IMPLIKASI HAFALAN AL-QUR'AN DALAM PRESTASI BELAJAR

MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
(Studi Kasus di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)

SKRIPSI


Oleh:
Ismi Arofah
05110027








PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Juli, 2009




IMPLIKASI HAFALAN AL-QUR'AN DALAM PRESTASI BELAJAR
MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
(Studi Kasus di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)


SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana
Maulana Malik Ibrahim Malang untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna
Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh:
Ismi Arofah
05110027






JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Juli, 2009



LEMBAR PERSETUJUAN
IMPLIKASI HAFALAN AL-QUR’AN DALAM PRESTASI BELAJAR
MAHASISWA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
(Studi Kasus di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)


SKRIPSI
Oleh:
Ismi Arofah
05110027

Telah Disetujui pada Tanggal: 16 Juli 2009

Oleh:
Dosen Pembimbing



Drs. H. Su’aib H. Muhammad, M.Ag
NIP. 150 227 505


Mengetahui:
Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam




Drs. H. Moh. Padil, M.Pd.I
NIP. 150 267 235



Drs. H. Su’aib H. Muhammad, M.Ag
Dosen Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim Malang

NOTA DINAS PEMBIMBING
Hal : Skripsi Ismi Arofah Malang, 16 Juli 2009
Lamp : 6 (Enam) Eksemplar


Kepada Yth.
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang
di
Malang

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasa
maupun teknik penulisan, dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di
bawah ini:

Nama : Ismi Arofah
NIM : 05110027
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Judul Skripsi : Implikasi Hafalan Al-Qur’an Dalam Prestasi Belajar
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
(Studi Kasus di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana
Malik Ibrahim Malang)

Maka selaku Pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak
diajukan untuk diujikan.
Demikan, mohon dimaklumi adanya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


Pembimbing,



Drs. H. Su’aib H. Muhammad, M.Ag
NIP. 150 227 505




HALAMAN PENGESAHAN

IMPLIKASI HAFALAN AL-QUR’AN DALAM PRESTASI BELAJAR
MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
(Studi Kasus di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)

SKRIPSI
dipersiapkan dan disusun oleh
Ismi Arofah (05110027)
telah dipertahankan di depan dewan penguji
pada tanggal 04-Agustus-2009 dengan nilai…A…
dan telah dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan
untuk memperoleh gelar strata satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)
pada tanggal: 04-Agustus-2009


Panitia Ujian Tanda Tangan

Ketua Sidang
Drs. H. Su’aib. H. Muhammad, M.Ag :___________________
NIP. 150 227 505

Sekretaris Sidang
Isti’anah Abu Bakar, M.Ag :___________________
NIP.150 332 149

Penguji Utama
Prof. DR. H. Muhaimin, MA :___________________
NIP. 150 215 375

Pembimbing
Drs. H. Su’aib H. Muhammad, M.Ag :___________________
NIP.150 227 505


Mengesahkan,

Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang




DR. M. Zainuddin, MA
NIP. 150 275 502



MOTTO


“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan
mengajarkannya” (HR.Bukhori )


























PERSEMBAHAN

Dengan penuh cinta, kupersembahkan karya ini kepada:
Allah SWT yang Maha sempurna,, yang telah menggariskan jalan hidup pada
setiap makhluk-Nya.
Ayah & Ibuku tercinta, (H. Munawir Muslih & Hj. Aminah) yang luapan kasih
sayangnya bak mata air abadi. Terima kasih telah mengantarkan ananda sampai
pada tahap pendidikan ini.
Kakak & adikku tersayang (Yunia Rahmah S.Ag dan Ahmad Muzammil S.Pd.I),
serta (Anik Nihayah S.Pd.) yang selalu memberi uswah hasanah, menginspirasi
dan memotivasi aku.
Suamiku tercinta “yangkoe” Fata Zamroni, SH., terima kasih telah
mendampingiku menjalani pendidikan ini dengan Sabar. Tak lupa pula segenap
keluarga besar yang selalu memberikan kasih sayang, serta dukungan baik moril
maupun material, sehingga aku mampu menatap masa depan dengan ceria.
Semua Guruku, Ustadz/Ustadzahku di Pesantren dan Ma’had, serta para Dosen
yang telah memberikan secercah pencerahan, sehingga aku dapat mewujudkan
harapan, angan dan cita-cita di masa depan.
Teman-teman mahasiswa di Jurusan Pendidikan Agama Islam (2005-2009), yang
memberikan motivasi dan pengalaman bermakna. Especially, semua gus & ning
JQH, semoga selalu bisa istiqomah berjuang di jalan-Nya dan dapat melestarikan
hafalan Al-Qur’annya.
Teman-teman yang oke bangets,, evy, heni, nya’tin, hikmah, ima, angga, indra,
ni’am, serta adik-adiku di kost pinky, ndok nisa’, ira, atul, ria, fi2l, nani, hesy,
bib3h, dan semua sahabatku yang tidak dapat kusebutkan satu persatu. aku sadar
kalian telah menjadi tempat belajarku dalam mengarungi cuplikan kehidupan ini,
saling berbagi pengalaman hidup, serta banyak hal yang menginspirasi. Semoga
pertemuan dan persahabatan kita dalam kancah mencari ilmu ini, kelak dapat
menjadi perantara kita untuk bertemu dan berkumpul di bawah naungan-Nya.
Amin.



SURAT PERNYATAAN


Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya
yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan
tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat
yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis
diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar rujukan.


Malang, 16 Juli 2009



Ismi Arofah
























KATA PENGANTAR


Alhamdulillah, segala puji hanya patut dipanjatkan kehadirat Allah SWT, Dzat
yang Maha indah, Maha pengasih, dan Maha sempurna, yang telah memberikan
pertolongan berupa kejernihan fikir, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi
ini dengan baik. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada teladan
kita Rasulullah Muhammad SAW, pembimbing dan pemimpin umat Islam yang
berakhlak Al-Qur’an.
Penulisan skripsi ini, dilatarbelakangi oleh kecintaan dan apresiasi mendalam
penulis terhadap komunitas penghafal Al-Qur’an yang ada di lingkungan UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang. Para penghafal Al-Qur’an dari kalangan
mahasiswa ini bisa dikatakan “berbeda” dengan mahasiswa pada umumnya,
karena mereka mengemban 2 misi sekaligus. Misi yang di maksud oleh penulis
adalah misi untuk mengembangkan keilmuan yang diminati di perkuliahan, serta
misi untuk menghafalkan dan melestarikan hafalan Al-Qur’an.
Penelitian dalam skripsi ini secara lebih terfokus, dilakukan kepada para
mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam, yang
bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana prosedur hafalan Al-Qur’an
mahasiswa di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang,
Apakah hafalan Al-Qur’an Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam
berimplikasi dalam prestasi belajarnya, serta mendeskripsikan sikap keseharian
mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari Jurusan Pendidikan Agama Islam tersebut.
Penulis menyadari dalam proses penulisan skripsi ini banyak memperoleh
bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, maka penulis menyampaikan ucapan
terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, selaku Rektor Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim Malang.
2. Bapak Dr. M. Zainuddin, MA. , selaku Dekan Fakultas Tarbiyah, serta Bapak
Drs. H. Moh. Padil, M.Pd.I, selaku Kepala Jurusan pendidikan Agama Islam,
beserta segenap Dosen Fakultas Tarbiyah yang dengan ikhlas telah membantu
dan memberikan masukan untuk skripsi ini.


3. Bapak Drs. H. Su’aib H. Muhammad, M.Ag, yang dengan ikhlas telah
memberikan bimbingan dan motivasi kepada penulis dalam proses penulisan
skripsi ini.
4. Bapak KH. Chamzawi, M.HI, selaku Mudir Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang, berserta para pengasuh dan pengurus
Ma’had, yang telah memberikan izin kepada penulis untuk mengadakan
penelitian ini.
5. Para pembina, pengurus dan anggota Jam’iyyatul Qurra’ wal huffazh Ma’had
Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, khususnya
Mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam, serta
informan yang telah membantu penulis dalam memperoleh data-data
penelitian.
6. Ayah dan ibuku tercinta, suamiku tercinta, saudara-saudaraku, serta segenap
keluargaku yang telah banyak memberikan bantuan dan pengorbanan baik
moril maupun materiil.
7. Teman-teman di Fakultas Tarbiyah/Jurusan Pendidikan Agama Islam tahun
akademik (2005-2009), yang telah memberikan berbagai pengalaman dan
interaksi akademik yang mengesankan.

Tiada yang pantas penulis ucapkan kecuali untaian kata terima kasih
“ Jazaakumullah Ahsanal Jazaa’ ” semoga amalnya diterima oleh Allah SWT,
dan dibalas dengan sebaik-baik balasan.
Akhirnya, penulis senantiasa mengharapkan saran dan kritik yang konstruktif
dari para pembaca, demi memperbaiki karya ini. Semoga karya yang masih jauh
dari kesempurnaan ini dapat memberi manfaat bagi para pembaca, serta penulis.
Amin ya Mujibas Saailiin.

Malang, 16 Juli, 2009

Penulis



PEDOMAN TRANLITERASI ARAB LATIN

Penulisan transliterasi arab-latin dalam skripsi ini menggunakan pedoman
transliterasi berdasarkan keputusan bersama Menteri Agama RI dan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan RI no. 158 tahun 1987 dan no. 0543 b/U/1987 yang
secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut:

A. Huruf
ا = a ز = z ق = q
ب = b س = s ك = k
ت = t ش = sy ل = l
ث = ts ص = sh م = m
ج = j ض = dl ن = n
ح = h ط = th و = w
خ = kh ظ = zh ه = h
د = d ع = ‘ ء = ‘
ذ = dz غ = gh ي = y
ر = r ف = f

B. Vokal Panjang
Vokal (a) panjang =
Vokal (i) panjang =
Vokal (u) panjang =

C. Vokal Diftong
ْوأ = aw
= يأ ay
ْوأ = u
ْيإ = i





DAFTAR TABEL

1. Tabel 4.1 Jadwal Kegiatan Harian dan Mingguan JQH Ma’had
Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang……92
2. Tabel 4.2 Nama-Nama Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan
Pendidikan Agama Islam (PAI)………………………………...98
3. Tabel 4.3 Jumlah Hafalan Mahasiswa Jurusan
Pendidikan Agama Islam (PAI) Penghafal Al-Qur’an………..102
4. Tabel 4.4 Awal mahasiswa mulai menghafal……………………………102
5. Tabel 4.5 Tempat menghafal Al-Qur’an………………………………...102
6. Tabel 4.6 Peran lingkungan Menghafal Al-Qur’an (Ma’had)…………...105
7. Tabel 4.7 Kendala yang paling dominan dalam menghafal
dan melestarikan hafalan Al-Qur’an………………………….107
8. Tabel 4.8 Usaha untuk memahami makna dan kandungan ayat
Al-Qur’an yang dihafal……………………………………….109
9. Tabel 4.9 Rekapitulasi Nilai Rata-Rata Indeks Prestasi Komulatif
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
Penghafal Al-Qur’an………………………………………….113
10. Tabel 4.10 Nilai Matakuliah Keagamaan Islam yang Berhubungan
dengan Ayat-Ayat Al-Qur’an………………………………...114



















DAFTAR GAMBAR

1. Gambar 4.1 Grafik Anggota JQH Mulai Periode 2002-2009.................96






























DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Surat izin penelitian
Lampiran 2 : Surat keterangan telah melakukan penelitian dari instansi
Lampiran 3 : Bukti konsultasi
Lampiran 4 : Pedoman observasi
Lampiran 5 : Pedoman wawancara
Lampiran 6 : Pedoman dokumentasi
Lampiran 7 : Angket

Lampiran 8 : Struktur organisasi Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffazh Ma’had
Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Lampiran 9 : Denah Kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang & Ma’had
Sunan Ampel Al-Ali.
Lampiran 10 : Peta lokasi Kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Lampiran 11 : Foto-foto dokumentasi penelitian
Lampiran 12 : Kartu hasil studi (KHS) mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama
Islam penghafal Al-Qur’an
Lampiran 13 : Kliping tentang JQH UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dari
berbagai sumber
















DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL........................................................................................i
HALAMAN JUDUL...........................................................................................ii
HALAMAN PERSETUJUAN...........................................................................iii
HALAMAN NOTA DINAS...............................................................................iv
HALAMAN PENGESAHAN.............................................................................v
HALAMAN MOTTO.........................................................................................vi
HALAMAN PERSEMBAHAN.........................................................................vii
SURAT PERNYATAAN..................................................................................viii
KATA PENGANTAR.........................................................................................ix
PEDOMAN TRANSLITERASI.........................................................................xi
DAFTAR TABEL..............................................................................................xii
DAFTAR GAMBAR........................................................................................xiii
DAFTAR LAMPIRAN.....................................................................................xiv
DAFTAR ISI………….…………………………………………………….....xv
ABSTRAK........................................................................................................xix
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang……………………………………………………….1
B. Rumusan Masalah……………………………………………………7
C. Tujuan Penelitian…………………………………………………….7
D. Manfaat Penelitian…………………………………………………...8
E. Definisi Operasional…………………………………………………8


F. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian………………………...9
G. Sistematika Pembahasan……………………………………………10
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Tinjauan Tentang Hafalan Al-Qur’an
1. Pengertian Menghafal Al-Qur’an………………………………12
2. Keutamaan Menghafal Al-Qur’an……………………………...14
3. Adab Menghafal Al-Qur’an…………..………………………..20
4. Metode Menghafal Al-Qur’an………………………………….23
5. Melestarikan Hafalan Al-Qur’an……………………………….27
6. Faktor-Faktor yang Mendukung
Keberhasilan Menghafal Al-Qur’an……………………………32
B. Prestasi Belajar Mahasiswa
1. Pengertian Prestasi Belajar……………………………………..39
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar…………...47
3. Evaluasi Prestasi Kognitif, Afektif dan Psikomotorik………….53
C. Implikasi Hafalan Al-Qur’an dalam Prestasi Belajar
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam……………………...55
D. Sikap dan Kewajiban Intelektual Mahasiswa
Jurusan Pendidikan Agama Islam Penghafal Al-Qur'an……………64
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode dan Strategi Penelitian……………………………………..69
B. Kehadiran Peneliti………………………………………………….70
C. Lokasi Penelitian…………………………………………………...71


D. Data dan Sumber Data……………………………………………...71
E. Prosedur Pengumpulan Data……………………………………….73
F. Analisis Data……………………………………………………….75
G. Pengecekan Keabsahan Data………………………………………75
H. Tahapan Penelitian………………………………………………...78
BAB IV LAPORAN HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Objek Penelitian
1. Sejarah Berdirinya Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh (JQH)
Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang……………………………...80
2. Visi, Misi, Tujuan dan Fungsi JQH
Ma’had Sunan Ampel Al-Ali
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang………………………..86
3. Struktur Kepengurusan JQH
Ma’had Sunan Ampel Al-Ali
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang………………………..88
4. Program Kerja JQH Ma’had Sunan Ampel Al-Ali
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang………………………...90
5. Kegiatan JQH Ma’had Sunan Ampel Al-Ali
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang……………………….90
6. Prestasi Anggota JQH Ma’had Sunan Ampel Al-Ali
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang……………………….93



7. Keadaan Anggota JQH Ma’had Sunan Ampel Al-Ali
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang……………………….96
B. Paparan Hasil Penelitian
1. Deskripsi Pelaksanaan Hafalan Al-Qur’an di Ma’had
Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang...98
2. Implikasi Hafalan Al-Qur’an dalam Prestasi Belajar
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
di UIN Maulana malik Ibrahim Malang…………………...108
3. Sikap keseharian Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama
Islam Penghafal Al-Qur’an…...............................................116
BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Pelaksanaan Hafalan Al-Qur’an di Ma’had
Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang…..120
B. Implikasi Hafalan Al-Qur’an dalam Prestasi Belajar
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang……………………....125
C. Sikap keseharian Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam
Penghafal Al-Qur’an………......................................................128
BAB VI PENUTUP
A. Kesimpulan…………………………………………………….131
B. Saran…………………………………………………………...134
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN


ABSTRAK

Arofah, Ismi. Implikasi Hafalan Al-Qur’an Dalam Prestasi Belajar
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) (Studi Kasus di Ma’had
Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang). Skripsi, Jurusan
Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri Maulana
Malik Ibrahim Malang. Drs. H. Su’aib. H. Muhammad, M.Ag.

Dalam menjalankan fungsi edukasinya, dewasa ini perguruan tinggi dituntut
untuk dapat memerankan fungsinya secara optimal dalam mewujudkan lulusan
yang beriman dan bertaqwa, memiliki kepribadian yang utuh, memiliki keahlian
yang matang dan profesional dibidangnya masing-masing. Universitas Islam
Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang merupakan salah satu Perguruan
Tinggi Islam yang telah berhasil menggabungkan dua kekuatan dalam paradigma
pendidikannya, yaitu kekuatan akademik dan kultural. Kekuatan kultural tersebut,
diciptakan melalui keberadaan Ma’had (pesantren mahasiswa yang kurikulum
pembelajarannya integral dengan kampus). Selain pembelajaran kitab dan bahasa,
di Ma’had juga terdapat unit pengembangan tahfizh yang beranggotakan para
mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Kegiatan menghafal Al-Qur’an yang dilakukan oleh mahasiswa ini merupakan
suatu hal yang sangat memerlukan perhatian dan penanganan secara khusus,
mengingat menghafal Al-Qur’an merupakan pekerjaan yang tidak mudah untuk
dilakukan, apalagi oleh mahasiswa yang notabene memiliki jadwal kegiatan yang
padat. Dari sinilah timbul berbagai anggapan yang menyatakan bahwa dengan
banyaknya kegiatan yang dilakukan, maka mahasiswa penghafal Al-Qur’an tidak
bisa mendapatkan hasil belajar/akademik yang maksimal. Berawal dari latar
belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk membahasnya dalam skripsi yang
berjudul “Implikasi Hafalan Al-Qur’an Dalam Prestasi belajar Mahasiswa Jurusan
Pendidikan Agama Islam (Studi Kasus di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang).
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana
pelaksanaan hafalan Al-Qur’an di Ma’had sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana
malik Ibrahim Malang, untuk mengetahui apakah hafalan Al-Qur’an mahasiswa
Jurusan Pendidikan Agama Islam berimplikasi terhadap prestasi belajarnya, serta
untuk mengetahui bagaimana aspek sikap keseharian mahasiswa tersebut.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan strategi studi kasus.
Dalam proses pengumpulan data, peneliti menggunakan metode observasi, angket,
interview dan dokumentasi. Sedangkan untuk analisisnya, peneliti menggunakan
teknik analisis deskriptif kualitatif. Adapun untuk data yang berupa angka (data
kuantitatif), dianalisis menggunakan statistik deskriptif dengan cara menghitung
nilai rata-rata dan prosentase kemudian dideskripsikan.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa pelaksanaan
hafalan Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali sudah baik, kerena telah
memenuhi beberapa hal yang mendukung keberhasilan menghafal Al-Qur’an.
Diantaranya adalah: penciptaan lingkungan yang kondusif dengan


dikumpulkannya mahasiswa penghafal Al-Qur’an dalam satu unit asrama, adanya
instruktur hafalan yang membimbing mahasiswa tersebut, adanya waktu yang
digunakan mahasiswa untuk melestarikan hafalannya, serta adanya program
evaluasi seperti kegiatan khatm Al-Qur’an tiap sepekan, tes tahfizh tiap akhir
semester, serta wisuda tahfizh yang diawali dengan tes tahfizh. Dari proses
menghafal yang baik tersebut, maka hafalan yang dihasilkanpun menjadi baik.
Hafalan mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam berimplikasi dalam
prestasi belajarnya. Secara psikologis, aktivitas menghafal Al-Qur’an
menimbulkan efek ketenangan yang mendukung keberhasilan proses belajar.
Secara fisiologis, kebiasaan menghafal Al-Qur’an membuat indera penglihatan
dan pendengaran menjadi familiar terhadap ayat-ayat yang telah dihafal, serta
melatih sistem memori dalam otak untuk mengingat, sehingga memudahkan
siswa/mahasiswa untuk dapat menghafal pengetahuan lain selain Al-Qur’an.
Selain itu, hafalan Al-Qur’an mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam sangat
membantu penguasaan materi matakuliah keagamaan Islam yang berhubungan
dengan ayat-ayat Al-Qur’an, karena selain menghafalkan para mahasiswa tersebut
juga berusaha memahami ayat-ayat yang dihafal.
Dari rekapitulasi indeks prestasi komulatif mahasiswa tersebut, secara umum
diketahui bahwa nilai rata-ratanya mencapai 3.64 (dengan pujian), sedangkan
untuk matakuliah kegamaan Islam yang banyak berkaitan dengan ayat-ayat Al-
Qur’an, nilai mahasiswa tersebut juga baik. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa aktivitas menghafal Al-Qur’an mahasiswa tidak menyebabkan prestasi
belajarnya menurun, sebaliknya hafalan Al-Qur’an justru berimplikasi sangat baik
bagi prestasi belajar mahasiswa.
Selain berprestasi yang baik dalam akademiknya, aspek sikap keseharian
mahasiswa penghafal Al-Qur’an ini juga lebih mencerminkan mahasiswa muslim
dibandingkan mahasiswa lainnya. Mereka berkomitmen untuk selalu berusaha
memperbaiki tingkah lakunya, serta menjaga tatakrama yang baik kepada
lingkungan sosialnya. Selain itu, mereka juga selalu berusaha mengamalkan
ilmunya dengan mengajarkan ilmu tentang Al-Qur’an yang mereka miliki kepada
siapapun yang membutuhkannya, baik dalam lingkup ma’had maupun masyarakat
sekitar kampus.


Kata Kunci: Hafalan Al-Qur’an, Prestasi Belajar









BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Perkembangan zaman yang semakin cepat berpengaruh pada segala aspek
kehidupan. Munculnya berbagai penemuan ilmiah di bidang sains dan teknologi
turut mengiringi revolusi zaman yang semakin modern ini.
Dewasa ini masyarakat banyak menyoroti masalah kerusakan moral yang
dialami oleh para remaja. Maraknya tawuran antar pelajar/mahasiswa, peredaran
dan pemakaian narkoba yang dilakukan oleh pelajar/mahasiswa, seks bebas, dan
penyimpangan-penyimpangan lain yang sangat ramai diberitakan oleh media
massa.
Terhadap realita tersebut muncul berbagai tanggapan dan sinyalemen dari
sebagian masyarakat yang mempermasalahkan pengembangan kepribadian
mahasiswa di luar lingkup pendidikan formal. Mereka berpendapat bahwa
sebenarnya sistem pendidikan di Indonesia sudah baik, namun ada beberapa faktor
yang menghambat keberhasilan sistem tersebut. Salah satu contohnya adalah
ketergantungan masyarakat terhadap produk-produk teknologi modern yang
semakin kuat. Hal ini merupakan indikasi adanya pergeseran nilai-nilai esensial
yang akan mengubah pola pikir dan pola hidup masyarakat menjadi konsumtif dan
memuja gaya hidup hedonistik, materialistik dan hura-hura.
Kondisi demikian ini sangat berpengaruh terhadap sistem dan proses
pendidikan di sekolah dan di perguruan tinggi. Pendidikan hanya difokuskan pada


bagaimana membentuk siswa/mahasiswa yang pandai dan memiliki keterampilan
tertentu. Hal ini berakibat terhadap fokus kepribadian siswa hanya dititikberatkan
pada aspek perkembangan intelektual saja, sementara aspek moralitas dan
kejiwaannya kurang memadai.
Dalam menjalankan fungsi edukasinya, dewasa ini perguruan tinggi
dihadapkan pada dua persoalan yang dilematis. Di satu sisi dituntut untuk
mengembangkan iptek dengan segala konsekuensinya dalam menghadapi era
globalisasi, namun di sisi lain perguruan tinggi harus memikul tanggung jawab
terhadap dampak negatif dari kemajuan iptek modern yaitu terjadinya dekadensi
moral yang mengarah pada demoralisasi, bahkan boleh jadi mengarah pada
dehumanisasi. Hal yang menjadi persoalan adalah bagaimana Perguruan Tinggi
dapat memerankan fungsinya secara optimal dalam mewujudkan lulusan yang
beriman dan bertaqwa, memiliki kepribadian yang utuh, memiliki keahlian yang
matang dan profesional dibidangnya masing-masing. Jawaban akan pertanyaan
tersebut adalah tantangan bagi perguruan tinggi untuk memberikan pendidikan
Agama Islam yang memadai bagi setiap mahasiswa sebagai pencerahan spiritual
dalam rangka membangun nurani bangsa.
1

Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang merupakan
salah satu Perguruan Tinggi Islam yang telah berhasil menggabungkan dua
kekuatan dalam paradigma pendidikannya, yaitu kekuatan akademik dan kultural.
Pengembangan ilmu akademik, khususnya yang bernafaskan Islam, akan berhasil
jika dikembangkan di atas kekuatan kultural. Kekuatan kultural yang dimaksud di


1
Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam Upaya Pembentukan Pemikiran dan Kepribadian
Muslim (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2006), hlm. 1-3.


sini adalah berbagai komponen yang dapat mendukung terciptanya budaya
kondusif, baik dalam upaya pengembangan spiritual, akhlak, ilmu dan
profesionalitas.
2
Dalam paradigma pendidikannya Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim Malang memiliki sebuah konsep “tarbiyah Ulul Albab”,
yaitu pendidikan yang diharapkan dapat membentuk kepribadian mahasiswa yang
mengedepankan tiga prinsip, yaitu dzikir, fikir dan Amal sholeh.
Tujuan luhur ini dikuatkan atau didukung dengan komponen-komponen
internal, yang mewadahi berbagai kegiatan pengembangan akademik dan spiritual
yang ada di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Diantara komponen internal
yang sangat penting adalah keberadaan Ma’had Sunan Ampel Al-Ali, yaitu
pesantren mahasiswa yang semua kurikulum pembelajarannya integral dengan
kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Diantara program yang diadakan
oleh Ma’had Sunan Ampel Al-Ali adalah pengembangan bi’ah (lingkungan)
berbahasa, pembelajaran kitab dan pembelajaran Al-Qur’an.
Di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang juga
terdapat unit pengembangan Tahfizh Al-Qur’an, yang beranggotakan mahasiswa
dari berbagai tingkatan semester. Kegiatan menghafal Al-Qur’an yang dilakukan
oleh mahasiswa ini merupakan suatu hal yang sangat memerlukan perhatian dan
penanganan secara khusus, mengingat menghafal Al-Qur’an merupakan pekerjaan
yang tidak mudah untuk dilakukan, apalagi oleh mahasiswa yang memiliki
disiplin keilmuan yang berbeda-beda. Selain itu, dalam menjalankan aktivitas
menghafal Al-Qur’an dan kuliah memerlukan pengaturan waktu yang baik dan


2
Imam Suprayogo, Pendidikan Berparadigma Al-Qur’an (Malang: UIN Press, 2004), hlm. 79.


tepat, sehingga Al-Qur’an yang telah dihafal dapat dilestarikan dengan baik dalam
hati.
Al-Qur’an adalah kitab suci yang memiliki banyak keagungan dan
kemujizatan. Al-Qur’an juga memiliki banyak kelebihan, diantaranya adalah Al-
Qur’an merupakan kitab yag mudah dihafal dan difahami. Hal ini sesuai dengan
Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Qamar (54:13):
)9´r R œ „ b ´ä )9 . 9 @g `B . B ÇÊÐÈ
Artinya:“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran,
maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”
3


Oleh karena itu, setiap untaian kalimat yang indah dalam Al-Qur’an telah
dijadikan Allah untuk mudah dihafal dan dipahami oleh para penghafalnya. Kita
sebagai umat Islam turut berbangga karena ada ribuan bahkan puluhan ribu umat
Islam yang telah hafal Al-Qur’an, dan sebagian dari mereka adalah anak-anak
kecil yang masih belum baligh. Hal ini sangat bertolak belakang dengan
karakteristik kitab suci Agama lain yang tidak mampu dihafal oleh pemeluknya.
4

Dengan hafalan Al-Qur’an yang ada di hati para umat Islam penghafal Al-
Qur’an inilah, sesungguhnya Allah menetapkan dan menjaga kemurnian Al-
Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Hijr (15:9):
R ` U ´Z9 R . R ´r ¼m9 bq » : ÇÒÈ
Artinya: "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan
sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya"
5




3
Al-Qur’an dan Terjemahnya (Semarang: PT. Tanjung Mas, 1992), hlm. 879.

4
Achmad Yaman Syamsudin, Cara Mudah Menghafal Al-Qur’an (Jateng: Insan Kamil, 2007),
hlm. 7-8.

5
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Op. Cit., hlm. 391.


Mahasiswa merupakan calon-calon intelektual yang memiliki tugas untuk
mengembangkan keilmuan yang diminati, di sisi lain ada keinginan untuk
mempelajari, menghafalkan dan mendalami Al-Qur’an. Keberadaan mahasiswa
penghafal Al-Qur’an, seperti halnya hafizh-hafizhah yang lain, memberikan
penguatan kepada kita bahwa memang di sepanjang masa Al-Qur’an akan
senatiasa dijaga dan dipelihara kemurniannya oleh Allah SWT, sang pemilik
Kalam yang mulia.
Para penghafal Al-Qur’an di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, terdiri dari
berbagai kalangan mahasiswa pada tingkatan semester dan jurusan yang berbeda.
Diantara para mahasiswa/mahasiswi yang menghafal Al-Qur’an tersebut, ada
beberapa mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI).
Dalam proses menghafal Al-Qur’an, seorang penghafal tidak hanya membaca
dan berusaha menghafal di luar kepala, akan tetapi juga berusaha untuk
menghayati dan mentadabburi bacaan yang telah dibaca dan dihafalnya. Dalam
hal ini, seorang Penghafal Al-Qur’an secara tidak langsung akan dapat memahami
dan mengambil kandungan-kandungan ayat-ayat yang dibaca.
Dengan adanya proses menghafal tersebut, seseorang penghafal akan dapat
membaca dengan lancar dan benar ayat-ayat yang telah dihafalkannya. Setelah
dapat membaca dengan baik dan benar, ia akan tertarik untuk mengetahui arti dan
kandungan ayat-ayat Al-Qur’an yang dihafalnya.
Dalam perkuliahan Fakuktas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, terdapat dua jenis pengelompokan
matakuliah, yaitu matakuliah kependidikan dan matakuliah keagamaan Islam.


Pada matakuliah keagamaan Islam, banyak sekali materi yang bersentuhan secara
langsung dengan ayat-ayat Al-Qur’an, karena pada dasarnya Al-Qur’an
merupakan sumber dari hukum Islam yang utama.
Pendidikan Agama Islam memiliki beberapa pokok kajian yang meliputi
aqidah, akhlak, syariah dan muamalah. Diantara matakuliah keagamaan Islam
yang mengandung aspek-aspek tersebut adalah: studi Al-Qur’an, studi Fiqih,
Tafsir dan Hadits, Masail Fiqhiyah 1 & 2, serta Tafsir Hadits 1 & 2, serta Ushul
Fiqih.
Dalam proses pembelajaran matakuliah keagamaan Islam tersebut,
kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar merupakan kemampuan
dasar yang sangat penting, selain kemampuan memahami arti dan kandungan
ayat-ayat tertentu. Dalam hal ini hafalan Al-Qur’an yang dimiliki oleh mahasiswa
Jurusan Pendidikan Agama Islam, memberi kontribusi yang sangat besar dalam
membantu pemahamannya tentang beberapa mata kuliah tersebut, sehingga
berimplikasi pada peningkatan prestasi belajarnya. Dengan demikian, ditemukan
adanya implikasi (keterlibatan) hafalan Al-Qur’an mahasiswa dalam prestasi
belajar mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam.
Dari latar belakang yang telah dipaparkan, peneliti sangat tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul seperti tersebut di atas.
B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang masalah tersebut, maka dapat dirumuskan beberapa
permasalahan sebagai berikut :


1. Bagaimana pelaksanaan hafalan Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel Al-
Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang?
2. Apakah hafalan Al-Qur’an mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam
(PAI) di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berimplikasi terhadap
prestasi belajarnya?
3. Bagaimana aspek sikap keseharian mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama
Islam (PAI) penghafal Al-Qur’an tersebut?

C. TUJUAN PENELITIAN
1. Mendeskripsikan pelaksanaan hafalan Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel
Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
2. Mendeskripsikan implikasi hafalan Al-Qur’an dalam prestasi belajar
mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) di UIN Maulana Malik
Ibrahim Malang.
3. Mendeskripsikan sikap keseharian mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama
Islam (PAI) penghafal Al-Qur’an di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

D. MANFAAT PENELITIAN
1. Bagi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang,
penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah keilmuan terutama
bagi mahasiswa Fakultas Tarbiyah.
2. Bagi peneliti, menambah wawasan tentang implikasi hafalan Al-Qur’an
dalam prestasi belajar mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI),


sehingga menambah himmah untuk senantiasa melestarikan Kalamullah
dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
3. Bagi mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) yang menghafal
Al-Qur’an, agar selalu termotivasi dan Istiqomah dalam melestarikan
hafalan Al-Qur’annya, serta bagi Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang pada umumnya, agar timbul niat dan keinginan untuk menghafal
dan mendalami Al-Qur’an.
E. DEFINISI OPERASIONAL
1. Implikasi adalah keterlibatan atau keadaan terlibat; apa yang termasuk
atau tersimpul; sesuatu yang disugestikan tetapi tidak dinyatakan.
6

2. Hafalan Al-Qur’an, maksudnya adalah out put dari aktivitas menghafal
Al-Qur’an. Menghafal Al-Qur’an adalah proses mengingat Al-Qur’an di
luar kepala dengan cara meresapkan dalam hati, dengan berbagai strategi
dan metode tertentu.
3. Prestasi belajar mahasiswa adalah: hasil yang dicapai oleh mahasiswa
Jurusan pendidikan Agama Islam (PAI) dalam belajarnya. Adapun
prestasi belajar yang dimaksud adalah prestasi belajar matakuliah
keagamaan Islam yang berhubungan dengan ayat-ayat Al-Qur’an seperti
studi Al-Qur’an, studi Fiqih, Tafsir dan Hadits, Masail Fiqhiyah I & II,
Tafsir Hadits I & II, serta Ushul Fiqih. Prestasi ini meliputi aspek kognitif,
afektif (penghayatan) dan psikomotorik (sikap), karena itulah
penilaian/pengukuran prestasi ini tidak hanya dilihat dari indeks prestasi


6
WJS. Purwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Penerbit Balai Pustaka,
1976), hlm. 377.


mahasiswa (IPK), akan tetapi juga dari aspek sikap keseharian mahasiswa
tersebut.

F. RUANG LINGKUP DAN KETERBATASAN PENELITIAN
Untuk menghindari pembahasan yang melebar dalam skripsi ini, maka penulis
membatasi permasalahan pada implikasi hafalan Al-Qur’an dalam prestasi belajar
mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) di UIN Maulana Malik
Ibrahim Malang.
Hafalan Al-Qur’an yang baik ditentukan dari proses menghafal Al-Qur’an
yang baik pula, karena itulah perlu diketahui tentang bagaimana pelaksanaan
hafalan Al-Qur’an tersebut. Kegiatan menghafal di UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang dilakukan oleh para mahasiswa dari berbagai tingkatan semester, dalam
hal ini penelitian dikhususkan pada mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari Jurusan
Pendidikan Agama Islam (PAI) yang berada di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang.
G. SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas dan menyeluruh, sistematika
pembahasan dalam skripsi ini dibagi dalam enam bab, yaitu:
Bab pertama adalah pendahuluan. Dalam bab ini dijelaskan tentang latar
belakang permasalahan yang menimbulkan keinginan peneliti untuk mengadakan
penelitian tentang “implikasi hafalan Al-Qur’an dalam prestasi belajar mahasiswa
jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang”. Dari latar belakang tersebut, kemudian


ditentukan rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi
operasional penelitian, ruang lingkup dan keterbatasan penelitian, serta
sistematika pembahasan.
Bab kedua adalah kajian pustaka. Dalam bab ini peneliti menguraikan berbagai
teori tentang hafalan Al-Qur’an, yang meliputi: pengertian menghafal Al-Qur’an,
keutamaan menghafal Al-Qur’an, adab membaca dan menghafal Al-Qur’an,
metode menghafal Al-Qur’an, melestarikan hafalan Al-Qur’an, serta tentang
faktor-faktor yang mendukung keberhasilan menghafal Al-Qur’an.
Prestasi belajar mahasiswa, yang meliputi: pengertian tentang prestasi belajar,
faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, evaluasi prestasi kognitif, afektif dan
psikomotorik.
Pembahasan tentang implikasi hafalan Al-Qur’an dalam prestasi belajar
mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) di UIN Maulana Malik
Ibrahim Malang.
Serta deskripsi tentang sikap keseharian mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama
Islam (PAI) penghafal Al-Qur’an di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Bab ketiga adalah metodologi penelitian, yang mengemukakan tentang metode
dan strategi penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumber data, metode
pengumpulan data, analisis data, dan pengecekan keabsahan data, sehingga dapat
diketahui bagaimana proses dan cara penelitian.
Bab keempat adalah laporan hasil penelitian, dalam hal ini peneliti menyajikan
berbagai data yang telah diperoleh dari penelitian. Bab ini meliputi deskripsi
objek penelitian dan paparan hasil data penelitian.


Bab kelima adalah pembahasan hasil penelitian, yaitu dengan cara membahas
hasil penelitian yang telah diperoleh dengan berbagai teori yang relevan dengan
kajian penelitian. Dalam hal ini peneliti akan mengungkapkan bagaimana
prosedur pelaksanaan hafalan Al-Qur’an di Ma’had sunan Ampel Al-Ali UIN
Malang, apakah hafalan Al-Qur’an berimplikasi terhadap prestasi belajar
mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Qur’an, serta
deskripsi tentang sikap mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
penghafal Al-Qur’an tersebut.
Bab keenam adalah penutup, dalam bab ini kan dipaparkan tentang kesimpulan
hasil penelitian dan saran.















BAB II
KAJIAN TEORI

A. Tinjauan Tentang Hafalan Al-Qur’an
1. Pengertian Menghafal Al-Qur’an
Menghafal Al-Qur’an terdiri dari dua kata, yaitu kata “menghafal” dan “Al-
Qur’an”. Dalam kamus besar bahasa indonesia, pengertian menghafal adalah
berusaha meresapkan kedalam fikiran agar selalu ingat.
7

Menurut Zuhairini dan Ghofir, menghafal adalah suatu metode yang
digunakan untuk mengingat kembali sesuatu yang pernah dibaca secara benar
seperti apa adanya. Metode tersebut banyak digunakan dalam usaha untuk
menghafal Al-Qur’an dan Al-Hadits. Ada empat langkah yang perlu dilakukan
dalam menggunakan metode ini, antara lain:
a. merefleksi, yakni memperhatikan bahan yang sedang dipelajari, baik dari
segi tulisan, tanda bacannya dan syakalnya;
b. mengulang, yaitu membaca dan atau mengikuti berulang-ulang apa yang
diucapkan oleh pengajar;
c. meresitasi, yaitu mengulang secara individual guna menunjukkan
perolehan hasil belajar tentang apa yang telah dipelajari;
d. retensi, yaitu ingatan yang telah dimiliki mengenai apa yang telah
dipelajari yang bersifat permanen.
8


Menurut Suryabrata, istilah menghafal disebut juga mencamkan dengan
sengaja dan dikehendaki, artinya dengan sadar dan sungguh-sungguh mencamkan
sesuatu. Dikatakan dengan sadar dan sungguh-sungguh, karena ada pula


7
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia
(Jakarta: Balai Pustaka, 1989), hlm. 291.

8
Zuhairini dan Abdul Ghofir, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Malang:
UM PRESS, 2004), hlm. 76.


mencamkan yang tidak disengaja dalam memperoleh suatu pengetahuan. menurut
beliau, hal-hal yang dapat membantu menghafal atau mencamkan antara lain:
a. Menyuarakan dalam menghafal. Dalam proses menghafal akan lebih
efektif bila seseorang menyuarakan bacaannya, artinya tidak membaca
dalam hati saja;
b. Pembagian waktu yang tepat dalam menambah hafalan, yaitu menambah
hafalan sedikit demi sedikit akan tetapi dilakukan secara kontinu;
c. Menggunakan metode yang tepat dalam menghafal, antara lain:
1) Metode keseluruhan/metode G (Ganzlern methode), yaitu metode
menghafal dengan mengulang berkali-kali dari awal sampai akhir,
2) Metode bagian/metode T (Teilern methode), yaitu menghafal bagian
demi bagian sesuatu yang dihafalkan, dan
3) Metode campuran/metode V (vermittelendelern), yaitu menghafal
bagian-bagian yang sukar terlebih dahulu selanjutnya dipelajari
dengan metode keseluruhan.
9


Setelah menyebutkan tentang beberapa definisi menghafal, perlu disebutkan
pula tentang beberapa definisi Al-Qur’an. Al-Qur’an menurut bahasa ialah bacaan
atau yang dibaca. Kata Al-Qur’an diambil dari isim mashdar yang diartikan
dengan arti isim maf’ul, yaitu: maqru’ (yang dibaca). Menurut istilah ahli agama
Islam, Al-Qur’an ialah “nama bagi kalamullah yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW, yang ditulis dalam mushaf,”
10

Definisi Al-Qur’an menurut sebagian Ulama ahli ushul adalah: “firman Allah
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang bersifat mukjizat
(melemahkan) dengan sebuah surat dari padanya, dan beribadat bagi yang
membacanya”.
Sebagian ahli ushul juga mendefinisikan:
Al-Kitab (Al-Qur’an) adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad dengan bahasa Arab untuk diperhatikan dan diambil pelajaran
oleh manusia, yang dinukilkan (dipindahkan) kepada kita dengan khabar


9
Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2002), hlm. 45.

10
T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah & Pengantar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (Semarang: PT
Pustaka Rizki Putra, 2002 Cet-2), hlm. 3.


mutawatir, yang ditulis dalam mushaf, dimulai dengan surat Al-Fatihah dan
disudahi dengan surat An-N s”.
11


Dalam Tafsir Al-Munir, Wahbah Al-Zuhaili mendefinisikan pengertian Al-
Qur’an sebagai berikut:
Al-Qur’an adalah kitab Allah yang melemahkan, yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad SAW dengan lafad bahasa Arab, yang tertulis dalam
lembaran-lembaran, membacanya dianggap Ibadah, yang dipindahkan dengan
mutawatir, dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-
N s
12


Dari beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa menghafal Al-
Qur’an merupakan usaha dengan sadar dan sungguh-sungguh yang dilakukan ,
untuk mengingat-ingat dan meresapkan bacaan kitab suci Al-Qur’an yang
mengandung mukjizat kedalam fikiran agar selalu ingat, dengan menggunakan
metode dan strategi tertentu.
2. Keutamaan Menghafal Al-Qur’an.
Al-Qur’an adalah kitab suci Agama Islam yang abadi, petunjuk bagi seluruh
umat manusia. Barangsiapa yang berkata dengannya (Al-Qur’an), maka ia
berbicara dengan benar; barangsiapa yang mengamalkannya, maka ia akan
mendapat pahala, barangsiapa yang menyeru padanya maka ia telah ditunjukkan
pada jalan yang lurus, barangsiapa yang berpegang teguh padanya, maka ia telah
berpegang pada tali Agama yang kokoh, dan barangsiapa yang berpaling darinya


11
Moenawar Chalil. Kembali Kepada Al-Qur’an dan Al-Sunnah (Jakarta: Bulan Bintang,
Tanpa Tahun), hlm. 179.

12
Wahbah Al-Zuhaili, Tafsir Al-Munir Fil Aqidah Wa Syariah Wal Minhaj (Damaskus: Darul
Fikr, 2007 ), hlm. 15.


dan mencari petunjuk selainnya, maka ia sangatlah sesat.
13
Allah SWT berfirman
dalam Al-Qur’an, surat Ibrahim (14:1):
9 » 2 m»Y9 R 7‹9 9 ´ Z9 ´`B »J= 9 ’< qY9 b Og ´ ’< º´ ƒ 9
‹J : ÇÊÈ
Artinya: “Alif, laam raa (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu
supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang
benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha
perkasa lagi Maha terpuji”
14


Menghafal Al-Qur’an merupakan suatu perbuatan yang sangat terpuji dan
mulia. Banyak sekali hadits-hadits Rasulullah yang menerangkan tentang hal
tersebut. Orang-orang yang mempelajari, membaca dan menghafal Al-Qur’an
merupakan orang-orang pilihan yang memang dipilih oleh Allah untuk menerima
warisan kitab suci Al-Qur’an.
15
Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Fathir
(35:32):
N ´Z ´ r » 39 ûï ´ZŠ `B R OgYJ O9 ¾m ´Z9 Nk]B´r )B Nk]B´r
´, º´ • 9 b ¸ š 9º ´qd @ 9 • 69 ÇÌËÈ
Artinya: “kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang kami
pilih diantara hamba-hamba kami, lalu diantara mereka ada yang menganiaya
diri mereka sendiri dan diantara mereka ada yang pertengahan dan diantara
mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Hal
yang demikian itu adalah karunia yang amat besar”
16


Banyak Hadits Rasulullah SAW yang mendorong untuk menghafal Al-
Qur’an atau membacanya di luar kepala, sehingga hati seorang muslim tidak


13
Ahmad Salim Badwilan. Panduan Cepat Menghafal Al-Qur’an (Jogjakarta: Diva Press,
2009), hlm. 264.

14
Al-Qur’an dan Terjemahnya. Op. Cit., hlm. 379.

15
Ahsin W. Al-Hafizh. Bimbingan Praktis Menghafal Al-Qur’an (Jakarta: PT Bumi Aksara,
2005), hlm. 26.

16
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Op. Cit., hlm. 700-701.


kosong dari ayat-ayat Al-Qur’an dan mengingat Allah SWT. Hal ini sebagaima
tersebut dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas secara marfu’:
17

Artinya: Dan dari Ibnu Abbas RA berkata, Rasulullah SAW telah bersabda:
"Sesungguhnya orang yang tidak mempunyai hafalan Al-Qur’an sedikitpun
adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh”
18


Rasulullah SAW memberikan penghormatan kepada orang yang mempunyai
keahlian dalam membaca Al-Qur’an dan menghafalkannya. Beliau
memberitahukan kedudukan mereka dan mengedepankan mereka dibandingkan
orang lain. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh,
diceritakan bahwa suatu hari Rasulullah mengutus satu utusan yang terdiri dari
beberapa orang. Rasulullah mengecek kemampuan membaca Al-Qur’an dan
hafalan mereka, kemudian orang yang paling banyak hafalannya ditugaskan oleh
beliau untuk menjadi ketua rombongan (pemimpin). Mengetahui keadaan
tersebut, salah seorang sahabat berkata: “Demi Allah, aku tidak mempelajari dan
menghafal surat Al-Baqoroh semata-mata karena aku takut tidak dapat
mengamalkan isinya,” mendengar komentar tersebut, Rasulullah SAW bersabda:

Rasulullah SAW bersabda:“Pelajarilah Al-Qur’an dan bacalah, sesungguhnya
perumpamaan orang yang mempelajari Al-Qur’an dan membacanya adalah


17
Global Islamic Software Compani, Sunan Tirmidzi (Mausuat Al-Hadits Al-Syarif: 2000), no.
2837.

18
Yusuf Qardhawi, Berinteraksi dengan Al-Qur’an, Terj. Abdul Hayiee Al-Kattani (Jakarta:
Gema Insani Press, 1999), hlm. 191.

19
Global Islamic Software Compani, Op. Cit., Sunan Ibnu Majah: 213.


seperti tempat air yang penuh dengan minyak wangi misik, harumnya
menyebar kemana-mana, dan barangsiapa yang mempelajarinya kemudian ia
tidur dan di dalam hatinya terdapat hafalan Al-Qur’an, adalah seperti tempat
air yang tertutup dan berisi minyak misik”
20


Kemuliaaan penghafal Al-Qur’an tidak hanya terbatas di dunia saja, di akhirat
kelak seorang penghafal Al-Qur’an mendapatkan beberapa kemuliaan dari Allah
SWT. Dalam hadits disebutkan, dari Abu Hurairah RA. bahwa Rasulullah SAW
bersabda:

Dari Nabi SAW:“Al-Qur’an akan datang pada hari qiamat, kemudian Al-
Qur’an akan berkata, wahai Tuhanku pakaikanlah pakaian untuknya,
kemudian orang itu dipakaikan mahkota karomah (kehormatan). Al-Qur’an
kembali meminta, “ wahai Tuhanku tambahkanlah. lalu orang itu dipakaikan
jubah karomah, kemudian Al-Qur’an memohon lagi, wahai Tuhanku, ridoilah
dia, Allah SWT pun meridoinya, maka diperintahkan kepada orang itu,
bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga). Allah menambahkan pada
setiap ayat yang dibacanya nikmat dan kebaikan”
22


Balasan Allah SWT di akhirat tidak hanya bagi para penghafal dan ahli Al-
Qur’an saja, namun cahaya kemuliaannya juga menyentuh kedua orang tuanya,
dan ia dapat memberikan sebagian cahaya itu kepadanya dengan berkah Al-
Qur’an. Dalam Hadits disebutkan:




20
Yusuf Qardhawi, Op. Cit., hlm. 192.

21
Global Islamic Software Compani,Op. Cit., Sunan Tirmidzi: 2839

22
Yusuf Qardhawi, Op. Cit., hlm. 193

23
Global Islamic Software Compani, Op. Cit., Sunan Abu Daud: 1241.


Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:“Barangsiapa yang membaca Al-
Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan kepada
orang tuanya mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti
cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan)
yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduaanya lalu bertanya, “mengapa
kami dipakaikan jubah ini?”, dijawab, “karena kalian memerintahkan anak
kalian untuk mempelajari Al-Qur’an”
24


Mengenai keutamaan menghafal Al-Qur’an ini, Imam Nawawi dalam kitabnya
Al-Tibyan Fi Adabi Hamalati Al-Qur’an menyebutkan ada beberapa keutamaan,
antara lain:
1) Al-Qur’an sebagai pemberi syafa’at pada hari kiamat bagi yang membaca,
memahami dan mengamalkannya. Dalam Hadits disebutkan:

Abu Umamah Al-Bahili berkata kepadaku, saya mendengar Rasulullah SAW
bersabda, “bacalah Al-Qur’an, maka sesungguhnya ia akan datang pada hari
kiamat nanti sebagai pemberi syafaat kepada pemiliknya (pembacanya)”
26


2) Para penghafal Al-Qur’an telah dijanjikan derajat yang tinggi di sisi Allah
SWT, pahala yang besar serta penghormatan diantara sesama manusia.
Al-Qur’an menjadi Hujjah atau pembela bagi pembacanya dan sebagai
pelindung dari adzab api neraka.
Pembaca Al-Qur’an khususnya penghafal Al-Qur’an yang kualitas dan
kuantitas bacaannya lebih tinggi, akan bersama malaikat yang selalu
melindunginya dan mengajak kepada kebaikan.
Penghafal Al-Qur’an akan mendapatkan fasilitas khusus dari Allah, yaitu
terkabulnya segala harapan tanpa harus memohon/berdoa.


24
Yusuf Qardhawi, Op. Cit., hlm. 193.

25
Global Islamic Software Compani, Op. Cit., Shohih Muslim:1337.

26
Yusuf Qardhawi, Op. Cit., hlm. 226.


Penghafal Al-Qur’an berpotensi untuk mendapatkan pahala yang banyak
karena seringnya membaca dan mengkaji Al-Qur’an. Dalam hadits
disebutkan:

Rasulullah SAW bersabda:“barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al-
Qur’an, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan, lalu satu kebaikan itu akan
dilipatgandakan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan satu huruf, tetapi satu
huruf dan satu huruf satu huruf”
28


Para penghafal Al-Qur’an diprioritaskan untuk menjadi imam dalam sholat
8) Penghafal Al-Qur’an menghabiskan sebagaian besar waktunya untuk
mempelajari dan mengajarkan sesuatu yang bermanfaat dan bernilai
ibadah, hal ini menjadikan hidupnya penuh barokah dan memposisikannya
sebagai insan kamil.
29

Selain beberapa keutamaan menghafal Al-Qur’an yang telah diuraikan di atas,
menurut Syamsudin, ada beberapa keutamaan dalam menghafal Al-Qur’an antara
lain:
1). Hafalan Al-Qur’an membuat orang dapat berbicara dengan fasih dan
benar, serta dapat membantunya dalam mengeluarkan dalil-dalil dari ayat-
ayat Al-Qur’an dengan cepat, ketika menjelaskan atau membuktikan suatu
permasalahan.


27
Global Islamic Software Compani , Op. Cit., Sunan Tirmidzi. 2912.

28
Yusuf Qardhawi, Op. Cit., hlm. 226.

29
Abi Zakariya Yahya An-Nawawi, Op. Cit., hlm. 11-16.


2). Menguatkan daya nalar dan ingatan. Dengan hafalan yang terlatih, maka
akan menjadikan seseorang mudah dalam menghafal hal-hal lain di luar
Al-Qur’an.
3). Dengan izin Allah, seorang siswa menjadi lebih unggul dari teman-
temannya yang lain di kelas, karena Allah memberikan karunia Nya
lantaran ia mau menjaga kalam Allah dan mencintai Nya.
30

Dengan demikian tidak diragukan lagi bahwa kemuliaan menghafal Al-Qur’an
tidak hanya sebatas di dunia, sampai di akhiratpun kemuliaan itu akan terus
terpancar pada para penghafal Al-Qur’an serta kedua orang tuanya. Keutamaan
dan kemuliaan itu merupakan karunia Allah yang akan diberikan kepada hamba-
hamba yang dikehendaki-Nya. Dengan adanya Hadits-Hadits tersebut seorang
pembaca dan penghafal Al-Qur’an seharusnya bisa lebih termotivasi dalam
mengkaji, memahami dan melestarikan hafalannya.
3. Adab Menghafal Al-Qur’an
Aktivitas menghafal Al-Qur’an diawali dengan membaca secara berulang-
ulang ayat-ayat yang akan dihafalkan, sampai mendapatkan gambaran dalam
fikiran tentang ayat-ayat yang dihafalkan tersebut.
Membaca Al-Qur’an merupakan salah satu bentuk komunikasi manusia
kepada Allah, oleh karena itu dalam membaca Al-Qur’an harus menggunakan
beberapa tata krama, baik batin maupun zhahir.
Menurut Imam Nawawi ada tatakrama batin yang harus diperhatikan oleh
pembaca Al-Qur’an, diantaranya adalah sebelum membaca Al-Qur’an seseorang


30
Achmad Yaman Syamsudin. Op. Cit., hlm. 35-36.


harus menanamkan dalam hatinya niat yang ikhlas karena Allah, yaitu dengan
menghadirkan perasaan bermunajat kepada Allah, serta hendaklah ia membaca
Al-Qur’an seakan-akan ia melihat Allah, (walaupun ia tidak melihat Allah) maka
sesungguhnya Allah melihatnya.
31

Selain tatakrama batin, menurut Al-Maliki ada beberapa tatakrama zhahir
dalam membaca Al-Qur’an yang juga harus diperhatikan, diantaranya:
1). Disunnahkan untuk mensucikan diri dari hadast besar dan kecil terlebih
dahulu, karena membaca Al-Qur’an merupakan dzikrull h yang paling
utama;
2). Disunnahkan membaca Al-Qur’an di tempat yang bersih, adapun tempat
yang paling utama adalah di masjid;
3). Disunnahkan menggosok gigi terlebih dahulu sebelum memulai
membaca Al-Qur’an, agar mulut menjadi suci dan bersih.
4). Disunnahkan duduk dengan menghadap kiblat dalam keadaan khusyu’,
tenang serta menundukkan kepala;
5). Disunnahkan membaca isti dzah (ta’awudz) sebelum memulai membaca
Al-Qur’an.
6). Hendaknya membaca basmalah pada setiap permulaan surat kecuali
permulaan surat At-Taubah;
7). Disunnahkan membaca Al-Qur’an dengan tartil, agar dapat mengangan-
angankan ayat-ayat yang sedang dibaca.

31
Abi Zakariya Yahya An-Nawawi, Op. Cit., hlm. 57.


8). Disunnahkan membaca Al-Qur’an dengan memikirkan maksud ayat dan
berusaha memahaminya, karena itulah tujuan yang agung dan penting
dalam membaca Al-Qur’an.
9). Disunnahkan membaca Al-Qur’an itu disertai dengan menangis apabila
ada ayat yang menerangkan tentang pedihnya adzab, apabila tidak bisa
maka hendaknya diusahakan untuk menangis;
10). Disunnahkan memperindah suara dalam membaca Al-Qur’an, apabila
tidak bisa maka hendaknya tetap menjaga bacaan itu sesuai dengan ilmu
tajwid;
11). Disunnahkan membaca Al-Qur’an dengan suara yang jelas (keras),
karena membaca dengan suara yang keras lebih utama dan dapat
menimbulkan semangat bagi pembacanya.
32

Dalam redaksi yang lain, An-Nawawi menambahkan ada beberapa adab dalam
membaca Al-Qur’an, antara lain:
1). Dalam membaca Al-Qur’an tidak boleh menggunakan bahasa selain Arab,
baik di dalam sholat maupun di luar sholat. Misalnya apabila seseorang
membaca surat Al-Fatihah di dalam sholat, tetapi dengan bahasa
indonesia (terjemah), maka sholatnya tidak sah. Demikian pula apabila
membaca di luar shalat dengan bahasa selain arab (terjemah), maka
seseorang tidak mendapatkan pahala membaca Al-Qur’an. Hal ini karena
mengingat pahala membaca Al-Qur’an adalah dari melafadkan huruf-huruf
arab yang terangkai dalam ayat-ayat Al-Qur’an.


32
Muhammad Bin Alwi Al-Maliki, Zubdatul Itqan Fi Ulumil Qur’an (Jeddah: Dar Al-Syuruq,
1986), hlm. 43-49.


2). Diperbolehkan membaca Al-Qur’an dengan menggunakan Qira’at tujuh
(qir ’at al-sab’ah) yang telah disepakati oleh para Ulama ahli Qira’ah.
33

4. Metode Menghafal Al-Qur’an
Metode merupakan cara untuk mencapai maksud yang diinginkan. Dalam
proses menghafal Al-Qur’an, peran metode meghafal sangat besar untuk
mendukung keberhasilan hafalan. Penggunaan metode yang tepat, akan membantu
seorang penghafal Al-Qur’an untuk dapat menghafal Al-Qur’an dengan baik dan
cepat.
Menurut Zen, secara umum metode yang dipakai dalam menghafal Al-Qur’an
ada dua macam, yaitu metode tahfizh dan takrir. Kedua metode ini pada dasarnya
tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Metode tahfizh adalah menghafal
materi baru yang belum pernah dihafal, sedangkan metode takrir adalah
mengulang hafalan yang sudah diperdengarkan pada instruktur.
34

Dalam proses menghafal Al-Qur’an, umumnya para penghafal Al-Qur’an
menggunakan perpaduan antara metode tahfizh (menambah hafalan) dan metode
takrir (mengulang hafalan), karena dengan menyeimbangkan keduanya, kuantitas
dan kualitas hafalan akan dapat terjaga dengan baik. Adapun secara lebih spesifik,
metode menghafal dalam prakteknya, akan lebih terperinci dijelaskan selanjutnya.
Menurut Al-Hafizh, ada beberapa metode yang dapat membantu para
penghafal mengurangi kepayahan dalam menghafal Al-Qur’an. Diantara metode
itu adalah:


33
Abi Zakariya Yahya An-Nawawi, Op. Cit., hlm. 75.

34
Muhaimin Zen, Tata Cara Problematika Menghafal Al-Qur’an dan Petunjuk-Petunjuknya,
Sebagaimana dikutip Oleh Ainul Aisiyah, Pengaruh Program Menghafal Al-Qur’an Terhadap
Prestasi Belajar Siswa (Skripsi: Fakultas tarbiyah UIN Malang, 2002), hlm. 16.


1. Metode Wahdah, yaitu menghafal satu persatu ayat yang akan dihafal.
Untuk mencapai hafalan awal, setiap ayat hendaknya dibaca sebanyak
sepuluh kali atau lebih hingga proses ini mampu membentuk pola dalam
bayangan, untuk kemudian membentuk gerak reflek dari lisan. Setelah
benar-benar hafal barulah dilanjutkan pada ayat seterusnya hingga
mencapai satu halaman. Setelah ayat-ayat dalam satu halaman dihafal,
tahap berikutnya adalah menghafal urutan-urutan ayat dalam satu halaman
tersebut, kemudian diulang-ulang sampai benar-benar hafal.
2. Metode Kit bah (menulis).
Metode ini memberikan alternatif lain dari metode yang pertama. Pada
metode ini, penghafal lebih dulu menulis ayat dalam secarik kertas,
kemudian dibaca dengan baik dan mulai dihafal. Adapun menghafalnya
bisa dengan metode wahdah, atau dengan berkali-kali menulisnya. Dengan
begitu seorang akan dapat menghafal karena ia dapat memahami bentuk-
bentuk huruf dengan baik dan mengingatnya dalam hati.
35

3. Metode Sim i (mendengar)
Perbedaan metode ini dengan metode yang lain adalah pada pemaksimalan
fungsi indera pendengar. Pada metode ini penghafal mendengarkan lebih
dulu ayat-ayat yang akan dihafalkannya untuk kemudian berusaha diingat-
ingat. Metode ini sangat cocok untuk anak tunanetra dan anak kecil yang
belum mengenal baca tulis. Metode ini bisa dilakukan dengan mendengar


35
Ahsin W. Al-Hafizh. Op. Cit., hlm. 63-64.


bacaan dari guru, atau dari rekaman bacaan Al-Qur’an (murattal Al-
Qur’an).
4. Metode Gabungan.
Metode ini merupakan gabungan antara metode pertama dengan metode
yang kedua, yaitu wahdah dan kitabah. Akan tetapi pada metode gabungan
ini, penghafal berusaha untuk menghafalkan dahulu baru kemudian
menuliskan apa yang telah ia hafal dalam kertas.
5. Metode Jama’ (kolektif).
Metode ini menggunakan pendekatan menghafal Al-Qur’an secara
kolektif, yaitu: membaca ayat-ayat yang telah dihafal secara bersama-
sama, dipimpin oleh seorang instruktur.
36

Dalam redaksi yang lain, Ulum menyebutkan ada beberapa metode yang
digunakan untuk menghafal Al-Qur’an:
1. Thar qatu takr ru al-qir ’atu al-juz’i, yaitu: membaca ayat-ayat yang
akan dihafal secara berulang-ulang sampai penghafal menemukan
bayangan dalam fikiran mengenai ayat tersebut, kemudian diulang-ulang
mulai ayat pertama sampai seterusnya.
2. Thar qatu takr ru al-qir ’atu al-kulli, yaitu: dalam hal ini seorang
penghafal Al-Qur’an sebelumnya membaca Al-Qur’an secara binnadzar
(melihat) dengan bimbingan seorang instruktur, kemudian sampai ia
khatam beberapa kali barulah ia memulai untuk menghafal.


36
Ahsin W. Al-Hafizh, Op. Cit., hlm. 64-66.


3. Thar qatu al-jumlah, yaitu: menghafal rangkaian-rangkaian kalimat yang
terdapat dalam setiap ayat Al-Qur’an. Seorang penghafal memulai
hafalannya dengan menghafal perkalimat untuk kemudian dirangkaikan
menjadi satu ayat yang utuh.
4. Thar qatu al-tadr jy, yaitu metode bertahap. Pada metode ini, seorang
penghafal dalam menargetkan hafalannya tidak secara sekaligus, akan
tetapi sedikit-demi sedikit dalam waktu yang berbeda. Misalnya: subuh
menghafal seperempat juz, dzuhur menghafal seperempat juz berikutnya
dan seterusnya.
5. Thar qatu al-tadabburi, yaitu metode mengangan-angankan makna.
Dalam metode ini, seorang penghafal Al-Qur’an menghafal dengan cara
memperhatikan makna lafad/kalimat, sehingga diharapkan ketika
membaca ayat-ayat Al-Qur’an dapat tergambar makna-makna lafdiah yang
terucap (terbaca). Metode ini sangat efektif bagi seseorang yang telah
memiliki kemampuan bahasa arab yang baik, namun dapat juga digunakan
bagi orang sedikit mengetahui bahasa arab dengan bantuan kitab terjemah
Al-Qur’an.
37

Dari beberapa metode menghafal yang telah dijelaskan, para penghafal Al-
Qur’an bisa memilih dan menggunakan salah satunya, ataupun menggabungkan
beberapa metode yang dianggap sesuai untuk mencapai keberhasilan menghafal
Al-Qur’an. Penggunaan metode menghafal tersebut bisa diterapkan pada proses


37
M. Samsul Ulum, Menangkap Cahaya Al-Qur’an (Malang: UIN Malang Press, 2007), hlm.
136-139.


menghafal Al-Qur’an, baik pada tahfizh (menambah hafalan) dan takrir
(mengulang hafalan).
Berdasarkan pemaparan tersebut diketahui bahwa metode yang ditawarkan
amat beragam, dengan demikian diharapkan aktivitas menghafal Al-Qur’an
menjadi tidak membosankan, karena banyak alternatif metode yang bisa dipilih
oleh para penghafal Al-Qur’an.
5. Melestarikan Hafalan Al-Qur’an
Al-Qur’an yang telah berusaha dihafal oleh kaum muslimin harus tetap dijaga
dan dilestarikan dengan baik dalam ingatannya. Menghafal Al-Qur’an pada
dasarnya berlangsung sejalan dengan psikologi proses mengingat, dimana terjadi
sebuah proses penerimaan informasi melalui indera penglihatan atau pendengaran
siswa. Informasi ini kemudian masuk kedalam memori jangka pendek (short term
memory/working memory) siswa dan dikodekan (encoding). Setelah selesai proses
pengkodean tersebut, informasi kemudian masuk dan tersimpan dalam memori
jangka panjang/permanen (long term memory permanent memory).
38

Apabila proses penerimaan informasi berlangsung dengan sempurna, maka
item informasi yang tersimpan pun baik. Akan tetapi apabila item informasi yang
diserap rusak sebelum masuk ke memori permanen siswa, maka item yang rusak
tersebut tidak hilang dan tetap diproses dalam memori siswa tersebut, tetapi
terlalu lemah untuk dipanggil kembali (lupa). Kerusakan item informasi tersebut
mungkin disebabkan karena tenggang waktu antara saat diserapnya informasi


38
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 67.


dengan saat pengkodean dan transformasi dalam memori jangka panjang siswa
tersebut.
39

Menurut Muhibbin Syah dengan menghimpun pendapat dari berbagai sumber
dalam bukunya, ada beberapa faktor penyebab lupa antara lain:
a. lupa yang terjadi karena gangguan konflik antara item informasi atau
materi yang ada dalam sistem memori siswa.
Dalam interference theory (teori mengenai gangguan), gangguan konflik
terbagi menjadi dua, yaitu (1) proaktive interverence, dan (2) retroactive
interverence.
Seorang siswa akan mengalami gangguan proaktif apabila materi
pelajaran lama yang sudah tersimpan dalam subsistem akal permanennya
mengganggu masuknya materi pelajaran baru. Peristiwa ini bisa terjadi
apabila siswa tersebut mempelajari sebuah materi pelajaran yang sangat
mirip dengan materi pelajaran yang telah dikuasainya dalam tenggang
waktu yang pendek. Dalam hal ini, materi yang baru saja dipelajari akan
sangat sulit diingat atau diproduksi kembali.
Sebaliknya, seorang siswa mengalami gangguan retroaktif apabila materi
pelajaran baru membawa konflik dan gangguan terhadap pemanggilan
kembali materi pelajaran lama yang telah lebih dulu tersimpan dalam
subsistem akal permanen siswa tersebut. Dalam hal ini, materi pelajaran
lama akan sangat sulit diingat oleh siswa (siswa lupa terhadap materi
yang lama tersebut).


