P. 1
Jurnal HAM

Jurnal HAM

|Views: 2,131|Likes:
Published by Janry Simanungkalit

More info:

Published by: Janry Simanungkalit on Nov 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/06/2013

pdf

text

original

Vol. 4 No. 4 Th. 2007
ISSN 1693-6027

JURNAL HAM
2007

Diterbitkan oleh : KOMISI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA ©2007
JURNAL HAM • Vol. 4 No. 4 Th. 2007

i

JURNAL HAM
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Semua artikel dalam Jurnal HAM ini dapat digandakan untuk keperluan pemajuan hak asasi manusia dengan menyebutkan sumbernya. Pemberitahuan akan sangat dihargai.

Penanggung Jawab Pemimpin Redaksi

: Yoseph Adi Prasetyo Saharudin Daming : Atikah Nuraini

Redaktur Pelaksana : S.M.Gusrini Tambunan Dewan Redaksi : Rusman Widodo Kurniasari Novita Dewi Sasanti Amisani : Banu Abdillah : J. Eddy Juwono : J. Eddy Juwono

Distribusi Rancangan sampul Tata Letak

162 halaman, 16 x 24 cm

Diterbitkan oleh

: Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) JL. Latuharhary No. 4 B Menteng Jakarta 10310 Tel. +62-21-3925230 ext 218/219 Fax. +62-21-3912026 Email: info@komnasham.go.id Website: http://www.komnasham.go.id : Perkumpulan Omega
JURNAL HAM • Vol. 4 No. 4 Th. 2007

Dicetak oleh

ii

............................................... Jonny Sinaga Prospek dan Tantangan Implementasi ICCPR .............................. Henry Simarmata Pelaksanaan ICCPR dan ICESCR dalam Konteks Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN-HAM) 2004-2009 .................................... A....................................... Hafner-Burton & Kiyoteru Tsutsui 1 4 12 22 38 48 68 Lembar Fakta Perserikatan Bangsa-Bangsa No.................................................... 2007 iii ................... 102 Resensi Buku ............................. 155 JURNAL HAM • Vol.... 4 No..... Zen dan Andik Hardiyanto Kewajiban Negara dalam ICCPR ................ Hendardi Hak Asasi Manusia di Dunia yang Terglobalisasi : Paradoks Janji-janji Kosong ... 4 Th.............................. Patra M......Daftar Isi Editorial ............................................................................................................. Emilie M.............. Yosep Adi Prasetyo Kovenan HAM Internasional : Pandangan Umum mengenai Signifikasi dan Perkembangan ............................................................................................................................................ 30 Sistem Perjanjian Hak Asasi Manusia: Pengantar terhadap Perjanjian Hak Asasi Manusia Utama dan Badan-Badan Perjanjian .................................................................................................... Adhi Santika Bukan Sekedar Menandatangani: Obligasi Negara Berdasarkan Kovenan Hak Ekosob . 152 Tentang Penulis ...................

4 No. 2007 . 4 Th.iv JURNAL HAM • Vol.

dan Honduras. HDI Indonesia adalah sebesar 0. Pada 2005. dan budaya. diskrimansi gender. Thailand urutan ke-76. Menyedihkan memang mendapatkan kenyataan bahwa Indonesia terpuruk di bawah dan berada dalam peringkat yang hampir sama dengan negara seperti Vietnam. menekan angka inflasi. United Nation Development Program (UNDP) mengumumkan temuan mereka akan kemajuan berbagai negara dalam mensejahterakan masyarakatnya yang ditunjukkan melalui Human Development Index (HDI).692 dan berada di urutan 111. Indonesia adalah negeri satu-satunya yang masih merangkak dan berupaya ke luar dari belitan krisis. sulitnya akses terhadap pelayanan dan infrastuktur dasar. Yang mengejutkan adalah negara sosialis yang mengalami pengucilan semacam Kuba mampu menempati uturan ke-52. Memecahkan persoalan kemiskinan ternyata bukan sekadar menciptakan lapangan kerja. Atau sekadar janji-janji kampanye pada saat menjelang pemilihan presiden. Dalam catatan UNDP. Tentunya ini bukan sebuah pekerjaan yang mudah. 4 • Th. serta hak atas pembangunan. Negara yang memiliki HDI tertinggi dan berada di urutan satu adalah Norwegia. Antara lain. Hal ini sejalan dengan amanat Pembukaan UUD 45 yaitu mewujudkan negara yang adil-makmur berdasarkan Pancasila. Pemerintah tak boleh lagi berleha-leha menjalankan tugas-tugasnya. Negara yang baru ke luar dari cengkraman konflik seperti Bosnia Herzegovina berada pada urutan ke-66. sosial. Thailand. tapi harus bekerja keras untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. menarik investor luar negeri untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Sejumlah negara tetangga kita seperti Singapura berada pada urutan ke-25. Malaysia sudah terlebih dulu bangkit. Subkomisi Pendidikan dan Penyuluhan periode 2007-2012 1 . Di berbagai wilayah di Indonesia masih banyak terdapat kantong-kantong kemiskinan. Upaya perwujudan kesejahteraan masyarakat ini harus dilakukan pemerintah yang telah meratifikasi Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. tak meratanya pembangunan infrasutruktur. Jumlah orang miskin justru terus membengkak. Moldova. menjaga kestabilan ekonomi makro. sulitnya masyarakat memperoleh pendidikan. Sosial dan Budaya (International Covenant * Komisioner Komnas HAM.Editorial Yosep Adi Prasetyo* Memperbaiki kualitas hidup manusia Indonesia kini bukan sekadar slogan saja. 2007 kawasan Asia pada Juni 1997. dan Filipina urutan ke-83. Disusul oleh Swedia (urutan 2) dan Australia (urutan 3). Tapi sudah sudah meliputi hak ekonomi. Apa yang salah dengan proses pembangunan yang digembar-gemborkan selama ini? Tak mudah menjawabnya. Bila diteliti lebih mendalam faktor-faktor penentu kemiskinan secara esensial ternyata memiliki korelasi dengan hal-hal yang lebih mendasar. Negara tetangga seperti Korea. atau mendorong komoditi ekspor semata. Bolivia. Yang jelas sejak didera krisis ekonomi melanda JURNAL HAM • Vol. Wacana hak asasi manusia kini bukan lagi sekadar wacana tentang kebebasan sipil. Angka-angka optimisistis tentang pertumbuhan ekonomi ternyata tak berbanding lurus dengan kenyataan kemiskinan. Filipina. Malaysia urutan ke-59. sulitnya akses pekerjaan (akibat praktek kolusi dan nepotisme).

Bagaimana mencermati ini semua? Negara yang meratifikasi kovenan ICESCR dan ICCPR harus menghormati hak-hak manusia. sosial dan budaya di Indonesia. 12/2005. Dan apabila negara terus saja memberlakukan ketentuan hukum yang bertentangan dengan ICCPR dan ICESCR maka negara akan dikenai tuduhan telah melakukan pelanggaran melalui hukum (violation by judicial). Baik yang berupa perda otonomi. Dalam hal ini kepada sebuah komite ditunjuk untuk menangani perjanjian tersebut Secara regular. pasal-pasal dalam perda ini ternyata berlepotan dan bertentangan dengan ketiga undang-undang tersebut. Negara yang melakukan tindakan yang dilarang atau bertentangan ICCPR melalui campur tangannya akan dikenai tuduhan melakukan pelanggaran melalui tindakan (violation by action). Perda Ketertiban Umum ini bila diimplementasikan bukan tak mungkin bukan hanya akan mengabaikan hak-hak masyarakat. pemerintah juga meratifikasi Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights – ICCPR) pada 28 Oktober 2005. Bisa saja yang terjadi adalah kemajuan dalam langkah-langkahnya. Juga bertentangan dengan Pasal 33 Ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945 serta nilai-nilai sebagaimana pernah diajarkan dalam pelajaran mengenai Pancasila. 11/Th 2005. Apabila negara justru tak melakukan apa-apa baik karena lalai dan lupa maupun absent. Bukan hanya itu. Berbagai macam perda yang tumpang-tindih dan bertabrakan dengan kedua undang-undang tersebut harus segera dicabut karena berpotensi menghambat pelaksanaan hak ekosob dan juga sipol. langkah-langkah. Khususnya dalam merealisasikan kewajiban pemerintah Indonesia untuk memenuhi dan menjalankan kewajibannya sebagai negara yang telah meratifikasi ICESCR dan ICCPR. Perda ini secara nyata tak mencantumkan UU No. Social and Cultural Rights – ICESCR) pada 30 September 2005 melalui proses legislasi yang disetujui DPR. selain bertugas mengimplementasikan ICESCR. perda syariah. tapi lemah atau gagal dalam implementasinya. negara bisa dituduh telah melakukan pelanggaran melalui tindakan pembiaran (violation by omission). ICESCR disahkan menjadi UU No. tapi juga akan menghambat tujuan dan upaya pemerintah. 4 • Th. pemerintah Indonesia harus membuat laporan yang bertalian dengan penyesuaian hukum. Contoh yang paling aktual adalah pemberlakuan Perda Ketertiban Umum oleh Pemda DKI Jakarta pada 8 September 2007 lalu. pemerintah Indonesia harus membuat laporan dalam periode empat tahun sekali. UU No. Pemerintah punya pekerjaan untuk mencermati kembali berbagai peraturan daerah (perda) yang kini jumlahnya telah melebihi angka 1. 11/2005 dan ICCPR menjadi UU No. 39/Th 1999. kebijakan dan tindakan yang dilakukan. Yang lain.on Economic.000. 2007 . 11/2005 dan UU No. Selain ICESCR. Laporan tersebut harus memuat langkah-langkah dan model kebijakan yang telah diambil. Juga hasil-hasil yang dicapai dalam implementasi perjanjian tersebut kepada badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam implementasi ini akan tampak apakah pemerintah memang tidak mampu (inability) atau tidak mau (unwilling) untuk menunaikan kewajibannya. negara harus aktif untuk melindungi hakhak – melalui tindakannya. maupun perda ketertiban yang berpotensi menghambat pelaksanaan UU No. Jurnal edisi ini sengaja mengangkat masalah dan konsekuensi yang bakal me- 2 JURNAL HAM • Vol. 12/2005. serta hasil yang telah dicapai dalam pelaksanaan hak-hak ekonomi. Bukan hanya itu. dan UU No 12/Th 2005 sebagai salah satu konsideransnya.

Tulisan Adhi Santika. 11/Tahun 2005 dan UU No. Zen dan Andik Hardiyanto melalui tulisan “Bukan Sekedar Menandatangani: Obligasi Negara Berdasarkan Kovenan Hak Ekosob” mengangkat masalah obligasi (kewajiban) internasional yang melekat pada Negara pasca meratifikasi kedua kovenan tersebut. Juga pembahasan mengenai tema “pelanggaran hak ekosob”. dan tantangan bagi penerapan ICESCR sebagai UU No. kini telah meningkat menjadi kenyataan sosiologis yang keras dan konkrit seperti yang dirasakan sebagian orang dalam kasus-kasus perselisihan perburuhan. 11/2005 dan ICCPR sebagai UU No. serta penyiksaan. Dengan suatu sistem penilaian tertentu keduanya mencoba melihat sejauhmana perjanjian internasional hak asasi manusia ketika perjanjian tersebut dapat atau tidak dapat memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia di tingkat negara-negara pihak. dan perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia di Indonesia. 12/2005. Di Jurnal HAM edisi 2007 ini juga disajikan tulisa karya Emilie M. Hendardi melalui tulisan “Pelaksanaan ICCPR dan ICESCR dalam Konteks Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN-HAM) 2004-2009” konsekuensi yang muncul sebagai akibat diratifikasinya dua kovenan internasional tersebut oleh pemerintah Indonesia. persoalan. Patra M. berpendapat. pemajuan pemenuhan. Hafner-Burton dari Oxford University dan Kiyoteru Tsutsui dari State University of New York. berkumpul. “Pelaksanaan ICCPR dan ICESCR dalam Konteks Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN-HAM) 2004-2009”. Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia 20042009 sesungguhnya merupakan kelanjutan dari Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia sebelumnya yang dibuat untuk tahun 1998-2003. dan sudah seharus rejim hak asasi manusia internasional memperbaiki sistem dan mekanisme perlindungan HAM di tingkat internasional. Persoalan hak-hak manusia di Indonesia telah memasuki tahap di mana kebutuhan untuk menerapkannya telah melampaui kepentingan untuk memperdebatkannya. 4 • Th. JURNAL HAM • Vol. termasuk indikator keberhasilan dan kegagalan. Selamat membaca. penghormatan. 12/Tahun 2005. Pembuatan RANHAM tak lain merupakan sebuah upaya pembuatan pedoman dan rancangan kebijakan untuk mendorong upaya penerapan. Serangkaian kontradiksi dalam realitas sosio-ekonomi dan sosio-politik yang sebelumnya hanya dibahas dan diprediksi secara akademis di lembaga-lembaga studi. sehingga berbagai sasaran yang belum dapat dipenuhi pada periode yang lalu dapat dilanjutkan pada periode berikutnya. Pada tulisan yang lain. Semua tulisan dalam edisi ini diharapkan bisa menyumbangkan sebuah wacana konkrit tentang cara pengimplementasian. Stony Brook. lebih banyak menguraikan gambaran seputar RANHAM. hukuman mati atau pembunuhan di luar proses hukum. berserikat. partisipasi dalam politik.nyertai implementasi UU No. 2007 3 . yang dapat digunakan untuk menilai pelaksanaan obligasi negara. Juga konflik pertanahan atau penghancuran rumah-rumah penduduk dan pendidikan maupun kebebasan bergerak.

4 • Th. Kovenan itu diberlakukan masing-masing 3 Januari 1976 untuk Kovenan Internasional Ekonomi. The two Covenants are related with the history of the world organization. 2004-2006 menjadi anggota Komite Eksekutif Forum Asia sebagai wakil PBHI – termasuk menjadi Ketua Komite Eksekutif (November 2005-Februari 2006) JURNAL HAM • Vol. the United Nations. in this regard the international human rights law. Sosial. 1999 dan 2005 mengikuti sesi sidang Komisi HAM. dan sistem PBB ini mengikat semua negara anggota PBB. The main purposes of the Indonesian are to maintain peace and prevent violence. Sosial. the International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) and the International Covenant on Economic. either for the government and other state’s institutions or for the victims of human rights violation as well as human rights defenders. semakin banyak negara yang menjadi ‘pihak’ dalam 2 kovenan tersebut. dengan resolusi 2200a (XXI). The two Covenants could become part of the effort of legal reform to improve human rights condition in Indonesia. negara pihak (artinya ne* Riwayat Singkat Penulis: 1995-2002 bekerja di Institut Sosial Jakarta. Dua Kovenan HAM internasional. either Charter-based or Treaty-based. mempunyai muatan sejarah dan ‘otoritas yang mengikat’. Budaya). namely. Lebih khusus lagi. 2003-2006 bekerja di Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi manusia Indonesia. Sejak saat itu. Budaya (selanjutnya disebut Kovenan Ekosob). in developing the what so called the international law. Otoritas 2 Kovenan: Mengapa perlu? Dua kovenan ini menjadi bagian yang integral dari sistem PBB. dan dengan Undang-Undang 12 tahun 2005 (untuk Kovenan Sipil dan Politik). Social and Cultural Rights (ICESCR). Sejak tahun 1976. Setelah resolusi itu.Kovenan HAM Internasional: Pandangan Umum mengenai Signifikasi dan Perkembangan Henry Simarmata* Abstract Indonesia has just ratified the two most important international human rights covenants. Sebanyak 148 negara atau lebih menjadi pihak Kovenan Ekosob. namely. Fakta pertama yang paling jelas adalah bahwa 2 (dua) Kovenan Internasional ini terkait dengan mekanisme Komisi HAM PBB. yang membuat dua Kovenan ini sebagaimana adanya sekarang. The implications of these ratifications are enormous. kovenan ini menjadi mekanisme yang bersifat mengikat. dan 23 maret 1976 untuk Kovenan Internasional Sipil dan Politik (selanjutnya disebut Kovenan Sipol). 2007 4 . The human rights law was developed as mechanisms. dan sebanyak 150 negara atau lebih menjadi pihak Kovenan Ekosob. yang sekarang ini sudah diratifikasi dengan Undang-Undang 11 tahun 2005 (untuk Kovenan Ekonomi. dan disahkan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 16 Desember 1966.

karena sifatnya yang evaluatif. Dengan ini. Tidak ada satu negarapun yang sanggup menanganinya secara sendiri. amat sulit untuk menanganinya karena ada pertentangan tersebut. Mendorong terwujudnya hukum internasional Penjelasan di atas juga berlaku dalam hal kedua ini. dan kemudian anggota PBB menyadari bahwa perlu ada satu rejim yang dapat memberikan promosi dan perlindungan terhadap perdamaian dan kemanusiaan warga dunia. ijinkan saya untuk menaruhnya di depan. tetapi juga batas ‘akal sehat’. baik jika dapat kita ulas dan lihat secara khusus sisi lain dalam tulisan ini. dijelaskan secara lebih rinci mengenai soal kewajiban negara pihak. dinamika dalam enforcement 4. jelas bahwa yang menjadi penghubung dari kesemuanya itu adalah persoalan otoritas 2 kovenan itu. Artikel ini. dan tentu dengan mekanismenya yang diharapkan bisa lebih efektif. Mendorong terwujudnya rejim dan deterrent PBB dibentuk semasa akhir Perang Dunia II.gara yang meratifikasi) terikat dengan mekanisme dalam Komisi HAM PBB. akan membuat kovenan itu efektif mencegah dan/atau menangani pelanggaran HAM. implementasi. ada 2 hal yang dapat dipenuhi dengan pendirian PBB dan mekanismenya. mempunyai struktur sebagai berikut: 1. minus otoritas veto). setidaknya.1 bukan hanya batas kemanusiaan. saya berharap pembaca mendapat ‘clue’ terhadap artikel-artikel berikutnya. dengan Dewan Keamanan PBB. kemerosotan kondisi hak asasi manusia yang terjadi amat cepat menjadi bahan ekspos media. adalah suatu fenomena transnasional. Persoalan seperti human trafficking. Artinya. Namun. dan tantangan dari masing-masing Kovenan. Namun. Jika tidak ada 1. Perang II yang jauh lebih dahsyat dan jauh lebih sistematis dianggap sebagai sesuatu yang tidak bisa ditolerir. antara lain. Dengan ini. Untuk itu. terutama dengan peristiwa Holocaust (dan ini yang kedua terbesar. karena melewati 1 Dalam penulisan artikel ini. 4 • Th. dengan ini. Bagaimana Dewan HAM PBB. baik sebagai organisasi dunia maupun dalam mempromosikan perdamaian. ada alasan untuk me- naruh pertanyaaan ‘mengapa’ di bagian terakhir artikel. 2. Dalam tulisan lain dalam jurnal ini. akan menjalankan mekanisme tersebut. evaluasi terhadap indivisibility dari 2 kovenan (dengan mengelaborasi pemikiran Amartya Sen) JURNAL HAM • Vol. antara lain. Melihat hal ini. dalan tulisan ini. Pendiri PBB. Lebih lanjut dapat dijabarkan bahwa sistem hukum dunia yang fractured dianggap sebagai salah satu masalah yang harus ditangani dengan mendorong efektivitas PBB. PBB didirikan dengan kesadaran bawah Liga BangsaBangsa tidak efektif. 2007 5 . misalnya. Hal itu diwujudkan dengan pendirian PBB. fakta dasar (yang singkat) 2. terutama dibandingkan dengan Liga Bangsa-Bangsa. agresi bersenjata. perdagangan gelap senjata. Persoalannya adalah bahwa jika kemudian kekerasan dilakukan dan menjadi pola. Hukum internasional dapat secara terus-menerus bertentangan dengan hukum nasional. yaitu terbentuknya rejim perdamaian dan deterrent (daya tangkal) atas kekerasan. signifikasi dari 2 kovenan (‘mengapa’) 3. Dalam konteks hak asasi manusia. setelah Pembantaian Masyarakat Armenia di masa Perang Dunia I). mengingat tulisan ini ditaruh dalam bagian pertama bunga rampai (dalam jurnal). yang mulai Juni 2006 akan penuh menjadi Dewan HAM (dengan demikian sejajar. ada beberapa hal yang patut dilihat untuk menggali dimensi “mengapa”nya.

Kasus serdadu anak (child soldiers) di DRC/Kongo (dalam istilah setempat dikenal dengan istilah kadogo). pada situasi. Dua kovenan ini mempunyai seperangkat instrumen yang memungkinkan untuk diambilnya suatu tindakan – apalagi ada implikasi ‘naik’nya mekanisme HAM PBB dari komisi (Commission) ke dewan (Council). dibahas baik di dalam Komisi HAM PBB. 4 • Th. Contoh yang menarik misalnya bisa dirujuk pada persoalan Bosnia-Herzegovina (Michael O’Flaherty. 2000) untuk melihat soal ‘mengapa’. Kelaparan sering berkepanjangan karena tidak ada informasi yang dapat diakses. (Untuk proses acara special session. Mekanisme ini dimulai dan dikembangkan. apakah itu tindakan diarahkan pada pelaku (perpetrator). 2007 6 . Informasi yang dapat diakses menjadi dasar public action. but menghasilkan comment. misalnya. disertai dengan catatan-catatan penting dari mekanisme yang dijalankan. terutama dalam hal 2 kovenan ini. Dalam hal hak asasi manusia secara umum. di tahun 1999. dan masuk pada proses acara special session (misalnya. menjadi hukum internasional. dalam kasus lain. maka special session berarti bahwa pembahasan reguler berhenti. Peran dan sumbangan terbesar mekanisme HAM PBB. Mekanisme di dalam Human Rights Committee (badan treaty yang menjalankan enforcement ICCPR) menyediakan informasi. (Witness. dapat dikatakan bahwa pelanggaran HAM seringkali terjadi berlarut-larut karena tidak ada informasi. Kondisi inilah yang membuat banyak pembela hak asasi manusia mencita-citakan suatu mekanisme. Kasus kelaparan dijadikan contoh dalam penelitiannya bersama Jean Dreze. Proses acara (proceeding) HRC terse- dibahas satu item selama persidangan. JURNAL HAM • Vol. dan lama-kelamaan. East Timor pernah dijadikan agenda di tahun 1999) 4. dan pada korban. maupun dalam badan treaty untuk ICCPR serta hak anak. Jika saat itu sedang terjadi persidangan dengan agenda reguler. Khususnya menyangkut korban. Kosovo menjadi special session dan itu menghentikan pembahasan reguler yang waktu itu sedang berlangsung). adalah bahwa tersedia informasi yang diusahakan secara teratur. secara sederhana. Tindakan remedial muncul dalam kebijakan PBB untuk melakukan demobilisasi serdadu anak dan Pemerintah Negara Kongo dipaksa untuk turut dalam kebijakan PBB tersebut. dapat dengan mudah diakses masyarakat luas. sebuah NGO yang mengembangkan dokumentasi HAM. maka seluruh diplomat akan dipanggil untuk untuk datang dalam sidang special session. dalam Alston 2000). saat penulis menjadi seorang intern dalam sidang ke-55 Komisi HAM PBB. Jika sedang tidak ada sidang. Dari informasi dan proses acara ini kemudian dilaksanakan special session2 di dalam sidang Komisi HAM PBB di tahun 1992. terutama sebagai mekanisme PBB.mekanisme dan hukum internasional maka kondisi hak asasi manusia yang merosot dapat menjadi spekulasi bertahun-tahun. memotret 2 Special Session ini adalah suatu sesi dimana hanya 3. Sen menunjuk bahwa tersedianya informasi membuat suatu hal dapat direspon dengan segera (sooner than later). amat penting ada suatu tindakan remedial dimana pemerintah negara anggota dan atau negara pihak wajib untuk menyediakannya. Tindakan remedial Informasi dan rejim (point 1) kemudian mendorong tindakan. Inform-consent dan public action Ijinkan juga saya menggunakan pemikiran Amartya Sen (Sen.

Dengan otoritasnya yang terbatas. atau tindakan remedial.fenomena demobilisasi serdadu anak ini dengan amat tajam). hukum domestik lebih cepat. Kasus Irlandia Utara. Terutama karena muatan ‘hukum darurat Irlandia Utara’ yang membuat terjadi pelonggaran enforcement kovenan sipol. seringkali diajukan secara bersamaan. dapat dilihat sebagai berikut di bawah ini : 1. maka proses di PBB menjadi pelecut yang efektif. Artinya. baik dalam proses pidana domestik di Inggris maupun di mekanisme PBB. sebagai gambaran dan contoh. Kovenan Ekosob Contoh untuk penggambaran efektivitas kovenan ekosob. Dinamikanya. sehingga proses di PBB lebih menjadi ‘catatan’ atas proses domestik. sebagai JURNAL HAM • Vol. Otoritas 2 Kovenan: Mengapa ditolak? Mengapa diterima? Seberapa efektif? Pertanyaan berikut adalah apakah mekanisme dari 2 kovenan tersebut memang efektif. Kovenan Sipol (ICCPR) Contoh di bawah ini sekedar memberikan gambaran soal efektivitas kovenan (tentu masih banyak contoh lain) Dalam mekanisme PBB. Hal ini memungkinkan mekanisme kovenan Sipol dapat dengan cepat memberikan pengaruh terhadap kasus yang bersangkutan. maka negara pelaku pelanggaran seringkali tidak merasa ditekan. tetapi bagaimana jika kasus itu kemudian menjadi amat banyak (terutama jika membahas kasus kejahatan perang) sehingga amat makan waktu dalam melakukan pembahasannya. Dengan situasi yang sama. Kovenan sipol amat persis dan tajam dalam menganalisis konteks pidana. seperti penetapan PBB yang lain. Kasus yang dibahas dalam HRC-Human Rights Committee (badan enforcement kovenan sipol) akan melecut negara pihak untuk serius baik dengan proses domestik maupun dengan proses di PBB. kovenan ekosob seringkali 7 . 4 • Th. apakah badan treaty PBB (yang menjalankan fungsi monitoring dan semi-judisial) memang punya gigi sehingga hasilnya akan segera diangkat ke tingkat sidang Komisi HAM PBB untuk dijadikan pembahasan secara lebih ‘panas’. boleh dibilang. penetapan dari PBB seringkali tidak begitu berpengaruh. Hal ini membuat proses enforcement dari kovenan tidak efektif dalam merespon kasus tertentu (tetapi masih bisa menjadi bahan bahasan yang panas dalam sidang Komisi HAM dan sub-Komisi HAM). justru karena sistem hukum pidana domestik sudah lebih efektif. negara Eropa-Amerika Utara mempunyai perangkat hukum pidana yang lebih efektif dibandingkan negara di kawasan lainnya. 2007 contoh. ada suatu relativitas dari 2 kovenan ini terhadap hukum atau kebijakan di tingkat domestik. apakah pemerintah negara pelaku kekerasan memang akan comply pada mekanisme PBB? Tentu saja. Sebagai kebalikan dari kovenan sipol. Kalau memang dibahas dalam sidang komisi. 2. dan tidak melakukan tindakan penanganan. Karena memakan waktu yang lama. Negara yang bukan pihak dalam kovenan sipol tentu saja luput dari enforcement kovenan sipol.

saya memakai argumen Sen ini untuk menjelaskan. Masalah seperti hutang luar negeri. melihat masa- lah itu tidak absah dibahas oleh ‘badan HAM PBB. atau ladang minyak adalah bagian dari tindakan pemerintah negara yang bersangkutan yang menimbulkan masalah menurunya kualitas hidup warga negaranya. Universitas Harvard per- nah membuat studi soal odious debt. sebenarnya juga adalah pelanggaran hak sipol. Namun juga. dengan sengaja. negara berkembang tidak ragu-ragu mempergunakan mekanisme PBB termasuk mekanisme kovenan ekosob untuk memecahkan masalah tersebut. Negara pemberi hutang. misalnya. Penjualan permata. dan blok komunis mementingkan ekosob) dan lebih karena alasan presisi dan profesionalitas. 4 • Th. Indivisibility 2 Kovenan: komentar evaluatif 1. di tingkat masyarakat. Secara khusus. Dalam persoalan Afrika. menjadi catatan kritis pula. beberapa hal di antaranya. 2007 8 . bahwa pemerintah negara berkembang juga tidak mengatakan apapun mengenai kelalaiannya (omission) dan kesengajaan (commission) dalam menciptakan masalah kemaslahatan warga negaranya. Sen membuat argumen yang kuat dan tajam (compelling argument) meski dia tidak secara khusus menggeluti mekanisme 3 Sebagai suatu masalah. misalnya. dan dalam hal ini mempunyai tingkat keabsahan yang memadai. saya mempergunakan gagasan Amartya Sen untuk membahasa bagaimana dua dimensi hak (sipol dan ekosob) sebenarnya utuh. adalah bahwa kondisi kemaslahatan masyarakat negara mereka tidak luput dari situasi pascakolonialisme dan tingkah-polah pelaku privat dari negara Eropa-Amerika Utara. Gagasan Amartya Sen Perkenankanlah. Kewenangan dan penanganan dalam soal hutang ada dalam IMF (Badan Moneter Dunia) atau murni masalah bilateral. kondisi pascakolonial seringkali diangkat dengan mengorbankan fakta bahwa pemerintah negara yang bersangkutan tidak melakukan kebijakan yang perlu dalam persoalan ekosob. menjadi masalah penting. sebaliknya. Atau juga untuk berargumen bahwa pelanggaran hak ekosob. Rumusan odius debt3 dianggap tidak memadai untuk masuk dalam kerangka pemecahan masalah hutang.dipakai oleh negara berkembang untuk mengangkat kasus ‘kemaslahatan’. negara berkembang justru membawa persoalan kemaslahatan sebagai pembahasan publik. beras. lapangan kerja. Seringkali hal ini menimbulkan efek kebijakan luar negeri yang kira-kira berbunyi ‘emang gue pikirin’. Persoalan penghapusan hutang. Dalam kasus yang amat contentious. Alasan yang dipakai. dan juga untuk berargumen apakah memang sipol dan ekosob ini memang bisa secara filosofi dan hukum dijelaskan. sekali lagi. JURNAL HAM • Vol. Mekanisme enforcement baik dalam tingkat PBB maupun di dalam tingkat domestik berbeda lebih karena alasan sejarah perang dingin (blok barat mementingkan sipol.

sekuritas (dengan Glass-Steagal Act). namun dalam konteks hak ber4 Salah satu penyebab penting adalah bahwa diha- puskannya regulasi pembatasan bank.dan hukum hak asasi manusia internasional. dan bertemu dengan derivatif market yang tidak diregulasi. dan Friederich von Hayek (road to serfdom). Kelemahan argumen. Kelemahan terbesar dari konsep ini adalah sifatnya yang indifferent terhadap pewujudan freedom dalam kehidupan praktis dan sehari-hari. dan terhadap fenomena free rider. dan dalam bagian tertentu John Locke). asuransi. Freedom dalam pengertian klasik. Sedang Nozick melihat bahwa hak milik adalah mutlak. Ambil contoh. Dalam soal justice. dapat dilihat bahwa tindakan privat dapat menyebabkan kesengsaraan banyak orang. tidak soal bagaimana manusia mendapatkan hak miliknya itu. Konsep prioritas keadilan membawa pada tindakan khusus (special tretment). dinamika ekonomi AS juga mengalami downturn karenanya. bahkan jika hal itu atas nama kebaikan. Singapura yang amat makmur secara ekonomi dengan welfare-state yang nyaris sempurna. perdagangan senjata. John Rawls (juga dengan amat sukses) membantah kemutlakan hak milik. eksploitasi sumber daya alam) jutru sering dilakukan dengan sadar dan sengaja di atas (at the expense) kehidupan dan penghidupan masyarakat. Menarik mengamati ketika Enron kolaps. Dalam sejarah Indonesia. dan justice menjadi dasar argumen kovenan ekosob. Tindakan spekulasi (penimbunan beras. 4 • Th. Barulah setelah Enron kolaps dengan segala akibatnya. perdagangan senjata. Freedom menjadi dasar argumen dari kovenan sipol.4 Dengan ini. Keadilan yang dirumuskan dalam prioritas itu memang tidak perlu diperdebatkan. Sen melakukan usaha terus-menerus berusaha memecahkan conundrum antara 2 hal: freedom dan justice. misalnya. perdagangan valuta asing. secara intelektual freedom dirumuskan (dengan amat sukses) oleh Robert Nozick (Anarchy. menurut Sen. Lebih lanjut. sebagian perdebatan ini dicerminkan pada perdebatan founding fathers dalam merumuskan antara hak individu dan pemajuan sosial dalam konstitusi (UUD ’45) – dengan rumusan pertanyaan “untuk apa individu dilindungi kalau hal tersebut tidak memajukan kemakmuran masyarakat” Hayek melihat bahwa sebenarnya layanan publik negara (bahkan jika itu memang bertujuan melindungi warga negara) hanya akan membuat warga negara hidup dalam perbudakan modern (serfdom). 2007 Tindakan spekulasi (penimbunan beras. David Hume. 9 . ada baik dalam prioritas itu sendiri maupun dalam eksesnya bersifat draconian dan/atau pemaksaan. dan mendorong konsep prioritas keadilan. Penggambarannya adalah sebagai berikut: Menjadi pengetahuan umum bahwa freedom juga dapat digunakan untuk merugikan orang lain. mengarah pada konsep individu yang biasanya merujuk pada pemikiran Adam Smith. kemudian dilakukan regulasi dan penegasan indikator keamanan investasi. bisa dalam jangka panjang). eksploitasi sumber daya alam) semuanya tidak tahan dengan argumen bahwa itu semua justru menjadi penyebab kehidupan manusia – kalau tidak dalam jangka pendek. JURNAL HAM • Vol. perdagangan valuta asing. State and Utopia).

atau negara anggota PBB pada umumnya. 2007 10 . dari yang mild sampai yang serius. kita dapat melihat mekanisme serupa di Uni-Eropa (Europan 6 Di akhir bulan Juni 2006. dapat membuat orang menjadi mangsa pelanggaran hak yang lain …tidak adanya hak ekonomi dapat memunculkan tidak adany hak sosial. Social. in the form of extreme poverty. Argumen Sen dalam merumuskan indivisibility hak sipol dan ekosob dapat dirumuskan sebagai berikut: p. Mekanisme HAM Regional: Perkembangan Mekanisme 2 Kovenan Perkembangan terbaru saat ini yang patut diamati adalah proses ASEAN untuk merurmuskan Piagam ASEAN (ASEAN Charter). can make a person a helpless prey in the violation of other kinds of freedom. JURNAL HAM • Vol. Cultural Rights (badan enforcement kove5 (terjemahan longgar) “…dapat ditunjuk fakta yang nan ekosob).6 Sebagai titik mula. Mekanisme HAM regional di ASEAN adalah sesuatu yang perlu didorong.pendapat dan berpolitik dibatasi dengan amat tajam. maka para judiciary justru berargumen bahwa hal ini membuat perkembangan hukum berlangsung secara sehat. Nulla Crimen Sine Lege Dua kovenan ini pun sebenarnya masih dalam perkembangan progresif untuk menerjemahkan persoalan pidana. dan dengan ini mendorong akuntabilitas pemerintah negara anggota dengan warga negara anggota. Hak Perempuan-Anak dan Masalah Migran akan menjadi 2 isu yang dikembangkan untuk dibahas (ini karena dibentuk 2 kelompok kerja di ASEAN untuk membahas 2 hal tersebut). Salah satu yang menjadi pengembangan di dalam soal mekanisme HAM regional ASEAN. Dengan alasan bahwa sekarang sudah saatnya bagi ASEAN untuk mempunyai piagam. maka kita bisa melihat bahwa mekanisme 2 kovenan ini memunculkan banyak implikasi pada hukum internasiona. Ada anggapan bahwa ekonomi dan welfare yang sudah diwujudkan dengan otomatis akan mewujudkan hak sipol. sebagaimana juga bahwa tidak adanya hak sosial dan politik dapat menimbulkan tidak adanya hak ekonomi” garaan pembahasan mekanisme HAM regional ini di Kuala Lumpur. Dua kovenan ini berkembang seturut bentuk-bentuk pidana tersebut. Seperti kita tahu bahwa setiap pelanggaran HAM termunculkan (implies) bentuk-bentuk pidana. …Economic unfreedom can breed social unfreedom. tidak ada kejahatan yang ditindak di luar hukum. menurut pengamatan. 2. meski tentu kita tidak bisa langsung ‘menikmati’ pembahasan mekanisme 2 kovenan (mungkin suatu saat nanti sampai ke sana). just as social or political unfreedom can also foster economic unfreedom”5 Sen.8 “…[i]t also pointed to the remarkable fact that economic unfreedom. ada rencana penyeleng- amat jelas bahwa tidak adanya hak ekonomi. 4 • Th. dengan ini. karena segala sesuatunya selalu dibahas (contested) dan terukur. dan dengan ini sebenarnya ditegaskan prinsip imparsialitas dari hak asasi manusia. Nulla Crimen Sine Lege. Jika ada keberatan dari negara pihak. Jika kita melihat dokumen dalam Human Rights Committee (HRC – badan enforcement kovenan sipol) maupun Committee on Economic. dan kemudian pada hukum domestik. dalam bentuk kemiskinan ekstrem. juga menyatakan pentingnya ‘perdebatan publik’ (public discourse) dan proses komunikasi yang menghasilkan nilai dan norma sosial. Sebagai benchmarking.

The Inter-American System of Human Rights.. Amartya. and Joseph. A Practitioner’s Guide to the European Convention of Human Rights. United Nations. David. Alfred A. Bagi korban. The Future of UN Human Rights Treaty Monitoring. Clarendon Press Oxford. (Bersama Indonesia. Mekanisme regional ini penting sebagai pengembangan dari enforcement 2 kovenan tersebut. kasus-kasus di dalam negeri ini dibahas juga di tingkat Eropa – sehingga korban dan pekerja HAM dapat semakin menegaskan compliance negara terhadap ketentuan HAM internasional. and The Rule of Law.). with Bustelo. The Treatment of Prisoners under International Law (second edition). David.). Development as Freedom. harus aktif untuk menerjemahkan 2 kovenan itu dalam sistem dan praktik hukum di Indonesia. London 1998. Oxford 1993. Alston. California 2004 Harris. Divided World. and Livingstone. Harris. Sweet & Maxwell. James.Convention on Human Rights. Mara. beserta courtnya) dan di kawasan Amerika Latin (InterAmerican Human Rights Mechanism). Indonesia yang dipilih dengan angka voting kedua tertinggi di Asia (sesudah In- dia) di dalam Dewan HAM mempunyai kesempatan juga untuk mengembangkan mekanisme enforcement HAM di tingkat regional. Clarendon Press Oxford. Centre on Democracy. Oxford 1995. 2007 11 . The UN’s Roles in International Law.). Knopf. Cambridge 2000. James. New York 2000. Philip. Stanford Institute on International Studies. and Kingsbury. Benedict. The EU and Human Rights. Oxford University Press. 4 • Th. DAFTAR PUSTAKA Alston. Clarendon Press Oxford. Sovereignty Relinquished: Explaining Commitment to International Human Rights. Karen. Oxford 1999. Seperti yang kita lihat dalam proses dan dokumentasi European Court on Human Rights. dan membuat mekanisme regional HAM ASEAN mendapatkan dampak dari enforcement domestik tersebut.). Cole. Sen. and Heenan (ed. The International Covenant on Civil and Political Rights and United Kingdom Law. Oxford 1998. Sarah (ed.. Filipina dan Malaysia juga menjadi anggota Dewan HAM) – bersamaan dengan implikasi dari ratifikasi 2 kovenan oleh pemerintah Indonesia Desember 2005 lalu. Wade M. untuk menyebut di antara aktor penting. Oxford 1999. Reid. dan Komnas HAM. Nigel S. Adam. Rodley. JURNAL HAM • Vol. pekerja HAM. Cambridge University Press. Stephen (ed. Oxford University Press. Development. Roberts. Philip and Crawford (ed.

Adapun peraturan perundangan dimaksud antara lain: UU No. Sekalipun ICCPR dan ICESCR telah diratifikasi masing-masing melalui UU No. dianalisis * Penulis bekerja di Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan HAM. Dalam konteks waktu. Social and Cultural Rights (ICESCR) yang keduanya telah Indonesia ratifikasi pada tahun 2005. Sosial. The 2004-2009 Nation Plan of Action on Human Rights is a continuation of the Nation Plan of Action on Human Rights for the year 1998-2003. Social and Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. politics. 4 • Th. Departemen Hukum dan HAM JURNAL HAM • Vol. fulfillment and protection human rights. 2007 12 . 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan Keputusan Presiden (Keppres) No. economic. tetapi juga pada tataran yang mengatur subyek hukum beraktivitas yang dikenal dengan peraturan-perundangan.Pelaksanaan ICCPR dan ICESCR dalam Konteks Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN-HAM) 2004-2009 Adhi Santika* Abstract Indonesia’s diverse geography. promotion. The ultimate goal of ensuring respect for the dignity of individual cannot be achieved without that person’s enjoying all of his or her rights. keberadaan ICCPR dan ICESCR di Indonesia merupakan hal penting untuk diketahui. 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Economic. PENDAHULUAN Keberadaan instrumen HAM internasional seperti halnya International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) dan International Covenant on Economic. The new plan of action is intended to complete the unfinished works in the previous period. 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik) dan UU No. The National Plan of Action on Human Rights in Indonesia is intended as a guidance and general plan to enhance the efforts in increasing the respect. tidak dapat dipungkiri akan dihadapkan pada keragaman masalah dalam implementasinya di Indonesia. dan Budaya). social and cultural rights. Individual must be able to enjoy freedom of wants as well as freedom from fear. culture and language contribute to wide diversity in the enjoyment of human rights. The dignity of individual cannot and should not be divided into two spheres – that of civil and political rights and that of economic. Keragaman masalah dimaksud ternyata tidak hanya akan terjadi pada perilaku kehidupan sehari-hari setiap subyek hukum. religion. pada kenyataannya Indonesia telah memiliki peraturan perundangan yang secara implisit dan/atau eksplisit sudah menginternalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam dua kovenan tersebut. 40 Tahun 2004 tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia tahun 2004-2009.

5 Tahun 1998 tentang CAT. pemajuan. maka ruang lingkup keenam Program Utama merupakan rangkaian tindakan konkrit yang perlu dan akan dilakukan oleh negara dalam aktualisasi pencapaian tujuan ICCPR dan ICESCR di Indonesia. 40 Tahun 2004 menyebutkan. Di samping itu terdapat pula beberapa kesepakatan internasional yang secara langsung atau tidak langsung bernuansa HAM. di mana Indonesia termasuk sebagai negara peserta yang turut menandatanganinya. dan pemenuhan hak asasi manusia terutama menjadi tanggung jawab Pemerintah”. seyogyanya evaluasi harus dilakukan sejak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia sampai pascaratifikasi sekalipun ratifikasi kedua kovenan tersebut baru dilakukan pada tahun 2005. penegakan. yaitu: (1) Pembentukan dan penguatan institusi pelaksanaan RANHAM. UU No. (3) Persiapan Harmonisasi peraturan perundang-undangan. sangat jelas diketahui bahwa RANHAM lebih berorientasi ke masa depan. pemenuhan dan perlindungan HAM. Dalam hubungan ini Pemerintah menempati posisi strategis sesuai dengan amanat yang tercantum dalam Pasal 8 UU No. (5) Penerapan norma dan standar HAM. Program Utama yang pertama yaitu Pembentukan dan Penguatan Institusi Pelaksana RANHAM merupakan program yang penting dan merupakan satu syarat keharusan (a necessary condition). Persyaratan ini mengemuka karena ada alasan yang 13 . Pembentukan dan penguatan institusi pelaksanaan RANHAM. Hal ini perlu diperhatikan untuk mengetahui secara obyektif mengenai dua hal utama dalam evaluasi. evaluasi dan pelaporan. pemajuan. (2) Persiapan Ratifikasi instrumen HAM internasional. KONSEKUENSI RASIONAL DARI RATIFIKASI Secara eksplisit Lampiran I Keppres No. penegakan. Pertimbangan dimensi waktu akan terasa benar adanya manakala mempertimbangkan beberapa instrumen HAM internasional yang telah diratifikasi Indonesia melalui sejumlah Undang-Undang yang dikeluarkan pemerintah sebelum Indonesia meratifikasi ICCPR dan ICESCR pada tahun 2005. termasuk untuk melindungi masyarakat yang rentan terhadap pelanggaran HAM. sehingga evaluasi yang dilakukan seharusnya tidak hanya dibatasi oleh waktu pascaratifikasi kedua kovenan tersebut tetapi juga mencakup semua kegiatan yang dilakukan selama kurun waktu praratifikasi. Berdasarkan pertimbangan tersebut di JURNAL HAM • Vol. dan pemenuhan HAM sebelum ratifikasi. (4) Diseminasi dan pendidikan HAM. 1. seperti halnya UU No. dan (6) Pemantauan. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia: ”Perlindungan. dengan penetapan 6 (enam) Program Utama di dalamnya. 4 • Th. UU No. Oleh karena itu. dan Keppres No. 29 Tahun 1999 tentang CERD. Dari materi yang tercantum. yaitu kesungguhan dan kendala yang dihadapi Pemerintah selama ini. Pertimbangan dimensi waktu merupakan salah satu faktor penting dalam evaluasi pelaksanaan ICCPR dan ICESCR di Indonesia. bahwa RANHAM Indonesia dimaksudkan sebagai panduan dan rencana umum untuk meningkatkan penghormatan. 7 Tahun 1984 tentang CEDAW.dan dirumuskan langkah-langkah nyata yang perlu dilaksanakan oleh berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) termasuk Pemerintah. Apabila mengamati Program Utama RANHAM dan menghubungkannya dengan ratifikasi ICCPR dan ICESCR. seperti ICPD dan MDGs. 36 Tahun 1990 tentang CRC. 2007 atas. maka pelaksanaan ICCPR dan ICESCR pascaratifikasi di Indonesia tidak dapat dilepaskan keberadaannya dari upaya perlindungan. pemajuan.

sangat rasional. Kompetensi merupakan satu kata kunci yang sulit untuk diwujudkan pada tataran lapangan dalam kurun waktu yang cukup singkat. apabila terdapat institusi bentukan baru dan mengalami “penguatan” sehingga memiliki kompetensi untuk melaksanakan seluruh programnya. 2007 14 . Program “penguatan” seringkali dihadapkan pada 2 (dua) masalah yang cukup serius untuk dapat segera diselesaikan dalam waktu singkat. melibatkan lebih dari satu subyek hukum. “Penguatan” institusi pelaksana RANHAM adalah satu kegiatan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan (multi-stakeholders) karena memerlukan kerjasama dari banyak pihak dengan latar belakang yang beraneka ragam. Di samping itu struktur organisasi kepemerintahan yang cukup beragam antar wilayah administrasi sejalan dengan adanya UU No. program “penguatan” sudah seharusnya selalu dibarengi dengan kegiatan evaluasi yang berkesinambungan berdasarkan pendekatan “post-training evaluation”. Dalam hubungan ini. 4 • Th. mencakup lintas batas administratif (spatial) dan mencakup lintas batas waktu (temporal). seringkali aparat negara dan masyarakat kurang bahkan tidak mampu mengetahui dan mengerti maksud keduanya. Keanekaragaman ini memberikan konsekuensi pada cara “penguatan” yang akan dilakukan agar materi dan pesan yang akan diberikan tepat sasaran. ekonomi. “Penguatan” hanya dapat dilakukan apabila “pembentukan” institusinya sudah dilakukan. efisien. Program Pembentukan dan Penguatan Institusi Pelaksana RANHAM memJURNAL HAM • Vol. 32 Tentang Pemerintahan Daerah. Masalah HAM di lapangan yang terjadi sangat bervariatif dan struktur organisasi kepemerintahan yang berbeda di setiap provinsi. cenderung membuat orang memerlukan waktu tambahan untuk sepenuhnya mengerti permasalahan yang ada. baik dari sisi pendidikan. Kompleksitas masalah HAM di lapangan yang memiliki karakteristik antara lain: ruang lingkup substansinya sangat luas. frekuensi dan intensitas kejadiannya sangat berfluktuatif. yaitu: (1) Pemilihan dan penetapan peserta yang akan menerima materi “penguatan” agar lebih representatif. “Pembentukan” dan “penguatan” institusi merupakan dua kata penting dalam program ini. Atas dasar ini maka pelaksanaan RANHAM hanya dapat berjalan sesuai dengan rencana. sosial. yaitu 5 (lima) program lainnya sangat tidak mungkin terlaksana dengan baik apabila program pertama ini tidak terwujud lebih awal. maupun budaya. dan (2) Pemberi materi “penguatan” perlu lebih membekali diri dengan kecukupan penguasaan substansi dalam pengertian mampu menyeimbangkan materi yang bersifat konseptual dan kontekstual. juga memberikan pengaruh pada kemampuan aparat negara dan masyarakat dalam kecepatan “pembentukan” institusi pelaksana HAM. Berdasarkan Keppres 40 Tahun 2004. dan efektif. Guna membentuk institusi baru ternyata seringkali dihadapkan pada berbagai kendala yang umumnya berupa kekurangmampuan sumber daya manusia untuk mengetahui dan mengerti substansi HAM yang secara bersamaan waktunya harus memiliki kecakapan dalam mengelola organisasi untuk menggerakkan program kerja. pekerjaan. kabupaten dan kota memberikan kontribusi pada cepat atau lambatnya “pembentukan” institusi pelaksana RANHAM di pusat dan daerah.

Kerjasama pemajuan HAM telah dijalin dengan 11 (sebelas) negara dan kerjasama regional dengan ASEAN dan Asia Pasifik. Melalui pengesahan yang diwujudkan dalam bentuk ratifikasi. Hukum internasional seperti halnya ICCPR dan ICESCR merupakan keseluruhan kaidah yang sangat diperlukan untuk mengatur sebagian besar hubungan antar negara. dan Jerman. Indonesia melakukan ratifikasi instrumen-instrumen HAM internasional. yaitu: Afrika Selatan. (4) Pembentukan dan Penguatan Kelembagaan HAM di daerah. karena harus melibatkan berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) dengan segala keragaman karakteristiknya disamping substansi HAM merupakan hal baru bagi sebagian besar pemangku kepentingan. 2. IDLO. Berbagai kegiatan dalam rangka “penguatan” institusi. Berdasarkan Keppres 40 Tahun 2004. pemajuan. Australia. Sebagai anggota masyarakat internasional. IOM. kerja sama dengan lembaga internasional antara lain dilakukan dengan UNHCR. Di samping itu. Kovenan Hak Sipil dan Hak Politik (2004). (3) Sosialisasi RANHAM kepada berbagai pihak. Sesungguhnya hukum internasional merupakan persoalan dengan keperluan hubungan timbal-balik antar negara.punyai tujuan/sasaran sebagai berikut: (1) Pembentukan dan penguatan Panitia Nasional. 4 • Th. Konvensi Penghentian Perdagangan Manusia dan Eksploitasi Pros- 15 . Perancis. persiapan ratifikasi sejumlah instrumen HAM internasional ditetapkan dengan skala prioritas sebagai berikut. Namun. Swiss. pemerintah (dalam hal ini Direktorat Jenderal Perlindungan HAM. yaitu: Kovenan Internasional Hak Ekososbud (2004). UNICEF. dan ILO. Selandia Baru. 2007 mungkin bagi negara-negara tersebut untuk saling berhubungan secara tetap dan terus menerus. (2) Pembentukan dan penguatan Panitia Pelaksana RANHAM Daerah. Secara garis besar. Norwegia. Proses ini semua bukan tanpa rintangan atau halangan. Italia. dapat diketahui bahwa cakupan kegiatan program pertama tersebut dinilai sangat berat. apalagi setelah terpilihnya Indonesia sebagai anggota Dewan HAM PBB. Belum lagi dinamika masyarakat yang juga diwarnai pro-kontra terhadap suatu isu HAM tentu akan menimbulkan persoalan tersendiri dari setiap proses ratifikasi itu. Mesir. RANHAM telah mengagendakan ratifikasi 12 instrumen HAM yang akan dirampungkan sebelum akhir tahun 2009. Tanpa adanya kaidah-kaidah ini sungguh tidak JURNAL HAM • Vol. Situasi perdebatan dan pro-kontra atas dasar identifikasi dan inventarisasi masalah dari setiap proses pembahasan lahirnya suatu produk perundangundangan seringkali juga menimbulkan kekecewaan masyarakat. perangkat-perangkat HAM internasional tersebut diharapkan akan memperkuat hukum nasional dalam upaya menjamin penghormatan. Kanada. dan (5) Meningkatkan kerja sama dengan berbagai pihak untuk memperkuat kelembagaan HAM yang telah ada. Departemen Hukum dan HAM) telah melakukan kerja sama antar negara dan dengan sejumlah lembaga internasional di bawah payung Perserikatan Bangsa Bangsa. Persiapan Ratifikasi Instrumen Hak Asasi Manusia Internasional. semua ini merupakan bagian dari tradisi demokrasi yang harus dilalui. termasuk Konvensi Internasional Perlindungan Hak-hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. Swedia. pemenuhan dan perlindungan HAM agar sesuai dengan harapan.

terlebih dahulu perlu dijelaskan pengertian dari beberapa istilah kunci. Protokol Opsional Konvensi Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan (2005). Undang-undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang. mengingat setelah proses ratifikasi pengertian “legally binding” menjadi berlaku dengan segala konsekuensinya. Faktor keterbatasan pengetahuan ini seharusnya tidak boleh dibiarkan karena akan memperparah ketidaksiapan Pemerintah dalam menerima segala konsekuensi ratifikasi. yaitu: a. Era otonomi daerah merupakan satu ciri dalam pemerintahan sekarang ini dan UU No. Pengharmonisasian atau kegiatan untuk mengharmonisasikan atau menyelaraskan. Konvensi Perlindungan Hak-Hak Pekerja Migran dan anggotaanggota keluarga-nya (2005). Persiapan Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan. Permasalahan apa yang dihadapi dalam pelaksanaan pengharmonisasian? Sebelum memahami ketiga permasalahan tersebut. Peraturan Presiden. e. Protokol Opsional Konvensi Anti Penyiksaan (2008). Peraturan Daerah. dan Protokol Opsional Tahun 1967 Konvensi Status Pengungsi (2009). yaitu: a. Terdapat beberapa permasalahan yang terlebih dahulu perlu dipahami sehubungan dengan harmonisasi peraturan perundang-undangan di Indonesia yaitu: 1. b. Peraturan Pemerintah. Mengapa perlu dilakukan pengharmonisasian? 2. Langkah dimaksud seringkali dihadapkan pada faktor pembatas berupa kemampuan melaksanakan kajian akademik yang bersifat obyektif dan cepat pelaksanaannya. Satu hal yang paling mendasar untuk dipertimbangkan dengan seksama adalah langkah melakukan pengkajian terhadap instrumen internasional yang akan diratifikasi berupa penyempurnaan naskah akademik. 4 • Th. 3. Atau dalam bahasa Inggrisnya “harmonize” diJURNAL HAM • Vol. Aspek-aspek apa yang harus diharmonisasikan dan bagaimana pengharmonisasian tersebut dilakukan? 3. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Keberadaan faktor pembatas tersebut sangat mungkin dapat diatasi apabila Program Pembentukan dan Penguatan Institusi Pelaksana RANHAM terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama. faktor keterbatasan pengetahuan dan jumlah pemerhati substansi instrumen yang akan diratifikasi juga merupakan hal yang kerap terjadi. Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Keterlibatan Anak dalam Konflik Bersenjata (2006). Di samping itu. Salah satu hal yang perlu mendapat perhatian khusus adalah Pasal 7 UU No. Konvensi Pencegahan dan Penghukuman Kejahatan Genosida (2007). Statuta Roma (2008).titusi (2004). 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah adalah landasan yuridis yang digunakan. d. Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Perdagangan Anak. Konvensi Status Pengungsi (2009). 2007 16 . Pornografi Anak dan Prostitusi Anak (2005). c. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang menegaskan jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan di Indonesia.

(b) Tidak jarang ditemui berbagai inkonsistensi antara satu pasal dengan pasal lainnya di dalam Undang-undang yang sama. agar menghasilkan peraturan perundang-undangan yang tidak saling bertentangan atau tumpang tindih. Tantangan yang dimaksud antara lain meliputi: 1. yang disebabkan oleh belum adanya persamaan persepsi tentang rancangan undang-undang sebagai suatu sistem yang terintegrasi. keutuhan sebagai suatu keseluruhan. karena jabatan fungsional Perancang Peraturan Perundang-undangan dianggap tidak cukup menarik untuk ditekuni oleh pegawai. artikan sebagai “bring into harmony” dan”“harmony” diartikan sebagai “pleasing combination of related things”. pengharmonisasian peraturan perundang-undangan memiliki arti strategis dalam mewujudkan sistem hukum nasional. Dengan demikian.b. Pembulatan mengandung makna untuk membentuk menjadi bulat atau membentuk kepaduan. dan (d) Produk hukum yang ada di Indonesia lebih cenderung bersifat reaktif dari antisipatif. sebelum proses pengharmonisasian perundangan yang ada agar sejalan dengan RANHAM dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. pembahasan oleh wakil-wakil instansi terkait tidak bersifat menyeluruh. juga terlihat bahwa peraturan perundangan di Indonesia cenderung memiliki sejumlah kelemahan yang mendasar. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dan Undang-Undang No. 4 • Th. atau rancangan yang telah ada dalam pikiran (ide). Konsepsi diartikan sebagai pengertian. baik dengan berbagai peraturan perundang-undangan vertikal maupun horisontal. Dari pengamatan. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. 2. serta konvensi/ perjanjian internasional hak asasi manusia. tetapi bersifat parsial dan terfragmentasi menurut kepentingan dari masing-masing instansi. pemahaman. Sehubungan dengan itu. sebenarnya masih terdapat sejumlah tantangan yang harus diatasi terlebih dahulu. yaitu: (a) Antara Undang-undang yang satu dengan yang lainnya seringkali saling bertentangan. 2007 17 . Sehingga. Perlu disadari bahwa. Sehingga. Dalam bahasa Inggris “conception” diberi arti sebagai “conceiving of an idea” 3. diperlukan penyelarasan. Tenaga fungsional Perancang Peraturan Perundang-undangan masih terbatas jumlahnya serta belum memiliki spesialisasi pada bidang hukum yang spesifik. langkah yang sedang dilakukan dalam persiapan harmonisasi peraturan perundangundangan adalah mengagendakan JURNAL HAM • Vol. pembulatan dan pemantapan konsepsi rancangan undang-undang yang berasal dari Presiden. (c) Keterlambatan penyusunan aturan pelaksanaan dari Undang-undang yang telah disahkan. c. sejalan dengan ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang No. Masih adanya sikap egoisme sektoral dari masing-masing instansi terkait. Pasal 18 ayat (2) Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 hanya mengatur pengharmonisasian. dan tidak mengatur rancangan undang-undang yang berasal dari DPR atau rancangan peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang.

4. dan Convention Against Torture. Suatu tingkat pendidikan minimal atau setidaknya melek aksara sangat diperlukan bagi perjuangan untuk mewujudkan pemenuhan hak-hak sipil dan politik. Australia. lembaga nonpemerintah. dan budaya. Universitas Samratulangi. Diseminasi dan Pendidikan Hak Asasi Manusia Kiranya sulit dibantah. dan perguruan tinggi merupakan langkah yang sangat strategis untuk mendukung diseminasi dan pendidikan HAM di Indonesia. hak untuk memilih dan dipilih. Menyadari hal tersebut. 2007 . hak hukum.pengkajian terhadap Kitab UndangUndang Hukum Pidana. Pelaksanaan pendidikan hak asasi manusia yang difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Perlindungan HAM Departemen Hukum dan HAM meliputi pembentukan dan perpustakaan HAM di Universitas dan Komnas HAM. aspek pendidikan menjadi elemen kunci dalam upaya melaksanakan program diseminasi Hak Asasi Manusia di Indonesia. Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination (CERD). Convention on the Political Rights of Women. hakim. hak untuk turut serta dalam pemerintahan. namun telah dikaji pula Undang-Undang tentang Kewarganegaraan dan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. kegiatan simposium hak asasi manusia tingkat nasional dan daerah untuk promosi pendidikan hak asasi manusia yang dilaksanakan oleh anggota Panitia Nasional RANHAM. Afrika Selatan. antara lain Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW). serta lokakarya dan diskusi HAM dengan organisasi sosial dan LSM. Oleh sebab itu. Universitas Padjajaran. tenaga pengajar/ dosen perguruan tinggi. program studi S2 HAM (Universitas Indonesia. 18 JURNAL HAM • Vol. UndangUndang tentang Hak Asasi Manusia. bahwa pendidikan merupakan syarat bagi pemenuhan hak-hak sipil dan politik serta hak-hak ekonomi. berorganisasi dan berekspresi. 4 • Th. Other Cruel and Inhumance or Degrading Treatment or Punishment (CAT). dan tokoh masyarakat/agama). kejaksaan. dan perguruan tinggi juga merupakan hal yang harus dilaksanakan secara terus menerus. dan petugas pemasyarakatan). Selain itu. pendidikan di luar jalur sekolah. Dalam hubungan ini. lembaga nonpemerintah. pengembangan dan penyebarluasan bahan pengajaran hak asasi manusia yang dilaksanakan oleh anggota Nasional RANHAM. Di samping itu. dan Perancis bagi pegawai negeri. aktivis HAM. pelatihan HAM di luar negeri (Swedia. pelatihan bagi aparat penegak hukum (kepolisian. serta hak atas kebebasan informasi dan berkomunikasi. Convention on the Rights of the Child (CRC). meskipun di dalam agenda RANHAM hanya 3 (tiga) undang-undang tersebut yang dikaji. serta Undang-Undang tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. kurikulum HAM untuk SD s/d SMA. sebagaimana yang diamanatkan dalam RANHAM 2004-2009. dan Universitas Pelita Harapan). dan pendidikan HAM di Fakultas Hukum. social. hak atas kebebasan berkumpul. Norwegia. pemerintah berupaya melakukan sosialisasi berbagai instrumen hak asasi manusia internasional yang telah diratifikasi oleh Indonesia.

apakah berupa norma original atau norma jabaran yang lebih konkrit. pamong praja dan petugas pemasyarakatan berdasarkan hasil kegiatan yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan HAM. Penerapan Norma dan Standard Hak Asasi Manusia Dalam perspektif hukum tata negara. pemajuan. bagi pegawai Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM. polisi. Saat ini. meminjam istilah dari Rudolf Steammler. pengawas ketenagakerjaan. norma HAM yang terdapat dalam UUD adalah sebagai bintang pemandu (leitstren) bagi pembuat undang-undang di bawahnya agar selaras dengan nilai-nilai HAM. tetapi sekaligus juga kontekstual. (b) Penyampaian rekomendasi kepada instansi terkait atas pengaduan masyarakat tentang pelanggaran hak asasi manusia (yang tidak termasuk pelanggaran hak asasi manusia yang berat). (c) Berpartisipasi dalam pelaksanaan Nota Kesepahaman Pemerintah Indonesia dengan GAM dalam bentuk memfasilitasi pelaksanaan amnesti dan integrasi anggota GAM bekerjasama dengan IOM dan. 2007 dalam masyarakat yang bersangkutan. Indonesia sebagai negara modern tidak mungkin menghindar dari realitas bahwa masyarakatnya menjadi lebih individual daripada masyarakat tradisional. HAM adalah universal. antara lain. Hak asasi manusia adalah persoalan universal. beberapa kegiatan yang telah dilakukan oleh Departemen Hukum dan HAM dalam mendukung pelaksanaan RANHAM. Pandangan keliru bahwa HAM identik dengan pandangan dunia barat. penegakan. Sebagaimana dikatakan Magnis Suseno (1994: 11-12). antara lain: (a) Menghasilkan sejumlah buku saku mengenai HAM yang diperuntukkan. secara substansi. HAM justru tidak memuat individualisme. tidak boleh menjadi alasan untuk tidak melaksanakan HAM. Dengan kata lain. Konstruksi ini merupakan makna bahwa norma-norma yang ada dalam UUD harus mengalir dalam perundang-undangan di bawahnya. Selain itu. 19 .5. Dengan demikian. pedoman pemenuhan hak anak. jaminan terhadap HAM merupakan tanda solidaritas dan kepedulian sosial JURNAL HAM • Vol. dan tenaga kerja. dan pemenuhan HAM. juga dibentuk Tim Konsultasi Hak Asasi Manusia. 4 • Th. norma yang terkandung dalam UUD merupakan sumber hukum (rechtsgulle) bagi aturan yang ada di bawahnya. Dalam masyarakat tradisional. HAM merupakan pengertian modern. Norma tersebut dapat mengalir dalam perundangundangan yang lebih rendah hierarki atau perundangan yang lebih rendah dapat memberikan norma tafsiran dari peraturan perundangan yang lebih tinggi tersebut. dan mekanisme kerjasama pemajuan hak sipil dan politik. Pemerintah Indonesia sedang melakukan proses penyusunan norma dan standar perlindungan. HAM tidak banyak dipertanyakan karena struktur sosial tradisional itu masih mampu melindungi hak-hak individu di dalamnya. Jika diamati lebih jauh. seorang ahli filsafat yang beraliran Neo Kantian. Sebaliknya. sedangkan dikatakan kontekstual apabila sudah berbicara tentang relevansinya (aktualisasi). seperti perlindungan terhadap mereka yang kurang beruntung secara sosial dan ekonomi. Selain itu.

dipandang perlu untuk mengembangkan suatu mekanisme yang tepat untuk melakukan kegiatan pemantauan. dan Maluku Utara). Oleh karena itu. Paling tidak pemerintah mempunyai ikatan moral dan ikatan hukum untuk menerapkan kewajibankewajiban dalam Kovenan tersebut ke dalam hukum nasional. 4 • Th. kepentingan bangsa dan negara. Penandatanganan yang dilakukan Indonesia atas 2 (dua) Kovenan HAM Internasional (ICCPR dan ICESCR) untuk saat ini harus dinilai penting. Hak asasi ini menjadi dasar hak dan kewajiban yang lain. objektif dan dapat dipertanggung jawabkan. Evaluasi dan Pelaporan Pemantauan. Sulawesi Tengah. 20 JURNAL HAM • Vol. Pemantauan. penyusunan laporan perkembangan pelaksanaan HAM di Indonesia dihadapkan pada sejumlah tantangan yang cukup berat yaitu: PENUTUP Hak asasi manusia adalah hak dasar atau hak pokok yang dibawa manusia sejak lahir sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Menjadi kewajiban pemerintah atau negara hukum untuk mengatur pelaksanaan hak-hak asasi ini yang berarti menjamin pelaksanaannya. (a) Pengumpulan data dan informasi yang akurat. upaya pembentukan dan penguatan kelembagaan RANHAM merupakan satu prasyarat utama yang harus dipenuhi demi menghasilkan laporan pelaksanaan dan perkembangan HAM di Indonesia. NAD. evaluasi dan pelaporan. Kalimantan Tengah. Sebagai konsekuensi dari telah diratifikasinya instrumen hak asasi manusia internasional. (b) Pengorganisasian data dimaksud serta mekanisme pelaporannya. terkini. 6. Pemerintah harus terus mengupayakan agar perlindungan terhadap setiap subyek hukum dapat dilakukan sebagaimana tercantum dalam RANHAM. Untuk itu. terutama untuk menjamin terlaksananya program kegiatan RANHAM sesuai dengan yang telah direncanakan.(d) Pelaksanaan Focus Group Discussion di beberapa daerah pasca konflik (Kalimantan Barat. dengan tujuan terciptanya perdamaian yang abadi. berarti Pemerintah Republik Indonesia telah terikat secara hukum untuk menerima kewajiban membuat laporan penerapan norma dan standar Hak Asasi Manusia yang terkandung dalam instrumen hak asasi manusia internasional yang telah diratifikasi tersebut kepada badan PBB yang terkait. Ambon. mengatur pembatasan-pembatasannya demi kepentingan umum. Pada kenyataannya. evaluasi dan pelaporan merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dari seluruh rangkaian kegiatan RANHAM. 2007 .

Jakarta.A. PT Refika Aditama. Harmonisasi dan Sinkronisasi Rancangan Undang-undang dalam Rangka Pemantapan dan Pembulatan Konsepsi. Forum Asia. 11 Juli 2006. CESDA-LP3ES.. 2001. Firdaus. J. Jakarta. dan Budaya). 2004. Annual Human Rights Report 2000. 2005. Hak Asasi Manusia. Sinar Grafika. Jakarta. 123–134. Implikasi Pengaturan HAM Dalam UUD terhadap Ius Constituendum. Wibowo. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan-International Covenant on Economic. Darji dan Shidarta. Jurnal Legislasi Indonesia. Social and Cultural Rights Activism: A Training Resource. Makarim. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 40 tahun 2004 tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia Indonesia Tahun 2004-2004. Januari 2005. 2006. Bandung. 2004. and Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. Human Rights in Asia. Jakarta. Department of Foreign Affairs and Trade. 2007 21 . Wibisono. Naning. Darmodihardjo. 2 No.al. Jakarta. Starke. Kumpulan Makalah dan Tanggapan Fraksifraksi DPR-RI Mengenai Perubahan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992. Vol.). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.DAFTAR PUSTAKA Bahan Rapat Kerja Komisi III DPR-RI Dengan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI Tanggal 12 Juni 2006. Harry. Konvensi Pekerja Migran: Perlukah Indonesia Meratifikasi?. Sikka dan Jayapura. Australia.H. A. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik).. 3. Seminar “Memperkuat Sinergi Antar Pemangku Kepentingan Perlindungan HAM Pekerja Migran Perempuan Indonesia”. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Pokok-pokok Filsafat Hukum: Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. S. Circle of Rights. 11 Juli 2006. edisi kesepuluh. 2000. 1998. (terj. Economic. Forum Asia. 2003. Seminar “Memperkuat Sinergi Antar Pemangku Kepentingan Perlindungan HAM Pekerja Migran Perempuan Indonesia”. DPR-RI dan Yayasan Kesehatan Perempuan.G. Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak-hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. 9-13. 4 • Th. Konsep dan Implikasinya dalam Perspektif Hukum dan Masyarakat. hal. Jakarta. et. September 2005. Mahendra. hal. Social. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Mardiniah. Hakekat. Oka. Pengantar Hukum Internasional. Meneropong Hak Atas Pendidikan dan Layanan Kesehatan: Analisis Situasi di Tiga Kabupaten : Indramayu. Human Rights Manual. Bambang Iriana Djajaatmaja. Hikmahanto. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. JURNAL HAM • Vol. Sosial. Anharudin. Juwana. Departemen Hukum dan HAM Republik Indonesia. Diterbitkan atas kerjasama Forum Parlemen Indonesia dan Kependudukan Pembangunan.

