SIKAP DAN ETIKA BERTOLERANSI AGAMA DI NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Agama Dosen Pembimbing: Drs. Purwanto Nur Chamid, M.Pd. Tahun Akademik 2011/2012

Disusun oleh:

    Kelompok Tingkat

Ajeng Melina Hafid Mutiara Sani Septiani Saryono Sudirman

: III (Tiga) : I B (Satu B)

POLTEKKES KEMENKES BANDUNG
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN TANGERANG TANGERANG - BANTEN
2011/2012
KATA PENGANTAR
1

penulis dibantu oleh beberapa pihak. H.Wb. September 2011 Penulis DAFTAR ISI 2 .Assalamu’alaikum Wr. Teman . Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. selaku Ketua Program Studi Keperawatan Tangerang sekaligus koordinator Mata Kuliah Agama. M. dan para sahabatnya. Bpk.teman tingkat I tahun akademik 2011/2012 yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.Pd. Tangerang. Drs. khususnya bagi penulis. Purwanto Nurchamid. oleh karena itu untuk mencapai kesempurnaan. oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada : 1. 2. Nasihin M. selaku Dosen Pembimbing Mata Kuliah Agama Islam. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Agama dan untuk memperdalam pengetahuan penulis tentang “Sikap dan Etika Bertoleransi Agama di Negara Republik Indonesia”. mudah-mudahan kita mendapatkan manfaatnya. Teristimewa bagi orang tua dan keluarga penulis yang tiada hentinya memberikan dukungan baik secara moril maupun materil. Drs. Bpk. Dalam penyusunan makalah ini. 3. Salawat dan salam selalu di limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Penyusun mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT. penulis mengharapkan kritik serta saran dari Ibu/Bapak Dosen serta pembaca.Kes. 4. Yang telah mengaruniakan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Amin.

....2.............................................................................1............................2..... Latar Belakang Masalah...................... 2........... 1......... Kesimpulan....5.......................... i ii 1 1 1 2 2 3 10 11 14 14 15 3 ................ BAB II PEMBAHASAN 2...... Hubungan Negara dan Agama Dalam Pancasila dan UUD 1945............ 2.......................................... 3............................. Rumusan Masalah....................... 2............. DAFTAR ISI.................................................. Jaminan Kebebasan dan Toleransi Beragama di Indonesia......................................................1.... BAB I PENDAHULUAN 1.....................................................3...................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA................KATA PENGANTAR.........................1......... Toleransi Beragama...........................4.............3................ 1..........................2....................... Sikap Beragama....................... Tujuan Penulisan.......................... BAB III PENUTUP 3................................................................................................................................................................ Saran................................................................................................ Etika Beragama............................. 2.......

Tujuan Penulisan a. b. Latar Belakang Masalah Kebebasan beragama telah dijamin oleh Negara seperti tercantum dalam pancasila nomor satu yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Rumusan Masalah a. Oleh karena itu prinsip kebebasan beragama di Indonesia merupakan masalah bersama yang masih harus diperjuangkan secara terus menerus oleh semua pihak. Untuk mengetahui etika beragama. 1. Oleh karena itu kami diberikan kesempatan untuk menulis makalah tentang “Sikap dan Etika Bertoleransi Agama di Negara Republik Indonesia”. hanya saja kenyataannya masih sering terjadi pelanggaran atas prinsip kebebasan beragama di Indonesia. Mendeskripsikan sikap beragama. 1.3. Mendeskripsikan etika beragama. selain itu juga ada Undang-undang yang mengatur tentang beragama atau kepercayaan. Untuk mengetahui toleransi beragama.1. 4 . c.2. Untuk mengetahui sikap beragama. c.BAB I PENDAHULUAN 1. b. Mendeskripsikan toleransi beragama.

