P. 1
TAFSIR BISMILLAH ;Seri Hermenutika

TAFSIR BISMILLAH ;Seri Hermenutika

|Views: 606|Likes:
Published by Awir Husni

More info:

Published by: Awir Husni on Nov 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/15/2013

pdf

text

original

TAFSIR HERMENUTIKA:Analisis Ayat Basmalah Dengan Kerangka F.

d Saussure { 1}

TAFSIR HERMENUTIKA
ANILISIS AYAT BASMALAH [QS.AL-FATIHAH(1):1]
Menggunakan Pendekatan Linguistik Strukturalisme F. de Saussure
TUGAS DALAM MATA KULIAH
FISLAFAT BAHASA :Teori-teori Semiotik & Linguistik
Bimbingan DR. Phil. Sahiron, MA



Oleh : Munawir Husni
NIM : 10.213.005

JURUSAN AGAMA & FILSAFAT KOSENTRASI AL-QURAN
HADITS
PROGRAM PASCASARJANA
STATE ISLAMIC UNIVERSITY SUNAN KALIJAGA
(UIN) YOGYAKARTA 2010 / 2011

TAFSIR HERMENUTIKA:Analisis Ayat Basmalah Dengan Kerangka F.d Saussure { 2}

A. PENDAHULUAN
Sengaja saya memberikan pendahuluan ini, dengan maksud memberikan penjelasan
secara klarifikatif mengenai konteks kompleksitas releventatif dari teori yang kami
gunakan_dalam hal ini adalah “Hermenutika Pasca-Strukturalisme” dengan memakai
Linguistik Strukturalisme” yang dikembangkan Ferdinan de Saussure.
Sebagaimana kita ketahui bahwa, metodologi aplikatif mainstream yang digunakan
para mufassir meliputi “Tahlily”(„analitis), “Ijmaly”(global), “Muqaran”(perbandingan),
dan “Maudhu‟i”(tematik), sebenarnya juga masih memerlukan teknik operasionalitatif.
Oleh karna itu, rancangan Linguistik Struktural yang dimotori Ferdinan de Saussure yang
kemudian dikembangkan Bloomfield dan sebagainya, dapat dijadikan sebagai alternatif
dalam menafsirkan ayat-ayat Alqur‟an. Misalnya mulai dari teknik Substitusi(ganti), teknik
Ekspansi(perluas), teknik Intrupsi(sisip), teknik Delisi(lesap), dan teknik Permutasi. Inilah
yang kemudian kami coba untuk kami aplikasikan secara hirarki berdasarkan sinkron
dengan pendekatan yang digunakan dalam hal ini adalah Linguistik Strukturalisme F.D
Saussure.

B. PENDEKATAN DAN METODOLOGI
Sebagaimana yang kami ulaskan di atas, proses penafsiran ini menggunakan teori
Lingusitik Strukturalisme yang oleh Sahiron menyebutnya bagian dari Hermenutika yang
tergabung dalam aliran Subyektif:pasca Strukuralisme
1
. Dalam hal ini kami akan
menguraikan sedikit cara kerja dari pendekatan yang dipakai.
1. Metode Dan Tehnik
2

Metode dalam ilmu pengetahuan adalah cara yang bersistem untuk memudahkan
pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditemukan. Sistem merupakan
suatu susunan yang berfungsi dan bergerak; ilmu memiliki objek yang dapat dikaji secara
sistematis
3
. Metode berarti cara yang harus dilaksanakan dan teknik adalah cara
melaksanakan metode. Sebagai cara, kesejatian teknik ditentukan adanya oleh alat yang
dipakai
4
.

1
Sahiron Syamsuddin Hermenutika Dan Pengembangan Ulumul Quran (Yogyakarta:Pesantren
Nawesea Press,cet.I,2009),hlm.63
2
Metode dan teknik adalah dua istilah yang digunakan untuk menunjukkan dua konsep yang
berbeda tetapi berhubungan langsung satu sama lain.
3
Fatimah Djajasudarma Metode Linguistik: Ancangan Metode Penelitian dan Kajian.(Bandung:
Eresco,993),hlm.57
4
Sudaryanto Metode Linguistik: Ke Arah Memahami Metode(Yogyakarta:Duta Wacana University
Press,1992),hlm.9
TAFSIR HERMENUTIKA:Analisis Ayat Basmalah Dengan Kerangka F.d Saussure { 3}