Bukan Sekedar Menandatangani: Obligasi Negara Berdasarkan Kovenan Hak Ekosob A. monitoring procedure and mechanism based on the Covenant. It’s formulated into 4 section. termasuk indikator keberhasilan dan kekagalan. Tentu saja pengesahan tersebut. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengesahkan UU No. Dalam sidang Paripurna. ditandai dengan persetujuan bersama antara DPR dan Pemerintah pada 30 September 2005. * Kedua penulis saat ini bekerja di Yayasan Lembaga Batuan Hukum Indonesia JURNAL HAM • Vol. dibahas juga mekanisme pelaksanaan obligasi negara berdasarkan klausula Kovenan Hak Ekosob. including its indicators. explain definition and mean of State obligation. yang dapat digunakan untuk menilai pelaksanaan obligasi Negara. Selanjutnya. and. pembahasan akan difokuskan pada obligasi Negara pasca ratifikasi Kovenan Ekosob. Artikel ini disusun kedalam 4 bagian. Pembuka Babak baru itu. Selanjutnya. Patra M. violation of the obligation. Dibagian ini akan dicakup rumpun obligasi pokok Negara dan secara khusus membahas obligasi negara berdasarkan Pasal 2 ayat (1) Kovenan Hak Ekosob. akan dipaparkan “kelirumologi” 3 sesat pendapat berkaitan dengan ketentuan dan implentasi Kovenan Hak Ekosob. This article describes and analyzes as well as shows example and practical illustration regarding State’s obligation. Dibagian ini. Indonesia are legally binding to implement all state parties obligation as contained in the Covenant. Sosial dan Budaya – selanjutnya dalam tulisan ini disingkat dengan Kovenan Hak Ekosob – dan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik. bagian kedua. dibacakan hasil sidang untuk meratifikasi piagam hak asasi manusia: International Covenant on Economic. Social and Cultural Rights by Law No. Ratifikasi terhadap the bill of human rights ini membangkitkan harapan baru bagi lahirnya tindakan yang lebih nyata bagi pemajuan penghormatan dan perlindungan hak asasi manusia di negeri ini. kemudian. Dalam tulisan ini. terdapat obligasi (kewajiban) internasional yang melekat pada Negara pasca meratifikasi kedua kovenan tersebut. dimuat tema “pelanggaran hak ekosob”. 4 • Th. 11/2005. Bagian ketiga. dilakukan dengan sadar. Social and Cultural Rights dan International Covenant on Civil and Political Rights. Di bagian pertama. Zen dan Andik Hardiyanto* Abstract After incorporation of International Covenant on Economic. 2007 22 . khususnya berkaitan dengan tema “realisasi bertahap” (“progresif realization”) dan “sumber daya” (“resources”). 12 tentang Pengesahan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. 11 dan No. pada 28 Oktober 2005. akan dideskripsikan dan dianalisis obligasi (kewajiban) Negara berdasarkan ketentuanketentuan dalam Kovenan Ekosob.

pemenuhannya dilakukan secara seketika. General Comment No. bahasa. 7: The right to adequate housing (art. 8 (a). Semua pemenuhan hak ekosob mesti menunggu sumber daya yang berlimpah Komite Hak Ekosob pernah menyatakan dalam pemenuhan hak ekosob.1. Semua pemenuhan hak ekosob membutuhkan biaya Ilustrasi ini dapat dijadikan contoh: jika pemerintah daerah (Pemda) belum mampu untuk memberikan fasilitas perumahan yang layak dalam bentuk apapun. yakni: menghancurkan hak-hak dan kebebasan-kebebasan yang diakui dan melakukan pembatasan-pembatasan melebihi prinsip yang diperbolehkan Kovenan. Sixteenth session (1997). kekayaan atau lainnya. A. Negara dalam hal ini dapat mengimplementasikan obligasinya dengan seketika. tanpa mencarikan solusi agar mereka mendapatkan tempat untuk bernaung? A. merupakan catatan penutup. sebagaimana menjadi obligasi Negara berdasarkan Pasal 11 Kovenan maka Pemda jangan melakukan penggusuran!1 Tidak melakukan penggusuran paksa merupakan sebuah praktik yang tidak membutuhkan dana. Selain obligasi dalam Pasal 2 ayat (2) tersebut. memuat harapan: peristiwa peratifikasian Kovenan Hak Ekosob. Sixth session (1991). 11 (1) of the Covenant): Forced Evictions. sehingga pemerintah daerah hanya main gusur. General Comment No. 4: The right to adequate housing (art. jenis kelamin. 4 • Th. asal-usul kebangsaan atau status sosial. 13 and 18. politik atau pendapat lainnya.Di bagian akhir. pemerintah memberikan perhatian dan mencarikan tempat untuk sampah. Seluruh prinsip dan pemenuhan Hak Ekosob dipenuhi secara bertahap (progressive realization) Prinsip non-diskriminasi merupakan sebuah prinsip yang secara otomatis menjadi kewajiban negara dalam pemenuhannya. Baru-baru ini Pemda DKI Jakarta dan Pemda Bandung sibuk mencari wilayah untuk tempat pembuatan akhir sampah-sampah penduduk kota. 11(1) of the Covenant). A. sebaliknya apakah masyarakat miskin kota lebih hina dari sampah. yang tidak mengenal “setengah komitmen” atau “komitmen setengah-setengah” melainkan “komitmen penuh” untuk menjamin prinsip non-diskriminasi. Keliru Pandang Ketentuan dalam Kovenan Hak-Ekosob Meminjam istilah “kelirumologi”-nya Djaya Suprana. Obligasi Negara dalam Pasal 2 ayat (2) Kovenan adalah menjamin hak-hak dalam Kovenan Hak Ekosob dilaksanakan tanpa diskriminasi apa pun seperti ras. A. seluruh sumber daya yang ada harus 1 Lihat juga CESCR. Karenanya. warna kulit. obligasi dalam Pasal 5 Kovenan juga dapat dipenuhi oleh Negara secara seketika.2. paling tidak ada 3 kesalahan dan sesat pandang yang berkaitan dengan implementasi hak ekosob.3. Tidak dikenal implementasi prinsip non-diskriminasi secara bertahap. Lihat juga secara khusus CESCR. paras. Artinya. dipaku untuk tonggak upaya mewujudkan keadilan sosial dan kebebasan masyarakat. 2007 23 . JURNAL HAM • Vol. agama. termasuk memastikan persamaan laki-laki dan perempuan menikmati semua hak-hak ekosob yang dijamin dalam Pasal 3 Kovenan. Obligasi Negara dalam konteks ini adalah pernyataan “komitmen” dan “kemauan baik”.

2004: 218.911. Sumber: Dharma Santika Putra dan Nanoq da Kansas. The Com- mittee on Economic.562. Bupati Jembrana: sebuah kabaputen yang “tidak gemuk” PADnya (lihat tabel 1).548 11.56 JURNAL HAM • Vol.08% 0.008 205.540. (3) dalam skala tertentu berupaya menyediakan air bersih. yakni: (1) menjadi pelopor perwujudan program pendidikan dasar yang diwajibkan dan cuma-cuma (compulsory and free of charge).395 11.526..691 2. 24 . Selain itu.634 9.749 131.4% 10. di kabupaten ini. juga membebaskan pajak bumi dan bangunan (PBB) bagi lahan sawah. Juga perwujudan obligasi yang ditentukan oleh Pasal 13 Kovenan. utamanya hak atas pendidikan dan kesehatan. pada dasarnya telah memenuhi obligasi yang dinyatakan dalam Pasal 10 Kovenan – memberikan perlindungan dan fasilitas bantuan pada keluarga. Implementasi obligasi pemerintah dalam memenuhi hak ekosob. (2) memenuhi hak kesehatan masyarakat: menyediakan dan memfasilitasi pelayanan kesehatan gratis melalui program.000 lahir 45% hidup) Tingkat kegagalan 0. 16 (Rev.551.25 8.246. Jaminan Kesehatan Jembrana (JKJ). I Gde Winarsa.419 171. mencapai 88.500.9% Berkurang 44% Kematian Bayi 15. sebagaimana contoh-contoh tersebut.609 193.688. langsung dan tidak langsung: menghantarkan I Gde Winarsa mencapai rekor MURI baru: memperoleh prosentase suara terbanyak dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) pada 12 Oktober 2005.785. utamanya hak anak-anak untuk mendapatkan akses pendidikan dasar: menurunkan angka drop-out pelajar (lihat Tabel 2). 2007 2 Lihat OHCHR. 1).39 Berkurang (per 1. Bupati I Gde Winarsa. tetapi mampu menjalankan core-obligation dalam pemenuhan hak-hak ekosob.287. Dengan jumlah APBD dan PAD tersebut.055.digunakan dengan cara yang paling efektif (all existing resources must be devoted in the most effective way).000.956. paling baik untuk mencontoh apa yang dilakukan I Gde Winarsa.286 5. Fact Sheet No.000 Tabel 2 Contoh Indikator Pemenuhan Hak-hak Ekosob di Kabupaten Jembrana Indikator Keluarga Miskin Tahun Perubahan 2001 2002 19. tercatat sebagai pimpinan daerah yang mendapat pengakuan rekognisi publik. Social and Cultural Rights.555. 2005: 5.599. Tabel 1 Jumlah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah serta Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Jembrana (2000 – 2004) Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 APBD PAD (dalam Rupiah) 66. suka atau tidak.401.157. (3) untuk mendukung hak atas pekerjaan. dengan menjalankan proyek pengolahan air mineral dari air laut.703. 4 • Th.02% Berkurang menyelesaikan 75% sekolah (drop-out) Sekolah Dasar Sumber: Diolah dari Yayasan TIFA.224. seperti mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI).147.2 Dalam konteks ini.

Penjelasan Pasal 1 ayat (2) dinyatakan. Dalam konteks ini. yang mengizinkan hak guna pakai dan hak guna usaha atas air. disiplin hukum internasional hak asasi manusia mengenalkan “minimum core obligation” atau obligasi pokok yang paling minimum yang harus dipatuhi dan diimplementasikan Negara. kerjasama LBH Bandar Lampung dan FES Jakarta. Patra M. of the Covenant). Sebagai contoh berkaitan dengan “hak atas air” sebagai “hak asasi manusia”– sebagai elemen hak yang utama dalam Pasal 11 dan 12 Kovenan. Untuk tujuan tersebut. Obligasi Negara Berdasarkan Ketentuan Kovenan Hak Ekosob Dengan pengikatan Indonesia sebagai Negara Pihak Kovenan Hak Ekosob. naskah yang berlaku adalah naskah asli dalam bahasa Inggris serta pernyataan (declaration) terhadap Pasal 1 Kovenan Hak Ekosob. akan dieksaminasi dan diperiksa apakah negara yang bersangkutan telah melakukan segala upaya menggunakan segala sumber daya untuk melakukan obligasi pokoknya dalam pemenuhan hak ekosob. para. Kovenan Hak Ekosob disusun. jika terdapat perbedaan penafsiran terhadap terjemahannya dalam bahasa Indonesia. CESCR. paper pada Pendidikan Kritis untuk Aktivis Partai Politik (Penegakan Demokrasi dan Pemenuhan Hak Ekosob). maka penafsiran pasal-pasal dalam Kovenan. right to water” sebagaimana dijabarkan dalam Komentar Umum (General Comment) Komite Ekosob No. Jika didalami. sebagai Bupati Banyuwangi. Zen. Hal tersebut penting kembali diingatkan. yang bisa dicapai manusia. “Cara Mudah Menjadi Kepala Daerah: Dari Komitmen Pemenuhan Hak Ekosob Rakyat”. JURNAL HAM • Vol.Twenty-ninth session (2002). MURI mencatat rekor: I Gde Winarsa dan Ratna Ani Lestari sebagai pasangan suami-isteri (Pasutri) pertama yang menjadi Kepala Daerah. 25 . 4 • Th. yang pada prinsipnya memperbolehkan komersialisasi air untuk keuntungan orang seorang dan badan usaha privat. Bandar Lampung. maka penafsiran tentang isi kovenan ini tidak dapat “secara sewenang-wenang” diklaim oleh lembaga-lembaga Negara. termasuk DPR dan Pemerintah. 2007 4 Lihat UN doc. General Comment No. tidak lain dan tidak bukan untuk perlindungan dan pemenuhan hak. 15 yang menjelaskan Pasal 11 dan 12 Kovenan. Disinilah kerangka kerja Negara mesti disusun agar meningkatkan penikmatan hak-hak ekosob semua orang. 10.4 DPR dan Pemerintah tidak dapat semena-mena menafsirkan hak atas air sebagai “water rights” a la Bank Dunia (World Bank) atau penafsiran yang dianut UU No. 2. Fifth Session (1990). setinggi-tingginya dan semaksimal mungkin. General Comment No. 5 Lihat UN doc. agar setiap orang dan kelompok masyarakat dapat menikmati semua katalog hak ekosob. 11 and 12 of the Covenant). para.persen dari total suara yang sah. lagi-lagi langsung dan tidak langsung menghantarkan Ratna Ani Lestari. apakah terjadi pelanggaran obligasi Negara atau tidak. CESCR. 15: The right to water (arts. bukan sebaliknya malah Negara berkontribusi terhadap penurunan (degradasi) penikmatan hak ekosob warga-negaranya. UU No.5 Karenanya. 7/2004 tentang Sumber Daya Air. 3: The Nature of State parties’ obligations (art. 23-25 Februari 2006. 11/ 2005. lihat antara lain A.3 B. 1. maka DPR dan Pemerintah. Selanjutnya. seperti penjelasan yang diadopsi Komite Hak-hak Ekonomi Sosial dan Budaya (Komite Hak Ekosob) yang dibentuk berdasarkan ketentuan Kovenan. namun mesti merujuk pada naskah asli dan sumber-sumber yang diakui. mesti merujuk pada pengertian – “the 3 Tentang hal tersebut.

juga secara tegas dinyatakan dalam hal upaya-upaya bantuan teknis internasional. semua upaya dan segala tindakan untuk menerima (to mempromosikan (to promote). pp. 2007 26 . dinyatakan: “Article 14 …requires each State party which has not been able to secure compulsory primary education. a. mesti mempertanggunjawabkannya dalam sistem hukum di Indonesia (justiciable). to be fixed in the plan. 1. Vol. 8 Lihat UN doc.6 Ironis. free of charge. Sosial dan Budaya: Menarik Pengalaman Internasional. 11. CESCR. Twentieth session (1999). 1 No.Contoh dalam pemenuhan hak atas pendidikan dasar yang diwajibkan dan cuma-cuma sebagaimana dijamin dalam Pasal 14 Kovenan. para. 7 Ibid. 7. para. JURNAL HAM • Vol. Mempromosikan (to promote) Aparat Negara. to work out and adopt a detailed plan of action for the progressive implementation. within two years.1. to undertake. CESCR. Sixth session (1991). Lima Layer Obligasi Pokok: Rumpun Obligasi yang Saling Berkait Atas jasa International Law Commission. tidak dapat memasukan anak-anaknya ke sekolah karena mahalnya biaya pendidikan. 10-11. 36-47. 1. Mempraktikannya di Indonesia. maka semestinya Negara mengakui semua mekanisme dan konsekwensi yang mesti ditanggung para pelaku pelanggaran hak ekosob. Misalnya: jika banyak keluarga miskin yang tidak dapat memperoleh akses terhadap pelayanan kesehatan. menghormati (to respect). disiplin hukum hak asasi manusia mengenal 2 bentuk obligasi Negara yang pokok berdasarkan Kovenan Hak Ekosob: obligations of conduct dan obligation of result. 1 Oktober 2003.10 b. 11: Plans of action for primary education (art. Zen. anak-anak dari keluarga miskin tidak dapat menikmati pendidikan dasar. 19... Negara berkewajiban untuk menerima “the essential importance of international cooperation based on free consent”. 4: The right to adequate housing (art. General Comment No. 4 • Th.8 Obligation of conduct. melindungi (to protect) dan memenuhi (to fulfill) – memfasilitasi (to facilitate) 6 Periksa juga CESCR. 3. Op. within a reasonable number of years. sebaliknya para anggota DPR dan DPRD malah menikmati studi banding yang menghabiskan bukan saja ratusan juga bahkan miliar rupiah setiap periode 5 tahun keanggotaan sebagai “wakil rakyat”.9 Obligasi Negara dalam hal mengakui prinsip-prinsip pemenuhan hak ekosob. Sehingga. paras.7 B. 11 (1) of the Covenant).. 10 UN doc. neral comment No. General Comment No. “Justisiabilitas Hak-hak Ekonomi. 14). Promosi bukan saja dilakukan melalui penyebaran iklan layanan masyarakat 9 Ibid.. maka. Sebagai contoh.cit. pejabat yang berkompeten dalam hal ini. Patra M. para. termasuk aparat penegak hukum dan birokrasi mesti melakukan promosi hak-hak ekosob. 9.” dalam Jurnal HAM (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia). seperti jika terjadi pelanggaran atau kejahatan hak-hak sipil politik. of the principle of compulsory primary education free of charge for all”. Mengakui (to recognize) Klasifikasi obligasi Negara dalam mengakui bahwa hak ekosob merupakan hak asasi manusia. Ge- dan menyediakan (to provide) – penikmatan hak-hak ekosob. Dalam Komentar Umum Komite Ekosob No. Lihat juga A. merupakan obligasi atau kewajiban Negara untuk melakukan sesuatu.

Obligasi penghormatan yang mesti dilakukan Negara. Keluarnya Peraturan Presiden (Perpres) No. Sejumlah Kalangan Nilai yang Direvisi Tak Signifikan”. Pembatasan hanya dapat dilakukan dengan maksud agar terpenuhinya hak-hak itu sendiri.tetapi juga melalui pelibatan masyarakat sipil secara aktif. dimungkinkan jika Negara mensosialisasikan rencana. Kompas. Contoh lain.11 Pentingnya Negara dalam menjalankan obligasi promosi. pelaksanaan. para. mempunyai makna.14 Dalam Perpres ini seharusnya dimuat jaminan reparasi (rehabilitasi.cit. “YLBHI Minta Revisi Perpres Diwaspadai”. Tidak Dipublikasikan. negara tidak melakukan tindakan yang justru membatasi sebagian atau seluruhnya hak-hak ekosob masyarakat. 9. Essex University. Perpres Nomor 36/2005 Harus Dibatalkan”. peraturan atau kebijakan “pembangunan” secara luas agar dapat diketahui dan dipahami oleh publik. 7 Juni 2006. 35/2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Untuk Kepentingan Umum. 10 Mei 2005. Negara wajib menghormati persetu11 Bahasan yang rinci tentang prinsip full and mean- Op. “Selesai. Partisipasi masyarakat semacam ini (full and meaningful participation). Dissertation for LL. paper diskusi pada “Development and Human Rights”. “A critical contextual human rights analysis of Kedung Ombo Large Dam Project in Indonesia”. pengawasan dan distribusi manfaat atau hasil-hasil yang ingin dicapai oleh program pemenuhan hak ekosob.12 c. Kompas. Hal ini agar dimungkinkan adanya partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan. General Comment No. yakni memastikan adanya “legal security of tenure”. 2007 LBH Indonesia. JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 8(a). General Comment No. 4. termasuk dalam hal Pelaporan yang dilakukan Negara Pihak. Program-program promosi atau seringkali disebut dengan sosialisasi mutlak wajib dilakukan. CESCR. antara lain lihat A. 12 Lihat UN doc. Zen. “Perpres tentang Pengadaan Tanah. 1: Reporting by States parties.. h. Revisi Perpres Tanah. lihat juga “What does the rights to participate mean”. 9 Mei 2005 tentang Penetapan Peraturan Presiden No. CESCR. restitusi dan kompensasi) bagi si pemilik tanah. 6 Juni 2006. 2628. Walhi. Pemerintah Dinilai Lebih Represif”. telah menjadi perhatian yang pokok oleh Komite Hak Ekosob. “Pemerintahan SBY-Kalla Menunjukkan Watak Aslinya: Mendahulukan Kepentingan Pemilik Modal Daripada Kepentingan Masyarakat”. Third session (1989). 10 Mei 2005. KSPA dan ELSAM. antara lain. Melindungi (to protect) Salah satu contoh yang paling prudent obligasi Negara untuk melindungi hak ekosob. University of Essex (2002). pada dasarnya bertentangan dengan obligasi Negara untuk melindungi hak atas tanah: karena tidak diatur dengan jelas mekanisme perlindungan bagi seseorang atau kelompok masyarakat yang tanahnya diambilalih.13 keamanan hukum kepemilikan atas tanah. maupun campur tangan langsung hak seseorang atau kelompok untuk membentuk serikat buruh/pekerja atas pilihannya sendiri atau melakukan pemogokan (Pasal 8 Kovenan) d. “Lebih Represif. Dalam klasifikasi ini. Lihat juga Kompas. 14 Lihat antara lain Siaran Pers Bersama Yayasan ingful participation dalam proses pembangunan. 36/2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum.M in International Human Rights Law. para. Suara Pembaruan. 13 Lihat UN doc. Negara tidak diperkenankan untuk melakukan intervensi baik melalui peraturan perundangan atau kebijakan. 27 . Menghormati (to respect) juan sukarela calon mempelai untuk melangsungkan perkawinan (Pasal 10 ayat (1) Kovenan). Patra M. 26 September 2002.

yang dapat menghidupi keluarganya secara layak. kesempatan memperoleh promosi ke jenjang yang lebih tinggi. termasuk memenuhi hak setiap orang menikmati pendidikan dasar yang wajib dan cuma-cuma (compulsory and free of charge) (Pasal 13 dan 14 Kovenan). Menyediakan dan memfasilitasi (akses) atas pendidikan. “cuma” bayar SPP. Dengan kerjasama internasional. meminta Negara untuk melakukan perlindungan bagi anak-anak dan remaja dari semua bentuk eksploitasi ekonomi dan sosial. termasuk memastikan pekerja/buruh memperoleh upah yang adil. 28 JURNAL HAM • Vol. Memenuhi: memfasilitasi dan menyediakan (to fulfill: to facilitate and to provide) Obligasi untuk memenuhi hak asasi manusia secara inheren mempunyai makna Negara melakukan upaya untuk memfasilitasi dan menyediakan hak-hak ekosob setiap warga negaranya. Menyediakan bantuan kepada keluarga untuk merawat dan mendidik anak-anak yang masih dalam tanggungannya (Pasal 10 Kovenan). Selanjutnya. serta menikmati istirahat. Tidak seperti sekarang. e. Menyediakan dan memfasilitasi jaminan sosial termasuk asuransi sosial bagi setiap warga negara (Pasal 9 Kovenan). dan perbaikan kondisi hidup semua orang secara terus menerus (Pasal 11 Kovenan). sebagaimana dimuat dalam Kovenan sebagai berikut: Menyediakan lapangan kerja dan memfasilitasi bimbingan teknis. 4 • Th. juga dilakukan seperti memastikan setiap orang bebas dari kelaparan (Pasal 11 ayat (2) Kovenan) dan bebas untuk berpartisipasi dalam kehidupan budaya (Pasal 15 ayat (1) Kovenan). Negara berdasarkan Pasal 10 ayat (2) Kovenan wajib memberikan perlindungan khusus kepada para ibu selama jangka waktu yang wajar sebelum dan sesudah melahirkan. dan kegiatan ekonomi produktif (Pasal 6 Kovenan). Perwujudan obligasi Negara untuk pemenuhan hak ekosob.Contoh lain adalah memberikan perlindungan dalam bentuk peraturan perundang-undangan agar setiap orang dapat menikmati kondisi kerja yang adil dan menguntungkan. dan seterusnya pungutan yang membebani siswa dan orang tua murid. sandang dan perumahan. kondisi kerja yang aman dan sehat. liburan dan pembatasan kerja yang wajar dan hak-hak yang melekat didalamnya (Pasal 7 Kovenan). Menyediakan dan memfasilitasi (akses) atas standar kesehatan fisik dan mental setinggi-tingginya yang dapat dicapai (Pasal 12 Kovenan). program-program pelatihan. “cuma” bayar buku. Negara menyediakan dan memfasilitasi (akses) atas pangan. Perlindungan. 2007 . Sementara Pasal 10 ayat (3) Kovenan. sebagai obligasi Negara. karenanya berhak mendapat cuti dengan upah/gaji dan jaminan sosial yang memadai. Menyediakan dan memfasilitasi (akses) semua orang untuk menikmati manfaat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan penerapannya (Pasal 15 ayat (1) Kovenan).

para. CESCR. 4. Mengenal Lebih Dekat: Obligasi Negara Menurut Pasal 2 ayat (1) Kovenan Hak Ekosob Pasal 2 ayat (1) Kovenan Hak Ekosob menyatakan: “Setiap Negara Peserta Kovenan ini berupaya untuk mengambil langkahlangkah. susnya dengan mengadopsi langkah-langkah legislatif (by all appropriate means including particularly adoption of legislative measures)’ adalah bersifat unik dan tidak terdapat.15 Selain itu. 17 Ibid.. Selanjutnya Komite menegaskan bahwa. Pasal 2 tersebut mengandung kepentingan khusus untuk mencapai pemahaman seutuhnya atas Kovenan dan harus dilihat dalam hubungannya yang dinamis dengan semua ketentuan Kovenan lainnya. Pasal 2 ini menjelaskan sifat dari kewajiban yang umum ditempuh oleh Negara Peserta Kovenan. Op. Sosial dan Budaya (Komite Hak Ekosob).”16 Langkah-langkah tersebut haruslah dilakukan secara terencana. termasuk pada khususnya dengan mengadopsi langkah-langkah legislatif”. nampak penting di sini untuk memahami arti dari istilah-istilah yang digunakan dalam Pasal 2 Kovenan untuk memahami bagaimana implementasi kewajiban Negara seharusnya dijalankan. 2. atau tidak digunakan dalam obligasi yang dimuat dalam Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik (Kovenan Hak Sipol). 4 • Th.. 2007 29 . Namun demikian. Menurut Komite Hak Ekonomi. berupaya mengambil langkahlangkah” sebagaimana tersebut dalam Pasal 2 (1) Kovenan Hak Ekosob. konkrit dan diarahkan kepada sasaran-sasaran yang dirumuskan sejelas mungkin dalam rangka memenuhi kewajiban-kewajiban Kovenan.B. secara sendiri maupun melalui bantuan dan kerjasama internasional. para. Penggunaan istilah “Setiap Negara Peserta. General Comment No...’ Komite Hak Ekosob mengakui bahwa negaralah yang harus memutuskan langkah-langkah yang tepat dan hal tersebut bergantung pada hak yang hendak diimplementasikan. termasuk pada khu15 UN doc. 3. namun langkahlangkah kearah itu harus diambil dalam waktu yang tidak lama setelah Kovenan berlaku bagi Negara Peserta bersangkutan. sejauh dimungkinkan oleh sumberdaya yang tersedia (to the maximum available resources).cit. Komite Hak Ekosob melalui Komentar No. “…walaupun realisasi sepenuhnya atas hak-hak yang relevan bisa dicapai secara bertahap. laporan Negara Peserta harus menyebutkan tidak hanya langkah-langkah yang telah ditempuh namun juga alasan mengapa langkah-langkah tersebut dianggap sebagai paling tepat berikut situasisituasinya. para. sejauh dimungkinkan oleh sumberdaya yang tersedia. Istilah-istilah seperti: berupaya mengambil langkah-langkah (undertakes to take steps). pencapaian secara bertahap demi realisasi sepenuhnya (achieving progressively the full realization). memang biasanya ditafsirkan dengan kandungan arti implementasi Kovenan secara bertahap.17 Interpretasi Komite terhadap istilah ‘all appropriate measures’ jelas berkaitan baik dengan kewajiban melakukan 16 Ibid. 3 telah menjelaskan bahwa. dan dengan semua cara yang tepat. 1. JURNAL HAM • Vol. khususnya dalam bidang ekonomi dan teknis..2. yang mengarah pada pencapaian secara bertahap demi realisasi sepenuhnya dari hak-hak yang diakui dalam Kovenan ini dengan semua cara yang tepat.

2007 .. kewajiban Negara tetap dijalankan untuk menjamin pemenuhan hak yang seluas-luasnya dalam kondisi yang sangat terbatas itu. Bahkan. Sementara itu berkait istilah ‘mengadopsi langkah-langkah legislatif’’(adoption of legislative measures) Komite memberi peringatan bahwa keberadaan hukum jelas penting tetapi hal tersebut belumlah cukup membuktikan Negara Peserta telah menjalankan kewajibannya sesuai Kovenan. juga menegaskan tentang perlunya kerjasama dan bantuan internasional berkait dengan upaya realisasi hak. Dalam kenyataan. 10. Komite sekali lagi memberi peringatan bahwa klausul realisasi secara progresif sepatutnya juga dicerminkan pada pelaksanaan kewajiban yang menjamin agar tidak terjadi perkembangan regresif atau kemunduran. maka Negara harus membuktikan bahwa kegagalannya memenuhi hak-hak orangorang ini memang diluar kendali. 4 • Th. pada saat terjadi keterbatasan sumberdaya yang akut. dibutuhkan justifikasi penuh dengan mengacu pada inti hak yang ditentukan dalam Kovenan dan dalam konteks pemanfaatan sejauh mungkin atas sumberdaya yang ada. maka dapat dinyatakan Negara gagal menjalankan obligasinya berdasarkan Kovenan.18 Lebih jauh Komite menjelaskan bahwa sekalipun didapati kenyataan tidak cukupnya sumberdaya yang ada. Komite mengakui pentingnya sumberdaya bagi pemenuhan hak-hak ini. Pada titik ini. Kini ratifikasi Kovenan Hak Ekosob memberi pemahaman mendasar bahwa peningkatan ekonomi haruslah secara nyata didasarkan pada penghormatan dan realisasi hak asasi manusia. Jika hal itu pun terpaksa dilakukan dan terjadi. tetapi tidak menganggap bahwa ketersediaan sumberdaya sebagai alasan untuk lepaskan kewajibannya. dalam kasus dimana sejumlah cukup signifikan rakyat hidup dalam kemiskinan dan kelaparan. tetapi mereka tidak dapat dibuat menunggu pemenuhan hak-hak asasinya sampai klaim “pertumbuhan ekonomi” memungkinkan hal itu. Pasal 2 ayat (1) Kovenan. pembelajaran dan ekspresi dari banyak Negara Peserta dalam mengimplementasikan kewajibannya telah mendorong pentingnya aplikasi pendekatan berbasis hak dalam “pembangunan”. Komentar Umum No. atau tidak menikmati pendidikan dasar. para. Pada kenyataannya 18 Ibid. Suatu kebijakan ekonomi atau pembangunan memang untuk mencapai kesejahteraan warganegaranya. anggota masyarakat yang rentan dapat dan memang harus mendapatkan perlindungan dengan diadopsinya programprogram yang dirancang relatif murah. Disinilah konteks gagasan kewajiban minimum (minimum core obligation) yang dikembangkan oleh Komite.(obligations of conduct) maupun kewajiban hasil (obligation of result). Dalam kasus semacam ini. Sebagai contoh. jika terdapat penduduk secara massal. maka harus dijalankan dengan pertimbangan yang sangat hati-hati. tidak memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan. tak mempunyai tempat bernaung dan perumahan. menderita kelaparan. maka kecurigaan biasanya akan muncul berkenaan dengan adanya kesenjangan antara peraturan perundang-undangan dengan praktik. Berdasarkan pengalaman Komite ketika membahas laporan Kanada menyatakan. 30 JURNAL HAM • Vol. Komite menyatakan bahwa. 3 memberi ilustrasi yang sangat jelas untuk hal ini. Komite melihat bahwa setiap Negara Peserta mempunyai kewajiban minimum untuk memenuhi tingkat pemenuhan yang minimum dari setiap hak yang terdapat dalam Kovenan. jika laporan difokuskan secara sempit pada aspek-aspek legal semata.

memang Negara Peserta mengalami kesulitan dalam melaksanakan kewajiban untuk melindungi dan memenuhi hak secara penuh. Tetapi terpisahnya logika globalisasi ekonomi dengan kerangka kerja hak asasi manusia menjadikan harapan akan membaiknya situasi derita dunia menjadi pupus kembali. GAPRI.20 Tetapi yang penting dipahami di sini adalah bahwa kegagalan Negara Peserta untuk memenuhi kewajiban yang terkandung dalam Kovenan jelas merupakan pelanggaran terhadap Kovenan. Pemahaman ini didasarkan pada keberadaan gagasan kewajiban minimum (minimum core obligation) yang dikembangkan oleh Komite. 19 Andik Hardiyanto. kerjasama pembangunan internasional ditandai oleh berbagai perubahan cara pandang dan kebijakan yang merujuk pada pemahaman bahwa realisasi hak asasi manusia merupakan kunci untuk lepas dari situasi ini. Pada suatu titik momentum ketika kelaparan dan kemiskinan menjadi musuh nomor satu dari semua Negara di dunia ini. Komite menegaskan bahwa Negara mempunyai kewajiban minimum guna memenuhi realisasi setiap hak yang terdapat dalam Kovenan pada tingkat yang minimum. terjebak pada hutang luar negeri yang sangat besar. 2007 31 . 2005. pada banyak Negara. Pelanggaran Hak Ekosob: Indikator Keberhasilan dan Kegagalan Obligasi Negara Komite menegaskan bahwa Negara Peserta yang penduduknya dalam jumlah yang signifikan mengalami kekurangan bahan pangan.19 C. penguatan konsep pelanggaran Hak Ekosob terus dilakukan oleh banyak ahli hukum hak asasi manusia internasional yang kemudian dituangkan dan dikenal sebagai Prinsip-Prinsip Limburg (the Limburg Principles). Jakarta.1. untuk mendukung bantuan teknis dan pinjaman dana. Problemnya. Kegagalan untuk memenuhi kewajiban minimum dapat disebut sebagai pelanggaran terhadap hak yang termuat dalam Kovenan Hak Ekosob.. Pelanggaran Hak dalam Kovenan Hak Ekosob dan Monitoring Obligasi Negara C. dan sementara itu sebagian besar penduduknya tetap dan jatuh miskin. atau tiada akses terhadap pendidikan dasar merupakan petunjuk awal bagi kegagalan Negara untuk memenuhi kewajiban sebagaimana diatur Kovenan. kekurangan pelayanan kesehatan dasar. tiada akses terhadap pemukiman dan perumahan yang layak. Prinsip-prinsip ini memberikan kerangka dasar bagi pengembangan lebih lanjut atas berbagai asumsi dan konsep pelanggaran Hak Ekosob. Dalam perkembangannya. dan Negara pengutang tidak berdaya karena situasi ketergantungan dan keterjebakan hutang yang dialaminya. et.al. Empat Pilar Demokrati- sasi Melawan Kemiskinan dan Pemiskinan. 4 • Th. yang biasanya menunjuk pada keterlibatan lembaga atau badan pembangunan multilateral dan keuangan internasional. Kesulitan utama dari persoalan ini adalah operasional dari lembaga atau badan pembangunan multilateral dan keuangan internasional itu lepas dari kerangka kerja hak asasi manusia. JURNAL HAM • Vol. Konsep kewajiban minimum diajukan oleh Komite untuk menyangkal alasan tidak adanya sumberdaya sebagai faktor yang mencegah pemenuhan kewajiban.. Dibutuhkan keterlibatan pihak ketiga. bahwa pada akhirnya mereka menjadi sangat tergantung pada aliran dana luar negeri.

32 . Komite Hak Ekosob melalui Ko20 The Limburg Principles on the Implementation of mentar Umum No. May 1987. (vi) gagal menyampaikan laporan sebagai ditentukan dalam Kovenan. Human Rights Quarterly. Dengan begitu. kebebasan melakukan penelitian ilmu pengetahuan serta kegiatan kreatif (Pasal 15 ayat (3) Kovenan). dan budaya merupakan wilayah eksekutif dengan berbagai kebijakan dan programnya. dapat menggunakan kebijakan dan standard yang sudah ada. Social and Cultural Rights. penegakan hak-hak yang terkandung dalam Kovenan Hak Ekosob ini bisa ditangani oleh pihak yudikatif. 4 • Th. dalam rangka pemeJURNAL HAM • Vol. seperti: non-diskriminasi dalam realisasi hak (Pasal 3 Kovenan). 2. di sisi lain. 9. Untuk mengukur apakah Negara berhasil atau sebaliknya gagal dalam menjalankan obligasinya. Sementara itu. maka pemahaman akan penegakan realisasi hak ekonomi. upah yang sama bagi pekerjaan yang sama antara laki-laki dan perempuan (Pasal 7 huruf (a) angka (i) Kovenan). sosial. (ii) gagal menyingkirkan segera atas berbagai hambatan yang menghalangi realisasi hak secara penuh. Dapat juga ditemukan pada UN doc. 2007 the International Covenant on Economic. seperti termuat dalam Kovenan Hak Ekosob. dihasilkan dalam sebuah pertemuan pakar hukum internasional di Maastricht. hak orang tua untuk memilihkan sekolah bagi anak-anaknya guna menjamin pendidikan agama serta moral yang sesuai dengan keyakinan mereka (Pasal 13 ayat (3) Kovenan). hak untuk mendirikan dan mengarahkan sekolah (Pasal 13 ayat (4) Kovenan). dalam situasi dan kondisi dimana Negara Peserta: (i) gagal mengambil langkah-langkah seperti yang disyaratkan dalam Kovenan. annex. No. Komite jelas menolak pemahaman ini. karena pengembangan konsep pelanggaran hak banyak difokuskan pada pemenuhan kewajiban. hak untuk membentuk serikat buruh dan hak mogok (Pasal 8 Kovenan). 122.4/1987/17. Komite menyatakan bahwa hak ekosob juga menjadi urusan pengadilan. Jika belum maka. E/CN.3 telah mengidentifikasi beberapa ketentuan Kovenan yang bisa ditangani segera oleh pihak yudikatif. atau lebih dikenal dengan Limburg Principles. Belanda pada Juni 1986. pendidikan dasar (Pasal 13 angka (2) huruf (a) Kovenan). yang dimuat dalam katalog hak Kovenan – utamanya dalam Bab III (Pasal 6 sampai dengan 15 Kovenan) Sebagai contoh. (iv) menerapkan pembatasan atas hak yang diakui dalam Kovenan dengan alasan-alasan yang tidak sesuai seperti yang disyaratkan Kovenan. upah yang adil dan setara. p.Pelanggaran terhadap Kovenan tersebut. (iii) gagal untuk mengimplementasikan hak yang perlu segera direalisasikan. dapat dimaknai. (v) sengaja menghambat atau menghalangi realisasi bertahap atas hak-hak yang diakui dalam Kovenan. perlu dibuat blue-print untuk masing-masing pemenuhan hak ekosob. menurut Komite. perlindungan anak dari eksploitasi ekonomi dan sosial (Pasal 10 ayat (3) Kovenan). Vol.

pemerintah misalnya telah merumuskan kebijakan Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SPNK). Para penanggungjawab dan aparat Negara yang terlibat dalam perencanaan. melindungi dan memenuhi (memfasilitasi dan menyediakan) hak-hak ekosob masyarakat. Karenanya. Mekanisme monitoring implementasi ketentuan dalam Kovenan Hak Ekosob. Dalam dokumen ini juga ditegaskan. dibandingkan “Komite Hak Asasi Manusia”. kualitas kehidupan seseorang sangat bergantung pada realisasi hak-hak asasinya. melakukan pemantauan terhadap implementasi obligasi Negara Pihak dalam mempromosikan. 2007 33 . menggantikan sebuah Kelompok Kerja (Working Group) yang dibentuk Dewan Ekonomi dan Sosial – Economic and Social Council (ECOSOC). dokumen SNPK ini. kebijakan ini merupakan bentuk pengakuan. Menjadi menarik di sini. Walaupun “terlambat” lahir. pakaian dan perumahan yang layak. tegi Nasional Penanggulangan Kemiskinan. menghormati. dilakukan antara lain melalui pengawasan yang dilakukan Komite Hak Ekosob yang dibentuk berdasarkan Kovenan.2. Oktober 2005. peristiwa kemiskinan adalah masalah hak asasi manusia. dan di sisi lain adalah menjadi kewajiban Negara untuk melaksanakan realisasi hak-hak asasi itu sepenuhnya. Dokumen kebijakan ini menggunakan pendekatan berbasis hak untuk memahami kemiskinan dan mengembangkan upaya-upaya penanggulangannya. dalam Human Development Index (HDI) naik dan terjadi peningkatan indikatorindikator kesejahteraan. Memeriksa. Sosial dan Budaya (Kovenan Hak Ekosob). pelaksanaan dan evaluasi semestinya dapat dimintai pertanggunjawaban secara politik dan hukum. Mekanisme Monitoring Pelaksanaan Obligasi Negara Selain memberikan penafsiran dan elaborasi terhadap pasal-pasal dalam Kovenan. 4 • Th. dan termasuk pula sebagai rujukan penyusunan Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD) dan RPJM Daerah JURNAL HAM • Vol.nuhan hak setiap orang untuk menikmati standard hidup yang layak bagi dirinya dan keluarganya. Stra- dokumen SPNK mesti diletakan pada dokumen yang semestinya membawa implikasi bukan saja ekonomi. Komite ini terdiri dari 18 pakar independen yang bekerja untuk memeriksa (mengeksaminasi) laporan Negara Pihak dalam menjalankan obligasi (kewajiban) yang tercantum di Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. karena dokumen ini kemudian dijadikan rujukan bagi penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009. Selain itu. serta peningkatan kondisi kehidupan secara terusmenerus. di satu sisi. dapat dikatakan. atau disebut dengan mekanisme berdasarkan perjanjian (treatybased mechanism). SPNK juga memuat rekomendasi caracara penghapusan kemiskinan dan pencapaian tujuan Millenium Development Goals (MDGs) dengan mekanisme implementasi yang diadopsi oleh Kovenan Hak Ekosob. Komite Hak Ekosob mulai menjalankan fungsinya sebagai lembaga pengawas pada 1986. dokmen ini disusun dengan perspektif.21 SPNK dapat dikatakan berhasil antara lain jika peringkat Indonesia. fungsi utama Komite Ekosob. 21 Komite Penanggulangan Kemiskinan (KPK). C. yang memandang problem kemiskinan berkait langsung dengan tidak terpenuhinya hak-hak dasar. termasuk ketercukupan pangan. utamanya hak-hak ekosob. Menariknya. tapi juga politik dan hukum.

Scientific and Cultural Organisation (UNESCO). seperti Prinsip-prinsip Limburg (Limburg Principles). Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB – United Nations Educational. Komite bekerja sama dengan Organisasi Pangan dan Pertanian – Food and Agriculture Organisation (FAO).4/1987/17. Komite dituntut selalu mengembangkan praktik kreatif untuk mendorong Negara Pihak benarbenar menjalankan kewajibannya. seperti dinyatakan dalam Pasal 11 Kovenan. dengan Mandat Tematik yang relevan dengan Hak-hak Ekosob (Per 1 Februari 2006) Nama/Mandat Dasar Pemberian Nama dan asal negara Mandat pemegang mandat Tahun Nomor Resolusi 2000 2000/9 Pelapor khusus untuk perumahan yang layak – sebagai komponen hak atas standar hidup yang tinggi Pelapor Khusus untuk hak atas pendidikan Pakar independen tentang masalah hak asasi manusia dan kemiskinan yang ekstrim Mr. Contoh lain. Dokumen ini dirumuskan dan disetujui oleh kelompok ahli dalam pertemuan hukum internasional di Maastricht Belanda. Komite bekerjasama dengan lembaga-lembaga khusus PBB yang lain.Dalam menjalankan fungsinya. dalam memeriksa obligasi pemenuhan hak atas pendidikan. Miloon KOTHARI (India) 1998 1998 1998/33 1998/25 Vernor MUOZ VILLALOBOS (Kosta Rika) Arjun SENGUPTA (India) 34 JURNAL HAM • Vol. Komite Hak Ekosob dalam menjalankan fungsinya juga mendengarkan pendapat dan masukan dari para pelapor khusus ini (lihat Tabel 3). Limburg Principles on the Implementation of the International Covenant on Economic. Demikian juga kerjasama dengan Organisasi Buruh Internasional – International Labor Organisation (ILO) dalam kaitan dengan hak-hak buruh atau bekerjasama dengan UN Centre for Human Settlement (Habitat) berkaitan dengan hak setiap orang untuk menikmati perumahan yang layak. Dalam hal ini. Komite juga memperhatikan dokumen yang berkaitan dengan hak-hak ekosob. Komite mengambil manfaat dan bekerjasama dengan para pakar yang bekerja pada Organisasi Pendidikan. Dalam melaksanakan fungsinya. annex. maka dimungkinkan juga pengawasan dilakukan berdasarkan nontreaty based seperti prosedur khusus (special procedure) dibawah Komisi Hak Asasi Manusia (Commission on Human Rights) – yang sekarang diganti oleh Dewan Hak Asasi Manusia (Human Rights Council).22 Selain treaty-based mechanism tersebut. untuk selanjutnya Komite memberikan rekomendasi tentang hal-hal yang perlu dilakukan Negara selanjut- nya. Tabel 3 Prosedur Khusus dibawah Komisi Hak Asasi Manusia. Social and Cultural Rights. Dialog yang terjadi antara Komite dengan perwakilan Negara dikembangkan. 2007 . E/CN. 22 Lihat UN doc. Sebagai contoh. dalam memeriksa laporan yang berkaitan dengan obligasi negara untuk memenuhi hak atas pangan. yang kemudian dikembangkan di Maastricht pada 1986. 4 • Th.

jelas apa yang menjadi hak setiap warga negara. maka norma dan standar hak asasi manusia hanya menjadi tumpukan kertas tebal yang dibinding apik: sebagai bahan rujukan tanpa tindakan. tidak lain tidak bukan adalah ideologi yang mendasari orde ekonomi. Tidak hanya pemerintah yang tengah berkuasa. Namun. DPR dan lembaga yudikatif. dapat dikatakan. 4 • Th. JURNAL HAM • Vol. Keadilan Sosial dan Kebebasan Masyarakat Secara normatif. khususnya perempuan dan anak Perwakilan khusus Sekretaris Jenderal tentang hak asasi manusia dan korporasi trans-nasional dan perusahaan bisnis lainnya 2000 2002 2001 2000/10 2002/31 (untuk 3 tahun) 2001/57 Jean ZIEGLER (Swis) Mr. dimana Komite senantiasa meminta atau terbuka untuk menerima masukan dari organisasi-organisasi non-pemerintah ketika memeriksa laporan yang disampaikan Negara Pihak. D. politik dan hukum. Penutup: Preferensi Ideologi Kerakyatan.Pelapor khusus untuk hak atas pangan Pelapor khusus tentang hak setiap orang menikmati standar fisik dan mental tertinggi yang dapat dicapai Pelapor khusus tentang situasi hak asasi manusia dan kebebasan fundamental penduduk asli/adat Perwakilan Sekretaris Jenderal untuk hak-hak asasi pengungsi didalam negeri Pelapor Khusus tentang hak-hak penduduk migran Pakar independen untuk isu-isu minoritas Pakar independen tentang hak asasi manusia dan solidaritas internasional Pakar independen untuk dampak pembaharuan kebijakan ekonomi dan utang luar negeri Pelapor khusus tentang dampak yang ditimbulkan pemindahan dan pembuangan produk dan limbah beracun dan berbahaya terhadap penikmatan hak asasi manusia Pelapor khusus tentang perdagangan manusia. BUSTAMANTE (Meksiko) Gay MCDOUGALL (Amerika Serikat) Rudi Muhammad RIZKI (Indonesia) Bernards Andrew NYAMWAYA MUDHO (Kenya) Okechukwu IBEANU (Nigeria) 2000 1995 Resolution 1995/81 2004 2005 2004/110 (untuk 3 tahun) 2005/69 (untuk 2 tahun) Sigma HUDA (Bangladesh) John Ruggie (Amerika Serikat) Penting untuk diingatkan lagi. partisipasi dan keterlibatan masyarakat dimungkinkan secara penuh. sa- 35 . Paul HUNT (Selandia Baru) Mr. bahan bakar pemenuhan hak ekosob ini. 2007 Begitu juga obligasi atau kewajiban dari Negara dalam pemenuhan hak ekosob. Walter K‰lin (Swis) 2004 1999 2005 2005 2004/55 (untuk 2 tahun) 1999/44 2005/79 (2 tahun) 2005/55 (untuk 3 tahun) 2000/82 Jorge A. Tanpa kehadiran atau absennya pilihan idelogi yang benar-benar hendak membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik: kesejateraan rakyat dan keadilan sosial. Rodolfo STAVENHAGEN (Meksiko) Mr. berdasarkan Kovenan Hak Ekosob.

Putusan Mahkamah Konstitusi yang menolak permohonan pengujian UU No. misalnya justeru malah melapangkan jalan bagi komersialisasi air dan mampetnya akses masyarakat terhadap sumber-sumber air. “Cara Mudah Menjadi Kepala Daerah: Dari Komitmen Pemenuhan Hak Ekosob Rakyat”. The Limburg Principles on the Implementation of the International Covenant on Economic. Entry into force 3 January 1976. 26 September 2002. 23”– 25 Februari 2006. Social and Cultural Rights. Patra M. 35/2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Untuk Kepentingan Umum Kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009. Sosial dan Budaya). 1 No. Mempraktikannya di Indonesia. paper diskusi pada”“Development and Human Rights”. 4 • Th. Sebaliknya putusan Mahkamah Agung yang memenangkan pengujian Peraturan Daerah (Pemda) yang merubah status sejumlah rumah sakit umum daerah (RSUD) Jakarta – menjadi Perseroan Terbatas (PT) justru dapat dikatakan sebagai sebuah benteng terhadap komersialisasi pelayanan kesehatan. Tantangannya tidak lain: melahirkan kembali para pemimpin. International Covenant on Economic. Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SPNK). —————. 36 – 47. GAPRI: Jakarta. Mudah-mudahan janin yang ada tak lama lagi lahir! Daftar Pustaka Peraturan Perundang-undangan UU No.lah satunya dapat membawa masalah tersendiri dalam upaya pemenuhan hak ekosob. 11/2005. Sosial dan Budaya: Menarik Pengalaman Internasional. E/CN. 11/2005 tentang Pengesahan International Covenant on Economic. —————. Empat Pilar Demokratisasi Melawan Kemiskinan dan Pemiskinan. 36 JURNAL HAM • Vol. “A critical contextual human rights analysis of Kedung Ombo Large Dam Project in Indonesia”. et. yang seharusnya menjadi obligasi Negara. 2007 . 1 Oktober 2003. pp. 7/2004 tentang Sumber Daya Air. —————.. 16 December 1966.4/1987/17. 2005. Social and Cultural Rights.” dalam Jurnal HAM (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia). Putusan-putusan Mahkamah Konstitusi.. GA Res. atau putusan-putusan Mahkamah Agung juga membawa implikasi terhadap jaminan hak-hak ekosob. annex. Artikel/paper A. paper pada Pendidikan Kritis untuk Aktivis Partai Politik (Penegakan Demokrasi dan Pemenuhan Hak Ekosob). dinyatakan bahwa pertimbangan Indonesia menjadi Negara Pihak Kovenan Hak Ekosob karena “Indonesia adalah negara hukum dan sejak kelahirannya pada 1945 menjunjung tinggi HAM”. Zen. Andik Hardiyanto.M in International Human Rights Law. kerjasama LBH Bandar Lampung dan FES Jakarta.“What does the rights to participate mean”. perlu dicatat. Bandar Lampung. “Justisiabilitas Hak-hak Ekonomi.al. Social dan Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. University of Essex (2002). Essex University. UU No. Vol. 7/2004 tentang Sumber Daya Air Peraturan Presiden No. para anggota parlemen. antara lain: menentang imperialisme dan menyejahterakan semua rakyat Indonesia. Dissertation for LL. UN doc. Tidak Dipublikasikan —————.. Sebagai akhir. dalam UU No. 2200A (XXI). dan para hakim yang menyadari benar dan mampu menyelami suasan kebatinan dan tujuan berdirinya Republik ini. in accordance with article 27. UN docs.

Perpres Nomor 36/2005 Harus Dibatalkan”. Kompas. 9 Mei 2005 tentang Penetapan Peraturan Presiden No. General Comment No. ————. 1). General Comment No. Kompas. Twentieth session (1999). Sejumlah Kalangan Nilai yang Direvisi Tak Signifikan”. Sixth session (1991). para. 6 Juni 2006. 11: Plans of action for primary education. Revisi Perpres Tanah. ————. General Comment No. General Comment No. 9: the domestic application of the Covenant. Sixteenth session (1997). 11 (1) of the Covenant). Twenty-ninth session (2002). 16 (Rev. Walhi. Fifth Session. Suara Pembaruan. Lainnya Siaran Pers Bersama Yayasan LBH Indonesia. ————. ————. Nineteenth session (1998). 1: Reporting by States parties. 2007 37 . 1 of the Covenant). Social and Cultural Rights CESCR. General comment No. Fact Sheet No. Pemerintah Dinilai Lebih Represif”. Social and Cultural Rights. Third session (1989). “Lebih Represif. 4: The right to adequate housing (art. 7 Juni 2006. The Committee on Economic. ————. “Pemerintahan SBY-Kalla Menunjukkan Watak Aslinya: Mendahulukan Kepentingan Pemilik Modal Daripada Kepentingan Masyarakat”.General Comment Committee on Economic. 10 Mei 2005. 15: The right to water (arts. 7: The right to adequate housing (art. General Comment 3: The Nature of States partie’s obligations (art. Kompas. 1990. “Selesai. 4 • Th. 2. “Perpres tentang Pengadaan Tanah. 10 Mei 2005. General Comment No. 36/ 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Fact sheet OHCHR. 11 and 12 of the Covenant). “YLBHI Minta Revisi Perpres Diwaspadai”. JURNAL HAM • Vol. ————. 11 (1) of the Covenant): Forced Evictions. KSPA dan ELSAM.

orang tersebut akan menjadi manusia yang tidak normal lagi. Direktorat Hak Asasi Manusia dan Kemanusiaan. a. 4 • Th. Dalam RAN-HAM periode 2004-2009 kedua kovenan kembali dicantumkan sebagai * Penulis adalah Kepala Sub-Direktorat Hak Sipil dan Politik. 1 The Indonesian National Plan of Action on Human Rights 1998-2003. the Indonesian Government is also expected to fulfill its reporting obligations to the Secretary General of the United Nations with regard to the implementation of the Covenant. In addition. Karena itu tidak mengherankan sedikitnya 7 ketentuan Piagam PBB yang menyangkut HAM dan kebebasan mendasar.KEWAJIBAN NEGARA DALAM ICCPR Jonny Sinaga* Abstract The ratification of the International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) has brought new obligations for the Government of the Republic of Indonesia. Namun dalam perkembangannya terutama setelah memperoleh masukan dari berbagai lapisan masyarakat akhirnya kedua kovenan disepakati untuk diratifikasi pada tahun ketiga yakni tahun 2001. Jakarta 25 June 1998.2 Namun hingga RAN-HAM pertama tersebut berakhir tahun 2003 ICCPR belum dapat diratifikasi. Direktorat Jenderal Multilateral. Jakarta 25 Juni 1998. I. JURNAL HAM • Vol. Departemen Luar Negeri. Tahun 1946 PBB membentuk sebuah Komisi khusus menangani upaya pemajuan dan perlindungan HAM dan tahun 1948 berhasil menyusun Deklarasi Universal HAM. 2 Revisi The Indonesian National Plan of Action on Human Rights 1998-2003. Direktorat Organisasi Internasional. These obligations consist of general obligation and specific obligation. Berdirinya PBB diharapkan akan dapat mengurangi penderitaan umat manusia melalui penghormatan harkat dan martabat manusia itu sendiri. Pembahasan mengenai HAM ini semakin mengemuka setelah berdirinya PBB tahun 1945 yang dilatarbelakangi kesadaran masyarakat internasional untuk menghentikan perang yang ternyata hanya menimbulkan penderitaan bagi umat manusia. Social and Cultural Rights (ICESCR) pada tahun pertama. Ketentuan dalam Deklarasi tersebut kemudian dituangkan dalam Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik dan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. Direktorat Organisasi Internasional. 2007 38 . Sosial dan Budaya yang diterima Majelis Umum PBB tahun 1966. The general obligation of the Indonesian Government is to take appropriate measures and to develop appropriate policies so as to give effects to the rights in the Covenant. Pendahuluan Hak asasi manusia adalah hak yang melekat pada seseorang dan kalau diambil. Latar Belakang Ratifikasi ICCPR Gagasan pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) secara resmi dapat dilihat dari RAN-HAM 1998-2003 di mana disebutkan bahwa kovenan itu akan diratifikasi pada tahun ke-lima (2003)1 sedangkan International Covenant on Economic. Menurut catatan sejarah Perang Dunia II saja menelan korban 60 juta jiwa.

6 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2005 Tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional Tentang Hak-hak Sipil dan Politik). maka terpaksa disusun dua kovenan. 2006. maka Pemerintahnya mempunyai tiga kewajiban yakni menghormati. melindungi. upaya menyusun sebuah kovenan tunggal HAM dimulai tetapi karena dominasi negara-negara tertentu di Komisi HAM. Kewa- 2009.7 Negara-negara pihak pada ICCPR di dalam pertimbangannya menyatakan bahwa sesuai dengan Piagam PBB negara mempunyai kewajiban untuk memajukan penghargaan universal dan pengasawan hak dan kebebasan manusia. b. New York. Direktorat Jenderal Perlindungan HAM. Kewajiban umum negara pihak Ketika suatu negara menjadi pihak pada perangkat HAM internasional. Kovenan tersebut berlaku bagi Indonesia mulai tanggal 23 Mei 2006 yakni 3 bulan setelah Sekjen PBB menerima piagam pengesahannya. 2200A (XXI) tanggal 16 Desember 1966. Pemerintah kemudian menyerahkan piagam pengesahan kepada Sekjen PBB tanggal 23 Februari 2006. a. 2007 7 Sesuai dengan pasal 49 (2) Kovenan Internasional Hak-hak Sipil dan Politik. Initial edition 2005. Reference: C. dan memenuhi hak-hak asasi sebagaimana diatur dalam perangkat HAM internasional dimaksud. Kewajiban Negara Pihak pada ICCPR Dengan disahkannya9 ICCPR maka sudah barang tentu akan menimbulkan kewajiban baru bagi negara yang mengesahkan perangkat internasional tersebut.5 Kedua kovenan tersebut baru pada tahun 1966 dapat disepakati oleh sidang Majelis Umum PBB.8 II. Berlakunya ICCPR bagi Indonesia Indonesia mengesahkan Kovenan tersebut melalui UU No. JURNAL HAM • Vol. Baik ratifikasi maupun aksesi mempunyai dampak hukum yang sama. 9 Pengesahan mencakup dua hal yakni ratifikasi (mengesahkan dan ikut sebagai penanda-tangan) dan aksesi (mengesahkan tetapi tidak ikut sebagai penanda-tangan).N. Departemen Hukum dan HAM. Depositary notification tanggal 3 Marte 2006. 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik) tanggal 28 Oktober 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 nomor 119). 39 . 5 Indonesia and the United Nations: Working for Peace and Development. Segera setelah Deklarasi Universal HAM diterima oleh Majelis Umum PBB tahun 1948. TREATIES-6. Permanent Mission of the Republic of Indonesia to the United Nations. Diterbitkan oleh Departemen Luar Negeri. 4 Resolusi Majelis Umum PBB No.3 Sebagaimana dimaklumi Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (ICCPR) yang disahkan oleh Majelis Umum PBB tahun 19664 merupakan dokumen internasional penting yang mengikat secara hukum bagi negara-negara yang telah mengesahkannya. 8 Paragraf 4 pembukaan Kovenan. serta kewajiban khusus negara pihak untuk menyampaikan laporan kepada Sekjen PBB mengenai pelaksanaan kovenan. 206.2006.6 Sesuai dengan penegasan Sekjen PBB ter3 Rencana Aksi Hak Asasi Manusia Indonesia 2004- tanggal 3 Maret 2006. 4 • Th.prioritas ratifikasi yang dijadwalkan diratifikasi tahun 2004. Kewajiban negara pihak ini dapat digolongkan ke dalam dua bagian yakni kewajiban berupa langkah atau kebijakan yang harus diambil Pemerintah guna menjamin pelaksanaan hak-hak yang ditur dalam kovenan.

online: AAAS Huridocs: http://shr. atau dengan cara lain sebagai pelaksanaan kewajiban yang diatur di dalam perangkat HAM dimaksud.jiban menghormati hak asasi manusia berarti negara berkewajiban untuk menahan diri dari tindakan yang mencampuri atau mengurangi pemenuhan hak-hak warga negaranya.org/escr/handbook/. published by AAAS and HURIDOCS. daripada negara itu terburu-buru mengesahkannya padahal setelah disahkan sesungguhnya belum siap untuk melaksanakannya. 12 http://www. Hal ini tentunya sekaligus merupakan salah satu jawaban terhadap pertanyaan yang sering muncul di kalangan masyarakat yakni mengapa Indonesia baru mengesahkan kovenan penting dimaksud pada tahun 2005 padahal kovenannya sudah diterima tahun 1996 dan kovenan itu memuat berbagai ketentuan penting dalam upaya pemajuan dan pelindungan HAM. Sebagai contoh Deklarasi Universal HAM tahun 194813 yang sudah diter10 Disadur dari : Promoting and Defending Economic.10 Menurut PBB.htm). standar dan noma HAM yang universal saat ini dapat dilihat dalam ketentuan hukum domestik hampir di seluruh negara-negara anggota PBB. (http:// www. Tentunya akan lebih baik menunggu sampai suatu negara pihak siap melakukan isi suatu perangkat internasional.unhchr. 2007 40 .11 Dengan demikian dapat dipahami bahwa hingga bulan Juni 2006 baru 156 negara12 yang mengesahkan kovenan dimaksud karena memang negara-negara yang mengesahkan tersebut akan mempunyai kewajiban baru sebagaimana disebutkan dalam Kovenan. Kewajiban melindungi hak asasi manusia berarti negara berkewajiban untuk melakukan tindakan tindakan guna mencegah pelanggaran HAM terhadap warga negara. maka di dalam perkembangannya beberapa jaminan itu dikembangkan lagi di kemudian hari ke dalam beberapa konvensi baru. Office of the High Commissioner for Human Rights. Artinya negara tidak boleh melakukan tindakan yang bertentangan dengan hak-hak asasi manusia warganya. 13 Paragraf 5 Deklarasi Universal HAM Tahun 1948. Kewajiban memenuhi hak asasi manusia berarti negara berkewajiban untuk mengambil tindakan guna mewujudkan pelaksanaan HAM secara penuh. terdiri dari enam bagian dan memuat 53 pasal. JURNAL HAM • Vol.aaas. ketika negara-negara mengesahkan suatu perangkat HAM internasional. Karena ketentuan dalam ICCPR ini adalah ketentuan pokok. maka negara-negara itu biasanya akan memasukkan ketentuan-ketentuan di dalamnya ke dalam hukum domestik secara langsung.ch/html/menu6/2/fs19.htm. Dari ke-53 pasal tersebut terdapat beberapa ketentuan yang meminta negara pihak untuk menjamin hak-hak sipil dan politik warganya. Dalam hal ini termasuk pembuatan peraturan. pembentukan komisi-komisi nasional. Chapter 2.19. 11 Fact Sheet No. National Institutions for the Promotion and Protection of Human Rights. badan peradilan dan administratif. 4 • Th. by Allan McChesney. Dengan demikian. Social and Cultural Rights: A Handbook. 2000 Washington. Dalam kewajiban ini termasuk upaya untuk mendorong warga negara untuk menghormati HAM orang lain. Artinya selama ini Pemerintah Indonesia belum dalam keadaan siap untuk mengemban kewajiban baru yang timbul akibat pengesahasan kovenan dimaksud.ohchr. DC.org/english/countries/ratification/ 4. ICCPR yang mulai berlaku tanggal 23 Maret 1976 sesuai dengan pasal 49 ICCPR. langkah anggaran atau ekonomi. dan mengatur sanksi terhadap pelanggaran yang dilakukan individu atau kelompok.

19 penangkapan dan penahanan yang sewenang-wenang. baik sewaktu perkawinan maupun setelah perkawinan. Namun pernyataan tersebut tidak mengikat secara hukum.18 pelarangan terhadap perbudakan. warna kulit. bahasa. 20 Pasal 9 ICCPR.jemahkan ke dalam lebih 300 bahasa (termasuk bahasa Bali.15 Begitu pentingnya ketentuan ini sehingga pada tahun 1966 lahirlah Konvensi Penghapusan Diskriminasi Rasial Dalam Segala Bentuknya.20 perlakuan yang manusiawi. suratmenyurat seseorang dan serangan 14 Pasal 1 ICCPR.22 dan batasan-batasan untuk melakukan pengusiran orang-orang asing secara hukum dari negara pihak.2106 (XX) tanggal 21 Desember 1965. Pasal 16 DUHAM juga menyatakan bahwa wanita dewasa mempunyai hak yang sama untuk kawin dan membentuk keluarga. termasuk apabila bercerai. rumah. sehingga diperlukan suatu ketentuan yang bersifat mengikat secara hukum. karena ketika itu banyak negara atau bangsa yang masih dijajah dan penjajahan nampaknya masih dianggap sesuatu yang lumrah.21 kebebasan bergerak dan kebebasan untuk memilih tempat tinggal. 21 Pasal 10 ICCPR. pandangan politik ataupun pandangan lainnya.16 Negara pihak juga diharapkan memberikan perlindungan atas hak untuk hidup. Akhirnya pada tahun 1979 Majelis Umum PBB menerima Konvensi Penghapusan Diskriminasi Terhadap Wanita (CEDAW) yang memuat 30 pasal mengenai ketentuan yang menjamin hak-hak wanita. Sekalipun sudah mengikat secara hukum.23 Di samping itu ICCPR memberikan kewajiban bagi negara pihak untuk menerapkan persamaan setiap orang di depan hukum. asal usul kebangsaan atau sosial. Ketentuan yang berupada pernyataan dalam DUHAM tersebut kemudian diatur dalam Pasal 3 ICCPR yang mengikat secara hukum yang menjamin bahwa antara pria dan wanita tidak boleh dilakukan diskriminasi. dan Bahasa Indonesia) antara lain memuat deklarasi atau pernyataan yang menyatakan persamaan hak antara pria dan wanita. 24 Pasal 14 ICPPR. Kewajiban lain bagi Pemerintah dengan mengesahkan ICCPR adalah menjamin agar semua bangsa berhak untuk menentukan nasibnya sendiri. keluarga. 2007 Selanjutnya negara pihak pada ICCPR mempunyai kewajiban untuk menghormati hak-hak asasi manusia sebagaimana diakui oleh Kovenan dan menjamin bahwa pelaksanaannya tidak akan diskriminatif baik berdasarkan ras. serta mempunyai hak yang sama di dalam perkawinan. namun ketentuan ICCPR tersebut ternyata oleh masyrakat internasional dianggap belum cukup memadai untuk menjamin tidak adanya diskriminasi tersebut. 41 . hak milik. 22 Pasal 11 ICCPR. status kelahiran atau status lainnya. Madura. 4 • Th. agama. jenis kelamin. 18 Pasal 7 ICCPR. 15 Pasal 2 ICCPR.24 pelarangan campur tangan tanpa dasar hukum atas privasi. 19 Pasal 8 ICCPR.14 Pasal ini mempunyai arti yang sangat penting pada saat perumusan Kovenan tahun 1966.17 hak untuk tidak disiksa. 16 Diterima oleh Majelis Umum PBB melalui resolusi no. JURNAL HAM • Vol. 17 Pasal 6 ICCPR. 23 Pasal 13 ICCPR. melalui Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 34/180 tanggal 18 Desember 1979. Jawa. pelarangan peraturan perundang-undangan kriminal yang bersifat retroaktif. Sunda.

ohchr. 38 http://www.htm.29 hak pria dan wanita atau usia kawin untuk menikah dan mendirikan suatu keluarga dan prinsip persamaan atas hak-hak dan kewajiban pasangan suatu perkawinan juga diatur dalam bagian ini. 28 Pasal 21 ICCPR. Terdapat pemikiran di kalangan masyarakat hukum Indonesia bahwa dengan mengesahkan suatu perangkat hukum internasional seperti traktat. Kewajiban Pelaporan Pelaksanaan ICCPR Salah satu kewajiban Pemerintah yang timbul akibat pengesahan ICCPR35 adalah kesediaan Pemerintah menyampaikan laporan pelaksanaannya HAM merupakan Komite yang dibentuk untuk mengawasi pelaksanaan ICCPR oleh negara-negara pihak pada ICCPR dan anggotanya merupakan individu-individu dalam kapasitas pribadi. serta memilih dan dipilih. Hal ini akan menjadi tantangan bukan saja bagi Indonesia.34 Jika Negara pihak pada ICCPR belum memiliki peraturan perundang-undangan atau kebijakan yang mengatur jaminan terhadap hak-hak tersebut. 27 Pasal 19 ICCPR. tetapi bagi negara manapun yang telah meratifikasi kovenan dimaksud.tanpa dasar hukum atas kehormatan dan reputasinya.25 perlindungan terhadap hak untuk kebebasan berpikir. 36 Komite HAM berbeda dengan Komisi HAM. 34 Pasal 27 ICCPR.26 serta kebebasan berpendapat dan berekspresi. Laporan Pendahuluan (initial report) pelaksanaan Kovenan sudah harus disampaikan kepada Sekjen PBB dalam kurun waktu satu tahun setelah Kovenan berlaku bagi negara pihak. 33 Pasal 26 ICCPR. 4 • Th. 29 Pasal 22 ICCPR. Setelah itu kewajiban pelaporan Negara pihak tergantung pada permintaan Komite.38 Sesuai dengan pasal 40 ICCPR. 30 Pasal 23 ICCPR.37 Tahun 2006 Komite HAM yang terdiri dari 18 anggota dalam kapasitas pribadi. hati nurani (conscience) dan agama. 31 Pasal 24 ICCPR.33 serta perlindungan terhadap kelompok minoritas.30 Di samping itu ICCPR juga meletakkan landasan bagi perlindungan hakhak untuk anak-anak. Sedangkan Komisi HAM adalah badan PBB di bawah ECOSOC di bidang HAM yang terdiri dari 53 negara anggota. maka Negara dimaksud diwajibkan untuk membuat ketentuan atau kebijakan baru sehingga hak-hak yang ditaur dalam kovenan dapat dijamin atau dilindungi. kepada Sekjen PBB.31 pengakuan terhadap hak dari setiap warga negara untuk mengambil bagian dalam pelayanan umum. 32 Pasal 25 ICCPR. 26 Pasal 18 ICCPR. Sekjen PBB kemudian akan menyerahkan laporan tersebut kepada Komite Hak Asasi Manusia36 yang dibentuk para negara pihak untuk mengawasi pelaksanaan kovenan.28 hak kebebasan untuk bersekutu. Komite b. 37 Pasal 28 ICCPR. 25 Pasal 17 ICCPR. Komisi HAM ini kemudian dibubarkan tanggal 16 Juni 2006 dan digantikan oleh Dewan HAM di bawah Majelis Umum PBB dengan 47 negara anggota.27 Selanjutnya ICCPR mengharapkan negara pihak untuk mengakui hak berkumpul secara damai. diketuai oleh Ms Christine Chanet (Perancis) yang masa keanggotaannya berakhir tanggal 31 Desember 2006. 35 Pasal 40 ICCPR.org/english/bodies/hrc/members.32 Selanjutnya diatur agar semua orang mendapatkan perlakuan yang sama di depan hukum. JURNAL HAM • Vol. 2007 42 .