Pengertian Etika Beragama Dari segi etimologi (ilmu asal usul kata). Akan tetapi berbeda dengan ilmu-ilmu lain yang meneliti juga tingkah laku manusia. Adapun Jenis-jenis Etika adalah sebagai berikut: 5 . Namun demikian perbuatan yang akan dilakukan manusia biasanya tergantung apa permasalahannya serta benar benar berdasarkan keyakinan atau kepercayaannya masing-masing. etika normatif (studi penentuan nilai etika). Secara metodologi.J.BAB II PEMBAHASAN 2. 2. etika memiliki sudut pandang normatif.2. Karena itulah etika merupakan suatu ilmu. Jadi.2.1.2. Etika memerlukan sikap kritis.1. Etika terbagi menjadi tiga bagian utama: meta-etika (studi konsep etika). dan etika terapan (studi penggunaan nilai-nilai etika). Sebagai suatu ilmu. metodis. etika mengalami kesulitan. Sedangkan etika menurut filsafat dapat disebut sebagai ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dengan memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran. 2. yaitu melihat perbuatan manusia dari sudut baik dan buruk . tingkah laku manusia dimasyarakat dengan cara saling menghormati walaupun berbeda agama. Pada dasarnya.etika membahasa tentang tingkah laku manusia. dan sistematis dalam melakukan refleksi. Sikap Beragama Menurut kamus bahasa Indonesia oleh W. Poerwodarminto pengertian sikap adalah perbuatan yang didasari oleh keyakinan berdasarkan norma-norma yang ada di masyarakat dan biasanya norma agama.2. Akan tetapi dalam usaha mencapai tujuan itu. objek dari etika adalah tingkah laku manusia. etika berasal dari bahasa yunani. ethos yang berarti watak kesusilaan atau adat. Tujuan Etika Beragama Tujuan etika dalam pandangan filsafat ialah mendapatkan ide yang sama bagi seluruh manusia disetiap waktu dan tempat tentang ukuran tingkah laku yang baik dan buruk sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran manusia. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia etika berarti ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral). karena pandangan masing-masing golongan dunia ini tentang baik dan buruk mempunyai ukuran (kriteria) yang berlainan. Sedangkan etika beragama adalah. sikap beragama adalah keyakinan yang ada di masyarakat sesuai dengan norma yang berlaku.S. tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan sebagai etika. Etika Beragama 2.

Toleransi (Arab: as-samahah) adalah konsep modern untuk menggambarkan sikap saling menghormati dan saling bekerjasama di antara kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda baik secara etnis. toleransi yaitu bersifat atau bersikap menenggang (menghargai. Etika Teologis Terdapat dua hal-hal yang berkait dengan etika teologis. antara agama yang satu dengan yang lain dapat memiliki perbedaan di dalam merumuskan etika teologisnya.1. politik. kepercayaan. Toleransi. termasuk agama Islam. etika teologis bukan hanya milik agama tertentu. kebiasaan. bahasa. toleransi berasal dari kata “toleran” (Inggris: tolerance. pandangan. toleransi beragama adalah ialah sikap sabar dan menahan diri untuk tidak mengganggu dan tidak melecehkan agama atau system keyakinan dan ibadah penganut agamaagama lain. merupakan konsep agung dan mulia yang sepenuhnya menjadi bagian organik dari ajaran agama-agama. etika teologis merupakan bagian dari etika secara umum. Secara etimologi. 2. dan dapat dimengerti setelah memahami etika secara umum. toleransi adalah kesabaran. dsb) yang berbeda dan atau yang bertentangan dengan pendiriannya. 2. 2. Jadi.1. Setiap agama dapat memiliki etika teologisnya yang unik berdasarkan apa yang diyakini dan menjadi sistem nilai-nilai yang dianutnya. maupun agama.3. karena itu banyak unsur-unsur di dalamnya yang terdapat dalam etika secara umum. budaya. “Tidak ada paksaan dalam agama” . Arab: tasamuh) yang berarti batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan. Etika Filosofis Etika filosofis secara harfiah dapat dikatakan sebagai etika yang berasal dari kegiatan berfilsafat atau berpikir yang dilakukan oleh manusia. Toleransi Beragama Pengertian Toleransi Beragama Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia. dan kelapangan dada. membolehkan) pendirian (pendapat. etika teologis dapat didefinisikan sebagai etika yang bertitik tolak dari presuposisi-presuposisi teologis.3. Definisi tersebut menjadi kriteria pembeda antara etika filosofis dan etika teologis. membiarkan. Kedua. karena itu. ketahanan emosional. Sedangkan menurut istilah (terminology). Secara umum. “Bagi kalian agama kalian. melainkan setiap agama dapat memiliki etika teologisnya masingmasing. Dalam hal ini. dan bagi kami agama kami” 6 . Pertama. Dalam konteks toleransi antar-umat beragama. Islam memiliki konsep yang jelas.

