 2006. Gus Dur: Yang Membakar Harus Ditangkap” Minggu. 7 September 2005 01:34:26. Vol. Selasa. “Ratifikasi 2 Kovenan HAM oleh RI Dianggap Masih Setengah Hati” Kamis . gusdur. “13 Terdakwa Kasus Pengrusakan Kampus Mubarok Ahmadiyah Disidangkan di PN Cibinong Jabar” Senin.com. “Tuntut Milisi Sipil Dibubarkan” Rabu.com. “MUI Kembali Fatwakan Ahmadiyah Sebagai Aliran Sesat” Kamis. elshinta.com. Hidayatullah.net. 2 Februari 2006.net. 23 Oktober 2004 01:30 WIB. 27 Oktober 2005 13:32.com. elshinta. detikInet. Gatra. “Pengusiran Gus Dur. “Rusak Tempat Hiburan.net. gusdur. gusdur. 21 Juli 2005 18:54 WIB. “Mafia Peradilan di Indonesia. Kamis. gusdur. “Keluarga Korban Pelanggaran HAM Tuntut Soeharto Diadili” Kamis. “Gus Dur Hadapi Teror Gerombolan Islam Radikal” Selasa. 2007 63 . 12 Mei 2006 09:16. 16 Mei 2006 14:52 WIB. 29/ 09/2005 14:25 WIB. “Polisi Tembak ‘Raja Jambret’ Samarinda” Jumat. 25 Mei 2006 10:26. 5 Februari 2006. 30/07/2005 16:55 WIB. detikInet. Todung: Saya Protes Keras Terhadap FPI” Kamis. detikInet. “Kegiatan Jemaat Ahmadiyah di Kuningan-Bogor Dilarang” Sabtu. 23 Oktober 2004 16:13 WIB. JURNAL HAM • Vol. “Jemaah Ahmadiyah Sambut Baik Keberadaan Satgas Garda Bangsa” Minggu. 2. 23 Oktober 2004 11:20 WIB. “KPK Geledah Ruang Kerja Bagir Manan” Kamis. 24 Pebruari 2006.net.com. 18 Maret 2003. 23 Mei 2006. “Soeharto Perlu Juga Diadili dalam Kasus Pelanggaran HAM” Selasa. 21 Agustus 2005 16:17 WIB.net. gusdur. “Gus Dur Hadapi Teror Gerombolan Islam Radikal” Selasa. “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah” Selasa.com. Gus Dur: Itu Pidana” Rabu 5 April 2006. 15/07/2005 17:57 WIB. Gatra. “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah” Selasa.com. “Penjelasan FPI : Kronologis Kejadian Penutupan “Gereja Liar” di Bandung” Rabu. gusdur. “Teror: Belasan Rumah Ahmadiyah Dibakar” Jumat. detikInet. gusdur. 14 Pebruari 2003 16:22. “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah” Selasa. gusdur.com. “Desak Pemda Lombok Tengah. 31 Mei 2006. elshinta. Gatra.com. 28/07/2005 20:11 WIB.net.net. 26 Mei 2006. “Jaksa Agung: Larangan Ajaran Ahmadiyah Bersifat Parsial” Kamis. 27 Mei 2003 14:52.

24 April 2004. 02 Mei 2006. “Kerangka Acuan Perencanaan Strategis Impunitas. Banyak yang Tumpang Tindih” Senin. Bogor. Koran Tempo. 15 Jul 2005 13:11:12. Kompas. 13 Apr 2006. 8 Juni 2005. 21:12 WIB.http://www. dan Komnas Perempuan.” Selasa.com.” Kamis.com. 26 Mei 2006.” Bandung. “Kantor PBHI Jabar Didatangi Massa. Aksi Kekerasan dan Perusakan Terus Dibiarkan” Jumat. Kapanlagi. Kompas Cyber Media.indomedia. Tolak Usulan untuk Non-aktif” Kamis. 16 Juli 2005. 64 JURNAL HAM • Vol. “Dua Kovenan HAM Diratifikasi. INCRESS. 28 Oktober 2004 10:00:03. Kompas Cyber Media. “Pemerintahan Daerah: 393 Perda Bermasalah Akan Dibatalkan” Kamis. Dengan Reservasi pada Hak Menentukan Nasib Sendiri” Sabtu. dan “Istri Gus Dur Dilaporkan FBR ke Polda” Rabu. 37 Luka Tembak” Selasa. Liputan6. “FPI Rusak Kantor Komnas HAM dan Kafe Jimbani” Sabtu. Kompas Cyber Media. 14 Februari 2006. 16 Mei 2006. Kompas Cyber Media. 21 September 2005. 20 Mei 2006 22:31:32. “Gus Dur Meminta Walikota Tangerang Memberikan Izin Membangun Gereja. “72 Anggota Ahmadiyah Nyatakan Keluar” 2 Agustus 2005 kristianipos. 12:09 WIB. “Bagir Manan Merasa Difitnah. 16:26 WIB. 5 Agustus 2005 15:31. 6 April 2006. Hukumonline. Hikmahanto. Kompas. “Konflik MA-KY Hanya Untungkan Mafia Peradilan” Selasa. Kompas Cyber Media. 2007 .” lokakarya yang diselenggarakan PBHI dan HOM pada 29-30 Mei 2006 di Cipayung. Syarikat Indonesia. Kompas Cyber Media. 8 Mei 2006. Pendidikan Jangan Jadi Korban” Sabtu. “Penembokan Sekolah Sang Timur. 15:03 WIB. “Pelaksanaan Otonomi Daerah Kebablasan” Sabtu. “Konsekuensi Ratifikasi ICCPR” Kompas. “Gus Dur Meminta Masjid Milik Ahmadiyah Dibuka” Jumat. Kompas. 9 Oktober 2004 8:45:00 WIB. Kompas. “Ratifikasi Dua Kovenan Internasional Dinilai Setengah Hati” Kamis. Kompas. “Tokoh Antaragama Kutuk Penyerangan Jemaat Ahmadiyah” Sabtu. “Penyerangan Tempo : Aparat Dikangkangi Premanisme” Selasa.com/bpost/072005/16/ nusantara/nusa1. 12 Oktober 2005. 05 Agustus 2005. Juwana. “Bagir Manan Perpanjang Usia Pensiun Dirinya: Disebutkan. Kompas. Rabu. “Diskusi Korban Kekerasan Perempuan Tahun 1965 Dibubarkan” Sabtu. 26 Juni 2001. Pembubaran Paksa Pertemuan di Wisma Brantas Bandung. 18:05 WIB. Kompas. 06 April 2006. “Massa FPI Rusak kantor Playboy” Kamis. 1 Meninggal. Kompas. Kompas. “Pemerintah Dikritik Tak Tegas. 29 September 2005 Hukumonline.com. 24 Juni 2000. “LSM HAM Tolak Hukuman Mati” Kamis. 24 Mei 2006.htm. jakarta.org.com. “Komnas HAM Sesalkan Larangan Seminar” Selasa. “GARIS Bertanggung Jawab Atas Serangan Perkampungan JAI” Rabu. KabarBaru. “RUU Pemerintahan Aceh: Diusulkan Polisi dan Jaksa Khusus Syariat” Jumat. “Polisi bubarkan Rapat Umum Petani.com. “Bagir Manan: Tak Ada Alasan untuk Mundur” Rabu. “Markas Ahmadiyah Diserbu Massa” Jumat. Kompas Cyber Media. 11 Maret 2003. Kompas.indymedia. 4 • Th. 20 Januari 2006. 20 September 2005. Tunggakan Perkara di MA Masih Banyak” Jumat. “Pernyataan PBHI Jawa Barat: Protes atas INDO POS Online. “Bagir Manan Siap Pensiun Tahun 2008” Selasa. 08:38 WIB. “Jemaah Ahmadiyah Kuningan Bantah Ada Bentrokan” Jumat. kristianipos. 13 Oktober 2005. “FPI Sweeping Tempat Maksiat” Senin. 17 Oktober 2005 – 09:46. 12:54am. “Banyak UU Tanpa Kajian: Tidak Ada Desain Besar Legislasi Nasional. Kompas. Kaltim Post. 22 Mei 2006. 13:29 WIB. 12 Mei 2006. 1 Oktober 2005.

Liputan6. 2 Agustus 2005. “Polisi Tembak Buronan Pencuri Sarang Walet” Rabu. Rakyat Merdeka. Liputan6. Metrotvnews. 25 Mei 2006 01:54. “Pemerintah Tetap Larang Ajaran Ahmadiyah” Rabu. 20 Juli 2005 08:02 WIB. 26 Mei 2006. “FUI Wil. Metrotvnews. Jum’at. Pikiran Rakyat. “Sejumlah Sarana Ibadah Ahmadiyah di Kuningan Disegel” Jumat. Pikiran Rakyat. Liputan6. Muspida Garut Sepakat Melarang Ahmadiyah” Selasa. Media Indonesia Online. “Massa Bubarkan Pertemuan Perempuan Eks Napi PKI.com. 2006. “Teror atas Ahmadiyah dan Problem Kebebasan Beragama” dalam http://islamlib. Pikiran Rakyat. Senin. “Dua Kelompok Massa Islam Bentrok” Sabtu. 18:18:45 WIB. Rakyat Merdeka. 25 Mei 2006 05:59. 2007 Pikiran Rakyat. Garut Diamuk Massa. “Peristiwa 12 Februari dan Kekerasan Polisi” dalam Hendardi. “Gus Dur vs Ormas Radikal: Polisi Minta Semua Pihak Menahan Diri” Kamis. 22 Mei 2006. Suryadi. 29 Oktober 2005. Bandung: PBHI Jawa Barat. 65 .Liputan6. “Kampus Ahmadiyah Dikepung Massa” Jumat.com. “Menolak RUU APP. 15 Juli 2005 20:20. “Massa Gabungan Ormas ‘Sweeping’ Toko Miras” Senin.com. Kejengkelan terhadap Ketidakpastian Sikap Pemerintah” Selasa. 18 Mei 2006 14:52 WIB. 22 Februari 2006 23:50. “Aksi Premanisme terhadap Pers” dalam Sinar Harapan. 24 Mei 2006. Massa FPI Purwakarta Razia Miras dan PSK” Sabtu. 26 Januari 2005. Polisi Bengong” Jumat. Media Indonesia Online. Gus dur Tuding Gerakan Ormas Islam Ada yang Mendanai” Rabu. Liputan6. “Kejaksaan Telah Mendata Asetnya.com. Utrecht: The Netherlands Humanist Committee on Human Rights. 28 April 2006 17:05. “Massa Pencinta Gus Dur Berdemonstrasi” Kamis. Cirebon Sesalkan Sikap LSM Fahmina” Jumat. 25 Mei 2006. 9 Agustus 2005.”. “NU Tuntut FPI Minta Maaf.”. JURNAL HAM • Vol. Aktivis dan Artis Diteror” Jumat. “FPI Segel Fahmina Institute Cirebon. “Presiden Lantik Bagir Manan Sebagai Ketua MA” Kamis. Media Indonesia Online. 26 Mei 2006. 4 • Th. Distia Aviandari dan Suryadi Radjab. “Warga Ahmadiyah NTB Mengucapkan Syahadat” Rabu. “Saat Mencoba Membubarkan Pertemuan di Kemang.com. Pikiran Rakyat. 14 Maret 2003. 22 Mei 2006. Rahardjo.com. The Scope of Impunity in Indonesia (draft). Metrotvnews.php?page= article&id=850. Pikiran Rakyat. “Azyumardi Azra Menuntut Pengusir Gus Dur Diusut” Kamis. 25 Juli 2005. “Polisi Membubarkan Paksa Demonstrasi di DPRD Bengkulu” Rabu. 28 Juli 2005 20:26 WIB. Media Indonesia Online.com. 4 Oktober 2004. Decky Natalis. 29 Juli 2005 20:00. 31 Agustus 2005 15:00. “Fatwa MUI Dituding Melegitimasi Penyerangan Terhadap Ahmadiyah” Senin. 9 Juli 2005 18:04.com/id/index. Haram Hukumnya Perdukunan dan Peramalan” Kamis. Pigay. 26 Mei 2006. Media Indonesia Online. 04:18:30 WIB. “MUI Tetapkan 11 Fatwa. 10 Juli 2005.com. Liputan6. Hak Manusia dan Polisi. 19:16:05 WIB. 26 Mei 2006. “Pernyataan Forum Komunikasi Kristiani Indonesia Jawa Barat tentang Penutupan Kegiatan Ibadah Kristen di Perumnas Bumi Rancaekek Kencana. “Massa FPI-FBR Bersiap Menghadapi Serbuan Garda Bangsa” Jumat. 18 Juli 2005 19:26 WIB. Radjab. Pikiran Rakyat. M. Martha. Meijer. “Rumah Ketua Ahmadiyah Kab. 2005. Pikiran Rakyat. Ormas Islam Buat Pernyataan.com. “Dialog Lintas Etnis Nyaris Rusuh. Senin. 18 Jul 2005 19:49:51. Pikiran Rakyat. “Diakui Sebagai Tindakan Konkret Berantas Pekat. Dawam. Rakyat Merdeka “Bangkitkan Semangat “PKI”. 24 Mei 2006.” Bandung. Buntut Acara Dialog Lintas Etnis dan Agama” Jumat. “Dialog Lintas Etnis Nyaris Rusuh: Gus dur Tuding Gerakan Ormas Islam Ada yang Mendanai” Rabu. Seminar Incres Dibubarkan. Warga Bentrok dengan Pengikut Ahmadiyah” Minggu. Pikiran Rakyat.

12:16:50 WIB. 27 Mei 2006. Sinar Harapan. “Gus Dur: Hentikan Aksi Penutupan Gereja” Selasa. “Yusril Bantah Revisi KUHP Mengadopsi Syariat Islam” Rabu. “Empat LSM Desak Moratorium Hukuman Mati Tibo Cs. 15 Agustus 2005. TEMPO Interaktif. Riau Pos Online. 23 Agustus 2005. “Syariat Islam dalam KUHP Bermuatan Politis” Kamis. Rakyat Merdeka. Sinar Harapan. “Massa Datangi Kontras dan PBHI” Jumat. Republika. “Majelis Hakim Masih Musyawarah Bahas Soal Bagir Manan” Rabu. “GP Ansor Minta Ormas Liar Dibubarkan” Jumat. Sabtu. Republika Online “Komnas Perempuan akan Minta Klarifikasi Kapolri.“Muladi: Perpanjangan Pensiun Bagir Manan Keliru” Jumat. SeKetika. 2007 . Republika. “Syariat Islam. 1 Oktober 2005. “Kasus Wamena Tunjukkan Lemahnya Perlindungan HAM di Papua” Senin. Sinar Harapan. Suara Pembaruan. Sriwijaya Post Online. Republika. 10 Maret 2006. 6 Pebruari 2004. TEMPO Interaktif. “Camat Dayeuhkolot Tutup Gereja Ilegal” Selasa. 22 November 2003. “Direktur ICIP Syafii Anwar: Perda Syariat Bisa Picu Disintegrasi” Senin. Jumat. 10 Maret 2006. Sinar Harapan. “Polisi Tembak Mati Perampas Motor” Sabtu. 10:03:13 WIB. Rapim darurat digelar saat penggeledahan berlangsung” Jumat. Suara Pembaruan. 27 Mei 2006. Bagir Ditolak” Jumat. 10 Mei 2006 | 13:04 WIB. Suara Pembaruan. 22 Mei 2006. 17:57:46 WIB. 4 • Th. Republika Online. “Wartawan Surabaya Demo UPN Veteran. 23 Agustus 2005. TEMPO Interaktif.net. 22 Mei 2006 19:19:00. Suara Pembaruan. Terkait Pemukulan Kontributor TV” 26 April 2006.” n. 28 Oktober 2005. 28 Oktober 2005.” Bandung. Selasa. Sinar Harapan. 22 Mei 2006. “Bagir Terpilih. “PBHI Desak Kapolri Usut Kasus Kekerasan di Garut”.”. 23 Juni 2003. “Gus Dur Perintahkan Banser untuk Menjaga Sang Timur” Senin. 8 Oktober 2005. dari Desa Mengepung Kota” Senin. 2 Oktober 2003.com. 2 Juni 2006 | 13:05:43 WIB. “Fatwa-fatwa Haram Ala MUI” Jum’at. 66 JURNAL HAM • Vol. 24 Mei 2006. “Preman Berjubah itu” dalam gusdur.” Kamis. Senin.Rakyat Merdeka. Polisi Biarkan FPI Bertindak Anarkis” Rabu. TEMPO Interaktif. 2 Juni 2006. “Siaran Pers PBHI Jawa Barat tentang Pengusiran Gus Dur dan Intimidasi Kegiatan Forum Dialog Lintas Agama di Purwakarta. TEMPO Interaktif. 24 Mei 2006. “5000 Orang Akan Demonstrasi Tolak RUU Anti Pornografi” Rabu. “Polisi Tembak Penjahat Kambuhan” Rabu. 1 Oktober 2003. “Aliansi Masyarakat AntiKekerasan Luruk Markas FPI Besok Siang” Kamis. TEMPO Interaktif. 11:36:46 WIB. 26 Mei 2006. “Sejumlah Ormas Islam Tutup Gereja Ilegal” Senin. “Garda Bangsa Minta Habib Rizieq Ditangkap” Jumat. “Kapolri Harus Klarifikasi Pembubaran Kegiatan Mantan Tapol PKI. 25 Mei 2006 10:02:05. 25 Mei 2006. “Banteng Jakarta Dukung Gus Dur Hadapi FPI Cs. Ahmad. “Liku-liku Percaloan dan Mafia Peradilan di Indonesia” Sabtu. 30 Maret 2006. Suara Pembaruan. 25 Mei 2006. “Saat Pidato.. Riau Pos Online. 23 Mei 2006. Rakyat Merdeka. “Disesalkan. “SBY-JK Didesak Bubarkan FPI” Rabu. Rakyat Merdeka. 24 Mei 2006. 15:48:40 WIB.“Polisi Tembak Buron Pelaku Curas” Kamis.” Sabtu. Suaedy.“Hampir 30 Persen UU Bertentangan dengan Konstitusi” Jumat. Rakyat Merdeka. 14:14:51 WIB Rakyat Merdeka. Rakyat Merdeka. “Indonesia Ratifikasi Kovenan Hak-hak Sipil dan Politik” Sabtu. 25 Oktober 2004 | 11:52 WIB. 17:24:23 WIB.“Ruang Kerja Bagir Digeledah. 29 Juli 2005 | 06:38 WIB. Suara Pembaruan. 30 Juni 2004. Sinar Harapan. Sinar Harapan. Gus Dur Diserang Massa FPI dan HTI” Kamis. “KPK Terlambat Geledah Ruang Ketua MA” Jumat. 26 Mei 2006. 10 Mei 2006.

Wahid. wahidinstitute. www. 4 • Th. “Pada HUT-nya Ke-56. Senin. “Ahmadiyah Bulukumba Diancam Demo Besar-besaran” Jumat. TEMPO Interaktif. TEMPO Interaktif. 4 Luka-luka. “LSM Fahmina Diserbu Massa Pendukung RUU APP” Senin. 9:07 WIB. 17 Februari 2006.or. 19 Maret 2004. 10 Pebruari 2005 | 17:27 WIB. 04 April 2005 | 14:01 WIB. TEMPO Interaktif. TEMPO Interaktif. “Wardah Hafidz Kecewa dengan Putusan Hakim” Senin. “Massa Segel Kantor LSM. Megamendung. TEMPO Interaktif. Bogor. “Preman Pukul Wartawan dan Rusak Kantor Indopos” Selasa. Warta Kota. “FPI Akan Terus Sweeping Tempat Hiburan” Kamis. TEMPO Interaktif. Polisi Hajar Wartawan. 22 Mei 2006. Harry. 23 Januari 2006 22:30 WIB. “Wartawan TEMPO Dipukul” Jumat. TEMPO Interaktif.fpks-dpr. JURNAL HAM • Vol. 18 Februari 2006. “Negara Hukum Ataukah Kekuasaan. Abdurrahman. 27 Januari 2006 19:11:53. Lima Luka-luka” Senin. Tribun Jabar. 31 Maret 2003.net.” Sabtu. “Puluhan Orang Berseragam FBR Keroyok Pedagang Pasar Senen” Kamis. 28 Oktober 2004 | 19:45 WIB. 25 Oktober 2004 | 10:09 WIB. Dianggap Tolak RUU APP” Senin.net. 14 Maret 2006. “Polres Jakarta Timur ‘Diserbu’ FBR” Jumat. Waspada Online. “Mafia Peradilan Di Manamana”. 22 Mei 2006. TEMPO Interaktif. www.ahrchk. Tribun Timur. Anggota Pansus RUU APP DPR FPKS: RUU APP Lindungi Kaum Perempuan” Jumat. “Tujuh Anggota FBR Divonis Enam Bulan” 31 Maret 2003. “Hilman Rosyad Syihab.org. “Pernyataan Asian Human Rights Commission: Ratifikasi Instrumen Utama Hak Manusia Harus Ditindaklanjuti dengan Reformasi Hukum”. TEMPO Interaktif. Hongkong. 1 Muntah Darah” Selasa. “Polisi Nias Gelar Perkaranya Hilangnya Wartawan Berita Sore” Kamis. “Tembok Sang Timur Dirobohkan” Senin. 23 Oktober 2004 | 00:00 WIB. 02 Juli 2002.TEMPO Interaktif. “Masyarakat Kemang Kutuk Aksi FPI. Tribun Timur. Wibowo. 17 November 2005 | 01:07 WIB. 2007 67 . “Keluarga Ahmadiyah Bulukumba Mengungsi” Sabtu. Rabu.id. 20 Desember 2005 | 00:20 WIB. 3 Oktober 2003. “Tawuran FBR-Benteng Banten.” dalam gusdur. TEMPO Interaktif. “Hak-hak Manusia: Menjernihkan Berbagai Konsep Dasar” makalah yang disampaikan dalam Pelatihan Investigasi yang diselenggarakan PBHI (Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia) pada 27-30 Desember 2005 di Megamendung Permai. 20 Juli 2005.

2007 68 . hukum internasional yang melindungi hak asasi manusia sangat jarang ada. sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara-negara anggotanya untuk pertama kalinya membangun suatu dasar bagi upaya bersama untuk melindungi hak asasi manusia semua orang. Negara-negara membatasi kewajiban hukum internasional dengan menyatakan keinginan untuk membatasi kewajibannya berdasarkan sejumlah perjanjian dan konvensi. Saat ini. Inggris.hafner-burton@nuffield. Diciptakan setelah kehancuran yang disebabkan oleh Perang Dunia II.uk atau Kiyoteru Tsutsui di ktsutsui@notes. New Road. PENDAHULUAN Perlindungan hak asasi manusia yang mendasar adalah tujuan yang paling mendesak tetapi paling sulit dicapai oleh masyarakat internasional.Oxford University Kiyoteru Tsutsui . Sebelum Perang Dunia II.Hak Asasi Manusia di Dunia yang Terglobalisasi: Paradoks Janji-janji Kosong1 Emilie M. radically decoupling policy from practice and at times exacerbating negative human rights practices. Stony Brook Abstract The authors examine the impact of the international human rights regime on governments’ human rights practices. 4 • Th. Proyek ini didukung oleh bantuan dana dari National Science Foundation (SES 2CDZ414) dan Bechtel Center di Stanford’s Institute for International Studies.cc. E-mail: Emilie. Kiyoteru Tsutsui menerima dukungan yang besar dari Stony Brook University. dan aktor masyarakat serta aktor organisasi sipil untuk menempatkan hak asasi manusia dalam agenda hukum internasional. upayaupaya tersebut telah terakumulasi dalam pembentukan dan perluasan suatu sistem hukum internasional mendunia yang dirancang untuk mengidentifikasi dan melin1 Para penulis membagi tanggung jawab yang sama dalam pekerjaan ini. Oxford OXI 1 NF. Korespondensi langsung kepada Emilie Hafter-Burton. dan khususnya kepada John Meyer dan Francisco Ramirez (dan juga peserta Global Research Seminar di Stony Brook University) atas komentar-komentar mereka yang penuh pemahaman.2 Namun. dan Nuffield College. nama mereka diurut berdasarkan abjad. Universitas Oxford.State University of New York. but (2) the emergent global legitimacy of human rights exerts independent global civil society effects that improve states’ actual human rights practices. adopsi Piagam PBB 1945 dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia tiga tahun kemudian membuka suatu jendela kesempatan bagi berbagai negara. Oxford. JURNAL HAM • Vol. Emilie Hafner-Burton juga menerima dukungan yang besar dari National Science Foundation (SES 0135422).ac. Their core arguments are that the global institutionalization of human rights has created an international context in which (1) governments often ratify human rights treaties as a matter of window dressing. Stanford’s Center for Security and Cooperation. Para penulis sangat berterima kasih kepada para peserta Comparative Workshop di Stanford University. Nuffield College.ox. 2 Contoh-contoh mencakup pelarangan formal terhadap perdagangan budak oleh Perjanjian Wina (1815) dan General Act of Brussel.sunysb. organisasi internasional. They propose an explanation that highlights a “paradox of empty promises”. Hafner-Burton .edu. The authors’ statistical analyses on a comprehensive sample of government repression from 1976 to 1999 find support for their argument.

69 . politik. Pada 1994. Bagi banyak ilmuwan dan aktivis. untuk menjamin kebebasan dari penyiksaan dan perlindungan terhadap kelompok ras minoritas dan anak-anak. pemerintah telah meratifikasi lima dari enam perjanjian inti yang melindungi hak asasi manusia. Jelas terlihat bahwa (1) rata-rata terjadi peningkatan prosentase negara yang telah meratifikasi sejumlah perjanjian hak asasi manusia. perempuan. Pemerintah Guatemala telah meratifikasi seluruh enam perjanjian penting hak asasi manusia (lihat tabel 1). pelanggaran hak asasi manusia oleh pemerintah bersifat epidemis. Ada banyak contoh. Perjanjian-perjanjian ini menyediakan berbagai lembaga pengawasan yang bekerja untuk memperbaiki praktik-praktik pemerintah dalam bidangbidang hak asasi manusia tertentu melalui pengumpulan dan diseminasi informasi. Namun. dan budaya. walaupun pertambahan jumlah tersebut mulai berkurang selama beberapa tahun belakangan ini. Sebagai yang pertama. Menjelang 1992. ekonomi. Contoh lain yang relevan adalah Irak. dan seringkali melalui kerja sama dengan aktivis nonpemerintah. rejim tersebut juga memperluas dirinya untuk mengikutsertakan hak-hak asasi manusia utama yang baru (lihat tabel 1). dan tersebar-luas (Amnesty International. praktik-praktik hak asasi manusia tetap tidak berubah. suatu masa di mana Pemerintah Guatemala dilaporkan telah melakukan pemenjaraan. Namun. dan pembunuhan politik secara meluas. Dengan bertambah banyaknya bangsa yang secara sukarela mengikat diri pada rejim internasional ini. Kebanyakan negara sekarang mengikat dirinya pada suatu rejim internasional yang dirancang untuk melindungi hak-hak mendasar setiap anak. di mana pelanggaran hak asasi manusia mencapai puncaknya pada 1994 dan 1995. 2007 membawa praktik hak asasi manusianya agar sesuai dengan rejim tersebut. serta penahanan karena pandangan politik. Guatemala meratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional guna melindungi perempuan dari diskriminasi pada 1982. sementara (2) prosentase negara-negara yang dilaporkan melanggar hak asasi manusia juga bertambah dari waktu ke waktu. memperluas komitmennya untuk melindungi semua warga negaranya dari pelanggaran atas hak sipil. Diagram 1 membandingkan prosentase perjanjian hak asasi manusia internasional yang ada saat ini yang rata-rata telah diratifikasi oleh negara-negara dengan prosentase negara-negara yang dilaporkan bersifat refresif dalam jangka waktu tertentu. pelanggaran hak asasi manusia di Irak adalah suatu hal yang umum terjadi. sosial. apa gunanya perjanjian internasional hak asasi manusia ketika perjanjian tersebut tidak dapat memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia? 3 Irak belum meratifikasi atau menandatangani CAT. 4 • Th. Namun.3 Dengan demikian. menantang efektivitas hukum internasional dan menimbulkan pertanyaan akan keabsahan komitmen hukum negara-negara untuk melindungi kehidupan warga negaranya. pada tahun yang sama Amnesty International juga melaporkan bahwa tindakan represif telah menjadi begitu ekstrim. komitmen hukum dari negara-negara untuk melindungi hak asasi manusia yang terus meningkat menandakan adanya suatu pergeseran yang fundamental dalam struktur masyarakat internasional. Meningkatnya kesenjangan antara keinginan negara untuk bergabung dalam rejim hak asasi manusia internasional dan untuk JURNAL HAM • Vol. Ketika pemerintah Irak meratifikasi perjanjian internasional pertamanya pada 1970 serta berkomitmen terhadap penghapusan segala bentuk diskriminasi rasial. dan laki-laki melalui hukum. 1994). penghukuman mati. sistematis.dungi sejumlah hak asasi manusia mendasar yang terus bertambah.

2007 . tradisi rasionalis telah membuat para ilmuwan menganggap bahwa rejim hak asasi manusia hanya berdampak sedikit pada praktik hak asasi manusia secara nyata. khususnya yang mengembangkan tradisi realisme dan neoliberalisme. Pendeknya. mereka mengasumsikan bahwa negara-negara hanya taat pada prinsip-prinsip hukum internasional ketika hal tersebut sesuai dengan kepentingan nasional mereka dan ketika ada institusi-institusi internasional yang dibentuk untuk menegakkan ketaatan terhadap hukum (Downs.Pihak* kukan 1965 1969 157 Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala bentuk Diskriminasi Rasial Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. – Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa 2001. 1979). Pengarusutamaan perspektif hubungan internasional ini seringkali menganggap bahwa perkembangan proses legalisasi prinsipprinsip hak asasi manusia sebagai suatu epiphenomenal [suatu fenomena yang muncul sebagai akibat dari suatu hal yang lain] (Mearsheimer 1994/1995). dan Barsoom 1996). atau. Rocke. * Per tahun 2001 Para ilmuwan hubungan internasional.Tabel 1 PERJANJIAN HAK ASASI MANUSIA INTERNASIONAL Perjanjian CERD Nama Badan Pengawas Tahun Tahun Negara diadopsi diberla. dan Budaya Komite Hak Asasi Manusia Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan Komite Menentang Penyiksaan ICESCR ICCPR CEDAW 1966 1966 1979 1976 1976 1981 144 147 167 CAT 1984 1987 124 CRC Komite Hak Anak 1989 1990 191 SUMBER. Sosial. Banyak ilmuwan hukum internasional dan konstrukvisionis hubungan internasional justru sangat menentang hal-hal di atas: negara-negara pada dasarnya berusaha untuk menaati prinsip-prinsip hukum internasional yang mereka dukung (Henkin. dan Budaya Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan Konvensi Menentang Penyiksaan dan Segala Bentuk Perlakuan atau Penghukuman yang Kejam. Organisasi internasional dan aktor-aktor nonpemerintah dapat mengajarkan dan mensosialisasikan kepada para pemimpin pemerintahan agar mengadopsi praktik- 70 JURNAL HAM • Vol. Perjanjian-perjanjian pada dasarnya tidak dirancang untuk membuat pemerintah-pemerintah yang meratifikasinya dapat dimintai pertanggungjawaban atas komitmen mereka. dan Merendahkan Martabat Manusia Konvensi tentang Hak Anak Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial Komite Hak Ekonomi. Sosial. Tidak Manusiawi. Hal tersebut juga berlaku untuk rejim hak asasi manusia internasional. telah memperkirakan kesenjangan antara komitmen negara-negara terhadap hukum internasional dengan praktik negara-negara tersebut. 4 • Th.

Data ratifikasi dijelaskan secara detil pada bagian data dari tulisan ini. Cerita-cerita seperti di atas. Ropp. Kepercayaan bahwa advokasi masyarakat sipil internasional dapat mendorong praktik-praktik yang lebih baik telah mengarah pada kepedulian yang lebih optimis ketimbang sifat dari kegiatan itu sendiri. 2007 Persoalan dalam penelitian ini sangatlah jelas: sudut pandang teoritis mengarah pada kedua pandangan tersebut. Ratifikasi perjanjian hak asasi manusia versus praktik hak asasi manusia pada periode 1976 sampai 1998. Perhatian terhadap dampak langsung dari ratifikasi perjanjian formal telah mengarah pada kekhawatiran yang pesimis pada kesenjangan yang ada antara ratifikasi dan praktikpraktik domestik. ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional mengarah pada pengurangan hambatan legal bagi orang-orang Korea di Jepang (Iwasawa 1986).Diagram 1. 2. Misalnya. Clarck 2001). 103-110). % represif (repressive) mengukur prosentase negara-negara yang dilaporkan melanggar hak asasi manusia pada periode tersebut. Kami mendefinisikan suatu pelaku tindakan represif sebagai negara mana pun yang memiliki nilai 1. 4 • Th. tekanan internasional turut menyumbang pada penurunan tingkat kasus penghilangan paksa di Argentina (Keck dan Sikkink 1998.–% perjanjian yang diratifikasi (treaties ratified) mengukur prosentase perjanjianperjanjian internasional hak asasi manusia yang tersedia yang telah diratifikasi oleh negara pada periode tersebut. 71 . JURNAL HAM • Vol. kecenderungan untuk mengisolasi kedua aspek utama dari proses penaatan telah membuat para ilmuwan gagal melihat gambaran yang lebih besar. atau 3 dari ukuran standar represif kami yang dijelaskan secara lengkap pada bagian data dari tulisan ini. yang banyak terdapat di berbagai literatur (Risse. dan Sikkink 1999. menunjukkan bahwa institusionalisasi hak asasi manusia secara global memiliki dampak langsung dan positif terhadap praktikpraktik negara. praktik baru (Finnemore 1966a). dan Konvensi Menentang Penyiksaan telah mengubah cara yang digunakan oleh Pemerintah Israel dalam menginterogasi orang-orang yang dicurigai sebagai teroris (Ron 1997). hal. Kemudian. Lutz dan Sikkink 2000. dan jarang ada bukti empiris yang sistematis untuk mendukung kedua pandangan tersebut.

kami menggunakan istilah “insti- tusi” untuk merujuk pada pengharapan normatif yang luas. Kemudian. Ketika negara bangsa membuat komitmen legal formal untuk menjadikan penaatan terhadap hak asasi manusia sebagai suatu simbol sementara mereka justru melakukan pelanggaran hak asasi manusia.4 Sebagai akibatnya. 2007 72 . JURNAL HAM • Vol. perjanjian internasional ini terkadang digunakan oleh pemerintah sebagai tameng atas perilaku yang semakin represif karena ratifikasi perjanjian tersebut memberikan suatu legitimasi hak asasi manusia yang justru mempersulit pihak-pihak lain untuk melakukan penekanan agar pemerintah-pemerintah semacam itu mau melakukan tindakan yang lebih baik.5 Di bagian berikutnya. Dengan demikian. Di satu sisi.Kami menarik pandangan-pandangan dari rasional institusionalisme dalam hubungan internasional dan pendekatan masyarakat dunia dalam sosiologi untuk menjelaskan temuan-temuan yang kelihatannya saling bertentangan serta untuk merekonsiliasi kedua prediksi yang bertentangan tersebut. 5 Hasil pekerjaan terbaru Daniel Thomas (2001) merupakan sesuatu yang khusus dan menawarkan argumentasi yang hampir sama. perjanjian-perjanjian internasional. namun aktor-aktor nonnegara dapat mengambil keuntungan dengan menggunakan tekanan pada pemerintah dan menghasilkan perubahan politik. Di sisi lain. Ketika tekanan dari pihak luar menurun. dalam hal rejim tersebut memberikan kekuatan bagi advokasi aktor-aktor nonnegara melalui alat-alat untuk menekan pemerintah-pemerintah agar menaati perjanjian-perjanjian tersebut. Kemudian. maka komitmen institusional yang “kosong” atas rejim yang lemah tersebut justru terlihat ironis. pendekatan kami menjadi bertentangan dengan pandangan-pandangan teoritis saat ini. yang tidak satu pun menjelaskan tentang kedua proses tersebut dalam satu model yang sama dan oleh karenanya gagal untuk menjelaskan dampak yang bersifat bertentangan dari institusi-institusi hak asasi manusia global atas praktik-praktik lokal. 4 • Th. dan praktik-praktik yang dikembangkan di seputar struktur organisasional dan hukum internasional (March dan Olsen 1998). dan rejim hukum hak asasi manusia tetap tidak memiliki kekuasaan lebih untuk menghentikan hal tersebut. istilah “institusi” mencakup. yang kemudian menawarkan insentif yang kuat untuk meratifikasi perjanjian internasional kepada pemerintah-pemerintah hanya untuk menciptakan image publik yang penuh kepura-puraan (window dressing) ketimbang sebagai suatu komitmen yang serius untuk melaksanakan praktik penghormatan terhadap hak asasi manusia. kami meninjau nilai-nilai empiris dari argumentasi 4 Dalam kajian ini. kami menjelaskan dampak perjanjian hak asasi manusia sebagai suatu “paradoks janji-janji kosong”. Kajian tersebut memeriksa dampak Helsinki Final Act 1975 pada perkembangan politik setelahnya di negara-negara sosialis dengan menggunakan teknik kualitatif dan menyatakan bahwa partisipasi pemerintah dalam perjanjian hak asasi manusia internasional cenderung merupakan komitmen yang “kosong”. tetapi tidak hanya terbatas pada. setelah diratifikasi. hak asasi manusia yang diadvokasi secara regular justru bergerak di seputar perjanjian-perjanjian tersebut. kami akan menjelaskan tentang pendekatan teoritis dalam konteks perspektif saat ini yang menggambarkan tentang represi pemerintah atas hak asasi manusia. perjanjian hak asasi manusia internasional memang memiliki suatu mekanisme institusional yang lemah untuk memonitor dan menegakkan norma-norma rejim. Argumentasi utama kami adalah bahwa institusionalisasi hak asasi manusia secara global telah menjadi pedang yang memiliki dua ujung. aturan. Oleh karenanya. maka pemerintah seringkali menjadi lebih represif setelah melakukan ratifikasi. yang mengatur semakin meningkatnya legitimasi hak asasi manusia sebagai norma global perilaku negara yang selayaknya dalam rangka menekan negara-negara untuk memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusianya.

dan bebas dari pelanggaran lain yang disengaja atas hak untuk hidup dan kebebasan seseorang. 73 . hukum internasional adalah bersifat epiphenomenal [suatu fenomena yang muncul sebagai akibat dari suatu hal yang lain] bagi kekuasaan negara: sehingga tunduknya negara pada kewajiban hukum mereka untuk melindungi hak asasi manusia hanya merupakan suatu kebetulan belaka. Kemudian. Perilaku negara dimotivasi oleh kepentingan-pribadi mereka. dengan argumentasi bahwa pemerintah tunduk pada hukum internasional hanya ketika hukum tersebut sesuai dengan kepentingan nasionalnya. tidak manusiawi. atau perlakuan atau penghukuman yang kejam.6 Secara menyeluruh. (2001) memeriksa dampak masuknya ekonomi asing pada perilaku represif pemerintah dengan menggunakan sample 43 negara-bangsa dalam jangka waktu 1981–1995.kami dengan menggunakan analisa periode waktu praktik hak asasi manusia dengan jangka waktu panjang yang berbeda dari pekerjaan-pekerjaan yang pernah dilakukan sebelumnya. penyiksaan. bebas dari penghilangan atau penahanan yang tidak sesuai dengan hukum. atau merendahkan martabat manusia. Kami mendiskusikan bagaimana pendekatan kami dapat menjelaskan dinamika ketaatan terhadap perjanjian-perjanjian hak asasi manusia internasional yang diinterpretasikan dengan dua cara (bersifat double-edge) dengan lebih baik. kepentingan nasional. data kami memungkinkan dilakukan penyelidikan yang menyeluruh atas politik hak asasi manusia di negara-negara pasca Perang Dingin dan adanya dasar untuk analisa komparatif terhadap perilaku represi pemerintah di berbagai masa. kami menekankan pada bagaimana kekuatan global telah membentuk perilaku represif pemerintah pada hak asasi manusia yang paling mendasar: yaitu hak atas keamanan. Misalnya. dan hanya ada sedikit harapan bahwa perjanjian ini dapat mengubah perilaku negara. lihat HafnerBurton (2005). Apodaca (2001) menguji hipotesis tentang dampak globalisasi ekonomi pada periode 1990–1996. Bagi beberapa negara. rejim hukum internasional dapat mempengaruhi perilaku negara dalam beberapa hal penting: rejim memfasilitasi kerja sama antar negara-negara berdaulat dengan meyediakan suatu mekanisme koordinasi dan mekanisme komitmen yang mengidentifikasi kewajiban negara 6 Kami mencatat bahwa beberapa kajian terbaru mencakup data di masa pasca Perang Dingin.7 TEORI-TEORI Dibagian ini kami membandingkan perspektif-perspektif teoritis yang saling bertentangan mengenai ketaatan terhadap hukum internasional. dan kepentingan ini ditentukan oleh struktur kekuasaan dalam sistem internasional (Waltz 1979). Kebanyakan ilmuwan politik menekankan pada peran negara. 2007 domestik. dan kami meninjau kontribusi kajian empiris lintas-negara yang ada tentang hak asasi manusia untuk mengidentifikasikan variabel kontrol bagi analisa empiris kami. Perjanjian hak asasi manusia internasional hanyalah sekedar sarana yang diciptakan oleh negara-negara liberal yang berkuasa untuk memajukan kepentingan mereka. terutama ketika perjanjian ini tidak memiliki mekanisme penegakan (HafnerBurton dalam cetakan). Teori-teori tentang Ketaatan secara Umum dalam Hubungan Internasional dan Hukum Internasional Pertanyaan tentang apakah hukum hak asasi manusia internasional mempengaruhi praktik hak asasi manusia pemerintah mengandung suatu pertanyaan politik yang lebih dalam mengenai ketaatan negara terhadap rejim hak asasi manusia internasional. dan posisi tawar-menawar di tingkat JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. yaitu mulai periode 1976 sampai 1999. Untuk lebih lanjutnya. Bagi yang lain. Richards dkk. Untuk pertama kalinya. 7 Kami menekankan pada hak-hak ini karena hakhak ini sangat mendasar bagi martabat manusia – hak untuk bebas dari pembunuhan.