Bahkan bukan saja Komite akan menganggap negara pihak hanya menjadikan upaya pengesahan sebagai retorika saja. tetapi sekalipun negara pihak sudah berupaya optimal. Di samping itu. Pendapat semacam ini sesungguhnya dapat merugikan Negara pihak karena dapat dianggap tidak sungguh-sungguh atau tulus melaksanakan isi perangkat internasional. Bagian ini juga memuat berbagai ketentuan tentang Komite yang akan mengawasi pelaksanaan ICCPR. bahkan memanfaatkan perangkat tersebut untuk kepentingan masyarakat banyak. bagian ini juga memuat kewajiban Komite untuk memperoleh hasil penelitian atas laporan kepada Sekjen PBB dan tanggapan negara pihak atas laporan Komite tersebut.konvensi atau kovenan internasional. peradaban dan sistem hukum. pemilihan pegawai. secara rahasia dan calon-calon negara pihak (dua tiap negara) berhak untuk dipilih kembali. termasuk di dalamnya mengenai nominasi anggota. maka perangkat internasional tersebut sudah berlaku. Bagian ini juga meminta negara pihak mendeklarasikan pengakuan kepada Komite untuk menerima pengaduan. Hal itu kemudian akan tercermin dalam kesimpulan Komite mengenai pelaksanaan kovenan di negara yang bersangkutan. namun Komite akan melihat secara kritis apa yang dilakukan oleh negara pihak dan apa kekurangannya. 2007 peraturan pemerintah sebagai pelaksanaannya.39 Para anggotanya dipilih dari calon-calon negaranegara pihak dalam kapasitas pribadi. pembentukan Komisi Konsiliasi (conciliation commission) oleh Komite. ICCPR juga memuat ketentuan-ketentuan mengenai pembentukan Komite Hak-hak Asasi Manusia. Sebaliknya terdapat pandangan lain yang mengatakan bahwa kalau perangkat hukum internasional sudah disahkan melalui peraturan perundangundangan yang sah. 4 • Th. fasilitas. pengambilan sumpah. Terlepas dari kebenaran dua pandangan di atas. Selanjutnya bagian ini memuat ketentuan tentang anggota-anggota Komite 39 Bagian IV (Pasal 28-47) ICCPR. maka sesungguhnya ada atau tidaknya peraturan pemerintah sebagai pelaksana undang-undang dimaksud tidak merupakan masalah mengingat di dalam penyusunan laporan dimaksud tedapat ukuran atau patokan yang sangat rinci yang dibuat oleh Komite pengawas mengenai pelaksanaan perangkat internasional tersebut. tempat pertemuan. dan penetapan quorum. 43 . masih diperlukan peraturan pemerintah untuk melaksanakannya. bukan berarti bahwa perangkat internasional tersebut sudah berlaku bagi Indonesia. namun di dalam kenyataannya dengan adanya kewajiban negara pihak untuk menyampaikan laporan pelaksanaan perangkat internasional tersebut. pembuatan anggaran rumah tangga. serta kewajiban negara pihak untuk menyampaikan laporan pelaksanaan kovenan satu tahun setelah berlakunya kovenan di negara pihak. Yang lebih penting adalah bagaimana seoptimal mungkin menerapkan. Sebaiknya Indonesia tidak perlu mempertentangkan apakah perangkat internasional yang sudah disahkan sudah berlaku atau belum tanpa adanya JURNAL HAM • Vol. Proses pencalonan pemilihan calon dengan suara terbanyak oleh wakil-wakil negara-negara pihak didasarkan pada keseimbangan geografis.

Karena itu banyak negara yang meminta dukungan Indonesia terhadap pencalonannya di Komite HAM yang pemilihannya hanya ditentukan oleh negara-ne40 Dr. atau sekitar 18 persen yang mengatur HAM. Segera setelah merdeka Indonesia dianggap negara yang menghormati HAM.104/search?q=cache:mEqseaJ3zCIJ:portal.komnasham.dan Komisi Konsiliasi. (http:/ /72. serta penjelasan mengenai keberadaan kovenan yang tidak boleh dipertentangkan dengan hak-hak rakyat untuk menikmati kekayaan alam mereka. fasilitas. ekonomi. sosial. 2007 44 . Pandangan Dunia Inter- nasional Terhadap Perkembangan HAM di Indonesia.40 Awal-awal kehidupan bernegara sesungguhnya merupakan saatsaat penentuan sekaligus pelaksanaan hak-hak sipil dan politik di Indonesia. pidato pada Rapat Koordinasi Panitia RAN HAM Daerah Kawasan Timur Indonesia. atau sekitar 26 persen). atau setidaknya tidak bertentangan. 41 Dr Enny Soeprapto. Indonesia dan ICCPR Membicarakan latar belakang sejarah dan perkembangan HAM di Indonesia selalu tidak mudah. Pelaksanaan HAM dalam sejarah Indonesia menunjukkan grafik naik turun.14. N. 4 • Th. ketentuan-ketentuan kovenan agar tidak dipisahkan dari Piagam PBB dan konstitusi badan-badan PBB lainnya.id/pls/portal/url/ITEM/ FCB23A753754E5BFE030010A3001576D+ komnas+ham+iccpr&hl=id&gl=id&ct=clnk&cd=4) JURNAL HAM • Vol. Bahkan di masa Republik Indonesia Serikat (RIS) (27 Desember 1949-15 Agustus 1950) pengakuan dan penghormatan HAM sangat maju dengan dicantumkannya 35 pasal dalam konstitusi RIS dari keseluruhan 197 pasal. Bahkan sejak 1966 hingga akhir Orde Baru bangsa Indonesia mengalami kemunduran dalam penikmatan HAM-nya di semua bidang yang diakui oleh UUD 1945. laporan kegiatan tahunan Komite kepada Sidang Umum PBB. Dalam masa UndangUndang Dasar Sementara RI (UUDSRI). Namun menjelang berdirinya Indonesia sebenarnya para pendiri bangsa telah melakukan perdebatan tentang HAM yang kemudian tercermin dari diterimanya beberapa pasal mengenai HAM dalam UUD 1945. Melihat berbagai kemajuan di Tanah Air di berbagai bidang kehidupan politik. dan budaya. dengan jiwa Deklarasi Umum HAM maupun ICCPR. Hassan Wirajuda.203.41 Barulah sejak era reformasi tahun 1997 penghormatan HAM di tanah ai semakin membaik. imunitas dan keistimewaan mereka sesuai dengan Konvensi mengenai keistimewaan dan imunitas PBB. Makalah guna memenuhi permintaan Dewan Perwakilan Rakyat RI sehubungan dengan pembahasan dan pemilihan Calon Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia 11 Maret 2002. Namun sejak berlakunya kembali UUD 1945 pada 5 Juli 1959 Indonesia mengalami kemunduran dalam penikmatan HAM-nya. Surabaya 2006. 15 Agustus 1950-4 Juli 1959 bahkan lebih maju lagi dengan dicantumkannya 38 pasal dalam UUDS RI (dari keseluruhan 146 pasal.go. Masyarakat Indonesia patut bersyukur bahwa para pendiri bangsa mampu mempunyai pemikiran yang luas dan jauh ke depan sehingga sejak kemerdekaan tahun 1945 telah meletakkan dan memikirkan hak-hak sipil dan politik warga negara Indonesia yang kiranya sejalan. terutama setelah era reformasi tahun 1999. banyak negara yang menganggap bahwa Indonesia sudah sejak lama meratifikasi kedua kovenan tersebut. c. Ketentuan untuk pelaksanaan kovenan tidak dipertentangkan dengan ketentuan-ketentuan HAM yang telah ada di dalam peraturan perundang-undangan. Penegakan Hak Asasi Manusia di Indonesia.

org/template. Indonesia mencanangkan Rencana Aksi Nasional di bidang HAM 1998-2003 (melalui Keppres No. Dengan menetapkan peraturan tersebut Indonesia semakin mengokohkan upaya pemajuan dan perlindungan HAM yakni dengan menjamin bahwa setiap pelaku pelanggaran HAM akan diajukan ke pengadilan khusus (Undang-undang No. terutama untuk kembali menjunjung tinggi dan menegakkan penghormatan HAM sebagaimana telah diamanatkan MPR dalam ketetapannya tahun 1998 yang juga memuat Piagam HAM Indonesia (TAP MPR No. Sayangnya TAP MPR ini kemudian dicabut dan dianggap tidak berlaku karena materinya dianggap telah diatur dalam peraturan perundang-undangan khususnya Amandemen UUD 1945. Selain itu.42 Sebagaimana diketahui. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM). membuat mereka berpikir bahwa Indonesia pasti sudah menjadi pihak pada kedua kovenan sehingga mampu melaksanakan pemilu sedemokratis itu. 4 • Th. Sesungguhnya perjuangan dan perlindungan HAM di Indonesia tidak pernah berubah.freedomhouse. Termasuk ketika Indonesia sempat dianggap sebagai negara paling bebas di bidang pers di kawasan Asia. Namun hanya pelaksanaannya yang berbeda bahkan timbul kesan seolah-olah penghormatan HAM itu tidak penting bagi Indonesia.cfm?page=70&release=317).gara yang sudah menjadi pihak pada kovenan tersebut. Indonesia dibangun berlandaskan pada penghormatan HAM. 2007 45 . VII/MPR/1998). HAM penting tersebut kemudian dipatrikan dalam kedua Kovenan ini pada tahun 1966 sebagai hak menentukan nasib sendiri (selfdetermination). Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat pada tanggal 28 September 1998 (melalui UU Nomor 5 Tahun 1998). Komitmen Indonesia untuk pemajuan dan perlindungan HAM juga telah ditunjukkan melalui pengesahan beberapa Konvensi Internasional di bidang HAM lainnya seperti Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial pada gal 19 Desember 2005 status kebebasan pers Indonesia untuk tahun 2006 meningkat dari “sebagian bebas” menjadi “bebas. Indonesia telah berjuang selama kurang lebih 350 tahun untuk melawan penjajahan atau memperjuangkan hak untuk merdeka yang kemudian diakui oleh PBB sebagai salah satu HAM penting. Namun pandangan ini sebenarnya keliru karena upaya pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia sebenarnya telah dilaksanakan sejak Republik ini berdiri dengan dibangunnya landasan konstitusional UUD 1945 dan landasan idiil Pancasila. 42 Dalam Siaran Pers Freedom House New York tang- Gerakan reformasi yang dimulai tahun 1997 telah membangkitkan semangat bangsa Indonesia untuk melakukan koreksi terhadap sistem dan praktekpraktek masa lalu. Misalnya pelaksanaan pemilu yang demokratis khususnya tahun 2004 lalu.” (http://www. UU No 39 Tahun 1999 tentang HAM dan UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. JURNAL HAM • Vol. Indonesia telah meratifikasi Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam. 129 tahun 1998). Hal itu terjadi mungkin karena melihat sendiri berbagai contoh nyata yang sering dianggap sebagai pencerminan kedua kovenan tersebut di tanah air. Masih dalam semangat reformasi itu pula.

Hal yang tidak kalah penting dalam upaya pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia adalah perhatian khusus para anggota MPR untuk memasukkan pasal-pasal tambahan menyangkut HAM pada amendemen ke4 UUD 1945. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia dan UU No. 12 Tahun 2005. 4 • Th. Namun pengesahan ICCPR tersebut sekalipun merupakan langkah yang sangat penting dan telah melewati rintangan yang tidak ringan. Sebagaimana dikemukakan oleh Menlu RI bahwa terpilihnya Indonesia dalam Dewan HAM tahun 2006 merupakan pengakuan internasional atas kemajuan demokrasi dan HAM di tanah air. pengusaha dan lapisan masyarakat perlu melakukan upaya optimal agar mengetahui dan memahami serta menjamin pelaksanaan hak-hak sipil dan politik yang diatur dalam ICCPR tersebut.tanggal 25 Mei 1999 (melalui UndangUndang No. apabila masyarakat internasional mempunyai prasasti HAM internasional. Penutup Langkah yang diambil oleh Pemerintah dan DPR untuk mengesahkan ICCPR tahun 2005 kiranya sudah tepat dan pasti akan sangat bermanfaat bagi upaya pemajuan dan perlindungan HAM di tanah air. 46 JURNAL HAM • Vol. Dalam semangat ingin menerapkan ICCPR yang sudah menjadi bagian hukum nasional melalui UU No. 2007 . Prasasti HAM nasional ini merupakan modal penting bagi generasi mendatang dalam upaya memajukan dan melindungi HAM bagi seluruh warga Indonesia. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. UU No. Dengan demikian. 43 Media Indonesia. Dengan demikian secara konstitusi dan peraturan perundangundangan. Namun keanggotaan Indonesia pada Dewan HAM ini juga membawa kewajiban bagi Pemerintah Indonesia untuk bersama-sama semua pemangku kepentingan (stakeholders) lainnya memperkuat upaya pemajuan dan perlindungan HAM di dalam negeri. sekaligus peningkatan citra Indonesia di mata masyarakat internasional. 29 tahun 1999). namun masih banyak yang perlu ditindak-lanjuti oleh seluruh pemangku kepentingan HAM di tanah air. III. Pemerintah saat ini telah menyiapkan laporan pelaksanaan ICCPR dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan HAM di tanah air. khususnya Pemerintah. 12 Mei 2006. Sebuah Tim interdepartemen plus telah disiapkan sejak Februari 2006 dengan demikian diharapkan laporan dimaksud dapat disampaikan Pemerintah tepat pada waktunya. jaminan penghormatan HAM di Indonesia kini sudah sangat baik. maka Indonesia juga kiranya memiliki prasasti HAM nasional yakni UUD 1945. termasuk langkah-langkah yang diambil Pemerintah seperti pengesahan konvensi HAM internasional.43 Guna menindak-lanjuti pelaksanaan ICCPR yang sudah disahkan tahun 2005 tersebut kiranya seluruh aparat pemerintah.

ch/html/menu6/ 2/fs19. JURNAL HAM • Vol. National Institutions for the Promotion and Protection of Human Rights. Jakarta 25 Juni 1998. (http://www. Enny. Resolusi Majelis Umum PBB No.cfm? page=70 & release=317). Jakarta 25 June 1998.DAFTAR PUSTAKA Fact Sheet No. Siaran Pers Freedom House New York tanggal 19 Desember 2005 tentang status kebebasan pers Indonesia untuk tahun 2006 meningkat dari “sebagian bebas” menjadi “bebas”.go. Penegakan Hak Asasi Manusia di Indonesia. Indonesia and the United Nations: Working for Peace and Development.freedomhouse. Promoting and Defending Economic. Office of the High Commissioner for Human Rights. published by AAAS and HURIDOCS. Pidato pada Rapat Koordinasi Panitia RAN HAM Daerah Kawasan Timur Indonesia.aaas. Rencana Aksi Hak Asasi Manusia Indonesia 2004-2009.id/pls/portal/url/ITEM/ FCB23A753754E5BFE030010A3001 576D+ komnas+ham+iccpr&hl=id&gl=id&ct=clnk&cd=4) The Indonesian National Plan of Action on Human Rights 1998-2003. 2006. Media Indonesia.203. Direktorat Organisasi Internasional. N. komnasham.htm). The Indonesian National Plan of Action on Human Rights 1998-2003 (Revisi).19. 2200A (XXI) tanggal 16 Desember 1966.14. Initial edition 2005. Makalah guna memenuhi permintaan Dewan Perwakilan Rakyat RI sehubungan dengan pembahasan dan pemilihan Calon Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia 11 Maret 2002. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional Tentang Hak-hak Sipil dan Politik). Social and Cultural Rights: A Handbook. Departemen Hukum dan HAM. DC. 2007 47 . Permanent Mission of the Republic of Indonesia to the United Nations.org/template. Direktorat Organisasi Internasional.unhchr. by Allan McChesney. Wirajuda. Pandangan Dunia Internasional Terhadap Perkembangan HAM di Indonesia. 12 Mei 2006. Surabaya 2006. online: AAAS Huridocs: http://shr. Soeprapto. Chapter 2.org/escr/ handbook/. (http:/ /www.(http://72. New York. 4 • Th. Direktorat Jenderal Perlindungan HAM. Diterbitkan oleh Departemen Luar Negeri. Hassan. 2000 Washington. 104/search? q=cache:mEqseaJ3z CIJ: portal.

4 Ratifikasi adalah tingkatan paling kuat dalam perikatan yang dilakukan setiap negara. membuat laporan yang bertalian dengan penyesuaian hukum. The challenges faced by the Indonesian Government to comply with its international legal obligations has to be dealt with the continuity of legal reform and immediate realization of the provisions in ICCPR as well as the socialization of the Covenant itself. “Indonesia Ratifikasi Kovenan Hak-hak Sipil dan Politik.PROSPEK DAN TANTANGAN IMPLEMENTASI ICCPR Hendardi Abstract Ratification of the International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) is considered as an important achievement of the human rights struggle in Indonesia. 11/2005 dan ICCPR menjadi UU No.4 Pertama. necessary infrastructure should be provided and further promotion of the Covenant should be advanced. the prospect of its implementation remains uncertain. 2 Lihat “Dua Kovenan HAM Diratifikasi. Sabtu.” Kompas. Selain mengikat secara hukum.3 Selain menjadi bagian dari sistem hukum nasional. langkah-langkah. 3 Pengesahan ini ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Hamid Awaludin. dan CERD (penghapusan diskriminasi rasial). 2007 48 . 1 Oktober 2005. agar menghilangkan kesan seolah-olah ada hak-hak yang “tak asasi”. 11 tercantum dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 118 3 serta UU No. Kedua. Sosial dan Budaya (International Covenant on Economic. yaitu terikat secara moral (deklarasi) dan secara politik (menandatangani). 12/2005. mengambil langkah-langkah dan kebijakan dalam melaksanakan kewajiban untuk menghormati (to respect). In doing so.2 Pada 28 Oktober 2005. 1 Oktober 2005. melindungi (to protect) dan memenuhi (to fullfil) hak-hak manusia. 4 • Th. UU No. Ketiga. karena Negara RI telah mengikatkan diri secara hukum. whereas the victims of human rights violations in this country still await for the settlement of their cases. kedua kovenan ini sekaligus melengkapi empat perjanjian pokok yang telah diratifikasi sebelumnya. 12 dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 119 3. juga ada ikatan lainnya. yaitu CEDAW (penghapusan diskriminasi perempuan). CAT (penyiksaan). ICESCR disahkan menjadi UU No. kewajiban untuk mengadopsi perjanjian yang telah diratifikasi ini ke dalam perundang-undangan baik yang dirancang maupun yang telah diberlakukan sebagai UU. Despite of this progressive episode in the history of human rights development in Indonesia. CRC (anak). Negara Republik Indonesia (RI) telah meratifikasi dua perjanjian internasional tentang hak-hak manusia (human rights)1 – Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. Sabtu. Social and Cultural Rights – ICESCR) serta Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights – ICCPR) – pada 30 September 2005 melalui proses legislasi yang disetujui DPR.” Suara Pembaruan. Dengan Reservasi pada Hak Menentukan Nasib Sendiri. JURNAL HAM • Vol. Ratifikasi itu menimbulkan konsekuensi terhadap pelaksanaan hak-hak manusia. kebijakan dan tindakan yang dilakukan 1 Terjemahan yang tepat dari human rights adalah hak- hak manusia tanpa kata “asasi”.

Bobbio mengandaikan masa kini memasuki zaman hak. 12/2005 sebagai hak-hak sipil dan politik yang dijamin.” Kompas. “The Age of Rights. 6 Lihat Rocky Gerung. Vol. London: Cambridge University. Apakah terdapat hambatan dari aparat negara (state apparatus)? Apakah ada kemungkinan diambil langkah yang lebih maju untuk meratifikasi Protokol Opsional ICCPR? Setelah itu. 8 Juni 2005. memang terdapat pernyataan (declaration) 5 Hikmahanto Juwana. berkumpul. Hak-hak ini mencakup mulai dari hak untuk hidup (right to life) hingga hak untuk menikah dan membentuk keluarga ataupun hak kelompok minoritas. tentu saja lain lagi relasinya seperti halnya Konvensi (Perjanjian) Geneva yang dikenal juga sebagai hukum kebiasaan perang (humaniter). Dari janji inilah timbul kewajiban (obligation) pada negara-negara dan sekaligus tanggung jawab (responsibility) bertalian dengan pelaksanaan kewajiban. 2. setiap orang dapat berpegang pada UU No. Dasar hukumnya adalah perjanjian internasional di mana negara-negaralah yang mengikat janji. 8 Relasi yang diletakkan berada dalam wilayah hukumnya adalah perjanjian internasional tentang hak-hak manusia (international law of human rights). 7 Dalam konsep dan norma hak-hak manusia. hukuman mati atau pembunuhan di luar proses hukum. Judul ini sama seperti yang ditulis Norberto Bobbio. terlepas UUD 1945 (telah diamandemen empat kali) dan UU No. tanggung jawab dalam implementasi hak-hak sipil dan politik – sebagaimana juga hak-hak ekonomi. RI sendiri menjadi negara peserta (state party) dalam perjanjian JURNAL HAM • Vol. kini telah meningkat menjadi kenyataan sosiologis yang keras dan kongkrit seperti yang dirasakan sebagian orang dalam kasus-kasus perselisihan perburuhan. 49 . 1996. berpendapat. berserikat. “Konsekuensi Ratifikasi Konsekuensi ratifikasi ICCPR Kini persoalan hak-hak manusia di Indonesia telah memasuki tahap di mana kebutuhan untuk menerapkannya telah melampaui kepentingan untuk memperdebatkannya. 4 • Th. Pertama. Hak negara hanya sesama negara-negara yang menjadi peserta – bukan hak negara atas individu.maupun hasil-hasil yang dicapai dalam implementasi perjanjian tersebut kepada badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) – disebut Komite – yang menangani perjanjian tersebut. No. 1. wilayah relasi hak (right) dan kewajiban (obligation) diletakkan dalam hubungan hukum antara individu sebagai pemegang hak dengan negara sebagai pengemban/pelaksana kewajiban.6 Setelah diratifikasinya ICCPR menjadi UU – perjanjian internasional yang diadopsi PBB pada 16 Desember 1966 dan mulai berlaku sejak 1976 – maka segera dengan itu ia menjadi ketentuan hukum yang berlaku di seluruh Indonesia. Wilayah hukum yan lain. Januari 1997. serta penyiksaan. 12/2005? ini yang bersifat mengikat secara hukum. Dengan begitu. sosial dan budaya – berada di pundak negara. konflik pertanahan atau penghancuran rumahrumah penduduk dan pendidikan maupun kebebasan bergerak. 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) maupun ratifikasi CAT dan ICERD dalam memajukan atau memperjuangkan posisi individu dengan hak-hak sipil dan politiknya di hadapan kekuasaan negara (state power) maupun orang lain. akan dibayangkan bagaimana prospek dalam pelaksanaan kewajiban negara untuk menghormati dan melindungi hak-hak sipil dan politik sebagaimana yang terkandung dalam ICCPR atau UU No. partisipasi dalam politik. Serangkain kontradiksi dalam realitas sosio-ekonomi dan sosio-politik yang sebelumnya hanya dibahas dan diprediksi secara akademis di lembaga-lembaga studi. wilayah relasi diletakkan antara individu (manusia) dan negara (state). Dalam ratifikasi ICCPR. Rabu. The Age of Rights.8 Di sinilah prinsip kewajiban negara (state obligation) diletakkan dengan beberapa konsekuensinya.5 Perihal yang akan dibahas dalam tulisan ini bertalian dengan hambatan atau tantangan atas pelaksanaan ICCPR di Indonesia.7 Dalam konsep dan norma hak-hak manusia. 2007 ICCPR.” Imparsial.

yang menihilkan Pasal 1 mengenai hak untuk menentukan nasib sendiri (right to self-determination) sebagai upaya mencegah disintegrasi dan sekaligus “senjata pemukul” bagi gerakan separatisme.9 Kedua, negara berkewajiban melindungi atau menjamin hak-hak sipil dan politik yang tercantum dalam ICCPR mulai dari hak-hak untuk hidup dan tidak disiksa hingga hak-hak kelompok minoritas dan orang yang dirampas kemerdekaannya karena suatu tindak pidana.10 Kewajiban ini pertama-tama bertalian dengan langkah yang harus dijalankan untuk melakukan pembenahan secara substansial dari segi perundang-undangan atau sistem hukum. Setiap rancangan UU harus disesuaikan atau merujuk pada ICCPR, sementara ketentuan-ketentuan hukum yang tak sesuai dengannya harus dibongkar atau direvisi. Dengan begitu, seharusnya tak ada lagi kandungan dalam ketentuan hukum yang bertentangan atau menyalahi ICCPR. Di sinilah arti penting transformasi ICCPR ke dalam hukum nasional. Ketiga, selain kewajiban negara dalam menyesuaikan perundang-undangan dengan ICCPR setelah meratifikasi, juga kewajiban dalam implementasinya. Negara RI beserta semua aparatnya diharapkan menunaikan kewajiban untuk menghormati dan melindungi hak-hak sipil dan politik tanpa diskriminasi. Negara menghormati hak-hak setiap orang tanpa melakukan campur tangan dengan berdasarkan atas ICCPR dan UUD (konstitusi). Campur tangan terbatas dapat dilakukan untuk melindungi hak setiap orang seperti mencegah tindakan sekelompok orang yang sewenangwenang dan menyeret orang yang diduga melakukan tindak pidana ke muka hukum. Mengenai pembatasan (limitation) atau pengekangan (restriction) hak-hak dan kebebasan – tergolong hak-hak dan kebebasan yang boleh ditangguhkan (derogable rights) – hanya dapat dilakukan dalam situasi atau

alasan tertentu berdasarkan UU. Keempat, ratifikasi juga menambah kewajiban pemerintah RI untuk melaporkan langkah-langkah, kebijakan dan tindakan yang dijalankan kepada Komite Hak Manusia PBB.11 Secara regular, pemerintah membuat laporan dalam periode empat tahun sekali. Isinya mencakup langkah-langkah dan kebijakan apa yang telah diambil, serta bagaimana hasil yang telah dicapai dalam pelaksanaan hak-hak sipil dan politik di Indonesia. Apakah terdapat kemajuan baik langkah yang telah diambil maupun pelaksanaan hak-hak sipil dan politik. Bisa saja yang terjadi adalah kemajuan dalam langkah-langkahnya, tapi lemah atau gagal dalam implementasinya. Dalam implementasi ini akan tampak apakah negara tidak mau (unwilling) atau tidak mampu (inability) menunaikan kewajibannya. Dalam hak-hak sipil dan politik, ada batas antara hak-hak yang tak dapat ditangguhkan (non-derogable rights) dengan hakhak yang dapat ditangguhkan. Yang termasuk dalam kategori hak-hak yang tidak dapat ditangguhkan adalah hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak untuk tidak diperbudak, hak atas kebebasan berpikir dan beragama serta berkeyakinan, hak untuk diperlakukan sama di muka hukum, hak untuk tidak dipenjara karena kegagalan memenuhi kewajiban kontraktual, serta hak untuk tidak dipidana berdasarkan hukum yang berlaku surut (retroactive).12 Mengenai implementasi antara
9 Lihat “Ratifikasi Dua Kovenan Internasional Dinilai

Setengah Hati,” Hukumonline.com, Kamis, 29 September 2005; “Ratifikasi 2 Kovenan HAM oleh RI Dianggap Masih Setengah Hati,” detikInet, Kamis , 29/09/2005 14:25 WIB. 10 Hikmahanto Juwana, Op. cit. 11 Hikmahanto Juwana, Ibid. 12 Harry Wibowo, “Hak-hak Manusia: Menjernihkan Berbagai Konsep Dasar,” makalah yang disampaikan dalam Pelatihan Investigasi yang diselenggarakan PBHI (Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia) pada 27-30 Desember 2005 di Megamendung Permai, Megamendung, Bogor. JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

50

Tabel 1: Hak-hak yang Dijamin dan Dilindungi UU No. 12/2005
No Pasal 1 Pasal 6 2 Pasal 7 Hak-hak Sipil dan Politik Hak untuk hidup (tidak dibunuh/dihukum mati setidaknya bagi anak di bawah 18 tahun) Hak untuk tidak disiksa, diperlakukan atau dihukum secara keji, tak manusiawi atau merendahkan martabat manusia (termasuk tidak diculik/dihilangkan secara paksa, diperkosa) Hak untuk tidak diperbudak (larangan segela bentuk perbudakan, perdagangan orang, dan kerja paksa,) Hak atas kebebasan dan keamanan pribadi (tidak ditangkap atau ditahan dengan sewenang-wenang, didasarkan pada ketentuan hukum acara pidana) Hak sebagai tersangka dan terdakwa (diperlakukan manusiawi, anak dipisahkan dari orang dewasa, sistem penjara bertujuan reformasi dan rehabilitasi) Hak untuk tidak dipenjara atas kegagalan memenuhi kewajiban kontraktual (utang atau perjanjian lainnya) Hak atas kebebasan bergerak dan berdomisili (termasuk meninggalkan dan kembali ke negerinya sendiri) Hak sebagai orang asing (dapat diusir hanya sesuai hukum atau alasan yang meyakinkan mengenai kepentingan keamanan nasional) Hak atas kedudukan yang sama di muka hukum (dibuktikan kesalahannya oleh pengadilan yang berwenang dan tidak memihak, jaminan minimal, dapat ditinjau kembali, tidak diadili dua kali dalam perkara yang sama) Hak untuk tidak dipidana berdasarkan hukum yang berlaku surut (jika keluar ketentuan hukum sebelum tindak pidana, si pelaku harus mendapatkan keringanannya) Hak sebagai subyek hukum (hak perdata setiap orang seperti kewarganegaraan) Hak pribadi (tidak dicampuri atau diganggu urusan pribadi seperti kerahasiaan, keluarga atau rumah tangga, kehormatan, surat-menyurat atau komunikasi pribadi) Hak atas kebebasan berpikir, beragama dan berkeyakinan (menganut ideologi atau orientasi politik, memeluk agama dan kepercayaan) Hak atas kebebasan berpendapat (termasuk mencari, menerima dan menyebarkan informasi, dalam bentuk karya seni/ekspresi atau melalui sarana lainnya) Hak untuk bebas dari propaganda perang dan hasutan rasial (kebencian atas dasar kebangsaan, ras, agama atau golongan) Hak atas kebebasan berkumpul (mengadakan pertemuan, arak-arakan atau keramaian)

3 4

Pasal 8 Pasal 9

5

Pasal 10

6 7 8 9

Pasal 11 Pasal 12 Pasal 13 Pasal 14

10 Pasal 15

11 Pasal 16 12 Pasal 17

13 Pasal 18 14 Pasal 19

15 Pasal 20 16 Pasal 21

JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

51

17 Pasal 22 18 Pasal 23 19 Pasal 24

20 Pasal 25 21 Pasal 26 22 Pasal 27

Hak atas kebebasan berserikat (bergabung dalam perkumpulan, partai politik atau serikat buruh) Hak untuk menikah dan membentuk keluarga (tidak dipaksa, termasuk tanggung jawab atas anak) Hak anak untuk mendapatkan perlindungan dan jaminan (setiap kelahiran anak didaftarkan dan memperoleh kewarganegaraan tanpa diskriminasi) Hak untuk berpartisipasi dalam politik (termasuk memilih, dipilih dan tidak memilih) Hak untuk bebas dari diskriminasi dalam hukum (semua orang dilindungi hukum tanpa diskriminasi) Hak kelompok minoritas (perlu mendapatkan perlindungan khusus) by omission).13 Jenis pelanggaran lainnya adalah tetap memberlakukan ketentuan hukum yang bertentangan dengan ICCPR yang disebut pelanggaran melalui hukum (violation by judicial).

kedua kategori hak-hak ini juga terdapat batas-batasnya, yaitu pada batas mana negara tak melakukan intervensi dan pada batas mana pula intervensi harus dilakukan. Negara tak melakukan intervensi dalam rangka menghormati hak-hak setiap orang, terutama hak-hak yang tak dapat ditangguhkan. Karena campur tangan negara justru mengakibatkan terjadinya pelanggaran atas hak-hak individu/kelompok. Sebaliknya, intervensi dapat dilakukan atas dua hal; pertama, dalam situasi atau alasan khusus untuk membatasi atau mengekang hak-hak atau kebebasan berdasarkan UU; kedua, dalam rangka untuk menegakkan hukum atau keadilan bagi korban tindak pidana. Karena itu, dalam menghormati dan melindungi hak-hak sipil dan politik, ada dua jenis pelanggaran yang bertalian dengan kewajiban negara. Pertama, seharusnya menghormati hak-hak manusia, tapi negara justru melakukan tindakan yang dilarang atau bertentangan ICCPR melalui campur tangannya dan disebut pelanggaran melalui tindakan (violation by action). Kedua, seharusnya aktif secara terbatas untuk melindungi hak-hak – melalui tindakannya – negara justru tak melakukan apa-apa baik karena lalai dan lupa maupun absent, disebut pelanggaran melalui pembiaran (violation

Tantangan Negara
Setelah ratifikasi ICCPR, membuat negara RI meningkatkan komitmennya karena telah terikat secara hukum. Segera dengan itu, negara menghadapi tantangan untuk menyiapkan beberapa langkah, dan langkah yang diambil bertalian dengan berbagai persoalan sebagai berikut. Pertama, negara harus melakukan reformasi hukum dengan menerjemahkan prinsip dan ketentuan yang terkandung dalam ICCPR ke dalam hukum nasional. Berbagai peraturan perundang-undangan yang tak sesuai dengan ICCPR haruslah dicabut dan direvisi.14 Begitu juga dengan RUU yang disiapkan seperti perdebatan sengit hingga pengerahan massa serta intimidasi dan teror bertalian RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi, haruslah selaras dengan ICCPR.15 Tantangan ini bukan saja terdapat sekitar 30 persen UU justru bertentangan dengan UUD 1945,16 tapi juga karena dalam menyusun RUU tanpa didasarkan pada kajian mendalam dan berimpit dengan kepentingan politik koalisi.17
JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

52

” Detikcom. 6 Maret 2006.id. 14 Maret 2006. Senin. Saldi Isra mengemukakan. “Ratusan Mahasiswa Yogya Demo Tolak RUU APP. 53 . Kamis. “DPR Pusing Pro Kontra RUU APP. Kamis. Kamis. Rabu. Rabu.” www. sistem peradilan dan pengadilan Melindungi Kebutuhan Berhak atas Kemauan/niat: Batas minimum tertentu. “Hilman Rosyad Syihab. 12 Maret 2006.” Detikcom. dan “Gus Dur Siap Upayakan Amandemen Jika RUU APP Jadi UU.” Detikcom. 2007 Tolak RUU APP. 8 Maret 2006. “MUI Sayangkan Adanya Penolakan RUU Anti Pornografi. Jumat. Jumat.com.” Detikcom.Tabel 2: Spektrum Hak Individu/Kelompok dan Kewajiban Negara HAK INDIVIDU/KELOMPOK Kebebasan Kebebasan Dasar/Hak yang Tak Dapat Ditangguhkan (freedom/right in itself) Mutlak: Tak boleh ditangguhkan (ditunda) maupun dibatasi atau dikekang. banyak UU tumpang tindih dan banyak yang hanya tambal sulam.” Kompas. 27 Januari 2006 19:11:53.000 Ulama di Gontor. 4 • Th.” TEMPO Interaktif. boleh dibatasi atau dikekang berdasarkan hukum (UU) Melalui: Konstitusi.” Detikcom.ahrchk. 9 Februari 2006. 100 Pendemo Cantik Tolak RUU APP. 144 Setuju RUU APP. 8 Maret 2006. Jadikan Bali Daerah Khusus Pornografi. Jumat.” Detikcom. Rabu. “30 Elemen Islam Malang Demo Dukung RUU APP.” Metrotvnews. konstitusi Menghormati K E WA J I B A N N E G A R A (-) Tanpa intervensi (omission) Sumber: Harry Wibowo. “MMI: Jika Terus Menolak. dapat diundur pemenuhannya berdasarkan prioritas tapi direalisasikan secara bertahap Melalui: Perencanaan. Ibid. yang terus melakukan kajian mendalam jika hendak melakukan revisi atau membuat UU. 8 Maret 2006. “Aksi Seribu Tayub JURNAL HAM • Vol. 10 Mei 2006 | 13:04 WIB. Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqqie melaporkan kepada DPR.” Detikcom. “Slamet Rahardjo: RUU APP Tempatkan Perempuan Seolah Hantu. Kamis. “5000 Orang Akan Demonstrasi Tolak RUU Anti Pornografi.” Detikcom. 17 Lihat “Banyak UU Tanpa Kajian: Tidak Ada Desain Besar Legislasi Nasional.” Sinar Harapan. Aktivis dan Artis Diteror. Berbeda dengan di Belanda. “Peringati Hari Perempuan. 15 Maret 2006. 2005 13 Harry Wibowo. cit. 16 Maret 2006. 9 Maret 2006. juga dilakukan untuk mendukung kebijakan pemerintah baru sehingga banyak UU di Indonesia cepat berubah atau direvisi. Anggota Pansus RUU APP DPR FPKS: RUU APP Lindungi Kaum Perempuan. “Dari 167 Lembaga Tamu Pansus. 15 Maret 2006. kebijakan.” Detikcom. Rabu. Minggu.” Detikcom. Kamis. 8 Mei 2006. Banyak yang Tumpang Tindih. Hongkong. “RUU Pornografi Berpotensi Jadi Alat Pemerasan Baru. 14 Lihat “Pernyataan Asian Human Rights Commis- sion: Ratifikasi Instrumen Utama Hak Manusia Harus Ditindaklanjuti dengan Reformasi Hukum. 16 Februari 2006. UU.” www. Kebebasan/Hak Sosial (freedom/right for itself) Relatif: Dalam situasi dan alasan tertentu. dari 77 perkara peninjauan UU (PUU) yang berkenaan dengan 42 UU selama 2003-2006 yang ditangani MK. Senin. 22 Mei 2006. 16 Lihat “Hampir 30 Persen UU Bertentangan dengan Konstitusi.or. 15 Hikmahanto Juwana. “Menolak RUU APP. 16 Maret 2006. Syamsuddin Haris juga menambahkan. 28 April 2006 17:05.net.” Detikcom. Rabu. Senin.” Detikcom. hampir 30 persen di antaranya berpotensi bertentangan dengan konstitusi. selain banyak undang-undang lahir tanpa ada penelitian mendalam. “Draf RUU APP Adalah Buah dari Sebuah Kemunafikan. lihat juga “Bahas RUU APP. Rabu.” Detikcom. atau program atas sumber daya Memenuhi (+) Intervensi (commission) Melalui: Norma hak-hak manusia.fpksdpr. MUI Akan Kumpulkan 1. Op. 10 Maret 2006.

dibuat pada tahun 1918. 4 Maret 2004. “Perda Larangan Pelacuran Akan Diterapkan di Jakarta. Persoalan yang dihadapi adalah bagaimana aparat penegak hukum (law enforcement officials) memahami berbagai peraturan perundang-undangannya.” Sinar Harapan.” Sinar Harapan. Sabtu. Di dalamnya berisi banyak pasal yang tidak jelas dan terbelakang. solusinya bagaimana meningkatkan kualitas elite penyelenggara pemerintah daerah. Op. Eksplorasi Perspektif Elite Penyelenggara Pemerintahan Daerah tentang Otonomi. serta beberapa daerah kabupaten seperti Cianjur dan Tangerang. 7 Maret 2006. bahkan ada yang mengusulkannya dalam revisi KUHP.” Sinar Harapan. Empat instrument yang perlu diadopsi adalah (a) Code of Conduct for Law Enforcement Officials.24 Persoalannya adalah banyak langkah dan kebijakan yang tak konsekuen dari pemerintah dan aparat negara dalam implementasinya. Lihat “Pelaksanaan Otonomi Daerah Kebablasan.” Sriwijaya Post Online. yang merupakan batu pertama dari seluruh sistem legal. 1 Oktober 2003. sehingga banyak orang akan mengetahui apa saja hak-hak sipil dan politik yang seharusnya dinikmati. Senin. implementasi berbagai peraturan perundang-undangan yang didasarkan pada ICCPR.” Republika Online. Hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang dilakukan Syarif Hidayat dan Carunia Mulya Firdausy. Rabu. Pemerintah pusat dicurigai memang tak mau mengeluarkan PP untuk menciptakan kondisi yang tidak jelas di daerah. Kamis.” Kompas.” Kompas. 6 April 2006. Rabu. 22 November 2003. Rabu. Padahal. Kamis. Sabtu. 30 Juni 2004. Lihat “Pernyataan Asian Human Rights Commission:…. 24 April 2004. Banyak terjadi praktik politik uang.” TEM- 20 21 22 23 24 PO Interaktif. 2007 . terungkap banyak anggota DPRD tidak berkemampuan memahami konsep otonomi daerah. “Syariat Islam dalam KUHP Bermuatan Politis. Kasus-kasus ini dapat diperhatikan mengenai penerapan Syariat Islam di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. (c) Principles for Protection of All Persons under Any Form of Detention for Imprisonment. Cit. “Polisi Tembak Buronan LP Saat Mencoba Melarikan Diri dari Kejaran Petugas. 19 Lihat “Polisi Tembak Mati Perampas Motor. Hak atas kebebasan berpikir. Rabu. Kamis. Lihat “RUU Pemerintahan Aceh: Diusulkan Polisi dan Jaksa Khusus Syariat. masih saja diberlakukan ketentuan TAP MPRS No. beragama dan berkeyakinan sebagai kebebasan mutlak (freedom in itself). (b) Basic Principles on the Use of Force and Firearms by Law Enforcement Officials. “Yusril Bantah Revisi KUHP Mengadopsi Syariat Islam. maka akan sulit dibayangkan efek ICCPR bagi setiap orang. serta (d) Standard Minimum Rules for the Treatment of Prisoners. 4 • Th. 22 Mei 2006: “Syariat Islam.21 Ketiga. Akibatnya membabi buta. Selasa. apalagi tesangka dilumpuhkan dengan menggunakan senjata api. termasuk yang bertalian dengan kekhawatiran mengenai kelemahan otonomi daerah atau otonomi khusus. dari Desa Mengepung Kota. cit.” Detikcom.” Sinar Harapan. terutama dalam penggunaan kekuatan dan senjata api.” Cenderawasih Pos. yang berbeda dengan banyak kategori hakhak sipil dan politik. 22 Mei 2006. dalam pelaksanaannya aparat kepolisian cenderung gagal memperlakukan seorang tersangka secara manusiawi. Jumat. termasuk 18 Hikmahanto Juwana. pemerintah ditantang pula untuk melakukan sosialisasi atas ICCPR yang telah diratifikasi. Tanpa pemahaman yang memadai bagi aparat penegak hukum. 12 Mei 2006.Kedua.” Kompas. Lihat juga “Pemerintahan Daerah: 393 Perda Bermasalah Akan Dibatalkan.18 Satu contoh saja. 2 Oktober 2003. 12/2005 diberlakukan secara seragam di seluruh negeri dan diharapkan tak ada yang bertentangan dengannya. “Komnas Perempuan Tolak Perda Tangerang Tentang Pelacuran. 54 JURNAL HAM • Vol. Senin. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Op. “Polisi Tembak Penjahat Kambuhan. dan “Polisi Tembak Buron Pelaku Curas.23 Beberapa provinsi dan kabupaten pun telah menerapkan pelaksanaan syariat Islam dalam Peraturan Daerah (Perda).” Detikcom. dan “Direktur ICIP Syafii Anwar: Perda Syariat Bisa Picu Disintegrasi. 25 Mei 2006 10:02:05.22 UU No. XXV/1966 maupun pelarangan suatu ajaran (dikatakan sesat) dan pemidanaan atas orang yang menyebarkannya. pada saat kolonial Belanda berkuasa.19 Dalam penegakan hukum seharusnya ditekankan standar minimumnya.20 Di sinilah pentingnya ditempuh atau diambil langkah-langkah untuk meningkatkan profesionalisme melalui pendidikan dan pelatihan bagi polisi untuk melindungi hak-hak setiap orang yang dirampas kemerdekaannya karena suatu tindak pidana. setelah negara RI meratifikasi CAT (konvensi menentang penyiksaan). 8 Maret 2006.

juga campur tangan aparat penegak hukum (polisi) untuk melindungi hak dan kebebasan setiap orang dari berbagai tindakan orang atau kelompok lain. 4 • Th. Penjara dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.” Bandung. sehingga terasa kurang berefek pada pelaksanaannya. Tapi kenyataannya masih banyak kantong-kantong Ahmadiyah di daerah. 16 Agustus 2005. Kerap dijumpai aparat penegak hukum harus bekerja dengan infrastruktur pendukung hukum yang minim. Sehingga nyaris tak diketahui umum yang bertalian dengan apa kemajuan yang dicapai. pada tingkat MUI dan kejaksaan sudah ada larangan terhadap kegiatan Ahmadiyah. 24 Mei 2006. tantangan untuk menyediakan infrastruktur pendukung bagi terlaksananya UU No. seiring dengan telah diratifikasinya ICCPR. 24 Mei 2006. Rabu. Selasa.” Pikiran Rakyat. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjelaskan. lebih lanjut selain tantangan untuk memajukan praktek penghormatan dan perlindungan hak-hak sipil dan politik dengan meratifikasi Protokol Pilihan (Optional Protocol to the Covenant on Civil and Political Rights). Op. termasuk laporan mengenai pelaksanaan CAT dan ICERD yang telah menjadi UU. termasuk bagaimana seharusnya semua aparatur berperilaku yang dipertalikan dengan ICCPR tanpa kecuali pada lembaga-lembaga peradilan dan pengadilan. 12/2005. “Gus Dur Hadapi Teror Gerombolan Islam Radikal.27 bahkan ancaman atas kebebasan beragama dan berkeyakinan. Selasa.25 Keempat. Lihat juga.” gusdur. “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah.” gusdur. Belakangan ini adalah sering gagalnya aparat keamanan melindungi kebebasan berkumpul dan berpendapat.” Detikcom. kelak pemerintah harus membuat laporan mengenai pelaksanaan hak-hak sipil dan politik yang disampaikan JURNAL HAM • Vol. 23 Mei 2006. dan “Dialog Lintas Etnis Nyaris Rusuh: Gus dur Tuding Gerakan Ormas Islam Ada yang Mendanai. selain apa langkah-langkah yang telah diambil untuk meningkatkan penghormatan dan perlindungan hak-hak sipil dan politik. Impunitas telah menjadi penghalang yang serius bagi tegaknya 25 Lihat “SBY: Ahmadiyah Sudah Resmi Dilarang Pemerintah. 22 Mei 2006.” Bandung. 55 .net. 28 Lihat “Siaran Pers PBHI Jawa Barat tentang Pengusiran Gus Dur dan Intimidasi Kegiatan Forum Dialog Lintas Agama di Purwakarta. tantangan besar yang dihadapi adalah mata rantai impunitas (cycle of impunity) sebagai penghalang dalam menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran hak-hak.dalam urusan hak atas kebebasan beragama dan berkeyakinan seperti kasus pelarangan Ahmadiyah. Impunitas dan pelanggaran hak Bagi masyarakat Indonesia. Selasa. tapi penting pula didesak untuk juga melakukan sosialisasi laporan-laporannya kepada warganya. 27 Lihat “Pernyataan PBHI Jawa Barat: Protes atas Pembubaran Paksa Pertemuan di Wisma Brantas Bandung. 23 Mei 2006. Kelima. Syarikat Indonesia dan Komnas Perempuan – serta para peserta mengalami gangguan dan perlakuan yang sewenangwenang dari sekelompok oknum yang mengaku PAGAR (Persatuan Anti Gangguan Regional) dan PPM (Patriot Panca Marga) pada 20 Mei 2006. Keenam. cit. 26 Hikmahanto Juwana. 2007 pada Komite di PBB. Panitia Penyelenggara” – INCRESS.net. peraturan perundang-undangan tidak tersedia bagi para hakim dan banyak lagi persoalan lainnya.28 Persoalan kelemahan ini menjadi tantangan bagi pemerintah dan aparat penegak hukum atau keamanan pasca-ratifikasi agar hak-hak sipil dan politik setiap orang terlindungi.26 Kebiasaan pemerintah tanpa menyediakan infrastruktur pendukung atas langkah-langkah implementasi hasil ratifikasi berbagai perjanjian hak-hak manusia dapat dipandang sebagai sikap tak mau (unwilling) atau abai untuk berbuat sesuatu. Sejauh ini tak pernah diketahui umum atau sangat kurang disosialisasikan bagaimana sesungguhnya isi laporan pemerintah mengenai pelaksanaan setiap perjanjian internasional tentang hak-hak manusia yang telah diratifikasi.

Sejumlah jaksa telah bertindak di luar kebiasaan karena menuntut terdakwa bebas dari hukuman. 28 Oktober 2005. sipil.” Gatra. 13:29 WIB. “Mafia Peradilan Di Mana-mana. Intended to Fail: The Trial Before the Ad Hoc Human Rights Court in Jakarta. vii-ix. “KPK Terlambat Geledah Ruang Ketua MA.30 Negara RI memang aneh karena merupakan satu-satunya negara yang mendirikan dan mengoperasikan pengadilan hakhak manusia (human rights court) berdasarkan UU No. Dalam kerangka hukum internasional. melainkan juga peradilan pidana. “Mafia Peradilan di Indonesia. Lihat “KPK Geledah Ruang Kerja Bagir Manan. Mereka dijuluki sebagai “mafia pe- radilan”. hal. sekurangkurangnya pada tingkat kawasan seperti Pengadilan Eropa tentang Hak-hak Manusia (European Court of Human Rights) dan Pengadilan AntarAmerika tentang Hak-hak Manusia (Inter-American Court of Human Rights) David Cohen.com. 2004. Kamis. Kesalahan ini mungkin salah satunya terletak dari kegagalan para penyusunnya dalam memahami perbedaan antara hukum internasional tentang hak-hak manusia dan hukum humaniter internasional.” Waspada Online. Rapim darurat digelar saat penggeledahan berlangsung.” Kompas Cyber Media. Selain Harini Wijoso. Lihat juga “Liku-liku Percaloan dan Mafia Peradilan di Indonesia. Sikap ini menampakkan tak punya itikad untuk mendakwa kendati sejumlah hakim berusaha membuktikan adanya kejahatan. bahkan berlanjutnya pelanggaran hak-hak manusia. Sistem peradilan di Indonesia dituding telah dikuasai sebagian mereka yang menjalankan tugas sebagai aparat penegak hukum dan pengadilan. 27 Oktober 2005 13:32. 26/2000. tapi pada intinya pengadilan HAM Ad Hoc untuk Timor Timur berlangsung dengan kegagalan untuk menghukum orang-orang yang terlibat dan bertanggungjawab dalam kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanity). impunitas adalah ketidakmungkinan secara de facto atau de jure untuk membawa pelaku kejahatan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. 2007 . Jumat. administratif. Kamis. Lebih dari itu mereka juga telah memilihnya 29 Lihat “Kerangka Acuan Perencanaan Strategis 30 31 32 33 34 35 Impunitas.” Suara Pembaruan.32 Kegagalan ini diikuti pula dengan perkara-perkara Tanjungpriok dan Abepura. Rabu.” Riau Pos Online. 21-22. Hendardi.33 Salah satu kasus yang cukup menggegerkan adalah dugaan suap atas hakim agung yang menangani perkara penyelewengan dana reboisasi dengan terdakwa Probosutedjo. 14 Februari 2006. Lihat “Majelis Hakim Masih Musyawarah Bahas Soal Bagir Manan. Ruang kerja Ketua Mahkamah Agung (MA) Bagir Manan digeledah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Martha Meijer. 8 Oktober 2005. “Ruang Kerja Bagir Digeledah.” lokakarya yang diselenggarakan PBHI dan HOM pada 29-30 Mei 2006 di Cipayung. impunitas dapat diartikan sebagai “bebas dari hukuman”. Sabtu. dan “Konflik MA-KY Hanya Untungkan Mafia Peradilan. perbaikan kondisi. Bogor. Utrecht: The Netherlands Humanist Committee on Human Rights. 2006. Senin. penahanan.” Kompas.” Republika. Persoalan dengan impunitas bukan hanya pada proses peradilan HAM saja. Selasa. 10 Mei 2006. 4 • Th. 23 Januari 2006 22:30 WIB.35 tapi para pejabat MA – termasuk hakim agungnya – mengambil keputusan yang aneh dengan memperpanjang usia pensiun Bagir Manan. Cacat mendasar ini terjadi ketika Kejaksaan Agung mengambil alih penyelidikan setelah diterimanya laporan KPP HAM yang ditunjuk Komnas HAM.31 Terlepas dari kesalahannya memahami konsep hukum internasional. atau disipliner karena mereka tidak dapat diperiksa yang memungkinkan berlangsungnya penuntutan. pengadilan dan apabila dianggap bersalah dikenakan hukuman yang sesuai norma hukum positif. 2 Februari 2006. baik dalam proses peradilan kriminal. 56 JURNAL HAM • Vol.” Suara Pembaruan. juga Ketua Pengadilan Jakarta Pusat Cicut Sutiarso terkait kasus suap tersebut.29 Secara harfiah. Pengadilan hak-hak manusia. The Scope of Impunity in Indonesia (draft). Berkeley: International Center for Transitional Justice. hal.34 Kendati Probosutedjo telah memberikan keterangan dan Harini Wijoso pun disidangkan sebagai terdakwa.keadilan. Jumat. 28 Oktober 2005.

10 Maret 2006. 22 Mei 2006 19:19:00. Lihat “Komnas HAM Sesalkan Larangan Seminar. Senin. FUI (Forum Umat Islam) dan MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) menyegel Kantor Fahmina. Lihat “Diskusi Korban Kekerasan Perempuan Tahun 1965 Dibubarkan. 13 Oktober 2005. Jumat. “Massa Bubarkan Pertemuan Perempuan Eks Napi PKI.” Pikiran Rakyat. Tolak Usulan untuk Nonaktif. Pertemuan yang diadakan INCReS (Institute for Culture and Religion Studies). Senin.” Media Indonesia Online. 2 Juni 2006 | 13:05:43 WIB. juga aparat Polres Bandung Tengah terlibat dalam membubarkan pertemuan.” Riau Pos Online. 15:03 WIB. Kegiatan mereka dibubarkan secara paksa oleh sekelompok oknum dari PAGAR (Persatuan Anti Gangguan Regional) dan PPM (Patriot Panca Marga). Fahmina dituduh merusak aqidah dan menjual ayat-ayat Al Quran dengan murah. Cirebon Sesalkan Sikap LSM Fahmina. 18:18:45 WIB.” KabarBaru.” Detikcom.kembali sebagai Ketua MA tanpa melalui proses seleksi lagi. “Presiden Lantik Bagir Manan Sebagai Ketua MA. Kamis. Kamis. 20 Mei 2006 22:31:32. 22 Mei 2006. 26 Mei 2006. 22 Mei 2006. Sabtu. Jumat.” Kompas. 23 Mei 2006.” Kompas Cyber Media. Selasa. “FUI Wil. 18 Mei 2006. 12:09 WIB. Selasa. 22 Mei 2006. 57 . 02 Mei 2006. 21 Mei 2006. Massa demonstran pendukung RUU APP yang beratribut FPI (Front Pembela Islam).org. 04:18:30 WIB. Bagir Ditolak. Selain ditempelkan tulisan “Kantor ini disegel. “Komnas Perempuan akan Minta Klarifikasi Kapolri. “Bagir Manan Siap Pensiun Tahun 2008.” Kompas. dan “FPI Segel Fahmina Institute Cirebon.com. Seminar Incres Dibubarkan. “Bagir Manan jadi ketua MA lagi. selain disertai dengan ancaman dan intimidasi atas panitia dan para peserta. Kamis. 12 Oktober 2005. Halangan kebebasan berserikat juga menandai kasus yang menimpa Fahmina Institute di Cirebon.39 Kedua peristiwa ini dapat diduga sebagai pelanggaran hak atas kebebasan berkumpul dan berpendapat. 02 Mei. Kantor mereka diserbu puluhan oknum yang berasal dari PPSI (Pemuda Penegak Syariat Islam).40 Pengalaman buruk atas kebebasan berserikat ini juga pernah dialami sebelumnya ornop LAPAR (Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat) pada 22 Februari 2006 di Bulukumba. Tunggakan Perkara di MA Masih Banyak. Selain adanya dugaan kuat mengenai campur tangan aparat militer. Senin. Selasa. Selasa. Jumat. Jumat. 20 Januari 2006.” juga tulisan “LSM raJURNAL HAM • Vol.” Suara Pembaruan.41 36 Lihat “Bagir Manan Perpanjang Usia Pensiun Diri- 37 38 39 40 41 nya: Disebutkan.” Fahmina menyayangkan aparat kepolisian lamban menangani kasus penyegelan itu. “Bagir Terpilih Kembali Sebagai Ketua MA. 02 Mei 2006 11:15 WIB. Jumat. “Massa Segel Kantor LSM. “Bangkitkan Semangat “PKI”. Sulawesi Selatan. Senin.” Media Indonesia Online.36 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono – melalui Keputusan Presiden No 17/P/2006 – pun melantik Ketua MA yang dipilih oleh hakim agung. “Bagir Manan: Tak Ada Alasan untuk Mundur.” Antara News. 26 Mei 2006. Polisi Bengong. Menurut Ketua Dewan Kebijakan Fahmina KH Husein Muhammad.” Kompas.” wahidinstitute.Published 13:11 GMT. 22 Mei 2006.” Tribun Jabar. Lihat “Demonstran Dukung RUU APP di Cirebon Segel LSM Fahmina. “Muladi: Perpanjangan Pensiun Bagir Manan Keliru. Minggu. 2007 cun” dan “antek asing. 18 Mei 2006 14:52 WIB. “Bagir Manan Merasa Difitnah. Lihat “LSM Fahmina Diserbu Massa Pendukung RUU APP. Lihat “Presiden Lantik Bagir Manan Jadi Ketua Mahkamah Agung.37 Lainnya yang bertalian dengan persoalan impunitas adalah situasi yang menghalangi proses perlindungan dan perbaikan kondisi hak-hak manusia.38 Sebelumnya juga terjadi larangan seminar tentang Tuntutan Penutupan PT Freeport di Jayapura. Senin.” Republika Online. dan “Bagir Terpilih. Gangguan dan ancaman hak atas kebebasan berkumpul dan berpendapat maupun kebebasan berserikat dan beragama semakin nyata. Dianggap Tolak RUU APP.” Media Indonesia Online. Komnas Perempuan dan Syarikat (Santri untuk Advokasi Masyarakat) Indonesia pada 20 Mei 2006 di Bandung telah menemui penghalangnya.” TEMPO Interaktif.” BBCIndonesia. bahkan empat orang panitia dibawa dan diinterogasi ke markasnya. dan “Kapolri Harus Klarifikasi Pembubaran Kegiatan Mantan Tapol PKI. 2006 . 16 Mei 2006. 4 • Th.” Rakyat Merdeka.” Rakyat Merdeka.” Kompas Cyber Media. Rabu.

Senin.” Detikcom.” Rakyat Merdeka. dan “Massa NU Akan Survei di Slipi Apa FPI Lakukan Syiar Agama.net. Minggu. Kampus ini juga mengalami kerusakan. Yang paling menderita adalah jamaah Ahmadiyah. 26 Mei 2006. Kamis.” Liputan6. 19:16:05 WIB. Rabu. 26 Mei 2006. Rabu. 25 Mei 2006 10:26. tapi lebih dari itu ancaman serius atas kebebasan beragama pun merebak. “MUI Tetapkan 11 Fatwa. Warga Bentrok dengan Pengikut Ahmadiyah. 26 Mei 2006. 10 Juli 2005. 25 Mei 2006 05:59.” Pikiran Rakyat. 9 Juli 2005.com.” Rakyat Merdeka. Kamis. Massa ormas ini menyerang ribuan jamaah di Kampus Al-Mubarok di Parung. Jumat.” Rakyat Merdeka. 6 Maret 2006 13:05 WIB. Sabtu.” TEMPO Interaktif.com.net. Jumat.” Rakyat Merdeka. Jawa Barat. Sejumlah oknum dari ormas Islam membuat kegaduhan dan masuk ke dalam ruangan acara untuk membubarkan forum. 11:36:46 WIB. Kamis. Buntut Acara Dialog Lintas Etnis dan Agama. “GP Ansor Minta Ormas Liar Dibubarkan. 15:48:40 WIB. 9 Juli 2005 18:04. 14:14:51 WIB. Sebelumnya MUI Purwakarta dilaporkan melakukan intervensi.com. “Dialog Lintas Etnis Nyaris Rusuh.” Rakyat Merdeka. 25 Mei 2006 01:54. MMI dan HTI pada 23 Mei 2006 di Purwakarta ketika diadakan acara Forum Dialog Lintas Agama di mana Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi keynote speaker. 26 Mei 2006. Haram Hukumnya Perdukunan dan Peramalan.” gusdur. 31 Mei 2006.44 Bahkan memunculkan desakan mereka untuk membubarkan beberapa ormas Islam radikal tersebut. “Garda Bangsa Minta Habib Rizieq Ditangkap.” Liputan6. 26 Mei 2006. “Aliansi Masyarakat Anti-Kekerasan Luruk Markas FPI Besok Siang. 5 Agustus 2005 13:08 WIB Lihat “Dua Kelompok Massa Islam Bentrok. Kasus paling hangat adalah aksi sejumlah oknum dari FPI. 23 Mei 2006. kampus ini kembali dikepung ribuan orang dari Masyarakat dan Umat Islam Parung 42 Lihat “Gus Dur Hadapi Teror Gerombolan Islam 43 44 45 46 47 Radikal.Tak hanya kebebasan berkumpul. Lihat “SBY-JK Didesak Bubarkan FPI. Bogor. WIB.net. Ormas Islam Buat Pernyataan.” Suara Pembaruan.” elshinta. “Massa FPI-FBR Bersiap Menghadapi Serbuan Garda Bangsa. “NU vs FPI: Polisi Barikade Jl KS Tubun. karena menuduh JAI bertentangan dengan ajaran Islam. Sabtu. “Disesalkan. “Pemerintah Dikritik Tak Tegas. dan “Banteng Jakarta Dukung Gus Dur Hadapi FPI Cs.” Liputan6.” gusdur. Aksi Kekerasan dan Perusakan Terus Dibiarkan. “Gus Dur vs Ormas Radikal: Polisi Minta Semua Pihak Menahan Diri.” Pikiran Rakyat. Fatwa ini didukung sejumlah ormas dan partai Islam seperti PBB (Partai Bulan Bintang). sedikitnya delapan orang luka-luka terkena lemparan batu dan kayu. Kamis.46 Fatwa ini berubah menjadi aksi kekerasan yang dilakukan ribuan orang yang mengaku dari LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) dan FPI pada Sabtu. Todung: Saya Protes Keras Terhadap FPI. “13 Terdakwa Kasus Pengrusakan Kampus Mubarok Ahmadiyah Disidangkan di PN Cibinong Jabar. “Azyumardi Azra Menuntut Pengusir Gus Dur Diusut. 26 Mei 2006.com.” gusdur. 4 • Th. 26 Mei 2006. 26 Mei 2006. 27 Mei 2006.” elshinta. 24 Mei 2006. Aksi FPI Cs Meresahkan: Massa NU dan Prodemokrasi Demo ke Mabes Polri.” Rakyat Merdeka. Jumat. Rabu.” Detikcom.” Detikcom. melainkan juga Gus Dur diperlakukan secara tak pantas.” gusdur. Jumat.45 Sebelumnya juga banyak terjadi peristiwa yang telah mengancam kebebasan beragama dari berbagai ormas Islam. Rabu. 26 Mei 2006. Kamis. dan “Saat Mencoba Membubarkan Pertemuan di Kemang. “NU Tuntut FPI Minta Maaf.” Gatra.” Rakyat Merdeka. Gus Dur Diserang Massa FPI dan HTI. “DPP PBB Dukung fatwa MUI Soal Ahmadiyah. “Pengusiran Gus Dur. “Sejumlah Ormas Islam Gelar Tabligh Akbar Dukung Fatwa MUI. Lihat “MUI Kembali Fatwakan Ahmadiyah Sebagai Aliran Sesat. 25 Mei 2006.net. 24 Mei 2006. Kamis. 28/07/2005 20:11 WIB. Selasa.” Liputan6. dan “Saat Pidato.” Jumat.com. Kamis. Jumat. Polisi Biarkan FPI Bertindak Anarkis. Lihat “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah.” detikInet. 13 Agustus 2005 19:04. MUI mengeluarkan fatwa yang menyatakan Ahmadiyah sebagai “aliran sesat”.com. Lihat “Massa Pencinta Gus Dur Berdemonstrasi. 58 JURNAL HAM • Vol. 24 Mei 2006. 23 Mei 2006. 29 Juli 2005 | 06:38 WIB. 25 Mei 2006.42 Peristiwa ini bukan saja mendapat reaksi dari basis-basis massa NU dan PKB. Kamis. 12:16:50 WIB. 2007 . 10:03:13 WIB. 28 Juli 2005 20:26 WIB “Fatwa-fatwa Haram Ala MUI. Dalam peristiwa ini bukan saja panitia dan peserta forum dialog merasa terganggu dan terteror. Jum’at. Akibat bentrokan itu. Jumat.43 tapi juga dari beberapa kalangan lainnya yang menyatakan “lawan preman berjubah”.” Media Indonesia Online. 25 Mei 2006. Jumat. Massa LPPI dan FPI melempari arena pertemuan tahunan JAI.47 Selang enam hari. dan “Tuntut Milisi Sipil Dibubarkan.com.” Kompas. Selasa.” Pikiran Rakyat. “FBR Gabung FPI Hadang NU. Gus dur Tuding Gerakan Ormas Islam Ada yang Mendanai. Jumat. 17:24:23 WIB. Sabtu. Jumat.