Juga sejumlah hadis dan praktik toleransi dalam sejarah Islam. Al-Qur’an tidak pernah menyebut-nyebut kata tasamuh/toleransi secara tersurat hingga kita tidak akan pernah menemukan kata tersebut termaktub di dalamnya. warna kulit. secara eksplisit al-Qur’an menjelaskan konsep toleransi dengan segala batasan-batasannya secara jelas dan gambling. Makalah berikut akan mengulas pandangan Islam tentang toleransi. sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa .2. Namun. adat-istiadat. maka toleransi antar-umat beragama dalam Islam memperoleh perhatian penting dan serius. dan lingkungan hidup. Selain ayat-ayat itu. Kemudian rumusan-rumusan ini disempurnakan oleh para ulama dengan pengayaan-pengayaan baru sehingga akhirnya menjadi praktik kesejarahan dalam masyarakat Islam. Menurut ajaran Islam. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. tetapi juga terhadap alam semesta. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. teori maupun praktik toleransi dalam kehidupan manusia. Ulasan ini dilakukan baik pada tingkat paradigma. ayat-ayat yang menjelaskan tentang konsep toleransi dapat dijadikan rujukan dalam implementasi toleransi dalam kehidupan. Al-Hujurat ayat 13: Hai manusia. primordial. Dengan makna toleransi yang luas semacam ini. Landasan dasar pemikiran ini adalah firman Allah dalam QS. toleransi bukan saja terhadap sesama manusia. serta agama.3. Toleransi adalah bagian integral dari Islam itu sendiri yang detail-detailnya kemudian dirumuskan oleh para ulama dalam karyakarya tafsir mereka.bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. bahasa. Ini semua merupakan fitrah dan sunnatullah yang sudah menjadi ketetapan Tuhan. binatang. Apalagi toleransi beragama adalah masalah yang menyangkut eksistensi keyakinan manusia terhadap Allah. budaya. banyak ayat lain yang tersebar di berbagai Surah. Konsep Toleransi dalam Islam Toleransi mengarah kepada sikap terbuka dan mau mengakui adanya berbagai macam perbedaan. bahasa. 2. doktrin. Fakta-fakta historis itu menunjukkan bahwa masalah toleransi dalam Islam bukanlah konsep asing. Ia begitu sensitif. (Al-Hujurat : 13) 7 . baik dari sisi suku bangsa. dan mudah membakar konflik sehingga menyedot perhatian besar dari Islam.adalah contoh populer dari toleransi dalam Islam. Oleh karena itu.

Islam secara definisi adalah “damai”. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” Di bagian lain Allah mengingatkan. Ayat ini menegaskan bahwa pada dasarnya umat manusia itu tunggal tapi kemudian mereka berpencar memilih keyakinannya masing-masing.Qur’an Allah berfirman yang artinya. Konsekuensi dari prinsip ini adalah lahirnya spirit taqwa dalam beragama. tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Ini mengartikulasikan bahwa Islam memahami pilihan keyakinan mereka sekalipun Islam juga menjelaskan “sesungguhnya telah jelas antara yang benar dari yang bathil”. Saling menghargai dalam iman dan keyakinan adalah konsep Islam yang amat komprehensif.Secara doktrinal. “selamat” dan “menyerahkan diri”. yaitu umat yang tunggal. yaitu sikap tidak menyekutukan Allah dengan selain-Nya. Persaudaran universal adalah bentuk dari toleransi yang 8 . karena itu tak mungkin disamakan. Definisi Islam yang demikian sering dirumuskan dengan istilah “Islam agama rahmatal lil’alamîn” (agama yang mengayomi seluruh alam). yang artinya: “Sesungguhnya ini adalah umatmu semua (wahai para rasul). ‘Wahai Ahli Kitab! Marilah menuju ke titik pertemuan (kalimatun sawa atau common values) antara kami dan kamu. yaitu bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak pula memperserikatkan-Nya kepada apa pun. maka sembahlah olehmu sekalian akan Daku (saja). Islam menawarkan dialog dan toleransi dalam bentuk saling menghormati. dan yang paling dicintainya adalah yang paling bermanfaat bagi sesama tanggungannya”). dan bahwa sebagian dari kita tidak mengangkat sebagian yang lain sebagai “tuhan-tuhan” selain Allah!” Ayat ini mengajak umat beragama (terutama Yahudi. Selain itu. Ayat ini juga mengajak untuk sama-sama menjunjung tinggi tawhid. Dalam al. Kristiani. Islam menyadari bahwa keragaman umat manusia dalam agama dan keyakinan adalah kehendak Allah. hadits Nabi tentang persaudaraan universal juga menyatakan. yaitu ‘menjauhi konflik’. dan aku adalah Tuhanmu. “irhamuu man fil ardhi yarhamukum man fil sama” (sayangilah orang yang ada di bumi maka akan sayang pula mereka yang di lanit kepadamu). ““dan Jikalau Tuhanmu menghendaki. yang artinya: “Katakan olehmu (ya Muhamad). di Surah Yunus Allah menandaskan lagi. Abu Ju’la dengan amat menarik mengemukakan. dan Islam) menekankan persamaan dan menghindari perbedaan demi merengkuh rasa saling menghargai dan menghormati. Jadi. Ini berarti bahwa Islam bukan untuk menghapus semua agama yang sudah ada. toleransi sepenuhnya diharuskan oleh Islam. “Al-khalqu kulluhum ‘iyalullahi fa ahabbuhum ilahi anfa’uhum li’iyalihi” (“Semu makhluk adalah tanggungan Allah. Karena taqwa kepada Allah melahirkan rasa persaudaraan universal di antara umat manusia. ayat ini dengan amat jelas menyuguhkan suatu konsep toleransi antar-umat beragama yang didasari oleh kepentingan yang sama. Selanjutnya.

menunjukkan bahwa baik al-Qur’an maupun Sunnah Nabi secara otentik mengajarkan toleransi dalam artinya yang penuh. yang dianggap seluruh kaum Muslim sebagai suatu yang sentral dalam sejarah moral umat manusia. maka Allah (nanti) pasti akan membongkar aibnya di hari pembalasan”. dan kebaikan manusia merupakan konsekuensi alamiah dari prinsip ini. dan kerja sama yang saling menguntungkan serta menegasikan semua keburukan. Di antara butir-butir yang menegaskan toleransi beragama adalah sikap saling menghormati di antara agama yang ada dan tidak saling menyakiti serta saling melindungi anggota yang terikat dalam Piagam Madinah. perdamaian. menajdi prinsip yang sangat kuat di dalam Islam. Namun.Baihaqi. prinsip yang mengakar paling kuat dalam pemikiran Islam yang mendukung sebuah teologi toleransi adalah keyakinan kepada sebuah agama fitrah. Dilihat dari argumen-argumen di atas. yang tertanam di dalam diri semua manusia. Di sini. karena semua benih umat manusia berasal dari sulbi anak-anak Adam. al-Qur’an menyatakan yang artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu ke arah agama menurut cara (Alla). sebagai bagian dari inti toleransi. Tolong-menolong. atas dasar mana Dia menciptakan manusia…” Mufassir Baidhawi terhadap ayat di atas menegaskan bahwa kalimat itu merujuk pada perjanjian yang disepakati Adam dan keturunanya. Dalam hal ini. Ini jelas berbeda dengan gagasan dan praktik toleransi yang ada di barat. Sebagai contoh. Penegasan Baidhawi sangat relevan jika dikaitkan dengan hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari. al. yang alamiah sesuai dengan pola pemberian (fitrah) Allah. Fakta historis toleransi juga dapat ditunjukkan melalui Piagam Madinah. Dalam persaudaraan universal juga terlibat konsep keadilan. Perjanjian ini dibuat dalam suatu keadaan. Sikap melindungi dan saling tolong-menolong tanpa mempersoalkan perbedaan keyakinan juga muncul dalam sejumlah Hadis dan praktik Nabi. Toleransi di barat lahir karena perang9 . Bahkan sikap ini dianggap sebagai bagian yang melibatkan Tuhan. saling tolong-menolong di antara sesama umat manusia muncul dari pemahaman bahwa umat manusia adalah satu badan. dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dalam Syu’ab al-Imam. Persaudaraan ini menyebabkan terlindunginya hak-hak orang lain dan diterimanya perbedaan dalam suatu masyarakat Islam. dikatakan: “Siapa yang membongkar aib orang lain di dunia ini.diajarkan Islam. Nabi ditanya: “Agama yang manakah yang paling dicintai Allah?’ Beliau menjawab “agama asal mula yang toleran (al-hanîfiyyatus samhah). Piagam ini adalah satu contoh mengenai prinsip kemerdekaan beragama yang pernah dipraktikkan oleh Nabi Muhamad SAW di Madinah. dan kehilangan sifat kemanusiaannya bila mereka menyakiti satu sama lain. karya seorang pemikir abad ke-11.

Dalam QS. tidak mencari-cari kesalahan orang lain. Sikap toleransi dimulai dengan cara membangun kebersamaan atau keharmonisan dan menyadari adanya perbedaan.4. dan memerintahkan untuk melakukan ishlah (perbaikan hubungan) jika seandainya terjadi kesalahpahaman diantara 2 orang atau kelompok kaum muslim. Untuk mengembangkan sikap toleransi secara umum. 2. toleransi hendaknya dapat dimaknai sebagai suatu sikap untuk dapat hidup bersama masyarakat penganut agama lain. kehidupan bertetangga dan bermasyarakat. tanpa adanya paksaan dan tekanan. karena toleransi yang paling hakiki adalah sikap kebersamaan antara penganut keagamaan dalam praktek social. Al-Hujurat ayat 12 juga memerintahkan orang mu’min untuk menghindari prasangka buruk. Allah menyatakan bahwa orang-orang mu’min bersaudara. serta menggunjing.3. Latar belakang itu menghasilkan kesepakatan-kesepakatan di bidang Toleransi Antar-agama yang kemudian meluas ke aspek-aspek kesetaraan manusia di depan hukum. Sikap toleransi antar umat beragama bisa dimulai dari hidup bertetangga baik dengan tetangga yang seiman dengan kita atau tidak. Dan menyadari pula bahwa kita semua adalah bersaudara. serta bukan hanya sekedar pada tataran logika dan wacana. dengan memiliki kebebasan untuk menjalankan prinsip-prinsip keagamaan (ibadah) masingmasing. 2.3. Hal ini telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Dalam konteks pendapat dan pengamalan agama. Sikap toleransi itu direfleksikan dengan cara saling menghormati. Maka akan timbul rasa kasih saying. Al-Hujurat ayat 10. saling pengertian dan pada akhirnya akan bermuara pada sikap toleran. dapat kita mulai terlebih dahulu dengan bagaimana kemampuan kita mengelola dan mensikapi perbedaan (pendapat) yang (mungkin) terjadi pada keluarga kita atau pada keluarga/saudara kita sesama muslim. 10 . ketika suatu saat beliau dan para sahabat sedang berkumpul.perang agama pada abad ke-17 telah mengoyak-ngoyak rasa kemanusiaan sehingga nyaris harga manusia jatuh ke titik nadir. saling memuliakan dan saling tolong-menolong. yang diibaratkan al-Qur’an seperti memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal dunia. baik untuk beribadah maupun tidak beribadah. Hal demikian dalam tingkat praktek-praktek social dapat dimulai dari sikap bertetangga. Hubungan antara Toleransi dengan Mu’amalah antar Umat Beragama (Non-Muslim) Dalam kaitannya dengan toleransi antar umat beragama. al-Qur’an secara tegas memerintahkan orangorang mu’min untuk kembali kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnah). Al-Qur’an memberikan contoh-contoh penyebab keretakan hubungan sekaligus melarang setiap muslim melakukannya.3. dari satu pihakl ke pihak lain. Hubungan Antara Toleransi dengan Ukhuwah (persaudaraan) Sesama Muslim Dalam QS.

al-Qur’an menegaskan bahwa umat islam tetap berpegang teguh pada system ke-Esaan Allah secara mutlak. untukmu agamamu." Bahwa prinsip menganut agama tunggal merupakan suatu keniscayaan. Oleh sebab itu. Seorang sahabat berkata: “Bukankah mereka orang Yahudi wahai rasul?” Nabi saw. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. melainkan Tuhan SWT dan tidak ada kompromi serta sikap toleran di dalamnya.lewatlah rombongan orang Yahudi yang mengantar jenazah. 6. Dalam masa kehidupan dunia. Dalam ayat lain Allah juga menjelaskan tentang prinsip dimana setiap pemeluk agama mempunyai system dan ajaran masing-masing sehingga tidak perlu saling hujat menghujat. Maka dengan sendirinya kita tidak sah memaksa kehendak kita kepada orang lain untuk menganut agama kita. 11 . Nabi saw. semua haruslah kerjasama untuk mencapai keadilan. Sedangkan kita bermu’amalah dari sisi kemanusiaan kita. 3. atau mengamalkan ajaran dari berbagai agama secara simultan. dan untukkulah. Al-Qur’an menganjurkan agar dalam interaksi social. bahwa sisi akidah atau teologi bukanlah urusan manusia. Sedangkan untuk urusan akhirat. bila tidak dotemukan persamaan. 4. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir. al-Qur’an menjelaskan pada surat al-kafirun:                                           1. Tidak mungkin manusia menganut beberapa agama dalam waktu yang sama. juga sebaliknya. langsung berdiri memberikan penghormatan. persamaan dan kesejahteraan manusia. 5. Pada taraf ini konsepsi tidak menyinggung agama kita dan agama selain kita. sedabgkan orang kafir pada ajaran ketuhanan yang ditetapkannya sendiri. dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. tapi mereka manusia juga”. 2. aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. menjawab “Ya. Jadi sudah jelas. Al-Qur’an juga menganjurkan agar mencari titik temu dan titik singgung antar pemeluk agama. dan untuk urusan dunia. Mengenai system keyakinan dan agama yang berbeda-beda. agamaku. urusan petunjuk dan hidayah adalah hak mutlak Tuhan SWT.

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil. (QS. sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. Jalinan persaudaraan dan toleransi antara umat beragama sama sekali tidak dilarang oleh Islam. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (QS. Al-Qur’an juga berpesan dalam QS An-Nahl ayat 125 agar masing-masing agama mendakwahkan agamanya dengan cara-cara yang bijak. Sesudah golongan-golongan yang bersekutu itu kocar-kacir. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Saba:25). kemudian seluruh laki-laki yang ikut berperang dibunuh. (QS. Supaya Allah memberikan Balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya. perempuan dan anak-anak ditawan. dan ummatnya untuk menyampaikan kepada penganut agama lain setelah kalimat sawa’ (titik temu) tidak dicapai. (lagi) mereka tidak memperoleh Keuntungan apapun. Bahkan al-Qur’an mengajarkan kepada Nabi Muhammad saw. Hubungan Negara dan Agama Dalam Pancasila dan UUD 1945 12 . (QS. Maka Allah memerintahkan Nabi untuk menghancurkan Bani Quraizhah (ahli Kitab) dan menghalau mereka dari benteng-benteng mereka. Dan Dia menurunkan orang-orang ahli kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka. Al-Mumtahanah: 8). dan adalah Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa. dan Dia memesukkan rasa takut ke dalam hati mereka. 2. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orangorang yang mendapat petunjuk. dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. (QS An-Nahl:125).4. karena Allah telah menghalau mereka dengan mengirimkan angin dan malaikat. Saba:26). Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu.hendaknya masing-masing mengakui keberadaan pihak lain dan tidak perlu saling menyalahkan. atau menerima taubat mereka. dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya. Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang Keadaan mereka penuh kejengkelan. selama masih dalam tataran kemanusiaan dan kedua belah pihak saling menghormati hak-haknya masing-masing. Maksudnya orang mukmin tidak perlu berperang. Saba:24).

melainkan juga didakwahkan kepada orang lain. menerima dan mengakui kebebasan beragama. “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa” juga harus dimaknai bahwa negara melarang ajaran atau paham yang secara terang-terangan menolak Ketuhanan Yang Maha Esa. negara bagi rakyat.“Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa” [Pasal 29 ayat (1) UUD 1945] serta penempatan “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai sila pertama Pancasila. Sebaliknya. Jaminan Kebebasan dan Toleransi Beragama di Indonesia Indonesia adalah Negara yang tidak perlu diragukan lagi dalam menjamin. Kata “tidak menjamin” ini sudah sangat dekat dengan pengertian “tidak membolehkan”. terutama jika atheisme itu hanya tidak dianut secara personal.5. negara bagi rakyat. Sila pertama dalam Pancasila ”Ketuhanan Yang Maha Esa” menjadi faktor penting untuk mempererat persatuan dan persaudaraan. 2. Ketetapan MPRS No. 3. seperti komunisme dan atheisme. karena sejarah bangsa Indonesia penuh dengan penghormatan terhadapa nilai – nilai ”Ketuhanan Yang Maha Esa”. bahkan menempatkannya sebagai sesuatu yang konstitutif dan mengikat dalam suatu aturan. dan negara oleh rakyat. 2. Seminar Pancasila ke-1 Tahun 1959 di Yogyakarta berkesimpulan bahwa sila ”Ketuhanan Yang Maha Esa” adalah sebab yang pertama atau causa prima dan sila ”Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan” adalah kekuasaan rakyat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara untuk melaksanakan amanat negara dari rakyat. Ini berarti. XXV Tahun 1966 tentang Larangan Setiap Kegiatan untuk Menyebarkan atau “Negara menjamin Mengembangkan Faham atau Ajaran Komunis/Marxisme Leninisme masih tetap relevan dan kontekstual. Pasal 29 ayat 2 UUD bahwa kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing …” bermakna bahwa negara hanya menjamin kemerdekaan untuk beragama. dan negara oleh rakyat. negara tidak menjamin kebebasan untuk tidak beragama (atheis). yaitu : 1. Karena itu. sehingga diperlukan persatuan dan persaudaraan di antara komponen bangsa. Hanya saja dalam pembuatan aturan hukum khususnya aturan 13 . mempunyai beberapa makna. ”Ketuhanan Yang Maha Esa” harus menjadi landasan dalam melaksanakan pengelolaan negara dari rakyat. Pancasila lahir dalam suasana kebatinan untuk melawan kolonialisme dan imperialisme.

Hukum harus bersamaan membangun demokrasi dan nomokrasi. c. Hukum Indonesia harus bertujuan dan menjamin integritas bangsa baik secara territorial maupun ideologis. menyatakan pikiran dan sikap sesuai dengan hati nuraninya”. bukan bentuk intervensi terhadap kebebasan berpikir dan berkeyakinan supaya mencapai pemahaman yang benar dan menghindarkan diri dari peluang membuat aturan hukum yang justru tidak sejalan dengan Indonesia sebagai Negara yang berPancasila. Membangun keadilan sosial. tetapi tidak dalam hak kebebasan beragama dan berkeyakinan. Hukum – hukum di Indonesia tidak boleh memuat isi yang berpotensi menyebabkan terjadinya disintegrasi wilayah maupun ideologi. tetapi Negara harus memfasilitasi. Membangun toleransi beragama dan berkeadaban. Hukum tidak boleh mengistimewakan atau mendiskimasi kelompok tertentu berdasarkan besar atau kecilnya pemelukan agama karena Indonesia bukan Negara agama dan juga bukan Negara sekuler.mengenai agama diperlukan konsistensi dan mengacu pada Pancasila yang telah menggariskan empat kaidah penuntun hukum nasional. Agar lebih menjamin terbentuknya hukum soal agama yang sesuai dengan kaidah – kaidah Pancasila. diantaranya : a. Hukum di Indonesia tidak dapat dibuat berdasar menang – menangan jumlah pendukung semata tetapi juga harus mengalir dari filosofi Pancasila dan prosedur yang benar. maka prinsipnya Negara boleh membuat pengaturan maupun pembatasan sekalipun terkait dengan kebebasan bertindak atau freedom to act. melindungi dan menjamin keamanannya dalam melaksanakan ajaran agama karena keyakinan dan kesadarannya sendiri. Hukum Negara tidak dapat mewajibkan berlakunya hukum agama. 14 . Ayat (2) : “Setiap orang berhak atas kebebasan menyakini kepercayaan. Pada prinsipnya jaminan kebebasan beragama atau berkeyakinan dapat dilihat sebagai berikut : a. d. UUD 1945 Pasal 28 E. Pengaturan Negara dalam kehidupan beragama semata – mata dalam rangka memberikan perlindungan kepada warga Negara. b. Tidak dibenarkan munculnya hukum – hukum yang mendorong atau membiarkan terjadinya jurang sosial ekonomi karena eksploitasi oleh yang kuat terhadap yang lemah tanpa perlindungan Negara. ayat (1) : “Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya”. Hukum harus mampu menjaga agar yang lemah tidak dibiarkan menghadapi sendiri pihak yang kuat yang sudah pasti akan selalu dimenangkan oleh yang kuat.

Hal ini dapat dibuktikan dalam sejarah perkembangan agama di Indonesia. dan kebebasan baik secara individu maupun bersama – sama dengan orang lain. 15 . Budha dan Khonghucu (Confucius). 39 tahun 1999 tentang HAM Pasal 22 Ayat (1) : “Setiap orang bebas memeluk agamanya masing – masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Hak ini mencakup kebebasan untuk menganut atau menerima suatu agama atau kepercayaan atas pilihannya sendiri. 12 Tahun 2005 Tentang Pengesahan Kovenan International Tentang Hak – Hak Sipil Politik Pasal 18 ayat (1) : “Setiap orang berhak atas kebebasan berpikir. UU No. Ayat (2) : “Negara menjamin kemerdekaan setiap orang memeluk agamanya masing – masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. pada penjelasan Pasal 1 berbunyi : “Agama – agama yang dipeluk oleh penduduk Indonesia ialah Islam. Hindu. UU No. Kristen. berkeyakinan dan beragama. 5/1969 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama. Ayat (2) : “Tidak seorang pun boleh dipaksa sehingga mengganggu kebebasannya untuk menganut atau menerima suatu agama atau kepercayaannya sesuai dengan pilihannya”. d. ayat (2) : “Negara menjamin kemerdekaan tiap – tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing – masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. c. pengamalan dan pengajaran”. e.b. Karena 6 macam Agama ini adalah agama – agama yang dipeluk hampir seluruh penduduk Indonesia. UUD 1945 Pasal 29. Katolik. ketaatan. dan baik di tempat umum atau tertutup untuk menjalankan agama atau kepercayaan dalam kegiatan ibadah. jo. UU No. maka kecuali mereka mendapat jaminan seperti yang diberikan oleh pasal 29 ayat 2 UUD juga mereka mendapat bantuan – bantuan dan perlindungan seperti yang diberikan oleh pasal ini”. 1/PNPS/1965. UU No.

a.1. e. Artinya tidak asing lagi dan bahkan menentukan baik dan buruk. Toleransi dalam Islam adalah otentik. menghormati dan saling toleran terhadap semua agama yang ada di Indonesia ini untuk menciptakan rakyat yang damai sejahtera. c. 16 . Toleransi beragama perlu diadakan. b. maka toleransi di dalam Islam hanyalah persoalan implementasi dan komitmen untuk mempraktikkannya secara konsisten. Saran Marilah kita saling menghargai. Karena sifatnya yang organik. 3. Semoga kita ditunjukan kedalam agama yang benar. untuk kesejahteraan bersama. d.2.BAB III PENUTUP 3. mengeksistensi sejak Islam itu ada. Kesimpulan Perbedaaan antara etika adalah terletak pada sumber yang dijadikan acuan untuk Perbedaan agama terdapat dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. Perbedaan agama terdapat dalam surat al-Kafirun.

com/journal/item/26 http://dewon. http://wizanies.com/2007/08/akhlak-etika-moral http://grms.blogspot. M. Dr.wordpress.DAFTAR PUSTAKA Al-Qur’an dan terjemahannya.multiply. Wawasan Al-Qur’an Tafsir Maudhu’I atas Pelbagai Persoalan Umat.Quraish Syihab. Mizan: Bandung.com/2007/11/03/kategori-19 17 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful