P. 1
Garut - LHP BPK TA 2010_Buku 2

Garut - LHP BPK TA 2010_Buku 2

|Views: 781|Likes:
Published by Mochamad Satria
LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN BPK RI ATAS LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN GARUT TAHUN 2010 - Buku 2 LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN
LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN BPK RI ATAS LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN GARUT TAHUN 2010 - Buku 2 LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN

More info:

Published by: Mochamad Satria on Nov 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2013

pdf

BUKU II

1

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN BPK RI ATAS LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN GARUT TAHUN 2010 LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN

Nomor Tanggal

: 23.BILHPIXVIII.BDGIOi : 06 Juli 2011

-

-

-

-BUKU I1

a

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN BPK RI ATAS LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN GARUT TAHUN 2010

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN

Nomor Tanggal

:23.RILHP ?ST771.RDG'O7/2011 : 6 Juli 20 11

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR ISI .................................................................................................................................. DAFTAR TABEL .......................................................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................................................. RESUME HASIL PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN .............. BAB 1 HASIL PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN……………. 1. Penganggaran dan Realisasi Pembayaran Belanja Bunga pada Pengeluaran Pembiayaan Tidak Tepat …………............................................................................. 2. Penganggaran Kegiatan Rehabilitasi/Pemeliharaan Berkala Jalan Kabupaten Dalam Belanja Barang dan Jasa–Belanja Pemeliharaan sebesar Rp12.872.382.900,00 Tidak Tepat.............................................................................................................................. 3. Penyajian Piutang Lainnya-Piutang Penjualan Kios Pasar Tidak Didukung Dokumen yang Memadai Sebesar Rp3.545.697.365,00 dan Berpotensi Tidak Tertagih ……… i ii iii 1 3 3

4 6

4. Penyajian Penyertaan Modal Pemerintah Daerah dari Investasi Terarah Senilai Rp1.990.000.000,00 dan Piutang BPR Sebesar Rp585.829.500,00 Tidak Jelas Dasar Perhitungannya ……………………………………………………………………….. 10 5. Pemberian Pelayanan Kepada Pasien Kerjasama Tidak Sesuai yang Diperjanjikan Sehingga Terdapat Piutang Retribusi atas Jasa Pelayanan Kesehatan Pada RSUD dr. Slamet Sebesar Rp326.862.411,00 yang Berpotensi Tidak Tertagih……………… 13 6. Penatausahaan Persediaan pada Empat SKPD Belum Memadai……………………. 15 7. Penatausahaan Aset Tetap Pada Lima SKPD Tidak Tertib dan Terdapat Jalan Desa Sebesar Rp31.057.068.510,00 yang Masih Tercatat dalam Neraca per 31 Desember 2010 serta Terdapat Aset Tetap Sebesar Rp203.876.780.874,00 yang Tidak Dapat Ditelusuri……………………………………………………………………………… 18 8. Penyajian Realisasi Pendapatan dari Pelayanan Kepada Pasien Jamkesmas Sebesar Rp31.813.774.897,90 Dan Penyajian Piutang Retribusi dari Pelayanan Kepada Pasien Jamkesda Sebesar Rp14.839.543.149,00 Dalam Laporan Keuangan Tidak Didasarkan dari Hasil Verifikasi……………………………………………………. 28 9. Lima Puluh Enam Organisasi/Kelompok Masyarakat Penerima Bantuan Sosial dan Hibah dari Pemerintah Kabupaten Garut TA 2010 Sebesar Rp12.956.851.400,00 Belum Menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban Penggunaan Dana……………. 32 BAB 2 HASIL PEMANTAUAN TINDAK LANJUT PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN…………………………………………………………… 34 LAMPIRAN

BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

i

DAFTAR TABEL Tabel 1.1 Tabel 1.2 Tabel 1.3 Tabel 1.4 Tabel 1.5 Tabel 1.6 Tabel 1.7 Tabel 1.8 Tabel 1.9 Tabel 1.10 Tabel 2.1 Daftar Piutang Penjualan Kios Pasar Yang Dikelola Oleh Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM ………………………................................. Daftar Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Kabupaten Garut Pada Badan Usaha Milk Daerah (BUMD) ……………………………………………….. Daftar Penyertaan Modal Terarah Pemerintah Kabupaten Garut Pada Bank Perkreditan Rakyat (BPR) ……………………………………………… Daftar Piutang Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Slamet Per 31 Desember 2010 …………………………………………………………… Daftar Piutang dari Kerjasama Pelayanan RSUD Dr Slamet……………………… Daftar Aset Tetap Pemerintah Kabupaten Garut Per 31 Desember 2010……………………………………………………………. Rincian Mutasi Aset Tetap Tahun 2010 ............................................................. Daftar Pemegang Aset Kendaraan Bermotor Yang Lebih Dari 1 Unit …………….. Daftar Pemegang Aset Peralatan dan Mesin (Notebook) Lebih Dari 1 Unit Dan Tidak Dilengkapi Berita Acara ……………………………………………… Daftar Aset Bangunan Dan Gedung Pada Dinas Pendidikan Yang Tidak Ada Rinciannya ...................................................................................... Pemantauan Tindak Lanjut Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern Tahun 2004 – 2009 …………………………………………………………………………

6 10 10 13 14

19 19 20

21 25 31

BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

ii

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Daftar Pekerjaan Jalan Yang Seharusnya Dianggarkan Dalam Belanja Modal Daftar Penyertaan Modal Pemkab Garut Pada Bank Perkreditan Rakyat Dengan Menggunakan Metode Ekuitas Daftar Jalan Desa Perolehan TA 2004 s.d 2009 Yang Masih Tercatat Pada Dinas Bina Marga Daftar Aset Tanah, Jalan Dan Jembatan Pada Dinas Bina Marga Yang Tidak Ada Rinciannya Daftar Bansos & Hibah TA 2010 Yang Belum Dilengkapi Pertanggungjawaban Penggunaan Dana Dengan

Pemantuan Tindak Lanjut Atas Hasil Pemeriksaan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah Kabupaten Garut

BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

iii

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

RESUME HASIL PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Undang Undang dan undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah memeriksa ndang (BP ) Neraca Pemerintah Kabupaten Garut per 31 Desember 2010 dan 2009, serta Laporan Realisasi Anggaran untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut. BPK telah tanggal tanggal menerbitkan Laporan Hasil Pemeriksaan Keuangan atas Laporan Keuangan Pemerintah nerbitkan Kabupaten Garut Tahun 2010 yang memuat opini Wajar Dengan Pengecualian dengan ahun Nomor 23.A/LHP/XVIII.BDG/07/2011 tanggal 06 Juli 2011 dan Lapor Laporan Hasil Pemeriksaan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan undangan Nomor 23.C/LHP/XVIII.BDG/07/2011 tanggal 06 Juli 2011. Sesuai Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN), dalam pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Garut tersebut di atas, BPK mempertimbangkan sistem pengendalian intern Pemerintah Kabupaten Garut untuk menentukan prosedur pemeriksaan dengan tujuan untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan dan tidak ditujukan untuk memberikan keyakinan atas sistem pengendalian intern. pen BPK menemukan kondisi yang dapat dilaporkan berkaitan dengan sistem pengendalian intern dan operasinya. Pokok-pokok kelemahan dalam sistem pengendalian intern atas Pokok pokok Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Garut yang ditemukan BPK adalah s kan sebagai berikut. 1. Penganggaran dan realisasi pembayaran Belanja Bunga pada Pengeluaran Pembiayaan nganggaran p ga tidak tepat. 2. Penganggaran Kegiatan Rehabilitasi/Pemeliharaan Berkala Jalan Kabupaten d Rehabilitasi/Pemeliharaan dalam Belanja Barang dan Jasa–Belanja Pemeliharaan sebesar Rp12.872.382.900,00 tidak Jasa 12.872.382.900,00 tepat. 3. Penyajian Piutang Lainnya-Piutang Penjualan Kios Pasar tidak didukung dokumen yang Lainny memadai sebesar Rp3.545.697.365,00 dan berpotensi tidak tertagih. t 4. Penyajian Penyertaan Modal Pemerintah Daerah dari Investasi Terarah s senilai Rp1.990.000.000,00 dan Piutang BPR sebesar Rp585.829.500,00 tidak jelas dasar perhitungannya. 5. Pemberian pelayanan kepada pasien kerjasama tidak sesuai yang diperjanjikan sehingga terdapat Piutang Retribusi atas Jasa Pelayanan Kesehatan pada RSUD d Slamet ada dr. sebesar Rp326.862.411,00 yang berpotensi tidak tertagih. ebesar 6. Penatausahaan persediaan pada empat SKPD belum memadai. m 7. Penatausahaan Aset Tetap pada lima SKPD tidak tertib dan terdapat Jalan Desa s sebesar Rp31.057.068.510,00 yang masih tercatat dalam Neraca per 31 Desember 2010 serta aca
BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

1

c + -- .:- :- - - - . terdapat 80.874,00 ditelusuri. - :-- - - - - - . .h.pelayanan yang tidak dapat Jamkesmas sebesar 8. Penyajian r e n l ~ ; l ; . kepada pasien Rp3 1.813.7'4.90-.@- '-- 7.,?n piutang retribusi dari pelayanan kepada pasien -1-1 Jamkesda sebesar SF': ' t:_' . -13.nQ dalam laporan keuangan tidak didasarkan dari C hasil verifikasi. 9. Lima puluh enam or_caqi.-=; k l - ~ r >masyarakat penerima Bantuan Sosial dan Hibah lr dari Pemerintah Kabupntsq G s w T 20 10 sebesar Rp12.956.85 1.400,00 belum menyampaikan laporan pertnn;;ungian aban penggunaan dana.
1

-.-I
\

Berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut. BPK merekomendasikan kepada Bupati Garut antara lain agar :

1. Memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada Kepala DPPKA dan TAPD supaya dalam melakukan penyusunan anggaran memperhatikan ketentuan yang berlaku. 2. Memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada Kepala Dinas Bina Marga dan TAPD supaya lebih cermat dalam melakukan verifikasi dan penelitian usulan anggaran. 3. Memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM supaya lebih cermat dalam menyusun laporan keuangan. 4. Memerintahkan Sekretaris Daerah, Kepala DPPKA dan Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah segera berkoordinasi dengan PD BPR untuk melakukan perhitungan dan pencocokan jumlah penyertaan modal. 5. Memberikan sanksi kepada Pengelola pasien kerjasama dan Direktur RSUD dr. Slamet supaya dalam memberikan pelayanan kepada pasien kerjasama memperhatikan perjan-jian yang telali disepakati dan lebih optimal untuk melakukan penagihan piutang. 6. Memerintahkan kepada Sekretaris Daerah, Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Dinas Kesehatan dan Direktur RSUD dr. Slamet supaya lebih optimal dalam melakukan pembinaan. 7. Memerintahkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kepala Dinas Bina Marga berkoordinasi dengan Kepala DPPKA untuk segera menelusuri, memverifikasi dan melakukan inventarisasi aset tetap yang belum dapat dirinci. 8. Memerintahkan kepada Direktur RSUD dr. Slamet untuk melakukan koordinasi dengan para camat dan kepala desa maupun lurah supaya lebih selektif dalam menerbitkan SKTM sesuai dengan jumlah kuota Program Jamkesda yang telali ditetapkan. 9. Mengeluarkan kebijakan yang mengatur mengenai sistem pengendalian, penyaluran dan pertanggungjawaban penggunaan bantuan sosial dan hiball yang memungkinkan penerima bantuan untuk dapat niempertanggungjawabkan penggunaan dana.
Kelemahan dan rekomendasi perbaikan secara rinci dapat di lihat dalam laporan ini. Bandung, 06 Juli 20 1 1 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN -- . REPUBLIK INDONESIA Penvakilan Provinsi Jawa Barat

Dede Sukarjo, S.E.,M.M., Ak Akrctrtnn, Regi.~ter Negnm No. 0-38384

BAB 1 HASIL PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN Hasil pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern pada Pemerintah Kabupaten Garut TA 2010 mengungkapkan sebanyak sembilan temuan pemeriksaan, dengan rincian sebagai berikut. 1. Penganggaran dan Realisasi Pembayaran Belanja Bunga Pada Pengeluaran Pembiayaan Tidak Tepat Pemerintah Kabupaten Garut dalam Laporan Realisasi Anggaran (LRA) TA 2010 melalui Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) menganggarkan pembayaran utang jangka panjang dalam Pengeluaran Pembiayaan sebesar Rp308.507.000,00 dan telah terealisasi sebesar Rp249.983.714,00 atau sebesar 81,03%. Realisasi tersebut diantaranya sebesar Rp91.458.713,17 dipergunakan untuk pembayaran utang Pemerintah Kabupaten Garut kepada Pemerintah Pusat. Utang Pemerintah Kabupaten Garut kepada Pemerintah Pusat didasarkan pada perjanjian No.SLA-974/DP3/1997 tanggal 23 September 1997. Utang tersebut merupakan penerusan pinjaman dari Pemerintah Republik Indonesia kepada Pemerintah Kabupaten Garut untuk membiayai proyek sarana perkotaan. Pembayaran utang ditujukan kepada Menteri Keuangan dengan nomor rekening 519000102 Bank Indonesia Thamrin Jakarta. Pembayaran dilakukan melalui Bank Jabar Banten Cabang Garut, dengan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) No.0345/LS/2010 tanggal 10 Maret 2010 sebesar Rp46.791.729,76 dan SP2D No.042371/LS/2010 tanggal 6 Agustus 2010 sebesar Rp44.666.983,41, sehingga total pembayaran utang pada TA 2010 adalah sebesar Rp91.458.713,17. Pembayaran utang sebesar Rp91.458.713,17 terdiri dari pembayaran pokok pinjaman sebesar Rp75.696.060,00 dan bunga pinjaman sebesar Rp15.427.277,56, serta biaya jasa bank sebesar Rp335.375,61. Pembayaran bunga pinjaman/hutang dan biaya jasa bank sebesar Rp15.427.277,56 dari pembiayaan tersebut tidak tepat, karena untuk biaya-biaya tersebut seharusnya dianggarkan pada belanja bunga dan administrasi jasa bank. Penganggaran yang tidak sesuai ketentuan tersebut sebelumnya telah diungkapkan dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK atas Sistem Pengendalian Intern dalam kerangka pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Garut TA 2009 No.46B/LHP/XVIII.BDG/09/2010 tanggal 07 September 2010, namun belum ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kabupaten Garut. Kondisi tersebut tidak sesuai dengan: a. Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, pernyataan No.2 tentang Laporan Realisasi Anggaran, yaitu: 1) Paragraf (36) yang menyatakan bahwa “Belanja operasi adalah pengeluaran anggaran untuk kegiatan sehari-hari pemerintah pusat/daerah yang memberi manfaat jangka pendek. Belanja operasi antara lain meliputi belanja pegawai, belanja barang, bunga, subsidi, hibah, bantuan sosial”. 2) Paragraf (55) yang menyatakan bahwa “Pengeluaran Pembiayaan adalah semua pengeluaran Rekening Kas Umum Negara/Daerah antara lain pemberian pinjaman kepada pihak ketiga, penyertaan modal pemerintah, pembayaran
BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

3

kembali pokok pinjaman dalam periode tahun anggaran tertentu, dan pembentukan dana cadangan”. b. Peraturan Pemerintah No.58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 27 ayat (7) antara lain menyatakan bahwa “Klasifikasi belanja menurut jenis belanja terdiri dari belanja pegawai, belanja barang dan jasa, belanja modal, bunga, subsidi, hibah, bantuan soisal, belanja bagi hasil dan bantuan keuangan, dan belanja tidak terduga”. c. Peraturan Menteri Dalam Negeri No.59 Tahun 2007 tentang Perubahan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, yaitu: 1) Pasal 40 yang menyatakan bahwa “Belanja bunga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf b digunakan untuk menganggarkan pembayaran bunga utang yang dihitung atas kewajiban pokok utang (principal outstanding) berdasarkan perjanjian pinjaman jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang”. 2) Pasal 147 ayat (2) yang menyatakan bahwa “Pembayaran bunga pinjaman dan/atau obligasi daerah dicatat pada rekening belanja bunga”. 3) Pasal 60 yang antara lain menyatakan bahwa “Pengeluaran pembiayaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 59 mencakup pembayaran pokok utang”. Kondisi tersebut mengakibatkan penyajian akun Pengeluaran Pembiayaan pada LRA TA 2010 tidak mengambarkan kondisi yang sebenarnya sebesar Rp15.427.277,56. Kondisi tersebut disebabkan oleh: a. Kepala DPPKA selaku Pejabat Pengelola Keuangan Daerah dalam menganggarkan belanja bunga kurang memperhatikan ketentuan yang berlaku; b. Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) tidak cermat dalam melakukan verifikasi dan penelitian usulan anggaran. Menanggapi permasalahan tersebut, Kepala DPPKA menyatakan bahwa pembayaran pokok utang, bunga dan jasa bank untuk pembayaran utang jangka panjang atas pinjaman Asian Development Bank (ADB) masih dianggarkan dan dikeluarkan dari Pembiayaan Hutang Jatuh Tempo. Adapun kaitannya dengan pemeriksaan laporan TA 2009 Nomor No.46B/LHP/XVIII.BDG/09/2010 tanggal 7 September 2010 baru dapat dilaksanakan pada Tahun 2011, karena penetapan APBD Tahun 2010 sudah dilaksanakan. Penganggaran baru bisa dilaksananakan pada TA 2011. BPK merekomendasikan Bupati Garut agar memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada Kepala DPPKA dan TAPD supaya dalam melakukan penyusunan anggaran memperhatikan ketentuan yang berlaku.

2. Penganggaran Kegiatan Rehabilitasi/Pemeliharaan Berkala Jalan Kabupaten Dalam Belanja Barang dan Jasa–Belanja Pemeliharaan sebesar Rp12.872.382.900,00 Tidak Tepat Pemerintah Kabupaten Garut dalam LRA TA 2010 menyajikan realisasi Belanja Barang dan Jasa sebesar Rp222.899.801.190,00 dari anggaran sebesar Rp234.361.121.820,00 atau 95,11%.
BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

4

Hasil pemeriksaan secara uji petik terhadap pertanggungjawban kegiatan Belanja Barang dan Jasa pada Dinas Bina Marga mengungkapkan bahwa terdapat Kegiatan Rehabilitasi/Pemeliharaan Berkala Jalan Kabupaten dengan anggaran sebesar Rp8.072.020.000,00 telah direalisasikan sebesar Rp8.062.895.155,00 dan Kegiatan Dana Penguatan Infrastruktur dan Prasarana Daerah (DPIPD) untuk Bidang Jalan dan Jembatan (Rehabilitasi/Pengasapalan Jalan Kabupaten) dengan anggaran sebesar Rp10.838.000.000,00 dan realisasi sebesar Rp10.014.566.000,00 dianggarkan dan direalisasikan dari Belanja Barang dan Jasa. Pengujian lebih lanjut terhadap dokumen pertanggungjawaban kedua kegiatan tersebut diketahui bahwa terdapat 18 kontrak pekerjaan senilai Rp12.872.382.900,00 yang termasuk ke dalam kategori Belanja Modal, yaitu pekerjaan pelapisan ulang jalan yang hasil pekerjaannya mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan dan menghasilkan atau menambah nilai Aset Tetap. Rincian perhitungan dimuat pada Lampiran 1. Disamping itu Pemerintah Kabupaten Garut belum memiliki peraturan tentang kebijakan akuntansi yang antara lain mengatur mengenai nilai pengeluaran minimal belanja barang yang dapat dikapitalisasi sebagai Aset Tetap. Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri No.13 Tahun 2006 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri No.59 Tahun 2007 tentang tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, yaitu: a. Pasal 52 ayat (1) yang menyatakan bahwa ”Belanja barang/jasa digunakan untuk menganggarkan pengadaan barang dan jasa yang nilai manfaatnya kurang dari 12 (dua belas) bulan dalam melaksanakan program dan kegiatan pemerintahan daerah”. b. Pasal 53 ayat (1) yang menyatakan bahwa ”Belanja Modal digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pengadaan aset tetap berwujud yang mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan”. Kondisi tersebut mengakibatkan penyajian anggaran dan realisasi Belanja Modal maupun Belanja Barang dan Jasa pada LRA TA 2010 tidak menggambarkan kondisi yang sebenarnya sebesar Rp12.872.382.900,00. Kondisi tersebut disebabkan oleh: a. TAPD Pemerintah Kabupaten Garut kurang cermat dalam melakukan verifikasi dan penelitian usulan anggaran, khususnya Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA), yang diajukan oleh Dinas Bina Marga. b. Kepala Dinas Bina Marga selaku Pengguna Anggaran kurang cermat dalam menyusun anggaran belanja barang dan jasa. c. Pemerintah Kabupaten Garut belum memiliki peraturan tentang kebijakan akuntansi. Atas permasalahan tersebut Kepala Dinas Bina Marga belum menyampaikan tanggapan secara tertulis, namun Sekretaris Bina Marga secara lisan menyatakan bahwa untuk masa akan datang akan dilakukan perbaikan dalam penganggaran Belanja Modal.

BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

5

BPK merekomendasikan Bupati Garut agar: a. Memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada Kepala Dinas Bina Marga supaya lebih cermat dalam menyusun anggaran. b. Memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada TAPD supaya lebih cermat dalam melakukan verifikasi dan penelitian usulan anggaran. c. Memerintahkan kepada Kepala DPPKA untuk menyusun kebijakan akuntansi, yang didalamnya antara lain mengatur mengenai kebijakan kapitalisasi.

3. Penyajian Piutang Lainnya-Piutang Penjualan Kios Pasar Tidak Didukung Dokumen yang Memadai Sebesar Rp3.545.697.365,00 dan Berpotensi Tidak Tertagih Pemerintah Kabupaten Garut dalam Neraca per 31 Desember 2010 menyajikan Piutang Lainnya sebesar Rp4.886.907.365,00, diantaranya sebesar Rp3.601.737.365,00 merupakan piutang atas penjualan kios di lima pasar yang dikelola oleh Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM, dengan rincian sebagai berikut.
Tabel 1.1 Daftar Piutang Penjualan Kios Pasar yang Dikelola oleh Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM
No 1 1 2 3 4 5 Nama Pasar 2 Andir Bayongbong Cikajang Leles Kadungora Pameungpeuk Jumlah Jumlah Piutang Tahun 2010 (Rp) 3 432.276.200,00 451.180.000,00 115.974.215,00 30.540.000,00 2.571.766.950 3.601.737.365,00 Jumlah Piutang Tahun 2009 (Rp) 4 432.276.200,00 451.180.000,00 125.872.069,00 56.040.000,00 2.676.866.950,00 3.742.235.219,00 Pelunasan Piutang Selama Tahun 2010 (Rp) 5 (3-4) 0,00 0,00 9.897.854,00 25.500.000,00 105.100.000,00 140.497.854,00

Piutang tersebut berawal dari kerjasama pembangunan kios pasar antara Pemerintah Kabupaten Garut (Pihak I) dengan rekanan (Pihak II) untuk membangun kios pasar. Dalam perjanjian kerjasama tersebut disepakati beberapa hal, antara lain: a. Dana pembangunan kios menjadi tanggung jawab Pihak II, sedangkan tanah disediakan oleh Pihak I, kecuali untuk pasar Andir Bayongbong, tanah merupakan milik Pihak II. b. Setelah selesai pembangunan, Pihak II berkewajiban menyerahkan tanah bangunan pasar pada Pihak I. c. Pihak II menerima biaya pembangunan kios dari para pedagang. d. Tata cara pembayaran dan syarat-syarat pembelian kios diatur dalam surat perjanjian tersendiri antara pihak kedua dengan para pembeli kios. e. Apabila kios tidak terjual, segala kerugian ditanggung oleh Pihak II (dinyatakan dalam perjanjian pembangunan kios Pasar Leles dan Pasar Pameungpeuk). f. Apabila ada kios yang tidak ditebus, Pihak I dan Pihak II bersama-sama akan menjual pada pedagang lain (dinyatakan dalam perjanjian pembangunan kios Pasar Kadungora).

BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

6

Menurut keterangan Kepala Bidang Pengelolaan Pasar, penjualan kios oleh rekanan tidak seluruhnya lancar. Hal tersebut menyebabkan beberapa rekanan mengajukan dana talangan kepada Pemerintah Kabupaten Garut. Pada Tahun 2004 Pemerintah Kabupaten Garut memberikan dana talangan kepada beberapa rekanan, yaitu: a. Untuk rekanan pembangun kios Pasar Cikajang sebesar Rp1.187.020.000,00. b. Untuk rekanan pembangunan kios Pasar Leles sebesar Rp376.045.632,00; c. Untuk rekanan pembangunan kios Pasar Kadungora sebesar Rp780.000.000,00, dan; d. Untuk rekanan pembangunan kios Pasar Pameungpeuk sebesar Rp1.800.000.000,00. Dana talangan yang diberikan kepada masing-masing rekanan tersebut merupakan piutang rekanan yang belum dilunasi oleh para pedagang (pembeli kios). Atas dasar dana talangan yang diberikan tersebut, pihak rekanan menyerahkan kepada Pemerintah Kabupaten Garut untuk mengambil alih penagihan piutang. Pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan bahwa tidak seluruh jual beli kios antara Pemerintah Kabupaten Garut dengan pedagang/pembeli kios dilengkapi dengan perjanjian jual beli. Dari nilai piutang per 31 Desember 2009 sebesar Rp3.742.235.219,00 hanya piutang kepada 11 pembeli sebesar Rp56.040.000,00 yang dilandasi dengan perjanjian perikatan jual beli, sedangkan sisanya sebesar Rp3.686.195.219,00 tidak dilandasi dengan perjanjian dan hanya berdasarkan pada data yang diberikan rekanan saat pengajuan dana talangan. Lebih lanjut Kepala Bidang Pengelolaan Pasar menyatakan bahwa tidak seluruh informasi dari rekanan tentang identitas dan alamat pembeli kios jelas, hal tersebut menyulitkan untuk melakukan penelusuran bahkan alamat pembeli kios belum dapat ditemukan, terutama untuk pembeli kios Pasar Andir Bayongbong dan Pasar Cikajang. Konfirmasi lebih lanjut dengan Kepala Bidang Pengelolaan Pasar diketahui bahwa kondisi bangunan kios pasar tidak semuanya dalam kedaan baik, yaitu: a. Pasar Andir Bayongbong Masih terdapat 129 kios yang belum lunas pembayarannya, dengan jumlah tunggakan sebesar Rp432.726.200,00. Pembayaran cicilan atas pembelian kios macet karena sebanyak 78 unit kios terbakar, 22 unit kios telah tutup, dan 29 unit kios dalam keadaan rusak. Pada tanggal 24 Agustus 2008, nilai kios yang belum lunas cicilannya dan telah terbakar tersebut adalah sebesar Rp239.435.700,00. Selama Tahun 2009 dan Tahun 2010 tidak ada penerimaan pembayaran cicilan kios dari Pasar Andir Bayongbong. b. Pasar Cikajang Dari 204 unit kios yang diterima saat pemberian dana talangan, yang masih buka hanya 16 unit, sedangkan sisanya tutup. Selain itu kios Pasar Cikajang tengah dalam proses hukum. Selama Tahun 2009 dan Tahun 2010 tidak ada penerimaan pembayaran cicilan kios dari sisa piutang yang belum dibayar sebesar Rp451.180.000,00 c. Pasar Leles Masih terdapat 50 pedagang/pembeli kios yang belum lunas pembayarannya, dengan jumlah tunggakan sebesar Rp125.872.069, namun pada tanggal 27 Mei 2010 terjadi kebakaran yang mengakibakan 198 unit kios terbakar, 15 kios diantaranya adalah kios yang belum lunas cicilannya. Nilai 15 kios tersebut adalah sebesar Rp44.680.939,00. Namun berdasarkan konfirmasi kepada Kepala Seksi Pendapatan Retribusi Pasar pada Tahun 2010 telah dilunasi sebesar Rp9.897.854,00 sehingga sisa tunggakan sampai Tahun 2010 adalah sebesar Rp115.974.215,00.

BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

7

d. Pasar Kadungora Dari 64 kios yang ada, sampai akhir Tahun 2009 telah terjual sebanyak 11 unit yang terdiri dari kios 8 unit dan los 3 unit dengan nilai penjualan sebesar Rp122.400.000,00, dari nilai penjualan tersebut sudah dibayar masing-masing pada Tahun 2009 sebesar Rp66.360.000,00 dan Tahun 2010 sebesar Rp25.500.000,00 sehingga sisa piutang pada Tahun 2010 adalah sebesar Rp30.540.000,00. Sampai akhir Tahun 2009 kios yang masih belum terjual sebanyak 53 unit, diantaranya sebanyak 11 unit digunakan untuk fasilitas umum, sebanyak 9 kios dipakai untuk pelebaran jalan sehingga sisanya sebanyak 33 unit (terdiri atas 28 unit kios senilai Rp369.000.000,00 dan 5 unit los sebesar Rp20.000.000,00n atau seluruhnya sebesar Rp389.000.000,00). Kios dan los yang belum terjual sebanyak 33 unit senilai Rp389.600.000,00 tersebut tidak dilaporkan sebagai persediaan kios dalam dalam Neraca per 31 Desember 2010. e. Pasar Pameungpeuk Berdasarkan catatan Kepala Seksi Pendapatan Retribusi Pasar jumlah kios di Pasar Pameungpeuk adalah sebanyak 623 unit, terdiri atas 472 unit kios dan 151 unit los. Dari sisa tagihan Tahun 2009 sebesar Rp2.676.866.950,00 pada Tahun 2010 telah dibayar sebesar Rp105.100.000,00, sehingga sisa piutang penjualan kios tersebut adalah sebesar Rp2.571.766.950,00. Pada tanggal 5 Maret 2010 terjadi kebakaran yang mengakibatkan 208 unit kios terbakar termasuk di dalamnya 76 kios yang belum lunas senilai Rp484.166.800,00. Permasalahan penjualan kios pasar ini merupakan permasalahan tahun-tahun sebelumnya, sebagaimana telah diungkapkan dalam LHP BPK atas Sistem Pengendalian Intern dalam kerangka pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Garut TA 2009 No.46B/LHP/XVIII.BDG/09/2010 tanggal 07 September 2010. Seharusnya penyajian dan pengakuan adanya piutang dalam laporan keuangan didasari oleh dokumen-dokumen pendukung yang memadai, seperti perjanjian jual beli ataupun akte jual beli. Dari sisa tunggakan pada Tahun 2010 sebesar Rp3.601.737.365,00 yang tidak didukung dengan surat perjanjian ataupun akta jual beli atau bukti-bukti pendukung lainnya yang sah adalah sebesar Rp3.545.697.365,00 (Rp3.601.737.365,00 Rp56.040.000,00). Kondisi tersebut tidak sesuai dengan: a. Peraturan Pemerintah No.58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 1 angka 57 yang menyatakan bahwa “Piutang Daerah adalah jumlah uang yang wajib dibayar kepada pemerintah daerah dan/atau hak pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang sebagai akibat perjanjian atau akibat lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan atau akibat lainnya yang sah”. b. Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan dalam Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan, yaitu: 1) Unsur Laporan Keuangan, tentang Aset: a) Paragraf 61 yang menyatakan bahwa “Manfaat ekonomi masa depan yang terwujud dalam aset adalah potensi aset tersebut untuk memberikan sumbangan, baik langsung maupun tidak langsung, bagi kegiatan operasional pemerintah, berupa aliran pendapatan atau penghematan belanja bagi pemerintah”.

BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

8

b) Paragraf 63 yang menyatakan bahwa “Aset lancar meliputi kas dan setara kas, investasi jangka pendek, piutang dan persediaan”. 2) Pengakuan Unsur Laporan Keuangan: a) Paragraf 78 yang menyatakan bahwa “Pengakuan dalam akuntansi adalah proses penetapan terpenuhinya kriteria pencatatan suatu kejadian atau peristiwa dalam catatan akuntansi sehingga akan menjadi bagian yang melengkapi unsur aset, kewajiban, ekuitas dana, pendapatan, belanja, dan pembiayaan, sebagaimana akan termuat pada laporan keuangan entitas pelaporan yang bersangkutan. Pengakuan diwujudkan dalam pencatatan jumlah uang terhadap pos-pos laporan keuangan yang terpengaruh oleh kejadian atau peristiwa terkait”. b) Paragraf 79 yang menyatakan bahwa “Kriteria minimum yang oleh suatu kejadian atau peristiwa untuk diakui, yaitu: (1) Terdapat kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang berkaitan dengan kejadian atau peristiwa tersebut akan mengalir keluar dari atau masuk ke dalam entitas pelaporan yang bersangkutan; (2) Kejadian atau peristiwa tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur atau dapat diestimasi dengan andal”. Kondisi tersebut mengakibatkan penyajian Piutang Lainnya dari Piutang Penjualan Kios Pasar dalam Neraca per 31 Desember 2010 sebesar Rp3.545.697.365,00 (Rp3.601.737.365,00 – Rp56.040.000,00) tidak dapat diyakini kewajarannya dan berpotensi tidak tertagih. Kondisi tersebut disebabkan oleh: a. Bupati Garut dalam melakukan serah terima kios pasar terkait pemberian dana talangan kepada rekanan tidak didahului dengan penyerahan dan verifikasi dokumen yang memadai sebagai dasar melakukan penagihan dan penyajian piutang kios pasar dalam laporan keuangan. b. Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM selaku Pengguna Anggaran kurang cermat dalam menyusun laporan keuangan pada satuan kerjannya dan tidak optimal dalam menertibkan pengelolaan dokumen/arsip terkait pengambilalihan piutang kios pasar yang menjadi tanggung jawabnya dan melengkapi Surat Perjanjian Jual Beli kios pasar terdahulu. Menanggapi permasalahan tersebut, Kepala Dinas Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM menyatakan bahwa sebagai tindak lanjut akan dilaksanakan upaya-upaya penagihan agar piutang cicilan kios dapat tertagih, antara lain dengan membuat perjanjian baru antara Pemkab Garut dengan pedagang yang masih mempunyai cicilan kios, melakukan pendekatan kepada mereka yang terkena musibah kebakaran agar dapat menyelesaikan kewajibannya dan menertibkan pedagang kaki lima agar mau berjualan di dalam pasar sehingga dapat membeli sisa kios yang belum terjual. BPK merekomendasikan Bupati Garut agar memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM supaya lebih cermat dalam menyusun laporan keuangan dan segera menertibkan pengelolaan dokumen/arsip terkait pengambilalihan piutang kios pasar dan melengkapinya dengan surat perjanjian jual beli kios.
BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

9

4. Penyajian Penyertaan Modal Pemerintah Daerah dari Investasi Terarah Senilai Rp1.990.000.000,00 dan Piutang BPR Sebesar Rp585.829.500,00 Tidak Jelas Dasar Perhitungannya Neraca Pemerintah Kabupaten Garut per 31 Desember 2010 menyajikan Investasi Jangka Panjang Investasi Permanen-Penyertaan Modal Pemerintah Daerah sebesar Rp41.532.164.112,86 dan Piutang pada BPR sebesar Rp585.829.500,00. Penyertaan modal pemerintah daerah tersebut adalah :
Tabel 1.2 Daftar Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Kabupaten Garut Pada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)
Nama Perusahaan PT Bank Jabar PDAM Garut PD BPR Investasi Terarah Proporsi Kepemilikan < 20 % > 20 % > 20 % > 20 % Nilai penyertaan modal Tahun 2009 (Audited) 6.591.674.740,47 26.942.736.718,56 15.555.290.450,00 1.990.000.000,00 51.079.701.909,03 Nilai Penyertaan Modal Tahun 2010 (Unaudited) 6.591.674.740,47 12.795.198.922,39 20.155.290.450,00 1.990.000.000,00 41.532.164.112,86 Nilai Penyertaan Modal Tahun 2010 (Audited) 6.591.674.740,47 30.096.404.472,22 12.632.932.379,26 1.990.000.000,00 51.311.011.591,95 Metode Pencatatan Cost Methode Equity Mehode Equity Mehode Cost Methode

No 1 2 3 4

Penyertaan modal kepada PD BPR sebesar Rp20.155.290.450,00 di atas telah dilakukan koreksi oleh tim pemeriksa terkait metode pencatatan/penilaian (equity method) menjadi sebesar Rp12.632.932.379,26. Penyertaan modal PD BPR tersebut merupakan penyertaan modal kepada PD BPR, PD BPR LPK dan PD PK yang proporsi kepemilikan Pemerintah Kabupaten Garut diatas 20% atau lebih, dengan rincian pada Lampiran 2. Untuk PD BPR, Pemerintah Kabupaten Garut juga melakukan Penyertaan Modal Terarah sebesar Rp1.990.000.000,00. Penyertaan modal terarah dilaksanakan berdasarkan Keputusan Bupati Garut No.581/Kep.338-Perek/2002 tanggal 22 April 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Kredit Program Proyek Penyertaan Modal Terarah kepada BPR Tahun 2002, yaitu:
Tabel 1.3 Daftar Penyertaan Modal Terarah Pemerintah Kabupaten Garut Pada BPR
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 PENYERTAAN MODAL PADA PD BPR – LPK Samarang PD BPR – LPK Cibalong PD BPR – LPK Leuwigoong PD BPR Kadungora PD BPR Cisewu PD BPR – LPK Bayongbong PD BPR – LPK Cikajang PD BPR – LPK Banjarwangi PD BPR Cikelet PD BPR Tarogong PD BPR Cisompet PD BPR – LPK Selaawi PD BPR – LPK Garut Kota NILAI (Rp) 202.500.000,00 50.000.000,00 20.000.000,00 164.000.000,00 90.000.000,00 185.444.500,00 86.000.000,00 12.500.000,00 25.000.000,00 223.500.000,00 25.000.000,00 40.000.000,00 117.500.000,00

BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

10

NO 14 15 16 17 18 19 20 21

PENYERTAAN MODAL PADA PD BPR – LPK Sukawening PD BPR Karangpawitan PD BPR Limbangan PD BPR Malangbong PD BPR Cisurupan PD BPR Pameungpeuk PD BPR Bungbulang PD BPR Leles Jumlah

NILAI (Rp) 149.500.000,00 139.055.500,00 15.000.000,00 22.500.000,00 72.500.000,00 7.500.000,00 125.000.000,00 217.500.000,00 1.990.000.000,00

Dalam keputusan Bupati tersebut diatur antara lain bahwa : 1) Kredit disalurkan melalui bank, yang dimaksud dengan bank adalah PD BPR/PD BPR LPK/PD LPK; 2) Peminjam adalah perorangan maupun kelompok yang bergerak dalam kegiatan usaha agribisnis, industri, perdagangan, pertanian, kehutanan dan perkebunan serta jasa lainnya dengan kriteria tertentu; 3) Setelah melampaui tenggang waktu 24 bulan, dana penyertaan modal terarah ditetapkan dengan Keputusan Bupati menjadi setoran modal pada PD BPR/PD BPR LPK/PD LPK; 4) Monitoring kredit program dilaksanakan oleh Tim Supervisi, dimana sebagai penanggung jawab tim adalah Asisten II Sekretariat Daerah; 5) Pengendalian dan pengawasan pelaksanaan kredit program merupakan tanggung jawab Bupati yang secara teknis dilakukan oleh Pengelola Proyek bersama-sama dengan Tim Supervisi. Penyertaan modal terarah untuk BPR di atas masih dicatat dengan menggunakan metode biaya (cost methode), tim pemeriksa tidak dapat melakukan penyesuaian/koreksi disebabkan hal-hal sebagai berikut. 1) Dana modal terarah yang diterima oleh PD BPR/PD BPR LPK/PD LPK pada Tahun 2002 tidak sesuai dengan yang tertera dalam Surat Keputusan Bupati Garut No.581/Kep.338-Perek/2002 sebesar Rp1.990.000.000,00. Sampai dengan tanggal 19 Juli 2010, modal terarah yang diterima oleh PD BPR/PD BPR LPK/PD LPK pada Tahun 2002 baru teridentifikasi sebesar Rp1.822.750.000,00, sehingga masih ada selisih sebesar Rp167.250.000,00 (Rp1.990.000.000,00 – Rp1.822.750.000,00) yang belum terjelaskan. 2) Pada Tahun 2005, Bupati Garut mengeluarkan Surat Keputusan No.581/Kep.283Perek/2005 yang tidak sejalan dengan keputusan sebelumnya, yang isinya antara lain bahwa penyertaan modal terarah diantaranya sebesar Rp687.051.950,00 dijadikan sebagai bagian penyertaan modal pada BPR. Nilai tersebut telah dicatat sebagai bagian dari penyertaan modal kepada PD BPR/PD BPR LPK/PD LPK pada Neraca per 31 Desember 2009 yaitu sebesar Rp15.555.290.450,00, namun belum mengurangi nilai Penyertaan Modal Terarah yang masih disajikan sebesar Rp1.990.000.000,00. Direktur/Dewan Pengawas menyatakan bahwa penyertaan modal yang berasal dari Penyertaan Modal Terarah hanya sebesar Rp646.901.950,00. Hal ini tidak sesuai dengan Surat Keputusan Bupati Garut No.581/Kep.283-Perek/2005 di atas, sehingga terjadi selisih perhitungan sebesar Rp40.150.000 (Rp687.051.950,00 Rp646.901.950,00). Sampai pemeriksaan berakhir tim pemeriksa tidak memperoleh

BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

11

kejelasan mengenai nilai dan posisi akhir penyertaan modal terarah. Permasalahan penyertaan modal terarah di atas merupakan permasalahan yang terjadi pada tahun sebelumnya, sebagaimana telah diungkapkan dalam LHP BPK atas Sistem Pengendalian Intern dalam kerangka pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Garut TA 2009 No. 46B/LHP/XVIII.BDG/09/2010 tanggal 07 September 2010. Selain permasalahan di atas, penyertaan modal pada PD BPR/PD BPR LPK/PD PK sebesar Rp20.155.290.450,00 dalam Laporan Keuangan TA 2010 sebelum audit (unaudited) tidak termasuk penyertaan modal sebesar Rp585.829.500,00 pada enam BPR yang telah dilikuidasi. Penyertaan modal pada enam BPR yang telah dilikuidasi disajikan sebagai piutang kepada BPR dalam akun Aset Lainnya sebesar Rp585.829.500,00. Menurut Kepala Seksi Pembukuan DPPKA nilai piutang tersebut disajikan berdasarkan nilai penyertaan modal pada BPR yang telah dilikuidasi dan digabungkan menjadi BPR Garut, dengan alasan bahwa walaupun BPR tersebut telah dilikuidasi namun asetnya seharusnya masih bisa dimanfaatkan melalui penjualan dan hasil penjulannya dapat disetorkan ke kas daerah. Tim pemeriksa telah meminta data kronologis dan informasi lebih lanjut terkait proses likuidasi kepada Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah, namun sampai berakhirnya pemeriksaan data dimaksud belum diserahkan, sehingga tim pemeriksa tidak memperoleh keyakinan memadai atas kewajaran penyajian nilai piutang BPR tersebut. Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan dalam Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan menyatakan bahwa: a. Paragraf 32: “Karakteristik kualitatif laporan keuangan adalah ukuran-ukuran normatif yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntasi sehingga dapat memenuhi tujuannya. Keempat karakteristik berikut ini merupakan prasyarat normatif yang diperlukan agar laporan keuangan pemerintah dapat memenuhi kualitas yang dikehendaki: a) relevan, b) andal, c) dapat dibandingkan, dan d) dapat dipahami”. b. Pengertian andal dalam paragraf 35 adalah “Informasi dalam laporan keuangan bebas dari pengertian yang menyesatkan dan kesalahan material, menyajikan setiap fakta secara jujur, serta dapat diverifikasi. Informasi yang handal memenuhi karakteristik penyajian jujur, dapat diverifikasi, dan netralitas. Penyajian jujur berarti informasi menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk disajikan”. Kondisi tersebut mengakibatkan: a. Penyajian Penyertaan modal terarah sebesar Rp1.990.000.000,00 tidak dapat diyakini kewajarannya. b. Nilai piutang BPR yang disajikan dalam Neraca per 31 Desember 2010 pada Aset Lainnya sebesar Rp585.829.500,00 tidak dapat diyakini kewajarannya. Kondisi tersebut disebabkan oleh: a. Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah selaku Dewan Pengawas BPR tidak cermat dalam menatausahakan dan mengelola dokumen-dokumen terkait penyertaan modal.

BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

12

b. Kepala DPPKA dalam menyajikan penyertaan modal dan piutang pada BPR dalam laporan keuangan tidak melakukan verifikasi yang memadai terkait perhitungan nilai dan kelengkapan dokumen-dokumen pendukung. Menanggapi permasalahan di atas Kepala DPPKA pada intinya menyatakan bahwa untuk masa yang akan datang akan dilakukan perbaikan dalam penyajian penyertaam modal pada BPR menggunakan metode ekuitas. BPK merekomendasikan Bupati Garut agar: a. Memerintahkan Sekretaris Daerah, Kepala DPPKA dan Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah segera berkoordinasi dengan PD BPR untuk melakukan perhitungan dan pencocokan jumlah penyertaan modal Pemerintah Kabupaten Garut terkait penyertaan modal terarah yang pernah diberikan supaya diperoleh nilai penyertaan modal yang akurat. b. Memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada Kepala DPPKA dan Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah untuk lebih meningkatkan koordinasi dalam rangka penyusunan laporan keuangan supaya diperoleh nilai penyajian penyertaan modal dan piutang pada BPR yang akurat.

5. Pemberian Pelayanan Kepada Pasien Kerjasama Tidak Sesuai yang Diperjanjikan Sehingga Terdapat Piutang Retribusi atas Jasa Pelayanan Kesehatan Pada RSUD Dr. Slamet Sebesar Rp326.862.411,00 yang Berpotensi Tidak Tertagih Neraca Pemerintah Kabupaten Garut per 31 Desember 2010 (unaudited) menyajikan Piutang Pajak dan Retribusi sebesar Rp17.389.720.196,00, diantaranya sebesar Rp16.984.764.185,00 merupakan piutang atas jasa pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien pada RSUD dr. Slamet dengan rincian sebagai berikut :
Tabel 1.4 Daftar Piutang Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Slamet Per 31 Desember 2010
No 1 2 3 4 5 6 7 Uraian Piutang Kontraktor Piutang Jamsostek Piutang Askes Sukarela Piutang Askes PNS Bantuan GUbernur APBD Kab. Garut Piutang pasien yang masih dirawat Jumlah Saldo per 31 Des 2010 (Rp) 1.035.361.544,00 132.606.634,00 11.667.974,00 568.687.500,00 14.728.983.149,00 110.560.000,00 396.897.384,00 16.984.764.185,00

Berdasarkan pemeriksaan terhadap data piutang tersebut diketahui khusus piutang kontraktor dengan nilai Rp1.035.361.544,00 terdapat sebesar Rp326.862.411,00 piutang macet, dengan rincian sebagai berikut :

BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

13

Tabel 1.5 Daftar Piutang dari Kerjasama Pelayanan RSUD Dr. Slamet
No 1 2 3 4 Nama Perusahaan BLUE DOT JPK RSU BUMI PUTRA FURI ASIH TOTAL Jumlah (Rp) 5.868.442,00 54.801.205,00 141.524.803,00 124.667.961,00 326.862.411,00

Piutang kontraktor sebesar Rp1.035.361.544,00 timbul dari perjanjian antara rumah sakit dengan perusahaan asuransi swasta dimana RSUD Dr. Slamet mempunyai kewajiban untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien yang ditanggung oleh perusahaan asuransi tersebut dengan ketetntuan sebagaimana disebutkan dalam perjanjian kerjasama dan selanjutnya biaya yang telah dikeluarkan atas seluruh pelayanan kesehatan tersebut diklaimkan kepada pihak asuransi. Berdasarkan surat tertulis dari Wakil Direktur Bidang Keuangan RSUD sebagai jawaban atas konfirmasi tim pemeriksa didapatkan informasi bahwa: a. Piutang terhadap perusahaan asuransi Blue Dot Dalam perjanjian (MoU), dinyatakan bahwa pengklaiman hanya bisa dibayar bilamana nasabah mengajukan klaim tagihan pelayanan rawat inap. Dalam kenyataannnya RSUD Dr. Slamet memberikan pelayanan kepada pasien rawat jalan yang tidak dijamin oleh perusahan asuransi Blue Dot sehingga timbul piutang kepada perusahaan asuransi Blue Dot sebesar Rp5.868.442,00. b. Piutang terhadap perusahaan asuransi Bumiputra dan Furi Asih Perusahaan asuransi tersebut merupakan rekanan pemenang pengadaan jasa asuransi untuk Anggota DPRD Kabupaten Garut Tahun 2008. Proses penentuan pemenang lelang pengadaan jasa asuransi tersebut baru dilaksanakan pada bulan Juni 2008, sedangkan dalam kenyataannya banyak anggota DPRD yang menjadi nasabah asuransi tersebut telah mendapatkan pelayanan rawat inap sejak Januari 2008. Atas pelayanan yang diberikan oleh RSUD dr. Slamet sejak bulan Januari 2008 sebesar Rp266.192.764,00 (Rp141.524.803,00 + Rp124.667.961,00) tidak diakui oleh perusahaan asuransi Bumiputra dan Furi Asih karena tidak diatur dalam perjanjian antara perusahaan asuransi dengan RSUD dr. Slamet. c. Piutang terhadap koperasi karyawan RSUD (JPK RSU) Piutang sebesar Rp54.801.205,00 timbul karena premi pegawai (tenaga kontrak) RSUD dr. Slamet Garut yang menjadi nasabah asuransi tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan pelayanan yang telah diberikan (diluar yang diperjanjikan). Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, yaitu: a. Pasal 1 angka 57 yang menyatakan bahwa “Piutang Daerah adalah jumlah uang yang wajib dibayar kepada pemerintah daerah dan/atau hak pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang sebagai akibat perjanjian atau akibat lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan atau akibat lainnya yang sah”.

BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

14

b. Pasal 4 yang menyatakan bahwa “Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat”. Kondisi tersebut mengakibatkan Rp326.862.411,00 berpotensi tidak tertagih. piutang RSUD dr. Slamet sebesar

Kondisi tersebut disebabkan oleh: a. Pengelola pasien kerjasama RSUD dalam pemberian pelayanan terhadap pasien kerjasama tidak memperhatikan perjanjian yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. b. Pengelola pasien kerjasama dan Direktur RSUD dr. Slamet kurang maksimal dalam melakukan pengendalian terhadap pengelolaan pasien kerjasama. Menanggapi permasalahan tersebut, Direktur RSUD dr. Slamet menyatakan bahwa untuk piutang pada Blue Dot, Bumi Putera dan Furi Asih, pihak RSUD akan mengajukan pengalihan dari piutang ke aset lainnya (reklasifikasi) sebesar Rp272.061.206,00. Sedangkan piutang JPK RSU sebesar Rp54.801.205,00 telah dilunasi pada tanggal 26 Mei 2011. BPK merekomendasikan Bupati Garut agar memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada Pengelola pasien kerjasama dan Direktur RSUD dr. Slamet supaya dalam memberikan pelayanan kepada pasien kerjasama memperhatikan perjanjian yang telah disepakati dan lebih optimal untuk melakukan penagihan piutang sebesar Rp272.061.206,00 (Rp326.862.411,00 - Rp54.801.205,00).

6. Penatausahaan Persediaan Pada Empat SKPD Belum Memadai Persediaan merupakan barang yang diperoleh dengan maksud untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah dan barang-barang yang dimaksudkan untuk dijual/diserahkan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat. Pada Laporan Keuangan Kabupaten Garut (unaudited) khususnya Neraca per 31 Desember 2010 menyajikan Persediaan yang terdiri dari saldo Persediaan Habis Pakai Tahun 2010 dan Tahun 2009 masing-masing sebesar Rp12.367.697.099,00 dan Rp7.603.674.708,00; saldo Persediaan Tidak Habis Pakai Tahun 2010 dan Tahun 2009 masing-masing sebesar Rp20.814.984,00 dan sebesar Rp71.433.120,00; saldo Persediaan Bekas Pakai dengan saldo Tahun 2010 dan Tahun 2009 masing-masing sebesar Rp568.000,00 dan sebesar Rp568.000,00 dan Persediaan untuk Dijual Tahun 2010 dan Tahun 2009 masing-masing sebesar Rp4.051.047.060,00 dan sebesar Rp3.947.041.582,00. Berdasarkan pemeriksaan terhadap dokumen penatausahaan persediaan pada beberapa SKPD diketahui bahwa, terdapat kelemahan dalam proses penatausahaan persediaan, antara lain dari 33 SKPD yang diperiksa ternyata hanya 15 SKPD yang melakukan inventarisasi fisik (stock opname) persediaan pada akhir tahun, sedangkan 18 SKPD lainya tidak melakukan invetarisasi fisik (stock pname) dan tidak melaporkan persediaan dalam Neraca per 31 Desember 2010. Diketahui pula bahwa belum semua SKPD menatausahakan persediaan sesuai obyeknya, selain itu terdapat transaksi barang
BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

15

persediaan yang belum dicatat terutama pembelian barang persediaan pada masingmasing kegiatan dan terdapat pencatatan yang menyajikan jumlah per unit barang saja tetapi tidak ada nilai barangnya. Hasil pemeriksaaan fisik secara uji petik terhadap dokumen-dokumen penatausahaan persediaan pada empat SKPD mengungkapkan hal-hal sebagai berikut. a. Dinas Pendidikan Dinas Pendidikan menyajikan persediaan pada Neraca per 31 Desember 2010 sebesar Rp143.466.000,00. Jumlah tersebut didasarkan atas hasil stock opname. Berdasarkan hasil wawancara dengan Penyimpan dan Pengurus Barang diketahui bahwa penatausahaan persediaan pada Dinas Pendidikan belum tertib, yaitu pencatatan persediaan yang dilakukan oleh Penyimpan Barang bukan didasarkan atas barang yang masuk dan diterima oleh Penyimpan Barang tetapi berdasarkan jumlah yang tertera dalam kuitansi. Penerimaan barang yang berasal dari pembelian secara swakelola maupun pembelian melalui pihak ketiga tidak diperiksa sehingga tidak dapat diketahui apakah barang yang masuk sesuai jumlah dan spesifikasinya. Jumlah barang yang diinput ke dalam pembukuan tidak sesuai dengan jumlah barang yang masuk. Distribusi barang ke masing-masing unit kerja hanya berdasarkan perkiraan dan ditentukan oleh Penyimpan Barang bukan berdasarkan perencanaan kebutuhan atau permintaan. Stock opname barang persediaan hanya dilakukan pada UPTD Pengelola Gelanggang Olahraga yang melaporkan persediaan sebesar Rp158.466.000,00, sedangkan 42 UPTD lainnya tidak melakukan stock opname. b. Dinas Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Garut pada Neraca per 31 Desember 2010 mencatat Persediaan Habis Pakai sebesar Rp10.822.079.537,00. Nilai tersebut didasarkan atas Berita Acara Inventarisasi Fisik Persediaan per 31 Desember 2010 yang berasal dari persediaan obat pada UPTD Farmasi dan Makan Minum (FAMM). Dari hasil pemeriksaan terhadap Kartu Persediaan Obat diketahui bahwa nilai persediaan pada laporan keuangan sebesar Rp10.822.079.537,00 tersebut hanya nilai persediaan dari gudang UPTD Farmasi dan belum memasukan nilai persediaan dari seluruh puskesmas. Penelusuran lebih lanjut terhadap sisa persediaan obat di Puskesmas berdasarkan kartu LPLPO (Laporan Penerimaan dan Laporan Pengeluaran Obat) diketahui terdapat sisa persediaan obat per 31 Desember 2010 pada 64 puskesmas sebesar Rp1.139.228.989,00. Hasil konfirmasi kepada Kepala UPTD Farmasi menyatakan bahwa sisa persediaan obat dari 64 puskesmas tersebut dilaporkan terpisah kepada Seksi Pembukuan DPPKA dan untuk dicantumkan nilainya dalam neraca daerah. Berdasarkan konfirmasi dengan Penyimpan dan Pengurus Barang pada Dinas Kesehatan diketahui bahwa nilai persediaan untuk ATK dan barang kuasi lainnya tidak dilaporkan dalam neraca. Penyimpan dan Pengurus Barang tidak melakukan stock opname dan penatausahaan persediaan sehingga nilai persediaan per 31 Desember 2010 tidak dapat diuji. c. BLUD RSUD dr. Slamet Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) RSUD dr. Slamet pada Neraca per 31 Desember 2010 mencatat Persediaan Habis Pakai sebesar Rp322.275.473,00, Persediaan Tidak Habis Pakai sebesar Rp13.629.684,00 dan Persediaan untuk Dijual sebesar Rp3.771.25.3257,00 yang dicatat berdasarkan Berita Acara Inventarisasi Fisik Persediaan (Stock Opname) per 31 Desember 2010. Kegiatan stock opname yang dilakukan oleh RSUD dr. Slamet tersebut ternyata tidak secara keseluruhan.
BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

16

Hasil pemeriksaan fisik secara uji petik atas sisa persediaan untuk dijual berupa obatobatan di Gudang Farmasi diketahui bahwa terdapat bahan habis pakai yang disimpan disalah satu gudang farmasi tidak dilaporkan dalam Neraca Tahun 2010. Berdasarkan hasil konfirmasi kepada Kepala Instalasi Farmasi diakui bahwa persediaan obat yang ada di gudang tersebut belum dilaporkan dalam Neraca Tahun 2009 dan Tahun 2010. Dari hasil pemeriksaan fisik pada tanggal 2 Mei 2011 dan dari kartu persediaan pada tanggal 31 Desember 2010 diketahui bahwa terdapat sisa persediaan bahan habis pakai di gudang tersebut sebesar Rp1.733.985.397,00. Atas nilai tersebut oleh tim pemeriksa telah dilakukan koreksi kedalam nilai persediaan yang disajikan dalam Neraca per 31 Desember 2010. Sedangkan untuk sisa persediaan pada masing-masing ruangan tim pemeriksa tidak memperoleh data karena setiap ruangan tidak pernah melaksanakan stock opname dan tidak melaporkan data persediaan obat ruangan setiap akhir tahun ke Instalasi Farmasi. d. Sekretariat Daerah Sekretariat Daerah pada Neraca per 31 Desember 2010 mencatat Persediaan Habis Pakai (ATK) sebesar Rp0,00. Hasil wawancara dengan Penyimpan dan Pengurus Barang diketahui bahwa Pengurus dan Penyimpan Barang Sekretariat Daerah tidak melakukan stock opname barang persediaan pada Tahun 2010. Selain itu Pengurus Barang tidak menyelenggarakan buku mutasi penerimaan dan pengeluaran persediaan dan belum membuat kartu persediaan untuk per jenis barang, sehingga saldo persediaan sebesar Rp0,00 tidak dapat diyakini kewajarannya. Kondisi tersebut tidak sesuai dengan: a. Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah Pernyataan No.5 tentang Akuntansi Persediaan yaitu: 1) Paragraf 5 yang menyatakan bahwa ”Persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan yang dimaksudkan untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah dan barang-barang yang dimaksudkan untuk dijual dan atau diserahkan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat”. 2) Paragraf 16 yang menyatakan bahwa ”Pada akhir periode akuntansi, persediaan dicatat berdasarkan hasil inventarisasi fisik“. b. Peraturan Pemerintah No.06 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah Pasal 3 yang menyatakan bahwa ”Pengelolaan barang milik negara/daerah dilaksanakan berdasarkan asas fungsional, kepastian hukum, transparansi dan keterbukaan, efisiensi, akuntabilitas, dan kepastian nilai“. c. Peraturan Menteri Dalam Negeri No.17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah Lampiran V Penerimaan, Penyimpanan dan Penyaluran Nomor 3 huruf c menyatakan bahwa tugas dan tanggung jawab penyimpan/pengurus barang, antara lain adalah: 1) Angka 2 : Mencatat secara tertib dan teratur penerimaan barang, pengeluaran barang dan keadaan persediaan barang ke dalam buku/kartu barang menurut jenisnya terdiri dari: a) Buku Inventaris; b) Buku barang pakai habis; c) Buku hasil pengadaan; d) Kartu barang; e) Kartu persediaan barang.

BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

17

2) Angka 3 : Menghimpun seluruh tanda bukti penerimaan barang dan pengeluaran/penyerahan secara tertib dan teratur sehingga memudahkan mencarinya apabila diperlukan sewaktu-waktu terutama dalam hubungan dengan pengawasan barang; 3) Angka 8 : Melakukan perhitungan barang (stock opname) sedikitnya setiap 6 (enam) bulan sekali, yang menyebutkan dengan jelas jenis jumlah dan keterangan lain yang diperlukan, untuk selanjutnya dibuatkan Berita Acara Perhitungan Barang yang ditandatangani oleh penyimpan barang. Kondisi tersebut mengakibatkan nilai persediaan yang dilaporkan oleh Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Sekretariat Daerah dan RSUD dr. Slamet kurang dapat diyakini kewajarannya dan berpotensi untuk disalahgunakan. Kondisi tersebut disebabkan oleh: a. Sekretaris Daerah, Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Dinas Kesehatan dan Direktur RSUD dr Slamet selaku Pengguna Barang kurang optimal dalam melakukan pembinaan, pengawasan dan pengendalian kepada Pengurus dan Penyimpan Barang persediaan. b. Bendahara Penyimpan dan Pengurus Barang lalai dalam menatausahakan barang persediaan dan tidak melaksanakan stock opname sesuai ketentuan yang berlaku. Menanggapi permasalahan tersebut Kepala DPPKA dan Plt. Kepala Dinas Pendidikan menyatakan bahwa hal tersebut terjadi karena seringnya terjadi penggantian Penyimpan dan Pengurus Barang dan kurangnya pemahaman atas prosedur penatausahaan dan pengelolaan persediaan. Untuk mengatasi masalah tersebut, akan dilakukan upaya-upaya pembinaan antara lain dengan mengadakan bimbingan teknis pengelolaan barang daerah dan akan meningkatkan pengawasan dan pengendalian terhadap kegiatan pengelolaan persediaan. BPK merekomendasikan Bupati Garut agar memerintahkan kepada Sekretaris Daerah, Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Dinas Kesehatan dan Direktur RSUD dr. Slamet supaya lebih optimal dalam melakukan pembinaan dan memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada Pengurus dan Penyimpan Barang untuk lebih tertib dalam mengelola barang persediaan.

7.

Penatausahaan Aset Tetap Pada Lima SKPD Tidak Tertib dan Terdapat Jalan Desa Sebesar Rp31.057.068.510,00 yang Masih Tercatat dalam Neraca per 31 Desember 2010 serta Terdapat Aset Tetap Sebesar Rp203.876.780.874,00 yang Tidak Dapat Ditelusuri

Pemerintah Kabupaten Garut menyajikan nilai Aset Tetap dalam Neraca per 31 Desember 2010 sebesar Rp1.595.689.526.051,00. Nilai tersebut merupakan saldo per 31 Desember 2009 sebesar Rp1.410.252.498.640,00 ditambah dengan mutasi Tahun 2010 yang berasal dari Belanja Modal dan kapitalisasi Belanja Barang dan Jasa sebesar Rp185.437.027.411,00, dengan rincian sebagai berikut.

BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

18

Tabel 1.6 Daftar Aset Tetap Pemerintah Kabupaten Garut Per 31 Desember 2010
No. 1 2 3 4 5 6 Tanah Gedung dan Bangunan Jalan, Irigasi dan Jaringan Peralatan dan Mesin Aset Tetap Lainnya Konstruksi dalam Pengerjaan Jumlah Jenis Tahun 2010 (Rp) 134.960.494.095,00 513.392.185.202,00 548.700.710.948,00 334.780.436.396,00 63.855.699.410,00 0,00 1.595.689.526.051,00 Mutasi Aset Tetap Tahun 2010 2,216,184,158.00 50,018,641,374.00 67,405,184,786.00 36,339,829,251.00 29,457,187,842.00 0.00 185.437.027.411,00 Tahun 2009 (Rp) 132.744.309.937,00 463.373.543.828,00 481.295.526.162,00 298.440.607.145,00 34.398.511.568.00 0.00 1.410.252.498.640,00

Berdasarkan Catatan atas Laporan Keuangan, nilai mutasi aset tetap Tahun 2010 sebesar Rp185.437.027.411,00 diperoleh melalui perhitungan dengan rincian sebagai berikut.
Tabel 1.7 Rincian Mutasi Aset Tetap Tahun 2010
No Uraian Mutasi Tahun 2010 (Rp) Penambahan Pengurangan 15.205.402.443,00 8.024.615.136,00 Jumlah (Rp) 185.437.027.411,00

Total Mutasi Aset Tahun 2010, Dengan rincian sbb : 1 Belanja Tahun 2010 dari Dana APBD 2 Belanja Tahun 2010 dari BLUD RSUD Dr.Slamet Penambahan Aset yang bersumber Dari Belanja Pemeliharaan - Dinas Bina Marga - DPPKA - Dinas Pertacip Penambahan Aset yang bersumber Dari Biaya Umum (Perencanaan, Pengawasan, pegawai, Barang dan Jasa) Pada : - RSUD Dr.Slamet - Dinas Bina Marga - Dinas Pertacip - DPPKA Aktiva Tetap dari perolehan TA 2010 dan telah dihibahkan kepada sekolah swasa dan masyrakat pada: - Dinas Pendidikan - Badan Ket. Pangan - BKBPP - Disnakertrans - Sekrt.BNK - Kantor Perpustakaan - Dinas TPH - Dinas Perkebunan - Dinas Kehutanan

29.721.476.649 283.469.850 1.754.801.150

3

145.549.490 1.021.279.975 495.875.000 19.608.000

4

5.855.648.022 781.278.000 81.465.000 245.000.000 43.400.000 61.974.260 1.091.025.000 3.052.771.000 22.489.000

Dalam pemeriksaan atas LKPD Pemerintah Kabupaten Garut Tahun 2009, BPK telah melaporkan beberapa kelemahan Sistem Pengendalian Intern atas penatausahaan Aset Tetap pada Pemerintah Kabupaten Garut dalam LHP Nomor No.46B/LHP/XVIII.BDG/09/2010 tanggal 07 September 2010, diantaranya Aset Tetap berupa peralatan dan mesin tidak diberikan penomoran serta ditemukan permasalahan terkait keberadaan dan pengklasifikasian aset pada tiga SKPD sehingga BPK tidak dapat melakukan prosedur pengujian alternatif lainnya atas Aset Tetap untuk memperoleh keyakinan yang memadai. Sehubungan dengan permasalahan tersebut, BPK merekomendasikan Bupati Garut agar memerintahkan Kepala DPPKA untuk mengkoordinasikan Pengurus dan Penyimpan Barang seluruh SKPD untuk memberikan penomoran berupa kode barang

BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

19

pada aset peralatan dan mesin dan memerintahkan kepada tiga kepala SKPD dan Pengurus dan Penyimpan Barang untuk mengklasifikasikan Aset Tetap sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan serta memerintahkan kepada Inspektur Kabupaten Garut untuk lebih optimal dalam melaksanakan reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Garut. Selama Tahun 2010 Pemerintah Kabupaten Garut belum optimal menindaklanjuti rekomendasi BPK tersebut, sehingga berdasarkan pemeriksaan BPK atas LKPD Kabupaten Garut Tahun 2010 masih ditemukan beberapa kelemahan pengendalian intern atas pengelolaan aset Pemerintah Kabupaten Garut dan informasi yang disajikan pada laporan keuangan tidak sesuai dengan kondisi di lapangan dengan uraian sebagai berikut. a. Pengamanan barang inventaris lemah secara administrasi dan hukum, dengan penjelasan sebegai berikut. Hasil pemeriksaaan lapangan secara uji petik pada beberapa SKPD terkait pengelolaan barang milik daerah oleh Pengurus dan Penyimpan Barang mengungkapkan : 1) Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Pada Tahun 2010 DPPKA melaporkan nilai Aset Tetap dalam neraca sebesar Rp9.079.831.372,00. Pengujian terhadap penatausahaan dokumen barang milik daerah dan pemeriksaan fisik barang ditemukan hal-hal sebagai berikut. (a) Pengadaan dan pendistribusian barang berupa kendaraan roda dua dan notebook tidak didasarkan pada Rencana Kebutuhan Barang Unit (RKBU) yang memadai. RKBU tidak dibuat berdasarkan kebutuhan yang nyata dan terukur dari masing-masing unit kerja. RKBU bukan menjadi dasar penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) tetapi dibuat dari RKA. Beberapa barang didistribusikan kepada pegawai tidak didasarkan pada kebutuhan nyata yang berkaitan dengan tugas dan beban kerja. (b) Terdapat beberapa pegawai dari unsur pimpinan yang telah mendapatkan kendaraan dinas roda empat juga mendapatkan kendaraan dinas roda dua dan beberapa diantaranya tanpa dokumen pinjam pakai. Kendaraan roda dua tersebut tidak dipakai untuk kebutuhan operasional namun disimpan dirumah, rinciannya sebagai berikut.
Tabel 1.8 Daftar Pemegang Aset Kendaraan Bermotor yang Lebih dari Satu Unit
No 1 2 3 Nama Pemegang Drs. IA Drs. DH Dra. AH Jabatan Lama Kepala Inspektorat Kepala DPPKA Kabid Anggaran DPPKA Baru Sekda Kepala Bappeda Kabid Perimbang an DPPKA Kabid Anggaran DPPKA Kasub Bag Evlap DPPKA No. Polisi Z 3400 E Z 3053 E Z 3062 E Roda Dua Tahun Pembuatan 2010 2010 2010 Brt Acara Ada Ada Ada No. Polisi Z 1206 E Z 14 E Z 241 E 2009 2010 Ada Roda Empat Tahun Pembuatan Brt Acara

4

LH

Z 2779 E Z 2315 E -

2009 2006 2009

Ada Tdk Ada Tdk Ada

Z 220 E

2009

Ada

5

H.YSP

(c) Terdapat penggunaan dan penguasaan kendaraan roda empat, roda dua, dan notebook oleh pegawai bukan dari DPPKA. Diantaranya kendaraan roda empat dipakai oleh pegawai Badan Pertanahan Nasional, Kantor Perpustakaan Daerah dan oleh staf ahli Bupati yang belum didukung dengan
20

BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

berita acara pinjam pakai (d) Terdapat satu notebook yang dilaporkan hilang dan statusnya masih dikuasai oleh salah satu pegawai DPPKA dan sampai saat selesainya pemeriksaan belum diproses tuntutan ganti rugi. Terdapat dua pegawai yang menguasai notebook lebih dari satu unit yang tidak sepenuhnya digunakan untuk mendukung pelaksanaan tugas, barang disimpan dirumah masing-masing, sebagai berikut.
Tabel 1.9 Daftar Pemegang Aset Peralatan dan Mesin (Notebook) Lebih Dari 1 Unit Dan Tidak Dilengkapi Berita Acara
NO NAMA PEMEGANG RZK MERK/TIPE DEL N4010 1 SONY VAIO DELL 14 R VFCEA36FG ACER DUAL CORE ACER DUAL CORE T 4200 TAHUN 2010 2010 2010 2010 2009 2009 UNIT DPPKA DPPKA DPPKA DPPKA PKK KAB GARUT CAPIL BERITA ACARA TIDAK ADA TIDAK ADA ADA ADA ADA ADA KEYBOARD RUSAK BARANG HILANG KETERANGAN

2 3 4

DM RPDC DARSANI

(e) Pengurus Barang tidak tertib dalam membuat Berita Acara Pinjam Pakai terhadap seluruh barang yang dipergunakan pegawai. (f) Tidak semua ruangan dilengkapi dengan Kartu Inventaris Ruangan (KIR) sehingga tim pemeriksa kesulitan dalam melakukan pengujian keberadaan barang. (g) Pengurus Barang belum membuat dan menempelkan tanda/kode barang pada seluruh barang inventaris. (h) Penyimpan barang tidak pernah membukukan pencatatan barang masuk dan barang keluar sehingga tidak bisa diyakini secara pasti berapa jumlah barang yang masuk dan keluar serta saldo akhirnya. (i) Barang habis pakai setelah diserahterimakan dari pihak ketiga barang tidak disimpan di gudang tetapi langsung didistribusikan ke masing-masing pemakai karena Penyimpan Barang tidak mempunyai gudang untuk penyimpanan barang habis pakai. (j) Barang yang diserahkan ke masing-masing pemakai tidak dicatat dalam buku pengeluaran barang habis pakai. 2) Dinas Bina Marga Pada Tahun 2010 Dinas Bina Marga melaporkan nilai Aset Tetap dalam neraca sebesar Rp337.618.697.037,00. Pengujian terhadap penatausahaan dokumen barang milik daerah dan pemeriksaan fisik barang ditemukan hal-hal sebagai berikut. (a) Dinas Bina Marga belum membuat Kartu Iinventaris Barang (KIB) C untuk Jalan, Irigasi dan Jembatan. Rincian data tersebut hanya ada di daftar mutasi aset. (b) Terdapat tujuh kendaraan yang tidak bisa ditunjukkan barangnya dari total 26 kendaraan yang dilaporkan dalam KIB B untuk Peralatan dan mesin. (c) Dinas Bina Marga belum melakukan rekonsiliasi data barang dengan Dinas Sumber Daya Air dan Pertambangan, Dinas Perumahan Tata Ruang dan Cipta

BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

21

Karya dan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup karena terdapat barangbarang yang dilaporkan dalam neraca Dinas Bina Marga tetapi dikelola dan dikuasai SKPD tersebut. (d) Terdapat beberapa tanah untuk jalan yang dilaporkan dalam neraca namun tidak bisa dijelaskan rincian berupa lokasi dan tahun perolehannya sehingga menyulitkan penelusuran lebih lanjut. (e) Dinas Bina Marga masih melaporkan jalan desa di dalam neraca Tahun 2010 dikarenakan pembangunannya menggunakan belanja modal/pemeliharaan Dinas Bina Marga. Seharusnya aset tersebut setelah pembangunan selesai segera diserahterimakan kepada pemerintahan desa. 3) Sekretariat Daerah Pada Tahun 2010 Sekretariat Daerah melaporkan nilai Aset Tetap dalam neraca sebesar Rp110.875.527.632,00. Pengujian terhadap penatausahaan dokumen barang milik daerah dan pemeriksaan fisik barang ditemukan hal-hal sebagai berikut. (a) Melaporkan kendaraan roda empat terdiri atas 32 unit dan 3 paket. Untuk yang 32 unit pada saat pemeriksaan fisik dilakukan hanya dapat ditunjukkan 28 kendaraan yang masih dalam kondisi baik sedangkan sisanya sebanyak 4 unit tidak dapat ditunjukkan. Sedangkan unit 3 paket kendaraan tidak bisa dijelaskan rincian dan barangnya dan tidak diketahui secara rinci berapa jumlah kendaraan untuk setiap paket dan dimana posisinya. (b) Melaporkan kendaraan roda dua sebanyak 84 unit, pada saat pengujian fisik hanya dapat ditunjukkan sebanyak 25 unit dalam kondisi baik sedangkan sisanya sebanyak 59 unit tidak dapat ditunjukkan, penelusuran lebih lanjut diketahui bahwa tidak ada dokumen pinjam pakai terhadap 59 unit kendaraan roda dua tersebut. (c) Melaporkan handycam sebanyak 10 unit, hasil pengujian fisik hanya dapat ditunjukkan sebanyak 2 unit dalam kondisi baik sedangkan sisanya sebanyak 8 unit tidak diketahui keberadaannya dan tidak didukung pencatatan yang memadai. (d) Melaporkan peralatan scanner sebanyak 6 unit, pada saat pengujian fisik hanya dapat ditunjukkan sebanyak 5 unit dengan kondisi baik. Sedangkan sisanya 1 unit tidak diketahui keberadaannya tanpa didukung pencatatan. (e) Melaporkan peralatan overhead projektor sebanyak 10 unit, hasil pengujian fisik hanya dapat ditunjukkan 6 unit dalam kondisi baik, sedangkan sisanya sebanyak 4 unit tidak dapat ditunjukkan dan diketahui keberadaannya serta tidak didukung pencatatan. (f) Melaporkan peralatan kamera digital sebanyak 10 unit, hasil pengujian fisik hanya dapat ditunjukkan 7 unit dalam kondisi baik sedangkan sisanya sebanyak 3 unit tidak dapat ditunjukkan keberadaannya serta tidak didukung pencatatan. (g) Melaporkan notebook sebanyak 64 unit, hasil pengujian fisik hanya dapat ditunjukkan 21 unit dalam kondisi baik sedangkan sisanya 43 unit tidak dapat ditunjukkan keberadaannya dan tidak ada berita acara serah terima kepada pemakai. (h) Melaporkan personal computer (PC) sebanyak 61 unit dan 4 paket. Hasil pengujian fisik dapat ditunjukkan 80 unit dengan 74 unit dalam kondisi baik dan 6 unit dalam kondisi rusak sedangkan 4 paket tidak dapat dijelaskan
BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

22

rincian dan keberadaan serta tidak didukung pencatatan yang memadai. (i) Melaporkan memiliki tanah sebanyak 47 bidang tanah. Hasil pengujian fisik diketahui hanya 3 bidang yang dikelola langsung atau ada bukti kepemilikan sedangkan sisanya tidak dapat dijelaskan dikelola oleh satuan kerja yang mana dan bagaimana mekanisme pengelolaannya. 4) Dinas Pendidikan Pada Tahun 2010 Dinas Pendidikan melaporkan nilai Aset Tetap dalam neraca sebesar Rp498.901.098.244,00. Pengujian terhadap penatausahaan dokumen barang milik daerah dan pemeriksaan fisik barang ditemukan hal-hal sebagai berikut. (a) Melaporkan notebook sebanyak 49 unit, hasil pengujian fisik hanya dapat ditunjukkan 43 unit (3 unit tidak dilengkapi berita acara pinjam pakai) sedangkan sisanya sebanyak 6 unit tidak dapat ditunjukkan keberadaannya dan tidak didukung berita acara serah terima kepada pemakai. (b) Melaporkan peralatan printer sebanyak 26 unit, hasil pengujian fisik hanya dapat ditunjukkan 18 unit (5 unit dalam kondisi rusak dan 13 unit dalam kondisi baik) serta terdapat beberapa printer yang sudah ditukar tambah dengan printer baru sehingga tidak sesuai lagi data spesifikasi dan nilai seperti yang dicantumkan dalam daftar inventaris, sedangkan sisanya sebanyak 8 unit tidak dapat ditunjukkan keberadaannya dan tidak ada berita acara serah terima kepada pemakai. (c) Melaporkan peralatan personal computer (PC) sebanyak 93 unit, hasil pengujian fisik hanya dapat ditunjukkan 45 unit (dengan kondisi 4 unit rusak dan 41 dalam kondisi baik, serta telah didistribusikan diantaranya sebanyak 25 unit ke sekolah-sekolah dan telah didukung dengan berita acara serah terima). Sedangkan sisanya sebanyak 48 unit tidak dapat ditunjukkan keberadaannya dan tidak ada berita acara serah terima kepada pemakai. Dan terdapat beberapa PC yang telah pernah ditukar tambah dengan PC jenis lain sehingga nilai dan spesifikasinya tidak sesuai lagi dengan yang dilaporkan dalam buku KIB Peralatan dan Mesin. Terdapat juga 2 unit PC yang diperoleh dari Bank Jabar Banten dan belum dicatat sebagai Aset Tetap Dinas Pendidikan. (d) Dinas Pendidikan melaporkan Peralatan scanner sebanyak 5 unit, hasil pengujian fisik hanya dapat ditunjukkan 2 unit (dengan kondisi 1 unit rusak dan 1 unit dalam kondisi baik). Sedangkan sisanya sebanyak 3 unit tidak dapat ditunjukkan keberadaannya dan tidak ada berita acara serah terima kepada pemakai. (e) Melaporkan kendaraan roda dua sebanyak 50 unit, hasil pengujian fisik hanya dapat ditunjukkan 42 unit (semuanya didistribusikan ke UPTD dan pengawas pendidikan menengah) tidak dilengkapi dengan berita acara pinjam pakai serta pencatatan yang memadai, sisanya sebanyak 8 unit tidak dapat ditunjukan. (f) Hanya untuk 6 unit notebook dari seluruh aset peralatan dan mesin yang dilaporkan oleh Dinas Pendidikan dalam Neraca per 31 Desember 2010 yang diberikan nomor inventaris barang sehingga menyulitkan penelusuran dan pengujian fisik. 5) Dinas Kesehatan Pada Tahun 2010 Dinas Kesehatan melaporkan nilai Aset Tetap dalam neraca sebesar Rp94.609.749.707,00. Pengujian terhadap penatausahaan dokumen barang milik daerah dan pemeriksaan fisik barang ditemukan hal-hal sebagai berikut.
BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

23

(a) Melaporkan kendaraan roda dua sebanyak 84 unit, hasil pengujian fisik dapat ditunjukkan 174 unit (lebih banyak). Sebanyak 156 unit di distribusikan ke puskesmas-puskesmas dan telah dilengkapi dengan bukti distribusi. (b) Melaporkan kendaraan roda empat sebanyak 44 unit dan 5 paket, hasil pengujian fisik dapat ditunjukkan sebanyak 58 unit, diantaranya sebanyak 53 unit di distribusikan ke puskesmas-puskesmas. Kemudian sebanyak 5 paket tidak dapat dijelaskan rincinya dan tidak didukung pencatatan yang memadai. (c) Melaporkan projektor sebanyak 11 unit dan 1 paket, hasil pengujian fisik dapat ditunjukkan sebanyak 10 unit, diantaranya sebanyak 9 unit di distribusikan ke 7 puskesmas dan 2 unit di kantor Dinas Kesehatan, sedangkan sebanyak 1 paket tidak dapat dijelaskan rincinya dan tidak didukung pencatatan yang memadai. (d) Melaporkan notebook sebanyak 41 unit dan 1 paket, hasil pengujian fisik ditunjukkan 48 unit (47 dalam keadaan baik dan 1 unit dalam keadaan rusak). Dari 48 unit tersebut diantaranya 36 unit didistribusikan ke puskesmaspuskesmas dan didukung Berita Acara Serah Terima, 12 unit digunakan di lingkungan Dinas Kesehatan namun hanya 6 unit yang di dukung Berita Acara Peminjaman/Serah Terima Barang. Sedangkan 1 paket tidak dapat dijelaskan rinciannya. (e) Melaporkan personal computer (PC) sebanyak 166 unit dan 1 paket, hasil pengujian fisik dapat ditunjukkan 169 unit (dengan kondisi 6 unit dalam kondisi rusak), dari 169 unit tersebut telah didistribusikan sebanyak 126 unit ke puskesmas-puskesmas namun hanya 63 unit yang telah didukung dengan berita acara serah terima dan 63 unit sisanya tidak dapat didukung berita acara serah terima. Sebanyak 1 paket tidak dapat di jelaskan rinciannya. (f) Melaporkan printer sebanyak 38 unit, hasil pengujian fisik hanya dapat ditunjukkan 36 unit (10 unit dalam kondisi rusak). Dan sisanya sebanyak 2 unit tidak dapat ditunjukkan keberadaannya dan tidak didukung pencatatan yang memadai. (g) Seluruh aset peralatan dan mesin yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan dalam Neraca per 31 Desember 2010 belum dilengkapi dengan nomor inventaris barang sehingga menyulitkan penelusuran dan pemeriksaan fisik. b. Pencatatan aset tidak didukung dengan rincian data yang lengkap sehingga tidak dapat dilakukan penelusuran lebih lanjut dan terdapat aset desa berupa jalan yang masih dicatat, dengan penjelasan sebagai berikut. 1) Penambahan Aset Tetap dari kapitalisasi biaya umum tidak didukung dengan rincian data yang lengkap. Berdasarkan konfirmasi kepada Seksi Pembukuan DPPKA terkait penambahan aset yang bersumber dari biaya umum (biaya perencanaan, biaya pengawasan, biaya pegawai, biaya barang dan jasa) menyatakan bahwa penambahan aset yang bersumber dari biaya umum tersebut dilakukan untuk memenuhi ketentuan dalam Standar Akuntansi Pemerintah tentang pencatatan Aset Tetap berdasarkan biaya perolehan. Namun pencatatan nilai aset dengan metode harga perolehan tersebut baru dilakukan pada RSUD dr. Slamet, Dinas Bina Marga, Dinas Pertacip dan DPPKA. Sedangkan untuk 29 SKPD lainnya belum menggunakan metode harga perolehan sebagaimana ditetapkan dalam Standar Akutansi Pemerintah. Mutasi tambah Aset Tetap sebesar Rp1.682.312.465,00 yang berasal dari biaya umum tersebut sampai dengan pemeriksaan berakhir belum dapat diketahui rincian maupun penjelasan disertai
BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

24

data-data pendukungnya sehingga nilai tersebut tidak dapat ditelusuri. 2) Dari Laporan Mutasi Barang Dinas Bina Marga diketahui bahwa terdapat Aset Tetap berupa jalan hasil dari pekerjaan rehabilitasi/pengaspalan jalan desa yang dilaksanakan pada periode TA 2010 dengan nilai Rp6.290.107.400,00 yang seharusnya tidak dicatat sebagai bagian dari aset jalan. Selain itu Dinas Bina Marga juga masih mencatat Aset Tetap hasil dari pekerjaan jalan desa yang dilaksanakan pada periode sebelum TA 2004 sampai dengan TA 2009 yang seharusnya diserahkan ke pemerintahan desa dan dicatat di neraca desa dengan nilai seluruhnya sebesar Rp24.766.961.110,00 dan diantaranya sebesar Rp11.739.819.000,00 (perolehan sebelum TA 2004 dan perolehan TA 2006) tidak dapat dirinci sampai dengan nilai per lokasi sehingga tidak dapat diketahui keberadaan jalan. Laporan Mutasi Barang hanya menyebutkan asal barang diperoleh (nama kegiatan) sehingga tidak dapat dilakukan penelusuran dan pemeriksaan lebih lanjut. Aset Tetap tersebut masih dicatat dan disajikan dalam Necara per 31 Desember 2010 Dinas Bina Marga dan merupakan bagian dari Aset Tetap yang tercatat/tersajikan dalam Neraca per 31 Desember 2010 Pemerintah Kabupaten Garut. Daftar aset tersebut pada Lampiran 3. 3) Dinas Bina Marga dalam Laporan Mutasi Barang melaporkan total nilai Aset Tetap Tahun 2010 sebesar Rp337.618.697.037,00 diantaranya nilai tanah sebesar Rp20.091.765.343,00 dan nilai jalan, jembatan, jaringan dan irigasi sebesar Rp302.261.745.374,00. Penelusuran lebih lanjut terhadap data mutasi barang Dinas Bina Marga terdapat beberapa nilai aset tanah dan jalan senilai Rp161.323.493.809,00 yang tidak ada rinciannya. Dari hasil konfirmasi kepada Pengurus Barang dan Sekretaris Dinas Bina Marga menyatakan tidak mengetahui rincian dan dasar nilai aset tersebut beserta data-data pendukungnya. Atas mutasi tersebut tim pemeriksa telah melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait termasuk Bidang Aset DPPKA namun sampai saat pemeriksaan berakhir belum dapat diketahui rincian maupun penjelasan disertai data-data pendukungnya sehingga tidak dapat ditelusuri. Aset tetap yang tidak dapat dirinci pada Lampiran 4. 4) Dari Laporan Mutasi Barang Dinas Pendidikan diketahui terdapat Aset Tetap jenis bangunan gedung pendidikan dengan senilai Rp29.131.155.600,00 yang tidak bisa dirinci. yaitu :
Tabel 1.10 Daftar Aset Bangunan dan Gedung Pada Dinas Pendidikan yang Tidak Ada Rinciannya
Nama Barang 3 Bgn Gdg Pendidikan Bgn Gdg Pendidikan Bgn Gdg Pendidikan Jumlah AsalUsul Barang 4 APBN APBN APBD Nilai TA 2010 Tahun Perolehan 5 2005 2006 2006 Satuan Kondisi Barang 7 Baik Baik Baik Jml Brg 8 1 1 1 Ket Harga 9 8.800.000.000,00 16.940.000.000,00 3.391.155.600,00 29.131.155.600,00 10 rehab SD/MI rehab gedung rehab gedung

No.

Kode Barang

1 1 2 3

2 03.11.01.10.01 03.11.01.10.01 03.11.01.10.01

6 paket paket paket

BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

25

c. Kodefikasi pada setiap barang inventaris pada Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, DPPKA, Dinas Bina Marga dan Sekretariat Daerah belum dibuat, sehingga barangbarang inventaris Pemerintah Kabupaten Garut tidak dapat diidentifikasi baik lokasi keberadaannya dan nomor register barangnya. d. Setiap pembelian/penambahan barang inventaris pada Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, DPPKA, Dinas Bina Marga dan Sekretariat Daerah tidak diberi nomor register, sehingga setelah bercampur dan menyebar sulit membedakan barang hasil pengadaan yang baru dengan yang lama. e. Mekanisme pelaporan secara berjenjang pada Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, DPPKA, Dinas Bina Marga dan Sekretariat Daerah dari Kuasa Pengguna Barang ke Pengguna Barang ke Pembantu Pengelola Barang ke Pengelola Barang tidak berjalan. Kondisi tersebut tidak sesuai dengan: a. Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah yang antara lain menyatakan bahwa Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan adalah: 1) Nomor 32 huruf b andal, yaitu ”Informasi dalam laporan keuangan bebas dari pengertian yang menyesatkan dan kesalahan material, menyajikan setiap fakta secara jujur serta dapat diverifikasi, yang antara lain berarti informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat diuji dan apabila pengujian dilakukan lebih dari sekali oleh pihak yang berbeda hasilya tetap menunjukkan simpulan yang tidak berbeda jauh”. 2) Nomor 32 huruf c dapat dibandingkan yaitu ”Perbandingan secara internal dapat dilakukan bila suatu entitas menerapkan kebijakan akuntansi yang sama dari tahun ke tahun”. b. Peraturan Pemerintah No.6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah: 1) Pasal 1 ayat (20) yang menyatakan bahwa “Penatausahaan adalah rangkaian kegiatan yang meliputi pembukuan, inventarisasi, dan pelaporan barang milik Negara/daerah sesuai dengan ketentuan yang berlaku”. 2) Pasal 1 ayat (21) yang menyatakan bahwa “Inventarisasi adalah kegiatan untuk melakukan pendataan, pencatatan dan pelaporan hasil pendataan barang milik Negara/Daerah”. 3) Pasal 8 ayat (2) antara lain menyatakan bahwa “Kepala SKPD berwenang dan bertanggung jawab untuk menggunakan barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya untuk kepentingan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi SKPD yang dipimpinnya, mengamankan dan memelihara barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya, dan melakukan pengawasan dan pengendalian atas penggunaan barang milik daerah yang ada dalam penguasaannya, serta melakukan pencatatan dan inventarisasi barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya”. c. Permendagri No.17 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah Pasal 25 menyatakan antara lain: 1) Ayat (1) bahwa “Pengguna/Kuasa Pengguna melakukan pendaftaran dan pencatatan barang milik daerah dalam Daftar Barang Pengguna (DBP)/Daftar Barang Kuasa Pengguna (DBKP) menurut penggolongan dan kodefikasi barang”. 2) Ayat (2) bahwa “Pencatatan barang milik daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dimuat dalam Kartu Inventaris Barang A,B,C,D,E dan F”.

BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

26

3) Ayat (3) bahwa “Pembantu pengelola melakukan rekapitulasi atas pencatatan dan pendaftaran barang milik daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam Daftar Barang Milik Daerah (DBMD)”. d. Peraturan Menteri Dalam Negeri No.17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah dalam lampiran, antara lain yang menyatakan bahwa “Buku inventaris memuat data meliputi lokasi, jenis/merk type, jumlah, ukuran, harga, tahun pembelian, asal barang, keadaan barang dan sebagainya. Buku Inventaris digunakan sesuai fungsi dan peranannya, maka pelaksanaannya harus tertib, teratur dan berkelanjutan, berdasarkan data yang benar, lengkap dan akurat sehingga dapat memberikan informasi yang tepat”. e. Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 2006 tentang Jalan, yaitu: 1) Pasal 30 yang menyatakan bahwa “Jalan desa adalah jalan lingkungan primer dan jalan lokal primer yang tidak termasuk jalan kabupaten di dalam kawasan perdesaan, dan merupakan jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau antarpermukiman di dalam desa”. 2) Pasal 62 ayat (3) yang menyatakan bahwa “Penetapan status suatu ruas jalan sebagai jalan kabupaten dilakukan dengan keputusan bupati yang bersangkutan”. 3) Pasal 62 ayat (5) yang menyatakan bahwa “Penetapan status suatu ruas jalan sebagai jalan desa dilakukan dengan keputusan bupati yang bersangkutan”. Kondisi tersebut mengakibatkan : a. Aset berpotensi hilang dan disalahgunakan. b. Penyajian Aset Tetap dalam Neraca per 31 Desember 2010 tidak menggambarkan kondisi yang sebenarnya sebesar Rp31.057.068.510,00 (Rp6.290.107.400,00+Rp24.766.961.110,00) yang berasal pencatatan jalan desa. c. Penyajian Aset Tetap dalam Neraca per 31 Desember 2010 yang tidak ada rinciannya sebesar Rp203.876.780.874,00 yang berasal dari pencatatan aset Dinas Bina Marga sebesar Rp173.063.312.809,00 (Rp161.323.493.809,00+Rp11.739.819.000,00), pencatatan kapitalisasi nilai aset dari biaya umum TA 2010 pada RSUD dr. Slamet, Dinas Bina Marga, Dinas Pertacip dan DPPKA sebesar Rp1.682.312.465,00 dan pencatatan aset bangunan dan gedung pada Dinas Pendidikan sebesar Rp29.131.155.600,00 tidak dapat diyakini kewajarannya. Kondisi tersebut disebabkan oleh : a. Sekretaris Daerah, Kepala DPPKAD, Kepala Dinas Bina Marga, Kepala Dinas Pendidikan dan Kepala Dinas Kesehatan selaku Pengguna Barang kurang optimal dalam melakukan pembinaan, pengendalian dan pengawasan terkait pengelolaan barang terhadap jajaran dibawahnya. b. Pengurus Barang dan Penyimpan Barang pada Sekretariat Daerah, DPPKAD, Dinas Bina Marga, Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan kurang cermat dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya Menanggapi permasalahan tersebut Dinas Bina Marga melalui Sekretaris Bina Marga secara lisan menyatakan bahwa untuk masa akan datang akan dilakukan perbaikan dalam pencatatan dan pelaporan. Sedangkan Plt. Kepala Dinas Pendidikan menyatakan bahwa pada saat pemeriksaan berlangsung tidak dapat menunjukkan rincian dan dasar nilai aset di atas, namun setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut data tersebut telah dapat dirinci. Hal ini akan menjadi bahan evaluasi untuk ketertiban administrasi barang.
BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

27

Kepala DPPKA menyatakan bahwa hal tersebut terjadi karena kurangnya pemahaman Pengurus dan Penyimpan Barang atas prosedur penatausahaan dan pengelolaan barang. Untuk mengatasi masalah tersebut, akan dilakukan upaya-upaya pembinaan antara lain dengan mengadakan bimbingan teknis pengelolaan barang daerah dan akan meningkatkan pengawasan dan pengendalian. BPK merekomendasikan Bupati Garut agar :

a. Memerintahkan Sekretaris Daerah, Kepala DPPKAD, Kepala Dinas Bina Marga,
Kepala Dinas Pendidikan dan Kepala Dinas Kesehatan supaya lebih optimal dalam dalam melakukan pembinaan, pengendalian dan pengawasan terkait pengelolaan barang terhadap jajaran dibawahnya. b. Memerintahkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kepala Dinas Bina Marga berkoordinasi dengan Kepala DPPKA untuk segera menelusuri, memverifikasi dan melakukan inventarisasi aset tetap yang belum dapat dirinci supaya diperoleh nilai Aset Tetap yang akurat.

8. Penyajian Realisasi Pendapatan dari Pelayanan kepada Pasien Jamkesmas Sebesar Rp31.813.774.897,90 dan Penyajian Piutang Retribusi dari Pelayanan kepada Pasien Jamkesda sebesar Rp14.839.543.149,00 Dalam Laporan Keuangan Tidak Didasarkan dari Hasil Verifikasi Dalam LRA dan Neraca per 31 Desember 2010, Pemerintah Kabupaten Garut melaporkan realisasi Penerimaan lain-lain Pendapatan Asli Daerah (PAD) Yang Sah sebesar Rp81.125.682.117,00 dan Piutang Pajak dan Retribusi sebesar Rp17.412.895.386,00 (audited). Penerimaan lain-lain PAD dan piutang tersebut diantaranya berasal dari jasa layanan BLUD RSUD dr. Slamet yaitu masing-masing sebesar Rp69.140.900.565,00 dan Rp16.984.764.185,00. Berdasarkan hasil pemeriksaan atas Laporan Pertanggungjawaban Bendahara Penerimaan dan laporan keuangan RSUD diketahui hal-hal sebagai berikut. a. Pendapatan dari pelayanan sebesar Rp69.140.900.565,00 tersebut antara lain berasal dari pendapatan atas pelayanan pada Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) sebesar Rp38.732.288.910,00. Dana Jamkesmas merupakan dana yang berasal dari Pemerintah Pusat, dalam hal ini Kementerian Kesehatan, yang diperuntukkan bagi membayar tagihan atas pelayanan kesehatan yang diberikan RSUD kepada pasien miskin. Dana tersebut dapat dicairkan sebagai pendapatan RSUD sebagai Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) setelah bukti-bukti pelayanan kesehatan bagi pasien miskin terlebih dahulu dipertanggungjawabkan melalui suatu sistem/program verifikasi INA-DRG oleh verifikator independen. Pemeriksaan lebih lanjut terhadap dokumen pertanggungjawaban dana Jamkesmas yang telah diverifikasi dan ditandatangani oleh verifikator independen diketahui bahwa, dari realisasi belanja pelayanan kepada pasien jamkesmas TA 2010 sebesar Rp38.732.288.910,00 yang sudah dipertanggungjawabkan melalui mekanisme INADRG oleh verifikator independen adalah sebesar Rp6.918.514.012,00 sedangkan sisanya sebesar Rp31.813.774.897,90 belum dipertanggungjawabkan melalui proses verifikasi oleh tim verifikator independen. Meskipun belum diverifikasi dan disahkan, RSUD dr. Slamet tetap melakukan penarikan/pencairan dana jamkesmas dari rekening BRI sebesar Rp31.813.774.897,90 dengan menggunakan perhitungan hasil
BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

28

estimasi/perkiraan dana yang akan dapat diterima pertanggungjawabannya oleh INADRG dan verifikator independen. Pencairan dana sebesar Rp31.813.774.897,90 tersebut yang diakui, dicatat, dan dilaporkan oleh RSUD dr. Slamet berpotensi timbulnya perbedaan nilai dengan hasil verifikasi bila menggunakan program INA-DRG. Berdasarkan hasil konfirmasi kepada pengelola dana Jamkesmas diketahui bahwa penarikan dana tanpa melalui INA-DRG tersebut salah satunya disebabkan oleh tidak berjalannya program INA-DRG dari bulan Agustus 2010 sehingga proses verifikasi tidak bisa berjalan, maka untuk menutupi kebutuhan dana RSUD dilakukan penarikan dari rekening BRI. b. Dari nilai Piutang Retribusi Pelayanan Kesehatan yang dilaporkan dalam Neraca per 31 Desember RSUD dr. Slamet sebesar Rp16.984.764.185,00, didalamnya sebesar Rp14.839.543.149,00 merupakan pengakuan piutang atas pelayanan kepada pasien Program Jamkesda dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebesar Rp14.728.983.149,00 dan dari Pemerintah Kabupaten Garut sebesar Rp110.560.000,00. Piutang tersebut timbul atas pemberian pelayanan kesehatan oleh RSUD dr. Slamet kepada masyarakat miskin yang tidak termasuk dalam program Jamkesmas dari Kementrian Kesehatan atau disebut pasien Program Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Alokasi dana Jamkesda dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat disalurkan kepada Pemerintah Kabupaten Garut melalui APBD dicatat sebagai pendapatan daerah dari bantuan keuangan provinsi, selanjutnya direalisasikan melalui anggaran bantuan sosial kepada masyarakat miskin melalui RSUD. Pada TA 2010 telah direalisasikan dana Jamkesda kepada RSUD dr. Slamet dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebesar Rp1.279.244.064,00 dan dari Pemerintah Kabupaten Garut sebesar Rp1.499.884.512,00. Berdasarkan konfirmasi kepada Pengelola Jamkesda diketahui bahwa nilai piutang sebesar Rp14.839.543.149,00 tersebut merupakan nilai pelayanan yang telah diberikan kepada masyarakat miskin yang belum diganti oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kabupaten Garut. Piutang tersebut terjadi karena RSUD memberikan pelayanan kepada masyarakat miskin melebihi kuota Program Jamkesda. Menurut keterangan Pengelola Jamkesda, pemberian pelayanan kepada masyarakat miskin diluar kuota Program Jamkeda tersebut, disebabkan antara lain banyak masyarakat yang berobat dengan menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari kecamatan yang sulit ditolak oleh pihak RSUD. Pemeriksaan lebih lanjut terhadap dasar penyajian/pengakuan piutang RSUD diketahui bahwa nilai piutang tersebut merupakan biaya pelayanan yang belum dipertanggungjawabkan melalui suatu sistem/program verifikasi INA-DRG untuk pasien Jamkesda Provinsi dan belum diverifikasi oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Garut untuk paseien Jamkesda Kabupaten. Selain belum diverifikasi, penyajian piutang kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebesar Rp14.728.983.149,00 di atas tidak tepat karena di pihak lain Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak mengakuinya sebagai hutang. Sedangkan penyajian piutang Jamkesda Kabupaten sebesar Rp110.560.000,00 tersebut tidak tepat karena mengakui piutang kepada Pemerintah Kabupaten Garut sendiri.

BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

29

Hal tersebut tidak sesuai dengan: a. Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 4 yang menyatakan bahwa “Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat”. b. Pedoman Pelaksanaan Jamkesmas Tahun 2010 antara lain menyatakan bahwa “Dana Jamkesmas yang disalurkan ke rekening PPK dan belum dipertanggungjawabkan dengan mekanisme INA-DRG belum menjadi pendapatan PPK dan tidak dapat dicairkan. Pertanggungjawaban dana Jamkesmas di PPK menjadi sah setelah mendapat persetujuan dari Direktur/Kepala PPK dan Verifikator Independen. Dengan telah ditandatanganinya pertanggungjawaban dana oleh Direktur PPK/Kepala Balai dan Verifikator Independen, maka PPK sudah dapat mencairkan dana pelayanan kesehatan tersebut dengan batas pencairan sejumlah dana yang dipertanggungjawabkan”. c. Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan dalam Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan, yaitu: 1) Unsur Laporan Keuangan, tentang Aset: Paragraf 61 yang menyatakan bahwa “Manfaat ekonomi masa depan yang terwujud dalam aset adalah potensi aset tersebut untuk memberikan sumbangan, baik langsung maupun tidak langsung, bagi kegiatan operasional pemerintah, berupa aliran pendapatan atau penghematan belanja bagi pemerintah”. 2) Pengakuan Unsur Laporan Keuangan: a) Paragraf 78 yang menyatakan bahwa “Pengakuan dalam akuntansi adalah proses penetapan terpenuhinya kriteria pencatatan suatu kejadian atau peristiwa dalam catatan akuntansi sehingga akan menjadi bagian yang melengkapi unsur aset, kewajiban, ekuitas dana, pendapatan, belanja, dan pembiayaan, sebagaimana akan termuat pada laporan keuangan entitas pelaporan yang bersangkutan. Pengakuan diwujudkan dalam pencatatan jumlah uang terhadap pos-pos laporan keuangan yang terpengaruh oleh kejadian atau peristiwa terkait”. b) Paragraf 79 yang menyatakan bahwa “Kriteria minimum yang oleh suatu kejadian atau peristiwa untuk diakui, yaitu: (1) Terdapat kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang berkaitan dengan kejadian atau peristiwa tersebut akan mengalir keluar dari atau masuk ke dalam entitas pelaporan yang bersangkutan; (2) Kejadian atau peristiwa tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur atau dapat diestimasi dengan andal”. d. Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 978/Kep.426.Dinkes/2010 Tanggal 25 Februari 2010 Tentang Bantuan Gubernur Untuk pembangunan Bidang Kesehatan Tahun 2010. Bab III Pelaksanaan Kegiatan: 1) Point vi : menyatakan bahwa “Dinas Kesehatan Kabupaten Kota melalui Tim Pengelola Jamkesmas melakukan verifikasi atas klaim yang diajukan oleh pemberi pelayanan kesehatan (PPK) bersama-sama tim verifikator independent Jamkesmas untuk selanjutnya hasil verifikasi ditandatangani oleh Koordinator Tim Pengelola dan diketahui oleh Kepala Dinas Kesehatan selaku Penanggungjawab”.

BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

30

2) Point ix : menyatakan bahwa “Besaran tarif pelayanan di Rumah Sakit sesuai dengan tarif paket INA-DRG Jamkesmas Nasional atau disesuaikan dengan kesepakatan antara RS/PPK dengan Pemerintah Kabupaten/Kota atau yang disetarakan dengan perda”. 3) Point ix : menyatakan bahwa “Dana tahun anggaran 2010 dialokasikan untuk pemenuhan kegiatan TA 2010. Bila ada hutang pelayanan maskin diluar kuota Jamkesmas Daerah (Jamkesda) sebelum tahun 2010, dana TA 2010 tidak dapat digunakan untuk pembayaran hutang. Sisa anggaran tahun lalu masuk dalam SILPA, dan bisa digunakan untuk pembayaran hutang tahun lalu atas beban pemerintah daerah (hutang pemerintah kabupaten/kota, bukan dinas kesehatan). Dalam pengajuan tahun 2010, pemerintah kabupaten/ kota harus memformulasikan dalam pengeluaran pembiayaan dan harus muncul pembayaran hutang ke RS atau unit pelayanan kesehatan lainnya. Mekanisme pembayaran dana hutang dilakukan langsung oleh DPPKAD/Bagian Keuangan Pemerintah Kabupaten/Kota kepada unit pelayanan berdasarkan pengajuan dari Dinas Kesehatan”. Kondisi tersebut mengakibatkan penyajian realisasi Penerimaan lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah dalam LRA Tahun 2010 belum sah dan tidak dapat diyakini kewajarannya sebesar Rp31.813.774.897,90 dan penyajian Piutang Pajak dan Retribusi dalam Neraca per 31 Desember 2010 sebesar Rp16.984.764.185,00 tidak dapat diyakini kewajarannya. Kondisi tersebut disebabkan oleh: a. Pengelola Jamkesmas pada RSUD dr. Slamet lalai dalam mengajukan pertanggungjawaban atas biaya pelayanan yang telah diberikan kepada pasien keluarga miskin kepada verifikator independen atas pelayanan yang telah diberikan kepada pasien miskin. dari bulan Mei 2010 sampai dengan bulan Agustus 2010. b. Direktur RSUD dr Slamet lalai dalam melakukan pengendalian pelaksanaan dan pertanggungjawaban pelayanan kepada pasien keluarga miskin. c. Pengendalian terhadap pemberian Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) lemah dan tidak dilakukan secara selektif sesuai dengan kuota Program Jamkesda. Menanggapi permasalahan tersebut Direktur RSUD dr. Slamet menyatakan bahwa software INA-DRG baru diterima pada bulan April 2010 sehingga entry klaim efektif bulan Juni 2010, karena baru mendapatkan pelatihan pada bulan Mei 2010. Untuk klaim bulan Agustus 2010 software INA-DRG berubah menjadi INA-CBG’s dan baru diterima pada bulan Desember 2010. RSUD mencatat sebagai pendapatan karena dana sudah masuk ke rekening BLUD-RSUD dr. Slamet dan atas piutang retribusi Jamkesmas Daerah (Jamkesda) merupakan hal yang tidak bisa dihindarkan karena alokasi anggaran yang disediakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kabupaten Garut bagi pasien Jamkesda masih belum mencukupi karena jumlah pasien Jamkesda yang berobat melebihi dari perkiraan alokasi anggaran, sementara sebagai rumah sakit milik Pemerintah Daerah, RSUD dr. Slamet tetap harus memberikan pelayanan kepada pasien miskin yang tidak ditangung oleh Jamkesda tersebut serta tidak diperbolehkan menolak pasien miskin.

BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

31

BPK merekomendasikan Bupati Garut agar: a. Memerintahkan kepada Direktur RSUD dr. Slamet untuk memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada Pengelola Jamkesmas supaya dalam mempertanggungjawabkan dan mengajukan klaim dana jamkesmas dilakukan secara tepat waktu. b. Memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada Direktur RSUD supaya meningkatkan pengendalian terhadap pengelolaan Jamkesmas dan Jamkesmas Daerah. c. Memerintahkan kepada Direktur RSUD dr. Slamet untuk melakukan koordinasi dengan para camat dan kepala desa maupun lurah supaya lebih selektif dalam menerbitkan SKTM sesuai dengan jumlah kuota Program Jamkesda yang telah ditetapkan.

9. Lima Puluh Enam Organisasi/Kelompok Masyarakat Penerima Bantuan Sosial dan Hibah dari Pemerintah Kabupaten Garut TA 2010 Sebesar Rp12.956.851.400,00 Belum Menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban Penggunaan Dana Pemerintah Kabupaten Garut pada TA 2010 melalui DPPKA telah menganggarkan Belanja Hibah dan Belanja Bantuan Sosial (Bansos) masing-masing sebesar Rp17.149.750.000,00 dan sebesar Rp132.665.141.212,00 dan telah direalisasikan masing-masing sebesar Rp16.994.670.000,00 dan Rp124.072.147.819,00. Hasil pengujian terhadap pengelolaan belanja hibah dan bansos yang dilaksanakan oleh Sekretariat DPPKA diketahui bahwa sampai saat pemeriksaan berakhir, masih terdapat 56 penerima dana hibah dan bansos sebesar Rp12.956.851.400,00 yang belum menyampaikan laporan pertanggungjawaban penggunaan dana kepada Pemerintah Kabupaten Garut. Kasubag Keuangan Sekretariat DPPKA menyatakan bahwa kepada penerima dana bansos dan hibah dimakud secara lisan telah dilakukan pemberitahuan. Daftar penerima hibah dan bansos yang belum manyampaikan laporan tersebut dimuat pada Lampiran 5. Kondisi tersebut tidak sesuai dengan: a. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 133 ayat (2) yang menyatakan bahwa ”Penerima subsidi, hibah, bantuan sosial dan bantuan keuangan bertanggungjawab atas penggunaan uang/barang dan/atau jasa yang diterimanya dan wajib menyampaikan laporan pertanggungjawabannya penggunaannya”. b. Peraturan Bupati Garut Nomor 227 Tahun 2008 tentang Tata Cara Pemberian dan Pertanggungjawaban Belanja Subsidi, Hibah, Bantuan Sosial, Bantuan Keuangan dan Belanja Tidak Terduga pada APBD Kabupaten Garut Pasal 27 ayat (1) yang menyatakan bahwa ”Penerima belanja subsidi, hibah, bantuan sosial, bantuan keuangan dan belanja tidak terduga wajib memberikan laporan pertanggungjawaban penggunaan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku”. Kondisi tersebut mengakibatkan Belanja Bantuan Sosial dan Hibah sebesar Rp12.956.851.400,00 kepada 56 penerima tidak dapat dinilai kebenaran penggunaannya. Kondisi tersebut disebabkan oleh Pemerintah Kabupaten Garut belum mempunyai kebijakan mengenai mekanisme sanksi kepada penerima bantuan sosial, hibah dan bantuan keuangan yang tidak melaksanakan kewajibannya.
BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

32

Menanggapi permasalahan tersebut Kepala DPPKA menyatakan bahwa sebelumnya telah dilakukan upaya penagihan laporan pertanggungjawaban kepada penerima bansos/hibah dengan surat No. 900/105-DPPKA tanggal 23 Maret 2011. Selanjutnya akan dibuatkan surat teguran agar segera menyampaikan laporan pertanggungjawaban. BPK merekomendasikan Bupati Garut agar mengeluarkan kebijakan yang mengatur mengenai sistem pengendalian, penyaluran dan pertanggungjawaban penggunaan bantuan sosial dan hibah yang memungkinkan penerima bantuan untuk dapat mempertanggungjawabkan penggunaan dana.

BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

33

BAB 2 HASIL PEMANTAUAN TINDAK LANJUT PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN TAHUN 2004 – 2009 Dalam rangka pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Garut Tahun 2010, BPK memantau tindak lanjut Pemerintah Kabupaten Garut terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern Kabupaten Garut Tahun 2004 – 2009. Sesuai dengan Pasal 20 UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, pelaksanaan tindak lanjut menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah/Kabupaten Garut dan DPRD. Pemantauan atas tindak lanjut Pemerintah Kabupaten Garut terhadap temuan tersebut menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
Tabel 2.1 Pemantauan Tindak Lanjut Pemeriksaan Atas Sistem Pengendalian Intern Tahun 2004 – 2009
Hasil Pemantauan Tindak Lanjut No LHP Tahun Jumlah Temuan Jumlah Rekomendasi Belum Sesuai/ Selesai 6 0 0 0 3 0 9 Belum Ditindak lanjuti 1 8 3 4 0 0 16 Tidak Dapat Ditindaklanjuti dengan Alasan yang Sah 0 0 0 0 0 0 0

Sesuai

1 2 3 4 5 6

Tahun 2009 Tahun 2008 Tahun 2007 Tahun 2006 Tahun 2005 Tahun 2004 Total

6 9 3 9 3 1 31

12 17 7 12 5 1 54

5 9 4 8 2 1 29

Rincian dari temuan terdapat di Lampiran 6 .

.