15/07/2005 17:57 WIB. Abdurrahman Wahid.49 Sejak peristiwa itu.” Detikcom. “Jemaah Ahmadiyah Sambut Baik Keberadaan Satgas Garda Bangsa. Sebagian mempersenjatai diri dengan tongkat bambu.com. Garut Diamuk Massa. Lihat “Rumah Ketua Ahmadiyah Kab. “Fatwa MUI Dituding Melegitimasi Penyerangan Terhadap Ahmadiyah.” Kapanlagi. Sabtu.Bogor dan Jakarta. Lihat “Jaksa Agung: Larangan Ajaran Ahmadiyah Bersifat Parsial. dan “Markas Ahmadiyah Diserbu Massa. Jumat. Selasa. “Warga Ahmadiyah NTB Mengucapkan Syahadat. Kejengkelan terhadap Ketidakpastian Sikap Pemerintah. 7 Agustus 2005 13:27 WIB. Selasa. Rabu.” Kompas Cyber Media. intimidasi dan teror kekerasan terhadap JAI di berbagai daerah seperti yang dialami jamaah ini di Sukabumi. 15 Juli 2005 20:20.58 Pernyataan ini disesalkan oleh perwakilan Ahmadiyah.com.com/bpost/072005/16/nusantara/nusa1. “Kegiatan Jemaat Ahmadiyah di Kuningan-Bogor Dilarang. “Negara Hukum Ataukah Kekuasaan.net. Selasa. 29 Juli 2005 20:00.php?page= article&id=850.59 Mereka menjadi korban kesewenang-wenangan atau kezaliman.com/id/index. 15 Jul 2005 13:11:12.” Li- 50 51 52 53 54 55 putan6.” Tribun Timur.” Koran Tempo. 24 Pebruari 2006.” gusdur. Sabtu.60 48 Lihat “Kampus Ahmadiyah Dikepung Massa. September 2005.56 Pernyataan ini mungkin setelah keluar pernyataan Jaksa Agung yang menegaskan larangan atas Ahmadiyah. 21 Agustus 2005 16:17 WIB. Kamis. “Teror atas Ahmadiyah dan Problem Kebebasan Beragama. Jumat. Lihat “Pemerintah Tetap Larang Ajaran Ahmadiyah.53 serta beberapa daerah lainnya terutama yang dialami jamaah Ahmadiyah di Bulukumba (Sulsel)54 dan Lombok Barat (NTB).” Media Indonesia Online.” Tribun Timur.” Detikcom. Minggu.” Metrotvnews. “12 Pengrusak Masjid Ahmadiyah di Cianjur Dibekuk.” detikInet. Jumat. 5 Februari 2006.” gusdur.” gusdur. 18:05 WIB. Sejumlah massa melempari para JAI dengan batu dan kayu saat dievakuasi dari Kampus Mubarok.” http://www. 21:12 WIB.” Liputan6. juga pemerintah pusat tetap melarangnya sebagaimana yang dikemukakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.” Pikiran Rakyat.” ttp://islamlib. Rabu. 16 Agustus 2005. 21 Juli 2005 18:54 WIB.” Hidayatullah. “Sejumlah Sarana Ibadah Ahmadiyah di Kuningan Disegel. “Gus Dur Sesalkan Penyerangan Masjid Ahmadiyah di Cianjur. Massa yang menyerbu selain dari FPI.net. Dawam Rahardjo. 26 April 2006 10:12 WIB. Gus Dur: Itu Pidana. Gus Dur: Yang Membakar Harus Ditangkap.Com.com. Jumat.” Pikiran Rakyat.48 Peristiwa ini mendapat reaksi dari berbagai kalangan.” Gatra. Lihat “Pembakaran Rumah Jama’ah Ahmadiyah NTB. Lihat “Ahmadiyah Sesalkan Pernyataan Presiden SBY Soal Kejaksaan Pernah Larang Ahmadiyah.” Detikcom. Minggu. 30 Pengungsi Jemaat Ahmadiyah di Lombok Tengah Ingin Kembali ke Rumah. 22 Februari 2006 23:50. Rabu.indomedia.com. Kepolisian Resor (Polres) Bogor menyegel kampus setelah unsur Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) Kabupaten Bogor menyetujui keputusan bersama untuk menutup kampus.” detikInet. 05 Agustus 2005. 2 Agustus 2005. Lihat “Ratusan Ulama Sukabumi Menolak Ahmadiyah. 18 Juli 2005 19:26 WIB.com. Kamis. 18 Februari 2006. 4 • Th. Lihat “GARIS Bertanggung Jawab Atas Serangan Perkampungan JAI. 30 Juli 2005. 14 Pebruari 2003 16:22. Senin. 9 Agustus 2005. “72 Anggota Ahmadiyah Nyatakan Keluar.net. 06:57. M. “Jemaah Ahmadiyah Kuningan Bantah Ada Bentrokan. ancaman. memang terjadi peningkatan berbagai aksi penolakan.” detikInet. dan “Desak Pemda Lombok Tengah. 22 September 2005.” Metrotvnews. 5 Agustus 2005 15:31. Jumat. Rabu. “Gus Dur Meminta Masjid Milik Ahmadiyah Dibuka. 2 Agustus 2005. dan “Kejaksaan Telah Mendata Asetnya.” elshinta.52 Kuningan. JURNAL HAM • Vol.htm. Jum’at. Garis adalah singkatan dari Gerakan Reformis Islam.com.51 Garut. 17 Februari 2006. Jumat.com. Sabtu.” elshinta. 20 Juli 2005 08:02 WIB.50 Cianjur.” Detikcom.57 selain diperkuat oleh Menteri Agama Maftuh Basyuni. Jumat. Jumat. Muspida Garut Sepakat Melarang Ahmadiyah. Lihat “Ahmadiyah Bulukumba Diancam Demo Besar-besaran. Lihat “Ahmadiyah Makin Terzalimi dengan Fatwa MUI.” Kompas Cyber Media. 2007 59 . Sabtu. Lihat “SBY: Ahmadiyah Sudah Resmi Dilarang Pemerintah. dan “Keluarga Ahmadiyah Bulukumba Mengungsi. Rabu.com.” elshinta.55 Selain beberapa pemerintah di daerah telah melarang aktivitas JAI. “Dievakuasi Jemaat Ahmadiyah Dilempari Batu & Kayu. Rabu 5 April 2006.” Media Indonesia Online. Rabu. 30/07/2005 16:55 WIB.com. dan “Mengekang Kebebasan Beragama. juga dari GUII (Gerakan Umat Islam Indonesia) yang dipimpin Habib Abdurrahman. 21 September 2005. Lihat “Teror: Belasan Rumah Ahmadiyah Dibakar. 16 Juli 2005. 49 Lihat “Tokoh Antaragama Kutuk Penyerangan Jemaat Ahmadiyah. 18 Jul 2005 19:49:51. Minggu. 20 56 57 58 59 60 Juli 2005 (tulisan ini ditulisnya ketika dirawat di RSCM).

juga ribuan penduduk terpaksa mengungsi akibat aksi kekerasan tersebut. Lihat “Sejumlah Ormas Islam Tutup Gereja Ilegal.id. Sabtu. 4 • Th. Selasa. 9 Oktober 2004 8:45:00 WIB. Lihat “PBHI Desak Kapolri Usut Kasus Kekerasan di Garut. 6 Pebruari 2004. Purwakarta) serta enam gereja di Kompleks Permata Cimahi. “Gus Dur: Hentikan Aksi Penutupan Gereja.” Crossmap News. “Gus Dur Perintahkan Banser untuk Menjaga Sang Timur. “Massa Datangi Kontras dan PBHI. Selasa.” Bandung. dan “Wardah Hafidz Kecewa dengan Putusan Hakim. 25 Oktober 2004 | 11:52 WIB. Rabu.” TEMPO Interaktif. 28 Oktober 2004 10:00:03. Kamis. 25 Oktober 2004 | 10:09 WIB. Jumat. “Tembok Sang Timur Dirobohkan. terutama oleh sekelompok orang dari ormas Islam seperti FPI. 26 Agustus 2005. Jawa Barat. 31 Maret 2003. Kecamatan Genuk (31 Juli 2005). sejumlah gereja ditutup. 26 Juni 2001.Kasus gagalnya perlindungan hak atas kebebeasan beragama juga dialami oleh pemeluk agama Protestan dan Katolik.66 Semua ini bukan saja terus berlangsung kegagalan dalam melindungi hak-hak. “Kantor Kontras Diserbu Massa. JURNAL HAM • Vol.” Republika. Selasa. dan “Tokoh Agama dan Gus Dur: Hentikan Aksi Penutupan Gereja.” kristianipos. kafe dan 61 Lihat “Penembokan Sekolah Sang Timur. Kabupaten Bandung. tapi kenyataannya tak ada jaminan hak-hak sipil dan politik setiap orang dihormati. 15 Agustus 2005. Kelurahan Tani Mulya.64 Kasus lainnya adalah konflik pertanahan antara petani penggarap dengan pihak perkebunan yang ditandai dengan tindak kekerasan tak hanya oleh aparat keamanan. Sekolah milik Yayasan Sang Timur yang terletak di Kabupaten Tangerang menjadi sasaran aksi penutupan gerbang oleh sekelompok orang yang mengaku dari FPI. tapi juga oleh sekelompok orang dari ormas Islam seperti AGAP (Aliansi Gerakan Anti Pemurtadan) dan FPI. PBHI dan Kontras. Bandung).” TEMPO Interaktif. Jumat. terdapat pula kasus-kasus penyerangan atas beberapa ornop/LSM seperti UPC. Gereja Kristen Kemah Daud (GKKD) di Kampung Warung Mekar.” Suara Pembaruan. Selain rusak lahan garapan para petani yang berdampak pada hak atas pekerjaan dan penghasilan.com. Senin. 27 Mei 2003 14:52. tapi juga sekaligus menjadi bagian dari terus langgengnya impunitas. 7 September 2005 01:34:26. Pernyataan ini ditujukan kepada Bupati Kabupaten Bandung. 2 Juni 2006. 4 Oktober 2004. tapi juga sejumlah oknum preman seperti yang terjadi pada Kamis. Lihat “Kantor PBHI Jabar Didatangi Massa.” TEMPO Interaktif.” Republika.61 Pada 12 September 2004 terjadi aksi warga berdasarkan Maklumat Forum Silahturahmi Ulama Cendikiawan Muslim (FSUCM) yang melarang ibadah di Gereja-gereja Rancaekek. AGAP.” eben-network.” Kompas. Lihat “Pernyataan Forum Komunikasi Kristiani Indonesia Jawa Barat tentang Penutupan Kegiatan Ibadah Kristen di Perumnas Bumi Rancaekek Kencana. Gereja Kristen Pasundan (GKP) di Katapang (Kab. Desa Bungursari (Kab. Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) dan Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Perum Gading Tutukan Soreang (Kab.co. Selasa. Jakarta. dan “Gus Dur Meminta Walikota Tangerang Memberikan Izin Membangun Gereja. 1 Juni 2006 di Garut. Pendidik- 62 63 64 65 66 an Jangan Jadi Korban. Kabupaten Indramayu dan tiga orang pembinanya ditahan di LP.62 Antara Juni-Agustus 2005. Jumat. 23 Agustus 2005. Lihat “Camat Dayeuhkolot Tutup Gereja Ilegal.” christianpost. yaitu Gereja Kristen Kemah Daud (GKKD) di Kecamatan Haurgeulis. Kecamatan Ngamprah (Kab. Gereja Isa Almasih (GIA) di Karangroto. Bandung). Senin.” Gatra. Senin. dan “Penjelasan FPI : Kronologis Kejadian Penutupan “Gereja Liar” di Bandung.com.65 Selain itu. Senin.” TEMPO Interaktif. Bogor).63 Aksi penutupan gereja ini tak hanya oleh pemerintah lokal. 2007 60 . 23 Agustus 2005. FKKU (Forum Komunikasi Kemaslahatan Umat) dan FSPI (Forum Silaturahmi Pemuda Islam) serta ormas kedaerahan seperti FBR (Forum Betawi Rempug) yang kerap melakukan penyisiran (sweeping) dan kekerasan baik atas pemeluk agama dan orang lain maupun tempat-tempat hiburan.” Sinar Harapan. Prospek implementasi ICCPR Kendati negara RI telah meratifikasi ICCPR.

Harry Ganda Asi. 06 April 2006. dan “Polisi Membubarkan Paksa Demonstrasi di DPRD Bengkulu.Com. Lihat “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah. Terkait Pemukulan Kontributor TV. Jumat. 28 Oktober 2004 | 19:45 WIB.” Kompas. “Peristiwa 12 Februari dan Kekerasan Polisi. Misalnya. 25 Juli 2005. 2005.” Hukumonline.” Pikiran Rakyat.69 Kekerasan polisi tak hanya menjadi kebiasaan dalam penangkapan dan penahanan tersangka. 13 Apr 2006.Com. dan “Wartawan Surabaya Demo UPN Veteran.75 67 Lihat “FPI Rusak Kantor Komnas HAM dan Kafe 68 69 70 71 72 Jimbani. Senin.indymedia. tetap tumbuh semangat dan partisipasi masyarakat dalam membela hak-haknya.70 melainkan juga atas para demonstran atau orang-orang yang sedang merealisasi hak atas kebebasan berkumpul dan berpendapat. 37 Luka Tembak. “Aksi Premanisme terhadap Pers. “FPI Gerebek Tempat Hiburan di Kemang. Suryadi Radjab. 1 Muntah Darah.” Detikcom. 9:07 WIB.” TEMPO Interaktif. “Premanisme dan Wartawan Kita.” SeKetika. 23 Mei 2006. 26 Januari 2005.71 Memang harapan untuk mendapatkan intervensi negara untuk melindungi hakhak sipil dan politik yang terancam oleh perilaku sejumlah orang maupun halangan dari aparat militer dan kekerasan polisi. sejumlah ornop melancarkan kampanye menolak hukuman mati.” Sinar Harapan. 18 Maret 2003. 19 Maret 2004. Lihat “Keluarga Korban Pelanggaran HAM Tuntut Soeharto Diadili. keluarga korban dan beberapa kalangan yang prihatin atas pelanggaran hak-hak manusia tetap mendesak proses hukum atas orang-orang yang terlibat dan bertanggung jawab. 20 Desember 2005 | 00:20 WIB. Sabtu. 11 Maret 2003.” islamlib. Kamis.” Warta Kota.pedagang. JURNAL HAM • Vol. “Tawuran FBR-Benteng Banten. Polda Metro Tindak Tegas FPI dan FBR. “Massa Gabungan Ormas ‘Sweeping’ Toko Miras. “Penyerangan Tempo: Aparat Dikangkangi Premanisme. Senin. Lihat “Kasus Wamena Tunjukkan Lemahnya Perlindungan HAM di Papua. 23 Oktober 2004 16:13 73 74 75 WIB. 16:26 WIB.67 Kasus penyerangan dan tindak kekerasan atas pekerja pers masih saja terjadi setelah kasus Udin. “Preman Berjubah itu.” detikInet.72 kalangan pekerja pers mengeluarkan pernyataan perang melawan premanisme. 26 Maret 2003.” Gatra. “Rusak Tempat Hiburan. Bandung: PBHI Jawa Barat.” Kompas Cyber Media. 29 Oktober 2005.com. 2007 61 . Kamis. “Polres Jakarta Timur ‘Diserbu’ FBR.” Kompas Cyber Media. 16 Mei 2006 14:52 WIB. Hak Manusia dan Polisi. Kamis.” TEMPO Interaktif. Massa FPI Purwakarta Razia Miras dan PSK. Sabtu. Ahmad Suaedy. “Preman Pukul Wartawan dan Rusak Kantor Indopos. “Puluhan Orang Berseragam FBR Keroyok Pedagang Pasar Senen. “Diakui Sebagai Tindakan Konkret Berantas Pekat. Sabtu. Selasa. Selasa.” TEMPO Interaktif. 12:54am.73 dan mereka yang memperjuangkan dihormatinya pluralisme menyatakan lawan preman berjubah. “Tujuh Anggota FBR Divonis Enam Bulan. Selasa. 10 Mei 2006. “Polisi Nias Gelar Perkaranya Hilangnya Wartawan Berita Sore. Lihat “LSM HAM Tolak Hukuman Mati.” Pikiran Rakyat. 1 Meninggal. Rabu. 02 Juli 2002. 17:57:46 WIB. Polisi Hajar Wartawan.” detikInet. 3 Oktober 2003.” Pikiran Rakyat.net. Selasa.” dalam Hendardi.” gusdur. 23 Oktober 2004 | 00:00 WIB. 10 Pebruari 2005 | 17:27 WIB.” jakarta.” TEMPO Interaktif. 20 September 2005. 30 Maret 2006.” gusdur. 23 Oktober 2004 01:30 WIB. 24 Juni 2000. 17 November 2005 | 01:07 WIB. Senin. Jum’at. Nadirsyah Hosen. “FPI Sweeping Tempat Maksiat.” TEMPO Interaktif. “Demokrasi dan Perlindungan Kaum Minoritas. dan “Masyarakat Solo Keluarkan Petisi Perang terhadap Premanisme. dan “Istri Gus Dur Dilaporkan FBR ke Polda.” TEMPO Interaktif. 27 Mei 2006. Rabu. “Masyarakat Kemang Kutuk Aksi FPI. Selasa. 4 Luka-luka. Selasa. 23 Oktober 2004 11:20 WIB.com. 12 Mei 2006 09:16.74 Begitu juga. Rabu. 14 Maret 2003. Decky Natalis Pigay. dan “Soeharto Perlu Juga Diadili dalam Kasus Pelanggaran HAM. Sabtu. 04 April 2005 | 14:01 WIB. dan “Empat LSM Desak Moratorium Hukuman Mati Tibo Cs.org. 23 Juni 2003. 4 • Th. Senin.” TEMPO Interaktif. Lihat “Polisi Tembak ‘Raja Jambret’ Samarinda.” Sinar Harapan. 08:38 WIB. Rabu. Kamis. Sabtu . 31 Maret 2003. 9 Mei 2006.” Rakyat Merdeka.” Gatra. “Wartawan TEMPO Dipukul. Lima Luka-luka.” detikInet. Rabu.” TEMPO Interaktif.” detikInet. 17 Oktober 2005” – 09:46. Lihat “Pada HUT-nya Ke-56. Selasa. Selasa. Sabtu. 31 Agustus 2005 15:00. “Massa FPI Rusak kantor Playboy. Jumat. Kamis. Kamis. Jumat. “FPI Akan Terus Sweeping Tempat Hiburan. Sabtu. Sweeping Jalan Terus.” Liputan6. “Pelanggaran HAM Soeharto Harus Tetap Diusut.” Kaltim Post. 24 Mei 2006. lihat juga “Polisi bubarkan Rapat Umum Petani.com.” INDO POS Online.” TEMPO Interaktif. 26 April 2006.net.” TEMPO Interaktif. 18 Mei 2006 11:34. dan “Polisi Tembak Buronan Pencuri Sarang Walet. Kamis. Distia Aviandari dan Suryadi Radjab. “FPI: Perda Tempat Hiburan Tumpul.68 Apalagi jika aparat keamanan dan penegak hukum justru lebih sering gagal melindungi hak-hak tersebut.” Sinar Harapan.

4 • Th. “Slamet Rahardjo: RUU APP Tempatkan Perempuan Seolah Hantu” Minggu. September 2005. “Ratusan Mahasiswa Yogya Demo Tolak RUU APP” Rabu. Detikcom. “Demonstran Dukung RUU APP di Cirebon Segel LSM Fahmina” Minggu.Published 13:11 GMT. terlebih lagi konsolidasi masyarakat. 8 Maret 2006. DAFTAR PUSTAKA Antara News. “Presiden Lantik Bagir Manan Jadi Ketua Mahkamah Agung” Kamis. tapi juga tanggung jawab negara. 16 Maret 2006. 9 Februari 2006. Crossmap News.Selain itu. 22 September 2005. “SBY: Ahmadiyah Sudah Resmi Dilarang Pemerintah” Selasa. Cendrawasih Pos. 26 Mei 2006. 144 Setuju RUU APP” Kamis. sangatlah penting dalam menagih bukan saja kewajiban. 26 Mei 2006. Cohen. 26 Maret 2003. 8 Maret 2006. 9 Mei 2006. 18 Mei 2006. Asi. 30 Juli 2005. “SBY: Ahmadiyah Sudah Resmi Dilarang Pemerintah” Selasa. Detikcom. MUI Akan Kumpulkan 1. Detikcom. Detikcom. “Draf RUU APP Adalah Buah dari Sebuah Kemunafikan” Kamis. 26 Agustus 2005. Detikcom. “Bahas RUU APP. “12 Pengrusak Masjid Ahmadiyah di Cianjur Dibekuk” Rabu. 06:57. “Aksi Seribu Tayub Tolak RUU APP” Rabu. “NU vs FPI: Polisi Barikade Jl KS Tubun” Jumat.com. 21 Mei 2006. 15 Maret 2006. negara – pemerintah dan aparat penegak hukum – harus selalu diingatkan dan didesak terus-menerus untuk melindungi hak-hak sipil dan politik bagi setiap orang ketika ancaman atasnya sedang berlangsung. Detikcom. “Komnas Perempuan Tolak Perda Tangerang Tentang Pelacuran” Rabu. “DPR Pusing Pro Kontra RUU APP” Kamis. “Premanisme dan Wartawan Kita” dalam Sinar Harapan. 12 Maret 2006. “MUI Sayangkan Adanya Penolakan RUU Anti Pornografi” Senin. Berkeley: International Center for Transitional Justice. Detikcom. 7 Maret 2006. Detikcom. Detikcom. 2006 . “Bagir Manan jadi ketua MA lagi” 02 Mei. Rabu. 16 Agustus 2005. BBCIndonesia. “MMI: Jika Terus Menolak. “Polisi Tembak Buronan LP Saat Mencoba Melarikan Diri dari Kejaran Petugas” Rabu. “Ahmadiyah Makin Terzalimi dengan Fatwa MUI. Detikcom. Detikcom. Detikcom. Rabu. “Gus Dur Siap Upayakan Amandemen Jika RUU APP Jadi UU” Kamis. Harry Ganda. “30 Elemen Islam Malang Demo Dukung RUU APP. “RUU Pornografi Berpotensi Jadi Alat Pemerasan Baru” Kamis. 16 Maret 2006. 100 Pendemo Cantik Tolak RUU APP” Rabu. “Tokoh Agama dan Gus Dur: Hentikan Aksi Penutupan Gereja” Jumat. 8 Maret 2006. 9 Maret 2006. “FBR Gabung FPI Hadang NU” Jumat. 16 Agustus 2005. Detikcom. Detikcom. 8 Maret 2006. 2007 62 . Jadikan Bali Daerah Khusus Pornografi” Rabu. Detikcom. “Dari 167 Lembaga Tamu Pansus. “Massa NU Akan Survei di Slipi Apa FPI Lakukan Syiar Agama” Jumat. “Perda Larangan Pelacuran Akan Diterapkan di Jakarta” Selasa. 6 Maret 2006 Detikcom.000 Ulama di Gontor” Senin. Detikcom. 22 Mei 2006. “Gus Dur Sesalkan Penyerangan Masjid Ahmadiyah di Cianjur” Kamis. Detikcom. Detikcom. “Pelanggaran HAM Soeharto Harus Tetap Diusut” Selasa. 16 Februari 2006. Intended to Fail: The Trial Before the Ad Hoc Human Rights Court in Jakarta. “Peringati Hari Perempuan. 2004.” Sabtu. Detikcom. JURNAL HAM • Vol. Detikcom. Detikcom. Detikcom. Detikcom. 4 Maret 2004. Berbagai partisipasi. 26 Mei 2006. David. 15 Maret 2006. Detikcom.” Detikcom.

gusdur. gusdur. 23 Oktober 2004 16:13 WIB. 23 Oktober 2004 01:30 WIB. gusdur.com.com. gusdur. “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah” Selasa. 12 Mei 2006 09:16.com. Gerung. No. Gatra. Gus Dur: Itu Pidana” Rabu 5 April 2006. “Gus Dur Hadapi Teror Gerombolan Islam Radikal” Selasa. 27 Mei 2003 14:52. Gatra. “Ratusan Ulama Sukabumi Menolak Ahmadiyah” Jum’at. “Ahmadiyah Sesalkan Pernyataan Presiden SBY Soal Kejaksaan Pernah Larang Ahmadiyah” Minggu.net.com.net. detikInet. gusdur. elshinta. 31 Mei 2006. Kamis. 2 Februari 2006. 18 Mei 2006 11:34. “Jemaah Ahmadiyah Sambut Baik Keberadaan Satgas Garda Bangsa” Minggu. “KPK Geledah Ruang Kerja Bagir Manan” Kamis.net. gusdur.com. 26 April 2006 10:12 WIB.net. 15/07/2005 17:57 WIB. Sweeping Jalan Terus” Sabtu. Gus Dur: Yang Membakar Harus Ditangkap” Minggu. elshinta. detikInet. “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah” Selasa.detikInet. Hosen. 27 Oktober 2005 13:32. gusdur. “The Age of Rights” Imparsial. “Desak Pemda Lombok Tengah.net. detikInet. “Kantor Kontras Diserbu Massa” Jakarta. 28/07/2005 20:11 WIB. Rocky. 10 Mei 2006. gusdur. “Gus Dur Hadapi Teror Gerombolan Islam Radikal” Selasa.com. Gatra. “13 Terdakwa Kasus Pengrusakan Kampus Mubarok Ahmadiyah Disidangkan di PN Cibinong Jabar” Senin. 30/07/2005 16:55 WIB. “Jaksa Agung: Larangan Ajaran Ahmadiyah Bersifat Parsial” Kamis. Januari 1997. 23 Mei 2006. Nadirsyah. “Polisi Tembak ‘Raja Jambret’ Samarinda” Jumat. “Mengekang Kebebasan Beragama. 21 Juli 2005 18:54 WIB. gusdur. eben-network. gusdur.net. “Penjelasan FPI : Kronologis Kejadian Penutupan “Gereja Liar” di Bandung” Rabu.net. “MUI Kembali Fatwakan Ahmadiyah Sebagai Aliran Sesat” Kamis.com. 23 Mei 2006. Gatra. detikInet. Hendardi.com. 5 Februari 2006. Selasa. detikInet. “Kegiatan Jemaat Ahmadiyah di Kuningan-Bogor Dilarang” Sabtu. 13 Agustus 2005 19:04 WIB. “Demokrasi dan Perlindungan Kaum Minoritas” dalam islamlib. elshinta. “DPP PBB Dukung fatwa MUI Soal Ahmadiyah” Sabtu. 7 September 2005 01:34:26. elshinta. 2007 63 . “FPI: Perda Tempat Hiburan Tumpul. 7 Agustus 2005 13:27 WIB. 6 Maret 2006 13:05 WIB. 2. detikInet. 23 Mei 2006. “Masyarakat Solo Keluarkan Petisi Perang terhadap Premanisme” Selasa. “Keluarga Korban Pelanggaran HAM Tuntut Soeharto Diadili” Kamis. Aksi FPI Cs Meresahkan: Massa NU dan Prodemokrasi Demo ke Mabes Polri” Jumat. “Pengusiran Gus Dur. 21 Agustus 2005 16:17 WIB. “Rusak Tempat Hiburan. “Pembakaran Rumah Jama’ah Ahmadiyah NTB. elshinta. “Tuntut Milisi Sipil Dibubarkan” Rabu. 23 Oktober 2004 11:20 WIB. 23 Mei 2006. Gatra. 18 Maret 2003. 16 Mei 2006 14:52 WIB. Gatra. 26 Mei 2006.com. detikInet. Todung: Saya Protes Keras Terhadap FPI” Kamis.com.” Kompas. “Mafia Peradilan di Indonesia. 30 Pengungsi Jemaat Ahmadiyah di Lombok Tengah Ingin Kembali ke Rumah” Rabu.net. detikInet. 23 Mei 2006. 1.net. Polda Metro Tindak Tegas FPI dan FBR” Sabtu . “Teror: Belasan Rumah Ahmadiyah Dibakar” Jumat. JURNAL HAM • Vol. “Ratifikasi 2 Kovenan HAM oleh RI Dianggap Masih Setengah Hati” Kamis . “FPI Gerebek Tempat Hiburan di Kemang” Sabtu.com. 29/ 09/2005 14:25 WIB. Hidayatullah. Vol.com.com. 24 Pebruari 2006. “Soeharto Perlu Juga Diadili dalam Kasus Pelanggaran HAM” Selasa. “Buntut Teror Gerombolan Islam Radikal: Lawan Preman Berjubah” Selasa. 14 Pebruari 2003 16:22. 25 Mei 2006 10:26. Rabu. 4 • Th. “Dievakuasi Jemaat Ahmadiyah Dilempari Batu & Kayu” Jumat.net.

12 Mei 2006. 1 Meninggal. “Banyak UU Tanpa Kajian: Tidak Ada Desain Besar Legislasi Nasional. “Gus Dur Meminta Masjid Milik Ahmadiyah Dibuka” Jumat. 20 Mei 2006 22:31:32. “Kerangka Acuan Perencanaan Strategis Impunitas. 17 Oktober 2005 – 09:46. Kompas Cyber Media. “Pernyataan PBHI Jawa Barat: Protes atas INDO POS Online. 16 Mei 2006. 13 Apr 2006. Kompas. 8 Juni 2005. “Massa FPI Rusak kantor Playboy” Kamis. Kompas. “Bagir Manan Perpanjang Usia Pensiun Dirinya: Disebutkan. “Bagir Manan: Tak Ada Alasan untuk Mundur” Rabu. 1 Oktober 2005. “RUU Pemerintahan Aceh: Diusulkan Polisi dan Jaksa Khusus Syariat” Jumat.com.com. “Penembokan Sekolah Sang Timur. 29 September 2005 Hukumonline. Kapanlagi. 21 September 2005. Kompas. 08:38 WIB. 11 Maret 2003.” Bandung. 21:12 WIB.org. 37 Luka Tembak” Selasa. Kompas. “Diskusi Korban Kekerasan Perempuan Tahun 1965 Dibubarkan” Sabtu. 5 Agustus 2005 15:31.htm. 16:26 WIB. Hikmahanto. 64 JURNAL HAM • Vol. “Bagir Manan Merasa Difitnah. 13 Oktober 2005. 05 Agustus 2005. Kompas Cyber Media.indomedia.http://www. 13:29 WIB. jakarta. 24 Juni 2000.com. Kompas. “FPI Sweeping Tempat Maksiat” Senin. Kompas Cyber Media. 24 April 2004. 8 Mei 2006. Kompas.com/bpost/072005/16/ nusantara/nusa1. 16 Juli 2005. Pendidikan Jangan Jadi Korban” Sabtu. “Gus Dur Meminta Walikota Tangerang Memberikan Izin Membangun Gereja. “LSM HAM Tolak Hukuman Mati” Kamis. 12 Oktober 2005.” Selasa. 26 Mei 2006. “Markas Ahmadiyah Diserbu Massa” Jumat. Kompas. “FPI Rusak Kantor Komnas HAM dan Kafe Jimbani” Sabtu.” lokakarya yang diselenggarakan PBHI dan HOM pada 29-30 Mei 2006 di Cipayung. “Komnas HAM Sesalkan Larangan Seminar” Selasa. dan Komnas Perempuan. 06 April 2006. Kompas Cyber Media. 24 Mei 2006. 9 Oktober 2004 8:45:00 WIB. Dengan Reservasi pada Hak Menentukan Nasib Sendiri” Sabtu. Banyak yang Tumpang Tindih” Senin. “Pelaksanaan Otonomi Daerah Kebablasan” Sabtu. 22 Mei 2006. Bogor.com. 20 September 2005. Tolak Usulan untuk Non-aktif” Kamis. “Ratifikasi Dua Kovenan Internasional Dinilai Setengah Hati” Kamis. Kompas. “Konsekuensi Ratifikasi ICCPR” Kompas. “Bagir Manan Siap Pensiun Tahun 2008” Selasa.” Kamis. 28 Oktober 2004 10:00:03. 4 • Th. “Penyerangan Tempo : Aparat Dikangkangi Premanisme” Selasa. “GARIS Bertanggung Jawab Atas Serangan Perkampungan JAI” Rabu. “Kantor PBHI Jabar Didatangi Massa. 6 April 2006. “Pemerintahan Daerah: 393 Perda Bermasalah Akan Dibatalkan” Kamis. INCRESS. 20 Januari 2006. Syarikat Indonesia. “Tokoh Antaragama Kutuk Penyerangan Jemaat Ahmadiyah” Sabtu. 15:03 WIB. Liputan6. Koran Tempo. 2007 . “Pemerintah Dikritik Tak Tegas. Kompas. 15 Jul 2005 13:11:12. 14 Februari 2006. Hukumonline. 18:05 WIB. Juwana. Kaltim Post. 12:09 WIB. Tunggakan Perkara di MA Masih Banyak” Jumat. Kompas. Aksi Kekerasan dan Perusakan Terus Dibiarkan” Jumat. dan “Istri Gus Dur Dilaporkan FBR ke Polda” Rabu.com. “Konflik MA-KY Hanya Untungkan Mafia Peradilan” Selasa. 12:54am. Kompas Cyber Media. kristianipos. Kompas Cyber Media. 02 Mei 2006. Kompas Cyber Media. 26 Juni 2001. KabarBaru. “72 Anggota Ahmadiyah Nyatakan Keluar” 2 Agustus 2005 kristianipos. “Jemaah Ahmadiyah Kuningan Bantah Ada Bentrokan” Jumat. Kompas. Pembubaran Paksa Pertemuan di Wisma Brantas Bandung. “Dua Kovenan HAM Diratifikasi. Rabu. “Polisi bubarkan Rapat Umum Petani.indymedia.

Pikiran Rakyat. “MUI Tetapkan 11 Fatwa. “Peristiwa 12 Februari dan Kekerasan Polisi” dalam Hendardi. 9 Juli 2005 18:04. 26 Mei 2006. “Massa FPI-FBR Bersiap Menghadapi Serbuan Garda Bangsa” Jumat.”. “Sejumlah Sarana Ibadah Ahmadiyah di Kuningan Disegel” Jumat. “Presiden Lantik Bagir Manan Sebagai Ketua MA” Kamis. 25 Juli 2005. Distia Aviandari dan Suryadi Radjab. “FUI Wil.com. “Pernyataan Forum Komunikasi Kristiani Indonesia Jawa Barat tentang Penutupan Kegiatan Ibadah Kristen di Perumnas Bumi Rancaekek Kencana.com. “Massa Bubarkan Pertemuan Perempuan Eks Napi PKI. Rakyat Merdeka. 04:18:30 WIB. Pikiran Rakyat. Metrotvnews. Radjab. 2005. Pikiran Rakyat. The Scope of Impunity in Indonesia (draft). “Rumah Ketua Ahmadiyah Kab. 9 Agustus 2005. 24 Mei 2006. Cirebon Sesalkan Sikap LSM Fahmina” Jumat. 18:18:45 WIB. 26 Mei 2006. Gus dur Tuding Gerakan Ormas Islam Ada yang Mendanai” Rabu. Media Indonesia Online. Liputan6. 26 Mei 2006.com. “Kampus Ahmadiyah Dikepung Massa” Jumat. “Dua Kelompok Massa Islam Bentrok” Sabtu. Senin.com. 22 Mei 2006. 18 Juli 2005 19:26 WIB. Rahardjo. 18 Mei 2006 14:52 WIB. 26 Januari 2005. JURNAL HAM • Vol. Decky Natalis. 14 Maret 2003. Utrecht: The Netherlands Humanist Committee on Human Rights. Kejengkelan terhadap Ketidakpastian Sikap Pemerintah” Selasa. Aktivis dan Artis Diteror” Jumat. Liputan6. 31 Agustus 2005 15:00. 25 Mei 2006. “Pemerintah Tetap Larang Ajaran Ahmadiyah” Rabu.php?page= article&id=850. Media Indonesia Online. Metrotvnews. 25 Mei 2006 05:59.com. “Dialog Lintas Etnis Nyaris Rusuh: Gus dur Tuding Gerakan Ormas Islam Ada yang Mendanai” Rabu. “Diakui Sebagai Tindakan Konkret Berantas Pekat. Pikiran Rakyat. Pigay. Warga Bentrok dengan Pengikut Ahmadiyah” Minggu. 22 Mei 2006. 25 Mei 2006 01:54. “Azyumardi Azra Menuntut Pengusir Gus Dur Diusut” Kamis. Massa FPI Purwakarta Razia Miras dan PSK” Sabtu. 18 Jul 2005 19:49:51. Media Indonesia Online. 65 . Buntut Acara Dialog Lintas Etnis dan Agama” Jumat. Bandung: PBHI Jawa Barat. “Teror atas Ahmadiyah dan Problem Kebebasan Beragama” dalam http://islamlib. “Polisi Membubarkan Paksa Demonstrasi di DPRD Bengkulu” Rabu. 2 Agustus 2005. “NU Tuntut FPI Minta Maaf. Liputan6. 20 Juli 2005 08:02 WIB. 10 Juli 2005. Dawam. Senin. Pikiran Rakyat. Rakyat Merdeka.com. Rakyat Merdeka “Bangkitkan Semangat “PKI”.”. “Warga Ahmadiyah NTB Mengucapkan Syahadat” Rabu. “Polisi Tembak Buronan Pencuri Sarang Walet” Rabu. 28 April 2006 17:05. Haram Hukumnya Perdukunan dan Peramalan” Kamis. Suryadi. Pikiran Rakyat. Martha. Metrotvnews. 4 • Th.” Bandung. Muspida Garut Sepakat Melarang Ahmadiyah” Selasa.com. 2006. Hak Manusia dan Polisi. 29 Juli 2005 20:00. Polisi Bengong” Jumat. Liputan6. Pikiran Rakyat.com. “Massa Pencinta Gus Dur Berdemonstrasi” Kamis. 22 Februari 2006 23:50. Garut Diamuk Massa. Jum’at. “Fatwa MUI Dituding Melegitimasi Penyerangan Terhadap Ahmadiyah” Senin. “Aksi Premanisme terhadap Pers” dalam Sinar Harapan. Ormas Islam Buat Pernyataan. 2007 Pikiran Rakyat. “FPI Segel Fahmina Institute Cirebon. Media Indonesia Online. Media Indonesia Online. Meijer. 26 Mei 2006.com. “Massa Gabungan Ormas ‘Sweeping’ Toko Miras” Senin. “Menolak RUU APP. M. Pikiran Rakyat. 4 Oktober 2004. 29 Oktober 2005. 15 Juli 2005 20:20. “Saat Mencoba Membubarkan Pertemuan di Kemang. 28 Juli 2005 20:26 WIB. Seminar Incres Dibubarkan. 24 Mei 2006. Pikiran Rakyat.Liputan6.com/id/index. “Gus Dur vs Ormas Radikal: Polisi Minta Semua Pihak Menahan Diri” Kamis. Liputan6. 19:16:05 WIB. “Kejaksaan Telah Mendata Asetnya. “Dialog Lintas Etnis Nyaris Rusuh.

22 Mei 2006. “Syariat Islam. Polisi Biarkan FPI Bertindak Anarkis” Rabu.“Hampir 30 Persen UU Bertentangan dengan Konstitusi” Jumat. “Bagir Terpilih.“Polisi Tembak Buron Pelaku Curas” Kamis. 2 Juni 2006. “Saat Pidato. Rakyat Merdeka.com. 14:14:51 WIB Rakyat Merdeka.” Sabtu. 28 Oktober 2005. 22 Mei 2006. Sinar Harapan. Sinar Harapan. 17:57:46 WIB. Republika Online “Komnas Perempuan akan Minta Klarifikasi Kapolri. “Gus Dur: Hentikan Aksi Penutupan Gereja” Selasa. 10 Maret 2006. 11:36:46 WIB.“Ruang Kerja Bagir Digeledah. “Aliansi Masyarakat AntiKekerasan Luruk Markas FPI Besok Siang” Kamis. “Polisi Tembak Mati Perampas Motor” Sabtu. “Sejumlah Ormas Islam Tutup Gereja Ilegal” Senin. 6 Pebruari 2004. 10:03:13 WIB. 2007 . “Camat Dayeuhkolot Tutup Gereja Ilegal” Selasa. 25 Mei 2006. Riau Pos Online. Suara Pembaruan. 27 Mei 2006. 15 Agustus 2005. Terkait Pemukulan Kontributor TV” 26 April 2006. 26 Mei 2006. Jumat. 30 Maret 2006.” n. Suara Pembaruan. 24 Mei 2006. “Indonesia Ratifikasi Kovenan Hak-hak Sipil dan Politik” Sabtu. Rakyat Merdeka. TEMPO Interaktif. “Siaran Pers PBHI Jawa Barat tentang Pengusiran Gus Dur dan Intimidasi Kegiatan Forum Dialog Lintas Agama di Purwakarta. “PBHI Desak Kapolri Usut Kasus Kekerasan di Garut”. 15:48:40 WIB. Suaedy. 2 Juni 2006 | 13:05:43 WIB. Republika. “Kapolri Harus Klarifikasi Pembubaran Kegiatan Mantan Tapol PKI. 22 Mei 2006 19:19:00. Suara Pembaruan. 24 Mei 2006. 2 Oktober 2003.”. Sinar Harapan. Senin. “Disesalkan. 23 Agustus 2005. SeKetika. 1 Oktober 2003. Rakyat Merdeka.. Sinar Harapan. Sabtu. Gus Dur Diserang Massa FPI dan HTI” Kamis. “Garda Bangsa Minta Habib Rizieq Ditangkap” Jumat. “Empat LSM Desak Moratorium Hukuman Mati Tibo Cs. “SBY-JK Didesak Bubarkan FPI” Rabu. 26 Mei 2006. Selasa. 24 Mei 2006. “Kasus Wamena Tunjukkan Lemahnya Perlindungan HAM di Papua” Senin. TEMPO Interaktif. Suara Pembaruan. “Fatwa-fatwa Haram Ala MUI” Jum’at. 28 Oktober 2005.” Kamis. 25 Mei 2006. Republika. 22 November 2003. “Massa Datangi Kontras dan PBHI” Jumat. Bagir Ditolak” Jumat. 25 Oktober 2004 | 11:52 WIB. TEMPO Interaktif. “Majelis Hakim Masih Musyawarah Bahas Soal Bagir Manan” Rabu.net. “Liku-liku Percaloan dan Mafia Peradilan di Indonesia” Sabtu.Rakyat Merdeka. 12:16:50 WIB. Sinar Harapan. “5000 Orang Akan Demonstrasi Tolak RUU Anti Pornografi” Rabu. 10 Mei 2006. “Syariat Islam dalam KUHP Bermuatan Politis” Kamis. TEMPO Interaktif. “Polisi Tembak Penjahat Kambuhan” Rabu. “GP Ansor Minta Ormas Liar Dibubarkan” Jumat. 1 Oktober 2005. “Yusril Bantah Revisi KUHP Mengadopsi Syariat Islam” Rabu. “Wartawan Surabaya Demo UPN Veteran. Riau Pos Online. 29 Juli 2005 | 06:38 WIB. 23 Agustus 2005. Republika Online. “Gus Dur Perintahkan Banser untuk Menjaga Sang Timur” Senin. 30 Juni 2004. 27 Mei 2006. “Preman Berjubah itu” dalam gusdur. Sriwijaya Post Online.“Muladi: Perpanjangan Pensiun Bagir Manan Keliru” Jumat. TEMPO Interaktif. Sinar Harapan. “Direktur ICIP Syafii Anwar: Perda Syariat Bisa Picu Disintegrasi” Senin. 17:24:23 WIB. 4 • Th. dari Desa Mengepung Kota” Senin. 10 Mei 2006 | 13:04 WIB. Rakyat Merdeka. Republika. 8 Oktober 2005. 25 Mei 2006 10:02:05. Sinar Harapan. Suara Pembaruan. Rapim darurat digelar saat penggeledahan berlangsung” Jumat. 23 Mei 2006. Rakyat Merdeka. TEMPO Interaktif. 66 JURNAL HAM • Vol. “Banteng Jakarta Dukung Gus Dur Hadapi FPI Cs. 10 Maret 2006. Ahmad. Suara Pembaruan. 23 Juni 2003. “KPK Terlambat Geledah Ruang Ketua MA” Jumat.” Bandung.

“Hak-hak Manusia: Menjernihkan Berbagai Konsep Dasar” makalah yang disampaikan dalam Pelatihan Investigasi yang diselenggarakan PBHI (Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia) pada 27-30 Desember 2005 di Megamendung Permai. 20 Juli 2005. Anggota Pansus RUU APP DPR FPKS: RUU APP Lindungi Kaum Perempuan” Jumat. Megamendung. 4 • Th. JURNAL HAM • Vol. “Keluarga Ahmadiyah Bulukumba Mengungsi” Sabtu. “LSM Fahmina Diserbu Massa Pendukung RUU APP” Senin. TEMPO Interaktif. “Masyarakat Kemang Kutuk Aksi FPI. 9:07 WIB. 27 Januari 2006 19:11:53. Dianggap Tolak RUU APP” Senin. 22 Mei 2006. Bogor. “Tujuh Anggota FBR Divonis Enam Bulan” 31 Maret 2003. Abdurrahman. TEMPO Interaktif. 02 Juli 2002.” Sabtu. Hongkong. TEMPO Interaktif. TEMPO Interaktif. www. TEMPO Interaktif. Polisi Hajar Wartawan.id. 25 Oktober 2004 | 10:09 WIB. 20 Desember 2005 | 00:20 WIB. TEMPO Interaktif. 19 Maret 2004.” dalam gusdur. 18 Februari 2006. Lima Luka-luka” Senin. “FPI Akan Terus Sweeping Tempat Hiburan” Kamis. “Tawuran FBR-Benteng Banten. “Massa Segel Kantor LSM.fpks-dpr. 22 Mei 2006. “Mafia Peradilan Di Manamana”. 17 Februari 2006. wahidinstitute. “Ahmadiyah Bulukumba Diancam Demo Besar-besaran” Jumat. “Pernyataan Asian Human Rights Commission: Ratifikasi Instrumen Utama Hak Manusia Harus Ditindaklanjuti dengan Reformasi Hukum”.net. Senin. 14 Maret 2006. 04 April 2005 | 14:01 WIB. “Tembok Sang Timur Dirobohkan” Senin.ahrchk. 3 Oktober 2003. TEMPO Interaktif. 10 Pebruari 2005 | 17:27 WIB. “Preman Pukul Wartawan dan Rusak Kantor Indopos” Selasa. “Polisi Nias Gelar Perkaranya Hilangnya Wartawan Berita Sore” Kamis. Tribun Timur. Wibowo. Warta Kota. “Puluhan Orang Berseragam FBR Keroyok Pedagang Pasar Senen” Kamis. 23 Oktober 2004 | 00:00 WIB. “Wartawan TEMPO Dipukul” Jumat. TEMPO Interaktif. 17 November 2005 | 01:07 WIB. TEMPO Interaktif. “Polres Jakarta Timur ‘Diserbu’ FBR” Jumat. Wahid. Tribun Jabar. Waspada Online. “Hilman Rosyad Syihab.or. www. 2007 67 .TEMPO Interaktif. “Wardah Hafidz Kecewa dengan Putusan Hakim” Senin.net. 1 Muntah Darah” Selasa. Harry. 23 Januari 2006 22:30 WIB. 4 Luka-luka. “Negara Hukum Ataukah Kekuasaan.org. Rabu. 28 Oktober 2004 | 19:45 WIB. Tribun Timur. “Pada HUT-nya Ke-56. 31 Maret 2003. TEMPO Interaktif.

Kiyoteru Tsutsui menerima dukungan yang besar dari Stony Brook University. Diciptakan setelah kehancuran yang disebabkan oleh Perang Dunia II. dan khususnya kepada John Meyer dan Francisco Ramirez (dan juga peserta Global Research Seminar di Stony Brook University) atas komentar-komentar mereka yang penuh pemahaman. Emilie Hafner-Burton juga menerima dukungan yang besar dari National Science Foundation (SES 0135422).2 Namun. Nuffield College. sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara-negara anggotanya untuk pertama kalinya membangun suatu dasar bagi upaya bersama untuk melindungi hak asasi manusia semua orang.edu. JURNAL HAM • Vol. organisasi internasional. adopsi Piagam PBB 1945 dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia tiga tahun kemudian membuka suatu jendela kesempatan bagi berbagai negara. Sebelum Perang Dunia II. 2007 68 .Hak Asasi Manusia di Dunia yang Terglobalisasi: Paradoks Janji-janji Kosong1 Emilie M. but (2) the emergent global legitimacy of human rights exerts independent global civil society effects that improve states’ actual human rights practices. Their core arguments are that the global institutionalization of human rights has created an international context in which (1) governments often ratify human rights treaties as a matter of window dressing.hafner-burton@nuffield.ac. The authors’ statistical analyses on a comprehensive sample of government repression from 1976 to 1999 find support for their argument. Oxford OXI 1 NF. upayaupaya tersebut telah terakumulasi dalam pembentukan dan perluasan suatu sistem hukum internasional mendunia yang dirancang untuk mengidentifikasi dan melin1 Para penulis membagi tanggung jawab yang sama dalam pekerjaan ini. Oxford. 4 • Th. nama mereka diurut berdasarkan abjad. PENDAHULUAN Perlindungan hak asasi manusia yang mendasar adalah tujuan yang paling mendesak tetapi paling sulit dicapai oleh masyarakat internasional. Stony Brook Abstract The authors examine the impact of the international human rights regime on governments’ human rights practices.Oxford University Kiyoteru Tsutsui . Inggris. radically decoupling policy from practice and at times exacerbating negative human rights practices.ox. They propose an explanation that highlights a “paradox of empty promises”.State University of New York. dan Nuffield College. hukum internasional yang melindungi hak asasi manusia sangat jarang ada. Negara-negara membatasi kewajiban hukum internasional dengan menyatakan keinginan untuk membatasi kewajibannya berdasarkan sejumlah perjanjian dan konvensi. Proyek ini didukung oleh bantuan dana dari National Science Foundation (SES 2CDZ414) dan Bechtel Center di Stanford’s Institute for International Studies. Universitas Oxford. Para penulis sangat berterima kasih kepada para peserta Comparative Workshop di Stanford University. Stanford’s Center for Security and Cooperation. Hafner-Burton . 2 Contoh-contoh mencakup pelarangan formal terhadap perdagangan budak oleh Perjanjian Wina (1815) dan General Act of Brussel.cc.sunysb. Saat ini. dan aktor masyarakat serta aktor organisasi sipil untuk menempatkan hak asasi manusia dalam agenda hukum internasional. Korespondensi langsung kepada Emilie Hafter-Burton. New Road. E-mail: Emilie.uk atau Kiyoteru Tsutsui di ktsutsui@notes.

Dengan bertambah banyaknya bangsa yang secara sukarela mengikat diri pada rejim internasional ini. serta penahanan karena pandangan politik. Pada 1994. suatu masa di mana Pemerintah Guatemala dilaporkan telah melakukan pemenjaraan. memperluas komitmennya untuk melindungi semua warga negaranya dari pelanggaran atas hak sipil. pada tahun yang sama Amnesty International juga melaporkan bahwa tindakan represif telah menjadi begitu ekstrim. untuk menjamin kebebasan dari penyiksaan dan perlindungan terhadap kelompok ras minoritas dan anak-anak. Perjanjian-perjanjian ini menyediakan berbagai lembaga pengawasan yang bekerja untuk memperbaiki praktik-praktik pemerintah dalam bidangbidang hak asasi manusia tertentu melalui pengumpulan dan diseminasi informasi. rejim tersebut juga memperluas dirinya untuk mengikutsertakan hak-hak asasi manusia utama yang baru (lihat tabel 1). perempuan. Diagram 1 membandingkan prosentase perjanjian hak asasi manusia internasional yang ada saat ini yang rata-rata telah diratifikasi oleh negara-negara dengan prosentase negara-negara yang dilaporkan bersifat refresif dalam jangka waktu tertentu. 4 • Th. pemerintah telah meratifikasi lima dari enam perjanjian inti yang melindungi hak asasi manusia. Jelas terlihat bahwa (1) rata-rata terjadi peningkatan prosentase negara yang telah meratifikasi sejumlah perjanjian hak asasi manusia. dan budaya. Ada banyak contoh. Namun. penghukuman mati. Meningkatnya kesenjangan antara keinginan negara untuk bergabung dalam rejim hak asasi manusia internasional dan untuk JURNAL HAM • Vol. dan tersebar-luas (Amnesty International. Contoh lain yang relevan adalah Irak. Menjelang 1992. ekonomi. pelanggaran hak asasi manusia di Irak adalah suatu hal yang umum terjadi. di mana pelanggaran hak asasi manusia mencapai puncaknya pada 1994 dan 1995.dungi sejumlah hak asasi manusia mendasar yang terus bertambah. 1994). Bagi banyak ilmuwan dan aktivis. pelanggaran hak asasi manusia oleh pemerintah bersifat epidemis. walaupun pertambahan jumlah tersebut mulai berkurang selama beberapa tahun belakangan ini.3 Dengan demikian. sosial. 2007 membawa praktik hak asasi manusianya agar sesuai dengan rejim tersebut. Kebanyakan negara sekarang mengikat dirinya pada suatu rejim internasional yang dirancang untuk melindungi hak-hak mendasar setiap anak. Sebagai yang pertama. dan seringkali melalui kerja sama dengan aktivis nonpemerintah. menantang efektivitas hukum internasional dan menimbulkan pertanyaan akan keabsahan komitmen hukum negara-negara untuk melindungi kehidupan warga negaranya. sementara (2) prosentase negara-negara yang dilaporkan melanggar hak asasi manusia juga bertambah dari waktu ke waktu. komitmen hukum dari negara-negara untuk melindungi hak asasi manusia yang terus meningkat menandakan adanya suatu pergeseran yang fundamental dalam struktur masyarakat internasional. Pemerintah Guatemala telah meratifikasi seluruh enam perjanjian penting hak asasi manusia (lihat tabel 1). politik. Guatemala meratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional guna melindungi perempuan dari diskriminasi pada 1982. Ketika pemerintah Irak meratifikasi perjanjian internasional pertamanya pada 1970 serta berkomitmen terhadap penghapusan segala bentuk diskriminasi rasial. praktik-praktik hak asasi manusia tetap tidak berubah. Namun. apa gunanya perjanjian internasional hak asasi manusia ketika perjanjian tersebut tidak dapat memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia? 3 Irak belum meratifikasi atau menandatangani CAT. 69 . dan pembunuhan politik secara meluas. dan laki-laki melalui hukum. Namun. sistematis.

2007 . 1979).Pihak* kukan 1965 1969 157 Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala bentuk Diskriminasi Rasial Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Sosial. Banyak ilmuwan hukum internasional dan konstrukvisionis hubungan internasional justru sangat menentang hal-hal di atas: negara-negara pada dasarnya berusaha untuk menaati prinsip-prinsip hukum internasional yang mereka dukung (Henkin. Hal tersebut juga berlaku untuk rejim hak asasi manusia internasional. Rocke. * Per tahun 2001 Para ilmuwan hubungan internasional. dan Budaya Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan Konvensi Menentang Penyiksaan dan Segala Bentuk Perlakuan atau Penghukuman yang Kejam. – Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa 2001. 4 • Th. Sosial. Tidak Manusiawi. Perjanjian-perjanjian pada dasarnya tidak dirancang untuk membuat pemerintah-pemerintah yang meratifikasinya dapat dimintai pertanggungjawaban atas komitmen mereka. khususnya yang mengembangkan tradisi realisme dan neoliberalisme. mereka mengasumsikan bahwa negara-negara hanya taat pada prinsip-prinsip hukum internasional ketika hal tersebut sesuai dengan kepentingan nasional mereka dan ketika ada institusi-institusi internasional yang dibentuk untuk menegakkan ketaatan terhadap hukum (Downs. dan Barsoom 1996). telah memperkirakan kesenjangan antara komitmen negara-negara terhadap hukum internasional dengan praktik negara-negara tersebut. tradisi rasionalis telah membuat para ilmuwan menganggap bahwa rejim hak asasi manusia hanya berdampak sedikit pada praktik hak asasi manusia secara nyata. atau. Organisasi internasional dan aktor-aktor nonpemerintah dapat mengajarkan dan mensosialisasikan kepada para pemimpin pemerintahan agar mengadopsi praktik- 70 JURNAL HAM • Vol. dan Budaya Komite Hak Asasi Manusia Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan Komite Menentang Penyiksaan ICESCR ICCPR CEDAW 1966 1966 1979 1976 1976 1981 144 147 167 CAT 1984 1987 124 CRC Komite Hak Anak 1989 1990 191 SUMBER. Pendeknya. Pengarusutamaan perspektif hubungan internasional ini seringkali menganggap bahwa perkembangan proses legalisasi prinsipprinsip hak asasi manusia sebagai suatu epiphenomenal [suatu fenomena yang muncul sebagai akibat dari suatu hal yang lain] (Mearsheimer 1994/1995). dan Merendahkan Martabat Manusia Konvensi tentang Hak Anak Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial Komite Hak Ekonomi.Tabel 1 PERJANJIAN HAK ASASI MANUSIA INTERNASIONAL Perjanjian CERD Nama Badan Pengawas Tahun Tahun Negara diadopsi diberla.

Misalnya. 2007 Persoalan dalam penelitian ini sangatlah jelas: sudut pandang teoritis mengarah pada kedua pandangan tersebut. praktik baru (Finnemore 1966a). Lutz dan Sikkink 2000. Kemudian. 4 • Th. ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional mengarah pada pengurangan hambatan legal bagi orang-orang Korea di Jepang (Iwasawa 1986). Perhatian terhadap dampak langsung dari ratifikasi perjanjian formal telah mengarah pada kekhawatiran yang pesimis pada kesenjangan yang ada antara ratifikasi dan praktikpraktik domestik. dan jarang ada bukti empiris yang sistematis untuk mendukung kedua pandangan tersebut. menunjukkan bahwa institusionalisasi hak asasi manusia secara global memiliki dampak langsung dan positif terhadap praktikpraktik negara. kecenderungan untuk mengisolasi kedua aspek utama dari proses penaatan telah membuat para ilmuwan gagal melihat gambaran yang lebih besar. 2. Cerita-cerita seperti di atas. dan Sikkink 1999. dan Konvensi Menentang Penyiksaan telah mengubah cara yang digunakan oleh Pemerintah Israel dalam menginterogasi orang-orang yang dicurigai sebagai teroris (Ron 1997). % represif (repressive) mengukur prosentase negara-negara yang dilaporkan melanggar hak asasi manusia pada periode tersebut. yang banyak terdapat di berbagai literatur (Risse. Kepercayaan bahwa advokasi masyarakat sipil internasional dapat mendorong praktik-praktik yang lebih baik telah mengarah pada kepedulian yang lebih optimis ketimbang sifat dari kegiatan itu sendiri. 103-110).–% perjanjian yang diratifikasi (treaties ratified) mengukur prosentase perjanjianperjanjian internasional hak asasi manusia yang tersedia yang telah diratifikasi oleh negara pada periode tersebut. JURNAL HAM • Vol.Diagram 1. atau 3 dari ukuran standar represif kami yang dijelaskan secara lengkap pada bagian data dari tulisan ini. hal. Ratifikasi perjanjian hak asasi manusia versus praktik hak asasi manusia pada periode 1976 sampai 1998. Data ratifikasi dijelaskan secara detil pada bagian data dari tulisan ini. Kami mendefinisikan suatu pelaku tindakan represif sebagai negara mana pun yang memiliki nilai 1. 71 . Ropp. Clarck 2001). tekanan internasional turut menyumbang pada penurunan tingkat kasus penghilangan paksa di Argentina (Keck dan Sikkink 1998.

Argumentasi utama kami adalah bahwa institusionalisasi hak asasi manusia secara global telah menjadi pedang yang memiliki dua ujung. kami meninjau nilai-nilai empiris dari argumentasi 4 Dalam kajian ini. tetapi tidak hanya terbatas pada. yang kemudian menawarkan insentif yang kuat untuk meratifikasi perjanjian internasional kepada pemerintah-pemerintah hanya untuk menciptakan image publik yang penuh kepura-puraan (window dressing) ketimbang sebagai suatu komitmen yang serius untuk melaksanakan praktik penghormatan terhadap hak asasi manusia. kami akan menjelaskan tentang pendekatan teoritis dalam konteks perspektif saat ini yang menggambarkan tentang represi pemerintah atas hak asasi manusia. namun aktor-aktor nonnegara dapat mengambil keuntungan dengan menggunakan tekanan pada pemerintah dan menghasilkan perubahan politik. JURNAL HAM • Vol.5 Di bagian berikutnya. maka komitmen institusional yang “kosong” atas rejim yang lemah tersebut justru terlihat ironis. dan rejim hukum hak asasi manusia tetap tidak memiliki kekuasaan lebih untuk menghentikan hal tersebut. perjanjian internasional ini terkadang digunakan oleh pemerintah sebagai tameng atas perilaku yang semakin represif karena ratifikasi perjanjian tersebut memberikan suatu legitimasi hak asasi manusia yang justru mempersulit pihak-pihak lain untuk melakukan penekanan agar pemerintah-pemerintah semacam itu mau melakukan tindakan yang lebih baik. Di satu sisi. 4 • Th. Dengan demikian. kami menjelaskan dampak perjanjian hak asasi manusia sebagai suatu “paradoks janji-janji kosong”.Kami menarik pandangan-pandangan dari rasional institusionalisme dalam hubungan internasional dan pendekatan masyarakat dunia dalam sosiologi untuk menjelaskan temuan-temuan yang kelihatannya saling bertentangan serta untuk merekonsiliasi kedua prediksi yang bertentangan tersebut. yang mengatur semakin meningkatnya legitimasi hak asasi manusia sebagai norma global perilaku negara yang selayaknya dalam rangka menekan negara-negara untuk memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusianya. maka pemerintah seringkali menjadi lebih represif setelah melakukan ratifikasi. kami menggunakan istilah “insti- tusi” untuk merujuk pada pengharapan normatif yang luas. dalam hal rejim tersebut memberikan kekuatan bagi advokasi aktor-aktor nonnegara melalui alat-alat untuk menekan pemerintah-pemerintah agar menaati perjanjian-perjanjian tersebut. Kajian tersebut memeriksa dampak Helsinki Final Act 1975 pada perkembangan politik setelahnya di negara-negara sosialis dengan menggunakan teknik kualitatif dan menyatakan bahwa partisipasi pemerintah dalam perjanjian hak asasi manusia internasional cenderung merupakan komitmen yang “kosong”.4 Sebagai akibatnya. hak asasi manusia yang diadvokasi secara regular justru bergerak di seputar perjanjian-perjanjian tersebut. Ketika tekanan dari pihak luar menurun. istilah “institusi” mencakup. pendekatan kami menjadi bertentangan dengan pandangan-pandangan teoritis saat ini. Kemudian. Ketika negara bangsa membuat komitmen legal formal untuk menjadikan penaatan terhadap hak asasi manusia sebagai suatu simbol sementara mereka justru melakukan pelanggaran hak asasi manusia. dan praktik-praktik yang dikembangkan di seputar struktur organisasional dan hukum internasional (March dan Olsen 1998). Oleh karenanya. 2007 72 . Di sisi lain. Kemudian. aturan. 5 Hasil pekerjaan terbaru Daniel Thomas (2001) merupakan sesuatu yang khusus dan menawarkan argumentasi yang hampir sama. setelah diratifikasi. yang tidak satu pun menjelaskan tentang kedua proses tersebut dalam satu model yang sama dan oleh karenanya gagal untuk menjelaskan dampak yang bersifat bertentangan dari institusi-institusi hak asasi manusia global atas praktik-praktik lokal. perjanjian-perjanjian internasional. perjanjian hak asasi manusia internasional memang memiliki suatu mekanisme institusional yang lemah untuk memonitor dan menegakkan norma-norma rejim.

penyiksaan. yaitu mulai periode 1976 sampai 1999. dan posisi tawar-menawar di tingkat JURNAL HAM • Vol. atau perlakuan atau penghukuman yang kejam. hukum internasional adalah bersifat epiphenomenal [suatu fenomena yang muncul sebagai akibat dari suatu hal yang lain] bagi kekuasaan negara: sehingga tunduknya negara pada kewajiban hukum mereka untuk melindungi hak asasi manusia hanya merupakan suatu kebetulan belaka.7 TEORI-TEORI Dibagian ini kami membandingkan perspektif-perspektif teoritis yang saling bertentangan mengenai ketaatan terhadap hukum internasional. Kami mendiskusikan bagaimana pendekatan kami dapat menjelaskan dinamika ketaatan terhadap perjanjian-perjanjian hak asasi manusia internasional yang diinterpretasikan dengan dua cara (bersifat double-edge) dengan lebih baik. dan kepentingan ini ditentukan oleh struktur kekuasaan dalam sistem internasional (Waltz 1979). lihat HafnerBurton (2005). Perjanjian hak asasi manusia internasional hanyalah sekedar sarana yang diciptakan oleh negara-negara liberal yang berkuasa untuk memajukan kepentingan mereka. dan bebas dari pelanggaran lain yang disengaja atas hak untuk hidup dan kebebasan seseorang. Perilaku negara dimotivasi oleh kepentingan-pribadi mereka. terutama ketika perjanjian ini tidak memiliki mekanisme penegakan (HafnerBurton dalam cetakan). kami menekankan pada bagaimana kekuatan global telah membentuk perilaku represif pemerintah pada hak asasi manusia yang paling mendasar: yaitu hak atas keamanan. dengan argumentasi bahwa pemerintah tunduk pada hukum internasional hanya ketika hukum tersebut sesuai dengan kepentingan nasionalnya. (2001) memeriksa dampak masuknya ekonomi asing pada perilaku represif pemerintah dengan menggunakan sample 43 negara-bangsa dalam jangka waktu 1981–1995. tidak manusiawi.kami dengan menggunakan analisa periode waktu praktik hak asasi manusia dengan jangka waktu panjang yang berbeda dari pekerjaan-pekerjaan yang pernah dilakukan sebelumnya. 73 . Richards dkk. Untuk lebih lanjutnya. dan kami meninjau kontribusi kajian empiris lintas-negara yang ada tentang hak asasi manusia untuk mengidentifikasikan variabel kontrol bagi analisa empiris kami. Kemudian. dan hanya ada sedikit harapan bahwa perjanjian ini dapat mengubah perilaku negara. 7 Kami menekankan pada hak-hak ini karena hakhak ini sangat mendasar bagi martabat manusia – hak untuk bebas dari pembunuhan. Bagi yang lain. Teori-teori tentang Ketaatan secara Umum dalam Hubungan Internasional dan Hukum Internasional Pertanyaan tentang apakah hukum hak asasi manusia internasional mempengaruhi praktik hak asasi manusia pemerintah mengandung suatu pertanyaan politik yang lebih dalam mengenai ketaatan negara terhadap rejim hak asasi manusia internasional. Bagi beberapa negara. 4 • Th. Untuk pertama kalinya. rejim hukum internasional dapat mempengaruhi perilaku negara dalam beberapa hal penting: rejim memfasilitasi kerja sama antar negara-negara berdaulat dengan meyediakan suatu mekanisme koordinasi dan mekanisme komitmen yang mengidentifikasi kewajiban negara 6 Kami mencatat bahwa beberapa kajian terbaru mencakup data di masa pasca Perang Dingin. atau merendahkan martabat manusia. 2007 domestik. Misalnya. Kebanyakan ilmuwan politik menekankan pada peran negara.6 Secara menyeluruh. kepentingan nasional. data kami memungkinkan dilakukan penyelidikan yang menyeluruh atas politik hak asasi manusia di negara-negara pasca Perang Dingin dan adanya dasar untuk analisa komparatif terhadap perilaku represi pemerintah di berbagai masa. Apodaca (2001) menguji hipotesis tentang dampak globalisasi ekonomi pada periode 1990–1996. bebas dari penghilangan atau penahanan yang tidak sesuai dengan hukum.