2. Bentuk metode
Bentuk yang dimaksud adalah Linguistik Strukturalisme F.de Saussure. Dimana
metode ini sebenarnya merupakan bentuk perlawanan terhadap metode yang pada
umumnya dipakai di dalam linguistik tradisional. Karena cara bekerjanya berdasarkan
logika yang bersifat spekulatif, maka metode tersebut ditentang habis-habisan oleh
linguistik struktural. Tujuan yang dinginkan adalah menganalisis sistem bahasa atau
keseluruhan kaidah yang bersifat mengatur di dalam bahasa berdasarkan perilaku atau ciri-
ciri khas kebahasaan satuan-satuan lingual tertentu.
3. Tehnik
Beberapa tehnik yang umumnya dipakai dalam Linguistik Strukturalisme adalah
berupa: a). „Ultimate Constituent Analysis‟ (UCA): Teknik Urai Unsur Terkecil
5
, b).
„Immediate Constituent Analysis‟ (ICA):Teknik Pilah Unsur Langsung
6
, c). Teknik Lesap
(delisi)
7
, d). Teknik Ganti (substitusi)
8
, e). Teknik Perluas (ekspansi)
9
, f). Teknik Sisip
(interupsi)
10
, g). Teknik Balik (permutasi)
11
. Inilah sejumlah tehnik yang akan coba kami
oprasinolkan dalam ayat Basmalah. Dan sebelum dilakukan analisa, akan dilakukan
identifikasi ayat yang memuat status ayat, asbabu nuzul dan muatan lainnya yang perlu
dipaparkan. Barulah kemudian dilakukan penafsiran secara hermenutik dengan
menggunakan Linguistik Strukturalisme F.D Saussure melalui beberapa langkah yang
disebut di atas. Namun dalam hal ini, akan dilakuakn beberapa tehnik saja dalam arti tidak
menerapkan ke-7 tehnik tersebut secara keseluruhan dalam bagian ayat.


5
Ini dimaksudkan untuk mengurai suatu satuan lingual tertentu atas unsur-unsur terkecilnya. Unsur
terkecil yang mempunyai makna biasanya disebut “morfem”. Dalam bahasa Arab unsur terkecil biasa disebut
dengan istilah harf.
6
Teknik ini berdekatan dengan teknik urai unsur terkecil, yaitu memilah atau mengurai suatu
konstruksi tertentu (morfologis atau sintaksis) atas unsur-unsur langsungnya.
7
Teknik delisi adalah suatu unsur atau suatu satuan lingual yang menjadi unsur dari sebuah
konstruksi (morfologis atau fraseologis) dilesapkan atau dihilangkan serta akibat-akibat struktural apa yang
terjadi dari pelesapan itu.
8
Teknik ganti (substitusi) yaitu menyelidiki adanya kepararelan atau kesejajaran distribusi antara
satuan lingual atau antara bentuk linguistik yang satu dengan satuan lingual lainnya.
9
Teknik perluas adalah teknik memperluas satuan lingual tertentu (yang dikaji atau yang dibahas)
dengan “unsur” satuan lingual tertentu baik perluasan ke kiri atau ke kanan. Teknik berguna untuk: (a)
mengetahui identitas satuan lingual tertentu, dan (b) mengetahui seberapa jauh satuan lingual yang dikaji itu
dapat diperluas baik ke kiri maupun ke kanan.
10
Teknik sisip adalah kemungkinannya menyisipkan suatu unsur atau satuan lingual tertentu
terhadap suatu konstruksi yang sedang kita analisis.
11
Teknik balik ialah kemungkinannya unsur-unsur (langsung) dan sebuah satuan atau konstruksi
(morfologis atau fraseologis) dibalikkan urutannya. Teknik ini bertujuan menguji tingkat keketatan relasi
antar unsur (langsung) suatu konstruksi atau satuan lingual tertentu.
TAFSIR HERMENUTIKA:Analisis Ayat Basmalah Dengan Kerangka F.d Saussure { 4}


C. APLIKASI PENAFSIRAN
¸¸`.¸, <¦ ¸_..-¯¸l¦ ¸¸,¸>¯¸l¦ ¸¸¸
“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” [al-
Fatihah(1):1]

1. Pendahuluan
Ayat ini merupakan ayat pertama dari surat al-Fatihah yang sekaligus tergabung
dalam kategori Ayat Makiyah sebagaimana diungkap jumhur tafsir
12
. Namun ada juga
yang masih mepermasalahkannya dengan melihat realitas dan sisi terminology Makiyah
dan madaniyah dalam konteks defenitif, juga mepermasalahkan apakah “basamalah”
termasuk bagian dari al-Fatihah ataukah tidak
13
. Dan barang kali wajar sebagaimana
diungkap Syaikh Zamakhsyari sebagiannya ada yang turun di Makkah dan sebagiannya
ada yang turun di Madinah
14
. Namun, terlepas dari perbedaan ini, jelasnya bahwa
basmalah merupakan bagian dari al-Fatihah yang termasuk ayat pertama dari surat
tersebut, yang juga merupakan surat yang memiliki banyak nama sebagai sebutan yang
dinisbahkan pada ke-7 ayat tersebut, mulai dari as-Sab‟ul Matsani, Ummul Kitab, Fatihatul
Kitab dll.
15

Dalam pandangan Ibn Mas‟ud sebagaimana tulis Abi Su‟ud
16
, bahwa lafal
basmalah ini pada dasarnya bukan termasuk ayat al-Quran yang kemudian pendapat ini
juga yang dipegang oleh mazhab Maliki dan kalangan Hanafi pendapat ini sagangt terkenal
yang kemudian dijadikan landasan hukum khususnya dalam sholat. Namun
sebaliknya_lanjut Abi Su‟ud, menurut ahli Qiraah Madinah, Basrah, Syam, Fuqaha‟ lafal
basmalah merupakan ayat tersendiri yang sekaligus menjadi bagian dari ayat al-Quran.

12
Hal inilah yang diungkap oleh sekelompok Ulama tafsir yang tergabung dalam kategori Tafsir bil
Ma‟tsur seperti Ats-Tsa‟labi Tafsir ats-Tsa’labiy(Beirut:Dar al-Ihya‟ wat Turats al-„Arabi,cet.
I,1997),hlm.161. Al-Baghawi Ma’alimut Tanzil(Maktabah Syamila)I:49. Ibn „Uthaiyyah al-Muharr al-
Wajiz fi Tafsiril Kitabil ‘Aziz (BeirutDarul Kutub Ilmiyah,cet.I,2001),I:65. Ibn Katisr Tafsir al-Quranul
Adzim(t.tp:Maktabah Aulad lit Turats,t.th),I:151dst. Ar-razi Mafatihul Ghaib(Riyadh:Maktabah Musthafa al-
Baz,cet,1997),20 dst. Al-Baidhawi Anwarut Tanzil(Maktabah Syamila),I:13 Abi Su‟ud Tafsir Abu
Su’ud(Maktabah Riyadh al-Hadits,cet.I,t.th),I:11 dst.
13
Sebagian Ulama dalam hal ini terdapat perbedaan mengenai apakah Basamalah merupakan bagian
dari al-Fathihah atau kah tidak, sekaligs terdapat permaslahan apakah ia termasuk ayat Makiyah ataukah
Madaniyah. Baca Abi Faraj Zadal Masir fi ‘Ilmit Tafsir(t.tp:t.p),I:7
14
Permasalahan ini juga yang ia singgung dalam mengawali penafsiran surat al-Fatihah. Baca
Zamakhsyari al-Kasysyaf(Riyadh:Maktabah al-Abikan,cet.I,1998),I:99
15
Ash-Shiddieqy Al-Bayan(Semarang:PT.Pustaka Rizki Putra,cet.I,2002),I:3
16
Abi Su‟ud Irsyadil ‘Aqlis Salim Ila Mazayal kitabil Karim(Riyadh:Maktabah Riyadh al-
Hadits,cet.I,t.th) ,I:9-11
TAFSIR HERMENUTIKA:Analisis Ayat Basmalah Dengan Kerangka F.d Saussure { 5}

Namun terlepas dari perbedaan tersebut, jelasnya bahwa ayat ini merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari al-Quran itu sendiri, sehingga para Ulama yang pada
kebanyakan menjadikan ayat tersebut sebagai bagian terpenting ketika dalam melakukan
aktifitas termasuk dalam melakukan aktifitas baca al-Quran dengan rincian wajib pada al-
Fatihah dan sunnah pada surat surat yang lain serta makruh pada surat Baraah secara
khusus.
Sepintas kita lihat, ayat ini sangatlah pendek dan semua orang menghafalnya.
Namun demikian, tafsiran dan ta‟wilan ternyata membuat kita toidak berhenti untuk
menuangkan ribuan rangkaian makna yang terkandung didalamnya dalam bentuk dan
pendekatan apapun namanya. Alasan yang sangat mendasar oleh beberapa Ulama,
dijadikannya basmalah sebagai ayat yang sangat penting posisinya dalam konteks aktifitas
apapun adalah karna pada dasarnya sebagaimana diulas para ulama bahwa semua ayat al-
Quran tercakup dalam basmalah ini. Dan kandungan basmalah ini tercakup dalam huruf
“ba” dan ba tersebut tercakup dalam titik yang ada pada huruf ba tersebut.
Hal yang serupa diuraikan Ali ash-Shobuni, bahwa “basmalah” ini merupakan
ungkapan yang terbaik dalam membuka atau memulai segala macam bentuk aktifitas baik
duniawi maupun ukhrawi
17
. Selain itu ayat ini memiliki keunikan tersendiri dibandaingka
dengan beberapa ayat yang lainnya. Keunikan tersebut terletak pada beberapa hal seperti
struktur kalimat yang digunakan, pilihan kata, keterkaitannya dengan kalimat satu deengan
kalimat lainnya, pluralitas makna dari masing masing kata, konotatif dari masing masing
kata, serta kandungannya yang menyeluruh mencakup keseluruhan isi al-Quran dan masih
banyak lagi yang Insya Allah akan dijelaskan pada pembahasan selanjutnya.
Basmalah yang oleh Abu Zahra‟ dalam Tafsir Abu Zahra‟
18
dikatakan bahwa ”Ini
adalah ayat yang dipakai untuk memulai proses pembacaan surat dari seluruh surat yang
ada dalam al-Quran terkecuali surat al-Baraah”. Hal yang serupa juga oleh Dr. Jamil
Ghjazi, dkk dalam Tafsir Nasamat
19
mengatakan “Sangat ditekankan agar sitiap aktifitas
yang dilakuakan hendaknya dibuka dengan kalimat basmalah ini, dikarnakan ada perkataan
Nabi bahwa setiap aktifitas yang dilakuakn tampa diawali dengan ucapan basmalah, maka
aktifitas itu tidak sempurna”.

17
Ali ash-Shobuni Rawai’ul Bayan fi Tafsiril Quran(Jakarta:Darul Kutub al-Islamiyah,cet.I,
2001),hlm.32
18
Abu Zahra‟ Tafsir Abu Zahra(Mesir, Darul Fikril „Arabi,1987),hlm.43
19
Jamil Ghazi, dkk dalam Tafsir Nasamat(t.tp:Daru as-Salam,t.th),hlm.2
TAFSIR HERMENUTIKA:Analisis Ayat Basmalah Dengan Kerangka F.d Saussure { 6}

Intinya bahwa kalimat basmalah ini adalah kalimat yang merupakan bagian utuh
yang mencakup keseluruhan aspek materi al-Quran, sehingga Allah memulai al-Quran
dengan ayat ini. Di samping penegasan Nabi bahwa aktifitas yang tidak diawali dnegan
lafaz basmalah, akan sangat berpengaruh pada kesempurnaan aktifitas tersebut. Dengan
demikian, basmalah di samping merupakan ayat uatam juga menjadi symbol dan tanda
sebagai proses dimulainya satu aktifitas baik dalam bentuk acara resmi maupun aktifitas
individu.

2. Asbabu an-Nuzul
Kaitannya dengan sebab diturunkan ayat ini, terdapat perbedaan pendapat yang
masing masing mengkaitkan dengan peristiwa tertentu. Menurut catatan Abi Zamanin
alasan mendasar diturunkan ayat ini erat kaitannya dengan peristiwa penulisan kalimat
tersebut katika diturunkan ayat 110 dari surat al-Isra(17). Kemudian juga ketika diturunkan
ayat ke-30 dari surat an-Naml(27) dan mereka menulis lafas basmalah tersebut
20
.

3. Analisis
¸`.¸, <¦ ¸_..-¯¸l¦ ¸¸,¸>¯¸l¦ ¸¸¸
dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Menurut catatan beberapa Ulama, bahwa pembentukan istilah basmalah ini
merupakan pecahan dari kata kerja Basmala (Fiil Ruba‟i): kata kerja yang terdiri dari
empat huruf, menjadi bentuk masdar Basmalatan. Hal ini sewazan dengan Hauqalah yang
terbentuk dari kata kerja Hauqala menjadi bentuk dasar Hauqalatan
21
. Istilah ini kemudian
menjadi mainstream digunakan untuk menyebutkan kalimat tersebut, shingga ketika
sesorang mendengar kalimat basmalah secara langsung yang dimaksud adalah kalimat
Bismillahirrahmanirrahim.
Dan barang kali istilah ini juga sering kita dengar di berbagai acara baik dalam
konteks resmi maupun unresmi seorang MC ketiak membuka satuan acara, ia mengatakan
“marilah kita buka acara ini dengan sama-sama membaca basmalah yang berarti
mengucapkan kalimat Bismillahirrahmanirrahim. Dan istilah ini dijadikan sebagai symbol
serta petunjuk dalam memulai aktifitas baik secara individu maupun kelompok.

20
Ibn Abi Zamanin Tafsirul Quranal-‘Aziz(Qahirah:al-Faruq al-Haditsiyah,cet.I,2002),I:117
21
Al-Halabi ad-Durul Mashun fi Kitabil Maknun (Dimasyqi:Darul Qalam,t.th),I:13
TAFSIR HERMENUTIKA:Analisis Ayat Basmalah Dengan Kerangka F.d Saussure { 7}

Sebagaimana uraian pada pendahuluan di atas, tehnik penafsiran ini dilakuakn
dengan megukuti system yang sudah dibangaun oleh Linguistik Tradisional itu sendiri
yang kemudian akan diaplikasikan secara hirarki dan berurutan. Namun untuk tehnik yang
pertama dan kedua, barang kali kami tidak perlu untuk menerapkannnnya, terkait dengan
beberapa hal. Dengan demikian, kami hanya menerapkan lima dari tujuh tehnik tersebut
dengan mengikuti kaidah kaidah masing masing.
Umumnya ayat ini ditafsirkan pada peranan dan posisi serta sisi aplikatifnya dalam
konteks ibadah mahdah yakni sholat. Sebagai contoh penafsiran biasanya ditafsirkan
dengan sebagai berikut :
“saya memulai membaca al-Fatihah ini dengan menyebut nama Allah.
Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut asma Allah,
seperti makan, minum, menyembelih hewan dan sebagainya. Allah ialah nama zat
yang Maha Suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak
membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar Rahmaan
(Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah
melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang Ar Rahiim (Maha
Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah Senantiasa bersifat rahmah yang
menyebabkan Dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya”.

Kurang lebih seperti ini tafsiran yang biasanya kita temukan pada tafsir berbasis
Ma‟tsur, juga Ro‟yi. Namun kemudian pertanyaan pertanyaan berikutnya yang barang kali
belum kita jawab bersama adalah apa esensi serta kandungan paradigma bagi kelansungan
hidup manusia sebagai pelaku amali mengani hukum hukm al-Quran itu sendiri. Atau
adakah makna makna yang lebih tajam dari kalimat yang amat pendek ini sehingga
manusia menemukan jati diri dan ruh kehidupannya sebagai khalifaatullah di muka bumi
ini. Dan bagaimana kandungan “basmalah ini teraplikasikan bagi non muslim sehingga
ayat ini tidak berlaku bagi ummat Islam semata. Dan lain sebagainya.
Inilah maksud utama dalam analisis ini, berusaha menemukan kembali makna-
makna yang lebih utuh khususnya bagi ummat Islam dan bagi non Muslim. Sehingga ayat
ini bener bener memberi mamfaat bukan hanya untuk ummat Islam melainkan non muslim
juga memberi pengaruh positif sehingga mereka merasakan keramahan Islam itu sendiri
Sebagai langkah awal dalam penafsiran ini, akan dilakukan penafsiran dalam empat
kategori yang meliputi :1). kategori partikel, baik berupa harf maupun isim dlamir dhahir,
2). kategori fi‟il (verba), 3). kategori isim (nomina), dan 4). kategori idlāfah (bentuk frasa
nomina).
TAFSIR HERMENUTIKA:Analisis Ayat Basmalah Dengan Kerangka F.d Saussure { 8}

Dalam ayat ini, terdapat partikel hurf yakni huruf “bi” sebagai awal atau yang
menjadikan permulaan kalimat “basmalah” tersebut. Partikel “bi” (dengan) di sini
berkoalisi dengan kalimat “ism” yang makna “ism” itu sendiri kembali pada lafzul Jalalah.
Partikel “bi” dengan label huruf jar memiliki varian varian arti yang ditunjukkannya.
Lazimnya para ahli bahasa menyebut partikel “bi” ini dengan huruf al-Ilsaq, atau harfu al-
Isti‟anah
22
. Sebagiannya lagi menyebutnya dengan ba‟ Sababiyah.
Lebih komplit lagi Abi Hayyan dalam Bahruln-ya memaknakan dalam berapa
bentuk seperti huruf jar, al-Ilsaq, al-Isti‟anah, as-Sababiyah, al-Hal, al-Qasam, az-
Zarfiyah, dan an-Naql.
23
Namun dalam hal ini, Zahir Tsawin lebih memandangnya sebagai
Huruf Ibda‟ yang berarti proses pemulaian aktifitas bak dalam konteks membaca atau
berkarya atau telah melakukan aktifitas
24
Namun ada juga yang lebih melihatnya sebagai
huruf tambahan saja(Harfu az-Zaidah) yang semata mata tambahan saja tampa memiliki
makna yang lebih spesifik.
Dalam tafsir Ulama mainstreamatif, partikel “Bi” di muka kalimat basmalah ini
menunjukkan makna Isti‟anah yang berati media yang digunakan dalam memulai katifitas,
yang dalam bahasa Indonesia diartikan dengan kalimat :dengan”. Seperti kalimat “saya
makan dengan sendok” yang berarti saya makan menggunakan sendok. Selain itu ada
makna yang metaforisnya yakni dengan Ilsaqiyah yang berarti “dengan” seperti ucapan
seseorang “saya jalan-jalan dengan paman”. Kalimat ini berarti “saya jalan bersama
paman” dengan maksud ia pergi bersamanya.
Dengan demikian secara substituif partikel “bi” pada kalimat tersebut dialihkan
atau digantikan dengan makna yang lebih nyata yakni dengan arti alat sebagaimana pada
contoh yang sudah kami sebutkan di atas.
Kemudian dalam ayat ini terdapat nomina yang berbentuk nakirah dan ma‟rifat.
Nakirah itu sendiri dari nomina Ism yang terletak setelah partikel bi yang berarti ragam
nama-nama. Nama-nama di sini secara global bisa berarti bentuk lain dari nama-nama
Allah seperti Razaq, Fattah, „Alim dan lain lain. Ism itu sendiri sebagaimana tulis as-
Shobuni terbentuk dari kalimat as-Sumu yang berarti ar-Raf‟ah wal „Uluw.
25
Akan tetapi
ada juga yang menyebutnya dari kata as-Sam‟ah yang berarti al-„Allamah.

22
Abdul Wahidu Sholeh al-I’rab al-Mufashshol Li Kitabillah al-Murattal(t.tp:Darul Fikri,t.th),I:7.
Lihat juga Muhyiddin ad-Daritsi I’rabul Quran wa Bayanuhu(Beirut:Darul Irsyad,cet.VII,1999),I:23
23
Abi Hayyan Bahrul Muhit(Beirut:Darul Kutub al-„Ilmiyah,cet,I,1993),I:123
24
Zawir Tsawin Zadul Masir fi ‘Ilmit Tafsir(t.tp:t.p,t.th),I:7
25
Ibid… Ali ash-Shobuni Rawai’ul Bayan.hlm.15
TAFSIR HERMENUTIKA:Analisis Ayat Basmalah Dengan Kerangka F.d Saussure { 9}

Nomina Ism ini, dalam penulisannya pada kalimat Basmalah tidak menggunakan
alif dalam arti alifnya dihilangkan. Alasan penghilangan dikarnakan lafal Basmalah pada
konteks ini katsratul A‟mal(lebih banyak digunakan) dalam konteks apapun. Berbeda
dengan kalimat Bismirabbika pada surat al-„Alaq_dan alsannya sangat sederhan yakni
Qillatul Isti‟mal(penggunaanya sangat sedikit) yang merupakan kebalikan dari bismillah
itu sendiri. Lebih spesifik lagi, nomina Ism digandengkan dengan lafal Allah yang
memberi arti khusus yakni nama Allah yang kemudian dijadikan hubungan Ism dengan
lafal Allah menjadi bagian yang tak terpisahkan.
Lafal Allah oleh beberapa catatan Ulama, terdapat perbedaan mengenai bentuk
dasarnya. Sebagiannya mengatakan lafal Allah memang menjadi istilah tersendiri yang
tidak memiliki pecahan secara structural. Sebagian lagi mengatakan lafal
Allah_sebagaimana tulis Muhyiddin berasal dari bentuk Ilahun yang setimbang dengan
Fi‟alun. Kemudian hamzah pada lafal tersebut dihilangkan sebagai bentuk keringanan saja
dan digantikan dengan alif dan lam. Kalimat Allah merupakan kalimat yang paling tinggi
dan mulia di antara beberapa nama yang dinisbahkan pada Allah itu sendiri. Dan kalau kita
cermati, memang lafal Allah ini seoalh menjadi tumpuan segala nama atau menjadi satu
nama yang menyangkut keseluruhan nama dari nama nama Allah. Di samping banyaknya
ungkapan Allah dalam al-Quran bahkan sehingga menurut penghitungan ahli bahasa lafal
ini termaktub sebanyak .
Setelah kalimat atau Lafzul Jalalh ini, kemudian diikuti dengan nomina yang
memiliki bentuk sama yakni menunjukkan “isim ma‟rifat”. Dua kalimat ini yang kemudian
disebut sebagai sifat yang mengikuti lafal Allah memiliki makna dan corak yang berbeda
dalam konteksnya. Ar-Rahman oleh Abdul Wahid, menyatakan bahwa kalimat tersebut
lebih dahulu ditulis dari pada kalimat ar-Rohim. Karna ar-Rohman ini merupakan sifat
yang khusus bagi Allah, sedangkan ar-Rohim banyak digunakan oleh beberapa orang.
Namun ada juga yang menyebutnya kedua kalimat ini madalah kalimat yang lembut
namun ar-Rohman lebih lembut dari ar-Rahim
26
.
Dalam catatan Muhyiddin kalimat ar-Rahman “pengasih” termaktub dalam bentuk
sighat mubalaghah yang berarti adanya kelebihan yang melebihi dari semua hal yang ada.
Dalam hal ini adalah sifat kasih dari Allah merupakan sifat kasih yang melebihi dari sifat
kasih yang ada pada manusia itu sendiri. Dalam arti Allah jauh memiliki sifat kasih

26
Ibid… Abdul Wahidu Sholeh al-I’rab al-Mufashshol. Hlm.8
TAFSIR HERMENUTIKA:Analisis Ayat Basmalah Dengan Kerangka F.d Saussure { 10}

ketimbang sifat kasih yang dimiliki seoarang manusia. Sifat lebih itu sendiri_tulis
Muhyiddin digambarkan dari bentuk kalimatnya yakni format Fi‟lani yang menunjukkan
suatu sifat yang melebihi segalanya
27
. Begitu juag dnegan kalimat ar-Rohim menunjukkan
sifat yang melebihi dari segala sifat yang dimiliki siapapun. Dalam pada itu, Zahir Tsawin
yang mengutip pendapat al-Khattabi bahwa ada perbedaan orientatif mengenai pembagian
rahmah dari kedua kalimat tersebut. Secara spesifik rahmah Allah memalui ar-Rahman
ditujukan pada semua manusia yakni muslim dan non muslim. Sedangkan rahmah Allah
melalui ar-Rohim ini secara khusus diperuntukkan untuk orang mukmin saja. Inilah makna
dari al-Ahzab:45 :
¿lé¸ _,¸.¸.¡.l!¸, !.,¸>¸ ¸__¸
“ dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman”.[al-
Ahzab(33):43