39
Ibid., hlm. 154.


b. lupa yang terjadi karena adanya tekanan terhadap item informasi yang
telah ada, baik disengaja maupun tidak. Contohnya, apabila item informasi
yang diterima oleh siswa kurang menyenangkan, sehingga siswa akan
dengan sengaja melupakan dan menekannya kedalam alam bawah sadar.
Selain itu, karena sistem informasi itu tertekan kedalam alam bawah sadar
dengan sendirinya (lupa dengan sendirinya) karena tidak pernah
dipergunakan.
c. lupa karena perubahan situasi lingkungan antara waktu belajar dengan
waktu mengingat kembali.
d. lupa karena perubahan sikap dan minat siswa terhadap proses dan situasi
belajar tertentu.
e. lupa karena materi pelajaran yang telah dikuasi tidak pernah digunakan
atau dihafalkan oleh siswa.
f. lupa karena terjadi perubahan urat syaraf otak.
40

Dalam proses menghafal Al-Qur’an, ayat-ayat yang dihafalkan oleh para
penghafal bisa tersimpan dalam memori jangka pendek maupun memori jangka
panjang, atau bisa juga tidak tersimpan. Hal ini tergantung pada intensitas
pengulangan yang dilakukan, serta keseimbangan antara tahfizh (penambahan
hafalan) dan takrir (pengulangan hafalan). Oleh karena itulah, perlu adanya upaya
untuk melestarikan hafalan yang telah dimiliki oleh seorang penghafal Al-Qur’an.



40
Ibid., hlm. 152-154.


Menurut As-Sirjani dan Abdul Kholiq, ada beberapa strategi untuk
melestarikan (memelihara) hafalan Al-Qur’an, antara lain:
1) Menjauhi perbuatan maksiat.
Seorang penghafal Al-Qur’an harus berusaha untuk menjauhi segala bentuk
kemaksiatan dan dosa serta menjaga dirinya dari agar tidak terjerumus
kedalamnya. Selain menjauhi perbuatan dosa, seorang penghafal Al-Qur’an harus
menghindari segala hal yang syubhat (meragukan).
Sejarah telah mencatat ketika Imam Syafi’i yang terkenal kuat hafalannya
mengadukan kepada gurunya Waqi’ perihal hafalannya yang agak tersendat, maka
sang Guru memberikan nasehat kepada Imam Syafi’i agar melakukan intropeksi
diri dan mengingat-ingat dosa yang pernah dilakukan.
41

2) Mengulang-ulang dengan teratur.
Seorang penghafal Al-Qur’an harus memiliki waktu khusus untuk mengulang
hafalannya, sehingga ia bisa rutin melakukan pengulangan hafalan. Seorang
penghafal Al-Qur’an hendaknya berusaha untuk bisa mengkhatamkan bacaannya
dalam jangka sebulan, atau apabila kurang dari sebulan itu lebih baik. Dengan
mengulang-ulang secara teratur dan istiqomah, diharapkan hafalan yang mulanya
berada dalam memori jangka pendek bisa menetap dalam memori jangka
panjang/permanen.
Cara mengulang-ulang hafalan Al-Qur’an tidak harus dilakukan monoton
dengan duduk. Pengulangan yang paling efektif dilakukan dalam sholat, baik
sholat fardhu maupun sholat sunah, karena saat itu konsentrasi bisa difokuskan


41
Raghib As-Sirjani dan Abdurrahman Abdul Kholiq, Cara Cerdas Hafal Al-Qur’an, terj.
Sarwedi M. Amin Hasibuan (Solo: Aqwam, 2007), hlm. 71.


dengan baik. Hal ini berbeda dengan kondisi menghafal yang hanya dengan
duduk, biasanya ada saja hal-hal yang dapat membuyarkan konsentrasi.
Selain mengulang-ulang hafalan dengan membacanya secara teratur,
penghafal Al-Qur’an juga dapat mengulang hafalannya dengan cara
mendengarkan bacaan/hafalan penghafal lain. Mendengarkan bacaan Al-Qur’an
dengan rutin dan sering, bisa membantu menguatkan daya ingat.
42

Mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari orang lain/penghafal lain tidak hanya
bisa dilakukan di rumah atau di majlis ta’lim saja, akan tetapi bisa di manapun.
Sebagaimana diketahui bahwa pada zaman sekarang ini teknologi informasi telah
maju, sehingga siapapun dapat mendengarkan bacaan tartil Al-Qur’an (murattal)
dari imam-imam Qiro’ah yang masyhur seperti Syeikh Abdurrahman As-Sudais,
As-Syuraim, Syeikh Hani Ar-Rifa’i dan lain sebagainya melalui kaset atau MP3
player. Selain itu, sekarang ini mulai banyak bermunculan Radio dakwah Islam
yang program/acaranya didominasi oleh bacaan Al-Qur’an dari imam-imam
Qiro’ah yang masyhur. Dengan demikian kapanpun dan di manapun para pengafal
bisa saja mengulang-ulang hafalannya dengan batuan berbagai media elektronik
tersebut.
3) Memahami makna yang terkandung dalam Al-Qur’an
Memahami makna yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an, akan
membantu penghafal dalam melekatkan hafalannya dalam pikiran. Seorang
penghafal yang memahami makna dan kandungan ayat yang akan dihafal, akan
lebih mudah dan cepat menghafalnya.


42
Ibid., hlm. 79-84.


Contohnya ketika menghafal surat/ayat-ayat yang mengandung kisah dan
memiliki asbabun nuzul (sebab turunnya ayat). Begitu pula apabila menghafal
ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum fikih, seperti berwudhu, kafarat sumpah,
zhihar, puasa, haji, dan sebagainya.
Seorang penghafal Al-Qur’an juga bisa mempergunakan/memanfaatkan kitab
tafsir yang ringkas, seperti Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir, Mukhtashar Tafsir
Ath-Thobari, Tafsir Jalalain dan lainnya.
4) Sering memperdengarkan bacaan/hafalan kepada orang lain
Seorang penghafal hendaknya tidak menyandarkan hafalannya pada dirinya
sendiri, akan tetapi ia harus memperdengarkan hafalannya kepada penghafal Al-
Qur’an yang lain, terutama yang lebih senior. Hal ini bertujuan untuk mengetahui
letak kesalahan bacaan, bacaan yang terlupakan dan diulang-ulang secara tidak
sadar. Kesalahan bacaan biasanya terjadi karena penghafal tersebut membaca
sendiri (tidak diperdengarkan), kemudian saat melakukan kesalahan bacaan ia
tidak menyadarinya. Hal ini akan berkelanjutan jika penghafal Al-Qur’an tidak
pernah memperdengarkan hafalannya kepada orang lain.
43

6. Faktor-Faktor Yang Mendukung Keberhasilan Menghafal Al-Qur’an
Dalam pembahasan sebelumnya telah disebutkan bahwa menghafal Al-Qur’an
merupakan sebuah proses mengingat Al-Qur’an di luar kepala dengan berbagai
strategi dan metode tertentu. Sejalan dengan proses belajar, menghafal Al-Qur’an
juga memiliki beberapa faktor pendukung untuk mencapai hafalan yang
sempurna.

43
Ibid., 75 & 122


Dalam rangka mencapai suatu keberhasilan untuk menghafal Al-Qur’an, ada
beberapa faktor penunjang, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Adapun
penjelasan dari kedua faktor tersebut adalah sebagai berikut:
a. Faktor Internal
Faktor Internal adalah keadaan jasmani dan rohani individu (siswa).
44
Faktor
ini berasal dari dalam individu yang merupakan pembawaan masing-masing
individu dan sangat menunjang keberhasilan menghafal Al-Qur’an, antara lain:
1) Bakat
Secara umum bakat (aptitude) adalah komponen potensial seseorang siswa
untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang.
45
Dalam hal ini
seorang penghafal Al-Qur’an yang memiliki ketajaman intelegensi dan potensi
ingatan yang bagus akan lebih mudah untuk menghafal Al-Qur’an. Intelegensi dan
potensi kecerdasan pada dasarnya merupakan faktor-faktor psikologis. Dengan
bakat intelegensi dan ingatan yang baik, seorang penghafal Al-Qur’an akan dapat
memaksimalkan efektifitas metode menghafal yang ada.
46

2) Minat
Minat secara sederhana berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau
keinginan yang besar terhadap sesuatu. Mahasiswa yang memiliki minat untuk
menghafal Al-Qur’an akan secara sadar dan bersungguh-sungguh berusaha
menghafal Al-Qur’an dan melestarikannya. Minat yang kuat akan mempercepat
keberhasilan dalam usaha menghafal Al-Qur’an. Menurut Al-Hafizh, ada


44
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru (Bandung: Remaja Rosda
Karya, 2000), hlm. 132.

45
Muhibbin Syah, Ibid , hlm. 135.

46
Ahmad Yaman Syamsudin, Op. Cit., hlm. 49.


beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat menghafal Al-
Qur’an, antara lain:
a) Menanamkan sedalam-dalamnya tentang nilai keagungan Al-Qur’an dalam
jiwa penghafal Al-Qur’an, ini adalah salah satu tugas seorang instruktur selain
motivasi intern seseorang penghafal.
b) Memahami keutamaan membaca, mempelajari dan menghafal Al-Qur’an. Hal
ini dilakukan dengan dengan berbagai kajian yang berkaitan dengan ke Al-
Qur’an-an.
c) Menciptakan kondisi lingkungan yang benar-benar mencerminkan ke-al-
Qur’an-an, serta kondusif untuk menghafal Al-Qur’an.
d) Mengembangkan objek perlunya menghafal Al-Qur’an, atau mempromosikan
idealisme suatu lembaga pendidikan yang bercirikan Al-Qur’an, sehingga
animo untuk menghafal Al-Qur’an selalu muncul dengan perspektif yang
baru.
e) Mengadakan musabaqah (lomba-lomba), semaan Al-Qur’an dan lainnya.
f) Mengadakan studi banding dengan mengunjungi lembaga-lembaga pendidikan
atau pondok pesantren Al-Qur’an, sehingga bisa mendapat masukan yang
berguna dari studi banding tersebut, sekaligus menyegarkan kembali minat
menghafal Al-Qur’an sehingga tidak berhenti di tengah jalan.
g) Mengembangkan berbagai metode menghafal yang bervariasi untuk
menghilangkan kejenuhan dari suatu metode yang terkesan monoton.
47




47
Ahsin W. Al-Hafizh, Op. Cit., hlm. 42-43.


3) Motivasi Individu
Dalam konteks menghafal Al-Qur’an, motivasi individu adalah adanya niat
ikhlas dan azam (kemauan) yang kuat. Langkah pertama yang harus dimiliki
seorang penghafal Al-Qur’an adalah menanamkan rasa keikhlasan tanpa ada
sedikitpun riya’ atau pamer hanya karena ingin disebut hafizh-hafizhah dan
sebagainya. Niat menghafal Al-Qur’an haruslah didasarkan untuk mencari ridho
Allah dan beribadah kepada-Nya. Niat yang ikhlas akan membedakan tujuan
seseorang dalam menghafal Al-Qur’an. Hal ini karena pijakan awal yang berbeda
akan berbeda pula hasil yang dicapai.
Selain niat, azam/kemauan yang kuat juga memegang peranan penting dalam
proses menghafal dan melestarikan hafalan Al-Qur’an. Hal ini karena dalam
proses menghafal Al-Qur’an seseorang akan mengalami rasa jenuh, bosan,
lingkungan yang tidak kondusif, gangguan batin karena sulitnya yat-ayat yang
dihafal dan lain sebagainya. Oleh karena itu, untuk senantiasa dapat melestarikan
hafalan perlu adanya keinginan dan tekad yang kuat.
48

4) Usia yang cocok
Sebenarnya tidak ada batasan usia tertentu secara mutlak untuk menghafal Al-
Qur’an, namun tidak dapat dipungkiri bahwa tingkat usia seseorang memang
berpengaruh terhadap keberhasilan menghafal Al-Qur’an. Seorang penghafal Al-
Qur’an yang relatif masih muda akan lebih mudah menghafal karena pikirannya
masih murni dan belum tercampuri oleh urusan keduniaan dan berbagai problem
kehidupan yang memberatkannya. Usia yang ideal untuk menghafal adalah


48
Ahsin W. Al-Hafizh. Ibid, hlm. 49-50.


berkisar antara usia 6-21 tahun, namun demikian bagi anak-anak usia dini
hendaknya tidak dipaksakan melebihi batas kemampuan psikologisnya.
b. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah kondisi atau lingkungan di sekitar siswa/mahasiswa
penghafal Al-Qur’an. Hal ini berarti bahwa faktor-faktor yang berasal dari luar
diri siswa juga ada yang bisa menunjang keberhasilan menghafal dan melestarikan
hafalan Al-Qur’an. Adapun beberapa faktor eksternal ini antara lain:
1). adanya guru Qira’ah (instruktur)
Keberadaan seorang instruktur dalam memberikan bimbingan kepada siswa
(anak bimbingannya) sangat berpengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam
menghafalkan Al-Qur’an. Faktor ini sangat menunjang kelancaran mereka dalam
proses menghafal. Sebagaimana diketahui Al-Qur’an diturunkan secara mutawatir
(bersambung) kepada malaikat Jibril dan Nabi Muhammad SAW, demikian
seterusnya beliau mengajarkannya kepada para sahabat hingga sampai pada masa
sekarang ini. Sehubungan dengan inilah, maka menurut As-Suyuti dalam belajar
Al-Qur’an harus dengan guru yang memiliki sanad sahih, yaitu guru yang jelas,
tertib sanadnya dan bersambung kepada Nabi.
49

2). pengaturan waktu untuk menghafal Al-Qur’an.
Tingkat kemampuan seorang penghafal berbeda antara satu dengan lainnya,
begitu pula kesempatan yang dipergunakan seseorang penghafal Al-Qur’an.
Dalam kesehariannya, seorang penghafal harus memiliki waktu khusus untuk
menambah dan mengulangi hafalannya.


49
Ahsin W. Al-Hafizh, Op. Cit., hlm. 74.


Bagi penghafal Al-Qur’an yang khusus menjalani program menghafal saja,
dapat mengoptimalkan seluruh kemampuan dan memaksimalkan seluruh kapasitas
waktunya untuk menghafal sehingga bisa lebih cepat menyelesaikan hafalan Al-
Qur’annya, namun jika penghafal Al-Qur’an tersebut juga memiliki kegiatan
selain menghafal Al-Qur’an seperti sekolah, kuliah, kursus dan lainnya, maka ia
harus pandai-pandai memanfaatkan waktu yang ada.
Alokasi waktu yang ideal untuk ukuran sedang dengan target satu halaman
adalah empat jam, dengan rincian untuk menghafal ayat-ayat baru dan dua jam
untuk mengulang hafalan. Penggunaan waktu tersebut dapat disesuaikan dengan
manajemen waktu yang diperlukan masing-masing individu. Umpamanya satu
jam di pagi hari dan satu jam di sore harinya, malam hari dan seterusnya. Adapun
waktu-waktu yang dianggap sesuai dan baik untuk menghafal dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
a). waktu sebelum terbit fajar.
Waktu sebelum terbit fajar adalah waktu yang sangat baik untuk menghafal
ayat-ayat suci Al-Qur’an, karena waktunya tenang dan memiliki banyak
keutamaan. Waktu malam (setelah bangun dari tidur) adalah waktu yang
sangat baik untuk membaca dan mengulangi hafalan Al-Qur’an, karena
bacaan lebih menyatu dan khusyu’ serta lebih mudah untuk dapat
memahami bacaan dari pada waktu siang. Hal ini karena waktu siang
merupakan waktu yang banyak berbagai aktifitas dan penuh dengan suara-


suara bising dari lingkungan sekitar.
50
Sebagaimana firman Allah dalam
Al- Qur’an surat Al-Muzammil (73:6):
b p¥ R @‹9 ´‘d « ´r P´q% ´ r x‹% ÇÏÈ
Artinya: ”Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk
khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan”
51


b). setelah fajar hingga terbit matahari
Waktu pagi juga sangat baik untuk menghafal, karena saat itu umumnya
seseorang belum terlibat dalam berbagai kesibukan kerja. Menurut kebiasaan,
seseorang telah beristirahat pada malam harinya, sehingga jiwanya masih
bersih dan terbebas dari segala beban mental dan pikiran yang memberatkan.
c). setelah bangun dari tidur siang
Faktor psikis dari tidur siang adalah untuk mengembalikan kesegaran
jasmani dan menetralisir otak dari kejenuhan dan kelesuan setelah seharian
bekerja keras. Oleh karena itulah, setelah bangun dari tidur siang hendaklah
dimanfaatkan untuk menambah hafalan walaupun sedikit, atau sekedar
mengulang hafalan saja.
d). setelah shalat
Dalam sebuah hadits Rasulullah pernah bersabda bahwa diantara waktu
yang mustajab adalah setelah mengerjakan shalat fardhu, terutama bagi
orang-orang yang dapat mengerjakannya dengan khusyu’ dan sungguh-
sungguh, sehingga ia dapat menetralisir jiwanya dari kekalutan. Dengan


50
Ahmad Yaman Syamsudin, Op. Cit, hlm. 88.

51
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Op. Cit., hlm. 788.


demikian, setelah sholat merupakan waktu yang baik pula untuk menghafal
Al-Qur’an.
e). waktu diantara maghrib dan Isya’
Kesempatan ini sudah sangat lazim digunakan oleh kaum muslimin untuk
membaca Al-Qur’an, atau bagi para penghafal Al-Qur’an waktu ini juga
baik untuk dimanfaatkan untuk menambah hafalan atau untuk mengulang
hafalan. Beberapa waktu yang telah disebutkan di atas bukanlah sebuah
kemutlakan, karena setiap orang memiliki waktu senggang yang berbeda
dan disesuaikan dengan kegiatannya masing-masing.
52


B. Prestasi Belajar
1. Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi belajar terdiri dari dua kata, yaitu “prestasi dan belajar”. Sebelum
mendefinisikan prestasi belajar terlebih dahulu perlu memahami pengertian
belajar. Belajar selalu dikaitkan dengan suatu aktifitas yang membawa perubahan
pada setiap individu. Perubahan ini berkaitan dengan perubahan kebiasaan,
pengetahuan, keterampilan dan sikap, juga menyangkut beberapa aspek dan
kebiasaan manusia yang tidak terlepas dari kepribadiannya.
Menurut Slameto, pengertian belajar adalah: suatu proses usaha yang
dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang


52
Ahsin W. Al-Hafizh, Op. Cit., hlm. 58-59.


baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu dalam interaksi
dengan lingkungan.
53

Belajar juga diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu
berkat adanya interkasi antara individu dengan individu dan individu dengan
lingkungan, sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya.
Dalam hal ini perubahan berarti bahwa seorang yang telah mengalami proses
belajar akan mengalami perubahan tingkah laku, baik dalam aspek pengetahuan,
keterampilan, maupun sikapnya.
Perubahan tingkah laku dalam aspek pengetahuan adalah dari tidak mengerti
menjadi mengerti, dalam aspek keterampilan adalah dari tidak bisa menjadi bisa,
dari tidak terampil menjadi terampil, dalam aspek sikap adalah dari ragu-ragu
menjadi yakin, dari tidak sopan menjadi sopan. Hal ini merupakan salah satu
kriteria keberhasilan belajar yang diantaranya ditandai oleh terjadinya perubahan
tingkah laku pada diri individu yang belajar. Tanpa adanya perubahan tingkah
laku, belajar dapat dikatakan gagal.
54

Perubahan yang terjadi pada individu merupakan hasil dari pengalamannya
sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya, yaitu interaksi edukatif. Dalam
prakteknya tidak selamanya belajar itu dari interaksi edukatif atau interaksi belajar
mengajar, tetapi bisa juga terjadi di luar proses belajar mengajar. Misalnya anak
yang belajar sendiri di rumah, itu juga merupakan usaha yang dilakukan individu


53
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya (Jakarta: Bina Aksara, 1988),
hlm. 2.

54
Moh. Uzer Usman & Lilis Setiawati, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar
(Bandung: Remaja Rosda Karya, 1993), hlm. 2.


untuk memperoleh perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalamannya dalam
berinteraksi dengan lingkungan.
Dari beberapa pengertian di atas seseorang dapat dikatakan belajar apabila
adanya perubahan tingkah laku karena terjadinya pengalaman dan latihan. Dengan
demikian, tidak semua perubahan diartikan belajar. Perubahan yang terjadi dalam
aspek-aspek kematangan, pertumbuhan dan perkembangan tidak termasuk dalam
arti belajar. Agar lebih jelas, ada beberapa ciri perubahan tingkah laku dalam
pengertian belajar, yaitu:
a. perubahan yang terjadi secara sadar. Hal ini berarti bahwa individu yang
belajar menyadari akan adanya perubahan yang dialami, atau setidaknya ia
merasakan adanya perubahan dalam dirinya, seperti bertambahnya
pengetahuan, kebiasaan, sikap dan pandangan terhadap sesuatu, serta
keterampilan,
b. perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional. Sebagai hasil belajar,
perubahan yang terjadi pada individu berlangsung terus menerus dan tidak
stasis. Fungsional artinya perubahan dalam belajar akan berguna dalam hidup.
Satu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan ataupun proses
belajar berikutnya.
c. perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif. Perubahan itu senantiasa
bertambah dan bertujuan untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari
sebelumnya, dengan demikian semakin banyak usaha belajar dilakukan, maka
akan semakin banyak dan baik pula perubahan yang yang diperoleh seseorang.


Perubahan yang bersifat aktif artinya bahwa perubahan itu tidak terjadi dengan
sendirinya melainkan karena usaha dari individu sendiri.
d. perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara, maksudnya perubahan
yang yang bersifat sementara atau temporer terjadi hanya untuk beberapa saat
saja. Adapun perubahan yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap.
e. perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah.
f. perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku, seseorang yang belajar akan
mengalami perubahan tingkah laku secara keseluruhan baik dalam sikap,
keterampilan, pengetahuan dan sebagainya.
55

Menurut Muhibbin Syah, manifestasi atau perwujudan perilaku belajar
biasanya lebih sering tampak dalam perubahan-perubahan sebagai berikut:
1). Kebiasaan. Setiap siswa yang telah mengalami proses belajar, kebiasaannya
akan tampak berubah. Menurut Burghardt (1973) dalam Muhibbin, kebiasaan
itu timbul karena proses penyusutan kecenderungan respon dengan
menggunakan stimulasi yang berulang-ulang. Dalam proses belajar,
pembiasaan juga meliputi pengurangan perilaku yang tidak diperlukan. Karena
proses penyusutan/pengurangan inilah, muncul suatu pola bertingkah laku
baru yang relatif menetap dan otomatis.
2). Keterampilan. Keterampilan ialah kegiatan yang berhubungan dengan urat-
urat syaraf dan otot-otot yang lazimnya tampak dalam kegiatan jasmaniah
seperti menulis, olah raga dan sebagainya. Meskipun sifatnya motorik, namun
keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang


55
Slameto, Op. Cit., hlm. 3-4.


tinggi. Dengan demikian, siswa yang melakukan gerak motorik dengan
koordinasi dan kesadaran yang rendah dapat dianggap kurang atau tidak
terampil.
3). Pengamatan. Artinya proses menerima, menafsirkan dan memberi arti
rangsangan yang masuk melalui indera-indera seperti mata dan telinga. Berkat
pengalaman belajar, seorang siswa akan akan mampu mencapai pengamatan
yang benar-benar obyektif sebelum mencapai pengertian. Pengamatan yang
salah akan menimbulkan pengertian yang salah pula.
4). Berfikir asosiatif dan daya ingat. Berfikir asosiatif adalah berfikir dengan
mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya. ini merupakan proses pembentukan
hubungan antara rangsangan dengan respon yang sangat dipengaruhi oleh
tingkat pengertian atau pengetahuan yang diperoleh siswa dari hasil belajar.
Jadi, siswa yang telah mengalami proses belajar akan ditandai dengan
bertambahnya simpanan materi (pengetahuan dan pengertian) dalam memori,
serta kemampuan menghubungkan materi tersebut dengan situasi dan stimulus
yang sedang ia hadapi.
5). Berfikir rasional dan kritis, adalah perwujudan perilaku belajar terutama yang
berhubungan dengan pemecahan masalah. siswa dituntut menggunakan rasio
(akal sehat) untuk menentukan sebab akibat, menganalisis, menarik
kesimpulan-kesimpulan dan bahkan menciptakan hukum-hukum. dalam hal
berpikir kritis, siswa dituntut menggunakan strategi kognitif tertentu yang
tepat untuk menguji kehandalan gagasan pemecahan masalah dan mengatasi
kesalahan atau kekurangan.


6). Sikap. Dalam arti yang sempit, sikap adalah pandangan atau kecenderungan
mental. Menurut Bruno (1987) dalam Muhibbin, sikap (attitude) adalah
kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau
buruk terhadap orang atau barang tertentu. Dengan demikian pada prinsipnya
sikap itu dapat kita anggap sebagai kecenderungan siswa untuk bertindak
dengan cara tertentu. Dalam hal ini, perwujuan perilaku belajar siswa akan
ditandai dengan munculnya kecenderungan-kecenderungan baru yang telah
berubah (lebih maju dan lugas) terhadap suatu objek, tata nilai, peristiwa dan
sebagainya.
7). Inhibisi. Secara ringkas inhibisi adalah upaya pengurangan atau pencegahan
timbulnya suatu respon tertentu karena adanya proses respon lain yang sedang
berlangsung. Dalam hal belajar, yang dimaksud dengan inhibisi adalah
kesanggupan siswa untuk mengurangi atau menghentikan tindakan yang tidak
perlu, lalu memilih atau melakukan tindakan lainnya yang lebih baik ketika ia
berinteraksi dengan lingkungannya.
8). Apresiasi. Pada dasarnya apresiasi berarti suatu pertimbangan yang mengenai
arti penting atau nilai sesuatu. Dalam penerapannya, apresiasi sering diartikan
sebagai penghargaan atau penilaian terhadap benda-benda yang memiliki nilai
luhur. Apresiasi adalah gejala ranah afektif yang pada umumnya ditujukan
pada karya-karya seni budaya seperti seni sastra, seni musik, seni lukis dan
sebagainya. Tingkatan apresiasi siswa terhadap nilai sebuah karya sangat
bergantung pada tingkat pengalaman belajarnya.


9). Tingkah laku afektif, adalah tingkah laku yang menyangkut keanekaragaman
perasaan seperti: takut, marah, gembira, was-was dan sebagainya. Tingkah
laku seperti ini tidak terlepas dari pengalaman belajar, karena itu ia dapat
dianggap sebagai perwujudan perilaku belajar.
56

Istilah prestasi pada umumnya dihubungkan dengan hasil yang dicapai
seseorang, baik dalam bidang pekerjaan maupun pendidikan. Seseorang dikatakan
berprestasi baik apabila hasil usaha yang dicapai mendekati apa yang diharapkan.
Akan tetapi sebaliknya, prestasi dikatakan menurun bila hasil usaha tidak sesuai
dengan tujuan yang diharapkan.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, prestasi belajar adalah penguasaan
pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran lazimnya
ditunjukkan dengan nilai/angka yang diberikan oleh guru.
57

Menurut Harahap dalam Djamarah, prestasi didefinisikan sebagai suatu
penilaian pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan murid yang berkenaan
dengan penguasaan bahan pelajaran yang disajikan kepada mereka serta nilai-nilai
yang terdapat dalam kurikulum.
58

Sedangkan menurut Abdul Qohar, prestasi adalah apa yang telah dapat
diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan
jalan keuletan kerja. Prestasi juga diartikan sebagai hasil dari suatu kegiatan yang
telah dikerjakan, diciptakan, baik secara individual maupun kelompok.
59



56
Muhibbin Syah, Op. Cit., hlm. 118.

57
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Op. Cit, hlm. 700.

58
Syaiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru (Surabaya: Usaha Nasional,
1994), hlm. 21.

59
Ibid, hlm. 20.


Dari beberapa pengertian di atas, dapat dipahami bahwa prestasi adalah hasil
dari sesuatu yang telah dikerjakan, diciptakan, yang menyenangkan hati, yang
diperoleh dengan jalan keuletan kerja baik secara individual maupu kelompok
dalam bidang kegiatan tertentu.
Prestasi pada dasarnya adalah sesuatu yang diperoleh dari suatu aktivitas,
sedangkan belajar adalah suatu proses yang mengakibatkan perubahan tingkah
laku. Jadi pengertian prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-
kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil aktivitas
dalam belajar.
Indikator dari hasil belajar ideal meliputi segenap ranah psikologis yang
berubah sebagai akibat dari pengalaman dan proses belajar siswa/mahasiswa,
namun pengungkapan perubahan itu sangat sulit. Hal ini karena perubahan hasil
belajar itu ada yang bersifat tidak dapat diraba. Oleh karena itu, yang dapat
dilakukan guru dalam hal ini adalah hanya mengambil cuplikan perubahan
tingkah laku yang dianggap penting dan diharapkan dapat mencerminkan
perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa/mahasiswa, baik yang
berdimensi cipta rasa dan karsa.
60

Untuk mengetahui tingkat keberhasilan seseorang dalam proses belajar, perlu
dilakukan pengukuran seberapa jauh pengalaman belajar telah tertanam pada diri
seseorang. Dengan kata lain harus dilakukan evaluasi terhadap proses belajar.
Evaluasi dapat dilakukan secara kuatitatif maupun kuantitatif. Dalam dunia


60
Muhibbin syah, Op. Cit., hlm. 150.


pendidikan, pengukuran biasanya dilakukan secara kuantitafif dan diwujudkan
dalam bentuk prestasi belajar.
Banyak cara yang dilakukan untuk mengukur prestasi belajar/akademik.
Pengajar dapat melakukan dengan mengajukan pertanyaan lisan, memberikan
pekerjaan rumah/tugas tertulis atau melihat penampilan aktual dari tugas
keterampilan dan tes tertulis.
Menurut kebiasaan, prestasi belajar/akademik mahasiswa biasanya
diwujudkan dalam KHS (Kartu Hasil Studi). Kartu hasil studi ini diberikan
kepada mahasiswa setelah melewati tahap ujian tengah semester dan ujian akhir
semester. Apabila nilai KHS baik, maka prestasinya dikatakan baik, begitu pula
sebaliknya. Dengan demikian dapat dipahami bahwa prestasi belajar adalah
penilaian pendidikan tentang kemajuan mahasiswa dalam segala hal yang
dipelajari di kampus yang berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan, yang
dinyatakan sesudah hasil penilaian.
2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Menurut Muhibbin Syah, prestasi belajar siswa/mahasiswa dapat dipengaruhi
oleh berbagai faktor. Secara garis besar, faktor-faktor tersebut dapat
dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu
a. faktor internal (faktor dari dalam diri siswa), yaitu keadaan/kondisi
jasmani dan rohani siswa;
b. faktor eksternal (faktor dari luar diri siswa), yaitu kondisi lingkungan
sekitar siswa;


c. faktor pendekatan belajar (approach to learning), yaitu jenis upaya belajar
yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan
kegiatan pembelajaran.
61

a. Faktor internal siswa
Faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri meliputi dua aspek, yaitu: 1)
aspek fisiologis (yang bersifat jasmaniah); 2). aspek psikologis (yang bersifat
rohaniah)
1). Aspek fisiologis
Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat
kebugaran organ-organ tubuh, dapat mempengaruhi siswa dalam mengikuti
pelajaran. Kondisi fisik atau jasmani yang sehat akan membantu aktifitas belajar
siswa, sebaliknya kondisi organ tubuh yang lemah akan dapat menurunkan
kualitas belajar.
Untuk mendukung kondisi fisik agar selalu sehat antara lain dengan menjaga
asupan makanan yang bergizi, cukup istirahat, serta memperbanyak melakukan
olah raga. Hal ini karena, keadaan jasmani seperti kelainan pada anggota tubuh,
kelelahan, dan sebagainya dapat mengganggu kegiatan belajar mengajar.
Senada dengan pendapat tersebut, menurut Suryabrata keadaan jasmani pada
umumnya dapat melatarbelakangi aktivitas belajar. Dalam mengikuti kegiatan
belajar mengajar, kondisi fisik yang sehat dapat melancarkan proses belajar
mengajar. Menurutnya, keadaan fungsi panca indera yang baik, khususnya indera
penglihatan dan pendengaran adalah sangat penting. Oleh karena itu, bagi para


61
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 131.


pendidik hendaknya juga membantu menjaga indera tersebut dengan baik, seperti
dengan melakukan beberapa usaha yang bersifat kuratif dan preventif. Hal ini
dapat diwujudkan misalnya dengan adanya pemeriksaan dokter secara periodik,
serta dengan menyediakan media pembelajaran yang memenuhi syarat dan
penempatan siswa secara baik di kelas.
62

2). Aspek Psikologis
Menurut Muhibbin Syah, banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang
dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan belajar siswa, namun
faktor-faktor rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih esensial adalah
sebagai berikut:
a). Intelegensi siswa
Intelegensi merupakan suatu faktor yang besar pengaruhnya terhadap prestasi
belajar siswa/mahasiswa. Menurut Reber dalam Muhibbin syah, intelegensi pada
umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi
rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat.
Tingkat kecerdasan atau intelegensi seorang siswa sangat menentukan tingkat
keberhasilan belajar siswa. Hal ini berarti, semakin tinggi tingkat intelegensi
siswa, maka semakin besar peluangnya untuk meraih kesuksesan dan demikian
pula sebaliknya.
63

Menurut Abu Ahmadi, faktor intelegensi adalah faktor indogen yang sangat
besar pengaruhnya terhadap kemajuan anak. Bila pembawaan intelegensi anak
memang rendah, maka anak tersebut akan sukar mengerti terhadap apa yang


62
Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008), hlm.
235-236.

63
Muhibbin Syah, Op. Cit., hlm. 133.


dipelajarinya sehingga perlu bantuan ekstra dari pendidik atau orang tua untuk
berhasil dalam belajarnya.
64

Dibandingkan individu dengan kecerdasan rendah, individu dengan
kecerdasan yang lebih tinggi lebih mudah memahami materi pelajaran. Dalam
prakteknya, tingkat intelegensi yang tinggi belum dapat dijadikan standar mutlak
keberhasilan siswa bila tidak diimbangi dengan kemauan untuk belajar.
b). Sikap siswa
Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif, berupa kecenderungan
untuk mereaksi atau merespon dengan cara yang relatif tetap terhadap objek
orang, barang, dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif. Sikap siswa
yang positif terhadap guru dan mata pelajaran yang dipelajari, merupakan awal
yang baik bagi proses belajar siswa/mahasiswa.
c). Bakat siswa
Bakat adalah kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa
banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan. Bakat dapat
mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi belajar siswa dalam matapelajaran
tertentu.
65

d). Motivasi Berprestasi
Motivasi adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak
melakukan sesuatu. Motivasi berperilaku merupakan daya penggerak psikis dalam
diri seseorang yang menimbulkan semangat belajar, menjamin kelangsungan


64
Abu Ahmadi, Teknik Belajar Dengan Sistem SKS (Surabaya, PT Bina Ilmu, 1986), hlm. 46.

65
Muhibbin Syah, Op. Cit., hlm. 135.


kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar demi terciptanya
tujuan belajar.
Motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: motivasi instrinsik dan
motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari
dalam diri siswa itu sendiri, yang dapat mendorongnya melakukan kegiatan
belajar. Adapun motivasi ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang datang dari luar
individu siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar,
misalnya pujian, hadiah, tata tertib sekolah, suri teladan dari orang tua dan guru
dan sebagainya. Dalam perspektif kognitif, motivasi yang lebih signifikan bagi
siswa adalah motivasi intrinsik, karena lebih murni dan permanen.
e). Minat
Minat merupakan kecenderungan pada individu yang menyangkut perasaan
suka atau tidak suka terhadap hal tertentu. Minat mendorong individu untuk
melakukan, menaruh perhatian pada sesuatu yang disukainya, sehingga minat
dalam belajar akan memiliki peluang berprestasi yang lebih besar.
66

Dalam redaksi yang lain, Usman & Setiawati menambahkan, bahwa yang juga
termasuk dalam aspek psikologis adalah keadaan emosi siswa. Keadaan emosi
siswa seperti rasa takut, cemas, dan khawatir, dapat mempengaruhi prestasi
belajar. Hingga pada kadar tertentu, perasaan semacam itu dapat menjadi
pendorong seseorang dalam belajar, namun jika terlalu berlebihan akan


66
Ibid., hlm. 136-137.


menghambat proses berfikir siswa sehingga menyebabkan rendahnya prestasi
akademik siswa tersebut.
67

b. Faktor eksternal siswa
Faktor internal yang mempengaruhi prestasi belajar siswa/mahasiswa, terdiri
dari faktor sosial dan faktor non sosial. Faktor sosial adalah yang banyak
berhubungan dengan sesama manusia, seperti guru, orang tua dan teman-teman di
sekolah. Adapun faktor non sosial antara lain berupa sarana prasarana yang
mendukung proses belajar mengajar, tempat tinggal yang kondusif dan
sebagainya.
68

Senada dengan keterangan di atas, Usman & setiawati menyebutkan ada
beberapa faktor sosial antara lain: lingkungan keluarga, lingkungan sekolah
masyarakat,dan lingkungan kelompok. Selain itu, ada juga faktor budaya seperti
adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian, serta faktor lingkungan
spiritual keagamaan yang juga mempengaruhi prestasi belajar siswa/mahasiswa.
69

Menurut Slameto, faktor sosial ekonomi dan sosio kultural sangat
mempengaruhi prestasi belajar siswa. Faktor-faktor tersebut antara lain:
1). Cara mendidik orang tua. Pendidikan orang tua kepada anak sangat besar
pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa. Hal ini ditegaskan oleh
Slameto yang mengutip pernyataan Sucipto Wirowijoyo, bahwa keluarga
adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama.


67
Moh. Uzer Usman & Lilis Setiawati, Op. Cit., hlm. 10

68
Sumadi Suryabrata, Op. Cit., hlm. 233.

69
Moh. Uzer Usman & Lilis Setiawati, Op. Cit., hlm. 10.


2). Keadaan ekonomi/pekerjaan orang tua. Keadaan ekonomi keluarga erat
hubungannya dengan pemenuhan keluarga, baik kebutuhan pokok maupun
kebutuhan lain yang termasuk fasilitas belajar siswa.
3). Keadaan atau suasana keluarga. Suasana keluarga yang gaduh tidak akan
memberikan ketenangan kepada anak yang sedang belajar, sehingga
belajar menjadi kacau. Sebaliknya suasana rumah yang tenang dan tentram
akan membuat anak betah di rumah dan anak juga dapat belajar dengan
tenang.
70

c. Faktor Pendekatan Belajar
Pendekatan belajar dapat dipahami sebagai segala cara yang digunakan untuk
menunjang efektivitas dan efisiensi dalam proses pembelajaran. Selain pendekatan
belajar, kebiasaan belajar, strategi belajar, dan gaya belajar yang efektif juga
mendukung siswa/mahasiswa untuk dapat mencapai prestasi yang baik.
71

3. Evaluasi Prestasi Kognitif, Afektif dan Psikomotorik
a. evalusi prestasi kognitif
Sebagaimana yang dikutip oleh Muhibbin syah, Reber (1998) mengatakan,
mengukur keberhasilan siswa yang berdimensi kognitif (ranah cipta) dilakukan
dengan berbagai cara, baik tes tertulis maupun tes lisan dan perbuatan. Dalam
keadaan siswa yang jumlahnya banyak, menggunakan tes lisan dianggap tidak
efektif, sebagai gantinya guru bisa memanfaatkan tes tulis sebaik-baiknya.
Dianjurkan untuk memilih tes pencocokan, tes isian, serta tes essai. Khusus
untuk mengukur kemampuan analisis dan sintesis siswa, guru dianjurkan untuk


70
Slameto, Op. Cit., hlm. 62.

71
Muhibbin Syah, Op. Cit., hlm. 140.


mengunakan tes essai, karena tes ini adalah satu-satunya ragam instrumen
evaluasi yang paling tepat untuk mengevaluasi dua jenis kemampuan tersebut.
b. Evalusi Prestasi afektif
Dalam merencanakan peyusunan instrumen tes prestasi belajar siswa yang
berdimensi afektif (ranah rasa), jenis-jenis prestasi internalisasi dan karaterisasi
hendaknya mendapatkan perhatian khusus. Sebab kedua jenis prestasi ranah rasa
itulah yang lebih banyak mengendalikan sikap dan perbuatan siswa.
Selanjutnya Reber (1988) dalam Syah menjelaskan, salah satu bentuk tes
ranah rasa yang populer adalah “skala likert” yang tujuannya untuk
mengidentifikasi kecenderungan sikap seseorang. Bentuk skala ini menampung
pendapat yang mencerminkan sikap sangat setuju, ragu-ragu, tidak setuju dan
sangat tidak setuju. Rentang skala ini beri skor 1-5 atau 1-7, bergantung
kebutuhan dengan catatan skor-skor itu dapat mencerminkan sikap-sikap mulai
sangat “ya” sampai “sangat tidak”.
Untuk memudahkan identifikasi jenis kecenderungan afektif siswa yang
representatif, item-item skala sikap sebaiknya dilengkapi dengan indentitas sikap
yang meliputi doktrin, komitmen, penghayatan, dan wawasan.
c. Evaluasi Prestasi Psikomotor
Reber juga mengatakan bahwa cara yang dipandang tepat untuk mengevaluasi
keberhasilan belajar yang berdimensi ranah psikomotor (ranah karsa) adalah
observasi. Observasi dalam hal ini, dapat diartikan sebagai sejenis tes mengenai
peristiwa, tingkah laku atau fenomena lain, dengan pengamatan langsung. Dalam


hal ini observasi harus dibedakan dengan eksperimen, karena eksperimen pada
umumnya dipandang sebagai salah satu cara observasi.
72


C. Implikasi Hafalan Al-Qur’an Dalam Prestasi Belajar Mahasiswa
Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa prestasi adalah hasil
dari suatu kegiatan yang telah ditetapkan atau menjadi tujuan, baik secara individu
maupun kelompok.
Dalam pembahasan pada skripsi ini, prestasi belajar yang dimaksud adalah
prestasi belajar mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), khususnya
dalam matakuliah ke-Agamaan Islam yang sering berhubungan dengan dalil-dalil
Al-Qur’an. Adapun matakuliah tersebut antara lain, studi Al-Qur’an, studi Fiqih,
Masail Fiqhiyah I dan II, Tafsir dan Hadits, Ushul Fiqih, Tafsir dan Hadits
Tarbawi I dan II, Ushul Fiqih.
Perlu diketahui, bahwa secara umum tujuan pendidikan pada Jurusan
Pendidikan Agama Islam adalah sebagai berikut:
1. Menghasilkan pendidik Agama Islam yang memiliki pengetahuan, sikap,
keterampilan dan nilai yang diperlukan untuk menjadi pendidik Agama
Islam serta pembimbing dan penggerak kegiatan ke-Agamaan Islam di
sekolah/madrasah.


72
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru (Bandung: Remaja Rosda
Karya, 2000), hlm. 154.


2. Menghasilkan pendidik Agama Islam yang memiliki pengetahuan sikap,
keterampilan dan nilai yang diperlukan untuk menjadi pendidik Agama
Islam pada jenis pendidikan keagamaan Islam.
3. Menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan tambahan dalam
membentuk, mengelola, mengorganisir, merencanakan, melaksanakan
program pendidikan, melakukan supervisi, monitoring, evaluasi program,
dan mengembangkan inovasi-inovasi program satuan pendidikan Agama
Islam.
Sebagai upaya untuk mewujudkan tujuan tersebut, maka dalam standar
kompetensi lulusan jurusan Pendidikan Agama Islam disebutkan bahwa selain
menguasai tentang aspek-aspek kependidikan, seorang mahasiswa lulusan jurusan
pendidikan Agama Islam diharapkan dapat memiliki penguasaan terhadap
subtansi kajian pendidikan Agama Islam yang meliputi: penguasaan subtansi
ilmu-ilmu keislaman, isi dan bahan ajar pendidikan Agama Islam, serta
penguasaan cara pengembangan bahan ajar pendidikan Agama Islam.
73

Sebagai calon pendidik dalam bidang Agama Islam, seorang mahasiswa
jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) harus dapat menguasai kompetensi
tersebut dengan baik. Adapun cara untuk menguasai kompetensi tersebut adalah
dengan melakukan proses belajar dan pembelajaran, baik di perkuliahan maupun
di luar perkuliahan. Dengan adanya penguasaan terhadap kompetensi tersebut,
mahasiswa dapat dikatakan telah mencapai prestasi dalam belajarnya.


73
Universitas Islam Negeri Malang, Pedoman Pendidikan (Malang: UIN Press, 2005), hlm. 75.


Dalam mencapai suatu prestasi belajar matakuliah ke-Agamaan Islam, seorang
mahasiswa tentunya tidak terlepas dari suatu proses belajar. Berhasil atau tidaknya
mata kuliah tersebut ditentukan oleh proses dalam belajar mahasiswa.
Aktivitas belajar merupakan proses yang tidak lepas dari berbagai pengaruh
yang berasal dari dalam maupun luar siswa. Faktor dari dalam diri siswa besar
sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Menurut Sudjana, hasil
belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30%
dipengaruhi oleh lingkungannya.
74

Menurut Suryabrata, faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa
dalam belajar ada dua macam, yaitu:
a. faktor yang berasal dari luar siswa (eksternal siswa)
b. faktor yang berasal dari dalam diri siswa (internal siswa)


Faktor eksternal yang mempengaruhi prsetasi belajar siswa/ mahasiswa, terdiri
dari faktor sosial dan faktor non sosial. faktor sosial adalah yang banyak
berhubungan dengan sesama manusia, seperti guru, orang tua dan teman-teman di
sekolah. Sedangkan faktor non sosial antara lain berupa sarana prasarana yang
mendukung proses belajar mengajar, tempat tinggal yang kondusif dan
sebagainya.
Adapun faktor yang berasal dari dalam diri siswa (internal siswa) dibagi
menjadi dua macam, yaitu: 1). faktor fisiologis, 2). faktor psikologis
Faktor fisiologi terbagi lagi menjadi dua, yaitu keadaan jasmani dan fungsi
panca indera. Apabila keadaan jasmani secara umum sehat, maka proses belajar


74
Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar (Bandung: Sinar Baru Al-Gesindo,
2008), hlm. 39.


akan dapat berjalan lancar, demikian pula apabila fungsi panca indera normal dan
sehat. Panca indera khususnya indera penglihatan dan pendengaran, berperan
sangat penting dalam proses belajar siswa. Dengan memaksimalkan fungsi panca
indera dalam belajar, siswa/mahasiswa akan dapat menyerap materi pelajaran
dengan sempurna.
75

Menghafal Al-Qur’an merupakan suatu kegiatan menghayati dan berusaha
meresapkan bacaan-bacaan Al-Qur’an ke dalam hati, sampai dapat dihafal dan
melekat dengan baik dalam ingatan. Dalam menghafal Al-Qur’an seorang
penghafal Al-Qur’an terlebih dahulu membaca dan mengulang-ulang bacaannya
dengan baik sebelum dihafalkan. Dengan sering menggunakan indera penglihat
dan pendengar secara maksimal untuk menghafal Al-Qur’an, maka akan melatih
kepekaan indera tersebut terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. Dengan demikian, ayat-
ayat yang pernah dihafalkan akan menjadi sangat familiar, sehingga siswa/
mahasiswa penghafal Al-Qur’an dengan mudah bisa mengetahui ayat tersebut
untuk kemudian menelaah dan mempelajarinya.
Selain itu, proses menghafal Al-Qur’an pada dasarnya sejalan dengan
psikologi proses mengingat, di mana terjadi sebuah proses penerimaan informasi
melalui indera penglihatan atau pendengaran siswa untuk kemudian masuk ke
dalam memori jangka pendek, dikodekan, dan masuk kedalam memori jangka
panjang.
76
Dengan terbiasa melakukan aktivitas menghafal Al-Qur’an, maka
sistem memori di dalam otak akan terlatih untuk mengingat sesuatu dengan
mudah, termasuk mengingat pengetahuan selain Al-Qur’an.


75
Sumadi Suryabrata, Op. Cit., hlm. 233.

76
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 67.


Menghafal Al-Qur’an merupakan sebuah proses untuk memperoleh
pengetahuan dasar bagi siswa/mahasiswa dalam belajarnya. Dengan adanya
seorang mahaiswa menghafal Al-Qur’an, maka ia akan mendapatkan kontribusi
yang sangat besar dari hafalan yang dimilikinya. Mahasiswa yang hafal Al-Qur’an
akan sangat terbantu ketika membutuhkan dalil-dalil Al-Qur’an yang berkaitan
dengan ilmu yang ia pelajari. Apalagi Al-Qur’an adalah sumber ilmu,
sebagaimana sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud yang artinya:
“kalau kalian menginginkan ilmu, bukalah lembaran-lembaran Al-Qur’an,
karena Al-Qur’an mengandung ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang di
masa mendatang”.
77

Dalam menghafal Al-Qur’an, seorang penghafal menggunakan berbagai
metode yang dianggap sesuai dengan kemampuannya. Ada metode sederhana
yang hanya membaca berulang-ulang per-ayat lalu menghafalkannya, ada pula
yang berusaha untuk mengerti arti dan memahami maksud ayat sebelum
kemudian dihafalkan. Dengan menggunakan metode menghafal yang sederhana
tersebut, minimal seorang penghafal dapat mereview atau mengulang hafalannya
dengan benar.
Lain halnya bila metode yang digunakan dalam menghafal adalah metode
tadabbur (memahami arti dan maksud yang terkandung dalam ayat), maka akan
semakin besar kemungkinan untuk dapat memahami arti dan kandungan ayat-ayat
Al-Qur’an melalui proses menghafal tersebut. Hal ini akan sangat membantu
mahasiswa dalam matakuliah keagamaan Islam yang banyak bersentuhan


77
Haya Ar-Rasyid, Menggapai Kemuliaan Menjadi Ahlul Qur’an, Sebagaimana dikutip Oleh
Syaifun Nuri, Efektivitas Hifzhul Qur’an Melalui Metode Sorogan (Skripsi Fakultas Tarbiyah UIN
Malang, 2007), hlm. 25.


langsung dengan Al-Qur’an seperti studi Al-Qur’an, studi fiqih, masail fiqhiyah I
dan II, tafsir dan hadits, ushul fiqih, tafsir dan hadits tarbawi I dan II, dan ushul
fiqih. Dengan demikian hafalan Al-Qur’an yang dimiliki oleh mahasiswa jurusan
Pendidikan Agama Islam (PAI) berimplikasi dalam prestasi belajarnya.
Selanjutnya, faktor kedua yang ada dalam diri siswa/mahasiswa adalah Faktor
psikologis. Menurut Usman & Setiawati, faktor psikologis ada yang bersifat
bawaan dan ada yang diperoleh dari luar, antara lain:
1) faktor intelektif yang meliputi faktor potensial, yaitu kecerdasan dan bakat
serta kecerdasan nyata, yaitu prestasi yang dimiliki.
2) faktor non intelektif yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap,
kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi dan penyesuaian diri.
3) faktor kematangan fisik maupun psikis.
78

Faktor psikologis yang ada dalam diri siswa sangat besar pengaruhnya
terhadap kuantitas dan kualitas belajar siswa, walaupun faktor ini tidak dapat
dilihat (abstrak). Salah satu faktor psikologis yang banyak mempengaruhi adalah
keadaan emosi siswa/mahasiswa.
Membaca Al-Qur’an merupakan salah satu cara untuk membuat hati dan jiwa
menjadi tenang, menghibur perasaan sedih dan melunakkan hati yang keras, serta
mendatangkan petunjuk. Hal ini merupakan rahmat Allah yang diberikan kepada
orang yang mendengarkan bacaan Al-Qur’an dengan baik, sebagaimana Firman
Nya dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf (7:204):
´r •˜ % b ´ä )9 q J ¼m9 q R ´r N3= 9 bqH ÇËÉÍÈ


78
Moh. Uzer Usman & Lilis Setiawati, Op., Cit, hlm. 2.


Artinya: “dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah baik-baik,
dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”
79


Menurut madzhab yang sahih, membaca Al-Qur’an merupakan dzikir yang
paling utama dibandingkan dzikir dengan selain membaca Al-Qur’an.
80
Dengan
membaca Al-Qur’an berarti seorang hamba sedang mengingat Allah dan
berkomunikasi dengan-Nya. Dengan selalu mengingat Allah inilah suasana hati
akan senantiasa tenang, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an surat Ar-ra’d
(13:28):
ûï qZB ´ä ûõ´K ´r Og q=% . ¸ Ÿw 2 ¸ ûõJ q=)9 ÇËÑÈ
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi
tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-
lah hati menjadi tenteram”
81


Dalam proses belajar, seorang siswa/mahasiswa akan memperoleh hasil yang
baik jika mengoptimalkan seluruh potensi dalam dirinya. Dengan adanya
ketenangan batin/psikis, seorang siswa/mahasiswa akan dengan mudah bisa
mengoptimalkan seluruh potensi dalam dirinya.
Dr. Al-Qadhi, melalui penelitiannya yang panjang dan serius di klinik besar
Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan
bacaan ayat-ayat Al-Qur’an, seorang muslim dapat merasakan perubahan
psikologis yang sangat besar, baik mereka yang berbahasa arab ataupun tidak.
Perubahan itu seperti penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa,
serta menangkal berbagai macam penyakit.


79
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Op. Cit., hlm. 256

80
An-Nawawi, Op., Cit, hlm. 17.

81
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Op. Cit., hlm. 373.


Penemuan sang dokter ahli jiwa ini ditunjang dengan bantuan peralatan
elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot,
dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Dari hasil uji cobanya ia
berkesimpulan, bacaan Al-Quran berpengaruh besar hingga 97% dalam
menghasilkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.
Penelitian Dr. Al-Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang
dilakukan oleh dokter berbeda. Dalam laporan sebuah penelitian yang
disampaikan dalam konferensi kedokteran Islam Amerika utara pada tahun 1984,
disebutkan, Al-Qur’an terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97%
bagi mereka yang mendengarkannya.
Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad
Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. Objek penelitiannya terhadap 5
orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Kelima orang tersebut
sama sekali tidak mengerti bahasa arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa
yang akan diperdengarkannya adalah Al-Qur’an. Penelitian yang dilakukan
sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan Al-Qur’an dengan tartil
dan membacakan bahasa arab yang bukan dari Al-Qur’an. Kesimpulannya,
responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan
Al-Qur’an dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa
Arab yang bukan dari Al-Qur’an.
Sungguh suatu kebahagiaan dan merupakan kenikmatan yang besar, kita
memiliki kitab suci Al-Qur’an. Selain menjadi ibadah dalam membacanya, bacaan
Al-Qur’an memberikan pengaruh besar bagi kehidupan jasmani dan rohani kita.


Jika mendengarkan musik klasik dapat mempengaruhi kecerdasan intelektual (IQ)
dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang, bacaan Al-Qur’an lebih dari itu. Selain
memengaruhi IQ dan EQ, bacaan Al-Qur’an mempengaruhi kecerdasan spiritual
(SQ).
82

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa aktifitas menghafal Al-Qur’an,
memiliki keterlibatan terhadap prestasi belajar dalam 2 aspek:
1. proses menghafal
a) Dalam proses menghafal seorang siswa/mahasiswa terbiasa membaca dan
mendengar ayat-ayat Al-Qur’an, hal ini akan melatih ketajaman indera
penglihatan dan pendengarannya terhadap ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.
Selain itu, dengan terbiasa menghafal Al-Qur’an, sistem memori dalam
otak akan terlatih untuk mengingat. Hal ini akan memudahkan
siswa/mahasiswa untuk dapat menghafal pengetahuan lain selain Al-
Qur’an.
b) Dengan membaca Al-Qur’an secara terus-menerus, hati akan menjadi
tenang, emosi terkendali, dan keadaan psikologis menjadi baik.
2. hafalan Al-Qur’an (out put dari aktifitas menghafal)
a) Dengan hafalan Al-Qur’an yang telah dimiliki, mahasiswa akan bisa
dengan mudah mengambil ayat-ayat Al-Qur’an dari memorinya, untuk
kemudian dipelajari, dikaji dan dikembangkan lebih lanjut menurut
keilmuan yang sedang ditekuninya. Khususnya pada mahasiswa jurusan
pendidikan Agama Islam (PAI) yang menghafal Al-Qur’an, hafalan yang


82
http://musiconlinecairo.multiply.com/journal/item/34. Diakses pada 15-4-2009.


dimiliki akan sangat membantu dalam penguasaan matakuliah keagamaan
Islam yang banyak bersentuhan langsung dengan ayat-ayat Al-Qur’an.
Dengan demikian, membaca Al-Qur’an secara tidak langsung berpengaruh
terhadap pencapaian prestasi belajar mahasiswa pada matakuliah umum karena
efek psikologis yang ditimbulkannya, dan secara langsung berimplikasi terhadap
matakuliah keislaman karena faktor fisiologis dan hasil dari aktivitas menghafal.
Dengan adanya hafalan Al-Qur’an yang dimiliki oleh mahasiswa jurusan
Pendidikan Agama Islam (PAI) tentunya akan dapat membantu dalam mencapai
prestasi belajarnya, terutama dalam matakuliah yang berhubungan dengan ayat-
ayat Al-Qur’an seperti studi Al-Qur’an, studi fiqih, masail fiqhiyah I dan II, tafsir
dan hadits, tafsir dan hadits tarbawi I dan II, dan ushul fiqih.

D. Sikap Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Penghafal
Al-Qur’an
Dalam pembahasan sebelumnya tentang belajar, telah dijelaskan bahwa
belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk
memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil
pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungan. Perubahan ini berkaitan
dengan perubahan kebiasaan, pengetahuan, keterampilan dan sikap, juga
menyangkut beberapa aspek dan kebiasaan manusia yang tidak terlepas dari
kepribadiannya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa hal yang esensial
dalam belajar adalah agar siswa/mahasiswa dapat memiliki pengetahuan,
keterampilan, sikap dan kebiasaan yang lebih baik dari sebelum ia belajar.


Sikap dapat diartikan sebagai kecenderungan siswa/mahasiswa untuk
bertindak dengan cara tertentu. Dalam hubungannya dengan Pendidikan Agama
Islam, maka hasil dari proses belajar Agama Islam adalah terwujudnya sikap
religius dalam diri siswa/mahasiswa. Menurut Alim, ada beberapa ciri sikap
religius antara lain:
1. Komitmen terhadap perintah dan larangan agama
2. Bersemangat mengkaji ajaran agama;
3. Aktif dalam kegiatana keagamaan;
4. Menghargai simbol keagamaan;
5. Akrab dengan kitab suci;
6. Menggunakan pendekatan agama dalam menentukan pilihan;
7. Ajaran agama dijadikan sumber pengembangan ide.

Ketujuh sikap religius di atas dapat dijadikan acuan untuk mengukur berhasil
tidaknya pelaksanaan pendidikan Agama Islam. Hal ini karena tujuan utama
pendidikan Agama Islam adalah untuk membina kepribadian mahasiswa agar
menjadi orang yang taat dalam melaksanakan ajaran agama, bukan hanya
menjadikan seseorang menjadi ahli agama.
83

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), merupakan calon
pendidik yang akan mengajarkan nilai-nilai Islam kepada pada peserta didiknya,
karena itulah sikap dan kebiasaan yang baik harus benar-benar diterapkan dalam
kehidupannya, agar dia dapat menjadi suri teladan yang baik bagi para peserta
didiknya.
Di sisi lain, seorang mahasiswa penghafal Al-Qur’an memiliki beberapa sikap
yang harus selalu ia lakukan. Menurut Qardhawi, bagi para penghafal Al-Qur’an


83
Muhammad Alim, Op. Cit., hlm. 12.


ada beberapa sikap yang harus diperhatikan agar hafalan Al-Qur’an dapat terus
dilestarikan dan menjadi ilmu yang bermanfaat, diantaranya adalah:
1. Ikhlas dalam mempelajari Al-Qur’an
Seorang penghafal Al-Qur’an harus memiliki niat yang ikhlas dalam
mempelajari Al-Qur’an. Hendaknya ia memurnikan niatnya hanya karena Allah,
bukan karena ingin pamer atau menginginkan pujian dari manusia.
2. Selalu bersama Al-Qur’an
Diantara etika penghafal Al-Qur’an adalah selalu bersama Al-Qur’an,
maksudnya adalah hendaknya penghafal Al-Qur’an senantiasa menjadikan Al-
Qur’an sebagai teman dalam situasi apapun. Ketika ia sedang dalam kesendirian,
kesusahan dan dalam kegembiraan. Dalam hal ini memang telah menjadi
kewajiban bagi para penghafal Al-Qur’an untuk senantiasa melestarikan
hafalannya, baik dengan membacanya, mendengarkan dari orang lain, maupun
mengkaji ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya.
3. Berakhlak dengan akhlak Al-Qur’an
Penghafal Al-Qur’an hendaknya mampu menjadi suri teladan bagi orang lain
dengan selalu berakhlak dan bertingkah laku sebagaimana yang diajarkan oleh Al-
Qur’an. Dengan demikian, seorang penghafal Al-Qur’an seharusnya tidak hanya
membaca berulang-ulang ayat-ayat Al-Qur’an, akan tetapi ia hendaknya
mengembangakan pengetahuannya dengan cara mengkaji, memahami dan
mengaplikasikan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari.
84



84
Yusuf Qardhawi, Berinteraksi dengan Al-Qur’an, Terj. Abdul Hayiee Al-Kattani (Jakarta:
Gema Insani Press, 1999), hlm. 201-208.


Dalam kehidupan sosial, mahasiswa merupakan tumpuan dan harapan
masyarakat yang akan berperan menjadi pemimpin di masa mendatang. Oleh
karena itu, seorang mahaiswa harus dapat menghadapi problematika internal
dirinya juga problematika yang ada di masyarakat. Dengan demikian dibutuhkan
kemampuan khusus mahasiswa dalam mengatasi problematika tersebut, yaitu:
Pertama, mampu mengidentifikasi secara tepat dan cepat masalah-masalah baru
yang dihadapi di masyarakat, kemudian menganalisisnya.
kedua, berdasarkan analisis yang dilakukan, mengisi manusia modern tersebut
dengan spiritualisme keagamaan.
Dalam melakukan fungsi analisis dan pengisiannya, diperlukan tiga syarat
mutlak bagi mahasiswa. Pertama, pengetahuan Agama yang mendalam, rasional,
dan menyejukkan. Kedua, membangun spiritualisme dalam dirinya, dan ketiga
membangun spiritualisme dalam masyarakat.
85

Dari sinilah dapat diketahui bahwa selain mengidentifikasi masalah yang ada
di masyarakat, adanya pengetahuan Agama yang mendalam, rasional dan
menyejukkan, serta membangun spiritualisme mutlak diperlukan oleh mahasiswa
untuk menyelesaikan problematika masyarakat.
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Qur’an,
memiliki potensi yang besar untuk membantu dalam menyelesaikan problematika
di masyarakat, karena telah dibekali dengan pengetahuan Agama yang mendalam.
Selain itu, ia juga berkesempatan untuk membangun spiritualisme dan religiusitas
di masyarakat dengan cara menanamkan nilai-nilai moral yang luhur. Salah satu


85
Syahrin Harahap, Penegakan Moral Akademik di Dalam dan di Luar Kampus (Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 13.


cara menanamkan nilai-nilai tersebut, adalah dengan mengajarkan Al-Qur’an yang
telah dipelajari. Adapun yang dimaksud dengan mengajarkan Al-Qur’an disini,
bukan hanya mengajarkan lafadnya untuk dihafal saja, akan tetapi juga
mengajarkan pemahaman dan maknanya, ibrah yang dikandungnya, hukum-
hukum, dan etika yang ada di dalamnya.
Dari uraian di atas dapat diketahui, bahwa mahasiswa jurusan Pendidikan
Agama Islam yang menghafal Al-Qur’an memiliki kesempatan untuk
mengajarkan dan mensyiarkan nilai-nilai ajaran Islam secara luas di masyarakat,
karena selain telah dibekali pengetahuan Agama yang mendalam dan
menyejukkan, ia juga memiliki kemampuan menghafal Al-Qur’an. Dengan
demikian, mereka diharapkan dapat membantu penyelesaian masalah di
masyarakat khususnya yang berhubungan dengan penanaman moral dan spiritual
keagamaan.












BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode dan Strategi Penelitian
Untuk menemukan pemahaman yang holistik tentang implikasi (keterlibatan)
hafalan Al-Qur’an dalam prestasi belajar mahasiswa pendidikan Agama Islam,
dengan unsur-unsur pokok yang harus ditemukan sesuai dengan rumusan masalah,
tujuan dan manfaat penelitian, maka digunakan metode penelitian kualitatif
dengan strategi studi kasus tunggal.
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami
fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, seperti perilaku,
persepsi, motivasi tindakan, secara holistik, dengan cara mendeskripsikan dalam
bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah, serta
dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.
86

Adapun strategi studi kasus merupakan suatu inkuiri empiris yang menyelidiki
fenomena di dalam konteks kehidupan nyata, apabila batas-batas antara fenomena
tidak tampak dengan tegas, dan ada berbagai multisumber yang dapat
dimanfaatkan.
87

Melalui penelitian tentang implikasi hafalan Al-Qur’an dalam prestasi belajar
mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) ini, peneliti bermaksud
memahami realitas empirik dari fenomena-fenomena yang muncul dalam proses


86
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006),
hlm. 6.

87
Robert K. Yin, Studi Kasus Desain dan Metode, Terj., M. Djauzi Mudzakir (Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2006), hlm. 18.


pengamatan. Dalam penelitian ini yang akan diamati adalah aktivitas mahasiswa
penghafal Al-Qur’an, khususnya dari Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
yang berada di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang. Fokus dari pengamatan adalah bagaimana prosedur menghafal Al-Qur’an
yang ada di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang,
Apakah hafalan yang dimiliki mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
berimplikasi dalam prestasi belajarnya, serta bagaimana sikap keseharian
mahasiswa tersebut. Dalam meneliti dan menginterpretasikan informasi dan data,
penulis menggunakan referensi untuk dijadikan acuan atau dasar penguat data
yang ditemukan.
Dengan menggunakan metode kualitatif, maka data yang didapat akan lebih
lengkap, lebih mendalam, kredibel dan bermakna, sehingga tujuan penelitian
dapat dicapai. Selain itu, dengan menggunakan metode kualitatif dapat ditemukan
data yang berupa proses kerja, deskripsi yang luas dan mendalam, perasaan,
norma, keyakinan, sikap mental dan budaya yang dianut seseorang maupun
sekelompok orang dalam lingkungan sosialnya.
B. Kehadiran Peneliti
Dalam penelitian ini, kehadiran peneliti bertindak sebagai instrumen utama
sekaligus pengumpul data. Sebagaimana salah satu ciri penelitian kualitatif dalam
pengumpulan data dilakukan sendiri oleh peneliti. Apabila fokus penelitian telah
jelas, maka instrumen sederhana dapat pula digunakan, seperti pedoman


wawancara, observasi dan dokumentasi, namun fungsinya hanya sebatas sebagai
pendukung dan pembantu dalam penelitian.
88

Menurut Moleong, bahwa kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif
sekaligus merupakan perencana, pelaksana pengumpulan data, analisis, penafsir
data dan pada akhirnya menjadi pelapor hasil penelitian, karena itu penelitian
harus dilaksanakan dengan sebaik mungkin, bersikap selektif, hati-hati dan
bersungguh-sungguh dalam menjaring data sesuai dengan kenyataan di lapangan,
sehingga data yang terkumpul benar-benar relevan dan terjamin keabsahannya.
89

C. Lokasi Penelitian
Adapun lokasi yang dijadikan situs penelitian ini adalah Ma’had Sunan Ampel
Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang beralamat di Jl. Gajayana no.
50 kelurahan Dinoyo, kecamatan Lowokwaru kota Malang.
Peneliti memilih Lokasi di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik
Ibrahim Malang ini, karena di dalamnya terdapat satu unit pengembangan tahfizh
Al-Qur’an yang disebut “Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh” (JQH) Ma’had Sunan
Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
D. Data dan Sumber Data
Data yang cari dalam penelitian ini adalah berupa data-data deskriptif, yang
berupa kata-kata, tingkah laku serta dokumen-dokumen pendukung lainnya.
Sumber data dalam penelitian ini adalah subjek dari mana data dapat diperoleh.
Adapun sumber data yang digali dalam penelitian yang terdiri dari sumber
utama yang berupa kata-kata dan tindakan, serta sumber data tambahan yang


88
Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif (Bandung: CV. Alfabeta, 2008), hlm. 61.