Pemerintah Kabupaten Garut telah menindaklanjuti rekomendasi yang diajukan BPK, antara lain mengenai (1) BPK merekomendasikan Bupati Garut agar memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada Kepala Dinas Kesehatan atas kelalaiannya yang tidak melaporkan pendapatan dan belanja yang tidak dianggarkan dalam DPA dan memerintahkan kepada yang bersangkutan supaya lebih cermat dalam melaporkan pendapatan dana kapitasi Askes, dana rawat inap Askes, dan dana klaim Jamsostek kepada Bendahara Umum Daerah (LKPD TA 2009), (2) BPK menyarankan kepada Bupati Garut agar memberikan teguran secara tertulis kepada Kepala Bagian Keuangan dan Kepala Subag Pembukuan supaya dalam melaksanakan pembukuan keuangan daerah sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum (LKPD TA 2006), (3) BPK menyarankan kepada Bupati Garut agar memberikan teguran tertulis kepada Kepala Bagian Keuangan Sekretariat Daerah Kabupaten Garut yang tidak cermat dalam melaksanakan tugasnya (LKPD TA 2006), (4) Bupati Kabupaten Garut memerintahkan Kepala Kantor Catatan Sipil untuk memberikan teguran tertulis kepada Kepala Bagian Tata Usaha agar meningkatkan pengawasan/pengendalian

BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

34

terhadap rincian penyetoran yang dilakukan oleh Kasir Penerimaan dan Kasir Penerimaan atas kelalaiannya dalam melaksanakan tugasnya (LKPD TA 2004). Adapun permasalahan yang masih dalam proses tindak lanjut antara lain adalah (1) BPK merekomendasikan Bupati Garut agar memerintahkan kepada Kepala DPPKA dan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) supaya lebih cermat dalam menganggarkan belanja bunga sesuai dengan ketentuan yang berlaku (LKPD TA 2009), (2) BPK menyarankan Bupati Garut agar membuat peraturan daerah dengan persetujuan DPRD tentang pemberian tambahan penghasilan atas beban kerja kepada PNS yang didasarkan pada hasil kajian pengukuran beban kerja per individu/Sub Bagian/Bagian/SKPD (LKPD TA 2008), (3) BPK menyarankan kepada Bupati Garut agar memberikan teguran secara tertulis kepada Kepala Bagian Keuangan dan Kepala Subag Pembukuan supaya dalam melaksanakan pembukuan keuangan daerah sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum (LKPD TA 2006), (4) BPK menyarankan kepada Bupati Garut agar memberikan teguran tertulis kepada Panitia Pemeriksa Barang dan Jasa pada Dinas Bina Marga supaya cermat dalam menjalankan tugas (LKPD TA 2006).

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat

35

LAMPIRAN 1.A DAFTAR PEKERJAAN JALAN YANG SEHARUSNYA DIANGGARKAN DALAM BELANJA MODAL

SKPD Kegiatan No. & Tgl. Kontrak 602.1/32/KTR/RPBJK/DAK/BM/2010 TANGGAL 19-07-2010 s/d 17-10-2010 PT. BENGAWAN 1.226.033.000,00 AGUNG 792.199.200,00 CV. BAYU BUANA 602.1/33/KTR/RPBJK/DAK/BM/2010 TANGGAL 19-07-2010 s/d 17-10-2010 602.1/34/KTR/RPBJK/DAK/BM/2010 TANGGAL 16-07-2010 s/d 14-10-2010 602.1/35/KTR/RPBJK/DAK/BM/2010 TANGGAL 19-07-2010 s/d 17-10-2010 1.211.271.000,00 CV. RAMA JAYA 539.899.000,00 PRATAMA 434.207.000,00 CV. BAYU BUANA CV. PAJAR KARYA 454.908.000,00 LESTARI CV. GRAHATAMA 310.575.000,00 PERSADA CV. PUTRA 841.774.000,00 KIANSANTANG PT. ERA TATA BUANA 602.1/36/KTR/RPBJK/DAK/BM/2010 TANGGAL 19-07-2010 s/d 17-10-2010 602.1/37/KTR/RPBJK/DAK/BM/2010 TANGGAL 19-07-2010 s/d 17-10-2010 602.1/38/KTR/RPBJK/DAK/BM/2010 TANGGAL 19-07-2010 s/d 17-10-2010 602.1/39/KTR/RPBJK/DAK/BM/2010 TANGGAL 19-07-2010 s/d 17-10-2010 602.1/40/KTR/RPBJK/DAK/BM/2010 TANGGAL 19-07-2010 s/d 17-10-2010 602.1/41/KTR/RPBJK/DAK/BM/2010 TANGGAL 19-07-2010 s/d 17-10-2010 602.1/32/KTR/RPBJK/DAK/BM/2010 TANGGAL 19-07-2010 s/d 17-10-2010 602.1/33/KTR/RPBJK/DAK/BM/2010 TANGGAL 19-07-2010 s/d 17-10-2010 Nilai Kontrak Nama Rekanan No. & Tgl. Berita Acara Serah Terima (100%)

: DINAS BINA MARGA KAB. GARUT : Rehabilitasi/Pemeliharan berkala Jalan Kabupaten Jumlah Pembayaran No. & Tgl. SP2D Terakhir 07627/LS/1010 1.226.033.000,00 16 Nopember 2010 07262/ls/1010 792.199.200,00 10 Nopember 2010 07314/LS/1010 973.056.000,00 11 Nopember 2010 08147/LS/1010 1.211.271.000,00 20 Nopember 2010 09570/LS/1010 539.899.000,00 21 Desember 2010 602.1/37/KTR/RPBJK/DAK/BM/2010 TANGGAL 19-07-2010 s/d 17-10-2010 602.1/38/KTR/RPBJK/DAK/BM/2010 TANGGAL 19-07-2010 s/d 17-10-2010 602.1/39/KTR/RPBJK/DAK/BM/2010 TANGGAL 19-07-2010 s/d 17-10-2010 602.1/40/KTR/RPBJK/DAK/BM/2010 TANGGAL 19-07-2010 s/d 17-10-2010 602.1/41/KTR/RPBJK/DAK/BM/2010 714.798.000,00 CV. CIPTA SWADIRI TANGGAL 19-07-2010 s/d 17-10-2010 09725/LS/1010 434.207.000,00 22 Desember 2010 09532/LS/1010 454.908.000,00 21 Desember 2010 60726/LS/1010 310.575.000,00 2 Nopember 2010 09160/LS/1010 841.774.000,00 22 Nopember 2010 11052/LS/1010 714.798.000,00 30 Desember 2010

No

Nama Pekerjaan

602.1/34/KTR/RPBJK/DAK/BM/2010 PT. FAUZAN PUTRA 973.056.000,00 PERDANA TANGGAL 16-07-2010 s/d 14-10-2010 602.1/35/KTR/RPBJK/DAK/BM/2010 TANGGAL 19-07-2010 s/d 17-10-2010 602.1/36/KTR/RPBJK/DAK/BM/2010 TANGGAL 19-07-2010 s/d 17-10-2010

Pelapisan Ulang dengan Hotmix Ruas Jalan 1 Garut-Pasirmuncang Km. 1+100 s/d 2+350 Kecamatan Tarogong Kidul Pelapisan Ulang dengan Lapen Ruas Jalan 2 Singajaya-Toblong Km. 1+200 s/d 3+700 Kecamatan Singajaya Pelapisan Ulang dengan Lapen Ruas Jalan 3 Singajaya-Toblong Km. 3+700 s/d 6+850 Kecamatan Peundeuy Pelapisan Ulang dengan Hotmix Ruas Jalan 4 Singajaya-Taraju Km. 0+000 s/d 2+650 Kecamatan Singajaya Pelapisan Ulang dengan Lapen Ruas Jalan 5 Cisarua-Cisewu Km. 0+000 s/d 2+000 Kecamatan Caringin Pelapisan Ulang dengan Lapen Ruas Jalan 6 Cisarua-Cisewu Km. 11+500 s/d 13+500 Kecamatan Cisewu Pelapisan Ulang dengan Hotmix Ruas Jalan 7 Sadang-Garawangsa Km. 0+000 s/d 1+000 Kecamatan Sucinaraja Pelapisan Ulang dengan Hotmix Ruas Jalan 8 Leles-Lekor Km. 2+600 s/d 3+340 Kecamatan Leles Pelapisan Ulang dengan Lapen Ruas Jalan 9 Cikajang-Cikandang Km. 1+000 s/d 2+750 Kecamatan Cikajang Pelapisan Ulang dengan Hotmix Ruas Jalan 10 Garut-Cilandak Km. 1+000 s/d 2+850 Kecamatan Garut Kota D/Dak2010/Kegiatan

7.498.720.200,00 5.373.662.700,00

TOTAL

12.872.382.900,00

LAMPIRAN 1.B

SKPD Nama

: DINAS BINA MARGA KABUPATEN GARUT : DANA PENGUATAN INFRA STRUKTUR DANA ( DPIPD ) REHABILITASI PENGASPALAN JALAN KABUPATEN T. A . 2010

No

Nama Pekerjaan

No & Tgl kontrak

Nilai kontrak

Nama Rekanan ( Rp ) 5 CV. BALADEWA 15 Desember 2010 956 /441 /BASTP /2010 6

No & Tgl Berita Acara Serah terima ( 100% )

Jumlah Pembayaran ( Rp ) 7 197.402.400,00

No & Tgl SP2D Terakhir 8 ( 09443 / LS /2010 ) 20/12/2010

1 602.1/69 /KTR /KRPJK/DPIPD /BM /2010 16-Nov-2010 * SDA * * SDA * 956 /444 /BAP /2010 15 Desember 2010 207.792.000,00

2

3

4

1

Pelapisan Ulang dgn Hotmix

Ruas jalan guntur kencana

wangi Kec. Tarogong kidul

* SDA *

10.389.600,00

( 09444 / LS /2010 ) 20/12/2010

602.1/81 /KTR /KRPJK/DPIPD /BM/2010 16-Nov-2010 * SDA * * SDA * LESTARI

578.650.000,00

CV. FAJAR KARYA

956 /526 /BASTP /2010 21 Desember 2010

549.717.500,00

( 10068 / LS /2010 ) 23/12/2010

2

Rehabilitasi Ruas jl dlm kotaCikajang & jl Cikuda kec.

Cakajang

* SDA *

956 /529/BAP /2010 22 Desember 2010

28.932.500,00

( 10057 / LS /2010 ) 23/12/2010

1 602.21/74 /KTR /KRPJK/DPIPD /BM /2010 16-Nov-2010 * SDA * 20 Desember 2010 * SDA * 956 /519 /BAPP /2010 32.331.435,00 20 Desember 2010 646.628.700,00 CV. DAYA REKSA 956/516 /BASTPP /2010 614.297.265,00

2

3

4

5

6

7

8 ( 100590 / LS /2010 ) 28/12/2010

3

Pelapisan ulang dgn hotmix

ruas jalan cisurupan kec ci-

surupan

* SDA *

( 100589 / LS /2010 ) 28/12/2010

4 / BM /2010 16-Nov-2010 * SDA * * SDA * 956 /570 /BAPP /2010 21 Desember 2010 DARMA PUTRA 14 Desember 2010

Pelapisan ulang dgn hotmix

602.1/67 /KTR /KRPJK/DPIPD/

1.334.250.000,00

PT. LAKSANA

602. /567 /BASTPP /2010

1.267.537.500,00

( 10602 / LS /2010 ) 28/12/2010

ruas jalan Terusan pembangunan kec. Tarogong kidul

* SDA *

66.712.500,00

( 10601 / LS /2010 ) 28/12/2010

5 / BM /2010 16-Nov-2010 * SDA * * SDA * DARMA PUTRA

Pelapisan ulang dgn hotmix

602.2/65 /KTR /kRPJK/DPIPD

1.141.858.000,00

PT. LAKSANA

602.1 /561 /BASTPP /2010 13 Desember 2010 656 /564 /BAPP /2010 20 Desember 2010

1.084.765.100,00

( 10575 / LS /2010 ) 28/12/2010

ruas jalan salamaujah kadu-

ngora kec. Kadungora

* SDA *

57.092.900,00

( 10576 / LS /2010 ) 28/12/2010

6 / BM /2010 16-Nov-2010 * SDA *

Rehabilitasi ruas jalan cang-

602.1/77 /KTR /KRPJK/DPIPD

401.079.000,00

CV. PRATAMA KARYA

602.21 /511 /BASTPP /2010 22 Desember 2010

381.025.050,00

( 10887 / LS /2010 ) 29/12/2010

kuang leuwigoong kec. Leui-

goong

* SDA *

* SDA *

602.1.21 /514 /BAPP /2010

20.053.950,00

( 10852 / LS /2010 )

1 24 Desember 2010 602.1/ 868 /KTR/KRPJK/DPIPD /BM /2010 16-Nov-2010 * SDA * 20 Desember 2010 602.1/ 83 /KTR/KRPJK/DPIPD /BM /2010 16-Nov-2010 * SDA * * SDA * 956 /469 /BAP /2010 15 Desember 2010 11.092.500,00 15 Desember 2010 221.850.000,00 956 /466 /BASTP /2010 210.757.500,00 CV. PUTRI MANDIRI * SDA * 956 /509 /BAP /2010 42.077.750,00 14 Desember 2010 841.555.000,00 956 /607 /BAP /2010 799.477.250,00

2

3

4

5

6

7

8 29/12/2010 ( 10889 / LS /2010 ) 29/12/2010

Pelapisan ulang dgn hotmix

7

ruas jalan tarogong-cipanas

PT. ANUGRAH JAYA PRATAMA

tarogong kaler

* SDA *

( 10853 / LS /2010 ) 29/12/2010 ( 10719 / LS /2010 ) 29/12/2010

Pelapisan ulang dgn hotmix

8

ruas jalan Cimuncang kec.

Garut kota

* SDA *

( 10720 / LS /2010 ) 29/12/2010

JUMLAH : Rp5.373.662.700,00

LAMPIRAN 2

Daftar Penyertaan Modal Pemkab Garut Pada Bank Perkreditan Rakyat Dengan Menggunakan Metode Ekuitas

No

Porsi Kepemilik an Menurut Perda

Nama BPR/LPK/BPKD

S/D Tahun 2009 (Hasil Audit)

Penambahan Tahun 2010

Nilai Entitas Berdasarkan Laporan perubahan Jumlah Penyertaan Entitas Masings/d Tahun 2010 Masing BPR Dan Telah Diperiksa KAP 5=3+4 1.803.397.600,00 441.668.500,00 228.960.000,00 437.875.000,00 341.487.000,00 570.850.000,00 351.387.200,00 545.550.000,00 442.794.500,00 7.463.991.000,00 12.627.960.800,00 410.960.600,00 409.928.300,00 403.138.650,00 386.852.900,00 404.043.150,00 380.859.300,00 430.683.600,00 1.104.575.750,00 673.858.500,00 4.604.900.750,00 476.900.100,00 458.452.100,00 465.263.200,00 1.521.813.500,00 2.922.428.900,00 20.155.290.450,00 6

Proporsi Kepemili-kan Pemda Berdasarkan (Pergub Jabar No. 14 Tahun 2006, Perda Garut No. 10 Tahun 2008 dan Perda Garut No. 2 Tahun 2010) Dengan Metode Ekuitas 7

1

I

100%

2 BPR PD BPR Garut PD BPR Malangbong PD BPR Limbangan PD BPR Kadungora PD BPR Leles PD BPR Karangpawitan PD BPR Cisurupan PD BPR Singajaya PD BPR Pameungpeuk PD BPR Cisewu PD BPR LPK PD BPR LPK Garut Kota PD BPR LPK Sukawening PD BPR LPK Bayongbong PD BPR LPK Banjarwangi PD BPR LPK Cikajang PD BPR LPK Leuwigoong PD BPR LPK Cibalong PD BPR LPK Samarang PD BPR LPK Talegong PD. PK PD. PK Selaawi PD. PK Cisompet PD. PK Cikelet PD. PK Tarogong

3 441.668.500,00 228.960.000,00 437.875.000,00 341.487.000,00 570.850.000,00 351.387.200,00 545.550.000,00 442.794.500,00 7.463.991.000,00 10.824.563.200,00 292.170.000,00 92.380.600,00 159.218.250,00 56.140.900,00 106.075.550,00 94.001.600,00 236.300.600,00 1.104.575.750,00 673.858.500,00 2.814.721.750,00 143.490.000,00 104.202.000,00 146.500.000,00 1.521.813.500,00 1.916.005.500,00 15.555.290.450,00

4 1.803.397.600,00 1.803.397.600,00 118.790.600,00 317.547.700,00 243.920.400,00 330.712.000,00 297.967.600,00 286.857.700,00 194.383.000,00 1.790.179.000,00 333.410.100,00 354.250.100,00 318.763.200,00 1.006.423.400,00 4.600.000.000,00

Seluruh BPR Digabung menjadi BPR Garut

Seluruh BPR Digabung menjadi BPR Garut

8.616.538.714,00 1.779.528.697,00 1.999.803.591,00 1.666.400.399,00 1.323.495.137,00 1.325.859.296,00 696.265.246,29 396.618.203,00 (1.522.797.657,00) (921.537.943,83) 9.187.970.569,29 247.093.014,96 916.081.000,00 350.167.000,00 174.146.742,53 421.239.757,49

8.616.538.714,00 658.425.617,89 682.133.004,89 583.240.139,65 449.988.346,58 464.050.753,60 216.776.123,37 100.701.361,74 3.155.315.347,72 118.110.461,15 467.201.310,00 179.985.838,00 95.780.708,39 861.078.317,54 12.632.932.379,26

II

55%

III

55%

JUMLAH

LAMPIRAN 3

DAFTAR JALAN DESA PEROLEHAN TA 2004 S.D 2009 YANG MASIH TERCATAT PADA DINAS BINA MARGA

No Urut 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73

Nama Jenis Barang 4 Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa

Merk / Type 5

Harga 6 1.244.669.000 1.883.346.000 3.822.965.000 4.788.839.000 44.845.000 44.842.000 44.831.820 44.824.800 44.824.920 44.829.000 44.834.680 44.834.680 44.838.720 44.840.000 44.824.800 44.838.960 44.824.920 44.824.650 44.824.000 44.821.800 44.820.000 44.816.000 44.815.680 44.814.920 44.815.000 44.847.000 44.809.800 44.898.000 44.808.840 44.809.980 44.902.800 47.299.950 44.753.670 44.806.950 47.286.960 47.278.930 47.192.850 47.192.000 47.191.680 44.999.760 44.999.500 45.000.000 45.000.000 44.877.600 44.949.600 44.849.860 44.878.800 47.299.980 44.874.660 44.869.680 44.857.800 44.856.800 44.854.920 44.854.920 44.855.000 44.851.680 44.850.000 44.849.880 45.000.000 42.739.900 44.724.600 44.645.700 44.548.000 44.275.000 44.256.000 44.229.850 44.168.950 43.731.800 43.712.900 43.397.900 42.836.850 44.754.600 42.752.850

Kerangan 7 Tidak ada rincian Tidak ada rincian Tidak ada rincian Tidak ada rincian

ds pameungpeuk kec pampk ds ds pelta asih kec selaawi ds pelta asih ds sukamulya kec cisompet ds ds sukaraja kec banyuresmi ds ds margacinta kec leuwigoong ds kec sukaresmi kec sukaresmi ds linggamanik kec cikelet ds kec bayonbong kec bayonbong ds dano kec leles ds dano kec leles ds kertamukti kec cikelet ds ds binakarya kec banyuresmi ds kec limbangan kec limbangan kec cigedug kec cigedug kec peundeuy kec peundeuy kec kersamanah kec kersamanah kec bayonbong kec bayonbong ds mekarbakti kec bungbulang ds kec cisurupan kec cisurupan ds linggamanik kec cikelet ds ds cintarasa kec samarang ds kec cihurip kec cihurip kec selaawi kec selaawi ds indralayang kec caringin ds ds sukarame kec caringin ds ds cisewu kec cisewu ds cisewu kec kec garut kota kec garut kota kec selaawi kec selaawi ds cihikeu kec bungbulang ds cihikeu kec sukawening kec sukawening ds cinta kec karangtengah ds cinta ds jagabaya kec mekarmukti ds kec cibalong kec cibalong kec cibatu kec cibatu kel lebakjaya kec karangpawitan kel ds sukamulya kec wanaraja ds ds tegalpanjang kec sucinaraja ds kec sukawening kec sukawening ds girijaya kec kersamanah ds kec kersamanah kec kersamanah kec malangbong kec malangbong kec karangpawitan kec karangpawitan ds sukasenang kec banyuresmi ds ds lembang kec leles ds lembang kec ds bungbulang kec bungbulang ds ds mancagahar kec pameungpk ds kec cihurip kec cihurip kec pasirwangi kec pasirwangi ds malangbong kec malangbong ds kec wanaraja pakrt 1 kec wanaraja kec leles kec leles ds sirnajaya kec pasirwangi ds kec limbangan kec limbangan ds sukakarya kec banyuresmi ds ds pamekarsari kec banyuresmi ds kec malangbong kec malangbong ds malangbong kec malangbong ds ds sukalaksana kec talegong ds ds pasanggrahan kec cilawu ds ds sagara kec cibalong ds sagara kec ds cisewu kec cisewu ds cisewu kec ds jati kec tarogong kaler ds jati kec kec cikelet kec cikelet kec cihurip kec cihurip ds talagajaya kec banjarwangi ds kec mekarmukti kec mekarmukti ds tambaksari kec leuwigoong ds ds girimukti kec singajaya ds ds caringin kec karangtengah ds kel margawati kec garut kota kel

No Urut 1 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153

Nama Jenis Barang 4 Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa

Merk / Type 5 kec singajaya kec singajaya ds parakan kec samarang ds parakan kec bayongbong kec bayongbong ds sukamaju kec kersamanah ds kec tarogong kaler kec tarogong ds cisewu kec cisewu ds cisewu kec kec banjarwangi kec banjarwangi ds cangkuang kec leles ds cangkuang ds tegalpanjang kec sucinaraja ds ds sukanegara kec cigedug ds kec wanaraja pakrt 2 kec wanaraja ds cisewu kec cisewu ds cisewu kec kec. Peundeuy Peningkatan Jalan kec bungbulang kec bungbulang kec cihurip kec cihurip ds cikelet kec cikelet ds cikelet kec kec cikelet kec cikelet kec limbangan kec limbangan kec garut kota kec garut kota ds ciroyom kec cikelet ds ciroyom kec ds cintakarya kec samarang ds ds karangsari kec pakenjeng ds ds mekarsari kec cibalong ds kec cihurip kec cihurip kel lebakjaya kec karangpawitan kel ds garumukti kec pamulihan ds ds pamekarsari kec banyuresmi ds kec cilawu kec cilawu ds sukawangi kec tarogong kaler ds kec cilawu kec cilawu kec cisewu kec cisewu ds cigoronggong kec cibalong ds ds garumukti kec pamulihan ds kec caringin kec caringin kec talegong kec talegong kec garut kota kec garut kota kec garut kota kec garut kota ds tegalpanjang kec sucinaraja ds kec sucinaraja kec sucinaraja ds karangapung kec leuwigoong ds kel regol kec garut kota kel regol kec ds jayawaras kec tarogong kidul ds ds rancasalak kec kadungora ds ds linggamukti kec sucinaraja ds ds barusuda kec cigedug ds barusuda ds giriawas kec cikajang ds giriawas ds karyamukti kec cibalong ds kec. Kadungora kec. Kadungora ds sindangsari kec cigedug ds ds sukakarya kec tarogong kdl ds kec samarang kec samarang ds neglasari kec kadungora ds ds sukahaji kec sukawening ds ds sukahurip kec pangatikan ds kec sukawening kec sukawening kec. Limbangan kec. Limbangan kec samarang kec samarang ds sukarasa kec pangatikan ds ds jati kec tarogong kaler ds jati kec kec bayongbong kec bayongbong ds situgede kec cigedug ds situgede ds cinisti kec bayongbong ds cinisti ds cipangramatan kec cikajang ds kec pakenjeng kec pakenjeng ds jatimulya kec pameungpeuk ds ds mekarmukti kec mekarmukti ds ds cijambe kec cikelet ds cijambe kec ds cisompet kec cisompet ds cisompet kec bayongbong kec bayongbong ds cikandang kec cikajang ds ds tegalega kec bungbulang ds ds mekarjaya kec bayongbong ds ds linggamanik kec cikelet ds ds marguluyu kec leuwigoong ds kec cisurupan kec cisurupan ds pananjung kec tarogong kaler ds kec malangbong kec malangbong kec peundeuy paket 2 kec peundeuy kec peundeuy paket 1 kec peundeuy ds cintadamai kec sukaresmi ds

Harga 6 44.814.920 42.728.000 42.441.000 42.099.750 39.948.800 39.881.920 39.844.800 39.832.800 39.748.000 39.699.720 36.865.800 24.873.000 266.880.000 42.836.850 44.775.000 44.804.500 44.805.000 44.804.760 44.798.800 44.794.500 44.791.000 44.790.000 44.788.800 44.784.720 44.782.800 44.781.480 44.779.500 44.737.590 44.775.000 44.739.000 44.775.000 44.773.700 44.771.760 44.766.000 44.765.860 44.755.620 44.755.690 44.754.840 44.754.750 47.304.600 44.753.940 44.806.850 44.779.600 49.850.000 49.824.800 49.870.000 49.870.000 49.868.700 49.868.800 49.864.800 49.864.650 49.860.000 49.856.950 49.854.840 49.855.000 49.877.000 49.852.800 49.876.750 49.850.000 49.849.550 49.849.900 49.844.800 49.834.800 49.834.680 49.834.800 49.834.980 49.828.000 49.826.000 49.824.940 49.824.900 49.854.630 74.199.800 44.814.000 47.327.000 274.299.750 237.412.000 215.199.000 194.773.320 194.106.240 149.889.600

Kerangan 7

No Urut 1 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231

Nama Jenis Barang 4 Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa Jalan Desa

Merk / Type 5 ds cipangramatan kec cikajang ds kel margawati kec garut kota kel ds cipangramatan kec cikajang ds ds sukanegara kec cisompet ds ds pamalayan kec cikelet ds ds pataruman kec tarogong kdl ds kec banjarwangi kec banjarwangi kec peundeuy kec peundeuy ds karamatwangi ds karamatwangi kec sucinaraja kec sucinaraja ds cimanganten kec tarogong klr ds ds girimukti kec cibatu ds girimukti kec malangbong kec malangbong ds jayawaras kec tarogong kidul ds ds cisewu kec cisewu ds cisewu kec ds mekarsari kec cibatu ds mekarsari ds ciela kec bayongbong ds ciela kec kec kadungora kec kadungora sirnajaya kec cisurupan sirnajaya kec kec. Selaawi kec. Selaawi ds cinta kec karangtengah ds cinta kec peundeuy kec peundeuy ds simpang kec cikajang ds simpang ds cisewu kec cisewu ds cisewu kec ds maroko kec cibalong ds maroko ds mekarmukti kec cibalong ds kec talegong kec talegong kec cibalong kec cibalong ds mekarsari kec cikajang ds ds cigedug kec cigedug ds cigedug kec kec peundeuy kec peundeuy ds cipicung kec banyuresmi ds ds rancasalak kec kadungora ds ds ngamplangsari kec cilawu ds ds jangkurang kec leles ds jangkurang ds mekarsari kec cikajang ds ds margahayu kec leuwigoong ds ds karyamukti kec banyuresmi ds ds padamukti kec pasirwangi ds ds cipangramatan kec cilawu ds ds balewangi kec cisurupan ds kec. Kadungora kec. Kadungora kec cikajang kec cikajang kec sukawening kec sukawening kel caringin kec karangpawitan kel ds sukakarya kec banyuresmi ds ds pananjung kec tarogong kaler ds kec. Leles kec. Leles ds sukamukti kec sukawening ds kec. Selaawi kec. Selaawi ds linggamanik kec cikelet ds ds karanganyar kec leuwigoong ds ds selaawi kec talegong ds selaawi kec cihurip & cisompet kec cihurip & ds balewangi kec cisurupan ds kel mekargalih kec tarogong kdl kel kec sukaresmi kec sukaresmi ds situsari kec karangpawitan ds kec. Leles kec. Leles ds sukatani kec cisurupan ds sukatani kec singajaya kec singajaya ds tegalega kec bungbulang ds ds cipaganti kec cisurupan ds ds mekartani kec singajaya ds ds cisangkal kec cihurip ds cisangkal ds cigedug kec cigedug ds cigedug kec ds cintarasa kec samarang ds kel sukagalih kec tarogong kidul kel ds margamulya kec cikajang ds ds cibunar kec tarogong kidul ds kec.sukawening kec.sukawening ds pamulihan kec cisurupan ds kec cihurip kec cihurip kec pameungpeuk kec pameungpeuk kel sukagalih kec tarogong kidul kel ds cidatar kec cisurupan ds cidatar 1,30 km Rehab/Pengasapalan jldesa 2,75 km Rehab/Pengaspalan Jl.desa

Harga 6 140.983.830 130.728.000 130.648.500 49.876.800 99.180.000 49.849.900 74.060.000 74.011.740 69.747.600 50.072.800 50.000.000 50.000.000 49.974.800 49.973.000 49.902.800 49.894.740 49.888.800 49.888.380 99.545.400 49.759.000 49.787.000 49.784.970 49.784.800 49.784.800 49.782.850 49.781.350 49.781.760 49.780.800 49.780.000 49.779.800 49.819.680 49.774.800 49.788.000 49.762.800 49.776.800 49.754.000 49.749.600 49.748.000 49.746.800 49.746.450 49.736.000 49.731.000 49.729.590 49.684.800 47.877.750 47.349.900 47.349.880 49.849.950 49.796.800 49.788.800 49.815.000 49.811.850 49.812.000 49.810.000 49.808.800 49.800.000 49.800.000 49.800.000 49.798.700 49.818.000 49.770.000 49.820.000 49.815.000 49.794.780 49.794.800 49.794.860 49.795.000 49.794.860 49.792.710 49.792.000 49.790.000 49.789.700 49.790.000 49.789.800 49.790.000 49.798.730 268.632.000 549.303.000 24.766.961.110

Kerangan 7

LAMPIRAN 4

DAFTAR ASET TANAH, JALAN DAN JEMBATAN PADA DINAS BINA MARGA YANG TIDAK ADA RINCIANNYA

Spesifikasi Barang No Urut Asal-usul/ Cara Perolehan Barang 4 Tahun Beli Satuan Perolehan Koondisi Barang (B/KB/RB) 7
B B B B B B B B B B B B B B B

Jumlah Ket

Nama Jenis Barang

Merk /

Type

Barang

Harga

1
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Tanah Untuk Jalan Kabupaten Jalan Kabupaten/Kota Arteri Jembatan Beton Jembatan Jalan Kabupaten/Kota Arteri Jalan Kabupaten/Kota Arteri Jalan Kabupaten/Kota Arteri Jalan Kabupaten/Kota Arteri Jalan Kabupaten/Kota Arteri Bangunan Penahan Banjir Saluran Drainase Jalan Kabupaten/Kota Arteri Jalan Kabupaten/Kota Arteri Jalan Kabupaten/Kota Arteri Jalan Kabupaten/Kota Arteri

2

3

APBD APBD APBD

5 0 0
0 2008 2008 2008 2008 2008 2008 2008 2008 2009 2009 2009 2009

m2 m2 m2 buah paket paket paket paket paket m' paket paket paket paket paket

6

6.460.935 835.280 2.934 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

8

13.064.010.570 66.017.190.080 15.375.227.976 1.698.017.000 21 Bh 9.140.710.000 15,6

9

10

15 Kec Rehab/Pemel. Jembatan 4 Kec. Pelap. Ulang permuk jalan 7 Kec. Pelap. Ulang permuk jalan 7 Kec. Pelap. Ulang permuk jalan 15 Kec. Pelap. Ulang permuk jalan 8 Kec. Pelap. Ulang permuk jalan 28 Kec. Pemb. Turap/Bronjong/Talu L. 3.476,25 m 23 Kecamatan Jln. Kabupaten 240 km Jln. Kabupaten Rehab/Pemel Berkala Jln. Kabupaten Rehab/Pemel Berkala Jln. Kabupaten (Pendp)Rehab/Pemel Berkala 24 pkt 20 kec. Pemb.

APBD APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBD APBD DAK DAK

889.753.636 Pemel. Jalan 8.897.526.364 20,87 km 18.545.082.000 58,87 km 4.679.528.960 344,92 km 2.794.982.900 L. 2502,71 m' 1.109.948.000 L. 3476,25 5.778.330.513 3.131.373.510 8.029.653.765 10 Kec. 19,06 km 939.465.535 10 Kec. 19,06 km

16

Bangunan Penguat Tebing

APBD

2009

paket

B

1 7.299.162

1.232.693.000 24 pkt 20 kec 161.323.493.809

LAMPIRAN 5 DAFTAR BANSOS & HIBAH TA 2010 YANG BELUM DILENGKAPI DENGAN PERTANGGUNGJAWABAN PENGGUNAAN DANA

NO A BANTUAN SOSIAL 1 GEMAR (Luncuran Banprov)

URAIAN

ANGGARAN (Rp)

REALISASI (Rp)

SISA

1.414.800.000,00 3.202.301.400,00 1.600.000.000,00 480.000.000,00

1.414.800.000,00 3.202.301.400,00 1.600.000.000,00 480.000.000,00

-

2 Bantuan Keuangan untuk Pelaksanaan Gerakan Multi Aktivitas Agribisnis (GEMAR) Paket 3 Peningkatan Sarana dan Prasarana dan SDM Sekolah Berstandar Nasional (SSN) dan 4 Revitalisasi Sarana Prasarana Pendidikan Daerah Tertentu (Luncuran Banprop) 5 Bantuan Pengadaan rumah jamur/kubung, steamer, log jamur, peralatan budidaya jamur

C (Luncuran Banprov)

Sekolah Bertaraf Internasiona (SBI) SMA/SMK (Luncuran Banprov)

dalam rangka pengembangan pengusahaan jamur kayu (Luncuran Banprop)

120.000.000,00

120.000.000,00

-

6 Bantuan Pengadaan Bibit sulaman kompos/ pupuk kandang, gubuk kerja, plang pengenal,

7 8 9 10 11 12 13 14 15

pemasangan ajir dan pembuatan lubang tanaman, pengangkutan dan penanaman, penyulaman dan pemupukan dalam rangka pengembangan Hutan rakyat (Luncuran Banprop) Bantuan Keuangan untuk Pengembangan/Pembibitan Peternakan Domba Cibuluh, Kp. Kubengan Desa Cibodaas Kec.Cikajang Kab. Garut (Banprov) Bantuan Keuangan untuk Pengembangan Peternakan Ayam Peternak Mekarjaya, Kp. Cioyod Desa Mekarjaya Kec. Bayongbong Kab. Garut (Banprov) Bantuan Keuangan untuk Pengembangan Pertanian kelompok Tani Petani 999, Desa Samarang Kec. Samarang Kab. Garut (Banprov) Bantuan Keuangan untuk Pengembangan UKMMekarsari, Kp. Sawahsari Desa Samarang Kec.Samarang Kab. Garut (Banprov) Bantuan Keuangan untuk Pengembangan Sarana Keagamaan Pontren Kipayatul Akhyar, Kp. Sukasari Ds. Pakuwon Kec. Cisurupan Garut (Banprov) Bantuan Keuangan untuk Pengembangan Pertanian Organik Hijau Kp. Tugugilis Desa Cinunuk Kec. Wanaraja Kab. Garut (Banprov) Bantuan Keuangan untuk Pengembangan Itik haruman Pondok Pesantren Al-Yusufiyyah DesaLeuwigoong Kec. Leuwigoong Kab. Garut (Banprov) Bantuan Keuangan untuk Pengembangan Sarana Keagamaan Pontren Nurul Huda desa Cintamanik Kec. Karangtengah kab. Garut (Banprov) Bantuan Keuangan untuk Pengembangan Pertanian Kelompok Tani Mandiri Pondok Pesantren Sifasshudur Kp. Pasir Ipis Desa Sarimukti Kec. Pasir Ipis Kab. Garut (Banprov)

100.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00

100.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00

-

50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 40.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 40.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 45.000.000,00 100.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 200.000.000,00

50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 40.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 40.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 45.000.000,00 100.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 200.000.000,00

-

16 Bantuan Keuangan untuk Pengembangan Sarana Keagamaan Pontren Darul Hikmah Kp. 17 Alihan dari disnakanla

Nangewer Ds. Cinta Kec. Karangtengah Kab. Garut (Banprov)

18 - Pengembangan ternak domba, kelompok ternak Saluyu Malangbong 19 - Pengembangan ternak sapi Nangorak Sukamulya Sukaresmi 20 - Pengembangan ternak sapi Tunas Harapan karangwangi Mekarmukti 21 - pengembanagn ternak domba Bumi asih Simpang Cikajang 22 - Pengembanagn ternak domba Sauyunan n Padamukti Pasirwangi 23 - Pengembangan sapi perah Harapan Jaya Peundeuy 24 - pengembangan sapi perah Mandiri Desa Cibosas Cikajang 25 - Pengembangan ternak Taruna Bangkit Mekarbakti kadungora 26 - Pengembanagn ternak sapui pangauban Cisurupan 27 - Pengembangan gabungan kelompok Tani Berkah Sejati Godog Karangpawitan 28 - Pengembangan ternak domba Mukti panghurip Purbayani Caringin 29 Bantuan Keuangan untuk R & D Jamur dan Life Skill Home Industri BDS Zulfa Agriutama 30 Bantuan Keuangan untuk R & D SENI BATIK, TENUN, BORDIR PD Widari, Jl. Cimanuk 31 Bantuan Keuangan untuk R&D Pakan dan Pupuk Organik Sapi P4S Jabar Agricultura, Jl.

Jl. Raya Wanaraja No 367 Wanaraja Garut (Banprop) No. 99 B Garut (Banprop)

Kudang Desa Wanajaya Kec. Wanaraja (Banprop) 32 Bantuan Keuangan untuk R & D Budidaya Sapi Kelompok Ternak Salma Jaya Jl. Kudang 1 Desa Wanajaya Kec. Wanaraja (Banprop) 33 Bantuan Keuangan untuk YPI CIPARI Kp Cipari Desa Sukarasa Kec. Pangatikan Kab. Garut (Banprop) 34 Bantuan Keuangan untuk Pengembangan Ternak Sapi Potong Kelompok BINTANG RAKYAT, Ds.Sirna Bakti Kec. Pameungpeuk Kab. Garut (Banprov)

B HIBAH
1 Belanja Hibah kepada KOSTRAD 2 Belanja Hibah kepada Pengadilan 3 Belanja Hibah kepada KOREM ( Komando resimen ) 4 Belanja Hibah kepada RUTAN ( Rumah tahanan ) 5 Belanja Hibah kepada MUI ( majelis Ulama Indonesia )

NO

URAIAN

ANGGARAN (Rp) 300.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 100.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 2.000.000.000,00 100.000.000,00 50.000.000,00 100.000.000,00 50.000.000,00 100.000.000,00 1.014.750.000,00 50.000.000,00 100.000.000,00 50.000.000,00

REALISASI (Rp) 300.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 100.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 50.000.000,00 2.000.000.000,00 100.000.000,00 50.000.000,00 100.000.000,00 50.000.000,00 100.000.000,00 1.014.750.000,00 50.000.000,00 100.000.000,00 50.000.000,00

SISA

6 Belanja Hibah kepada KNPI ( Komite Nasional Pemuda Indonesia ) 7 Belanja Hibah kepada Muhammadiyah 8 Belanja Hibah kepada SI ( Syarikat Islam ) 9 Belanja Hibah kepada Pramuka Kwarcab Garut 10 Belanja Hibah kepada PUI ( Persatuan Umat islam ) 11 Belanja Hibah kepada APDESI ( Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia ) 12 Belanja Hibah kepada Persatuan Drumband Indonesia 13 Belanja Hibah kepada PONTREN dalam rangka Pemberdayaan Masyarakat 14 Belanja Hibah kepada AKBID ( Akademi Kebidanan ) Garut 15 Belanja Hibah kepada PARFI ( Persatuan Artis Film Indonesia ) 16 Belanja Hibah kepada AKPER Bidara Mukti Jl.Otista No. 66A 17 Belanja Hibah kepada Pemuda Pancasila 18 Hibah kepada Presidium Masyarakat GARSEL 19 Hibah kepada PHBI 20 Hibah kepada FKPPI 21 Hibah kepada YPI Al-Muamalah Kp. Leuweung Tiis RT.01/01 Ds. Haruman Kec. Leles 22 Yayasan Kartika Chandra ( dari korem )

JUMLAH

12.956.851.400,00

12.956.851.400,00

LAMPIRAN 6

PEMANTAUAN TINDAK LANJUT ATAS HASIL PEMERIKSAAN SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH KABUPATEN GARUT
Temuan Berulang Nilai Temuan 2008 2007 2006 2005 2004 Sesuai dengan Rekomendasi Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut 1 Hasil Pemantauan Tindak Lanjut Belum Tidak Dapat Ditindaklanjuti Ditindakl dengan Alasan yang Sah anjuti 0 0

No

Temuan BPK

LKPD TA 2009 a. Memerintahkan Kepala DPPKA untuk mengkoordinasikan Bendahara Barang seluruh SKPD terkait untuk memberikan penomoran berupa kode barang pada aset peralatan dan mesin; Surat Bupati Garut No. 700.04/2289/ Inspektorat tanggal 21 Oktober 2010 kepada Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaa Keuangan dan Aset. Belum ada bukti penomoran dan pengklasifikasian aset. 0 1 0

1

Aset Tetap Berupa Peralatan dan Mesin Tidak Diberikan Penomoran serta Ditemukan Permasalahan Terkait Keberadaan dan Pengklasifikasian Aset pada 3 SKPD

b. Memerintahkan Kepala SKPD dan Bendahara Barang Surat Bupati Garut No. pada 3 SKPD tersebut untuk mengklasifikasikan Aset Tetap 700.04/2290/ Inspektorat sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan; tanggal 21 Oktober 2010 kepada Sekretaris Daerah; Surat Bupati Garut No. 700.04/2283/ Inspektorat tanggal 21 Oktober 2010 kepada Kepala Dinas Bina Marga; Surat Bupati Garut No. 700.04/2285/ Inspektorat tanggal 21 Oktober 2010 kepada Kepala Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan; Surat Bupati Garut No. 700.04/2298/ Inspektorat tanggal 21 Oktober 2010 kepada Kepala Dinas Pendidikan. Belum ada bukti penomoran dan pengklasifikasian aset.

0

0

c. Memerintahkan kepada Inspektur Kabupaten Garut untuk Surat Bupati Garut No. lebih optimal dalam melaksanakan reviu atas Laporan 700.04/2293/ Inspektorat Keuangan Pemerintah Kabupaten Garut. tanggal 21 Oktober 2010 kepada Inspektur. √ a. Memerintahkan Kepala Dinas Kesehatan dan Kepala Dinas Kependudukan Pencatatan Sipil untuk memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada Kepala Puskesmas dan Camat selaku kuasa pengguna barang agar menatausahakan barang persediaan yang dikuasainya dengan tertib. Surat Bupati Garut No. 700.04/2291/ Inspektorat tanggal 21 Oktober 2010 kepada Kepada Dinas Kesehatan; Surat Bupati Garut No. 700.04/2300/ b. Memerintahkan Kepala Dinas Kesehatan dan Kepala Dinas Kependudukan Pencatatan Sipil selaku pengguna barang supaya lebih cermat dalam melaksanakan pengawasan dan pengendalian atas barang persediaan. Inspektorat tanggal 21 Oktober 2010 kepada Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Belum ada bukti

1

0

0

0

2

Persediaan yang Disajikan dalam Neraca per 31 Desember 2009 Belum Mencakup Nilai Persediaan pada Puskesmas dan Kecamatan

0

1

0

0

1

0

0

0

Temuan Berulang Hasil Pemantauan Tindak Lanjut 2004 c. Berkoordinasi dengan Departemen Kesehatan dan Dinas penatausahaan Kesehatan Provinsi Jawa Barat supaya dalam setiap persediaan. memberikan bantuan selalu disertai dengan pencantuman informasi mengenai harga satuan per jenis persediaan yang disalurkan. 3.686.195.219,00 a. Memerintahkan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UMKM untuk menertibkan pengelolaan dokumen/arsip terkait pengambilalihan piutang kios pasar dan melengkapi Surat Perjanjian Jual Beli kios pasar yang terdahulu. Surat Bupati Garut No. 700.04/2302/ Inspektorat tanggal 21 Oktober 2010 kepada Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM. Belum b. Memerintahkan Kepala Dinas Perindustrian, ada bukti penertiban Perdagangan, Koperasi, dan UMKM untuk mengusahakan pengelolaan dokumen/arsip, melengkapi dokumen yang memadai agar upaya penagihan serta belum ada bukti piutang kios pasar dapat dilakukan. kelengkapan dokumen. 0 1 0 1 0 barang 1 0 0 Rekomendasi Sesuai dengan Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Nilai Temuan 2008 2007 2006 2005

No

Temuan BPK

Belum Tidak Dapat Ditindaklanjuti Ditindakl dengan Alasan yang Sah anjuti 0

3

Piutang Penjualan Kios Pasar Sebesar Rp3.686.195.219,00 yang Didasarkan pada Catatan Rekanan Pembangun Kios Pasar Berpotensi Tidak Tertagih

0

0

0

4 √

Akun Investasi Jangka Panjang Senilai Rp44.488.027.168,56 Belum Disajikan dengan Metode Ekuitas dan Penyertaan Modal Terarah sebesar Rp167.250.000,00 Belum Dapat Dijelaskan

a. Memerintahkan Kepala Dinas Pendapatan Pengelolaan Surat Bupati Garut No. Keuangan dan Aset Kabupaten Garut untuk menyajikan Akun 700.04/2290/ Inspektorat Penyertaan Modal sesuai dengan Metode Ekuitas; tanggal 21 Oktober 2010 kepada Sekretaris Daerah; Surat Bupati Garut No. 700.04/2294/ Inspektorat tanggal 21 Oktober 2010 kepada Asisten Perekonomian dan Pembangunan;

0

0

1

0

b. Memerintahkan Sekretaris Daerah untuk memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku kepada Kepala Bagian Perekonomian atas kelalaiannya dalam melaksanakan tugas dan memerintahkan kepada yang bersangkutan supaya lebih cermat dalam memonitor, mengendalikan dan mengawasi pelaksanaan kredit program yang berasal dari penyertaan modal terarah.

Surat Bupati Garut No. 700.04/2286/ Inspektorat tanggal 21 Oktober 2010 kepada Kepala Bagian Administrasi Perekonomian.

1

0

0

0

5

Pendapatan dan Belanja Sebesar Rp702.383.950,00 pada Dinas Kesehatan Tidak Dianggarkan dalam APBD

BPK RI merekomendasikan Bupati Garut agar memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada Kepala Dinas Kesehatan atas kelalaiannya yang tidak melaporkan pendapatan dan belanja yang tidak dianggarkan dalam DPA dan memerintahkan kepada yang bersangkutan supaya lebih cermat dalam melaporkan pendapatan dana kapitasi Askes, dana rawat inap Askes, dan dana klaim Jamsostek kepada Bendahara Umum Daerah.

Surat Bupati Garut No. 700.04/2290/ Inspektorat tanggal 21 Oktober 2010 kepada Sekretaris Daerah; Surat Bupati Garut No. 700.04/2291/ Inspektorat tanggal 21 Oktober 2010 kepada Kepada Dinas Kesehatan. BPK RI merekomendasikan Bupati Garut agar memerintahkan kepada Kepala DPPKA dan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) supaya lebih cermat dalam menganggarkan belanja bunga sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Surat Bupati Garut No. 700.04/2290/ Inspektorat tanggal 21 Oktober 2010 kepada Sekretaris Daerah.

1

0

0

0

6

Penganggaran Belanja Bunga pada Pengeluaran Pembiayaan Tidak Sesuai dengan Ketentuan

0

1

0

0

3.686.195.219,00

5

6

1

0

LKPD TA 2008

Temuan Berulang Hasil Pemantauan Tindak Lanjut 2004 a. Menyusun ketentuan batas jumlah SPP UP dan SPP GU yang diajukan oleh SKPD dengan peraturan Bupati sesuai ketentuan yang berlaku b. Memberikan teguran tertulis yang diikuti dengan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan di bidang kepegawaian kepada Kepala Dinas Pendapatan Pengelola Keuangan dan Aset selaku BUD supaya menerbitkan SP2D dilaksanakan secara tertib sesuai dengan batas anggaran yang tersedia Telah diberikan teguran tertulis kepada Kepala DPPKA melalui surat No. 700.04/1817/ Inspektorat tanggal 28 September 2009 perihal teguran dan penyelesaian tindak lanjut atas temuan dan rekomendasi hasil audit BPK-RI TA 2008 1 0 0 1 0 0 Rekomendasi Sesuai dengan Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Nilai Temuan 2008 2007 2006 2005

No

Temuan BPK

Belum Tidak Dapat Ditindaklanjuti Ditindakl dengan Alasan yang Sah anjuti 0

1 332.242.301,00

Penetapan nilai uang persediaan kepada SKPD tidak tertib dan penerbitan SP2D pada beberapa SKPD melampaui pagu anggaran yang tersedia dalam APBD TA 2008

0

c. Memberikan teguran tertulis yang diikuti dengan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan di bidang kepegawaian kepada Pengguna Anggaran di sembilan SKPD supaya dalam mengajukan SPM-UP/GU/TU kepada BUD disertai dengan perencanaan penggunaan uang secara matang dan terinci; d. Memberikan teguran tertulis yang diikuti dengan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan di bidang kepegawaian kepada Pengguna Anggaran di lima SKPD supaya menyetorkan sisa kas TA 2008 yang masih berada dalam penguasaan Bendahara Pengeluaran Rp332.242.301,00 ke Kas Daerah serta menyampaikan copy bukti setor ke BPK RI. a. Memberikan tegura tertulis yang diikuti sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku di bidang kepegawaian kepada para Kepala SKPD supaya meningkatkan pengendalian dan pengawasan atas pengelolaan barang persediaan Telah diberikan teguran tertulis kepada para Kepala SKPD melalui surat No. 700.04/1828/ Inspektorat tanggal 28 September 2009 perihal teguran dan penyelesaian tindak lanjut atas temuan dan rekomendasi hasil audit BPK-RI TA 2008

0

0

1

0

0

0

1

0

2

Nilai akun persediaan dalam Neraca Pemerintah Kabupaten Garut Per 31 Desember 2008 tidak dapat diyakini kewajarannya

1

0

0

0

b. Memerintahkan kepada para Kepala SKPD untuk memberikan teguran tertulis yang diikuti sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku di bidang kepegawaian kepada para pemegang barang/bendahara barang supaya melakukan pembukuan/pencatatan atas penerimaan dan pengeluaran/pemakaian barang persediaan.

0

0

1

0

Temuan Berulang Hasil Pemantauan Tindak Lanjut 2004 BPK RI menyarankan Bupati Garut agar memberikan teguran tertulis yang diikuti sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku di bidang kepegawaian kepada Kepala Dinas Pendapatan Pengelola Keuangan dan Aset Kabupaten Garut untuk melakukan rekonsiliasi atas nilai penyertaan modal kepada BPR dengan Bagian Perekonomian, dan melakukan perbaikan pengakuan investasi dengan menggunakan metode ekuitas sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Telah diberikan teguran tertulis kepada Kepala DPPKA melalui surat No. 700.04/1817/ Inspektorat tanggal 28 September 2009 perihal teguran dan penyelesaian tindak lanjut atas temuan dan rekomendasi hasil audit BPK-RI TA 2008 1 0 0 Rekomendasi Sesuai dengan Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Nilai Temuan 2008 2007 2006 2005

No

Temuan BPK

Belum Tidak Dapat Ditindaklanjuti Ditindakl dengan Alasan yang Sah anjuti 0

3

Akun Penyertaan Modal Jangka Panjang kepada BPR senilai Rp15.391.119.950,00 tidak menunjukkan keadaan nilai yang sebenarnya.

4 BPK RI menyarankan Bupati Garut agar membuat peraturan daerah dengan persetujuan DPRD tentang pemberian tambahan penghasilan atas beban kerja kepada PNS yang didasarkan pada hasil kajian pengukuran beban kerja per individu/Sub Bagian/Bagian/SKPD.

Pemberian Tambahan Penghasilan atas beban kerja tidak didasarkan pada hasil kajian yang memadai

0

0

1

0

5 BPK RI menyarankan Bupati Garut agar memberikan teguran tertulis yang diikuti sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku di bidang kepegawaian kepada para Kepala Dinas dan Kepala UPTD SKPD di jajaran Pemerintah Kabupaten Garut, atas ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangan Pengelolaan Barang Milik Daerah. Telah diberikan teguran tertulis kepada para Kepala SKPD dan Kepala UPTD melalui surat No. 700.04/1828/ Inspektorat tanggal 28 September 2009 perihal teguran dan penyelesaian tindak lanjut atas temuan dan rekomendasi hasil audit BPK-RI TA 2008

Aset Tetap dalam neraca per 31 Desember 2008 senilai Rp1.227.728.291.477,00 belum dapat diyakini kewajarannya nilainya minimal Rp367.329.739.948,00

1

0

0

0

6

Potensi penerimaan retribusi daerah TA 2008 pada Dinas Perhubungan tidak terpungut minimal Rp16.350.000,00

a. Memberikan teguran tertulis yang diikuti sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku di bidang kepegawaian kepada Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Garut untuk lebih optimal dalam melakukan intensifikasi pemungutan retribusi daerah yang menjadi wewenang dan tanggungjawabnya

Telah diberikan teguran tertulis kepada Kepala Dinas Pendidikan melalui surat No. 700.04/1829/ Inspektorat tanggal 28 September 2009 perihal teguran dan penyelesaian tindak lanjut atas temuan dan rekomendasi hasil audit BPK-RI TA 2008

0

0

1

0

b. Memerintahkan kepada Kepala Dinas Perhubungan untuk menegur diikuti sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku di bidang kepegawaian Kepala UPTD Pengujian Kendaraan dan Kepala Bidang Angkutan Supaya meningkatkan koordinasi dalam rangka peningkatan penerimaan daerah

1

0

0

0

Temuan Berulang Hasil Pemantauan Tindak Lanjut 2004 a. Memberikan teguran tertulis yang diikuti sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku di bidang kepegawaian kepada Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut agar lebih optimal dalam melakukan pembinaan pengelolaan barang dan melaporkan penambahan aset/barang SKPD secara lebih rutin dan cermat Telah diberikan teguran tertulis kepada Kepala Dinas Pendidikan melalui surat No. 700.04/1829/ Inspektorat tanggal 28 September 2009 perihal teguran dan penyelesaian tindak lanjut atas temuan dan rekomendasi hasil audit BPK-RI TA 2008 1 0 0 Rekomendasi Sesuai dengan Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Nilai Temuan 2008 2007 2006 2005

No

Temuan BPK

Belum Tidak Dapat Ditindaklanjuti Ditindakl dengan Alasan yang Sah anjuti 0

7

Realisasi Bantuan Keuangan program role sharing ke Komite Sekolah TA 2008 sebesar Rp30.010.000.000,00 Belum Dilaporkan Kepada Komite Sekolah

b. Memerintahkan kepada Kepala Dinas Pendidikan untuk memberikan teguran tertulis yang diikuti sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku di bidang kepegawaian kepada para Kepala UPTD di jajarannya supaya melaporkan mutasi aset sesuai dengan ketentuan yang berlaku 0

0

0

1

0

8 a. Memberikan teguran tertulis yang diikuti sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku di bidang kepegawaian kepada Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Kabupaten Garut supaya dalam mengusulkan anggaran kegiatan lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan masyarakan terlebih dahulu daripada pelayanan kepada instansi vertikal

Pengeluaran belanja modal pada instansi vertikal menambah beban anggaran Pemerintah Kabupaten Garut sebesar Rp864.279.000,00

0

1

0

b. Memberikan teguran tertulis yang diikuti sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku di bidang kepegawaian kepada Panitia Anggaran supaya lebih cermat dalam menyusun RAPBD

Telah diberikan teguran tertulis kepada Panitia Anggaran Kab. Garut melalui surat No. 700.04/1821/ Inspektorat tanggal 28 September 2009 perihal teguran dan penyelesaian tindak lanjut atas temuan dan rekomendasi hasil audit BPKRI TA 2008

1

0

0

0

9

SPJ atas Belanja Pembelian bahan bakar kendaraan pada Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan (BPLHK) belum memenuhi sebagai bentuk pertanggungjawaban yang tepat.

a. Memberikan teguran tertulis yang diikuti sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku di bidang kepegawaian kepada Kepala Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Garut supaya meningkatkan pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan anggaran

Telah diberikan teguran tertulis kepada Kepala Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan melalui surat No. 700.04/1830/ Inspektorat tanggal 28 September 2009 perihal teguran dan penyelesaian tindak lanjut atas temuan dan rekomendasi hasil audit BPK-RI TA 2008

1

0

0

0

b. Memerintahkan kepada Kepala Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan supaya memberikan teguran tertulis yang diikuti sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku di bidang kepegawaian kepada Bendahara dan PPTK untuk melaksanakan tugas secara cermat

0

0

1

0

332.242.301,00

9

0

8

0

Temuan Berulang Hasil Pemantauan Tindak Lanjut 2004 Rekomendasi Sesuai dengan Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut 0 0 Nilai Temuan 2008 2007 2006 2005

No

Temuan BPK

Belum Tidak Dapat Ditindaklanjuti Ditindakl dengan Alasan yang Sah anjuti 0

LKPD TA 2007 1 BPK RI Tidak dapat memperoleh Keyakinan Yang memadai atas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Garut Tahun 2007. a. Memberikan teguran tertulis dan menginstruksikan kepada Kepala BPKD Kabupaten Garut supaya melaksanakan penatausahaan dokumen pelaksanaan anggaran secara tertib dan melakukan rekonsiliasi data serta menyusun Laporan Keuangan Daerah sesuai SAP; 1 0 0 Telah diberikan teguran tertulis oleh Bupati Garut No.700.04/1359/Bawasda, Agustus 2008 1

b. Membuat teguran tertulis dan menginstruksikan kepada seluruh Kepala SKPD pada Pemerintah Kabupaten Garut untuk lebih meningkatkan kualitas penyusunan Laporan Keuangan SKPD sesuai SAP; Telah diberikan teguran tertulis oleh Bupati Garut No.700.04/1359/Bawasda, Agustus 2008 0 c. Mengambil langkah-langkah konkrit untuk meningkatkan kemampuan (kuantitas dan kualitas) SDM di bidang penyusunan laporan keuangan daerah baik pada BPKD maupun setiap SKPD. BPK RI menyarankan Wakil Bupati Garut agar memberikan tegura tertulis kepada para Kepala SKPD dan Bendahara Pengeluaran SKPD terkait agar melaksanakan pengelolaan keuangan sesuai ketentuan dan menginstruksikan kepada bendahara pengeluaran yang bersangkutan agar segera menyetor sisa kas TA 2007 ke kas daerah a. Memberikan teguran tertulis kepada Sekretaris Daerah, Kepala Kantor Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian dan Ketahanan Pangan serta Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Pertambangan yang tidak tertib dalam mengelola anggaran b. Memberikan teguran tertulis kepada Kepala Bidang Belanja Telah diberikan teguran pada BPKD Kabupaten Garut agar lebih cermat dalam tertulis oleh Bupati Garut pengendalian atas pencairan anggaran No.700.04/1359/Bawasda, Agustus 2008 c. Menginstruksikan Kepala Bawasda untuk meningkatkan pengawasan atas pelaksanaan anggaran Telah diberikan teguran tertulis oleh Bupati Garut No.700.04/1359/Bawasda, Agustus 2008 1

0

0

1

0

2

Saldo Kas Tahun Anggaran 2007 pada Bendahara Pengeluaran Sebesar Rp1.603.099.785,00 Terlambat Disetor Ke Kas Daerah

0

0

0

3

Realisasi Belanja Langsung Tahun Anggaran 2007 Pada Tiga Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Melampui Anggaran Sebesar Rp3.380.053.561,00

0

0

1

0

1

0

0

0

0

0

1

0

4 1 Telah diberikan teguran tertulis melalui surat No. 700.4/141/Bawasda tgl 29 Januari 2008 Telah diberikan teguran tertulis melalui surat No. 700.4/134/Bawasda tgl 29 Januari 2008 1

0 0 0

3 0 0

0 0 0

LKPD TA 2006 1 Penetapan Perda Tentang APBD dan Perubahan APBD TA 2006 Lambat

a. memperhatikan batas waktu penetapan APBD dalam menetapkan APBD dan Perubahan APBD b. menginstruksikan kepada Panitia Anggaran Eksekutif dan Legislatif supaya dalam menyusun APBD dan Perubahan APBD dilakukan secara tepat waktu BPK RI menyarankan kepada Bupati Garut agar memberikan teguran secara tertulis kepada Kepala Bagian Keuangan dan Kepala Subag Pembukuan supaya dalam melaksanakan pembukuan keuangan daerah sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. BPK RI menyarankan kepada Bupati Garut agar memberikan teguran secara tertulis kepada Kepala Bagian Keuangan dan Kepala Subag Pembukuan supaya dalam melaksanakan pembukuan keuangan daerah sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum

2

Proses Pembukuan Realisasi Anggaran TA 2006 Tidak Sesuai dengan Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum

1

0

0

0

3

Neraca Daerah Kabupaten Garut per 31 Desember 2006 Belum Dihasilkan dari Sistem Akuntansi yang Berlaku Umum

0

0

1

0

4

Status Pengelolaan Penginapan Cipanas Indah Tidak Jelas

a. memberikan teguran secara tertulis kepada Kepala Dinas Telah diberikan teguran Pariwisata tertulis Wakil Bupati Garut No.005/1421/Bawasda tgl 29

1

0

0

0

Temuan Berulang Hasil Pemantauan Tindak Lanjut 2004 No.005/1421/Bawasda tgl 29 Agustus 2007 1 1 0 0 0 0 1 0 0 Rekomendasi Sesuai dengan Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Nilai Temuan 2008 2007 2006 2005

No

Temuan BPK

Belum Tidak Dapat Ditindaklanjuti Ditindakl dengan Alasan yang Sah anjuti 0 0 0

5 Bukti tindak lanjut 445/802/BP RSU VIII/07 Bukti tindak lanjut 445/802/BP RSU VIII/07 0 0

Prosedur Pencatatan atas Penerimaan dan Pengeluaran RSU dr. Slamet Garut (RSUD) Belum Menjamin Tercatatnya Seluruh Penerimaan dan Pengeluaran ke dalam Laporan Realisasi APBD (LRA). BPK RI menyarankan kepada Bupati Garut agar memberikan teguran tertulis kepada Panitia Pengadaan Barang dan Jasa pada Dinas Kesehatan supaya cermat dan mentaati ketentuan yang berlaku dalam menjalankan tugas pengadaan barang dan jasa. BPK RI menyarankan kepada Bupati Garut agar memberikan teguran tertulis kepada Panitia Pemeriksa Barang dan Jasa pada Dinas Bina Marga supaya cermat dalam menjalankan tugas BPK RI menyarankan kepada Bupati Garut agar memberikan teguran tertulis kepada Kepala Dinas Pendapatan Daerah dan Kepada Kepala Seksi Pendataan dan Penetapan agar lebih intensif dalam melakukan pendataan tingkat hunian Hotel Tirta Gangga BPK RI menyarankan kepada Bupati Garut agar memberikan teguran tertulis kepada Kepala Bagian Keuangan Sekretariat Daerah Kabupaten Garut yang tidak cermat dalam melaksanakan tugasnya. 4.786.683.398,50 Bupati Garut memerintahkan kepada Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Garut supaya melakukan koordinasi Pendapatan Bagi Hasil Pajak Provinsi dengan Pemerintah Propinsi Jawa Barat dengan membuat surat permintaan mengenai Bagi Hasil Pajak Propinsi TA 2005 sesuai dengan hak Kabupaten Garut. Bupati telah memerintahkan Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kab. Garut dengan surat Nomor.700.04/1379/Bawasda tanggal 22 Agustus 2006. Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kab. Garut telah melakukan koordinasi dengan Pemprov Jabar sesuai dengan surat Nomor.973/1485/Dispenda tanggal 29 Desember 2006. Telah diberikan teguran tertulis melalui surat No. 700.4/134/Bawasda tgl 29 Januari 2008 0 0 0

b. memerintahkan untuk memperbaiki sistem pengelolaan UPTD Cipanas Indah a. Memberikan teguran secara tertulis kepada Kepala BP RSUD supaya cermat dalam melaksanakan tugas b. Menyampaikan bukti-bukti penerimaan dan pengeluaran masing-masing sebesar Rp5.298.529.164,00 dan Rp4.491.772.935,00 1

6

Panitia Pengadaan Barang dan Jasa pada Dinas Kesehatan Kabupaten Garut TA 2006 Tidak Efektif

0

7

Panitia Pemeriksa Barang dan Jasa pada Dinas Bina Marga Kabupaten Garut TA 2006 Tidak Efektif

1

0

8

Pendataan Tingkat Hunian Hotel Tirta Gangga yang Digunakan Untuk Menetapkan Besarnya Pajak Tidak Dapat Diyakini Kewajarannya

0

1

0

9

Pencatatan dan Pelaporan Dana Alokasi Khusus Belum Diklasifikasikan Sesuai dengan Keadaan yang Sebenarnya

1

0

0

0

8 0

0 1

4 0

0

LKPD TA 2005 1 Realisasi Bagi Hasil Pajak Propinsi Dari PKB/BBNKB, PBBKB dan Pajak Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan Kurang Diterima Sebesar Rp4.786.683.398,50

2

Penyetoran Atas Penerimaan Pajak Hotel, Pajak Restoran, dan Pajak Reklame TA 2005 Oleh Bendahara Penerima Tidak Sesuai Ketentuan Sebesar Rp448.949.805,15

a. Memberikan teguran tertulis kepada Kepala Dinas Bupati Garut telah menegur Pendapatan Daerah Kabupaten Garut untuk lebih intensif Kepala Dinas Pendapatan dalam melakukan pengawasan. Kabupaten Garut dengan surat Nomor.700.04/1379/Bawasda tanggal 22 Agustus 2006.

1

0

0

0

Temuan Berulang Hasil Pemantauan Tindak Lanjut 2004 b. Memerintahkan kepada Kepala Dinas Pendapatan Daerah untuk memberikan teguran tertulis kepada Bendahara Penerima supaya dalam menyetorkan pendapatan daerah yang diterimanya dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku, yaitu paling lambat satu hari kerja berikutnya setelah pendapatan diterima. Bupati telah memerintahkan Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Garut untuk memberikan teguran kepada Bendahara Penerima dengan surat No.700.04/1379/Bawasda tanggal 22 Agustus 2006. 0 1 0 Rekomendasi Sesuai dengan Rekomendasi Tindak Lanjut Entitas yang Diperiksa Belum Sesuai dan Dalam Proses Tindak Lanjut Nilai Temuan 2008 2007 2006 2005

No

Temuan BPK

Belum Tidak Dapat Ditindaklanjuti Ditindakl dengan Alasan yang Sah anjuti 0

3 39.000.000,00 a. Memberikan teguran tertulis kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Pemimpin Pelaksana Kegiatan untuk lebih optimal dalam melaksanakan tanggung jawabnya dan melakukan koordinasi dengan Dinas Bangunan dan Permukiman dalam pemungutan IMB. Bupati telah menegur Kepala Dinas Pendidikan Kab. Garut dan Pinlak dengan surat No.700.04/1387/Bawasda tanggal 22 Agustus 2006. Bukti pemungutan IMB dari 65 SDN senilai Rp39.000.000,00 lengkap namun belum disetorkan ke Kas Daerah.

Retribusi Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) Pada Rehabilitasi Gedung SD yang Dilaksanakan Dinas Pendidikan Kabupaten Garut TA 2005 Belum Dibayar Sebesar Rp39.000.000,00

0

1

0

0

b. Memerintahkan kepada Kepala Dinas Bangunan dan Bupati telah Permukiman untuk lebih intensif dalam melakukan menginstruksikan kepada pemungutan retribusi IMB. Kepala Dinas Bangunan dan Permukiman Kab. Garut dengan surat No.700.04/1386/Bawasda tanggal 22 Agustus 2006. 4.825.683.398,50 13.301.900,00 Bupati Kabupaten Garut memerintahkan Kepala Kantor Catatan Sipil untuk memberikan teguran tertulis kepada Kepala Bagian Tata Usaha agar meningkatkan pengawasan/pengendalian terhadap rincian penyetoran yang dilakukan oleh Kasir Penerimaan dan Kasir Penerimaan atas kelalaiannya dalam melaksanakan tugasnya. Atas Hal tersebut Bupati Kabupaten Garut telah menegur Kepala Badan KB, Kependudukan dan Catatan Sipil Kab. Garut melaui surat N0.700/1324/Bawasda tanggal 29 Juli 2005 dan Kepala Badan KB, Kependudukan dan Catatan Sipil Kab. Garut juga telah memberikan teguran kepada Kasir melalui surat No.700/820 BKBKCS/2005 tanggal 13 September 2005 agar kelalaian tersebut tidak terjadi lagi.

1

0

0

0

2 1

3 0

0 0

0 0

LKPD TA 2004 1 Retribusi Kartu Tanda Penduduk (KTP) Kurang Disetor Ke Kas Daerah Sebesar Rp13.301.900,00

Total

13.301.900,00 8.857.422.818,50

1 29

0 9

0 16

0 0

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->