Selain itu juga dilakukan teknik ekspansi atau perluasan makna dengan
dipperluaskannya makna dengan kosa kata dengan “unsur” satuan lingual tertentu.
Perluasan bisa terjadi ke sebelah kiri atau ke kanan. Teknik ini terbagi menjadi dua
kategori, yaitu: (1) bentuk perluas ke sebelah kiri, dan (2) bentuk perluas ke sebelah kanan.
Dalam arti adanya bentuk kemungkinan terjadi makna yang lain dari masing maisng
kalimat tersebut dalam hal ini adalah semisal Ism, ar-Rohman, ar-Rohim. Atau singkatnya
dari makna leksikal dalam arti makna secara singlronis yang memang digunakan pada
waktu dulu menuju makna diakronis dengan.
Ismu yang arti bahasanya bermakna nama, bila diperluas maka bisa berarti sesuatu
yang menyipati Allah itu sendiri. Dan tidak berarti semata-mata nama nama bagi Allah itu
saja. Akan tetapi sifat sifat Allah juga tercakup dengan kalimat ism itu. Hal ini didasarkan
adanya penyandaran ismu pada lafal Allah yang menunjukkan arti sesuatu yang dimiliki
Allah itu sendiri. Seperti halnya nama-nama yang memang dimiliki Allah, makaterdapat
juga sifat-sifat yang dimiliki Allah itu sendiri. Inilah kemudian dalam struktur akidah
disebut dengan Asma‟ wa Sifat yang memiliki kemiripan namun berbeda orientasi.
Sedangkan ar-Rohim yang diartikan dengan “Yang Maha Pengasih”, dapat
diperluas dengan makna “Yang memberi segala sesuatu kebutuhan makhluk tersebut
sebagai wujud cinta kasih Allah pada hamba-Nya. Pemberian Allah ini tidak terbatas pada

27
Ibid…. Muhyiddin ad-Daritsi I’rabul Quran. Hlm.24
TAFSIR HERMENUTIKA:Analisis Ayat Basmalah Dengan Kerangka F.d Saussure { 11}

materi saja, namun lebi dari itu, yakni meliputi cara berfikir yang cemerlang, kekuatan
intlektual, ketajaman ingatan, keterampilan kreatifitas serta keraligiusan dan lain lain.
Inilah sebenarnya yang dimaksud kata-kata pengasih dari kalimat tersebut, dimana Allah
telah memberikan segala sesuatu dari apa yang dibutuhkan manusia baik menyangkut
kehiduapn dunianya maupun menyangkut kehidupan akhiratnya. Dalam pada itu,
pemberian Allah sebagai wujud kasi-Nya tidak hanya terbatas pada orang mukmin saja,
namun semua manusia. Dan bahkan saya mengatakan semua makhluk, manusia, hewan,
tmbuh-tumbuhan serta alam sekitarnya. Kesemuanya diberikan rohmah dalam bentuk dan
ciri dari masing masing makhluk secara spesifik.
Manusia baik muslim maupun non muslim diberikan rohman dalam segala bentuk
mulai dari kemampuan intlektualnya, religisunya, serta pemberian keamanan dll. Hewan
tampa membedakan dengan manusia juga mendapatkan apa yang didapatkan manusia
secara umum, hanya sanya berbeda pada ciri khusus dan sifat sifat yang dimiliki. Begitu
juga dengan tumbuh tumbuhan, Allah memberi rahman dengan segala kebutuhannya
sebagaimana manusia itu sendiri. Jadi menurut saya ar-Rahman ini adalah seluruh bentuk
perhatian Allah pada semua makhluk sehingga tidak terbatas pada mansuia saja, namun
pada alam dan segala isinya. Sedangkan ar-Rohim yang diartikan “Yang Maha Penyayang”
juga hampir mirip dengan perluasan makna dari ar-Rohman. Hanya sanya ada perbedaan
orientatif dan kepemilikan sebagaimana dibedakan Ulama, bahwa ar-Rohim Allah ini
khusus diberi pada orang-orang mukmin saja. Dengan demikian, selain mukmin tidak
mendapatkan ar-Rohim dari Allah. Dan pemberian Rohim ini berlaku pada hari yang ke
dua yakni hari akhirat.
Namun bila demiakian, ada pertanyaan yang mengganjal dalam benak saya sendiri-
bagaimana penerapan hikmahnya di dunia khusus kata ar-Rohim itu sendiri untuk orang
non muslim. Karna hakikatnya saya memandang berdasarkan cita-cita al-Quran itu sendiri,
bahwa al-Quran ini ditujukan untuk semua orang dalam klas dan label apapun termasuk di
sini Mukmin, Kafir, Fasik, Munafik an lain lain. Di samping itu Islam dengan al-Qurannya
berlaku untuk seluruh zaman dalam arti sholihun likulli zamanin yang berarti sebagai
pedoman bagi kelangsungan hidupa mansuia secara keseluruhan.
Menurut saya, ar-Rohim di sini barang kali yang dimaksud adalah pemberian
sayang Allah yang dijanjikan pada seluruh manusia dan siapa saja yang ingin beriman pada
al-Quran itu sendiri. Dalam arti ada hikmah bahwa agar orang orang non muslim juga
TAFSIR HERMENUTIKA:Analisis Ayat Basmalah Dengan Kerangka F.d Saussure { 12}

termotifasi untuk mengimani al-Quran dengan segala kebenarannya sehigga mereka juga
mendapatkan janji-janji Allah sebagaimana yang dijanjikan pada al-Quran tersebut.
Selanjutnya adalah tehnik Interupsi, dimana tehknik ini memungkinkan untuk
menyisipkan suatu unsur atau satuan lingual baik berupa partikel (huruf jar, huruf nasab,
dan lain sebagainya) tertentu terhadap suatu konstruksi ayat Alqur‟an. Unsur atau satuan
lingual yang dimaksud dapat berupa harf (partikel), fi‟il (verba), isim (nomina), jumlah
(kalimat). Teknik intrupsi dari bentuk fiil (verba) bisa berupa (1) sisipan preposisi+verba
dan intrupsi dari bentuk isim (nomina).
Ini hampir sama dengan penafsiran pada pada tafsiran awal di atas. Bahw aada
kemungkinan diberikannya sisipan yang relevan dengan konteks ayat tersebut. Dan ini
yang dilakukan para Ulama sebagaimana kita lihat dalam beberapa tafsir.
Pada lafal Basmalah, yakni pada huruf “ba” dari “bismillah”, disini disisipi dengan
kalimat sebelumnya. Dengan demikian tafsiran sisipannya adalah “(Dengan inilah saya
membaca, memulai melakukan aktifitas baik dunia maupun akhirat yakni dengan
membaca)Bismillahirrahmanirrahim. Boleh juga sebelum kata ar-Rohman itu disisipkan
kalimat “yang memiliki” atau “yang mempunyai sifat” juga bisa disisipkan “Yang
Memberikan”. Begitu juga dengan kata ar-Rohim dalam arti bentuk penysisipan katanya.
Namun demikian pemberian sisipan ini tentu tidak dilakukan dengan sebuah ketergesaan
sehingga tidak memiliki relevansi dengan qarinah qarinah kalimat tersebut.












¸
.
TAFSIR HERMENUTIKA:Analisis Ayat Basmalah Dengan Kerangka F.d Saussure { 13}

DAFTAR PUSTAKA

1. ad-Daritsi Muhyiddin I’rabul Quran wa Bayanuhu(Beirut:Darul Irsyad,cet.VII,
1999)
2. Al-Baghawi Ma’alimut Tanzil(Maktabah Syamila)I:49. Ibn „Uthaiyyah al-Muharr
al-Wajiz fi Tafsiril Kitabil ‘Aziz (BeirutDarul Kutub Ilmiyah,cet.I,2001)
3. Al-Baidhawi Anwarut Tanzil(Maktabah Syamila)
4. Al-Halabi ad-Durul Mashun fi Kitabil Maknun (Dimasyqi:Darul Qalam,t.th)
5. Ash-Shiddieqy Al-Bayan(Semarang:PT.Pustaka Rizki Putra,cet.I,2002)
6. ash-Shobuni Ali Rawai’ul Bayan fi Tafsiril Quran(Jakarta:Darul Kutub al-
Islamiyah,cet.I, 2001)
7. Ar-razi Mafatihul Ghaib(Riyadh:Maktabah Musthafa al-Baz,cet,1997)
8. Ats-Tsa‟labi Tafsir ats-Tsa’labiy(Beirut:Dar al-Ihya‟ wat Turats al-„Arabi,cet.
I,1997)
9. Djajasudarma Fatimah Metode Linguistik: Ancangan Metode Penelitian dan
Kajian.(Bandung: Eresco,993)
10. Faraj Abi Zadal Masir fi ‘Ilmit Tafsir(t.tp:t.p)
11. Ghazi, Jamil dkk dalam Tafsir Nasamat(t.tp:Daru as-Salam,t.th)
12. Hayyan Abi Bahrul Muhit(Beirut:Darul Kutub al-„Ilmiyah,cet,I,1993)
13. Ibn Katisr Tafsir al-Quranul Adzim(t.tp:Maktabah Aulad lit Turats,t.th)
14. Sholeh Abdul Wahidu al-I’rab al-Mufashshol Li Kitabillah al-Murattal(t.tp:Darul
Fikri,t.th)
15. Sudaryanto Metode Linguistik: Ke Arah Memahami Metode(Yogyakarta:Duta
Wacana University Press,1992)
16. Su‟ud Abi Irsyadil ‘Aqlis Salim Ila Mazayal kitabil Karim(Riyadh:Maktabah
Riyadh al-Hadits,cet.I,t.th)
17. Syamsuddin Sahiron Hermenutika Dan Pengembangan Ulumul Quran
(Yogyakarta:Pesantren Nawesea Press,cet.I,2009)
18. Tsawin Zawir Zadul Masir fi ‘Ilmit Tafsir(t.tp:t.p,t.th)
19. Zahra‟ Abu Tafsir Abu Zahra(Mesir, Darul Fikril „Arabi,1987)
20. Zamakhsyari al-Kasysyaf(Riyadh:Maktabah al-Abikan,cet.I,1998)
21. Zamanin Ibn Abi Tafsirul Quranal-‘Aziz(Qahirah:al-Faruq al-Haditsiyah,cet
.I,2002)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->