Downs dkk. 4 • Th. Walaupun pendekatan ini tidak pernah diuji secara sistematis. dan ketaatan pada rejim akan sangat tergantung pada rancangan rejim tersebut. kami berargumen bahwa persoalan utama dalam pendekatan ini adalah bahwa pendekatan ini tidak melihat dampak positif dari institusionalisasi rejim hak asasi manusia internasional terhadap praktik-praktik di tingkat lokal yang bekerja bukan melalui sistem perjanjian namun melalui aktor-aktor nonpemerintah.8 Sebagaimana argumentasi kami di bawah ini. walaupun pemerintah tersebut sebenarnya tidak memiliki keinginan ataupun kapasitas untuk melaksanakan kewajiban berdasarkan perjanjian hak asasi manusia internasional tersebut (HafnerBurton. 1996). dan Meyer 2004). dan para pemimpin pemerintahan menyadari bahwa rejim tersebut lemah serta bahwa berbagai badan monitoring tidak memiliki alat untuk menegakkan hukumnya (Cleveland 2001). Apakah negara sungguh-sungguh menaati komitmen mereka pada perjanjian ini tergantung pada mobilisasi para aktor di tingkat domestik yang mendukung ketaatan terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional. pendekatan ini sepenuhnya mengabaikan aktor-aktor nonpemerintah dan menghasilkan penjelasan yang bersifat 8 Lihat Hafner-Burton dalam cetakan. kami menganggap bahwa argumentasi kelompok rasionalis mengenai dampak langsung ratifikasi tetap memiliki nilai yang berarti. rejim hak asasi manusia tidak dirancang untuk menyediakan sarana institusional yang kuat bagi anggotanya untuk menegakkan ketaatan terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional. Oleh karenanya. baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun demikian. Negara-negara mengetahui tentang kekurangan ini. Perjanjian hak asasi manusia internasional merupakan institusi yang dihasilkan dari permainan tawar-menawar kolektif semacam itu (Moravcsik 2000). 74 JURNAL HAM • Vol. Oleh karenanya. namun jumlah negara yang menyatakan komitmennya pada institusi semacam itu tetap harus dibatasi. Pihak lain juga menyatakan bahwa ketaatan negara pada hukum internasional adalah suatu fungsi dari preferensi negara yang ditentukan oleh posisi tawar-menawar politik di tingkat domestik: institusi politik dan aktor negara menentukan apakah pemerintah dapat menyatakan komitmennya pada hukum internasional dan apakah negara dapat tunduk pada komitmen tersebut dalam jangka waktu panjang (Moravcsik 1997). Karena konfigurasi kepentingan dan kekuasaan politik di dalam dan di seputar negara berubah seiring waktu. Memang. Tsutsui. kami melihat bahwa kesenjangan antara ratifikasi dan perilaku untuk melaksanakan perjanjian hak asasi manusia internasional disebabkan karena adanya insentif bagi pemerintah yang meratifikasi perjanjian tersebut. yang oleh karenanya sulit untuk diperkirakan sebelumnya. Pendekatan pengarusutamaan seperti ini dalam hubungan internasional menekankan pada kekuasaan dan kepentingan sebagai faktor pendorong negara untuk me- ratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional dan menganggap bahwa ratifikasi tersebut hanya akan berdampak sedikit terhadap praktik-praktik hak asasi manusia.serta menyediakan suatu sarana untuk penegakan kewajiban tersebut. walaupun rejim hak asasi manusia internasional dapat mendorong kerja sama antarnegara dan membatasi perilaku represif pemerintah terhadap hak asasi manusia. Namun demikian. 2007 . maka ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional tidak dapat selalu diterjemahkan sebagai ketaatan terhadap perjanjian tersebut. negara-negara hanya bergabung dengan dan tunduk pada rejim ketika hal tersebut sesuai dengan kepentingan rasional mereka (Keohane 1984.

sistem perjanjian formal dan kegiatan aktor nonpemerintah. 4 • Th. Berangkat baik dari pendekatan rasionalis maupun pendekatan masyarakat dunia. organisasi yang tidak aktif tersebut menyebabkan penaatan menjadi lebih tidak mahal dan menjadi pilihan yang lebih menarik karena ketika tidak ada alasan-alasan yang JURNAL HAM • Vol. berbagai dampak normatif hukum terhadap individu yang terdokumentasi dengan baik dapat diterapkan terhadap perilaku pemerintahan di tingkat nasional (Kratochwill 1989. kami mengusulkan suatu argumentasi sosiologis yang membedakan antara sistem perjanjian dan aktor nonpemerintah guna menjelaskan dinamika ketaatan pada perjanjian hak asasi manusia yang bersifat kompleks. 1999). karena mereka gagal untuk menguraikan dua dimensi utama dari dinamika dari ketaatan terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional – yaitu. Organisasi internasional tidak hanya membatasi perilaku negara melalui sanksisanksi hukum yang diterapkan oleh hukum internasional. 2007 kuat untuk tidak tunduk pada rejim tersebut. yang disajikan oleh Chayes dan Chayes (1995). Salah satu model hukum yang paling berpengaruh saat ini. Pertama. dimensi normatif dan budaya politik internasional telah semakin menarik perhatian ilmu-ilmu sosial. Risse dkk. Pendekatan teoritis lain dalam literatur yang relevan membuat asumsi-asumsi yang berbeda. Keck dan Sikkink 1998. Karena pemerintah hanya meratifikasi perjanjian ketika hal tersebut sesuai dengan kepentingan nasionalnya. Young 1979). Pendekatan Masyarakat Dunia Pada satu atau dua dekade terakhir ini. Para ilmuwan konstruksivionis hak asasi manusia menekankan pada caracara di mana organisasi internasional dapat mensosialisasikan atau mengajarkan negara-negara agar menerima tujuan dan nilai-nilai yang tertanam dalam hukum internasional. Berangkat dari asumsi utama mereka bahwa kepentingan negara didefinisikan dalam konteks norma-norma internasional yang dipegang oleh negara tersebut – yaitu norma-norma yang seringkali tertanam dalam hukum internasional dan dilaksanakan oleh pemerintah serta aktoraktor nonpemerintah – maka para konstruktivionis berpendapat bahwa negaranegara tunduk pada hukum internasional ketika para elit pemerintahan dapat belajar menerima dan memasukkan norma-norma dan nilai-nilai bersama yang membentuk kehidupan politik internasional (Finnemore 1996a. Sejauh ini. Kedua. Suatu aliran teori yang disebut sebagai neo-institusionalisme dalam sosiologi telah mempengaruhi kecen- 75 .sangat pesimistis tentang dampak rejim hak asasi manusia. Akhirnya. Sebagaimana orang-orang cenderung mengikuti hukum ketika tidak ada insentif untuk melakukan sebaliknya. perjanjian internasional merupakan hasil negosiasi komprehensif yang mencerminkan kepentingan nasional negara-negara anggota. kecenderungan global yang diringkas dalam diagram 1 berlawanan dengan argumentasi-argumentasi tersebut. menyatakan bahwa ada tiga alasan untuk mengharapkan ketaatan negara pada perjanjian internasional. maka negara-negara cenderung tunduk pada perjanjian hak asasi manusia internasional ketika tidak ada hambatan yang signifikan bagi penaatan tersebut. tetapi juga mensosialisasikan negara-negara agar menerima norma dan nilai-nilai baru seperti hak asasi manusia yang diabadikan dalam hukum internasional di masa ini. mereka cenderung tunduk pada perjanjian yang mereka pilih. di mana hal ini mencerminkan proses tawar-menawar di tingkat domestik. Para ilmuwan hukum internasional seringkali mengira bahwa negara-negara cenderung menaati komitmen mereka atas perjanjian internasional. untuk pertama kalinya.

penelitian tentang diseminasi kurikulum sekolah (Meyer dkk. Finnemore 1996b. Frank. Scott 2000). yaitu bahwa perubahan kebijakan formal seringkali bersifat nominal dan tidak memiliki dampak yang diharapkan pada praktik nyata (Meyer dan Rowan 1977. 1992). Meyer dan Scoot 1992. budaya. mempunyai pengaruh tersendiri. Boli. dkk. pendekatan neo-institusionalisme mengacu pada suatu pendekatan teoritis yang memberikan perhatian khusus terhadap dimensi kognitif. Sebagaimana para peneliti kemudian berusaha mengembangkan upaya yang dipelopori oleh Meyer dan Rowan (1977). Berkovitch 1999. penelitian tentang gelombang dekolonisasi. seringkali disebut sebagai pendekatan masyarakat dunia atau perspektif politik dunia. dan normatif dari realita organisasional (Meyer dan Rowan 1977. Argumentasi utamanya adalah bahwa model dan norma yang terinstitusionalisasi di tingkat global mendapatkan status yang diinginkannya setelah jangka waktu tertentu dan mempengaruhi pembuat kebijakan di tingkat nasional. Dalam hal ratifikasi perjanjian-perjanjian internasional. Krasner 1999). dkk. dan penelitian tentang ekspansi rejim lingkungan hidup di tingkat global (Meyer. Boli. 1997). Pendekatan ini menantang asumsi rasionalitas tujuan perilaku organisasional dan berargumentasi bahwa organisasi secara rutin mengikuti model dan standar yang telah ada apa pun kebutuhan fungsionalnya. Powell dan DiMaggio 1991. Kecenderungan semakin meningkatnya tindakan bersatunya negara-negara dari arah yang berbeda-beda atas dasar struktur domestik yang sama ini seiring dengan semakin meningkatnya integrasi negaranegara ke dalam suatu masyarakat internasional. Jacobson 1998. pendekatan masyarakat dunia beranggapan bahwa keputusan untuk meratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional seringkali hanya merupakan sikap simbolis guna menunjukkan bahwa pemerintah bukanlah aktor yang menyimpang. Meyer. Penerapan pendekatan ini dalam pengkajian tentang proses politik internasional. Soysal 1994. 1992.derungan tersebut. Beberapa topik dari penelitianpenelitian pendekatan ini antara lain. Meyer. dkk. Boli dan Thomas 1999). Brunsson 1989. Penelitian-penelitian semacam ini menjelaskan tentang bagaimana standar global dan model-model yang telah ada dan diterima begitu saja membatasi politik nasional. Berkembang dari kajian organisasional. Institusionalisasi semacam ini cenderung mengurangi adanya keragaman dalam organisasi karena kebanyakan dari mereka tunduk pada standar-standar yang telah diterima. Boli dan Thomas 1999). 4 • Th. penelitian tentang penyebaranluasan pemberian hak suara kepada perempuan. Katzenstein 1996. Karena kemudian banyak pemerintah yang mengorganisir dan merestrukturisasi politik nasionalnya di seputar model global dan standar perilaku yang selayaknya. pendekatan teoritis ini telah mempengaruhi banyak bidang dalam penelitian ilmiah sosial (Thomas dkk. 1997). Sementara prediksi hasil yang bersifat isomorphic ini seringkali terbatas pada bentuk organisasional dan adopsi kebijakan. 2007 76 . Meyer dkk. maka semakin banyak pula negara-negara yang sama-sama menerapkan struktur politik dan sosial yang memiliki tampilan yang sama namun asalnya berbeda [bersifat isomorphic] (atau yang menyatukan diri dari asal yang berbeda-beda) pada berkesesuaian dengan model internasional (McNeely 1995. literatur menunjukkan kemungkinan terjadinya pemisahan antara kebijakan dan praktik. karena organisasi membuat naskah yang memuat elemen-elemen standar yang dianggap sah di lingkungannya. dan bahwa ratifikasi tersebut tidak sepenuhnya mengarah JURNAL HAM • Vol. Elemen utama pendekatan ini adalah legitimasi. 1997. 1987.

Dengan demikian terbentuk suatu dasar yang kuat atas apa yang disebut sebagai “pemisahan (decoupling) yang radikal”. rejim hak asasi manusia dibuat untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasi hak-hak mana yang sah di tingkat global. tusional dan hal-hal yang terjadi secara kebetulan dalam sejarah politik hak asasi manusia global. Oleh karena itu. di mana perjanjian-perjanjian memiliki dampak yang terbalik dengan apa yang diinginkan sebelumnya. Dalam upaya menjelaskan dinamika penaatan yang bersifat tidak konsisten ini. 4 • Th. Ketika legitimasi suatu perjanjian mengalami perkembangan sampai pada suatu tingkat di mana negaranegara yang tidak meratifikasi terlihat sebagai sesuatu yang menyimpang dari kebiasaan yang normal. legitimasi negara tanpa adanya penegakan – dapat mengarahkan pemerintah untuk menggunakan hukum internasional sebagai tameng bagi semakin meningkatnya perilaku kekerasan di tingkat domestik. maka pemerintah-pemerintah akan cenderung meratifikasi tanpa adanya keinginan dan kapasitas untuk tunduk pada ketentuan-ketentuan dalam perjanjian hak asasi manusia internasional. 77 . tindakan ratifikasi suatu perjanjian seringkali tidak seiring dengan praktik yang relevan. elit yang berkuasa mungkin meratifikasi suatu perjanjian untuk memperoleh legitimasi di masyarakat internasional. Pada dasarnya. kami memperluas konsep pemisahan (decoupling) kepada proses instiJURNAL HAM • Vol. Seperti halnya pendekatan nasional dalam hubungan internasional. 2007 komite PBB yang memberikan pelaporan formal dan melakukan fungsi monitoring. penelitian dalam pendekatan masyarakat dunia telah cenderung menekankan pada proses pemisahan ini. Dari waktu ke waktu. yang oleh karenanya semakin meningkatkan kemungkinan terjadinya pemisahan sebagaimana disebutkan di atas. yang menggarisbawahi kurangnya dampak dari model global terhadap praktik nyata. Tsutsui dan Wotipka 2001). dengan hanya melakukan sedikit upaya untuk menyesuaikan perilaku mereka dengan ketentuanketentuan dalam perjanjian tersebut. kedua sifat rejim ini – yaitu. terutama ketika perjanjian tersebut tidak memiliki mekanisme penegakan yang efektif dan pemerintah nasional dibiarkan begitu saja untuk melaksanakan perjanjian tersebut di tingkat domestik – ini merupakan hal yang pada umumnya terjadi dalam kebanyakan perjanjian internasional. 1996. kami memperluas pendekatan ini pada kajian hak asasi manusia dan membuat dua prediksi utama. Downs dkk. rejim hak asasi manusia internasional telah membuktikan bahwa rejim ini semakin kompeten dalam menyediakan instrumen-instrumen yang dibutuhkan guna mengumpulkan dan bertukar informasi tentang pelanggaran hak asasi manusia. serta untuk mendiseminasikan informasi tersebut di tingkat global.pada praktik-praktik ketaatan pada perjanjian tersebut. Dengan kata lain.9 9 Perjanjian-perjanjian utama melengkapi komite- ARGUMENTASI Pertama. Selama beberapa tahun ini. Kami berargumen bahwa perjanjian hak asasi manusia internasional tidak cukup memiliki mekanisme penegakan yang dapat memberikan insentif bagi pemerintahpemerintah agar tidak menyimpang dari kebijakan mereka untuk berkomitmen pada perjanjian-perjanjian tersebut (Hathaway 2002. untuk menyediakan suatu forum guna pertukaran informasi berkaitan dengan pelanggaran hak asasi manusia. dan untuk meyakinkan pemerintah serta pelaku pelanggaran bahwa hukum yang memberikan perlindungan bagi hak asasi manusia cukup untuk membatasi perilaku negara-bangsa sehingga oleh karenanya hukum tersebut harus dihormati.

Praktik-praktik yang bersifat represif ini semakin diperburuk setelah ratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional. Ratifikasi atas perjanjian hak asasi manusia internasional mengarah pada kemungkinan adanya hubungan yang negatif antara kebijakan dan praktik. sebagaimana akan kami bahas di bawah ini. Banyak pemerintah yang menyatakan dukungan mereka terhadap ide-ide hak asasi manusia. Oleh karena itu. maka kesenjangan antara kebijakan dan praktik ini telah mengarah pada proses pemisahan yang semakin gawat dan radikal. baik dengan mengkritik kekuatan-kekuatan poros dalam Perang Dunia II atau dengan memperjuangkan kemerdekaan dari pihak penjajah. dan secara retoris. Kemungkinan proses pemisahan yang radikal ini membawa kita pada dua dampak yang dapat diamati: ratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional akan memiliki baik (1) dampak positif terhadap 10 Beberapa kajian empiris digunakan untuk mendu- kung bukti-bukti argumentasi ini. Dengan semakin bertambahnya jumlah negara yang mendapatkan keuntungan dari legitimasi atas ratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional namun gagal untuk memenuhi komitmennya. yang berada di bawah payung suatu kekuatan superpower yang mungkin membela atau mengabaikan kebijakan domestik mereka berkaitan dengan hak asasi manusia. Permasalahan dalam upaya penegakan ini semakin diperkuat oleh kenyataan historis bahwa kebanyakan perjanjian hak asasi manusia utama mulai diberlakukan pada saat Perang Dingin. yang dipersenjatai dengan banyak informasi bahwa komitmen mereka terhadap rejim tidak akan mengarah pada penegakan yang serius tetapi justru memberikan mereka legitimasi di mata negara-negara lain. rejim hak asasi manusia internasional sebenarnya telah memberikan kesempatan bagi pemerintah untuk mendapatkan legitimasi internasional dengan mendukung prinsip-prinsip hak asasi manusia tanpa benar-benar melaksanakan praktik-praktik hak asasi manusia di negaranya (Mullerson 1997). 4 • Th. Dalam analisa data antarbangsa. rejim perjanjian hak asasi manusia internasional tidak berdaya untuk mengubahnya. dan Hathaway (2002) melaporkan suatu dampak negatif dari ratifikasi perjanjian atas praktikpraktik hak asasi manusia pemerintah di beberapa contoh. Perjanjianperjanjian tidak menawarkan adanya kompensasi materi.Namun. bentuk pengaruh yang langsung ini bersifat lemah dan seringkali tidak efektif.10 Pemerintah-pemerintah. Camp Keith (1999) menemukan bahwa tidak terdapat hubungan antara ratifikasi ICCPR dengan praktik-praktik hak asasi manusia. JURNAL HAM • Vol. di samping kapasitas penyebarluasan informasi tersebut. rejim ini tidak memberikan suatu mekanisme penegakan formal guna menyediakan atau mengacaukan pertukaran informasi yang berharga dengan negara target (Cottier 2002. 2007 78 . dan sementara itu. maupun politik atas praktik-praktik hak asasi manusia yang lebih baik. dan perjanjian-perjanjian ini juga tidak dapat menghukum pelaku pelanggaran secara langsung dengan melakukan penahanan atas barang-barang berharga. telah ditempatkan pada posisi mendukung perjanjian hak asasi manusia (Lauren 1998). Goodman dan Jinks dalam cetakan). sekarang bebas untuk menyembunyikan praktik-praktik hak asasi manusia domestiknya di belakang hukum internasional. yaitu suatu masa di mana banyak pemerintahan menganggap ratifikasi terhadap perjanjian semacam ini hanya sebagai suatu hal politik yang tidak signifikan. hukum. Namun. Yang terbaik yang dapat dilakukan adalah bahwa instrumen hukum dari rejim ini dapat mempengaruhi praktik-praktik secara langsung dengan memberikan informasi kepada negara-negara yang represif agar termotivasi untuk mengadopsi normanorma baru agar berperilaku lebih baik (Hafner-Burton dalam cetakan).

Dampak negatif ini dapat bersifat langsung – yaitu ketika pemerintah secara sengaja menggunakan komitmennya terhadap rejim perjanjian hak asasi manusia internasional sebagai tameng bagi praktik-praktik hak asasi manusia mereka yang semakin memburuk dari pemeriksaan yang cermat dunia internasional – atau secara tidak langsung – yaitu ketika rejim perjanjian hak asasi manusia internasional tidak memiliki kapasitas untuk menghentikan negara yang meratifikasi dari perilaku represif yang semakin meningkat. semakin banyak organisasi nonpemerintah internasional menggunakan norma-norma hak asasi manusia global sebagai alat untuk melakukan lobi dan menekan pemerintah di tingkat nasional agar memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia mereka (Ron 1997. hal. Dalam lingkungan politik global baru yang dicirikan oleh semakin meningkatnya kesadaran akan prinsip-prinsip hak asasi manusia. namun rejim perjanjian itu sendiri bukan merupakan penyebab perilaku tersebut. Walaupun terdapat kesenjangan institusional antara perjanjian hak asasi manusia dengan insentif bagi pemerintah-pemerintah untuk tunduk pada perjanjian tersebut. Kelompokkelompok di tingkat domestik juga meminta pertolongan aktor-aktor eksternal untuk mempublikasikan pelanggaran yang terjadi di negaranya. semakin meningkat dan meluasnya komitmen negaranegara pada rejim hak asasi manusia global telah mengarah pada meningkatnya prinsip-prinsip hak asasi manusia yang pada saat yang sama mengubah perilaku pemerintah melalui upaya-upaya penekanan secara normatif. 2007 nusia di tingkat global (Tsutsui dan Wotipka 2004). dan kelompok-kelompok hak asasi manusia di Indonesia bertukar informasi dengan International Commission of Jurists dan organisasi-organisasi internasional lainnya dalam mengkampanyekan pembebasan para tahanan politik (Jetschke 1999. Tsutsui 2004).praktik-praktik domestik atau (2) dampak negatif. janji kosong ini seringkali tidak konsisten. Misalnya. karena pemerintah yang represif meratifikasi lebih banyak lagi perjanjian hak asasi manusia internasional dan semakin melakukan pelanggaran hak asasi manusia di mana rejim perjanjian hak asasi manusia tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan hal tersebut. Proses ini dibantu oleh kegiatankegiatan aktor nonpemerintah. Organisasi nonpemerintah internasional. hal. jika tidak dimungkinkan. Kedua. Semakin banyaknya jumlah negara yang meratifikasi perjanjian hak asasi manusia. legitimasi prinsip-prinsip hak asasi manusia menyebabkan pemerintah yang menjadi target rentan terhadap rasa malu yang mungkin timbul dan kehilangan legitimasi dalam masyarakat internasional sebagai hasil dari ketidaktaatannya pada hukum hak asasi manusia internasional. 140-141). aktif dalam mempublikasikan pelanggaran hak asasi manusia guna menekan pemerintah yang represif. Keck dan Sikkink 1998. seperti Amnesty International dan Human Rights Watch. Kedua. menjadi semakin tidak layak. Pertama. 73-74). menurut kami. dengan bantuan Amnesty International dan kelompok-kelompok lainnya. Legitimasi prinsip hak asasi manusia yang semakin berkembang ini membawa dua akibat. yang bekerja melalui organisasi nonpemerintah internasional yang menyebarluaskan dan memajukan prinsip-prinsip hak asasi maJURNAL HAM • Vol. bagi pemerintah di tingkat nasional untuk menganggap tuduhan atas pelanggaran hak asasi manusia hanya seba- 79 . 4 • Th. maka ide-ide yang dikodifikasi dalam perjanjian-perjanjian ini telah mendapatkan status yang bersifat biasa (taken-for-granted) dalam politik global. mempublikasikan kasus-kasus penghilangan paksa yang dilakukan oleh pemerintahnya (Clarck 2001. para aktivis Chili.

Dengan demikian. kami berpendapat bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia mungkin bisa tidak memiliki dampak yang signifikan atau pun memiliki dampak negatif terhadap praktik-praktik hak asasi manusia. dan norma-norma bersama pada umumnya mendasari kegiatan orang-orang dan kelompok-kelompok orang. sebagai akibatnya. dan masyarakat sipil seringkali dapat menekan semakin banyak pemerintahan yang rentan agar tunduk pada rejim hak asasi manusia internasional. Dengan demikian. 4 • Th. Proses utamanya adalah tema utama yang dikemukakan oleh Durkheim ([1985] 1982. kami memgunakan pemahaman dari institusionalisasi rasional dalam hukum internasional dan pendekatan masyarakat dunia dalam sosiologi. negara-negara yang lebih melekat pada masyarakat sipil internasional (misalnya. serta dalam jangka waktu pendek seringkali memperburuk pelanggaran hak asasi manusia. 80 JURNAL HAM • Vol. tradisi. Kami berargumen bahwa perluasan rejim hak asasi manusia internasional telah menciptakan suatu konteks global di mana (1) pemerintah mungkin meratifikasi perjanjianperjanjian hak asasi manusia walaupun mereka tidak siap untuk tunduk pada ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. Keck dan Sikkink 1998). Dengan demikian. [1912] 1995). Ratifikasi pemerintah terhadap hukum internasional tidak cukup untuk memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia.11 Kesimpulannya. Untuk memastikannya. hubungan negara dengan masyarakat internasional memiliki dampak positif. negara yang memiliki jumlah keanggotaan dalam lebih banyak organisasi nonpemerintah internasional) akan lebih menghormati hak asasi manusia masyarakatnya. Aktor-aktor di tingkat domestik dalam negara yang memiliki hubungan erat dengan masyakat sipil global tersebut cenderung memiliki kesadaran lebih atas hakhak yang mereka miliki dan akan sangat mungkin menemukan cara-cara untuk mempublikasikan persoalan-persoalan mereka serta menekan pemerintahnya agar menangani persoalan-persoalan tersebut. masyarakat sipil menyediakan mekanisme penegakan yang tidak dimiliki oleh perjanjian hak asasi manusia internasional. publisitas yang buruk yang dilakukan oleh aktor nonpemerintah seringkali memaksa pemerintah untuk menangani persoalan-persoalan hak asasi domestik mereka (Risse dkk. Ritual. maka aktor nonpemerintah internasional akan sangat mungkin dapat mengetahui dan melaporkan pelanggaran yang terjadi dalam negara tersebut. Namun. kami sepakat dengan pengarusutamaan teori hubungan internasional bahwa perjanjian memiliki 11 Patut dicatat bahwa dampak dari masyarakat sipil internasional terjadi di banyak negara baik apakah pemerintahnya telah meratifikasi perjanjian hak asasi manusia atau belum. 2007 . 1999. Walaupun sulit bagi badan-badan internasional untuk melakukan penuntutan hukum terhadap pelanggaran di tingkat domestik.gai intervensi terhadap persoalan domestik mereka. tetapi hubungan suatu negara dengan masyarakat sipil internasional (melalui keanggotaan dalam organisasi nonpemerintah internasional) dapat mempengaruhi pemerintah untuk memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusianya. Jika suatu negara memiliki hubungan yang erat dengan masyarakat sipil global. Tema ini digunakan dan ditekankan dalam pekerjaan Randall Collins (1992). (2) meningkatnya legitimasi prinsip-prinsip hak asasi manusia yang ditawarkan oleh masyarakat sipil internasional telah memberikan tekanan pada pemerintah-pemerintah agar memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia baik apakah mereka telah meratifikasi perjanjian hak asasi manusia atau pun tidak. tanpa mempertimbangkan apakah mereka secara individual menyepakati prinsip-prinsip yang tercakup di dalamnya. tetapi secara bertentangan. sehingga menyebabkan terjadinya pemisahan yang radikal antara kebijakan dan praktik.

Jeane Kirkpatrick (1979) berargumen bahwa rejim totalitarian kiri lebih mungkin melakukan pelanggaran hak asasi manusia karena mereka hampir memiliki kontrol penuh atas kehidupan warga negaranya. karena kami membedakan dua dimensi dari rejim hak asasi manusia internasional yang dibaurkan dalam tulisan ini – sistem perjanjian dan hubungan dengan organisasi nonpemerintah internasional – dan prediksi bahwa sistem perjanjian tidak memiliki dampak atau memiliki dampak negatif serta organisasi nonpemerintah internasional memiliki dampak positif. ngunan ekonomi. Namun. dan Camp Keith (1999). Hipotesis ini memperoleh dukungan dalam beberapa kajian tambahan (Mitchell dan McCormick 1988. Tate. Kami tidak sepakat dengan argumentasi konstruktivis dan hukum internasional. serta Howard dan Donelly (1986) bersikeras bahwa perlindungan hak asasi manusia membutuhkan suatu rejim negara yang liberal yang menghormati “konsepsi substantif dari martabat manusia”. Dalam perekonomian maju di mana hanya sedikit orang yang merasa diperlakukan tidak adil. yang dalam banyak kasus mendorong pemerintah-pemerintah untuk melakukan represi politik. Pritchard 1989). 2007 81 . Poe dan Tate 1994. stabilitas politik seringkali lebih mudah dicapai. hal. Sejumlah kajian berikutnya juga menegaskan variasi dari prediksi-prediksi tersebut. yang menunjukkan dampak positif demokrasi terhadap praktik hak asasi Teori-teori Praktik Hak Asasi Manusia Dalam beberapa dekade terakhir.mekanisme penegakan institusional yang lemah dan oleh karenanya tidak mungkin memiliki dampak positif terhadap perilaku hak asasi manusia. – Berbagai kajian menemukan bahwa demokrasi sangat kecil kemungkinannya melakukan pelanggaran hak asasi manusia ketimbang otokrasi. Mitchell dan McCormick (1988. dan oleh karenanya akan lebih mengakomodir permintaan warga negaranya tanpa konflik kekerasan. 1999. Park 1987. argumentasi kami berbeda dari pengarusutamaan teori hubungan internasional karena kami memprediksikan bahwa ratifikasi akan seringkali diamati memiliki dampak negatif dengan praktik-praktik hak asasi manusia dan meningkatkan perilaku represif. Henderson (1991) juga menyatakan bahwa pemerintahan yang demokratis akan lebih responsif terhadap warga negaranya ketimbang pemerintahan yang otoriter. kajian-kajian komparatif ini menunjukkan keragaman faktor-faktor yang diperlukan untuk menjelaskan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh pemerintah. – Banyak pengkajian tentang praktik-praktik hak asasi manusia mengkaji tentang dampak pembaJURNAL HAM • Vol. telah muncul beberapa kajian komparatif yang melihat banyak faktor yang membentuk praktik-praktik hak asasi manusia di tingkat lokal. namun demikian. 478) menawarkan suatu “tesis kemiskinan yang sederhana”. Walaupun terdapat banyak variasi analisis. 4 • Th. yaitu suatu pandangan yang diterima secara umum bahwa kurangnya sumber daya ekonomi merupakan dasar subur bagi konflik politik. Faktor-faktor ekonomi. Dari kajian seminal McKinlay dan Cohan (1975) dan Strouse dan Claude (1976) sampai analisa periode-waktu kolektif yang rumit dari Poe. para ilmuwan ini berargumen bahwa negara-negara demokratis akan lebih kecil kemungkinannya merepresi hak asasi manusia. praktik-praktik tersebut dipengaruhi secara positif oleh hubungan dengan masyarakat internasional. Poe dkk. yang mengurangi kemungkinan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia (Henderson 1991). Faktor-faktor politik. Faktor-faktor ini kemudian kami sertakan dalam analisis empiris yang dijelaskan di bagian berikut ini.

Poe dkk 1999). Pada saat perang sipil. kurangnya sumber daya akan cepat menjadi masalah yang serius. Poe dan Tate 1994. didorong oleh kepentingan ekonominya. Faktor-faktor global. Berangkat dari analisa ini. Perusahaan multinasional juga secara tidak langsung memperbaiki hak politik sebab perusahaan multinasional mendorong perluasan kelas menengah masyaraJURNAL HAM • Vol. pemerintah juga cenderung lebih koersif dalam mempertahankan kekuasaan mereka dari ancaman-ancaman internal terhadap negara. negara-negara dengan tingkat populasi yang lebih besar lebih mungkin melanggar hak asasi manusia (Poe dan Tate 1994. yang oleh karenanya menekan pemerintah untuk menjadi otoritarian. pemerintah akan lebih mungkin menerapkan kontrol yang kuat terhadap warga negaranya dan oleh karenanya akan lebih mudah menggunakan kekuatan untuk mempertahankan kekuasaan domestiknya (Poe dan Tate 1994. Stohl 1975). lebih menginginkan adanya stabilitas politik di negara-negara berkembang dan oleh karenanya memperkuat rejim-rejim yang ada walaupun pada saat represi pemerintahan bersifat endemik (Chomsky dan Herman 1979).manusia (Mitchell dan McCormick 1988. Ketika pemerintah negara berkembang di Dunia Ketiga menerima bantuan ekonomi dari negara kapitalis yang tujuan utamanya adalah untuk mempertahankan kondisi yang lebih menguntungkan bagi investasi. – Sebagai tambahan dari faktor-faktor domestik tersebut. Poe dkk 1999). Faktor-faktor demografi. Beberapa kajian juga mengidentifikasi hubungan antara keterlibatan dalam perang dengan pelanggaran hak asasi manusia. Perusahaan multinasional memiliki dampak langsung terhadap hak ekonomi dan sosial. 1999). kemungkinan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia meningkat. 2007 82 . Henderson (1993) berargumen bahwa tekanan populasi dapat mengarah pada tekanan terhadap sumber daya. Meyer (1996) memeriksa dampak perusahaan multinasional terhadap praktik-praktik hak asasi manusia. Pada saat perang internasional. Dua kajian terkemuka memeriksa tentang dampak faktorfaktor ekonomi ekternal terhadap hak asasi manusia. – Akhirnya. yang menyatakan bahwa perusahaan multinasional mendorong baik hak sosio-ekonomi maupun hak sipil dan politik. para ilmuwan mengindentifikasi sejumlah kecil faktor global yang dapat mempengaruhi represi pemerintahan. Poe dkk. Ketika suatu negara mengalami peningkatan populasi yang cepat. yang akan meningkatkan kemungkinan pemerintah menggunakan tindakan-tindakan represif. Analisa regresinya mendukung sebagian dari “tesis mesin pembangunan”. 4 • Th. Berbeda dengan pendapat di atas. mereka mendapatkan dukungan bagi hipotesa tersebut – yaitu bahwa sejumlah besar pemerintahan dengan catatan hak asasi manusia yang buruk ternyata tergantung secara ekonomi kepada negara-negara kapitalis. Kajian awal menunjukkan bahwa ada hubungan yang kuat antara partisipasi negara dalam perang internasional dan peningkatan kekerasan politik di tingkat domestik (Rasler 1986. Mitchell dan McCormick (1988) membuat hipotesa bahwa ekonomi yang terkait dengan Amerika Serikat dan negara kapitalis maju lainnya mendorong pelanggaran hak asasi manusia di negara-negara pinggiran (periphery). yaitu mendorong pembangunan dan oleh karenanya memperbaiki kualitas hidup. Dalam analisa pemeriksaan datanya. Mitchell dan McCormick (1988) memperkenalkan suatu argumentasi Marxis yang diambil dari argumentasi Chomsky dan Herman bahwa negara-negara kapitalis. Kajian-kajian berikutnya melaporkan bahwa besarnya populasi juga mempengaruhi represi politik.

sambil secara berkesinambungan mengontrol kemungkinan bahwa ketaatan negara terhadap hukum internasional dapat saja beragam berdasarkan tipe negara yang berbeda-beda. Walaupun kami meminjam beberapa data dari Poe dan kawan-kawan. yang memperingatkan para ilmuwan bahwa pandangan optimistis tentang peran perusahaan multinasional mungkin tidak terjustifikasi. kami memperbaharui data periode-waktu yang bersifat lintas-negara ini dengan memasukkan periode Pasca Perang Dingin. – Ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia tidak memiliki dampak positif langsung terhadap ketaatan negara dalam praktik dan bahkan memiliki dampak negatif yang signifikan berkaitan dengan meningkatnya perilaku represif. dan kami memperkenalkan variabel-variabel baru untuk mengukur partisipasi 153 negara dalam masyarakat internasional sejak 1976 sampai 1999. Kemudian. kami berupaya mengisi aspek utama politik global hak asasi manusia yang terlewatkan oleh semua literatur kuantitatif yang ada – yaitu pengaruh rejim global hak asasi manusia dan masyarakat sipil. Untuk menguji hipotesis tersebut. Tate. kami mengembangkan kajian klasik dari Poe. suatu kumpulan literatur kuantitatif penting yang semakin berkembang sangat bergantung pada kajian Poe dan kawan-kawan tersebut. dan Ippolito (1999) melaporkan temuan-temuan yang bertentangan dengan hal tersebut. ANALISA EMPIRIS Tujuan mendasar kami di bagian ini adalah untuk menguji hipotesis kami: Hipotesis 1. Karena baik ratifikasi negara terhadap perjanjian hak asasi manusia maupun perilaku represif negara terhadap hak asasi manusia beragam anJURNAL HAM • Vol. Smith. Data-data ini memampukan kami untuk menilai dampak ratifikasi negara terhadap perjanjian hak asasi manusia di jangka waktu dan lingkup yang lebih luas ketimbang kajian-kajian sebelumnya. Bolyard. Dari upaya-upaya penting tersebut kami mencoba untuk memahami penyebab domestik dan global dari perilaku represif pemerintah. Hipotesis 2. yang oleh karenanya meningkatkan stabilitas dan toleransi politik dalam masyarakat yang lebih luas. dengan menurunkan perilaku represif. 4 • Th. – Hubungan dengan masyarakat sipil internasional memiliki dampak positif terhadap perilaku hak asasi manusia dari negara-negara. maka sampel yang komprehensif dari para pengarang tersebut menawarkan suatu titik awal yang ideal bagi analisa empiris kami. Oleh karenanya. kami mengembangkan suatu model tunggal proses pengumpulan data yang kami ukur berdasarkan analisa berikut ini dengan menggunakan ordered probit yang layak bagi struktur ordinal dari variabel dependen kami (Long 1997): Yit = a + ßY Yit-1 + ßP Zit + ßX Xit + µ it (1) Y adalah tingkat perilaku represif 83 . Namun. Dengan melakukannya. kami mengembangkan data mereka guna mendorong perbandingan antara temuan-temuan kami tentang dampak perjanjian internasional terhadap penjelasan-penjelasan sebelumnya tentang perilaku represif pemerintah. dan Camp Keith (1999) yang mencoba menjelaskan keragaman negara dalam perilaku represif pemerintah. 2007 Analisa Dalam rangka menentukan dampak hukum internasional dan institusi masyarakat sipil global terhadap praktik hak asasi manusia. tarnegara dan antarwaktu.kat kota yang stabil secara politik.

i dan t adalah tulisan di bawah garis (subscript) yang mewakili negara dan tahun pengamatan. dan m adalah stochastic term. Untuk melakukannya. ßS adalah matriks pengukuran parameter. Kami mengontrol faktor-faktor lain yang dipercayai oleh kebanyakan ilmuwan hak asasi manusia membentuk perilaku represif pemerintah guna memahami apakah perjanjian hak asasi manusia internasional. Kami mempertimbangkan dua kelompok variabel sustantif utama untuk menguji teori kami. Dengan demikian. dan (2) apakah hubungan negara dengan organisasi nonpemerintah internasional mempengaruhi perilaku hak asasi manusia. serta masyarakat sipil internasional. suatu intercept term. perdagangan. suatu serial variabel kontrol. Kami meninjau kelompok-kelompok variabel ini secara lebih detil di bawah ini. 4 • Th. a adalah intercept term. ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia. dan matriks-X mencakup GDP(log). 2007 84 . keanggotaan dalam organisasi nonpemerintah internasional. mempengaruhi perilaku represif pemerintah di luar dan melebihi (above and beyond) penjelasan yang ada dalam literaturliteratur saat ini. dan populasi(log): Yit = a + ßY Yit-1 + ßP Zit + ßX Xit + µit (1) Represi pemerintah terhadap hak asasi manusia it = a + ßy-1 (praktik masa laluit) + ßz1 (ratifikasi perjanjian oleh Negarait) + ßz2 (keanggotaan pada organisasi nonpemerintah internasionalit) + ßx1 ([log] GDPit) + ßx2 ([log] perdaganganit) + ßx3 (demokrasiit) + ßx4 (populasiit) + µ it Walaupun kami menawarkan hipotesis yang berhubungan langsung – khususnya bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional akan mengarah pada tidak adanya perubahan atau semakin memburuknya perilaku hak asasi manusia – kami melakukan pengujian duaakhir bagi setiap dalil untuk mempertimbangkan hipotesis-hipotesis yang bertentangan yang ditawarkan oleh banyak ilmuwan politik. Dalam model 2 – model 7 kami melihat sifat dari ratifikasi terhadap perjanjian oleh negara secara lebih detil. dalam model 1. sementara X adalah matriks dari semua faktor kontrol lainnya yang digunakan oleh para ilmuwan sebelum kami mengenai pengaruhi perilaku represif terhadap hak asasi manusia. Dengan demikian. dan suatu stochastic term.pemerintah terhadap hak asasi manusia yang diamati. kami membagi atau memisahkan variabel kompleks ratifikasi terhadap perjanjian oleh negara sebagaimana yang dilaporkan di model 1 menjadi beberapa komponen variabel yang baru dan menganalisa apakah ratifikasi negara terhadap enam perjanjian inti PBB mempengaruhi ketaatJURNAL HAM • Vol. persamaan (equation) 1 menegaskan bahwa represi terhadap hak asasi manusia bagi setiap negara di setiap tahun pengamatan merupakan suatu fungsi tentang pengalaman masa lalu negara tersebut berkaitan dengan represi. Z adalah matriks variabel hukum internasional dan masyarakat sipil yang kami tawarkan untuk menguji teori paradoks kami. Kami memulai dengan menguji dua dalil utama dari teori kami: (1) apakah ratifikasi negara terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional mempengaruhi ketaatan negara terhadap norma-norma hak asasi manusia. demokrasi. matriks-Z mencakup ratifikasi negara terhadap perjanjian dan keanggotaan dalam organisasi nonpemerintah internasional.

sementara dalam model 12.12 Dalam model 11.) Dalam semua kasus kami memasukkan variabel dependen keterlambatan ai (kecuali dampak tetap). kami mempertimbangkan suatu susunan argumentasi alternatif yang dibuat oleh para ilmuwan hak asasi manusia dengan memodifikasi matriks-X. kami menambahkan beberapa variabel baru ke dalam matriks-Z. Akhirnya. Namun. dan bahwa laporan-laporan Amnesty International dan Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat telah menjadi hampir serupa dalam periode waktu belakangan ini. dan pemenjaraan JURNAL HAM • Vol. Dalam model 8 dan model 9. dengan menguji apakah bangsa-bangsa yang usianya lebih tua dan lebih mapan akan lebih menghormati hak-hak warga negaranya. penghilangan paksa.14 Data Hak asasi manusia (Y). dari Amnesty International) yang menggunakan analisa isi. kedua. Para ilmuwan lain yang memeriksa integritas hakhak tersebut termasuk. Poe. – Untuk mengestimasi model-model. dan kami melakukannya sebagai suatu kombinasi tingkatan negara dalam hal pembunuhan. 85 . Kami tidak memasukkan ukuran ini dalam temuan-temuan di tabel akhir karena variabel ini memberikan fungsi struktural yang sama seperti halnya dampak waktu tetap. dan mengelompokkan negara-negara guna membahas persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh heteroscedasticity yang umum terjadi pada data kami (Beck dan Katz 1995). Dalam melakukannya. yang kami masukkan sebagai kontrol standar bagi varian tingkat-dunia pada periode waktu tertentu. dan Hafner-Burton (dalam cetakan). Carey. kami menguji apakah pengalaman negara dalam perang sipil atau internasional dapat menjelaskan ketaatan pemerintah terhadap norma-norma hak asasi manusia. kami tetap menghitung dan mengukur variabel legitimasi dunia yang diusulkan pada dampak waktu tetap dan menemukan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hal dampak antara kedua pengukuran tersebut.15 Secara khusus. kami mempertimbangkan kemungkinan bahwa temuan-temuan kami adalah suatu benda peninggalan akhir Perang Dingin. Para pengarang ini menemukan bahwa kecenderungan Amnesty International untuk melaporkan kondisi hak asasi manusia di negara yang catatan hak asasi manusianya paling buruk telah menurun dalam periode waktu belakangan ini. dan kami menggambarkan data-data tersebut di bagian berikut ini. Stohl dan Carleton (1985). 4 • Th. 13 (Oleh karenanya. kami memperkirakan dampak waktu tetap untuk menjamin bahwa dampak tahuntahun individual dalam sampel kami tidak berpengaruh terhadap hasil temuan. kami menjelaskan dampak potensial dari usia negara. Dalam model 10. [1] memasukkan intercept variasi-waktu: ai. Beberapa rekan kerja mengusulkan agar kami memasukkan ukuran jumlah ratifikasi negara-negara di tingkat-dunia untuk semua perjanjian hak asasi manusia internasional dalam jangka waktu tertentu guna mempertimbangkan dampak diperolehnya legitimasi hak asasi manusia pada periode waktu tertentu. dan Vockell (1992). melaporkan standar kesalahan Huber/White untuk menggantikan perhitungan tradisional. kami mengubah misalnya. Gibney. Dalton. dan Vazquez (2001) menganalisa perbedaan laporan hak asasi manusia yang dibuat oleh Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat dengan Amnesty International guna menentukan apakah terhadap bias yang jelas dalam kedua sumber tersebut. diantaranya: Cingranelli dan Pasquarello (1985).16 Kami meng-kode-kan lima nilai-nilai variabel dependen berikut ini seba12 Kami mengucapkan terima kasih pada para pem- 13 14 15 16 baca AJS yang membawa variabel ini pada perhatian kami. kami melanjutkan pendapat para ilmuwan hak asasi manusia yang lain dalam menggunakan skala ordinal standardasar perilaku represif yang digambarkan secara sistematis dalam laporan hak asasi manusia tahunan Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat (dan. penyiksaan. kami mengukur perilaku represif pemerintah terhadap rasa aman seseorang. 2007 politik pada setiap tahunnya. Dalam kajian terbaru. McCormick dan Mitchell (1988). Melalui pengelompokan ini kami mengasumsikan bahwa pengamatan kami bersifat independen untuk jenis-jenis negara (atau kelompok negara) yang berbeda tetapi tidak hanya di suatu negara pada periode waktu tertentu. Poe (1991).an pemerintah terhadap norma-norma hak asasi manusia.

– Ketika tingkat teror bersifat meluas di masyarakat dan pengambil kebijakan tidak membatasi sarana yang mereka gunakan untuk mendapatkan tujuan pribadi atau tujuan ideologi. – Ketika praktik-praktik di tingkat 3 diperluas ke sejumlah besar populasi. Berkaitan dengan perjanjian-perjanjian hak asasi manusia internasional.17 Kami juga membagi atau memisahkan variabel perjanjian menjadi komponenkomponen konstituennya dan memberikan kode pada enam indikator yang berbeda yang menangkap jangka waktu sejak suatu negara meratifikasi setiap salah satu dari 17 Kami juga mengukur dan memeriksa apakah waktu 3. jika dimungkinkan. – Kami memperkenalkan delapan variabel baru dari ratifikasi negara terhadap hukum hak asasi manusia internasional dan keanggotaan negara dalam organisasi nonpemerintah internasional yang kami kumpulkan dari sumber-sumber primer dan sekunder perjanjian dan perkumpulan internasional. dan pembunuhan politik jarang terjadi. Banyak dari data ini berasal dari kolaborasi sejumlah hasil para ilmuwan hak asasi manusia ternama.gaimana diilustrasikan di diagram 2 dan digambarkan di lampiran A: 1. dengan menggunakan metode analisa isi yang sesuai dengan metode pengumpulan data sebelumnya. Pengukuran ini disimpulkan dalam tabel 2 di bawah ini. Angka nol menunjukkan bahwa suatu negara tidak meratifikasi perjanjian hak asasi internasional utama mana pun. sedangkan angka enam menunjukkan bahwa suatu negara telah meratifikasi seluruh perjanjian hak asasi manusia utama. Kami telah memperbaharui data yang ada. Y = 2 (represi yang massif atau extensif repression). pembunuhan dan penghilangan paksa sering terjadi. Y = 3 (represi yang meluas atau widespread repression). CRC. Y = 1 (represi yang sistematis atau systematic repression). – Ketika penahanan politik bersifat massif. Pertama. – Ketika negara-negara berada pada kondisi aturan hukum yang aman. kami menghitung suatu ukuran ordinal dari variabel perjanjian yang menghitung total jumlah perjanjian yang diratifikasi oleh suatu negara dalam suatu tahun tertentu. ICESCR. 5. 2007 . Paradoks janji-janji kosong (Z). dan pembunuhan politik sangat jarang terjadi. 4 • Th. rata-rata ratifikasi perjanjian oleh negara – yaitu jumlah total tahun di mana suatu negara telah meratifikasi suatu perjanjian – mempengaruhi ketaatan pemerintah terhadap norma-norma hak asasi manusia. tetapi teror hanya mempengaruhi mereka yang berkepentingan dalam hal praktik atau ide politik. penahanan politik dan penyiksaan jarang terjadi. Kami menggunakan variabel ini dalam model dasar kami (model 1). CEDAW. Y = 5 (represi yang jarang atau rare repression). Y = 4 (represi yang terbatas atau limited repression). penyiksaan dan pemukulan bersifat sangat khusus. hukuman mati dan pembunuhan politik mungkin sering terjadi. Kami menawarkan beberapa pengukuran yang berbeda terhadap ratifikasi perjanjian oleh negara untuk menguji hipotesis-hipotesis yang diusulkan. CAT. 86 JURNAL HAM • Vol. dan CERD. 4. dan penahanan (dengan atau tanpa pengadilan) akibat pandangan politik dapat diterima. 2. Hasilnya yang berkaitan dengan indikasi dan signifikasi konsisten dengan tingkatan ratifikasi negara terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional (model 1). – Ketika penahanan atas kegiatan politik yang bersifat nonkekerasan terbatas. kami mempertimbangkan enam perjanjian utama (yang diuraikan di tabel 1): ICCPR.

87 . ICESCR. CAT. dan CRC.20 Khususnya. Akhirnya. Yang sangat penting bagi tujuan kami adalah lima karakteristik institusional utama yang membedakan antara demokrasi dengan otokrasi: tingkat kompetitif dari proses pemilihan pemimpin.18 Kami menyebut variabel-variabel ini ICCPR. kami mengambil data dari proyek Polity IV dan menggunakan demokrasi berdasarkan karakteristik institusionalnya. 20 Walaupun baik pembangunan dan demokrasi seringkali diklaim sebagai hak asasi manusia yang mendasar. dan perilaku represif negara atas hak-hak mendasar untuk bebas dari pembunuhan. Batang yang solid mewakili jumlah tahun-negara yang diamati dalam kumpulan data periode waktu lintas-seksi bagi setiap dari lima tingkat penghormatan negara terhadap hak asasi manusia yang diukur. Khususnya lihat Apodaca (2001). sesuai dengan urutannya. sistem pemerintahan negara. keterbukaan proses tersebut 18 Kami juga melakukan analisa dengan mengguna- kan variabel pura-pura (dummy) guna menggambarkan ratifikasi yang bertentangan dengan lama waktu keanggotaan.hrweb. 2007 mentar. – Variabel dependen: represi terhadap hak asasi manusia (pengamatan tahun-negara). CERD. http:// www.htm dan http://www. penghilangan paksa.org. 4 • Th.uia. Kami juga menerapkan pengukuran demokrasi dan tingkat perilaku represif pemerintah di masa lalu. CEDAW. jumlah warga negara-negara yang tergabung dalam organisasi nonpemerintah internasional).website. – Kami mengikuti para ilmuwan hak asasi manusia lain dalam menggunakan ukuran Bank Dunia tentang Gross Domestic Product atau GDP pada nilai pasar dan perdagangan (sebagai persentase GDP). Ukuran-ukuran ini adalah data konvensional yang dikumpulkan dari Bank Dunia dan hanya membutuhkan sedikit koJURNAL HAM • Vol. suatu publikasi tahunan dari Union of International Associations. dan kami mencatat keduanya. org/legal/undocs.1200 1000 800 # 600 400 200 0 1 Systematic Repression 2 Extensive Repression 3 Widespread Repression 4 Limited Repression 5 Rare Repression Diagram 2.html. kami menawarkan suatu ukuran kalkulasi keanggotaan negara dalam organisasi nonpemerintah internasional dalam suatu periode tertentu (misalnya. kami mengikuti yang lain dalam membedakan konseptual yang penting antara tingkat pembangunan negara. 19 Lihat Buku Tahunan Organisasi Internasional (Yearbook of International Organizations). dan penahanan secara sewenang-wenang. penyiksaan.19 Pengukuran ini dikumpulkan dari data yang tersedia dalam Buku Tahunan Organisasi-organisasi Internasional. enam perjanjian hak asasi manusia internasional. Faktor-faktor kontrol (X).

.. 4 • Th... CERD.. CERD. Jangka waktu sejak ratifikasi CRC Model 1-7 495...45 0.21 21 Adalah mungkin bahwa temuan-temuan ini menun- jukkan bahwa sejumlah perjanjian utama menginstitusionalisasikan norma-norma yang tidak termasuk dalam kategori-kategori hak asasi manusia mendasar yang diteliti di sini.127 bagi kelompok-kelompok sosial. CEDAW. Dalam analisa...... Negara yang meratifikasi sejumlah besar perjanjian hak asasi manusia tidak sepenuhnya melindungi hak asasi manusia ketimbang negara yang hanya meratifikasi sejumlah kecil perjanjian tersebut. tingkat hambatan institusional atas kewenangan pengambilan keputusan pimpinan. kami mempertimbangkan berbagai ragam variabel tambahan yang mungkin telah digunakan di kajiankajian sebelumnya mengenai perilaku represif pemerintahan... Pengukuran ini mulai dari -10 (paling otokratis) sampai 10 (paling demokratis)..... CRC ICCPR. tingkat kompetitif dari partisipasi politik..... model 1 mengusulkan bahwa ratifikasi seringkali berkaitan dengan perilaku tidak taat negara-negara dan bahwa komitmen negara terhadap rejim hukum hak asasi manusia internasional dari waktu ke waktu mengarah pada pemisahan (decoupling) yang radikal..... dan tingkatan di mana aturan-aturan yang mengikat mengatur partisipasi politik (Jaggers dan Gurr 1995)... Ada dua hasil temuan yang sangat luas biasa..... serta usia negara dan data tambahan yang dikumpulkan oleh Poe dkk..... Jumlah ratifikasi keseluruhan enam perjanjian : ICCPR.... Sebaliknya..16 0. Walaupun kami tidak memasukkan semua variabel kontrol tambahan yang ada dalam model kami karena alasan-alasan teoritis.35 0.. komitmen negara terhadap rejim hukum hak asasi manusia internasional tidak secara otomatis dapat diterjemahkan menjadi penghormatan pemerintah terhadap hak asasi manusia........... INGO. (1999)..... Hasil Tabel 3 di bawah menunjukkan temuantemuan utama kami.. Data-data ini mencakup keterlibatan negara dalam perang sipil atau perang internasional (proyek Correlates of War). Jangka waktu sejak ratifikasi ICCPR Jangka waktu sejak ratifikasi CAT Jangka waktu sejak ratifikasi CERD Model 1 Model 2 Model 4 Model 5 Model 7 1.. Namun demikian. populasi negara pada tahun tertentu (diambil dari Bank Dunia)... CAT... CEDAW. Pertama.... baik CAT maupun ICCPR secara eksplisit menga- 88 JURNAL HAM • Vol.. CAT. ECESCR.....27 0.17 0 3.. 2007 .... namun kami tetap melaporkan dampak signifikan dari variabel-variabel ini terhadap model kami tentang perilaku represif pemerintah di catatan kaki.....2 0 0 0 0 0 0 0 6 33 33 15 39 27 19 Jangka waktu sejak ratifikasi ICESCR Model 3 Jangka waktu sejak ratifikasi CEDAW Model 6 Jumlah organisasi nonpemerintah internasional (INGO) di mana warga negara menjadi anggota CRC....... yang justru memperburuk pelanggaran hak asasi manusia.TABEL 2 DESKRIPSI VARIABEL: PARADOKS JANJI-JANJI KOSONG Variabel Isi Model Rata-rata Minimum Maksimum Perjanjian.88 0...34 0. ICESCR..

529.2 P < 0.261*** -0. kebebasan. 2007 sebelumnya (Hathaway 2002).34) 0.035) 0. sementara temuan kami menunjukkan adanya dampak negatif.045) (0.006) Model 5 0.45*** (0.024*** (0.0002* (0.069** (0.042 .1.112** (0.05) Model 3 0.006) Model 7 0.024 (0.01 *** P < 0.01 (0.116** (0.6 2.283*** -0.46*** (0. dan keamanan seseorang yang digambarkan oleh variabel dependen kami.058 .109** (0.045) (0.1.067) 0.049 (0.004) -0. Kami juga mencatat bahwa ketika kami memasukkan dampak waktu tetap.536. Bukti yang ditunjukkan di tabel 3 menunjukkan bahwa negara yang meratifikasi kedua perjanjian ini akan lebih mungkin melakukan tindakan represif terhadap hak-hak warga negaranya ketimbang negara yang bukan anggota pada perjanjian.021*** (0.058 .064) 0.072) 0.46*** (0.543.0003*** 0.0001) 1.33) 0.45*** (0.27*** (0. 89 .1.063) 0.3 2.0003** (0.284*** -0. yang mewajibkan negaranegara yang meratifikasi untuk menghormati hakhak ini.037) 0.012) -0.64* (0.7 2. 4 • Th.02 (0.0006) -0.47*** (0. maka dampaknya tetap negatif tetapi kehilangan signifikansinya.136*** (0.017) 2.5 2.044) (0.049) (0.005 (0.0002* (0.022*** (0.047) 1.022*** (0.0001) 1.013* (0.058 1.064) 0.9 2.023** (0.TABEL 3 ANALISA KUMPULAN PERIODE WAKTU LINTAS-SEKSI TENTANG PRAKTIK HAK ASASI MANUSIA DARI NEGARA.036) 0. Kajian sebelumnya tentang ICCPR menunjukkan tidak adanya dampak ratifikasi terhadap perjanjian (Camp Keith 1999).042 .117** (0.005) -0.006) -0.068) 0.006) 0.049) 1.038 (0.47*** (0.1.025*** (0.05 ** P < 0.045 (0.012* (0.0002* (0.069) 0.036) 0.0001) -0.072 1.032*** -0.1.537.27*** (0.0001) -0.042 .009) (0. 1978 – 1999 Model 1 GDP per kapita (log) Demokrasi Populasi (log) Praktik masa lalu Perdagangan (log) Organisasi nonpemerintah internasional Perjanjian ICCPR ICESCR CAT CERD CEDAW CRC N Pengamatan Log kemungkinan + Model 2 0.2 2.064) 0.262*** (0.001 kui hak-hak utama untuk hidup.026 (0.10 * P < 0.005) Model 6 0.139*** (0.0001) (0.550.058 1.0002* (0.064) 0. Temuan ini konsisten dengan kajian CAT JURNAL HAM • Vol.0001) 1.138*** (0.063) 0.542.0001) -0.047) 1.546. yang juga menunjukkan dampak negatif ratifikasi perjanjian.033) 0.063) 0.063*** (0.005) Model 4 0.02) -0.024*** (0.069) 0.07) 0.275*** -0.48*** (0.0004** (0.

kami mempertimbangkan sejumlah pengukuran alternatif bagi variabel-variabel yang kami laporkan di sini. Tabel 3 juga menegaskan bahwa perkiraan kami konsisten dengan temuan-temuan umum dalam berbagai literatur hak asasi manusia mengenai variabel kunci. kami juga menemukan bahwa norma-norma global hak asasi manusia. Kedua. 1999). 24 Walaupun perang sipil memang 22 Ketika kami menambahkan dummy pasca Perang Dingin dan dampak waktu tetap dalam model 11 dan model 12. Poe dkk. Poe dan Tate 1994. Konsistensi dampak ini di lintas model menunjukkan bahwa dampak institusional umum masyarakat sipil global cukup stabil.22 Secara bersamaan. kami tidak dapat membedakan antara dampak negatif langsung – ketika ratifikasi justru memberikan insentif lebih bagi perilaku represif yang lebih jauh – dan dampak negatif tidak langsung – ketika ratifikasi tidak memiliki dampak pada praktik-praktik negara yang mengarah pada semakin kuatnya perilaku kekerasan. Gelleny.23 Kami menggunakan probabilitas yang diperkirakan untuk membongkar dampak-dampak negatif ini lebih jauh lagi di lampiran B. Richards. 2007 90 . temuan-temuan ini menunjukkan suatu gambaran yang mengkhawatirkan: perjanjian hak asasi manusia internasional hanya sedikit mendorong praktik-praktik yang lebih baik dan tidak dapat menghentikan banyak pemerintah dari suatu spiral perilaku represif yang meningkat. 23 Namun. yang melekat pada perjanjian hak asasi manusia internasional dan ditawarkan oleh masyarakat sipil internasional memberikan kontribusi terhadap perbaikan praktik-praktik hak asasi manusia secara nyata. dan mungkin bahkan memperburuk praktik-praktik yang tidak baik tersebut. Walaupun kami menemukan bahwa institusionalisasi hak asasi manusia global tidak memiliki dampak positif yang sistematis melalui sistem perjanjian. Demokrasi adalah pelindung yang paling baik dari hak asasi manusia – menyepakati mayoritas ilmuwan hak asasi manusia (Henderson 1991. JURNAL HAM • Vol. Di tabel 4 kami memverifikasi bahwa temuan-temuan kami sifatnya kuat bagi sejumlah penjelasan alternatif terhadap represi pemerintah terhadap hak asasi manusia. hubungan negara dengan masyarakat sipil internasional menciptakan kekuatan lawan yang besar bagi pemisahan (decoupling) yang radikal tersebut: negaranegara yang warga negaranya menjadi anggota sejumlah besar organisasi nonpemerintah internasional akan lebih mungkin melindungi hak-hak warga negaranya. Mitchell dan McCormick 1988. Poe dkk. Namun. 1999) – sebagaimana halnya dengan negara-negara yang memiliki tingkat keterbukaan yang lebih tinggi terhadap ekonomi internasional (Meyer 1996. Konsisten dengan penelitian terbaru di bidang ini. dan Sacko 2001) dan negara-negara yang tingkat pembangunan ekonominya lebih tinggi. Variabel ini tidak mengubah temuantemuan kami dan oleh karenanya tidak dilaporkan di sini. ratifikasi terhadap keseluruhan enam perjanjian tersebut memiliki dampak negatif terhadap perilaku negaranegara penandatangan: pihak-pihak pada perjanjian akan lebih mungkin melakukan represi terhadap warga negaranya ketimbang negara yang tidak meratifikasi. 24 Kami mempertimbangkan sejumlah variabel kontrol tambahan untuk menguji kekuatan temuantemuan ini. Kemudian.Temuan ini sangat konsisten ketika kami memisahkan keseluruhan komitmen pada rejim hak asasi manusia dan meneliti ratifikasi terhadap perjanjian PBB yang spesifik (model 2 – model 7). Tidak satu kasus pun menunjukkan bahwa ratifikasi negara terhadap enam perjanjian hak asasi manusia utama dari PBB yang mana pun dapat memperkirakan kemungkinan penghormatan pemerintah terhadap hak asasi manusia. dampak perjanjian menjadi kurang signifikan tetapi tetap negatif. 4 • Th. salah satu ramalan (predictors) yang paling penting dari represi adalah sejarah negara dalam kondisi represif (Apodaca 2001.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah bukti yang menyatakan bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional justru memperburuk ketaatan negara terhadap norma-norma hak asasi manusia yang dilindungi oleh perjanjian tersebut. 2001). yang tidak mengubah hasil kami. 25 Dalam rangka mempertimbangkan kemungkinan suatu dampak pilihan. periode sejarah tampaknya memberikan perubahan. kami memasukkan suatu dummy variabel pengukuran mengenai apakah suatu pemerintahan dikuasi oleh rejim beraliran kiri. Dalam rangka mempertimbangkan kemungkinan bahwa dampak Perang Dingin dihasilkan oleh suatu bias praktik-praktik hak asasi manusia oleh pemerintahan-pemerintahan beraliran kiri (Poe dkk. Bertentangan dengan hal tersebut. 26 Temuan-temuan ini bukan merupakan hasil karya multicollinearity.sangat mendorong perilaku represif negara. kami dapat menawarkan bukti awal yang menyatakan bahwa temuantemuan kami tidak hanya sekedar hasil dari perhatian media yang meningkat terhadap pelanggaran hak asasi manusia setelah ratifikasi terhadap perjanjian. Kami mempertimbangkan kemungkinan ini dengan serius dan oleh karenanya telah melakukan suatu proses pemeriksaan terhadap kelayakannya.25 Dipertimbangkan bersama. walaupun hasil substantif kami pada umumnya konsisten ketika kami memasukkan dampak waktu tetap. dan matriks korelasi ini tersedia dari para pengarang atas dasar permintaan. bukti juga menunjukkan bahwa hubungan dengan masyarakat sipil global memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia. sejumlah ilmuwan telah mengidentifikasi kemungkinan yang sangat nyata bahwa temuan-temuan kami dipengaruhi oleh suatu “dampak informasi”. suatu fenomena yang mungkin dapat dijelaskan oleh munculnya banyak negara baru yang relatif lemah. Akhirnya. Walaupun kami tidak bisa menawarkan suatu jawaban yang pasti terhadap pertanyaan tersebut. 2007 yang secara strategis mempengaruhi rejim hukum hak asasi manusia untuk menekan pemerintah agar mengubah perilaku hak asasi manusia mereka. 4 • Th. 91 . Walaupun perjanjian-perjanjian seringkali tidak secara langsung memberikan kontribusi pada perbaikan di tingkat praktik. Kami menemukan bahwa model yang mengalami penundaan sama persis secara subtantif dengan model yang kami laporkan di tabel 3. Kami mengulangi penundaan atau interval ini selama beberapa tahun kemudian untuk menjamin kekuatan temuan-temuan tersebut. Di sisi lain. Variabel ini tidak signifikan dan tidak mengubah hasil temuan secara substantif. Akhirnya. dampak ini berada di luar temuan-temuan kami bahwa negara yang meratifikasi hukum hak asasi manusia internasional cenderung tidak menaati hukum tersebut dalam praktiknya. perang internasional dan usia negara tidak memiliki dampak apa pun terhadap perilaku represif pemerintah. namun norma-norma yang dikodifikasi dalam perjanjian ini menyebarluas di kalangan organisasi nonpemerintah internasional JURNAL HAM • Vol. bahwa sumber-sumber laporan kami yang menjadi sumber data kami tentang perilaku represif terhadap hak asasi manusia lebih memberikan perhatian pada negara-negara yang lebih terbuka terhadap pertukaran informasi atau yang baru saja menandatangani suatu perjanjian hak asasi manusia internasional. setidaknya pada jangka pendek. kami menunda semua variabel independen selama satu tahun dan menguji kembali model ini. Negaranegara di dunia pasca-Perang Dingin lebih kecil kemungkinannya tunduk pada komitmen terhadap rejim hak asasi manusia internasional.26 Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa terdapat korelasi sistematis yang positif antara penerimaan pemerintahan secara resmi terhadap hukum internasional untuk melindungi hak asasi manusia dengan perilaku nyata dari para elit pemerintahan untuk melindungi hak-hak tersebut. temuantemuan ini menawarkan dukungan yang besar terhadap argumentasi kami.

0.058 .048) 0.024) .082 (0.0.077 (0.819 .0001) .1.356.542.135) .o.0.022*** (0.028*** (0.0.4*** (0. 2007 .058 . Ukuran perang sipil dan internasional dibatasi pada periode waktu 1976 ––1993.05 ** P < 0.4 1.025) .913*** (0.006) .006) . 1978-99 Model 8 GDP per kapita (log) Demokrasi Populasi (log) Praktik masa lalu Perdagangan (log) Organisasi nonpemerintah internasional Perjanjian Perang sipilb Perang internasionalb Usia negara Dummy pasca Perang Dingin Dampak waktu yang tetap (1976-99)c N Pengamatan Log kemungkinan a b Model 9 0.034 (0.0006 (0.0004** (0.TABEL 4 ANALISA KUMPULAN PERIODE WAKTU LINTAS-SEKSI TENTANG PRAKTIK HAK ASASI MANUSIA DARI NEGARA DENGAN VARIABEL INDEPENDEN TAMBAHAN.006) .0001) .01 *** P < 0.815 .1.0.003 (0.036) 0.0.0001) .0.065** (0.16) 0.0.001 92 JURNAL HAM • Vol.0005** (0.043+ (0.0001) .052) 0.267*** (0.1** (0.524.0004** (0.023) Model 12a 0.0.7 2.022) Model 10 0.072) 0.048) 1.0004** (0.079) 0.0.279*** (0.5 Perhatikan bahwa model 12 termasuk dampak waktu tetap tidak memasukkan variabel interval yang dependen.092* (0.065) 0.064) .024 (0.077) 0.0.074+ (0.006) .058 .257*** (0.0001) .069** (0.067) .279*** (0.049) 1. koefisien dampak waktu tetap tidak dilaporkan secara individual untuk menghemat tempat + P < 0.2 2.8 2. 4 • Th.1.071** (0.44*** (0.0005) .027*** (0.092* (0.45*** (0.256*** (0. c Melalui konvensi.0005* (0.0.626*** (0.021) Model 11 0.1.328.035) 0.1.047) 1.002 (0.121** (0.037) 0.026*** (0.16 (0.0.0.041) 0.083) 0.080) 1.10 * P < 0.05) 1.007) .525.0.46*** (0.027f (0.075) 0.038) 0.

4 • Th. namun para ilmuwan konstruktivis dan hukum internasional menunjukkan JURNAL HAM • Vol. kami mengambil sampel acak 15 negara dari sampel yang lebih besar yaitu 153 bangsa. dan tiga tahun setelah ratifikasi terhadap CAT. Kami menganalisa laporan tahunan hak asasi manusia dari Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat untuk setiap negara yang telah meratifikasi CAT. Sebagai akibatnya. walaupun sumber laporan tentang pelanggaran hak asasi manusia bervariasi setiap tahunnya. yang oleh karenanya menyarankan bahwa kecil kemungkinannya temuantemuan kami merupakan hasil yang unik dari meningkatnya pelaporan yang ada setelah dilakukannya ratifikasi. atau terbatas. kami menemukan bahwa dampak negatif dari ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional terhadap hak atas keamanan individu berlaku bagi keenam perjanjian hak asasi manusia utama. Sementara para ilmuwan pengarusutamaan hubungan internasional berargumentasi bahwa rejim hak asasi manusia internasional tidak memperbaiki praktik hak asasi manusia. Tidak terdapat bukti sistematik yang menunjukkan bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia dalam sistem PBB memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia. Sifat dari laporanlaporan ini kelihatannya tidak mengalami perubahan yang signifikan setelah ratifikasi. Untuk setiap negara. tetapi semakin berkembangnya legitimasi ide-ide hak asasi manusia dalam masyarakat internasional.Bukti-bukti ini dikumpulkan melalui suatu percobaan kecil. 2007 93 . tidak ada bias sistematik pada meningkatnya jumlah kata dalam pelaporan atau dalam jenis informasi setelah ratifikasi terhadap perjanjian. yang pembentukannya didukung oleh rejim hukum internasional. dan juga jenis informasi yang diberikan oleh laporan – informasi yang luas. tetapi juga mengembangkan lebih jauh dari hasil temuan tersebut dalam hal cakupan waktu dan jumlah perjanjian hak asasi manusia internasional. sejumlah bukti bahwa rejim tersebut memiliki dampak positif terhadap praktikpraktik lokal. menengah. Temuan-temuan ini menggambarkan beberapa keraguan tentang argumen- KESIMPULAN Dasar analisa kami adalah dua set pengharapan dan bukti yang saling bertentangan tentang berkembangnya dampak rejim hak asasi manusia internasional. Kami menemukan bahwa. tetapi masyarakat sipil global memliki dampak positif terhadap praktik hak asasi manusia. periode saat ratifikasi terhadap CAT. Kami meneliti tiga periode waktu untuk setiap negara: tiga tahun sebelum ratifikasi terhadap CAT. kami membandingkan isi dari sumber laporan tersebut berdasarkan jumlah kata-kata yang didedikasikan terhadap isu penyiksaan. Kerangka teori kami. Temuan kunci pertama kami tentang dampak perjanjian hak asasi manusia mengulangi temuan-temuan kajian terbaru mengenai topik yang sama. memberikan kekuatan lebih bagi aktor-aktor nonpemerintah untuk menekan pemerintah-pemerintah yang melanggar hak asasi manusia agar mengubah perilaku mereka. memperkirakan bahwa rejim hukum tidak memiliki dampak atau memiliki dampak negatif terhadap praktik hak asasi manusia. Analisis empiris kami memperkuat tesis paradoks janji-janji kosong ini. Pertama. sebagaimana dipresentasikan di lampiran C. yang didasari oleh pendekatan institusional rasional dan masyarakat dunia. dan bahwa kecenderungan ini berlanjut sampai akhir 1990an. Kami mencoba menemukan tentang dua aspek rejim hak asasi manusia yang ditemukan dalam kebanyakan literatur yang ada: yaitu sistem perjanjian hak asasi manusia internasional dan masyarakat sipil internasional.

seringkali mengubah arah dari “janji-janji kosong” pemerintah-perintah nasional yang ada di kepala mereka menjadi suatu “paradoks” global: yaitu perbaikan praktik-praktik hak asasi manusia. Berdasarkan pada panduan pengkodean yang diberikan oleh Poe dan Tate (1994). namun hanya sedikit yang telah mengkaji dampak kegiatan internasional di luar sistem perjanjian ini secara sistematis. 1976-1993. Temuan kunci kedua kami tentang dampak positif hubungan dengan masyarakat global merupakan kontribusi penting baik bagi kajian empiris politik hak asasi manusia dan. Walaupun banyak studi kasus telah mendokumentasikan dampak prinsip-prinsip hak asasi manusia global dan aktor-aktor internasional yang mendukung prinsip-prinsip ini dalam praktik-praktik lokal. 4 • Th. masyarakat sipil internasional telah menggunakan legitimasi norma-norma hak asasi manusia yang dinyatakan dan dikodifikasi dalam perjanjianperjanjian hak asasi manusia internasional tersebut untuk menekan pemerintah-pemerintah agar memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusianya. yang jika digabungkan dengan kurangnya institusionalisasi mekanisme penegakan. Kedua temuan menunjukkan pentingnya untuk memisahkan mekanisme-mekanisme yang berbeda di mana kekuatan-kekuatan global beroperasi guna memberikan dampak pada tindakan-tindakan di tingkat lokal. dari sudut pandang teoritis. bagi pendekatan masyarakat dunia. walaupun aktor-aktor ini bukan merupakan pengganti bagi institusi yang lebih kuat yang dapat melindungi hak asasi manusia. LAMPIRAN A Kumpulan Data tentang Hak Asasi Manusia (Y) Kami telah memperbaharui data yang ada tentang perilaku represif terhadap hak asasi manusia yang dikumpulkan oleh sejumlah ilmuwan sebelum kami dan yang ditawarkan oleh Steven Poe. Karena adanya tekanan kuat untuk meratifikasi perjanjian hak asasi manusia dan relatif rendahnya biaya ratifikasi. temuan kami menunjukkan bahwa walaupun institusinya lemah. Dengan memeriksa hubungan dengan masyarakat sipil internasional secara terpisah dari hubungan dengan rejim hak asasi manusia global. kami menggarisbawahi dampak yang berbeda dari kedua jenis hubungan tersebut terhadap praktikpraktik hak asasi manusia di tingkat lokal. 2007 94 . Tindakan ratifikasi memberikan suatu karakter legitimasi pada pemerintah. Analisis statistik kami memberikan dukungan kuat bagi para ilmuwan dan pengamat yang berargumen bahwa kegiatan-kegiatan hak asasi manusia global berkontribusi pada perbaikan dalam praktik-praktik hak asasi manusia di tingkat lokal. Aktor-aktor masyarakat sipil pada dasarnya melakukan fungsi mekanisme penegakan yang sangat diperlukan tersebut. maka tindakan ratifikasi tersebut juga memberikan suatu penyamaran atas pelanggaran hak asasi manusia warga negaranya. banyak pemerintah meratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional tanpa adanya keinginan ataupun kapabilitas untuk menyelaraskan perilaku domestik mereka dengan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian hak asasi manusia internasional.tasi-argumentasi optimis yang dikemukakan oleh para ilmuwan hukum internasional dan konstruksivionis. Para ilmuwan dan aktivis seringkali mengkritisi kurangnya mekanisme penegakan yang efektif dalam perjanjian hak asasi manusia internasional. Namun. Aktor-aktor masyarakat sipil ini. kami menerapkan metode analisis isi pada laporan tahunan hak asasi manusia dari Departemen Dalam Negeri Amerika SeriJURNAL HAM • Vol. yang semakin berkembang dalam hal jumlah dan kekuatan.

4 • Th. Baris dan kolom pertama menunjukkan bahwa suatu negara demokratis yang tidak meratifikasi satu pun perjanjian hak asasi manusia (0) dan tidak berhubungan dengan ma27 Kami mengucapkan terima kasih kepada Steven Probabilitas yang Diperkirakan (Predicted Probabilities) Dalam rangka membongkar temuantemuan empiris utama lebih jauh. Mark Gibney dengan baik hati berbagi datanya (1980-2000) dengan kami.28 Tabel B1 melaporkan probabilitas-probabilitas yang diperkirakan (berdasarkan model dan data kami) yang kami amati dari negara demokratis rata-rata yang jarang menggunakan represi atau yang menggunakan represi secara luas. 28 Walaupun kami memperhitungkan probabilitasprobabilitas yang diperkirakan pada kelima kategori variabel dependen. kami menggunakan dua coders dalam menganalisa isi dari setiap sumber dan menggunakan suatu nilai angka. 95 . 2007 Poe dan Mark Gibney atas data yang mereka berikan pada kami. mungkin tidak bisa digeneralisasi begitu saja. demokrasi. dan yang pada saat yang bersamaan mempertimbangkan variasi dalam hal tingkatan ratifikasi perjanjian hak asasi manusia oleh negara dan hubungan dengan organisasi nonpemerintah internasional. kami hanya melaporkan dua kategori saja untuk menunjukkan argumentasi kami sesederhana mungkin. Prediksi-prediksi ini merupakan alat yang berguna untuk memeriksa apakah argumentasi kami konsisten di seluruh kategori variabel dependen untuk jenis-jenis negara yang berbeda-beda. Analisis ini sangat bernilai karena sejumlah ilmuwan telah dengan benar menyatakan bahwa ratifikasi terhadap perjanjian dan hubungan dengan masyarakat sipil internasional mungkin memiliki dampak yang lebih besar bagi beberapa jenis pelanggaran hak asasi manusia tertentu – misalnya. kami menempatkan suatu nilai hak asasi manusia dengan skala lima. perdagangan. temuan-temuan kami mungkin tidak sama bagi semua negara secara signifikan dan. Jika demikian. Dalam rangka melakukan hal tersebut. Bagi semua kasus negara dari 1994 sampai 1999. dan kami telah menggunakannya sebagai pengujian ketika pada pengkodean kami. yang awalnya diterapkan dalam Gastil (1980) dan digambarkan di bagian tentang data. Kami mengakui bahwa argumentasi institusional kami mungkin juga menawarkan pengaruh bagi beberapa jenis kebijakan negara yang dapat lebih dijelaskan – misalJURNAL HAM • Vol.kat. kami menggunakan prosedur statis yang dibahas secara detil dalam Long (1997) untuk menghitung probabilitas-probabilitas yang diperkirakan bahwa suatu negara rata-rata biasa diamati jarang menggunakan represi [prob(Y p 5FX)] dan menggunakan represi secara luas [prob(Y p 3FX)]. Sejak saat itu. Konsistensi antar coder dicatat sekitar 90%. didorong oleh pengalaman dari jenis negara tertentu. otokrasi – ketimbang jenis lainnya – misalnya. Guna menjamin konsistensi dengan metode pengkodean sebelumnya. kami mengukur probabilitas-probabilitas yang diperkirakan dari estimasi yang digambarkan di model 1 (tabel 3 di atas). kami mengartikan suatu negara “rata-rata” sebagai Negara yang memiliki nilai rata-rata GDP.29 Kami mengintepretasikan tabel tersebut sebagai berikut.27 LAMPIRAN B nya. dan praktik masa lalu. 29 Untuk tujuan perhitungan atau kalkulasi. populasi. dan kami menggunakan pihak ketiga untuk menyelesaikan persoalan ketidakkonsistenan antar coders. Oleh karena itu kami mencoba memahami apakah dampak yang telah diidentifikasi dalam analisa serial-waktu berlaku untuk jenis-jenis negara yang berbeda secara konsisten. pelaku represi yang jarang (Y p 5) – ketimbang untuk jenis-jenis yang lain – seperti misalnya pelaku represi yang luas (Y p 3).

syarakat sipil internasional (tidak satu pun) memiliki 21% kemungkinan melakukan tindakan represif secara meluas dan hanya 12% kemungkinan jarang melakukan tindakan represif. Ketika negara tersebut semakin banyak meratifikasi perjanjian hak asasi manusia (yang dijelaskan di tabel oleh pergeseran horisontal dari kiri ke kanan), negara tersebut secara bertahap lebih mungkin untuk melakukan tindakan represif secara meluas dan lebih kecil kemungkinannya untuk jarang melakukan tindakan represif. Ketika negara tersebut semakin berhubungan dengan masyarakat sipil internasional (yang dijelaskan di tabel oleh pergeseran vertikal dari atas ke bawah), negara tersebut secara bertahap lebih mungkin untuk melakukan tindakan represif secara meluas dan lebih kecil kemungkinannya untuk jarang melakukan tindakan represif. Probabilitas-probabibilitas ini mengijinkan kami untuk memeriksa besarnya pergeseran tersebut. Tabel B2 melaporkan probabilitas-probabilitas yang diperkirakan untuk negara otokratis rata-rata. Kami mengintepretasikan tabel tersebut dengan cara yang sama seperti tabel sebelumnya: suatu negara otokratis rata-rata yang diambil dari sampel yang tidak meratifikasi satu pun perjanjian hak asasi manusia (0) dan tidak berhubungan dengan masyarakat sipil internasional (tidak satu pun) memiliki 32% kemungkinan melakukan tindakan represif secara meluas dan hanya 6% kemungkinan jarang melakukan tindakan represif. Jika dilakukan pergeseran secara horisontal dalam baris tabel, dapat dilihat bahwa semakin banyak negara ini meratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional, maka semakin lebih mungkin negara melakukan praktik hak asasi manusia yang buruk. Jika dilakukan pergeseran secara vertikal dalam kolom tabel, dapat dilihat bahwa semakin banyak negara ini berhubungan dengan masyarakat sipil global,

maka semakin lebih mungkin perbaikan praktik hak asasi manusia di negara ini. Hasil ini menjelaskan tentang temuantemuan kami bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional terpisah secara radikal dari ketaatan negara terhadap norma-norma hak asasi manusia, namun hubungan dengan masyarakat sipil internasional memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia. Tabel B1 dan B2 membawa perhatian pada tiga aspek dari paradoks ini. Pertama, dampak negatif perjanjian hak asasi manusia lebih besar pada negaranegara yang melakukan tindakan represif secara meluas ketimbang pada negara-negara yang jarang melakukan tindakan represif. Negara-negara represif yang bergabung dalam rejim hak asasi manusia menjadi semakin represif ketika mereka meratifikasi lebih banyak perjanjian hak asasi manusia internasional. Bahkan dalam banyak kasus, tabel-tabel ini menunjukkan bahwa lebih dari 10% negara lebih mungkin menggunakan tindakan represif yang meluas ketika mereka telah meratifikasi keenam perjanjian hak asasi manusia ketimbang ketika mereka tidak meratifikasi satu pun perjanjian hak asasi manusia. Dampak negatif pada rejim yang nonrepresif, yang ditunjukkan dengan menurunnya probabilitas-probabilitas yang diperkirakan bagi kategori negara yang jarang melakukan tindakan represif, dimulai dari tiga sampai sembilan persen perubahan. Temuan semacam ini berguna untuk memverifikasi bahwa dampak yang telah kami identifikasi bersifat sangat besar. Kedua, dampak positif hubungan negara dengan masyarakat sipil internasional lebih besar pada perilaku hak asasi manusia negara-negara yang melakukan tindakan represif secara meluas ketimbang negara-negara yang jarang melakukan tindakan represif. Ketika negara-negara represif
JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

96

membuka perbatasan mereka dan mengijinkan warga negaranya untuk bergabung dengan semakin banyak organisasi nonpemerintah internasional, maka negaranegara ini akan lebih kecil kemungkinannya menggunakan tindakan represif. Dampak pada rejim yang represif adalah tujuh sampai sembilan persen, sedangkan dampak pada negara-negara nonrepresif mulai dari dua sampai enam persen. Ketiga, dengan mengherankan hasilhasil ini konsisten bagi negara-negara demokratis maupun otokrasi (tabel B1 dan tabel B2). Walaupun pemerintahan-pemerintahan demokratis lebih mungkin menghormati hak asasi manusia ketimbang pemerintahan-pemerintahan otokratis (dan oleh karenanya adalah negara-negara yang jarang melakukan tindakan represif), namun kedua jenis pemerintahan tersebut mengalami paradoks janji-janji kosong yang sama. Temuan ini mungkin tidak diperkirakan oleh mereka yang percaya bahwa pemerintahan demokratis lebih responsif terhadap hukum hak asasi manusia internasional ketimbang pemerintahan otokratis, dan hal ini mengarah pada dukungan lebih terhadap ide bahwa paradoks tersebut merupakan fenomena global yang nyata. LAMPIRAN C

Dampak dari Informasi
Dalam tabel C kami menyediakan data yang dikumpulkan untuk memeriksa kemungkinan bahwa temuan-temuan kami dipengaruhi oleh dampak dari informasi. Kami memilih 15 negara secara acak dari sampel yang ada dan memeriksa laporan Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat untuk memilih data dari tiga jangka waktu: tiga tahun sebelum ratifikasi, tahun ratifikasi, dan tiga tahun setelah ratifikasi. Untuk setiap jangka waktu, kami melaporkan jumlah total kata-kata yang ada dalam laporan hak asasi manusia tentang PenyikJURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

saan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, atau Merendahkan Martabat Manusia (Amnesty International, berbagai tahun), serta jenis informasi yang diberikan dalam laporan tersebut. Kami mempertimbangkan tiga kategori: (1) pelaporan yang luas, yang memberikan informasi detil mengenai individu tertentu yang disiksa, individu atau unit pemerintahan tertentu yang dituduh melakukan penyiksaan, atau kondisi-kondisi khusus penyiksaan seperti demonstrasi dan kerusuhan, serta pengesahan dan pelaksanaan peraturan perundang-undangan tentang hak asasi manusia, komisi hak asasi manusia, kebijakan tentang hak asasi manusia, dan program hak asasi manusia lainnya di tingkat nasional; (2) pelaporan menengah, yang memberikan informasi yang cukup detil mengenai individu yang mengalami penyiksaan ataupun yang dituduh melakukan penyiksaan, serta pengesahan dan pelaksanaan peraturan perundang-undangan tentang hak asasi manusia; dan (3) pelaporan yang terbatas, yang memberikan informasi berkaitan dengan peristiwa penyiksaan secara umum tanpa memberikan informasi secara detil mengenai individu tertentu yang mengalami penyiksaan, individu atau unit pemerintahan tertentu yang dituduh melakukan penyiksaan, atau kondisi-kondisi khusus penyiksaan seperti demonstrasi dan kerusuhan, serta pengesahan dan pelaksanaan peraturan perundang-undangan tentang hak asasi manusia, komisi hak asasi manusia, kebijakan tentang hak asasi manusia, dan program hak asasi manusia lainnya. Kami juga memberikan laporan tentang nilai variabel independen untuk setiap kasus. Hasil menunjukkan bahwa tidak ada hubungan sistematik yang dapat diamati antara ratifikasi negara terhadap CAT dengan panjang ataupun jenis informasi yang dilaporkan oleh sumber hak asasi manusia tahunan Departemen Dalam Negeri

97

Amerika Serikat yang kami gunakan untuk mengkodekan variabel dependen kami, walaupun negara-negara terkadang dilaporkan telah meningkatkan perilaku represif mereka setelah ratifikasi, sebagaimana telah kami prediksikan. Baik panjang maupun jenis informasi lebih berhubungan dengan tingkat represi ketimbang ratifikasi negara terhadap CAT: ketika pelanggaran negara terhadap hak asasi manusia sangat besar, maka laporan cenderung lebih panjang dan lebih detil. Ketika pemerintah

tidak melakukan tindakan represif, laporan menjadi lebih pendek, dan jenis informasi yang diberikan dengan demikian menjadi lebih terbatas. Percobaan ini menunjukkan bahwa perubahan dalam nilai praktik hak asasi manusia tidak bisa dikaitkan dengan peningkatan atau penurunan perhatian sebagai suatu hasil ratifikasi terhadap perjanjian dan lebih menekankan pada pentingnya paradoks yang kami temukan dalam analisa data kami.

DAFTAR PUSTAKA
Amnesty International. 1994. Amnesty International Report. London: Amnesty International Publications. –. Berbagai tahun. Amnesty International Report. London: Amnesty International Publications. Apodaca, Clair. 2001. “Global Economic Patterns and Personal Integrity Rights after the Cold War.” International Studies Quarterly 45:587–602. Beck, Nathaniel, and Jonathan N. Katz. 1995. “What To Do (and Not To Do) with–TimeSeries Cross-Section Data.”–American Political Science Review 89:634–50. Berkovitch, Nitza. 1999. From Motherhood to Citizenship: Women’s Rights and International Organizations. Baltimore: Johns Hopkins University Press. Boli, John, dan George M. Thomas, eds. 1999. Constructing World Culture: International Nongovernmental Organizations since 1875. Stanford, Calif.: Stanford University Press. Brunsson, Nils. 1989. The Organization of Hypocrisy: Talk, Decisions and Actions in Organizations. Crichester: John Wiley and Sons. Camp Keith, Linda. 1999. “The United Nations International Covenant on Civil and Political Rights: Does it Make a Difference in Human Rights Behavior?” Journal of Peace Research 36:95–118.

Chayes, Abram, dan Antonia Chayes. 1995. The New Sovereignty: Compliance With International Regulatory Agreements. Cambridge, Mass.: Harvard University Press. Chomsky, Noam, dan Edward S. Herman. 1979. The Political Economy of Human Rights: The Washington Connection and Third World Fascism. Boston: South End Press. Cingranelli, David, dan Thomas Pasquarello. 1985. “Human Rights Practices and the Distribution of U.S. Foreign Aid to Latin American Countries.” American Journal of Political Science 27:539–63. Clark, Ann Marie. 2001. Diplomacy of Conscience: Amnesty International and Changing Human Rights Norms. Princeton, N.J.: Princeton University Press. Cleveland, Sarah H. 2001. “Human Rights Sanctions and the World Trade Organization.” In Environment, Human Rights and International Trade, edited by F. Francioni. Portland, Ore.: Hart Publishing. Collins, Randall. 1992. Sociological Insight: An Introduction to Non-obvious Sociology. Edisi kedua. New York: Oxford University Press. Cottier, Thomas. 2002. “Trade and Human Rights: A Relationship toDiscover.” Journal of International Economic Law 5:111–32. Downs, George, David M. Rocke, dan Peter Barsoom. 1996. “Is the Good News about Compliance Good News for Cooperation?” International Organization 50:379–406. Durkheim, Emile. (1895) 1982. The Rules of Sociological Methods. New York: Free Press.

98

JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

Mark. Baltimore: Johns Hopkins University Press. “Mechanisms of Social Influence and Regime Design in Human Rights Law: Toward a Sociological Theory of International Law. JURNAL HAM • Vol. New York: Columbia University Press. David.” Journal of Refugee Studies 5:33–46. and Decisions: On the Conditions of Practical and Legal Reasoning in International Relations and Domestic Affairs. 1999. Rules. (1912) 1995. Goodman. 1980.” Journal of Peace Research 32:469–82.J. Keith. New York: Free Press. 1996. Jaggers. 1992. N. Gastil. “Conditions Affecting the Use of Political Repression. Henderson. Rhoda.. 1986. N.” Makalah dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Sociological Association. “Dictatorships and Double Standards. “Even Bad States Do Good Things: International Human Rights Law and the Politics of Legitimation.” Human Rights Quarterly 18: 131–79. “Legal Treatment of Koreans in Japan: The Impact of International Human Rights Law on Japanese Law.” Dalam The Power of Human Rights: International Norms and Domestic Change. diedit oleh Thomas Risse. Iwasawa. N. San Francisco. Vanessa Dalton. Martha.J. Friedrich V. 2007 99 . –. 1979. “Do Human Rights Treaties Make a Difference?” The Yale Law Journal 111:1935–2042.–. 1993. “USA Refugee Policy: A Human Rights Analysis Update. 1979. dan Kathryn Sikkink. Keck. dan Ted Robert Gurr. dan Marc Vockell. 2004. Ropp. Margaret E. dan Kathryn Sikkink. Kiyoteru Tsutsui. Anja. Krasner. Ryan. N. Raymond. Oona A. 1998. Robert O.J. Hathaway.: Cornell University Press. Peter J. National Interest in International Society. 1996a. Hafner-Burton. –. 1984. 1991. 1998. Kratochwil. After Hegemony. 4 • Th. Kirkpatrick. dan John Meyer. Katzenstein. Ithaca.: Transaction Books. “Human Dignity. Finnemore. The Evolution of International Human Rights: Visions Seen. dan Jack Donnelly. New York: Cambridge University Press. Cambridge: Cambridge University Press. Rights Across Borders: Immigration and the Decline of Citizenship. and Political Regimes. Howard. “Norms. Culture. dan Derek Jinks. Sovereignty: Organized Hypocrisy. Princeton. Jeane. “Population Pressures and Political Repression. Gibney. Stephen C. Keohane. Yuji. The Elementary Forms of Religious Life. ed. Activists Beyond Borders: Advocacy Networks in International Politics. Human Rights.”—Social Science Quarterly74:322– 33. 2002. Hafner-Burton. Louis. New Brunswick. 1980. Dalam cetakan. How Nations Behave: Law and Foreign Policy.: Princeton University Press.: Cornell University Press.” American Political Science Review 80:801–18. ed. –. Norms. Emilie. “Linking the Unlinkable? International Norms and Nationalism in Indonesia and the Philippines.Y. and World Politics: Insights from Sociology’s’ Institutionalism. 1986. New York: Columbia University Press. Freedom in the World: Political Rights and Civil Liberties. August. Ithaca. Paul Gordon. Lauren. Henkin.: Princeton University Press. 1999. Philadelphia: University of Pennsylvania Press.” International Organization. “Right or Robust? The Sensitive Nature of Government Repression in an Era of Globalization.” Duke Law Journal 54. 1996b. 1995. Stephen D. 1998. Jacobson. Conway W. Jetschke. Emilie. 2005.” International Organization 50:325–47. 1989. Princeton. The Culture of National Security: Norms and Identity in World Politics. “Trading Human Rights? How Preferential Trade Agreements Influence Government Repression.Y. Rep.” Commentary 68: 34–45.. Dalam cetakan. “Tracking Democracy’s Third Wave with’the Polity III Data.” Journal of Conflict Resolution 35:120–42. N.” Journal of Peace Research 42(6).

John W. dan A. Neal Tate. John W. “Is U. “Correlates of Human Rights: Global Tendencies. Meyer. dan Neil Mitchell. The New Institutionalism in Organizational Analysis. John W. dan Paul J. Ramirez.. dan Brian Rowan. Lutz. Connie L.” American Journal of Sociology 83:340–63. “Human Rights and MNCs: Theory Versus Quantitative Analysis. George M. Cohan. Steven. Meyer. “How Are These Pictures Different? A Quantitative Comparison of the U. 1988. dan Johan P... “The Structuring of a World Environmental Regime. 1977. “Repression of Human Rights to Personal Integrity in the 1980s: A Global Analysis. Mitchell.” Human Rights Quarterly 23: 650–77. “Taking Preferences Seriously: A Liberal Theory of International Politics. Thousand Oaks. “Human Rights and the Allocation of U. Neal Tate. 1997.. March. Evan Schofer. Park.” International Organization 51:623–51. Richard Scott..” Human Rights Quarterly 9:405–13. “Economic and Political Explanations of Human Rights Violations. 4 • Th. 1997. John J. 1992. “The Institutional Dynamics of International Political Orders. Ellen L. Status of Ratifications of the Principal International Human Rights Treaties. Calif. J. eds. 2d ed. 2000. 1995. 100 JURNAL HAM • Vol. 1991. Mullerson. 1994. Human Rights Diplomacy.. 1997. 1994/1995. Poe..Long.” The American Political Science Review 88:853–72. Ann Hironaka. dan Aaron Benavot. 1988.” World Politics 40:476–98.. Thomas. William H. McNeely. “Institutionalized Organizations: Formal Structure as Myth and Ceremony. 1996. Vazquez. McCormick. Steven C. New York: Routledge.: Greenwood Press. Carey. 1976– 1995. S. David Kamens. –. School Knowledge for the Masses: World Models and National Primary Curricular Categories in the Twentieth Century. 1997.” International Organization 54:217–52. dan Nancy Brandon Tuma. D. Meyer.. “World Society and the Nation-State. Poe.” International Organization 54:633–59. 1991. 1987.pdf.” American Journal of Sociology 103:144–81.” Journal of Peace Research 28:205–16. 2000. Steven C.” International Organization 52:943–69.unhchr.” International Organization 51:514– 55. Steven C. dan James McCormick. John W.S.ch/pdf/ report. 1992. Meyer. Calif. McKinlay. 1870–1990.S. Conn. dan Kathryn Sikkink. Neil. dan Linda Camp Keith. “The Origins of Human Rights Regimes: Democratic Delegation in Postwar Europe. Beverly Hills. John Boli. Moravcsik. dan C. http://www. 2001. 1997. Military Assistance. C. London: Falmer Press.S. Westport.: Sage Publications. “International Human Rights Law and Practice in Latin America.. Aid Really Linked to Human Rights in Latin America?” American Journal of Political Science 32:231–39. James G. 1975. 1999. Scott. Rein. Walter W. Mearsheimer. Poe. “A Comparative Analysis of the Political and Economic Performance of Military and Civilian Regimes. dan W. Constructing the Nation-State: International Organization and Prescriptive Action. Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights. Organizational Environments: Ritual and Rationality. Chicago: University of Chicago Press. David John Frank. Sabine C. Regression Models for Categorical and Limited Dependent Variables. Han S. 2002. dan Tanya C. Meyer. Poe. State Department and Amnesty International Human Rights Reports. 2007 . Powell.” Comparative Politics 8:1–30.. Meyer. R. dan Francisco O. “The False Promise of International Institutions. DiMaggio. Andrew. “Repression of the Human Right to Personal Integrity Revisited: A Global Cross-National Study Covering the Years 1976–1993. JohnW.” Human Rights Quarterly 18:368–97. Olsen. James M. 1998...” International Security 19:5–49.: Sage Publications.” International Studies Quarterly 43:291–313.

W. Human Rights. and Violence in the United States. David L. Thomas. Richards. “Money with a Mean Streak? Foreign Economic Penetration and Government Respect for Human Rights in Developing Countries. Tsutsui. 1999. 1997.” Paper presented at the annual meeting of the American Sociological–Association. Princeton. 1987. Francisco O. 2001. “Global Civil Society and the International Human Rights Movement: Citizen Participation in International Human Rights Nongovernmental Organizations. Daniel C. James.’1965– 1999.” International Studies Quarterly 45:219–39.” Pp. “War and Domestic Violence: The Case of the United States. Calif. Beverly Hills. “Global Human Rights and State Sovereignty: Nation-States’ Ratification of International Human Rights Treaties. 2007 101 . Tsutsui. Thomas. “Varying Methods of State Violence. Stephen C. 1986. Michael. 1985.. dan Christine MinWotipka. Ropp.–Institutions and Organizations.” International Organization 51:275–301.” Social Forces 83:587–620. Smith. James C. 1975. 2d ed. JURNAL HAM • Vol. “War. Michael.: Sage Publications. Claude. dan Richard P. “Global Civil Society and Ethnic Social Movements in the Contemporary World. 329– 45 in Human Rights and Development: International Views. 1989. Risse. Stohl. Waltz. 1999.– –. dan John Boli. Baltimore: Johns Hopkins University Press. Melissa Bolyard.. dan Anna Ippolito. Sacko. George M. Accommodation. Reading. 2001. Kiyoteru. and the Demise of Communism. Yasemin. Kiyoteru. Richard. Ronald D.” Human Rights Quarterly 7:205–29.” Journal of Conflict Resolution 19:379– 416. Chicago: University of Chicago Press. Institutional Structure: Constituting State. 1994. Soysal. The Helsinki Effect: International Norms. P. Oran R. 2000. Scott. Theory of International Politics.” In Comparative Human Rights. dan David H. Claude.Pritchard. Gelleny. edited by D. 1979. Rasler. P.: Princeton University Press. Meyer. Compliance and Public Authority: A Theory with International Applications. 1890–1970.J.Wesley. “Human Rights and the Global Economy: A Response to Meyer. and the Individual. Anaheim.” Human Rights Quarterly 21:207–19. John W.: Addison. Kenneth. dan David Carleton. 1976. N. “The Foreign Policy of Human Rights: Rhetoric and Reality from Jimmy Carter to Ronald Reagan. edited by R. Society. Jackie. Thousand Oaks. 4 • Th. “Empirical Comparative Rights Research: Some Preliminary Tests of Development Hypotheses. 2004. Karen. dan Kathryn Sikkink. 2001. Mass. Stohl. Ramirez.” American Political Science Review 80:921– 45. Young. Ron. Baltimore: Johns Hopkins University Press. Kathleen. New York: Cambridge University Press. 2004.. Limits of Citizenship: Migrants and Postnational Membership in Europe. The Power of Human Rights: International Norms and Domestic Change. “Human Rights and Development: Theory and Data. August. Thomas. Strouse.: Sage Publications. 1979. Calif.” Sociological Forum 19:63–88. 1890– 1970. Forsythe. London: Macmillan.

Lembar fakta ini menggunakan pendekatan yang lebih umum. dan walaupun setiap badan perjanjian merupakan suatu komite yang ter1 Penyebutan komite yang dibentuk berdasarkan diri dari para ahli yang independen dari komite-komite lainnya. 2007 perjanjian sebagai “badan perjanjian” HAM telah diterima secara luas. Namun demikian. Social and Cultural Council/ECOSOC). yang meninjau semua perjanjian dan badan perjanjian. holistik. Badan perjanjian membantu Negara-negara Pihak melakukan hal tersebut dengan memonitor pelaksanaannya dan merekomendasikan langkah-langkah selanjutnya. atau “badan perjanjian” yang memonitor pelaksanaan perjanjian oleh Negara-negara Pihak. Sosial. buku ini menggambarkan tentang suatu “sistem perjanjian” HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Social and Cultural Rights/ CESCR) secara teknis bukan merupakan suatu badan perjanjian karena tidak secara langsung dibentuk berdasarkan Kovenannya. 30 Sistem Perjanjian Hak Asasi Manusia: Pengantar terhadap Perjanjian Hak Asasi Manusia Utama dan Badan-Badan Perjanjian Lembar Fakta ini merupakan suatu pengantar umum terhadap perjanjian dan komite internasional hak asasi manusia (HAM) utama. Negara harus menerima semua perjanjian HAM internasional utama secara sistematis dan melaksanakan ketentuanketentuannya (ratifikasi universal dan efektif). 4 • Th.1 Tujuh perjanjian utama hak HAM menetapkan standar-standar internasional bagi perlindungan dan pemajuan HAM di mana Negara-negara dapat mendaftarkan diri menjadi pihak pada setiap perjanjian tersebut. Setiap Negara Pihak memiliki kewajiban untuk mengambil langkah-langkah yang menjamin bahwa setiap orang di Negara tersebut dapat menikmati hak-hak yang diatur dalam perjanjian. dan. Bagian I menggambarkan tentang tujuh perjanjian HAM utama yang saat ini JURNAL HAM • Vol. yaitu untuk menggambarkan setiap komite yang memonitor pelaksanaan perjanjian HAM. Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (Office of the High Commissioner for Human Rights/OHCHR) telah menerbitkan lembar fakta yang spesifik mengenai ketujuh perjanjian utama.Lembar Fakta Perserikatan Bangsa-Bangsa No. kedua. dan Budaya (Committee on Economic. dan terintegrasi bagi pemajuan dan perlindungan HAM. Bagi mereka yang tertarik pada suatu perjanjian atau badan perjanjian tertentu dapat merujuk pada terbitan-terbitan tersebut. dan Budaya (Economic. yang mana setiap Negara dapat memilih untuk menerima ataupun tidak menerimanya. Sosial. dengan tujuan untuk melihat sejauh mana mereka dapat berfungsi atau bekerja bersama sebagai suatu sistem yang menyatu. istilah “badan perjanjian” diadopsi untuk tujuan-tujuan berikut ini. walaupun ketentuan-ketentuan di setiap perjanjian merujuk secara spesifik pada “komite”nya. Walaupun setiap perjanjian merupakan instrumen hukum yang terpisahpisah. melainkan dibentuk oleh resolusi Dewan Ekonomi. Sejauh mana perjanjian dan badan perjanjian dapat bekerja bersama-sama sebagai suatu sistem tergantung pada dua faktor: pertama. Harus diperhatikan bahwa Komite Hak Ekonomi. badan-badan perjanjian harus mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan mereka untuk menghasilkan suatu pendekatan yang konsisten dan sistematis terhadap monitoring pelaksanaan HAM di tingkat nasional. yang setiap lembar faktanya mencantumkan informasi mengenai badan perjanjiannya. 102 .

mengenai pelaksanaan HAM di negara-negara mereka. Semua Negara memiliki komitmen untuk memajukan penghormatan bagi hak dan kebebasan yang dicantumkan dalam Deklarasi dan untuk mengambil langkah-langkah untuk menjamin pengakuan dan ketaatan terhadap hak dan kebebasan tersebut secara universal dan efektif. Bagian III menggambarkan tentang tantangan-tantangan yang dihadapi oleh sistem perjanjian HAM. Semua badan perjanjian akan dipertimbangkan secara sama. 4 • Th. baik di tingkat nasional maupun internasional. Ketujuh perjanjian HAM menjelaskan lebih lanjut suatu kerangka hukum yang komprehensif di mana setiap Negara dapat memenuhi komitmennya dalam pemajuan dan perlindungan HAM secara universal dengan bantuan badanbadan perjanjian. Termasuk di dalamnya. Kekejaman dan ketakutan yang terjadi pada Perang Dunia Kedua telah memotivasi masyarakat internasional untuk berupaya menjamin bahwa kekejaman seperti itu tidak lagi terulang dan menyediakan daya pendorong bagi gerakan modern untuk membentuk suatu sistem perlindungan HAM internasional yang bersifat mengikat. 2007 DUHAM menyatakan dengan jelas bahwa semua HAM bersifat tidak terbagi (indivisible) dan saling berkaitan (interrelated). Suatu glossary mengenai istilah-istilah teknis yang digunakan berkaitan dengan baik perjanjian-perjanjian maupun badanbadan perjanjian juga disediakan guna membantu pembaca dalam hal terminologi yang digunakan berkaitan dengan perjanjian-perjanjian dan badan-badan perjanjian. Bagian II menjelaskan tentang pekerjaan tujuh badan perjanjian HAM yang dibentuk berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. Upaya-upaya telah dilakukan oleh Liga Bangsa-Bangsa (LBB) yang dibentuk pada akhir Perang Dunia Kedua untuk membangun suatu kerangka hukum internasional guna melindungi kelompok minoritas. dengan berfokus pada elemen-elemen yang serupa dalam mandat dan metode kerja mereka. termasuk mekanisme monitoring internasionalnya. khususnya melalui pengarusutamaan (streamlining) prosedur pelaporan Negara.berlaku. Selain itu juga didiskusikan tentang dampak penekanan baru atas pembentukan dan dukungan sistem perlindungan di tingkat nasional terhadap sistem perjanjian di tingkat internasional. dan bahwa setiap hak harus ditekankan kepentingannya secara sama. Perjanjian-perjanjian ini merupakan produk lebih dari setengah abad elaborasi atau penjelasan yang berkesinambungan sejak adopsi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia atau DUHAM (Universal Declaration of Human Rights) dengan suara bulat oleh Majelis Umum PBB pada 1948. BAGIAN I Membangun standar-standar HAM: perjanjian dan protokol opsionalnya Pada awal abad ke-20. upaya-upaya untuk meningkatkan efektivitas sistem. perbedaan-perbedaan dalam praktik dapat ditemukan di lembar fakta yang spesifik. JURNAL HAM • Vol. perlindungan HAM telah mulai berkembang sebagai suatu wacana penting bagi masyarakat internasional. Sistem badan perjanjian terdiri dari hal-hal utama yang wajib dilakukan oleh Negara-negara di forum internasional. dalam suatu dialog antarnegara yang bersifat keras tetapi konstruktif. 103 . Badan perjanjian ini memonitor pelaksanaan hak-hak yang diatur dalam perjanjian tersebut oleh Negaranegara yang telah menerimanya.

Peng Chun Chang.Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (1948) Piagam PBB 1945 memproklamasikan bahwa salah satu tujuan PBB adalah untuk memajukan dan mendorong penghormatan terhadap HAM dan kebebasan mendasar bagi semua orang. telah menjadi aturan-aturan yang mengikat secara hukum melalui praktikpraktik di Negara-negara. sosial. 2007 . dan John Humphrey. budaya. Dengan de- mikian. Pasal pertamanya dengan terkenal menggambarkan ide hak asasi manusia yang mendasar. beberapa komentator berkomentar bahwa keseluruhan Deklarasi ini memiliki status demikian. menetapkan serangkaian hak yang mencakup semua aspek kehidupan. Deklarasi menyebutkan satu demi satu pengelompokan hak-hak secara spesifik: sipil. dan sosial. ekonomi. dan interdependensi semua hak tersebut. yang digambarkan sebagai “suatu standar umum bagi pencapaian semua orang dan semua bangsa”. Ini adalah norma-norma yang. yang merepresentasikan sebagaimana disepakati untuk pertama kalinya secara internasional definisi hak-hak semua orang. di mana hak dan kebebasan yang diatur dalam Deklarasi ini dapat diwujudkan sepenuhnya”. Charles Malik. walaupun tidak ditentukan dalam suatu perjanjian. namun pentingnya dokumen ini tidak boleh diremehkan. politik. yaitu: “Semua manusia dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak yang sama”. yang diadopsi dengan suara bulat oleh Majelis Umum PBB pada 10 Desember 1948. 104 JURNAL HAM • Vol. Hal ini merupakan suatu penekanan yang kemudian diafirmasikan kembali bertahun-bertahun kemudian pada Deklarasi Konferensi Dunia tentang Hak Asasi Manusia di Wina pada 1993. Dengan dorongan yang kuat dari Elenor Roosevelt. Upaya ini telah menghasilkan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM). Contohnya termasuk larangan terhadap penyiksaan dan diskriminasi rasial. Pasal 3 sampai pasal 21 menggambarkan hak sipil dan politik yang klasik (termasuk hak suaka dan hak atas kepemilikan). Setelah membuat suatu ketentuan umum mengenai diskriminasi. Dokumen ini. Deklarasi juga menyediakan secara tegas dasar bagi struktur perjanjian untuk ditegakkan di dekade-dekade berikutnya. 4 • Th. Deklarasi menekankan pada kesatuan. Sebagaimana tercerminkan dalam namanya. Apakah Deklarasi merupakan Hukum Kebiasaan? Telah diterima secara luas bahwa beberapa ketentuan dalam Deklarasi saat ini telah menjadi aturan dalam hukum kebiasaan internasional. maka untuk pertama kalinya Negara-negara berupaya mencari jalan untuk membuat suatu dokumen tunggal yang berisikan berbagai hak dan kebebasan mendasar yang dimiliki oleh setiap individu karena status mereka sebagai manusia. dengan pengakuan penting di pasal 28 bahwa “Setiap orang berhak atas ketertiban sosial dan internasional. Tidak hanya itu. Dokumen ini memiliki kekuatan moral yang tinggi. kesaling-terkaitan. Pasal 22 sampai pasal 28 menjamin sejumlah hak ekonomi. dan budaya. yang diadopsi dalam bayang-bayang masa pelanggaran yang sedemikian masif terhadap hak-hak yang dicantumkan dalam dokumen tersebut. yang kemudian dikenal sebagai Hari Hak Asasi Manusia Internasional. bersama dengan tokoh-tokoh lain seperti Rene Cassin. walaupun Deklarasi bukan merupakan perjanjian yang mengikat secara hukum. melalui penggambarannya yang komprehensif mengenai berbagai jenis hak.

Sosial dan Budaya Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial Komite Hak Asasi Manusia Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan Komite Menentang Penyiksaan Komite Hak Anak Komite Pekerja Migran 105 SCP = Subkomite Pencegahan *OPCAT belum berlaku .Sistem Perjanjian Hak Asasi Manusia PBB: menunjukkan perjanjian dan mandat badan perjanjian DEKLARASI UNIVERSAL HAK ASASI MANUSIA Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia JURNAL HAM • Vol. 2007 INSTRUMEN OP OP* Laporan Laporan Pengaduan Individual & penyelidikan SCP Kunjungan & Laporan Laporan OP2 OP SC KIHESB 1966 ICERD 1965 CEDAW 1979 CAT 1984 CRC 1989 KIHSP 1966 ICPMW 1990 OP AC PROTOKOL OPSIONAL OP1 Laporan Laporan Laporan Laporan Pengaduan Individu ECOSOC Pengaduan individual berdasarkan pasal 14 Pengaduan individual berdasarkan pasal 22 dan penyelidikan Pengaduan individual berdasarkan pasal 77 (belum berlaku) BADAN PERJANJIAN Komite Hak Ekonomi. 4 • Th.

yang melarang pembedaan berdasarkan ras. Bahasa. 4 • Th. Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial dan Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan dibuat secara spesifik untuk menghapuskan bentuk-bentuk khusus diskriminasi. keturunan serta asal usul kebangsaan dan etnis. termasuk dilakukannya propaganda ide-ide rasial yang dilakukan oleh kelompok-kelompok dan organisasi-organisasi.Nondiskriminasi dalam penikmatan hak asasi manusia Semua perjanjian hak asasi manusia utama mencerminkan prinsip umum yang diadopsi oleh Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia bahwa hak-hak yang diatur dalam perjanjian-perjanjian harus dapat dinikmati tanpa diskriminasi dalam bentuk apa pun. Konvensi juga menetapkan suatu rangkaian hak asasi manusia spesifik yang ekstensif – baik dalam bidang sipil dan politi serta ekonomi. Informasi lebih lanjut mengenai DUHAM dapat ditemukan di Lembar Fakta No. perjanjian pertama yang disepakati mengatur tentang fenomena khusus diskriminasi rasial: Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. Daftar yang sama tercantum di pasal 2 dari kedua Kovenan Internasional. 2: Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial (1965) Ketika DUHAM diadopsi. Setelah mendefinisikan diskriminasi rasial. Mengingat pentingnya secara politis kebangkitan rejim apartheid di Afrika Selatan. Jenis kelamin. Status kepemilikan. Hal ini mengarah pada negosiasi-negosiasi yang panjang di Komisi Hak Asasi Manusia. Konvensi juga mewajibkan untuk mengambil langkah-langkah yang selayaknya untuk mencegah diskriminasi rasial mengakar di masyarakat. yaitu suatu badan politik yang terdiri dari perwakilan Negara-negara. Konvensi ini mengatur kewajiban Negara-negara Pihak secara detil untuk memerangi momok tersebut dalam enam pasal. 2007 106 . Pendapat politik atau lainnya. yang bertemu setiap tahunnya di Jenewa untuk membicarakan berbagai persoalan HAM. atau lainnya. Dua perjanjian. Pasal 2 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia menentukan suatu daftar yang bersifat non-exhaustive mengenai dasar-dasar yang dilarang bagi diskriminasi: Ras atau warna kulit. Selain kewajiban yang nyata bahwa Negara harus menahan diri dari tindakan-tindakan semacam itu di semua tingkatan. warna kulit. Asal-usul kebangsaan atau sosial. kelahiran. yaitu diskriminasi rasial dan diskriminasi terhadap perempuan. yang secara langsung mengikat Negara-negara yang menyetujui ketentuanketentuan di dalamnya. sosial. ada kesepakatan bersama bahwa hak-hak yang tercantum di dalamnya harus diterjemahkan pada bentuk legal sebagai perjanjian-perjanjian. Perjanjian-perjanjian selanjutnya memperluas daftar tersebut lebih lanjut. Agama. yang diadopsi oleh Majelis Umum pada Desember 1965. dan budaya dan kebanyakan diantaranya disebutkan satu per satu dalam Deklarasi – yang harus dijamin tanpa pembedaan JURNAL HAM • Vol.

Bagian mukadimah atau pembukaan kedua instrumen mengakui kesalingtergantungan semua HAM. negosiasi sedang berlanjut mengenai dua perjanjian utama: Kovenan Interna- JURNAL HAM • Vol. Majelis Umum meminta Komisi Hak Asasi Manusia untuk membuat dua kovenan yang terpisah. paragraf 1. budaya. kedua Kovenan ini dirujuk sebagai “Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia atau International Bill of Human Rights”. pembatasan. Proses pembuatan suatu instrumen yang mengikat secara hukum yang mengabadikan hak-hak yang ada dalam DUHAM telah dimulai segera setelah diadopsinya Deklarasi pada 1948. atas dasar persamaan. Konvensi juga menentukan perbaikan (remedy) yang efektif terhadap tindakan diskriminasi rasial sebagai suatu hak mendasar. setelah diskusi yang panjang. sosial. warna kulit. dibayangkan adanya suatu kovenan tunggal yang mencakup semua HAM. pencapaian atau pelaksanaan. yang meminta agar kedua instrumen tersebut sedapat mungkin memuat sebanyak mungkin ketentuan-ketentuan yang sama guna “menekankan kesatuan dari tujuan yang ada”. baik melalui pengadilan ataupun institusi-institusi lainnya. 2007 107 . atau pengutamaan berdasarkan ras. yang dibentuk oleh Konvensi untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. 2 Resolusi 543 (V). dan Budaya (KIHESB). sipil. Sosial. Bersama dengan DUHAM. dengan menyatakan bahwa HAM yang ideal hanya bisa dicapai jika dibentuk kondisi-kondisi di mana setiap orang bisa menikmati hak ekonomi. Informasi lebih lanjut mengenai Konvensi ini dapat ditemukan di Lembar Fakta No. keturunan atau kebangsaan atau suku bangsa.2 Kedua Kovenan akhirnya diadopsi oleh Majelis Umum pada Desember 1966 dan mulai berlaku pada 1976.berdasarkan ras. dan kebebasan mendasar dalam bidang politik. Berdasarkan pasal 14. sional tentang Hak Sipil dan Politik (KIHSP) serta Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Sosial. Negara-negara juga dapat memilih untuk mengakui kompetensi Komite untuk mempertimbangkan pengaduan dari individual (pasal 14). Bagian II dari kedua Kovenan mencantumkan ketentuan-ketentuan umum yang melarang diskriminasi (pasal 2 (1) Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik dan pasal 2 (2) Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. yang mempunyai maksud atau dampak meniadakan atau merusak pengakuan. Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia Pada saat yang sama dengan disepakatinya Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. pengecualian. budaya atau bidang kehidupan masyarakat yang lain” (pasal 1) Bagian II Konvensi mewajibkan semua Negara Pihak untuk melapor kepada Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial secara berkala. Akhirnya. 12: Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. Pada awalnya. Kedua Kovenan memiliki struktur yang sama dan mengadopsi kata-kata yang sama atau serupa di beberapa pasal. dan politiknya. ekonomi. 4 • Th. Namun. sosial. hak asasi manusia. Apa yang dimaksud dengan diskriminasi rasial? “segala bentuk pembedaan. Bagian I dari kedua Kovenan sama-sama menentukan tentang hak semua orang untuk menentukan nasibnya sendiri dan untuk secara bebas mengelola kekayaan dan sumber daya alamnya.

4 • Th. Pasal 25 memuat jaminan terhadap hak politik: hak untuk mengambil bagian dalam urusan-urusan publik. Sebagai tambahan terhadap pasal 2 (1) dan pasal 3 tentang nondiskriminasi (yang sama dengan di Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. mengijinkan Negara-negara untuk menerima kewajiban-kewajiban tambahan. Sebagai tambahan. yang menentukan kewajiban bagi pendidikan dasar yang bersifat wajib dan tersedia secara cuma-cuma serta untuk mengambil langkah-langkah guna mencapai pendidikan lanjutan dan pendidikan tinggi yang tersedia secara cuma-cuma. seperti halnya Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial. tetapi menyediakan dua pasal (pasal 13 dan pasal 14) bagi dimensi-dimensinya yang berbeda. 15: Komite Hak Asasi Manusia. Sosial. Kovenan ini juga memasukkan hak-hak tambahan. Dua protokol opsional tambahan pada Kovenan. seperti halnya Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. Bagian III dari setiap Kovenan memuat ketentuan-ketentuan yang substantif. seperti hak-hak tahanan di pasal 10. dan Budaya (1966) Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. misalnya. Hak atas kesehatan yang dicakup oleh DUHAM sebagai suatu aspek dari standar kehidupan yang JURNAL HAM • Vol. termasuk suatu forum yang mandiri dan imparsial di mana tuduhan-tuduhan terhadap pelanggaran-pelanggaran semacam itu bisa dimajukan. Informasi lebih lanjut mengenai Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik ini dapat ditemukan di Lembar Fakta No. Bagian IV dari Kovenan mewajibkan semua Negara untuk melapor secara berkala kepada Komite Hak Asasi Manusia. Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (1966) Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik menjelaskan mengenai hak sipil dan politik yang tercantum dalam Deklarasi. dengan pengecualian hak atas kepemilikan dan hak suaka (yang dilindungi terpisah dalam Konvensi tentang Status Pengungsi pada 1951). pasal 26 menjamin kesetaraan di depan hukum dan nondiskriminasi atas perlindungan hukum yang pada umumnya diberlakukan di suatu Negara. Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. dan menegaskan kesetaraan hak laki-laki dan perempuan (pasal 3 kedua Kovenan). Protokol Opsional Pertama 1966 menyediakan hak atas pengaduan individual kepada Komite Hak Asasi Manusia. dan Budaya meniru bahasa yang digunakan dalam DUHAM.dan Budaya). dan Budaya. yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam Kovenan. Sosial. Protokol Opsional Kedua 1989 memajukan penghapusan hukuman mati. yang menentukan langkahlangkah yang harus diambil guna realisasinya secara penuh. dan Budaya). mengenai hak atas pendidikan. Sosial. adil dan berkala. dan perlindungan terhadap minoritas di pasal 27. berkaitan dengan penikmatan hak-hak Kovenan sebagaimana juga pembatasan yang diijinkan terhadap penikmatan tersebut. 2007 108 . Kovenan juga memuat suatu katalog yang panjang mengenai hak dan kebebasan sipil dan politik utama. Oleh karena itu. Sosial. pasal 2 menyediakan hak atas perbaikan (remedy) efektif terhadap pelanggaran hakhak yang dijamin oleh Kovenan. yang menjelaskan lebih lanjut mengenai hak-hak yang tercantum dalam DUHAM. membangun hak-hak yang sesuai dengan DUHAM dalam detil yang lebih lengkap. khususnya melalui pemilihan yang Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi.

kesetaraan dalam hal promosi ke jenjang yang lebih tinggi.. dan Budaya. 4 • Th. Diskriminasi berdasarkan jenis kelamin. Sosial. Pasal 6 mengenai hak atas pekerjaan dilengkapi oleh pasal 7 yang memuat ketentuan tentang hak atas kondisi kerja yang adil dan baik. Prinsip pencapaian secara bertahap mengakui hamJURNAL HAM • Vol. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan mengatur secara detil mengenai apa yang dimaksud dengan pelarangan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin dari perspektif kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. yang menjamin keselamatan dan kesehatan dalam pekerjaan. Konvensi ini memuat berbagai aspek kebijakan dan program dari persoalan-persoalan spesifik. dan Budaya. 16: Komite Hak Ekonomi. Kovenan juga mengakui peran yang lebih luas dari masyarakat internasional (pasal 2 (1). Hak Ekonomi. dan bertarget yang mengarah pada perwujudan penuh hak-hak yang diatur dalam Kovenan. 2007 batan-hambatan yang mungkin dihadapi oleh Negara-negara Pihak berkaitan dengan keterbatasan sumber daya. Konvensi mengadopsi suatu bentuk yang diperagakan dalam Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial. Namun demikian. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (1979) Pada 1979 masyarakat internasional mengadopsi suatu perjanjian baru yang menangani fenomena khusus: diskriminasi terhadap perempuan atas dasar jenis kelamin. dan Budaya utama: Hak atas nondiskriminasi Hak atas pekerjaan Kondisi pekerjaan yang adil dan baik Hak-hak pekerja Hak atas jaminan sosial Perlindungan terhadap keluarga Hak atas standar kehidupan yang layak Hak atas kesehatan Hak atas pendidikan Hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan budaya Salah satu perbedaan yang terlihat diantara kedua Kovenan adalah prinsip pencapaian secara bertahap (progressive realization) di Bagian II dari Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Namun demikian. Sosial. dan Budaya ini dapat ditemukan di Lembar Fakta No. tetapi Konvensi ini memuat sejumlah inovasi yang mencerminkan perkembangan selama lima belas tahun setelah 109 . Informasi lebih lanjut mengenai Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Pasal 2 (1) menyatakan bahwa Negara Pihak “mengambil langkah-langkah. dan pembayaran pada saat hari-hari libur umum.layak. konkret. serta termasuk persoalan-persoalan spesifik yang berkaitan dengan kesehatan seperti kesehatan lingkungan serta penyakit-penyakit menular dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan. dilarang di dalam kedua Kovenan. pasal 22. seperti halnya diskriminasi rasial. dalam Kovenan diberikan pasal tersendiri: pasal 12 yang mengakui hak atas standar tertinggi yang dapat dicapai dalam hal kesehatan fisik dan mental. pasal 11 (2). Sosial. Sosial. Kovenan juga menentukan suatu kewajiban segera (immediate obligation) untuk mengambil langkah-langkah yang disengaja. dengan maksud untuk mencapai secara bertahap perwujudan penuh dari hak-hak yang diakui dalam [Kovenan]”. dan pasal 23) yang dibangun dari prinsip-prinsip di pasal 22 dan 28 DUHAM.] sepanjang tersedia sumber dayanya. [. pasal 15 (4)..

tetapi Konvensi yang memiliki nama yang sama dengan lebih lanjut membangun suatu skema hukum yang ditujukan baik untuk pelarangan maupun penghukuman JURNAL HAM • Vol. pasal 14 adalah satu-satunya ketentuan dalam perjanjian-perjanjian yang menangani persoalan-persoalan khusus yang dihadapi oleh perempuan di daerah-daerah pedesaan. atau lainnya oleh kaum perempuan” (pasal 1) Bagian V dari Konvensi mewajibkan semua Negara Pihak untuk melapor secara berkala kepada Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan. termasuk dengan memusnahkan perilaku. 2007 110 . pasal 12. Apa yang dimaksud dengan diskriminasi terhadap perempuan? “pembedaan. atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan mendasar di bidang politik. kebiasaan. sosial. ekonomi. atau Merendahkan Martabat (1984) Pada 1984 perjanjian lain diadopsi yang mengatur tentang suatu fenomena spesifik: penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi lainnya. Informasi lebih lanjut mengenai Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan ini dapat ditemukan di Lembar Fakta No. yang berakibat atau atau bertujuan untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan. 4 • Th. Pasal 15 dan pasal 16 memperluas hakhak atas kesetaraan di hadapan hukum serta dalam hal perkawinan dan hubungan keluarga. Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam. atau merendahkan martabat. tidak manusiawi. dan pasal 13 menjelaskan tentang hak-hak perempuan atas pekerjan. dan praktik-praktik diskriminasi dalam masyarakat. kesehatan. yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. dan bidang-bidang lain dalam kehidupan ekonomi dan sosial. Seperti halnya Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. 22: Diskriminasi terhadap Perempuan: Konvensi dan Komite. sipil.Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial diadopsi. penikmatan. Tidak Manusiawi. Pasal 7 Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik memuat larangan terhadap penyiksaan dan perlakuan atau penghukuman yang kejam. budaya. Pasal 7 dan pasal 8 merinci kewajiban-kewajiban untuk menjamin partisipasi yang setara antara perempuan dan laki-laki dalam kehidupan publik dan politik. sementara pasal 11. walaupun fenomena ini secara implisit dapat termasuk dalam pelarangan perbudakan dan kerja paksa yang termuat di instrumen lain. Dengan mengaplikasi prinsip-prinsip umum dalam suatu fenomena khusus. Pasal 9 dan pasal 10 memperluas konsep kesetaraan dalam hal kewarganegaraan dan pendidikan. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan memulai dengan mendefinisikan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin. Pasal 6 secara eksplisit mewajibkan Negara-negara untuk memberangus segala bentuk perdagangan perempuan dan eksploitasi pelacuran. pengucilan atau pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin. Pasal-pasal awal mewajibkan Negara-negara untuk menahan diri dari diskriminasi berdasarkan jenis kelamin dalam penyelenggaraan Negara dan mengambil langkah-langkah guna mencapai kesetaraan yang faktual dan legal dalam segala bidang kehidupan.

pasal 4 dan pasal 9 membentuk suatu skema di mana suatu Negara di mana penyiksaan telah terjadi. yang – jika permintaan ekstradisi ditolak – maka negara lain tersebut harus melakukan proses hukum terhadap orang yang dituduh sebagai pelaku tersebut. Berdasarkan pasal 15. maka Negara tersebut memiliki yurisdiksi JURNAL HAM • Vol. dengan persetujuan. Yang secara dekat berkaitan dengan hal ini adalah pelarangan utama yang termuat dalam pasal 3 berkaitan dengan pengembalian atau ekstradisi “non-refoulment”: jika terdapat alasan yang kuat untuk percaya bahwa seorang individu akan mengalami penyiksaan di suatu negara. 4 • Th. termasuk perintah atasan. pasal 16 mewajibkan Negara-negara untuk mencegah perlakuan atau penghukuman yang kejam. atau untuk suatu alasan yang didasarkan pada diskriminasi. dengan kompensasi yang adil dan layak sebagaimana juga rehabilitasi penuh kepada korban penyiksaan. tidak manusiawi atau merendahkan martabat agar tidak meningkat menjadi penyiksaan. pada seseorang untuk memperoleh pengakuan atau keterangan dari orang itu atau dari orang ketiga. Negara tersebut dapat meminta ekstradisi terhadap orang yang dituduh sebagai pelaku dari negara lain. dapat menjustifikasi suatu tindak penyiksaan – larangan ini bersifat absolut. Bagian II dari Konvensi mewajibkan setiap Negara Pihak untuk melapor secara berkala kepada Komite Menentang Penyiksaan. atau mengancam atau memaksa orang itu atau orang ketiga. Sebuah protokol opsional pada Konvensi disepakati pada 2002 dan akan mulai berlaku ketika telah diterima oleh 20 Ne- 111 . Ketimbang memuat tentang “hak atas perbaikan (remedy) yang efektif” yang umum bagi pelanggaran-pelanggaran sebagaimana tercantum dalam perjanjian-perjanjian lain. atau sepengetahuan pejabat pemerintah” (pasal 1). Ketika kebutuhan untuk menghukum penyiksaan mulai melintasi batas negara. deportasi. Berdasarkan pasal 21 dan pasal 22. maka orang tersebut tidak boleh diekstradisi. Kemudian. baik jasmani maupun rohani. dengan menghukumnya atas suatu perbuatan yang telah dilakukan atau diduga telah dilakukan oleh orang itu atau orang ketiga. Setelah mendefinisikan penyiksaan. atau dikembalikan ke negara tersebut. bukti-bukti yang dikumpulkan melalui penyiksaan tidak boleh digunakan di pengadilan. atau yang warga negaranya terlibat sebagai pelaku atau korban. yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam Konvensi. Konvensi menyatakan dengan jelas bahwa tidak ada kondisi apa pun.terhadap praktik-praktik tersebut. apabila rasa sakit dan penderitaan tersebut ditimbulkan oleh. atas hasutan dari. Negara Pihak harus mengkriminalisasi penyiksaan dan menghukumnya secara layak. Pasal 10 dan pasal 11 memuat tentang pendidikan bagi para penegak hukum dan peninjauan terhadap metode-metode mereka. 2007 terhadap tindak pidana tersebut. Tujuan dari ketentuan-ketentuan ini adalah untuk menjamin bahwa tidak ada tempat bersembunyi bagi pelaku tindakantindakan yang dilarang oleh perjanjian. Konvensi Menentang Penyiksaan dalam pasal 12 sampai pasal 14 mengatur hak atas penyelidikan yang segera dan imparsial terhadap tuduhan terjadinya penyiksaan. Apa yang dimaksud dengan penyiksaan? “setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja sehingga menimbulkan rasa sakit atau penderitaan yang hebat. Negara-negara juga dapat memilih menerima kompetensi Komite untuk mempertimbangkan pengaduan dari Negara-negara lain atau pengaduan individual.

Protokol opsional ini menyediakan suatu sistem kunjungan berkala oleh badan-badan internasional dan nasional ke tempat-tempat penahanan dengan tujuan untuk mencegah penyiksaan dan perlakuan kejam lainnya. Konvensi Hak Anak (1989) Perjanjian pertama yang menangani secara komprehensif hak suatu kelompok khusus adalah Konvensi Hak Anak. Oleh karena itu.gara. 3. Kepentingan terbaik bagi seorang anak: bahwa kepentingan terbaik bagi seorang anak harus menjadi pertimbangan utama dalam semua tindakan berkaitan dengan seorang anak (pasal 3). dan perdagangan anak-anak (pasal 35) secara eksplisit diatur dalam Konvensi ini. Mengakui kerentan- an khusus pada anak-anak. dan perkembangan: hak yang melekat pada seorang anak untuk hidup dan kewajiban Negara-negara Pihak untuk menjamin semaksimal mungkin kelangsungan hidup dan perkembangan anak (pasal 6). Informasi lebih lanjut mengenai Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam. sebagai manusia yang berusia kurang dari 18 tahun. misalnya. Pasal 22 menyebutkan mengenai situasi khusus anak-anak pengungsi. perpindahan secara gelap (pasal 11). sebagai prajurit dalam konflik. serta penculikan. 2007 . dan mewajiban mereka untuk tidak merekrut maupun menggunakan anak-anak di bawah usia 15 tahun. kelangsungan hidup. 17: Komite Menentang Penyiksaan. penyalahgunaan obat-obatan (pasal 33). 112 JURNAL HAM • Vol. dan Budaya menentukan bahwa anak-anak berhak atas langkah-langkah perlindungan khusus yang mereka butuhkan sebagai anak-anak. perpisahan dari orang tua (pasal 9). pernyataan kembali hak-hak ini dengan penekanan pada situasi-situasi khusus anak-anak dalam satu dokumen yang komprehensif memberikan suatu kesempatan untuk membentuk ketentuan-ketentuan tambahan yang relevan dengan anak-anak. ketentuan-ketentuan tertentu mencakup hak anak atas identitas (pasal 7 dan pasal 8). jika dimungkinkan. Sosial. 4 • Th. Baik pasal 24 dari Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik dan pasal 10 dari Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. penyatuan kembali dengan keluarga (pasal 10). 2. memang menikmati semua HAM yang diatur dalam perjanjian-perjanjian lain. Nondiskriminasi: kewajiban Negara-negara untuk menghormati dan menjamin hak-hak yang diatur dalam Konvensi bagi setiap anak di wilayah yurisdiksi mereka tanpa diskriminasi dalam bentuk apa pun (pasal 2). penjualan. Sementara anak-anak. perlindungan dari penganiayaan (pasal 19). dan adopsi (pasal 21). Pasal 23 mengatur secara khusus perawatan anak-anak penyandang cacat. Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat dapat ditemukan di Lembar Fakta No. Konvensi Hak Anak mengatur langkahlangkah ini secara lebih detil. Hak hidup. eksploitasi seksual (pasal 34). Pasal 38 menegaskan kembali kewajiban Negara-negara Pihak dalam konflik bersenjata berdasarkan hukum humaniter internasional. perlindungan dari eksploitasi ekonomi (pasal 32). Empat “Prinsip-Prinsip Umum” bagi implementasi hak anak Komite Hak Anak telah mengidentifikasikan empat prinsip-prinsip umum yang termuat dalam Konvensi yang dapat memandu Negara-negara dalam melaksanakan hak anak: 1.

jaminan sosial (pasal 26). transit. Oleh karena itu. kedua. Bagian II Konvensi mewajibkan semua Negara Pihak untuk melapor secara berkala kepada Komite Hak Anak. dan. hak-hak tambahan pekerja migran dan keluarganya yang memiliki dokumen. hak atas JURNAL HAM • Vol. kebebasan berserikat dan berkumpul dengan damai (pasal 15) dan privasi (pasal 16). serta penjualan anak. Persoalan keterlibatan anak-anak dalam konflik bersenjata. dan pronografi anak. pendapat tersebut harus menjadi pertimbangan : sesuai dengan usia dan kematangan anak” (pasal 12). seperti hak atas pemberitahuan konsuler berkaitan dengan penangkapan dan ketentuan-ketentuan khusus berkaitan dengan pelanggaran terhadap hukum migrasi dan pemusnahan dokumen-dokumen identitas serta larangan pengembalian secara kolektif. Sosial. Konvensi mengikuti bahasa dalam Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. apa pun usia dan kematangan mereka. Informasi lebih lanjut. serta hak ekonomi. Konvensi Hak Anak juga menyediakan dasar baru dengan mengelaborasi perspektif anak-anak berkaitan dengan hak sipil dan politik klasik yang termuat dalam Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. apa pun status migrasi mereka. 4 • Th. berkeyakinan. Mayoritas hak-hak dalam Konvensi ini berkaitan dengan Negara penerima. Sebagai tambahan. dan budaya yang diatur dalam Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. dan beragama (pasal 14). dan Budaya. Konvensi ini berlaku bagi seluruh proses migrasi. Konvensi diawali dengan laranganlarangan diskriminasi yang sudah dikenal terhadap penikmatan hak-hak dalam Konvensi. Pendapat anak tentang situasinya sendiri: hak anak untuk mengungkapkan pendapatnya secara bebas “dalam semua hal yang mempengaruhi anak tersebut”. yang dibentuk oleh Konvensi untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. Beberapa pasal menyatakan kembali hak-hak yang dipertimbangkan dalam situasi khusus pekerja migran. yang mengatur tentang hak-hak kelompok tertentu yang membutuhkan perlindungan: semua pekerja migran dan anggota keluarganya. serta saat kembali ke Negara asal atau Negara tempat tinggal asalnya. 2007 113 . 5 (CRC/GC/2003/5) Di luar ketentuan-ketentuan yang menegaskan hak anak dalam hal perlindungan. pelacuran anak. Konvensi Internasional tentang Perlindungan terhadap Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya (1990) Perjanjian HAM yang terbaru adalah Konvensi Pekerja Migran. sosial. Informasi lebih lanjut mengenai Kon- vensi Hak Anak dapat ditemukan di Lembar Fakta No. misalnya. Konvensi kemudian diatur dalam dua bagian hak yang terpisah. akses terhadap informasi (pasal 17). Dalam mendefinisikan hak sipil dan politik pekerja migran. yang diadopsi pada 2000. lihat Komentar Umum Konvensi Hak Anak No. serta standar kehidupan yang layak (pasal 27). kebebasan berpikir. semua pekerja migran dan anggota keluarganya. walaupun hak-hak ini juga memberikan kewajiban-kewajiban khusus kepada Negara-negara pengirim.4. pertama. keberangkatan. termasuk persiapan migrasi. diatur secara detil dalam dua protokol opsional Konvensi. dan juga kesehatan (pasal 24). 10: Hak Anak. dan keseluruhan masa tinggal dan kegiatan yang mendapatkan pembayaran di Negara yang mempekerjakan. anakanak memiliki hak penuh atas kebebasan berekspresi (pasal 13).

dan anak-anak pekerja migran memiliki hak dasar atas akses terhadap pendidikan apa pun status hukum mereka. yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. seperti Konvensi ILO 182 tentang pelarangan bentukbentuk terburuk pekerjaan anak. dan pekerja yang berbasis-proyek. Kebanyakan Negara. perjanjian yang terpisah-pisah. perjanjian-perjanjian lain. dengan sejumlah prinsip yang mengikat mereka bersama-sama. Hak-hak tambahan berlaku bagi pekerja-pekerja yang memiliki dokumen yang sah. selama Negara Pihak menerima kompetensi Komite dalam hal tersebut. dengan hasil bahwa tidak ada satu hak pun yang dapat dinikmati sepenuhnya jika terisolasi. saling berkaitan. Kesalingtergantungan ini adalah salah satu alasan untuk membuat suatu pendekatan yang lebih terkoordinasi oleh badan perjanjian HAM atas kegiatankegiatan mereka. perlindungan khusus bagi kelompok rentan tertentu. perlindungan efektif atas pelanggaran terhadap hak-hak. misalnya. sebenarnya perjanjian-perjanjian tersebut saling melengkapi satu sama lain.kepemilikan. Setiap perjanjian mencantumkan baik secara eksplisit maupun implisit prinsip-prinsip dasar nondiskriminasi dan kesetaraan. Ketimbang sebagai perjanjian- 114 . 2007 Membaca keseluruhan perjanjian sebagai suatu kesatuan Untuk sepenuhnya memahami kewajiban-kewajiban Negara berdasarkan perjanjian-perjanjian ini. yang pada awalnya dilindungi dalam Deklarasi tetapi tidak termuat dalam Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. berdiri sendiri-sendiri. Sebagai tambahan. 4 • Th. secara spesifik disebutkan secara satu persatu bagi pekerja migran. dan pemahaman bahwa manusia adalah mahluk yang aktif dan merupakan partisipan yang terlibat dalam kehidupan publik dalam Negara di mana ia berlokasi dan dalam keputusan-keputusan yang mempengaruhinya. setidaknya harus disediakan perawatan medis sebagaimana hal tersebut disediakan bagi seorang warga negara. atau KonJURNAL HAM • Vol. sosial. adalah penting untuk membaca seluruh perjanjian HAM di mana suatu Negara menjadi pihak sebagai suatu kesatuan. tetapi tergantung pada penikmatan semua hak lainnya. Konvensi mendefinisikan hak ekonomi. dan bagi kelompok pekerja migran tertentu seperti pekerja frontier. Ketujuh perjanjian PBB tidak dimaksudkan menjadi suatu katalog yang pasti mengenai kewajiban HAM suatu Negara. berdasarkan prinsip-prinsip bersama tersebut. ketimbang sebagai obyek pasif dari keputusan-keputusan pihak berwenang. Semua perjanjian tersebut. dan budaya pekerja migran dalam hal situasi khusus mereka. pekerja musiman. di luar keterlibatan mereka dalam sistem perjanjian HAM PBB. saling bergantung. 24: Hak Pekerja Migran. Bagian VII dari Konvensi mewajibkan semua Negara Pihak melapor secara berkala kepada Komite Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. Oleh karena itu. pekerja yang berpindah-pindah (itinerant). dan saling menguatkan. Pasal 76 dan pasal 77 juga menyediakan suatu hak atas pengaduan oleh Negara-negara Pihak lain atau pengaduan individu. khususnya dengan mendorong Negara-negara untuk memandang pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam semua perjanjian tersebut sebagai bagian dari tujuan yang satu. dapat memperluas lebih lanjut perlindungan yang ditawarkan kepada orang-orang dalam yurisdiksi Negara tersebut. termasuk Konvensi tentang Status Pengungsi dan Konvensi-konvensi ILO. Informasi lebih lanjut mengenai pekerja migran dan Konvensinya dapat ditemukan di Lembar Fakta No.

vensi ILO 169 tentang hak-hak masyarakat adat. perjanjian membentuk suatu komite internasional yang terdiri dari ahli-ahli independen guna memonitor. karena pengakuan terhadap hak-hak di atas kertas tidak cukup untuk menjamin bahwa hak-hak ini akan dapat dinikmati dalam praktiknya. maka Negara tersebut memikul suatu kewajiban hukum untuk melaksanakan hak-hak yang diatur dalam perjanjian tersebut. merupakan badan perjanjian pertama yang dibentuk. 4. Social and Cultural Rights/CESCR) dibentuk pada 1987 untuk melaksanakan mandat monitoring Dewan Ekonomi dan Sosial (ECOSOC) berdasarkan Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial (Committee on the Elimination of Racial Discrimination/CERD). 4 • Th. 2007 3. Ketika suatu negara menerima salah satu dari perjanjian-perjanjian ini melalui ratifikasi. perjanjian tersebut mengakui bahwa Negara-negara Pihak membutuhkan dorongan dan bantuan dalam memenuhi penikmatan hak-hak yang diatur dalam perjanjian oleh setiap orang yang ada di Negara tersebut. 115 . 2. Oleh karenanya. yang memonitor pelaksanaan Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial sejak 1969. maupun suksesi. Bagian II menjelaskan pekerjaan badan perjanjian tersebut dan mengapa pekerjaan mereka berkaitan dengan kehidupan orang-orang di seluruh dunia. Komite Hak Ekonomi. Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Committee on the Elimination of Discrimination against Women/ CEDAW) telah memonitor pelaksanaan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan oleh Negara-negara Pihaknya sejak 1982. Apa yang dimaksud dengan badan-badan perjanjian? Ketujuh perjanjian HAM internasional utama menciptakan kewajiban hukum bagi Negara-negara Pihak untuk memajukan dan melindungi HAM di tingkat nasional. Sosial. Semua kewajiban hukum internasional ini harus dipertimbangkan bersama ketika mengevaluasi tanggung jawab suatu Negara untuk melindungi HAM. setiap JURNAL HAM • Vol. Komite Menentang Penyiksaan (Committee against Torture/CAT). melalui berbagai sarana. Tetapi hal ini hanya merupakan langkah pertama. 5. memonitor pelaksanaan Konvensi Menentang Penyik- BAGIAN II Monitoring pelaksanaan standarstandar HAM: badan perjanjian Badan perjanjian adalah komite para ahli yang memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian HAM utama oleh Negara-negara Pihak. Ketika perjanjian pertama diadopsi. aksesi. dan Budaya (Committee on Economic. Pelaksanaan ketujuh perjanjian hak asasi manusia utama dimonitor oleh tujuh badan monitoring perjanjian hak asasi manusia: 1. Komite Hak Asasi Manusia (Committee on Human Rights/HRC) dibentuk pada 1976 untuk memonitor pelaksanaan Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. Sosial. pelaksanaan dari ketentuan-ketentuannya. dan Budaya. dibentuk pada 1987. merupakan instrumen-instrumen yang jelas-jelas memiliki dimensi HAM.

Semua badan perjanjian menerima dukungan dari Perwakilan Perjanjian dan Komisi (Treaties and Commissions Branch) Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) di Jenewa.saan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam. walaupun Komite Hak Asasi Manusia biasanya menyelenggarakan pertemuan bulan Maret-nya di New York. Beberapa badan perjanjian dapat mempertimbangkan pengaduan atau komunikasi individual yang mengadukan bahwa hak-hak mereka telah dilanggar oleh JURNAL HAM • Vol. sebagaimana juga kedua protokol opsionalnya yang berkaitan dengan tentara anak dan eksploitasi anak. Komite Hak Anak (Committee on the Rights of the Child atau CRC). Apa yang dilakukan oleh badan perjanjian? Badan perjanjian melaksanakan sejumlah fungsi yang ditujukan pada monitoring bagaimana perjanjian dilaksanakan oleh Negara-negara Pihak. Semua badan perjanjian diberikan mandat untuk menerima dan mempertimbangkan laporanlaporan yang diserahkan secara berkala oleh Negara-negara Pihak yang memberikan secara detil pelaksanaan ketentuanketentuan dalam perjanjian di negara yang bersangkutan. Badan-badan perjanjian mengeluarkan panduan guna membantu Negara-negara dalam persiapan pembuatan laporannya. mengelaborasi komentar umum yang mengintepretasikan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. 116 . badanbadan perjanjian lainnya pada umumnya bertemua di Kantor Perserikatan BangsaBangsa di Jenewa. yang dinominasikan dan dipilih untuk jangka waktu empat tahun (tetap dan dapat diperbaharui) oleh negara-negara Pihak. Komposisi badan-badan perjanjian CERD HRC CESCR CEDAW CAT CRC CRC CMW : : : : : : : : 18 anggota 18 anggota 18 anggota 23 anggota 10 anggota 18 anggota 18 anggota 10 anggota 7. sejak 1990 telah memonitor pelaksanaan Konvensi Hak Anak oleh Negara-negara Pihaknya. Anggota-anggota dipilih untuk jangka waktu empat tahun. Beberapa. Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat. Komite Pekerja Migran (Committee on Migrant Workers/CMW) menyelenggarakan pertemuan pertamanya pada Maret 2004 dan akan memonitor pelaksanaan Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. serta menyelenggarakan diskusi tentang tema-tema yang berkaitan dengan perjanjian. badan perjanjian juga melaksanakan sejumlah fungsi tambahan yang ditujukan untuk memperkuat pelaksanaan perjanjian oleh Negara-negara Pihak. Pemilihan bagi setengah dari jumlah anggota diselenggarakan setiap dua tahun sekali. 2007 Setiap komite terdiri dari ahli-ahli independen (dengan jumlah anggota antara 10 sampai 23 orang) yang kompetensinya di bidang hak asasi manusia diakui. dengan pengecualian CEDAW yang dilayani oleh Bagian Pengembangan Perempuan (Division for the Advancement of Women atau DAW) di New York. 4 • Th. 6. namun tidak semua. CEDAW bertemu di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York.

4 Model tersebut digunakan dalam Kovenan Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial 1965. badan-badan perjanjian membentuk praktik dan prosedur yang telah terbukti cukup efektif untuk menganalisa sejauh mana Negara telah memenuhi. Pertimbangan terhadap laporan Negara Pihak oleh badan perjanjian Mandat utama badan-badan perjanjian. Walaupun ketujuh badan perjanjian dijelaskan bersama sebagai bagian dari suatu sistem koordinasi perjanjian. Berikut ini diuraikan mengenai kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh badan perjanjian sesuai dengan mandat individual mereka. dan mendorong lebih lanjut pelaksanaan. kewajiban mereka berdasarkan perjanjian HAM di mana mereka menjadi pihak. setiap Negara Pihak juga memiliki kewajiban untuk menyerahkan laporan secara berkala kepada badan perjanjian yang bersangkutan tentang bagaimana hak-hak telah dilaksanakan. 4 • Th. dengan ketentuan bahwa Negara tersebut telah menerima prosedur ini. 2007 4 E/Res/624 B (XXII). Kewajiban Negara untuk melapor Sebagai tambahan kewajiban mereka untuk melaksanakan ketentuan substantif dalam perjanjian.3 sar ini. JURNAL HAM • Vol. Berikut ini diuraikan mengenai elemen-elemen umum yang utama dari proses pertimbangan terhadap laporan-laporan Negara oleh badanbadan perjanjian. adalah memonitor pelaksanaan perjanjian yang bersangkutan melalui peninjauan terhadap laporan-laporan yang diserahkan secara berkala oleh Negara-negara Pihak sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian tersebut. Dalam mandat menda- 3 Mereka yang tertarik pada prosedur yang seleng- kapnya dari suatu badan perjanjian disarankan untuk melihat lembar fakta bagi komite tersebut. 117 . Ide monitoring HAM melalui peninjauan laporan ini berawal dari resolusi Dewan Ekonomi dan Sosial pada 1956 yang meminta Negara-negara Anggota PBB untuk menyerahkan laporan berkala mengenai perkembangan yang dibuat dalam rangka pemajuan HAM di negaranya masing-masing. dan setiap konvensi hak asasi manusia internasional utama setelah itu. prosedur dan praktik dapat berbeda-beda antara satu komite dengan komite lainnya sebagai akibat variasi mandat setiap komite berdasarkan perjanjian dan protokol opsional yang berkaitan. berlaku umum bagi semua komite. 1 Agustus 1956. namun harus dicatat bahwa setiap badan perjanjian adalah suatu komite para ahli yang independen yang memiliki suatu mandat untuk memonitor pelaksanaan suatu perjanjian yang khusus. Walaupun badan perjanjian melanjutkan upaya mereka untuk mengkoordinasikan kegiatannya. kedua Kovenan Internasional 1966. Beberapa badan perjanjian juga dapat melakukan penyelidikan.suatu Negara Pihak.

Laporanlaporan harus memuat langkah-langkah hukum. laporan tersebut disyaratkan setiap empat tahun sekali. Sosial. administratif. dan Budaya* Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan Konvensi Menentang Penyiksaan Konvensi Hak Anak Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Penjualan Anak (CRC-OPSC) Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Tentara Anak (CRC-OPAC) Laporan awal dalam 1 tahun Laporan berkala setiap 2 tahun 2 tahun 1 tahun 1 tahun 1 tahun 2 tahun 1 tahun 5 tahun 4 tahun+ 4 tahun 4 tahun 5 tahun 5 tahun 2 tahun 5 tahun atau bersama dengan laporan CRC berikutnya 5 tahun atau bersama dengan laporan CRC berikutnya 2 tahun * Pasal 17 dari Kovenan tidak menentukan adanya pelaporan yang bersifat berkala. Laporan itu kemudian harus ditindaklanjuti dengan laporan berkala sesuai dengan ketentuan dalam 118 . tetapi pasal ini memberikan Dewan Ekonomi dan Sosial diskresi untuk membuat program pelaporannya sendiri. Pada umumnya. 2007 Guna memenuhi kewajiban pelaporannya. dan Budaya serta Konvensi Hak Anak). Sosial. setiap Negara Pihak harus menyerahkan suatu laporan awal yang komprehensif biasanya satu tahun setelah perjanjian mulai diberlakukan di Negara tersebut (dua tahun dalam kasus Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. perjanjian (biasanya antara empat sampai lima tahun) mengenai langkah-langkah lebih lanjut yang telah diambil guna melaksanakan perjanjian tersebut.Periode pelaporan berdasarkan perjanjian-perjanjian Perjanjian Kovenan Internasioanl tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. 4 • Th. dan yudisial yang diambil oleh Negara untuk memberikan dampak pada ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. + Pasal 41 dari Kovenan memberikan diskresi kepada Komite Hak Asasi Manusia untuk menentukan kapan laporan berkala harus diserahkan. dan juga harus menyebutkan faktor-faktor atau hambatan-hambatan yang JURNAL HAM • Vol.

(b) Memonitor perkembangan yang dibuat dalam rangka pemajuan penikmatan hak-hak yang diatur dalam perjanjian dalam konteks pemajuan HAM secara umum. Dalam rangka menjamin bahwa laporan memuat informasi yang cukup bagi komite agar dapat melaksanakan pekerjaannya. Proses pelaporan harus mendorong dan memfasilitasi partisipasi publik. dan Budaya No. (d) Menilai kebutuhan dan tujuan di masa mendatang bagi pelaksanaan perjanjian yang lebih efektif. tidak hanya sebagai suatu pemenuhan kewajiban internasional. 4 • Th. Beberapa Negara memasukkan komentar dan kritik dari organisasi nonpemerintah dalam laporan mereka. tetapi juga sebagai suatu kesempatan untuk memeriksa kondisi perlindungan HAM di dalam yurisdiksi mereka dalam rangka perencanaan dan pelaksanaan kebijakan. Tujuan pelaporan Negara-negara Pihak didorong untuk melihat proses persiapan pembuatan laporan mereka bagi badan perjanjian. 1. dan keterlibatan yang konstruktif dari masyarakat sipil yang dilakukan dalam semangat kerja sama dan saling menghormati di tingkat nasional. 2007 119 . (c) Mengidentifikasi persoalan dan kegagalan dalam pendekatannya untuk melaksanakan perjanjian. Bagaimana setiap badan perjanjian memeriksa laporan suatu Negara Pihak? Walaupun terdapat variasi dalam prosedur yang diadopsi oleh setiap komite dalam mempertimbangkan laporan suatu Negara Pihak. dan apa yang harus dilakukan lebih lanjut. tahap-tahap mendasar berikut ini adalah umum bagi semua badan 5 Tujuan-tujuan ini diambil dari dokumen HRI/MC/ 2004/3. Proses persiapan pembuatan laporan menawarkan suatu kesempatan bagi setiap Negara Pihak untuk: (a) Melakukan peninjauan yang komprehensif mengenai langkah-langkah yang telah diambil untuk mengharmonisasikan hukum dan kebijakan nasional dengan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian HAM yang bersangkutan di mana Negara tersebut menjadi pihak. Panduan-panduan ini dihasilkan dalam suatu dokumen kompilasi (HRI/GEN/3) yang diperbaharui secara berkala. penilaian publik terhadap kebijakan-kebijakan dan program-program pemerintah. beberapa menyerahkan laporannya terlebih dahulu kepada parlemen untuk dikritisi sebelum akhirnya diserahkan kepada Sekretaris Jenderal PBB guna dipertimbangkan oleh badan perjanjian yang bersangkutan. dan (e) Merencanakan dan membentuk kebijakan yang lebih layak guna mencapai tujuan-tujuan tersebut. Sosial.dihadapi dalam melaksanakan hak-hak tersebut. JURNAL HAM • Vol. guna memajukan dan melindungi HAM di negaranya.5 Dilihat dari hal tersebut. setiap badan perjanjian mengeluarkan panduan mengenai bentuk dan isi laporan Negara. sistem pelaporan adalah suatu alat yang penting bagi suatu Negara dalam melakukan penilaian mengenai apa yang telah dicapai. Penjelasan lebih lengkap mengenai tujuantujuan pelaporan dapat ditemukan di komentar umum Komite Hak Ekonomi. Badan-badan perjanjian saat ini sedang dalam proses menyiapkan suatu draft panduan yang terharmonisasi dalam pelaporan berdasarkan perjanjian HAM internasional. dengan tujuan untuk memajukan penikmatan semua hak yang dilindungi oleh konvensi yang bersangkutan.

Informasi yang lebih lengkap mengenai prosedur badan perjanjian tertentu dapat ditemukan di lembar fakta yang berkaitan dengan komite tersebut. Konvensi Hak Anak.perjanjian. dan Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. dan Konvensi Menentang Penyiksaan. Siklus pelaporan berdasarkan perjanjian hak asasi manusia 1. Negara Pihak dapat menyerahkan jawaban tertulis terhadap daftar persoalan dan pertanyaan 4. Negara Pihak menyerahkan laporannya 6. 2007 . komisi nasional. Sosial. Sosial. dan Budaya) dan berulang sesuai dengan periodenya: setiap dua tahun untuk Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. yang dapat diakses dari situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR). Prosedur tindak lanjut pelaksanaan rekomendasi badan perjanjian 2. Badan perjanjian mengeluarkan kesimpulan pengamatannya mengenai laporan. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. setiap empat tahun untuk Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. Dialog konstruktif antara Komite dan delegasi Negara Pihak pada saat pertemuan Siklus dimulai satu tahun setelah perjanjian mulai diberlakukan (dua tahun untuk Konvensi Hak Anak dan Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. dan LSM 5. Keba- nyakan komite juga menyebutkan metode kerja mereka dalam laporan tahunannya. 4 • Th. 120 JURNAL HAM • Vol. Badan perjanjian memberikan daftar persoalan dan pertanyaan kepada Negara Pihak berdasarkan persoalan yang ditimbulkan oleh laporan Kesempatan bagi masukan dari sistem PBB. dan Budaya. termasuk rekomendasi 3. dan setiap lima tahun untuk Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi.

informatif. 4 • Th. JURNAL HAM • Vol. Penyerahan laporan awal Laporan harus diserahkan kepada Sekretaris Jenderal dalam salah satu dari enam bahasa resmi PBB. Mungkin saja terdapat penundaan sebelum suatu laporan dapat dipertimbangkan. karena beberapa badan perjanjian menghadapi backlog sampai dua tahun masa laporan yang menunggu untuk dipertimbangkan. Apa yang dimaksud dengan dokumen inti/utama? Beberapa informasi – fakta-fakta mendasar dan statistik tentang negara. yang diserahkan kepada Negara Pihak. gara. sistem konstitusi dan hukumnya. Banyak laporan bentuknya panjang. Daftar persoalan menyediakan suatu kesempatan kepada komite untuk meminta informasi tambahan dari Negara Pihak yang mungkin tidak dimasukkan dalam laporannya atau yang dipandang perlu oleh anggota komite guna menilai negara tersebut berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian di negara yang bersangkutan. Badan-badan perjanjian saat ini sedang mempertimbangkan suatu proposal untuk memperluas ruang lingkup dokumen inti/utama mengenai informasi tentang hak-hak substantif yang relevan dengan lebih dari satu perjanjian. Pada saat diproses. komite membuat suatu daftar persoalan dan pertanyaan. yang menimbulkan pertanyaan apakah harus diberlakukan pembatasan jumlah halaman. tetapi Negara-negara harus memastikan bahw ainformasi di dokumen inti/utamanya sudah ter-up-to-date atau mereka harus menyerahkan laporan yang baru.1. 2007 121 . dan diterjemahkan ke bahasabahasa kerja komite. Laporan tersebut akan diproses oleh Sekretariat. Daftar persoalan dan pertanyaan Sebelum pertemuan di mana komite akan mempertimbangkan laporan secara formal. Banyak Negara Pihak menganggap bahwa daftar persoalan dapat menjadi panduan yang berguna bagi kemungkinan adanya pertanyaan-pertanyaan yang muncul ketika laporan mereka dipertimbangkan secara formal. Daftar persoalan juga mengijinkan komite untuk memulai proses pengajuan pertanyaan kepada Negara Pihak secara lebih detil mengenai persoalanpersoalan khusus yang muncul dalam laporan yang menjadi perhatian utama para anggota komite. dan konkret. dan lain-lain – dicantumkan dalam laporan Negara-negara kepada badan perjanjian yang berkaitan dengan semua perjanjian. Hal ini mengijinkan delegasi Negara Pihak untuk mempersiapkan diri dan membuat dialog antara Negara Pihak dengan komite menjadi lebih konstruktif. Guna menghindari Negaranegara harus mengulang-ulang informasi yang sama di setiap laporan. Kebanyakan komite mencoba untuk memberikan prioritas pada laporan awal atau laporan dari Negara-negara yang tidak melaporkan dalam jangka waktu yang lama. Akan terdapat banyak variasi bentuk laporan. Hal ini membantu mengurangi volume laporan Negara-ne2. pada 1991 badan-badan perjanjian memutuskan mengijinkan Negara untuk menyerahkan suatu “dokumen inti/utama” yang membentuk laporan awal yang sama bagi setiap laporan badan perjanjian mana pun. laporan dijadwalkan untuk pertimbangan komite pada salah satu pertemuan berkalanya.

kecuali jika komite secara terbuka memutuskan bahwa suatu dokumen harus disediakan dalam semua bahasa resmi. dan sangat penting ketika terdapat penundaan yang cukup panjang antara tanggal laporan asli diserahkan dan tanggal ketika komite akhirnya dapat mempertimbangkan laporan tersebut secara formal. Tergantung pada badan perjanjiannya. 2007 122 . dan media massa. dan Budaya: A. Kebanyakan komite mengalokasikan waktu di pertemuan plenonya untuk melakukan dengar pendapat dengan badan-badan PBB dan kebanyakan juga menerima organisasi nonpemerintah. Daftar persoalan dibuat sebelum sesi pertemuan di mana laporan akan dipertimbangkan. F & S. Komite Hak Asasi Manusia dan Komite Hak Anak: E. Dokumen-dokumen komite pada umumnya hanya diterjemahkan ke bahasa kerja.Bahasa resmi dan bahasa kerja Bahasa resmi Perserikatan BangsaBangsa adalah bahasa Arab (A). bahasa Cina (C). Tanggapan tertulis terhadap daftar persoalan Seringkali Negara Pihak dapat memberikan tanggapan terhadap daftar persoalan dan pertanyaannya dalam bentuk tertulis. 4 • Th. Sumber-sumber informasi lain yang tersedia bagi komite Sebagai tambahan terhadap laporan Negara Pihak. daftar persoalan dibuat baik dalam kelompok kerja prapertemuan yang diselenggarakan segera sebelum atau setelah suatu sesi pertemuan berkala atau pada saat pertemuan-pertemuan pleno. organisasi antarpemerintah lainnya. komite memeriksa suatu laporan. 4. E. Sosial. persoalan-persoalan yang dimunculkan oleh organisasi-organisasi ini dapat dimasukkan dalam daftar persoalan atau menginformasikan pertanyaan yang diajukan oleh anggota-anggota ketika bertemu dengan delagasi Negara. Badan-badan perjanjian telah mengadopsi semua bahasa tersebut sebagai bahasa resmi mereka. kecuali Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial yang tidak menggunakan bahasa Arab. Berdasarkan semua informasi yang tersedia. 3. R &S. termasuk badan-badan PBB. institusi-institusi akademis. F. organisasi nonpemerintah (baik internasional maupun nasional). Lima komite juga mengadopsi sejumlah kecil bahasa kerja sebagai berikut: Komite Hak Ekonomi. badan perjanjian dapat menerima informasi mengenai situasi HAM di suatu negara dari sumbersumber lain. R & S. Tergantung pada kapan informasi tersebut diserahkan. Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dan Komite Menentang Penyiksaan: E. bahasa Inggris (E). R. bahasa Perancis (F). dan Komite Menentang Penyiksaan tidak menggunakan bahasa Arab dan bahasa Cina. Kebanyakan komite menunjuk salah seorang dari anggotanya untuk bertindak sebagai pelapor negara (country rapporteur) untuk memimpin pembuatan daftar persoalan untuk suatu negara tertentu. Tanggapan tertulis akan menjadi suplemen atau lampiran pada laporannya. bahasa Rusia (R). Sejumlah perjanjian menyediakan suatu peran khusus bagi badan-badan PBB tertentu dalam proses pertimJURNAL HAM • Vol. dan bahasa Spanyol (S).

Tujuannya adalah untuk terlibat dalam suatu dialog konstruktif guna membantu Pemerintah dalam upayanya melaksanakan perjanjian secara penuh dan seefektif mungkin. tetapi diciptakan untuk memonitor pelaksanaan perjanjian serta menyeJURNAL HAM • Vol. Kesimpulan pengamatan dan rekomendasi Pemeriksaan terhadap laporan mencapai puncaknya pada adopsi “kesimpulan pengamatan atau concluding observation” (disebut sebagai “komentar kesimpulan atau“concluding comment” oleh beberapa komite) dimaksudkan untuk memberikan nasihat praktis kepada Negara yang melaporkan dan mendorong langkah-langkah lebih lanjut dalam melaksanakan hak-hak yang tercantum dalam perjanjian. Negara tidak diwajibkan mengirimkan delegasi untuk menghadiri sesi pertemuan. badan perjanjian mengakui langkahlangkah positif yang telah diambil oelh Negara. Pasal 45 Konvensi Hak Anak secara spesifik menyebutkan peran Dana Bantuan Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Children’s Fund atau UNICEF). Pertimbangan formal terhadap laporan: dialog konstruktif antara badan perjanjian dengan Negara Pihak Semua badan perjanjian telah membangun praktik. Dalam concluding observation-nya. Pelaksanaan kesimpulan pengamatan dan penyerahan laporan berkala berikutnya 123 . Negaranegara diminta untuk mempublikasikan concluding observation di negaranya guna menginformasikan pada debat publik mengenai bagaimana cara bergerak maju dalam pelaksanaan HAM. Prosedur ini tidak bertentangan dan komite tidak melakukan penilaian mengenai Negara Pihak berdasarkan prosedur ini. 4 • Th. 2007 diakan dorongan dan nasihat kepada Negara-negara. bersama dengan badan-badan PBB lainnya. Beberapa badan perjanjian dapat melanjutkan pertimbangan terhadap laporan suatu Negara Pihak walaupun tanpa kehadiran delegasi dari Negara tersebut.bangan terhadap laporan-laporan. Gagasan mengenai dialog yang konstruktif mencerminkan kenyataan bahwa badan-badan perjanjian bukan merupakan badan yudisial. sementara badan perjanjian lainnya membutuhkan kehadiran delegasi. walaupun mereka didorong untuk melakukannya. tetapi juga mengidentifikasi bidang-bidang yang membutuhkan tindakan lebih lanjut guna mengefektifkan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. 7. Badan perjanjian mencoba membuat rekomendasinya se-konkret dan se-praktis mungkin. 5. Pasal 74 dari Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya juga memungkinkan partisipasi Kantor/Organisasi Buruh Internasional (International Labour Office/Organization atau ILO). yang dimulai oleh Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. mengundang Negara-negara Pihak untuk mengirimkan delegasinya untuk menghadiri pertemuan di mana komite mempertimbangkan laporannya guna mengijinkan mereka menanggapi pertanyaan anggota komite dan menyediakan informasi tambahan mengenai upaya mereka untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian yang bersangkutan. 6.

telah diselenggarakan di sejumlah negara guna membangun dialog bagi tindak lanjut concluding observations. dan komite telah terbukti berhasil dalam mengangkat persoalan berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian di banyak Negara. dan di Bangkok. badan perjanjian telah mulai memperkenalkan prosedur guna menjamin tindak lanjut yang efektif terhadap concluding observationsnya. dan badan-badan lainnya yang tertarik dengan hal ini. maka proses pelaksanaan hak-hak yang termuat dalam perjanjian membutuhkan upaya-upaya berkelanjutan dari Negara-negara. Lokakarya pertama diselenggarakan di Quito. Laporan-laporan dari lokakarya ini tersedia di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR). Lokakarya-lokakarya lebih lanjut sedang dalam tahap persiapan untuk badan-badan perjanjian lainnya. yang membawa siklus pelaporan ke titik awalnya. tetapi harus memuat semua informasi yang dibutuhkan oleh komite untuk melanjutkan pekerjaan monitoringnya terhadap kelanjutan pelaksanaan perjanjian di negara yang bersangkutan.Adopsi concluding observation oleh komite mengakhiri pertimbangan formal terhadap laporan. pengadilan. Namun demikian. Negara diminta untuk menyerahkan laporan lebih lanjut kepada badan perjanjian dalam jangka waktu tertentu. organisasi nonpemerintah. Pentingnya tindak lanjut terhadap rekomendasi badan perjanjian Badan perjanjian tidak memiliki sarana untuk menegakkan rekomendasi mereka. dan oleh karenanya dapat dinyatakan. Hal ini disebut sebagai “laporan berkala”. Laporan berkala pada umumnya tidak sepanjang dan se-komprehensif laporan awal. 2007 . Setelah penyerahan laporan awal. kebanyakan Negara memperhatikan dengan serius proses pelaporan ini. Beberapa anggota badan perjanjian telah melakukan kunjungan ke negara-ne- 124 JURNAL HAM • Vol. tetapi prosesnya tidak berhenti di situ. sebagaimana juga perwakilan komisi-komisi nasional hak asasi manusia. Lokakarya tindak lanjut Lokakarya regional yang melibatkan perwakilan Negara-negara yang laporannya baru saja dipertimbangkan oleh suatu badan perjanjian. Karena disadari. Dua lokakarya berfokus pada concluding observations Komite Hak Anak telah diselenggarakan di Damaskus. Sebuah elemen penting dalam laporan berkala adalah pelaporan kembali kepada komite mengenai langkah-langkah yang telah diambil oleh Negara Pihak berkaitan dengan pelaksanaan rekomendasi badan perjanjian dalam concluding observation di laporan sebelumnya. Dalam rangka membantu Negara dalam melaksanakan rekomendasinya. Republik Arab Syria. 4 • Th. Beberapa komite menyebutkan dalam concluding observations-nya agar Negara melaporkan kembali ke negaranya atau menindaklanjuti pelapor (rapporteur) dalam jangka waktu yang disepakati mengenai langkah-langkah yang diambil sebagai tanggapan terhadap rekomendasi spesifik atau “keprihatinan utama”. Ekuador pada Agustus 2002 mengenai concluding observations Komite Hak Asasi Manusia. Thailand. bahwa ketentuan-ketentuan dalam suatu perjanjian tidak sepenuhnya bisa dilaksanakan. Rapporteur kemudian melaporkan kembali kepada komite.

Negara-negara dapat meminta bantuan teknis dari Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) dan Divisi Pengembangan Perempuan (DAW) ketika mereka menghadapi kesulitan tertentu. Namun demikian.gara. 125 . atau bahkan dalam beberapa kasus gagal melaporkan. Negaranegara juga harus membuat respon terhadap daftar persoalan dan mempersiapkan diri untuk menghadiri pertemuan badan perjanjian. sebagaimana kewajiban-kewajiban lainnya yang muncul dari ratifikasi terhadap perjanjian internasional. Informasi dapat diterima dari rekanan PBB dan organisasi nonpemerintah serta. komite akan mengeluarkan concluding observations-nya. termasuk rekomendasi. Tetapi. Badan perjanjian mengakui kesulitan yang dihadapi oleh banyak Negara dalam memenuhi kewajiban pelaporan mereka. Komite dapat membuat daftar persoalan dan pertanyaan untuk Negara Pihak. “Prosedur Peninjauan” – pertimbangan terhadap pelaksanaan di suatu negara jika tidak terdapat laporan Berdasarkan prosedur ini. Negara yang telah meratifikasi ketujuh perjanjian HAM utama diharapkan membuat lebih dari 20 laporan HAM dalam jangka waktu 10 tahun: berarti satu setiap enam bulannya. serta kemudian mungkin harus menyerahkan laporan lebih lanjut mengenai tindak lanjut terhadap concluding observations. pemberitahuan oleh komite bahwa komite berniat untuk mempertimbangkan situasi di suatu negara tanpa adanya suatu laporan adalah cukup untuk mendorong Negara Pihak agar membuat laporan dalam jangka waktu yang pendek. maka badan perjanjian telah mengadopsi prosedur untuk mempertimbangkan situasi di suatu negara tanpa adanya laporan – seringkali disebut sebagai “prosedur peninjauan” (“review procedure”). atas undangan Negara Pihak. dan telah berupaya mencari cara-cara memfasilitasi tugas ini (lihat Bagian III di bawah). dalam hal Negara telah gagal melaporkan dalam jangka waktu yang panjang JURNAL HAM • Vol. maka kewajiban untuk melapor adalah kewajiban hukum internasional yang dipilih oleh Negara secara bebas. sehingga mungkin tidak mengherankan jika Negara-negara seringkali terlambat dalam jadwal pelaporan mereka. komite yang bersangkutan dapat melanjutkan dengan pemeriksaan kondisi pelaksanaan perjanjian yang bersangkutan oleh Negara Pihak walaupun belum ada satu pun laporan Negara yang diterima. Hal ini menjadi beban yang sangat besar. untuk menindaklanjuti laporan dan pelaksanaan concluding observations. Prosedur peninjauan hanya digunakan untuk kasus-kasus istimewa. berdasarkan informasi tersebut dan dialog dengan Negara Pihak. 2007 dan tidak merespon permintaan komite untuk melapor. Apa yang terjadi jika Negara tidak melapor? Pelaporan pada badan perjanjian dapat dianggap sebagai suatu tantangan oleh Negara-negara Pihak. Badan perjanjian mencoba mendorong Negara-negara untuk melaporkan dengan tepat waktu. dalam banyak kasus. 4 • Th. yang diundang untuk mengirim delegasinya guna menghadiri pertemuan. Peninjauan dapat dilanjutkan bahkan jika Negara Pihak menolak mengirimkan delegasi ke pertemuan.

Sosial. Pengaduan juga dapat diajukan oleh pihak ketiga atas nama individuindividu. Sosial. dan Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan) dapat mempertimbangkan pengaduan atau komunikasi dari individu yang percaya bahwa hak-hak mereka telah dilanggar oleh Negara Pihak: Komite Hak Asasi Manusia dapat mempertimbangkan komunikasi individual terhadap Negara Pihak pada Protokol Opsional Pertama Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. dan Budaya sedang dalam pertimbangan dan dapat menghasilkan keputusan bahwa Komite Hak Ekonomi. Komite Menentang Penyiksaan. 2007 126 . 6 Saat ini protokol opsional pada Kovenan Internasio- nal tentang Hak Ekonomi. dengan persyaratan bahwa Negara tersebut telah mengakui kompetensi komite untuk menerima komunikasi semacam itu. empat badan perjanjian (Komite Hak Asasi Manusia. Konvensi Pekerja Migran juga memuat ketentuan-ketentuan yang mengijin- kan komunikasi individual untuk dipertimbangkan oleh Komite Pekerja Migran. Walaupun dalam beberapa hal prosedur ini bersifat “quasi-yudisial”. 4 • Th. ketentuan-ketentuan ini akan mulai berlaku ketika sepuluh Negara Pihak telah membuat deklarasi yang diperlukan berdasarkan pasal 77.Pertimbangan terhadap pengaduan individual yang menyatakan bahwa hak-hak mereka telah dilanggar oleh Negara Pihak Dalam kondisi tertentu. keputusan-keputusan komite tidak bisa dipaksakan. selama mereka telah memberikan ijin tertulis (written consent) atau ketika mereka tidak dapat memberikan ijin semacam itu. Namun dalam banyak kasus. JURNAL HAM • Vol.6 Prosedur ini bersifat opsional (pilihan) bagi Negara-negara Pihak: badan perjanjian tidak bisa mempertimbangkan pengaduan berkaitan dengan suatu Negara Pihak kecuali jika Negara tersebut telah secara terbuka mengakui kompetensi badan perjanjian yang bersangkutan. Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan dapat mempertimbangkan komunikasi individual terhadap Negara Pihak pada Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. dan Budaya diberikan mandat untuk mempertimbangkan komunikasi individual berkaitan dengan Kovenan. baik melalui deklarasi berdasarkan pasal yang relevan dari perjanjian atau dengan menerima protokol opsional yang relevan. Komite Menentang Penyiksaan dapat mempertimbangkan komunikasi individual terhadap Negara Pihak yang telah membuat deklarasi yang disyaratkan berdasarkan pasal 22 Konvensi Menentang Penyiksaan. Siapa yang dapat mengadu? Setiap individu yang menyatakan bahwa hak-haknya berdasarkan kovenan atau konvensi telah dilanggar oleh Negara Pihak pada perjanjian tersebut dapat membawa komunikasinya di hadapan komite yang bersangkutan. dan Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dapat mempertimbangkan komunikasi individual terhadap Negara Pihak yang telah membuat deklarasi yang disyaratkan berdasarkan pasal 14 Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. Negara-negara Pihak telah melaksanakan rekomendasi-rekomendasi Komite dan memberikan perbaikan (remedy) kepada si pengadu.

Dalam hal Konvensi Menentang Penyiksaan. Negara mana pun yang memilih untuk menghindari prosedur dapat memutuskan untuk menerima prosedur tersebut di masa mendatang. 2. 3. Prosedur penyelidikan Pasal 20 Konvensi Menentang Penyiksaan dan pasal 8 sampai pasal 10 Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan menetapkan prosedur mendasar berikut ini bagi komite yang bersangkutan untuk melakukan penyelidikan yang mendesak: 1. atau sistematis terhadap konvensi oleh suatu Negara Pihak. JURNAL HAM • Vol. Negara mana saja yang dapat menjadi subyek penyelidikan? Penyelidikan hanya dapat dilakukan terhadap Negara-negara Pihak yang telah mengakui kompetensi komite yang bersangkutan. 7: Prosedur Pengaduan atau di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR). Negara-negara Pihak pada Konvensi Menentang Penyiksaan dapat menghindarkan diri dengan membuat deklarasi berdasarkan pasal 28. Komite dapat memutuskan untuk menugaskan satu atau lebih anggotanya guna melakukan penyelidikan secara konfidensial dan melaporkan kepada komite dengan segera. dalam hal Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. Prosedur dapat dilakukan jika komite menerima informasi yang dapat dipercaya tentang indikasi bahwa hak-hak yang termuat dalam konvensi telah dilanggar secara sistematis oleh Negara Pihak. 4 • Th. informasi harus memuat indikasi-indikasi yang kuat bahwa penyiksaan telah dipraktikkan secara sistematis di wilayah suatu Negara Pihak. Pada saat ratifikasi atau aksesi. dua badan perjanjian – Komite Menentang Penyiksaan dan Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan – dapat melakukan penyelidikan jika komite menerima informasi yang dapat dipercaya mengenai indikasi yang kuat bahwa telah terjadi pelanggaran yang serius.Bagaimana saya mengadu? Informasi lebih lengkap mengenai prosedur pengaduan individual dari badanbadan perjanjian. Berdasarkan hasil pengamatan Negara Pihak dan informasi lain yang tersedia yang dapat dipercaya. informasi harus mengindikasikan pelanggaran yang berat atau sistematis terhadap hak-hak yang diatur dalam Konvensi oleh Negara Pihak. Langkah pertama adalah komite mengundang Negara Pihak untuk bekerja sama dalam pemeriksaan mengenai informasi tersebut dengan menyerahkan hasil pengamatan. dapat ditemukan di Lembar Fakta No. jika hal tersebut dibenarkan Penyelidikan Atas dasar inisiatif mereka. berat. 2007 127 . Negara-negara Pihak pada Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan juga dapat meniadakan kompetensi Komite yang bersangkutan dengan membuat deklarasi berdasarkan pasal 10. termasuk nasihat dan instruksi tentang bagaimana cara mengadu. Prosedur Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan secara spesifik mengijinkan kunjungan ke wilayah Negara yang bersangkutan.

5. yang akan diberlakukan ketika telah memiliki 20 Negara Pihak. Hasil-hasil temuan dari anggota (atau anggota-anggota) komite kemudian diperiksa oleh komite dan diserahkan kepada Negara Pihak bersama dengan komentar atau saran/rekomendasi yang selayaknya. Pengaduan antarnegara Walaupun prosedur ini tidak pernah digunakan. kunjungan berkala ke tempat-tempat penahanan yang dilakukan oleh badan internasional dan nasional tambahan. Negara-negara Pihak harus membentuk suatu mekanisme pencegahan nasional yang independen (seperti Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. atau komisi parlementer) yang akan melakukan kunjungan berkala ke tempat-tempat penahanan sesuai dengan Protokol tersebut. lihat Lembar Fakta No. dapat melakukan kunjungan-kunjungan ke tempat-tempat penahanan di semua Negara Pihak. yang disebut “Subkomite Pencegahan”. 2007 Dalam kedua kasus. komentar. 4 • Th. kunjungan juga diperkirakan dapat dilakukan berdasarkan prosedur Konvensi Menentang Penyiksaan. Bersama dengan badan internasional ini. 6. yang terdiri dari sepuluh praktisi independen di bidang administrasi peradilan atau penahanan. 17: Komite Menentang Penyiksaan. komite dapat memutuskan memasukkan suatu kesimpulan akhir (summary account) dari hasil prosiding tersebut di laporan tahunannya. Informasi lebih lanjut megnenai OPCAT dan Subkomite Pencegahan. OPCAT membentuk suatu sistem 128 . Berdasarkan konsultasi dengan Negara Pihak. Protokol Opsional Konvensi Menentang Penyiksaan dan Subkomite Pencegahan Protokol Opsional Konvensi Menentang Penyiksaan (OPCAT). Suatu badan internasional yang baru. 4. memperkenalkan suatu mekanisme baru guna pencapaian tujuan-tujuan Konvensi yaitu mencegah penyiksaan dan bentuk-bentuk perlakuan kejam lainnya. dan rekomendasi komite tersebut dengan hasil pengamatannya sendiri dan untuk menginformasikan kepada komite mengenai langkah-langkah yang telah diambil sebagai respon terhadap penyelidikan jika diminta oleh Komite. Subkomite akan menyerahkan laporan konfidensialnya yang memuat rekomendasi kepada Negara-negara Pihak.dan dilakukan dengan persetujuan Negara. Pasal 21 Konvensi Menentang Penyiksaan dan pasal 76 Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Pekerja Migran dan Semua Anggota Keluarganya menetapkan suatu prosedur bagi komite yang bersangkutan untuk mempertimbangkan pengaduan dari satu Negara pihak yang menganggap bahwa Negara Pihak lain tidak memenuhi ketentuan-ketentuan dalam konvensi. lembaga ombudsman. Prosedur Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan menetapkan tenggat waktu enam-bulan kepada Negara Pihak untuk menanggapi hasil temuan. empat dari perjanjian HAM memuat ketentuan-ketentuan yang mengijinkan Negara-negara Pihak untuk mengajukan pengaduan kepada badan perjanjian tentang tuduhan pelanggaran terhadap perjanjian oleh Negara Pihak lain. prosedur ini bersifat rahasia dan harus diperoleh kerja sama dari Negara Pihak selama keseluruhan prosiding. Prosedur ini mensyaratkan bahwa perbaikan di tingkat domestik (domestic remedies) JURNAL HAM • Vol.

harus exhausted (sudah dilakukan seluruhnya tanpa membuahkan hasil) lebih dahulu dan prosedur hanya berlaku pada Negaranegara Pihak yang telah membuat deklarasi menerima kompetensi komite dalam hal ini. Pasal 11 sampai pasal 13 Kovenan Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dan pasal 41 sampai pasal 43 Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik menetapkan suatu prosedur yang lebih terperinci untuk menyelesaikan pertikaian antarNegara Pihak mengenai pemenuhan satu Negara terhadap kewajibannya berdasarkan konvensi/kovenan yang relevan melalui pembentukan suatu komisi konsiliasi ad hoc. Prosedur ini juga mensyaratkan bahwa perbaikan domestik (domestic remedies) harus exhausted lebih dahulu. Prosedur ini pada umumnya tidak hanya berlaku bagi semua Negara Pihak pada Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial, tetapi hanya berlaku bagi Negara-negara Pihak pada Kovenan Internasioal tentang Hak Sipil dan Politik yang telah membuat deklarasi menerima kompetensi Komite dalam hal tersebut.

tional Court of Justice) jika pihak-pihak yang bertikai gagal menyepakati ketentuan-ketentuan dalam arbitrasi dalam jangka waktu enam bulan. Negara-negara Pihak dapat menarik diri dari prosedur semacam ini dengan membuat deklarasi pada saat ratifikasi atau aksesi, yang mana sesuai dengan prinsip timbal-balik (resiprositas), maka mereka tidak diperkenankan mengajukan kasus-kasus menentang Negara Pihak lainnya. Prosedur ini, seperti halnya prosedur pengaduan antarNegara, tidak pernah digunakan.

Komentar-komentar umum
Setiap badan perjanjian mempublikasikan interpretasinya tentang ketentuanketentuan dalam perjanjian HAM yang dimonitornya dalam bentuk komentar umum (Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dan Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan menggunakan istilah “rekomendasi umum”). Komentar umum dari badan perjanjian mencakup berbagai subyek, mulai dari interpretasi yang komprehensif mengenai ketentuan-ketentuan substantif, seperti hak hidup atau hak atas makanan yang cukup, sampai panduan umum tentang informasi yang harus diberikan dalam laporan Negara berkaitan dengan pasal-pasal tertentu dari perjanjian. Komentar umum juga menangani persoalan-persoalan yang saling bertabrakan (cross-cutting issues) yang lebih luas, seperti peran institusi-institusi nasional HAM, hak orang-orang penyandang cacat, kekerasan terhadap perempuan, dan hak kelompok minoritas. Suatu kompilasi komentar umum dan rekomendasi umum diadopsi oleh badan perjanjian dihasilkan dan diperbaharui secara berkala (lihat revisi terakhir dokumen HRI/GEN/1).

Penyelesaian pertikaian antar Negara berkaitan dengan interpretasi atau aplikasi konvensi
Pasal 29 Konvensi tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan, pasal 30 Konvensi Menentang Penyiksaan, dan pasal 92 Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya menyatakan bahwa pertikaian antarNegara berkaitan dengan interpretasi atau aplikasi konvensi akan diselesaikan pertama melalui negosiasi atau, jika negosiasi gagal, melalui arbitrasi. Salah satu Negara yang terlibat dalam pertikaian dapat merujuk pertikaian tersebut kepada Pengadilan Internasional (InternaJURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

129

Diskusi umum atau debat tematis
Sejumlah badan perjanjian menyelenggarakan diskusi umum mengenai suatu tema atau persoalan tertentu bagi badan perjanjian tersebut selama beberapa hari. Diskusi tematis ini biasanya terbuka bagi partisipan dari luar, seperti rekanan PBB, delegasi Negara Pihak, organisasi nonpemerintah, dan para ahli individual. Hasil dari diskusi dapat membantu badan perjanjian dalam membuat komentar umum yang baru.

jelis Umum meminta para ketua badan perjanjian HAM untuk bertemu guna membahas tentang bagaimana mereka bisa meningkatkan kinerja mereka. Pertemuan pertama pada ketua ini berlangsung pada 1984. Sejak 1995, para ketua badan perjanjian telah melakukan pertemuan setiap tahunnya. Pertemuan ini merupakan suatu forum bagi para ketua ketujuh badan perjanjian HAM untuk membahas mengenai pekerjaan mereka dan mempertimbangkan cara-cara guna meningkatkan efektivitas sistem badan perjanjian sebagai suatu kesatuan. Persoalan-persoalan yang diangkat dalam pertemuan ini antara lain: pengarusutamaan dan perbaikan secara menyeluruh prosedur pelaporan HAM; harmonisasi metode kerja komite-komite; tindak lanjut Konferensi Dunia; dan persoalan finansial. Konsultasi-konsultasi informal dengan Negara-negara Pihak sebagaimana juga dengan rekanan PBB dan organisasi nonpemerintah juga telah menjadi suatu ciri khas dalam pertemuan antara para ketua badan perjanjian. Sejak 1999, para ketua badan perjanjian telah bertemua dengan pemegang mandat prosedur khusus (baik mandat tematis maupun mandat negara) Komisi Hak Asasi Manusia. Pembahasannya berfokus pada pertanyaan-pertanyaan teknis, seperti meningkatkan pertukaran informasi antara badan perjanjian dan prosedur khusus. Persoalan-persoalan substantif, termasuk dampak globalisasi terhadap penikmatan HAM (2003) serta langkahlangkah penanganan terorisme (counter-terrorism) dan HAM (2004), juga telah dibahas. Pertemuan antarkomite Sejak 2002, pertemuan tahunan para ketua badan perjanjian telah dilengkapi dengan suatu “pertemuan antarkomite”, yang termasuk di dalamnya para ketua dan tamJURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

Pertemuan Negara-negara Pihak dan pertemuan dengan Negaranegara Pihak
Setiap perjanjian (kecuali Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya) menyelenggarakan pertemuan formal Negara-negara Pihak setiap dua tahun sekali, biasanya di Markas Besar PBB, guna memilih setengah dari anggota badan perjanjiannya. Pasal 50 Konvensi Hak Anak menyelenggarakan suatu konferensi Negaranegara Pihak guna menentukan usulan amendemen terhadap Konvensi. Kebanyakan komite juga mengadopsi praktik penyelenggaraan pertemuan informal secara berkala dengan Negara-negara Pihak pada perjanjian mereka guna mendiskusikan persoalan-persoalan bersama berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian dan pekerjaan badan perjanjian.

Koordinasi antara badan-badan perjanjian
Pertemuan tahunan para ketua badan perjanjian Kebutuhan akan koordinasi antara badan-badan perjanjian HAM diakui oleh Majelis Umum pada 1983, yaitu ketika Ma-

130

bahan dua anggota dari setiap komite. Harmonisasi metode kerja di antara para komite menjadi fokus utama pertemuan antarkomite pertama. Pelaksanaan pertemuan antarkomite disambut baik oleh Negaranegara Pihak. Meningkatnya keterlibatan setiap komite telah membuka pembahasan yang lebih detil tentang rekomendasi terhadap persoalan-persoalan berkaitan dengan metode kerja ketimbang yang dibahas dalam pertemuan para ketua badan perjanjian. Pertemuan antarkomite dan pertemuan para ketua badan perjanjian biasanya dipimpin oleh orang yang sama, yaitu seseorang yang menjadi ketua badan perjanjian HAM atas dasar rotasi.

Perluasan sistem perjanjian HAM: membuat instrumen baru
Sejak 2000, sejumlah instrumen HAM yang baru telah disepakati atau telah mulai berlaku. Pada Mei 2000, dua protokol opsional pada Konvensi Hak Anak diadopsi, tentang penjualan anak, pelacuran anak, dan pornografi anak (CRC-OPSC) dan tentang keterlibatan anak-anak dalam konflik bersenjata (CRC-OPAC). Keduanya mulai berlaku pada 2002. Pada Desember 2002, Protokol Opsional Konvensi Menentang Penyiksaan diadopsi (OPCAT). Protokol ini akan mulai berlaku ketika sudah diterima oleh 20 Negara Pihak. Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya mulai berlaku pada Juli 2003, dan Komite Pekerja Migran telah menyelenggarakan pertemuan pertamanya pada Maret 2004. Instrumen-instrumen HAM internasional lainnya sedang dibahas oleh Negaranegara dan dapat diadopsi pada tahuntahun mendatang. Suatu komite ad hoc Majelis Umum telah dibentuk pada 2002 dengan tujuan membuat “suatu konvensi internasional yang komprehensif dan integral tentang perlindungan dan pemajuan hak-hak dan martabat orang-orang penyandang cacat”. Komite”Ad Hoc ini bertujuan untuk mengadopsi suatu konvensi, yang akan memasukkan mekanisme monitoring pada akhir 2005. Pada 2002, Komisi Hak Asasi Manusia memutuskan untuk membentuk “kelompok kerja terbuka dengan tujuan untuk mempertimbangkan pilihanpilihan berkaitan dengan elaborasi protokol opsional pada Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya”.7 Protokol opsional tersebut akan memberikan kompetensi pada Komite Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya untuk mempertimbangkan pengaduan individual dan melakukan penyelidikan. Suatu kelompok kerja menge7 Resolusi Komisi 2002/24 dan 2003/18.

BAGIAN III
Perkembangan lebih lanjut dari sistem perjanjian HAM PBB
Walaupun DUHAM telah dibuat lebih dari 50 tahun yang lalu, dan proses pembuatan ketentuan internasional HAM atau International Bill of Human Rights (DUHAM dan kedua Kovenan) telah diselesaikan pada 1966, sistem perjanjian HAM internasional telah terus berkembang dengan adanya adopsi instrumen baru dan pembentukan badan perjanjian yang baru. Berbagai instrumen dan badan perjanjian yang semakin luas tersebut telah menjamin adanya perlindungan HAM yang lebih besar di sejumlah bidang yang menjadi perhatian utama masyarakat internasional, dan juga telah memberikan suatu tantangan penting bagi sistem perjanjian HAM internasional: bagaimana cara terbaik untuk menjamin bahwa perbedaan elemen-elemen dalam sistem yang semakin berkembang ini bisa bekerja secara efektif secara bersama-sama bagi pemajuan dan perlindungan HAM.

JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

131

juga terdapat banyak keragaman. juga diakui bahwa beberapa variasi dalam praktik dapat dibenarkan. 132 JURNAL HAM • Vol. dan setiap komite secara individual telah meninjau metode kerjanya dengan tujuan untuk mengadopsi praktik-praktik terbaik dari komite lain. Proposalproposal di bidang seperti standardisasi terminologi dan simbol-simbol dokumen telah dibahas dalam pertemuan antarkomite dan pertemuan para ketua badan perjanjian. sampai baru-baru ini. Cara ad hoc di mana setiap komite dibentuk berdasarkan perjanjiannya berarti bahwa mereka memiliki kekebebasan untuk membangun prosedur dan praktiknya sendiri. “Memperkuat Perserikatan Bangsa-Bangsa: suatu agenda untuk perubahan lebih lanjut”. termasuk harmonisasi ketentuan pelaporan. Badan-badan perjanjian menanggapi hal ini dengan melakukan suatu proses konsultasi dan reformasi yang ditujukan untuk menjawab dua bidang persoalan yang diangkat oleh usulan Sekretaris Jenderal: (1) meningkatkan koordinasi antara badan-badan perjanjian. yang seringkali mengarah pada kebingungan dan ketidak-konsistenan. Badan-badan perjanjian telah terlibat secara berkelanjutan dalam pencarian cara untuk meningkatkan efektivitas melalui pengarusutamaan dan harmonisasi metode kerja dan praktik selama beberapa tahun. setiap badan perjanjian cenderung melakukan pekerjaannya secara independen dari badan perjanjian lainnya. Pada saat yang sama. termasuk pengarusutamaan metode kerja. atau bahkan diperlukan karena sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian yang bersangkutan. serta bahwa perjanjian dan badan yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaannya dapat bekerja bersama-sama secara efektif sebagai suatu sistem yang terintegrasi guna pemajuan dan perlindungan HAM. dan walaupun ada banyak kesamaan dalam hal fungsi badan-badan perjanjian. 8 A/57/387. dan kedua.8 Sekretaris Jenderal PBB mengidentifikasi pembaruan lebih lanjut terhadap sistem perjanjian sebagai elemen utama dalam tujuan PBB untuk memajukan dan melindungi HAM. untuk mengijinkan Negara menghasilkan suatu laporan tunggal yang menyimpulkan semua ketaatannya pada sejumlah perjanjian HAM di mana Negara tersebut menjadi pihak. walaupun kegiatan-kegiatan mereka saling tumpang tindih di banyak bidang. Saran Sekretaris Jenderal telah memberikan motivasi baru bagi proses ini. Dalam laporannya tahun 2002. Meningkatkan efektivitas sistem perjanjian Dengan perkembangan yang berkelanjutan dalam sejumlah instrumen HAM internasional. Namun demikian. maka penting agar ditekankan bahwa instrumen-instrumen tersebut saling melengkapi satu sama lain. 2007 . 4 • Th. dan (2) pengembangan proses pelaporan perjanjian. Ia meminta badan-badan perjanjian HAM untuk mempertimbangkan dua langkah: pertama. khususnya melibatkan Negara-negara dalam diskusi yang terbuka mengenai persoalan dalam melaksanakan perjanjian HAM melalui proses pelaporan. (1) Meningkatkan koordinasi antara badan-badan perjanjian Badan-badan perjanjian telah dengan sukses mengerjakan mandat mereka. untuk membuat suatu pendekatan yang lebih terkoordinasi dalam hal kegiatan dan membuat standardisasi ketentuan pelaporan mereka yang bervariasi.nai rancangan instrumen tentang penghilangan paksa juga mungkin akan menghasilkan suatu instrumen baru.

(2) Pengembangan sistem pelaporan perjanjian Fokus utama upaya untuk menjamin pelaksanaan perjanjian HAM yang lebih efektif di tahun-tahun belakangan ini adalah pelaporan Negara. Standar-standar internasional yang telah disepakati dalam perjanjian memerlukan adanya pelaksanaan yang efektif di tingkat nasional guna menjamin bahwa hak-hak tersebut dinikmati oleh semua 133 . Negara menjanjikan dirinya pada standar-standar ini dan mewajibkan dirinya untuk melaksanakan hakhak tersebut di tingkat nasional. 4 • Th. Laporan Negara-negara kepada badan-badan perjanjian oleh karenanya akan terdiri dari suatu dokumen umum yang menggambarkan pandangan yang holistik dari pelaksanaan HAM dan suatu dokumen perjanjian yang spesifik yang berfokus pada persoalan-persoalan yang menjadi perhatian komite berkaitan dengan perjanjiannya. tetapi jelas bahwa pemajuan dan perlindungan HAM merupakan persoalan paling penting di tingkat nasional. sebagaimana juga informasi mengenai pelaksanaan ketentuan-ketentuan substantif HAM yang serupa dalam beberapa perjanjian. Komisi Hak Asasi Manusia. Sebagaimana sistem berkembang. Peran sistem perjanjian HAM dalam memperkuat sistem perlindungan HAM di tingkat nasional Perjanjian-perjanjian HAM adalah instrumen hukum yang menetapkan standarstandar internasional bagi pemajuan dan perlindungan HAM di dunia. Memperbaiki efektivitas sistem perjanjian HAM telah menjadi perhatian yang berkelanjutan masing-masing badan perjanjian. terlambat dan tidak-melaporkan. badan-badan perjanjian mulai membuat panduan harmonisasi pelaporan berdasarkan ketujuh perjanjian HAM utama. badan-badan PBB. Dokumen inti/utama yang diperluas ini harus diserahkan kepada semua badan perjanjian bersama dengan laporan target (targeted report) bagi setiap badan perjanjian yang berisi informasi spesifik mengenai perjanjian tersebut. Menanggapi permintaan Sekretaris Jenderal untuk ketentuan pelaporan yang terharmonisasi dan kemungkinan penyerahan suatu laporan tunggal. Dengan meratifikasi perjanjian. Panduan ini mendorong Negara-negara Pihak untuk memenuhi sejumlah kewajiban perjanjian HAM di mana mereka telah menjadi bagian dari suatu sistem yang terkoordinasi. dan pihak-pihak lain yang berminat. Badan perjanjian mendorong dan mendukung Negara dalam upaya ini. pertemuan para ketua badan perjanjian. maka badan-badan perjanjian menyimpulkan bahwa laporan tunggal justru akan menjadi tantangan yang begitu besar bagi Negara-negara Pihak dan tidak akan dapat memenuhi tujuan yang memotivasi usulan Sekretaris JendeJURNAL HAM • Vol. organisasi nonpemerintah. dan Majelis Umum. Laporan-laporan yang dikompilasi sesuai dengan panduan dapat menyediakan suatu kerangka pelaporan yang seragam di mana komite-komite dapat menghindari duplikasi dalam pekerjaannya dan menetapkan suatu standar pelaporan yang konsisten bagi semua komite. Sistem perjanjian HAM ini kelihatannya terfokus pada tingkat internasional. Mereka memilih untuk memperluas ruang lingkup dokumen inti/utama dengan memasukkan presentasi penuh kerangka hukum bagi pemajuan dan perlindungan HAM secara umum di Negara. tantangan-tantangan muncul dari keterlambatan penyerahan dan/atau pertimbangan terhadap laporan. 2007 ral tersebut. Setelah konsultasi yang mendalam dengan Negara Pihak. ketimbang memperlakukan masing-masing perjanjian secara terpisah-pisah. serta duplikasi ketentuan pelaporan di antara badan-badan perjanjian.

melalui proses pertimbangan di tingkat internasional. maka badan perjanjian memiliki peranan penting dalam membantu upaya memperkuat perlindungan HAM di tingkat nasional. Walaupun badan internasional memang meminta laporan-laporan. yang oleh karenanya akan menjamin pelaksanaan standar HAM nasional yang lebih efektif. Karena badan perjanjian dibentuk untuk memonitor pelaksanaan standarstandar HAM internasional yang ditentukan oleh perjanjian HAM. Proses pengumpulan informasi mengenai pelaksanaan HAM di tingkat nasional menjadi alat yang penting untuk membantu Pemerintah merencanakan dan menempatkan program-program pembangunan berdasarkan HAM (rights-based development). dan pelaksanaan perencanaan pembangunan nasional.laki-laki. Proses pelaporan. namun proses pembuatan laporan di tingkat nasional juga penting. 2007 . Mengaitkan proses-proses tersebut dapat menjamin bahwa HAM ditempatkan di tengah-tengah perencanaan strategis nasional. Pentingnya proses pelaporan di tingkat nasional Upaya mendorong Negara-negara untuk mengambil pendekatan yang holistik dalam pelaporan dengan melihat pada serangkaian kewajiban pada perjanjian yang mana mereka menjadi pihak tidak hanya ditujukan untuk mempermudah Negara dalam membuat pelaporan kepada badan perjanjian internasional. dan anak-anak di setiap negara. proses pelaporan kepada badan perjanjian itu sendiri merupakan bagian yang penting dalam pembentukan suatu sistem perlindungan HAM di tingkat nasional. Kedua. sampai tanggapan negara terhadap rekomendasi badan perjanjian. yang berfokus pada bidang persoalan tertentu yang memerlukan tindakan. 134 JURNAL HAM • Vol. juga dapat digunakan untuk menstimulasi debat nasional mengenai HAM dengan masyarakat sipil dan menciptakan konstituensi HAM yang baru. dari mulai persiapan pembuatan laporan. Negara-negara terlibat dalam suatu proses penilaian terhadap dirinya sendiri (self-assessment) guna menentukan sejauh mana HAM telah dilindungi di negaranya. Nasihat praktis dan bantuan dari badan perjanjian Hasil dari badan perjanjian. Pertama. Banyak Negara terlibat dalam proses paralel. Komentar umum dari badan perjanjian menyediakan informasi tambahan untuk suatu sifat yang lebih terelaborasi mengenai bagaimana perjanjian harus dilaksanakan. sebagaimana halnya tim negara dan donor PBB. badan perjanjian memberikan pada Negara-negara nasihat-nasihat praktis dan bantuan tentang bagaimana melaksanakan perjanjian dengan baik. Dalam memenuhi kewajiban pelaporan mereka berdasarkan perjanjian internasional. dapat memberikan bantuan yang berguna bagi tindakan-tindakan yang diperlukan guna memperkuat perlindungan HAM. pembuatan rencana aksi nasional HAM. perempuan. 4 • Th. Pendapat-pendapat yang diungkapkan oleh komite sebagai tanggapn terhadap pengaduan individual juga merupakan sumber panduan yang lain. yaitu pelaporan perjanjian. maka concluding observations dan rekomendasi yang praktis dan bertarget dapat memberikan nasihat yang tepat tentang bidang-bidang tertentu yang perlu diperhatikan oleh Negara yang bersangkutan. Ketika telah dihasilkan suatu laporan Negara Pihak dan telah dipertimbangkan oleh badan perjanjian.

Sosial. dan Budaya (Komentar Umum 14). dan Budaya (Komentar Umum 14). dan Budaya (pasal 3 dan pasal 7(a) (i)). Sosial. Sosial. Konvensi Hak Anak (pasal 24(2) dan pasal 27(3)). dan Konvensi Hak Anak (pasal 24(c) dan Komentar Umum 3). Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. pasal6(5). dan Budaya (Komentar Umum 4 dan 7). Air minum yang aman dikonsumsi: Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial (pasal 5 dan pasal 7). Sosial. dan penyakit-penyakit lainnya: Panduan Internasional tentang HIV/AIDS dan Hak Asasi Manusia. Hasil badan perjanjian dapat memiliki dampak yang signifikan bagi Negara. pasal 14(b). Tujuan 8 untuk membangun suatu kemitraan global untuk pembangunan: Piagam PBB (pasal 1(3)). Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Konvensi Hak Anak (pasal 2). Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Sosial. pasal 11(f). dan Budaya (Komentar Umum 15 dan 14). Sosial. negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa menyepakati delapan tujuan – atau Millenium Development Goals (MDGs) – di mana semua bangsa. serta Komentar Umum 11).Tujuan Pembangunan Millenium (Millenium Development Goals) dan Hak Asasi Manusia Pada 2000. dan pasal 32(2). dan Budaya (pasal 11 dan Komentar Umum 12). Tempat tinggal kumuh: Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Konvensi Hak Anak (pasal 4). Sosial. yaitu membantu menjamin pelaksanaan perjanjian-perjanjian yang lebih efektif. Sosial. Tujuan 3 untuk memajukan kesetaraan genjer dan pemberdayaan perempuan: Konvensi tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan. malaria. Tujuan 5 untuk memperbaiki tingkat kesehatan maternal: Konvensi tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan (pasal 10(h). Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial (pasal 5(e)(iv)). Konvensi Hak Anak (pasal 28(a) dan Komentar Umum1). Konvensi Hak Anak (pasal 24(c)). akan bekerja bersamasama untuk mencapainya pada 2015. dan Komentar Umum 24). Tujuan 1 untuk menghapuskan kemiskinan dan kelaparan: Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Tujuan 2 untuk mencapai pendidikan dasar universal: Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. baik yang maju maupun berkembang. Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial (Komentar Umum 25). Sosial. Tujuan 4 untuk mengurangi tingkat kematian anak-anak: Konvensi Hak Anak (pasal 6 dan pasal 24(2)(a)). Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Tujuan 7 untuk menjamin keberlangsungan lingkungan. Tujuan 6 untuk memerangi HIV/AIDS. Konvensi Hak Anak (pasal 24(d)). Keseluruhan delapan MDGs dapat dikaitkan dengan ketentuan-ketentuan perjanjian hak asasi manusia atau komentar-komentar umum badan-badan perjanjian (GCs). dan Budaya (pasal 2). dan Budaya (pasal 13 dan pasal 14. 4 • Th. 2007 135 . misalnya melalui usulan legislasi baru atau keten- JURNAL HAM • Vol. Konvenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (pasal 3. dan Budaya (pasal 12(2)(a)) dan Komentar Umum 14). Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. pasal 12(1).

keputusan yang diambil mengenai pengaduan individual (jika tersedia). Kebutuhan untuk meminta informasi yang terkini adalah salah satu JURNAL HAM • Vol. kenapa tidak mendaftarkan diri ke “listserv” badan perjanjian secara cuma-cuma? Anda akan menerima pemberitahuan berkala melalui e-mail mengenai rekomendasi badan perjanjian. Diskriminasi terhadap Perempuan: Konvensi dan Komite (No.ohchr. org/english/bodies/treaty/subscribe. termasuk status pelaporan oleh negara. about/publications/sheets/htm. 2007 136 . kunjungi situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia OHCHR di http://www. 7). Hak Sipil dan Politik: Komite Hak Asasi Manusia (No. Untuk mendaftarkan diri. Pemberitahuan melalui e-mail mengenai rekomendasi badan perjanjian Jika anda tertarik pada pekerjaan badan-badan perjanjian dan ingin mendapatkan informasi mengenai kegiatankegiatan mereka. serta masyarakat sipil. dan pengacara. htm. 10). termasuk concluding observations yang dikeluarkan setelah pemeriksaan terhadap laporan Negara Pihak. dan Hak Pekerja Migran (No. Informasi lebih lanjut mengenai sistem perjanjian HAM PBB Untuk informasi lebih lanjut mengenai perjanjian dan badan perjanjian.org/english/ Istilah-istilah teknis berkaitan dengan badan perjanjian Backlog Di samping persoalan keterlambatan dan tidak-adanya pelaporan oleh Negara-negara Pihak. Sosial. 12). termasuk parlemen nasional dan regional. Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial (No. Dokumen-dokumen badan perjanjian. Situs ini memuat informasi mengenai proses pelaporan Negara. dan Budaya (No. Lembar Fakta ini tersedia secara cumacuma dari kantor publikasi OHCHR. Perluasan dampak tergantung tidak hanya pada Pemerintah. beberapa badan perjanjian juga menghadapi kesulitan untuk menangani jumlah laporan yang harus mereka pertimbangkan setiap tahun. komentar umum yang menginterpretasikan perjanjian yang bersangkutan. atau online di http://www. 17). kunjungi situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) dan masuk ke “badanbadan perjanjian” (“human rights bodies”). 24). 15). 4 • Th. Backlog terhadap begitu banyak laporan yang yang menunggu untuk dipertimbangkan oleh komite dapat berarti penundaan sampai dua tahun lamanya dari tanggal penyerahan laporan tersebut oleh Negara Pihak sampai waktu komite memulai pemeriksaan terhadap isi dari laporan. Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) juga mempublikasi beberapa Lembar Fakta berkaitan dengan pekerjaan badan-badan perjanjian: Prosedur Pengaduan (No. 16). termasuk laporan-laporan Negara Pihak dan concluding observations dapat diperoleh di situs ini. Komite Menentang Penyiksaan (No. dan kegiatan-kegiatan lainnya. tetapi juga pada aktor-aktor lain yang mampu mempengaruhi cara di mana HAM dilindungi dan dimajukan di negara tersebut.tuan tentang pelatihan HAM bagi pejabat/ pegawai Negara. hakim-hakim. Hak Anak (No. 22). institusi nasional HAM. Komite Hak Ekonomi.ohchr.

Komentar kesimpulan (concluding comments) Lihat “concluding observations”. dan juga berpartisipasi bersama dua orang anggota komite lainnya dalam pertemuan antarkomite. Juga dirujuk sebagai “concluding comments” oleh beberapa komite sesuai dengan pengistilahan di perjanjiannya. struktur politik umum. wakil ketua. tetapi hanya dibentuk untuk memonitor pelaksanaan perjanjian. Dokumen inti/utama diperkenalkan pertama kalinya pada 1991 di pertemuan para ketua 137 . pertemuan secara paralel di dua tempat untuk mempertimbangkan laporanlaporan dari tahun 2005. Para ketua badan perjanjian bertemu setiap tahunnya untuk mengkoordinasikan kegiatan badan perjanjian. dan kerangka hukum umum yang melindungi HAM di Negara tersebut. Gagasan dialog konstruktif menekankan pada kenyataan bahwa badan perjanjian bukan merupakan badan yudisial (walaupun beberapa di antaranya memiliki fungsi quasi-yudisial). termasuk informasi mengenai tanah dan penduduk. Orang tersebut mengetuai pertemuan sesuai dengan peraturan tata tertib yang telah disepakati. dan dapat dilaksanakan. Ketua Setiap badan perjanjian memilih salah satu anggotanya untuk bertindak sebagai ketua untuk jangka waktu dua tahun. 2007 kan bahwa tindakan lebih lanjut perlu diambil oleh Negara. misalnya. pelapor (rapporteur) atau anggota lain yang ditugaskan oleh komite. Dokumen inti/utama Suatu dokumen yang diserahkan oleh Negara Pihak kepada Sekretaris Jenderal yang memuat informasi hal-hal umum mengenai negara yang relevan dengan semua perjanjian. Biro Biro biasanya terdiri dari ketua. Metode kerja yang lebih efisien dapat mengurangi backlog tersebut. serta harus memberikan perhatian bagi langkah-langkah guna menjamin tindak lanjut efektif terhadap concluding observations-nya. Dokumen umum Istilah alternatif untuk “dokumen inti/ utama yang diperluas”. terfokus. yang bertemu untuk memutuskan tentang persoalan-persoalan prosedural dan administratif yang berkaitan dengan pekerjaan komite. Concluding observations mengacu baik pada aspek positif pelaksanaan perjanjian oleh suatu negara maupun bidang-bidang di mana badan perjanjian merekomendasiJURNAL HAM • Vol. Dialog konstruktif Praktik yang diadopsi oleh semua badan perjanjian dengan mengundang Negaranegara Pihak untuk mengirimkan delegasinya guna menghadiri pertemuan di mana laporan mereka dipertimbangkan dalam rangka memberikan kesempatan kepada Negara-negara Pihak tersebut untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan anggota dan menyediakan informasi tambahan mengenai upaya mereka dalam melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian yang relevan. Badan perjanjian bertugas menghasilkan concluding observations yang konkret. Pertimbangan terhadap kondisi negara tanpa adanya laporan Lihat “prosedur peninjauan”. Concluding observations Pengamatan dan rekomendasi yang dikeluarkan oleh suatu badan perjanjian setelah mempertimbangkan laporan Negara Pihak. 4 • Th.alasan mengapa praktik pembuatan daftar pertanyaan diadopsi oleh kebanyakan badan perjanjian.

mengajukan pertanyaan kepada delegasi pada saat pertemuan. berdasarkan pasal 41 Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. Derogasi Derogasi adalah langkah yang diadopsi oleh Negara Pihak yang menangguhkan sebagian pelaksanaan satu atau lebih ketentuan dari perjanjian. yaitu sebagai berikut: Deklarasi tentang interpretasi Negara dapat membuat deklarasi tentang pemahamannya terhadap persoalan yang tercantum dalam.badan perjanjian sebagai suatu cara untuk mengurangi pengulangan informasi yang ditemukan di laporan Negara-negara ke berbagai badan perjanjian. misalnya. 2007 138 . Dokumen ini memuat suatu bagian awal yang umum di semua laporan ke badan perjanjian. untuk membuat derogasi yang bersifat khusus dan sementara terhadap beberapa hak sejauh yang dibutuhkan oleh situasi di Negara tersebut. Negaranegara Pihak pada Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang keterlibatan anakanak dalam konflik bersenjata diharuskan membuat deklarasi wajib berdasarkan pasal 3(2) yang menetapkan usia minimum yang mengijinkan rekrutmen berdasarkan pilihan bebas (voluntary) di angkatan bersenjata nasionalnya serta suatu deskripsi jaminan yang diadopsi guna menjamin bahwa rekrutmen semacam itu tidak dipaksakan. 4 • Th. yang secara keseluruhan bertanggung jawab terhadap pembuatan daftar persoalan. Satuan kerja ini bertemu pada saat pertemuan pleno. Deklarasi ini bersifat mengikat secara hukum bagi yang membuat deklarasi. Satuan kerja laporan Negara terdiri dari empat sampai enam anggota. tidak se- perti halnya reservasi. yang dinominasikan oleh Ketua. Negara Pihak tidak boleh membuat derogasi terhadap hak-hak tertentu dan tidak boleh mengambil langJURNAL HAM • Vol. setidaknya untuk jangka waktu sementara. Beberapa perjanjian hak asasi manusia mengijinkan Negara-negara Pihak. Deklarasi Negara dapat memilih atau diwajibkan untuk membuat deklarasi berkaitan dengan perjanjian di mana Negara menjadi pihak. Pelapor negara biasanya memimpin dalam membuat daftar persoalan. ketentuan tertentu di perjanjian. Hal yang sama. Oleh karena itu. dalam hal darurat publik yang mengancam kehidupan bangsa. Satuan kerja laporan Negara (country report task force) Komite Hak Asasi Manusia telah menugaskan satuan kerja laporan Negara untuk mengerjakan persiapan pertimbangan laporan-laporan yang sebelumnya dilakukan oleh kelompok kerja prapertemuan. Deklarasi tentang interpretasi seperti ini. salah satu di antara mereka adalah pelapor negara. Pelapor negara (country rapporteur) Kebanyakan komite menunjuk seorang anggotanya sebagai pelapor negara untuk setiap Negara Pihak yang sedang dipertimbangkan. Deklarasi opsional dan wajib Perjanjian dapat membiarkan Negara membuat deklarasi opsional dan/atau wajib. tidak berarti meniadakan atau memodifikasi dampak hukum dari perjanjian. Ada beberapa jenis deklarasi. Tujuan dari deklarasi interpretasi adalah untuk mengklarifikasi arti beberapa ketentuan atau keseluruhan perjanjian. Namun. atau interpretasi tentang. Negara dapat membuat deklarasi opsional bahwa Negara menerima kompetensi Komite Hak Asasi Manusia untuk mempertimbangkan pengaduan antarNegara. dan membuat concluding observations untuk dibahas dan diadopsi oleh komite.

Parlemen. (Lihat Komentar Umum No. 4 • Th. DAW berkantor di Markas Besar Perserikatan BangsaBangsa di New York dan memberikan dukungan terhadap Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan. serta ada kekhawatiran bahwa informasi spesifik yang biasanya ditemukan di laporan perjanjian yang terpisah akan hilang dalam suatu laporan yang menyimpulkan secara luas. Institusi-institusi Nasional HAM. Komentar umum Interpretasi suatu badan perjanjian terhadap isi ketentuan-ketentuan HAM. memberikan alasan mengenai derogasi. serta Komisi untuk Status Perempuan. dari seorang individual yang menyatakan bahwa hakhaknya berdasarkan salah satu perjanjian telah dilanggar oleh Negara Pihak. dan masyarakat sipil memiliki peranan penting dalam tindak lanjut tersebut. organisasi nonpemerintah. baik yang terkait dengan suatu artikel khusus atau suatu persoalan tematis yang lebih luas. di mana JURNAL HAM • Vol. Diprediksikan bahwa dokumen inti/utama yang diperluas akan diserahkan kepada setiap badan perjanjian bersama dengan laporan khusus perjanjian yang lebih terfokus.kah-langkah yang bersifat diskriminatif. Dokumen inti/utama yang diperluas Gagasan untuk memperluas ruang lingkup dokumen inti/utama muncul pada saat proses konsultasi yang dilakukan oleh badan perjanjian sebagai respon terhadap usulan Sekretaris Jenderal bahwa Negaranegara diijinkan untuk menyerahkan laporan tunggal kepada semua badan perjanjian. Komentar Umum juga sering disebut “rekomendasi umum” (Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial dan Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan). dan menentukan tanggal habisnya masa berlaku derogasi tersebut. 29 Komite Hak Asasi Manusia) Divisi Pengembangan Perempuan (DAW) Bertempat di Departemen Bidang Ekonomi dan Sosial (Department of Economic and Social Affairs atau DESA). Beberapa komite telah mengadopsi prosedur tindak lanjut formal dan semua komite mewajibkan Negara-negara untuk mencantumkan tindak lanjut tersebut dalam laporan berkala mereka. Komunikasi individual Lihat “pengaduan individual”. 2007 139 . Tindak lanjut Prosedur yang dibuat guna menjamin bahwa Negara-negara Pihak menindaklanjuti rekomendasi yang ada dalam concluding observations badan perjanjian atau keputusan badan perjanjian terhadap kasuskasus yang diangkat dalam prosedur pengaduan. Biasanya Negara-negara diwajibkan untuk menginformasikan kepada Negara Pihak lainnya tentang derogasi tersebut. Pengaduan individual Suatu pengaduan formal. Dokumen inti/utama yang diperluas bertujuan untuk semakin mengurangi pengulangan informasi dalam berbagai laporan dengan menyediakan informasi mengenai ketentuan-ketentuan tentang hak-hak yang substantif di seluruh atau beberapa perjanjian. Rekomendasi umum Lihat “komentar umum”. Suatu laporan tunggal dianggap akan mempersulit prosedur dan akan sulit digunakan. Komentar umum seringkali digunakan untuk memperjelas kewajiban pelaporan Negara-negara Pihak berkaitan dengan ketentuan-ketentuan tertentu dan menyarankan pendekatan-pendekatan dalam melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian.

Suatu standar internasional yang dikenal sebagai Prinsip-prinsip Paris telah disepakati untuk mengukur independensi dan integritas institusi-institusi nasional HAM ini. Beberapa komite mendorong Negara Pihak untuk menyerahkan tanggapan tertulis sebelum pertemuan dilaksanakan. Sosial.beberapa badan perjanjian memiliki kompetensi untuk mempertimbangkannya. Institusi-institusi Nasional HAM (National Human Rights Institutions/ NHRI) Banyak negara telah membentuk institusi nasional HAM untuk memajukan dan melindungi HAM. Keterlambatan pelaporan Setiap perjanjian memperkirakan penyerahan laporan secara berkala. Hak yang akan dipertimbangkan dalam pengaduan individual harus dinyatakan diterima oleh Negara Pihak yang bersangkutan dengan membuat suatu deklarasi berdasarkan pasal perjanjian yang relevan (bagi Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dan Komite Menentang Penyiksaan) atau dengan meratifikasi atau mengaksesi protokol opsional pada perjanjian yang memberikan hak bagi pengaduan individual (Protokol Opsional Pertama pada Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik serta Protokol Opsional Kovenan tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan). 4 • Th. tergantung pada sejauh mana independensinya dari kontrol pemerintah dapat dijamin. Institusi-institusi semacam ini semakin diakui sebagai bagian yang penting dalam sistem perlindungan HAM di tingkat nasional. Daftar persoalan dan/atau pertanyaan Suatu daftar persoalan atau pertanyaan yang dibuat oleh suatu badan perjanjian berdasarkan laporan Negara Pihak dan informasi lain yang tersedia bagi badan perjanjian tersebut (informasi dari badanbadan khusus PBB. 2007 140 . dalam praktiknya. Daftar persoalan merupakan sumber informasi yang up-to-date bagi komite berkaitan dengan Negara yang laporannya mungkin sudah menunggu selama dua tahun untuk dipertimbangkan. 19: JURNAL HAM • Vol. dan Budaya serta Konvensi Hak Anak. misalnya dengan pengarusutamaan proses pelaporan melalui dokumen inti/utama yang diperluas. Persoalan keterlambatan pelaporan ini diidentifikasi sebagai salah satu dari banyak tantangan yang dihadapi oleh sistem pelaporan perjanjian. Daftar persoalan menyediakan suatu kerangka bagi dialog yang konstruktif dengan delegasi Negara Pihak. yang diserahkan kepada Negara Pihak jauh-jauh hari sebelum pertemuan di mana badan perjanjian akan mempertimbangkan laporan tersebut. Saat ini belum ada hak pengaduan individual di Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. dan badan perjanjian telah berupaya mencari cara untuk mempermudah Negaranegara membuat laporan. Informasi mengenai status pelaporan Negara-negara Pihak pada setiap perjanjian tersedia dari database badan-badan perjanjian di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) atau dalam dokumen HRI/GEN/4. yang diperbaharui setiap tahunnya. dan sebagainya). Informasi lebih lanjut mengenai NHRIs. organisasi nonpemerintah. yang memungkinkan dialog membicarakan hal-hal yang spesifik dengan lebih cepat. banyak Negara menghadapi kesulitan dalam melaksanakan kewajiban pelaporan yang sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan oleh perjanjian di mana mereka menjadi pihak. Lihat Lembar Fakta Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) No. Ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan pengaduan individual berdasarkan Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya belum berlaku.

Institusi-institusi Nasional untuk Pemajuan dan Perlindungan Hak Asasi Manusia. Organisasi nonpemerintah Organisasi nonpemerintah dapat terlibat dalam pemajuan HAM, baik secara umum maupun berfokus pada suatu persoalan tertentu. Terdapat suatu kerangka bagi partisipasi organisasi nonpemerintah di berbagai mekanisme HAM PBB, seperti pemberian status konsultatif di Dewan Ekonomi, Sosial, dan Budaya yang memberikan kesempatan kepada organisasi nonpemerintah untuk berpartisipasi dalam Komisi Hak Asasi Manusia. Organisasi nonpemerintah internasional dan nasional mengikuti pekerjaan badan-badan perjanjian dari dekat dan kebanyakan badan perjanjian memberikan kesempatan pada mereka untuk memberikan masukan dalam proses pelaporan, misalnya melalui pemberian informasi tambahan berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian di suatu negara (seringkali dirujuk sebagai laporan “bayangan” atau “paralel”). Terdapat perbedaan dalam bagaimana setiap badan perjanjian memperlakukan informasi ini. Hal ini tergantung pada apakah organisasi memiliki status konsultatif dari Dewan Ekonomi, Sosial, dan Budaya atau tidak. Organisasi nonpemerintah internasional dan nasional juga memiliki peranan penting dalam mengawasi tindak lanjut pelaksanaan rekomendasi yang di tingkat nasional termuat dalam concluding observations badan perjanjian dan dalam mendorong debat publik di tingkat nasional mengenai pelaksanaan HAM pada masa proses pembuatan laporan dan setelahnya. Organisasi nonpemerintah juga memberikan kontribusi yang penting dalam pemajuan pengesahan perjanjian-perjanjian HAM di dunia.

Tidak-melaporkan (non-reporting) Walaupun sudah dengan bebas menerima kewajiban hukum yang melekat pada perjanjian HAM yang telah mereka ratifikasi, beberapa Negara gagal menyerahkan laporan mereka kepada badan perjanjian yang bersangkutan. Terdapat banyak alasan mengapa Negara-negara gagal melapor, mulai dari adanya perang dan konflik sipil sampai pada keterbatasan sumber daya. Bantuan teknis tersedia dari Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) dan Divisi Pengembangan Perempuan (DAW) untuk membantu Negara-negara dalam memenuhi kewajiban pelaporan mereka. Badan perjanjian juga telah mengadopsi prosedur untuk menjamin bahwa pelaksanaan perjanjian oleh Negara-negara Pihak yang tidak-melapor juga dapat ditinjau, yaitu ketika Negara tersebut tidak memberikan tanggapan terhadap permintaan informasi dari badan perjanjian. Komite juga secara khusus dapat mempertimbangkan situasi di suatu negara tanpa adanya laporan. Informasi mengenai status pelaporan Negara Pihak terhadap setiap perjanjian tersedia dari database badan perjanjian di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) atau dalam dokumen HRI/ GEN/4, yang diperbaharui setiap tahunnya. Situs tersebut juga menyediakan informasi mengenai bantuan teknis yang tersedia bagi Negara-negara Pihak. Protokol opsional Suatu instrumen internasional yang berhubungan dengan suatu dokumen utama dan memberikan kewajiban hukum tambahan bagi Negara-negara yang memilih untuk menerimanya. Protokol opsional dapat dirancang pada saat yang bersamaan dengan perjanjian utamanya, atau dirancang setelah perjanjian utamanya mulai diberlakukan. Protokol opsional pada perjanjian HAM diadopsi untuk sejumlah alasan: memberikan kesempatan bagi Negara-negara Pihak

JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

141

untuk mendaftarkan diri pada kewajiban tambahan berkaitan dengan monitoring internasional terhadap pelaksanaan perjanjian (Protokol Opsional Pertama pada Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, Protokol Opsional pada Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan, Protokol Opsional pada Konvensi Menentang Penyiksaan); memberikan kesempatan pada Negaranegara untuk mengambil kewajiban tambahan ketika hal-hal tersebut tidak termasuk dalam perjanjian utama (Protokol Opsional Kedua pada Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik); atau menanggapi persoalan-persoalan khusus secara lebih detil (kedua protokol opsional pada Konvensi Hak Anak). Periode pelaporan Jangka waktu untuk penyerahan laporan awal dan laporan berkala oleh Negara Pihak pada badan perjanjian ditentukan di setiap perjanjian atau ditentukan oleh komite sesuai dengan jangka waktu perjanjian. Suatu laporan awal diwajibkan dalam suatu jangka waktu tertentu setelah perjanjian mulai diberlakukan di Negara yang bersangkutan; laporan berkala kemudian diwajibkan untuk jangka waktu tertentu. Periode pelaporan berbeda dari satu perjanjian ke perjanjian lainnya. Petisi Suatu istilah kolektif yang mencakup berbagai prosedur untuk mengajukan pengaduan ke hadapan badan perjanjian yang kompeten. Petisi dapat terdiri dari pengaduan individual atau dari Negara Pihak mengenai pelanggaran terhadap ketentuan perjanjian oleh Negara Pihak lainnya. Kelompok kerja prapertemuan Suatu kelompok kerja dibentuk oleh beberapa badan perjanjian sebelum atau setelah pertemuan pleno guna merencanakan pe-

kerjaan mereka di pertemuan-pertemuan selanjutnya. Pekerjaan yang dilakukan oleh kelompok kerja prapertemuan berbeda dari satu komite ke komite lainnya: beberapa komite membuat daftar persoalan dan pertanyaan melalui kelompok kerjanya untuk kemudian diserahkan kepada setiap negara Pihak sebelum pertimbangan terhadap laporannya dilaksanakan; beberapa komite dengan kompentensi untuk mempertimbangkan pengaduan individual menggunakan kelompok kerja untuk membuat rekomendasi awal terhadap kasus dan persoalan lain yang terkait dengan prosedur pengaduan. Kelompok kerja prapertemuan biasanya dilaksanakan secara tertutup. Rekomendasi Suatu rekomendasi atau keputusan formal yang dikeluarkan oleh badan perjanjian. Istilah ini telah digunakan secara tidak konsisten, yaitu digunakan untuk menggambarkan keputusan formal mengenai persoalan-persoalan tertentu, atau resolusi yang lebih umum seperti yang dihasilkan dari diskusi umum. Concluding observations memuat rekomendasi spesifik, dan isitilah “rekomendasi badan perjanjian” sering digunakan secara bersamaan dengan “concluding observations”. Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial dan Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan juga merujuk pada komentar umum mereka sebagai “rekomendasi umum”. Panduan pelaporan bagi Negaranegara Pihak Panduan tertulis yang dihasilkan bagi Negara-negara Pihak oleh setiap badan perjanjian, yang memberikan nasihat mengenai bentuk dan isi dari laporan yang wajib diserahkan oleh Negara-negara berdasarkan perjanjian yang bersangkutan. Panduan yang terbaru bervariasi pendekatannya: beberapa komite menyediakan panduan yang detil berdasarkan pasal-per-pasal
JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

142

sementara komite lainnya memberikan panduan secara lebih umum (lihat Kompilasi Panduan Pelaporan HRI/GEN/2/ Rev.2). Dalam laporan reformasi keduanya (A/57/387), Sekretaris Jenderal meminta badan-badan perjanjian agar mengadopsi panduan pelaporan yang terharmonisasi. Draf panduan pelaporan yang terharmonisasi ini sedang dibuat oleh komite-komite. Reservasi Reservasi adalah suatu pernyataan yang dibuat oleh Negara yang menyatakan bahwa Negara tersebut meniadakan atau menambahkan dampak hukum beberapa ketentuan dalamperjanjian berkaitan dengan pelaksanaannya di Negara tersebut. Reservasi dapat memfasilitasi Negara untuk berpartisipasi dalam perjanjian multilateral di mana Negara tersebut dapat tidak mampu ataupun tidak bersedia melakukannya. Negara-negara dapat membuat reservasi terhadap suatu perjanjian ketika mereka menandatangani, meratifikasi, menerima, menyetujui, atau mengaksesinya. Ketika suatu Negara membuat reservasi ketika penandatanganan, maka Negara harus menegaskan kembali reservasi tersebut pada saat ratifikasi, penerimaan, atau persetujuan. Reservasi diatur oleh Konvensi Wina tentang Hukum Perjanjian, dan tidak bisa bertentangan dengan tujuan perjanjian. Oleh karena itu, Negara-negara dapat membuat reservasi ketika menandatangani, meratifikasi, menerima, menyetujui, atau mengaksesi suatu perjanjian, kecuali jika (a) reservasi dilarang oleh perjanjian; atau (b) perjanjian mensyaratkan bahwa hanya dapat dilakukan reservasi spesifik, yang tidak termasuk reservasi yang dimaksudkan. Negara-negara Pihak lain dapat mengajukan keberatan terhadap reservasi suatu negara Pihak. Kapan pun, reservasi dapat ditarik atau dibatalkan secara penuh atau sebagian oleh Negara Pihak.
JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

Prosedur peninjauan Suatu prosedur di mana badan perjanjian akan mempertimbangkan situasi di negara tanpa adanya laporan dari Negara Pihak tersebut. Prosedur ini digunakan dalam hal ketika laporan terlambat untuk jangka waktu yang lama dan Negara Pihak tidak menanggapi permintaan badan perjanjian akan laporan tersebut. Di banyak kasus, Negara-negara Pihak menyerahkan laporan mereka untuk menghindari prosedur peninjauan; di kasus lainnya, Negara-negara memilih untuk mengirimkan delegasinya ke pertemuan badan perjanjian dan menjawab pertanyaan dari para ahli badan perjanjian walaupun mereka belum dapat menyerahkan laporannya. Prosedur peninjauan pertama kali diadopsi oleh Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial pada 1991. Komite lain menggunakan istilah “pertimbangan terhadap situasi suatu negara tanpa adanya laporan”. Beberapa Komite memberikan suatu daftar persoalan kepada Negara Pihak walaupun tidak ada laporan. Kebanyakan komite menghasilkan concluding observations di akhir proses, namun hal ini dapat dirahasiakan untuk jangka waktu tertentu jika Negara tersebut berkeinginan menyerahkan laporannya. Peraturan tata tertib (rules of procedure) Aturan-aturan formal yang diadopsi oleh badan perjanjian guna mengatur cara-cara bagaimana badan perjanjian tersebut melakukan pekerjaannya. Setiap komite diberikan kewenangan oleh perjanjian yang bersangkutan untuk mengadopsi peraturan tata tertibnya sendiri. Peraturan tata terbit biasanya mencakup permasalahan seperti pemilihan pejabat dan prosedur pengambilan keputusan khususnya ketika tidak bisa dicapai konsensus. Peraturan tata tertib berkaitan, tetapi berbeda, dengan metode kerja.

143

dan program PBB terlibat dalam sistem perjanjian HAM. termasuk memajukan dan melindungi HAM. Perjanjian. Sekretariat Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan adalah bagian dari Divisi Pengembangan Perempuan (DAW) dalam Departemen Bidang Ekonomi dan Sosial (DESA) yang berkantor di New York. dana. TCB juga memberikan dukungan bagi Komisi Hak Asasi Manusia. konvensi. dana. 2007 144 . kovenan. UNFPA. baik dalam pelaksanaan kewajiban berdasarkan perjanjian maupun dalam proses penulisan laporan bagi badan-badan perjanjian. Komisi Tinggi untuk Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR). UNESCO. konvensi atau kovenan. Perjanjian dan Cabang Komisi (Treaties and Commision Branch/TCB) Di Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia(OHCHR). Badan-badan khusus. dan Dana Sukarela Perserikatan Bangsa-Bangsa bagi Korban Penyiksaan. Sebelumnya disebut sebagai “Perwakilan Pelayanan Dukungan” (“Support Service Branch/SSB”). Dana Bantuan Anak-Anak Perserikatan BangsaBangsa (UNICEF). JURNAL HAM • Vol. UN-HABITAT. TCB memberikan dukungan pada sekretariat bagi semua badan perjanjian kecuali Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. OCHA. dana. Beberapa badan khusus juga memberikan bantuan teknis kepada Negara-negara. Setiap perjanjian mewajibkan adanya suatu laporan awal yang komprehensif dalam jangka waktu tertentu setelah ratifikasi. berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian tersebut. atau instrumen Secara hukum. termasuk FAO. Laporan bertarget atau terfokus Lihat “laporan-khusus perjanjian”. dan program Berbagai badan khusus. yang diikuti oleh laporan berkala secara periodik. tidak terdapat perbedaan antara perjanjian. dalam hukum internasional. yang terdiri dari seorang sekretaris dan pegawai internasional lainnya. yang berkantor di Sekretariat PBB. dan Organi- sasi Kesehatan Dunia (WHO). 4 • Th. Badan-badan khusus. UNIFEM.Sekretaris/sekretariat Setiap perjanjian mewajibkan Sekretaris Jenderal PBB untuk menyediakan dukungan sekretariat bagi badan perjanjian tersebut. Sekretariat badan-badan perjanjian lainnya berkantor di Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) di Jenewa. yang mengatur agenda komite dan mengkoordinasikan program kerjanya. Subkomisi Pemajuan dan Perlindungan Hak Asasi Manusia. TCB berkantor di Palais Wilson di Jenewa. yang harus diserahkan secara berkala kepada badan perjanjian. yang mengindikasinya langkah-langkah yang diadopsi guna melaksanakan perjanjian serta faktor-faktor dan hambatan-hambatan yang ditemuinya. Laporan Negara Pihak Laporan yang diwajibkan kepada setiap Negara Pihak pada suatu badan perjanjian. Organisasi Buruh Internasional (ILO). Negara-negara yang memilih untuk menerima kewajiban yang termuat di dalamnya. UNAIDS. dan program dalam sistem PBB yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan PBB. Semua merupakan instrumen hukum internasional yang mengikat secara hukum. Semua badan perjanjian mengijinkan partisipasi formal badan-badan PBB dalam proses pertimbangan laporan melalui ketentuan tentang informasi tambahan mengenai negara berkaitan dengan laporan Negara tersebut. Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP). Setiap badan perjanjian memiliki sekretariat.

Negara tersebut harus (1) menyatakan kesediaannya untuk diikat oleh suatu perjanjian melalui tindakan ratifikasi.Badan perjanjian atau komite Suatu komite yang terdiri dari ahli-ahli independen yang ditugaskan untuk memonitor pelaksanaan Negara-negara Pihak atas setiap perjanjian internasional hak asasi manusia yang utama. Kedua Kovenan dan Kovenan Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial terbuka bagi penandatanganan dan ratifikasi oleh “Negara Anggota PBB atau 145 . Beberapa perjanjian. Walaupun sering dirujuk sebagai “laporan khusus-perjanjian”. Metode kerja setiap badan perjanjian berubah sesuai dengan beban kerja dan faktor-faktor lainnya. Laporan/dokumen khusus-perjanjian Usulan dokumen inti/utama atau umum yang diperluas akan diserahkan kepada setiap badan perjanjian secara bersamaan dengan dokumen khusus-perjanjian yang berfokus pada persoalan-persoalan yang berkaitan secara khusus dengan perjanjian yang bersangkutan. Dalam banyak hal. Beberapa juga disebut sebagai “badan monitoring-perjanjian”. khususnya karena pendekatan-pendekatan JURNAL HAM • Vol. hanya terbuka bagi Negara-negara. Bagaimana suatu Negara dapat menjadi Negara Pihak pada perjanjian Berikut dijelaskan mengenai proses bagaimana suatu Negara mengikat dirinya pada ketentuan-ketentuan perjanjian dalam hukum internasional sebagai Negara Pihak. walaupun mereka menerima dukungan dari Sekretariat PBB dan melapor kepada Majelis Umum. laporan kepada setiap badan perjanjian akan terdiri dari suatu dokumen umum bagi semua komite dan suatu dokumen khusus-perjanjian bagi setiap badan perjanjian. Tanggapan tertulis terhadap daftar persoalan merupakan lampiran atau pembaharuan dari laporan Negara Pihak. dan (2) tanggal mulai berlaku perjanjian yang bersangkutan di Negara tersebut. Untuk menjadi pihak. Metode kerja Prosedur dan praktik yang dikembangkan oleh setiap badan perjanjian untuk memfasilitasi pekerjaannya. atau aksesi. Kedua dokumen. seperti perjanjian-perjanjian hak asasi manusia. terdapat gerakan untuk mengarusutamakan dan mengharmonisasikan metode kerja dalam pertemuan tahunan para ketua badan perjanjian. penerimaan. 2007 yang berbeda dari setiap komite telah menyebabkan kebingungan dan ketidak-konsistenan. komite bersifat independen dari sistem PBB. Negara Pihak Negara Pihak adalah suatu Negara yang sepakat untuk diikat oleh suatu perjanjian berdasarkan hukum internasional. sementara beberapa lainnya juga terbuka bagi entitas-entitas lain yang memiliki kapasitas untuk membuat perjanjian.un. Penjelasan lebih lanjut dapat diperoleh dari Kantor Urusan Hukum Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Office of Legal Affairs (http://www.untreaty. 4 • Th. Perjanjian menggunakan istilah “komite”. Tanggapan/jawaban tertulis terhadap daftar persoalan Jawaban tertulis Negara Pihak terhadap daftar persoalan dan pertanyaan badan perjanjian yang diserahkan sebelum pertemuan di mana laporan tersebut akan dipertimbangkan oleh komite. tetapi komite juga dikenal sebagai “badan perjanjian” karena setiap komite dibentuk sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian yang diawasinya. jika dibaca bersama. Akhir-akhir ini.org). Praktik-praktik semacam itu tidak selalu diadopsi secara formal dalam peraturan tata tertib. akan membentuk suatu laporan Negara Pihak. persetujuan.

penandatanganan adalah langkah persiapan guna mencapai ratifikasi perjanjian oleh Negara. sebelum mengambil kewajiban hukum berdasarkan perjanjian di tingkat internasional. Dalam hal tersebut. atau persetujuan. Negara harus menandatangani perjanjian. bagaimana Negara-negara harus melanjutkan proses mengikat diri terhadap ketentuanketentuan substantif perjanjian. penerimaan. biasanya menjadi ditandatangani yang kemudian diikuti oleh ratifikasi. Dalam kondisi tertentu Negara juga dapat mengikat dirinya melalui suksesi. Bagaimana caranya suatu Negara bisa menjadi pihak pada suatu perjanjian? Setiap perjanjian HAM memuat ketentuanketentuan yang menentukan. Untuk meratifikasi perjanjian.anggota badan-badan khususnya. atau persetujuan. suatu Negara harus menunjukkan keinginannya untuk melaksanakan semua hak dan kewajiban hukum yang termuat dalam perjanjian melalui tindakan nyata. jika Negara menyatakan persetu- 146 JURNAL HAM • Vol. dan oleh Negara mana pun yang telah diundang oleh Majelis Umum PBB”. sesuai denga pasal-pasal terakhir dari perjanjian tersebut. Penandatanganan Perjanjian-perjanjian multilateral. pertama. Penandatanganan juga menciptakan kewajiban untuk menahan diri dalam niatan yang baik dari tindakan-tindakan yang bertentangan dengan tujuan perjanjian dalam jangka waktu antara penandatanganan dan ratifikasi. Ratifikasi. Dengan mensyaratkan bahwa penandatanganan harus diikuti oleh ratifikasi maka Negara-negara memiliki waktu untuk mencari kesepakatan bagi perjanjian di tingkat domestik dan untuk menegakkan peraturan-peraturan yang diperlukan guna melaksanakan perjanjian di tingkat nasional. dan kedua. Suatu Negara dapat menyatakan persetujuannya untuk diikat oleh perjanjian dengan beberapa cara. penerimaan. penerimaan. oleh Negara Pihak mana pun pada Statuta Pengadilan Internasional. Dengan kata lain. yaitu ketika suatu Negara memberikan persetujuannya untuk diikat oleh perjanjian yang telah ditandatanganinya. tindakan penandatanganan tidak menentukan adanya kewajiban hukum positif terhadap Negara. penandatanganan mengindikasikan keinginan Negara untuk mengambil langkah-langkah untuk diikat oleh perjanjian di kemudian hari. Negara melakukan hal tersebut dengan menyerahkan “instrumen ratifikasi” kepada Sekretaris Jenderal PBB. penerimaan. Dengan kata lain. atau melalui aksesi. Perjanjian HAM utama lainnya terbuka bagi semua Negara. penerimaan. kecuali Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang keterlibatan anak-anak dalam konflik bersenjata yang terbuka bagi Negara mana pun yang menyetujuinya. atau persetujuan Ratifikasi. kapan perjanjian tersebut akan mulai diberlakukan. Negara harus menyatakan persetujuannya untuk diikat oleh perjanjian. Perjanjian HAM menentukan bahwa persetujuan dapat diberikan baik melalui penandatanganan yang diikuti dengan ratifikasi. seperti halnya perjanjian-perjanjian hak asasi manusia. Namun. atau persetujuan mengacu pada tindakan definitif yang diambil di tingkat internasional. pertama kali. Protokol opsional dibatasi hanya bagi Negara-negara Pihak pada perjanjiannya. Untuk menjadi pihak pada perjanjian multilateral. 4 • Th. atau persetujuan. 2007 . Banyak perjanjian mensyaratkan jumlah minimum Negara Pihak sebelum perjanjian tersebut mulai berlaku sebagai hukum internasional.

melalui dekolonialisasi). Namun. Tindakan yang diperlukan di tingkat internasional juga perlu dilakukan. yang mungkin diperlukan oleh Negara sesuai dengan ketentuan-ketentuan konstitusionalnya sebelum Negara tersebut menyatakan persetujuan untuk diikat secara internasional. maka proses tersebut disebut aksesi (lihat di bawah). atau sebagai alternatif. Ratifikasi di tingkat internasional. Namun. Ratifikasi di tingkat nasional tidak cukup kuat sebagai pernyataan keinginan Negara untuk diikat di tingkat internasional. Negara penggantinya dapat memilih meratifikasi atau mengaksesi perjanjian yang bersangkutan dalam kapasitasnya sendiri. banyak perjanjian multilateral modern dapat diaksesi bahkan pada masa perjanjian terbuka bagi penandatanganan. tidak seperti ratifikasi. penerimaan. 2007 kin terjadi dan prosedur yang dipakai tergantung pada ketentuan-ketentuan dalam perjanjian yang bersangkutan. Aksesi memiliki dampak hukum yang sama seperti ratifikasi. Kondisi-kondisi di mana aksesi mungJURNAL HAM • Vol. Negara tersebut dapat menyatakan persetujuannya untuk terus diikat oleh kewajiban hukum sebagaimana dilakukan oleh Negara Pihak yang asli yang berlaku untuk wilayah teritorial yang sama melalui tindakan suksesi. yaitu penyerahan instrumen aksesi. Ketika suatu Negara telah meratifikasi perjanjian di tingkat internasional. Negara yang bersangkutan harus memberitahukan Sekretaris Jenderal PBB mengenai niatnya untuk menggantikan kewajiban hukum tersebut. Kondisi semacam ini termasuk kemerdekaan (misalnya. 4 • Th. maka Negara harus melaksanakan perjanjian tersebut di tingkat nasional. penyatuan negara federasi atau serikat. yang mengindikasikan komitmen Negara kepada masyarakat internasional untuk melaksanakan kewajibannya. Pada umumnya. Dalam kondisi-kondisi tersebut. Setelah ratifikasi. tidak ada pembatasan waktu untuk meminta Negara meratifikasi perjanjian yang telah ditandatanganinya. Suksesi Suksesi terjadi hanya dalam kasus-kasus di mana suatu Negara yang menjadi pihak pada perjanjian mengalami transformasi konstitusional yang besar yang menimbulkan keraguan apakah pernyataan persetujuan untuk diikat oleh perjanjian yang telah diberikan sebelumnya tetap sahih. Aksesi Aksesi adalah tindakan ketika suatu Negara yang belum menandatangani suatu perjanjian menyatakan persetujuannya untuk menjadi pihak pada perjanjian tersebut dengan menyerahkan “instrumen aksesi” kepada Sekretaris Jenderal PBB. tidak boleh disamakan dengan ratifikasi di tingkat nasional. Pembedaan antara ratifikasi/aksesi dengan mulai berlaku Tindakan di mana Negara menyatakan persetujuannya untuk diikat oleh perjanjian berbeda dengan mulai berlakunya perjanjian tersebut.juannya untuk diikat tanpa pertama kali menandatangani perjanjian. atau persetujuan. Dalam hal ini. yang harus diawali dengan penandatanganan untuk menciptakan kewajiban hukum yang mengikat berdasarkan hukum internasional. Aksesi biasanya digunakan oleh Negara-negara yang ingin menyatakan persetujuan mereka untuk diikat oleh perjanjian ketika tenggat waktu penandatanganan telah lewat. maka Negara terikat secara hukum oleh perjanjian sebagai salah satu Negara Pihaknya. Negara menunjukkan keinginannya untuk melaksanakan hak dan 147 . aksesi hanya mensyaratkan satu langkah. dan penarikan diri suatu Negara atau entitas dari Negara atau federasi.

Daftar ratifikasi perjanjian HAM utama tersedia di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR). 2007 148 . persetujuan. 4 • Th. Situsnya http://untreaty. penerimaan. mulai berlakunya perjanjian berkaitan dengan suatu Negara adalah saat di mana perjanjian tersebut benar-benar mengikat secara hukum bagi Negara Pihak tersebut. Tanggal Sebagai konsekuensi dari hal tersebut di atas. Ada dua jenis mulai berlakunya perjanjian: mulai berlakunya perjanjian sebagai instrumen hukum internasional secara pasti. Kebanyakan perjanjian memperkirakan bahwa perjanjian akan mulai berlaku setelah adanya ratifikasi. Sampai tanggal tersebut. Ketentuan-ketentuan perjanjian menentukan saat mulai berlaku tersebut. atau aksesi. Bagaimana saya bisa mengetahui apakah suatu perjanjian sudah mulai berlaku di suatu Negara? Sumber yang pasti adalah Tempat Penyimpanan Perserikatan BangsaBangsa. Siapa pun yang ingin mengajukan pengaduan terhadap Negara Pihak kepada badan perjanjian berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian atau protokol opsionalnya harus memastikan bahwa instrumen tersebut telah diberlakukan di Negara yang bersangkutan. baik yang sudah meratifikasi maupun mengaksesinya (walaupun Negara-negara tersebut tetap berkewajiban untuk menahan diri dalam niatan yang baik dari tindakan-tin- dakan yang bertentangan dengan tujuan perjanjian tersebut). yang mempunyai daftar perjanjian multilateral yang diserahkan kepada Sekretaris Jenderal.un. perjanjian tidak mengikat secara hukum bagi Negara mana pun. Tanggal ini juga menentukan tanggal-tanggal Negara harus menyerahkan laporannya kepada badan perjanjian.kewajiban hukum berdasarkan suatu perjanjian melalui penyerahan instrumen ratifikasi. atau aksesi yang diserahkan kepada Sekretaris Jenderal dalam jumlah tertentu. Mulai berlaku bagi suatu Negara Ketika perjanjian sudah mulai berlaku secara umum. Sedangkan. dan masa mulai berlaku khusus bagi Negara tertentu. Perjanjian tidak dengan serta merta mulai berlaku: biasanya ada masa tunggu yang diatur dalam perjanjian antara tanggal penyerahan instrumen dan tanggal mulai berlakunya. penerimaan. Mulai berlaku Mulai berlakunya suatu perjanjian adalah saat ketika suatu perjanjian benar-benar mengikat secara hukum negara-negara yang menjadi pihaknya. Mulai berlaku secara pasti Masa mulai berlakunya suatu perjanjian secara pasti adalah waktu yang menetapkan perjanjian baru tersebut sebagai instrumen hukum yang mengikat bagi Negaranegara yang telah menyatakan persetujuannya untuk diikat oleh ketentuan-ketentuan dalam perjanjian tersebut. Mengapa tanggal mulai berlaku penting? Ini adalah tanggal di mana hak-hak yang diatur dalam perjanjian mengikat Negara dalam hukum internasional. maka mungkin akan terdapat beberapa tanggal pada perjanjian berkaitan deJURNAL HAM • Vol. biasanya dengan masa tunggu satu bulan atau sekitarnya.org. persetujuan. maka ketentuan-ketentuan tambahan menentukan kapan perjanjian mulai berlaku bagi Negara atau organisasi internasional tambahan yang ingin terikat dengan perjanjian tersebut.

ngan suatu Negara: Tanggal mulai berlakunya suatu perjanjian secara pasti: yaitu tanggal yang ditentukan dalam perjanjian yang menunjukkan kapan perjanjian mulai berlaku secara umum dalam hukum internasional dan mulai mengikat Negara-negara yang telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan. dan Budaya Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan Konvensi Menentang Penyiksaan Konvensi Hak Anak Diadopsi 21 Desember 1965 Tanggal mulai berlaku 4 Januari 1969 Tanggal mulai berlaku bagi Negara Pihak Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan 16 Desember 1966 16 Desember 1966 18 Desember 1979 3 Januari 1976 3 bulan setelah tanggal penyerahan 23 Maret 1976 3 bulan setelah tanggal penyerahan Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan 3 September 1981 10 Desember 1984 20 November 1989 26 Juni 1987 2 September 1990 Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan JURNAL HAM • Vol. Tanggal penyerahan instrumen ratifikasi atau aksesi: yaitu tanggal kapan tempat penyimpanan perjanjian PBB menerima instrumen hukum yang menyatakan persetujuan Negara untuk terikat pada perjanjian. 4 • Th. Tanggal penandatanganan: yaitu tanggal kapan Negara menandatangani perjanjian. Kalkulasi tanggal mulai berlakunya perjanjian Perjanjian Kovenan Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Jangka waktu tersebut beragam antara satu perjanjian dengan perjanjian lainnya. 2007 149 . Tanggal mulai berlaku bagi Negara: yaitu tanggal yang ditetapkan oleh perjanjian tentang kapan perjanjian mulai secara formal mengikat Negara dalam hukum internasional. Sosial. Hal ini tidak memiliki dampak hukum kecuali menahan diri dari tindakantindakan yang bertentangan dengan tujuan perjanjian. Kebanyakan perjanjian mensyaratkan jangka waktu tertentu antara tanggal penyerahan instrumen sebelum perjanjian mulai berlaku dan mengikat secara hukum.

2007 . 4 • Th.Konvensi Internasional tentang Perlindungan terhadap Hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya Protokol Opsional Pertama Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Protokol Opsional Kedua Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Tentara Anak Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Penjualan Anak Protokol Opsional Konvensi Menentang Penyiksaan 18 Desember 1990 1 Juli 2003 Pada hari pertama bulan berikutnya setelah 3 bulan setelah tanggal penyerahan 3 bulan setelah tanggal penyerahan 16 Desember 1966 23 Maret 1976 15 Desember 1989 11 Juli 1991 3 bulan setelah tanggal penyerahan 6 Oktober 1999 22 Desember 2000 3 bulan setelah tanggal penyerahan 25 Mei 2000 18 Januari 2002 12 Februari 2002 Belum diberlakukan (dibutuhkan 20 Negara Pihak) 1 bulan setelah tanggal penyerahan 1 bulan setelah tanggal penyerahan Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan 25 Mei 2000 18 Desember 2002 150 JURNAL HAM • Vol.

22 : Diskriminasi terhadap Perempuan: Konvensi dan Komite No. dan No. 20 : Hak Asasi Manusia dan Pengungsi No. 4 • Th. 23 : Praktik Tradisional yang Berbahaya bagi Kesehatan Perempuan dan Anak No. 28 : Dampak Kegiatan Tentara Bayaran terhadap Hak Orang-orang Untuk Menentukan Nasibnya Sendiri No. 8 tidak lagi dipublikasikan. 27 : Tujuh Belas Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Pelapor Khusus PBB No. 25 : Penyingkiran Secara Paksa dan Hak Asasi Manusia No. No. 7 No. 9 No. 11 : Hukuman Mati di Luar Hukum Secara Cepat dan Sewenang-wenang (Revisi 1) No. 19 : Lembaga Nasional untuk Memajukan dan Melindungi Hak Asasi Manusia No. 2007 151 . 30 : Sistem Perjanjian Hak Asasi Manusia Perserikatan BangsaBangsa:Pengantar terhadap Perjanjian Hak Asasi Manusia Utama dan Badan-badan Perjanjian * Lembar Fakta No. Sosial dan Budaya (Revisi 1) No. 10 : Hak Anak (Revisi 1) No. 3 : Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia (Revisi 1) : Layanan Penasihat dan Kerja Sama Teknis di Bidang Hak Asasi Manusia (Revisi 1) : Metode-metode Menentang Penyiksaan (Revisi 1) : Penghilangan Orang Secara Paksa atau Tidak dengan Sukarela (Revisi 2) : Prosedur Komunikasi (Revisi 1) : Hak Penduduk Asli (Revisi 1) No. 16 : Komite Hak Ekonomi. 15 : Hak Sipil dan Politik: Komite Hak Asasi Manusia (Revisi 1) No. 5. 4 No. No. 18 : Hak Kelompok Minoritas JURNAL HAM • Vol. 29 : Pegiat Hak Asasi Manusia: Perlindungan Hak Untuk Membela Hak Asasi Manusia No. 13 : Hukum Humaniter Internasional dan Hak Asasi Manusia No. 21 : Hak atas Perumahan yang Layak No. 17 : Komite Menentang Penyiksaan No. 2 No. 1. 6 No. 14 : Bentuk-Bentuk Perbudakan Masa Kini No. 24 : Hak Pekerja Migran No. 26 : Kelompok Kerja untuk Penahanan Sewenang-wenang No.Daftar Lembar Fakta Hak Asasi Manusia:* No. 12 : Komite Penghapusan Dikriminasi Rasial No.

menggambarkan situasi umum di negeri ini. Setiap Negara dituntut untuk memenuhi kebutuhan minimum untuk bertindak secara komisi maupun secara omisi. Angka ini jelas sangat tinggi.Akses Terhadap Pendidikan dan Kesehatan: Peristiwa Tiga Daerah Judul Buku : Meneropong Hak Atas Pendidikan dan Layanan Kesehatan: Analisis Situasi di Tiga Kabupaten: Indramayu. merupakan hak penting yang satu sama lain saling terkait dan menentukan. melindungi dan melaksanakan. khususnya pelayanan pendidikan kepada anak. lebih rendah lagi. Ketersediaan sarana pendidikan masih menjadi problem. Harry Wibowo. Burhanudin. Tingkat layanan pendidikan di Indramayu. Penelitian dari tiga daerah ini menunjukkan bahwa terjadinya keterlambatan dalam pelayanan pendidikan. menghormati. yaitu soal kebebasan. Sementara untuk masalah pelayanan kesehatan indikatornya adalah ketersediaan. Di Kabupaten Sikka lebih parah lagi. Rahadi’T Wiratama. Peluang kebebasan untuk mendirikan lemJURNAL HAM • Vol. Sementara di Kabupaten Sikka dan Jayapura. Negara memiliki kewajiban untuk. Wildan Pramudya. Abdul Mun’im Dz. soal kewajiban minimum. Seperti diketahui bersama. Masing-masing bidang memiliki indikator. Banyak kondisi fisik bangunan sekolah dan sarana pendukung yang kurang memadai. 195+xxiv Hasil survey yang kemudian diterbitkan menjadi buku ini. menunjukkan rendahnya kualitas kepedulian pemerintah daerah dan masyarakat. Angka putus sekolah di Kab. penghormatan dan promosi terhadap terpenuhinya Hak Ekonomi Sosial Budaya (HESB). lebih-lebih jika dilihat bahwa angka putus sekolah itu terjadi pada jenjang pendidikan SD (h. 4 • Th. Pendidikan dan kesehatan. dan Jayapura Penulis : Naning Mardiniah. Ketiga. 103). dan kebersesuaian. Potret di tiga lokasi penelitian yang menjadi locus.5%. ketersediaan. pertama. keteraksesan. keterimaan dan kualitas. belum mampu menjamin penegakan. Angka-angka berikut mengkonfirmasi fakta itu. lebih rendah dibandingkan angka rata-rata di Jawa Barat yang 24%. Untuk masalah hak pendidikan ada empat hal. dalam kadar serta intensitas tertentu. Keterlambatan ini. Sikka. Indramayu mencapai 4. 2005. Widodo Dwi Putro. Pengantar : Abdul Hakim Garuda Nusantara Editor : Harry Wibowo dan Anharudin Penerbit : CESDA-LP3ES. Gambaran di mana Negara. 2007 152 . keteraksesan. Kedua. mengkonfirmasi persepsi yang berkembang selama ini mengenai pelayanan kesehatan dan pendidikan yang masih jauh dari harapan. bertindak (obligation of conduct) dan berkewajiban mencapai hasil (obligation of result).

masyarakat mengalami kesulitan untuk mendapatkan akses pelayanan kesehatan (h. yaitu to respect. Tenaga medis yang tersedia. dan sebagai akibatnya. Di tingkat kabupetan. Temuan yang diungkapkan dalam buku ini mengindikasikan bahwa masalah kesehatan mengindikasikan pemerintah. problem mendasarnya adalah masalah keteraksesan dari segi jarak. Banyak bangunan sekolah yang tanahnya dalam status sengketa dengan masyarakat adat (h. fasilitas buku pelajaran yang minim. Jadi. sementara pemerintah sendiri belum mampu menyediakan sarana dan prasarana pendidikan dasar yang memadai (h. Sebagian besar prasarana jalan raya di Kab. problem yang menghambat terpenuhinya hak kesehatan masyarakat adalah distribusi tenaga medis yang tidak merata. tampaknya belum terpenuhi (h. 2007 kesehatan di Kabupaten Indramayu. Jayapura belum selesai. melindungi dan memenuhi. Prasarana jalan sulit itu. Sikka dan Jayapura masih rendah jika diukur dari standar minumum. Paling tidak. 149). menjadi tidak mengena. Banyak faktor yang melatar belakangi mengapa pelaksanaan pelayanan pendidikan dasar belum memenuhi standar minimum. Kualitas layanan JURNAL HAM • Vol. akan tetapi tidak dengan sendirinya bisa menghentikan laju angka putus sekolah. Tidak semua Puskesmas memiliki tenaga dokter. menjadikan kebijakan Pemda/Pemerintah menggratiskan layanan kesehatan. Menghargai atau menghormati. pada aspek pemenuhan ini. minimnya tenaga pengajar sehingga banyak kelas yang kosong. Tidak semua kondisi Puskesmas dalam kondisi siap pakai.137). 107). Jayapura adalah gambaran yang paling menyedihkan. ada yang kondisi bangunannya rusak berat dan tidak bisa dipakai (h. banyak problem yang terjadi. sulitnya lokasi baik untuk dijangkau tenaga pengajar maupun siswa. Hal ini terjadi karena beberapa sebab. 4 • Th. 27 dokter umum. belum memenuhi tanggung jawabnya dalam memenuhi hak-hak kesehatan dasar bagi masyarakat. Secara lebih spesifik di Kabupaten Jayapura. Di Kabupetan Sikka. kondisinya sangat jauh dari kabupaten lain. to protect dan to fulfill. telah menghapuskan biaya pendidikan dasar. 166) Hal yang sama juga terjadi dalam masalah pelayanan kesehatan. Siswa yang sudah lulus SD pun. belum tersedia Rumah Sakit Umum dan tidak semua kecamatan memiliki Puskesmas. salah satunya adalah konflik status kepemilikan tanah yang tidak kunjung diselesaikan oleh Pemda. Dibandingkan kabupaten sekitarnya. tanggung jawab pemerintah ini akan dilihat dari aspek ketersediaan. Gambaran lebih dramatis terjadi di Kabupaten Jayapura. Dari sini. meskipun pendidikan dasar merupakan suatu yang wajib dan harus dilakukan secara gratis. Pada satu Puskesmas misalnya. Kendati Pemda Jayapura. buruknya ruang belajar dan banyaknya siswa yang kurang gizi sehingga sulit menangkap pelajaran dari gurunya. 154). Terjadi ketimpangan dalam rasio distribusi. terjadi konsentrasi te- 153 . kemudian buku ini menarik benang merah.baga pendidikan tidak dimanfaatkan oleh masyarakat. sebagaimana ditemukan pada SD Distrik Genyem. keteraksesan dan keberterimaan. ada tiga kewajiban utama pemerintah terkait hal tersebut. Untuk bisa memenuhi standar minimum saja masih jauh. 159). Pada level masyarakat masih ditemui kasus-kasus yang menghambat pelaksanaan pendidikan. Aspek pelayanan minimumpun. akan tetapi masih jauh dari harapan. 7 dokter gigi dan 175 bidan desa. Apa yang terjadi di Kab. banyak yang belum bisa baca-tulis dan berhitung (h.

Dari segi infrastruktur. 2007 . Jayapura maupun Sikka. pembangunan kesehatan masih bersifat kuratif. Pada kebijakan kesehatan. setidaknya pemerintah telah menyediakan secara memadai sarana dan prasarana kesehatan.naga dokter sementara pada Puskesmas tertentu. Banyaknya kasus diare dan demam berdarah di Indramayu akibat sanitasi lingkungan yang buruk. akses tentu tampak lebih dibanding Kab. Kebijakan Pemerintah dari sisi anggaran. bidang kesehatan hanya mendapat alokasi anggaran sejumlah 0. Oleh karena itu. pelaksanaannya di daerah belum diiringi perspektive dan komitment mendalam untuk memenuhi hak-hak rakyat. meskipun secara nasional telah tegas akan tetapi banyak daerah tingkat dua yang tidak menjadikannya sebagai mainstream dalam pembangunan. Memang lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Sikka. Temuan di lapangan menunjukkan ada dua problem dalam akses kesehatan. sebagian besar masyarakat tidak memiliki akses terhadap air bersih sebagai akibatnya derajat kesehatan masyarakat juga rendah. Itu sebabnya. Dan untuk pembangunan kesehatannya hanya sekitar 7 milyar per tahunnya. Karenanya. rendahnya keteraksesan masyarakat terhadap informasi tentang kesehatan yang melahirkan munculnya perilaku hidup yang tidak sehat dan rendahnya keterjangkauan masyarakat untuk mengakses layanan kesehatan yang disediakan pemerintah. Pasalnya. Indramayu. Problem kesehatan yang terjadi adalah soal akses untuk hidup sehat. Salah satu kasusnya adalah akses masyarakat terhadap air bersih. Kedua. Laporan tiga daerah itu secara tegas menyuratkan kenyataan bahwa masalah pendidikan dan kesehatan. Dari aspek ketersediaan. kebijakan pemerintah masih banyak mene- kankan aspek kuratif daripada promotif dan preventif. Meskipun di tingkat nasional telah digariskan dengan sejumlah peraturan hukum dan kebijakan politik. Sementara dalam masalah pendidikan. sosialisasi kebijakan kesehatan masih rendah. Tak hanya itu. secara umum. Akan tetapi penerapan prinsip-prinsipnya yang kemudian dianggap sebagai bagian dari pelaksanaan otonomi daerah. Namun dari sisi kualitas layanan. 125-131). ketersediaan tenaga medis. dan perlindungan bagi masyarakat miskin juga masih rendah. Mun’im menyarankan agar Puskesmas yang berfungsi sebagai pusat kesehatan masyarakat mengubah paradigma layanannya dari aspek kuratif ke promotif dan preventif. masih belum menjadi mainstream dalam program pembangunan di negeri ini. Jadi tidak akses ke pelayanan kesehatan memang masih belum merata dan bisa dibayangkan bagaimana masyarakat yang ada di desa (h. pembangunan kesehatan belum menjadi arus utama pembangunan. masih perlu dilihat lagi. Sementara untuk Kab. jika dilihat dari standard minimum. Sayangnya. 4 • Th. Ellyasa KH Darwis 154 JURNAL HAM • Vol. masyarakat di kecataman yang Puskesmasnya tidak tersedia tenaga dokter. upaya pelaksanaan di lapangan yang terjadi sekadar memenuhi kuantitas dan belum ditunjukkan kearah peningkatan kualitas. di sana sini terjadi ambivalensi dan tidak jarang reductive.4 % dari APBD. untuk bisa mengakses harus ke Puskesmas Kecamatan lain. Pertama. tidak ada dokter sama sekali.

Penerima Beasiswa the British Chevening Scholarship (2001/2002) untuk LL. Patra M. Beliau juga aktif dalam beberapa penelitian. anggota Tim Ad Hoc Kerusuhan 13-14 Mei 1998 (2003). 2007 155 . Ketua Ad Interim Badan Pengurus Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia. Tak Ada Hak Asasi yang Diberi (2005). 60 Menit Memahami (Mengawasi) Penyusunan Peraturan Perundang-undangan (2005).M in International Human Rights Law di University of Essex. Sekarang menjadi Anggota Komnas HAM pada Subkomisi Pendidikan dan Penyuluhan (2007-2012). Dalam bidang organisasi beliau menjadi Majelis Etik AJI Jakarta (2003-2005) serta menjadi anggota Pokja Reformasi Polri yang dibentuk oleh POLRI-Kemitraan sejak 2003. Zen. 2003-2006 bekerja di Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi manusia Indonesia. Beberapa kali terlibat dalam pekerjaan Komnas HAM antara lain menjadi evaluator majalah Komnas HAM “SUAR”. 2004-2006 menjadi anggota Komite Eksekutif Forum Asia sebagai wakil PBHI – termasuk menjadi Ketua Komite Eksekutif (November 2005-Februari 2006) Adhi Santika saat ini menjabat Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hak-hak Kelompok Rentan Badan Penelitian dan Pengembangan HAM. Membangun Koalisi yang Otoritatif Dalam Menilai Proses Pembentukkan Perundang-undangan yang Partisipatif (2005). menjadi fasilitator dan pendamping kelompok minoritas (antara lain masyarakat adat dan orang Tionghoa) dan memimpin tim riset dan penelitian kekerasan yang dilakukan Polri untuk Subkomisi Pemantauan Komnas HAM (2004).TENTANG PENULIS Yoseph Adi Prasetyo. editor dan co-editor buku. Sengketa Konstitusional Lembaga-lembaga Negara (2005).id Henri Simarmata.go. Refleksi dan Penyusunan Strategi Mewujudkan Partisipasi Masyarakat dalam Penyusunan Peraturan Perundang-undangan (2005). 1995-2002 bekerja di Institut Sosial Jakarta. 4 • Th. Naskah Akademik JURNAL HAM • Vol. menjadi fasilitator dalam menyusun rencana kerja Komnas HAM. Inkonsistensi dan Separatisme Jakarta: Mengapa Tanah Papua Terus Bergolak? (2005). jabatan terakhirnya adalah Direktur Eksekutif Institut Studi Arus Informasi (ISAI) dan penulis lepas. Aktif dalam berbagai seminar dan lokakarya HAM serta menulis sejumlah makalah berkaitan dengan HAM di Indonesia A. Beliau juga adalah salah satu anggota Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Email : stanley@komnasham. Departemen Hukum dan HAM. Penulis. yaitu mengkoordinir penelitian Gerakan Demokrasi di Indonesia (2002-2003) dan mengkoordinir survei dan penelitian “Aktor Demokrasi di Indonesia” (2000-2002). Juga menjadi penyelia penerbitan sejumlah ornop yang disandangnya sejak 1996. antara lain: Buku Panduan Bantuan Hukum di Indonesia (2006). Buku Pintar. Inggris. 1999 dan 2005 mengikuti sesi sidang Komisi HAM.

Indonesia and the New Human Rights Council (The Jakarta Post. Hendardi menjabat sebagai ketua Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI). dan Hukum Perdata di Indonesia (2001). Considering General Election in Aceh under the Martial Law (2004). July 2003 (with Distinction) dengan area spesiali- 156 JURNAL HAM • Vol. Tahun 19881993 bertugas di Direktorat Perjanjian Internasional Departemen Luar Negeri. Emilie Hafner-Burton mendapatkan gelar Ph. South Africa (The United Nations Chronicle. Durban. Diantaranya dari lembaga prestisius seperti Human Rights Watch(1993). Koalisi Partisipasi (2003).M dari Tulane Law School. Lesson learnt from world leaders’ school diplomacy (The Jakarta Post. Pernah menjadi Ketua Komite Pembelaan Mahasiswa (KPM ITB)1979-1981 yang ditangkap oleh rejim Soeharto.D. April 18.m. The World Conference against Racism. Jonny Sinaga saat ini bekerja di Departemen Luar Negeri Republik Indonesia sebagai Kepala Sub-Direktorat Hak Sipil dan Politik. Hendardi pernah menerima berbagai penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri. 2006). New York. Aceh dan Timor Timur (Timor Leste). 2006).com Andik Hardiyanto.dari University of Wisconsin .Madison.29 September 1999). Hasil Studi Identifikasi Potensi Land Reform di Indonesia (1998). Hendardi. Kemudian aktif dilingkaran Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).Rancangan Undang-undang tentang Pengadaan Barang dan Jasa Publik (2004). April 19. dari tahun 2000-2004. 2007 . Waktu senggangnya digunakan untuk menulis yang antara lain muncul dalam Jurnal PBB New York dan harian the Jakarta Post. Reforming the UN Human Rights Commission (dengan Mulyadi) (The Jakarta Post. 2006). Land Reform by Leverage In Indonesia (1998). dan kerap melakukan investigasi di daerahdaerah konflik. Shameful modern slavery (The Jakarta Post. Yang bersangkutan sebelumnya bertugas menangani isu-isu HAM di Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) pada Perserikatan Bangsa-Bangsa New York. May 20. Tahun 1997 hingga tahun 2004 Jonny Sinaga bekerja di Direktorat Organisasi Internasional Departemen Luar Negeri sekaligus menjadi anggota Kelompok Kerja HAM Deplu. Penulis Agenda Land Reform di Indonesia Sekarang. Recent Developments in Human Rights in Indonesia after the Adoption of the National Plan of Action of Human Rights 1998 – 2003 (Preparatory Workshop on the Capacity Building in International Labour Standard and Human Rights in Indonesia. Jakarta. dan juga penghargaan HAM dari Menteri Negara Urusan Hak Asasi Manusia RI (29Agustus 2000). 2005). saat ini Direktur Eksekutif Social and Economic Rights Action Centre (SiDAN). Tahun 1987 menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan tahun 1992 memperoleh gelar LL. 2006). The quiet revolution in Indonesia’s human rights (The Jakarta Post. Australia. dalam bidang political science. Tulisannya antara lain: The spirit of May 20 (The Jakarta Post. March 28. 4 • Th. June-August 2001 edition). November 8. seperti di Lampung. New Orleans.zen@gmail. 2005). Kritik dan saran dapat melalui patra. Tahun 1993-1997 bertugas di Bagian Politik Kedutaan Besar RI di Canberra. May 10. Bogor: 28 . Amerika Serikat. conducted by ILO. Sejak tahun 1996.

2008. 2005. No. pp. pp. 83.” Co-authored with Alexander Montgomery. “Power or Plenty: Do International Trade Organizations Shape Economic Sanctions?” Co-authored with Alexander H. sejarah. 587-620. 63-88. American Journal of Sociology. “Human Rights in a Globalizing World: The Paradox of Empty Promises. eds.. Journal of Peace Research. “The Semiconductor Community in Silicon Valley: A Network Analysis of the Semi Genealogy Chart (1047 . adalah peneliti utama dengan spesialisasi bidang politik. “Right or Robust? The Sensitive Nature of Political Repression in an era of Globalization. “Global Civil Society and Ethnic Social Movements in the Contemporary World. eds. 2006.” Sociological Forum.” Coauthored with Kiyoteru Tsutsui. pp. 2007 157 . “Sticks and Stones: Naming and Shaming and the Problem of Human Rights Enforcement” International Organization.” Co-authored with James Ron. Saat ini menjadi Assistant Professor.” International Organization. pp.. 44(4). International Journal of Technology JURNAL HAM • Vol. forthcoming (under revision). 407-425.679-698. Vol. 1373-1411. Montgomery.hafner-burton@nuffield. Dia mendapatkan Social Science Research Council Abe Fellow pada 2004-2005 dan Visiting Assistant Professor di Stanford University for the 2005-2006. Nuffield College. gerakan sosial.” Social Forces.. 59(3). Beberapa karya tulisannya adalah: Agreements. 3-27. Journal of Conflict Resolution. Saat ini tengah mengkaji mengenai ekspansi global hak asasi manusia dan dampaknya terhadap politik lokal.” With Christine Min Wotipka. Vol. No. 2005.2008. pp. Woodrow Wilson School of Public and International Affairs and the Department of Politics.. Korespondensi langsung kepada Emilie Hafter-Burton. Journal of Peace Research. 23(1). 45(1). Hafner-Burton and Ron. Oxford OXI 1 NF. Journal of Conflict Resolution. Universitas Oxford. 2004. sosiologi. E-mail: Emilie. pp. “International Human Rights Law and the Politics of Legitimation: Repressive States and Human Rights Treaties.. “Global Civil Society and the International Human Rights Movement: Citizen Participation in Human Rights International Nongovernmental Organizations. Publikasinya antara lain: “Redressing Past Human Rights Violations: Global Dimensions of Contemporary Social Movements. Journal of Peace Research. Vol. Social Networks. 2005. 1. “International Organizations Count: What Statistics Show Us (and Don’t Show Us) About IOs. dan hak asasi manusia di Stony Brook. 2005. 2007.” With Dimitris Assimakopoulos and Sean Everton.” With Emilie Hafner-Burton.ac. Hafner-Burton. Inggris. April 2008.. American Journal of Sociology. 593-629. 110. 4 • Th.. pp. 44(4). Princeton University. 115-141. “Power Positions: International Organizations. Forthcoming..” Co-authored with Kiyo Tsutsui. 13731411.. 5.” Cornell University Press. 2004.1986). “Trading Human Rights: How Preferential Trade Agreements Influence Government Repression. 2.” Coauthored’with Jana von Stein.ox. Montgomery. New Road.uk Kiyoteru Tsutsui.sasi International Relations and Methodology. forthcoming. 110(5). Social Forces.” Co-authored with Alexander H. State University of New York. April 2008. 379-383. No. “Preventing Human Rights Abuse. 19. special edition of the Journal of Conflict Resolution. 50(1). 42(6). von Stein and Gartzke. and Conflict. 99-108. forthcoming.” Co-authored with Kiyoteru Tsutsui and John Meyer. pp. forthcoming (under revision).” Journal of Peace Research. 2007. “The Hegemon’s Purse: No Economic Peace Between Democracies.. International Sociology. “Human Rights Practices in a Globalizing World: The Paradox of Empty Promises. “Justice Lost! The Failure of International Human Rights Law to Matter Where Needed Most.

Vol. Journal of Conflict Resolution. 158 JURNAL HAM • Vol. praktisi media dan peneliti pada Swamedia Research and Communication (SRC) Jakarta .sunysb. 2007 . 42.edu Ellyasa KH Darwis. 691-720.” With Susan Olzak. “Status in the World System and Ethnic Mobilization. Saat darurat militer. Vol. 4 • Th. menjadi tenaga analis data pada Desk Aceh Komnas HAM.cc. Korespondensi dapat ditujukan ke ktsutsui@notes. No. 1/2. 25. Pernah aktif di LKIS Yogyakarta. 6. No. WALHI. December 1998.Management. KIPP Indonesia. 181-199. 2003. CPSM.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.