2007 . Perjanjian hak asasi manusia internasional merupakan institusi yang dihasilkan dari permainan tawar-menawar kolektif semacam itu (Moravcsik 2000). dan para pemimpin pemerintahan menyadari bahwa rejim tersebut lemah serta bahwa berbagai badan monitoring tidak memiliki alat untuk menegakkan hukumnya (Cleveland 2001). maka ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional tidak dapat selalu diterjemahkan sebagai ketaatan terhadap perjanjian tersebut. Downs dkk. Namun demikian. rejim hak asasi manusia tidak dirancang untuk menyediakan sarana institusional yang kuat bagi anggotanya untuk menegakkan ketaatan terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional. 1996). 4 • Th. yang oleh karenanya sulit untuk diperkirakan sebelumnya. Oleh karenanya. Tsutsui. Memang. dan ketaatan pada rejim akan sangat tergantung pada rancangan rejim tersebut. Oleh karenanya. pendekatan ini sepenuhnya mengabaikan aktor-aktor nonpemerintah dan menghasilkan penjelasan yang bersifat 8 Lihat Hafner-Burton dalam cetakan. kami melihat bahwa kesenjangan antara ratifikasi dan perilaku untuk melaksanakan perjanjian hak asasi manusia internasional disebabkan karena adanya insentif bagi pemerintah yang meratifikasi perjanjian tersebut. Pendekatan pengarusutamaan seperti ini dalam hubungan internasional menekankan pada kekuasaan dan kepentingan sebagai faktor pendorong negara untuk me- ratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional dan menganggap bahwa ratifikasi tersebut hanya akan berdampak sedikit terhadap praktik-praktik hak asasi manusia. Walaupun pendekatan ini tidak pernah diuji secara sistematis. dan Meyer 2004). walaupun rejim hak asasi manusia internasional dapat mendorong kerja sama antarnegara dan membatasi perilaku represif pemerintah terhadap hak asasi manusia. Negara-negara mengetahui tentang kekurangan ini. Pihak lain juga menyatakan bahwa ketaatan negara pada hukum internasional adalah suatu fungsi dari preferensi negara yang ditentukan oleh posisi tawar-menawar politik di tingkat domestik: institusi politik dan aktor negara menentukan apakah pemerintah dapat menyatakan komitmennya pada hukum internasional dan apakah negara dapat tunduk pada komitmen tersebut dalam jangka waktu panjang (Moravcsik 1997).8 Sebagaimana argumentasi kami di bawah ini. kami menganggap bahwa argumentasi kelompok rasionalis mengenai dampak langsung ratifikasi tetap memiliki nilai yang berarti. Namun demikian. walaupun pemerintah tersebut sebenarnya tidak memiliki keinginan ataupun kapasitas untuk melaksanakan kewajiban berdasarkan perjanjian hak asasi manusia internasional tersebut (HafnerBurton. Apakah negara sungguh-sungguh menaati komitmen mereka pada perjanjian ini tergantung pada mobilisasi para aktor di tingkat domestik yang mendukung ketaatan terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional.serta menyediakan suatu sarana untuk penegakan kewajiban tersebut. negara-negara hanya bergabung dengan dan tunduk pada rejim ketika hal tersebut sesuai dengan kepentingan rasional mereka (Keohane 1984. 74 JURNAL HAM • Vol. kami berargumen bahwa persoalan utama dalam pendekatan ini adalah bahwa pendekatan ini tidak melihat dampak positif dari institusionalisasi rejim hak asasi manusia internasional terhadap praktik-praktik di tingkat lokal yang bekerja bukan melalui sistem perjanjian namun melalui aktor-aktor nonpemerintah. namun jumlah negara yang menyatakan komitmennya pada institusi semacam itu tetap harus dibatasi. baik secara langsung maupun tidak langsung. Karena konfigurasi kepentingan dan kekuasaan politik di dalam dan di seputar negara berubah seiring waktu.

mereka cenderung tunduk pada perjanjian yang mereka pilih. kecenderungan global yang diringkas dalam diagram 1 berlawanan dengan argumentasi-argumentasi tersebut. Risse dkk. organisasi yang tidak aktif tersebut menyebabkan penaatan menjadi lebih tidak mahal dan menjadi pilihan yang lebih menarik karena ketika tidak ada alasan-alasan yang JURNAL HAM • Vol. Sebagaimana orang-orang cenderung mengikuti hukum ketika tidak ada insentif untuk melakukan sebaliknya. berbagai dampak normatif hukum terhadap individu yang terdokumentasi dengan baik dapat diterapkan terhadap perilaku pemerintahan di tingkat nasional (Kratochwill 1989. Pendekatan teoritis lain dalam literatur yang relevan membuat asumsi-asumsi yang berbeda. Berangkat dari asumsi utama mereka bahwa kepentingan negara didefinisikan dalam konteks norma-norma internasional yang dipegang oleh negara tersebut – yaitu norma-norma yang seringkali tertanam dalam hukum internasional dan dilaksanakan oleh pemerintah serta aktoraktor nonpemerintah – maka para konstruktivionis berpendapat bahwa negaranegara tunduk pada hukum internasional ketika para elit pemerintahan dapat belajar menerima dan memasukkan norma-norma dan nilai-nilai bersama yang membentuk kehidupan politik internasional (Finnemore 1996a. Suatu aliran teori yang disebut sebagai neo-institusionalisme dalam sosiologi telah mempengaruhi kecen- 75 . Kedua. karena mereka gagal untuk menguraikan dua dimensi utama dari dinamika dari ketaatan terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional – yaitu. untuk pertama kalinya. Berangkat baik dari pendekatan rasionalis maupun pendekatan masyarakat dunia. kami mengusulkan suatu argumentasi sosiologis yang membedakan antara sistem perjanjian dan aktor nonpemerintah guna menjelaskan dinamika ketaatan pada perjanjian hak asasi manusia yang bersifat kompleks. Akhirnya. Pendekatan Masyarakat Dunia Pada satu atau dua dekade terakhir ini. di mana hal ini mencerminkan proses tawar-menawar di tingkat domestik. maka negara-negara cenderung tunduk pada perjanjian hak asasi manusia internasional ketika tidak ada hambatan yang signifikan bagi penaatan tersebut. Karena pemerintah hanya meratifikasi perjanjian ketika hal tersebut sesuai dengan kepentingan nasionalnya. Keck dan Sikkink 1998. Salah satu model hukum yang paling berpengaruh saat ini.sangat pesimistis tentang dampak rejim hak asasi manusia. Young 1979). Organisasi internasional tidak hanya membatasi perilaku negara melalui sanksisanksi hukum yang diterapkan oleh hukum internasional. Sejauh ini. sistem perjanjian formal dan kegiatan aktor nonpemerintah. dimensi normatif dan budaya politik internasional telah semakin menarik perhatian ilmu-ilmu sosial. 1999). Para ilmuwan konstruksivionis hak asasi manusia menekankan pada caracara di mana organisasi internasional dapat mensosialisasikan atau mengajarkan negara-negara agar menerima tujuan dan nilai-nilai yang tertanam dalam hukum internasional. Pertama. Para ilmuwan hukum internasional seringkali mengira bahwa negara-negara cenderung menaati komitmen mereka atas perjanjian internasional. 2007 kuat untuk tidak tunduk pada rejim tersebut. menyatakan bahwa ada tiga alasan untuk mengharapkan ketaatan negara pada perjanjian internasional. tetapi juga mensosialisasikan negara-negara agar menerima norma dan nilai-nilai baru seperti hak asasi manusia yang diabadikan dalam hukum internasional di masa ini. perjanjian internasional merupakan hasil negosiasi komprehensif yang mencerminkan kepentingan nasional negara-negara anggota. yang disajikan oleh Chayes dan Chayes (1995). 4 • Th.

1997. dan bahwa ratifikasi tersebut tidak sepenuhnya mengarah JURNAL HAM • Vol. Berkembang dari kajian organisasional. maka semakin banyak pula negara-negara yang sama-sama menerapkan struktur politik dan sosial yang memiliki tampilan yang sama namun asalnya berbeda [bersifat isomorphic] (atau yang menyatukan diri dari asal yang berbeda-beda) pada berkesesuaian dengan model internasional (McNeely 1995. pendekatan masyarakat dunia beranggapan bahwa keputusan untuk meratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional seringkali hanya merupakan sikap simbolis guna menunjukkan bahwa pemerintah bukanlah aktor yang menyimpang. Dalam hal ratifikasi perjanjian-perjanjian internasional. Boli. Karena kemudian banyak pemerintah yang mengorganisir dan merestrukturisasi politik nasionalnya di seputar model global dan standar perilaku yang selayaknya. Finnemore 1996b. dkk. Boli dan Thomas 1999). Katzenstein 1996. literatur menunjukkan kemungkinan terjadinya pemisahan antara kebijakan dan praktik. yaitu bahwa perubahan kebijakan formal seringkali bersifat nominal dan tidak memiliki dampak yang diharapkan pada praktik nyata (Meyer dan Rowan 1977. Soysal 1994. 4 • Th. seringkali disebut sebagai pendekatan masyarakat dunia atau perspektif politik dunia. Penelitian-penelitian semacam ini menjelaskan tentang bagaimana standar global dan model-model yang telah ada dan diterima begitu saja membatasi politik nasional. Institusionalisasi semacam ini cenderung mengurangi adanya keragaman dalam organisasi karena kebanyakan dari mereka tunduk pada standar-standar yang telah diterima.derungan tersebut. penelitian tentang gelombang dekolonisasi. Scott 2000). Meyer. dkk. Berkovitch 1999. dan penelitian tentang ekspansi rejim lingkungan hidup di tingkat global (Meyer. Powell dan DiMaggio 1991. 1987. Pendekatan ini menantang asumsi rasionalitas tujuan perilaku organisasional dan berargumentasi bahwa organisasi secara rutin mengikuti model dan standar yang telah ada apa pun kebutuhan fungsionalnya. Meyer dan Scoot 1992. 2007 76 . penelitian tentang penyebaranluasan pemberian hak suara kepada perempuan. 1997). mempunyai pengaruh tersendiri. penelitian tentang diseminasi kurikulum sekolah (Meyer dkk. pendekatan neo-institusionalisme mengacu pada suatu pendekatan teoritis yang memberikan perhatian khusus terhadap dimensi kognitif. karena organisasi membuat naskah yang memuat elemen-elemen standar yang dianggap sah di lingkungannya. Krasner 1999). Sementara prediksi hasil yang bersifat isomorphic ini seringkali terbatas pada bentuk organisasional dan adopsi kebijakan. pendekatan teoritis ini telah mempengaruhi banyak bidang dalam penelitian ilmiah sosial (Thomas dkk. Kecenderungan semakin meningkatnya tindakan bersatunya negara-negara dari arah yang berbeda-beda atas dasar struktur domestik yang sama ini seiring dengan semakin meningkatnya integrasi negaranegara ke dalam suatu masyarakat internasional. Boli dan Thomas 1999). Boli. 1997). Meyer. Elemen utama pendekatan ini adalah legitimasi. budaya. dan normatif dari realita organisasional (Meyer dan Rowan 1977. Brunsson 1989. Jacobson 1998. Sebagaimana para peneliti kemudian berusaha mengembangkan upaya yang dipelopori oleh Meyer dan Rowan (1977). dkk. Penerapan pendekatan ini dalam pengkajian tentang proses politik internasional. Argumentasi utamanya adalah bahwa model dan norma yang terinstitusionalisasi di tingkat global mendapatkan status yang diinginkannya setelah jangka waktu tertentu dan mempengaruhi pembuat kebijakan di tingkat nasional. 1992). Beberapa topik dari penelitianpenelitian pendekatan ini antara lain. Meyer dkk. 1992. Frank.

Pada dasarnya. kami memperluas pendekatan ini pada kajian hak asasi manusia dan membuat dua prediksi utama. dan untuk meyakinkan pemerintah serta pelaku pelanggaran bahwa hukum yang memberikan perlindungan bagi hak asasi manusia cukup untuk membatasi perilaku negara-bangsa sehingga oleh karenanya hukum tersebut harus dihormati.9 9 Perjanjian-perjanjian utama melengkapi komite- ARGUMENTASI Pertama. Downs dkk. serta untuk mendiseminasikan informasi tersebut di tingkat global. elit yang berkuasa mungkin meratifikasi suatu perjanjian untuk memperoleh legitimasi di masyarakat internasional. tusional dan hal-hal yang terjadi secara kebetulan dalam sejarah politik hak asasi manusia global. 4 • Th. tindakan ratifikasi suatu perjanjian seringkali tidak seiring dengan praktik yang relevan. 77 . maka pemerintah-pemerintah akan cenderung meratifikasi tanpa adanya keinginan dan kapasitas untuk tunduk pada ketentuan-ketentuan dalam perjanjian hak asasi manusia internasional. yang oleh karenanya semakin meningkatkan kemungkinan terjadinya pemisahan sebagaimana disebutkan di atas. Ketika legitimasi suatu perjanjian mengalami perkembangan sampai pada suatu tingkat di mana negaranegara yang tidak meratifikasi terlihat sebagai sesuatu yang menyimpang dari kebiasaan yang normal. kami memperluas konsep pemisahan (decoupling) kepada proses instiJURNAL HAM • Vol. legitimasi negara tanpa adanya penegakan – dapat mengarahkan pemerintah untuk menggunakan hukum internasional sebagai tameng bagi semakin meningkatnya perilaku kekerasan di tingkat domestik. rejim hak asasi manusia dibuat untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasi hak-hak mana yang sah di tingkat global. dengan hanya melakukan sedikit upaya untuk menyesuaikan perilaku mereka dengan ketentuanketentuan dalam perjanjian tersebut. penelitian dalam pendekatan masyarakat dunia telah cenderung menekankan pada proses pemisahan ini.pada praktik-praktik ketaatan pada perjanjian tersebut. Tsutsui dan Wotipka 2001). terutama ketika perjanjian tersebut tidak memiliki mekanisme penegakan yang efektif dan pemerintah nasional dibiarkan begitu saja untuk melaksanakan perjanjian tersebut di tingkat domestik – ini merupakan hal yang pada umumnya terjadi dalam kebanyakan perjanjian internasional. Dengan demikian terbentuk suatu dasar yang kuat atas apa yang disebut sebagai “pemisahan (decoupling) yang radikal”. Oleh karena itu. 2007 komite PBB yang memberikan pelaporan formal dan melakukan fungsi monitoring. yang menggarisbawahi kurangnya dampak dari model global terhadap praktik nyata. di mana perjanjian-perjanjian memiliki dampak yang terbalik dengan apa yang diinginkan sebelumnya. Seperti halnya pendekatan nasional dalam hubungan internasional. rejim hak asasi manusia internasional telah membuktikan bahwa rejim ini semakin kompeten dalam menyediakan instrumen-instrumen yang dibutuhkan guna mengumpulkan dan bertukar informasi tentang pelanggaran hak asasi manusia. Dari waktu ke waktu. Selama beberapa tahun ini. Dengan kata lain. Dalam upaya menjelaskan dinamika penaatan yang bersifat tidak konsisten ini. untuk menyediakan suatu forum guna pertukaran informasi berkaitan dengan pelanggaran hak asasi manusia. Kami berargumen bahwa perjanjian hak asasi manusia internasional tidak cukup memiliki mekanisme penegakan yang dapat memberikan insentif bagi pemerintahpemerintah agar tidak menyimpang dari kebijakan mereka untuk berkomitmen pada perjanjian-perjanjian tersebut (Hathaway 2002. 1996. kedua sifat rejim ini – yaitu.

Ratifikasi atas perjanjian hak asasi manusia internasional mengarah pada kemungkinan adanya hubungan yang negatif antara kebijakan dan praktik. Perjanjianperjanjian tidak menawarkan adanya kompensasi materi. dan perjanjian-perjanjian ini juga tidak dapat menghukum pelaku pelanggaran secara langsung dengan melakukan penahanan atas barang-barang berharga.10 Pemerintah-pemerintah. sebagaimana akan kami bahas di bawah ini. bentuk pengaruh yang langsung ini bersifat lemah dan seringkali tidak efektif. Dalam analisa data antarbangsa. Camp Keith (1999) menemukan bahwa tidak terdapat hubungan antara ratifikasi ICCPR dengan praktik-praktik hak asasi manusia. Namun. hukum. dan secara retoris. dan Hathaway (2002) melaporkan suatu dampak negatif dari ratifikasi perjanjian atas praktikpraktik hak asasi manusia pemerintah di beberapa contoh. JURNAL HAM • Vol. Praktik-praktik yang bersifat represif ini semakin diperburuk setelah ratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional. Dengan semakin bertambahnya jumlah negara yang mendapatkan keuntungan dari legitimasi atas ratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional namun gagal untuk memenuhi komitmennya. 4 • Th. Oleh karena itu. Permasalahan dalam upaya penegakan ini semakin diperkuat oleh kenyataan historis bahwa kebanyakan perjanjian hak asasi manusia utama mulai diberlakukan pada saat Perang Dingin. yang dipersenjatai dengan banyak informasi bahwa komitmen mereka terhadap rejim tidak akan mengarah pada penegakan yang serius tetapi justru memberikan mereka legitimasi di mata negara-negara lain. baik dengan mengkritik kekuatan-kekuatan poros dalam Perang Dunia II atau dengan memperjuangkan kemerdekaan dari pihak penjajah. telah ditempatkan pada posisi mendukung perjanjian hak asasi manusia (Lauren 1998). Kemungkinan proses pemisahan yang radikal ini membawa kita pada dua dampak yang dapat diamati: ratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional akan memiliki baik (1) dampak positif terhadap 10 Beberapa kajian empiris digunakan untuk mendu- kung bukti-bukti argumentasi ini. Yang terbaik yang dapat dilakukan adalah bahwa instrumen hukum dari rejim ini dapat mempengaruhi praktik-praktik secara langsung dengan memberikan informasi kepada negara-negara yang represif agar termotivasi untuk mengadopsi normanorma baru agar berperilaku lebih baik (Hafner-Burton dalam cetakan). sekarang bebas untuk menyembunyikan praktik-praktik hak asasi manusia domestiknya di belakang hukum internasional. yang berada di bawah payung suatu kekuatan superpower yang mungkin membela atau mengabaikan kebijakan domestik mereka berkaitan dengan hak asasi manusia. dan sementara itu. rejim perjanjian hak asasi manusia internasional tidak berdaya untuk mengubahnya. Goodman dan Jinks dalam cetakan).Namun. maka kesenjangan antara kebijakan dan praktik ini telah mengarah pada proses pemisahan yang semakin gawat dan radikal. Banyak pemerintah yang menyatakan dukungan mereka terhadap ide-ide hak asasi manusia. maupun politik atas praktik-praktik hak asasi manusia yang lebih baik. di samping kapasitas penyebarluasan informasi tersebut. rejim ini tidak memberikan suatu mekanisme penegakan formal guna menyediakan atau mengacaukan pertukaran informasi yang berharga dengan negara target (Cottier 2002. 2007 78 . rejim hak asasi manusia internasional sebenarnya telah memberikan kesempatan bagi pemerintah untuk mendapatkan legitimasi internasional dengan mendukung prinsip-prinsip hak asasi manusia tanpa benar-benar melaksanakan praktik-praktik hak asasi manusia di negaranya (Mullerson 1997). yaitu suatu masa di mana banyak pemerintahan menganggap ratifikasi terhadap perjanjian semacam ini hanya sebagai suatu hal politik yang tidak signifikan.

Legitimasi prinsip hak asasi manusia yang semakin berkembang ini membawa dua akibat. Proses ini dibantu oleh kegiatankegiatan aktor nonpemerintah. 2007 nusia di tingkat global (Tsutsui dan Wotipka 2004). legitimasi prinsip-prinsip hak asasi manusia menyebabkan pemerintah yang menjadi target rentan terhadap rasa malu yang mungkin timbul dan kehilangan legitimasi dalam masyarakat internasional sebagai hasil dari ketidaktaatannya pada hukum hak asasi manusia internasional. Organisasi nonpemerintah internasional. Kedua. aktif dalam mempublikasikan pelanggaran hak asasi manusia guna menekan pemerintah yang represif. menjadi semakin tidak layak. jika tidak dimungkinkan. Tsutsui 2004). hal. dengan bantuan Amnesty International dan kelompok-kelompok lainnya. seperti Amnesty International dan Human Rights Watch. maka ide-ide yang dikodifikasi dalam perjanjian-perjanjian ini telah mendapatkan status yang bersifat biasa (taken-for-granted) dalam politik global. Semakin banyaknya jumlah negara yang meratifikasi perjanjian hak asasi manusia. janji kosong ini seringkali tidak konsisten. hal. Misalnya. yang bekerja melalui organisasi nonpemerintah internasional yang menyebarluaskan dan memajukan prinsip-prinsip hak asasi maJURNAL HAM • Vol. Pertama. para aktivis Chili. Walaupun terdapat kesenjangan institusional antara perjanjian hak asasi manusia dengan insentif bagi pemerintah-pemerintah untuk tunduk pada perjanjian tersebut. Dampak negatif ini dapat bersifat langsung – yaitu ketika pemerintah secara sengaja menggunakan komitmennya terhadap rejim perjanjian hak asasi manusia internasional sebagai tameng bagi praktik-praktik hak asasi manusia mereka yang semakin memburuk dari pemeriksaan yang cermat dunia internasional – atau secara tidak langsung – yaitu ketika rejim perjanjian hak asasi manusia internasional tidak memiliki kapasitas untuk menghentikan negara yang meratifikasi dari perilaku represif yang semakin meningkat. semakin banyak organisasi nonpemerintah internasional menggunakan norma-norma hak asasi manusia global sebagai alat untuk melakukan lobi dan menekan pemerintah di tingkat nasional agar memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia mereka (Ron 1997. 140-141). semakin meningkat dan meluasnya komitmen negaranegara pada rejim hak asasi manusia global telah mengarah pada meningkatnya prinsip-prinsip hak asasi manusia yang pada saat yang sama mengubah perilaku pemerintah melalui upaya-upaya penekanan secara normatif. Dalam lingkungan politik global baru yang dicirikan oleh semakin meningkatnya kesadaran akan prinsip-prinsip hak asasi manusia.praktik-praktik domestik atau (2) dampak negatif. Kelompokkelompok di tingkat domestik juga meminta pertolongan aktor-aktor eksternal untuk mempublikasikan pelanggaran yang terjadi di negaranya. dan kelompok-kelompok hak asasi manusia di Indonesia bertukar informasi dengan International Commission of Jurists dan organisasi-organisasi internasional lainnya dalam mengkampanyekan pembebasan para tahanan politik (Jetschke 1999. 4 • Th. menurut kami. Kedua. 73-74). bagi pemerintah di tingkat nasional untuk menganggap tuduhan atas pelanggaran hak asasi manusia hanya seba- 79 . karena pemerintah yang represif meratifikasi lebih banyak lagi perjanjian hak asasi manusia internasional dan semakin melakukan pelanggaran hak asasi manusia di mana rejim perjanjian hak asasi manusia tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan hal tersebut. mempublikasikan kasus-kasus penghilangan paksa yang dilakukan oleh pemerintahnya (Clarck 2001. namun rejim perjanjian itu sendiri bukan merupakan penyebab perilaku tersebut. Keck dan Sikkink 1998.

negara yang memiliki jumlah keanggotaan dalam lebih banyak organisasi nonpemerintah internasional) akan lebih menghormati hak asasi manusia masyarakatnya. (2) meningkatnya legitimasi prinsip-prinsip hak asasi manusia yang ditawarkan oleh masyarakat sipil internasional telah memberikan tekanan pada pemerintah-pemerintah agar memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia baik apakah mereka telah meratifikasi perjanjian hak asasi manusia atau pun tidak. tetapi secara bertentangan. dan masyarakat sipil seringkali dapat menekan semakin banyak pemerintahan yang rentan agar tunduk pada rejim hak asasi manusia internasional. sehingga menyebabkan terjadinya pemisahan yang radikal antara kebijakan dan praktik. Proses utamanya adalah tema utama yang dikemukakan oleh Durkheim ([1985] 1982. Dengan demikian. [1912] 1995). 1999. kami berpendapat bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia mungkin bisa tidak memiliki dampak yang signifikan atau pun memiliki dampak negatif terhadap praktik-praktik hak asasi manusia. Ratifikasi pemerintah terhadap hukum internasional tidak cukup untuk memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia. 2007 . kami sepakat dengan pengarusutamaan teori hubungan internasional bahwa perjanjian memiliki 11 Patut dicatat bahwa dampak dari masyarakat sipil internasional terjadi di banyak negara baik apakah pemerintahnya telah meratifikasi perjanjian hak asasi manusia atau belum. maka aktor nonpemerintah internasional akan sangat mungkin dapat mengetahui dan melaporkan pelanggaran yang terjadi dalam negara tersebut. kami memgunakan pemahaman dari institusionalisasi rasional dalam hukum internasional dan pendekatan masyarakat dunia dalam sosiologi. 4 • Th. Dengan demikian. Keck dan Sikkink 1998). dan norma-norma bersama pada umumnya mendasari kegiatan orang-orang dan kelompok-kelompok orang. Ritual.11 Kesimpulannya. Jika suatu negara memiliki hubungan yang erat dengan masyarakat sipil global. 80 JURNAL HAM • Vol. serta dalam jangka waktu pendek seringkali memperburuk pelanggaran hak asasi manusia. Kami berargumen bahwa perluasan rejim hak asasi manusia internasional telah menciptakan suatu konteks global di mana (1) pemerintah mungkin meratifikasi perjanjianperjanjian hak asasi manusia walaupun mereka tidak siap untuk tunduk pada ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. publisitas yang buruk yang dilakukan oleh aktor nonpemerintah seringkali memaksa pemerintah untuk menangani persoalan-persoalan hak asasi domestik mereka (Risse dkk.gai intervensi terhadap persoalan domestik mereka. tradisi. negara-negara yang lebih melekat pada masyarakat sipil internasional (misalnya. Tema ini digunakan dan ditekankan dalam pekerjaan Randall Collins (1992). tetapi hubungan suatu negara dengan masyarakat sipil internasional (melalui keanggotaan dalam organisasi nonpemerintah internasional) dapat mempengaruhi pemerintah untuk memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusianya. tanpa mempertimbangkan apakah mereka secara individual menyepakati prinsip-prinsip yang tercakup di dalamnya. Untuk memastikannya. Walaupun sulit bagi badan-badan internasional untuk melakukan penuntutan hukum terhadap pelanggaran di tingkat domestik. sebagai akibatnya. masyarakat sipil menyediakan mekanisme penegakan yang tidak dimiliki oleh perjanjian hak asasi manusia internasional. Aktor-aktor di tingkat domestik dalam negara yang memiliki hubungan erat dengan masyakat sipil global tersebut cenderung memiliki kesadaran lebih atas hakhak yang mereka miliki dan akan sangat mungkin menemukan cara-cara untuk mempublikasikan persoalan-persoalan mereka serta menekan pemerintahnya agar menangani persoalan-persoalan tersebut. Dengan demikian. Namun. hubungan negara dengan masyarakat internasional memiliki dampak positif.

karena kami membedakan dua dimensi dari rejim hak asasi manusia internasional yang dibaurkan dalam tulisan ini – sistem perjanjian dan hubungan dengan organisasi nonpemerintah internasional – dan prediksi bahwa sistem perjanjian tidak memiliki dampak atau memiliki dampak negatif serta organisasi nonpemerintah internasional memiliki dampak positif. yang menunjukkan dampak positif demokrasi terhadap praktik hak asasi Teori-teori Praktik Hak Asasi Manusia Dalam beberapa dekade terakhir. Hipotesis ini memperoleh dukungan dalam beberapa kajian tambahan (Mitchell dan McCormick 1988. Faktor-faktor ekonomi. Tate. praktik-praktik tersebut dipengaruhi secara positif oleh hubungan dengan masyarakat internasional. Walaupun terdapat banyak variasi analisis. argumentasi kami berbeda dari pengarusutamaan teori hubungan internasional karena kami memprediksikan bahwa ratifikasi akan seringkali diamati memiliki dampak negatif dengan praktik-praktik hak asasi manusia dan meningkatkan perilaku represif. kajian-kajian komparatif ini menunjukkan keragaman faktor-faktor yang diperlukan untuk menjelaskan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh pemerintah. dan oleh karenanya akan lebih mengakomodir permintaan warga negaranya tanpa konflik kekerasan. namun demikian. – Berbagai kajian menemukan bahwa demokrasi sangat kecil kemungkinannya melakukan pelanggaran hak asasi manusia ketimbang otokrasi. hal. Henderson (1991) juga menyatakan bahwa pemerintahan yang demokratis akan lebih responsif terhadap warga negaranya ketimbang pemerintahan yang otoriter. yang mengurangi kemungkinan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia (Henderson 1991). yaitu suatu pandangan yang diterima secara umum bahwa kurangnya sumber daya ekonomi merupakan dasar subur bagi konflik politik. Sejumlah kajian berikutnya juga menegaskan variasi dari prediksi-prediksi tersebut. Kami tidak sepakat dengan argumentasi konstruktivis dan hukum internasional. Poe dkk. 1999. – Banyak pengkajian tentang praktik-praktik hak asasi manusia mengkaji tentang dampak pembaJURNAL HAM • Vol. Pritchard 1989). Jeane Kirkpatrick (1979) berargumen bahwa rejim totalitarian kiri lebih mungkin melakukan pelanggaran hak asasi manusia karena mereka hampir memiliki kontrol penuh atas kehidupan warga negaranya. 4 • Th. dan Camp Keith (1999). ngunan ekonomi. para ilmuwan ini berargumen bahwa negara-negara demokratis akan lebih kecil kemungkinannya merepresi hak asasi manusia. Poe dan Tate 1994.mekanisme penegakan institusional yang lemah dan oleh karenanya tidak mungkin memiliki dampak positif terhadap perilaku hak asasi manusia. yang dalam banyak kasus mendorong pemerintah-pemerintah untuk melakukan represi politik. serta Howard dan Donelly (1986) bersikeras bahwa perlindungan hak asasi manusia membutuhkan suatu rejim negara yang liberal yang menghormati “konsepsi substantif dari martabat manusia”. Faktor-faktor politik. telah muncul beberapa kajian komparatif yang melihat banyak faktor yang membentuk praktik-praktik hak asasi manusia di tingkat lokal. Faktor-faktor ini kemudian kami sertakan dalam analisis empiris yang dijelaskan di bagian berikut ini. Namun. Mitchell dan McCormick (1988. Park 1987. Dari kajian seminal McKinlay dan Cohan (1975) dan Strouse dan Claude (1976) sampai analisa periode-waktu kolektif yang rumit dari Poe. 2007 81 . 478) menawarkan suatu “tesis kemiskinan yang sederhana”. Dalam perekonomian maju di mana hanya sedikit orang yang merasa diperlakukan tidak adil. stabilitas politik seringkali lebih mudah dicapai.

Kajian awal menunjukkan bahwa ada hubungan yang kuat antara partisipasi negara dalam perang internasional dan peningkatan kekerasan politik di tingkat domestik (Rasler 1986. yang oleh karenanya menekan pemerintah untuk menjadi otoritarian. 1999). Stohl 1975). kurangnya sumber daya akan cepat menjadi masalah yang serius. Ketika pemerintah negara berkembang di Dunia Ketiga menerima bantuan ekonomi dari negara kapitalis yang tujuan utamanya adalah untuk mempertahankan kondisi yang lebih menguntungkan bagi investasi. Poe dkk. Dua kajian terkemuka memeriksa tentang dampak faktorfaktor ekonomi ekternal terhadap hak asasi manusia. Berbeda dengan pendapat di atas. Pada saat perang sipil. pemerintah akan lebih mungkin menerapkan kontrol yang kuat terhadap warga negaranya dan oleh karenanya akan lebih mudah menggunakan kekuatan untuk mempertahankan kekuasaan domestiknya (Poe dan Tate 1994. Poe dan Tate 1994. didorong oleh kepentingan ekonominya. kemungkinan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia meningkat. Ketika suatu negara mengalami peningkatan populasi yang cepat. mereka mendapatkan dukungan bagi hipotesa tersebut – yaitu bahwa sejumlah besar pemerintahan dengan catatan hak asasi manusia yang buruk ternyata tergantung secara ekonomi kepada negara-negara kapitalis. Mitchell dan McCormick (1988) membuat hipotesa bahwa ekonomi yang terkait dengan Amerika Serikat dan negara kapitalis maju lainnya mendorong pelanggaran hak asasi manusia di negara-negara pinggiran (periphery). yang menyatakan bahwa perusahaan multinasional mendorong baik hak sosio-ekonomi maupun hak sipil dan politik. Mitchell dan McCormick (1988) memperkenalkan suatu argumentasi Marxis yang diambil dari argumentasi Chomsky dan Herman bahwa negara-negara kapitalis. negara-negara dengan tingkat populasi yang lebih besar lebih mungkin melanggar hak asasi manusia (Poe dan Tate 1994. Pada saat perang internasional. Poe dkk 1999). Kajian-kajian berikutnya melaporkan bahwa besarnya populasi juga mempengaruhi represi politik. Meyer (1996) memeriksa dampak perusahaan multinasional terhadap praktik-praktik hak asasi manusia. – Akhirnya. – Sebagai tambahan dari faktor-faktor domestik tersebut.manusia (Mitchell dan McCormick 1988. Beberapa kajian juga mengidentifikasi hubungan antara keterlibatan dalam perang dengan pelanggaran hak asasi manusia. yang akan meningkatkan kemungkinan pemerintah menggunakan tindakan-tindakan represif. yaitu mendorong pembangunan dan oleh karenanya memperbaiki kualitas hidup. Analisa regresinya mendukung sebagian dari “tesis mesin pembangunan”. Perusahaan multinasional juga secara tidak langsung memperbaiki hak politik sebab perusahaan multinasional mendorong perluasan kelas menengah masyaraJURNAL HAM • Vol. Poe dkk 1999). para ilmuwan mengindentifikasi sejumlah kecil faktor global yang dapat mempengaruhi represi pemerintahan. Henderson (1993) berargumen bahwa tekanan populasi dapat mengarah pada tekanan terhadap sumber daya. Faktor-faktor global. Perusahaan multinasional memiliki dampak langsung terhadap hak ekonomi dan sosial. 4 • Th. Faktor-faktor demografi. Berangkat dari analisa ini. lebih menginginkan adanya stabilitas politik di negara-negara berkembang dan oleh karenanya memperkuat rejim-rejim yang ada walaupun pada saat represi pemerintahan bersifat endemik (Chomsky dan Herman 1979). 2007 82 . Dalam analisa pemeriksaan datanya. pemerintah juga cenderung lebih koersif dalam mempertahankan kekuasaan mereka dari ancaman-ancaman internal terhadap negara.

dengan menurunkan perilaku represif. Walaupun kami meminjam beberapa data dari Poe dan kawan-kawan. suatu kumpulan literatur kuantitatif penting yang semakin berkembang sangat bergantung pada kajian Poe dan kawan-kawan tersebut. 4 • Th. Namun. Smith. Kemudian. maka sampel yang komprehensif dari para pengarang tersebut menawarkan suatu titik awal yang ideal bagi analisa empiris kami. Karena baik ratifikasi negara terhadap perjanjian hak asasi manusia maupun perilaku represif negara terhadap hak asasi manusia beragam anJURNAL HAM • Vol. dan Ippolito (1999) melaporkan temuan-temuan yang bertentangan dengan hal tersebut. Hipotesis 2. Tate. yang memperingatkan para ilmuwan bahwa pandangan optimistis tentang peran perusahaan multinasional mungkin tidak terjustifikasi. Bolyard. Dari upaya-upaya penting tersebut kami mencoba untuk memahami penyebab domestik dan global dari perilaku represif pemerintah. kami mengembangkan kajian klasik dari Poe. Oleh karenanya. – Hubungan dengan masyarakat sipil internasional memiliki dampak positif terhadap perilaku hak asasi manusia dari negara-negara. kami memperbaharui data periode-waktu yang bersifat lintas-negara ini dengan memasukkan periode Pasca Perang Dingin. ANALISA EMPIRIS Tujuan mendasar kami di bagian ini adalah untuk menguji hipotesis kami: Hipotesis 1. 2007 Analisa Dalam rangka menentukan dampak hukum internasional dan institusi masyarakat sipil global terhadap praktik hak asasi manusia. dan Camp Keith (1999) yang mencoba menjelaskan keragaman negara dalam perilaku represif pemerintah. Data-data ini memampukan kami untuk menilai dampak ratifikasi negara terhadap perjanjian hak asasi manusia di jangka waktu dan lingkup yang lebih luas ketimbang kajian-kajian sebelumnya. – Ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia tidak memiliki dampak positif langsung terhadap ketaatan negara dalam praktik dan bahkan memiliki dampak negatif yang signifikan berkaitan dengan meningkatnya perilaku represif. dan kami memperkenalkan variabel-variabel baru untuk mengukur partisipasi 153 negara dalam masyarakat internasional sejak 1976 sampai 1999. Dengan melakukannya. tarnegara dan antarwaktu. yang oleh karenanya meningkatkan stabilitas dan toleransi politik dalam masyarakat yang lebih luas. Untuk menguji hipotesis tersebut. kami berupaya mengisi aspek utama politik global hak asasi manusia yang terlewatkan oleh semua literatur kuantitatif yang ada – yaitu pengaruh rejim global hak asasi manusia dan masyarakat sipil.kat kota yang stabil secara politik. sambil secara berkesinambungan mengontrol kemungkinan bahwa ketaatan negara terhadap hukum internasional dapat saja beragam berdasarkan tipe negara yang berbeda-beda. kami mengembangkan data mereka guna mendorong perbandingan antara temuan-temuan kami tentang dampak perjanjian internasional terhadap penjelasan-penjelasan sebelumnya tentang perilaku represif pemerintah. kami mengembangkan suatu model tunggal proses pengumpulan data yang kami ukur berdasarkan analisa berikut ini dengan menggunakan ordered probit yang layak bagi struktur ordinal dari variabel dependen kami (Long 1997): Yit = a + ßY Yit-1 + ßP Zit + ßX Xit + µ it (1) Y adalah tingkat perilaku represif 83 .

suatu intercept term. 4 • Th. Untuk melakukannya. Kami mempertimbangkan dua kelompok variabel sustantif utama untuk menguji teori kami. Z adalah matriks variabel hukum internasional dan masyarakat sipil yang kami tawarkan untuk menguji teori paradoks kami.pemerintah terhadap hak asasi manusia yang diamati. ßS adalah matriks pengukuran parameter. suatu serial variabel kontrol. Kami memulai dengan menguji dua dalil utama dari teori kami: (1) apakah ratifikasi negara terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional mempengaruhi ketaatan negara terhadap norma-norma hak asasi manusia. keanggotaan dalam organisasi nonpemerintah internasional. dan populasi(log): Yit = a + ßY Yit-1 + ßP Zit + ßX Xit + µit (1) Represi pemerintah terhadap hak asasi manusia it = a + ßy-1 (praktik masa laluit) + ßz1 (ratifikasi perjanjian oleh Negarait) + ßz2 (keanggotaan pada organisasi nonpemerintah internasionalit) + ßx1 ([log] GDPit) + ßx2 ([log] perdaganganit) + ßx3 (demokrasiit) + ßx4 (populasiit) + µ it Walaupun kami menawarkan hipotesis yang berhubungan langsung – khususnya bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional akan mengarah pada tidak adanya perubahan atau semakin memburuknya perilaku hak asasi manusia – kami melakukan pengujian duaakhir bagi setiap dalil untuk mempertimbangkan hipotesis-hipotesis yang bertentangan yang ditawarkan oleh banyak ilmuwan politik. dan suatu stochastic term. i dan t adalah tulisan di bawah garis (subscript) yang mewakili negara dan tahun pengamatan. kami membagi atau memisahkan variabel kompleks ratifikasi terhadap perjanjian oleh negara sebagaimana yang dilaporkan di model 1 menjadi beberapa komponen variabel yang baru dan menganalisa apakah ratifikasi negara terhadap enam perjanjian inti PBB mempengaruhi ketaatJURNAL HAM • Vol. ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia. dan (2) apakah hubungan negara dengan organisasi nonpemerintah internasional mempengaruhi perilaku hak asasi manusia. Kami mengontrol faktor-faktor lain yang dipercayai oleh kebanyakan ilmuwan hak asasi manusia membentuk perilaku represif pemerintah guna memahami apakah perjanjian hak asasi manusia internasional. persamaan (equation) 1 menegaskan bahwa represi terhadap hak asasi manusia bagi setiap negara di setiap tahun pengamatan merupakan suatu fungsi tentang pengalaman masa lalu negara tersebut berkaitan dengan represi. mempengaruhi perilaku represif pemerintah di luar dan melebihi (above and beyond) penjelasan yang ada dalam literaturliteratur saat ini. Dengan demikian. Dalam model 2 – model 7 kami melihat sifat dari ratifikasi terhadap perjanjian oleh negara secara lebih detil. matriks-Z mencakup ratifikasi negara terhadap perjanjian dan keanggotaan dalam organisasi nonpemerintah internasional. perdagangan. a adalah intercept term. demokrasi. dan m adalah stochastic term. dan matriks-X mencakup GDP(log). dalam model 1. Kami meninjau kelompok-kelompok variabel ini secara lebih detil di bawah ini. Dengan demikian. 2007 84 . sementara X adalah matriks dari semua faktor kontrol lainnya yang digunakan oleh para ilmuwan sebelum kami mengenai pengaruhi perilaku represif terhadap hak asasi manusia. serta masyarakat sipil internasional.

dan bahwa laporan-laporan Amnesty International dan Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat telah menjadi hampir serupa dalam periode waktu belakangan ini. kami menjelaskan dampak potensial dari usia negara. 85 . Para pengarang ini menemukan bahwa kecenderungan Amnesty International untuk melaporkan kondisi hak asasi manusia di negara yang catatan hak asasi manusianya paling buruk telah menurun dalam periode waktu belakangan ini. Gibney. kami mengubah misalnya. Para ilmuwan lain yang memeriksa integritas hakhak tersebut termasuk. dan Hafner-Burton (dalam cetakan). Poe (1991). Dalam model 10. Melalui pengelompokan ini kami mengasumsikan bahwa pengamatan kami bersifat independen untuk jenis-jenis negara (atau kelompok negara) yang berbeda tetapi tidak hanya di suatu negara pada periode waktu tertentu. Stohl dan Carleton (1985). kami tetap menghitung dan mengukur variabel legitimasi dunia yang diusulkan pada dampak waktu tetap dan menemukan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hal dampak antara kedua pengukuran tersebut. sementara dalam model 12. Poe. Beberapa rekan kerja mengusulkan agar kami memasukkan ukuran jumlah ratifikasi negara-negara di tingkat-dunia untuk semua perjanjian hak asasi manusia internasional dalam jangka waktu tertentu guna mempertimbangkan dampak diperolehnya legitimasi hak asasi manusia pada periode waktu tertentu.16 Kami meng-kode-kan lima nilai-nilai variabel dependen berikut ini seba12 Kami mengucapkan terima kasih pada para pem- 13 14 15 16 baca AJS yang membawa variabel ini pada perhatian kami. dan kami menggambarkan data-data tersebut di bagian berikut ini.) Dalam semua kasus kami memasukkan variabel dependen keterlambatan ai (kecuali dampak tetap). kami mengukur perilaku represif pemerintah terhadap rasa aman seseorang. – Untuk mengestimasi model-model. Namun. melaporkan standar kesalahan Huber/White untuk menggantikan perhitungan tradisional.14 Data Hak asasi manusia (Y).12 Dalam model 11.15 Secara khusus. kami mempertimbangkan kemungkinan bahwa temuan-temuan kami adalah suatu benda peninggalan akhir Perang Dingin. kami melanjutkan pendapat para ilmuwan hak asasi manusia yang lain dalam menggunakan skala ordinal standardasar perilaku represif yang digambarkan secara sistematis dalam laporan hak asasi manusia tahunan Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat (dan. diantaranya: Cingranelli dan Pasquarello (1985). kami menguji apakah pengalaman negara dalam perang sipil atau internasional dapat menjelaskan ketaatan pemerintah terhadap norma-norma hak asasi manusia. 4 • Th. penghilangan paksa. Dalam kajian terbaru. kami memperkirakan dampak waktu tetap untuk menjamin bahwa dampak tahuntahun individual dalam sampel kami tidak berpengaruh terhadap hasil temuan. kami menambahkan beberapa variabel baru ke dalam matriks-Z. 2007 politik pada setiap tahunnya. Dalton. dan pemenjaraan JURNAL HAM • Vol. dan Vockell (1992). dari Amnesty International) yang menggunakan analisa isi. Akhirnya. Dalam model 8 dan model 9. dan mengelompokkan negara-negara guna membahas persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh heteroscedasticity yang umum terjadi pada data kami (Beck dan Katz 1995). dan Vazquez (2001) menganalisa perbedaan laporan hak asasi manusia yang dibuat oleh Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat dengan Amnesty International guna menentukan apakah terhadap bias yang jelas dalam kedua sumber tersebut. Kami tidak memasukkan ukuran ini dalam temuan-temuan di tabel akhir karena variabel ini memberikan fungsi struktural yang sama seperti halnya dampak waktu tetap. dengan menguji apakah bangsa-bangsa yang usianya lebih tua dan lebih mapan akan lebih menghormati hak-hak warga negaranya. Dalam melakukannya. [1] memasukkan intercept variasi-waktu: ai. penyiksaan. McCormick dan Mitchell (1988). dan kami melakukannya sebagai suatu kombinasi tingkatan negara dalam hal pembunuhan. Carey. kedua.an pemerintah terhadap norma-norma hak asasi manusia. yang kami masukkan sebagai kontrol standar bagi varian tingkat-dunia pada periode waktu tertentu. 13 (Oleh karenanya. kami mempertimbangkan suatu susunan argumentasi alternatif yang dibuat oleh para ilmuwan hak asasi manusia dengan memodifikasi matriks-X.

Y = 4 (represi yang terbatas atau limited repression). penahanan politik dan penyiksaan jarang terjadi. – Ketika negara-negara berada pada kondisi aturan hukum yang aman.17 Kami juga membagi atau memisahkan variabel perjanjian menjadi komponenkomponen konstituennya dan memberikan kode pada enam indikator yang berbeda yang menangkap jangka waktu sejak suatu negara meratifikasi setiap salah satu dari 17 Kami juga mengukur dan memeriksa apakah waktu 3. pembunuhan dan penghilangan paksa sering terjadi. – Ketika penahanan politik bersifat massif. Y = 1 (represi yang sistematis atau systematic repression). 2. kami menghitung suatu ukuran ordinal dari variabel perjanjian yang menghitung total jumlah perjanjian yang diratifikasi oleh suatu negara dalam suatu tahun tertentu. CEDAW.gaimana diilustrasikan di diagram 2 dan digambarkan di lampiran A: 1. Y = 3 (represi yang meluas atau widespread repression). Berkaitan dengan perjanjian-perjanjian hak asasi manusia internasional. – Ketika tingkat teror bersifat meluas di masyarakat dan pengambil kebijakan tidak membatasi sarana yang mereka gunakan untuk mendapatkan tujuan pribadi atau tujuan ideologi. dan pembunuhan politik jarang terjadi. – Ketika penahanan atas kegiatan politik yang bersifat nonkekerasan terbatas. Y = 2 (represi yang massif atau extensif repression). – Kami memperkenalkan delapan variabel baru dari ratifikasi negara terhadap hukum hak asasi manusia internasional dan keanggotaan negara dalam organisasi nonpemerintah internasional yang kami kumpulkan dari sumber-sumber primer dan sekunder perjanjian dan perkumpulan internasional. dan CERD. tetapi teror hanya mempengaruhi mereka yang berkepentingan dalam hal praktik atau ide politik. dengan menggunakan metode analisa isi yang sesuai dengan metode pengumpulan data sebelumnya. Kami telah memperbaharui data yang ada. Hasilnya yang berkaitan dengan indikasi dan signifikasi konsisten dengan tingkatan ratifikasi negara terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional (model 1). sedangkan angka enam menunjukkan bahwa suatu negara telah meratifikasi seluruh perjanjian hak asasi manusia utama. kami mempertimbangkan enam perjanjian utama (yang diuraikan di tabel 1): ICCPR. Kami menggunakan variabel ini dalam model dasar kami (model 1). penyiksaan dan pemukulan bersifat sangat khusus. rata-rata ratifikasi perjanjian oleh negara – yaitu jumlah total tahun di mana suatu negara telah meratifikasi suatu perjanjian – mempengaruhi ketaatan pemerintah terhadap norma-norma hak asasi manusia. dan penahanan (dengan atau tanpa pengadilan) akibat pandangan politik dapat diterima. 2007 . hukuman mati dan pembunuhan politik mungkin sering terjadi. Y = 5 (represi yang jarang atau rare repression). Paradoks janji-janji kosong (Z). ICESCR. Pertama. 86 JURNAL HAM • Vol. Angka nol menunjukkan bahwa suatu negara tidak meratifikasi perjanjian hak asasi internasional utama mana pun. CRC. Kami menawarkan beberapa pengukuran yang berbeda terhadap ratifikasi perjanjian oleh negara untuk menguji hipotesis-hipotesis yang diusulkan. Banyak dari data ini berasal dari kolaborasi sejumlah hasil para ilmuwan hak asasi manusia ternama. 4 • Th. 4. Pengukuran ini disimpulkan dalam tabel 2 di bawah ini. dan pembunuhan politik sangat jarang terjadi. – Ketika praktik-praktik di tingkat 3 diperluas ke sejumlah besar populasi. 5. CAT. jika dimungkinkan.

suatu publikasi tahunan dari Union of International Associations. kami menawarkan suatu ukuran kalkulasi keanggotaan negara dalam organisasi nonpemerintah internasional dalam suatu periode tertentu (misalnya. sesuai dengan urutannya.18 Kami menyebut variabel-variabel ini ICCPR. Khususnya lihat Apodaca (2001).20 Khususnya. dan perilaku represif negara atas hak-hak mendasar untuk bebas dari pembunuhan. 87 . Ukuran-ukuran ini adalah data konvensional yang dikumpulkan dari Bank Dunia dan hanya membutuhkan sedikit koJURNAL HAM • Vol. ICESCR. kami mengambil data dari proyek Polity IV dan menggunakan demokrasi berdasarkan karakteristik institusionalnya. dan kami mencatat keduanya. penyiksaan. 4 • Th. – Variabel dependen: represi terhadap hak asasi manusia (pengamatan tahun-negara). enam perjanjian hak asasi manusia internasional. 19 Lihat Buku Tahunan Organisasi Internasional (Yearbook of International Organizations).website. – Kami mengikuti para ilmuwan hak asasi manusia lain dalam menggunakan ukuran Bank Dunia tentang Gross Domestic Product atau GDP pada nilai pasar dan perdagangan (sebagai persentase GDP). CAT.hrweb.uia. http:// www.html. Akhirnya. dan penahanan secara sewenang-wenang. 20 Walaupun baik pembangunan dan demokrasi seringkali diklaim sebagai hak asasi manusia yang mendasar. Batang yang solid mewakili jumlah tahun-negara yang diamati dalam kumpulan data periode waktu lintas-seksi bagi setiap dari lima tingkat penghormatan negara terhadap hak asasi manusia yang diukur. sistem pemerintahan negara.1200 1000 800 # 600 400 200 0 1 Systematic Repression 2 Extensive Repression 3 Widespread Repression 4 Limited Repression 5 Rare Repression Diagram 2. CERD. 2007 mentar. penghilangan paksa.htm dan http://www. jumlah warga negara-negara yang tergabung dalam organisasi nonpemerintah internasional). keterbukaan proses tersebut 18 Kami juga melakukan analisa dengan mengguna- kan variabel pura-pura (dummy) guna menggambarkan ratifikasi yang bertentangan dengan lama waktu keanggotaan. dan CRC. Kami juga menerapkan pengukuran demokrasi dan tingkat perilaku represif pemerintah di masa lalu.org. org/legal/undocs. Yang sangat penting bagi tujuan kami adalah lima karakteristik institusional utama yang membedakan antara demokrasi dengan otokrasi: tingkat kompetitif dari proses pemilihan pemimpin. CEDAW. kami mengikuti yang lain dalam membedakan konseptual yang penting antara tingkat pembangunan negara.19 Pengukuran ini dikumpulkan dari data yang tersedia dalam Buku Tahunan Organisasi-organisasi Internasional. Faktor-faktor kontrol (X).

... 2007 . Namun demikian.. CEDAW. dan tingkatan di mana aturan-aturan yang mengikat mengatur partisipasi politik (Jaggers dan Gurr 1995). Jangka waktu sejak ratifikasi ICCPR Jangka waktu sejak ratifikasi CAT Jangka waktu sejak ratifikasi CERD Model 1 Model 2 Model 4 Model 5 Model 7 1......2 0 0 0 0 0 0 0 6 33 33 15 39 27 19 Jangka waktu sejak ratifikasi ICESCR Model 3 Jangka waktu sejak ratifikasi CEDAW Model 6 Jumlah organisasi nonpemerintah internasional (INGO) di mana warga negara menjadi anggota CRC. Data-data ini mencakup keterlibatan negara dalam perang sipil atau perang internasional (proyek Correlates of War).TABEL 2 DESKRIPSI VARIABEL: PARADOKS JANJI-JANJI KOSONG Variabel Isi Model Rata-rata Minimum Maksimum Perjanjian... CRC ICCPR.... ECESCR.... komitmen negara terhadap rejim hukum hak asasi manusia internasional tidak secara otomatis dapat diterjemahkan menjadi penghormatan pemerintah terhadap hak asasi manusia...35 0..21 21 Adalah mungkin bahwa temuan-temuan ini menun- jukkan bahwa sejumlah perjanjian utama menginstitusionalisasikan norma-norma yang tidak termasuk dalam kategori-kategori hak asasi manusia mendasar yang diteliti di sini.... populasi negara pada tahun tertentu (diambil dari Bank Dunia)....34 0.. Hasil Tabel 3 di bawah menunjukkan temuantemuan utama kami..... tingkat kompetitif dari partisipasi politik..... serta usia negara dan data tambahan yang dikumpulkan oleh Poe dkk.... Dalam analisa. Pertama.......... INGO.. CEDAW. baik CAT maupun ICCPR secara eksplisit menga- 88 JURNAL HAM • Vol.. Walaupun kami tidak memasukkan semua variabel kontrol tambahan yang ada dalam model kami karena alasan-alasan teoritis. Sebaliknya.88 0.... CAT.. kami mempertimbangkan berbagai ragam variabel tambahan yang mungkin telah digunakan di kajiankajian sebelumnya mengenai perilaku represif pemerintahan.. Jangka waktu sejak ratifikasi CRC Model 1-7 495........45 0.17 0 3. Jumlah ratifikasi keseluruhan enam perjanjian : ICCPR. 4 • Th...16 0...... Pengukuran ini mulai dari -10 (paling otokratis) sampai 10 (paling demokratis)... yang justru memperburuk pelanggaran hak asasi manusia..... CERD.27 0..... Ada dua hasil temuan yang sangat luas biasa.. (1999).....127 bagi kelompok-kelompok sosial. ICESCR. tingkat hambatan institusional atas kewenangan pengambilan keputusan pimpinan. CERD.. CAT. namun kami tetap melaporkan dampak signifikan dari variabel-variabel ini terhadap model kami tentang perilaku represif pemerintah di catatan kaki... Negara yang meratifikasi sejumlah besar perjanjian hak asasi manusia tidak sepenuhnya melindungi hak asasi manusia ketimbang negara yang hanya meratifikasi sejumlah kecil perjanjian tersebut. model 1 mengusulkan bahwa ratifikasi seringkali berkaitan dengan perilaku tidak taat negara-negara dan bahwa komitmen negara terhadap rejim hukum hak asasi manusia internasional dari waktu ke waktu mengarah pada pemisahan (decoupling) yang radikal.

024*** (0.2 P < 0. 1978 – 1999 Model 1 GDP per kapita (log) Demokrasi Populasi (log) Praktik masa lalu Perdagangan (log) Organisasi nonpemerintah internasional Perjanjian ICCPR ICESCR CAT CERD CEDAW CRC N Pengamatan Log kemungkinan + Model 2 0.045 (0.022*** (0.550.1.27*** (0.546.0006) -0.5 2.537. yang mewajibkan negaranegara yang meratifikasi untuk menghormati hakhak ini.33) 0.042 .284*** -0.005 (0.012) -0.072) 0.024 (0.275*** -0.TABEL 3 ANALISA KUMPULAN PERIODE WAKTU LINTAS-SEKSI TENTANG PRAKTIK HAK ASASI MANUSIA DARI NEGARA.032*** -0. sementara temuan kami menunjukkan adanya dampak negatif.116** (0.049) 1.0002* (0.064) 0.064) 0.48*** (0. yang juga menunjukkan dampak negatif ratifikasi perjanjian.067) 0.0002* (0.0001) (0.283*** -0.1.005) Model 6 0.063*** (0.0003*** 0. maka dampaknya tetap negatif tetapi kehilangan signifikansinya.10 * P < 0.7 2.47*** (0.45*** (0.1.006) Model 7 0.036) 0.045) (0.005) -0.012* (0.109** (0.0001) -0.063) 0. dan keamanan seseorang yang digambarkan oleh variabel dependen kami.139*** (0.07) 0. Kami juga mencatat bahwa ketika kami memasukkan dampak waktu tetap. kebebasan.64* (0.058 .058 .072 1.005) Model 4 0.0002* (0.1. Temuan ini konsisten dengan kajian CAT JURNAL HAM • Vol.021*** (0.035) 0.136*** (0.02) -0.0001) -0.34) 0. Kajian sebelumnya tentang ICCPR menunjukkan tidak adanya dampak ratifikasi terhadap perjanjian (Camp Keith 1999).529.004) -0.47*** (0.013* (0.46*** (0. 89 .063) 0.009) (0.536.069** (0.047) 1.049 (0.9 2.117** (0.063) 0.261*** -0.038 (0.006) Model 5 0.025*** (0.138*** (0.042 .049) (0.058 1.037) 0.0001) -0.0003** (0.069) 0.3 2. 4 • Th.064) 0.542.05 ** P < 0.112** (0.047) 1.001 kui hak-hak utama untuk hidup.0001) 1.044) (0.01 (0.02 (0.0001) 1.46*** (0.022*** (0.45*** (0.006) 0.262*** (0.024*** (0.045) (0.2 2.036) 0.006) -0.27*** (0.543.023** (0.0004** (0.01 *** P < 0. 2007 sebelumnya (Hathaway 2002).05) Model 3 0.064) 0.6 2.068) 0.058 1.0001) 1.0002* (0. Bukti yang ditunjukkan di tabel 3 menunjukkan bahwa negara yang meratifikasi kedua perjanjian ini akan lebih mungkin melakukan tindakan represif terhadap hak-hak warga negaranya ketimbang negara yang bukan anggota pada perjanjian.026 (0.042 .1.033) 0.069) 0.017) 2.

dan Sacko 2001) dan negara-negara yang tingkat pembangunan ekonominya lebih tinggi. Tabel 3 juga menegaskan bahwa perkiraan kami konsisten dengan temuan-temuan umum dalam berbagai literatur hak asasi manusia mengenai variabel kunci. 1999). Di tabel 4 kami memverifikasi bahwa temuan-temuan kami sifatnya kuat bagi sejumlah penjelasan alternatif terhadap represi pemerintah terhadap hak asasi manusia. Walaupun kami menemukan bahwa institusionalisasi hak asasi manusia global tidak memiliki dampak positif yang sistematis melalui sistem perjanjian. 23 Namun. temuan-temuan ini menunjukkan suatu gambaran yang mengkhawatirkan: perjanjian hak asasi manusia internasional hanya sedikit mendorong praktik-praktik yang lebih baik dan tidak dapat menghentikan banyak pemerintah dari suatu spiral perilaku represif yang meningkat. 1999) – sebagaimana halnya dengan negara-negara yang memiliki tingkat keterbukaan yang lebih tinggi terhadap ekonomi internasional (Meyer 1996. hubungan negara dengan masyarakat sipil internasional menciptakan kekuatan lawan yang besar bagi pemisahan (decoupling) yang radikal tersebut: negaranegara yang warga negaranya menjadi anggota sejumlah besar organisasi nonpemerintah internasional akan lebih mungkin melindungi hak-hak warga negaranya. kami juga menemukan bahwa norma-norma global hak asasi manusia. ratifikasi terhadap keseluruhan enam perjanjian tersebut memiliki dampak negatif terhadap perilaku negaranegara penandatangan: pihak-pihak pada perjanjian akan lebih mungkin melakukan represi terhadap warga negaranya ketimbang negara yang tidak meratifikasi. Mitchell dan McCormick 1988. Konsisten dengan penelitian terbaru di bidang ini. 24 Walaupun perang sipil memang 22 Ketika kami menambahkan dummy pasca Perang Dingin dan dampak waktu tetap dalam model 11 dan model 12. Gelleny. Poe dan Tate 1994. Variabel ini tidak mengubah temuantemuan kami dan oleh karenanya tidak dilaporkan di sini. Demokrasi adalah pelindung yang paling baik dari hak asasi manusia – menyepakati mayoritas ilmuwan hak asasi manusia (Henderson 1991. Kemudian.23 Kami menggunakan probabilitas yang diperkirakan untuk membongkar dampak-dampak negatif ini lebih jauh lagi di lampiran B. 2007 90 .Temuan ini sangat konsisten ketika kami memisahkan keseluruhan komitmen pada rejim hak asasi manusia dan meneliti ratifikasi terhadap perjanjian PBB yang spesifik (model 2 – model 7). dampak perjanjian menjadi kurang signifikan tetapi tetap negatif. Konsistensi dampak ini di lintas model menunjukkan bahwa dampak institusional umum masyarakat sipil global cukup stabil. dan mungkin bahkan memperburuk praktik-praktik yang tidak baik tersebut. Richards. Tidak satu kasus pun menunjukkan bahwa ratifikasi negara terhadap enam perjanjian hak asasi manusia utama dari PBB yang mana pun dapat memperkirakan kemungkinan penghormatan pemerintah terhadap hak asasi manusia. Namun. salah satu ramalan (predictors) yang paling penting dari represi adalah sejarah negara dalam kondisi represif (Apodaca 2001. kami tidak dapat membedakan antara dampak negatif langsung – ketika ratifikasi justru memberikan insentif lebih bagi perilaku represif yang lebih jauh – dan dampak negatif tidak langsung – ketika ratifikasi tidak memiliki dampak pada praktik-praktik negara yang mengarah pada semakin kuatnya perilaku kekerasan. 4 • Th.22 Secara bersamaan. 24 Kami mempertimbangkan sejumlah variabel kontrol tambahan untuk menguji kekuatan temuantemuan ini. Kedua. yang melekat pada perjanjian hak asasi manusia internasional dan ditawarkan oleh masyarakat sipil internasional memberikan kontribusi terhadap perbaikan praktik-praktik hak asasi manusia secara nyata. kami mempertimbangkan sejumlah pengukuran alternatif bagi variabel-variabel yang kami laporkan di sini. Poe dkk. JURNAL HAM • Vol. Poe dkk.

Variabel ini tidak signifikan dan tidak mengubah hasil temuan secara substantif. kami menunda semua variabel independen selama satu tahun dan menguji kembali model ini. Kami mempertimbangkan kemungkinan ini dengan serius dan oleh karenanya telah melakukan suatu proses pemeriksaan terhadap kelayakannya. perang internasional dan usia negara tidak memiliki dampak apa pun terhadap perilaku represif pemerintah. walaupun hasil substantif kami pada umumnya konsisten ketika kami memasukkan dampak waktu tetap. bukti juga menunjukkan bahwa hubungan dengan masyarakat sipil global memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia. Walaupun kami tidak bisa menawarkan suatu jawaban yang pasti terhadap pertanyaan tersebut. 26 Temuan-temuan ini bukan merupakan hasil karya multicollinearity. Dalam rangka mempertimbangkan kemungkinan bahwa dampak Perang Dingin dihasilkan oleh suatu bias praktik-praktik hak asasi manusia oleh pemerintahan-pemerintahan beraliran kiri (Poe dkk. temuantemuan ini menawarkan dukungan yang besar terhadap argumentasi kami. Negaranegara di dunia pasca-Perang Dingin lebih kecil kemungkinannya tunduk pada komitmen terhadap rejim hak asasi manusia internasional. suatu fenomena yang mungkin dapat dijelaskan oleh munculnya banyak negara baru yang relatif lemah. Kami mengulangi penundaan atau interval ini selama beberapa tahun kemudian untuk menjamin kekuatan temuan-temuan tersebut. Akhirnya. dampak ini berada di luar temuan-temuan kami bahwa negara yang meratifikasi hukum hak asasi manusia internasional cenderung tidak menaati hukum tersebut dalam praktiknya. Kami menemukan bahwa model yang mengalami penundaan sama persis secara subtantif dengan model yang kami laporkan di tabel 3.26 Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa terdapat korelasi sistematis yang positif antara penerimaan pemerintahan secara resmi terhadap hukum internasional untuk melindungi hak asasi manusia dengan perilaku nyata dari para elit pemerintahan untuk melindungi hak-hak tersebut. 4 • Th. Akhirnya. kami memasukkan suatu dummy variabel pengukuran mengenai apakah suatu pemerintahan dikuasi oleh rejim beraliran kiri. namun norma-norma yang dikodifikasi dalam perjanjian ini menyebarluas di kalangan organisasi nonpemerintah internasional JURNAL HAM • Vol. 91 . Yang lebih mengkhawatirkan adalah bukti yang menyatakan bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional justru memperburuk ketaatan negara terhadap norma-norma hak asasi manusia yang dilindungi oleh perjanjian tersebut.25 Dipertimbangkan bersama. Di sisi lain. 2007 yang secara strategis mempengaruhi rejim hukum hak asasi manusia untuk menekan pemerintah agar mengubah perilaku hak asasi manusia mereka. 25 Dalam rangka mempertimbangkan kemungkinan suatu dampak pilihan. kami dapat menawarkan bukti awal yang menyatakan bahwa temuantemuan kami tidak hanya sekedar hasil dari perhatian media yang meningkat terhadap pelanggaran hak asasi manusia setelah ratifikasi terhadap perjanjian. bahwa sumber-sumber laporan kami yang menjadi sumber data kami tentang perilaku represif terhadap hak asasi manusia lebih memberikan perhatian pada negara-negara yang lebih terbuka terhadap pertukaran informasi atau yang baru saja menandatangani suatu perjanjian hak asasi manusia internasional. 2001). Bertentangan dengan hal tersebut. dan matriks korelasi ini tersedia dari para pengarang atas dasar permintaan. sejumlah ilmuwan telah mengidentifikasi kemungkinan yang sangat nyata bahwa temuan-temuan kami dipengaruhi oleh suatu “dampak informasi”. setidaknya pada jangka pendek. Walaupun perjanjian-perjanjian seringkali tidak secara langsung memberikan kontribusi pada perbaikan di tingkat praktik.sangat mendorong perilaku represif negara. periode sejarah tampaknya memberikan perubahan. yang tidak mengubah hasil kami.

328.257*** (0.0.0004** (0.058 .003 (0. c Melalui konvensi.0.0005) .0001) .0006 (0.069** (0.058 .037) 0. koefisien dampak waktu tetap tidak dilaporkan secara individual untuk menghemat tempat + P < 0.0005* (0.10 * P < 0.0.047) 1.05) 1.074+ (0.077 (0. Ukuran perang sipil dan internasional dibatasi pada periode waktu 1976 ––1993.44*** (0.049) 1.0.46*** (0.022*** (0.027f (0.058 .4 1.0.077) 0.1** (0.072) 0.071** (0.913*** (0.45*** (0.121** (0.092* (0.626*** (0.043+ (0.025) .0.8 2.079) 0.0.006) .279*** (0.1.035) 0.023) Model 12a 0.256*** (0.16 (0.524.542.05 ** P < 0.080) 1.092* (0.0.0005** (0.006) .0001) .279*** (0.034 (0.022) Model 10 0.o.267*** (0.1.048) 1.082 (0.052) 0.0001) .026*** (0.002 (0.0.0004** (0.001 92 JURNAL HAM • Vol.065** (0.5 Perhatikan bahwa model 12 termasuk dampak waktu tetap tidak memasukkan variabel interval yang dependen.075) 0.7 2.01 *** P < 0.028*** (0.16) 0.815 .083) 0.356.525.0.0.036) 0.1.1.064) .2 2. 1978-99 Model 8 GDP per kapita (log) Demokrasi Populasi (log) Praktik masa lalu Perdagangan (log) Organisasi nonpemerintah internasional Perjanjian Perang sipilb Perang internasionalb Usia negara Dummy pasca Perang Dingin Dampak waktu yang tetap (1976-99)c N Pengamatan Log kemungkinan a b Model 9 0.027*** (0.0001) .819 . 2007 .038) 0.006) .024) .024 (0.135) .0.TABEL 4 ANALISA KUMPULAN PERIODE WAKTU LINTAS-SEKSI TENTANG PRAKTIK HAK ASASI MANUSIA DARI NEGARA DENGAN VARIABEL INDEPENDEN TAMBAHAN.065) 0.0.048) 0.006) .0001) .021) Model 11 0.0004** (0.007) .0.4*** (0.0.067) .1. 4 • Th.041) 0.

tetapi juga mengembangkan lebih jauh dari hasil temuan tersebut dalam hal cakupan waktu dan jumlah perjanjian hak asasi manusia internasional. yang oleh karenanya menyarankan bahwa kecil kemungkinannya temuantemuan kami merupakan hasil yang unik dari meningkatnya pelaporan yang ada setelah dilakukannya ratifikasi. kami membandingkan isi dari sumber laporan tersebut berdasarkan jumlah kata-kata yang didedikasikan terhadap isu penyiksaan. tidak ada bias sistematik pada meningkatnya jumlah kata dalam pelaporan atau dalam jenis informasi setelah ratifikasi terhadap perjanjian. Pertama. Kami menemukan bahwa. menengah. dan bahwa kecenderungan ini berlanjut sampai akhir 1990an. Sementara para ilmuwan pengarusutamaan hubungan internasional berargumentasi bahwa rejim hak asasi manusia internasional tidak memperbaiki praktik hak asasi manusia. kami menemukan bahwa dampak negatif dari ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional terhadap hak atas keamanan individu berlaku bagi keenam perjanjian hak asasi manusia utama. namun para ilmuwan konstruktivis dan hukum internasional menunjukkan JURNAL HAM • Vol. dan juga jenis informasi yang diberikan oleh laporan – informasi yang luas. Kami meneliti tiga periode waktu untuk setiap negara: tiga tahun sebelum ratifikasi terhadap CAT. yang pembentukannya didukung oleh rejim hukum internasional. Tidak terdapat bukti sistematik yang menunjukkan bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia dalam sistem PBB memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia. Kami menganalisa laporan tahunan hak asasi manusia dari Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat untuk setiap negara yang telah meratifikasi CAT. Sebagai akibatnya. Kerangka teori kami. Sifat dari laporanlaporan ini kelihatannya tidak mengalami perubahan yang signifikan setelah ratifikasi. periode saat ratifikasi terhadap CAT. Kami mencoba menemukan tentang dua aspek rejim hak asasi manusia yang ditemukan dalam kebanyakan literatur yang ada: yaitu sistem perjanjian hak asasi manusia internasional dan masyarakat sipil internasional. tetapi masyarakat sipil global memliki dampak positif terhadap praktik hak asasi manusia. sebagaimana dipresentasikan di lampiran C. atau terbatas. Untuk setiap negara. memberikan kekuatan lebih bagi aktor-aktor nonpemerintah untuk menekan pemerintah-pemerintah yang melanggar hak asasi manusia agar mengubah perilaku mereka. 2007 93 . tetapi semakin berkembangnya legitimasi ide-ide hak asasi manusia dalam masyarakat internasional. walaupun sumber laporan tentang pelanggaran hak asasi manusia bervariasi setiap tahunnya. yang didasari oleh pendekatan institusional rasional dan masyarakat dunia. memperkirakan bahwa rejim hukum tidak memiliki dampak atau memiliki dampak negatif terhadap praktik hak asasi manusia. kami mengambil sampel acak 15 negara dari sampel yang lebih besar yaitu 153 bangsa. Temuan kunci pertama kami tentang dampak perjanjian hak asasi manusia mengulangi temuan-temuan kajian terbaru mengenai topik yang sama. 4 • Th. Analisis empiris kami memperkuat tesis paradoks janji-janji kosong ini. sejumlah bukti bahwa rejim tersebut memiliki dampak positif terhadap praktikpraktik lokal. Temuan-temuan ini menggambarkan beberapa keraguan tentang argumen- KESIMPULAN Dasar analisa kami adalah dua set pengharapan dan bukti yang saling bertentangan tentang berkembangnya dampak rejim hak asasi manusia internasional.Bukti-bukti ini dikumpulkan melalui suatu percobaan kecil. dan tiga tahun setelah ratifikasi terhadap CAT.

Tindakan ratifikasi memberikan suatu karakter legitimasi pada pemerintah. Dengan memeriksa hubungan dengan masyarakat sipil internasional secara terpisah dari hubungan dengan rejim hak asasi manusia global. Karena adanya tekanan kuat untuk meratifikasi perjanjian hak asasi manusia dan relatif rendahnya biaya ratifikasi. kami menerapkan metode analisis isi pada laporan tahunan hak asasi manusia dari Departemen Dalam Negeri Amerika SeriJURNAL HAM • Vol. Walaupun banyak studi kasus telah mendokumentasikan dampak prinsip-prinsip hak asasi manusia global dan aktor-aktor internasional yang mendukung prinsip-prinsip ini dalam praktik-praktik lokal. seringkali mengubah arah dari “janji-janji kosong” pemerintah-perintah nasional yang ada di kepala mereka menjadi suatu “paradoks” global: yaitu perbaikan praktik-praktik hak asasi manusia. bagi pendekatan masyarakat dunia. Analisis statistik kami memberikan dukungan kuat bagi para ilmuwan dan pengamat yang berargumen bahwa kegiatan-kegiatan hak asasi manusia global berkontribusi pada perbaikan dalam praktik-praktik hak asasi manusia di tingkat lokal. 2007 94 . maka tindakan ratifikasi tersebut juga memberikan suatu penyamaran atas pelanggaran hak asasi manusia warga negaranya. temuan kami menunjukkan bahwa walaupun institusinya lemah. yang semakin berkembang dalam hal jumlah dan kekuatan. yang jika digabungkan dengan kurangnya institusionalisasi mekanisme penegakan.tasi-argumentasi optimis yang dikemukakan oleh para ilmuwan hukum internasional dan konstruksivionis. Para ilmuwan dan aktivis seringkali mengkritisi kurangnya mekanisme penegakan yang efektif dalam perjanjian hak asasi manusia internasional. Temuan kunci kedua kami tentang dampak positif hubungan dengan masyarakat global merupakan kontribusi penting baik bagi kajian empiris politik hak asasi manusia dan. namun hanya sedikit yang telah mengkaji dampak kegiatan internasional di luar sistem perjanjian ini secara sistematis. Berdasarkan pada panduan pengkodean yang diberikan oleh Poe dan Tate (1994). kami menggarisbawahi dampak yang berbeda dari kedua jenis hubungan tersebut terhadap praktikpraktik hak asasi manusia di tingkat lokal. walaupun aktor-aktor ini bukan merupakan pengganti bagi institusi yang lebih kuat yang dapat melindungi hak asasi manusia. Aktor-aktor masyarakat sipil pada dasarnya melakukan fungsi mekanisme penegakan yang sangat diperlukan tersebut. LAMPIRAN A Kumpulan Data tentang Hak Asasi Manusia (Y) Kami telah memperbaharui data yang ada tentang perilaku represif terhadap hak asasi manusia yang dikumpulkan oleh sejumlah ilmuwan sebelum kami dan yang ditawarkan oleh Steven Poe. banyak pemerintah meratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional tanpa adanya keinginan ataupun kapabilitas untuk menyelaraskan perilaku domestik mereka dengan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian hak asasi manusia internasional. 4 • Th. Kedua temuan menunjukkan pentingnya untuk memisahkan mekanisme-mekanisme yang berbeda di mana kekuatan-kekuatan global beroperasi guna memberikan dampak pada tindakan-tindakan di tingkat lokal. 1976-1993. dari sudut pandang teoritis. masyarakat sipil internasional telah menggunakan legitimasi norma-norma hak asasi manusia yang dinyatakan dan dikodifikasi dalam perjanjianperjanjian hak asasi manusia internasional tersebut untuk menekan pemerintah-pemerintah agar memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusianya. Namun. Aktor-aktor masyarakat sipil ini.

dan yang pada saat yang bersamaan mempertimbangkan variasi dalam hal tingkatan ratifikasi perjanjian hak asasi manusia oleh negara dan hubungan dengan organisasi nonpemerintah internasional. Guna menjamin konsistensi dengan metode pengkodean sebelumnya. kami menempatkan suatu nilai hak asasi manusia dengan skala lima. dan praktik masa lalu. Bagi semua kasus negara dari 1994 sampai 1999. Dalam rangka melakukan hal tersebut. populasi. 2007 Poe dan Mark Gibney atas data yang mereka berikan pada kami.28 Tabel B1 melaporkan probabilitas-probabilitas yang diperkirakan (berdasarkan model dan data kami) yang kami amati dari negara demokratis rata-rata yang jarang menggunakan represi atau yang menggunakan represi secara luas.29 Kami mengintepretasikan tabel tersebut sebagai berikut. dan kami telah menggunakannya sebagai pengujian ketika pada pengkodean kami. Oleh karena itu kami mencoba memahami apakah dampak yang telah diidentifikasi dalam analisa serial-waktu berlaku untuk jenis-jenis negara yang berbeda secara konsisten. kami hanya melaporkan dua kategori saja untuk menunjukkan argumentasi kami sesederhana mungkin. pelaku represi yang jarang (Y p 5) – ketimbang untuk jenis-jenis yang lain – seperti misalnya pelaku represi yang luas (Y p 3). Konsistensi antar coder dicatat sekitar 90%. kami menggunakan prosedur statis yang dibahas secara detil dalam Long (1997) untuk menghitung probabilitas-probabilitas yang diperkirakan bahwa suatu negara rata-rata biasa diamati jarang menggunakan represi [prob(Y p 5FX)] dan menggunakan represi secara luas [prob(Y p 3FX)]. demokrasi. kami menggunakan dua coders dalam menganalisa isi dari setiap sumber dan menggunakan suatu nilai angka. perdagangan. kami mengukur probabilitas-probabilitas yang diperkirakan dari estimasi yang digambarkan di model 1 (tabel 3 di atas). Prediksi-prediksi ini merupakan alat yang berguna untuk memeriksa apakah argumentasi kami konsisten di seluruh kategori variabel dependen untuk jenis-jenis negara yang berbeda-beda.kat. Mark Gibney dengan baik hati berbagi datanya (1980-2000) dengan kami. dan kami menggunakan pihak ketiga untuk menyelesaikan persoalan ketidakkonsistenan antar coders. 29 Untuk tujuan perhitungan atau kalkulasi. kami mengartikan suatu negara “rata-rata” sebagai Negara yang memiliki nilai rata-rata GDP.27 LAMPIRAN B nya. mungkin tidak bisa digeneralisasi begitu saja. yang awalnya diterapkan dalam Gastil (1980) dan digambarkan di bagian tentang data. 4 • Th. Analisis ini sangat bernilai karena sejumlah ilmuwan telah dengan benar menyatakan bahwa ratifikasi terhadap perjanjian dan hubungan dengan masyarakat sipil internasional mungkin memiliki dampak yang lebih besar bagi beberapa jenis pelanggaran hak asasi manusia tertentu – misalnya. didorong oleh pengalaman dari jenis negara tertentu. otokrasi – ketimbang jenis lainnya – misalnya. 28 Walaupun kami memperhitungkan probabilitasprobabilitas yang diperkirakan pada kelima kategori variabel dependen. Baris dan kolom pertama menunjukkan bahwa suatu negara demokratis yang tidak meratifikasi satu pun perjanjian hak asasi manusia (0) dan tidak berhubungan dengan ma27 Kami mengucapkan terima kasih kepada Steven Probabilitas yang Diperkirakan (Predicted Probabilities) Dalam rangka membongkar temuantemuan empiris utama lebih jauh. Sejak saat itu. temuan-temuan kami mungkin tidak sama bagi semua negara secara signifikan dan. Jika demikian. 95 . Kami mengakui bahwa argumentasi institusional kami mungkin juga menawarkan pengaruh bagi beberapa jenis kebijakan negara yang dapat lebih dijelaskan – misalJURNAL HAM • Vol.

syarakat sipil internasional (tidak satu pun) memiliki 21% kemungkinan melakukan tindakan represif secara meluas dan hanya 12% kemungkinan jarang melakukan tindakan represif. Ketika negara tersebut semakin banyak meratifikasi perjanjian hak asasi manusia (yang dijelaskan di tabel oleh pergeseran horisontal dari kiri ke kanan), negara tersebut secara bertahap lebih mungkin untuk melakukan tindakan represif secara meluas dan lebih kecil kemungkinannya untuk jarang melakukan tindakan represif. Ketika negara tersebut semakin berhubungan dengan masyarakat sipil internasional (yang dijelaskan di tabel oleh pergeseran vertikal dari atas ke bawah), negara tersebut secara bertahap lebih mungkin untuk melakukan tindakan represif secara meluas dan lebih kecil kemungkinannya untuk jarang melakukan tindakan represif. Probabilitas-probabibilitas ini mengijinkan kami untuk memeriksa besarnya pergeseran tersebut. Tabel B2 melaporkan probabilitas-probabilitas yang diperkirakan untuk negara otokratis rata-rata. Kami mengintepretasikan tabel tersebut dengan cara yang sama seperti tabel sebelumnya: suatu negara otokratis rata-rata yang diambil dari sampel yang tidak meratifikasi satu pun perjanjian hak asasi manusia (0) dan tidak berhubungan dengan masyarakat sipil internasional (tidak satu pun) memiliki 32% kemungkinan melakukan tindakan represif secara meluas dan hanya 6% kemungkinan jarang melakukan tindakan represif. Jika dilakukan pergeseran secara horisontal dalam baris tabel, dapat dilihat bahwa semakin banyak negara ini meratifikasi perjanjian hak asasi manusia internasional, maka semakin lebih mungkin negara melakukan praktik hak asasi manusia yang buruk. Jika dilakukan pergeseran secara vertikal dalam kolom tabel, dapat dilihat bahwa semakin banyak negara ini berhubungan dengan masyarakat sipil global,

maka semakin lebih mungkin perbaikan praktik hak asasi manusia di negara ini. Hasil ini menjelaskan tentang temuantemuan kami bahwa ratifikasi terhadap perjanjian hak asasi manusia internasional terpisah secara radikal dari ketaatan negara terhadap norma-norma hak asasi manusia, namun hubungan dengan masyarakat sipil internasional memperbaiki praktik-praktik hak asasi manusia. Tabel B1 dan B2 membawa perhatian pada tiga aspek dari paradoks ini. Pertama, dampak negatif perjanjian hak asasi manusia lebih besar pada negaranegara yang melakukan tindakan represif secara meluas ketimbang pada negara-negara yang jarang melakukan tindakan represif. Negara-negara represif yang bergabung dalam rejim hak asasi manusia menjadi semakin represif ketika mereka meratifikasi lebih banyak perjanjian hak asasi manusia internasional. Bahkan dalam banyak kasus, tabel-tabel ini menunjukkan bahwa lebih dari 10% negara lebih mungkin menggunakan tindakan represif yang meluas ketika mereka telah meratifikasi keenam perjanjian hak asasi manusia ketimbang ketika mereka tidak meratifikasi satu pun perjanjian hak asasi manusia. Dampak negatif pada rejim yang nonrepresif, yang ditunjukkan dengan menurunnya probabilitas-probabilitas yang diperkirakan bagi kategori negara yang jarang melakukan tindakan represif, dimulai dari tiga sampai sembilan persen perubahan. Temuan semacam ini berguna untuk memverifikasi bahwa dampak yang telah kami identifikasi bersifat sangat besar. Kedua, dampak positif hubungan negara dengan masyarakat sipil internasional lebih besar pada perilaku hak asasi manusia negara-negara yang melakukan tindakan represif secara meluas ketimbang negara-negara yang jarang melakukan tindakan represif. Ketika negara-negara represif
JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

96

membuka perbatasan mereka dan mengijinkan warga negaranya untuk bergabung dengan semakin banyak organisasi nonpemerintah internasional, maka negaranegara ini akan lebih kecil kemungkinannya menggunakan tindakan represif. Dampak pada rejim yang represif adalah tujuh sampai sembilan persen, sedangkan dampak pada negara-negara nonrepresif mulai dari dua sampai enam persen. Ketiga, dengan mengherankan hasilhasil ini konsisten bagi negara-negara demokratis maupun otokrasi (tabel B1 dan tabel B2). Walaupun pemerintahan-pemerintahan demokratis lebih mungkin menghormati hak asasi manusia ketimbang pemerintahan-pemerintahan otokratis (dan oleh karenanya adalah negara-negara yang jarang melakukan tindakan represif), namun kedua jenis pemerintahan tersebut mengalami paradoks janji-janji kosong yang sama. Temuan ini mungkin tidak diperkirakan oleh mereka yang percaya bahwa pemerintahan demokratis lebih responsif terhadap hukum hak asasi manusia internasional ketimbang pemerintahan otokratis, dan hal ini mengarah pada dukungan lebih terhadap ide bahwa paradoks tersebut merupakan fenomena global yang nyata. LAMPIRAN C

Dampak dari Informasi
Dalam tabel C kami menyediakan data yang dikumpulkan untuk memeriksa kemungkinan bahwa temuan-temuan kami dipengaruhi oleh dampak dari informasi. Kami memilih 15 negara secara acak dari sampel yang ada dan memeriksa laporan Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat untuk memilih data dari tiga jangka waktu: tiga tahun sebelum ratifikasi, tahun ratifikasi, dan tiga tahun setelah ratifikasi. Untuk setiap jangka waktu, kami melaporkan jumlah total kata-kata yang ada dalam laporan hak asasi manusia tentang PenyikJURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

saan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, atau Merendahkan Martabat Manusia (Amnesty International, berbagai tahun), serta jenis informasi yang diberikan dalam laporan tersebut. Kami mempertimbangkan tiga kategori: (1) pelaporan yang luas, yang memberikan informasi detil mengenai individu tertentu yang disiksa, individu atau unit pemerintahan tertentu yang dituduh melakukan penyiksaan, atau kondisi-kondisi khusus penyiksaan seperti demonstrasi dan kerusuhan, serta pengesahan dan pelaksanaan peraturan perundang-undangan tentang hak asasi manusia, komisi hak asasi manusia, kebijakan tentang hak asasi manusia, dan program hak asasi manusia lainnya di tingkat nasional; (2) pelaporan menengah, yang memberikan informasi yang cukup detil mengenai individu yang mengalami penyiksaan ataupun yang dituduh melakukan penyiksaan, serta pengesahan dan pelaksanaan peraturan perundang-undangan tentang hak asasi manusia; dan (3) pelaporan yang terbatas, yang memberikan informasi berkaitan dengan peristiwa penyiksaan secara umum tanpa memberikan informasi secara detil mengenai individu tertentu yang mengalami penyiksaan, individu atau unit pemerintahan tertentu yang dituduh melakukan penyiksaan, atau kondisi-kondisi khusus penyiksaan seperti demonstrasi dan kerusuhan, serta pengesahan dan pelaksanaan peraturan perundang-undangan tentang hak asasi manusia, komisi hak asasi manusia, kebijakan tentang hak asasi manusia, dan program hak asasi manusia lainnya. Kami juga memberikan laporan tentang nilai variabel independen untuk setiap kasus. Hasil menunjukkan bahwa tidak ada hubungan sistematik yang dapat diamati antara ratifikasi negara terhadap CAT dengan panjang ataupun jenis informasi yang dilaporkan oleh sumber hak asasi manusia tahunan Departemen Dalam Negeri

97

Amerika Serikat yang kami gunakan untuk mengkodekan variabel dependen kami, walaupun negara-negara terkadang dilaporkan telah meningkatkan perilaku represif mereka setelah ratifikasi, sebagaimana telah kami prediksikan. Baik panjang maupun jenis informasi lebih berhubungan dengan tingkat represi ketimbang ratifikasi negara terhadap CAT: ketika pelanggaran negara terhadap hak asasi manusia sangat besar, maka laporan cenderung lebih panjang dan lebih detil. Ketika pemerintah

tidak melakukan tindakan represif, laporan menjadi lebih pendek, dan jenis informasi yang diberikan dengan demikian menjadi lebih terbatas. Percobaan ini menunjukkan bahwa perubahan dalam nilai praktik hak asasi manusia tidak bisa dikaitkan dengan peningkatan atau penurunan perhatian sebagai suatu hasil ratifikasi terhadap perjanjian dan lebih menekankan pada pentingnya paradoks yang kami temukan dalam analisa data kami.

DAFTAR PUSTAKA
Amnesty International. 1994. Amnesty International Report. London: Amnesty International Publications. –. Berbagai tahun. Amnesty International Report. London: Amnesty International Publications. Apodaca, Clair. 2001. “Global Economic Patterns and Personal Integrity Rights after the Cold War.” International Studies Quarterly 45:587–602. Beck, Nathaniel, and Jonathan N. Katz. 1995. “What To Do (and Not To Do) with–TimeSeries Cross-Section Data.”–American Political Science Review 89:634–50. Berkovitch, Nitza. 1999. From Motherhood to Citizenship: Women’s Rights and International Organizations. Baltimore: Johns Hopkins University Press. Boli, John, dan George M. Thomas, eds. 1999. Constructing World Culture: International Nongovernmental Organizations since 1875. Stanford, Calif.: Stanford University Press. Brunsson, Nils. 1989. The Organization of Hypocrisy: Talk, Decisions and Actions in Organizations. Crichester: John Wiley and Sons. Camp Keith, Linda. 1999. “The United Nations International Covenant on Civil and Political Rights: Does it Make a Difference in Human Rights Behavior?” Journal of Peace Research 36:95–118.

Chayes, Abram, dan Antonia Chayes. 1995. The New Sovereignty: Compliance With International Regulatory Agreements. Cambridge, Mass.: Harvard University Press. Chomsky, Noam, dan Edward S. Herman. 1979. The Political Economy of Human Rights: The Washington Connection and Third World Fascism. Boston: South End Press. Cingranelli, David, dan Thomas Pasquarello. 1985. “Human Rights Practices and the Distribution of U.S. Foreign Aid to Latin American Countries.” American Journal of Political Science 27:539–63. Clark, Ann Marie. 2001. Diplomacy of Conscience: Amnesty International and Changing Human Rights Norms. Princeton, N.J.: Princeton University Press. Cleveland, Sarah H. 2001. “Human Rights Sanctions and the World Trade Organization.” In Environment, Human Rights and International Trade, edited by F. Francioni. Portland, Ore.: Hart Publishing. Collins, Randall. 1992. Sociological Insight: An Introduction to Non-obvious Sociology. Edisi kedua. New York: Oxford University Press. Cottier, Thomas. 2002. “Trade and Human Rights: A Relationship toDiscover.” Journal of International Economic Law 5:111–32. Downs, George, David M. Rocke, dan Peter Barsoom. 1996. “Is the Good News about Compliance Good News for Cooperation?” International Organization 50:379–406. Durkheim, Emile. (1895) 1982. The Rules of Sociological Methods. New York: Free Press.

98

JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

Finnemore. 1991. “Legal Treatment of Koreans in Japan: The Impact of International Human Rights Law on Japanese Law. Sovereignty: Organized Hypocrisy. Rules. How Nations Behave: Law and Foreign Policy. 1989.” Dalam The Power of Human Rights: International Norms and Domestic Change.” Commentary 68: 34–45. Cambridge: Cambridge University Press. 1996. New York: Columbia University Press.–. Krasner. Friedrich V. The Evolution of International Human Rights: Visions Seen.. Keohane. Gibney. Conway W. “Population Pressures and Political Repression.” International Organization. 1998.Y. Henkin. Jeane.” International Organization 50:325–47. –. N. –. and Decisions: On the Conditions of Practical and Legal Reasoning in International Relations and Domestic Affairs. Philadelphia: University of Pennsylvania Press. N. New York: Free Press. 1986. Howard. Anja. “Do Human Rights Treaties Make a Difference?” The Yale Law Journal 111:1935–2042. Peter J. San Francisco. Robert O. Emilie. 1999. Rhoda. 1999. Goodman.” Journal of Refugee Studies 5:33–46. “Tracking Democracy’s Third Wave with’the Polity III Data. Raymond. 2005.”—Social Science Quarterly74:322– 33. The Elementary Forms of Religious Life. Ithaca. “Right or Robust? The Sensitive Nature of Government Repression in an Era of Globalization. 1996b. dan Jack Donnelly. 4 • Th. Princeton. 1998. New York: Cambridge University Press. Oona A. Dalam cetakan. “Even Bad States Do Good Things: International Human Rights Law and the Politics of Legitimation. N. “Dictatorships and Double Standards. Hathaway.” Journal of Peace Research 32:469–82. Keith. JURNAL HAM • Vol.” American Political Science Review 80:801–18. dan Kathryn Sikkink. dan Kathryn Sikkink. The Culture of National Security: Norms and Identity in World Politics.J.: Transaction Books. Gastil. Henderson.” Journal of Conflict Resolution 35:120–42. Lauren. ed. New York: Columbia University Press.: Cornell University Press. Rep. 1996a.J. 1979. Kratochwil. Princeton.” Duke Law Journal 54. 1986. Baltimore: Johns Hopkins University Press. 1992. N. Ithaca. and Political Regimes. After Hegemony. 1995. 1984. and World Politics: Insights from Sociology’s’ Institutionalism. “Conditions Affecting the Use of Political Repression. 1979. Jetschke.: Princeton University Press. 1980.J.Y.: Princeton University Press.: Cornell University Press. ed. Rights Across Borders: Immigration and the Decline of Citizenship. dan Ted Robert Gurr. “Norms. Freedom in the World: Political Rights and Civil Liberties. Kiyoteru Tsutsui. National Interest in International Society. 2007 99 . diedit oleh Thomas Risse.” Makalah dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Sociological Association. dan John Meyer. Human Rights. Martha. Kirkpatrick.” Journal of Peace Research 42(6). Keck. “Human Dignity. “Mechanisms of Social Influence and Regime Design in Human Rights Law: Toward a Sociological Theory of International Law. Mark. Norms. 2004. Jaggers. “USA Refugee Policy: A Human Rights Analysis Update. David.” Human Rights Quarterly 18: 131–79. Iwasawa.. Ropp. “Linking the Unlinkable? International Norms and Nationalism in Indonesia and the Philippines. Louis. Activists Beyond Borders: Advocacy Networks in International Politics. Margaret E. Emilie. Vanessa Dalton. (1912) 1995. Hafner-Burton. 1993. Hafner-Burton. 1998. Stephen D. Katzenstein. dan Marc Vockell. Yuji. 2002. dan Derek Jinks. August. New Brunswick. Culture. Stephen C. Paul Gordon. Dalam cetakan. “Trading Human Rights? How Preferential Trade Agreements Influence Government Repression. –. Ryan. 1980. Jacobson. N.

” Human Rights Quarterly 9:405–13. The New Institutionalism in Organizational Analysis. Sabine C. John W.ch/pdf/ report. 1994. “International Human Rights Law and Practice in Latin America. dan Francisco O. New York: Routledge. David John Frank. dan James McCormick.. McKinlay. Calif. 1975. Vazquez. 1997. Aid Really Linked to Human Rights in Latin America?” American Journal of Political Science 32:231–39. Poe. “How Are These Pictures Different? A Quantitative Comparison of the U.: Sage Publications. dan Kathryn Sikkink. J. Ramirez.” World Politics 40:476–98. Neal Tate.. “The Structuring of a World Environmental Regime. Human Rights Diplomacy. Neal Tate. “Economic and Political Explanations of Human Rights Violations. “Repression of the Human Right to Personal Integrity Revisited: A Global Cross-National Study Covering the Years 1976–1993.Long. “The Origins of Human Rights Regimes: Democratic Delegation in Postwar Europe. Andrew. Neil. 1997. dan W. “Taking Preferences Seriously: A Liberal Theory of International Politics. –.. Steven C. Carey. “Repression of Human Rights to Personal Integrity in the 1980s: A Global Analysis.. 2007 .. 1977.. D. John W.. “Institutionalized Organizations: Formal Structure as Myth and Ceremony. Scott. Military Assistance. Beverly Hills. David Kamens. John J. 1987. Meyer. John W.” International Organization 51:623–51. DiMaggio.: Greenwood Press. 1991. James G. Meyer. 4 • Th. James M. 1870–1990. Thomas.” International Organization 54:633–59. dan Linda Camp Keith. 1997.S.unhchr.S. 1999. Regression Models for Categorical and Limited Dependent Variables. Calif. “World Society and the Nation-State.” International Organization 52:943–69.” American Journal of Sociology 103:144–81. Mullerson. 1976– 1995. Park. “A Comparative Analysis of the Political and Economic Performance of Military and Civilian Regimes. dan Nancy Brandon Tuma. Thousand Oaks. Ann Hironaka. Rein. 1992.: Sage Publications. dan Tanya C. Powell. Organizational Environments: Ritual and Rationality. “Human Rights and the Allocation of U. “Human Rights and MNCs: Theory Versus Quantitative Analysis.” Human Rights Quarterly 18:368–97. School Knowledge for the Masses: World Models and National Primary Curricular Categories in the Twentieth Century. Status of Ratifications of the Principal International Human Rights Treaties. Mitchell.. 1992. S.” Human Rights Quarterly 23: 650–77. dan Neil Mitchell. dan Paul J.” Comparative Politics 8:1–30. Walter W.” American Journal of Sociology 83:340–63. Han S. March. Chicago: University of Chicago Press. 1997. Lutz. Olsen. Steven C. State Department and Amnesty International Human Rights Reports. R.. 2000. Meyer. 1994/1995. Connie L. John W. 1988. 2000. 1996. Steven. Evan Schofer. McNeely. Richard Scott. dan Brian Rowan. John Boli.pdf. dan Johan P. Poe.. Meyer. 1997. Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights. Meyer. William H. “The False Promise of International Institutions.. 2d ed. dan A. 100 JURNAL HAM • Vol. JohnW. London: Falmer Press. Poe. 1991. George M. 1988.” The American Political Science Review 88:853–72. 2002. Ellen L. Moravcsik.” International Organization 54:217–52. Constructing the Nation-State: International Organization and Prescriptive Action..” International Organization 51:514– 55. Mearsheimer. McCormick. Poe. dan Aaron Benavot. 1998. dan C. Steven C. “Is U.S. Cohan. Westport.” International Security 19:5–49. Conn.. 2001. 1995. “The Institutional Dynamics of International Political Orders.” Journal of Peace Research 28:205–16. “Correlates of Human Rights: Global Tendencies. eds. http://www.” International Studies Quarterly 43:291–313. C. Meyer.

Melissa Bolyard. Jackie. Claude. Compliance and Public Authority: A Theory with International Applications. Gelleny. 2004.Wesley. Theory of International Politics. Michael. Ron. Ropp. Ramirez. edited by R. “Money with a Mean Streak? Foreign Economic Penetration and Government Respect for Human Rights in Developing Countries. 4 • Th. 2000. 329– 45 in Human Rights and Development: International Views.’1965– 1999. Yasemin. Anaheim. and the Individual. dan David Carleton. Accommodation.: Princeton University Press. Waltz. Richard. Michael. Limits of Citizenship: Migrants and Postnational Membership in Europe. “Human Rights and Development: Theory and Data.: Sage Publications.: Sage Publications. Stephen C. Mass. Daniel C. Institutional Structure: Constituting State.” Journal of Conflict Resolution 19:379– 416. Baltimore: Johns Hopkins University Press. Princeton. “Empirical Comparative Rights Research: Some Preliminary Tests of Development Hypotheses.” Social Forces 83:587–620.– –. 1975. James C. August. Richards. 1986. New York: Cambridge University Press. Soysal. dan John Boli. Human Rights. London: Macmillan. 1994. “Human Rights and the Global Economy: A Response to Meyer. JURNAL HAM • Vol. P. N. Kiyoteru. Chicago: University of Chicago Press. Forsythe. Calif. Strouse.” International Studies Quarterly 45:219–39. 1890– 1970. Kathleen. Scott. “Varying Methods of State Violence. Rasler. P. W. Risse. Kiyoteru.” Human Rights Quarterly 7:205–29. Meyer. “The Foreign Policy of Human Rights: Rhetoric and Reality from Jimmy Carter to Ronald Reagan. dan Christine MinWotipka.” In Comparative Human Rights. Baltimore: Johns Hopkins University Press. John W.. Young. Stohl.” American Political Science Review 80:921– 45.” Paper presented at the annual meeting of the American Sociological–Association.” International Organization 51:275–301. George M.. 1989. 2001.” Pp. Tsutsui. “Global Civil Society and Ethnic Social Movements in the Contemporary World. Thomas. 2007 101 .J. dan Richard P. and Violence in the United States. 1987. Thousand Oaks. 2001. Smith. The Power of Human Rights: International Norms and Domestic Change. David L. 1985. Claude. 2001. Oran R. Sacko. “Global Human Rights and State Sovereignty: Nation-States’ Ratification of International Human Rights Treaties.: Addison. Stohl. 2d ed. 1999. 2004. “Global Civil Society and the International Human Rights Movement: Citizen Participation in International Human Rights Nongovernmental Organizations. Francisco O. Thomas. 1979.–Institutions and Organizations. Calif. and the Demise of Communism. 1979. “War and Domestic Violence: The Case of the United States. dan David H. Tsutsui. Thomas.Pritchard. dan Kathryn Sikkink. Society.” Human Rights Quarterly 21:207–19. Karen.. 1997. The Helsinki Effect: International Norms. 1890–1970. Ronald D. 1999. Kenneth. edited by D. Beverly Hills. dan Anna Ippolito. 1976. “War. James.” Sociological Forum 19:63–88. Reading.

dengan tujuan untuk melihat sejauh mana mereka dapat berfungsi atau bekerja bersama sebagai suatu sistem yang menyatu.1 Tujuh perjanjian utama hak HAM menetapkan standar-standar internasional bagi perlindungan dan pemajuan HAM di mana Negara-negara dapat mendaftarkan diri menjadi pihak pada setiap perjanjian tersebut. kedua. dan terintegrasi bagi pemajuan dan perlindungan HAM. dan Budaya (Committee on Economic. dan. 4 • Th. Setiap Negara Pihak memiliki kewajiban untuk mengambil langkah-langkah yang menjamin bahwa setiap orang di Negara tersebut dapat menikmati hak-hak yang diatur dalam perjanjian. Harus diperhatikan bahwa Komite Hak Ekonomi. badan-badan perjanjian harus mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan mereka untuk menghasilkan suatu pendekatan yang konsisten dan sistematis terhadap monitoring pelaksanaan HAM di tingkat nasional. Sosial. yang mana setiap Negara dapat memilih untuk menerima ataupun tidak menerimanya. dan walaupun setiap badan perjanjian merupakan suatu komite yang ter1 Penyebutan komite yang dibentuk berdasarkan diri dari para ahli yang independen dari komite-komite lainnya. istilah “badan perjanjian” diadopsi untuk tujuan-tujuan berikut ini.Lembar Fakta Perserikatan Bangsa-Bangsa No. walaupun ketentuan-ketentuan di setiap perjanjian merujuk secara spesifik pada “komite”nya. Bagi mereka yang tertarik pada suatu perjanjian atau badan perjanjian tertentu dapat merujuk pada terbitan-terbitan tersebut. yaitu untuk menggambarkan setiap komite yang memonitor pelaksanaan perjanjian HAM. Sejauh mana perjanjian dan badan perjanjian dapat bekerja bersama-sama sebagai suatu sistem tergantung pada dua faktor: pertama. yang setiap lembar faktanya mencantumkan informasi mengenai badan perjanjiannya. melainkan dibentuk oleh resolusi Dewan Ekonomi. atau “badan perjanjian” yang memonitor pelaksanaan perjanjian oleh Negara-negara Pihak. 2007 perjanjian sebagai “badan perjanjian” HAM telah diterima secara luas. holistik. Negara harus menerima semua perjanjian HAM internasional utama secara sistematis dan melaksanakan ketentuanketentuannya (ratifikasi universal dan efektif). Social and Cultural Rights/ CESCR) secara teknis bukan merupakan suatu badan perjanjian karena tidak secara langsung dibentuk berdasarkan Kovenannya. Walaupun setiap perjanjian merupakan instrumen hukum yang terpisahpisah. Namun demikian. dan Budaya (Economic. Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (Office of the High Commissioner for Human Rights/OHCHR) telah menerbitkan lembar fakta yang spesifik mengenai ketujuh perjanjian utama. Sosial. Badan perjanjian membantu Negara-negara Pihak melakukan hal tersebut dengan memonitor pelaksanaannya dan merekomendasikan langkah-langkah selanjutnya. yang meninjau semua perjanjian dan badan perjanjian. Social and Cultural Council/ECOSOC). buku ini menggambarkan tentang suatu “sistem perjanjian” HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Lembar fakta ini menggunakan pendekatan yang lebih umum. 102 . Bagian I menggambarkan tentang tujuh perjanjian HAM utama yang saat ini JURNAL HAM • Vol. 30 Sistem Perjanjian Hak Asasi Manusia: Pengantar terhadap Perjanjian Hak Asasi Manusia Utama dan Badan-Badan Perjanjian Lembar Fakta ini merupakan suatu pengantar umum terhadap perjanjian dan komite internasional hak asasi manusia (HAM) utama.

Selain itu juga didiskusikan tentang dampak penekanan baru atas pembentukan dan dukungan sistem perlindungan di tingkat nasional terhadap sistem perjanjian di tingkat internasional. Suatu glossary mengenai istilah-istilah teknis yang digunakan berkaitan dengan baik perjanjian-perjanjian maupun badanbadan perjanjian juga disediakan guna membantu pembaca dalam hal terminologi yang digunakan berkaitan dengan perjanjian-perjanjian dan badan-badan perjanjian. upaya-upaya untuk meningkatkan efektivitas sistem. baik di tingkat nasional maupun internasional. Semua Negara memiliki komitmen untuk memajukan penghormatan bagi hak dan kebebasan yang dicantumkan dalam Deklarasi dan untuk mengambil langkah-langkah untuk menjamin pengakuan dan ketaatan terhadap hak dan kebebasan tersebut secara universal dan efektif. Termasuk di dalamnya. Semua badan perjanjian akan dipertimbangkan secara sama. dengan berfokus pada elemen-elemen yang serupa dalam mandat dan metode kerja mereka. JURNAL HAM • Vol. Badan perjanjian ini memonitor pelaksanaan hak-hak yang diatur dalam perjanjian tersebut oleh Negaranegara yang telah menerimanya. Upaya-upaya telah dilakukan oleh Liga Bangsa-Bangsa (LBB) yang dibentuk pada akhir Perang Dunia Kedua untuk membangun suatu kerangka hukum internasional guna melindungi kelompok minoritas. termasuk mekanisme monitoring internasionalnya. 2007 DUHAM menyatakan dengan jelas bahwa semua HAM bersifat tidak terbagi (indivisible) dan saling berkaitan (interrelated). perbedaan-perbedaan dalam praktik dapat ditemukan di lembar fakta yang spesifik. 4 • Th. dalam suatu dialog antarnegara yang bersifat keras tetapi konstruktif. Sistem badan perjanjian terdiri dari hal-hal utama yang wajib dilakukan oleh Negara-negara di forum internasional. mengenai pelaksanaan HAM di negara-negara mereka. khususnya melalui pengarusutamaan (streamlining) prosedur pelaporan Negara. Kekejaman dan ketakutan yang terjadi pada Perang Dunia Kedua telah memotivasi masyarakat internasional untuk berupaya menjamin bahwa kekejaman seperti itu tidak lagi terulang dan menyediakan daya pendorong bagi gerakan modern untuk membentuk suatu sistem perlindungan HAM internasional yang bersifat mengikat. Bagian III menggambarkan tentang tantangan-tantangan yang dihadapi oleh sistem perjanjian HAM. Ketujuh perjanjian HAM menjelaskan lebih lanjut suatu kerangka hukum yang komprehensif di mana setiap Negara dapat memenuhi komitmennya dalam pemajuan dan perlindungan HAM secara universal dengan bantuan badanbadan perjanjian. perlindungan HAM telah mulai berkembang sebagai suatu wacana penting bagi masyarakat internasional. Perjanjian-perjanjian ini merupakan produk lebih dari setengah abad elaborasi atau penjelasan yang berkesinambungan sejak adopsi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia atau DUHAM (Universal Declaration of Human Rights) dengan suara bulat oleh Majelis Umum PBB pada 1948.berlaku. dan bahwa setiap hak harus ditekankan kepentingannya secara sama. BAGIAN I Membangun standar-standar HAM: perjanjian dan protokol opsionalnya Pada awal abad ke-20. Bagian II menjelaskan tentang pekerjaan tujuh badan perjanjian HAM yang dibentuk berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. 103 .

dan budaya. Pasal 3 sampai pasal 21 menggambarkan hak sipil dan politik yang klasik (termasuk hak suaka dan hak atas kepemilikan). sosial. bersama dengan tokoh-tokoh lain seperti Rene Cassin. dengan pengakuan penting di pasal 28 bahwa “Setiap orang berhak atas ketertiban sosial dan internasional. 2007 . yang merepresentasikan sebagaimana disepakati untuk pertama kalinya secara internasional definisi hak-hak semua orang. telah menjadi aturan-aturan yang mengikat secara hukum melalui praktikpraktik di Negara-negara. dan sosial. yang digambarkan sebagai “suatu standar umum bagi pencapaian semua orang dan semua bangsa”. budaya. walaupun Deklarasi bukan merupakan perjanjian yang mengikat secara hukum. dan John Humphrey. Pasal 22 sampai pasal 28 menjamin sejumlah hak ekonomi. Deklarasi menyebutkan satu demi satu pengelompokan hak-hak secara spesifik: sipil. 4 • Th. yaitu: “Semua manusia dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak yang sama”. politik. menetapkan serangkaian hak yang mencakup semua aspek kehidupan. Tidak hanya itu. di mana hak dan kebebasan yang diatur dalam Deklarasi ini dapat diwujudkan sepenuhnya”.Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (1948) Piagam PBB 1945 memproklamasikan bahwa salah satu tujuan PBB adalah untuk memajukan dan mendorong penghormatan terhadap HAM dan kebebasan mendasar bagi semua orang. Dengan de- mikian. yang diadopsi dalam bayang-bayang masa pelanggaran yang sedemikian masif terhadap hak-hak yang dicantumkan dalam dokumen tersebut. Setelah membuat suatu ketentuan umum mengenai diskriminasi. beberapa komentator berkomentar bahwa keseluruhan Deklarasi ini memiliki status demikian. yang kemudian dikenal sebagai Hari Hak Asasi Manusia Internasional. Hal ini merupakan suatu penekanan yang kemudian diafirmasikan kembali bertahun-bertahun kemudian pada Deklarasi Konferensi Dunia tentang Hak Asasi Manusia di Wina pada 1993. melalui penggambarannya yang komprehensif mengenai berbagai jenis hak. Charles Malik. Dengan dorongan yang kuat dari Elenor Roosevelt. Contohnya termasuk larangan terhadap penyiksaan dan diskriminasi rasial. Pasal pertamanya dengan terkenal menggambarkan ide hak asasi manusia yang mendasar. ekonomi. dan interdependensi semua hak tersebut. Peng Chun Chang. Dokumen ini. Deklarasi menekankan pada kesatuan. 104 JURNAL HAM • Vol. yang diadopsi dengan suara bulat oleh Majelis Umum PBB pada 10 Desember 1948. namun pentingnya dokumen ini tidak boleh diremehkan. Ini adalah norma-norma yang. Deklarasi juga menyediakan secara tegas dasar bagi struktur perjanjian untuk ditegakkan di dekade-dekade berikutnya. kesaling-terkaitan. Apakah Deklarasi merupakan Hukum Kebiasaan? Telah diterima secara luas bahwa beberapa ketentuan dalam Deklarasi saat ini telah menjadi aturan dalam hukum kebiasaan internasional. Upaya ini telah menghasilkan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM). Dokumen ini memiliki kekuatan moral yang tinggi. Sebagaimana tercerminkan dalam namanya. walaupun tidak ditentukan dalam suatu perjanjian. maka untuk pertama kalinya Negara-negara berupaya mencari jalan untuk membuat suatu dokumen tunggal yang berisikan berbagai hak dan kebebasan mendasar yang dimiliki oleh setiap individu karena status mereka sebagai manusia.

Sistem Perjanjian Hak Asasi Manusia PBB: menunjukkan perjanjian dan mandat badan perjanjian DEKLARASI UNIVERSAL HAK ASASI MANUSIA Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia JURNAL HAM • Vol. 2007 INSTRUMEN OP OP* Laporan Laporan Pengaduan Individual & penyelidikan SCP Kunjungan & Laporan Laporan OP2 OP SC KIHESB 1966 ICERD 1965 CEDAW 1979 CAT 1984 CRC 1989 KIHSP 1966 ICPMW 1990 OP AC PROTOKOL OPSIONAL OP1 Laporan Laporan Laporan Laporan Pengaduan Individu ECOSOC Pengaduan individual berdasarkan pasal 14 Pengaduan individual berdasarkan pasal 22 dan penyelidikan Pengaduan individual berdasarkan pasal 77 (belum berlaku) BADAN PERJANJIAN Komite Hak Ekonomi. 4 • Th. Sosial dan Budaya Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial Komite Hak Asasi Manusia Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan Komite Menentang Penyiksaan Komite Hak Anak Komite Pekerja Migran 105 SCP = Subkomite Pencegahan *OPCAT belum berlaku .

Dua perjanjian. termasuk dilakukannya propaganda ide-ide rasial yang dilakukan oleh kelompok-kelompok dan organisasi-organisasi. Perjanjian-perjanjian selanjutnya memperluas daftar tersebut lebih lanjut. Status kepemilikan. Asal-usul kebangsaan atau sosial. yang diadopsi oleh Majelis Umum pada Desember 1965. Bahasa. Informasi lebih lanjut mengenai DUHAM dapat ditemukan di Lembar Fakta No. Konvensi juga menetapkan suatu rangkaian hak asasi manusia spesifik yang ekstensif – baik dalam bidang sipil dan politi serta ekonomi. ada kesepakatan bersama bahwa hak-hak yang tercantum di dalamnya harus diterjemahkan pada bentuk legal sebagai perjanjian-perjanjian. sosial. kelahiran. yang secara langsung mengikat Negara-negara yang menyetujui ketentuanketentuan di dalamnya. Konvensi ini mengatur kewajiban Negara-negara Pihak secara detil untuk memerangi momok tersebut dalam enam pasal. 4 • Th. perjanjian pertama yang disepakati mengatur tentang fenomena khusus diskriminasi rasial: Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. yang melarang pembedaan berdasarkan ras.Nondiskriminasi dalam penikmatan hak asasi manusia Semua perjanjian hak asasi manusia utama mencerminkan prinsip umum yang diadopsi oleh Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia bahwa hak-hak yang diatur dalam perjanjian-perjanjian harus dapat dinikmati tanpa diskriminasi dalam bentuk apa pun. dan budaya dan kebanyakan diantaranya disebutkan satu per satu dalam Deklarasi – yang harus dijamin tanpa pembedaan JURNAL HAM • Vol. yang bertemu setiap tahunnya di Jenewa untuk membicarakan berbagai persoalan HAM. 2007 106 . Konvensi juga mewajibkan untuk mengambil langkah-langkah yang selayaknya untuk mencegah diskriminasi rasial mengakar di masyarakat. Hal ini mengarah pada negosiasi-negosiasi yang panjang di Komisi Hak Asasi Manusia. Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial dan Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan dibuat secara spesifik untuk menghapuskan bentuk-bentuk khusus diskriminasi. yaitu diskriminasi rasial dan diskriminasi terhadap perempuan. Agama. Pendapat politik atau lainnya. Pasal 2 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia menentukan suatu daftar yang bersifat non-exhaustive mengenai dasar-dasar yang dilarang bagi diskriminasi: Ras atau warna kulit. Jenis kelamin. keturunan serta asal usul kebangsaan dan etnis. Selain kewajiban yang nyata bahwa Negara harus menahan diri dari tindakan-tindakan semacam itu di semua tingkatan. warna kulit. yaitu suatu badan politik yang terdiri dari perwakilan Negara-negara. atau lainnya. 2: Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial (1965) Ketika DUHAM diadopsi. Mengingat pentingnya secara politis kebangkitan rejim apartheid di Afrika Selatan. Daftar yang sama tercantum di pasal 2 dari kedua Kovenan Internasional. Setelah mendefinisikan diskriminasi rasial.

Sosial. yang mempunyai maksud atau dampak meniadakan atau merusak pengakuan. paragraf 1. ekonomi. atau pengutamaan berdasarkan ras. sipil. pengecualian. dengan menyatakan bahwa HAM yang ideal hanya bisa dicapai jika dibentuk kondisi-kondisi di mana setiap orang bisa menikmati hak ekonomi. 4 • Th. Akhirnya. keturunan atau kebangsaan atau suku bangsa. warna kulit. Namun. Majelis Umum meminta Komisi Hak Asasi Manusia untuk membuat dua kovenan yang terpisah.berdasarkan ras. budaya. Pada awalnya. sosial. Konvensi juga menentukan perbaikan (remedy) yang efektif terhadap tindakan diskriminasi rasial sebagai suatu hak mendasar. sional tentang Hak Sipil dan Politik (KIHSP) serta Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. negosiasi sedang berlanjut mengenai dua perjanjian utama: Kovenan Interna- JURNAL HAM • Vol. setelah diskusi yang panjang. Bagian mukadimah atau pembukaan kedua instrumen mengakui kesalingtergantungan semua HAM. pencapaian atau pelaksanaan. dibayangkan adanya suatu kovenan tunggal yang mencakup semua HAM. Bagian II dari kedua Kovenan mencantumkan ketentuan-ketentuan umum yang melarang diskriminasi (pasal 2 (1) Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik dan pasal 2 (2) Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. 12: Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial.2 Kedua Kovenan akhirnya diadopsi oleh Majelis Umum pada Desember 1966 dan mulai berlaku pada 1976. yang dibentuk oleh Konvensi untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. Berdasarkan pasal 14. Bersama dengan DUHAM. kedua Kovenan ini dirujuk sebagai “Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia atau International Bill of Human Rights”. Bagian I dari kedua Kovenan sama-sama menentukan tentang hak semua orang untuk menentukan nasibnya sendiri dan untuk secara bebas mengelola kekayaan dan sumber daya alamnya. budaya atau bidang kehidupan masyarakat yang lain” (pasal 1) Bagian II Konvensi mewajibkan semua Negara Pihak untuk melapor kepada Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial secara berkala. Apa yang dimaksud dengan diskriminasi rasial? “segala bentuk pembedaan. dan kebebasan mendasar dalam bidang politik. Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia Pada saat yang sama dengan disepakatinya Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. 2 Resolusi 543 (V). Kedua Kovenan memiliki struktur yang sama dan mengadopsi kata-kata yang sama atau serupa di beberapa pasal. pembatasan. Informasi lebih lanjut mengenai Konvensi ini dapat ditemukan di Lembar Fakta No. dan politiknya. Sosial. atas dasar persamaan. dan Budaya (KIHESB). sosial. Negara-negara juga dapat memilih untuk mengakui kompetensi Komite untuk mempertimbangkan pengaduan dari individual (pasal 14). hak asasi manusia. baik melalui pengadilan ataupun institusi-institusi lainnya. 2007 107 . yang meminta agar kedua instrumen tersebut sedapat mungkin memuat sebanyak mungkin ketentuan-ketentuan yang sama guna “menekankan kesatuan dari tujuan yang ada”. Proses pembuatan suatu instrumen yang mengikat secara hukum yang mengabadikan hak-hak yang ada dalam DUHAM telah dimulai segera setelah diadopsinya Deklarasi pada 1948.

dan Budaya. khususnya melalui pemilihan yang Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. 15: Komite Hak Asasi Manusia. dan Budaya). Bagian III dari setiap Kovenan memuat ketentuan-ketentuan yang substantif. mengijinkan Negara-negara untuk menerima kewajiban-kewajiban tambahan. Oleh karena itu. termasuk suatu forum yang mandiri dan imparsial di mana tuduhan-tuduhan terhadap pelanggaran-pelanggaran semacam itu bisa dimajukan. Sebagai tambahan. seperti halnya Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. dan Budaya meniru bahasa yang digunakan dalam DUHAM.dan Budaya). Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (1966) Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik menjelaskan mengenai hak sipil dan politik yang tercantum dalam Deklarasi. Protokol Opsional Pertama 1966 menyediakan hak atas pengaduan individual kepada Komite Hak Asasi Manusia. membangun hak-hak yang sesuai dengan DUHAM dalam detil yang lebih lengkap. Dua protokol opsional tambahan pada Kovenan. Kovenan ini juga memasukkan hak-hak tambahan. berkaitan dengan penikmatan hak-hak Kovenan sebagaimana juga pembatasan yang diijinkan terhadap penikmatan tersebut. dan menegaskan kesetaraan hak laki-laki dan perempuan (pasal 3 kedua Kovenan). dan perlindungan terhadap minoritas di pasal 27. Informasi lebih lanjut mengenai Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik ini dapat ditemukan di Lembar Fakta No. seperti hak-hak tahanan di pasal 10. dengan pengecualian hak atas kepemilikan dan hak suaka (yang dilindungi terpisah dalam Konvensi tentang Status Pengungsi pada 1951). adil dan berkala. Sosial. 4 • Th. pasal 26 menjamin kesetaraan di depan hukum dan nondiskriminasi atas perlindungan hukum yang pada umumnya diberlakukan di suatu Negara. Bagian IV dari Kovenan mewajibkan semua Negara untuk melapor secara berkala kepada Komite Hak Asasi Manusia. Hak atas kesehatan yang dicakup oleh DUHAM sebagai suatu aspek dari standar kehidupan yang JURNAL HAM • Vol. Sosial. mengenai hak atas pendidikan. yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam Kovenan. seperti halnya Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial. pasal 2 menyediakan hak atas perbaikan (remedy) efektif terhadap pelanggaran hakhak yang dijamin oleh Kovenan. Protokol Opsional Kedua 1989 memajukan penghapusan hukuman mati. 2007 108 . Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Pasal 25 memuat jaminan terhadap hak politik: hak untuk mengambil bagian dalam urusan-urusan publik. yang menjelaskan lebih lanjut mengenai hak-hak yang tercantum dalam DUHAM. tetapi menyediakan dua pasal (pasal 13 dan pasal 14) bagi dimensi-dimensinya yang berbeda. misalnya. yang menentukan kewajiban bagi pendidikan dasar yang bersifat wajib dan tersedia secara cuma-cuma serta untuk mengambil langkah-langkah guna mencapai pendidikan lanjutan dan pendidikan tinggi yang tersedia secara cuma-cuma. Sosial. Kovenan juga memuat suatu katalog yang panjang mengenai hak dan kebebasan sipil dan politik utama. yang menentukan langkahlangkah yang harus diambil guna realisasinya secara penuh. Sebagai tambahan terhadap pasal 2 (1) dan pasal 3 tentang nondiskriminasi (yang sama dengan di Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. dan Budaya (1966) Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Sosial.

Sosial. Sosial. Namun demikian.. Informasi lebih lanjut mengenai Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. pasal 11 (2). Pasal 2 (1) menyatakan bahwa Negara Pihak “mengambil langkah-langkah. dan pasal 23) yang dibangun dari prinsip-prinsip di pasal 22 dan 28 DUHAM. Kovenan juga menentukan suatu kewajiban segera (immediate obligation) untuk mengambil langkah-langkah yang disengaja. dan bertarget yang mengarah pada perwujudan penuh hak-hak yang diatur dalam Kovenan. dan Budaya. Hak Ekonomi. pasal 22. Sosial. Prinsip pencapaian secara bertahap mengakui hamJURNAL HAM • Vol. Konvensi mengadopsi suatu bentuk yang diperagakan dalam Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial. 16: Komite Hak Ekonomi.] sepanjang tersedia sumber dayanya. dan pembayaran pada saat hari-hari libur umum. dilarang di dalam kedua Kovenan. yang menjamin keselamatan dan kesehatan dalam pekerjaan. dan Budaya. dan Budaya utama: Hak atas nondiskriminasi Hak atas pekerjaan Kondisi pekerjaan yang adil dan baik Hak-hak pekerja Hak atas jaminan sosial Perlindungan terhadap keluarga Hak atas standar kehidupan yang layak Hak atas kesehatan Hak atas pendidikan Hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan budaya Salah satu perbedaan yang terlihat diantara kedua Kovenan adalah prinsip pencapaian secara bertahap (progressive realization) di Bagian II dari Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. tetapi Konvensi ini memuat sejumlah inovasi yang mencerminkan perkembangan selama lima belas tahun setelah 109 . Namun demikian.. konkret. [. pasal 15 (4). 2007 batan-hambatan yang mungkin dihadapi oleh Negara-negara Pihak berkaitan dengan keterbatasan sumber daya. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan mengatur secara detil mengenai apa yang dimaksud dengan pelarangan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin dari perspektif kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Kovenan juga mengakui peran yang lebih luas dari masyarakat internasional (pasal 2 (1). dengan maksud untuk mencapai secara bertahap perwujudan penuh dari hak-hak yang diakui dalam [Kovenan]”. Diskriminasi berdasarkan jenis kelamin. Pasal 6 mengenai hak atas pekerjaan dilengkapi oleh pasal 7 yang memuat ketentuan tentang hak atas kondisi kerja yang adil dan baik. seperti halnya diskriminasi rasial.layak. dan Budaya ini dapat ditemukan di Lembar Fakta No. serta termasuk persoalan-persoalan spesifik yang berkaitan dengan kesehatan seperti kesehatan lingkungan serta penyakit-penyakit menular dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan. Konvensi ini memuat berbagai aspek kebijakan dan program dari persoalan-persoalan spesifik. 4 • Th. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (1979) Pada 1979 masyarakat internasional mengadopsi suatu perjanjian baru yang menangani fenomena khusus: diskriminasi terhadap perempuan atas dasar jenis kelamin. dalam Kovenan diberikan pasal tersendiri: pasal 12 yang mengakui hak atas standar tertinggi yang dapat dicapai dalam hal kesehatan fisik dan mental. kesetaraan dalam hal promosi ke jenjang yang lebih tinggi. Sosial.

Pasal 9 dan pasal 10 memperluas konsep kesetaraan dalam hal kewarganegaraan dan pendidikan. atau lainnya oleh kaum perempuan” (pasal 1) Bagian V dari Konvensi mewajibkan semua Negara Pihak untuk melapor secara berkala kepada Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan. Dengan mengaplikasi prinsip-prinsip umum dalam suatu fenomena khusus. pengucilan atau pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin. Seperti halnya Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. dan pasal 13 menjelaskan tentang hak-hak perempuan atas pekerjan. kebiasaan. kesehatan. pasal 12. Pasal 7 dan pasal 8 merinci kewajiban-kewajiban untuk menjamin partisipasi yang setara antara perempuan dan laki-laki dalam kehidupan publik dan politik. atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan mendasar di bidang politik.Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial diadopsi. 4 • Th. tidak manusiawi. Tidak Manusiawi. Pasal 6 secara eksplisit mewajibkan Negara-negara untuk memberangus segala bentuk perdagangan perempuan dan eksploitasi pelacuran. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan memulai dengan mendefinisikan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin. dan praktik-praktik diskriminasi dalam masyarakat. atau merendahkan martabat. sosial. budaya. sementara pasal 11. atau Merendahkan Martabat (1984) Pada 1984 perjanjian lain diadopsi yang mengatur tentang suatu fenomena spesifik: penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi lainnya. yang berakibat atau atau bertujuan untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan. Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam. walaupun fenomena ini secara implisit dapat termasuk dalam pelarangan perbudakan dan kerja paksa yang termuat di instrumen lain. 22: Diskriminasi terhadap Perempuan: Konvensi dan Komite. Pasal 15 dan pasal 16 memperluas hakhak atas kesetaraan di hadapan hukum serta dalam hal perkawinan dan hubungan keluarga. Informasi lebih lanjut mengenai Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan ini dapat ditemukan di Lembar Fakta No. yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. 2007 110 . Pasal-pasal awal mewajibkan Negara-negara untuk menahan diri dari diskriminasi berdasarkan jenis kelamin dalam penyelenggaraan Negara dan mengambil langkah-langkah guna mencapai kesetaraan yang faktual dan legal dalam segala bidang kehidupan. ekonomi. dan bidang-bidang lain dalam kehidupan ekonomi dan sosial. penikmatan. Pasal 7 Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik memuat larangan terhadap penyiksaan dan perlakuan atau penghukuman yang kejam. Apa yang dimaksud dengan diskriminasi terhadap perempuan? “pembedaan. pasal 14 adalah satu-satunya ketentuan dalam perjanjian-perjanjian yang menangani persoalan-persoalan khusus yang dihadapi oleh perempuan di daerah-daerah pedesaan. termasuk dengan memusnahkan perilaku. sipil. tetapi Konvensi yang memiliki nama yang sama dengan lebih lanjut membangun suatu skema hukum yang ditujukan baik untuk pelarangan maupun penghukuman JURNAL HAM • Vol.

Konvensi Menentang Penyiksaan dalam pasal 12 sampai pasal 14 mengatur hak atas penyelidikan yang segera dan imparsial terhadap tuduhan terjadinya penyiksaan. Ketimbang memuat tentang “hak atas perbaikan (remedy) yang efektif” yang umum bagi pelanggaran-pelanggaran sebagaimana tercantum dalam perjanjian-perjanjian lain. atau untuk suatu alasan yang didasarkan pada diskriminasi. dengan menghukumnya atas suatu perbuatan yang telah dilakukan atau diduga telah dilakukan oleh orang itu atau orang ketiga. tidak manusiawi atau merendahkan martabat agar tidak meningkat menjadi penyiksaan. Setelah mendefinisikan penyiksaan. Tujuan dari ketentuan-ketentuan ini adalah untuk menjamin bahwa tidak ada tempat bersembunyi bagi pelaku tindakantindakan yang dilarang oleh perjanjian. deportasi. atau yang warga negaranya terlibat sebagai pelaku atau korban. pada seseorang untuk memperoleh pengakuan atau keterangan dari orang itu atau dari orang ketiga. bukti-bukti yang dikumpulkan melalui penyiksaan tidak boleh digunakan di pengadilan. maka Negara tersebut memiliki yurisdiksi JURNAL HAM • Vol. Negara-negara juga dapat memilih menerima kompetensi Komite untuk mempertimbangkan pengaduan dari Negara-negara lain atau pengaduan individual. termasuk perintah atasan. Kemudian. Bagian II dari Konvensi mewajibkan setiap Negara Pihak untuk melapor secara berkala kepada Komite Menentang Penyiksaan. dapat menjustifikasi suatu tindak penyiksaan – larangan ini bersifat absolut. Berdasarkan pasal 21 dan pasal 22. atau sepengetahuan pejabat pemerintah” (pasal 1). atas hasutan dari. Konvensi menyatakan dengan jelas bahwa tidak ada kondisi apa pun. Yang secara dekat berkaitan dengan hal ini adalah pelarangan utama yang termuat dalam pasal 3 berkaitan dengan pengembalian atau ekstradisi “non-refoulment”: jika terdapat alasan yang kuat untuk percaya bahwa seorang individu akan mengalami penyiksaan di suatu negara. Negara Pihak harus mengkriminalisasi penyiksaan dan menghukumnya secara layak. Negara tersebut dapat meminta ekstradisi terhadap orang yang dituduh sebagai pelaku dari negara lain. 2007 terhadap tindak pidana tersebut. yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam Konvensi. atau mengancam atau memaksa orang itu atau orang ketiga. dengan persetujuan. dengan kompensasi yang adil dan layak sebagaimana juga rehabilitasi penuh kepada korban penyiksaan. pasal 16 mewajibkan Negara-negara untuk mencegah perlakuan atau penghukuman yang kejam. 4 • Th. maka orang tersebut tidak boleh diekstradisi. Ketika kebutuhan untuk menghukum penyiksaan mulai melintasi batas negara. Sebuah protokol opsional pada Konvensi disepakati pada 2002 dan akan mulai berlaku ketika telah diterima oleh 20 Ne- 111 . atau dikembalikan ke negara tersebut. Berdasarkan pasal 15. Pasal 10 dan pasal 11 memuat tentang pendidikan bagi para penegak hukum dan peninjauan terhadap metode-metode mereka. pasal 4 dan pasal 9 membentuk suatu skema di mana suatu Negara di mana penyiksaan telah terjadi.terhadap praktik-praktik tersebut. Apa yang dimaksud dengan penyiksaan? “setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja sehingga menimbulkan rasa sakit atau penderitaan yang hebat. yang – jika permintaan ekstradisi ditolak – maka negara lain tersebut harus melakukan proses hukum terhadap orang yang dituduh sebagai pelaku tersebut. apabila rasa sakit dan penderitaan tersebut ditimbulkan oleh. baik jasmani maupun rohani.

sebagai manusia yang berusia kurang dari 18 tahun. penyalahgunaan obat-obatan (pasal 33). 17: Komite Menentang Penyiksaan. perpisahan dari orang tua (pasal 9). Pasal 38 menegaskan kembali kewajiban Negara-negara Pihak dalam konflik bersenjata berdasarkan hukum humaniter internasional. sebagai prajurit dalam konflik. dan perdagangan anak-anak (pasal 35) secara eksplisit diatur dalam Konvensi ini. Baik pasal 24 dari Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik dan pasal 10 dari Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. ketentuan-ketentuan tertentu mencakup hak anak atas identitas (pasal 7 dan pasal 8). Sementara anak-anak. Protokol opsional ini menyediakan suatu sistem kunjungan berkala oleh badan-badan internasional dan nasional ke tempat-tempat penahanan dengan tujuan untuk mencegah penyiksaan dan perlakuan kejam lainnya. Kepentingan terbaik bagi seorang anak: bahwa kepentingan terbaik bagi seorang anak harus menjadi pertimbangan utama dalam semua tindakan berkaitan dengan seorang anak (pasal 3). dan adopsi (pasal 21). dan Budaya menentukan bahwa anak-anak berhak atas langkah-langkah perlindungan khusus yang mereka butuhkan sebagai anak-anak. memang menikmati semua HAM yang diatur dalam perjanjian-perjanjian lain. penyatuan kembali dengan keluarga (pasal 10). Pasal 23 mengatur secara khusus perawatan anak-anak penyandang cacat. dan mewajiban mereka untuk tidak merekrut maupun menggunakan anak-anak di bawah usia 15 tahun. 112 JURNAL HAM • Vol. 2. Mengakui kerentan- an khusus pada anak-anak. Informasi lebih lanjut mengenai Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam. 3. perlindungan dari eksploitasi ekonomi (pasal 32). perlindungan dari penganiayaan (pasal 19). Empat “Prinsip-Prinsip Umum” bagi implementasi hak anak Komite Hak Anak telah mengidentifikasikan empat prinsip-prinsip umum yang termuat dalam Konvensi yang dapat memandu Negara-negara dalam melaksanakan hak anak: 1. Sosial. Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat dapat ditemukan di Lembar Fakta No. 2007 . 4 • Th. pernyataan kembali hak-hak ini dengan penekanan pada situasi-situasi khusus anak-anak dalam satu dokumen yang komprehensif memberikan suatu kesempatan untuk membentuk ketentuan-ketentuan tambahan yang relevan dengan anak-anak. jika dimungkinkan. kelangsungan hidup. dan perkembangan: hak yang melekat pada seorang anak untuk hidup dan kewajiban Negara-negara Pihak untuk menjamin semaksimal mungkin kelangsungan hidup dan perkembangan anak (pasal 6). Hak hidup. Pasal 22 menyebutkan mengenai situasi khusus anak-anak pengungsi. penjualan. eksploitasi seksual (pasal 34). perpindahan secara gelap (pasal 11). Oleh karena itu. Nondiskriminasi: kewajiban Negara-negara untuk menghormati dan menjamin hak-hak yang diatur dalam Konvensi bagi setiap anak di wilayah yurisdiksi mereka tanpa diskriminasi dalam bentuk apa pun (pasal 2).gara. Konvensi Hak Anak mengatur langkahlangkah ini secara lebih detil. Konvensi Hak Anak (1989) Perjanjian pertama yang menangani secara komprehensif hak suatu kelompok khusus adalah Konvensi Hak Anak. misalnya. serta penculikan.

termasuk persiapan migrasi. walaupun hak-hak ini juga memberikan kewajiban-kewajiban khusus kepada Negara-negara pengirim. keberangkatan. Informasi lebih lanjut mengenai Kon- vensi Hak Anak dapat ditemukan di Lembar Fakta No. Konvensi mengikuti bahasa dalam Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. Konvensi ini berlaku bagi seluruh proses migrasi. 2007 113 . kedua. diatur secara detil dalam dua protokol opsional Konvensi. akses terhadap informasi (pasal 17). semua pekerja migran dan anggota keluarganya. dan juga kesehatan (pasal 24). serta penjualan anak. lihat Komentar Umum Konvensi Hak Anak No. Mayoritas hak-hak dalam Konvensi ini berkaitan dengan Negara penerima. yang dibentuk oleh Konvensi untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. dan pronografi anak. Konvensi kemudian diatur dalam dua bagian hak yang terpisah. apa pun status migrasi mereka. kebebasan berserikat dan berkumpul dengan damai (pasal 15) dan privasi (pasal 16). Oleh karena itu. pendapat tersebut harus menjadi pertimbangan : sesuai dengan usia dan kematangan anak” (pasal 12). anakanak memiliki hak penuh atas kebebasan berekspresi (pasal 13). seperti hak atas pemberitahuan konsuler berkaitan dengan penangkapan dan ketentuan-ketentuan khusus berkaitan dengan pelanggaran terhadap hukum migrasi dan pemusnahan dokumen-dokumen identitas serta larangan pengembalian secara kolektif. pelacuran anak. Sebagai tambahan. serta standar kehidupan yang layak (pasal 27). 4 • Th. Konvensi diawali dengan laranganlarangan diskriminasi yang sudah dikenal terhadap penikmatan hak-hak dalam Konvensi. yang diadopsi pada 2000. pertama. kebebasan berpikir. dan budaya yang diatur dalam Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. 5 (CRC/GC/2003/5) Di luar ketentuan-ketentuan yang menegaskan hak anak dalam hal perlindungan. Konvensi Internasional tentang Perlindungan terhadap Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya (1990) Perjanjian HAM yang terbaru adalah Konvensi Pekerja Migran. Sosial. apa pun usia dan kematangan mereka. yang mengatur tentang hak-hak kelompok tertentu yang membutuhkan perlindungan: semua pekerja migran dan anggota keluarganya. Pendapat anak tentang situasinya sendiri: hak anak untuk mengungkapkan pendapatnya secara bebas “dalam semua hal yang mempengaruhi anak tersebut”. dan beragama (pasal 14). dan Budaya. serta hak ekonomi. dan keseluruhan masa tinggal dan kegiatan yang mendapatkan pembayaran di Negara yang mempekerjakan. hak atas JURNAL HAM • Vol. Beberapa pasal menyatakan kembali hak-hak yang dipertimbangkan dalam situasi khusus pekerja migran. transit. sosial. Bagian II Konvensi mewajibkan semua Negara Pihak untuk melapor secara berkala kepada Komite Hak Anak. dan. hak-hak tambahan pekerja migran dan keluarganya yang memiliki dokumen.4. 10: Hak Anak. Konvensi Hak Anak juga menyediakan dasar baru dengan mengelaborasi perspektif anak-anak berkaitan dengan hak sipil dan politik klasik yang termuat dalam Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. misalnya. Informasi lebih lanjut. berkeyakinan. Persoalan keterlibatan anak-anak dalam konflik bersenjata. jaminan sosial (pasal 26). Dalam mendefinisikan hak sipil dan politik pekerja migran. serta saat kembali ke Negara asal atau Negara tempat tinggal asalnya.

Pasal 76 dan pasal 77 juga menyediakan suatu hak atas pengaduan oleh Negara-negara Pihak lain atau pengaduan individu. seperti Konvensi ILO 182 tentang pelarangan bentukbentuk terburuk pekerjaan anak. Oleh karena itu. yang pada awalnya dilindungi dalam Deklarasi tetapi tidak termuat dalam Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. atau KonJURNAL HAM • Vol. dan anak-anak pekerja migran memiliki hak dasar atas akses terhadap pendidikan apa pun status hukum mereka. dan pekerja yang berbasis-proyek. misalnya. Semua perjanjian tersebut. berdiri sendiri-sendiri. dan bagi kelompok pekerja migran tertentu seperti pekerja frontier. Hak-hak tambahan berlaku bagi pekerja-pekerja yang memiliki dokumen yang sah. dengan sejumlah prinsip yang mengikat mereka bersama-sama. pekerja yang berpindah-pindah (itinerant). Kesalingtergantungan ini adalah salah satu alasan untuk membuat suatu pendekatan yang lebih terkoordinasi oleh badan perjanjian HAM atas kegiatankegiatan mereka. ketimbang sebagai obyek pasif dari keputusan-keputusan pihak berwenang. setidaknya harus disediakan perawatan medis sebagaimana hal tersebut disediakan bagi seorang warga negara. saling bergantung. Kebanyakan Negara. 4 • Th. perjanjian-perjanjian lain. yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. Bagian VII dari Konvensi mewajibkan semua Negara Pihak melapor secara berkala kepada Komite Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. dan saling menguatkan. Setiap perjanjian mencantumkan baik secara eksplisit maupun implisit prinsip-prinsip dasar nondiskriminasi dan kesetaraan. sebenarnya perjanjian-perjanjian tersebut saling melengkapi satu sama lain. Konvensi mendefinisikan hak ekonomi. khususnya dengan mendorong Negara-negara untuk memandang pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam semua perjanjian tersebut sebagai bagian dari tujuan yang satu. secara spesifik disebutkan secara satu persatu bagi pekerja migran. tetapi tergantung pada penikmatan semua hak lainnya. adalah penting untuk membaca seluruh perjanjian HAM di mana suatu Negara menjadi pihak sebagai suatu kesatuan. 2007 Membaca keseluruhan perjanjian sebagai suatu kesatuan Untuk sepenuhnya memahami kewajiban-kewajiban Negara berdasarkan perjanjian-perjanjian ini. perlindungan efektif atas pelanggaran terhadap hak-hak. perlindungan khusus bagi kelompok rentan tertentu. Ketujuh perjanjian PBB tidak dimaksudkan menjadi suatu katalog yang pasti mengenai kewajiban HAM suatu Negara. dapat memperluas lebih lanjut perlindungan yang ditawarkan kepada orang-orang dalam yurisdiksi Negara tersebut. Sebagai tambahan. berdasarkan prinsip-prinsip bersama tersebut. perjanjian yang terpisah-pisah. Informasi lebih lanjut mengenai pekerja migran dan Konvensinya dapat ditemukan di Lembar Fakta No. pekerja musiman. saling berkaitan. termasuk Konvensi tentang Status Pengungsi dan Konvensi-konvensi ILO.kepemilikan. selama Negara Pihak menerima kompetensi Komite dalam hal tersebut. sosial. 24: Hak Pekerja Migran. dengan hasil bahwa tidak ada satu hak pun yang dapat dinikmati sepenuhnya jika terisolasi. dan pemahaman bahwa manusia adalah mahluk yang aktif dan merupakan partisipan yang terlibat dalam kehidupan publik dalam Negara di mana ia berlokasi dan dalam keputusan-keputusan yang mempengaruhinya. dan budaya pekerja migran dalam hal situasi khusus mereka. di luar keterlibatan mereka dalam sistem perjanjian HAM PBB. Ketimbang sebagai perjanjian- 114 .

115 . dan Budaya (Committee on Economic. Komite Menentang Penyiksaan (Committee against Torture/CAT). 2007 3. memonitor pelaksanaan Konvensi Menentang Penyik- BAGIAN II Monitoring pelaksanaan standarstandar HAM: badan perjanjian Badan perjanjian adalah komite para ahli yang memonitor pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian HAM utama oleh Negara-negara Pihak. Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial (Committee on the Elimination of Racial Discrimination/CERD). Tetapi hal ini hanya merupakan langkah pertama. dibentuk pada 1987. dan Budaya. merupakan badan perjanjian pertama yang dibentuk. Ketika perjanjian pertama diadopsi. 4. Social and Cultural Rights/CESCR) dibentuk pada 1987 untuk melaksanakan mandat monitoring Dewan Ekonomi dan Sosial (ECOSOC) berdasarkan Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Sosial.vensi ILO 169 tentang hak-hak masyarakat adat. Pelaksanaan ketujuh perjanjian hak asasi manusia utama dimonitor oleh tujuh badan monitoring perjanjian hak asasi manusia: 1. Sosial. perjanjian tersebut mengakui bahwa Negara-negara Pihak membutuhkan dorongan dan bantuan dalam memenuhi penikmatan hak-hak yang diatur dalam perjanjian oleh setiap orang yang ada di Negara tersebut. 5. aksesi. pelaksanaan dari ketentuan-ketentuannya. Bagian II menjelaskan pekerjaan badan perjanjian tersebut dan mengapa pekerjaan mereka berkaitan dengan kehidupan orang-orang di seluruh dunia. perjanjian membentuk suatu komite internasional yang terdiri dari ahli-ahli independen guna memonitor. Komite Hak Ekonomi. maupun suksesi. Oleh karenanya. 4 • Th. Komite Hak Asasi Manusia (Committee on Human Rights/HRC) dibentuk pada 1976 untuk memonitor pelaksanaan Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. setiap JURNAL HAM • Vol. melalui berbagai sarana. 2. Ketika suatu negara menerima salah satu dari perjanjian-perjanjian ini melalui ratifikasi. yang memonitor pelaksanaan Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial sejak 1969. Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Committee on the Elimination of Discrimination against Women/ CEDAW) telah memonitor pelaksanaan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan oleh Negara-negara Pihaknya sejak 1982. karena pengakuan terhadap hak-hak di atas kertas tidak cukup untuk menjamin bahwa hak-hak ini akan dapat dinikmati dalam praktiknya. Semua kewajiban hukum internasional ini harus dipertimbangkan bersama ketika mengevaluasi tanggung jawab suatu Negara untuk melindungi HAM. merupakan instrumen-instrumen yang jelas-jelas memiliki dimensi HAM. Apa yang dimaksud dengan badan-badan perjanjian? Ketujuh perjanjian HAM internasional utama menciptakan kewajiban hukum bagi Negara-negara Pihak untuk memajukan dan melindungi HAM di tingkat nasional. maka Negara tersebut memikul suatu kewajiban hukum untuk melaksanakan hak-hak yang diatur dalam perjanjian tersebut.

4 • Th.saan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam. Semua badan perjanjian menerima dukungan dari Perwakilan Perjanjian dan Komisi (Treaties and Commissions Branch) Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) di Jenewa. badanbadan perjanjian lainnya pada umumnya bertemua di Kantor Perserikatan BangsaBangsa di Jenewa. Pemilihan bagi setengah dari jumlah anggota diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Semua badan perjanjian diberikan mandat untuk menerima dan mempertimbangkan laporanlaporan yang diserahkan secara berkala oleh Negara-negara Pihak yang memberikan secara detil pelaksanaan ketentuanketentuan dalam perjanjian di negara yang bersangkutan. namun tidak semua. Anggota-anggota dipilih untuk jangka waktu empat tahun. Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat. Beberapa. Badan-badan perjanjian mengeluarkan panduan guna membantu Negara-negara dalam persiapan pembuatan laporannya. CEDAW bertemu di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York. Komposisi badan-badan perjanjian CERD HRC CESCR CEDAW CAT CRC CRC CMW : : : : : : : : 18 anggota 18 anggota 18 anggota 23 anggota 10 anggota 18 anggota 18 anggota 10 anggota 7. badan perjanjian juga melaksanakan sejumlah fungsi tambahan yang ditujukan untuk memperkuat pelaksanaan perjanjian oleh Negara-negara Pihak. sebagaimana juga kedua protokol opsionalnya yang berkaitan dengan tentara anak dan eksploitasi anak. 116 . sejak 1990 telah memonitor pelaksanaan Konvensi Hak Anak oleh Negara-negara Pihaknya. yang dinominasikan dan dipilih untuk jangka waktu empat tahun (tetap dan dapat diperbaharui) oleh negara-negara Pihak. Komite Hak Anak (Committee on the Rights of the Child atau CRC). Apa yang dilakukan oleh badan perjanjian? Badan perjanjian melaksanakan sejumlah fungsi yang ditujukan pada monitoring bagaimana perjanjian dilaksanakan oleh Negara-negara Pihak. 6. Beberapa badan perjanjian dapat mempertimbangkan pengaduan atau komunikasi individual yang mengadukan bahwa hak-hak mereka telah dilanggar oleh JURNAL HAM • Vol. dengan pengecualian CEDAW yang dilayani oleh Bagian Pengembangan Perempuan (Division for the Advancement of Women atau DAW) di New York. walaupun Komite Hak Asasi Manusia biasanya menyelenggarakan pertemuan bulan Maret-nya di New York. 2007 Setiap komite terdiri dari ahli-ahli independen (dengan jumlah anggota antara 10 sampai 23 orang) yang kompetensinya di bidang hak asasi manusia diakui. Komite Pekerja Migran (Committee on Migrant Workers/CMW) menyelenggarakan pertemuan pertamanya pada Maret 2004 dan akan memonitor pelaksanaan Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. serta menyelenggarakan diskusi tentang tema-tema yang berkaitan dengan perjanjian. mengelaborasi komentar umum yang mengintepretasikan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian.

kewajiban mereka berdasarkan perjanjian HAM di mana mereka menjadi pihak.3 sar ini. prosedur dan praktik dapat berbeda-beda antara satu komite dengan komite lainnya sebagai akibat variasi mandat setiap komite berdasarkan perjanjian dan protokol opsional yang berkaitan. dan setiap konvensi hak asasi manusia internasional utama setelah itu. dengan ketentuan bahwa Negara tersebut telah menerima prosedur ini. Dalam mandat menda- 3 Mereka yang tertarik pada prosedur yang seleng- kapnya dari suatu badan perjanjian disarankan untuk melihat lembar fakta bagi komite tersebut. setiap Negara Pihak juga memiliki kewajiban untuk menyerahkan laporan secara berkala kepada badan perjanjian yang bersangkutan tentang bagaimana hak-hak telah dilaksanakan. berlaku umum bagi semua komite. 1 Agustus 1956. kedua Kovenan Internasional 1966.4 Model tersebut digunakan dalam Kovenan Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial 1965. adalah memonitor pelaksanaan perjanjian yang bersangkutan melalui peninjauan terhadap laporan-laporan yang diserahkan secara berkala oleh Negara-negara Pihak sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian tersebut. namun harus dicatat bahwa setiap badan perjanjian adalah suatu komite para ahli yang independen yang memiliki suatu mandat untuk memonitor pelaksanaan suatu perjanjian yang khusus. dan mendorong lebih lanjut pelaksanaan. Ide monitoring HAM melalui peninjauan laporan ini berawal dari resolusi Dewan Ekonomi dan Sosial pada 1956 yang meminta Negara-negara Anggota PBB untuk menyerahkan laporan berkala mengenai perkembangan yang dibuat dalam rangka pemajuan HAM di negaranya masing-masing. 4 • Th. Berikut ini diuraikan mengenai elemen-elemen umum yang utama dari proses pertimbangan terhadap laporan-laporan Negara oleh badanbadan perjanjian. Kewajiban Negara untuk melapor Sebagai tambahan kewajiban mereka untuk melaksanakan ketentuan substantif dalam perjanjian. Beberapa badan perjanjian juga dapat melakukan penyelidikan. Pertimbangan terhadap laporan Negara Pihak oleh badan perjanjian Mandat utama badan-badan perjanjian. 117 . Berikut ini diuraikan mengenai kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh badan perjanjian sesuai dengan mandat individual mereka. Walaupun ketujuh badan perjanjian dijelaskan bersama sebagai bagian dari suatu sistem koordinasi perjanjian. JURNAL HAM • Vol. badan-badan perjanjian membentuk praktik dan prosedur yang telah terbukti cukup efektif untuk menganalisa sejauh mana Negara telah memenuhi.suatu Negara Pihak. Walaupun badan perjanjian melanjutkan upaya mereka untuk mengkoordinasikan kegiatannya. 2007 4 E/Res/624 B (XXII).

setiap Negara Pihak harus menyerahkan suatu laporan awal yang komprehensif biasanya satu tahun setelah perjanjian mulai diberlakukan di Negara tersebut (dua tahun dalam kasus Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Sosial. + Pasal 41 dari Kovenan memberikan diskresi kepada Komite Hak Asasi Manusia untuk menentukan kapan laporan berkala harus diserahkan. dan yudisial yang diambil oleh Negara untuk memberikan dampak pada ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. tetapi pasal ini memberikan Dewan Ekonomi dan Sosial diskresi untuk membuat program pelaporannya sendiri. Laporanlaporan harus memuat langkah-langkah hukum. Laporan itu kemudian harus ditindaklanjuti dengan laporan berkala sesuai dengan ketentuan dalam 118 . dan juga harus menyebutkan faktor-faktor atau hambatan-hambatan yang JURNAL HAM • Vol. dan Budaya* Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan Konvensi Menentang Penyiksaan Konvensi Hak Anak Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Penjualan Anak (CRC-OPSC) Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Tentara Anak (CRC-OPAC) Laporan awal dalam 1 tahun Laporan berkala setiap 2 tahun 2 tahun 1 tahun 1 tahun 1 tahun 2 tahun 1 tahun 5 tahun 4 tahun+ 4 tahun 4 tahun 5 tahun 5 tahun 2 tahun 5 tahun atau bersama dengan laporan CRC berikutnya 5 tahun atau bersama dengan laporan CRC berikutnya 2 tahun * Pasal 17 dari Kovenan tidak menentukan adanya pelaporan yang bersifat berkala. perjanjian (biasanya antara empat sampai lima tahun) mengenai langkah-langkah lebih lanjut yang telah diambil guna melaksanakan perjanjian tersebut. Sosial. dan Budaya serta Konvensi Hak Anak). administratif. laporan tersebut disyaratkan setiap empat tahun sekali. Pada umumnya. 2007 Guna memenuhi kewajiban pelaporannya. 4 • Th.Periode pelaporan berdasarkan perjanjian-perjanjian Perjanjian Kovenan Internasioanl tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi.

dan (e) Merencanakan dan membentuk kebijakan yang lebih layak guna mencapai tujuan-tujuan tersebut. tahap-tahap mendasar berikut ini adalah umum bagi semua badan 5 Tujuan-tujuan ini diambil dari dokumen HRI/MC/ 2004/3. (d) Menilai kebutuhan dan tujuan di masa mendatang bagi pelaksanaan perjanjian yang lebih efektif. penilaian publik terhadap kebijakan-kebijakan dan program-program pemerintah. dan apa yang harus dilakukan lebih lanjut. Sosial. setiap badan perjanjian mengeluarkan panduan mengenai bentuk dan isi laporan Negara.5 Dilihat dari hal tersebut. Beberapa Negara memasukkan komentar dan kritik dari organisasi nonpemerintah dalam laporan mereka. 1. Proses persiapan pembuatan laporan menawarkan suatu kesempatan bagi setiap Negara Pihak untuk: (a) Melakukan peninjauan yang komprehensif mengenai langkah-langkah yang telah diambil untuk mengharmonisasikan hukum dan kebijakan nasional dengan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian HAM yang bersangkutan di mana Negara tersebut menjadi pihak. 2007 119 .dihadapi dalam melaksanakan hak-hak tersebut. dan keterlibatan yang konstruktif dari masyarakat sipil yang dilakukan dalam semangat kerja sama dan saling menghormati di tingkat nasional. dan Budaya No. beberapa menyerahkan laporannya terlebih dahulu kepada parlemen untuk dikritisi sebelum akhirnya diserahkan kepada Sekretaris Jenderal PBB guna dipertimbangkan oleh badan perjanjian yang bersangkutan. tidak hanya sebagai suatu pemenuhan kewajiban internasional. Penjelasan lebih lengkap mengenai tujuantujuan pelaporan dapat ditemukan di komentar umum Komite Hak Ekonomi. dengan tujuan untuk memajukan penikmatan semua hak yang dilindungi oleh konvensi yang bersangkutan. (c) Mengidentifikasi persoalan dan kegagalan dalam pendekatannya untuk melaksanakan perjanjian. Proses pelaporan harus mendorong dan memfasilitasi partisipasi publik. JURNAL HAM • Vol. Tujuan pelaporan Negara-negara Pihak didorong untuk melihat proses persiapan pembuatan laporan mereka bagi badan perjanjian. tetapi juga sebagai suatu kesempatan untuk memeriksa kondisi perlindungan HAM di dalam yurisdiksi mereka dalam rangka perencanaan dan pelaksanaan kebijakan. Bagaimana setiap badan perjanjian memeriksa laporan suatu Negara Pihak? Walaupun terdapat variasi dalam prosedur yang diadopsi oleh setiap komite dalam mempertimbangkan laporan suatu Negara Pihak. Dalam rangka menjamin bahwa laporan memuat informasi yang cukup bagi komite agar dapat melaksanakan pekerjaannya. 4 • Th. guna memajukan dan melindungi HAM di negaranya. sistem pelaporan adalah suatu alat yang penting bagi suatu Negara dalam melakukan penilaian mengenai apa yang telah dicapai. Panduan-panduan ini dihasilkan dalam suatu dokumen kompilasi (HRI/GEN/3) yang diperbaharui secara berkala. (b) Memonitor perkembangan yang dibuat dalam rangka pemajuan penikmatan hak-hak yang diatur dalam perjanjian dalam konteks pemajuan HAM secara umum. Badan-badan perjanjian saat ini sedang dalam proses menyiapkan suatu draft panduan yang terharmonisasi dalam pelaporan berdasarkan perjanjian HAM internasional.

setiap empat tahun untuk Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. dan Budaya. 4 • Th. dan Budaya) dan berulang sesuai dengan periodenya: setiap dua tahun untuk Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. Negara Pihak menyerahkan laporannya 6. dan LSM 5. 2007 . Konvensi Hak Anak. Prosedur tindak lanjut pelaksanaan rekomendasi badan perjanjian 2. Informasi yang lebih lengkap mengenai prosedur badan perjanjian tertentu dapat ditemukan di lembar fakta yang berkaitan dengan komite tersebut. Dialog konstruktif antara Komite dan delegasi Negara Pihak pada saat pertemuan Siklus dimulai satu tahun setelah perjanjian mulai diberlakukan (dua tahun untuk Konvensi Hak Anak dan Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. komisi nasional. Sosial. Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. dan Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. termasuk rekomendasi 3. Siklus pelaporan berdasarkan perjanjian hak asasi manusia 1.perjanjian. Negara Pihak dapat menyerahkan jawaban tertulis terhadap daftar persoalan dan pertanyaan 4. Sosial. 120 JURNAL HAM • Vol. yang dapat diakses dari situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR). Keba- nyakan komite juga menyebutkan metode kerja mereka dalam laporan tahunannya. dan setiap lima tahun untuk Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Badan perjanjian mengeluarkan kesimpulan pengamatannya mengenai laporan. Badan perjanjian memberikan daftar persoalan dan pertanyaan kepada Negara Pihak berdasarkan persoalan yang ditimbulkan oleh laporan Kesempatan bagi masukan dari sistem PBB. dan Konvensi Menentang Penyiksaan.

Penyerahan laporan awal Laporan harus diserahkan kepada Sekretaris Jenderal dalam salah satu dari enam bahasa resmi PBB. dan diterjemahkan ke bahasabahasa kerja komite. dan lain-lain – dicantumkan dalam laporan Negara-negara kepada badan perjanjian yang berkaitan dengan semua perjanjian. Kebanyakan komite mencoba untuk memberikan prioritas pada laporan awal atau laporan dari Negara-negara yang tidak melaporkan dalam jangka waktu yang lama. informatif. yang menimbulkan pertanyaan apakah harus diberlakukan pembatasan jumlah halaman. yang diserahkan kepada Negara Pihak. Mungkin saja terdapat penundaan sebelum suatu laporan dapat dipertimbangkan. Banyak laporan bentuknya panjang. Laporan tersebut akan diproses oleh Sekretariat. pada 1991 badan-badan perjanjian memutuskan mengijinkan Negara untuk menyerahkan suatu “dokumen inti/utama” yang membentuk laporan awal yang sama bagi setiap laporan badan perjanjian mana pun. Hal ini mengijinkan delegasi Negara Pihak untuk mempersiapkan diri dan membuat dialog antara Negara Pihak dengan komite menjadi lebih konstruktif. Guna menghindari Negaranegara harus mengulang-ulang informasi yang sama di setiap laporan. Banyak Negara Pihak menganggap bahwa daftar persoalan dapat menjadi panduan yang berguna bagi kemungkinan adanya pertanyaan-pertanyaan yang muncul ketika laporan mereka dipertimbangkan secara formal. sistem konstitusi dan hukumnya. Daftar persoalan juga mengijinkan komite untuk memulai proses pengajuan pertanyaan kepada Negara Pihak secara lebih detil mengenai persoalanpersoalan khusus yang muncul dalam laporan yang menjadi perhatian utama para anggota komite. 4 • Th. Daftar persoalan dan pertanyaan Sebelum pertemuan di mana komite akan mempertimbangkan laporan secara formal. Akan terdapat banyak variasi bentuk laporan. 2007 121 . tetapi Negara-negara harus memastikan bahw ainformasi di dokumen inti/utamanya sudah ter-up-to-date atau mereka harus menyerahkan laporan yang baru.1. Hal ini membantu mengurangi volume laporan Negara-ne2. Daftar persoalan menyediakan suatu kesempatan kepada komite untuk meminta informasi tambahan dari Negara Pihak yang mungkin tidak dimasukkan dalam laporannya atau yang dipandang perlu oleh anggota komite guna menilai negara tersebut berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian di negara yang bersangkutan. gara. JURNAL HAM • Vol. dan konkret. Pada saat diproses. Apa yang dimaksud dengan dokumen inti/utama? Beberapa informasi – fakta-fakta mendasar dan statistik tentang negara. komite membuat suatu daftar persoalan dan pertanyaan. Badan-badan perjanjian saat ini sedang mempertimbangkan suatu proposal untuk memperluas ruang lingkup dokumen inti/utama mengenai informasi tentang hak-hak substantif yang relevan dengan lebih dari satu perjanjian. laporan dijadwalkan untuk pertimbangan komite pada salah satu pertemuan berkalanya. karena beberapa badan perjanjian menghadapi backlog sampai dua tahun masa laporan yang menunggu untuk dipertimbangkan.

R &S. Berdasarkan semua informasi yang tersedia. dan bahasa Spanyol (S). daftar persoalan dibuat baik dalam kelompok kerja prapertemuan yang diselenggarakan segera sebelum atau setelah suatu sesi pertemuan berkala atau pada saat pertemuan-pertemuan pleno. Sejumlah perjanjian menyediakan suatu peran khusus bagi badan-badan PBB tertentu dalam proses pertimJURNAL HAM • Vol.Bahasa resmi dan bahasa kerja Bahasa resmi Perserikatan BangsaBangsa adalah bahasa Arab (A). Komite Hak Asasi Manusia dan Komite Hak Anak: E. Dokumen-dokumen komite pada umumnya hanya diterjemahkan ke bahasa kerja. Kebanyakan komite mengalokasikan waktu di pertemuan plenonya untuk melakukan dengar pendapat dengan badan-badan PBB dan kebanyakan juga menerima organisasi nonpemerintah. R & S. Tergantung pada badan perjanjiannya. Sumber-sumber informasi lain yang tersedia bagi komite Sebagai tambahan terhadap laporan Negara Pihak. bahasa Perancis (F). Daftar persoalan dibuat sebelum sesi pertemuan di mana laporan akan dipertimbangkan. Tanggapan tertulis akan menjadi suplemen atau lampiran pada laporannya. persoalan-persoalan yang dimunculkan oleh organisasi-organisasi ini dapat dimasukkan dalam daftar persoalan atau menginformasikan pertanyaan yang diajukan oleh anggota-anggota ketika bertemu dengan delagasi Negara. 4. bahasa Inggris (E). 4 • Th. komite memeriksa suatu laporan. dan sangat penting ketika terdapat penundaan yang cukup panjang antara tanggal laporan asli diserahkan dan tanggal ketika komite akhirnya dapat mempertimbangkan laporan tersebut secara formal. E. dan Komite Menentang Penyiksaan tidak menggunakan bahasa Arab dan bahasa Cina. organisasi antarpemerintah lainnya. Lima komite juga mengadopsi sejumlah kecil bahasa kerja sebagai berikut: Komite Hak Ekonomi. kecuali jika komite secara terbuka memutuskan bahwa suatu dokumen harus disediakan dalam semua bahasa resmi. dan Budaya: A. Sosial. Badan-badan perjanjian telah mengadopsi semua bahasa tersebut sebagai bahasa resmi mereka. R. institusi-institusi akademis. organisasi nonpemerintah (baik internasional maupun nasional). kecuali Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial yang tidak menggunakan bahasa Arab. Tanggapan tertulis terhadap daftar persoalan Seringkali Negara Pihak dapat memberikan tanggapan terhadap daftar persoalan dan pertanyaannya dalam bentuk tertulis. 2007 122 . dan media massa. Kebanyakan komite menunjuk salah seorang dari anggotanya untuk bertindak sebagai pelapor negara (country rapporteur) untuk memimpin pembuatan daftar persoalan untuk suatu negara tertentu. 3. badan perjanjian dapat menerima informasi mengenai situasi HAM di suatu negara dari sumbersumber lain. bahasa Cina (C). F. bahasa Rusia (R). F & S. Tergantung pada kapan informasi tersebut diserahkan. termasuk badan-badan PBB. Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dan Komite Menentang Penyiksaan: E.

tetapi juga mengidentifikasi bidang-bidang yang membutuhkan tindakan lebih lanjut guna mengefektifkan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. mengundang Negara-negara Pihak untuk mengirimkan delegasinya untuk menghadiri pertemuan di mana komite mempertimbangkan laporannya guna mengijinkan mereka menanggapi pertanyaan anggota komite dan menyediakan informasi tambahan mengenai upaya mereka untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian yang bersangkutan. Badan perjanjian mencoba membuat rekomendasinya se-konkret dan se-praktis mungkin. Tujuannya adalah untuk terlibat dalam suatu dialog konstruktif guna membantu Pemerintah dalam upayanya melaksanakan perjanjian secara penuh dan seefektif mungkin. 6. Pasal 74 dari Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya juga memungkinkan partisipasi Kantor/Organisasi Buruh Internasional (International Labour Office/Organization atau ILO). yang dimulai oleh Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. sementara badan perjanjian lainnya membutuhkan kehadiran delegasi. 4 • Th. Prosedur ini tidak bertentangan dan komite tidak melakukan penilaian mengenai Negara Pihak berdasarkan prosedur ini. Dalam concluding observation-nya. 2007 diakan dorongan dan nasihat kepada Negara-negara. Kesimpulan pengamatan dan rekomendasi Pemeriksaan terhadap laporan mencapai puncaknya pada adopsi “kesimpulan pengamatan atau concluding observation” (disebut sebagai “komentar kesimpulan atau“concluding comment” oleh beberapa komite) dimaksudkan untuk memberikan nasihat praktis kepada Negara yang melaporkan dan mendorong langkah-langkah lebih lanjut dalam melaksanakan hak-hak yang tercantum dalam perjanjian. Beberapa badan perjanjian dapat melanjutkan pertimbangan terhadap laporan suatu Negara Pihak walaupun tanpa kehadiran delegasi dari Negara tersebut. Negaranegara diminta untuk mempublikasikan concluding observation di negaranya guna menginformasikan pada debat publik mengenai bagaimana cara bergerak maju dalam pelaksanaan HAM. Negara tidak diwajibkan mengirimkan delegasi untuk menghadiri sesi pertemuan.bangan terhadap laporan-laporan. Pelaksanaan kesimpulan pengamatan dan penyerahan laporan berkala berikutnya 123 . Pasal 45 Konvensi Hak Anak secara spesifik menyebutkan peran Dana Bantuan Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Children’s Fund atau UNICEF). badan perjanjian mengakui langkahlangkah positif yang telah diambil oelh Negara. 7. walaupun mereka didorong untuk melakukannya. tetapi diciptakan untuk memonitor pelaksanaan perjanjian serta menyeJURNAL HAM • Vol. 5. Pertimbangan formal terhadap laporan: dialog konstruktif antara badan perjanjian dengan Negara Pihak Semua badan perjanjian telah membangun praktik. Gagasan mengenai dialog yang konstruktif mencerminkan kenyataan bahwa badan-badan perjanjian bukan merupakan badan yudisial. bersama dengan badan-badan PBB lainnya.

2007 . telah diselenggarakan di sejumlah negara guna membangun dialog bagi tindak lanjut concluding observations. Beberapa komite menyebutkan dalam concluding observations-nya agar Negara melaporkan kembali ke negaranya atau menindaklanjuti pelapor (rapporteur) dalam jangka waktu yang disepakati mengenai langkah-langkah yang diambil sebagai tanggapan terhadap rekomendasi spesifik atau “keprihatinan utama”. Laporan berkala pada umumnya tidak sepanjang dan se-komprehensif laporan awal. Dua lokakarya berfokus pada concluding observations Komite Hak Anak telah diselenggarakan di Damaskus. Hal ini disebut sebagai “laporan berkala”. dan oleh karenanya dapat dinyatakan. Dalam rangka membantu Negara dalam melaksanakan rekomendasinya. organisasi nonpemerintah.Adopsi concluding observation oleh komite mengakhiri pertimbangan formal terhadap laporan. Sebuah elemen penting dalam laporan berkala adalah pelaporan kembali kepada komite mengenai langkah-langkah yang telah diambil oleh Negara Pihak berkaitan dengan pelaksanaan rekomendasi badan perjanjian dalam concluding observation di laporan sebelumnya. Thailand. dan badan-badan lainnya yang tertarik dengan hal ini. dan komite telah terbukti berhasil dalam mengangkat persoalan berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian di banyak Negara. dan di Bangkok. 4 • Th. Negara diminta untuk menyerahkan laporan lebih lanjut kepada badan perjanjian dalam jangka waktu tertentu. Republik Arab Syria. Lokakarya tindak lanjut Lokakarya regional yang melibatkan perwakilan Negara-negara yang laporannya baru saja dipertimbangkan oleh suatu badan perjanjian. tetapi harus memuat semua informasi yang dibutuhkan oleh komite untuk melanjutkan pekerjaan monitoringnya terhadap kelanjutan pelaksanaan perjanjian di negara yang bersangkutan. bahwa ketentuan-ketentuan dalam suatu perjanjian tidak sepenuhnya bisa dilaksanakan. kebanyakan Negara memperhatikan dengan serius proses pelaporan ini. Namun demikian. Karena disadari. Lokakarya-lokakarya lebih lanjut sedang dalam tahap persiapan untuk badan-badan perjanjian lainnya. Laporan-laporan dari lokakarya ini tersedia di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR). maka proses pelaksanaan hak-hak yang termuat dalam perjanjian membutuhkan upaya-upaya berkelanjutan dari Negara-negara. Pentingnya tindak lanjut terhadap rekomendasi badan perjanjian Badan perjanjian tidak memiliki sarana untuk menegakkan rekomendasi mereka. tetapi prosesnya tidak berhenti di situ. Lokakarya pertama diselenggarakan di Quito. Setelah penyerahan laporan awal. yang membawa siklus pelaporan ke titik awalnya. pengadilan. Rapporteur kemudian melaporkan kembali kepada komite. badan perjanjian telah mulai memperkenalkan prosedur guna menjamin tindak lanjut yang efektif terhadap concluding observationsnya. Beberapa anggota badan perjanjian telah melakukan kunjungan ke negara-ne- 124 JURNAL HAM • Vol. Ekuador pada Agustus 2002 mengenai concluding observations Komite Hak Asasi Manusia. sebagaimana juga perwakilan komisi-komisi nasional hak asasi manusia.

4 • Th. komite yang bersangkutan dapat melanjutkan dengan pemeriksaan kondisi pelaksanaan perjanjian yang bersangkutan oleh Negara Pihak walaupun belum ada satu pun laporan Negara yang diterima. yang diundang untuk mengirim delegasinya guna menghadiri pertemuan. dalam hal Negara telah gagal melaporkan dalam jangka waktu yang panjang JURNAL HAM • Vol. Hal ini menjadi beban yang sangat besar. sebagaimana kewajiban-kewajiban lainnya yang muncul dari ratifikasi terhadap perjanjian internasional. termasuk rekomendasi. berdasarkan informasi tersebut dan dialog dengan Negara Pihak. dalam banyak kasus. atas undangan Negara Pihak. komite akan mengeluarkan concluding observations-nya. atau bahkan dalam beberapa kasus gagal melaporkan. Komite dapat membuat daftar persoalan dan pertanyaan untuk Negara Pihak. pemberitahuan oleh komite bahwa komite berniat untuk mempertimbangkan situasi di suatu negara tanpa adanya suatu laporan adalah cukup untuk mendorong Negara Pihak agar membuat laporan dalam jangka waktu yang pendek. Badan perjanjian mengakui kesulitan yang dihadapi oleh banyak Negara dalam memenuhi kewajiban pelaporan mereka. Badan perjanjian mencoba mendorong Negara-negara untuk melaporkan dengan tepat waktu. Namun demikian.gara. “Prosedur Peninjauan” – pertimbangan terhadap pelaksanaan di suatu negara jika tidak terdapat laporan Berdasarkan prosedur ini. Prosedur peninjauan hanya digunakan untuk kasus-kasus istimewa. untuk menindaklanjuti laporan dan pelaksanaan concluding observations. Tetapi. serta kemudian mungkin harus menyerahkan laporan lebih lanjut mengenai tindak lanjut terhadap concluding observations. maka badan perjanjian telah mengadopsi prosedur untuk mempertimbangkan situasi di suatu negara tanpa adanya laporan – seringkali disebut sebagai “prosedur peninjauan” (“review procedure”). Negaranegara juga harus membuat respon terhadap daftar persoalan dan mempersiapkan diri untuk menghadiri pertemuan badan perjanjian. Apa yang terjadi jika Negara tidak melapor? Pelaporan pada badan perjanjian dapat dianggap sebagai suatu tantangan oleh Negara-negara Pihak. maka kewajiban untuk melapor adalah kewajiban hukum internasional yang dipilih oleh Negara secara bebas. Negara yang telah meratifikasi ketujuh perjanjian HAM utama diharapkan membuat lebih dari 20 laporan HAM dalam jangka waktu 10 tahun: berarti satu setiap enam bulannya. 2007 dan tidak merespon permintaan komite untuk melapor. Informasi dapat diterima dari rekanan PBB dan organisasi nonpemerintah serta. Peninjauan dapat dilanjutkan bahkan jika Negara Pihak menolak mengirimkan delegasi ke pertemuan. 125 . Negara-negara dapat meminta bantuan teknis dari Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) dan Divisi Pengembangan Perempuan (DAW) ketika mereka menghadapi kesulitan tertentu. sehingga mungkin tidak mengherankan jika Negara-negara seringkali terlambat dalam jadwal pelaporan mereka. dan telah berupaya mencari cara-cara memfasilitasi tugas ini (lihat Bagian III di bawah).

empat badan perjanjian (Komite Hak Asasi Manusia. dengan persyaratan bahwa Negara tersebut telah mengakui kompetensi komite untuk menerima komunikasi semacam itu. Pengaduan juga dapat diajukan oleh pihak ketiga atas nama individuindividu. dan Budaya diberikan mandat untuk mempertimbangkan komunikasi individual berkaitan dengan Kovenan.Pertimbangan terhadap pengaduan individual yang menyatakan bahwa hak-hak mereka telah dilanggar oleh Negara Pihak Dalam kondisi tertentu.6 Prosedur ini bersifat opsional (pilihan) bagi Negara-negara Pihak: badan perjanjian tidak bisa mempertimbangkan pengaduan berkaitan dengan suatu Negara Pihak kecuali jika Negara tersebut telah secara terbuka mengakui kompetensi badan perjanjian yang bersangkutan. Komite Menentang Penyiksaan dapat mempertimbangkan komunikasi individual terhadap Negara Pihak yang telah membuat deklarasi yang disyaratkan berdasarkan pasal 22 Konvensi Menentang Penyiksaan. JURNAL HAM • Vol. Walaupun dalam beberapa hal prosedur ini bersifat “quasi-yudisial”. ketentuan-ketentuan ini akan mulai berlaku ketika sepuluh Negara Pihak telah membuat deklarasi yang diperlukan berdasarkan pasal 77. Namun dalam banyak kasus. dan Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dapat mempertimbangkan komunikasi individual terhadap Negara Pihak yang telah membuat deklarasi yang disyaratkan berdasarkan pasal 14 Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. Negara-negara Pihak telah melaksanakan rekomendasi-rekomendasi Komite dan memberikan perbaikan (remedy) kepada si pengadu. 4 • Th. Sosial. 2007 126 . Konvensi Pekerja Migran juga memuat ketentuan-ketentuan yang mengijin- kan komunikasi individual untuk dipertimbangkan oleh Komite Pekerja Migran. selama mereka telah memberikan ijin tertulis (written consent) atau ketika mereka tidak dapat memberikan ijin semacam itu. Sosial. Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. dan Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan) dapat mempertimbangkan pengaduan atau komunikasi dari individu yang percaya bahwa hak-hak mereka telah dilanggar oleh Negara Pihak: Komite Hak Asasi Manusia dapat mempertimbangkan komunikasi individual terhadap Negara Pihak pada Protokol Opsional Pertama Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. keputusan-keputusan komite tidak bisa dipaksakan. baik melalui deklarasi berdasarkan pasal yang relevan dari perjanjian atau dengan menerima protokol opsional yang relevan. Siapa yang dapat mengadu? Setiap individu yang menyatakan bahwa hak-haknya berdasarkan kovenan atau konvensi telah dilanggar oleh Negara Pihak pada perjanjian tersebut dapat membawa komunikasinya di hadapan komite yang bersangkutan. dan Budaya sedang dalam pertimbangan dan dapat menghasilkan keputusan bahwa Komite Hak Ekonomi. 6 Saat ini protokol opsional pada Kovenan Internasio- nal tentang Hak Ekonomi. Komite Menentang Penyiksaan. Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan dapat mempertimbangkan komunikasi individual terhadap Negara Pihak pada Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan.

Negara mana saja yang dapat menjadi subyek penyelidikan? Penyelidikan hanya dapat dilakukan terhadap Negara-negara Pihak yang telah mengakui kompetensi komite yang bersangkutan. 7: Prosedur Pengaduan atau di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR). jika hal tersebut dibenarkan Penyelidikan Atas dasar inisiatif mereka.Bagaimana saya mengadu? Informasi lebih lengkap mengenai prosedur pengaduan individual dari badanbadan perjanjian. Dalam hal Konvensi Menentang Penyiksaan. informasi harus mengindikasikan pelanggaran yang berat atau sistematis terhadap hak-hak yang diatur dalam Konvensi oleh Negara Pihak. Prosedur penyelidikan Pasal 20 Konvensi Menentang Penyiksaan dan pasal 8 sampai pasal 10 Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan menetapkan prosedur mendasar berikut ini bagi komite yang bersangkutan untuk melakukan penyelidikan yang mendesak: 1. 3. berat. Pada saat ratifikasi atau aksesi. informasi harus memuat indikasi-indikasi yang kuat bahwa penyiksaan telah dipraktikkan secara sistematis di wilayah suatu Negara Pihak. atau sistematis terhadap konvensi oleh suatu Negara Pihak. 4 • Th. 2. Prosedur dapat dilakukan jika komite menerima informasi yang dapat dipercaya tentang indikasi bahwa hak-hak yang termuat dalam konvensi telah dilanggar secara sistematis oleh Negara Pihak. Prosedur Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan secara spesifik mengijinkan kunjungan ke wilayah Negara yang bersangkutan. Langkah pertama adalah komite mengundang Negara Pihak untuk bekerja sama dalam pemeriksaan mengenai informasi tersebut dengan menyerahkan hasil pengamatan. 2007 127 . Komite dapat memutuskan untuk menugaskan satu atau lebih anggotanya guna melakukan penyelidikan secara konfidensial dan melaporkan kepada komite dengan segera. Negara mana pun yang memilih untuk menghindari prosedur dapat memutuskan untuk menerima prosedur tersebut di masa mendatang. dalam hal Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. Negara-negara Pihak pada Konvensi Menentang Penyiksaan dapat menghindarkan diri dengan membuat deklarasi berdasarkan pasal 28. dua badan perjanjian – Komite Menentang Penyiksaan dan Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan – dapat melakukan penyelidikan jika komite menerima informasi yang dapat dipercaya mengenai indikasi yang kuat bahwa telah terjadi pelanggaran yang serius. Negara-negara Pihak pada Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan juga dapat meniadakan kompetensi Komite yang bersangkutan dengan membuat deklarasi berdasarkan pasal 10. JURNAL HAM • Vol. dapat ditemukan di Lembar Fakta No. Berdasarkan hasil pengamatan Negara Pihak dan informasi lain yang tersedia yang dapat dipercaya. termasuk nasihat dan instruksi tentang bagaimana cara mengadu.

2007 Dalam kedua kasus. kunjungan juga diperkirakan dapat dilakukan berdasarkan prosedur Konvensi Menentang Penyiksaan. memperkenalkan suatu mekanisme baru guna pencapaian tujuan-tujuan Konvensi yaitu mencegah penyiksaan dan bentuk-bentuk perlakuan kejam lainnya. dan rekomendasi komite tersebut dengan hasil pengamatannya sendiri dan untuk menginformasikan kepada komite mengenai langkah-langkah yang telah diambil sebagai respon terhadap penyelidikan jika diminta oleh Komite. Hasil-hasil temuan dari anggota (atau anggota-anggota) komite kemudian diperiksa oleh komite dan diserahkan kepada Negara Pihak bersama dengan komentar atau saran/rekomendasi yang selayaknya. atau komisi parlementer) yang akan melakukan kunjungan berkala ke tempat-tempat penahanan sesuai dengan Protokol tersebut. kunjungan berkala ke tempat-tempat penahanan yang dilakukan oleh badan internasional dan nasional tambahan. Berdasarkan konsultasi dengan Negara Pihak. Prosedur Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan menetapkan tenggat waktu enam-bulan kepada Negara Pihak untuk menanggapi hasil temuan. yang disebut “Subkomite Pencegahan”. Suatu badan internasional yang baru. Bersama dengan badan internasional ini. Subkomite akan menyerahkan laporan konfidensialnya yang memuat rekomendasi kepada Negara-negara Pihak. 6. Negara-negara Pihak harus membentuk suatu mekanisme pencegahan nasional yang independen (seperti Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Informasi lebih lanjut megnenai OPCAT dan Subkomite Pencegahan. dapat melakukan kunjungan-kunjungan ke tempat-tempat penahanan di semua Negara Pihak. 5. 4 • Th. 4. Prosedur ini mensyaratkan bahwa perbaikan di tingkat domestik (domestic remedies) JURNAL HAM • Vol. Pengaduan antarnegara Walaupun prosedur ini tidak pernah digunakan. Pasal 21 Konvensi Menentang Penyiksaan dan pasal 76 Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Pekerja Migran dan Semua Anggota Keluarganya menetapkan suatu prosedur bagi komite yang bersangkutan untuk mempertimbangkan pengaduan dari satu Negara pihak yang menganggap bahwa Negara Pihak lain tidak memenuhi ketentuan-ketentuan dalam konvensi. empat dari perjanjian HAM memuat ketentuan-ketentuan yang mengijinkan Negara-negara Pihak untuk mengajukan pengaduan kepada badan perjanjian tentang tuduhan pelanggaran terhadap perjanjian oleh Negara Pihak lain. Protokol Opsional Konvensi Menentang Penyiksaan dan Subkomite Pencegahan Protokol Opsional Konvensi Menentang Penyiksaan (OPCAT). yang akan diberlakukan ketika telah memiliki 20 Negara Pihak. 17: Komite Menentang Penyiksaan. lembaga ombudsman. yang terdiri dari sepuluh praktisi independen di bidang administrasi peradilan atau penahanan. komite dapat memutuskan memasukkan suatu kesimpulan akhir (summary account) dari hasil prosiding tersebut di laporan tahunannya. komentar.dan dilakukan dengan persetujuan Negara. OPCAT membentuk suatu sistem 128 . lihat Lembar Fakta No. prosedur ini bersifat rahasia dan harus diperoleh kerja sama dari Negara Pihak selama keseluruhan prosiding.

harus exhausted (sudah dilakukan seluruhnya tanpa membuahkan hasil) lebih dahulu dan prosedur hanya berlaku pada Negaranegara Pihak yang telah membuat deklarasi menerima kompetensi komite dalam hal ini. Pasal 11 sampai pasal 13 Kovenan Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dan pasal 41 sampai pasal 43 Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik menetapkan suatu prosedur yang lebih terperinci untuk menyelesaikan pertikaian antarNegara Pihak mengenai pemenuhan satu Negara terhadap kewajibannya berdasarkan konvensi/kovenan yang relevan melalui pembentukan suatu komisi konsiliasi ad hoc. Prosedur ini juga mensyaratkan bahwa perbaikan domestik (domestic remedies) harus exhausted lebih dahulu. Prosedur ini pada umumnya tidak hanya berlaku bagi semua Negara Pihak pada Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial, tetapi hanya berlaku bagi Negara-negara Pihak pada Kovenan Internasioal tentang Hak Sipil dan Politik yang telah membuat deklarasi menerima kompetensi Komite dalam hal tersebut.

tional Court of Justice) jika pihak-pihak yang bertikai gagal menyepakati ketentuan-ketentuan dalam arbitrasi dalam jangka waktu enam bulan. Negara-negara Pihak dapat menarik diri dari prosedur semacam ini dengan membuat deklarasi pada saat ratifikasi atau aksesi, yang mana sesuai dengan prinsip timbal-balik (resiprositas), maka mereka tidak diperkenankan mengajukan kasus-kasus menentang Negara Pihak lainnya. Prosedur ini, seperti halnya prosedur pengaduan antarNegara, tidak pernah digunakan.

Komentar-komentar umum
Setiap badan perjanjian mempublikasikan interpretasinya tentang ketentuanketentuan dalam perjanjian HAM yang dimonitornya dalam bentuk komentar umum (Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dan Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan menggunakan istilah “rekomendasi umum”). Komentar umum dari badan perjanjian mencakup berbagai subyek, mulai dari interpretasi yang komprehensif mengenai ketentuan-ketentuan substantif, seperti hak hidup atau hak atas makanan yang cukup, sampai panduan umum tentang informasi yang harus diberikan dalam laporan Negara berkaitan dengan pasal-pasal tertentu dari perjanjian. Komentar umum juga menangani persoalan-persoalan yang saling bertabrakan (cross-cutting issues) yang lebih luas, seperti peran institusi-institusi nasional HAM, hak orang-orang penyandang cacat, kekerasan terhadap perempuan, dan hak kelompok minoritas. Suatu kompilasi komentar umum dan rekomendasi umum diadopsi oleh badan perjanjian dihasilkan dan diperbaharui secara berkala (lihat revisi terakhir dokumen HRI/GEN/1).

Penyelesaian pertikaian antar Negara berkaitan dengan interpretasi atau aplikasi konvensi
Pasal 29 Konvensi tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan, pasal 30 Konvensi Menentang Penyiksaan, dan pasal 92 Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya menyatakan bahwa pertikaian antarNegara berkaitan dengan interpretasi atau aplikasi konvensi akan diselesaikan pertama melalui negosiasi atau, jika negosiasi gagal, melalui arbitrasi. Salah satu Negara yang terlibat dalam pertikaian dapat merujuk pertikaian tersebut kepada Pengadilan Internasional (InternaJURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

129

Diskusi umum atau debat tematis
Sejumlah badan perjanjian menyelenggarakan diskusi umum mengenai suatu tema atau persoalan tertentu bagi badan perjanjian tersebut selama beberapa hari. Diskusi tematis ini biasanya terbuka bagi partisipan dari luar, seperti rekanan PBB, delegasi Negara Pihak, organisasi nonpemerintah, dan para ahli individual. Hasil dari diskusi dapat membantu badan perjanjian dalam membuat komentar umum yang baru.

jelis Umum meminta para ketua badan perjanjian HAM untuk bertemu guna membahas tentang bagaimana mereka bisa meningkatkan kinerja mereka. Pertemuan pertama pada ketua ini berlangsung pada 1984. Sejak 1995, para ketua badan perjanjian telah melakukan pertemuan setiap tahunnya. Pertemuan ini merupakan suatu forum bagi para ketua ketujuh badan perjanjian HAM untuk membahas mengenai pekerjaan mereka dan mempertimbangkan cara-cara guna meningkatkan efektivitas sistem badan perjanjian sebagai suatu kesatuan. Persoalan-persoalan yang diangkat dalam pertemuan ini antara lain: pengarusutamaan dan perbaikan secara menyeluruh prosedur pelaporan HAM; harmonisasi metode kerja komite-komite; tindak lanjut Konferensi Dunia; dan persoalan finansial. Konsultasi-konsultasi informal dengan Negara-negara Pihak sebagaimana juga dengan rekanan PBB dan organisasi nonpemerintah juga telah menjadi suatu ciri khas dalam pertemuan antara para ketua badan perjanjian. Sejak 1999, para ketua badan perjanjian telah bertemua dengan pemegang mandat prosedur khusus (baik mandat tematis maupun mandat negara) Komisi Hak Asasi Manusia. Pembahasannya berfokus pada pertanyaan-pertanyaan teknis, seperti meningkatkan pertukaran informasi antara badan perjanjian dan prosedur khusus. Persoalan-persoalan substantif, termasuk dampak globalisasi terhadap penikmatan HAM (2003) serta langkahlangkah penanganan terorisme (counter-terrorism) dan HAM (2004), juga telah dibahas. Pertemuan antarkomite Sejak 2002, pertemuan tahunan para ketua badan perjanjian telah dilengkapi dengan suatu “pertemuan antarkomite”, yang termasuk di dalamnya para ketua dan tamJURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

Pertemuan Negara-negara Pihak dan pertemuan dengan Negaranegara Pihak
Setiap perjanjian (kecuali Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya) menyelenggarakan pertemuan formal Negara-negara Pihak setiap dua tahun sekali, biasanya di Markas Besar PBB, guna memilih setengah dari anggota badan perjanjiannya. Pasal 50 Konvensi Hak Anak menyelenggarakan suatu konferensi Negaranegara Pihak guna menentukan usulan amendemen terhadap Konvensi. Kebanyakan komite juga mengadopsi praktik penyelenggaraan pertemuan informal secara berkala dengan Negara-negara Pihak pada perjanjian mereka guna mendiskusikan persoalan-persoalan bersama berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian dan pekerjaan badan perjanjian.

Koordinasi antara badan-badan perjanjian
Pertemuan tahunan para ketua badan perjanjian Kebutuhan akan koordinasi antara badan-badan perjanjian HAM diakui oleh Majelis Umum pada 1983, yaitu ketika Ma-

130

bahan dua anggota dari setiap komite. Harmonisasi metode kerja di antara para komite menjadi fokus utama pertemuan antarkomite pertama. Pelaksanaan pertemuan antarkomite disambut baik oleh Negaranegara Pihak. Meningkatnya keterlibatan setiap komite telah membuka pembahasan yang lebih detil tentang rekomendasi terhadap persoalan-persoalan berkaitan dengan metode kerja ketimbang yang dibahas dalam pertemuan para ketua badan perjanjian. Pertemuan antarkomite dan pertemuan para ketua badan perjanjian biasanya dipimpin oleh orang yang sama, yaitu seseorang yang menjadi ketua badan perjanjian HAM atas dasar rotasi.

Perluasan sistem perjanjian HAM: membuat instrumen baru
Sejak 2000, sejumlah instrumen HAM yang baru telah disepakati atau telah mulai berlaku. Pada Mei 2000, dua protokol opsional pada Konvensi Hak Anak diadopsi, tentang penjualan anak, pelacuran anak, dan pornografi anak (CRC-OPSC) dan tentang keterlibatan anak-anak dalam konflik bersenjata (CRC-OPAC). Keduanya mulai berlaku pada 2002. Pada Desember 2002, Protokol Opsional Konvensi Menentang Penyiksaan diadopsi (OPCAT). Protokol ini akan mulai berlaku ketika sudah diterima oleh 20 Negara Pihak. Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya mulai berlaku pada Juli 2003, dan Komite Pekerja Migran telah menyelenggarakan pertemuan pertamanya pada Maret 2004. Instrumen-instrumen HAM internasional lainnya sedang dibahas oleh Negaranegara dan dapat diadopsi pada tahuntahun mendatang. Suatu komite ad hoc Majelis Umum telah dibentuk pada 2002 dengan tujuan membuat “suatu konvensi internasional yang komprehensif dan integral tentang perlindungan dan pemajuan hak-hak dan martabat orang-orang penyandang cacat”. Komite”Ad Hoc ini bertujuan untuk mengadopsi suatu konvensi, yang akan memasukkan mekanisme monitoring pada akhir 2005. Pada 2002, Komisi Hak Asasi Manusia memutuskan untuk membentuk “kelompok kerja terbuka dengan tujuan untuk mempertimbangkan pilihanpilihan berkaitan dengan elaborasi protokol opsional pada Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya”.7 Protokol opsional tersebut akan memberikan kompetensi pada Komite Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya untuk mempertimbangkan pengaduan individual dan melakukan penyelidikan. Suatu kelompok kerja menge7 Resolusi Komisi 2002/24 dan 2003/18.

BAGIAN III
Perkembangan lebih lanjut dari sistem perjanjian HAM PBB
Walaupun DUHAM telah dibuat lebih dari 50 tahun yang lalu, dan proses pembuatan ketentuan internasional HAM atau International Bill of Human Rights (DUHAM dan kedua Kovenan) telah diselesaikan pada 1966, sistem perjanjian HAM internasional telah terus berkembang dengan adanya adopsi instrumen baru dan pembentukan badan perjanjian yang baru. Berbagai instrumen dan badan perjanjian yang semakin luas tersebut telah menjamin adanya perlindungan HAM yang lebih besar di sejumlah bidang yang menjadi perhatian utama masyarakat internasional, dan juga telah memberikan suatu tantangan penting bagi sistem perjanjian HAM internasional: bagaimana cara terbaik untuk menjamin bahwa perbedaan elemen-elemen dalam sistem yang semakin berkembang ini bisa bekerja secara efektif secara bersama-sama bagi pemajuan dan perlindungan HAM.

JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

131

juga diakui bahwa beberapa variasi dalam praktik dapat dibenarkan. Ia meminta badan-badan perjanjian HAM untuk mempertimbangkan dua langkah: pertama. termasuk harmonisasi ketentuan pelaporan. dan (2) pengembangan proses pelaporan perjanjian. dan walaupun ada banyak kesamaan dalam hal fungsi badan-badan perjanjian. walaupun kegiatan-kegiatan mereka saling tumpang tindih di banyak bidang. Namun demikian. setiap badan perjanjian cenderung melakukan pekerjaannya secara independen dari badan perjanjian lainnya. (1) Meningkatkan koordinasi antara badan-badan perjanjian Badan-badan perjanjian telah dengan sukses mengerjakan mandat mereka. atau bahkan diperlukan karena sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian yang bersangkutan. Badan-badan perjanjian telah terlibat secara berkelanjutan dalam pencarian cara untuk meningkatkan efektivitas melalui pengarusutamaan dan harmonisasi metode kerja dan praktik selama beberapa tahun. maka penting agar ditekankan bahwa instrumen-instrumen tersebut saling melengkapi satu sama lain. Badan-badan perjanjian menanggapi hal ini dengan melakukan suatu proses konsultasi dan reformasi yang ditujukan untuk menjawab dua bidang persoalan yang diangkat oleh usulan Sekretaris Jenderal: (1) meningkatkan koordinasi antara badan-badan perjanjian. termasuk pengarusutamaan metode kerja. khususnya melibatkan Negara-negara dalam diskusi yang terbuka mengenai persoalan dalam melaksanakan perjanjian HAM melalui proses pelaporan. sampai baru-baru ini. Cara ad hoc di mana setiap komite dibentuk berdasarkan perjanjiannya berarti bahwa mereka memiliki kekebebasan untuk membangun prosedur dan praktiknya sendiri. 8 A/57/387. Meningkatkan efektivitas sistem perjanjian Dengan perkembangan yang berkelanjutan dalam sejumlah instrumen HAM internasional.nai rancangan instrumen tentang penghilangan paksa juga mungkin akan menghasilkan suatu instrumen baru. untuk mengijinkan Negara menghasilkan suatu laporan tunggal yang menyimpulkan semua ketaatannya pada sejumlah perjanjian HAM di mana Negara tersebut menjadi pihak. Proposalproposal di bidang seperti standardisasi terminologi dan simbol-simbol dokumen telah dibahas dalam pertemuan antarkomite dan pertemuan para ketua badan perjanjian. Dalam laporannya tahun 2002. yang seringkali mengarah pada kebingungan dan ketidak-konsistenan.8 Sekretaris Jenderal PBB mengidentifikasi pembaruan lebih lanjut terhadap sistem perjanjian sebagai elemen utama dalam tujuan PBB untuk memajukan dan melindungi HAM. 4 • Th. Saran Sekretaris Jenderal telah memberikan motivasi baru bagi proses ini. 2007 . juga terdapat banyak keragaman. 132 JURNAL HAM • Vol. dan setiap komite secara individual telah meninjau metode kerjanya dengan tujuan untuk mengadopsi praktik-praktik terbaik dari komite lain. untuk membuat suatu pendekatan yang lebih terkoordinasi dalam hal kegiatan dan membuat standardisasi ketentuan pelaporan mereka yang bervariasi. dan kedua. serta bahwa perjanjian dan badan yang dibentuk untuk memonitor pelaksanaannya dapat bekerja bersama-sama secara efektif sebagai suatu sistem yang terintegrasi guna pemajuan dan perlindungan HAM. “Memperkuat Perserikatan Bangsa-Bangsa: suatu agenda untuk perubahan lebih lanjut”. Pada saat yang sama.

Sistem perjanjian HAM ini kelihatannya terfokus pada tingkat internasional. badan-badan PBB. Laporan-laporan yang dikompilasi sesuai dengan panduan dapat menyediakan suatu kerangka pelaporan yang seragam di mana komite-komite dapat menghindari duplikasi dalam pekerjaannya dan menetapkan suatu standar pelaporan yang konsisten bagi semua komite. serta duplikasi ketentuan pelaporan di antara badan-badan perjanjian. pertemuan para ketua badan perjanjian. dan Majelis Umum.(2) Pengembangan sistem pelaporan perjanjian Fokus utama upaya untuk menjamin pelaksanaan perjanjian HAM yang lebih efektif di tahun-tahun belakangan ini adalah pelaporan Negara. Sebagaimana sistem berkembang. Dengan meratifikasi perjanjian. organisasi nonpemerintah. Setelah konsultasi yang mendalam dengan Negara Pihak. Standar-standar internasional yang telah disepakati dalam perjanjian memerlukan adanya pelaksanaan yang efektif di tingkat nasional guna menjamin bahwa hak-hak tersebut dinikmati oleh semua 133 . tantangan-tantangan muncul dari keterlambatan penyerahan dan/atau pertimbangan terhadap laporan. ketimbang memperlakukan masing-masing perjanjian secara terpisah-pisah. 4 • Th. dan pihak-pihak lain yang berminat. Panduan ini mendorong Negara-negara Pihak untuk memenuhi sejumlah kewajiban perjanjian HAM di mana mereka telah menjadi bagian dari suatu sistem yang terkoordinasi. sebagaimana juga informasi mengenai pelaksanaan ketentuan-ketentuan substantif HAM yang serupa dalam beberapa perjanjian. Menanggapi permintaan Sekretaris Jenderal untuk ketentuan pelaporan yang terharmonisasi dan kemungkinan penyerahan suatu laporan tunggal. Peran sistem perjanjian HAM dalam memperkuat sistem perlindungan HAM di tingkat nasional Perjanjian-perjanjian HAM adalah instrumen hukum yang menetapkan standarstandar internasional bagi pemajuan dan perlindungan HAM di dunia. Badan perjanjian mendorong dan mendukung Negara dalam upaya ini. tetapi jelas bahwa pemajuan dan perlindungan HAM merupakan persoalan paling penting di tingkat nasional. Komisi Hak Asasi Manusia. Mereka memilih untuk memperluas ruang lingkup dokumen inti/utama dengan memasukkan presentasi penuh kerangka hukum bagi pemajuan dan perlindungan HAM secara umum di Negara. maka badan-badan perjanjian menyimpulkan bahwa laporan tunggal justru akan menjadi tantangan yang begitu besar bagi Negara-negara Pihak dan tidak akan dapat memenuhi tujuan yang memotivasi usulan Sekretaris JendeJURNAL HAM • Vol. 2007 ral tersebut. badan-badan perjanjian mulai membuat panduan harmonisasi pelaporan berdasarkan ketujuh perjanjian HAM utama. Laporan Negara-negara kepada badan-badan perjanjian oleh karenanya akan terdiri dari suatu dokumen umum yang menggambarkan pandangan yang holistik dari pelaksanaan HAM dan suatu dokumen perjanjian yang spesifik yang berfokus pada persoalan-persoalan yang menjadi perhatian komite berkaitan dengan perjanjiannya. Negara menjanjikan dirinya pada standar-standar ini dan mewajibkan dirinya untuk melaksanakan hakhak tersebut di tingkat nasional. Dokumen inti/utama yang diperluas ini harus diserahkan kepada semua badan perjanjian bersama dengan laporan target (targeted report) bagi setiap badan perjanjian yang berisi informasi spesifik mengenai perjanjian tersebut. terlambat dan tidak-melaporkan. Memperbaiki efektivitas sistem perjanjian HAM telah menjadi perhatian yang berkelanjutan masing-masing badan perjanjian.

Pertama. pembuatan rencana aksi nasional HAM. maka concluding observations dan rekomendasi yang praktis dan bertarget dapat memberikan nasihat yang tepat tentang bidang-bidang tertentu yang perlu diperhatikan oleh Negara yang bersangkutan. Karena badan perjanjian dibentuk untuk memonitor pelaksanaan standarstandar HAM internasional yang ditentukan oleh perjanjian HAM. dapat memberikan bantuan yang berguna bagi tindakan-tindakan yang diperlukan guna memperkuat perlindungan HAM.laki-laki. sebagaimana halnya tim negara dan donor PBB. dan pelaksanaan perencanaan pembangunan nasional. yang oleh karenanya akan menjamin pelaksanaan standar HAM nasional yang lebih efektif. perempuan. Pentingnya proses pelaporan di tingkat nasional Upaya mendorong Negara-negara untuk mengambil pendekatan yang holistik dalam pelaporan dengan melihat pada serangkaian kewajiban pada perjanjian yang mana mereka menjadi pihak tidak hanya ditujukan untuk mempermudah Negara dalam membuat pelaporan kepada badan perjanjian internasional. Komentar umum dari badan perjanjian menyediakan informasi tambahan untuk suatu sifat yang lebih terelaborasi mengenai bagaimana perjanjian harus dilaksanakan. dan anak-anak di setiap negara. maka badan perjanjian memiliki peranan penting dalam membantu upaya memperkuat perlindungan HAM di tingkat nasional. Proses pengumpulan informasi mengenai pelaksanaan HAM di tingkat nasional menjadi alat yang penting untuk membantu Pemerintah merencanakan dan menempatkan program-program pembangunan berdasarkan HAM (rights-based development). Negara-negara terlibat dalam suatu proses penilaian terhadap dirinya sendiri (self-assessment) guna menentukan sejauh mana HAM telah dilindungi di negaranya. melalui proses pertimbangan di tingkat internasional. Walaupun badan internasional memang meminta laporan-laporan. namun proses pembuatan laporan di tingkat nasional juga penting. sampai tanggapan negara terhadap rekomendasi badan perjanjian. 134 JURNAL HAM • Vol. Kedua. Proses pelaporan. Banyak Negara terlibat dalam proses paralel. Ketika telah dihasilkan suatu laporan Negara Pihak dan telah dipertimbangkan oleh badan perjanjian. dari mulai persiapan pembuatan laporan. juga dapat digunakan untuk menstimulasi debat nasional mengenai HAM dengan masyarakat sipil dan menciptakan konstituensi HAM yang baru. Mengaitkan proses-proses tersebut dapat menjamin bahwa HAM ditempatkan di tengah-tengah perencanaan strategis nasional. yang berfokus pada bidang persoalan tertentu yang memerlukan tindakan. 4 • Th. Nasihat praktis dan bantuan dari badan perjanjian Hasil dari badan perjanjian. 2007 . proses pelaporan kepada badan perjanjian itu sendiri merupakan bagian yang penting dalam pembentukan suatu sistem perlindungan HAM di tingkat nasional. Dalam memenuhi kewajiban pelaporan mereka berdasarkan perjanjian internasional. Pendapat-pendapat yang diungkapkan oleh komite sebagai tanggapn terhadap pengaduan individual juga merupakan sumber panduan yang lain. badan perjanjian memberikan pada Negara-negara nasihat-nasihat praktis dan bantuan tentang bagaimana melaksanakan perjanjian dengan baik. yaitu pelaporan perjanjian.

Hasil badan perjanjian dapat memiliki dampak yang signifikan bagi Negara. dan Budaya (Komentar Umum 14). baik yang maju maupun berkembang. Tujuan 7 untuk menjamin keberlangsungan lingkungan. Sosial. 2007 135 . dan Komentar Umum 24). dan Budaya (pasal 12(2)(a)) dan Komentar Umum 14). Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. dan penyakit-penyakit lainnya: Panduan Internasional tentang HIV/AIDS dan Hak Asasi Manusia. Sosial. Sosial. Tujuan 3 untuk memajukan kesetaraan genjer dan pemberdayaan perempuan: Konvensi tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan.Tujuan Pembangunan Millenium (Millenium Development Goals) dan Hak Asasi Manusia Pada 2000. 4 • Th. Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Tempat tinggal kumuh: Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Tujuan 4 untuk mengurangi tingkat kematian anak-anak: Konvensi Hak Anak (pasal 6 dan pasal 24(2)(a)). dan Budaya (pasal 13 dan pasal 14. dan Budaya (Komentar Umum 14). pasal6(5). Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. misalnya melalui usulan legislasi baru atau keten- JURNAL HAM • Vol. Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial (pasal 5(e)(iv)). dan Budaya (pasal 2). Sosial. serta Komentar Umum 11). Konvenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (pasal 3. Konvensi Hak Anak (pasal 24(d)). Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. dan Budaya (Komentar Umum 4 dan 7). Konvensi Hak Anak (pasal 28(a) dan Komentar Umum1). Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Tujuan 5 untuk memperbaiki tingkat kesehatan maternal: Konvensi tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan (pasal 10(h). akan bekerja bersamasama untuk mencapainya pada 2015. negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa menyepakati delapan tujuan – atau Millenium Development Goals (MDGs) – di mana semua bangsa. dan pasal 32(2). Konvensi Hak Anak (pasal 4). Sosial. Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial (Komentar Umum 25). pasal 14(b). Tujuan 6 untuk memerangi HIV/AIDS. pasal 11(f). Tujuan 8 untuk membangun suatu kemitraan global untuk pembangunan: Piagam PBB (pasal 1(3)). Tujuan 1 untuk menghapuskan kemiskinan dan kelaparan: Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. yaitu membantu menjamin pelaksanaan perjanjian-perjanjian yang lebih efektif. dan Budaya (pasal 3 dan pasal 7(a) (i)). Sosial. Air minum yang aman dikonsumsi: Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Tujuan 2 untuk mencapai pendidikan dasar universal: Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. Sosial. pasal 12(1). dan Budaya (Komentar Umum 15 dan 14). Konvensi Hak Anak (pasal 24(2) dan pasal 27(3)). Konvensi Hak Anak (pasal 24(c)). Sosial. malaria. dan Budaya (pasal 11 dan Komentar Umum 12). Sosial. dan Konvensi Hak Anak (pasal 24(c) dan Komentar Umum 3). Konvensi Hak Anak (pasal 2). Keseluruhan delapan MDGs dapat dikaitkan dengan ketentuan-ketentuan perjanjian hak asasi manusia atau komentar-komentar umum badan-badan perjanjian (GCs). Konvensi Internasional tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial (pasal 5 dan pasal 7).

17). Backlog terhadap begitu banyak laporan yang yang menunggu untuk dipertimbangkan oleh komite dapat berarti penundaan sampai dua tahun lamanya dari tanggal penyerahan laporan tersebut oleh Negara Pihak sampai waktu komite memulai pemeriksaan terhadap isi dari laporan. Hak Sipil dan Politik: Komite Hak Asasi Manusia (No. dan Hak Pekerja Migran (No. termasuk concluding observations yang dikeluarkan setelah pemeriksaan terhadap laporan Negara Pihak. dan pengacara. hakim-hakim. 24). Sosial. 2007 136 . 10). Diskriminasi terhadap Perempuan: Konvensi dan Komite (No. 12). Komite Menentang Penyiksaan (No. 7). kunjungi situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) dan masuk ke “badanbadan perjanjian” (“human rights bodies”). dan kegiatan-kegiatan lainnya. kenapa tidak mendaftarkan diri ke “listserv” badan perjanjian secara cuma-cuma? Anda akan menerima pemberitahuan berkala melalui e-mail mengenai rekomendasi badan perjanjian. org/english/bodies/treaty/subscribe.ohchr. Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial (No. Situs ini memuat informasi mengenai proses pelaporan Negara. 22). tetapi juga pada aktor-aktor lain yang mampu mempengaruhi cara di mana HAM dilindungi dan dimajukan di negara tersebut. serta masyarakat sipil. about/publications/sheets/htm. termasuk status pelaporan oleh negara. Informasi lebih lanjut mengenai sistem perjanjian HAM PBB Untuk informasi lebih lanjut mengenai perjanjian dan badan perjanjian. 4 • Th. Perluasan dampak tergantung tidak hanya pada Pemerintah. htm.tuan tentang pelatihan HAM bagi pejabat/ pegawai Negara. institusi nasional HAM. Untuk mendaftarkan diri. Hak Anak (No. keputusan yang diambil mengenai pengaduan individual (jika tersedia). beberapa badan perjanjian juga menghadapi kesulitan untuk menangani jumlah laporan yang harus mereka pertimbangkan setiap tahun. Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) juga mempublikasi beberapa Lembar Fakta berkaitan dengan pekerjaan badan-badan perjanjian: Prosedur Pengaduan (No. dan Budaya (No. Komite Hak Ekonomi. 15).ohchr.org/english/ Istilah-istilah teknis berkaitan dengan badan perjanjian Backlog Di samping persoalan keterlambatan dan tidak-adanya pelaporan oleh Negara-negara Pihak. Dokumen-dokumen badan perjanjian. Lembar Fakta ini tersedia secara cumacuma dari kantor publikasi OHCHR. kunjungi situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia OHCHR di http://www. atau online di http://www. komentar umum yang menginterpretasikan perjanjian yang bersangkutan. Kebutuhan untuk meminta informasi yang terkini adalah salah satu JURNAL HAM • Vol. termasuk parlemen nasional dan regional. termasuk laporan-laporan Negara Pihak dan concluding observations dapat diperoleh di situs ini. 16). Pemberitahuan melalui e-mail mengenai rekomendasi badan perjanjian Jika anda tertarik pada pekerjaan badan-badan perjanjian dan ingin mendapatkan informasi mengenai kegiatankegiatan mereka.

Para ketua badan perjanjian bertemu setiap tahunnya untuk mengkoordinasikan kegiatan badan perjanjian. dan kerangka hukum umum yang melindungi HAM di Negara tersebut. Ketua Setiap badan perjanjian memilih salah satu anggotanya untuk bertindak sebagai ketua untuk jangka waktu dua tahun. Metode kerja yang lebih efisien dapat mengurangi backlog tersebut. Komentar kesimpulan (concluding comments) Lihat “concluding observations”. Dokumen inti/utama Suatu dokumen yang diserahkan oleh Negara Pihak kepada Sekretaris Jenderal yang memuat informasi hal-hal umum mengenai negara yang relevan dengan semua perjanjian. misalnya. dan dapat dilaksanakan. Biro Biro biasanya terdiri dari ketua. Badan perjanjian bertugas menghasilkan concluding observations yang konkret. serta harus memberikan perhatian bagi langkah-langkah guna menjamin tindak lanjut efektif terhadap concluding observations-nya. termasuk informasi mengenai tanah dan penduduk. Dialog konstruktif Praktik yang diadopsi oleh semua badan perjanjian dengan mengundang Negaranegara Pihak untuk mengirimkan delegasinya guna menghadiri pertemuan di mana laporan mereka dipertimbangkan dalam rangka memberikan kesempatan kepada Negara-negara Pihak tersebut untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan anggota dan menyediakan informasi tambahan mengenai upaya mereka dalam melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian yang relevan. wakil ketua. Juga dirujuk sebagai “concluding comments” oleh beberapa komite sesuai dengan pengistilahan di perjanjiannya. pertemuan secara paralel di dua tempat untuk mempertimbangkan laporanlaporan dari tahun 2005. struktur politik umum. dan juga berpartisipasi bersama dua orang anggota komite lainnya dalam pertemuan antarkomite. Concluding observations Pengamatan dan rekomendasi yang dikeluarkan oleh suatu badan perjanjian setelah mempertimbangkan laporan Negara Pihak. Dokumen umum Istilah alternatif untuk “dokumen inti/ utama yang diperluas”.alasan mengapa praktik pembuatan daftar pertanyaan diadopsi oleh kebanyakan badan perjanjian. tetapi hanya dibentuk untuk memonitor pelaksanaan perjanjian. yang bertemu untuk memutuskan tentang persoalan-persoalan prosedural dan administratif yang berkaitan dengan pekerjaan komite. Orang tersebut mengetuai pertemuan sesuai dengan peraturan tata tertib yang telah disepakati. Dokumen inti/utama diperkenalkan pertama kalinya pada 1991 di pertemuan para ketua 137 . pelapor (rapporteur) atau anggota lain yang ditugaskan oleh komite. Pertimbangan terhadap kondisi negara tanpa adanya laporan Lihat “prosedur peninjauan”. Gagasan dialog konstruktif menekankan pada kenyataan bahwa badan perjanjian bukan merupakan badan yudisial (walaupun beberapa di antaranya memiliki fungsi quasi-yudisial). 2007 kan bahwa tindakan lebih lanjut perlu diambil oleh Negara. terfokus. Concluding observations mengacu baik pada aspek positif pelaksanaan perjanjian oleh suatu negara maupun bidang-bidang di mana badan perjanjian merekomendasiJURNAL HAM • Vol. 4 • Th.

yang secara keseluruhan bertanggung jawab terhadap pembuatan daftar persoalan. Namun. Negara Pihak tidak boleh membuat derogasi terhadap hak-hak tertentu dan tidak boleh mengambil langJURNAL HAM • Vol. Beberapa perjanjian hak asasi manusia mengijinkan Negara-negara Pihak. Deklarasi Negara dapat memilih atau diwajibkan untuk membuat deklarasi berkaitan dengan perjanjian di mana Negara menjadi pihak. Derogasi Derogasi adalah langkah yang diadopsi oleh Negara Pihak yang menangguhkan sebagian pelaksanaan satu atau lebih ketentuan dari perjanjian. tidak berarti meniadakan atau memodifikasi dampak hukum dari perjanjian. Pelapor negara biasanya memimpin dalam membuat daftar persoalan. mengajukan pertanyaan kepada delegasi pada saat pertemuan. Hal yang sama. Oleh karena itu. Satuan kerja laporan Negara terdiri dari empat sampai enam anggota. berdasarkan pasal 41 Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. yaitu sebagai berikut: Deklarasi tentang interpretasi Negara dapat membuat deklarasi tentang pemahamannya terhadap persoalan yang tercantum dalam. yang dinominasikan oleh Ketua.badan perjanjian sebagai suatu cara untuk mengurangi pengulangan informasi yang ditemukan di laporan Negara-negara ke berbagai badan perjanjian. dan membuat concluding observations untuk dibahas dan diadopsi oleh komite. Pelapor negara (country rapporteur) Kebanyakan komite menunjuk seorang anggotanya sebagai pelapor negara untuk setiap Negara Pihak yang sedang dipertimbangkan. salah satu di antara mereka adalah pelapor negara. ketentuan tertentu di perjanjian. Tujuan dari deklarasi interpretasi adalah untuk mengklarifikasi arti beberapa ketentuan atau keseluruhan perjanjian. dalam hal darurat publik yang mengancam kehidupan bangsa. Ada beberapa jenis deklarasi. untuk membuat derogasi yang bersifat khusus dan sementara terhadap beberapa hak sejauh yang dibutuhkan oleh situasi di Negara tersebut. Deklarasi tentang interpretasi seperti ini. 4 • Th. setidaknya untuk jangka waktu sementara. 2007 138 . Deklarasi opsional dan wajib Perjanjian dapat membiarkan Negara membuat deklarasi opsional dan/atau wajib. Dokumen ini memuat suatu bagian awal yang umum di semua laporan ke badan perjanjian. Deklarasi ini bersifat mengikat secara hukum bagi yang membuat deklarasi. Negaranegara Pihak pada Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang keterlibatan anakanak dalam konflik bersenjata diharuskan membuat deklarasi wajib berdasarkan pasal 3(2) yang menetapkan usia minimum yang mengijinkan rekrutmen berdasarkan pilihan bebas (voluntary) di angkatan bersenjata nasionalnya serta suatu deskripsi jaminan yang diadopsi guna menjamin bahwa rekrutmen semacam itu tidak dipaksakan. Satuan kerja ini bertemu pada saat pertemuan pleno. Satuan kerja laporan Negara (country report task force) Komite Hak Asasi Manusia telah menugaskan satuan kerja laporan Negara untuk mengerjakan persiapan pertimbangan laporan-laporan yang sebelumnya dilakukan oleh kelompok kerja prapertemuan. atau interpretasi tentang. Negara dapat membuat deklarasi opsional bahwa Negara menerima kompetensi Komite Hak Asasi Manusia untuk mempertimbangkan pengaduan antarNegara. tidak se- perti halnya reservasi. misalnya.

Institusi-institusi Nasional HAM. Komunikasi individual Lihat “pengaduan individual”. Biasanya Negara-negara diwajibkan untuk menginformasikan kepada Negara Pihak lainnya tentang derogasi tersebut. Parlemen. Dokumen inti/utama yang diperluas bertujuan untuk semakin mengurangi pengulangan informasi dalam berbagai laporan dengan menyediakan informasi mengenai ketentuan-ketentuan tentang hak-hak yang substantif di seluruh atau beberapa perjanjian. Tindak lanjut Prosedur yang dibuat guna menjamin bahwa Negara-negara Pihak menindaklanjuti rekomendasi yang ada dalam concluding observations badan perjanjian atau keputusan badan perjanjian terhadap kasuskasus yang diangkat dalam prosedur pengaduan. Suatu laporan tunggal dianggap akan mempersulit prosedur dan akan sulit digunakan. Diprediksikan bahwa dokumen inti/utama yang diperluas akan diserahkan kepada setiap badan perjanjian bersama dengan laporan khusus perjanjian yang lebih terfokus. 4 • Th. Rekomendasi umum Lihat “komentar umum”. Komentar umum Interpretasi suatu badan perjanjian terhadap isi ketentuan-ketentuan HAM. baik yang terkait dengan suatu artikel khusus atau suatu persoalan tematis yang lebih luas. DAW berkantor di Markas Besar Perserikatan BangsaBangsa di New York dan memberikan dukungan terhadap Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan. dan masyarakat sipil memiliki peranan penting dalam tindak lanjut tersebut. serta Komisi untuk Status Perempuan. (Lihat Komentar Umum No. serta ada kekhawatiran bahwa informasi spesifik yang biasanya ditemukan di laporan perjanjian yang terpisah akan hilang dalam suatu laporan yang menyimpulkan secara luas. Beberapa komite telah mengadopsi prosedur tindak lanjut formal dan semua komite mewajibkan Negara-negara untuk mencantumkan tindak lanjut tersebut dalam laporan berkala mereka. organisasi nonpemerintah. di mana JURNAL HAM • Vol. Komentar umum seringkali digunakan untuk memperjelas kewajiban pelaporan Negara-negara Pihak berkaitan dengan ketentuan-ketentuan tertentu dan menyarankan pendekatan-pendekatan dalam melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. 2007 139 . dari seorang individual yang menyatakan bahwa hakhaknya berdasarkan salah satu perjanjian telah dilanggar oleh Negara Pihak. dan menentukan tanggal habisnya masa berlaku derogasi tersebut. Pengaduan individual Suatu pengaduan formal. 29 Komite Hak Asasi Manusia) Divisi Pengembangan Perempuan (DAW) Bertempat di Departemen Bidang Ekonomi dan Sosial (Department of Economic and Social Affairs atau DESA).kah-langkah yang bersifat diskriminatif. Dokumen inti/utama yang diperluas Gagasan untuk memperluas ruang lingkup dokumen inti/utama muncul pada saat proses konsultasi yang dilakukan oleh badan perjanjian sebagai respon terhadap usulan Sekretaris Jenderal bahwa Negaranegara diijinkan untuk menyerahkan laporan tunggal kepada semua badan perjanjian. memberikan alasan mengenai derogasi. Komentar Umum juga sering disebut “rekomendasi umum” (Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial dan Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan).

19: JURNAL HAM • Vol. tergantung pada sejauh mana independensinya dari kontrol pemerintah dapat dijamin. yang diserahkan kepada Negara Pihak jauh-jauh hari sebelum pertemuan di mana badan perjanjian akan mempertimbangkan laporan tersebut. organisasi nonpemerintah. Informasi mengenai status pelaporan Negara-negara Pihak pada setiap perjanjian tersedia dari database badan-badan perjanjian di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) atau dalam dokumen HRI/GEN/4. Saat ini belum ada hak pengaduan individual di Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi. dan sebagainya). Suatu standar internasional yang dikenal sebagai Prinsip-prinsip Paris telah disepakati untuk mengukur independensi dan integritas institusi-institusi nasional HAM ini. 2007 140 . Hak yang akan dipertimbangkan dalam pengaduan individual harus dinyatakan diterima oleh Negara Pihak yang bersangkutan dengan membuat suatu deklarasi berdasarkan pasal perjanjian yang relevan (bagi Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial dan Komite Menentang Penyiksaan) atau dengan meratifikasi atau mengaksesi protokol opsional pada perjanjian yang memberikan hak bagi pengaduan individual (Protokol Opsional Pertama pada Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik serta Protokol Opsional Kovenan tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan). Ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan pengaduan individual berdasarkan Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya belum berlaku. Keterlambatan pelaporan Setiap perjanjian memperkirakan penyerahan laporan secara berkala. Informasi lebih lanjut mengenai NHRIs. dan Budaya serta Konvensi Hak Anak. yang memungkinkan dialog membicarakan hal-hal yang spesifik dengan lebih cepat. Daftar persoalan menyediakan suatu kerangka bagi dialog yang konstruktif dengan delegasi Negara Pihak.beberapa badan perjanjian memiliki kompetensi untuk mempertimbangkannya. Daftar persoalan merupakan sumber informasi yang up-to-date bagi komite berkaitan dengan Negara yang laporannya mungkin sudah menunggu selama dua tahun untuk dipertimbangkan. yang diperbaharui setiap tahunnya. Institusi-institusi semacam ini semakin diakui sebagai bagian yang penting dalam sistem perlindungan HAM di tingkat nasional. Lihat Lembar Fakta Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) No. Sosial. misalnya dengan pengarusutamaan proses pelaporan melalui dokumen inti/utama yang diperluas. Daftar persoalan dan/atau pertanyaan Suatu daftar persoalan atau pertanyaan yang dibuat oleh suatu badan perjanjian berdasarkan laporan Negara Pihak dan informasi lain yang tersedia bagi badan perjanjian tersebut (informasi dari badanbadan khusus PBB. dalam praktiknya. 4 • Th. dan badan perjanjian telah berupaya mencari cara untuk mempermudah Negaranegara membuat laporan. banyak Negara menghadapi kesulitan dalam melaksanakan kewajiban pelaporan yang sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan oleh perjanjian di mana mereka menjadi pihak. Institusi-institusi Nasional HAM (National Human Rights Institutions/ NHRI) Banyak negara telah membentuk institusi nasional HAM untuk memajukan dan melindungi HAM. Beberapa komite mendorong Negara Pihak untuk menyerahkan tanggapan tertulis sebelum pertemuan dilaksanakan. Persoalan keterlambatan pelaporan ini diidentifikasi sebagai salah satu dari banyak tantangan yang dihadapi oleh sistem pelaporan perjanjian.

Institusi-institusi Nasional untuk Pemajuan dan Perlindungan Hak Asasi Manusia. Organisasi nonpemerintah Organisasi nonpemerintah dapat terlibat dalam pemajuan HAM, baik secara umum maupun berfokus pada suatu persoalan tertentu. Terdapat suatu kerangka bagi partisipasi organisasi nonpemerintah di berbagai mekanisme HAM PBB, seperti pemberian status konsultatif di Dewan Ekonomi, Sosial, dan Budaya yang memberikan kesempatan kepada organisasi nonpemerintah untuk berpartisipasi dalam Komisi Hak Asasi Manusia. Organisasi nonpemerintah internasional dan nasional mengikuti pekerjaan badan-badan perjanjian dari dekat dan kebanyakan badan perjanjian memberikan kesempatan pada mereka untuk memberikan masukan dalam proses pelaporan, misalnya melalui pemberian informasi tambahan berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian di suatu negara (seringkali dirujuk sebagai laporan “bayangan” atau “paralel”). Terdapat perbedaan dalam bagaimana setiap badan perjanjian memperlakukan informasi ini. Hal ini tergantung pada apakah organisasi memiliki status konsultatif dari Dewan Ekonomi, Sosial, dan Budaya atau tidak. Organisasi nonpemerintah internasional dan nasional juga memiliki peranan penting dalam mengawasi tindak lanjut pelaksanaan rekomendasi yang di tingkat nasional termuat dalam concluding observations badan perjanjian dan dalam mendorong debat publik di tingkat nasional mengenai pelaksanaan HAM pada masa proses pembuatan laporan dan setelahnya. Organisasi nonpemerintah juga memberikan kontribusi yang penting dalam pemajuan pengesahan perjanjian-perjanjian HAM di dunia.

Tidak-melaporkan (non-reporting) Walaupun sudah dengan bebas menerima kewajiban hukum yang melekat pada perjanjian HAM yang telah mereka ratifikasi, beberapa Negara gagal menyerahkan laporan mereka kepada badan perjanjian yang bersangkutan. Terdapat banyak alasan mengapa Negara-negara gagal melapor, mulai dari adanya perang dan konflik sipil sampai pada keterbatasan sumber daya. Bantuan teknis tersedia dari Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) dan Divisi Pengembangan Perempuan (DAW) untuk membantu Negara-negara dalam memenuhi kewajiban pelaporan mereka. Badan perjanjian juga telah mengadopsi prosedur untuk menjamin bahwa pelaksanaan perjanjian oleh Negara-negara Pihak yang tidak-melapor juga dapat ditinjau, yaitu ketika Negara tersebut tidak memberikan tanggapan terhadap permintaan informasi dari badan perjanjian. Komite juga secara khusus dapat mempertimbangkan situasi di suatu negara tanpa adanya laporan. Informasi mengenai status pelaporan Negara Pihak terhadap setiap perjanjian tersedia dari database badan perjanjian di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) atau dalam dokumen HRI/ GEN/4, yang diperbaharui setiap tahunnya. Situs tersebut juga menyediakan informasi mengenai bantuan teknis yang tersedia bagi Negara-negara Pihak. Protokol opsional Suatu instrumen internasional yang berhubungan dengan suatu dokumen utama dan memberikan kewajiban hukum tambahan bagi Negara-negara yang memilih untuk menerimanya. Protokol opsional dapat dirancang pada saat yang bersamaan dengan perjanjian utamanya, atau dirancang setelah perjanjian utamanya mulai diberlakukan. Protokol opsional pada perjanjian HAM diadopsi untuk sejumlah alasan: memberikan kesempatan bagi Negara-negara Pihak

JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

141

untuk mendaftarkan diri pada kewajiban tambahan berkaitan dengan monitoring internasional terhadap pelaksanaan perjanjian (Protokol Opsional Pertama pada Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, Protokol Opsional pada Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan, Protokol Opsional pada Konvensi Menentang Penyiksaan); memberikan kesempatan pada Negaranegara untuk mengambil kewajiban tambahan ketika hal-hal tersebut tidak termasuk dalam perjanjian utama (Protokol Opsional Kedua pada Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik); atau menanggapi persoalan-persoalan khusus secara lebih detil (kedua protokol opsional pada Konvensi Hak Anak). Periode pelaporan Jangka waktu untuk penyerahan laporan awal dan laporan berkala oleh Negara Pihak pada badan perjanjian ditentukan di setiap perjanjian atau ditentukan oleh komite sesuai dengan jangka waktu perjanjian. Suatu laporan awal diwajibkan dalam suatu jangka waktu tertentu setelah perjanjian mulai diberlakukan di Negara yang bersangkutan; laporan berkala kemudian diwajibkan untuk jangka waktu tertentu. Periode pelaporan berbeda dari satu perjanjian ke perjanjian lainnya. Petisi Suatu istilah kolektif yang mencakup berbagai prosedur untuk mengajukan pengaduan ke hadapan badan perjanjian yang kompeten. Petisi dapat terdiri dari pengaduan individual atau dari Negara Pihak mengenai pelanggaran terhadap ketentuan perjanjian oleh Negara Pihak lainnya. Kelompok kerja prapertemuan Suatu kelompok kerja dibentuk oleh beberapa badan perjanjian sebelum atau setelah pertemuan pleno guna merencanakan pe-

kerjaan mereka di pertemuan-pertemuan selanjutnya. Pekerjaan yang dilakukan oleh kelompok kerja prapertemuan berbeda dari satu komite ke komite lainnya: beberapa komite membuat daftar persoalan dan pertanyaan melalui kelompok kerjanya untuk kemudian diserahkan kepada setiap negara Pihak sebelum pertimbangan terhadap laporannya dilaksanakan; beberapa komite dengan kompentensi untuk mempertimbangkan pengaduan individual menggunakan kelompok kerja untuk membuat rekomendasi awal terhadap kasus dan persoalan lain yang terkait dengan prosedur pengaduan. Kelompok kerja prapertemuan biasanya dilaksanakan secara tertutup. Rekomendasi Suatu rekomendasi atau keputusan formal yang dikeluarkan oleh badan perjanjian. Istilah ini telah digunakan secara tidak konsisten, yaitu digunakan untuk menggambarkan keputusan formal mengenai persoalan-persoalan tertentu, atau resolusi yang lebih umum seperti yang dihasilkan dari diskusi umum. Concluding observations memuat rekomendasi spesifik, dan isitilah “rekomendasi badan perjanjian” sering digunakan secara bersamaan dengan “concluding observations”. Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial dan Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan juga merujuk pada komentar umum mereka sebagai “rekomendasi umum”. Panduan pelaporan bagi Negaranegara Pihak Panduan tertulis yang dihasilkan bagi Negara-negara Pihak oleh setiap badan perjanjian, yang memberikan nasihat mengenai bentuk dan isi dari laporan yang wajib diserahkan oleh Negara-negara berdasarkan perjanjian yang bersangkutan. Panduan yang terbaru bervariasi pendekatannya: beberapa komite menyediakan panduan yang detil berdasarkan pasal-per-pasal
JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

142

sementara komite lainnya memberikan panduan secara lebih umum (lihat Kompilasi Panduan Pelaporan HRI/GEN/2/ Rev.2). Dalam laporan reformasi keduanya (A/57/387), Sekretaris Jenderal meminta badan-badan perjanjian agar mengadopsi panduan pelaporan yang terharmonisasi. Draf panduan pelaporan yang terharmonisasi ini sedang dibuat oleh komite-komite. Reservasi Reservasi adalah suatu pernyataan yang dibuat oleh Negara yang menyatakan bahwa Negara tersebut meniadakan atau menambahkan dampak hukum beberapa ketentuan dalamperjanjian berkaitan dengan pelaksanaannya di Negara tersebut. Reservasi dapat memfasilitasi Negara untuk berpartisipasi dalam perjanjian multilateral di mana Negara tersebut dapat tidak mampu ataupun tidak bersedia melakukannya. Negara-negara dapat membuat reservasi terhadap suatu perjanjian ketika mereka menandatangani, meratifikasi, menerima, menyetujui, atau mengaksesinya. Ketika suatu Negara membuat reservasi ketika penandatanganan, maka Negara harus menegaskan kembali reservasi tersebut pada saat ratifikasi, penerimaan, atau persetujuan. Reservasi diatur oleh Konvensi Wina tentang Hukum Perjanjian, dan tidak bisa bertentangan dengan tujuan perjanjian. Oleh karena itu, Negara-negara dapat membuat reservasi ketika menandatangani, meratifikasi, menerima, menyetujui, atau mengaksesi suatu perjanjian, kecuali jika (a) reservasi dilarang oleh perjanjian; atau (b) perjanjian mensyaratkan bahwa hanya dapat dilakukan reservasi spesifik, yang tidak termasuk reservasi yang dimaksudkan. Negara-negara Pihak lain dapat mengajukan keberatan terhadap reservasi suatu negara Pihak. Kapan pun, reservasi dapat ditarik atau dibatalkan secara penuh atau sebagian oleh Negara Pihak.
JURNAL HAM • Vol. 4 • Th. 2007

Prosedur peninjauan Suatu prosedur di mana badan perjanjian akan mempertimbangkan situasi di negara tanpa adanya laporan dari Negara Pihak tersebut. Prosedur ini digunakan dalam hal ketika laporan terlambat untuk jangka waktu yang lama dan Negara Pihak tidak menanggapi permintaan badan perjanjian akan laporan tersebut. Di banyak kasus, Negara-negara Pihak menyerahkan laporan mereka untuk menghindari prosedur peninjauan; di kasus lainnya, Negara-negara memilih untuk mengirimkan delegasinya ke pertemuan badan perjanjian dan menjawab pertanyaan dari para ahli badan perjanjian walaupun mereka belum dapat menyerahkan laporannya. Prosedur peninjauan pertama kali diadopsi oleh Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial pada 1991. Komite lain menggunakan istilah “pertimbangan terhadap situasi suatu negara tanpa adanya laporan”. Beberapa Komite memberikan suatu daftar persoalan kepada Negara Pihak walaupun tidak ada laporan. Kebanyakan komite menghasilkan concluding observations di akhir proses, namun hal ini dapat dirahasiakan untuk jangka waktu tertentu jika Negara tersebut berkeinginan menyerahkan laporannya. Peraturan tata tertib (rules of procedure) Aturan-aturan formal yang diadopsi oleh badan perjanjian guna mengatur cara-cara bagaimana badan perjanjian tersebut melakukan pekerjaannya. Setiap komite diberikan kewenangan oleh perjanjian yang bersangkutan untuk mengadopsi peraturan tata tertibnya sendiri. Peraturan tata terbit biasanya mencakup permasalahan seperti pemilihan pejabat dan prosedur pengambilan keputusan khususnya ketika tidak bisa dicapai konsensus. Peraturan tata tertib berkaitan, tetapi berbeda, dengan metode kerja.

143

termasuk FAO. berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian tersebut. Subkomisi Pemajuan dan Perlindungan Hak Asasi Manusia. Dana Bantuan Anak-Anak Perserikatan BangsaBangsa (UNICEF). tidak terdapat perbedaan antara perjanjian. dan Dana Sukarela Perserikatan Bangsa-Bangsa bagi Korban Penyiksaan. yang harus diserahkan secara berkala kepada badan perjanjian. 4 • Th. Semua merupakan instrumen hukum internasional yang mengikat secara hukum. Sekretariat badan-badan perjanjian lainnya berkantor di Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) di Jenewa. UNAIDS. JURNAL HAM • Vol. Setiap badan perjanjian memiliki sekretariat. UNFPA. dana. 2007 144 . dana. UNIFEM. OCHA. Negara-negara yang memilih untuk menerima kewajiban yang termuat di dalamnya. Badan-badan khusus. yang terdiri dari seorang sekretaris dan pegawai internasional lainnya. dan Organi- sasi Kesehatan Dunia (WHO). TCB berkantor di Palais Wilson di Jenewa. Organisasi Buruh Internasional (ILO). TCB memberikan dukungan pada sekretariat bagi semua badan perjanjian kecuali Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. dan program PBB terlibat dalam sistem perjanjian HAM. Setiap perjanjian mewajibkan adanya suatu laporan awal yang komprehensif dalam jangka waktu tertentu setelah ratifikasi. Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP). Sekretariat Komite Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan adalah bagian dari Divisi Pengembangan Perempuan (DAW) dalam Departemen Bidang Ekonomi dan Sosial (DESA) yang berkantor di New York. konvensi. Semua badan perjanjian mengijinkan partisipasi formal badan-badan PBB dalam proses pertimbangan laporan melalui ketentuan tentang informasi tambahan mengenai negara berkaitan dengan laporan Negara tersebut. dan program Berbagai badan khusus. UNESCO. termasuk memajukan dan melindungi HAM. konvensi atau kovenan. baik dalam pelaksanaan kewajiban berdasarkan perjanjian maupun dalam proses penulisan laporan bagi badan-badan perjanjian. Laporan bertarget atau terfokus Lihat “laporan-khusus perjanjian”. Laporan Negara Pihak Laporan yang diwajibkan kepada setiap Negara Pihak pada suatu badan perjanjian. dana. yang diikuti oleh laporan berkala secara periodik. yang berkantor di Sekretariat PBB. UN-HABITAT. kovenan. Komisi Tinggi untuk Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR). Badan-badan khusus. Perjanjian dan Cabang Komisi (Treaties and Commision Branch/TCB) Di Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia(OHCHR). dan program dalam sistem PBB yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan PBB. yang mengatur agenda komite dan mengkoordinasikan program kerjanya. dalam hukum internasional. yang mengindikasinya langkah-langkah yang diadopsi guna melaksanakan perjanjian serta faktor-faktor dan hambatan-hambatan yang ditemuinya. atau instrumen Secara hukum. Perjanjian. Beberapa badan khusus juga memberikan bantuan teknis kepada Negara-negara.Sekretaris/sekretariat Setiap perjanjian mewajibkan Sekretaris Jenderal PBB untuk menyediakan dukungan sekretariat bagi badan perjanjian tersebut. Sebelumnya disebut sebagai “Perwakilan Pelayanan Dukungan” (“Support Service Branch/SSB”). TCB juga memberikan dukungan bagi Komisi Hak Asasi Manusia.

Beberapa perjanjian. Negara tersebut harus (1) menyatakan kesediaannya untuk diikat oleh suatu perjanjian melalui tindakan ratifikasi. Dalam banyak hal. terdapat gerakan untuk mengarusutamakan dan mengharmonisasikan metode kerja dalam pertemuan tahunan para ketua badan perjanjian. Metode kerja setiap badan perjanjian berubah sesuai dengan beban kerja dan faktor-faktor lainnya.untreaty.Badan perjanjian atau komite Suatu komite yang terdiri dari ahli-ahli independen yang ditugaskan untuk memonitor pelaksanaan Negara-negara Pihak atas setiap perjanjian internasional hak asasi manusia yang utama. persetujuan. dan (2) tanggal mulai berlaku perjanjian yang bersangkutan di Negara tersebut. Walaupun sering dirujuk sebagai “laporan khusus-perjanjian”. Laporan/dokumen khusus-perjanjian Usulan dokumen inti/utama atau umum yang diperluas akan diserahkan kepada setiap badan perjanjian secara bersamaan dengan dokumen khusus-perjanjian yang berfokus pada persoalan-persoalan yang berkaitan secara khusus dengan perjanjian yang bersangkutan.org). Negara Pihak Negara Pihak adalah suatu Negara yang sepakat untuk diikat oleh suatu perjanjian berdasarkan hukum internasional. Akhir-akhir ini. Kedua dokumen. komite bersifat independen dari sistem PBB. Bagaimana suatu Negara dapat menjadi Negara Pihak pada perjanjian Berikut dijelaskan mengenai proses bagaimana suatu Negara mengikat dirinya pada ketentuan-ketentuan perjanjian dalam hukum internasional sebagai Negara Pihak. penerimaan. Tanggapan tertulis terhadap daftar persoalan merupakan lampiran atau pembaharuan dari laporan Negara Pihak. walaupun mereka menerima dukungan dari Sekretariat PBB dan melapor kepada Majelis Umum. 2007 yang berbeda dari setiap komite telah menyebabkan kebingungan dan ketidak-konsistenan. Praktik-praktik semacam itu tidak selalu diadopsi secara formal dalam peraturan tata tertib. laporan kepada setiap badan perjanjian akan terdiri dari suatu dokumen umum bagi semua komite dan suatu dokumen khusus-perjanjian bagi setiap badan perjanjian. sementara beberapa lainnya juga terbuka bagi entitas-entitas lain yang memiliki kapasitas untuk membuat perjanjian. Beberapa juga disebut sebagai “badan monitoring-perjanjian”.un. Untuk menjadi pihak. atau aksesi. Kedua Kovenan dan Kovenan Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial terbuka bagi penandatanganan dan ratifikasi oleh “Negara Anggota PBB atau 145 . seperti perjanjian-perjanjian hak asasi manusia. Penjelasan lebih lanjut dapat diperoleh dari Kantor Urusan Hukum Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Office of Legal Affairs (http://www. Metode kerja Prosedur dan praktik yang dikembangkan oleh setiap badan perjanjian untuk memfasilitasi pekerjaannya. 4 • Th. Perjanjian menggunakan istilah “komite”. Tanggapan/jawaban tertulis terhadap daftar persoalan Jawaban tertulis Negara Pihak terhadap daftar persoalan dan pertanyaan badan perjanjian yang diserahkan sebelum pertemuan di mana laporan tersebut akan dipertimbangkan oleh komite. hanya terbuka bagi Negara-negara. khususnya karena pendekatan-pendekatan JURNAL HAM • Vol. jika dibaca bersama. akan membentuk suatu laporan Negara Pihak. tetapi komite juga dikenal sebagai “badan perjanjian” karena setiap komite dibentuk sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian yang diawasinya.

atau melalui aksesi. penerimaan. Perjanjian HAM utama lainnya terbuka bagi semua Negara. Untuk menjadi pihak pada perjanjian multilateral. penerimaan.anggota badan-badan khususnya. Bagaimana caranya suatu Negara bisa menjadi pihak pada suatu perjanjian? Setiap perjanjian HAM memuat ketentuanketentuan yang menentukan. atau persetujuan. Ratifikasi. penandatanganan mengindikasikan keinginan Negara untuk mengambil langkah-langkah untuk diikat oleh perjanjian di kemudian hari. dan oleh Negara mana pun yang telah diundang oleh Majelis Umum PBB”. Penandatanganan juga menciptakan kewajiban untuk menahan diri dalam niatan yang baik dari tindakan-tindakan yang bertentangan dengan tujuan perjanjian dalam jangka waktu antara penandatanganan dan ratifikasi. Untuk meratifikasi perjanjian. atau persetujuan mengacu pada tindakan definitif yang diambil di tingkat internasional. pertama kali. tindakan penandatanganan tidak menentukan adanya kewajiban hukum positif terhadap Negara. dan kedua. Dengan mensyaratkan bahwa penandatanganan harus diikuti oleh ratifikasi maka Negara-negara memiliki waktu untuk mencari kesepakatan bagi perjanjian di tingkat domestik dan untuk menegakkan peraturan-peraturan yang diperlukan guna melaksanakan perjanjian di tingkat nasional. Dalam kondisi tertentu Negara juga dapat mengikat dirinya melalui suksesi. atau persetujuan. penerimaan. Protokol opsional dibatasi hanya bagi Negara-negara Pihak pada perjanjiannya. kapan perjanjian tersebut akan mulai diberlakukan. kecuali Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang keterlibatan anak-anak dalam konflik bersenjata yang terbuka bagi Negara mana pun yang menyetujuinya. pertama. penerimaan. sebelum mengambil kewajiban hukum berdasarkan perjanjian di tingkat internasional. bagaimana Negara-negara harus melanjutkan proses mengikat diri terhadap ketentuanketentuan substantif perjanjian. atau persetujuan. atau persetujuan Ratifikasi. penandatanganan adalah langkah persiapan guna mencapai ratifikasi perjanjian oleh Negara. biasanya menjadi ditandatangani yang kemudian diikuti oleh ratifikasi. 4 • Th. suatu Negara harus menunjukkan keinginannya untuk melaksanakan semua hak dan kewajiban hukum yang termuat dalam perjanjian melalui tindakan nyata. penerimaan. Negara melakukan hal tersebut dengan menyerahkan “instrumen ratifikasi” kepada Sekretaris Jenderal PBB. Perjanjian HAM menentukan bahwa persetujuan dapat diberikan baik melalui penandatanganan yang diikuti dengan ratifikasi. yaitu ketika suatu Negara memberikan persetujuannya untuk diikat oleh perjanjian yang telah ditandatanganinya. Dengan kata lain. Penandatanganan Perjanjian-perjanjian multilateral. Dengan kata lain. Negara harus menyatakan persetujuannya untuk diikat oleh perjanjian. Banyak perjanjian mensyaratkan jumlah minimum Negara Pihak sebelum perjanjian tersebut mulai berlaku sebagai hukum internasional. sesuai denga pasal-pasal terakhir dari perjanjian tersebut. Dalam hal tersebut. seperti halnya perjanjian-perjanjian hak asasi manusia. Suatu Negara dapat menyatakan persetujuannya untuk diikat oleh perjanjian dengan beberapa cara. Namun. jika Negara menyatakan persetu- 146 JURNAL HAM • Vol. 2007 . oleh Negara Pihak mana pun pada Statuta Pengadilan Internasional. Negara harus menandatangani perjanjian.

Negara yang bersangkutan harus memberitahukan Sekretaris Jenderal PBB mengenai niatnya untuk menggantikan kewajiban hukum tersebut. penyatuan negara federasi atau serikat. tidak seperti ratifikasi. maka proses tersebut disebut aksesi (lihat di bawah). Aksesi Aksesi adalah tindakan ketika suatu Negara yang belum menandatangani suatu perjanjian menyatakan persetujuannya untuk menjadi pihak pada perjanjian tersebut dengan menyerahkan “instrumen aksesi” kepada Sekretaris Jenderal PBB. atau sebagai alternatif. atau persetujuan. maka Negara terikat secara hukum oleh perjanjian sebagai salah satu Negara Pihaknya. Tindakan yang diperlukan di tingkat internasional juga perlu dilakukan.juannya untuk diikat tanpa pertama kali menandatangani perjanjian. Suksesi Suksesi terjadi hanya dalam kasus-kasus di mana suatu Negara yang menjadi pihak pada perjanjian mengalami transformasi konstitusional yang besar yang menimbulkan keraguan apakah pernyataan persetujuan untuk diikat oleh perjanjian yang telah diberikan sebelumnya tetap sahih. Dalam hal ini. Ratifikasi di tingkat nasional tidak cukup kuat sebagai pernyataan keinginan Negara untuk diikat di tingkat internasional. 2007 kin terjadi dan prosedur yang dipakai tergantung pada ketentuan-ketentuan dalam perjanjian yang bersangkutan. tidak boleh disamakan dengan ratifikasi di tingkat nasional. Kondisi semacam ini termasuk kemerdekaan (misalnya. maka Negara harus melaksanakan perjanjian tersebut di tingkat nasional. tidak ada pembatasan waktu untuk meminta Negara meratifikasi perjanjian yang telah ditandatanganinya. Setelah ratifikasi. Dalam kondisi-kondisi tersebut. Negara menunjukkan keinginannya untuk melaksanakan hak dan 147 . Pembedaan antara ratifikasi/aksesi dengan mulai berlaku Tindakan di mana Negara menyatakan persetujuannya untuk diikat oleh perjanjian berbeda dengan mulai berlakunya perjanjian tersebut. Negara tersebut dapat menyatakan persetujuannya untuk terus diikat oleh kewajiban hukum sebagaimana dilakukan oleh Negara Pihak yang asli yang berlaku untuk wilayah teritorial yang sama melalui tindakan suksesi. Ketika suatu Negara telah meratifikasi perjanjian di tingkat internasional. penerimaan. banyak perjanjian multilateral modern dapat diaksesi bahkan pada masa perjanjian terbuka bagi penandatanganan. Kondisi-kondisi di mana aksesi mungJURNAL HAM • Vol. yaitu penyerahan instrumen aksesi. melalui dekolonialisasi). Ratifikasi di tingkat internasional. Negara penggantinya dapat memilih meratifikasi atau mengaksesi perjanjian yang bersangkutan dalam kapasitasnya sendiri. Namun. Aksesi biasanya digunakan oleh Negara-negara yang ingin menyatakan persetujuan mereka untuk diikat oleh perjanjian ketika tenggat waktu penandatanganan telah lewat. 4 • Th. aksesi hanya mensyaratkan satu langkah. yang harus diawali dengan penandatanganan untuk menciptakan kewajiban hukum yang mengikat berdasarkan hukum internasional. Pada umumnya. Aksesi memiliki dampak hukum yang sama seperti ratifikasi. yang mengindikasikan komitmen Negara kepada masyarakat internasional untuk melaksanakan kewajibannya. yang mungkin diperlukan oleh Negara sesuai dengan ketentuan-ketentuan konstitusionalnya sebelum Negara tersebut menyatakan persetujuan untuk diikat secara internasional. Namun. dan penarikan diri suatu Negara atau entitas dari Negara atau federasi.

Siapa pun yang ingin mengajukan pengaduan terhadap Negara Pihak kepada badan perjanjian berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian atau protokol opsionalnya harus memastikan bahwa instrumen tersebut telah diberlakukan di Negara yang bersangkutan. penerimaan. Mulai berlaku secara pasti Masa mulai berlakunya suatu perjanjian secara pasti adalah waktu yang menetapkan perjanjian baru tersebut sebagai instrumen hukum yang mengikat bagi Negaranegara yang telah menyatakan persetujuannya untuk diikat oleh ketentuan-ketentuan dalam perjanjian tersebut. Sedangkan. atau aksesi yang diserahkan kepada Sekretaris Jenderal dalam jumlah tertentu. Perjanjian tidak dengan serta merta mulai berlaku: biasanya ada masa tunggu yang diatur dalam perjanjian antara tanggal penyerahan instrumen dan tanggal mulai berlakunya. maka ketentuan-ketentuan tambahan menentukan kapan perjanjian mulai berlaku bagi Negara atau organisasi internasional tambahan yang ingin terikat dengan perjanjian tersebut. Ada dua jenis mulai berlakunya perjanjian: mulai berlakunya perjanjian sebagai instrumen hukum internasional secara pasti. mulai berlakunya perjanjian berkaitan dengan suatu Negara adalah saat di mana perjanjian tersebut benar-benar mengikat secara hukum bagi Negara Pihak tersebut. Daftar ratifikasi perjanjian HAM utama tersedia di situs Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR).org. Tanggal ini juga menentukan tanggal-tanggal Negara harus menyerahkan laporannya kepada badan perjanjian. Ketentuan-ketentuan perjanjian menentukan saat mulai berlaku tersebut. Bagaimana saya bisa mengetahui apakah suatu perjanjian sudah mulai berlaku di suatu Negara? Sumber yang pasti adalah Tempat Penyimpanan Perserikatan BangsaBangsa. Situsnya http://untreaty. penerimaan. Sampai tanggal tersebut.un. dan masa mulai berlaku khusus bagi Negara tertentu. biasanya dengan masa tunggu satu bulan atau sekitarnya. Tanggal Sebagai konsekuensi dari hal tersebut di atas. 2007 148 . Mulai berlaku Mulai berlakunya suatu perjanjian adalah saat ketika suatu perjanjian benar-benar mengikat secara hukum negara-negara yang menjadi pihaknya. atau aksesi. maka mungkin akan terdapat beberapa tanggal pada perjanjian berkaitan deJURNAL HAM • Vol. Mulai berlaku bagi suatu Negara Ketika perjanjian sudah mulai berlaku secara umum. persetujuan. Mengapa tanggal mulai berlaku penting? Ini adalah tanggal di mana hak-hak yang diatur dalam perjanjian mengikat Negara dalam hukum internasional. Kebanyakan perjanjian memperkirakan bahwa perjanjian akan mulai berlaku setelah adanya ratifikasi.kewajiban hukum berdasarkan suatu perjanjian melalui penyerahan instrumen ratifikasi. 4 • Th. baik yang sudah meratifikasi maupun mengaksesinya (walaupun Negara-negara tersebut tetap berkewajiban untuk menahan diri dalam niatan yang baik dari tindakan-tin- dakan yang bertentangan dengan tujuan perjanjian tersebut). persetujuan. yang mempunyai daftar perjanjian multilateral yang diserahkan kepada Sekretaris Jenderal. perjanjian tidak mengikat secara hukum bagi Negara mana pun.

2007 149 . Hal ini tidak memiliki dampak hukum kecuali menahan diri dari tindakantindakan yang bertentangan dengan tujuan perjanjian. Tanggal mulai berlaku bagi Negara: yaitu tanggal yang ditetapkan oleh perjanjian tentang kapan perjanjian mulai secara formal mengikat Negara dalam hukum internasional. Tanggal penyerahan instrumen ratifikasi atau aksesi: yaitu tanggal kapan tempat penyimpanan perjanjian PBB menerima instrumen hukum yang menyatakan persetujuan Negara untuk terikat pada perjanjian. 4 • Th. dan Budaya Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan Konvensi Menentang Penyiksaan Konvensi Hak Anak Diadopsi 21 Desember 1965 Tanggal mulai berlaku 4 Januari 1969 Tanggal mulai berlaku bagi Negara Pihak Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan 16 Desember 1966 16 Desember 1966 18 Desember 1979 3 Januari 1976 3 bulan setelah tanggal penyerahan 23 Maret 1976 3 bulan setelah tanggal penyerahan Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan 3 September 1981 10 Desember 1984 20 November 1989 26 Juni 1987 2 September 1990 Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan JURNAL HAM • Vol. Tanggal penandatanganan: yaitu tanggal kapan Negara menandatangani perjanjian. Kebanyakan perjanjian mensyaratkan jangka waktu tertentu antara tanggal penyerahan instrumen sebelum perjanjian mulai berlaku dan mengikat secara hukum. Sosial. Jangka waktu tersebut beragam antara satu perjanjian dengan perjanjian lainnya. Kalkulasi tanggal mulai berlakunya perjanjian Perjanjian Kovenan Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi.ngan suatu Negara: Tanggal mulai berlakunya suatu perjanjian secara pasti: yaitu tanggal yang ditentukan dalam perjanjian yang menunjukkan kapan perjanjian mulai berlaku secara umum dalam hukum internasional dan mulai mengikat Negara-negara yang telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan.

4 • Th. 2007 .Konvensi Internasional tentang Perlindungan terhadap Hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya Protokol Opsional Pertama Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Protokol Opsional Kedua Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Protokol Opsional Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Tentara Anak Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Penjualan Anak Protokol Opsional Konvensi Menentang Penyiksaan 18 Desember 1990 1 Juli 2003 Pada hari pertama bulan berikutnya setelah 3 bulan setelah tanggal penyerahan 3 bulan setelah tanggal penyerahan 16 Desember 1966 23 Maret 1976 15 Desember 1989 11 Juli 1991 3 bulan setelah tanggal penyerahan 6 Oktober 1999 22 Desember 2000 3 bulan setelah tanggal penyerahan 25 Mei 2000 18 Januari 2002 12 Februari 2002 Belum diberlakukan (dibutuhkan 20 Negara Pihak) 1 bulan setelah tanggal penyerahan 1 bulan setelah tanggal penyerahan Pada hari ke-30 setelah tanggal penyerahan 25 Mei 2000 18 Desember 2002 150 JURNAL HAM • Vol.

27 : Tujuh Belas Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Pelapor Khusus PBB No. 24 : Hak Pekerja Migran No. 12 : Komite Penghapusan Dikriminasi Rasial No. 19 : Lembaga Nasional untuk Memajukan dan Melindungi Hak Asasi Manusia No. 28 : Dampak Kegiatan Tentara Bayaran terhadap Hak Orang-orang Untuk Menentukan Nasibnya Sendiri No. 14 : Bentuk-Bentuk Perbudakan Masa Kini No. 11 : Hukuman Mati di Luar Hukum Secara Cepat dan Sewenang-wenang (Revisi 1) No. 18 : Hak Kelompok Minoritas JURNAL HAM • Vol. 3 : Ketentuan Internasional tentang Hak Asasi Manusia (Revisi 1) : Layanan Penasihat dan Kerja Sama Teknis di Bidang Hak Asasi Manusia (Revisi 1) : Metode-metode Menentang Penyiksaan (Revisi 1) : Penghilangan Orang Secara Paksa atau Tidak dengan Sukarela (Revisi 2) : Prosedur Komunikasi (Revisi 1) : Hak Penduduk Asli (Revisi 1) No. 13 : Hukum Humaniter Internasional dan Hak Asasi Manusia No. 10 : Hak Anak (Revisi 1) No. 2007 151 . 26 : Kelompok Kerja untuk Penahanan Sewenang-wenang No. dan No. 30 : Sistem Perjanjian Hak Asasi Manusia Perserikatan BangsaBangsa:Pengantar terhadap Perjanjian Hak Asasi Manusia Utama dan Badan-badan Perjanjian * Lembar Fakta No. 25 : Penyingkiran Secara Paksa dan Hak Asasi Manusia No. 4 No. No. 8 tidak lagi dipublikasikan.Daftar Lembar Fakta Hak Asasi Manusia:* No. Sosial dan Budaya (Revisi 1) No. 6 No. 22 : Diskriminasi terhadap Perempuan: Konvensi dan Komite No. 2 No. 16 : Komite Hak Ekonomi. 7 No. 20 : Hak Asasi Manusia dan Pengungsi No. 17 : Komite Menentang Penyiksaan No. 23 : Praktik Tradisional yang Berbahaya bagi Kesehatan Perempuan dan Anak No. 5. 21 : Hak atas Perumahan yang Layak No. 1. 4 • Th. 29 : Pegiat Hak Asasi Manusia: Perlindungan Hak Untuk Membela Hak Asasi Manusia No. No. 15 : Hak Sipil dan Politik: Komite Hak Asasi Manusia (Revisi 1) No. 9 No.

Setiap Negara dituntut untuk memenuhi kebutuhan minimum untuk bertindak secara komisi maupun secara omisi. Sementara untuk masalah pelayanan kesehatan indikatornya adalah ketersediaan. Sementara di Kabupaten Sikka dan Jayapura. Banyak kondisi fisik bangunan sekolah dan sarana pendukung yang kurang memadai. pertama. Angka-angka berikut mengkonfirmasi fakta itu. mengkonfirmasi persepsi yang berkembang selama ini mengenai pelayanan kesehatan dan pendidikan yang masih jauh dari harapan. melindungi dan melaksanakan. 195+xxiv Hasil survey yang kemudian diterbitkan menjadi buku ini. Sikka. yaitu soal kebebasan. keteraksesan. Rahadi’T Wiratama. lebih rendah lagi. Gambaran di mana Negara. merupakan hak penting yang satu sama lain saling terkait dan menentukan. Potret di tiga lokasi penelitian yang menjadi locus. lebih rendah dibandingkan angka rata-rata di Jawa Barat yang 24%. Di Kabupaten Sikka lebih parah lagi. Masing-masing bidang memiliki indikator. 2007 152 . Kedua. ketersediaan. Ketiga. dalam kadar serta intensitas tertentu. 2005. belum mampu menjamin penegakan. Pengantar : Abdul Hakim Garuda Nusantara Editor : Harry Wibowo dan Anharudin Penerbit : CESDA-LP3ES. Abdul Mun’im Dz. Wildan Pramudya. Widodo Dwi Putro.Akses Terhadap Pendidikan dan Kesehatan: Peristiwa Tiga Daerah Judul Buku : Meneropong Hak Atas Pendidikan dan Layanan Kesehatan: Analisis Situasi di Tiga Kabupaten: Indramayu.5%. dan Jayapura Penulis : Naning Mardiniah. Indramayu mencapai 4. 4 • Th. Harry Wibowo. Penelitian dari tiga daerah ini menunjukkan bahwa terjadinya keterlambatan dalam pelayanan pendidikan. penghormatan dan promosi terhadap terpenuhinya Hak Ekonomi Sosial Budaya (HESB). khususnya pelayanan pendidikan kepada anak. keteraksesan. Ketersediaan sarana pendidikan masih menjadi problem. Burhanudin. Angka putus sekolah di Kab. dan kebersesuaian. bertindak (obligation of conduct) dan berkewajiban mencapai hasil (obligation of result). menunjukkan rendahnya kualitas kepedulian pemerintah daerah dan masyarakat. Seperti diketahui bersama. menggambarkan situasi umum di negeri ini. Negara memiliki kewajiban untuk. Untuk masalah hak pendidikan ada empat hal. Angka ini jelas sangat tinggi. Pendidikan dan kesehatan. Tingkat layanan pendidikan di Indramayu. keterimaan dan kualitas. menghormati. Peluang kebebasan untuk mendirikan lemJURNAL HAM • Vol. lebih-lebih jika dilihat bahwa angka putus sekolah itu terjadi pada jenjang pendidikan SD (h. Keterlambatan ini. 103). soal kewajiban minimum.

problem mendasarnya adalah masalah keteraksesan dari segi jarak. banyak yang belum bisa baca-tulis dan berhitung (h. Pada satu Puskesmas misalnya. Siswa yang sudah lulus SD pun. Kualitas layanan JURNAL HAM • Vol. 27 dokter umum. tampaknya belum terpenuhi (h. akan tetapi tidak dengan sendirinya bisa menghentikan laju angka putus sekolah. Secara lebih spesifik di Kabupaten Jayapura. problem yang menghambat terpenuhinya hak kesehatan masyarakat adalah distribusi tenaga medis yang tidak merata. akan tetapi masih jauh dari harapan. Sikka dan Jayapura masih rendah jika diukur dari standar minumum. banyak problem yang terjadi. Tidak semua kondisi Puskesmas dalam kondisi siap pakai. Paling tidak. tanggung jawab pemerintah ini akan dilihat dari aspek ketersediaan. Untuk bisa memenuhi standar minimum saja masih jauh. Tenaga medis yang tersedia. terjadi konsentrasi te- 153 . Dibandingkan kabupaten sekitarnya. to protect dan to fulfill. minimnya tenaga pengajar sehingga banyak kelas yang kosong. kemudian buku ini menarik benang merah. Kendati Pemda Jayapura. meskipun pendidikan dasar merupakan suatu yang wajib dan harus dilakukan secara gratis. Menghargai atau menghormati. 149). Di tingkat kabupetan. Jadi. Apa yang terjadi di Kab. Dari sini. yaitu to respect.baga pendidikan tidak dimanfaatkan oleh masyarakat. 4 • Th. sebagaimana ditemukan pada SD Distrik Genyem. sementara pemerintah sendiri belum mampu menyediakan sarana dan prasarana pendidikan dasar yang memadai (h. Temuan yang diungkapkan dalam buku ini mengindikasikan bahwa masalah kesehatan mengindikasikan pemerintah. Banyak faktor yang melatar belakangi mengapa pelaksanaan pelayanan pendidikan dasar belum memenuhi standar minimum. buruknya ruang belajar dan banyaknya siswa yang kurang gizi sehingga sulit menangkap pelajaran dari gurunya. belum memenuhi tanggung jawabnya dalam memenuhi hak-hak kesehatan dasar bagi masyarakat. Jayapura adalah gambaran yang paling menyedihkan. 159). keteraksesan dan keberterimaan. 154). kondisinya sangat jauh dari kabupaten lain. masyarakat mengalami kesulitan untuk mendapatkan akses pelayanan kesehatan (h. belum tersedia Rumah Sakit Umum dan tidak semua kecamatan memiliki Puskesmas. ada tiga kewajiban utama pemerintah terkait hal tersebut. Sebagian besar prasarana jalan raya di Kab. menjadikan kebijakan Pemda/Pemerintah menggratiskan layanan kesehatan. Aspek pelayanan minimumpun. 166) Hal yang sama juga terjadi dalam masalah pelayanan kesehatan.137). Prasarana jalan sulit itu. fasilitas buku pelajaran yang minim. melindungi dan memenuhi. Di Kabupetan Sikka. Hal ini terjadi karena beberapa sebab. 7 dokter gigi dan 175 bidan desa. sulitnya lokasi baik untuk dijangkau tenaga pengajar maupun siswa. dan sebagai akibatnya. Banyak bangunan sekolah yang tanahnya dalam status sengketa dengan masyarakat adat (h. Gambaran lebih dramatis terjadi di Kabupaten Jayapura. ada yang kondisi bangunannya rusak berat dan tidak bisa dipakai (h. Terjadi ketimpangan dalam rasio distribusi. Jayapura belum selesai. 107). menjadi tidak mengena. Tidak semua Puskesmas memiliki tenaga dokter. salah satunya adalah konflik status kepemilikan tanah yang tidak kunjung diselesaikan oleh Pemda. 2007 kesehatan di Kabupaten Indramayu. pada aspek pemenuhan ini. Pada level masyarakat masih ditemui kasus-kasus yang menghambat pelaksanaan pendidikan. telah menghapuskan biaya pendidikan dasar.

4 • Th. Akan tetapi penerapan prinsip-prinsipnya yang kemudian dianggap sebagai bagian dari pelaksanaan otonomi daerah. masyarakat di kecataman yang Puskesmasnya tidak tersedia tenaga dokter. Memang lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Sikka. Mun’im menyarankan agar Puskesmas yang berfungsi sebagai pusat kesehatan masyarakat mengubah paradigma layanannya dari aspek kuratif ke promotif dan preventif. akses tentu tampak lebih dibanding Kab. rendahnya keteraksesan masyarakat terhadap informasi tentang kesehatan yang melahirkan munculnya perilaku hidup yang tidak sehat dan rendahnya keterjangkauan masyarakat untuk mengakses layanan kesehatan yang disediakan pemerintah. Oleh karena itu. masih belum menjadi mainstream dalam program pembangunan di negeri ini. sosialisasi kebijakan kesehatan masih rendah. Sementara dalam masalah pendidikan. Jadi tidak akses ke pelayanan kesehatan memang masih belum merata dan bisa dibayangkan bagaimana masyarakat yang ada di desa (h. pembangunan kesehatan masih bersifat kuratif. masih perlu dilihat lagi. 125-131). pelaksanaannya di daerah belum diiringi perspektive dan komitment mendalam untuk memenuhi hak-hak rakyat. Itu sebabnya. Tak hanya itu. Sementara untuk Kab. Kebijakan Pemerintah dari sisi anggaran. untuk bisa mengakses harus ke Puskesmas Kecamatan lain. 2007 .4 % dari APBD. Karenanya. sebagian besar masyarakat tidak memiliki akses terhadap air bersih sebagai akibatnya derajat kesehatan masyarakat juga rendah. Pertama. bidang kesehatan hanya mendapat alokasi anggaran sejumlah 0. Dan untuk pembangunan kesehatannya hanya sekitar 7 milyar per tahunnya. tidak ada dokter sama sekali. Namun dari sisi kualitas layanan. upaya pelaksanaan di lapangan yang terjadi sekadar memenuhi kuantitas dan belum ditunjukkan kearah peningkatan kualitas. Laporan tiga daerah itu secara tegas menyuratkan kenyataan bahwa masalah pendidikan dan kesehatan. Dari aspek ketersediaan. Banyaknya kasus diare dan demam berdarah di Indramayu akibat sanitasi lingkungan yang buruk. Indramayu. kebijakan pemerintah masih banyak mene- kankan aspek kuratif daripada promotif dan preventif. Pada kebijakan kesehatan. Jayapura maupun Sikka. meskipun secara nasional telah tegas akan tetapi banyak daerah tingkat dua yang tidak menjadikannya sebagai mainstream dalam pembangunan.naga dokter sementara pada Puskesmas tertentu. pembangunan kesehatan belum menjadi arus utama pembangunan. ketersediaan tenaga medis. Kedua. Ellyasa KH Darwis 154 JURNAL HAM • Vol. Pasalnya. Problem kesehatan yang terjadi adalah soal akses untuk hidup sehat. Sayangnya. secara umum. Meskipun di tingkat nasional telah digariskan dengan sejumlah peraturan hukum dan kebijakan politik. Salah satu kasusnya adalah akses masyarakat terhadap air bersih. setidaknya pemerintah telah menyediakan secara memadai sarana dan prasarana kesehatan. Temuan di lapangan menunjukkan ada dua problem dalam akses kesehatan. dan perlindungan bagi masyarakat miskin juga masih rendah. Dari segi infrastruktur. di sana sini terjadi ambivalensi dan tidak jarang reductive. jika dilihat dari standard minimum.

editor dan co-editor buku. Penulis. Inkonsistensi dan Separatisme Jakarta: Mengapa Tanah Papua Terus Bergolak? (2005).TENTANG PENULIS Yoseph Adi Prasetyo. Sengketa Konstitusional Lembaga-lembaga Negara (2005). Email : stanley@komnasham. Beberapa kali terlibat dalam pekerjaan Komnas HAM antara lain menjadi evaluator majalah Komnas HAM “SUAR”. Inggris. Membangun Koalisi yang Otoritatif Dalam Menilai Proses Pembentukkan Perundang-undangan yang Partisipatif (2005). Zen. Refleksi dan Penyusunan Strategi Mewujudkan Partisipasi Masyarakat dalam Penyusunan Peraturan Perundang-undangan (2005).M in International Human Rights Law di University of Essex. jabatan terakhirnya adalah Direktur Eksekutif Institut Studi Arus Informasi (ISAI) dan penulis lepas. anggota Tim Ad Hoc Kerusuhan 13-14 Mei 1998 (2003). 1995-2002 bekerja di Institut Sosial Jakarta. Beliau juga adalah salah satu anggota Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). antara lain: Buku Panduan Bantuan Hukum di Indonesia (2006). Patra M. Sekarang menjadi Anggota Komnas HAM pada Subkomisi Pendidikan dan Penyuluhan (2007-2012). 2007 155 . Aktif dalam berbagai seminar dan lokakarya HAM serta menulis sejumlah makalah berkaitan dengan HAM di Indonesia A. Ketua Ad Interim Badan Pengurus Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia. Juga menjadi penyelia penerbitan sejumlah ornop yang disandangnya sejak 1996. Beliau juga aktif dalam beberapa penelitian. 2003-2006 bekerja di Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi manusia Indonesia. Buku Pintar. Naskah Akademik JURNAL HAM • Vol. menjadi fasilitator dalam menyusun rencana kerja Komnas HAM. Departemen Hukum dan HAM. 4 • Th.id Henri Simarmata. 1999 dan 2005 mengikuti sesi sidang Komisi HAM. Dalam bidang organisasi beliau menjadi Majelis Etik AJI Jakarta (2003-2005) serta menjadi anggota Pokja Reformasi Polri yang dibentuk oleh POLRI-Kemitraan sejak 2003. 60 Menit Memahami (Mengawasi) Penyusunan Peraturan Perundang-undangan (2005). menjadi fasilitator dan pendamping kelompok minoritas (antara lain masyarakat adat dan orang Tionghoa) dan memimpin tim riset dan penelitian kekerasan yang dilakukan Polri untuk Subkomisi Pemantauan Komnas HAM (2004). yaitu mengkoordinir penelitian Gerakan Demokrasi di Indonesia (2002-2003) dan mengkoordinir survei dan penelitian “Aktor Demokrasi di Indonesia” (2000-2002). Penerima Beasiswa the British Chevening Scholarship (2001/2002) untuk LL. 2004-2006 menjadi anggota Komite Eksekutif Forum Asia sebagai wakil PBHI – termasuk menjadi Ketua Komite Eksekutif (November 2005-Februari 2006) Adhi Santika saat ini menjabat Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hak-hak Kelompok Rentan Badan Penelitian dan Pengembangan HAM. Tak Ada Hak Asasi yang Diberi (2005).go.

dalam bidang political science.29 September 1999). June-August 2001 edition). Jakarta. Bogor: 28 .Rancangan Undang-undang tentang Pengadaan Barang dan Jasa Publik (2004). Pernah menjadi Ketua Komite Pembelaan Mahasiswa (KPM ITB)1979-1981 yang ditangkap oleh rejim Soeharto. Waktu senggangnya digunakan untuk menulis yang antara lain muncul dalam Jurnal PBB New York dan harian the Jakarta Post. 2007 . Australia. May 10. Recent Developments in Human Rights in Indonesia after the Adoption of the National Plan of Action of Human Rights 1998 – 2003 (Preparatory Workshop on the Capacity Building in International Labour Standard and Human Rights in Indonesia. South Africa (The United Nations Chronicle. saat ini Direktur Eksekutif Social and Economic Rights Action Centre (SiDAN). dari tahun 2000-2004. 2005). conducted by ILO. March 28. Tahun 19881993 bertugas di Direktorat Perjanjian Internasional Departemen Luar Negeri. 2006). May 20. 2006). Reforming the UN Human Rights Commission (dengan Mulyadi) (The Jakarta Post. Aceh dan Timor Timur (Timor Leste). Sejak tahun 1996. Land Reform by Leverage In Indonesia (1998). Yang bersangkutan sebelumnya bertugas menangani isu-isu HAM di Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) pada Perserikatan Bangsa-Bangsa New York. Emilie Hafner-Burton mendapatkan gelar Ph. The World Conference against Racism. Indonesia and the New Human Rights Council (The Jakarta Post. Hendardi pernah menerima berbagai penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri. Amerika Serikat. Tulisannya antara lain: The spirit of May 20 (The Jakarta Post. Tahun 1987 menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan tahun 1992 memperoleh gelar LL. seperti di Lampung. Durban. Penulis Agenda Land Reform di Indonesia Sekarang. Koalisi Partisipasi (2003). Tahun 1997 hingga tahun 2004 Jonny Sinaga bekerja di Direktorat Organisasi Internasional Departemen Luar Negeri sekaligus menjadi anggota Kelompok Kerja HAM Deplu. Diantaranya dari lembaga prestisius seperti Human Rights Watch(1993). Tahun 1993-1997 bertugas di Bagian Politik Kedutaan Besar RI di Canberra. Shameful modern slavery (The Jakarta Post. New York. April 19. New Orleans.dari University of Wisconsin . Hendardi menjabat sebagai ketua Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI). The quiet revolution in Indonesia’s human rights (The Jakarta Post. Hasil Studi Identifikasi Potensi Land Reform di Indonesia (1998). 2006).M dari Tulane Law School. dan Hukum Perdata di Indonesia (2001). dan juga penghargaan HAM dari Menteri Negara Urusan Hak Asasi Manusia RI (29Agustus 2000).Madison. Lesson learnt from world leaders’ school diplomacy (The Jakarta Post.m. April 18.com Andik Hardiyanto.D. 2005). Jonny Sinaga saat ini bekerja di Departemen Luar Negeri Republik Indonesia sebagai Kepala Sub-Direktorat Hak Sipil dan Politik. November 8. Kritik dan saran dapat melalui patra. dan kerap melakukan investigasi di daerahdaerah konflik. July 2003 (with Distinction) dengan area spesiali- 156 JURNAL HAM • Vol. Hendardi. Kemudian aktif dilingkaran Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). 2006). Considering General Election in Aceh under the Martial Law (2004).zen@gmail. 4 • Th.

special edition of the Journal of Conflict Resolution. New Road. 2007.1986). 1373-1411. Vol. forthcoming. 2005. eds.” Sociological Forum. E-mail: Emilie...” Social Forces. pp.uk Kiyoteru Tsutsui. Korespondensi langsung kepada Emilie Hafter-Burton.” Journal of Peace Research. “The Semiconductor Community in Silicon Valley: A Network Analysis of the Semi Genealogy Chart (1047 . “Right or Robust? The Sensitive Nature of Political Repression in an era of Globalization. Vol. Oxford OXI 1 NF. and Conflict. 593-629. forthcoming (under revision).. Woodrow Wilson School of Public and International Affairs and the Department of Politics. “Global Civil Society and Ethnic Social Movements in the Contemporary World. Forthcoming. pp. forthcoming (under revision). 407-425. Social Networks. “Human Rights Practices in a Globalizing World: The Paradox of Empty Promises.” With Emilie Hafner-Burton. 2008. State University of New York. Saat ini tengah mengkaji mengenai ekspansi global hak asasi manusia dan dampaknya terhadap politik lokal. 1.” Co-authored with Alexander H. 2006.679-698. 4 • Th. 63-88. sejarah. “Trading Human Rights: How Preferential Trade Agreements Influence Government Repression. 23(1).2008. 110(5). No.. 50(1). 13731411. Montgomery. “International Organizations Count: What Statistics Show Us (and Don’t Show Us) About IOs. Hafner-Burton and Ron. Vol. “Power Positions: International Organizations. 45(1).. No. 2004.. Journal of Conflict Resolution.. Journal of Peace Research. Montgomery.” International Organization.hafner-burton@nuffield. 42(6).” Coauthored’with Jana von Stein. pp.” Co-authored with James Ron. International Sociology.” Co-authored with Kiyoteru Tsutsui and John Meyer. American Journal of Sociology.” Cornell University Press. pp. 2005. “Preventing Human Rights Abuse.sasi International Relations and Methodology. 44(4). Beberapa karya tulisannya adalah: Agreements. Universitas Oxford.” Co-authored with Kiyo Tsutsui. pp. 2.” With Christine Min Wotipka. pp.ac. 99-108. Inggris. “Sticks and Stones: Naming and Shaming and the Problem of Human Rights Enforcement” International Organization. 2004. American Journal of Sociology.” With Dimitris Assimakopoulos and Sean Everton. eds. 5. Journal of Peace Research. dan hak asasi manusia di Stony Brook. “The Hegemon’s Purse: No Economic Peace Between Democracies. April 2008. 379-383. “Human Rights in a Globalizing World: The Paradox of Empty Promises. sosiologi. 2007. 59(3). Publikasinya antara lain: “Redressing Past Human Rights Violations: Global Dimensions of Contemporary Social Movements. Princeton University. Journal of Peace Research. “Justice Lost! The Failure of International Human Rights Law to Matter Where Needed Most. 44(4). Saat ini menjadi Assistant Professor. “International Human Rights Law and the Politics of Legitimation: Repressive States and Human Rights Treaties. adalah peneliti utama dengan spesialisasi bidang politik. von Stein and Gartzke.ox. No. Social Forces. gerakan sosial. pp. Nuffield College. forthcoming. “Global Civil Society and the International Human Rights Movement: Citizen Participation in Human Rights International Nongovernmental Organizations. 83..” Coauthored with Kiyoteru Tsutsui. 2007 157 . pp. 3-27. Dia mendapatkan Social Science Research Council Abe Fellow pada 2004-2005 dan Visiting Assistant Professor di Stanford University for the 2005-2006.” Co-authored with Alexander Montgomery. Hafner-Burton. “Power or Plenty: Do International Trade Organizations Shape Economic Sanctions?” Co-authored with Alexander H. 115-141. International Journal of Technology JURNAL HAM • Vol. 2005.. 587-620. 2005.. 110. 19. Journal of Conflict Resolution. April 2008.

1/2.cc. 158 JURNAL HAM • Vol. “Status in the World System and Ethnic Mobilization. 2003. No. praktisi media dan peneliti pada Swamedia Research and Communication (SRC) Jakarta . Vol. No. 691-720. December 1998.sunysb. 42. Korespondensi dapat ditujukan ke ktsutsui@notes.edu Ellyasa KH Darwis. menjadi tenaga analis data pada Desk Aceh Komnas HAM. CPSM.Management. 4 • Th. Pernah aktif di LKIS Yogyakarta. Vol. 6. KIPP Indonesia. 25. Journal of Conflict Resolution. 181-199. Saat darurat militer.” With Susan Olzak. WALHI. 2007 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->