89
Lexy, J. Moelong, Op. Cit., hlm. 168.


berupa dokumen-dokumen. Sumber dan jenis terdiri dari data dan tindakan,
sumber data tertulis, foto, dan data statistik.
90

Menurut Sugiono, apabila dilihat dari sumber datanya pengumpulan data
dapat menggunakan 2 macam sumber, yaitu:
a. Sumber data utama (Primer) adalah sumber data yang langsung
memberikan data kepada pengumpul data. Jenis sumber data ini biasanya
diambil peneliti melalui wawancara, observasi dan angket.
Dalam penelitian ini, sumber data utama dari wawancara diperoleh dari
beberapa informan seperti: mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam
(PAI) penghafal Al-Qur’an, pembina/instruktur yang membimbing
mahasiswa dalam proses menghafal dan mengulang hafalan, serta teman-
teman sejawat mahasiswa baik di Ma’had maupun di kampus. Sedangkan
untuk data angket, diperoleh dari mahasiswa Jurusan pendidikan Agama
Islam penghafal Al-Qur’an.
b. Sumber data tambahan (sekunder) adalah sumber yang secara tidak
langsung memberikan data kepada pengumpul data. Jenis sumber data
misalnya dari buku dan majalah ilmiah, koran, sumber data arsip,
dokumentasi organisasi, dokumentasi pribadi, artikel dari media massa dan
internet yang digunakan penulis dalam penelitian.
91






90
Lexy, J. Moelong, Op., Cit, hlm. 157.

91
Sugiono, Op., Cit, hlm. 62.


E. Prosedur Pengumpulan Data
Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa
metode, antara lain:
a. Metode Wawancara Mendalam (In depth interview)
Wawancara adalah bentuk komunikasi antara dua orang, melibatkan seseorang
yang ingin memperoleh informasi dari seorang lainnya, dengan mengajukan
pertanyaan, berdasarkan tujuan tertentu.
92

Metode ini penulis aplikasikan dengan jalan mewawancarai secara langsung
dan mendalam para mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) yang
menghafal Al-Qur’an, tentang bagaimana cara mereka menghafal dan
melestarikan hafalanya, serta bagaimana implikasi hafalan yang mereka miliki
dalam peningkatan prestasi belajar matakuliah yang berhubungan dengan Al-
Qur’an. Selain itu, metode ini juga dipergnakan untuk mencari informasi dari para
pembimbing yang mengarahkan secara langsung proses menghafal mahasiswa,
serta teman sejawat mahasiswa penghafal Al-Qur’an baik yang ada di Ma’had
maupun yang ada di kampus. Hal ini penulis lakukan guna memperoleh data-data
lengkap mengenai proses pelaksanaan kegiatan menghafal Al-Qur’an, serta untuk
memperoleh keterangan yang sebenarnya tentang sikap keseharian mahasiswa
penghafal Al-Qur’an di Ma’had maupun di kampus.
b. Angket
Metode angket adalah dengan memberikan beberapa pertanyaan tertulis
dengan alternatif jawaban multiple choice kepada informan. metode ini digunakan


92
Deddy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualiatatif Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan
Ilmu Sosial Lainnya (PT.Remaja Rosda Karya, 2003), hlm. 180.


untuk mencari data yang berhubungan dengan riwayat pendidikan mahasiswa
Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Qur’an, jumlah hafalan
yang dimiliki, waktu menghafal perhari, kendala dalam menghafal dan
melestarikan hafalan, serta bagaimana dukungan lingkungan ma’had terhadap
hafalan mereka.
c. Metode Observasi
Metode observasi atau pengamatan ada beberapa macam. Peneliti
menggunakan jenis observasi partisipasi moderat, yaitu peneliti terlibat dalam
kegiatan sehari-hari orang sedang diamati, sambil melakukan pengamatan peneliti
ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data dalam beberapa kegiatan,
akan tetapi tidak semuanya.
93

Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data-data dengan mengamati
secara langsung terhadap objek yang diteliti dengan cara mendatangi lokasi
penelitian yaitu di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang. Adapun kegiatan yang diobservasi adalah proses kegiatan menghafal Al-
Qur’an yang dilakukan mahasiswa di rumah para pembina, kegiatan mengulang
hafalan bersama yang dilaksanakan ba’da Isya’, khatmil Al-Qur’an tiap minggu,
serta sikap dan tingkah laku mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
penghafal Al-Qur’an tersebut, baik di Ma’had maupun di kampus.
d. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk mengumpulkan
data dari: berbagai jenis informasi dapat juga diperoleh melalui dokumentasi


93
Sugiono, Op., Cit, hlm. 66.


organisasi, seperti surat-surat resmi, catatan rapat, laporan-laporan, artikel, media,
kliping, proposal, agenda, memorandum, foto-foto kegiatan khatmil Al-Qur’an
mingguan, kartu hasil studi mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
yang menghafal Al-Qur’an, laporan perkembangan yang dipandang relevan
dengan penelitian yang dikerjakan dan sebagainya.
F. Analisis Data
Tehnik analisis yang digunakan dalam penlitian ini adalah analisis data
kualitatif, mengikuti konsep Bodgan dan Biklen.
Menurut Bodgan dan Biklen dalam Moleong, analisis data kualitatif adalah
proses menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari wawancara, catatan
lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga mudah dipahami. Analisis data
dilakukan dengan mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan
data yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola,
menemukan apa yang penting dan yang dapat dipelajari, dan membuat kesimpulan
yang dapat diceritakan kepada orang lain.
94

G. Pengecekan Keabsahan Data
Data yang telah dikumpulkan oleh peneliti kemudian dikelompokkan
berdasarkan jenisnya dan dilengkapi. Pada tahap penyaringan data inilah
pengecekan keabsahan data dilakukan. Jika terdapat data yang tidak relevan dan
kurang memadai maka akan dilakukan penyaringan data sekali lagi dilapangan,
sehingga data tersebut memiliki kadar validitas yang tinggi.


94
Lexy J. Moleong, Op., Cit, hlm. 248.


Peninjauan keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi: (1). uji
kredibilitas data (2). uji transferabilitas (3). uji dependebilitas, dan (4). uji
konfirmabilitas.
Menurut Kanto (dalam Bungin, 2003) uji kredibilitas data atau kepercayaan
kepada data hasil penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan tehnik sebagai
berikut:
1. Memperpanjang keikutsertaan peneliti dalam proses pengumpulan data di
lapangan. dengan semakin lamanya peneliti terlibat dalam pengumpulan
data, akan semakin memungkinkan meningkatnya derajat kepercayaan
data yang dikumpulkan.
2. Melakukan observasi secara terus menerus dan sungguh-sungguh terhadap
objek penelitian guna memahami gejala lebih mendalam terhadap
berbagai aktivitas yang sedang berlangsung di lokasi penelitian. dengan
demikian peneliti akan semakin mendalami fenomena sosial yang sedang
diteliti seperti apa adanya.
3. Melakukan triangulasi yaitu pemeriksaan keabsahan data yang
memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan
atau pembanding terhadap data. Triangulasi yang digunakan dalam
penelitian ini adalah triangulasi metode (menggunakan lintas metode
pengumpulan data), triangulasi sumber data (memilih berbagai sumber
data yang sesuai), serta triangulasi pengumpul data. Penggunaan tehnik
triangulasi ini memungkinkan diperoleh variasi informasi yang seluas-
luasnya atau selengkap-lengkapnya.


4. Melibatkan teman sejawat (yang tidak mengikuti penelitian) untuk
berdiskusi, memberikan masukan, bahkan kritikan mulai awal kegiatan
proses penelitian sampai tersusunnya hasil penelitian.
5. Melakukan analisis atau kajian kasus negatif, yang dimanfaatkan sebagai
kasus pembanding atau bahkan sanggahan terhadap hasil penelitian.
Dalam beberapa hal, kasus negatif ini akan semakin mempertajam temuan
penelitian.
6. Melacak kesesuaian dan kelengkapan hasil analisis data.
95

Dalam redaksi yang lain Sugiono menambahkan, dalam uji kredibilitas data
juga dibutuhkan adanya bahan referensi. Adapun yang dimaksud dengan bahan
referensi di sini adalah pendukung untuk membuktikan data yang telah diperoleh
peneliti. Contohnya, hasil wawancara harus didukung dengan adanya rekaman,
data tentang interaksi manusia atau gambaran tentang suatu keadaan perlu
didukung dengan foto-foto, data tentang dokumen juga sebaiknya dicantumkan
dalam laporan penelitian.
96

Uji standar transferabilitas menujukkan derajat ketepatan atau dapat
diterapkannya hasil penelitian pada populasi di mana sampel tersebut diambil.
Sebuah penelitian kualitatif dapat dikatakan memiliki standar transferabilitas yang
tinggi apabila para pembaca laporan penelitian dapat memperoleh gambaran dan
pemahaman yang jelas tentang konteks dan fokus penelitian.


95
Burhan Bungin (ed), Analisis Data Penelitian Kualitatif Pemahaman Filosofis dan
Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003),
hlm. 60-61.

96
Sugiono, Op., Cit, hlm. 128.


Uji dependebilitas dalam penelitian kualitatif dilakukan dengan melakukan
audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Suatu penelitian dikatakan memiliki
dependebilitas apabila orang lain dapat mengulangi/mereplikasi proses penelitian
tersebut.
Uji Konfirmabilitas hampir mirip dengan uji dependebilitas, sehingga
pengujian dapat dilakukan secara bersama-sama. Konfirmabilitas dalam penelitian
kuantitati adalah uji obyektivitas penelitian. Sebuah penelitian dikatakan obyektif
apabila hasil penelitian dapat disepakati oleh banyak orang.
97

H. Tahapan Penelitian
1. Tahap Pra Lapangan
Adapun yang dilaksanakan oleh peneliti pada tahap ini adalah menyusun
proposal penelitian. Proposal penelitian digunakan untuk meminta izin kepada
lembaga yang terkait sesuai dengan sumber data yang diperlukan.
2. Tahap Pelaksanaan Penelitian
a. Pengumpulan data
Pada tahap ini yang dilakukan peneliti adalah mengumpulkan data
dengan menggunakan berbagai tehnik pengumpulan data seperti
observasi, wawancara mendalam, dan mengumpulkan berbagai dokumen
yang relevan dengan penelitian.





97
Sugiono, Op., Cit, hlm. 130-131.


b. Mengidentifikasi data
Data yang sudah terkumpul dari hasil wawancara, observasi,
dokumentasi dan angket kemudian diidentifikasikan agar memudahkan
peneliti dalam menganalisa sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
3. Tahap Akhir Penelitian
a. Menyajikan data dalam bentuk deskripsi.
b. Menganalisa data sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
c. Membuat laporan penelitian.

















BAB IV
LAPORAN HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Objek Penelitian
1. Sejarah Berdirinya Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh (JQH) Ma’had
Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh (JQH) Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang adalah sebuah organisasi yang berorientasi pada
pengembangan pembelajaran dan pengajaran Al-Qur’an, terutama tahfizh Al-
Qur’an. Organisasi ini berada di bawah naungan Ma’had Sunan Ampel Al-Ali
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sebagai unit pengembangan tahfizh dan
pembelajaran Al-Qur’an.
Cikal bakal berdirinya Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh (JQH) Ma’had
Ssunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang adalah pada tahun
2000. Pada saat itu Ustadz Samsul Ulum, MA dan Ustadzah Ismatud Diniyah
(Istri H. Isyraqun Najah, M.Ag) telah memulai kegiatan menyimak bacaan Al-
Qur’an beberapa mahasiswa yang mempunyai keinginan menghafal Al-Qur’an.
Beberapa mahasiswa yang yang aktif mentashihkan hafalannya mulai
mensosialisasikan dan mempublikasikan adanya kegiatan pentashihan ini kepada
mahasantri Ma’had Sunan Ampel Al-Ali yang lain. Adanya sosialisasi ini
dimaksudkan untuk mengajak mahasantri yang berminat untuk menghafalkan Al-
Qur’an, terlebih bagi bagi mahasiswa yang telah mempunyai hafalan Al-Qur’an


sebelumnya (baik yang baru beberapa juz maupun yang telah khatam 30 juz), agar
hafalannya tetap dapat dilestarikan dan tidak sampai lupa.
98

Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh awalnya dirintis menjadi sebuah organisasi
pada tahun 2001. Berawal dari kenyataan bahwa ada beberapa mahasiswa yang
Hafizh Al-Qur’an (baik 30 juz maupun dalam tahap menghafal), yang
mengadakan tadarus di Masjid At-Tarbiyah Universitas Islam Indonesia Sudan
(UIIS) Malang (nama UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada saat itu). Dengan
mengacu pada cita-cita luhur kampus UIIS Malang yang ingin mencetak Insan
Ulul Albab, pada hari Jum’at, 23 November 2001 M/08 Ramadhan 1422 H,
komunitas mahasiswa/mahasiswi penghafal Al-Qur’an, menyepakati untuk
membentuk organisasi yang berorientasi pada pengembangan pembelajaran dan
pengajaran Al-Qur’an, terutama yang dititik beratkan pada bidang hafalan Al-
Qur’an.
Pada periode awal berdirinya JQH di UIIS Malang, ada beberapa nama yang
diusulkan untuk menjadi nama organisasi ini, diantara nama-nama tersebut
adalah: Jam’iyyah Ta’lim Al-Qur’an (JTQ), Jam’iyyah Huffazh Wal Qurra’ (JHQ)
kata Huffazh didahulukan dari kata Qurra’ dengan alasan penekanan bahwa
jam’iyyah ini menitik beratkan pada bidang hafalan Al-Qur’an dan agar tidak
terjadi kesamaan nama dengan Jamiyyatul Qurra’ wal Huffazh yang merupakan
badan otonom Nahdhatul Ulama di bidang tahfizh dan Qir’oah. Nama JHQ ini
sempat digunakan untuk beberapa bulan.


98
Wawancara dengan Ismatud Diniyah, Instruktur Hafalan Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel
Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 21 Mei 2009.


Melalui beberapa pembahasan dan pertimbangan, akhirnya disepakati sebuah
nama Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh Universitas Islam Indonesia Sudan
Malang (JQH UIIS Malang). Hal ini dimaksudkan untuk membedakan dengan
Jam’iyyah Qurra’ wal Huffazh yang ada di luar UIIS Malang.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan masih sangat sederhana, diantaranya yaitu
mengadakan tadarus dan saling meyimak bacaan Al-Qur’an di masjid At-Tarbiyah
UIIS Malang setiap selesai sholat Jum’at, mengadakan kajian tafsir setiap Rabu
malam, dan mengadakan khatm Al-Qur’an setiap minggunya. Pada saat itu, JQH
masih bersifat swadaya, artinya seluruh biaya operasional dan biaya administrai
surat menyurat diambil dari iuran wajib anggota. Dengan dukungan dana yang
sangat minim, beberapa kegiatan sudah mulai berjalan. Hal ini tiada lain karena
semangat dan niat yang ikhlas para pengurus dan anggotanya.
Setelah kegiatan ini berjalan, ibarat gayung bersambut, Rektor UIIS Malang
(nama UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ketika itu), Bapak Prof. DR. Imam
Suprayogo yang sangat cinta dan antusias terhadap mahasiswa yang menghafal
Al-Qur’an, memberikan apresiasi berupa pemberian beasiswa. Melalui pembantu
Rektor III saat itu, yaitu Bapak Drs. H. Muhtadi Ridlwan, MA, beliau menyatakan
ingin membentuk suatu wadah yang menampung mahasiswa yang mempunyai
hafalan Al-Qur’an, dengan harapan wadah ini menjadi penyeimbang warga
kampus yang terlihat “sudah agak menjauh” dari nilai-nilai Qur’ani, serta menjadi
wadah bagi mahasiswa untuk menghafal, mengkaji dan mendalami Al-Qur’an.
Dalam Pertemuan pembantu Rektor III bidang kemahasiswaan saat itu
(tanggal tidak diketahui) dihadiri oleh para pembina JQH, yaitu : Ustadz H.


Isyroqunnajah, M.Ag, Ustadz M. Samsul ulum, M.Ag, Ustadz Syafa’at, M.Ag,
Ustadz Abdul Hadi, Lc, dan Ustadzah ‘Ismatud Dinniyah, Ah. Inti pertemuan itu
adalah pematangan rencana peresmian Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh UIN
Malang oleh ibu Hj. Faiqoh, M. Hum, dari Departemen Agama RI.
Dalam pertemuan tersebut Pembantu Rektor III memberikan sambutan
sebagai berikut:
Anda semua yang sekarang berada di Masjid ini, adalah orang-orang yang
mempunyai tugas/amanah untuk menjaga Al-Qur’an (hafizh/hafizhah), maka
kampus ini juga mempunyai kewajiban untuk memfasilitasi anda. Di
kampus ini, seluruh kegiatan mahasiswa seperti fotografi, teater musik,
pramuka dan lain sebagainya mendapat fasilitas dari kampus, apalagi anda
yang sudah jelas berhubungan langsung dengan Al-Qur’an, kitab suci umat
Islam. Kami merasa berdosa jika ada mahasiswa yang masuk Universitas
Islam Indonesia Sudan (UIIS) Malang ini dengan membawa hafalan, lalu
ketika lulus hafalannya banyak yang hilang atau lupa, dengan alasan tidak ada
wadah (organisasi) yang memfasilitasi penjagaan hafalannya. Dengan adanya
jam’iyyah ini, kampus UIIS Malang telah memberikan wadah/fasilitas,
kalaupun masih ada mahasiswa yang ketika lulus hafalannya banyak hilang
atau lupa, maka itu sudah merupakan tanggung jawab dirinya sendiri.

Dari pernyataan tersebut jelaslah bahwa apresiasi para petinggi kampus
Universitas Islam Indonesia Sudan (UIIS) Malang pada saat itu, sangat baik
terhadap adanya komunitas penghafal Al-Qur’an. Oleh karena itulah kampus
kemudian menyediakan sarana dan wadah untuk pengembangan kualitas hafalan
dan keilmuan yang berkaitan dengan Al-Qur’an.
Tanggal 21 November 2002 M/17 Ramadhan 1423 H, jam’iyyah ini
diresmikan oleh Ibu Hj. faiqoh, M.Hum. (Direktur ponpes dan Perguruan tinggi
Islam DEPAG RI.), dengan nama “Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh Universitas
Islam Indonesia Sudan (UIIS) Malang”. Selanjutnya dengan merujuk pada surat
tugas No. E III/Kp.01.1/368/2003 tanggal 01 April 2003 Rektor UIIS Malang,


keberadaan Jam’iyyatul Qurra’wal Huffazh Universitas Islam Indonesia Sudan
(UIIS) Malang resmi berada di bawah bimbingan lembaga kajian Al-Qur’an dan
Sains (LKQS) Universitas Islam Indonesia Sudan (UIIS) Malang, yang secara
fungsional tetap berada di bawah naungan pembantu rektor III bidang
kemahasiswaan.
99

Periode pertama sejak terbentuk, tahun 2001-2003, JQH diketuai oleh Khoirul
Alim, wakil ketua Muhammad Hasyim, sekretaris Erryk Kusbandono. Pada
periode ini, bisa dikatakan organisasi JQH masih mencari format, sehingga
kegiatan JQH masih meliputi kegiatan yang sifatnya penguatan sumber daya
manusia dan sosialisasi JQH. Diantara kegiatan-kegiatan yang berjalan pada saat
itu adalah setoran Al-Qur’an, baik binnazhri maupun bil ghaibi/bil hifzhi,
mudarosah (saling menyimak hafalan), khatm Al-Qur’an (dilakukan di masjid
tarbiyah setiap minggu dan sebulan sekali diadakan di luar kampus), mengadakan
diskusi rutin tentang tafsir, mengadakan pelatihan untuk menjadi trainer
pembelajaran Al-Qur’an yang saat itu terbuka anggota dan dalam lingkup kecil.
Adapun devisi yang ada hanya devisi mudarosah dan devisi munaqosyah.
Periode kedua tahun 2003-2004, JQH diketuai oleh Gus A. Khoshi Bahrowi,
wakil ketua Muhammad As’ad, sektretaris Muhammad Hasyim. Pada periode ini
ada perubahan status kelembagaan JQH, yaitu JQH masuk sebagai devisi semi
otonom di bawah lembaga kajian Al-Qur’an dan Sains (LKQS). Pada periode ini
format ta’aruf Qur’ani mulai digunakan untuk perekrutan anggota baru. Kegiatan
yang telah berjalan tinggal meneruskan. Pada periode ini ada penambahan


99
Muhammad Hasyim, Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh (JQH) Dalam Lintasan Sejarah,
Makalah disampaikan Dalam Acara Ta’aruf Qur’ani VI JQH UIN Malang, 1-2 November 2008,
hlm. 1-3.


kegiatan, yaitu kajian teks tafsir oleh KH. Drs. Marzuki Mustamar, kajian Qiro’ah
Sab’ah serta kajian kitab Shafahat fi ulumil Qira’at oleh Ustadz Syafaat, M.Ag.
Pada periode ini ditambahkan devisi humas dan dakwah yang berfungsi untuk
menerbitkan buletin JQH.
Pada periode ke-dua ini, JQH UIIS Malang mulai dikenal masyarakat Malang
dan sekitarnya. hal ini karena JQH mulai bersosialisai dan turut aktif dalam
kegiatan-kegiatan di luar kampus yang berkaitan dengan Al-Qur’an. Diantara
kegiatan tersebut adalah menjalin kerjasama dengan forum silaturrahim Qurra’
dan Huffazh (FSQH) se-Malang raya yang ketika itu diketuai oleh KH. Mun’im
Syadzili, serta turut aktif dalam kegiatan-kegiatan MTQ baik tingkat kabupaten,
kotamadya, propinsi maupun nasional.
Periode ketiga tahun 2004-2005, JQH tetap diketuai oleh Khoshi Bahrowi,
ketua I M. As’ad, Ketua II Rois Umar, sekretaris umum oleh M. Chamim. Dalam
periode ini kegiatan JQH yang sudah berjalan tetap dilanjutkan. Devisi yang ada
di JQH ditambah yaitu: devisi funun Islamiyah yang membidangi seni islamiyah
seperti Qiro’ah, dan seni kaligrafi. Pada periode ini, devisi mudarosah dan humas
menjalin kerjasama dengan radio Simfoni FM dalam acara yang bertema
“menyapa senja dengan Al-Qur’an”. Acara ini disiarkan secara on air, diisi
dengan pembacaan murottal oleh anggota JQH dilanjutkan dengan materi ilmu
tajwid dengan sesi tanya jawab.
Periode ke-empat tahun 2005-2006, ketua JQH UIN Malang dipegang oleh M.
Chamim, sekretaris umum A. Faishol. Pada perode ini JQH tetap menjalin
kerjasama dengan Radio Simfoni FM dalam kegiatan kajian Tafsir tematik yang


diadakan tiap minggunya, serta semua kegiatan yang telah diprogramkan pada
periode sebelumnya juga tetap dijalankan.
Peride ke-lima tahun 2006-2007, ketua Umum JQH adalah M. Iksan, ketua I
khoirul Amin, ketua II Imam Wahyudi Karimullah, dan A. Faishol sebagai
sekretaris umum.
Periode ke-enam tahun 2007-2008, ketua umum JQH adalah Munjiyat, ketua I
A. Faishol, Ketua II Alfan Suluh, sekretaris Ali Kadarisman. Pada periode ini
untuk kedua kalinya JQH mengalami perubahan status kelembagaan, yaitu
sebagai salah satu unit di bawah naungan Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN
Malang.
Periode ketujuh tahun 2008-2009 (kepengurusan sekarang), Ketua JQH adalah
Sholihin, wakil ketua Mustain, sekretaris adalah Muhlisin.
100

2. Visi, Misi, Tujuan, dan Fungsi Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh (JQH)
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Visi
Terwujudnya kampus yang bernuansa Al-Qur’an, bercirikan
intelektualitas, spiritualitas dan moralitas.
Misi
· Membentuk ahli Al-Qur’an yang mampu membaca, menghafal,
memahami dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an dalam
kehidupan sehari-hari.


100
Ibid., hlm. 4-5.


· Membangun semangat akdemik yang Qur’ani di kalangan civitas
akdemika UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Tujuan
· Membentuk mahasiswa yang berkepribadian tinggi, berwawasan ke-
Al-Qur’anan dan mampu mentransformasikan nilai-nilai Al-Qur’an
dalam kehidupan masyarakat.
· Membina kader huffazh dan pecinta Al-Qur’an menjadi berilmu dan
dan konsisten serta bertanggung jawab kepada hafalan, pemahaman,
dan pengamalan isi ajaran Al-Qur’an.
· Membantu dan mendukung program ma’had Sunan Ampel Al-Ali
(MSAA) dalam bidang ke-Al-Qur’anan, serta untuk mengantarkan
mahasiswa menjadi Ulama profesional yang intelek dan intelek
profesional yang ulama.
Fungsi
· Wadah peningkatan kualitas dan kuantitas bacaan dan hafalan Al-
Qur’an.
· Wadah pengkajian dan pengembangan keilmuan Al-Qur’an.
· Wadah ukhuwah Islamiyah.
· Wadah pengabdian masyarakat.






3. Struktur Kepengurusan
Pada periode 2008-2009, struktur kepengurusan Jam’iyyatul Qurra’ Wal
Huffazh (JQH) Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang adalah sebagai berikut:
Pelindung : - Prof. Dr. H. Imam Suprayogo
- KH. Chamzawi, M.HI
Pembina : 1. Syamsul Ulum, MA
2. Syafaat, M.Ag
3. M. Hasyim, S.Hum
4. Isyroqun Najah, M.Ag
5. Ismatud Diniyah, Ah
Pengurus Harian:
Ketua Umum : Sholihin
Wakil Ketua : Mustaen
Sekretaris I : Mukhlisin
Sekretaris II Nur Azizah
Bendahara I : Rifqiyatuz Zuhriyah
Bendahara II : Supardi
Devisi-Devisi:
Dev. Mudarosah Putra:
Penasehat: Alfan Suluh
1. Ibnu Arobi (Co)
2. M. Imamul Muttaqin
Dev. Mudarosah Putri:
Penasehat: Hikmatus Sa'diyah
1. ZakiyatulUmami (Co)
2. Khilfatin Nabawiyah


3. Arif Nugroho
4. Agus Rinjani
3. Khodijah al-Kubro
4. Ismiyatur Rofi'ah
Dev. Munaqosyah:
Penasehat: M. Faisol
1. Agus Faizin (Co)
2. Qurroti A'yunin N.
3. Arba'in Nurdin
4. Nury Firdausiyah
5. Adib Mawardi
6. Khoirun Nashokhah
Dev. Funun Islamiyah:
Penasehat: Uswatun Hasanah
1. Ika Chusniah Anggraeni (Co)
2. Mahbub Ainur Rofiq
3. Laily Rizki Amalia
4. Uuz Hafizh Nawawi
5. Alfiyatus Syarofah
6. Manzilur Rohman R.
Dev. Humasy dan Dakwah:
Penasehat: Aminah
1. Babur Rohman (Co)
2. Lina Mariya Ulfa
3. Budi Fairul
4. Nely Ilmi Qoth'iyah
5. M. Hafizh Mubarok
6. Rizkiana Mahardika

Dev. Inventaris:
Penasehat: Hilyatu Millati
1. Didik Wahyudi (Co)
2. Sihatul Badriyah
3. M. Yalis Shokhib
4. Siti Mutholi'ah
5. Handoko
6. Lutfiyah Inayati






4. Program Kerja Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh (JQH) Ma’had Sunan
Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Ada beberapa program kerja yang diusung oleh JQH sebagai berikut:
1). Meningkatkan dan mengembangkan ilmu-ilmu ke-Al-Qur’an-an yang
dititikberatkan pada bidang tahfizh, bagi seluruh anggota dengan sistem
intensif.
2). Meningkatkan kualitas intelektual seluruh aggota dalam pemahaman,
penghayatan, penafsiran dan pengamalan isi kandungan Al-Qur’an.
3). Membangun jaringan dan kerjasama dengan institusi lain guna mendukung
program kerja JQH UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
5. Kegiatan Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh (JQH) Ma’had Sunan Ampel
Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2008-2009
Dalam setiap periode kepengurusan, JQH memiliki program kerja tahunan dan
juga kegiatan untuk setiap minggunya. Diantara kegiatan tahunan yang
dilaksanakan pada periode 2008-2009 adalah sebagai berikut:
Nama:
Waktu:
Tempat:

Peserta:
Karantina tahfizh dan sekolah tafsir
Tanggal 1-22 Februari 2009 dan 23-28 februari 2009.
Mabna Al-Farabi, mabna Al-Ghozali, masjid At-tarbiyah dan
halaqoh lantai 1
Anggota, pengurus JQH, dan partisipan luar.


Nama:
Waktu:
Tempat:
Peserta:
Olimpiade Al-Qur’an
Tanggal 23-24 Mei 2009
Halaqoh, depan mabna Al-Ghozali, masjid.
SMA/MA sederajat, Pesantren se-Jatim, dan Mahasantri Ma’had
Sunan Ampel Al-Ali (2008-2009)
Nama:
Waktu:
Tempat:

Peserta:
Rihlah Qur’ani
Tanggal 5-7 juli 2009
Wonosobo (PP. Sunan Pandan Aran Jogjakarta, Pondok Pesantren
Al-Qur’an di Univesitas Al-Qur’an Jateng).
Anggota, Pengurus, dan Pembina JQH
Nama:
Waktu:


Tempat:
Peserta:
Wisuda Tahfizh
Pada setiap bulan Agustus, bertepatan dengan temu wali mahasantri
baru Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang
Gedung SC UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Seluruh anggota JQH UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang
mengikuti tes wisuda dengan klasifikasi (5,10,15,20,25,dan 30 Juz).
Selain kegiatan yang diadakan sekali dalam satu periode, JQH juga
mempunyai kegiatan yang diadakan setiap minggunya, sebagaimana tertera dalam
tabel berikut:





Tabel 4.1
Jadwal Kegiatan Harian dan Mingguan JQH Ma’had Sunan Ampel Al-Ali
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Devisi Funun Islamiyah
No Program Hari Jam Tempat
1 Latihan Qiro’ah Rabu malam 20.00 WIB Masjid Tarbiyah
2 Olah Vokal Ahad pagi 05.30 WIB Masjid Tarbiyah
3 Latihan Kaligrafi Kamis malam 20.00 WIB Masjid Tarbiyah
Devisi Munaqosyah
No Program Waktu Jam Tempat
1 Kajian Tafsir
ayat al-ahkam
Ahad sore 16.00 WIB Masjid Tarbiyah
2 Kajian ulum al-
Qur’an
Kondisional - Masjid tarbiyah
Divisi Mudarosah Putra
No Program Waktu Jam Tempat
1 Setoran hafalan
kepada pembina
(instruktur)
Sabtu
Selasa
Rabu
05.00 WIB
12.00 WIB
12.00 WIB
Mabna Al-Ghozali
lantai 3
2 Khatm Al-
Qur’an
Ahad 06.00 WIB Masjid Tarbiyah
3 Setoran kepada
pendamping
Sesuai
kelompok
- Mabna Al-GhozAli
lt.3
Devisi Mudarosah Putri


No Program Waktu Jam Tempat
1 Setoran hafalan
kepada pembina
(instruktur)
Senin s/d
Sabtu
09.00-13.00
WIB
Ndalem Ning Isma
(rumah dinas No.
2)
2 Khatm Al-
Qur’an bil ghaib
Ahad 06.00 WIB di tiap Mabna
3 Khatm Al-
Qur’an Bin
Nazhar
Ahad 06.00 WIB di tiap Mabna
4 Setoran kepada
Pendamping
Sesuai
kelompok
19.30 WIB Mabna Khodijah
Al- Kubro
Divisi Mudarosah putra dan putrid
No Program Waktu Jam Tempat
1 Qiro’ah sab’ah Sabtu (2
minggu 1x)
16.00 wib Masjid Tarbiyah
Sumber: Data dokumentasi Organisasi
6. Prestasi Anggota Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh Ma’had Sunan Ampel
Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Adapun prestasi yang dicapai oleh JQH Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang adalah sebagai berikut:
Tahun 2003
Pada Musabaqah Tilawatil Qur’an forum silaturahim Qurra’ Wal Huffazh
(FSQH) se-Malang Raya, Maret 2004.


· Juara I cabang Musabaqah Hifzhil Qur’an 5 juz tilawah
· Juara I cabang Musabaqah Hifzhil Qur’an 10 juz
· Juara III cabang Musabaqah Hifzhil Qur’an 5 juz tilawah
· Juara III cabang Musabaqah Hifzhil Qur’an 30 juz
· Juara III cabang Tilawatil Qur’an remaja putri
Pada Seleksi Tilawatil Qur’an XVIII (STQ XVIII) tingkat Nasional di
Bengkulu, Juli 2004
· Juara III cabang Tafsir Bahasa Inggris dan MHQ 30 juz
Tahun 2004
Pada Musabaqah Tilawatil Qur’an XXI tingkat Kotamadya Malang
· Juara I cabang Musabaqah Hifzhil Qur’an 5 juz tilawah
· Juara I cabang Musabaqah Hifzhil Qur’an 10 juz
· Juara I cabang Tafsir bahasa Indonesia
· Juara II cabang Musabaqah Tilawatil Qur’an remaja putra
· Juara II cabang Musabaqah Hifzhil Qur’an 20 juz
· Juara III cabang Musabaqah Tilawatil Qur’an remaja putri
· Juara III cabang Musabaqah Hifzhil Qur’an 10 juz
Tahun 2005
· Juara III cabang Musabaqah Fahmil Qur’an tingkat Prov. Jawa Timur di
Sumenep-Madura
· Juara I cabang Tafsir bahasa inggris putri
· Juara I cabang Musabaqah Khoththil Qur’an putri



Tahun 2006
· Juara III cabang Tafsir bahasa inggris tingkat Nasional di Kendari-
Sulawesi
· Seleksi Musabaqah Hifzhil Qur’an dan Hadits tingkat Nasional di
KEDUBES Saudi Arabia setiap tahun di Jakarta
· Mendapat kepercayaan sebagai mu’allim al-Qur’an Ma’had Sunan Ampel
Al-Ali UIN Malang
Tahun 2007
· Juara Harapan I MTQ 2007 Se-Jawa Timur cabang Musabaqah Syarhil
Qur’an di Blitar
· Juara Harapan I dan II MTQ 2007 Se-Jawa Timur
· Juara III MTQ 2007 Se-Jawa Timur cabang Tafsir Bahasa Inggris di Blitar
Tahun 2008
Pada Musabaqah Tilawatil Qur’an Se-Malang Raya di Kepanjen, 20 Maret
2008.
· Juara II cabang Musabaqah Hifzhil Qur’an 5 juz tilawah putra
· Juara III cabang Musabaqah Hifzhil Qur’an 5 juz tilawah putra
· Juara I cabang Musabaqah Hifzhil Qur’an 5 juz tilawah putri
· Juara I cabang Khitobah Qur’an
· Juara II cabang Puitisasi Qur’an
· Juara I cabang MTQ remaja putra
· Juara III cabang Musabaqah Kaligrafi Al-Qur’an naskah
· Juara I cabang Musabaqah Fahmil Qur’an (tim I putra)


0
50
100
150
200
2002-
2003
2003-
2004
2004-
2005
2005-
2006
2006-
2007
2007-
2008
2008-
2009
Periode Kepengurusan
J
u
m
l
a
h

A
n
g
g
o
t
a
· Juara III cabang Musabaqah Fahmil Qur’an (tim II putri).
7. Kedaaan Anggota Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh (JQH) Ma’had
Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Sebagai sebuah unit pengembangan Tahfizh Al-Qur’an di Ma’had Sunan
Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, JQH juga merupakan
organisasi yang setiap tahunnya mengadakan rekruitmen anggota yang terdiri dari
mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Anggota JQH dari tahun ke
tahun selalu mengalami peningkatan. Hal ini dapat diamati dalam grafik berikut:


Gambar 4.1
Grafik Anggota JQH Mulai Periode 2002-2009
Sumber Data: Dokumentasi
Grafik di atas menunjukkan perkembangan jumlah anggota yang signifikan.
Mulai periode awal berdirinya (2002-2003), JQH hanya mempunyai anggota
sebanyak 11 orang mahasiswa. Pada periode kedua (2003-2004) meningkat
menjadi 91 orang anggota. Pada periode ke-tiga (2004-2005), jumlah anggota
semakin meningkat menjadi 115 orang mahasiswa.


Pada periode ke-empat (2005-2006), jumlah anggota kembali menurun
menjadi 46 anggota saja. Pada periode ke-lima (2006-2007), jumlah anggota agak
maningkat menjadi 70 orang.
Pada periode ke-enam (2007-2008), jumlah anggota JQH mengalami
peningkatan yang paling tinggi, yaitu 182 anggota. Kemudian, pada peride saat ini
(2008-2009), jumlah anggota adalah 136 orang mahasiswa.
Pada periode ini, anggota JQH terdiri atas mahasiswa dari berbagai jurusan,
diantaranya: PAI (31 orang), B.Arab (20 orang), Syariah (9 orang), PBA (16
orang), B. Inggris (15 orang), serta 45 orang dari berbagai jurusan lainnya.
Mahasiswa anggota JQH Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik
Ibrahim Malang, tidak semuanya memiliki hafalan Al-Qur’an. Hal ini karena
untuk menjadi anggota JQH, persyaratan yang mutlak adalah adanya kecintaan
dan kemauan untuk memperdalam ilmu-ilmu ke-Al-Qur’an-an. Baru setelah
masuk ke organisasi ini, ditumbuhkan motivasi serta pengembangan minat untuk
menghafal Al-Qur’an.
Dari data yang ada, diantara 31 orang mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama
Islam (PAI) yang menjadi anggota JQH pada periode 2008-2009, yang memiliki
hafalan/sedang tahap menghafal ada 15 orang saja, sebagaimana tertera dalam
tabel berikut:






Tabel 4. 2.
Nama-Nama Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
Penghafal Al-Qur’an

No. Nama Mahasiswa Semester Jumlah Hafalan
1. Agus Faizin 6 12 Juz
2. Arif Nugroho 4 30 Juz
3. Imamul Muttaqin 4 30 Juz
4. Misbahuddin Aziz 2 30 Juz
5. Uuz Hafizh Nawawi 4 7 Juz
6. Aminah 8 7 Juz
7. Amirotun Nahdhiyah 6 30 Juz
8. Halimah Sa’diyah 2 30 Juz
9. Hikmatus Sa’diyah 8 20 Juz
10. Ismiyatur Rofi’ah 4 30 Juz
11. Nur Azizah 4 30 Juz
12. Nurul fadhilah 4 30 Juz
13. Risa Sulhiana 4 5 Juz
14. Siti Lailiyah 2 5 Juz
15. Qurroti A’yunin. N. 6 5 Juz

B. Paparan Hasil Penelitian
1. Deskripsi Pelaksanaan Hafalan Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel Al-
Ali (MSAA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Kegiatan menghafal Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali diikuti oleh
mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dari berbagai Fakultas dan
Jurusan, termasuk diantaranya 15 orang mahasiswa dari Jurusan Pendidikan
Agama Islam (PAI), yang nama-namanya telah dijelaskan sebelumnya.


Sebagaimana para penghafal Al-Qur’an lainnya, para mahasiswa ini memiliki
kewajiban untuk selalu melestarikan dan meningkatkan kuantitas serta kualitas
hafalannya. Hal ini diupayakan oleh mahasiswa dengan senantiasa tekun untuk
menambah hafalan di bawah bimbingan instruktur, serta mengulangi hafalannya
baik sendiri maupun dengan teman sejawat. Pelaksanaan hafalan Al-Qur’an yang
dilakukan oleh mahasiswa di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali terdiri dari 3 tahapan,
yaitu:
a. Tahap Persiapan
Tahap persiapan yang dimaksud adalah sebuah tahapan yang dilakukan oleh
seorang penghafal Al-Qur’an sebelum ia mentashihkan hafalannya kepada
instruktur. Pada tahap ini, para mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan
Pendidikan Agama Islam (PAI), terutama yang sedang dalam taraf menghafal
beberapa juz, mempersiapkan tambahan hafalan yang akan ditashihkan pada
instruktur yang ada.
Dalam usaha untuk menambah hafalan baru, para mahasiswa penghafal Al-
Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) menggunakan metode yang
berbeda satu sama lain. Ada yang menggunakan metode pengulangan ayat
sebelum dihafal, ada juga yang menggunakan metode memahami ayat sebelum
membaca berulang-ulang dan dihafal. Hal ini sesuai dengan beberapa pernyataan
berikut:
Metode yang saya gunakan dalam menghafal biasanya, sebelum menghafal
saya baca dulu tiga kali per-ayat, setelah ada gambaran baru lanjut pada ayat


seterusnya. Kalau misalnya ada ayat-ayat yang agak sulit, saya biasanya
lihat artinya di Al-Qur’an terjemah, itu saya rasa bisa lebih memudahkan.
101


Kalau metode menambah hafalan, biasanya sebelum saya baca berulang-ulang
saya fahami dulu mbak maksud ayatnya. Saya biasanya pakai Al-Qur’an tafsir
yang kecil itu lho mbak, saya nggak memakai terjemah. ya.. saya lebih suka
pake tafsirnya saja.
102


Kalau saya biasanya baca terjemahnya dulu, saya fahami, baru kemudian saya
baca berulang-ulang dan dihafalkan, karena saya biasanya menghafalkan
dengan membaca terjemahnya dulu. Kalau menghafalkan ayat-ayat yang
berisi cerita biasanya lebih cepat mbak.
103

Dari wawancara tersebut dapat diketahui bahwa, metode yang digunakan oleh
mahasiswa penghafal Al-Qur’an untuk menambah hafalan baru ada beberapa
macam, diantaranya dengan membaca berulang-ulang ayat-ayat yang akan di
hafal, ada juga yang memahami ayat terlebih dahulu sebelum dibaca berulang-
ulang dan dihafal.
b. Tahap Pentashihan Hafalan
Pada tahap ini, para mahasiswa penghafal Al-Qur’an mentashihkan hafalannya
kepada instruktur. Aktivitas menghafal dan mengulang hafalan Al-Qur’an di
bawah bimbingan instruktur ini, menggunakan metode sorogan. Metode Sorogan
adalah cara dalam proses belajar membaca atau menghafal Al-Qur’an, dimana
seorang murid memperdengarkan bacaan atau hafalannya kepada instruktur
dengan berhadapan secara langsung (face to face). Mengenai penggunaan metode
ini, sebagaimana dijelaskan dalam pernyataan berikut:
Metode yang digunakan untuk setoran (menambah) dan nderes (mengulang)
ya dengan metode sorogan itu mbak,, menurut saya metode ini merupakan


101
Wawancara dengan Agus Faizin, Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 18-04-2009.

102
Wawancara dengan Aminah, Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas
Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 15-04-2009.

103
Wawancara dengan Hikmatus Sa’diyah, Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 15-04-2009.


cara yang paling efektif digunakan dalam menghafal Al-Qur’an, karena
segala bentuk kesalahan bacaan akan dapat terlihat dengan jelas dan segera
mendapat pembenahan dari saya.
104


Walaupun metode dalam menghafal dan mengulang hafalan di bawah
bimbingan instruktur diseragamkan, akan tetapi dalam hal kuantitas hafalan setiap
pertemuan, mahasiswa memiliki kemampuan yag berbeda. oleh karena itu,
instruktur tidak langsung menentukan berapa halaman yang harus disetorkan
(tambahan hafalan) perharinya. Hal ini sebagaimana penjelasan dari instruktur
sebagai berikut:
Kalau mengenai kuantitas hafalan setiap pertemuan, itu tergantung dari
kemampuan mahasiswanya mbak, biasanya sebelum memulai hafalan
mahasiswa itu saya tanya terlebih dahulu, dia sudah pernah khatam atau
belum, kalau belum pernah khatam, biasanya setoran (menambah
hafalan) nya ya 1 sampai 2 halaman. Tapi kalau misalnya dia sudah pernah
khatam, biasanya per pertemuan itu dia nderes (mengulang) ½ juz. Untuk
yang belum pernah khatam, biasanya saya beri toleransi, kalau tidak bisa
menambah ya… harus tetap nderes (mengulang) hafalan sebelumnya. ya..
saya itu maklum, karena memang yang dihadapi di sini kan mahasiswa mbak,
mereka banyak kesibukan dan kadang kuliahnya full.
105


Dari Wawancara di atas dapat diketahui bahwa kuantitas hafalan setiap
mahasiswa berbeda-beda, ada yang sedang dalam tahap menghafal beberapa juz
dari Al-Qur’an, ada pula yang sudah pernah khatam 30 juz. Adapun untuk
mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI),
kuantitas hafalannya dapat dilihat dari tabel berikut:





104
Wawancara dengan Ismatud Diniyah, Instruktur Hafalan Al-Qur’an Ma’had Sunan Ampel
Al- Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 21 Mei 2009.

105
Ibid..


Tabel 4. 3.
Jumlah Hafalan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)

No Alternatif Jawaban N F %
1
2
3
4
<10 juz
>10 juz
20 juz
30 juz
15




5
1
1
8
33 %
7 %
7 %
53 %
Jumlah 15 100%
Sumber: Data Angket

Dari data di atas dapat diketahui bahwa diantara 15 orang informan mahasiswa
penghafal Al-Qur’an dari Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), ada 5 orang
yang hafal <10 juz, 1 orang hafal >10 juz, 1 orang hafal 20 juz, dan 8 orang telah
hafal 30 juz.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak semua mahasiswa penghafal
Al-Qur’an dari Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), memulai hafalan Al-
Qur’annya di Ma’had UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Hal ini dapat
ditunjukkan dari data berikut:
Tabel 4. 4.
Awal mahasiswa mulai menghafal

No Alternatif Jawaban N F %
1
2
3
4
SD / MI
SMP / MTs
SMA / MA
Pasca SMA
15 2
3
4
6
13 %
20 %
27 %
40 %
Jumlah 15 100%
Sumber: Data Angket




Tabel 4. 5.
Tempat Menghafal

No Alternatif Jawaban N F %
1
2
3
Pesantren tahfizh
Pesantren non tahfizh
di UIN (Ma’had)
15

9
2
4
67 %
13 %
20 %
Jumlah 15 100%
Sumber: Data Angket
Data di atas menunjukkan bahwa 11 mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari
Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) telah mulai menghafal Al-Qur’an sejak
sebelum kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, sedangkan 4 yang lain
baru memulai hafalannya di ma’had UIN.
c. Tahap Pelestarian Hafalan
Selain menambah kuantitas hafalan, hal yang lebih penting dari proses
menghafal Al-Qur’an adalah menjaga kualitas hafalan agar senantiasa baik dan
benar. Untuk mendapatkan kualitas hafalan yang baik, seorang penghafal Al-
Qur’an harus berusaha menyisihkan waktu untuk mengulang hafalannya.
berdasarkan data dari angket, diketahui bahwa 94% mahasiswa Jurusan
Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Qur’an menggunakan waktu sekitar
2-3 jam per-harinya untuk menambah atau mengulang hafalan, sedangkan sisanya
menyisihkan waktu sedikitnya 5 jam per-hari.
Para mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Qur’an
ini ada yang mengulang hafalan di bawah bimbingan instruktur, ada yang disimak
oleh sesama teman penghafal, ada juga yang mengulang hafalan sendiri. Hal ini
sebagaimana dipaparkan dalam beberapa pernyataan berikut:


Alhamdulillah mbak, saya selalu menyempatkan untuk setoran (menambah
hafalan) dan nderes (mengulang hafalan) kepada neng Isma (instruktur).
Seandainya pun saya nggak nambah saya tetap setor deresan saja. Saya
mengusahakan untuk bisa istiqomah. Selain itu di sini juga ada deresan
bersama dengan teman-teman di lantai 2 mbak, waktunya ba’da sholat Isya’.
terus ada juga khataman tiap minggu mbak.
106


Kalau nderesnya pada instruktur ya alhamdulillah saya rutin mbak, di putra
sekarang yang menyimak pak Hasyim, setiap selasa dan rabu jam 1-2. kalau
selain itu biasanya saya nderes sendiri mbak, soalnya teman-teman jarang ada
yang mau diajak nderes sama-sama, kecuali kalau ada kegiatan khatmil
Qur’an.
107


Kalau saya Alhamdulillah sudah khatam mbak, jadi biasanya saya nderes
sendiri, tapi kadang juga dengan teman-teman. Terus biasanya saya juga ikut
khataman mingguan.
108


Beberapa penyataan tersebut, pada dasarnya juga mengindikasikan adanya
peran teman sejawat dan situasi sosial yang mendukung dalam proses
melestarikan hafalan Al-Qur’an. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya,
bahwa para mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama
Islam (PAI) ini tinggal di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali dan berkumpul dengan
sesama penghafal lain dari berbagai fakultas dan jurusan. Dengan berkumpulnya
para penghafal Al-Qur’an ini dalam situasi sosial yang sama, maka
memungkinkan adanya kerjasama yang baik dalam hal mengulang hafalan, serta
saling memberi motivasi. Hal ini sebagaimana pernyataan dari para informan
berikut:
Menurut saya kondusif banget tinggal di ma’had ini, banyak teman yang bisa
memotivasi, meskipun kadang banyak hiruk-pikuk teman-teman ma’had
lainnya. Tapi masih ada celah tempat dan waktu untuk menghafal.menurut


106
Wawancara dengan Hikmatus Sa’diyah, Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 15-04-2009.

107
Wawancara dengan Imamul Muttaqin, Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 18-04-2009.

108
Wawancara dengan Arif Nugroho, Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 18-04-2009.


saya serame-ramenya ma’had tetap bisa nderes, tapi sesepi-sepinya kost, tetap
aja nggak kondusif dan nggak ada yang memotivasi.
109


Ya mbak, dengan tinggal di ma’had seperti ini apalagi satu kamar dengan
penghafal al-Qur’an yang lain itu sangat kondusif, ada motivasi tersendiri
yang muncul. kalau ada teman sekamar yang rajin nderesnya, pasti dalam hati
saya ini ada greget, kok saya nggak bisa kayak dia, jadinya ya… setelah
itu semangat lagi deh nderesnya.
110


Peran lingkungan sosial sangat besar dalam proses menghafal Al-Qur’an.
karena itulah, apabila lingkungan tempat menghafal terbilang kondusif, maka
seorang penghafal akan merasa terbantu dengan lingkungan tersebut. Dalam hasil
angket diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 4. 6.
Peran lingkungan Menghafal Al-Qur’an (Ma’had)

No Alternatif Jawaban N F %
1
2
3
4
Sangat terbantu
Terbantu
Agak terbantu
Tidak terbantu
15 8
4
2
1
53 %
13 %
27 %
7 %
Jumlah 15 100%
Sumber: Data Angket

Dalam proses menghafal, ada beberapa kendala yang dialami oleh mahasiswa
penghafal Al-Qur’an Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), diantaranya seperti
yang dipaparkan dalam wawancara berikut:
Kalau kendala saya masalah waktu mbak, biasanya jadwal kuliah itu bentrok
dengan jadwal setoran kepada instruktur. Soalnya jam setorannya dibatasi dari


109
Wawancara dengan Nur Azizah, Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas
Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 18-04-2009.

110
Wawancara dengan Qurroti A’yunin Nasihah, Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan
PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 16-04-2009.


jam 9-13.00, itukan waktu kuliah full mbak. Terus, ada juga mbak kadang
rasa jenuh, nah itu yang membuat malas mbak.
111


Kalau kendalanya, pengaturan waktunya agak sulit mbak, terus, teman-teman
di kamar itu agak sulit untuk diajak kompakan nderes bersama, jadinya ya
nderes sendiri-sendiri.
112


Kalau kendala saya dalam menghafal ya waktu mbak, saya agak sulit untuk
mengatur waktu, apalagi sekarang sedang mengerjakan tugas akhir. Tapi ya
tetap saya usahakan untuk nderes walaupun tidak nambah. Kalau kesulitan
dalam hafalannya sendiri, biasanya terletak pada ayat-ayat yang pendek
dan artinya langka.
113


Dari pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam menghafal
Mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
menemui berbagai macam kendala, diantaranya adalah banyaknya kesibukan yang
harus dilakukan, sehingga perlu pengaturan waktu yang ketat. Selain itu ada juga
kendala yang disebabkan oleh kejenuhan menghafal, sehingga menyebabkan rasa
malas. Kemudian ada juga kendala kesulitan dalam menghafal ayat-ayat tertentu.
Hal ini biasanya terjadi pada saat menghafal ayat-ayat yang kalimatnya pendek,
serta kata-katanya langka.
Dari beberapa faktor tersebut, ada yang paling dominan dan sering dialami
oleh mahasiswa, sebagaimana yang diketahui dari data angket berikut ini:






111
Wawancara dengan Amirotun Nahdliyah, Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 16-04-2009

112
Wawancara dengan Imamul Muttaqin, Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 18-04-2009

113
Wawancara dengan Hikmatus Sa’diyah, Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 15-04-2009.


Tabel 4. 7.
Kendala yang paling dominan dalam menghafal dan melestarikan hafalan

No Alternatif Jawaban N F %
1
2
3
Pengaturan waktu
Lingkungan
Malas
15 11
3
1
73 %
20 %
7 %
Jumlah 15 100%
Sumber: Data Angket

Data di atas menunjukkan bahwa 11 orang (73%) mahasiswa penghafal dari
Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) mengalami kendala dalam pengaturan
waktu, 3 orang (20%) mengalami kendala lingkungan yang kurang mendukung,
dan 1 orang (7%) lainnya mengalami kejenuhan dalam hafalan yang
mengakibatkan rasa malas. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kendala
yang paling dominan adalah pengaturan waktu.
Beberapa kendala menghafal Al-Qur’an yang dialami oleh para mahasiswa
jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan hal yang wajar terjadi
mengingat padatnya kegiatan mahasiswa tersebut, akan tetapi beberapa kendala
tersebut dapat diantisipasi dengan menciptakan lingkungan yang kondusif serta
waktu khusus untuk menghafal dalam seharinya, hal ini sebagaimana dipaparkan
dalam wawancara sebelumnya.
Berdasarkan pemaparan temuan data tentang pelaksanaan hafalan Al-Qur’an
di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dapat
disimpulkan bahwa pelaksanaan hafalan di Ma’had sudah baik. Hal ini karena
lingkungan (situasi sosial) yang mendukung dengan dikumpulkannya para
penghafal Al-Qur’an dalam satu mabna/unit asrama, adanya bimbingan instruktur


hafalan yang juga Hafizh/hafizhah, serta adanya program evaluasi hafalan yang
dilakukan oleh organisasi setiap akhir pekan, akhir semester dan akhir periode
kepengurusan. Program evaluasi yang dimaksud adalah khatm Al-Qur’an bil
ghaib tiap minggu, tes tahfizh tiap akhir semester, serta wisuda tahfizh yang
didahului oleh tes pentashihan tahfizh oleh pembina.
2. Implikasi Hafalan Al-Qur’an Dalam Peningkatan Prestasi Belajar
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
Dari sebuah proses menghafal Al-Qur’an yang baik, artinya memenuhi
beberapa persyaratan seperti adanya instruktur yang membimbing hafalan,
penggunaan metode yang tepat, tersedianya waktu, serta lingkungan yang
mendukung, seorang penghafal Al-Qur’an minimal akan memiliki kemampuan
untuk membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan benar dan dapat mengulang bacaan
yang telah ia hafalkan.
Lain halnya apabila seorang penghafal Al-Qur’an tidak hanya menghafalkan
Al-Qur’an dari lafadnya, akan tetapi juga mempelajari kandungan isinya, maka ia
akan memiliki pemahaman yang komprehensif tentang Al-Qur’an. dan
sebagaimana diketahui, bahwa Al-Qur’an merupakan sumber hukum syariat dan
ilmu pengetahuan.
Menurut para mahasiswa penghafal Al-Qur’an Jurusan Pendidikan Agama
Islam (PAI), selain menghafalkan secara lafdiyah. mereka juga berusaha untuk
mengembangkan pengetahuan tentang Al-Qur’an yang mereka hafalkan. Mereka
memiliki cara tertentu dalam mempelajari dan memahami kandungan ayat yang


sedang dihafalkan, salah satunya adalah dengan membaca arti dan memahami ayat
yang hendak dihafal. Hal ini sesuai dengan pernyataan berikut:
Membaca berulang-ulang mbak, lalu saya fahami terjemahnya dan dihafalkan.
Kalau ayat yang berisi tentang hukum itu bisa lebih cepat hafal mbak, karena
sering dengar sejak di MA dulu.kemudian di JQH juga ada kajian kitab tafsir
Ayatul Ahkam mbak,,
114


Saya baca terjemahnya dulu, saya fahami, baru kemudian saya baca berulang
ulang dan dihafalkan. Kalau menghafalkan ayat-ayat yang berisi cerita
biasanya lebih cepat mbak.
115


Biasanya saya fahami isi ayatnya dulu mbak, tapi saya pakai Al-Qur’an tafsir
yang kecil itu lho mbak, saya nggak memakai terjemah. ya.. saya lebih suka
pake tafsirnya saja. untuk pengembangan yang lebih dalam lagi ya.. saya
dapatkan di perkuliahan mbak..
116


Dari pernyataan di atas, dapat diketahui bahwa ada beberapa usaha untuk
memahami ayat yang akan dihafalkan, antara lain dengan mengetahui arti ayat
dan memahaminya. pernyataan di atas juga didukung oleh data angket berikut:
Tabel 4. 8.
Usaha untuk Memahami Makna dan Kandungan Ayat Yang dihafal

No Alternatif Jawaban N F %
1
2
3
Ya
Kadang-kadang
Tidak
15 12
1
2
80 %
7 %
13 %
Jumlah 15 100%
Sumber: Data Angket

Data angket di atas menujukkan bahwa 87% (13 orang) mahasiswa penghafal
Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), memiliki usaha untuk


114
Wawancara dengan Qurroti Ayunin Nasihah, Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan
PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 16-04-2009.

115
Wawancara dengan Hikmatus Sa’diyah, Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 15-04-2009.

116
Wawancara dengan Aminah, Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas
Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 15-04-2009.


memahami makna dan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an yang dihafalnya,
sedangkan 2 orang lainnya mengaku belum ada usaha yang sungguh-sungguh.
Dalam perkuliahan mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI),
banyak sekali dijumpai ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan tema
perkuliahan yang ada. Khususnya dalam matakuliah kegamaan Islam seperti Studi
Al-Qur’an, studi Fiqih, Tafsir dan Hadits, Tafsir hadits Tarbawi 1&2, Masail
Fiqih 1&2, Qowaid Fiqih dan ushul fiqih, ayat-ayat Al-Qur’an sering bersentuhan
langsung dengan tema-tema yang dibahas. Dalam konteks inilah, seorang
mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) yang hafal Al-Qur’an akan
sangat terbantu dengan kemampuannya menghafal dan memamahami ayat yang
telah ia hafal.
Para mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam
(PAI) di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini, menghafalkan Al-Qur’an
berdasarkan urutan mushaf, artinya tidak berdasarkan tema-tema tertentu saja
(tematik). Walaupun demikian, mereka mengaku merasa terbantu dengan adanya
hafalan Al-Qur’an yang dimiliki. Menurut mereka, hafalan Al-Qur’an telah
memberikan kontribusi yang sangat besar dalam prestasi akademik, khususnya
dalam matakuliah keagamaan Islam yang sering berhubungan dengan ayat-ayat
Al-Qur’an. Hal ini dapat dicermati dalam pernyataan berikut:
Oh iya mbak, walaupun kadang ada ayat yang belum nyampek,, tapi kan di
juz awal-awal itu banyak sekali yang berhubungan dengan hukum syariat, ada
juga yang tentang pendidikan. Contohnya saja pada surat Al-Baqoroh mbak
ada ayat “ wa’allamal aadamal asmaa’a kullahaa…al ayat” (interviewer
membaca dengan sangat fasih dan baik). Tapi kebetulan yang selama ini
sering muncul diperkuliahan saya bisa menghafalnya dengan baik, karena
meliputi juz-juz awal mbak. Kalau ada ayat yang pas saya belum hafal ya


dihafalkan saja lah mbak, toh nggak sulit, karena kebanyakan ayat-ayat nya
kita sudah pernah mendengar dan masyhur.
117


Kalau saya merasa terbantu sekali dengan hafalan yang saya miliki mbak, kan
dengan kita sudah sudah hafal ayat nanti tinggal pengembangannya gimana.
Tapi karena saya ini masih juz 5, biasanya ada kan yang belum hafal, lah itu
kalau ayat-ayat tertentu yang dulu pernah ada di materi pelajaran Aliyah saya
masih ingat mbak, tapi kalau memang saya belum pernah hafal sama sekali ya
saya hafalkan dulu mbak, Alhamdulillah karena sudah sering dibaca bin
nadzor jadi mudah menghafalnya.
118


Kalau menurut saya hafalan ini sangat membantu, dulu waktu ada matakuliah
masail fiqih misalnya, itukan banyak sekali menggali hukum dari asbabun
nuzul dan tafsirnya. kan di JQH selain menghafalkan Al-Qur’an juga
dipelajari mbak tafsir ayatul ahkamnya, jadi menurut saya sejauh ini
membantu sekali mbak. lah karena saya belum khatam, kalau misalnya ada
ayat yang belum anda hafal dan muncul dalam perkuliahan, ya saya hafalkan
dulu mbak, toh nantinya saya juga akan terbantu juga dalam proses
meneruskan hafalan saya sampai 30 juz, amin.
119


Oh ya jelas mbak, saya merasa sangat terbantu, contoh saja dalam studi Al-
Qur’an, fiqh dan lainnya, itu sangat banyak ayat yang dibahas. Ayat-ayat yang
dibahas diperkuliahan itu menjadi familiar, ya nanti tinggal bagaimana
pengembangannya saja kan mbak. Oh ya mbak, ada satu lagi hal yang saya
rasakan sejak saya menghafal Al-Qur’an, dalam menghafalkan materi
pelajaran apa saja menjadi sangat mudah.
120


Dari wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa hafalan yang dimiliki oleh
mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Qur’an, memiliki
kontribusi yang baik dalam matakuliah keagamaan Islam, khususnya yang banyak
berhubungan dengan ayat-ayat Al-Qur’an.
Selain memberikan kontribusi yang besar dalam membantu penguasaan materi
perkuliahan keagamaan Islam mahasiswa, menghafal Al-Qur’an juga memiliki


117
Wawancara dengan Hikmatus Sa’diyah, Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 15-04-2009.

118
Wawancara dengan Qurroti A’yunin Nasihah, Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan
PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 16-04-2009

119
Wawancara dengan Agus Faizin, Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 18-04-2009.

120
Wawancara dengan Ismiyatur Rofi’ah, Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 18-04-2009


pengaruh yang baik pada keadaan psikologis mahasiswa. Aktivitas menghafal Al-
Qur’an dimulai dengan membaca berulang-ulang ayat-ayat yang akan dihafalkan.
Dalam keadaan inilah seorang penghafal Al-Qur’an akan merasakan adanya
ketenangan batin yang luar biasa.
Dari data angket yang dihimpun oleh peneliti, para mahasiswa Jurusan
Pendidikan Agama Islam (PAI) yang menghafal Al-Qur’an 100% mengaku
merasakan adanya ketenagan ketika melakukan aktivitas menghafal Al-Qur’an.
Dengan kondisi psikologis yang baik inilah, segala potensi akal akan dapat
dimaksimalkan dengan sebaik-baiknya untuk belajar. Hal ini, sesuai dengan
beberapa pernyataan berikut:
Kalau saya merasa tenang banget mbak, pokoknya beda deh antara keadaan
jiwa setelah membaca Al-Qur’an dengan sebelumnya.
121


Oh ya mbak, bahkan ketika saya banyak tugas kuliah yang menumpuk,
biasanya saya tinggal untuk nderes dulu mbak, al-hamdulillah setelah nderes
saya tenang dan mendapatkan pencerahan.
122


Oh, kalau itu ya bangeet mbak, terus terang nih kalau saya nderesnya
semakin rajin, tugas-tugas kuliah akan terasa sangat mudah dan cepat selesai.
Tapi kalau pas malas nderesnya, tugas-tugas kuliah itu malah jadi terbengkalai
semua.
123


Beberapa pernyataan di atas menunjukkan bahwa aktivitas menghafal Al-
Qur’an berpengaruh sangat baik bagi kondisi kejiwaan para mahasiswa tersebut.
Selain itu hafalan yang dimiliki oleh mahasiswa juga sangat membantu dalam


121
Wawancara dengan Arif Nugroho, Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 22-04-2009.

122
Wawancara dengan Hikmatus Sa’diyah , Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 15-04-2009.

123
Wawancara dengan Nur Azizah, Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas
Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 18-04-2009.


penguasaan materi perkuliahan keagamaan Islam, sehingga mendukung pada
peningkatan prestasi belajar mereka.
Prestasi belajar/akademik mahasiswa, merupakan hasil akhir penilaian pada
tiap semester yang dibuat oleh dosen. Penilaian ini meliputi ranah kognitif, afektif
dan psikomotorik mahasiswa. Bentuk penilaian akhir semester ini berupa kartu
hasil studi (KHS).
Prestasi belajar mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari Jurusan Pendidikan
Agama Islam (PAI) dalam perkuliahan, secara umum dapat digambarkan melalui
perolehan nilai indeks prestasi komulatif yang tertera dalam kartu hasil studi
(KHS) tiap semesternya, sebagai berikut:
Tabel 4. 9.
Rekapitulasi Nilai Rata-Rata Indeks Prestasi Komulatif
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Penghafal Al-Qur’an

IP semester No Nama Thn /
Angkatan 1 2 3 4 5 6
Nilai
IPK
1. Halimah Sa’diyah 3.92 3.92
2. Siti Lailiyah 4.00 4.00
3. Misbahuddin Aziz
2008/2009
3.72 3.72
4. Imamul Muttaqin 3.31 3.38 3.54 3.41
5. Arif Nugroho 3.67 3.35 3.46 3.49
6. Nur Azizah 4.00 3.60 3.85 3.81
7. Ismiyatur Rofi’ah 3.78 3.35 3.62 3.58
8. Nurul Fadhilah 3.31 3.23 3.38 3.30
9. Risa Sulhiana 3.78 3.50 3.94 3.74
10 Uuz Hafizh N.
2007/2008
3.03 3.23 3.23 3.16
11 Agus Faizin 3.71 3.65 3.63 3.77 3.52 3.65
12 Qurroti A’yun N. 3.88 3.79 3.61 3.71 3.78 3.75
13 Amirotun N.
2006/2007
3.60 3.60 3.35 3.71 3.89 3.63
14 Aminah 3.69 3.97 3.62 3.88 3.91 3.79 3.81
15 Hikmatus S.
2005/2006
3.62 3.77 3.50 3.60 3.91 3.96 3.72

IPK rata-rata = jumlah nilai IPK/jumlah mahasiswa = 54.69/15 = 3.64

Sumber: Data Dokumentasi Pribadi Mahasiswa


Dari data tersebut dapat diketahui, bahwa secara umum nilai rata-rata indeks
prestasi komulatif (IPK) mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) yang
menghafal Al-Qur’an adalah baik. Dalam buku pedoman pendidikan UIN
Maulana malik Ibrahim Malang tahun 2005/2006, perolehan nilai IPK 3.64
termasuk dalam kategori predikat cumlaude (dengan pujian). Dengan demikian,
dapat disimpulkan bahwa secara umum, nilai IPK rata-rata mahasiswa Jurusan
Pendidikan Agama Islam penghafal Al-Qur’an adalah sangat baik.
Adapun untuk matakuliah keagamaan Islam yang banyak berhubungan
dengan ayat-ayat Al-Qur’an, nilai mahasiswa Jurusan pendidikan Agama Islam
penghafal Al-Qur’an adalah sebagaimana tertera dalam tabel berikut:
Tabel 4. 10.
Nilai Matakuliah Keagamaan Islam
yang Berhubungan dengan Ayat-Ayat Al-Qur’an

Nilai Matakuliah Keterangan No Nama
1 2 3 4 5 6 7 8 1.Studi Al-Qur’an
1 Imam Muttaqin A A 2.Studi Fiqh
2 Arif Nugroho B+ A 3. Tafsir & Hadits
3 Nur Azizah B A 4. Masail Fiqhiyah I
4 Ismiyatur Rofiah B A 5. Tafsir Hadits Tarbawi I
5 Nurul Fadhilah B B+ 6. Masail Fiqhiyah II
6 Risa Sulhiana A A 7. Tafsir Hadits Tarbawi II
7 Uuz Hafizh N. A B 8. Ushul Fiqh
8 Agus Faizin B+ A B+ A B+ C
9 Qurroti A’yun N A A A B+ B+ A
10 Amirotun. N. B+ B+ A A A A
11 Aminah B+ A A A A A A A
12 Hikmatus. S. B+ B+ A B A A A A
Sumber: Data Dokumentasi Pribadi Mahasiswa
Pada tabel di atas tidak dicantumkan nilai 3 orang mahasiswa yang berada
pada semester 2 (nama dapat dilihat pada tabel 4.9), karena matakuliah ke-
agamaan Islam yang dimaksud belum dipasarkan pada semester itu. Dari data


tersebut dapat diketahui bahwa, nilai mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam
(PAI) penghafal Al-Qur’an pada matakuliah keagamaan Islam, khususnya yang
banyak berhubungan dengan ayat-ayat Al-Qur’an adalah baik, sebagaimana
prosentase berikut:
pada matakuliah studi Al-Qur’an, 4 orang mahasiswa (33%) mendapat
nilai A, 5 orang (42%) mendapat nilai B+ , dan 3 orang (25%) mendapat
nilai B.
pada matakuliah studi Fiqih, 8 orang mahasiswa (67%) mendapat nilai A,
3 orang (25%) mendapat B+, dan 1 orang (8%) mendapat nilai B.
pada matakuliah tafsir dan hadits, 4 orang mahasiswa (80%) mendapat
nilai A, dan 1 orang (20%) lainnya mendapat nilai B+.
pada matakuliah masail fiqhiyah I, 3 orang mahasiswa (60%) mendapat
nilai A, 1 orang (20 %) mendapat nilai B+, dan 1 orang (20%) lainnya
mendapat nilai B.
pada matakuliah tafsir hadits tarbawi I, 3 orang mahasiswa (60%)
mendapat nilai A, dan 2 orang (40%) lainnya mendapat nilai B+.
pada matakuliah masail fiqhiyah II, 4 orang mahasiswa (80%) mendapat
nilai A, dan 1 orang (20%) mendapat nilai C.
pada matakuliah tafsir hadits tarbawi II dan ushul fiqih, 2 orang
mahasiswa (100%) mendapat nilai A.
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa hafalan Al-Qur’an berimplikasi
terhadap pencapaian prestasi belajar mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam.


3. Sikap Keseharian Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
Penghafal Al-Qur’an
Para mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam
(PAI), bertempat tinggal di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik
Ibrahim Malang dengan mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari berbagai jurusan
lainnya. Untuk mahasiswa penghafal Al-Qur’an putra, bertempat di unit Al-
Ghozali lantai 3 no. 36. Adapun mahasiswi penghafal Al-Qur’an putri bertempat
di unit Khodijah Al-Kubro pada setiap lantai, dengan nomor kamar 3, 28 dan 45.
Pola hidup keseharian mahasiswa penghafal Al-Qur’an ini tidak berbeda jauh
dengan mahasiswa lainnya, mereka menjalankan aktivitas perkuliahan di kampus,
mengikuti organisasi yang diminati dan menjalankan hobi yang dimiliki. Namun
demikian, ada hal yang sedikit membedakan para mahasiswi penghafal ini dengan
mahasiswa pada umumnya. Mereka memiliki kemauan yang kuat untuk
menghafalkan Al-Qur’an dan berusaha keras untuk melestarikan hafalannya,
karena itulah mereka memiliki pengaturan waktu yang sangat ketat dalam
aktivitas sehari-harinya.
Dengan padatnya aktivitas yang dijalani, para mahasiswa ini mengaku tidak
merasa berat dan terbebani, bahkan mereka tetap berusaha untuk dapat
menjalankan aktivitasnya sebaik mungkin, hal ini sesuai dengan beberapa
pernyataan berikut:
Waduh, gimana ya… kalau saya sih menjalaninya dengan enjoy saja mbak,
walaupun kadang juga ada rasa capek, waktu teman-teman istirahat saya
masih harus menghafal Al-Qur’an untuk tambahan besok. Tapi ya..


Alhamdulillah masih bisa menjalani dengan baik, dan memang harus selalu
berusaha menjalaninya dengan baik, he…
124


Kalau saya mbak, ditengah berbagai kesibukan di kampus, saya merasa tetap
mempunyai kewajiban untuk menjaga hafalan yang saya miliki, dalam sehari
tetap saya sempatkan untuk nderes mbak.
125


Para mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari berbagai jurusan ini, dihimpun dan
ditempatkan di Ma’had dengan pertimbangan khusus. Selain untuk menciptakan
lingkungan yang kondusif dan mendukung aktivitas menghafal, mereka juga di
percaya oleh pengasuh ma’had untuk menjadi pengajar dalam kegiatan
pembelajaran Al-Qur’an di ma’had yang disebut dengan ta’lim Al-Qur’an.
Pada kegiatan ta’lim Al-Qur’an tersebut, para mahasiswa penghafal Al-Qur’an
dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) mengaku selalu aktif mengajar pada
setiap pertemuan. Adapun materi yang diajarkan memiliki tingkatan yang
berbeda, sehingga mereka juga ditempatkan pada kelas yang berbeda-beda. Ada
yang ditempatkan pada kelas qiro’ah, dan ada juga yang ditepatkan pada kelas
terjemah.
Khusus bagi mahasiswa pengafal Al-Qur’an putri, mereka juga diberi
tanggung jawab penuh untuk mengontrol kemampuan membaca Al-Qur’an
mahasiswa semester 3-6 yang bertempat tinggal di unit Khodijah Al-Kubro. Hal
ini sesuai dengan penyataan berikut:
Pada mahasiswa semester 3-6 ini, kegiatan pembelajaran Al-Qur’an tidak
hanya dilaksanakan pada hari senin dan rabu saja (seperti maba), namun
dilaksanakan setiap hari sesudah sholat subuh. Fokus pengajaran pada mereka


124
Wawancara dengan Agus Faizin, Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 18-04-2009.

125
Wawancara dengan Ismiyatur Rofi’ah, Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 18-04-2009


adalah pada aspek bacaan, dan hafalan surat surat pilihan seperti juz Amma,
surat Yasin, Waqiah, Ar-Rahman, Al-Mulk dan lainnya.
126


Peran para penghafal Al-Qur’an ini sangat penting bagi para mahasantri
semester 3-6, sesuai dengan pernyataan berikut:
Adanya mbak-mbak JQH itu menurut saya seperti halnya mbak-mbak
musrifah, tapi kalau mbak-mbak JQH kan spesialis pada mengajarkan Al-
Qur’an. Menurut saya peran mereka itu penting banget bagi kami.
127


Tidak hanya mengajarkan Al-Qur’an di lingkup ma’had saja, para mahasiswi
penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) juga ada yang
mendapat kepercayaan untuk menjadi tentor/pembimbing pembelajaran membaca
Al-Qur’an bagi para siswa MAN 3 Malang.
Peran dan tugas yang diemban mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan
Pendidikan Agama Islam (PAI) ini, memposisikan mereka sebagai seorang yang
dijadikan contoh (suri teladan) bagi mahasiswa lain, khususnya para mahasiswa
yng diajar. Sikap keseharian dan tatakrama mereka selalu menjadi sorotan dan
contoh bagi orang lain. Menyadari hal ini, para mahasiswa penghafal Al-Qur’an
ini memiliki komitmen untuk selalu berusaha menjaga sikap dan memperbaiki
tingkah lakunya sehari-hari. hal ini sesuai dengan pernyataan berikut:
Kalau saya biasa saja mbak,, bergaul dengan sesama teman sekelas, dalam
batasan yang wajar. Dengan adik-adik di ma’had ya juga biasa aja, ya,, saya
berusaha untuk selalu menjaga sikap dan bertingkah laku baik, itu saja kok,,
128


Saya selalu berusaha untuk bersikap wajar, harmonis, nggak membuat jarak
dengan teman-teman. Biasanya saya mengakrabi mereka dengan bahasa


126
Wawancara dengan Qurroti A’yunin N. , Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 16-04-2009

127
Wawancara dengan Nurmalia, Mahasiswa Fakultas Ekonomi UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang, Tanggal 23-04-2009.

128
Wawancara dengan Hikmatus Sa’diyah, Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 15-04-2009.


verbal, misalnya dengan tegur sapa dan sebagainya,, tapi pergaulan itu ya
dalam batasan yang baik lah ya mbak,,
129


Kalau sikap kepada teman-teman biasa saja mbak,, cuma saya selalu berusaha
untuk tidak mengikuti arus pergaulan yang macam-macam. Kalau
misalnya teman-teman itu ada yang suka keluar malam dan balik ke ma’had
malam banget, nggak tahu habis dugem dari mana,, he.. ya,, sejauh ini
Alhamdulillah saya nggak pernah keluar-keluar malam seperti mereka.

Sikap keseharian mahasiswa penghafal Al-Qur’an di UIN Maulana Malik
Ibrahim Malang ini, rupanya juga tidak luput dari para Dosen dan para petinggi
kampus. Hal ini terbukti, dalam pernyataan Rektor saat memberikan sambutan
pada acara temu wali mahasiswa baru, sebagai berikut:
“….para mahasiswa penghafal Al-Qur’an ini tidak pernah berbuat ulah saat
kuliah. Mereka semua adalah mahasiswa yang patut dicontoh dan diteladani.
Sebab, selain mereka adalah orang-orang yang pandai dan cerdas, mereka juga
telah mengharumkan nama kampus dan tidak pernah mengacaukan kampus.
“Mahasiswa semacam ini jauh lebih dibutuhkan banyak orang daripada
mereka yang tidak menghafal, tapi suka membuat kekacauan di kampus…”
130


Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam sikap kesehariannya,
para mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
ini memiliki komitmen untuk selalu berusaha memperbaiki tingkah lakunya, dan
selalu menjaga tatakrama yang baik kepada lingkungan sosialnya. Selain itu,
mereka juga selalu berusaha mengamalkan ilmunya dengan mengajarkan ilmu
tentang Al-Qur’an yang mereka miliki kepada siapapun yang membutuhkannya,
baik dalam lingkup ma’had maupun di luar ma’had.






129
Wawancara dengan Ismiyatur Rofiah, Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI
Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 18-04-2009.

130
“57 Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an Meriahkan Temu Wali Mahasiswa baru”, GEMA
UN Malang, Edisi: 36. Juli-Agustus 2008, hlm.2.


BAB V
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
Berdasarkan penjelasan dalam paparan hasil penelitian, peneliti akan
menjelaskan secara lebih ringkas hasil penelitian tersebut, disertai dengan
memadukan beberapa teori dalam kajian pustaka yang relevan.
A. Deskripsi Pelaksanaan Hafalan Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel Al-
Ali (MSAA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Para mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Qur’an
yang ada di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang,
berjumlah 15 orang yang terdiri dari 5 orang mahasiswa dan 10 orang mahasiswi.
Dari 15 orang mahasiswa penghafal Al-Qur’an tersebut, ada 5 orang yang
hafal <10 juz, 1 orang hafal >10 juz, 1 orang hafal 20 juz, dan 8 orang telah hafal
30 juz. Berdasarkan data angket, diketahui bahwa 11 mahasiswa penghafal Al-
Qur’an dari Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) telah mulai menghafal Al-
Qur’an sejak sebelum kuliah, sedangkan 4 yang lain baru memulai menghafal
sejak kuliah dan tinggal di ma’had UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pada pelaksanaan menghafal Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang ini, ada 3 tahapan yaitu:
a. tahap persiapan
Pada tahap persiapan ini para mahasiswa penghafal Al-Qur’an di ma’had UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang, mulai mempersiapakan tambahan hafalan Al-
Qur’an yang akan ditashihkan kepada instruktur. Dalam usaha menambah
hafalannya ini, para mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan


Agama Islam menggunakan metode menghafal yang berbeda-beda. Dari hasil
wawancara diketahui bahwa metode yang digunakan oleh mahasiswa penghafal
Al-Qur’an untuk menambah hafalan baru ada beberapa macam, diantaranya
dengan membaca berulang-ulang ayat-ayat yang akan di hafal, ada juga yang
memahami ayat terlebih dahulu sebelum dibaca berulang-ulang dan dihafal.
Pemilihan metode dalam menghafal Al-Qur’an tergantung pada orang yang
menggunakannya. Sebagaimana pendapat dari Al-Hafizh, ada beberapa pilihan
metode yang ditawarkan dalam menghafal Al-Qur’an, antara lain metode wahdah
(menghafal perayat dengan diulang-ulang sampai satu halaman, kemudian sampai
mendapat bayangan ayat dan reflek lisan untuk mengucapkan), kitabah
(menghafal dengan menggunakan media tulisan/menulis), sim ’i (menghafal
dengan menggunakan media pendengaran), gabungan (menggunakan
penggabungan metode wahdah dengan kitabah) dan jama’ (menghafal secara
kolektif dengan bimbingan instruktur).
131

Sedangkan menurut Ulum, ada beberapa metode menghafal Al-Qur’an antara
lain: thar qatu takr ru al-qir ’atu al-juz’i (menghafal ayat-ayat berulang-ulang
sampai ada bayangan), thar qatu al-jumlah (menghafal perkalimat sampai
membentuk rangkaian-rangkaian ayat), thar qatu takr ru al-qir ’atu al-kulli
(mengkhtamkan membaca secara bin nazhar/melihat sebelum mulai menghafal),
thar qatu al-tadrijy (menghafal dengan pengaturan waktu bertahap), thar qatu al-
tadabburi (metode menghafal dengan mengangan-angankan makna ayat).
132



131
Ahsin W. Al-Hafizh. Bimbingan Praktis Menghafal Al-Qur’an (Jakarta: PT Bumi Aksara,
2005), hlm. 64-66.

132
M. Samsul Ulum, Menangkap Cahaya Al-Qur’an (Malang: UIN Malang Press, 2007), hlm.
136-139.


Berdasarkan temuan di lapangan, dapat disimpulkan bahwa para mahasiswa
Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Qur’an di Ma’had Sunan
Ampel Al-Ali UIN Maulana malik Ibrahim Malang, mayoritas menggunakan
metode wahdah/ thar qatu takr ru al-qir ’atu al-juz’i, yaitu menghafal satu
persatu ayat dengan diulang-ulang sampai membentuk pola dalam pikiran, serta
menimbulkan reflek dari lisan. Setelah benar-benar hafal baru kemudian
dilanjutkan pada ayat-ayat selanjutnya. Selain metode tersebut, para penghafal
tersebut juga menggunakan metode al-tadabburi, yaitu menghafal Al-Qur’an
dengan memperhatikan aspek makna ayat (mengangan-angankan makna ayat).
b. tahap pentashihan hafalan
Pada tahap ini para mahasiswa penghafal Al-Qur’an mentashihkan hafalannya
kepada instruktur. Aktifitas menghafal dan mengulang hafalan Al-Qur’an di
bawah bimbingan instruktur ini, menggunakan metode sorogan. Metode Sorogan
adalah cara dalam proses belajar membaca atau menghafal Al-Qur’an, dimana
seorang murid memperdengarkan bacaan atau hafalannya kepada instruktur
dengan berhadapan secara langsung (face to face).
Berdasarkan wawancara dengan instruktur hafalan Al-Qur’an di Ma’had UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang, diketahui bahwa metode sorogan ini efektif
digunakan dalam pentashihan hafalan Al-Qur’an, karena segala bentuk kesalahan
yang dilakukan oleh penghafal Al-Qur’an, baik aspek makh rijul hur f, panjang
dan pendek bacaan, serta waqaf dan ibtida’nya dapat segera dibenahi oleh
instruktur.


Adanya bimbingan instruktur hafalan merupakan faktor pendukung eksternal
utama yang mempengaruhi keberhasilan menghafal Al-Qur’an. Hal ini karena, Al-
Qur’an diturunkan secara mutawatir (bersambung) dari malaikat Jibril kepada
Nabi Muhammad SAW, demikian juga seterusnya beliau mengajarkannya kepada
para sahabat hingga sampai pada masa sekarang ini. Sehubungan dengan inilah,
maka menurut As-Suyuti dalam belajar Al-Qur’an harus dengan guru yang
memiliki sanad sahih, yaitu guru yang jelas, tertib sanadnya dan bersambung
kepada Nabi.
133

c. tahap pelestarian hafalan
Pada dasarnya, tahapan yang paling penting dalam proses menghafal Al-
Qur’an adalah bagaimana hafalan yang telah ditashihkan kepada instruktur dapat
tetap dijaga atau dilestarikan dengan baik dalam memori penghafal hingga akhir
hayatnya. Dalam usaha untuk selalu melestarikan hafalannya, seorang penghafal
Al-Qur’an harus mempunyai cukup waktu untuk mengulang hafalannya.
Mengenai waktu yang digunakan untuk menghafal dan mengulang hafalan,
berdasarkan data yang diperoleh dari angket, diketahui bahwa 14 orang (94%)
mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Qur’an,
menggunakan waktu sekitar 2-3 jam per-harinya untuk menambah dan mengulang
hafalan, sedangkan 1 orang (6%) sisanya menyisihkan waktu 5 jam per-hari.
Dalam mengulangi hafalannya, para mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari
jurusan Pendidikan Agama Islam ini ada yang mengulang hafalan di bawah
bimbingan instruktur hafalan, ada yang disimak oleh sesama teman penghafal


133
Ahsin W. Al-Hafizh, Op. Cit., hlm. 74.


dalam acara khatmil Al-Qur’an ataupun dalam kegiatan deresan bersama setiap
harinya, serta ada juga yang mengulang hafalannya sendiri.
Dalam proses menghafal Al-Qur’an, ayat-ayat yang dihafalkan oleh para
penghafal bisa tersimpan dalam memori jangka pendek maupun memori jangka
panjang atau bisa juga lupa, tergantung pada intensitas pengulangan yang
dilakukan, serta keseimbangan antara tahfizh (penambahan hafalan) dan takrir
(pengulangan hafalan). Oleh karena itulah, perlu adanya upaya untuk melestarikan
hafalan yang telah dimiliki oleh seorang penghafal Al-Qur’an.
Mengenai hal ini, menurut As-Sirjani dan Abdul Kholiq ada beberapa strategi
untuk melestarikan (memelihara) hafalan Al-Qur’an, antara lain:
5) Menjauhi perbuatan maksiat.
6) Mengulang-ulang dengan teratur, baik dengan membaca maupun
mendengarkan bacaan orang lain.
7) Memahami makna yang terkandung dalam Al-Qur’an
8) Sering memperdengarkan bacaan/hafalan kepada orang lain.
134

Berdasarkan pemaparan temuan data tentang pelaksanaan hafalan Al-Qur’an
di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dapat
disimpulkan bahwa pelaksanaan hafalan di Ma’had sudah baik. Hal ini karena
lingkungan (situasi sosial) yang mendukung dengan dikumpulkannya para
penghafal Al-Qur’an dalam satu mabna/unit asrama, adanya bimbingan instruktur
hafalan yang juga Hafizh/hafizhah, serta adanya program evaluasi hafalan yang
dilakukan oleh organisasi setiap akhir pekan, akhir semester dan akhir periode


134
Raghib As-Sirjani dan Abdurrahman Abdul Kholiq, Cara Cerdas Hafal Al-Qur’an, terj.
Sarwedi M. Amin Hasibuan (Solo: Aqwam, 2007), hlm. 71-84.


kepengurusan. Program evaluasi yang dimaksud adalah khatm Al-Qur’an bil
ghaib tiap minggu, tes tahfizh tiap akhir semester, serta wisuda tahfizh yang
didahului oleh tes pentashihan tahfizh oleh pembina.
B. Implikasi Hafalan Al-Qur’an Dalam Prestasi Belajar Mahasiswa Jurusan
Pendidikan Agama Islam
Hafalan Al-Qur’an yang dimiliki oleh mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama
Islam (PAI), memiliki keterlibatan (implikasi) yang besar dalam prestasi
belajarnya. Dalam perkuliahan mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam
(PAI), banyak sekali dijumpai ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan tema
perkuliahan yang ada. Khususnya dalam matakuliah kegamaan Islam seperti Studi
Al-Qur’an, studi Fiqih, Tafsir dan Hadits, Tafsir Hadits Tarbawi I&II, Masail
Fiqih I&II, Qowaid Fiqih dan ushul fiqih, ayat-ayat Al-Qur’an sering bersentuhan
langsung dengan tema-tema yang dibahas. Dalam konteks inilah, seorang
mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) yang hafal Al-Qur’an, akan
sangat terbantu untuk menguasai materi dalam matakuliah tersebut dengan
kemampuannya menghafal dan memahami ayat yang telah ia hafalkan.
Berdasarkan wawancara dengan para mahasiswa penghafal Al-Qur’an Jurusan
Pendidikan Agama Islam (PAI), diketahui bahwa selain menghafalkan secara
lafdiyah, mereka juga berusaha untuk mempelajari dan memahami kandungan
ayat yang sedang dihafalkan, salah satunya adalah dengan membaca arti dan
memahami ayat yang hendak dihafal. Dari data angket juga diketahui bahwa 13
orang (87%) mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama
Islam (PAI), berusaha untuk memahami makna dan kandungan ayat-ayat Al-


Qur’an yang dihafalnya, sedangkan 2 orang lainnya mengaku belum ada usaha
yang sungguh-sungguh.
Para mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam
ini menyatakan bahwa hafalan Al-Qur’an yang dimiliki telah memberikan
kontribusi yang sangat besar dalam peningkatan prestasi akademik, khususnya
dalam matakuliah keagamaan Islam yang sering berhubungan dengan ayat-ayat
Al-Qur’an.
Selain memberikan kontribusi yang besar dalam membantu penguasaan materi
perkuliahan keagamaan Islam mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam,
menghafal Al-Qur’an juga memiliki pengaruh yang baik terhadap keadaan
psikologis mahasiswa. Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa, ketika dan
setelah menghafalkan Al-Qur’an, mereka merasakan adanya ketenangan batin
yang luar biasa. Dari data angket yang dihimpun oleh peneliti juga diketahui
bahwa, para mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) yang menghafal
Al-Qur’an, 100% mengaku merasakan adanya ketenangan ketika dan setelah
melakukan aktivitas menghafal Al-Qur’an. Dalam kondisi psikologis yang baik
inilah, segala potensi akal akan dapat dimaksimalkan dengan sebaik-baiknya
untuk belajar.
Dengan demikian, selain hafalan yang dimiliki oleh mahasiswa sangat
membantu dalam penguasaan materi perkuliahan keagamaan Islam, aktivitas
menghafal Al-Qur’an juga memberikan pengaruh psikologis yang baik terhadap
para mahasiswa penghafal Al-Qur’an tersebut. Hal inilah yang mendukung pada
peningkatan prestasi belajar mereka.


Secara akademik, prestasi belajar mahasiswa dapat dilihat melalui hasil
pencapaian nilai pada setiap semester. Penilaian ini meliputi ranah kognitif,
afektif dan psikomotorik mahasiswa. Hasil penilaian akhir semester biasanya
tertera dalam kartu hasil studi (KHS). Prestasi belajar mahasiswa penghafal Al-
Qur’an dari Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam perkuliahan, secara
umum dapat digambarkan melalui perolehan nilai indeks prestasi komulatif yang
tertera dalam kartu hasil studi (KHS) tiap semesternya.
Dari data rekapitulasi nilai rata-rata indeks prestasi komulatif (IPK), dapat
diketahui bahwa secara umum rata-rata IPK mahasiswa Pendidikan Agama Islam
(PAI) yang menghafal Al-Qur’an adalah sangat baik. Perolehan IPK rata-rata
mahasiswa tersebut mencapai 3.64 (dengan pujian).
Sedangkan untuk matakuliah keagamaan Islam yang banyak berhubungan
dengan ayat-ayat Al-Qur’an, nilai mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam
(PAI) penghafal Al-Qur’an juga baik, sebagaimana prosentase berikut:
1. pada matakuliah studi Al-Qur’an, 4 orang mahasiswa (33%) mendapat nilai A,
5 orang (42%) mendapat nilai B+ , dan 3 orang (25%) mendapat nilai B.
2. pada matakuliah studi Fiqih, 8 orang mahasiswa (67%) mendapat nilai A, 3
orang (25%) mendapat B+, dan 1 orang (8%) mendapat nilai B.
3. pada matakuliah tafsir dan hadits, 4 orang mahasiswa (80%) mendapat nilai A,
dan 1 orang (20%) lainnya mendapat nilai B+.
4. pada matakuliah masail fiqhiyah I, 3 orang mahasiswa (60%) mendapat nilai
A, 1 orang (20 %) mendapat nilai B+, dan 1 orang (20%) lainnya mendapat
nilai B.


5. pada matakuliah tafsir hadits tarbawi I, 3 orang mahasiswa (60%) mendapat
nilai A, dan 2 orang (40%) lainnya mendapat nilai B+.
6. pada matakuliah masail fiqhiyah II, 4 orang mahasiswa (80%) mendapat nilai
A, dan 1 orang (20%) mendapat nilai C.
7. pada matakuliah tafsir hadits tarbawi II dan ushul fiqih, 2 orang mahasiswa
(100%) mendapat nilai A.
Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa hafalan Al-Qur’an
mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) berimplikasi besar terhadap
prestasi belajarnya.
C. Aspek Sikap Keseharian Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam
(PAI) Penghafal Al-Qur’an
Pola hidup keseharian mahasiswa penghafal Al-Qur’an tidak berbeda jauh
dengan mahasiswa lainnya. Mereka menjalankan aktivitas perkuliahan di kampus,
mengikuti organisasi yang diminati dan menjalankan hobi yang dimiliki. Namun
ada hal yang sedikit membedakan para mahasiswi penghafal ini dengan
mahasiswa pada umumnya. Mereka memiliki kemauan yang kuat untuk
menghafalkan Al-Qur’an dan berusaha keras untuk melestarikan hafalannya,
karena itulah mereka memiliki pengaturan waktu yang sangat ketat dalam
aktivitas sehari-harinya.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada beberapa mahasiswa
jurusan Pendidikan Agama Islam penghafal Al-Qur’an, diketahui bahwa dengan
padatnya aktivitas yang dijalani, para mahasiswa ini mengaku tidak merasa berat


dan terbebani, bahkan mereka tetap berusaha untuk dapat menjalankan
aktivitasnya sebaik mungkin.
Para mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari berbagai jurusan ini, dihimpun dan
ditempatkan di Ma’had dengan pertimbangan khusus. Selain untuk menciptakan
lingkungan yang kondusif dan mendukung aktivitas menghafal, mereka juga di
percaya oleh pengasuh ma’had untuk menjadi pengajar dalam kegiatan
pembelajaran Al-Qur’an di ma’had yang disebut dengan ta’lim Al-Qur’an.
Tidak hanya mengajarkan Al-Qur’an di lingkup ma’had saja, para mahasiswi
penghafal Al-Qur’an dari Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) juga ada yang
mendapat kepercayaan untuk menjadi tentor/pembimbing pembelajaran membaca
Al-Qur’an di sekitar kampus.
Peran dan tugas yang diemban mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan
Pendidikan Agama Islam (PAI) ini, memposisikan mereka sebagai seorang yang
dijadikan contoh (suri teladan) bagi mahasiswa lain, khususnya para mahasiswa
yng diajar. Sikap dan tatakrama mereka selalu menjadi sorotan dan contoh bagi
orang lain. Menyadari hal ini, para mahasiswa penghafal Al-Qur’an ini memiliki
komitmen untuk selalu berusaha menjaga sikap dan memperbaiki tingkah lakunya
sehari-hari. Hal ini juga dikuatkan dengan penyataan Rektor UIN Maulana Malik
Ibrahim Malang yang menilai bahwa mahasiswa penghafal Al-Qur’an dalam
kehidupan sosialnya selalu bersikap sopan terhadap dosen, rajin berjama’ah, dan
dalam berpenampilan lebih mencerminkan sebagai mahasiswa muslim.
135



135
Imam Suprayogo, Wisuda dan Hafal Al-Qur’an
(http://www.uinmalang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=908:0405-
2009&catid=25:artikel-rektor) diakses 20 Juni-2009.


Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam sikap kesehariannya,
para mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
ini memiliki komitmen untuk selalu berusaha memperbaiki tingkah lakunya, dan
selalu menjaga tatakrama yang baik kepada lingkungan sosialnya. Selain itu,
mereka juga selalu berusaha mengamalkan ilmunya dengan mengajarkan ilmu
tentang Al-Qur’an yang mereka miliki kepada siapapun yang membutuhkannya,
baik dalam lingkup ma’had maupun masyarakat sekitar kampus.



















DAFTAR RUJUKAN

Ahmadi, Abu. 1982. Teknik Belajar yang Tepat. Semarang: Mutiara Permata
Widya.
Aisyiyah, Ainul. 2002. Pengaruh Kegiatan Menghafal Al-Qur’an Terhadap
Prestasi Belajar Siswa. Skripsi: Fakultas Tarbiyah UIN Malang.
Alim, Muhammad. 2006. Pendidikan Agama Islam, Upaya Pembentukan
Pemikiran Kepribadian Muslim. Bandung: PT Remaja Rosda
Karya.
Al-Hafizh, Ahsin W. 2005. Bimbingan Praktis Menghafal Al-Qur’an. Jakarta: PT
Bumi Aksara.
Al-Maliki, Muhammad Bin Alwi. 1986. Zubdatul itqan Fi ulumil Qur’an. Jeddah
Dar Al-Syuruq.
Al-Zuhaili, Wahbah. 2007. Tafsir Al-Munir, Fil Aqidah Wa Syari’ah Wal Minhaj.
Damaskus: Dar Al-Fikr.
As-Shiddiqie, TM. Hasbi. 2002. Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an.
As-Sirjani, Raghib dan Abdul Khaliq, Abdur Rahman. 2007. Cara Cerdas Hafal
Al-Qur’an, terj. Sarwedi M.Amin Nasution. Solo: Aqwam.
Badwilan, Ahmad Salim. 2009. Panduan Cepat menghafal Al-Qur’an. Jogjakarta:
Diva press.
Bungin, Burhan (ed). 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif Pemahaman
Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.


Chalil, Moenawar. Tanpa Tahun. Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
Jakarta: Bulan Bintang.
Djamarah, Syaiful Bahri. 1994. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya:
Usaha Nasional.
GEMA UIN Malang, Edisi: 36. Juli-Agustus 2008.
Global Islamic Software Compani. 2000. Mausuat Hadits Al-Syarif.
Harahap, Syahrin. 2005. Penegakan Moral Akademik di Dalam dan di Luar
Kampus. Jakarta: PT Raja Grafindo persada.
Hasyim, muhammad. 2008. Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh (JQH) Dalam
Lintasan Sejarah, Makalah Disampaikan Dalam Acara Ta’aruf
Qur’ani VI JQH UIN Malang.
http://musiconline.multiply.com/journal/item/34
Moleong, Lexy. j. 2006. Metodologi Penelitian Kualiatatif. Bandung: Remaja
Rosda Karya.
Mulyana, Deddy. 2003. Metodologi Penelitian Kualitatif Paradigma Baru Ilmu
Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. PT Remaja.
Nuri, Syaifun. 2007. Efektivitas Hifzhul Qur’an Melalui Metode Sorogan. Skripsi
Fakultas Tarbiyah UIN Malang.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. 1989. Kamus Besar
Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Qardhawi, Yususf. 1999. Berinteraksi dengan Al-Qur’an, Terj. Abd. Hayyie Al-
Kattani. Jakarta: Gema Insani Press.


Rossidy Imron, dkk. 2005. Hubungan Minat Baca dan Kebiasaan Membaca
Terhadap Prestasi Akademik Mahasiswa UIN Malang. LEMLIT
UIN Malang.
Suprayogo, Imam. Pendidikan Berparadigma Al-Qur’an. Malang: UIN Press.
-------------------------- 2009. Wisuda dan Hafal Al-Qur’an
http://www.uinmalang.ac.id/index.php?option=com_content&view
=article&id=908:0405-2009&catid=25:artikel-rektor
Surya Brata, Sumadi. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
------------------------. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
Sudjana, Nana. 2000. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar
Baru Algesindo.
Sugiono. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: CV. Alfabeta.
Slameto. 1988. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Bina
Aksara.
Syah, Muhibbin. 1999. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu.
---------------------- 2000. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru.
Bandung: Remaja Rosda Karya.
Syamsuddin, Achmad Yaman. 2007. Cara Mudah Menghafal Al-Qur’an. Jateng:
Insan Kamil.
Ulum, M. Samsul. 2007. Menangkap Cahaya Al-Qur’an. Malang: UIM Malang
Press.


Universitas Islam Negeri Malang. 2005. Pedoman Pendidikan. Malang: UIN
Press.
Usman, Moch. Uzer & Setiowati, Lilis. 1993. Upaya Optimalisasi kegiatan
Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Yahya Annawawi, Abi Zakariya. Tanpa Tahun, Al-Tibyan fi Adabi Hamalati Al-
Qur’an. Surabaya: Penerbit Hidayah.
Yin, Robert K. 2006. Studi Kasus Desain dan Metode, Terj., M. Djauzi
Mudzakkir. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Zuhairini dan Abdul Ghofir. 2004. Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam. Malang: UM Press.















BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pelaksanaan hafalan Al-Qur’an mahasiswa/mahasiswi UIN Maulana Malik
Ibrahim Malang di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali, terdiri dari 3 tahapan yaitu:
a. tahap persiapan.
Pada tahap ini para mahasiswa penghafal Al-Qur’an mulai mempersiapakan
tambahan hafalan Al-Qur’an yang akan ditashihkan kepada instruktur, dengan
menggunakan metode menghafal tertentu. Adapun metode yang sering
digunakan oleh mahasiswa penghafal Al-Qur’an tersebut, adalah mengulangi
ayat dan memahami ayat.
b. tahap pentashihan hafalan
Pada tahap ini para mahasiswa penghafal Al-Qur’an mentashihkan hafalannya
kepada instruktur dengan menggunakan metode sorogan (face to face).
Penggunaan metode ini dinilai sangat efektif, karena segala bentuk kesalahan
bacaan dapat diketahui dan langsung dibenahi.
c. tahap pelestarian hafalan
Pelestarian hafalan Al-Qur’an para mahasiswa dilakukan dengan melakukan
pengulangan secara kontinu, baik secara berkelompok maupun perorangan.
waktu yang digunakan untuk mengulangi hafalan ini antara 2-5 jam
perharinya.
Dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan hafalan Al-Qur’an di Ma’had Sunan
Ampel Al-Ali sudah baik, karena lingkungan (situasi sosial) yang mendukung


dengan dikumpulkannya para penghafal Al-Qur’an dalam satu mabna/unit
asrama, adanya bimbingan instruktur hafalan yang juga Hafizh/hafizhah, serta
adanya program evaluasi hafalan yang dilakukan oleh organisasi setiap akhir
pekan, akhir semester dan akhir periode kepengurusan. Program evaluasi
tersebut adalah khatm Al-Qur’an bil ghaib tiap minggu, tes tahfizh tiap akhir
semester, serta wisuda tahfizh yang didahului oleh tes pentashihan tahfizh
oleh pembina. Dengan demikian hafalan Al-Qur’an mahasiswa dapat selalu
dilestarikan dengan baik.
2. Hafalan Al-Qur’an mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI),
memiliki keterlibatan (implikasi) yang besar dalam prestasi belajarnya. Secara
psikologis, aktivitas menghafal Al-Qur’an menimbulkan efek ketenangan
yang mendukung keberhasilan proses belajar. Secara fisiologis, kebiasaan
menghafal Al-Qur’an membuat indera penglihatan dan pendengaran menjadi
familiar terhadap ayat-ayat yang telah dihafal, serta melatih sistem memori
dalam otak untuk mengingat, sehingga memudahkan siswa/mahasiswa untuk
dapat menghafal pengetahuan lain selain Al-Qur’an. Hafalan Al-Qur’an
mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam sangat membantu penguasaan
materi matakuliah keagamaan Islam yang berhubungan dengan ayat-ayat Al-
Qur’an, karena selain menghafalkan para mahasiswa tersebut juga berusaha
memahami ayat-ayat yang dihafal.
Dari data rekapitulasi nilai rata-rata indeks prestasi komulatif (IPK),
diketahui bahwa secara umum IPK mahasiswa Pendidikan Agama Islam
(PAI) yang menghafal Al-Qur’an adalah sangat baik, yaitu mencapai 3.64


(dengan pujian). Dalam matakuliah keagamaan Islam yang banyak
berhubungan dengan ayat-ayat Al-Qur’an, nilai mahasiswa tersebut juga baik,
sebagaimana prosentase berikut:
a. pada matakuliah studi Al-Qur’an, 4 orang mahasiswa (33%) mendapat
nilai A, 5 orang (42%) mendapat nilai B+ , dan 3 orang (25%) mendapat
nilai B.
b. pada matakuliah studi Fiqih, 8 orang mahasiswa (67%) mendapat nilai
A, 3 orang (25%) mendapat B+, dan 1 orang (8%) mendapat nilai B.
c. pada matakuliah tafsir dan hadits, 4 orang mahasiswa (80%) mendapat
nilai A, dan 1 orang (20%) lainnya mendapat nilai B+.
d. pada matakuliah masail fiqhiyah I, 3 orang mahasiswa (60%) mendapat
nilai A, 1 orang (20 %) mendapat nilai B+, dan 1 orang (20%) lainnya
mendapat nilai B.
e. pada matakuliah tafsir hadits tarbawi I, 3 orang mahasiswa (60%)
mendapat nilai A, dan 2 orang (40%) lainnya mendapat nilai B+.
f. pada matakuliah masail fiqhiyah II, 4 orang mahasiswa (80%) mendapat
nilai A, dan 1 orang (20%) mendapat nilai C.
g. pada matakuliah tafsir hadits tarbawi II dan ushul fiqih, 2 orang
mahasiswa (100%) mendapat nilai A.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hafalan Al-Qur’an mahasiswa
Jurusan Pendidikan Agama Islam berimplikasi sangat besar dalam prestasi
belajarnya.


3. Dalam sikap kesehariannya, para mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan
Pendidikan Agama Islam (PAI) ini memiliki komitmen untuk selalu berusaha
memperbaiki tingkah lakunya, serta selalu menjaga tatakrama yang baik
kepada lingkungan sosialnya. Selain itu, mereka juga selalu berusaha
mengamalkan ilmunya dengan mengajarkan ilmu tentang Al-Qur’an yang
mereka miliki kepada siapapun yang membutuhkannya, baik dalam lingkup
ma’had maupun masyarakat sekitar kampus.

B. Saran
1. Pelaksanaan hafalan Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali sudah baik,
akan tetapi perlu lebih diperhatikan kekondusifan lingkungan Ma’had
sehingga para mahasiswa penghafal Al-Qur’an bisa terdukung dalam proses
menghafal Al-Qur’an dan belajarnya. Oleh karena itu, bagi pengurus ma’had
dan kampus hendaknya lebih memperhatikan komunitas mahasiswa penghafal
Al-Qur’an tersebut. Selain itu, para mahasiswa penghafal Al-Qur’an
hendaknya membuat pengaturan waktu harian yang efektif dan efisien, baik
itu dalam menghafal Al-Qur’an, menjalankan aktivitas perkuliahan, maupun
dalam aktivitas lainnya. Dengan demikian diharapkan hafalan Al-Qur’annya
dapat terus dilestarikan, prestasi akademik tidak dinomorduakan, dan aktivitas
lainnya tidak berantakan. Tetap semangat.
2. Berdasarkan penelitian ini, diketahui bahwa hafalan Al-Qur’an ternyata
berimplikasi sangat baik dalam prestasi belajar mahasiswa Jurusan Pendidikan
Agama Islam. Hal ini tidak lain, karena kontinuitas membaca Al-Qur’an yang


berpengaruh pada psikologis mahasiswa, serta usaha untuk memahami ayat-
ayat yang telah dihafalkan. Oleh karena itu, bagi para mahasiswa penghafal
Al-Qur’an hendaknya terus berusaha memahami dan mengkaji ayat-ayat yang
telah dihafalnya, serta mengkaji dan mengembangkan lebih lanjut sesuai
dengan bidang keilmuannya masing-masing.
3. Bagi organisasi/Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh (JQH), perlu membantu dan
memfasilitasi para anggotanya untuk dapat mengajarkan pengetahuannya
tentang Al-Qur’an di masyarakat sekitar kampus dan lembaga-lembaga
pendidikan formal/informal yang membutuhkan, sehingga diharapkan dengan
pengalaman yang dimiliki dapat bermanfaat di kehidupan masyarakat kelak.
4. Bagi peneliti selanjutnya agar mengembangkan penelitian ini pada objek lain
yang berbeda, serta pada lingkup yang lebih luas.














DEPARTEMEN AGAMA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
FAKULTAS TARBIYAH
Jalan Gajayana No. 50 Telepon (0341) 552398 Faksimile (0341) 552398

Nomor : Un. 3.1/TL.00/269/2009 Malang, 19-03-2009
Lampiran : 1 berkas
Perihal : Penelitian
Kepada
Yth. Mudir Ma’had Aly UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
di-Malang

Assalamualaikum Wr. Wb.
Dengan ini kami mengharap dengan hormat agar mahasiswa di
bawah ini:
Nama : Ismi Arofah
NIM : 05110027
Semester/ Th. Ak : VIII (Delapan)
Judul Skripsi : Implikasi Hafalan Al Qur’an Dalam
peningkatan Prestasi Belajar Mahasiswa
Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
(Studi Kasus di Ma’had Aly UIN Maulana
Malik Ibrahim Malang )
Dalam rangka menyelesaikan tugas akhir/menyusun skripsinya,
yang bersangkutan mohon diberikan izin /kesempatan untuk
mengadakan penelitian di lembaga/instansi yang menjadi
wewenang Bapak.
Demikian atas perkenan dan kerjasama Bapak disampaikan terima
kasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Dekan


Prof. Dr. HM. Djunaidi Ghony
NIP. 150042031



DEPARTEMEN AGAMA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
FAKULTAS TARBIYAH
JL. Gajayana 50 Malang, Telp. (0341) 553991,
Fax. (0341) 572533

BUKTI KONSULTASI

1. Nama Mahasiswa : Ismi Arofah
2. NIM : 05110027
3. Fakultas/Jurusan : Tarbiyah/Pendidikan Agama Islam
4. Pembimbing : Drs. H. Su’aib H. Muhammad, M.Ag
5. Judul Skripsi : Implikasi Hafalan Al-Qur’an Dalam Prestasi
Belajar Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama
Islam (Studi Kasus di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang).

NO TANGGAL
HAL YANG
DIKONSULTASIKAN
TANDA
TANGAN
1. 11 Februari 2009 Proposal dan judul skripsi

2.
7 Maret 2009

BAB I,II,III

3. 28 Maret 2009 Revisi BAB I, II, III

4.
5 Juni 2009

BAB IV, V, VI

5.
19 Juni 2009

Revisi BAB IV, V, VI

6. 15 Juli 2009 Revisi keseluruhan

7. 16 Juli 2009 ACC

Malang, 16 Juli 2009
Mengetahui,
Dekan




Dr. M. Zainuddin, MA
NIP. 150 275 502




LAMPIRAN 4
PEDOMAN OBSERVASI

Untuk memperoleh data yang akurat, maka peneliti mengadakan observasi
pada objek penelitian, guna memperoleh data-data tentang:
1. Letak geografis kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, serta denah
Ma’had Sunan Ampel Al-Ali.
2. Pelaksanaan hafalan Al-Qur’an mahasiswa di bawah bimbingan instruktur,
khatm al-Qur’an setiap sepekan, serta kegaiatan mengulang hafalan
bersama di ma’had.
3. Sikap keseharian mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari Jurusan Pendidikan
Agama Islam.














LAMPIRAN 5

PEDOMAN WAWANCARA

A. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam penghafal Al-Qur’an

1. Sejak kapan anda menghafal Al-Qur’an, berapa banyak yang anda hafal
sekarang?
2. Apakah anda rutin memperdengarkan hafalan anda kepada instruktur?
3. Apakah anda menghafal dengan tema-tema tertentu, ataukah berdasarkan
urutan mushaf?
4. Dengan menghafal berdasarkan urutan mushaf apakah memberikan
kontibusi yang baik dalam matakuliah ke-Agama anda?
5. Kapan waktu anda menghafal dan mengulang hafalan?
6. Apakah anda merasa tenang saat dan setelah menghfal Al-Qur’an?
7. Apa metode yang anda gunakan dalam menghafal?
8. Dengan tinggal bersama penghafal Al-Qur’an apakah anda merasa terbantu
dalam proses menghafal?
9. Apakah kendala anda dalam menghafal?
10. Bagaiman sikap sosial anda?

B. Instruktur hafalan

1. Sejak kapan kegiatan pentashihan hafalan Al-Qur’an di Ma’had ini dimulai?
2. Metode apa yang yang digunakan dalam pentashihan?
3. Apakah anda memberikan motivasi tertentu kepada para mahasiswa
penghafal Al-Qur’an?
4. Apakah ada ketentuan kuantitas menghafal dalam setiap pentashihan?

C. Teman mahasiswa penghafal Al-Qur’an di Ma’had maupun di kampus
1. Bagaimana sikap mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan PAI terhadap
lingkungan sosialnya?
2. Apakah mereka bertingkah laku yang baik?



LAMPIRAN 6
PEDOMAN DOKUMENTASI
Untuk melengkapi data-data yang diperlukan dalam penelitian ini, maka
peneliti kiga menggunakan data dokumentasi organiasi maupun dokumentasi
pribadi sebagai berikut:
1. Dokumentasi tentang kronologis berdirinya unit pengembangan hafalan
Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang.
2. Visi dan misi, tujuan, program kerja, kegiatan, struktur organisasi dan
prestasi Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh (JQH) Ma’had Sunan Ampel Al-
Ali UIN Maulana Malik Ibrahim malang.
3. Data anggota Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh (JQH) Ma’had Sunan
Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim malang.
4. Kartu hasil studi (KHS) mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam
penghafal Al-Qur’an.










LAMPIRAN 7

ANGKET

Nama:
Semester:

1. Apa pendidikan terakhir anda sebelum di UIN MMI Malang?
a. SMA/SMK c. MAK
b. MA/MAN d. lainnya,…..
2. Sejak kapan anda mulai menghafal Al-Qur’an (disetorkan kepada Pembina)?
a. pra SD c. SMP/MTs e. pasca SMA
b. SD/MI d. SMA/MA
3. Dimana Anda menghafal?
a. pesantren non tahfizh c. di UIN
b. pesantren tahfizh d. di rumah
4. Berapa banyak yang anda hafal sekarang?
a. <10 juz b. 20 juz d. lainnya,……
b. 10 juz c. 30 juz
5. Apakah anda menyimakkan hafalan anda kepada pembina / teman sesama
penghafal?
a. ya (selalu) c. jarang
b. kadang-kadang d. tidak pernah
6. Apakah anda mengulang hafalan di dalam sholat?
a. ya c. kadang-kadang
b. jarang d. tidak
7. Berapa jam anda menghabiskan waktu untuk menghafal/nderes dalam sehari?
a. 2 jam c. 5 jam e. >6 jam
b. 3 jam d. 6 jam
8. Kapan waktu anda menghafal dan mengulang hafalan (nderes)?
a. pagi dan malam c. sore
b. siang d. kondisional
9. Apakah anda merasakan ketenangan jiwa ketika dan setelah membaca Al-
Qur’an?
a. ya c. agak tenang
b. biasa saja d. tidak


10. Apakah anda berusaha memahami arti dan kandungan makna ayat yang anda
hafal?
a. ya c. lainnya,……..
b. tidak
11. Apakah kendala anda yang paling dominan dalam menghafal/nderes?
b. malas c. kesulitan menghafal
c. lingkungan yang tidak mendukung d. pengaturan waktu (sibuk)
12. Apakah dengan tinggal bersama penghafal Al-Qur’an lainnya (di ma’had)
anda merasa terbantu dalam proses menghafal/nderes?
a. sangat terbantu c. tidak
b. terbantu d. agak terbantu
13. Apa motivasi anda menghafal Al-Qur’an dan melestarikan hafalan anda?
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
……………………....................................................................................................
Jazaakallah khairan..




























LAMPIRAN 8
STRUKTUR KEPENGURUSAN JAM’IYYATUL QURRA’ WAL
HUFFAZH (JQH) MA’HAD SUNAN AMPEL AL-ALI UIN MAULANA
MALIK IBRAHIM MALANG PERIODE 2008-2009









































PEMBINA
Syamsul Ulum, MA
Syafaat, M.Ag
M. Hasyim, S.Hum
Isyroqun Najah, M.Ag
Ismatud Diniyah, Ah

PELINDUNG
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo
KH. Chamzawi, M.HI

Sekretaris I
Mukhlisin

Ketua Umum
Sholihin

Wakil Ketua
Mustaen

Dev. Mudarosah
Putra

Bendahara II
Supardi

Bendahara I
Rifqiyatuz. Z

Sekretaris II
Nur Azizah

Dev.Mudarosah
Putri
Dev. Munaqosyah

Dev. Funun Islamiyah

Dev. Humasy dan
Dakwah

Dev. Inventaris














































LAMPIRAN 9.
DENAH KAMPUS UIN MALANG DAN MA’HAD SUNAN AMPEL AL-
ALI
ANGGOTA
















































gerbang
utara
gerbang
selatan
Perpust
akaan
pusat
Fakultas
Saintek
Gedung
rektorat
Fakultas
tarbiyah
Fakultas
ekonomi
Fakultas
psikologi

Gedung
perkulia
han “A”

Gedung
perkulia
han “B”
Gedung sport center

Lapangan
olah raga


Gedung
pasca
sarjana
Masjid
akbar
Unit
Ummu
Salama
h
Unit
Fatim
ah
zahro
Unit
Asma

Unit
khodi
jah
Kantin
putri
masuk
keluar
Fakultas
syari’ah
Taman
kampus
Unit Al-Ghozali
Unit ibn. kholdun
Gedung
Lp3i
Fak.
humbud
Pusat
informasi
Masjid
Parkir
Unit ibn sina
Unit ibn Rusyd
Unit Al-Farabi
Kantin
ma’had
putra
Taman
Area ma’had
putri
Area
ma’ha
d putra
RD 3,4,5
RD 2
RD 1
Gedung
halaqah
R. tamu
Gerb
ang
barat


LAMPIRAN 10

PETA LOKASI KAMPUS UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG






Jln. Soekarno.H




































Jln. Sumber sari
Jln. Bendungan Sutami
Kampus
UIN
Malang
Kampus
ITN
Kampus
UNIBRA
Ke
kota
Batu
Ke
arah
Kota
Ke
arjo
sari


LAMPIRAN 11

Foto-foto pelaksanaan hafalan Al-Qur’an di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Kegiatan Khatm
Al-Qur’an bil ghaib tiap hari Ahad di Masjid At Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim malang,
diikuti oleh anggota JQH, termasuk Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI).


Aktivitas pentashihan hafalan Al-Qur’an mahasiswa oleh instruktur hafalan (ustadzah Ismatud
diniyah) di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (rumah dinas no.2)









Wawancara peneliti dengan Instruktur hafalan Al-Qur’an (Ustadzah Ismatud Diniyah Ah.) tentang
sejarah JQH dan pelaksanaan hafalan Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana
Malik Ibrahim Malang

































LAMPIRAN 12
KLIPING TENTANG JQH UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

GEMA Edisi: 36 Juli -Agustus 2008
page 2
57 Penghaf al Al -Qur’ an
Meri ahkan Temu Wal i Maba
Barangkali hati ribuan wali m a h a s i s w a baru yang hadir di aula gedung
Sport Center terharu saat melihat wisudawan/wisudawati tahfizh Al-Qur’an naik
ke atas panggung. Apresiasi dan penghargaan yang tinggi disampaikan oleh
Rektor saat memberikan sambutan di depan hadirin Temu Wali. Sungguh suatu
kebanggaan besar bagi UIN Malang, di jaman yang cenderung hedonis ini masih
bisa menghasilkan anak didik yang mampu menjaga Al-Qur’an, kitab suci dan
pedoman hidup umat Islam.
Pertemuan wali mahasiswa (temu wali) baru memang biasa dilakukan seiring
penerimaan mahasiswa baru setiap tahunnya. Namun, kali ini (23/08) ada yang
berbeda dari temu wali mahasiswa baru tahun sebelumnya. Sebab, sebanyak
57 mahasiswa yang juga mahasantri Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Malang
diwisuda/dikukuhkan bersamaan dengan acara besar itu.
Para hafizh yang di wisuda kali ini tidak ujuk ujuk begitu saja. Tetapi telah
mengikuti ujian tahfizhul Qur’an. Ujian untuk calon wisuda penghafal Al-Qur’an itu
sudah dilaksanakan tanggal 14-29 Juni yang lalu. Ini jadi menarik karena kali
pertama dilakukan di Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz (JQH) UIN Malang.
Selama ini, para hafizh dan hafizhah tidak mendapatkan penghargaan atau
apresiasi secara simbolik dari civitas akademik. Untuk itulah Munjiyat, ketua
JQH, mengusahakan agar para penghafal Al-Qur’an selalu mendapatkan
penghargaan simbolik dari kampus. Sehingga bisa menjadi motivasi bagi para
mahasiswa lain, baik yang sudah hafal atau masih akan menghafal Al-Qur’an.
Solihin, ketua pelaksanaan Ujian dan Wisuda mengungkapkan bahwa untuk
anggota yang diuji disyaratkan menghafal secara lengkap di depan dewan
penguji. Mereka yang berhasil menempuh ujian akan mendapat syahadah dari
Rektor UIN Malang dan Dewan Pengasuh Ma’had Al‘Aly.
Sebagaimana disampaikan Rektor UIN Malang dalam sambutannya, prestasi


mahasiswa tahfizh ini patut diacungi jempol. Sebab, menghafal Al-Qur’an bukan
hal yang mudah. “Perlu ketekunan dan upaya penjagaan secara maksimal,
apalagi, untuk kalangan mahasiswa, yang notabene memiliki kegiatan sangat
padat dan dituntut belajar setiap saat,” terangnya bangga. Menurutnya para ma-
hasiswa penghafal Al-Qur’an ini tidak pernah berbuat ulah saat kuliah. Mereka
semua adalah mahasiswa yang patut dicontoh dan diteladani. Sebab, selain me-
reka adalah orang-orang yang pandai dan cerdas, mereka juga telah mengha-
rumkan nama kampus dan tidak pernah mengacaukan kampus. “Mahasiswa
semacam ini jauh lebih dibutuhkan banyak orang daripada mereka yang tidak
menghafal, tapi suka membuat kekacauan di kampus,” tambahnya. (aj/hef).























Ta’ aruf Qur’ ani Khi dmat Sekal i gus Menyenangkan


Sabtu, 13 Desember 2008 13:41
JQH memang tak kenal lelah
mensosialisasikan Al-Qur’an di kampus ini.
Berbagai kegiatan dilakukan agar anggota
JQH terus aktif. Tengok saja kegiatan
Ta’aruf Qur’ani (1-2/11) yang diadakan di
gedung halaqoh. Baburrahman, ketua
panitia, mengaku kegiatan Ta’aruf Qur’ani
ketiga ini berlangsung khidmat sekaligus menyenangkan.
Ta’aruf Qur’ani yang bertema Potensi Autentik ke-Al-Qur’anan ini diikuti oleh
120 anggota baru. Jumlah ini, menurut Baburrahman, sangat di luar dugaan.
“Alhamdulillah, banyak yang gabung ke JQH,” tutur mahasiswa semester II
jurusan ekonomi tersebut.Menurut keterangan Baburrahman, acara Ta’aruf
Qur’ani ini terdiri dari dua macam, yaitu acara formal dan out-bond. Dalam sesi
formal, didatangkan empat pembicara, antara lain Syamsul Ulum, Dosen
Tarbiyyah, dengan tema Menghafal Al-Qur’an, Agus Mulyono, Dosen Saintek,
dengan tema Al-Qur’an dan Sains, M. Hasyim, Dosen PKPBA, dengan tema
Sejarah JQH, dan Syafa’at, Dosen PKPBA, dengan tema Motivasi Menghafal Al-
Qur’an. Sedangkan acara out-bond diadakan pada pagi hari di hari kedua,
tepatnya di halaman Gedung Al-Ghozali. ”Semuanya semangat, semuanya
khidmat!” Aku Musta’in, sekretaris umum JQH.
Selain itu, untuk menutup acara, digelar juga pentas seni. Para peserta
ternyata banyak yang memiliki bakat seni, terbukti dengan tampilan-tampilan
kreatif mereka. Ada pertunjukan parade nyanyian, musik, yale-yale berirama,
sampai pada pantomim. “Pentas seninya sangat menghibur para peserta,” terang
Musta’in lagi.

Baburrahman mengaku, bahwa selama ia jadi mahasiswa UIN malang, maka


ia akan berupaya keras untuk mensosialisasikan Al-Qur’an. Melalui JQH,
diharapkan mahasiswa UIN Malang mampu menjadi mahasiswa yang qur’ani.
Belajar Al-Qur’an tidak terbatas tempat, lanjutnya. Di manapun, kapanpun, dan
sampai kapanpun, Al-Qur’an harus terus dipelajari. “Al-Qur’an itu multidisiplin
ilmu, sayang kalau tidak dipelajari,” kata Baburrahman serius. (hef)
http://www.uinmalang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=347:taaru
f&catid=27:gema-edisi-37

























JQH: Isi Li buran dengan Karant i na Tahf i zh


Jumat, 20 Maret 2009 08:52
GEMA-Liburan semester gasal selama bulan
Februari ini disambut positif oleh pengurus
JQH (Jamiyatul Qurro’ wal Huffadz). Mereka
mengadakan kegiatan karantina Tahfizh
selama liburan (2-22/2). Kegiatan tersebut
mewajibkan peserta untuk tinggal di ma’had
selama liburan dan tidak diperkenankan
pulang ke rumah.
“Tujuan karantina tahfidz sendiri adalah untuk memberikan sarana bagi para
hafidz untuk menambah setoran bagi pemula ataupun memperlancar hafalan
bagi yang sudah selesai,” tutur Zakiyah Umami, salah satu teamwork yang juga
pengurus JQH tersebut.
Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang Imam Suprayogo(2/2) itu diikuti sekitar 60 peserta putra dan putri.
“Saya sangat memuliakan orang yang hafal al-Quran, karena saya bisa
mengembangkan UIN sampai sebesar ini karena terinspirasi dari Al-Quran,” kata
dosen asal Trenggalek dalam sambutannya.
KH. Chamzawi yang juga berkesempatan memberikan sambutan dalam
pembukaan tersebut juga mengungkapkan kebanggaannya pada antusiasme
peserta yang mengikuti kegiatan karantina tahfizh Al-Qur’an tersebut. “Andai
saya mempunyai banyak jempol pasti sudah saya acungkan semuanya, namun
karena saya hanya punya empat maka keempat jempol saya saya acungkan
buat kalian semua,” gurau dewan pengasuh MSAA mengungkapkan
kebanggaannya.
Acara tersebut memang patut mendapat apresiasi. Di saat para mahasiswa
lain menikmati liburan di rumah, para peserta karantina sangat antusias
mengikuti setiap kegiatan yang diprogramkan seperti shalat tahajud setiap
malam, mengaji/menghafal al-Quran empat kali sehari, serta fasohah & tajwid
yang diadakan tiap Jumat.
Khairunnisa’, salah satu peserta karantina mengungkapkan kesannya
mengikuti kegiatan tersebut, ”Saya sangat senang dengan kegitan ini karena
membuat liburan saya lebih bermanfaat dengan memperdalam ilmu al-Quran,”
tutur mahasiswi jurusan Fisika asal Bima tersebut sambil tersenyum. (ct)


http://www.uinmalang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=801:jqh&catid=29
:gema-edisi-39






























Senin, 04 Mei 2009 07:56


Wi suda dan Haf al Al -Qur’ an
Tiga kali berturut-turut wisuda di Universitas Islam
Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, dirasakan ada
yang istimewa. Mereka yang mendapatkan prestasi
akademik unggul ternyata beberapa di antaranya
adalah hafal Al-Qur’an genap tiga puluh juz.
Prestasi akademik unggul pada wisuda tiga
semester yang lalu, diraih oleh mahasiswa jurusan
fisika, kemudian dua semester lalu, diraih mahasiswa
matematika dan psikologi dan pada wisuda hari Sabtu
tanggal 2 Mei 2009 yang lalu diraih oleh mahasiswa fakultas Syari’ah. Semua
lulusan terbaik tersebut hafal Al-Qur’an 30 juz. Selain itu, sekalipun tidak
termasuk berprestasi akademik unggul, pada wisuda terakhir ini, masih ada tiga
mahasiswa yang hafal Al-Qur’an, dua di antaranya adalah lulus jurusan Bahasa
dan Sastra Arab, sedang seorang lagi jurusan matematika.
Untuk memberikan penghargaan kepada mereka yang hafal Al-Qur’an 30 juz
itu, maka mereka diberikan peluang untuk meneruskan studi lanjut di program S2
dengan biaya dari kampus. Tiga penghafal Al-Qur’an 30 juz, diberi peluang
masuk pascasarjana kampus ini. Sedang seorang lagi dari jurusan matematika,
dipersilahkan mencari sendiri perguruan tinggi yang diminati, karena UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang belum menyelenggarakan program itu.
Terus terang, saya pernah beranggapan salah terhadap para penghafal Al-
Qur’an ini. Saya mengira bahwa mahasiswa penghafal Al-Qur’an akan tidak bisa
maksimal mengikuti kuliah bidang studi pilihannya. Saya menganggap menghafal
Al-Qur’an dan sekaligus belajar bidang ilmu yang geluti tidak akan berhasil
kedua-duanya. Sekalipun saya tidak pernah berkomentar secara terbuka tentang
itu, tetapi pandangan saya mengatakan demikian. Pikiran saya mengatakan
bahwa bagaimana seseorang pada saat yang sama memikul beban sedemikian
berat. Pandangan pesimis itu, saya dasarkan pada kenyataan bahwa mahasiswa
yang mengambil kuliah dengan bobot 24 sks saja sudah dirasa terlalu berat.
Sehingga, tidak semua mahasiswa sanggup menjalaninya dengan baik. Pikiran
saya mengatakan bahwa setiap orang memiliki kapasitas tertentu, dan jika
seseorang menanggung beban melebihi kapasitasnya, maka tidak akan mampu


dan jika dipaksakan tidak akan mendapatkan hasil maksimal.
Pandangan saya itu ternyata sangat keliru. Setelah saya amati dalam waktu
lama, ternyata mahasiswa yang menghafal al Quran, prestasi akademik mereka
tidak kalah bilamana dibandingkan dengan mereka yang tidak mengikuti kegiatan
itu. Para mahasiswa penghafal Al-Qur’an yang tergabung dalam organisasi JQH
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ternyata memiliki banyak keunggulan. Melalui
organisasi itu mereka dibimbing oleh para seniornya dan juga beberapa dosen
pembimbing yang kebetulan juga hafizh. Mahasiswa yang masuk dalam
organisasi ini, justru menyandang banyak kelebihan, misalnya, dalam hal
kegiatan spiritual mereka lebih aktif berjama’ah di masjid, dalam hal sosial
tampak hubungan mereka dengan para dosen dan penampilan sebagai
mahasiswa lebih mencerminkan sebagai mahasiswa muslim.
Atas dasar penglihatan saya seperti itulah kemudian, sebagai pimpinan
kampus, tergerak untuk memberikan penghargaan kepada mereka itu.
Penghargaan yang selama ini bisa saya berikan ialah mereka yang hafal Al-
Qur’an minimal 10 juz saya bebaskan dari seluruh biaya pendidikan di kampus
ini. Jumlah mereka yang masuk kategori ini cukup banyak. Namun demikian,
ternyata tidak semua dari mereka yang hafal Al-Qur’an itu mau menerimanya.
Ada beberapa mahasiswa penghafal Al-Qur’an yang tidak diijinkan oleh orang
tuanya menerima pembebasan biaya pendidikan itu, dengan alasan khawatir
mengganggu keikhlasannya, yakni menghafal Al-Qur’an hanya agar
mendapatkan penghargaan dari kampus.
Melihat kenyataan bahwa semakin lama ternyata prestasi akademik para
penghafal Al-Qur’an justru lebih baik, beberapa mahasiswa fisika, matematika,
psikologi, syari’ah, tarbiyah, bahasa dan sastra dan lain-lain, maka saya
menyimpulan sementara bahwa antara kekuatan fisik seseorang tidak sama
dengan kekuatan nalar atau otak mereka. Kekuatan fisik hanya bisa bertahan
pada usia tertentu dan juga memiliki kemampuan menanggung beban tertentu
pula. Jika hal itu ditambah, maka tidak akan mampu lagi. Ada batas-batas
maksimal yang mampu dilakukan. Seseorang yang memiliki kemampuan
memikul beban maksimal 60 kg misalnya, ia tidak akan mampu jika beban itu
ditambah 10 kg lagi.
Hal itu berbeda dengan kemampuan nalar atau otak. Beban itu bisa
ditambah, dan ternyata penambahan beban tersebut tidak akan selalu


menganggu kemampuan ciptaan Allah yang sangat berharga, berupa otak itu.
Bahkan sebaliknya, jika beban itu semakin sedikit, maka kemampuan otak tidak
bertambah lebih baik. Para pemikir karena beban tugasnya sehari-hari, ternyata
tidak kelihatan capek dan bahkan kemampuan otaknya jika selalu digunakan
akan semakin kuat. Berbeda dengan orang yang tidak pernah berpikir, karena
tidak mendapatkan tantangan apa-apa, maka pikiran mereka tidak tampak
tangkas jika suatu ketika menghadapi persoalan. Berangkat dari kenyataan itu
sekalipun masih terbatas dan perlu penelitian lanjut, melakukan pembatasan
beban belajar terhadap siswa/mahasiswa tidak selalu tepat. Orang-orang
tertentu, tatkala diberi beban lebih banyak, justru tampak lebih cepat
perkembangan pikirannya dan begitu juga sebaliknya.
Kembali pada kegiatan menghafal Al-Qur’an. Saya pernah melihat kegiatan
menghafal Al-Qur’an, yang diikuti oleh sejumlah besar anak di Iran. Tidak kurang
dari 300 an lembaga pendidikan tempat penghafal Al-Qur’an di Iran. Masing-
masing diikuti oleh ratusan anak. Anak-anak pada umur 4 tahun biasa dikirim
oleh orang tua mereka ke lembaga pendidikan penghafal Al-Qur’an itu. Melalui
lembaga ini kemudian banyak sekali anak-anak Iran yang baru berumur 7, 8 atau
9 tahun sudah hafal Al-Qur’an 30 juz. Dahulu ketika guru mengaji saya
menceritakan bahwa Imam al-Ghazali dan juga Imam Syafi’i baru berusia 7 tahun
sudah hafal Al-Qur’an, saya merasa terheran-heran. Akan tetapi, setelah saya
datang sendiri ke Thus, tempat kelahiran Imam al-Ghazali pengarang kitab ihya’
Ulumuddin, ternyata di sana memang banyak anak-anak seusia itu sudah hafal
Al-Qur’an 30 juz. Sehingga sesungguhnya, prestasi Imam al Ghazali itu di tempat
kelahirannya, yakni di Thus sampai saat inipun bukan merupakan hal aneh.
Banyak sekali anak-anak di sana yang umurnya belum genap 10 tahun sudah
hafal Al-Qur’an secara lengkap.
Anak-anak Iran yang hafal Al-Qur’an tersebut, sesuai dengan perkembangan
umurnya memasuki lembaga pendidikan pada umumnya di negeri itu. Pada usia
perguruan tinggi, mereka masuk menjadi mahasiswa, mengambil program studi
yang mereka minati, seperti kedokteran, teknik, ekonomi, psikologi, fisika, kimia,
biologi dan seterusnya. Dengan demikian, banyak sekali mahasiswa kedokteran,
fisika, kimia, biologi dan seterusnya hafal Al-Qur’an. Dan ternyata dengan hafal
Al-Qur’an itu tidak menjadikan prestasi akademik mereka tertinggal dari
mahasiswa lain yang tidak hafal kitab suci itu. Hal yang sama terjadi di


Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, sekalipun mahasiswa di kampus
ini jumlah penghafal Al-Qur’an belum sebanyak di Iran, tidak sedikit yang prestasi
akademiknya justru lebih unggul.
Melihat kenyataan tersebut, maka dalam rangka melahirkan generasai
unggul di masa depan, saya berpendapat bahwa, setidak-tidaknya di kampus-
kampus perguruan tinggi Islam, para mahasiswanya seharusnya didorong
melakukan kegiatan menghafal Al-Qur’an. Tidak perlu lagi dikhawatirkan bahwa
para penghafal Al-Qur’an akan lemah prestasi akademiknya. Pada
kenyataannya, dalam banyak kasus ternyata para penghafal Al-Qur’an justru
memiliki keunggulan, baik dalam kehidupan intelektual, sosial maupun
spiritualnya. Calon pemimpin umat seperti inilah sesungguhnya yang diperlukan
di masa depan. Wallahu a’lam.
http://www.uinmalang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=908:0405-
2009&catid=25:artikel-rektor
















IMPLIKASI HAFALAN AL-QUR'AN DALAM PRESTASI BELAJAR MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) (Studi Kasus di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)

SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Maulana Malik Ibrahim Malang untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh: Ismi Arofah 05110027

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG Juli, 2009

LEMBAR PERSETUJUAN IMPLIKASI HAFALAN AL-QUR’AN DALAM PRESTASI BELAJAR MAHASISWA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (Studi Kasus di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)

SKRIPSI Oleh: Ismi Arofah 05110027

Telah Disetujui pada Tanggal: 16 Juli 2009

Oleh: Dosen Pembimbing

Drs. H. Su’aib H. Muhammad, M.Ag NIP. 150 227 505

Mengetahui: Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam

Drs. H. Moh. Padil, M.Pd.I NIP. 150 267 235

kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak diajukan untuk diujikan. Muhammad. H. bahasa maupun teknik penulisan.Drs.Ag NIP. M. 150 227 505 . 16 Juli 2009 Kepada Yth. mohon dimaklumi adanya. Wassalamu’alaikum Wr.Ag Dosen Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang NOTA DINAS PEMBIMBING Hal : Skripsi Ismi Arofah Lamp : 6 (Enam) Eksemplar Malang. Su’aib H. M. Wb. Wb. Su’aib H. H. Demikan. Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan. dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di bawah ini: Nama NIM Jurusan Judul Skripsi : Ismi Arofah : 05110027 : Pendidikan Agama Islam : Implikasi Hafalan Al-Qur’an Dalam Prestasi Belajar Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) (Studi Kasus di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang) Maka selaku Pembimbing. Pembimbing. Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Malang Assalamu’alaikum Wr. baik dari segi isi. Muhammad. Drs.

MA NIP. H. Muhaimin.150 227 505 Tanda Tangan :___________________ :___________________ :___________________ :___________________ Mengesahkan. M. 150 227 505 Sekretaris Sidang Isti’anah Abu Bakar. Muhammad.Ag NIP.150 332 149 Penguji Utama Prof. Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang DR. Su’aib H.Ag NIP. MA NIP. Muhammad.HALAMAN PENGESAHAN IMPLIKASI HAFALAN AL-QUR’AN DALAM PRESTASI BELAJAR MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (Studi Kasus di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang) SKRIPSI dipersiapkan dan disusun oleh Ismi Arofah (05110027) telah dipertahankan di depan dewan penguji pada tanggal 04-Agustus-2009 dengan nilai…A… dan telah dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar strata satu Sarjana Pendidikan Islam (S. Zainuddin. H. M. DR.Ag NIP. Su’aib. 150 275 502 .I) pada tanggal: 04-Agustus-2009 Panitia Ujian Ketua Sidang Drs. H. 150 215 375 Pembimbing Drs. M. H.Pd. M.

MOTTO

› tedsrgiRn

›(
mengajarkannya” (HR.Bukhori )

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan

PERSEMBAHAN

Dengan penuh cinta, kupersembahkan karya ini kepada: Allah SWT yang Maha sempurna,, yang telah menggariskan jalan hidup pada setiap makhluk-Nya. Ayah & Ibuku tercinta, (H. Munawir Muslih & Hj. Aminah) yang luapan kasih sayangnya bak mata air abadi. Terima kasih telah mengantarkan ananda sampai pada tahap pendidikan ini. Kakak & adikku tersayang (Yunia Rahmah S.Ag dan Ahmad Muzammil S.Pd.I), serta (Anik Nihayah S.Pd.) yang selalu memberi uswah hasanah, menginspirasi dan memotivasi aku. Suamiku tercinta “yangkoe” Fata Zamroni, SH., terima kasih telah mendampingiku menjalani pendidikan ini dengan Sabar. Tak lupa pula segenap keluarga besar yang selalu memberikan kasih sayang, serta dukungan baik moril maupun material, sehingga aku mampu menatap masa depan dengan ceria. Semua Guruku, Ustadz/Ustadzahku di Pesantren dan Ma’had, serta para Dosen yang telah memberikan secercah pencerahan, sehingga aku dapat mewujudkan harapan, angan dan cita-cita di masa depan. Teman-teman mahasiswa di Jurusan Pendidikan Agama Islam (2005-2009), yang memberikan motivasi dan pengalaman bermakna. Especially, semua gus & ning JQH, semoga selalu bisa istiqomah berjuang di jalan-Nya dan dapat melestarikan hafalan Al-Qur’annya. Teman-teman yang oke bangets,, evy, heni, nya’tin, hikmah, ima, angga, indra, ni’am, serta adik-adiku di kost pinky, ndok nisa’, ira, atul, ria, fi2l, nani, hesy, bib3h, dan semua sahabatku yang tidak dapat kusebutkan satu persatu. aku sadar kalian telah menjadi tempat belajarku dalam mengarungi cuplikan kehidupan ini, saling berbagi pengalaman hidup, serta banyak hal yang menginspirasi. Semoga pertemuan dan persahabatan kita dalam kancah mencari ilmu ini, kelak dapat menjadi perantara kita untuk bertemu dan berkumpul di bawah naungan-Nya. Amin.

SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar rujukan.

Malang, 16 Juli 2009

Ismi Arofah

serta misi untuk menghafalkan dan melestarikan hafalan Al-Qur’an. Penulis menyadari dalam proses penulisan skripsi ini banyak memperoleh bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Para penghafal Al-Qur’an dari kalangan mahasiswa ini bisa dikatakan “berbeda” dengan mahasiswa pada umumnya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada teladan kita Rasulullah Muhammad SAW. dilatarbelakangi oleh kecintaan dan apresiasi mendalam penulis terhadap komunitas penghafal Al-Qur’an yang ada di lingkungan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. H. dilakukan kepada para mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam. . . MA. Apakah hafalan Al-Qur’an Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam berimplikasi dalam prestasi belajarnya. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah. maka penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada: 1. Dr. selaku Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Zainuddin. Misi yang di maksud oleh penulis adalah misi untuk mengembangkan keilmuan yang diminati di perkuliahan. dan Maha sempurna. beserta segenap Dosen Fakultas Tarbiyah yang dengan ikhlas telah membantu dan memberikan masukan untuk skripsi ini. Penulisan skripsi ini. Penelitian dalam skripsi ini secara lebih terfokus. karena mereka mengemban 2 misi sekaligus. Padil.Pd. yang telah memberikan pertolongan berupa kejernihan fikir. Bapak Dr. M. 2. segala puji hanya patut dipanjatkan kehadirat Allah SWT.I. selaku Kepala Jurusan pendidikan Agama Islam. Moh. pembimbing dan pemimpin umat Islam yang berakhlak Al-Qur’an. Dzat yang Maha indah. serta mendeskripsikan sikap keseharian mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari Jurusan Pendidikan Agama Islam tersebut. Bapak Prof.KATA PENGANTAR Alhamdulillah. sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. yang bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana prosedur hafalan Al-Qur’an mahasiswa di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. H. Imam Suprayogo. serta Bapak Drs. Maha pengasih. M.

dan dibalas dengan sebaik-baik balasan. 6. saudara-saudaraku. 16 Juli. selaku Mudir Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. 7. Semoga karya yang masih jauh dari kesempurnaan ini dapat memberi manfaat bagi para pembaca. yang dengan ikhlas telah memberikan bimbingan dan motivasi kepada penulis dalam proses penulisan skripsi ini. Chamzawi. suamiku tercinta. Para pembina. serta informan yang telah membantu penulis dalam memperoleh data-data penelitian. Malang. demi memperbaiki karya ini. berserta para pengasuh dan pengurus Ma’had. serta penulis. yang telah memberikan izin kepada penulis untuk mengadakan penelitian ini. Teman-teman di Fakultas Tarbiyah/Jurusan Pendidikan Agama Islam tahun akademik (2005-2009). pengurus dan anggota Jam’iyyatul Qurra’ wal huffazh Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Muhammad. Bapak KH. Ayah dan ibuku tercinta. H. 2009 Penulis . Akhirnya. serta segenap keluargaku yang telah banyak memberikan bantuan dan pengorbanan baik moril maupun materiil.Ag. yang telah memberikan berbagai pengalaman dan interaksi akademik yang mengesankan. 5. Bapak Drs. 4. M. penulis senantiasa mengharapkan saran dan kritik yang konstruktif dari para pembaca. khususnya Mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam.HI. Su’aib H.3. M. Amin ya Mujibas Saailiin. Tiada yang pantas penulis ucapkan kecuali untaian kata terima kasih “ Jazaakumullah Ahsanal Jazaa’ ” semoga amalnya diterima oleh Allah SWT.

158 tahun 1987 dan no. Vokal Panjang Vokal (a) panjang = ậ Vokal (i) panjang = ỉ Vokal (u) panjang = ủ C.PEDOMAN TRANLITERASI ARAB LATIN Penulisan transliterasi arab-latin dalam skripsi ini menggunakan pedoman transliterasi berdasarkan keputusan bersama Menteri Agama RI dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI no. Vokal Diftong ْ‫ = أو‬aw ‫ = أي‬ay ْ‫ = أو‬u ْ‫ = إي‬i . Huruf ‫ = ا‬a ‫=ب‬b ‫=ت‬t ‫ = ث‬ts ‫=ج‬j ‫=ح‬h ‫ = خ‬kh ‫= د‬d ‫ = ذ‬dz ‫=ر‬r ‫= ز‬z ‫=س‬s ‫ = ش‬sy ‫ = ص‬sh ‫ = ض‬dl ‫ = ط‬th ‫ = ظ‬zh ‫‘ = ع‬ ‫ = غ‬gh ‫ =ف‬f ‫= ق‬q ‫= ك‬k ‫= ل‬l ‫= م‬m ‫=ن‬n ‫=و‬w ‫=ه‬h ‫‘=ء‬ ‫=ي‬y B. 0543 b/U/1987 yang secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut: A.

4 Awal mahasiswa mulai menghafal……………………………102 5.1 Jadwal Kegiatan Harian dan Mingguan JQH Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang……92 2.8 Usaha untuk memahami makna dan kandungan ayat Al-Qur’an yang dihafal………………………………………..10 Nilai Matakuliah Keagamaan Islam yang Berhubungan dengan Ayat-Ayat Al-Qur’an……………………………….107 8. Tabel 4.9 Rekapitulasi Nilai Rata-Rata Indeks Prestasi Komulatif Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Penghafal Al-Qur’an………………………………………….98 3.5 Tempat menghafal Al-Qur’an………………………………. Tabel 4.. Tabel 4.DAFTAR TABEL 1. Tabel 4...102 6. Tabel 4.114 .7 Kendala yang paling dominan dalam menghafal dan melestarikan hafalan Al-Qur’an………………………….109 9. Tabel 4..113 10.105 7.3 Jumlah Hafalan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Penghafal Al-Qur’an……….. Tabel 4..2 Nama-Nama Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)………………………………. Tabel 4. Tabel 4.6 Peran lingkungan Menghafal Al-Qur’an (Ma’had)………….102 4.. Tabel 4..

.1 Grafik Anggota JQH Mulai Periode 2002-2009....96 .......DAFTAR GAMBAR 1.. Gambar 4......

Lampiran 10 : Peta lokasi Kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Lampiran 11 : Foto-foto dokumentasi penelitian Lampiran 12 : Kartu hasil studi (KHS) mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam penghafal Al-Qur’an Lampiran 13 : Kliping tentang JQH UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dari berbagai sumber .DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 : Surat izin penelitian : Surat keterangan telah melakukan penelitian dari instansi : Bukti konsultasi : Pedoman observasi : Pedoman wawancara : Pedoman dokumentasi : Angket : Struktur organisasi Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffazh Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Lampiran 9 : Denah Kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang & Ma’had Sunan Ampel Al-Ali.

.......................................................................iv HALAMAN PENGESAHAN....................................................................... Manfaat Penelitian…………………………………………………...................ix PEDOMAN TRANSLITERASI......................xv ABSTRAK..............................................................................................................................................xi DAFTAR TABEL................i HALAMAN JUDUL........................................................................................................................................................... Latar Belakang………………………………………………………...................................................................xix BAB I PENDAHULUAN A...............vii SURAT PERNYATAAN..... Definisi Operasional…………………………………………………8 ................................................................vi HALAMAN PERSEMBAHAN...........................................................................................................……………………………………………………................................. Rumusan Masalah……………………………………………………7 C..........................................7 D...........................xiv DAFTAR ISI…………................................. Tujuan Penelitian……………………………………………………..........................................................................................xii DAFTAR GAMBAR.....................................xiii DAFTAR LAMPIRAN...........viii KATA PENGANTAR................v HALAMAN MOTTO...................8 E.......1 B............DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL.................................ii HALAMAN PERSETUJUAN............................................................................iii HALAMAN NOTA DINAS..............

.69 B.. Afektif dan Psikomotorik…………. Kehadiran Peneliti………………………………………………….70 C... Sikap dan Kewajiban Intelektual Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Penghafal Al-Qur'an……………64 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A.. Melestarikan Hafalan Al-Qur’an……………………………….14 3.71 .53 C.. Faktor-Faktor yang Mendukung Keberhasilan Menghafal Al-Qur’an……………………………32 B... Pengertian Prestasi Belajar……………………………………. Lokasi Penelitian…………………………………………………. Sistematika Pembahasan……………………………………………10 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Keutamaan Menghafal Al-Qur’an……………………………. Implikasi Hafalan Al-Qur’an dalam Prestasi Belajar Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam…………………….. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar………….39 2.55 D.27 6.23 5..F. Tinjauan Tentang Hafalan Al-Qur’an 1. Prestasi Belajar Mahasiswa 1.. Metode Menghafal Al-Qur’an…………………………………. Evaluasi Prestasi Kognitif. Adab Menghafal Al-Qur’an………….47 3.9 G. Metode dan Strategi Penelitian……………………………………. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian………………………. Pengertian Menghafal Al-Qur’an………………………………12 2..20 4...……………………….

Pengecekan Keabsahan Data………………………………………75 H.80 2..D. Program Kerja JQH Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang………………………. Deskripsi Objek Penelitian 1..90 6..78 BAB IV LAPORAN HASIL PENELITIAN A. Prestasi Anggota JQH Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang……………………….86 3.90 5....75 G.93 . Struktur Kepengurusan JQH Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang……………………….. Analisis Data……………………………………………………….71 E.88 4.. Misi. Prosedur Pengumpulan Data………………………………………. Kegiatan JQH Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang………………………. Sejarah Berdirinya Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh (JQH) Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang…………………………….. Visi.. Tahapan Penelitian………………………………………………. Data dan Sumber Data……………………………………………. Tujuan dan Fungsi JQH Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang……………………….73 F.

.....116 BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A...98 2....125 C..134 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN ...... Kesimpulan……………………………………………………..... Saran………………………………………………………….. Deskripsi Pelaksanaan Hafalan Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang…............ Deskripsi Pelaksanaan Hafalan Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang..... Sikap keseharian Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Penghafal Al-Qur’an….7.128 BAB VI PENUTUP A........... Paparan Hasil Penelitian 1.. Keadaan Anggota JQH Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang………………………........131 B....108 3...........................120 B...... Implikasi Hafalan Al-Qur’an dalam Prestasi Belajar Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang……………………....96 B.......... Sikap keseharian Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Penghafal Al-Qur’an………. Implikasi Hafalan Al-Qur’an dalam Prestasi Belajar Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) di UIN Maulana malik Ibrahim Malang…………………..........

ABSTRAK Arofah. maka mahasiswa penghafal Al-Qur’an tidak bisa mendapatkan hasil belajar/akademik yang maksimal. diciptakan melalui keberadaan Ma’had (pesantren mahasiswa yang kurikulum pembelajarannya integral dengan kampus). memiliki kepribadian yang utuh. serta untuk mengetahui bagaimana aspek sikap keseharian mahasiswa tersebut. dianalisis menggunakan statistik deskriptif dengan cara menghitung nilai rata-rata dan prosentase kemudian dideskripsikan. apalagi oleh mahasiswa yang notabene memiliki jadwal kegiatan yang padat. Sedangkan untuk analisisnya.Ag. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan hafalan Al-Qur’an di Ma’had sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana malik Ibrahim Malang. diketahui bahwa pelaksanaan hafalan Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali sudah baik. H. untuk mengetahui apakah hafalan Al-Qur’an mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam berimplikasi terhadap prestasi belajarnya. yaitu kekuatan akademik dan kultural. Selain pembelajaran kitab dan bahasa. Berawal dari latar belakang tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan strategi studi kasus. maka peneliti tertarik untuk membahasnya dalam skripsi yang berjudul “Implikasi Hafalan Al-Qur’an Dalam Prestasi belajar Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (Studi Kasus di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang). Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang merupakan salah satu Perguruan Tinggi Islam yang telah berhasil menggabungkan dua kekuatan dalam paradigma pendidikannya. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. peneliti menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Drs. Muhammad. Su’aib. interview dan dokumentasi. Dalam menjalankan fungsi edukasinya. dewasa ini perguruan tinggi dituntut untuk dapat memerankan fungsinya secara optimal dalam mewujudkan lulusan yang beriman dan bertaqwa. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Fakultas Tarbiyah. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan. Dari sinilah timbul berbagai anggapan yang menyatakan bahwa dengan banyaknya kegiatan yang dilakukan. di Ma’had juga terdapat unit pengembangan tahfizh yang beranggotakan para mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Diantaranya adalah: penciptaan lingkungan yang kondusif dengan . Skripsi. Ismi. Implikasi Hafalan Al-Qur’an Dalam Prestasi Belajar Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) (Studi Kasus di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang). kerena telah memenuhi beberapa hal yang mendukung keberhasilan menghafal Al-Qur’an. M. Kekuatan kultural tersebut. Adapun untuk data yang berupa angka (data kuantitatif). angket. H. Kegiatan menghafal Al-Qur’an yang dilakukan oleh mahasiswa ini merupakan suatu hal yang sangat memerlukan perhatian dan penanganan secara khusus. memiliki keahlian yang matang dan profesional dibidangnya masing-masing. peneliti menggunakan metode observasi. mengingat menghafal Al-Qur’an merupakan pekerjaan yang tidak mudah untuk dilakukan. Dalam proses pengumpulan data.

Dari rekapitulasi indeks prestasi komulatif mahasiswa tersebut. sebaliknya hafalan Al-Qur’an justru berimplikasi sangat baik bagi prestasi belajar mahasiswa. Prestasi Belajar .dikumpulkannya mahasiswa penghafal Al-Qur’an dalam satu unit asrama. Dari proses menghafal yang baik tersebut. adanya waktu yang digunakan mahasiswa untuk melestarikan hafalannya. sedangkan untuk matakuliah kegamaan Islam yang banyak berkaitan dengan ayat-ayat AlQur’an. adanya instruktur hafalan yang membimbing mahasiswa tersebut. kebiasaan menghafal Al-Qur’an membuat indera penglihatan dan pendengaran menjadi familiar terhadap ayat-ayat yang telah dihafal. Secara fisiologis. Hafalan mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam berimplikasi dalam prestasi belajarnya. serta adanya program evaluasi seperti kegiatan khatm Al-Qur’an tiap sepekan. Selain itu. Selain itu. serta menjaga tatakrama yang baik kepada lingkungan sosialnya. tes tahfizh tiap akhir semester. sehingga memudahkan siswa/mahasiswa untuk dapat menghafal pengetahuan lain selain Al-Qur’an. serta wisuda tahfizh yang diawali dengan tes tahfizh. hafalan Al-Qur’an mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam sangat membantu penguasaan materi matakuliah keagamaan Islam yang berhubungan dengan ayat-ayat Al-Qur’an. serta melatih sistem memori dalam otak untuk mengingat. Mereka berkomitmen untuk selalu berusaha memperbaiki tingkah lakunya. baik dalam lingkup ma’had maupun masyarakat sekitar kampus. aspek sikap keseharian mahasiswa penghafal Al-Qur’an ini juga lebih mencerminkan mahasiswa muslim dibandingkan mahasiswa lainnya. secara umum diketahui bahwa nilai rata-ratanya mencapai 3. Kata Kunci: Hafalan Al-Qur’an.64 (dengan pujian). Selain berprestasi yang baik dalam akademiknya. karena selain menghafalkan para mahasiswa tersebut juga berusaha memahami ayat-ayat yang dihafal. nilai mahasiswa tersebut juga baik. Secara psikologis. maka hafalan yang dihasilkanpun menjadi baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa aktivitas menghafal Al-Qur’an mahasiswa tidak menyebabkan prestasi belajarnya menurun. mereka juga selalu berusaha mengamalkan ilmunya dengan mengajarkan ilmu tentang Al-Qur’an yang mereka miliki kepada siapapun yang membutuhkannya. aktivitas menghafal Al-Qur’an menimbulkan efek ketenangan yang mendukung keberhasilan proses belajar.

Hal ini merupakan indikasi adanya pergeseran nilai-nilai esensial yang akan mengubah pola pikir dan pola hidup masyarakat menjadi konsumtif dan memuja gaya hidup hedonistik.BAB I PENDAHULUAN A. seks bebas. Dewasa ini masyarakat banyak menyoroti masalah kerusakan moral yang dialami oleh para remaja. peredaran dan pemakaian narkoba yang dilakukan oleh pelajar/mahasiswa. Maraknya tawuran antar pelajar/mahasiswa. dan penyimpangan-penyimpangan lain yang sangat ramai diberitakan oleh media massa. namun ada beberapa faktor yang menghambat keberhasilan sistem tersebut. Kondisi demikian ini sangat berpengaruh terhadap sistem dan proses pendidikan di sekolah dan di perguruan tinggi. Salah satu contohnya adalah ketergantungan masyarakat terhadap produk-produk teknologi modern yang semakin kuat. Pendidikan hanya difokuskan pada . Mereka berpendapat bahwa sebenarnya sistem pendidikan di Indonesia sudah baik. materialistik dan hura-hura. LATAR BELAKANG MASALAH Perkembangan zaman yang semakin cepat berpengaruh pada segala aspek kehidupan. Munculnya berbagai penemuan ilmiah di bidang sains dan teknologi turut mengiringi revolusi zaman yang semakin modern ini. Terhadap realita tersebut muncul berbagai tanggapan dan sinyalemen dari sebagian masyarakat yang mempermasalahkan pengembangan kepribadian mahasiswa di luar lingkup pendidikan formal.

khususnya yang bernafaskan Islam.bagaimana membentuk siswa/mahasiswa yang pandai dan memiliki keterampilan tertentu. Di satu sisi dituntut untuk mengembangkan iptek dengan segala konsekuensinya dalam menghadapi era globalisasi. memiliki keahlian yang matang dan profesional dibidangnya masing-masing. Pendidikan Agama Islam Upaya Pembentukan Pemikiran dan Kepribadian Muslim (Bandung: PT Remaja Rosda Karya. 2006). sementara aspek moralitas dan kejiwaannya kurang memadai. namun di sisi lain perguruan tinggi harus memikul tanggung jawab terhadap dampak negatif dari kemajuan iptek modern yaitu terjadinya dekadensi moral yang mengarah pada demoralisasi. Dalam menjalankan fungsi edukasinya. Kekuatan kultural yang dimaksud di Muhammad Alim.1 Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang merupakan salah satu Perguruan Tinggi Islam yang telah berhasil menggabungkan dua kekuatan dalam paradigma pendidikannya. Pengembangan ilmu akademik. Hal yang menjadi persoalan adalah bagaimana Perguruan Tinggi dapat memerankan fungsinya secara optimal dalam mewujudkan lulusan yang beriman dan bertaqwa. 1-3. memiliki kepribadian yang utuh. Hal ini berakibat terhadap fokus kepribadian siswa hanya dititikberatkan pada aspek perkembangan intelektual saja. Jawaban akan pertanyaan tersebut adalah tantangan bagi perguruan tinggi untuk memberikan pendidikan Agama Islam yang memadai bagi setiap mahasiswa sebagai pencerahan spiritual dalam rangka membangun nurani bangsa. yaitu kekuatan akademik dan kultural. dewasa ini perguruan tinggi dihadapkan pada dua persoalan yang dilematis. akan berhasil jika dikembangkan di atas kekuatan kultural. 1 . hlm. bahkan boleh jadi mengarah pada dehumanisasi.

Di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang juga terdapat unit pengembangan Tahfizh Al-Qur’an. yang beranggotakan mahasiswa dari berbagai tingkatan semester. Diantara komponen internal yang sangat penting adalah keberadaan Ma’had Sunan Ampel Al-Ali. baik dalam upaya pengembangan spiritual. Kegiatan menghafal Al-Qur’an yang dilakukan oleh mahasiswa ini merupakan suatu hal yang sangat memerlukan perhatian dan penanganan secara khusus. Diantara program yang diadakan oleh Ma’had Sunan Ampel Al-Ali adalah pengembangan bi’ah (lingkungan) berbahasa. mengingat menghafal Al-Qur’an merupakan pekerjaan yang tidak mudah untuk dilakukan. apalagi oleh mahasiswa yang memiliki disiplin keilmuan yang berbeda-beda. . Pendidikan Berparadigma Al-Qur’an (Malang: UIN Press. Selain itu. yaitu pesantren mahasiswa yang semua kurikulum pembelajarannya integral dengan kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. dalam menjalankan aktivitas menghafal Al-Qur’an dan kuliah memerlukan pengaturan waktu yang baik dan 2 Imam Suprayogo. yaitu dzikir. yang mewadahi berbagai kegiatan pengembangan akademik dan spiritual yang ada di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. pembelajaran kitab dan pembelajaran Al-Qur’an. fikir dan Amal sholeh. ilmu dan profesionalitas. 79.sini adalah berbagai komponen yang dapat mendukung terciptanya budaya kondusif. 2004). akhlak. yaitu pendidikan yang diharapkan dapat membentuk kepribadian mahasiswa yang mengedepankan tiga prinsip. Tujuan luhur ini dikuatkan atau didukung dengan komponen-komponen internal.2 Dalam paradigma pendidikannya Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang memiliki sebuah konsep “tarbiyah Ulul Albab”. hlm.

5 Al-Qur’an dan Terjemahnya.Ïe%#Ï9 tb#uäö•à)ø9$# $tR÷Žœ£o„ ô‰s)s9ur Artinya:“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran. Hal ini sangat bertolak belakang dengan karakteristik kitab suci Agama lain yang tidak mampu dihafal oleh pemeluknya. Tanjung Mas. 7-8. hlm. Al-Qur’an adalah kitab suci yang memiliki banyak keagungan dan kemujizatan. dan sebagian dari mereka adalah anak-anak kecil yang masih belum baligh. sesungguhnya Allah menetapkan dan menjaga kemurnian AlQur’an. 4 3 . Al-Qur’an juga memiliki banyak kelebihan. Cara Mudah Menghafal Al-Qur’an (Jateng: Insan Kamil. Op. hlm. Achmad Yaman Syamsudin. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Hijr (15:9): ): ÇÒÈ tbqÝàÏÿ»ptm: ¼çms9 $¯RÎ)ur t•ø. 391. setiap untaian kalimat yang indah dalam Al-Qur’an telah dijadikan Allah untuk mudah dihafal dan dipahami oleh para penghafalnya. hlm. 879. diantaranya adalah AlQur’an merupakan kitab yag mudah dihafal dan difahami. 1992). Kita sebagai umat Islam turut berbangga karena ada ribuan bahkan puluhan ribu umat Islam yang telah hafal Al-Qur’an.. Hal ini sesuai dengan Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Qamar (54:13): ÇÊÐÈ 9•Ï.tepat. maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” 3 Oleh karena itu.4 Dengan hafalan Al-Qur’an yang ada di hati para umat Islam penghafal AlQur’an inilah. dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya"5 Al-Qur’an dan Terjemahnya (Semarang: PT.£‰•B `ÏB ö@ygsù Ì•ø.Ïe%!$# $uZø9¨“tR ß`øtwU $¯RÎ) Artinya: "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran. Cit. sehingga Al-Qur’an yang telah dihafal dapat dilestarikan dengan baik dalam hati. 2007).

sang pemilik Kalam yang mulia. Dalam hal ini. Dalam perkuliahan Fakuktas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dengan adanya proses menghafal tersebut. terdapat dua jenis pengelompokan matakuliah. seorang Penghafal Al-Qur’an secara tidak langsung akan dapat memahami dan mengambil kandungan-kandungan ayat-ayat yang dibaca. ada beberapa mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI). di sisi lain ada keinginan untuk mempelajari. ia akan tertarik untuk mengetahui arti dan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an yang dihafalnya. seorang penghafal tidak hanya membaca dan berusaha menghafal di luar kepala. Setelah dapat membaca dengan baik dan benar. . Diantara para mahasiswa/mahasiswi yang menghafal Al-Qur’an tersebut. akan tetapi juga berusaha untuk menghayati dan mentadabburi bacaan yang telah dibaca dan dihafalnya. yaitu matakuliah kependidikan dan matakuliah keagamaan Islam. Para penghafal Al-Qur’an di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. seperti halnya hafizh-hafizhah yang lain. seseorang penghafal akan dapat membaca dengan lancar dan benar ayat-ayat yang telah dihafalkannya.Mahasiswa merupakan calon-calon intelektual yang memiliki tugas untuk mengembangkan keilmuan yang diminati. Keberadaan mahasiswa penghafal Al-Qur’an. memberikan penguatan kepada kita bahwa memang di sepanjang masa Al-Qur’an akan senatiasa dijaga dan dipelihara kemurniannya oleh Allah SWT. terdiri dari berbagai kalangan mahasiswa pada tingkatan semester dan jurusan yang berbeda. Dalam proses menghafal Al-Qur’an. menghafalkan dan mendalami Al-Qur’an.

ditemukan adanya implikasi (keterlibatan) hafalan Al-Qur’an mahasiswa dalam prestasi belajar mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam. karena pada dasarnya Al-Qur’an merupakan sumber dari hukum Islam yang utama. serta Ushul Fiqih. selain kemampuan memahami arti dan kandungan ayat-ayat tertentu. akhlak. Tafsir dan Hadits. B. memberi kontribusi yang sangat besar dalam membantu pemahamannya tentang beberapa mata kuliah tersebut. Dari latar belakang yang telah dipaparkan. Masail Fiqhiyah 1 & 2. Dalam proses pembelajaran matakuliah keagamaan Islam tersebut. Diantara matakuliah keagamaan Islam yang mengandung aspek-aspek tersebut adalah: studi Al-Qur’an. studi Fiqih. Dalam hal ini hafalan Al-Qur’an yang dimiliki oleh mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam. serta Tafsir Hadits 1 & 2. syariah dan muamalah. peneliti sangat tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul seperti tersebut di atas. banyak sekali materi yang bersentuhan secara langsung dengan ayat-ayat Al-Qur’an.Pada matakuliah keagamaan Islam. Dengan demikian. Pendidikan Agama Islam memiliki beberapa pokok kajian yang meliputi aqidah. maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut : . kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar merupakan kemampuan dasar yang sangat penting. RUMUSAN MASALAH Dari latar belakang masalah tersebut. sehingga berimplikasi pada peningkatan prestasi belajarnya.

MANFAAT PENELITIAN 1. Bagaimana pelaksanaan hafalan Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel AlAli UIN Maulana Malik Ibrahim Malang? 2. 2. Bagaimana aspek sikap keseharian mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Qur’an tersebut? C. Bagi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. 2. TUJUAN PENELITIAN 1. Bagi peneliti. menambah wawasan tentang implikasi hafalan Al-Qur’an dalam prestasi belajar mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI). . Mendeskripsikan pelaksanaan hafalan Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Apakah hafalan Al-Qur’an mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berimplikasi terhadap prestasi belajarnya? 3. 3.1. D. penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah keilmuan terutama bagi mahasiswa Fakultas Tarbiyah. Mendeskripsikan sikap keseharian mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Qur’an di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Mendeskripsikan implikasi hafalan Al-Qur’an dalam prestasi belajar mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Menghafal Al-Qur’an adalah proses mengingat Al-Qur’an di luar kepala dengan cara meresapkan dalam hati. 3. karena itulah penilaian/pengukuran prestasi ini tidak hanya dilihat dari indeks prestasi WJS. studi Fiqih. apa yang termasuk atau tersimpul. hlm. sesuatu yang disugestikan tetapi tidak dinyatakan. Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Penerbit Balai Pustaka. 3. 6 . agar selalu termotivasi dan Istiqomah dalam melestarikan hafalan Al-Qur’annya.sehingga menambah himmah untuk senantiasa melestarikan Kalamullah dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. serta Ushul Fiqih. Tafsir dan Hadits. Purwadarminta. 377. Tafsir Hadits I & II. 1976). agar timbul niat dan keinginan untuk menghafal dan mendalami Al-Qur’an.6 2. serta bagi Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada umumnya. Prestasi ini meliputi aspek kognitif. Implikasi adalah keterlibatan atau keadaan terlibat. maksudnya adalah out put dari aktivitas menghafal Al-Qur’an. Prestasi belajar mahasiswa adalah: hasil yang dicapai oleh mahasiswa Jurusan pendidikan Agama Islam (PAI) dalam belajarnya. Hafalan Al-Qur’an. DEFINISI OPERASIONAL 1. Bagi mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) yang menghafal Al-Qur’an. Masail Fiqhiyah I & II. E. dengan berbagai strategi dan metode tertentu. Adapun prestasi belajar yang dimaksud adalah prestasi belajar matakuliah keagamaan Islam yang berhubungan dengan ayat-ayat Al-Qur’an seperti studi Al-Qur’an. afektif (penghayatan) dan psikomotorik (sikap).

karena itulah perlu diketahui tentang bagaimana pelaksanaan hafalan Al-Qur’an tersebut. Hafalan Al-Qur’an yang baik ditentukan dari proses menghafal Al-Qur’an yang baik pula. RUANG LINGKUP DAN KETERBATASAN PENELITIAN Untuk menghindari pembahasan yang melebar dalam skripsi ini. sistematika pembahasan dalam skripsi ini dibagi dalam enam bab. G. yaitu: Bab pertama adalah pendahuluan. dalam hal ini penelitian dikhususkan pada mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) yang berada di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dari latar belakang tersebut. akan tetapi juga dari aspek sikap keseharian mahasiswa tersebut. Kegiatan menghafal di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dilakukan oleh para mahasiswa dari berbagai tingkatan semester. F. Dalam bab ini dijelaskan tentang latar belakang permasalahan yang menimbulkan keinginan peneliti untuk mengadakan penelitian tentang “implikasi hafalan Al-Qur’an dalam prestasi belajar mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang”. SISTEMATIKA PEMBAHASAN Untuk mendapatkan gambaran yang jelas dan menyeluruh. maka penulis membatasi permasalahan pada implikasi hafalan Al-Qur’an dalam prestasi belajar mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. kemudian .mahasiswa (IPK).

faktor yang mempengaruhi prestasi belajar. afektif dan psikomotorik. keutamaan menghafal Al-Qur’an. Bab ini meliputi deskripsi objek penelitian dan paparan hasil data penelitian. definisi operasional penelitian. Bab ketiga adalah metodologi penelitian. lokasi penelitian. Pembahasan tentang implikasi hafalan Al-Qur’an dalam prestasi belajar mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Bab keempat adalah laporan hasil penelitian. metode menghafal Al-Qur’an. manfaat penelitian. yang meliputi: pengertian tentang prestasi belajar. adab membaca dan menghafal Al-Qur’an. analisis data. yang meliputi: pengertian menghafal Al-Qur’an. metode pengumpulan data. ruang lingkup dan keterbatasan penelitian. Prestasi belajar mahasiswa. tujuan penelitian. Bab kedua adalah kajian pustaka. sehingga dapat diketahui bagaimana proses dan cara penelitian. kehadiran peneliti. dalam hal ini peneliti menyajikan berbagai data yang telah diperoleh dari penelitian. yang mengemukakan tentang metode dan strategi penelitian.ditentukan rumusan masalah. serta sistematika pembahasan. sumber data. melestarikan hafalan Al-Qur’an. serta tentang faktor-faktor yang mendukung keberhasilan menghafal Al-Qur’an. Dalam bab ini peneliti menguraikan berbagai teori tentang hafalan Al-Qur’an. evaluasi prestasi kognitif. dan pengecekan keabsahan data. Serta deskripsi tentang sikap keseharian mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Qur’an di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. .

Bab kelima adalah pembahasan hasil penelitian. serta deskripsi tentang sikap mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Qur’an tersebut. apakah hafalan Al-Qur’an berimplikasi terhadap prestasi belajar mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Qur’an. Dalam hal ini peneliti akan mengungkapkan bagaimana prosedur pelaksanaan hafalan Al-Qur’an di Ma’had sunan Ampel Al-Ali UIN Malang. . Bab keenam adalah penutup. yaitu dengan cara membahas hasil penelitian yang telah diperoleh dengan berbagai teori yang relevan dengan kajian penelitian. dalam bab ini kan dipaparkan tentang kesimpulan hasil penelitian dan saran.

menghafal adalah suatu metode yang digunakan untuk mengingat kembali sesuatu yang pernah dibaca secara benar seperti apa adanya. istilah menghafal disebut juga mencamkan dengan sengaja dan dikehendaki. artinya dengan sadar dan sungguh-sungguh mencamkan sesuatu. Dikatakan dengan sadar dan sungguh-sungguh.7 Menurut Zuhairini dan Ghofir. mengulang. yaitu mengulang secara individual guna menunjukkan perolehan hasil belajar tentang apa yang telah dipelajari. meresitasi. 1989). yakni memperhatikan bahan yang sedang dipelajari. d. baik dari segi tulisan. yaitu membaca dan atau mengikuti berulang-ulang apa yang diucapkan oleh pengajar. tanda bacannya dan syakalnya. yaitu ingatan yang telah dimiliki mengenai apa yang telah dipelajari yang bersifat permanen. hlm. 8 Zuhairini dan Abdul Ghofir. pengertian menghafal adalah berusaha meresapkan kedalam fikiran agar selalu ingat. Tinjauan Tentang Hafalan Al-Qur’an 1. yaitu kata “menghafal” dan “AlQur’an”. Dalam kamus besar bahasa indonesia. 291. Pengertian Menghafal Al-Qur’an Menghafal Al-Qur’an terdiri dari dua kata. antara lain: a. karena ada pula Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka.BAB II KAJIAN TEORI A. 2004). 7 . Ada empat langkah yang perlu dilakukan dalam menggunakan metode ini.8 Menurut Suryabrata. b. Metode tersebut banyak digunakan dalam usaha untuk menghafal Al-Qur’an dan Al-Hadits. retensi. c. merefleksi. hlm. 76. Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Malang: UM PRESS.

Dalam proses menghafal akan lebih efektif bila seseorang menyuarakan bacaannya. Menurut istilah ahli agama Islam. hlm. T. Pembagian waktu yang tepat dalam menambah hafalan. Al-Qur’an ialah “nama bagi kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. 2002). b. yaitu menghafal bagian-bagian yang sukar terlebih dahulu selanjutnya dipelajari dengan metode keseluruhan. hlm. yaitu: maqru’ (yang dibaca). perlu disebutkan pula tentang beberapa definisi Al-Qur’an. Hasbi Ash-Shiddieqy. 3. 2002 Cet-2). Kata Al-Qur’an diambil dari isim mashdar yang diartikan dengan arti isim maf’ul. menurut beliau. antara lain: 1) Metode keseluruhan/metode G (Ganzlern methode). yaitu menambah hafalan sedikit demi sedikit akan tetapi dilakukan secara kontinu. yang dinukilkan (dipindahkan) kepada kita dengan khabar Sumadi Suryabrata. hal-hal yang dapat membantu menghafal atau mencamkan antara lain: a. Sebagian ahli ushul juga mendefinisikan: Al-Kitab (Al-Qur’an) adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dengan bahasa Arab untuk diperhatikan dan diambil pelajaran oleh manusia. Psikologi Pendidikan (Jakarta: PT Raja Grafindo. yaitu metode menghafal dengan mengulang berkali-kali dari awal sampai akhir. Al-Qur’an menurut bahasa ialah bacaan atau yang dibaca. 10 9 . Menggunakan metode yang tepat dalam menghafal.M. yang ditulis dalam mushaf. Sejarah & Pengantar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra. 2) Metode bagian/metode T (Teilern methode). dan 3) Metode campuran/metode V (vermittelendelern). artinya tidak membaca dalam hati saja.mencamkan yang tidak disengaja dalam memperoleh suatu pengetahuan. c. dan beribadat bagi yang membacanya”.9 Setelah menyebutkan tentang beberapa definisi menghafal. Menyuarakan dalam menghafal. 45. yaitu menghafal bagian demi bagian sesuatu yang dihafalkan.”10 Definisi Al-Qur’an menurut sebagian Ulama ahli ushul adalah: “firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang bersifat mukjizat (melemahkan) dengan sebuah surat dari padanya.

Tanpa Tahun). dan barangsiapa yang berpaling darinya Moenawar Chalil.mutawatir. maka ia berbicara dengan benar. dapat disimpulkan bahwa menghafal AlQur’an merupakan usaha dengan sadar dan sungguh-sungguh yang dilakukan . petunjuk bagi seluruh umat manusia. dengan menggunakan metode dan strategi tertentu. barangsiapa yang mengamalkannya. yang tertulis dalam lembaran-lembaran. 15. hlm. 179. Keutamaan Menghafal Al-Qur’an. dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat AnNậs12 Dari beberapa definisi tersebut. Tafsir Al-Munir Fil Aqidah Wa Syariah Wal Minhaj (Damaskus: Darul Fikr. untuk mengingat-ingat dan meresapkan bacaan kitab suci Al-Qur’an yang mengandung mukjizat kedalam fikiran agar selalu ingat. barangsiapa yang berpegang teguh padanya. Barangsiapa yang berkata dengannya (Al-Qur’an). maka ia akan mendapat pahala. barangsiapa yang menyeru padanya maka ia telah ditunjukkan pada jalan yang lurus. yang dipindahkan dengan mutawatir. 12 Wahbah Al-Zuhaili. yang ditulis dalam mushaf.11 Dalam Tafsir Al-Munir. Wahbah Al-Zuhaili mendefinisikan pengertian AlQur’an sebagai berikut: Al-Qur’an adalah kitab Allah yang melemahkan. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan lafad bahasa Arab. Kembali Kepada Al-Qur’an dan Al-Sunnah (Jakarta: Bulan Bintang. maka ia telah berpegang pada tali Agama yang kokoh. membacanya dianggap Ibadah. dimulai dengan surat Al-Fatihah dan disudahi dengan surat An-Nậs”. 2007 ). 11 . hlm. 2. Al-Qur’an adalah kitab suci Agama Islam yang abadi.

. Hal yang demikian itu adalah karunia yang amat besar”16 Banyak Hadits Rasulullah SAW yang mendorong untuk menghafal Al- Qur’an atau membacanya di luar kepala. 15 Ahsin W. 13 . Op. surat Ibrahim (14:1): Í“ƒÍ“yèø9$# ÅÞºuŽÅÀ 4’n<Î) óOÎgÎn/u‘ ÈbøŒÎ*Î/ Í‘q–Y9$# ’n<Î) ÏM»yJè=—à9$# z`ÏB }¨$¨Z9$# ylÌ•÷‚çGÏ9 y7ø‹s9Î) çm»oYø9t“Rr& ë=»tGÅ2 4 •!9# ÇÊÈ Ï‰‹ÏJptø:$# Artinya: “Alif. 700-701. Orang-orang yang mempelajari. 16 Al-Qur’an dan Terjemahnya. 14 Al-Qur’an dan Terjemahnya. Bimbingan Praktis Menghafal Al-Qur’an (Jakarta: PT Bumi Aksara. (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha perkasa lagi Maha terpuji” 14 Menghafal Al-Qur’an merupakan suatu perbuatan yang sangat terpuji dan mulia. hlm. 264. Banyak sekali hadits-hadits Rasulullah yang menerangkan tentang hal tersebut.Î/$y™ Artinya: “kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih diantara hamba-hamba kami.13 Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an. hlm.dan mencari petunjuk selainnya. 2009).15 Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Fathir (35:32): öNåk÷]ÏBur Ó‰ÅÁtFø)•B Nåk÷]ÏBur ¾ÏmÅ¡øÿuZÏj9 ÒOÏ9$sß óOßg÷YÏJsù ( $tRÏŠ$t7Ïã ô`ÏB $uZøŠxÿsÜô¹$# tûïÏ%©!$# |=»tGÅ3ø9$# $uZøOu‘÷rr& §NèO ÇÌËÈ çŽ•Î7x6ø9$# ã@ôÒxÿø9$# uqèd š•Ï9ºsŒ 4 «!$# ÈbøŒÎ*Î/ ÏNºuŽö•y‚ø9$$Î/ 7. lalu diantara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan diantara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. sehingga hati seorang muslim tidak Ahmad Salim Badwilan. laam raa (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka. 2005). 26. Al-Hafizh.. hlm. maka ia sangatlah sesat. Op. hlm. Cit. membaca dan menghafal Al-Qur’an merupakan orang-orang pilihan yang memang dipilih oleh Allah untuk menerima warisan kitab suci Al-Qur’an. Cit. 379. Panduan Cepat Menghafal Al-Qur’an (Jogjakarta: Diva Press.

da akl fa g ha u ayn di uat na s l gi se ba Rasulullah SAW bersabda:“Pelajarilah Al-Qur’an dan bacalah.. sesungguhnya perumpamaan orang yang mempelajari Al-Qur’an dan membacanya adalah Global Islamic Software Compani. Sunan Tirmidzi (Mausuat Al-Hadits Al-Syarif: 2000). no. Rasulullah SAW telah bersabda: "Sesungguhnya orang yang tidak mempunyai hafalan Al-Qur’an sedikitpun adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh” 18 Rasulullah SAW memberikan penghormatan kepada orang yang mempunyai keahlian dalam membaca Al-Qur’an dan menghafalkannya. 19 Global Islamic Software Compani.t Ra resbu r et atn me gar ko ne nd ”a.” mendengar komentar tersebut. 191. Op. kemudian orang yang paling banyak hafalannya ditugaskan oleh beliau untuk menjadi ketua rombongan (pemimpin). Rasulullah mengecek kemampuan membaca Al-Qur’an dan hafalan mereka. salah seorang sahabat berkata: “Demi Allah. Berinteraksi dengan Al-Qur’an. 2837. hlm. Beliau memberitahukan kedudukan mereka dan mengedepankan mereka dibandingkan orang lain. 17 . 1999). m yin n si ka al gma en n n. Rasulullah SAW bersabda: r èë åâ :ß bda ars W be alh SA lu su . me yn n i ak is al ma ng e ac Al mb am e an ld li h ea åèë :âß ad ab rs W be hal SA ul . diceritakan bahwa suatu hari Rasulullah mengutus satu utusan yang terdiri dari beberapa orang. Hal ini sebagaima tersebut dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas secara marfu’: ëåè Ók’:a ßâ fu a mr ar s c ba se u Ab n h Ib ak ole at wyia gn r s ya di m dti la H t da ebu s er it il ne nra pe di ha . Sunan Ibnu Majah: 213. Terj. sau tu R eb sre rat en ar kmo gn de ” en a. 18 Yusuf Qardhawi. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh. Mengetahui keadaan tersebut. Cit. Abdul Hayiee Al-Kattani (Jakarta: Gema Insani Press.kosong dari ayat-ayat Al-Qur’an dan mengingat Allah SWT.na ke ti li i ne 17tage p t r Artinya: Dan dari Ibnu Abbas RA berkata. aku tidak mempelajari dan menghafal surat Al-Baqoroh semata-mata karena aku takut tidak dapat mengamalkan isinya.

Op. Cit. Op. kemudian AlQur’an akan berkata. Sunan Abu Daud: 1241. Dalam hadits disebutkan. bha ah AR ri i u ra . Al-Qur’an kembali meminta.na rd A tk seub ts di di am h al 0 PpÀA. dan barangsiapa yang mempelajarinya kemudian ia tidur dan di dalam hatinya terdapat hafalan Al-Qur’an. adalah seperti tempat air yang tertutup dan berisi minyak misik” 20 Kemuliaaan penghafal Al-Qur’an tidak hanya terbatas di dunia saja. 193 23 Global Islamic Software Compani. dari Abu Hurairah RA. Allah menambahkan pada setiap ayat yang dibacanya nikmat dan kebaikan” 22 Balasan Allah SWT di akhirat tidak hanya bagi para penghafal dan ahli AlQur’an saja. Global Islamic Software Compani. ba air ra i ub H . nya lk fa gah en na d m r’ 9 u èåë ßâ :a db W Ía ah SA lu ul aw s h Ra AR. . Op. bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga). Cit. kemudian Al-Qur’an memohon lagi.. harumnya menyebar kemana-mana.Op. 192. dan ia dapat memberikan sebagian cahaya itu kepadanya dengan berkah AlQur’an. hlm. wahai Tuhanku pakaikanlah pakaian untuknya. Cit. Cit. Dalam Hadits disebutkan: • r 9 Q ëè âåakh Í Ón ßÜre gan b a nde ny da ap ay tiu ke n hac ia ag na bse ki ber ta me ia dp an r Q9 ëèå â Üß akh Í Ón n bre ga a ne ny d u ad it kpea hy na ca gi ab nka es ri meb t me pa an ia d tu ay i hca ian ag n b lka se ir be atnm pad me ia t lA ua su *a 20 21 Yusuf Qardhawi. hlm. 0@ •ÿ 0p° p P0ÿ§³ °•:ô w’óÿ kGS_Ûç .ÃÏ #/ Dari Nabi SAW:“Al-Qur’an akan datang pada hari qiamat. ar bA H an d tk eub is ts d di am h al a.. di akhirat kelak seorang penghafal Al-Qur’an mendapatkan beberapa kemuliaan dari Allah SWT. maka diperintahkan kepada orang itu.. Allah SWT pun meridoinya. wahai Tuhanku. namun cahaya kemuliaannya juga menyentuh kedua orang tuanya. kemudian orang itu dipakaikan mahkota karomah (kehormatan).. lalu orang itu dipakaikan jubah karomah. bahwa Rasulullah SAW bersabda: r 9 åèë :âaß db h WA Ía l S ul slu wa Ra . “ wahai Tuhanku tambahkanlah. Sunan Tirmidzi: 2839 22 Yusuf Qardhawi.seperti tempat air yang penuh dengan minyak wangi misik. ridoilah dia.

dan mengamalkannya. Global Islamic Software Compani. Penghafal Al-Qur’an akan mendapatkan fasilitas khusus dari Allah... l aH ya Da knal am ng n me iam da ah em n a ka tah rni e em n: atk bu s e it d am d l Ha . Cit. hlm. Op. 193. maka dipakaikan kepada orang tuanya mahkota dari cahaya pada hari kiamat. antara lain: 1) Al-Qur’an sebagai pemberi syafa’at pada hari kiamat bagi yang membaca. akan bersama malaikat yang selalu melindunginya dan mengajak kepada kebaikan. dijawab. 26 Yusuf Qardhawi. “karena kalian memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al-Qur’an”24 Mengenai keutamaan menghafal Al-Qur’an ini. Op. 24 25 Yusuf Qardhawi. Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Tibyan Fi Adabi Hamalati Al-Qur’an menyebutkan ada beberapa keutamaan. mempelajarinya. Cit. saya mendengar Rasulullah SAW bersabda. hlm. Keduaanya lalu bertanya. Dalam Hadits disebutkan: ”an ki n ëeba t da èåâk im ka ß an ÙÜ hk ta rni em n: ak ut be s id am dit . . Al-Qur’an menjadi Hujjah atau pembela bagi pembacanya dan sebagai pelindung dari adzab api neraka. Op. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Cit. Shohih Muslim:1337.Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:“Barangsiapa yang membaca AlQur’an. “bacalah Al-Qur’an. 226. memahami dan mengamalkannya.ay Da n lak am _ n ga i da em a ha em Abu Umamah Al-Bahili berkata kepadaku. pahala yang besar serta penghormatan diantara sesama manusia. yaitu terkabulnya segala harapan tanpa harus memohon/berdoa. Pembaca Al-Qur’an khususnya penghafal Al-Qur’an yang kualitas dan kuantitas bacaannya lebih tinggi. maka sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat nanti sebagai pemberi syafaat kepada pemiliknya (pembacanya)” 26 2) Para penghafal Al-Qur’an telah dijanjikan derajat yang tinggi di sisi Allah SWT.. “mengapa kami dipakaikan jubah ini?”.

Op. maka ia akan mendapatkan satu kebaikan.29 Selain beberapa keutamaan menghafal Al-Qur’an yang telah diuraikan di atas. hlm. menurut Syamsudin. hlm.ho da ba ng ok li gAam y dta ap ng Rasulullah SAW bersabda:“barangsiapa yang membaca satu huruf dari AlQur’an. 27 28 Global Islamic Software Compani . Cit. Aku tidak mengatakan ‫ اﻟﻢ‬satu huruf. serta dapat membantunya dalam mengeluarkan dalil-dalil dari ayatayat Al-Qur’an dengan cepat. Yusuf Qardhawi. Op. 2912.. 29 Abi Zakariya Yahya An-Nawawi. hal ini menjadikan hidupnya penuh barokah dan memposisikannya sebagai insan kamil.Penghafal Al-Qur’an berpotensi untuk mendapatkan pahala yang banyak karena seringnya membaca dan mengkaji Al-Qur’an. Op. Cit. . lalu satu kebaikan itu akan dilipatgandakan sepuluh kali... 226. 11-16. Cit. Dalam hadits disebutkan: 9$ Q ë åè âß Ðk ÜÙ Äa n h t eei u•‘ ak yn ng ba la y ah an pa tk ap nd uk me t ins un et po r be g abn an al y nah ak p apt dna k me Ç# ut sin un toe rp be lfa ahg a en syun p u kh g na n r . ketika menjelaskan atau membuktikan suatu permasalahan. tetapi‫ ا‬satu huruf dan ‫ ل‬satu huruf ‫ م‬satu huruf” 28 Para penghafal Al-Qur’an diprioritaskan untuk menjadi imam dalam sholat 8) Penghafal Al-Qur’an menghabiskan sebagaian besar waktunya untuk mempelajari dan mengajarkan sesuatu yang bermanfaat dan bernilai ibadah. Hafalan Al-Qur’an membuat orang dapat berbicara dengan fasih dan benar. Sunan Tirmidzi. ada beberapa keutamaan dalam menghafal Al-Qur’an antara lain: 1).

30 Dengan demikian tidak diragukan lagi bahwa kemuliaan menghafal Al-Qur’an tidak hanya sebatas di dunia. hlm. Dengan hafalan yang terlatih. 3. Membaca Al-Qur’an merupakan salah satu bentuk komunikasi manusia kepada Allah. karena Allah memberikan karunia Nya lantaran ia mau menjaga kalam Allah dan mencintai Nya. Adab Menghafal Al-Qur’an Aktivitas menghafal Al-Qur’an diawali dengan membaca secara berulangulang ayat-ayat yang akan dihafalkan. maka akan menjadikan seseorang mudah dalam menghafal hal-hal lain di luar Al-Qur’an. baik batin maupun zhahir. Op. Dengan izin Allah. oleh karena itu dalam membaca Al-Qur’an harus menggunakan beberapa tata krama. diantaranya adalah sebelum membaca Al-Qur’an seseorang 30 Achmad Yaman Syamsudin.. sampai mendapatkan gambaran dalam fikiran tentang ayat-ayat yang dihafalkan tersebut. . Dengan adanya Hadits-Hadits tersebut seorang pembaca dan penghafal Al-Qur’an seharusnya bisa lebih termotivasi dalam mengkaji. sampai di akhiratpun kemuliaan itu akan terus terpancar pada para penghafal Al-Qur’an serta kedua orang tuanya. 35-36.2). seorang siswa menjadi lebih unggul dari temantemannya yang lain di kelas. Menurut Imam Nawawi ada tatakrama batin yang harus diperhatikan oleh pembaca Al-Qur’an. Cit. Menguatkan daya nalar dan ingatan. 3). Keutamaan dan kemuliaan itu merupakan karunia Allah yang akan diberikan kepada hambahamba yang dikehendaki-Nya. memahami dan melestarikan hafalannya.

Disunnahkan membaca Al-Qur’an dengan tartil. Disunnahkan menggosok gigi terlebih dahulu sebelum memulai membaca Al-Qur’an. Disunnahkan membaca istiậdzah (ta’awudz) sebelum memulai membaca Al-Qur’an. 57. agar dapat menganganangankan ayat-ayat yang sedang dibaca. agar mulut menjadi suci dan bersih. 6). 31 Abi Zakariya Yahya An-Nawawi.31 Selain tatakrama batin. Op. tenang serta menundukkan kepala. Disunnahkan untuk mensucikan diri dari hadast besar dan kecil terlebih dahulu. Disunnahkan membaca Al-Qur’an di tempat yang bersih. karena membaca Al-Qur’an merupakan dzikrullậh yang paling utama. hlm. 3).. diantaranya: 1). 4). Cit. 5). Hendaknya membaca basmalah pada setiap permulaan surat kecuali permulaan surat At-Taubah.harus menanamkan dalam hatinya niat yang ikhlas karena Allah. menurut Al-Maliki ada beberapa tatakrama zhahir dalam membaca Al-Qur’an yang juga harus diperhatikan. yaitu dengan menghadirkan perasaan bermunajat kepada Allah. 2). serta hendaklah ia membaca Al-Qur’an seakan-akan ia melihat Allah. . 7). adapun tempat yang paling utama adalah di masjid. Disunnahkan duduk dengan menghadap kiblat dalam keadaan khusyu’. (walaupun ia tidak melihat Allah) maka sesungguhnya Allah melihatnya.

32 Dalam redaksi yang lain. karena itulah tujuan yang agung dan penting dalam membaca Al-Qur’an. 1986). Demikian pula apabila membaca di luar shalat dengan bahasa selain arab (terjemah). 11). apabila tidak bisa maka hendaknya diusahakan untuk menangis. maka sholatnya tidak sah. Disunnahkan membaca Al-Qur’an itu disertai dengan menangis apabila ada ayat yang menerangkan tentang pedihnya adzab. tetapi dengan bahasa indonesia (terjemah). An-Nawawi menambahkan ada beberapa adab dalam membaca Al-Qur’an. Hal ini karena mengingat pahala membaca Al-Qur’an adalah dari melafadkan huruf-huruf arab yang terangkai dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Misalnya apabila seseorang membaca surat Al-Fatihah di dalam sholat.8). hlm. 32 . karena membaca dengan suara yang keras lebih utama dan dapat menimbulkan semangat bagi pembacanya. Muhammad Bin Alwi Al-Maliki. 10). Disunnahkan membaca Al-Qur’an dengan memikirkan maksud ayat dan berusaha memahaminya. 43-49. baik di dalam sholat maupun di luar sholat. antara lain: 1). apabila tidak bisa maka hendaknya tetap menjaga bacaan itu sesuai dengan ilmu tajwid. Dalam membaca Al-Qur’an tidak boleh menggunakan bahasa selain Arab. Zubdatul Itqan Fi Ulumil Qur’an (Jeddah: Dar Al-Syuruq. maka seseorang tidak mendapatkan pahala membaca Al-Qur’an. 9). Disunnahkan membaca Al-Qur’an dengan suara yang jelas (keras). Disunnahkan memperindah suara dalam membaca Al-Qur’an.

Metode tahfizh adalah menghafal materi baru yang belum pernah dihafal. ada beberapa metode yang dapat membantu para penghafal mengurangi kepayahan dalam menghafal Al-Qur’an. umumnya para penghafal Al-Qur’an menggunakan perpaduan antara metode tahfizh (menambah hafalan) dan metode takrir (mengulang hafalan). Menurut Al-Hafizh. Kedua metode ini pada dasarnya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. akan membantu seorang penghafal Al-Qur’an untuk dapat menghafal Al-Qur’an dengan baik dan cepat. Metode Menghafal Al-Qur’an Metode merupakan cara untuk mencapai maksud yang diinginkan. sedangkan metode takrir adalah mengulang hafalan yang sudah diperdengarkan pada instruktur. 34 33 . Op. Tata Cara Problematika Menghafal Al-Qur’an dan Petunjuk-Petunjuknya.33 4. hlm. Sebagaimana dikutip Oleh Ainul Aisiyah. 75. Cit. Dalam proses menghafal Al-Qur’an.2). akan lebih terperinci dijelaskan selanjutnya.34 Dalam proses menghafal Al-Qur’an.. 2002). 16. karena dengan menyeimbangkan keduanya. peran metode meghafal sangat besar untuk mendukung keberhasilan hafalan. Menurut Zen. yaitu metode tahfizh dan takrir. Adapun secara lebih spesifik. Muhaimin Zen. metode menghafal dalam prakteknya. Diperbolehkan membaca Al-Qur’an dengan menggunakan Qira’at tujuh (qirậ’at al-sab’ah) yang telah disepakati oleh para Ulama ahli Qira’ah. Diantara metode itu adalah: Abi Zakariya Yahya An-Nawawi. hlm. secara umum metode yang dipakai dalam menghafal Al-Qur’an ada dua macam. Penggunaan metode yang tepat. kuantitas dan kualitas hafalan akan dapat terjaga dengan baik. Pengaruh Program Menghafal Al-Qur’an Terhadap Prestasi Belajar Siswa (Skripsi: Fakultas tarbiyah UIN Malang.

kemudian diulang-ulang sampai benar-benar hafal. yaitu menghafal satu persatu ayat yang akan dihafal. Metode ini sangat cocok untuk anak tunanetra dan anak kecil yang belum mengenal baca tulis. Pada metode ini penghafal mendengarkan lebih dulu ayat-ayat yang akan dihafalkannya untuk kemudian berusaha diingatingat. Metode Wahdah. Metode Kitậbah (menulis). Untuk mencapai hafalan awal. kemudian dibaca dengan baik dan mulai dihafal. Metode ini memberikan alternatif lain dari metode yang pertama. Setelah benar-benar hafal barulah dilanjutkan pada ayat seterusnya hingga mencapai satu halaman. Metode ini bisa dilakukan dengan mendengar 35 Ahsin W. . Al-Hafizh. tahap berikutnya adalah menghafal urutan-urutan ayat dalam satu halaman tersebut. 63-64. Cit.. Op. Metode Simậi (mendengar) Perbedaan metode ini dengan metode yang lain adalah pada pemaksimalan fungsi indera pendengar.35 3. untuk kemudian membentuk gerak reflek dari lisan. setiap ayat hendaknya dibaca sebanyak sepuluh kali atau lebih hingga proses ini mampu membentuk pola dalam bayangan. penghafal lebih dulu menulis ayat dalam secarik kertas. Setelah ayat-ayat dalam satu halaman dihafal. Dengan begitu seorang akan dapat menghafal karena ia dapat memahami bentukbentuk huruf dengan baik dan mengingatnya dalam hati. 2.1. Pada metode ini. Adapun menghafalnya bisa dengan metode wahdah. hlm. atau dengan berkali-kali menulisnya.

Metode Gabungan. Tharỉqatu takrỉru al-qirậ’atu al-juz’i. hlm. Akan tetapi pada metode gabungan ini. Metode ini merupakan gabungan antara metode pertama dengan metode yang kedua.bacaan dari guru. Cit. yaitu wahdah dan kitabah. dipimpin oleh seorang instruktur.. 5. Metode Jama’ (kolektif). 64-66. Metode ini menggunakan pendekatan menghafal Al-Qur’an secara kolektif. atau dari rekaman bacaan Al-Qur’an (murattal AlQur’an). yaitu: membaca ayat-ayat yang telah dihafal secara bersamasama. yaitu: dalam hal ini seorang penghafal Al-Qur’an sebelumnya membaca Al-Qur’an secara binnadzar (melihat) dengan bimbingan seorang instruktur. kemudian sampai ia khatam beberapa kali barulah ia memulai untuk menghafal. 4. penghafal berusaha untuk menghafalkan dahulu baru kemudian menuliskan apa yang telah ia hafal dalam kertas. Ulum menyebutkan ada beberapa metode yang digunakan untuk menghafal Al-Qur’an: 1. Op.36 Dalam redaksi yang lain. 2. Al-Hafizh. kemudian diulang-ulang mulai ayat pertama sampai seterusnya. yaitu: membaca ayat-ayat yang akan dihafal secara berulang-ulang sampai penghafal menemukan bayangan dalam fikiran mengenai ayat tersebut. . 36 Ahsin W. Tharỉqatu takrỉru al-qirậ’atu al-kulli.

dzuhur menghafal seperempat juz berikutnya dan seterusnya. Pada metode ini. Tharỉqatu al-tadabburi. Dalam metode ini. 136-139. 2007). sehingga diharapkan ketika membaca ayat-ayat Al-Qur’an dapat tergambar makna-makna lafdiah yang terucap (terbaca). yaitu metode mengangan-angankan makna. para penghafal AlQur’an bisa memilih dan menggunakan salah satunya. Samsul Ulum. yaitu metode bertahap. seorang penghafal Al-Qur’an menghafal dengan cara memperhatikan makna lafad/kalimat. 5. 37 . Tharỉqatu al-jumlah. Menangkap Cahaya Al-Qur’an (Malang: UIN Malang Press. Penggunaan metode menghafal tersebut bisa diterapkan pada proses M. Misalnya: subuh menghafal seperempat juz. yaitu: menghafal rangkaian-rangkaian kalimat yang terdapat dalam setiap ayat Al-Qur’an. Tharỉqatu al-tadrỉjy.3. Metode ini sangat efektif bagi seseorang yang telah memiliki kemampuan bahasa arab yang baik. hlm. Seorang penghafal memulai hafalannya dengan menghafal perkalimat untuk kemudian dirangkaikan menjadi satu ayat yang utuh. namun dapat juga digunakan bagi orang sedikit mengetahui bahasa arab dengan bantuan kitab terjemah Al-Qur’an.37 Dari beberapa metode menghafal yang telah dijelaskan. 4. ataupun menggabungkan beberapa metode yang dianggap sesuai untuk mencapai keberhasilan menghafal Al-Qur’an. seorang penghafal dalam menargetkan hafalannya tidak secara sekaligus. akan tetapi sedikit-demi sedikit dalam waktu yang berbeda.

Kerusakan item informasi tersebut mungkin disebabkan karena tenggang waktu antara saat diserapnya informasi 38 Muhibbin Syah. tetapi terlalu lemah untuk dipanggil kembali (lupa). maka item informasi yang tersimpan pun baik. Psikologi Belajar (Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu. Akan tetapi apabila item informasi yang diserap rusak sebelum masuk ke memori permanen siswa. Informasi ini kemudian masuk kedalam memori jangka pendek (short term memory/working memory) siswa dan dikodekan (encoding). informasi kemudian masuk dan tersimpan dalam memori jangka panjang/permanen (long term memory permanent memory). Melestarikan Hafalan Al-Qur’an Al-Qur’an yang telah berusaha dihafal oleh kaum muslimin harus tetap dijaga dan dilestarikan dengan baik dalam ingatannya.menghafal Al-Qur’an. 38 Apabila proses penerimaan informasi berlangsung dengan sempurna. 5. Menghafal Al-Qur’an pada dasarnya berlangsung sejalan dengan psikologi proses mengingat. karena banyak alternatif metode yang bisa dipilih oleh para penghafal Al-Qur’an. dengan demikian diharapkan aktivitas menghafal Al-Qur’an menjadi tidak membosankan. hlm. . 1999). maka item yang rusak tersebut tidak hilang dan tetap diproses dalam memori siswa tersebut. Berdasarkan pemaparan tersebut diketahui bahwa metode yang ditawarkan amat beragam. 67. Setelah selesai proses pengkodean tersebut. dimana terjadi sebuah proses penerimaan informasi melalui indera penglihatan atau pendengaran siswa. baik pada tahfizh (menambah hafalan) dan takrir (mengulang hafalan).

yaitu (1) proaktive interverence. materi pelajaran lama akan sangat sulit diingat oleh siswa (siswa lupa terhadap materi yang lama tersebut).. 39 Ibid. hlm. . Peristiwa ini bisa terjadi apabila siswa tersebut mempelajari sebuah materi pelajaran yang sangat mirip dengan materi pelajaran yang telah dikuasainya dalam tenggang waktu yang pendek. Dalam hal ini. ada beberapa faktor penyebab lupa antara lain: a. Seorang siswa akan mengalami gangguan proaktif apabila materi pelajaran lama yang sudah tersimpan dalam subsistem akal permanennya mengganggu masuknya materi pelajaran baru. Dalam interference theory (teori mengenai gangguan). dan (2) retroactive interverence. Dalam hal ini.dengan saat pengkodean dan transformasi dalam memori jangka panjang siswa tersebut. lupa yang terjadi karena gangguan konflik antara item informasi atau materi yang ada dalam sistem memori siswa. materi yang baru saja dipelajari akan sangat sulit diingat atau diproduksi kembali. 39 Menurut Muhibbin Syah dengan menghimpun pendapat dari berbagai sumber dalam bukunya. 154. seorang siswa mengalami gangguan retroaktif apabila materi pelajaran baru membawa konflik dan gangguan terhadap pemanggilan kembali materi pelajaran lama yang telah lebih dulu tersimpan dalam subsistem akal permanen siswa tersebut. Sebaliknya. gangguan konflik terbagi menjadi dua.

hlm. d. lupa karena perubahan situasi lingkungan antara waktu belajar dengan waktu mengingat kembali. Oleh karena itulah. 152-154. e. . Selain itu. f. ayat-ayat yang dihafalkan oleh para penghafal bisa tersimpan dalam memori jangka pendek maupun memori jangka panjang. Contohnya. lupa yang terjadi karena adanya tekanan terhadap item informasi yang telah ada.40 Dalam proses menghafal Al-Qur’an. serta keseimbangan antara tahfizh (penambahan hafalan) dan takrir (pengulangan hafalan). lupa karena terjadi perubahan urat syaraf otak.. lupa karena perubahan sikap dan minat siswa terhadap proses dan situasi belajar tertentu. karena sistem informasi itu tertekan kedalam alam bawah sadar dengan sendirinya (lupa dengan sendirinya) karena tidak pernah dipergunakan. sehingga siswa akan dengan sengaja melupakan dan menekannya kedalam alam bawah sadar. atau bisa juga tidak tersimpan.b. perlu adanya upaya untuk melestarikan hafalan yang telah dimiliki oleh seorang penghafal Al-Qur’an. apabila item informasi yang diterima oleh siswa kurang menyenangkan. c. 40 Ibid. baik disengaja maupun tidak. Hal ini tergantung pada intensitas pengulangan yang dilakukan. lupa karena materi pelajaran yang telah dikuasi tidak pernah digunakan atau dihafalkan oleh siswa.

Amin Hasibuan (Solo: Aqwam. ada beberapa strategi untuk melestarikan (memelihara) hafalan Al-Qur’an. maka sang Guru memberikan nasehat kepada Imam Syafi’i agar melakukan intropeksi diri dan mengingat-ingat dosa yang pernah dilakukan. terj. hlm. Sarwedi M. Seorang penghafal Al-Qur’an hendaknya berusaha untuk bisa mengkhatamkan bacaannya dalam jangka sebulan. atau apabila kurang dari sebulan itu lebih baik. Selain menjauhi perbuatan dosa. 71. baik sholat fardhu maupun sholat sunah. 2007). sehingga ia bisa rutin melakukan pengulangan hafalan. Cara Cerdas Hafal Al-Qur’an. diharapkan hafalan yang mulanya berada dalam memori jangka pendek bisa menetap dalam memori jangka panjang/permanen. 41 .Menurut As-Sirjani dan Abdul Kholiq. seorang penghafal Al-Qur’an harus menghindari segala hal yang syubhat (meragukan). karena saat itu konsentrasi bisa difokuskan Raghib As-Sirjani dan Abdurrahman Abdul Kholiq. antara lain: 1) Menjauhi perbuatan maksiat. Dengan mengulang-ulang secara teratur dan istiqomah. Seorang penghafal Al-Qur’an harus berusaha untuk menjauhi segala bentuk kemaksiatan dan dosa serta menjaga dirinya dari agar tidak terjerumus kedalamnya. Sejarah telah mencatat ketika Imam Syafi’i yang terkenal kuat hafalannya mengadukan kepada gurunya Waqi’ perihal hafalannya yang agak tersendat. Pengulangan yang paling efektif dilakukan dalam sholat. Seorang penghafal Al-Qur’an harus memiliki waktu khusus untuk mengulang hafalannya. Cara mengulang-ulang hafalan Al-Qur’an tidak harus dilakukan monoton dengan duduk.41 2) Mengulang-ulang dengan teratur.

sekarang ini mulai banyak bermunculan Radio dakwah Islam yang program/acaranya didominasi oleh bacaan Al-Qur’an dari imam-imam Qiro’ah yang masyhur. penghafal Al-Qur’an juga dapat mengulang hafalannya dengan cara mendengarkan bacaan/hafalan penghafal lain. bisa membantu menguatkan daya ingat. Dengan demikian kapanpun dan di manapun para pengafal bisa saja mengulang-ulang hafalannya dengan batuan berbagai media elektronik tersebut. . akan membantu penghafal dalam melekatkan hafalannya dalam pikiran. 3) Memahami makna yang terkandung dalam Al-Qur’an Memahami makna yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Selain mengulang-ulang hafalan dengan membacanya secara teratur.. As-Syuraim. 42 Ibid. sehingga siapapun dapat mendengarkan bacaan tartil Al-Qur’an (murattal) dari imam-imam Qiro’ah yang masyhur seperti Syeikh Abdurrahman As-Sudais. hlm. Syeikh Hani Ar-Rifa’i dan lain sebagainya melalui kaset atau MP3 player. 79-84. Mendengarkan bacaan Al-Qur’an dengan rutin dan sering. Seorang penghafal yang memahami makna dan kandungan ayat yang akan dihafal. akan lebih mudah dan cepat menghafalnya. akan tetapi bisa di manapun. Hal ini berbeda dengan kondisi menghafal yang hanya dengan duduk.dengan baik. Sebagaimana diketahui bahwa pada zaman sekarang ini teknologi informasi telah maju. biasanya ada saja hal-hal yang dapat membuyarkan konsentrasi.42 Mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari orang lain/penghafal lain tidak hanya bisa dilakukan di rumah atau di majlis ta’lim saja. Selain itu.

Hal ini akan berkelanjutan jika penghafal Al-Qur’an tidak pernah memperdengarkan hafalannya kepada orang lain.43 6. Sejalan dengan proses belajar. Begitu pula apabila menghafal ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum fikih. Seorang penghafal Al-Qur’an juga bisa mempergunakan/memanfaatkan kitab tafsir yang ringkas.Contohnya ketika menghafal surat/ayat-ayat yang mengandung kisah dan memiliki asbabun nuzul (sebab turunnya ayat). Tafsir Jalalain dan lainnya. Kesalahan bacaan biasanya terjadi karena penghafal tersebut membaca sendiri (tidak diperdengarkan). seperti berwudhu. kemudian saat melakukan kesalahan bacaan ia tidak menyadarinya. seperti Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir. dan sebagainya.. puasa. kafarat sumpah. 75 & 122 . terutama yang lebih senior. Faktor-Faktor Yang Mendukung Keberhasilan Menghafal Al-Qur’an Dalam pembahasan sebelumnya telah disebutkan bahwa menghafal Al-Qur’an merupakan sebuah proses mengingat Al-Qur’an di luar kepala dengan berbagai strategi dan metode tertentu. menghafal Al-Qur’an juga memiliki beberapa faktor pendukung untuk mencapai hafalan yang sempurna. bacaan yang terlupakan dan diulang-ulang secara tidak sadar. akan tetapi ia harus memperdengarkan hafalannya kepada penghafal AlQur’an yang lain. 4) Sering memperdengarkan bacaan/hafalan kepada orang lain Seorang penghafal hendaknya tidak menyandarkan hafalannya pada dirinya sendiri. 43 Ibid. haji. Mukhtashar Tafsir Ath-Thobari. zhihar. Hal ini bertujuan untuk mengetahui letak kesalahan bacaan.

hlm. Faktor Internal Faktor Internal adalah keadaan jasmani dan rohani individu (siswa). hlm.44 Faktor ini berasal dari dalam individu yang merupakan pembawaan masing-masing individu dan sangat menunjang keberhasilan menghafal Al-Qur’an. 45 Muhibbin Syah. antara lain: 1) Bakat Secara umum bakat (aptitude) adalah komponen potensial seseorang siswa untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Menurut Al-Hafizh. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru (Bandung: Remaja Rosda Karya. Cit. Ibid . 2000).46 2) Minat Minat secara sederhana berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Op. Mahasiswa yang memiliki minat untuk menghafal Al-Qur’an akan secara sadar dan bersungguh-sungguh berusaha menghafal Al-Qur’an dan melestarikannya. 132. 44 . Intelegensi dan potensi kecerdasan pada dasarnya merupakan faktor-faktor psikologis. seorang penghafal Al-Qur’an akan dapat memaksimalkan efektifitas metode menghafal yang ada. Minat yang kuat akan mempercepat keberhasilan dalam usaha menghafal Al-Qur’an.Dalam rangka mencapai suatu keberhasilan untuk menghafal Al-Qur’an. ada beberapa faktor penunjang. Adapun penjelasan dari kedua faktor tersebut adalah sebagai berikut: a. 46 Ahmad Yaman Syamsudin. ada Muhibbin Syah.45 Dalam hal ini seorang penghafal Al-Qur’an yang memiliki ketajaman intelegensi dan potensi ingatan yang bagus akan lebih mudah untuk menghafal Al-Qur’an. hlm. 135. 49. Dengan bakat intelegensi dan ingatan yang baik. yaitu faktor intern dan faktor ekstern..

g) Mengembangkan berbagai metode menghafal yang bervariasi untuk menghilangkan kejenuhan dari suatu metode yang terkesan monoton. sekaligus menyegarkan kembali minat menghafal Al-Qur’an sehingga tidak berhenti di tengah jalan. Cit. c) Menciptakan kondisi lingkungan yang benar-benar mencerminkan ke-alQur’an-an. . e) Mengadakan musabaqah (lomba-lomba). semaan Al-Qur’an dan lainnya. sehingga animo untuk menghafal Al-Qur’an selalu muncul dengan perspektif yang baru. Op. Hal ini dilakukan dengan dengan berbagai kajian yang berkaitan dengan ke AlQur’an-an. hlm.beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat menghafal AlQur’an. antara lain: a) Menanamkan sedalam-dalamnya tentang nilai keagungan Al-Qur’an dalam jiwa penghafal Al-Qur’an. serta kondusif untuk menghafal Al-Qur’an. d) Mengembangkan objek perlunya menghafal Al-Qur’an. 42-43. Al-Hafizh. atau mempromosikan idealisme suatu lembaga pendidikan yang bercirikan Al-Qur’an. f) Mengadakan studi banding dengan mengunjungi lembaga-lembaga pendidikan atau pondok pesantren Al-Qur’an. ini adalah salah satu tugas seorang instruktur selain motivasi intern seseorang penghafal.. mempelajari dan menghafal Al-Qur’an. b) Memahami keutamaan membaca. sehingga bisa mendapat masukan yang berguna dari studi banding tersebut.47 47 Ahsin W.

Niat yang ikhlas akan membedakan tujuan seseorang dalam menghafal Al-Qur’an.3) Motivasi Individu Dalam konteks menghafal Al-Qur’an. motivasi individu adalah adanya niat ikhlas dan azam (kemauan) yang kuat. lingkungan yang tidak kondusif. Hal ini karena dalam proses menghafal Al-Qur’an seseorang akan mengalami rasa jenuh. Usia yang ideal untuk menghafal adalah 48 Ahsin W. 49-50. gangguan batin karena sulitnya yat-ayat yang dihafal dan lain sebagainya.48 4) Usia yang cocok Sebenarnya tidak ada batasan usia tertentu secara mutlak untuk menghafal AlQur’an. . namun tidak dapat dipungkiri bahwa tingkat usia seseorang memang berpengaruh terhadap keberhasilan menghafal Al-Qur’an. bosan. Selain niat. hlm. Seorang penghafal AlQur’an yang relatif masih muda akan lebih mudah menghafal karena pikirannya masih murni dan belum tercampuri oleh urusan keduniaan dan berbagai problem kehidupan yang memberatkannya. Langkah pertama yang harus dimiliki seorang penghafal Al-Qur’an adalah menanamkan rasa keikhlasan tanpa ada sedikitpun riya’ atau pamer hanya karena ingin disebut hafizh-hafizhah dan sebagainya. untuk senantiasa dapat melestarikan hafalan perlu adanya keinginan dan tekad yang kuat. Ibid. Al-Hafizh. azam/kemauan yang kuat juga memegang peranan penting dalam proses menghafal dan melestarikan hafalan Al-Qur’an. Hal ini karena pijakan awal yang berbeda akan berbeda pula hasil yang dicapai. Oleh karena itu. Niat menghafal Al-Qur’an haruslah didasarkan untuk mencari ridho Allah dan beribadah kepada-Nya.

Hal ini berarti bahwa faktor-faktor yang berasal dari luar diri siswa juga ada yang bisa menunjang keberhasilan menghafal dan melestarikan hafalan Al-Qur’an. namun demikian bagi anak-anak usia dini hendaknya tidak dipaksakan melebihi batas kemampuan psikologisnya. hlm. Faktor ini sangat menunjang kelancaran mereka dalam proses menghafal. tertib sanadnya dan bersambung kepada Nabi. 74. demikian seterusnya beliau mengajarkannya kepada para sahabat hingga sampai pada masa sekarang ini. Cit. . b. Sehubungan dengan inilah.49 2). adanya guru Qira’ah (instruktur) Keberadaan seorang instruktur dalam memberikan bimbingan kepada siswa (anak bimbingannya) sangat berpengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam menghafalkan Al-Qur’an. Sebagaimana diketahui Al-Qur’an diturunkan secara mutawatir (bersambung) kepada malaikat Jibril dan Nabi Muhammad SAW. maka menurut As-Suyuti dalam belajar Al-Qur’an harus dengan guru yang memiliki sanad sahih. Faktor Eksternal Faktor eksternal adalah kondisi atau lingkungan di sekitar siswa/mahasiswa penghafal Al-Qur’an. Dalam kesehariannya. begitu pula kesempatan yang dipergunakan seseorang penghafal Al-Qur’an.. seorang penghafal harus memiliki waktu khusus untuk menambah dan mengulangi hafalannya. Al-Hafizh. yaitu guru yang jelas. Adapun beberapa faktor eksternal ini antara lain: 1). pengaturan waktu untuk menghafal Al-Qur’an. 49 Ahsin W. Tingkat kemampuan seorang penghafal berbeda antara satu dengan lainnya.berkisar antara usia 6-21 tahun. Op.

karena bacaan lebih menyatu dan khusyu’ serta lebih mudah untuk dapat memahami bacaan dari pada waktu siang. malam hari dan seterusnya. Hal ini karena waktu siang merupakan waktu yang banyak berbagai aktifitas dan penuh dengan suara- . Alokasi waktu yang ideal untuk ukuran sedang dengan target satu halaman adalah empat jam. dapat mengoptimalkan seluruh kemampuan dan memaksimalkan seluruh kapasitas waktunya untuk menghafal sehingga bisa lebih cepat menyelesaikan hafalan AlQur’annya. namun jika penghafal Al-Qur’an tersebut juga memiliki kegiatan selain menghafal Al-Qur’an seperti sekolah. waktu sebelum terbit fajar. Waktu sebelum terbit fajar adalah waktu yang sangat baik untuk menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an. Waktu malam (setelah bangun dari tidur) adalah waktu yang sangat baik untuk membaca dan mengulangi hafalan Al-Qur’an. Adapun waktu-waktu yang dianggap sesuai dan baik untuk menghafal dapat diklasifikasikan sebagai berikut: a). dengan rincian untuk menghafal ayat-ayat baru dan dua jam untuk mengulang hafalan. Umpamanya satu jam di pagi hari dan satu jam di sore harinya. kursus dan lainnya. kuliah. maka ia harus pandai-pandai memanfaatkan waktu yang ada. karena waktunya tenang dan memiliki banyak keutamaan.Bagi penghafal Al-Qur’an yang khusus menjalani program menghafal saja. Penggunaan waktu tersebut dapat disesuaikan dengan manajemen waktu yang diperlukan masing-masing individu.

setelah fajar hingga terbit matahari Waktu pagi juga sangat baik untuk menghafal. Oleh karena itulah. Cit. setelah bangun dari tidur siang Faktor psikis dari tidur siang adalah untuk mengembalikan kesegaran jasmani dan menetralisir otak dari kejenuhan dan kelesuan setelah seharian bekerja keras. 788. 88. seseorang telah beristirahat pada malam harinya. Cit. Op. Al-Qur’an dan Terjemahnya. atau sekedar mengulang hafalan saja.50 Sebagaimana firman Allah dalam Al. sehingga ia dapat menetralisir jiwanya dari kekalutan. setelah shalat Dalam sebuah hadits Rasulullah pernah bersabda bahwa diantara waktu yang mustajab adalah setelah mengerjakan shalat fardhu. . sehingga jiwanya masih bersih dan terbebas dari segala beban mental dan pikiran yang memberatkan. Menurut kebiasaan. c). karena saat itu umumnya seseorang belum terlibat dalam berbagai kesibukan kerja. setelah bangun dari tidur siang hendaklah dimanfaatkan untuk menambah hafalan walaupun sedikit. d).. hlm.Qur’an surat Al-Muzammil (73:6): ÇÏÈ ¸x‹Ï% ãPuqø%r&ur $\«ôÛur ‘‰x©r& }‘Ïd È@ø‹©9$# spy¥Ï©$tR ¨bÎ) Artinya: ”Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan” 51 b). terutama bagi orang-orang yang dapat mengerjakannya dengan khusyu’ dan sungguhsungguh. Dengan 50 51 Ahmad Yaman Syamsudin.suara bising dari lingkungan sekitar. Op. hlm.

52 B. e). 58-59. Cit. Prestasi Belajar 1.. . Beberapa waktu yang telah disebutkan di atas bukanlah sebuah kemutlakan. Op. Perubahan ini berkaitan dengan perubahan kebiasaan. yaitu “prestasi dan belajar”. juga menyangkut beberapa aspek dan kebiasaan manusia yang tidak terlepas dari kepribadiannya. karena setiap orang memiliki waktu senggang yang berbeda dan disesuaikan dengan kegiatannya masing-masing. Al-Hafizh. Menurut Slameto. Sebelum mendefinisikan prestasi belajar terlebih dahulu perlu memahami pengertian belajar. keterampilan dan sikap. setelah sholat merupakan waktu yang baik pula untuk menghafal Al-Qur’an. hlm. pengetahuan. waktu diantara maghrib dan Isya’ Kesempatan ini sudah sangat lazim digunakan oleh kaum muslimin untuk membaca Al-Qur’an. Belajar selalu dikaitkan dengan suatu aktifitas yang membawa perubahan pada setiap individu. Pengertian Prestasi Belajar Prestasi belajar terdiri dari dua kata. pengertian belajar adalah: suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang 52 Ahsin W.demikian. atau bagi para penghafal Al-Qur’an waktu ini juga baik untuk dimanfaatkan untuk menambah hafalan atau untuk mengulang hafalan.

53 Belajar juga diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interkasi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungan. Tanpa adanya perubahan tingkah laku. 2. dari tidak terampil menjadi terampil. belajar dapat dikatakan gagal. hlm. sebagai hasil pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungan. Dalam prakteknya tidak selamanya belajar itu dari interaksi edukatif atau interaksi belajar mengajar. dalam aspek sikap adalah dari ragu-ragu menjadi yakin. keterampilan. tetapi bisa juga terjadi di luar proses belajar mengajar. baik dalam aspek pengetahuan. Hal ini merupakan salah satu kriteria keberhasilan belajar yang diantaranya ditandai oleh terjadinya perubahan tingkah laku pada diri individu yang belajar. maupun sikapnya. 1988). Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar (Bandung: Remaja Rosda Karya. Uzer Usman & Lilis Setiawati. 53 . Misalnya anak yang belajar sendiri di rumah. dari tidak sopan menjadi sopan. itu juga merupakan usaha yang dilakukan individu Slameto. Dalam hal ini perubahan berarti bahwa seorang yang telah mengalami proses belajar akan mengalami perubahan tingkah laku. hlm. Perubahan tingkah laku dalam aspek pengetahuan adalah dari tidak mengerti menjadi mengerti. 1993). sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya (Jakarta: Bina Aksara. dalam aspek keterampilan adalah dari tidak bisa menjadi bisa.baru secara keseluruhan. yaitu interaksi edukatif.54 Perubahan yang terjadi pada individu merupakan hasil dari pengalamannya sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya. 2. 54 Moh.

Sebagai hasil belajar. Hal ini berarti bahwa individu yang belajar menyadari akan adanya perubahan yang dialami. dengan demikian semakin banyak usaha belajar dilakukan. maka akan semakin banyak dan baik pula perubahan yang yang diperoleh seseorang. pertumbuhan dan perkembangan tidak termasuk dalam arti belajar. perubahan yang terjadi pada individu berlangsung terus menerus dan tidak stasis.untuk memperoleh perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalamannya dalam berinteraksi dengan lingkungan. . Dengan demikian. Dari beberapa pengertian di atas seseorang dapat dikatakan belajar apabila adanya perubahan tingkah laku karena terjadinya pengalaman dan latihan. Perubahan itu senantiasa bertambah dan bertujuan untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Agar lebih jelas. b. atau setidaknya ia merasakan adanya perubahan dalam dirinya. sikap dan pandangan terhadap sesuatu. c. seperti bertambahnya pengetahuan. perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional. serta keterampilan. ada beberapa ciri perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar. Satu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan ataupun proses belajar berikutnya. perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif. kebiasaan. yaitu: a. perubahan yang terjadi secara sadar. tidak semua perubahan diartikan belajar. Perubahan yang terjadi dalam aspek-aspek kematangan. Fungsional artinya perubahan dalam belajar akan berguna dalam hidup.

Meskipun sifatnya motorik. kebiasaan itu timbul karena proses penyusutan kecenderungan respon dengan menggunakan stimulasi yang berulang-ulang. e.55 Menurut Muhibbin Syah. seseorang yang belajar akan mengalami perubahan tingkah laku secara keseluruhan baik dalam sikap. pembiasaan juga meliputi pengurangan perilaku yang tidak diperlukan. maksudnya perubahan yang yang bersifat sementara atau temporer terjadi hanya untuk beberapa saat saja. Cit. Karena proses penyusutan/pengurangan inilah. Kebiasaan. keterampilan. pengetahuan dan sebagainya. d. Op. Keterampilan ialah kegiatan yang berhubungan dengan uraturat syaraf dan otot-otot yang lazimnya tampak dalam kegiatan jasmaniah seperti menulis. namun keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang 55 Slameto. olah raga dan sebagainya. muncul suatu pola bertingkah laku baru yang relatif menetap dan otomatis. manifestasi atau perwujudan perilaku belajar biasanya lebih sering tampak dalam perubahan-perubahan sebagai berikut: 1). Keterampilan.. perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah.Perubahan yang bersifat aktif artinya bahwa perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya melainkan karena usaha dari individu sendiri. hlm. perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara. Adapun perubahan yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap. . f. 2). Setiap siswa yang telah mengalami proses belajar. perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku. Menurut Burghardt (1973) dalam Muhibbin. kebiasaannya akan tampak berubah. Dalam proses belajar. 3-4.

dalam hal berpikir kritis. Berkat pengalaman belajar. siswa yang telah mengalami proses belajar akan ditandai dengan bertambahnya simpanan materi (pengetahuan dan pengertian) dalam memori. 4). menganalisis. menafsirkan dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera seperti mata dan telinga. Pengamatan yang salah akan menimbulkan pengertian yang salah pula. Dengan demikian. seorang siswa akan akan mampu mencapai pengamatan yang benar-benar obyektif sebelum mencapai pengertian. siswa dituntut menggunakan strategi kognitif tertentu yang tepat untuk menguji kehandalan gagasan pemecahan masalah dan mengatasi kesalahan atau kekurangan. ini merupakan proses pembentukan hubungan antara rangsangan dengan respon yang sangat dipengaruhi oleh tingkat pengertian atau pengetahuan yang diperoleh siswa dari hasil belajar. serta kemampuan menghubungkan materi tersebut dengan situasi dan stimulus yang sedang ia hadapi. adalah perwujudan perilaku belajar terutama yang berhubungan dengan pemecahan masalah. Artinya proses menerima. Pengamatan. siswa dituntut menggunakan rasio (akal sehat) untuk menentukan sebab akibat. Jadi. Berfikir rasional dan kritis. .tinggi. 3). Berfikir asosiatif dan daya ingat. siswa yang melakukan gerak motorik dengan koordinasi dan kesadaran yang rendah dapat dianggap kurang atau tidak terampil. 5). menarik kesimpulan-kesimpulan dan bahkan menciptakan hukum-hukum. Berfikir asosiatif adalah berfikir dengan mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya.

sikap adalah pandangan atau kecenderungan mental. Sikap. tata nilai. Dengan demikian pada prinsipnya sikap itu dapat kita anggap sebagai kecenderungan siswa untuk bertindak dengan cara tertentu. Apresiasi adalah gejala ranah afektif yang pada umumnya ditujukan pada karya-karya seni budaya seperti seni sastra. yang dimaksud dengan inhibisi adalah kesanggupan siswa untuk mengurangi atau menghentikan tindakan yang tidak perlu. perwujuan perilaku belajar siswa akan ditandai dengan munculnya kecenderungan-kecenderungan baru yang telah berubah (lebih maju dan lugas) terhadap suatu objek. Pada dasarnya apresiasi berarti suatu pertimbangan yang mengenai arti penting atau nilai sesuatu. Secara ringkas inhibisi adalah upaya pengurangan atau pencegahan timbulnya suatu respon tertentu karena adanya proses respon lain yang sedang berlangsung. lalu memilih atau melakukan tindakan lainnya yang lebih baik ketika ia berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam arti yang sempit. Menurut Bruno (1987) dalam Muhibbin.6). seni lukis dan sebagainya. Inhibisi. sikap (attitude) adalah kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu. seni musik. 7). . 8). Dalam penerapannya. Tingkatan apresiasi siswa terhadap nilai sebuah karya sangat bergantung pada tingkat pengalaman belajarnya. peristiwa dan sebagainya. apresiasi sering diartikan sebagai penghargaan atau penilaian terhadap benda-benda yang memiliki nilai luhur. Dalam hal ini. Dalam hal belajar. Apresiasi.

9). Tingkah laku afektif, adalah tingkah laku yang menyangkut keanekaragaman perasaan seperti: takut, marah, gembira, was-was dan sebagainya. Tingkah laku seperti ini tidak terlepas dari pengalaman belajar, karena itu ia dapat dianggap sebagai perwujudan perilaku belajar.56 Istilah prestasi pada umumnya dihubungkan dengan hasil yang dicapai seseorang, baik dalam bidang pekerjaan maupun pendidikan. Seseorang dikatakan berprestasi baik apabila hasil usaha yang dicapai mendekati apa yang diharapkan. Akan tetapi sebaliknya, prestasi dikatakan menurun bila hasil usaha tidak sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran lazimnya ditunjukkan dengan nilai/angka yang diberikan oleh guru. 57 Menurut Harahap dalam Djamarah, prestasi didefinisikan sebagai suatu penilaian pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan murid yang berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang disajikan kepada mereka serta nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum.58 Sedangkan menurut Abdul Qohar, prestasi adalah apa yang telah dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja. Prestasi juga diartikan sebagai hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, baik secara individual maupun kelompok.59

Muhibbin Syah, Op. Cit., hlm. 118. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Op. Cit, hlm. 700. 58 Syaiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru (Surabaya: Usaha Nasional, 1994), hlm. 21. 59 Ibid, hlm. 20.
57

56

Dari beberapa pengertian di atas, dapat dipahami bahwa prestasi adalah hasil dari sesuatu yang telah dikerjakan, diciptakan, yang menyenangkan hati, yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja baik secara individual maupu kelompok dalam bidang kegiatan tertentu. Prestasi pada dasarnya adalah sesuatu yang diperoleh dari suatu aktivitas, sedangkan belajar adalah suatu proses yang mengakibatkan perubahan tingkah laku. Jadi pengertian prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesankesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil aktivitas dalam belajar. Indikator dari hasil belajar ideal meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat dari pengalaman dan proses belajar siswa/mahasiswa, namun pengungkapan perubahan itu sangat sulit. Hal ini karena perubahan hasil belajar itu ada yang bersifat tidak dapat diraba. Oleh karena itu, yang dapat dilakukan guru dalam hal ini adalah hanya mengambil cuplikan perubahan tingkah laku yang dianggap penting dan diharapkan dapat mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa/mahasiswa, baik yang berdimensi cipta rasa dan karsa.60 Untuk mengetahui tingkat keberhasilan seseorang dalam proses belajar, perlu dilakukan pengukuran seberapa jauh pengalaman belajar telah tertanam pada diri seseorang. Dengan kata lain harus dilakukan evaluasi terhadap proses belajar. Evaluasi dapat dilakukan secara kuatitatif maupun kuantitatif. Dalam dunia

60

Muhibbin syah, Op. Cit., hlm. 150.

pendidikan, pengukuran biasanya dilakukan secara kuantitafif dan diwujudkan dalam bentuk prestasi belajar. Banyak cara yang dilakukan untuk mengukur prestasi belajar/akademik. Pengajar dapat melakukan dengan mengajukan pertanyaan lisan, memberikan pekerjaan rumah/tugas tertulis atau melihat penampilan aktual dari tugas keterampilan dan tes tertulis. Menurut kebiasaan, prestasi belajar/akademik mahasiswa biasanya

diwujudkan dalam KHS (Kartu Hasil Studi). Kartu hasil studi ini diberikan kepada mahasiswa setelah melewati tahap ujian tengah semester dan ujian akhir semester. Apabila nilai KHS baik, maka prestasinya dikatakan baik, begitu pula sebaliknya. Dengan demikian dapat dipahami bahwa prestasi belajar adalah penilaian pendidikan tentang kemajuan mahasiswa dalam segala hal yang dipelajari di kampus yang berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan, yang dinyatakan sesudah hasil penilaian. 2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Menurut Muhibbin Syah, prestasi belajar siswa/mahasiswa dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Secara garis besar, faktor-faktor tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu a. faktor internal (faktor dari dalam diri siswa), yaitu keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa; b. faktor eksternal (faktor dari luar diri siswa), yaitu kondisi lingkungan sekitar siswa;

faktor pendekatan belajar (approach to learning). .c.61 a. Hal ini karena. yaitu jenis upaya belajar yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran. khususnya indera penglihatan dan pendengaran adalah sangat penting. cukup istirahat. Aspek fisiologis Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh. Kondisi fisik atau jasmani yang sehat akan membantu aktifitas belajar siswa. 1999). Oleh karena itu. Faktor internal siswa Faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri meliputi dua aspek. 2). keadaan fungsi panca indera yang baik. Senada dengan pendapat tersebut. serta memperbanyak melakukan olah raga. keadaan jasmani seperti kelainan pada anggota tubuh. kondisi fisik yang sehat dapat melancarkan proses belajar mengajar. aspek psikologis (yang bersifat rohaniah) 1). sebaliknya kondisi organ tubuh yang lemah akan dapat menurunkan kualitas belajar. kelelahan. 131. Dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. yaitu: 1) aspek fisiologis (yang bersifat jasmaniah). dapat mempengaruhi siswa dalam mengikuti pelajaran. hlm. Untuk mendukung kondisi fisik agar selalu sehat antara lain dengan menjaga asupan makanan yang bergizi. menurut Suryabrata keadaan jasmani pada umumnya dapat melatarbelakangi aktivitas belajar. dan sebagainya dapat mengganggu kegiatan belajar mengajar. Menurutnya. Psikologi Belajar (Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu. bagi para 61 Muhibbin Syah.

2008). Intelegensi siswa Intelegensi merupakan suatu faktor yang besar pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa/mahasiswa. 133. Cit. semakin tinggi tingkat intelegensi siswa. 235-236. Hal ini dapat diwujudkan misalnya dengan adanya pemeriksaan dokter secara periodik.63 Menurut Abu Ahmadi. Hal ini berarti. Bila pembawaan intelegensi anak memang rendah. maka semakin besar peluangnya untuk meraih kesuksesan dan demikian pula sebaliknya. Aspek Psikologis Menurut Muhibbin Syah.62 2). (Jakarta: PT. Tingkat kecerdasan atau intelegensi seorang siswa sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Op. faktor intelegensi adalah faktor indogen yang sangat besar pengaruhnya terhadap kemajuan anak. 62 . hlm. banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan belajar siswa. maka anak tersebut akan sukar mengerti terhadap apa yang Sumadi Suryabrata. namun faktor-faktor rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih esensial adalah sebagai berikut: a). seperti dengan melakukan beberapa usaha yang bersifat kuratif dan preventif. 63 Muhibbin Syah. hlm. Menurut Reber dalam Muhibbin syah. Psikologi Pendidikan. serta dengan menyediakan media pembelajaran yang memenuhi syarat dan penempatan siswa secara baik di kelas..pendidik hendaknya juga membantu menjaga indera tersebut dengan baik. Raja Grafindo Persada. intelegensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat.

berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon dengan cara yang relatif tetap terhadap objek orang. 46. .65 d). Teknik Belajar Dengan Sistem SKS (Surabaya. Sikap siswa Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif. c).. Op. Muhibbin Syah. individu dengan kecerdasan yang lebih tinggi lebih mudah memahami materi pelajaran. Dalam prakteknya. hlm. barang.dipelajarinya sehingga perlu bantuan ekstra dari pendidik atau orang tua untuk berhasil dalam belajarnya. hlm. merupakan awal yang baik bagi proses belajar siswa/mahasiswa. Cit. Bakat dapat mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi belajar siswa dalam matapelajaran tertentu. Sikap siswa yang positif terhadap guru dan mata pelajaran yang dipelajari. Motivasi berperilaku merupakan daya penggerak psikis dalam diri seseorang yang menimbulkan semangat belajar. Motivasi Berprestasi Motivasi adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu. dan sebagainya. 1986). tingkat intelegensi yang tinggi belum dapat dijadikan standar mutlak keberhasilan siswa bila tidak diimbangi dengan kemauan untuk belajar. baik secara positif maupun negatif.64 Dibandingkan individu dengan kecerdasan rendah. menjamin kelangsungan 64 65 Abu Ahmadi. Bakat siswa Bakat adalah kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan. PT Bina Ilmu. b). 135.

cemas. suri teladan dari orang tua dan guru dan sebagainya. misalnya pujian. Usman & Setiawati menambahkan. yaitu: motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik. perasaan semacam itu dapat menjadi pendorong seseorang dalam belajar. namun jika terlalu berlebihan akan 66 Ibid. yang dapat mendorongnya melakukan kegiatan belajar. Hingga pada kadar tertentu. Minat Minat merupakan kecenderungan pada individu yang menyangkut perasaan suka atau tidak suka terhadap hal tertentu. Adapun motivasi ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang datang dari luar individu siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. 136-137. karena lebih murni dan permanen. Motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam. motivasi yang lebih signifikan bagi siswa adalah motivasi intrinsik. Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri. hlm.. hadiah. dan khawatir. Dalam perspektif kognitif. e).66 Dalam redaksi yang lain. menaruh perhatian pada sesuatu yang disukainya.kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar demi terciptanya tujuan belajar. . bahwa yang juga termasuk dalam aspek psikologis adalah keadaan emosi siswa. dapat mempengaruhi prestasi belajar. Keadaan emosi siswa seperti rasa takut. sehingga minat dalam belajar akan memiliki peluang berprestasi yang lebih besar. Minat mendorong individu untuk melakukan. tata tertib sekolah.

Uzer Usman & Lilis Setiawati. faktor sosial ekonomi dan sosio kultural sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa. hlm. Op. bahwa keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama. 69 Moh. teknologi dan kesenian... seperti guru. Usman & setiawati menyebutkan ada beberapa faktor sosial antara lain: lingkungan keluarga. Faktor-faktor tersebut antara lain: 1). ada juga faktor budaya seperti adat istiadat. Faktor eksternal siswa Faktor internal yang mempengaruhi prestasi belajar siswa/mahasiswa. Hal ini ditegaskan oleh Slameto yang mengutip pernyataan Sucipto Wirowijoyo. hlm. Cara mendidik orang tua.67 b. Adapun faktor non sosial antara lain berupa sarana prasarana yang mendukung proses belajar mengajar. Op. Cit. Op.68 Senada dengan keterangan di atas. Pendidikan orang tua kepada anak sangat besar pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa. Cit. Selain itu. 67 68 Moh. lingkungan sekolah masyarakat. 233. tempat tinggal yang kondusif dan sebagainya. 10. ilmu pengetahuan.69 Menurut Slameto. 10 Sumadi Suryabrata. terdiri dari faktor sosial dan faktor non sosial. Uzer Usman & Lilis Setiawati. hlm. .. Cit. Faktor sosial adalah yang banyak berhubungan dengan sesama manusia. serta faktor lingkungan spiritual keagamaan yang juga mempengaruhi prestasi belajar siswa/mahasiswa.menghambat proses berfikir siswa sehingga menyebabkan rendahnya prestasi akademik siswa tersebut.dan lingkungan kelompok. orang tua dan teman-teman di sekolah.

Suasana keluarga yang gaduh tidak akan memberikan ketenangan kepada anak yang sedang belajar. sebagai gantinya guru bisa memanfaatkan tes tulis sebaik-baiknya. 62. serta tes essai. Cit. Muhibbin Syah. baik kebutuhan pokok maupun kebutuhan lain yang termasuk fasilitas belajar siswa. baik tes tertulis maupun tes lisan dan perbuatan. 3).71 3. Op. hlm. Dianjurkan untuk memilih tes pencocokan.2). strategi belajar. mengukur keberhasilan siswa yang berdimensi kognitif (ranah cipta) dilakukan dengan berbagai cara. Evaluasi Prestasi Kognitif. Keadaan atau suasana keluarga. Keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan pemenuhan keluarga. 140. Afektif dan Psikomotorik a. Khusus untuk mengukur kemampuan analisis dan sintesis siswa. dan gaya belajar yang efektif juga mendukung siswa/mahasiswa untuk dapat mencapai prestasi yang baik. sehingga belajar menjadi kacau. Sebaliknya suasana rumah yang tenang dan tentram akan membuat anak betah di rumah dan anak juga dapat belajar dengan tenang. 70 c. tes isian. Keadaan ekonomi/pekerjaan orang tua. Faktor Pendekatan Belajar Pendekatan belajar dapat dipahami sebagai segala cara yang digunakan untuk menunjang efektivitas dan efisiensi dalam proses pembelajaran. evalusi prestasi kognitif Sebagaimana yang dikutip oleh Muhibbin syah. Reber (1998) mengatakan. Op. guru dianjurkan untuk 70 71 Slameto. Cit.. menggunakan tes lisan dianggap tidak efektif. hlm.. . kebiasaan belajar. Dalam keadaan siswa yang jumlahnya banyak. Selain pendekatan belajar.

Dalam . Sebab kedua jenis prestasi ranah rasa itulah yang lebih banyak mengendalikan sikap dan perbuatan siswa. penghayatan. Observasi dalam hal ini. ragu-ragu. dan wawasan. c. salah satu bentuk tes ranah rasa yang populer adalah “skala likert” yang tujuannya untuk mengidentifikasi kecenderungan sikap seseorang.mengunakan tes essai. tidak setuju dan sangat tidak setuju. dengan pengamatan langsung. Untuk memudahkan identifikasi jenis kecenderungan afektif siswa yang representatif. Bentuk skala ini menampung pendapat yang mencerminkan sikap sangat setuju. komitmen. karena tes ini adalah satu-satunya ragam instrumen evaluasi yang paling tepat untuk mengevaluasi dua jenis kemampuan tersebut. Selanjutnya Reber (1988) dalam Syah menjelaskan. item-item skala sikap sebaiknya dilengkapi dengan indentitas sikap yang meliputi doktrin. bergantung kebutuhan dengan catatan skor-skor itu dapat mencerminkan sikap-sikap mulai sangat “ya” sampai “sangat tidak”. Rentang skala ini beri skor 1-5 atau 1-7. jenis-jenis prestasi internalisasi dan karaterisasi hendaknya mendapatkan perhatian khusus. Evalusi Prestasi afektif Dalam merencanakan peyusunan instrumen tes prestasi belajar siswa yang berdimensi afektif (ranah rasa). tingkah laku atau fenomena lain. b. Evaluasi Prestasi Psikomotor Reber juga mengatakan bahwa cara yang dipandang tepat untuk mengevaluasi keberhasilan belajar yang berdimensi ranah psikomotor (ranah karsa) adalah observasi. dapat diartikan sebagai sejenis tes mengenai peristiwa.

Menghasilkan pendidik Agama Islam yang memiliki pengetahuan. keterampilan dan nilai yang diperlukan untuk menjadi pendidik Agama Islam serta pembimbing dan penggerak kegiatan ke-Agamaan Islam di sekolah/madrasah. Implikasi Hafalan Al-Qur’an Dalam Prestasi Belajar Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Tafsir dan Hadits. 72 .72 C. Adapun matakuliah tersebut antara lain. Tafsir dan Hadits Tarbawi I dan II. Ushul Fiqih. bahwa secara umum tujuan pendidikan pada Jurusan Pendidikan Agama Islam adalah sebagai berikut: 1. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru (Bandung: Remaja Rosda Karya. khususnya dalam matakuliah ke-Agamaan Islam yang sering berhubungan dengan dalil-dalil Al-Qur’an. Ushul Fiqih. baik secara individu maupun kelompok. bahwa prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah ditetapkan atau menjadi tujuan. hlm. karena eksperimen pada umumnya dipandang sebagai salah satu cara observasi. Perlu diketahui. 154. studi Fiqih. studi Al-Qur’an. Masail Fiqhiyah I dan II. prestasi belajar yang dimaksud adalah prestasi belajar mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI). Muhibbin Syah. Dalam pembahasan pada skripsi ini.hal ini observasi harus dibedakan dengan eksperimen. sikap. 2000).

monitoring. maka dalam standar kompetensi lulusan jurusan Pendidikan Agama Islam disebutkan bahwa selain menguasai tentang aspek-aspek kependidikan. serta penguasaan cara pengembangan bahan ajar pendidikan Agama Islam.73 Sebagai calon pendidik dalam bidang Agama Islam.2. mengorganisir. mengelola. merencanakan. 75. Sebagai upaya untuk mewujudkan tujuan tersebut. 3. seorang mahasiswa lulusan jurusan pendidikan Agama Islam diharapkan dapat memiliki penguasaan terhadap subtansi kajian pendidikan Agama Islam yang meliputi: penguasaan subtansi ilmu-ilmu keislaman. hlm. 73 Universitas Islam Negeri Malang. 2005). seorang mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) harus dapat menguasai kompetensi tersebut dengan baik. Menghasilkan pendidik Agama Islam yang memiliki pengetahuan sikap. melakukan supervisi. Menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan tambahan dalam membentuk. dan mengembangkan inovasi-inovasi program satuan pendidikan Agama Islam. melaksanakan program pendidikan. evaluasi program. mahasiswa dapat dikatakan telah mencapai prestasi dalam belajarnya. Pedoman Pendidikan (Malang: UIN Press. Dengan adanya penguasaan terhadap kompetensi tersebut. baik di perkuliahan maupun di luar perkuliahan. isi dan bahan ajar pendidikan Agama Islam. . Adapun cara untuk menguasai kompetensi tersebut adalah dengan melakukan proses belajar dan pembelajaran. keterampilan dan nilai yang diperlukan untuk menjadi pendidik Agama Islam pada jenis pendidikan keagamaan Islam.

Aktivitas belajar merupakan proses yang tidak lepas dari berbagai pengaruh yang berasal dari dalam maupun luar siswa. hlm. Sedangkan faktor non sosial antara lain berupa sarana prasarana yang mendukung proses belajar mengajar. seperti guru. tempat tinggal yang kondusif dan sebagainya. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar (Bandung: Sinar Baru Al-Gesindo. faktor yang berasal dari dalam diri siswa (internal siswa) Faktor eksternal yang mempengaruhi prsetasi belajar siswa/ mahasiswa. 39. 74 . faktor psikologis Faktor fisiologi terbagi lagi menjadi dua. yaitu keadaan jasmani dan fungsi panca indera.Dalam mencapai suatu prestasi belajar matakuliah ke-Agamaan Islam. Menurut Sudjana. seorang mahasiswa tentunya tidak terlepas dari suatu proses belajar. Apabila keadaan jasmani secara umum sehat. 2). yaitu: 1). Faktor dari dalam diri siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Berhasil atau tidaknya mata kuliah tersebut ditentukan oleh proses dalam belajar mahasiswa. 2008). faktor yang berasal dari luar siswa (eksternal siswa) b. yaitu: a. orang tua dan teman-teman di sekolah. Adapun faktor yang berasal dari dalam diri siswa (internal siswa) dibagi menjadi dua macam.74 Menurut Suryabrata. faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar ada dua macam. maka proses belajar Nana Sudjana. hasil belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungannya. faktor fisiologis. faktor sosial adalah yang banyak berhubungan dengan sesama manusia. terdiri dari faktor sosial dan faktor non sosial.

ayatayat yang pernah dihafalkan akan menjadi sangat familiar. Op. Cit. 75 76 Sumadi Suryabrata. berperan sangat penting dalam proses belajar siswa. . hlm.75 Menghafal Al-Qur’an merupakan suatu kegiatan menghayati dan berusaha meresapkan bacaan-bacaan Al-Qur’an ke dalam hati.akan dapat berjalan lancar. di mana terjadi sebuah proses penerimaan informasi melalui indera penglihatan atau pendengaran siswa untuk kemudian masuk ke dalam memori jangka pendek.. termasuk mengingat pengetahuan selain Al-Qur’an. Dalam menghafal Al-Qur’an seorang penghafal Al-Qur’an terlebih dahulu membaca dan mengulang-ulang bacaannya dengan baik sebelum dihafalkan.76 Dengan terbiasa melakukan aktivitas menghafal Al-Qur’an. Dengan sering menggunakan indera penglihat dan pendengar secara maksimal untuk menghafal Al-Qur’an. proses menghafal Al-Qur’an pada dasarnya sejalan dengan psikologi proses mengingat. siswa/mahasiswa akan dapat menyerap materi pelajaran dengan sempurna. sampai dapat dihafal dan melekat dengan baik dalam ingatan. Dengan demikian. Dengan memaksimalkan fungsi panca indera dalam belajar. Psikologi Belajar (Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu. Selain itu. sehingga siswa/ mahasiswa penghafal Al-Qur’an dengan mudah bisa mengetahui ayat tersebut untuk kemudian menelaah dan mempelajarinya. maka sistem memori di dalam otak akan terlatih untuk mengingat sesuatu dengan mudah. 233. 1999). dikodekan. maka akan melatih kepekaan indera tersebut terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. demikian pula apabila fungsi panca indera normal dan sehat. 67. Muhibbin Syah. hlm. dan masuk kedalam memori jangka panjang. Panca indera khususnya indera penglihatan dan pendengaran.

maka ia akan mendapatkan kontribusi yang sangat besar dari hafalan yang dimilikinya. Ada metode sederhana yang hanya membaca berulang-ulang per-ayat lalu menghafalkannya. Apalagi Al-Qur’an adalah sumber ilmu. ada pula yang berusaha untuk mengerti arti dan memahami maksud ayat sebelum kemudian dihafalkan. Dengan adanya seorang mahaiswa menghafal Al-Qur’an. bukalah lembaran-lembaran Al-Qur’an.77 Dalam menghafal Al-Qur’an. Dengan menggunakan metode menghafal yang sederhana tersebut. Efektivitas Hifzhul Qur’an Melalui Metode Sorogan (Skripsi Fakultas Tarbiyah UIN Malang. maka akan semakin besar kemungkinan untuk dapat memahami arti dan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an melalui proses menghafal tersebut. sebagaimana sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud yang artinya: “kalau kalian menginginkan ilmu. Lain halnya bila metode yang digunakan dalam menghafal adalah metode tadabbur (memahami arti dan maksud yang terkandung dalam ayat). 2007). minimal seorang penghafal dapat mereview atau mengulang hafalannya dengan benar.Menghafal Al-Qur’an merupakan sebuah proses untuk memperoleh pengetahuan dasar bagi siswa/mahasiswa dalam belajarnya. 25. Sebagaimana dikutip Oleh Syaifun Nuri. Mahasiswa yang hafal Al-Qur’an akan sangat terbantu ketika membutuhkan dalil-dalil Al-Qur’an yang berkaitan dengan ilmu yang ia pelajari. seorang penghafal menggunakan berbagai metode yang dianggap sesuai dengan kemampuannya. 77 . Hal ini akan sangat membantu mahasiswa dalam matakuliah keagamaan Islam yang banyak bersentuhan Haya Ar-Rasyid. karena Al-Qur’an mengandung ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang di masa mendatang”. Menggapai Kemuliaan Menjadi Ahlul Qur’an. hlm.

antara lain: 1) faktor intelektif yang meliputi faktor potensial. hlm. kebiasaan.langsung dengan Al-Qur’an seperti studi Al-Qur’an. Menurut Usman & Setiawati. emosi dan penyesuaian diri. Hal ini merupakan rahmat Allah yang diberikan kepada orang yang mendengarkan bacaan Al-Qur’an dengan baik. ushul fiqih. Salah satu faktor psikologis yang banyak mempengaruhi adalah keadaan emosi siswa/mahasiswa. 2) faktor non intelektif yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap. Membaca Al-Qur’an merupakan salah satu cara untuk membuat hati dan jiwa menjadi tenang. faktor psikologis ada yang bersifat bawaan dan ada yang diperoleh dari luar. studi fiqih. 2. tafsir dan hadits tarbawi I dan II. walaupun faktor ini tidak dapat dilihat (abstrak). Cit.78 Faktor psikologis yang ada dalam diri siswa sangat besar pengaruhnya terhadap kuantitas dan kualitas belajar siswa. yaitu kecerdasan dan bakat serta kecerdasan nyata. motivasi. Dengan demikian hafalan Al-Qur’an yang dimiliki oleh mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) berimplikasi dalam prestasi belajarnya. Uzer Usman & Lilis Setiawati. dan ushul fiqih. minat. yaitu prestasi yang dimiliki. tafsir dan hadits. kebutuhan. serta mendatangkan petunjuk. sebagaimana Firman Nya dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf (7:204): : ÇËÉÍÈ tbqçHxqö•è? öNä3ª=yès9 (#qçFÅÁRr&ur ¼çms9 (#qãèÏJtGó™$$sù ãb#uäö•à)ø9$# •˜Ì•è% #sŒÎ)ur 78 Moh. Selanjutnya. 3) faktor kematangan fisik maupun psikis. masail fiqhiyah I dan II. faktor kedua yang ada dalam diri siswa/mahasiswa adalah Faktor psikologis. menghibur perasaan sedih dan melunakkan hati yang keras. .. Op.

. 256 An-Nawawi. Cit. Op. Op. maka dengarkanlah baik-baik. hanya dengan mengingati Allahlah hati menjadi tenteram” 81 Dalam proses belajar. melalui penelitiannya yang panjang dan serius di klinik besar Florida Amerika Serikat. Al-Qadhi. seorang muslim dapat merasakan perubahan psikologis yang sangat besar. seorang siswa/mahasiswa akan memperoleh hasil yang baik jika mengoptimalkan seluruh potensi dalam dirinya. Op.É‹Î/ Oßgç/qè=è% ’ûÈõuKôÜs?ur (#qãZtB#uä tûïÏ%©!$# Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Cit.80 Dengan membaca Al-Qur’an berarti seorang hamba sedang mengingat Allah dan berkomunikasi dengan-Nya. sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an surat Ar-ra’d (13:28): : ÇËÑÈ Ü>qè=à)ø9$# ’ûÈõyJôÜs? «!$# Ì•ò2É‹Î/ Ÿwr& 3 «!$# Ì•ø.Artinya: “dan apabila dibacakan Al-Quran. Dengan adanya ketenangan batin/psikis. 373. seorang siswa/mahasiswa akan dengan mudah bisa mengoptimalkan seluruh potensi dalam dirinya. Dengan selalu mengingat Allah inilah suasana hati akan senantiasa tenang. berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an. dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” 79 Menurut madzhab yang sahih. hlm. kesedihan. memperoleh ketenangan jiwa. Dr. hlm.. 79 80 Al-Qur’an dan Terjemahnya. hlm.. 81 Al-Qur’an dan Terjemahnya. baik mereka yang berbahasa arab ataupun tidak. membaca Al-Qur’an merupakan dzikir yang paling utama dibandingkan dzikir dengan selain membaca Al-Qur’an. Perubahan itu seperti penurunan depresi.. Cit. 17. Ingatlah. serta menangkal berbagai macam penyakit.

bacaan Al-Qur’an memberikan pengaruh besar bagi kehidupan jasmani dan rohani kita. Selain menjadi ibadah dalam membacanya. Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. bacaan Al-Quran berpengaruh besar hingga 97% dalam menghasilkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit. Al-Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter berbeda. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan. Kesimpulannya. kita memiliki kitab suci Al-Qur’an. yakni membacakan Al-Qur’an dengan tartil dan membacakan bahasa arab yang bukan dari Al-Qur’an.Penemuan sang dokter ahli jiwa ini ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. . Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi. Penelitian Dr. Al-Qur’an terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang mendengarkannya. disebutkan. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Al-Qur’an. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam konferensi kedokteran Islam Amerika utara pada tahun 1984. ketahanan otot. dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Sungguh suatu kebahagiaan dan merupakan kenikmatan yang besar. responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Al-Qur’an dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an. detak jantung.

untuk kemudian dipelajari. Diakses pada 15-4-2009. emosi terkendali. bacaan Al-Qur’an lebih dari itu. hati akan menjadi tenang. sistem memori dalam otak akan terlatih untuk mengingat. 2.multiply. dan keadaan psikologis menjadi baik. dikaji dan dikembangkan lebih lanjut menurut keilmuan yang sedang ditekuninya.82 Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa aktifitas menghafal Al-Qur’an. dengan terbiasa menghafal Al-Qur’an.com/journal/item/34. hal ini akan melatih ketajaman indera penglihatan dan pendengarannya terhadap ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.Jika mendengarkan musik klasik dapat mempengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang. hafalan Al-Qur’an (out put dari aktifitas menghafal) a) Dengan hafalan Al-Qur’an yang telah dimiliki. proses menghafal a) Dalam proses menghafal seorang siswa/mahasiswa terbiasa membaca dan mendengar ayat-ayat Al-Qur’an. . Selain itu. mahasiswa akan bisa dengan mudah mengambil ayat-ayat Al-Qur’an dari memorinya. bacaan Al-Qur’an mempengaruhi kecerdasan spiritual (SQ). memiliki keterlibatan terhadap prestasi belajar dalam 2 aspek: 1. b) Dengan membaca Al-Qur’an secara terus-menerus. Hal ini akan memudahkan siswa/mahasiswa untuk dapat menghafal pengetahuan lain selain AlQur’an. Khususnya pada mahasiswa jurusan pendidikan Agama Islam (PAI) yang menghafal Al-Qur’an. hafalan yang 82 http://musiconlinecairo. Selain memengaruhi IQ dan EQ.

sebagai hasil pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungan. Dengan demikian. dan secara langsung berimplikasi terhadap matakuliah keislaman karena faktor fisiologis dan hasil dari aktivitas menghafal. membaca Al-Qur’an secara tidak langsung berpengaruh terhadap pencapaian prestasi belajar mahasiswa pada matakuliah umum karena efek psikologis yang ditimbulkannya. sikap dan kebiasaan yang lebih baik dari sebelum ia belajar. keterampilan dan sikap. tafsir dan hadits tarbawi I dan II. . studi fiqih. Dengan demikian. telah dijelaskan bahwa belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. terutama dalam matakuliah yang berhubungan dengan ayatayat Al-Qur’an seperti studi Al-Qur’an. Sikap Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Penghafal Al-Qur’an Dalam pembahasan sebelumnya tentang belajar. pengetahuan. tafsir dan hadits. masail fiqhiyah I dan II. dapat dikatakan bahwa hal yang esensial dalam belajar adalah agar siswa/mahasiswa dapat memiliki pengetahuan. juga menyangkut beberapa aspek dan kebiasaan manusia yang tidak terlepas dari kepribadiannya. keterampilan. D.dimiliki akan sangat membantu dalam penguasaan matakuliah keagamaan Islam yang banyak bersentuhan langsung dengan ayat-ayat Al-Qur’an. dan ushul fiqih. Dengan adanya hafalan Al-Qur’an yang dimiliki oleh mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) tentunya akan dapat membantu dalam mencapai prestasi belajarnya. Perubahan ini berkaitan dengan perubahan kebiasaan.

agar dia dapat menjadi suri teladan yang baik bagi para peserta didiknya. Op. Menurut Qardhawi. Menghargai simbol keagamaan. Di sisi lain. maka hasil dari proses belajar Agama Islam adalah terwujudnya sikap religius dalam diri siswa/mahasiswa. Ajaran agama dijadikan sumber pengembangan ide. bukan hanya menjadikan seseorang menjadi ahli agama. .83 Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI). Menggunakan pendekatan agama dalam menentukan pilihan. seorang mahasiswa penghafal Al-Qur’an memiliki beberapa sikap yang harus selalu ia lakukan. Ketujuh sikap religius di atas dapat dijadikan acuan untuk mengukur berhasil tidaknya pelaksanaan pendidikan Agama Islam. karena itulah sikap dan kebiasaan yang baik harus benar-benar diterapkan dalam kehidupannya. Dalam hubungannya dengan Pendidikan Agama Islam. Akrab dengan kitab suci. merupakan calon pendidik yang akan mengajarkan nilai-nilai Islam kepada pada peserta didiknya. 4. hlm. Hal ini karena tujuan utama pendidikan Agama Islam adalah untuk membina kepribadian mahasiswa agar menjadi orang yang taat dalam melaksanakan ajaran agama. 7. Menurut Alim. 2. Komitmen terhadap perintah dan larangan agama Bersemangat mengkaji ajaran agama. Cit. 3. bagi para penghafal Al-Qur’an 83 Muhammad Alim.Sikap dapat diartikan sebagai kecenderungan siswa/mahasiswa untuk bertindak dengan cara tertentu.. 6. 5. ada beberapa ciri sikap religius antara lain: 1. Aktif dalam kegiatana keagamaan. 12.

maupun mengkaji ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya. Hendaknya ia memurnikan niatnya hanya karena Allah. 3. bukan karena ingin pamer atau menginginkan pujian dari manusia. Berinteraksi dengan Al-Qur’an. Selalu bersama Al-Qur’an Diantara etika penghafal Al-Qur’an adalah selalu bersama Al-Qur’an. Ikhlas dalam mempelajari Al-Qur’an Seorang penghafal Al-Qur’an harus memiliki niat yang ikhlas dalam mempelajari Al-Qur’an. Ketika ia sedang dalam kesendirian. Berakhlak dengan akhlak Al-Qur’an Penghafal Al-Qur’an hendaknya mampu menjadi suri teladan bagi orang lain dengan selalu berakhlak dan bertingkah laku sebagaimana yang diajarkan oleh AlQur’an. Abdul Hayiee Al-Kattani (Jakarta: Gema Insani Press. 1999). akan tetapi ia hendaknya mengembangakan pengetahuannya dengan cara mengkaji. Dengan demikian. memahami dan mengaplikasikan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari. hlm. seorang penghafal Al-Qur’an seharusnya tidak hanya membaca berulang-ulang ayat-ayat Al-Qur’an. mendengarkan dari orang lain. 84 . baik dengan membacanya.ada beberapa sikap yang harus diperhatikan agar hafalan Al-Qur’an dapat terus dilestarikan dan menjadi ilmu yang bermanfaat. 84 Yusuf Qardhawi. maksudnya adalah hendaknya penghafal Al-Qur’an senantiasa menjadikan AlQur’an sebagai teman dalam situasi apapun. diantaranya adalah: 1. kesusahan dan dalam kegembiraan. 2. Terj. 201-208. Dalam hal ini memang telah menjadi kewajiban bagi para penghafal Al-Qur’an untuk senantiasa melestarikan hafalannya.

dan ketiga membangun spiritualisme dalam masyarakat. ia juga berkesempatan untuk membangun spiritualisme dan religiusitas di masyarakat dengan cara menanamkan nilai-nilai moral yang luhur.85 Dari sinilah dapat diketahui bahwa selain mengidentifikasi masalah yang ada di masyarakat. Penegakan Moral Akademik di Dalam dan di Luar Kampus (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. serta membangun spiritualisme mutlak diperlukan oleh mahasiswa untuk menyelesaikan problematika masyarakat. kemudian menganalisisnya. diperlukan tiga syarat mutlak bagi mahasiswa. mahasiswa merupakan tumpuan dan harapan masyarakat yang akan berperan menjadi pemimpin di masa mendatang. membangun spiritualisme dalam dirinya. rasional. yaitu: Pertama. Pertama.Dalam kehidupan sosial. kedua. seorang mahaiswa harus dapat menghadapi problematika internal dirinya juga problematika yang ada di masyarakat. Kedua. mengisi manusia modern tersebut dengan spiritualisme keagamaan. rasional dan menyejukkan. mampu mengidentifikasi secara tepat dan cepat masalah-masalah baru yang dihadapi di masyarakat. Dengan demikian dibutuhkan kemampuan khusus mahasiswa dalam mengatasi problematika tersebut. Salah satu Syahrin Harahap. 2005). Oleh karena itu. dan menyejukkan. karena telah dibekali dengan pengetahuan Agama yang mendalam. adanya pengetahuan Agama yang mendalam. Selain itu. Dalam melakukan fungsi analisis dan pengisiannya. 85 . hlm. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Qur’an. pengetahuan Agama yang mendalam. memiliki potensi yang besar untuk membantu dalam menyelesaikan problematika di masyarakat. 13. berdasarkan analisis yang dilakukan.

mereka diharapkan dapat membantu penyelesaian masalah di masyarakat khususnya yang berhubungan dengan penanaman moral dan spiritual keagamaan. dan etika yang ada di dalamnya. karena selain telah dibekali pengetahuan Agama yang mendalam dan menyejukkan. hukumhukum. . Dari uraian di atas dapat diketahui. Dengan demikian. akan tetapi juga mengajarkan pemahaman dan maknanya. Adapun yang dimaksud dengan mengajarkan Al-Qur’an disini. ibrah yang dikandungnya. adalah dengan mengajarkan Al-Qur’an yang telah dipelajari. ia juga memiliki kemampuan menghafal Al-Qur’an. bukan hanya mengajarkan lafadnya untuk dihafal saja.cara menanamkan nilai-nilai tersebut. bahwa mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam yang menghafal Al-Qur’an memiliki kesempatan untuk mengajarkan dan mensyiarkan nilai-nilai ajaran Islam secara luas di masyarakat.

serta dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. 86 . Studi Kasus Desain dan Metode. pada suatu konteks khusus yang alamiah. motivasi tindakan. hlm. dengan unsur-unsur pokok yang harus ditemukan sesuai dengan rumusan masalah. 18. hlm. Djauzi Mudzakir (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. tujuan dan manfaat penelitian. maka digunakan metode penelitian kualitatif dengan strategi studi kasus tunggal. apabila batas-batas antara fenomena tidak tampak dengan tegas.86 Adapun strategi studi kasus merupakan suatu inkuiri empiris yang menyelidiki fenomena di dalam konteks kehidupan nyata.BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Yin. M. seperti perilaku. secara holistik. Moleong. 2006). dengan cara mendeskripsikan dalam bentuk kata-kata dan bahasa.87 Melalui penelitian tentang implikasi hafalan Al-Qur’an dalam prestasi belajar mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) ini.. 87 Robert K. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian. Metode dan Strategi Penelitian Untuk menemukan pemahaman yang holistik tentang implikasi (keterlibatan) hafalan Al-Qur’an dalam prestasi belajar mahasiswa pendidikan Agama Islam. persepsi. peneliti bermaksud memahami realitas empirik dari fenomena-fenomena yang muncul dalam proses Lexy J. Terj. Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya. dan ada berbagai multisumber yang dapat dimanfaatkan. 2006). 6.

Selain itu. norma. B. sehingga tujuan penelitian dapat dicapai. Dalam meneliti dan menginterpretasikan informasi dan data. Apabila fokus penelitian telah jelas. maka instrumen sederhana dapat pula digunakan. kredibel dan bermakna. perasaan. dengan menggunakan metode kualitatif dapat ditemukan data yang berupa proses kerja. khususnya dari Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) yang berada di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. serta bagaimana sikap keseharian mahasiswa tersebut. Sebagaimana salah satu ciri penelitian kualitatif dalam pengumpulan data dilakukan sendiri oleh peneliti. Dengan menggunakan metode kualitatif. maka data yang didapat akan lebih lengkap. keyakinan. Fokus dari pengamatan adalah bagaimana prosedur menghafal Al-Qur’an yang ada di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. sikap mental dan budaya yang dianut seseorang maupun sekelompok orang dalam lingkungan sosialnya. kehadiran peneliti bertindak sebagai instrumen utama sekaligus pengumpul data.pengamatan. deskripsi yang luas dan mendalam. Dalam penelitian ini yang akan diamati adalah aktivitas mahasiswa penghafal Al-Qur’an. seperti pedoman . penulis menggunakan referensi untuk dijadikan acuan atau dasar penguat data yang ditemukan. Apakah hafalan yang dimiliki mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) berimplikasi dalam prestasi belajarnya. Kehadiran Peneliti Dalam penelitian ini. lebih mendalam.

wawancara. Lexy. hati-hati dan bersungguh-sungguh dalam menjaring data sesuai dengan kenyataan di lapangan. sehingga data yang terkumpul benar-benar relevan dan terjamin keabsahannya. . Data dan Sumber Data Data yang cari dalam penelitian ini adalah berupa data-data deskriptif. Moelong. D. bersikap selektif. pelaksana pengumpulan data. Peneliti memilih Lokasi di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini. J. bahwa kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif sekaligus merupakan perencana. Sumber data dalam penelitian ini adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. Gajayana no. Alfabeta. observasi dan dokumentasi. Adapun sumber data yang digali dalam penelitian yang terdiri dari sumber utama yang berupa kata-kata dan tindakan. Op. 2008). Lokasi Penelitian Adapun lokasi yang dijadikan situs penelitian ini adalah Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang beralamat di Jl. 168. Memahami Penelitian Kualitatif (Bandung: CV. namun fungsinya hanya sebatas sebagai pendukung dan pembantu dalam penelitian. Cit. serta sumber data tambahan yang 88 89 Sugiono. kecamatan Lowokwaru kota Malang. 50 kelurahan Dinoyo. tingkah laku serta dokumen-dokumen pendukung lainnya.. hlm. karena di dalamnya terdapat satu unit pengembangan tahfizh Al-Qur’an yang disebut “Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh” (JQH) Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. hlm. karena itu penelitian harus dilaksanakan dengan sebaik mungkin. 61. penafsir data dan pada akhirnya menjadi pelapor hasil penelitian. analisis.89 C. yang berupa kata-kata.88 Menurut Moleong.

observasi dan angket. yaitu: a. sumber data utama dari wawancara diperoleh dari beberapa informan seperti: mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Qur’an. sumber data arsip. artikel dari media massa dan internet yang digunakan penulis dalam penelitian. Cit. hlm. Jenis sumber data ini biasanya diambil peneliti melalui wawancara. 62. foto. pembina/instruktur yang membimbing mahasiswa dalam proses menghafal dan mengulang hafalan. J. Op.91 90 91 Lexy. dan data statistik. serta temanteman sejawat mahasiswa baik di Ma’had maupun di kampus. Moelong. apabila dilihat dari sumber datanya pengumpulan data dapat menggunakan 2 macam sumber. koran. diperoleh dari mahasiswa Jurusan pendidikan Agama Islam penghafal Al-Qur’an. Sugiono. 157.. Sumber data utama (Primer) adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data.90 terdiri dari data dan tindakan. Op. Menurut Sugiono. . hlm. Cit.berupa dokumen-dokumen. Sumber data tambahan (sekunder) adalah sumber yang secara tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data. dokumentasi pribadi. b. Jenis sumber data misalnya dari buku dan majalah ilmiah. Dalam penelitian ini. dokumentasi organisasi. Sumber dan jenis sumber data tertulis. Sedangkan untuk data angket..

92 . dengan mengajukan pertanyaan. Hal ini penulis lakukan guna memperoleh data-data lengkap mengenai proses pelaksanaan kegiatan menghafal Al-Qur’an.Remaja Rosda Karya. 2003). b. berdasarkan tujuan tertentu. metode ini juga dipergnakan untuk mencari informasi dari para pembimbing yang mengarahkan secara langsung proses menghafal mahasiswa. antara lain: a. tentang bagaimana cara mereka menghafal dan melestarikan hafalanya. Metode Wawancara Mendalam (In depth interview) Wawancara adalah bentuk komunikasi antara dua orang. Selain itu. hlm. Metodologi Penelitian Kualiatatif Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya (PT.92 Metode ini penulis aplikasikan dengan jalan mewawancarai secara langsung dan mendalam para mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) yang menghafal Al-Qur’an. Angket Metode angket adalah dengan memberikan beberapa pertanyaan tertulis dengan alternatif jawaban multiple choice kepada informan. Prosedur Pengumpulan Data Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa metode. metode ini digunakan Deddy Mulyana. serta bagaimana implikasi hafalan yang mereka miliki dalam peningkatan prestasi belajar matakuliah yang berhubungan dengan AlQur’an. melibatkan seseorang yang ingin memperoleh informasi dari seorang lainnya. serta teman sejawat mahasiswa penghafal Al-Qur’an baik yang ada di Ma’had maupun yang ada di kampus. serta untuk memperoleh keterangan yang sebenarnya tentang sikap keseharian mahasiswa penghafal Al-Qur’an di Ma’had maupun di kampus. 180.E.

hlm. Metode Dokumentasi Metode dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk mengumpulkan data dari: berbagai jenis informasi dapat juga diperoleh melalui dokumentasi 93 Sugiono. khatmil Al-Qur’an tiap minggu. Op. Peneliti menggunakan jenis observasi partisipasi moderat. Metode Observasi Metode observasi atau pengamatan ada beberapa macam. Adapun kegiatan yang diobservasi adalah proses kegiatan menghafal AlQur’an yang dilakukan mahasiswa di rumah para pembina. akan tetapi tidak semuanya. yaitu peneliti terlibat dalam kegiatan sehari-hari orang sedang diamati. kegiatan mengulang hafalan bersama yang dilaksanakan ba’da Isya’..untuk mencari data yang berhubungan dengan riwayat pendidikan mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Qur’an. waktu menghafal perhari. 66. serta bagaimana dukungan lingkungan ma’had terhadap hafalan mereka. baik di Ma’had maupun di kampus. . c. Cit. d. kendala dalam menghafal dan melestarikan hafalan. serta sikap dan tingkah laku mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Qur’an tersebut. sambil melakukan pengamatan peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data dalam beberapa kegiatan. jumlah hafalan yang dimiliki.93 Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data-data dengan mengamati secara langsung terhadap objek yang diteliti dengan cara mendatangi lokasi penelitian yaitu di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

94 G.. sehingga data tersebut memiliki kadar validitas yang tinggi. 94 Lexy J. Analisis Data Tehnik analisis yang digunakan dalam penlitian ini adalah analisis data kualitatif. analisis data kualitatif adalah proses menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari wawancara. seperti surat-surat resmi. Pada tahap penyaringan data inilah pengecekan keabsahan data dilakukan. memilah-milahnya menjadi satuan data yang dapat dikelola. catatan lapangan. dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain. menemukan apa yang penting dan yang dapat dipelajari. memorandum. . 248. laporan-laporan. agenda. media. proposal. Jika terdapat data yang tidak relevan dan kurang memadai maka akan dilakukan penyaringan data sekali lagi dilapangan. mensintesiskannya.organisasi. Menurut Bodgan dan Biklen dalam Moleong. kliping. catatan rapat. F. laporan perkembangan yang dipandang relevan dengan penelitian yang dikerjakan dan sebagainya. hlm. Op. foto-foto kegiatan khatmil Al-Qur’an mingguan. Pengecekan Keabsahan Data Data yang telah dikumpulkan oleh peneliti kemudian dikelompokkan berdasarkan jenisnya dan dilengkapi. dan bahan-bahan lain. Moleong. artikel. mencari dan menemukan pola. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data. kartu hasil studi mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) yang menghafal Al-Qur’an. sehingga mudah dipahami. Cit. mengikuti konsep Bodgan dan Biklen.

uji transferabilitas (3). 2003) uji kredibilitas data atau kepercayaan kepada data hasil penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan tehnik sebagai berikut: 1. 2. dengan demikian peneliti akan semakin mendalami fenomena sosial yang sedang diteliti seperti apa adanya. akan semakin memungkinkan meningkatnya derajat kepercayaan data yang dikumpulkan. . uji kredibilitas data (2). 3.Peninjauan keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi: (1). Triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi metode (menggunakan lintas metode pengumpulan data). Melakukan triangulasi yaitu pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data. uji dependebilitas. dengan semakin lamanya peneliti terlibat dalam pengumpulan data. uji konfirmabilitas. serta triangulasi pengumpul data. dan (4). Menurut Kanto (dalam Bungin. Melakukan observasi secara terus menerus dan sungguh-sungguh terhadap objek penelitian guna memahami gejala lebih mendalam terhadap berbagai aktivitas yang sedang berlangsung di lokasi penelitian. Penggunaan tehnik triangulasi ini memungkinkan diperoleh variasi informasi yang seluasluasnya atau selengkap-lengkapnya. Memperpanjang keikutsertaan peneliti dalam proses pengumpulan data di lapangan. triangulasi sumber data (memilih berbagai sumber data yang sesuai).

memberikan masukan. 60-61. Sebuah penelitian kualitatif dapat dikatakan memiliki standar transferabilitas yang tinggi apabila para pembaca laporan penelitian dapat memperoleh gambaran dan pemahaman yang jelas tentang konteks dan fokus penelitian. data tentang dokumen juga sebaiknya dicantumkan dalam laporan penelitian. bahkan kritikan mulai awal kegiatan proses penelitian sampai tersusunnya hasil penelitian.4. 2003). data tentang interaksi manusia atau gambaran tentang suatu keadaan perlu didukung dengan foto-foto.95 Dalam redaksi yang lain Sugiono menambahkan. Dalam beberapa hal. hasil wawancara harus didukung dengan adanya rekaman. 96 Sugiono. dalam uji kredibilitas data juga dibutuhkan adanya bahan referensi. Adapun yang dimaksud dengan bahan referensi di sini adalah pendukung untuk membuktikan data yang telah diperoleh peneliti. kasus negatif ini akan semakin mempertajam temuan penelitian. Contohnya. 5. Cit. hlm. Burhan Bungin (ed). 128. Melakukan analisis atau kajian kasus negatif. Melibatkan teman sejawat (yang tidak mengikuti penelitian) untuk berdiskusi. 6. Raja Grafindo Persada. Melacak kesesuaian dan kelengkapan hasil analisis data.96 Uji standar transferabilitas menujukkan derajat ketepatan atau dapat diterapkannya hasil penelitian pada populasi di mana sampel tersebut diambil. hlm. yang dimanfaatkan sebagai kasus pembanding atau bahkan sanggahan terhadap hasil penelitian. Op. 95 . Analisis Data Penelitian Kualitatif Pemahaman Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi (Jakarta: PT..

Sebuah penelitian dikatakan obyektif apabila hasil penelitian dapat disepakati oleh banyak orang. Tahapan Penelitian 1.Uji dependebilitas dalam penelitian kualitatif dilakukan dengan melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian. 2. 130-131. wawancara mendalam. Tahap Pra Lapangan Adapun yang dilaksanakan oleh peneliti pada tahap ini adalah menyusun proposal penelitian. sehingga pengujian dapat dilakukan secara bersama-sama.. Cit. Uji Konfirmabilitas hampir mirip dengan uji dependebilitas.97 H. Proposal penelitian digunakan untuk meminta izin kepada lembaga yang terkait sesuai dengan sumber data yang diperlukan. Pengumpulan data Pada tahap ini yang dilakukan peneliti adalah mengumpulkan data dengan menggunakan berbagai tehnik pengumpulan data seperti observasi. Tahap Pelaksanaan Penelitian a. . 97 Sugiono. Konfirmabilitas dalam penelitian kuantitati adalah uji obyektivitas penelitian. dan mengumpulkan berbagai dokumen yang relevan dengan penelitian. Suatu penelitian dikatakan memiliki dependebilitas apabila orang lain dapat mengulangi/mereplikasi proses penelitian tersebut. Op. hlm.

Tahap Akhir Penelitian a. Membuat laporan penelitian. . c. dokumentasi dan angket kemudian diidentifikasikan agar memudahkan peneliti dalam menganalisa sesuai dengan tujuan yang diinginkan. b. Menganalisa data sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Menyajikan data dalam bentuk deskripsi. Mengidentifikasi data Data yang sudah terkumpul dari hasil wawancara. observasi. 3.b.

terlebih bagi bagi mahasiswa yang telah mempunyai hafalan Al-Qur’an . MA dan Ustadzah Ismatud Diniyah (Istri H.BAB IV LAPORAN HASIL PENELITIAN A.Ag) telah memulai kegiatan menyimak bacaan AlQur’an beberapa mahasiswa yang mempunyai keinginan menghafal Al-Qur’an. Pada saat itu Ustadz Samsul Ulum. Beberapa mahasiswa yang yang aktif mentashihkan hafalannya mulai mensosialisasikan dan mempublikasikan adanya kegiatan pentashihan ini kepada mahasantri Ma’had Sunan Ampel Al-Ali yang lain. terutama tahfizh AlQur’an. Deskripsi Objek Penelitian 1. Adanya sosialisasi ini dimaksudkan untuk mengajak mahasantri yang berminat untuk menghafalkan AlQur’an. Sejarah Berdirinya Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh (JQH) Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh (JQH) Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang adalah sebuah organisasi yang berorientasi pada pengembangan pembelajaran dan pengajaran Al-Qur’an. Cikal bakal berdirinya Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh (JQH) Ma’had Ssunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang adalah pada tahun 2000. Isyraqun Najah. Organisasi ini berada di bawah naungan Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sebagai unit pengembangan tahfizh dan pembelajaran Al-Qur’an. M.

terutama yang dititik beratkan pada bidang hafalan AlQur’an.98 Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh awalnya dirintis menjadi sebuah organisasi pada tahun 2001. menyepakati untuk membentuk organisasi yang berorientasi pada pengembangan pembelajaran dan pengajaran Al-Qur’an. ada beberapa nama yang diusulkan untuk menjadi nama organisasi ini. Pada periode awal berdirinya JQH di UIIS Malang. 98 . Nama JHQ ini sempat digunakan untuk beberapa bulan. diantara nama-nama tersebut adalah: Jam’iyyah Ta’lim Al-Qur’an (JTQ).sebelumnya (baik yang baru beberapa juz maupun yang telah khatam 30 juz). Jam’iyyah Huffazh Wal Qurra’ (JHQ) kata Huffazh didahulukan dari kata Qurra’ dengan alasan penekanan bahwa jam’iyyah ini menitik beratkan pada bidang hafalan Al-Qur’an dan agar tidak terjadi kesamaan nama dengan Jamiyyatul Qurra’ wal Huffazh yang merupakan badan otonom Nahdhatul Ulama di bidang tahfizh dan Qir’oah. yang mengadakan tadarus di Masjid At-Tarbiyah Universitas Islam Indonesia Sudan (UIIS) Malang (nama UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada saat itu). Dengan mengacu pada cita-cita luhur kampus UIIS Malang yang ingin mencetak Insan Ulul Albab. Tanggal 21 Mei 2009. pada hari Jum’at. Instruktur Hafalan Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Berawal dari kenyataan bahwa ada beberapa mahasiswa yang Hafizh Al-Qur’an (baik 30 juz maupun dalam tahap menghafal). 23 November 2001 M/08 Ramadhan 1422 H. agar hafalannya tetap dapat dilestarikan dan tidak sampai lupa. Wawancara dengan Ismatud Diniyah. komunitas mahasiswa/mahasiswi penghafal Al-Qur’an.

Hal ini dimaksudkan untuk membedakan dengan Jam’iyyah Qurra’ wal Huffazh yang ada di luar UIIS Malang.Melalui beberapa pembahasan dan pertimbangan. Melalui pembantu Rektor III saat itu. Dalam Pertemuan pembantu Rektor III bidang kemahasiswaan saat itu (tanggal tidak diketahui) dihadiri oleh para pembina JQH. diantaranya yaitu mengadakan tadarus dan saling meyimak bacaan Al-Qur’an di masjid At-Tarbiyah UIIS Malang setiap selesai sholat Jum’at. Hal ini tiada lain karena semangat dan niat yang ikhlas para pengurus dan anggotanya. beliau menyatakan ingin membentuk suatu wadah yang menampung mahasiswa yang mempunyai hafalan Al-Qur’an. ibarat gayung bersambut. H. dengan harapan wadah ini menjadi penyeimbang warga kampus yang terlihat “sudah agak menjauh” dari nilai-nilai Qur’ani. Imam Suprayogo yang sangat cinta dan antusias terhadap mahasiswa yang menghafal Al-Qur’an. yaitu Bapak Drs. Pada saat itu. Rektor UIIS Malang (nama UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ketika itu). Dengan dukungan dana yang sangat minim. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan masih sangat sederhana. Bapak Prof. DR. akhirnya disepakati sebuah nama Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh Universitas Islam Indonesia Sudan Malang (JQH UIIS Malang). memberikan apresiasi berupa pemberian beasiswa. Setelah kegiatan ini berjalan. beberapa kegiatan sudah mulai berjalan. MA. Muhtadi Ridlwan. . mengadakan kajian tafsir setiap Rabu malam. serta menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menghafal. JQH masih bersifat swadaya. yaitu : Ustadz H. artinya seluruh biaya operasional dan biaya administrai surat menyurat diambil dari iuran wajib anggota. dan mengadakan khatm Al-Qur’an setiap minggunya. mengkaji dan mendalami Al-Qur’an.

Hum. apalagi anda yang sudah jelas berhubungan langsung dengan Al-Qur’an. Hum. kalaupun masih ada mahasiswa yang ketika lulus hafalannya banyak hilang atau lupa. Ustadz Syafa’at.Ag. Kami merasa berdosa jika ada mahasiswa yang masuk Universitas Islam Indonesia Sudan (UIIS) Malang ini dengan membawa hafalan. Oleh karena itulah kampus kemudian menyediakan sarana dan wadah untuk pengembangan kualitas hafalan dan keilmuan yang berkaitan dengan Al-Qur’an. E III/Kp. Ustadz M. kampus UIIS Malang telah memberikan wadah/fasilitas. faiqoh. dengan alasan tidak ada wadah (organisasi) yang memfasilitasi penjagaan hafalannya. dengan nama “Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh Universitas Islam Indonesia Sudan (UIIS) Malang”. kitab suci umat Islam. Dari pernyataan tersebut jelaslah bahwa apresiasi para petinggi kampus Universitas Islam Indonesia Sudan (UIIS) Malang pada saat itu. dari Departemen Agama RI. Inti pertemuan itu adalah pematangan rencana peresmian Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh UIN Malang oleh ibu Hj. Di kampus ini. Ah. M. jam’iyyah ini diresmikan oleh Ibu Hj. Tanggal 21 November 2002 M/17 Ramadhan 1423 H. M. maka itu sudah merupakan tanggung jawab dirinya sendiri. sangat baik terhadap adanya komunitas penghafal Al-Qur’an. Dengan adanya jam’iyyah ini. Faiqoh.1/368/2003 tanggal 01 April 2003 Rektor UIIS Malang. M. lalu ketika lulus hafalannya banyak yang hilang atau lupa. . dan Ustadzah ‘Ismatud Dinniyah. (Direktur ponpes dan Perguruan tinggi Islam DEPAG RI. M. Samsul ulum. Selanjutnya dengan merujuk pada surat tugas No.Ag. teater musik. seluruh kegiatan mahasiswa seperti fotografi.Ag.01. Ustadz Abdul Hadi. Dalam pertemuan tersebut Pembantu Rektor III memberikan sambutan sebagai berikut: Anda semua yang sekarang berada di Masjid ini. adalah orang-orang yang mempunyai tugas/amanah untuk menjaga Al-Qur’an (hafizh/hafizhah). Lc. maka kampus ini juga mempunyai kewajiban untuk memfasilitasi anda.Isyroqunnajah. M.). pramuka dan lain sebagainya mendapat fasilitas dari kampus.

Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh (JQH) Dalam Lintasan Sejarah. yaitu JQH masuk sebagai devisi semi otonom di bawah lembaga kajian Al-Qur’an dan Sains (LKQS). Pada periode ini. 1-2 November 2008. 99 . JQH diketuai oleh Khoirul Alim. sektretaris Muhammad Hasyim.keberadaan Jam’iyyatul Qurra’wal Huffazh Universitas Islam Indonesia Sudan (UIIS) Malang resmi berada di bawah bimbingan lembaga kajian Al-Qur’an dan Sains (LKQS) Universitas Islam Indonesia Sudan (UIIS) Malang. mudarosah (saling menyimak hafalan). Kegiatan yang telah berjalan tinggal meneruskan.99 Periode pertama sejak terbentuk. Pada periode ini ada perubahan status kelembagaan JQH. sekretaris Erryk Kusbandono. bisa dikatakan organisasi JQH masih mencari format. wakil ketua Muhammad Hasyim. Diantara kegiatan-kegiatan yang berjalan pada saat itu adalah setoran Al-Qur’an. JQH diketuai oleh Gus A. sehingga kegiatan JQH masih meliputi kegiatan yang sifatnya penguatan sumber daya manusia dan sosialisasi JQH. Adapun devisi yang ada hanya devisi mudarosah dan devisi munaqosyah. Periode kedua tahun 2003-2004. Pada periode ini ada penambahan Muhammad Hasyim. Pada periode ini format ta’aruf Qur’ani mulai digunakan untuk perekrutan anggota baru. baik binnazhri maupun bil ghaibi/bil hifzhi. mengadakan diskusi rutin tentang tafsir. 1-3. wakil ketua Muhammad As’ad. hlm. khatm Al-Qur’an (dilakukan di masjid tarbiyah setiap minggu dan sebulan sekali diadakan di luar kampus). tahun 2001-2003. yang secara fungsional tetap berada di bawah naungan pembantu rektor III bidang kemahasiswaan. Makalah disampaikan Dalam Acara Ta’aruf Qur’ani VI JQH UIN Malang. Khoshi Bahrowi. mengadakan pelatihan untuk menjadi trainer pembelajaran Al-Qur’an yang saat itu terbuka anggota dan dalam lingkup kecil.

ketua I M. yaitu kajian teks tafsir oleh KH. Pada perode ini JQH tetap menjalin kerjasama dengan Radio Simfoni FM dalam kegiatan kajian Tafsir tematik yang . sekretaris umum A. Diantara kegiatan tersebut adalah menjalin kerjasama dengan forum silaturrahim Qurra’ dan Huffazh (FSQH) se-Malang raya yang ketika itu diketuai oleh KH. kajian Qiro’ah Sab’ah serta kajian kitab Shafahat fi ulumil Qira’at oleh Ustadz Syafaat. Pada periode ini. Marzuki Mustamar. Pada periode ke-dua ini. Periode ke-empat tahun 2005-2006. Acara ini disiarkan secara on air. diisi dengan pembacaan murottal oleh anggota JQH dilanjutkan dengan materi ilmu tajwid dengan sesi tanya jawab. Pada periode ini ditambahkan devisi humas dan dakwah yang berfungsi untuk menerbitkan buletin JQH. serta turut aktif dalam kegiatan-kegiatan MTQ baik tingkat kabupaten. sekretaris umum oleh M. Chamim. Dalam periode ini kegiatan JQH yang sudah berjalan tetap dilanjutkan. hal ini karena JQH mulai bersosialisai dan turut aktif dalam kegiatan-kegiatan di luar kampus yang berkaitan dengan Al-Qur’an. Faishol. M. kotamadya. Mun’im Syadzili. dan seni kaligrafi. JQH tetap diketuai oleh Khoshi Bahrowi. propinsi maupun nasional. Chamim. JQH UIIS Malang mulai dikenal masyarakat Malang dan sekitarnya. Ketua II Rois Umar. As’ad. devisi mudarosah dan humas menjalin kerjasama dengan radio Simfoni FM dalam acara yang bertema “menyapa senja dengan Al-Qur’an”. Periode ketiga tahun 2004-2005. ketua JQH UIN Malang dipegang oleh M.Ag. Devisi yang ada di JQH ditambah yaitu: devisi funun Islamiyah yang membidangi seni islamiyah seperti Qiro’ah. Drs.kegiatan.

Visi. Periode ketujuh tahun 2008-2009 (kepengurusan sekarang). Ketua JQH adalah Sholihin. bercirikan intelektualitas. Peride ke-lima tahun 2006-2007.. Iksan. ketua umum JQH adalah Munjiyat. ketua II Imam Wahyudi Karimullah. wakil ketua Mustain. sekretaris adalah Muhlisin. Ketua II Alfan Suluh. Tujuan. serta semua kegiatan yang telah diprogramkan pada periode sebelumnya juga tetap dijalankan. sekretaris Ali Kadarisman. ketua I A. ketua Umum JQH adalah M. memahami dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.diadakan tiap minggunya. dan A. Faishol sebagai sekretaris umum. 100 Ibid. 4-5. dan Fungsi Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh (JQH) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang v Visi Terwujudnya kampus yang bernuansa Al-Qur’an. Misi.100 2. ketua I khoirul Amin. menghafal. yaitu sebagai salah satu unit di bawah naungan Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Malang. Periode ke-enam tahun 2007-2008. . hlm. Pada periode ini untuk kedua kalinya JQH mengalami perubahan status kelembagaan. Faishol. v Misi · Membentuk ahli Al-Qur’an yang mampu membaca. spiritualitas dan moralitas.

. pemahaman.· Membangun semangat akdemik yang Qur’ani di kalangan civitas akdemika UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. · Membina kader huffazh dan pecinta Al-Qur’an menjadi berilmu dan dan konsisten serta bertanggung jawab kepada hafalan. v Tujuan · Membentuk mahasiswa yang berkepribadian tinggi. serta untuk mengantarkan mahasiswa menjadi Ulama profesional yang intelek dan intelek profesional yang ulama. berwawasan keAl-Qur’anan dan mampu mentransformasikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan masyarakat. Wadah ukhuwah Islamiyah. Wadah pengabdian masyarakat. · · · Wadah pengkajian dan pengembangan keilmuan Al-Qur’an. dan pengamalan isi ajaran Al-Qur’an. · Membantu dan mendukung program ma’had Sunan Ampel Al-Ali (MSAA) dalam bidang ke-Al-Qur’anan. v Fungsi · Wadah peningkatan kualitas dan kuantitas bacaan dan hafalan AlQur’an.

Ibnu Arobi (Co) 2.Prof. Khilfatin Nabawiyah : Sholihin : Mustaen : Mukhlisin Nur Azizah : Rifqiyatuz Zuhriyah : Supardi . Mudarosah Putra: Penasehat: Alfan Suluh 1. ZakiyatulUmami (Co) 2.KH. Ismatud Diniyah. H. M.HI Pembina : 1. Isyroqun Najah. Ah Pengurus Harian: Ketua Umum Wakil Ketua Sekretaris I Sekretaris II Bendahara I Bendahara II Devisi-Devisi: Dev. Chamzawi. Imam Suprayogo . Imamul Muttaqin Dev. MA 2. M.Hum 4. struktur kepengurusan Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh (JQH) Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang adalah sebagai berikut: Pelindung : . Mudarosah Putri: Penasehat: Hikmatus Sa'diyah 1.3. Dr.Ag 3. Syafaat.Ag 5. Hasyim. M. M. Struktur Kepengurusan Pada periode 2008-2009. Syamsul Ulum. M. S.

Arif Nugroho 4. Handoko 6. Funun Islamiyah: Penasehat: Uswatun Hasanah 1. Mahbub Ainur Rofiq 3. Arba'in Nurdin 4. M. Ismiyatur Rofi'ah Dev. Humasy dan Dakwah: Penasehat: Aminah 1. Rizkiana Mahardika 3. Inventaris: Penasehat: Hilyatu Millati 1. Laily Rizki Amalia 4. Nely Ilmi Qoth'iyah 5. Agus Faizin (Co) 2. Manzilur Rohman R. M. Faisol 1. Qurroti A'yunin N. Uuz Hafizh Nawawi 5. Lutfiyah Inayati . Siti Mutholi'ah 5. Nury Firdausiyah 5. Sihatul Badriyah 3. Adib Mawardi 6. Hafizh Mubarok 6. Ika Chusniah Anggraeni (Co) 2. Munaqosyah: Penasehat: M. Agus Rinjani Dev. Didik Wahyudi (Co) 2. Khodijah al-Kubro 4. Budi Fairul 4.3. 3. Yalis Shokhib 4. Dev. Khoirun Nashokhah Dev. Babur Rohman (Co) 2. Alfiyatus Syarofah 6. Lina Mariya Ulfa 3.

Membangun jaringan dan kerjasama dengan institusi lain guna mendukung program kerja JQH UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. masjid At-tarbiyah dan halaqoh lantai 1 Peserta: Anggota. Program Kerja Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh (JQH) Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Ada beberapa program kerja yang diusung oleh JQH sebagai berikut: 1). penafsiran dan pengamalan isi kandungan Al-Qur’an. JQH memiliki program kerja tahunan dan juga kegiatan untuk setiap minggunya. Tempat: Mabna Al-Farabi. 5. Meningkatkan dan mengembangkan ilmu-ilmu ke-Al-Qur’an-an yang dititikberatkan pada bidang tahfizh.4. Diantara kegiatan tahunan yang dilaksanakan pada periode 2008-2009 adalah sebagai berikut: Nama: Waktu: Karantina tahfizh dan sekolah tafsir Tanggal 1-22 Februari 2009 dan 23-28 februari 2009. 2). bagi seluruh anggota dengan sistem intensif. . Meningkatkan kualitas intelektual seluruh aggota dalam pemahaman. Kegiatan Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh (JQH) Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang periode 2008-2009 Dalam setiap periode kepengurusan. mabna Al-Ghozali. pengurus JQH. dan partisipan luar. 3). penghayatan.

Pesantren se-Jatim. Peserta: Seluruh anggota JQH UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang mengikuti tes wisuda dengan klasifikasi (5. Pondok Pesantren Al-Qur’an di Univesitas Al-Qur’an Jateng). Peserta: Nama: Waktu: Anggota.15.dan 30 Juz).25. Selain kegiatan yang diadakan sekali dalam satu periode. bertepatan dengan temu wali mahasantri baru Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Tempat: Gedung SC UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sunan Pandan Aran Jogjakarta.10.20.Nama: Waktu: Olimpiade Al-Qur’an Tanggal 23-24 Mei 2009 Tempat: Halaqoh. Peserta: SMA/MA sederajat. dan Mahasantri Ma’had Sunan Ampel Al-Ali (2008-2009) Nama: Waktu: Rihlah Qur’ani Tanggal 5-7 juli 2009 Tempat: Wonosobo (PP. masjid. dan Pembina JQH Wisuda Tahfizh Pada setiap bulan Agustus. Pengurus. JQH juga mempunyai kegiatan yang diadakan setiap minggunya. depan mabna Al-Ghozali. sebagaimana tertera dalam tabel berikut: .

00 WIB Masjid Tarbiyah Tempat Mabna Al-Ghozali lantai 3 .00 WIB 12.30 WIB Tempat Masjid Tarbiyah Masjid Tarbiyah Masjid Tarbiyah Kamis malam 20.00 WIB Tempat Masjid Tarbiyah 2 Kajian ulum alQur’an Kondisional - Masjid tarbiyah Divisi Mudarosah Putra No 1 Program Setoran hafalan kepada pembina (instruktur) 2 Khatm AlQur’an 3 Setoran kepada pendamping Sesuai kelompok Devisi Mudarosah Putri Mabna Al-GhozAli lt.00 WIB 12.1 Jadwal Kegiatan Harian dan Mingguan JQH Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Devisi Funun Islamiyah No 1 2 3 Program Latihan Qiro’ah Olah Vokal Latihan Kaligrafi Hari Rabu malam Ahad pagi Jam 20.3 Waktu Sabtu Selasa Rabu Ahad Jam 05.00 WIB Devisi Munaqosyah No 1 Program Kajian Tafsir ayat al-ahkam Waktu Ahad sore Jam 16.00 WIB 05.Tabel 4.00 WIB 06.

Maret 2004.00 wib Tempat Masjid Tarbiyah . 2) 2 Khatm AlQur’an bil ghaib Ahad 06.00 WIB di tiap Mabna 4 Setoran kepada Pendamping Sesuai kelompok 19. Jam 16.00 WIB di tiap Mabna 3 Khatm AlQur’an Bin Nazhar Ahad 06.00 WIB Tempat Ndalem Ning Isma (rumah dinas No.00-13.Kubro Divisi Mudarosah putra dan putrid No 1 Program Qiro’ah sab’ah Waktu Sabtu (2 minggu 1x) Sumber: Data dokumentasi Organisasi 6.30 WIB Mabna Khodijah Al. Prestasi Anggota Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Adapun prestasi yang dicapai oleh JQH Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang adalah sebagai berikut: v Tahun 2003 Pada Musabaqah Tilawatil Qur’an forum silaturahim Qurra’ Wal Huffazh (FSQH) se-Malang Raya.No 1 Program Setoran hafalan kepada pembina (instruktur) Waktu Senin s/d Sabtu Jam 09.

Jawa Timur di Sumenep-Madura · · Juara I cabang Tafsir bahasa inggris putri Juara I cabang Musabaqah Khoththil Qur’an putri . Juli 2004 · Juara III cabang Tafsir Bahasa Inggris dan MHQ 30 juz v Tahun 2004 Pada Musabaqah Tilawatil Qur’an XXI tingkat Kotamadya Malang · · · · · · · Juara I cabang Musabaqah Hifzhil Qur’an 5 juz tilawah Juara I cabang Musabaqah Hifzhil Qur’an 10 juz Juara I cabang Tafsir bahasa Indonesia Juara II cabang Musabaqah Tilawatil Qur’an remaja putra Juara II cabang Musabaqah Hifzhil Qur’an 20 juz Juara III cabang Musabaqah Tilawatil Qur’an remaja putri Juara III cabang Musabaqah Hifzhil Qur’an 10 juz v Tahun 2005 · Juara III cabang Musabaqah Fahmil Qur’an tingkat Prov.· · · · · Juara I cabang Musabaqah Hifzhil Qur’an 5 juz tilawah Juara I cabang Musabaqah Hifzhil Qur’an 10 juz Juara III cabang Musabaqah Hifzhil Qur’an 5 juz tilawah Juara III cabang Musabaqah Hifzhil Qur’an 30 juz Juara III cabang Tilawatil Qur’an remaja putri Pada Seleksi Tilawatil Qur’an XVIII (STQ XVIII) tingkat Nasional di Bengkulu.

v Tahun 2006 · Juara III cabang Tafsir bahasa inggris tingkat Nasional di KendariSulawesi · Seleksi Musabaqah Hifzhil Qur’an dan Hadits tingkat Nasional di KEDUBES Saudi Arabia setiap tahun di Jakarta · Mendapat kepercayaan sebagai mu’allim al-Qur’an Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Malang v Tahun 2007 · Juara Harapan I MTQ 2007 Se-Jawa Timur cabang Musabaqah Syarhil Qur’an di Blitar · · Juara Harapan I dan II MTQ 2007 Se-Jawa Timur Juara III MTQ 2007 Se-Jawa Timur cabang Tafsir Bahasa Inggris di Blitar v Tahun 2008 Pada Musabaqah Tilawatil Qur’an Se-Malang Raya di Kepanjen. 20 Maret 2008. · · · · · · · · Juara II cabang Musabaqah Hifzhil Qur’an 5 juz tilawah putra Juara III cabang Musabaqah Hifzhil Qur’an 5 juz tilawah putra Juara I cabang Musabaqah Hifzhil Qur’an 5 juz tilawah putri Juara I cabang Khitobah Qur’an Juara II cabang Puitisasi Qur’an Juara I cabang MTQ remaja putra Juara III cabang Musabaqah Kaligrafi Al-Qur’an naskah Juara I cabang Musabaqah Fahmil Qur’an (tim I putra) .

JQH juga merupakan organisasi yang setiap tahunnya mengadakan rekruitmen anggota yang terdiri dari mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Hal ini dapat diamati dalam grafik berikut: 200 Jumlah Anggota 150 100 50 0 2002.2003. Mulai periode awal berdirinya (2002-2003). Pada periode ke-tiga (2004-2005). Pada periode kedua (2003-2004) meningkat menjadi 91 orang anggota. Juara III cabang Musabaqah Fahmil Qur’an (tim II putri). Anggota JQH dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan. .2006. jumlah anggota semakin meningkat menjadi 115 orang mahasiswa. Kedaaan Anggota Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh (JQH) Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Sebagai sebuah unit pengembangan Tahfizh Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.2007.1 Grafik Anggota JQH Mulai Periode 2002-2009 Sumber Data: Dokumentasi Grafik di atas menunjukkan perkembangan jumlah anggota yang signifikan. JQH hanya mempunyai anggota sebanyak 11 orang mahasiswa.2005.20082003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Periode Kepengurusan Gambar 4.· 7.2004.

Pada periode ke-enam (2007-2008). Syariah (9 orang). anggota JQH terdiri atas mahasiswa dari berbagai jurusan. Pada periode ke-lima (2006-2007). Hal ini karena untuk menjadi anggota JQH. PBA (16 orang). B. jumlah anggota JQH mengalami peningkatan yang paling tinggi. B.Pada periode ke-empat (2005-2006). jumlah anggota adalah 136 orang mahasiswa. sebagaimana tertera dalam tabel berikut: . serta 45 orang dari berbagai jurusan lainnya. tidak semuanya memiliki hafalan Al-Qur’an.Arab (20 orang). ditumbuhkan motivasi serta pengembangan minat untuk menghafal Al-Qur’an. Pada periode ini. persyaratan yang mutlak adalah adanya kecintaan dan kemauan untuk memperdalam ilmu-ilmu ke-Al-Qur’an-an. Kemudian. Dari data yang ada. Inggris (15 orang). yaitu 182 anggota. diantara 31 orang mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) yang menjadi anggota JQH pada periode 2008-2009. jumlah anggota kembali menurun menjadi 46 anggota saja. jumlah anggota agak maningkat menjadi 70 orang. yang memiliki hafalan/sedang tahap menghafal ada 15 orang saja. pada peride saat ini (2008-2009). Mahasiswa anggota JQH Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Baru setelah masuk ke organisasi ini. diantaranya: PAI (31 orang).

11. Semester 6 4 4 2 4 8 6 2 8 4 4 4 4 2 6 Jumlah Hafalan 12 Juz 30 Juz 30 Juz 30 Juz 7 Juz 7 Juz 30 Juz 30 Juz 20 Juz 30 Juz 30 Juz 30 Juz 5 Juz 5 Juz 5 Juz B. 14. 3. 12. 10. 8. 2. N. 9. 13. Deskripsi Pelaksanaan Hafalan Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel AlAli (MSAA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Kegiatan menghafal Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali diikuti oleh mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dari berbagai Fakultas dan Jurusan. 5. Nama-Nama Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Penghafal Al-Qur’an No. 2. Nama Mahasiswa Agus Faizin Arif Nugroho Imamul Muttaqin Misbahuddin Aziz Uuz Hafizh Nawawi Aminah Amirotun Nahdhiyah Halimah Sa’diyah Hikmatus Sa’diyah Ismiyatur Rofi’ah Nur Azizah Nurul fadhilah Risa Sulhiana Siti Lailiyah Qurroti A’yunin. yang nama-namanya telah dijelaskan sebelumnya. 4. 7. 1. . termasuk diantaranya 15 orang mahasiswa dari Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI).Tabel 4. Paparan Hasil Penelitian 1. 6. 15.

yaitu: a. sebelum menghafal saya baca dulu tiga kali per-ayat. serta mengulangi hafalannya baik sendiri maupun dengan teman sejawat. para mahasiswa penghafal AlQur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) menggunakan metode yang berbeda satu sama lain. Ada yang menggunakan metode pengulangan ayat sebelum dihafal. Hal ini sesuai dengan beberapa pernyataan berikut: Metode yang saya gunakan dalam menghafal biasanya. ada juga yang menggunakan metode memahami ayat sebelum membaca berulang-ulang dan dihafal.Sebagaimana para penghafal Al-Qur’an lainnya. para mahasiswa ini memiliki kewajiban untuk selalu melestarikan dan meningkatkan kuantitas serta kualitas hafalannya. Pada tahap ini. mempersiapkan tambahan hafalan yang akan ditashihkan pada instruktur yang ada. Dalam usaha untuk menambah hafalan baru. para mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI). setelah ada gambaran baru lanjut pada ayat . terutama yang sedang dalam taraf menghafal beberapa juz. Hal ini diupayakan oleh mahasiswa dengan senantiasa tekun untuk menambah hafalan di bawah bimbingan instruktur. Pelaksanaan hafalan Al-Qur’an yang dilakukan oleh mahasiswa di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali terdiri dari 3 tahapan. Tahap Persiapan Tahap persiapan yang dimaksud adalah sebuah tahapan yang dilakukan oleh seorang penghafal Al-Qur’an sebelum ia mentashihkan hafalannya kepada instruktur.

Tanggal 15-04-2009. Kalau menghafalkan ayat-ayat yang berisi cerita biasanya lebih cepat mbak. 102 Wawancara dengan Aminah. para mahasiswa penghafal Al-Qur’an mentashihkan hafalannya kepada instruktur. ada juga yang memahami ayat terlebih dahulu sebelum dibaca berulangulang dan dihafal. karena saya biasanya menghafalkan dengan membaca terjemahnya dulu.. b.103 Dari wawancara tersebut dapat diketahui bahwa. itu saya rasa bisa lebih memudahkan. saya biasanya lihat artinya di Al-Qur’an terjemah. saya nggak memakai terjemah.seterusnya.102 Kalau saya biasanya baca terjemahnya dulu.. Aktivitas menghafal dan mengulang hafalan Al-Qur’an di bawah bimbingan instruktur ini. Tanggal 15-04-2009. ya. 103 Wawancara dengan Hikmatus Sa’diyah. saya fahami. Mengenai penggunaan metode ini.101 Kalau metode menambah hafalan. baru kemudian saya baca berulang-ulang dan dihafalkan. Kalau misalnya ada ayat-ayat yang agak sulit. menurut saya metode ini merupakan Wawancara dengan Agus Faizin. Tanggal 18-04-2009. Metode Sorogan adalah cara dalam proses belajar membaca atau menghafal Al-Qur’an. Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. saya lebih suka pake tafsirnya saja. 101 . Tahap Pentashihan Hafalan Pada tahap ini. Saya biasanya pakai Al-Qur’an tafsir yang kecil itu lho mbak. biasanya sebelum saya baca berulang-ulang saya fahami dulu mbak maksud ayatnya. Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. diantaranya dengan membaca berulang-ulang ayat-ayat yang akan di hafal. Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. metode yang digunakan oleh mahasiswa penghafal Al-Qur’an untuk menambah hafalan baru ada beberapa macam. menggunakan metode sorogan. dimana seorang murid memperdengarkan bacaan atau hafalannya kepada instruktur dengan berhadapan secara langsung (face to face). sebagaimana dijelaskan dalam pernyataan berikut: Metode yang digunakan untuk setoran (menambah) dan nderes (mengulang) ya dengan metode sorogan itu mbak.

biasanya sebelum memulai hafalan mahasiswa itu saya tanya terlebih dahulu. biasanya per pertemuan itu dia nderes (mengulang) ½ juz. Adapun untuk mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI).104 Walaupun metode dalam menghafal dan mengulang hafalan di bawah bimbingan instruktur diseragamkan. ada yang sedang dalam tahap menghafal beberapa juz dari Al-Qur’an.105 Dari Wawancara di atas dapat diketahui bahwa kuantitas hafalan setiap mahasiswa berbeda-beda. saya itu maklum. ya. kalau belum pernah khatam. biasanya saya beri toleransi. 104 . ada pula yang sudah pernah khatam 30 juz. kalau tidak bisa menambah ya… harus tetap nderes (mengulang) hafalan sebelumnya. karena memang yang dihadapi di sini kan mahasiswa mbak. akan tetapi dalam hal kuantitas hafalan setiap pertemuan. kuantitas hafalannya dapat dilihat dari tabel berikut: Wawancara dengan Ismatud Diniyah.cara yang paling efektif digunakan dalam menghafal Al-Qur’an. itu tergantung dari kemampuan mahasiswanya mbak. dia sudah pernah khatam atau belum. Instruktur Hafalan Al-Qur’an Ma’had Sunan Ampel Al. oleh karena itu. mereka banyak kesibukan dan kadang kuliahnya full. mahasiswa memiliki kemampuan yag berbeda. Tapi kalau misalnya dia sudah pernah khatam.. Tanggal 21 Mei 2009.. biasanya setoran (menambah hafalan) nya ya 1 sampai 2 halaman.Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. instruktur tidak langsung menentukan berapa halaman yang harus disetorkan (tambahan hafalan) perharinya. Hal ini sebagaimana penjelasan dari instruktur sebagai berikut: Kalau mengenai kuantitas hafalan setiap pertemuan. 105 Ibid. Untuk yang belum pernah khatam. karena segala bentuk kesalahan bacaan akan dapat terlihat dengan jelas dan segera mendapat pembenahan dari saya.

Jumlah Hafalan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) No 1 2 3 4 Alternatif Jawaban <10 juz >10 juz 20 juz 30 juz Jumlah Sumber: Data Angket Dari data di atas dapat diketahui bahwa diantara 15 orang informan mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI). 3. dan 8 orang telah hafal 30 juz. memulai hafalan AlQur’annya di Ma’had UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Hal ini dapat ditunjukkan dari data berikut: Tabel 4. 4. Awal mahasiswa mulai menghafal No 1 2 3 4 Alternatif Jawaban SD / MI SMP / MTs SMA / MA Pasca SMA Jumlah Sumber: Data Angket N 15 F 2 3 4 6 15 % 13 % 20 % 27 % 40 % 100% N 15 F 5 1 1 8 15 % 33 % 7% 7% 53 % 100% . ada 5 orang yang hafal <10 juz.Tabel 4. 1 orang hafal >10 juz. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak semua mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI). 1 orang hafal 20 juz.

ada juga yang mengulang hafalan sendiri. seorang penghafal AlQur’an harus berusaha menyisihkan waktu untuk mengulang hafalannya. 5. hal yang lebih penting dari proses menghafal Al-Qur’an adalah menjaga kualitas hafalan agar senantiasa baik dan benar. Hal ini sebagaimana dipaparkan dalam beberapa pernyataan berikut: N 15 F 9 2 4 15 % 67 % 13 % 20 % 100% . berdasarkan data dari angket. Para mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Qur’an ini ada yang mengulang hafalan di bawah bimbingan instruktur.Tabel 4. sedangkan sisanya menyisihkan waktu sedikitnya 5 jam per-hari. c. ada yang disimak oleh sesama teman penghafal. sedangkan 4 yang lain baru memulai hafalannya di ma’had UIN. Tahap Pelestarian Hafalan Selain menambah kuantitas hafalan. Untuk mendapatkan kualitas hafalan yang baik. diketahui bahwa 94% mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Qur’an menggunakan waktu sekitar 2-3 jam per-harinya untuk menambah atau mengulang hafalan. Tempat Menghafal No 1 2 3 Alternatif Jawaban Pesantren tahfizh Pesantren non tahfizh di UIN (Ma’had) Jumlah Sumber: Data Angket Data di atas menunjukkan bahwa 11 mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) telah mulai menghafal Al-Qur’an sejak sebelum kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. saya selalu menyempatkan untuk setoran (menambah hafalan) dan nderes (mengulang hafalan) kepada neng Isma (instruktur). Selain itu di sini juga ada deresan bersama dengan teman-teman di lantai 2 mbak. soalnya teman-teman jarang ada yang mau diajak nderes sama-sama. Hal ini sebagaimana pernyataan dari para informan berikut: Menurut saya kondusif banget tinggal di ma’had ini.Alhamdulillah mbak. Tapi masih ada celah tempat dan waktu untuk menghafal. kecuali kalau ada kegiatan khatmil Qur’an. di putra sekarang yang menyimak pak Hasyim.107 Kalau saya Alhamdulillah sudah khatam mbak. meskipun kadang banyak hiruk-pikuk teman-teman ma’had lainnya. Terus biasanya saya juga ikut khataman mingguan. Tanggal 18-04-2009. jadi biasanya saya nderes sendiri. Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. 107 Wawancara dengan Imamul Muttaqin. Seandainya pun saya nggak nambah saya tetap setor deresan saja.menurut Wawancara dengan Hikmatus Sa’diyah. serta saling memberi motivasi. Tanggal 18-04-2009. kalau selain itu biasanya saya nderes sendiri mbak. setiap selasa dan rabu jam 1-2.106 Kalau nderesnya pada instruktur ya alhamdulillah saya rutin mbak. maka memungkinkan adanya kerjasama yang baik dalam hal mengulang hafalan. 108 Wawancara dengan Arif Nugroho. tapi kadang juga dengan teman-teman. Tanggal 15-04-2009. banyak teman yang bisa memotivasi.108 Beberapa penyataan tersebut. Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. terus ada juga khataman tiap minggu mbak. Saya mengusahakan untuk bisa istiqomah. bahwa para mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) ini tinggal di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali dan berkumpul dengan sesama penghafal lain dari berbagai fakultas dan jurusan. waktunya ba’da sholat Isya’. pada dasarnya juga mengindikasikan adanya peran teman sejawat dan situasi sosial yang mendukung dalam proses melestarikan hafalan Al-Qur’an. 106 . Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Dengan berkumpulnya para penghafal Al-Qur’an ini dalam situasi sosial yang sama.

jadinya ya… setelah itu semangat lagi deh nderesnya. 109 . ada motivasi tersendiri yang muncul. apabila lingkungan tempat menghafal terbilang kondusif. biasanya jadwal kuliah itu bentrok dengan jadwal setoran kepada instruktur. kok saya nggak bisa kayak dia. Tanggal 16-04-2009. Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.110 Peran lingkungan sosial sangat besar dalam proses menghafal Al-Qur’an. Dalam hasil angket diperoleh data sebagai berikut: Tabel 4. dengan tinggal di ma’had seperti ini apalagi satu kamar dengan penghafal al-Qur’an yang lain itu sangat kondusif. Soalnya jam setorannya dibatasi dari N 15 F 8 4 2 1 15 % 53 % 13 % 27 % 7% 100% Wawancara dengan Nur Azizah. Peran lingkungan Menghafal Al-Qur’an (Ma’had) No 1 2 3 4 Alternatif Jawaban Sangat terbantu Terbantu Agak terbantu Tidak terbantu Jumlah Sumber: Data Angket Dalam proses menghafal. tetap aja nggak kondusif dan nggak ada yang memotivasi. ada beberapa kendala yang dialami oleh mahasiswa penghafal Al-Qur’an Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI). karena itulah. 6. kalau ada teman sekamar yang rajin nderesnya. Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.109 Ya mbak. pasti dalam hati saya ini ada greget. 110 Wawancara dengan Qurroti A’yunin Nasihah.saya serame-ramenya ma’had tetap bisa nderes. Tanggal 18-04-2009. tapi sesepi-sepinya kost. diantaranya seperti yang dipaparkan dalam wawancara berikut: Kalau kendala saya masalah waktu mbak. maka seorang penghafal akan merasa terbantu dengan lingkungan tersebut.

jam 9-13.00, itukan waktu kuliah full mbak. Terus, ada juga mbak kadang rasa jenuh, nah itu yang membuat malas mbak.111 Kalau kendalanya, pengaturan waktunya agak sulit mbak, terus, teman-teman di kamar itu agak sulit untuk diajak kompakan nderes bersama, jadinya ya nderes sendiri-sendiri.112 Kalau kendala saya dalam menghafal ya waktu mbak, saya agak sulit untuk mengatur waktu, apalagi sekarang sedang mengerjakan tugas akhir. Tapi ya tetap saya usahakan untuk nderes walaupun tidak nambah. Kalau kesulitan dalam hafalannya sendiri, biasanya terletak pada ayat-ayat yang pendek dan artinya langka.113 Dari pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam menghafal Mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) menemui berbagai macam kendala, diantaranya adalah banyaknya kesibukan yang harus dilakukan, sehingga perlu pengaturan waktu yang ketat. Selain itu ada juga kendala yang disebabkan oleh kejenuhan menghafal, sehingga menyebabkan rasa malas. Kemudian ada juga kendala kesulitan dalam menghafal ayat-ayat tertentu. Hal ini biasanya terjadi pada saat menghafal ayat-ayat yang kalimatnya pendek, serta kata-katanya langka. Dari beberapa faktor tersebut, ada yang paling dominan dan sering dialami oleh mahasiswa, sebagaimana yang diketahui dari data angket berikut ini:

Wawancara dengan Amirotun Nahdliyah, Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 16-04-2009 112 Wawancara dengan Imamul Muttaqin, Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 18-04-2009 113 Wawancara dengan Hikmatus Sa’diyah, Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Tanggal 15-04-2009.

111

Tabel 4. 7. Kendala yang paling dominan dalam menghafal dan melestarikan hafalan No 1 2 3 Alternatif Jawaban Pengaturan waktu Lingkungan Malas Jumlah Sumber: Data Angket Data di atas menunjukkan bahwa 11 orang (73%) mahasiswa penghafal dari Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) mengalami kendala dalam pengaturan waktu, 3 orang (20%) mengalami kendala lingkungan yang kurang mendukung, dan 1 orang (7%) lainnya mengalami kejenuhan dalam hafalan yang mengakibatkan rasa malas. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kendala yang paling dominan adalah pengaturan waktu. Beberapa kendala menghafal Al-Qur’an yang dialami oleh para mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan hal yang wajar terjadi mengingat padatnya kegiatan mahasiswa tersebut, akan tetapi beberapa kendala tersebut dapat diantisipasi dengan menciptakan lingkungan yang kondusif serta waktu khusus untuk menghafal dalam seharinya, hal ini sebagaimana dipaparkan dalam wawancara sebelumnya. Berdasarkan pemaparan temuan data tentang pelaksanaan hafalan Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan hafalan di Ma’had sudah baik. Hal ini karena lingkungan (situasi sosial) yang mendukung dengan dikumpulkannya para penghafal Al-Qur’an dalam satu mabna/unit asrama, adanya bimbingan instruktur N 15 F 11 3 1 15 % 73 % 20 % 7% 100%

hafalan yang juga Hafizh/hafizhah, serta adanya program evaluasi hafalan yang dilakukan oleh organisasi setiap akhir pekan, akhir semester dan akhir periode kepengurusan. Program evaluasi yang dimaksud adalah khatm Al-Qur’an bil ghaib tiap minggu, tes tahfizh tiap akhir semester, serta wisuda tahfizh yang didahului oleh tes pentashihan tahfizh oleh pembina. 2. Implikasi Hafalan Al-Qur’an Dalam Peningkatan Prestasi Belajar Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Dari sebuah proses menghafal Al-Qur’an yang baik, artinya memenuhi beberapa persyaratan seperti adanya instruktur yang membimbing hafalan, penggunaan metode yang tepat, tersedianya waktu, serta lingkungan yang mendukung, seorang penghafal Al-Qur’an minimal akan memiliki kemampuan untuk membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan benar dan dapat mengulang bacaan yang telah ia hafalkan. Lain halnya apabila seorang penghafal Al-Qur’an tidak hanya menghafalkan Al-Qur’an dari lafadnya, akan tetapi juga mempelajari kandungan isinya, maka ia akan memiliki pemahaman yang komprehensif tentang Al-Qur’an. dan sebagaimana diketahui, bahwa Al-Qur’an merupakan sumber hukum syariat dan ilmu pengetahuan. Menurut para mahasiswa penghafal Al-Qur’an Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), selain menghafalkan secara lafdiyah. mereka juga berusaha untuk mengembangkan pengetahuan tentang Al-Qur’an yang mereka hafalkan. Mereka memiliki cara tertentu dalam mempelajari dan memahami kandungan ayat yang

8. 115 Wawancara dengan Hikmatus Sa’diyah. Kalau menghafalkan ayat-ayat yang berisi cerita biasanya lebih cepat mbak.. salah satunya adalah dengan membaca arti dan memahami ayat yang hendak dihafal.115 Biasanya saya fahami isi ayatnya dulu mbak. karena sering dengar sejak di MA dulu. Kalau ayat yang berisi tentang hukum itu bisa lebih cepat hafal mbak. dapat diketahui bahwa ada beberapa usaha untuk memahami ayat yang akan dihafalkan. 116 Wawancara dengan Aminah. saya lebih suka pake tafsirnya saja. Tanggal 16-04-2009. saya dapatkan di perkuliahan mbak. tapi saya pakai Al-Qur’an tafsir yang kecil itu lho mbak. Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.. ya. lalu saya fahami terjemahnya dan dihafalkan.sedang dihafalkan. Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. antara lain dengan mengetahui arti ayat dan memahaminya.. . Hal ini sesuai dengan pernyataan berikut: Membaca berulang-ulang mbak. baru kemudian saya baca berulang ulang dan dihafalkan. Tanggal 15-04-2009. memiliki usaha untuk 114 N 15 F 12 1 2 15 % 80 % 7% 13 % 100% Wawancara dengan Qurroti Ayunin Nasihah..kemudian di JQH juga ada kajian kitab tafsir Ayatul Ahkam mbak. pernyataan di atas juga didukung oleh data angket berikut: Tabel 4. Tanggal 15-04-2009. saya nggak memakai terjemah. saya fahami.114 Saya baca terjemahnya dulu. Usaha untuk Memahami Makna dan Kandungan Ayat Yang dihafal No 1 2 3 Alternatif Jawaban Ya Kadang-kadang Tidak Jumlah Sumber: Data Angket Data angket di atas menujukkan bahwa 87% (13 orang) mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI).116 Dari pernyataan di atas. untuk pengembangan yang lebih dalam lagi ya.

karena meliputi juz-juz awal mbak. Qowaid Fiqih dan ushul fiqih. Kalau ada ayat yang pas saya belum hafal ya . khususnya dalam matakuliah keagamaan Islam yang sering berhubungan dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Dalam perkuliahan mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI). tapi kan di juz awal-awal itu banyak sekali yang berhubungan dengan hukum syariat. studi Fiqih. ayat-ayat Al-Qur’an sering bersentuhan langsung dengan tema-tema yang dibahas. Dalam konteks inilah. artinya tidak berdasarkan tema-tema tertentu saja (tematik). Para mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini. Tafsir dan Hadits. seorang mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) yang hafal Al-Qur’an akan sangat terbantu dengan kemampuannya menghafal dan memamahami ayat yang telah ia hafal. hafalan Al-Qur’an telah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam prestasi akademik. Tapi kebetulan yang selama ini sering muncul diperkuliahan saya bisa menghafalnya dengan baik.. mereka mengaku merasa terbantu dengan adanya hafalan Al-Qur’an yang dimiliki. Masail Fiqih 1&2. Hal ini dapat dicermati dalam pernyataan berikut: Oh iya mbak. banyak sekali dijumpai ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan tema perkuliahan yang ada. menghafalkan Al-Qur’an berdasarkan urutan mushaf. sedangkan 2 orang lainnya mengaku belum ada usaha yang sungguh-sungguh. Menurut mereka. Tafsir hadits Tarbawi 1&2. ada juga yang tentang pendidikan. Contohnya saja pada surat Al-Baqoroh mbak ada ayat “ wa’allamal aadamal asmaa’a kullahaa…al ayat” (interviewer membaca dengan sangat fasih dan baik). Khususnya dalam matakuliah kegamaan Islam seperti Studi Al-Qur’an.memahami makna dan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an yang dihafalnya. Walaupun demikian. walaupun kadang ada ayat yang belum nyampek.

contoh saja dalam studi AlQur’an. lah karena saya belum khatam. Tanggal 15-04-2009. tapi kalau memang saya belum pernah hafal sama sekali ya saya hafalkan dulu mbak. itukan banyak sekali menggali hukum dari asbabun nuzul dan tafsirnya. khususnya yang banyak berhubungan dengan ayat-ayat Al-Qur’an.118 Kalau menurut saya hafalan ini sangat membantu. dalam menghafalkan materi pelajaran apa saja menjadi sangat mudah. biasanya ada kan yang belum hafal. memiliki kontribusi yang baik dalam matakuliah keagamaan Islam. saya merasa sangat terbantu. Oh ya mbak. lah itu kalau ayat-ayat tertentu yang dulu pernah ada di materi pelajaran Aliyah saya masih ingat mbak. itu sangat banyak ayat yang dibahas. Ayat-ayat yang dibahas diperkuliahan itu menjadi familiar. Tanggal 18-04-2009 117 . Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. ya nanti tinggal bagaimana pengembangannya saja kan mbak. Tapi karena saya ini masih juz 5.119 Oh ya jelas mbak. Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. fiqh dan lainnya. kan dengan kita sudah sudah hafal ayat nanti tinggal pengembangannya gimana. toh nantinya saya juga akan terbantu juga dalam proses meneruskan hafalan saya sampai 30 juz. toh nggak sulit. Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. amin. Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Tanggal 18-04-2009.117 Kalau saya merasa terbantu sekali dengan hafalan yang saya miliki mbak. ya saya hafalkan dulu mbak. ada satu lagi hal yang saya rasakan sejak saya menghafal Al-Qur’an. kalau misalnya ada ayat yang belum anda hafal dan muncul dalam perkuliahan. dulu waktu ada matakuliah masail fiqih misalnya.120 Dari wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa hafalan yang dimiliki oleh mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Qur’an. menghafal Al-Qur’an juga memiliki Wawancara dengan Hikmatus Sa’diyah. Alhamdulillah karena sudah sering dibaca bin nadzor jadi mudah menghafalnya. Selain memberikan kontribusi yang besar dalam membantu penguasaan materi perkuliahan keagamaan Islam mahasiswa. kan di JQH selain menghafalkan Al-Qur’an juga dipelajari mbak tafsir ayatul ahkamnya. 118 Wawancara dengan Qurroti A’yunin Nasihah. Tanggal 16-04-2009 119 Wawancara dengan Agus Faizin. karena kebanyakan ayat-ayat nya kita sudah pernah mendengar dan masyhur. 120 Wawancara dengan Ismiyatur Rofi’ah.dihafalkan saja lah mbak. jadi menurut saya sejauh ini membantu sekali mbak.

Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. tugas-tugas kuliah itu malah jadi terbengkalai semua. bahkan ketika saya banyak tugas kuliah yang menumpuk. Tanggal 18-04-2009. al-hamdulillah setelah nderes saya tenang dan mendapatkan pencerahan. segala potensi akal akan dapat dimaksimalkan dengan sebaik-baiknya untuk belajar. Tanggal 15-04-2009. Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. 123 Wawancara dengan Nur Azizah. Hal ini. Tapi kalau pas malas nderesnya. pokoknya beda deh antara keadaan jiwa setelah membaca Al-Qur’an dengan sebelumnya. Aktivitas menghafal AlQur’an dimulai dengan membaca berulang-ulang ayat-ayat yang akan dihafalkan. kalau itu ya bangeet mbak. sesuai dengan beberapa pernyataan berikut: Kalau saya merasa tenang banget mbak. biasanya saya tinggal untuk nderes dulu mbak. Selain itu hafalan yang dimiliki oleh mahasiswa juga sangat membantu dalam Wawancara dengan Arif Nugroho. Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. para mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) yang menghafal Al-Qur’an 100% mengaku merasakan adanya ketenagan ketika melakukan aktivitas menghafal Al-Qur’an. Dengan kondisi psikologis yang baik inilah. terus terang nih kalau saya nderesnya semakin rajin. Dalam keadaan inilah seorang penghafal Al-Qur’an akan merasakan adanya ketenangan batin yang luar biasa.121 Oh ya mbak.123 Beberapa pernyataan di atas menunjukkan bahwa aktivitas menghafal AlQur’an berpengaruh sangat baik bagi kondisi kejiwaan para mahasiswa tersebut. 122 Wawancara dengan Hikmatus Sa’diyah .pengaruh yang baik pada keadaan psikologis mahasiswa. tugas-tugas kuliah akan terasa sangat mudah dan cepat selesai. Tanggal 22-04-2009. Dari data angket yang dihimpun oleh peneliti. 121 .122 Oh.

81 3.63 3.23 3.64 Sumber: Data Dokumentasi Pribadi Mahasiswa .60 2005/2006 3.38 3. afektif dan psikomotorik mahasiswa. Prestasi belajar/akademik mahasiswa.62 3.77 3.89 3.91 3.71 3.71 3.62 IP semester 3 4 5 Nilai IPK 3.71 3. sehingga mendukung pada peningkatan prestasi belajar mereka. merupakan hasil akhir penilaian pada tiap semester yang dibuat oleh dosen.38 3.78 3.69/15 = 3.35 3.50 3.23 3. 8.49 3.79 3.65 3.67 4.91 3. 7.72 2007/2008 3. 9.00 3.30 3.92 4. 4.65 3.81 3.72 3.54 3.58 3. 6. secara umum dapat digambarkan melalui perolehan nilai indeks prestasi komulatif yang tertera dalam kartu hasil studi (KHS) tiap semesternya.16 3. Penilaian ini meliputi ranah kognitif.72 2 6 3.31 3.78 3.75 3. Bentuk penilaian akhir semester ini berupa kartu hasil studi (KHS). Amirotun N.97 3.41 3. Rekapitulasi Nilai Rata-Rata Indeks Prestasi Komulatif Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Penghafal Al-Qur’an No 1.52 3.60 3.00 3. Thn / Angkatan 1 2008/2009 3.35 3.23 3.88 3.79 3.62 3.60 3.96 IPK rata-rata = jumlah nilai IPK/jumlah mahasiswa = 54. 3.03 2006/2007 3.94 3.77 3.92 4. Aminah Hikmatus S.00 3. sebagai berikut: Tabel 4. 2.61 3.74 3.85 3.88 3.35 3. 10 11 12 13 14 15 Nama Halimah Sa’diyah Siti Lailiyah Misbahuddin Aziz Imamul Muttaqin Arif Nugroho Nur Azizah Ismiyatur Rofi’ah Nurul Fadhilah Risa Sulhiana Uuz Hafizh N.50 3.69 3. 9.penguasaan materi perkuliahan keagamaan Islam. Agus Faizin Qurroti A’yun N. 5.63 3.46 3. Prestasi belajar mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam perkuliahan.78 3.31 3.60 3.

A B 8. Tafsir Hadits Tarbawi I Nurul Fadhilah B B+ 6. Adapun untuk matakuliah keagamaan Islam yang banyak berhubungan dengan ayat-ayat Al-Qur’an. B+ B+ A A A A Aminah B+ A A A A A A A Hikmatus.Studi Al-Qur’an Imam Muttaqin A A 2. S. karena matakuliah keagamaan Islam yang dimaksud belum dipasarkan pada semester itu. Dari data . Dalam buku pedoman pendidikan UIN Maulana malik Ibrahim Malang tahun 2005/2006.9). Ushul Fiqh Agus Faizin B+ A B+ A B+ C Qurroti A’yun N A A A B+ B+ A Amirotun. Nilai Matakuliah Keagamaan Islam yang Berhubungan dengan Ayat-Ayat Al-Qur’an No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Nama Nilai Matakuliah Keterangan 1 2 3 4 5 6 7 8 1. 10. nilai IPK rata-rata mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam penghafal Al-Qur’an adalah sangat baik. dapat disimpulkan bahwa secara umum.Studi Fiqh Arif Nugroho B+ A 3. Masail Fiqhiyah II Risa Sulhiana A A 7. Masail Fiqhiyah I Ismiyatur Rofiah B A 5. nilai mahasiswa Jurusan pendidikan Agama Islam penghafal Al-Qur’an adalah sebagaimana tertera dalam tabel berikut: Tabel 4. bahwa secara umum nilai rata-rata indeks prestasi komulatif (IPK) mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) yang menghafal Al-Qur’an adalah baik. N. perolehan nilai IPK 3. B+ B+ A B A A A A Sumber: Data Dokumentasi Pribadi Mahasiswa Pada tabel di atas tidak dicantumkan nilai 3 orang mahasiswa yang berada pada semester 2 (nama dapat dilihat pada tabel 4.Dari data tersebut dapat diketahui. Tafsir Hadits Tarbawi II Uuz Hafizh N. Dengan demikian.64 termasuk dalam kategori predikat cumlaude (dengan pujian). Tafsir & Hadits Nur Azizah B A 4.

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa hafalan Al-Qur’an berimplikasi terhadap pencapaian prestasi belajar mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam. Ø pada matakuliah studi Fiqih. sebagaimana prosentase berikut: Ø pada matakuliah studi Al-Qur’an. Ø pada matakuliah masail fiqhiyah II. dan 3 orang (25%) mendapat nilai B. 4 orang mahasiswa (80%) mendapat nilai A. 5 orang (42%) mendapat nilai B+ . 1 orang (20 %) mendapat nilai B+. nilai mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Qur’an pada matakuliah keagamaan Islam. khususnya yang banyak berhubungan dengan ayat-ayat Al-Qur’an adalah baik. 3 orang mahasiswa (60%) mendapat nilai A. 4 orang mahasiswa (33%) mendapat nilai A. dan 2 orang (40%) lainnya mendapat nilai B+. dan 1 orang (20%) lainnya mendapat nilai B. 2 orang mahasiswa (100%) mendapat nilai A. Ø pada matakuliah tafsir hadits tarbawi I. Ø pada matakuliah masail fiqhiyah I. Ø pada matakuliah tafsir dan hadits. 4 orang mahasiswa (80%) mendapat nilai A. 8 orang mahasiswa (67%) mendapat nilai A. Ø pada matakuliah tafsir hadits tarbawi II dan ushul fiqih. dan 1 orang (8%) mendapat nilai B. dan 1 orang (20%) lainnya mendapat nilai B+. 3 orang (25%) mendapat B+. .tersebut dapat diketahui bahwa. dan 1 orang (20%) mendapat nilai C. 3 orang mahasiswa (60%) mendapat nilai A.

28 dan 45. waktu teman-teman istirahat saya masih harus menghafal Al-Qur’an untuk tambahan besok. dengan nomor kamar 3. mengikuti organisasi yang diminati dan menjalankan hobi yang dimiliki. 36. Sikap Keseharian Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Penghafal Al-Qur’an Para mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI). para mahasiswa ini mengaku tidak merasa berat dan terbebani. ada hal yang sedikit membedakan para mahasiswi penghafal ini dengan mahasiswa pada umumnya. mereka menjalankan aktivitas perkuliahan di kampus. Mereka memiliki kemauan yang kuat untuk menghafalkan Al-Qur’an dan berusaha keras untuk melestarikan hafalannya. Adapun mahasiswi penghafal Al-Qur’an putri bertempat di unit Khodijah Al-Kubro pada setiap lantai. Untuk mahasiswa penghafal Al-Qur’an putra. Namun demikian..3. bahkan mereka tetap berusaha untuk dapat menjalankan aktivitasnya sebaik mungkin. bertempat tinggal di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari berbagai jurusan lainnya. Dengan padatnya aktivitas yang dijalani. walaupun kadang juga ada rasa capek. gimana ya… kalau saya sih menjalaninya dengan enjoy saja mbak. . bertempat di unit AlGhozali lantai 3 no. Tapi ya. Pola hidup keseharian mahasiswa penghafal Al-Qur’an ini tidak berbeda jauh dengan mahasiswa lainnya. karena itulah mereka memiliki pengaturan waktu yang sangat ketat dalam aktivitas sehari-harinya. hal ini sesuai dengan beberapa pernyataan berikut: Waduh.

ditengah berbagai kesibukan di kampus. mereka juga di percaya oleh pengasuh ma’had untuk menjadi pengajar dalam kegiatan pembelajaran Al-Qur’an di ma’had yang disebut dengan ta’lim Al-Qur’an. Khusus bagi mahasiswa pengafal Al-Qur’an putri. Fokus pengajaran pada mereka Wawancara dengan Agus Faizin. Ada yang ditempatkan pada kelas qiro’ah. Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. namun dilaksanakan setiap hari sesudah sholat subuh. sehingga mereka juga ditempatkan pada kelas yang berbeda-beda. Pada kegiatan ta’lim Al-Qur’an tersebut. para mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) mengaku selalu aktif mengajar pada setiap pertemuan. dan memang harus selalu berusaha menjalaninya dengan baik. Selain untuk menciptakan lingkungan yang kondusif dan mendukung aktivitas menghafal. saya merasa tetap mempunyai kewajiban untuk menjaga hafalan yang saya miliki. he…124 Kalau saya mbak. dalam sehari tetap saya sempatkan untuk nderes mbak. Tanggal 18-04-2009 124 .125 Para mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari berbagai jurusan ini. Hal ini sesuai dengan penyataan berikut: Pada mahasiswa semester 3-6 ini.Alhamdulillah masih bisa menjalani dengan baik. 125 Wawancara dengan Ismiyatur Rofi’ah. Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. dihimpun dan ditempatkan di Ma’had dengan pertimbangan khusus. Tanggal 18-04-2009. kegiatan pembelajaran Al-Qur’an tidak hanya dilaksanakan pada hari senin dan rabu saja (seperti maba). Adapun materi yang diajarkan memiliki tingkatan yang berbeda. mereka juga diberi tanggung jawab penuh untuk mengontrol kemampuan membaca Al-Qur’an mahasiswa semester 3-6 yang bertempat tinggal di unit Khodijah Al-Kubro. dan ada juga yang ditepatkan pada kelas terjemah.

128 Saya selalu berusaha untuk bersikap wajar. para mahasiswi penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) juga ada yang mendapat kepercayaan untuk menjadi tentor/pembimbing pembelajaran membaca Al-Qur’an bagi para siswa MAN 3 Malang. itu saja kok. tapi kalau mbak-mbak JQH kan spesialis pada mengajarkan AlQur’an.. bergaul dengan sesama teman sekelas. dalam batasan yang wajar. khususnya para mahasiswa yng diajar. Tanggal 23-04-2009. dan hafalan surat surat pilihan seperti juz Amma. Biasanya saya mengakrabi mereka dengan bahasa Wawancara dengan Qurroti A’yunin N. harmonis. Mahasiswa Fakultas Ekonomi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. 128 Wawancara dengan Hikmatus Sa’diyah.adalah pada aspek bacaan.127 Tidak hanya mengajarkan Al-Qur’an di lingkup ma’had saja. . nggak membuat jarak dengan teman-teman. Waqiah. Menurut saya peran mereka itu penting banget bagi kami. 126 . hal ini sesuai dengan pernyataan berikut: Kalau saya biasa saja mbak. Tanggal 16-04-2009 127 Wawancara dengan Nurmalia. Ar-Rahman. Dengan adik-adik di ma’had ya juga biasa aja. para mahasiswa penghafal Al-Qur’an ini memiliki komitmen untuk selalu berusaha menjaga sikap dan memperbaiki tingkah lakunya sehari-hari. Peran dan tugas yang diemban mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) ini. Menyadari hal ini.. Al-Mulk dan lainnya. ya. Sikap keseharian dan tatakrama mereka selalu menjadi sorotan dan contoh bagi orang lain. sesuai dengan pernyataan berikut: Adanya mbak-mbak JQH itu menurut saya seperti halnya mbak-mbak musrifah. Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. surat Yasin. Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Tanggal 15-04-2009. saya berusaha untuk selalu menjaga sikap dan bertingkah laku baik.126 Peran para penghafal Al-Qur’an ini sangat penting bagi para mahasantri semester 3-6. memposisikan mereka sebagai seorang yang dijadikan contoh (suri teladan) bagi mahasiswa lain..

sejauh ini Alhamdulillah saya nggak pernah keluar-keluar malam seperti mereka. baik dalam lingkup ma’had maupun di luar ma’had. Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dari Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. para mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) ini memiliki komitmen untuk selalu berusaha memperbaiki tingkah lakunya. he.para mahasiswa penghafal Al-Qur’an ini tidak pernah berbuat ulah saat kuliah. Wawancara dengan Ismiyatur Rofiah. dan selalu menjaga tatakrama yang baik kepada lingkungan sosialnya.129 Kalau sikap kepada teman-teman biasa saja mbak. sebagai berikut: “…. cuma saya selalu berusaha untuk tidak mengikuti arus pergaulan yang macam-macam.2.. misalnya dengan tegur sapa dan sebagainya. 130 “57 Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an Meriahkan Temu Wali Mahasiswa baru”. Sikap keseharian mahasiswa penghafal Al-Qur’an di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini. dalam pernyataan Rektor saat memberikan sambutan pada acara temu wali mahasiswa baru. Kalau misalnya teman-teman itu ada yang suka keluar malam dan balik ke ma’had malam banget. Selain itu. Tanggal 18-04-2009. GEMA UN Malang. ya. tapi pergaulan itu ya dalam batasan yang baik lah ya mbak. hlm.. Edisi: 36. dapat disimpulkan bahwa dalam sikap kesehariannya... tapi suka membuat kekacauan di kampus…”130 Dari pemaparan di atas. Sebab. selain mereka adalah orang-orang yang pandai dan cerdas. mereka juga telah mengharumkan nama kampus dan tidak pernah mengacaukan kampus.. “Mahasiswa semacam ini jauh lebih dibutuhkan banyak orang daripada mereka yang tidak menghafal. 129 . rupanya juga tidak luput dari para Dosen dan para petinggi kampus. mereka juga selalu berusaha mengamalkan ilmunya dengan mengajarkan ilmu tentang Al-Qur’an yang mereka miliki kepada siapapun yang membutuhkannya. Hal ini terbukti. Juli-Agustus 2008.verbal. Mereka semua adalah mahasiswa yang patut dicontoh dan diteladani. nggak tahu habis dugem dari mana..

Berdasarkan data angket. berjumlah 15 orang yang terdiri dari 5 orang mahasiswa dan 10 orang mahasiswi. 1 orang hafal >10 juz. mulai mempersiapakan tambahan hafalan AlQur’an yang akan ditashihkan kepada instruktur. disertai dengan memadukan beberapa teori dalam kajian pustaka yang relevan. ada 5 orang yang hafal <10 juz. Deskripsi Pelaksanaan Hafalan Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel AlAli (MSAA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Para mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Qur’an yang ada di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. tahap persiapan Pada tahap persiapan ini para mahasiswa penghafal Al-Qur’an di ma’had UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. 1 orang hafal 20 juz. diketahui bahwa 11 mahasiswa penghafal AlQur’an dari Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) telah mulai menghafal AlQur’an sejak sebelum kuliah. Dalam usaha menambah hafalannya ini. dan 8 orang telah hafal 30 juz.BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Berdasarkan penjelasan dalam paparan hasil penelitian. peneliti akan menjelaskan secara lebih ringkas hasil penelitian tersebut. Pada pelaksanaan menghafal Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini. A. sedangkan 4 yang lain baru memulai menghafal sejak kuliah dan tinggal di ma’had UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. ada 3 tahapan yaitu: a. para mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan . Dari 15 orang mahasiswa penghafal Al-Qur’an tersebut.

Al-Hafizh. Menangkap Cahaya Al-Qur’an (Malang: UIN Malang Press. diantaranya dengan membaca berulang-ulang ayat-ayat yang akan di hafal. kitabah (menghafal dengan menggunakan media tulisan/menulis). 64-66. 2005). kemudian sampai mendapat bayangan ayat dan reflek lisan untuk mengucapkan). 2007). ada beberapa metode menghafal Al-Qur’an antara lain: tharỉqatu takrỉru al-qirậ’atu al-juz’i (menghafal ayat-ayat berulang-ulang sampai ada bayangan). hlm. 132 M. Sebagaimana pendapat dari Al-Hafizh. gabungan (menggunakan penggabungan metode wahdah dengan kitabah) dan jama’ (menghafal secara kolektif dengan bimbingan instruktur). tharỉqatu al-tadrijy (menghafal dengan pengaturan waktu bertahap). ada juga yang memahami ayat terlebih dahulu sebelum dibaca berulang-ulang dan dihafal. Bimbingan Praktis Menghafal Al-Qur’an (Jakarta: PT Bumi Aksara. Samsul Ulum. tharỉqatu altadabburi (metode menghafal dengan mengangan-angankan makna ayat). 131 . tharỉqatu takrỉru al-qirậ’atu al-kulli (mengkhtamkan membaca secara bin nazhar/melihat sebelum mulai menghafal). Dari hasil wawancara diketahui bahwa metode yang digunakan oleh mahasiswa penghafal Al-Qur’an untuk menambah hafalan baru ada beberapa macam. hlm. tharỉqatu al-jumlah (menghafal perkalimat sampai membentuk rangkaian-rangkaian ayat). antara lain metode wahdah (menghafal perayat dengan diulang-ulang sampai satu halaman.131 Sedangkan menurut Ulum. 136-139.132 Ahsin W. simậ’i (menghafal dengan menggunakan media pendengaran). Pemilihan metode dalam menghafal Al-Qur’an tergantung pada orang yang menggunakannya.Agama Islam menggunakan metode menghafal yang berbeda-beda. ada beberapa pilihan metode yang ditawarkan dalam menghafal Al-Qur’an.

b. karena segala bentuk kesalahan yang dilakukan oleh penghafal Al-Qur’an. Setelah benar-benar hafal baru kemudian dilanjutkan pada ayat-ayat selanjutnya. baik aspek makhậrijul hurủf. Selain metode tersebut. serta menimbulkan reflek dari lisan. diketahui bahwa metode sorogan ini efektif digunakan dalam pentashihan hafalan Al-Qur’an. Berdasarkan wawancara dengan instruktur hafalan Al-Qur’an di Ma’had UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. tahap pentashihan hafalan Pada tahap ini para mahasiswa penghafal Al-Qur’an mentashihkan hafalannya kepada instruktur. mayoritas menggunakan metode wahdah/ tharỉqatu takrỉru al-qirậ’atu al-juz’i. yaitu menghafal Al-Qur’an dengan memperhatikan aspek makna ayat (mengangan-angankan makna ayat). dapat disimpulkan bahwa para mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana malik Ibrahim Malang. . Aktifitas menghafal dan mengulang hafalan Al-Qur’an di bawah bimbingan instruktur ini.Berdasarkan temuan di lapangan. para penghafal tersebut juga menggunakan metode al-tadabburi. dimana seorang murid memperdengarkan bacaan atau hafalannya kepada instruktur dengan berhadapan secara langsung (face to face). Metode Sorogan adalah cara dalam proses belajar membaca atau menghafal Al-Qur’an. serta waqaf dan ibtida’nya dapat segera dibenahi oleh instruktur. yaitu menghafal satu persatu ayat dengan diulang-ulang sampai membentuk pola dalam pikiran. menggunakan metode sorogan. panjang dan pendek bacaan.

Adanya bimbingan instruktur hafalan merupakan faktor pendukung eksternal utama yang mempengaruhi keberhasilan menghafal Al-Qur’an. demikian juga seterusnya beliau mengajarkannya kepada para sahabat hingga sampai pada masa sekarang ini. hlm. tertib sanadnya dan bersambung kepada Nabi. sedangkan 1 orang (6%) sisanya menyisihkan waktu 5 jam per-hari. Al-Hafizh. diketahui bahwa 14 orang (94%) mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Qur’an. Op. ada yang disimak oleh sesama teman penghafal 133 Ahsin W. . 74. AlQur’an diturunkan secara mutawatir (bersambung) dari malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. para mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam ini ada yang mengulang hafalan di bawah bimbingan instruktur hafalan.. Dalam mengulangi hafalannya. seorang penghafal Al-Qur’an harus mempunyai cukup waktu untuk mengulang hafalannya. menggunakan waktu sekitar 2-3 jam per-harinya untuk menambah dan mengulang hafalan. Hal ini karena. maka menurut As-Suyuti dalam belajar Al-Qur’an harus dengan guru yang memiliki sanad sahih. yaitu guru yang jelas. Dalam usaha untuk selalu melestarikan hafalannya. tahapan yang paling penting dalam proses menghafal AlQur’an adalah bagaimana hafalan yang telah ditashihkan kepada instruktur dapat tetap dijaga atau dilestarikan dengan baik dalam memori penghafal hingga akhir hayatnya. tahap pelestarian hafalan Pada dasarnya. Mengenai waktu yang digunakan untuk menghafal dan mengulang hafalan. berdasarkan data yang diperoleh dari angket. Cit.133 c. Sehubungan dengan inilah.

serta keseimbangan antara tahfizh (penambahan hafalan) dan takrir (pengulangan hafalan). 2007). akhir semester dan akhir periode Raghib As-Sirjani dan Abdurrahman Abdul Kholiq. 71-84. Hal ini karena lingkungan (situasi sosial) yang mendukung dengan dikumpulkannya para penghafal Al-Qur’an dalam satu mabna/unit asrama. serta adanya program evaluasi hafalan yang dilakukan oleh organisasi setiap akhir pekan. tergantung pada intensitas pengulangan yang dilakukan. Amin Hasibuan (Solo: Aqwam. 134 Berdasarkan pemaparan temuan data tentang pelaksanaan hafalan Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. hlm.dalam acara khatmil Al-Qur’an ataupun dalam kegiatan deresan bersama setiap harinya. ayat-ayat yang dihafalkan oleh para penghafal bisa tersimpan dalam memori jangka pendek maupun memori jangka panjang atau bisa juga lupa. adanya bimbingan instruktur hafalan yang juga Hafizh/hafizhah. 6) Mengulang-ulang dengan teratur. perlu adanya upaya untuk melestarikan hafalan yang telah dimiliki oleh seorang penghafal Al-Qur’an. menurut As-Sirjani dan Abdul Kholiq ada beberapa strategi untuk melestarikan (memelihara) hafalan Al-Qur’an. 7) Memahami makna yang terkandung dalam Al-Qur’an 8) Sering memperdengarkan bacaan/hafalan kepada orang lain. Dalam proses menghafal Al-Qur’an. 134 . Sarwedi M. dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan hafalan di Ma’had sudah baik. baik dengan membaca maupun mendengarkan bacaan orang lain. antara lain: 5) Menjauhi perbuatan maksiat. serta ada juga yang mengulang hafalannya sendiri. terj. Oleh karena itulah. Mengenai hal ini. Cara Cerdas Hafal Al-Qur’an.

studi Fiqih. serta wisuda tahfizh yang didahului oleh tes pentashihan tahfizh oleh pembina. ayat-ayat Al-Qur’an sering bersentuhan langsung dengan tema-tema yang dibahas. Qowaid Fiqih dan ushul fiqih. Tafsir dan Hadits. tes tahfizh tiap akhir semester. Program evaluasi yang dimaksud adalah khatm Al-Qur’an bil ghaib tiap minggu. Khususnya dalam matakuliah kegamaan Islam seperti Studi Al-Qur’an. akan sangat terbantu untuk menguasai materi dalam matakuliah tersebut dengan kemampuannya menghafal dan memahami ayat yang telah ia hafalkan. berusaha untuk memahami makna dan kandungan ayat-ayat Al- . salah satunya adalah dengan membaca arti dan memahami ayat yang hendak dihafal. Implikasi Hafalan Al-Qur’an Dalam Prestasi Belajar Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Hafalan Al-Qur’an yang dimiliki oleh mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI). B. banyak sekali dijumpai ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan tema perkuliahan yang ada. diketahui bahwa selain menghafalkan secara lafdiyah. Tafsir Hadits Tarbawi I&II. Dari data angket juga diketahui bahwa 13 orang (87%) mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI).kepengurusan. Dalam konteks inilah. Berdasarkan wawancara dengan para mahasiswa penghafal Al-Qur’an Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI). Dalam perkuliahan mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI). seorang mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) yang hafal Al-Qur’an. Masail Fiqih I&II. memiliki keterlibatan (implikasi) yang besar dalam prestasi belajarnya. mereka juga berusaha untuk mempelajari dan memahami kandungan ayat yang sedang dihafalkan.

mereka merasakan adanya ketenangan batin yang luar biasa. segala potensi akal akan dapat dimaksimalkan dengan sebaik-baiknya untuk belajar. Selain memberikan kontribusi yang besar dalam membantu penguasaan materi perkuliahan keagamaan Islam mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam. 100% mengaku merasakan adanya ketenangan ketika dan setelah melakukan aktivitas menghafal Al-Qur’an. khususnya dalam matakuliah keagamaan Islam yang sering berhubungan dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Hal inilah yang mendukung pada peningkatan prestasi belajar mereka. ketika dan setelah menghafalkan Al-Qur’an. Dalam kondisi psikologis yang baik inilah. selain hafalan yang dimiliki oleh mahasiswa sangat membantu dalam penguasaan materi perkuliahan keagamaan Islam. Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa. aktivitas menghafal Al-Qur’an juga memberikan pengaruh psikologis yang baik terhadap para mahasiswa penghafal Al-Qur’an tersebut. menghafal Al-Qur’an juga memiliki pengaruh yang baik terhadap keadaan psikologis mahasiswa. Dari data angket yang dihimpun oleh peneliti juga diketahui bahwa. Para mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam ini menyatakan bahwa hafalan Al-Qur’an yang dimiliki telah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam peningkatan prestasi akademik. Dengan demikian. sedangkan 2 orang lainnya mengaku belum ada usaha yang sungguh-sungguh. para mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) yang menghafal Al-Qur’an. .Qur’an yang dihafalnya.

4 orang mahasiswa (80%) mendapat nilai A. pada matakuliah tafsir dan hadits. 2. pada matakuliah studi Fiqih.Secara akademik. dan 3 orang (25%) mendapat nilai B. sebagaimana prosentase berikut: 1. Dari data rekapitulasi nilai rata-rata indeks prestasi komulatif (IPK). afektif dan psikomotorik mahasiswa. Prestasi belajar mahasiswa penghafal AlQur’an dari Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam perkuliahan. pada matakuliah studi Al-Qur’an. 5 orang (42%) mendapat nilai B+ . prestasi belajar mahasiswa dapat dilihat melalui hasil pencapaian nilai pada setiap semester. pada matakuliah masail fiqhiyah I. dan 1 orang (8%) mendapat nilai B. 3 orang (25%) mendapat B+. Sedangkan untuk matakuliah keagamaan Islam yang banyak berhubungan dengan ayat-ayat Al-Qur’an. 3 orang mahasiswa (60%) mendapat nilai A. . Hasil penilaian akhir semester biasanya tertera dalam kartu hasil studi (KHS). 4. Perolehan IPK rata-rata mahasiswa tersebut mencapai 3. Penilaian ini meliputi ranah kognitif. 1 orang (20 %) mendapat nilai B+. dapat diketahui bahwa secara umum rata-rata IPK mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) yang menghafal Al-Qur’an adalah sangat baik. dan 1 orang (20%) lainnya mendapat nilai B. 4 orang mahasiswa (33%) mendapat nilai A.64 (dengan pujian). 8 orang mahasiswa (67%) mendapat nilai A. nilai mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) penghafal Al-Qur’an juga baik. secara umum dapat digambarkan melalui perolehan nilai indeks prestasi komulatif yang tertera dalam kartu hasil studi (KHS) tiap semesternya. 3. dan 1 orang (20%) lainnya mendapat nilai B+.

pada matakuliah tafsir hadits tarbawi I. Mereka menjalankan aktivitas perkuliahan di kampus. para mahasiswa ini mengaku tidak merasa berat . Aspek Sikap Keseharian Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Penghafal Al-Qur’an Pola hidup keseharian mahasiswa penghafal Al-Qur’an tidak berbeda jauh dengan mahasiswa lainnya. Dari pemaparan di atas. mengikuti organisasi yang diminati dan menjalankan hobi yang dimiliki. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada beberapa mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam penghafal Al-Qur’an.5. Mereka memiliki kemauan yang kuat untuk menghafalkan Al-Qur’an dan berusaha keras untuk melestarikan hafalannya. dan 2 orang (40%) lainnya mendapat nilai B+. 3 orang mahasiswa (60%) mendapat nilai A. 7. pada matakuliah masail fiqhiyah II. pada matakuliah tafsir hadits tarbawi II dan ushul fiqih. dapat disimpulkan bahwa hafalan Al-Qur’an mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) berimplikasi besar terhadap prestasi belajarnya. 4 orang mahasiswa (80%) mendapat nilai A. 6. C. diketahui bahwa dengan padatnya aktivitas yang dijalani. 2 orang mahasiswa (100%) mendapat nilai A. karena itulah mereka memiliki pengaturan waktu yang sangat ketat dalam aktivitas sehari-harinya. Namun ada hal yang sedikit membedakan para mahasiswi penghafal ini dengan mahasiswa pada umumnya. dan 1 orang (20%) mendapat nilai C.

Hal ini juga dikuatkan dengan penyataan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang menilai bahwa mahasiswa penghafal Al-Qur’an dalam kehidupan sosialnya selalu bersikap sopan terhadap dosen. Peran dan tugas yang diemban mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) ini. khususnya para mahasiswa yng diajar. Wisuda dan Hafal Al-Qur’an (http://www.ac. Para mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari berbagai jurusan ini. rajin berjama’ah.php?option=com_content&view=article&id=908:04052009&catid=25:artikel-rektor) diakses 20 Juni-2009. mereka juga di percaya oleh pengasuh ma’had untuk menjadi pengajar dalam kegiatan pembelajaran Al-Qur’an di ma’had yang disebut dengan ta’lim Al-Qur’an. dan dalam berpenampilan lebih mencerminkan sebagai mahasiswa muslim.uinmalang. Tidak hanya mengajarkan Al-Qur’an di lingkup ma’had saja.id/index. bahkan mereka tetap berusaha untuk dapat menjalankan aktivitasnya sebaik mungkin. Sikap dan tatakrama mereka selalu menjadi sorotan dan contoh bagi orang lain. Selain untuk menciptakan lingkungan yang kondusif dan mendukung aktivitas menghafal. 135 .dan terbebani. Menyadari hal ini. memposisikan mereka sebagai seorang yang dijadikan contoh (suri teladan) bagi mahasiswa lain. para mahasiswi penghafal Al-Qur’an dari Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) juga ada yang mendapat kepercayaan untuk menjadi tentor/pembimbing pembelajaran membaca Al-Qur’an di sekitar kampus. para mahasiswa penghafal Al-Qur’an ini memiliki komitmen untuk selalu berusaha menjaga sikap dan memperbaiki tingkah lakunya sehari-hari.135 Imam Suprayogo. dihimpun dan ditempatkan di Ma’had dengan pertimbangan khusus.

dapat disimpulkan bahwa dalam sikap kesehariannya. .Dari pemaparan di atas. baik dalam lingkup ma’had maupun masyarakat sekitar kampus. Selain itu. para mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) ini memiliki komitmen untuk selalu berusaha memperbaiki tingkah lakunya. mereka juga selalu berusaha mengamalkan ilmunya dengan mengajarkan ilmu tentang Al-Qur’an yang mereka miliki kepada siapapun yang membutuhkannya. dan selalu menjaga tatakrama yang baik kepada lingkungan sosialnya.

Aisyiyah. Panduan Cepat menghafal Al-Qur’an. Pendidikan Agama Islam. TM. 1982. Raghib dan Abdul Khaliq. Skripsi: Fakultas Tarbiyah UIN Malang. 2007. terj. Analisis Data Penelitian Kualitatif Pemahaman Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. 2002. Upaya Pembentukan Pemikiran Kepribadian Muslim. Fil Aqidah Wa Syari’ah Wal Minhaj. Zubdatul itqan Fi ulumil Qur’an. Abdur Rahman. Jogjakarta: Diva press. Ahmad Salim. Jakarta: PT.DAFTAR RUJUKAN Ahmadi. Abu. Wahbah. Jakarta: PT Bumi Aksara. Al-Maliki. Ainul.Amin Nasution. Muhammad. Sarwedi M. Damaskus: Dar Al-Fikr. 2005. Ahsin W. Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an. Hasbi. Solo: Aqwam. 2003. As-Shiddiqie. Bimbingan Praktis Menghafal Al-Qur’an. Raja Grafindo Persada. 1986. Badwilan. . Bungin. Burhan (ed). 2007. Jeddah Dar Al-Syuruq. Semarang: Mutiara Permata Widya. 2006. Tafsir Al-Munir. Teknik Belajar yang Tepat. 2009. Muhammad Bin Alwi. Cara Cerdas Hafal Al-Qur’an. Al-Hafizh. Bandung: PT Remaja Rosda Karya. Al-Zuhaili. Pengaruh Kegiatan Menghafal Al-Qur’an Terhadap Prestasi Belajar Siswa. Alim. As-Sirjani. 2002.

com/journal/item/34 Moleong. Tanpa Tahun. Harahap. Syaifun. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2008. Deddy. Abd. Yususf. Hayyie AlKattani. 2000. Makalah Disampaikan Dalam Acara Ta’aruf Qur’ani VI JQH UIN Malang.Chalil. j. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Hasyim. Bandung: Remaja Rosda Karya. Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Surabaya: Usaha Nasional. .multiply. Efektivitas Hifzhul Qur’an Melalui Metode Sorogan. Nuri. 2006. Moenawar. GEMA UIN Malang. 2007. PT Remaja. Berinteraksi dengan Al-Qur’an. 1989. 2005. Qardhawi. Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh (JQH) Dalam Lintasan Sejarah. Jakarta: PT Raja Grafindo persada. Juli-Agustus 2008. muhammad. Global Islamic Software Compani. Jakarta: Balai Pustaka. Penegakan Moral Akademik di Dalam dan di Luar Kampus. Metodologi Penelitian Kualitatif Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Djamarah. 1994. Syahrin. Terj. Edisi: 36. http://musiconline. Syaiful Bahri. Metodologi Penelitian Kualiatatif. Skripsi Fakultas Tarbiyah UIN Malang. Lexy. Mausuat Hadits Al-Syarif. 1999. Jakarta: Bulan Bintang. 2003. Mulyana. Jakarta: Gema Insani Press.

2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Menangkap Cahaya Al-Qur’an. Malang: UIM Malang Press.php?option=com_content&view =article&id=908:0405-2009&catid=25:artikel-rektor Surya Brata. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Sumadi. Jateng: Insan Kamil. 1988. Pendidikan Berparadigma Al-Qur’an. Hubungan Minat Baca dan Kebiasaan Membaca Terhadap Prestasi Akademik Mahasiswa UIN Malang. Slameto. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2002. Jakarta: Bina Aksara. Sugiono.Rossidy Imron. Cara Mudah Menghafal Al-Qur’an. 2008. M.uinmalang. Imam.id/index. dkk. Psikologi Belajar. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Psikologi Pendidikan. 2007. 2007. -------------------------2009. Syamsuddin. ------------------------. Syah. ---------------------. Samsul. Achmad Yaman. Alfabeta. Bandung: Remaja Rosda Karya. Malang: UIN Press. Nana. 2005.2000. Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu. Wisuda dan Hafal Al-Qur’an http://www. . Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Muhibbin. 1999. Psikologi Pendidikan. 2000. Sudjana. LEMLIT UIN Malang. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Suprayogo.ac. Ulum. Bandung: CV.

Lilis. Robert K. Al-Tibyan fi Adabi Hamalati AlQur’an. Yahya Annawawi. 2004. Malang: UIN Press. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Upaya Optimalisasi kegiatan Belajar Mengajar.Universitas Islam Negeri Malang. Terj. Uzer & Setiowati. 2005.. Tanpa Tahun. Moch. Pedoman Pendidikan. Usman. 1993. Surabaya: Penerbit Hidayah. Zuhairini dan Abdul Ghofir. Abi Zakariya. Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Studi Kasus Desain dan Metode. Bandung: Remaja Rosdakarya. Djauzi Mudzakkir. Malang: UM Press. Yin. 2006. . M.

Kesimpulan 1. Adapun metode yang sering digunakan oleh mahasiswa penghafal Al-Qur’an tersebut. c. karena segala bentuk kesalahan bacaan dapat diketahui dan langsung dibenahi.BAB VI PENUTUP A. Pelaksanaan hafalan Al-Qur’an mahasiswa/mahasiswi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali. tahap persiapan. waktu yang digunakan untuk mengulangi hafalan ini antara 2-5 jam perharinya. b. adalah mengulangi ayat dan memahami ayat. terdiri dari 3 tahapan yaitu: a. tahap pentashihan hafalan Pada tahap ini para mahasiswa penghafal Al-Qur’an mentashihkan hafalannya kepada instruktur dengan menggunakan metode sorogan (face to face). dengan menggunakan metode menghafal tertentu. Dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan hafalan Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali sudah baik. Pada tahap ini para mahasiswa penghafal Al-Qur’an mulai mempersiapakan tambahan hafalan Al-Qur’an yang akan ditashihkan kepada instruktur. tahap pelestarian hafalan Pelestarian hafalan Al-Qur’an para mahasiswa dilakukan dengan melakukan pengulangan secara kontinu. karena lingkungan (situasi sosial) yang mendukung . Penggunaan metode ini dinilai sangat efektif. baik secara berkelompok maupun perorangan.

tes tahfizh tiap akhir semester. aktivitas menghafal Al-Qur’an menimbulkan efek ketenangan yang mendukung keberhasilan proses belajar. Secara fisiologis. yaitu mencapai 3. diketahui bahwa secara umum IPK mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) yang menghafal Al-Qur’an adalah sangat baik. Secara psikologis.dengan dikumpulkannya para penghafal Al-Qur’an dalam satu mabna/unit asrama. memiliki keterlibatan (implikasi) yang besar dalam prestasi belajarnya. Dengan demikian hafalan Al-Qur’an mahasiswa dapat selalu dilestarikan dengan baik. Dari data rekapitulasi nilai rata-rata indeks prestasi komulatif (IPK). Program evaluasi tersebut adalah khatm Al-Qur’an bil ghaib tiap minggu. serta wisuda tahfizh yang didahului oleh tes pentashihan tahfizh oleh pembina. karena selain menghafalkan para mahasiswa tersebut juga berusaha memahami ayat-ayat yang dihafal.64 . sehingga memudahkan siswa/mahasiswa untuk dapat menghafal pengetahuan lain selain Al-Qur’an. Hafalan Al-Qur’an mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam sangat membantu penguasaan materi matakuliah keagamaan Islam yang berhubungan dengan ayat-ayat AlQur’an. akhir semester dan akhir periode kepengurusan. adanya bimbingan instruktur hafalan yang juga Hafizh/hafizhah. 2. serta melatih sistem memori dalam otak untuk mengingat. kebiasaan menghafal Al-Qur’an membuat indera penglihatan dan pendengaran menjadi familiar terhadap ayat-ayat yang telah dihafal. Hafalan Al-Qur’an mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI). serta adanya program evaluasi hafalan yang dilakukan oleh organisasi setiap akhir pekan.

dan 1 orang (20%) lainnya mendapat nilai B.(dengan pujian). 3 orang (25%) mendapat B+. pada matakuliah studi Fiqih. c. g. sebagaimana prosentase berikut: a. dan 3 orang (25%) mendapat nilai B. pada matakuliah tafsir hadits tarbawi II dan ushul fiqih. 4 orang mahasiswa (80%) mendapat nilai A. pada matakuliah studi Al-Qur’an. pada matakuliah tafsir dan hadits. pada matakuliah masail fiqhiyah II. pada matakuliah tafsir hadits tarbawi I. 3 orang mahasiswa (60%) mendapat nilai A. dan 1 orang (20%) lainnya mendapat nilai B+. dan 1 orang (8%) mendapat nilai B. 4 orang mahasiswa (80%) mendapat nilai A. 2 orang mahasiswa (100%) mendapat nilai A. pada matakuliah masail fiqhiyah I. 5 orang (42%) mendapat nilai B+ . Dalam matakuliah keagamaan Islam yang banyak berhubungan dengan ayat-ayat Al-Qur’an. nilai mahasiswa tersebut juga baik. 8 orang mahasiswa (67%) mendapat nilai A. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hafalan Al-Qur’an mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam berimplikasi sangat besar dalam prestasi belajarnya. 4 orang mahasiswa (33%) mendapat nilai A. dan 2 orang (40%) lainnya mendapat nilai B+. b. f. 1 orang (20 %) mendapat nilai B+. d. e. . dan 1 orang (20%) mendapat nilai C. 3 orang mahasiswa (60%) mendapat nilai A.

bagi pengurus ma’had dan kampus hendaknya lebih memperhatikan komunitas mahasiswa penghafal Al-Qur’an tersebut. Dengan demikian diharapkan hafalan Al-Qur’annya dapat terus dilestarikan. karena kontinuitas membaca Al-Qur’an yang . diketahui bahwa hafalan Al-Qur’an ternyata berimplikasi sangat baik dalam prestasi belajar mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam. maupun dalam aktivitas lainnya. prestasi akademik tidak dinomorduakan. para mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) ini memiliki komitmen untuk selalu berusaha memperbaiki tingkah lakunya. Berdasarkan penelitian ini. baik itu dalam menghafal Al-Qur’an. Saran 1. para mahasiswa penghafal Al-Qur’an hendaknya membuat pengaturan waktu harian yang efektif dan efisien. mereka juga selalu berusaha mengamalkan ilmunya dengan mengajarkan ilmu tentang Al-Qur’an yang mereka miliki kepada siapapun yang membutuhkannya. akan tetapi perlu lebih diperhatikan kekondusifan lingkungan Ma’had sehingga para mahasiswa penghafal Al-Qur’an bisa terdukung dalam proses menghafal Al-Qur’an dan belajarnya. Pelaksanaan hafalan Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali sudah baik. Oleh karena itu. 2. Tetap semangat. Selain itu. serta selalu menjaga tatakrama yang baik kepada lingkungan sosialnya. Selain itu. dan aktivitas lainnya tidak berantakan.3. baik dalam lingkup ma’had maupun masyarakat sekitar kampus. Dalam sikap kesehariannya. menjalankan aktivitas perkuliahan. B. Hal ini tidak lain.

bagi para mahasiswa penghafal Al-Qur’an hendaknya terus berusaha memahami dan mengkaji ayat-ayat yang telah dihafalnya. Bagi organisasi/Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh (JQH). serta pada lingkup yang lebih luas. perlu membantu dan memfasilitasi para anggotanya untuk dapat mengajarkan pengetahuannya tentang Al-Qur’an di masyarakat sekitar kampus dan lembaga-lembaga pendidikan formal/informal yang membutuhkan. 4. serta usaha untuk memahami ayatayat yang telah dihafalkan. serta mengkaji dan mengembangkan lebih lanjut sesuai dengan bidang keilmuannya masing-masing. Oleh karena itu. Bagi peneliti selanjutnya agar mengembangkan penelitian ini pada objek lain yang berbeda. 3. sehingga diharapkan dengan pengalaman yang dimiliki dapat bermanfaat di kehidupan masyarakat kelak. .berpengaruh pada psikologis mahasiswa.

Demikian atas perkenan dan kerjasama Bapak disampaikan terima kasih. 150042031 . HM. Mudir Ma’had Aly UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di-Malang Assalamualaikum Wr. Dekan Nama NIM Semester/ Th.DEPARTEMEN AGAMA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG FAKULTAS TARBIYAH Jalan Gajayana No. Wb. Ak Judul Skripsi Prof. 3. 50 Telepon (0341) 552398 Faksimile (0341) 552398 Nomor Lampiran Perihal : Un. yang bersangkutan mohon diberikan izin /kesempatan untuk mengadakan penelitian di lembaga/instansi yang menjadi wewenang Bapak.1/TL. 19-03-2009 : 1 berkas : Penelitian Kepada Yth. Wb. Djunaidi Ghony NIP. Wassalamu’alaikum Wr. Dengan ini kami mengharap dengan hormat agar mahasiswa di bawah ini: : Ismi Arofah : 05110027 : VIII (Delapan) : Implikasi Hafalan Al Qur’an Dalam peningkatan Prestasi Belajar Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) (Studi Kasus di Ma’had Aly UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ) Dalam rangka menyelesaikan tugas akhir/menyusun skripsinya. Dr.00/269/2009 Malang.

HAL YANG DIKONSULTASIKAN Proposal dan judul skripsi BAB I. 7. 4. Zainuddin. (0341) 553991. Gajayana 50 Malang. V. 6. Nama Mahasiswa 2. (0341) 572533 BUKTI KONSULTASI 1. 150 275 502 . II. Fax. Dekan TANDA TANGAN NO TANGGAL 1. Telp.III Revisi BAB I. 11 Februari 2009 7 Maret 2009 28 Maret 2009 5 Juni 2009 19 Juni 2009 15 Juli 2009 16 Juli 2009 Dr. Muhammad. VI Revisi BAB IV. M.Ag : Implikasi Hafalan Al-Qur’an Dalam Prestasi Belajar Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (Studi Kasus di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang). VI Revisi keseluruhan ACC Malang. MA NIP. Su’aib H. V. H. III BAB IV. 5.II. 16 Juli 2009 Mengetahui. Judul Skripsi : Ismi Arofah : 05110027 : Tarbiyah/Pendidikan Agama Islam : Drs. 2. NIM 3. Pembimbing 5. 3. M. Fakultas/Jurusan 4.DEPARTEMEN AGAMA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG FAKULTAS TARBIYAH JL.

guna memperoleh data-data tentang: 1. khatm al-Qur’an setiap sepekan.LAMPIRAN 4 PEDOMAN OBSERVASI Untuk memperoleh data yang akurat. Letak geografis kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. . Sikap keseharian mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari Jurusan Pendidikan Agama Islam. serta kegaiatan mengulang hafalan bersama di ma’had. maka peneliti mengadakan observasi pada objek penelitian. Pelaksanaan hafalan Al-Qur’an mahasiswa di bawah bimbingan instruktur. 3. 2. serta denah Ma’had Sunan Ampel Al-Ali.

ataukah berdasarkan urutan mushaf? 4. Apakah ada ketentuan kuantitas menghafal dalam setiap pentashihan? C. Metode apa yang yang digunakan dalam pentashihan? 3. Sejak kapan anda menghafal Al-Qur’an. Instruktur hafalan 1. Bagaiman sikap sosial anda? B. Apakah anda rutin memperdengarkan hafalan anda kepada instruktur? 3. Apakah anda merasa tenang saat dan setelah menghfal Al-Qur’an? 7. Apakah anda menghafal dengan tema-tema tertentu. Dengan menghafal berdasarkan urutan mushaf apakah memberikan kontibusi yang baik dalam matakuliah ke-Agama anda? 5. Bagaimana sikap mahasiswa penghafal Al-Qur’an dari jurusan PAI terhadap lingkungan sosialnya? 2. Sejak kapan kegiatan pentashihan hafalan Al-Qur’an di Ma’had ini dimulai? 2.LAMPIRAN 5 PEDOMAN WAWANCARA A. Apakah mereka bertingkah laku yang baik? . Apakah kendala anda dalam menghafal? 10. Apakah anda memberikan motivasi tertentu kepada para mahasiswa penghafal Al-Qur’an? 4. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam penghafal Al-Qur’an 1. Dengan tinggal bersama penghafal Al-Qur’an apakah anda merasa terbantu dalam proses menghafal? 9. Teman mahasiswa penghafal Al-Qur’an di Ma’had maupun di kampus 1. Kapan waktu anda menghafal dan mengulang hafalan? 6. berapa banyak yang anda hafal sekarang? 2. Apa metode yang anda gunakan dalam menghafal? 8.

3. maka peneliti kiga menggunakan data dokumentasi organiasi maupun dokumentasi pribadi sebagai berikut: 1. . Dokumentasi tentang kronologis berdirinya unit pengembangan hafalan Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Kartu hasil studi (KHS) mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam penghafal Al-Qur’an. Data anggota Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh (JQH) Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim malang.LAMPIRAN 6 PEDOMAN DOKUMENTASI Untuk melengkapi data-data yang diperlukan dalam penelitian ini. program kerja. tujuan. struktur organisasi dan prestasi Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh (JQH) Ma’had Sunan Ampel AlAli UIN Maulana Malik Ibrahim malang. 4. kegiatan. Visi dan misi. 2.

di rumah 3. MAK b.. sore b. kondisional 9. SMA/SMK c. Apakah anda merasakan ketenangan jiwa ketika dan setelah membaca AlQur’an? a. ya c. Apakah anda mengulang hafalan di dalam sholat? a. SMP/MTs e. 30 juz 5. Kapan waktu anda menghafal dan mengulang hafalan (nderes)? a. pasca SMA b. tidak 7. 2. 20 juz d. agak tenang b. Sejak kapan anda mulai menghafal Al-Qur’an (disetorkan kepada Pembina)? a. 3 jam d.LAMPIRAN 7 ANGKET Nama: Semester: 1. Berapa jam anda menghabiskan waktu untuk menghafal/nderes dalam sehari? a. ya c. ya (selalu) c.…. pagi dan malam c. 10 juz c. Dimana Anda menghafal? a. Apakah anda menyimakkan hafalan anda kepada pembina / teman sesama penghafal? a. lainnya. biasa saja d. SD/MI d. pra SD c.…… b. siang d. 5 jam e. Berapa banyak yang anda hafal sekarang? a. pesantren non tahfizh b. tidak . 6 jam 8. MA/MAN d. jarang d. 2 jam c. pesantren tahfizh 4. lainnya. SMA/MA c. Apa pendidikan terakhir anda sebelum di UIN MMI Malang? a. jarang b. kadang-kadang b. <10 juz b. tidak pernah 6. kadang-kadang d. >6 jam b. di UIN d.

10. Apakah anda berusaha memahami arti dan kandungan makna ayat yang anda hafal? a. ya c. lainnya,…….. b. tidak 11. Apakah kendala anda yang paling dominan dalam menghafal/nderes? b. malas c. kesulitan menghafal c. lingkungan yang tidak mendukung d. pengaturan waktu (sibuk)

12. Apakah dengan tinggal bersama penghafal Al-Qur’an lainnya (di ma’had) anda merasa terbantu dalam proses menghafal/nderes? a. sangat terbantu b. terbantu c. tidak d. agak terbantu

13. Apa motivasi anda menghafal Al-Qur’an dan melestarikan hafalan anda? ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… …………………….................................................................................................... Jazaakallah khairan..

LAMPIRAN 8 STRUKTUR KEPENGURUSAN JAM’IYYATUL QURRA’ WAL HUFFAZH (JQH) MA’HAD SUNAN AMPEL AL-ALI UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG PERIODE 2008-2009 PELINDUNG Prof. Dr. H. Imam Suprayogo KH. Chamzawi, M.HI

PEMBINA Syamsul Ulum, MA Syafaat, M.Ag M. Hasyim, S.Hum Isyroqun Najah, M.Ag Ismatud Diniyah, Ah

Ketua Umum Sholihin Wakil Ketua Mustaen

Sekretaris I Mukhlisin Sekretaris II Nur Azizah

Bendahara I Rifqiyatuz. Z

Bendahara II Supardi

Dev. Mudarosah Putra

Dev. Munaqosyah

Dev.Mudarosah Putri Dev. Humasy dan Dakwah

Dev. Funun Islamiyah

Dev. Inventaris

ANGGOTA

LAMPIRAN 9. DENAH KAMPUS UIN MALANG DAN MA’HAD SUNAN AMPEL ALALI

RD 3. kholdun Unit ibn sina Unit ibn Rusyd Unit Al-Ghozali Gedung Lp3i Fak.4. tamu Area ma’ha d putra Gerb ang barat Fakultas syari’ah Masjid Parkir keluar gerbang utara Fakultas Saintek Perpust akaan pusat Gedung rektorat Taman kampus Fakultas ekonomi Fakultas psikologi Fakultas tarbiyah Gedung pasca sarjana Lapangan olah raga Area ma’had putri masuk gerbang selatan Gedung perkulia han “B” Gedung perkulia han “A” Gedung sport center Masjid akbar Unit Ummu Salama h Unit Asma ’ Kantin putri Unit khodi jah Unit Fatim ah zahro . humbud Pusat informasi RD 1 Gedung halaqah Kantin ma’had putra R.5 RD 2 Unit Al-Farabi Taman Unit ibn.

H Ke arah Kota Kampus UNIBRA Jln.LAMPIRAN 10 PETA LOKASI KAMPUS UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG Ke arjo sari Jln. Bendungan Sutami Kampus UIN Malang Kampus ITN Ke kota Batu . Sumber sari Jln. Soekarno.

termasuk Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI). Aktivitas pentashihan hafalan Al-Qur’an mahasiswa oleh instruktur hafalan (ustadzah Ismatud diniyah) di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (rumah dinas no. diikuti oleh anggota JQH.LAMPIRAN 11 Foto-foto pelaksanaan hafalan Al-Qur’an di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Kegiatan Khatm Al-Qur’an bil ghaib tiap hari Ahad di Masjid At Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim malang.2) .

Wawancara peneliti dengan Instruktur hafalan Al-Qur’an (Ustadzah Ismatud Diniyah Ah.) tentang sejarah JQH dan pelaksanaan hafalan Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang .

Untuk itulah Munjiyat. Apresiasi dan penghargaan yang tinggi disampaikan oleh Rektor saat memberikan sambutan di depan hadirin Temu Wali. baik yang sudah hafal atau masih akan menghafal Al-Qur’an. Namun. Para hafizh yang di wisuda kali ini tidak ujuk ujuk begitu saja. kitab suci dan pedoman hidup umat Islam. Sebagaimana disampaikan Rektor UIN Malang dalam sambutannya. Selama ini. Tetapi telah mengikuti ujian tahfizhul Qur’an. Sungguh suatu kebanggaan besar bagi UIN Malang. kali ini (23/08) ada yang berbeda dari temu wali mahasiswa baru tahun sebelumnya.LAMPIRAN 12 KLIPING TENTANG JQH UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG GEMA Edisi: 36 Juli -Agustus 2008 page 2 57 Penghafal Al-Qur’an Meriahkan Temu Wali Maba Barangkali hati ribuan wali m a h a s i s w a baru yang hadir di aula gedung Sport Center terharu saat melihat wisudawan/wisudawati tahfizh Al-Qur’an naik ke atas panggung. Ini jadi menarik karena kali pertama dilakukan di Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz (JQH) UIN Malang. Sehingga bisa menjadi motivasi bagi para mahasiswa lain. Mereka yang berhasil menempuh ujian akan mendapat syahadah dari Rektor UIN Malang dan Dewan Pengasuh Ma’had Al‘Aly. Pertemuan wali mahasiswa (temu wali) baru memang biasa dilakukan seiring penerimaan mahasiswa baru setiap tahunnya. Ujian untuk calon wisuda penghafal Al-Qur’an itu sudah dilaksanakan tanggal 14-29 Juni yang lalu. Solihin. prestasi . ketua pelaksanaan Ujian dan Wisuda mengungkapkan bahwa untuk anggota yang diuji disyaratkan menghafal secara lengkap di depan dewan penguji. di jaman yang cenderung hedonis ini masih bisa menghasilkan anak didik yang mampu menjaga Al-Qur’an. mengusahakan agar para penghafal Al-Qur’an selalu mendapatkan penghargaan simbolik dari kampus. para hafizh dan hafizhah tidak mendapatkan penghargaan atau apresiasi secara simbolik dari civitas akademik. sebanyak 57 mahasiswa yang juga mahasantri Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Malang diwisuda/dikukuhkan bersamaan dengan acara besar itu. Sebab. ketua JQH.

untuk kalangan mahasiswa. (aj/hef). yang notabene memiliki kegiatan sangat padat dan dituntut belajar setiap saat.” tambahnya. Ta’aruf Qur’ani Khidmat Sekaligus Menyenangkan . “Mahasiswa semacam ini jauh lebih dibutuhkan banyak orang daripada mereka yang tidak menghafal. Menurutnya para mahasiswa penghafal Al-Qur’an ini tidak pernah berbuat ulah saat kuliah.mahasiswa tahfizh ini patut diacungi jempol. mereka juga telah mengharumkan nama kampus dan tidak pernah mengacaukan kampus. menghafal Al-Qur’an bukan hal yang mudah.” terangnya bangga. selain mereka adalah orang-orang yang pandai dan cerdas. Sebab. Sebab. “Perlu ketekunan dan upaya penjagaan secara maksimal. tapi suka membuat kekacauan di kampus. Mereka semua adalah mahasiswa yang patut dicontoh dan diteladani. apalagi.

Ada pertunjukan parade nyanyian. “Alhamdulillah. Jumlah ini. digelar juga pentas seni. dan Syafa’at. untuk menutup acara. banyak yang gabung ke JQH. Dosen Tarbiyyah. Sedangkan acara out-bond diadakan pada pagi hari di hari kedua. 13 Desember 2008 13:41 JQH memang tak kenal lelah mensosialisasikan Al-Qur’an di kampus ini. tepatnya di halaman Gedung Al-Ghozali. maka . Tengok saja kegiatan Ta’aruf Qur’ani (1-2/11) yang diadakan di gedung halaqoh. sangat di luar dugaan. dengan tema Sejarah JQH. Berbagai kegiatan dilakukan agar anggota JQH terus aktif. antara lain Syamsul Ulum. “Pentas seninya sangat menghibur para peserta. terbukti dengan tampilan-tampilan kreatif mereka. Hasyim. semuanya khidmat!” Aku Musta’in. mengaku kegiatan Ta’aruf Qur’ani ketiga ini berlangsung khidmat sekaligus menyenangkan. Dosen PKPBA. musik. sampai pada pantomim. Baburrahman mengaku.Sabtu. Baburrahman. ketua panitia. M. Dosen Saintek. dengan tema Menghafal Al-Qur’an. Agus Mulyono. acara Ta’aruf Qur’ani ini terdiri dari dua macam. sekretaris umum JQH. dengan tema Al-Qur’an dan Sains. Dalam sesi formal. dengan tema Motivasi Menghafal AlQur’an. menurut Baburrahman. Selain itu.Menurut keterangan Baburrahman. ”Semuanya semangat.” terang Musta’in lagi. Dosen PKPBA. yaitu acara formal dan out-bond. yale-yale berirama. Ta’aruf Qur’ani yang bertema Potensi Autentik ke-Al-Qur’anan ini diikuti oleh 120 anggota baru. bahwa selama ia jadi mahasiswa UIN malang. didatangkan empat pembicara.” tutur mahasiswa semester II jurusan ekonomi tersebut. Para peserta ternyata banyak yang memiliki bakat seni.

Melalui JQH.id/index. (hef) http://www.ia akan berupaya keras untuk mensosialisasikan Al-Qur’an.” kata Baburrahman serius.php?option=com_content&view=article&id=347:taaru f&catid=27:gema-edisi-37 JQH:Isi Liburan dengan Karantina Tahfizh . Belajar Al-Qur’an tidak terbatas tempat. kapanpun.uinmalang.ac. sayang kalau tidak dipelajari. Al-Qur’an harus terus dipelajari. dan sampai kapanpun. diharapkan mahasiswa UIN Malang mampu menjadi mahasiswa yang qur’ani. “Al-Qur’an itu multidisiplin ilmu. lanjutnya. Di manapun.

“Andai saya mempunyai banyak jempol pasti sudah saya acungkan semuanya. Kegiatan tersebut mewajibkan peserta untuk tinggal di ma’had selama pulang ke rumah. (ct) . serta fasohah & tajwid yang diadakan tiap Jumat. ”Saya sangat senang dengan kegitan ini karena membuat liburan saya lebih bermanfaat dengan memperdalam ilmu al-Quran.Jumat.” tutur mahasiswi jurusan Fisika asal Bima tersebut sambil tersenyum. 20 Maret 2009 08:52 GEMA-Liburan semester gasal selama bulan Februari ini disambut positif oleh pengurus JQH (Jamiyatul Qurro’ wal Huffadz). karena saya bisa mengembangkan UIN sampai sebesar ini karena terinspirasi dari Al-Quran. “Tujuan karantina tahfidz sendiri adalah untuk memberikan sarana bagi para hafidz untuk menambah setoran bagi pemula ataupun memperlancar hafalan bagi yang sudah selesai. Di saat para mahasiswa lain menikmati liburan di rumah. Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Imam Suprayogo(2/2) itu diikuti sekitar 60 peserta putra dan putri. Chamzawi yang juga berkesempatan memberikan sambutan dalam pembukaan tersebut juga mengungkapkan kebanggaannya pada antusiasme peserta yang mengikuti kegiatan karantina tahfizh Al-Qur’an tersebut. namun karena saya hanya punya empat maka keempat jempol saya saya acungkan buat kalian semua. mengaji/menghafal al-Quran empat kali sehari. para peserta karantina sangat antusias mengikuti setiap kegiatan yang diprogramkan seperti shalat tahajud setiap malam.” gurau dewan pengasuh MSAA mengungkapkan liburan dan tidak diperkenankan kebanggaannya. salah satu peserta karantina mengungkapkan kesannya mengikuti kegiatan tersebut. KH.” kata dosen asal Trenggalek dalam sambutannya. Acara tersebut memang patut mendapat apresiasi. Mereka mengadakan kegiatan karantina Tahfizh selama liburan (2-22/2).” tutur Zakiyah Umami. Khairunnisa’. “Saya sangat memuliakan orang yang hafal al-Quran. salah satu teamwork yang juga pengurus JQH tersebut.

http://www.ac.id/index. 04 Mei 2009 07:56 .uinmalang.php?option=com_content&view=article&id=801:jqh&catid=29 :gema-edisi-39 Senin.

karena UIN Maulana Malik Ibrahim Malang belum menyelenggarakan program itu. Mereka yang mendapatkan prestasi akademik unggul ternyata beberapa di antaranya adalah hafal Al-Qur’an genap tiga puluh juz. Sehingga. sedang seorang lagi jurusan matematika. Terus terang. dua di antaranya adalah lulus jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Saya menganggap menghafal Al-Qur’an dan sekaligus belajar bidang ilmu yang geluti tidak akan berhasil kedua-duanya. saya pernah beranggapan salah terhadap para penghafal AlQur’an ini. maka tidak akan mampu . Pikiran saya mengatakan bahwa setiap orang memiliki kapasitas tertentu. tidak semua mahasiswa sanggup menjalaninya dengan baik. Selain itu. diberi peluang masuk pascasarjana kampus ini. Untuk memberikan penghargaan kepada mereka yang hafal Al-Qur’an 30 juz itu. Pandangan pesimis itu. diraih mahasiswa matematika dan psikologi dan pada wisuda hari Sabtu tanggal 2 Mei 2009 yang lalu diraih oleh mahasiswa fakultas Syari’ah. pada wisuda terakhir ini. tetapi pandangan saya mengatakan demikian. kemudian dua semester lalu. Sedang seorang lagi dari jurusan matematika. Prestasi akademik unggul pada wisuda tiga semester yang lalu. Sekalipun saya tidak pernah berkomentar secara terbuka tentang itu. dirasakan ada yang istimewa. masih ada tiga mahasiswa yang hafal Al-Qur’an. dipersilahkan mencari sendiri perguruan tinggi yang diminati. sekalipun tidak termasuk berprestasi akademik unggul. Saya mengira bahwa mahasiswa penghafal Al-Qur’an akan tidak bisa maksimal mengikuti kuliah bidang studi pilihannya. Tiga penghafal Al-Qur’an 30 juz. Pikiran saya mengatakan bahwa bagaimana seseorang pada saat yang sama memikul beban sedemikian berat. diraih oleh mahasiswa jurusan fisika. saya dasarkan pada kenyataan bahwa mahasiswa yang mengambil kuliah dengan bobot 24 sks saja sudah dirasa terlalu berat. Semua lulusan terbaik tersebut hafal Al-Qur’an 30 juz.Wisuda dan Hafal Al-Qur’an Tiga kali berturut-turut wisuda di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. dan jika seseorang menanggung beban melebihi kapasitasnya. maka mereka diberikan peluang untuk meneruskan studi lanjut di program S2 dengan biaya dari kampus.

Namun demikian. Setelah saya amati dalam waktu lama. dalam hal sosial tampak hubungan mereka dengan para dosen dan penampilan sebagai mahasiswa lebih mencerminkan sebagai mahasiswa muslim. tergerak untuk memberikan penghargaan kepada mereka itu. yakni menghafal Al-Qur’an hanya agar mendapatkan penghargaan dari kampus. dengan alasan khawatir mengganggu keikhlasannya. syari’ah. dalam hal kegiatan spiritual mereka lebih aktif berjama’ah di masjid. Melihat kenyataan bahwa semakin lama ternyata prestasi akademik para penghafal Al-Qur’an justru lebih baik. Hal itu berbeda dengan kemampuan nalar atau otak. sebagai pimpinan kampus. misalnya. Kekuatan fisik hanya bisa bertahan pada usia tertentu dan juga memiliki kemampuan menanggung beban tertentu pula. Penghargaan yang selama ini bisa saya berikan ialah mereka yang hafal AlQur’an minimal 10 juz saya bebaskan dari seluruh biaya pendidikan di kampus ini. Pandangan saya itu ternyata sangat keliru. Jika hal itu ditambah. beberapa mahasiswa fisika. tarbiyah. dan ternyata penambahan beban tersebut tidak akan selalu . Jumlah mereka yang masuk kategori ini cukup banyak. ia tidak akan mampu jika beban itu ditambah 10 kg lagi. Seseorang yang memiliki kemampuan memikul beban maksimal 60 kg misalnya. Atas dasar penglihatan saya seperti itulah kemudian. Ada batas-batas maksimal yang mampu dilakukan. Melalui organisasi itu mereka dibimbing oleh para seniornya dan juga beberapa dosen pembimbing yang kebetulan juga hafizh. prestasi akademik mereka tidak kalah bilamana dibandingkan dengan mereka yang tidak mengikuti kegiatan itu. matematika. psikologi. Mahasiswa yang masuk dalam organisasi ini. maka tidak akan mampu lagi. Beban itu bisa ditambah. Ada beberapa mahasiswa penghafal Al-Qur’an yang tidak diijinkan oleh orang tuanya menerima pembebasan biaya pendidikan itu. ternyata mahasiswa yang menghafal al Quran. ternyata tidak semua dari mereka yang hafal Al-Qur’an itu mau menerimanya. maka saya menyimpulan sementara bahwa antara kekuatan fisik seseorang tidak sama dengan kekuatan nalar atau otak mereka. Para mahasiswa penghafal Al-Qur’an yang tergabung dalam organisasi JQH UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ternyata memiliki banyak keunggulan. bahasa dan sastra dan lain-lain. justru menyandang banyak kelebihan.dan jika dipaksakan tidak akan mendapatkan hasil maksimal.

8 atau 9 tahun sudah hafal Al-Qur’an 30 juz. berupa otak itu. maka pikiran mereka tidak tampak tangkas jika suatu ketika menghadapi persoalan. Pada usia perguruan tinggi. sesuai dengan perkembangan umurnya memasuki lembaga pendidikan pada umumnya di negeri itu. banyak sekali mahasiswa kedokteran.menganggu kemampuan ciptaan Allah yang sangat berharga. Kembali pada kegiatan menghafal Al-Qur’an. Berbeda dengan orang yang tidak pernah berpikir. psikologi. fisika. jika beban itu semakin sedikit. Dahulu ketika guru mengaji saya menceritakan bahwa Imam al-Ghazali dan juga Imam Syafi’i baru berusia 7 tahun sudah hafal Al-Qur’an. Dan ternyata dengan hafal Al-Qur’an itu tidak menjadikan prestasi akademik mereka tertinggal dari mahasiswa lain yang tidak hafal kitab suci itu. ternyata tidak kelihatan capek dan bahkan kemampuan otaknya jika selalu digunakan akan semakin kuat. Banyak sekali anak-anak di sana yang umurnya belum genap 10 tahun sudah hafal Al-Qur’an secara lengkap. Tidak kurang dari 300 an lembaga pendidikan tempat penghafal Al-Qur’an di Iran. karena tidak mendapatkan tantangan apa-apa. kimia. Anak-anak pada umur 4 tahun biasa dikirim oleh orang tua mereka ke lembaga pendidikan penghafal Al-Qur’an itu. fisika. tatkala diberi beban lebih banyak. yang diikuti oleh sejumlah besar anak di Iran. melakukan pembatasan beban belajar terhadap siswa/mahasiswa tidak selalu tepat. teknik. Akan tetapi. Orang-orang tertentu. prestasi Imam al Ghazali itu di tempat kelahirannya. mereka masuk menjadi mahasiswa. Para pemikir karena beban tugasnya sehari-hari. Anak-anak Iran yang hafal Al-Qur’an tersebut. setelah saya datang sendiri ke Thus. maka kemampuan otak tidak bertambah lebih baik. Sehingga sesungguhnya. justru tampak lebih cepat perkembangan pikirannya dan begitu juga sebaliknya. Masingmasing diikuti oleh ratusan anak. tempat kelahiran Imam al-Ghazali pengarang kitab ihya’ Ulumuddin. Dengan demikian. ternyata di sana memang banyak anak-anak seusia itu sudah hafal Al-Qur’an 30 juz. Berangkat dari kenyataan itu sekalipun masih terbatas dan perlu penelitian lanjut. biologi dan seterusnya. saya merasa terheran-heran. Hal yang sama terjadi di . kimia. ekonomi. Saya pernah melihat kegiatan menghafal Al-Qur’an. seperti kedokteran. Bahkan sebaliknya. biologi dan seterusnya hafal Al-Qur’an. Melalui lembaga ini kemudian banyak sekali anak-anak Iran yang baru berumur 7. yakni di Thus sampai saat inipun bukan merupakan hal aneh. mengambil program studi yang mereka minati.

Calon pemimpin umat seperti inilah sesungguhnya yang diperlukan di masa depan. Tidak perlu lagi dikhawatirkan bahwa para penghafal Al-Qur’an akan lemah prestasi akademiknya. tidak sedikit yang prestasi akademiknya justru lebih unggul. maka dalam rangka melahirkan generasai unggul di masa depan. Pada kenyataannya. sekalipun mahasiswa di kampus ini jumlah penghafal Al-Qur’an belum sebanyak di Iran.Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. Wallahu a’lam. dalam banyak kasus ternyata para penghafal Al-Qur’an justru memiliki keunggulan. setidak-tidaknya di kampuskampus perguruan tinggi Islam. sosial maupun spiritualnya.php?option=com_content&view=article&id=908:04052009&catid=25:artikel-rektor . Melihat kenyataan tersebut.uinmalang. baik dalam kehidupan intelektual.ac. para mahasiswanya seharusnya didorong melakukan kegiatan menghafal Al-Qur’an.id/index. http://www. saya berpendapat bahwa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful